Nyeri Punggung Bawah

Hampir setiap orang pernah mengalami nyeri punggung bawah (NPB) sepanjang hidupnya. Tidak ada seorangpun yang kebal terhadap kondisi ini dan masing-masing sangat berpotensi untuk mengalami disabilitas akibat kondisi tersebut. NPB dapat berhubungan dengan berbagai kondisi ataupun faktor risiko, namun seringkali tidak ditemukan adanya faktor spesifik yang mendasarinya. Diperkirakan lebih dari 80% dari orang dewasa yang mengalami nyeri punggung bawah akan membutuhkan bantuan medis. Di Amerika Serikat, NPB berada pada peringkat ke 5 dalam daftar penyebab kunjungan ke dokter yakni sekitar 12 juta kunjungan per tahun. Sedangkan angka pasti kejadian NPB di Indonesia tidak diketahui, namun diperkirakan, angka prevalensi NPB bervariasi antara 7,6% sampai 37%. Dari data yang dikumpulkan di poliklinik saraf RSUP Dr. Sardjito tahun 2000, pasien yang datang tiap bulannya adalah berkisar 1500 pasien sampai dengan 2000 pasien, yang terbanyak adalah pasien nyeri pinggang (Lamsudin, 2001). Masalah NPB pada pekerja pada umumnya dimulai pada usia dewasa muda dengan puncak prevalensi pada kelompok usia 45-60 tahun dengan sedikit perbedaan berdasarkan jenis kelamin. Berdasarkan perjalanan penyakitnya, NPB terbagi menjadi NPB akut, sub-akut, dan kronis. NPB akut merupakan bentuk yang paling sering ditemui. 9 dari 10 penderita NPB akut akan sembuh dengan sendirinya dalam kurun waktu 8-12 minggu. Namun, tidak sedikit yang kemudian akan menjadi kronis dan menimbulkan disabilitas. Disabilitas terkait dengan NPB merupakan masalah utama di negara Barat. Sekitar 45-55% populasi pekerja diperkirakan mengalami NPB dalam periode 12 bulan. Lebih lanjut, dalam 6 bulan setelah episode akut, sedikitnya 60% pasien akan mengalami relaps dan 16% diantaranya akan menjadi penyebab hilangnya jam kerja. (Petersen, 2003). Di Inggris didapatkan data bahwa sekitar 6% pegawai akan kehilangan paling sedikit 1 hari kerja akibat NPB dalam 4 minggu. DEFINISI Nyeri punggung bawah atau Low Back Pain didefinisikan sebagai nyeri dan ketidaknyamanan, yang terlokalisasi di bawah sudut iga terakhir (costal margin) dan di atas lipat bokong bawah (gluteal inferior fold), dengan atau tanpa nyeri pada tungkai. Berdasarkan lama perjalanan penyakitnya, nyeri punggung bawah diklasifikasikan menjadi 3 yaitu, akut, sub akut, dan kronis. Nyeri punggung bawah akut didefinisikan sebagai timbulnya episode nyeri punggung bawah yang menetap dengan durasi kurang dari 6 minggu. Untuk durasi antara 6-12 minggu didefinisikan sebagai nyeri punggung bawah sub akut, sedangkan untuk durasi lebih panjang dari 12 minggu adalah nyeri punggung bawah kronis. (de Vet et al. 2002) SEBAB TERJADINYA NPB Pada dasarnya, timbulnya rasa nyeri pada NPB diakibatkan oleh terjadinya tekanan pada susunan saraf tepi yang terjepit pada area tersebut. Secara umum kondisi ini seringkali terkait dengan trauma mekanik akut, namun dapat juga sebagai akumulasi dari beberapa trauma dalam kurun

1 Bahkan keluhan nyeri pinggang ini semakin lama semakin meningkat hingga umur sekitar 55 tahun. Sebab lainnya adalah gangguan pada saraf. nyeri pinggang atau nyeri punggung bawah dapat dialami oleh siapa saja. ligamen. ligamen. seringkali dijumpai penyebabnya adalah campuran antara nosiseptif dan neurologis.  Pekerjaan Faktor risiko di tempat kerja yang banyak menyebabkan gangguan otot rangka terutama adalah kerja fisik berat. FAKTOR RISIKO  Usia Nyeri pinggang merupakan keluhan yang berkaitan erat dengan umur. karena pada wanita keluhan ini lebih sering terjadi misalnya pada saat mengalami siklus menstruasi. contohnya adalah skiatika. karena beban pada sendi penumpu berat badan akan meningkat. selain itu proses menopause juga dapat menyebabkan kepadatan tulang berkurang akibat penurunan hormon estrogen sehingga memungkinkan terjadinya nyeri pinggang.  Jenis Kelamin Laki-laki dan perempuan memiliki resiko yang sama terhadap keluhan nyeri pinggang sampai umur 60 tahun. maupun diskus yang menyokong tulang belakang. gerakan berulang. neoplasma. Tinggi badan berkaitan dengan panjangnya sumbu tubuh sebagai lengan beban anterior maupun lengan posterior untuk mengangkat beban tubuh. otot. cedera otot. Biasanya nyeri ini mulai dirasakan pada mereka yang berumur dekade kedua dan insiden tertinggi dijumpai pada dekade kelima. Kebanyakan kasus NPB terjadi dengan adanya pemicu seperti kerja berlebihan. dan diskus) diyakini sangat berperan dalam timbulnya gangguan. Akumulasi trauma dalam jangka panjang seringkali ditemukan pada tempat kerja. Beragam struktur anatomi dan elemen dari tulang lumbal (tulang. posisi atau sikap . Namun. dan osteoporosis. penanganan dan cara pengangkatan barang. namun pada kenyataannya jenis kelamin seseorang dapat mempengaruhi timbulnya keluhan nyeri pinggang. Secara teori. penggunaan kekuatan otot berlebihan. sehingga dapat memungkinkan terjadinya nyeri pinggang.waktu tertentu. Sebagian besar dari elemen lumbal memiliki inervasi sensorik sehingga dapat memicu sinyal nosiseptif yang timbul sebagai respons terhadap stimulus kerusakan jaringan. pada umur berapa saja. tendon. Pada kasus NPB kronis. ketegangan otot. keadaan ini dapat juga disebabkan oleh keadaan nonmekanik seperti peradangan pada ankilosing spondilitis dan infeksi. Patofisiologi dari NPB sangatlah kompleks.  Status Antropometri Pada orang yang memiliki berat badan yang berlebih resiko timbulnya nyeri pinggang lebih besar. hal ini mungkin berhubungan dengan beberapa faktor etiologik tertentu yag lebih sering dijumpai pada umur yang lebih tua. Namun demikian keluhan ini jarang dijumpai pada kelompok umur 0-10 tahun.

seharusnya beban tersebut diangkat setelah jongkok terlebih dahulu.  Aktivitas / olahraga Sikap tubuh yang salah merupakan penyebab nyeri pinggang yang sering tidak disadari oleh penderitanya. mengangkat beban pada posisi yang salah dapat menimbulkan nyeri pinggang. Posisi tidur yang salah seperti tidur pada kasur yang tidak menopang tulang belakang. dan juga dapat berupa terapi non medikamentosa yang akan dijelaskan kemudian. atau seorang mahasiswa yang seringkali membungkukkan punggungnya pada waktu menulis. Kasur yang diletakkan di atas lantai lebih baik daripada tempat tidur yang bagian tengahnya lentur. Terutama sikap tubuh yang menjadi kebiasaan. lorodosis. mempertahankan dan meningkatkan mobilitas. termasuk ke tulang belakang. merupakan faktor risiko untuk terjadinya NPB. tidur. seperti duduk. riwayat pekerjaan sangat diperlukan dalam penelusuran penyebab serta penanggulangan keluhan ini.2 km dalam sehari dapat pula meningkatkan resiko timbulnya nyeri pinggang. Kondisi menjadikan beban yang ditumpu oleh tulang belakang jatuh tidak pada tempatnya. berdiri. naik turun anak tangga lebih dari 10 anak tangga dalam sehari. Kebiasaan seseorang. Oleh karena itu. Posisi berdiri yang salah yaitu berdiri dengan membungkuk atau menekuk ke muka.  Riwayat episode NPB sebelumnya Individu dengan riwayat episode NPB. melakukan aktivitas dengan posisi duduk yang monoton lebih dari 2 jam dalam sehari. . maupun kifosis. dan mengurangi kecacatan. Penatalaksanaan untuk NPB dapat merupakan terapi medikamentosa. sehingga memudahkan timbulnya berbagai gangguan pada struktur tulang belakang. getaran. pada pekerja kantoran yang terbiasa duduk dengan posisi punggung yang tidak tertopang pada kursi. Selain sikap tubuh yang salah yang seringkali menjadi kebiasaan. Posisi mengangkat beban dari posisi berdiri langsung membungkuk mengambil beban merupakan posisi yang salah. menghambat progresifitas penyakit.tubuh selama bekerja (awkward posture).  Kebiasaan merokok Kebiasaan merokok diketahui menimbulkan berbagai dampak pada kesehatan. diduga karena perokok memiliki kecenderungan untuk mengalami gangguan pada peredaran darahnya. Hubungannya dengan kejadian NPB. misalnya. memiliki kecenderungan dan risiko untuk berulangnya kembali gangguan tersebut. TINDAK LANJUT DAN PERAWATAN MEDIS Tujuan utama dari penatalaksanaan kasus NPB adalah untuk menghilangkan nyeri. dan kerja statis. beberapa aktivitas berat seperti melakukan aktivitas dengan posisi berdiri lebih dari 1 jam dalam sehari. berjalan lebih dari 3.  Abnormalitas struktur Ketidaknormalan struktur tulang belakang seperti pada skoliosis.

Adanya riwayat episode NPB sebelumnya merupakan salah satu indikator adanya kemungkinan akan berulangnya kembali gangguan tersebut bila calon pekerja itu berhadapan dengan faktor risiko yang ada di tempat kerja. dan sebagainya.  Pemilihan pekerja Pemilihan pekerja dilakukan dengan skrining pra-kerja. bila ada. peregangan. tindakan pencegahan yang dilakukan juga harus berdasarkan pada faktorfaktor tersebut. Pencegahan sekunder untuk mengurangi kejadian NPB dengan deteksi dini. Walaupun belum didapatkan bukti yang kuat bahwa modifikasi faktor risiko dapat mencegah kejadian NPB. Demikian juga halnya dengan pembatasan waktu bekerja. penanganan dan cara pengangkatan barang. fleksibilitas. Edukasi dapat meliputi teknik mengangkat beban. yakni :    Pencegahan primer yang dilakukan untuk mencegah timbulnya kejadian NPB di tempat kerja. Risiko di tempat kerja meliputi kerja fisik berat. Misalkan kebiasan merokok. dalam hal ini yang terkait dengan gangguan NPB.  Ergonomi dan modifikasi faktor risiko Bila memang ada faktor risiko pekerjaan terhadap timbulnya NPB di tempat kerja. getaran. Pencegahan tersier dilakukan untuk meminimalisir konsekuensi atau disabilitas yang mungkin timbul dalam perjalanan penyakitnya. ban berjalan. juga harus dikendalikan. Penggunaan rontgen dan tes kekuatan sebagai salah satu alat skrining tidak dianjurkan karena ketidakefektifannya dalam mendeteksi adanya NPB. namun setidaknya dapat meningkatkan kesehatan pekerja secara umum. posisi atau sikap tubuh selama bekerja. Riwayat kesehatan dan hasil pemeriksaan fisik harus diperhatikan dengan seksama. Upaya ini dapat meliputi pengadaan mesin pengangkat. dan ketahanan dari punggung bawah. posisi tubuh saat bekerja. Tujuan akhir dari program pencegahan ini meliputi :    Penurunan insiden dan prevalensi NPB Penurunan angka disabilitas dan perbaikan fungsi Menjaga pekerja tetap dapat bekerja . gerakan berulang. dan sebagainya. dan kerja statis. Adanya regulasi khusus dari perusahaan mengenai pembatasan jumlah beban yang dapat diangkat oleh pekerja adalah langkah yang baik.PENCEGAHAN Telah dibahas sebelumnya bahwa kejadian NPB pada pekerja sangat terkait dengan pekerjaan yang dilakukannya. Maka. Tindakan pencegahan tersebut dilakukan dengan strategi pencegahan sebagai berikut :  Edukasi dan pelatihan Pekerja perlu mendapatkan edukasi tentang cara bekerja yang baik. Faktor risiko individu. Lebih lanjut juga diberikan exercise untuk meningkatkan kekuatan. maka perlu dilakukan upaya kontrol.

Bila otot abdomen dan otot punggung kita kuat. Beberapa latihan berikut ini. Langkah pertama sebelum melakukan latihan adalah pemanasan dengan aktivitas aerobik ringan seperti berjalan santai. bahwa salah satu pilar penanganan NPB adalah dengan exercise atau latihan untuk otot perut dan punggung. hanyalah suatu saran atau arahan. 2007)      Peregangan otot paha Cat Stretch & Camel Stretch Pelvic Tilt Partial Curl Ekstensi panggul . itu akan membantu kita untuk menjaga postur tubuh yang baik dan menjaga agar tulang belakang senantiasa berada pada lokasi yang tepat.  Meningkatkan produktivitas Mengurangi dampak sosioekonomi dan pekerjaan dari NPB EXERCISE Seperti telah diungkapkan terdahulu. (Sumber : University of Michigan Health System. dan harus disesuaikan dengan berbagai kondisi individual.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful