P. 1
Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Kerja

Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Kerja

|Views: 317|Likes:
Published by TitHa Awallunnisa

More info:

Published by: TitHa Awallunnisa on Apr 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2014

pdf

text

original

Artikel Penelitian

Beberapa Faktor yang Memengaruhi Kinerja Perawat dalam Menjalankan Kebijakan Keperawatan di Rumah Sakit Umum Daerah

Hafizurrachman,1,2 Laksono Trisnantoro,1 Adang Bachtiar2
2

Program Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Departemen Administrasi Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Depok.

1

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan besaran variabel sejarah kesehatan keluarga, perilaku gaya hidup, lingkungan kehidupan, dan kemampuan perawat dalam menghasilkan kinerja yang diharapkan akan bermanfaat untuk menyusun strategi kebijakan keperawatan berbasis kinerja di suatu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Metode potong lintang digunakan pada penelitian ini. Perawat yang bertugas di semua pelayanan pada suatu RSUD dipilih sebagai unit analisis dengan cara multistage random sampling dan terpilih 250 perawat. Penelitian dilaksanakan dari bulan Februari-Agustus 2010. Data dianalisis dengan Structural Equation Model (SEM) menggunakan software Smart-PLS. Hasil analisis menunjukkan kinerja perawat di RSUD dipengaruhi oleh semua variabel, yang berarti model teoretis yang diusulkan pada penelitian ini dapat digunakan. Kemampuan perawat merupakan variabel terbesar yang mempengaruhi kinerja perawat (83,6%). Disimpulkan bahwa variabel kinerja perawat dipengaruhi oleh banyak variabel antara lain variabel sejarah kesehatan keluarga, perilaku gaya hidup, lingkungan kehidupan, dan kemampuan perawat. Semua variabel yang digunakan pada penelitian ini layak dipertimbangkan untuk dilakukan intervensi sehingga menghasilkan kinerja perawat yang prima di RSUD. J Indon Med Assoc. 2011;61:38793. Kata Kunci: Sejarah kesehatan keluarga, perilaku gaya hidup, lingkungan kehidupan, kemampuan, kinerja perawat.

J Indon Med Assoc, Volum: 61, Nomor: 10, Oktober 2011

387

4. In conclusion. digunakan pendekatan ilmiah dalam rangka mencari keterkaitan antarvariabel sehingga kinerja perawat di RSUD dapat diukur. 2 Department of Health Policy Administration.2 Laksono Trisnantoro. Faculty of Medicine Universitas Gadjah Mada. Keywords: family health history. seorang perawat rumah sakit harus memiliki status kesehatan prima.4 lingkungan kehidupan yang kondusif. lifestyle. 5 perilaku gaya hidup perawat. and the ability of nurses on their performance and provide useful information to develop performance-based nursing policy in a District Hospital. Volum: 61.7 Variabel lingkungan dipengaruhi oleh perilaku gaya hidup yang merupakan variabel eksogen. Pendahuluan Rumah sakit perlu memiliki kinerja prima untuk membantu penyembuhan pasien. The nurses’ ability was the variable that mostly affects the nurses’ performance (83. Oktober 2011 .1 Proses perawatan di rumah sakit yang lebih singkat akan mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh pasien..6%). Sejarah kesehatan keluarga mempengaruhi lingkungan kerja (variabel endogen) dan memberikan pengaruhnya kepada variabel kinerja. Therefore all the variables offered in this study should be considered for intervention to produce excellent nurses’s performance at a district hospital. Perawat harus bekerja secara prima dalam membantu mempercepat proses penyembuhan pasien. masih banyak variabel yang dapat mempengaruhi variabel kinerja perawat.1 Adang Bachtiar2 Doctoral Program of Public Health.7 Status kesehatan perawat tidak lepas dari sejarah kesehatan keluarganya seperti keadaan fisik dan psikologis orang tua serta perkembangan diri dalam menuju dewasa. which means that the theoretical model proposed in this study can be used. sejarah kesehatan keluarga merupakan variabel eksogen yang mempengaruhi variabel kinerja (variabel endogen). the nurses’ performance is affected by many variables. 2011.11 Untuk menginvestigasi masalah dan variabel-variabel yang mempengaruhi kinerja perawat pada suatu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).1. lifestyle. Yogyakarta. Depok. lifestyle.Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Perawat dalam Menjalankan Kebijakan Keperawatan Several Factors that Influence the Performance of Nurses in Carrying Out Nursing Policy in a District Hospital Hafizurrachman. This is a cross-sectional study. ability. environment. Analysis showed that the nurses‘ performance in a district hospital was influenced by all the variables. environment. performance of nurses. 6 dan kemampuan perawat merupakan faktor-faktor yang akan mempengaruhi kinerja perawat. 1 Abstract: This study aimid to look at the effect and magnitude of family health history. Hasil yang didapatkan akan berguna bagi manajemen RS dalam merencanakan strategi terbaik untuk meningkatkan atau mempertahankan kinerja prima melalui perbaikan atau peningkatan terhadap variabel prediktor kinerja atau variabel-variabel independennya. sejarah kesehatan keluarga yang merepresentasikan faktor genetik. Nomor: 10. and the ability of nurses. J Indon Med Assoc.10 Selain variabel utama tersebut. Hal tersebut diperlukan untuk mengembangkan kebijakan tentang keperawatan berbasis kinerja sehingga dapat meningkatkan 388 J Indon Med Assoc. seperti variabel motivasi kerja.3 Oleh karena itu upaya untuk mempertahankan keadaan sehat pada populasi sangat penting dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari peran perawat di rumah sakit.1. The study was conducted from February-August 2010.2 Rasio orang sakit yang tinggi pada suatu populasi akan menurunkan tingkat kompetitif dan produktivitas daerah tersebut bila dibandingkan dengan daerah yang rasio orang sakitnya rendah. Data were analyzed with the Structural Equation Model (SEM) approach using Smart-PLS software.9 Dalam kerangka konsep kemampuan. Pemerintah secara tidak langsung akan mendapatkan manfaat berupa berkurangnya subsidi di bidang kesehatan yang harus dibayarkan mengingat pemberian subsidi dari tahun ke tahun terus meningkat.1 Untuk menghasilkan kinerja yang maksimal. environment. with 250 nurses were selected as the samples and multistage random sampling were used. such as family health history.61:38793. Faculty of Public Health Universitas Indonesia.6.8. Selain status kesehatan. In this study nurses serving in all services at a district hospital was selected as the unit of analysis.

Pengujian dilakukan dengan menggunakan uji chi square dengan program SPSS.Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Perawat dalam Menjalankan Kebijakan Keperawatan kinerja perawat di RSUD. Nomor: 10.7 indikator dianjurkan untuk tidak 389 .14 Smart-PLS menghasilkan measurement model (outer modelnya) lengkap dengan nilai confirmatory factor analysis (CFA) dan goodness of fit (GOF). suara dan cahaya di tempat bekerja dan tata ruang tempat tinggal. keadaan psikologis sosial pada masa kecil.5. Nilai AVE tersebut harus berada sama atau lebih besar dari 0. lingkungan kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan besaran (nilai) variabel sejarah kesehatan keluarga. Nilai validitas butir pertanyaan setiap variabel yang nilainya < 0. 3 untuk nilai netral. Variasi jawaban semua daftar pertanyaan pada instrumen diujikan terhadap 9 karakteristik responden tersebut untuk mengetahui apakah variasi jawaban responden terjadi sebagai akibat karakteristiknya. Nilai lamda harus lebih besar dari 0. Jumlah pertanyaan pada setiap variabel bervariasi 18-38 pertanyaan. sehingga setiap intervensi yang diberikan memiliki alasan yang kuat dan masuk akal serta dapat disusun suatu strategi kebijakan keperawatan yang berbasis kinerja. Kelima variabel memiliki 4-6 indikator. kebiasaan yang berkaitan dengan pola konsumsi makanan dan minuman. perilaku gaya hidup. Sebagai hasil akhir. menyelesaikan tugas pokok. Nilai CFA diukur dengan melihat hasil olahan Smart-PLS pada nilai lamda (loading factor). Nilai 1 merupakan nilai terendah dan nilai 5 merupakan nilai tertinggi dari suatu penilaian atau persepsi pada suatu pertanyaan. Instrumen yang digunakan berupa daftar pertanyaan (kuesioner) yang mengukur ke-5 variabel yaitu variabel kinerja perawat. dilakukan penilaian untuk mengukur besaran reliabilitas masing-masing lamda dengan melihat nilai composit reliability. hemodialisis. Variabel kemampuan terdiri atas indikator potensi memecahkan masalah. Uji validitas butir pertanyaan untuk semua pertanyaan pada variabel dan reliabilitas instrumen dilaksanakan bersamaan dengan pengambilan data lapangan. Variabel lingkungan terdiri atas indikator peraturan kerja. Kriteria inklusi adalah perawat pelaksana di 8 pelayanan tersebut yang telah bertugas minimal 1 tahun. kemampuan perawat. mengikuti prosedur inisiatif dalam bekerja. Kuesioner menggunakan sistem skoring berdasarkan pengukuran skala semantik diferensial dengan penilaian skala nilai 1-5. Bila nilai lamda kurang dari 0. kecepatan dalam mengambil dalam tindakan. Metode Penelitian ini menggunakan desain potong lintang. Pemilihan sampel dilakukan dengan cara multistage random sampling dan didapat sampel sebanyak 250 dari 367 perawat. Variabel kemampuan dan kinerja perawat diukur oleh tiga orang raters (penilai) terdiri atas kepala ruangan (supervisor). kompetensi diri dan kekuatan dinamis. sedangkan kriteria eksklusi adalah perawat yang sedang cuti dan menolak ikut serta dalam penelitian. lingkungan kehidupan perawat. pola hidup waktu kecil serta pertumbuhan dan perkembangan diri.5 maka harus diuji ulang setelah dilakukan modifikasi indikator pada variabel tersebut. Variabel perilaku gaya hidup terdiri atas indikator berolahraga untuk kesehatan fisik. Selanjutnya bila nilai semua measurement model sudah fit.5 pada pengujian outer loading untuk mengatakan indikator tersebut merupakan refleksi dari variabelnya. Untuk skala likert penilaian 1-2 untuk nilai negatif.05 maka pertanyaan atau pernyataan pada instrumen tersebut tidak dipengaruhi variasi karakteristik responden. Variabel sejarah kesehatan keluarga terdiri atas indikator keadaan fisik dan psikologis orang tua (ibu-ayah). Data selanjutnya dianalisis menggunakan pendekatan structural equation model (SEM) dengan software SmartPLS. Bila nilai kurang dari 0. Volum: 61. tata ruang kerja. rawat inap. Dihitung juga nilai reliabilitas instrumen. Populasi penelitian adalah seluruh perawat yang bertugas di 8 unit pelayanan di RSUD (unit rawat jalan. Variabel kinerja terdiri atas indikator berdasarkan sasaran yang ditetapkan. kemampuan dalam bekerja sama dan melakJ Indon Med Assoc. Setiap indikator diukur dengan 4-9 butir pertanyaan. 4-5 untuk nilai positif.7. aktivitas sosial serta kebiasaan dan kebersihan individu serta lingkungan. perawat yang merupakan garda terdepan9 dalam pelayanan prima di RSUD akan merasa nyaman dalam bekerja dan terlindung dari risiko pekerjaan keperawatan. Oktober 2011 sanakan standar asuhan keperawatan rumah sakit. ambulans). Hal inilah yang akan diungkap oleh penelitian ini sebagai upaya membuktikan bahwa confirmatory theoretical model dapat diterapkan sebagai cara berpikir dan tindakan intervensi pada variabel prediktor dalam meningkatkan kinerja perawat di RSUD. suhu ruangan. Seorang rater hanya boleh menilai maksimal 5 orang perawat. Dengan demikian ada sebagian perawat dinilai oleh 2-4 orang kolega tanpa disertai penilaian oleh supervisor atau kepala tim. ICU. Nilai harus sama dengan atau lebih besar dari 0. kamar bedah. Bila nilai uji chi square memiliki nilai p>0.12 Saat ini kinerja perawat di RSUD tergolong rata-rata13 dan hasil ini akan mempersulit pencapaian visi dan misi RSUD. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan Februari sampai Agustus 2011 di suatu RSUD. Tiga variabel lainnya diukur melalui persepsi subjek.145 tidak diikutsertakan dalam proses perhitungan selanjutnya. dan kemampuan perawat dalam menghasilkan kinerja perawat. IGD. Outer loading test (nilai loading factor) dilengkapi dengan penilaian pada analysis discriminant validity yaitu menilai indikator reflektif suatu variabel dengan melihat nilai cross loading antara nilai indikator pada variabel miliknya dan nilai indikator tersebut pada variabel bukan miliknya atau cukup membaca nilai average variance extractor (AVE). perilaku gaya hidup perawat dan sejarah kesehatan keluarga perawat. kepala tim dan kolega perawat tersebut. kamar operasi. kemampuan dalam menerima perintah lisan dan tulisan serta stamina dan ketahanan dalam bekerja.

863 0.325 -0. Karakteristik Demografi Responden Variabel Sebaran Umur 20-45 tahun >45-50 tahun >50 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jenjang Pendidikan D-III keperawatan S-1/D-IVkeperawatan ke atas Status Pernikahan Menikah Belum menikah Janda/duda Sebaran Tanggungan Termasuk Anak Tidak punya Satu tanggungan termasuk anak Dua tanggungan termasuk anak Lebih dari dua tanggungan termasuk anak Ikut Pelatihan Tambahan Belum pernah ikut pelatihan Pernah ikut pelatihan Status Kepegawaian PNS Kontrak Sebaran lama kerja 1-3 tahun >3-5Tahun >5 tahun Lama Perjalanan Ke Kantor Sebentar (<45 menit) Lama (>=45 menit) n % endogen (independen atau dependen) dan eksogen (independen) yang diteliti memiliki distribusi data yang normal dan homogen.Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Perawat dalam Menjalankan Kebijakan Keperawatan dimasukan ke dalam model. Nilai tersebut dapat dilihat pada perhitungan BT atau bootstrepping dengan melihat nilai original sample yang merupakan nilai path dan nilai significancy-nya yaitu nilai T statistik. khususnya untuk model eksploratori. Sejarah 91. Composit reliability perlu diperkuat dengan nilai alpha Cronbach dari masing masing variabel untuk mengetahui tingkat kekuatan refleksi indikator terhadap variabelnya. Penyebaran karakteristik responden digambarkan pada Tabel 1.05 (0. Nilai path tersebut signifikan bila nilai T lebih besar dari 1. GOF measurement model memberikan hasil seperti pada Tabel 2. Semua perhitungan tersebut dapat dilihat pada hasil PLS.94 dan nilai T 6.4 95.5 untuk semua indikator pada masing-masing variabel (0.0 Lingkungan Gambar 1.058 ζ1 ζ2 0. Nilai GOF Outer Model Variabel AVE Composite Reliability 0.6 4.54-0.975).914 0.6 42.872 0.790 R Square 0.8 25.8 74. Volum: 61.5-109.94) dengan nilai T yang signifikan (lebih besar dari 1.96).391 Kinerja Perilaku 14.6 1.944 0. Tabel 2.2 24. Nomor: 10. Structural Model (dengan path/rho dan nilai T dalam kurung) Gambar 1. Hubungan yang kuat harus memiliki nilai lebih besar dari 0. Langkah selanjutnya adalah membangun persamaan untuk model dan menghitung nilai Q2 atau goodness of fit dari model yang dibangun.826 0. Nilai structural model yaitu besarnya nilai hubungan antarvariabel yang dibangun oleh model dan telah memiliki nilai goodness of fit yang cukup.617 0.2 Kemampua n 0.6 84.4 8. Selanjutnya dilakukan pengujian antara sebaran karakteristik responden dengan jawaban yang diberikan responden secara bivariat dengan uji chi square.9046 (0.960 0.96 yaitu dengan tingkat kesalahan 5%. Hasil Instrumen penelitian ini memiliki reliabilitas instrumen sebesar 0.6.834 0 0. Karakteristik semua variabel Tabel 1.6 18.632 0.54-0. Hasilnya menunjukkan tidak didapatkan variasi jawaban akibat variasi karakteristik karena semua hasil uji chi square pada setiap variabel memiliki nilai p>0.8 15.806 0.2 19. yaitu menilai besaran variasi data penelitian terhadap fenomena yang dikaji dengan menghitung R2 pada masing-masing variabel terlebih dahulu.8 65.0 58.372 0 0 Kinerja Perawat Kemampuan Lingkungan Kehidupan Perilaku Gaya hidup Sejarah Kesehatan Keluarga Catatan: Galat variabel kinerja yaitu 1-R2 adalah 1-0.655). Oktober 2011 .4 37.737 0.2 7.927 0.613 0. Structural Model (dengan path/rho dan nilai T dalam kurung) 390 J Indon Med Assoc.053 0.842-0. Hasil pengujian outer model pada tiap variabel dengan indikatornya menghasilkan CFA dengan nilai alfa 0.834=0.792 0.947 0. Nilai validitas dan realibilitas juga tinggi (lebih besar dari yang disyaratkan) sehingga proses pembacaan dapat dilanjutkan untuk GOF inner modelnya (Gambar 1).78.090-0.2 34.166 230 13 7 39 211 239 11 228 19 3 48 61 94 47 187 63 87 163 36 20 194 105 145 92.862 Cronbachs Alpha 0.0 5.4 Tabel 2 menunjukkan nilai GOF outer model memiliki lamda >0.2 2.0 77.

29-83. karena nilai rho nya negatif.6% kinerja perawat dipengaruhi oleh faktorfaktor selain sejarah kesehatan keluarga. 053η 1 − 0 .053 -0.058 0.166 J Indon Med Assoc.324 0 0. diikuti 391 atau η 2 = 0 . Oktober 2011 .914 Ability Perawat + 0.04 84.021 Total 0.0 0.41% dijelaskan komponen lain yang tidak ada pada model ini.053 -0058 Nilai T 66.00 0.914 0.162 2.8 0.021 Direct % 0.59% = 10. termasuk pengaruh tidak langsung variabel prediktor terhadap kinerja yang besarnya 84.053 -0.032 H0 Gagal ditolak Gagal ditolak Gagal ditolak Tingkat Signifikansi Signifikan Signifikan Signifikan Hubungan Antar Variabel kemampuan -> kinerja lingk -> kinerja sejarah -> kinerja Tabel 4.391 Indirect Rho 0 0 0 0. Nilai Path/Rho Langsung Ke Variabel Kinerja dengan T Statistiknya dan Signifikansinya pada Hubungan Antarvariabel pada Structural Model Original Sampel (Rho) 0. lingkungan. pengaruh terbesar pada kinerja perawat akan terjadi bila semua variabel diintervensi bersama-sama.371974)*(1-0)}=0.89% = β (selisih square yang berfungsi untuk menilai besaran keragaman atau variasi data penelitian terhadap fenomena yang sedang dikaji dan hasilnya sebagai berikut: Nilai Q-square (Q Square predictive relevance): Q2 = 1 – (1-R12)(1-R22)(1-R32)(1-R52) =1– {(1-0. 058ξ 1 + 0 . Dengan diketahuinya besarnya nilai variabel lain yang mempengaruhi variabel kinerja perawat selain variabel pada model.71% dipengaruhi variabel lain. Sementara itu secara sendiri variabel kemampuan memberikan kontribusi pengaruh terbesar pada kinerja perawat. Besarnya galat variabel kinerja perawat (R12) sebesar 0. sejarah kesehatan keluarga dan kemampuan terhadap variabel kinerja perawat adalah 83. Selanjutnya dihitung nilai Q21η 1 + γ 21ξ 1 + γ 32ξ 3 + ζ 2 η 20.058 -0.0 Indirect % 0.00 0. kemampuan dan perilaku gaya hidup. Volum: 61.00 0.914ξ 3 + ζ 2 Kinerja Perawat = 0.60 0.36 0. Di RSUD.29% kepada variabel kinerja perawat dan 15.834329)*(1-0)*(1-0.41% Hal tersebut menunjukkan model hasil analisis dapat menjelaskan 89.71 Jumlah Total Pengaruh variabel lain di luar model yang dapat mempengaruhi variabel kinerja memiliki nilai persentase sebesar Gambar 1 menunjukkan bahwa semua hubungan antarvariabel pada model memiliki hubungan yang signifikan pada nilai T >1. Selanjutnya kekuatan variabel eksogen dan atau variabel endogen yang bersifat independen berkontribusi dalam membangun variabel endogen yang bersifat dependen pada model teoretis ini yaitu dengan melihat nilai R square pada variabel endogen tersebut (Tabel 2). Diskusi Penelitian ini membuktikan bahwa model teoretis yang ditawarkan secara statistik dapat diterapkan pada populasi ini.0 0.895954 atau 89.40%). Perbandingan terbalik hanya terjadi antara variabel sejarah kesehatan keluarga dengan kinerja perawat.59% keragaman data dan mampu mengkaji fenomena yang dipakai pada penelitian.166 artinya 16.6% dipengaruhi variabel di luar model.4% dan 16.914 0. sejarah kesehatan keluarga dan perilaku dalam gaya hidup) memberikan pengaruh sebesar 84.00 Total % 83.053 Lingkungan Kehidupan – 0.89. Nomor: 10.28 0.29 15.Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Perawat dalam Menjalankan Kebijakan Keperawatan Tabel 3. maka dapat dibuat persamaan model matematik sebagai berikut: Model persamaan matematika tersebut menjelaskan pengaruh variabel prediktif langsung yaitu lingkungan kehidupan.427 2.59% Galat Model = 100% .058 Sejarah Kesehatan Keluarga + 0. Perhitungan persentase pengaruh antarvariabel terhadap variabel kinerja digambarkan pada Tabel 4.017 0 0. Selanjutnya diskusi difokuskan kepada hasil berupa pemberian arti pada angka statistik yang didapat sehingga memberikan makna pada pengambilan keputusan dan menjadi bahan pelajaran untuk rumah sakit sekelas.914 0.96 yang berarti peningkatan atau penurunan variabel prediktor terhadap variabel dependen sebesar 1 point akan meningkatkan atau menurunkan nilai rho dengan tingkat akurasi minimal 95%. sedangkan 10. Tabel 4 menunjukkan bahwa variabel prediksi (kemampuan.040 0 0. Persentase Pengaruh Antarvariabel Terhadap Variabel Kinerja Pada Model Teoretis Sumber Kemampuan Lingkungan Sejarah Perilaku Via Kinerja Kinerja Kinerja Lingkungan Kinerja Lingkungan Direct Rho 0.

Budiharto.5 Secara statistik pengaruh langsung sejarah kesehatan keluarga perawat berbanding terbalik dengan kinerjanya. lingkungan kehidupan dan terakhir perilaku gaya hidup.5%. Hal itu dapat diartikan 392 bahwa karena keadaan masa lalu yang kurang baik dan agar keadaan tersebut tidak terulang maka mereka perlu lebih waspada dalam menjaga kondisi kesehatannya. lingkungan kehidupan dan kemampuan. J Indon Med Assoc. Available from: http://evolve. Daftar Pustaka 1.18 Perilaku gaya hidup pribadi dan sejarah kesehatan keluarga yang dimanifestasikan dalam status kesehatan perawat tidak terlalu besar berkontribusi terhadap kinerja perawat karena nilainya kurang dari 0. Friendman D.15 Kemampuan dasar yang harus dimiliki dan terus diasah oleh perawat adalah memiliki keterampilan yang tinggi. Oleh karena itu bila manajemen ingin meningkatkan kinerja perawat di RSUD atau di RSU sekelas. trends and management. Selain itu perawat juga harus dapat mengembangkan kepekaan diri terhadap situasi yang dihadapi pasien (berempati). aturan yang lebih jelas dan melindungi perawat akan lebih meningkatkan kinerja. Woods D. dan tanggap dalam melayani pasien. 21 Sebelum penelitian dilakukan diketahui bahwa tingkat kinerja perawat di RSUD adalah biasa saja. Berdasarkan hasil penelitian maka kinerja perawat dapat ditingkatkan dengan terencana dan lebih fokus. Lavandero R. upaya untuk meningkatkan kemampuan perawat menjadi pilihan manajemen RSUD sebagai upaya meningkatkan kinerja perawat namun semua variabel yang ditawarkan pada model ini dapat digunakan untuk memperbaiki kinerja perawat.5 Walaupun lingkungan kehidupan hanya memberikan kontribusi 0. Contemporary nursing: issues. Upaya yang sungguh-sungguh dari manajemen untuk meningkatkan kinerja perawat sebagai modal dalam meningkatkan citra rumah sakit perlu dilengkapi dengan aturan atau kebijakan keperawatan yang berbasis kinerja. Oktober 2011 . Meskipun demikian karena kematangan perawat dalam bekerja dan telah menguasai sikap profesional. Cherry B.42 (6):918-38. maka rendahnya besaran pengaruh variabel ini terhadap variabel kinerja dapat diatasi.16 Stamina fisik seorang perawat juga perlu menjadi perhatian sebab keadaan fisik dan stamina yang prima menjadi dasar untuk bekerja dengan baik. Legget J. Dengan perkataan lain sikap profesionalisme perawat menutupi kelemahan fakor variabel ini. Jacob SR.19 Variabel sejarah kesehatan keluarga perawat merupakan landasan untuk menjaga lingkungan yang lebih baik dalam menghasilkan kinerja yang baik pula. [cited: 2009 April 12]. penelitian tentang variabel yang memiliki kontribusi langsung atau tidak langsung kepada kinerja perlu diperbanyak.17 Kondisi fisik perlu diperhatikan oleh manajemen dengan melaksanakan kegiatan olah raga bersama secara rutin atau membangun fasilitas olah raga seperti gym. Crit Care Nurse. 6. 3. Cole MA.29:93-102. dapat ditujukan pada indikator yang berhubungan dengan kemampuan yaitu tingkat kecepatan dalam mengambil tindakan. Volum: 61. Peningkatan kinerja perawat dan jaminan aturan yang melindungi perawat dalam jangka panjang akan memberikan kontribusi secara tidak langsung berupa penurunan angka kesakitan untuk tingkat kabupaten Tangerang. kemampuan perawat sebagai komponen terbesar harus diperhatikan oleh semua pihak untuk menghasilkan kinerja perawat yang baik. 17 Kemampuan perawat dan keadaan lingkungan kehidupan yang kondusif terutama ketersediaan tempat kerja atau suasana kerja yang menyenangkan. Jakarta: EGC. 5. 2010. Journal of Development Studies. Nomor: 10.29% dan terdapat variabel lain yang memberikan kontribusi sebesar 15. 2005. The impact of poor health on total factor productivity.2%. melalui upaya pelatihan dan pendidikan jangka panjang.elsevier. Berdasarkan uraian di atas disimpulkan bahwa variabel kinerja perawat dipengaruhi oleh banyak variabel antara lain variabel sejarah kesehatan keluarga. peningkatan kompetensi diri perawat dan dynamic strength. cakap. Sementara itu. 2008. berperilaku ramah dan cakap dalam hubungan interpersonal. Hart KA. 3rd ed. Green L. Philadelphia: Elsevier Mosby. 2006.proceed model of health program planning and evaluation: new features and updated citations in new 4th 2.187:63-7. 2009. Diperlukan uji kompetensi yang berkesinambungan sebagai upaya untuk menjaga tingkat kemampuan yang tinggi.71% kepada kinerja perawat. 4. variabel prediktor ini dapat dipertimbangkan untuk diintervensi. Critical care nurses’ work environments 2008: a followup report. et al. The economic benefits of supported employment for persons with mental illness. tetap penting untuk diperhatikan karena dengan peningkatan pengetahuan selalu diperlukan lingkungan yang lebih baik. Selanjutnya peningkatan kondisi fisik ini dilengkapi dengan perhatian manajemen kepada upaya membuka kesempatan untuk memberikan pendidikan bergelar atau mengikuti pelatihan materi keperawatan yang spesifik berupa pendidikan berkelanjutan dan mengikuti berbagai seminar tentang keperawatan dalam rangka peningkatan kemampuan perawat tersebut. J Mental Health Policy Econ. Pengantar ilmu perilaku kesehatan dan pendidikan kesehatan gigi. Dengan demikian. Neumayer E. Artinya. Dengan demikian perawat akan lebih berupaya memiliki status kesehatan yang prima sehingga dapat menghasilkan kinerja yang tinggi. Precede . Perhatian khusus.Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Perawat dalam Menjalankan Kebijakan Keperawatan oleh variabel sejarah kesehatan keluarga.com. Ulrich BT. perilaku gaya hidup. Clark RE. Studi lain menunjukkan variabel motivasi kerja dan kepemimpinan juga memiliki kontribusi yang signifikan terhadap kinerja. Peningkatan pengetahuan pada diri seseorang dapat mengubah perilaku seseorang dalam memandang lingkungan kehidupan.20 Manajemen rumah sakit masih belum cukup memperhatikan keempat variabel saja karena hasil penelitian menunjukkan pengaruh variabel secara bersama-sama hanya 84. memahami perintah atasan dan mampu berdiskusi.

Barnum BS. [cited: 2010 July 28]. 16. Jakarta: Salemba Empat. [cited: 2010 July 27]. Heath status and health indicators.co. A beginner’s guide to SEM. Mathis RL. Karlene M. 2009. 2003. Rumah Sakit Umum Tangerang. 2nd Ed. 17. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Stein-Parbury J. ability. The nurse as executive.18(4). Managing human resources. Goodman EA. Patient and person: interpersonal skills in nursing. Zammuto RF. Turner J. 7th ed.statcan.books. work motivation. New Jersey: Lawrence Erlbaum Assoc. 2001 March [cited: 2009 Jan 17]. Profil Rumah Sakit Umum Tangerang tahun 2010. Oktober 2011 393 . [about 27 p]. 211(3). Health status. Gifford DB. Lomax RG. 9.net Bohlander GW. Schumacker RE. Kivimäki MP. 12. Jackson JH. Tangerang: RS Tangerang. 2008. Philadelphia: Churchill Livingstone. and motivation influenced district hospital nurse performance. New Jersey: Prentice Hall Pearson Education Inc. 2005. Koskinen P. 15. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. Robbins SP. Gaithersburg: Aspen Publishers. 2007. New York: Nelson Thornes Publishers. 21. 2009. Hill KS. Human resources management. Available from: http://www. J Nursing Management. Neelam M. Modul kuliah K3 dasar. Volum: 61. 19. Kerfoot KM. The relationship between hospital unit culture and nurses’ quality of work life. Continuing professional development in nursing: a guide for practitioners and educators.gc. 2006. Available from: http:/ /www. 18. 11. 2009. 2004. 8. Voutilainen P. Job enrichment.lgreen. 20. and job satisfaction in hospital wards: testing the job characteristics model. Motivating nursing personnel. 4th ed. Inc. Med J Indones. 2010. 2004.Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Perawat dalam Menjalankan Kebijakan Keperawatan edition of health program planning “an educational and ecological approach”. S. Ghozali I. Hafizurrachman HM. MH 7. Nomor: 10. Program strata dua (S2) magister kesehatan masyarakat kelas e-learning. 1996.ca. Departemen K3. Dauvergne M. Nursing J India.283-9.95(4):83-4. Quinn FM. 13. 2008. 2007.247:281-4. Structural equation modelling: metode alternatif dengan partial least square (PLS). 10. Organizational behavior: human behavior at work. J Indon Med Assoc. Snell. 2005. 14. Pub.id.google. Available from: http://www. J Healthcare Management.310:87–91. Nasri SM.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->