Jurnal Teknik Kimia Indonesia, Vol. 11, No.

2, 2012, 94-100

PEMANFAATAN AMPAS TEBU DAN KULIT PISANG DALAM PEMBUATAN KERTAS SERAT CAMPURAN
Allita Yosephine, Victor Gala, Aning Ayucitra1*, Ery Susiany Retnoningtyas2
Keahlian Rekayasa Proses Keahlian Teknologi Bioproses Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Widya Mandala Jalan Kalijudan 37, Surabaya 60114 E-mail: aayucitra@yahoo.com
2Kelompok 1Kelompok

Abstrak Kertas serat campuran (atau kertas komposit) merupakan kertas yang terbuat dari dua jenis serat berbeda yang bertujuan untuk memperkuat kertas tersebut. Dalam penelitian ini, pulp ampas tebu dan pulp kertas koran bekas digunakan untuk membuat kertas serat campuran dengan tujuan aplikasi kertas kemasan. Sebagai binder, digunakan kulit pisang yang mengandung pati dan serat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari komposisi pulp ampas tebu dan pulp kertas koran, serta untuk mengetahui massa binder yang digunakan agar dihasilkan kertas serat campuran dengan ketahanan sobek dan kekuatan tarik yang paling sesuai untuk aplikasi kertas kemasan. Proses yang digunakan untuk membuat pulp ampas tebu adalah proses acetosolv. Kertas serat campuran dibuat dengan variasi komposisi pulp ampas tebu dan pulp kertas koran dengan perbandingan 0:100, 10:90, 30:70, 50:50, dan 70:30. Selain itu, dilakukan juga variasi konsentrasi binder kulit pisang sebanyak 15, 25, 35, 45, dan 55 g/4 L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kertas serat campuran yang dihasilkan telah memenuhi standar kertas dasar kertas bungkus berlaminasi sesuai SNI 146519-2001. Kertas serat campuran yang dibuat dengan komposisi pulp ampas tebu 30% dan konsentrasi binder 35 g/4 L menghasilkan ketahanan sobek sebesar 4,018 KN/m dan kekuatan tarik sebesar 20,5 N walaupun gramatur kertas lebih besar dari standar yang ditetapkan. Kata kunci: kertas serat campuran, pulp ampas tebu, binder kulit pisang, kertas kemasan Abstract Mixed fiber paper, also known as composite paper, is a paper made of two different fibers that aims to strengthen the paper. In this study, mixed fiber paper for packaging purposes was made by utilizing bagasse pulp and used newsprint pulp. As a binder, banana peel may be used since it contains starch and fiber. The objectives of this research were to study the effect of bagasse pulp composition and newsprint pulp, as well as to determine the mass amount of binder used in producing mixed fiber paper which has both tear resistance and tensile strength suitable for packaging paper. Mixed fiber paper was made by varying the ratio of bagasse pulp and newsprint pulp as follows: 0:100, 10:90, 30:70, 50:50, 70:30, 90:10, and 100:0. The study also carried out variation in binder concentration from banana skin flour of 15, 25, 35, 45, and 55 g/4 L. As results, mixed fiber papers produced in this study have met the requirement of Indonesia National Standard (SNI) of base paper for wrapping (SNI 14-6519-2001). Mixed fiber paper with composition of 30% bagasse pulp and 35 g/4 L banana peel binder concentration has tear resistance of 4,018 kN/m and tensile strength of 20,5 N, although the grammage of all papers is above the standard. Keywords: mixed fiber paper, bagasse pulp, banana peel binder, packaging paper
*korespondensi

94

7-2 mm dengan diameter sekitar 20 µm. Pada penelitian pembuatan kertas serat campuran ini.96 Min 1.. Metode ini merupakan metode yang ramah lingkungan karena limbah lindi hitamnya mudah didaur ulang. Kulit pisang mengandung pati yang merupakan salah satu komponen penting dari binder (Asuncion. Metode yang digunakan dalam membuat pulp pada proses pembuatan kertas serat campuran ini adalah asetosolv. Sudaryanto dkk. Pembuatan kertas serat campuran merupakan salah satu cara alternatif pembuatan kertas yang akan membantu mengurangi limbah kertas dan terutama mengurangi penggunaan kayu untuk pembuatan kertas. (2004). atau disebut juga dengan bagas. 2006).Pemanfaatan Ampas Tebu dan Kulit Pisang dalam Pembuatan Kertas (A.. Witono dan Michaella. 2001). umumnya digunakan binder 95 untuk mengikat komponen-komponen penyusun kertas. Tabel 1. PaperOnWeb.110 – 0. Karakteristik Kertas Dasar untuk Kertas Pembungkus Berlaminasi Plastik Menurut SNI 14-6519-2001 Karakteristik Gramatur Tebal Arah Mesin Kuat Tarik Silang Mesin Arah Ketahanan Mesin Sobek Silang Mesin Porositas Kekasaran.63 Min 392 Min 416 Maks 1000 Maks 1700 1. 1997). yaitu kulit pisang. seperti polimer dan kertas bekas yang bertujuan untuk meningkatkan nilai guna kertas (Julianti dan Nurminah. sedangkan Antaresti dkk. Arah mesin merupakan pengukuran yang dilakukan pada kertas yang searah dengan hasil cetakan kertas. Dalam penelitian ini. Pendahuluan Saat ini penggunaan kertas di Indonesia semakin bertambah sehingga penggunaan kayu sebagai bahan baku pulp kertas juga meningkat (Pitakasari. binder yang digunakan berasal dari bahan alami. sedangkan sebagai campurannya digunakan kertas koran bekas mengingat banyaknya produksi koran per hari yang tentunya akan menimbulkan masalah apabila kertasnya tidak didaur ulang. Yosephine dkk. 2011). sedangkan silang mesin menunjukkan pengukuran kertas yang dilakukan tegak lurus dari hasil cetakan kertas. maka kualitas kertas serat campuran dalam penelitian ini diarahkan untuk dapat memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI 14-6519-2001) yaitu sebagai kertas dasar untuk kertas pembungkus berlaminasi plastik. Standar kertas yang diatur dalam SNI 14-6519-2001 dapat dilihat pada Tabel 1 (BSN.2 Ampas Tebu Ampas tebu. antara lain oleh Sudaryanto dkk. sehingga ampas tebu ini dapat memenuhi persyaratan untuk diolah menjadi .8 0. (2002) dan Antaresti dkk. diperlukan bahan alternatif yang dapat digunakan untuk menggantikan peran kayu dalam pembuatan pulp kertas. Panjang seratnya antara 1. adalah hasil samping dari proses ekstraksi cairan tebu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh perbandingan pulp ampas tebu dan pulp kertas koran serta konsentrasi binder dari kulit pisang sehingga dapat diperoleh kertas serat campuran dengan ketahanan sobek dan kekuatan tarik yang paling sesuai untuk diaplikasikan sebagai kertas kemasan. Kertas serat campuran. Selain itu. Dalam pembuatan kertas serat campuran. (2002) mempelajari proses pembuatan pulp dari ampas tebu dengan menggunakan jamur Fusarium solani dan Trichoderma viride. 1. 2003). Ampas tebu sebagian besar mengandung ligno-cellulose. asam asetat adalah salah satu pelarut organik yang tidak berbahaya bagi lingkungan. Ampas tebu memiliki kandungan serat dan hemiselulosa yang tinggi. merupakan kertas yang terbuat dari campuran dua macam atau lebih pulp kertas dengan bahan lain. Ada banyak penelitian yang telah dikembangkan untuk pembuatan pulp dan kertas dari ampas tebu. salah satunya adalah ampas tebu. 2002. 2010).) 1. Oleh karena itu. (2004) meneliti proses pembuatan pulp dari ampas tebu dengan proses organosolv menggunakan larutan pemasak asam asetat dan katalis asam sulfat.142 Min 1. 2005. yaitu proses delignifikasi dengan menggunakan asam asetat (Vazquez dkk. bahan baku yang digunakan adalah ampas tebu. dimana kedua hal tersebut merupakan syarat utama dalam pembuatan kertas (Sudaryanto dkk.1 Kertas Kemasan Agar sesuai dengan aplikasinya sebagai bahan baku kertas kemasan. atau seringkali dikenal dengan istilah kertas komposit. WS Satuan g/m2 mm kN/m kN/m mN mN mL/menit mL/menit Persyaratan 70 ± 2.

2007). 1. yaitu 12. 96 termometer. 2012 papan-papan buatan. waktu pemasakan. menghaluskan permukaan kertas. Metodologi 2. Dalam proses pembuatan pulp dengan metode acetosolv. dapat diperoleh hasil samping berupa lignin dan furfural dengan kemurnian yang relatif tinggi. asam dari modifikasi pati. mengikat partikel pigmen dengan kertas. daur ulang limbah dapat dilakukan hanya dengan metode penguapan dengan tingkat kemurnian yang cukup tinggi. Proses penyaringan menggunakan vacuum pump dan corong Buchner. Dalam penelitian ini. seperti kertas untuk kalender dan kotak karton (Asuncion. 1994).5 Kulit Pisang Tanaman pisang merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak tumbuh di daerah tropis. Pada umumnya.6 Lemak 13. pentosan.78% (Emaga dkk.8 Abu 15. Vol. 2. No. 1997).. ada banyak hal yang perlu diperhatikan.4 Binder Binder mempunyai pengaruh yang besar pada sifat akhir kertas. dan nilai hasil daur ulangnya jauh lebih mahal dibanding dengan hasil daur ulang limbah kraft (Simanjutak. sehingga mengurangi limbah dan menaikkan nilai ekonomis dari kulit pisang. Pembuburan kertas 96koran dilakukan dengan blender. Kertas serat campuran dibuat 96 . Tabel 3.3 Proses Acetosolv Proses acetosolv dalam pengolahan pulp memiliki beberapa keunggulan. Hasil analisis serat bagas tercantum dalam Tabel 2 (Sudaryanto dkk. 2002). memberi sifat alir yang dibutuhkan dan mengontrol absorpsi tinta cetak selama proses cetak pada kertas (PaperOnWeb.01% (Vazquez dkk. pendauran lindi hitam dapat dilakukan dengan mudah. Aziz dan Sarkanen (1989) menguatkan pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa rendemen pulp lebih tinggi. Fungsi binder antara lain bertindak sebagai pembawa pigmen. Pati mengisi pori kertas. Serat bagas tidak dapat larut dalam air dan sebagian besar terdiri dari selulosa. Kulit pisang mengandung banyak senyawa yang dapat dimanfaatkan. Kandungan dalam pisang dapat dilihat pada Tabel 3. 2010). dan bulb condenser. bersama dengan hidroksimetil yang dimodifikasi dan fosfat ester dari pati. untuk meningkatkan kekuatan dan ketebalan dari beberapa jenis kertas. Kandungan Senyawa Dalam Kulit Pisang Kandungan Senyawa (g/100 g berat kering) Protein 8.Jurnal Teknik Kimia Indonesia. pengikat partikel pigmen menjadi satu. Konsentrasi asam asetat yang digunakan sebesar 95%. dan lignin. Pati merupakan binder yang berasal dari bahan alam dan juga termasuk jenis perekat dalam.3 2. Pati mampu mengikat bahanbahan penyusun kertas untuk meningkatkan kualitas kertas. Katalis yang dipakai dalam proses pulping dengan metode acetosolv adalah asam klorida (HCl) sebanyak 0. proses pembuatan pulp dengan metode acetosolv dilakukan pada suhu 110oC selama 2-5 jam.3 Serat total 50. dan mencegah tinta menyebar pada permukaan ketika kertas tersebut diitulis. 11. pati yang terdapat dalam kulit pisang akan digunakan sebagai binder.1 Pati 12. dan ekonomis dalam skala yang relatif kecil.. Pati akan meningkatkan jumlah kertas yang dihasilkan serta keelastisan kertas yang diproduksi. 1. konsentrasi asam asetat dan juga konsentrasi katalis yang digunakan.1 Peralatan dan Bahan Perendaman kulit pisang dan kertas 96koran dilakukan dalam ember96. Komposisi Kimia Ampas Tebu Kandungan Kadar (%) Abu 3 Lignin 22 Selulosa 37 Sari 1 Pentosan 27 SiO2 3 1. 2003). dan kation dari pati biasa digunakan dalam proses pembuatan kertas. Pengecilan ukuran ampas tebu dilakukan dengan grinder. Tabel 2. mulai dari suhu. Pati yang teroksidasi. Kandungan pati dalam kulit pisang cukup tinggi. antara lain: bebas senyawa sulfur.. Proses delignifikasi dilakukan di dalam labu bundar 2 L dengan jaket pemanas dan dilengkapi dengan motor pengaduk. Pati ditambahkan dalam pembuatan pulp sebelum dibuat menjadi kertas.

serta pembuatan dan pengujian kertas serat campuran.) dengan menggunakan cetakan kertas.11%. Etanol digunakan dalam proses bleaching tinta kertas koran bekas. Pengujian kuat tarik kertas dilakukan dengan menggunakan modifikasi dari SNI 14-0437-2008 (BSN. dan 55 g/4 L. Yosephine dkk. 3. Pengujian gramatur dilakukan menurut SNI ISO:538-2010 (BSN. Pulp kemudian direndam dalam etanol selama 24 jam. Pembuatan kertas serat campuran dilakukan dengan mencampur pulp ampas tebu dan pulp kertas koran dengan komposisi massa pulp ampas tebu terhadap pulp kertas koran sebagai berikut: 0. serta kulit pisang (Musa 97paradisiaca ABB) dengan kadar pati = 10.67%. dan natrium tiosulfat pentahidrat. 2010). kemudian diencerkan hingga volume 4 L. Bahan kimia yang digunakan antara lain asam asetat. kadar air = 9. etanol teknis.Pemanfaatan Ampas Tebu dan Kulit Pisang dalam Pembuatan Kertas (A. Dilakukan variasi terhadap konsentrasi binder.63%). yaitu 15. sedangkan kulit pisang sebagai bahan baku binder kertas.81%. dan kadar abu = 6. kertas 97koran (kadar α-selulosa = 83. Pulp kertas koran kemudian disaring dan dikeringkan. pembuatan pulp kertas koran. dan 70%. 45. 97 . 30. klem. asam klorida. sementara natrium tiosulfat pentahidrat digunakan dalam proses pembuatan binder.01%. kuat tarik dan ketahanan sobek kertas.1 Gramatur Kertas pada Berbagai Variasi Komposisi Pulp dan Konsentrasi Binder Dari proses pembuatan kertas serat campuran didapatkan gramatur kertas untuk berbagai variasi komposisi pulp (pulp ampas tebu : pulp kertas koran) dan konsentrasi binder dari kulit pisang. wadah. Serbuk ampas tebu dimasukkan dalam labu ukur 2 L sebanyak 60 g bersama dengan asam asetat sebanyak 600 mL dan asam klorida 0. Peralatan yang digunakan untuk pengujian adalah statif. Pembuatan binder kulit pisang dilakukan dengan merendam kulit pisang kepok yang telah dipotong kecil dalam larutan natrium tiosulfat. Ampas tebu dan kertas 97koran sebagai bahan baku kertas serat campuran. sementara itu binder kulit pisang dilarutkan dalam air hangat sebanyak 400 mL. 2008). Campuran pulp kemudian dicampur dengan menggunakan blender. Hasil dan Pembahasan 3. 50. 1997). lalu disaring dan dikeringkan. 25. Kulit pisang kemudian dikeringkan dan ditumbuk hingga halus (Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura. 2. Pulp ampas tebu yang dihasilkan disaring dan dibilas dengan aquades.16%). Asam asetat digunakan sebagai larutan pemasak dalam proses delignifikasi dengan asam klorida sebagai katalis. Data gramatur kertas dapat dilihat pada Gambar 1. 2004). kertas koran direndam dalam etanol untuk proses bleaching atau penghilangan tinta.3 Pengujian Pengujian kertas serat campuran dilakukan dengan menentukan gramatur. 2.2 Prosedur Kerja Tahapan penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut: pembuatan binder dari kulit pisang. Pemasakan ampas tebu dilakukan pada suhu maksimum 110oC dengan tekanan yang terjadi pada suhu tersebut. Pengadukan dilakukan dengan kecepatan 900 rpm selama 2 jam (Vazquez dkk. Pembuatan pulp ampas tebu dilakukan dengan mencuci ampas tebu terdahulu dan dijemur hingga kering. Larutan binder kulit pisang kemudian dicampur ke dalam bubur pulp. penjepit. Pembuatan pulp kertas koran dilakukan dengan merendam kertas koran dalam aquades dan membuburkan kertas koran terlebih dahulu. dan beban pemberat. Setelah itu. Bubur pulp lalu dicetak dengan menggunakan cetakan kertas dan dikeringkan pada suhu ruang sehingga didapatkan lembaran kertas. 10. 2009). Ampas tebu kemudian digiling hingga halus. 35. Pengujian ketahanan sobek dilakukan dengan metode Elmendorf yang telah dimodifikasi dari SNI 14-0436-2009 (BSN. pembuatan pulp ampas tebu. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi ampas tebu (kadar αselulosa / KAS = 36..

11. Hasil uji ketahanan sobek kertas serat campuran pada berbagai komposisi pulp 98 . 2.2 Pengaruh Komposisi Pulp dan Konsentrasi Binder Terhadap Ketahanan Sobek dan Kuat Tarik Kertas Hasil ketahanan sobek dan kuat tarik kertas serat campuran bervariasi pada berbagai komposisi pulp dan konsentrasi binder dari kulit pisang. Vol. 2012 Gambar 1. Gramatur kertas serat campuran pada berbagai komposisi pulp Gramatur merupakan massa kertas dari suatu satuan luas tertentu (BSN. Hal ini berbeda dengan dunia industri. gramatur kertas juga tidak memenuhi SNI 14-6519-2001 untuk kertas dasar kertas bungkus berlaminasi yang memiliki standar sebesar 70 ± 2. secara berurutan. dimana pencetakan kertas dapat diatur melalui tekanan dan debit tangki keluaran buburan kertas pada alat yang digunakan sehingga kertas dapat dicetak sesuai dengan standar yang ada dan dihasilkan gramatur yang konstan (Julianti dan Nurminah. 3.0333 – 156. No.5000 g/m2. Selain itu.8 g/m2 (BSN. 2010). 2001) serta tidak dapat menghasilkan kertas dalam lembaran tipis karena keterbatasan dalam proses pencetakan. Dari data yang diperoleh.Jurnal Teknik Kimia Indonesia. Gramatur kertas yang bervariasi tersebut disebabkan oleh proses pencetakan kertas yang masih manual sehingga sulit didapatkan gramatur kertas yang konstan. 2006). Hasil penelitian ketahanan sobek dan kuat tarik kertas serat campuran dapat dilihat pada Gambar 2 dan Gambar 3. gramatur kertas serat campuran bervariasi antara 114. Gambar 2.

kemudian menurun. 4. akibatnya pati tidak dapat mengikat selulosa dengan baik dan kertas menjadi lebih rapuh (PaperOnWeb. yaitu 4. 2010).5 kN/m pada kuat tarik untuk konsentrasi binder 35 g/4L. Hasil kertas serat campuran yang didapatkan semua memenuhi standar ketahanan sobek dan kuat tarik menurut SNI 14-6519-2001 untuk kertas dasar kertas bungkus berlaminasi yang memiliki standar minimum 0. 2010). Hal ini disebabkan karena pada kertas dengan komposisi pulp ampas tebu terlalu besar (> 30%). binder pati yang terlarut lebih sedikit. Hasil uji kuat tarik kertas serat campuran pada berbagai komposisi pulp Dari Gambar 2 dan Gambar 3. Hal ini disebabkan karena pada saat konsentrasi binder terlalu besar (>35 g). Ketahanan sobek kertas serat campuran dari ampas tebu telah memenuhi SNI 14-6519-2001 yang merupakan standar kertas dasar kertas bungkus berlaminasi.5 kN/m pada kuat tarik untuk perbandingan 30:70.) Gambar 3. kertas juga menjadi lebih rapuh karena kandungan pulp kertas koran menjadi semakin banyak dibandingkan dengan pulp ampas tebu.0180 N pada ketahanan sobek dan 20. . Keadaan kertas yang keras dan getas inilah yang menyebabkan kertas menjadi mudah 99 disobek.416 N untuk ketahanan sobek dan 1. secara berurutan). Kesimpulan Ketahanan sobek dan kuat tarik kertas makin meningkat seiring dengan peningkatan komposisi pulp ampas tebu terhadap pulp kertas koran hingga ketahanan maksimum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan sobek dan kuat tarik kertas paling besar pada saat konsentrasi binder sebanyak 35 g. 1998). Binder yang digunakan adalah pati dari kulit pisang dimana kandungan amilopektinnya lebih tinggi daripada amilosa (76-81% dan 1924%.Pemanfaatan Ampas Tebu dan Kulit Pisang dalam Pembuatan Kertas (A. Serat recycle seperti kertas koran mempunyai low tensile strength karena serat telah mengalami proses mekanis yang singkat tetapi berulang menyebabkan rusaknya serat (Kelly. kandungan serat pendek menjadi semakin banyak dibandingkan dengan serat panjang yang berasal dari pulp kertas koran sehingga kertas menjadi lebih rapuh (Stuart.63 kN/m untuk kuat tarik kertas (BSN.0180 N pada ketahanan sobek dan 20. yaitu 4. Pada kertas dengan komposisi ampas tebu terlalu kecil (<30%). sehingga kertas menjadi lebih keras dan juga getas (PaperOnWeb. Yosephine dkk. dapat dillihat bahwa ketahanan sobek dan kuat tarik kertas paling maksimal didapatkan pada saat komposisi pulp ampas tebu 30%. 2001). Semakin tinggi kandungan amilopektin maka tensile strength-nya semakin rendah (Kaplan. Pada konsentrasi binder terlalu rendah (< 35 g).62 kN/m untuk kuat tarik. 1989). 1996). kandungan pati yang terlarut terlalu tinggi. Ketahanan sobek dan kuat tarik kertas juga meningkat seiring dengan peningkatan penggunaan binder tepung kulit pisang hingga batas maksimum.8420 N untuk ketahanan sobek dan 6. dan kemudian menurun menjadi 2.

Kelly. R. Antaresti. 2007. B. Cara Uji Kekuatan tarik dan Daya Regang lembaran Pulp. BSN. 163-171. BSN.. Biopolymers from Renewable Resources. Effects of the stage of maturation and varieties on the chemical composition of banana and plantain peels. Vol.. Antorrena. 1989. 72(3). 2006. 15 Sept 1992. T.. Y. D. 1998. 39 . D. 1996.id/berita/ekonomi /bisnis/11/12/15/lw94xx-perusahaan-takcemas-krisis-di-barat-kebutuhan-pulp-dankertas-asia-menguat (akses 24 Juni 2012). Nurminah. 1997. J. Recycling Waste Cellulosic Material with Sodium Sulphide Digestion. Aziz. Agustus 1994. SNI 14-0437-2008. Lark Books: New York. Julianti.. Sarkanen. 2009.S. U. hal. Organosolv dan Proses Biokimia sebagai Alternatif Proses Pulping yang Ramah Lingkungan. Pergamon Press: England.. 2001. Wibowo. Christina. Perusahaan Tak Cemas Krisis di Barat. Emaga. Effect of mechanical impact treatment on fibre morphology and hand-sheet properties. S. L. Stuart. Acetosolv pulping of pine wood. Buletin Teknopro Hortikultura.. Sudaryanto. 2008. 15 November 2004. Gonzalez. 2002. Kertas dan Karton . Republika Online.. (akses 20 September 2010).. 49(5). Prosiding Seminar Nasional Fundamental dan Aplikasi Teknik Kimia. S.. Prosiding Seminar Nasional Fundamental dan Aplikasi Teknik Kimia. Mempelajari Pengaruh Komposisi Larutan Pemasak dan Suhu Pemasakan pada Pengolahan Pulp Acetosolv Kayu Eucalyptus Deglupta.. R. 475-479. R. http://www. Freire. Pitakasari.. B. Tchango. hal.. C. No. Kim. 30 September 2002. Surabaya. Development TMP fiber and quality of pulp.. 55(6). Bahan kuliah terbuka Opencourseware. Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura. 59(2-3). E.. Indrawati. kinetic modelling of lignin solubilization and condensation.147. Skripsi. Bioresource Technology. N. 1998. Y. SNI ISO 536:2010. Y. 217. http://paperonweb. Kertas dan Karton (Metode Kecepatan Pembebanan Tetap. Wathelet... Jeon.Cara Uji Gramatur. 2. Appita.. Yung. PaperOnWeb.. Shin. 2012 Daftar Pustaka Antaresti. 2004. hal.htm. Yosanto. 169-175. 108-113. A. Vazquez. T. 2003. 100 . 2010. J. H. Organosolv pulping . Surabaya. 197-210. hal. 2007. T.. 121-127. H.A review. Patent 5. 590600. Institut Pertanian Bogor.. Asuncion. G. Surabaya. Prosiding Seminar Nasional Fundamental dan Aplikasi Teknik Kimia. 15 Desember 2011.503. Kertas: Cara Uji Ketahanan Sobek Metode Elmendorf.co. 11. H. Biopulping Ampas Tebu Menggunakan Trichoderma viride dan Fusarium solani. Simanjutak. Kaplan. Concise Encyclopedia of Composite Materials. Food Chemistry. Witono. M.com/ wood. BSN. SNI 14-0436-2009.. Universitas Sumatera Utara. 29. Michaella. Kertas Dasar untuk Kertas Pembungkus Berlaminasi Plastik. E. Paquot.. Kebutuhan Pulp dan Kertas Asia Menguat. Lopez. M. SNI 14-6519-2001. G. S. Cara Membuat Tepung Pisang..Jurnal Teknik Kimia Indonesia. M.. Appita. 1989. C.. J. 27 Juni 2005. BSN. The Complete Book of Paper Making... M. A. Andrianaivo. Selviana.. R. Teknologi Pengemasan. S. H. hal. 103(2). Springer-Verlag Berlin Heidelberg: New York. Nguyen...republika. X. K.. J.. Pengaruh Pencampuran Serat Pelepah Pisang dan Serat Kertas Koran Bekas terhadap Kualitas Kertas yang Dihasilkan. TAPPI Journal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful