P. 1
Contoh ptk

Contoh ptk

|Views: 85|Likes:
Published by Taofiq Septiawan
silahkan di edit saja
silahkan di edit saja

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Taofiq Septiawan on Apr 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/03/2014

pdf

text

original

Sections

  • BAB I
  • PENDAHULUAN
  • A. Latar Belakang Masalah
  • B. Rumusan Masalah
  • C. Tujuan Penelitian
  • D. Kegunaan Penelitian
  • E. Definisi Operasional Variabel
  • F. Batasan Masalah
  • BAB II
  • KAJIAN PUSTAKA
  • A. Tinjauan Tentang Prestrasi Belajar
  • B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
  • C. Hakikat IPA
  • D. Pengajaran Berbasis Inkuiri
  • BAB III
  • METODOLOGI PENELITIAN
  • A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian
  • B. Rancangan Penelitian
  • C. Instrumen Penelitian
  • D. Metode Pengumpulan Data
  • E. Teknik Analisis Data
  • BAB IV
  • HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  • A.Analisis Item Butir Soal
  • B. Analisis Data Penelitian Persiklus
  • C. Pembahasan
  • BAB V
  • PUNUTUP
  • A. Kesimpulan
  • B. Saran
  • DAFTAR PUSTAKA
  • NIP: ……………………………
  • LEMBAR PENGESAHAN
  • …………………………. …………………………
  • ……………………………. ………………………
  • KATA PENGANTAR
  • DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk menigkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikanlain, dan peningkatan mutu manajemen sekolah, namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang memadai. Upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia tidak pernah berhenti. Berbagai terobosan baru terus dilakukan oleh pemerintah melalui Depdiknas. Upaya itu antara lain dalam pengelolaan sekolah, peningkatan sumber daya tenaga pendidikan, pengembangan/penulisan materi ajar, serta pengembangan paradigma baru dengan metodologi pengajaran. Mengajar bukan semata persoalan menceritakan. Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari perenungan informasi ke dalam benak siswa. Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang langgeng. Yang

bisa membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah kegiatan pengajaran berbasis inkuiri. Apa yang menjadikan pengajaran menjadi aktif? Agar belajar menjadi aktif siswa harus mengerjakan banyak sekali tugas. Mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Pengajaran berbasis inkuiri harus gesit, menyenangkan, bersemangat dan penuh gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about dan thinking aloud) Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar, melihat, mengajukan pertanyaan tentangnya, dan membahasnya dengan orang lain. Bukan Cuma itu, siswa perlu “mengerjakannya”, yakni menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, menunjukkan contohnya, mencoba mempraktekkan keterampilan, dan mengerjakan tugas yang menuntut

pengetahuan yang telah atau harus mereka dapatkan. Berdasarkan uraian tersebut di atas penulis mencoba menerapkan salah satu metode pembelajaran, yaitu metode pembelajaran berbasis inkuiri untuk mengungkapkan apakah dengan model berbasis inkuiri dapat meningkatkan motivasi belajar dan prestasi sains. Dalam metode pembelajaran berbasis inkuiri siswa lebih aktif dalam memecahkan untuk menemukan sedang guru berperan sebagai pembimbing atau memberikan petunjuk cara memecahkan masalah itu. Dengan menyadari gejala-gejala atau kenyataan tersebut diatas, maka dalam penelitian ini penulis penulis mengambil judul “Meningkatkan Prestasi dan

Motivasi Belajar IPA Dengan Menerapkan Pengajaran Berbasis Inkuiri Pada Siswa Kelas ……………………………………..Tahun Pelajaran 2004/2005.”

B. Rumusan Masalah Bertitik tolak dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan permasalahnnya sebagi berikut: 1. Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar siswa dengan diterapkannya pengajaran berbasis inkuiri pada siswa Kelas ……………………………. tahun pelajaran 2004/2005? 2. Bagaimanakah pengaruh model pengajaran berbasis inkuiri terhadap motivasi belajar siswa Kelas ………………………………………………… tahun pelajaran 2004/2005?

C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk: 1. Ingin mengetahui seberapa jauh pemahaman dan penguasaan mata pelajaran IPA setelah diterapkannya pengajaran berbasis inkuiri pada siswa Kelas ……………………………………………………….. 2004/2005. 2. Mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa setelah diterapkan pengajaran berbasis inkuiri dalam membangunkan ingatan siswa terhadap materi pelajaran IPA setelah diterapkan pengajaran berbasis inkuiri pada siswa Kelas tahun pelajaran

………………………………………………………. 2004/2005.

tahun

pelajaran

D. Kegunaan Penelitian Adapun maksud penulis mengadakan penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai: 1. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan guru dalam meningkatkan pemahaman siswa belajar IPA 2. Sumbangan pemikiran bagi guru dalam mengajar dan meningkatkan pemahaman siswa belajar IPA di ……………………………. tahun pelajaran 2004/2005. 3. Meningkatkan motivasi belajar IPA. 4. Mengembangkan metode pembelajaran yang sesuai dengan bidang studi IPA.

E. Definisi Operasional Variabel Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul penelitian ini, maka perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut: 1. Metode pembelajaran berbasis inkuiri adalah: Suatu pendekatan pengajaran yang melibatkan siswa didorong untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.

2. Motivasi belajar adalah: Merupakan daya penggerak psikis dari dalam diri seseorang untuk dapat melakukan kegiatan belajar dan menambah keterampilan, pengalaman. Motivasi mendorong dan mengarah minat belajar untuk tercapai suatu tujuan. 3. Prestasi belajar adalah: Hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor, setelah siswa mengikuti pelajaran.

F. Batasan Masalah Karena keterbatasan waktu, maka diperlukan pembatasan masalah yang meliputi: 1. Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa kelas

………………………………… Tahun Pelajaran 2004/2005. 2. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September tahun pelajaran 2004/2005. 3. Materi yang disampaikan adalah pokok bahasan alat peredaran darah.

Jadi belajar merupakan hal yang pokok. Tinjauan Tentang Prestrasi Belajar 1. Pengertian Belajar Pengertian belajar sudah banyak dikemukakan dalam kepustakaan. berbulan-bulan atau bertahun-tahun. tetapi perubahan itu hendaklah merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari-hari. . maka perubahan harus merupakan akhir dari pada periode yang cukup panjang. Berapa lama waktu itu berlangsung sulit ditentukan dengan pasti. formal serta fungsional pada umumnya dan bidang intelektual pada khususnya. tetapi prosesnya terjadi secara internal di dalam diri individu dalam mengusahakan memperoleh hubungan-hubungan baru. Belajar merupakan suatu perubahan pada sikap dan tingkah laku yang lebih baik. tetapi kemungkinan mengarah pada tingkah laku yang lebih buruk.BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Yang dimaksud belajar yaitu perbuatan murid dalam bidang material. Belajar merupakan suatu proses yang tideak dapat dilihat dengan nyata proses itu terjadi dalam diri seserorang yang sedang mengalami belajar. bermingguminggu. Untuk dapat disebut belajar. Jadi yang dimaksud dengan belajar bukan tingkah laku yang nampak.

Dengan demikian bahwa prestasi merupakan hasil yang telah dicapai oleh seseorang setelah melakukan sesuatu pekerjaan/aktivitas tertentu. Pengertian Prestasi Belajar Sebelum dijelaskan pengertian mengenai prestasi belajar. kecepatan dan kepekaan dalam menerima materi pelajaran. Setiap orang mempunyai cara atau pedoman sendiri-sendiri dalam belajar. tetapi mungkin kurang sesuai untuk anak/siswa yang lain. Oleh karena itu setiap individu harus belajar dengan sebaik-baiknya supaya prestasinya berhasil dengan baik.2. Pedoman/cara yang satu cocok digunakan oleh seorang siswa. 3. Prestasi adalah hasil yang telah dicapai. Hal ini disebabkan karena mempunyai perbedaan individu dalam hal kemampuan. Jadi prestasi adalah hasil yang telah dicapai oleh karena itu semua individu dengan adanya belajar hasilnya dapat dicapai. terlebih dahulu akan dikemukakan tentang pengertian prestasi. Pedoman Cara Belajar Untuk memperoleh prestasi/hasil belajar yang baik harus dilakukan dengan baik dan pedoman cara yang tapat. . Sedang pengertian prestasi juga ada yang mengatakan prestasi adalah kemampuan. Kemampuan di sini berarti yan dimampui individu dalam mengerjakan sesuatu. Setiap individu belajar menginginkan hasil yang yang sebaik mungkin.

keadaan rumah tangga. guru. Bagi siswa yang berada dalam faktor yang mendukung kegiatan belajar akan . Artinya pelaksanaan dan hasilnya sangat ditentukan oleh faktor-faktor di atas. B. b. Berdasarkan faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar di atas menunjukkan bahwa belajar itu merupaka proses yang cukup kompleks. dan cara dalam mengajarnya. Yang termasuk ke dalam faktor individu antara lain faktor kematangan atau pertumbuhan. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar 1. lingkungan dan kesempatan yang ada atau tersedia dan motivasi sosial. Tetapi faktor yang paling menentukan keberhasilan belajar adalah para siswa itu sendiri. dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu: a. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar Adapun faktor-faktor itu.Oleh karena itu tidaklah ada suatu petunjuk yang pasti yang harus dikerjakan oleh seorang siswa dalam melakukan kegiatan belajar. latihan. Faktor yang ada pada diri siswa itu sendiri yang kita sebut faktor individu. motivasi. dan faktor pribadi. Untuk dapat mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya harus mempunyai kebiasaan belajar yang baik. Faktor yang ada pada luar individu yang kita sebut dengan faktor sosial Sedangkan yang faktor sosial antara lain faktor keluarga. kecerdasan.

maka kegiatan atau proses belajarnya akan terhambat atau menemui kesulitan. C. Hakikat IPA IPA didefiniksan sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara alam. merupakan salah satu cara untuk dapat memahami konsep-konsep IPA secara tepat dan dapat diuji kebenarannya. pada dasarnya konsep-konsep IPA selalu dapat dinyatakan dalam bentuk angka-angka. 2. Kualitas. Sebaliknya bagi siswa yang berada dalam kondisi belajar yang tidak menguntungkan. Observasi dan Eksperimen. Ramalan (prediksi).dapat dilalui dengan lancar dn pada gilirannya akan memperoleh prestasi atau hasil belajar yang baik. Metode ilmiah dan pengamatan ilmiah menekankan pada hakikat IPA. tetapi juga oleh adanya metode ilmiah dan sikap ilmiah. Perkembangan IPA tidak hanya ditandai dengan adanya fakta. Secara rinci hakikat IPA menurut Bridgman (dalam Lestari. 3. merupakan salah satu asumsi penting dalam IPA bahwa misteri alam raya ini dapat dipahami dan memiliki keteraturan. 2002: 7) adalah sebagai berikut: 1. Dengan . dalam arti tidak ditunjang atau didukung oleh faktor-faktor diatas.

Proses. Dalam pembelajaran dengan penemuan/inkuiri. 5. tetapi lebih ditujukan . menyatakan sebagai berikut: “Kita mengajarkan suatu bahan kajian tidak untuk menghasilkan perpustakaan hidup tentang bahan kajian itu. Dari penjelasan di atas.asumsi tersebut lewat pengukuran yang teliti maka berbagai peristiwa alam yang akan terjadi dapat diprediksikan secara tepat. Pengajaran Berbasis Inkuiri Pembelajaran dengan penemuan (inquiry) merupakan satu komponen penting dalam pendekatan konstruktivistik yang telah memiliki sejarah panjang dalam inovasi atu pembaharuan pendidikan. Universalitas. dapat disimpulkan bahwa hakikat IPA merupakan bagian dari IPA. Progresif dan komunikatif. kebenaran yang ditemukan senantiasa berlaku secara umum. Bruner (1966). 4. artinya IPA itu selalu berkembang ke arah yang lebih sempurna dan penemuan-penemuan yang ada merupakan kelanjutan dari penemuan sebelumnya. dimana konsep-konsepnya diperoleh melalui suatu proses dengan menggunakan metode ilmiah dan diawali dengan sikap ilmiah kemudian diperoleh hasil (produk). siswa didorong untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri. tahapan-tahapan yang dilalui dan itu dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah dalam rangkan menemukan suatu kebernaran. D. penganjur pembelajaran dengan basis inkuiri.

Inkuiri adalah seni dan ilmu bertanya dan menjawab. Belajar dengan penemuan mempunyai berbagai keuntungan. Pembelajaran dengan inkuiri memacu keinginan siswa untuk mengetahui. Belajar dengan penemuan dapat diterapkan dalam banyak mata pelajaran. 2000:10). Pengajaran berbasis inkuiri membutuhkan strategi pengajar yang mengikuti metodologi IPA dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna. memotivasi mereka untuk melanjutkan pekerjaannya hingga mereka menemukan jawabannya. mereka turut mengambil bagian dalam proses. meneladani seperti apa yang dilakukan oleh seorang sejarawan. Siswa juga belajar memecahkan masalah secara mandiri dan memiliki keterampilan berpikir kritis karena mereka harus selalu menganalisa dan menangani informasi. Inkuiri melibatkan observasi dan pengukuran. . Siswa diminta untuk menggelindingkan silinder tersebut pada suatu bidang miring. Bila percobaan itu dilakukan dengan benar. siswa diberi sederet silinder dengn ukuran dan berat yang berbeda-beda. memotivasi mereka untuk melanjutan pekerjaannya hingga mereka menemukan prinsip-prinsip utama yang menentukan kecepatan silinder tersebut. siswa akan dapat menemukan prinsipprinsip utama yagn menentuan kecepatan silinder tersebut. Pembelajaran dengan inkuiri memacu keinginan siswa untuk mengetahui. Sebagai contoh. Belajar dengan penemuan mempunyai beberapa keuntungan.untuk membuat siswa berpikir …. Untuk diri mereka sendiri. bukan suatu produk (Nur & Wikandari. pembutan hipotesis dan interpretasi.

siswa belajar bagaiman menjadi ilmuwan. Setiap siswa harus memainkan dan memfungsikan talentanya masing-masing.pembentukan model dan pengujian model. Inkuiri adalah apa yang dibuat oleh para ilmuwan. Selama proses inkuiri berlangsung. Inkuiri memeungkinkan siswa dalam berbgai tahap perkembangannya bekerja dengan masalah-masalah yang sama dan bahkan mereka bekerja sama mencari solusi terhadap masalah-masalah. membuat keputusan. Dalam proses mengalami ilmu melalui inkuiri. Pertanyaannya bersifat open-ended. mereka mempelajari berbagi proses yang terlibah dalam pemantapan konsep dan fakta. memberi kesempatan kepada siswa untuk menyelidiki sendiri dan mereka mencari jawaban sendiri (tetapi tidak hanya satu jawaban yang benar). Mereka dilatih bagaimana memecahkan maslah. Siswa diharapkan mengambil inisiatif. dan memperoleh ketarampilan. seorang guru dapat menajukan suatu pertanyaan atau mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri. Mereka belajar lebih banyak lagi ketimbang hanya konsep dan fakta. dan dalam proses melakukan inkuiri para ilmuwan memberikan kontribusi pada tubuh informasi yang bersifat kolektif yang kita sebut pengetahuan. refleksi. Inkuiri menuntut adanya eksperimentasi. dan pengenalan akan keunggulan dan kelamahan metode-metodenya sendiri. Inkuiri memberikan kepada siswa pengalaman-pengalaman belajar yang nyata dan aktif. . Para ilmuwan melakukan ikuiri dengan suatu cara formal dan sitematis.

siswa dituntut untuk bertanggung jawab bagi pendidikan mereka sendiri. apa yang mereka ketahui. Guru yang menaruh perhatian pada pribadi siswa. Inkuiri memungkinkan guru mempelajari siswa-siswanya – siapa mereka. akan menemukan kegiatankegiatan yang disukai siswa. Dengan demikian. dan bagaimana mereka bekerja. dan teknik. ilmu sosial. dan terlalu banyak menjawab akan mengurangi proses belajar siswa melalui inkuiri. . dan kesulitian-kesulitan yang mengganggu siswa dalam proses belajar. Siswa harus mengajukan pertanyaanpertanyaan yang berarti dan berhubungan. proses belajar tidak akan lagi menyenangkan. lisan atau tertulis. Mereka harus melapoirkan hasil-hasil temuannya. Dengan begitu. Guru dituntut menyesuaikan diri terhadap gaya belajara siswa-siswanya. guru tidak boleh banyak bertanya atau berbicara. juga hal-hal yng baik yag ada dalam diri siswasiswanya. Dalam proses inkuiri. Pemahaman guru tentang siswa akan memungkinkan guru untuk menjadi fasilitator yang lebih efektif dalam proses pencarian ilmu oleh siswa.Inkuiri memungkinkan terjadinya integrasi berbagai disiplin ilmu. Ketika guru menggunakan teknik inkuiri. Ketika siswa melakukan eksplorasi mereka cenderung mengajukan pertanyaanpertanyaan yang akan melibatkan IPA dan matematika. Terlalu banyak intervensi. bahasa. terlalu banyak bertanya. Inkuiri melibatkan pula komunikasi. seni. mereka bekerja dan mengajar satu sama lain.

Inkuiri dimulai dengan observasi yang menjadi dasar pemunculan berbagai pertanyaan yang diajukan siswa. perumusan hipotesis. Inkuiri adalah satu proses yang bergerak dari langkah observasi sampai langkah pemahaman. penciptaan teori dan model-model konsep yang didasarkan pada data dan pengetahuan. pengembangan cara-cara pengujian hipotesis. Mengajukan pertanya seperti “Bagaimana itu kita tahu?” atau “Apa buktinya?” b. dan Penyimpulan (Conclusion). Ketika siswa belajar berpikir kritis. siswa belajar dan dilatih bagaimana mereka harus berpikir kritis. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut dikejar dan diperoleh melalui suatu siklus pembuatan prediksi. pembuatan observasi lanjutan. Berpikir kritis merupakan slah satu tujuan pendidikan. Guru dapat memanfaatkannya untuk menentukan situasi-situasi belajar yang tepat dan memfasilitasi siswa dalam proses pencarian ilmu. (4) Pengumpulan data (Data Gathering). Inkuiri menciptakan berbagai kesempatan bagi guru untuk mempelajari bagaimana otak siswa bekerja. Dalam proses inkuiri. merka kan memperlihatkan pikiran-pikiran dan proses-proses sebagai berikut: a. (3) Mengajukan dugaan (Hipothesis). .Siklus inkuiri adalah: (1) Observasi (Observation). Mengetahui perbedaan antara observasi dan kesimpulan. (2) Bertanya (Questioning).

e. Memberi penjelasan atau interpretasi. Keterampilan dalam berpikir kritis paling baik dicapai bila dihibungkan dengan topik-topik yang dikenal siswa. belajar berpikir kritis bergantung pada penataan suasana kelas yang mendorong penerimaan pandangan divergen (berbeda) dan diskusi bebas. f. Tatanan itu seharusnya juga lebih menekankan pada pemberian alasan atau pandangan daripada hanya memberikan jawaban benar. memalkukan observasi dan/atau prediksi. d. Mengetahui bahwa semua gagasan ilmiah itu dapat berubah dan bahwa teori yang ada adalah teori-teori yang terbaik berdasarkan bukti yang kita miliki sejuh nini. . Mengetahui bahwa diperlukan bukti yang cukup untuk menarik suatu kesimpulan yang kuat. membuat keputusan rasional tentang apa yang diperbuat atau apa yang diyakini. Salah satu tujuan utama pendidikan adalah meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis. Tujuan pengajaran berpikir kritis adalah menciptakan suatu semangat berpikir kritis yang mendorong siswa mempertanyakan apa yang mereka dengar dan mengkaji pikiran mereka sendiri untuk memastikan tidak terjadi logika yang tidak konsisten atau keliru.c. Selalu mencari konsistensi terhadap kesimpulan-kesimpulan yang diambil dan memgerikan penjelasan dengan rasa percaya diri.seperti halnya setiap tujuan yang lain.

(2) Membedakan antara informasi. tetapi juga menyampaikan kapan tiap-tiap strategi berpikir kritis itu cocok untuk dipakai. siswa dapat menangani informasi untuk mengevaluasi apakah informasi itu benar atau masuk akal. (1) Membedakan fakta-fakta yang dapat diverifikasi dan tuntutan nilai-nilai yang sulit diverifikasi (diuji kebenarannya). (5) Mengidentifikasi tuntutan atau argument yang mendua. (10) Menentukan kekuatan suatu argument atau tuntutan. atau alasan yang relevan dengan yang tidak relevan. Beyer mengingatkan bahwa 10 keterampilan berpikir kritis di atas bukan merupakan suatu urutan langkah-langkah tetapi lebih merupakan daftar cra yang dapat dilakukan. Tugas utama dalam mengajarkan berpikir kritis kepada siswa adalah membantu mereka belajar tidak hanya bagaimana menggunakan tiap-tiap strategi berpikir kritis itu. (4) Menentukan kredibilitas (dapat dipercaya) dari suaut sumber. (6) Mengidentifikasi asumsi yang tidak dinyatakn. (9) Mengenali ketidak-konsistenan logika dalam suatu alur penalaran. (8) Mengidentifikasi kekeliruan-kekeliruan logika. tuntutan. .Beyer (1988:57) mengidentifiksi 10 keterampilan berpikir kritis yang dpat digunakan siswa untuk mempertimbangkan validitas (keabsahan) tuntutan atau argument. (3) Menentukan kecermatan factual (kebenaran) dari suatu penyataan. Dengan cara-cara itu. dan sebagainya. memahami periklanan. (7) Mendeteksi bias (menemukan penyimpangan).

penyanyi. Howard Gardaner (1983) menunjukan bahwa intelgensi dapat diubah. tepai dapat berkembang atau berkurang. (7) intrapersonal: . atau guru. atau organis/pianis. (6) interpersonal: hakim. buan pula sesuatu yang semata-mata pembawaan genetis secara lahiriah. buku. interpersonal. Dengan menggunakan kriteria khusus untuk mengidentifikasi konsep inteleigenais. atau insinyur. dan naturalist. interior decorator. Intelligensi tidak dapat dipisahkan dari konteks di mana manusia itu hidup dan berkembang. pembalap. atau petinju. computer. 2002:141). Inteligensi bukan sesuatu yang hanya dpat diukur dengan tes. reporter. alat-alat belajar (pena. Menurut Gardaner. intra-personal. musical. spatial. atu penulis. neurology. Lingkungan yng dimaksud adalah teman. saleperson. yakni: linguistic. pemain golf. guru.Proses inkuiri tidak dpat dipisahkan dari konsep berpikir kritis. bodilykinesthetic. “Intelligence is the ability to solve problems or to create products that are valued between one or more cultural settings” (Johnson. atau pemain tennis. kegiatan-kegiatan fisik. dan hal-hal lain yang mencapai otak melalui panca indera. musik). (5) musik: pengarang lagu. logical-mathematic. Jenis pekerjan dan aktivitas yang dapat dikembangkan untuk kedelapan jenis inteligensi ini dpat dicontohkan sebagai beikut: (1) linguistic: wartawan. Gardaner mengusulkan delapan jenis inteligenwsi. ahli fisika. orang tua. (3) spasial: pelukis. politikus. (2) logis-mathematis. (4) bodily-kinesthic: penari balet. Konsep berpikir kritis tidak dapat pula dipisahkan dari konsep inteligensi. inteligensi tidak dilahirkan. bergantung pada lingkungan atau konteks seseorang.

Kedelapan jenis inteligensi ini telah mengilhami para pendidik untuk mengajar dengan dengan mengac pada salah satu dari delapan jenis inteligensi tersebut. ahli kebun binatang. pujangga. “CTL’s component work together to provide this rich environment. “Hundred. perhaps thousands. 1994:35). dan (8) naturalist: ahli botani. Setiap siswa mampu mengembangkan setiap jenis inteligensidi atas dengan asumsi bahwa siswa belajar dalam suatu lingkungan belajar yang kaya yang memungkikan mereka menghubungkan makna dengan konteks.biarawan/rohaniawan. 2002:141). Guru CTL menyadari dan menghargai bahwa setiap anak memiliki derajat yang berbeda dalam hal inteligensinya dan bahwa CTL sebagai suatu system holistic berhubungan dengan delapan inteligensi yang dibawa setiap anak pada lingkungan belajar. Apakah kelas berfokus pada siswa yang kurang mampu atau kelas yang siswa-siswanya berbakat. . offering students many opportunities to ignite the eight multiple intelligences ” (Amstrong. atau ahli ilmu jiwa/psikolog. para pendidik melihat manfaat mengajar yang sesuai dengan cara-cara untuk mencapai berbagai jenis inteligensi yang dikemukakan Gardaner. atau ahli pertamanan. of classrooms around the world rely today on Gardaner’s theory of multiple intelligences to help students realize their latent potential” (Johnson.

Bagaimana menjiwai perasaan sendiri. bagaimana caranya guru membantu siswa agar mereka tumbuh mandiri? Jawabannya adalah memberi kebebasan kepada siswa untuk mengikuti minat alamiah mereka. Guru dapat membantu siswa memahami konsepkonsep yang sulit dengan bantuan gambar dan demontrasi. keterampilan dan sistematika. mengalami dan mengorganisasikan berbagai pola dalam lingkungan alamiah Intapersonal/antar-pribadi Naturalist/alamiah Guru yang menggunakan pembelajaran berbasis inkuiri haru menjadikan siswa mampu berdiri sendiri. harus mendorong siswa untuk mandiri sedini mungkin sejak dari awal masuk sekolah. dan makna kata Kemapuan menghasilkan dan menghargai ritme. dan kemampuan menarik kesimpulan untuk menuntun tingkah laku seseorang Mengamati. Kemampuan mengontrol gerak tubuh seseorangdan kemampuan menangani objek secara terampil. bukan mengajarkan mereka jawaban dari masalah yang mereka hadapi. Kemampuan untuk menjawab atu memberikan reaksi secara tepat berbagai suasana batin. dan warna suara Kemampuan untuk melakukan transformasi mengenai persepsi awal seseorang dan kemampuan mengkreasi kembali aspek-aspek pengalaman visual seseorang. ritme. kemampuan mendiskriminasikan berbagi perasaan seseorang. 1983) Logika-matematika Linguistic/ilmu bahasa Musik Spatial/jarak Bodily-kinesthetic/fisik-kinestetik Inter personal/antar-pribadi Multiple Intelligences Peka terhadap pola.Delapan inteligensi (Howard Gardaner. tinggi rendah suara. Siswa akan mendapat keuntungan jika mereka dapat “melihat” dan “melakukan” sesuatu daripada hanya sekedar mendengarkan ceramah atau penjelasan guru. Timbul pertanyaan. Peka terhadap bunyi. temperamen. Guru harus mendorong siswa untuk memecahkan sendiri msalah yang dihadapinnya atau memecahkan sendiri di dalam kelompoknya. . motivasi dan keinginanorang lain.

Jika siswa tampak berusaha dengan menghadapi suatu.Belajar harus luwes dan bersifat menyelidiki atau melalui penemuan. Sebagai saran tamhahan bagi guru yangmengajar dengan pendekatan inkuiri: (1) doronglah siswa agar mereka mengajukan dugan awal dengan cara guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan membimbing. meskipun mereka mengajukan gagasangagasan yang tidak berhubungan langsung dengan pelajaran yang diberikan. sekolah harus merangsang keingintahuan siswa. S. . (2) gunakan bahan dan permainan yang bervariasi. dan (4) gunakan sejumlah contoh yang kontras atau perlihatkan perbedaan yang nyata dengan materi ajar mengenai topik-topik yang terkait. Guru juga harus memperhatikan sikap siswa terhadap belajar. (3) berikan kesempatan kepada siswa untuk memuaskan keingintahuan mereka. Burner. meminimalkan risiko kegagalan. berikan mereka waktu untuk mencoba sendiri memecahkan masalah tersebut sebelum memberikan pemecahannya. Menurut Jerome. dan bertindak serelevan mungkin bagi siswa.

1997: 8) mengelompokkan penelitian tindakan menjadi empat macam yaitu. Tujuan utama dari penelitian tindakan ini adalah untuk meningkatkan hasil pembelajaran di kelas dimana guru secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan. penanggung jawab penuh penelitian ini adalah guru. kehadiran peneliti sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dilakukan seperti biasa. sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai. pengamatan. Dalam penelitian tindakan ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti. Dalam penelitian ini peneliti tidak bekerjasama dengan siapapun. (b) penelitian tindakan kolaboratif. sehingga siswa tidak tahu kalau diteliti. . Dengan cara ini diharapkan didapatkan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan. dan refleksi. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif. Menurut Oja dan Sumarjan (dalam Titik Sugiarti. (d) administrasi social eksperimental. karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. tindakan. (a) guru sebagai penelitia.BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research). (c) simultan terintegratif.

tahun pelajaran 2004/2005. memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu. . Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tempat. Waktu Penelitian Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Waktu dan Subyek Penelitian 1.A. 3. Menurut Tim Pelatih Proyek PGSM. serta memperbaiki kondisi dimana praktek pembelajaran tersebut dilakukan (dalam Mukhlis. 2. tahun pelajaran 2004/2005 pada pokok bahasan alat peredaran darah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September semester gasal tahun pelajaran 2004/2005. Penelitian ini bertempat di ………………………………………. Subyek Penelitian Subyek penelitian adalah siswa-siswi Kelas ………………………………. 2000: 3). Tempat Penelitian Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas. B.

yaitu penelitian tindakan.Sedangkah menurut Mukhlis (2000: 5) PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat sistematis reflektif oleh pelaku tindakan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan. . observation (pengamatan). Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: 1. Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih. Silabus Yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran pengelolahan kelas. C. sedangkan tujuan penyertaannya adalah menumbuhkan budaya meneliti di kalangan guru (Mukhlis. dan refleksi. tindakan. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan. Setiap siklus meliputi planning (rencana). serta penilaian hasil belajar. pengamatan. dan reflection (refleksi). action (tindakan). Adapun tujuan utama dari PTK adalah untuk memperbaiki/meningkatkan pratek pembelajaran secara berkesinambungan. 1997: 6). 2000: 5). yaitu berbentuk spiral dari sklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Langkah pada siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi. maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Sugiarti.

Tes formatif ini diberikan setiap akhir putaran. Tes formatif Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Rencana Pelajaran (RP) Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep IPA pada pokok bahasan alat peredaran darah. Sehingga dapat ditentukan butir soal yang gagal dan yang diterima.2. dan kegiatan belajar mengajar. tujuan pembelajaran khusus. Validitas Tes Validitas butir soal atau validitas item digunakan untuk mengetahui tingkat kevalidan masing-masing butir soal. kemudian penulis mengadakan analisis butir soal tes yang telah diuji validitas dan reliabilitas pada tiap soal. Bentuk soal yang diberikan adalah pilihan guru (objektif). Masingmasing RP berisi kompetensi dasar. Analisis ini digunakan untuk memilih soal yang baik dan memenuhi syarat digunakan untuk mengambil data. Langkah-langkah analisi butir soal adalah sebagai berikut: a. 3. Tingkat kevalidan ini dapat dihitung dengan korelasi Product Moment: . Sebelumnya soalsoal ini berjumlah 46 soal yang telah diujicoba. indikator pencapaian hasil belajar.

c. 20001: 93) (1 + r1 / 21 / 2 ) Dengan: r11 r1/21/2 : Koefisien reliabilitas yang sudah disesuaikan : Korelasi antara skor-skor setiap belahan tes Kriteria reliabilitas tes jika harga r11 dari perhitungan lebih besar dari harga r pada tabel product moment maka tes tersebut reliable. 2001: 72) Dengan: rxy N ΣY ΣX ΣX2 : Koefisien korelasi product moment : Jumlah peserta tes : Jumlah skor total : Jumlah skor butir soal : Jumlah kuadrat skor butir soal ΣXY : Jumlah hasil kali skor butir soal b. Taraf Kesukaran Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal adalah indeks kesukaran.rxy = {N ∑ X N ∑ XY − ( ∑ X )( ∑ Y ) 2 − (∑ X ) 2 }{N ∑Y 2 − ( ∑Y ) 2 } (Suharsimi Arikunto. Reliabilitas Reliabilitas butir soal dalam penelitian ini menggunakan rumus belah dua sebagai berikut: r11 = 2r1 / 21 / 2 (Suharsimi Arikunto. Rumus yang digunakan untuk menentukan taraf kesukaran adalah: .

2001: 208) : Indeks kesukaran : Banyak siswa yang menjawab soal dengan benar : Jumlah seluruh siswa peserta tes Dengan: P B Js Kriteria untuk menentukan indeks kesukaran soal adalah sebagai berikut: Soal dengan P = 0.300 adalah sukar Soal dengan P = 0. Daya Pembeda Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah.700 adalah sedang Soal dengan P = 0.301 sampai 0. Rumus yang digunakan untuk menghitung indeks diskriminasi adalah sebagai berikut: D= B A BB − = PA − PB JA JB (Suharsimi Arikunto. 2001: 211) Dimana: D : Indeks diskriminasi BA : Banyak peserta kelompok atas yang menjawab dengan benar BB : Banyak peserta kelompok bawah yang menjawab dengan benar JA : Jumlah peserta kelompok atas . Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda desebut indeks diskriminasi.000 sampai 0.P= B Js (Suharsimi Arikunto.000 adalah mudah d.701 sampai 1.

200 adalah jelek Soal dengan D = 0. JA BB = Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar JB PB = Kriteria yang digunakan untuk menentukan daya pembeda butir soal sebagai berikut: Soal dengan D = 0. yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon .400 adalah cukup Soal dengan D = 0.000 adalah sangat baik D. dan tes formatif. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif.201 sampai 0. Teknik Analisis Data Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. E. Metode Pengumpulan Data Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi pengolahan pengajaran berbasis inkuiri.701 sampai 1.700 adalah baik Soal dengan D = 0.000 sampai 0.401 sampai 0.JB : Jumlah peserta kelompok bawah PA = BA = Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar.

yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan: X = ∑X ∑N : X = Nilai rata-rata Σ X = Jumlah semua nilai siswa Σ N = Jumlah siswa Dengan 2. 1994). dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari . Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud. Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Untuk ketuntasan belajar Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistic sederhana yaitu: 1. Untuk menilai ulangan atau tes formatif Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa. yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65.

Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut: P= ∑Siswa.belajar x100% ∑Siswa . yang.tuntas.atau sama dengan 65%.

Dari . maka data tes tersebut diuji dan dianalisis. reliabilitas. A. Analisis tes yang dilakukan meliputi: 1. Validitas Validitas butir soal dimaksudkan untuk mengetahui kelayakan tes sehingga dapat digunakan sebagai instrument dalam penelitian ini.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Data penelitian yang diperoleh berupa hasil uji coba item butir soal. Data tes formatif untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkan pengajaran berbasis inkuiri. Data hasil uji coba item butir soal digunakan untuk mendapatkan tes yang betul-betul mewakili apa yang diinginkan. Analisis Item Butir Soal Sebelum melaksanakan pengambilan data melalui instrument penelitian berupa tes dan mendapatkan tes yang baik. dan daya pembeda. Data ini selanjutnya dianalisis tingkat validitas. dan data tes formatif siswa pada setiap siklus. data observasi berupa pengamatan pengelolaan pengajaran berbasis inkuiri dan pengamatan aktivitas siswa dan guru pada akhir pembelajaran. Uji coba dilakukan pada siswa di luar sasaran penelitian. taraf kesukaran.

33. 7. Harga ini lebih besar dari harga r product moment. 43. 3. 35. 12. 16.perhitungan 46 soal diperoleh 16 soal tidak valid dan 30 soal valid. Hasil analisis menunjukkan dari 46 soal yang diuji terdapat: 20 soal mudah 16 soal sedang 10 soal sukar . 38. 27. 17. 13. 46 2. 26. Tabel 4. 45 Soal Tidak Valid 5. 31. 9. 4. 15. 37. 30. 654. 18. 6. 22. 11. 39. 3. 8. 34. 29. 28. 20. 41.36. 2. 40. 14. 25.1.404. Untuk jumlah siswa (N = 24) dengan r (95%) = 0. 10. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan telah memenuhi syarat reliabilitas. Soal Valid dan Tidak Valid Tes Formatif Siswa Soal Valid 1. Dari hasil perhitungan diperoleh koefisien reliabilitas r11 sebesar 0. Reliabilitas Soal-soal yang telah memenuhi syarat validitas diuji reliabilitasnya. 23. 24. Hasil dari validits soal-soal dirangkum dalam tabel di bawah ini. Taraf Kesukaran (P) Taraf kesukaran digunakan untuk mengetahui tingkat kesukaran soal. 32. 21. 42. 44. 19.

dan daya pembeda. dengan jumlah siswa 24 siswa. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 12 September 2004 di Kelas ………. Analisis Data Penelitian Persiklus 1. reliabilitas. b. Dari hasil analisis daya pembeda diperoleh soal yang berkriteria jelek sebanyak 16 soal. Daya Pembeda Analisis daya pembeda dilakukan untuk mengetahui kemampuan soal dalam membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan telah memenuhi syara-syarat validitas. berkriteria baik 10 soal. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar . Siklus I a. soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. B. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru.4. berkriteria cukup 20 soal. taraf kesukaran.. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1.

Urut Nilai Keterangan T TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 7 5 No. Urut 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Jumlah Nilai 90 70 50 40 80 80 70 70 50 60 70 90 820 Keterangan T TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 8 4 1 80 2 50 3 70 4 40 5 60 6 80 7 70 8 60 9 40 10 80 11 70 12 80 Jumlah 780 Jumlah Skor 1600 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2400 % Skor Tercapai 66. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut: Table 4. Nilai Tes Formatif Pada Siklus I No.2.67 Keterangan: T TT Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang belum tuntas Klasikal : Tuntas : Tidak Tuntas : 15 :9 : Belum tuntas .Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan.

Adapun .Tabel 4. b. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2. karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 65 hanya sebesar 62. Hal ini disebabkan karena siswa masih canggung dengan diterapkannya pengajaran berbasis inkuiri. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru.50% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 19 September 2004 di Kelas V dengan jumlah siswa 24 siswa.3.67 dan ketuntasan belajar mencapai 62.50 Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan pengajaran berbasis inkuiri diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 66. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar.67 15 62. Siklus II a. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus I No 1 2 3 Uraian Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan belajar Hasil Siklus I 66. soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. 2.50% atau ada 15 siswa dari 24 siswa sudah tuntas belajar.

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan.proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I. sehingga kesalah atau kekurangan pada siklus I tidak terulanga lagi pada siklus II. Table 4. Urut Nilai Keterangan T TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 9 3 No.50 Keterangan: T TT : Tuntas : Tidak Tuntas . Instrument yang digunakan adalah tes formatif II.4. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Urut 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Jumlah Nilai 80 60 80 70 70 70 60 90 80 60 80 80 880 Keterangan T TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 9 3 1 80 2 60 3 80 4 80 5 70 6 60 7 70 8 60 9 70 10 80 11 80 12 70 Jumlah 860 Jumlah Skor 1740 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2400 % Skor Tercapai 72. Nilai Tes Formatif Pada Siklus II No. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut.

.50 dan ketuntasan belajar mencapai 75. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena siswa sudah mulai akrab dengan pengajaran berbasis inkuiri. Siklus III a. disamping itu ada perasaan senang pada diri siswa dengan adanya cara belajar yang baru karena itu adalah pengamalan pertama bagi siswa.00% atau ada 18 siswa dari 24 siswa sudah tuntas belajar.5. 3.Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang belum tuntas Klasikal : 18 :6 : Belum tuntas Tabel 4. Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus II No 1 2 3 Uraian Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan belajar Hasil Siklus II 72. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I.50 18 75. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3.00 Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 72. soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung.

Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II.b. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Tahap kegiatan dan pengamatan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 25 September 2004 di Kelas V dengan jumlah siswa 24 siswa. Adapun data hasil penelitian pada siklus III adalah sebagai berikut: . Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III.

Urut Nilai Keterangan T TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 10 2 No.7.67 21 87. Urut 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Jumlah Nilai 80 90 80 70 80 60 80 90 80 70 80 70 930 Keterangan T TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 11 1 1 60 2 80 3 80 4 70 5 70 6 90 7 80 8 60 9 80 10 90 11 70 12 80 Jumlah 910 Jumlah Skor 1840 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2400 % Skor Tercapai 76.67 Keterangan: T TT Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang belum tuntas Klasikal : Tuntas : Tidak Tuntas : 21 :3 : Tuntas Tabel 4. Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus III No 1 2 3 Uraian Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan belajar Hasil Siklus III 76. Nilai Tes Formatif Pada Siklus III No.67 dan dari 24 siswa yang telah tuntas sebanyak 21 siswa dan .6.Table 4.50 Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 76.

4) Hasil belajar siswsa pada siklus III mencapai ketuntasan. . Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 87. 3) Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan siswa dalam memahami pembelajaran berbasis inkuiri. Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Dari data-data yang telah diperoleh dapat duraikan sebagai berikut: 1) Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna.3 siswa belum mencapai ketuntasan belajar.50% (termasuk kategori tuntas). tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar. Disamping itu peningkatan kemampuan guru dalam mengelola pengajaran berbasis inkuiri semakin mantap. Refleksi Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan pengajaran berbasis inkuiri. 2) Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. c.

75. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi yang telah disampaikan guru selama ini (ketuntasan belajar meningkat dari sklus I.50%. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak. II. Ketuntasan Hasil belajar Siswa Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa pengajaran berbasis inkuiri memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasasi belajar siswa. . Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. Pembahasan 1.d. dan III) yaitu masing-masing 62. dan 87.00%. C. tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakah selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan pengajaran berbasis inkuiri dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan pengajaran berbasis inkuiri dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik.50%.

. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas isiswa dapat dikategorikan aktif. memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah pengajaran berbasis inkuiri dengan baik. yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap proses mengingat kembali materi pelajaran yang telah diterima selama ini.2. 3. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data. menjelaskan/melatih menggunakan alat. diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran IPA dengan pengajaran berbasis inkuiri yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data. dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan. diperoleh aktivitas siswa dalam proses pengajaran berbasis inkuiri dalam setiap siklus mengalami peningkatan. mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru.

50%). maka disampaikan saran sebagai berikut: . siklus III (87. Penerapan pengajaran berbasis inkuiri mempunyai pengaruh positif. Kesimpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus.00%). Pembelajaran dengan pengajaran berbasis inkuiri memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus. dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. B. 2.BAB V PUNUTUP A. siklus II (75. yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa untuk mempelajari pelajaran IPA yang ditunjukan dengan rata-rata jawaban siswa yang menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat dengan pengajaran berbasis inkuiri sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar.50%). Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar IPA lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa. yaitu siklus I (62.

1. 3. karena hasil penelitian ini hanya dilakukan 2004/2005. dimana siswa nantinya dapat menemuan pengetahuan baru. Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan agar diperoleh hasil yang lebih baik. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut. tahun pelajaran . sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan pengajaran berbasis inkuiri dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal. Untuk melaksanakan pengajaran berbasis inkuiri memerlukan persiapan yang cukup matang. guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran yang sesuai. memperoleh konsep dan keterampilan. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa. 2. 4. walau dalam taraf yang sederhana. sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. di ………………………………………….

Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.DAFTAR PUSTAKA Arikunto. 2004. Bandung: PT. Malang: Universitas Negeri Malang (UM Press). Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Semarang: Aneka Ilmu. Daroeso. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya Dalam KBK. Winarno. Bambang. . Bandung: Alfabeta. 1990. Yogyakarta: YP. 2004. Psikologi UGM. 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Metode Penelitian Pendidikan. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Jilid 1. Siberman. Melvin. Purwanto M. 2002. Ngalim. Bandung: PT. Fak. Muhammad. 1982. Dasar dan Konsep Pendidikan Moral Pancasila. Bandung: Sinar Baru Algesindon. 1996. dkk. Sutrisno. Suharsimi. Active Learning. Bandung: Nusamedia dan Nuansa. Sukmadinata. 1990. Surakhmad. L. 2004. Riduwan. Metodologi Research. Remaja Rosdakarya. Ali. Metode Pengajaran Nasional. Nana Syaodih. Bandung: Jemmars. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineksa Cipta. 1989. Remaja Rosdakarya. Nurhadi. Hadi.

MENINGKATKAN PRESTASI DAN MOTIVASI BELAJAR IPA DENGAN MENERAPKAN PENGAJARAN BERBASIS INKUIRI PADA SISWA KELAS ……………………… ……………………………………………… TAHUN 2004/2005 KARYA ILMIAH OLEH ………………………………… NIP: …………………………… DINAS PENDIDIKAN …………………………………… …………………………………………………………… .

…………………………….. Mengetahui Kepala Cabang Dinas Pendidikan ……………………… …………………………. Mengetahui Kepala UPTD Perpustakaan Umum ……………… ………………………… NIP: ……………. NIP: ………………… Mengetahui Kepala Dinas Pendidikan ……………………… ………………………… NIP: …………… Mengetahui Ketua PD II PGRI ………………………. . Pembina TK I NIP: …………… ……………………… NPA: …………………. …………………………… Penulis ……………………………… NIP: ………………….LEMBAR PENGESAHAN Laporan penelitian ini telah disetujui dan disyahkan untuk melengkapi perpustakaan Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah dan dapat diajukan sebagai salah satu Karya Ilmiah untuk Penetapan Angka Kredit Jabatan Guru pada Golongan IV a ke IV b... Kepala Sekolah ……………………………….

2. Kepala Dinas Pendidikan ………………………. hanya dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya. Rekan-rekan Guru ………………………………. Yth. Penulis .KATA PENGANTAR Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT. Untuk itu terima kasih ucapkan dengan tulus dan sedalam-dalamnya kepada: 1. Yth. Dalam penyusunan karya ilmiah ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. penulisan karya ilmiah ini kami susun untuk dipakai dalam bacaan di perpustakaan sekolah dan dapat dipakai sebagai perbandingan dalam pembuatan karya ilmiah bagi teman sejawat juga anak didik pada latihan diskusi ilmiah dalam rangka pembinaan karya ilmiah remaja. Yth.. Semua pihak yang telah banyak membantu sehingga penulisan ini selesai. Penulis menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini jauh dari sempurna untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak selalu penulis harapkan. 4. Ketua PD II PGRI ……………………………… 3. Tahun Pelajaran 2004/2005”. penulis dapat menyelesaikan tugas penyusunan karya ilmiah dengan judul “Meningkatkan Prestasi dan Motivasi Belajar IPA Dengan Menerapkan Pengajaran Berbasis Inkuiri Pada Siswa Kelas …………………………….

Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan. Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus III yaitu. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas II B SDN Sukorame Kecamatan Gresik Kabupaten Gresik Tahun Pelajaran 2010-2011 Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif. pengajaran berbasis inkuiri Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik. siklus III (94. refleksi.ABSTRAK Meningkatkan Prestasi dan Motivasi Belajar IPA Dengan Menerapkan Pengajaran Berbasis Inkuiri Pada Siswa Kelas II B SDN Sukorame Kecamatan Gresik Kabupaten Gresik Tahun Pelajaran 2010-2011 Kata Kunci: pembelajaran ipa. siklus I (83. siklus II (85. menunjukkan contohnya. yakni menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri. Bukan Cuma itu. lembar observasi kegiatan belajar mengajar. mengajukan pertanyaan tentangnya.29%). (b) Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa setelah diterapkan pengajaran berbasis inkuiri. melihat. serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternative pembelajaran IPA. Simpulan dari penelitian ini adalah metode pengajaran berbasis inkuiri dapat berpengaruh positif terhadap motivasi belajar Siswa II B SDN Sukorame Kecamatan Gresik Kabupaten Gresik Tahun Pelajaran 2010-2011. kita perlu mendengar.33%). Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran. dan refisi.71%). kegiatan dan pengamatan. siswa perlu “mengerjakannya”. mencoba mempraktekkan keterampilan dan mengerjakan tugas yang menuntut pengetahuan yang telah mereka dapatkan. Permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah: (a) Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar siswa dengan diterapkannya pengajaran berbasis inkuiri? (b) Bagaimanakah pengaruh model pengajaran berbasis inkuiri terhadap motivasi belajar siswa? Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Ingin mengetahui seberapa jauh pemahaman dan penguasaan mata pelajaran IPA setelah diterapkannya pengajaran berbasis inkuiri. . dan membahasnya dengan orang lain.

................................................................................... Tujuan Penelitian .............. C.... 6 8 9 10 1 3 3 3 4 5 ii iii iv v BAB III METODOLOGI PENELITIAN A.. 21 21 ........... B.................. D.................................................................................... Abstrak ..................... dan Subyek Penelitian .... Kata Pengantar .................. Latar Belakang Masalah ................. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Presasi Belajar .................... Tempat........................... Daftar Isi .................................................................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN A......................... Pengajaran Berbasis Inkuiri .................................. Rancangan Penelitian ............................................................................ Batasan Masalah .... Waktu....... Rumusan Masalah ............DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul ........ F.............................. i Lembar Pengesahan .................................................. B................................................................... B......................................... Tinjauan Tentang Prestasi Belajar ............. C............................................................ Hakikat IPA .................... D.................................................................................... E................................................................. Kegunaan Penelitian .................... BAB II KERANGKA TEORI A............. Definisi Operasional Variabel ..

..................................................... D............. B.... Saran ............................... Instrumen Penelitian ............. BAB V SIMPULAN DAN SARAN A.................................................................. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A..................... Analisis Item Butir Soal ...................................... E....................................... Teknik Analisis Data ......................................................................... DAFTAR PUSTAKA ............................................... 22 26 26 28 30 39 42 42 44 ...................... B............................................................. Pembahasan . Analisi Data Penelitian Persiklus ................ C..................... Kesimpulan ..............C....... Metode Pengumpulan Data .............................

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->