Sumber-Sumber Hukum Islam

Pembahasan sumber-sumber Syariat Islam, termasuk masalah pokok ( ushul) karena dari sumbersumber itulah terpancar seluruh hukum/syariat Islam. Oleh karenanya untuk menetapkan sumber syariat Islam harus berdasarkan ketetapan yang qath’i (pasti) kebenarannya, bukan sesuatu yang bersifat dugaan (dzanni). Allah SWT berfirman:

“(Dan) janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya.” (QS. Al-Israa: 36)

َ َ‫س ل‬ ‫م‬ ْ‫وَل َ ت َ ُف‬ ِ ‫ه‬ ُ ‫ق‬ ِ ِ‫ك ب‬ ٌ ْ‫عل ُف‬ َ ‫ف‬ َ ْ‫م ا ل َي ُف‬

“(Dan) kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran.” (QS. Yunus: 36) Masalah ini termasuk masalah pokok ( ushul), sebab menjadi dasar bagi seorang Muslim untuk menarik keyakinan atas hukum-hukum amaliahnya. Apabila landasan suatu hukum sudah salah, maka seluruh hukum-hukum cabang yang dihasilkannya menjadi salah pula. Oleh sebab itu menetapkan sumber syariat Islam tidak dapat dilakukan berdasarkan persangkaan ataupun dengan dugaan belaka. Berdasarkan pengertian di atas maka yang memenuhi syarat untuk digunakan sebagai sumber pengambilan dalil-dalil syar’i adalah Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ Shahabat dan Qiyas (yang mempunyai persamaan illat syar’i).

َ ‫وم ا يتب‬ ً ْ‫شي ُف‬ َ ‫ق‬ ‫ئ ا‬ ِ ْ‫ن ل َ ي ُغُف‬ ِ ‫ن ي‬ ّ َ ‫م إ ِل ّ ظ‬ َ ْ‫ن ال ُف‬ ّ َ ‫ن ا إ‬ ُ َِّ َ َ ّ ‫ح‬ ْ‫رهُ ُف‬ َ ‫م‬ ّ ّ ‫ن الظ‬ ُ َ ‫ع أك ُفْث‬

Al-Qur’an
Definisi Al-Qur’an Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan melalui perantaraan malaikat Jibril kepada Rasulullah saw dengan menggunakan bahasa Arab disertai kebenaran agar dijadikan hujjah (argumentasi) dalam hal pengakuannya sebagai rasul dan agar dijadikan sebagai pedoman hukum bagi seluruh ummat manusia, di samping merupakan amal ibadah bagi yang membacanya. Al-Qur’an diriwayatkan dengan cara tawatur (mutawatir) yang artinya diriwayatkan oleh orang sangat banyak semenjak dari generasi shahabat ke generasinya selanjutnya secara berjamaah. Jadi apa yang diriwayatkan oleh orang per orang tidak dapat dikatakan sebagai Al-Qur’an. Orang-orang yang memusuhi Al-Qur’an dan membenci Islam telah berkali-kali mencoba menggugat nilai keasliannya. Akan tetapi realitas sejarah dan pembuktian ilmiah telah menolak segala bentuk tuduhan yang mereka lontarkan. Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan ciptaan manusia, bukan karangan Muhammad saw ataupun saduran dari kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur’an tetap menjadi mu’jizat sekaligus sebagai bukti keabadian dan keabsahan risalah Islam sepanjang masa dan sebagai sumber segala sumber hukum bagi setiap bentuk kehidupan manusia di dunia. Kehujjahan Al-Qur’an Al-Qur’an merupakan hujjah bagi manusia, serta hukum-hukum yang terkandung di dalamnya merupakan dasar hukum yang wajib dipatuhi, karena Al-Qur’an merupakan kalam Al-Khaliq, yang diturunkannya dengan jalan qath’i dan tidak dapat diragukan lagi sedikit pun kepastiannya. Berbagai argumentasi telah menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu datang dari Allah dan ia merupakan mukjizat yang mampu menundukkan manusia dan tidak mungkin mampu ditiru. Salah satu yang yang menjadi kemusykilan manusia untuk menandingi Al-Qur’an adalah bahasanya, yaitu bahasa Arab, yang tidak bisa ditandingi oleh para ahli syi’ir orang Arab atau siapa pun. Allah SWT berfirman:

Al-Israa: 88) ْ‫ُف‬ ْ‫ُف‬ َ َ َ‫ق ل ل ّئ ِن اجتمعت الُسنس وال ُفْجن ع‬ ُ َ ‫هذـ‬ ‫ه‬ ُ ْ‫ذا ال ُف‬ َ ‫ ل‬ ِ ِ ‫مث ُفْل‬ ِ ِ‫ن ب‬ ُ ‫ن ل َ ي َأ‬ ِ ِ ‫تاوا ُفْ ب‬ ُ ‫ل ى أن ي َأ‬ َ ‫تاو‬ ِ ‫رنآ‬ ْ‫ق ُف‬ ِ ْ‫مث ُف‬ ّ ِ َ ُ ِ ِ َ َ َ ْ‫ِ ُف‬ َ َ ‫او‬ ‫را‬ ُ ْ‫ن ب َعُف‬ َ ‫ك ا‬ ْ‫ضهُ ُف‬ ً ‫هي‬ ْ‫وَل َ ُف‬ ِ ‫ضظ‬ ٍ ْ‫م ل ِب َعُف‬ “(Dan) apabila kamu tetap dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad). Karenanya memang sudah menjadi kelayakan bahkan keharusan untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan kehidupan dan hukum manusia. Sang Pencipta dan Pengatur Alam Semesta. terkawinkannya bunga-bunga oleh bantuan angin dan sebagainya. seorang ahli syair yang tak tertandingi. kejadian hari kiamat.“Katakanlah: Sesungguhnya apabila jin dan manusia apabila berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini. yaitu arti haid dan suci). wajibnya terikat dengan hukumhukum Allah dan sebagainya. Ali Imran: 7) ُ ُ‫ك ال ُفْكت اب منه نآي ات محك َم ات ه‬ َ ‫هُاو ال ّذ‬ َ ْ‫ل عَل َي ُف‬ َ ‫ز‬ َ َ ‫مت‬ ‫ت‬ َ ُ ‫ب وَأ‬ َ ِ ‫م ال ُفْك‬ َ ‫ي أُسن‬ ّ ‫نأ‬ ٌ ‫ه ا‬ ُ ‫ر‬ ٌ َ ْ‫ِ َ َ ِ ُفْ ُ َ ٌ ّ ُف‬ َ ِ ‫ش اب‬ ِ ‫ت ا‬ ُ ‫خ‬ ّ َ ِ َ Ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang maksudnya dapat diketahui secara nyata dan tidak dapat ditafsirkan lagi. wajibnya hukum potong tangan bagi pencuri (dengan syarat tertentu). di antaranya (isinya) ada ayat-ayat muhkamat. Semua itu menunjukkan bahwa Al-Qur’an memang bukan datang dari manusia melainkan dari Allah SWT. juga tentang akan menangnya pasukan Romawi atas Parsi (QS. salah seorang Quraisy di masa Rasulullah saw. para malaikat dan tugas-tugasnya. Ar-Ruum) dan sebagainya. Al Baqarah 228 (lafadz quru’ mempunyai dua arti. maka buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an. Misalnya firman Allah SWT ‘laa raiba fiihi’ (tidak ada keraguan di dalamnya) dijelaskan dengan lafadz lain “laa syakka fiihi” (tidak ada kebimbangan di dalamnya). Yang pada akhirnya terbukti kebenarannya. Terkadang suatu ayat dijelaskan oleh ayat . dan QS. Termasuk dalam ayat-ayat muhkamat adalah haramnya riba dan zina dalam segala bentuknya. Misalnya perihal akan menangnya kaum Muslimin memasuki Makkah dengan aman (QS. Al-Fath). sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sekalian yang lain. Al Baqarah 237 (lafadz yang memegang ikatan nikah ada dua pengertian. apabila di bawah menyuburkan dan apabila di atas menghasilkan buah. atau kisah tentang sebagian Iptek. misalnya penyerbukan oleh lebah.” (QS. yang menjadi musuh nabi pada awalnya berkata: “Sesungguhnya di dalam Al-Qur’an itu terdapat sesuatu yang lezat. Dan manusia tidak akan mungkin mampu berucap seperti Al-Qur’an. diutusnya para rasul dan nabi. Selain isi Al-Qur’an menunjukkan tentang kejadian sejarah terdahulu yang sesuai dengan fakta. isi Al-Qur’an sekaligus menjadi hujjah atas kebenarannya. dan pula keindahannya. Sedangkan ayat mutasyabihat adalah ayat yang mempunyai arti terselubung (tersembunyi) yang dapat ditafsirkan karena mengandung beberapa pengertian. terdapatnya surga dan neraka.” (QS. (Lihat juga pembuktian kesahihan Al-Qur’an pada materi “Proses Keimanan”) Al Muhkamat dan Al Mutasyabihat Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang dalam kategori muhkamat dan mutasyabihat sebagaimana firman Allah SWT: ُ َ ‫فع‬ َ َ‫لاوا ُفْ و‬ ُ َ‫فع‬ ُ َ‫ت ي و‬ َ ْ‫لاوا ُف‬ ‫ت‬ ُ ّ ‫ف ات‬ ْ‫لن ت َ ُف‬ ْ‫م ت َ ُف‬ ِ ُ ‫رةُ أ‬ ِ ْ‫وال ُف‬ َ ُ ‫قاود‬ ِ ّ ‫ر ال‬ ّ ‫ه ا ال‬ ّ ‫قاوا ُفْ ال‬ َ ‫ح‬ ْ‫عد ّ ُف‬ ْ‫إن ل ّ ُف‬ ُ ‫ن ا‬ َ ‫ج ا‬ َ ‫س‬ َ ‫ن ا‬ ِ َ‫ف‬ َ ْ‫ل ِل ُف‬ ‫ن‬ َ ‫ري‬ ِ ِ‫ك اف‬ “Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al-Qur’an) kepadamu. kesemuanya dijelaskan melalui ayat-ayat yang muhkamat.” Selain dari bahasanya. bisa suami atau wali dari pihak istri). Keberadaan dan sifat Allah. Sedangkan ayat-ayat yang mutasyabihat banyak terdapat pada ayat yang berbicara tentang mu’amalah seperti QS. itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan lainnya (ayat-ayat) Mutasyabihat. Tafsir Al-Qur’an Tafsir adalah menerangkan maksud pada lafadz. dan ajaklah penolongpenolongmu selain Allah. jika kamu orang-orang benar. Tafsir Al-Qur’an merupakan penjelasan makna kata demi kata dalam susunan kalimatnya serta makna susunan kalimat sebagaimana adanya.” (QS. Pasti mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya. Al-Baqarah: 23) Cukup kiranya pernyataan Walid bin Mughirah.

maka tidak ada alternatif lain bagi kita melainkan berusaha semakimal mungkin memahami Al-Qur’an. Al-An’am 50) Ayat ini bermakna bahwa Rasulullah saw tidak melakukan suatu tindakan kecuali berdasarkan wahyu dari Allah SWT dan agar manusia mengikuti apa yang disampaikannya. Rasulullah saw juga menerima wahyu yang lain. baik perkataan. Bila tidak demikian maka apa yang kita lakukan tidak ubahnya dengan apa yang dilakukan oleh kaum orientalis. Firman Allah SWT: “(Dan) Tiadalah yang diucapkannya (oleh Muhammad) itu menurut kemauan hawa nafsunya. menghayati dan mengkaji isinya sebagaimana yang diisyaratkan oleh Al-Qur’an itu sendiri.. Pengertian Al Hikmah yang bermakna As-Sunnah dapat ditemukan dalam QS. QS. tidak ada jalan lain dalam memahami Al-Qur’an melalui bahasa yang lain. yang memandang Al-Qur’an hanya dari segi ilmu. َ َ ِ ‫وك َذ َل‬ ‫ي ا‬ َ ْ‫زل ُف‬ ّ ِ ‫رب‬ ُ ُ‫ن اه‬ َ ‫ك أُسن‬ ً ْ‫حك ُف‬ َ َ‫م ا ع‬ َ As-Sunnah Definisi Sunnah Sunnah adalah perkataan. “(Dan) Demikianlah Kami telah menurunkan Al-Qur’an itu sebagai peraturan yang benar dalam bahasa Arab. yaitu Al Hikmah yang pengertiannya sama dengan As-Sunnah. Sedangkan tujuan akhirnya adalah perwujudan dan penerapan nilai-nilai Al-Qur’an dalam seluruh aspek kehidupan. maka dapat menimbulkan pemahaman yang keliru dan merugikan.” (QS. Ini menunjukkan bahwa ummat sedang berjalan menuju garis yang berada di luar jalur ketentuan Allah SWT. Sunnah merupakan sumber syariat Islam yang nilai kebenarannya sama dengan Al-Qur’an karena sebenarnya Sunnah juga berasal dari wahyu.” (QS. perbuatan atau pun ketetapan (diamnya). bukan dari dirinya maupun kemauan hawa nafsunya. An-Najm: 3-4) Makna ayat di atas bahwanya apa yang disampaikan Rasulullah saw (Al-Qur’an dan As-Sunnah) hanyalah bersumber dari wahyu Allah SWT. Dengan demikian Al-Qur’an tidak bisa tidak hanya bisa ditafsirkan ke dalam bahasa Al-Qur’an itu sendiri yaitu bahasa Arab. Ali Imran: 164. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Al-Ahzab: 34. ‫ق ل‬ ُ ‫ ي‬ َ ‫ياو‬ ُ ‫م ا‬ ُ ِ ‫ن أت ّب‬ ْ‫ِ ُف‬ َ ّ ‫ع إ ِل‬ ّ َ ‫ح ى إ ِل‬ . sama sekali tidak boleh ditafsirkan dalam bahasa lain. Penjelasan kata-kata dan susunannya itu terbatas hanya dalam bahasa Arab. Al-Qur’an telah menegaskan bahwa selain dari Al-Qur’an. Al-Jumu’ah: 3. Disamping menuntut keikhlasan dan kesucian niat juga membutuhkan penguasaan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pemahaman Al-Qur’an.” (QS. bukan untuk diterapkan. Bertitik tolak dari suatu keyakinan bahwasanya hidup ini tidak boleh diatur kecuali menurut aturan Allah SWT.. Apabila persyaratan itu tidak terpenuhi. Walaupun begitu.lainnya (tafsir ayat bi al-ayat) atau oleh hadits Rasulullah saw tentang suatu ayat (tafsir bi as-sunnah). perbuatan dan taqrir (ketetapan/persetujuan/diamnya) Rasulullah saw terhadap sesuatu hal/perbuatan seorang shahabat yang diketahuinya. Juga harus disadari bahwa pengkajian dan pemahaman terhadap Al-Qur’an bukanlah menjadi tujuan akhir. Hendaknya disadari bahwa melakukan kajian terhadap isi kandungan Al-Qur’an menuntut persyaratan-persyaratan tertentu.. namun begitu haruslah berusaha semaksimal mungkin untuk mendekati kebenaran yang dimaksud Al-Qur’an. Ar-Ra’du: 37) Sesungguhnya kelalaian ummat dalam mengkaji dan menghayati isi kandungan Al-Qur’an menyebabkan ketidakakraban dengan Al-Qur’an. dan QS.aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sebagaimana firman Allah SWT: ّ ِ ‫او إ‬ (4)‫ح ى‬ َ ‫ياو‬ ُ ‫ ي‬ ْ‫ل وَ ُف‬ ْ‫(إ ِ ُف‬3)‫او)ى‬ َ ‫م ا‬ ُ ِ ‫ينط‬ َ َ‫و‬ ٌ ‫ح‬ َ ُ‫ن ه‬ َ َ‫ن ال ُفْه‬ ِ َ‫ق ع‬ “(Katakanlah Muhammad) . Selain menurut kenyataannya Al-Qur’an itu diturunkan dalam bahasa Arab yang paling baik dan murni. atau penjelasan para shahabat dan ahli ilmu terhadap suatu ayat.. َ ‫إ‬. Ia hanya merupakan ‘jembatan’ untuk mengakrabkan diri dengan Al-Qur’an. terpenuhinya persyaratan ini pun tidaklah mutlak menjamin kebenaran hasil suatu kajian.

setiap anak secara umum berhak mendapatkan warisan dari ayahnya. membayar zakat dan menunaikan haji. 3. Oleh sebab itu secara pasti wajib kembali kepada Sunnah.” (QS. aturan waktunya.” (QS. Misalnya perintah shalat. Adapun ijma’ hanya terdapat dalam kasus-kasus tertentu saja yang relatif sedikit. Taqyid (Pensyaratan) terhadap ayat Al-Qur’an yang mutlak Mutlak ialah lafadz yang menunjukkan sesuatu yang masih umum pada suatu jenis. Di dalam Al-Qur’an banyak dijumpai ayat-ayat yang bersifat mutlak (tanpa memberi persyaratan).” 2. Umum (‘aam) ialah lafadz yang mencakup segala sesuatu makna yang pantas dengan satu ucapan saja. Jadi setiap anak adalah pewaris ayahnya.Dari penjelasan tersebut. Di dalam Al-Qur’an itu terdapat banyak lafadz yang bermakna umum kemudian Sunnah mengkhususkan keumumannya Al-Qur’an tersebut. Kemudian datang Sunnah yang mengkhususkannya. jumlah raka’at. misalnya lafadz budak. dan lain-lain.” (HR Ahmad) َ َ ‫ة‬ ‫م ا‬ ُ َ‫س ارِق‬ ُ ِ‫س ار‬ ُ َ ‫ف اقُفْط‬ ّ ‫وال‬ ّ ‫وال‬ َ ُ‫عاوا ُفْ أي ُفْدِي َه‬ َ ‫ق‬ َ . begitu pula dengan ibadah-ibadah yang lain. Kemudian Sunnah secara terperinci menerangkan tata cara pelaksanaan shalat. Sabda Rasulullah saw: “Potonglah dalam pencurian seharga seperempat dinar dan janganlah dipotong yang kurang dari itu. Mujmal adalah suatu lafadz yang belum jelas indikasinya ( dalalah/penunjukannya) yaitu dalil yang belum jelas maksud dan perinciannya. tidak dijelaskan tata cara pelaksanaannya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah) Menurut hadits di atas Nabi tidak meninggalkan warisan bagi anak-anaknya serta melarang seorang anak yang membunuh ayahnya mendapat warisan dari ayahnya. Al-Maidah: 38) Ayat ini berlaku mutlak pada setiap pencurian (baik besar maupun kecil). Imam Ibnu Hazm. An-Nisaa: 11) Menurut ayat tersebut di atas. Dalam hal ini rujukan kita hanya kepada Sunnah Nabi saw. ‘ar-rijaalu’ (orang-orang laki-laki) dan lain-lain. kafir. Misalnya firman Allah SWT: “Allah mewajibkan kamu tentang anak-anakmu. Sabda Rasulullah saw: “Kami seluruh Nabi tidak meninggalkan warisan. salah seorang ulama besar dari Andalusia pada masa Abbasiyah menjelaskan: “Sesungguhnya di dalam Al-Qur’an terdapat ungkapan yang seandainya tidak ada penjelasan lain. serta hal-hal lain yang berkaitan dengan shalat.” (HR. Fungsi Sunnah terhadap Al-Qur’an Adapun mengenai fungsi As-Sunnah terhadap Al-Qur’an dapat diuraikan sebagai berikut: 1. sebagaimana Al-Qur’an itu sendiri. Menguraikan Kemujmalan (keumuman) Al-Qur’an. Pengkhususan Keumuman Al-Qur’an. maka kita tidak mungkin melaksanakannya. apa yang kami tinggalkan adalah sedekah. Kemudian Sunnah memberikan persyaratan nilai barang curian itu sebanyak seperempat dinar emas ke atas. mukmin. Bukhari) “Seorang pembunuh tidak mendapat warisan. Al-Qur’an hanya menjelaskannya secara global. untuk seorang anak laki-laki adalah dua bagian dari anak perempuan. Misalnya: َ ُ ّ َ ‫ ل‬ ُ ْ‫مث ُف‬ ‫ن‬ ِ ‫م‬ ِ ‫ر‬ ِ ‫ه‬ ِ ‫ياو‬ ُ ْ‫ف ي أوُفْل َدِك ُ ُف‬ ُ ّ ‫م الل‬ ُ ُ ‫صيك‬ ِ َ ‫للذ ّك‬ ِ ْ‫حظ الُسنث َي َي ُف‬ “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri hendaklah kamu potong tangan (keduanya). dapat dipahami dan diyakini bahwa kehujjahan As-Sunnah sebagai sumber hukum/syariat Islam bersifat pasti (qath’i) kebenarannya. Misalnya ‘al-muslimun’ (orang-orang Islam).

atau anak perempuan dari saudara laki-laki istri (kemenakan). tidak lain hanya mengatakan: Kami mendengar dan Kami mematuhinya. ijma’ shahabat atau sebagainya. Sedangkan untuk masalah hukum/syari’ah masih dapat digunakan nash As-Sunnah yang mencapai derajat dzanni (prasangka kuat atas kebenarannya). diharamkannya ‘keledai jinak’ untuk dimakan. Peranan Sunnah yang lain adalah untuk memperkuat dan menetapkan apa yang telah tercantum dalam Al-Qur’an disamping melengkapi sebagian cabang-cabang hukum yang asalnya dari AlQur’an. Al-Qur’an menegaskan tentang pengharaman memperisteri dua orang sekaligus. . api. Begitu pula tentang keharaman memungut pajak (bea cukai). perak. penarikan hak milik atas tanah pertanian yang selama tiga tahun berturut-turut tidak dikelola. An Nasa’i dan Ibnu Majah) 5. Misalnya. dan setiap burung yang bercakar. karena tidak boleh adanya keraguan sedikitpun dalam masalah aqidah/ i’tiqadiyah. tambang emas. Pelengkap Keterangan Sebagian dari Hukum-Hukum. Ada yang mengatakan ijma’ ulama pada setiap masa. akan memutuskan tali persaudaraan.” (QS. tidak bolehnya individu memiliki kepentingan umum seperti air. Hal ini karena dalam masalah Syari’ah tidak diharuskan suatu keyakinan yang pasti terhadap hasil ijtihad yang akan dijadikan sumber amaliah tersebut (bukan sumber untuk masalah i’tiqadiyah). rumput. An-Nisaa’: 23) Di dalam Al-Qur’an tidak disebutkan tentang haramnya seseorang mengumpulkan (memadu) seorang wanita saudara ibu. Sunnah Menetapkan Hukum-hukum Baru. 4. atau dengan saudara ibu (khala) atau anak perempuan dari saudara perempuannya (kemenakan) dan tidak boleh memadu dengan anak perempuan saudara laki-lakinya. manakala mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya supaya Dia memberikan ketentuan hukum diantara mereka. Shahabat Lafadz ijma’ menurut bahasa bisa berarti tekad yang konsisten tehadap sesuatu atau kesepakatan suatu kelompok terhadap suatu perkara. yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an. Ijma’ Shahabat Pengertian Ijma. Maka sikap seorang Muslim terhadap hal ini sesuai dengan firman Allah SWT: َ ‫ف‬ ْ‫ن ال ُ ُف‬ َ َ ‫سل‬ ُ ‫م‬ ْ‫وَأن ت َ ُف‬ َ ْ‫م ا قَد ُف‬ َ ّ ‫ن إ َل‬ َ ‫ج‬ َ ْ‫عاوا ُفْ ب َي ُف‬ ِ ْ‫خت َي ُف‬ “Ucapan orang-orang beriman. sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW. minyak bumi. Sunnah menjelaskan mengenai hal ini melalui sabda Nabi: “Tidak boleh seseorang memadu wanita dengan ‘ammah (saudara bapaknya). maka diambil oleh negara. An-Nur: 51) َ ‫ل ى الل ّه ورساول ِه ل ِيحك ُم بينهم‬ ُ ‫قاو‬ َ ِ ‫عاوا إ‬ َ ‫م ا‬ َ ْ‫ن قَاوُف‬ َ ِ‫ن إ‬ ‫لاوا‬ ُ َ ‫أن ي‬ ُ ُ ‫ذا د‬ ِ ‫م‬ ِ ْ‫مؤُف‬ َ ‫ك ا‬ ْ‫ِ َ َ ُ ِ َ ُفْ َ َ ُفْ َ ُ ُف‬ ُ ْ‫ل ال ُف‬ َ ّ ‫إ ُِسن‬ َ ‫ني‬ ُ َ ْ‫ُف‬ َ َ َ ‫ن‬ ْ‫م ُف‬ َ ْ‫ن ا وَأطعُف‬ َ ْ‫معُف‬ ِ ‫س‬ َ ‫حاو‬ ُ ِ ‫فل‬ َ ُ ‫م ال‬ ُ ُ‫ن ا وَأوُفْلئ ِك ه‬ Penggunaan nash As-Sunnah untuk masalah aqidah haruslah nash yang bersifat qath’i. Mereka itulah orang-orang yang berbahagia. kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. setiap binatang yang bertaring. atau ijma’ ahlul bait. besi. Sunnah juga berfungsi menetapkan hukum-hukum yang baru yang tidak ditemukan dalam AlQur’an dan bukan merupakan penjabaran dari nash yang sudah ada dalam Al-Qur’an. akan tetapi merupakan aturan-aturan baru yang hanya terdapat dalam Sunnah. atau ijma’ ahlul halli wal aqdi. sungai. Dalam hal ini terdapat perbedaan dalam hal menentukan ‘siapa’ yang ijma’nya dapat diterima sebagai sumber hukum atau dalil syar’i. atau ijma’ ahlu Madinah. ijma’ adalah kesepakatan terhadap suatu hukum bahwa hal itu merupakan hukum syara’. Sedangkan menurut para ulama ushul fiqh. Demikian antara lain ketentuan tambahan (penyempurnaan) yang dilakukan Rasulullah saw. “(Dan diharamkan bagimu) menghimpun (dalam perkawinan) dua perempuan bersaudara.” (HR. yaitu pada pergelangan tangan dan bukan dari tempat lainnya. laut. tempat penggembalaan ternak dan lain-lain.Begitu pula halnya dengan batas pemotongan tangan bagi pencuri (sebagimana ayat 38 Surat AlMaidah). sebab kalau itu kalian lakukan.” (QS.

dan berkaitan dengan peristiwa apa suatu ayat Al-Qur’an diturunkan. artinya kebanyakan ulama berijtihad dengan hasil serupa terhadap suatu masalah.” (HR Thabari. Imam Ahmad bin Hambal pernah menyatakan bahwa suatu kebohongan besar bila ada yang mengatakan mampu terwujud ijma’ setelah masa shahabat. baik tercantum dalam Al-Qur’an maupun hadits (keduanya dalil yang qath’i kebenarannya). Bahkan sebenarnya mereka pulalah yang memberitahukan Islam kepada generasi selanjutnya. Merekalah yang mengetahui Sunnah Rasulnya. mengalami dan melihat sendiri kehidupan kaum Muslimin generasi pertama tatkala Rasulullah masih hidup. Maka untuk terwujudnya ijma’ ulama. Al Hasyr: 8. ijma’ ulama. Lalu adakah generasi yang lebih baik yang pernah dilahirkan manusia di muka bumi ini selain mereka (para shahabat)? Ijma’ siapa lagi selain ijma’ mereka yang lebih baik dan lebih kuat? Memang tidak mustahil para shahabat pun melakukan kesalahan. Alasan Ijma’ Shahabat Dijadikan Sumber Hukum Islam Dari segi mungkin tidaknya ‘seluruh orang yang berijma’ berkumpul. Apabila terjadi kesalahan dalam ijma’ mereka tentang suatu persoalan maka tentu akan terdapat kesalahan dalam Islam. maka hal ini hanya mungkin terjadi pada masa shahabat. dimana. Beberapa Contoh Ijma’ Shahabat Salah satu ijma’ shahabat terpenting adalah pengumpulan Al-Qur’an menjadi mushaf. Sesungguhnya para shahabat merupakan generasi yang mengumpulkan. Begitu pula sabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya aku telah memilih para shahabat-ku atas segenap makhluk. sebab mereka pun tetap manusia yang tidak ma’shum. Karena ketidakmungkinan itulah. Seperti tercantum dalam QS. Al-Fath: 29. hidup bersama. Sebagai contoh. At-Taubah: 100. QS.Untuk menetapkan sumber pengambilan hukum bagi dalil-dalil syar’i dibutuhkan suatu sumber yang bersifat qath’i. Karenanya kesalahan dalam ijma’ shahabat adalah mustahil terjadi secara syar’i. Akan tetapi secara syar’i mereka mustahil bersepakat atau ber ijma’ atas suatu kekeliruan/kesesatan. haruslah diperjelas ‘siapa saja ulama’ itu.” (HR Ibnu Abdil Barr) Petunjuk Allah dan Rasul-Nya terhadap para shahabat menunjukkan suatu kepastian tentang kebenaran dan kejujuran mereka (sebagai suatu jama’ah. Banyaknya pujian kepada para Shahabat secara jama’ah. QS. Dalildalil yang memuji para shahabat tersebut bersifat qath’i sehingga kita bisa menentukan bahwa ijma’ shahabat dapat digunakan sebagai dalil syara’. padahal semua hal tadi merupakan syarat sahnya sebuah ijma’ oleh suatu kelompok. apakah ulama yang sudah sering digunakan untuk ‘membuat hukum pesanan’ juga termasuk di dalamnya? Akan pasti benarkah ijma’ mereka tersebut? Benarkah semua ‘ulama’ tadi mengetahui dan menyetujui ijma’ tersebut? Tidak adakah yang selanjutnya menarik atau membatalkan ijma’nya tadi sampai ia meninggal? Dan mungkinkah para ulama (seluruh kaum Muslimin di seluruh dunia) mampu berkumpul bersama membahas suatu masalah baru? Masih banyak yang tidak bisa terjawab selain oleh para shahabat. Diantara berbagai pendapat tentang ‘siapa’ yang ijma’nya dapat diterima sebagai sumber hukum. mengalami kesulitan dan kesenangan secara bersama-sama. Al Baihaqi dan lain-lain) “Para shahabatku itu ibarat bintang pada siapapun (di antara mereka) kalian turuti. selain para nabi. Bersamaan dengan ini Allah SWT berfirman: ُ ِ‫ح اف‬ ‫ن‬ ّ ِ ‫ر وَإ‬ َ ْ‫زل ُف‬ ّ ِ‫إ‬ َ ‫ظاو‬ َ َ‫ه ل‬ ّ َ ‫ن ُسن‬ ْ‫ُسن ا ُسن َ ُف‬ ُ َ ‫ُسن ا ل‬ َ ْ‫ن ا الذ ّك ُف‬ ُ ‫ح‬ . maka yang paling memenuhi persyaratan untuk hal ini adalah “Ijma’ para Shahabat” Rasulullah saw. saling mengetahui ijma’ dan dapat mengkoreksi bila diketahui kesalahannya. Di samping itu para shahabat merupakan orang-orang yang hidup semasa Rasulullah saw. Al-Qur’an dalam bentuk sekarang ini merupakan hasil kesepakatan ( ijma’) para shahabat. Merekalah yang mengetahui kapan. Jumhur berbeda dengan ijma’. bukan secara pribadi-pribadi) sehingga apabila mereka bersepakat atas suatu masalah. Dan karena ketidakmungkinan itu pula yang pada akhirnya muncul istilah ‘jumhur ulama’. maka akan mendapatkan petunjuk. menghafalkan dan menyampaikan Al-Qur’an beserta Sunnah pada generasi berikutnya. maka hal itu atas dasar kejujuran dan kebenaran mereka. tidak pada masa selain mereka. dalam Al-Qur’an dan Hadits sebab merekalah yang menyampaikan Al-Qur’an dan menuturkan hadits Rasulullah saw pada generasi berikutnya.

ْ‫َ ُف‬ َ َ‫ه و‬ ُ ِ ‫ب اط‬ َ ‫ن‬ ِ ‫ل ي َأ‬ ِ‫فه‬ ِ ْ‫خل ُف‬ ِ ‫ل‬ ِ ْ‫ن ي َد َي ُف‬ ِ ‫ ل‬ ِ ‫تي‬ َ ْ‫ه ال ُف‬ ْ‫م ُف‬ ِ ْ‫من ب َي ُف‬ Qiyas Pengertian Oiyas Menurut para ulama ushul. Ibuku telah meninggal. dengan hutang. apakah aku harus menggantinya? ’ Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Bagaimana jika ibumu mempunyai hutang. sebagaimana yang dilakukan para shahabat tatkala Rasulullah saw wafat. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Seorang wanita kepada Rasulullah dan berkata: ‘Ya Rasulullah. berarti ada kemungkinan salah dalam Al-Qur’an sekarang. apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at. berdasarkan ayat: “Hai orang-orang yang beriman.” (QS. qiyas berarti menyamakan suatu kejadian yang tidak ada nashnya dengan suatu kejadian yang sudah ada nash/hukumnya. apakah kamu akan membayar hutangnya?’ Jawabnya: ‘Benar’. yaitu haram. Fushilat: 42) Dari kedua ayat tersebut. Allah menjaga kebenaran Al-Qur’an. Inilah dalil yang pasti bahwa ijma’ shahabat merupakan dalil syar’i. Dengan kata lain melalui tangan-tangan para shahabatlah. maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah (shalat) dan tinggalkanlah jual beli. maka apabila ada kesamaan illat antara suatu masalah baru dengan masalah yang sudah ada hukumnya. Al-Jumuah: 9) َ َ ِ ‫اوا إ‬ َ ‫ص‬ َ ‫ة‬ َ ِ ‫ناوا إ‬ ‫روا‬ ِ ‫دي‬ ِ ّ ‫ر الل‬ ِ َ ‫مع‬ ِ ‫ة‬ ِ ‫ل‬ ِ ‫ُسناو‬ ُ ‫ذا‬ ُ ‫م‬ ِ ّ ‫ه ا ال‬ ُ ْ‫من ي َاوُفْم ِ ال ُف‬ َ ْ‫ف ا ُف‬ ُ ‫ج‬ َ ‫ن نآ‬ ّ ‫لل‬ َ ّ ‫ي ا أي‬ ُ َ ‫ه وَذ‬ ْ‫سعَ ُف‬ َ ‫ذي‬ ِ ْ‫ل ى ذِك ُف‬ ْ‫ُف‬ ‫ع‬ َ ْ‫الب َي ُف‬ . Disamping itu ada beberapa hadits Rasulullah yang mengisyaratkan penggunaan qiyas sebagai dalil syara’.dijamin kebenarannya. maka hukum masalah yang baru tersebut menjadi sama. Maka bila illat yang sama terkandung dalam Al-Qur’an berarti dalil qiyas dalam hal tersebut adalah Al-Qur’an. Demikian pula apabila illat yang sama terkandung dalam Sunnah dan Ijma’ Shahabat maka yang menjadi dalil qiyas adalah kedua hal tersebut.” Dan Imam Daruquthny meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan mengatakan bahwa bapaknya meninggal. sedangkan ia berkewajiban menunaikan ibadah haji. Jika ada kemungkinan salah dalam ijma’ shahabat. Padahal hal ini adalah mustahil terjadi. Dia bertanya: ‘Apakah aku harus menghajikan bapakku?’ Maka Rasulullah berkata: ‘Bagaimana jika bapakmu punya hutang. Alasan Qiyas Dijadikan Sumber Hukum Qiyas digunakan sebagai sumber dalil syar’i karena dalam qiyas yang menjadi dasar pengambilan hukum adalah nash-nash syar’i yang memiliki kesamaan illat. Maka Rasulullah berkata ‘Berhajilah untuknya’. apakah kamu harus membayarnya?’ Jawabnya: ‘Benar’.” (QS. karena disebabkan adanya kesamaan dua kejadian itu dalam illat (sebab) hukumnya. haji. Allah memastikan bahwa mushaf Al-Qur’an yang ada kini --yang merupakan ijma’ para shahabat-. yang sama-sama harus dipenuhi Contoh Qiyas dan Ruang Lingkup Pembahasan Qiyas Sebagai contoh. Maka bersabda Rasulullah saw: ‘Maka puasalah untuk (memenuhi) nadzar ibumu’. Al Hijr: 9) “Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebathilan. baik dari depan maupun dari belakangnya. dan menyebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. mengadakan transaksi jual beli tatkala adzan shalat Jum’at merupakan peristiwa yang telah ditetapkan dalam nash. Contoh lain yang masyhur tentang ijma’ shahabat adalah keharusan adanya seorang khalifah yang akan memimpin dan mengurus seluruh kebutuhan kaum muslimin. melindungi. Sebagaimana diketahui bahwa yang menjadi dasar keberadaan hukum adalah illatnya.“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjaganya.” Dalam dua hadits tersebut Rasulullah mengumpamakan atau mensejajarkan persoalan nadzar.” (QS. Dengan demikian secara syar’i mustahil terjadi kesalahan dalam ijma’ shahabat. sedang ia belum membayarnya. sedang ia belum menunaikan puasa nadzar.

Karena pembahasan di sini hanya bersifat global maka pembaca masih sangat perlu melanjutkan kajian ini dengan kajian yang dalam dan terperinci bila ingin mendapat pemahaman yang menyeluruh dan mendalam. Asal disebut “maqish ‘alaih” (yang menjadi tempat mengqiyaskan). makanan. maka perbuatan tersebut hukumnya diqiyaskan dengan perbuatan jual beli di atas. transaksi perdagangan maupun perbuatan lainnya yang mempunyai kesamaan illat. "Dan kami telah turunkan kepadamu al-Qur'an dengan membawa kebenaran. 2. Ia juga disebut ‘maqish’ (yang diqiyaskan) dan ‘musyabbah’ (yang diserupakan). membenarkan apa yang sebelumnya. Yaitu suatu sifat yang terdapat pada suatu peristiwa yang asal. karena masalah ini sudah jelas nash syara’nya sehingga tidak bisa diqiyaskan. Berdasarkan kaidah syara: ”Sesungguhnya hukum-hukum tentang ibadah. minuman. Oleh karena itu sewa menyewa. dan akhlaq tidak dapat direka-reka. makanan. yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) atau batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain. semua ketentuannya wajib sesuai dengan nash/ketentuan syara’ semata”. maka peristiwa asal itu mempunyai suatu hukum dan oleh karena sifat itu terdapat pula pada cabang. Al-Maidah: 48) arti dari wamuhaimina 'alaih adalah nasikhon lima sabiqohu yaitu penghapus kitab-kitab sebelumnya. َ َ ْ‫ن ا إ ِل َي ُف‬ ً ّ ‫صد‬ ِ‫ن ا عَل َي ُفْه‬ ً ‫م‬ ِ ْ‫مهَي ُف‬ َ ِ ‫ن ال ُفْك‬ ِ ‫ه‬ ِ ْ‫ن ي َد َي ُف‬ َ ِ ‫ك ال ُفْك‬ َ ْ‫زل ُف‬ َ ْ‫ب ال ُف‬ َ ‫ت ا‬ َ ‫وَأُسن‬ ُ َ‫ب و‬ َ ّ ‫ق ا ل‬ ُ ‫ق‬ ّ ‫ح‬ ِ ‫ب‬ ِ ‫ت ا‬ َ ‫م‬ َ ‫م‬ َ ْ‫م ا ب َي ُف‬ . Far’u (cabang). dan bukan tergolong ujjah (dalil) bagi kita. atau “mahmul ‘alaih” (tempat membandingkannya). d. Yang karena sifat itu. yaitu: syari'at umat terdahulu (syar'un man qablana). maka disamakanlah hukum cabaang itu dengan hukum peristiwa asal. Yaitu peristiwa yang tidak ada nashnya. atau jalan yang mengantarkan pada perkara yang dicari. Syari'at umat terdahulu Sebenarnya syari'at umat terdahulu (umat nabi-nabi sebelum nabi Muhammad SAW) bukan termasuk syari'at bagi kita (umat nabi Muhammad saw). Sedangkan di dalam masalah pakaian. Rukun qiyas yang keempat adalah yang terpenting untuk dibahas. yaitu haram. dan mashalih mursalah." (QS. Madzhab Sahabat Madzhab sahabat sebenarnya bukan merupakan dalil syara'. ibadah dan akhlak di dalamnya tidak mempunyai illat. ‘Illat. Perkara yang Diduga Sebagai Dalil Padahal Bukan Dalil Istidlal menurut bahasa berasal dari wazan istaf'ala dari lafadz dalla yang berarti mencari dalil. Rukun Qiyas Setiap qiyas mempunyai empat rukun: a. dan peristiwa itulah yang hendak disamakan hukumnya dengan asalnya. Jadi ruang lingkup daripada qiyas hanya pada hal-hal (masalah) yang memiliki kesamaaan illat di dalamnya.Illat pada ayat di atas adalah karena hal tersebut melalaikan shalat. Oleh karena itu kita tidak diseru untuk melaksanakan syari'at sebelum kita. 1. istihsan. Kita diseru hanya untuk melaksanakan syari'at Islam yang dibawa oeh nabi Muhammad SAW. Hukum asal. c. minuman. Perkara yang diduga sebagai dalil padahal bukan dalil ada empat macam. atau “musyabbah bih” (tempat menyerupakannya) b. pakaian. Allah berfirman yang artinya. karena illat qiyas merupakan asasnya. Demikianlah gambaran ringkas tentang qiyas. yaitu melalaikan shalat. Asal (pokok). Yaitu hukum syara’ yang ditetapkan oleh suatu nash atau dikehendaki untuk menetapkan hukum itu kepada cabangnya. Yaitu suatu peristiwa yang sudah ada nashnya yang dijadikan tempat mengqiyaskan. pendapat sahabat (madzhab sahabat).

Contohnya adalah firman Allah SWT: َ ِ ‫دوهُ إ‬ َ ‫ف ي‬ ‫ل‬ ٍ ‫ ي‬ ِ ّ ‫ل ى الل‬ ِ ‫م‬ َ َ ‫إن ت‬ ّ ‫ر‬ َ ‫ن ا‬ ُ ‫ر‬ ْ‫زعُفْت ُ ُف‬ ِ ‫ساو‬ ّ ‫وال‬ َ ‫ه‬ ُ َ‫ء ف‬ ْ‫ش ُف‬ ِ َ‫ف‬ "Para ibu hendaknya menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh yaitu bagi yang menyempurnakan penyusuan". Tirmidzi) Mereka tidak mewajibkan sumpah pada terdakwa kecuali jika antara terdakwa dan pendakwa terdapat suatu hubungan. Menggunakan menyalahi nash adalah tindakan batil. Karena Allah SWT berfirman: َ ‫وال ُفْاوال ِدات يرضع‬ َ ِ ‫ك ا‬ َ َ ‫ن‬ َ ‫ن‬ ‫ن‬ ّ ُ‫ن أوُفْل َد َه‬ َ ْ‫َ َ َ ُ ُ ُفْ ِ ُف‬ ِ ْ‫ملي ُف‬ ِ ْ‫حاوُفْلي ُف‬ " Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang suatu perkara maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasulnya. Hal ini dilakukan agar orang-orang yang bodoh tidak berai (lancing) kepada kalangan terhormat sehingga akan menyerahkan mereka kaum terhormat kepengadilan dengan dakwaandakwaan dusta. Firman Allah SWT: َ ِ ‫دوهُ إ‬ َ ‫ف ي‬ ‫ل‬ ٍ ‫ ي‬ ِ ّ ‫ل ى الل‬ ِ ‫م‬ َ َ ‫إن ت‬ ّ ‫ر‬ َ ‫ن ا‬ ُ ‫ر‬ ْ‫زعُفْت ُ ُف‬ ِ ‫ساو‬ ّ ‫وال‬ َ ‫ه‬ ُ َ‫ء ف‬ ْ‫ش ُف‬ ِ َ‫ف‬ "Tentang sesuatu apapun kamu berselisih."Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu. 4. Secara istilah istihsan diartikan dengan dalil cacat pada benak seorang mujahid. Begitu juga para sahabat telah sepakat atas kebolehan menyelisihi sahabat secara perorangan. Berdasarkan definisi diatas. as-Sunnah maupun adat. Andaikata pendapat seorang sahabat merupakan hujjah maka pasti setiap sahabat wajib mengikuti pendapat sahabat yang lainnya." (QS. (QS. An-Nisa: 59). Al-Baqarah: 233). jika ada orang yang mendakwa orang lain bahwa dia mempunyai harta pada orang tersebut. 3. berdasarkan dalil berikut : 1. padahal tidak ada nash yang mengakuinya. Asy-Syura:10) َ ِ‫ه إ‬ َ ‫من‬ ٍ ‫ ي‬ ْ‫خت َل َ ُف‬ ْ‫م ا ا ُف‬ ِ‫ل ى الل ّه‬ ِ ‫ه‬ ِ ‫في‬ ِ ‫م‬ ُ َ‫ء ف‬ ُ ‫م‬ ُ ْ‫حك ُف‬ ْ‫فت ُ ُف‬ َ َ ْ‫ش ُف‬ . jelas sekali bahwa sebenarnya mashahih mursalah bukan termasuk dalil. Sebagian ulama mendefinisikannya dengan 'beralih dari konsekwensi suatu Qiyas kepada Qiyas lain. kemudian terdakwa dituntut untuk bersumpah berdasarkan sabda Rasulullah SAW. maka kembalikan ia kepada Allah (al-Qur'an) dan rasul (sunnahnya)" (QS. ". sementara tidak mampu mendatangkan bukti atas dakwaannya." (HR. Mashalih al-Mursalah Para ulama penganut mashalih mursalah mendefinisikannya dengan 'kemaslahatan yang tidak dijelaskan oleh dalil khusus yang mengakuinya atau mencampakannya '. dan tidak kuasa untuk menampakkannya karena tidak ada dukungan al-ibarah (redaksi) untuk mengungkapkannya. yang artinya: "Bukti atas penuntut/pendakwa dan sumpah atas orang yang mengingkarinya (terdakwa). kemudian kemaslahatan tersebut diambil. yang lebih kuat. dengan syariat ketika diambil berakibat tertolaknya suatu kesulitan. Lawannya disebut al-istiqbah artinya memandang buruk suatu perkara. Dalam ayat ini Allah SWT telah mewajibkan untuk mengembalikan seluruh perkara yang perselisihkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila istihsan merupakan peralihan dari suatu dalil tanpa ada dalil yang mengharuskan maka sebenarnya istihsan bukan merupakan dalil. Istihsan Secara bahasa istihsan mengikuti wazan istaf'ala dari kata al-hasan yang memandang baik suatu perkara. Mereka juga menganggap termasuk bagian dari istihsan adalah beralih dari Qiyas kepada nash. Begitu pula yang termasuk istihsan adalah mengalihkan suatu alasan dari suatau tentang masalah-masalah yang sejenis kepada hukum lain karena adanya aspek yang lebih kuat yang mengharuskan peralihan tersebut. Mereka memberikan contoh dengan kasus. Tetapi hal seperti ini tidak mungkin terjadi. baik al-Kitab. (QS. An-Nisa: 59). maka putusannya (terserah) kepada Allah.

An-Nisa: 59) َ ِ ‫دوهُ إ‬ َ ‫ف ي‬ ‫ل‬ ٍ ‫ ي‬ ِ ّ ‫ل ى الل‬ ِ ‫م‬ َ َ ‫إن ت‬ ّ ‫ر‬ َ ‫ن ا‬ ُ ‫ر‬ ْ‫زعُفْت ُ ُف‬ ِ ‫ساو‬ ّ ‫وال‬ َ ‫ه‬ ُ َ‫ء ف‬ ْ‫ش ُف‬ ِ َ‫ف‬ "Pada hari ini telah kusempurnakan agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmatKu. Kemaslahatan yang sebenarnya adalah kemaslahatan berdasarkan dalil syara' dimana ada perintah syara' disitu ada kemaslahatan. Oleh karena mashalih mursalah bukan tergolong hujjah. Membangun suatu hukum atas dasar kemaslahatan yang tidak diakui oleh syara' berari menjadikan akal yang tidak didukung oleh dalil sebagai hakim (al-'aql al-mujarrod). 2. Sedangkan istilah menghukumi berdasarkan mashalih mursalah adalah menghukumi yang didasarkan pada mashlahat yang tidak ditetapkan oleh syara'." (QS. Al-Maidah: 3) َ َ ‫ال ُفْياو‬ ‫ت ي‬ ِ ‫م‬ ِ ‫م‬ َ ْ‫َ ُف‬ َ ْ‫م ُسن ِعُف‬ ْ‫ت عَل َي ُفْك ُ ُف‬ ُ ‫م‬ ْ‫م ُف‬ َ ْ‫م وَأت ُف‬ ْ‫دين َك ُ ُف‬ ْ‫ت ل َك ُ ُف‬ ُ ْ‫مل ُف‬ َ ْ‫م أك ُف‬ َ ‫لُسنس ا‬ َ َ ‫ر‬ ‫د)ى‬ ً ‫س‬ ُ َ ِ ْ‫ب ا ُف‬ ُ ‫س‬ ْ‫أي َ ُف‬ ُ ‫ك‬ َ ‫ح‬ َ ْ‫ن أن ي ُت ُف‬ "Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?" (QS. Al-Qiyamah:36). . ini tidak diperbolehkan. Sebagai hakim. 3."Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang suatu perkara maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasulnya." (QS.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful