P. 1
antijamur makalah

antijamur makalah

|Views: 664|Likes:
Published by ididgama
antijamur
antijamur

More info:

Categories:Types, Comics
Published by: ididgama on Apr 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/22/2014

pdf

text

original

Nama NIM Tugas

: NOLITRIANI : 0608120401 : dr. Sukasihati, SpKK

OBAT ANTIJAMUR
MEKANISME KERJA Mekanisme kerja obat antijamur adalah dengan mempengaruhi sterol membran plasma sel jamur, sintesis asam nukleat jamur, dan dinding sel jamur yaitu kitin, β glukan, dan mannooprotein. 1. Sterol membran plasma : ergosterol dan sintesis ergosterol Ergosterol adalah komponen penting yang menjaga integritas membran sel jamur dengan cara mengatur fluiditas dan keseimbangan dinding membran sel jamur. Kerja obat antijamur secara langsung (golongan polien) adalah menghambat sintesis ergosterol dimana obat ini mengikat secara langsung ergosterol dan channel ion di membran sel jamur, hal ini menyebabkan gangguan permeabilitas berupa kebocoran ion kalium dan menyebabkan kematian sel. Sedangkan kerja antijamur secara tidak langsung (golongan azol) adalah mengganggu biosintesis ergosterol dengan cara mengganggu demetilasi ergosterol pada jalur sitokrom P450 (demetilasi prekursor ergosterol).1 2. Sintesis asam nukleat Kerja obat antijamur yang mengganggu sintesis asam nukleat adalah dengan cara menterminasi secara dini rantai RNA dan menginterupsi sintesis DNA. Sebagai contoh obat antijamur yang mengganggu sintesis asam nukleat adalah 5 flusitosin (5 FC), dimana 5 FC masuk ke dalam inti sel jamur melalui sitosin permease. Di dalam sel jamur 5 FC diubah menjadi 5 fluoro uridin trifosfat yang menyebabkan terminasi dini rantai RNA. Trifosfat ini juga akan berubah menjadi 5 fuoro deoksiuridin monofosfat yang akan menghambat timidilat sintetase sehingga memutus sintesis DNA.1 3. Unsur utama dinding sel jamur : glukans Dinding sel jamur memiliki keunikan karena tersusun atas mannoproteins, kitin, dan α dan β glukan yang menyelenggarakan berbagai fungsi, diantaranya menjaga rigiditas dan bentuk sel, metabolisme, pertukaran ion pada membran sel. Sebagai unsur penyangga adalah β glukan. Obat antijamur seperti golongan ekinokandin menghambat pembentukan β1,3 glukan tetapi tidak secara kompetitif. Sehingga apabila β glukan tidak terbentuk, integritas struktural dan morfologi sel jamur akan mengalami lisis.1 OBAT ANTIJAMUR SISTEMIK  GOLONGAN AZOL Kelompok azol dapat dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan jumlah nitrogen pada cincin azol. Kelompok imidazol (ketokonazol, mikonazol, dan klotrimazol) terdiri dari dua nitrogen dan kelompok triazol (itrakonazol, flukonazol, varikonazol, dan posakonazol) mengandung tiga nitrogen.2,3 Kedua kelompok ini memiliki spektrum dan mekanisme aksi yang sama. Triazol dimetabolisme lebih lambat dan efek samping yang

sedikit dibandingkan imidazol, karena keuntungan itulah para peneliti berusaha mengembangkan golongan triazol daripada imidazol.4 Pada umumnya golongan azol bekerja menghambat biosintesis ergosterol yang merupakan sterol utama untuk mempertahankan integritas membran sel jamur. Bekerja dengan cara menginhibisi enzim sitokrom P 450, C-14-α-demethylase yang bertanggung jawab merubah lanosterol menjadi ergosterol, hal ini mengakibatkan dinding sel jamur menjadi permeabel dan terjadi penghancuran jamur.5,6 1. Ketokonazol Ketokonazol mempunyai spektrum yang luas dan efektif terhadap Blastomyces dermatitidis, Candida species, Coccidiodes immitis, Histoplasma capsulatum, Malasezzia furfur, Paracoccidiodes brasiliensis. Ketokonazol juga efektif terhadap dermatofit tetapi tidak efektif terhadap Aspergillus spesies dan Zygomycetes.7 Dosis ketokonazol yang diberikan pada dewasa 400 mg/hari sedangkan dosis untuk anak-anak 3,3-6,6 mg/kgBB dosis tunggal. Lama pengobatan untuk tinea korporis dan tinea kruris selama 2-4 minggu, 5 hari untuk kandida vulvovaginitis, 2 minggu untuk kandida esofagitis, tinea versikolor selama 5-10 hari, 6-12 bulan untuk mikosis dalam.7 Anoreksia, mual dan muntah merupakan efek samping yang sering dijumpai terjadi pada 20% pasien yang mendapat dosis 400 mg/hari. Pemberian pada saat menjelang tidur atau dalam dosis terbagi dapat mengatasi keadaan ini. Alergi dapat terjadi pada 4% pasien, dan gatal tanpa rash terjadi sekitar 2% pada pasien yang diterapi ketokonazol.7 Ketokonazol dapat menginhibisi biosintesis steroid, seperti halnya pada jamur. Peninggian transaminase sementara dapat terjadi pada 5-10% pasien. Untuk pengobatan jangka waktu yang lama, dianjurkan dilakukan pemeriksaan fungsi hati. Hepatitis drug induced dapat terjadi pada beberapa hari pemberian terapi atau dapat terjadi berbulanbulan setelah pemberian terapi ketokonazol. Ketokonazol dosis tinggi (>800 mg/hari) dapat menghambat human adrenal synthetase dan testicular steroid yang dapat menimbulkan alopesia, ginekomastia dan impoten.7 2. Itrakonazol Itrakonazol mempunyai aktifitas spektrum yang luas terhadap Aspergillosis sp., Blastomyces dermatidis, Candida sp., Cossidiodes immitis, Cryptococcus neoformans, Histoplasma capsulatum, Malassezia furfur, Paracoccidiodes brasiliensis, Scedosporium apiospermum dan Sporothrix schenckii. Itrakonazol juga efektif terhadap dematiaceous mould dan dermatofita tetapi tidak efektif terhadap Zygomycetes.7 Itrakonazol dosis kontinyu sama efektif dengan dosis pulse. Pada onikomikosis kuku tangan, pulse terapi diberikan selama 2 bulan, sedangkan onikomikosis kuku kaki selama 3 bulan. Itrakonazol merupakan obat kategori C, sehingga tidak direkomendasikan untuk wanita hamil dan menyusui, karena dieksresikan di air susu. Itrakonazol tersedia juga dalam bentuk kapsul 100 mg. Bentuk kapsul diberikan dalam kondisi lambung penuh untuk absorpsi maksimal, karena cyclodextrin yang terdapat dalam bentuk ini sering menimbulkan keluhan gastrointestinal.4,8
Tabel 1. Rejimen dosis itrakonazol5 Onikomikosis Dewasa Kuku tangan : 200 mg 2xsehari 1 minggu/bulan , 2 dosis pulse Kuku kaki : 200 mg/harix12 minggu Atau 200 mg 2xsehari x Anak-anak Kuku tangan : 5 mg/kg/hari x 1 minggu/bulan, 2 dosis pulsea Kuku kaki : 5 mg/kg/hari x 1 minggu/bulan, 3 dosis pulse

ternyata flukonazol lebih efektif dibandingkan itrakonazol dengan dosis sama. Histoplasma capsulatum. tinea kruris. 3 dosis pulse Tinea kapitis 250 mg/hari x 2-8 minggu Infeksi Trichophyton : 5 mg/kg/hari x 2-4 minggu Infeksi Mikrosporum : 5 mg/kg/hari x 4-8 minggu Dosis berdasarkan berat x 1-4 minggu Tidak ada penelitian Tinea korporis.8 Flukonazol ditoleransi baik oleh geriatrik kecuali dengan gangguan ginjal. hepatotoksik. sindroma Stevens Johnsons. criptococcal meningitis dan pada penelitian lain dinyatakan efektif pada sporotrikosis (limfokutaneus dan visceral). Varikonazol Varikonazol mempunyai spektrum yang luas terhadap Aspergillus sp. Blastomyces dermatitidis. Tidak efektif terhadap Zygomycetes. Pada pitiriasis versikolor digunakan 400 mg dosis tunggal. terbinafin 250 mg sehari selama 12 minggu lebih utama dibandingkan flukonazol 150 mg tiap minggu selama 24 minggu. 100 mg.5 Pada pediatrik digunakan untuk terapi tinea kapitis yang disebabkan Tinea tonsurans dengan dosis 6 mg/kg/hr selama 20 hari.. agranulositosis.8 Efek samping yang sering adalah masalah gastrointestinal seperti mual.8 4. 150 mg.1minggu/bulan. tinea pedis Pitiriasis versikolor 200 mg 2xseharix1 minggu 200 mg/hari x 5-7 hari. Candida sp. 100 mg/hari dapat diganti dengan 200 mg/hari (30-40 kg). trombositopenia dan efek pada sistem saraf pusat. dan 200mg. diare. Obat ini termasuk kategori C. Tinea pedis dengan 150 mg tiap minggu selama 3-4 minggu. muntah. Pada kandidiasis vulvovaginal rekuren 150 mg tiap minggu selama 6 bulan atau lebih. nyeri abdomen dan konstipasi. Cryptococcus neoforams. 3. Pada suatu penelitian open label randomized meneliti pitiriasis versikolor yang diterapi dengan 400 mg flukonazol dosis tunggal dibandingkan dengan 400 mg itrakonazol. Candida spp flukonazol resistant. Selain itu hipersensitivitas. untuk pencegahan rekuren dengan 200 mg 2xsehari dosis tunggal/bulan a Dosis pediatrik berdasarkan berat badan : 100 mg/hari (15-30 mg). Tetapi diberikan lebih lama pada infeksi Mycoplasma canis. dan 5 mg/kg/hr selama 30 hari. Flukonazol Menurut FDA flukonazol efektif untuk mengatasi kandidiasis oral atau esophageal. Efek samping lain seperti sakit kepala.8 Flukonazol tersedia sediaan tablet 50 mg. Pada terapi onikomikosis. pruritus.8 Penggunaan untuk orang dewasa dan kandidiasis vagina adalah 150 mg dosis tunggal. sehingga tidak direkomendasikan untuk wanita hamil dan menyusui.4 Flukonazol digunakan sebagai lini pertama terapi kandidiasis mukotan. 200mg/hari (> 50 kg) Efek samping yang sering dijumpai adalah masalah gastrointestinal seperti mual.. Direkomendasikan pada anak-anak <6 bulan.. nyeri abdomen dan juga sakit kepala. Fusarium sp. dan Scedosporium apospermum. dengan 75% perbaikan pada minggu ke-4. sediaan oral solusio 10 mg/ml dan 40 mg/ml dan dalam bentuk sediaan intravena. dan ruam alergi.1 Pemberian pada kandidiasis esofageal dimulai dengan dosis oral 200 mg setiap 12 jam untuk berat badan > 40 kg dan 100 mg setiap 12 jam untuk berat badan < 40 kg. Untuk .

diikuti dengan dosis pemeliharaan 4 mg/kgBB setiap 12 jam dengan pemberian intravena atau 200 mg setiap 12 jam per oral. s tetapi bersifat fungisidal terhadap Candida parapsilosis. tinea kruris 250 mg/hr x 1-2 minggu b Tinea pedis (mokasin) 250 mg/hr x 2 minggu b Dermatitis seboroik 250 mg/hr x 4-6 minggu a Dosis anak berdasarkan berat badan : 62. lainnya yang disebabkan Scedosporium asiospermum dan Fussarium spp.7.12 Posakonazol hanya tersedia dalam bentuk suspensi oral.4. tetapi pada pasien dengan gangguan hepar atau fungsi ginjal (kreatinin klirens < 50 ml/menit atau konsentrasi serum kreatinin > 300 µmol/ml) dosis harus diberikan setengah dari dosis tersebut.11. Histoplasma capsulatum. Absorbsi posakonazol lebih baik bila diberikan bersama dengan makanan atau suplemen nutrisi. Tidak ditemukan resistensi silang posakonazol dengan flukonazol. dapat diberikan dengan rentang dosis 50-800 mg. Infeksi Trichophyton : mg/kg/hr x 2-4 minggua Infeksi Microsporum : mg/kg/hr x 6-8 minggua 3-6 mg/kg/hr x 1-2 minggu 3-6 3-6 .8 Pada onikomikosis kuku tangan dan kaki dewasa yang disebabkan dermatofita.7. b Tidak ada penelitian. Posakonazol Posakonazol memiliki kemampuan antijamur terluas saat ini. Blastomyces dermatitidis. Vorikonazol bersifat teratogenik pada hewan dan kontraindikasi pada wanita hamil. 250 mg/hr (>40 kg). direkomendasikan loading dose 6 mg/kg IV setiap 12 jam untuk 24 jam pertama. Efek toksik vorikonazol yang sering ditemukan adalah gangguan penglihatan transien (30%). Pemberian awal posakonazol dibagi menjadi empat dosis guna mencapai level plasma adekuat. 125 mg/hr (20-40 kg). sedangkan infeksi pada kuku tangan selama 3 bulan dan kuku kaki selama 6 bulan atau lebih.9 Vorikonazol dapat ditoleransi baik oleh manusia. Pengobatan tinea pedis selama 2 minggu. Catatan : tingkat kesembuhan tinggi dicapai dengan dosis 4. Meski dapat ditoleransi dengan baik. Terbinafin juga efektif terhadap Aspergillosis sp. Terbinafin dosis rejimen8 Onikomikosis Dewasa Kuku tangan : 250 mg/hr x 6 minggu Kuku kaki : 250 mg/hr x 12 minggu 250 mg/hr x 2-8 minggu Anak-anak 3-6 mg/khg/hr x 6-12 minggua Tinea kapitis Tinea korporis. Posakonazol merupakan satu-satunya golongan azol yang dapat menghambat jamur golongan Zygomycetes. pada 10-15% kasus ditemukan adanya abnormalitas fungsi hepar sehingga dalam pemberian vorikonazol perlu dilakukan monitor fungsi hepar. tinea korporis dan kruris selama 1-2 minggu. Pemberian posakonazol dapat juga diberikan dua kali sehari pada keadaan tidak membahayakan jiwa. Posakonazol juga dapat digunakan dalam pengobatan aspergilosis dan fusariosis. Dosis terbinafin oral untuk dewasa yaitu 250 mg/hari.7.8 Tabel 2.16  GOLONGAN ALILAMIN Terbinafin Terbinafin merupakan anti jamur yang berspektrum luas. pemberian terbinafin kontinyu lebih efektif daripada itrakonazol dosis pulse..aspergilosis invasif dan penyakit jamur.8 Oral terbinafin efektif untuk pengobatan dermatofitosis pada kulit dan kuku. Efektif terhadap dermatofit yang bersifat fungisidal dan fungistatik untuk Candida albican.5 mg/hr atau lebih.5 mg/hr (10-20 kg). Sporothrix schenxkii dan beberapa dermatiaceous moulds.10 5.

13 Dosis awal amfoterisin B dispersi koloid yaitu 1. diisolasi dari Streptomyces nourse pada tahun 1951.0 mg/kgBB diberikan intravena dengan rata-rata 1 mg/kgBB/jam dan jika dibutuhkan dosis dapat ditingkatkan menjadi 3.. Mucorales sp. dan nyeri abdomen. Biasanya timbul setelah 1-3 jam pemberian obat..5 mg) kemudian diobservasi dan dimonitor suhu. nistatin diberikan tablet nistatin 500. terlebih dahulu dites dengan dosis 1 mg amfoterisin B di dalam 50 ml cairan dextrose dan diberikan selama 1-2 jam (anak-anak dengan berat badan kurang dari 30 kg diberikan dosis 0.6-1. Kebanyakan pasien yang mendapat formula konvensional sering menderita kerusakan fungsi ginjal terutama pada pasien yang mendapat dosis lebih dari 0. Untuk pengobatan kandidiasis oral. Efek samping toksik yang paling serius adalah kerusakan tubulus ginjal. jika ditoleransi baik maka waktu pemberian dapat dipersingkat menjadi 1 jam. menggigil dan badan menjadi kaku. Histoplasma capsulatum.0 mg/kg BB dapat ditingkatkan menjadi 3.0-4.4 Pemberian liposomal amfoterisin B biasanya dimulai dengan dosis 1. Terbinafin tidak direkomendasikan untuk pasien dengan penyakit hepar kronik atau aktif. Suspensi nistatin oral terdiri dari  . Blastomyces dermatitidid.5/kgBb/hari. candida sp..0 mg. Mual dan muntah dapat juga dijumpai tetapi jarang. paracoccidioides brasiliensis.4. Dosis obat dapat ditingkatkan > 1mg/kgBB. dapat timbul anemia normokromik dan normositik sedang.7 Kebanyakan pasien dengan infeksi mikosis dalam diberikan dosis 1-2 gr amfoterisin B deoksikolat selama 6-10 minggu. dispepsia.0 mg/kgBB. Sedangkan untuk Aspergillus tereus. Sebelum pemberian obat. Cryptococcus neoformans. Orang dewasa dengan fungsi ginjal yang normal diberikan dosis 0. dan Trichosporon asahii biasanya resisten..0-5.000 unit setiap 6 jam. 2.Efek samping pada gastrointestinal seperti diare.5 mg/kbBB/jam. Fussarium sp. Scedosporium sp. denyut jantung dan tekanan darah setiap 30 menit oleh karena pada beberapa pasien dapat timbul reaksi hipotensi berat atau reaksi anafilaksis. Pasien yang mendapat pengobatan lebih dari 2 minggu. konsentrasi di dalam darah akan stabil dan kadar obat di jaringan makin bertambah dan memungkinkan obat diberikan pada interval 48 atau 72 jam. Nistatin Nistatin merupakan antibotik yang digunakan sebagai antijamur.0 mg/kg BB.kgBB atau lebih.7 GOLONGAN POLIEN Amfoterisin B Amfoterisin B mempunyai aktifitas spektrum yang luas terhadap Aspergillus sp. Setelah 2 minggu pengobatan.13 Pemberian formula konvensional dengan cara intravena dapat segera menimbulkan efek samping seperti demam. Coccidiodiodes immitis. tetapi tidak melebihi 50 mg. Malassezia furfur.7. Obat ini berikan pada individu selama 3 bulan dengan dosis kumulatif 15 g tanpa efek samping toksik yang signifikan. Penicillium marneffei. Dosis yang dianjurkan adalah 3 mg/kbBB/hari. Obat ini pernah diberikan pada individu dengan dosis kumulatif 3 g tanpa efek samping toksik yang signifikan.13 1.13 Dosis yang direkomendasikan untuk pemberian amfoterisin B lipid kompleks yaitu 5 mg/kgBB dan diberikan intravena dengan rata-rata 2. Obat ini pernah diberikan pada individu selama 11 bulan dengan dosis kumulatif 50 g tanpa efek samping toksik yang signifikan.. Formula ini harus diberikan intravena dalam waktu 2 jam. Formula konvensional dapat juga menyebabkan hilangnya potasium dan magnesium. sedangkan efek lokal flebitis sering juga dijumpai.

pasien dengan netropenia persisten dan resipien transplantasi alogenik dan autolog. mikafungin disetujui FDA untuk terapi esofagitis kandida pada pasien HIV. peritonitis dan abses intraabdomen disebabkan kandida.5%. Trombositopenia dan leukopenia dapat terjadi jika konsentrasi obat di dalam darah meninggi. Cladophialophora carrionii.4 3. Setiap dosis harus diberikan intravena melalui infus dalam periode 1 jam. Histoplasma capsulatum dan dermatiaceous molds. Peninggian kadar transaminase 1. dosis yang dianjurkan 70 mg pada hari pertama dan 50 mg/hari untuk hari selanjutnya.4 Efek samping yang sering dijumpai yaitu demam. Kaspofungin efektif terhadap Aspergillus fumigates.2%) dan insiden efek simpang hanya 2. pemberian flusitosin diawali dengan dosis 100 mg/kg BB perhari. Aspergillus flavus dan Aspergillus terreus. p = 0.3 Pettengell et al.3 Suatu penelitian terhadap 123 pasien kandidiasis invasif diacak untuk menerima sediaan 50.9 Pada pasien aspergilosis.muntah dan diare. Hasil ini konsisten terhadap semua subgroup termasuk anak dan orang tua. Mikafungin Pada tahun 2005. muntah.8% (1 dari 36 pasien).7 Pada orang dewasa dengan fungsi ginjal yang normal. Anindulafungin Anindulafungin merupakan kelompok ekinokandin yang telah disetujui FDA tahun 2006 untuk penatalaksanaan kandidiasis esophagus. Kaspofungin juga efektif terhadap sebagian besar Candida sp. GOLONGAN ANTIJAMUR LAIN Flusitosin Flusitosin efektif terhadap Candida sp. Hasil penelitian menunjukkan respon mikafungin sebagai antijamur profilaksis lebih baik dibanding flukonazol (80% dibanding 73.13 1. Mikafungin diberikan 50 mg/hari atau flukonazol 400 mg/hari secara acak selama enam minggu. Mikafungin juga bermanfaat untuk terapi aspergilosis invasif. Pasien dengan kerusakan hepar sedang. direkomendasikan dosis kaspofungin diturunkan menjadi 35 mg.10 Penelitian juga telah dilakukan untuk membandingkan efektifitas mikafungin dengan flukonazol sebagai antijamur profilaksis pada 882 pasien yang menjalani transplantasi stem sel hemopoietik.100.   . Fonsecaea sp. dan resisten terhadap Cryptococcus neoformans. atau 100 mg anindulafungin sekali sehari. infant 2 ml dan dewasa 5 ml. tetapi dengan Candida parpsilosis dan Candida krusei kurang efektif.7 GOLONGAN EKINOKANDIN Kaspofungin Kaspofungin mempunyai aktifitas spektrum yang terbatas. Cryptococcus neoformans. dibagi dalam 4 dosis dengan interval 6 jam namun jika terdapat gangguan ginjal pemberian flusitosin diawali dengan dosis 25 mg/kgBB...000 unit/ml yang diberikan 4 kali sehari dengan dosis pada bayi baru lahir 1 ml. dengan efek fungisidal yang tinggi.025).5. 2. adanya ruam kulit. Kaspofungin mempunyai aktifitas yang berubah-ubah terhadap Coccidioides immitis. menetap (>100 mg/L) dan dapat juga dijumpai jika obat dihentikan.. Phialophora verrucosa. mual. 75.7 Efek samping yang sering dijumpai yaitu mual. melaporkan pemberian mikafungin 50-100 mg/hari menyebabkan respon total atau parsial pada 35 dari 36 pasien kandidiasis esophagus (97.

atau gatal. Mikonazol cepat berpenetrasi pada stratum korneum dan bertahan lebih dari 4 hari setelah pengolesan. Timbulnya reaksi urtikaria dan erupsi kulit dapat terjadi pada sebagian pasien. Griseofulvin Griseofulvin mempunyai aktifitas spektrum yang terbatas hanya untuk spesies Epidermophyton flocossum. Untuk pengobatan kandidiasis vaginalis diberikan dosis 150 mg yang dimasukkan ke dalam vagina selama 3 hari berurut-turut. Klotrimazol Klotrimazol dapat digunakan untuk pengobatan dermatifitosis. Sekitar 3% pasien mengalami eritema lokal. Untuk pengobatan infeksi jamur pada kulit digunakan ekonazol krim 1 %. Kurang dari 1% diabsorpsi dalam darah. yang merupakan penyebab infeksi jamur pada kulit. Ekonazol penetrasi dengan cepat di stratum korneum. 7 3. Pengobatan kandidiasis vaginalis diberikan dosis 200 selama 7 hari atau 100 mg selama 14 hari yang dimasukkan ke dalam . 200 mg hari ke-2.. Bentuk ultramicrosize penyerapannya pada saluran pencernaan 1. untuk tinea pedis selama 4-8 minggu dan untuk tinea unguium selama 3-6 bulan. Mikonazol Mikonazol digunakan untuk pengobatan dermatofitosis. 2. kutaneus dan genital. Absorpsi kurang dari 1..10 Lama pengobatan untuk tinea korporis dan kruris selama 2-4 minggu. kutaneus dan genital. atau 100 mg hari ke-6 yang dimasukkan ke dalam vagina. Ekonazol Ekonazol dapat digunakan untuk pengobatan dermatofitosis dan kandidiasis oral.7 Griseofulvin terdiri atas 2 bentuk yaitu microsize (mikrochryristallin) dan ultramicrosize (ultramicrochrystallin). atau 15-20 mg/kg/hari (ultrasize) selama 6-8 minggu. dan nyeri abdomen.dapat juga dijumpai pada beberapa pasien tetapi dapat kembali normal setelah obat dihentikan. Kurang dari 1% diabsorpsi ke dalam darah. Untuk pengobatan oral kandidiasis.7 2. griseofulvin lebih sering digunakan untuk pengobatan tinea kapitis.7. Microsporum sp.5 kali dibandingkan dengan bentuk microsize. sensasi terbakar. untuk tinea kapitis paling sedikit selama 4-6 minggu. dosis dan lamanya tergantung dari kondisi pasien. biasanya diberikan selama 2-4 minggu dan dioleskan 2 kali sehari. tersengat. dan Trichophyton sp.3% di vagina. serta kandidiasis oral. Dosis pada anak-anak 20-25 mg/kg/hari (mikrosize). Tinea kapitis lebih sering dijumpai pada anak-anak disebabkan oleh Trychopyton tonsurans. kandidiasis oral. rambut kuku.8 Efek samping griseofulvin biasanya ringan berupa sakit kepala. pitiriasis versikolor.8 Pada saat ini. kutaneus dan genital. muntah. Untuk pengobatan infeksi jamur pada kulit digunakan krim klotrimazol 1% dosis dan lamanya pengobatan tergantung kondisi pasien. diberikan oral troches (10 mg) 5 kali sehari selama 2 minggu atau lebih.8 Dosis griseofulvin (pemberian secara oral) yaitu dewasa 500-1000 mg/ hari (microsize) dosis tunggal atau terbagi dan 330-375 mg/hari (ultramicrosize) dosis tunggal atau terbagi. Griseofulvin tidak efektif terhadap kandidiasis kutaneus dan pitiriasis versikolor. mual.8 ANTI JAMUR TOPIKAL  GOLONGAN AZOL-IMIDAZOL 1. biasanya diberikan selama 2-4 minggu dan dioleskan 2 kali sehari. Untuk pengobatan kandidiasis vaginalis diberikan dosis 500 mg pada hari ke-1.

Mikonazol aman digunakan pada wanita hamil.vagina. dosis dan lamanya pengobatan tergantung dari kondisi pasien. Terkonazol Terkonazol digunakan untuk pengobatan dermatofitosis dan kandidiasis kutaneus dan genital. untuk tinea kruris dioleskan 2 kali sehari selama 2 minggu dan untuk pitirisis versikolor dioleskan 2 kali sehari selama 1-4 minggu. meskipun beberapa ahli menghindari pemakaian pada kehamilan trimester pertama. dosis dan lamanya pengobatan tergantung kondisi pasien. Pengobatan infeksi jamur pada kulit digunakan mikonazol krim 2%. Iritasi. 1 kali sehari selama 3 hari berturutturut dan vaginal supositoria dengan dosis 80 mg terkonazol. kutaneus kandidiasis dan dapat juga untuk pengobatan dermatitis seboroik. biasanya untuk pengobatan tinea korporis . Ketokonazol Ketokonazol mempunyai ikatan yang kuat dengan keratin dan mencapai keratin dalam waktu 2 jam melalui kelenjar keringat ekrin. Efek samping pemakaian topikal vagina adalah rasa terbakar. pitiriasis versikolor.2%). biasanya diberikan selama 2-4 minggu dan dioleskan sekali sehari sedangkan pengobatan dermatitis seboroik dioleskan 2 kali sehari. Penghantaran akan menjadi lebih lambat ketika mencapai lapisan basal epidermis dalam waktu 3-4 minggu. biasanya diberikan selama 2-4 minggu dan dioleskan 2 kali sehari. atau skin rash.14 5. Tiokonazol Tiokonazol digunakan untuk pengobatan dermatofitosis serta kandidiasis kutaneus dan genital. Konsentrasi ketokonazol masih tetap dijumpai. Untuk tinea pedis dioleskan 2 kali sehari selama 6 minggu. Untuk infeksi pada kulit digunakan tiokonazol krim 1%. gatal atau iritasi 7% kadang-kadang terjadi kram di daerah pelvis (0. digunakan terkonazol krim vagina 0. biasanya untuk pengobatan tinea korporis dan kandidiasis kutaneus biasanya diberikan selama 2-4 minggu dan dioleskan 2 kali sehari.15 7. Pengobatan kandidiasis oral. diberikan oral gel (25 mg) 4 kali sehari. Pengobatan pitiriasis versikolor menggunakan ketokonazol 2% dalam bentuk shampoo sebanyak 2 kali seminggu selama 8 minggu. 1 kali sehari sebelum waktu tidur selama 3 hari berturut-turut.4% (20 gr terkonazol) yang dimasukkan ke dalam vagina menggunakan aplikator sebelum waktu tidur. tinea kruris ataupun pitiriasis versikolor dioleskan 1 atau 2 kali sehari selama 3 minggu dan untuk tinea pedis dioleskan 2 kali sehari selama 4 minggu. rasa terbakar dan maserasi jarang terjadi pada pemakaian kutaneus. Pengobatan infeksi jamur pada kulit digunakan sulkonazol krim 1%. dimasukkan ke dalam vagina. Sulkonazol Sulkonazol digunakan untuk pengobatan dermatofitosis dan kandidiasis kutaneus. Pengobatan infeksi jamur pada kulit digunakan krim ketokonazol 1%.14 6. Untuk pengobatan kandidiasis vaginalis diberikan dosis tunggal sebanyak 300 mg dimasukkan ke dalam vagina.7 4. sakit kepala. minimal 10 hari setelah obat dihentikan.14 Ketokonazol digunakan untuk pengobatan dermatofitosis. Dosis dan lamanya pengobatan tergantung dari kondisi pasien. Pengobatan kandidiasis vaginalis yang disebabkan Candida albicans. urtika. dosis dan lamanya pengobatan tergantung dari kondisi pasien.15 .

Sertakonazol Sertakonazol dapat digunakan untuk pengobatan dermatofitosis dan candida sp. ANTIJAMUR GOLONGAN LAIN Asam Undesilenat Asam undesilenat bersifat fungistatik. Preparat ini juga dapat digunakan pada ruam popok. Efektifitas masih lebih rendah dari imidazol. Tersedia dalam bentuk salep. krim. 1. Butenafin Butenafin merupakan golongan benzilamin aktifitas antijamurnya sama dengan golongan alilamin. pitiriasis versikolor dan kandidiasis kutaneus. Digunakan untuk mengatasi tinea pedis. Terbinafin Terbinafin dapat digunakan untuk pengobatan dermatofitosis. dioleskan 1 kali sehari selama 4 minggu. digunakan sertakonazol krim 2%.8. Untuk pengobatan kandidiasis vaginalis diberikan 1 atau 2 vaginal suppossitoria (100. tinea kruris dan tinea pedis. Untuk pengobatan tinea korporis dan tinea kruris digunakan selama 1-2 minggu. Selain itu absorpsi secara sistemik dapat terjadi. khususnya pada pasien yang mengalami gagal ginjal. Digunakan terbinafin krim 1% yang dioleskan 1 atau 2 kali sehari.000 setiap unitnya) yang diberikan selama kurang lebih 14 hari. haloprogin atau tolnaftat. Preparat ini digunakan untuk mengatasi dermatomikosis. bedak spray powder..4 GOLONGAN POLIEN Nistatin Pengobatan kandidiasis kutis dapat digunakan nistatin topikal pada kulit atau membrane mukosa (rongga mulut. Naftifin Naftifin dapat digunakan untuk pengobatan dermatofitosis dan Candida sp. dan tinea kruris.7 3. Nistatin biasanya tidak bersifat toksik tetapi kadang-kadabng dapat timbul mual. Zinc bersifat astringent yang menekan inflamasi. Untuk pengobatan digunakan krim naftifin hidroklorida krim 1% dioleskan 1 kali sehari selama 1 minggu. Salep Whitefield Pada tahun 1970. dan cairan. Preparat nini sering menyebabkan iritasi khususnya jika dipakai pada permukaan kulit yang luas. dioleskan 1-2 kali sehari selama 4 minggu. 2. Salap asam undesilenat mengandung 5% asam undesilenat dan 20% zinc undesilenat. Asam benzoat bekerja sebagai fungistatik. vagina). 7    . dan asam salisilat sebagai keratolitik sehingga menyebabkan deskuamasi keratin yang mengandung jamur. khususnya tinea pedis.15 GOLONGAN ALILAMIN/BENZILAMIN 1.8 2. Butenafin bersifat fungisidal terhadap dermatofita dan dapat digunakan untuk pengobatan tinea korporis. dan menyebabkan toksisitas asam salisilat. untuk kandidiasis kutaneus selama 1-2 minggu dan untuk pitiriasis versikolor selama 2 minggu. muntah dan diare jika diberikan dengan dosis tinggi. dapat juga bersifat fungisidal apabila terpapar lama dengan konsentrasi yang tinggi pada agen jamur. Kombinasi ini dikenal dengan salep Whitefield. sabun. untuk tinea pedis selama 2-4 minggu.7 1. dan tinea kruris. Arthur Whitefield membuat preparat salep yang mengandung 12% asam benzoate dan 6% asam salisilat.

Amorolfin Amorolfin merupakan phenylpropylpiperidine. Amorolfin 5% nail lacquaer diberikan sebagai monoterapi pada onikomikosis ringan tanpa adanya keterlibatan matriks.5. Diberikan satu atau dua kali seminggu selama 6-12 bulan. Aktifitas spektrumnya luas.4 mm dan secara penuh akan dicapai setelah 24-48 jam pemakaian. dengan konsentrasi 1% dioleskan 2 kali sehari selama 2-4 minggu. Tidak tersedia preparat komersil. dan memiliki bau yang tidak menyenangkan. Haloprogin Haloprogin merupakan halogenated phenolic.7 6. Kadar obat akan meningkat terus hingga 30-45 hari setelah pemakaian dan selanjutnya konsentrasi akan menetap yakni sebesar 50 kali konsentrasi obat minimal yang berefek fungisidal. gaya gravitasi dan tekanan permukaan secara cepat mendistribusikan timol ke bagian terdalam dari ruang subungual. setiap 3 hari sekali pada bulan kedua dan seminggu sekali pada bulan ketiga hingga bulan keenam pengobatan. tinea pedis. tinea pedis dan onikomikosis. kandidiasis kutaneus dan pitiriasis versikolor.15 5.89 ±0. terlebih dahulu bagian kuku yang terinfeksi diangkat atau dibuang.15 Untuk pengobatan infeksi jamur pada kulit harus dioleskan 2 kali sehari selama 2-4 minggu sedangkan untuk pengobatan onikomikosis digunakan siklopiroks nail lacquer 8%.5 4. ahli farmakologi mencampur 24% timol ke dalam larutan dasar seperti etanol 95% dan mengendap di dasar botol. tinea kruris. Castellani’s paint . Kuku tangan dioleskan satu atau dua kali setiap minggu selama 6 bulan sedangkan kuku kaki harus digunakan selama 9-12 bulan. Bekerja dengan cara menghambat biosintesis ergosterol jamur. dapat digunakan untuk pengobatan tinea korporis. Kadar obat akan mencapai kadar fungisida dalam waktu 7 hari sebesar 0. Siklopiroks efektif untuk pengobatan tinea korporis. Timol bekerja sebagai antiseptik membunuh organisme pada saat alkohol menguap. onikomikosis. sporisida dan memiliki penetrasi yang baik pada kulit dan kuku. Timol Timol adalah antiseptik yang larut dalam alkohol efektif dalam bentuk tingtur untuk mengobati onikolisis. Penggunaan timol beresiko iritasi. Siklopiroks olamin Siklopiroks olamin adalah antijamur sintetik hydroxypyridone. efektif untuk pengobatan tinea korporis. Setelah dioleskan pada permukaan kuku yang sakit. Konsentrasi obat yang berefek fungisidal ditemukan di setiap lapisan kuku. Pemakaian cat kuku dianjurkan tidak lebih dari 6 bulan. tinea pedis dan pitiriasis versikolor. bersifat fungisidal. Pemakaiannya jari ditegakkan vertikal lalu diteteskan solusio sampai menyentuh hiponikium. Dilakukan setiap 2 hari sekali selama bulan pertama. 14 7.25 mikrogram tiap milligram material kuku. Untuk infeksi jamur pada kulit amorolfin dioleskan satu kali sehari selama 2-3 minggu sedangkan untuk tinea pedis selama 6 bulan. kuku yang tersisa dibuat kasar kemudian dioleskan membentuk lapisan tipis. larutan tersebut akan mengering dalam waktu 30-45 detik. tinea kruris.3.7 Sebelum pemakaian cat kuku siklopiroks. tinea kruris. zat aktif akan segera dibebaskan dari pembawa berdifusi menembus lapisan lempeng kuku hingga ke dasar kuku (nail bed) dalam beberapa jam sudah mencapai kedalaman 0. Pemakaian amorolfin 5% pada pengobatan jamur memiliki angka kesembuhan 60-76% dengan pemakaian satu atau dua kali seminggu.

Solusio propylene glycol-urea. Pengguinaan losio selama 10 menit satu kali sehari selama pemakaian 7 hari. Sampo zinc pyrithione 1% efektif pada terapi pitiriasis versikolor yang dioleskan setiap hari selama 2 minggu.5% selenium sulphide untuk terapi pitiriasis versikolor dan dermatitis seboroik. Digunakan sebagai terapi tinea pedis. 15 Efek sampingnya adalah iritasi dan reaksi toksik terhadap fenol. Produk yang dipasarkan mengandung 4% tetramethyl dan pentamethyl congeners campuran ini membentuk kristal violet. Losio selenium sulphide juga digunakan sebagai sampo pada tinea kapitis yang telah diberikan terapi oral griseofulvin.15 10. Solusio gentian violet dengan konsentrasi 0. yang secara in vitro bersifat fungistatik terhadap Malassezia furfur kompleks (bentuk dari Pityrosporum spp).15 . tidak terjadi absorpsi perkutaneus yang signifikan.5-2% digunakan pada infeksi jamur mukosa.15 13.15 9. Zinc Pyrithione Zinc pyrithione adalah antijamur dan antibakteri yang digunakan mengatasi pitiriasis sika. Sodium Thiosulfate dan Salicylic Acid Solusio 25% sodium thiosulfate dikombinasi dengan 1% salicylic acid tersedia preparat komersial dan digunakan pada tinea versikolor.Castellani’s paint (carbol fuchsin paint) memiliki aktifitas antijamur dan antibacterial.asam laktat juga telah digunakan untuk onikomikosis. Potassium Permanganat Potassium permanganat tidak memiliki aktifitas antijamur. Selenium sulphide 2.15 11. Gentian violet memiliki efek antijamur dan antibaterial. 8.15 14. tinea imbrikata.5% dalam bentuk sampo dapat menyebabkan iritasi pada kulit kepala atau perubahan warna rambut. dermatitis seboroik.15 12. Selenium Sulphide Losio 2. Prophylen glycol 4-6% sebagai agen keratolitik. Prophylen Glycol Prophylen glycol (50% dalam air) telah digunakan untuk mengatasi pitiriasis versikolor. Pada pengenceran 1:5000 sering digunakan untuk meredakan inflamasi akibat kandidiasi intertriginosa. Alumunium Chloride Alumunium Chloride 30% memiliki efikasi mirip dengan Castellani’s paint pada terapi tinea pedis. Gentian Violet Gentian violet adalah triphenylmethane (rosaniline) dye.

Kyle AA. Anand S. Indian J Chest Dis Allied Sci 2000. In: Brunton LL. 11th Ed. New York: Mc Graw-Hill. p 559-574 Onyewu C. Dermatology 2th Ed. Topical therapy for fungal infections. Fungal pathogenesis principles and clinical applications. Saunders Company. Scher RK. 3(2): 7181 11. Antimicrobial Agents: Antifungal Agents. Oral antifungal agents. Six Novel Antimycotics. 7th ed. Eds. Heitman J. Anaissie EJ. Posaconazole: A Broad-Spectrum Triazole Antifungal. Systemic antifungal agents. Antimicrobial drugs. Goodman & Gilman's: The Pharmacological Basis Of Therapeutics. 5. 2. 2008. Comprehensive dermatology drug therapy. In: Wolff K. Rubin AI. Lancet Infect Dis 2005.42:357-366 14. New York: Mc Graw-Hill. Indiana: W. Trying SK. 7. Woody CMC. Paller AS. 17: 517-522 . Marr KA. Bagheri B. Pp75-99.DAFTAR PUSTAKA 1. 17: 532–538 10. China: Elsevier. Clinical Infectious Disease D 2006. Am J Clin Dermatol 2004:5(6):443-461. Konnikov N. Pang KR. Indianapolis. Ashley ES et. Ray A. 346(4): 278-280 12. Leffel DJ. 6: 3-15 Gupta AK. Dahl MV. 2002. Pharmacology of systemic antifungal agents. Empirical Antifungal Therapy – New Options. McGinn MR. Huang DB. et al. editor. N Engl J Med 2002. 6. Am J Clin Dermatol 2002. In: Anaissie EJ. 5: 775–85 13. Cihlar RL. Rapini RP. USA.p 2211-2217 9. 2006 3. Calderone RA. Anti-Infective Agents in Medicinal Chemistry 2007. In:Bolognia JL Jorrizo JL. eds. Chemaly RF. In: Wolverton ES. 15. Wu JJ. Gilchrest BS. Antifungals currently used in the treatment of invasive fungal disease. Pfaller.43 (Suppl 1):28-39. 8. Huang DB. 2009. Lesher J. 4. Unique Aplications of Novel Antifungal Drug Combinations. Bellantoni MS. Therapy of Systemic Fungal Infections. Therapy Of Common Superficial Fungal Infection. Mosby Elsevier. In: Calderone RA. Goldsmith LA. 2nd Ed. Dermatologic Therapy 2004. Gubbins PO. Parker KL. p161-196 ZhaoX. Antifungal therapy. Recent trends in antifungal therapy:focus on systemic mycoses. Eds. Mycology Vol 14.al. Dermatologic Therapy 2004.B. Clinical Mycology. Bennet JE. Lazo JS. Raad II. Torres HA.2008. Hachem RY.2002. Fitzpatricks’s Dermatology in General Medicine. New Tradeoffs. Katz SI. Kontoviannis DP.

dari keratinosit. antara lain adalah efek anti-inflamsi. dan vasokonstriksi. dan mengganggu fungsi sel endotel. suatu enzim yang bertanggung jawab dalam pembentukan prostaglandin. Kortikosteroid menekan produksi dan efek faktor-faktor humoral yang terlibat dalam proses inflamasi. Aktivitas fibroblas dan pembentukan kolagen juga diinhibisi oleh kortikosteroid topikal. Ikatan ini menstimulasi transkripsi RNA dan sintesis protein spesifik. Beberapa studi menunjukkan bahwa kortikosteroid bisa menyebabkan pengurangan sel mast pada kulit.  Efek anti-inflamasi Mekanisme sebenarnya dari efek anti-inflamasi sangat kompleks dan kurang dimengerti. dimana lalu bisa menstimulasi atau menghambat transkripsi gen yang berdampingan. granulosit. Kortikosteroid memiliki efek spesifik dan nonspesifik yang berhubungan dengan mekanisme kerja yang berbeda.  Efek antiproliferasi Efek antiprolifrasi kortikosteroid topikal dimediasi oleh inhibisi sintesis dan mitosis DNA. Induksi sintesis protein ini merupakan perantara efek fisiologis steroid. yang sebagian menjelaskan terapi obat-obat ini pada dermatosis dengan scale. .  Efek imunosupresif Efektivitas kortisteroid bisa akibat dari sifat immunosupresifnya. sel mast dan fibroblas. Dipercayai bahwa kortikosteroid menggunakan efek anti-inflamasinya dengan menghibisi pelepasan phospholipase A2. namun dianggap berhubungan dengan inhibisi vasodilator alami seperti histamin.  Vasokonstriksi Mekanisme kortikosteroid menyebabkan vasokonstriksi masih belum jelas. imunosupresif. dan derivat asaam arachidonat yang lain. diikuti dengan translokasi kompleks obatreseptor ke daerah nukleus DNA yang dikenal dengan corticosteroid responsive element. dengan demikian meregulasi proses inflamasi. Kortikosteroid juga mengurangi pelepasan interleukin 1α (IL1α). Pada waktu memasuki jaringan. menginhibisi migrasi leukosit ke tempat inflamasi. lalu bergerak menuju nukleus dan berikatan dengan kromatin. kortikosteroid berdifusi menembus sel membran dan terikat pada kompleks reseptor steroid. sitokin proinflamasi penting. Kortikosteroid juga menginhibisi faktor-faktor transkripsi yang terlibat dalam aktivasi gen pro-inflamasi. Mekanisme lain yang turut memberikan efek anti-inflamasi kortikosteroid adalah menghibisi proses fagositosis dan menstabilisasi membran lisosom dalam memfagositosis sel. Kompleks ini mengalami perubahan bentuk. Gen-gen ini diregulasi oleh kortikosteroid dan memiliki peran dalam resolusi inflamasi. antiproliferasi. bradikinin.KORTIKOSTEROID TOPIKAL Mekanisme Kerja Kortikosteroid berdifusi melalui barrier stratum korneum dan melalui membran sel untuk mencapai sitoplasma keratinosit dan sel-sel lain yang terdapat epidermis dan dermis. Efek kortikosteroid pada sel kebanyakan dimediasi oleh ikatan kortikosteroid pada reseptor di sitosol. leukotrin.

Responsivitas Penyakit Kulit terhadap Kortikosteroid Topikal Highly Responsive Moderately Responsive Least Responsive Psoriasis (intertriginous) Psoriasis Palmo-plantar psoriasis Atopic dermatitis (children) Atopic dermatitis (adult) Psoriasis of nails Seborrheic dermatitis Nummular eczema Dyshidrotic eczema Intertrigo Primary irritant dermatitis Lupus erythematous Popular urticaria Pemphigus Parapsoriasis Lichen planus Lichen simplex chronicus Granuloma annulare Necrobiosis lipoidica diabeticum Sarcoidosis Allergic contact dermatitis. misalnya. Potensi kortikosteroid ditentukan berdasarkan kemampuan menyebabkan vasokontriksi pada kulit hewan percobaan dan pada manusia. Harus selalu diingat bahwa kortikosteroid bersifat paliatif dan supresif terhadap penyakit kulit dan bukan merupakan pengobatan kausal. sehingga mengurangi edema. tetapi dapat juga digunakan untuk efek antimitotik dan kapasitasnya utnuk mengurangi sistesis molekul-molekul connective tissue. gel. Variebel tertentu harus dipertimbangkan saat mengobati kelainan kulit dengan kortikosteroid topikal. memiliki peningkatan risiko dalam penyerapan kortikosteroid untuk beberapa alasan. responsif sedang.dan prostaglandin. yaitu sangat responsif. Karena anak-anak dan bayi memiliki rasio lebih tinggi dalam luas permukaan kulit terhadap berat badan. fatty ointment (paling baik penetrasinya). Steroid topikal menyebabkan kapiler-kapiler di lapisan superfisial dermis berkonstraksi. karena kortison di dalam tubuh mengalami transformasi menjadi dihidrokortison. bisa dibedakan dalam tiga kategori. molekul hidrokortison banyak mengalami perubahan. terutama bayi. Indikasi Kortikosteroid topikal dengan potensi kuat belum tentu merupakan obat pilihan untuk suatu penyakit kulit. dan kurang responsif. Pada umumnya molekul hidrokortison yang mengandung fluor digolongkan kortikosteroid poten. Hidrokortison efektif secara topikal mulai konsentrasi 1%. Dalam hal ini. sedangkan di kulit tidak menjadi proses itu. Jelas ada hubungan dengan struktur kimiawi. lotion. tidak berkhasiat secara topikal. Contohnya respon penyakit terhadap kortikosteroid topical yang bervariasi. aplikasi pada daerah yang . salep. acute phase Insect bites Anak-anak. Di antara jenis kemasan yang tersedia yaitu krem. Sejak tahun 1958. Kortikosteroid topikal direkomendasikan untuk aktivitas anti-inflamasinya pada penyakit kulit inflamasi. Kortison. Tabel 1. Efektifitas kortikosteroid topikal bergantung pada jenis kortikosteroid dan penetrasi. Penetrasi perkutan lebih baik apabila yang dipakai adalah vehikulum yang bersifat tertutup.

yang memungkinkan peningkatan penetrasi kortikosteroid topical. Penyakit-penyakit yang sangat responsif biasanya akan memberikan respon pada preparat steroid lemah. Pasien usia tua juga lebih mungkin memiliki pre-existing atrofi kulit sekunder karena penuaan. Bila terdapat supresi kortisol. Bentuk potensi tinggi digunakan untuk jangka pendek (2 atau 3 minggu) atau secara intermiten. Supresi produksi kortisol yang kronik juga dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat. Kortikosteroid sangat poten seringkali diperlukan pada hiperkeratosis atau dermatosis likenifikasi dan untuk penyakit pada telapak tangan dan kaki. Pengurangan frekuensi pemakaian (misalnya pemakaian hanya pada pagi hari. walaupun jarang. Dosis Sebagai aturan kerja. Tetapi penghentian pengobatan tiba-tiba harus dihindari setelah penggunaan jangka panjang untuk mencegah rebound phenomena. pemberian kortikosteroid topikal sebaiknya tidak lebih dari 45 g/minggu untuk kortikosteroid topikal poten atau 100 g/minggu untuk potensi sedang dan lemah jika absorpsi sistemik dihindari. 2. Pasien usia tua juga memiliki kulit yang tipis. Efek Samping Efek samping dapat terjadi apabila: 1. hipopigmentasi. penghentian terapi steroid topikal setelah terapi jangka panjang dapat. 2 hari sekali. Saat control terhadap penyakit sudah dicapai sebagian. hipertrikosis setempat. dermatosis akneformis. Beberapa penulis membagi efek samping kortikosteroid menjadi beberapa tigkat. Penipisan epidermal yang disertai dengan peningkatan aktivitas kinetik dermal. Akibatnya. sedangkan penyakit yang kurang responsif memerlukan steroid topical potensi menengah atau tinggi. pada akhir pekan) dilakukan ketika control terhadap penyakit sudah tercapai sebagian. yaitu:  Efek Epidermal Efek ini antara lain: 1. Bayi juga kurang mampu memetabolisme kortikosteroid poten dengan cepat. Kortikosteroid topikal harus dihindari pada kulit dengan ulserasi atau atrofi. Penggunaan kortikosteroid topikal dengan potensi kuat atau sangat kuat atau penggunaan sangat oklusif. penggunaan gabungan potensi lemah harus dimulai. dengan pendataran dari . Secara umum efek samping dari kortikosteroid topikal termasuk atrofi. Penggunaan kortikosteroid topikal yang lama dan berlebihan. suatu penurunan ketebalan rata-rata lapisan keratosit. Penyerapan kortikosteroid topikal yang berlebihan bisa menekan produksi kortisol endogen. purpura. telangiektasis. Bayi premature terutama memiliki risiko karena kulitnya lebih tipis dan penetrasi obat topical yang diberikan akan sangat meningkat. Kortikosteroid topikal potensi lemah digunakan pada daerah wajah dan intertriginosa.diberikan mengakibatkan dosis steroid sistemik yang secara potensial lebih besar. dermatitis peroral. maka anak harus secara perlahan dihentikan pemberian steroidnya untuk mencegah komplikasi ini. striae atrofise. menyebabkan addisonian crisis.

Inhibisi dari melanosit. Efek ini bisa dicegah dengan penggunaan tretinoin topikal secara konkomitan. Ini menyebabkan terbentuknya striae dan keadaan vaskulator dermal yang lemah akan menyebabkan mudah ruptur jika terjadi trauma atau terpotong. Vasokontriksi yang lama akan menyebabkan pembuluh darah yang kecil mengalami dilatasi berlebihan. Efek Dermal Terjadi penurunan sintesis kolagen dan pengurangan pada substansi dasar. Kortikosteroid pada awalnya menyebabkan vasokontriksi pada pembuluh darah yang kecil di superfisial. Komplikasi ini muncul pada keadaan oklusi steroid atau injeksi steroid interakutan. dan kadang-kadang pustulasi.  . Pendarahan intradermal yang terjadi akan menyebar dengan cepat untuk menghasilkan suatu blot hemorrhage. telah ditemukan.konvulsi dermo-epidermal. suatu keadaan seperti vitiligo.  Efek Vaskular Efek ini termasuk: 1. Ini nantinya akan terserap dan membentuk jaringan parut stelata. yang terlihat seperti usia kulit prematur. inflamasi lanjut. 2. Vasodilatasi yang terfiksasi. 2. Fenomena rebound. yang bisa mengakibatkan edema.

harus diberikan dalam dosis minimal yang masih efektif. Induksi sintesis protein ini yang akan menghasilkan efek fisiologik steroid. hal ini menimbulkan efek katabolik. Molekul hormon memasuki sel melewati membran plasma secara difusi pasif. insidens efek samping dan efek letal potensial akan bertambah. tidak membahayakan kecuali dengan dosis sangat besar. dosis dapat dilipatgandakan. Kecuali untuk insufisiensi adrenal. Indikasi Untuk tiap penyakit pada tiap pasien. dapat dilakukan modifikasi cara pemberian obat. Untuk mengurangi efek supresi hipofisis-adrenal ini. hormon steroid merangsang transkripsi dan sintesis protein spesifik.KORTIKOSTEROID ORAL Mekanisme kerja Kortikosteroid bekerja dengan mempengaruhi kecepatan sintesis protein. Bila pengobatan diperpanjang sampai 2 minggu atau lebih hingga dosis melebihi dosis substitusi. Penggunaan kortikosteroid untuk beberapa hari tanpa adanya kontraindikasi spesifik. Bila dalam beberapa hari belum terlihat efeknya. kortikosteroid dosis besar dapat diberikan untuk waktu singkat selama tidak ada kontraindikasi spesifik. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa bila kortikosteroid akan digunakan untuk jangka panjang. Terapi substitusi. Ikatan ini menstimulasi transkripsi RNA dan sintesis protein spesifik. misalnya hepar. Penghentian pengobatan tiba-tiba pada terapi jangka panjang dengan dosis besar. Terapi ini bertujuan memperbaiki kekurangan akibat insufisiensi sekresi korteks adrenal akibat gangguan fungsi atau struktur adrenal sendiri (insufisiensi primer) atau hipofisis (insufisiensi sekunder). maka dosis awal haruslah cukup besar. mempunyai resiko insufisiensi adrenal yang hebat dan dapat mengancam jiwa pasien. dosis efektif harus ditetapkan dengan trial and error. tetapi cara ini tidak dapat diterapkan untuk semua penyakit. misalnya dosis tunggal selang 1 atau 2 hari. Bila terapi bertujuan mengatasi keadaan yang mengancam pasien. dan harus dievaluasi dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan penyakit. Terapi kortikosteroid digunakan antara lain untuk: . Pada beberapa jaringan. Kompleks ini mengalami perubahan konformasi. Suatu dosis tunggal besar kortikosteroid umumnya tidak berbahaya. pada jaringan lain. lalu bergerak menuju nucleus dan berikatan dengan kromatin. Untuk keadaan yang tidak mengancam jiwa pasien. misalnya sel limfoid dan fibroblast hormon steroid merangsang sintesis protein yang sifatnya menghambat atau toksik terhadap sel-sel limfoid. Hanya di jaringan target hormon ini bereaksi dengan reseptor protein yang spesifik dalam sitoplasma sel dan membentuk kompleks reseptor-steroid. Kemudian dalam periode singkat dosis harus diturunkan bertahap sampai tercapai dosis minimal dimana gejala semula timbul lagi. penggunaan kortikosteroid bukan merupakan terapi kausal ataupun kuratif tetapi hanya bersifat paliatif karena efek anti-inflamasinya.

. Banyak pasien memerlukan juga mineralokortikoid fluorokortison asetat dengan dosis 0.  Syok. uveitis akut. Insufisiensi adrenal kronik.  Penyakit mata (konjungtivitis alergika. dosisnya 20-30 mg hidrokortison harus diberikan setiap hari. Dosisnya 20-30 mg per hari dalam dosis terbagi (20 mg pada pagi hari dan 10 mg pada sore hari).  Edema serebral. Penyempurnaan fungsi paru fetus dipengaruhi sekresi kortisol pada fetus. leukemia. Untuk scleroderma umumnya obat ini kurang bermanfaat. Kortikosteroid dapat bermanfaat pada sindrom nefrotik yang disebabkan lupus eritematus sistemik atau penyakit ginjal primer.  Gangguan hematologik lain (anemia hemolitik acquaired dan autoimun. Insufisiensi adrenal sekunder akibat insufisiensi adenohipofisis.  Asma bronchial dan penyakit saluran napas. kecuali amiloidosis. Hyperplasia adrenal congenital.    Insufisiensi adrenal akut. Bila insufisiensi primer. Dibawah ini dibahas beberapa penyakit yang bukan merupakan kelainan adrenal atau hipofisis. Terapi non-endokrin.1-0. Berikut adalah kasus yang menggunakan preparat kortikosteroid:  Fungsi paru pada fetus. sedangkan terapi jangka panjang hasilnya bervariasi. Dosis terlalu banyak akan mengganggu berat badan dan perkembangan kelenjar adrenal fetus. Betametason atau deksametason selama 2 hari diberikan pada minggu ke 27-34 kehamilan. Perlu juga diberi preparat mineralokortikoid yang dapat menahan Na dan air. tetapi diobati dengan glukokortikoid.  Penyakit kolagen. Indikasi kortikosteroid yang lain adalah pada dermatosis alergik atau penyakit yang dianggap mempunyai dasar alergik (dermatitis atopik. Dasar pemakaian disini adalah efek anti-inflamasinya dan kemampuannya menekan reaksi imun. purpura alergika akut dll). dengan pembengkakan dan nyeri sendi yang hebat sehingga pasien tidak dapat bekerja. meskipun telah diberikan istirahat. terapi fisik dan obat golongan anti-inflamasi nonsteroid. pemfigus.  Penyakit alergi.  Trauma sumsum tulang belakang. koroiditis).  Karditis reumatik.  Artriris. neuritis optika.2 mg per hari. Pemberian dosis besar bermanfaat untuk eksaserbasi akut.  Keganasan. dll). Kortikosteroid hanya diberikan pada pasien arthritis rheumatoid yang sifatnya progresif. dermatitis seboroik.  Penyakit hepar. atau cukup dengan kortison dan diet tinggi garam.  Penyakit ginjal.

ulkus peptikum/perforasi. butuh beberapa hari hingga beberapa bulan untuk menghentikan semuanya. Saluran cerna Hipersekresi asam lambung. Sebagai contoh:  Tidak diperlukan penurunan jika penggunaan steroids telah kurang dari satu minggu. Tempat Macam efek samping 1. strie atrofise. nafsu makan bertambah. mengurangi dosis 10 mg atau kurang per hari. miopati panggul/bahu. hiperkinesis. paranoid. insomnia.  Pengurangan dosis lambat mungkin diperlukan jika obat yang telah dilakukan selama beberapa bulan.fraktur. Pada penyakit kulit akut dan berat serta pada eksaserbasi penyakit kulit kronik. kortikosteroid diberikan secara sistemik. Dosis dan mekanisme pemberian Dosis inisial kortikosteroid sistemik sehari untuk orang dewasa pada berbagai dermatosis Nama penyakit Macam kortikosteroid dan dosisnya sehari Dermatitis Prednison 4x5 mg atau 3x10mg Erupsi alergi obat ringan Prednison 3x10 mg atau 4x10 mg SJS berat dan NET Deksametason 6x5 mg Eritrodermia Prednison 3x10 mg atau 4x10 mg Reaksi lepra Prednison 3x10 mg DLE Prednison 3x10 mg Pemfigoid bulosa Prednison 40-80 mg Pemfigus vulgaris Prednison 60-150 mg Pemfigus foliaseus Prednison 3x20 mg Pemfigus eritematosa Prednison 3x20 mg Psoriasis pustulosa Prednison 4x10 mg Reaksi Jarish-Herxheimer Prednison 20-40 mg Mengurangi Dosis Steroid Sistemik Jangan berhenti tiba-tiba penggunaan steroids sistemik. 2. .Yang harus diperhatikan adalah kadar kandungan steroidnya. kecendrungan bunuh diri). mudah pusat tersinggung. Erupsi eksematosa biasanya diatasi dengan salep hidrokortison 1%.  Setelah mengambil dosis 30 mg atau lebih per hari untuk 3-4 minggu. Susunan saraf Perubahan kepribadian (euforia. 3. Efek samping Berikut efek samping kortikosteroid sistemik secara umum. psikosis. pankreatitis. skoliosis. gelisah. hipotropi. terutama penting jika Anda telah menggunakan selama lebih dari enam bulan. fibrosis. ileitis regional. fraktur tulang panjang. Kulit Hirsutisme. 4. kompresi vertebra. 5. Tulang Osteoporosis. kolitis ulseratif. dermatosis akneiformis. mengubah proteksi gaster. Otot Hipotrofi.

dan pasien dengan diabetes atau masalah paru-paru.5mg Prednisone per hari.  Penurunan pertumbuhan pada anak-anak. kehilangan kalium (astenia. Metabolisme protein. tetani. Efek Samping Penggunaan Steroid dalam Jangka Waktu yang Lama  Pengurangan produksi cortisol sendiri. maka kelenjar adrenal memproduksi sendiri sedikit cortisol. Namun masalah yang mungkin timbul berikut:  Gangguan tidur  Meningkatkan nafsu makan  Meningkatkan berat badan  Efek psikologis.  Osteoporosis terutama perokok.purpura. yang tidak dapat mengejar ketinggalan jika steroids akan dihentikan (tetapi biasanya tidak). orangorang yang kurang berat atau yg tak bergerak. leukosit dan limfosit 8. Ini terjadi setelah tahun pertama dalam 10-20% dari pasien dirawat dengan lebih dari 7.  Jarang. obesitas. Mata Glaukoma dan katarak subkapsular posterior 7. reaktivasi Tb dan herpes simplek. perempuan postmenopausal. paralisis. jantung. hiperlipidemia. terutama di bahu dan otot paha. Untuk sampai dua belas bulan setelah steroids dihentikan. 11.gula lemak meninggi. 6. orang tua. Darah Kenaikan Hb. Elektrolit Retensi Na/air. termasuk peningkatan atau penurunan energi Jarang tetapi lebih mencemaskan dari efek samping penggunaan singkat dari kortikosteroids termasuk: mania. efek samping yang serius jarang. ulkus peptik. diabetes dan nekrosis aseptik yang pinggul. Hal ini diperkirakan hingga 50% dari pasien dengan kortikosteroid oral akan mengalami patah tulang. Kelenjar adrenal Atrofi. kurangnya respon terhadap steroid terhadap stres seperti infeksi atau trauma dapat mengakibatkan sakit parah. ribs atau pinggul bersama dengan sedikit trauma. Pembuluh darah Kenaikan tekanan darah 9. Sistem aritmia kor) immunitas Menurun. rentan terhadap infeksi. buffao hump. Osteoporosis dapat menyebabkan patah tulang belakang. . 12.  Otot lemah. yang dihasilkan dari kelenjar di bawah otak-hypopituitary-adrenal (HPA) penindasan axis. nekrosis avascular pada caput tulang paha (pemusnahan sendi pinggul). Efek Samping Dari Penggunaan Singkat Steroids Sistemik Jika sistemik steroids telah ditetapkan untuk satu bulan atau kurang. eritrosit. KH dan Kehilangan protein (efek katabolik). keganasan dapat timbul. tidak bisa melawan stres bagian kortek 10. kejiwaan.  Meningkatkan diabetes mellitus (gula darah tinggi). telangiektasis. perlemakan hati. Selama dan setelah pengobatan steroid.

meningkatkan berat badan dan gagal jantung. Penyakit mata. nyeri otot dan sendi dan depresi. Peningkatan resiko infeksi internal. Redistribusi lemak tubuh: wajah bulan. delirium atau depresi. . Ada juga efek samping dari mengurangi dosis.          Kenaikan lemak darah (trigliserida). kegembiraan. peningkatan energi. Ulkus peptikum. perubahan mood. Efek psikologis termasuk insomnia. Kegoyahan dan tremor. terutama pada pengobatan yang menggunakan anti-inflamasi. termasuk kelelahan. Retensi garam: kaki bengkak. punuk kerbau dan truncal obesity. khususnya glaukoma (peningkatan tekanan intraocular) dan katarak subcapsular posterior. menaikkan tekanan darah. Sakit kepala dan menaikkan tekanan intrakranial. sakit kepala. terutama ketika dosis tinggi diresepkan (misalnya tuberkulosis).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->