P. 1
Teknik Pertambangan

Teknik Pertambangan

|Views: 173|Likes:
Published by Abu Faiza Gustawan
kaidah teknis pertambangan
kaidah teknis pertambangan

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Abu Faiza Gustawan on Apr 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/26/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Pemanfaatan potensi bahan mineral bukan logam dan batuan untuk

menunjang

pembangunan fisik di Kabupaten Majalengka masih mengalami

konflik yang berkaitan dengan isu-isu lingkungan. Banyak yang beranggapan bahwa kegiatan eksploitasi bahan galian merupakan salah satu kegiatan yang memberikan andil terhadap degradasi kualitas lingkungan fisik dan infrastruktur berupa kerusakan lahan, penurunan muka air tanah, pencemaran udara maupun suara, serta kerusakan jalan. Kebijakan dan strategi pengelolaan dalam usaha pemanfaatan sumber daya mineral adalah optimalisasi pemanfaatn sumber daya mineral untuk kesejahteraan rakyat, tetapi tetap pada prinsip konservasi yang menjamin daya dukung kelestarian dan keseimbangan lingkungan untuk kehidupan masa depan. Upaya yang dapat dilakukan adalah mitigasi (mengecilkan dampak) terhadap lingkungan dengan lebih memahami karakteristik proses alam tersebut. Dampak dan perubahan lingkungan dari pengusahaan mineral tergantung pada rona lingkungan hidup awal yaitu: fisiografi dan geologi; ruang, lahan dan tanah; flora dan fauna serta sosial dan kesehatan masyarakat. Dalam upaya meminimalkan dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh aktifitas penambangan mineral maka perlu dibuat AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) / UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup) dan UPL (Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup). Disamping itu perlu perencanaan tata

ruang daerah untuk kegiatan penambangan dan hanya dapat dilakukan pada zona layak tambang. Zona layak tambang dapat didefinisikan sebagai suatu wilayah yang diperbolehkan adanya kegiatan pertambangan karena tidak mempunyai kendala lingkungan. Adapun zona layak tambang hendaknya tidak berada pada : Daerah Permukiman Penduduk; Lokasi Wisata; Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan di bawahnya (Kawasan hutan lindung, Kawasan resapan air); Kawasan Perlindungan Setempat (Sempadan sungai; Kawasan sekitar danau/waduk; Kawasan sekitar mata air; Kawasan Suaka Alam Dan Cagar Budaya; Kawasan Rawan Bencana. Pengelolaan pertambangan yang baik perlu disusun suatu Rencana Induk Pertambangan. Rencana Induk merupakan suatu bentuk perencanaan jangka panjang yang disusun untuk merumuskan strategi dan program pembangunan. Pada dasarnya Rencana Induk (RENDUK) yang dikenal juga sebagai master plan, general plan, atau comprehensive plan. Dalam kaitannya dengan perencanaan jangka panjang bidang pertambangan di Kabupaten Majalengka maka pengertian Rencana Induk Pertambangan adalah sebagai berikut : (1). Perencanaan pertambangan atau Rencana Induk Pertambangan dilakukan untuk tercapainya keterpaduan dalam pengelolaan secara kewilayahan di Kabupaten Majalengka serta untuk melakukan perlindungan terhadap daerah-daerah tidak layak tambang;

(2). Perencanaan pertambangan dilakukan dengan jalan menetapkan zona pertambangan, kawasan pertambangan dan daerah pencadangan potensi bahan galian tambang; (3). Penentuan zona pertambangan, kawasan pertambangan dan daerah pencadangan potensi bahan galian tambang ditetapkan oleh Bupati; (4). Perencanaan pertambangan disusun secara terpadu dengan perencanaan Tata Ruang. Sejalan dengan pelaksanaan Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, yang memberikan kewenangan kepada Daerah Otonom untuk mengatur kegiatan pengelolaan sumber daya alam termasuk bahan mineral. Sumber daya alam berupa bahan galian merupakan salah satu kekayaan negara yang apabila dimanfaatkan secara baik dan benar akan dapat menjadi penopang Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam rangka menggerakan roda pembangunan daerah. Agar kegiatan usaha pertambangan dapat memberikan kontribusinya secara nyata bagi daerah, maka aspek legalitas dalam bentuk perizinan perlu mendapat perhatian secara serius. Aspek ini merupakan hal yang paling mendasar karena legalitas adalah bukti tertulis mengenai hak dan kewajiban di dalam melaksanakan tugas dan fungsinya secara jelas dan transparan. Dalam pelaksanaan kegiatan pertambangan aspek legalitas dinilai penting, karena sebelum mendapatkan izin, hal teknis dan administratif terlebih dahulu dinilai oleh instansi teknis, apakah badan usaha atau perorangan yang akan

melakukan penambangan memang layak dan bonafide untuk melaksanakan kegiatan penambangan secara baik dan benar. Kompetensi dan bonafiditas pelaku usaha pertambangan sangat menentukan terselenggaranya pengelolaan

keselamatan pertambangan dan lingkungan pertambangan. Kegiatan pertambangan dapat berlangsung sesuai dengan kaidah-kaidah dan ketentuan yang berlaku, memerlukan persyaratan diantaranya perusahaan harus sadar dan taat dalam melaksanakan hak dan kewajiban serta pemerintah selaku pembina dan pengawas melaksanakan tugasnya secara konsisten dan berkesinambungan. Meskipun kegiatan usaha pertambangan di Kabupaten Majalengka lebih dominan merupakan bahan galian konstruksi dan bahan galian industri yang teknis pelaksanaannya hanya membutuhkan teknologi dan peralatan yang sederhana, namun kenyataannya cukup banyak kasus-kasus kecelakaan maupun kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh kegiatan ini. Dengan demikian kegiatan pembinaan, pengawasan dan pengendalian terhadap usaha pertambangan harus secara teratur dan berkesinambungan dilaksanakan, dalam rangka membangun dan mengarahkan usaha pertambangan melaksanakan prinsip good mining practise. Agar pelaksanaan pengawasan dan pembinaan terhadap para pelaku usaha pertambangan dapat efektif dan efisien, maka kegiatan tersebut harus dilakukan secara sinergis bersama stakeholder (pihak yang berkepentingan) dalam pengelolaan usaha pertambangan. Berdasarkan uraian di atas dan sesuai dengan kedudukan dan tugas pokok penulis, maka judul yang dipilih adalah “Rencana Kerja Peningkatan

Pengetahuan Pembinaan,

Bagi

Pelaku

Usaha

Pertambangan

melalui

Kegiatan

Pengawasan dan Pengendalian Usaha Pertambangan pada

Bidang Pertambangan dan Energi Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air, Pertambangan dan Energi Kabupaten Majalengka”. B. Isu Aktual Baru-baru ini, di media massa sering kita membaca pemberitaan bahwa kegiatan penambangan mineral dan batuan menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan. Pemerhati lingkungan seringkali menuding, aktifitas penambangan merupakan salah satu penyebab kerusakan lingkungan. Aktifitas penambangan pulalah yang dituding sebagai salah satu penyebab kerusakan jalan. Lagi-lagi kita akan berkesimpulan yang sama apabila kita berkunjung ke suatu lokasi penambangan. Lengkap sudah tudingan bahwa kegiatan penambangan sebagai penyebab kerusakan lingkungan. Benarkah penambangan merusak lingkungan? Segala kegiatan industri, termasuk industri pertambangan, dan aktifitas manusia di dalam menyediakan prasarana dan sarana kehidupannya seperti membangun rumah, jalan, jembatan, pasar, dan sebagainya, akan menyebabkan dampak positif dan negatif terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Kegiatan pertambangan dapat berdampak pada perubahan/rusaknya ekosistem. Ekosistem yang rusak diartikan sebagai suatu ekosistem yang tidak dapat lagi menjalankan fungsinya secara optimal, seperti perlindungan tanah, tata air, pengatur cuaca, dan fungsi-fungsi lainnya dalam mengatur perlindungan alam lingkungan.

C.

Dasar Teori Kebijakan dan strategi pengelolaan dalam usaha pemanfaatan sumber daya

mineral

adalah

optimalisasi

pemanfaatan

sumber

daya

mineral

untuk

kesejahteraan rakyat, tetapi tetap pada prinsip konservasi yang menjamin daya dukung kelestarian dan keseimbangan lingkungan untuk kehidupan masa depan. Upaya yang dapat dilakukan adalah mitigasi (mengecilkan dampak) terhadap lingkungan dengan lebih memahami karakteristik proses alam tersebut. Dampak dan perubahan lingkungan dari pengusahaan mineral tergantung pada rona lingkungan hidup awal yaitu: iklim dan udara; fisiografi dan geologi; ruang, lahan dan tanah; flora dan fauna serta sosial dan kesehatan masyarakat. Dampak tersebut merupakan harga yang harus dibayar atas pemanfaatan sumber daya mineral dalam kehidupan manusia. Dalam upaya meminimalkan dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh aktifitas penambangan mineral maka perlu disusun dokumen AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) atau UKL (Usaha Pengelolaan Lingkungan Hidup)- UPL (Usaha Pemantauan Lingkungan Hidup). Disamping itu perlu perencanaan tata ruang daerah untuk kegiatan penambangan. Kegiatan penambangan hanya dapat dilakukan pada zona layak tambang. Zona layak tambang dapat didefinisikan sebagai suatu wilayah yang diperbolehkan adanya kegiatan pertambangan karena tidak mempunyai kendala lingkungan seperti: Daerah Permukiman Penduduk, Lokasi Wisata, Kawasan Hutan Lindung, Kawasan Resapan Air, Sempadan Sungai, Kawasan sekitar Danau/Waduk, Kawasan sekitar Mata Air, Kawasan Suaka Alam, Taman

nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam, Kawasan cagar budaya dan

ilmu pengetahuan, Kawasan Rawan Bencana. Dalam menyamakan persepsi mengenai dampak lingkungan, perlu dibuat kriteria kerusakan lingkungan bagi kegiatan penambangan bahan mineral. Untuk memberikan landasan hukum yang tegas dan jelas dalam rangka mengatur pengusahaan pertambangan mineral agar lebih terarah, terpadu dan menyeluruh serta berkelanjutan, yang bertujuan agar pengelolaan pertambangan dilakukan secara tertib, berdayaguna dan berhasilguna serta berwawasan lingkungan agar dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat maka perlu disusun tata cara izin usaha pertambanga. Prosedur izin usaha pertambangan perlu segera dibuat, mengingat aturanaturan (Perda No. 3 tahun 2004 tentang Pengelolaan Usaha Pertambangan dan Perbup Majalengka Nomor 12 tahun 2005 tentang Tata Cara dan Syarat-Syarat Pengajuan Izin Pertambangan) yang berlaku hingga saat ini sudah tidak sesuai dengan tuntutan yang ada di Kabupaten Majalengka. Di samping itu dengan diundangkannya UU No. 4 tahun 2009, maka Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan- Ketentuan Pokok Pertambangan sudah tidak berlaku. Agar pemegang IUP dalam melakukan kegiatan penambangan maupun pasca penambangan tetap menjaga keseimbangan dan ketertiban lingkungan, perlu dilakukan usaha pembinaan dan pengawasan yang berkelanjutan. Pemegang IUP wajib melaksanakan segala kewajibannya seperti: melaksanakan segala ketentuan yang tertuang dalam dokumen UKL dan UPL, melakukan teknik penambangan yang benar sesuai dengan syarat teknis, melaporkan hasil produksi bahan galian yang diproduksi setiap bulan kepada Dinas/Instansi yang berwenang, membayar pajak galian C sesuai dengan peraturan yang ada, bertanggung jawab atas segala

kerusakan sarana umum yang diakibatkan oleh mobilisasi kegiatan penambangan. Di samping itu, baik IUP masih berlaku maupun habis masa berlakunya, wajib melakukan reklamasi pada lahan bekas tambang. Reklamasi ini wajib dilakukan pada saat kegiatan penambangan sedang dilakukan dan diharapkan akan selesai apabila penambangan dihentikan karena deposito habis maupun izin habis. Apabila reklamasi tidak dilaksanakan pada saat IUP habis masa berlakunya, maka akan dituntut sesuai dengan peraturan yang berlaku. C.1. ASPEK KELAYAKAN TEKNIS C.1.1. Kelayakan Tata Ruang dan Peruntukkan Lahan Dalam upaya meminimalkan dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh aktifitas penambangan mineral perlu perencanaan tata ruang daerah untuk kegiatan penambangan. Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) hendaknya tidak berada pada : a) Daerah Permukiman Penduduk, yaitu suatu wilayah yang terdapat sekelompok atau bererapa kelompok rumah untuk tempat tinggal. b) Kawasan Hutan Lindung, yaitu kawasan hutan yang memiliki sifat khas yang mampu memberikan perlindungan kepada kawasan sekitarnya maupun bawahannya sebagai pengatur tata air,

pencegahan banjir dan erosi serta pemerliharaan kesuburan tanah. c) Kawasan Resapan Air, yaitu kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akuifer) yang berguna sebagai sumber air. Memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah resapan air tanah untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah

dan penanggulangan banjir, baik untuk kawasan bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan. Kawasan resapan air dicirikan dengan curah hujan yang tinggi, struktur tanah yang mudah meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran. d) Sempadan sungai, yaitu kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan/ kanal/saluran/irigasi primer yang

mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan melestarikan fungsi sungai. Melindungi sungai dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kwalitas air sungai, kondisi fisik pinggir dan dasar sungai, serta mengamankan aliran sungai. Sekurangkurangnya 100 meter di kiri kanan sungai besar dan 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada di luar permukiman. e) Kawasan sekitar danau/waduk, yaitu kawasan tertentu di sekeliling danau/waduk yang mem-punyai manfaat penting untuk

mempertahankan kelestarian fungsi danau/ waduk. f) Kawasan sekitar mata air, yaitu kawasan di sekitar mata air yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi mata air. Melindungi danau/waduk dari kegiatan budidaya yang dapat merusak kwalitas air, dan kondisi fisik kawasan sekitarnya. Sekurang-kurangnya dengan jari-jari 200 meter

disekeliling mata air, kecuali untuk kepentingan umum.

g) Suaka Alam, yaitu kawasan yang memiliki ekosistem khas yang berupa habitat alami yang memberikan perlindungan bagi

pengembangan flora dan fauna yang khas dan beranekaragam. h) Taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam, yaitu kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan, parawisata, rekreasi dan pendidikan. i) Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan, yaitu kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa alami atau buatan, jenis asli dan atau bukan asli, pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan,

kebudayaan, pariwisata dan rekreasi. j) Kawasan Rawan Bencana adalah kawasan yang sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam. Melindungi manusia dan kegiatannya dari bencana yang disebabkan oleh alam maupun secara tidak langsung oleh perbuatan manusia. Daerah yang didefinisikan sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana alam seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, longsor dan lainnya. Di samping itu peruntukkan lahan perlu diperhatikan. Lahan yang akan digunakan sebagai wilayah izin usaha pertambangan merupakan bukan lahan produktif atau lahan pasca pertambangan hendaknya lebih produktif atau sama dengan lahan awal sebelum penambangan. B. Kelayakan Teknis Penambangan

Aturan pertama dari eksploitasi tambang adalah memilih suatu metode penambangan yang paling sesuai dengan karakteristik unik (alam, geologi, lingkungan dan sebagainya) dari endapan mineral yang ditambang. Dalam menentukan pemilihan suatu penambangan maka perlu diketahui terlebih dahulu letak endapan dibandingkan dengan tanah penutupnya. System penambangan dapat digolongkan dalam 3 (tiga) macam cara/ metode penambangan, yaitu : a. b. c. Tambang terbuka (surface mining). Tambang bawah air (under water mining). Tambang bawah tanah (underground mining). Untuk saat ini tambang yang ada adalah tambang terbuka dan tambang bawah air, sehingga pedoman tambang bawah tanah tidak dibahas. 4.1.2.1 Tambang Terbuka Metoda penambangan ini pada prinsipnya dilakukan berdasarkan “permukaan”, secara garis besar dapat dibagi menjadi : 4.1.2.2 Open Pit Operasi penambangan dengan metoda open pit dilakukan dengan melaksanakan beberapa tahap pekerjaan antara lain : pemecahan batuan dengan pemboran dan peledakan diikuti operasi penanganan material penggalian, pemuatan dan pengangkutan. Pada ‘open pit mining’ tanah penutup (over burden) dikupas dan ditransportasikan ke suatu daerah penambangan yang tidak ada endapan mineral berharga di bawahnya.

4.1.2.3 Open Cut Mining Operasi penambangan dengan metoda ‘open cut mining’ hamper sama dengan ‘open pit mining’, namun pada ‘open cut mining’ tanah penutup (over burden) tidak dibuang pada daerah pembuangan, akan tetapi langsung diangkut ke daerah yang berbatasan dengan daerah yang telah ditambang.

4.1.2.4 Alluvial Placer Mining Secara geologi suatu endapan ‘placer’ adalah suatu

konsentrasi mekanik dari mineral berat, yang dapat menjadi suatu endapan bijih jika menguntungkan dari segi nilainya. Pada umumnya endapan ini adalah emas, intan, timah

(cassiterite). Placer disebut alluvial, sebab endapan ini dikategorikan sebagai residual ditinjau dari segi lokasi.

4.1.2.5. Strip Mining Penambangan yang berlapis mendatar biasanya lapisan batubara, adapun operasi penambangannya terlabih dahulu dengan cara mengupas tanah penutupnya (over burden), kemudian diambil batubaranya lapis demi lapis, sehingga akhirnya akan membentuk cekungan yang luas, kalau terisi air hujan maka akan membentuk seperti danau buatan/waduk. 4.1.2.6. Quary Mining Kuari hampir sama dengan open pit, tetapi jenjangnya adalah pendek dan hampir vertical. Meskipun „quary‟ selama ini diterapkan untuk bahan galian non logam, namun lebih disukai terutama untuk batu gamping.

4.1.2.7. Teknik Penambangan di Sungai Pengertian sungai merupakan system pengaliran air mulai dari mata air sampai dengan muara, dibatasi kanan-kiri dan sepanjang pengalirannya oleh garis sempadan atau tempattempat dan wadah-wadah serta jaringan pengaliran air mulai dari mata air sampai muara dengan dibatasi kanan-kirinya sepanjang pengairannya oleh garis sempadan. Di sekitar sungai terdapat Daerah Manfaat Sungai yaitu merupakan mata air, palung sungai dan daerah sempadan yang telah dibebaskan, serta Daerah Pemanfaatan Sungai yaitu

merupakan dataran banjir, daerah retensi, bantaran atau daerah sempadan yang tidak dibebaskan.

Prinsip penambangan di alur sungai adalah tidak semata-mata melakukan penambangan dalam pengertian untuk

mendapatkan keuntungan dari penjualan bahan galian, namun diusahakan dalam rangka pengamanan fungsi sungai dan merupakan alternative terakhir. Upaya memperkecil dampak Negatif harus dilakukan kajian awal baik dari segi teknis, lingkungan maupun sosial masyarakat sehingga diharapkan pelaksanaannya dapat memperkecil dampak negative yang ditimbulkan akibat kegiatan penambangan tersebut. Objek Fungsi Sungai meliputi aliran sungai, morfologi sungai, palung sungai, bantaran dasar dan tebing, lapisan perisai sungai, lahan kirikanan yang dapat mempengaruhi morfologi sungai, serta bangunan-bangunan umum. 4.1.2.7.1 Pengamanan Sungai, yaitu melindungi, pengairan dan bangunan-bangunan

mengamankan dan melestarikan fungsi sungai berikut bangunan-bangunan umum. 4.1.2.7.2 Garis Sempadan  Merupakan garis batas luar sungai  Merupakan garis bats luar pengamanan sungai pengairan dan bangunan-bangunan

4.1.2.7.3 Daerah Sempadan, yaitu kawasan sepanjang kirikanan sungai termasuk sungai buatan yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian sungai. 4.1.2.7.4 Morfologi Sungai, yaitu hal yang berhubungan dengan bentuk, sifat dan perilaku sungai 4.1.2.7.5 Bantaran  Adalah lahan pada kedua sisi sepanjang palung sungai sampai dengan kaki tanggul sebelah dalam.  Adalah lahan pada kedua sisi sepanjang palung sungai yang terendam air pada debit aliran yang melebihi kapasitas tampung palung sungai. 4.1.2.7.6 Tanggul, yaitu bangunan pengendali sungai yang dibangun dengan persyaratan teknis tertentu untuk air

melindungi daerah sekitar sungai terhadap limpahan sungai. 4.1.2.7.7 Tepi Sungai , yaitu batas luar palung sungai. 4.1.2.7.8 Klasifikasi Usaha Tambang di Alur Sungai

 Pertambangan Besar, yakni dengan produksi lebih dari 100 M3 per hari, yang dilakukan dengan atau tanpa mesin. Ijinnya diterbitkan oleh Gubernur  Usaha Tambang Sedang, yakni produksi rata-rata 20 – 100 M3 perhari yang dilakukan tanpa mesin.  Usaha Pertambangan Rakyat, yakni produksi kurang dari 20 meter kubik per hari yang dilakukan tanpa mesin.

4.1.2.7.9 Syarat Penambangan  Tidak menimbulkan perubahan perilaku yang berbahaya  Tidak menimbulkan degradasi ataupun agradasi  Tidak melampaui ketebalan minimal lapisan perisai sungai 4.1.2.7.10 Lokasi Tambang

Ditetapkan pada daerah agradasi, sediment tikungan dalam, daerah rencana sudetan dan kantong-kantong pasir/lahan.

4.1.2.7.11

Bangunan Pengaman Sungai

Untuk pengamanan sungai terhadap penambangan bahan galian golongan C di sungai dapat disyaratkan dibangun bangunan pengamanan sungai seperti bangunan pengontrol dasar sungai, krip atau pengaman tebing. 4.1.2.7.12 Posisi Tambang

Jika posisi tambang yang pasti terhadap bangunan sungai ditentukan oleh macam bangunan, jenis material & ketebalan lapisan perisai dasar sungai. Penentuan secara umum sebagai berikut:  Lokasi penambangan yang berada disebelah hulu bangunan sungai sekurang-kurangnya berjarak 500 m dari bangunan sungai yang bersangkutan.  Lokasi penambangan yang berada disebelah hilir bangunan sungai sekurang-kurangnya berjarak 1000 m dari bangunan sungai yang bersangkutan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->