P. 1
materi Sumber Sumber Hukum Islam

materi Sumber Sumber Hukum Islam

|Views: 9|Likes:
Published by Dewa Gede Agung
materi Sumber Sumber Hukum Islam
materi Sumber Sumber Hukum Islam

More info:

Published by: Dewa Gede Agung on Apr 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2013

pdf

text

original

Sumber-Sumber Hukum Islam

Pembahasan sumber-sumber Syariat Islam, termasuk masalah pokok ( ushul) karena dari sumbersumber itulah terpancar seluruh hukum/syariat Islam. Oleh karenanya untuk menetapkan sumber syariat Islam harus berdasarkan ketetapan yang qath’i (pasti) kebenarannya, bukan sesuatu yang bersifat dugaan (dzanni). Allah SWT berfirman:

“(Dan) janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya.” (QS. Al-Israa: 36)

َ َ‫س ل‬ ‫م‬ ْ‫وَل َ ت َ ُف‬ ِ ‫ه‬ ُ ‫ق‬ ِ ِ‫ك ب‬ ٌ ْ‫عل ُف‬ َ ‫ف‬ َ ْ‫م ا ل َي ُف‬

“(Dan) kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran.” (QS. Yunus: 36) Masalah ini termasuk masalah pokok ( ushul), sebab menjadi dasar bagi seorang Muslim untuk menarik keyakinan atas hukum-hukum amaliahnya. Apabila landasan suatu hukum sudah salah, maka seluruh hukum-hukum cabang yang dihasilkannya menjadi salah pula. Oleh sebab itu menetapkan sumber syariat Islam tidak dapat dilakukan berdasarkan persangkaan ataupun dengan dugaan belaka. Berdasarkan pengertian di atas maka yang memenuhi syarat untuk digunakan sebagai sumber pengambilan dalil-dalil syar’i adalah Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ Shahabat dan Qiyas (yang mempunyai persamaan illat syar’i).

َ ‫وم ا يتب‬ ً ْ‫شي ُف‬ َ ‫ق‬ ‫ئ ا‬ ِ ْ‫ن ل َ ي ُغُف‬ ِ ‫ن ي‬ ّ َ ‫م إ ِل ّ ظ‬ َ ْ‫ن ال ُف‬ ّ َ ‫ن ا إ‬ ُ َِّ َ َ ّ ‫ح‬ ْ‫رهُ ُف‬ َ ‫م‬ ّ ّ ‫ن الظ‬ ُ َ ‫ع أك ُفْث‬

Al-Qur’an
Definisi Al-Qur’an Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan melalui perantaraan malaikat Jibril kepada Rasulullah saw dengan menggunakan bahasa Arab disertai kebenaran agar dijadikan hujjah (argumentasi) dalam hal pengakuannya sebagai rasul dan agar dijadikan sebagai pedoman hukum bagi seluruh ummat manusia, di samping merupakan amal ibadah bagi yang membacanya. Al-Qur’an diriwayatkan dengan cara tawatur (mutawatir) yang artinya diriwayatkan oleh orang sangat banyak semenjak dari generasi shahabat ke generasinya selanjutnya secara berjamaah. Jadi apa yang diriwayatkan oleh orang per orang tidak dapat dikatakan sebagai Al-Qur’an. Orang-orang yang memusuhi Al-Qur’an dan membenci Islam telah berkali-kali mencoba menggugat nilai keasliannya. Akan tetapi realitas sejarah dan pembuktian ilmiah telah menolak segala bentuk tuduhan yang mereka lontarkan. Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan ciptaan manusia, bukan karangan Muhammad saw ataupun saduran dari kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur’an tetap menjadi mu’jizat sekaligus sebagai bukti keabadian dan keabsahan risalah Islam sepanjang masa dan sebagai sumber segala sumber hukum bagi setiap bentuk kehidupan manusia di dunia. Kehujjahan Al-Qur’an Al-Qur’an merupakan hujjah bagi manusia, serta hukum-hukum yang terkandung di dalamnya merupakan dasar hukum yang wajib dipatuhi, karena Al-Qur’an merupakan kalam Al-Khaliq, yang diturunkannya dengan jalan qath’i dan tidak dapat diragukan lagi sedikit pun kepastiannya. Berbagai argumentasi telah menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu datang dari Allah dan ia merupakan mukjizat yang mampu menundukkan manusia dan tidak mungkin mampu ditiru. Salah satu yang yang menjadi kemusykilan manusia untuk menandingi Al-Qur’an adalah bahasanya, yaitu bahasa Arab, yang tidak bisa ditandingi oleh para ahli syi’ir orang Arab atau siapa pun. Allah SWT berfirman:

yaitu arti haid dan suci).” Selain dari bahasanya. Ar-Ruum) dan sebagainya. Semua itu menunjukkan bahwa Al-Qur’an memang bukan datang dari manusia melainkan dari Allah SWT. Al-Baqarah: 23) Cukup kiranya pernyataan Walid bin Mughirah. jika kamu orang-orang benar. maka buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an. Karenanya memang sudah menjadi kelayakan bahkan keharusan untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan kehidupan dan hukum manusia. Tafsir Al-Qur’an merupakan penjelasan makna kata demi kata dalam susunan kalimatnya serta makna susunan kalimat sebagaimana adanya. misalnya penyerbukan oleh lebah. dan QS.” (QS. Sedangkan ayat-ayat yang mutasyabihat banyak terdapat pada ayat yang berbicara tentang mu’amalah seperti QS.“Katakanlah: Sesungguhnya apabila jin dan manusia apabila berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini. Tafsir Al-Qur’an Tafsir adalah menerangkan maksud pada lafadz. Sedangkan ayat mutasyabihat adalah ayat yang mempunyai arti terselubung (tersembunyi) yang dapat ditafsirkan karena mengandung beberapa pengertian.” (QS. itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan lainnya (ayat-ayat) Mutasyabihat. salah seorang Quraisy di masa Rasulullah saw. para malaikat dan tugas-tugasnya. yang menjadi musuh nabi pada awalnya berkata: “Sesungguhnya di dalam Al-Qur’an itu terdapat sesuatu yang lezat. Keberadaan dan sifat Allah. (Lihat juga pembuktian kesahihan Al-Qur’an pada materi “Proses Keimanan”) Al Muhkamat dan Al Mutasyabihat Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang dalam kategori muhkamat dan mutasyabihat sebagaimana firman Allah SWT: ُ َ ‫فع‬ َ َ‫لاوا ُفْ و‬ ُ َ‫فع‬ ُ َ‫ت ي و‬ َ ْ‫لاوا ُف‬ ‫ت‬ ُ ّ ‫ف ات‬ ْ‫لن ت َ ُف‬ ْ‫م ت َ ُف‬ ِ ُ ‫رةُ أ‬ ِ ْ‫وال ُف‬ َ ُ ‫قاود‬ ِ ّ ‫ر ال‬ ّ ‫ه ا ال‬ ّ ‫قاوا ُفْ ال‬ َ ‫ح‬ ْ‫عد ّ ُف‬ ْ‫إن ل ّ ُف‬ ُ ‫ن ا‬ َ ‫ج ا‬ َ ‫س‬ َ ‫ن ا‬ ِ َ‫ف‬ َ ْ‫ل ِل ُف‬ ‫ن‬ َ ‫ري‬ ِ ِ‫ك اف‬ “Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al-Qur’an) kepadamu. dan pula keindahannya. Al Baqarah 237 (lafadz yang memegang ikatan nikah ada dua pengertian. juga tentang akan menangnya pasukan Romawi atas Parsi (QS. kejadian hari kiamat. Yang pada akhirnya terbukti kebenarannya. Dan manusia tidak akan mungkin mampu berucap seperti Al-Qur’an. Al-Fath). Al Baqarah 228 (lafadz quru’ mempunyai dua arti. bisa suami atau wali dari pihak istri). seorang ahli syair yang tak tertandingi. Al-Israa: 88) ْ‫ُف‬ ْ‫ُف‬ َ َ َ‫ق ل ل ّئ ِن اجتمعت الُسنس وال ُفْجن ع‬ ُ َ ‫هذـ‬ ‫ه‬ ُ ْ‫ذا ال ُف‬ َ ‫ ل‬ ِ ِ ‫مث ُفْل‬ ِ ِ‫ن ب‬ ُ ‫ن ل َ ي َأ‬ ِ ِ ‫تاوا ُفْ ب‬ ُ ‫ل ى أن ي َأ‬ َ ‫تاو‬ ِ ‫رنآ‬ ْ‫ق ُف‬ ِ ْ‫مث ُف‬ ّ ِ َ ُ ِ ِ َ َ َ ْ‫ِ ُف‬ َ َ ‫او‬ ‫را‬ ُ ْ‫ن ب َعُف‬ َ ‫ك ا‬ ْ‫ضهُ ُف‬ ً ‫هي‬ ْ‫وَل َ ُف‬ ِ ‫ضظ‬ ٍ ْ‫م ل ِب َعُف‬ “(Dan) apabila kamu tetap dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad). Sang Pencipta dan Pengatur Alam Semesta. atau kisah tentang sebagian Iptek. Termasuk dalam ayat-ayat muhkamat adalah haramnya riba dan zina dalam segala bentuknya. sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sekalian yang lain. Misalnya firman Allah SWT ‘laa raiba fiihi’ (tidak ada keraguan di dalamnya) dijelaskan dengan lafadz lain “laa syakka fiihi” (tidak ada kebimbangan di dalamnya). Misalnya perihal akan menangnya kaum Muslimin memasuki Makkah dengan aman (QS. dan ajaklah penolongpenolongmu selain Allah.” (QS. Selain isi Al-Qur’an menunjukkan tentang kejadian sejarah terdahulu yang sesuai dengan fakta. wajibnya terikat dengan hukumhukum Allah dan sebagainya. kesemuanya dijelaskan melalui ayat-ayat yang muhkamat. Pasti mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya. Ali Imran: 7) ُ ُ‫ك ال ُفْكت اب منه نآي ات محك َم ات ه‬ َ ‫هُاو ال ّذ‬ َ ْ‫ل عَل َي ُف‬ َ ‫ز‬ َ َ ‫مت‬ ‫ت‬ َ ُ ‫ب وَأ‬ َ ِ ‫م ال ُفْك‬ َ ‫ي أُسن‬ ّ ‫نأ‬ ٌ ‫ه ا‬ ُ ‫ر‬ ٌ َ ْ‫ِ َ َ ِ ُفْ ُ َ ٌ ّ ُف‬ َ ِ ‫ش اب‬ ِ ‫ت ا‬ ُ ‫خ‬ ّ َ ِ َ Ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang maksudnya dapat diketahui secara nyata dan tidak dapat ditafsirkan lagi. wajibnya hukum potong tangan bagi pencuri (dengan syarat tertentu). apabila di bawah menyuburkan dan apabila di atas menghasilkan buah. Terkadang suatu ayat dijelaskan oleh ayat . terdapatnya surga dan neraka. di antaranya (isinya) ada ayat-ayat muhkamat. isi Al-Qur’an sekaligus menjadi hujjah atas kebenarannya. diutusnya para rasul dan nabi. terkawinkannya bunga-bunga oleh bantuan angin dan sebagainya.

Sebagaimana firman Allah SWT: ّ ِ ‫او إ‬ (4)‫ح ى‬ َ ‫ياو‬ ُ ‫ ي‬ ْ‫ل وَ ُف‬ ْ‫(إ ِ ُف‬3)‫او)ى‬ َ ‫م ا‬ ُ ِ ‫ينط‬ َ َ‫و‬ ٌ ‫ح‬ َ ُ‫ن ه‬ َ َ‫ن ال ُفْه‬ ِ َ‫ق ع‬ “(Katakanlah Muhammad) . sama sekali tidak boleh ditafsirkan dalam bahasa lain. namun begitu haruslah berusaha semaksimal mungkin untuk mendekati kebenaran yang dimaksud Al-Qur’an. QS. Selain menurut kenyataannya Al-Qur’an itu diturunkan dalam bahasa Arab yang paling baik dan murni.. atau penjelasan para shahabat dan ahli ilmu terhadap suatu ayat. Ini menunjukkan bahwa ummat sedang berjalan menuju garis yang berada di luar jalur ketentuan Allah SWT. yang memandang Al-Qur’an hanya dari segi ilmu. Apabila persyaratan itu tidak terpenuhi. “(Dan) Demikianlah Kami telah menurunkan Al-Qur’an itu sebagai peraturan yang benar dalam bahasa Arab.. Bila tidak demikian maka apa yang kita lakukan tidak ubahnya dengan apa yang dilakukan oleh kaum orientalis. bukan untuk diterapkan.. tidak ada jalan lain dalam memahami Al-Qur’an melalui bahasa yang lain. dan QS. perbuatan dan taqrir (ketetapan/persetujuan/diamnya) Rasulullah saw terhadap sesuatu hal/perbuatan seorang shahabat yang diketahuinya. Disamping menuntut keikhlasan dan kesucian niat juga membutuhkan penguasaan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pemahaman Al-Qur’an.aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” (QS. Ali Imran: 164.. Rasulullah saw juga menerima wahyu yang lain. Walaupun begitu.” (QS. َ َ ِ ‫وك َذ َل‬ ‫ي ا‬ َ ْ‫زل ُف‬ ّ ِ ‫رب‬ ُ ُ‫ن اه‬ َ ‫ك أُسن‬ ً ْ‫حك ُف‬ َ َ‫م ا ع‬ َ As-Sunnah Definisi Sunnah Sunnah adalah perkataan. َ ‫إ‬. An-Najm: 3-4) Makna ayat di atas bahwanya apa yang disampaikan Rasulullah saw (Al-Qur’an dan As-Sunnah) hanyalah bersumber dari wahyu Allah SWT. baik perkataan. yaitu Al Hikmah yang pengertiannya sama dengan As-Sunnah. Al-Ahzab: 34. Ia hanya merupakan ‘jembatan’ untuk mengakrabkan diri dengan Al-Qur’an. Firman Allah SWT: “(Dan) Tiadalah yang diucapkannya (oleh Muhammad) itu menurut kemauan hawa nafsunya. Sedangkan tujuan akhirnya adalah perwujudan dan penerapan nilai-nilai Al-Qur’an dalam seluruh aspek kehidupan. Bertitik tolak dari suatu keyakinan bahwasanya hidup ini tidak boleh diatur kecuali menurut aturan Allah SWT. terpenuhinya persyaratan ini pun tidaklah mutlak menjamin kebenaran hasil suatu kajian. maka dapat menimbulkan pemahaman yang keliru dan merugikan. Sunnah merupakan sumber syariat Islam yang nilai kebenarannya sama dengan Al-Qur’an karena sebenarnya Sunnah juga berasal dari wahyu. Al-An’am 50) Ayat ini bermakna bahwa Rasulullah saw tidak melakukan suatu tindakan kecuali berdasarkan wahyu dari Allah SWT dan agar manusia mengikuti apa yang disampaikannya.” (QS. Al-Qur’an telah menegaskan bahwa selain dari Al-Qur’an. menghayati dan mengkaji isinya sebagaimana yang diisyaratkan oleh Al-Qur’an itu sendiri.lainnya (tafsir ayat bi al-ayat) atau oleh hadits Rasulullah saw tentang suatu ayat (tafsir bi as-sunnah). Dengan demikian Al-Qur’an tidak bisa tidak hanya bisa ditafsirkan ke dalam bahasa Al-Qur’an itu sendiri yaitu bahasa Arab. maka tidak ada alternatif lain bagi kita melainkan berusaha semakimal mungkin memahami Al-Qur’an. Al-Jumu’ah: 3. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Ar-Ra’du: 37) Sesungguhnya kelalaian ummat dalam mengkaji dan menghayati isi kandungan Al-Qur’an menyebabkan ketidakakraban dengan Al-Qur’an. Pengertian Al Hikmah yang bermakna As-Sunnah dapat ditemukan dalam QS. Hendaknya disadari bahwa melakukan kajian terhadap isi kandungan Al-Qur’an menuntut persyaratan-persyaratan tertentu. bukan dari dirinya maupun kemauan hawa nafsunya. Penjelasan kata-kata dan susunannya itu terbatas hanya dalam bahasa Arab. Juga harus disadari bahwa pengkajian dan pemahaman terhadap Al-Qur’an bukanlah menjadi tujuan akhir. perbuatan atau pun ketetapan (diamnya). ‫ق ل‬ ُ ‫ ي‬ َ ‫ياو‬ ُ ‫م ا‬ ُ ِ ‫ن أت ّب‬ ْ‫ِ ُف‬ َ ّ ‫ع إ ِل‬ ّ َ ‫ح ى إ ِل‬ .

Dari penjelasan tersebut. Al-Maidah: 38) Ayat ini berlaku mutlak pada setiap pencurian (baik besar maupun kecil). salah seorang ulama besar dari Andalusia pada masa Abbasiyah menjelaskan: “Sesungguhnya di dalam Al-Qur’an terdapat ungkapan yang seandainya tidak ada penjelasan lain. Imam Ibnu Hazm. mukmin.” (HR Ahmad) َ َ ‫ة‬ ‫م ا‬ ُ َ‫س ارِق‬ ُ ِ‫س ار‬ ُ َ ‫ف اقُفْط‬ ّ ‫وال‬ ّ ‫وال‬ َ ُ‫عاوا ُفْ أي ُفْدِي َه‬ َ ‫ق‬ َ . misalnya lafadz budak. Oleh sebab itu secara pasti wajib kembali kepada Sunnah. Kemudian Sunnah secara terperinci menerangkan tata cara pelaksanaan shalat. Jadi setiap anak adalah pewaris ayahnya. Sabda Rasulullah saw: “Kami seluruh Nabi tidak meninggalkan warisan. Misalnya perintah shalat.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah) Menurut hadits di atas Nabi tidak meninggalkan warisan bagi anak-anaknya serta melarang seorang anak yang membunuh ayahnya mendapat warisan dari ayahnya. Taqyid (Pensyaratan) terhadap ayat Al-Qur’an yang mutlak Mutlak ialah lafadz yang menunjukkan sesuatu yang masih umum pada suatu jenis. dapat dipahami dan diyakini bahwa kehujjahan As-Sunnah sebagai sumber hukum/syariat Islam bersifat pasti (qath’i) kebenarannya. Mujmal adalah suatu lafadz yang belum jelas indikasinya ( dalalah/penunjukannya) yaitu dalil yang belum jelas maksud dan perinciannya.” (QS. apa yang kami tinggalkan adalah sedekah. Sabda Rasulullah saw: “Potonglah dalam pencurian seharga seperempat dinar dan janganlah dipotong yang kurang dari itu. Al-Qur’an hanya menjelaskannya secara global. Kemudian datang Sunnah yang mengkhususkannya. maka kita tidak mungkin melaksanakannya. Dalam hal ini rujukan kita hanya kepada Sunnah Nabi saw. serta hal-hal lain yang berkaitan dengan shalat. untuk seorang anak laki-laki adalah dua bagian dari anak perempuan. setiap anak secara umum berhak mendapatkan warisan dari ayahnya.” 2. aturan waktunya. tidak dijelaskan tata cara pelaksanaannya. Fungsi Sunnah terhadap Al-Qur’an Adapun mengenai fungsi As-Sunnah terhadap Al-Qur’an dapat diuraikan sebagai berikut: 1. membayar zakat dan menunaikan haji. ‘ar-rijaalu’ (orang-orang laki-laki) dan lain-lain. Adapun ijma’ hanya terdapat dalam kasus-kasus tertentu saja yang relatif sedikit.” (HR. An-Nisaa: 11) Menurut ayat tersebut di atas. Menguraikan Kemujmalan (keumuman) Al-Qur’an.” (QS. begitu pula dengan ibadah-ibadah yang lain. Umum (‘aam) ialah lafadz yang mencakup segala sesuatu makna yang pantas dengan satu ucapan saja. Misalnya firman Allah SWT: “Allah mewajibkan kamu tentang anak-anakmu. Misalnya ‘al-muslimun’ (orang-orang Islam). Misalnya: َ ُ ّ َ ‫ ل‬ ُ ْ‫مث ُف‬ ‫ن‬ ِ ‫م‬ ِ ‫ر‬ ِ ‫ه‬ ِ ‫ياو‬ ُ ْ‫ف ي أوُفْل َدِك ُ ُف‬ ُ ّ ‫م الل‬ ُ ُ ‫صيك‬ ِ َ ‫للذ ّك‬ ِ ْ‫حظ الُسنث َي َي ُف‬ “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri hendaklah kamu potong tangan (keduanya). Pengkhususan Keumuman Al-Qur’an. Kemudian Sunnah memberikan persyaratan nilai barang curian itu sebanyak seperempat dinar emas ke atas. 3. Di dalam Al-Qur’an banyak dijumpai ayat-ayat yang bersifat mutlak (tanpa memberi persyaratan). Di dalam Al-Qur’an itu terdapat banyak lafadz yang bermakna umum kemudian Sunnah mengkhususkan keumumannya Al-Qur’an tersebut. jumlah raka’at. Bukhari) “Seorang pembunuh tidak mendapat warisan. kafir. dan lain-lain. sebagaimana Al-Qur’an itu sendiri.

tidak lain hanya mengatakan: Kami mendengar dan Kami mematuhinya. Ijma’ Shahabat Pengertian Ijma. atau ijma’ ahlul halli wal aqdi. atau ijma’ ahlu Madinah. sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW. Pelengkap Keterangan Sebagian dari Hukum-Hukum. maka diambil oleh negara. perak. Ada yang mengatakan ijma’ ulama pada setiap masa. Begitu pula tentang keharaman memungut pajak (bea cukai). Sunnah menjelaskan mengenai hal ini melalui sabda Nabi: “Tidak boleh seseorang memadu wanita dengan ‘ammah (saudara bapaknya). akan tetapi merupakan aturan-aturan baru yang hanya terdapat dalam Sunnah. dan setiap burung yang bercakar. An-Nur: 51) َ ‫ل ى الل ّه ورساول ِه ل ِيحك ُم بينهم‬ ُ ‫قاو‬ َ ِ ‫عاوا إ‬ َ ‫م ا‬ َ ْ‫ن قَاوُف‬ َ ِ‫ن إ‬ ‫لاوا‬ ُ َ ‫أن ي‬ ُ ُ ‫ذا د‬ ِ ‫م‬ ِ ْ‫مؤُف‬ َ ‫ك ا‬ ْ‫ِ َ َ ُ ِ َ ُفْ َ َ ُفْ َ ُ ُف‬ ُ ْ‫ل ال ُف‬ َ ّ ‫إ ُِسن‬ َ ‫ني‬ ُ َ ْ‫ُف‬ َ َ َ ‫ن‬ ْ‫م ُف‬ َ ْ‫ن ا وَأطعُف‬ َ ْ‫معُف‬ ِ ‫س‬ َ ‫حاو‬ ُ ِ ‫فل‬ َ ُ ‫م ال‬ ُ ُ‫ن ا وَأوُفْلئ ِك ه‬ Penggunaan nash As-Sunnah untuk masalah aqidah haruslah nash yang bersifat qath’i. atau anak perempuan dari saudara laki-laki istri (kemenakan). Misalnya.” (QS. Maka sikap seorang Muslim terhadap hal ini sesuai dengan firman Allah SWT: َ ‫ف‬ ْ‫ن ال ُ ُف‬ َ َ ‫سل‬ ُ ‫م‬ ْ‫وَأن ت َ ُف‬ َ ْ‫م ا قَد ُف‬ َ ّ ‫ن إ َل‬ َ ‫ج‬ َ ْ‫عاوا ُفْ ب َي ُف‬ ِ ْ‫خت َي ُف‬ “Ucapan orang-orang beriman. Al-Qur’an menegaskan tentang pengharaman memperisteri dua orang sekaligus. minyak bumi. api. karena tidak boleh adanya keraguan sedikitpun dalam masalah aqidah/ i’tiqadiyah. ijma’ adalah kesepakatan terhadap suatu hukum bahwa hal itu merupakan hukum syara’. yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an. tidak bolehnya individu memiliki kepentingan umum seperti air. . Shahabat Lafadz ijma’ menurut bahasa bisa berarti tekad yang konsisten tehadap sesuatu atau kesepakatan suatu kelompok terhadap suatu perkara. akan memutuskan tali persaudaraan. rumput. Sedangkan menurut para ulama ushul fiqh. ijma’ shahabat atau sebagainya. An-Nisaa’: 23) Di dalam Al-Qur’an tidak disebutkan tentang haramnya seseorang mengumpulkan (memadu) seorang wanita saudara ibu. sebab kalau itu kalian lakukan. Dalam hal ini terdapat perbedaan dalam hal menentukan ‘siapa’ yang ijma’nya dapat diterima sebagai sumber hukum atau dalil syar’i. tempat penggembalaan ternak dan lain-lain. Sedangkan untuk masalah hukum/syari’ah masih dapat digunakan nash As-Sunnah yang mencapai derajat dzanni (prasangka kuat atas kebenarannya). Sunnah Menetapkan Hukum-hukum Baru. penarikan hak milik atas tanah pertanian yang selama tiga tahun berturut-turut tidak dikelola. manakala mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya supaya Dia memberikan ketentuan hukum diantara mereka. diharamkannya ‘keledai jinak’ untuk dimakan. besi. Hal ini karena dalam masalah Syari’ah tidak diharuskan suatu keyakinan yang pasti terhadap hasil ijtihad yang akan dijadikan sumber amaliah tersebut (bukan sumber untuk masalah i’tiqadiyah). laut. kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. atau ijma’ ahlul bait. sungai. “(Dan diharamkan bagimu) menghimpun (dalam perkawinan) dua perempuan bersaudara. Demikian antara lain ketentuan tambahan (penyempurnaan) yang dilakukan Rasulullah saw.Begitu pula halnya dengan batas pemotongan tangan bagi pencuri (sebagimana ayat 38 Surat AlMaidah). yaitu pada pergelangan tangan dan bukan dari tempat lainnya. Peranan Sunnah yang lain adalah untuk memperkuat dan menetapkan apa yang telah tercantum dalam Al-Qur’an disamping melengkapi sebagian cabang-cabang hukum yang asalnya dari AlQur’an. An Nasa’i dan Ibnu Majah) 5. tambang emas.” (QS. setiap binatang yang bertaring. Sunnah juga berfungsi menetapkan hukum-hukum yang baru yang tidak ditemukan dalam AlQur’an dan bukan merupakan penjabaran dari nash yang sudah ada dalam Al-Qur’an. 4.” (HR. atau dengan saudara ibu (khala) atau anak perempuan dari saudara perempuannya (kemenakan) dan tidak boleh memadu dengan anak perempuan saudara laki-lakinya. Mereka itulah orang-orang yang berbahagia.

Bahkan sebenarnya mereka pulalah yang memberitahukan Islam kepada generasi selanjutnya. Merekalah yang mengetahui Sunnah Rasulnya. sebab mereka pun tetap manusia yang tidak ma’shum. baik tercantum dalam Al-Qur’an maupun hadits (keduanya dalil yang qath’i kebenarannya). maka yang paling memenuhi persyaratan untuk hal ini adalah “Ijma’ para Shahabat” Rasulullah saw. menghafalkan dan menyampaikan Al-Qur’an beserta Sunnah pada generasi berikutnya. Al Baihaqi dan lain-lain) “Para shahabatku itu ibarat bintang pada siapapun (di antara mereka) kalian turuti.” (HR Ibnu Abdil Barr) Petunjuk Allah dan Rasul-Nya terhadap para shahabat menunjukkan suatu kepastian tentang kebenaran dan kejujuran mereka (sebagai suatu jama’ah. Bersamaan dengan ini Allah SWT berfirman: ُ ِ‫ح اف‬ ‫ن‬ ّ ِ ‫ر وَإ‬ َ ْ‫زل ُف‬ ّ ِ‫إ‬ َ ‫ظاو‬ َ َ‫ه ل‬ ّ َ ‫ن ُسن‬ ْ‫ُسن ا ُسن َ ُف‬ ُ َ ‫ُسن ا ل‬ َ ْ‫ن ا الذ ّك ُف‬ ُ ‫ح‬ . QS. artinya kebanyakan ulama berijtihad dengan hasil serupa terhadap suatu masalah. Al-Fath: 29.Untuk menetapkan sumber pengambilan hukum bagi dalil-dalil syar’i dibutuhkan suatu sumber yang bersifat qath’i. mengalami dan melihat sendiri kehidupan kaum Muslimin generasi pertama tatkala Rasulullah masih hidup. Lalu adakah generasi yang lebih baik yang pernah dilahirkan manusia di muka bumi ini selain mereka (para shahabat)? Ijma’ siapa lagi selain ijma’ mereka yang lebih baik dan lebih kuat? Memang tidak mustahil para shahabat pun melakukan kesalahan. Diantara berbagai pendapat tentang ‘siapa’ yang ijma’nya dapat diterima sebagai sumber hukum. Alasan Ijma’ Shahabat Dijadikan Sumber Hukum Islam Dari segi mungkin tidaknya ‘seluruh orang yang berijma’ berkumpul. Sebagai contoh. Al Hasyr: 8. Imam Ahmad bin Hambal pernah menyatakan bahwa suatu kebohongan besar bila ada yang mengatakan mampu terwujud ijma’ setelah masa shahabat. dalam Al-Qur’an dan Hadits sebab merekalah yang menyampaikan Al-Qur’an dan menuturkan hadits Rasulullah saw pada generasi berikutnya. Beberapa Contoh Ijma’ Shahabat Salah satu ijma’ shahabat terpenting adalah pengumpulan Al-Qur’an menjadi mushaf. ijma’ ulama. Merekalah yang mengetahui kapan. mengalami kesulitan dan kesenangan secara bersama-sama. Begitu pula sabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya aku telah memilih para shahabat-ku atas segenap makhluk. maka hal ini hanya mungkin terjadi pada masa shahabat. Dalildalil yang memuji para shahabat tersebut bersifat qath’i sehingga kita bisa menentukan bahwa ijma’ shahabat dapat digunakan sebagai dalil syara’. maka hal itu atas dasar kejujuran dan kebenaran mereka. maka akan mendapatkan petunjuk. Sesungguhnya para shahabat merupakan generasi yang mengumpulkan. At-Taubah: 100. dimana. saling mengetahui ijma’ dan dapat mengkoreksi bila diketahui kesalahannya. Akan tetapi secara syar’i mereka mustahil bersepakat atau ber ijma’ atas suatu kekeliruan/kesesatan. apakah ulama yang sudah sering digunakan untuk ‘membuat hukum pesanan’ juga termasuk di dalamnya? Akan pasti benarkah ijma’ mereka tersebut? Benarkah semua ‘ulama’ tadi mengetahui dan menyetujui ijma’ tersebut? Tidak adakah yang selanjutnya menarik atau membatalkan ijma’nya tadi sampai ia meninggal? Dan mungkinkah para ulama (seluruh kaum Muslimin di seluruh dunia) mampu berkumpul bersama membahas suatu masalah baru? Masih banyak yang tidak bisa terjawab selain oleh para shahabat. Di samping itu para shahabat merupakan orang-orang yang hidup semasa Rasulullah saw.” (HR Thabari. Seperti tercantum dalam QS. Maka untuk terwujudnya ijma’ ulama. Al-Qur’an dalam bentuk sekarang ini merupakan hasil kesepakatan ( ijma’) para shahabat. Karena ketidakmungkinan itulah. Dan karena ketidakmungkinan itu pula yang pada akhirnya muncul istilah ‘jumhur ulama’. tidak pada masa selain mereka. hidup bersama. haruslah diperjelas ‘siapa saja ulama’ itu. QS. Karenanya kesalahan dalam ijma’ shahabat adalah mustahil terjadi secara syar’i. selain para nabi. Banyaknya pujian kepada para Shahabat secara jama’ah. Apabila terjadi kesalahan dalam ijma’ mereka tentang suatu persoalan maka tentu akan terdapat kesalahan dalam Islam. padahal semua hal tadi merupakan syarat sahnya sebuah ijma’ oleh suatu kelompok. Jumhur berbeda dengan ijma’. bukan secara pribadi-pribadi) sehingga apabila mereka bersepakat atas suatu masalah. dan berkaitan dengan peristiwa apa suatu ayat Al-Qur’an diturunkan.

Disamping itu ada beberapa hadits Rasulullah yang mengisyaratkan penggunaan qiyas sebagai dalil syara’. Al Hijr: 9) “Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebathilan. apakah aku harus menggantinya? ’ Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Bagaimana jika ibumu mempunyai hutang.” (QS. yaitu haram. Allah menjaga kebenaran Al-Qur’an. mengadakan transaksi jual beli tatkala adzan shalat Jum’at merupakan peristiwa yang telah ditetapkan dalam nash. Maka Rasulullah berkata ‘Berhajilah untuknya’. Dia bertanya: ‘Apakah aku harus menghajikan bapakku?’ Maka Rasulullah berkata: ‘Bagaimana jika bapakmu punya hutang. apakah kamu akan membayar hutangnya?’ Jawabnya: ‘Benar’. berdasarkan ayat: “Hai orang-orang yang beriman. Ibuku telah meninggal.dijamin kebenarannya. melindungi. sebagaimana yang dilakukan para shahabat tatkala Rasulullah saw wafat.” Dan Imam Daruquthny meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan mengatakan bahwa bapaknya meninggal. apakah kamu harus membayarnya?’ Jawabnya: ‘Benar’. maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah (shalat) dan tinggalkanlah jual beli. Dengan kata lain melalui tangan-tangan para shahabatlah. Inilah dalil yang pasti bahwa ijma’ shahabat merupakan dalil syar’i. baik dari depan maupun dari belakangnya. yang sama-sama harus dipenuhi Contoh Qiyas dan Ruang Lingkup Pembahasan Qiyas Sebagai contoh. Al-Jumuah: 9) َ َ ِ ‫اوا إ‬ َ ‫ص‬ َ ‫ة‬ َ ِ ‫ناوا إ‬ ‫روا‬ ِ ‫دي‬ ِ ّ ‫ر الل‬ ِ َ ‫مع‬ ِ ‫ة‬ ِ ‫ل‬ ِ ‫ُسناو‬ ُ ‫ذا‬ ُ ‫م‬ ِ ّ ‫ه ا ال‬ ُ ْ‫من ي َاوُفْم ِ ال ُف‬ َ ْ‫ف ا ُف‬ ُ ‫ج‬ َ ‫ن نآ‬ ّ ‫لل‬ َ ّ ‫ي ا أي‬ ُ َ ‫ه وَذ‬ ْ‫سعَ ُف‬ َ ‫ذي‬ ِ ْ‫ل ى ذِك ُف‬ ْ‫ُف‬ ‫ع‬ َ ْ‫الب َي ُف‬ .” (QS. qiyas berarti menyamakan suatu kejadian yang tidak ada nashnya dengan suatu kejadian yang sudah ada nash/hukumnya. Contoh lain yang masyhur tentang ijma’ shahabat adalah keharusan adanya seorang khalifah yang akan memimpin dan mengurus seluruh kebutuhan kaum muslimin. Padahal hal ini adalah mustahil terjadi.” Dalam dua hadits tersebut Rasulullah mengumpamakan atau mensejajarkan persoalan nadzar. Dengan demikian secara syar’i mustahil terjadi kesalahan dalam ijma’ shahabat. Jika ada kemungkinan salah dalam ijma’ shahabat. Sebagaimana diketahui bahwa yang menjadi dasar keberadaan hukum adalah illatnya. Allah memastikan bahwa mushaf Al-Qur’an yang ada kini --yang merupakan ijma’ para shahabat-. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Seorang wanita kepada Rasulullah dan berkata: ‘Ya Rasulullah. dengan hutang. sedang ia belum menunaikan puasa nadzar. haji. Demikian pula apabila illat yang sama terkandung dalam Sunnah dan Ijma’ Shahabat maka yang menjadi dalil qiyas adalah kedua hal tersebut. maka apabila ada kesamaan illat antara suatu masalah baru dengan masalah yang sudah ada hukumnya. Maka bila illat yang sama terkandung dalam Al-Qur’an berarti dalil qiyas dalam hal tersebut adalah Al-Qur’an. ْ‫َ ُف‬ َ َ‫ه و‬ ُ ِ ‫ب اط‬ َ ‫ن‬ ِ ‫ل ي َأ‬ ِ‫فه‬ ِ ْ‫خل ُف‬ ِ ‫ل‬ ِ ْ‫ن ي َد َي ُف‬ ِ ‫ ل‬ ِ ‫تي‬ َ ْ‫ه ال ُف‬ ْ‫م ُف‬ ِ ْ‫من ب َي ُف‬ Qiyas Pengertian Oiyas Menurut para ulama ushul. apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at. Fushilat: 42) Dari kedua ayat tersebut. karena disebabkan adanya kesamaan dua kejadian itu dalam illat (sebab) hukumnya. Maka bersabda Rasulullah saw: ‘Maka puasalah untuk (memenuhi) nadzar ibumu’. berarti ada kemungkinan salah dalam Al-Qur’an sekarang.“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjaganya. sedang ia belum membayarnya. dan menyebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. maka hukum masalah yang baru tersebut menjadi sama.” (QS. Alasan Qiyas Dijadikan Sumber Hukum Qiyas digunakan sebagai sumber dalil syar’i karena dalam qiyas yang menjadi dasar pengambilan hukum adalah nash-nash syar’i yang memiliki kesamaan illat. sedangkan ia berkewajiban menunaikan ibadah haji.

1. Oleh karena itu sewa menyewa. Perkara yang Diduga Sebagai Dalil Padahal Bukan Dalil Istidlal menurut bahasa berasal dari wazan istaf'ala dari lafadz dalla yang berarti mencari dalil. Yaitu suatu sifat yang terdapat pada suatu peristiwa yang asal. Yang karena sifat itu. Al-Maidah: 48) arti dari wamuhaimina 'alaih adalah nasikhon lima sabiqohu yaitu penghapus kitab-kitab sebelumnya. dan akhlaq tidak dapat direka-reka. maka perbuatan tersebut hukumnya diqiyaskan dengan perbuatan jual beli di atas. membenarkan apa yang sebelumnya. pendapat sahabat (madzhab sahabat). ibadah dan akhlak di dalamnya tidak mempunyai illat. makanan. Yaitu peristiwa yang tidak ada nashnya. 2. karena masalah ini sudah jelas nash syara’nya sehingga tidak bisa diqiyaskan. makanan. karena illat qiyas merupakan asasnya. minuman. Madzhab Sahabat Madzhab sahabat sebenarnya bukan merupakan dalil syara'. Kita diseru hanya untuk melaksanakan syari'at Islam yang dibawa oeh nabi Muhammad SAW. maka disamakanlah hukum cabaang itu dengan hukum peristiwa asal. Far’u (cabang). Perkara yang diduga sebagai dalil padahal bukan dalil ada empat macam. transaksi perdagangan maupun perbuatan lainnya yang mempunyai kesamaan illat. "Dan kami telah turunkan kepadamu al-Qur'an dengan membawa kebenaran. maka peristiwa asal itu mempunyai suatu hukum dan oleh karena sifat itu terdapat pula pada cabang. minuman. atau jalan yang mengantarkan pada perkara yang dicari. pakaian. dan mashalih mursalah. Asal disebut “maqish ‘alaih” (yang menjadi tempat mengqiyaskan). Rukun Qiyas Setiap qiyas mempunyai empat rukun: a. Jadi ruang lingkup daripada qiyas hanya pada hal-hal (masalah) yang memiliki kesamaaan illat di dalamnya. Syari'at umat terdahulu Sebenarnya syari'at umat terdahulu (umat nabi-nabi sebelum nabi Muhammad SAW) bukan termasuk syari'at bagi kita (umat nabi Muhammad saw). Oleh karena itu kita tidak diseru untuk melaksanakan syari'at sebelum kita. c. atau “musyabbah bih” (tempat menyerupakannya) b. dan bukan tergolong ujjah (dalil) bagi kita. istihsan. Demikianlah gambaran ringkas tentang qiyas. yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) atau batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain. َ َ ْ‫ن ا إ ِل َي ُف‬ ً ّ ‫صد‬ ِ‫ن ا عَل َي ُفْه‬ ً ‫م‬ ِ ْ‫مهَي ُف‬ َ ِ ‫ن ال ُفْك‬ ِ ‫ه‬ ِ ْ‫ن ي َد َي ُف‬ َ ِ ‫ك ال ُفْك‬ َ ْ‫زل ُف‬ َ ْ‫ب ال ُف‬ َ ‫ت ا‬ َ ‫وَأُسن‬ ُ َ‫ب و‬ َ ّ ‫ق ا ل‬ ُ ‫ق‬ ّ ‫ح‬ ِ ‫ب‬ ِ ‫ت ا‬ َ ‫م‬ َ ‫م‬ َ ْ‫م ا ب َي ُف‬ .Illat pada ayat di atas adalah karena hal tersebut melalaikan shalat. d. Hukum asal. Asal (pokok). yaitu haram. Ia juga disebut ‘maqish’ (yang diqiyaskan) dan ‘musyabbah’ (yang diserupakan). Yaitu hukum syara’ yang ditetapkan oleh suatu nash atau dikehendaki untuk menetapkan hukum itu kepada cabangnya. Sedangkan di dalam masalah pakaian. Rukun qiyas yang keempat adalah yang terpenting untuk dibahas. atau “mahmul ‘alaih” (tempat membandingkannya). Yaitu suatu peristiwa yang sudah ada nashnya yang dijadikan tempat mengqiyaskan. ‘Illat. Allah berfirman yang artinya. semua ketentuannya wajib sesuai dengan nash/ketentuan syara’ semata”. Karena pembahasan di sini hanya bersifat global maka pembaca masih sangat perlu melanjutkan kajian ini dengan kajian yang dalam dan terperinci bila ingin mendapat pemahaman yang menyeluruh dan mendalam." (QS. yaitu melalaikan shalat. yaitu: syari'at umat terdahulu (syar'un man qablana). Berdasarkan kaidah syara: ”Sesungguhnya hukum-hukum tentang ibadah. dan peristiwa itulah yang hendak disamakan hukumnya dengan asalnya.

Berdasarkan definisi diatas. jelas sekali bahwa sebenarnya mashahih mursalah bukan termasuk dalil. Istihsan Secara bahasa istihsan mengikuti wazan istaf'ala dari kata al-hasan yang memandang baik suatu perkara. Contohnya adalah firman Allah SWT: َ ِ ‫دوهُ إ‬ َ ‫ف ي‬ ‫ل‬ ٍ ‫ ي‬ ِ ّ ‫ل ى الل‬ ِ ‫م‬ َ َ ‫إن ت‬ ّ ‫ر‬ َ ‫ن ا‬ ُ ‫ر‬ ْ‫زعُفْت ُ ُف‬ ِ ‫ساو‬ ّ ‫وال‬ َ ‫ه‬ ُ َ‫ء ف‬ ْ‫ش ُف‬ ِ َ‫ف‬ "Para ibu hendaknya menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh yaitu bagi yang menyempurnakan penyusuan". maka kembalikan ia kepada Allah (al-Qur'an) dan rasul (sunnahnya)" (QS. as-Sunnah maupun adat. dengan syariat ketika diambil berakibat tertolaknya suatu kesulitan. (QS. kemudian terdakwa dituntut untuk bersumpah berdasarkan sabda Rasulullah SAW. Menggunakan menyalahi nash adalah tindakan batil. ". Apabila istihsan merupakan peralihan dari suatu dalil tanpa ada dalil yang mengharuskan maka sebenarnya istihsan bukan merupakan dalil. An-Nisa: 59)." (HR. padahal tidak ada nash yang mengakuinya. (QS. Begitu pula yang termasuk istihsan adalah mengalihkan suatu alasan dari suatau tentang masalah-masalah yang sejenis kepada hukum lain karena adanya aspek yang lebih kuat yang mengharuskan peralihan tersebut. maka putusannya (terserah) kepada Allah. Hal ini dilakukan agar orang-orang yang bodoh tidak berai (lancing) kepada kalangan terhormat sehingga akan menyerahkan mereka kaum terhormat kepengadilan dengan dakwaandakwaan dusta. baik al-Kitab. Tirmidzi) Mereka tidak mewajibkan sumpah pada terdakwa kecuali jika antara terdakwa dan pendakwa terdapat suatu hubungan. 3." (QS. Secara istilah istihsan diartikan dengan dalil cacat pada benak seorang mujahid. Karena Allah SWT berfirman: َ ‫وال ُفْاوال ِدات يرضع‬ َ ِ ‫ك ا‬ َ َ ‫ن‬ َ ‫ن‬ ‫ن‬ ّ ُ‫ن أوُفْل َد َه‬ َ ْ‫َ َ َ ُ ُ ُفْ ِ ُف‬ ِ ْ‫ملي ُف‬ ِ ْ‫حاوُفْلي ُف‬ " Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang suatu perkara maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasulnya. Begitu juga para sahabat telah sepakat atas kebolehan menyelisihi sahabat secara perorangan. Sebagian ulama mendefinisikannya dengan 'beralih dari konsekwensi suatu Qiyas kepada Qiyas lain. Mereka juga menganggap termasuk bagian dari istihsan adalah beralih dari Qiyas kepada nash. Lawannya disebut al-istiqbah artinya memandang buruk suatu perkara. Tetapi hal seperti ini tidak mungkin terjadi. 4. dan tidak kuasa untuk menampakkannya karena tidak ada dukungan al-ibarah (redaksi) untuk mengungkapkannya. kemudian kemaslahatan tersebut diambil. Mashalih al-Mursalah Para ulama penganut mashalih mursalah mendefinisikannya dengan 'kemaslahatan yang tidak dijelaskan oleh dalil khusus yang mengakuinya atau mencampakannya '. Asy-Syura:10) َ ِ‫ه إ‬ َ ‫من‬ ٍ ‫ ي‬ ْ‫خت َل َ ُف‬ ْ‫م ا ا ُف‬ ِ‫ل ى الل ّه‬ ِ ‫ه‬ ِ ‫في‬ ِ ‫م‬ ُ َ‫ء ف‬ ُ ‫م‬ ُ ْ‫حك ُف‬ ْ‫فت ُ ُف‬ َ َ ْ‫ش ُف‬ . Andaikata pendapat seorang sahabat merupakan hujjah maka pasti setiap sahabat wajib mengikuti pendapat sahabat yang lainnya. Mereka memberikan contoh dengan kasus. yang artinya: "Bukti atas penuntut/pendakwa dan sumpah atas orang yang mengingkarinya (terdakwa). yang lebih kuat. jika ada orang yang mendakwa orang lain bahwa dia mempunyai harta pada orang tersebut. Firman Allah SWT: َ ِ ‫دوهُ إ‬ َ ‫ف ي‬ ‫ل‬ ٍ ‫ ي‬ ِ ّ ‫ل ى الل‬ ِ ‫م‬ َ َ ‫إن ت‬ ّ ‫ر‬ َ ‫ن ا‬ ُ ‫ر‬ ْ‫زعُفْت ُ ُف‬ ِ ‫ساو‬ ّ ‫وال‬ َ ‫ه‬ ُ َ‫ء ف‬ ْ‫ش ُف‬ ِ َ‫ف‬ "Tentang sesuatu apapun kamu berselisih. berdasarkan dalil berikut : 1. Al-Baqarah: 233). An-Nisa: 59). Dalam ayat ini Allah SWT telah mewajibkan untuk mengembalikan seluruh perkara yang perselisihkan kepada Allah dan Rasul-Nya. sementara tidak mampu mendatangkan bukti atas dakwaannya."Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu.

Oleh karena mashalih mursalah bukan tergolong hujjah. Al-Qiyamah:36). Sedangkan istilah menghukumi berdasarkan mashalih mursalah adalah menghukumi yang didasarkan pada mashlahat yang tidak ditetapkan oleh syara'. 3." (QS. Sebagai hakim. 2. Kemaslahatan yang sebenarnya adalah kemaslahatan berdasarkan dalil syara' dimana ada perintah syara' disitu ada kemaslahatan. Al-Maidah: 3) َ َ ‫ال ُفْياو‬ ‫ت ي‬ ِ ‫م‬ ِ ‫م‬ َ ْ‫َ ُف‬ َ ْ‫م ُسن ِعُف‬ ْ‫ت عَل َي ُفْك ُ ُف‬ ُ ‫م‬ ْ‫م ُف‬ َ ْ‫م وَأت ُف‬ ْ‫دين َك ُ ُف‬ ْ‫ت ل َك ُ ُف‬ ُ ْ‫مل ُف‬ َ ْ‫م أك ُف‬ َ ‫لُسنس ا‬ َ َ ‫ر‬ ‫د)ى‬ ً ‫س‬ ُ َ ِ ْ‫ب ا ُف‬ ُ ‫س‬ ْ‫أي َ ُف‬ ُ ‫ك‬ َ ‫ح‬ َ ْ‫ن أن ي ُت ُف‬ "Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?" (QS. An-Nisa: 59) َ ِ ‫دوهُ إ‬ َ ‫ف ي‬ ‫ل‬ ٍ ‫ ي‬ ِ ّ ‫ل ى الل‬ ِ ‫م‬ َ َ ‫إن ت‬ ّ ‫ر‬ َ ‫ن ا‬ ُ ‫ر‬ ْ‫زعُفْت ُ ُف‬ ِ ‫ساو‬ ّ ‫وال‬ َ ‫ه‬ ُ َ‫ء ف‬ ْ‫ش ُف‬ ِ َ‫ف‬ "Pada hari ini telah kusempurnakan agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmatKu." (QS. ."Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang suatu perkara maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasulnya. ini tidak diperbolehkan. Membangun suatu hukum atas dasar kemaslahatan yang tidak diakui oleh syara' berari menjadikan akal yang tidak didukung oleh dalil sebagai hakim (al-'aql al-mujarrod).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->