Belajar dan Model-Model Pembelajaran

1

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penyusun panjatkan kepada Allah Swt. karena atas izin dan rahmat-Nya lah penyusun dapat menyelesaikan tugas pembuatan buku dalam Mata Kuliah Media Pembelajaran PTAG. Penyusun banyak berterima kasih kepada Dr. Sri Handayani, MPd. sebagai dosen Mata Kuliah Media Pembelajaran yang telah membimbing dalam pengerjaan tugas ini, serta teman-teman Jurusan Pendidikan Teknologi Agroindustri 2010 yang turut membantu dalam penyelesaian tugas ini. Judul buku ini adalah “Belajar dan Model-Model Pembelajara”. Penyusunan buku ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas semester padat mata kuliah Media Pembelajaran PTAG. Dalam proses penyusunan buku ini, penyusun menyadari masih banyak kekurangan. Untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak untuk perbaikan buku ini. Penyusun berharap buku ini dapat menunjang pembelajaran Media Pembelajaran PTAG dan dapat bermanfaat bagi semua orang. Akan tetapi, penyusun menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat dalam buku ini. Oleh karena itu penyusun menerima saran dan kritik agar dapat membuat buku yang lebih bagus lagi.

Bandung, Agustus 2012

Penyusun 

.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

i

DAFTAR ISI

Daftar Isi ..................................................................................................... i Kata Pengantar .......................................................................................... ii

BAB I TEORI BELAJAR ....................................................................... 1 A. Teori Belajar Behavioristik ............................................................. 3 B. Teori Belajar Kognitivisme ............................................................ 6 C. Teori Belajar Konstruktivisme ........................................................ 9 D. Teori Belajar Humanistik ................................................................ 11 BAB II TEORI BELAJAR MENURUT PARA AHLI .......................... 16 A. Teori Belajar Menurut J.B. Bruner ................................................. 17 B. Teori Koneksionisme ...................................................................... 26 C. Teori Belajar Skinner ...................................................................... 33 D. Teori Belajar Piaget ........................................................................ 41 BAB III MODEL_MODEL PEMBELAJARAN .................................... 47 A. Model PAKEM ............................................................................... 48 B. Model Pembelajaran Example non Example .................................. 56 C. Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning .................... 62 D. Model Pembelajaran Number Head Together ............................... 73 E. Model Pembelajaran Project Work ................................................. 76 F. Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw ......................................... 81 G. Model Pembelajaran Debate ........................................................... 87 H. Model Pembelajaran Role Playing................................................... 92 I. Model Pembelajaran Based Learning ............................................. 99 Daftar Pustaka ............................................................................................ 103

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

ii

Bab 1 TEORI BELAJAR Belajar dan Model-Model Pembelajaran 1 .

yaitu. Teori kognitif melihat melampaui perilaku untuk menjelaskan bagaimana otak bekerja dalam mempelajari sesuatu. Pendekatan ini melibatkan ide yang bertentangan dengan tujuan dan proses pembelajaran dan pendidikan juga peran para pendidik dalam mengajar. (2) kognitivisme. emosional. pembelajaran secara umum didefinisikan sebagai proses yang menyatukan pengaruh kognitif. yaitu. Teori-teori tidak memberikan solusi. Teori Belajar adalah hipotesis rumit yang menggambarkan bagaimana sebenarnya prosedur ini terjadi. Hal ini juga dianggap sebagai cara di mana informasi diserap. dan lingkungan dan pengalaman untuk memperoleh. diproses. behaviorisme hanya berfokus pada aspek-aspek obyektif yang diamati pada proses pembelajaran. atau membuat perubahan dalam pengetahuan seseorang. meningkatkan. Secara garis besar. keterampilan. nilai. Sedangkan teori konstruktivisme mengemukakan bahwa belajar sebagai proses saat peserta didik secara aktif membangun ide-ide baru dalam belajar. Ada tiga kategori utama atau kerangka filosofis dari teori teori belajar ini. Merriam dan Caffarella (1991) menyoroti empat pendekatan atau orientasi untuk belajar. cognitivist. humanis dan sosial/situasional. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 2 . Yang lainnya adalah dalam mengusulkan dimana kita seharusnya mencari solusi untuk masalah praktis. dan (3) kontruktivisme. dan pandangan dunia (Illeris. dan disimpan. 2004. behavioris. tetapi mengarahkan perhatian kita pada variabel yang penting dalam menemukan solusi. Teori belajar memiliki dua nilai utama menurut Hill (2002). 1995). (1)behaviorisme. Ormrod. Salah satunya adalah dalam menyediakan kita dengan kosa kata dan kerangka kerja konseptual untuk menafsirkan contoh pembelajaran yang kita amati.I TEORI BELAJAR Dalam psikologi dan pendidikan.

Teori Belajar Behavioristik Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Belajar berarti penguatan ikatan. mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. diukur dan dinilai secara konkret.A. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukumhukum mekanistik. Mendidik pada dasarnya Belajar dan Model-Model Pembelajaran 3 . Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-respon. sifat dan kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon). baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. asosiasi. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak. Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati. Ciri-Ciri Teori Behavioristik : a) b) c) Mementingkan faktor lingkungan Menekankan pada faktor bagian Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif d) e) Sifatnya mekanis Mementingkan masa lalu Teori behaviouristik ini memiliki beberapa cabang teori yang menekankan pembelajaran pada titik yang berbeda-beda yaitu. Classical Conditioning oleh Ivan Pavlov yang menyimpulkan bahwa sesuatu yang di pelajari dapat di kembalikan kepada stimulus respon. berupa reaksi fisik terhadap stimulans. 1.

Respondent response.adalah memberikan stimulus yang memberi respon sesuai yang kita inginkan. Perasaan. 2.beliau mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon. namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. meskipun mereka tetap mengakui bahwa semua hal itu penting. Adanya kesan motoris di tujukan terhadap berbagai stimulus. yaitu : a. Penganut aliran ini lebih suka memilih untuk tidak memikirkan hal – hal yang tidak bisa diukur. Operant Conditioning . Teori Behaviorisme Watson. Di temukan tiga reaksi emosional yang di bawa sejak lahir. Hal ini di lakukan berulang – ulang agar hubungan stimulus dan respon semakin kuat. b. Pengaruh Lingkungan tehadap perkembangan individu. e. marah. Pengamatan dan kesan. Stimulus merupakan situasi objektif dan respon merupakan reaksi subjektif individu terhadap stimulus. yaitu : takut. sedangkan kebiasaan – kebiasaan yang terbentuk dalam perkembangan di sebabkan oleh latihan dan belajar. c. Respon ini di timbulkan oleh perangsang – perangsang tertentu yang disebut electing stimuli yang sifatnya relative tetap dan terbatas Belajar dan Model-Model Pembelajaran 4 . Teori berpikir. Reaksi instinktif atau kodrati yang di bawa sejak lahir jumlahnya sedikit sekali. Teori stimulus dan respon. Berpikir harus merupakan tingkah laku senso motoris dan berbicara dalam hati adalah tingkah laku berfikir.Teori ini di pelopori oleh Skinner. 3. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar. Pendapat yang di kemukakan yaitu : a. Tingkah laku dan Afektif. dan cinta. Apabila kita menganalisis tingkah laku yang kompleks. akan di temukan rangkaian unit stimulus dan respon yang disebut reflex. d. dalam teori ini di sebutkan bahwa ada dua macam respon. Perasaan senag dan tidak senang merupakan reaksi senso motoris.

Menurut Hull. meskipun sering digunakan dalam berbagai eksperimen 5. tidur.serta hubungan antara stimulus dan respons sudah pasti sehingga kemungkinan untuk di modifikasi kecil. (2)idenya tentang proses internal dianggap abstrak dan sulit dibuktikan melalui eksperimen empiris. yang dapat pula berupa pikiran. Mengemukakan konsep pokok teorinya yang sangat di pengaruhi oleh teori evolusi Darwin. b. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran. Respon ini merupakan bagian yang tebesar dari pada tingkah laku manusia dan kemungkinannya untuk di modifikasi tak terbatas. dan sebagainya. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar. Operant response. Dia berpendapat bahwa tingkah laku seseorang berfungsi untuk menjaga kelangsungan hidup. atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Oleh karena itu. berarti responnya menjadi lebih kuat / intensif. Teori Koneksionisme Thorndike. Menurut Thorndike. dalam teori Hull. seperti lapar. yamg biasa di sebut dengan reinforcing stimuli atau reinforcer. Titik berat teori Skinner adalah pada respon kedua ini. misalnya saja seorang anak belajar. belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus hampir selalu di kaitkan dengan kebutuhan biologis ini. perasaan. Teori ini tidak banyak dipakai dalam dunia praktis karena (1)dianggap terlalu kompleks dan sulit dimengerti. usaha utk menggeneralisasi hasil eksperimen secara berlebihan. kemudian memperoleh hadiah sehingga ia akan lebih giat lagi belajar. kebutuhan dikonsepkan sebagai dorongan (drive). perasaan. kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis menempati posisi sentral. misalnya makanan yang menimbulkan air liur. Perangsang tersebut memperkuat respon yang telah dilakukan oleh organisme sehingga sifatnya mengikuti. Teori Systematic Behavior Clark Hull. 4. haus. dan (3)partikularistic. meskipun menghasilkan respon yang berbeda–beda bentuknya. atau Belajar dan Model-Model Pembelajaran 5 . Respon yang timbul dan berkembangnya di ikuti oleh perangsang–perangsang tertentu.

seseorang yang memiliki kebiasaan merokok sulit di tinggalkan. Teori Belajar Kognitivisme Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. B. mengemukakan teori kontinguiti yang memandang bahwa belajar merupakan kaitan asosiatif antara stimulus tertentu dan respon tertentu. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionismeProsedur eksperimennya ialah membuat agar setiap binatang lepas dari kurungannya sampai ke tempat makanan. dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. menyimpan.Guthrie juga mengemukakan bahwa hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Teori Edwin Gutrie. Sebagai contoh. tetapi juga dengan stimulus lain seperti minum kopi. tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. yaitu yang dapat diamati. 6. seperti menggigit. maka binatang itu sering melakukan bermacam kelakuan. Dalam hal ini apabila binatang terkurung. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit. Menurutnya suatu hukuman yang di berikan pada waktu yang tepat. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 6 . suatu respon akan lebih kuat apabila respon tersebut berhubungan dengan berbagai macam stimulus. atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. akan mampu mengubah kebiasaan seseorang. dan cepat atau lambat binatang itu tersandung pada palang sehingga kotak terbuka dan binatang itu lepas ke tempat makanan. menggosokkan badannya ke sisi kotak. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran.gerakan/tindakan. Hal ini dapat terjadi karena merokok bukan hanya berhubungan dengan satu macam stimulus. Oleh karena itu. Model ini menekankan pada bagaimana sebuah informasi diproses. Selanjutnya Edwin Guthrie berpendapat bahwa hubungan antara stimulus dan respon merupakan faktor kritis dalam belajar. di perlukan pemberian stimulus yang sering agar hubungan menjadi lebih langgeng. Selain itu. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir.

Peneliti yang mengembangkan teori kognitif ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar. Bruner menitikberatkan pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan. Proses pembelajaran strategi kognitif merupakan proses reflection in action. Sebagai salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), guru memiliki posisi yang menentukan keberhasilan pembelajaran, karena fungsi utama guru ialah merancang, mengelola dan mengevaluasi pembelajaran (Gagne, 1974). Ausubel (1968) mengatakan bahwa guru bertugas mengalihkan seperangkat pengetahuan yang terorganisasikan sehingga pengetahuan tersebut menjadi bagian dari sistem pengetahuan siswa. Sejalan dengan itu, Kurikulum { KTSP } menegaskan bahwa kedudukan guru dalam kegiatan belajar mengajar sangat strategis dan menentukan. Strategis karena guru akan menentukan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Menentukan karena gurulah yang memilah dan memilih bahan pelajaran yang akan disajikan kepada peserta didik. Salah satu faktor yang mempengaruhi guru dalam upaya memperluas dan memperdalam materi ialah rancangan pembelajaran yang efektif, efisien, menarik dan hasil pembelajaran yang bermutu tinggi dapat dilakukan dicapai oleh setiap guru. Menurut Snelbecker (1983 : 465), CDT (Center for the Development of Teaching) merupakan model preskripsi pembelajaran yang paling lengkap yang memperhitungkan teori pembelajaran behavioristik, teori pembelajaran humanistik dan teori pembelajaran kognitif. CDT juga memerhatikan fungsi kegiatan mental yang berhubungan dengan proses belajar yang diadopsi dari pandangan neo-behaviorist, agar tercapai suatu proses belajar (internal condition) diperlukan situasi belajar (external condition) tertentu sesuai dengan unjuk kerja belajar. Asumsi ini kemudian digunakan oleh CDT dalam penetapan tujuan belajar.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

7

Konsep yang diajukan teori pembelajaran humanistik terhadap individu siswa juga diadaptasi oleh CDT untuk mempreskripsikan cara membelajarkan siswa. Menurut Rogers (1983) dalam melaksanakan tugasnya di kelas, guru harus mampu memfasilitasi tumbuhnya kemamuan belajar siswa melalui motivasi. Begitu pula Maslow (1971), sebagai seorang tokoh psikologi humanistik, menentukan perlunya pemberian motivasi bagi tumbuhnya semangat belajar siswa. Pendapat dan prinsipprinsip pemberian motivasi dari dua tokoh psikologi humanistik ini digunakan oleh CDT dalam merancang strategi penyajian Keungulan CDT secara teoretis juga dibuktikan lewat berbagai penelitian. Hasil-hasil penelitian Merrill dan Tennyson (1982), Suhardjono (1990), dan Tugur (1991), semuanya menunjukkan bahwa CDT memiliki keunggulan dalam meningkatkan perolehan belajar pada performansi mengingat, menggunakan, dan mengembangkan, baik untuk tipe isi pelajaran yang berupa fakta, konsep, prosedur, maupun prinsip.
Tabel 1. Asumsi Umum Tentang Teori Belajar Kognitif Asumsi Pembelajaran sekarang berasal dari proses Pembelajaran sebelumnya Pembelajaran informasi melibatkan Penjelasan Siswa memiliki latar belakang dan motivasi yang berbeda sehingga mereka mengkonstruksi satu hal yang sama secara berbeda. proses Ini merupakan proses aktif yang mengacu pada pengetahuan siswa Pemaknaan Pemaknaan hubungan merupakan dikonstruksi refleksi dari pengalaman antara yang proses

hubungan

pembelajaran sebelumnya dengan yang baru. Kegiatan belajar mengajar menekankan Penekananya pada hubungan dan strategi pada kebermaknaan yang tujuanya

membantu siswa belajar bagaimana cara belajar.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

8

C. Teori Belajar Konstruktivisme
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran kontekstual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari ide dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih paham dan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep. Ciri-ciri teori Konstruktivisme
a) b)

Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.

c)

Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah

d)

Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar.
Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaanSelain itu

yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa . siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

9

Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi . Tugas setiap guru dalam memfasilitasi siswanya. Latihan memecahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari. hanya dengan usaha yangkeras para sisiwa sedirilah para siswa akan betul-betul memahami suatu materi yang diajarkan. Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadisituasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik.menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Hal ini menunjukkan bahwa seorang guru dapat mengajar suatu materi kepada sisiwa dengan baik. Para siswa harus dapat secara aktif mengasimilasikan dan mengakomodasi pengalaman baru kedalam kerangka kognitifnya Untuk mengajar dengan baik. sehingga pengetahuan materi yang dibangun atau dikonstruksi para siswa sendirisan bukan ditanamkan oleh guru. tetapi harus diupayakan agar siswa itu sendiri yang memanjatnya. Aplikasi dan Implikasi dalam Pembelajaran Setiap guru akan pernah mengalami bahwa suatu materi telah dibahas dengan jelas-jelasnya namun masih ada sebagian siswa yang belum mengerti ataupun tidak mengerti materi yang diajarkan sama sekali. Siswa perlu mengkonstruksi pemahaman yang mereka sendiri untuk masing-masing konsep materi sehingga guru dalam mengajar bukannya “menguliahi”. dan teman yang membuat situasi kondusif untuk terjadinya konstruksi engetahuan pada diri peserta didik. guru harus memahami model-model mental yang digunakan para siswa untuk mengenal dunia mereka dan penalaran yang dikembangkandan yang dibuat para sisiwa untuk mendukung model-model itu. namun seluruh atau sebagian siswanya tidak belajar sama sekali. menerangkan atau upaya-upaya sejenis untuk memindahkan pengetahuan pada siswa tetapi menciptakan situasi bagi siswa yang membantu perkembangan mereka membuat konstruksi-konstruksi mental yang diperlukan.Kelebihan dan Kekurangan Konstruktivisme Belajar dan Model-Model Pembelajaran 10 . Karena. Usaha keras seorang guru dalam mengajar tidak harus diikuti dengan hasil yang baik pada siswanya. Guru hanya sebagai fasilitator. mediator. Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai dengan dirinya.

dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. siswa berbeda persepsi satu dengan yang lainnya. Faham kerana murid terlibat secara langsung dalam mebina pengetahuan baru. Dengan kata lain. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. bukan dari sudut pandang pengamatnya. Kelebihan Murid berfikir untuk menyelesaikan masalah. Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk “memanusiakan manusia” (mencapai aktualisasi diri dan sebagainya) dapat tercapai. Selian itu murid terlibat secara langsung dengan aktif. 2. menjana idea dan membuat keputusan.. Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri. Kelemahan Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang begitu mendukung. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingya isi dari proses belajar. Teori Belajar Humanistik Dalam teori belajar humanistik proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya. Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap. Dalam teori belajar humanistik. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 11 . mereka akan lebih faham dan boleh mengapliksikannya dalam semua situasi. mereka akan ingat lebih lama semua konsep.1. D. seperti apa yang bisa kita amati dalam dunia keseharian. Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu. Kemahiran sosial diperoleh apabila berinteraksi dengan rekan dan guru dalam membina pengetahuan baru. teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya.

Menurut hemat kami. 4. 1. Kepercayaan pada diri pada siswa ditumbuhkan dengan membiasakan untuk mawas diri 10. yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Belajar signifikan terjadi apabila materi plajaran dirasakan murid mempuyai relevansi dengan maksud tertentu 3. Belajar akan cepat dan lebih bermakna bila bahan yang dipelajari relevan dengan kebutuhan siswa. Teori Belajar Humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusisa serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya. Tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasarkan bila ancaman itu kecil 5. dan keinginan yang mendalam untuk mengeksplorasi dan asimilasi pengalaman baru. Belajar lancer jika siswa dilibatkan dalam proses belajar 8. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya. (2). memiliki rasa ingin tahu alamiah terhadap dunianya. Manusia itu memiliki keinginan alamiah untuk belajar. Belajar sosial adalah belajar mengenai proses belajar Roger sebagai ahli dari teori belajar humanisme mengemukakan beberapa prinsip belajar yang penting yaitu: (1).Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 12 . Belajar yang melibatkan siswa seutuhnya dapat memberi hasil yang mendalam 9. Manusia mempunyai belajar alami 2. Belajar yang bermakna diperolaeh jika siswa melakukannya 7. Bila bancaman itu rendah terdapat pangalaman siswa dalam memperoleh cara. Prinsip-prinsip Teori Belajar Humanistik Beberapa prinsip Teori belajar Humanistik 1. 6.

jujur dan positif. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri 4. Diharapkan siswa memahami potensi diri . 3. dan (6) kebebasan. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat.(3) belajar dapat di tingkatkan dengan mengurangi ancaman dari luar. kreatifitas. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi. memaknai proses pembelajaran secara mandiri 5. Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis. Aplikasi Teori Belajar Humanistik Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. (5) belajar atas prakarsa sendiri yang melibatkan keseluruhan pribadi. Merumuskan tujuan belajar yang jelas 2. (4) belajar secara partisipasif jauh lebih efektif dari pada belajar secara pasif dan orang belajar lebih banyak bila belajar atas pengarahan diri sendiri. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas . kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. memilih pilihannya sendiri. melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang ditunjukkan. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 13 . dan kepercayaan diri dalam belajar dapat ditingkatkan dengan evaluasi diri orang lain tidak begitu penting. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. 2. pikiran maupun perasaan akan lebih baik dan tahan lama. mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif. Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah : 1.

6. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk

bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya. 7. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya 8. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan. Keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku. 3. Implikasi Teori Belajar Humanistik Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator. Berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa (petunjuk): 1) Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas 2) Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum. 3) Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk

melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi. 4) Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka. 5) Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

14

6) Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok 7) Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain. 8) Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa 9) Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar 10) Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri. Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah : a) Merespon perasaan siswa b) Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang c) Berdialog dan berdiskusi dengan siswa d) Menghargai siswa e) Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan f) Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan segera dari siswa) g) Tersenyum pada siswa

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

15

Bab II TEORI BELAJAR MENURUT PARA AHLI

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

16

yaitu pengetahuan orang tentang alam didasarkan pada model-model Belajar dan Model-Model Pembelajaran 17 . didasarkan pada dua prinsip. belajar dan berfikir. Teori Belajar Menurut J. seorang ahli psikologi yang terkenal telah banyak menyumbang dalam penulisan teori pembelajaran. Jerome Bruner. Walau bagaimanapun. transformasi pengetahuan. Bruner bersetuju dengan Piaget bahawa perkembangan kognitif kanak-kanak adalah melalui peringkatperingkat tertentu.II TEORI BELAJAR MENURUT PARA AHLI A. Bruner menganggap. beliau menjadi seorang profesor Psikologi di Universiti Oxford di England. Setelah itu. yaitu memperoleh informasi baru.B Bruner Jerome Bruner dilahirkan dalam tahun 1915. Pendekatannya tentang psikologi adalah eklektik. Bruner lebih menegaskan pembelajaran secara penemuan iaitu mengolah apa yang diketahui pelajar itu kepada satu corak dalam keadaan baru (lebih kepada prinsip konstruktivisme). Beliau bertugas sebagai profesor psikologi di Universiti Harvard di Amerika Syarikat dan dilantik sebagi pengarah di Pusat Pengajaran Kognitif dari tahun 1961 sehingga 1972. Penelitiannya yang demikian banyak itu meliputi persepsi manusia. proses pengajaran dan falsafah pendidikan. bahwa belajar itu meliputi tiga proses kognitif. pemikir dan pencipta informasi. dan memainkan peranan penting dalam struktur Projek Madison di Amerika Syarikat. Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi belajar kognitif. Dalam mempelajarai manusia. motivasi. Jerome S. ia menganggap manusia sebagai pemroses. Pandangan terhadap belajar yang disebutnya sebagai konseptualisme instrumental itu. dan menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.

Pengetahuan yang diperoleh melalui belajar penemuan bertahan lama. Selain itu. Belajar penemuan meningkatkan penalaran dan kemampuan berfikir secara bebas dan melatih keterampilan-keterampilan kognitif untuk menemukan dan memecahkan masalah. Pematangan intelektual atau pertumbuhan kognitif seseorang ditunjukkan oleh bertambahnya ketidaktergantungan respons dari sifat stimulus. dan mempunyai efek transfer yang lebih baik. tingkat perkembangan anak.kanak-kanak membentuk konsep segiempat dengan mengenal segiempat mempunyai 4 sisi dan memasukkan semua bentuk bersisi empat Belajar dan Model-Model Pembelajaran 18 . ekonomi dan kuasa. Pengalaman-pengalaman optimal bagi siswa untuk mau dan dapat belajar. pengajaran didasarkan kepada perangsang murid terhadap konsep itu dengan pengetahuan sedia ada. Pertumbuhan itu menyangkut peningkatan kemampuan seseorang untuk mengemukakan pada dirinya sendiri atau pada orang lain tentang apa yang telah atau akan dilakukannya. Teori instruksi menurut Bruner hendaknya mencakup: 1. 2. sifat materi pelajaran dan perbedaan individu. dan model-model itu diadaptasikan pada kegunaan bagi orang itu. Menurut Bruner belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan.mengenai kenyataan yang dibangunnya. Beliau berpendapat bahawa seseorang murid belajar dengan cara menemui struktur konsep-konsep yang dipelajari. Bentuk dan pemberian reinforsemen. 3. Misalnya. pemeliharaan dan pengarahan. ditinjau dari segi aktivasi. Penstrukturan pengetahuan untuk pemahaman optimal. 4. dengan memperhatikan faktor-faktor belajar sebelumnya. ditinjau dari segi cara penyajian. Perincian urutan-urutan penyajian materi pelajran secara optimal. Kanak-kanak membentuk konsep dengan mengasingkan benda-benda mengikut ciri-ciri persamaan dan perbezaan. Pertumbuhan itu tergantung pada bagaimana seseorang menginternalisasi peristiwa-peristiwa menjadi suatu ”sistem simpanan” yang sesuai dengan lingkungan.

b) Model dan Kategori Pendekatan Bruner terhadap belajar didasarkan pada dua asumsi. Dalam teori belajarnya Jerome Bruner berpendapat bahwa kegiatan belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau kesimpulan tertentu. (2) tahap transformasi. 1.dan memasukkan bentuk-bentuk bersisi tiga kedalam kategori segitiga.kedalam kategori segiempat. Tema keempat adalah tentang motivasi atau keingianan untuk belajar dan cara-cara yang tersedia pada para guru untuk merangsang motivasi itu. bagaimana fakta-fakta yang kelihatannya tidak ada hubungan. Asumsi pertama adalah bahwa perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif. Menurut Bruner kesiapan terdiri atas penguasaan ketrampilan-ketrampilan yang lebih sederhana yang dapat mengizinkan seseorang untuk mencapai kerampilan-ketrampilan yang lebih tinggi. yaitu tahap memahami. Dengan intuisi. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 19 . Hal ini perlu karena dengan struktur pengetahuan kita menolong siswa untuk untuk melihat. Dalam hal ini Bruner membedakan menjadi tiga tahap. yaitu untuk mengetahui apakah hasil tranformasi pada tahap kedua tadi benar atau tidak. Ketiga tahap itu adalah: (1) tahap informasi. yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru. Tema ketiga adalah menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan. Ciri khas Teori Pembelajaran Menurut Bruner a) Empat Tema tentang Pendidikan Tema pertama mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan. Tema kedua adalah tentang kesiapan untuk belajar. teknik-teknik intelektual untuk sampai pada formulasi-formulasi tentatif tanpa melalui langkah-langkah analitis untuk mengetahui apakah formulasiformulasi itu merupaka kesimpulan yang sahih atau tidak. mencerna dan menganalisis pengetahuan baru serta ditransformasikan dalam bentuk baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain. dan (3) evaluasi. dapat dihubungkan satu dengan yang lain.

(2) transformasi informasi dan (3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan (Bruner. Jadi. Hampir semua orang dewasa melalui penggunaan tig sistem keterampilan untuk menyatakan kemampuanny secara sempurna. 1973). perubahan tidak hanya terjadi di lingkungan tetapi juga dalam diri orang itu sendiri. Jadi cara ini terdiri atas penyajian kejadian- Belajar dan Model-Model Pembelajaran 20 . Dalam transformasi pengetahuan seseorang mempelakukan pengetahuan agar cocok dengan tugas baru. transformasi menyangkut cara kita memperlakukan pengetahuan. Ketiga cara itu ialah: cara enaktif. c) Belajar sebagai Proses Kognitif Bruner mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan.Berlawanan dengan penganut teori perilakau Bruner yakin bahwa orang yang belajar berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif. Model Bruner ini mendekati sekali struktur kognitif Aussebel. Ketiga proses itu adalah (1) memperoleh informasi baru. Dengan menghadapi berbagai aspek dari lingkungan kita. jadi bersifat manipulatif. apakah dengan cara ekstrapolasi atau dengan mengubah bentuk lain. suatu model alam (model of the world). kita akan membentuk suatu struktur atau model yang mengizinkan kita untuk mengelompokkan hal-hal tertentu atau membangun suatu hubungan antara hal-hal yang diketahui. cara ikonik dan cara simbolik. Dengan cara ini seseorang mengetahui suatu aspek dari kenyataan tanpa menggunakan pikiran atau kata-kata. Informasi baru dapat merupaka penghalusan dari informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang atau informasi itu dapat dersifat sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang. Asumsi kedua adalah bahwa orang mengkontruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya. Setiap model seseorang khas bagi dirinya. Cara penyajian enaktif ialah melalui tindakan. Ketiga sistem keterampilan itu adalah yang disebut tiga cara penyajian (modes of presentation) oleh Bruner (1966).

tentang pelajaran penggunaan timbangan. Cara penyajian ikonik didasarkan atas pikiran internal. Ia tahu bahwa untuk dapat lebih jauh kebawah ia harus duduk lebih menjauhi pusat. karena teori Bruner ini banyak menuntut pengulangan-penulangan. Anak yang lebih tua dapat menyajikan timbangan pada dirinya sendiri dengan suatu model atau gambaran. tetapi tidak mendefinisikan sepenuhnya konsep itu. Anak kecil hanya dapat bertindak berdasarkan ”prinsip-prinsip” timbangan dan menunjukkan hal itu dengan menaiki papan jungkat-jungkit. Penyajian simbolik menggunakan kata-kata atau bahasa. Sebagai contoh dari ketiga cara penyajian ini. ”Bayangan” timbangan itu dapat diperinci seperti yang terdapat dalam buku pelajaran. Pengetahuan disajikan oleh sekumpulan gambar-gambar yang mewakili suatu konsep. Disamping itu. Secara sin gkat. Akhirnya suatu timbangan dapat dijelaskan dengan menggunakan bahasa tanpa pertolongan gambar atau dapat juga dijelaskan secara matematik dengan menggunakan Hukum Newton tentang momen. maka desain yang berulang-ulang itu disebut ”kurikulum spiral kurikulum”. kurikulum spiral menuntut guru untuk memberi materi pelajaran setahap demi setahap dari yang sederhana ke yang kompleks. dimana materi yang sebelumnya sudah diberikan suatu saat muncul kembali secara terintegrasi di dalam suatu materi baru yang lebih Belajar dan Model-Model Pembelajaran 21 . Misalnya seseorang anak yang enaktif mengetahui bagaimana mengendarai sepeda. Penyajian simbolik dibuktikan oleh kemampuan seseorang lebih memperhatikan proposisi atau pernyataan daripada objek-objek. d) Ciri khas Teori Bruner dan perbedaannya dengan teori yang lain Teori Bruner mempunyai ciri khas daripada teori belajar yang lain yaitu tentang ”discovery” yaitu belajar dengan menemukan konsep sendiri.kejadian yang lampau melalui respon-respon motorik. memberikan struktur hirarkis pada konsep-konsep dan memperhatikan kemungkinan-kemungkinan alternatif dalam suatu cara kombinatorial. Misalnya sebuah segitiga menyatakan konsep kesegitigaan.

Anak-anak membentuk konsep dengan melihat benda-benda berdasarkan ciri-ciri persamaan dan perbedaan. Bahwa pembelajaran baru berasal dari proses pembelajaran sebelumnya. Secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir secara bebas. b. Hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik. Pemaknaan berdasarkan hubungan. 2. Pengetahuan itu bertahan lama atau lama dapat diingat. Belajar melibatkan adanya proses informasi (active learning). Model kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Bruner menyarankan agar siswa hendaknya belajar melalui berpartisipasi aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip agar mereka dianjurkan untuk memperoleh pengalaman dan melakukan eksperimen-eksperimen yang mengizinkan mereka untuk menemukan konsep dan prinsip itu sendiri. pembelajaran didasarkan kepada merangsang siswa menemukan konsep yang baru dengan menghubungkan kepada konsep yang lama melalui pembelajaran penemuan. c. Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukkan beberapa kebaikan. c. Selain itu. Bruner berpendapat bahwa seseorang murid belajar dengan cara menemui struktur konsep-konsep yang dipelajari. Model kognitif ini memiliki Belajar dan Model-Model Pembelajaran 22 . Bruner menganggap bahwa belajar peneuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Demikian seterusnya sehingga siswa telah mempelajari suatu ilmu pengetahuan secara utuh. Belajar Penemuan Salah satu model kognitif yang sangat berpengaruh adalah model dari Jerome Bruner (1966) yang dikenal dengan nama belajar penemuan (discovery learning). d. Proses kegiatan belajar mengajar menitikberatkan pada hubungan dan strategi. Diantaranya adalah: a. Asumsi umum tentang teori belajar kognitif: a. b.kompleks.

Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar. Iconic. Semakin dewasa sistem simbol ini samakin dominan. Dengan lain perkataan perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan jalan mengatur bahan yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya. Menurut Ausubel. Bruner mengembangkan teorinya tentang perkembangan intelektual. b. Yang penting bahan pelajaran harus ditata dengan baik maka dapat diberikan padanya. Peneliti yang mengembangkan kognitif ini adalah Ausubel.perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir. dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Bruner. Enactive. konsep tersebut dimaksudkan untuk penyiapan struktur kognitif peserta didik untuk pengalaman belajar. Penerapan teori Bruner yang terkenal dalam dunia pendidikan adalah kurikulum spiral dimana materi pelajaran yang sama dapat diberikan mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan tinggi disesuaikan dengan tingkap perkembangan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 23 . yaitu: a. menyimpan. siswa melakukan aktifitas-aktifitasnya dalam usahanya memahami lingkungan. dan Gagne. dimana belajar terjadi melalui penggunaan model dan gambar c. Symbolic yang mendeskripsikan kapasitas dalam berfikir abstrak. siswa mempunyai gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika dan komunikasi dilkukan dengan pertolongan sistem simbol. Dari ketiga peneliti ini. masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Sejalan dengan pernyataan di atas. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses. Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan. maka untuk mengajar sesuatu tidak usah ditunggu sampai anak mancapai tahap perkembangan tertentu. dimana seorang peserta didik belajar tentang dunia melalui tindakannya pada objek.

kognitif mereka. Sesuatu pengetahuan yang diperolehi melalui pengalaman atau pendidikan formal akan disimpan dan disusun melalui proses pengumpulan pengetahuan supaya dapat digunakan kemudian. Berdasarkan pendapat ketiga ahli di atas (Burner. dan gagne).. dari yang sederhana ke kompleks 6. Ausubel. Penerapan Model Kognitif dalam pembelajaran: Belajar Kognitif Bruner Karakteristik Teori Model ini sangat Penerapan Dalam pembelajaran 1. Menentukan topik-topik yang akan dipeserta didiki 4. Mengatur topik peserta didik dari konsep yang paling kongkrit ke yang abstrak. dapat tujuan-tujuan membebaskan peserta didik sendiri. untuk peserta belajar discovery digunakan peserta didik untuk bahan belajar 5. Mencari ilustrasi contoh-contoh. Menentukan instruksional 2. Mengevaluasi proses dan hasil belajar Bermakna Ausubel Dalam aplikasinya 1. Cara belajar yang terbaik menurut Bruner ini adalah dengan memahami konsep. Mengukur kesiapan peserta didik Belajar dan Model-Model Pembelajaran 24 . untuk belajar ini Teori mengarahkan didik secara learning. arti dan hubungan melalui proses intuitif kemudian dapat dihasilkan suatu kesimpulan (discovery learning). yang tugas. ternyata teori kognitif melibatkan hal-hal mental atau pemikiran seseorang individu. Tabel 2. Teori ini ada kaitan dengan ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang. dsbnya. Menentukan instruksional tujuan-tujuan menuntut peserta didik belajar secara deduktif 2. Memilih materi pelajaran 3.

melalui tes struktur awal. Mengajar memahami peserta didik untuk dan konsep-konsep prinsip-prinsip yang sudah ditentukan dengan memberi fokus pada hubungan yang terjalin antara konsep yang ada 8. Mengevaluasi proses dan hasil belajar Belajar dan Model-Model Pembelajaran 25 . Mengidentifikasikan prinsip-prinsip yang harus dikuasai peserta didik dari materi tsb. 3.(dari khusus) umum dan ke lebih aspek (minat. kognitif)baik mementingkan struktur peserta didik interviw. Menyajikan suatu pandangan secara menyelurh tentang apa yang harus dikuasai pesertadidik 6. pertanyaan dll. dilengkapi dengan uraian singkat yang menunjukkan relevansi yang sudah (keterkaiatan) materi diberikan dengan yang akan diberikan 7. 5. kemampuan. Membuat dan menggunakan “advanced organizer” paling tidak dengan cara membuat rangkuman terhadap materi yang baru disajikan. Memilih materi pelajaran dan kognitif mengaturnya dalam bentuk penyajian konsep-konsep kunci 4.

Adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberi sumbangan yang cukup besar di dunia pendidikan tersebut maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan. Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika. Teori Thorndike dikenal dengan teori Stimulus-Respons. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Teori Koneksionisme Koneksionisme merupakan teori yang paling awal dari rumpun Berhaviorisme. Bukubuku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903). Animal Intelligence (1911). Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons.B. Teori belajar koneksionisme dikembangkan oleh Edward L. dan Human Nature and The Social Order (1940). S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895. Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. sedangkan respons akanmendorong seseorang untuk melakukan tindakan. Ateacher’s Word Book (1921). perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha –usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. dasar belajar adalah asosiasi antara stimulus (S) de¬ngan respons(R). Belajar dan Model-Model Pembelajaran 26 . Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Stimulus akan memberi kesan ke-pada pancaindra.Your City (1939).Prinsip itulah yang kemudian disebut sebagai teori Connectionism. Thorndike (1874-1949). Asosiasi seperti itu disebut Connection. Mental and social Measurements (1904). Menurutnya.

selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan response lagi. reaksi kucing menunjukkan sikap yang tidak terarah. Respons yang berhasil untuk membuka pintu. maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat. ternyata tingkah laku kucing untuk keluar darikandang menjadi semakin efisien. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 27 . yaitu semakin siap suatu organism memperoleh suatu perubahan tingkah laku.Setelah percobaan itu diulang-ulang. Setiap response menimbulkan stimulus yang baru. Padaawalnya. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”. sehingga dapat digambarkan sebagai berikut: S R S1 R1 dst 1. Dalam melaksanakan coba-coba ini. hingga akhirnya suatu saat gerakan kucing menyentuh tali yangmenyebabkan pintu terbuka. Kucing dalam keadaan lapar dimasukkan ke dalam kandang yang dibuat sedemikian rupa. Pintu tersebut akan terbuka jika tali tersentuh/tertarik. yaitu menyentuh tali akan dibuat pembiasaan. Eksperimen itu menunjukkan adanya hubungan kuat antara stimulus danrespons. kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. sedangkan respons lainnyadilupakan. ia menemukan hukum-hukum belajar sebagai berikut : a) Hukum Kesiapan (law of readiness). Itu berarti. Hukum-Hukum Belajar Dari percobaan yang Thorndike lakukan seperti yang telah dipaparkan pasa subbab sebelumnya. yaitudengan menggunakan kucing sebagai objek penelitiannya. seperti meloncat yangtidak menentu. demikian selanjutnya. kucing dapat memilih atau menyeleksiantara respons yang berguna dan yang tidak.Pendidikan yang dilakukan Thorndike adalah menghadapkan subjek pada situasi yangmengandung problem. Model eksperimen yang ditempuhnya sangat sederhana. Di luar kandang diletakkan makanan untuk merangsang kucing agar bergerak ke-luar. yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. dengan model pintu yangdihubungkan dengan tali.

maka ia akan puas. Misalnya. maka ia akan cenderung mengerjakannya. Akibatnya.Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. maka ia akan cenderung mengerjakannya. jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit. Contoh peserta didik yang sudah belajar tekun untuk ujian. bila seseorang belum siap melakukan suatu tingkah laku dan tetap tidak melakukannya. Contoh. maka ia akan merasa tidak puas. Masalah keempat. Masalah ketiga. ia akan melakukan ting¬kah laku lain untuk mengurangi kekecewaan. Apabila hal ini dilaksanakan. dia akan puas bila ujian itu benar-benar dilaksanakan. bila seseorang siap melakukan suatu tingkah laku tetapi tidak dilaksanakan. yaitu semakin sering tingkah laku diulang/ dilatih (digunakan) . Belajar dan Model-Model Pembelajaran 28 . Misalnya. peserta didik yang sudah benar-benar siapmenempuh ujian.tetapi ujian dibatalkan. Contoh. Masalah kedua. Masalah pertama. pelaksanaannya akan memberi kepuasan baginya sehingga tidak akanmelakukan tingkah laku lain. jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit. Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. karena dia belum belajarHukum Latihan (law of exercise). peserta didik akan merasa lega bila ulanganditunda. ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan. protes) untuk melampiaskan kekecewaannya. orang tersebut akanmelakukan tingkah laku lain untuk menghalangi terlaksananya tingkah laku tersebut. mereka pun akan bertingkah untuk menggagalkan tes.Contoh. ia cenderung melakukan hal lain (misalnya: berbuat gaduh. bila sese¬orang sudah siap melakukansuatu tingkah laku. makaakan timbul kekecewaan. peserta didik tiba-tiba diberi tes tanpa diberi tahu lebih dahulu. maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Apabila hal ini dilaksanakan. Akibatnya. ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan. bila seseorang belum siap melakukan suatu perbuatan tetapi dia harusmelakukannya.

Sebaliknya. Makin sering diulangi. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya. materi pelajaran akan semakin dikuasai. tergantung pada “buah” hasil perbuatan yang pernah dilakukan. Hukum Tambahan Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai berikut: a. ia akan dihukum. Namun. tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan. ia mendapatkan muka manis gurunya. Prinsip menunjukkan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah ulangan. yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. jika sebaliknya. walaupun hubungan antara situasi dan perbuatan pada binatang tanpa dipeantarai pengartian. 1984). Misalnya. 2. b) Hukum akibat(law of effect). Belajar dan Model-Model Pembelajaran 29 . Hukum Reaksi Bervariasi (multiple response).Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan. Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip proses belajar binatang pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada manusia. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Binatang melakukan responsrespons langsung dari apa yang diamati dan terjadi secara mekanis(Suryobroto. Koneksi antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah. bila anak mengerjakan PR. Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh prooses trial dan error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.

Hukum perpindahan Asosiasi ( Associative Shifting) Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama. tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif. Hukum ini menjelaskan bahwa perilakku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja. e. sedangkan hukuman tidak berakibat apa-apa. Hukum akibat direvisi. Makin banyak unsur yang sama maka transfer akan makin mudah. sosial . Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah. Hukum Sikap ( Set/ Attitude). Belajar dan Model-Model Pembelajaran 30 . Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi ( respon selektif). Hukum Aktifitas Berat Sebelah ( Prepotency of Element). c. maupun psikomotornya. 3. Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon. Revisi Hukum Belajar Selain menambahkan hukum-hukum baru. sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah. dalam perjalanan penyamapaian teorinya thorndike mengemukakan revisi Hukum Belajar antara lain : a. b. Hukum Respon by Analogy. d. emosi .b. Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru.

4. maka bergeser dari teori pembelajaran Belajar dan Model-Model Pembelajaran 31 . Akibat suatu perbuatan dapat menular baik pada bidang lain maupun pada individu lain. perkembangan IPTEK. teori ini kemudian bergeser menjadi teori pembelajaran kognitivisme dimana teori ini menekankan pada proses pendalaman yang berlaku dalam akal pikiran. Teori koneksionisme menyebutkan pula konsep transfer of training. tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon. Perkembangan teorinya berdasarkan pada percobaan terhadap kucing dengan problem box-nya. Kita tentu telah mengetahui teori pembelajaran koneksionisme. karena teori ini hanya berfokus pada perilaku individu. yaiyu kecakapan yang telah diperoleh dalam belajar dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang lain. d. dimana Teori pembelajaran ini mempunyai pemahaman tentang belajar yang lebih menekankan proses daripada belajar. Karena teori pembelajaran ini dianggap masih kurang. teori ini mampu membangun ilmu pengetahuan yang telah lalu dengan ilmu pengetahuan yang baru. Dengan kata lain. Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan. begitu juga dengan teori-teori pembelajaran. dan tidak dapat diperhatikan secara langsung dengan tingkah laku. maka teori ini bergeser menjadi teori pembelajaran konstruktivisme. sehingga mengharuskan siswa bersikap aktif.c. Karena teori ini hanya membicarakan input. Adanya sikap kritis para ahli. dimana teori ini merupakan teori pembelajaran yang hanya berfokus pada perilaku yang bisa diamati dan stimuli yang mengontrolnya. adanya keinginan untuk mengadakan perbaikan hingga Curiosity dari para ahli untuk memecahkan dan menutup kekurangan yang ada pada teori sebelumnya menjadi pemicu untuk melakukan perubahan terhadap teori-teori pembelajaran. Begesernya Teori-Teori Belajar (Dari Koneksionisme hingga Humanisme) Tak dapat dipungkiri manusia sebagai makhluk sosial yang dinamis selalu tidak puas dengan apa yang sudah ada akan selalu mencoba dan menciptakan sesuatu yang baru atau lain dari biasanya.

Manusia memiliki kebebasan untuk berfikir alternatif. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 32 . Dalam teori humanisme memandang bahwa belajar bukan sekedar pengembangan kualitas kognitif saja. Domain tersebut meliputi domain kognitif. Selain itu dengan adanya pergeseran teori-teori pembelajaran ini diharapkan mampu mendorong pemilihan cara-cara yang tepat untuk membelajarkan siswa. mendorong guru untuk responsif terhadap perubahan serta mendorong guru untuk mengkondisikan pembelajaran sesuai konteks yang nyata. Dengan alur pergeseran: Koneksionisme Kognitivisme Konstruktivisme Kognitivisme Konstruktivisme Humanisme Dengan adanya pergeseran teori-teori pembelajaran ini diharapkan mampu menawarkan solusi dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan landasan teori yang lebih mutakhir sehingga proses dan tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.konstruktivisme menjadi teori pembelajaran humanisme. sehingga proses pembelajarannya pun ideal. afektif. melainkan juga sebuah proses yang terjadi dalam diri individu yang melibatkan seluruh bagian atau domain yang ada. menemukan konsep dan prinsip. Pergeseran Teori Pembelajaran berawal dari teori koneksionisme dan sementara ini berakhir pada teori humanisme. dan psikomotorik. dimana teori pembelajaran ini mampu menciptakan manusia yang ideal.

Untuk lebih lengkapnya penulis akan membahas teori kondisioning operan pada bagian berikut ini. Teori Kondisioning Operan Menurut B. Asas-asas kondisioning operan adalah kelanjutan dari tradisi yang didirikan oleh John Watson. banyak tingkah laku menghasilkan perubahan atau konsekuensi pada lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap organisme dan dengan begitu mengubah kemungkinan organisme itu merespon nanti. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana. namun lebih komprehensif.F. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 33 . Asas pengkondisian operan B. Menurut Skinner penjelasan S-R tentang terjadinya perubahan tingkah laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana organisme berinteraksi dengan lingkungannya.Skiner. maka studi tingkah laku harus dijadikan fokus penelitian psikologi. agar psikologi bisa menjadi suatu ilmu. 1. pada waktu itu model kondisian klasik dari Pavlov telah memberikan pengaruh yang kuat pada pelaksanaan penelitian Skinner tidak sependapat dengan pandangan S-R dan penjelasan reflex bersyarat dimana stimulus terus memiliki sifat-sifat kekuatan yang tidak mengendur. Skinner menghindari kontradiksi yang ditampilkan oleh model kondisioning klasik dari Pavlov dan kondisioning instrumental dari Thorndike. Pada waktu keluarnya teori-teori S-R.F Skinner dimulai awal tahun 1930-an. Ia mengajukan suatu paradigma yang mencakup kedua jenis respon itu dan berlanjut dengan mengupas kondisi-kondisi yang bertanggung jawab atas munculnya respons atau tingkah laku operan. Bukan begitu. tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Tidak seperti halnya teoritikus-teoritikus S-R lainnya. pada waktu keluarnya teori S-R.C. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya. Artinya. Teori Belajar Menurut Skinner Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku.

c. b. Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). kado. Kajian Teori Kondisioning Operan Menurut B.Skiner Kondisian operan adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensikonsekuensi dari prilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan diulangi. Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah laku. menganggukkan kepala untuk menyetujui. Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkungan. Sebaliknya. Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya dapat di tentukan kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di devinisikan menurut fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi yang di control secara seksama. Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Belajar itu adalah tingkah laku. Ada 6 asumsi yang membentuk landasan untuk kondisioning operan (Margaret E.F. atau penghargaan (nilai A. hlm 122). Menurut Skinner (J. bertepuk tangan. b. perilaku (senyum. Bell Gredler. dll). Menurut Skinner penguatan berarti memperkuat. makanan. mengacungkan jempol). Juara 1 dsb). Bentukbentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen.Penguatan dan Hukuman. penguatan dibagi menjadi dua bagian yaitu : a.2. 272) unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman (punishment).W. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 34 . Asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut: a. Inti dari teori behaviorisme Skinner adalah Pengkondisian operan (kondisioning operan). hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku. Santrock.

Dalam hukuman. muka kecewa dll). Adalah mudah mengacaukan penguatan negatif dengan hukuman. Penguatan positif Perilaku Murid Konsekuensi mengajukan Guru menguji murid Prilaku kedepan Murid mengajukan pertanyaan yang bagus B. 274). negatif. ingat bahwa penguatan negatif meningkatkan probabilitas terjadinya suatu prilaku. Contoh dari konsep penguatan positif. adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan). perilakunya berkurang. konsekuensi meningkatkan prilaku. Penguatan negatif.W Santrock. sedangkan hukuman menurunkan probabilitas terjadinya perilaku. ada sesuatu yang dikurangi atau di hilangkan. A. kening berkerut. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 35 . Agar istilah ini tidak rancu.b. dan hukuman (J. memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng. Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan. Penguatan negatif Perilaku Murid Konsekuensi lebih banyak pertanyaan Prilaku kedepan makin sering menyerahkan Guru berhenti menegur Murid murid PR tepat waktu menyerahkan PR tepat waktu C. Dalam penguatan negatif. Hukuman Perilaku Murid menyela guru Konsekuensi Guru mengajar Prilaku kedepan murid Murid berhenti menyela guru langsung Ingat bahwa penguatan bisa berbentuk postif dan negatif. Satu cara untuk mengingat perbedaan antara penguatan positif dan penguatan negatif adalah dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. Dalam kedua bentuk itu.

Materi pelajaran. Hukuman harus dihindari karena adanya hasil sampingan yang bersifat emosional dan tidak menjamin timbulnya tingkah laku positif yang diinginkan. Belajar. Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Skinner menyarankan penerapan cara pemberian penguatan komponen tingkah laku seperti menunjukkan perhatian pada stimulus dan melakukan studi yang cocok terhadap tingkah laku. untuk menghindari adanya hukuman. Hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable rasio reinforce Belajar dan Model-Model Pembelajaran 36 . c. Skinner menggambarkan praktek “tugas dan ujian” sebagai suatu contoh menempatkan pelajar yang manusia itu dalam kontigensi terminal juga. dan sebagainya. c.Skinner menghasilkan suatu sistem ringkas yang dapat diterapkan pada dinamika perubahan tingkah laku baik di laboratorium maupun di dalam kelas. lebih dipentingkan aktivitas sendiri. diberi hadiah. binatang itu harus berusaha penuh resiko. digunakan sistem modul. Bukannya demikian itu prosedur yang mengena ialah membentuk tingkah-laku binatang itu melalui urutan Sitimulus-responpenguatan yang diatur secara seksama. Namun ini lingkungan perlu diubah. tidak digunakan hukuman. yang digambarkan oleh makin tingginya angka keseringan respons. d. dan penguat umum. Maksudnya. Dengan demikian beberapa prinsip belajar yang dikembangkan oleh Skinner antara lain: a. b. Dalam proses pembelajaran. Skinner menyebutkan praktek khas menempatkan binatang percobaan dalam “kontigensi terminal”. dalam mencari jalan lepas dari kurungan atau makanan. jika salah dibetulkan. berhasil atau gagal. jika benar diberi penguat. b. Dalam proses pembelajaran. diberikan sebagai fungsi urutan ketiga unsure (SD)-(R)-(R Reinsf). Tingkah laku yang diinginkan pendidik. penguat positif dan negative. Analisa yang dilakukan Skinner tersebut diatas meliputi peran penguat berkondisi dan alami.

3. f. d. e. maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat. semakin meningkat mencapai tujuan. Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu) g. dianalisis kecil-kecil. b. diantaranya : a. c. Beberapa aplikasi teori belajar Skinner dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: a. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 37 . digunakan shaping. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman. Aplikasi Skinner terhadap pembelajaran. Materi pelajaran digunakan sistem modul. Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan pembentukan (shaping). Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.e. Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis. Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.F. Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri. h. d. Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic. b. Tingkah laku yang diinginkan. Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa. c. b. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat. Dalam pembelajaran. i. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar. Disamping itu pula dari eksperimen yang dilakukan B. jika salah dibetulkan dan jika benar diperkuat.

mainan dan uang. Sehingga naik atau tamat sekolah dalam waktu yang berbeda-beda. Penguatan alamiah seperti pujian lebih dianjurkan ketimbang penguat imbalan materi. disarankan untuk meneliti apa yang memotivasi anak dimasa lalu. Ada tiga penggunaan analisis perilaku yang penting dalam bidang pendidikan yaitu a) Meningkatkan perilaku yang diharapkan Ada lima strategi pengkondisian operan dapat dipakai untuk meningkatkan perilaku anak yang diharapkan yaitu: a. Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya. k. Ini akan membantu anak melihat hubungan kontingensi antar-imbalan dan perilaku mereka. Jika anak menyelesaikan perilaku sasaran (seperti mengerjakan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 38 . sesegera mungkin setelah murid menjalankan tindakan yang diharapkan. guru harus memberikan hanya setelah murid melakukan perilaku tertentu. penguatan akan lebih efektif jika diberikan tepat pada waktunya. yakni mengindividualisasikan penggunaan penguat tertentu. Analisis perilaku terapan seringkali menganjurkan agar guru membuat pernyataan “jika…maka”. Tugas guru berat. seperti permen. Untuk mencari penguatan yang efektif bagi seorang anak. administrasi kompleks. Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine. Memilih Penguatan yang efektif Tidak semua penguatan akan sama efeknya bagi anak. Analisis perilaku terapan menganjurkan agar guru mencari tahu penguat apa yang paling baik untuk anak. Analisa Perilaku Terapan Dalam Pendidikan Analisis Perilaku terapan adalah penerapan prinsip pengkondisian operan untuk mengubah perilaku manusia.j. apa yang dilakukan murid tapi tidak mudah diperolehnya. Menjadikan penguat kontingen dan tepat waktu Agar penguatan dapat efektif. 4. b. dan persepsi anak terhadap manfaat dan nilai penguatan.

Jika muncul problem dan anak tidak bertindak sesuai harapan. Memilih jadwal penguatan terbaik Menyusun jadwal penguatan menentukan kapan suatu respons akan diperkuat. Menggunakan Perjanjian. frekuensi respons meningkat karena respon tersebut menghilangkan stimulus yang dihindari. c. akan tetapi tidak berdasarkan basis yang dapat 3) diperidiksi. c. dan kemudian diberi tanggal. Prompt (dorongan) adalah stimulus tambahan atau isyarat tambahan yang diberikan sebelum respons dan meningkatkan kemungkinan respon tersebut akan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 39 . 4) Jadwal interval . guru dapat merujuk anak pada perjanjian yang mereka sepakati.tetap : respons tepat pertama setelah beberapa waktu akan diperkuat. Perjanjian (contracting) adalah menempatkan kontigensi penguatan dalam tulisan. b) Menggunakan dorongan (prompt) dan pembentukkan (shaping). Kontrak kelas mengandung pernyataan “jika… maka” dan di tandatangani oleh guru dan murid.sepuluh soal matematika) tapi guru tidak memberikan waktu bermain pada anak. Analisis perilaku terapan menyatakan bahwa perjanjian kelas harus berisi masukan dari guru dan murid. Menggunakan penguatan negatif secara efektif Dalam penguatan negatif.variabel : suatu respons diperkuat setelah sejumlah variabel waktu berlalu. Empat jadwal penguatan utama adalah 1) Jadwal rasio tetap: suatu perilaku diperkuat setelah sejumlah respon. 2) Jadwal rasio variabel : suatu perilaku diperkuat setelah terjadi sejumlah respon. e. 5) Jadwal interval . kamu harus menyelesaikan PR mu dulu diluar kelas sebelum kamu boleh masuk kelas ikut pembelajaran” ini berarti seorang guru menggunakan penguatan negatif.seorang guru mengatakan”Pepeng. maka anak itu mungkin akan kesulitan membuat hubungan kontingensi.

atau sok pintar) yang harus dilakukan berdasarkan analisis perilaku terapan adalah a. Kelebihan Pada teori ini. G. (ii) keseringan respon sukar diterapkan pada tingkah laku kompleks sebagai ukuran peluang kejadian. Dengan melaksanakan mastery learning. d. Skinner a. tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah kedisiplinan. B. tugas guru akan menjadi semakin berat. hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman. b. Hal itu didukung dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan. Memberikan stimuli yang tidak disukai (hukuman) d) Kelebihan dan kekurangan Menurut B. mengganggu diskusi kelas. Ketika guru ingin mengurangi perilaku yang tidak diharapkan (seperti mengejek. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 40 . pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. c) Mengurangi perilaku yang tidak diharapkan. 1994) adalah bahwa: (i) teknologi untuk situasi yang kompleks tidak bisa lengkap. analisa yang berhasil bergantung pada keterampilan teknologis. b. hal tersebuat akan menyulitkan lancarnya kegiatan belajarmengajar. Menghentikan penguatan (pelenyapan) c. Menggunakan Penguatan Diferensial. Shapping (pembentukan) adalah mengajari perilaku baru dengan memperkuat perilaku sasaran. Kekurangan Beberapa kelemahan dari teori ini berdasarkan analisa teknologi (Margaret E.terjadi. Menghilangkan stimuli yang diinginkan. Disamping itu pula.F.

Ada tiga aspek perkembangan intelektual yaitu : struktur. (Dahar . ejekan. cubitan. Struktur atau skemata merupakan organisasi mental tingkat tinggi yang terbentuk pada individu waktu ia berinteraksi dengan lingkungannya. Penggunaan hukuman verbal maupun fisik seperti: kata-kata kasar. inteligensi adalah ciri bawaan yang dinamis sebab tindakan yang cerdas akan berubah saat organisme itu makin matang secara biologis dan mendapat pengalaman. Fungsi itu terdiri dari organisasi dan adaptasi. Teori Belajar Menurut Piaget Tujuan teori Piaget adalah untuk menjelaskan mekanisme dan proses perkembangan intelektual sejak masa bayi dan kemudian masa kanak-kanak yang berkembang menjadi seorang individu yang dapat bernalar dan berpikir menggunakan hipotesis-hipotesis. Piaget mengemukakan. Semua organisme lahir dengan kecenderungan untuk beradaptasi atau Belajar dan Model-Model Pembelajaran 41 . isi dan fungsi.Beberapa Kekeliruan dalam penerapan teori Skinner adalah penggunaan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa. Namun bagaimana kecerdasan memanifestasikan dirinya pada waktu tertentu akan selalu bervariasi sesuai kondisi yang ada. karena teori ini berusaha melacak perkembangan kemampuan intelektual. jeweran justru berakibat buruk pada siswa. Sedangkan istilah genetik yang dimaksud mengacu pada pertumbuhan developmental bukan warisan biologi.1988:179). Sedangkan fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektual. Inteligensi adalah bagian integral dari setiap organisme karena setiap organisme yang hidup selalu mencari kondisi yang kondusif untuk keberlangsungan hidup. Teori Piaget sering disebut sebagai genetic epistemology. Misalnya anak perlu mengalami sendiri kesalahan dan merasakan akibat dari kesalahan. Menurut Skinner hukuman yang baik adalah anak merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya. D. Isi merupakan pola perilaku khas anak yang tercermin pada responnya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya.

Adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui 2 proses yaitu : assimilasi dan akomodasi. Perkembangan kognitif yang dikembangkan Piaget banyak dipengaruhi oleh pendidikan awal Piaget dalam bidang biologi. Piaget menyimpulkan dari penelitiannya bahwa organisme bukanlah agen yang pasif dalam perkembangan genetik. ia berkeyakinan bahwa suatu organisme hidup dan lahir dengan dua kecenderungan yang fundamental. sehingga akan terjadi keseimbangan (equilibrium). membangun struktur biologi tertentu yang ia perlukan untuk tetap bisa mempertahankan hidupnya. yaitu kecenderungan untuk : a. Dari hasil penelitiannya dalam bidang biologi.menyesuaikan diri dengan lingkungan mereka. Pada proses ini berisi dua kegiatan. sehingga manusia dapat mengasimilasikan atau mengakomodasikan informasi atau pengetahuan tersebut. Dalam proses asimilasi seseorang menggunakan struktur atau kemampuan yang sudah ada untuk menanggapi masalah yang dihadapinya dalam lingkungan. Yaitu proses ketika manusia menghubungkan informasi yang diterimanya dengan struktur-struktur pengetahuan yang sudah disimpan atau sudah ada sebelumnya dalam otak. mengubah struktur pengetahuan yang sudah dimiliki dengan struktur pengetahuan baru. Pertama. Beradaptasi. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 42 . Melalui proses ini. Cara beradaptasi ini berbeda antara organisme yang satu dengan yang lain. mengabungkan atau mengintegrasikan pengetahuan yang diterima oleh manusia atau disebut asimilasi. Kedua. Perubahan genetik bukan peristiwa yang menuju kelangsungan hidup suatu organisme melainkan adanya adaptasi terhadap lingkungannya dan adanya interaksi antara organisme dan lingkungannya. Organisasi (tindakan penataan). manusia dapat memahami sebuah informasi baru yang didapatnya dengan menyesuaikan informasi tersebut dengan struktur pengetahuan yang dimilikinya. Dan proses akomodasi seseorang memerlukan modifikasi struktur mental yang ada untuk mengadakan respon terhadap tantangan lingkungan. Dalam responnya organisme mengubah kondisi lingkungan. b.

cara anak menghadapi lingkungan akan berubah seiring dengan pertumbuhan anak. Dengan demikian asimilasi adalah bagian dari proses Belajar dan Model-Model Pembelajaran 43 . Secara teoritis. yang aktif dalam menggunakan skema untuk merespon lingkungan. tetapi asimilasi mempengaruhi pertumbuhan skemata. Dalam teori Piaget. Skemata dapat muncul dalam perilaku yang jelas. keadaan. Seseorang tidak hanya memproses satu stimulus saja. Skema akan menentukan bagaimana ia akan merespon lingkungan fisik. melainkan memproses banyak stimulus. kejadian) dan menata lingkungan ini secara intelektual. orang. atau muncul secara tersamar. Agar terjadi interaksi organisme-lingkungan. yaitu sebagai berikut: 1) Skema. Adaptasi terdiri atas proses yang saling mengisi antara asimilasi dan akomodasi. Skema memegang dapat dianggap sebagai struktur kognitif yang membuat semua tindakan memegang bisa dimungkinkan. Istilah skema atau skemata yang diberikan oleh Piaget untuk dapat menjelaskan mengapa seseorang memberikan respon terhadap suatu stimulus dan untuk menjelaskan banyak hal yang berhubungan dengan ingatan.Untuk memahami proses-proses penataan dan adaptasi terdapat empat konsep dasar. Jelas. asimilasi tidak menghasilkan perubahan skemata. Dengan asimilasi seseorang mengintegrasikan bahan-bahan persepsi atau stimulus ke dalam skema yang ada atau tingkah laku yang ada. skemata yang tersedia untuk anak harus berubah. Skema adalah struktur kognitif atau serangkaian perilaku terbuka secara sistematis yang digunakan oleh manusia untuk mengadaptasi diri terhadap lingkungan (barang. seperti dalam kasus refleks memegang. Misalnya. Manifestasi skema yang tidak jelas dapat disamakan dengan tindak berpikir. skema memegang adalah kemampuan umum untuk memegang sesuatu. Skema lebih dari sekedar manifestasi refleksi memegang saja. Asimilasi berlangsung setiap saat. skema dianggap sebagai elemen penting dalam struktur kognitif organisme. 2) Asimilasi Asimilasi itu suatu proses kognitif.

Atau sebagai penciptaan skemata baru atau pengubahan skemata lama. Proses ini perlu untuk pertumbuhan dan perkembangann kognitif. 3) Akomodasi Akomodasi dapat diartikan penyesuaian aplikasi skema yang cocok dengan lingkungan yang direspons . Dengan keseimbangan ini maka efisiensi interaksi antara anak yang sedang berkembang dengan lingkungannya dapat tercapai dan terjamin. Proses asimilasi dan akomodasi akan menimbulkan ketidakseimbangan antara yang telah diketahui dengan apa yang dilihat atau dialaminya sekarang. Seandainya hanya asimilasi secara kontinu maka yang bersangkutan hanya akan memiliki beberapa skemata global dan ia tidak mampu melihat perbedaan antara berbagai hal. Asimilasi dan akomodasi terjadi sama-sama saling mengisi pada setiap individu yang menyesuaikan diri dengan lingkungannya. dengan proses itu individu secara kognitif mengadaptasi diri terhadap lingkungan dan menata lingkungan itu. Sebaliknya jika hanya akomodasi saja secara kontinu. Proses akomodasi adalah proses memodifikasi struktur kognitif yang sudah dimiliki dengan informasi yang diterima. Dalam proses adaptasi dengan lingkungan individu berusaha mencapai struktur mental atau skemata yang stabil. Proses ketidakseimbangan ini harus disesuaikan melalui proses ekuilibrasi. Dengan kata lain terjadi keseimbangan antara faktor-faktor internal dan faktor eksternal. Antara asimilasi dan akomodasi harus ada keserasian dan oleh Piaget disebut sebagai keseimbangan. Yaitu keseimbangan antara skema yang digunakan dengan lingkungan yang direspons sebagai hasil ketepatan akomodasi . Proses ekuilibrasi ini merupakan proses yang berkesinambungan antara proses asimilasi dan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 44 . maka hanya memiliki skemata kecil-kecil saja dan mereka tidak memiliki skemata yang umum.kognitif. Yaitu keseimbangan antara proses asimilasi dan akomodasi. 4) Keseimbangan. Dan tidak akan mampu melihat persamaan antara berbagai hal.

Batasan umur tersebut diberikan oleh Ginsburg dan Opper.0 tahun) d. e.0 tahun) Pada periode ini anak bisa melakukan sesuatu sebagai hasil meniru atau mengamati sesuatu model tingkah laku dan mampu melakukan simbolisasi.0-dewasa) Belajar dan Model-Model Pembelajaran 45 . Periode konkret (7. Periode operasi formal (11.akomodasi. Pada periode ini anak sudah mampu menggunakan operasi. pemikiran seorang anak berbeda pada setiap tahap. sebab anak mampu memecahkan masalah secara logis. Perubahan struktur kognitif yang dipengaruhi oleh proses adaptasi tersebut melalui tahap-tahap perkembangan tertentu sesuai dengan umurnya dan bersifat hierarki. Seseorang harus melalui urutan tertentu dan tidak dapat belajar sesuatu yang berada di luar tahap kognitifnya. Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat. Tahapan ini secara kualitatif berbeda pada setiap individu. c. Untuk keperluan pegkonseptualisasian pertumbuhan kognitif /perkembangan intelektual Piaget membagi perkemabngan ini ke dalam 4 periode yaitu : a. Periode Sensori motor (0-2. Pemikiran anak tidak lagi didominasi oleh persepsi. Desmita mengutip dari Mussen (1969) mengatakan bahwa Piaget tidak menegaskan batasan umur dalam masing-masing tahap. Periode Pra operasional (2.0 tahun) Pada periode ini tingksh laku anak bersifat motorik dan anak menggunakan system penginderaan untuk mengenal lingkungannya untu mengenal obyek.0-7. Proses ini akan menjaga stabilitas mental dalam diri pembelajar dan ia akan dapat terus mengembangkan dan menambah pengetahuannya.0-11. b. Demikian pula. Kemampuan bayi melalui tahapan ini bersumber dari tekanan biologis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan (melalui asimilasi dan akomodasi) serta adanya pengorganisasian struktur berpikir.

adalah pertukaran ide antara individu dengan individu d. masalah verbal. c. anak harus mempunyai pengalaman dengan benda-benda dan stimulus-stimulusdalam lingkungan tempat ia beraksi terhadap benda-benda itu. anak remaja mampu berpikir logis untuk semua jenis masalah hipotesis. merupakan pengembanagn dari susunan syaraf. penglaman fisis. adalah suatu system pengaturan sendiri yang bekerja untuk e. Interaksi social. menyelesaikan peranan pendewasaan. Pengalaman fisis. Pendewasaaan/kematangan.Periode operasi fomal merupakan tingkat puncak perkembangan struktur kognitif. dan ia dapat menggunakan penalaran ilmiah dan dapat menerima pandangan orang lain. Keseimbangan. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 46 . Piaget mengemukakan bahwa ada 4 aspek yang besar yang ada hubungnnya dengan perkembangan kognitif : a. dan interksi social. b.

Bab III MODEL-MODEL PEMBELAJARAN Belajar dan Model-Model Pembelajaran 47 .

partisipasi di dalam proyek. yang pertama mereka perlu mulai belajar mengenai cara mereka belajar (learning how to learn). menyenangkan dan efektif. dan kritis. analisa. cara belajar secara penemuan (discovery). citizens and workers. penyelidikan. dan Menyenangkan. Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif. penemuan.2001). PAKEM adalah sebuah model pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengejakan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan keterampilan dan pemahaman dengan penekanan kepada belajar sambil bekerja. Satu konsep yang membantu Belajar dan Model-Model Pembelajaran 48 . individu dan kelas.III MODEL-MODEL PEMBELAJARAN A. Philip Rekdale (2005) melakukan penelitian menyangkut sejauh mana PAKEM mendukung pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). secara kreatif. Kreatif.” (BEST. Yang kedua menyangkut ”cara siswa kita belajar” yaitu “A conception that helps teachers relate subject matter content to real world situations and motivates student to make connections between knowledge and its application to their lives as family members. dan beberapa macam strategi yang hanya dibatasi dari imaginasi guru. penelitian. Yang menyangkut dua aspek tentang penelitian pelaksanaan PAKEM dalam mendukung KTSP. supaya mereka dapat menjadi pelajar selama hidup (life long learner) yang efektif. Fokus PAKEM adalah pada kegiatan siswa di dalam bentuk grup. sementara guru menggunakan berbagai sumber dan alat bantu belajar termasuk pemanfaatan lingkungan supaya pembelajaran lebih menarik.

2. 4. Guru terlibat secara aktif dalam merancang. memanipulasi objek-objek yang ada di dalamnya serta mengamati pengaruh dari manipulasi yang sudah dilakukan. Kreatif . Efektif. kreatif dan menyenangkan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran. Menyenangkan berarti tidak membelenggu.Gurupun dituntut untuk kreatif dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. Dari kepanjangannya PAKEM mempunyai empat ciri-ciri pembelajaran yaitu Aktif. melaksanakan maupun mengevaluasi proses pembelajarannya. 1. Maksudnya pembelajaran yang aktif. Menyenangkan.guru-guru menghubungkan isi mata pelajaran dengan situasi keadaan di dunia (real world) dan memotivasikan siswa untuk lebih paham hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya kepada hidup mereka sebagai anggota keluarga. Menyenangkan Menyenangkan merupakan ciri ke empat dari PAKEM dengan maksud pembelajaran dirancang untuk menciptakan suasana yang menyenangkan. 3. Guru diharapkan dapat menciptakan suasana yang mendukung (kondusif) sehingga siswa aktif bertanya. bahan ajar serta sesama siswa lainnya terutama dalam menyelesaikan tugas-tugas pembelajarannya. yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Efektif Ciri ketiga pembelajaran PAKEM adalah efektif . Kreatif Kreatif merupakan ciri ke-2 dari PAKEM yang artinya pembelajaran yang membangun kreativitas siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan. Aktif Ciri aktif dalam PAKEM berarti dalam pembelajaran memungkinkan siswa berinteraksi secara aktif dengan lingkungan. Guru diharapkan mampu menciptakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. masyarakat dan karyawan-karyawan. sehingga siswa memusatkan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 49 .

Dengan demikian diharapkan siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya. Prinsip PAKEM Prinsip PAKEM antara lain: Belajar dan Model-Model Pembelajaran 50 . 1. Sehubungan dengan ciri menyenangkan dalam PAKEM. Pembelajarannya mengaktifkan peserta didik b. Mendorong kreativitas peserta didik &guru c. Pembelajarannya efektif d. lingkungan yang aman untuk melakukan kesalahan. yang pada umumnya hal itu terjadi ketika belajar dilakukan bersama orang lain. namum harapan untuk sukses tetap tinggi. d. Demikian Rose dan Nicholl. Menantang peserta didik untuk dapat berpikir jauh ke depan dan mengekspresikan apa yang sedang dipelajari dengan sebanyak mungkin kecerdasan yang relevan untuk memahami bahan ajar. Melibatkan secara sadar semua indera dan juga pikiran otak kiri dan otak kanan.waktu rehat dan jeda teratur serta dukungan antusias. Anda ingin belajar ketika Anda melihat manfaat dan pentingnya bahan ajar. dengan demikian waktu untuk mencurahkan perhatian (time of task) siswa menjadi tinggi. b.perhatiannya secara penuh pada pembelajaran. Ciri-Ciri/Karakteristik PAKEM Ciri-ciri/karakteristik PAKEM adalah: a. Menciptakan lingkungan tanpa stress (relaks). e. c. Menjamin bahwa belajar secara emosional adalah positif. Pembelajarannya menyenangkan utamanya bagi peserta didik 2. Menjamin bahwa bahan ajar itu relevan. Rose and Nocholl (2003) mengatakan bahwa pembelajaran yang menyenangkan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : a. ketika ada humor dan dorongan semangat.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran 51 . Dalam pembelajaran. 3) Membantu dan mendorong siswa. 2) Menentukan kebutuhan pembelajaran. Komunikasi: kegiatan pembelajaran memungkinkan terjadinya komunikasi antara guru dan peserta diidik c. Bentuk penilaian tes dapat dilakukan secara lisan. Jenis Penilaian Model PAKEM a.a. dan portofolio. Refkesi: kegiatan pembelajarannya memungkinkan peserta didik memikirkan kembali apa yang telah dilakukan 3. 4) Membantu dan mendorong guru untuk mengajar yang lebih baik. b. Mengalami: peserta didik terlibat secara aktif baik fisik. 6) Akuntabilitas lembaga. cek lis. kuesioner. 7) Meningkatkan kualitas pendidikan. dan perbuatan. studi kasus. mental maupun emosional b. c. d. membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai. Tujuan Penilaian otentik itu sendiri adalah untuk: 1) Menilai Kemampuan Individual melalui tugas tertentu. Hal ini disebabkan setiap jenis atau bentuk penilaian tersebut memiliki beberapa kelemahan selain keunggulan. dengan pendekatan Pakem rangkaian penilaian ini seyogiayanya dilakukan oleh seorang guru. bentuk penilaian non tes dilakukan dengan menggunakan skala sikap. tertulis. 5) Menentukan strategi pembelajaran. Penilaian yang sesuai dengan pembelajaran model Pakem adalah penilaian otentik yang merupakan proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan. Interaksi: kegiatan pembelajarannyaa memungkinkan terjadinya interaksi multi arah d. Sementara itu.

Membantu dan mendorong guru untuk mengajar yang lebih baik e. Artinya. Merancang penilaian dilakukan bersamaan dengan merancang pembelajaran tersebut. dan (4) juga sebagai katalisator untuk mengembangkan profesional guru lebih lanjut. Menilai kemampuan individual melalui tugas tertentu b. selama pembelajaran itu berlangsung. Tujuan Penilaian Model PAKEM a. seperti hal nya ilmu mengajar yang terus berkembang. Menentukan strategi pembelajaran f. juga dimaksudkan sebagai studi komprehensif tentang praktik pembelajaran. Penilaian disesuaikan dengan pendekatan dan metode yang dilaksanakan dalam pembelajaran. (3) merupakan seni. Pendekatan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 52 . Membantu dan mendorong siswa d. Pendekatan pembelajaran sebagai bahan kajian yang terus berkembang. Akuntabilitas lembaga g. Dalam pembelajaran dengan pendekatan model Pakem. Menentukan kebutuhan pembelajaran c. Selain itu dokumen itu juga dimaksudkan untuk mendorong para guru untuk: (1) mengkaji lebih jauh tentang pendekatan-pendekatan pembelajaran yang lainnya. Gambaran mengenai pendekatan pembelajaran yang lebih jelas terdapat dalam artikel pendidikan yang diterbitkan oleh Saskatchewan education (1980). guru selain sebagai fasilitator juga melakukan penilaian dengan berbagai alat yang sesuai dengan kegiatan yang dilakukan oleh siswa. maupun petunjuk pelaksanaanya. penilaian dirancang sebagaimana dengan penilaian otentik. (2) menjadi bahan refleksi tentang pembelajaran yang sudah dilakukannya.4. oleh Gladene Robertson dan Hellmut Lang di maknai selain sebagai Kerangka umum untuk Praktek Profesional guru. Merancang dan Melaksanakan Penilaian Model PAKEM a. Meningkatkan kualitas pendidikan 5. b.

Pendekatan pembelajaran digambarkan dalam diagram sebagai berikut: Instructional Frame Work (Sumber: Saskatchewan Education. Pendekatan pembelajaran juga merupakan skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan guru dengan menyusun dan memilih model pembelajaran. 1988:9) Berdasarkan diagram di atas. metode pembelajaran maupun keterampilan mengajar tertentu dalam rangka mencapai suatu tujuan pembelajaran. Sedangkan pendekatan liberal (liberal approaches) Belajar dan Model-Model Pembelajaran 53 . Pendekatan konservatif memandang bahwa proses pembelajaran yang dilakukan sebagai mana umumnya guru mengajarkan materi kepada siswanya. strategi pembelajaran. pendekatan pembelajaran digambarkan sebagai kerangka umum tentang skenario yang digunakan guru untuk membelajarkan siswa dalam rangka mencapai suatu tujuan pembelajaran. Wallace (1992: 13) pendekatan pembelajaran dibedakan menjadi 2. Guru mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa. Diagram tersebut juga memperlihatkan dengan lebih jelas tentang hubungan antara model pembelajaran. metode-metode pembelajaran dan juga keterampilan-keterampilan mengajar. metode pembelajaran dan keterampilan mengajar. Menurut Philip R.pembelajaran digambarkan sebagai kerangka besar tentang tugas profesional guru yang di dalamnya meliputi: model-model pembelajaran. Strategi-strategi pembelajaran. yaitu: Pendekatan konservatif (conservative approaches) dan pendekatan liberal (liberal approach). strategi pembelajaran. sedangkan siswa lebih banyak sebagai penerima.

Menyatakan kapada para siswa bahwa guru-guru merupakan mitra mereka dan perannya Belajar dan Model-Model Pembelajaran 54 .adalah pendekatan pembelajaran yang memberi kesempatan luas kepada siswa untuk mengembangkan strategi dan keterampilan belajarnya sendiri. Menggunakan kemampuan fantasi dalam proses pembelajaran untuk membangun hubungan dengan realitas dan kehidupan nyata. g. yang harus dipahami dan dilakukan oleh seorang guru yang baik dalam proses pembelajaran terhadap siswa: a. d. Peranan Guru Dalam Model PAKEM Agar pelaksanaan Pakem berjalan sebagaimana diharapkan. bakat dan minat serta modalitas gaya belajar individu siswa. Mendorong dan menghargai keterlibatan individu siswa secara penuh dalam proyek-proyek pembelajaran mandiri. Mengakui pekerjaan siswa dalam satu bidang untuk memberikan semangat pada pekerjaan lain berikutnya. c. 6. karakter. 1987. dalam bukunya “The Process of Learning”. e. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar meningkatkan rasa tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan bantuan jika mereka membutuhkan. Memuji keindahan perbedaan potensi. b. Mendorong siswa untuk terus maju mencapai sukses dalam bidang yang diminati dan penghargaan atas prestasi mereka. menyebutkan paling tidak ada 12 aspek dari sebuah pembelajaran kreatif. Memahami potensi siswa yang tersembunyi dan mendorongnya untuk berkembang sesuai dengan kecenderungan bakat dan minat mereka. i. h. f. John B. Biggs and Ross Telfer. edisi kedua. Menghargai potensi siswa yang lemah/lamban dan memperlihatkan entuisme terhadap ide serta gagasan mereka.

Memberikan tes/ujian yang bisa mendorong terjadinya umpan balik dan semangat/gairah pada siswa untuk ingin mempelajari materi lebih dalam. inkuiri dan diskaveri agar terbentuk budaya belajar yang bermakna (meaningful learning) pada siswa. Mendorong terjadinya proses pembelajaran interaktif. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 55 . j. l. kolaboratif.sebagai motivator dan fasilitator bagi siswa. Menciptakan suasana belajar yang kondusif dan bebas dari tekanan dan intimidasi dalam usaha meyakinkan minat belajar siswa. k.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran 56 . Model Pembelajaran Examples non Example Menurut Buehl (1996) examples non examples adalah taktik yang dapat digunakan untuk mengajarkan definisi konsep. yang mendorong mereka untuk membangun konsep secara progresif melalui pengalaman dari examples non examples. Taktik ini bertujuan untuk mempersiapkan siswa secara cepat dengan menggunakan 2 hal yang terdiri dari examples non examples dari suatu definisi konsep yang ada dan meminta siswa utnuk mengklasifikasikan keduanya sesuai dengan konsep yang ada. yaitu: a. c. b. Siswa terlibat dalam satu proses discovery (penemuan). Tennyson dan Pork (1980) dalam Slavin 1994 menyarankan bahwa jika guru akan menyajikan contoh dari suatu konsep maka ada tiga hal yang seharusnya diperhatikan. Bandingkan dan bedakan contoh-contoh dan bukan contoh. Urutkan dari yang gampang sampai yang ke sulit. Siswa diberi sesuatu yang berlawanan untuk mengeksplorasi karakteristik dari suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian non examples yang dimungkinkan masih terdapat beberapa bagian yang merupakan suatu karakter dari konsep yang telah dipaparkan pada bagian examples. Examples memberikan gambaran akan sesuatu yang menjadi contoh akan suatu materi yang sedang dibahas. sedangkan non examples memberikan gambaran akan sesuatu yang bukanlah contoh dari suatu materi yang sedang dibahas.B. Pilih contoh yang berbeda satu sama lainnya. Menurut Buehl (1996) keuntungan dari metode examples non examples antara lain: a. b. Siswa berangkat dari suatu definisi yang selanjutnya digunakan untuk memperluas pemahaman konsepnya dengan lebih mendalam dan lebih komplek. c.

Guru memberi petunjuk pada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisis. Guru menempelkan gambar/tulisan dipapan atau ditayangkan . Meminta siswa untuk bekerja berpasangna untuk menggeneralisasikan konsep examples non examples mereka. Guru menggunakan gambar/tulisan sesuai tengan tujuan pembelajaran. Setelah itu meminta tiap pasangan untuk menginformasikan di kelas untuk mendiskusikan secara klaikal sehingga tiap siswa dapat memberikan umpan balik. mengenai konsep yang lebih spesifik untuk mendorong siswa mengecek hipotesis yang telah dibuatnya sehingga mampu memahami konsep yang baru. Joyce and Weil (1986) dalam Buehl (1996) telah memberikan kerangka konsep terkait strategi tindakan.Menyiapkan pengalaman dengan contoh dan non contoh akan membantu siswa untuk membangun pemikiran yang kaya dan lebih mendalam dari sebuah konsep penting. Langkah-langkah Pembelajaran Langkhah-langkah: a. Guru memberi kesempatan pada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisis. 1. d. Kerangka konsep tersebut antara lain: a. yang menggunakan model inkuiri untuk memperkenalkan konsep yang baru dengan metode example non example. Melalui diskusi gambar tersebut dicatat pada kertas. d. Sebagai bagian penutup. Menyiapkan examples non examples tambahan. c. b. Selama siswa memikirkan tentang tiap example dan non example tersebut. Menyajikannya dalam satu waktu dan meminta siswa untuk memikirkan perbedaan apa yang terdapat pada dua daftar tersebut. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 57 . tanyakanlah pada mereka apa yang membuat kedua daftar tersebut berbeda. c. Menggeneralisasikan pasangan antara contoh dan non contoh yang menjelaskan beberapa dari sebagian esar kareakter atau atribut dari konsep baru. b. adalah meminta siswa untuk mendeskripsikan konsep yang elah diperoleh dengan menggunakan karakter yang telah didapat dari examples non examples. e.

ditandai dengan adanaya feeling. Dalam kegiatan belajar. sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Guru menjelaskan materi sesuai tujuan yang dicapai. yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi. Motivasi ekstrinsik. Adapun menurut Mc Donald. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiap siagaan). ialah : a. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 58 . Motivasi instrinsik. motivasi sangat diperlukan. Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan dari luar. Strategi yang digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik. menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar. dan rangsang karena adanya tujuan. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya. Dalam kegiatan belajar. g. Dari pengertian tersebut. sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktifitas belajar. motivasi adalah perubahan energi dalamdiri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. motivbasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan. b. mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu. Kesimpulan 2. Motivasi Belajar Motivasi berpangkal dari kata motiv yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada didalam diri seseorang untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Jenis motivasi belajar ada dua yaitu: a. jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu.f. h.

p. Hasil Belajar Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok. Menggunakan metode yang bervariasi. siswa yang belum berprestai akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. o. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau mengubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya. Selanjutnya dari informasi tersebut guru dapat menysun dan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 59 . k. n. Pujian yang bersifat membangun kepada siswa yang berprestasi. e. berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya. Hadiah d. 3. g. Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Disamping itu. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.b. Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. m. Proses penilaian tehadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar l. Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seseorang guru menjelaskan mengenai tujuan instruksional khusus yang akan dicapai kepada siswa makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar. Hukuman j. Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik. Guru berusaha mengadakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Hal ini akan memacu semangat meraka untuk bisa belajar lebih giat lagi. i. Saingan atau kompetisi f. c. Membentuk kebiasaan belajar yang baik. Pujian h.

b. Ada pun kelemahan dalam menggunakan model Examles non examples.membina kegiatan-kegitan siswa lebih lanjut. diantaranya adalah sebagai berikut. Kunggulan dan Kekurangan Menggunakan Model Pembelajaran Examples Non Examples Ada beberapa keunggulan dalam menggunakan model examples non examles. 3) Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya mengenai analisis gambar yang relevan dengan kompetensi dasar (KD). Hasil belajar dibagi dalam tiga macam hasil belajar yaitu: a. Faktor internal. 1) Siswa lebih berpikir kritis dala mengenalisis gambar yang relevan dengan kompetensi dasar (KD). 2004: 22) Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar a. Keterampilan dan kebiasaan. (Nana Sudjana. Proses belajar merupakan penunjang hasil belajar yang dicapai siswa. 2) Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar yang relevan dengan kompetensi dasar (KD). c. Faktor eksternal. (Nana Sudjana. adalah sebagai berikut: Belajar dan Model-Model Pembelajaran 60 . pencapaian tujuan belajar perlu diciptka adanya sistem lingkkungan belajar yang kondusif. faktor ini lebih ditekankan pada faktor dari dalam individu yang belajar. Pengetahuan dan pengertian Sikap dan cita-cita yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ada pada kurikulum sekolah. baik untuk keseluruhan kelas maupun individu. harus semakin tinggi hasil belajar yang diperoleh siswa. b. 1989: 111) 4. Hasil belajar yang diperoleh siswa adalah sebagai akibat dari proses belajar yang dilakukan oleh siswa.

2) Memakan waktu yang lama. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 61 .1) Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.

Pemahaman konsep akademik yang dimiliki siswa hanyalah merupakan sesuatu yang abstrak. pada dasarnya kontekstual berasal dari bahasa Inggris “contextual” yang berarti sesuatu yang berhubungan dengan konteks. strategi pembelajaran kontekstual. Pembelajaran dapat mendorong siswa membuat hubungan antara materi yang dipelajari. dan memberikan rentang yang luas tentang peluang-peluang belajar bagi mereka yang menggunakan kemampuan-kemampuan akademik mereka untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan nyata yang kompleks. Apapun istilah yang digunakan para ahli tersebut. dan model pembelajaran kontekstual. tetapi belum diikuti dengan pengertian dan pemahaman yang mendalam yang bisa diterapkan ketika mereka berhadapan dengan situasi baru dalam kehidupannya. Terkait dengan CTL ini. para ahli menyebutnya dengan istilah yang berbedabeda. seperti: pendekatan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran secara konvensional yang diterima siswa hanyalah penonjolan tingkat hafalan dari sekian macam topik. belum menyentuh kebutuhan praktis kehidupan siswa. tetapi merekonstruksikan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 62 . Landasan filosofis CTL adalah konstruktivisme yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekadar menghafal. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar siswa tidak mampu menghubungkan antara materi yang mereka pelajari dengan pemanfaatannya dalam kehidupan nyata. Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning Salah satu strategi pembelajaran yang dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan dengan produktif dan bermakna bagi siswa adalah strategi pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang selanjutnya disebut CTL. pengalaman yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.C. Oleh sebab itu pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang mana guru menggunakan pengalaman siswa yang pernah dilihat atau dilakukan dalam kehidupannya sebagai sumber belajar pendukung. Strategi CTL fokus pada siswa sebagai pembelajar yang aktif.

menurut metode pembelajaran kontekstual kegiatan pembelajaran tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas. tempat kerja. Menurut teori pembelajran kontekstual. CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat. serta lainnya. Hal ini penting diterapkan agar informasi yang diterima tidak hanya disimpan dalam memori jangka pendek. Kehadiran kurikulum berbasis kompetensi juga dilandasi oleh pemikiran bahwa berbagai kompetensi akan terbangun secara mantap dan maksimal apabila pembelajaran dilakukan secara kontekstual. pembelajaran terjadi hanya ketika siswa (peserta didik) memproses informasi atau pengetahuan baru sedemikian rupa sehingga dapat terserap kedalam benak mereka dan mereka mampu menghubungannya dengan kehidupan nyata yang ada di sekitar mereka. sehingga siswa memiliki pengetahuan/ Belajar dan Model-Model Pembelajaran 63 . yang mudah dilupakan. sosial. sawah. atau tempat-tempat lainnya. tapi bisa di laboratorium. dengan cara menghubungkan muatan akademis dengan konteks kehidupan sehari-hari peserta didik. budaya. untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. ekonomi. tetapi dapat disimpan dalam memori jangka panjang sehingga akan dihayati dan diterapkan dalam tugas pekerjaan. Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah sistem pembelajaran yang cocok dengan kinerja otak. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa pikiran secara alami akan mencari makna dari hubungan individu dengan linkungan sekitarnya.atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami dalam kehidupannya. baik konteks pribadi. Mengharuskan pendidik (guru) untuk pintar-pintar memilih serta mendesain linkungan belajar yang betul-betul berhubungan dengan kehidupan nyata. Berdasarkan pemahaman di atas. kesehatan. Pendekatan ini selaras dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi yang diberlakukan saat ini dan secara operasional tertuang pada KTSP.

para siswa dapat menemukan hubungan bermakna antara ide-ide abstrak dengan aplikasi praktis dalam konteks dunia nyata. yaitu pendekatan pengajaran yang menperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna melalui pengembangan keterampilan berpikir dan pemecahan masalah yang penting di dalam konteks kehidupan nyata. c) Inquiry-Based Learning. Atau kelas biologi atau kelas kimia bisa belajar konsep dasar ilmu alam dengan mempelajari penyebaran AIDS atau cara-cara petani bercocok tanam dan pengaruhnya terhadap lingkungan. Dalam lingkungan seperti itu. Pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual mempunyai karakteristik sebagai berikut. Sebagai contoh. b) Authentic Instruction. yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar melalui berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah dalam rangka memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. pendekatan pembelajaran yang memperkenankan siswa untuk bekerja mandiri dalam mengkonstruk pembelajarannya (pengetahuan dan keterampilan baru). kelas fisika yang mempelajari tentang konduktivitas termal dapat mengukur bagaimana kualitas dan jumlah bahan bangunan mempengaruhi jumlah energi yang dibutuhkan untuk menjaga gedung saat terkena panas atau terkena dingin. d) Project-Based Learning. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 64 .ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. serta menghubungkan. dan mengkulminasikannya dalam produk nyatae. a) Problem-Based Learning. 1. konsep diinternalisasi melalui menemukan. pendekatan pembelajaran yang mengikuti metodologi sains dan memberi ke-sempatan untuk pembelajaran bermakna. memperkuat.

menggunakan berbagai sumber. Implementasi Pembelajaran Kontekstual di Kelas Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama. Kelas dikatakan menerapkan CTL jika menerapkan ke tujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya.Secara lebih sederhana karakteristik pembelajaran kontekstual dapat dinyatakan menggunakan sepuluh kata kunci yaitu: kerja sama. pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi ajar dan menggunakannya kembali di tempat kerja. menyenangkan. yaitu pendekatan pembelajar-an yang menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru dan berbagai keterampilan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat melalui proyek/tugas terstruktur dan kegiatan lainnya. sharing dengan teman. 2. siswa kritis dan guru kreatif. f) Service Learning. menemukan sendiri dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya 2) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik 3) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya 4) Ciptakan masyaraka belajar (belajar dalam kelompok) 5) Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran 6) Lakukan refleksi di akhir pertemuan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 65 . 1) Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri. saling menunjang. dan saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam.bekerja sama. belajar dengan gairah. Secara garis besar langkah-langkah penerapatan CTL dalam kelas sebagai berikut. pembelajaran terintegrasi. e) Work-Based Learning. siswa aktif. yaitu pendekatan pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam rangka memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. g) Cooperative Learning.

e) Pengetahuan siswa tumbuh dan berkembang melalui pengalaman sendiri. melainkan harus dkonstruksi terlebih dahulu dan memberikan makna melalui pengalaman nyata. f) Pengalaman siswa akan berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila diuji dengan pengalaman baru. c) Siswa mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk menemukan dan menerapkan idenya sendiri. g) Pengalaman siswa bisa dibangun secara asimilasi (pengetahuan baru dibangun dari pengetahuan yang sudah ada) maupun akomodasi (struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menyesuaikan hadirnya pengalaman baru). Pembelajaran konstruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif. menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya. Bertanya dalam pembelajaran CTL dipandang sebagai upaya guru yang bisa mendorong siswa untuk Belajar dan Model-Model Pembelajaran 66 . b) Informasi bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata siswa lebih penting daripada informasi verbalistis.7) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara Untuk lebih jelasnya uraian setiap komponen utama CTL dan penerapannya dalam pembelajaran adalah sebagai berikut sebagai berikut: a. d) Siswa diberikan kebebasan untuk menerapkan strateginya sendiri dalam belajar. konsep dan kaidah yang siap dipraktekkan. kreatif dan produktif berdasarkan pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang bermakna. Pengetahuan bukanlah serangkaian fakta. a) Proses pembelajaran lebih utama dari pada hasil pembelajaran. Bertanya (Questioning) Komponen ini merupakan strategi pembelajaran CTL. dan mengembangkan ideide yang ada pada dirinya. b. Prinsip konstruktivisme yang harus dimiliki guru adalah sebagai berikut. Kontruktivisme (Constructivism) Komponen ini merupakan landasan berfikir pendekatan CTL. Karena itu siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah.

kenyataan menunjukkan bahwa pemerolehan pengetahuan seseorang selalu bermula dari bertanya. b) Konfirmasi terhadap apa yang sudah diketahui siswa lebih efektif melalui tanya jawab. dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh siswa. Pada sisi lain. bertanya kepada siswa bisa mendorong. c. sekaligus mengetahui perkembangan kemampuan berfikir siswa. tetapi hasil menemukan sendiri dari fakta yang dihadapinya.mengetahui sesuatu. membangkitkan respon siswa. membangkitkan lebih banyak pertanyaan bagi diri siswa. e) Dalam pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya berguna untuk: menggali informasi. memfokuskan perhatian siswa sesuai yang dikehendaki guru. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 67 . d) Bagi guru. Prinsip yang perlu diperhatikan guru dalam pembelajaran berkaitan dengan komponen bertanya sebagai berikut. membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Pengetahuan dan keterampilan akan lebih lama diingat apabila siswa menemukan sendiri. c) Dalam rangka penambahan atau pemantapan pemahaman lebih efektif dilakukan lewat diskusi baik kelompok maupun kelas. mengetahui hal-hal yang diketahui siswa. Prinsip yang bisa dipegang guru ketika menerapkan komponen inquiry dalam pembelajaran adalah sebagai berikut. mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi. Kegiatan ini diawali dari pengamatan terhadap fenomena. mengecek pemahaman siswa. mengetahui kadar keingintahuan siswa. Menemukan (Inquiry) Komponen menemukan merupakan kegiatan inti CTL. Dengan demikian pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa tidak dari hasil mengingat seperangkat fakta. a) Penggalian informasi lebih efektif apabila dilakukan melalui bertanya. dan menyegarkan pengetahuan siswa.

a) Informasi yang diperoleh siswa akan lebih mantap apabila diikuti dengan buktibukti atau data yang ditemukan sendiri oleh siswa. tabel. antarkelompok. bertanya. bagan. baik di dalam maupun di luar kelas. mengamati atau melakukan observasi. b) Siklus inquiry adalah observasi. dan penyimpulan. dan keterampilan yang dimilikinya bermanfaat bagi yang lain. gambar. d) Masyarakat belajar terjadi apabila masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya sadar bahwa pengetahuan. pengumpulan data. Prinsip-prinsip yang bisa diperhatikan guru ketika menerapkan pembelajaran yang berkonsentrasi pada komponen learning community adalah sebagai berikut. menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan. teman sekelas. a) Pada dasarnya hasil belajar diperoleh dari kerja sama atau sharing dengan pihak lain. dan antara yang tahu kepada yang tidak tahu. c) Sharing terjadi apabila ada komunikasi dua atau multiarah. e) Siswa yang terlibat dalam masyarakat belajar pada dasarnya bisa menjadi sumber belajar. mengajukan dugaan. audiens yang lain). b) Sharing terjadi apabila ada pihak yang saling memberi dan saling menerima informasi. d. c) Langkah-langkah kegiatan inquiry: merumuskan masalah. Karena itu pembelajaran yang dikemas dalam diskusi kelompok dengan anggota heterogen dan jumlah yang bervariasi sangat mendukung komponen learning community. Masyarakat belajar (learning community) Komponen ini menyarankan bahwa hasil belajar sebaiknya diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. mengkomunikasikan atau menyajikan hasilnya pada pihak lain (pembaca. pengalaman. Hasil belajar bisa diperoleh dengan sharing antar teman. dan karya lain. guru. laporan. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 68 .

contoh hasil karya. siswa akan menyadari bahwa pengetahuan yang baru diperolehnya merupakan pengayaan atau bahkan revisi dari pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Prinsip-prinsip dasar yang perlu diperhatikan guru dalam rangka penerapan komponen refleksi adalah sebagai berikut. misalnya cara mengoperasikan sesuatu. Cara pembelajaran semacam ini akan lebih cepat dipahami siswa dari pada hanya bercerita atau memberikan penjelasan kepada siswa tanpa ditunjukkan modelnya atau contohnya. b) Model atau contoh bisa diperoleh langsung dari yang berkompeten atau dari ahlinya. f.e. mempertontonkan suatu penampilan. Model yang dimaksud bisa berupa pemberian contoh. bahkan memberikan masukan atau saran jika diperlukan. Pemodelan (modelling) Komponen pendekatan CTL ini menyarankan bahwa pembelajaran keterampilan dan pengetahuan tertentu diikuti dengan model yang bisa ditiru siswa. aktivitas. Dengan memikirkan apa yang baru saja dipelajari. menunjukkan hasil karya. atau model penampilan. menelaah. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 69 . Kesadaran semacam ini penting ditanamkan kepada siswa agar ia bersikap terbuka terhadap pengetahuan-pengetahuan baru. a) Pengetahuan dan keterampilan diperoleh dengan mantap apabila ada model atau contoh yang bisa ditiru. Prinsip-prinsip komponen modelling yang bisa diperhatikan guru ketika melaksanakan pembelajaran adalah sebagai berikut. atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran. dan merespons semua kejadian. Refleksi (reflection) Komponen yang merupakan bagian terpenting dari pembelajaran dengan pendekatan CTL adalah perenungan kembali atas pengetahuan yang baru dipelajari. c) Model atau contoh bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu.

menganalisis. dan menafsirkan data yang telah terkumpul ketika atau dalam proses pembelajaran siswa berlangsung. prinsip dasar yang perlu menjadi perhatian guru ketika menerapkan komponen penilaian autentik dalam pembelajaran adalah sebagai berikut. aktivitas. atau pengetahuan yang baru diperolehnya. bagaimana siswa menghubungkan apa yang mereka ketahui dengan berbagai konteks. diskusi dengan teman sejawat. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 70 . d) Penilaian autentik memberikan kesempatan siswa untuk dapat mengembangkan penilaian diri (self assessment) dan penilaian sesama (peer assessment). tetapi untuk mengetahui perkembangan pengalaman belajar siswa. Gambaran perkembangan pengalaman siswa ini perlu diketahui guru setiap saat agar bisa memastikan benar tidaknya proses belajar siswa. Sehubungan dengan hal tersebut.a) Perenungan atas sesuatu pengetahuan yang baru diperoleh merupakan pengayaan atas pengetahuan sebelumnya. Dengan demikian. dan bagaimana perkembangan belajar siswa dalam berbagai konteks belajar. g. Penilaian autentik (authentic assessment) Komponen yang merupakan ciri khusus dari pendekatan kontekstual adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran atau informasi tentang perkembangan pengalaman belajar siswa. b) Perenungan merupakan respons atas kejadian. c) Perenungan bisa berupa menyampaikan penilaian atas pengetahuan yang baru diterima. atau unjuk kerja. c) Guru menjadi penilai yang konstruktif (constructive evaluators) yang dapat merefleksikan bagaimana siswa belajar. b) Penilaian dilakukan secara komprehensif dan seimbang antara penilaian proses dan hasil. a) Penilaian autentik bukan menghakimi siswa. membuat catatan singkat. penilaian autentik diarahkan pada proses mengamati. bukan semata-mata pada hasil pembelajaran.

Di sini guru hanya mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. 4) Melaksanakan penilaian terhadap pemahaman siswa. 3) Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa yang selanjutnya memilih dan mengkaiykan dengan konsep atau teori yang akan dibahas dalam pembelajaran kontekstual. 4) Merancang pengajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan hidup mereka. akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa. Peran Guru dalam Pembelajaran Kontekstual Dalam pembelajaran kontekstual guru dituntut membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. 4.3. Kegiatan belajar mengajar (KBM) lebih menekankan Student Centered daripada Teacher Centered. 2) Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian secara seksama. Menurut Depdiknas guru harus melaksanakan beberapa hal sebagai berikut: 1) Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh siswa. Kelebihan & Kekurangan Contextual Teaching and Learning a. bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional. dimana hasilnya nanti dijadikan bahan refeksi terhadap rencana pemebelajaran dan pelaksanaannya. 2) Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme. sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting. Kelebihan 1) Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. sihingga tidak akan mudah dilupakan. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 71 . Maksudnya adalah guru lebih berurusan dengan strategi dari pada memberi informasi.

Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. 2) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya. Dengan demikian. b. Guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi.dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 72 . Karena dalam metode CTL. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula. Kelemahan 1) Guru lebih intensif dalam membimbing.

Tipe NHT menekankan pada pembentukan struktur-struktur khusus untuk menciptakan pola interaksi siswa. 1. c. Persiapan Pada tahap ini guru mempersiapkan lembar kerja siswa yang digunakan sebagai bahan permasalahan yang akan didiskusikan dalam proses pembelajaran. b. Ada tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu : a. Pembentukan kelompok Belajar dan Model-Model Pembelajaran 73 . Langkah-langkah penerapan NHT a. bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.D. Jumlah lembar kerja siswa disesuaikan dengan jumlah kelompok. bertujuan agar siswa dapat menerima temantemannya yang mempunyai berbagai latar belakang. Hal ini dapat meminimalkan kegaduhan dalam kelas pada penggunaan metode tradisional dimana siswa mengacungkan tangan terlebih dahulu baru ditunjuk guru untuk menjawab pertanyaan yang telah diberikan. NHT menekankan kepada siswa agar saling bergantung pada kelompok-kelompok yang telah dibuat secara kooperatif. Metode Pembelajran Kooperatif Number Head Together (NHT) Tipe pembelajaran kooperatif melalui metode NHT dirancang khusus agar siswa dapat memahami materi pelajaran meski menggunakan metode berkelompok. Pengembangan keterampilan social. Hasil belajar akademik stuktural. b. bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Pengakuan adanya keragaman. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dengan melibatkan siswa yang terbagi dalam kelompok untuk menguasai materi pada mata pelajaran yang akan dibahas.

Guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok. Setiap siswa diharapkan dapat aktif dan memahami alur diskusi masing-masing kelompok. guru memberikan nomor kepada masing-masing siswa pada setiap kelompok antara 1-3 atau 1-5. Pegangan materi Setiap kelompok wajib memiliki pegangan materi berupa buku paket atau sumber bacaan yang lain. c. Setelah itu setiap anggota kelompok memiliki pandangan yang sama terhadap masalah yang sudah didiskusikan. Hal ini untuk memudahkan para siswa di dalam kelompok tersebut mengerjakan lembar kerja yang sudah dipersiapkan oleh guru. Dengan pegangan buku paket para siswa di dalam kelompok mulai berdiskusi mengenai permasalahan yang tertuang dalam lembar kerja siswa. Pemanggilan Nomor Anggota Langkah ini dilakukan ketika diskusi sudah selesai. d. Guru memanggil salah satu nomor. 2. Setelah itu guru akan mengajukan pertanyaan kepada para siswa yang nomornya ditunjuk secara bergantian. Diskusi masalah Pada langkah ini setiap kelompok mulai membahas materi yang telah diberikan guru. Diusahakan setiap kelompok berjumlah 3-5 anak agar diskusi di dalam kelompok berjalan efisien. e. ras. guru yang merupakan fasilitator dalam pembelajaran bersama para siswa akan merangkum kesimpulan dari hasil diskusi dan mempresentasikan hasil diskusinya. Kelompok yang dibentuk sebaiknya mewakili prestasi akademik. kemudian para siswa dari masing-masing kelompok yang nomornya disebut mengangkat tangan. Setelah kelompok terbentuk. dan kemampuan belajar. Kelebihan dan Kekurangan NHT Kelebihan atau keunggulan dari metode pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah: Belajar dan Model-Model Pembelajaran 74 . Kesimpulan Setelah semua siswa menjawab pertanyaan yang diajukan. f. jenis kelamin.

Kelas menjadi benar-benar hidup dan dinamis b. Setiap siswa mendapat kesempatan untuk berekspresi dan mengeluarkan pendapatnya c. Adanya alokasi waktu yang panjang b. Kemungkinan nomor yang dipanggil. dipanggil lagi oleh guru atau adanya nomor yang tidak terpanggil Belajar dan Model-Model Pembelajaran 75 . Timbul rasa tanggung jawab Sedangkan kekurangan tipe number head together adalah: a. Pemahaman yang lebih mendalam f. Waktu untuk mengkoreksi hasil kerja siswa lebih efektif dan efisien e. Munculnya jiwa kompetisi yang sehat d.a.

1) Inventarisasi Standar Kompetensi Lulusan Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi standar kompetensi (SK) yang terdapat dalam kurikulum/silabus.……………. P. dan atau standar pekerjaan lain yang ada di DU/DI/masyarakat. P.. Standar Kompetensi Kerja (SKK) yang berlaku.1 ………………………………………….……………. Inventarisasi Pekerjaan (Job) Pendataan jenis pekerjaan (job) dapat mengacu: kepada jenis pekerjaan yang ada di kurikulum. b.……… P.……………………. sehingga cocok digunakan untuk di SMK. Langkah-langkah pembelajaran project work 1. melalui proses produksi/pekerjaan yang sesungguhnya. Setiap kompetensi keahlian pada umumnya memiliki lebih dari satu bidang/jenis pekerjaan yang dapat di isi oleh lulusan. Dst ……….E. Model pembelajaran project work sering digunakan untuk program pembelajaran produktif.……… Belajar dan Model-Model Pembelajaran 76 ..2 ………………………………….. Inventarisasi jenis pekerjaan (job). SK3 ……………. SK2 ……………. Model Pembelajaran Project Work Project Work adalah model Pembelajaran yang mengarahkan peserta didik pada prosedur kerja yang sistematisdan standar untuk membuat atau menyelesaikan suatu produk (barang atau jasa). standar kompetensi dan produk yang dapat dihasilkan.. SK1 …………………………. Perencanaan Project Work a.3 ………………………………….

selanjutnya dianalisis standar kompetensi yang dibutuhkan untuk menghasilkan setiap produk dan bidang pekerjaan dengan menggunakan tabel 2. Analisis Standar Kompetensi Terhadap Jenis Produk Standar Kompetensi Produk Kode Standar Kompetensi SK1 Pr1 Pr2 Pr3 Prn SK2 SK3 SK4 SK5 SK6 SK7 SKn Belajar dan Model-Model Pembelajaran 77 . dan produk tersebut. bidang pekerjaan. Analisis Standar Kompetensi Terhadap Produk (Barang/Jasa) Hasil inventarisasi standar kompetensi lulusan. Daftar Nama Produk Setiap Bidang Pekerjaan No 1 Bidang/Jenis Pekerjaan P1 Nama Produk (barang/jasa) Pr1 Pr2 2 P2 Pr3 Pr3 3 P3 Pr4 Pr5 d. Tabel 1. Tabel 2. Inventarisasi Produk (Barang/Jasa) Setiap Pekejaan Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengiden-tifikasi produk yang dapat dihasilkan oleh setiap bidang/jenis pekerjaan sehingga peserta didik memilki orientasi produk yang akan dihasilkan pada setiap pembelajaran. c.Dst.

2. SK2. a. SK4 2) Produk (Pr2 ) dapat dikerjakan pada pembelajaran SK1.Baris pada kolom 1 diisi kode produk (nama barang/jasa). Guru menyampaikan: 1) tujuan pembelajaran yang akan dicapai 2) strategi pembelajaran dengan pendekatan project work Belajar dan Model-Model Pembelajaran 78 . Pelaksanaan Model Pembelajaran Pendekatan Project Work Pembelajaran dengan pendekatan Project Work dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut. sedangkan kolom berikutnya diisi dengan kode Standar Kompetensi hasil inventarisasi (Kurikulum/Silabus). SK2. Alternatif produk dapat dipilih oleh peserta didik. Menentukan standar kompetensi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan produk (barang/jasa) dengan memberi tanda cek (√) pada kolom standar kompetensi terkait. guru diminta untuk menetapkan bukti-bukti belajar (Evidence Of Learning) yang akan digunakan sebagi acuan dalam penilaian hasil belajar peserta didik. SK3 dan SK 5. 3) Produk (Pr1) dan (Pr2 ) dapat digunakan sebagai pilihan peserta didik sebagai media pembelajaran SK1 dan SK2 4) Setelah seluruh standar kompetensi teridentifikasi terhadap produk yang ada. demikian selanjutnya untuk Produk yang lain. Hasil analisis Standar Kompetensi terhadap Jenis Produk pada tabel 2 dapat dimaknai sebagai berikut. e. 1) Produk (Pr1) dapat dikerjakan pada pembelajaran SK1. maka guru menetapkan alternatif produk yang akan dikembangkan untuk setiap standar kompetensi yang dipelajari. Penetapan Bukti Belajar/Evidence of Learning Berdasarkan hasil analisis standar kompetensi terhadap produk.

3) alternatif judul/nama produk/jasa yang dapat dipilih peserta. b. memilih salah satu judul/nama produk/jasa. 4. 4) ruang lingkup standar kompetensi yang akan dipelajari oleh peserta didik untuk setiap judul/nama produk/jasa 5) menyusun dan menetapkan pedoman penilaian kompetensi sesuai dengan judul project work 6) memfasilitasi bimbingan kepada peserta didik dengan memanfaatkan lembar bimbingan. mengorganisasi bukti belajar sebagai portofolio. melaksanakan kegiatan kulminasi (presentasi/ pengujian/penyajian/display). Peserta didik 1. Dan menyusun rencana Project Work sesuai dengan judul yang dipilih. 1) Latar Belakang 2) Keunggulan Dan Fungsi Produk/Jasa. 3. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 79 . Kegiatan dilakukan sesuai dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam proposal di bawah bimbingan dan pengawasan guru. 3) Sketsa/Gambar Kerja (Jika Diperlukan) 4) Bahan Produksi 5) Fasilitas/Peralatan Produksi 6) Proses Produksi   Rencana Anggaran Biaya Sasaran Pasar/Konsumen o Jadwal Pelaksanaan 2. Proses belajar menekankan pada pencapaian standar kompetensi yang dibuktikan dengan bukti belajar (learning evidence) dan diorganisasi dalam bentuk portofolio. Kerangka rencana Project Work sebagai berikut. melakukan proses belajar sesuai dengan proses produksi yang telah direncanakan.

laporan. 3. dan kesesuaian waktu pelaksanaan. Penilaian Hasil Belajar Penilaian hasil belajar dengan pendekatan project work pada dasarnya adalah penilaian standar kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan. pelaksanaan proses produksi. menyusun laporan sesuai dengan pengalaman belajar yang diperoleh. Penetapan pencapaian nilai mengacu pada Pedoman Penilaian dan Pelaporan Hasil Belajar Peserta Didik SMK. kegiatan. Komponen project work yang dinilai terdiri dari penyusunan rencana Project Work. kesesuaian produk/jasa. Peserta didik dinyatakan kompeten apabila memenuhi standar minimal yang dipersyaratkan pada indikator dari setiap kompetensi dasar. keterampilan. dan kulminasi (presentasi/ pengujian/penyajian/display). sikap. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 80 .5.

pembelajaran kooperatif menggalakan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Dalam model pembelajaran jigsaw ini siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat.203). Dalam model pemebelajaran kooperatif ini guru berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan penghubungan ke arah pemahaman yang Belajar dan Model-Model Pembelajaran 81 . Ini membolehkan pertukaran ide dan pemeriksaaan ide sendiri dalam suasana yang tidak terancam. pendidikan hendaknya mampu mengkondisikan dan memberikan dorongan untuk dapat mengoptimalkan dan membangkitkan potensi siswa. 2008. seperti yang diungkapkan Lie (1993: 73). Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Dari sisi etimologi Jigsaw berasal dari bahasa inggris yaitu gergaji ukir dan ada juga yang menyebutnya dengan istilah Fuzzle. dan mengelolah informasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi. menumbuhkan aktivitas dan daya cipta kreativitas sehingga akan menjamin terjadinya dinamika di dalam proses pemebelajaran. anggota kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari. yaitu siswa melakukan sesuatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama.F. dan dapat menyampaikan kepada kelompoknya ( Rusman. Menurut Slavin (2007). sesuai dengan falsafah konstruktivisme. yaitu sebuah teka-teki yang menyusun potongan gambar. Model pemebelajaran kooperatif model jigsaw adalah sebuah model belajar kooperatif yang menitik beratkan kepada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil. bahwa pembelajaran kooperatif model jigsaw ini merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai dengan enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri. Pembelajaran kooperatif model jigsaw ini juga mengambil pola cara bekerja sebuah gergaji (jigsaw). Dengan demikian.

Namun. Karena anggota setiap kelompok dihadapkan pada permasalahan yang berbeda. Menurut Stepen. dengan catatan siswa sendiri. e. dalam untuk 1. Tiap tem ahli mempresentasikan hasil diskusi g. Setelah selesai diskusi sebagai tem ahli tiap anggota kembali kedalam kelompok asli dan bergantian mengajar teman satu tem mereka tentang subbab yang mereka kusai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan seksama f. tetapi harus juga membangun dalam pikirannya. Tiap orang dalam team diberi bagian materi berbeda c. hasil pembahasan itu dibawa kekelompok asal dan disampaikan pada anggota kelompoknya. Tiap orang dalam team diberi bagian materi yang ditugaskan d. ini merupakan kesempatan bagi siswa menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri. kita sebut sebagai team ahli yang bertugas membahas permasalahan yang dihadapi. Penutup Secara umum langkah-langkah model pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut: Belajar dan Model-Model Pembelajaran 82 .lebih tinggi. Guru tidak hanya memberikan penegtahuan pada siswa. Anggota dari team yang berbeda yang telah mempelajari bagian sub bagian yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusiksn sub bab mereka. Siswa dikelompokan sebanyak 1 sampai dengan 5 orang siswa. Siswa mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan langsung menerapkan ide-ide meraka. permasalahan yang dihadapi setiap kelompok sama. mengemukakan langkah-langkah kooperatif model jigsaw sebagai berikut: a. Selanjutnya. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Menurut Rusman (2008 : 205) pembelajaran model jigsaw ini dikenal juga dengan kooperatif para ahli. Sikes and Snapp (1978 ) yang dikutip Rusman (2008). b. Guru memberi evaluasi h.

Tujuan kelompok ini adalah mempelajari subbab tersebut kepada kelompok kecil masing-masing.Bahan Ajar Diskusi Kelompok Ahli Pelaporan dan Pengetesan Penghargaan Gambar. Guru mendorong para siswa menggunakan cara belajar yang bervariasi. Setiap anggota kelompok ahli harus menerima satu lembar kerja “ahli”. Guru mendorong para siswa untuk menggunakan metode mengajar yang bervariasi. b) Diskusi Kelompok Ahli Kelompok ahli harus melakukan pertemuan sekitar satu kali pertemuan untuk mendiskusikan topik yang ditugaskan. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif Keterangan: a) Bahan Ajar Guru memilih satu bab dalam buku ajar kemudian membagi bab tersebut menjadi bagian-bagian sesuai dengan jumlah anggota kelompok. Setiap anggota kelompok ditugasi untuk membaca dan mempelajari bagiannya pada bab tersebut. apabila jumlah anggota kelompok 4 orang siswa maka bab tersebut dibagi menjadi 4 bagian. Jadi. Seringlah Belajar dan Model-Model Pembelajaran 83 . Lembar kerja ahli harus membuat pertanyaan-pertanyaan dan kegiatan (jika ada) utnuk mengarahkan diskusi kelompok. Masing-masing anggota kelompok kecil mengajarkan topik masing-masing ke anggota lainnya dalam kelompok. Guru mendorong anggota kelompok mengajukan pertanyaan ke penyaji dan mendiskusikan lembar kerja kelompok kecil. c) Pelaporan dan Pengetesan Masing-masing anggota kelompok ahli kembali ke kelompok kecil masingmasing. Pada tahap selanjutnya masing-masing anggota kelompok bertemu dengan ahli-ahli dari kelompok lain dalam kelas. Setelah diskusi kelompok kecil guru menyelenggarakan tes yang mencakup materi satu bab penuh dalam waktu yang tidak lebih dari 15 menit.

skor kemajuan. Cukup berikan nilai individual kepada siswa.menggunakan kuis-kuis dan jangan menggunakan skor tim. Guru dapat menggunakan kata-kata khusus untuk memberikan kinerja kelompok semacam Bintang Sains. segera beri dia penghargaan khusus yang bersifat terbuka untuk kompetisi ini. 2008: 246). Kinerja individu yang luar biasa juga dilaporkan. Ketika siswa semacam ini meununjukkan kinerja baik. (Slavin. Dampak dari model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw sebagai berikut: struktur konsep kepekaa n sosial keberga ntungan positif toleransi atas perbeda an kepemi mpinan kolektif model jigsaw pemrose san kelompo k kesadara n akan perbeda an Belajar dan Model-Model Pembelajaran 84 . Kepekaan guru sangat diperlukan disini. Kelompok Einstein. atau lembar berita. atau sebutan lainnya. Ellizabeth Cohen telah menemukan bahwa penting untuk menyadari akan para siswa yang diduga memiliki kompetensi yang konsisten rendah. d) Penghargaan Tahap ini merupakan tahap yang mampu mendorong para siswa untuk lebih kompak. Pada tahap ini rata-rata peningkatan kelompok dilaporkan. Penting untuk dipahami bahwa menghargai siswa secara akademik dari kelompok berkemampuan rendah merupakan bagian integral keefektifan pembelajaran Jigsaw. Penghargaan kerja masingmasing kelompok dapat disajikan pada papan pengumuman yang dilaporkan peringkat masing-masing kelompok dalam kelas.

Kemudian siswa-siswa perwakilan dari kelompoknya masing-masing bertemu dengan anggota dari kelompok lain yang mempelajari materi yang sama. Setelah pembahasan selesai. para anggota kelompok kemudian kembali pada kelompok asal dan berusaha mengajarkan pada teman sekelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan dikelompok ahli. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 85 . Dampak Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Kelompok Asal 1 2 1 2 1 2 1 2 3 4 3 4 3 4 3 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 4 4 Kelomok Ahli Gambar. Kunci tipe Jigsaw ini adalah interdependensi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan kuis dengan baik. Para anggota dari kelompok asala yang berbeda. Illustrasi kelompok Jigsaw Keterangan: Dalam Jigwas ini setiap anggota kelompok ditugaskan untuk mempelajari materi tertentu.Gambar. Selanjtunya materi tersebut didiskusikan. bertemu dengan topik yang sama dalam kempok ahli untuk berdiskusi dan membahas metari yang ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain untuk mempelajari topik mereka tersebut. Selanjutnya diakhir pembelajaran. mempelajari serta memahami setiap masalah yang dijumpai sehingga perwakilan tersebut dapat memahami dan menguasai materi tersebut. siswa diberi kuis secara individu yang mencakup topik materi yang telah dibahas.

2) Jika jumlah anggota kelompok kurang akan menimbulkan masalah.2. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 86 . Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigwas a) Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah: 1) Mengembangkan hubungan antar pribadi positif siswa yang dimiliki kemampuan belajar berbeda 2) Menerapkan bimbingan sesama teman 3) Rasa menghargai yang lebih tinggi 4) Memperbaiki kehadiran dan keaktifan siswa 5) Penerima terhadap perbedaan individu 6) Sikap apatis berkurang 7) Pamahaman materi lebih mendalam 8) Meningkatkan motivasi belajar b) Kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah: 1) Jika guru tidak meningkatkan agar siswa selalu menggunakan keterampilanketerampilan kooperatif dalam kelompok masing-masing maka dikhawatirkan kelompok akan macet. sehingga perlu waktu merubah possi yang dapat juga menimbulkan gaduh. misal jika ada anggota yang hanya membonceng dalam menyelesaikan tugas-tugas dan pasif dalam diskusi. 3) Membutuhkan waktu yang lebih lama terelebih bila ada penataan ruang yang belum terkondisi dengan baik.

kerja. Seorang presiden pastilah orang yang pandai dalam berbicara. Peran penting penguasaan keterampilan berbicara sangat tampak di semua lingkungan . pergaulan. seorang guru pun dituntut untuk dapat berbicara dengan baik agar siswa dapat menerima pelajaran dengan baik. Kemampuan atau keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan gagasan pendapat dan perasaan pada pihak lain secara lisan. oleh karena itu kita harus terampil berbahasa supaya komunikasi berjalan lancar. seorang pemuka agama pastilah juga mempunyai kemampuan berbicara yang baik. kepedulian sosial. imajinasi dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif baik secara lisan maupun tulis. hampir dapat dipastikan setiap orang yang sukses pasti memiliki kemampuan berbicara yang baik. serta penyalur gagasan.G. Ketepatan mengungkapakan gagasan pendapat dan perasaan dipengaruhi oleh penggunaan bahasa yang efektif. Keterampilan berbicara sangat berperan dalam kehidupan manusia di lingkungan sekolah. penumbuhan apresiasi budaya. Dalam pembelajaran keterampilan berbahasa saat ini lebih di tekankan pada fungsi bahasa artinya bahasa sebagai alat komunikasi. Metode Pembelajaran Debate Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling efektif. Hal itu terjadi karena memang berbicara merupakan hal yang sangat penting dalam pencapaian cita-cita. Kesulitan yang dialami siswa dalam berbicara dapat Belajar dan Model-Model Pembelajaran 87 . dan bermasyarakat. pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan keterampilan siswa berkomunikasi dan fungsi utama sastra sebagai sebagai penghalus budi. Oleh karena itu. Suatu komunikasi dikatakan berhasil kalau pesan yang disampaikan pembicara atau penulis dapat dipahami penyimak atau pembaca persis sama seperti yang dimaksudkan pembicara atau penulis tersebut. Kesulitan pokok yang dihadapi siswa dalam berbicara adalah menghubungkan berbagai ide yang dimiliki untuk membangun suatu pemahaman dan penyampaian yang baik dan menarik. tepat dan sesuai dengan kaidah ketatabahasaan yang berlaku. peningkatan rasa kemanusiaan.

kelompok pertama diminta untuk selalu setuju ( kelompok pro ) terhadap masalah yang diberikan sedangkan kelompok yang kedua diminta untuk selalu tidak setuju ( kelompok kontra ) terhadap masalah yang diberikan. faktor guru juga sangat berpengaruh khususnya dalam proses pembelajaran. Setelah itu kelompok pro diminta untuk menyanggah apa yang telah disampaikan oleh kelompok kontra juga dengan pemberian alasan-alasan yang logis. Model pembelajaran debat mengarahkan siswa untuk berbicara dengan beradu argumen dari dua kelompok yang telah disetting untuk selalu beda pendapat. Salah satu model pembelajaran yang mungkin dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak adalah model pembelajaran debat. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 88 . Lebih jelasnya pembelajaran model Debat dilakukan dengan pemberian materi berupa masalah yang sedang hangat dibicarakan saat itu. Pertama-tama masalah yang akan diperdebatkan dibacakan dengan pemberian beberapa ilustrasi yang sudah terjadi. 1. Melihat pentingnya kemampuan berbicara dalam kehidupan sehari-hari tentulah dalam membelajarkan kemampuan berbahasa aspek berbicara diperlukan metode dan atau model pembelajaran yang bervariasi. Kevariasian ini dilakukan untuk menemukan model yang paling cocok doterapkan pada siswa tertentu dan dalam kondisi tertentu pula. pertama kelompok kontra diberi kesempatan untuk menolak atau tidak setuju dengan ilustrasi yang diberikan dengan memberikan alasan-alasan yang logis dari berbagai sudut pandang. Dalam pelaksanaanya dua kelompok tersebut akan mempertahankan pendapatnya sesuai apa yang telah di setting.dipengaruhi oleh beberapa faktor. kemudian siswa yang telah dibagi menjadi dua kelompok diminta untuk memberi tanggapan. dan sikap siswa yang meremehkan kegiatan berbicara. Selain itu. diantaranya faktor pada diri siswa yaitu pemahaman siswa masih kurang terhadap keterampilan berbicara. Pengertian Model Pembelajaran Debate Model pembelajaran debat merupakan model pembelajaran berbicara yang tidak hanya monoton satu arah.

Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Setelah selesai membaca materi guru menunjukkan salah satu anggotanya kelompok pro untuk bicara saat itu ditanggapi atau diulas oleh kelompok Belajar dan Model-Model Pembelajaran 89 . 2. c. Untuk menghindari kebosanan kedua kelompok diadakan pertukaran posisi dan permasalahan yang berbeda-beda. Metode debat juga merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Guru membagi 2 kelompok peserta debat yang satu pro dan yang lain kontra b. Langkah-langkah Pembelajaran Debate Langkah-langkah dalam pembelajaran debate adalah sebagai berikut: a. setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. yaitu kelompok pro berubah menjadi kelompok kontra dan begitu juga sebaliknya. agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif. Guru memberikan tugas untuk membaca materi yang akan didebatkan oleh kedua kelompok diatas. Dalam pelaksanaan model pembelajaran debat ini sangat diperlukan seorang pembimbing untuk mengendalikan keadaan kelas. karena apabila sudah terjadi perdebatan setiap kelompok tidak ada yang mau mengalah dan semakin lama perdebatan akan semakin memanas sehingga kehadiran seorang pembimbing sangat diperlukan. Yang diharuskan bagi para peserta debat adalah tidak diperkenankan menggunakan kata-kata yang kasar atau tidak baik agar siswa terlatih untuk berbicara dengan baik dan teratur.Proses debat tersebut dilakukan secara terus menerus sehingga siswa benarbenar berfikir semaksimal mungkin kemudian mengungkapkanya di depan forum. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Pada dasarnya.

Sementara siswa menyampaikan gagasannya guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan di papan tulis. Kelompok kontra kembali menyanggah untuk mempertahankan pendapat mereka. Kegitan tersebut di ulang terus secara bergantian dan peran kelompok juga dirubah dari yang semula kelompok pro menjadi kelompok kontra dan sebaliknya juga. yang terdiri dari kelompok pro dan kontra. dan kelompok pro pun mempertahankan pendapat mereka dengan berbagai argumen yang dimiliki. Dari data-data di papan tersebut guru mengajukan siswa membuat kesimpulan rangkuman yang mengacu pada topic yang ingin dicapai. Sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 90 . Pelaksanaan langkah-langkah metode pembelajaran debate misalnya sebagai berikut: a. Setelah kelompok dibagi. guru menjelaskan tentang kompetensi dasar yang akan dipelajari. Pembacaan informasi atau masalah yang akan diperdebatkan. Proses pembelajaranya dimulai dengan pemberian masalah berupa informasi kontroversial yang sedang hangat dibicarakan dengan memberikan ilustrasi terhadap masalah tersebut kemudian salah satu kelompok diberi kesempatan memberi tanggapan terhadap ilustrasi tersebut. Menyuruh kelompok pro untuk menanggapi pernyataan dari kelompok kontra. d. Siswa dibagi dalam dua kelompok besar. setelah itu kelompok yang satunya diberi kesempatan untuk menyanggah pendapat dari kelompok yang satunya. tentunya dalam bentuk sanggahan. b. Langkah-langkah penerapan pembelajaran model ini yaitu pertama-tama siswa diberi tahu tentang aturan main dari model debat ini. d.kontra demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa bisa menemukakan pendapatnya. c. Menyuruh kelompok kontra untuk menanggapi informasi tersebut. Guru menambah konsep / ide yang belum terungkap f. e.

Pembacaan masalah lain yang harus ditanggapi oleh tiap kelompok dan seterusnya. melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 91 . Dengan sering diadakanya kegiatan ini siswa akan menjadi terbiasa untuk berbicara secara terstuktur dan terkonsep dengan baik. f. Kelebihan dan Kelemahan Metode Pembelajaran Debate Kelebihan dari model pembelajaran debat adalah memantapkan pemahaman konsep siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan. h. kelompok diadakan pergantian yaitu kelompok pro diubah menjadi kelompok kontra. Dalam pembelajaran berbicara dengan model debat akan lebih menarik apabila pembimbing dapat menguasai emosi peserta. menyenangkan. Setelah kegiatan debat selesai siswa diminta menanggapi dan mengevaluasi cara penyampaian pendapat yang diberikan oleh siswa dalam kegiatan debat tersebut. dan sebaliknya. Setelah dirasa cukup. Selain itu dia juga dapat dengan mudah merangsang siswa untuk berpikir kritis dan spontan yang kemudian ditindaklanjuti dengan pengungkapan secara lisan yang secara langsung merangsang kemampuan berbicara anak. siswa yang pandai berargumen akan selalu aktif dan yang kurang pandai berargumen hanya diam dan pasif. Dengan pembimbing mengguasai emosi peserta dia akan mudah membuat debat tersebut menjadi sangat menarik. 3. g. dan ramai. Guru yang bertindak sebagai pembimbing di sini juga memberikan evaluasi terhadap kegiatan dan cara mengemukan pendapat siswa dalam kegiatan debat.e. melatih siswa untuk bersikap kritis terhadap semua teori yang telah diberikan oleh guru. saling adu argumen yang tidak kunjung selesai bila guru tidak menengahi. Adapun kekurangan dari metode ini adalah ketika menyampaikan pendapat saling berebut.

Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas. Selain itu. fantasi. Erikson. hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi. atau main drama. Biasanya anak didik memilih di antara beberapa topik yang diberikan kepada mereka. Dan sesudah sosiodrama berlangsung masing-masing individu mendiskusikan bagaimana perasaan-perasaan mereka. role playing sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain (Basri Syamsu. sangat penting untuk perkembangan kognisi. 1986). aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill Hadfield. Main peran disebut juga main simbolik. Pada metode bermain peranan. imajinasi. Latar belakang dari sesuatu situasi didiskusikan dan kemudian bagian-bagian yang ada diseleksi. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri murid Belajar dan Model-Model Pembelajaran 92 . Kegiatan tersebut dilaksanakan tanpa menggunakan kostum atau naskah cerita tertentu. Dalam role playing murid dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas. sosial. 2000). Model Pembelajaran Role Playing Role playing atau bermain peran adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya ada tujuan. Murid diperlakukan sebagai subyek pembelajaran. 1963). pura-pura. dan emosi anak pada usia tiga sampai enam tahun (Vygotzky. 1967.H. secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab) bersama teman-temannya pada situasi tertentu. Kegiatan tersebut biasanya spontan tanpa dipersiapkan atau dilatih terlebih dahulu. Naskah pendek yang dibawakan biasanya sudah mengandung situasi permasalahan. make-believe.

menafsirkan cerita dan mengeksplorasi isu-isu. serta menjelaskan peran yang akan dimainkan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi masalah. dapat menanamkan pengertian peranan orang lain pada kehidupan bermasyarakat. apa yang mereka suka. bagaimana Belajar dan Model-Model Pembelajaran 93 . Jadi. Memilih peran Memilih peran dalam pembelajaran. melakukan pemungutan suara terbanyak dan bersikap mau menerima kekalahan sehingga dengan melakukan berbagai kegiatan tersebut dan secara aktif berpartisipasi. Bermain peran akan berhasil apabila peserta didik menaruh minat dan memperhatikan masalah yang diajukan guru. maka proses pembelajaran tidak mungkin terjadi. 1. Metode role playing (bermain peranan) pada pengajaran yang direncanakan secara baik. Menghangatkan suasana kelompok termasuk mengantarkan peserta didik terhadap masalah pembelajaran yang perlu dipelajari. Menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik.(Departemen Pendidikan Nasional. tahap ini peserta didik dan guru mendeskripsikan berbagai watak atau karakter. 2. Mulyasa (2003) mengemukakan tahapan pembelajaran bermain peran meliputi: 1. karena tanpa adanya aktivitas. dan menghargai keputusan bersama. menanamkan kemampuan bertanggung jawab dalam bekerja sama dengan orang lain. murid akan lebih berhasil jika mereka diberi kesempatan memainkan peran dalam bermusyawarah. Lebih lanjut prinsip pembelajaran memahami kebebasan berorganisasi. Tahap ini lebih banyak dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik agar tertarik pada masalah karena itu tahap ini sangat penting dalam bermain peran dan paling menentukan keberhasilan. E. 2001). dan belajar mengambil keputusan dalam hubungan kerja kelompok. dalam pembelajaran murid harus aktif. mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari (Boediono. menghargai pendapat dan kemampuan orang lain. menjelaskan masalah. 2002). Langkah-langkah Pembelajaran Role Playing Dengan mengutip dari Shaftel dan Shaftel.

3. Dalam hal ini guru perlu menilai kapan bermain peran dihentikan.mereka merasakan. para peserta didik akan segera terpancing untuk diskusi. Diskusi dan evaluasi Diskusi akan mudah dimulai jika pemeran dan pengamat telah terlibat dalam bermain peran. 8. dan apa yang seharusnya mereka perankan telah dicoba lakukan. Diskusi dan evaluasi tahap dua Belajar dan Model-Model Pembelajaran 94 . sebaiknya pengamat dipersiapkan secara matang dan terlibat dalam cerita yang akan dimainkan agar semua peserta didik turut mengalami dan menghayati peran yang dimainkan dan aktif mendiskusikannya. Menyusun tahap-tahap peran Menyusun tahap-tahap baru. sesuai dengan peran masing-masing. pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. 5. tidak perlu ada dialog khusus karena para peserta didik dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan. dan apa yang harus mereka kerjakan. Menyiapkan pengamat Menyiapkan pengamat. dilakukan berdasarkan hasil evaluasi dan diskusi mengenai alternatif pemeranan. Dengan melontarkan sebuah pertanyaan. Pemeranan Pada tahap ini para peserta didik mulai beraksi secara spontan. Pemeranan dapat berhenti apabila para peserta didik telah merasa cukup. baik secara emosional maupun secara intelektual. Perubahan ini memungkinkan adanya perkembangan baru dalam upaya pemecahan masalah. 7. 6. kemudian para peserta didik diberi kesempatan secara sukarela untuk menjadi pemeran. Mungkin ada perubahan peran watak yang dituntut. Ada kalanya para peserta didik keasyikan bermain peran sehingga tanpa disadari telah mamakan waktu yang terlampau lama. Dalam hal ini. Pemeranan ulang Pemeranan ulang. 4. Setiap perubahan peran akan mempengaruhi peran lainnya.

guru. dan pemecahan masalah pada tahap ini mungkin sudah lebih jelas. dan dapat memetik butir-butir hikmah yang terkandung di dalamnya dengan penghayatan siswa sendiri 5. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Role Playing Berikut adalah kelebihan dari model pembelajaran role playing dalam kegiatan pembelajaran: 1. Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi 4. Semua pengalaman peserta didik dapat diungkap atau muncul secara spontan. Dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah. 6. Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan. teman dan sebagainya. hanya dimaksudkan untuk menganalisis hasil pemeranan ulang. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda. 7. sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan penuh antusias 3. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 95 . Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh. Disamping merupakan pengaman yang menyenangkan yang saling untuk dilupakan 2. 9. Dimungkinkan dapat meningkatkan kemampuan profesional siswa. 9. diskusi dan evaluasi pada tahap ini sama seperti pada tahap enam.Diskusi dan evaluasi tahap dua. Membagi pengalaman dan mengambil kesimpulan Pada tahap ini para peserta didik saling mengemukakan pengalaman hidupnya dalam berhadapan dengan orang tua. 2. Sangat menarik bagi siswa. Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerjasama. Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. 8.

3. Sering kelas lain terganggu oleh suara pemain dan para penonton yang kadangkadang bertepuk tangan. baik waktu persiapan dalam rangka pemahaman isi bahan pelajaran maupun pada pelaksanaan pertunjukan. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 96 . yaitu: 1. dalam proses pembelajarannya role playing memiliki bebarapa kelemahan. dan sebagainya. Penerapan Role Playing saat Proses Pembelajaran Metode role playing (bermain peranan) dalam proses belajar mengajar digunakan: 1.10. 4. 11. biografi maupun cerita-cerita yang lain dapat membantu anak didik untuk mencapai keterampilan tersebut. 2. (Nana Sudjana. Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak. 2. 3. 3. Melatih daya imajinasi siswa Selain memiliki kelebihan. Apabila kita ingin menerangkan suatu peristiwa yang di dalamnya menyangkut orang banyak. Sebagian besar anak yang tidak ikut bermain drama mereka menjadi kurang kreatif. kita beranggapan lebih baik didramatisasikan daripada diceritakan karena akan lebih jelas. Apabila kita ingin melatih anak-anak agar mereka dapat menyelesaikan masalahmasalah yang bersifat sosial psikologis. jika tempat bermain sempit menjadi kurang bebas. Apabila kita akan melatih anak-anak agar mereka dapat bergaul dan memberi pemahaman terhadap orang lain beserta masalahnya. ceritacerita sejarah. Berbagai bentuk permainan. Salah satu tugas guru adalah membantu anak didik untuk bisa berlaku sebagaimana yang dilakukan oleh orang lain. Memerlukan tempat yang cukup luas. Banyak memakan waktu. 2005:8485).

Bercerita tentang apa yang dirasakan orang lain kadang-kadang ada manfaatnya. 7. tetapi jangan sampai membatasi anak didik tentang apa yang akan diutarakan dan bagaimana mereka menghayati perannya. Mereka akan memerankannya dengan lebih baik apabila mereka sendiri yang memilih bagiannya. Dalam penggunaan metode role playing ini ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil. 4. Sebaliknya. 2. Apa yang telah dipilih barangkali mempunyai arti tersendiri bagi dirinya. Hal itu akan sangat menguntungkan bagi para siswa yang menjadi penonton (sekaligus sebagai penilai). Jika hal itu benar-benar dilaksanakan. guru justru memberikan kebebasan sepenuhnya kepada para siswa. baik dengan bercerita yang sama maupun tidak. Upayakan agar semua pihak bisa mengambil peranan. Ulangi situasi tersebut. Tindakan ini bisa menambah kegairahan anak untuk bermain peranan (role playing). Harap diingat bahwa guru jangan terlalu banyak memberikan aturan-aturan permainan. Diskusikan terlebih dahulu situasi yang akan dimainkan. 3. Biarkan anak didik menentukan sendiri. maka situasi sosial yang didramatisasikan akan serupa benar dengan kejadian yang sesungguhnya. Di dalam melaksanakan kegiatan sosiodrama yang pertama kali sebaiknya guru juga mengambil sesuatu peran. antara lain: 1. Diskusikan pelaksanaan sosiodrama tersebut. Petunjuk pelaksanaan role playing antara lain: 1. bagaimana perasaan mereka setelah bermain. Diskusi bisa dimulai dari aktor atau aktris itu sendiri. Guru yang telah berhasil menggunakan sosiodrama akan beranggapan bahwa metode tersebut lebih baik dibanding metode-metode yang lain. Guru Belajar dan Model-Model Pembelajaran 97 . Berikan kesempatan kepada anak didik untuk memilih peranannya sendiri. 5. Usahakan situasi benar-benar jelas dan terang. 6.

Bahan harus cukup mengandung sikap dan perbuatan yang akan didramatisasikan siswa. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 98 . 2. Bahan Sesuatu yang didramatisasikan akan baik hasilnya. c. Bahan harus memperkaya pengalaman sosial siswa. keputusan apa yang akan ia pilih jika ia berada dalam situasi sosial seperti itu. Apa yang akan ia lakukan. kepribadian bangsa Indonesia. 3. dapat bertingkah laku dan bersikap seperti dalam situasi sosial yang sesungguhnya. Siswa Dramatisasi ini akan berhasil kalau para siswa yang berperan dapat menjiwai situasinya. Bahan hendaknya tidak mengandung adegan-adegan yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. jika bahan itu cocok dengan para pemeran yang akan memerankannya. semua harus diserahkan kepada pemeran yang bersangkutan. Bahan harus dipilih dengan cermat. Bahan harus sesuai dengan perkembangan jiwa siswa. b. Kriteria yang harus diperhatikan antara lain: a.Guru tidak boleh bersikap apriori. d. Setiap individu akan menghayati situasi sosial menurut caranya sendiri. agama.

5. 3. menggunakan kelompok kecil. belajar dimulai dengan suatu masalah. Model Pembelajaran Based Learning Pembelajaran berbasis masalah (Probelem-based learning). PBL adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki ketrampilan untuk memecahkan masalah (Ward. memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri. Stepien. bukan diseputar disiplin ilmu. Fogarty(1997) menyatakan bahwa PBL adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan membuat konfrontasi kepada siswa (siswa/mahasiswa) dengan masalah-masalah praktis. Lebih lanjut Boud dan felleti. Pembelajaran dengan model PBL dimulai oleh adanya masalah (dapat dimunculkan oleh siswa atau guru). Siswa dapat memilih masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan sehingga mereka terdorong Belajar dan Model-Model Pembelajaran 99 . menuntut siswa untuk mendemontrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja.1993). mengorganisasikan pelajaran diseputar masalah. 4. dkk. dan 6. (1997). 2. 2002. kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka telah ketahui dan apa yang mereka perlu ketahui untuk memecahkan masalah tersebut.I.. atau open ended melalui stimulus dalam belajar. PBL memiliki karakteristikkarakteristik sebagai berikut: 1. selanjutnya disingkat PBL. berbentuk ill-structured. merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa. memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa/mahasiswa.

fokus pembelajaran ada pada masalah yang dipilih sehingga siswa tidak saja mempelajari konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah tetapi juga metode ilmiah untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan kata lain. Oleh sebab itu. maka dapat terjadi ketidaksetimbangan kognitif pada diri siswa. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa model PBL dapat memberikan pengalaman yang kaya kepada siswa. Alasan Problem Based Learning digunakan PBL merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada kerangka kerja teoritik konstruktivisme.Masalah yang dijadikan sebagai fokus pembelajaran dapat diselesaikan siswa melalui kerja kelompok sehingga dapat memberi pengalaman-pengalaman belajar yang beragam pada siswa seperti kerjasama dan interaksi dalam kelompok. Pada kondisi tersebut diperlukan peran guru sebagai fasilitator untuk mengarahkan siswa tentang konsep apa yang diperlukan untuk memecahkan masalah dan apa yang harus dilakukan. Dari paparan tersebut dapat diketahui bahwa penerapan PBL dalam pembelajaran dapat mendorong siswa/mahasiswa mempunyai inisiatif untuk belajar secara mandiri. Keadaan ini dapat mendorong rasa ingin tahu sehingga memunculkan bermacammacam pertanyaan.berperan aktif dalam belajar. siswa tidak saja harus memahami konsep yang relevan dengan masalah yang menjadi pusat perhatian tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang berhubungan dengan keterampilan menerapkan metode ilmiah dalam pemecahan masalah dan menumbuhkan pola berpikir kritis. Jika pembelajaran dimulai dengan suatu masalah dan masalah tersebut bersifat kontekstual. Bila pertanyaan-pertanyaan tersebut telah muncul dalam diri siswa maka motivasi intrinsik mereka untuk belajar akan tumbuh. Dalam model PBL. Pengalaman ini sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dimana berkembangnya pola pikir dan pola kerja seseorang bergantung pada Belajar dan Model-Model Pembelajaran 100 . penggunaan PBL dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang apa yang mereka pelajari sehingga diharapkan mereka dapat menerapkannya dalam kondisi nyata pada kehidupan sehari-hari 1.

menganalisis data. 2. dan 8. melakukan ujicoba terhadap rencana yang ditetapkan. penggunaan PBL dapat memberikan pengalaman belajar melakukan kerja ilmiah yang sangat baik kepada siswa/mahasiswa. mengumpulkan data. Langkah-langkah pemecahan masalah dalam pembelajaran PBL paling sedikit ada delapan tahapan (Pannen. Lebih lanjut Arends (2004) menyatakan bahwa ada tiga hasil belajar (outcomes) yang diperoleh siswa yang diajar dengan PBL yaitu: 1. Pemecahan masalah dalam PBL harus sesuai dengan langkahlangkah metode ilmiah. 6. belajar model peraturan orang dewasa (adult role behaviors). Implementasi Ada beberapa cara menerapkan PBL dalam pembelajaran. mengidentifikasi masalah. 7. 5. Dengan demikian siswa/mahasiswa belajar memecahkan masalah secara sistematis dan terencana. 2. dan 3. 3. Oleh sebab itu. yaitu: 1. Siswa/mahasiswa akan memusatkan pembelajaran di sekitar masalah tersebut. melakukan tindakan (action) untuk memecahkan masalah. siswa belajar teori dan metode ilmiah agar dapat memecahkan masalah yang menjadi pusat perhatiannya. 2001). 2. Secara umum penerapan model yaitu dengan adanya masalah yangharus dipecahkan atau dicari pemecahannya oleh siswa/mahasiswa. ketrampilan belajar mandiri (skills for independent learning). dengan arti lain. memilih cara untuk memecahkan masalah.bagaimana dia membelajarkan dirinya. inkuiri dan ketrampilan melakukan pemecahan masalah. memecahkan masalah berdasarkan pada data yang ada dan analisisnya. Adapun langkah-langkah model pembelajaran ini bagi guru adalah sebagai berikut: Belajar dan Model-Model Pembelajaran 101 . Masalah tersebut dapat berasal dari siswa/mahasiswa atau mungkin juga diberikan oleh pengajar. 4. merencanakan penerapan pemecahan masalah.

4. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai. 5.1. pengumpulan data. hipotesis. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap eksperimen mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 102 . Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik. dll). pemecahan masalah. eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. jadwal. Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai dan menyebutkan sarana atau alat pendukung yang dibutuhkan. tugas. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya. 2. 3. Memotivasi siswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.

Tersedia: http://repository. Pengaruh Bermain Peran (Role Playing) dalam Meningkatkan Pembelajaran Bahasa Inggris.pdf [6 Juni 2012] Anonim. [Online]. Triman. Teori Belajar Behavioristik.SC. Tersedia: http://sharingkuliahku. SE. [Online]. Msi.com [7 Maret 2012] Rosyid.edu/operator/upload/s_d0251_060231_chapter2. U. Tersedia: http://sumsel. 2012.DAFTAR PUSTAKA Andi. Fertina. Tersedia:http://andi1988. Bergesernya Teori-Teori Belajar.kemenag.com %2F2008%2F02%2Fteori-belajarbehavioristik. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw..wordpress. 2010.id/file/dokumen/modeljigsaw. Jakarta : Erlangga Dra.go.id/url?sa=t&rct=j&q=koneksinimisme&source=web&cd= 2&ved=0CCsQFjAB&url=http%3A%2F%2Ftrimanjuniarso. Model-Model Pembelajaran Berbasis Paikem. Teori-Teori Belajar. Mitri Irianti.wordpress.S.doc&ei=RbZWT9uGGsnprQfyk8S1Bw&usg=AFQjCNGkyC_amh 54NCSlSd3-_4ZWktMyaQ [7 Maret 2012] Rizcha. 2011. Prof.files. [Online].scribd. 2011. Riau Fadhly. [Online].upi.wordpress. Pembelajaran Kontekstual.co. Kolaborasi Teori dalam Pendidikan Pragmatisme.M. _______. Rum. Model Pembelajaran Role Playing. Tersedia:http://www.com/category/model-pembelajaran-roleplaying/ (20 Mei 2012) Dahar Ranta Willis Pof. Almasdi Syahza. (2009). [Online]. [Online]/ Tersedia: kompasiana.1989. MP. Tersedia: Belajar dan Model-Model Pembelajaran 103 . Tersedia: http://www..com/rumrosyid/d/45080023/28-TeoriKoneksionisme [10 Maret 2012] Rulam. (2011). (2005). Dr. [Online]. teori-teori belajar. (2011). Dr. Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Jigsaw. [Online].google.com/2009/01/28/teori-teori-belajar-2/ [10 Maret 2012] Anonim.pdf [18 Mei 2012] Hidayat. Bandung: CV Siliwangi & CO Juniarso.

2007.http://www. kumpulan-nahan diklat nasional guru biologi SMU. _____. Wayan I.html#ixzz16klc4gPi September 2011) : (08 .vilila.com/2010/03/model-pakem. [On Line] Tersedia http://www. Bandung : Pusat pengembangan penataran guru IPA. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 104 .infodiknas. Tidak diterbitkan. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning).____.2000.com/207-pengaruh-bermain-peran-role-playing-dalammeningkatkan-pembelajaran-bahasa-inggris/ (20 Mei 2012) Sudarman. 2010.. Model Pakem. Tidak diterbitkan. Dasna. Problem Based Learning: Suatu Metode Model Pembelajaran untuk Mengembangkan dan Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah. ____.

juara kelas setiap semester. sampai juara 3 lomba musikalisasi puisi antar kelas. akhirnya dia tertarik dengan salah satu SMA swasta di Bandung dan dia berhasil diterima di SMA Angkasa Husein Sastranegara (2007-2010). Selama SMP. Posisi yang selalu diamanatkan kepadanya. Semasa SD-nya dia dikenal sebagai sosok murid yang rajin dan patuh. dia mendapatkan hasil UAN yang begitu mepet dengan passing gread SMA Negeri di Bandung. Dari kegemarannya itulah ia mulai senang menulis puisi. pernah bolos pelajaran Bahasa Sunda. dia tetap bangga dengan apa yang didapatkannya karena semua murni hasil usahanya sendiri. Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang kehidupan SMP-nya karena dia sama seperti siswa-siswi SMP lainnya yang mematuhi peraturan sekolah dan berteman dengan banyak orang. ia menyenangi bacaan fiksi.RIWAYAT HIDUP PENYUSUN Anja Wulan Sari. ia rajin berkunjung ke perpustakaan. Akan tetapi. Menempuh pendidikan SD (1998-2004) di SDN Cibeureum 8. Di SMA dia mulai di OSIS dan menjadi panitia diberbagai acara. Walau puisinya tidak sebagus punjangga tapi karyanya merupakan kepuasan batin tersendiri baginya. mulai dari dihukum berlari keliling sekolah. tidak jauh dari sekretaris atau bendahara. Melihat hasil UAN yang peluangnya kecil unuk diterima di SMA Negeri. Diakhir pendidikan SMP-nya. lahir di Bandung pada 11 Januari 1992. Entah apa Belajar dan Model-Model Pembelajaran 105 . Kehidupan SMA-nya cukup menarik. tidak heran gelar murid teladan pernah disandangnya. Berbekal nilai hasil UAN yang memuaskan pada tahun 2004 dia berhasil diterima di SMPN 9 Bandung (2004-2007). juara 1 lomba Danton Paskibra antar kelas. Jadi.

alasanya tapi dua posisi inilah yang selalu dikaitkan dengan siswi berpenampilan sederhana ini. Mulai dari gagal seleksi PMDK UPI. dia mulai disibukan dengan tes masuk universitas. gagal UM UPI. gagal UM Poltekes Depkes Bandung sampai akhirnya berhasil diterima melalui jalur SNMPTN di Universitas Pendidikan Indonesia di Jurusan Pendidikan Teknologi Agroindustri (2010-sekarang). Perjalanan memilih universitas pun penuh perjuangan. Selesai mengenyam pendidikan SMA. ****** Belajar dan Model-Model Pembelajaran 106 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful