DARI REDAKSI

Sidang Pembaca yang terhormat,
Penasehat Ir. Ferry A. Soetikno, M.Sc., M.B.A. Ketua Pengarah/Penanggung Jawab Dr. Raymond R. Tjandrawinata Pemimpin Redaksi dr. Grace V.J., M.M. Redaktur Pelaksana Tri Galih Arviyani, S.Kom. Staf Redaksi dr. Della Manik Worowerdi Cintakaweni Gelly Eka Prasasti, S.Si., Apt. Herninta Pramitasari, S.Si., Apt Gunawan Raharja, S.Si., Apt. Drs. Karyanto, MM dr. Marini Johan Puji Rahayu, S.Farm, Apt. dr. Ratna Kumalasari dr. Lydia Fransisca H. Tambunan Yosi Krisyanti, S.Si, Apt Peer Review Prof. dr. Arjatmo Tjokronegoro, Ph.D., Sp.And. Prof. Dr. dr. Darmono, Sp.PD-KEMD Prof. Dr. dr. Djokomoeljanto, Sp.PD-KEMD Jan Sudir Purba, M.D., Ph.D. Prof. Dr. Med. Puruhito, M.D., F.I.C.S., F.C.T.S. Prof. dr. Sudradji Soemapraja, Sp.OG. Prof. Dr. dr. H. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, FACE Prof. dr. Wiguno Prodjosudjadi, Ph.D., Sp.PD-KGH Redaksi/Tata Usaha Jl. R.S. Fatmawati Kav. 33 Telp. (021) 7509575 Fax. (021) 75816588 Email: tri.galih@dexa-medica.com Rekomendasi Depkes RI 0358/AA/III/88 Ijin Terbit 1289/SK/Ditjen PPG/STT/1988 Pada edisi terakhir di penghujung tahun 2006 ini, Dexa Media menampilkan tema utama, yaitu dengan judul artikel “Penggunaan Obat Antiepilepsi sebagai Terapi Nyeri Neuropatik”, yang menjelaskan bahwa penggunaan lamotrigine yang pada awalnya sebagai antiepilepsi, sekarang ini digunakan sebagai analgesik adjuvant untuk nyeri neuropatik. Beberapa artikel dari rubrik tinjauan pustaka antara lain membahas mengenai austistik, manajemen gagal jantung kronik, diagnosis dan penatalaksanaan gagal jantung diastolik, infeksi cacing tambang, patogenesis dan lain sebagainya. Untuk mengetahui lebih lanjut, kami persilahkan untuk membacanya. Penelusuran jurnal yang memuat artikel-artikel terbaru sebagai tambahan wawasan dan pengetahuan untuk pembaca dan Kalendar Peristiwa yang memuat jadwal simposium yang diadakan pada tahun 2006 ini tetap kami tampilkan tiap edisinya. Tak lupa kami terus mengundang para pembaca untuk berpartisipasi mengisi lembaran Dexa Media dengan memberikan tulisan berupa Tinjauan Pustaka, Case Report, Artikel Penelitian. Akhir kata kami redaksi Dexa Media mengucapkan selamat Idul Fitri 1427 H dan selamat Natal dan Tahun Baru 2007. Salam!

DAFTAR ISI
Pengantar Redaksi Petunjuk untuk Penulisan Dexa Media 161 162 163

Artikel Utama:
Penggunaan obat antiepilepsi sebagai terapi nyeri neuropatik

Tinjauan Pustaka:
Tatalaksana farmakologis gangguan spektrum autistik: Telaah pustaka terkini Peran serotonin pada gangguan spektrum autistik Konsep baru kortikosteroid pada penanganan sepsis Patogenesis dan respon imun tubuh terhadap infeksi virus Herpes simpleks Infeksi cacing tambang 167 173 177 182 187

Artikel Penelitian:
Pemberian glutamin menurunkan kadar bilirubin darah serta Mengurangi nekrosis sel-sel hati setelah pemberian aktivitas Fisik maksimal dan parasetamol pada mencit Diagnosis dan penatalaksanaan gagal jantung diastolik Manajemen gagal jantung kronik 192 196 200

Cover: NEURON

Sekilas Dexa Medica Group
Berkibarlah Merah Putih-ku OGBdexa, Segitiga Merahnya, Bikin Hemat Delon semarakkan peluncuran TOXILITE Penelusuran Jurnal Kalender Peristiwa Daftar Iklan: Lamictal, Raivas, Dobuject, Toxilite, Tripoten, Generik 207 207 208 211 212

SUMBANGAN TULISAN
Redaksi menerima partisipasi berupa tulisan, foto, dan materi lainnya sesuai dengan misi majalah ini. Tulisan yang tidak dimuat akan dikembalikan. Redaksi berhak mengedit atau mengubah metode penulisan, tanpa mengubah tulisan yang dimuat apabila dipandang perlu.

No. 4, Vol. 19, Oktober - Desember 2006

161

PETUNJUK PENULISAN
Redaksi menerima tulisan asli/tinjauan pustaka, penelitian atau laporan kasus dengan foto-foto asli dalam bidang Kedokteran dan Farmasi. 1. Tulisan yang dikirimkan kepada Redaksi adalah tulisan yang belum pernah dipublikasikan di tempat lain dalam bentuk cetakan. 2. Tulisan berupa ketikan dan diserahkan dalam bentuk disket, diketik di program MS Word dan print-out dan dikirimkan ke alamat redaksi atau melalui e-mail kami. 3. Pengetikan dengan point 12 spasi ganda pada kertas ukuran kuarto (A4) dan tidak timbal balik. 4. Semua tulisan disertai abstrak dan kata kunci (key words). Abstrak hendaknya tidak melebihi 200 kata. 5. Judul tulisan tidak melebihi 16 kata, bila panjang harap dipecah menjadi anak judul. 6. Nama penulis harap disertai alamat kerja yang jelas. 7. Harap menghindari penggunaan singkatan-singkatan 8. Penulisan rujukan memakai sistem nomor (Vancouver style), lihat contoh penulisan daftar pustaka. 9. Bila ada tabel atau gambar harap diberi judul dan keterangan yang cukup. 10. Untuk foto, harap jangan ditempel atau di jepit di kertas tetapi dimasukkan ke dalam sampul khusus. Beri judul dan keterangan yang lengkap pada tulisan. 11. Tulisan yang sudah diedit apabila perlu akan kami konsultasikan kepada peer reviewer. 12. Tulisan disertai data penulis/curriculum vitae, juga alamat email (jika ada), no. telp/fax yang dapat dihubungi dengan cepat. Contoh Penulisan Daftar Pustaka Daftar pustaka di tulis sesuai aturan Vancouver, diberi nomor sesuai urutan pemunculan dalam keseluruhan tulisan, bukan menurut abjad. Bila nama penulis lebih dari 6 orang, tulis nama 6 orang pertama diikuti et al. Jumlah daftar pustaka dibatasi tidak lebih dari 25 buah dan terbitan satu dekade terakhir. Artikel dalam jurnal 1. Artikel standar Vega KJ, Pina I, Krevsky B. Heart transplantation is associated with an increased risk for pancreatobiliary disease. Ann Intern Med 1996; 124(11):980-3. Lebih dari 6 penulis: Parkin DM, Clayton D, Black RJ, Masuyer E, Freidl HP , Ivanov E, et al. Childhood leukaemia in Europe after Chernobyl: 5 years follow-up. Br J Cancer 1996; 73:1006-12 2. Suatu organisasi sebagai penulis The Cardiac Society of Australia and New Zealand. Clinical Exercise Stress Testing. Safety and performance guidelines. Med J Aust 1996; 164:282-4 3. Tanpa nama penulis Cancer in South Africa (editorial). S Afr Med J 1994; 84:15 4. Artikel tidak dalam bahasa Inggris Ryder TE, Haukeland EA, Solhaug JH. Bilateral infrapatellar seneruptur hos tidligere frisk kvinne. Tidsskr Nor Laegeforen 1996; 116:41-2 5. Volum dengan suplemen Shen HM, Zhang QE. Risk assessment of nickel carcinogenicity and occupational lung cancer. Environ Health Perspect 1994; 102 Suppl 1:275-82 6. Edisi dengan suplemen Payne DK, Sullivan MD, Massie MJ. Women’s psychological reactions to breast cancer. Semin Oncol 1996; 23(1 Suppl 2):89-97 7. Volum dengan bagian Ozben T, Nacitarhan S, Tuncer N. Plasma and urine sialic acid in non-insulin dependent diabetes mellitus. Ann Clin Biochem 1995;32(Pt 3):303-6 8. Edisi dengan bagian Poole GH, Mills SM. One hundred consecutive cases of flap lacerations of the leg in ageing patients. N Z Med J 1990; 107(986 Pt 1):377-8 9. Edisi tanpa volum Turan I, Wredmark T, Fellander-Tsai L. Arthroscopic ankle arthrode-sis in rheumatoid arthritis. Clin Orthop 1995; (320):110-4 10.Tanpa edisi atau volum Browell DA, Lennard TW. Immunologic status of the cancer patient and the effects of blood transfusion on antitumor responses. Curr Opin Gen Surg 1993;325-33 11. Nomor halaman dalam angka romawi Fischer GA, Sikic BI. Drug resistance in clinical oncology and hematology. Introduction Hematol Oncol Clin North Am 1995; Apr; 9(2):xi-xii Buku dan monograf lain 12. Penulis perseorangan Ringsven MK, Bond D. Gerontology and leadership skills for nurses. 2nd ed. Albany (NY):Delmar Publishers; 1996 13. Editor sebagai penulis Norman IJ, Redfern SJ, editors. Mental health care for eldery people. New York:Churchill Livingstone; 1996 14. Organisasi sebagai penulis Institute of Medicine (US). Looking at the future of the medicaid program. Washington:The Institute; 1992 15. Bab dalam buku Catatan: menurut pola Vancouver ini untuk halaman diberi tanda p, bukan tanda baca titik dua seperti pola sebelumnya). Phillips SJ, Whisnant JP . Hypertension and stroke. In: Laragh JH, Brenner BM, editors. Hypertension: Patophysiology, Diagnosis and Management. 2nded. New York:Raven Press; 1995.p.465-78 16. Prosiding konferensi Kimura J, Shibasaki H, editors. Recent Advances in clinical neurophysiology. Proceedings of the 10th International Congress of EMG and Clinical Neurophysiology; 1995 Oct 15-19; Kyoto, Japan. Amsterdam:Elsevier; 1996 17. Makalah dalam konferensi Bengstsson S, Solheim BG. Enforcement of data protection, privacy and security in medical information. In: Lun KC, Degoulet P , Piemme TE, editors. MEDINFO 92. Proceedings of the 7th World Congress on Medical Informatics; 1992 Sep 6-10; Geneva, Switzerland. Amsterdam:North-Hollan; 1992. p.1561-5 18. Laporan ilmiah atau laporan teknis Diterbitkan oleh badan penyandang dana/sponsor: Smith P , Golladay K. Payment for durable medi-cal equipment billed during skilled nursing facility stays. Final report. Dallas(TX):Dept.of Health and Human Services (US), Office of Evaluation and Inspections; 1994 Oct. Report No.: HHSIGOEI69200860 Diterbitkan oleh unit pelaksana: Field MJ, Tranquada RE, Feasley JC, editors. Health Services Research: Work Force and Education Issues. Washington:National Academy Press; 1995. Contract No.: AHCPR282942008. Sponsored by the Agency for Health Care Policy and Research 19. Disertasi Kaplan SJ. Post-hospital home health care: The eldery’s access and utilization [dissertation]. St. Louis (MO): Washington Univ.; 1995 20. Artikel dalam koran Lee G. Hospitalizations tied to ozone pollution: study estimates 50,000 admissions annually. The Washington Post 1996 Jun 21; Sept A:3 (col.5) 21. Materi audio visual HIV + AIDS: The facts and the future [videocassette]. St. Louis (MO): Mosby-Year Book; 1995 Materi elektronik 22. Artikel jurnal dalam format elektronik Morse SS. Factors in the emergence of infection diseases. Emerg Infect Dis [serial online] 1995 jan-Mar [cited 1996 Jun 5];1(1):[24 screens]. Available from: URL:HYPERLINK 23. Monograf dalam format elektronik CDI, Clinical dermatology illustrated [monograph on CD-ROM]. Reeves JRT, maibach H. CMEA Multimedia Group, producers. 2nd ed. Version 2.0. San Diego: CMEA; 1995 24. Arsip komputer Hemodynamics III: The ups and downs of hemodynamics [computer program]. Version 2.2. Orlando [FL]: Computerized Educational Systems

162

No. 4, Vol. 19, Oktober - Desember 2006

ARTIKEL UTAMA

Penggunaan Obat Antiepilepsi
Jan Sudir Purba
Departemen Neurologi FKUI/RSCM, Jakarta

sebagai terapi Nyeri Neuropatik

Abstrak. Nyeri adalah suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan, baik aktual maupun potensial, atau yang digambarkan dalam bentuk kerusakan tersebut. Nyeri neuroaptik yang tergolong pada tipe nyeri kronik diakibatkan oleh lesi di jaringan susunan saraf baik perifer maupun pusat. Penggunaan obat antiepilepsi pada nyeri neuropatik didasari oleh keidentikan dalam neuropatofisiologik antara nyeri neuropatik dan epilepsi. Keidentikan ini termasuk kepekaan yang abnormal dari neuron-neuron sebagai akibat kelainan pada reseptor seperti NMDA, AMPA/kainat yang pada saatnya nanti bisa memicu plastisitas reseptor tersebut di post-sinaptik. Kepekaan yang abnormal inilah yang mengakibatkan tarjadinya perubahan elektrik potensial di otak yang disebut sebagai bangkitan epilepsi. Obat antiepilepsi merupakan obat yang berkemampuan untuk menekankepekaan yang abnormal dari neuron-neuron sehingga dengan demikian bisa menekan bangkitan epilepsi. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa obat antiepilepsi digunakan sebagai analgesik adjuvant untuk terapi nyeri neuropatik. Ternyata obat antiepilepsi lamotrigine sangat efektif dalam penanggulangan nyeri neuropatik terutama trigeminal neuralgia, nyeri neuropatik pada penderita HIV, nyeri sentral pada penderita pasca stroke ataupun nyeri neuropatik yang intracktable. Cara kerja dari lamotrigine adalah berperan dalam stabilisasi membrane sel neuron dengan memblok aktivitas kanal voltage-sensitive natrium serta mencegah sekresi glutamate dan menstimulasi sekresi GABA di presinaptik ke sinaps.

Pendahuluan yeri seperti didefinisikan oleh International Association for Study of Pain (IASP), adalah suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan, baik aktual maupun potensial, atau yang digambarkan dalam bentuk kerusakan tersebut.1,2 Nyeri bisa bervariasi berdasarkan: waktu dan lamaya berlangsung (transient, intermittent, atau persisten), intensitas (ringan, sedang dan berat), kualitas (tajam, tumpul, dan terbakar), penjalarannya (superficial, dalam, local atau difus).3 Di samping itu nyeri pada umumnya memiliki komponen kognitif dan emosional yang digambarkan sebagai penderitaan. Selain itu nyeri juga dihubungkan dengan refleks motorik menghindar dan gangguan otonom yang oleh Woolf (2004)3 disebut sebagai pengalaman nyeri. Secara patologik nyeri dikelompokkan pada nyeri adaptif atau nyeri nosiseptif, atau nyeri akut dan nyeri maladaptif sebagai nyeri kronik juga disebut sebagai nyeri neuropatik serta nyeri psikologik atau nyeri idiopatik. Nyeri akut atau nosiseptif yang diakibatkan oleh kerusakan jaringan, merupakan salah satu signal untuk mempercepat perbaikan dari jaringan yang rusak.3 Sedangkan nyeri neuropatik disebut sebagai nyeri fungsional merupakan proses sensorik abnormal yang disebut

N

juga sebagai gangguan sistem alarm.3 Nyeri idiopatik yang tidak berhubungan dengan patologi baik neuropatik maupun nosiseptif dan memunculkan simptom gangguan psikologik memenuhi somatofovrm seperti stres, depresi, ansietas dan sebagainya.4,5 Dalam tulisan ini dibahas nyeri neuropatik dan penanggulangannya dengan penggunaan obat antiepilepsi lamotrigine. Neuropatologi dan Mekanisme Nyeri Neuropatik Nyeri neuropatik yang didefinisikan sebagai nyeri akibat lesi jaringan saraf baik perifer maupun sentral bisa diakibatkan oleh beberapa penyebab seperti amputasi, toksis (akibat khemoterapi) metabolik (diabetik neuropati) atau juga infeksi misalnya herpes zoster pada neuralgia pasca herpes dan lainlain. Nyeri pada neuropatik bisa muncul spontan (tanpa stimulus) maupun dengan stimulus atau juga kombinasi.6 Nyeri neuropatik juga disebut sebagai nyeri kronik berbeda dengan nyeri akut atau nosiseptif dalam hal etiologi, patofisiologi, diagnosis dan terapi. Nyeri akut adalah nyeri yang sifatnya self-limiting dan dianggap sebagai proteksi biologik melalui signal nyeri pada proses kerusakan jaringan. Nyeri pada tipe akut merupakan simptoma akibat kerusakan jaringan itu sendiri dan berlokasi disekitar kerusakan jaringan 163

DEXA MEDIA

No. 4, Vol. 19, Oktober - Desember 2006

6 Penanggulangan Nyeri neuropatik merupakan masalah dalam dunia kedokteran karena bukan hanya menyangkut kerusakan atau lesi dari jaringan saraf itu sendiri. Vol.9 Sejalan dengan berkembangnya penelitian secara molekuler maka ditemukan beberapa kebersamaan antara nyeri neuropatik dengan epilepsi dalam hal patologinya tentang keterlibatan reseptor misalnya NMDA dan AMPA dan plastisitas disinapsis. Nyeri neuropatik muncul akibat proses patologi yang berlangsung berupa perubahan sensitisasi baik perifer maupun sentral yang berdampak pada fungsi sistem inhibitorik serta gangguan interaksi antara somatik dan simpatetik. Epilepsi yang dipicu DEXA MEDIA No.15 Secara neurofarmakologi molekuler. Antiepilepsi sebagai terapi Nyeri Neuropatik Seperti diketahui dari sejumlah hasil penelitian baik itu malalui hewan percobaan maupun pada manusia ditemukan bahwa nyeri neuropatik mendasar pada kelainan jaringan saraf yang mengakibatkan perobahan komposisi biokimiawi atau neurotransmiter terhadap sistem saraf perifer maupun di sentral. traktus spinotalamikus (struktur somatik) dan kolum dorsalis (untuk viskeral). stimulasi sekresi GABA di presinaptik. penanggulangan nyeri neuropatik juga mendasar pada kelainan atau patologi jaringan saraf yang disertai oleh perobahan pada biokimiawi atau neurotransmiter baik di perifer maupun di sentral. demikian juga infeksi dan tumor. yakni reseptor NMDA dan AMPA. 19. dan berakhir pada kelainan patologi di neuron berupa sensitisasi dan disinhibisi sentral.14 Penggunaan obat antiepilepsi pada nyeri neuropatik didasari oleh keidentikan dalam hal neuropatofisiologik pada nyeri neuropatik dan epilepsi. Sejajar dengan itu maka penelitian untuk menemukan obat juga berkembang tidak henti-hentinya. rendahnya ambang batas stimulus terhadap aktivitas neuron itu sendiri misalnya terhadap stimulus yang nonnoksious. Oleh sebab itu penanggulangan nyeri neuropatik membutuhkan tim yang multi disipliner baik menyangkut terapi non-farmaka maupun terapi farmaka. vasoactive intestinal peptide (VIP). Nyeri ini di picu oleh keberadaan neurotransmiter sebagai reaksi stimulasi terhadap reseptor serabut alfa-delta dan C polimodal yang berlokasi di kulit. 4.Desember 2006 . Patologi nyeri neuropatik mendasar pada sensitisasi perifer. Pada umumnya hal ini terjadi akibat proses apoptosis yang dipicu baik melalui modulasi intrinsik kalsium di neuron sendiri maupun akibat proses inflamasi sebagai faktor ekstrinsik. sampai talamus sensomotorik. Yang berbeda hanyalah dalam hal burst discharge secara paroksismal pada epilepsi sementara pada neuropatik yang terjadi adalah ectopic discharge. juga somatostatin (SS). korteks prefrontal dan korteks insula. Oktober .7 Reaksi stimulus ini berakibat pada sekresi neurotransmiter seperti prostaglandin. akan tetapi juga menyangkut efek dari penderitaan yang kronik terhadap quality of life si penderita.6 Nyeri bisa bertahan beberapa lama yakni bulan sampai tahun sesudah cedera sembuh sehingga juga berdampak luas dalam strategi pengobatan termasuk terapi gangguan psikologik.6 Karakteristik sensitisasi neuron bergantung pada: meningkatnya aktivitas neuron. Baik nyeri neuropatik perifer maupun sentral berawal dari sensitisasi neuron sebagai stimulus noksious melalui jaras nyeri sampai ke sentral. tulang. immediate early gene changes.ARTIKEL UTAMA dan mempunyai efek psikologis sangat minimal dibanding dengan nyeri kronik. cholecystokinin (CCK). Nyeri neuropatik yang tergolong dalam nyeri kronik menimbulkan tantangan yang berat dalam hal pengobatan karena tidak berespons terhadap pengobatan nyeri tradisional. serotonin. jaringan ikat otot dan organ viskera. limbik.10 Permasalahan pada nyeri neuropatik adalah menyangkut terapi yang berkaitan dengan kerusakan neuron dan sifatnya ireversibel. tapi juga yang berkaitan dengan efek kronik dari nyeri tersebut misalnya efek psikologik. Atas dasar ini jugalah maka nyeri neuropatik harus secepat mungkin di terapi untuk menghindari proses mengarah ke plastisitas sebagai nyeri kronik. substansi P . sprouting.6. histamin. Stimulus ini bisa berupa mekhanik. Dengan demikian disimpulkan bahwa obat antiepilepsi digunakan juga sebagai obat standar untuk nyeri neuropatik.6 Sensitisasi ini pada umumnya berasosiasi dengan terjadinya denervasi jaringan saraf akibat lesi ditambah dengan stimulasi yang terus menerus dan inpuls aferen baik yang berasal dari perifer maupun sentral dan juga bergantung pada aktivasi kanal ion di akson yang berkaitan dengan reseptor AMPA/kainat dan NMDA. Bagian dari jaras ini dimulai dari kornu dorsalis. dan luasnya penyebaran areal yang mengandung reseptor yang mengakibatkan peningkatan letupan-letupan dari berbagai neuron. Hal ini juga telah dibuktikan melalui beberapa penelitian. Dengan kata lain tindakan yang memfokus pada pengurangan input neuronal dengan tujuan mengembalikan ke keadaan normal dengan cara menekan fungsi akson misalnya memblok kanal natrium atau mengurangi sekresi eksitatorik serta meningkatkan sekresi inhibitorik.8 Nyeri neuropatik adalah non-self-limiting dan nyeri yang dialami bukan bersifat sebagai protektif biologis namun adalah nyeri yang berlangsung dalam proses patologi penyakit itu sendiri. reduksi sekresi glutamate di presinaptik. diketahui bahwa standar penanggulangan epilepsi mendasar pada blok kanal natrium.12. Keadaan ini memberikan gambaran umum berupa alodinia dan hiperalgesia. calcitoningenen-related peptide (CGRP) dan lain sebagainya. ectopic discharge. sementara obat-obat antiepilepsi yang baru selain blok kanal natrium juga blok kanal Ca2+ secara spesifik di post sinaptik. kimia dan termis.12. Penanggulangan secara farmakologik bukan hanya sebatas pada tingkat reseptor dan perbaikan lesi jaringan saraf saja.11 Penelitian tentang nyeri termasuk klasifikasi berkembang terus.13 Oleh sebab itu.13 Epilepsi dan nyeri neuropatik timbul karena munculnya aktivitas abnormal dari sistem saraf sentral.6 Kejadian inilah yang mendasari konsep nyeri kronik yang ireversibel pada 164 sistem saraf.

Attal N. Expert Rev Neurother 2005. Ann Internal Med 2004. Pain: Moving from symptom control towards mechanisms. Suryamiharja A. Neuropathic pain: Mechanisms and treatment option. Agnati LF. Berger M. Shira TS. Obat antiepilepsi berperan sebagai inhibitorik terhadap reseptor NMDA maupun AMPA/kainat akibat peran glutamate dengan demikian mencegah masuknya ion kalsium dan natrium yang berlebihan ke dalam sel. MO. The use of lamotrigine in neuropathic pain. Rowbotham MC. Andersen G. Smith TE. Pain Terms: a list with definitions and notes on usage. Pain Rev 2000. 4. Eur Neuropsychopharmacol 1997. Kelainan reseptor ini mengakibatkan perubahan pada influks dan dari ion-ion seperti kalsium. DEXA MEDIA No. Lamotrigine membatasi influks kalsium melalui penekanan voltage-gate. Lamotrigine in refractory trigeminal neuralgia in Ms patients. Penggunaan lamotrigine yang pada awalnya sebagai antiepilepsi. 59:S14-S17 13. Neurology 2001. (2006)17 bahwa permasalahan nyeri neuropatik adalah di kanal ion sebagaimana juga pada epilepsi. Dworkin RH. Anticonvulsants for the management of pain. Neurology 2002. et al.17 Dari hasil penelitian ternyata bahwa obat antiepilepsi seperti lamotrigine mempunyai sifat analgesik dalam lingkup yang luas. Vol. Hal ini diakibatkan oleh terjadinya kerusakan jaringan saraf baik di perifer maupun di sentral.16 Hal ini disimpulkan oleh Markman and Dworkin. Antiepileptic drugs in the treatment of neuropathic pain. Oleh karena nyeri neuropatik bukan nyeri adaptif akan tetapi merupakan proses patologi yang berjalan di mana adanya perubahan struktur reseptor di membrane neuron baik itu di perifer maupun di sentral. Br J Anaestesia 2001. 1999.specific pharmacologic management. Lamotrigine for neuropathic pain.3:1-8 18. Clin J Pain 1987. Lamotrigine in the treatment of chronic refractory neuropathic pain. Merksey H. mual. Pain Practice 2003. Mc Quuay HJ. Jakarta 22.19:398-403 21.12:2255-8 19. Chong MS.7:77-8 20.13.7:S38-S47 18. Clin J Pain 1991. Konsensus Nasional Penanganan Nyeri Neuropatik. Oktober . St Louis. Ion channel targets and treatment efficacy in neuropathic pain.). Pain 2003.87:144-52 15. Wang SJ.3:388-98 12. Finnerup NB.105:159-68 11. Backonja M. nyeri neuropatik pada penderita HIV. juga inhibisi sekresi glutamat serta sekresi GABA yang berefek terhadap stabilisasi membrane neuron. Krivoy N. Chaudry Z. Eisenberg E.12. Classification of chronic pain: description of chronic pain syndromes and definition of pain terms. J Pain 2006. Austr Prescr 2006. Advances in neuropathic pain: diagnosis. Purba JS (Eds. Drugs 2000. Pain 1979. J Pain Symptom Manage 2000. Lamotrigine for central poststroke pain: a randomized controlled trial. and treatment recommendations. Gottrup H. Gean PW.16 Dalam keadaan ini peran reseptor NMDA terhadap influks Ca2+ merupakan proses dasar terhadap kindling pada epilepsi serupa halnya dengan kejadian wind-up pada nyeri neuropatik. Use of anticonvulsants for treatment of neuropathic pain. Perubahan ini merupakan signal berupa stimulus yang akan sampai ke korteks sensorik yang diterjemahkan dengan nyeri. Mosby’s Medical Drug reference. Neuroreport 2001.29:72-5 17. Seattle: International Association for the Study of Pain. Lamotrigine inhibition of glutamate release from isolated cerebrocortical nerve terminals (sinaptosomes) by suppression of voltageactivated Ca2+ channels activity. Backonja MM. editors.53:808-9 25. Di Vadi PP. et al.7(S):S23-S37 19.18 Pada percobaan hewan menyangkut hiperalgesia pemberian lamotrigine berefek sebagai analgesik. Drug treatment of neuropathic pain.19 Lamotrigine dengan dosis di atas 200 mg/hari sangat efektif dalam penanggulangan nyeri neuropatik terutama trigeminal neuralgia. Ex Rev Neurotherapeut 2001.1994 13.24.1:199-206 16. analgesia. Oleh sebab itu target terapi adalah tertuju pada voltage-gate kanal Na+ dan Ca2+. Gardell LR.140:441-51 14. Ludwick-Rosenthal R and Neufeld R. Backonja MM. insomnia.7:129-49 17. Bogduk N. Tiengo M. sekarang ini digunakan sebagai analgesik adjuvant untuk nyeri neuropatik. Algorithm for neuropathic pain treatment: and evidence based proposal.Desember 2006 165 . mechanisms. Elsworth. Price DD and Harkins SW. 118:289-305 15. nyeri sentral pada penderita post stroke ataupun nyeri neuropatik yang intracktable. Woolf CJ. Atas dasar patologi ini maka antiepilepsi merupakan obat yang berkemampuan untuk menekan kepekaan yang abnormal dari neuron-neuron di sistem saraf pusat dengan memblokade reseptor NMDA. Vestergaard K. et al. Role of psychology in pain management. Helme RD.56:184-90 23. Stress management during noxious medical procedures.104:326-42 16. Reversal of experimental neuropathic pain by t-type calcium channel blockers.26 Kesimpulan Nyeri neuropatik merupakan nyeri yang sangat sulit diterapi dengan obat analgesik biasa. Nurmikko TJ. Arch Neurol 2003. Eccleston C. ruam.Tremont-Lukts IW.5:729-35 26. Von WagenerJ. et al. Hamann W. Otto M. De Laat M. Daftar Pustaka 11.ARTIKEL UTAMA oleh hipereksitabilitas sistem saraf sentral mengakibatkan bangkitan spontan dan paroksismal dan mirip dengan nyeri spontan dan paroksismal pada nyeri neuropatik. Neurology 2000.6:49-252 12. et al.60:1029-52 14. Anastesia 1998. natrium yang berperan dalam perobahan elektrik potensial saraf. 19. Dalam: Meliala L. Devulder J. Zarzewska JM. Megeff C. Ossipov MH. Anticonvulsants for neuropathic pain syndromes : mechanisms of action and place in therapy.) 2000.55:1587-88 24. Hesslinger B. Ferragutti F. Teng J and Makhael N.25 Efek samping bisa muncul dengan dosis tinggi berupa dizziness.20-23 Prinsip kerja dari lamotrigine yang diketahui sampai sekarang ini berperan aktif terhadap neurotransmiter eksitatorik glutamate dalam hal mencegah sekresi glutamate di presinaptik serta berperan dalam inhibisi reuptake serotonin oleh presinaptik yang berefek pada stabilisasi membrane sel neuron dengan memblok aktivitas kanal voltage-sensitive natrium.15. Pain 2005. and stress: an integrated view. Kelompok studi Nyeri Perhimpunan Dokter spesialis saraf Indonesia (PErDOssI). et al. PERDOSSI. Psychological Bulletin 1988. Mendasar pada cara kerja dari obat antiepilepsi ini maka obat antiepilepsi ini digunakan sebagai standard obat nyeri neuropatik yang secara neuropatologik mempunyai kesamaan dengan epilepsi. Pain. Markman JD and Dworkin RH. AMPA/kainat. Mosby. Combined use of experimental pain and visual analogue scale in providing standardized measurement of clinical pain.p. A Ca2+ antagonistic effect of the new antiepileptic drug lamotrigeine. Shifrin A.60:1524-34 10. 2nd edition. Inc. Allan J (Eds. Hal ini telah terbukti karena lamotrigine berperan dalam inhibisi ion natrium. Dogrul A.

pada penggunaan dosis tinggi memperlihatkan peningkatan konsentrasi plasma yang tidak terkontrol.1).4. Carbamazepine menunjukkan farmakokinetik non-linear dan phenytoin menunjukkan hubungan konsentrasi erratic.Secondary general tonic-clonic seizure . Antara individu yang satu dengan yang lain dapat terjadi perbedaan waktu eliminasi obat. Titrasi dosis dapat berdasarkan respons daripada konsentrasi plasma darah. Lamictal menunjukan farmakokinetik linear setelah pemberian oral dosis tunggal 30 – 450 mg pada sukarelawan sehat dan pasien yang menerima obat sebagai monoterapi atau kombinasi (add-on)3. Lamictal sudah digunakan di dunia oleh lebih dari 5 juta orang lebih dari 15 tahun dan dilaunch di Indonesia pada bulan Desember 1994 dengan indikasi obat anti-epilepsi (AED).Desember 2006 .0 80 60 40 20 0 30 60 Dose (mg) 120 240 0 Hubungan linear antara dosis Lamictal dan konsentrasi plasma membuat tidak diperlukannya monitoring konsentrasi plasma berulang untuk identifikasi dosis individu. 3. Monitoring terapi obat yang rutin tidak dianjurkan pada penggunaan Lamictal. Lamictal adalah AED yang dapat digunakan sebagai monoterapi maupun kombinasi dengan AED lain.Partial seizures (simple dan kompleks) . 4. 19. Absorpsi tidak dipengaruhi oleh makanan.SEKILAS PRODUK Lamictal mengandung Lamotrigine 50 mg dan 100 mg. Indikasi Lamictal yang didaftarkan adalah untuk: . Lamictal memiliki farmakokinetik linear dengan margin dosis terapi. oleh karena itu pasien dapat minum obat sebelum atau setelah makan. Lamictal bekerja dengan menstabilkan membran saraf dengan cara menghambat saluran natrium dan mengurangi pelepasan neurotransmitter glutamat. - Kombinasi untuk epilepsi anak dari usia 2 tahun.Primary general tonic-clonic seizure . Oktober .0 160 2. interaksi dengan obat lain yang rendah dan eliminasi watu paruh yang panjang (rata-rata 29 jam)3. 166 No. yaitu: . Vol. Konsentrasi plasma tertinggi tercapai dalam waktu 1 – 3 jam. Telah digunakan oleh jutaan orang di dunia untuk mengatasi gangguan kejang - Memiliki profil tolerabilitas yang baik - Tidak memerlukan blood monitoring - Absorpsi tidak dipengaruhi oleh makanan Lamictal dapat diberikan sebagai monoterapi dan kombinasi (add-on) - Monoterapi untuk pasien epilepsi dari usia 12 tahun hingga dewasa. Glutamat diketahui sebagai penyebab utama dalam epileptogenesis 1. Bioavailabilitas Lamictal setelah administrasi 75 mg dosis tunggal adalah 98%3. hal ini disebabkan adanya perbedaan pada klirens metabolisme pada masing-masing individu.Lennox-Gastaut syndrome Epilepsi timbul karena adanya ketidakseimbangan antara pengeluaran dan penghambatan neurotransmitters.0 140 120 100 1. Beberapa dokter menyadari perlunya monitoring konsentrasi plasma pada penggunaan carbamazepine atau phenytoin5.2. Lamictal dalam plasma meningkat berbanding lurus dengan dosis Lamictal (gb. Kesimpulannya Lamictal memberikan keuntungan pada pasien penderita epilepsi.

a new anticonvulsant: pharmacokinetics in normal humans. Referensi: 1. Clin Pharmacol Ther 1987. 1993. 335 – 58 Dosis Lamictal untuk anak-anak dari usia 2 – 12 tahun: Minggu 1 & 2 Add-on Lamictal dengan sodium valproate Monoterapi Lamictal Add-on Lamictal tanpa sodium valproate 0. Interaction of the antiepileptic drug lamotrigine with recombinant rat type IIA Na+ channels and with native Na+ channels in rat hippocampal neurones. 4.861 – 69 2.15-24. 4. p. Leach MJ et al. In: Levy RH et al (eds). 42 (suppl 5): 535 – 41 5. In: Reynolds EH (ed). Sedangkan yang menghentikan terapi kurang dari 3% pasien.Desember 2006 167 . 19. Antiepileptic Drugs (4th ed. Pugh CB. Vol.SEKILAS PRODUK Dosis Lamictal untuk dewasa dan anak-anak di atas usia 12 tahun: Minggu 1 & 2 add-on Lamictal dengan sodium valproate Monoterapi Lamictal add-on Lamictal tanpa sodium valproate Minggu 3 & 4 Dosis Pemeliharaan 100-200 mg/hari (sekali sehari atau di bagi dalam 2 kali pemberian) 100-200 mg/hari (sekali sehari atau di bagi dalam 2 kali pemberian) 200-400 mg/hari (di bagi dalam 2 kali pemberian) 12. 430: 437 – 46 3. Rash yang terlihat pada penggunaan Lamictal dapat berupa reaksi kelainan kulit dari yang ringan hingga berat dengan kejadian 2% dari yang diterapi. Lamotrigine. Garnet WR. Clin Pharm 1991. Lamotrigine – a new advance in the treatment of epilepsy.5 mg/hari 25 mg/hari (diberikan 25 mg/hari (sekali sehari) 2 hari sekali/selang sehari) 25 mg/hari (sekali sehari) 50 mg/hari (sekali sehari) 50 mg/hari (sekali sehari) 100 mg/hari (sekali sehari) Dosis titrasi pada Lamictal dapat meminimalkan insiden terjadinya rash. Pisani F.5 mg/kg/hari (sekali sehari) 2 mg/kg/hari (di bagi dalam 2 kali pemberian) Minggu 3 & 4 0. 10.). Xinmin X et al. Lamotrigine: mechanism of action. Oktober . p. New York Raven Press. 1995. Cohen AF et al.5 mg/kg/hari (sekali sehari) 1 mg/kg/hari (sekali sehari) 5 mg/kg/day di bagi dalam 2 kali pemberian) Dosis Pemeliharaan 1-5 mg/kg/hari (sekali sehari atau di bagi dalam 2 kali pemberian) 2-10 mg/kg/hari (sekali sehari atau di bagi dalam 2 kali pemberian) 5-15 mg/kg/hari (di bagi dalam 2 kali pemberian) No.2 mg/kg/hari (sekali sehari) 0. Current issues in the treatment of epilepsy. London Royal Society of Medicine Service. Pflugers Arch – Eur J Physiol 1995.

TINJAUAN PUSTAKA Tatalaksana Farmakologis Gangguan Spektrum Autistik: Telaah Pustaka Terkini Rizaldy Pinzon SMF Saraf RSUD Dr. Vol. dan pemacu GABA. 2000) Levels Kejadian IA IB IIA IIB III Deskripsi Bukti diambil dari suatu penelitian meta-analysis Bukti diambil minimal dari suatu penelitian randomized controlled trial Bukti diambil minimal dari suatu penelitian welldesigned controlled study without randomization Bukti diambil minimal dari suatu penelitian tipe lain dari well-designed quasi-experimental Bukti diambil minimal dari suatu penelitian well-designed non-experimental descriptive. sosialisasi. agresivitas. randomized controlled trial.Desember 2006 169 . GABA (Gammaaminobutyric acid) Pendahuluan utisme merupakan gangguan perkembangan yang terutama ditandai oleh ketidakmampuan dalam komunikasi. serotonin. Tingkat Bukti Ilmiah Penetapan tingkat bukti ilmiah terhadap berbagai penelitian terapi yang ada didasarkan sesuai dengan panduan Scotish Intercollegiate Guidelines Network5 sebagai berikut: Tabel 1. Autisme merupakan gangguan perkembangan pervasif. perilaku yang terbatas dan stereotipik. (3) obatobat penghambat dopamin ditujukan untuk gejala destruktif. namun penggunaan terapi farmaka untuk gejala-gejala tertentu dapat membantu secara signifikan program terapi dan edukasi. dan imajinasi. Penelitian terdahulu menunjukkan kelainan neurotransmiter pada autisme. treatment. Hasil kajian sistematis ini mendapatkan bahwa antagonis sistem dopaminergik merupakan modalitas terapi yang cukup didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang baik. dengan onset sebelum usia 3 tahun.4 Penggunaan terapi farmakologis yang memperbaiki keseimbangan neurotransmiter merupakan pendekatan yang rasional pada penderita autisme. Permasalahan yang muncul adalah bagaimana bukti ilmiah tatalaksana farmakologis gangguan spektrum autistik. Kata kunci: Autisme. 19. dan melukai diri sendiri. Derajat bukti ilmiah artikel terapi (SIGN. (5) golongan antikonvulsan untuk mengobati epilepsi. MEDLINE database. 4.3 Kajian Rapin4 menunjukkan bahwa obat-obat diberikan secara spesifik untuk gejala tertentu sebagai berikut: (1) obat yang bekerja sistem noradrenergik terutama ditujukan untuk mengatasi gejala agresif dan perilaku eksplosif. antagonis opioid. agresi. Haulussy Ambon Abstrak. treatment. Kata kunci yang dipergunakan adalah: autism. seperti comparative studies. Tujuan penulisan makalah adalah mengkaji secara A kritis bukti-bukti ilmiah terapi farmaka untuk autisme. dan depresi. dan pathophysiology. disabilitas komunikasi dan kelambatan fungsi berbahasa. agresivitas. Metode Pelacakan Kepustakaan Pelacakan kepustakaan dilakukan dengan menggunakan internet. dopamine. Beberapa modalitas terapi lain seperti penggunaan suplemen vitamin dan mineral dan penggunaan terapi imunologis telah dilaporkan pula. correlation studies dan case studies Bukti diambil dari suatu laporan komite ahli dan/atau pengalaman klinis pakar IV No. M. mechanism.1 Penderita autisme akan menunjukkan disabilitas dalam interaksi sosial. Penelitian-penelitian terdahulu menggunakan terapi antagonis sistem dopaminergik. (4) obat-obat antagonis opioid untuk gejala stereotipik dan melukai diri sendiri.2 Tatalaksana farmakologis tidak akan mengubah riwayat keadaan atau perjalanan gangguan autistik. pemacu sistem serotoninergik. randomized controlled trial.3 Terapi farmakologi bukan merupakan pendekatan terapi yang utama. Oktober . dan regresi yang berhubungan dengan gelombang epileptiformis subklinis. dan pelacakan manual pada berbagai penelitian dan kajian tentang tatalaksana farmakologis autisme dengan tahun publikasi 1995-2003. (2) obat-obat antidepresan dan SSRI atau Selective Serotonin Reuptake Inhibitor ditujukan untuk mengatasi obsesif. Penatalaksanaan farmakologis dengan prinsip menyeimbangkan fungsi neurotransmiter merupakan dasar pendekatan terapi yang rasional.

Pasien-pasien dengan perilaku melukai diri sendiri sering mengalami insensitivitas nyeri.5–3.Penurunan perilaku maladaptif . p<0. Pemberian naltrexone tidak memperbaiki kontak sosial dan perilaku stereotipik.25-0. serta observasi saat bermain. sehingga melindungi terhadap munculnya efek samping ekstrapiramidal.40 45 anak autisme. dan 75% kasus setelah 3.7 Penelitian uji klinik dengan 170 . dkk7 memperlihatkan terjadinya efek samping akibat terapi yang ringan. dan Children's Rating Scale . mulut kering. Sifat antagonistik pada reseptor alfa satu akan menyebabkan penurunan tekanan darah. Global tahun Improvement. Tabel 4 menunjukkan karakteristik dan hasil penelitian uji klinik penggunaan Risperidone untuk terapi autisme.TINJAUAN PUSTAKA Pembahasan Hasil Pelacakan Pustaka Hasil pelacakan kepustakaan secara manual dan elektronik mendapatkan berbagai artikel terapi farmakologis untuk autisme. Efek terapi dipantau dengan kuisioner yang diisi oleh orang tua dan guru. stereotipik seperti yang diamati pada penderita autisme. gangguan perhatian.36 tetap meneruskan haloperidol Anderson Uji klinik (1988) randomisasi.9 ±1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon positif secara bermakna didapatkan pada kelompok terapi risperidone dibanding kelompok plasebo (69% vs 12%.Perbaikan gejala didapatkan secara autisme dewasa bermakna pada kelompok terapi Risperidone dibanding plasebo (57% vs 0%. seperti impulsivitas.Efek samping utama sedasi ringan . pandangan kabur. .002).01).Respon positif secara bermakna didapatkan 101 anak dengan autisme pada kelompok terapi risperidone dibanding kelompok plasebo (69% vs 12%. Uji klinik haloperidol untuk terapi autisme6 Peneliti (tahun) Rancangan Dosis 0. 19. Oktober . sbb: Tabel 2.01) Antagonis Dopamin Tipikal (haloperidol) Sistem dopaminergik berperan dalam pengaturan perilaku motorik. Perangsangan anti histamin akan menyebabkan penambahan berat badan dan mengantuk. Peringkat bukti ilmiah hasil pelacakan pustaka Peneliti (tahun) Fankhauser (1992) Jaselskis (1992) Sophie (1996) Delong (1998) McDougle (1998) Fatemi (1998) Owley dkk (1999) Sandler (1999) Adams (2000) Pertejo (2000) Lightdale (2001) Roberts (2001) McCracken (2002) Chez (2002) DeLong (2003) Nye (2004) Modalitas terapi Clonidine Clonidine Naltrexone Fluoxetine Risperidone Fluoxetine Secretin Secretin Suplemen vitamin dan mineral Fluoxetine Secretin Secretin Risperidone L-Carnosine Fluoxetine Vitamin B6-Magnesium Derajat bukti ilmiah IB IIA IB IIB IB III IB IB IB IIB IIB IB IB IB IIB IA randomisasi dilakukan oleh McDougle.Desember 2006 Anderson Uji klinik (1984) randomisasi. dkk8 pada 31 penderita gangguan autisme dewasa. yang akan menghilang dengan sendirinya setelah beberapa minggu. dkk11 melakukan penelitian uji klinik pada 23 anak autisme (usia berkisar antara 3-7 tahun). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa para guru melaporkan adanya perbaikan perilaku (hiperaktivitas dan iritabilitas) secara signifikan.9 Opioid Kadar opiat yang tinggi dalam LCS dan urine sering dijumpai pada penderita autisme. Global tahun Improvement.6 Obat-obat neuroleptik merupakan golongan obat yang secara luas digunakan pada autisme. double blind cross over 40 anak autisme. Penderita dengan perilaku melukai diri sendiri cenderung menunjukkan peningkatan kadar metenkephalin dan β endorfin plasma. dan Children's Rating Scale . p<0. dizziness. p <0. dkk7 dengan subjek 101 anak autisme yang berusia antara 2-8 tahun.002) .Penurunan hiperaktivitas dan stereotipik Efek samping utama penggunaan haloperidol adalah diskinesia. Penelitian uji klinik acak buta ganda (randomized clinical trial) risperidone lebih baru dilakukan oleh McCracken. Opioid dalam konsentrasi yang tinggi akan menghambat faktor pertumbuhan neuronal. gangguan belajar.Terdapat perbaikan dalam skor Corner mg/hari usia antara 2-7 Parent-Teacher Questonaire. Terapi naltrexone diberikan dengan dosis 1 mg/kgBB selama 4 minggu. sehingga proses belajar menjadi lebih efektif. dan mengantuk. 4. p<0. dan mengantuk disebabkan oleh perangsangan sistem antikolinergik. dan gangguan mood. Tabel 2 memperlihatkan berbagai artikel yang diperoleh dan tingkat bukti ilmiahnya.0 mg/hari Subjek Hasil McCracken RCT dengan dosis (2002) risperidone harian 0.6 Antagonis Dopamin Atipikal Antipsikotik atipikal memblokade pula reseptor serotonin postsinaptik. Dopamin yang berlebih akan menyebabkan munculnya gerakan motorik berlebih. Perbaikan gejala didapatkan secara bermakna pada kelompok terapi risperidone dibanding plasebo (57% VS 0%. Kajian Perry dan Kuperman6 No. Tabel 3. double blind. Efek samping konstipasi. Diskinesia muncul pada 25% kasus setelah 11 bulan terapi.4 mg/hari 31 penderita .5 tahun terapi. perilaku berisiko abnormal. Vol. cross over 0. Hasil penelitian terapi risperidone pada autisme Peneliti (tahun) Metode Subjek Hasil McDougle RCT dengan dosis (1998) risperidone harian 2. Opioid berperan pula dalam perilaku maladaptif.Terdapat perbaikan dalam skor Corner usia antara 2-7 Parent-Teacher Questonaire.10 Sophie.25 mg/hari Penelitian McCracken. Tabel 4. . Tabel 3 menunjukkan kajian terhadap penggunaan haloperidol dalam terapi autisme. Respon terapi diukur dengan Global Improvement Scale dengan skala likert. Penggunaan antagonis dopamin diharapkan memperbaiki gejala-gejala motorik seperti hiperaktivitas dan stereotipik.

Desember 2006 . Laporan tersebut menyebutkan adanya perbaikan gejala pada beberapa penyandang autisme yang menjalani pemeriksaan fungsi gastrointestinal dengan Secretin. Tabel 6. letargi 37%. usia rata-rata 5 tahun Tidak berbeda bermakna antara kelompok terapi dan plasebo dalam skor komunikasi sosial setelah 4 minggu terapi (p=0. Obat Antiepilepsi pada Autisme Epilepsi dan abnormalitas gelombang otak sering dijumpai pada penderita autisme. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan tingkat metabolisme di regio frontal kanan (terutama gyrus cinguli anterior dan korteks orbito-frontal) pada penderita yang diberikan terapi fluoxetine.Sangat baik pada 17% kasus . stereotipik 27%. Penggunaan obat anti epilepsi untuk autisme didasarkan pada 2 mekanisme. dan (3) berbagai penelitian terdahulu menunjukkan berkurangnya flora normal usus yang ikut berperan dalam penyerapan vitamin.Tidak ada perubahan bermakna pada skorAutism Behavior Checklist dan Clinical Global Impression Scale . dan gangguan bicara 21% Respon pada Autism Disgnostic Observation Schedule . Penggunaan secretin sebagai terapi autisme dimulai pada saat muncul laporan kasus serial tentang efek secretin. dkk19 Disain Open label trial Terapi fluoxetine 20-80 mg/hari fluoxetine Subjek Hasil penelitian Penelitian prospektif open label 23 penderita Perbaikan pada Global autisme Clinical Impressions pada 15 (65%) subjek 37 anak autisme usia antara 2-7 tahun 7 pasien usia 9-20 tahun 129 anak autisme (2-8 tahun) Perbaikan pada Independent Developmental Testing pada 22 (59%) subjek Perbaikan Abberant Behaviour Checklist dalam hal iritabilitas 21%.22 Suplemen Vitamin dan Mineral Dasar pemikiran pemberian suplemen vitamin dan mineral pada penderita autisme adalah: (1) penderita autisme sering kali memiliki asupan vitamin dan mineral yang terbatas atau picky eaters.Buruk pada 31% kasus Roberts20 RCT 64 anak autisme. Kajian hasil penelitian penggunaan secretin sebagai terapi autisme Peneliti (tahun) Sandler17 Metode RCT Subjek 60 anak autisme Hasil . Terminologi yang sering dipergunakan adalah Transient Cognitive Impairment untuk menunjukkan gangguan adaptif fungsi serebral akibat gelombang epileptiform di otak. perilaku. 19.5 mg/kg DeLong. yaitu: (1) mengatasi bangkitan epilepsi dengan peningkatan GABA. berbahasa.Tidak dijumpai perbaikan bermakna pada fungsi berbahasa dan perilaku . 171 Terapi farmakologi bukan merupakan pendekatan terapi yang utama. Penggunaan antiepilepsi pada penderita autisme ditujukan untuk: (1) mengendalikan bangkitan epilepsi. Hal tersebut akan menyebabkan serotonin bertahan lebih lama di celah sinaps. No. dkk14 Kajian data retrospektif fluoxetine 20-80 mg/hari fluoxetine 0.74) . dkk13 Open label trial Fatemi. dan gejala gastrointestinal antara kedua kelompok Lightdale. dan (2) perangsangan GABA akan meningkatkan kadar serotonin di sistem limbik.70% orang tua secara subjektif melaporkan adanya perbaikan gejala setelah infus secretin Tidak ada beda efek terapi yang berbeda bermakna pada fungsi kognitif. perilaku. dkk16 mengukur efek pemberian fluoxetine terhadap aliran darah regional dan tingkat metabolisme otak. Sampai saat ini masih ada kontroversi dalam penggunaan obat antiepilepsi pada kelompok penderita autisme dengan pola EEG yang abnormal tanpa bangkitan epilepsi. (2) penderita autisme sering kali memiliki fungsi pencernaan yang buruk (25% penderita dengan diare kronik). Tabel 5.Baik pada 52% kasus . Secretin Secretin merupakan suatu hormon peptida yang terdiri dari 27 asam amino yang befungsi untuk menstimulasi sekresi pankreas. dkk 12 RCT 20 anak autisme. 4.Tidak didapatkan efek samping Owley 18 Selective Serotonin Reuptake Inhibitor Obat-obat Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) bekerja terutama pada terminal akson pre sinaptik dengan menghambat ambilan kembali serotonin. dkk15 Open label trial (post hoc analysis) selamarata-rata 32-36 bulan Penelitian Buchsbaum. Vol. Gelombang paku (spike) fokal interiktal dapat mengganggu fungsi kortikal sesuai dengan lokasi munculnya spike tersebut. (2) mengendalikan gelombang abnormal epileptiform. usia antara 3-12 tahun 20 penderita autisme. dan (3) memperbaiki komunikasi dan interaksi sosial.9 Tabel 5 memperlihatkan penelitian penggunaan fluoxetine dalam terapi autisme. namun penggunaan terapi farmaka untuk gejalagejala tertentu dapat membantu secara signifikan program terapi dan edukasi.TINJAUAN PUSTAKA menyatakan bahwa penggunaan naltrexone tidak dianjurkan sebagai terapi lini pertama untuk autisme. Penelitian dilakukan pada 6 pasien dewasa dengan autisme dengan penggunaan possitron emission tomography. Oktober . Penelitian-penelitian penggunaan fluoxetine untuk terapi autisme Peneliti (tahun) Cook.15-0.17 Tabel 6 memperlihatkan telaah hasil-hasil penelitian secretin dalam terapi autisme. Kajian Martino dan Tuchman21 memperkirakan adanya hubungan antara adanya epilepsi dan gelombang otak abnormal dengan gangguan fungsi kognitif. usia antara 2-7 tahun DeLong. dan mood.23 Penelitian terdahulu tentang penggunaan suplemen vitamin dan mineral dapat dilihat pada tabel 7 berikut.

Stahl SM.TINJAUAN PUSTAKA Tabel 7. Pediatr Neurol 2001.341:1801-6 18. Vol. Swinkels W.24 Penelitian uji klinik double blind oleh Adams.107(5) 21. autistic spectrum and the need for better definition.31(4):734-45 13. Nye C. Owley T. Beberapa modalitas terapi lain seperti penggunaan suplemen vitamin dan mineral dan 172 No. Realmuto Gm. pemacu sistem serotoninergik. Autism. Weaver L.2000 23. Fabes R. Peneliti (tahun) Dolske. Rapin I. Steele E. Roberts W. GABA. Sebanyak 9 orang anak terdiri atas 8 laki-laki dan 1 perempuan mendapat terapi suplemen multivitamin dan mineral. et al. 10 minggu Systematic assignment.Psychiatric Times 2003. interaksi sosial. dkk (1999) Random assignment 6 Vitamin B6 30 mg/kg/hari dan Mg 10 mg/kg/hari Uji klinik. Antiepileptic drugs: affective use in autism spectrum disorders. Adams JB. Repeated doses of porcine secretin in the treatment of autism: a randomized. N Eng J Med 2002. Pediatrics 2001. A double-blind. Repetitive self-injurious behavior: the emerging potential of psychotropic intervention. dkk (1988) Bolman. namun pada perilaku dan kemampuan bahasa tidak berbeda bermakna (p>0. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry 1992. Chichester. Khan L. 20(2) 11. McGough J. Brice A. Penelitianpenelitian terdahulu menggunakan terapi antagonis sistem dopaminergik. dan gangguan perilaku. 19. et al. dengan kontrol plasebo 8 Dimethylglisine 125 Tidak ada perubahan mg-350 mg/hari dalam observasi Penggunaan suplemen vitamin dan mineral dalam terapi autisme didasarkan pada pemikiran bahwa vitamin dapat memperkuat aksi neurotransmiter dengan meningkatkan aviabilitasnya dan bertindak sebagai kofaktor. 2002 4. control group Subjek (n) 18 Terapi Vitamin C. Bexley. 2000 24. 2004 10 15 Vitamin B6 200 mg/ Tidak ada perbedaan 70kg dan Mg 100 efek terapi mg/ 70 kg Vitamin B6 30 mg/ kg/hari dan Mg 10 mg/kg/hari Penurunan dopamin di urin. Tonge BJ. terutama ditandai oleh gangguan fungsi berbahasa. dkk (1993) Finding. Villalba R. buta ganda. contemporary. DeWeese J. Autism Course Section 5. Clinical Psychopharmacology Seminar. Levy SE.44(10):652-9 16.sampel terlalu kecil penggunaan terapi imunologis telah dilaporkan pula. cross over. Treatment and education for autistic and related communication handicapped children. 4 minggu Uji klinik. Ltd. Hal ini disebabkan karena berbagai penelitian yang ada saat ini memiliki keterbatasan metodologi dan jumlah sampel yang kecil. Kamran M. Fluoxetine in treatment of adolescent patients with autism: a longutudinal open trial. buta ganda. open-label pilot study. cross over. Lack of benefit of a single dose of synthetic human secretin in the treatment of autism and pervasive developmental disorder. Dev Med Child Neurol 1998. Effects of intravenous secretin on language and behaviour of children with autism and gastrointestinal symptoms: a single blinded. buta ganda.337(2):97-104 5. et al. Pediatric psychopharmacology: autism. Sutton KA. cross over. et al. Hasil kajian sistematis ini mendapatkan bahwa antagonis sistem dopaminergik merupakan modalitas terapi yang cukup didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang baik. Teagoe LA. Effect of fluoxetine on regional cerebral metabolism in autistic spectrum disorder: a pilot study. Hyman SL. dkk (1988) Disain Uji klinik. et al. Fluoxetine treatment of children and adults with autistic disorder and mental retardation. Dev Med Child Neurol 2002. dan 9 orang lainnya mendapat plasebo. Risperidone in children with autism and serious behavioral problems.5 tahun dengan diagnosis klinis autisme. Burch S. Jaselkis C. 10:101-23 25. dan pemacu GABA. Tuchmann RF. Int J Neuropsychopharmacol 2001. Cook EH. Classification of evidence levels and grades of recommendation. Rowlett R. Autism: current concept.39:1023-31 12. Issue 2. DeLong GR. antagonis opioid. Pediatrics 2001. The Harvard Brain 1996:9-25 2.108(5) 20. dkk (1997) Tolbert. 4. Vitamin C dalam penelitian eksperimental dapat menghambat efek dopamin sentral. Pediatrics 2000. dan norepinefrin. Vitamin B6 berperan dalam pembentukan beberapa neurotransmiter seperti serotonin. 4(2):119-25 17. Combined vitamin B6-magnesium treatment in autism spectrum isorder (Cochrane review). Cambridge University Press. J Autism Dev Disord 1998. Johnston C. Perry P.Scotish Intercolligiate Guideline Network. 2000 10. Sophie HN.28(4):303-7 15. Esles L. UK: John Wiley & Sons. MJA 2002. Ritch CR.53:633-41 9. Sandler AD. 25:199-207 22. Effect of vitamin/mineral supplements on children with autism. the role of serotonin in autism. et al. et al. Ach Gen Psychiatry 1998. Effect of fluoxetine treatment in young children with idiopathic autism. N Engl J Med 1999. McDougle CJ. 10 minggu Uji klinik. Buchsbaum MS. Kuperman S. Herman A. Neurobiological insights into infantile autism. dkk (1993) Martineau. 8 g/70 kg/hari Vitamin B6 30 mg/kg/hari dan Mg 10 mg/kg/hari Hasil Penurunan subjektif gangguan perilaku dan stereotipik Tidak ada perbedaan efek terapi. the effect of chronic naltrexone treatment in young autistic children: a double-blind placebo controlled crossover trial. University of Iowa. et al. 2000 6. Autistic spectrum disorders: when traditional medicine is not enough. buta ganda. Oktober .Desember 2006 . Dimethylglisine merupakan suplemen nutrisi yang memiliki efek neuroaktif serupa dengan Glysin. Essential psychopharmacology: neuroscientific basis and practical applications. respon klinis tidak jelas dengan skala pengukuran yang tidak sesuai Tidak ada perubahan pada metabolit dopamin di urin 11 Martineau. N Engl J Med 1997. Corsello C.. Holmes JP. University of California. Ratcliff J. Daftar Pustaka 1. McCracken JT. Hayer C. SIGN. Fatemi SH. Shah B. Lightdale JR. 2003 7. Biol Psychiatry 1996. Penatalaksanaan farmakologis dengan prinsip menyeimbangkan fungsi neurotransmiter merupakan dasar pendekatan terapi yang rasional. Harrington C. Martino AD. Kesimpulan Autisme merupakan kelainan yang kompleks. placebocontrolled study of risperidone in adults with autistic disorder and other pervasive developmental disorders. DeLongGR. Hazneder MM. Hollander E. placebo-controlled trial. Fluoxetine response in children with autistic spectrum disorders: correlation with familial major affective disorder and intelectual achivement. dopamin. 347(5):314-21 8. 40(8):551-62 14. In: The Cochrane Library.176:412-3 3. Penelitian terdahulu tentang penggunaan suplemen vitamin dan mineral untuk terapi autisme. placebocontrolled trial of secretin for the treatment of autistic disorder. Brian J. Duer A. dkk23 melibatkan 18 anak dengan rata-rata umur 5. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kadar vitamin C yang berbeda bermakna pada kelompok terapi serta perbaikan dalam pola tidur dan gejala gastrointestinal yang bermakna. Med Gen 1999 19.05) Kajian sistematis yang dilakukan oleh Nye dan Bryce25 menyimpulkan bahwa sampai saat ini belum ada rekomendasi untuk penggunaan kombinasi vitamin B6 dan magnesium untuk terapi gangguan spektrum autisme. A double-blind. Arizona State University.

1 Terminologi yang sering digunakan adalah gangguan spektrum autistik/ autistic spectrum disorder. 4. Kata kunci: Autisme. Berbagai penelitian sebelumnya memperlihatkan bahwa sebagian besar penderita autisme adalah hiperserotonemia. Autisme merupakan gangguan perkembangan pervasif. Pengetahuan tentang kelainan neuroanatomi. sindrom Asperger atau Asperger’s Syndrome. dan imajinasi. Oktober .TINJAUAN PUSTAKA Peran serotonin pada Rizaldy Pinzon*. Berbagai uji klinik terdahulu menunjukkan bahwa pemberian obat-obat yang meningkatkan serotonin di sistem limbik akan memperbaiki gejala autisme.4 Hal ini didasarkan pada penemuan autisme yang lebih sering pada anak laki-laki dibanding perempuan (4:1). dan perubahan molekuler pada autisme akan membantu dalam formulasi uji diagnosa dan terapi farmakologi pada autisme. Telaah pustaka ini membahas peran serotonin pada autisme.1 Faktor paparan zat kimiawi dianggap berperan pula dalam kejadian autisme. Serotonin merupakan neurotransmiter yang berperan besar dalam perkembangan otak.3 Gangguan spektrum autisme dinyatakan sebagai gangguan dalam empati dan defisit pada fungsi perhatian. neurokimiawi.5 173 No. kontrol motorik dan persepsi. Ada 2 faktor zat kimiawi yang berperan pada autisme dan didukung oleh bukti ilmiah. Lucas Meliala**. yang terdiri dari autisme.1 Faktor genetik diperkirakan berperan penting pada kejadian autisme.1 Pengetahuan tentang aspek neuroanatomi autisme sangat dibantu oleh hasil pemeriksaan histopatologis berbagai penelitian terdahulu.Desember 2006 .2. perilaku yang terbatas dan stereotipik. M. Hal ini mungkin berhubungan dengan kadar serotonin yang rendah di sistem limbik. dan Pervasive Developmental Disorder-Not Otherwise Specified/PDD-NOS. Haulussy Ambon ** Bagian IP Saraf FK UGM Gangguan spektrum Autistik Abstrak.4 Saat ini telah disepakati secara luas bahwa autisme merupakan kelainan neurobiologik. Penelitian terdahulu menunjukkan kelainan neurotransmiter pada autisme. Sri Sutarni** * SMF Saraf RSUD Dr. Vol. dengan onset sebelum usia 3 tahun. sosialisasi. hiperserotonemia. serotonin. 19. dan penurunan sintesis serotonin di nukleus raphe.1. disabilitas komunikasi dan kelambatan fungsi berbahasa.2 Berbagai bukti dari penelitian terdahulu menunjukkan bahwa disfungsi otak dijumpai pada anak-anak dengan A autisme. ssrI Pendahuluan utisme merupakan gangguan perkembangan yang terutama ditandai oleh ketidakmampuan dalam komunikasi. Penderita autisme akan menunjukkan disabilitas dalam interaksi sosial. yaitu pemakaian thalidomide dan antikonvulsan selama kehamilan.

raphe pallidus. (3) mengaktivasi reseptor 174 presinaptik. dan berhubungan dengan munculnya gejala gangguan perilaku. Kecemasan dan panik diperantarai oleh fungsi serotonin pada sistem limbik. raphe medialis. sebuah metabolit yang dapat digunakan untuk menilai fungsi serotonergik sentral.6 Gangguan sistem neurokimiawi tersebut berhubungan dengan perilaku agresif. (2) menurunnya pelepasan serotonin. Peningkatan kadar serotonin di dalam darah (hiperserotonemia) akan menyebabkan penurunan sistesis serotonin No. serotonin. Pembahasan dititikberatkan pada peran obatobat tersebut pada gangguan spektrum autistik. dan mielinisasi akson. MEDLINE database. dan raphe obscuris dengan proyeksi yang lebih terbatas pada serebelum. dan stimulasi diri sendiri (self stimulating) yang berlebih. (2) kadar serotonin dalam darah yang lebih tinggi pada saudara kandung penderita autisme.Desember 2006 . (5) ansietas.7 Serotonin berperan dalam perkembangan otak (neurodevelopmental) dengan cara menstimulasi neurogenesis. perkembangan dendrit. 45% ayah penderita. treatment. dan dopamin. Pelacakan kepustakaan dilakukan dengan menggunakan internet. dan (6) gangguan afektif.7 Serotonin disintesa dari asam amino tryptophan.9 Kajian Wiznitzer10 menunjukkan bahwa serotonin berperan dalam hal-hal berikut: (1) perkembangan sistem saraf pusat. (3) tidur. (3) peningkatan ambilan kembali. Faktor genetik dianggap berperan besar dalam kejadian hiperserotonemia. 19.6 Permasalahan yang ada adalah bagaimana keterlibatan disfungsi sistem serotonin pada gangguan spektrum autistik. mechanism. Metode Studi pustaka ini dilakukan secara kualitatif dengan mengkaji berbagai penelitian terkini. perangsangan autoreseptor akan mengurangi sintesa dan pelepasan serotonin. Nukleus bagian rostral meliputi nukleus linearis.7 Serotonin yang dilepaskan ke celah sinaps akan mengalami satu atau lebih kejadian berikut: (1) difusi dari sinaps. dan pelacakan manual pada berbagai penelitian dan kajian tentang hubungan disfungsi serotonin dan autisme. yaitu pada bagian rostral dan kaudal. Vol. Kata kunci yang dipergunakan adalah: autism. Serotonin dimetabolisme oleh enzim monoamine oxidase menjadi 5-hydroxyindoleacetic acid (5-HIAA). (3) deplesi kadar triptofan akan memperburuk gejala.8 Fungsi sistem serotonin di otak ditentukan oleh lokasi sistem proyeksinya. Sebagian reseptor serotonin berperan sebagai autoreseptor (misalnya: 5HT1A dan 5-HT1D). Kadar serotonin diatur melalui mekanisme umpan balik. dan (5) mengalami ambilan kembali (reuptake) ke pre sinaptik. raphe dorsalis. Proyeksi pada korteks frontal diperlukan untuk pengaturan mood. obsesif kompulsif. norefinefrin. peningkatan sintesis 5-HT. (4) menurunnya sensitivitas postsinaps. tryptophan akan dihidroksilasi oleh enzim tryptophan hydroxylase (TPH) menjadi 5-Hydroxytryptophan yang kemudian mengalami dekarboksilasi menjadi serotonin oleh enzim L-aromatic amino acid decarboxylase. 4. dan (6) dijumpai adanya perbaikan gejala dengan pemberian Serotonin Selective Reuptake Inhibitor (SSRI) pada penderita autisme. Berbagai penemuan yang menunjukkan adanya peran sistem serotonin pada autisme adalah sebagai berikut:(1) dijumpai adanya hiperserotonemia pada 25%-30% kasus autisme. dkk11 pada penderita autisme dan keluarganya memperlihatkan bahwa hiperserotonemia terdapat pada 51% ibu penderita. (5) fungsi serotonin yang abnormal pada pemeriksaan pencitraan (PET). Berbagai terapi farmaka yang bekerja pada sistem serotonin akan dibahas pula. batang otak. dan 87% dari saudara kandung penderita. sinaptogenesis. Pada penderita autisme diamati pula adanya antibodi yang bersirkulasi dan merusak reseptor serotonin. Hiperserotonemia yang terjadi tidak berhubungan dengan peningkatan volume platelet. proyeksi pada ganglia basalis bertanggung jawab pada gangguan obsesif kompulsif. yang berproyeksi hampir ke seluruh bagian otak termasuk serebelum. GABA. Berbagai penelitian terdahulu memperlihatkan adanya disfungsi sistem neurokimiawi pada penderita autisme yang meliputi sistem serotonin. dan raphe pontis.7 Neurotransmiter serotonin memiliki 14 reseptor yang berbeda berdasar pada susunan protein dan lokasinya.10 Pada sebagian penderita dijumpai adanya hiperserotonemia. Pembahasan Gangguan fungsi serotonin pada penderita autisme Serotonin dikenal juga dengan nama 5-hydroxytryptamine (5HT). (4) agresi. antidepressant drugs. dan pathophysiology. dan penurunan katabolisme 5-HT.7 Sistem serotoninergik pada otak manusia terbagi dalam 2 bagian besar. Metabolisme serotonin terutama diperantarai oleh enzim MAO (Mono Amine Oxidase) menjadi 5-hydroxyindoleactic acid (5-HIAA). (2) dimetabolisme oleh enzim MAO. peningkatan ambilan platelet.10 Berbagai penelitian memperlihatkan bahwa disfungsi sistem serotonin pada autisme dapat disebabkan oleh halhal berikut: (1) menurunnya sintesa. dan gangguan tidur diperantarai oleh kurangnya serotonin pada pusat tidur di batang otak. (4) peningkatan antibodi terhadap reseptor serotonin. dan medula spinalis.5. berperan pada diferensiasi neuronal. Oktober .TINJAUAN PUSTAKA Gangguan sistem neurotransmiter sering dijumpai pada penderita autisme. dan (5) berkurangnya efek postsinaptik.1 Penelitian Leboyer. (4) mengaktivasi reseptor post sinaptik. (2) perilaku sosial. suatu neurotransmiter yang dibentuk dari asam amino tryptophan. kadar serotonin yang berlebihan akan menghentikan produksi dan pelepasan serotonin. Sementara nukleus bagian kaudal terdiri dari raphe magnus. Tinjauan pustaka ini secara mendalam akan membahas peran disfungsi sistem serotonin pada autisme.

Berbagai obat antiepilepsi memiliki efek yang poten terhadap sistem serotoninergik. disfungsi seksual.8 Perilaku melukai diri sendiri atau self injurious behaviors merupakan masalah yang sering dijumpai pada gangguan perkembangan pervasif atau autisme.15 Neurotransmiter serotoninergik diperkirakan ikut berperan dalam terjadinya kindling pada amygdala. sementara percepatan kindling teramati setelah pemberian 5-HT2A.17 Efek samping yang dapat terjadi akibat pemberian fluoxetine adalah nausea. dan dimulai dengan fluoxetine dosis 10 mg/hari dengan pengamatan selama 1 bulan. substansia P . pemberian agonis 5-HT1A akan menghambat pembentukan kindling. dan pengurangan tryptopan akan memperburuk gejala autisme. perilaku melukai diri sendiri. Perbaikan paling nyata dijumpai pada gangguan obsesif dan gejala cemas. Penghambatan ambilan kembali serotonin diakibatkan oleh ikatan obat (misalnya: fluoxetine) pada transporter ambilan kembali yang spesifik. serotonin memiliki peran tersendiri dalam munculnya gangguan perilaku. Sistem serotonin yang hiperaktif dihubungkan dengan perilaku eksplorasi. dengan mekanisme yang tidak diketahui secara pasti. Kindling memperlihatkan sebuah model progresivitas kerusakan neuron akibat pacuan berulang baik subkonvulsif maupun konvulsif. 4. Obat SSRI tidak banyak berinteraksi dengan reseptor neurotransmiter lainnya.12 Berbagai penelitian eksperimental memperlihatkan adanya hubungan terbalik antara kadar asam 5-hydroxyindole acetic acid sebagai metabolit serotonin dengan perilaku kekerasan. Serotonin berperan dalam pembentukan kindling dengan cara memodulasi munculnya discharge pada amygdala melalui fungsi reseptor glutamat NMDA (NMethyl DAspartate). dan pengaturan faktorfaktor neurotropik. dan mencederai diri sendiri impuls. resisten terhadap perubahan halhal rutin.18 Penelitian Awad17 dengan metode pengamatan kasus serial atau case series terhadap 8 subjek. perubahan anatomis pada striatum dan hipokampus. dopamin. nyeri kepala. pertumbuhan neuron dan sinaps.15 Penggunaan terapi farmakologi yang berperan pada sistem serotoninergik Agonis 5-Ht Kelompok agonis 5-HT yang paling banyak digunakan dalam penelitian terapi autisme adalah fenfluramine.Desember 2006 175 . Fenfluramine merupakan kelompok agonis 5-HT indirek yang memacu pelepasan 5-HT presinaps dan menghambat ambilan kembali (reuptake) oleh neuron 5-HT. No. dengan mengatur divisi sel. sementara sistem serotonin yang hipoaktif menyebabkan temperamen yang pasif impuls. dan mulut kering. dan ritual obsesif dengan ansietas yang tinggi. Tolerabilitas SSRI yang relatif baik disebabkan oleh karena sifat selektivitasnya.TINJAUAN PUSTAKA di raphe nuclei. Tindakan terapi ditujukan untuk mengatasi gejala-gejala disruptif. perbaikan gejala regresi dan stereotipi dengan pemberian obat-obat penghambat reuptake serotonin.12. yaitu homovanilic acid (HVA). Hyperserotonemia pada penderita autisme terutama dijumpai dengan adanya peningkatan serotonin pada platelet. Vol. sehingga tidak ada lagi neurotransmiter serotonin yang dapat berikatan dengan transporter. perilaku impulsif dan agresif. Oktober . Gangguan pengendalian impuls disebabkan oleh menurunnya aktivitas dan fungsi 5-HT impuls.12 Isolasi sosial pada awal kehidupan akan memicu perilaku melukai diri sendiri.14 Peranan neurotransmiter serotonin pada autisme ditunjukkan dengan hiperserotonemia pada penderita autisme. Gangguan sistem serotonin diduga berperan dalam perilaku melukai diri sendiri dengan cara mengganggu pengendalian impuls. 19. Tabel 1 memperlihatkan penelitianpenelitian terdahulu tentang penggunaan fluoxetine dalam terapi autisme.14 Pada penderita epilepsi dengan autisme.16 Salah satu alasan utama pemilihan obat-obat penghambat reuptake serotonin yang selektif adalah keamanan terapi.7 Fenfluramine juga mempercepat pemecahan dopamin yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan ekskresi metabolit utama dopamin. serotonin.7 Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) Obat-obat Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) bekerja terutama pada terminal akson presinaptik dengan menghambat ambilan kembali serotonin. Saat ini fenfluramine telah ditarik dari pasaran obat di Amerika Serikat karena efek samping kerusakan katup jantung dan hipertensi pulmoner. mengambil risiko. hal ini dihubungkan dengan berkurangnya cabang-cabang dendrit pada korteks dan serebelum. Peningkatan serotonin pada platelet dapat disebabkan oleh karena ambilan atau uptake platelet yang berlebih atau karena pelepasan atau release serotonin dari platelet yang kurang. mengambil risiko. Hal tersebut akan menyebabkan serotonin bertahan lebih lama di celah sinaps.13 Serotonin berperan dalam pengaturan perkembangan otak. ide bunuh diri. Penggunaan Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) terutama ditujukan untuk memperbaiki perilaku stereotipik. Pemakaian fenfluramine jangka panjang akan menyebabkan deplesi serotonin di neuron dan penurunan fungsi enzim tryptophan hydroxylase (TPH). Penderita autisme mengalami gangguan dalam kapasitas sintesis serotonin pada masa anak-anak. Kadar serotonin yang kurang di sinaps atau neuron serotoninergik dapat pula disebabkan oleh karena ambilan berlebih dari platelet. dan menimbulkan gangguan pada kadar regional neurotransmiter norepinefrin. Timbulnya gangguan perilaku dan afektif pada penderita autisme dengan epilepsi atau abnormalitas gelombang EEG diperkirakan terjadi melalui mekanisme kindling seizure pada amigdala. dan leucine-enkephalin. diferensiasi sel.6 Fenfluramine akan menginduksi pelepasan cepat serotonin dari neuron.

MJA 2002. Pada kelompok anak-anak pemberian clomipramine memerlukan monitor EKG yang ketat karena kemungkinan efek samping takikardia dan perpanjangan interval QT. Rowlett R. Hazneder MM. BMJ 2003. Perry P. DeLong GR. Obat-obat yang bekerja pada sistem serotonin banyak dipergunakan dalam terapi autisme.p. Szatmari P. 25:199-207 16. meningkatkan interaksi sosial. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan tingkat metabolisme di regio frontal kanan (terutama gyrus cinguli anterior dan korteks orbito-frontal) pada penderita yang diberikan terapi fluoxetine. stereotipik 27%. Vol. dan kemarahan diamati pada sebagian besar kasus. Essential psychopharmacology: neuroscientific basis and practical applications. Harrington C. Awad GA. Khan L. fluoxetine response in children with autistic spectrum disorders: correlation with familial major affective disorder and intelectual achivement. N Engl J Med 1997. adverse effects and tolerability. 326:173-4 5. Tonge BJ. Villalba R. Int J Neuropsychopharmacol 2001. Pediatric psychopharmacology: autism. dan GABA. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry 1992. Widyawati I. Pusponegoro HD. The Harvard Brain 1996:19-25 2. Lima penelitian terdahulu tentang clomipramine sebagai terapi autisme masih bervariasi dan belum konklusif. International Encylopedia of the Social and Behavioral SciencesNew York: Elsevier Science. Leboyer M. Neurobiological aspects of agression. 44(10): 652-9 23. Fatemi SH. dkk23 mengukur efek pemberian fluoxetine terhadap aliran darah regional dan tingkat metabolisme otak. ssrI. Molecular neuropharmacology: a foundation for clinical neuroscience. 4(2):119-25 Open label trial selama 1 tahun Fluoxetine 20 mg/hari 12 pasien usia 3-13 tahun 129 anak autisme usia 2-8 tahun Open label trial Fluoxetine (post hoc analysis) 0. J Autism Dev Disord 1998. stereotipik. Teagoe LA. 4. Effect of fluoxetine on regional cerebral metabolism in autistic spectrum disorder: a pilot study. fluoxetine in treatment of adolescent patients with autism: a longutudinal open trial. et al. sehingga diperlukan suatu uji klinik double blind randomisasi di waktu mendatang.Buruk pada 31% kasus Kajian data retrospektif Fluoxetine 20-80 mg/hari berbagai gangguan perilaku yang muncul pada autisme. Pandangan umum mengenai klasifikasi spektrum gangguan autistik dan kelainan susunan saraf pusat.6 Kesimpulan Autisme merupakan kelainan yang kompleks. Philippe A. autistic spectrum and the need for better definition. Neurobiological insights into infantile autism. Dev Med Child Neurol 2002. the causes of autism spectrum disorder: multiple factors has been identified. Cleveland Ohio. 2003 7. Namun bukti-bukti ilmiah yang mendukungnya kurang kuat. Cambridge University Press. anti depressant medications. 2001 8. 2001. 337(2):97-104 6. J Clin Psychiatry 2001. Perbaikan gejala hiperaktivitas. Tuchmann RF. 19.Baik pada 52% kasus .8 Mekanisme kerja utama clomipramine adalah menghambat ambilan kembali (reuptake) 5-HT dan norepinefrine. 3:22-7 19. but a unifying cascade of events is still elusive. Antiepileptic drugs: affective use in autism spectrum disorders. DeLongGR. dan gangguan bicara 21% Perbaikan pada Global Clinical Impressions Respon pada Autism Diagnostic Observation Schedule . Kamran M. 2002 11. Stahl SM. Oktober . perbaikan gejala regresi dan stereotipi dengan pemberian obat-obat penghambat reuptake serotonin. Morbiditas epilepsi dan retardasi mental dilaporkan tinggi pula. Burch S. Aspek neuroanatomi yang mendasari munculnya autisme sangat kompleks.15-0. 2003 17. 176:412-3 3. Biol Psychiatry 1999. Can J Psychiatry 1996. Malenka RC. dan pengurangan tryptophan akan memperburuk gejala autisme. Wiznitzer M. Autism. Nestler EJ. namun ada pula penderita yang menunjukkan perburukan gejala. The Neural basis of autism. 2003 4. Whole blood serotonin and plasma beta endorphin in autistic probands and their first degree relatives. Buchsbaum MS. Hyman SE. Levin AL. Gangguan yang terjadi terutama pada sistem dopaminergik. Psychiatric Times 2003. 40(8):551-62 21. dan gangguan perilaku. Gangguan pada sistem neurotransmiter dianggap bertanggung jawab pada 176 No. Realmuto Gm. Effect of fluoxetine treatment in young children with idiopathic autism. perilaku yang ritual.983-7 15. Autism: current concept. Pediatr Neurol 2001. Esles L. Martino AD. McGraw-Hill Companies. repetitive self-injurious behavior: the emerging potential of psychotropic intervention. Antidepresan trisiklik Clomipramine merupakan golongan antidepresan trisiklik yang digunakan sebagai terapi gangguan obsesif-kompulsif dan autisme. Manajemen multidisiplin pada individu dengan autistic spectrum disorder. Schultz RT. University of Iowa. Konferensi Nasional Autisme Pertama. et al. interaksi sosial. Jakarta. 20(2) 13.2000 9.Desember 2006 . Gangguan neurotransmiter dianggap berperan pula dalam patofisiologi autisme. clinical psychopharmacology seminar. Hollander E. Neuropsychiatry Bulletin 2002 14. kompulsif. serotoninergik. Cook EH. dan menurunkan kecenderungan agresivitas. 31(4):734-45 20. Agen terapi obsesif-kompulsif pada autisme terutama digunakan untuk mengurangi perilaku stereotipik dan gerakan yang berulang-ulang.Sangat baik pada 17% kasus . terutama ditandai oleh gangguan fungsi berbahasa. Bouvard M. Ritch CR.TINJAUAN PUSTAKA Tabel 1. 41(6):361-6 18. USA:Western Reserve University. Kuperman S. 28(4):303-7 22. Penelitian dilakukan pada 6 pasien dewasa autisme dengan penggunaan Possitron Emission Tomography. Konferensi Nasional Autisme Pertama. Autism spectrum disorder in 2002: an update. University of California. Herman A. Penelitian-penelitian terdahulu tentang penggunaan fluoxetine untuk terapi autisme19-22 Disain Open label trial Open label trial Terapi Fluoxetine 20-80 mg/hari Fluoxetine Subjek 23 penderita autisme Hasil penelitian Perbaikan pada Global Clinical Impressions pada 15 (65%) subjek 37 anak Perbaikan pada Independent autisme usia Developmental Testing antara 2-7 tahun pada 22 (59%) subjek 7 pasien usia 9-20 tahun Perbaikan Abberant Behaviour Checklist dalam hal iritabiltas 21%. 2000 10. Dev Med Child Neurol 1998. fluoxetine treatment of children and adults with autistic disorder and mental retardation. Ferguson JM. the use of selective serotonin reuptake inhibitors in young children with pervasive developmental disorders: some clinical observations. the role of serotonin in autism. letargi 37%.5 mg/kg selama rata-rata 32-36 bulan Penelitian Buchsbaum. 45:158-63 12. Peranan neurotransmiter serotonin pada autisme ditunjukkan dengan hiperserotonemia pada penderita autisme. Daftar Pustaka 1. Jakarta. Jaselkis C. Rapin I.

2. oligouri dan penurunan kesadaran. syok sepsis.000/mm2 atau >10% bentuk (band) immature. Infeksi adalah respon inflamasi akibat adanya mikroorganisme atau invasi mikroorganisme ke jaringan yang seharusnya steril. Sepsis merupakan penyebab kematian terpenting pasien-pasien yang di rawat di ruang intensif. Keberhasilan dari respon ini ditentukan oleh kekuatan proses inflamasi dan keseimbangan antara respon inflamasi dan kompensasi respon antiinflamasi. Pengobatan kortikosteroid masih merupakan kontroversi. hipoperfusi. Angka kematian sepsis di Amerika didapatkan lebih rendah. Peranan genetik juga berpengaruh pada prognosis dari sepsis. Tetapi belum banyak studi yang membuktikan hal tersebut. Total biaya yang diperlukan per kasus berkisar 22.4 Di Eropa didapatkan 2-11% pasien yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU) menderita severe sepsis.3% pada tahun 1995. Tingginya angka mortalitas membuat sepsis 177 No. Oktober . Angka mortalitas dari syok sepsis berkisar 40%. insiden septikemia meningkat dari 73.000 orang. Beberapa penelitian baru menunjukkan bahwa pemberian kortikosteroid dosis rendah.6 per 100. yaitu 9. Bakterimia adalah ditemukannya bakteri pada darah. atau hipotensi dan kadang disertai laktoasidosis. Vol. Pada sepsis ternyata terjadi keadaan imunosupresif di mana didapatkan peningkatan respon antiinflamasi.Desember 2006 . sepsis. dan leukosit >12. respirasi >20 kali/menit atau PaCO2 <32 mmHg. Sepsis yang sebelumnya dianggap sebagai peningkatan respon inflamasi ternyata juga peningkatan respon antiinflamasi. antiinflamasi Pendahuluan epsis adalah merupakan respon inflamasi yang bersifat sistemik akibat adanya infeksi berat. Laporan Central Disease Control (CDC) di Amerika. kortikosteroid.9 per 100. Pengobatan kortikosteroid dosis rendah sebaiknya diberikan pada penderita sepsis dengan disertai adanya adrenal insufisiensi. dosis fisiologis dapat mengembalikan stabilitas hemodinamik.000/mm2. Systemic Inflammatory Responses Syndrome adalah respon inflamasi sistemik akibat berbagai sebab dengan 2 atau lebih manifestasi berikut: temperatur >38oC atau <36oC.1-3 Insiden sepsis mempunyai kecenderungan terus meningkat. bakterimia. anergi dan apoptosis sel imun. Mekanisme terjadinya sepsis masih merupakan mekanisme yang tidak sepenuhnya jelas.1.000 pasien pada tahun 1979 menjadi 175. <4. Multiorgan Dysfunction adalah sepsis yang disertai dengan adanya gangguan fungsi organ akibat homeostasis tidak bisa dipertahankan. Laporan terakhir tahun 1990 insiden septikemia di Amerika 450. severe sepsis.000 pasien pada tahun 1987. Sepsis adalah respon inflamasi sistemik akibat infeksi. 4. Kata kunci: sepsis.000 kasus pertahun dengan angka kematian lebih dari 100.TINJAUAN PUSTAKA Konsep Baru Kortikosteroid Pada Penanganan Sepsis IGP Suka Aryana. denyut jantung >90 kali/menit.Bali Abstrak. Sjaiful I Biran Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam FK UNUD/RS Sanglah Denpasar . Respon ini dikenal sebagai istilah Systemic Inflammatory Responses Syndrome (SIRS).2 Beberapa istilah yang harus dipahami sehubungan dengan sepsis antara lain infeksi. proinflamsi. Penelitian-penelitian terbaru membuktikan bahwa penggunaan kortikosteroid dosis tinggi tidak ada manfaatnya pada terapi sepsis dan syok sepsis.10 dolar. Sepsis adalah respon inflamasi sistemik S akibat infeksi dengan manifestasi SIRS. SIRS. Severe sepsis adalah sepsis yang disertai dengan disfungsi organ. Respon imun sistemik muncul setelah respon imun lokal tidak berhasil mengeliminasi antigen dengan baik. Syok sepsis adalah bagian dari severe sepsis yang disertai dengan hipotensi. 19. perbaikan fungsi organ dan menurunkan mortalitas. dan Multiorgan Dysfunction (MOD).

makrofag. kuman dan merangsang pertumbuhan jaringan baru.6 Toksin mikroba akan merangsang produksi TNF dan IL-1 menyebabkan terjadinya adhesi dari lekosit pada endotel dan mensekresi protese dan metabolit arakidonat.7 Respon proinflamasi lokal Respon antiinflamasi lokal Luka awal (bakteri. C Reactive Protein (CRP) dan sitokin. Adanya infeksi menghasilkan endotoksin atau toksin akan meningkatkan sitokin proinflamasi. yaitu:2 1. Sistem imun akan diaktifkan oleh protein patogen yang dapat berasal dari berbagai jenis mikroorganisme. 4.1. Hal ini akan mengaktifasi sistem pembekuan. misalnya endotoksin (lipopolysaccharide). mekanik dan kimiawi tubuh. reseptor TNFa terlarut. IL-13. IL-4. termal) Sebaran sistemik mediator proinflamasi Sebaran sistemik mediator antiinflamasi Reaksi sistemik: SIRS (proinflamasi) CARS (antiinflamasi) MARS (campuran) C Cardiovascular compromise (syok) SIRS Predominate H Homeostatis A Apoptosis (sel-sel mati) O Disfungsi organ S Supresi sistem organ CARS mendominasi Kematian Keseimbangan dengan inflamasi CARS dan SIRS minimal SIRS mendominasi Elemen kunci pada patofisiologi sepsis adalah sitokin. Sistem kekebalan yang didapat (spesifik) akan membantu sistem kekebalan alami melalui aktivitas dari sel limfosit. Stadium reaksi lokal Respon awal tubuh adalah menginduksi mediator proinflamasi untuk menghancurkan jaringan yang rusak. IL-10. tumor growth factor No. IL-10 sebagai sitokin antiinflamasi. SIRS ditandai dengan adanya hipersitokinemia. dan merangsang sekresi berbagai hormon. yaitu: respon tubuh.Desember 2006 . eosinofil dan sel Natural Killer (NK) dan humoral berupa protein terlarut seperti komplemen. yaitu Compensatory Anti Inflammatory Responses (CARS) dan Mixed Proinflammatory and Antiinflammatory Responses (MARS). lipopeptide. Inflamatory Responses Syndrome) SIRS. interleukin(IL)-1 dan IL-8 sebagai sitokin proinflamasi dan IL-6. 19. peptidoglycan. Limfosit T bersifat seluler dan limfosit B bersifat humoral. Peningkatan respon imun berlebihan ternyata berakibat buruk pada pasien. melibatkan banyak sel. Inflamasi dan koagulasi merupakan 2 keadaan yang akan saling berpengaruh untuk menentukan prognosis pasien yang mengalami infeksi. Terapi dengan antibodi antiTNF gagal menunjukan hasil bermakna pada peningkatan angka harapan hidup pasien dengan sepsis berat. Terapi kortikosteroid telah dimulai sejak tahun 1950 ternyata masih menjadi perdebatan. kondisi traumatis. Vol. virus. Beberapa penelitian sebelumnya mendapatkan bahwa ternyata pada sepsis tidak ada bukti bahwa peran reaksi proinflamasi lebih dominan. Ketiga hal ini berperan dalam menentukan prognosis dari pasien sepsis. Kompensasi mediator antiinflamasi segera muncul untuk mencegah agar proinflamasi tidak terlalu destruktif. Pasien dapat mengalami fase syok dan MOD dan berakhir pada Multiple Organ Faillure (MOF) dan kematian. Sitokin yang dihasilkan oleh sel yang mengalami injuri bersifat sebagai peptida imunoregulator yang polimorfik. benda asing. Oktober . neutrofil. Sitokin Tumor Necrosing Factor (TNF). Reaksi dari sitokin proinflamasi ini yang bermanifestasi sistemik sebagai (Systemic 178 Gambar 1. flagelin. Pada SIRS terjadi patogenesis yang sangat kompleks. Konsep baru sepsis Imunomodulasi pada sepsis sangat kompleks dan saling tumpang tindih.TINJAUAN PUSTAKA semakin diperdebatkan dalam hal patogenesis dan terapi yang terus berkembang.1.5 Patofisiologi Sepsis Sistem kekebalan alami (nonspesifik) adalah pertahanan lini pertama tubuh terhadap infeksi yang diaktifkan bila ada patogen masuk melewati pertahanan fisik. IL-11. mannan dan RNA virus. Konsep baru ini menjelaskan bahwa ada 5 tahapan terjadinya MOD pada sepsis.7 Hal ini menimbulkan munculnya teori baru tentang sepsis tersebut. Pada tinjauan pustaka ini akan kami uraikan secara praktis penggunaan kortikosteroid dalam terapi sepsis.2. Hal ini yang menyebabkan kita harus lebih banyak mengerti konsep baru di mana ditambahkan 2 istilah baru yang dapat terjadi pada sepsis.4 Elemen kunci pada patofisiologi sepsis adalah sitokin. Sistem kekebalan alami bisa berupa seluler yang terdiri dari sel monosit. Kegagalan sistem imun mengatasi infeksi dan menimbulkan reaksi imun yang tidak sesuai dikatakan sebagai sepsis. Terapi tidak akan berhasil jika berkerja hanya pada satu titik saja. antagonis reseptor IL-1.6 Jadi ada beberapa faktor yang berperan pada proses ini.1. lipoechoic acid. peranan sel endotel dan monosit dan aktivasi sistem inflamasi dan koagulasi. Sitokin yang dihasilkan oleh sel yang mengalami injuri bersifat sebagai peptida imunoregulator yang polimorfik.

dan menurunkan aktivitas sel untuk memproduksi sitokin inflamasi. Stadium imunosupresi masif Pada keadaan ini terjadi reaksi antiinflamasi kompensasi yang tidak efektif dan menyebabkan terjadinya imunodefisiensi. Hal ini terjadi akibat dari: (1) progresivitas disfungsi endotel sehingga terjadi peningkatan permiabilitas mikrokapiler.1 Beberapa penelitian sebelumnya mendapatkan bahwa ternyata pada sepsis tidak ada bukti bahwa peran reaksi proinflamasi lebih dominan. Sepsis yang didefinisikan sebagai respon inflamasi sistemik ternyata tidak sepenuhnya terjadi respon inflamasi. Manifestasi klinis akan muncul tetapi tidak berat dan jarang menimbulkan disfungsi organ. maka terapi kortikosteroid juga masih merupakan kontroversi dan masih diperdebatkan. 4. 3. Vol. Semua reaksi ini berlangsung lokal tanpa reaksi sistemik berlebihan. (4) adanya vasodilatasi dan maldistribusi aliran darah sehingga pasien jatuh pada fase syok. Neutrofil yang sebelumnya diduga dapat mengeradikasi kuman patogen ternyata juga dapat berakibat kerusakan jaringan yang lebih luas karena produksi oksidan dan protease yang berlebihan. (2) Trombosit yang memblok mikrosirkulasi sehingga timbul iskemia atau injuri reperfusi dan menginduksi Heat Shock Protein (HSP). 2. sel T CD4 maupun sel dentritik folikular. laktoasidosis. dan penurunan produksi urin. trombosit dan faktor koagulasi untuk datang ke injury location atau infeksi. Keadaan ini sering dianggap sebagai keadaan yang persisten sehingga mempunyai angka kematian yang tinggi. antagonis TNF. (3) kematian sel imun akibat terjadinya apoptosis baik pada sel B. (3) aktivasi sistem koagulasi dan gangguan jalur inhibisi protein C dan protein S. Stadium inflamasi sistemik masif Pada stadium ini terjadi kehilangan mekanisme regulasi respon proinflamasi sehingga timbul manifestasi klinis SIRS. Keadaan ini sering disebut sebagai immune paralysis atau CARS. Ada beberapa teori yang menjelaskan terjadinya imunosupresif pada sepsis. 4.8 Karena mekanisme sepsis yang masih belum jelas diketahui. Beberapa penelitian baru telah menunjukkan adanya manfaat dari terapi kortikosteroid tersebut. Reaksi ini akan merangsang respon kompensasi sistemik antiinflamasi. sel limfosit T. Peranan genetik dikatakan ikut mempengaruhi prognosis pasien. Penelitian lain mendapatkan bahwa ternyata sepsis adalah suatu kondisi imunosupresif.Desember 2006 179 . yaitu: (1) perubahan/pergantian sitokin yang mulanya proinflamasi menjadi antiinflamasi. Kortikosteroid dikatakan dapat mengatasi respon inflamasi ini melalui beberapa cara seperti terlihat pada tabel 1. antibodi antiendotoksin. Stadium respon sistemik awal Bila mediator proinflamasi didapatkan dalam sirkulasi menandakan bahwa kerusakan/kuman tidak dapat dikontrol oleh reaksi lokal saja. 5. Pada CARS No. Stadium imunologi dissonance Stadium akhir dari sepsis adalah imunologis dissonance. Penambahan interferon (IFN) g-1b dapat meningkatkan ekspresi HLA DR pada permukaan monosit sehingga memperbaiki fungsi monosit dan sekresi IL-6 dan TNFa sehingga kondisi pasien membaik. Tetapi respon ini akan segera menurunkan respon sistemik proinflamasi. dan B. penyakit kolagen.TINJAUAN PUSTAKA didapatkan ekspresi human leucocyte antigen (HLA) DR monosit menurun kurang dari 30%. Pada stadium ini merupakan ancaman terjadinya disfungsi organ dan MOF bila homeostasis tidak segera diatasi. Hal ini didasari oleh didapatkannya bukti bahwa pada sepsis terjadi kehilangan kemampuan pada reaksi hipersensitivitas tipe lambat dan kemampuan eliminasi infeksi sehingga pada sepsis mudah terjadi infeksi nosokomial. Pada syok sepsis terjadi peningkatan respon inflamasi yang disertai dengan manifestasi syok dengan penurunan kesadaran. Adanya kenyataan seperti ini berarti masih banyak misteri sepsis yang belum terungkap dengan jelas. vaskulitis. 19. (TGF)b dan mediator lainnya bertujuan mengurangi ekspresi Major Histocompability Complex (MHC) klas II. jadi terjadi ketidaksesuaian atau sistem imunomodulator berada di luar keseimbangan. Perkembangan Pemakaian Kortikosteroid pada Terapi Sepsis Kortikosteroid telah banyak digunakan pada beberapa penyakit yang ditandai dengan peningkatan respon inflamasi seperti asma. antagonis reseptor IL-1 dan lainnya ternyata gagal sebagai terapi pada sepsis. sarcoidosis dan penyakit lainnya. Mediator proinflamasi bertujuan membantu menarik neutrofil. Hal ini dapat dilihat dari beberapa penelitian yang mencoba memberikan terapi antiinflamasi dengan kortikosteroid. (2) anergi: penurunan respon terhadap antigen akibat kegagalan proliferasi dan sekresi sitokin sehubungan dengan terjadinya apoptosis limfosit akibat sepsis. menurunkan aktivitas Antigen Precipating Cell (APC). Oktober . Pada suatu penelitian didapatkan bahwa pada pasien dengan SIRS.

1 Beberapa penelitian yang dilakukan dari tahun 1950 sampai tahun 1971 menunjukkan banyaknya kortikosteroid digunakan pada sepsis oleh karena bakteri. Schumer dkk. perdarahan saluran cerna dan peningkatan gula darah. dan operasi akan terjadi peningkatan sekresi kortisol akibat peningkatan sekresi hormon kortikotropin dan CRH. Meningkatkan respon PMN pada rangsangan 2. kortikosteroid Andrenal Terikatnya kortisol dengan kortikosteroid . Kedua hormon ini mempunyai negative feedback control. aktivasi kortikostenoid lokal Menurunkan kortisol dan menurunkan kortikosteroid-mengikat globulin Aksis normal pada jaringan Meningkatkan aksi pada jaringan Menurunkan aksi pada jaringan Kortisol bentuk kortikosteroid yang disekresi oleh kortek adrenal pada orang sehat tanpa stress mempunyai kadar diurnal sesuai dengan rangsangan kortikotropin yang disekresi oleh kelenjar pituitaria. Pemberian kortikosteroid dosis tinggi didasarkan pada asumsi bahwa pemberian kortikosteroid dosis tinggi akan dapat menguatkan efek antiinflamasi untuk melawan efek proinflamasi yang tidak terkontrol. Efek kortikosteroid sebagai antiinflamasi1 Efek pada lipokortin: 1.. trauma.1. Cegah TNF dan IL-1 dilepas oleh sel mononuklear Efek pada netrofil: 1. Hambatan phospholipase A2 dan cegah aktivasi prostaglandin 3. Penggunaan kortikosteroid dosis rendah masih diharapkan bermanfaat karena dapat menurunkan efek kerusakan sistem imunologis dan menurunkan insiden No. Mekanisme feed back tidak bekerja maksimal sehingga variasi diurnal sekresi kortisol tidak normal. Kortisol dalam darah terikat dengan Corticosteroid Binding Globulin (CBG). Sitokin inflamasi juga dapat meningkatkan kortisol di jaringan karena sitokin ini dapat merubah metabolisme kortisol perifer dan meningkatkan afinitas reseptor glukokortikoid terhadap kortisol. Menurunkan waktu paruh mRNA IL-3 3.mengikat globulin Meningkatkan kortisol dan menurunkan kortikostenoid-mengikat globulin Sitokin.5 Pada tahun 1970-an beberapa penelitian menggunakan kortikosteroid dosis tinggi pada sepsis berat dan syok sepsis. Sekresi kortikotropin dirangsang oleh Corticotropin Releasing Hormone (CRH) yang berasal dari hipotalamus (gambar 3). 19.1. Stabilisasi lisosom neutrofil 2. Pada keadaan kadar sitokin yang rendah dalam darah jaringan akan lebih sensitif terhadap kortisol dibandingkan dengan keadaan sitokin tinggi yang akan menyebabkan terjadi resistensi. Pemberian terapi kortikosteroid jangka lama dapat menekan sekresi kortikotropin dan CRH akan menimbulkan atropi adrenal terutama jika mendapat hidrokortison 30 mg perhari selama lebih dari 3 minggu. Hasil-hasil penelitian ini sulit dievaluasi karena banyaknya data-data dan metode yang tidak valid. Hambat kemampuan netrofil untuk melepaskan metabolit oksigen aktif Efek pada interleukin: 1. Hal ini sering disebut sebagai functional adrenal insufficiency atau relative adrenal insufficiency artinya walaupun kadar kortisol tinggi tetapi belum cukup untuk menekan proses inflamasi. Perubahan membran sel pada pengikatan kalsium 4. Down egulasi sitokin dan growth factor 4. Menurunkan platelet-activating factor selama rangsangan endotoksin dapat mengontrol inflamasi.5%. Pada keadaan infeksi berat/sepsis.9 A Fungsi nonstres normal hipofisis andrenal Hipotalamus Corticotropin releasing hormonie Hipofisis Kortikotropin Kortikotropin Kortikotropin Sitokin anastesi. Proses inflamasi dikatakan dapat memecah ikatan CBG dengan kortisol oleh enzim neutrofil elastase. Gangguan pada mekanisme aksis hipotalamus-pituitaria-adrenal dikatakan disebabkan oleh banyaknya sitokin di dalam sirkulasi pada keadaan tersebut. Hambat sintesis NO eksogen 3. Pada keadaan ini juga terjadi penurunan CGB sehingga kortisol bebas akan semakin tinggi. Hal ini menandakan perlukan respon adrenal yang normal untuk Gambar 2.TINJAUAN PUSTAKA Tabel 1. Tetapi tingginya kadar sitokin inflamasi pada sepsis secara langsung dapat menghambat sintesis kortisol oleh adrenal. Pemberian kortikosteroid juga diharapkan dapat mengobati relative adrenal insufficiency yang biasanya terjadi pada pasien sepsis. 4. mendapatkan pada studi prospektifnya bahwa pemberian metilprednisolon 30 mg/kg berat badan (BB) atau deksametason 3 mg/kg BB diberikan 1 atau 2 kali dalam 24 jam dapat menurunkan angka kematian dari 38.10-13 Konsep Baru Pemakaian Kortikosteroid pada Terapi Sepsis Banyak studi mendapatkan bahwa pemberian kortikosteroid dosis tinggi pada sepsis tidak bermanfaat bahkan dapat merugikan karena dapat menimbulkan infeksi sekunder. kortikostroid Apoplexy hipofisis. Cegah hiperagregasi dan adesi lekosit oleh endotoksin Lain-lain: 1. Menormalkan respon inflamasi 4.Desember 2006 180 . Hambat sintesis IL-1 dan hambat IL-6 2. Cegah aktivitas kaskade koagulasi 2.4% menjadi 10. Hambat pelepasan enzim lisosom 3. antiinfeksi. Vol. luka bakar. kortikosteroid hemorrhage infeksi termasuk infutrasi HIV B Fungsi normal aksis hipotalamushipofisis-adrenal selama sakit Mengurangi asupan balik Kortikotropin melepaskan hormon Stress sitokin Pelepasan hormon kortikotropin C Fungsi normal aksis hipotalamushipofisis-adrenal selama sakit penyakit sistem saraf pusat. Aksis hipotalamus-pituitaria-adrenal Konsep Lama Pemakaian Kortikosteroid pada Terapi Sepsis Sejak tahun 1950 penggunaan kortikosteroid pada sepsis sudah diperdebatkan. di mana <10% dalam bentuk bebas. Oktober .

Annene D. Beberapa penelitian baru menunjukkan bahwa pemberian kortikosteroid dosis rendah. Corticosteroid for severe sepsis and septic shock: a systematic review and meta-analysis. Steroid for septic shock. Baik tinggi maupun rendahnya kadar kortisol endogen yang disekresi akan berhubungan dengan mortalitas yang terjadi pada penderita sepsis. 384:138-50 9. 38:464-72(abstract) 17. Am J Respir Crit Care Med 2003. Luce MJ. Bochud PY. Balk RA. mediators. Steroid in sepsis.15 Kelenjar adrenal mensekresi kortisol pada saat ada stressor seperti pada sepsis. Back from the dead?(Con). 167:485-9 14. 112:235-43 8. N Engl J Med 1999. Receptors. Hotchkiss RS. 123:490S-499S 15. and acute respiratory distress syndrome: time for a reevaluation. Pathogenesis of sepsis: new concepts and implications for future treatment. 123:482S-489S 6. Oktober .12-14. 4. 19. Karl IE. 348:727-34 10. Chest 2003. 4.17 Kesimpulan Sepsis adalah respon inflamasi sistemik akibat infeksi. perbaikan fungsi organ dan menurunkan mortalitas. Penelitian terbaru yang sedang berjalan dilakukan oleh Sprung dkk. et al. Deans KJ. Blood 2003. Sessler CN.28:232-5. BMJ 2003. Ann Intern Med 2004. terjadinya infeksi sekunder. A new role for glucocorticoid in septic shock. 101:3765-77 3. Coricosteroid insuffeciency in acutle ill patients.TINJAUAN PUSTAKA antiinflamasi.. Sementara menunggu hasil studi pemberian kortikosteroid dosis rendah hanya direkomendasi apabila didapatkan adanya adrenal insufisiensi pada sepsis. Mekanisme terjadinya sepsis masih merupakan mekanisme yang tidak sepenuhnya jelas. Grodzin CJ. Physician should administer low dose corticosteroid selectively to septic patients untill an ongoing trial is completed.Desember 2006 181 . Consensus conference definitions for sepsis septic shock. N Engl J Med 1997. sedangkan terapi kortikosteroid dosis selama 5-7 hari dapat meningkatan umur harapan hidup. Pengobatan kortikosteroid masih merupakan kontroversi. acute lung injury. Pemberian kortikosteroid dosis rendah dikatakan lebih memberikan manfaat tetapi masih belum disepakati. Meta-analysis: the effect of steroid on survival and shock during sepsis depends on the dose. Clin Microbiol R 2003. Terapi ini menjadi rasional karena dianggap pada keadaan sepsis terjadi relatif defisiensi adrenal. DeJong FH. 141:47-56 12.11. Steroid for septic shock. dapat memperbaiki kondisi syok dan meningkatkan respon vaskular terhadap vasopresor. Sepsis: a new hypothesis for pathogenesis of the disease process.14. 326:262-6 5. Sepsis merupakan kombinasi kompleks peningkatan respon inflamasi. dan genetik. Stewart. Bruining HA. BMJ 2004. 337:1285-92 11. Abraham E. Bornstein SR. Lamberts SW. Banks SM. dalam studi yang disebut CORTICUS akan menjawab pertanyaan penggunaan steroid pada sepsis. 7:129-33 2. VanAmersfoort ES. Bone RC. dosis fisiologis dapat mengembalikan stabilitas hemodinamik. Ann Intern Med 2004. et al. Manfaat dari kortisol adalah dapat sebagai antiinflamasi (menghambat sekresi sitokin dan migrasi sel radang) dan efek kardiovaskularnya dapat menghambat rangsangan sintesis Nitric Oxide (NO) dan meningkatkan respon vasokonstriksi vaskular terhadap katekolamin. Calandra. VanBerkel TJ. Dinarello CA. Vol. Back from the dead?(pro). Matthay MA. N Engl J Med 2003. peningkatan respon Daftar Pustaka 1. 16:379-414 16. N Engl J Med 2003. Chest 2003. Chacko J. Balk RA. Crit Care & Shock 2004. Pharm B. The role of the endothelium in severe sepsis and multiple dysfunction syndrome. 340:207-14 7. Bernard GR. and mechanism involved in bacterial sepsis and septic shock. Minneci PC. 141:70-2 13. Aird WC. Pemberian kortikosteroid dosis tinggi didasarkan pada asumsi bahwa pemberian kortikosteroid dosis tinggi akan dapat menguatkan efek antiinflamasi untuk melawan efek proinflamasi yang tidak terkontrol. 329:480 No. Annals Pharm 2004. Crit Care Med 2000. Wheeler AP. Bellisant E. Kuiper J. Terapi ini sering disebut sebagai terapi fisiologi/replacement dari kortikosteroid. Treating patients with severe sepsis. Corticosteroid therapy in severe illness. Role of corticosteroids in septic shock. The pathophysiology and treatment of sepsis.5 Metaanalisis terakhir oleh Minneci mendapatkan bahwa terapi kortikosteroid dosis tinggi dalam waktu pendek dapat menurunkan harapan hidup. Bollaert PE.16 Pemberian kortikosteroid dosis tinggi tidak dianjurkan karena lebih banyak merugikan. Burry LD. Chest 1997. Cooper MS. et al.

Hal ini di samping karena jumlah kasus yang memang meningkat. Pada beberapa keadaan seperti adanya trauma lokal. juga disebabkan karena perbaikan dalam menegakkan diagnosis dan meningkatnya kepedulian pasien. 19.000 di tahun 1970-an menjadi 200.TINJAUAN PUSTAKA Patogenesis dan Respon Imun Tubuh terhadap Infeksi Virus Herpes Simpleks Ary Widhyasti Bandem. Vol. seroprevalensi VHS-2 pada penduduk Amerika Serikat yang berusia di atas 12 tahun sebesar 21.9% dari 45 juta penduduk yang terinfeksi. Saat ini secara nasional di Amerika Serikat dideteksi VHS-2 positif pada 1 dari 5 orang yang berusia di atas 12 tahun. demam. yaitu VHS-1 dan 182 No. diharapkan dapat membantu menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan yang lebih tepat untuk penderita HG. Kata kunci: Herpes genital. Satiti Retno Pudjiati Bagian/SMF Ilmu Penyakit Kulit Kelamin Fakultas Kedokteran UGM/RS Dr. Sardjito Yogyakarta Abstrak.9 Pada tahun 1988-1994. rekuren dan bahkan asimptomatis sehingga dengan mudah dapat menular kepada orang lain. menuju ganglion sakralis (S2-S4). VHS juga menginfeksi sel saraf sensoris. VHS ini mengalami reaktivasi. Manifestasinya dapat ringan maupun berat pada penderita imunocompromise sehingga penting untuk diketahui patogenesis dan respon imun tubuh terhadap infeksi VHS. Pada makalah ini akan dibahas mengenai karakteristik VHS. respon imun Pendahuluan erpes Genitalis (HG) adalah infeksi genital yang disebabkan oleh virus herpes simpleks (VHS) ditandai secara klasik dengan timbulnya erupsi papulovesikular dengan dasar eritema pada kulit. Virus Herpes Simpleks merupakan virus DNA dari famili Herpesviridae dan menginfeksi epitel mukokutan secara inokulasi langsung melalui lesi abrasi. patogenesis.Desember 2006 . dan paparan sinar ultraviolet. Sejak tahun 1960 dikenal ada dua serotipe.10 Manifestasi klinis HG bervariasi. patogenesis infeksi VHS pada mukokutan. Infeksi HG dapat berupa infeksi primer. patogensis infeksi VHS pada mukokutan. Pada tulisan ini akan diuraikan tentang karakteristik VHS. dan bahkan infeksi dapat tidak dirasakan penderita (asimptomatis) tetapi terjadi viral shedding yang dapat menularkan kepada orang lain. maka diperlukan pemahaman yang lebih baik tentang patogenesis dan respon imun tubuh terhadap infeksi VHS. 4. rekureni yang tinggi dan komplikasi berat pada penderita imunocompromise. karakteristik. Dengan demikian. diagnosis HG serta respon imun tubuh terhadap infeksi VHS baik yang bersifat alamiah dan adaptif.000 di tahun 1990. Karakteristik VHS Virus herpes simpleks tergolong ke dalam virus Herpes tipe alfa yang mempunyai sifat neurotropik dan replikasi virus yang relatif cepat serta dapat menginfeksi berbagai sel pada kultur. menstruasi. Pada saat terjadinya infeksi di mukokutan. serta kesembuhan permanen yang tidak pernah terjadi. stres emosi. Infeksi HG prevalensinya makin meningkat dan memudahkan transmisi infeksi HIV maupun penyakit menular seksual lainnya.6 VHS-1 sebagai penyebab HG di Amerika Serikat H telah didapatkan meningkat sampai 20% dan disebabkan karena dari hubungan oral-genital. secara axonal kembali ke mukokutan dan memberikan gambaran klinis sebagai infeksi rekuren. diagnosis.11-13 Manifestasi klinis yang bervariasi. infeksi rekuren. diagnosis HG serta respon imun tubuh terhadap infeksi VHS baik yang bersifat alamiah dan adaptif. selanjutnya menetap sebagai infeksi laten.1-8 Prevalensi HG di Amerika Serikat meningkat dari 100. dikenal dengan infeksi primer. Oktober . Tentunya transmisi ini berbahaya apalagi dengan adanya infeksi HG juga memudahkan transmisi HIV ataupun penyakit menular seksual lainnya. Herpes genital (HG) disebabkan oleh virus herpes simpleks (VHS) yang bermanifestasi sebagai papule vesicle yang dengan mudah menjadi ulkus dangkal pada genital. dan pada mukosa dengan mudah menjadi ulkus dangkal.

Antara nukleokapsid dan amplop dipisahkan oleh tegumen. ruang perinuclear dan akhirnya virion ditransfer melalui retikulum endoplasma dan apparatus golgi ke permukaan sel. Saat infeksi inisial. gG1 untuk VHS-1 dan gG2 untuk VHS-2.14. Bila sel mengalami lisis akan terlihat sebagai vesikel pada lapisan epidermis dan dermis. Virus memasuki sel secara fusi dimulai dengan glikoprotein amplop VHS mengikat reseptor spesifik sel pejamu.3 VHS mempunyai genom yang linier.1 No. yaitu heparin sulfat permukaan sel. Setelah replikasi genom virus dan pembentukan protein struktural virus. nekrosis sel setempat dan degenerasi balon pada sel yang terinfeksi. dikelilingi selubung protein dan amplop lipid. Nukleokapsid ditransfer ke inti sel pejamu melewati sitoplasma. Setelah terjadi fusi amplop virion dengan membran sel pejamu. Enzim virus ini berbeda dengan enzim sel yang terinfeksi dan menjadi dasar penghambat obat antivirus. termasuk virus timidin kinase. Cairan vesikel mengandung depris sel. maka diperlukan pemahaman yang lebih baik tentang patogenesis dan respon imun tubuh terhadap infeksi VHS. nukleokapsid di susun di inti sel pejamu. Akan tetapi kedua strain ini dapat dijumpai pada tempat yang sebaliknya. diharapkan dapat membantu menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan yang lebih tepat untuk penderita HG. Kelompok gen VHS yang ketiga adalah gen gamma yang dibutuhkan untuk replikasi DNA. Pada mukosa tidak terbentuk krusta tetapi mudah menjadi ulkus dangkal. Secara signifikan didapatkan adanya reaktivitas silang pada antibodi yang terbentuk di antara kedua tipe virus tersebut. Replikasi virus dalam jaringan saraf terbatas tetapi mempunyai kemampuan untuk migrasi 183 Manifestasi klinis yang bervariasi. Seluruh siklus replikasi ini membutuhkan waktu 12-16 jam. Dengan demikian. dari 56 glikoprotein pada VHS tersebut. atau gen beta yang merupakan protein regulator dan enzim yang diperlukan untuk replikasi DNA. serta kesembuhan permanen yang tidak pernah terjadi. Oktober . virus secara asenden mencapai neuron sensoris perifer dan mengalami latensi pada ganglia saraf sensoris maupun autonom serta mempunyai hubungan permanen antara virus dengan pejamu. fasial dan okular sedangkan strain VHS-2 dari lesi genital dan dari bayi baru lahir yang terinfeksi lewat jalan lahir.Desember 2006 . double stranded DNA. yaitu untuk ekspresi dan penggantian protein struktural virus. VHS-2 menginfeksi pejamu di mukosa genital dan mengadakan replikasi dalam sel epitel.TINJAUAN PUSTAKA VHS-2.2. Early genes atau gen alfa diperlukan untuk sintesis kelompok polipetida. Kedua strain ini sulit dibedakan dari patogenesisnya.14-16 Genom VHS juga menyandi sejumlah protein non-struktural yang penting untuk replikasi DNA virus. diikuti degenerasi selular inti sel parabasal dan sel intermediate. Infeksi virus menyebabkan degenerasi balon dengan kromatin yang padat di dalam inti sel. rekureni yang tinggi dan komplikasi berat pada penderita imunokompromais. Genom virus mengkode 50 protein virus spesifik termasuk 5-6 glikoprotein spesifik yang dipresentasikan pada permukaan virus dan pada permukaan sel yang terinfeksi virus. Pembentukan amplop melalui budding melewati membrana inti. dan multinucleated giant cell. 4. Secara klinis tampak lesi vesikular di atas kulit eritem dan secara mikroskopis dijumpai multinucleated giant cells. terjadi uncoating (selubung VHS lepas). sel-sel inflamasi. 19. Sel yang terinfeksi kehilangan kontak dengan plasma membran dan membentuk multinucleated giant cells. Virion VHS terdiri dari inti DNA. hanya satu dari glikoprotein permukaan ini yang bersifat spesifik. dengan ukuran 160 x 103 kDa. Beberapa protein tersebut menghentikan sintesa protein pejamu dan yang lainnya menghidupkan transkripsi early-genes untuk replikasi VHS. ribonukleotida reduktase dan alkaline DNase. dan akhirnya genom (DNA) VHS ditransfer ke inti sel pejamu.2.15 Replikasi VHS dalam sel epidermis dan dermis menghasilkan kerusakan sel dan inflamasi.1. Genom VHS-1 dan VHS-2 mempunyai 50% sekuen nukleotida yang sama (homolog) sedangkan 50% lainnya berbeda. kapsid ikosahedral berdiameter 100 nm dengan permukaannya ditutupi Patogenesis VHS masuk ke dalam tubuh manusia untuk pertama kali (infeksi inisial. sedangkan untuk entry dan terpenting dalam menginduksi antibodi netralisir terhadap virus adalah glikoprotein D. beberapa protein virus dilepaskan dari virion VHS. hanya disebutkan bahwa VHS-2 lebih sering menimbulkan infeksi rekuren pada daerah genital daripada oral dan demikian sebaliknya. 162 kapsomer serta dibatasi oleh amplop yang mengandung lipid. Pada infeksi inisial penyebaran infeksi virus dapat melalui sistem limfatik ke limfonodi regional. DNA polimerase. infeksi primer) melalui kontak virus dengan mukosa atau lesi abrasi.8. Vol. VHS terdeteksi di neuron ganglion 2 hari setelah infeksi. Glikoprotein VHS ditemukan ada 11 dan yang berfungsi sebagai attachment pada hospes adalah glikoprotein B dan C.15-17 Pada model binatang percobaan. virus melakukan replikasi dalam jumlah sangat terbatas dan transkripsi yang terjadi dikenal dengan LAT (latentcy associated transcripts). Strain VHS-1 umumnya diisolasi dari labia. Saat latensi di ganglion dorsalis. Pada lapisan subdermis terjadi respon inflamasi yang intens dan penyembuhan pada kulit di mulai dengan vesikel menjadi pustul dan akhirnya menjadi krusta.

Substansi-substansi ini mengaktifkan endotel kapiler. karena sel T (CD8) tidak merusak neuron yang mempunyai regenerasinya memang lambat. diatasi oleh respon imun adaptif yang diperankan oleh sel T sitotoksik (CD8).13 Respon imun alamiah (innate) yang paling berperan terhadap infeksi virus adalah interferon tipe I (IFN) dan dimediasi oleh sel NK. virulensi strain VHS dan status imun penderita. Sel NK mengenali sel yang terinfeksi karena tidak terekspresikan MHC kelas I. Antibodi netralisir menghambat terjadinya infeksi virus dan penyebaran virus dari sel ke sel. mempresentasikan MHC (Major Histocompability Complex). 4. atau sel NK (natural killer). Hal ini akan mencegah transporter menangkap peptida sitosolik yang dibawa ke dalam retikulum endoplasma untuk pengikatan molekul kelas I. Replikasi virus mengaktifkan komplemen. Vol. Dengan demikian MHC kelas I tidak terekspresikan sehingga sel terinfeksi tersebut tidak dikenali oleh sel CD8. yaitu dengan menghasilkan protein ICP-47 yang mengikat pada TAP (transporter associated within antigen processing). Substansi tersebut pula yang mengaktifkan sel dentritik dan makrofag residen untuk mempresentasikan patogen. sehingga hanya sedikit pula yang dipresentasikan sebagai MHC kelas I. Sekresi tersebut mengandung pula komplemen dan IgM alamiah yang akan mengurangi jumlah sel yang terinfeksi akan tetapi bila virus dapat menembus pertahanan ini tubuh berespon dengan stimulasi respon imun alamiah lainnya.10.20 Untuk virus yang dapat masuk ke dalam sel pejamu (intraseluler). Virus Herpes Simpleks tetap mengadakan upaya untuk menghindarkan diri dari pengenalan oleh CD8. infeksi dan trauma pada neuron yang terinfeksi. Sehingga pemberian vaksinasi ataupun imunitas humoral yang terbentuk dari infeksi sebelumnya hanya dapat memproteksi dengan mencegah terjadinya infeksi tetapi tidak dapat mengeliminasi infeksi virus yang telah terjadi. tanpa gerak) dan peptida yang dihasilkan sedikit. terjadi influks neutrofil. Sel dentritik imatur memakan antigen atau partikel VHS dan mengantarkan ke limfonodi regional untuk aktivasi sel T sebagai permulaan respon imun adaptif. tergantung dari jumlah virus yang mengalami replikasi.Desember 2006 . immunsupreisan. Pada keadaan tertentu virus dapat menjadi aktif. Akan tetapi tubuh mengatasi hal ini dengan adanya sel NK yang dapat berespon melawan sel terinfeksi virus tersebut walaupun tidak mengekspresikan MHC kelas I. (bagan pathway class I MHC). tetapi bila virus dapat masuk ke dalam sel.18-21 Respon imun adaptif dimulai dengan adanya sel dentritik membawa antigen atau partikel virus ke limfonodi. Efek antiviral CD8 dengan cara melisiskan sel yang terinfeksi dan aktivasi enzim nuklease di dalam sel terinfeksi sehingga genom virus terdegradasi dan tersekresi sitokin dengan aktivitas IFN. Antibodi antiviral ini berfungsi sebagai antibodi netralisir yang mencegah attachment dan entry ke dalam sel pejamu. Antibodi netralisir ini menyatu dengan amplop virus atau antigen kapsid.3 Reaktivasi dan replikasi VHS laten (infeksi rekuren) terjadi karena adanya stimuli multipel seperti dengan adanya pajanan sinar ultraviolet. pertama kali direspon tubuh pejamu melalui barier mekanis. flora normal dan glikokaliks.13. yaitu saat virus akan masuk ke dalam sel pejamu atau saat virus berada di luar sel. demam. Sel NK juga merupakan mediator utama dalam antibodydependent cellular cytotoxicity (ADDC). Sel NK melisiskan sel yang telah terinfeksi dan berperan penting sebelum terbentuknya respon imun yang adaptif. Pada penderita yang imunokompeten replikasi virus ini terkendali dan terjadi penyembuhan (reepitealisasi). IFN gamma mengaktifkan sel NK dan memfokuskan sel ini pada tempat infeksi. menuju ke sel epidermis yang diinervasi saraf terinfeksi tersebut dan mengadakan replikasi sehingga siklus berulang kembali dan menjadi infeksius yang 184 No. 19. Oktober . Sel neuron sensoris tetap terinfeksi namun virus dalam keadaan quiescent (diam.15 Respon Alamiah dan Adaptif Tubuh terhadap Infeksi VHS Virus adalah mikroorganisme obligat intraselular dan saat masuk ke dalam sel epitel. mensekresikan sitokin dan menstimulasi sel T untuk berdiferensiasi menjadi sel Th1 dan Th2.sel ini berusaha untuk memfagositosis partikel virus dan sel-sel yang terinfeksi. Antibodi berperan saat virus berada di ektraseluler. Antibodi berfungsi sebagai antiviral dengan atau tanpa bantuan komplemen. monosit dan sel pembunuh alami. Sel-sel ini melewati kapiler endotel yang teraktifasi dan mengikuti kemokins di tempat yang terinfeksi. Saat sel dentritik keluar dari mukosa yang terinfeksi. Keadaan ini menguntungkan. saat sel pejamu lisis akibat efek sitopatik virus. Sel T (CD8) mengenali sel terinfeksi karena adanya presentasi antigen oleh sel panyaji antigen. stimulasi kemokins dan interferon (IFNab).19. antibodi sudah tidak berperan. menjadi bocor (leaky) dan mengekspresikan molekul adesi. yaitu sitotoksisitas sel yang tergantung antibodi. Sel NK aktif dapat terdeteksi 2 hari setelah infeksi virus.TINJAUAN PUSTAKA kembali ke akson dekat tempat inokulasi awal sehingga dapat memperjelas luasnya area permukaan yang terlibat pada infeksi primer. Sel. dengan adanya mukus.20 Pada fase laten. virus di neuron tidak melakukan replikasi dan tidak menimbulkan penyakit (infeksius). Gejala yang timbul lebih ringan dibandingkan infeksi inisial. Sel yang terinfeksi virus secara langsung memproduksi IFN dan menginduksi sel yang belum terinfeksi virus ke dalam antiviral state (keadaan di mana sel-sel pejamu mendapatkan kekebalan terhadap infeksi virus). yaitu adanya ekspresi MHC kelas I. misalnya pada genitalia wanita. Reaktivasi dan replikasi virus dapat terjadi secara periodik pada penderita asimtomatis dan pada fase ini virus dapat dideteksi walaupun tanpa gejala dan tanda dari penyakit. Virus diantarkan di kulit kembali melalui saraf sensoris tepi dan mengadakan replikasi lagi di epidermis. Diferensiasi sel CD8 juga memerlukan sitokin yang dihasilkan oleh sel CD4 T helper.13 Respon imun adaptif diperankan oleh antibodi dan sel limfosit sitotoksik. Ini dikenal dengan mekanisme shutt off MHC kelas I. Neuron yang tidak mengekspresikan MHC kelas I membuat sel T sitotoksik (CD8) tidak mengenalinya.

Herpes Western Blot merupakan baku emas dalam mendeteksi antibodi terhadap VHS dan dengan pemeriksaan ini dapat membedakan VHS-1 dan atau VHS-2. Oktober . disuria. melihat efek sitopatik pada sel epitel. yaitu Herpes Western Blot. Sel membesar. akan tetapi dapat pula disertai nyeri menusuk pada pantat. 90% didahului adanya gejala prodromal sebelum timbul erupsi.17.23 Diagnosis 1.24 Gambaran klinis herpes genitalis rekuren lebih terlokalisasi di genital area. Vol. malaise dan myalgia).5 sampai 48 jam. akan tetapi dapat pula disertai nyeri menusuk pada pantat. Sampel sebaiknya diambil pada awal penyakit dan tidak melewati fase erupsi vesikuler. 90% didahului adanya gejala prodromal sebelum timbul erupsi.5 sampai 48 jam.26-29 Pemeriksaan EIAs (enzyme-linked immunosorbent assays) berdasarkan deteksi glikoprotein yang spesifik seperti glikoprotein G meningkatkan sensitivitas dan spesifitasnya menjadi 93-98%. Pada infeksi primer sensitivitasnya 74% dan 50% pada infeksi rekuren. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang sangat diperlukan bila secara klinis tidak menunjukkan gejala dan tanda khas (klasik) apalagi pada herpes genitalis dapat bersifat asimtomatis sehingga penderita tidak menyadari menjadi sumber penularan. Pemeriksaan Tzanck mempunyai sensitivitas yang rendah dan tidak dapat membedakan VHS-1 dan VHS-2 ataupun virus varisela-zoster.10 Penderita yang mengalami infeksi primer (baik infeksi VHS1 atau VHS2) mengalami gejala penyakit yang lebih berat dibandingkan yang secara klinis ataupun serologis telah terinfeksi VHS-1 sebelumnya. gatal. Dengan demikian tes ini dapat mengetahui adanya serokonversi awal VHS2 pada penderita yang sebelumnya terinfeksi VHS-1. Lesi klasik dimulai dengan makula dan papul yang berkembang menjadi vesikel. Pemeriksaan ini berdasarkan amplifikasi DNA VHS dan hasil dapat diketahui dalam 2 hari. Pada infeksi rekuren. Virus ini dapat diisolasi dalam berbagai sel.25 Deteksi antigen VHS dapat dilakukan dengan metode PCR (polymerase chain reaction) walaupun penggunaannya masih terbatas untuk penelitian. Gejala nyeri. lesi genital yang multipel dan disertai lesi ektragenital.24. Kekurangan pemeriksaan ini adalah harganya mahal. pustul dan ulkus. paha dan pinggang yang dapat berlangsung 1-5 hari sebelum timbal erupsi.22. dengan intranuclear inclusion dan sering terjadi fusi sel yang memberi gambaran multinucleated giant cell.26. tidak tersedia secara komersil (University of Washington. 4.4. HEp2 (berasal dari karsinoma laring manusia) dan A549 (karsinoma paru manusia). gatal lebih ringan dibandingkan pada infeksi primer. Amerika Serikat) dan masih memerlukan 2-5 hari untuk mengetahui hasil.15. Gejala prodromal hanya berupa rasa tingling selama 0. Gejala lokal antara lain: nyeri.26.27 Saat ini juga tersedia pemeriksaan yang dapat dipakai mendeteksi antibodi secara lebih cepat dan dapat dipakai langsung di klinik. nyeri kepala. paha dan pinggang yang dapat berlangsung 1-5 hari sebelum timbul erupsi. 2. Kulit akan menjadi krusta sedangkan pada mukosa terjadi ulkus dangkal. ginjal kelinci. Gejala prodromal hanya berupa rasa tingling selama 0. Hal ini disebabkan karena pada infeksi berikutnya sudah terbentuk antibodi spesifik dan infeksi VHS-1 dapat memberikan proteksi parsial terhadap infeksi VHS-2.TINJAUAN PUSTAKA disebut infeksi rekuren. Tes ini diproduksi oleh Focus Technologies.27 Tes Tzanck (pemeriksaan sitologi) bertujuan untuk No. Test ini masing-masing untuk VHS-1 dan ada untuk VHS-2. seperti sel embrionik paru manusia. dan pembengkakan limfonodi inguinal. Sel yang terinfeksi virus banyak didapatkan pada tepi dan di dasar lesi. Pada infeksi primer disertai dengan adanya gejala sistemik (demam.28 Pemeriksaan penunjang secara indirek (serologis) saat ini ada 3 macam yang telah disetujui oleh FDA (Food and Drug Association). Contoh yang telah mendapatkan persetujuan FDA dan khusus untuk mendeteksi antibodi terhadap VHS-2 adalah POCkit HSV-2 Rapid Test (Diagnology Incoporation) yang mempunyai sensitivitas 96% 185 . discar uretra atau vagina. 19. Manifestasi klinis Gambaran klinis HG primer dan HG rekuren sangat berbeda.Desember 2006 Pada infeksi rekuren. Kultur viral dan viral typing masih merupakan baku emas dalam mendiagnosis infeksi herpes dengan spesifisitas 100% akan tetapi sensitivitasnya tergantung dari episode infeksinya. dengan nama ELISA Kits dan Immunoblot Kit. VHS adalah virus yang tumbuh cepat dan memperlihatkan efek sitopatik pada kultur sel dalam 24 jam. Metode ini mempunyai spesifisitas dan sensitivitas yang lebih tinggi dari kultur. durasi penyakit lebih lama (bisa sampai 20 hari).18.24. Herpect Select (Elisa dan Immnublot Kit) dan POC Rapid Test.

Virus yang berada di ekstraselular dihambat oleh INF dan antibodi netralisir sedangkan yang berperan dalam menghambat virus intraselular adalah sel NK dan sel CD8 sitotoksik. 2nd edition.555-68 22. 19. 350:1970-7 11. 4th ed. Patel R. In: Moschella SL and Hurley HJ (eds). Oktober . In: Mahon CR (eds). 20th ed. Journal of Antimicrobial Chemotherapy 2001.2389-2394 28. In: Holmes KK. natural history and management of genital herpes.235-42 20. et al. Semua tes ini direkomendasikan untuk dikerjakan 12-18 minggu setelah paparan VHS. 1992. Clinical Infectious Diseases 1998.31 Tes serologis berguna pada penderita dengan manifestasi klinis yang tidak klasik (konfirmasi diagnosis).p. Roitt I.p. Mardh PA. Seroprevalence and co infection with herpes simples virus type 1 and type 2 in the United Status. Philadelphia:WB Saunders Company.346-55 7. et al. 2001. Respon imun pada penderita dengan infeksi VHS terdiri dari respon imun alamiah dan adaptif. 26:541-55 17.p. New York:CRP Press. In: Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. 1999. 4th ed. In: Holmes KK. 62(8):1119-29 18.425-65 24. Wolff K. 3rd ed. atau penderita dengan partner dengan riwayat herpes. 337:1158-9 12.205-11 23. Anogenital herpes. 42:1-14 30. Wolff K. Pathogénesis of sexually transmitted viral and bacterial infections. 1995. The Journal Infectious Diseases 2002. New York:McGraw-Hill. Melnick and Adelberg’s.Desember 2006 . How effective is antiviral therapy? J Perinat Neonat Nurs 2004. Davison VE and Alderson GL. Roe VA. In: Jawets. and Roizman B. New York:McGraw-Hill. 1999.874-81 10. Corey L and Wald Ann. Genital herpes. Lowy. 2000. Xu F. 18(3):206-15 13. et al. N Engl J Med 2004. Akan tetapi infeksi VHS tetap dapat berlangsung seumur hidup karena selalu adanya upaya penghindaran VHS terhadap sistem imun pejamu. 2001. Sexually Transmitted Diseases. London: Bailleire Tindall. In: Clinical Dermatology.p. Mini review: New developments in the epidemiology. N Engl J Med 1997. Stanberry L. Wald A and Asley-Morrow R. Austen KF. Hanahan AP and Stender SC. et al. Mardh PA. Mary Norval. 1990. and Pober JS. Eisen AZ.283-305 19. Edinburgh:Mosby.343-62 21. Lemon SM and Sparling PF.p.p.com 26. 28(11):34-40 31.(eds). 2001. et al. 2nd ed. Herpes simplex. Pemeriksaan penunjang sederhana yang dapat dikerjakan adalah tes Tzanck dengan menemukan multinucleated giant cell sedangkan secara serologis dengan pemeriksaan Herpes Western Blot. 1995. Sexually Transmitted Diseases. et al. Dermatology in General Medicine.30. New York: Garland Publishining. Review innate immunity to herpes simples virus type 2. Duerst RJ and Morrison LA. Mechanisms of immunity to viral diseases. New York: McGraw-Hill.TINJAUAN PUSTAKA dan spesifisitas 87-98%. Whitley RJ. 6th ed. Genital herpes: Review of the epidemic and potensial use of type-spesific serology..285-306 4. Herpes simples virus. Berat ringannya penyakit yang diakibatkan virus ini tergantung oleh respon imun tubuh dalam usahanya mengeliminasi virus. 9th ed. Herpes genital masih merupakan penyakit menular seksual yang tidak dapat sembuh permanen. Berger TG.15. Lichtman AH. 4th ed. et al. 1985. DR. Cunningham A. Clinical virology.(eds).p. Bellanti JA. 2004. Skin Immune System (SIS).18 Tes ini lebih cepat hasilnya karena memerlukan hanya kurang dari 10 menit dan darah diambil dari tusukan jari saja. In: Bos JD (ed). Herpes simplex. and Odom RB (eds). Mardh PA. Daftar Pustaka 1. Drugs 2002. Diakses melalui internet http:// search epnet.p. 186 No.30. In: Andrew’s Diseases of the Skin. Schillinger JA. Herpes simplex virus: Genital infection. In: Freeberg IM. Mark HD. Morrison LA. 2001. Vol. Immunobiology. et al. The Nurse Practioner 2003. Immunity to microbes. New York:McGraw-Hill. Sexually Transmitted Diseases. In: Medicine International. International Edition. WB Saunders. 4th ed. Crumpacker CS.p. Biology of herpesviruses. Immunity to viruses. James WD. Brooks GF. In: Janeway (ed). Male D.p. Genital Herpes. Cowan FM. Sparling PF. 4th ed. National guidelines for management of genital herpes. Antiviral Research 1999. Viral diseases: General considerations.(eds). et al. 1999. In: Immunology III. Kimbelin DW. Herpes viruses. Johnson RA.p. 1999. Failure of host defence mechanism.269-78 3. 1997. Butel JS. Viral Immunology 2003. Vaccine against genital herpes. Clinical Microbiology Review 1999. Walport M. Surmond D. Ashley RL and Wald A. Patrick TB. Textbook of diagnostic microbiology. Living with genital herpes. Medical Microbiology. 185:1094-24 25. A persistent problem. baik selular maupun humoral. Philadelphia:WB Saunders Company.47:9-16 29. Travers P.(eds). 16(4):475-90 16. untuk skrining pada yang orang yang berisiko tinggi terinfeksi VHS seperti pada penderita HIV. 12(1):1-8 14. 4th ed. London:Mosby. New York:McGraw-Hill. Brostoff J. 1999.796-826 27.791-6 8. Sparling PF. Vol 36. 3rd ed. Genital herpes. 358-67 15.p. Philadelphia:WB Saunders Company. VHS sebagai penyebab herpes genital menginfeksi tubuh melalui lesi abrasi yang secara klinis dapat ditegakkan dengan dijumpai lesi papul vesikel yang menjadi ulkus dangkal pada area genital. 4. In: Freeberg IM. Herpes simplex.2414-25 2. Sparling PF. Pertel PE and Spear PG. Stenberg MR. Sexually Transmitted Diseases. Viral infection. 3rd ed. 3rd ed.473-82 6. penderita dengan penyakit menular seksual lainnya. Philadelphia. Philadelphia:Saunders Co. Heaton CL. London: Prentice International Hall.p. Genital herpes simplex. Herpes simplex virus type 2: An update. and Ornston LN. Barton S. et al.p.p. In: Holmes KK. In: Cellular and Molecular Immunology.p. Abbas AK. Habib TP. 1996. Clinical Infectious Diseases 2002. karena pada saat itu telah melewati window period dan telah terbentuk antibodi. Eisen AZ.80-2 9.129-51 5. Brown D. 1988-1994. The importance of diagnosing genital herpes. Kimberlin DW and Rouse DJ. 35:S173-82 Kesimpulan Virus herpes simpleks (VHS) adalah virus double standed DNA yang terdiri dari dua serotipe VHS1 dan VHS2.(eds) Dermatology in General Medicine.p.31 p. Herpes simplex virus type 2. Mertz G.16. In: Immunology. Dermatology. A Textbook of Genitourinary Medicine. Herpect Select (Elisa dan Immunublot Kit) dan POC Rapid Test. In: Csonka and Oates (eds). Cusini M and Ghislanzoni M. Arvin AM. Oates JK. Janeway CA. Serological testing for herpes simplex virus (HSV)-1 and HSV-2 infection.

Bali Abstrak. mengingat belum ditemukannya vaksinasi dan terapi imunologis yang efektif untuk infeksi cacing tambang. ceylanum yang diduga menyebabkan enteritis eosinofilik pada manusia. Vol. americanus). yaitu creeping eruption akibat cutaneus larva migrans.4.5 Sampai saat ini infeksi cacing tambang masih merupakan salah satu penyakit tropis terpenting.2 Penyakit akibat cacing tambang lebih banyak didapatkan pada pria yang umumnya sebagai pekerja di keluarga. terutama di Asia dan subsahara Afrika. 4. Selain itu infeksi cacing tambang juga merupakan penyebab hipoproteinemia yang terjadi akibat kehilangan albumin karena perdarahan kronik pada saluran cerna. diagnosis.3 Selain kedua spesies tesebut.2 Kedua spesies ini termasuk dalam famili Ancylostomidae dari filum Nematoda. Setelah 24 jam telur akan berubah menjadi larva tingkat pertama (L1) yang selanjutnya berkembang menjadi larva tingkat kedua (L2) atau larva rhabditiform dan akhirnya menjadi larva tingkat ketiga (L3) yang bersifat infeksius. 19. Hal ini terjadi karena kemungkinan paparan yang lebih besar terhadap tanah terkontaminasi larva cacing. Infeksi cacing tambang masih menjadi masalah kesehatan yang besar di Indonesia karena merupakan salah satu penyebab utama anemia defisiensi besi. Larva tingkat ketiga disebut sebagai larva filariform.1.5 Larva filariform kemudian menembus kulit terutama kulit tangan 187 No. menempatkan infeksi cacing tambang di atas tripanosomiasis.Desember 2006 . duodenale dan N. caninum yang ditemukan pada berbagai jenis karnivora dengan manifestasi klinik yang relatif lebih ringan. braziliense dan A. demam dengue. Infeksi N. americanus lebih luas penyebarannya dibandingkan A.2. duodenale. Dan juga menyebabkan kekurangan protein. SI Biran** * Bagian / SMF Ilmu Penyakit Dalam ** Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Bagian/SMF ilmu Penyakit Dalam FK UNUD/RS Sanglah Denpasar . Pengenalan dan pemahaman akan penyakit yang “sederhana” ini serta pengkajian terapinya diharapkan akan membantu para klinisi untuk dapat melakukan pencegahan dan diagnosis.2 Siklus Biologis Cacing Tambang Cacing tambang jantan berukuran 8-11 mm sedangkan yang betina berukuran 10-13 mm. duodenale) dan Necator americanus (N. hambatan tumbuh kembang balita dan penurunan kecerdasan anak usia sekolah serta produktivitas kerja orang dewasa.2 Diperkirakan terdapat 1 miliar orang di seluruh dunia yang menderita infeksi cacing tambang dengan populasi penderita terbanyak di daerah tropis dan subtropis. anemia. Kata kunci: Infeksi cacing tambang. schisostomiasis dan lepra.1 Infeksi A. pencegahan Pendahuluan nfeksi cacing tambang pada manusia terutama disebabkan oleh Ancylostoma duodenale (A. Pada akhirnya infeksi ini dapat menyebabkan gangguan pada neonatus. penyakit chagas. Proses perubahan telur sampai menjadi larva filariform terjadi dalam 24 jam. Terdapat juga infeksi A. americanus merupakan penyebab terpenting dari anemia defisiensi besi. Anemia defisiensi besi dan hipoproteinemia sangat merugikan proses I tumbuh kembang anak dan berperan besar dalam mengganggu kecerdasan anak usia sekolah.1.3. Cacing betina menghasilkan telur yang keluar bersama feses pejamu (host) dan mengalami pematangan di tanah. Penurunan produktivitas sebagai indikator beratnya gangguan penyakit ini.TINJAUAN PUSTAKA Infeksi Cacing Tambang Mangatas SM Manalu*. dilaporkan juga infeksi zoonosis oleh A. Oktober . dan spesies ini juga merupakan penyebab utama infeksi cacing tambang di Indonesia.

serta spesies cacing tambang dalam usus. Untuk meyebabkan anemia diperlukan kurang lebih 500 cacing dewasa. Untuk meyebabkan anemia diperlukan kurang lebih 500 cacing dewasa.5. dan tertelan sehingga masuk ke saluran cerna lalu bersarang terutama pada daerah 1/3 proksimal usus halus.5 Masa inkubasi mulai dari bentuk dewasa pada usus sampai dengan timbulnya gejala klinis seperti nyeri perut.5 Manifestasi Klinis Anemia defisiensi besi akibat infeksi cacing tambang menyebabkan hambatan pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak. Didapatkan juga bentuk penularan melalui hewan vektor (zoonosis) seperti pada anjing yang menularkan A.2.1. dibatukkan. anemia defisiensi besi menyebabkan peningkatan mortalitas maternal. Jenis cacing yang yang ditularkan melalui hewan vektor tersebut tidak mengalami maturasi dalam usus manusia.000 telur/hari dan masa hidup cacing ini mencapai 3-5 tahun. Pada wanita yang mengandung. meskipun pada umumnya didapatkan perdarahan intestinal kronik yang terjadi perlahan-lahan Patofisiologi Cacing tambang memiliki alat pengait seperti gunting yang membantu melekatkan dirinya pada mukosa dan submukosa jaringan intestinal. 4.4.4. dengan masa hidup sekitar 1 tahun. Setelah terjadi pelekatan. Cacing jantan dan betina berkopulasi di saluran cerna selanjutnya cacing betina memproduksi telur yang akan dikeluarkan bersama dengan feses manusia.4. 19.5 Terjadinya anemia defisiensi besi pada infeksi cacing tambang tergantung pada status besi tubuh dan gizi pejamu.TINJAUAN PUSTAKA dan kaki. duodenale menghasilkan 10. Hal itu ditambah lagi dengan sekresi berbagai antikoagulan termasuk diantaranya inhibitor faktor VIIa (tissue inhibitory factor).4. Pelepasan enzim hidrolitik oleh cacing tambang akan memperberat kerusakan pembuluh darah. otot esofagus cacing menyebabkan tekanan negatif yang menyedot gumpalan jaringan intestinal ke dalam kapsul bukal cacing.Desember 2006 Larva menetas dan berkembang didalam Larva Telur Telur dikeluarkan bersama dengan feces Cacing dewasa Larva dewasa masuk ke usus halus Larva dibatukkan dan tertelan Gambar 1. americanus dewasa dapat memproduksi 5. Penularan A. Adanya paparan berulang dengan larva filariform dapat berlanjut dengan menetapnya cacing di bawah kulit (subdermal). beratnya infeksi (jumlah cacing dalam usus penderita). terjadi migrasi larva filariform ke paru-paru setelah melewati sirkulasi ventrikel kanan. sedangkan sebagian lagi dari darah tersebut akan keluar melalui saluran cerna. Proses dari mulai penetrasi kulit oleh larva sampai terjadinya cacing dewasa memerlukan waktu 6-8 minggu. Hewan kucing dan anjing juga menularkan A. sedangkan A. Cacing ini kemudian mencerna sebagian darah yang dihisapnya dengan bantuan enzim hemoglobinase. meskipun dikatakan dapat juga menembus kulit perioral dan transmamaria. Larva kemudian memasuki parenkim paruparu lalu naik ke saluran nafas sampai di trakea.00010. Infeksi A. duodenale menyebabkan perdarahan yang lebih banyak dibandingkan N. brazilienze dan A. Pematangan larva menjadi cacing dewasa terjadi disini. berkisar antara 1-3 bulan. Pematangan telur menjadi larva terutama terjadi pada lingkungan pedesaan dengan tanah liat dan lembab dengan suhu antara 23-33o C. Pada infeksi yang berat dapat terjadi kehilangan darah sampai 200 ml/hari.6 Dalam 10 hari setelah penetrasi perkutan. duodenale selain terjadi melalui penetrasi kulit juga melalui jalur orofekal. akibat kontaminasi feses pada makanan.4.000 telur/hari. Pada infeksi yang berat dapat terjadi kehilangan darah sampai 200 ml/ hari.2. masuk ke aliran darah Masa inkubasi mulai dari bentuk dewasa pada usus sampai dengan timbulnya gejala klinis seperti nyeri perut.2. Akibat kaitan ini terjadi ruptur kapiler dan arteriol yang menyebabkan perdarahan. Siklus biologis cacing tambang2 188 .6 Cacing N. meskipun pada umumnya didapatkan perdarahan intestinal kronik yang terjadi perlahan-lahan. Vol. caninum. americanus.2. berkisar antara 1-3 bulan. gangguan No. ceylanum. Oktober .2.000-30.5 Selengkapnya siklus biologis cacing tambang dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini: Larva di atas rumput Larva masuk/ penetrasi ke kulit. Secara klinis hal ini menyebabkan rasa gatal serta timbulnya lesi papulovesikular dan eritematus yang disebut sebagai ground itch.

Respons terhadap infeksi cacing tambang dewasa Respons humoral dilakukan oleh IgG1. pneumonia dan pneumonitis. batuk.5 Pada daerah subsahara Afrika sering terjadi infeksi campuran cacing tambang dan malaria falsiparum. larva filariform menghasilkan berbagai antigen yang bereaksi dengan sistem imun peparu dan menyebabkan penembusan sejumlah kecil alveoli. Pada proses ini banyak larva yang mati dan mengakibatkan pelepasan berbagai molekul imunoreaktif oleh tubuh. Antibodi yang berperan ialah Imunoglobulin M (IgM). 189 No. Pada infeksi zoonotik (melalui vektor). serta kuku sendok. Dalam 7-14 hari setelah infeksi terjadi ground itch. terutama sirkulasi peparu. Yang paling spesifik ialah IgE yang bersifat cross reactive. Interleukin-5 (IL-5) yang berperan dalam pertumbuhan dan diferensiasi eosinofil meningkat pada infeksi larva yang diinokulasikan pada tikus percobaan. Pada percobaan. yang menyebabkan reaksi hipersensitivitas tipe I (alergi). bahkan dapat terjadi gagal jantung akibat penyakit jantung anemia.3 Antibodi humoral terhadap N. Jumlah eosinofil makin meningkat saat larva berkembang menjadi bentuk dewasa (cacing) di saluran cerna. suara serak. yaitu bila terdapat lebih dari 200 cacing dewasa. serta kuku sendok. sedangkan kadar IgA dan IgD meningkat setelah 2 tahun pasca terapi. yang dikontrol oleh pelepasan sitokin pengatur sel Th2. Kelainan paru-paru biasanya ringan kecuali pada infeksi berat.3 Respons Imun Terhadap Infeksi Cacing Tambang a. Pada fase selanjutnya.Desember 2006 .3.2 Kebanyakan infeksi cacing tambang bersifat ringan bahkan asimtomatik. Di sini kadar IgE hanya menurun sedikit. Pada fase awal.7 Bukti-bukti penelitian menunjukkan bahwa eosinofil lebih berperan dalam membunuh larva filariform. duodenale melalui air susu ibu.1. americanus.2. bahkan dapat terjadi gagal jantung akibat penyakit jantung anemia. Pada manusia hal tersebut belum terbukti. IgG4 dan IgE. Oktober . setelah 1 tahun pemberian terapi terhadap infeksi N.3 b. ialah IL-4. Para pakar menyimpulkan bahwa dibutuhkan lebih sedikit paparan antigen untuk meningkatkan IgE.4. Diduga infeksi cacing tambang menyebabkan eksaserbasi anemia akibat malaria falsiparum dan sebaliknya. Sistem komplemen berperan dalam perlekatan larva pada eosinofil. Hanya sedikit bukti yang menyatakan bahwa kadar antibodi berhubungan dengan imunoproteksi terhadap infeksi cacing tambang Anemia defisiensi besi yang terjadi akibat infeksi cacing tambang selain memiliki gejala dan tanda umum anemia. Infeksi cacing tambang pada wanita hamil dapat menyebabkan bayi dengan berat badan lahir rendah. terjadi creeping eruption atau ground itch akibat terperangkapnya larva dalam lapisan kulit. ekstremitas atau perut. mual. Terhadap larva filariform Saat menembus kulit. Selain itu disimpulkan bahwa kadar IgG dan IgM merupakan indikator terbaik untuk infeksi cacing tambang dewasa dan untuk menilai efikasi pengobatan.5 Anemia defisiensi besi yang terjadi akibat infeksi cacing tambang selain memiliki gejala dan tanda umum anemia. Pada infeksi antropofilik (langsung pada manusia) tidak terjadi kumpulan larva di kulit. bukan terhadap bentuk dewasa. Sitokin yang utama. IgA dan IgD dibandingkan untuk meningkatkan IgG dan IgM. 19. Hal ini dicerminkan oleh tingginya kadar eosinofil darah tepi.1. maka dapat terjadi hipoproteinemia yang bermanifestasi sebagai edema pada wajah. Eosinofil melepaskan superoksida yang dapat membunuh larva filariform. memiliki manifestasi khas seperti atrofi papil lidah.2. Saat larva tertelan dapat terjadi gatal kerongkongan. timbul rasa nyeri perut yang sering tidak khas (abdominal discomfort). Vol. dapat terjadi nyeri tenggorokan. Diduga dapat terjadi transmisi vertikal larva filariform A. 4. larva filariform melepaskan bagian luar kutikula dan mensekresi berbagai enzim yang mempermudah migrasinya. americanus hanya reaktif terhadap lapisan dalam kutikula.TINJAUAN PUSTAKA laktasi dan prematuritas. Diduga reaksi hipersensitivitas tipe II (antibody dependent cell mediated cytotoxicity) juga berperan disini. hal ini menjelaskan mengenai minimnya reaksi kulit terhadap parasit ini. saat cacing dewasa berkembang biak dalam saluran cerna.3 Sistem kekebalan seluler pada infeksi cacing tambang terutama dilakukan oleh eosinofil. Juga terjadi pengurangan kapasitas kerja. yaitu fase migrasi larva. juga memiliki manifestasi khas seperti atrofi papil lidah. didapatkan bahwa kadar IgG terus menurun sementara kadar IgM dapat meningkat kembali meskipun tidak setinggi seperti sebelum dilakukan terapi. bahkan edema anasarka. demam subfebril. Karena cacing tambang menghisap darah dan menyebabkan perdarahan kronik. dan muntah. telapak tangan berwarna jerami.2. Saat memasuki sirkulasi. Jumlah larva yang masuk ke sirkulasi jauh lebih banyak dari yang berdiam di kulit. IgG1 dan IgE. Terjadi pengurangan kapasitas kerja. telapak tangan berwarna jerami.

kadar total iron binding capacity yang tinggi.8 III.3 Peran IgG4 belum diketahui sepenuhnya. demikian juga jika terjadi penyakit jantung anemia. Fase infeksi awal (ground itch) Diatasi terutama dengan thiabendazole topikal 3. Pemberian inhalasi steroid dapat menyebabkan eksaserbasi gejala pulmonal. Pada waktu tertentu.3. americanus. 19. infiltrat patchy pada foto toraks d. Terjadinya eosinofilia dimulai segera setelah L3 menembus kulit dengan puncak pada hari ke 38 sampai hari ke 64 setelah infeksi. 4. merupakan saat yang optimal untuk pelepasan larva A. Penyebab fenomena tersebut tidak diketahui. yaitu IL-4. duodenale dapat terjadi bentuk hipobiosis di mana terjadi penghentian pertumbuhan larva pada jaringan otot. tetapi pemeriksaan IgG4 tidak direkomendasikan karena tinggi biayanya. Para peneliti membuktikan bahwa IgE lebih sensitif untuk menentukan adanya infeksi baik infeksi larva maupun cacing tambang dewasa. 3. Dapat ditemukan peningkatan IgE dan IgG4. lebih sedikit ditemukan. Didapatkan telur cacing dan atau cacing dewasa pada pemeriksaan feses.8 Pengobatan Infeksi Cacing Tambang 1. caninum pada anjing.3 Sitokin perangsang sel T helper 2 (Th2). Pada infeksi A. Pemberian obat antihelmintik untuk anak berusia di bawah 2 tahun belum direkomendasikan keamanannya. Pemeriksaan penunjang saat awal infeksi (fase migrasi larva) mendapatkan: a. No. ternyata IgE lebih spesifik dibandingkan IgG4. eosinofilia (1.2. Oktober . caninum. sedangkan sitokin perangsang sel Th1 seperti interferon yang menghambat produksi IgE.4. Selengkapnya obat-obatan anti cacing tambang terdapat pada tabel 1 berikut ini. Fenomena ini juga terjadi pada infeksi A.3. feses normal c. duodenale. yang akan menghambat perusakan sel mast oleh enzim mast cells protease I. IL-5 dan IL-13 yang merangsang sintesis IgE. Tanda-tanda anemia defisiensi besi yang sering dijumpai adalah anemia mikrositik-hipokrom. misalnya aktivasi sel mast. kadar besi serum yang rendah.5. Sel mast yang terdegradasi akibat pengaruh IgE melepaskan berbagai protease terhadap kutikula kolagen N. Fase infeksi lanjut Diet tinggi protein dan suplemen besi diperlukan untuk mengatasi anemia dan hipoproteinemia. Pada fase migrasi larva Batuk-batuk dan bronkokonstriksi diatasi dengan agonis b2 inhalasi. merupakan sitokin yang predominan. Buktibukti menunjukkan bahwa aktivasi bentuk hipobiosis pada akhir kehamilan yang berakhir dengan penularan transmamaria/transplasental dari A.000 sel/ml) b. misalnya saat mulai bersinarnya bulan ini.4. Selain itu terjadi pelepasan neutralizing antibody terhadap IL-9. obat cacing tambang dapat diberikan pada trimester II dan III. duodenale melalui kulit.TINJAUAN PUSTAKA dewasa. terutama bila terdapat ko-infeksi cacing strongyloides stercoralis.3 Proteksi Sistem Imun Terhadap Infeksi Cacing Tambang Tidak terdapat bukti yang jelas mengenai proteksi imunologis tubuh terhadap infeksi cacing tambang. Bentuk larva hipobiosis Pada infeksi A. Vol. Jika terjadi perdarahan yang hebat (>200 ml/hari) diperlukan transfusi darah.2. americanus dan A. duodenale. Pemeriksaan penunjang pada cacing tambang dewasa 1.Desember 2006 c. peningkatan kadar IgE Pemeriksaan feses basah dengan fiksasi formalin 10% dilakukan secara langsung dengan mikroskop cahaya.3 Respons imun seluler terhadap infeksi cacing tambang dewasa adalah terutama oleh adanya respons sel Th2 yang mengatur produksi IgE dan menyebabkan eosinofilia. americanus.8 Badan kesehatan dunia (WHO) menganjurkan pemberian mebendazole dan pirantel pamoate. 2. Kemungkinan IgG4 berperan menghambat respons imun dengan inhibisi kompetitif terhadap mekanisme kekebalan tubuh yang dimediasi oleg IgE.4 2. Cacing tambang tampaknya lebih tahan terhadap reaksi inflamasi dibandingkan dengan famili nematoda lainnya. Imunoglobulin G4 tidak mengikat komplemen dan hanya mengikat reseptor Fc-g secara lemah. americanus. Kadang-kadang perlu dibedakan secara mikroskopis antara infeksi larva rhabditiform (L2) cacing tambang dengan larva cacing strongyloides stercoralis. Di sini perlu dieksklusi penyebab anemia hipokrom mikrositer lainnya. Pada infeksi cacing tambang didapatkan fenomena pembentukan autoantibodi IgG terhadap IgE.4-6.2. doudenale. sedangkan untuk wanita hamil. Secara klinis dan epidemiologis II. Pemeriksaan yang dapat membedakan kedua spesies ini ialah dengan faecal smear pada filter paper strip Harada-Mori. lebih jarang mengalami reinfeksi N. sedangkan IgG4 lebih spesifik sebagai marker infeksi cacing dewasa N.7 190 .7 Diagnosis Cacing Tambang I. Beberapa penelitian di Papua New Guinea menunjukkan bahwa penderita yang memiliki titer IgE lebih tinggi. Pemeriksaan ini tidak dapat membedakan N. Pada bentuk hipobiosis pelepasan telur cacing melalui feses baru terjadi 40 minggu setelah masuknya larva A.000-4. dengan pemberian ½ dosis dewasa untuk anak-anak usia 2-12 tahun.2.

duodenale. muntah dan depresi susunan saraf pusat. Cuci tangan sebelum dan sesudah makan menurunkan kemungkinan infeksi A. Available from:http://www.duodenale (hook worm) obat pencahar tidak dibutuhkan dan boleh diminum dengan susu atau Jus buah. Aktif melawan Enterobius Vermicularis (pinworm). dibagi dalam 2 dosis selama 2 hari. 2005 7. Pengobatan dilakukan dengan mebendazole. yang kemudian menembus kulit manusia sampai akhirnya masuk ke saluran cerna dan menjadi dewasa di sini.Desember 2006 191 . 2005 6. Penyakit cacing yang ditularkan melalui tanah. N Engl J Med 2004. karena menyebabkan anemia defisiensi besi dan hipoproteinemia. pemeriksaan penunjang termasuk pemeriksaan imunologis. dilakukan terapi ulang. 1995. pirantel pamoat dan berbagai terapi suportif. Bethony JM. Downloaded in June 23. Menghambat kolinesterase. Oktober .keamanan untuk penggunaan pada wanita hamil belum ditetapkan perhatian pada kerusakan hati. 2 kali sehari selama 3 hari atau 500 mg per oral sekali Dosis anak Kontraindikasi hipersensitif Interaksi Kehamilan Perhatian Nama Obat Dosis dewasa 400 mg sekali per oral Dosis anak Kontraindikasi Hipersensitif Interactions Pregnancy Perhatian Nama Obat Dosis dewasa 0. Jilid I. tidak lebih dari 3 g/hari Dosis anak Kontraindikasi Hipersensitif Interaksi Pregnancy Perhatian Dalam 2-3 minggu setelah terapi selesai. dan akhirnya cacing menjadi mati 200 – 400 mg sekali per oral Pemberian bersamaan dengan karbamazepin dapat menurunkan efikasi.com. yang menjadi tempat tinggal bagi cacing < 2 tahun : belum ditentukan > 2 tahun : berikan seperti orang dewasa karbamazepin dan fenitroin dapat menurunkan efek mebendazole cimeditin dapat meningkatkan kadar mebendezole C – keamanan untuk penggunaan pada wanita hamil belum ditetapkan. Pin-Rid. Nama Obat Dosis dewasa 11 mg/kg/hari peroral selama 3 hari. Keshavarz R. Komponen sistim imun yang berperan utama ialah eosinofil. Terdapat penularan melalui hewan vektor (zoonosis) dengan gejala klinis berupa ground itch dan creeping eruption. Immune responses in hookworm infection. eMedicine. Daftar Pustaka 1. Kadar serum teofilin dapat meningkat pada pasien anak-anak setelah pemberian pirantel pamoet C .orphanet.4 Pyrantel pamoate (Antimint. 11 mg/kg/hari peroral selama 3 hari. Pohan HT. menyebabkan penurunan energi. Broker S. Downloaded in July 2. meningkatkan toksisitas (amati kadar serum dan kurangi dosis bila perlu) C – Kehamilan untuk penggunaan pada wanita hamil belum ditetapkan Pengawasan yang ketat pada disfungsi hati atau ginjal . hipoproteinemia dan anemia defisiensi besi merupakan manifestasi infeksi antropofilik. 2000.p. Dosis anak Kontraindikasi Hipersensitif. 2004. Hookworm infection. Diagnosis data epidemiologi.3 No. Ancylostomiasis. Principles and Practice of Infectious Diseases. americanus. 70(2):427-33 8. Hookworm. manifestasi klinis. Hotez PJ. Obat yang direkomendasikan WHO untuk infeksi cacing tambang. duodenale. terapi suportif perlu dilakukan pada pasien anemia . Penyesuaian dosis pada gangguan hati Albendazole (Albenza) – menurunkan produksi atp pada cacing. Prociv P.eMedicine. atau mal nutrisi digunakan bila benar ada parasit cacing (bukan profilaksis). Siklus biologis cacing tambang berupa perubahan telur menjadi larva (L1) sampai bentuk filariform (L3) di tanah.com. sangat dianjurkan.2. Tidak terdapat kekebalan yang permanen dan adekuat terhadap infeksi cacing tambang. Araujo MI. Downloaded in June 23. Pencegahan dan Imunisasi Perbaikan lingkungan dengan meniadakan tanah berlumpur serta pemakaian alas kaki saat melewati daerah habitat cacing tambang. Available from: http://www. anemia dan mal nutrisi Mebendazole (vermox) menyebabkan kematian cacing secara efektif dan secara irreversible menghambat uptake glukosa dan nutrien lain pada usus manusia yang rentan . 4. Dolin R. cimisidine dan praziquantel dapat meningkatkan toksisitas C – Kehamilan untuk penggunaan pada wanita hamil belum ditetapkan Hentikan jika terjadi peningkatan LFTs yang signifikan (lanjutan pengobatan jika kadar menurun untuk menilai protest) Thiabendazole (Mintezol) – menghambat cacing yang spesifik pada microchondria fumarate reductase dan mengurangi gejala trikinosis selama fase infasiv untuk penggunaan topical. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Infect and Immun 2002. Available from: http:// www. Pearce EJ. 4th ed. 50 mg /kg/hari per oral. Jika masih terdapat telur maupun cacing dewasa. Kesimpulan Infeksi cacing tambang masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Montressor A.2529-31 Dosis dewasa 100 mg per oral. deksametason. IgG4 dan sel Th2. tidak lebih dari 500 gr/hari. In: Noer HMS editor. dehidrasi . Mahmoud AAF.25 – 1. 3rd ed. 351(8):799-807 3. editors. 19. Spesies cacing tambang yang terutama di Indonesia ialah N. Pneumonitis. Bennet JE. et al. tidak lebih dari 3 g/hari Dapat meningkatkan kadar serum teofillin . Jakarta: Balai Penerbit FKUI. MacDonald AS.TINJAUAN PUSTAKA Tabel 1.515-6 2. sebelum memulai terapi. Pin-X) agen penghambat depolarisasi neoromuskular. albendazole. Vol. Belum terdapat vaksin cacing tambang yang efektif untuk manusia. Loukas A. In: Mandell GL. A. Cuci tangan sebelum dan sesudah makan menurunkan kemungkinan infeksi A. IgE. Belum ada vaksin yang efektif terhadap cacing tambang sehingga perbaikan higiene dan sanitasi adalah hal yang terutama. Weiss EL. dilakukan pemeriksaan ulang feses. sangat dianjurkan. dapat menyebabkan mual. abdominal discomfort.com. immobilisasi. Intestinal Nematodes. tidak lebih dari 1 gr/hari. penyakit hati Interaksi Kehamilan Perhatian Perbaikan lingkungan dengan meniadakan tanah berlumpur serta pemakaian alas kaki saat melewati daerah habitat cacing tambang. ascaris lumbricoides (round-worm). Belum terdapat vaksin Nama Obat cacing tambang yang efektif untuk manusia. 2001.5 g per oral 2 kali sehari selama 2 hari. Sanioli L. Clin Microbiol Rev 2001:689-703 4. Immunology of parasitic helminth infections.p. 1996. Hookworm infection. 2005 5. New York:Churchill Livingstone. sehingga menyebabkan poralisis spastik pada cacing.

ditemukan peningkatan produksi reactive oxygen species (ROS) yang akan menimbulkan oxidative damage setelah melakukan latihan fisik yang berat.1 Pada latihan fisik berat berupa lari 80 km terjadi ketidakseimbangan antara prooksidan dan antioksidan intraselular yang dapat menimbulkan kerusakan sel hati sehingga terjadi peningkatan plasma aspartat transaminase (AST/SGOT) 4 kali lipat dan peningkatan kadar bilirubin yang merupakan tanda dari gangguan fungsi hati. yang akan menyebabkan terjadinya kerusakan sel dan organel sel. Hal ini terjadi karena kerusakan hati dan kerusakan otot serta terjadi hemolisis. Oktober . termasuk sel hati.05). Kerja keras tanpa istirahat pada akhirnya akan membebani hati. radikal bebas. Terhadap semua kelompok dilakukan pengamatan kadar bilirubin dan gambaran histologis hati setelah perlakuan.05). masing-masing terdiri dari 10 ekor.Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Staf Pengajar Bagian Patologi Klinik .Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Staf Pengajar Bagian Patologik Anatomi . yaitu dengan Mann-Whitney U dengan program SPSS. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan glutamin dapat melindungi fungsi hati pada pemberian parasetamol dan beban maksimal pada mencit. akan ikut memperberat kerja hati. Masing-masing kelompok dibagi menjadi 2 kelompok kecil. glutamin. kelompok renang maksimal dengan parasetamol. Penggunaan berbagai zat kimia baik berupa food additive maupun berupa pestisida serta obat-obatan. Hasil yang didapat menunjukan terjadi peningkatan kadar bilirubin yang bermakna (p<0.ARTIKEL PENELITIAN Pemberian Glutamin Menurunkan Kadar Bilirubin Darah serta Mengurangi Nekrosis Sel-Sel Hati setelah Pemberian Aktivitas Fisik Maksimal dan Parasetamol pada Mencit I Made Jawi*. Aktivitas fisik yang berat ternyata akan menimbulkan perubahan metabolisme dalam H tubuh yang akan menghasilkan radikal bebas (oxidant) yang merusak sel-sel termasuk sel-sel hati. 19. Penelitian dilakukan terhadap 40 ekor mencit jantan umur 4–5 bulan jenis Balb/C yang dibagi menjadi 2 kelompok besar.Desember 2006 192 . 4. I W P Sutirtayasa*** dan Gopinath Muruti**** * ** *** **** Staf Pengajar Bagian Farmakologi . Data yang diperoleh dianalisis dengan uji T untuk bilirubin. Penelitian yang melihat pengaruh beban maksimal dan parasetamol serta efeknya terhadap gambaran histologis hati yang diawali pemberian glutamin yang merupakan bahan baku glutathione nampaknya belum ada. Banyak penelitian telah dilakukan untuk melihat kerusakan sel hati akibat beban maksimal dengan mengukur kadar bilirubin dan SGPT darah.Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Abstrak. yaitu kelompok kontrol. Dalam menjalankan fungsi tersebut hati akan dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari dalam tubuh maupun dari lingkungan.05). yaitu kelompok glutamin dan non-glutamin masing-masing 20 ekor. Kelompok non-glutamin mengalami peningkatan sel nekrosis dan sel radang yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok glutamin (p<0. Vol. Sel hepatosit menunjukkan tingkat degenerasi.3 Pada No. parasetamol. Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini menyebabkan perubahan lingkungan yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap hati. Peningkatan bilirubin lebih tinggi pada kelompok non-glutamin dibandingkan kelompok dengan glutamin (p<0. dan data tentang gambaran histologis hati dianalisis secara nonparametrik. dengan rancangan randomized control group post test only design.Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Mahasiswa Semester VIII . Kata kunci: Renang maksimal.2 Setelah melakukan lari jarak jauh terjadi peningkatan yang signifikan dari SGOT/AST 193% dan SGPT/ALT 42% serta bilirubin total 106%. Pada penelitian yang dilakukan oleh banyak peneliti. mencit Pendahuluan ati merupakan organ tubuh yang penting dalam menjaga dan menentukan derajat kesehatan seseorang. Di samping itu kehidupan yang semakin susah dan selalu dituntut untuk bekerja keras dalam mempertahankan kehidupan. I B Rai Manuaba**. nekrosis yang lebih banyak dan peningkatan sel-sel radang setelah perlakuan dengan glutamin dan non-glutamin (p<0. kerusakan sel hati. sering menyebabkan lupa untuk mengatur waktu istirahat.Stres oksidatif dapat terjadi akibat pemberian beban maksimal dan parasetamol secara bersamaan. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat pengaruh glutamin terhadap kadar bilirubin dan gambaran histologis hati setelah pemberian parasetamol dan beban maksimal pada mencit.05) pada kelompok glutamin dan non-glutamin setelah perlakuan.

4.6 Penelitian yang dilakukan pada mencit dengan memberikan beban aktivitas fisik berupa gerakan cepat 10 m/menit selama 2 jam dalam suatu rotating cage yang diikuti pemberian paracetamol/ acetaminophen 700 mg/Kg BB. Setelah mencit mati dilakukan pembedahan laparatomi untuk mengambil hati. yang merupakan pertanda dari meningkatnya oxidative stress akibat oxidant/radikal bebas. Farmakologi FK Unud. Pemberian n-acetylcystein pada saat melakukan aktivitas fisik berat ternyata dapat meningkatkan kadar glutathione tapi tidak dapat mengurangi kelelahan. Sampel dalam penelitian ini adalah mencit Balb/C jantan dengan umur 4-5 bulan yang diperoleh dari kandang hewan coba Lab. yaitu renang sekuat-kuatnya sampai hampir tenggelam. Glutamin adalah salah satu asam amino yang diperlukan untuk sintesa glutathione dalam sel. dengan parasetamol dan glutamin serta tanpa glutamin. Perlakuan ini dilakukan di Lab. yaitu kadar bilirubin darah serta gambaran histologis hati. Vol. 193 . Sampel dibagi menjadi 4 kelompok masingmasing 10 ekor mencit. Hati direndam dengan formalin 10% lalu dikirim ke Lab. Oktober .ARTIKEL PENELITIAN penelitian terhadap pelari maraton ditemukan peningkatan yang signifikan dari SGOT. Kelompok 1 atau kelompok kontrol tanpa diberi perlakuan. umur. 19. Glutamat yang merupakan salah satu komponen dari glutathione baru bisa terpenuhi bila ada glutamin yang cukup dalam darah. SGPT dan bilirubin.15 Sehingga perlu diteliti peran glutamin dalam mencegah gangguan fungsi hati akibat pemberian parasetamol dan beban aktivitas fisik maksimal.10 Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan kadar glutathione sehingga efek hepatotoksik dari radikal bebas dapat diatasi. dengan mengukur kadar bilirubin darah dan melihat gambaran histologis jaringan hati.Desember 2006 kadar bilirubin darah setelah melakukan aktivitas fisik renang maksimal dan pemberian parasetamol pada mencit.14 Nampaknya perlu dicari usaha lain untuk dapat meningkatkan kadar glutathione saat melakukan aktivitas fisik berat dan setelah pemberian acetaminophen.5 Latihan fisik berat akut meningkatkan kadar malandialdehyde (MDA) sangat bermakna pada hati. Farmakologi FK Unud.11 Meskipun peran glutathione dalam mengatasi keracunan hati oleh parasetamol/acetaminophen telah jelas12. Bahan dan Cara Kerja Penelitian ini adalah eksperimental laboratorik dengan rancangan randomized control group posttest only. yaitu uji Mann Whitney. (c) Variabel kendali.2 mg/ekor/hari selama seminggu sebelum perlakuan renang maksimal. Patologi Klinik FK Unud untuk dilakukan pemeriksaan kadar bilirubin. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 40 ekor.2 mg/hari/ekor selama satu minggu. hanya satu kali dilanjutkan dengan pengambilan darah secara intrakardial sehingga mencit mati. Patologi Anatomi FK Unud untuk dibuat sediaan PA. SGOT dan bilirubin setelah aktivitas fisik dan setelah pemberian acetominophen adalah akibat menurunnya kadar glutathione yang merupakan antioksidan8 yang melindungi sel-sel hati. Variabel dalam penelitian ini meliputi: (a) variabel bebas. Kelompok 4 diberikan glutamin secara oral dengan dosis 3.13 namun pemberian enzim glutathione sintetase pada mencit yang diberikan parasetamol/acetaminophen ternyata tidak mampu meningkatkan kadar glutathione. (b) Variabel tergantung. kandang hewan coba.5 mg/ekor dan latihan fisik berupa renang sekuatkuatnya sampai hampir tenggelam atau nampak tandatanda kelelahan berupa tenggelamnya hampir semua badan kecuali hidung dan melemahnya gerakan anggota gerak serta menurunnya waktu reaksi. Hasil Penelitian Hasil penelitian berupa kadar bilirubin darah dapat dilihat pada tabel 1. Uji statistik yang digunakan adalah uji T dan statistik non-parametrik. Lamanya renang berkisar antara 45-50 menit.dan gambaran histopatologi jaringan hati dapat dilihat pada grafik 1 dan 2 serta tabel 2. Darah dikirim ke Lab. terjadi peningkatan efek hepatotoksik dibandingkan dengan tanpa beban maksimal. Setelah seminggu mencit diberi perlakuan seperti kelompok 3. Variabel gambaran histologis hati adalah keadaan sel-sel hati serta adanya tanda-tanda degenerasi yang dilihat dengan mikroskop cahaya dengan pembesaran 400 kali pada 10 lapangan pandang untuk setiap sediaan. yaitu jenis hewan coba. Kelompok 2 adalah kelompok kontrol dengan glutamin secara oral dengan dosis 3.9 Penelitian lain yang meneliti pengaruh pemberian nacetylcystein pada penderita hepatitis oleh karena virus ternyata tidak mampu meningkatkan kadar glutathione dalam sirkulasi.9 Glutathione adalah suatu tripeptida yang terdiri dari glycine-glutamate-cysteine.10 Peran glutamin dalam mempercepat waktu pemulihan jumlah limfosit lien dan limfosit darah setelah beban aktivitas fisik berat pada mencit telah terbukti. Kelompok 3 diberi perlakuan parasetamol secara oral 7. mengetahui efek glutamin terhadap perubahan gambaran histologis hati setelah pemberian beban aktivitas fisik renang maksimal dan parasetamol pada mencit. dan dilakukan oleh seorang ahli patologi. juga dapat meningkatkan AST/ SGOT dan Alanin aminotransaminase (ALT/SGPT) dalam darah.4 Latihan yang dilakukan sesaat.7 Peningkatan SGPT. Pada penelitian tersebut terjadi peningkatan kadar SGOT dan SGPT yang diukur setelah 24 jam kemudian. Terhadap kelompok kontrol dilakukan pengambilan darah dan pengambilan hati tanpa diawali dengan renang. Masalah dalam penelitian ini apakah pemberian glutamin dapat memperkecil kenaikan bilirubin darah akibat olahraga berat/aktivitas fisik maksimal dan parasetamol? Masalah lain apakah pemberian glutamin dapat mengurangi terjadinya perubahan gambaran histologis hepar akibat olahraga berat/aktivitas fisik maksimal dan parasetamol? Tujuan dari penelitian ini mengetahui efek glutamin terhadap No.

Sel yang mengalami nekrosis dan sel-sel radang lebih tinggi pada kelompok tanpa glutamin.05). Gambaran jaringan hati pada ke-4 perlakuan dapat dilihat pada gambar 1 berikut.2450. 2= 26 sel-50 sel. 1=1 sel-25 sel.7370 dan 0.05). Pada Grafik 1 terlihat perbandingan fokus degenerasi dan nekrosis pada kontrol adalah 0 baik tanpa glutamin maupun dengan glutamin (tidak ada degenerasi dan nekrosis). Rata-rata kadar bilirubin dari ke empat kelompok percobaan Kelompok Std Deviasi I. 4=76 sel-100 sel.05). 4=76 sel-100 sel. 2=26%50%.7350 1. 0. Oktober . Perbandingan gambaran PA pada kelompok tanpa glutamin dan kelompok dengan glutamin Keterangan: Skala degenerasi dan nekrosis 0= tidak ada. parasetamol dan aktivitas fisik maksimal kadar bilirubin darah naik menjadi 0.7370 0.05). Begitu juga sel-sel PMN dan limfosit (p<0. 1=1%-25 %. Kelompok III: Kelompok perlakuan yang diberikan parasetamol dan aktivitas fisik maksimal Kelompok IV: Kelompok perlakuan yang diberikan glutamin. 3=51%-75%. 4=76%-100%. Grafik 1. 4. Pada ratarata kontrol bilirubin darah baik yang diberikan glutamin dan tanpa glutamin hampir sama. Grafik 2.8200. 2=26 sel-50 sel. =26%50%. 3=51%-75%. Kalau dibandingkan antara kelompok tanpa glutamin dengan kelompok dengan glutamin setelah diberikan beban maksimal terlihat perbedaan jumlah selsel yang mengalami degenerasi dan nekrosis. 1=1 sel-25 sel.8200 Keterangan: Kelompok I: Kelompok kontrol tanpa glutamin Kelompok II: Kelompok kontrol dengan glutamin yang mengalami nekrosis lebih banyak pada kelompok tanpa glutamin. Vol.2450 0. Sedangkan pada kelompok yang diberikan glutamin. Secara statistik perbedaan tersebut bermakna dibandingkan dengan kontrol (p<0. 19. parasetamol dan aktivitas fisik maksimal Pada tabel 1 terlihat terjadi kenaikan bilirubin darah setelah pemberian parasetamol dan aktivitas fisik maksimal. (dalam 10 lapangan pandang) B.4889 IV. A.Desember 2006 . Setelah diberikan perlakuan parasetamol dan aktivitas fisik maksimal tanpa glutamin menjadi 1. Sel-sel yang mengalami degenerasi tidak berbeda secara statistik(p>0.3554 III. 4= 76%-100%. Terlihat sel-sel 194 C. No.05). Dengan uji Mann-Whitney perbedaan tersebut bermakna (p<0. 3=51 sel-75 sel.3557 II. Perbandingan sel yang mengalami degenerasi dan nekrosis serta PMN dan sel limfosit pada kelompok tanpa glutamin dan kelompok dengan glutamin Keterangan: Skala degenerasi dan nekrosis 0= tidak ada.ARTIKEL PENELITIAN Tabel 1.05). secara statistik tidak berbeda dibandingkan kontrol (p>0.7350.2884 N 10 10 10 10 Rata-rata 0. Perbandingan keadaan sel-sel jaringan hati dapat dilihat pada grafik 1 dan 2. 1=1%-25%. 0. Secara statistik perbedaan ini bermakna (p<0. 0. yaitu 0. (dalam lapangan pandang 10x) Skala PMN dan Limfosit: 0= tidak ada.05). 3=51 sel-75 sel. 0. (dalam lapangan pandang 10x) Pada Grafik 2 terlihat tidak ada perbedaan sel yang mengalami degenerasi pada kelompok glutamin dengan kelompok tanpa glutamin (P>0. dan secara statistik signifikan (p<0. (dalam lapangan pandang 10 x) Skala PMN dan Limfosit: 0= tidak ada. Setelah pemberian beban renang maksimal terjadi peningkatan jumlah degenerasi dan nekrosis sel pada kelompok tanpa glutamin maupun dengan glutamin.05).

parasetamol tanpa glutamin nampak degenerasi dan nekrosis yang banyak D. 1995. Sivyer K. Acute acetaminophen toxicity in transgenic mice with elevated hepatic glutathione. Renang. J Appl Physiol 2003. Antioxidants and oxidative stress in exercise.27(12):1590-4 4. Hinson JA.17 Pemberian glutamin sebelum pemberian parasetamol dan beban maksimal dapat memperingan kerusakan jaringan hati sehingga kadar bilirubin darah lebih rendah dibandingkan dengan tanpa glutamin. Available at: http://www. Wu HJ. Junker E. Vet Hum Toxicol 2000. Yeo HC. glutathione and homocysteine in plasma of patients with chrinic hepatitis C treated with interferon-alpha with and without supplementation with N-acetylcysteine.Desember 2006 195 . N-acetylcysteine infusion alters blood redox status but not time to fatigue during intense exercise in humans. Medved. Proceedings of the Society for Experimental Biology and Medicine 1999. PNAS 2003. Kim SN.medfaq. Sharp NC.15. 4. Plasma antioxidant status and cell injury after severe physical exercise. Pemberian glutamin sebelum pembebanan aktivitas fisik dan parasetamol dapat melindungi fungsi hati serta mengurangi nekrosis sel hati mencit. Aktivitas fisik berat yang diberikan berupa renang maksimal pada mencit akan memperberat terjadinya stres oksidatif karena meningkatkan terbentuknya radikal bebas2 sehingga terjadi kerusakan sel-sel hati yang terlihat dari meningkatnya SGOT.4. Time Course of total cystein. Brown MJ. No. endonuklease dan kerusakan DNA. Gangguan pada mitochondria menyebabkan kekurangan ATP . Heled Y. Chronically and acutely exercised rats: biomarkers of oxidative stress and endogenous antioxidants. Akibatnya metabolit reaktif NAPQI akan berikatan dengan cystein group protein membentuk acetaminophen-protein adducts baik dengan enzim maupun protein dalam sel maupun dalam mitochondria sehingga terjadi gangguan fungsi pada akhirnya terjadi kerusakan sel/lisis/nekrosis. Hettinger A. et al. Parasetamol dosis tinggi akan menyebabkan kerusakan jaringan hati melalui beberapa mekanisme. Renang. Penelitian Duelike 2002. Pada keracunan parasetamol GSH menurun hingga 90%.htm 11. Richie JP. J Appl Physiol 1992. Mech Ageing Dev 2000. et al. Seperti telah disebutkan bahwa glutathione merupakan antioksidan yang penting dalam sel hati yang akan mengikat radikal bebas serta metabolit toksik parasetamol. Nagasawa HT. James LP. Pembahasan Pada penelitian ini terjadi peningkatan kadar bilirubin darah setelah pemberian parasetamol dan aktivitas fisik maksimal. et al. Drug Metabolism and Disposition 2003. et al. Bernhard MC. 42(3):146-50 15. Daley DL. yaitu akibat dari terbentuknya metabolit toksik atau metabolit reaktif dari parasetamol. Shee BW.96(1):35-44 8. Rzucidlo SJ. et al. Chevion S.3. Mayyeux PR. 19. Frick R.10 Kesimpulan dan Saran Pembebanan aktivitas fisik maksimal dan parasetamol dapat meningkatkan kadar bilirubin darah dan dapat meningkatkan degenerasi serta nekrosis sel hati mencit.222:283-92 2. J Spotts Med phys Fitness 1993. parasetamol dengan glutamin nampak degenerasi dan nekrosis yang lebih jarang dibandingkan tanpa glutamin. 15(1):34-40 13. J Hepatol 1998. The biochemistry of runners in a 1600 km ultramarathon. et al. Deneke SM. Kim YC. Raafat A. Acetaminophen-induced hepatotoxicity. Li Li Ji. 10(18):2711-4 5. p-Aminophenol-induced liver toxicity: tentative evidence of a role for acetaminophen. Bjorksten AR.89: 21-8 7.16 Glutamin adalah salah satu asam amino yang diperlukan untuk sintesa glutathione dalam sel. Vol. et al. Effect of ultra-marathon on biochemical and hematological parameters. Oktober .100(9):5119-23 3.16 Selain mekanisme tersebut akibat pemberian parasetamol dosis tinggi menyebabkan stres oksidatif. Daftar Pustaka 1. Gangguan tersebut menyebabkan hilangnya keseimbangan ion dalam sel dan mitokondria sehingga terjadi peningkatan kalsium sitosolik pada akhirnya menyebabkan aktivasi protease. Potentiation of acetaminophen hepatotoxicity by acute physical exercise in rats. SGPT dan bilirubin. Agar hasil penelitian ini dapat diaplikasikan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan melihat kadar radikal bebas pada jaringan hati setelah aktivitas fisik dengan pemberian parasetamol dan dilindungi dengan glutamin. NAPQI akan ditoksifiksi oleh glutathion (GSH) menjadi acetaminophen-GSH. Bounous DI. Br J Sports Med 1999. yaitu N-acetyl-p-benzoquinon imine (NAPQI) yang terjadi akibat dari aktivasi enzim cytochrom P450. Elevation of glutathione levels in bovine pulmonary artery endothelial cells by N-acetylcysteine. Phels DT. Function of glutamine. Glutathione monoethyl ester protects against glutathione deficiencies due to aging and acetaminophen in mice. Med Sci Sports Exerc 1995. et al. Sivyer G.94:1572-82 10. World J Gastroenterol 2004.com/glulong 3. Gambaran histologis hati mencit kontrol dan setelah perlakuan dengan pembesaran 400x Keterangan: A. Yoon MY. Jones DP. Chen TS. Kontrol dengan glutamin nampak sel hepatosit normal C. Glutamin mempercepat waktu pemulihan limfosit darah dan limfosit lien setelah pemberian beban aktivitas fisik maksimal pada mencit. Res Commun Mol Pathol Pharmacol 1997.17 Meningkatnya bilirubin juga disebabkan oleh karena terjadi kerusakan otot dan hemolisis akibat aktivitas fisik berat. et al. Kurangnya glutathion akibat NAPQI akan menyebabkan ion superoksida tidak dapat dinetralisir sehingga terjadi stres oksidatif. Chen TS. Koutedakis Y.31:1499-506 17. Hagen T. Song H. Selama pembentukan NAPQI oleh Cytochrome P450 juga terbentuk ion superoksida yang sangat reaktif. Glutamate yang merupakan salah satu komponen dari glutathione baru bisa terpenuhi bila ada glutamin yang cukup dalam darah. Liu J. J Biochem Mol Toxicol 2001.120(1-3):127-39 14. et al. Konas Ikafi XI Denpasar 2004 16. Serum enzyme activities in individuals with different levels of physical fitness. Fallon KE.33(4):264-9 Gambar 1. Chen KT.7(3):293-9 9. Kontrol tanpa glutamin nampak sel hepatosit normal B.ARTIKEL PENELITIAN D. Lopez P. Villa JG. Jawi M.33(3):252–7 6. 28(5):751-5 12. Effect of long-distance running on serum bilirubin. et al. De Paz JA. Molan DS. J Appl Physiol 2000.

Gagal jantung diastolik diperkirakan 40-60% dari pasien gagal jantung kongesti. Terapi farmakologi yang merupakan pilihan untuk gagal jantung diastolik adalah angiotensin converting enzyme inhibitors. Membedakan gagal jantung diastolik dari sistolik penting sebab terdapat perbedaan patogenesis. diuretics dan beta blockers. oleh karena itu perlu pemeriksaan penunjang lainnya. Kata kunci: Gagal jantung diastolik. 4.12. third or fourth heart sounds.Tiga juta penduduk Amerika terdiagnosis gagal jantung kongesti dan tidak kurang dari setengah juta penderita baru dirawat di rumah sakit setiap tahun.18 Suatu penelitian menyarankan para dokter mengkombinasikan informasi klinis dan ekokardiografi untuk mengkategorikan pasien gagal jantung diastolik berdasarkan No.ARTIKEL PENELITIAN Diagnosis dan Penatalaksanaan Gagal Jantung Diastolik L. seperti ekokardiografi dua dimensi (alat noninvasif terbaik untuk menegakkan diagnosis)/radionuclide angiography (digunakan pada pasien yang secara teknis sulit dilakukan ekokardiografi). Liza Nellyta* . Lima puluh persen pasien yang berusia >65 tahun dengan gagal jantung mempunyai ”Isolated Diastolic Dysfunction (IDD)”. edema perifer.2.17 Terapi farmakologi yang menjadi pilihan untuk gagal jantung diastolik adalah angiotensin converting enzyme inhibitors. pasien ini mempunyai prognosis yang lebih baik dibandingkan dengan gagal jantung sistolik. Oleh karena itu. Diagnosis tersebut paling sering ditemukan pada pasien dengan usia >65 tahun.13 Insidensi gagal jantung diastolik meningkat sesuai pertambahan umur. Lebih dari 50% penderita gagal jantung meninggal dalam kurun waktu 5 tahun setelah diagnosis. Meskipun penyakit kardiovaskular tertentu seperti hipertensi dapat menyebabkan disfungsi diastolik tanpa disertai disfungsi sistolik. 19. diuretik dan beta blocker.12 Gagal jantung diastolik tidak dapat dibedakan dari T gagal jantung sistolik baik secara klinis dan radiografi. Padahal angka kematian akibat gagal jantung cukup tinggi. pasien tidak hanya mempunyai gagal jantung sistolik murni. kardiomegali) di mana fungsi sistolik ventrikel kiri normal (efeksi fraksi >45%) dengan fungsi diastolik yang abnormal.15 Gagal jantung diastolik diperkirakan terjadi pada 40-60% dari pasien gagal jantung kongesti. pasien ini mempunyai prognosis yang lebih baik dibandingkan dengan gagal jantung sistolik. angiotensin reseptor blockers. prognosis dan penanganannya. rales. pulmonary edema. Vol. namun kateterisasi jantung tetap merupakan metode yang disarankan untuk mendiagnosis disfungsi diastolik. Oktober . Penyakit gagal jantung dijuluki pula sebagai heart cancer karena risikonya setara dengan bahaya penyakit kanker. Gagal jantung diastolik adalah suatu sindroma klinis yang ditandai dengan keluhan dan tanda gagal jantung di mana fungsi sistolik ventrikel kiri normal (ejeksi fraksi >45%) dengan fungsi diastolik yang abnormal. orthopnea.Desember 2006 196 . serta memperbaiki penatalaksanaan pengobatan pada pasien gagal jantung diastolik. Sayangnya data tentang prevalensi kasus gagal jantung di Indonesia belum tersedia.12 Oleh karena itu sangatlah penting bagi seorang dokter untuk mengenali perbedaan gagal jantung diastolik dan gagal jantung sistolik. Insidensi gagal jantung diastolik meningkat sesuai pertambahan umur. gagal jantung sistolik. jugular venous distension.000 kasus baru tiap tahun. Eko Purnomo** * Alumni FKUP/RSHS ** RSPAD Gatot Subroto Abstrak. Definisi dan Kriteria Diagnosis Gagal jantung diastolik adalah suatu sindrom klinis yang ditandai dengan keluhan dan tanda gagal jantung (dyspnea on exertion. paroxysmal nocturnal dyspnea. 50% pasien yang berusia >65 tahun dengan gagal jantung mempunyai ”Isolated Diastolic Dysfunction (IDD)”. ejeksi fraksi Pendahuluan iga juta penduduk Amerika terdiagnosis gagal jantung kongesti dan terdapat 500.11. oleh karena itu. Dengan diagnosis dini dan penanganan yang tepat. angiotensin reseptor blockers. prognosis disfungsi diastolik lebih baik daripada disfungsi sistolik.12 Baik disfungsi diastolik maupun sistolik dapat menyebabkan gagal jantung kongesti.3.

Kriteria diagnostik gagal jantung diastolik16 Kriteria Probable* Bukti definitif gagal jantung kongesti** Dan Dan Kriteria Possible Dan Ejeksi fraksi ventrikel kiri ≥50% tidak dalam 72 jam kejadian CHF Dan Bukti objektif fungsi sistolik ventrikel kiri normal Φ Dan Bukti objektif disfungsi diastolik ventrikel kiri Ψ normal Φ Dan berat.48 0. AV blok). Relaksasi abnormal dan Kekakuan Tekanan pengisian ventrikel kiri Kekakuan Tekanan dan ukuran atrium kiri Pengisian awal abnormal Toleransi aktivitas fisik normal Tekanan paru-paru selama aktivitas fisik Fibrilasi atrium dan curah jantung Toleransi aktivitas fisik Toleransi aktivitas fisik dan tanda-tanda gagal jantung Prevalensi dan Etiologi 40% pasien gagal jantung mempunyai fungsi sistolik yang baik. Secara konvensional.12 0. infeksi.4 6.5 5.3 0. hipertensi. anemia.2 1. stressor sistemik (seperti anemia. dan lebih banyak ditemukan pada wanita lansia. iskemik. Dengan disfungsi ringan.9 Hipertensi dan penyakit jantung iskemik merupakan penyebab tersering gagal jantung diastolik.6 7 LR0. diastasis.12 Patofosiologi Diastol merupakan proses dimana jantung kembali pada keadaan relaksasi. LR+= positive likelihood ratio.44 1. dyspnea on exertion. F Ejeksi fraksi ventrikel kiri lebih besar sama dengan 50% dalam 72 jam kejadian CHF Y Relaksasi/pengisian/peregangan ventrikel kiri abnormal merupakan indikator kateterisasi jantung. cor pulmonale.ARTIKEL PENELITIAN tingkat kepastian diagnostik (tabel 1). 4. Vol. late filling meningkat sampai volume akhir diastolik ventrikel kembali ke normal. tirotoksikosis). Patofisiologi gagal jantung diastolik8 Kelebihan tekanan iskemia Hipertrofi infark otot jantung Tidak ada informasi yang menyimpulkan fungsi diastolik ventrikel kiri Relaksasi abnormal * Pasien yang memiliki bukti definitif gagal jantung kongesti dan bukti objektif fungsi sistolik ventrikel kiri normal pada saat kejadian CHF. sehingga menyebabkan effort intollerance.41 Gagal jantung sistolik vs nonsistolik Sensitivitas Spesifisitas (%) (%) 95 89 83 74 14 27 29 50 LR+ 1. arritmia (seperti atrial fibrilasi. demam. LR-= negative likelihood ratio No. ** Gejala-gejala dan tanda-tanda klinis. Transmisi tekanan akhir diastolik yang tinggi ke sirkulasi pulmonal menyebabkan kongesti pulmonal. ronki. Oktober . Kardiomegali dan kongesti vena pulmonalis sering ditemukan pada rontgen toraks.41 0. early rapid ventricular filling. hipotiroidisme dan obesitas.8 Tabel 2.36 0. primary volume overload dan penyebab di luar jantung telah disingkirkan. takikardi. takikardi. dan late rapid filling selama kontraksi atrial.7 Tabel 3.6 Secara luas isolated diastolic dysfunction dapat didefinisikan sebagai gangguan relaksasi isovolumetrik ventrikular dan penurunan compliance ventrikel kiri.1. Lebih jauh lagi sulit untuk membedakan gagal jantung diastolik dari gagal jantung sistolik hanya berdasarkan klinis saja.1 1.Desember 2006 197 .14 Insidensi gagal jantung diastole meningkat dengan pertambahan umur. ventrikel menjadi kaku sehingga otot atrium gagal mengkompensasi dan volume akhir diastolik tidak dapat dinormalisasi dengan peningkatan tekanan pengisian. paroxysmal nocturnal dyspnea.22 0. orthopnea. ditandai oleh penutupan katup aorta sampai pembukaan katup mitral.16 Kriteria Definitif Tabel 1. Namun penemuan klinis ini tidak spesifik dan sering ditemukan pada penyakit di luar jantung seperti penyakit paru. bunyi jantung tiga atau empat. tetapi dengan peningkatan tekanan pengisian. merupakan suatu periode aliran lambat selama middiastol. Pada kasus yang Abnormalitas diastolik Disfungsi diastolik Gagal jantung diastolik Diagnosis Gagal jantung dapat menyebabkan kelelahan. namun tidak dapat membedakan gagal jantung diastolik dari sistolik. Dengan disfungsi diastolik. mempunyai kemungkinan gagal jantung diastolik setelah penyakit katup mitral. Proses ini mengurangi stroke volume dan cardiac output. hepatomegali dan edema. Faktor presipitasi tersering meliputi kelebihan volume.52 BNP= Brain Natriuretic Peptide.4 LR0. radiografi toraks yang mendukung dan respon klinis yang spesifik terhadap diuretik dengan atau tanpa peningkatan tekanan pengisian ventrikel kiri atau indeks jantung yang rendah. distensi vena jugularis. jantung dapat memenuhi kebutuhan metabolik tubuh baik saat istirahat atau selama bekerja. 19. meningkatnya konsumsi garam dan penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid. Keakuratan kadar BNP dalam mendiagnosis gagal jantung7 Gagal jantung kongesti vs nonkongesti Kadar BNP (pg per mL) 100 200 300 400 Sensitivitas (%) 90 81 73 63 Spesifisitas LR+ (%) 73 85 89 91 4. setelah pembukaan katup mitral. diastol dapat dibagi menjadi 4 fase: isovolumetric relaxation.12 Test serum brain natriuretic peptide (BNP) dapat membedakan secara akurat gagal jantung dari penyakit di luar jantung pada pasien dengan sesak nafas.

Kontrol tekanan darah Konsultasi gizi (garam) Memonitor status volume (daily weights dan diuretic adjustment) Program aktivitas fisik (olahraga) oleh suatu institusi ACE= Angiotensin-Converting Enzyme. khususnya bila terdapat hipertensi.12 American College of Cardiology dan American Heart 198 Association mengeluarkan panduan yang menyarankan dokter untuk mengontrol tekanan darah. ACE inhibitors Calcium channel blokers Mengurangi hipertropi ventrikel kiri(mengurangi penebalan dinding dan menghilangkan kolagen yang berlebih). mengurangi hipertropi ventrikel kiri dan mengurangi stimulasi adrenergik berlebihan selama gagal jantung. Beta bloker dapat memperbaiki harapan hidup pada pasien dengan gagal jantung diastolik. Disfungsi diastolik dapat muncul beberapa tahun sebelum terdapat bukti klinis. Walaupun sangat jarang. Pada kasus ini. Dalam memperlambat denyut jantung. ratio E/A menurun sampai <1. terapi medis untuk disfungsi diastolik dan gagal jantung diastolik sering empiris dan tidak sebaik terapi gagal jantung sistolik. E lebih besar dari A dan ratio E/A mendekati 1. Beta bloker berguna untuk tujuan ini.12 Pada disfungsi diastolik awal. 19.10 Pada ekokardiografi. dialisis. Namun dalam prakteknya. Target panduan ini adalah untuk mengatasi faktor-faktor penyebab. relaksasi terganggu dengan kontraksi atrial kuat. hal ini membuat standard ekokardiografi kurang dapat dipercaya. ACE inhibitors dan ARBs Aldosterone antagonists Beta blocker Calcium channel blockers Menjaga sinkronikasi atrioventrikular dengan menangani takikardi (takiaritmia).5 Adapun tujuan penanganan gagal jantung diastolik dapat dilihat pada tabel 4. beta bloker terbukti bermanfaat dalam mengurangi tekanan darah dan iskemia otot jantung. ACE inhibitors Aldosterone antagonists (bermanfaat secara teoritis) Pembatasan garam dan air Diuresis.12 Optimalisasi Hemodinamik Optimalisasi hemodinamik terutama dicapai dengan mengurangi preload dan afterload. berhenti merokok. perubahan pola makan. Vol. Kecepatan gelombang E dan A dipengaruhi oleh volume darah. Beta blocker ACE inibitors Mencegah relaps dengan menekankan follow-up pada pasien rawat jalan. katup dan perikardium. Pada pasien dengan disfungsi diastolik berat. anatomi katup mitral. Selama perjalanan penyakit. Modifikasi gaya hidup seperti penurunan berat badan. fungsi sistolik. di mana terdapat peningkatan tekanan atrial dan akhirnya terdapat peningkatan early left ventricular filling selain gangguan relaksasi. meningkatkan fungsi ventrikel kiri dan mengoptimalkan hemodinamik. Memperbaiki relaksasi ventrikel kiri. atau plasmapheresis Meningkatkan harapan hidup. sehingga membuat ratio E/A>2. denyut jantung.12 Kateterisasi jantung tetap merupakan metode yang disarankan untuk mendiagnosis disfungsi diastolik. 4. Mencegah dan mengobati hipertensi dan penyakit jantung iskemik. ekokardiografi dua dimensi dengan doppler merupakan alat noninvasif terbaik untuk menegakkan diagnosis. Keadaan ini disebut pseudonormalisasi. ketebalan dinding dan pergerakan. penting untuk mengontrol denyut jantung dan mencegah takikardi untuk memaksimumkan periode pengisian diastolik. Oktober . Oleh karena itu ratio E/A dapat dihitung. ekokardiografi dua dimensi dengan doppler dapat digunakan untuk mengevaluasi karakteristik transmitral diastolik dan pola aliran vena pulmonalis. fungsi katup mitral dan atrial fibrilasi.12 Tabel 4.8 Diagnosis dan pengobatan dini sangat penting dalam mencegah perubahan struktural ireversibel dan disfungsi sistolik. Angiotensin Converting Enzyme (ACE) inhibitor dan Angiotensin Receptor Blockers (ARB) secara langsung mempengaruhi compliance dan relaksasi otot jantung dengan menghambat produksi atau memblok reseptor No. pembatasan asupan alkohol dan olahraga. hiperkolesterolemia dan penyakit arteri koroner. namun tidak secara langsung menyebabkan relaksasi otot jantung. efektif dalam mencegah gagal jantung diastolik dan sistolik. pengurangan volume darah sentral dan mengurangi iskemia otot jantung. ARB= Angiotensin Receptor Blocker Memperbaiki Fungsi Ventrikel Kiri Ketika menangani pasien dengan disfungsi diastolik. tissue doppler imaging sangat berguna untuk mengukur mitral annular motion (pengukuran aliran transmital bergantung pada faktor-faktor yang telah disebutkan). Beta blocker (pilihan) Calcium channel blockers (obat golongan kedua) Digoksin (kontroversial) Ablasi nodus atrioventrikular (kasusnya jarang) Optimalisasi volume sirkulasi (hemodinamik). radionuclide angiography digunakan pada pasien yang secara teknis sulit dilakukan ekokardiografi.ARTIKEL PENELITIAN Sebagai tambahan untuk memperoleh informasi tentang chamber size. Menghilangkan secara bedah penyakit perikardium. Tujuan penanganan gagal jantung diastolik12 Mengobati faktor-faktor presipitasi dan penyakit yang mendasarinya. Pada permukaan tampaknya terapi farmako untuk gagal jantung sistolik dan diastolik tidak berbeda jauh. Oleh karena itu. kecepatan puncak aliran darah melewati katup mitral selama early diastolic filing dinyatakan sebagai gelombang E dan kontraksi atrial dinyatakan sebagai gelombang A. penyakit arteri koroner atau aritmia. compliance ventrikel kiri berkurang.12 Penatalaksanaan Pencegahan primer gagal jantung diastolik meliputi berhenti merokok dan penanganan agresif hipertensi.5. pengisian ventrikel kiri terjadi pada awal diastol. Pada keadaan normal.Desember 2006 . Namun tidak ada obat tunggal yang murni lusitropic properties (selektif meningkatkan relaksasi otot jantung tanpa menghambat fungsi atau kontraktilitas ventrikel kiri).

Desember 2006 199 . Seiler C. Diastolic heart failure. diltiazem (Cardizem®) seharusnya tidak digunakan pada pasien dengan gangguan disfungsi ventrikel kiri.101:2020-1 4.534-62 3. van Pol PE. Gutierrez C. Garg R. Vol. pasien ini mempunyai prognosis yang lebih baik dibanding gagal jantung sistolik. Nowak RM. et al. Efek antagonis aldosteron. et al. Am J Cardiol 2002. Grossman W. et al. Kovacs SJ. McCullough PA. McCord J. Hunt SA. Redfield MM. Blanchard DG.69:2609-16 5. mencegah atau mengurangi iskemik otot jantung.89:1218-21 12. Gagal jantung diastolik diperkirakan 40-60% dari pasien gagal jantung kongesti. Am J Geriatr Cardiol 2003. Baker DW.18:459-87 7. Philadelphia:Saunders. Eur J Heart Fail 2002. 73:841-6 13. terdapat perbaikan kapasitas kerja dan kualitas hidup.12. sedangkan efeknya pada disfungsi diastolik tidak jelas.12 Peranan digoksin masih kontroversial dalam penanganan pasien dengan gagal jantung diastolik. khususnya ketika ACE inhibitor tidak dapat digunakan. Vasan RS. 19. spironolactone (Aldactone®) pada gagal jantung sistolik menunjukkan penurunan angka mortalitas. Mishra TK. Defining diastolic dysfunction. Michael JG.12 Kesimpulan Terdapat perbedaan patogenesis. Manfaat tidak langsung dari optimalisasi hemodinamik meliputi perbaikan pengisian ventrikel kiri dan mengurangi tekanan darah. A different natural history? J Am Coll Cardiol 2001. Heart failure with preserved systolic function. vasodilator tidak mempunyai efek regresi ventrikel kiri. J Am Coll Cardiol 1999. Diastolic function assessment incorporating new techniques in doppler echocardiography.4. Dokter perlu mengkombinasikan informasi klinis dan ekokardiografi untuk mengkategorikan pasien gagal jantung diastolik. Circulation 2000. Maisel AS. Heart failure: clinical implications of systolic and diastolic dysfunction. van Kraaij DJ. angiotensin reseptor blockers. Yellin EL. Cardiovascular Research 2000. ACC/AHA guidelines for the evaluation and management of chronic heart failure in the adult: executive summary. Braunwald E. Vasan RS. Diastolic heart failure: challenges of diagnosis and treatment.4:81-99 11. Rev Cardiovasc Med 2003. diuretics dan beta blockers. et al. Meskipun diuretik mengontrol tekanan darah. Congestive heart failure in subjects with normal versus reduced left ventricular efection fraction: prevalence and mortality in a population-based cohort.ARTIKEL PENELITIAN angiotensin II. Pennington JA. Pada pasien dengan ejeksi fraksi normal. et al. Bagaimanapun juga nondihydropyrimidine calcium channel blockers (seperti verapamil (Calan®)).38:1277-82 14. Am Fam Physician 2006.19 Diuretik efektif dalam penanganan optimal volume intravaskular dan mengurangi sesak nafas dan mencegah gagal jantung akut pada pasien dengan disfungsi diastolik. Oktober . J Am Coll Cardiol 2001. Meisner JS. dengan cara mengurangi cadangan kolagen interstitial dan fibrosis. Warner JG. Diuretik intravena seharusnya hanya digunakan untuk mengurangi gejala akut. Ruiters AW. Clinical correlates of isolated left ventricular diastolic dysfunction among hospitalized older heart failure patient. Segal BL. J Am Coll Cardiol 2000.12 Calcium channel blockers telah menunjukkan dapat memperbaiki fungsi diastolik secara langsung dengan mengurangi konsentrasi kalsium sitoplasmik dan menyebabkan relaksasi otot jantung atau secara tidak langsung mengurangi tekanan darah. Ahmed A. Long-acting dihydropyrimidine (seperti amlodipine (Norvasc®) seharusnya hanya digunakan untuk mengontrol irama dan angina ketika beta bloker kontraindikasi atau tidak efektif. Senni M. Diagnosing diastolic heart failure. Philbin EF. Results from the breathing not properly multinational study. Digoksin berperan untuk mengontrol laju ventrikel pada pasien atrial fibrilasi atau flutter. et al. Daftar Pustaka 1. A report of the american college of cardiology/american heart association task force on practice guidelines. Spertus JA.33:1567-72 No. Clinical aspect of heart failure. Confirmation of a heart failure epidemic: findings from the resource utilization among congestive heart failure (REACH) study.38:2101-13 6. Satpathy C. Levy D. Circulation 2000. Lebih penting lagi. 41:2010-7 8. mengurangi hipertropi ventrikel kiri dan memperlambat denyut jantung. Naqvi TZ. Nanda NC. dimana oksigen menghambat kalsium klirens intraselular saat diastolik sehingga mengganggu relaksasi diastolik.12:82-9 2. digoksin dapat merusak fungsi jantung dengan meningkatkan kontraktilitas dan konsumsi oksigen. Geriatrics 1999. Hunsberger S. J Am Coll Cardiol 1999. Terapi farmakologi yang merupakan pilihan untuk gagal jantung diastolik adalah angiotensin converting enzyme inhibitors. Tecce MA. Eberli FR. beberapa pasien dengan gagal jantung diastolik sensitif terhadap pengurangan preload dan dapat mengakibatkan hipotensi dan azotemia prerenal berat. memperbaiki hipertropi ventrikel kiri dan mengurangi kekakuan ventrikel kiri. Mandinov L. Akhirnya pada penelitian random terkontrol berskala besar. et al.12 Hormon aldosteron menyebabkan fibrosis jantung dan berperan dalam kekakuan diastolik. Diagnosis and management of diastolic dysfunction and heart failure. Tidak seperti obat lain yang digunakan untuk gagal jantung diastolik. et al. Kitzman DW.33:1948-55 17. Vasodilator digunakan secara hati-hati karena penurunan preload dapat memperburuk cardiac output. Defining diastolic heart failure: a call for standardized diagnostic criteria.12 Vasodilator (seperti nitrat. 2001.101:2118-21 18.4:419-30 16. 4. Philbin EF. Weaver MT. Losartan improves exercise tolerance in patients with diastolic dysfunction and a hypertensive response to exercise. 31-3 15. et al. Cardiol Clin 2000. Benjamin EJ. Am Fam Physician 2004.45:813-25 9. Penelitian gagal jantung dengan vasodilator tidak menunjukkan manfaat harapan hidup yang signifikan pada pasien gagal jantung diastolik. In: Heart Disease: Textbook of Cardiovascular Medicine 6th edition.54:24-8. Larson MG. Wilson SC. Modelling of distole. Metzger DC.p. prognosis dan penanganan antara gagal jantung diastolik dan gagal jantung sistolik. et al. Usefulness of clinical information to distinguish patients with normal from those with low ejection fractions in heart failure. Satpathy R. Bedside B-type natriuretic peptide in the emergency diagnosis of heart failure with reduced or perseved efection fraction. Chin MH. et al. hydralazine (Apresoline®)) mungkin berguna karena menurunkan preload dan efek antiiskemik. calcium channel blockers belum terbukti menurunkan angka kematian pada pasien dengan isolated diastolic dysfunction.39:60-9 10. J Am Coll Cardiol 2003.

melambai ditiup sang bayu…! Gelanggang Olah Raga Ragunan Jakarta. Pada hari Rabu. Corporate Managing Director DXG. kesibukan rekan-rekan Tim OGB Dexa di tiap-tiap cabang mulai bergulir. Secara keseluruhan acara berjalan lancar dan mendapatkan respon positif dari Rumah Sakit maupun masyarakat luas. Oktober . pukul 08. baik swasta maupun pemerintah yang telah ditetapkan. Soetikno. OGBdexa: Segitiga Merahnya. Tim OGB Dexa di seluruh Indonesia mengadakan perhelatan bertajuk “Sehari Bersama OGBdexa”. 4. rekan-rekan Tim OGB Dexa bergerak menuju Rumah Sakit Umum. dan diproses dengan baik akan memberikan hasil yang baik.” demikian salah satu amanat yang penting dari Pak Ferry Soetikno. pagi itu tampil mempesona. selaras dengan kostum para petugas upacara bendera yang tampil gagah layaknya pasukan pengibar bendera. tanggal 20 September 2006.Desember 2006 207 . Sekitar 650 warga DXG dari kantor pusat dan perwakilan Jabotabek berbaris berbanjar.30. Pak Ferry mengingatkan agar warga DXG terus berkarya demi nusa dan bangsa. Bikin Hemat Dexa Media. Sejak pagi hari itu.MBA. sang Merah Putih berkibar. Karyanto OGBdexa. Segitiga Merahnya. selaku Pembina Upacara. Ferry A. Vol. Bapak Ir.SEKILAS DEXA MEDICA GROUP Berkibarlah Merah Putih-Ku Dexa Media. MSc. Tim OGB Dexa juga melakukan survei dengan mewawancarai pasien untuk mengetahui awareness masyarakat terhadap obat generik berlogo dan sekaligus mengenalkan brand OGBdexa di kalangan awam. menjadi saksi kebersamaan warga Dexa Group di dalam memperingati HUT Proklamasi Republik Indonesia yang ke-61. Bikin Hemat. yang berjalan meriah dan penuh persaudaraan. 17 Agustus 2006. Natalia No. Diiringi lagu Indonesia Raya.10 WIB. dilanjutkan pertandingan DXG CUP II. khidmat mengikuti prosesi upacara bendera. Kegiatan di tiap lokasi diawali dengan membagi brosur “Kenali OGB” kepada pasien dan pegawai apotek di Rumah Sakit. “Setiap niatan yang baik. 19. Dalam amanatnya. Sekitar pukul 8. seolah meneguhkan kembali tingginya rasa nasionalisme warga Dexa Medica Group (DXG).Usai upacara bendera. Keheningan saat merah putih dikibarkan oleh petugas upacara.

Serta keunggulan Toxilite. Sebelum Delon menampilkan sejumlah lagu-lagu manis. Toxilite mengandung bahan–bahan alami seperti ekstrak Curcuma xanthorizza (100 mg).PD. dan Vitamin E (100 mg). Soetikno. mengundang sejumlah dancer untuk menyajikan komposisi tarian unik dari Toxic Dancers. Indriana 208 No. Vol. sehingga dapat mengoptimalkan fungsi detoksifikasi yang dilakukan oleh hati terhadap toxin (racun) yang diserap tubuh. Bapak Ferry A. Novita Angie selaku MC.KGEH. Penyanyi Dellon dan presenter Novita Angie. Dalam tarian itu digambarkan toxin–toxin itu akhirnya mati. pestisida. Rekan-rekan media diajak berbagi wawasan mengenai Kiat Menetralkan Racun dalam Tubuh Secara Sehat dan Alami. saat Toxilite menggempur mereka. Toxilite bekerja membantu memperbaiki sel-sel hati (liver). ataupun polusi kendaraan bermotor. dihadiri perwakilan outlet wilayah Jabodetabek. Director of Scientific Affairs & Corporate Development Dexa Medica. rekan-rekan Dexa Medica Group. Oktober . Corporate Communications Manager DXG. Rizal. Hal ini dibuktikan dengan peluncuran Toxilite di Hard Rock Café Jakarta. alkohol. menjadi bintang tamu yang menghangatkan suasana. talkshow singkat digelar dengan topik mengenai apa dan bagaimana Toxilite bekerja memkasimalkan proses penetralan racun tubuh. Toxin tersebut bisa berasal dari lingkungan disekitar kita. dan dokter spesialis Hepatologi. Sp. seperti: asap rokok. Tjandrawinata. Corporate Managing Director Dexa Medica Group. 19. Sebelum grand launching digelar. berguguran. Komitmen Dexa Medica Group untuk terus mengembangkan produk-produk non-konvensional semakin nyata. diawali dengan Konferensi Pers. zat pewarna. Rino A Gani. Lecithin(25 mg). Grand Launching Toxilite dikemas atraktif. dan Ibu Sylvia A. 4. Menjelang puncak acara. dipandu Bapak Karyanto.Desember 2006 . obat serangga. zat pengawet. dan sekitar 30 media cetak dan elektronik. Dr. 12 September 2006. Talkshow menampilkan Bapak Raymond R. Saat itu. Head of Marketing and Sales OTC Dexa Medica sebagai narasumber.SEKILAS DEXA MEDICA GROUP Delon Semarakkan Peluncuran TOXILITE Dexa Media.

355(9):928-39 No.66(11):1465-73 Risk for tuberculosis among children. Di bawah ini akan diberikan daftar isi beberapa jurnal terbaru yang dapat anda pilih. Diabetes Care 2006. Diabetes Care 2006. testing. and treatment. apabila tidak melalui Tim Promosi Dexa Medica Group. The New England Journal of Medicine 2006.Desember 2006 211 . American Academy of Family Physicians 2006. pathophysiology. The Oncologist 2006.189:254-9 Effect of celecoxib on cardiovascular eventsand blood pressure in two trials for the prevention of colorectal adenomas. Drugs 2006.118:561-9 Mycoplasma genitalium as a sexually transmitted infection: implications for screening. Mulai edisi ini Dexa Media melayani permintaan penelusuran jurnal hanya dengan melalui Tim Promosi Dexa Medica Group. Hypertension 2006. Focus on thromboprophylaxis in patients undergoing orthopaedic surgery.48:374-84 Topical ciprofloxacin/dexamethasone superior to oral amoxicillin/clavulanic acid in acute otitis media with otorrhea through tympanostomy tubes. Pediatrics 2006. kami tidak melayani permintaan.74:783-90 Cognitive impairment in bipolar II disorder. 66(11):1411-29 Pharmacological approaches to the management of cognitive dysfunction in schizophrenia.PROFIL PENELUSURAN JURNAL Pembaca yang budiman. The New England Journal of Medicine 2006. Oktober . artikel yang dimaksud diberi tanda p dan dikirimkan ke alamat redaksi. and management. Drugs 2006.82:269-71 Role of minimally invasive surgery in gynecologic cancers. British Journal of Psychiatry 2006.11:895-901 Celecoxib for the prevention of sporadic colorectal adenomas. Avian influenza: Preparing for a pandemic. 24(3):115-21 Ferritin and transferrin are both predictive ofthe onset of hyperglycemia in men and women over 3 years.29:2102-7 Oral anticoagulations in development. Sexually Transmitted Infections 2006.12(9):1383-8 Clinical events in high-risk hypertensive patients randomly assigned to calcium channel blocker versus angiotensin-converting enzyme inhibitor in the antihypertensive and lipid-lowering treatment to prevent heart attack trial.355(9):873-84 Cerebral aneurysms. Circulation 2006. Clinical Diabetes 2006. Vol. 29:2090-4 Effect of weight loss with lifestle intervention on risk of diabetes. Bila anda menginginkannya. 19.114:1028-35 Hypoglycemia in type 1 and type 2 diabetes:Physiology. 4. mohon halaman ini difotokopi. Emerging Infectious Diseases 2006.

org 4) World Menopause Day: Menopause and Aging Quality of Life and Sexual Tempat: Hotel Borobudur. Oktober .Desember 2006 . Jakarta 10270 E-mail: convex1@indosat. Sultan Iskandar Muda No. Saharjo 120 Jakarta 12960 Indonesia E-mail: permijakarta@yahoo. Ancol . SKM 5) The 2nd International Symposium Jakarta for Healthy Travellers Tempat: Jakarta Tanggal: 18-19 November 2006 Sekretariat: Global Medica Communications. Jakarta Tanggal: 24-25 November 2006 Sekretariat: Sekretariat Kongres Nasional I PERKAPI Perkantoran Kebun Jeruk Baru Blok A No. 13-14 Jl.net.com Telp: 021-8292672 / 8312378 Faks: 021-830190 Contact person: Nelly Hutajulu. Malaysia Tanggal: 02-04 Desember 2006 Sekretariat: Academy of Medicine E-mail: acadmed@po.com 3) The 6th Asian & Oceanian Epilepsy Congress Tempat: Kuala Lumpur. 4. 39240. Jl. Jakarta 11530 E-mail: hospex@cbn. Jakarta Tanggal: 25 November 2006 Sekretariat: PASTI Jl.id Telp: 021-30042089 Faks: 021-30041027 6) WFAS International Symposium on Acupuncture Tempat: Sanur Paradise Plaza. Gatot Subroto. Stillorgan. Malaysia Tanggal: 16-19 November 2006 Sekretariat: ILAE/IBE Congress Secretariat 7 Priory Hall.id Telp: 021-3910294.id Telp: 021-30042089 Faks: 021-30041027 2) XVIII FIGO World Congress of Gynecology and Obstetrics Tempat: Kuala Lumpur Convention Center.jaring. Sanur. Jl.figo2006kl. Jakarta E-mail: globalmedica@cbn. 31931384.id Telp: 021-5367 7981-82 Faks: 021-5367 7983 8) Seminar & Workshop PASTI (Perkumpulan Awet Sehat Indonesia) Restoring Youthful Hormone Level Tempat: Hotel Borobudur.Jakarta Tanggal: 15-17 Desember 2006 Sekretariat: E-mail: pb_papdi@indo. Dublin 18. Ampang Kuala Lumpur .net. 19. Mamandan 9. Level B-1 Jakarta Hilton Int’l. Jakarta Tanggal: 04-05 November 2006 Sekretariat: Global Medica Communications.net. Jakarta Tanggal: 16-19 November 2006 Sekretariat: Yayasan Sehat Wanita Indonesia PERMI Jl. Arjuna Selatan. Fredy Wilmana / dr. Malaysia Tanggal: 5-10 November 2006 Sekretariat: AOS Convention & Events Sdn Bhd No.com Telp: +60 3 4252 9100 Faks: +60 3 4257 1133 Website: http://www.id Telp: 62-21-5705800 ext 420 Faks: 62-21-5705798 Contact: Reny Yetri 7) Kongres I PERKAPI (Perhimpunan Kedokteran Anti Penuaan Indonesia) Anti Aging: New Challenge in Medicine Tempat: Jakarta Convention Center.my 10) PIN PAPDI Tempat: Hotel Mercure.net. Jakarta E-mail: globalmedica@cbn.epilepsykualalumpur2006.net.KALENDER PERISTIWA 1) Biennial Symposium DIGM: “Geriatri Update 2006” Tempat: Hotel Le Meridien. Bali Tanggal: 22-26 November 2006 Sekretariat: Pacto Convex Lagoon Tower.Malaysia E-mail: consec@figo2006kl. Arjati Daud 9) 11th Asian Symposium on Rhinology Tempat: Kuala Lumpur. Vol. 30 A-B Jakarta 12240 Telp: 021-729 0623 Faks: 021-7289 5871 Contact: dr. 3193808 pswt: 6703 Faks: 021-3148163 212 No. Ireland Telp: +353 1 2059720 Faks: +353 1 2056156 Website: http://www. Ampang Point 68000.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful