DARI REDAKSI

Sidang Pembaca yang terhormat,
Penasehat Ir. Ferry A. Soetikno, M.Sc., M.B.A. Ketua Pengarah/Penanggung Jawab Dr. Raymond R. Tjandrawinata Pemimpin Redaksi dr. Grace V.J., M.M. Redaktur Pelaksana Tri Galih Arviyani, S.Kom. Staf Redaksi dr. Della Manik Worowerdi Cintakaweni Gelly Eka Prasasti, S.Si., Apt. Herninta Pramitasari, S.Si., Apt Gunawan Raharja, S.Si., Apt. Drs. Karyanto, MM dr. Marini Johan Puji Rahayu, S.Farm, Apt. dr. Ratna Kumalasari dr. Lydia Fransisca H. Tambunan Yosi Krisyanti, S.Si, Apt Peer Review Prof. dr. Arjatmo Tjokronegoro, Ph.D., Sp.And. Prof. Dr. dr. Darmono, Sp.PD-KEMD Prof. Dr. dr. Djokomoeljanto, Sp.PD-KEMD Jan Sudir Purba, M.D., Ph.D. Prof. Dr. Med. Puruhito, M.D., F.I.C.S., F.C.T.S. Prof. dr. Sudradji Soemapraja, Sp.OG. Prof. Dr. dr. H. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, FACE Prof. dr. Wiguno Prodjosudjadi, Ph.D., Sp.PD-KGH Redaksi/Tata Usaha Jl. R.S. Fatmawati Kav. 33 Telp. (021) 7509575 Fax. (021) 75816588 Email: tri.galih@dexa-medica.com Rekomendasi Depkes RI 0358/AA/III/88 Ijin Terbit 1289/SK/Ditjen PPG/STT/1988 Pada edisi terakhir di penghujung tahun 2006 ini, Dexa Media menampilkan tema utama, yaitu dengan judul artikel “Penggunaan Obat Antiepilepsi sebagai Terapi Nyeri Neuropatik”, yang menjelaskan bahwa penggunaan lamotrigine yang pada awalnya sebagai antiepilepsi, sekarang ini digunakan sebagai analgesik adjuvant untuk nyeri neuropatik. Beberapa artikel dari rubrik tinjauan pustaka antara lain membahas mengenai austistik, manajemen gagal jantung kronik, diagnosis dan penatalaksanaan gagal jantung diastolik, infeksi cacing tambang, patogenesis dan lain sebagainya. Untuk mengetahui lebih lanjut, kami persilahkan untuk membacanya. Penelusuran jurnal yang memuat artikel-artikel terbaru sebagai tambahan wawasan dan pengetahuan untuk pembaca dan Kalendar Peristiwa yang memuat jadwal simposium yang diadakan pada tahun 2006 ini tetap kami tampilkan tiap edisinya. Tak lupa kami terus mengundang para pembaca untuk berpartisipasi mengisi lembaran Dexa Media dengan memberikan tulisan berupa Tinjauan Pustaka, Case Report, Artikel Penelitian. Akhir kata kami redaksi Dexa Media mengucapkan selamat Idul Fitri 1427 H dan selamat Natal dan Tahun Baru 2007. Salam!

DAFTAR ISI
Pengantar Redaksi Petunjuk untuk Penulisan Dexa Media 161 162 163

Artikel Utama:
Penggunaan obat antiepilepsi sebagai terapi nyeri neuropatik

Tinjauan Pustaka:
Tatalaksana farmakologis gangguan spektrum autistik: Telaah pustaka terkini Peran serotonin pada gangguan spektrum autistik Konsep baru kortikosteroid pada penanganan sepsis Patogenesis dan respon imun tubuh terhadap infeksi virus Herpes simpleks Infeksi cacing tambang 167 173 177 182 187

Artikel Penelitian:
Pemberian glutamin menurunkan kadar bilirubin darah serta Mengurangi nekrosis sel-sel hati setelah pemberian aktivitas Fisik maksimal dan parasetamol pada mencit Diagnosis dan penatalaksanaan gagal jantung diastolik Manajemen gagal jantung kronik 192 196 200

Cover: NEURON

Sekilas Dexa Medica Group
Berkibarlah Merah Putih-ku OGBdexa, Segitiga Merahnya, Bikin Hemat Delon semarakkan peluncuran TOXILITE Penelusuran Jurnal Kalender Peristiwa Daftar Iklan: Lamictal, Raivas, Dobuject, Toxilite, Tripoten, Generik 207 207 208 211 212

SUMBANGAN TULISAN
Redaksi menerima partisipasi berupa tulisan, foto, dan materi lainnya sesuai dengan misi majalah ini. Tulisan yang tidak dimuat akan dikembalikan. Redaksi berhak mengedit atau mengubah metode penulisan, tanpa mengubah tulisan yang dimuat apabila dipandang perlu.

No. 4, Vol. 19, Oktober - Desember 2006

161

PETUNJUK PENULISAN
Redaksi menerima tulisan asli/tinjauan pustaka, penelitian atau laporan kasus dengan foto-foto asli dalam bidang Kedokteran dan Farmasi. 1. Tulisan yang dikirimkan kepada Redaksi adalah tulisan yang belum pernah dipublikasikan di tempat lain dalam bentuk cetakan. 2. Tulisan berupa ketikan dan diserahkan dalam bentuk disket, diketik di program MS Word dan print-out dan dikirimkan ke alamat redaksi atau melalui e-mail kami. 3. Pengetikan dengan point 12 spasi ganda pada kertas ukuran kuarto (A4) dan tidak timbal balik. 4. Semua tulisan disertai abstrak dan kata kunci (key words). Abstrak hendaknya tidak melebihi 200 kata. 5. Judul tulisan tidak melebihi 16 kata, bila panjang harap dipecah menjadi anak judul. 6. Nama penulis harap disertai alamat kerja yang jelas. 7. Harap menghindari penggunaan singkatan-singkatan 8. Penulisan rujukan memakai sistem nomor (Vancouver style), lihat contoh penulisan daftar pustaka. 9. Bila ada tabel atau gambar harap diberi judul dan keterangan yang cukup. 10. Untuk foto, harap jangan ditempel atau di jepit di kertas tetapi dimasukkan ke dalam sampul khusus. Beri judul dan keterangan yang lengkap pada tulisan. 11. Tulisan yang sudah diedit apabila perlu akan kami konsultasikan kepada peer reviewer. 12. Tulisan disertai data penulis/curriculum vitae, juga alamat email (jika ada), no. telp/fax yang dapat dihubungi dengan cepat. Contoh Penulisan Daftar Pustaka Daftar pustaka di tulis sesuai aturan Vancouver, diberi nomor sesuai urutan pemunculan dalam keseluruhan tulisan, bukan menurut abjad. Bila nama penulis lebih dari 6 orang, tulis nama 6 orang pertama diikuti et al. Jumlah daftar pustaka dibatasi tidak lebih dari 25 buah dan terbitan satu dekade terakhir. Artikel dalam jurnal 1. Artikel standar Vega KJ, Pina I, Krevsky B. Heart transplantation is associated with an increased risk for pancreatobiliary disease. Ann Intern Med 1996; 124(11):980-3. Lebih dari 6 penulis: Parkin DM, Clayton D, Black RJ, Masuyer E, Freidl HP , Ivanov E, et al. Childhood leukaemia in Europe after Chernobyl: 5 years follow-up. Br J Cancer 1996; 73:1006-12 2. Suatu organisasi sebagai penulis The Cardiac Society of Australia and New Zealand. Clinical Exercise Stress Testing. Safety and performance guidelines. Med J Aust 1996; 164:282-4 3. Tanpa nama penulis Cancer in South Africa (editorial). S Afr Med J 1994; 84:15 4. Artikel tidak dalam bahasa Inggris Ryder TE, Haukeland EA, Solhaug JH. Bilateral infrapatellar seneruptur hos tidligere frisk kvinne. Tidsskr Nor Laegeforen 1996; 116:41-2 5. Volum dengan suplemen Shen HM, Zhang QE. Risk assessment of nickel carcinogenicity and occupational lung cancer. Environ Health Perspect 1994; 102 Suppl 1:275-82 6. Edisi dengan suplemen Payne DK, Sullivan MD, Massie MJ. Women’s psychological reactions to breast cancer. Semin Oncol 1996; 23(1 Suppl 2):89-97 7. Volum dengan bagian Ozben T, Nacitarhan S, Tuncer N. Plasma and urine sialic acid in non-insulin dependent diabetes mellitus. Ann Clin Biochem 1995;32(Pt 3):303-6 8. Edisi dengan bagian Poole GH, Mills SM. One hundred consecutive cases of flap lacerations of the leg in ageing patients. N Z Med J 1990; 107(986 Pt 1):377-8 9. Edisi tanpa volum Turan I, Wredmark T, Fellander-Tsai L. Arthroscopic ankle arthrode-sis in rheumatoid arthritis. Clin Orthop 1995; (320):110-4 10.Tanpa edisi atau volum Browell DA, Lennard TW. Immunologic status of the cancer patient and the effects of blood transfusion on antitumor responses. Curr Opin Gen Surg 1993;325-33 11. Nomor halaman dalam angka romawi Fischer GA, Sikic BI. Drug resistance in clinical oncology and hematology. Introduction Hematol Oncol Clin North Am 1995; Apr; 9(2):xi-xii Buku dan monograf lain 12. Penulis perseorangan Ringsven MK, Bond D. Gerontology and leadership skills for nurses. 2nd ed. Albany (NY):Delmar Publishers; 1996 13. Editor sebagai penulis Norman IJ, Redfern SJ, editors. Mental health care for eldery people. New York:Churchill Livingstone; 1996 14. Organisasi sebagai penulis Institute of Medicine (US). Looking at the future of the medicaid program. Washington:The Institute; 1992 15. Bab dalam buku Catatan: menurut pola Vancouver ini untuk halaman diberi tanda p, bukan tanda baca titik dua seperti pola sebelumnya). Phillips SJ, Whisnant JP . Hypertension and stroke. In: Laragh JH, Brenner BM, editors. Hypertension: Patophysiology, Diagnosis and Management. 2nded. New York:Raven Press; 1995.p.465-78 16. Prosiding konferensi Kimura J, Shibasaki H, editors. Recent Advances in clinical neurophysiology. Proceedings of the 10th International Congress of EMG and Clinical Neurophysiology; 1995 Oct 15-19; Kyoto, Japan. Amsterdam:Elsevier; 1996 17. Makalah dalam konferensi Bengstsson S, Solheim BG. Enforcement of data protection, privacy and security in medical information. In: Lun KC, Degoulet P , Piemme TE, editors. MEDINFO 92. Proceedings of the 7th World Congress on Medical Informatics; 1992 Sep 6-10; Geneva, Switzerland. Amsterdam:North-Hollan; 1992. p.1561-5 18. Laporan ilmiah atau laporan teknis Diterbitkan oleh badan penyandang dana/sponsor: Smith P , Golladay K. Payment for durable medi-cal equipment billed during skilled nursing facility stays. Final report. Dallas(TX):Dept.of Health and Human Services (US), Office of Evaluation and Inspections; 1994 Oct. Report No.: HHSIGOEI69200860 Diterbitkan oleh unit pelaksana: Field MJ, Tranquada RE, Feasley JC, editors. Health Services Research: Work Force and Education Issues. Washington:National Academy Press; 1995. Contract No.: AHCPR282942008. Sponsored by the Agency for Health Care Policy and Research 19. Disertasi Kaplan SJ. Post-hospital home health care: The eldery’s access and utilization [dissertation]. St. Louis (MO): Washington Univ.; 1995 20. Artikel dalam koran Lee G. Hospitalizations tied to ozone pollution: study estimates 50,000 admissions annually. The Washington Post 1996 Jun 21; Sept A:3 (col.5) 21. Materi audio visual HIV + AIDS: The facts and the future [videocassette]. St. Louis (MO): Mosby-Year Book; 1995 Materi elektronik 22. Artikel jurnal dalam format elektronik Morse SS. Factors in the emergence of infection diseases. Emerg Infect Dis [serial online] 1995 jan-Mar [cited 1996 Jun 5];1(1):[24 screens]. Available from: URL:HYPERLINK 23. Monograf dalam format elektronik CDI, Clinical dermatology illustrated [monograph on CD-ROM]. Reeves JRT, maibach H. CMEA Multimedia Group, producers. 2nd ed. Version 2.0. San Diego: CMEA; 1995 24. Arsip komputer Hemodynamics III: The ups and downs of hemodynamics [computer program]. Version 2.2. Orlando [FL]: Computerized Educational Systems

162

No. 4, Vol. 19, Oktober - Desember 2006

ARTIKEL UTAMA

Penggunaan Obat Antiepilepsi
Jan Sudir Purba
Departemen Neurologi FKUI/RSCM, Jakarta

sebagai terapi Nyeri Neuropatik

Abstrak. Nyeri adalah suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan, baik aktual maupun potensial, atau yang digambarkan dalam bentuk kerusakan tersebut. Nyeri neuroaptik yang tergolong pada tipe nyeri kronik diakibatkan oleh lesi di jaringan susunan saraf baik perifer maupun pusat. Penggunaan obat antiepilepsi pada nyeri neuropatik didasari oleh keidentikan dalam neuropatofisiologik antara nyeri neuropatik dan epilepsi. Keidentikan ini termasuk kepekaan yang abnormal dari neuron-neuron sebagai akibat kelainan pada reseptor seperti NMDA, AMPA/kainat yang pada saatnya nanti bisa memicu plastisitas reseptor tersebut di post-sinaptik. Kepekaan yang abnormal inilah yang mengakibatkan tarjadinya perubahan elektrik potensial di otak yang disebut sebagai bangkitan epilepsi. Obat antiepilepsi merupakan obat yang berkemampuan untuk menekankepekaan yang abnormal dari neuron-neuron sehingga dengan demikian bisa menekan bangkitan epilepsi. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa obat antiepilepsi digunakan sebagai analgesik adjuvant untuk terapi nyeri neuropatik. Ternyata obat antiepilepsi lamotrigine sangat efektif dalam penanggulangan nyeri neuropatik terutama trigeminal neuralgia, nyeri neuropatik pada penderita HIV, nyeri sentral pada penderita pasca stroke ataupun nyeri neuropatik yang intracktable. Cara kerja dari lamotrigine adalah berperan dalam stabilisasi membrane sel neuron dengan memblok aktivitas kanal voltage-sensitive natrium serta mencegah sekresi glutamate dan menstimulasi sekresi GABA di presinaptik ke sinaps.

Pendahuluan yeri seperti didefinisikan oleh International Association for Study of Pain (IASP), adalah suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan, baik aktual maupun potensial, atau yang digambarkan dalam bentuk kerusakan tersebut.1,2 Nyeri bisa bervariasi berdasarkan: waktu dan lamaya berlangsung (transient, intermittent, atau persisten), intensitas (ringan, sedang dan berat), kualitas (tajam, tumpul, dan terbakar), penjalarannya (superficial, dalam, local atau difus).3 Di samping itu nyeri pada umumnya memiliki komponen kognitif dan emosional yang digambarkan sebagai penderitaan. Selain itu nyeri juga dihubungkan dengan refleks motorik menghindar dan gangguan otonom yang oleh Woolf (2004)3 disebut sebagai pengalaman nyeri. Secara patologik nyeri dikelompokkan pada nyeri adaptif atau nyeri nosiseptif, atau nyeri akut dan nyeri maladaptif sebagai nyeri kronik juga disebut sebagai nyeri neuropatik serta nyeri psikologik atau nyeri idiopatik. Nyeri akut atau nosiseptif yang diakibatkan oleh kerusakan jaringan, merupakan salah satu signal untuk mempercepat perbaikan dari jaringan yang rusak.3 Sedangkan nyeri neuropatik disebut sebagai nyeri fungsional merupakan proses sensorik abnormal yang disebut

N

juga sebagai gangguan sistem alarm.3 Nyeri idiopatik yang tidak berhubungan dengan patologi baik neuropatik maupun nosiseptif dan memunculkan simptom gangguan psikologik memenuhi somatofovrm seperti stres, depresi, ansietas dan sebagainya.4,5 Dalam tulisan ini dibahas nyeri neuropatik dan penanggulangannya dengan penggunaan obat antiepilepsi lamotrigine. Neuropatologi dan Mekanisme Nyeri Neuropatik Nyeri neuropatik yang didefinisikan sebagai nyeri akibat lesi jaringan saraf baik perifer maupun sentral bisa diakibatkan oleh beberapa penyebab seperti amputasi, toksis (akibat khemoterapi) metabolik (diabetik neuropati) atau juga infeksi misalnya herpes zoster pada neuralgia pasca herpes dan lainlain. Nyeri pada neuropatik bisa muncul spontan (tanpa stimulus) maupun dengan stimulus atau juga kombinasi.6 Nyeri neuropatik juga disebut sebagai nyeri kronik berbeda dengan nyeri akut atau nosiseptif dalam hal etiologi, patofisiologi, diagnosis dan terapi. Nyeri akut adalah nyeri yang sifatnya self-limiting dan dianggap sebagai proteksi biologik melalui signal nyeri pada proses kerusakan jaringan. Nyeri pada tipe akut merupakan simptoma akibat kerusakan jaringan itu sendiri dan berlokasi disekitar kerusakan jaringan 163

DEXA MEDIA

No. 4, Vol. 19, Oktober - Desember 2006

sampai talamus sensomotorik. korteks prefrontal dan korteks insula. Oleh sebab itu penanggulangan nyeri neuropatik membutuhkan tim yang multi disipliner baik menyangkut terapi non-farmaka maupun terapi farmaka.14 Penggunaan obat antiepilepsi pada nyeri neuropatik didasari oleh keidentikan dalam hal neuropatofisiologik pada nyeri neuropatik dan epilepsi. Keadaan ini memberikan gambaran umum berupa alodinia dan hiperalgesia. reduksi sekresi glutamate di presinaptik. histamin. ectopic discharge. dan berakhir pada kelainan patologi di neuron berupa sensitisasi dan disinhibisi sentral. substansi P .7 Reaksi stimulus ini berakibat pada sekresi neurotransmiter seperti prostaglandin. 4.8 Nyeri neuropatik adalah non-self-limiting dan nyeri yang dialami bukan bersifat sebagai protektif biologis namun adalah nyeri yang berlangsung dalam proses patologi penyakit itu sendiri. Dengan kata lain tindakan yang memfokus pada pengurangan input neuronal dengan tujuan mengembalikan ke keadaan normal dengan cara menekan fungsi akson misalnya memblok kanal natrium atau mengurangi sekresi eksitatorik serta meningkatkan sekresi inhibitorik. demikian juga infeksi dan tumor. traktus spinotalamikus (struktur somatik) dan kolum dorsalis (untuk viskeral). dan luasnya penyebaran areal yang mengandung reseptor yang mengakibatkan peningkatan letupan-letupan dari berbagai neuron.6 Penanggulangan Nyeri neuropatik merupakan masalah dalam dunia kedokteran karena bukan hanya menyangkut kerusakan atau lesi dari jaringan saraf itu sendiri.15 Secara neurofarmakologi molekuler. sprouting. Yang berbeda hanyalah dalam hal burst discharge secara paroksismal pada epilepsi sementara pada neuropatik yang terjadi adalah ectopic discharge. Stimulus ini bisa berupa mekhanik.13 Oleh sebab itu. Antiepilepsi sebagai terapi Nyeri Neuropatik Seperti diketahui dari sejumlah hasil penelitian baik itu malalui hewan percobaan maupun pada manusia ditemukan bahwa nyeri neuropatik mendasar pada kelainan jaringan saraf yang mengakibatkan perobahan komposisi biokimiawi atau neurotransmiter terhadap sistem saraf perifer maupun di sentral. tulang. Patologi nyeri neuropatik mendasar pada sensitisasi perifer. Sejajar dengan itu maka penelitian untuk menemukan obat juga berkembang tidak henti-hentinya. 19.Desember 2006 . kimia dan termis.11 Penelitian tentang nyeri termasuk klasifikasi berkembang terus. Nyeri neuropatik yang tergolong dalam nyeri kronik menimbulkan tantangan yang berat dalam hal pengobatan karena tidak berespons terhadap pengobatan nyeri tradisional.6 Sensitisasi ini pada umumnya berasosiasi dengan terjadinya denervasi jaringan saraf akibat lesi ditambah dengan stimulasi yang terus menerus dan inpuls aferen baik yang berasal dari perifer maupun sentral dan juga bergantung pada aktivasi kanal ion di akson yang berkaitan dengan reseptor AMPA/kainat dan NMDA.10 Permasalahan pada nyeri neuropatik adalah menyangkut terapi yang berkaitan dengan kerusakan neuron dan sifatnya ireversibel. rendahnya ambang batas stimulus terhadap aktivitas neuron itu sendiri misalnya terhadap stimulus yang nonnoksious. Vol. Oktober . calcitoningenen-related peptide (CGRP) dan lain sebagainya. Dengan demikian disimpulkan bahwa obat antiepilepsi digunakan juga sebagai obat standar untuk nyeri neuropatik. sementara obat-obat antiepilepsi yang baru selain blok kanal natrium juga blok kanal Ca2+ secara spesifik di post sinaptik.ARTIKEL UTAMA dan mempunyai efek psikologis sangat minimal dibanding dengan nyeri kronik. limbik. Hal ini juga telah dibuktikan melalui beberapa penelitian. immediate early gene changes. tapi juga yang berkaitan dengan efek kronik dari nyeri tersebut misalnya efek psikologik.6 Karakteristik sensitisasi neuron bergantung pada: meningkatnya aktivitas neuron. jaringan ikat otot dan organ viskera.13 Epilepsi dan nyeri neuropatik timbul karena munculnya aktivitas abnormal dari sistem saraf sentral. cholecystokinin (CCK).6 Nyeri bisa bertahan beberapa lama yakni bulan sampai tahun sesudah cedera sembuh sehingga juga berdampak luas dalam strategi pengobatan termasuk terapi gangguan psikologik. Epilepsi yang dipicu DEXA MEDIA No. Penanggulangan secara farmakologik bukan hanya sebatas pada tingkat reseptor dan perbaikan lesi jaringan saraf saja. Nyeri ini di picu oleh keberadaan neurotransmiter sebagai reaksi stimulasi terhadap reseptor serabut alfa-delta dan C polimodal yang berlokasi di kulit.12. Baik nyeri neuropatik perifer maupun sentral berawal dari sensitisasi neuron sebagai stimulus noksious melalui jaras nyeri sampai ke sentral. yakni reseptor NMDA dan AMPA. stimulasi sekresi GABA di presinaptik. penanggulangan nyeri neuropatik juga mendasar pada kelainan atau patologi jaringan saraf yang disertai oleh perobahan pada biokimiawi atau neurotransmiter baik di perifer maupun di sentral. diketahui bahwa standar penanggulangan epilepsi mendasar pada blok kanal natrium.6. Nyeri neuropatik muncul akibat proses patologi yang berlangsung berupa perubahan sensitisasi baik perifer maupun sentral yang berdampak pada fungsi sistem inhibitorik serta gangguan interaksi antara somatik dan simpatetik. Pada umumnya hal ini terjadi akibat proses apoptosis yang dipicu baik melalui modulasi intrinsik kalsium di neuron sendiri maupun akibat proses inflamasi sebagai faktor ekstrinsik. vasoactive intestinal peptide (VIP). Atas dasar ini jugalah maka nyeri neuropatik harus secepat mungkin di terapi untuk menghindari proses mengarah ke plastisitas sebagai nyeri kronik.9 Sejalan dengan berkembangnya penelitian secara molekuler maka ditemukan beberapa kebersamaan antara nyeri neuropatik dengan epilepsi dalam hal patologinya tentang keterlibatan reseptor misalnya NMDA dan AMPA dan plastisitas disinapsis. juga somatostatin (SS). Bagian dari jaras ini dimulai dari kornu dorsalis.12. akan tetapi juga menyangkut efek dari penderitaan yang kronik terhadap quality of life si penderita. serotonin.6 Kejadian inilah yang mendasari konsep nyeri kronik yang ireversibel pada 164 sistem saraf.

Mosby’s Medical Drug reference. insomnia. Allan J (Eds. Woolf CJ. et al. Daftar Pustaka 11. Br J Anaestesia 2001. Jakarta 22.7:S38-S47 18. Oleh sebab itu target terapi adalah tertuju pada voltage-gate kanal Na+ dan Ca2+. Oktober . Andersen G. Mosby. Pain Practice 2003. Nurmikko TJ. Ludwick-Rosenthal R and Neufeld R. Konsensus Nasional Penanganan Nyeri Neuropatik.7(S):S23-S37 19. Suryamiharja A.3:1-8 18. Ferragutti F. Agnati LF. Mc Quuay HJ. Megeff C. Wang SJ. Clin J Pain 1987. Merksey H.140:441-51 14. A Ca2+ antagonistic effect of the new antiepileptic drug lamotrigeine.1:199-206 16. nyeri sentral pada penderita post stroke ataupun nyeri neuropatik yang intracktable. Anticonvulsants for neuropathic pain syndromes : mechanisms of action and place in therapy.26 Kesimpulan Nyeri neuropatik merupakan nyeri yang sangat sulit diterapi dengan obat analgesik biasa. Eur Neuropsychopharmacol 1997. Teng J and Makhael N. DEXA MEDIA No. Price DD and Harkins SW. Algorithm for neuropathic pain treatment: and evidence based proposal. Anastesia 1998. Hal ini telah terbukti karena lamotrigine berperan dalam inhibisi ion natrium. Psychological Bulletin 1988. Neurology 2000. MO. mual.ARTIKEL UTAMA oleh hipereksitabilitas sistem saraf sentral mengakibatkan bangkitan spontan dan paroksismal dan mirip dengan nyeri spontan dan paroksismal pada nyeri neuropatik. Di Vadi PP.29:72-5 17. Lamotrigine in refractory trigeminal neuralgia in Ms patients. Classification of chronic pain: description of chronic pain syndromes and definition of pain terms. Hamann W. et al. Tiengo M. 59:S14-S17 13.5:729-35 26. Berger M. Gean PW. Dalam: Meliala L. Neuropathic pain: Mechanisms and treatment option. Neurology 2001. Inc. Ex Rev Neurotherapeut 2001. Shifrin A. Rowbotham MC. Austr Prescr 2006.20-23 Prinsip kerja dari lamotrigine yang diketahui sampai sekarang ini berperan aktif terhadap neurotransmiter eksitatorik glutamate dalam hal mencegah sekresi glutamate di presinaptik serta berperan dalam inhibisi reuptake serotonin oleh presinaptik yang berefek pada stabilisasi membrane sel neuron dengan memblok aktivitas kanal voltage-sensitive natrium.12:2255-8 19. Backonja M.7:77-8 20. Dogrul A.19:398-403 21. Backonja MM. Devulder J.7:129-49 17.104:326-42 16.56:184-90 23. et al. Drug treatment of neuropathic pain.19 Lamotrigine dengan dosis di atas 200 mg/hari sangat efektif dalam penanggulangan nyeri neuropatik terutama trigeminal neuralgia. Stress management during noxious medical procedures. 19. Reversal of experimental neuropathic pain by t-type calcium channel blockers. Atas dasar patologi ini maka antiepilepsi merupakan obat yang berkemampuan untuk menekan kepekaan yang abnormal dari neuron-neuron di sistem saraf pusat dengan memblokade reseptor NMDA. Ann Internal Med 2004. juga inhibisi sekresi glutamat serta sekresi GABA yang berefek terhadap stabilisasi membrane neuron. Kelompok studi Nyeri Perhimpunan Dokter spesialis saraf Indonesia (PErDOssI). Perubahan ini merupakan signal berupa stimulus yang akan sampai ke korteks sensorik yang diterjemahkan dengan nyeri.87:144-52 15. and treatment recommendations. Helme RD. 4. Smith TE. Use of anticonvulsants for treatment of neuropathic pain. Backonja MM.17 Dari hasil penelitian ternyata bahwa obat antiepilepsi seperti lamotrigine mempunyai sifat analgesik dalam lingkup yang luas. et al. Mendasar pada cara kerja dari obat antiepilepsi ini maka obat antiepilepsi ini digunakan sebagai standard obat nyeri neuropatik yang secara neuropatologik mempunyai kesamaan dengan epilepsi. Lamotrigine inhibition of glutamate release from isolated cerebrocortical nerve terminals (sinaptosomes) by suppression of voltageactivated Ca2+ channels activity. Otto M. Antiepileptic drugs in the treatment of neuropathic pain. Neuroreport 2001. sekarang ini digunakan sebagai analgesik adjuvant untuk nyeri neuropatik. Pain 2005. Ion channel targets and treatment efficacy in neuropathic pain. Dworkin RH.6:49-252 12. PERDOSSI. Seattle: International Association for the Study of Pain. Pain: Moving from symptom control towards mechanisms.). and stress: an integrated view.60:1029-52 14. The use of lamotrigine in neuropathic pain. Krivoy N. 2nd edition.1994 13. natrium yang berperan dalam perobahan elektrik potensial saraf. et al. 1999. Anticonvulsants for the management of pain. Purba JS (Eds. J Pain 2006. Shira TS.Tremont-Lukts IW. Elsworth. Arch Neurol 2003. Chong MS. Vol. Vestergaard K. Eisenberg E. Eccleston C. Neurology 2002. Bogduk N.12. Pain Terms: a list with definitions and notes on usage.25 Efek samping bisa muncul dengan dosis tinggi berupa dizziness. Role of psychology in pain management. Clin J Pain 1991. Combined use of experimental pain and visual analogue scale in providing standardized measurement of clinical pain. Drugs 2000. Gottrup H. AMPA/kainat. Gardell LR. mechanisms.16 Dalam keadaan ini peran reseptor NMDA terhadap influks Ca2+ merupakan proses dasar terhadap kindling pada epilepsi serupa halnya dengan kejadian wind-up pada nyeri neuropatik. St Louis. ruam.55:1587-88 24. Lamotrigine for neuropathic pain.p.15.105:159-68 11.Desember 2006 165 .18 Pada percobaan hewan menyangkut hiperalgesia pemberian lamotrigine berefek sebagai analgesik. Pain 1979. Finnerup NB.) 2000. Pain 2003. Lamotrigine in the treatment of chronic refractory neuropathic pain.13.53:808-9 25. Chaudry Z. Markman JD and Dworkin RH. Ossipov MH. Pain Rev 2000.specific pharmacologic management. Penggunaan lamotrigine yang pada awalnya sebagai antiepilepsi. Von WagenerJ. 118:289-305 15.16 Hal ini disimpulkan oleh Markman and Dworkin.24. Hesslinger B. nyeri neuropatik pada penderita HIV. De Laat M. Oleh karena nyeri neuropatik bukan nyeri adaptif akan tetapi merupakan proses patologi yang berjalan di mana adanya perubahan struktur reseptor di membrane neuron baik itu di perifer maupun di sentral. (2006)17 bahwa permasalahan nyeri neuropatik adalah di kanal ion sebagaimana juga pada epilepsi. analgesia. Lamotrigine for central poststroke pain: a randomized controlled trial. Expert Rev Neurother 2005. editors. Lamotrigine membatasi influks kalsium melalui penekanan voltage-gate. Advances in neuropathic pain: diagnosis. Pain.60:1524-34 10. J Pain Symptom Manage 2000.3:388-98 12. Zarzewska JM. et al. Obat antiepilepsi berperan sebagai inhibitorik terhadap reseptor NMDA maupun AMPA/kainat akibat peran glutamate dengan demikian mencegah masuknya ion kalsium dan natrium yang berlebihan ke dalam sel. Kelainan reseptor ini mengakibatkan perubahan pada influks dan dari ion-ion seperti kalsium. Attal N. Hal ini diakibatkan oleh terjadinya kerusakan jaringan saraf baik di perifer maupun di sentral.

- Kombinasi untuk epilepsi anak dari usia 2 tahun. Telah digunakan oleh jutaan orang di dunia untuk mengatasi gangguan kejang - Memiliki profil tolerabilitas yang baik - Tidak memerlukan blood monitoring - Absorpsi tidak dipengaruhi oleh makanan Lamictal dapat diberikan sebagai monoterapi dan kombinasi (add-on) - Monoterapi untuk pasien epilepsi dari usia 12 tahun hingga dewasa. Konsentrasi plasma tertinggi tercapai dalam waktu 1 – 3 jam.Partial seizures (simple dan kompleks) . 4. Lamictal menunjukan farmakokinetik linear setelah pemberian oral dosis tunggal 30 – 450 mg pada sukarelawan sehat dan pasien yang menerima obat sebagai monoterapi atau kombinasi (add-on)3. pada penggunaan dosis tinggi memperlihatkan peningkatan konsentrasi plasma yang tidak terkontrol. Carbamazepine menunjukkan farmakokinetik non-linear dan phenytoin menunjukkan hubungan konsentrasi erratic. hal ini disebabkan adanya perbedaan pada klirens metabolisme pada masing-masing individu.0 80 60 40 20 0 30 60 Dose (mg) 120 240 0 Hubungan linear antara dosis Lamictal dan konsentrasi plasma membuat tidak diperlukannya monitoring konsentrasi plasma berulang untuk identifikasi dosis individu. 166 No.Desember 2006 . Titrasi dosis dapat berdasarkan respons daripada konsentrasi plasma darah.1).2. yaitu: . Absorpsi tidak dipengaruhi oleh makanan. Lamictal bekerja dengan menstabilkan membran saraf dengan cara menghambat saluran natrium dan mengurangi pelepasan neurotransmitter glutamat. 3.0 160 2. Antara individu yang satu dengan yang lain dapat terjadi perbedaan waktu eliminasi obat.Lennox-Gastaut syndrome Epilepsi timbul karena adanya ketidakseimbangan antara pengeluaran dan penghambatan neurotransmitters. interaksi dengan obat lain yang rendah dan eliminasi watu paruh yang panjang (rata-rata 29 jam)3. Monitoring terapi obat yang rutin tidak dianjurkan pada penggunaan Lamictal. Kesimpulannya Lamictal memberikan keuntungan pada pasien penderita epilepsi. Lamictal sudah digunakan di dunia oleh lebih dari 5 juta orang lebih dari 15 tahun dan dilaunch di Indonesia pada bulan Desember 1994 dengan indikasi obat anti-epilepsi (AED). Oktober .4.Secondary general tonic-clonic seizure .0 140 120 100 1.Primary general tonic-clonic seizure . Bioavailabilitas Lamictal setelah administrasi 75 mg dosis tunggal adalah 98%3. Beberapa dokter menyadari perlunya monitoring konsentrasi plasma pada penggunaan carbamazepine atau phenytoin5. Vol. Lamictal memiliki farmakokinetik linear dengan margin dosis terapi. Glutamat diketahui sebagai penyebab utama dalam epileptogenesis 1. Lamictal dalam plasma meningkat berbanding lurus dengan dosis Lamictal (gb.SEKILAS PRODUK Lamictal mengandung Lamotrigine 50 mg dan 100 mg. oleh karena itu pasien dapat minum obat sebelum atau setelah makan. Indikasi Lamictal yang didaftarkan adalah untuk: . Lamictal adalah AED yang dapat digunakan sebagai monoterapi maupun kombinasi dengan AED lain. 19.

Rash yang terlihat pada penggunaan Lamictal dapat berupa reaksi kelainan kulit dari yang ringan hingga berat dengan kejadian 2% dari yang diterapi. 4. 19.5 mg/kg/hari (sekali sehari) 1 mg/kg/hari (sekali sehari) 5 mg/kg/day di bagi dalam 2 kali pemberian) Dosis Pemeliharaan 1-5 mg/kg/hari (sekali sehari atau di bagi dalam 2 kali pemberian) 2-10 mg/kg/hari (sekali sehari atau di bagi dalam 2 kali pemberian) 5-15 mg/kg/hari (di bagi dalam 2 kali pemberian) No. Cohen AF et al.SEKILAS PRODUK Dosis Lamictal untuk dewasa dan anak-anak di atas usia 12 tahun: Minggu 1 & 2 add-on Lamictal dengan sodium valproate Monoterapi Lamictal add-on Lamictal tanpa sodium valproate Minggu 3 & 4 Dosis Pemeliharaan 100-200 mg/hari (sekali sehari atau di bagi dalam 2 kali pemberian) 100-200 mg/hari (sekali sehari atau di bagi dalam 2 kali pemberian) 200-400 mg/hari (di bagi dalam 2 kali pemberian) 12. Lamotrigine – a new advance in the treatment of epilepsy.15-24.5 mg/kg/hari (sekali sehari) 2 mg/kg/hari (di bagi dalam 2 kali pemberian) Minggu 3 & 4 0. Vol. a new anticonvulsant: pharmacokinetics in normal humans.5 mg/hari 25 mg/hari (diberikan 25 mg/hari (sekali sehari) 2 hari sekali/selang sehari) 25 mg/hari (sekali sehari) 50 mg/hari (sekali sehari) 50 mg/hari (sekali sehari) 100 mg/hari (sekali sehari) Dosis titrasi pada Lamictal dapat meminimalkan insiden terjadinya rash. 1995. 1993. 4.). Xinmin X et al. Oktober . Antiepileptic Drugs (4th ed. Clin Pharm 1991. 335 – 58 Dosis Lamictal untuk anak-anak dari usia 2 – 12 tahun: Minggu 1 & 2 Add-on Lamictal dengan sodium valproate Monoterapi Lamictal Add-on Lamictal tanpa sodium valproate 0. Referensi: 1. p. In: Levy RH et al (eds). Pugh CB. 42 (suppl 5): 535 – 41 5. Sedangkan yang menghentikan terapi kurang dari 3% pasien. Leach MJ et al. London Royal Society of Medicine Service. 430: 437 – 46 3. Garnet WR. Lamotrigine: mechanism of action. Pisani F. Lamotrigine.Desember 2006 167 . Pflugers Arch – Eur J Physiol 1995. 10. In: Reynolds EH (ed). Current issues in the treatment of epilepsy. Interaction of the antiepileptic drug lamotrigine with recombinant rat type IIA Na+ channels and with native Na+ channels in rat hippocampal neurones. Clin Pharmacol Ther 1987. New York Raven Press.2 mg/kg/hari (sekali sehari) 0. p.861 – 69 2.

M. Hasil kajian sistematis ini mendapatkan bahwa antagonis sistem dopaminergik merupakan modalitas terapi yang cukup didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang baik. (3) obatobat penghambat dopamin ditujukan untuk gejala destruktif.2 Tatalaksana farmakologis tidak akan mengubah riwayat keadaan atau perjalanan gangguan autistik. 2000) Levels Kejadian IA IB IIA IIB III Deskripsi Bukti diambil dari suatu penelitian meta-analysis Bukti diambil minimal dari suatu penelitian randomized controlled trial Bukti diambil minimal dari suatu penelitian welldesigned controlled study without randomization Bukti diambil minimal dari suatu penelitian tipe lain dari well-designed quasi-experimental Bukti diambil minimal dari suatu penelitian well-designed non-experimental descriptive.3 Terapi farmakologi bukan merupakan pendekatan terapi yang utama. Tujuan penulisan makalah adalah mengkaji secara A kritis bukti-bukti ilmiah terapi farmaka untuk autisme. randomized controlled trial. dengan onset sebelum usia 3 tahun. dan pathophysiology. Oktober . 19. antagonis opioid. Vol. (2) obat-obat antidepresan dan SSRI atau Selective Serotonin Reuptake Inhibitor ditujukan untuk mengatasi obsesif. agresi. Penelitian terdahulu menunjukkan kelainan neurotransmiter pada autisme. Autisme merupakan gangguan perkembangan pervasif. Penelitian-penelitian terdahulu menggunakan terapi antagonis sistem dopaminergik. mechanism. MEDLINE database. GABA (Gammaaminobutyric acid) Pendahuluan utisme merupakan gangguan perkembangan yang terutama ditandai oleh ketidakmampuan dalam komunikasi. agresivitas. seperti comparative studies. namun penggunaan terapi farmaka untuk gejala-gejala tertentu dapat membantu secara signifikan program terapi dan edukasi. sosialisasi. Derajat bukti ilmiah artikel terapi (SIGN. dan depresi. dan imajinasi. agresivitas. Beberapa modalitas terapi lain seperti penggunaan suplemen vitamin dan mineral dan penggunaan terapi imunologis telah dilaporkan pula. perilaku yang terbatas dan stereotipik. Metode Pelacakan Kepustakaan Pelacakan kepustakaan dilakukan dengan menggunakan internet.TINJAUAN PUSTAKA Tatalaksana Farmakologis Gangguan Spektrum Autistik: Telaah Pustaka Terkini Rizaldy Pinzon SMF Saraf RSUD Dr. (4) obat-obat antagonis opioid untuk gejala stereotipik dan melukai diri sendiri. treatment.3 Kajian Rapin4 menunjukkan bahwa obat-obat diberikan secara spesifik untuk gejala tertentu sebagai berikut: (1) obat yang bekerja sistem noradrenergik terutama ditujukan untuk mengatasi gejala agresif dan perilaku eksplosif. dan pelacakan manual pada berbagai penelitian dan kajian tentang tatalaksana farmakologis autisme dengan tahun publikasi 1995-2003. Kata kunci: Autisme. dan melukai diri sendiri. Haulussy Ambon Abstrak. dan regresi yang berhubungan dengan gelombang epileptiformis subklinis.Desember 2006 169 . serotonin. Permasalahan yang muncul adalah bagaimana bukti ilmiah tatalaksana farmakologis gangguan spektrum autistik. disabilitas komunikasi dan kelambatan fungsi berbahasa. pemacu sistem serotoninergik. Tingkat Bukti Ilmiah Penetapan tingkat bukti ilmiah terhadap berbagai penelitian terapi yang ada didasarkan sesuai dengan panduan Scotish Intercollegiate Guidelines Network5 sebagai berikut: Tabel 1. dan pemacu GABA. correlation studies dan case studies Bukti diambil dari suatu laporan komite ahli dan/atau pengalaman klinis pakar IV No.4 Penggunaan terapi farmakologis yang memperbaiki keseimbangan neurotransmiter merupakan pendekatan yang rasional pada penderita autisme. dopamine. randomized controlled trial. Penatalaksanaan farmakologis dengan prinsip menyeimbangkan fungsi neurotransmiter merupakan dasar pendekatan terapi yang rasional. treatment. (5) golongan antikonvulsan untuk mengobati epilepsi. 4. Kata kunci yang dipergunakan adalah: autism.1 Penderita autisme akan menunjukkan disabilitas dalam interaksi sosial.

6 Antagonis Dopamin Atipikal Antipsikotik atipikal memblokade pula reseptor serotonin postsinaptik. dan Children's Rating Scale . Perangsangan anti histamin akan menyebabkan penambahan berat badan dan mengantuk. dkk8 pada 31 penderita gangguan autisme dewasa.9 ±1. Peringkat bukti ilmiah hasil pelacakan pustaka Peneliti (tahun) Fankhauser (1992) Jaselskis (1992) Sophie (1996) Delong (1998) McDougle (1998) Fatemi (1998) Owley dkk (1999) Sandler (1999) Adams (2000) Pertejo (2000) Lightdale (2001) Roberts (2001) McCracken (2002) Chez (2002) DeLong (2003) Nye (2004) Modalitas terapi Clonidine Clonidine Naltrexone Fluoxetine Risperidone Fluoxetine Secretin Secretin Suplemen vitamin dan mineral Fluoxetine Secretin Secretin Risperidone L-Carnosine Fluoxetine Vitamin B6-Magnesium Derajat bukti ilmiah IB IIA IB IIB IB III IB IB IB IIB IIB IB IB IB IIB IA randomisasi dilakukan oleh McDougle.5–3. Penderita dengan perilaku melukai diri sendiri cenderung menunjukkan peningkatan kadar metenkephalin dan β endorfin plasma. p<0.0 mg/hari Subjek Hasil McCracken RCT dengan dosis (2002) risperidone harian 0. dan mengantuk disebabkan oleh perangsangan sistem antikolinergik. Tabel 3 menunjukkan kajian terhadap penggunaan haloperidol dalam terapi autisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon positif secara bermakna didapatkan pada kelompok terapi risperidone dibanding kelompok plasebo (69% vs 12%. Opioid berperan pula dalam perilaku maladaptif. Global tahun Improvement. dkk11 melakukan penelitian uji klinik pada 23 anak autisme (usia berkisar antara 3-7 tahun). stereotipik seperti yang diamati pada penderita autisme.Perbaikan gejala didapatkan secara autisme dewasa bermakna pada kelompok terapi Risperidone dibanding plasebo (57% vs 0%.25 mg/hari Penelitian McCracken.4 mg/hari 31 penderita . Tabel 3. .Penurunan hiperaktivitas dan stereotipik Efek samping utama penggunaan haloperidol adalah diskinesia. Diskinesia muncul pada 25% kasus setelah 11 bulan terapi. Vol.5 tahun terapi. Global tahun Improvement. p<0. Tabel 4 menunjukkan karakteristik dan hasil penelitian uji klinik penggunaan Risperidone untuk terapi autisme. dan mengantuk. perilaku berisiko abnormal. Terapi naltrexone diberikan dengan dosis 1 mg/kgBB selama 4 minggu. dan Children's Rating Scale .Terdapat perbaikan dalam skor Corner mg/hari usia antara 2-7 Parent-Teacher Questonaire. pandangan kabur.7 Penelitian uji klinik dengan 170 . sbb: Tabel 2. Pemberian naltrexone tidak memperbaiki kontak sosial dan perilaku stereotipik. sehingga proses belajar menjadi lebih efektif.002). Opioid dalam konsentrasi yang tinggi akan menghambat faktor pertumbuhan neuronal.TINJAUAN PUSTAKA Pembahasan Hasil Pelacakan Pustaka Hasil pelacakan kepustakaan secara manual dan elektronik mendapatkan berbagai artikel terapi farmakologis untuk autisme. Respon terapi diukur dengan Global Improvement Scale dengan skala likert. 19. . p <0. Penggunaan antagonis dopamin diharapkan memperbaiki gejala-gejala motorik seperti hiperaktivitas dan stereotipik.36 tetap meneruskan haloperidol Anderson Uji klinik (1988) randomisasi.01) Antagonis Dopamin Tipikal (haloperidol) Sistem dopaminergik berperan dalam pengaturan perilaku motorik. Efek samping konstipasi.40 45 anak autisme.Desember 2006 Anderson Uji klinik (1984) randomisasi. Uji klinik haloperidol untuk terapi autisme6 Peneliti (tahun) Rancangan Dosis 0.10 Sophie. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa para guru melaporkan adanya perbaikan perilaku (hiperaktivitas dan iritabilitas) secara signifikan.Respon positif secara bermakna didapatkan 101 anak dengan autisme pada kelompok terapi risperidone dibanding kelompok plasebo (69% vs 12%.25-0. Perbaikan gejala didapatkan secara bermakna pada kelompok terapi risperidone dibanding plasebo (57% VS 0%. dan gangguan mood. 4. dkk7 dengan subjek 101 anak autisme yang berusia antara 2-8 tahun. sehingga melindungi terhadap munculnya efek samping ekstrapiramidal. Kajian Perry dan Kuperman6 No. Hasil penelitian terapi risperidone pada autisme Peneliti (tahun) Metode Subjek Hasil McDougle RCT dengan dosis (1998) risperidone harian 2. Penelitian uji klinik acak buta ganda (randomized clinical trial) risperidone lebih baru dilakukan oleh McCracken.Efek samping utama sedasi ringan . dkk7 memperlihatkan terjadinya efek samping akibat terapi yang ringan. serta observasi saat bermain. p<0. gangguan perhatian. seperti impulsivitas. gangguan belajar. Sifat antagonistik pada reseptor alfa satu akan menyebabkan penurunan tekanan darah.Terdapat perbaikan dalam skor Corner usia antara 2-7 Parent-Teacher Questonaire. Oktober . dan 75% kasus setelah 3. dizziness. cross over 0. Tabel 4.Penurunan perilaku maladaptif . double blind cross over 40 anak autisme.002) . mulut kering. Tabel 2 memperlihatkan berbagai artikel yang diperoleh dan tingkat bukti ilmiahnya.01). Pasien-pasien dengan perilaku melukai diri sendiri sering mengalami insensitivitas nyeri. Dopamin yang berlebih akan menyebabkan munculnya gerakan motorik berlebih. double blind.6 Obat-obat neuroleptik merupakan golongan obat yang secara luas digunakan pada autisme. yang akan menghilang dengan sendirinya setelah beberapa minggu.9 Opioid Kadar opiat yang tinggi dalam LCS dan urine sering dijumpai pada penderita autisme. Efek terapi dipantau dengan kuisioner yang diisi oleh orang tua dan guru.

stereotipik 27%.17 Tabel 6 memperlihatkan telaah hasil-hasil penelitian secretin dalam terapi autisme. dan (2) perangsangan GABA akan meningkatkan kadar serotonin di sistem limbik.9 Tabel 5 memperlihatkan penelitian penggunaan fluoxetine dalam terapi autisme.Sangat baik pada 17% kasus . namun penggunaan terapi farmaka untuk gejalagejala tertentu dapat membantu secara signifikan program terapi dan edukasi. dkk15 Open label trial (post hoc analysis) selamarata-rata 32-36 bulan Penelitian Buchsbaum. letargi 37%. dkk 12 RCT 20 anak autisme.Baik pada 52% kasus .Tidak didapatkan efek samping Owley 18 Selective Serotonin Reuptake Inhibitor Obat-obat Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) bekerja terutama pada terminal akson pre sinaptik dengan menghambat ambilan kembali serotonin. Penggunaan antiepilepsi pada penderita autisme ditujukan untuk: (1) mengendalikan bangkitan epilepsi. dan gangguan bicara 21% Respon pada Autism Disgnostic Observation Schedule . 4. dkk19 Disain Open label trial Terapi fluoxetine 20-80 mg/hari fluoxetine Subjek Hasil penelitian Penelitian prospektif open label 23 penderita Perbaikan pada Global autisme Clinical Impressions pada 15 (65%) subjek 37 anak autisme usia antara 2-7 tahun 7 pasien usia 9-20 tahun 129 anak autisme (2-8 tahun) Perbaikan pada Independent Developmental Testing pada 22 (59%) subjek Perbaikan Abberant Behaviour Checklist dalam hal iritabilitas 21%.Tidak dijumpai perbaikan bermakna pada fungsi berbahasa dan perilaku . dan (3) berbagai penelitian terdahulu menunjukkan berkurangnya flora normal usus yang ikut berperan dalam penyerapan vitamin. dkk14 Kajian data retrospektif fluoxetine 20-80 mg/hari fluoxetine 0. No. Obat Antiepilepsi pada Autisme Epilepsi dan abnormalitas gelombang otak sering dijumpai pada penderita autisme.5 mg/kg DeLong. Terminologi yang sering dipergunakan adalah Transient Cognitive Impairment untuk menunjukkan gangguan adaptif fungsi serebral akibat gelombang epileptiform di otak. perilaku. Tabel 5.Tidak ada perubahan bermakna pada skorAutism Behavior Checklist dan Clinical Global Impression Scale . dan mood.74) . Oktober .15-0. Sampai saat ini masih ada kontroversi dalam penggunaan obat antiepilepsi pada kelompok penderita autisme dengan pola EEG yang abnormal tanpa bangkitan epilepsi. perilaku. Kajian Martino dan Tuchman21 memperkirakan adanya hubungan antara adanya epilepsi dan gelombang otak abnormal dengan gangguan fungsi kognitif. Penelitian-penelitian penggunaan fluoxetine untuk terapi autisme Peneliti (tahun) Cook.TINJAUAN PUSTAKA menyatakan bahwa penggunaan naltrexone tidak dianjurkan sebagai terapi lini pertama untuk autisme. Penggunaan secretin sebagai terapi autisme dimulai pada saat muncul laporan kasus serial tentang efek secretin. Hal tersebut akan menyebabkan serotonin bertahan lebih lama di celah sinaps. Kajian hasil penelitian penggunaan secretin sebagai terapi autisme Peneliti (tahun) Sandler17 Metode RCT Subjek 60 anak autisme Hasil . (2) mengendalikan gelombang abnormal epileptiform.22 Suplemen Vitamin dan Mineral Dasar pemikiran pemberian suplemen vitamin dan mineral pada penderita autisme adalah: (1) penderita autisme sering kali memiliki asupan vitamin dan mineral yang terbatas atau picky eaters. dkk16 mengukur efek pemberian fluoxetine terhadap aliran darah regional dan tingkat metabolisme otak. dan gejala gastrointestinal antara kedua kelompok Lightdale. Tabel 6.23 Penelitian terdahulu tentang penggunaan suplemen vitamin dan mineral dapat dilihat pada tabel 7 berikut.Desember 2006 . usia antara 2-7 tahun DeLong. Laporan tersebut menyebutkan adanya perbaikan gejala pada beberapa penyandang autisme yang menjalani pemeriksaan fungsi gastrointestinal dengan Secretin. dan (3) memperbaiki komunikasi dan interaksi sosial. Vol. yaitu: (1) mengatasi bangkitan epilepsi dengan peningkatan GABA. Secretin Secretin merupakan suatu hormon peptida yang terdiri dari 27 asam amino yang befungsi untuk menstimulasi sekresi pankreas. dkk13 Open label trial Fatemi. Gelombang paku (spike) fokal interiktal dapat mengganggu fungsi kortikal sesuai dengan lokasi munculnya spike tersebut. Penelitian dilakukan pada 6 pasien dewasa dengan autisme dengan penggunaan possitron emission tomography. usia antara 3-12 tahun 20 penderita autisme. Penggunaan obat anti epilepsi untuk autisme didasarkan pada 2 mekanisme. 171 Terapi farmakologi bukan merupakan pendekatan terapi yang utama. berbahasa. 19. usia rata-rata 5 tahun Tidak berbeda bermakna antara kelompok terapi dan plasebo dalam skor komunikasi sosial setelah 4 minggu terapi (p=0. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan tingkat metabolisme di regio frontal kanan (terutama gyrus cinguli anterior dan korteks orbito-frontal) pada penderita yang diberikan terapi fluoxetine. (2) penderita autisme sering kali memiliki fungsi pencernaan yang buruk (25% penderita dengan diare kronik).70% orang tua secara subjektif melaporkan adanya perbaikan gejala setelah infus secretin Tidak ada beda efek terapi yang berbeda bermakna pada fungsi kognitif.Buruk pada 31% kasus Roberts20 RCT 64 anak autisme.

et al. 40(8):551-62 14. Biol Psychiatry 1996. Teagoe LA. dkk (1993) Finding. DeLongGR. 2000 6. Fluoxetine response in children with autistic spectrum disorders: correlation with familial major affective disorder and intelectual achivement. Tonge BJ. Pediatrics 2001. Ltd. Hayer C. Neurobiological insights into infantile autism. Martino AD.44(10):652-9 16. N Engl J Med 1999. Nye C. Brian J. University of Iowa.107(5) 21. Pediatric psychopharmacology: autism.sampel terlalu kecil penggunaan terapi imunologis telah dilaporkan pula. open-label pilot study. Dimethylglisine merupakan suplemen nutrisi yang memiliki efek neuroaktif serupa dengan Glysin. Penelitianpenelitian terdahulu menggunakan terapi antagonis sistem dopaminergik. Pediatrics 2000. control group Subjek (n) 18 Terapi Vitamin C. J Autism Dev Disord 1998. Hasil kajian sistematis ini mendapatkan bahwa antagonis sistem dopaminergik merupakan modalitas terapi yang cukup didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang baik. McCracken JT. 2003 7. SIGN. Repetitive self-injurious behavior: the emerging potential of psychotropic intervention. McGough J. Clinical Psychopharmacology Seminar. Vol. Duer A. Johnston C. Arizona State University. Dev Med Child Neurol 1998. UK: John Wiley & Sons. Tuchmann RF. Perry P. Shah B. Owley T. dan gangguan perilaku. Sutton KA. Vitamin B6 berperan dalam pembentukan beberapa neurotransmiter seperti serotonin. DeWeese J. 10 minggu Uji klinik. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry 1992. Sandler AD. placebocontrolled study of risperidone in adults with autistic disorder and other pervasive developmental disorders. Lack of benefit of a single dose of synthetic human secretin in the treatment of autism and pervasive developmental disorder. Pediatrics 2001. The Harvard Brain 1996:9-25 2. the role of serotonin in autism.28(4):303-7 15. Hazneder MM. Vitamin C dalam penelitian eksperimental dapat menghambat efek dopamin sentral. In: The Cochrane Library.53:633-41 9. Fabes R. 2002 4. University of California. et al. A double-blind. Penatalaksanaan farmakologis dengan prinsip menyeimbangkan fungsi neurotransmiter merupakan dasar pendekatan terapi yang rasional. terutama ditandai oleh gangguan fungsi berbahasa. buta ganda. et al.24 Penelitian uji klinik double blind oleh Adams. Ach Gen Psychiatry 1998. dkk (1988) Disain Uji klinik. GABA. the effect of chronic naltrexone treatment in young autistic children: a double-blind placebo controlled crossover trial. Oktober . MJA 2002. Harrington C. 4. Burch S. placebo-controlled trial. Levy SE. Stahl SM. Hyman SL. Antiepileptic drugs: affective use in autism spectrum disorders. Beberapa modalitas terapi lain seperti penggunaan suplemen vitamin dan mineral dan 172 No.2000 23. Villalba R. Khan L. dkk (1993) Martineau. dan norepinefrin. Autism. pemacu sistem serotoninergik. et al. Effect of fluoxetine on regional cerebral metabolism in autistic spectrum disorder: a pilot study. Autistic spectrum disorders: when traditional medicine is not enough. Combined vitamin B6-magnesium treatment in autism spectrum isorder (Cochrane review).. Steele E. 10:101-23 25. Pediatr Neurol 2001. Daftar Pustaka 1. 19. cross over. Effect of fluoxetine treatment in young children with idiopathic autism. 10 minggu Systematic assignment.31(4):734-45 13. Lightdale JR. McDougle CJ. dkk (1997) Tolbert. DeLong GR.108(5) 20. Bexley. Sophie HN. A double-blind. Issue 2. Holmes JP. dkk (1988) Bolman. Herman A.341:1801-6 18. respon klinis tidak jelas dengan skala pengukuran yang tidak sesuai Tidak ada perubahan pada metabolit dopamin di urin 11 Martineau. Buchsbaum MS.Scotish Intercolligiate Guideline Network. Esles L. Ritch CR. N Eng J Med 2002. 2000 10. namun pada perilaku dan kemampuan bahasa tidak berbeda bermakna (p>0. interaksi sosial. N Engl J Med 1997. Fluoxetine in treatment of adolescent patients with autism: a longutudinal open trial. Rowlett R. 2004 10 15 Vitamin B6 200 mg/ Tidak ada perbedaan 70kg dan Mg 100 efek terapi mg/ 70 kg Vitamin B6 30 mg/ kg/hari dan Mg 10 mg/kg/hari Penurunan dopamin di urin. Essential psychopharmacology: neuroscientific basis and practical applications. 4 minggu Uji klinik. Kamran M. dengan kontrol plasebo 8 Dimethylglisine 125 Tidak ada perubahan mg-350 mg/hari dalam observasi Penggunaan suplemen vitamin dan mineral dalam terapi autisme didasarkan pada pemikiran bahwa vitamin dapat memperkuat aksi neurotransmiter dengan meningkatkan aviabilitasnya dan bertindak sebagai kofaktor. Fatemi SH. Jaselkis C. Ratcliff J. 4(2):119-25 17. buta ganda.Psychiatric Times 2003.05) Kajian sistematis yang dilakukan oleh Nye dan Bryce25 menyimpulkan bahwa sampai saat ini belum ada rekomendasi untuk penggunaan kombinasi vitamin B6 dan magnesium untuk terapi gangguan spektrum autisme. 8 g/70 kg/hari Vitamin B6 30 mg/kg/hari dan Mg 10 mg/kg/hari Hasil Penurunan subjektif gangguan perilaku dan stereotipik Tidak ada perbedaan efek terapi.337(2):97-104 5. Chichester. Risperidone in children with autism and serious behavioral problems. Treatment and education for autistic and related communication handicapped children. placebocontrolled trial of secretin for the treatment of autistic disorder. Rapin I. buta ganda. Autism: current concept. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kadar vitamin C yang berbeda bermakna pada kelompok terapi serta perbaikan dalam pola tidur dan gejala gastrointestinal yang bermakna. Swinkels W. et al. et al. Cambridge University Press. Hal ini disebabkan karena berbagai penelitian yang ada saat ini memiliki keterbatasan metodologi dan jumlah sampel yang kecil. et al. antagonis opioid. Kuperman S.39:1023-31 12. et al. Peneliti (tahun) Dolske. Brice A. autistic spectrum and the need for better definition. Autism Course Section 5. Med Gen 1999 19. 20(2) 11. Adams JB. dkk (1999) Random assignment 6 Vitamin B6 30 mg/kg/hari dan Mg 10 mg/kg/hari Uji klinik. Weaver L. cross over. Dev Med Child Neurol 2002. dopamin. Effects of intravenous secretin on language and behaviour of children with autism and gastrointestinal symptoms: a single blinded. Realmuto Gm. Hollander E. Sebanyak 9 orang anak terdiri atas 8 laki-laki dan 1 perempuan mendapat terapi suplemen multivitamin dan mineral. Effect of vitamin/mineral supplements on children with autism.TINJAUAN PUSTAKA Tabel 7. buta ganda. dkk23 melibatkan 18 anak dengan rata-rata umur 5. Repeated doses of porcine secretin in the treatment of autism: a randomized. Corsello C.Desember 2006 . Int J Neuropsychopharmacol 2001. dan pemacu GABA. Fluoxetine treatment of children and adults with autistic disorder and mental retardation. contemporary. Roberts W. Kesimpulan Autisme merupakan kelainan yang kompleks. 25:199-207 22. Penelitian terdahulu tentang penggunaan suplemen vitamin dan mineral untuk terapi autisme. cross over.176:412-3 3.5 tahun dengan diagnosis klinis autisme. dan 9 orang lainnya mendapat plasebo. Classification of evidence levels and grades of recommendation. Cook EH. 2000 24. 347(5):314-21 8.

4 Hal ini didasarkan pada penemuan autisme yang lebih sering pada anak laki-laki dibanding perempuan (4:1). 19.1. Serotonin merupakan neurotransmiter yang berperan besar dalam perkembangan otak. serotonin.Desember 2006 . dan Pervasive Developmental Disorder-Not Otherwise Specified/PDD-NOS. disabilitas komunikasi dan kelambatan fungsi berbahasa. M. hiperserotonemia.1 Terminologi yang sering digunakan adalah gangguan spektrum autistik/ autistic spectrum disorder. ssrI Pendahuluan utisme merupakan gangguan perkembangan yang terutama ditandai oleh ketidakmampuan dalam komunikasi.TINJAUAN PUSTAKA Peran serotonin pada Rizaldy Pinzon*. dan penurunan sintesis serotonin di nukleus raphe. kontrol motorik dan persepsi. Haulussy Ambon ** Bagian IP Saraf FK UGM Gangguan spektrum Autistik Abstrak. Penelitian terdahulu menunjukkan kelainan neurotransmiter pada autisme. Vol. Telaah pustaka ini membahas peran serotonin pada autisme. Kata kunci: Autisme. dan imajinasi.2 Berbagai bukti dari penelitian terdahulu menunjukkan bahwa disfungsi otak dijumpai pada anak-anak dengan A autisme. yang terdiri dari autisme. Sri Sutarni** * SMF Saraf RSUD Dr.3 Gangguan spektrum autisme dinyatakan sebagai gangguan dalam empati dan defisit pada fungsi perhatian.1 Faktor genetik diperkirakan berperan penting pada kejadian autisme. sindrom Asperger atau Asperger’s Syndrome. Penderita autisme akan menunjukkan disabilitas dalam interaksi sosial.4 Saat ini telah disepakati secara luas bahwa autisme merupakan kelainan neurobiologik. sosialisasi. Ada 2 faktor zat kimiawi yang berperan pada autisme dan didukung oleh bukti ilmiah. yaitu pemakaian thalidomide dan antikonvulsan selama kehamilan. dan perubahan molekuler pada autisme akan membantu dalam formulasi uji diagnosa dan terapi farmakologi pada autisme. Hal ini mungkin berhubungan dengan kadar serotonin yang rendah di sistem limbik. Oktober .1 Faktor paparan zat kimiawi dianggap berperan pula dalam kejadian autisme. perilaku yang terbatas dan stereotipik. Lucas Meliala**. Pengetahuan tentang kelainan neuroanatomi. Autisme merupakan gangguan perkembangan pervasif.2. neurokimiawi.5 173 No.1 Pengetahuan tentang aspek neuroanatomi autisme sangat dibantu oleh hasil pemeriksaan histopatologis berbagai penelitian terdahulu. dengan onset sebelum usia 3 tahun. Berbagai uji klinik terdahulu menunjukkan bahwa pemberian obat-obat yang meningkatkan serotonin di sistem limbik akan memperbaiki gejala autisme. 4. Berbagai penelitian sebelumnya memperlihatkan bahwa sebagian besar penderita autisme adalah hiperserotonemia.

perangsangan autoreseptor akan mengurangi sintesa dan pelepasan serotonin. (4) mengaktivasi reseptor post sinaptik. dan dopamin.5. Kadar serotonin diatur melalui mekanisme umpan balik. Faktor genetik dianggap berperan besar dalam kejadian hiperserotonemia. Tinjauan pustaka ini secara mendalam akan membahas peran disfungsi sistem serotonin pada autisme. Pada penderita autisme diamati pula adanya antibodi yang bersirkulasi dan merusak reseptor serotonin. MEDLINE database.7 Neurotransmiter serotonin memiliki 14 reseptor yang berbeda berdasar pada susunan protein dan lokasinya.7 Serotonin disintesa dari asam amino tryptophan. peningkatan ambilan platelet. serotonin. dan pelacakan manual pada berbagai penelitian dan kajian tentang hubungan disfungsi serotonin dan autisme. 45% ayah penderita. mechanism. proyeksi pada ganglia basalis bertanggung jawab pada gangguan obsesif kompulsif. dan medula spinalis.TINJAUAN PUSTAKA Gangguan sistem neurotransmiter sering dijumpai pada penderita autisme. (2) kadar serotonin dalam darah yang lebih tinggi pada saudara kandung penderita autisme.8 Fungsi sistem serotonin di otak ditentukan oleh lokasi sistem proyeksinya. (5) fungsi serotonin yang abnormal pada pemeriksaan pencitraan (PET). Hiperserotonemia yang terjadi tidak berhubungan dengan peningkatan volume platelet. dan gangguan tidur diperantarai oleh kurangnya serotonin pada pusat tidur di batang otak. kadar serotonin yang berlebihan akan menghentikan produksi dan pelepasan serotonin. Peningkatan kadar serotonin di dalam darah (hiperserotonemia) akan menyebabkan penurunan sistesis serotonin No. Serotonin dimetabolisme oleh enzim monoamine oxidase menjadi 5-hydroxyindoleacetic acid (5-HIAA). dan 87% dari saudara kandung penderita. Kata kunci yang dipergunakan adalah: autism. Nukleus bagian rostral meliputi nukleus linearis. dan (6) gangguan afektif. dan (6) dijumpai adanya perbaikan gejala dengan pemberian Serotonin Selective Reuptake Inhibitor (SSRI) pada penderita autisme. Berbagai penemuan yang menunjukkan adanya peran sistem serotonin pada autisme adalah sebagai berikut:(1) dijumpai adanya hiperserotonemia pada 25%-30% kasus autisme. antidepressant drugs. (3) peningkatan ambilan kembali.Desember 2006 . dan penurunan katabolisme 5-HT.10 Berbagai penelitian memperlihatkan bahwa disfungsi sistem serotonin pada autisme dapat disebabkan oleh halhal berikut: (1) menurunnya sintesa. GABA. perkembangan dendrit. Sebagian reseptor serotonin berperan sebagai autoreseptor (misalnya: 5HT1A dan 5-HT1D). Kecemasan dan panik diperantarai oleh fungsi serotonin pada sistem limbik.1 Penelitian Leboyer. Metode Studi pustaka ini dilakukan secara kualitatif dengan mengkaji berbagai penelitian terkini. suatu neurotransmiter yang dibentuk dari asam amino tryptophan. Pelacakan kepustakaan dilakukan dengan menggunakan internet. (5) ansietas.7 Serotonin berperan dalam perkembangan otak (neurodevelopmental) dengan cara menstimulasi neurogenesis. Pembahasan dititikberatkan pada peran obatobat tersebut pada gangguan spektrum autistik.9 Kajian Wiznitzer10 menunjukkan bahwa serotonin berperan dalam hal-hal berikut: (1) perkembangan sistem saraf pusat. (3) mengaktivasi reseptor 174 presinaptik. sinaptogenesis. dan (5) mengalami ambilan kembali (reuptake) ke pre sinaptik. dan pathophysiology. (2) perilaku sosial. dan mielinisasi akson. sebuah metabolit yang dapat digunakan untuk menilai fungsi serotonergik sentral. batang otak. Metabolisme serotonin terutama diperantarai oleh enzim MAO (Mono Amine Oxidase) menjadi 5-hydroxyindoleactic acid (5-HIAA). yaitu pada bagian rostral dan kaudal. dan raphe pontis. (2) dimetabolisme oleh enzim MAO. dkk11 pada penderita autisme dan keluarganya memperlihatkan bahwa hiperserotonemia terdapat pada 51% ibu penderita. dan berhubungan dengan munculnya gejala gangguan perilaku. norefinefrin. (4) agresi. yang berproyeksi hampir ke seluruh bagian otak termasuk serebelum. Sementara nukleus bagian kaudal terdiri dari raphe magnus. raphe dorsalis. berperan pada diferensiasi neuronal. (3) deplesi kadar triptofan akan memperburuk gejala.7 Serotonin yang dilepaskan ke celah sinaps akan mengalami satu atau lebih kejadian berikut: (1) difusi dari sinaps. (4) peningkatan antibodi terhadap reseptor serotonin. Vol. dan raphe obscuris dengan proyeksi yang lebih terbatas pada serebelum. 4. Pembahasan Gangguan fungsi serotonin pada penderita autisme Serotonin dikenal juga dengan nama 5-hydroxytryptamine (5HT). (2) menurunnya pelepasan serotonin. Berbagai terapi farmaka yang bekerja pada sistem serotonin akan dibahas pula. raphe pallidus. peningkatan sintesis 5-HT. raphe medialis. 19.7 Sistem serotoninergik pada otak manusia terbagi dalam 2 bagian besar.6 Permasalahan yang ada adalah bagaimana keterlibatan disfungsi sistem serotonin pada gangguan spektrum autistik. (3) tidur. Oktober . treatment. Proyeksi pada korteks frontal diperlukan untuk pengaturan mood. tryptophan akan dihidroksilasi oleh enzim tryptophan hydroxylase (TPH) menjadi 5-Hydroxytryptophan yang kemudian mengalami dekarboksilasi menjadi serotonin oleh enzim L-aromatic amino acid decarboxylase. dan stimulasi diri sendiri (self stimulating) yang berlebih. Berbagai penelitian terdahulu memperlihatkan adanya disfungsi sistem neurokimiawi pada penderita autisme yang meliputi sistem serotonin. (4) menurunnya sensitivitas postsinaps. obsesif kompulsif.10 Pada sebagian penderita dijumpai adanya hiperserotonemia. dan (5) berkurangnya efek postsinaptik.6 Gangguan sistem neurokimiawi tersebut berhubungan dengan perilaku agresif.

19. Oktober .18 Penelitian Awad17 dengan metode pengamatan kasus serial atau case series terhadap 8 subjek.Desember 2006 175 . dan mulut kering. Hal tersebut akan menyebabkan serotonin bertahan lebih lama di celah sinaps. dan pengurangan tryptopan akan memperburuk gejala autisme.6 Fenfluramine akan menginduksi pelepasan cepat serotonin dari neuron.14 Pada penderita epilepsi dengan autisme.7 Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) Obat-obat Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) bekerja terutama pada terminal akson presinaptik dengan menghambat ambilan kembali serotonin. Sistem serotonin yang hiperaktif dihubungkan dengan perilaku eksplorasi. mengambil risiko. 4.TINJAUAN PUSTAKA di raphe nuclei. Gangguan pengendalian impuls disebabkan oleh menurunnya aktivitas dan fungsi 5-HT impuls. mengambil risiko.7 Fenfluramine juga mempercepat pemecahan dopamin yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan ekskresi metabolit utama dopamin. perilaku impulsif dan agresif. Tindakan terapi ditujukan untuk mengatasi gejala-gejala disruptif. Penggunaan Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) terutama ditujukan untuk memperbaiki perilaku stereotipik. substansia P . No. Pemakaian fenfluramine jangka panjang akan menyebabkan deplesi serotonin di neuron dan penurunan fungsi enzim tryptophan hydroxylase (TPH). Tabel 1 memperlihatkan penelitianpenelitian terdahulu tentang penggunaan fluoxetine dalam terapi autisme. dan ritual obsesif dengan ansietas yang tinggi.12. dan pengaturan faktorfaktor neurotropik. Penderita autisme mengalami gangguan dalam kapasitas sintesis serotonin pada masa anak-anak. Berbagai obat antiepilepsi memiliki efek yang poten terhadap sistem serotoninergik. pemberian agonis 5-HT1A akan menghambat pembentukan kindling. perilaku melukai diri sendiri. Fenfluramine merupakan kelompok agonis 5-HT indirek yang memacu pelepasan 5-HT presinaps dan menghambat ambilan kembali (reuptake) oleh neuron 5-HT. Tolerabilitas SSRI yang relatif baik disebabkan oleh karena sifat selektivitasnya.13 Serotonin berperan dalam pengaturan perkembangan otak.16 Salah satu alasan utama pemilihan obat-obat penghambat reuptake serotonin yang selektif adalah keamanan terapi. dan mencederai diri sendiri impuls. serotonin memiliki peran tersendiri dalam munculnya gangguan perilaku. Kindling memperlihatkan sebuah model progresivitas kerusakan neuron akibat pacuan berulang baik subkonvulsif maupun konvulsif. dan dimulai dengan fluoxetine dosis 10 mg/hari dengan pengamatan selama 1 bulan. Timbulnya gangguan perilaku dan afektif pada penderita autisme dengan epilepsi atau abnormalitas gelombang EEG diperkirakan terjadi melalui mekanisme kindling seizure pada amigdala. Saat ini fenfluramine telah ditarik dari pasaran obat di Amerika Serikat karena efek samping kerusakan katup jantung dan hipertensi pulmoner. Gangguan sistem serotonin diduga berperan dalam perilaku melukai diri sendiri dengan cara mengganggu pengendalian impuls.14 Peranan neurotransmiter serotonin pada autisme ditunjukkan dengan hiperserotonemia pada penderita autisme. hal ini dihubungkan dengan berkurangnya cabang-cabang dendrit pada korteks dan serebelum. Obat SSRI tidak banyak berinteraksi dengan reseptor neurotransmiter lainnya. dan leucine-enkephalin. ide bunuh diri. Vol. pertumbuhan neuron dan sinaps. resisten terhadap perubahan halhal rutin.12 Berbagai penelitian eksperimental memperlihatkan adanya hubungan terbalik antara kadar asam 5-hydroxyindole acetic acid sebagai metabolit serotonin dengan perilaku kekerasan. Perbaikan paling nyata dijumpai pada gangguan obsesif dan gejala cemas. Serotonin berperan dalam pembentukan kindling dengan cara memodulasi munculnya discharge pada amygdala melalui fungsi reseptor glutamat NMDA (NMethyl DAspartate). yaitu homovanilic acid (HVA). Hyperserotonemia pada penderita autisme terutama dijumpai dengan adanya peningkatan serotonin pada platelet. perbaikan gejala regresi dan stereotipi dengan pemberian obat-obat penghambat reuptake serotonin.15 Neurotransmiter serotoninergik diperkirakan ikut berperan dalam terjadinya kindling pada amygdala.8 Perilaku melukai diri sendiri atau self injurious behaviors merupakan masalah yang sering dijumpai pada gangguan perkembangan pervasif atau autisme. nyeri kepala. Peningkatan serotonin pada platelet dapat disebabkan oleh karena ambilan atau uptake platelet yang berlebih atau karena pelepasan atau release serotonin dari platelet yang kurang. disfungsi seksual. dengan mengatur divisi sel. Kadar serotonin yang kurang di sinaps atau neuron serotoninergik dapat pula disebabkan oleh karena ambilan berlebih dari platelet. diferensiasi sel. perubahan anatomis pada striatum dan hipokampus. serotonin. sementara percepatan kindling teramati setelah pemberian 5-HT2A.17 Efek samping yang dapat terjadi akibat pemberian fluoxetine adalah nausea. dopamin. Penghambatan ambilan kembali serotonin diakibatkan oleh ikatan obat (misalnya: fluoxetine) pada transporter ambilan kembali yang spesifik. dengan mekanisme yang tidak diketahui secara pasti. dan menimbulkan gangguan pada kadar regional neurotransmiter norepinefrin. sementara sistem serotonin yang hipoaktif menyebabkan temperamen yang pasif impuls. sehingga tidak ada lagi neurotransmiter serotonin yang dapat berikatan dengan transporter.15 Penggunaan terapi farmakologi yang berperan pada sistem serotoninergik Agonis 5-Ht Kelompok agonis 5-HT yang paling banyak digunakan dalam penelitian terapi autisme adalah fenfluramine.12 Isolasi sosial pada awal kehidupan akan memicu perilaku melukai diri sendiri.

Teagoe LA.Buruk pada 31% kasus Kajian data retrospektif Fluoxetine 20-80 mg/hari berbagai gangguan perilaku yang muncul pada autisme. Burch S. MJA 2002. Obat-obat yang bekerja pada sistem serotonin banyak dipergunakan dalam terapi autisme. Lima penelitian terdahulu tentang clomipramine sebagai terapi autisme masih bervariasi dan belum konklusif. stereotipik 27%. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan tingkat metabolisme di regio frontal kanan (terutama gyrus cinguli anterior dan korteks orbito-frontal) pada penderita yang diberikan terapi fluoxetine. repetitive self-injurious behavior: the emerging potential of psychotropic intervention. Malenka RC. 3:22-7 19. 44(10): 652-9 23. 2003 7. but a unifying cascade of events is still elusive. N Engl J Med 1997.Sangat baik pada 17% kasus .p. 40(8):551-62 21. Philippe A. Hollander E. Jakarta. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry 1992. 176:412-3 3. USA:Western Reserve University. Gangguan yang terjadi terutama pada sistem dopaminergik.15-0. 20(2) 13. adverse effects and tolerability.6 Kesimpulan Autisme merupakan kelainan yang kompleks. perbaikan gejala regresi dan stereotipi dengan pemberian obat-obat penghambat reuptake serotonin. 2003 17. Harrington C. dan pengurangan tryptophan akan memperburuk gejala autisme. Realmuto Gm. DeLongGR. 326:173-4 5. Bouvard M. Cook EH. Hazneder MM. Widyawati I. meningkatkan interaksi sosial. Pandangan umum mengenai klasifikasi spektrum gangguan autistik dan kelainan susunan saraf pusat. Rapin I. Pediatr Neurol 2001. 2000 10. perilaku yang ritual. Jakarta. BMJ 2003. Dev Med Child Neurol 2002. Fatemi SH. Schultz RT. 4. Manajemen multidisiplin pada individu dengan autistic spectrum disorder. Leboyer M.2000 9. Namun bukti-bukti ilmiah yang mendukungnya kurang kuat. Neuropsychiatry Bulletin 2002 14. 41(6):361-6 18. 337(2):97-104 6. McGraw-Hill Companies. terutama ditandai oleh gangguan fungsi berbahasa. The Harvard Brain 1996:19-25 2. Effect of fluoxetine treatment in young children with idiopathic autism. Gangguan neurotransmiter dianggap berperan pula dalam patofisiologi autisme.Baik pada 52% kasus .5 mg/kg selama rata-rata 32-36 bulan Penelitian Buchsbaum. Biol Psychiatry 1999. Konferensi Nasional Autisme Pertama. Whole blood serotonin and plasma beta endorphin in autistic probands and their first degree relatives. Oktober . Pada kelompok anak-anak pemberian clomipramine memerlukan monitor EKG yang ketat karena kemungkinan efek samping takikardia dan perpanjangan interval QT. Nestler EJ. 45:158-63 12. Ferguson JM. Tuchmann RF. Martino AD. kompulsif. 2003 4. Aspek neuroanatomi yang mendasari munculnya autisme sangat kompleks. letargi 37%. dan gangguan perilaku. serotoninergik. Effect of fluoxetine on regional cerebral metabolism in autistic spectrum disorder: a pilot study. et al. Esles L.983-7 15. Ritch CR. Gangguan pada sistem neurotransmiter dianggap bertanggung jawab pada 176 No. Cambridge University Press. et al. Pusponegoro HD. 25:199-207 16. fluoxetine treatment of children and adults with autistic disorder and mental retardation. fluoxetine response in children with autistic spectrum disorders: correlation with familial major affective disorder and intelectual achivement. Cleveland Ohio. Kuperman S. Wiznitzer M. Agen terapi obsesif-kompulsif pada autisme terutama digunakan untuk mengurangi perilaku stereotipik dan gerakan yang berulang-ulang. Morbiditas epilepsi dan retardasi mental dilaporkan tinggi pula. Antiepileptic drugs: affective use in autism spectrum disorders. fluoxetine in treatment of adolescent patients with autism: a longutudinal open trial. Int J Neuropsychopharmacol 2001.Desember 2006 . Psychiatric Times 2003. 2001 8. sehingga diperlukan suatu uji klinik double blind randomisasi di waktu mendatang. Vol. the use of selective serotonin reuptake inhibitors in young children with pervasive developmental disorders: some clinical observations. dan gangguan bicara 21% Perbaikan pada Global Clinical Impressions Respon pada Autism Diagnostic Observation Schedule . Rowlett R. autistic spectrum and the need for better definition. Neurobiological aspects of agression. the causes of autism spectrum disorder: multiple factors has been identified. dan menurunkan kecenderungan agresivitas. Tonge BJ. Buchsbaum MS. interaksi sosial. Peranan neurotransmiter serotonin pada autisme ditunjukkan dengan hiperserotonemia pada penderita autisme. Autism. anti depressant medications. Hyman SE. Penelitian-penelitian terdahulu tentang penggunaan fluoxetine untuk terapi autisme19-22 Disain Open label trial Open label trial Terapi Fluoxetine 20-80 mg/hari Fluoxetine Subjek 23 penderita autisme Hasil penelitian Perbaikan pada Global Clinical Impressions pada 15 (65%) subjek 37 anak Perbaikan pada Independent autisme usia Developmental Testing antara 2-7 tahun pada 22 (59%) subjek 7 pasien usia 9-20 tahun Perbaikan Abberant Behaviour Checklist dalam hal iritabiltas 21%. dkk23 mengukur efek pemberian fluoxetine terhadap aliran darah regional dan tingkat metabolisme otak. University of California. Dev Med Child Neurol 1998. ssrI. dan GABA. clinical psychopharmacology seminar. J Clin Psychiatry 2001. Antidepresan trisiklik Clomipramine merupakan golongan antidepresan trisiklik yang digunakan sebagai terapi gangguan obsesif-kompulsif dan autisme.8 Mekanisme kerja utama clomipramine adalah menghambat ambilan kembali (reuptake) 5-HT dan norepinefrine. Daftar Pustaka 1. Khan L. J Autism Dev Disord 1998. Autism spectrum disorder in 2002: an update. Molecular neuropharmacology: a foundation for clinical neuroscience. 19. Jaselkis C. Herman A. stereotipik. Levin AL. 2002 11. Szatmari P. Perry P. dan kemarahan diamati pada sebagian besar kasus. the role of serotonin in autism. Neurobiological insights into infantile autism. Essential psychopharmacology: neuroscientific basis and practical applications. Stahl SM. International Encylopedia of the Social and Behavioral SciencesNew York: Elsevier Science. Konferensi Nasional Autisme Pertama. University of Iowa. Perbaikan gejala hiperaktivitas. Villalba R. 28(4):303-7 22. Penelitian dilakukan pada 6 pasien dewasa autisme dengan penggunaan Possitron Emission Tomography. 31(4):734-45 20. Awad GA. Autism: current concept.TINJAUAN PUSTAKA Tabel 1. Can J Psychiatry 1996. namun ada pula penderita yang menunjukkan perburukan gejala. DeLong GR. The Neural basis of autism. Kamran M. 2001. 4(2):119-25 Open label trial selama 1 tahun Fluoxetine 20 mg/hari 12 pasien usia 3-13 tahun 129 anak autisme usia 2-8 tahun Open label trial Fluoxetine (post hoc analysis) 0. Pediatric psychopharmacology: autism.

000 kasus pertahun dengan angka kematian lebih dari 100. Respon ini dikenal sebagai istilah Systemic Inflammatory Responses Syndrome (SIRS). severe sepsis.000/mm2. Tetapi belum banyak studi yang membuktikan hal tersebut.9 per 100. insiden septikemia meningkat dari 73. Infeksi adalah respon inflamasi akibat adanya mikroorganisme atau invasi mikroorganisme ke jaringan yang seharusnya steril. Sepsis yang sebelumnya dianggap sebagai peningkatan respon inflamasi ternyata juga peningkatan respon antiinflamasi. Respon imun sistemik muncul setelah respon imun lokal tidak berhasil mengeliminasi antigen dengan baik. Pengobatan kortikosteroid masih merupakan kontroversi. Multiorgan Dysfunction adalah sepsis yang disertai dengan adanya gangguan fungsi organ akibat homeostasis tidak bisa dipertahankan. Sepsis merupakan penyebab kematian terpenting pasien-pasien yang di rawat di ruang intensif. Vol. Systemic Inflammatory Responses Syndrome adalah respon inflamasi sistemik akibat berbagai sebab dengan 2 atau lebih manifestasi berikut: temperatur >38oC atau <36oC. syok sepsis. Peranan genetik juga berpengaruh pada prognosis dari sepsis. Beberapa penelitian baru menunjukkan bahwa pemberian kortikosteroid dosis rendah. atau hipotensi dan kadang disertai laktoasidosis. proinflamsi. sepsis. Tingginya angka mortalitas membuat sepsis 177 No.1-3 Insiden sepsis mempunyai kecenderungan terus meningkat. bakterimia. <4. Angka kematian sepsis di Amerika didapatkan lebih rendah.1. Mekanisme terjadinya sepsis masih merupakan mekanisme yang tidak sepenuhnya jelas. kortikosteroid.000/mm2 atau >10% bentuk (band) immature. 19. Laporan terakhir tahun 1990 insiden septikemia di Amerika 450. Syok sepsis adalah bagian dari severe sepsis yang disertai dengan hipotensi. Laporan Central Disease Control (CDC) di Amerika. antiinflamasi Pendahuluan epsis adalah merupakan respon inflamasi yang bersifat sistemik akibat adanya infeksi berat. Pada sepsis ternyata terjadi keadaan imunosupresif di mana didapatkan peningkatan respon antiinflamasi. Sjaiful I Biran Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam FK UNUD/RS Sanglah Denpasar .000 orang. Keberhasilan dari respon ini ditentukan oleh kekuatan proses inflamasi dan keseimbangan antara respon inflamasi dan kompensasi respon antiinflamasi.000 pasien pada tahun 1987.TINJAUAN PUSTAKA Konsep Baru Kortikosteroid Pada Penanganan Sepsis IGP Suka Aryana. denyut jantung >90 kali/menit. dosis fisiologis dapat mengembalikan stabilitas hemodinamik.2. hipoperfusi. 4. Bakterimia adalah ditemukannya bakteri pada darah.4 Di Eropa didapatkan 2-11% pasien yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU) menderita severe sepsis. Pengobatan kortikosteroid dosis rendah sebaiknya diberikan pada penderita sepsis dengan disertai adanya adrenal insufisiensi. Penelitian-penelitian terbaru membuktikan bahwa penggunaan kortikosteroid dosis tinggi tidak ada manfaatnya pada terapi sepsis dan syok sepsis. Total biaya yang diperlukan per kasus berkisar 22. Sepsis adalah respon inflamasi sistemik akibat infeksi. anergi dan apoptosis sel imun.Desember 2006 . respirasi >20 kali/menit atau PaCO2 <32 mmHg. Sepsis adalah respon inflamasi sistemik S akibat infeksi dengan manifestasi SIRS. Angka mortalitas dari syok sepsis berkisar 40%. yaitu 9. oligouri dan penurunan kesadaran. perbaikan fungsi organ dan menurunkan mortalitas.3% pada tahun 1995. SIRS.2 Beberapa istilah yang harus dipahami sehubungan dengan sepsis antara lain infeksi. Severe sepsis adalah sepsis yang disertai dengan disfungsi organ.Bali Abstrak.6 per 100. dan leukosit >12. Kata kunci: sepsis. Oktober .000 pasien pada tahun 1979 menjadi 175.10 dolar. dan Multiorgan Dysfunction (MOD).

Pasien dapat mengalami fase syok dan MOD dan berakhir pada Multiple Organ Faillure (MOF) dan kematian. interleukin(IL)-1 dan IL-8 sebagai sitokin proinflamasi dan IL-6. 19. Peningkatan respon imun berlebihan ternyata berakibat buruk pada pasien. Beberapa penelitian sebelumnya mendapatkan bahwa ternyata pada sepsis tidak ada bukti bahwa peran reaksi proinflamasi lebih dominan. Hal ini akan mengaktifasi sistem pembekuan. Sitokin yang dihasilkan oleh sel yang mengalami injuri bersifat sebagai peptida imunoregulator yang polimorfik. Adanya infeksi menghasilkan endotoksin atau toksin akan meningkatkan sitokin proinflamasi. termal) Sebaran sistemik mediator proinflamasi Sebaran sistemik mediator antiinflamasi Reaksi sistemik: SIRS (proinflamasi) CARS (antiinflamasi) MARS (campuran) C Cardiovascular compromise (syok) SIRS Predominate H Homeostatis A Apoptosis (sel-sel mati) O Disfungsi organ S Supresi sistem organ CARS mendominasi Kematian Keseimbangan dengan inflamasi CARS dan SIRS minimal SIRS mendominasi Elemen kunci pada patofisiologi sepsis adalah sitokin. Oktober . kuman dan merangsang pertumbuhan jaringan baru.2.1.Desember 2006 . Kompensasi mediator antiinflamasi segera muncul untuk mencegah agar proinflamasi tidak terlalu destruktif. Konsep baru sepsis Imunomodulasi pada sepsis sangat kompleks dan saling tumpang tindih. Reaksi dari sitokin proinflamasi ini yang bermanifestasi sistemik sebagai (Systemic 178 Gambar 1. IL-10 sebagai sitokin antiinflamasi. Terapi kortikosteroid telah dimulai sejak tahun 1950 ternyata masih menjadi perdebatan. yaitu:2 1. IL-10. Sitokin Tumor Necrosing Factor (TNF). Sistem kekebalan yang didapat (spesifik) akan membantu sistem kekebalan alami melalui aktivitas dari sel limfosit. mekanik dan kimiawi tubuh.6 Toksin mikroba akan merangsang produksi TNF dan IL-1 menyebabkan terjadinya adhesi dari lekosit pada endotel dan mensekresi protese dan metabolit arakidonat. benda asing. melibatkan banyak sel. Limfosit T bersifat seluler dan limfosit B bersifat humoral. Sistem imun akan diaktifkan oleh protein patogen yang dapat berasal dari berbagai jenis mikroorganisme. C Reactive Protein (CRP) dan sitokin.1. reseptor TNFa terlarut. dan merangsang sekresi berbagai hormon. flagelin. IL-13. Sistem kekebalan alami bisa berupa seluler yang terdiri dari sel monosit. misalnya endotoksin (lipopolysaccharide).7 Respon proinflamasi lokal Respon antiinflamasi lokal Luka awal (bakteri.6 Jadi ada beberapa faktor yang berperan pada proses ini. Ketiga hal ini berperan dalam menentukan prognosis dari pasien sepsis. Pada SIRS terjadi patogenesis yang sangat kompleks. Pada tinjauan pustaka ini akan kami uraikan secara praktis penggunaan kortikosteroid dalam terapi sepsis. kondisi traumatis. Kegagalan sistem imun mengatasi infeksi dan menimbulkan reaksi imun yang tidak sesuai dikatakan sebagai sepsis. makrofag.5 Patofisiologi Sepsis Sistem kekebalan alami (nonspesifik) adalah pertahanan lini pertama tubuh terhadap infeksi yang diaktifkan bila ada patogen masuk melewati pertahanan fisik. neutrofil. yaitu Compensatory Anti Inflammatory Responses (CARS) dan Mixed Proinflammatory and Antiinflammatory Responses (MARS). antagonis reseptor IL-1. lipoechoic acid. IL-11. Inflamatory Responses Syndrome) SIRS.4 Elemen kunci pada patofisiologi sepsis adalah sitokin. peptidoglycan. Konsep baru ini menjelaskan bahwa ada 5 tahapan terjadinya MOD pada sepsis.7 Hal ini menimbulkan munculnya teori baru tentang sepsis tersebut. Terapi tidak akan berhasil jika berkerja hanya pada satu titik saja. 4. SIRS ditandai dengan adanya hipersitokinemia. eosinofil dan sel Natural Killer (NK) dan humoral berupa protein terlarut seperti komplemen. IL-4. peranan sel endotel dan monosit dan aktivasi sistem inflamasi dan koagulasi.1. tumor growth factor No. Terapi dengan antibodi antiTNF gagal menunjukan hasil bermakna pada peningkatan angka harapan hidup pasien dengan sepsis berat. Stadium reaksi lokal Respon awal tubuh adalah menginduksi mediator proinflamasi untuk menghancurkan jaringan yang rusak. Inflamasi dan koagulasi merupakan 2 keadaan yang akan saling berpengaruh untuk menentukan prognosis pasien yang mengalami infeksi. Vol. virus. yaitu: respon tubuh. lipopeptide. Sitokin yang dihasilkan oleh sel yang mengalami injuri bersifat sebagai peptida imunoregulator yang polimorfik.TINJAUAN PUSTAKA semakin diperdebatkan dalam hal patogenesis dan terapi yang terus berkembang. mannan dan RNA virus. Hal ini yang menyebabkan kita harus lebih banyak mengerti konsep baru di mana ditambahkan 2 istilah baru yang dapat terjadi pada sepsis.

(3) kematian sel imun akibat terjadinya apoptosis baik pada sel B. Peranan genetik dikatakan ikut mempengaruhi prognosis pasien. 2. Adanya kenyataan seperti ini berarti masih banyak misteri sepsis yang belum terungkap dengan jelas. Stadium respon sistemik awal Bila mediator proinflamasi didapatkan dalam sirkulasi menandakan bahwa kerusakan/kuman tidak dapat dikontrol oleh reaksi lokal saja. (TGF)b dan mediator lainnya bertujuan mengurangi ekspresi Major Histocompability Complex (MHC) klas II. Neutrofil yang sebelumnya diduga dapat mengeradikasi kuman patogen ternyata juga dapat berakibat kerusakan jaringan yang lebih luas karena produksi oksidan dan protease yang berlebihan. antibodi antiendotoksin. penyakit kolagen. Ada beberapa teori yang menjelaskan terjadinya imunosupresif pada sepsis. Hal ini dapat dilihat dari beberapa penelitian yang mencoba memberikan terapi antiinflamasi dengan kortikosteroid. Penelitian lain mendapatkan bahwa ternyata sepsis adalah suatu kondisi imunosupresif. (2) Trombosit yang memblok mikrosirkulasi sehingga timbul iskemia atau injuri reperfusi dan menginduksi Heat Shock Protein (HSP). Vol. sel limfosit T. Hal ini didasari oleh didapatkannya bukti bahwa pada sepsis terjadi kehilangan kemampuan pada reaksi hipersensitivitas tipe lambat dan kemampuan eliminasi infeksi sehingga pada sepsis mudah terjadi infeksi nosokomial. Pada suatu penelitian didapatkan bahwa pada pasien dengan SIRS.TINJAUAN PUSTAKA didapatkan ekspresi human leucocyte antigen (HLA) DR monosit menurun kurang dari 30%. Semua reaksi ini berlangsung lokal tanpa reaksi sistemik berlebihan.Desember 2006 179 . dan B. Manifestasi klinis akan muncul tetapi tidak berat dan jarang menimbulkan disfungsi organ. Oktober . Reaksi ini akan merangsang respon kompensasi sistemik antiinflamasi. sel T CD4 maupun sel dentritik folikular. jadi terjadi ketidaksesuaian atau sistem imunomodulator berada di luar keseimbangan. antagonis reseptor IL-1 dan lainnya ternyata gagal sebagai terapi pada sepsis. (2) anergi: penurunan respon terhadap antigen akibat kegagalan proliferasi dan sekresi sitokin sehubungan dengan terjadinya apoptosis limfosit akibat sepsis. maka terapi kortikosteroid juga masih merupakan kontroversi dan masih diperdebatkan. Stadium imunologi dissonance Stadium akhir dari sepsis adalah imunologis dissonance. laktoasidosis.8 Karena mekanisme sepsis yang masih belum jelas diketahui. Perkembangan Pemakaian Kortikosteroid pada Terapi Sepsis Kortikosteroid telah banyak digunakan pada beberapa penyakit yang ditandai dengan peningkatan respon inflamasi seperti asma. sarcoidosis dan penyakit lainnya. menurunkan aktivitas Antigen Precipating Cell (APC). 4. dan menurunkan aktivitas sel untuk memproduksi sitokin inflamasi. Pada CARS No. Stadium imunosupresi masif Pada keadaan ini terjadi reaksi antiinflamasi kompensasi yang tidak efektif dan menyebabkan terjadinya imunodefisiensi. (3) aktivasi sistem koagulasi dan gangguan jalur inhibisi protein C dan protein S. Kortikosteroid dikatakan dapat mengatasi respon inflamasi ini melalui beberapa cara seperti terlihat pada tabel 1. Penambahan interferon (IFN) g-1b dapat meningkatkan ekspresi HLA DR pada permukaan monosit sehingga memperbaiki fungsi monosit dan sekresi IL-6 dan TNFa sehingga kondisi pasien membaik. 3. 19. Keadaan ini sering disebut sebagai immune paralysis atau CARS. Beberapa penelitian baru telah menunjukkan adanya manfaat dari terapi kortikosteroid tersebut. 5. 4. Hal ini terjadi akibat dari: (1) progresivitas disfungsi endotel sehingga terjadi peningkatan permiabilitas mikrokapiler. (4) adanya vasodilatasi dan maldistribusi aliran darah sehingga pasien jatuh pada fase syok. antagonis TNF. Pada syok sepsis terjadi peningkatan respon inflamasi yang disertai dengan manifestasi syok dengan penurunan kesadaran. Pada stadium ini merupakan ancaman terjadinya disfungsi organ dan MOF bila homeostasis tidak segera diatasi.1 Beberapa penelitian sebelumnya mendapatkan bahwa ternyata pada sepsis tidak ada bukti bahwa peran reaksi proinflamasi lebih dominan. Sepsis yang didefinisikan sebagai respon inflamasi sistemik ternyata tidak sepenuhnya terjadi respon inflamasi. dan penurunan produksi urin. Tetapi respon ini akan segera menurunkan respon sistemik proinflamasi. Mediator proinflamasi bertujuan membantu menarik neutrofil. Stadium inflamasi sistemik masif Pada stadium ini terjadi kehilangan mekanisme regulasi respon proinflamasi sehingga timbul manifestasi klinis SIRS. trombosit dan faktor koagulasi untuk datang ke injury location atau infeksi. Keadaan ini sering dianggap sebagai keadaan yang persisten sehingga mempunyai angka kematian yang tinggi. yaitu: (1) perubahan/pergantian sitokin yang mulanya proinflamasi menjadi antiinflamasi. vaskulitis.

Hambat sintesis NO eksogen 3. Kedua hormon ini mempunyai negative feedback control.1. Meningkatkan respon PMN pada rangsangan 2. Efek kortikosteroid sebagai antiinflamasi1 Efek pada lipokortin: 1. 4. Pemberian terapi kortikosteroid jangka lama dapat menekan sekresi kortikotropin dan CRH akan menimbulkan atropi adrenal terutama jika mendapat hidrokortison 30 mg perhari selama lebih dari 3 minggu. Pada keadaan kadar sitokin yang rendah dalam darah jaringan akan lebih sensitif terhadap kortisol dibandingkan dengan keadaan sitokin tinggi yang akan menyebabkan terjadi resistensi. Pada keadaan infeksi berat/sepsis. trauma.4% menjadi 10. Perubahan membran sel pada pengikatan kalsium 4. Vol. Down egulasi sitokin dan growth factor 4. Hambatan phospholipase A2 dan cegah aktivasi prostaglandin 3. perdarahan saluran cerna dan peningkatan gula darah. Cegah hiperagregasi dan adesi lekosit oleh endotoksin Lain-lain: 1. Pemberian kortikosteroid dosis tinggi didasarkan pada asumsi bahwa pemberian kortikosteroid dosis tinggi akan dapat menguatkan efek antiinflamasi untuk melawan efek proinflamasi yang tidak terkontrol.5 Pada tahun 1970-an beberapa penelitian menggunakan kortikosteroid dosis tinggi pada sepsis berat dan syok sepsis.10-13 Konsep Baru Pemakaian Kortikosteroid pada Terapi Sepsis Banyak studi mendapatkan bahwa pemberian kortikosteroid dosis tinggi pada sepsis tidak bermanfaat bahkan dapat merugikan karena dapat menimbulkan infeksi sekunder. Schumer dkk. Menormalkan respon inflamasi 4. Hasil-hasil penelitian ini sulit dievaluasi karena banyaknya data-data dan metode yang tidak valid. Cegah aktivitas kaskade koagulasi 2. Hal ini menandakan perlukan respon adrenal yang normal untuk Gambar 2. Menurunkan waktu paruh mRNA IL-3 3.1 Beberapa penelitian yang dilakukan dari tahun 1950 sampai tahun 1971 menunjukkan banyaknya kortikosteroid digunakan pada sepsis oleh karena bakteri. kortikosteroid hemorrhage infeksi termasuk infutrasi HIV B Fungsi normal aksis hipotalamushipofisis-adrenal selama sakit Mengurangi asupan balik Kortikotropin melepaskan hormon Stress sitokin Pelepasan hormon kortikotropin C Fungsi normal aksis hipotalamushipofisis-adrenal selama sakit penyakit sistem saraf pusat. luka bakar.TINJAUAN PUSTAKA Tabel 1. Kortisol dalam darah terikat dengan Corticosteroid Binding Globulin (CBG). 19. Mekanisme feed back tidak bekerja maksimal sehingga variasi diurnal sekresi kortisol tidak normal.5%. kortikostroid Apoplexy hipofisis. Pada keadaan ini juga terjadi penurunan CGB sehingga kortisol bebas akan semakin tinggi.Desember 2006 180 . kortikosteroid Andrenal Terikatnya kortisol dengan kortikosteroid . Sitokin inflamasi juga dapat meningkatkan kortisol di jaringan karena sitokin ini dapat merubah metabolisme kortisol perifer dan meningkatkan afinitas reseptor glukokortikoid terhadap kortisol. Sekresi kortikotropin dirangsang oleh Corticotropin Releasing Hormone (CRH) yang berasal dari hipotalamus (gambar 3). Gangguan pada mekanisme aksis hipotalamus-pituitaria-adrenal dikatakan disebabkan oleh banyaknya sitokin di dalam sirkulasi pada keadaan tersebut. aktivasi kortikostenoid lokal Menurunkan kortisol dan menurunkan kortikosteroid-mengikat globulin Aksis normal pada jaringan Meningkatkan aksi pada jaringan Menurunkan aksi pada jaringan Kortisol bentuk kortikosteroid yang disekresi oleh kortek adrenal pada orang sehat tanpa stress mempunyai kadar diurnal sesuai dengan rangsangan kortikotropin yang disekresi oleh kelenjar pituitaria. Oktober . Hambat kemampuan netrofil untuk melepaskan metabolit oksigen aktif Efek pada interleukin: 1. Tetapi tingginya kadar sitokin inflamasi pada sepsis secara langsung dapat menghambat sintesis kortisol oleh adrenal. Hal ini sering disebut sebagai functional adrenal insufficiency atau relative adrenal insufficiency artinya walaupun kadar kortisol tinggi tetapi belum cukup untuk menekan proses inflamasi.1. Stabilisasi lisosom neutrofil 2. Cegah TNF dan IL-1 dilepas oleh sel mononuklear Efek pada netrofil: 1. Penggunaan kortikosteroid dosis rendah masih diharapkan bermanfaat karena dapat menurunkan efek kerusakan sistem imunologis dan menurunkan insiden No.9 A Fungsi nonstres normal hipofisis andrenal Hipotalamus Corticotropin releasing hormonie Hipofisis Kortikotropin Kortikotropin Kortikotropin Sitokin anastesi. Aksis hipotalamus-pituitaria-adrenal Konsep Lama Pemakaian Kortikosteroid pada Terapi Sepsis Sejak tahun 1950 penggunaan kortikosteroid pada sepsis sudah diperdebatkan. Hambat pelepasan enzim lisosom 3. di mana <10% dalam bentuk bebas.. Menurunkan platelet-activating factor selama rangsangan endotoksin dapat mengontrol inflamasi. mendapatkan pada studi prospektifnya bahwa pemberian metilprednisolon 30 mg/kg berat badan (BB) atau deksametason 3 mg/kg BB diberikan 1 atau 2 kali dalam 24 jam dapat menurunkan angka kematian dari 38. antiinfeksi. Proses inflamasi dikatakan dapat memecah ikatan CBG dengan kortisol oleh enzim neutrofil elastase.mengikat globulin Meningkatkan kortisol dan menurunkan kortikostenoid-mengikat globulin Sitokin. Hambat sintesis IL-1 dan hambat IL-6 2. dan operasi akan terjadi peningkatan sekresi kortisol akibat peningkatan sekresi hormon kortikotropin dan CRH. Pemberian kortikosteroid juga diharapkan dapat mengobati relative adrenal insufficiency yang biasanya terjadi pada pasien sepsis.

Back from the dead?(Con). et al. Chacko J.Desember 2006 181 . Pathogenesis of sepsis: new concepts and implications for future treatment. Sepsis merupakan kombinasi kompleks peningkatan respon inflamasi. The role of the endothelium in severe sepsis and multiple dysfunction syndrome. dalam studi yang disebut CORTICUS akan menjawab pertanyaan penggunaan steroid pada sepsis. dosis fisiologis dapat mengembalikan stabilitas hemodinamik. dan genetik. Annene D. Corticosteroid therapy in severe illness. Minneci PC. 329:480 No. and acute respiratory distress syndrome: time for a reevaluation. Luce MJ. Role of corticosteroids in septic shock. Annals Pharm 2004. 337:1285-92 11. Bellisant E. et al. Consensus conference definitions for sepsis septic shock. Steroid in sepsis. Pemberian kortikosteroid dosis rendah dikatakan lebih memberikan manfaat tetapi masih belum disepakati. Beberapa penelitian baru menunjukkan bahwa pemberian kortikosteroid dosis rendah. Deans KJ. 141:70-2 13. Terapi ini menjadi rasional karena dianggap pada keadaan sepsis terjadi relatif defisiensi adrenal. Coricosteroid insuffeciency in acutle ill patients. VanBerkel TJ. Steroid for septic shock. 4. The pathophysiology and treatment of sepsis. Chest 1997. Bone RC. Kuiper J. BMJ 2003. Ann Intern Med 2004. Karl IE. Abraham E. Back from the dead?(pro). Calandra.5 Metaanalisis terakhir oleh Minneci mendapatkan bahwa terapi kortikosteroid dosis tinggi dalam waktu pendek dapat menurunkan harapan hidup. 123:482S-489S 6. Balk RA. Sessler CN. 112:235-43 8. Blood 2003. Penelitian terbaru yang sedang berjalan dilakukan oleh Sprung dkk. Wheeler AP. Sementara menunggu hasil studi pemberian kortikosteroid dosis rendah hanya direkomendasi apabila didapatkan adanya adrenal insufisiensi pada sepsis. N Engl J Med 1999. VanAmersfoort ES. terjadinya infeksi sekunder. Bollaert PE. mediators. 38:464-72(abstract) 17. Chest 2003. Ann Intern Med 2004. Stewart. 326:262-6 5. 16:379-414 16. Oktober . DeJong FH. 167:485-9 14. 123:490S-499S 15.16 Pemberian kortikosteroid dosis tinggi tidak dianjurkan karena lebih banyak merugikan.28:232-5. 4. Dinarello CA. Pharm B. Physician should administer low dose corticosteroid selectively to septic patients untill an ongoing trial is completed. perbaikan fungsi organ dan menurunkan mortalitas. acute lung injury. Grodzin CJ. sedangkan terapi kortikosteroid dosis selama 5-7 hari dapat meningkatan umur harapan hidup. Bernard GR. dapat memperbaiki kondisi syok dan meningkatkan respon vaskular terhadap vasopresor. 101:3765-77 3. Meta-analysis: the effect of steroid on survival and shock during sepsis depends on the dose. BMJ 2004. 340:207-14 7. Baik tinggi maupun rendahnya kadar kortisol endogen yang disekresi akan berhubungan dengan mortalitas yang terjadi pada penderita sepsis. Crit Care & Shock 2004. 7:129-33 2. Treating patients with severe sepsis. Banks SM. N Engl J Med 2003. Terapi ini sering disebut sebagai terapi fisiologi/replacement dari kortikosteroid. 141:47-56 12. Receptors. Hotchkiss RS.14. Steroid for septic shock. 384:138-50 9.12-14. peningkatan respon Daftar Pustaka 1. Bornstein SR. 348:727-34 10.TINJAUAN PUSTAKA antiinflamasi. Pemberian kortikosteroid dosis tinggi didasarkan pada asumsi bahwa pemberian kortikosteroid dosis tinggi akan dapat menguatkan efek antiinflamasi untuk melawan efek proinflamasi yang tidak terkontrol. N Engl J Med 1997.17 Kesimpulan Sepsis adalah respon inflamasi sistemik akibat infeksi. Balk RA. Aird WC.. Chest 2003. Am J Respir Crit Care Med 2003. Bochud PY. Sepsis: a new hypothesis for pathogenesis of the disease process. 19. Crit Care Med 2000. et al.11.15 Kelenjar adrenal mensekresi kortisol pada saat ada stressor seperti pada sepsis. Clin Microbiol R 2003. Burry LD. Lamberts SW. Vol. Cooper MS. Mekanisme terjadinya sepsis masih merupakan mekanisme yang tidak sepenuhnya jelas. Bruining HA. N Engl J Med 2003. Matthay MA. and mechanism involved in bacterial sepsis and septic shock. A new role for glucocorticoid in septic shock. Corticosteroid for severe sepsis and septic shock: a systematic review and meta-analysis. Pengobatan kortikosteroid masih merupakan kontroversi. Manfaat dari kortisol adalah dapat sebagai antiinflamasi (menghambat sekresi sitokin dan migrasi sel radang) dan efek kardiovaskularnya dapat menghambat rangsangan sintesis Nitric Oxide (NO) dan meningkatkan respon vasokonstriksi vaskular terhadap katekolamin.

Pada saat terjadinya infeksi di mukokutan. diagnosis HG serta respon imun tubuh terhadap infeksi VHS baik yang bersifat alamiah dan adaptif. Oktober . VHS ini mengalami reaktivasi. Dengan demikian. menstruasi.TINJAUAN PUSTAKA Patogenesis dan Respon Imun Tubuh terhadap Infeksi Virus Herpes Simpleks Ary Widhyasti Bandem. respon imun Pendahuluan erpes Genitalis (HG) adalah infeksi genital yang disebabkan oleh virus herpes simpleks (VHS) ditandai secara klasik dengan timbulnya erupsi papulovesikular dengan dasar eritema pada kulit. diagnosis. yaitu VHS-1 dan 182 No.10 Manifestasi klinis HG bervariasi. Sardjito Yogyakarta Abstrak. 4. patogenesis infeksi VHS pada mukokutan. Pada makalah ini akan dibahas mengenai karakteristik VHS. patogenesis. Herpes genital (HG) disebabkan oleh virus herpes simpleks (VHS) yang bermanifestasi sebagai papule vesicle yang dengan mudah menjadi ulkus dangkal pada genital. Pada tulisan ini akan diuraikan tentang karakteristik VHS. 19. rekuren dan bahkan asimptomatis sehingga dengan mudah dapat menular kepada orang lain. dan pada mukosa dengan mudah menjadi ulkus dangkal. Saat ini secara nasional di Amerika Serikat dideteksi VHS-2 positif pada 1 dari 5 orang yang berusia di atas 12 tahun. menuju ganglion sakralis (S2-S4). diharapkan dapat membantu menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan yang lebih tepat untuk penderita HG. Pada beberapa keadaan seperti adanya trauma lokal. Tentunya transmisi ini berbahaya apalagi dengan adanya infeksi HG juga memudahkan transmisi HIV ataupun penyakit menular seksual lainnya. infeksi rekuren. patogensis infeksi VHS pada mukokutan. Satiti Retno Pudjiati Bagian/SMF Ilmu Penyakit Kulit Kelamin Fakultas Kedokteran UGM/RS Dr. juga disebabkan karena perbaikan dalam menegakkan diagnosis dan meningkatnya kepedulian pasien.000 di tahun 1990.6 VHS-1 sebagai penyebab HG di Amerika Serikat H telah didapatkan meningkat sampai 20% dan disebabkan karena dari hubungan oral-genital.Desember 2006 . Virus Herpes Simpleks merupakan virus DNA dari famili Herpesviridae dan menginfeksi epitel mukokutan secara inokulasi langsung melalui lesi abrasi. VHS juga menginfeksi sel saraf sensoris. Kata kunci: Herpes genital. Vol. Infeksi HG dapat berupa infeksi primer. Infeksi HG prevalensinya makin meningkat dan memudahkan transmisi infeksi HIV maupun penyakit menular seksual lainnya.11-13 Manifestasi klinis yang bervariasi. dan paparan sinar ultraviolet. diagnosis HG serta respon imun tubuh terhadap infeksi VHS baik yang bersifat alamiah dan adaptif.9% dari 45 juta penduduk yang terinfeksi.000 di tahun 1970-an menjadi 200.1-8 Prevalensi HG di Amerika Serikat meningkat dari 100. stres emosi. dikenal dengan infeksi primer. Manifestasinya dapat ringan maupun berat pada penderita imunocompromise sehingga penting untuk diketahui patogenesis dan respon imun tubuh terhadap infeksi VHS. rekureni yang tinggi dan komplikasi berat pada penderita imunocompromise. Hal ini di samping karena jumlah kasus yang memang meningkat. maka diperlukan pemahaman yang lebih baik tentang patogenesis dan respon imun tubuh terhadap infeksi VHS. dan bahkan infeksi dapat tidak dirasakan penderita (asimptomatis) tetapi terjadi viral shedding yang dapat menularkan kepada orang lain. selanjutnya menetap sebagai infeksi laten. Karakteristik VHS Virus herpes simpleks tergolong ke dalam virus Herpes tipe alfa yang mempunyai sifat neurotropik dan replikasi virus yang relatif cepat serta dapat menginfeksi berbagai sel pada kultur. demam. serta kesembuhan permanen yang tidak pernah terjadi. karakteristik. Sejak tahun 1960 dikenal ada dua serotipe. seroprevalensi VHS-2 pada penduduk Amerika Serikat yang berusia di atas 12 tahun sebesar 21.9 Pada tahun 1988-1994. secara axonal kembali ke mukokutan dan memberikan gambaran klinis sebagai infeksi rekuren.

double stranded DNA. Beberapa protein tersebut menghentikan sintesa protein pejamu dan yang lainnya menghidupkan transkripsi early-genes untuk replikasi VHS. Genom VHS-1 dan VHS-2 mempunyai 50% sekuen nukleotida yang sama (homolog) sedangkan 50% lainnya berbeda. Pembentukan amplop melalui budding melewati membrana inti.1. Genom virus mengkode 50 protein virus spesifik termasuk 5-6 glikoprotein spesifik yang dipresentasikan pada permukaan virus dan pada permukaan sel yang terinfeksi virus. diikuti degenerasi selular inti sel parabasal dan sel intermediate. Setelah terjadi fusi amplop virion dengan membran sel pejamu. sel-sel inflamasi. 4. sedangkan untuk entry dan terpenting dalam menginduksi antibodi netralisir terhadap virus adalah glikoprotein D.8. Kedua strain ini sulit dibedakan dari patogenesisnya. virus melakukan replikasi dalam jumlah sangat terbatas dan transkripsi yang terjadi dikenal dengan LAT (latentcy associated transcripts).15-17 Pada model binatang percobaan. VHS-2 menginfeksi pejamu di mukosa genital dan mengadakan replikasi dalam sel epitel. Seluruh siklus replikasi ini membutuhkan waktu 12-16 jam. ribonukleotida reduktase dan alkaline DNase. atau gen beta yang merupakan protein regulator dan enzim yang diperlukan untuk replikasi DNA. Sel yang terinfeksi kehilangan kontak dengan plasma membran dan membentuk multinucleated giant cells. Akan tetapi kedua strain ini dapat dijumpai pada tempat yang sebaliknya. Bila sel mengalami lisis akan terlihat sebagai vesikel pada lapisan epidermis dan dermis. dari 56 glikoprotein pada VHS tersebut. serta kesembuhan permanen yang tidak pernah terjadi.14. termasuk virus timidin kinase. Virion VHS terdiri dari inti DNA. Pada mukosa tidak terbentuk krusta tetapi mudah menjadi ulkus dangkal. terjadi uncoating (selubung VHS lepas). Cairan vesikel mengandung depris sel. nukleokapsid di susun di inti sel pejamu. virus secara asenden mencapai neuron sensoris perifer dan mengalami latensi pada ganglia saraf sensoris maupun autonom serta mempunyai hubungan permanen antara virus dengan pejamu.2. Saat latensi di ganglion dorsalis. fasial dan okular sedangkan strain VHS-2 dari lesi genital dan dari bayi baru lahir yang terinfeksi lewat jalan lahir. Nukleokapsid ditransfer ke inti sel pejamu melewati sitoplasma. yaitu heparin sulfat permukaan sel. maka diperlukan pemahaman yang lebih baik tentang patogenesis dan respon imun tubuh terhadap infeksi VHS.2. Virus memasuki sel secara fusi dimulai dengan glikoprotein amplop VHS mengikat reseptor spesifik sel pejamu. infeksi primer) melalui kontak virus dengan mukosa atau lesi abrasi. Early genes atau gen alfa diperlukan untuk sintesis kelompok polipetida. diharapkan dapat membantu menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan yang lebih tepat untuk penderita HG. dan multinucleated giant cell. dengan ukuran 160 x 103 kDa. Pada lapisan subdermis terjadi respon inflamasi yang intens dan penyembuhan pada kulit di mulai dengan vesikel menjadi pustul dan akhirnya menjadi krusta. Setelah replikasi genom virus dan pembentukan protein struktural virus. Enzim virus ini berbeda dengan enzim sel yang terinfeksi dan menjadi dasar penghambat obat antivirus. Oktober . Vol. DNA polimerase. gG1 untuk VHS-1 dan gG2 untuk VHS-2. dan akhirnya genom (DNA) VHS ditransfer ke inti sel pejamu. dikelilingi selubung protein dan amplop lipid. hanya satu dari glikoprotein permukaan ini yang bersifat spesifik.14-16 Genom VHS juga menyandi sejumlah protein non-struktural yang penting untuk replikasi DNA virus.15 Replikasi VHS dalam sel epidermis dan dermis menghasilkan kerusakan sel dan inflamasi. hanya disebutkan bahwa VHS-2 lebih sering menimbulkan infeksi rekuren pada daerah genital daripada oral dan demikian sebaliknya. Kelompok gen VHS yang ketiga adalah gen gamma yang dibutuhkan untuk replikasi DNA. VHS terdeteksi di neuron ganglion 2 hari setelah infeksi. beberapa protein virus dilepaskan dari virion VHS. yaitu untuk ekspresi dan penggantian protein struktural virus. Pada infeksi inisial penyebaran infeksi virus dapat melalui sistem limfatik ke limfonodi regional. kapsid ikosahedral berdiameter 100 nm dengan permukaannya ditutupi Patogenesis VHS masuk ke dalam tubuh manusia untuk pertama kali (infeksi inisial. Infeksi virus menyebabkan degenerasi balon dengan kromatin yang padat di dalam inti sel.TINJAUAN PUSTAKA VHS-2. Saat infeksi inisial. nekrosis sel setempat dan degenerasi balon pada sel yang terinfeksi. 162 kapsomer serta dibatasi oleh amplop yang mengandung lipid. Antara nukleokapsid dan amplop dipisahkan oleh tegumen. Dengan demikian. 19. Replikasi virus dalam jaringan saraf terbatas tetapi mempunyai kemampuan untuk migrasi 183 Manifestasi klinis yang bervariasi.1 No. Secara klinis tampak lesi vesikular di atas kulit eritem dan secara mikroskopis dijumpai multinucleated giant cells. Secara signifikan didapatkan adanya reaktivitas silang pada antibodi yang terbentuk di antara kedua tipe virus tersebut. ruang perinuclear dan akhirnya virion ditransfer melalui retikulum endoplasma dan apparatus golgi ke permukaan sel.3 VHS mempunyai genom yang linier.Desember 2006 . Glikoprotein VHS ditemukan ada 11 dan yang berfungsi sebagai attachment pada hospes adalah glikoprotein B dan C. rekureni yang tinggi dan komplikasi berat pada penderita imunokompromais. Strain VHS-1 umumnya diisolasi dari labia.

10. misalnya pada genitalia wanita. sehingga hanya sedikit pula yang dipresentasikan sebagai MHC kelas I. Replikasi virus mengaktifkan komplemen. Antibodi netralisir ini menyatu dengan amplop virus atau antigen kapsid. Antibodi berperan saat virus berada di ektraseluler. Saat sel dentritik keluar dari mukosa yang terinfeksi.13 Respon imun adaptif diperankan oleh antibodi dan sel limfosit sitotoksik.18-21 Respon imun adaptif dimulai dengan adanya sel dentritik membawa antigen atau partikel virus ke limfonodi. yaitu adanya ekspresi MHC kelas I. mempresentasikan MHC (Major Histocompability Complex).sel ini berusaha untuk memfagositosis partikel virus dan sel-sel yang terinfeksi. 19. Sel neuron sensoris tetap terinfeksi namun virus dalam keadaan quiescent (diam. Dengan demikian MHC kelas I tidak terekspresikan sehingga sel terinfeksi tersebut tidak dikenali oleh sel CD8. Diferensiasi sel CD8 juga memerlukan sitokin yang dihasilkan oleh sel CD4 T helper. menuju ke sel epidermis yang diinervasi saraf terinfeksi tersebut dan mengadakan replikasi sehingga siklus berulang kembali dan menjadi infeksius yang 184 No. Reaktivasi dan replikasi virus dapat terjadi secara periodik pada penderita asimtomatis dan pada fase ini virus dapat dideteksi walaupun tanpa gejala dan tanda dari penyakit. Sel-sel ini melewati kapiler endotel yang teraktifasi dan mengikuti kemokins di tempat yang terinfeksi. Pada penderita yang imunokompeten replikasi virus ini terkendali dan terjadi penyembuhan (reepitealisasi). Antibodi netralisir menghambat terjadinya infeksi virus dan penyebaran virus dari sel ke sel. Vol. antibodi sudah tidak berperan.Desember 2006 . Antibodi berfungsi sebagai antiviral dengan atau tanpa bantuan komplemen. monosit dan sel pembunuh alami. Sel. tergantung dari jumlah virus yang mengalami replikasi. virulensi strain VHS dan status imun penderita. Gejala yang timbul lebih ringan dibandingkan infeksi inisial. karena sel T (CD8) tidak merusak neuron yang mempunyai regenerasinya memang lambat. yaitu saat virus akan masuk ke dalam sel pejamu atau saat virus berada di luar sel. infeksi dan trauma pada neuron yang terinfeksi. Sel NK mengenali sel yang terinfeksi karena tidak terekspresikan MHC kelas I.20 Pada fase laten.3 Reaktivasi dan replikasi VHS laten (infeksi rekuren) terjadi karena adanya stimuli multipel seperti dengan adanya pajanan sinar ultraviolet. tanpa gerak) dan peptida yang dihasilkan sedikit. stimulasi kemokins dan interferon (IFNab). Sel dentritik imatur memakan antigen atau partikel VHS dan mengantarkan ke limfonodi regional untuk aktivasi sel T sebagai permulaan respon imun adaptif. tetapi bila virus dapat masuk ke dalam sel. Efek antiviral CD8 dengan cara melisiskan sel yang terinfeksi dan aktivasi enzim nuklease di dalam sel terinfeksi sehingga genom virus terdegradasi dan tersekresi sitokin dengan aktivitas IFN. Oktober . Sel NK aktif dapat terdeteksi 2 hari setelah infeksi virus.15 Respon Alamiah dan Adaptif Tubuh terhadap Infeksi VHS Virus adalah mikroorganisme obligat intraselular dan saat masuk ke dalam sel epitel. Ini dikenal dengan mekanisme shutt off MHC kelas I. Sekresi tersebut mengandung pula komplemen dan IgM alamiah yang akan mengurangi jumlah sel yang terinfeksi akan tetapi bila virus dapat menembus pertahanan ini tubuh berespon dengan stimulasi respon imun alamiah lainnya. terjadi influks neutrofil. Virus diantarkan di kulit kembali melalui saraf sensoris tepi dan mengadakan replikasi lagi di epidermis. saat sel pejamu lisis akibat efek sitopatik virus. Akan tetapi tubuh mengatasi hal ini dengan adanya sel NK yang dapat berespon melawan sel terinfeksi virus tersebut walaupun tidak mengekspresikan MHC kelas I. menjadi bocor (leaky) dan mengekspresikan molekul adesi.13 Respon imun alamiah (innate) yang paling berperan terhadap infeksi virus adalah interferon tipe I (IFN) dan dimediasi oleh sel NK. Substansi-substansi ini mengaktifkan endotel kapiler. Sel NK juga merupakan mediator utama dalam antibodydependent cellular cytotoxicity (ADDC). Sel T (CD8) mengenali sel terinfeksi karena adanya presentasi antigen oleh sel panyaji antigen. pertama kali direspon tubuh pejamu melalui barier mekanis. yaitu sitotoksisitas sel yang tergantung antibodi. atau sel NK (natural killer). IFN gamma mengaktifkan sel NK dan memfokuskan sel ini pada tempat infeksi.20 Untuk virus yang dapat masuk ke dalam sel pejamu (intraseluler). Sel NK melisiskan sel yang telah terinfeksi dan berperan penting sebelum terbentuknya respon imun yang adaptif. diatasi oleh respon imun adaptif yang diperankan oleh sel T sitotoksik (CD8). Hal ini akan mencegah transporter menangkap peptida sitosolik yang dibawa ke dalam retikulum endoplasma untuk pengikatan molekul kelas I. dengan adanya mukus. Pada keadaan tertentu virus dapat menjadi aktif.13. demam. Sehingga pemberian vaksinasi ataupun imunitas humoral yang terbentuk dari infeksi sebelumnya hanya dapat memproteksi dengan mencegah terjadinya infeksi tetapi tidak dapat mengeliminasi infeksi virus yang telah terjadi. yaitu dengan menghasilkan protein ICP-47 yang mengikat pada TAP (transporter associated within antigen processing). virus di neuron tidak melakukan replikasi dan tidak menimbulkan penyakit (infeksius). Antibodi antiviral ini berfungsi sebagai antibodi netralisir yang mencegah attachment dan entry ke dalam sel pejamu. immunsupreisan.TINJAUAN PUSTAKA kembali ke akson dekat tempat inokulasi awal sehingga dapat memperjelas luasnya area permukaan yang terlibat pada infeksi primer. Keadaan ini menguntungkan. Neuron yang tidak mengekspresikan MHC kelas I membuat sel T sitotoksik (CD8) tidak mengenalinya. 4. Sel yang terinfeksi virus secara langsung memproduksi IFN dan menginduksi sel yang belum terinfeksi virus ke dalam antiviral state (keadaan di mana sel-sel pejamu mendapatkan kekebalan terhadap infeksi virus).19. mensekresikan sitokin dan menstimulasi sel T untuk berdiferensiasi menjadi sel Th1 dan Th2. (bagan pathway class I MHC). flora normal dan glikokaliks. Substansi tersebut pula yang mengaktifkan sel dentritik dan makrofag residen untuk mempresentasikan patogen. Virus Herpes Simpleks tetap mengadakan upaya untuk menghindarkan diri dari pengenalan oleh CD8.

28 Pemeriksaan penunjang secara indirek (serologis) saat ini ada 3 macam yang telah disetujui oleh FDA (Food and Drug Association). 90% didahului adanya gejala prodromal sebelum timbul erupsi. 2. Sampel sebaiknya diambil pada awal penyakit dan tidak melewati fase erupsi vesikuler. lesi genital yang multipel dan disertai lesi ektragenital.26.5 sampai 48 jam. Kekurangan pemeriksaan ini adalah harganya mahal.23 Diagnosis 1. Pemeriksaan ini berdasarkan amplifikasi DNA VHS dan hasil dapat diketahui dalam 2 hari. Pada infeksi primer sensitivitasnya 74% dan 50% pada infeksi rekuren. Lesi klasik dimulai dengan makula dan papul yang berkembang menjadi vesikel. pustul dan ulkus. Sel membesar. Amerika Serikat) dan masih memerlukan 2-5 hari untuk mengetahui hasil. discar uretra atau vagina. disuria.17.10 Penderita yang mengalami infeksi primer (baik infeksi VHS1 atau VHS2) mengalami gejala penyakit yang lebih berat dibandingkan yang secara klinis ataupun serologis telah terinfeksi VHS-1 sebelumnya. gatal lebih ringan dibandingkan pada infeksi primer. dan pembengkakan limfonodi inguinal. Herpes Western Blot merupakan baku emas dalam mendeteksi antibodi terhadap VHS dan dengan pemeriksaan ini dapat membedakan VHS-1 dan atau VHS-2. VHS adalah virus yang tumbuh cepat dan memperlihatkan efek sitopatik pada kultur sel dalam 24 jam. 19.18. Test ini masing-masing untuk VHS-1 dan ada untuk VHS-2. Gejala prodromal hanya berupa rasa tingling selama 0.TINJAUAN PUSTAKA disebut infeksi rekuren. Gejala lokal antara lain: nyeri. dengan intranuclear inclusion dan sering terjadi fusi sel yang memberi gambaran multinucleated giant cell. tidak tersedia secara komersil (University of Washington. nyeri kepala.27 Tes Tzanck (pemeriksaan sitologi) bertujuan untuk No. gatal.27 Saat ini juga tersedia pemeriksaan yang dapat dipakai mendeteksi antibodi secara lebih cepat dan dapat dipakai langsung di klinik. akan tetapi dapat pula disertai nyeri menusuk pada pantat. Metode ini mempunyai spesifisitas dan sensitivitas yang lebih tinggi dari kultur. paha dan pinggang yang dapat berlangsung 1-5 hari sebelum timbal erupsi. 90% didahului adanya gejala prodromal sebelum timbul erupsi. Gejala nyeri.Desember 2006 Pada infeksi rekuren.5 sampai 48 jam. Hal ini disebabkan karena pada infeksi berikutnya sudah terbentuk antibodi spesifik dan infeksi VHS-1 dapat memberikan proteksi parsial terhadap infeksi VHS-2. Pemeriksaan Tzanck mempunyai sensitivitas yang rendah dan tidak dapat membedakan VHS-1 dan VHS-2 ataupun virus varisela-zoster. Gejala prodromal hanya berupa rasa tingling selama 0. yaitu Herpes Western Blot. Sel yang terinfeksi virus banyak didapatkan pada tepi dan di dasar lesi.26. Pada infeksi primer disertai dengan adanya gejala sistemik (demam.25 Deteksi antigen VHS dapat dilakukan dengan metode PCR (polymerase chain reaction) walaupun penggunaannya masih terbatas untuk penelitian. Dengan demikian tes ini dapat mengetahui adanya serokonversi awal VHS2 pada penderita yang sebelumnya terinfeksi VHS-1. Vol. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang sangat diperlukan bila secara klinis tidak menunjukkan gejala dan tanda khas (klasik) apalagi pada herpes genitalis dapat bersifat asimtomatis sehingga penderita tidak menyadari menjadi sumber penularan. Virus ini dapat diisolasi dalam berbagai sel.24 Gambaran klinis herpes genitalis rekuren lebih terlokalisasi di genital area.26-29 Pemeriksaan EIAs (enzyme-linked immunosorbent assays) berdasarkan deteksi glikoprotein yang spesifik seperti glikoprotein G meningkatkan sensitivitas dan spesifitasnya menjadi 93-98%. dengan nama ELISA Kits dan Immunoblot Kit. Manifestasi klinis Gambaran klinis HG primer dan HG rekuren sangat berbeda. akan tetapi dapat pula disertai nyeri menusuk pada pantat. melihat efek sitopatik pada sel epitel. ginjal kelinci. Contoh yang telah mendapatkan persetujuan FDA dan khusus untuk mendeteksi antibodi terhadap VHS-2 adalah POCkit HSV-2 Rapid Test (Diagnology Incoporation) yang mempunyai sensitivitas 96% 185 . 4.4. HEp2 (berasal dari karsinoma laring manusia) dan A549 (karsinoma paru manusia). paha dan pinggang yang dapat berlangsung 1-5 hari sebelum timbul erupsi.15. Kultur viral dan viral typing masih merupakan baku emas dalam mendiagnosis infeksi herpes dengan spesifisitas 100% akan tetapi sensitivitasnya tergantung dari episode infeksinya. Tes ini diproduksi oleh Focus Technologies.24. malaise dan myalgia).22. Oktober . seperti sel embrionik paru manusia. durasi penyakit lebih lama (bisa sampai 20 hari). Pada infeksi rekuren. Herpect Select (Elisa dan Immnublot Kit) dan POC Rapid Test. Kulit akan menjadi krusta sedangkan pada mukosa terjadi ulkus dangkal.24.

Lowy.. 42:1-14 30. 19. Mardh PA. and Pober JS. 2001. 28(11):34-40 31. National guidelines for management of genital herpes. Crumpacker CS. New York:McGraw-Hill. 1985. Philadelphia:WB Saunders Company. Herpes simples virus. London: Bailleire Tindall. Sexually Transmitted Diseases. 1999.p. Herpes simplex. In: Immunology. Brooks GF. baik selular maupun humoral. Sexually Transmitted Diseases.p. 186 No. Eisen AZ. Roitt I. et al. and Odom RB (eds). Clinical Infectious Diseases 1998.TINJAUAN PUSTAKA dan spesifisitas 87-98%. Viral Immunology 2003. Viral infection.791-6 8. 1999. Janeway CA. In: Csonka and Oates (eds). In: Clinical Dermatology. Patrick TB. Morrison LA. Respon imun pada penderita dengan infeksi VHS terdiri dari respon imun alamiah dan adaptif. The Nurse Practioner 2003. Hanahan AP and Stender SC. Genital herpes. Herpect Select (Elisa dan Immunublot Kit) dan POC Rapid Test.473-82 6. Genital herpes simplex.p. In: Janeway (ed).p. Bellanti JA. Wald A and Asley-Morrow R. 337:1158-9 12. 3rd ed. 3rd ed.p. Pertel PE and Spear PG.205-11 23. In: Holmes KK. Philadelphia:Saunders Co.343-62 21. 3rd ed. Abbas AK. Arvin AM. Daftar Pustaka 1. Mertz G. Clinical Microbiology Review 1999. Berger TG. Akan tetapi infeksi VHS tetap dapat berlangsung seumur hidup karena selalu adanya upaya penghindaran VHS terhadap sistem imun pejamu. N Engl J Med 1997. New York: Garland Publishining. Berat ringannya penyakit yang diakibatkan virus ini tergantung oleh respon imun tubuh dalam usahanya mengeliminasi virus. Mardh PA. In: Bos JD (ed). Virus yang berada di ekstraselular dihambat oleh INF dan antibodi netralisir sedangkan yang berperan dalam menghambat virus intraselular adalah sel NK dan sel CD8 sitotoksik.p.2414-25 2. In: Moschella SL and Hurley HJ (eds). 4th ed. Sparling PF. Genital Herpes. karena pada saat itu telah melewati window period dan telah terbentuk antibodi. Austen KF. 2001. Stenberg MR.269-78 3. 4. 1992. Clinical Infectious Diseases 2002. In: Freeberg IM. Sexually Transmitted Diseases. In: Mahon CR (eds). Herpes genital masih merupakan penyakit menular seksual yang tidak dapat sembuh permanen. 1988-1994. atau penderita dengan partner dengan riwayat herpes.(eds). et al.30. 350:1970-7 11. Travers P. Eisen AZ. Pathogénesis of sexually transmitted viral and bacterial infections. Melnick and Adelberg’s. In: Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology.p.31 p. and Roizman B. Herpes simplex. natural history and management of genital herpes. Vaccine against genital herpes.80-2 9. In: Holmes KK. et al. Davison VE and Alderson GL.(eds). London: Prentice International Hall. The Journal Infectious Diseases 2002. How effective is antiviral therapy? J Perinat Neonat Nurs 2004. Mardh PA. Stanberry L. Wolff K. Herpes simplex virus: Genital infection. Genital herpes: Review of the epidemic and potensial use of type-spesific serology. Schillinger JA. Review innate immunity to herpes simples virus type 2. Diakses melalui internet http:// search epnet. Barton S. Edinburgh:Mosby.(eds). Living with genital herpes.129-51 5. Kimberlin DW and Rouse DJ. 9th ed. 1999. DR. Philadelphia:WB Saunders Company. Oates JK. Immunity to microbes. 1990. Serological testing for herpes simplex virus (HSV)-1 and HSV-2 infection. et al.874-81 10. A Textbook of Genitourinary Medicine. Cusini M and Ghislanzoni M. N Engl J Med 2004. Mary Norval. Seroprevalence and co infection with herpes simples virus type 1 and type 2 in the United Status. 358-67 15.796-826 27. New York:McGraw-Hill. 16(4):475-90 16. Corey L and Wald Ann.Desember 2006 . 4th ed. Butel JS. WB Saunders.com 26.p.p. Pemeriksaan penunjang sederhana yang dapat dikerjakan adalah tes Tzanck dengan menemukan multinucleated giant cell sedangkan secara serologis dengan pemeriksaan Herpes Western Blot. Patel R. Genital herpes. 20th ed.15. 4th ed.(eds). 6th ed. Walport M. 62(8):1119-29 18.425-65 24. Antiviral Research 1999. London:Mosby. Sparling PF.p. 2nd edition. 3rd ed. Immunity to viruses. Clinical virology. et al.283-305 19. 1995. and Ornston LN. Vol 36.555-68 22.235-42 20. Duerst RJ and Morrison LA. Heaton CL. Roe VA. Philadelphia:WB Saunders Company. 4th ed. Failure of host defence mechanism. Wolff K. penderita dengan penyakit menular seksual lainnya. Whitley RJ. International Edition. Lichtman AH. Drugs 2002. et al. Viral diseases: General considerations. 1999.(eds) Dermatology in General Medicine.47:9-16 29. Ashley RL and Wald A. 4th ed. In: Jawets. In: Cellular and Molecular Immunology. Xu F. Immunobiology. Lemon SM and Sparling PF. New York: McGraw-Hill.18 Tes ini lebih cepat hasilnya karena memerlukan hanya kurang dari 10 menit dan darah diambil dari tusukan jari saja. Herpes viruses. VHS sebagai penyebab herpes genital menginfeksi tubuh melalui lesi abrasi yang secara klinis dapat ditegakkan dengan dijumpai lesi papul vesikel yang menjadi ulkus dangkal pada area genital. Mark HD. New York:McGraw-Hill.p.16. Medical Microbiology. In: Immunology III. Biology of herpesviruses. Dermatology. et al.31 Tes serologis berguna pada penderita dengan manifestasi klinis yang tidak klasik (konfirmasi diagnosis).285-306 4. Mini review: New developments in the epidemiology. Cowan FM. In: Freeberg IM.p. Brown D. New York:CRP Press. In: Holmes KK. New York:McGraw-Hill. Cunningham A. et al. Skin Immune System (SIS). Mechanisms of immunity to viral diseases. 2nd ed. A persistent problem. Textbook of diagnostic microbiology.30. Philadelphia. Sexually Transmitted Diseases. Johnson RA. 35:S173-82 Kesimpulan Virus herpes simpleks (VHS) adalah virus double standed DNA yang terdiri dari dua serotipe VHS1 dan VHS2. 12(1):1-8 14. Journal of Antimicrobial Chemotherapy 2001. 26:541-55 17. Dermatology in General Medicine. 1995. Kimbelin DW.p. Vol.p. 2001.2389-2394 28. Surmond D. 2001. The importance of diagnosing genital herpes. 1999.p. et al. Herpes simplex. Herpes simplex virus type 2: An update. 1997. untuk skrining pada yang orang yang berisiko tinggi terinfeksi VHS seperti pada penderita HIV. Semua tes ini direkomendasikan untuk dikerjakan 12-18 minggu setelah paparan VHS. 18(3):206-15 13. Sparling PF. Habib TP. Anogenital herpes. 185:1094-24 25. James WD. Male D. et al. In: Andrew’s Diseases of the Skin. 2004. In: Medicine International. Brostoff J. 4th ed.p.p. 2000.346-55 7. Herpes simplex virus type 2. Oktober . 1996.

5 Sampai saat ini infeksi cacing tambang masih merupakan salah satu penyakit tropis terpenting. 4. mengingat belum ditemukannya vaksinasi dan terapi imunologis yang efektif untuk infeksi cacing tambang.Desember 2006 . dilaporkan juga infeksi zoonosis oleh A. 19.1. americanus). duodenale dan N.2 Penyakit akibat cacing tambang lebih banyak didapatkan pada pria yang umumnya sebagai pekerja di keluarga. hambatan tumbuh kembang balita dan penurunan kecerdasan anak usia sekolah serta produktivitas kerja orang dewasa. pencegahan Pendahuluan nfeksi cacing tambang pada manusia terutama disebabkan oleh Ancylostoma duodenale (A.2 Siklus Biologis Cacing Tambang Cacing tambang jantan berukuran 8-11 mm sedangkan yang betina berukuran 10-13 mm.2 Diperkirakan terdapat 1 miliar orang di seluruh dunia yang menderita infeksi cacing tambang dengan populasi penderita terbanyak di daerah tropis dan subtropis.2. dan spesies ini juga merupakan penyebab utama infeksi cacing tambang di Indonesia. Larva tingkat ketiga disebut sebagai larva filariform. diagnosis. ceylanum yang diduga menyebabkan enteritis eosinofilik pada manusia. americanus lebih luas penyebarannya dibandingkan A.1. Terdapat juga infeksi A. americanus merupakan penyebab terpenting dari anemia defisiensi besi. Kata kunci: Infeksi cacing tambang.5 Larva filariform kemudian menembus kulit terutama kulit tangan 187 No. duodenale) dan Necator americanus (N. Proses perubahan telur sampai menjadi larva filariform terjadi dalam 24 jam. demam dengue.1 Infeksi A. Anemia defisiensi besi dan hipoproteinemia sangat merugikan proses I tumbuh kembang anak dan berperan besar dalam mengganggu kecerdasan anak usia sekolah. Penurunan produktivitas sebagai indikator beratnya gangguan penyakit ini. caninum yang ditemukan pada berbagai jenis karnivora dengan manifestasi klinik yang relatif lebih ringan. Infeksi N. Pengenalan dan pemahaman akan penyakit yang “sederhana” ini serta pengkajian terapinya diharapkan akan membantu para klinisi untuk dapat melakukan pencegahan dan diagnosis. duodenale. Hal ini terjadi karena kemungkinan paparan yang lebih besar terhadap tanah terkontaminasi larva cacing. yaitu creeping eruption akibat cutaneus larva migrans. terutama di Asia dan subsahara Afrika. Selain itu infeksi cacing tambang juga merupakan penyebab hipoproteinemia yang terjadi akibat kehilangan albumin karena perdarahan kronik pada saluran cerna. Dan juga menyebabkan kekurangan protein.TINJAUAN PUSTAKA Infeksi Cacing Tambang Mangatas SM Manalu*. penyakit chagas.3 Selain kedua spesies tesebut. Vol. Setelah 24 jam telur akan berubah menjadi larva tingkat pertama (L1) yang selanjutnya berkembang menjadi larva tingkat kedua (L2) atau larva rhabditiform dan akhirnya menjadi larva tingkat ketiga (L3) yang bersifat infeksius. Oktober . braziliense dan A.3.4.Bali Abstrak. SI Biran** * Bagian / SMF Ilmu Penyakit Dalam ** Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Bagian/SMF ilmu Penyakit Dalam FK UNUD/RS Sanglah Denpasar . anemia. Infeksi cacing tambang masih menjadi masalah kesehatan yang besar di Indonesia karena merupakan salah satu penyebab utama anemia defisiensi besi. schisostomiasis dan lepra.2 Kedua spesies ini termasuk dalam famili Ancylostomidae dari filum Nematoda. Pada akhirnya infeksi ini dapat menyebabkan gangguan pada neonatus. Cacing betina menghasilkan telur yang keluar bersama feses pejamu (host) dan mengalami pematangan di tanah. menempatkan infeksi cacing tambang di atas tripanosomiasis.

TINJAUAN PUSTAKA dan kaki. Pada infeksi yang berat dapat terjadi kehilangan darah sampai 200 ml/hari. Setelah terjadi pelekatan.4. akibat kontaminasi feses pada makanan. Penularan A.5 Terjadinya anemia defisiensi besi pada infeksi cacing tambang tergantung pada status besi tubuh dan gizi pejamu. Pematangan telur menjadi larva terutama terjadi pada lingkungan pedesaan dengan tanah liat dan lembab dengan suhu antara 23-33o C.4.000-30. berkisar antara 1-3 bulan. 19. Jenis cacing yang yang ditularkan melalui hewan vektor tersebut tidak mengalami maturasi dalam usus manusia. meskipun pada umumnya didapatkan perdarahan intestinal kronik yang terjadi perlahan-lahan. beratnya infeksi (jumlah cacing dalam usus penderita). Siklus biologis cacing tambang2 188 . brazilienze dan A. gangguan No.2. duodenale menghasilkan 10. Proses dari mulai penetrasi kulit oleh larva sampai terjadinya cacing dewasa memerlukan waktu 6-8 minggu. ceylanum.2.00010. Cacing ini kemudian mencerna sebagian darah yang dihisapnya dengan bantuan enzim hemoglobinase. Oktober .000 telur/hari dan masa hidup cacing ini mencapai 3-5 tahun. Hal itu ditambah lagi dengan sekresi berbagai antikoagulan termasuk diantaranya inhibitor faktor VIIa (tissue inhibitory factor).4. Vol. dengan masa hidup sekitar 1 tahun. berkisar antara 1-3 bulan. Didapatkan juga bentuk penularan melalui hewan vektor (zoonosis) seperti pada anjing yang menularkan A. terjadi migrasi larva filariform ke paru-paru setelah melewati sirkulasi ventrikel kanan. meskipun pada umumnya didapatkan perdarahan intestinal kronik yang terjadi perlahan-lahan Patofisiologi Cacing tambang memiliki alat pengait seperti gunting yang membantu melekatkan dirinya pada mukosa dan submukosa jaringan intestinal.4.5 Masa inkubasi mulai dari bentuk dewasa pada usus sampai dengan timbulnya gejala klinis seperti nyeri perut.1. Infeksi A. sedangkan sebagian lagi dari darah tersebut akan keluar melalui saluran cerna.2. Larva kemudian memasuki parenkim paruparu lalu naik ke saluran nafas sampai di trakea. 4. caninum.2. americanus dewasa dapat memproduksi 5. anemia defisiensi besi menyebabkan peningkatan mortalitas maternal.2. dibatukkan.4.000 telur/hari.5 Manifestasi Klinis Anemia defisiensi besi akibat infeksi cacing tambang menyebabkan hambatan pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak. duodenale selain terjadi melalui penetrasi kulit juga melalui jalur orofekal. Untuk meyebabkan anemia diperlukan kurang lebih 500 cacing dewasa.Desember 2006 Larva menetas dan berkembang didalam Larva Telur Telur dikeluarkan bersama dengan feces Cacing dewasa Larva dewasa masuk ke usus halus Larva dibatukkan dan tertelan Gambar 1. meskipun dikatakan dapat juga menembus kulit perioral dan transmamaria. Pelepasan enzim hidrolitik oleh cacing tambang akan memperberat kerusakan pembuluh darah.5. sedangkan A. americanus. Hewan kucing dan anjing juga menularkan A. Secara klinis hal ini menyebabkan rasa gatal serta timbulnya lesi papulovesikular dan eritematus yang disebut sebagai ground itch.6 Dalam 10 hari setelah penetrasi perkutan. otot esofagus cacing menyebabkan tekanan negatif yang menyedot gumpalan jaringan intestinal ke dalam kapsul bukal cacing. Pada wanita yang mengandung. Pada infeksi yang berat dapat terjadi kehilangan darah sampai 200 ml/ hari. masuk ke aliran darah Masa inkubasi mulai dari bentuk dewasa pada usus sampai dengan timbulnya gejala klinis seperti nyeri perut. serta spesies cacing tambang dalam usus. Akibat kaitan ini terjadi ruptur kapiler dan arteriol yang menyebabkan perdarahan.5 Selengkapnya siklus biologis cacing tambang dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini: Larva di atas rumput Larva masuk/ penetrasi ke kulit. Untuk meyebabkan anemia diperlukan kurang lebih 500 cacing dewasa. Adanya paparan berulang dengan larva filariform dapat berlanjut dengan menetapnya cacing di bawah kulit (subdermal). Cacing jantan dan betina berkopulasi di saluran cerna selanjutnya cacing betina memproduksi telur yang akan dikeluarkan bersama dengan feses manusia. dan tertelan sehingga masuk ke saluran cerna lalu bersarang terutama pada daerah 1/3 proksimal usus halus. Pematangan larva menjadi cacing dewasa terjadi disini.6 Cacing N. duodenale menyebabkan perdarahan yang lebih banyak dibandingkan N.

memiliki manifestasi khas seperti atrofi papil lidah. Eosinofil melepaskan superoksida yang dapat membunuh larva filariform. americanus hanya reaktif terhadap lapisan dalam kutikula. terutama sirkulasi peparu. serta kuku sendok.TINJAUAN PUSTAKA laktasi dan prematuritas. Pada proses ini banyak larva yang mati dan mengakibatkan pelepasan berbagai molekul imunoreaktif oleh tubuh. hal ini menjelaskan mengenai minimnya reaksi kulit terhadap parasit ini. Diduga infeksi cacing tambang menyebabkan eksaserbasi anemia akibat malaria falsiparum dan sebaliknya. dan muntah. duodenale melalui air susu ibu.2 Kebanyakan infeksi cacing tambang bersifat ringan bahkan asimtomatik. timbul rasa nyeri perut yang sering tidak khas (abdominal discomfort). Vol. telapak tangan berwarna jerami.2. Oktober . yang menyebabkan reaksi hipersensitivitas tipe I (alergi).5 Anemia defisiensi besi yang terjadi akibat infeksi cacing tambang selain memiliki gejala dan tanda umum anemia. mual. Antibodi yang berperan ialah Imunoglobulin M (IgM). setelah 1 tahun pemberian terapi terhadap infeksi N.1. yaitu fase migrasi larva. bahkan dapat terjadi gagal jantung akibat penyakit jantung anemia.3 Sistem kekebalan seluler pada infeksi cacing tambang terutama dilakukan oleh eosinofil. 19. Hal ini dicerminkan oleh tingginya kadar eosinofil darah tepi. Hanya sedikit bukti yang menyatakan bahwa kadar antibodi berhubungan dengan imunoproteksi terhadap infeksi cacing tambang Anemia defisiensi besi yang terjadi akibat infeksi cacing tambang selain memiliki gejala dan tanda umum anemia.1. bahkan dapat terjadi gagal jantung akibat penyakit jantung anemia. Interleukin-5 (IL-5) yang berperan dalam pertumbuhan dan diferensiasi eosinofil meningkat pada infeksi larva yang diinokulasikan pada tikus percobaan. didapatkan bahwa kadar IgG terus menurun sementara kadar IgM dapat meningkat kembali meskipun tidak setinggi seperti sebelum dilakukan terapi. suara serak.4. Saat larva tertelan dapat terjadi gatal kerongkongan. yaitu bila terdapat lebih dari 200 cacing dewasa. Sitokin yang utama. bukan terhadap bentuk dewasa. Juga terjadi pengurangan kapasitas kerja. Saat memasuki sirkulasi. Pada infeksi antropofilik (langsung pada manusia) tidak terjadi kumpulan larva di kulit. ekstremitas atau perut. Selain itu disimpulkan bahwa kadar IgG dan IgM merupakan indikator terbaik untuk infeksi cacing tambang dewasa dan untuk menilai efikasi pengobatan. Kelainan paru-paru biasanya ringan kecuali pada infeksi berat. Di sini kadar IgE hanya menurun sedikit. IgG4 dan IgE. Diduga dapat terjadi transmisi vertikal larva filariform A. Diduga reaksi hipersensitivitas tipe II (antibody dependent cell mediated cytotoxicity) juga berperan disini. Yang paling spesifik ialah IgE yang bersifat cross reactive. Terjadi pengurangan kapasitas kerja. Para pakar menyimpulkan bahwa dibutuhkan lebih sedikit paparan antigen untuk meningkatkan IgE.3 b. maka dapat terjadi hipoproteinemia yang bermanifestasi sebagai edema pada wajah. Pada manusia hal tersebut belum terbukti. Pada fase awal. demam subfebril. yang dikontrol oleh pelepasan sitokin pengatur sel Th2.7 Bukti-bukti penelitian menunjukkan bahwa eosinofil lebih berperan dalam membunuh larva filariform. Terhadap larva filariform Saat menembus kulit. dapat terjadi nyeri tenggorokan. Respons terhadap infeksi cacing tambang dewasa Respons humoral dilakukan oleh IgG1. Jumlah eosinofil makin meningkat saat larva berkembang menjadi bentuk dewasa (cacing) di saluran cerna.3. IgG1 dan IgE. ialah IL-4. sedangkan kadar IgA dan IgD meningkat setelah 2 tahun pasca terapi. larva filariform menghasilkan berbagai antigen yang bereaksi dengan sistem imun peparu dan menyebabkan penembusan sejumlah kecil alveoli. americanus.3 Respons Imun Terhadap Infeksi Cacing Tambang a. saat cacing dewasa berkembang biak dalam saluran cerna. Karena cacing tambang menghisap darah dan menyebabkan perdarahan kronik. Infeksi cacing tambang pada wanita hamil dapat menyebabkan bayi dengan berat badan lahir rendah.2. IgA dan IgD dibandingkan untuk meningkatkan IgG dan IgM.Desember 2006 . 189 No. telapak tangan berwarna jerami. Sistem komplemen berperan dalam perlekatan larva pada eosinofil. Pada percobaan. Jumlah larva yang masuk ke sirkulasi jauh lebih banyak dari yang berdiam di kulit. juga memiliki manifestasi khas seperti atrofi papil lidah. bahkan edema anasarka. serta kuku sendok. 4.2. Dalam 7-14 hari setelah infeksi terjadi ground itch.5 Pada daerah subsahara Afrika sering terjadi infeksi campuran cacing tambang dan malaria falsiparum. terjadi creeping eruption atau ground itch akibat terperangkapnya larva dalam lapisan kulit. Pada fase selanjutnya.3 Antibodi humoral terhadap N. larva filariform melepaskan bagian luar kutikula dan mensekresi berbagai enzim yang mempermudah migrasinya. pneumonia dan pneumonitis. Pada infeksi zoonotik (melalui vektor). batuk.

8 Pengobatan Infeksi Cacing Tambang 1.3 Peran IgG4 belum diketahui sepenuhnya. americanus. duodenale. Pada waktu tertentu. Pada infeksi A.4-6. doudenale. sedangkan untuk wanita hamil. Pada infeksi cacing tambang didapatkan fenomena pembentukan autoantibodi IgG terhadap IgE. Pada bentuk hipobiosis pelepasan telur cacing melalui feses baru terjadi 40 minggu setelah masuknya larva A. misalnya aktivasi sel mast. caninum. 3.4.8 Badan kesehatan dunia (WHO) menganjurkan pemberian mebendazole dan pirantel pamoate. Para peneliti membuktikan bahwa IgE lebih sensitif untuk menentukan adanya infeksi baik infeksi larva maupun cacing tambang dewasa. merupakan sitokin yang predominan. Bentuk larva hipobiosis Pada infeksi A. terutama bila terdapat ko-infeksi cacing strongyloides stercoralis. lebih sedikit ditemukan. IL-5 dan IL-13 yang merangsang sintesis IgE. americanus dan A. sedangkan sitokin perangsang sel Th1 seperti interferon yang menghambat produksi IgE. ternyata IgE lebih spesifik dibandingkan IgG4. No. obat cacing tambang dapat diberikan pada trimester II dan III.2. feses normal c. americanus. duodenale melalui kulit.3 Respons imun seluler terhadap infeksi cacing tambang dewasa adalah terutama oleh adanya respons sel Th2 yang mengatur produksi IgE dan menyebabkan eosinofilia. caninum pada anjing.2. Pemberian inhalasi steroid dapat menyebabkan eksaserbasi gejala pulmonal. infiltrat patchy pada foto toraks d. 19.3.000-4. kadar total iron binding capacity yang tinggi. Beberapa penelitian di Papua New Guinea menunjukkan bahwa penderita yang memiliki titer IgE lebih tinggi. Tanda-tanda anemia defisiensi besi yang sering dijumpai adalah anemia mikrositik-hipokrom. Pemeriksaan penunjang pada cacing tambang dewasa 1. duodenale dapat terjadi bentuk hipobiosis di mana terjadi penghentian pertumbuhan larva pada jaringan otot. sedangkan IgG4 lebih spesifik sebagai marker infeksi cacing dewasa N. Pemeriksaan penunjang saat awal infeksi (fase migrasi larva) mendapatkan: a.3 Sitokin perangsang sel T helper 2 (Th2).TINJAUAN PUSTAKA dewasa. Pemberian obat antihelmintik untuk anak berusia di bawah 2 tahun belum direkomendasikan keamanannya. yaitu IL-4. Terjadinya eosinofilia dimulai segera setelah L3 menembus kulit dengan puncak pada hari ke 38 sampai hari ke 64 setelah infeksi. Fenomena ini juga terjadi pada infeksi A. misalnya saat mulai bersinarnya bulan ini. Didapatkan telur cacing dan atau cacing dewasa pada pemeriksaan feses.000 sel/ml) b. Imunoglobulin G4 tidak mengikat komplemen dan hanya mengikat reseptor Fc-g secara lemah. Selain itu terjadi pelepasan neutralizing antibody terhadap IL-9. Kadang-kadang perlu dibedakan secara mikroskopis antara infeksi larva rhabditiform (L2) cacing tambang dengan larva cacing strongyloides stercoralis. Kemungkinan IgG4 berperan menghambat respons imun dengan inhibisi kompetitif terhadap mekanisme kekebalan tubuh yang dimediasi oleg IgE. eosinofilia (1. 2. duodenale. yang akan menghambat perusakan sel mast oleh enzim mast cells protease I. Selengkapnya obat-obatan anti cacing tambang terdapat pada tabel 1 berikut ini. Vol. demikian juga jika terjadi penyakit jantung anemia. Fase infeksi lanjut Diet tinggi protein dan suplemen besi diperlukan untuk mengatasi anemia dan hipoproteinemia. Oktober .8 III.3 Proteksi Sistem Imun Terhadap Infeksi Cacing Tambang Tidak terdapat bukti yang jelas mengenai proteksi imunologis tubuh terhadap infeksi cacing tambang. Pemeriksaan ini tidak dapat membedakan N.2. Secara klinis dan epidemiologis II. Cacing tambang tampaknya lebih tahan terhadap reaksi inflamasi dibandingkan dengan famili nematoda lainnya. americanus. merupakan saat yang optimal untuk pelepasan larva A.4 2. Dapat ditemukan peningkatan IgE dan IgG4. kadar besi serum yang rendah.2.Desember 2006 c. peningkatan kadar IgE Pemeriksaan feses basah dengan fiksasi formalin 10% dilakukan secara langsung dengan mikroskop cahaya. Fase infeksi awal (ground itch) Diatasi terutama dengan thiabendazole topikal 3.7 190 .7 Diagnosis Cacing Tambang I. Sel mast yang terdegradasi akibat pengaruh IgE melepaskan berbagai protease terhadap kutikula kolagen N.3. Pemeriksaan yang dapat membedakan kedua spesies ini ialah dengan faecal smear pada filter paper strip Harada-Mori.5. tetapi pemeriksaan IgG4 tidak direkomendasikan karena tinggi biayanya. Jika terjadi perdarahan yang hebat (>200 ml/hari) diperlukan transfusi darah. Di sini perlu dieksklusi penyebab anemia hipokrom mikrositer lainnya.4. Pada fase migrasi larva Batuk-batuk dan bronkokonstriksi diatasi dengan agonis b2 inhalasi. Penyebab fenomena tersebut tidak diketahui. lebih jarang mengalami reinfeksi N. Buktibukti menunjukkan bahwa aktivasi bentuk hipobiosis pada akhir kehamilan yang berakhir dengan penularan transmamaria/transplasental dari A. 4. dengan pemberian ½ dosis dewasa untuk anak-anak usia 2-12 tahun.

deksametason. Pohan HT. Bethony JM. Downloaded in July 2. duodenale. Nama Obat Dosis dewasa 11 mg/kg/hari peroral selama 3 hari. anemia dan mal nutrisi Mebendazole (vermox) menyebabkan kematian cacing secara efektif dan secara irreversible menghambat uptake glukosa dan nutrien lain pada usus manusia yang rentan . 2000. Pengobatan dilakukan dengan mebendazole. Available from:http://www. In: Mandell GL. eMedicine. Weiss EL. Clin Microbiol Rev 2001:689-703 4. sehingga menyebabkan poralisis spastik pada cacing. Pin-X) agen penghambat depolarisasi neoromuskular.orphanet.p.com. Hookworm infection. 351(8):799-807 3. Dosis anak Kontraindikasi Hipersensitif. penyakit hati Interaksi Kehamilan Perhatian Perbaikan lingkungan dengan meniadakan tanah berlumpur serta pemakaian alas kaki saat melewati daerah habitat cacing tambang. abdominal discomfort. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. N Engl J Med 2004. 50 mg /kg/hari per oral. Terdapat penularan melalui hewan vektor (zoonosis) dengan gejala klinis berupa ground itch dan creeping eruption. Principles and Practice of Infectious Diseases. Penyakit cacing yang ditularkan melalui tanah. tidak lebih dari 3 g/hari Dosis anak Kontraindikasi Hipersensitif Interaksi Pregnancy Perhatian Dalam 2-3 minggu setelah terapi selesai. Komponen sistim imun yang berperan utama ialah eosinofil. sangat dianjurkan. dapat menyebabkan mual. Daftar Pustaka 1. terapi suportif perlu dilakukan pada pasien anemia . sangat dianjurkan. 2004. Immunology of parasitic helminth infections. 2001. 4. dilakukan terapi ulang. Obat yang direkomendasikan WHO untuk infeksi cacing tambang.p.Desember 2006 191 . karena menyebabkan anemia defisiensi besi dan hipoproteinemia. hipoproteinemia dan anemia defisiensi besi merupakan manifestasi infeksi antropofilik.515-6 2. Intestinal Nematodes. Ancylostomiasis. tidak lebih dari 500 gr/hari. Immune responses in hookworm infection. Pencegahan dan Imunisasi Perbaikan lingkungan dengan meniadakan tanah berlumpur serta pemakaian alas kaki saat melewati daerah habitat cacing tambang. Pin-Rid. Downloaded in June 23. atau mal nutrisi digunakan bila benar ada parasit cacing (bukan profilaksis). dan akhirnya cacing menjadi mati 200 – 400 mg sekali per oral Pemberian bersamaan dengan karbamazepin dapat menurunkan efikasi. cimisidine dan praziquantel dapat meningkatkan toksisitas C – Kehamilan untuk penggunaan pada wanita hamil belum ditetapkan Hentikan jika terjadi peningkatan LFTs yang signifikan (lanjutan pengobatan jika kadar menurun untuk menilai protest) Thiabendazole (Mintezol) – menghambat cacing yang spesifik pada microchondria fumarate reductase dan mengurangi gejala trikinosis selama fase infasiv untuk penggunaan topical. duodenale. Belum terdapat vaksin cacing tambang yang efektif untuk manusia. yang menjadi tempat tinggal bagi cacing < 2 tahun : belum ditentukan > 2 tahun : berikan seperti orang dewasa karbamazepin dan fenitroin dapat menurunkan efek mebendazole cimeditin dapat meningkatkan kadar mebendezole C – keamanan untuk penggunaan pada wanita hamil belum ditetapkan. 1996. 2 kali sehari selama 3 hari atau 500 mg per oral sekali Dosis anak Kontraindikasi hipersensitif Interaksi Kehamilan Perhatian Nama Obat Dosis dewasa 400 mg sekali per oral Dosis anak Kontraindikasi Hipersensitif Interactions Pregnancy Perhatian Nama Obat Dosis dewasa 0. Tidak terdapat kekebalan yang permanen dan adekuat terhadap infeksi cacing tambang. Available from: http://www. Kesimpulan Infeksi cacing tambang masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. MacDonald AS. 3rd ed.TINJAUAN PUSTAKA Tabel 1. Loukas A. meningkatkan toksisitas (amati kadar serum dan kurangi dosis bila perlu) C – Kehamilan untuk penggunaan pada wanita hamil belum ditetapkan Pengawasan yang ketat pada disfungsi hati atau ginjal . Montressor A.25 – 1. Belum ada vaksin yang efektif terhadap cacing tambang sehingga perbaikan higiene dan sanitasi adalah hal yang terutama. manifestasi klinis. tidak lebih dari 3 g/hari Dapat meningkatkan kadar serum teofillin . In: Noer HMS editor. pemeriksaan penunjang termasuk pemeriksaan imunologis. americanus.2529-31 Dosis dewasa 100 mg per oral. Prociv P. ascaris lumbricoides (round-worm). Diagnosis data epidemiologi. Keshavarz R. Hotez PJ. tidak lebih dari 1 gr/hari.com. Oktober . Bennet JE. et al. Belum terdapat vaksin Nama Obat cacing tambang yang efektif untuk manusia. IgG4 dan sel Th2. Pneumonitis. Penyesuaian dosis pada gangguan hati Albendazole (Albenza) – menurunkan produksi atp pada cacing.keamanan untuk penggunaan pada wanita hamil belum ditetapkan perhatian pada kerusakan hati.5 g per oral 2 kali sehari selama 2 hari. Siklus biologis cacing tambang berupa perubahan telur menjadi larva (L1) sampai bentuk filariform (L3) di tanah.4 Pyrantel pamoate (Antimint. dilakukan pemeriksaan ulang feses. menyebabkan penurunan energi. 11 mg/kg/hari peroral selama 3 hari.eMedicine. IgE. Cuci tangan sebelum dan sesudah makan menurunkan kemungkinan infeksi A. 2005 7. A. Broker S. Vol. dehidrasi . Spesies cacing tambang yang terutama di Indonesia ialah N. Jilid I. Sanioli L. 19. Araujo MI. Downloaded in June 23. 2005 5. immobilisasi. Menghambat kolinesterase. sebelum memulai terapi. Aktif melawan Enterobius Vermicularis (pinworm). Jakarta: Balai Penerbit FKUI. yang kemudian menembus kulit manusia sampai akhirnya masuk ke saluran cerna dan menjadi dewasa di sini. dibagi dalam 2 dosis selama 2 hari.2. 1995. Jika masih terdapat telur maupun cacing dewasa. Infect and Immun 2002. Dolin R. Kadar serum teofilin dapat meningkat pada pasien anak-anak setelah pemberian pirantel pamoet C . Hookworm. 70(2):427-33 8.duodenale (hook worm) obat pencahar tidak dibutuhkan dan boleh diminum dengan susu atau Jus buah. Pearce EJ. pirantel pamoat dan berbagai terapi suportif. Mahmoud AAF.3 No.com. Hookworm infection. 4th ed. editors. muntah dan depresi susunan saraf pusat. New York:Churchill Livingstone. albendazole. 2005 6. Available from: http:// www. Cuci tangan sebelum dan sesudah makan menurunkan kemungkinan infeksi A.

2 Setelah melakukan lari jarak jauh terjadi peningkatan yang signifikan dari SGOT/AST 193% dan SGPT/ALT 42% serta bilirubin total 106%. yang akan menyebabkan terjadinya kerusakan sel dan organel sel. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat pengaruh glutamin terhadap kadar bilirubin dan gambaran histologis hati setelah pemberian parasetamol dan beban maksimal pada mencit. I W P Sutirtayasa*** dan Gopinath Muruti**** * ** *** **** Staf Pengajar Bagian Farmakologi . dengan rancangan randomized control group post test only design. termasuk sel hati. yaitu kelompok kontrol. Pada penelitian yang dilakukan oleh banyak peneliti.Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Staf Pengajar Bagian Patologik Anatomi .Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Mahasiswa Semester VIII . Oktober . radikal bebas. glutamin.1 Pada latihan fisik berat berupa lari 80 km terjadi ketidakseimbangan antara prooksidan dan antioksidan intraselular yang dapat menimbulkan kerusakan sel hati sehingga terjadi peningkatan plasma aspartat transaminase (AST/SGOT) 4 kali lipat dan peningkatan kadar bilirubin yang merupakan tanda dari gangguan fungsi hati. Terhadap semua kelompok dilakukan pengamatan kadar bilirubin dan gambaran histologis hati setelah perlakuan. Hasil yang didapat menunjukan terjadi peningkatan kadar bilirubin yang bermakna (p<0. Masing-masing kelompok dibagi menjadi 2 kelompok kecil. Penelitian yang melihat pengaruh beban maksimal dan parasetamol serta efeknya terhadap gambaran histologis hati yang diawali pemberian glutamin yang merupakan bahan baku glutathione nampaknya belum ada. Kata kunci: Renang maksimal. Kerja keras tanpa istirahat pada akhirnya akan membebani hati. akan ikut memperberat kerja hati. I B Rai Manuaba**. dan data tentang gambaran histologis hati dianalisis secara nonparametrik. Kelompok non-glutamin mengalami peningkatan sel nekrosis dan sel radang yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok glutamin (p<0.ARTIKEL PENELITIAN Pemberian Glutamin Menurunkan Kadar Bilirubin Darah serta Mengurangi Nekrosis Sel-Sel Hati setelah Pemberian Aktivitas Fisik Maksimal dan Parasetamol pada Mencit I Made Jawi*. parasetamol. 19. mencit Pendahuluan ati merupakan organ tubuh yang penting dalam menjaga dan menentukan derajat kesehatan seseorang.05). nekrosis yang lebih banyak dan peningkatan sel-sel radang setelah perlakuan dengan glutamin dan non-glutamin (p<0. kelompok renang maksimal dengan parasetamol.3 Pada No. masing-masing terdiri dari 10 ekor. yaitu dengan Mann-Whitney U dengan program SPSS.Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Abstrak.Desember 2006 192 .05). Sel hepatosit menunjukkan tingkat degenerasi. Di samping itu kehidupan yang semakin susah dan selalu dituntut untuk bekerja keras dalam mempertahankan kehidupan.05). Dalam menjalankan fungsi tersebut hati akan dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari dalam tubuh maupun dari lingkungan. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji T untuk bilirubin. Vol. Aktivitas fisik yang berat ternyata akan menimbulkan perubahan metabolisme dalam H tubuh yang akan menghasilkan radikal bebas (oxidant) yang merusak sel-sel termasuk sel-sel hati. 4. ditemukan peningkatan produksi reactive oxygen species (ROS) yang akan menimbulkan oxidative damage setelah melakukan latihan fisik yang berat. Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini menyebabkan perubahan lingkungan yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap hati.Stres oksidatif dapat terjadi akibat pemberian beban maksimal dan parasetamol secara bersamaan. kerusakan sel hati. Banyak penelitian telah dilakukan untuk melihat kerusakan sel hati akibat beban maksimal dengan mengukur kadar bilirubin dan SGPT darah. Penggunaan berbagai zat kimia baik berupa food additive maupun berupa pestisida serta obat-obatan. Hal ini terjadi karena kerusakan hati dan kerusakan otot serta terjadi hemolisis. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan glutamin dapat melindungi fungsi hati pada pemberian parasetamol dan beban maksimal pada mencit. yaitu kelompok glutamin dan non-glutamin masing-masing 20 ekor.Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Staf Pengajar Bagian Patologi Klinik . Penelitian dilakukan terhadap 40 ekor mencit jantan umur 4–5 bulan jenis Balb/C yang dibagi menjadi 2 kelompok besar. Peningkatan bilirubin lebih tinggi pada kelompok non-glutamin dibandingkan kelompok dengan glutamin (p<0.05) pada kelompok glutamin dan non-glutamin setelah perlakuan. sering menyebabkan lupa untuk mengatur waktu istirahat.

juga dapat meningkatkan AST/ SGOT dan Alanin aminotransaminase (ALT/SGPT) dalam darah. Perlakuan ini dilakukan di Lab. SGOT dan bilirubin setelah aktivitas fisik dan setelah pemberian acetominophen adalah akibat menurunnya kadar glutathione yang merupakan antioksidan8 yang melindungi sel-sel hati. (c) Variabel kendali.2 mg/ekor/hari selama seminggu sebelum perlakuan renang maksimal. Patologi Anatomi FK Unud untuk dibuat sediaan PA. dan dilakukan oleh seorang ahli patologi. Pemberian n-acetylcystein pada saat melakukan aktivitas fisik berat ternyata dapat meningkatkan kadar glutathione tapi tidak dapat mengurangi kelelahan. Terhadap kelompok kontrol dilakukan pengambilan darah dan pengambilan hati tanpa diawali dengan renang.14 Nampaknya perlu dicari usaha lain untuk dapat meningkatkan kadar glutathione saat melakukan aktivitas fisik berat dan setelah pemberian acetaminophen. Pada penelitian tersebut terjadi peningkatan kadar SGOT dan SGPT yang diukur setelah 24 jam kemudian. Farmakologi FK Unud. kandang hewan coba. 19.11 Meskipun peran glutathione dalam mengatasi keracunan hati oleh parasetamol/acetaminophen telah jelas12. Patologi Klinik FK Unud untuk dilakukan pemeriksaan kadar bilirubin. Kelompok 1 atau kelompok kontrol tanpa diberi perlakuan.13 namun pemberian enzim glutathione sintetase pada mencit yang diberikan parasetamol/acetaminophen ternyata tidak mampu meningkatkan kadar glutathione. Oktober . Variabel gambaran histologis hati adalah keadaan sel-sel hati serta adanya tanda-tanda degenerasi yang dilihat dengan mikroskop cahaya dengan pembesaran 400 kali pada 10 lapangan pandang untuk setiap sediaan. SGPT dan bilirubin. umur.10 Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan kadar glutathione sehingga efek hepatotoksik dari radikal bebas dapat diatasi.5 Latihan fisik berat akut meningkatkan kadar malandialdehyde (MDA) sangat bermakna pada hati.15 Sehingga perlu diteliti peran glutamin dalam mencegah gangguan fungsi hati akibat pemberian parasetamol dan beban aktivitas fisik maksimal. Uji statistik yang digunakan adalah uji T dan statistik non-parametrik. 4. yaitu jenis hewan coba. Lamanya renang berkisar antara 45-50 menit. Bahan dan Cara Kerja Penelitian ini adalah eksperimental laboratorik dengan rancangan randomized control group posttest only. Vol.ARTIKEL PENELITIAN penelitian terhadap pelari maraton ditemukan peningkatan yang signifikan dari SGOT. Glutamat yang merupakan salah satu komponen dari glutathione baru bisa terpenuhi bila ada glutamin yang cukup dalam darah. yaitu kadar bilirubin darah serta gambaran histologis hati. Sampel dalam penelitian ini adalah mencit Balb/C jantan dengan umur 4-5 bulan yang diperoleh dari kandang hewan coba Lab. hanya satu kali dilanjutkan dengan pengambilan darah secara intrakardial sehingga mencit mati. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 40 ekor. terjadi peningkatan efek hepatotoksik dibandingkan dengan tanpa beban maksimal. Kelompok 2 adalah kelompok kontrol dengan glutamin secara oral dengan dosis 3. Masalah dalam penelitian ini apakah pemberian glutamin dapat memperkecil kenaikan bilirubin darah akibat olahraga berat/aktivitas fisik maksimal dan parasetamol? Masalah lain apakah pemberian glutamin dapat mengurangi terjadinya perubahan gambaran histologis hepar akibat olahraga berat/aktivitas fisik maksimal dan parasetamol? Tujuan dari penelitian ini mengetahui efek glutamin terhadap No. yaitu renang sekuat-kuatnya sampai hampir tenggelam. Setelah mencit mati dilakukan pembedahan laparatomi untuk mengambil hati. Farmakologi FK Unud. (b) Variabel tergantung.2 mg/hari/ekor selama satu minggu.9 Penelitian lain yang meneliti pengaruh pemberian nacetylcystein pada penderita hepatitis oleh karena virus ternyata tidak mampu meningkatkan kadar glutathione dalam sirkulasi. Kelompok 3 diberi perlakuan parasetamol secara oral 7.9 Glutathione adalah suatu tripeptida yang terdiri dari glycine-glutamate-cysteine.4 Latihan yang dilakukan sesaat.10 Peran glutamin dalam mempercepat waktu pemulihan jumlah limfosit lien dan limfosit darah setelah beban aktivitas fisik berat pada mencit telah terbukti. Hati direndam dengan formalin 10% lalu dikirim ke Lab. dengan mengukur kadar bilirubin darah dan melihat gambaran histologis jaringan hati. Kelompok 4 diberikan glutamin secara oral dengan dosis 3. dengan parasetamol dan glutamin serta tanpa glutamin. Sampel dibagi menjadi 4 kelompok masingmasing 10 ekor mencit. mengetahui efek glutamin terhadap perubahan gambaran histologis hati setelah pemberian beban aktivitas fisik renang maksimal dan parasetamol pada mencit. Hasil Penelitian Hasil penelitian berupa kadar bilirubin darah dapat dilihat pada tabel 1.7 Peningkatan SGPT. Glutamin adalah salah satu asam amino yang diperlukan untuk sintesa glutathione dalam sel. Variabel dalam penelitian ini meliputi: (a) variabel bebas.6 Penelitian yang dilakukan pada mencit dengan memberikan beban aktivitas fisik berupa gerakan cepat 10 m/menit selama 2 jam dalam suatu rotating cage yang diikuti pemberian paracetamol/ acetaminophen 700 mg/Kg BB. yang merupakan pertanda dari meningkatnya oxidative stress akibat oxidant/radikal bebas. 193 .Desember 2006 kadar bilirubin darah setelah melakukan aktivitas fisik renang maksimal dan pemberian parasetamol pada mencit. yaitu uji Mann Whitney.5 mg/ekor dan latihan fisik berupa renang sekuatkuatnya sampai hampir tenggelam atau nampak tandatanda kelelahan berupa tenggelamnya hampir semua badan kecuali hidung dan melemahnya gerakan anggota gerak serta menurunnya waktu reaksi. Darah dikirim ke Lab. Setelah seminggu mencit diberi perlakuan seperti kelompok 3.dan gambaran histopatologi jaringan hati dapat dilihat pada grafik 1 dan 2 serta tabel 2.

0. 1=1%-25%. 19. (dalam lapangan pandang 10x) Pada Grafik 2 terlihat tidak ada perbedaan sel yang mengalami degenerasi pada kelompok glutamin dengan kelompok tanpa glutamin (P>0.2884 N 10 10 10 10 Rata-rata 0. Grafik 2. 0.05).2450 0. Setelah pemberian beban renang maksimal terjadi peningkatan jumlah degenerasi dan nekrosis sel pada kelompok tanpa glutamin maupun dengan glutamin. Pada Grafik 1 terlihat perbandingan fokus degenerasi dan nekrosis pada kontrol adalah 0 baik tanpa glutamin maupun dengan glutamin (tidak ada degenerasi dan nekrosis).2450.8200. 4= 76%-100%. Pada ratarata kontrol bilirubin darah baik yang diberikan glutamin dan tanpa glutamin hampir sama. Setelah diberikan perlakuan parasetamol dan aktivitas fisik maksimal tanpa glutamin menjadi 1. 1=1 sel-25 sel. 2=26 sel-50 sel.05). Kelompok III: Kelompok perlakuan yang diberikan parasetamol dan aktivitas fisik maksimal Kelompok IV: Kelompok perlakuan yang diberikan glutamin. 1=1 sel-25 sel. 1=1%-25 %. 2= 26 sel-50 sel. Secara statistik perbedaan ini bermakna (p<0. Grafik 1. (dalam lapangan pandang 10 x) Skala PMN dan Limfosit: 0= tidak ada. Perbandingan sel yang mengalami degenerasi dan nekrosis serta PMN dan sel limfosit pada kelompok tanpa glutamin dan kelompok dengan glutamin Keterangan: Skala degenerasi dan nekrosis 0= tidak ada.3557 II. No.Desember 2006 . Secara statistik perbedaan tersebut bermakna dibandingkan dengan kontrol (p<0.7370 0.7370 dan 0. parasetamol dan aktivitas fisik maksimal kadar bilirubin darah naik menjadi 0.05). A. Sedangkan pada kelompok yang diberikan glutamin. =26%50%. 4=76%-100%. Kalau dibandingkan antara kelompok tanpa glutamin dengan kelompok dengan glutamin setelah diberikan beban maksimal terlihat perbedaan jumlah selsel yang mengalami degenerasi dan nekrosis. 0. 0. Sel yang mengalami nekrosis dan sel-sel radang lebih tinggi pada kelompok tanpa glutamin.05).3554 III. Sel-sel yang mengalami degenerasi tidak berbeda secara statistik(p>0. 4. 4=76 sel-100 sel. Dengan uji Mann-Whitney perbedaan tersebut bermakna (p<0.4889 IV. 3=51 sel-75 sel.05). 4=76 sel-100 sel. Terlihat sel-sel 194 C.05). dan secara statistik signifikan (p<0.05).8200 Keterangan: Kelompok I: Kelompok kontrol tanpa glutamin Kelompok II: Kelompok kontrol dengan glutamin yang mengalami nekrosis lebih banyak pada kelompok tanpa glutamin. parasetamol dan aktivitas fisik maksimal Pada tabel 1 terlihat terjadi kenaikan bilirubin darah setelah pemberian parasetamol dan aktivitas fisik maksimal. Oktober .7350 1. Perbandingan keadaan sel-sel jaringan hati dapat dilihat pada grafik 1 dan 2. yaitu 0. Vol. (dalam lapangan pandang 10x) Skala PMN dan Limfosit: 0= tidak ada. 3=51%-75%. Begitu juga sel-sel PMN dan limfosit (p<0.ARTIKEL PENELITIAN Tabel 1. Perbandingan gambaran PA pada kelompok tanpa glutamin dan kelompok dengan glutamin Keterangan: Skala degenerasi dan nekrosis 0= tidak ada.7350. Gambaran jaringan hati pada ke-4 perlakuan dapat dilihat pada gambar 1 berikut. secara statistik tidak berbeda dibandingkan kontrol (p>0. (dalam 10 lapangan pandang) B. Rata-rata kadar bilirubin dari ke empat kelompok percobaan Kelompok Std Deviasi I. 3=51 sel-75 sel.05). 3=51%-75%. 2=26%50%.

et al. Glutamate yang merupakan salah satu komponen dari glutathione baru bisa terpenuhi bila ada glutamin yang cukup dalam darah. The biochemistry of runners in a 1600 km ultramarathon. Vol.27(12):1590-4 4.33(4):264-9 Gambar 1.htm 11. Acute acetaminophen toxicity in transgenic mice with elevated hepatic glutathione. Pada keracunan parasetamol GSH menurun hingga 90%. et al. 1995. Antioxidants and oxidative stress in exercise.medfaq. Hettinger A. World J Gastroenterol 2004. Koutedakis Y. Oktober . Kurangnya glutathion akibat NAPQI akan menyebabkan ion superoksida tidak dapat dinetralisir sehingga terjadi stres oksidatif. et al. Drug Metabolism and Disposition 2003.100(9):5119-23 3.17 Pemberian glutamin sebelum pemberian parasetamol dan beban maksimal dapat memperingan kerusakan jaringan hati sehingga kadar bilirubin darah lebih rendah dibandingkan dengan tanpa glutamin. N-acetylcysteine infusion alters blood redox status but not time to fatigue during intense exercise in humans. Raafat A. J Hepatol 1998. Pembahasan Pada penelitian ini terjadi peningkatan kadar bilirubin darah setelah pemberian parasetamol dan aktivitas fisik maksimal. Gambaran histologis hati mencit kontrol dan setelah perlakuan dengan pembesaran 400x Keterangan: A. Bjorksten AR. Elevation of glutathione levels in bovine pulmonary artery endothelial cells by N-acetylcysteine. 19. Plasma antioxidant status and cell injury after severe physical exercise. Potentiation of acetaminophen hepatotoxicity by acute physical exercise in rats. Renang. Brown MJ. Sharp NC. Kim SN. Daley DL.10 Kesimpulan dan Saran Pembebanan aktivitas fisik maksimal dan parasetamol dapat meningkatkan kadar bilirubin darah dan dapat meningkatkan degenerasi serta nekrosis sel hati mencit.ARTIKEL PENELITIAN D.33(3):252–7 6. Li Li Ji. Frick R. NAPQI akan ditoksifiksi oleh glutathion (GSH) menjadi acetaminophen-GSH.222:283-92 2. Bounous DI. Hagen T. Bernhard MC. J Appl Physiol 2003.16 Selain mekanisme tersebut akibat pemberian parasetamol dosis tinggi menyebabkan stres oksidatif.3. Molan DS. Serum enzyme activities in individuals with different levels of physical fitness. Sivyer K. Time Course of total cystein. 42(3):146-50 15. Liu J. Hinson JA. Deneke SM.31:1499-506 17. Aktivitas fisik berat yang diberikan berupa renang maksimal pada mencit akan memperberat terjadinya stres oksidatif karena meningkatkan terbentuknya radikal bebas2 sehingga terjadi kerusakan sel-sel hati yang terlihat dari meningkatnya SGOT. endonuklease dan kerusakan DNA. J Spotts Med phys Fitness 1993. Renang.Desember 2006 195 . Richie JP. J Biochem Mol Toxicol 2001. et al. Br J Sports Med 1999.com/glulong 3. Pemberian glutamin sebelum pembebanan aktivitas fisik dan parasetamol dapat melindungi fungsi hati serta mengurangi nekrosis sel hati mencit. yaitu akibat dari terbentuknya metabolit toksik atau metabolit reaktif dari parasetamol. Daftar Pustaka 1. Agar hasil penelitian ini dapat diaplikasikan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan melihat kadar radikal bebas pada jaringan hati setelah aktivitas fisik dengan pemberian parasetamol dan dilindungi dengan glutamin. Function of glutamine. Mech Ageing Dev 2000. Sivyer G. Phels DT. yaitu N-acetyl-p-benzoquinon imine (NAPQI) yang terjadi akibat dari aktivasi enzim cytochrom P450. Proceedings of the Society for Experimental Biology and Medicine 1999. Mayyeux PR. Chronically and acutely exercised rats: biomarkers of oxidative stress and endogenous antioxidants.7(3):293-9 9. Selama pembentukan NAPQI oleh Cytochrome P450 juga terbentuk ion superoksida yang sangat reaktif. glutathione and homocysteine in plasma of patients with chrinic hepatitis C treated with interferon-alpha with and without supplementation with N-acetylcysteine. et al. et al.17 Meningkatnya bilirubin juga disebabkan oleh karena terjadi kerusakan otot dan hemolisis akibat aktivitas fisik berat. Shee BW. Konas Ikafi XI Denpasar 2004 16. et al. Villa JG. et al. Kim YC. SGPT dan bilirubin. Fallon KE. J Appl Physiol 2000. Akibatnya metabolit reaktif NAPQI akan berikatan dengan cystein group protein membentuk acetaminophen-protein adducts baik dengan enzim maupun protein dalam sel maupun dalam mitochondria sehingga terjadi gangguan fungsi pada akhirnya terjadi kerusakan sel/lisis/nekrosis. Jawi M. Glutamin mempercepat waktu pemulihan limfosit darah dan limfosit lien setelah pemberian beban aktivitas fisik maksimal pada mencit. Effect of ultra-marathon on biochemical and hematological parameters. Vet Hum Toxicol 2000. 10(18):2711-4 5. p-Aminophenol-induced liver toxicity: tentative evidence of a role for acetaminophen. Kontrol tanpa glutamin nampak sel hepatosit normal B. J Appl Physiol 1992. et al. Yoon MY. parasetamol tanpa glutamin nampak degenerasi dan nekrosis yang banyak D. 28(5):751-5 12. Med Sci Sports Exerc 1995. Heled Y.120(1-3):127-39 14. PNAS 2003. Gangguan pada mitochondria menyebabkan kekurangan ATP . Seperti telah disebutkan bahwa glutathione merupakan antioksidan yang penting dalam sel hati yang akan mengikat radikal bebas serta metabolit toksik parasetamol. James LP. 4. Parasetamol dosis tinggi akan menyebabkan kerusakan jaringan hati melalui beberapa mekanisme. Chen KT. 15(1):34-40 13.94:1572-82 10.15. Chen TS. Res Commun Mol Pathol Pharmacol 1997.89: 21-8 7. Wu HJ. Kontrol dengan glutamin nampak sel hepatosit normal C. parasetamol dengan glutamin nampak degenerasi dan nekrosis yang lebih jarang dibandingkan tanpa glutamin. De Paz JA. Chen TS. Rzucidlo SJ. et al. Jones DP. Nagasawa HT. Song H. Chevion S. Yeo HC. Junker E. Glutathione monoethyl ester protects against glutathione deficiencies due to aging and acetaminophen in mice.96(1):35-44 8. Lopez P. Gangguan tersebut menyebabkan hilangnya keseimbangan ion dalam sel dan mitokondria sehingga terjadi peningkatan kalsium sitosolik pada akhirnya menyebabkan aktivasi protease. Acetaminophen-induced hepatotoxicity. Medved. No. Effect of long-distance running on serum bilirubin.16 Glutamin adalah salah satu asam amino yang diperlukan untuk sintesa glutathione dalam sel. et al.4. Penelitian Duelike 2002. Available at: http://www.

Terapi farmakologi yang merupakan pilihan untuk gagal jantung diastolik adalah angiotensin converting enzyme inhibitors. pasien ini mempunyai prognosis yang lebih baik dibandingkan dengan gagal jantung sistolik. prognosis dan penanganannya. Oleh karena itu. 19. angiotensin reseptor blockers. diuretics dan beta blockers. serta memperbaiki penatalaksanaan pengobatan pada pasien gagal jantung diastolik. Liza Nellyta* . angiotensin reseptor blockers. Definisi dan Kriteria Diagnosis Gagal jantung diastolik adalah suatu sindrom klinis yang ditandai dengan keluhan dan tanda gagal jantung (dyspnea on exertion.15 Gagal jantung diastolik diperkirakan terjadi pada 40-60% dari pasien gagal jantung kongesti.2. diuretik dan beta blocker.17 Terapi farmakologi yang menjadi pilihan untuk gagal jantung diastolik adalah angiotensin converting enzyme inhibitors. pulmonary edema. paroxysmal nocturnal dyspnea.12 Gagal jantung diastolik tidak dapat dibedakan dari T gagal jantung sistolik baik secara klinis dan radiografi.3.ARTIKEL PENELITIAN Diagnosis dan Penatalaksanaan Gagal Jantung Diastolik L. jugular venous distension. Eko Purnomo** * Alumni FKUP/RSHS ** RSPAD Gatot Subroto Abstrak. third or fourth heart sounds.12. Diagnosis tersebut paling sering ditemukan pada pasien dengan usia >65 tahun. oleh karena itu perlu pemeriksaan penunjang lainnya. kardiomegali) di mana fungsi sistolik ventrikel kiri normal (efeksi fraksi >45%) dengan fungsi diastolik yang abnormal. pasien tidak hanya mempunyai gagal jantung sistolik murni. Gagal jantung diastolik adalah suatu sindroma klinis yang ditandai dengan keluhan dan tanda gagal jantung di mana fungsi sistolik ventrikel kiri normal (ejeksi fraksi >45%) dengan fungsi diastolik yang abnormal.11. Dengan diagnosis dini dan penanganan yang tepat. Vol. Padahal angka kematian akibat gagal jantung cukup tinggi.12 Baik disfungsi diastolik maupun sistolik dapat menyebabkan gagal jantung kongesti. Oktober . 50% pasien yang berusia >65 tahun dengan gagal jantung mempunyai ”Isolated Diastolic Dysfunction (IDD)”.12 Oleh karena itu sangatlah penting bagi seorang dokter untuk mengenali perbedaan gagal jantung diastolik dan gagal jantung sistolik. Sayangnya data tentang prevalensi kasus gagal jantung di Indonesia belum tersedia. 4. namun kateterisasi jantung tetap merupakan metode yang disarankan untuk mendiagnosis disfungsi diastolik.000 kasus baru tiap tahun.13 Insidensi gagal jantung diastolik meningkat sesuai pertambahan umur. oleh karena itu. edema perifer. gagal jantung sistolik. pasien ini mempunyai prognosis yang lebih baik dibandingkan dengan gagal jantung sistolik.Desember 2006 196 . Lima puluh persen pasien yang berusia >65 tahun dengan gagal jantung mempunyai ”Isolated Diastolic Dysfunction (IDD)”. seperti ekokardiografi dua dimensi (alat noninvasif terbaik untuk menegakkan diagnosis)/radionuclide angiography (digunakan pada pasien yang secara teknis sulit dilakukan ekokardiografi). Gagal jantung diastolik diperkirakan 40-60% dari pasien gagal jantung kongesti. Insidensi gagal jantung diastolik meningkat sesuai pertambahan umur. Meskipun penyakit kardiovaskular tertentu seperti hipertensi dapat menyebabkan disfungsi diastolik tanpa disertai disfungsi sistolik. Lebih dari 50% penderita gagal jantung meninggal dalam kurun waktu 5 tahun setelah diagnosis.18 Suatu penelitian menyarankan para dokter mengkombinasikan informasi klinis dan ekokardiografi untuk mengkategorikan pasien gagal jantung diastolik berdasarkan No. Membedakan gagal jantung diastolik dari sistolik penting sebab terdapat perbedaan patogenesis. Penyakit gagal jantung dijuluki pula sebagai heart cancer karena risikonya setara dengan bahaya penyakit kanker. Kata kunci: Gagal jantung diastolik. prognosis disfungsi diastolik lebih baik daripada disfungsi sistolik.Tiga juta penduduk Amerika terdiagnosis gagal jantung kongesti dan tidak kurang dari setengah juta penderita baru dirawat di rumah sakit setiap tahun. ejeksi fraksi Pendahuluan iga juta penduduk Amerika terdiagnosis gagal jantung kongesti dan terdapat 500. orthopnea. rales.

dan lebih banyak ditemukan pada wanita lansia. AV blok).44 1. Secara konvensional. diastol dapat dibagi menjadi 4 fase: isovolumetric relaxation.12 Patofosiologi Diastol merupakan proses dimana jantung kembali pada keadaan relaksasi. Lebih jauh lagi sulit untuk membedakan gagal jantung diastolik dari gagal jantung sistolik hanya berdasarkan klinis saja. radiografi toraks yang mendukung dan respon klinis yang spesifik terhadap diuretik dengan atau tanpa peningkatan tekanan pengisian ventrikel kiri atau indeks jantung yang rendah. Pada kasus yang Abnormalitas diastolik Disfungsi diastolik Gagal jantung diastolik Diagnosis Gagal jantung dapat menyebabkan kelelahan. ronki. LR+= positive likelihood ratio. ** Gejala-gejala dan tanda-tanda klinis. dyspnea on exertion. takikardi. ditandai oleh penutupan katup aorta sampai pembukaan katup mitral. sehingga menyebabkan effort intollerance. demam. jantung dapat memenuhi kebutuhan metabolik tubuh baik saat istirahat atau selama bekerja. bunyi jantung tiga atau empat.16 Kriteria Definitif Tabel 1. paroxysmal nocturnal dyspnea. infeksi. Dengan disfungsi diastolik. merupakan suatu periode aliran lambat selama middiastol. takikardi. iskemik. Kardiomegali dan kongesti vena pulmonalis sering ditemukan pada rontgen toraks. tetapi dengan peningkatan tekanan pengisian. hipertensi.14 Insidensi gagal jantung diastole meningkat dengan pertambahan umur.41 Gagal jantung sistolik vs nonsistolik Sensitivitas Spesifisitas (%) (%) 95 89 83 74 14 27 29 50 LR+ 1.22 0.1 1. Vol.6 Secara luas isolated diastolic dysfunction dapat didefinisikan sebagai gangguan relaksasi isovolumetrik ventrikular dan penurunan compliance ventrikel kiri. early rapid ventricular filling. Namun penemuan klinis ini tidak spesifik dan sering ditemukan pada penyakit di luar jantung seperti penyakit paru. namun tidak dapat membedakan gagal jantung diastolik dari sistolik. dan late rapid filling selama kontraksi atrial. diastasis. Keakuratan kadar BNP dalam mendiagnosis gagal jantung7 Gagal jantung kongesti vs nonkongesti Kadar BNP (pg per mL) 100 200 300 400 Sensitivitas (%) 90 81 73 63 Spesifisitas LR+ (%) 73 85 89 91 4.5 5. Faktor presipitasi tersering meliputi kelebihan volume.48 0. Proses ini mengurangi stroke volume dan cardiac output. arritmia (seperti atrial fibrilasi.ARTIKEL PENELITIAN tingkat kepastian diagnostik (tabel 1). anemia. hipotiroidisme dan obesitas.Desember 2006 197 .12 Test serum brain natriuretic peptide (BNP) dapat membedakan secara akurat gagal jantung dari penyakit di luar jantung pada pasien dengan sesak nafas. meningkatnya konsumsi garam dan penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid. orthopnea. ventrikel menjadi kaku sehingga otot atrium gagal mengkompensasi dan volume akhir diastolik tidak dapat dinormalisasi dengan peningkatan tekanan pengisian. Kriteria diagnostik gagal jantung diastolik16 Kriteria Probable* Bukti definitif gagal jantung kongesti** Dan Dan Kriteria Possible Dan Ejeksi fraksi ventrikel kiri ≥50% tidak dalam 72 jam kejadian CHF Dan Bukti objektif fungsi sistolik ventrikel kiri normal Φ Dan Bukti objektif disfungsi diastolik ventrikel kiri Ψ normal Φ Dan berat.4 LR0. Oktober . setelah pembukaan katup mitral. 19. hepatomegali dan edema.9 Hipertensi dan penyakit jantung iskemik merupakan penyebab tersering gagal jantung diastolik.1. F Ejeksi fraksi ventrikel kiri lebih besar sama dengan 50% dalam 72 jam kejadian CHF Y Relaksasi/pengisian/peregangan ventrikel kiri abnormal merupakan indikator kateterisasi jantung.12 0.3 0.4 6.52 BNP= Brain Natriuretic Peptide. cor pulmonale. Dengan disfungsi ringan.7 Tabel 3. Relaksasi abnormal dan Kekakuan Tekanan pengisian ventrikel kiri Kekakuan Tekanan dan ukuran atrium kiri Pengisian awal abnormal Toleransi aktivitas fisik normal Tekanan paru-paru selama aktivitas fisik Fibrilasi atrium dan curah jantung Toleransi aktivitas fisik Toleransi aktivitas fisik dan tanda-tanda gagal jantung Prevalensi dan Etiologi 40% pasien gagal jantung mempunyai fungsi sistolik yang baik. tirotoksikosis). 4. mempunyai kemungkinan gagal jantung diastolik setelah penyakit katup mitral.6 7 LR0. Transmisi tekanan akhir diastolik yang tinggi ke sirkulasi pulmonal menyebabkan kongesti pulmonal.8 Tabel 2. primary volume overload dan penyebab di luar jantung telah disingkirkan. distensi vena jugularis. stressor sistemik (seperti anemia. Patofisiologi gagal jantung diastolik8 Kelebihan tekanan iskemia Hipertrofi infark otot jantung Tidak ada informasi yang menyimpulkan fungsi diastolik ventrikel kiri Relaksasi abnormal * Pasien yang memiliki bukti definitif gagal jantung kongesti dan bukti objektif fungsi sistolik ventrikel kiri normal pada saat kejadian CHF. LR-= negative likelihood ratio No.41 0.36 0. late filling meningkat sampai volume akhir diastolik ventrikel kembali ke normal.2 1.

Beta blocker (pilihan) Calcium channel blockers (obat golongan kedua) Digoksin (kontroversial) Ablasi nodus atrioventrikular (kasusnya jarang) Optimalisasi volume sirkulasi (hemodinamik). ekokardiografi dua dimensi dengan doppler merupakan alat noninvasif terbaik untuk menegakkan diagnosis. fungsi sistolik. dialisis. Dalam memperlambat denyut jantung. tissue doppler imaging sangat berguna untuk mengukur mitral annular motion (pengukuran aliran transmital bergantung pada faktor-faktor yang telah disebutkan). 19. Memperbaiki relaksasi ventrikel kiri.12 Penatalaksanaan Pencegahan primer gagal jantung diastolik meliputi berhenti merokok dan penanganan agresif hipertensi. Beta blocker ACE inibitors Mencegah relaps dengan menekankan follow-up pada pasien rawat jalan. Beta bloker dapat memperbaiki harapan hidup pada pasien dengan gagal jantung diastolik. terapi medis untuk disfungsi diastolik dan gagal jantung diastolik sering empiris dan tidak sebaik terapi gagal jantung sistolik. efektif dalam mencegah gagal jantung diastolik dan sistolik. Kontrol tekanan darah Konsultasi gizi (garam) Memonitor status volume (daily weights dan diuretic adjustment) Program aktivitas fisik (olahraga) oleh suatu institusi ACE= Angiotensin-Converting Enzyme. Mencegah dan mengobati hipertensi dan penyakit jantung iskemik.12 Kateterisasi jantung tetap merupakan metode yang disarankan untuk mendiagnosis disfungsi diastolik. kecepatan puncak aliran darah melewati katup mitral selama early diastolic filing dinyatakan sebagai gelombang E dan kontraksi atrial dinyatakan sebagai gelombang A. Namun dalam prakteknya.12 Pada disfungsi diastolik awal. Oleh karena itu. atau plasmapheresis Meningkatkan harapan hidup. Pada kasus ini. ARB= Angiotensin Receptor Blocker Memperbaiki Fungsi Ventrikel Kiri Ketika menangani pasien dengan disfungsi diastolik. Pada permukaan tampaknya terapi farmako untuk gagal jantung sistolik dan diastolik tidak berbeda jauh. Oleh karena itu ratio E/A dapat dihitung. Disfungsi diastolik dapat muncul beberapa tahun sebelum terdapat bukti klinis. Oktober . berhenti merokok. ratio E/A menurun sampai <1. Menghilangkan secara bedah penyakit perikardium. penyakit arteri koroner atau aritmia. Keadaan ini disebut pseudonormalisasi.12 Optimalisasi Hemodinamik Optimalisasi hemodinamik terutama dicapai dengan mengurangi preload dan afterload. beta bloker terbukti bermanfaat dalam mengurangi tekanan darah dan iskemia otot jantung. ekokardiografi dua dimensi dengan doppler dapat digunakan untuk mengevaluasi karakteristik transmitral diastolik dan pola aliran vena pulmonalis. Walaupun sangat jarang. Target panduan ini adalah untuk mengatasi faktor-faktor penyebab. anatomi katup mitral. mengurangi hipertropi ventrikel kiri dan mengurangi stimulasi adrenergik berlebihan selama gagal jantung.5. ACE inhibitors Aldosterone antagonists (bermanfaat secara teoritis) Pembatasan garam dan air Diuresis. Angiotensin Converting Enzyme (ACE) inhibitor dan Angiotensin Receptor Blockers (ARB) secara langsung mempengaruhi compliance dan relaksasi otot jantung dengan menghambat produksi atau memblok reseptor No. ACE inhibitors Calcium channel blokers Mengurangi hipertropi ventrikel kiri(mengurangi penebalan dinding dan menghilangkan kolagen yang berlebih). perubahan pola makan. Kecepatan gelombang E dan A dipengaruhi oleh volume darah. pengurangan volume darah sentral dan mengurangi iskemia otot jantung. pembatasan asupan alkohol dan olahraga. denyut jantung. 4. khususnya bila terdapat hipertensi. Beta bloker berguna untuk tujuan ini. relaksasi terganggu dengan kontraksi atrial kuat. Tujuan penanganan gagal jantung diastolik12 Mengobati faktor-faktor presipitasi dan penyakit yang mendasarinya. E lebih besar dari A dan ratio E/A mendekati 1. fungsi katup mitral dan atrial fibrilasi. meningkatkan fungsi ventrikel kiri dan mengoptimalkan hemodinamik.8 Diagnosis dan pengobatan dini sangat penting dalam mencegah perubahan struktural ireversibel dan disfungsi sistolik.5 Adapun tujuan penanganan gagal jantung diastolik dapat dilihat pada tabel 4. pengisian ventrikel kiri terjadi pada awal diastol.ARTIKEL PENELITIAN Sebagai tambahan untuk memperoleh informasi tentang chamber size.12 Tabel 4. katup dan perikardium. ACE inhibitors dan ARBs Aldosterone antagonists Beta blocker Calcium channel blockers Menjaga sinkronikasi atrioventrikular dengan menangani takikardi (takiaritmia).12 American College of Cardiology dan American Heart 198 Association mengeluarkan panduan yang menyarankan dokter untuk mengontrol tekanan darah. hal ini membuat standard ekokardiografi kurang dapat dipercaya. compliance ventrikel kiri berkurang. di mana terdapat peningkatan tekanan atrial dan akhirnya terdapat peningkatan early left ventricular filling selain gangguan relaksasi. Pada pasien dengan disfungsi diastolik berat. penting untuk mengontrol denyut jantung dan mencegah takikardi untuk memaksimumkan periode pengisian diastolik. Modifikasi gaya hidup seperti penurunan berat badan.10 Pada ekokardiografi. sehingga membuat ratio E/A>2. namun tidak secara langsung menyebabkan relaksasi otot jantung. Selama perjalanan penyakit. Vol. radionuclide angiography digunakan pada pasien yang secara teknis sulit dilakukan ekokardiografi. Namun tidak ada obat tunggal yang murni lusitropic properties (selektif meningkatkan relaksasi otot jantung tanpa menghambat fungsi atau kontraktilitas ventrikel kiri). ketebalan dinding dan pergerakan. hiperkolesterolemia dan penyakit arteri koroner. Pada keadaan normal.Desember 2006 .

Hunsberger S. Diastolic function assessment incorporating new techniques in doppler echocardiography. Hunt SA. Chin MH.p.12 Vasodilator (seperti nitrat.45:813-25 9. Benjamin EJ. Pada pasien dengan ejeksi fraksi normal. Results from the breathing not properly multinational study.89:1218-21 12. Am J Geriatr Cardiol 2003. Cardiovascular Research 2000. Levy D.38:1277-82 14. Vasan RS. Circulation 2000. sedangkan efeknya pada disfungsi diastolik tidak jelas. Diuretik intravena seharusnya hanya digunakan untuk mengurangi gejala akut. ACC/AHA guidelines for the evaluation and management of chronic heart failure in the adult: executive summary. van Kraaij DJ. Kovacs SJ. Spertus JA. et al. Philbin EF. Cardiol Clin 2000. dimana oksigen menghambat kalsium klirens intraselular saat diastolik sehingga mengganggu relaksasi diastolik. Usefulness of clinical information to distinguish patients with normal from those with low ejection fractions in heart failure.12. Defining diastolic heart failure: a call for standardized diagnostic criteria. Blanchard DG. et al. 73:841-6 13. McCullough PA. angiotensin reseptor blockers. Dokter perlu mengkombinasikan informasi klinis dan ekokardiografi untuk mengkategorikan pasien gagal jantung diastolik. Geriatrics 1999. Digoksin berperan untuk mengontrol laju ventrikel pada pasien atrial fibrilasi atau flutter.18:459-87 7. Braunwald E. Philadelphia:Saunders. Congestive heart failure in subjects with normal versus reduced left ventricular efection fraction: prevalence and mortality in a population-based cohort. Heart failure with preserved systolic function. 41:2010-7 8.69:2609-16 5. mengurangi hipertropi ventrikel kiri dan memperlambat denyut jantung. et al. Clinical correlates of isolated left ventricular diastolic dysfunction among hospitalized older heart failure patient. J Am Coll Cardiol 1999. dengan cara mengurangi cadangan kolagen interstitial dan fibrosis. khususnya ketika ACE inhibitor tidak dapat digunakan. Maisel AS. Oktober . Redfield MM. 31-3 15. Meskipun diuretik mengontrol tekanan darah. Akhirnya pada penelitian random terkontrol berskala besar. A different natural history? J Am Coll Cardiol 2001. et al.54:24-8. Satpathy R. Daftar Pustaka 1. Garg R. Ruiters AW. diuretics dan beta blockers. Terapi farmakologi yang merupakan pilihan untuk gagal jantung diastolik adalah angiotensin converting enzyme inhibitors. 2001. Bagaimanapun juga nondihydropyrimidine calcium channel blockers (seperti verapamil (Calan®)).12:82-9 2. Larson MG. beberapa pasien dengan gagal jantung diastolik sensitif terhadap pengurangan preload dan dapat mengakibatkan hipotensi dan azotemia prerenal berat. J Am Coll Cardiol 2003. Rev Cardiovasc Med 2003. Gagal jantung diastolik diperkirakan 40-60% dari pasien gagal jantung kongesti. prognosis dan penanganan antara gagal jantung diastolik dan gagal jantung sistolik. Baker DW. Seiler C. J Am Coll Cardiol 1999. 19. Diagnosis and management of diastolic dysfunction and heart failure. Weaver MT.4.33:1948-55 17. Am Fam Physician 2004. Tidak seperti obat lain yang digunakan untuk gagal jantung diastolik. Clinical aspect of heart failure.39:60-9 10. vasodilator tidak mempunyai efek regresi ventrikel kiri. Diagnosing diastolic heart failure. 4. Vol. Mishra TK. Warner JG. J Am Coll Cardiol 2001. mencegah atau mengurangi iskemik otot jantung. Diastolic heart failure. et al. et al. Pennington JA. Tecce MA. Defining diastolic dysfunction. Bedside B-type natriuretic peptide in the emergency diagnosis of heart failure with reduced or perseved efection fraction. A report of the american college of cardiology/american heart association task force on practice guidelines. In: Heart Disease: Textbook of Cardiovascular Medicine 6th edition. diltiazem (Cardizem®) seharusnya tidak digunakan pada pasien dengan gangguan disfungsi ventrikel kiri. Meisner JS. Michael JG. Ahmed A. et al. pasien ini mempunyai prognosis yang lebih baik dibanding gagal jantung sistolik.101:2118-21 18. hydralazine (Apresoline®)) mungkin berguna karena menurunkan preload dan efek antiiskemik. Am Fam Physician 2006.12 Kesimpulan Terdapat perbedaan patogenesis. et al. et al. spironolactone (Aldactone®) pada gagal jantung sistolik menunjukkan penurunan angka mortalitas. Vasan RS.12 Calcium channel blockers telah menunjukkan dapat memperbaiki fungsi diastolik secara langsung dengan mengurangi konsentrasi kalsium sitoplasmik dan menyebabkan relaksasi otot jantung atau secara tidak langsung mengurangi tekanan darah. memperbaiki hipertropi ventrikel kiri dan mengurangi kekakuan ventrikel kiri. Senni M. calcium channel blockers belum terbukti menurunkan angka kematian pada pasien dengan isolated diastolic dysfunction.4:419-30 16. McCord J. Losartan improves exercise tolerance in patients with diastolic dysfunction and a hypertensive response to exercise. digoksin dapat merusak fungsi jantung dengan meningkatkan kontraktilitas dan konsumsi oksigen.12 Peranan digoksin masih kontroversial dalam penanganan pasien dengan gagal jantung diastolik. Segal BL.33:1567-72 No. Diastolic heart failure: challenges of diagnosis and treatment. Manfaat tidak langsung dari optimalisasi hemodinamik meliputi perbaikan pengisian ventrikel kiri dan mengurangi tekanan darah. Wilson SC. Heart failure: clinical implications of systolic and diastolic dysfunction. Vasodilator digunakan secara hati-hati karena penurunan preload dapat memperburuk cardiac output. Nanda NC.38:2101-13 6. Eberli FR.534-62 3. Naqvi TZ. Gutierrez C. van Pol PE. Lebih penting lagi. et al. Circulation 2000. Eur J Heart Fail 2002.19 Diuretik efektif dalam penanganan optimal volume intravaskular dan mengurangi sesak nafas dan mencegah gagal jantung akut pada pasien dengan disfungsi diastolik. Mandinov L. Kitzman DW.Desember 2006 199 . Penelitian gagal jantung dengan vasodilator tidak menunjukkan manfaat harapan hidup yang signifikan pada pasien gagal jantung diastolik. Am J Cardiol 2002. Modelling of distole. Long-acting dihydropyrimidine (seperti amlodipine (Norvasc®) seharusnya hanya digunakan untuk mengontrol irama dan angina ketika beta bloker kontraindikasi atau tidak efektif.ARTIKEL PENELITIAN angiotensin II. Metzger DC.101:2020-1 4. Satpathy C. Grossman W. et al. Nowak RM. terdapat perbaikan kapasitas kerja dan kualitas hidup. Philbin EF.12 Hormon aldosteron menyebabkan fibrosis jantung dan berperan dalam kekakuan diastolik.4:81-99 11. Yellin EL. Efek antagonis aldosteron. J Am Coll Cardiol 2000. Confirmation of a heart failure epidemic: findings from the resource utilization among congestive heart failure (REACH) study.

Desember 2006 207 . 19. Secara keseluruhan acara berjalan lancar dan mendapatkan respon positif dari Rumah Sakit maupun masyarakat luas. Bikin Hemat Dexa Media. dilanjutkan pertandingan DXG CUP II.Usai upacara bendera. Corporate Managing Director DXG. dan diproses dengan baik akan memberikan hasil yang baik. Sekitar 650 warga DXG dari kantor pusat dan perwakilan Jabotabek berbaris berbanjar. Natalia No. Pada hari Rabu. Tim OGB Dexa di seluruh Indonesia mengadakan perhelatan bertajuk “Sehari Bersama OGBdexa”. Diiringi lagu Indonesia Raya. Soetikno. khidmat mengikuti prosesi upacara bendera. Bapak Ir. pagi itu tampil mempesona.” demikian salah satu amanat yang penting dari Pak Ferry Soetikno.30. baik swasta maupun pemerintah yang telah ditetapkan. Tim OGB Dexa juga melakukan survei dengan mewawancarai pasien untuk mengetahui awareness masyarakat terhadap obat generik berlogo dan sekaligus mengenalkan brand OGBdexa di kalangan awam. 4. 17 Agustus 2006. selaras dengan kostum para petugas upacara bendera yang tampil gagah layaknya pasukan pengibar bendera. seolah meneguhkan kembali tingginya rasa nasionalisme warga Dexa Medica Group (DXG). Segitiga Merahnya. Dalam amanatnya. Pak Ferry mengingatkan agar warga DXG terus berkarya demi nusa dan bangsa. pukul 08. Kegiatan di tiap lokasi diawali dengan membagi brosur “Kenali OGB” kepada pasien dan pegawai apotek di Rumah Sakit.MBA. Sejak pagi hari itu. sang Merah Putih berkibar. Keheningan saat merah putih dikibarkan oleh petugas upacara. menjadi saksi kebersamaan warga Dexa Group di dalam memperingati HUT Proklamasi Republik Indonesia yang ke-61. Oktober . “Setiap niatan yang baik. OGBdexa: Segitiga Merahnya. Ferry A. Karyanto OGBdexa.SEKILAS DEXA MEDICA GROUP Berkibarlah Merah Putih-Ku Dexa Media. Bikin Hemat. kesibukan rekan-rekan Tim OGB Dexa di tiap-tiap cabang mulai bergulir. melambai ditiup sang bayu…! Gelanggang Olah Raga Ragunan Jakarta. Sekitar pukul 8.10 WIB. Vol. selaku Pembina Upacara. MSc. rekan-rekan Tim OGB Dexa bergerak menuju Rumah Sakit Umum. tanggal 20 September 2006. yang berjalan meriah dan penuh persaudaraan.

Hal ini dibuktikan dengan peluncuran Toxilite di Hard Rock Café Jakarta. seperti: asap rokok. Sebelum grand launching digelar. Toxin tersebut bisa berasal dari lingkungan disekitar kita. dan dokter spesialis Hepatologi. Toxilite mengandung bahan–bahan alami seperti ekstrak Curcuma xanthorizza (100 mg). saat Toxilite menggempur mereka. Komitmen Dexa Medica Group untuk terus mengembangkan produk-produk non-konvensional semakin nyata. dihadiri perwakilan outlet wilayah Jabodetabek. 12 September 2006. alkohol. zat pengawet. talkshow singkat digelar dengan topik mengenai apa dan bagaimana Toxilite bekerja memkasimalkan proses penetralan racun tubuh. Saat itu. Talkshow menampilkan Bapak Raymond R. zat pewarna. dan Ibu Sylvia A. ataupun polusi kendaraan bermotor. Sebelum Delon menampilkan sejumlah lagu-lagu manis. sehingga dapat mengoptimalkan fungsi detoksifikasi yang dilakukan oleh hati terhadap toxin (racun) yang diserap tubuh. Rekan-rekan media diajak berbagi wawasan mengenai Kiat Menetralkan Racun dalam Tubuh Secara Sehat dan Alami. Novita Angie selaku MC. berguguran. Menjelang puncak acara. 4. dan Vitamin E (100 mg). Head of Marketing and Sales OTC Dexa Medica sebagai narasumber. obat serangga. Bapak Ferry A. Tjandrawinata.Desember 2006 . mengundang sejumlah dancer untuk menyajikan komposisi tarian unik dari Toxic Dancers. Corporate Managing Director Dexa Medica Group. diawali dengan Konferensi Pers. rekan-rekan Dexa Medica Group. Grand Launching Toxilite dikemas atraktif. Indriana 208 No. dan sekitar 30 media cetak dan elektronik. Lecithin(25 mg). Penyanyi Dellon dan presenter Novita Angie. Rizal. Rino A Gani. Sp.SEKILAS DEXA MEDICA GROUP Delon Semarakkan Peluncuran TOXILITE Dexa Media. 19. Corporate Communications Manager DXG. Director of Scientific Affairs & Corporate Development Dexa Medica.PD. Dr. Oktober . Toxilite bekerja membantu memperbaiki sel-sel hati (liver).KGEH. Soetikno. Vol. menjadi bintang tamu yang menghangatkan suasana. dipandu Bapak Karyanto. pestisida. Serta keunggulan Toxilite. Dalam tarian itu digambarkan toxin–toxin itu akhirnya mati.

Bila anda menginginkannya.11:895-901 Celecoxib for the prevention of sporadic colorectal adenomas. Di bawah ini akan diberikan daftar isi beberapa jurnal terbaru yang dapat anda pilih. Drugs 2006. Diabetes Care 2006. American Academy of Family Physicians 2006. 4. pathophysiology.12(9):1383-8 Clinical events in high-risk hypertensive patients randomly assigned to calcium channel blocker versus angiotensin-converting enzyme inhibitor in the antihypertensive and lipid-lowering treatment to prevent heart attack trial. and management. kami tidak melayani permintaan. The New England Journal of Medicine 2006. Sexually Transmitted Infections 2006. 24(3):115-21 Ferritin and transferrin are both predictive ofthe onset of hyperglycemia in men and women over 3 years. Focus on thromboprophylaxis in patients undergoing orthopaedic surgery. mohon halaman ini difotokopi.48:374-84 Topical ciprofloxacin/dexamethasone superior to oral amoxicillin/clavulanic acid in acute otitis media with otorrhea through tympanostomy tubes.66(11):1465-73 Risk for tuberculosis among children. Avian influenza: Preparing for a pandemic. testing. Pediatrics 2006. The New England Journal of Medicine 2006.Desember 2006 211 .PROFIL PENELUSURAN JURNAL Pembaca yang budiman.74:783-90 Cognitive impairment in bipolar II disorder.355(9):873-84 Cerebral aneurysms. artikel yang dimaksud diberi tanda p dan dikirimkan ke alamat redaksi. apabila tidak melalui Tim Promosi Dexa Medica Group. Clinical Diabetes 2006.189:254-9 Effect of celecoxib on cardiovascular eventsand blood pressure in two trials for the prevention of colorectal adenomas.114:1028-35 Hypoglycemia in type 1 and type 2 diabetes:Physiology.355(9):928-39 No. 66(11):1411-29 Pharmacological approaches to the management of cognitive dysfunction in schizophrenia. and treatment. Circulation 2006. 29:2090-4 Effect of weight loss with lifestle intervention on risk of diabetes. Hypertension 2006. Mulai edisi ini Dexa Media melayani permintaan penelusuran jurnal hanya dengan melalui Tim Promosi Dexa Medica Group.82:269-71 Role of minimally invasive surgery in gynecologic cancers. British Journal of Psychiatry 2006. Oktober . The Oncologist 2006.29:2102-7 Oral anticoagulations in development. Drugs 2006. Vol. Diabetes Care 2006. Emerging Infectious Diseases 2006. 19.118:561-9 Mycoplasma genitalium as a sexually transmitted infection: implications for screening.

Vol. Sultan Iskandar Muda No. Sanur.net.Desember 2006 .id Telp: 021-5367 7981-82 Faks: 021-5367 7983 8) Seminar & Workshop PASTI (Perkumpulan Awet Sehat Indonesia) Restoring Youthful Hormone Level Tempat: Hotel Borobudur.net.net. Stillorgan. 3193808 pswt: 6703 Faks: 021-3148163 212 No.jaring. Level B-1 Jakarta Hilton Int’l. SKM 5) The 2nd International Symposium Jakarta for Healthy Travellers Tempat: Jakarta Tanggal: 18-19 November 2006 Sekretariat: Global Medica Communications. Mamandan 9.com 3) The 6th Asian & Oceanian Epilepsy Congress Tempat: Kuala Lumpur.KALENDER PERISTIWA 1) Biennial Symposium DIGM: “Geriatri Update 2006” Tempat: Hotel Le Meridien. 30 A-B Jakarta 12240 Telp: 021-729 0623 Faks: 021-7289 5871 Contact: dr. Fredy Wilmana / dr. Malaysia Tanggal: 02-04 Desember 2006 Sekretariat: Academy of Medicine E-mail: acadmed@po.Malaysia E-mail: consec@figo2006kl.epilepsykualalumpur2006. Ampang Point 68000. Jakarta E-mail: globalmedica@cbn. Ireland Telp: +353 1 2059720 Faks: +353 1 2056156 Website: http://www. Malaysia Tanggal: 5-10 November 2006 Sekretariat: AOS Convention & Events Sdn Bhd No. Jl. Jl. 31931384. Jakarta Tanggal: 24-25 November 2006 Sekretariat: Sekretariat Kongres Nasional I PERKAPI Perkantoran Kebun Jeruk Baru Blok A No. Jakarta 10270 E-mail: convex1@indosat. Ancol .id Telp: 62-21-5705800 ext 420 Faks: 62-21-5705798 Contact: Reny Yetri 7) Kongres I PERKAPI (Perhimpunan Kedokteran Anti Penuaan Indonesia) Anti Aging: New Challenge in Medicine Tempat: Jakarta Convention Center. 13-14 Jl. Dublin 18.id Telp: 021-3910294.net. Saharjo 120 Jakarta 12960 Indonesia E-mail: permijakarta@yahoo.my 10) PIN PAPDI Tempat: Hotel Mercure.Jakarta Tanggal: 15-17 Desember 2006 Sekretariat: E-mail: pb_papdi@indo. 4. Arjuna Selatan.com Telp: 021-8292672 / 8312378 Faks: 021-830190 Contact person: Nelly Hutajulu. Malaysia Tanggal: 16-19 November 2006 Sekretariat: ILAE/IBE Congress Secretariat 7 Priory Hall. Oktober . Bali Tanggal: 22-26 November 2006 Sekretariat: Pacto Convex Lagoon Tower.figo2006kl.com Telp: +60 3 4252 9100 Faks: +60 3 4257 1133 Website: http://www. Jakarta Tanggal: 04-05 November 2006 Sekretariat: Global Medica Communications. Jakarta E-mail: globalmedica@cbn. Jakarta 11530 E-mail: hospex@cbn. Ampang Kuala Lumpur . 19. Jakarta Tanggal: 16-19 November 2006 Sekretariat: Yayasan Sehat Wanita Indonesia PERMI Jl. Jakarta Tanggal: 25 November 2006 Sekretariat: PASTI Jl. 39240. Gatot Subroto. Arjati Daud 9) 11th Asian Symposium on Rhinology Tempat: Kuala Lumpur.id Telp: 021-30042089 Faks: 021-30041027 2) XVIII FIGO World Congress of Gynecology and Obstetrics Tempat: Kuala Lumpur Convention Center.net.org 4) World Menopause Day: Menopause and Aging Quality of Life and Sexual Tempat: Hotel Borobudur.id Telp: 021-30042089 Faks: 021-30041027 6) WFAS International Symposium on Acupuncture Tempat: Sanur Paradise Plaza.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful