Sumber-Sumber Hukum Islam

Pembahasan sumber-sumber Syariat Islam, termasuk masalah pokok ( ushul) karena dari sumbersumber itulah terpancar seluruh hukum/syariat Islam. Oleh karenanya untuk menetapkan sumber syariat Islam harus berdasarkan ketetapan yang qath’i (pasti) kebenarannya, bukan sesuatu yang bersifat dugaan (dzanni). Allah SWT berfirman:

“(Dan) janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya.” (QS. Al-Israa: 36)

َ َ‫س ل‬ ‫م‬ ْ‫وَل َ ت َ ُف‬ ِ ‫ه‬ ُ ‫ق‬ ِ ِ‫ك ب‬ ٌ ْ‫عل ُف‬ َ ‫ف‬ َ ْ‫م ا ل َي ُف‬

“(Dan) kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran.” (QS. Yunus: 36) Masalah ini termasuk masalah pokok ( ushul), sebab menjadi dasar bagi seorang Muslim untuk menarik keyakinan atas hukum-hukum amaliahnya. Apabila landasan suatu hukum sudah salah, maka seluruh hukum-hukum cabang yang dihasilkannya menjadi salah pula. Oleh sebab itu menetapkan sumber syariat Islam tidak dapat dilakukan berdasarkan persangkaan ataupun dengan dugaan belaka. Berdasarkan pengertian di atas maka yang memenuhi syarat untuk digunakan sebagai sumber pengambilan dalil-dalil syar’i adalah Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ Shahabat dan Qiyas (yang mempunyai persamaan illat syar’i).

َ ‫وم ا يتب‬ ً ْ‫شي ُف‬ َ ‫ق‬ ‫ئ ا‬ ِ ْ‫ن ل َ ي ُغُف‬ ِ ‫ن ي‬ ّ َ ‫م إ ِل ّ ظ‬ َ ْ‫ن ال ُف‬ ّ َ ‫ن ا إ‬ ُ َِّ َ َ ّ ‫ح‬ ْ‫رهُ ُف‬ َ ‫م‬ ّ ّ ‫ن الظ‬ ُ َ ‫ع أك ُفْث‬

Al-Qur’an
Definisi Al-Qur’an Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan melalui perantaraan malaikat Jibril kepada Rasulullah saw dengan menggunakan bahasa Arab disertai kebenaran agar dijadikan hujjah (argumentasi) dalam hal pengakuannya sebagai rasul dan agar dijadikan sebagai pedoman hukum bagi seluruh ummat manusia, di samping merupakan amal ibadah bagi yang membacanya. Al-Qur’an diriwayatkan dengan cara tawatur (mutawatir) yang artinya diriwayatkan oleh orang sangat banyak semenjak dari generasi shahabat ke generasinya selanjutnya secara berjamaah. Jadi apa yang diriwayatkan oleh orang per orang tidak dapat dikatakan sebagai Al-Qur’an. Orang-orang yang memusuhi Al-Qur’an dan membenci Islam telah berkali-kali mencoba menggugat nilai keasliannya. Akan tetapi realitas sejarah dan pembuktian ilmiah telah menolak segala bentuk tuduhan yang mereka lontarkan. Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan ciptaan manusia, bukan karangan Muhammad saw ataupun saduran dari kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur’an tetap menjadi mu’jizat sekaligus sebagai bukti keabadian dan keabsahan risalah Islam sepanjang masa dan sebagai sumber segala sumber hukum bagi setiap bentuk kehidupan manusia di dunia. Kehujjahan Al-Qur’an Al-Qur’an merupakan hujjah bagi manusia, serta hukum-hukum yang terkandung di dalamnya merupakan dasar hukum yang wajib dipatuhi, karena Al-Qur’an merupakan kalam Al-Khaliq, yang diturunkannya dengan jalan qath’i dan tidak dapat diragukan lagi sedikit pun kepastiannya. Berbagai argumentasi telah menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu datang dari Allah dan ia merupakan mukjizat yang mampu menundukkan manusia dan tidak mungkin mampu ditiru. Salah satu yang yang menjadi kemusykilan manusia untuk menandingi Al-Qur’an adalah bahasanya, yaitu bahasa Arab, yang tidak bisa ditandingi oleh para ahli syi’ir orang Arab atau siapa pun. Allah SWT berfirman:

Misalnya firman Allah SWT ‘laa raiba fiihi’ (tidak ada keraguan di dalamnya) dijelaskan dengan lafadz lain “laa syakka fiihi” (tidak ada kebimbangan di dalamnya). Sang Pencipta dan Pengatur Alam Semesta. atau kisah tentang sebagian Iptek.” Selain dari bahasanya. terdapatnya surga dan neraka. kesemuanya dijelaskan melalui ayat-ayat yang muhkamat. misalnya penyerbukan oleh lebah. sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sekalian yang lain. Termasuk dalam ayat-ayat muhkamat adalah haramnya riba dan zina dalam segala bentuknya. wajibnya hukum potong tangan bagi pencuri (dengan syarat tertentu). Ali Imran: 7) ُ ُ‫ك ال ُفْكت اب منه نآي ات محك َم ات ه‬ َ ‫هُاو ال ّذ‬ َ ْ‫ل عَل َي ُف‬ َ ‫ز‬ َ َ ‫مت‬ ‫ت‬ َ ُ ‫ب وَأ‬ َ ِ ‫م ال ُفْك‬ َ ‫ي أُسن‬ ّ ‫نأ‬ ٌ ‫ه ا‬ ُ ‫ر‬ ٌ َ ْ‫ِ َ َ ِ ُفْ ُ َ ٌ ّ ُف‬ َ ِ ‫ش اب‬ ِ ‫ت ا‬ ُ ‫خ‬ ّ َ ِ َ Ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang maksudnya dapat diketahui secara nyata dan tidak dapat ditafsirkan lagi. Yang pada akhirnya terbukti kebenarannya. (Lihat juga pembuktian kesahihan Al-Qur’an pada materi “Proses Keimanan”) Al Muhkamat dan Al Mutasyabihat Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang dalam kategori muhkamat dan mutasyabihat sebagaimana firman Allah SWT: ُ َ ‫فع‬ َ َ‫لاوا ُفْ و‬ ُ َ‫فع‬ ُ َ‫ت ي و‬ َ ْ‫لاوا ُف‬ ‫ت‬ ُ ّ ‫ف ات‬ ْ‫لن ت َ ُف‬ ْ‫م ت َ ُف‬ ِ ُ ‫رةُ أ‬ ِ ْ‫وال ُف‬ َ ُ ‫قاود‬ ِ ّ ‫ر ال‬ ّ ‫ه ا ال‬ ّ ‫قاوا ُفْ ال‬ َ ‫ح‬ ْ‫عد ّ ُف‬ ْ‫إن ل ّ ُف‬ ُ ‫ن ا‬ َ ‫ج ا‬ َ ‫س‬ َ ‫ن ا‬ ِ َ‫ف‬ َ ْ‫ل ِل ُف‬ ‫ن‬ َ ‫ري‬ ِ ِ‫ك اف‬ “Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al-Qur’an) kepadamu. isi Al-Qur’an sekaligus menjadi hujjah atas kebenarannya. juga tentang akan menangnya pasukan Romawi atas Parsi (QS.” (QS. Keberadaan dan sifat Allah. Ar-Ruum) dan sebagainya. Sedangkan ayat mutasyabihat adalah ayat yang mempunyai arti terselubung (tersembunyi) yang dapat ditafsirkan karena mengandung beberapa pengertian. apabila di bawah menyuburkan dan apabila di atas menghasilkan buah.” (QS. Al-Israa: 88) ْ‫ُف‬ ْ‫ُف‬ َ َ َ‫ق ل ل ّئ ِن اجتمعت الُسنس وال ُفْجن ع‬ ُ َ ‫هذـ‬ ‫ه‬ ُ ْ‫ذا ال ُف‬ َ ‫ ل‬ ِ ِ ‫مث ُفْل‬ ِ ِ‫ن ب‬ ُ ‫ن ل َ ي َأ‬ ِ ِ ‫تاوا ُفْ ب‬ ُ ‫ل ى أن ي َأ‬ َ ‫تاو‬ ِ ‫رنآ‬ ْ‫ق ُف‬ ِ ْ‫مث ُف‬ ّ ِ َ ُ ِ ِ َ َ َ ْ‫ِ ُف‬ َ َ ‫او‬ ‫را‬ ُ ْ‫ن ب َعُف‬ َ ‫ك ا‬ ْ‫ضهُ ُف‬ ً ‫هي‬ ْ‫وَل َ ُف‬ ِ ‫ضظ‬ ٍ ْ‫م ل ِب َعُف‬ “(Dan) apabila kamu tetap dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad). Semua itu menunjukkan bahwa Al-Qur’an memang bukan datang dari manusia melainkan dari Allah SWT. Al Baqarah 228 (lafadz quru’ mempunyai dua arti. Al-Baqarah: 23) Cukup kiranya pernyataan Walid bin Mughirah. para malaikat dan tugas-tugasnya.“Katakanlah: Sesungguhnya apabila jin dan manusia apabila berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini. Al-Fath). wajibnya terikat dengan hukumhukum Allah dan sebagainya. di antaranya (isinya) ada ayat-ayat muhkamat.” (QS. Karenanya memang sudah menjadi kelayakan bahkan keharusan untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan kehidupan dan hukum manusia. Tafsir Al-Qur’an merupakan penjelasan makna kata demi kata dalam susunan kalimatnya serta makna susunan kalimat sebagaimana adanya. Dan manusia tidak akan mungkin mampu berucap seperti Al-Qur’an. terkawinkannya bunga-bunga oleh bantuan angin dan sebagainya. Tafsir Al-Qur’an Tafsir adalah menerangkan maksud pada lafadz. itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan lainnya (ayat-ayat) Mutasyabihat. Misalnya perihal akan menangnya kaum Muslimin memasuki Makkah dengan aman (QS. yang menjadi musuh nabi pada awalnya berkata: “Sesungguhnya di dalam Al-Qur’an itu terdapat sesuatu yang lezat. Pasti mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya. maka buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an. dan QS. Sedangkan ayat-ayat yang mutasyabihat banyak terdapat pada ayat yang berbicara tentang mu’amalah seperti QS. jika kamu orang-orang benar. dan ajaklah penolongpenolongmu selain Allah. diutusnya para rasul dan nabi. Al Baqarah 237 (lafadz yang memegang ikatan nikah ada dua pengertian. kejadian hari kiamat. salah seorang Quraisy di masa Rasulullah saw. Selain isi Al-Qur’an menunjukkan tentang kejadian sejarah terdahulu yang sesuai dengan fakta. yaitu arti haid dan suci). bisa suami atau wali dari pihak istri). Terkadang suatu ayat dijelaskan oleh ayat . dan pula keindahannya. seorang ahli syair yang tak tertandingi.

Penjelasan kata-kata dan susunannya itu terbatas hanya dalam bahasa Arab. namun begitu haruslah berusaha semaksimal mungkin untuk mendekati kebenaran yang dimaksud Al-Qur’an. Apabila persyaratan itu tidak terpenuhi.. QS. Bertitik tolak dari suatu keyakinan bahwasanya hidup ini tidak boleh diatur kecuali menurut aturan Allah SWT.” (QS. ‫ق ل‬ ُ ‫ ي‬ َ ‫ياو‬ ُ ‫م ا‬ ُ ِ ‫ن أت ّب‬ ْ‫ِ ُف‬ َ ّ ‫ع إ ِل‬ ّ َ ‫ح ى إ ِل‬ . Juga harus disadari bahwa pengkajian dan pemahaman terhadap Al-Qur’an bukanlah menjadi tujuan akhir. Al-Ahzab: 34. Al-Jumu’ah: 3. Ali Imran: 164. Firman Allah SWT: “(Dan) Tiadalah yang diucapkannya (oleh Muhammad) itu menurut kemauan hawa nafsunya.lainnya (tafsir ayat bi al-ayat) atau oleh hadits Rasulullah saw tentang suatu ayat (tafsir bi as-sunnah). Hendaknya disadari bahwa melakukan kajian terhadap isi kandungan Al-Qur’an menuntut persyaratan-persyaratan tertentu. Sebagaimana firman Allah SWT: ّ ِ ‫او إ‬ (4)‫ح ى‬ َ ‫ياو‬ ُ ‫ ي‬ ْ‫ل وَ ُف‬ ْ‫(إ ِ ُف‬3)‫او)ى‬ َ ‫م ا‬ ُ ِ ‫ينط‬ َ َ‫و‬ ٌ ‫ح‬ َ ُ‫ن ه‬ َ َ‫ن ال ُفْه‬ ِ َ‫ق ع‬ “(Katakanlah Muhammad) . Selain menurut kenyataannya Al-Qur’an itu diturunkan dalam bahasa Arab yang paling baik dan murni. An-Najm: 3-4) Makna ayat di atas bahwanya apa yang disampaikan Rasulullah saw (Al-Qur’an dan As-Sunnah) hanyalah bersumber dari wahyu Allah SWT. Sunnah merupakan sumber syariat Islam yang nilai kebenarannya sama dengan Al-Qur’an karena sebenarnya Sunnah juga berasal dari wahyu. baik perkataan. َ َ ِ ‫وك َذ َل‬ ‫ي ا‬ َ ْ‫زل ُف‬ ّ ِ ‫رب‬ ُ ُ‫ن اه‬ َ ‫ك أُسن‬ ً ْ‫حك ُف‬ َ َ‫م ا ع‬ َ As-Sunnah Definisi Sunnah Sunnah adalah perkataan.” (QS. َ ‫إ‬. perbuatan dan taqrir (ketetapan/persetujuan/diamnya) Rasulullah saw terhadap sesuatu hal/perbuatan seorang shahabat yang diketahuinya. Pengertian Al Hikmah yang bermakna As-Sunnah dapat ditemukan dalam QS. Bila tidak demikian maka apa yang kita lakukan tidak ubahnya dengan apa yang dilakukan oleh kaum orientalis. Ini menunjukkan bahwa ummat sedang berjalan menuju garis yang berada di luar jalur ketentuan Allah SWT. tidak ada jalan lain dalam memahami Al-Qur’an melalui bahasa yang lain. perbuatan atau pun ketetapan (diamnya).. yaitu Al Hikmah yang pengertiannya sama dengan As-Sunnah. menghayati dan mengkaji isinya sebagaimana yang diisyaratkan oleh Al-Qur’an itu sendiri. bukan dari dirinya maupun kemauan hawa nafsunya. “(Dan) Demikianlah Kami telah menurunkan Al-Qur’an itu sebagai peraturan yang benar dalam bahasa Arab. Dengan demikian Al-Qur’an tidak bisa tidak hanya bisa ditafsirkan ke dalam bahasa Al-Qur’an itu sendiri yaitu bahasa Arab. Al-An’am 50) Ayat ini bermakna bahwa Rasulullah saw tidak melakukan suatu tindakan kecuali berdasarkan wahyu dari Allah SWT dan agar manusia mengikuti apa yang disampaikannya. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. Walaupun begitu. Disamping menuntut keikhlasan dan kesucian niat juga membutuhkan penguasaan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pemahaman Al-Qur’an. maka dapat menimbulkan pemahaman yang keliru dan merugikan.aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. maka tidak ada alternatif lain bagi kita melainkan berusaha semakimal mungkin memahami Al-Qur’an. bukan untuk diterapkan. yang memandang Al-Qur’an hanya dari segi ilmu. Al-Qur’an telah menegaskan bahwa selain dari Al-Qur’an. sama sekali tidak boleh ditafsirkan dalam bahasa lain. atau penjelasan para shahabat dan ahli ilmu terhadap suatu ayat. terpenuhinya persyaratan ini pun tidaklah mutlak menjamin kebenaran hasil suatu kajian.. Ia hanya merupakan ‘jembatan’ untuk mengakrabkan diri dengan Al-Qur’an. Rasulullah saw juga menerima wahyu yang lain. Ar-Ra’du: 37) Sesungguhnya kelalaian ummat dalam mengkaji dan menghayati isi kandungan Al-Qur’an menyebabkan ketidakakraban dengan Al-Qur’an. dan QS. Sedangkan tujuan akhirnya adalah perwujudan dan penerapan nilai-nilai Al-Qur’an dalam seluruh aspek kehidupan..

apa yang kami tinggalkan adalah sedekah. Kemudian Sunnah memberikan persyaratan nilai barang curian itu sebanyak seperempat dinar emas ke atas. tidak dijelaskan tata cara pelaksanaannya. Mujmal adalah suatu lafadz yang belum jelas indikasinya ( dalalah/penunjukannya) yaitu dalil yang belum jelas maksud dan perinciannya. An-Nisaa: 11) Menurut ayat tersebut di atas. Pengkhususan Keumuman Al-Qur’an. Adapun ijma’ hanya terdapat dalam kasus-kasus tertentu saja yang relatif sedikit. Umum (‘aam) ialah lafadz yang mencakup segala sesuatu makna yang pantas dengan satu ucapan saja. membayar zakat dan menunaikan haji.” (QS. begitu pula dengan ibadah-ibadah yang lain. jumlah raka’at.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah) Menurut hadits di atas Nabi tidak meninggalkan warisan bagi anak-anaknya serta melarang seorang anak yang membunuh ayahnya mendapat warisan dari ayahnya. Sabda Rasulullah saw: “Kami seluruh Nabi tidak meninggalkan warisan. Jadi setiap anak adalah pewaris ayahnya. Sabda Rasulullah saw: “Potonglah dalam pencurian seharga seperempat dinar dan janganlah dipotong yang kurang dari itu.” (HR. mukmin. Imam Ibnu Hazm. ‘ar-rijaalu’ (orang-orang laki-laki) dan lain-lain. Kemudian Sunnah secara terperinci menerangkan tata cara pelaksanaan shalat. dan lain-lain. Menguraikan Kemujmalan (keumuman) Al-Qur’an. 3. setiap anak secara umum berhak mendapatkan warisan dari ayahnya. Al-Qur’an hanya menjelaskannya secara global. misalnya lafadz budak.” (QS. untuk seorang anak laki-laki adalah dua bagian dari anak perempuan. Di dalam Al-Qur’an banyak dijumpai ayat-ayat yang bersifat mutlak (tanpa memberi persyaratan). Kemudian datang Sunnah yang mengkhususkannya. Dalam hal ini rujukan kita hanya kepada Sunnah Nabi saw. Taqyid (Pensyaratan) terhadap ayat Al-Qur’an yang mutlak Mutlak ialah lafadz yang menunjukkan sesuatu yang masih umum pada suatu jenis. Al-Maidah: 38) Ayat ini berlaku mutlak pada setiap pencurian (baik besar maupun kecil). Misalnya perintah shalat. Misalnya: َ ُ ّ َ ‫ ل‬ ُ ْ‫مث ُف‬ ‫ن‬ ِ ‫م‬ ِ ‫ر‬ ِ ‫ه‬ ِ ‫ياو‬ ُ ْ‫ف ي أوُفْل َدِك ُ ُف‬ ُ ّ ‫م الل‬ ُ ُ ‫صيك‬ ِ َ ‫للذ ّك‬ ِ ْ‫حظ الُسنث َي َي ُف‬ “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri hendaklah kamu potong tangan (keduanya).” 2.” (HR Ahmad) َ َ ‫ة‬ ‫م ا‬ ُ َ‫س ارِق‬ ُ ِ‫س ار‬ ُ َ ‫ف اقُفْط‬ ّ ‫وال‬ ّ ‫وال‬ َ ُ‫عاوا ُفْ أي ُفْدِي َه‬ َ ‫ق‬ َ . salah seorang ulama besar dari Andalusia pada masa Abbasiyah menjelaskan: “Sesungguhnya di dalam Al-Qur’an terdapat ungkapan yang seandainya tidak ada penjelasan lain. Oleh sebab itu secara pasti wajib kembali kepada Sunnah. sebagaimana Al-Qur’an itu sendiri. Fungsi Sunnah terhadap Al-Qur’an Adapun mengenai fungsi As-Sunnah terhadap Al-Qur’an dapat diuraikan sebagai berikut: 1. aturan waktunya. Di dalam Al-Qur’an itu terdapat banyak lafadz yang bermakna umum kemudian Sunnah mengkhususkan keumumannya Al-Qur’an tersebut. Bukhari) “Seorang pembunuh tidak mendapat warisan. serta hal-hal lain yang berkaitan dengan shalat. dapat dipahami dan diyakini bahwa kehujjahan As-Sunnah sebagai sumber hukum/syariat Islam bersifat pasti (qath’i) kebenarannya. kafir. maka kita tidak mungkin melaksanakannya.Dari penjelasan tersebut. Misalnya firman Allah SWT: “Allah mewajibkan kamu tentang anak-anakmu. Misalnya ‘al-muslimun’ (orang-orang Islam).

atau anak perempuan dari saudara laki-laki istri (kemenakan). atau ijma’ ahlul bait.” (QS. Sunnah juga berfungsi menetapkan hukum-hukum yang baru yang tidak ditemukan dalam AlQur’an dan bukan merupakan penjabaran dari nash yang sudah ada dalam Al-Qur’an. atau ijma’ ahlu Madinah. Maka sikap seorang Muslim terhadap hal ini sesuai dengan firman Allah SWT: َ ‫ف‬ ْ‫ن ال ُ ُف‬ َ َ ‫سل‬ ُ ‫م‬ ْ‫وَأن ت َ ُف‬ َ ْ‫م ا قَد ُف‬ َ ّ ‫ن إ َل‬ َ ‫ج‬ َ ْ‫عاوا ُفْ ب َي ُف‬ ِ ْ‫خت َي ُف‬ “Ucapan orang-orang beriman. rumput.” (HR.Begitu pula halnya dengan batas pemotongan tangan bagi pencuri (sebagimana ayat 38 Surat AlMaidah). manakala mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya supaya Dia memberikan ketentuan hukum diantara mereka. Sunnah Menetapkan Hukum-hukum Baru. Mereka itulah orang-orang yang berbahagia. 4. atau ijma’ ahlul halli wal aqdi. Demikian antara lain ketentuan tambahan (penyempurnaan) yang dilakukan Rasulullah saw. karena tidak boleh adanya keraguan sedikitpun dalam masalah aqidah/ i’tiqadiyah. laut. tempat penggembalaan ternak dan lain-lain. Hal ini karena dalam masalah Syari’ah tidak diharuskan suatu keyakinan yang pasti terhadap hasil ijtihad yang akan dijadikan sumber amaliah tersebut (bukan sumber untuk masalah i’tiqadiyah). Shahabat Lafadz ijma’ menurut bahasa bisa berarti tekad yang konsisten tehadap sesuatu atau kesepakatan suatu kelompok terhadap suatu perkara. tambang emas. Sedangkan untuk masalah hukum/syari’ah masih dapat digunakan nash As-Sunnah yang mencapai derajat dzanni (prasangka kuat atas kebenarannya). yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an. tidak bolehnya individu memiliki kepentingan umum seperti air. besi. atau dengan saudara ibu (khala) atau anak perempuan dari saudara perempuannya (kemenakan) dan tidak boleh memadu dengan anak perempuan saudara laki-lakinya. Dalam hal ini terdapat perbedaan dalam hal menentukan ‘siapa’ yang ijma’nya dapat diterima sebagai sumber hukum atau dalil syar’i. “(Dan diharamkan bagimu) menghimpun (dalam perkawinan) dua perempuan bersaudara. sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW. yaitu pada pergelangan tangan dan bukan dari tempat lainnya.” (QS. minyak bumi. Ada yang mengatakan ijma’ ulama pada setiap masa. ijma’ shahabat atau sebagainya. An Nasa’i dan Ibnu Majah) 5. Ijma’ Shahabat Pengertian Ijma. Pelengkap Keterangan Sebagian dari Hukum-Hukum. kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sedangkan menurut para ulama ushul fiqh. setiap binatang yang bertaring. akan memutuskan tali persaudaraan. dan setiap burung yang bercakar. penarikan hak milik atas tanah pertanian yang selama tiga tahun berturut-turut tidak dikelola. Begitu pula tentang keharaman memungut pajak (bea cukai). api. akan tetapi merupakan aturan-aturan baru yang hanya terdapat dalam Sunnah. diharamkannya ‘keledai jinak’ untuk dimakan. ijma’ adalah kesepakatan terhadap suatu hukum bahwa hal itu merupakan hukum syara’. maka diambil oleh negara. Misalnya. tidak lain hanya mengatakan: Kami mendengar dan Kami mematuhinya. perak. sebab kalau itu kalian lakukan. . Al-Qur’an menegaskan tentang pengharaman memperisteri dua orang sekaligus. Sunnah menjelaskan mengenai hal ini melalui sabda Nabi: “Tidak boleh seseorang memadu wanita dengan ‘ammah (saudara bapaknya). sungai. An-Nur: 51) َ ‫ل ى الل ّه ورساول ِه ل ِيحك ُم بينهم‬ ُ ‫قاو‬ َ ِ ‫عاوا إ‬ َ ‫م ا‬ َ ْ‫ن قَاوُف‬ َ ِ‫ن إ‬ ‫لاوا‬ ُ َ ‫أن ي‬ ُ ُ ‫ذا د‬ ِ ‫م‬ ِ ْ‫مؤُف‬ َ ‫ك ا‬ ْ‫ِ َ َ ُ ِ َ ُفْ َ َ ُفْ َ ُ ُف‬ ُ ْ‫ل ال ُف‬ َ ّ ‫إ ُِسن‬ َ ‫ني‬ ُ َ ْ‫ُف‬ َ َ َ ‫ن‬ ْ‫م ُف‬ َ ْ‫ن ا وَأطعُف‬ َ ْ‫معُف‬ ِ ‫س‬ َ ‫حاو‬ ُ ِ ‫فل‬ َ ُ ‫م ال‬ ُ ُ‫ن ا وَأوُفْلئ ِك ه‬ Penggunaan nash As-Sunnah untuk masalah aqidah haruslah nash yang bersifat qath’i. Peranan Sunnah yang lain adalah untuk memperkuat dan menetapkan apa yang telah tercantum dalam Al-Qur’an disamping melengkapi sebagian cabang-cabang hukum yang asalnya dari AlQur’an. An-Nisaa’: 23) Di dalam Al-Qur’an tidak disebutkan tentang haramnya seseorang mengumpulkan (memadu) seorang wanita saudara ibu.

Beberapa Contoh Ijma’ Shahabat Salah satu ijma’ shahabat terpenting adalah pengumpulan Al-Qur’an menjadi mushaf. Akan tetapi secara syar’i mereka mustahil bersepakat atau ber ijma’ atas suatu kekeliruan/kesesatan. maka yang paling memenuhi persyaratan untuk hal ini adalah “Ijma’ para Shahabat” Rasulullah saw. QS. At-Taubah: 100. Dan karena ketidakmungkinan itu pula yang pada akhirnya muncul istilah ‘jumhur ulama’. Imam Ahmad bin Hambal pernah menyatakan bahwa suatu kebohongan besar bila ada yang mengatakan mampu terwujud ijma’ setelah masa shahabat. hidup bersama. Begitu pula sabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya aku telah memilih para shahabat-ku atas segenap makhluk. Seperti tercantum dalam QS.” (HR Thabari. maka hal itu atas dasar kejujuran dan kebenaran mereka. QS. mengalami dan melihat sendiri kehidupan kaum Muslimin generasi pertama tatkala Rasulullah masih hidup. Apabila terjadi kesalahan dalam ijma’ mereka tentang suatu persoalan maka tentu akan terdapat kesalahan dalam Islam. menghafalkan dan menyampaikan Al-Qur’an beserta Sunnah pada generasi berikutnya. maka akan mendapatkan petunjuk. Alasan Ijma’ Shahabat Dijadikan Sumber Hukum Islam Dari segi mungkin tidaknya ‘seluruh orang yang berijma’ berkumpul. Sesungguhnya para shahabat merupakan generasi yang mengumpulkan. Banyaknya pujian kepada para Shahabat secara jama’ah. Merekalah yang mengetahui kapan. Al Hasyr: 8.Untuk menetapkan sumber pengambilan hukum bagi dalil-dalil syar’i dibutuhkan suatu sumber yang bersifat qath’i. Al-Fath: 29. Karenanya kesalahan dalam ijma’ shahabat adalah mustahil terjadi secara syar’i. Al-Qur’an dalam bentuk sekarang ini merupakan hasil kesepakatan ( ijma’) para shahabat. dimana.” (HR Ibnu Abdil Barr) Petunjuk Allah dan Rasul-Nya terhadap para shahabat menunjukkan suatu kepastian tentang kebenaran dan kejujuran mereka (sebagai suatu jama’ah. haruslah diperjelas ‘siapa saja ulama’ itu. Bersamaan dengan ini Allah SWT berfirman: ُ ِ‫ح اف‬ ‫ن‬ ّ ِ ‫ر وَإ‬ َ ْ‫زل ُف‬ ّ ِ‫إ‬ َ ‫ظاو‬ َ َ‫ه ل‬ ّ َ ‫ن ُسن‬ ْ‫ُسن ا ُسن َ ُف‬ ُ َ ‫ُسن ا ل‬ َ ْ‫ن ا الذ ّك ُف‬ ُ ‫ح‬ . baik tercantum dalam Al-Qur’an maupun hadits (keduanya dalil yang qath’i kebenarannya). Diantara berbagai pendapat tentang ‘siapa’ yang ijma’nya dapat diterima sebagai sumber hukum. Karena ketidakmungkinan itulah. Al Baihaqi dan lain-lain) “Para shahabatku itu ibarat bintang pada siapapun (di antara mereka) kalian turuti. tidak pada masa selain mereka. selain para nabi. Di samping itu para shahabat merupakan orang-orang yang hidup semasa Rasulullah saw. Bahkan sebenarnya mereka pulalah yang memberitahukan Islam kepada generasi selanjutnya. sebab mereka pun tetap manusia yang tidak ma’shum. Dalildalil yang memuji para shahabat tersebut bersifat qath’i sehingga kita bisa menentukan bahwa ijma’ shahabat dapat digunakan sebagai dalil syara’. Maka untuk terwujudnya ijma’ ulama. Lalu adakah generasi yang lebih baik yang pernah dilahirkan manusia di muka bumi ini selain mereka (para shahabat)? Ijma’ siapa lagi selain ijma’ mereka yang lebih baik dan lebih kuat? Memang tidak mustahil para shahabat pun melakukan kesalahan. saling mengetahui ijma’ dan dapat mengkoreksi bila diketahui kesalahannya. bukan secara pribadi-pribadi) sehingga apabila mereka bersepakat atas suatu masalah. apakah ulama yang sudah sering digunakan untuk ‘membuat hukum pesanan’ juga termasuk di dalamnya? Akan pasti benarkah ijma’ mereka tersebut? Benarkah semua ‘ulama’ tadi mengetahui dan menyetujui ijma’ tersebut? Tidak adakah yang selanjutnya menarik atau membatalkan ijma’nya tadi sampai ia meninggal? Dan mungkinkah para ulama (seluruh kaum Muslimin di seluruh dunia) mampu berkumpul bersama membahas suatu masalah baru? Masih banyak yang tidak bisa terjawab selain oleh para shahabat. Jumhur berbeda dengan ijma’. artinya kebanyakan ulama berijtihad dengan hasil serupa terhadap suatu masalah. mengalami kesulitan dan kesenangan secara bersama-sama. Merekalah yang mengetahui Sunnah Rasulnya. dan berkaitan dengan peristiwa apa suatu ayat Al-Qur’an diturunkan. Sebagai contoh. dalam Al-Qur’an dan Hadits sebab merekalah yang menyampaikan Al-Qur’an dan menuturkan hadits Rasulullah saw pada generasi berikutnya. ijma’ ulama. maka hal ini hanya mungkin terjadi pada masa shahabat. padahal semua hal tadi merupakan syarat sahnya sebuah ijma’ oleh suatu kelompok.

yaitu haram. Al-Jumuah: 9) َ َ ِ ‫اوا إ‬ َ ‫ص‬ َ ‫ة‬ َ ِ ‫ناوا إ‬ ‫روا‬ ِ ‫دي‬ ِ ّ ‫ر الل‬ ِ َ ‫مع‬ ِ ‫ة‬ ِ ‫ل‬ ِ ‫ُسناو‬ ُ ‫ذا‬ ُ ‫م‬ ِ ّ ‫ه ا ال‬ ُ ْ‫من ي َاوُفْم ِ ال ُف‬ َ ْ‫ف ا ُف‬ ُ ‫ج‬ َ ‫ن نآ‬ ّ ‫لل‬ َ ّ ‫ي ا أي‬ ُ َ ‫ه وَذ‬ ْ‫سعَ ُف‬ َ ‫ذي‬ ِ ْ‫ل ى ذِك ُف‬ ْ‫ُف‬ ‫ع‬ َ ْ‫الب َي ُف‬ . Dia bertanya: ‘Apakah aku harus menghajikan bapakku?’ Maka Rasulullah berkata: ‘Bagaimana jika bapakmu punya hutang. Dengan kata lain melalui tangan-tangan para shahabatlah. ْ‫َ ُف‬ َ َ‫ه و‬ ُ ِ ‫ب اط‬ َ ‫ن‬ ِ ‫ل ي َأ‬ ِ‫فه‬ ِ ْ‫خل ُف‬ ِ ‫ل‬ ِ ْ‫ن ي َد َي ُف‬ ِ ‫ ل‬ ِ ‫تي‬ َ ْ‫ه ال ُف‬ ْ‫م ُف‬ ِ ْ‫من ب َي ُف‬ Qiyas Pengertian Oiyas Menurut para ulama ushul. dan menyebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Dengan demikian secara syar’i mustahil terjadi kesalahan dalam ijma’ shahabat. Allah memastikan bahwa mushaf Al-Qur’an yang ada kini --yang merupakan ijma’ para shahabat-. Padahal hal ini adalah mustahil terjadi. berdasarkan ayat: “Hai orang-orang yang beriman. Sebagaimana diketahui bahwa yang menjadi dasar keberadaan hukum adalah illatnya.” Dalam dua hadits tersebut Rasulullah mengumpamakan atau mensejajarkan persoalan nadzar. apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at. maka hukum masalah yang baru tersebut menjadi sama. sebagaimana yang dilakukan para shahabat tatkala Rasulullah saw wafat.“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjaganya. Maka bila illat yang sama terkandung dalam Al-Qur’an berarti dalil qiyas dalam hal tersebut adalah Al-Qur’an.” Dan Imam Daruquthny meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan mengatakan bahwa bapaknya meninggal. Contoh lain yang masyhur tentang ijma’ shahabat adalah keharusan adanya seorang khalifah yang akan memimpin dan mengurus seluruh kebutuhan kaum muslimin. Ibuku telah meninggal. dengan hutang. baik dari depan maupun dari belakangnya. haji.” (QS. berarti ada kemungkinan salah dalam Al-Qur’an sekarang. apakah kamu harus membayarnya?’ Jawabnya: ‘Benar’. Inilah dalil yang pasti bahwa ijma’ shahabat merupakan dalil syar’i. sedang ia belum menunaikan puasa nadzar. Maka Rasulullah berkata ‘Berhajilah untuknya’. Al Hijr: 9) “Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebathilan. mengadakan transaksi jual beli tatkala adzan shalat Jum’at merupakan peristiwa yang telah ditetapkan dalam nash. Maka bersabda Rasulullah saw: ‘Maka puasalah untuk (memenuhi) nadzar ibumu’. yang sama-sama harus dipenuhi Contoh Qiyas dan Ruang Lingkup Pembahasan Qiyas Sebagai contoh. maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah (shalat) dan tinggalkanlah jual beli. Fushilat: 42) Dari kedua ayat tersebut. apakah kamu akan membayar hutangnya?’ Jawabnya: ‘Benar’. qiyas berarti menyamakan suatu kejadian yang tidak ada nashnya dengan suatu kejadian yang sudah ada nash/hukumnya.” (QS. sedang ia belum membayarnya. Disamping itu ada beberapa hadits Rasulullah yang mengisyaratkan penggunaan qiyas sebagai dalil syara’. apakah aku harus menggantinya? ’ Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Bagaimana jika ibumu mempunyai hutang.” (QS. maka apabila ada kesamaan illat antara suatu masalah baru dengan masalah yang sudah ada hukumnya.dijamin kebenarannya. Allah menjaga kebenaran Al-Qur’an. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Seorang wanita kepada Rasulullah dan berkata: ‘Ya Rasulullah. sedangkan ia berkewajiban menunaikan ibadah haji. Jika ada kemungkinan salah dalam ijma’ shahabat. Demikian pula apabila illat yang sama terkandung dalam Sunnah dan Ijma’ Shahabat maka yang menjadi dalil qiyas adalah kedua hal tersebut. Alasan Qiyas Dijadikan Sumber Hukum Qiyas digunakan sebagai sumber dalil syar’i karena dalam qiyas yang menjadi dasar pengambilan hukum adalah nash-nash syar’i yang memiliki kesamaan illat. melindungi. karena disebabkan adanya kesamaan dua kejadian itu dalam illat (sebab) hukumnya.

Demikianlah gambaran ringkas tentang qiyas. minuman. yaitu: syari'at umat terdahulu (syar'un man qablana). Yaitu hukum syara’ yang ditetapkan oleh suatu nash atau dikehendaki untuk menetapkan hukum itu kepada cabangnya. Kita diseru hanya untuk melaksanakan syari'at Islam yang dibawa oeh nabi Muhammad SAW. Syari'at umat terdahulu Sebenarnya syari'at umat terdahulu (umat nabi-nabi sebelum nabi Muhammad SAW) bukan termasuk syari'at bagi kita (umat nabi Muhammad saw). transaksi perdagangan maupun perbuatan lainnya yang mempunyai kesamaan illat. dan mashalih mursalah. maka disamakanlah hukum cabaang itu dengan hukum peristiwa asal. Jadi ruang lingkup daripada qiyas hanya pada hal-hal (masalah) yang memiliki kesamaaan illat di dalamnya. c. Asal (pokok). Madzhab Sahabat Madzhab sahabat sebenarnya bukan merupakan dalil syara'." (QS. karena illat qiyas merupakan asasnya. Allah berfirman yang artinya.Illat pada ayat di atas adalah karena hal tersebut melalaikan shalat. Sedangkan di dalam masalah pakaian. Karena pembahasan di sini hanya bersifat global maka pembaca masih sangat perlu melanjutkan kajian ini dengan kajian yang dalam dan terperinci bila ingin mendapat pemahaman yang menyeluruh dan mendalam. minuman. istihsan. Asal disebut “maqish ‘alaih” (yang menjadi tempat mengqiyaskan). makanan. dan akhlaq tidak dapat direka-reka. pakaian. atau “musyabbah bih” (tempat menyerupakannya) b. Berdasarkan kaidah syara: ”Sesungguhnya hukum-hukum tentang ibadah. karena masalah ini sudah jelas nash syara’nya sehingga tidak bisa diqiyaskan. maka perbuatan tersebut hukumnya diqiyaskan dengan perbuatan jual beli di atas. dan peristiwa itulah yang hendak disamakan hukumnya dengan asalnya. Perkara yang Diduga Sebagai Dalil Padahal Bukan Dalil Istidlal menurut bahasa berasal dari wazan istaf'ala dari lafadz dalla yang berarti mencari dalil. Rukun qiyas yang keempat adalah yang terpenting untuk dibahas. Far’u (cabang). ibadah dan akhlak di dalamnya tidak mempunyai illat. "Dan kami telah turunkan kepadamu al-Qur'an dengan membawa kebenaran. d. Rukun Qiyas Setiap qiyas mempunyai empat rukun: a. Yaitu suatu sifat yang terdapat pada suatu peristiwa yang asal. َ َ ْ‫ن ا إ ِل َي ُف‬ ً ّ ‫صد‬ ِ‫ن ا عَل َي ُفْه‬ ً ‫م‬ ِ ْ‫مهَي ُف‬ َ ِ ‫ن ال ُفْك‬ ِ ‫ه‬ ِ ْ‫ن ي َد َي ُف‬ َ ِ ‫ك ال ُفْك‬ َ ْ‫زل ُف‬ َ ْ‫ب ال ُف‬ َ ‫ت ا‬ َ ‫وَأُسن‬ ُ َ‫ب و‬ َ ّ ‫ق ا ل‬ ُ ‫ق‬ ّ ‫ح‬ ِ ‫ب‬ ِ ‫ت ا‬ َ ‫م‬ َ ‫م‬ َ ْ‫م ا ب َي ُف‬ . makanan. Hukum asal. Yaitu peristiwa yang tidak ada nashnya. Yang karena sifat itu. dan bukan tergolong ujjah (dalil) bagi kita. yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) atau batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain. yaitu haram. Al-Maidah: 48) arti dari wamuhaimina 'alaih adalah nasikhon lima sabiqohu yaitu penghapus kitab-kitab sebelumnya. 1. atau “mahmul ‘alaih” (tempat membandingkannya). ‘Illat. semua ketentuannya wajib sesuai dengan nash/ketentuan syara’ semata”. pendapat sahabat (madzhab sahabat). Perkara yang diduga sebagai dalil padahal bukan dalil ada empat macam. yaitu melalaikan shalat. membenarkan apa yang sebelumnya. atau jalan yang mengantarkan pada perkara yang dicari. 2. Ia juga disebut ‘maqish’ (yang diqiyaskan) dan ‘musyabbah’ (yang diserupakan). maka peristiwa asal itu mempunyai suatu hukum dan oleh karena sifat itu terdapat pula pada cabang. Yaitu suatu peristiwa yang sudah ada nashnya yang dijadikan tempat mengqiyaskan. Oleh karena itu sewa menyewa. Oleh karena itu kita tidak diseru untuk melaksanakan syari'at sebelum kita.

Menggunakan menyalahi nash adalah tindakan batil. kemudian terdakwa dituntut untuk bersumpah berdasarkan sabda Rasulullah SAW. Sebagian ulama mendefinisikannya dengan 'beralih dari konsekwensi suatu Qiyas kepada Qiyas lain. ". Lawannya disebut al-istiqbah artinya memandang buruk suatu perkara. as-Sunnah maupun adat. Mereka juga menganggap termasuk bagian dari istihsan adalah beralih dari Qiyas kepada nash. yang artinya: "Bukti atas penuntut/pendakwa dan sumpah atas orang yang mengingkarinya (terdakwa). maka putusannya (terserah) kepada Allah. Apabila istihsan merupakan peralihan dari suatu dalil tanpa ada dalil yang mengharuskan maka sebenarnya istihsan bukan merupakan dalil. (QS. Istihsan Secara bahasa istihsan mengikuti wazan istaf'ala dari kata al-hasan yang memandang baik suatu perkara. Berdasarkan definisi diatas. yang lebih kuat. jelas sekali bahwa sebenarnya mashahih mursalah bukan termasuk dalil. baik al-Kitab. sementara tidak mampu mendatangkan bukti atas dakwaannya. Contohnya adalah firman Allah SWT: َ ِ ‫دوهُ إ‬ َ ‫ف ي‬ ‫ل‬ ٍ ‫ ي‬ ِ ّ ‫ل ى الل‬ ِ ‫م‬ َ َ ‫إن ت‬ ّ ‫ر‬ َ ‫ن ا‬ ُ ‫ر‬ ْ‫زعُفْت ُ ُف‬ ِ ‫ساو‬ ّ ‫وال‬ َ ‫ه‬ ُ َ‫ء ف‬ ْ‫ش ُف‬ ِ َ‫ف‬ "Para ibu hendaknya menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh yaitu bagi yang menyempurnakan penyusuan". Dalam ayat ini Allah SWT telah mewajibkan untuk mengembalikan seluruh perkara yang perselisihkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Begitu juga para sahabat telah sepakat atas kebolehan menyelisihi sahabat secara perorangan. padahal tidak ada nash yang mengakuinya. An-Nisa: 59). Andaikata pendapat seorang sahabat merupakan hujjah maka pasti setiap sahabat wajib mengikuti pendapat sahabat yang lainnya. jika ada orang yang mendakwa orang lain bahwa dia mempunyai harta pada orang tersebut. kemudian kemaslahatan tersebut diambil." (QS. Tetapi hal seperti ini tidak mungkin terjadi. Karena Allah SWT berfirman: َ ‫وال ُفْاوال ِدات يرضع‬ َ ِ ‫ك ا‬ َ َ ‫ن‬ َ ‫ن‬ ‫ن‬ ّ ُ‫ن أوُفْل َد َه‬ َ ْ‫َ َ َ ُ ُ ُفْ ِ ُف‬ ِ ْ‫ملي ُف‬ ِ ْ‫حاوُفْلي ُف‬ " Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang suatu perkara maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasulnya. maka kembalikan ia kepada Allah (al-Qur'an) dan rasul (sunnahnya)" (QS. dengan syariat ketika diambil berakibat tertolaknya suatu kesulitan. Mashalih al-Mursalah Para ulama penganut mashalih mursalah mendefinisikannya dengan 'kemaslahatan yang tidak dijelaskan oleh dalil khusus yang mengakuinya atau mencampakannya '. An-Nisa: 59). Hal ini dilakukan agar orang-orang yang bodoh tidak berai (lancing) kepada kalangan terhormat sehingga akan menyerahkan mereka kaum terhormat kepengadilan dengan dakwaandakwaan dusta. Secara istilah istihsan diartikan dengan dalil cacat pada benak seorang mujahid. dan tidak kuasa untuk menampakkannya karena tidak ada dukungan al-ibarah (redaksi) untuk mengungkapkannya." (HR. (QS. 4. 3. Begitu pula yang termasuk istihsan adalah mengalihkan suatu alasan dari suatau tentang masalah-masalah yang sejenis kepada hukum lain karena adanya aspek yang lebih kuat yang mengharuskan peralihan tersebut. berdasarkan dalil berikut : 1. Tirmidzi) Mereka tidak mewajibkan sumpah pada terdakwa kecuali jika antara terdakwa dan pendakwa terdapat suatu hubungan. Asy-Syura:10) َ ِ‫ه إ‬ َ ‫من‬ ٍ ‫ ي‬ ْ‫خت َل َ ُف‬ ْ‫م ا ا ُف‬ ِ‫ل ى الل ّه‬ ِ ‫ه‬ ِ ‫في‬ ِ ‫م‬ ُ َ‫ء ف‬ ُ ‫م‬ ُ ْ‫حك ُف‬ ْ‫فت ُ ُف‬ َ َ ْ‫ش ُف‬ . Mereka memberikan contoh dengan kasus."Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu. Al-Baqarah: 233). Firman Allah SWT: َ ِ ‫دوهُ إ‬ َ ‫ف ي‬ ‫ل‬ ٍ ‫ ي‬ ِ ّ ‫ل ى الل‬ ِ ‫م‬ َ َ ‫إن ت‬ ّ ‫ر‬ َ ‫ن ا‬ ُ ‫ر‬ ْ‫زعُفْت ُ ُف‬ ِ ‫ساو‬ ّ ‫وال‬ َ ‫ه‬ ُ َ‫ء ف‬ ْ‫ش ُف‬ ِ َ‫ف‬ "Tentang sesuatu apapun kamu berselisih.

Al-Qiyamah:36). 2." (QS. Sedangkan istilah menghukumi berdasarkan mashalih mursalah adalah menghukumi yang didasarkan pada mashlahat yang tidak ditetapkan oleh syara'."Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang suatu perkara maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasulnya. . Al-Maidah: 3) َ َ ‫ال ُفْياو‬ ‫ت ي‬ ِ ‫م‬ ِ ‫م‬ َ ْ‫َ ُف‬ َ ْ‫م ُسن ِعُف‬ ْ‫ت عَل َي ُفْك ُ ُف‬ ُ ‫م‬ ْ‫م ُف‬ َ ْ‫م وَأت ُف‬ ْ‫دين َك ُ ُف‬ ْ‫ت ل َك ُ ُف‬ ُ ْ‫مل ُف‬ َ ْ‫م أك ُف‬ َ ‫لُسنس ا‬ َ َ ‫ر‬ ‫د)ى‬ ً ‫س‬ ُ َ ِ ْ‫ب ا ُف‬ ُ ‫س‬ ْ‫أي َ ُف‬ ُ ‫ك‬ َ ‫ح‬ َ ْ‫ن أن ي ُت ُف‬ "Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?" (QS. Membangun suatu hukum atas dasar kemaslahatan yang tidak diakui oleh syara' berari menjadikan akal yang tidak didukung oleh dalil sebagai hakim (al-'aql al-mujarrod). Sebagai hakim. 3. Oleh karena mashalih mursalah bukan tergolong hujjah. ini tidak diperbolehkan. Kemaslahatan yang sebenarnya adalah kemaslahatan berdasarkan dalil syara' dimana ada perintah syara' disitu ada kemaslahatan." (QS. An-Nisa: 59) َ ِ ‫دوهُ إ‬ َ ‫ف ي‬ ‫ل‬ ٍ ‫ ي‬ ِ ّ ‫ل ى الل‬ ِ ‫م‬ َ َ ‫إن ت‬ ّ ‫ر‬ َ ‫ن ا‬ ُ ‫ر‬ ْ‫زعُفْت ُ ُف‬ ِ ‫ساو‬ ّ ‫وال‬ َ ‫ه‬ ُ َ‫ء ف‬ ْ‫ش ُف‬ ِ َ‫ف‬ "Pada hari ini telah kusempurnakan agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmatKu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful