Fluiditas

Ada 4 faktor yang berpengaruh atau merupakan cirri dari proses pengecoran, yaitu :

1. Adanya aliran logam cair kedalam rongga cetak 2. Terjadi perpindahan panas selama pembekuan dan pendinginan dari logam dalam cetakan 3. Pengaruh material cetakan 4. Pembekuan logam dari kondisi cair Dalam teknik pengecoran logam fluiditas tidak diartikan sebagai kebalikan dari viskositas, akan tetapi berarti kemampuan logam cair untuk mengisi ruang-ruang dalam rongga cetak. Fluiditas tidak dapat dikaitkan secara langsung dengan sifat-sifat fisik secara individu, karena besaran ini diperoleh dari pengujian yang merupakan karakteristik rata-rata dari bebrapa sifat-sifat fisik dari logam cair. Ada dua faktor yang mempengaruhi fluiditas logam cair, yaitu temperatur dan komposisi unsur. Temperatur penuangan secara teoritis harus sama atau diatas garis liquidus. Jika temperatur penuangan lebih rendah, kemungkinan besar terjadi solidifikasi didalam gating sistem dan rongga cetakan tidak terisi penuh. Cacat ini disebut juga dengan nama misrun. Cacat lain yang bisa terjadi jika temperatur penuangan terlalu rendah adalah laps dan seams. Yaitu benda cor yang dihasilkan seakan-akan membentuk alur-alur aliran kontinu logam yang masuk kedalam rongga cetak, dimana alur satu dengan alur lai berdampingan daya ikatannya tidak begitu baik. Jika temperatur penuangan terlalu tinggi pasir yang terdapat pada dinding gating sistem dan rongga cetakan mudah lepas sewaktu bersentuhan dengan logam cair dan permukaanya menjadi kasar. Terjadi reaksi yang cepat antara logam tuang, dengan zat padat, cair dan gas diadalam rongga cetakan. Dari pengujian ini dapat dicari daerah temperatur penuangan yang menghasilkan produk dengan cacat yang seminim mungkin.

Logam cair yang memiliki fluiditas yang tinggi adalah logam murni dan alloys komposisi eutectic. Alloys yang dibentuk dari larutan padat. dan memiliki range pembekuan yang besar memiliki fluiditas yang jelek.Faktor utama yang lain yang mempengaruhi besaran fluiditas adalah komposisi paduan. .

Contoh Pola spiral hasil pengujian Fluiditas Ada beberapa metoda dalam mengukur fluiditas. Metoda ini dibedakan berdasarkan bentuk rongga cetak yang digunakan untuk mengetahui mampu alir logam cair. Pemilihan metoda ini sangat tergantung Beberapa bentuk cetakan untuk pengukuran Fluiditas dari bentuk benda kerja dan bahan cetakan yang akan digunakan. namun pengukuran tersebut sangat praktis. Daerahdaerah tersebut adalah : . Ada rongga cetak yanmg berbentuk spiral dan ada juga rongga cetak yang berbentuk lorong yang memanjang. Dalam melakukan pengukuran mampu alir dipraktikum ini digunakan metode dengan rongga cetak yang berbentuk spiral. Meskipun hasil pengukuran dengan metoda diatas dipengaruhi oleh sifat-sifat cetakan. fluiditas juga dikenal dengan istilah Fluid life. karena langsung menggambarkan bagaimana mampu alir logam cair dalam rongga cetak dengan bahan cetakan sebenarnya. Metalurgi Proses Pengecoran Pembekuan ingot dan Coran Dari Pembekuan ingot dihasilkan 3 daerah dengan karakteristik yang berbeda. Harga fluiditasnya dinyatakan dengan panjang (dalam mm) spiral yang terisi logam. Atas dasar hal ini.

Bila temperatur penuangannya rendah.1. cairan logam yang berada ditengah-tengah ingot akan tetap berada diatas temperatur likuidus untuk jangka waktu lama. Setiap kristal dendrit mengandung banyak lengan-lengan dendrit (primary dendrit). logam cair yang berkontak langsung dengan dinding cetakan akan mengalami pendinginan yang cepat dibawah temperatur likuidusnya. maka lengan-lenagn dendrti sekunder dan tertier akan timbul dari lengan dendrit primer. Chill Zone Selama proses penuangan logam cair kedalam cetakan. Daerah yang terbentuk antara ujung dendrit dan ttitik dimana sisa cairan terakhir akan membeku disebut sebagai mushy zone atau pasty zone. Jika Fraksi volum padatan (dendrite) meningkat dengan meningkatnya panjang dendrit dan jika struktur yang terbentuk berfasa tunggal. . seluruh bagian logam cair akan membeku secara cepat dibawah temperatur likuidus. Akibatnya pada dinding cetakan tersebut timbul banyak inti padat dan selanjutnya tumbuh kearah cairan logam. Columnar zone Sesaat setelah penuangan. gradien temperatur pada dinding cetakan menurun dan kristal pada daerah chill tumbuh memanjang dalam arah kristal tertentu. Disisi lain bila temperatur penuangan tinggi. Kristalkristal tersebut tumbuh memanjang berlawanan dengan arah perpindahan panas (panas bergerak dari cairan logam kea rah dinding cetakan yang bertemperatur lebih rendah) yang disebut dengan dendrit. 2.

3. Equiaxed zone Daerah ini terdiri dari butir-butir equiaxial yang tumbuh secara acak ditengahtengah ingot. Pada daerah ini perbedaan temperatur yang ada tidak menyebabkan terjadinya pertumbuhan butir memanjang. Paduan-paduan dengan selang pembekuan . Penyusutan Kebanyakan logam akan menyusut selama proses pembekuan dan ini mengakibatkan perubahan struktur ingot.

Pemeriksaan cacat dalam (pemeriksaan tidak merusak. yaitu : 1. Pemeriksaan rupa a.(daerah antara temperatur liquidus dan solidus ) yang sempit menghasilkan mushy zone yang sempit pula dan pada bagian permukaan atas ingot terdapat sisa cairan logam yang lama kelamaan akan berkurang hingga pembekuan berakhir dan pada ingot mengandung rongga cukup dalam pada bagian tengah atau disebut pipe. Ada empat faktor yang menyebabkan timbulnya segregasi makro. mushy zone dapat menempati seluruh bagian ingot sehingga tidak terbentuk pipe. Pemeriksaan rupa/fisik b. Pemeriksaan ketukan b. Untuk segregasi mikro. Pemeriksaan penetrasi (dye-penetrant) c. jig pemeriksa dan alat ukur lainnya) 2. Pemeriksaan Produk Cor Tujuan : 1. Temperatur yang menyebabkan perbedaan kerapatan dalam cairan Segregasi dalam pembekuan logam tidak diinginkan karena memberikan pengaruh buruk pada sifat mekanik. Penyusutan karena pembekuan dan kontraksi panas 2. pengaruhnya dapat dikurangi dengan proses perlakuan panas (homogenisasi). NDT) a. Pemeriksaan supersonic (ultrasonic) . micrometer. Perbedaan kerapatan antara padatan dan cairan 4. Perbedaan kerapatan antardendritik cairan logam 3. Pemeriksaan magnafluks (magnetic-particle) d. Segregasi pada Ingot dan Coran Pada struktur pembekuan terdapat dua jenis segregasi yaitu segregasi makro (perubahan komposisi pada tiap bagian spesimen) dan segregasi mikro (seperti yang terjadi antara lengan dendrit sekunder). Pada paduan-paduan dengan selang temperatur pembekuan lebar. Pemeriksaan dimensi (menggunakan jangka sorong.

Retakan 4. Permukaan kasar 5. Pengujian struktur mikro dan struktur makro 4. Inklusi dan struktur tak seragam 8. Salah alir 6.EDS) c. Vickers dan Shore) b. Pemeriksaan radiografi (radiografi) 3. Cacat-cacat tak nampak . Lubang-lubang 3.Pengujian kekerasan (menggunakan metoda Brinell. Kesalahan ukuran 7. Deformasi 9. Pengujian tarik Pengujian analisa kimia (spektrometri. Rockwell. Ekor tikus tak menentukan atau kekerasan yang meluas 2.e. Pemeriksaan material a. yaitu : 1. Pemeriksaan dengan merusak Cacat-cacat Coran Komisi pengecoran international telah membuat penggolongan cacat-cacat coran dan dibagi menjadi 9 kelas.

drossing fluxes. Fluks adalah senyawa inorganic yang dapat “membersihkan” logam cair dengan menghilangkan gas-gas yang ikut terlarut dan juga unsur-unsur pengotor (impurities). Cleaning fluxes.Khususnya digunakan pada industri pengecoran kecil . dan wall cleaning fluxes Tungku-tungku peleburan yang biasa digunakan dalam industri pengecoran logam adalah tungku busur listrik. mula-mula muatan yang terdiri dari logam. tungku induksi. unsur-unsur paduan dan material lainnya seperti fluks dan unsur pembentuk terak dimasukkan kedalam tungku. Fluks memiliki beberpa kegunaan yang tergantung pada logam yang dicairkan. Tungku induksi . refining fluxes. Pada proses peleburan. Karakteristik masing-masing tungku peleburan adalah : 1. tungku krusibel. seperti pada paduan alumunium terdapat cover fluxes (yang menghalangi oksidasi dipermukaan alumunium cair). Tungku busur listrik • • • • laju peleburan tinggi laju produksi tinggi polusi lebih rendah dibandingkan tungku-tungku lain memiliki kemampuan menahan logam cair pada temperatur tertentu untuk jangka waktu lama untuk tujuan pemaduan 2.. dan tungku kupola.Mampu mengatur komposisi kimia pada skala peleburan kecil .Proses Peleburan Logam Peleburan logam merupakan aspek terpenting dalam operasi-operasi pengecoran karena berpengaruh langsung pada kualitas produk cor.

Biasanya digunakan pada industri pengecoran logam-logam non-ferro .-Terdapat dua jenis tungku yaitu Coreless (frekuensi tinggi) dan core atau channel (frekuensi rendah.Muatan terdiri dari susunan atau lapisan logam. sehingga sangat cocok untuk aplikasi proses die-casting). Tungku kupola . sekitar 60 Hz) . penahanan temperatur (menjaga logam cair pada temperatur konstan untuk jangka waktu lama. .Tungku ini bias dalam keadaan diam. dan duplexing/tungku parallel (menggunakan dua tungku seperti pada operasi pencairan logam dalam satu tungku dan memindahkannya ke tungku lain) 3. Proses pemanasan dibantu oleh pemakaian berbagai jenis bahan bakar. kokas dan fluks . Tungku krusibel .Telah digunakan secara luas disepanjang sejarah peleburan logam. dimiringkan atau juga dapat dipindahpindahkan .Secara khusus dapat digunakan untuk keperluan superheating (memanaskan logam cair diatas temperatur cair normal untuk memperbaiki mampu alir).Tungku ini terdiri dari suatu saluran/bejana baja vertical yang didalamnya terdapat susunan bata tahan api .Dapat diaplikasikan pada logam-logam ferro dan non-ferro 3.

bekas penambah.30 %) .Skrap balik Yang dimaksud skrap balik adalah coran yang cacat. .Kupola dapat beroperasi secara kontinu. menghasilkan logam cair dalam jumlah besar dan laju peleburan tinggi Muatan Kupola . Untuk besi cor kekuatan tinggi ditambahkan dalam jumlah yang banyak. . saluran masuk atau skrap balik yang dibeli dari pabrik pengecoran.Skrap baja (30 % ..Besi kasar (20 % . saluran turun.40 %) Kadar karbon dan siliko yang rendah adalah menguntungkan untuk mendapat coran dengan prosentase Carbon dan Si yang terbatas.

Fe-Mn ditambahkan untuk mengatur komposisi. Prosentase steel bertambah karena pengambilan steel dari kokas. Penambahan dimasukkan 10 sampai 20 % untuk Si dan 15 sampai 30 % untuk Mn. Prosentase karbon berkurang karena oksidasi logam cair dalam cerobong dan pengarbonan yang disebabkan oleh reaksi antar logam cair dengan kokas. Tambahan harus dimasukkan dalam perhitungan untuk mengimbangi kehilangan pada saat peleburan.Paduan besi Paduan besi seperti Fe-Si. Peningkatan kadar belerang (steel) yang diperbolehkan biasanya 0.1 % .. Prosentase karbon terutama diatur oleh perbandingan besi kasar dan skrap baja.