Belajar dan Model-Model Pembelajaran

1

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penyusun panjatkan kepada Allah Swt. karena atas izin dan rahmat-Nya lah penyusun dapat menyelesaikan tugas pembuatan buku dalam Mata Kuliah Media Pembelajaran PTAG. Penyusun banyak berterima kasih kepada Dr. Sri Handayani, MPd. sebagai dosen Mata Kuliah Media Pembelajaran yang telah membimbing dalam pengerjaan tugas ini, serta teman-teman Jurusan Pendidikan Teknologi Agroindustri 2010 yang turut membantu dalam penyelesaian tugas ini. Judul buku ini adalah “Belajar dan Model-Model Pembelajara”. Penyusunan buku ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas semester padat mata kuliah Media Pembelajaran PTAG. Dalam proses penyusunan buku ini, penyusun menyadari masih banyak kekurangan. Untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak untuk perbaikan buku ini. Penyusun berharap buku ini dapat menunjang pembelajaran Media Pembelajaran PTAG dan dapat bermanfaat bagi semua orang. Akan tetapi, penyusun menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat dalam buku ini. Oleh karena itu penyusun menerima saran dan kritik agar dapat membuat buku yang lebih bagus lagi.

Bandung, Agustus 2012

Penyusun 

.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

i

DAFTAR ISI

Daftar Isi ..................................................................................................... i Kata Pengantar .......................................................................................... ii

BAB I TEORI BELAJAR ....................................................................... 1 A. Teori Belajar Behavioristik ............................................................. 3 B. Teori Belajar Kognitivisme ............................................................ 6 C. Teori Belajar Konstruktivisme ........................................................ 9 D. Teori Belajar Humanistik ................................................................ 11 BAB II TEORI BELAJAR MENURUT PARA AHLI .......................... 16 A. Teori Belajar Menurut J.B. Bruner ................................................. 17 B. Teori Koneksionisme ...................................................................... 26 C. Teori Belajar Skinner ...................................................................... 33 D. Teori Belajar Piaget ........................................................................ 41 BAB III MODEL_MODEL PEMBELAJARAN .................................... 47 A. Model PAKEM ............................................................................... 48 B. Model Pembelajaran Example non Example .................................. 56 C. Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning .................... 62 D. Model Pembelajaran Number Head Together ............................... 73 E. Model Pembelajaran Project Work ................................................. 76 F. Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw ......................................... 81 G. Model Pembelajaran Debate ........................................................... 87 H. Model Pembelajaran Role Playing................................................... 92 I. Model Pembelajaran Based Learning ............................................. 99 Daftar Pustaka ............................................................................................ 103

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

ii

Bab 1 TEORI BELAJAR Belajar dan Model-Model Pembelajaran 1 .

cognitivist. diproses. Merriam dan Caffarella (1991) menyoroti empat pendekatan atau orientasi untuk belajar. keterampilan. Secara garis besar. 1995). Pendekatan ini melibatkan ide yang bertentangan dengan tujuan dan proses pembelajaran dan pendidikan juga peran para pendidik dalam mengajar. (1)behaviorisme. emosional. humanis dan sosial/situasional.I TEORI BELAJAR Dalam psikologi dan pendidikan. Salah satunya adalah dalam menyediakan kita dengan kosa kata dan kerangka kerja konseptual untuk menafsirkan contoh pembelajaran yang kita amati. Teori Belajar adalah hipotesis rumit yang menggambarkan bagaimana sebenarnya prosedur ini terjadi. dan disimpan. Teori belajar memiliki dua nilai utama menurut Hill (2002). meningkatkan. yaitu. Ada tiga kategori utama atau kerangka filosofis dari teori teori belajar ini. pembelajaran secara umum didefinisikan sebagai proses yang menyatukan pengaruh kognitif. behavioris. Yang lainnya adalah dalam mengusulkan dimana kita seharusnya mencari solusi untuk masalah praktis. yaitu. atau membuat perubahan dalam pengetahuan seseorang. 2004. (2) kognitivisme. Hal ini juga dianggap sebagai cara di mana informasi diserap. Teori-teori tidak memberikan solusi. dan pandangan dunia (Illeris. Sedangkan teori konstruktivisme mengemukakan bahwa belajar sebagai proses saat peserta didik secara aktif membangun ide-ide baru dalam belajar. dan lingkungan dan pengalaman untuk memperoleh. dan (3) kontruktivisme. Ormrod. nilai. tetapi mengarahkan perhatian kita pada variabel yang penting dalam menemukan solusi. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 2 . behaviorisme hanya berfokus pada aspek-aspek obyektif yang diamati pada proses pembelajaran. Teori kognitif melihat melampaui perilaku untuk menjelaskan bagaimana otak bekerja dalam mempelajari sesuatu.

Classical Conditioning oleh Ivan Pavlov yang menyimpulkan bahwa sesuatu yang di pelajari dapat di kembalikan kepada stimulus respon. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. berupa reaksi fisik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan. Mendidik pada dasarnya Belajar dan Model-Model Pembelajaran 3 . mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Teori Belajar Behavioristik Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. 1. Ciri-Ciri Teori Behavioristik : a) b) c) Mementingkan faktor lingkungan Menekankan pada faktor bagian Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif d) e) Sifatnya mekanis Mementingkan masa lalu Teori behaviouristik ini memiliki beberapa cabang teori yang menekankan pembelajaran pada titik yang berbeda-beda yaitu.A. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-respon. diukur dan dinilai secara konkret. asosiasi. sifat dan kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon). baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukumhukum mekanistik. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak.

Adanya kesan motoris di tujukan terhadap berbagai stimulus. Berpikir harus merupakan tingkah laku senso motoris dan berbicara dalam hati adalah tingkah laku berfikir. Operant Conditioning . 2. yaitu : a. Pengamatan dan kesan.beliau mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon. Penganut aliran ini lebih suka memilih untuk tidak memikirkan hal – hal yang tidak bisa diukur. e. yaitu : takut. Pendapat yang di kemukakan yaitu : a. sedangkan kebiasaan – kebiasaan yang terbentuk dalam perkembangan di sebabkan oleh latihan dan belajar. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar. Respondent response.adalah memberikan stimulus yang memberi respon sesuai yang kita inginkan. Tingkah laku dan Afektif. Perasaan senag dan tidak senang merupakan reaksi senso motoris. Respon ini di timbulkan oleh perangsang – perangsang tertentu yang disebut electing stimuli yang sifatnya relative tetap dan terbatas Belajar dan Model-Model Pembelajaran 4 . dalam teori ini di sebutkan bahwa ada dua macam respon. akan di temukan rangkaian unit stimulus dan respon yang disebut reflex. namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. b. Perasaan. 3. marah. Teori berpikir. Reaksi instinktif atau kodrati yang di bawa sejak lahir jumlahnya sedikit sekali. Teori Behaviorisme Watson. Pengaruh Lingkungan tehadap perkembangan individu. Hal ini di lakukan berulang – ulang agar hubungan stimulus dan respon semakin kuat. meskipun mereka tetap mengakui bahwa semua hal itu penting. Teori stimulus dan respon.Teori ini di pelopori oleh Skinner. Apabila kita menganalisis tingkah laku yang kompleks. dan cinta. d. c. Stimulus merupakan situasi objektif dan respon merupakan reaksi subjektif individu terhadap stimulus. Di temukan tiga reaksi emosional yang di bawa sejak lahir.

Respon yang timbul dan berkembangnya di ikuti oleh perangsang–perangsang tertentu. Teori ini tidak banyak dipakai dalam dunia praktis karena (1)dianggap terlalu kompleks dan sulit dimengerti. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar. atau Belajar dan Model-Model Pembelajaran 5 . Dia berpendapat bahwa tingkah laku seseorang berfungsi untuk menjaga kelangsungan hidup. dan (3)partikularistic. misalnya makanan yang menimbulkan air liur. seperti lapar. Teori Systematic Behavior Clark Hull. Menurut Hull. Mengemukakan konsep pokok teorinya yang sangat di pengaruhi oleh teori evolusi Darwin. kemudian memperoleh hadiah sehingga ia akan lebih giat lagi belajar. berarti responnya menjadi lebih kuat / intensif. dalam teori Hull. Operant response. meskipun menghasilkan respon yang berbeda–beda bentuknya. perasaan. kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis menempati posisi sentral. kebutuhan dikonsepkan sebagai dorongan (drive). Stimulus hampir selalu di kaitkan dengan kebutuhan biologis ini. 4. yamg biasa di sebut dengan reinforcing stimuli atau reinforcer. perasaan. Respon ini merupakan bagian yang tebesar dari pada tingkah laku manusia dan kemungkinannya untuk di modifikasi tak terbatas. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran. tidur. (2)idenya tentang proses internal dianggap abstrak dan sulit dibuktikan melalui eksperimen empiris. Titik berat teori Skinner adalah pada respon kedua ini. yang dapat pula berupa pikiran. Oleh karena itu. b. Teori Koneksionisme Thorndike.serta hubungan antara stimulus dan respons sudah pasti sehingga kemungkinan untuk di modifikasi kecil. meskipun sering digunakan dalam berbagai eksperimen 5. usaha utk menggeneralisasi hasil eksperimen secara berlebihan. belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Perangsang tersebut memperkuat respon yang telah dilakukan oleh organisme sehingga sifatnya mengikuti. Menurut Thorndike. dan sebagainya. atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. misalnya saja seorang anak belajar. haus.

Model ini menekankan pada bagaimana sebuah informasi diproses. Selanjutnya Edwin Guthrie berpendapat bahwa hubungan antara stimulus dan respon merupakan faktor kritis dalam belajar.Guthrie juga mengemukakan bahwa hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 6 . Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran. Dalam hal ini apabila binatang terkurung. Teori Belajar Kognitivisme Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. menyimpan. yaitu yang dapat diamati. Hal ini dapat terjadi karena merokok bukan hanya berhubungan dengan satu macam stimulus. mengemukakan teori kontinguiti yang memandang bahwa belajar merupakan kaitan asosiatif antara stimulus tertentu dan respon tertentu. tetapi juga dengan stimulus lain seperti minum kopi. maka binatang itu sering melakukan bermacam kelakuan. B. Sebagai contoh. dan cepat atau lambat binatang itu tersandung pada palang sehingga kotak terbuka dan binatang itu lepas ke tempat makanan. di perlukan pemberian stimulus yang sering agar hubungan menjadi lebih langgeng. menggosokkan badannya ke sisi kotak. dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. 6. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir.gerakan/tindakan. atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. seperti menggigit. suatu respon akan lebih kuat apabila respon tersebut berhubungan dengan berbagai macam stimulus. Oleh karena itu. Teori Edwin Gutrie. seseorang yang memiliki kebiasaan merokok sulit di tinggalkan. Selain itu. Menurutnya suatu hukuman yang di berikan pada waktu yang tepat. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit. tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionismeProsedur eksperimennya ialah membuat agar setiap binatang lepas dari kurungannya sampai ke tempat makanan. akan mampu mengubah kebiasaan seseorang.

Peneliti yang mengembangkan teori kognitif ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar. Bruner menitikberatkan pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan. Proses pembelajaran strategi kognitif merupakan proses reflection in action. Sebagai salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), guru memiliki posisi yang menentukan keberhasilan pembelajaran, karena fungsi utama guru ialah merancang, mengelola dan mengevaluasi pembelajaran (Gagne, 1974). Ausubel (1968) mengatakan bahwa guru bertugas mengalihkan seperangkat pengetahuan yang terorganisasikan sehingga pengetahuan tersebut menjadi bagian dari sistem pengetahuan siswa. Sejalan dengan itu, Kurikulum { KTSP } menegaskan bahwa kedudukan guru dalam kegiatan belajar mengajar sangat strategis dan menentukan. Strategis karena guru akan menentukan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Menentukan karena gurulah yang memilah dan memilih bahan pelajaran yang akan disajikan kepada peserta didik. Salah satu faktor yang mempengaruhi guru dalam upaya memperluas dan memperdalam materi ialah rancangan pembelajaran yang efektif, efisien, menarik dan hasil pembelajaran yang bermutu tinggi dapat dilakukan dicapai oleh setiap guru. Menurut Snelbecker (1983 : 465), CDT (Center for the Development of Teaching) merupakan model preskripsi pembelajaran yang paling lengkap yang memperhitungkan teori pembelajaran behavioristik, teori pembelajaran humanistik dan teori pembelajaran kognitif. CDT juga memerhatikan fungsi kegiatan mental yang berhubungan dengan proses belajar yang diadopsi dari pandangan neo-behaviorist, agar tercapai suatu proses belajar (internal condition) diperlukan situasi belajar (external condition) tertentu sesuai dengan unjuk kerja belajar. Asumsi ini kemudian digunakan oleh CDT dalam penetapan tujuan belajar.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

7

Konsep yang diajukan teori pembelajaran humanistik terhadap individu siswa juga diadaptasi oleh CDT untuk mempreskripsikan cara membelajarkan siswa. Menurut Rogers (1983) dalam melaksanakan tugasnya di kelas, guru harus mampu memfasilitasi tumbuhnya kemamuan belajar siswa melalui motivasi. Begitu pula Maslow (1971), sebagai seorang tokoh psikologi humanistik, menentukan perlunya pemberian motivasi bagi tumbuhnya semangat belajar siswa. Pendapat dan prinsipprinsip pemberian motivasi dari dua tokoh psikologi humanistik ini digunakan oleh CDT dalam merancang strategi penyajian Keungulan CDT secara teoretis juga dibuktikan lewat berbagai penelitian. Hasil-hasil penelitian Merrill dan Tennyson (1982), Suhardjono (1990), dan Tugur (1991), semuanya menunjukkan bahwa CDT memiliki keunggulan dalam meningkatkan perolehan belajar pada performansi mengingat, menggunakan, dan mengembangkan, baik untuk tipe isi pelajaran yang berupa fakta, konsep, prosedur, maupun prinsip.
Tabel 1. Asumsi Umum Tentang Teori Belajar Kognitif Asumsi Pembelajaran sekarang berasal dari proses Pembelajaran sebelumnya Pembelajaran informasi melibatkan Penjelasan Siswa memiliki latar belakang dan motivasi yang berbeda sehingga mereka mengkonstruksi satu hal yang sama secara berbeda. proses Ini merupakan proses aktif yang mengacu pada pengetahuan siswa Pemaknaan Pemaknaan hubungan merupakan dikonstruksi refleksi dari pengalaman antara yang proses

hubungan

pembelajaran sebelumnya dengan yang baru. Kegiatan belajar mengajar menekankan Penekananya pada hubungan dan strategi pada kebermaknaan yang tujuanya

membantu siswa belajar bagaimana cara belajar.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

8

C. Teori Belajar Konstruktivisme
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran kontekstual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari ide dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih paham dan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep. Ciri-ciri teori Konstruktivisme
a) b)

Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.

c)

Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah

d)

Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar.
Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaanSelain itu

yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa . siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

9

menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Para siswa harus dapat secara aktif mengasimilasikan dan mengakomodasi pengalaman baru kedalam kerangka kognitifnya Untuk mengajar dengan baik. menerangkan atau upaya-upaya sejenis untuk memindahkan pengetahuan pada siswa tetapi menciptakan situasi bagi siswa yang membantu perkembangan mereka membuat konstruksi-konstruksi mental yang diperlukan. Hal ini menunjukkan bahwa seorang guru dapat mengajar suatu materi kepada sisiwa dengan baik. dan teman yang membuat situasi kondusif untuk terjadinya konstruksi engetahuan pada diri peserta didik. sehingga pengetahuan materi yang dibangun atau dikonstruksi para siswa sendirisan bukan ditanamkan oleh guru. Tugas setiap guru dalam memfasilitasi siswanya. hanya dengan usaha yangkeras para sisiwa sedirilah para siswa akan betul-betul memahami suatu materi yang diajarkan. Usaha keras seorang guru dalam mengajar tidak harus diikuti dengan hasil yang baik pada siswanya. Karena. Aplikasi dan Implikasi dalam Pembelajaran Setiap guru akan pernah mengalami bahwa suatu materi telah dibahas dengan jelas-jelasnya namun masih ada sebagian siswa yang belum mengerti ataupun tidak mengerti materi yang diajarkan sama sekali. tetapi harus diupayakan agar siswa itu sendiri yang memanjatnya. Latihan memecahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari. namun seluruh atau sebagian siswanya tidak belajar sama sekali. Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadisituasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. guru harus memahami model-model mental yang digunakan para siswa untuk mengenal dunia mereka dan penalaran yang dikembangkandan yang dibuat para sisiwa untuk mendukung model-model itu. mediator.Kelebihan dan Kekurangan Konstruktivisme Belajar dan Model-Model Pembelajaran 10 . Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi . Siswa perlu mengkonstruksi pemahaman yang mereka sendiri untuk masing-masing konsep materi sehingga guru dalam mengajar bukannya “menguliahi”. Guru hanya sebagai fasilitator. Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai dengan dirinya.

mereka akan lebih faham dan boleh mengapliksikannya dalam semua situasi. Selian itu murid terlibat secara langsung dengan aktif. Faham kerana murid terlibat secara langsung dalam mebina pengetahuan baru. Dengan kata lain. 2. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri. D. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingya isi dari proses belajar. Dalam teori belajar humanistik. Teori Belajar Humanistik Dalam teori belajar humanistik proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 11 . Kelebihan Murid berfikir untuk menyelesaikan masalah. bukan dari sudut pandang pengamatnya.. Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu. Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap. mereka akan ingat lebih lama semua konsep. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya. Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk “memanusiakan manusia” (mencapai aktualisasi diri dan sebagainya) dapat tercapai. menjana idea dan membuat keputusan. seperti apa yang bisa kita amati dalam dunia keseharian. Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri. belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Kemahiran sosial diperoleh apabila berinteraksi dengan rekan dan guru dalam membina pengetahuan baru. siswa berbeda persepsi satu dengan yang lainnya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya. dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Kelemahan Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang begitu mendukung.1. teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya.

Manusia itu memiliki keinginan alamiah untuk belajar. yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Belajar akan cepat dan lebih bermakna bila bahan yang dipelajari relevan dengan kebutuhan siswa. memiliki rasa ingin tahu alamiah terhadap dunianya. Bila bancaman itu rendah terdapat pangalaman siswa dalam memperoleh cara. Menurut hemat kami. Belajar signifikan terjadi apabila materi plajaran dirasakan murid mempuyai relevansi dengan maksud tertentu 3. 4. Manusia mempunyai belajar alami 2.Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya. Tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasarkan bila ancaman itu kecil 5. Belajar yang bermakna diperolaeh jika siswa melakukannya 7. 6. (2). Teori Belajar Humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusisa serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya. Belajar sosial adalah belajar mengenai proses belajar Roger sebagai ahli dari teori belajar humanisme mengemukakan beberapa prinsip belajar yang penting yaitu: (1). 1. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 12 . Prinsip-prinsip Teori Belajar Humanistik Beberapa prinsip Teori belajar Humanistik 1. Belajar yang melibatkan siswa seutuhnya dapat memberi hasil yang mendalam 9. Belajar lancer jika siswa dilibatkan dalam proses belajar 8. Kepercayaan pada diri pada siswa ditumbuhkan dengan membiasakan untuk mawas diri 10. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya. dan keinginan yang mendalam untuk mengeksplorasi dan asimilasi pengalaman baru.

Diharapkan siswa memahami potensi diri . Aplikasi Teori Belajar Humanistik Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 13 . Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. memilih pilihannya sendiri. Merumuskan tujuan belajar yang jelas 2. Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. (5) belajar atas prakarsa sendiri yang melibatkan keseluruhan pribadi. memaknai proses pembelajaran secara mandiri 5. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah : 1. 3.(3) belajar dapat di tingkatkan dengan mengurangi ancaman dari luar. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat. jujur dan positif. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas . dan (6) kebebasan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis. 2. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri 4. kreatifitas. pikiran maupun perasaan akan lebih baik dan tahan lama. (4) belajar secara partisipasif jauh lebih efektif dari pada belajar secara pasif dan orang belajar lebih banyak bila belajar atas pengarahan diri sendiri. melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang ditunjukkan. mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif. Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. dan kepercayaan diri dalam belajar dapat ditingkatkan dengan evaluasi diri orang lain tidak begitu penting.

6. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk

bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya. 7. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya 8. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan. Keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku. 3. Implikasi Teori Belajar Humanistik Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator. Berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa (petunjuk): 1) Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas 2) Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum. 3) Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk

melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi. 4) Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka. 5) Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

14

6) Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok 7) Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain. 8) Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa 9) Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar 10) Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri. Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah : a) Merespon perasaan siswa b) Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang c) Berdialog dan berdiskusi dengan siswa d) Menghargai siswa e) Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan f) Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan segera dari siswa) g) Tersenyum pada siswa

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

15

Bab II TEORI BELAJAR MENURUT PARA AHLI

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

16

Dalam mempelajarai manusia. Jerome S. yaitu memperoleh informasi baru. bahwa belajar itu meliputi tiga proses kognitif. ia menganggap manusia sebagai pemroses. Pandangan terhadap belajar yang disebutnya sebagai konseptualisme instrumental itu. Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi belajar kognitif. Pendekatannya tentang psikologi adalah eklektik. transformasi pengetahuan. dan memainkan peranan penting dalam struktur Projek Madison di Amerika Syarikat. Teori Belajar Menurut J. proses pengajaran dan falsafah pendidikan. didasarkan pada dua prinsip.B Bruner Jerome Bruner dilahirkan dalam tahun 1915. beliau menjadi seorang profesor Psikologi di Universiti Oxford di England. Setelah itu. Walau bagaimanapun. yaitu pengetahuan orang tentang alam didasarkan pada model-model Belajar dan Model-Model Pembelajaran 17 . motivasi. pemikir dan pencipta informasi. Penelitiannya yang demikian banyak itu meliputi persepsi manusia. Jerome Bruner. Bruner menganggap. Bruner lebih menegaskan pembelajaran secara penemuan iaitu mengolah apa yang diketahui pelajar itu kepada satu corak dalam keadaan baru (lebih kepada prinsip konstruktivisme).II TEORI BELAJAR MENURUT PARA AHLI A. Beliau bertugas sebagai profesor psikologi di Universiti Harvard di Amerika Syarikat dan dilantik sebagi pengarah di Pusat Pengajaran Kognitif dari tahun 1961 sehingga 1972. dan menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. Bruner bersetuju dengan Piaget bahawa perkembangan kognitif kanak-kanak adalah melalui peringkatperingkat tertentu. seorang ahli psikologi yang terkenal telah banyak menyumbang dalam penulisan teori pembelajaran. belajar dan berfikir.

Pertumbuhan itu menyangkut peningkatan kemampuan seseorang untuk mengemukakan pada dirinya sendiri atau pada orang lain tentang apa yang telah atau akan dilakukannya. Menurut Bruner belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan. Pengetahuan yang diperoleh melalui belajar penemuan bertahan lama. Kanak-kanak membentuk konsep dengan mengasingkan benda-benda mengikut ciri-ciri persamaan dan perbezaan.kanak-kanak membentuk konsep segiempat dengan mengenal segiempat mempunyai 4 sisi dan memasukkan semua bentuk bersisi empat Belajar dan Model-Model Pembelajaran 18 . dan mempunyai efek transfer yang lebih baik.mengenai kenyataan yang dibangunnya. Bentuk dan pemberian reinforsemen. ekonomi dan kuasa. tingkat perkembangan anak. ditinjau dari segi cara penyajian. ditinjau dari segi aktivasi. Teori instruksi menurut Bruner hendaknya mencakup: 1. pemeliharaan dan pengarahan. Beliau berpendapat bahawa seseorang murid belajar dengan cara menemui struktur konsep-konsep yang dipelajari. dan model-model itu diadaptasikan pada kegunaan bagi orang itu. Perincian urutan-urutan penyajian materi pelajran secara optimal. dengan memperhatikan faktor-faktor belajar sebelumnya. Selain itu. Pertumbuhan itu tergantung pada bagaimana seseorang menginternalisasi peristiwa-peristiwa menjadi suatu ”sistem simpanan” yang sesuai dengan lingkungan. Pematangan intelektual atau pertumbuhan kognitif seseorang ditunjukkan oleh bertambahnya ketidaktergantungan respons dari sifat stimulus. Penstrukturan pengetahuan untuk pemahaman optimal. 4. Belajar penemuan meningkatkan penalaran dan kemampuan berfikir secara bebas dan melatih keterampilan-keterampilan kognitif untuk menemukan dan memecahkan masalah. 2. Misalnya. sifat materi pelajaran dan perbedaan individu. pengajaran didasarkan kepada perangsang murid terhadap konsep itu dengan pengetahuan sedia ada. 3. Pengalaman-pengalaman optimal bagi siswa untuk mau dan dapat belajar.

teknik-teknik intelektual untuk sampai pada formulasi-formulasi tentatif tanpa melalui langkah-langkah analitis untuk mengetahui apakah formulasiformulasi itu merupaka kesimpulan yang sahih atau tidak. dapat dihubungkan satu dengan yang lain. (2) tahap transformasi. Menurut Bruner kesiapan terdiri atas penguasaan ketrampilan-ketrampilan yang lebih sederhana yang dapat mengizinkan seseorang untuk mencapai kerampilan-ketrampilan yang lebih tinggi. Tema kedua adalah tentang kesiapan untuk belajar. Ketiga tahap itu adalah: (1) tahap informasi. dan (3) evaluasi.kedalam kategori segiempat. 1. mencerna dan menganalisis pengetahuan baru serta ditransformasikan dalam bentuk baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain. b) Model dan Kategori Pendekatan Bruner terhadap belajar didasarkan pada dua asumsi. Tema keempat adalah tentang motivasi atau keingianan untuk belajar dan cara-cara yang tersedia pada para guru untuk merangsang motivasi itu. Hal ini perlu karena dengan struktur pengetahuan kita menolong siswa untuk untuk melihat. Asumsi pertama adalah bahwa perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif. Dalam teori belajarnya Jerome Bruner berpendapat bahwa kegiatan belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau kesimpulan tertentu. bagaimana fakta-fakta yang kelihatannya tidak ada hubungan. Dalam hal ini Bruner membedakan menjadi tiga tahap.dan memasukkan bentuk-bentuk bersisi tiga kedalam kategori segitiga. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 19 . yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru. Tema ketiga adalah menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan. yaitu tahap memahami. Ciri khas Teori Pembelajaran Menurut Bruner a) Empat Tema tentang Pendidikan Tema pertama mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan. yaitu untuk mengetahui apakah hasil tranformasi pada tahap kedua tadi benar atau tidak. Dengan intuisi.

jadi bersifat manipulatif. Jadi. 1973). Ketiga sistem keterampilan itu adalah yang disebut tiga cara penyajian (modes of presentation) oleh Bruner (1966). Setiap model seseorang khas bagi dirinya. Jadi cara ini terdiri atas penyajian kejadian- Belajar dan Model-Model Pembelajaran 20 . Ketiga cara itu ialah: cara enaktif. apakah dengan cara ekstrapolasi atau dengan mengubah bentuk lain. perubahan tidak hanya terjadi di lingkungan tetapi juga dalam diri orang itu sendiri. Dalam transformasi pengetahuan seseorang mempelakukan pengetahuan agar cocok dengan tugas baru. Hampir semua orang dewasa melalui penggunaan tig sistem keterampilan untuk menyatakan kemampuanny secara sempurna. kita akan membentuk suatu struktur atau model yang mengizinkan kita untuk mengelompokkan hal-hal tertentu atau membangun suatu hubungan antara hal-hal yang diketahui. Asumsi kedua adalah bahwa orang mengkontruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya.Berlawanan dengan penganut teori perilakau Bruner yakin bahwa orang yang belajar berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif. suatu model alam (model of the world). c) Belajar sebagai Proses Kognitif Bruner mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses itu adalah (1) memperoleh informasi baru. (2) transformasi informasi dan (3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan (Bruner. Cara penyajian enaktif ialah melalui tindakan. Dengan menghadapi berbagai aspek dari lingkungan kita. Model Bruner ini mendekati sekali struktur kognitif Aussebel. cara ikonik dan cara simbolik. Informasi baru dapat merupaka penghalusan dari informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang atau informasi itu dapat dersifat sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang. transformasi menyangkut cara kita memperlakukan pengetahuan. Dengan cara ini seseorang mengetahui suatu aspek dari kenyataan tanpa menggunakan pikiran atau kata-kata.

Misalnya sebuah segitiga menyatakan konsep kesegitigaan. Misalnya seseorang anak yang enaktif mengetahui bagaimana mengendarai sepeda. Anak yang lebih tua dapat menyajikan timbangan pada dirinya sendiri dengan suatu model atau gambaran. Cara penyajian ikonik didasarkan atas pikiran internal. Akhirnya suatu timbangan dapat dijelaskan dengan menggunakan bahasa tanpa pertolongan gambar atau dapat juga dijelaskan secara matematik dengan menggunakan Hukum Newton tentang momen. karena teori Bruner ini banyak menuntut pengulangan-penulangan. Secara sin gkat. Anak kecil hanya dapat bertindak berdasarkan ”prinsip-prinsip” timbangan dan menunjukkan hal itu dengan menaiki papan jungkat-jungkit. tentang pelajaran penggunaan timbangan. Pengetahuan disajikan oleh sekumpulan gambar-gambar yang mewakili suatu konsep. maka desain yang berulang-ulang itu disebut ”kurikulum spiral kurikulum”. Disamping itu. Sebagai contoh dari ketiga cara penyajian ini. Penyajian simbolik menggunakan kata-kata atau bahasa. d) Ciri khas Teori Bruner dan perbedaannya dengan teori yang lain Teori Bruner mempunyai ciri khas daripada teori belajar yang lain yaitu tentang ”discovery” yaitu belajar dengan menemukan konsep sendiri. tetapi tidak mendefinisikan sepenuhnya konsep itu. kurikulum spiral menuntut guru untuk memberi materi pelajaran setahap demi setahap dari yang sederhana ke yang kompleks. ”Bayangan” timbangan itu dapat diperinci seperti yang terdapat dalam buku pelajaran. Penyajian simbolik dibuktikan oleh kemampuan seseorang lebih memperhatikan proposisi atau pernyataan daripada objek-objek. dimana materi yang sebelumnya sudah diberikan suatu saat muncul kembali secara terintegrasi di dalam suatu materi baru yang lebih Belajar dan Model-Model Pembelajaran 21 . memberikan struktur hirarkis pada konsep-konsep dan memperhatikan kemungkinan-kemungkinan alternatif dalam suatu cara kombinatorial. Ia tahu bahwa untuk dapat lebih jauh kebawah ia harus duduk lebih menjauhi pusat.kejadian yang lampau melalui respon-respon motorik.

Bruner menganggap bahwa belajar peneuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. c. d. Pengetahuan itu bertahan lama atau lama dapat diingat. Hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik. Belajar melibatkan adanya proses informasi (active learning). c. Pemaknaan berdasarkan hubungan. Diantaranya adalah: a. Bruner menyarankan agar siswa hendaknya belajar melalui berpartisipasi aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip agar mereka dianjurkan untuk memperoleh pengalaman dan melakukan eksperimen-eksperimen yang mengizinkan mereka untuk menemukan konsep dan prinsip itu sendiri. Asumsi umum tentang teori belajar kognitif: a. Belajar Penemuan Salah satu model kognitif yang sangat berpengaruh adalah model dari Jerome Bruner (1966) yang dikenal dengan nama belajar penemuan (discovery learning). pembelajaran didasarkan kepada merangsang siswa menemukan konsep yang baru dengan menghubungkan kepada konsep yang lama melalui pembelajaran penemuan. Proses kegiatan belajar mengajar menitikberatkan pada hubungan dan strategi. Model kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Selain itu. Bruner berpendapat bahwa seseorang murid belajar dengan cara menemui struktur konsep-konsep yang dipelajari. Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukkan beberapa kebaikan. b. b. Model kognitif ini memiliki Belajar dan Model-Model Pembelajaran 22 .kompleks. Secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir secara bebas. 2. Anak-anak membentuk konsep dengan melihat benda-benda berdasarkan ciri-ciri persamaan dan perbedaan. Demikian seterusnya sehingga siswa telah mempelajari suatu ilmu pengetahuan secara utuh. Bahwa pembelajaran baru berasal dari proses pembelajaran sebelumnya.

Bruner mengembangkan teorinya tentang perkembangan intelektual. Symbolic yang mendeskripsikan kapasitas dalam berfikir abstrak. Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan. menyimpan. Semakin dewasa sistem simbol ini samakin dominan. b. dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Enactive. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses. Peneliti yang mengembangkan kognitif ini adalah Ausubel. dimana belajar terjadi melalui penggunaan model dan gambar c. yaitu: a. Dengan lain perkataan perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan jalan mengatur bahan yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya. Penerapan teori Bruner yang terkenal dalam dunia pendidikan adalah kurikulum spiral dimana materi pelajaran yang sama dapat diberikan mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan tinggi disesuaikan dengan tingkap perkembangan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 23 . konsep tersebut dimaksudkan untuk penyiapan struktur kognitif peserta didik untuk pengalaman belajar. Bruner. Dari ketiga peneliti ini. Menurut Ausubel. dan Gagne. siswa melakukan aktifitas-aktifitasnya dalam usahanya memahami lingkungan. Yang penting bahan pelajaran harus ditata dengan baik maka dapat diberikan padanya. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar. maka untuk mengajar sesuatu tidak usah ditunggu sampai anak mancapai tahap perkembangan tertentu.perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir. siswa mempunyai gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika dan komunikasi dilkukan dengan pertolongan sistem simbol. dimana seorang peserta didik belajar tentang dunia melalui tindakannya pada objek. Iconic. masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Sejalan dengan pernyataan di atas.

ternyata teori kognitif melibatkan hal-hal mental atau pemikiran seseorang individu. Mencari ilustrasi contoh-contoh. Tabel 2. Menentukan topik-topik yang akan dipeserta didiki 4. Berdasarkan pendapat ketiga ahli di atas (Burner. Cara belajar yang terbaik menurut Bruner ini adalah dengan memahami konsep. untuk belajar ini Teori mengarahkan didik secara learning. Ausubel. Mengatur topik peserta didik dari konsep yang paling kongkrit ke yang abstrak. dan gagne). Teori ini ada kaitan dengan ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang.kognitif mereka. untuk peserta belajar discovery digunakan peserta didik untuk bahan belajar 5. dapat tujuan-tujuan membebaskan peserta didik sendiri. Menentukan instruksional 2.. Sesuatu pengetahuan yang diperolehi melalui pengalaman atau pendidikan formal akan disimpan dan disusun melalui proses pengumpulan pengetahuan supaya dapat digunakan kemudian. Mengukur kesiapan peserta didik Belajar dan Model-Model Pembelajaran 24 . Memilih materi pelajaran 3. Menentukan instruksional tujuan-tujuan menuntut peserta didik belajar secara deduktif 2. Mengevaluasi proses dan hasil belajar Bermakna Ausubel Dalam aplikasinya 1. dsbnya. arti dan hubungan melalui proses intuitif kemudian dapat dihasilkan suatu kesimpulan (discovery learning). Penerapan Model Kognitif dalam pembelajaran: Belajar Kognitif Bruner Karakteristik Teori Model ini sangat Penerapan Dalam pembelajaran 1. dari yang sederhana ke kompleks 6. yang tugas.

5. Mengevaluasi proses dan hasil belajar Belajar dan Model-Model Pembelajaran 25 . Mengidentifikasikan prinsip-prinsip yang harus dikuasai peserta didik dari materi tsb. Membuat dan menggunakan “advanced organizer” paling tidak dengan cara membuat rangkuman terhadap materi yang baru disajikan.(dari khusus) umum dan ke lebih aspek (minat. kemampuan. 3. dilengkapi dengan uraian singkat yang menunjukkan relevansi yang sudah (keterkaiatan) materi diberikan dengan yang akan diberikan 7. Menyajikan suatu pandangan secara menyelurh tentang apa yang harus dikuasai pesertadidik 6. Memilih materi pelajaran dan kognitif mengaturnya dalam bentuk penyajian konsep-konsep kunci 4. pertanyaan dll. melalui tes struktur awal. kognitif)baik mementingkan struktur peserta didik interviw. Mengajar memahami peserta didik untuk dan konsep-konsep prinsip-prinsip yang sudah ditentukan dengan memberi fokus pada hubungan yang terjalin antara konsep yang ada 8.

Stimulus akan memberi kesan ke-pada pancaindra. perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha –usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. Thorndike (1874-1949). Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Teori Thorndike dikenal dengan teori Stimulus-Respons. Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Asosiasi seperti itu disebut Connection. Ateacher’s Word Book (1921). Belajar dan Model-Model Pembelajaran 26 .Your City (1939). Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika. Teori Koneksionisme Koneksionisme merupakan teori yang paling awal dari rumpun Berhaviorisme. sedangkan respons akanmendorong seseorang untuk melakukan tindakan.Prinsip itulah yang kemudian disebut sebagai teori Connectionism. dan Human Nature and The Social Order (1940). Teori belajar koneksionisme dikembangkan oleh Edward L. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895. dasar belajar adalah asosiasi antara stimulus (S) de¬ngan respons(R). Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons. Animal Intelligence (1911). S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898. Menurutnya.B. Mental and social Measurements (1904). Bukubuku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903). Adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberi sumbangan yang cukup besar di dunia pendidikan tersebut maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan.

