P. 1
1032 Publikasi Pelumas(Epoxy).Finish-Adjat

1032 Publikasi Pelumas(Epoxy).Finish-Adjat

|Views: 114|Likes:
Published by Iriyana Irin

More info:

Published by: Iriyana Irin on Apr 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2014

pdf

text

original

LEMBARAN ABSTRAK

UDC (USDC) 630*86 Sudradjat, R., R. Ariatmi dan D. Setiawan Pengolahan minyak jarak pagar menjadi epoksi sebagai bahan baku minyak pelumas. J. Penelt.Has.Hut. .......... 2007, vol. .........., no. ............., hal. ............. Minyak jarak pagar diuji uji rendemennya, karakteristik sifat fisika kimianya dan dibuat epoksi dengan reaksi epoksidasi. Variabel penelitian yang digunakan adalah waktu reaksi dan rasio konsentrasi hidrogen peroksida dengan asam asetat. Hasil penelitian menunjukkan kondisi terbaik dicapai pada 3 jam operasi dengan suhu 600C dan perbandingan konsentrasi hidrogen peroksida dengan asam asetat 1 : 0,07 mol, yaitu dengan bilangan oksiran yang dihasilkan sebesar 4,26. Perlu peningkatan kualitas minyak jarak untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Kata kunci : Minyak pelumas dasar, minyak jarak pagar, oleo-kimia, bilangan oksiran

ABSTRACT
UDC (USDC) 630*86 Sudradjat, R.., R. Ariatmi and D. Setiawan Processing of jatropha curcas oil for epoxy as raw material of lubricant base oil. J. Penelt.Has.Hut. .......... 2007, vol. ........., no. ............., pg. ............. Yield of jatropha oil was tested, including its physical and chemical characteristics. The oil was then made for epoxy through epoxydation reaction. Experimental variables examined were reaction times and ratios of hydrogen peroxyde versus acetic acid. The best result was obtained at 3 hours reaction, at 600C and the ratio of hydrogen peroxyde vs acetic acid of 1 : 0.07 mol, which giving of 4.26 oxyrane number. It is necessary to further improve jatropha oil as raw material for epoxy production. Key words : Lubricant base oil, jatropha oil, oleo-chemical, oxyrane number

PENGOLAHAN MINYAK JARAK PAGAR MENJADI EPOKSI SEBAGAI BAHAN BAKU MINYAK PELUMAS
(Processing of Jatropha curcas L. Oil for Epoxy as Raw Material of Lubricant Base Oil) Oleh/By : R. Sudradjat, R. Ariatmi & D. Setiawan

ABSTRACT Oil content of Jatropha curcas is considerably high, but it also contains toxin that make unsuitable for edible oil. Jatropha oil is composed by unsaturated fatty acid that make this oil easily to become rancid or unsuitable as raw material for biodiesel. Hence, it is necessary to find more appropriate uses of the oil with such characteristics. One of these alternatives is the utilization of jatropha oil for making otomotive lubricant base oil. So far lubricant base oil was mostly made from fossil oil. The aim of this research is to examine characteristics of jatropha oil in relevance with lubricant base oil properties, and to determine optimum condition in making epoxy as an intermediate product. Methodology used are as follows: 1). Oil extraction for determining the yield of jatropha oil originated from Kebumen, NTB, and Lampung; 2). Characteristics of jatropha oil comprises of : viscosity index, flash point, pour point, acid number, saponoification number and iod numbe ; 3). Epoxydation reaction using variable : a). Temperature 700C; b). Time: 0; 0.5; 1.0; 1.5; 2.0; 2.5; 3.0; 3.5; 4.0; 4.5; 5.0 and 5.5 hours; c). H2SO4 catalyst concentration of 1% (v/v). Ratio of hydrogen peroxyde vs acetic acid are 1 : 0.07 ; 1 : 0.15 ; 1 : 0.22 and 1 : 0.30. Parameters to be observed is the oxyrane number. The results are as follow : 1. Physical and chemical properties of jatropha oil could met with the required properties for lubricant base oil except saponification number and pour point. 2. FTIR and GC analyses showed that jatropha oil needs improvement in some physical and chemical properties such as interesterification with other good bio-oil, blending with other sinthetic ester, decreasing of unsaturated fatty acid. 3. Variation of hydrogen peroxide and acetic acid ratios significantly influenced the oxyrane number of the produced epoxy. 4. The best process condition achieved at 3 hours reaction time, 600C and ratio hydrogen to acetic acid concentration of 1 : 0.07 mol which giving 4.26 oxyrane number. 5. Completion of this research is necessary in convertion of epoxy from jatropha oil into lubricant base oil (polyol). Key words : Lubricant base oil, jatropha oil, oleo-chemicals, oxyrane number

1

Konsentrasi katalis H2SO4 1% (v/v). 3).ABSTRAK Kandungan minyak dalam jarak pagar (Jatropha curcas L. 3. 1 : 0.0. Perbedaan penambahan konsentrasi asam asetat dengan hidrogen peroksida berpengaruh terhadap bilangan oksiran pada senyawa epoksi yang dihasilkan. bilangan oksiran 2 .5. bilangan asam. 1.15 .30. oleo-kimia. Perbandingan konsentrasi hidrogen peroksida dengan asam asetat adalah 1 : 0. 2.22 dan 1 : 0.07 mol dengan besarnya bilangan oksiran 4. pour point. Penelitian ini meliputi sifat fisika dan kimia yaitu: indeks viskositas.26. Ekstraksi minyak jarak pagar untuk mengetahui rendemen minyak jarak pagar asal Kebumen. 1.5 jam.0.0. 1 : 0. 2).0. Kata kunci : Minyak pelumas dasar. Beberapa contoh modifikasi yang dapat dilakukan adalah interesterifikasi dengan minyak nabati lain. 4. tetapi di dalamnya terkandung racun.5. Suhu: 700C dan b). 3. Metode penelitian yang dilakukan adalah: 1). Salah satu alternatif produk yang akan diteliti adalah untuk pembuatan epoksi yaitu bahan baku untuk pembuatan pelumas dasar (pelumas mesin otomotif). Penelitian karakteristik minyak jarak pagar. blending dengan ester sintestis lain.) cukup tinggi. Masih diperlukan penelitian lanjutan khususnya mengenai teknologi pengolahan epoksi menjadi minyak pelumas (poliol). Waktu : 0. sehingga tidak dapat digunakan sebagai minyak makan. Oleh karena itu. memenuhi persyaratan sebagai pelumas dasar kecuali pada persyaratan bilangan penyabunan dan pour point. 3. 2. Hasil analisa pengujian FTIR dan GC menunjukkan perbaikan sifat fisik dan kimia minyak jarak pagar. 4.5. perlu dilakukan penelitian untuk mencari alternatif penggunaan lain dari minyak tersebut yang lebih sesuai dengan karakteristik sifatnya.07 . 5. 0.0 dan 5. Selama ini minyak pelumas dasar banyak dibuat menggunakan minyak bumi. 4. Hasil penelitian menunjukkan : 1. bilangan penyabunan dan bilangan iod. NTB dan Lampung. 5.5. mengurangi ketidakjenuhan sehingga minyak menjadi lebih stabil. Di dalam minyak jarak pagar terkandung ikatan rangkap yang mengakibatkan minyak menjadi tidak stabil sehingga kurang sesuai untuk dibuat biodiesel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik minyak jarak pagar dihubungkan dengan penggunaannya sebagai minyak pelumas serta untuk mendapatkan kondisi optimum pada proses pembuatan minyak epoksi sebagai produk antara pada pembuatan minyak pelumas dari minyak jarak pagar. flash point.5. minyak jarak pagar. Kondisi terbaik dicapai pada 3 jam operasi dengan suhu 600C dan perbandingan konsentrasi hidrogen peroksida dengan asam asetat 1 : 0. Parameter yang diteliti yaitu bilangan oksiran. 2. Sifat fisik dan kimia minyak jarak pagar. Reaksi epoksidasi minyak jarak yaitu dengan variabel kondisi proses: a).

karena tingginya kandungan minyak dan adanya ikatan rantai karbon rangkap yang diperlukan pada proses epoksidasi untuk menghasilkan epoksi minyak jarak pagar yang bersifat reaktif sebagai bahan baku untuk pembuatan minyak pelumas (poliolester). serta tahan terhadap musim panas (Guibitz et. Sebelum dibuat minyak pelumas nabati terlebih dahulu minyak jarak pagar diubah menjadi epoksi.000/liter.35.90% minyak pelumas dasar yang dicampur dengan bahan aditif untuk memodifikasi sifat-sifat alamiahnya (yaitu stabilitas untuk oksidasi. minyak nabati memberikan kinerja yang lebih baik selain juga bahan bakunya terbarukan. Minyak pelumas dasar yang paling banyak digunakan adalah minyak mineral yaitu campuran dari beberapa minyak bumi. 3 . Saat ini kebutuhan akan minyak bumi meningkat. suhu. 2004). selain itu dapat digunakan juga minyak pelumas dasar jenis minyak nabati. sedangkan minyak pelumas berkisar antara Rp 15. Harga biodisel di pasar sekitar Rp 4. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan minyak pelumas dasar dari bahan nabati yaitu minyak jarak pagar (Jatropha curcas L. memperpanjang usia pakai serta fungsi lainnya membantu transfer panas dan mencegah korosi. Keadaan ini memacu penggunaan minyak pelumas nabati sebagai bahan dasar. sifat alir. Formulasi pelumas yang banyak digunakan adalah terdiri dari 70 . viskositas dan indeks viskositas dan korosi). Keunggulan minyak pelumas nabati dari minyak mineral adalah stabilitas termal. 1999). Pembuatan minyak jarak untuk minyak pelumas memberikan nilai tambah yang lebih tinggi daripada pembuatan untuk biodisel. Oleh karena itu.000/liter.al.000 .). Selain itu. disamping itu pelumas juga harus mengandung bahan-bahan tertentu yang dapat mendukung tugasnya (Nugroho. serta mendapatkan kondisi optimum pada proses pembuatan epoksi dari minyak jarak pagar. hidrolisis. Alasan pemilihan minyak jarak pagar adalah karena dapat tumbuh dengan cepat. Pelumas dalam pemakaiannya lebih butuh perhatian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik minyak jarak pagar sebaagai bahan pelumas. Setiap mesin atau bagian kendaran memerlukan pelumas dengan spesifikasi tertentu. PENDAHULUAN Fungsi utama dari minyak pelumas otomotif (oli) adalah mengurangi gesekan dan keausan antara dua bidang atau permukaan yang bersinggungan. 2005). atau minyak sintetis yang berasal dari minyak bumi atau minyak nabati (Askew. sedangkan persediaannya menipis.I. yaitu harus diganti secara berkala. indeks viskositas dan stabilitas penguapan.

pipet. Nusa Tenggara Barat dan Lampung.). Jakarta yang meliputi persiapan bahan baku dan pengujian/analisis komponen kimia fisik minyak dan pelumas dasar dari jarak pagar. 1. alat distilasi vakum dan lain-lain. proses pengambilan minyak jarak pagar.II. gelas ukur. etanol. BAHAN DAN METODE A. etilen glikol. Diagram alir penelitian dapat dilihat pada Gambar 1. metanol. larutan hidrogen bromida. Alat-alat yang digunakan untuk memperoleh minyak jarak terdiri dari oven dan kempa hidrolik. sedangkan untuk proses epoksidasi dan pembentukan poliol sampai dengan pembentukan poliolester terdiri dari labu leher tiga yang dilengkapi dengan pengaduk. bilangan asam yang rendah dan kadar air yang rendah. dikupas. pengambil cuplikan dan pemanas (hot plate stirrer). proses pembentukan poliolester. 4 . termometer. labu ukur. sedangkan bahan kimia yang digunakan adalah asam asetat. Universitas Jayabaya. uji poliol. Dalam penelitian ini diperiksa rendemen minyak dari biji jarak pagar asal Kebumen. kadar kotoran yang rendah. flourboric acid (HBF). Lokasi Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan Energi. erlenmeyer. air suling dan lain-lain. Bahan dan Alat Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah biji jarak pagar (Jatropha curcas L. Bogor dan Laboratorium Teknologi Industri. proses reaksi epoksidasi minyak jarak. bilangan asam kadar air dan rendemen. alat titrasi. kemudian dikeringkan dalam oven selama 2 jam. karakterisisasi minyak jarak pagar. uji poliolester dan perhitungan kelayakan pada proses produksi poliolester minyak jarak pagar. C. B. natrium hidrogen karbonat. Untuk itu biji jarak yang masih ada tempurungnya terlebih dahulu dikukus selama 2 jam. uji epoksi. asam sulfat. hidrogen peroksida. Ekstraksi minyak jarak pagar Minyak jarak diekstrak dari bijinya dengan cara terbaik yaitu untuk memperoleh kualitas minyak jarak yang jernih. Dilakukan analisis terhadap minyak jarak pagar yaitu bilangan iod. gelas piala. proses reaksi pembentukan poliol. daging bijinya digiling sampai halus dan secepatnya dipress menggunakan alat press hidrolik manual. Pusat Litbang Hasil Hutan. Prosedur Kerja Metode penelitian meliputi beberapa tahapan kegiatan yaitu perlakuan biji jarak.

Uji epoksi (Epoxy analyses) Pembuatan poliol (Polyol making) ---------.Analisis minyak (Oil analyses) Epoksidasi minyak (Oil epoxydation) --------. Diagram alir pengolahan minyak jarak pagar menjadi minyak pelumas (Dalam penelitian ini dibatasi sampai tahap pembuatan epoksi) Figure 1.Uji poliol (Polyol analyses) Esterifikasi poliol (Polyol esterification) -------.Uji poliester (Polyolester analyses) Analisis kinerja poliol (pelumas) untuk otomotif (Performance analyses of polyol) Gambar 1. Flow diagram of jatropha oil processing to lubricant oil (This experiment is limitted to epoxy production) 5 .Biji jarak pagar (Jatropha seed) Ekstraksi minyak (Oil extraction) ---------.

1 : 0. 0.0 . 6 . 4.30. 3. Penelitian karakteristik minyak jarak pagar Penelitian karakteristik minyak jarak pagar dilakukan terhadap sifat fisika dan kimia. Parameter yang diteliti adalah bilangan oksiran. Epoksi minyak yang dihasilkan dianalisa bilangan oksiran. 3. asam asetat 99% dan katalis asam sulfat dimasukan dalam labu leher tiga. Untuk mengeluarkan sisa asam.0 . pour point dan densitas.5 .5 . campuran tersebut dimasukkan ke dalam labu pemisah dan dikocok.5 . bilangan asam dan bilangan iod. Pengadukan dilakukan agar minyak terdispersi. 2. 3. Larutan dipanaskan selama 2 jam sambil diaduk dengan pengaduk magnet.0 . (CH3COOH) sebagai berikut : 1 : 0.2 ml larutan jenuh natrium hidrogen karbonat (NaHCO3). bilangan penyabunan.0 . Penelitian sifat fisika meliputi: indeks viskositas. bilangan iod.2. Penelitian sifat kimiameliputi bilangan asam. serta hidrogen peroksida (H2O2) 50% dimasukkan beberapa tetes. katalis divariasikan sesuai metoda penelitian. 1. Perbandingan konsentrasi hidrogen peroksida (H2O2) dengan asam asetat. Reaksi epoksidasi minyak jarak pagar Mula-mula minyak jarak pagar 100 ml. Konsentrasi katalis H2SO4 1% (v/v). 4. flash point. Lapisan air pada bagian bawah yang terbentuk kemudian dikeluarkan. Produk berupa minyak jarak terepoksidasi sebanyak 15 ml diambil pada selang waktu 30 menit untuk dianalisa bilangan oksirannya dan dinetralisasi untuk menghilangkan sisa asam serta mendinginkannya menggunakan 7. 1.5 jam. 2. Kondisi proses epoksidasi adalah sebagai berikut : • • • • • Suhu : 700C Waktu : 0 .5 .07 .22 dan 1 : 0. 1 : 0. 5.15 .5 .0 dan 5. kemudian ditambahkan beberapa ml air suling sampai bebas dari asam.

iklim.III. % Bilangan asam (Acid number) Kadar air (Moisture) % mg KOH/g 5. meskipun diketahui bahwa kandungan minyak dalam biji jarak adalah sekitar 40 .30 28. NTB and Lampung Asal daerah biji jarak (Seed originated) No. Rendemen dengan tempurung (Yield with shell). Hidrolisis minyak akan membentuk asam lemak bebas sehingga bilangan asam menjadi tinggi.97 . Rendemen Minyak Jarak Pagar Data-data rendemen masing-masing minyak dari tiga daerah tersebut di atas dapat dilihat pada Tabel 1.20 1. memberikan hasil bilangan asam yang berbeda.66 dan 10. Lampung 18. Pada Tabel 2 terlihat 7 . Perlakuan awal terhadap biji sebelum dipres juga akan mempengaruhi kandungan air dalam bahan.83 20. Sifat Fisik Minyak Jarak Pagar Pada pengolahan minyak mineral dapat dihasilkan beberapa pelumas dasar dengan tingkat viskositas yang berbeda antara satu dengan lainnya. 2. cara ekstraksi minyak. musim.02 41. Perlakuan terhadap biji dengan dikukus dan dioven sebelum dipres. Demikian pula kandungan air yang tinggi dari biji akan mengakibatkan tingginya bilangan asam karena memperbesar kemungkinan terjadinya proses hidrolisis minyak. Tabel 1. faktor genetik.03 B. Pengepresan dengan pemanasan akan menghasilkan rendemen minyak tinggi. Rendemen minyak dari tiap daerah (Tabel 1) menunjukkan hasil yang berbeda. Yield and acis number of jatropha oil from seed originated from Kebumen.66 3.0 0. Hal yang menyebabkan adanya perbedaan nilai rendemen adalah tempat tumbuh. Kebumen Nusa Tenggara Barat (NTB) 16.45% (Sudradjat. tetapi bilangan asam tinggi.30 42. % Rendemen tanpa tempurung (Yield without shell).61 16 1. HASIL DAN PEMBAHASAN A.97 1. 2006). waktu panen. NTB dan Lampung Table 1. 12. Beberapa perlakuan dan kondisi biji sebelum dipres mempengaruhi rendemen dan kualitas minyak.28 3. Rendemen dan bilangan asam minyak jarak pagar dari biji asal Kebumen.

6 8.5 – 5.1 – 12.7 7.100 76.1 – 12. Tabel 2.9 36.6 8.7 50 . Dari satu jenis minyak mineral dapat diperoleh beberapa jenis pelumas dasar yang berbedabeda tingkat viskositasnya.1 8.6 – 34.9 39.3 103 100 100 99 96 125 . Comparison between the physical properties of lubricant base oil from some bio and mineral oils Jenis minyak (Kind of oils) Viskositas (Viscosity) Viskositas (Viscosity) 40oC cSt Minyak Nabati (Bio oil) : Minyak jarak pagar (Jatrophacurcas oil) 100oC cSt Indeks Viskositas (Viscosity index) Titik tuang (Pour point) o C Titik nyala (Flash point) o C 34.4 27.95 20. Sifat minyak jarak pagar sebagai pelumas dasar diharapkan sama atau mendekati sifat-sifat dasar minyak mineral.7 39.34 6. Perbandingan sifat fisik pelumas dasar beberapa minyak nabati dan mineral Table 2.17 295.140 214 0 15 15 15 15 15 -50 - 204 210 230 230 267 267 285 Sumber (Source) : La Puppung (1986) 8 .54 2 .7 4.6 11.2 246 188 -9 18 325 - Minyak kelapa sawit (Palm oil) Minyak Mineral (Mineral oil) : HVI-60 HVI-95 HVI-160S HVI-160B HVI-650 HVI-350 PAO (Polyalphaolefin) POE (Polyolester) 2 .100 11.9 – 7.2 217 87 175 206 211 0 -10 -12 -18 270 307 252 346 Minyak jarak (Castor oil) Minyak kelapa (Coco oil) Minyak bunga matahari (Sunflower oil) Minyak lobak (Rapeseed oil) Minyak kedelai (Soybean oil) 28.0 6.2 11.2 31.2 7.beberapa jenis pelumas dasar baik dari minyak nabati maupun minyak mineral.

Jika dibandingkan dengan indeks viskositas minimum beberapa pelumas dengan angka viskositas SAE rangkap seperti yang terdapat pada Tabel 3. maka indeks viskositas minyak jarak pagar setara dengan rapeseed oil dan di bawah minyak kedelai. maka indeks viskositas minyak jarak pagar lebih tinggi dari pada pelumas dengan SAE rangkap tersebut. bila temperatur naik viskostas akan turun. Tabel 3. (3) indeks viskositas tinggi atau High Viscosty Index (HVI) adalah pelumas yang memiliki indeks viskositas lebih besar daripada 80. Nilai indeks viskositas pelumas terbagi menjadi 3 golongan : (1) indeks viskositas rendah atau Low Viscosity Index (LVI) adalah pelumas yang memiliki indeks viskositas lebih rendah dari 40. Hasil pengujian indeks viskositas minyak jarak pagar sebesar 217. Indeks viskositas minimum beberapa pelumas dengan angka viskositas SAE Table 3. Apabila indeks viskositas minyak jarak pagar dibandingkan dengan pelumas dasar sintesis. Indeks viskositas Pelumas dasar minyak nabati termasuk minyak jarak pagar yang mempunyai indeks viskositas yang sangat tinggi dibandingkan dengan minyak mineral. Indeks viskositas merupakan pengukuran perubahan viskositas relatif terhadap perubahan temperatur antara suhu 40oC dan 100oC. artinya semakin kecil perubahan viskositas karena perubahan temperatur. menunjukkan bahwa minyak jarak pagar termasuk minyak yang mempunyai indeks viskositas tinggi (HVI). Minimum viscosity index of some lubricant oils and its SAE viscosity SAE viskositas rangkap (Double SAE viscosity) 5W-20 5W-30 5W-50 10W-30 10W-40 10W-50 20W-40 20W-50 Indeks viskositas minimum (Minimum viscosity index) 127 180 230 145 169 190 113 133 Sumber (Source) : La Puppung (1986) 9 . Pelumas yang baik adalah pelumas yang memiliki indeks viskositas tinggi. (2) indeks viskositas sedang atau Medium Viscosity Index (MVI) adalah pelumas yang memiliki indeks viskositas antara 40 sampai dengan 80. Jika indeks viskositas minyak jarak pagar dibandingkan dengan minyak nabati lain. dari Tabel 2 tampak bahwa indeks viskositas minyak jarak pagar lebih tinggi dari PAO dan hampir sama dengan POE.1. Zat cair biasanya akan mengalami perubahan viskositas bila terjadi perubahan temperatur.

maka berdasarkan Tabel 2.6 9. Tabel 5.88 4.14 6.8 3. Berdasarkan Tabel 5 tentang klasifikasi pelumas industri menurut ISO (ASTM 2422).5 16.95 cSt terletak antara HVI-95 dan HVI 160S.Tabel 4. maka tingkat visikositas minyak jarak pagar setara dengan ISO VG 32.98 2.3 <12.48 11. Klasifikasi pelumas industri menurut ISO (ASTM 2422) Table 5.00 13. Tingkat viskositas pelumas motor (SAE J 300.5 35 35 35 45 60 - Minimum Maksimum 3.6 7.0 16. viskositas minyak jarak pagar pada 100 oC sebesar 7.8 2.5 19.3 5.3 < 9.2 35.52 50.6 6.2 4. termasuk pada spesifikasi viskositas minyak mineral yang saat ini digunakan sebagai formulasi pelumas otomotif maupun industri.1 5. Jika dibandingkan dengan tingkat visikositas pelumas motor seperti pada Tabel 4.3 12. Maret 1982) Table 4. cSt) mm2/s 2.8 4.12 9. Gambar 2 menunjukkan viskositas dan indeks viskositas beberapa jenis pelumas dasar.2 3.6 5. March 1982) Angka viskositas SAE (SAE viscosity number) 0W 5W 10 W 15 W 20 W 25 W 20 30 40 50 CCS viskositas maksimum (Maximum CCS viscosity) o Suhu tekanan maksimum (Maximum borderline pumping temperature) o C -35 -30 -25 -20 -15 -10 - Viskositas pada 100oC (Viscosity at 1000C) cSt C Vd (Poise) 32.6 9.42 3. Nilai visikositas minyak jarak pagar ini.9 -30 -25 -20 -15 -10 -5 - Sumber (Source) : La Puppung (1986) Jika dibandingkan dengan pelumas dasar ex-Arabian Light Crude.2 10 . Classification of lubricant for industry according to ISO (ASTM 2422) Identifikasi kualifikasi sistem viskositas (Viscosity system grade identification) ISO VG 2 ISO VG 3 ISO VG 5 ISO VG 7 ISO VG 10 ISO VG 15 ISO VG 22 ISO VG 32 Titik tengah viskositas pada 40o C (Mid-point viscosity at 40oC.8 28. Viscosity rate of motor lubricant (SAE J 300.5 24. maka visikositas minyak jarak pagar setingkat SAE 20.3 <21.8 10 15 22 32 Limit kinematik viskositas pada 40oC (Kinematic viscosity limits at 40oC cSt) mm2/s 1.5 <16.

2 90. dan CurO = Minyak jarak pagar (Jatropha curcas oil) Gambar 2.ISO VG 46 ISO VG 68 ISO VG 100 ISO VG 150 ISO VG 220 ISO VG 320 ISO VG 460 ISO VG 680 ISO VG 1000 ISO VG 1500 46 68 100 150 220 320 460 680 1000 1500 41. 11 .8 110 165 242 352 506 748 1100 1650 Sumber (Source) : La Puppung (1986) Keterangan (Remarks) : PAO = Polyalphaolefin . CasO = Minyak jarak (Castor oil) . POE = Polyolester .4 61. 1986) Figure 2. Viscosity and viscosity index of lubricant base oil (La Puppung. Viskositas dan indeks viskositas pelumas dasar (La Puppung. Flash point Flash point atau titik nyala digunakan untuk mengetahui saat awal pelumas akan terbakar atau timbul nyala api saat berada dalam mesin. HVI = Indeks viskositas tinggi (High viscosity index) .6 74.0 135 198 288 414 612 900 1350 50. 1986) 2. Pada Tabel 2 menunjukkan bahwa flash point minyak nabati lebih tinggi dibandingkan dengan minyak mineral dan flash point minyak jarak pagar adalah sebesar 270oC. data ini menunjukkan bahwa flash point minyak jarak pagar lebih besar dibandingkan dengan minyak mineral yang biasanya digunakan untuk formulasi pelumas (minimum 204oC) dan hampir sama dengan POE (pelumas dasar sintetis).

Pour point Pour point atau titik tuang menunjukkan temperatur terendah di mana pelumas masih dapat mengallir. POE = Polyolester . gravity digunakan untuk membedakan antara parafinik. 1986) Figure 3. HVI = Indeks viskositas tinggi (High viscosity index) . Gambar 3 menunjukkan perbedaan flash point dan pour point beberapa jenis pelumas dasar yaitu pelumas dasar sintetis (PAO). Titik tuang minyak jarak pagar lebih rendah dibandingkan dengan pelumas dasar mineral. Kerapatan Densitas merupakan berat persatuan volume. The difference between flash point and pour point of lubricant base oil (La Puppung. POE dan minyak mineral terhadap minyak jarak pagar. Sebagian besar minyak nabati mempunyai titik tuang dibawah 0oC sedangkan minyak jarak pagar 0oC. Hubungan antara API gravity dan berat jenis adalah berbanding terbalik. Jika titik tuang minyak jarak pagar dibandingkan dengan minyak nabati lain. dan CurO = Minyak jarak pagar (Jatropha curcas oil) Gambar 3. Perbedaan antara flash point dan pour point pelumas dasar (La Puppung. khhususnya pada saat mesin akan dihidupkan. maka titik tuang minyak jarak pagar berada diatasnya. dan struktur aromatik.3. berat jenis dan API gravity diberikan oleh American Petroleum Institute dan ASTM. Jika dibandingkan dengan pelumas dasar sintesis (PAO). Keterangan (Remarks) : PAO = Polyalphaolefin . naftenik. 1986) 4. Pada pelumas dasar petroleum dan hidrokarbon. nilainya lebih tinggi. Tabel konversi yang meliputi densitas. nilai API gravity yang tinggi akan memberikan berat jenis yang rendah. API gravity minyak binatang atau tumbuhan 12 .

Derajat ketidakjenuhan rata-rata dari asam lemak atau campuran asam lemak dinyatakan dengan bilangan iod. HVI = Indeks viskositas tinggi (High viscosity index) . yang berasal dari tumbuhan. jumlah dan letak ikatan rangkap antara atom karbon. Beberapa keuntungan minyak nabati apabila digunakan sebagai pelumas dasar adalah : non-toxic. Kerapatan beberapa pelumas dasar (La Puppung.mempunyai nilai lebih rendah dan nilai berat jenis lebih tinggi dibandingkan dengan petroleum. 1986) Figure 4. terbarukan. Pada umumnya asam lemak yang terkandung di alam memiliki jumlah atom C genap dan masing-masing asam lemak dibedakan antara satu dan lainnya berdasarkan jumlah atom karbon dalam rantai. Asam lemak yang membentuk trigliserida ada 2 macam yaitu asam lemak jenuh (saturated) yang itdak mengandung ikatan rangkap dan asam lemak tidak jenuh (unsatutated) yang mengandung ikatan rangkap satu (monounsaturated) atau lebih dari satu ikatan rangkap (polyunsaturated). Pada Gambar 4 terlihat bahwa kerapatan minyak tumbuhan lebih tinggi dibandingkan dengan petroleum. dan CurO = Minyak jarak pagar (Jatropha curcas oil) Gambar 4. Sifat Kimia Minyak Jarak Pagar Minyak nabati merupakan minyak yang larut dalam air. Jenis asam lemak dalam trigliserida sangat mempengaruhi sifatsifat trigliserida yang dibentuknya. Trigliserida merupakan ester dari satu molekul gliserol dengan tiga molekul asam lemak. Kandungan utama minyak nabati adalah ester gliserol dari asam lemak yang disebut trigliserida. Density of some lubricant base oils (La Puppung. sifat lubrisitasnya baik dan indeks 13 . Asam lemak tidak jenuh kurang stabil bila dibandingkan dengan asam lemak jenuh. Keterangan (Remarks) : PAO = Polyalphaolefin . biodegradable. 1986) C. POE = Polyolester .

90 8. 2. Minyak nabati dengan bilangan iod antara 50 . Pada Gambar 5 terlihat bahwa bilangan asam minyak jarak pagar lebih besar dibandingkan dengan minyak jarak castor. C18H34O2 (C18:1) = 47. Kandungan asam lemak tidak jenuh yang ada dalam beberapa minyak nabati Table 6. Tabel 6. Minyak jarak pagar dapat digunakan sebagai pelumas dasar. 5. tetapi karena adanya ikatan rangkap (ketidakjenuhan) maka menjadi tidak stabil. 1. Produk-produk oksidasi yang terbentuk akan mengentalkan pelumas. sehingga akan mengakibatkan karat dan keausan pada logam yang akhirnya akan menimbulkan endapan (deposit). Beberapa kelemahan minyak nabati adalah ketidakstabilannya terhadap oksidasi. Dari Tabel 2 dan Tabel 6 terlihat bahwa minyak jarak pagar dengan bilangan iod antara 97 – 108.5 pour pointnya rendah.8 107 .viskositas tinggi. 4. Asam lemak dalam minyak nabati bersifat polar dan cenderung lebih efektif melekat pada permukaan logam dibandingkan dengan minyak mineral.137 Minyak jarak (Castor oil) Minyak kelapa (Coco oil) Minyak kelapa sawit (Palm oil) Minyak kedelai (Soybean oil) Sumber (Source) : La Puppung (1986) Pada Gambar 5 terlihat perbandingan bilangan asam beberapa pelumas dasar (minyak nabati.5% Asam oleat. Pada Tabel 6 terlihat kandungan asam lemak tidak jenuh beberapa jenis minyak nabati dibandingkan dengan minyak jarak pagar. C18H34O3 (C18:1) = 89. 3. Minyak nabati (Vegetable oil) Minyak jarak pagar (Jatropha curcas oil) Asam lemak tidak jenuh (Unsaturated fatty acid) Asam oleat.0% Asam oleat. dan minyak nabati dengan bilangan iod di atas 130 cenderung tidak stabil karena mudah teroksidasi. hal ini 14 .5 81 .130 bisa digunakan sebagai fluida hidraulik. Pengaruh jelek terhadap pelumas yang mengalami oksidasi adalah naiknya viskositas dan menyebabkan bilangan asam naik. serta dihitung berdasarkan berat molekul dari asam lemak atau campuran asam lemak. C18H34O2 (C18:1) = 38% Asam linoleat & Asam linolenat. minyak mineral dan pelumas dasar sintesis). sifat pada temperatur rendahnya jelek. Bilangan asam adalah ukuran dari jumlah asam lemak bebas. Fluida dengan bilangan iod dibawah 50 mempunyai pour point yang tinggi karena kekurangan ketidakjenuhan. Compositions and contents of some vegetable unsaturated oil No.929% Asam risionelat. C18H32O2 (C18:2) & C18H30O2 (C18:3) = 75% Bilangan iod (Iod number) 90 – 108. Oksidasi terjadi karena molekul-molekul pelumas bereaksi secara kimiawi dengan oksigen. C12H24O2 (C12:0) = 48.5 83.

Semakin tinggi bilangan asam semakin besar kemungkinan terjadinya korosi. 1986) Figure 5.9 %) dengan satu ikatan rangkap. yaitu ester yang dibuat dari minyak nabati atau hewani dengan mono-. Oleokimia ini bersifat lebih stabil dibandingkan dengan natural ester. terlihat pada Tabel 5. Acid number of some lubricant base oils (La Puppung. 15 . 1986) Ikatan rangkap pada minyak nabati ditunjukkan dari bilangan iod-nya. Keterangan (Remarks) : POE = Polyolester . CaO = Minyak jarak (Castor oil) . HVI = Indeks viskositas tinggi (High viscosity index) . Pita serapan pada panjang gelombang 1720 cm-1 menunjukkan bahwa adanya gugus karbonil > C=O dari esternya. hal ini terlihat dari nilai bilangan asam minyak jarak pagar yang lebih besar dibandingkan dengan POE. Bilangan asam beberapa pelumas dasar (La Puppung. Dari uji gas Chromatography terhadap minyak jarak pagar. yang menunjukkan adanya vibrasi ulur C-H dari gugus –CH2 dan –CH3 serta 1 pita serapan kecil pada bilangan gelombang 3050 cm-1 untuk gugus tidak jenuh alkena –CH=CH-. dan CurO = Minyak jarak pagar (Jatropha curcas oil) Gambar 5. seperti terdapat pada Gambar 7 dan Tabel 6 terlihat bahwa kandungan tertinggi dalam minyak jarak pagar adalah asam oleat (47. di. Jika dibandingkan dengan pelumas ester sintesis polyester (POE). Pada spektrum tersebut terlihat adanya pita serapan yang lebar di daerah bilangan gelombang = 2800-2980 cm-1.disebabkan karena kenaikan bilangan asam yang terjadi karena proses hidrolisa atau oksidasi pada minyak terutama terhadap ikatan rangkapnya.atau poli-alkohol dari petroleum. Pemeriksaan FTIR minyak jarak pagar memberikan spektrum yang dapat dilihat pada Gambar 6.

gr/100 gr Berat jenis. kecuali pada persyaratan bilangan penyabunan dan pour point.91 – 0. minyak dengan berat molekul tinggi akan mempunyai bilangan penyabunan yang lebih rendah dibandingkan dengan minyak dengan berat molekul yang lebih rendah.92 : -20 : 259 Pada Tabel 7 terlihat bahwa sifat fisik dan kimia minyak jarak pagar dapat memenuhi persyaratan sebagai pelumas dasar. oC Titik nyala. Hasil uji FTIR Minyak Jarak Pagar Figure 6.30 : > 200 : 94 . Hal ini disebabkan karena bilangan penyabunan menunjukkan jumlah minyak yang dapat tersabunkan. Results of FTIR analyses Gambar 7.Gambar 6.126 Bilangan penyabunan. mg KOH/gr : 186 . Pour point minyak jarak pagar di atas spesifikasi pelumas dasar. Hasil Uji Gas Chromatography Figure 7.198 : 0. Results of chromatography analyses Sifat minyak nabati yang dapat digunakan sebagai pelumas dasar harus mempunyai spesifikasi sebagai berikut :        Viskositas 400C. 16 . C o : 35 . g/cm3 Titik tuang. hal ini menunjukkan bahwa minyak jarak pagar tidak bisa digunakan di daerah dengan suhu dibawah 0oC. cSt Indeks viskositas Bilangan iod.

Dalam proses epoksidasi ini. Beberapa contoh modifikasi yang dapat dilakukan adalah interesterifikasi dengan minyak nabati berpotensi yang lain. Sintesis Epoksi Minyak Jarak Pagar Reaksi epoksidasi antara minyak jarak pagar dengan hidrogen peroksida dan asam asetat adalah untuk menghasilkan epoksidasi minyak jarak pagar yang akan dimanfaatkan oleh industri polimer dan plastik sebagai plasticizer secunder. blending dengan ester sintestis untuk meningkatkan sifat pada temperatur rendah transesterifiikasi dengan beberapa poliol.9157 270 0 34. tetapi ada beberapa modifikasi yang perlu dilakukan untuk menigkatkan kestabilannya. oC Titik tuang (Pour Point) oC Viskositas (Viscosity) 40oC.17 7.5 Berdasarkan pada sifat kimia dan fisik dan hasil penguian FTIR dan GC. Sehingga minyak menjadi lebih stabil.Tabel 7. maka dapat disimpulkan bahwa minyak jarak pagar mempunyai potensi sebagai pelumas dasar. Sifat fisik dan kimia minyak jarak pagar sebagai pelumas dasar Table 7.95 217 1. gr/100 gr Nilai (Value) 0. untuk mengetahui pengaruh variabel pada proses epoksidasi minyak jarak.4655 96. Tetapi dalam penelitian ini tujuan pembuatan epoksi adalah untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan poliol atau minyak pelumas nabati. cSt Indeks viskositas (Viscosity index) Indeks bias 25oC Bilangan penyabunan (Saponification number). Dari uraian sifat fisik dan kimia di atas. mg KOH/gr Bilangan iod (Iod number).7 108. Physical and chemical properties of jatropha oil as lubricant base oil S i f a t (Properties) Kerapatan (Density). cSt Viskositas (Viscosity) 100oC. kg/m3 Titik nyala (Flash Point). maka modifikasai terhadap minyak minyak jarak pagar perlu dilakukan untuk memperbaiki sifat fisik dan kimianya. D. atau memodifikasi dengan mengurangi ketidakjenuhan. maka diperlukan berbagai macam variasi percobaan 17 .

15 4.55 3. 1.5 3 3.5 18 .75 4.5 .32 4. diperoleh bilangan oksiran.93 4. 0. Hal ini disebabkan seiring dengan bertambahnya waktu reaksi. 1 : 0.5 5 5. Lama proses bervariasi yaitu : 0 . sehingga epoksidasi sebaiknya dilakukan sesingkat mungkin.93 1 : 0.5 jam.4 jam pada suhu 650C .0 .78 4.59 4.5 2 2. sehingga diperoleh konversi minyak nabati yang semakin meningkat.65 3. maka kesempatan molekul molekul zat pereaksi untuk saling bertumbukan semakin luas.5 .71 1 : 0.07 4.75 4.0 .37 4. 5.59 4. 3. Tabel 8.38 3. katalis H2SO4 1% v/v) Table 8.86 4.07 0 2.26 3.25 % pada 30 menit ke-6.68 4.5 .91 4. 1982).82 4.5 1 1.22 dan 1 : 0. Effect of hydrogen peroxide to acetic acid contration ratio on oxyrane number Waktu (Time) Bilangan oksiran (Oxyrane number) 1 : 0.80 4.94 4.30. 3.5 . Pengaruh perbandingan konsentrasi hidrogen peroksida dengan asam asetat terhadap bilangan oksiran (suhu 600C.0 .07 4.96 4.3 1 : 0.9% di mana hal ini dapat dimungkinkan karena epoksidasi merupakan reaksi bolak balik yang berpotensial untuk diikuti reaksi samping. percobaan dilakukan pada suhu konstan dengan menggunakan katalis asam sulfat 1% v/v.10-epoksi stearat asam oleat terepoksidasi berlangsung 1%/jam pada 250C dan 100% per 1 . 4.89 4.78 4.30 0 3. dan menggunakan variabel perlakuan perbandingan konsentrasi hidrogen peroksida-asam asetat (H2O2) dengan (CH3COOH) sebagai berikut : 1 : 0. 4. 1 : 0.81 4. di mana pada variasi 1 : 0.24 4.63 4.0 dan 5. 2.60 - 0 0.15 .07 .74 4.12 3.15 0 2.30 4.22 0 3.07 mol diperoleh bilangan oksiran yang terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan hingga mencapai 4.16 4. Kecepatan pembukaan rantai epoksi 9.0 .diantaranya. 2.96 4. Pada 30 menit ke-7 mengalami penurunan bilangan oksiran hingga mencapai 3. Hasil penelitian pada variasi konsentrasi tersebut dapat di lihat pada Tabel 8.5 .70 4. Hasil penelitian yang terdapat pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa dari perbandingan pereaktan yang dilakukan.1000C (Kirk dan Othmer. 1.5 4 4.90 4.

2. Pada kisaran percobaan yang dilakukan. viskositas 40oC (cSt) 34. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Pada Tabel 8 terlihat bahwa semakin besar konsentrasi zat pereaksi (asam asetat). Beberapa contoh modifikasi yang dapat dilakukan adalah interesterifikasi dengan minyak nabati yang lebih baik. semakin besar konsentrasi zat pereaksi. bilangan penyabunan 96. 19 . Karakteristik tersebut adalah : kerapatan 0.(CH3COOH) adalah 1 : 0.3 mol diperoleh bilangan oksiran yang hampir sama (cenderung konstan) dengan variasi perbandingan 1 : 0. Dari data yang diperoleh terlihat bahwa.7 mg KOH/gr dan bilangan iod 108. IV.15 mol.71%. Hal ini dikarenakan. memenuhi persyaratan sebagai pelumas dasar kecuali pada persyaratan bilangan penyabunan dan pour point.95 .9% pada 30 menit ke-10 dan kemudian mengalami penurunan pada 30 menit ke-11. dapat meningkatkan kecepatan reaksi.Pada perbandingan 1 : 0. juga dapat berfungsi sebagai semi katalis pada pembentukan asam perasetat. 1992). indeks bias 25oC 1. Perbedaan penambahan konsentrasi asam asetat dengan hidrogen peroksida berpengaruh terhadap bilangan oksiran pada senyawa epoksi yang dihasilkan.17 . bilangan oksiran terbaik adalah 4. maka frekuensi terjadinya tumbukan antara molekul molekul yang bereaksi juga semakin besar (Gan et.96 % pada 30 menit ke-5.22 mol dan 1 : 0. semakin besar konsentrasi asam asetat. dengan bilangan oksiran yang diperoleh 4.al.5 gr/100 gr. kondisi terbaik dicapai pada 3 jam operasi dengan suhu 600C dan perbandingan konsentrasi hidrogen peroksida-asam asetat (H2O2) . mengurangi ketidakjenuhan sehingga minyak menjadi lebih stabil. viskositas indeks 217 .4655 .07 mol dengan besarnya bilangan oksiran 4.26%. Sedangkan pada variasi 1 : 0. 4. sehingga selain berfungsi sebagai pereaksi. pour point 0 oC . blending dengan ester sintestis untuk meningkatkan sifat bahan pelumas pada temperatur rendah.15 mol yang memberikan kenaikan bilangan oksiran seiring dengan waktu reaksi. Sifat fisik dan kimia minyak jarak pagar. Sifat kimia dan fisik hasil pengujian FTIR dan GC menunjukkan perlunya perbaikan sifat fisik dan kimia minyak jarak pagar. flash point 270oC . maka waktu yang diperlukan untuk memperoleh bilangan oksiran yang tinggi juga lebih singkat. viskositas 100oC (cSt) 7. dengan bilangan oksiran yang diperoleh yaitu 4.9157 kg/m3 . 3.93 % pada 30 menit ke-8 dan 4.

Encyclopedia of Chemical Technology. Solusi hasilkan biodiesel berkualitas tinggi. Memproduksi biodiesel jarak pagar. & K. 2004.S. & Othmer. G. JAOCS.H. IENICA – Inform Project. Jakarta 20 . Gan. 1986. D. Exploitation of the tropical oil seed plant Jatropha curcas L..E. John Wiley and Sons. 1992. New York.82. Kinetic Studies of Epoxidation and Oxirane Cleavages of Palm Olein Methyl Esters”. Bio-lubricants – Markets Data Sheet. Vol. DAFTAR PUSTAKA Askew. Sudradjat. Ensiklopedia Otomotif. Goh. R. Minyak jarak memiliki potensi sebagai bahan dasar minyak pelumas. 8 – 9. Güibitz. A. Jakarta. 67 : 73 . Jakarta. 1999. R. 2005. S.F.M.F.H. Mittelbach & M. Bioresource Tech. Penerbit Penebar Swadaya Seri Agritekno. 1982. M. Lembaran Publikasi Lemigas 4 : 55 – 64. 69. Third edition. L. Vol. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. M. Ooi.. La Puppung. Nugroho. 2006. Kirk. Trabi.5. Masih diperlukan penelitian lanjutan khususnya mengenai teknologi pengolahan epoksi menjadi minyak pelumas (poliol).

21 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->