Respons yang berhasil untuk membuka pintu. yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. sehingga dapat digambarkan sebagai berikut: S R S1 R1 dst 1.Pendidikan yang dilakukan Thorndike adalah menghadapkan subjek pada situasi yangmengandung problem. kucing dapat memilih atau menyeleksiantara respons yang berguna dan yang tidak. sedangkan respons lainnyadilupakan.Setelah percobaan itu diulang-ulang. Model eksperimen yang ditempuhnya sangat sederhana. yaitu semakin siap suatu organism memperoleh suatu perubahan tingkah laku. seperti meloncat yangtidak menentu. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”. yaitudengan menggunakan kucing sebagai objek penelitiannya. Hukum-Hukum Belajar Dari percobaan yang Thorndike lakukan seperti yang telah dipaparkan pasa subbab sebelumnya. ia menemukan hukum-hukum belajar sebagai berikut : a) Hukum Kesiapan (law of readiness). ternyata tingkah laku kucing untuk keluar darikandang menjadi semakin efisien. dengan model pintu yangdihubungkan dengan tali. hingga akhirnya suatu saat gerakan kucing menyentuh tali yangmenyebabkan pintu terbuka. selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan response lagi. Itu berarti. reaksi kucing menunjukkan sikap yang tidak terarah. Kucing dalam keadaan lapar dimasukkan ke dalam kandang yang dibuat sedemikian rupa. maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat. yaitu menyentuh tali akan dibuat pembiasaan. Pintu tersebut akan terbuka jika tali tersentuh/tertarik. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 27 . kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. Dalam melaksanakan coba-coba ini. Di luar kandang diletakkan makanan untuk merangsang kucing agar bergerak ke-luar. Setiap response menimbulkan stimulus yang baru. Eksperimen itu menunjukkan adanya hubungan kuat antara stimulus danrespons. demikian selanjutnya. Padaawalnya.

maka ia akan puas. bila sese¬orang sudah siap melakukansuatu tingkah laku. protes) untuk melampiaskan kekecewaannya. peserta didik tiba-tiba diberi tes tanpa diberi tahu lebih dahulu. karena dia belum belajarHukum Latihan (law of exercise). Masalah kedua. ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan. Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. peserta didik yang sudah benar-benar siapmenempuh ujian. makaakan timbul kekecewaan. Akibatnya. jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit. Akibatnya. ia akan melakukan ting¬kah laku lain untuk mengurangi kekecewaan. bila seseorang siap melakukan suatu tingkah laku tetapi tidak dilaksanakan. peserta didik akan merasa lega bila ulanganditunda.Contoh.tetapi ujian dibatalkan. Contoh. maka ia akan merasa tidak puas. maka ia akan cenderung mengerjakannya. ia cenderung melakukan hal lain (misalnya: berbuat gaduh. yaitu semakin sering tingkah laku diulang/ dilatih (digunakan) . bila seseorang belum siap melakukan suatu perbuatan tetapi dia harusmelakukannya. bila seseorang belum siap melakukan suatu tingkah laku dan tetap tidak melakukannya. Masalah ketiga. maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. maka ia akan cenderung mengerjakannya. ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan. mereka pun akan bertingkah untuk menggagalkan tes. Misalnya. Contoh. jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit. Apabila hal ini dilaksanakan. Masalah pertama. Misalnya. dia akan puas bila ujian itu benar-benar dilaksanakan. orang tersebut akanmelakukan tingkah laku lain untuk menghalangi terlaksananya tingkah laku tersebut. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 28 . Contoh peserta didik yang sudah belajar tekun untuk ujian.Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Apabila hal ini dilaksanakan. Masalah keempat. pelaksanaannya akan memberi kepuasan baginya sehingga tidak akanmelakukan tingkah laku lain.

jika sebaliknya. Binatang melakukan responsrespons langsung dari apa yang diamati dan terjadi secara mekanis(Suryobroto. Hukum Tambahan Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai berikut: a. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan.Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan. tergantung pada “buah” hasil perbuatan yang pernah dilakukan. Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip proses belajar binatang pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada manusia. Sebaliknya. yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Namun. Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh prooses trial dan error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi. 2. ia mendapatkan muka manis gurunya. ia akan dihukum. walaupun hubungan antara situasi dan perbuatan pada binatang tanpa dipeantarai pengartian. Prinsip menunjukkan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah ulangan. bila anak mengerjakan PR. Makin sering diulangi. Misalnya. b) Hukum akibat(law of effect). materi pelajaran akan semakin dikuasai. Hukum Reaksi Bervariasi (multiple response). Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Koneksi antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah. suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi. tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 29 . 1984).

Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah. e. Revisi Hukum Belajar Selain menambahkan hukum-hukum baru. sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah. sosial . b. 3. Hukum perpindahan Asosiasi ( Associative Shifting) Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama. dalam perjalanan penyamapaian teorinya thorndike mengemukakan revisi Hukum Belajar antara lain : a. Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Hukum Respon by Analogy. Hukum Sikap ( Set/ Attitude). Hukum ini menjelaskan bahwa perilakku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja. Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 30 . c. sedangkan hukuman tidak berakibat apa-apa. Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi ( respon selektif). Hukum akibat direvisi. Makin banyak unsur yang sama maka transfer akan makin mudah. Hukum Aktifitas Berat Sebelah ( Prepotency of Element). d. emosi .b. tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif. maupun psikomotornya.

Teori koneksionisme menyebutkan pula konsep transfer of training. teori ini kemudian bergeser menjadi teori pembelajaran kognitivisme dimana teori ini menekankan pada proses pendalaman yang berlaku dalam akal pikiran. Karena teori ini hanya membicarakan input. d. sehingga mengharuskan siswa bersikap aktif. dimana teori ini merupakan teori pembelajaran yang hanya berfokus pada perilaku yang bisa diamati dan stimuli yang mengontrolnya. Perkembangan teorinya berdasarkan pada percobaan terhadap kucing dengan problem box-nya.c. tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon. Adanya sikap kritis para ahli. yaiyu kecakapan yang telah diperoleh dalam belajar dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang lain. Begesernya Teori-Teori Belajar (Dari Koneksionisme hingga Humanisme) Tak dapat dipungkiri manusia sebagai makhluk sosial yang dinamis selalu tidak puas dengan apa yang sudah ada akan selalu mencoba dan menciptakan sesuatu yang baru atau lain dari biasanya. perkembangan IPTEK. Kita tentu telah mengetahui teori pembelajaran koneksionisme. 4. adanya keinginan untuk mengadakan perbaikan hingga Curiosity dari para ahli untuk memecahkan dan menutup kekurangan yang ada pada teori sebelumnya menjadi pemicu untuk melakukan perubahan terhadap teori-teori pembelajaran. maka teori ini bergeser menjadi teori pembelajaran konstruktivisme. begitu juga dengan teori-teori pembelajaran. Akibat suatu perbuatan dapat menular baik pada bidang lain maupun pada individu lain. teori ini mampu membangun ilmu pengetahuan yang telah lalu dengan ilmu pengetahuan yang baru. dan tidak dapat diperhatikan secara langsung dengan tingkah laku. Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan. dimana Teori pembelajaran ini mempunyai pemahaman tentang belajar yang lebih menekankan proses daripada belajar. maka bergeser dari teori pembelajaran Belajar dan Model-Model Pembelajaran 31 . Dengan kata lain. karena teori ini hanya berfokus pada perilaku individu. Karena teori pembelajaran ini dianggap masih kurang.

konstruktivisme menjadi teori pembelajaran humanisme. Dalam teori humanisme memandang bahwa belajar bukan sekedar pengembangan kualitas kognitif saja. Manusia memiliki kebebasan untuk berfikir alternatif. dan psikomotorik. Selain itu dengan adanya pergeseran teori-teori pembelajaran ini diharapkan mampu mendorong pemilihan cara-cara yang tepat untuk membelajarkan siswa. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 32 . Domain tersebut meliputi domain kognitif. sehingga proses pembelajarannya pun ideal. dimana teori pembelajaran ini mampu menciptakan manusia yang ideal. Dengan alur pergeseran: Koneksionisme Kognitivisme Konstruktivisme Kognitivisme Konstruktivisme Humanisme Dengan adanya pergeseran teori-teori pembelajaran ini diharapkan mampu menawarkan solusi dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan landasan teori yang lebih mutakhir sehingga proses dan tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. menemukan konsep dan prinsip. mendorong guru untuk responsif terhadap perubahan serta mendorong guru untuk mengkondisikan pembelajaran sesuai konteks yang nyata. Pergeseran Teori Pembelajaran berawal dari teori koneksionisme dan sementara ini berakhir pada teori humanisme. melainkan juga sebuah proses yang terjadi dalam diri individu yang melibatkan seluruh bagian atau domain yang ada. afektif.

Menurut Skinner penjelasan S-R tentang terjadinya perubahan tingkah laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana organisme berinteraksi dengan lingkungannya.F Skinner dimulai awal tahun 1930-an. Asas-asas kondisioning operan adalah kelanjutan dari tradisi yang didirikan oleh John Watson. tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 33 . agar psikologi bisa menjadi suatu ilmu. Asas pengkondisian operan B. Tidak seperti halnya teoritikus-teoritikus S-R lainnya. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya. Teori Belajar Menurut Skinner Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana. Skinner menghindari kontradiksi yang ditampilkan oleh model kondisioning klasik dari Pavlov dan kondisioning instrumental dari Thorndike. Artinya. 1. Ia mengajukan suatu paradigma yang mencakup kedua jenis respon itu dan berlanjut dengan mengupas kondisi-kondisi yang bertanggung jawab atas munculnya respons atau tingkah laku operan. namun lebih komprehensif. Bukan begitu.C. Pada waktu keluarnya teori-teori S-R. pada waktu keluarnya teori S-R. maka studi tingkah laku harus dijadikan fokus penelitian psikologi.F.Skiner. Teori Kondisioning Operan Menurut B. banyak tingkah laku menghasilkan perubahan atau konsekuensi pada lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap organisme dan dengan begitu mengubah kemungkinan organisme itu merespon nanti. Untuk lebih lengkapnya penulis akan membahas teori kondisioning operan pada bagian berikut ini. yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku. pada waktu itu model kondisian klasik dari Pavlov telah memberikan pengaruh yang kuat pada pelaksanaan penelitian Skinner tidak sependapat dengan pandangan S-R dan penjelasan reflex bersyarat dimana stimulus terus memiliki sifat-sifat kekuatan yang tidak mengendur.

W. Asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut: a. bertepuk tangan. Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya dapat di tentukan kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di devinisikan menurut fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi yang di control secara seksama. kado. Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkungan. Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. penguatan dibagi menjadi dua bagian yaitu : a.Penguatan dan Hukuman. Juara 1 dsb). Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah laku. Sebaliknya. Ada 6 asumsi yang membentuk landasan untuk kondisioning operan (Margaret E. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 34 .F.2. Menurut Skinner (J.Skiner Kondisian operan adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensikonsekuensi dari prilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan diulangi. c. Kajian Teori Kondisioning Operan Menurut B. Inti dari teori behaviorisme Skinner adalah Pengkondisian operan (kondisioning operan). b. makanan. b. dll). 272) unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman (punishment). Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). perilaku (senyum. menganggukkan kepala untuk menyetujui. mengacungkan jempol). Belajar itu adalah tingkah laku. Bentukbentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen. hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku. hlm 122). Bell Gredler. Menurut Skinner penguatan berarti memperkuat. atau penghargaan (nilai A. Santrock.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran 35 . sedangkan hukuman menurunkan probabilitas terjadinya perilaku. Dalam hukuman. Dalam penguatan negatif. Agar istilah ini tidak rancu. A. Satu cara untuk mengingat perbedaan antara penguatan positif dan penguatan negatif adalah dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. dan hukuman (J. negatif. konsekuensi meningkatkan prilaku. muka kecewa dll).W Santrock. Adalah mudah mengacaukan penguatan negatif dengan hukuman. adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan). Dalam kedua bentuk itu. Penguatan negatif. Penguatan positif Perilaku Murid Konsekuensi mengajukan Guru menguji murid Prilaku kedepan Murid mengajukan pertanyaan yang bagus B. Hukuman Perilaku Murid menyela guru Konsekuensi Guru mengajar Prilaku kedepan murid Murid berhenti menyela guru langsung Ingat bahwa penguatan bisa berbentuk postif dan negatif. Contoh dari konsep penguatan positif. Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan. perilakunya berkurang. ingat bahwa penguatan negatif meningkatkan probabilitas terjadinya suatu prilaku.b. kening berkerut. memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng. 274). Penguatan negatif Perilaku Murid Konsekuensi lebih banyak pertanyaan Prilaku kedepan makin sering menyerahkan Guru berhenti menegur Murid murid PR tepat waktu menyerahkan PR tepat waktu C. ada sesuatu yang dikurangi atau di hilangkan.

Skinner menyarankan penerapan cara pemberian penguatan komponen tingkah laku seperti menunjukkan perhatian pada stimulus dan melakukan studi yang cocok terhadap tingkah laku. berhasil atau gagal. Skinner menggambarkan praktek “tugas dan ujian” sebagai suatu contoh menempatkan pelajar yang manusia itu dalam kontigensi terminal juga. Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa. yang digambarkan oleh makin tingginya angka keseringan respons. jika benar diberi penguat.Skinner menghasilkan suatu sistem ringkas yang dapat diterapkan pada dinamika perubahan tingkah laku baik di laboratorium maupun di dalam kelas. Tingkah laku yang diinginkan pendidik. Dengan demikian beberapa prinsip belajar yang dikembangkan oleh Skinner antara lain: a. Namun ini lingkungan perlu diubah. jika salah dibetulkan. diberikan sebagai fungsi urutan ketiga unsure (SD)-(R)-(R Reinsf). dan penguat umum. dan sebagainya. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Hukuman harus dihindari karena adanya hasil sampingan yang bersifat emosional dan tidak menjamin timbulnya tingkah laku positif yang diinginkan. Hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable rasio reinforce Belajar dan Model-Model Pembelajaran 36 . digunakan sistem modul. lebih dipentingkan aktivitas sendiri. tidak digunakan hukuman. c. Dalam proses pembelajaran. penguat positif dan negative. d. untuk menghindari adanya hukuman. diberi hadiah. Skinner menyebutkan praktek khas menempatkan binatang percobaan dalam “kontigensi terminal”. dalam mencari jalan lepas dari kurungan atau makanan. Dalam proses pembelajaran. binatang itu harus berusaha penuh resiko. Materi pelajaran. Maksudnya. b. Analisa yang dilakukan Skinner tersebut diatas meliputi peran penguat berkondisi dan alami. c. Bukannya demikian itu prosedur yang mengena ialah membentuk tingkah-laku binatang itu melalui urutan Sitimulus-responpenguatan yang diatur secara seksama. b. Belajar.

Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan. maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat. Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic. Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis. d.e. Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat. diantaranya : a. h. Tingkah laku yang diinginkan. Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah. Dalam pembelajaran. semakin meningkat mencapai tujuan. Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa. d. b. 3. Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri. digunakan shaping. c. f. dianalisis kecil-kecil.F. b. c. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 37 . Aplikasi Skinner terhadap pembelajaran. b. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar. Beberapa aplikasi teori belajar Skinner dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: a. Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman. Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan pembentukan (shaping). jika salah dibetulkan dan jika benar diperkuat. Disamping itu pula dari eksperimen yang dilakukan B. e. Materi pelajaran digunakan sistem modul. i. Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu) g. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.

Jika anak menyelesaikan perilaku sasaran (seperti mengerjakan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 38 . sesegera mungkin setelah murid menjalankan tindakan yang diharapkan. administrasi kompleks. b. Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya.j. apa yang dilakukan murid tapi tidak mudah diperolehnya. seperti permen. Tugas guru berat. Sehingga naik atau tamat sekolah dalam waktu yang berbeda-beda. Untuk mencari penguatan yang efektif bagi seorang anak. Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine. disarankan untuk meneliti apa yang memotivasi anak dimasa lalu. Penguatan alamiah seperti pujian lebih dianjurkan ketimbang penguat imbalan materi. Analisa Perilaku Terapan Dalam Pendidikan Analisis Perilaku terapan adalah penerapan prinsip pengkondisian operan untuk mengubah perilaku manusia. penguatan akan lebih efektif jika diberikan tepat pada waktunya. 4. dan persepsi anak terhadap manfaat dan nilai penguatan. Menjadikan penguat kontingen dan tepat waktu Agar penguatan dapat efektif. Analisis perilaku terapan menganjurkan agar guru mencari tahu penguat apa yang paling baik untuk anak. guru harus memberikan hanya setelah murid melakukan perilaku tertentu. Ini akan membantu anak melihat hubungan kontingensi antar-imbalan dan perilaku mereka. yakni mengindividualisasikan penggunaan penguat tertentu. Memilih Penguatan yang efektif Tidak semua penguatan akan sama efeknya bagi anak. mainan dan uang. Ada tiga penggunaan analisis perilaku yang penting dalam bidang pendidikan yaitu a) Meningkatkan perilaku yang diharapkan Ada lima strategi pengkondisian operan dapat dipakai untuk meningkatkan perilaku anak yang diharapkan yaitu: a. Analisis perilaku terapan seringkali menganjurkan agar guru membuat pernyataan “jika…maka”. k.

variabel : suatu respons diperkuat setelah sejumlah variabel waktu berlalu. 5) Jadwal interval .tetap : respons tepat pertama setelah beberapa waktu akan diperkuat. kamu harus menyelesaikan PR mu dulu diluar kelas sebelum kamu boleh masuk kelas ikut pembelajaran” ini berarti seorang guru menggunakan penguatan negatif. e. Menggunakan Perjanjian. maka anak itu mungkin akan kesulitan membuat hubungan kontingensi. Kontrak kelas mengandung pernyataan “jika… maka” dan di tandatangani oleh guru dan murid. Analisis perilaku terapan menyatakan bahwa perjanjian kelas harus berisi masukan dari guru dan murid. Empat jadwal penguatan utama adalah 1) Jadwal rasio tetap: suatu perilaku diperkuat setelah sejumlah respon. 4) Jadwal interval . guru dapat merujuk anak pada perjanjian yang mereka sepakati. c. frekuensi respons meningkat karena respon tersebut menghilangkan stimulus yang dihindari. Prompt (dorongan) adalah stimulus tambahan atau isyarat tambahan yang diberikan sebelum respons dan meningkatkan kemungkinan respon tersebut akan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 39 . dan kemudian diberi tanggal. Jika muncul problem dan anak tidak bertindak sesuai harapan.seorang guru mengatakan”Pepeng. 2) Jadwal rasio variabel : suatu perilaku diperkuat setelah terjadi sejumlah respon.sepuluh soal matematika) tapi guru tidak memberikan waktu bermain pada anak. Menggunakan penguatan negatif secara efektif Dalam penguatan negatif. Memilih jadwal penguatan terbaik Menyusun jadwal penguatan menentukan kapan suatu respons akan diperkuat. Perjanjian (contracting) adalah menempatkan kontigensi penguatan dalam tulisan. akan tetapi tidak berdasarkan basis yang dapat 3) diperidiksi. c. b) Menggunakan dorongan (prompt) dan pembentukkan (shaping).

hal tersebuat akan menyulitkan lancarnya kegiatan belajarmengajar. mengganggu diskusi kelas. Menghilangkan stimuli yang diinginkan. b. pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. 1994) adalah bahwa: (i) teknologi untuk situasi yang kompleks tidak bisa lengkap. (ii) keseringan respon sukar diterapkan pada tingkah laku kompleks sebagai ukuran peluang kejadian. Shapping (pembentukan) adalah mengajari perilaku baru dengan memperkuat perilaku sasaran. tugas guru akan menjadi semakin berat. Ketika guru ingin mengurangi perilaku yang tidak diharapkan (seperti mengejek. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 40 . Hal itu didukung dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan. Menghentikan penguatan (pelenyapan) c. hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman. c) Mengurangi perilaku yang tidak diharapkan. b. atau sok pintar) yang harus dilakukan berdasarkan analisis perilaku terapan adalah a. G. Skinner a. Menggunakan Penguatan Diferensial. d. Kekurangan Beberapa kelemahan dari teori ini berdasarkan analisa teknologi (Margaret E. Kelebihan Pada teori ini. Disamping itu pula.F. B. tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah kedisiplinan. Memberikan stimuli yang tidak disukai (hukuman) d) Kelebihan dan kekurangan Menurut B.terjadi. analisa yang berhasil bergantung pada keterampilan teknologis. Dengan melaksanakan mastery learning.

jeweran justru berakibat buruk pada siswa. D. Teori Piaget sering disebut sebagai genetic epistemology. cubitan. Menurut Skinner hukuman yang baik adalah anak merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya. Penggunaan hukuman verbal maupun fisik seperti: kata-kata kasar. Sedangkan fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektual.Beberapa Kekeliruan dalam penerapan teori Skinner adalah penggunaan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa. Misalnya anak perlu mengalami sendiri kesalahan dan merasakan akibat dari kesalahan. Inteligensi adalah bagian integral dari setiap organisme karena setiap organisme yang hidup selalu mencari kondisi yang kondusif untuk keberlangsungan hidup. ejekan. inteligensi adalah ciri bawaan yang dinamis sebab tindakan yang cerdas akan berubah saat organisme itu makin matang secara biologis dan mendapat pengalaman. Sedangkan istilah genetik yang dimaksud mengacu pada pertumbuhan developmental bukan warisan biologi. (Dahar . Semua organisme lahir dengan kecenderungan untuk beradaptasi atau Belajar dan Model-Model Pembelajaran 41 . Struktur atau skemata merupakan organisasi mental tingkat tinggi yang terbentuk pada individu waktu ia berinteraksi dengan lingkungannya. Namun bagaimana kecerdasan memanifestasikan dirinya pada waktu tertentu akan selalu bervariasi sesuai kondisi yang ada. Teori Belajar Menurut Piaget Tujuan teori Piaget adalah untuk menjelaskan mekanisme dan proses perkembangan intelektual sejak masa bayi dan kemudian masa kanak-kanak yang berkembang menjadi seorang individu yang dapat bernalar dan berpikir menggunakan hipotesis-hipotesis. isi dan fungsi. karena teori ini berusaha melacak perkembangan kemampuan intelektual. Ada tiga aspek perkembangan intelektual yaitu : struktur.1988:179). Fungsi itu terdiri dari organisasi dan adaptasi. Piaget mengemukakan. Isi merupakan pola perilaku khas anak yang tercermin pada responnya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya.

Organisasi (tindakan penataan). Dalam responnya organisme mengubah kondisi lingkungan. Melalui proses ini. Dari hasil penelitiannya dalam bidang biologi. Piaget menyimpulkan dari penelitiannya bahwa organisme bukanlah agen yang pasif dalam perkembangan genetik. b. Dan proses akomodasi seseorang memerlukan modifikasi struktur mental yang ada untuk mengadakan respon terhadap tantangan lingkungan. Pada proses ini berisi dua kegiatan. membangun struktur biologi tertentu yang ia perlukan untuk tetap bisa mempertahankan hidupnya. ia berkeyakinan bahwa suatu organisme hidup dan lahir dengan dua kecenderungan yang fundamental.menyesuaikan diri dengan lingkungan mereka. Adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui 2 proses yaitu : assimilasi dan akomodasi. Perubahan genetik bukan peristiwa yang menuju kelangsungan hidup suatu organisme melainkan adanya adaptasi terhadap lingkungannya dan adanya interaksi antara organisme dan lingkungannya. sehingga akan terjadi keseimbangan (equilibrium). Perkembangan kognitif yang dikembangkan Piaget banyak dipengaruhi oleh pendidikan awal Piaget dalam bidang biologi. Cara beradaptasi ini berbeda antara organisme yang satu dengan yang lain. Yaitu proses ketika manusia menghubungkan informasi yang diterimanya dengan struktur-struktur pengetahuan yang sudah disimpan atau sudah ada sebelumnya dalam otak. mengabungkan atau mengintegrasikan pengetahuan yang diterima oleh manusia atau disebut asimilasi. mengubah struktur pengetahuan yang sudah dimiliki dengan struktur pengetahuan baru. manusia dapat memahami sebuah informasi baru yang didapatnya dengan menyesuaikan informasi tersebut dengan struktur pengetahuan yang dimilikinya. yaitu kecenderungan untuk : a. Pertama. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 42 . Kedua. sehingga manusia dapat mengasimilasikan atau mengakomodasikan informasi atau pengetahuan tersebut. Beradaptasi. Dalam proses asimilasi seseorang menggunakan struktur atau kemampuan yang sudah ada untuk menanggapi masalah yang dihadapinya dalam lingkungan.

asimilasi tidak menghasilkan perubahan skemata. skemata yang tersedia untuk anak harus berubah. tetapi asimilasi mempengaruhi pertumbuhan skemata. keadaan. Adaptasi terdiri atas proses yang saling mengisi antara asimilasi dan akomodasi. Agar terjadi interaksi organisme-lingkungan. skema dianggap sebagai elemen penting dalam struktur kognitif organisme. Misalnya.Untuk memahami proses-proses penataan dan adaptasi terdapat empat konsep dasar. kejadian) dan menata lingkungan ini secara intelektual. yang aktif dalam menggunakan skema untuk merespon lingkungan. Seseorang tidak hanya memproses satu stimulus saja. Skema lebih dari sekedar manifestasi refleksi memegang saja. Dengan asimilasi seseorang mengintegrasikan bahan-bahan persepsi atau stimulus ke dalam skema yang ada atau tingkah laku yang ada. yaitu sebagai berikut: 1) Skema. Asimilasi berlangsung setiap saat. Istilah skema atau skemata yang diberikan oleh Piaget untuk dapat menjelaskan mengapa seseorang memberikan respon terhadap suatu stimulus dan untuk menjelaskan banyak hal yang berhubungan dengan ingatan. Secara teoritis. Skemata dapat muncul dalam perilaku yang jelas. cara anak menghadapi lingkungan akan berubah seiring dengan pertumbuhan anak. Jelas. Dengan demikian asimilasi adalah bagian dari proses Belajar dan Model-Model Pembelajaran 43 . seperti dalam kasus refleks memegang. atau muncul secara tersamar. Skema memegang dapat dianggap sebagai struktur kognitif yang membuat semua tindakan memegang bisa dimungkinkan. 2) Asimilasi Asimilasi itu suatu proses kognitif. orang. Manifestasi skema yang tidak jelas dapat disamakan dengan tindak berpikir. Skema adalah struktur kognitif atau serangkaian perilaku terbuka secara sistematis yang digunakan oleh manusia untuk mengadaptasi diri terhadap lingkungan (barang. Skema akan menentukan bagaimana ia akan merespon lingkungan fisik. melainkan memproses banyak stimulus. Dalam teori Piaget. skema memegang adalah kemampuan umum untuk memegang sesuatu.

Proses akomodasi adalah proses memodifikasi struktur kognitif yang sudah dimiliki dengan informasi yang diterima. 3) Akomodasi Akomodasi dapat diartikan penyesuaian aplikasi skema yang cocok dengan lingkungan yang direspons . Yaitu keseimbangan antara proses asimilasi dan akomodasi. dengan proses itu individu secara kognitif mengadaptasi diri terhadap lingkungan dan menata lingkungan itu. Dan tidak akan mampu melihat persamaan antara berbagai hal. Yaitu keseimbangan antara skema yang digunakan dengan lingkungan yang direspons sebagai hasil ketepatan akomodasi . Dalam proses adaptasi dengan lingkungan individu berusaha mencapai struktur mental atau skemata yang stabil. Dengan keseimbangan ini maka efisiensi interaksi antara anak yang sedang berkembang dengan lingkungannya dapat tercapai dan terjamin. Antara asimilasi dan akomodasi harus ada keserasian dan oleh Piaget disebut sebagai keseimbangan.kognitif. Seandainya hanya asimilasi secara kontinu maka yang bersangkutan hanya akan memiliki beberapa skemata global dan ia tidak mampu melihat perbedaan antara berbagai hal. maka hanya memiliki skemata kecil-kecil saja dan mereka tidak memiliki skemata yang umum. Proses ekuilibrasi ini merupakan proses yang berkesinambungan antara proses asimilasi dan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 44 . Proses ini perlu untuk pertumbuhan dan perkembangann kognitif. Sebaliknya jika hanya akomodasi saja secara kontinu. Atau sebagai penciptaan skemata baru atau pengubahan skemata lama. Asimilasi dan akomodasi terjadi sama-sama saling mengisi pada setiap individu yang menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Proses asimilasi dan akomodasi akan menimbulkan ketidakseimbangan antara yang telah diketahui dengan apa yang dilihat atau dialaminya sekarang. Dengan kata lain terjadi keseimbangan antara faktor-faktor internal dan faktor eksternal. 4) Keseimbangan. Proses ketidakseimbangan ini harus disesuaikan melalui proses ekuilibrasi.

c.0 tahun) Pada periode ini tingksh laku anak bersifat motorik dan anak menggunakan system penginderaan untuk mengenal lingkungannya untu mengenal obyek. Periode Pra operasional (2. Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat. pemikiran seorang anak berbeda pada setiap tahap. Periode konkret (7. Pemikiran anak tidak lagi didominasi oleh persepsi.0-dewasa) Belajar dan Model-Model Pembelajaran 45 . b. Tahapan ini secara kualitatif berbeda pada setiap individu. Untuk keperluan pegkonseptualisasian pertumbuhan kognitif /perkembangan intelektual Piaget membagi perkemabngan ini ke dalam 4 periode yaitu : a. Demikian pula. Kemampuan bayi melalui tahapan ini bersumber dari tekanan biologis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan (melalui asimilasi dan akomodasi) serta adanya pengorganisasian struktur berpikir.0-7.0 tahun) d.akomodasi. Seseorang harus melalui urutan tertentu dan tidak dapat belajar sesuatu yang berada di luar tahap kognitifnya.0 tahun) Pada periode ini anak bisa melakukan sesuatu sebagai hasil meniru atau mengamati sesuatu model tingkah laku dan mampu melakukan simbolisasi. Periode operasi formal (11. Batasan umur tersebut diberikan oleh Ginsburg dan Opper. Desmita mengutip dari Mussen (1969) mengatakan bahwa Piaget tidak menegaskan batasan umur dalam masing-masing tahap.0-11. Pada periode ini anak sudah mampu menggunakan operasi. Periode Sensori motor (0-2. Perubahan struktur kognitif yang dipengaruhi oleh proses adaptasi tersebut melalui tahap-tahap perkembangan tertentu sesuai dengan umurnya dan bersifat hierarki. sebab anak mampu memecahkan masalah secara logis. Proses ini akan menjaga stabilitas mental dalam diri pembelajar dan ia akan dapat terus mengembangkan dan menambah pengetahuannya. e.

Pengalaman fisis. merupakan pengembanagn dari susunan syaraf. anak harus mempunyai pengalaman dengan benda-benda dan stimulus-stimulusdalam lingkungan tempat ia beraksi terhadap benda-benda itu. Interaksi social. adalah suatu system pengaturan sendiri yang bekerja untuk e. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 46 . b. dan interksi social. anak remaja mampu berpikir logis untuk semua jenis masalah hipotesis. penglaman fisis. menyelesaikan peranan pendewasaan. Piaget mengemukakan bahwa ada 4 aspek yang besar yang ada hubungnnya dengan perkembangan kognitif : a. Keseimbangan. adalah pertukaran ide antara individu dengan individu d.Periode operasi fomal merupakan tingkat puncak perkembangan struktur kognitif. c. masalah verbal. Pendewasaaan/kematangan. dan ia dapat menggunakan penalaran ilmiah dan dapat menerima pandangan orang lain.

Bab III MODEL-MODEL PEMBELAJARAN Belajar dan Model-Model Pembelajaran 47 .

cara belajar secara penemuan (discovery). partisipasi di dalam proyek. penelitian. dan Menyenangkan. Satu konsep yang membantu Belajar dan Model-Model Pembelajaran 48 . supaya mereka dapat menjadi pelajar selama hidup (life long learner) yang efektif. analisa. penemuan. Yang kedua menyangkut ”cara siswa kita belajar” yaitu “A conception that helps teachers relate subject matter content to real world situations and motivates student to make connections between knowledge and its application to their lives as family members. sementara guru menggunakan berbagai sumber dan alat bantu belajar termasuk pemanfaatan lingkungan supaya pembelajaran lebih menarik. penyelidikan.2001).” (BEST. Yang menyangkut dua aspek tentang penelitian pelaksanaan PAKEM dalam mendukung KTSP. Philip Rekdale (2005) melakukan penelitian menyangkut sejauh mana PAKEM mendukung pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif. Fokus PAKEM adalah pada kegiatan siswa di dalam bentuk grup.III MODEL-MODEL PEMBELAJARAN A. individu dan kelas. Kreatif. dan beberapa macam strategi yang hanya dibatasi dari imaginasi guru. dan kritis. menyenangkan dan efektif. citizens and workers. secara kreatif. PAKEM adalah sebuah model pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengejakan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan keterampilan dan pemahaman dengan penekanan kepada belajar sambil bekerja. yang pertama mereka perlu mulai belajar mengenai cara mereka belajar (learning how to learn).

melaksanakan maupun mengevaluasi proses pembelajarannya. Menyenangkan berarti tidak membelenggu. Menyenangkan Menyenangkan merupakan ciri ke empat dari PAKEM dengan maksud pembelajaran dirancang untuk menciptakan suasana yang menyenangkan. Kreatif . Guru diharapkan mampu menciptakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Guru terlibat secara aktif dalam merancang. memanipulasi objek-objek yang ada di dalamnya serta mengamati pengaruh dari manipulasi yang sudah dilakukan. masyarakat dan karyawan-karyawan. Efektif Ciri ketiga pembelajaran PAKEM adalah efektif . 2. Efektif. Kreatif Kreatif merupakan ciri ke-2 dari PAKEM yang artinya pembelajaran yang membangun kreativitas siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan. 1. kreatif dan menyenangkan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran. 4. Menyenangkan. Aktif Ciri aktif dalam PAKEM berarti dalam pembelajaran memungkinkan siswa berinteraksi secara aktif dengan lingkungan. yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dari kepanjangannya PAKEM mempunyai empat ciri-ciri pembelajaran yaitu Aktif.Gurupun dituntut untuk kreatif dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. Guru diharapkan dapat menciptakan suasana yang mendukung (kondusif) sehingga siswa aktif bertanya. sehingga siswa memusatkan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 49 . Maksudnya pembelajaran yang aktif. 3. bahan ajar serta sesama siswa lainnya terutama dalam menyelesaikan tugas-tugas pembelajarannya.guru-guru menghubungkan isi mata pelajaran dengan situasi keadaan di dunia (real world) dan memotivasikan siswa untuk lebih paham hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya kepada hidup mereka sebagai anggota keluarga.

Pembelajarannya mengaktifkan peserta didik b.waktu rehat dan jeda teratur serta dukungan antusias. dengan demikian waktu untuk mencurahkan perhatian (time of task) siswa menjadi tinggi. Menjamin bahwa bahan ajar itu relevan.perhatiannya secara penuh pada pembelajaran. Pembelajarannya efektif d. Sehubungan dengan ciri menyenangkan dalam PAKEM. Mendorong kreativitas peserta didik &guru c. ketika ada humor dan dorongan semangat. e. Anda ingin belajar ketika Anda melihat manfaat dan pentingnya bahan ajar. namum harapan untuk sukses tetap tinggi. lingkungan yang aman untuk melakukan kesalahan. Menantang peserta didik untuk dapat berpikir jauh ke depan dan mengekspresikan apa yang sedang dipelajari dengan sebanyak mungkin kecerdasan yang relevan untuk memahami bahan ajar. Prinsip PAKEM Prinsip PAKEM antara lain: Belajar dan Model-Model Pembelajaran 50 . c. Pembelajarannya menyenangkan utamanya bagi peserta didik 2. Menciptakan lingkungan tanpa stress (relaks). Dengan demikian diharapkan siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya. yang pada umumnya hal itu terjadi ketika belajar dilakukan bersama orang lain. Ciri-Ciri/Karakteristik PAKEM Ciri-ciri/karakteristik PAKEM adalah: a. b. Menjamin bahwa belajar secara emosional adalah positif. d. Rose and Nocholl (2003) mengatakan bahwa pembelajaran yang menyenangkan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : a. 1. Demikian Rose dan Nicholl. Melibatkan secara sadar semua indera dan juga pikiran otak kiri dan otak kanan.

5) Menentukan strategi pembelajaran. Sementara itu. dan perbuatan. dan portofolio. 2) Menentukan kebutuhan pembelajaran. d. 6) Akuntabilitas lembaga. Mengalami: peserta didik terlibat secara aktif baik fisik. 4) Membantu dan mendorong guru untuk mengajar yang lebih baik. b. Dalam pembelajaran. Bentuk penilaian tes dapat dilakukan secara lisan. tertulis. 3) Membantu dan mendorong siswa. Hal ini disebabkan setiap jenis atau bentuk penilaian tersebut memiliki beberapa kelemahan selain keunggulan. kuesioner. bentuk penilaian non tes dilakukan dengan menggunakan skala sikap. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 51 . cek lis. mental maupun emosional b. c. Interaksi: kegiatan pembelajarannyaa memungkinkan terjadinya interaksi multi arah d. Penilaian yang sesuai dengan pembelajaran model Pakem adalah penilaian otentik yang merupakan proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan. dengan pendekatan Pakem rangkaian penilaian ini seyogiayanya dilakukan oleh seorang guru. 7) Meningkatkan kualitas pendidikan. Jenis Penilaian Model PAKEM a. membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai. Komunikasi: kegiatan pembelajaran memungkinkan terjadinya komunikasi antara guru dan peserta diidik c. Refkesi: kegiatan pembelajarannya memungkinkan peserta didik memikirkan kembali apa yang telah dilakukan 3.a. Tujuan Penilaian otentik itu sendiri adalah untuk: 1) Menilai Kemampuan Individual melalui tugas tertentu. studi kasus.

oleh Gladene Robertson dan Hellmut Lang di maknai selain sebagai Kerangka umum untuk Praktek Profesional guru. penilaian dirancang sebagaimana dengan penilaian otentik. (2) menjadi bahan refleksi tentang pembelajaran yang sudah dilakukannya. Pendekatan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 52 . Tujuan Penilaian Model PAKEM a. maupun petunjuk pelaksanaanya. Membantu dan mendorong guru untuk mengajar yang lebih baik e. Merancang penilaian dilakukan bersamaan dengan merancang pembelajaran tersebut. Artinya. Penilaian disesuaikan dengan pendekatan dan metode yang dilaksanakan dalam pembelajaran. Merancang dan Melaksanakan Penilaian Model PAKEM a. selama pembelajaran itu berlangsung. (3) merupakan seni. Meningkatkan kualitas pendidikan 5. Selain itu dokumen itu juga dimaksudkan untuk mendorong para guru untuk: (1) mengkaji lebih jauh tentang pendekatan-pendekatan pembelajaran yang lainnya. Akuntabilitas lembaga g. Dalam pembelajaran dengan pendekatan model Pakem. Gambaran mengenai pendekatan pembelajaran yang lebih jelas terdapat dalam artikel pendidikan yang diterbitkan oleh Saskatchewan education (1980). dan (4) juga sebagai katalisator untuk mengembangkan profesional guru lebih lanjut. Menentukan strategi pembelajaran f. Menilai kemampuan individual melalui tugas tertentu b. juga dimaksudkan sebagai studi komprehensif tentang praktik pembelajaran. Menentukan kebutuhan pembelajaran c. Pendekatan pembelajaran sebagai bahan kajian yang terus berkembang. seperti hal nya ilmu mengajar yang terus berkembang. Membantu dan mendorong siswa d.4. guru selain sebagai fasilitator juga melakukan penilaian dengan berbagai alat yang sesuai dengan kegiatan yang dilakukan oleh siswa. b.

pembelajaran digambarkan sebagai kerangka besar tentang tugas profesional guru yang di dalamnya meliputi: model-model pembelajaran. Wallace (1992: 13) pendekatan pembelajaran dibedakan menjadi 2. Sedangkan pendekatan liberal (liberal approaches) Belajar dan Model-Model Pembelajaran 53 . pendekatan pembelajaran digambarkan sebagai kerangka umum tentang skenario yang digunakan guru untuk membelajarkan siswa dalam rangka mencapai suatu tujuan pembelajaran. yaitu: Pendekatan konservatif (conservative approaches) dan pendekatan liberal (liberal approach). metode-metode pembelajaran dan juga keterampilan-keterampilan mengajar. Pendekatan konservatif memandang bahwa proses pembelajaran yang dilakukan sebagai mana umumnya guru mengajarkan materi kepada siswanya. metode pembelajaran maupun keterampilan mengajar tertentu dalam rangka mencapai suatu tujuan pembelajaran. Diagram tersebut juga memperlihatkan dengan lebih jelas tentang hubungan antara model pembelajaran. Pendekatan pembelajaran digambarkan dalam diagram sebagai berikut: Instructional Frame Work (Sumber: Saskatchewan Education. 1988:9) Berdasarkan diagram di atas. Guru mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa. strategi pembelajaran. Menurut Philip R. sedangkan siswa lebih banyak sebagai penerima. strategi pembelajaran. Strategi-strategi pembelajaran. metode pembelajaran dan keterampilan mengajar. Pendekatan pembelajaran juga merupakan skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan guru dengan menyusun dan memilih model pembelajaran.

1987. dalam bukunya “The Process of Learning”. b. bakat dan minat serta modalitas gaya belajar individu siswa. c. Mengakui pekerjaan siswa dalam satu bidang untuk memberikan semangat pada pekerjaan lain berikutnya. h. menyebutkan paling tidak ada 12 aspek dari sebuah pembelajaran kreatif. yang harus dipahami dan dilakukan oleh seorang guru yang baik dalam proses pembelajaran terhadap siswa: a. edisi kedua. John B. Menggunakan kemampuan fantasi dalam proses pembelajaran untuk membangun hubungan dengan realitas dan kehidupan nyata. i. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar meningkatkan rasa tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan bantuan jika mereka membutuhkan. Biggs and Ross Telfer. f. 6. d. g. Mendorong siswa untuk terus maju mencapai sukses dalam bidang yang diminati dan penghargaan atas prestasi mereka. Peranan Guru Dalam Model PAKEM Agar pelaksanaan Pakem berjalan sebagaimana diharapkan.adalah pendekatan pembelajaran yang memberi kesempatan luas kepada siswa untuk mengembangkan strategi dan keterampilan belajarnya sendiri. karakter. e. Menyatakan kapada para siswa bahwa guru-guru merupakan mitra mereka dan perannya Belajar dan Model-Model Pembelajaran 54 . Memahami potensi siswa yang tersembunyi dan mendorongnya untuk berkembang sesuai dengan kecenderungan bakat dan minat mereka. Memuji keindahan perbedaan potensi. Menghargai potensi siswa yang lemah/lamban dan memperlihatkan entuisme terhadap ide serta gagasan mereka. Mendorong dan menghargai keterlibatan individu siswa secara penuh dalam proyek-proyek pembelajaran mandiri.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran 55 . Menciptakan suasana belajar yang kondusif dan bebas dari tekanan dan intimidasi dalam usaha meyakinkan minat belajar siswa. Memberikan tes/ujian yang bisa mendorong terjadinya umpan balik dan semangat/gairah pada siswa untuk ingin mempelajari materi lebih dalam. Mendorong terjadinya proses pembelajaran interaktif. inkuiri dan diskaveri agar terbentuk budaya belajar yang bermakna (meaningful learning) pada siswa.sebagai motivator dan fasilitator bagi siswa. k. j. l. kolaboratif.

Examples memberikan gambaran akan sesuatu yang menjadi contoh akan suatu materi yang sedang dibahas. Siswa berangkat dari suatu definisi yang selanjutnya digunakan untuk memperluas pemahaman konsepnya dengan lebih mendalam dan lebih komplek.B. c. Taktik ini bertujuan untuk mempersiapkan siswa secara cepat dengan menggunakan 2 hal yang terdiri dari examples non examples dari suatu definisi konsep yang ada dan meminta siswa utnuk mengklasifikasikan keduanya sesuai dengan konsep yang ada. Siswa terlibat dalam satu proses discovery (penemuan). Siswa diberi sesuatu yang berlawanan untuk mengeksplorasi karakteristik dari suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian non examples yang dimungkinkan masih terdapat beberapa bagian yang merupakan suatu karakter dari konsep yang telah dipaparkan pada bagian examples. yaitu: a. Urutkan dari yang gampang sampai yang ke sulit. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 56 . Bandingkan dan bedakan contoh-contoh dan bukan contoh. yang mendorong mereka untuk membangun konsep secara progresif melalui pengalaman dari examples non examples. Pilih contoh yang berbeda satu sama lainnya. sedangkan non examples memberikan gambaran akan sesuatu yang bukanlah contoh dari suatu materi yang sedang dibahas. b. b. Model Pembelajaran Examples non Example Menurut Buehl (1996) examples non examples adalah taktik yang dapat digunakan untuk mengajarkan definisi konsep. Tennyson dan Pork (1980) dalam Slavin 1994 menyarankan bahwa jika guru akan menyajikan contoh dari suatu konsep maka ada tiga hal yang seharusnya diperhatikan. c. Menurut Buehl (1996) keuntungan dari metode examples non examples antara lain: a.

Melalui diskusi gambar tersebut dicatat pada kertas. yang menggunakan model inkuiri untuk memperkenalkan konsep yang baru dengan metode example non example. Guru memberi kesempatan pada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisis. Joyce and Weil (1986) dalam Buehl (1996) telah memberikan kerangka konsep terkait strategi tindakan. 1. Guru menempelkan gambar/tulisan dipapan atau ditayangkan .Menyiapkan pengalaman dengan contoh dan non contoh akan membantu siswa untuk membangun pemikiran yang kaya dan lebih mendalam dari sebuah konsep penting. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 57 . Setelah itu meminta tiap pasangan untuk menginformasikan di kelas untuk mendiskusikan secara klaikal sehingga tiap siswa dapat memberikan umpan balik. Menyajikannya dalam satu waktu dan meminta siswa untuk memikirkan perbedaan apa yang terdapat pada dua daftar tersebut. Menyiapkan examples non examples tambahan. adalah meminta siswa untuk mendeskripsikan konsep yang elah diperoleh dengan menggunakan karakter yang telah didapat dari examples non examples. tanyakanlah pada mereka apa yang membuat kedua daftar tersebut berbeda. b. Guru menggunakan gambar/tulisan sesuai tengan tujuan pembelajaran. Langkah-langkah Pembelajaran Langkhah-langkah: a. b. Kerangka konsep tersebut antara lain: a. Guru memberi petunjuk pada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisis. Selama siswa memikirkan tentang tiap example dan non example tersebut. Menggeneralisasikan pasangan antara contoh dan non contoh yang menjelaskan beberapa dari sebagian esar kareakter atau atribut dari konsep baru. mengenai konsep yang lebih spesifik untuk mendorong siswa mengecek hipotesis yang telah dibuatnya sehingga mampu memahami konsep yang baru. c. Sebagai bagian penutup. Meminta siswa untuk bekerja berpasangna untuk menggeneralisasikan konsep examples non examples mereka. c. e. d. d.

b. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik. h. Strategi yang digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa. mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.f. Dalam kegiatan belajar. menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 58 . g. motivbasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan. ditandai dengan adanaya feeling. Motivasi instrinsik. jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan dari luar. Motivasi Belajar Motivasi berpangkal dari kata motiv yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada didalam diri seseorang untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. motivasi adalah perubahan energi dalamdiri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. motivasi sangat diperlukan. Jenis motivasi belajar ada dua yaitu: a. sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi. Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktifitas belajar. ialah : a. Dari pengertian tersebut. jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu. Dalam kegiatan belajar. Guru menjelaskan materi sesuai tujuan yang dicapai. Adapun menurut Mc Donald. Motivasi ekstrinsik. dan rangsang karena adanya tujuan. Kesimpulan 2. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiap siagaan).

Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau mengubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya. m. Saingan atau kompetisi f. Hadiah d. Menggunakan metode yang bervariasi. siswa yang belum berprestai akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi. Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seseorang guru menjelaskan mengenai tujuan instruksional khusus yang akan dicapai kepada siswa makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar. 3. Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar l. p. c. k. Hukuman j. Hal ini akan memacu semangat meraka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Hasil Belajar Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.b. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok. n. Selanjutnya dari informasi tersebut guru dapat menysun dan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 59 . berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya. Proses penilaian tehadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik. e. Pujian h. Membentuk kebiasaan belajar yang baik. Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Pujian yang bersifat membangun kepada siswa yang berprestasi. i. g. Disamping itu. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Guru berusaha mengadakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya. o.

3) Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya mengenai analisis gambar yang relevan dengan kompetensi dasar (KD). faktor ini lebih ditekankan pada faktor dari dalam individu yang belajar. (Nana Sudjana. Pengetahuan dan pengertian Sikap dan cita-cita yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ada pada kurikulum sekolah. Keterampilan dan kebiasaan. (Nana Sudjana. harus semakin tinggi hasil belajar yang diperoleh siswa. Proses belajar merupakan penunjang hasil belajar yang dicapai siswa. 1) Siswa lebih berpikir kritis dala mengenalisis gambar yang relevan dengan kompetensi dasar (KD). 2004: 22) Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar a. Faktor eksternal. Faktor internal. Hasil belajar yang diperoleh siswa adalah sebagai akibat dari proses belajar yang dilakukan oleh siswa. diantaranya adalah sebagai berikut. Ada pun kelemahan dalam menggunakan model Examles non examples. pencapaian tujuan belajar perlu diciptka adanya sistem lingkkungan belajar yang kondusif.membina kegiatan-kegitan siswa lebih lanjut. 2) Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar yang relevan dengan kompetensi dasar (KD). adalah sebagai berikut: Belajar dan Model-Model Pembelajaran 60 . c. Kunggulan dan Kekurangan Menggunakan Model Pembelajaran Examples Non Examples Ada beberapa keunggulan dalam menggunakan model examples non examles. b. baik untuk keseluruhan kelas maupun individu. Hasil belajar dibagi dalam tiga macam hasil belajar yaitu: a. 1989: 111) 4. b.

2) Memakan waktu yang lama.1) Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 61 .

Apapun istilah yang digunakan para ahli tersebut. Terkait dengan CTL ini. belum menyentuh kebutuhan praktis kehidupan siswa. pada dasarnya kontekstual berasal dari bahasa Inggris “contextual” yang berarti sesuatu yang berhubungan dengan konteks. Landasan filosofis CTL adalah konstruktivisme yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekadar menghafal. Pemahaman konsep akademik yang dimiliki siswa hanyalah merupakan sesuatu yang abstrak. Pembelajaran secara konvensional yang diterima siswa hanyalah penonjolan tingkat hafalan dari sekian macam topik. Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning Salah satu strategi pembelajaran yang dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan dengan produktif dan bermakna bagi siswa adalah strategi pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang selanjutnya disebut CTL. tetapi merekonstruksikan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 62 .C. pengalaman yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pembelajaran dapat mendorong siswa membuat hubungan antara materi yang dipelajari. strategi pembelajaran kontekstual. Strategi CTL fokus pada siswa sebagai pembelajar yang aktif. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar siswa tidak mampu menghubungkan antara materi yang mereka pelajari dengan pemanfaatannya dalam kehidupan nyata. dan model pembelajaran kontekstual. Oleh sebab itu pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang mana guru menggunakan pengalaman siswa yang pernah dilihat atau dilakukan dalam kehidupannya sebagai sumber belajar pendukung. dan memberikan rentang yang luas tentang peluang-peluang belajar bagi mereka yang menggunakan kemampuan-kemampuan akademik mereka untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan nyata yang kompleks. seperti: pendekatan pembelajaran kontekstual. para ahli menyebutnya dengan istilah yang berbedabeda. tetapi belum diikuti dengan pengertian dan pemahaman yang mendalam yang bisa diterapkan ketika mereka berhadapan dengan situasi baru dalam kehidupannya.

sawah. sehingga siswa memiliki pengetahuan/ Belajar dan Model-Model Pembelajaran 63 . atau tempat-tempat lainnya. baik konteks pribadi. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa pikiran secara alami akan mencari makna dari hubungan individu dengan linkungan sekitarnya. Kehadiran kurikulum berbasis kompetensi juga dilandasi oleh pemikiran bahwa berbagai kompetensi akan terbangun secara mantap dan maksimal apabila pembelajaran dilakukan secara kontekstual.atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami dalam kehidupannya. Mengharuskan pendidik (guru) untuk pintar-pintar memilih serta mendesain linkungan belajar yang betul-betul berhubungan dengan kehidupan nyata. Hal ini penting diterapkan agar informasi yang diterima tidak hanya disimpan dalam memori jangka pendek. budaya. Menurut teori pembelajran kontekstual. CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat. serta lainnya. pembelajaran terjadi hanya ketika siswa (peserta didik) memproses informasi atau pengetahuan baru sedemikian rupa sehingga dapat terserap kedalam benak mereka dan mereka mampu menghubungannya dengan kehidupan nyata yang ada di sekitar mereka. Berdasarkan pemahaman di atas. dengan cara menghubungkan muatan akademis dengan konteks kehidupan sehari-hari peserta didik. yang mudah dilupakan. untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. tetapi dapat disimpan dalam memori jangka panjang sehingga akan dihayati dan diterapkan dalam tugas pekerjaan. kesehatan. sosial. menurut metode pembelajaran kontekstual kegiatan pembelajaran tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas. Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah sistem pembelajaran yang cocok dengan kinerja otak. tapi bisa di laboratorium. ekonomi. Pendekatan ini selaras dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi yang diberlakukan saat ini dan secara operasional tertuang pada KTSP. tempat kerja.

a) Problem-Based Learning. para siswa dapat menemukan hubungan bermakna antara ide-ide abstrak dengan aplikasi praktis dalam konteks dunia nyata. 1. yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar melalui berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah dalam rangka memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. Atau kelas biologi atau kelas kimia bisa belajar konsep dasar ilmu alam dengan mempelajari penyebaran AIDS atau cara-cara petani bercocok tanam dan pengaruhnya terhadap lingkungan. Sebagai contoh. memperkuat. yaitu pendekatan pengajaran yang menperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna melalui pengembangan keterampilan berpikir dan pemecahan masalah yang penting di dalam konteks kehidupan nyata. dan mengkulminasikannya dalam produk nyatae. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 64 . Karakteristik Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual mempunyai karakteristik sebagai berikut. konsep diinternalisasi melalui menemukan. d) Project-Based Learning. serta menghubungkan. c) Inquiry-Based Learning.ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. pendekatan pembelajaran yang memperkenankan siswa untuk bekerja mandiri dalam mengkonstruk pembelajarannya (pengetahuan dan keterampilan baru). Pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan. b) Authentic Instruction. kelas fisika yang mempelajari tentang konduktivitas termal dapat mengukur bagaimana kualitas dan jumlah bahan bangunan mempengaruhi jumlah energi yang dibutuhkan untuk menjaga gedung saat terkena panas atau terkena dingin. Dalam lingkungan seperti itu. pendekatan pembelajaran yang mengikuti metodologi sains dan memberi ke-sempatan untuk pembelajaran bermakna.

saling menunjang. f) Service Learning. siswa kritis dan guru kreatif. pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi ajar dan menggunakannya kembali di tempat kerja. e) Work-Based Learning. 1) Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri. siswa aktif.Secara lebih sederhana karakteristik pembelajaran kontekstual dapat dinyatakan menggunakan sepuluh kata kunci yaitu: kerja sama. menemukan sendiri dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya 2) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik 3) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya 4) Ciptakan masyaraka belajar (belajar dalam kelompok) 5) Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran 6) Lakukan refleksi di akhir pertemuan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 65 . belajar dengan gairah. menyenangkan.bekerja sama. yaitu pendekatan pembelajar-an yang menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru dan berbagai keterampilan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat melalui proyek/tugas terstruktur dan kegiatan lainnya. 2. pembelajaran terintegrasi. g) Cooperative Learning. dan saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam. menggunakan berbagai sumber. Kelas dikatakan menerapkan CTL jika menerapkan ke tujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya. yaitu pendekatan pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam rangka memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. sharing dengan teman. Implementasi Pembelajaran Kontekstual di Kelas Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama. Secara garis besar langkah-langkah penerapatan CTL dalam kelas sebagai berikut.

Bertanya dalam pembelajaran CTL dipandang sebagai upaya guru yang bisa mendorong siswa untuk Belajar dan Model-Model Pembelajaran 66 . e) Pengetahuan siswa tumbuh dan berkembang melalui pengalaman sendiri. b. Prinsip konstruktivisme yang harus dimiliki guru adalah sebagai berikut.7) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara Untuk lebih jelasnya uraian setiap komponen utama CTL dan penerapannya dalam pembelajaran adalah sebagai berikut sebagai berikut: a. melainkan harus dkonstruksi terlebih dahulu dan memberikan makna melalui pengalaman nyata. c) Siswa mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk menemukan dan menerapkan idenya sendiri. Karena itu siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah. Pembelajaran konstruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif. d) Siswa diberikan kebebasan untuk menerapkan strateginya sendiri dalam belajar. kreatif dan produktif berdasarkan pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang bermakna. Pengetahuan bukanlah serangkaian fakta. menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya. konsep dan kaidah yang siap dipraktekkan. g) Pengalaman siswa bisa dibangun secara asimilasi (pengetahuan baru dibangun dari pengetahuan yang sudah ada) maupun akomodasi (struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menyesuaikan hadirnya pengalaman baru). a) Proses pembelajaran lebih utama dari pada hasil pembelajaran. f) Pengalaman siswa akan berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila diuji dengan pengalaman baru. Kontruktivisme (Constructivism) Komponen ini merupakan landasan berfikir pendekatan CTL. dan mengembangkan ideide yang ada pada dirinya. Bertanya (Questioning) Komponen ini merupakan strategi pembelajaran CTL. b) Informasi bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata siswa lebih penting daripada informasi verbalistis.

Kegiatan ini diawali dari pengamatan terhadap fenomena. tetapi hasil menemukan sendiri dari fakta yang dihadapinya. membangkitkan lebih banyak pertanyaan bagi diri siswa. sekaligus mengetahui perkembangan kemampuan berfikir siswa.mengetahui sesuatu. Prinsip yang perlu diperhatikan guru dalam pembelajaran berkaitan dengan komponen bertanya sebagai berikut. d) Bagi guru. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 67 . mengetahui hal-hal yang diketahui siswa. mengetahui kadar keingintahuan siswa. c. membangkitkan respon siswa. dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh siswa. mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi. e) Dalam pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya berguna untuk: menggali informasi. Prinsip yang bisa dipegang guru ketika menerapkan komponen inquiry dalam pembelajaran adalah sebagai berikut. bertanya kepada siswa bisa mendorong. a) Penggalian informasi lebih efektif apabila dilakukan melalui bertanya. memfokuskan perhatian siswa sesuai yang dikehendaki guru. Pada sisi lain. mengecek pemahaman siswa. Menemukan (Inquiry) Komponen menemukan merupakan kegiatan inti CTL. membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Pengetahuan dan keterampilan akan lebih lama diingat apabila siswa menemukan sendiri. Dengan demikian pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa tidak dari hasil mengingat seperangkat fakta. b) Konfirmasi terhadap apa yang sudah diketahui siswa lebih efektif melalui tanya jawab. dan menyegarkan pengetahuan siswa. c) Dalam rangka penambahan atau pemantapan pemahaman lebih efektif dilakukan lewat diskusi baik kelompok maupun kelas. kenyataan menunjukkan bahwa pemerolehan pengetahuan seseorang selalu bermula dari bertanya.

Prinsip-prinsip yang bisa diperhatikan guru ketika menerapkan pembelajaran yang berkonsentrasi pada komponen learning community adalah sebagai berikut. mengajukan dugaan. gambar. bagan. laporan. tabel. dan penyimpulan. antarkelompok. Karena itu pembelajaran yang dikemas dalam diskusi kelompok dengan anggota heterogen dan jumlah yang bervariasi sangat mendukung komponen learning community. dan karya lain. mengkomunikasikan atau menyajikan hasilnya pada pihak lain (pembaca. pengumpulan data. pengalaman. a) Pada dasarnya hasil belajar diperoleh dari kerja sama atau sharing dengan pihak lain. audiens yang lain). c) Sharing terjadi apabila ada komunikasi dua atau multiarah. d. teman sekelas. dan antara yang tahu kepada yang tidak tahu. baik di dalam maupun di luar kelas. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 68 . guru. Masyarakat belajar (learning community) Komponen ini menyarankan bahwa hasil belajar sebaiknya diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan. b) Siklus inquiry adalah observasi. d) Masyarakat belajar terjadi apabila masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya sadar bahwa pengetahuan.a) Informasi yang diperoleh siswa akan lebih mantap apabila diikuti dengan buktibukti atau data yang ditemukan sendiri oleh siswa. mengamati atau melakukan observasi. b) Sharing terjadi apabila ada pihak yang saling memberi dan saling menerima informasi. Hasil belajar bisa diperoleh dengan sharing antar teman. e) Siswa yang terlibat dalam masyarakat belajar pada dasarnya bisa menjadi sumber belajar. dan keterampilan yang dimilikinya bermanfaat bagi yang lain. c) Langkah-langkah kegiatan inquiry: merumuskan masalah. bertanya.

a) Pengetahuan dan keterampilan diperoleh dengan mantap apabila ada model atau contoh yang bisa ditiru. Refleksi (reflection) Komponen yang merupakan bagian terpenting dari pembelajaran dengan pendekatan CTL adalah perenungan kembali atas pengetahuan yang baru dipelajari. menunjukkan hasil karya. Model yang dimaksud bisa berupa pemberian contoh. contoh hasil karya. Dengan memikirkan apa yang baru saja dipelajari. atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran. c) Model atau contoh bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu. dan merespons semua kejadian.e. f. bahkan memberikan masukan atau saran jika diperlukan. menelaah. b) Model atau contoh bisa diperoleh langsung dari yang berkompeten atau dari ahlinya. Cara pembelajaran semacam ini akan lebih cepat dipahami siswa dari pada hanya bercerita atau memberikan penjelasan kepada siswa tanpa ditunjukkan modelnya atau contohnya. Kesadaran semacam ini penting ditanamkan kepada siswa agar ia bersikap terbuka terhadap pengetahuan-pengetahuan baru. Pemodelan (modelling) Komponen pendekatan CTL ini menyarankan bahwa pembelajaran keterampilan dan pengetahuan tertentu diikuti dengan model yang bisa ditiru siswa. atau model penampilan. Prinsip-prinsip komponen modelling yang bisa diperhatikan guru ketika melaksanakan pembelajaran adalah sebagai berikut. misalnya cara mengoperasikan sesuatu. aktivitas. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 69 . Prinsip-prinsip dasar yang perlu diperhatikan guru dalam rangka penerapan komponen refleksi adalah sebagai berikut. mempertontonkan suatu penampilan. siswa akan menyadari bahwa pengetahuan yang baru diperolehnya merupakan pengayaan atau bahkan revisi dari pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.

aktivitas. c) Perenungan bisa berupa menyampaikan penilaian atas pengetahuan yang baru diterima. atau pengetahuan yang baru diperolehnya. a) Penilaian autentik bukan menghakimi siswa. penilaian autentik diarahkan pada proses mengamati. dan menafsirkan data yang telah terkumpul ketika atau dalam proses pembelajaran siswa berlangsung. Dengan demikian. membuat catatan singkat. g. tetapi untuk mengetahui perkembangan pengalaman belajar siswa. diskusi dengan teman sejawat. atau unjuk kerja. bagaimana siswa menghubungkan apa yang mereka ketahui dengan berbagai konteks. Sehubungan dengan hal tersebut. b) Perenungan merupakan respons atas kejadian. Penilaian autentik (authentic assessment) Komponen yang merupakan ciri khusus dari pendekatan kontekstual adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran atau informasi tentang perkembangan pengalaman belajar siswa.a) Perenungan atas sesuatu pengetahuan yang baru diperoleh merupakan pengayaan atas pengetahuan sebelumnya. Gambaran perkembangan pengalaman siswa ini perlu diketahui guru setiap saat agar bisa memastikan benar tidaknya proses belajar siswa. menganalisis. c) Guru menjadi penilai yang konstruktif (constructive evaluators) yang dapat merefleksikan bagaimana siswa belajar. prinsip dasar yang perlu menjadi perhatian guru ketika menerapkan komponen penilaian autentik dalam pembelajaran adalah sebagai berikut. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 70 . d) Penilaian autentik memberikan kesempatan siswa untuk dapat mengembangkan penilaian diri (self assessment) dan penilaian sesama (peer assessment). bukan semata-mata pada hasil pembelajaran. dan bagaimana perkembangan belajar siswa dalam berbagai konteks belajar. b) Penilaian dilakukan secara komprehensif dan seimbang antara penilaian proses dan hasil.

3) Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa yang selanjutnya memilih dan mengkaiykan dengan konsep atau teori yang akan dibahas dalam pembelajaran kontekstual. 2) Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme. Peran Guru dalam Pembelajaran Kontekstual Dalam pembelajaran kontekstual guru dituntut membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Kegiatan belajar mengajar (KBM) lebih menekankan Student Centered daripada Teacher Centered. Kelebihan & Kekurangan Contextual Teaching and Learning a. Di sini guru hanya mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa.3. bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional. 4) Merancang pengajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan hidup mereka. Kelebihan 1) Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. sihingga tidak akan mudah dilupakan. 4) Melaksanakan penilaian terhadap pemahaman siswa. 4. Hal ini sangat penting. Menurut Depdiknas guru harus melaksanakan beberapa hal sebagai berikut: 1) Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh siswa. Maksudnya adalah guru lebih berurusan dengan strategi dari pada memberi informasi. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. dimana hasilnya nanti dijadikan bahan refeksi terhadap rencana pemebelajaran dan pelaksanaannya. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 71 . sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata. 2) Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian secara seksama. akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa.

Guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula. Karena dalam metode CTL.dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. b. Kelemahan 1) Guru lebih intensif dalam membimbing. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 72 . Dengan demikian. 2) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar.

Pengembangan keterampilan social. Tipe NHT menekankan pada pembentukan struktur-struktur khusus untuk menciptakan pola interaksi siswa. Ada tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu : a. 1. Pembentukan kelompok Belajar dan Model-Model Pembelajaran 73 . Pengakuan adanya keragaman. bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. c. Hal ini dapat meminimalkan kegaduhan dalam kelas pada penggunaan metode tradisional dimana siswa mengacungkan tangan terlebih dahulu baru ditunjuk guru untuk menjawab pertanyaan yang telah diberikan. Langkah-langkah penerapan NHT a. Jumlah lembar kerja siswa disesuaikan dengan jumlah kelompok. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dengan melibatkan siswa yang terbagi dalam kelompok untuk menguasai materi pada mata pelajaran yang akan dibahas. Metode Pembelajran Kooperatif Number Head Together (NHT) Tipe pembelajaran kooperatif melalui metode NHT dirancang khusus agar siswa dapat memahami materi pelajaran meski menggunakan metode berkelompok. b. Persiapan Pada tahap ini guru mempersiapkan lembar kerja siswa yang digunakan sebagai bahan permasalahan yang akan didiskusikan dalam proses pembelajaran.D. bertujuan agar siswa dapat menerima temantemannya yang mempunyai berbagai latar belakang. b. NHT menekankan kepada siswa agar saling bergantung pada kelompok-kelompok yang telah dibuat secara kooperatif. Hasil belajar akademik stuktural.

Kesimpulan Setelah semua siswa menjawab pertanyaan yang diajukan. Setiap siswa diharapkan dapat aktif dan memahami alur diskusi masing-masing kelompok. Dengan pegangan buku paket para siswa di dalam kelompok mulai berdiskusi mengenai permasalahan yang tertuang dalam lembar kerja siswa.Guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok. Setelah kelompok terbentuk. ras. Pemanggilan Nomor Anggota Langkah ini dilakukan ketika diskusi sudah selesai. Diskusi masalah Pada langkah ini setiap kelompok mulai membahas materi yang telah diberikan guru. Diusahakan setiap kelompok berjumlah 3-5 anak agar diskusi di dalam kelompok berjalan efisien. guru yang merupakan fasilitator dalam pembelajaran bersama para siswa akan merangkum kesimpulan dari hasil diskusi dan mempresentasikan hasil diskusinya. kemudian para siswa dari masing-masing kelompok yang nomornya disebut mengangkat tangan. Setelah itu setiap anggota kelompok memiliki pandangan yang sama terhadap masalah yang sudah didiskusikan. Setelah itu guru akan mengajukan pertanyaan kepada para siswa yang nomornya ditunjuk secara bergantian. Pegangan materi Setiap kelompok wajib memiliki pegangan materi berupa buku paket atau sumber bacaan yang lain. guru memberikan nomor kepada masing-masing siswa pada setiap kelompok antara 1-3 atau 1-5. dan kemampuan belajar. jenis kelamin. e. d. Kelompok yang dibentuk sebaiknya mewakili prestasi akademik. Hal ini untuk memudahkan para siswa di dalam kelompok tersebut mengerjakan lembar kerja yang sudah dipersiapkan oleh guru. 2. Guru memanggil salah satu nomor. f. Kelebihan dan Kekurangan NHT Kelebihan atau keunggulan dari metode pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah: Belajar dan Model-Model Pembelajaran 74 . c.

Munculnya jiwa kompetisi yang sehat d. Timbul rasa tanggung jawab Sedangkan kekurangan tipe number head together adalah: a. Waktu untuk mengkoreksi hasil kerja siswa lebih efektif dan efisien e. Kemungkinan nomor yang dipanggil. Adanya alokasi waktu yang panjang b. dipanggil lagi oleh guru atau adanya nomor yang tidak terpanggil Belajar dan Model-Model Pembelajaran 75 .a. Setiap siswa mendapat kesempatan untuk berekspresi dan mengeluarkan pendapatnya c. Kelas menjadi benar-benar hidup dan dinamis b. Pemahaman yang lebih mendalam f.

Perencanaan Project Work a. 1) Inventarisasi Standar Kompetensi Lulusan Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi standar kompetensi (SK) yang terdapat dalam kurikulum/silabus. Dst ……….2 …………………………………. Langkah-langkah pembelajaran project work 1.……………………. Model Pembelajaran Project Work Project Work adalah model Pembelajaran yang mengarahkan peserta didik pada prosedur kerja yang sistematisdan standar untuk membuat atau menyelesaikan suatu produk (barang atau jasa).. Standar Kompetensi Kerja (SKK) yang berlaku. P.……… Belajar dan Model-Model Pembelajaran 76 . b.……………. P. SK2 ……………. Inventarisasi Pekerjaan (Job) Pendataan jenis pekerjaan (job) dapat mengacu: kepada jenis pekerjaan yang ada di kurikulum. standar kompetensi dan produk yang dapat dihasilkan. SK1 ………………………….1 …………………………………………. Setiap kompetensi keahlian pada umumnya memiliki lebih dari satu bidang/jenis pekerjaan yang dapat di isi oleh lulusan. dan atau standar pekerjaan lain yang ada di DU/DI/masyarakat. melalui proses produksi/pekerjaan yang sesungguhnya.…………….……… P. Inventarisasi jenis pekerjaan (job).E.. SK3 …………….3 ………………………………….. sehingga cocok digunakan untuk di SMK.. Model pembelajaran project work sering digunakan untuk program pembelajaran produktif.

Dst. bidang pekerjaan. Inventarisasi Produk (Barang/Jasa) Setiap Pekejaan Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengiden-tifikasi produk yang dapat dihasilkan oleh setiap bidang/jenis pekerjaan sehingga peserta didik memilki orientasi produk yang akan dihasilkan pada setiap pembelajaran. Tabel 1. Analisis Standar Kompetensi Terhadap Jenis Produk Standar Kompetensi Produk Kode Standar Kompetensi SK1 Pr1 Pr2 Pr3 Prn SK2 SK3 SK4 SK5 SK6 SK7 SKn Belajar dan Model-Model Pembelajaran 77 . Daftar Nama Produk Setiap Bidang Pekerjaan No 1 Bidang/Jenis Pekerjaan P1 Nama Produk (barang/jasa) Pr1 Pr2 2 P2 Pr3 Pr3 3 P3 Pr4 Pr5 d. Tabel 2. c. Analisis Standar Kompetensi Terhadap Produk (Barang/Jasa) Hasil inventarisasi standar kompetensi lulusan. dan produk tersebut. selanjutnya dianalisis standar kompetensi yang dibutuhkan untuk menghasilkan setiap produk dan bidang pekerjaan dengan menggunakan tabel 2.

2. SK3 dan SK 5. 3) Produk (Pr1) dan (Pr2 ) dapat digunakan sebagai pilihan peserta didik sebagai media pembelajaran SK1 dan SK2 4) Setelah seluruh standar kompetensi teridentifikasi terhadap produk yang ada. Hasil analisis Standar Kompetensi terhadap Jenis Produk pada tabel 2 dapat dimaknai sebagai berikut. demikian selanjutnya untuk Produk yang lain. Alternatif produk dapat dipilih oleh peserta didik. Pelaksanaan Model Pembelajaran Pendekatan Project Work Pembelajaran dengan pendekatan Project Work dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut. guru diminta untuk menetapkan bukti-bukti belajar (Evidence Of Learning) yang akan digunakan sebagi acuan dalam penilaian hasil belajar peserta didik.Baris pada kolom 1 diisi kode produk (nama barang/jasa). SK2. a. Menentukan standar kompetensi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan produk (barang/jasa) dengan memberi tanda cek (√) pada kolom standar kompetensi terkait. SK4 2) Produk (Pr2 ) dapat dikerjakan pada pembelajaran SK1. e. maka guru menetapkan alternatif produk yang akan dikembangkan untuk setiap standar kompetensi yang dipelajari. Penetapan Bukti Belajar/Evidence of Learning Berdasarkan hasil analisis standar kompetensi terhadap produk. SK2. sedangkan kolom berikutnya diisi dengan kode Standar Kompetensi hasil inventarisasi (Kurikulum/Silabus). 1) Produk (Pr1) dapat dikerjakan pada pembelajaran SK1. Guru menyampaikan: 1) tujuan pembelajaran yang akan dicapai 2) strategi pembelajaran dengan pendekatan project work Belajar dan Model-Model Pembelajaran 78 .

Belajar dan Model-Model Pembelajaran 79 . mengorganisasi bukti belajar sebagai portofolio.3) alternatif judul/nama produk/jasa yang dapat dipilih peserta. 3. Proses belajar menekankan pada pencapaian standar kompetensi yang dibuktikan dengan bukti belajar (learning evidence) dan diorganisasi dalam bentuk portofolio. 3) Sketsa/Gambar Kerja (Jika Diperlukan) 4) Bahan Produksi 5) Fasilitas/Peralatan Produksi 6) Proses Produksi   Rencana Anggaran Biaya Sasaran Pasar/Konsumen o Jadwal Pelaksanaan 2. melaksanakan kegiatan kulminasi (presentasi/ pengujian/penyajian/display). memilih salah satu judul/nama produk/jasa. Kegiatan dilakukan sesuai dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam proposal di bawah bimbingan dan pengawasan guru. melakukan proses belajar sesuai dengan proses produksi yang telah direncanakan. 1) Latar Belakang 2) Keunggulan Dan Fungsi Produk/Jasa. Kerangka rencana Project Work sebagai berikut. 4. Peserta didik 1. 4) ruang lingkup standar kompetensi yang akan dipelajari oleh peserta didik untuk setiap judul/nama produk/jasa 5) menyusun dan menetapkan pedoman penilaian kompetensi sesuai dengan judul project work 6) memfasilitasi bimbingan kepada peserta didik dengan memanfaatkan lembar bimbingan. Dan menyusun rencana Project Work sesuai dengan judul yang dipilih. b.

dan kesesuaian waktu pelaksanaan. dan kulminasi (presentasi/ pengujian/penyajian/display). 3. Peserta didik dinyatakan kompeten apabila memenuhi standar minimal yang dipersyaratkan pada indikator dari setiap kompetensi dasar. Penilaian Hasil Belajar Penilaian hasil belajar dengan pendekatan project work pada dasarnya adalah penilaian standar kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 80 . sikap. Penetapan pencapaian nilai mengacu pada Pedoman Penilaian dan Pelaporan Hasil Belajar Peserta Didik SMK. laporan. kegiatan. keterampilan. kesesuaian produk/jasa.5. Komponen project work yang dinilai terdiri dari penyusunan rencana Project Work. pelaksanaan proses produksi. menyusun laporan sesuai dengan pengalaman belajar yang diperoleh.

Dengan demikian. sesuai dengan falsafah konstruktivisme. yaitu siswa melakukan sesuatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama. Dalam model pembelajaran jigsaw ini siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat.203). bahwa pembelajaran kooperatif model jigsaw ini merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai dengan enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri. pembelajaran kooperatif menggalakan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Menurut Slavin (2007). Dalam model pemebelajaran kooperatif ini guru berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan penghubungan ke arah pemahaman yang Belajar dan Model-Model Pembelajaran 81 . pendidikan hendaknya mampu mengkondisikan dan memberikan dorongan untuk dapat mengoptimalkan dan membangkitkan potensi siswa. Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Dari sisi etimologi Jigsaw berasal dari bahasa inggris yaitu gergaji ukir dan ada juga yang menyebutnya dengan istilah Fuzzle. yaitu sebuah teka-teki yang menyusun potongan gambar. seperti yang diungkapkan Lie (1993: 73). anggota kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari. 2008. dan dapat menyampaikan kepada kelompoknya ( Rusman. Ini membolehkan pertukaran ide dan pemeriksaaan ide sendiri dalam suasana yang tidak terancam. Pembelajaran kooperatif model jigsaw ini juga mengambil pola cara bekerja sebuah gergaji (jigsaw). menumbuhkan aktivitas dan daya cipta kreativitas sehingga akan menjamin terjadinya dinamika di dalam proses pemebelajaran. dan mengelolah informasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Model pemebelajaran kooperatif model jigsaw adalah sebuah model belajar kooperatif yang menitik beratkan kepada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil.F.

Tiap tem ahli mempresentasikan hasil diskusi g. Guru tidak hanya memberikan penegtahuan pada siswa. Penutup Secara umum langkah-langkah model pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut: Belajar dan Model-Model Pembelajaran 82 . Tiap orang dalam team diberi bagian materi berbeda c. b. dengan catatan siswa sendiri. ini merupakan kesempatan bagi siswa menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri. Menurut Stepen. Anggota dari team yang berbeda yang telah mempelajari bagian sub bagian yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusiksn sub bab mereka. Namun. Siswa mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan langsung menerapkan ide-ide meraka. permasalahan yang dihadapi setiap kelompok sama.lebih tinggi. tetapi harus juga membangun dalam pikirannya. dalam untuk 1. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Menurut Rusman (2008 : 205) pembelajaran model jigsaw ini dikenal juga dengan kooperatif para ahli. Sikes and Snapp (1978 ) yang dikutip Rusman (2008). Tiap orang dalam team diberi bagian materi yang ditugaskan d. Setelah selesai diskusi sebagai tem ahli tiap anggota kembali kedalam kelompok asli dan bergantian mengajar teman satu tem mereka tentang subbab yang mereka kusai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan seksama f. mengemukakan langkah-langkah kooperatif model jigsaw sebagai berikut: a. hasil pembahasan itu dibawa kekelompok asal dan disampaikan pada anggota kelompoknya. Siswa dikelompokan sebanyak 1 sampai dengan 5 orang siswa. kita sebut sebagai team ahli yang bertugas membahas permasalahan yang dihadapi. Guru memberi evaluasi h. e. Selanjutnya. Karena anggota setiap kelompok dihadapkan pada permasalahan yang berbeda.

Guru mendorong para siswa untuk menggunakan metode mengajar yang bervariasi. Pada tahap selanjutnya masing-masing anggota kelompok bertemu dengan ahli-ahli dari kelompok lain dalam kelas. apabila jumlah anggota kelompok 4 orang siswa maka bab tersebut dibagi menjadi 4 bagian. Guru mendorong anggota kelompok mengajukan pertanyaan ke penyaji dan mendiskusikan lembar kerja kelompok kecil. b) Diskusi Kelompok Ahli Kelompok ahli harus melakukan pertemuan sekitar satu kali pertemuan untuk mendiskusikan topik yang ditugaskan. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif Keterangan: a) Bahan Ajar Guru memilih satu bab dalam buku ajar kemudian membagi bab tersebut menjadi bagian-bagian sesuai dengan jumlah anggota kelompok. Jadi. Setelah diskusi kelompok kecil guru menyelenggarakan tes yang mencakup materi satu bab penuh dalam waktu yang tidak lebih dari 15 menit. Seringlah Belajar dan Model-Model Pembelajaran 83 .Bahan Ajar Diskusi Kelompok Ahli Pelaporan dan Pengetesan Penghargaan Gambar. Setiap anggota kelompok ahli harus menerima satu lembar kerja “ahli”. Tujuan kelompok ini adalah mempelajari subbab tersebut kepada kelompok kecil masing-masing. c) Pelaporan dan Pengetesan Masing-masing anggota kelompok ahli kembali ke kelompok kecil masingmasing. Setiap anggota kelompok ditugasi untuk membaca dan mempelajari bagiannya pada bab tersebut. Masing-masing anggota kelompok kecil mengajarkan topik masing-masing ke anggota lainnya dalam kelompok. Guru mendorong para siswa menggunakan cara belajar yang bervariasi. Lembar kerja ahli harus membuat pertanyaan-pertanyaan dan kegiatan (jika ada) utnuk mengarahkan diskusi kelompok.

Dampak dari model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw sebagai berikut: struktur konsep kepekaa n sosial keberga ntungan positif toleransi atas perbeda an kepemi mpinan kolektif model jigsaw pemrose san kelompo k kesadara n akan perbeda an Belajar dan Model-Model Pembelajaran 84 . Kepekaan guru sangat diperlukan disini. 2008: 246). Ketika siswa semacam ini meununjukkan kinerja baik. (Slavin. Cukup berikan nilai individual kepada siswa. Kinerja individu yang luar biasa juga dilaporkan. d) Penghargaan Tahap ini merupakan tahap yang mampu mendorong para siswa untuk lebih kompak. Ellizabeth Cohen telah menemukan bahwa penting untuk menyadari akan para siswa yang diduga memiliki kompetensi yang konsisten rendah. atau sebutan lainnya. segera beri dia penghargaan khusus yang bersifat terbuka untuk kompetisi ini. Guru dapat menggunakan kata-kata khusus untuk memberikan kinerja kelompok semacam Bintang Sains. Pada tahap ini rata-rata peningkatan kelompok dilaporkan. skor kemajuan. Penghargaan kerja masingmasing kelompok dapat disajikan pada papan pengumuman yang dilaporkan peringkat masing-masing kelompok dalam kelas.menggunakan kuis-kuis dan jangan menggunakan skor tim. Penting untuk dipahami bahwa menghargai siswa secara akademik dari kelompok berkemampuan rendah merupakan bagian integral keefektifan pembelajaran Jigsaw. Kelompok Einstein. atau lembar berita.

mempelajari serta memahami setiap masalah yang dijumpai sehingga perwakilan tersebut dapat memahami dan menguasai materi tersebut. Dampak Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Kelompok Asal 1 2 1 2 1 2 1 2 3 4 3 4 3 4 3 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 4 4 Kelomok Ahli Gambar. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 85 . Selanjtunya materi tersebut didiskusikan. para anggota kelompok kemudian kembali pada kelompok asal dan berusaha mengajarkan pada teman sekelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan dikelompok ahli. Setelah pembahasan selesai. Selanjutnya diakhir pembelajaran. siswa diberi kuis secara individu yang mencakup topik materi yang telah dibahas. Para anggota dari kelompok asala yang berbeda. Illustrasi kelompok Jigsaw Keterangan: Dalam Jigwas ini setiap anggota kelompok ditugaskan untuk mempelajari materi tertentu.Gambar. Kemudian siswa-siswa perwakilan dari kelompoknya masing-masing bertemu dengan anggota dari kelompok lain yang mempelajari materi yang sama. bertemu dengan topik yang sama dalam kempok ahli untuk berdiskusi dan membahas metari yang ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain untuk mempelajari topik mereka tersebut. Kunci tipe Jigsaw ini adalah interdependensi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan kuis dengan baik.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran 86 . 2) Jika jumlah anggota kelompok kurang akan menimbulkan masalah. misal jika ada anggota yang hanya membonceng dalam menyelesaikan tugas-tugas dan pasif dalam diskusi. 3) Membutuhkan waktu yang lebih lama terelebih bila ada penataan ruang yang belum terkondisi dengan baik. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigwas a) Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah: 1) Mengembangkan hubungan antar pribadi positif siswa yang dimiliki kemampuan belajar berbeda 2) Menerapkan bimbingan sesama teman 3) Rasa menghargai yang lebih tinggi 4) Memperbaiki kehadiran dan keaktifan siswa 5) Penerima terhadap perbedaan individu 6) Sikap apatis berkurang 7) Pamahaman materi lebih mendalam 8) Meningkatkan motivasi belajar b) Kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah: 1) Jika guru tidak meningkatkan agar siswa selalu menggunakan keterampilanketerampilan kooperatif dalam kelompok masing-masing maka dikhawatirkan kelompok akan macet.2. sehingga perlu waktu merubah possi yang dapat juga menimbulkan gaduh.

seorang pemuka agama pastilah juga mempunyai kemampuan berbicara yang baik. Kesulitan pokok yang dihadapi siswa dalam berbicara adalah menghubungkan berbagai ide yang dimiliki untuk membangun suatu pemahaman dan penyampaian yang baik dan menarik. Suatu komunikasi dikatakan berhasil kalau pesan yang disampaikan pembicara atau penulis dapat dipahami penyimak atau pembaca persis sama seperti yang dimaksudkan pembicara atau penulis tersebut. Keterampilan berbicara sangat berperan dalam kehidupan manusia di lingkungan sekolah. Kesulitan yang dialami siswa dalam berbicara dapat Belajar dan Model-Model Pembelajaran 87 . Dalam pembelajaran keterampilan berbahasa saat ini lebih di tekankan pada fungsi bahasa artinya bahasa sebagai alat komunikasi. dan bermasyarakat. seorang guru pun dituntut untuk dapat berbicara dengan baik agar siswa dapat menerima pelajaran dengan baik. Oleh karena itu.G. Hal itu terjadi karena memang berbicara merupakan hal yang sangat penting dalam pencapaian cita-cita. Ketepatan mengungkapakan gagasan pendapat dan perasaan dipengaruhi oleh penggunaan bahasa yang efektif. Kemampuan atau keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan gagasan pendapat dan perasaan pada pihak lain secara lisan. penumbuhan apresiasi budaya. imajinasi dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif baik secara lisan maupun tulis. oleh karena itu kita harus terampil berbahasa supaya komunikasi berjalan lancar. tepat dan sesuai dengan kaidah ketatabahasaan yang berlaku. Seorang presiden pastilah orang yang pandai dalam berbicara. peningkatan rasa kemanusiaan. pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan keterampilan siswa berkomunikasi dan fungsi utama sastra sebagai sebagai penghalus budi. hampir dapat dipastikan setiap orang yang sukses pasti memiliki kemampuan berbicara yang baik. pergaulan. Metode Pembelajaran Debate Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling efektif. kepedulian sosial. kerja. Peran penting penguasaan keterampilan berbicara sangat tampak di semua lingkungan . serta penyalur gagasan.

diantaranya faktor pada diri siswa yaitu pemahaman siswa masih kurang terhadap keterampilan berbicara. dan sikap siswa yang meremehkan kegiatan berbicara. Model pembelajaran debat mengarahkan siswa untuk berbicara dengan beradu argumen dari dua kelompok yang telah disetting untuk selalu beda pendapat. Dalam pelaksanaanya dua kelompok tersebut akan mempertahankan pendapatnya sesuai apa yang telah di setting. Setelah itu kelompok pro diminta untuk menyanggah apa yang telah disampaikan oleh kelompok kontra juga dengan pemberian alasan-alasan yang logis. Melihat pentingnya kemampuan berbicara dalam kehidupan sehari-hari tentulah dalam membelajarkan kemampuan berbahasa aspek berbicara diperlukan metode dan atau model pembelajaran yang bervariasi. Pertama-tama masalah yang akan diperdebatkan dibacakan dengan pemberian beberapa ilustrasi yang sudah terjadi. Kevariasian ini dilakukan untuk menemukan model yang paling cocok doterapkan pada siswa tertentu dan dalam kondisi tertentu pula. Pengertian Model Pembelajaran Debate Model pembelajaran debat merupakan model pembelajaran berbicara yang tidak hanya monoton satu arah. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 88 . Lebih jelasnya pembelajaran model Debat dilakukan dengan pemberian materi berupa masalah yang sedang hangat dibicarakan saat itu. 1.dipengaruhi oleh beberapa faktor. Selain itu. faktor guru juga sangat berpengaruh khususnya dalam proses pembelajaran. pertama kelompok kontra diberi kesempatan untuk menolak atau tidak setuju dengan ilustrasi yang diberikan dengan memberikan alasan-alasan yang logis dari berbagai sudut pandang. kemudian siswa yang telah dibagi menjadi dua kelompok diminta untuk memberi tanggapan. kelompok pertama diminta untuk selalu setuju ( kelompok pro ) terhadap masalah yang diberikan sedangkan kelompok yang kedua diminta untuk selalu tidak setuju ( kelompok kontra ) terhadap masalah yang diberikan. Salah satu model pembelajaran yang mungkin dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak adalah model pembelajaran debat.

Guru membagi 2 kelompok peserta debat yang satu pro dan yang lain kontra b. 2. Langkah-langkah Pembelajaran Debate Langkah-langkah dalam pembelajaran debate adalah sebagai berikut: a. agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif. Dalam pelaksanaan model pembelajaran debat ini sangat diperlukan seorang pembimbing untuk mengendalikan keadaan kelas. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang.Proses debat tersebut dilakukan secara terus menerus sehingga siswa benarbenar berfikir semaksimal mungkin kemudian mengungkapkanya di depan forum. Pada dasarnya. yaitu kelompok pro berubah menjadi kelompok kontra dan begitu juga sebaliknya. setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Metode debat juga merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Yang diharuskan bagi para peserta debat adalah tidak diperkenankan menggunakan kata-kata yang kasar atau tidak baik agar siswa terlatih untuk berbicara dengan baik dan teratur. Untuk menghindari kebosanan kedua kelompok diadakan pertukaran posisi dan permasalahan yang berbeda-beda. Setelah selesai membaca materi guru menunjukkan salah satu anggotanya kelompok pro untuk bicara saat itu ditanggapi atau diulas oleh kelompok Belajar dan Model-Model Pembelajaran 89 . c. karena apabila sudah terjadi perdebatan setiap kelompok tidak ada yang mau mengalah dan semakin lama perdebatan akan semakin memanas sehingga kehadiran seorang pembimbing sangat diperlukan. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Guru memberikan tugas untuk membaca materi yang akan didebatkan oleh kedua kelompok diatas.

Sementara siswa menyampaikan gagasannya guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan di papan tulis. Sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi. e. Pembacaan informasi atau masalah yang akan diperdebatkan. Menyuruh kelompok pro untuk menanggapi pernyataan dari kelompok kontra. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 90 . Proses pembelajaranya dimulai dengan pemberian masalah berupa informasi kontroversial yang sedang hangat dibicarakan dengan memberikan ilustrasi terhadap masalah tersebut kemudian salah satu kelompok diberi kesempatan memberi tanggapan terhadap ilustrasi tersebut. Setelah kelompok dibagi. Menyuruh kelompok kontra untuk menanggapi informasi tersebut. c. Siswa dibagi dalam dua kelompok besar. setelah itu kelompok yang satunya diberi kesempatan untuk menyanggah pendapat dari kelompok yang satunya. Kegitan tersebut di ulang terus secara bergantian dan peran kelompok juga dirubah dari yang semula kelompok pro menjadi kelompok kontra dan sebaliknya juga. tentunya dalam bentuk sanggahan.kontra demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa bisa menemukakan pendapatnya. yang terdiri dari kelompok pro dan kontra. Guru menambah konsep / ide yang belum terungkap f. b. Kelompok kontra kembali menyanggah untuk mempertahankan pendapat mereka. Pelaksanaan langkah-langkah metode pembelajaran debate misalnya sebagai berikut: a. guru menjelaskan tentang kompetensi dasar yang akan dipelajari. Dari data-data di papan tersebut guru mengajukan siswa membuat kesimpulan rangkuman yang mengacu pada topic yang ingin dicapai. d. d. dan kelompok pro pun mempertahankan pendapat mereka dengan berbagai argumen yang dimiliki. Langkah-langkah penerapan pembelajaran model ini yaitu pertama-tama siswa diberi tahu tentang aturan main dari model debat ini.

Dalam pembelajaran berbicara dengan model debat akan lebih menarik apabila pembimbing dapat menguasai emosi peserta. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 91 . melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat. Selain itu dia juga dapat dengan mudah merangsang siswa untuk berpikir kritis dan spontan yang kemudian ditindaklanjuti dengan pengungkapan secara lisan yang secara langsung merangsang kemampuan berbicara anak. siswa yang pandai berargumen akan selalu aktif dan yang kurang pandai berargumen hanya diam dan pasif. Guru yang bertindak sebagai pembimbing di sini juga memberikan evaluasi terhadap kegiatan dan cara mengemukan pendapat siswa dalam kegiatan debat. Setelah dirasa cukup. melatih siswa untuk bersikap kritis terhadap semua teori yang telah diberikan oleh guru. Pembacaan masalah lain yang harus ditanggapi oleh tiap kelompok dan seterusnya. menyenangkan. 3. dan ramai. kelompok diadakan pergantian yaitu kelompok pro diubah menjadi kelompok kontra. h. saling adu argumen yang tidak kunjung selesai bila guru tidak menengahi.e. g. Setelah kegiatan debat selesai siswa diminta menanggapi dan mengevaluasi cara penyampaian pendapat yang diberikan oleh siswa dalam kegiatan debat tersebut. Kelebihan dan Kelemahan Metode Pembelajaran Debate Kelebihan dari model pembelajaran debat adalah memantapkan pemahaman konsep siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan. Adapun kekurangan dari metode ini adalah ketika menyampaikan pendapat saling berebut. Dengan pembimbing mengguasai emosi peserta dia akan mudah membuat debat tersebut menjadi sangat menarik. f. dan sebaliknya. Dengan sering diadakanya kegiatan ini siswa akan menjadi terbiasa untuk berbicara secara terstuktur dan terkonsep dengan baik.

aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill Hadfield. Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri murid Belajar dan Model-Model Pembelajaran 92 . Biasanya anak didik memilih di antara beberapa topik yang diberikan kepada mereka. atau main drama. titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Kegiatan tersebut biasanya spontan tanpa dipersiapkan atau dilatih terlebih dahulu. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab) bersama teman-temannya pada situasi tertentu. Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. 1986). pura-pura. meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas. sosial. Kegiatan tersebut dilaksanakan tanpa menggunakan kostum atau naskah cerita tertentu. Naskah pendek yang dibawakan biasanya sudah mengandung situasi permasalahan. hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. 2000).H. Murid diperlakukan sebagai subyek pembelajaran. Dan sesudah sosiodrama berlangsung masing-masing individu mendiskusikan bagaimana perasaan-perasaan mereka. make-believe. Erikson. sangat penting untuk perkembangan kognisi. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang. Selain itu. Main peran disebut juga main simbolik. Pada metode bermain peranan. imajinasi. fantasi. 1963). Dalam role playing murid dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas. dan emosi anak pada usia tiga sampai enam tahun (Vygotzky. Latar belakang dari sesuatu situasi didiskusikan dan kemudian bagian-bagian yang ada diseleksi. role playing sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain (Basri Syamsu. 1967. Model Pembelajaran Role Playing Role playing atau bermain peran adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya ada tujuan.

2002).(Departemen Pendidikan Nasional. serta menjelaskan peran yang akan dimainkan. menanamkan kemampuan bertanggung jawab dalam bekerja sama dengan orang lain. Mulyasa (2003) mengemukakan tahapan pembelajaran bermain peran meliputi: 1. E. murid akan lebih berhasil jika mereka diberi kesempatan memainkan peran dalam bermusyawarah. bagaimana Belajar dan Model-Model Pembelajaran 93 . Jadi. Memilih peran Memilih peran dalam pembelajaran. Menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik. menafsirkan cerita dan mengeksplorasi isu-isu. melakukan pemungutan suara terbanyak dan bersikap mau menerima kekalahan sehingga dengan melakukan berbagai kegiatan tersebut dan secara aktif berpartisipasi. dapat menanamkan pengertian peranan orang lain pada kehidupan bermasyarakat. menghargai pendapat dan kemampuan orang lain. dan belajar mengambil keputusan dalam hubungan kerja kelompok. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi masalah. Tahap ini lebih banyak dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik agar tertarik pada masalah karena itu tahap ini sangat penting dalam bermain peran dan paling menentukan keberhasilan. apa yang mereka suka. menjelaskan masalah. Bermain peran akan berhasil apabila peserta didik menaruh minat dan memperhatikan masalah yang diajukan guru. Langkah-langkah Pembelajaran Role Playing Dengan mengutip dari Shaftel dan Shaftel. karena tanpa adanya aktivitas. Lebih lanjut prinsip pembelajaran memahami kebebasan berorganisasi. mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari (Boediono. dan menghargai keputusan bersama. Menghangatkan suasana kelompok termasuk mengantarkan peserta didik terhadap masalah pembelajaran yang perlu dipelajari. 2001). Metode role playing (bermain peranan) pada pengajaran yang direncanakan secara baik. 1. 2. tahap ini peserta didik dan guru mendeskripsikan berbagai watak atau karakter. dalam pembelajaran murid harus aktif. maka proses pembelajaran tidak mungkin terjadi.

Menyiapkan pengamat Menyiapkan pengamat. sebaiknya pengamat dipersiapkan secara matang dan terlibat dalam cerita yang akan dimainkan agar semua peserta didik turut mengalami dan menghayati peran yang dimainkan dan aktif mendiskusikannya. Setiap perubahan peran akan mempengaruhi peran lainnya. tidak perlu ada dialog khusus karena para peserta didik dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan. 7. 6. Pemeranan dapat berhenti apabila para peserta didik telah merasa cukup. Diskusi dan evaluasi tahap dua Belajar dan Model-Model Pembelajaran 94 . Diskusi dan evaluasi Diskusi akan mudah dimulai jika pemeran dan pengamat telah terlibat dalam bermain peran. para peserta didik akan segera terpancing untuk diskusi. Dengan melontarkan sebuah pertanyaan. Menyusun tahap-tahap peran Menyusun tahap-tahap baru. sesuai dengan peran masing-masing. Dalam hal ini guru perlu menilai kapan bermain peran dihentikan. dilakukan berdasarkan hasil evaluasi dan diskusi mengenai alternatif pemeranan. 3. pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. Pemeranan ulang Pemeranan ulang. Pemeranan Pada tahap ini para peserta didik mulai beraksi secara spontan. baik secara emosional maupun secara intelektual. kemudian para peserta didik diberi kesempatan secara sukarela untuk menjadi pemeran.mereka merasakan. Dalam hal ini. 8. Ada kalanya para peserta didik keasyikan bermain peran sehingga tanpa disadari telah mamakan waktu yang terlampau lama. Perubahan ini memungkinkan adanya perkembangan baru dalam upaya pemecahan masalah. dan apa yang harus mereka kerjakan. 5. dan apa yang seharusnya mereka perankan telah dicoba lakukan. Mungkin ada perubahan peran watak yang dituntut. 4.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran 95 . dan dapat memetik butir-butir hikmah yang terkandung di dalamnya dengan penghayatan siswa sendiri 5. 9. Dimungkinkan dapat meningkatkan kemampuan profesional siswa. 7. Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. teman dan sebagainya. Dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah. Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan. Disamping merupakan pengaman yang menyenangkan yang saling untuk dilupakan 2. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda. Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh. 8. dan pemecahan masalah pada tahap ini mungkin sudah lebih jelas. 6. Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi 4. sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan penuh antusias 3. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Role Playing Berikut adalah kelebihan dari model pembelajaran role playing dalam kegiatan pembelajaran: 1. Semua pengalaman peserta didik dapat diungkap atau muncul secara spontan. Sangat menarik bagi siswa. 2.Diskusi dan evaluasi tahap dua. Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerjasama. Membagi pengalaman dan mengambil kesimpulan Pada tahap ini para peserta didik saling mengemukakan pengalaman hidupnya dalam berhadapan dengan orang tua. 9. diskusi dan evaluasi pada tahap ini sama seperti pada tahap enam. guru. hanya dimaksudkan untuk menganalisis hasil pemeranan ulang.

2. 11. 4. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 96 . 3. Apabila kita ingin melatih anak-anak agar mereka dapat menyelesaikan masalahmasalah yang bersifat sosial psikologis. 3. Apabila kita akan melatih anak-anak agar mereka dapat bergaul dan memberi pemahaman terhadap orang lain beserta masalahnya. ceritacerita sejarah. Apabila kita ingin menerangkan suatu peristiwa yang di dalamnya menyangkut orang banyak. Melatih daya imajinasi siswa Selain memiliki kelebihan. Sering kelas lain terganggu oleh suara pemain dan para penonton yang kadangkadang bertepuk tangan. Memerlukan tempat yang cukup luas. Salah satu tugas guru adalah membantu anak didik untuk bisa berlaku sebagaimana yang dilakukan oleh orang lain. jika tempat bermain sempit menjadi kurang bebas. Sebagian besar anak yang tidak ikut bermain drama mereka menjadi kurang kreatif. Penerapan Role Playing saat Proses Pembelajaran Metode role playing (bermain peranan) dalam proses belajar mengajar digunakan: 1. baik waktu persiapan dalam rangka pemahaman isi bahan pelajaran maupun pada pelaksanaan pertunjukan. Berbagai bentuk permainan.10. yaitu: 1. 3. 2005:8485). 2. (Nana Sudjana. dalam proses pembelajarannya role playing memiliki bebarapa kelemahan. Banyak memakan waktu. kita beranggapan lebih baik didramatisasikan daripada diceritakan karena akan lebih jelas. dan sebagainya. biografi maupun cerita-cerita yang lain dapat membantu anak didik untuk mencapai keterampilan tersebut. Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.

bagaimana perasaan mereka setelah bermain. Upayakan agar semua pihak bisa mengambil peranan. Biarkan anak didik menentukan sendiri. Guru Belajar dan Model-Model Pembelajaran 97 . Mereka akan memerankannya dengan lebih baik apabila mereka sendiri yang memilih bagiannya. Ulangi situasi tersebut. Petunjuk pelaksanaan role playing antara lain: 1. 3. 4. baik dengan bercerita yang sama maupun tidak. guru justru memberikan kebebasan sepenuhnya kepada para siswa. Diskusikan pelaksanaan sosiodrama tersebut. 5. Hal itu akan sangat menguntungkan bagi para siswa yang menjadi penonton (sekaligus sebagai penilai). antara lain: 1. Berikan kesempatan kepada anak didik untuk memilih peranannya sendiri. Sebaliknya. tetapi jangan sampai membatasi anak didik tentang apa yang akan diutarakan dan bagaimana mereka menghayati perannya. Apa yang telah dipilih barangkali mempunyai arti tersendiri bagi dirinya.Bercerita tentang apa yang dirasakan orang lain kadang-kadang ada manfaatnya. Dalam penggunaan metode role playing ini ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil. Jika hal itu benar-benar dilaksanakan. Usahakan situasi benar-benar jelas dan terang. Guru yang telah berhasil menggunakan sosiodrama akan beranggapan bahwa metode tersebut lebih baik dibanding metode-metode yang lain. Diskusikan terlebih dahulu situasi yang akan dimainkan. Tindakan ini bisa menambah kegairahan anak untuk bermain peranan (role playing). 7. 6. 2. Di dalam melaksanakan kegiatan sosiodrama yang pertama kali sebaiknya guru juga mengambil sesuatu peran. Diskusi bisa dimulai dari aktor atau aktris itu sendiri. Harap diingat bahwa guru jangan terlalu banyak memberikan aturan-aturan permainan. maka situasi sosial yang didramatisasikan akan serupa benar dengan kejadian yang sesungguhnya.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran 98 . d. keputusan apa yang akan ia pilih jika ia berada dalam situasi sosial seperti itu. Bahan harus dipilih dengan cermat. semua harus diserahkan kepada pemeran yang bersangkutan. Apa yang akan ia lakukan. c. Bahan Sesuatu yang didramatisasikan akan baik hasilnya. Kriteria yang harus diperhatikan antara lain: a. Bahan harus sesuai dengan perkembangan jiwa siswa. Bahan hendaknya tidak mengandung adegan-adegan yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. 3. agama.Guru tidak boleh bersikap apriori. dapat bertingkah laku dan bersikap seperti dalam situasi sosial yang sesungguhnya. Siswa Dramatisasi ini akan berhasil kalau para siswa yang berperan dapat menjiwai situasinya. kepribadian bangsa Indonesia. Bahan harus cukup mengandung sikap dan perbuatan yang akan didramatisasikan siswa. b. Bahan harus memperkaya pengalaman sosial siswa. Setiap individu akan menghayati situasi sosial menurut caranya sendiri. 2. jika bahan itu cocok dengan para pemeran yang akan memerankannya.

5. Fogarty(1997) menyatakan bahwa PBL adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan membuat konfrontasi kepada siswa (siswa/mahasiswa) dengan masalah-masalah praktis. Pembelajaran dengan model PBL dimulai oleh adanya masalah (dapat dimunculkan oleh siswa atau guru). Siswa dapat memilih masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan sehingga mereka terdorong Belajar dan Model-Model Pembelajaran 99 . 4. belajar dimulai dengan suatu masalah. bukan diseputar disiplin ilmu. Lebih lanjut Boud dan felleti. memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa/mahasiswa. 2. PBL adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki ketrampilan untuk memecahkan masalah (Ward. 2002. merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa. (1997). atau open ended melalui stimulus dalam belajar.1993). PBL memiliki karakteristikkarakteristik sebagai berikut: 1. 3.. mengorganisasikan pelajaran diseputar masalah. menggunakan kelompok kecil. menuntut siswa untuk mendemontrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja. selanjutnya disingkat PBL. Model Pembelajaran Based Learning Pembelajaran berbasis masalah (Probelem-based learning). berbentuk ill-structured. kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka telah ketahui dan apa yang mereka perlu ketahui untuk memecahkan masalah tersebut. dan 6.I. Stepien. memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri. dkk.

siswa tidak saja harus memahami konsep yang relevan dengan masalah yang menjadi pusat perhatian tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang berhubungan dengan keterampilan menerapkan metode ilmiah dalam pemecahan masalah dan menumbuhkan pola berpikir kritis. Dari paparan tersebut dapat diketahui bahwa penerapan PBL dalam pembelajaran dapat mendorong siswa/mahasiswa mempunyai inisiatif untuk belajar secara mandiri. Pada kondisi tersebut diperlukan peran guru sebagai fasilitator untuk mengarahkan siswa tentang konsep apa yang diperlukan untuk memecahkan masalah dan apa yang harus dilakukan. penggunaan PBL dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang apa yang mereka pelajari sehingga diharapkan mereka dapat menerapkannya dalam kondisi nyata pada kehidupan sehari-hari 1.berperan aktif dalam belajar. Dalam model PBL. Oleh sebab itu. Pengalaman ini sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dimana berkembangnya pola pikir dan pola kerja seseorang bergantung pada Belajar dan Model-Model Pembelajaran 100 . fokus pembelajaran ada pada masalah yang dipilih sehingga siswa tidak saja mempelajari konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah tetapi juga metode ilmiah untuk memecahkan masalah tersebut. Alasan Problem Based Learning digunakan PBL merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada kerangka kerja teoritik konstruktivisme. Jika pembelajaran dimulai dengan suatu masalah dan masalah tersebut bersifat kontekstual. Bila pertanyaan-pertanyaan tersebut telah muncul dalam diri siswa maka motivasi intrinsik mereka untuk belajar akan tumbuh. Dengan kata lain. maka dapat terjadi ketidaksetimbangan kognitif pada diri siswa. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa model PBL dapat memberikan pengalaman yang kaya kepada siswa. Keadaan ini dapat mendorong rasa ingin tahu sehingga memunculkan bermacammacam pertanyaan.Masalah yang dijadikan sebagai fokus pembelajaran dapat diselesaikan siswa melalui kerja kelompok sehingga dapat memberi pengalaman-pengalaman belajar yang beragam pada siswa seperti kerjasama dan interaksi dalam kelompok.

2. mengidentifikasi masalah. memilih cara untuk memecahkan masalah. melakukan ujicoba terhadap rencana yang ditetapkan. inkuiri dan ketrampilan melakukan pemecahan masalah. belajar model peraturan orang dewasa (adult role behaviors). yaitu: 1. Secara umum penerapan model yaitu dengan adanya masalah yangharus dipecahkan atau dicari pemecahannya oleh siswa/mahasiswa. Oleh sebab itu. 7. penggunaan PBL dapat memberikan pengalaman belajar melakukan kerja ilmiah yang sangat baik kepada siswa/mahasiswa. Langkah-langkah pemecahan masalah dalam pembelajaran PBL paling sedikit ada delapan tahapan (Pannen. siswa belajar teori dan metode ilmiah agar dapat memecahkan masalah yang menjadi pusat perhatiannya. Adapun langkah-langkah model pembelajaran ini bagi guru adalah sebagai berikut: Belajar dan Model-Model Pembelajaran 101 . menganalisis data. Dengan demikian siswa/mahasiswa belajar memecahkan masalah secara sistematis dan terencana. 6. dengan arti lain. 4. Siswa/mahasiswa akan memusatkan pembelajaran di sekitar masalah tersebut. 2. Lebih lanjut Arends (2004) menyatakan bahwa ada tiga hasil belajar (outcomes) yang diperoleh siswa yang diajar dengan PBL yaitu: 1. 2001). 2. memecahkan masalah berdasarkan pada data yang ada dan analisisnya. Masalah tersebut dapat berasal dari siswa/mahasiswa atau mungkin juga diberikan oleh pengajar. dan 8. 3. 5. Pemecahan masalah dalam PBL harus sesuai dengan langkahlangkah metode ilmiah. melakukan tindakan (action) untuk memecahkan masalah. Implementasi Ada beberapa cara menerapkan PBL dalam pembelajaran. mengumpulkan data. merencanakan penerapan pemecahan masalah.bagaimana dia membelajarkan dirinya. dan 3. ketrampilan belajar mandiri (skills for independent learning).

Belajar dan Model-Model Pembelajaran 102 . 3. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap eksperimen mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. dll). pemecahan masalah. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai. pengumpulan data. 5. 4.1. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik. hipotesis. Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai dan menyebutkan sarana atau alat pendukung yang dibutuhkan. jadwal. 2. Memotivasi siswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih. tugas. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.

Bergesernya Teori-Teori Belajar. Tersedia:http://www. 2010.1989. 2012. Tersedia: http://repository. [Online].M.doc&ei=RbZWT9uGGsnprQfyk8S1Bw&usg=AFQjCNGkyC_amh 54NCSlSd3-_4ZWktMyaQ [7 Maret 2012] Rizcha.. Teori Belajar Behavioristik.com/category/model-pembelajaran-roleplaying/ (20 Mei 2012) Dahar Ranta Willis Pof. Jakarta : Erlangga Dra. [Online].files.pdf [6 Juni 2012] Anonim. [Online].id/url?sa=t&rct=j&q=koneksinimisme&source=web&cd= 2&ved=0CCsQFjAB&url=http%3A%2F%2Ftrimanjuniarso. Dr. 2011. Almasdi Syahza. Dr.wordpress. (2011).id/file/dokumen/modeljigsaw. Pengaruh Bermain Peran (Role Playing) dalam Meningkatkan Pembelajaran Bahasa Inggris.edu/operator/upload/s_d0251_060231_chapter2. [Online]/ Tersedia: kompasiana. 2011. [Online]. (2005). U. Tersedia: http://www. Kolaborasi Teori dalam Pendidikan Pragmatisme. MP.com/2009/01/28/teori-teori-belajar-2/ [10 Maret 2012] Anonim. teori-teori belajar. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw.scribd. (2011). Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Jigsaw. Tersedia: http://sumsel.pdf [18 Mei 2012] Hidayat. Teori-Teori Belajar. Msi.S. Rum.SC. Model Pembelajaran Role Playing. Tersedia: http://sharingkuliahku. [Online]. Model-Model Pembelajaran Berbasis Paikem.co.wordpress. Pembelajaran Kontekstual. (2009).com %2F2008%2F02%2Fteori-belajarbehavioristik. Bandung: CV Siliwangi & CO Juniarso.go. Tersedia: Belajar dan Model-Model Pembelajaran 103 .kemenag. Prof.com [7 Maret 2012] Rosyid.com/rumrosyid/d/45080023/28-TeoriKoneksionisme [10 Maret 2012] Rulam. Tersedia:http://andi1988. [Online].DAFTAR PUSTAKA Andi.upi.. Mitri Irianti. _______. [Online]. Fertina. SE.wordpress. Riau Fadhly.google. Triman.

____.com/207-pengaruh-bermain-peran-role-playing-dalammeningkatkan-pembelajaran-bahasa-inggris/ (20 Mei 2012) Sudarman. Dasna. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning). ____. Model Pakem.infodiknas. Tidak diterbitkan.html#ixzz16klc4gPi September 2011) : (08 .com/2010/03/model-pakem. kumpulan-nahan diklat nasional guru biologi SMU. 2007. _____..2000. Tidak diterbitkan. 2010. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 104 . Bandung : Pusat pengembangan penataran guru IPA.vilila.http://www. [On Line] Tersedia http://www. Wayan I. Problem Based Learning: Suatu Metode Model Pembelajaran untuk Mengembangkan dan Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah.

dia mendapatkan hasil UAN yang begitu mepet dengan passing gread SMA Negeri di Bandung. pernah bolos pelajaran Bahasa Sunda. Melihat hasil UAN yang peluangnya kecil unuk diterima di SMA Negeri. juara 1 lomba Danton Paskibra antar kelas. ia rajin berkunjung ke perpustakaan. Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang kehidupan SMP-nya karena dia sama seperti siswa-siswi SMP lainnya yang mematuhi peraturan sekolah dan berteman dengan banyak orang. Selama SMP. juara kelas setiap semester. dia tetap bangga dengan apa yang didapatkannya karena semua murni hasil usahanya sendiri. Diakhir pendidikan SMP-nya. akhirnya dia tertarik dengan salah satu SMA swasta di Bandung dan dia berhasil diterima di SMA Angkasa Husein Sastranegara (2007-2010). Entah apa Belajar dan Model-Model Pembelajaran 105 . Posisi yang selalu diamanatkan kepadanya. ia menyenangi bacaan fiksi. Berbekal nilai hasil UAN yang memuaskan pada tahun 2004 dia berhasil diterima di SMPN 9 Bandung (2004-2007). Jadi. tidak heran gelar murid teladan pernah disandangnya. Di SMA dia mulai di OSIS dan menjadi panitia diberbagai acara. sampai juara 3 lomba musikalisasi puisi antar kelas. mulai dari dihukum berlari keliling sekolah. Kehidupan SMA-nya cukup menarik. Dari kegemarannya itulah ia mulai senang menulis puisi.RIWAYAT HIDUP PENYUSUN Anja Wulan Sari. Akan tetapi. Menempuh pendidikan SD (1998-2004) di SDN Cibeureum 8. lahir di Bandung pada 11 Januari 1992. Semasa SD-nya dia dikenal sebagai sosok murid yang rajin dan patuh. Walau puisinya tidak sebagus punjangga tapi karyanya merupakan kepuasan batin tersendiri baginya. tidak jauh dari sekretaris atau bendahara.

****** Belajar dan Model-Model Pembelajaran 106 . gagal UM UPI. Selesai mengenyam pendidikan SMA. Mulai dari gagal seleksi PMDK UPI.alasanya tapi dua posisi inilah yang selalu dikaitkan dengan siswi berpenampilan sederhana ini. gagal UM Poltekes Depkes Bandung sampai akhirnya berhasil diterima melalui jalur SNMPTN di Universitas Pendidikan Indonesia di Jurusan Pendidikan Teknologi Agroindustri (2010-sekarang). dia mulai disibukan dengan tes masuk universitas. Perjalanan memilih universitas pun penuh perjuangan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful