TEKNIK WAWANCARA MENDALAM teknik wawancara mendalam, bahan kuliah S2 by George Aditjondro SUDAH banyak literatur tentang metodologi

penelitian membahas tentang teknik wawancara (interview). Namun saya tidak puas membaca berbagai literatur yang hanya berbicara tentang „teknik‟, dan kurang berbicara tentang filsafat di balik „teknik‟ atau „metode‟ itu. Menurut saya, kita perlu mulai dari latar belakang filsafati, sebelum berbicara tentang „teknik‟ atau „metode‟, apalagi kalau mau berbicara tentang wawancara mendalam (in-depth interview) dan kata kerjanya, in-depth interviewing. Kalau diperkenankan memberikan kesaksian pribadi, saya mulai mendapatkan insight tentang wawancara mendalam (in-depth interviewing ) selama menjalani interogasi yang total memakan 20 jam di kantor Polsek Yogyakarta, dari bulan November 1994 s/d Januari 1995, ketika “Negara” menuduh saya menghina satu lembaganya. Lembaga apa atau siapa? Dalam surat panggilan tidak disebutkan secara eksplisit. Tapi dari pertanyaan-pertanyaan para interogator, ternyata yang dimaksudkan adalah Kepala Negara, waktu itu, Soeharto. Selama hari pertama interogasi, pertanyaan-pertanyaan menjurus kepada sejarah hidup pribadi dan jati diri saya, mulai dari saat ketika saya menjalani pendidikan dasar (di Banyuwangi, Pontianak, dan Makassar), pendidikan menengah dan pendidikan tinggi (di Makassar, Semarang, Salatiga, dan Ithaca), dan tempat pekerjaan saya (di Jakarta dan Abepura). Menjawab rentetan pertanyaan itu membuat saya keringat dingin, berulang kali kencing, dan mengalami stress yang berat, sampai tekanan darah saya merangkak naik sampai mendekati 200 (batas atas). Hanya dengan intervensi dokter polisi, interogasi hari pertama selama 8 jam itu dihentikan. Apa yang membuat saya begitu merasa tertekan? Saya merasa “ditelanjangi” oleh para interogator, yang memainkan permainan yang biasa, polisi baik dan polisi galak silih berganti. Bukan hanya ditelanjangi secara pribadi, tapi saya merasa seluruh jaringan perkerabatan dan jaringan sosial saya ditelanjangi. Semua kawan dan kerabat saya sudah saya serahkan ke sistem surveillance polisi, sehingga saya membuat begitu banyak kawan dan kerabat jadi rentan terhadap kemungkinan diperiksa juga oleh polisi, gara-gara sikap saya yang, untuk ukuran waktu itu, terlalu „nekad‟ berbicara tentang ketamakan seorang presiden, yang selama lebih dari 30 tahun masa kediktatorannya, memperkaya keluarga dan kroni-kroninya secara luar biasa. Jadi intinya adalah, proses interogasi yang dijalankan oleh polisi bukan hanya merupakan sistem pengumpulan data intelijen (intelligence data gathering) untuk

melainkan juga suatu sistem penjungkirbalikan kekuasaan. menjadi semakin bermakna bagi diri saya. atau. apa sebaiknya menjadi landasan filosofis interview? Mengikuti kegemaran Paulo Freire dalam membongkar-bongkar kata. apa yang sering saya ceramahkan atau kuliahkan kepada mahasiswa dan aktivis. bukan sebagai „orang kampus‟yang datang mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi „orang kampung‟.kepentingan aparat represif negara. “saling menyelami isi hati”. Namun dengan mengalaminya sendiri. Berarti. ia sangat tergantung dari pemerasan para warga. karena demi menghidupi keluarganya. Filsafat Foucault memang membantu. Berbeda dengan peneliti konvensional yang bagaikan tupai meloncat dari satu „proyek‟ penelitian ke „proyek‟ lain. yang belum tentu betul-betul adil. 2. sang polisi menjungkirbalikkan hirarki kekuasaan dengan “menelanjangi” si tersangka.” . sebab dalam kedua setting tersebut tetap dipertahankan hirarki antara pewawancara dan yang diwawancarai. pada saat menjalankan interogasi. Jadi. Untuk itu ia harus bersedia memberikan komitmen jangka panjang untuk bekerja bersama masyarakat mitra penelitiannya. Yang saya maksud di sini bukan wawancara dalam rangka psikoanalisa. di mana: “ peneliti pembebasan …… melihat dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang diteliti. merupakan suatu proses saling menyelami isi hati. dengan terjemahan sedikit bebas. lalu lewat proses peradilan. karena ia berbicara tentang kekuasaan (pouvoir) yang bersaudara kembar dengan pengetahuan (savoir). Juga bukan wawancara dalam rangka konseling pastoral atau konseling “sekuler”. peneliti pembebasan bersamasama mitra penelitiannya menyusun agenda aksi untuk menegakkan kedaulatan mereka agar dapat mengembangkan potensi diri mereka secara penuh. yang menghadapi risiko diubah statusnya menjadi “terdakwa”. bahwa interview =/= interogasi. bertukar pandangan. Kalau dalam kehidupan sehari-hari. Yang saya maksud di sini. Lantas. dapat ditetapkan menjadi “terpidana”. buatku. dan bahwa kekuasaan tidak hanya menggumpal dalam struktur-struktur tertentu yang hirarkis. melainkan meresap dalam setiap hubungan sosial. melakukan wawancara mendalam. Kita tidak perlu menjadi ahli filsafat Michel Foucault. yang telah saya uraikan dalam Handout No. dari akar kata “inter” (antar) dan “view” (pandangan). untuk mengetahui struktur kekuasaan di balik interogasi itu. polisi sering dilecehkan oleh warganegara.interview adalah pertukaran pandangan antara peneliti dan mitranya. wawancara mendalam (in-depth interviewing) yang bertolak dari paradigma penelitian pembebasan.

para (calon) antropolog meninggalkan masyarakat yang ditelitinya. tesis. peneliti harus bersedia “ditelanjangi” oleh para mitranya. sekaligus sebagai dekorasi di rumah atau kantornya. sebaiknya hanya dilakukan dengan persetujuan mitra penelitian. DATA YANG DIHARAPKAN SEPERTI pada questionnaire atau pedoman wawancara. itu adalah bagian dari penciptaan kepercayaan mitra terhadap peneliti (rapport creating). Baru kemudian dalam laporan penelitian. Keterangan tentang jati diri subyek wawancaranya. Itu adalah bagian dari apa yang sering disebut. Denah yang menggambarkan peristiwa-peristiwa penting yang ingin digali oleh peneliti. Dalam penelitian konvensional. antara lain. untuk mengklaim legitimasi sebagai orang yang dapat berbicara “atas nama” komunitas yang sudah ditelitinya. segala macam teknik pencatatan dan perekaman informasi yang ingin dilakukan oleh peneliti. yakni: 1. Baik itu bersifat penggunaan alat pencatat. mitra penelitian juga berhak berkenalan dengan pewawancara dengan seluruh jati dirinya. dan berbagi rasa dengan mereka sebagai sesama manusia. Itu sebabnya. buat peneliti pembebasan wawancara mendalam dapat menjadi “semen perekat” dengan komunitas yang didampinginya. dengan wawancara mendalam itu. menertawakan ketakutan-ketakutan dan prasangka-prasangka yang dimiliknya sebelum bergaul dengan intim dengan komunitas itu. Sebagai bagian dari kesetaraan itu. disertasi doktor dan post-doktoral. bukan sebagai “pakar”. khususnya dalam penelitian antropologi.Letak ketimbalbalikan dalam wawancara mendalam adalah. yang oleh sebagian antropolog diatasi dengan mengawini seorang laki-laki atau perempuan dari komunitas yang ingin ditelitinya. . termasuk kedudukannya dalam komunitasnya. bermaksud „menjadi orang asli‟. walaupun tidak semua peneliti yang menikah dengan perempuan atau laki-laki setempat. tape recorder. ada tiga kelompok informasi yang dapat diharapkan dari serangkaian wawancara mendalam. going native („menjadi orang asli‟). denah hasil karya para mitra itu digambar kembali oleh peneliti atau artis grafik. Selesai melakukan penelitian lapangan selama setahun. mengetahui apa tujuan wawancara. Berbeda dengan antropolog yang melakukan penelitian skripsi. dan penggunaan hasil penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan. dengan membawa berbagai artifak sebagai memento (kenang-kenangan) dari masyarakat tersebut. sebaiknya juga dimintakan pada mitra untuk menggambarkannya. apalagicamcorder. apabila memang diperlukan.

dan wawancara yang menyangkut hal-hal yang masih bersifat rahasia (menurut adat istiadat). atau di biara. tidak langsung. kalau orang-orang yang mereka takuti ada di sekitar mereka. untuk menggali ingatan-ingatan yang secara sadar atau tidak sadar. Berbicara soal tempat. dalam ruang tertutup yang sangat privat pula. praktis hanya akan diungkapkan perempuan korban kepada pewawancara perempuan. dan dapat mendengarkan seluruh proses wawancara itu. kita harus membedakan wawancara-wawancara menyangkut peristiwa yang sudah menjadi memori kolektif. Makanya. yang dapat dilakukan di warung. hal-hal yang menyangkut kelompok informasi kedua memerlukan percakapan-percakapan yang panjang. adalah kesulitan mewawancarai para pengungsi Timor Leste di kampkamp pengungsian di Timor Barat. Kata kuncinya adalah “empati”. Keterangan tentang pandangan sang subyek tentang “dunia sekitarnya”. merupakan hal-hal yang kurang nyaman atau terlalu sensitif untuk dibicarakan dengan si pewawancara yang baru dikenal. atau paling tidak. Contoh lain lagi. Atau. agak berputar-putar. Keterangan tentang pandangan sang subyek tentang: (a) bagaimana ia dapat survive dalam dunia sekitarnya. Misalnya. yang bertujuan menggali ingatan kolektif mereka tentang kerusuhan dan kekerasan yang tak kunjung berakhir. seperti masalah seks. kemampuan merasakan apa yang mereka derita dan bersimpati dengan mereka. Seringkali. di musholla. pengajuan pertanyaan-pertanyaan itu perlu dilakukan secara sangat hati-hati. yang tidak selalu sejenis kelamin dengan mereka. Salah seorang peneliti pelecehan seksual terhadap perempuan. sekuriti (menyangkut perlawanan terhadap kekuasaan formal). di mesjid. menceritakan pengalamannya mewawancarai perempuan korban sambil mencuci rambutnya di kamar mandi.2. 3. tempat di mana wawancara berlangsung kadang-kadang sangat penting. lebih nyaman. khususnya tentang hal-hal yang ingin diketahui oleh si pewawancara. pewawancara kadang-kadang terikat kaki dan tangannya. ditekan ke bawah permukaan. dan yang menyangkut hal-hal yang sangat privat. dalam wawancara mendalam dengan perempuan-perempuan di daerah Poso dan sekitarnya. perlu merasa akrab dan penuh percaya dulu dengan si pewawancara. atau (b) bagaimana ia dapat mengubah dunia sekitarnya supaya kondisi hidupnya lebih ideal. Dalam hal ini. Hal-hal yang menyangkut pengalaman traumatis yang berkaitan dengan pelecehan seksual. untuk tidak mempublikasikan . Para perempuan yang diwawancarai.

Malah. mengikuti pedagogi Paulo Freire. dari wawancara saya dengan beberapa orang narasumber yang perempuan. bunga.hasil wawancara mendalam itu. Wawancara mendalam sebaiknya dilakukan sambil berjalan-jalan di kebun. sebelum belajar dengan otaknya. dalam berbagai tulisan saya (misalnya. 2). Barang-barang tertentu dapat mengundang memori yang sangat mendalam akan orang-orang yang dikasihi yang sudah meninggal. yang menekankan bahwa manusia lebih dulu belajar dengan pancaindranya. kodifikasi yang berupa gambar. atau sesudah kembali ke rumah. atau sedang mengembara untuk waktu yang lama. yang menggunakan kodifikasi sebagai alat bantu penggugah memori. sebaiknya kegiatan tanya-jawab antara kedua mitra peneliti itu dimediasi oleh satu atau lebih kodifikasi. tanpa mengungkapkan jati diri para korban. melainkan pakaian yang pernah dipakai sang kekasih semasa hidupnya atau pada saat . maka aku ada” (cogito ergo sum). Semboyan Descartes “aku berfikir. Ada satu hal yang harus diperhatikan dalam wawancara mendalam. kepada seorang peneliti militerisme seperti penulis sendiri. tidak mau melepas hasil wawancara dengan para korban mutilasi genital yang dilakukan sekelompok milisi dari Jawa yang datang ke Seram. Proses ini jauh lebih kreatif. serta hasil-hasil wawancara saya dengan sejumlah narasumber laki-laki. Terpaksa saya hanya berulangkali menggunakan tulisan seorang feminis (Hutabarat 2003: 216). diselingi pertanyaan tentang foto-foto yang dipajang di ruang tamu. atau bahkan sementara yang diwawancara berbaring di tempat tidur karena sakit atau lelah (yang mengingatkan kita pada sofa praktek psikiater). seorang kawan dari Komnas Perempuan di Jakarta. “aku mengecap. cocok dengan filsafat Merleau-Ponty. dan egaliter. Konfidensialitas itu pernah dilanggar oleh satu kelompok perempuan di Poso. diselingi singgah di dapur. digantinya menjadi. yang membocorkan hasil wawancara mereka dengan para perempuan korban kepada pers lokal. KODIFIKASI SEBAGAI ALAT BANTU PENGGUGAH MEMORI WAWANCARA yang hanya bersifat interaksi bilateral di antara dua pribadi tetap akan dipengaruhi struktur kekuasaan terselubung atau „hirarki‟ di antara peneliti dan yang diteliti. atau pohon buah yang tumbuh di situ. eksploratif. Makanya. yang serta merta menyiarkan kesaksian para perempuan yang dijuluki Koramil („korban rayuan militer‟) tersebut. 3). yakni representasi dari apa yang menjadi sorotan bersama (lihat Handout No. musik. maka aku ada” (lihat Handout No. diselingi pertanyaan tentang bunga. Sebaliknya. serta obrolan sembari makan bersama. ketimbang wawancara sambil duduk berhadap-hadapan. kodifikasi yang paling menggugah memori mereka bukannya foto orang-orang yang mereka kasihi. Aditjondro 2004: 51-2). Menariknya. atau makanan yang mengeluarkan aroma tertentu. tanaman obat.

Gejala serupa diamati oleh Andi Baso (26). lebih bagus dimediasi dengan gambar. Benda-benda mati itu bisa bercerita lewat mulut mereka yang hadir dalam sejarah masuknya benda-benda itu ke dalam lingkaran anak-anak manusia itu. Berbeda dengan interaksi dengan orang dewasa. yang ayahnya meninggal secara tidak wajar. Atau. Anak-anak dari ayah yang meninggal dalam keadaan yang tidak wajar. lebih merupakan hal yang peka bagi perempuan ketimbang laki-laki. harus berhati-hati sekali dan cepat menunjukkan empatinya. pada umumnya yang digambar anak-anak adalah orang yang memegang senjata. Ia menggambarkan efek psikologi konflik Poso yang diekspresikan anak-anak di wilayahnya dalam gambar-gambar mereka: . setipis apapun. ia duduk tepat di kursi yang biasanya dilowongkan untuk sang tokoh yang sudah meninggal dalam peristiwa traumatis. Namun dari sudut penelitian untuk mengungkapkan isi hati mitra yang sesungguhnya. atau dibeli dalam perjalanan bersama. Pewawancara yang sudah mulai dapat menciptakan rapport dengan mitra dan keluarganya. Dalam Festival Anak Perdamaian di Kompleks Kantor Sinode GKST di Tentena. wawancara mendalam dengan anakanak. Pada saat ia cuci piring. apabila mitranya meletus dalam luapan emosi kesedihan apabila barang-barang itu dipertanyakan cerita asal usulnya. pada saat ia diundang makan di meja makan bersama mitra dan keluarganya. seperti yang sering dilakukan seorang keponakan perempuan saya. 3). Jadi. sekitar dua bulan sebelum Deklarasi Malino untuk Poso. Boleh jadi. juga perlu berhati-hati di mana ia duduk di rumah sang mitra. rumah tinggal dan rumah ibadah yang dibakar. Ketua Remaja Islam (RISMA) Desa Tokorondo. seperti konflik etno-linguistik atau peristiwa lain yang berakhir dengan kematian yang tidak wajar. Baju. buatan orang yang dikasihi. yang masih ada di pakaiannya. sebab ayahnya sering membantu dia cuci piring.ia sedang berada di rumah di tengah pengembaraan yang panjang. Kecamatan Poso Pesisir. ia suka duduk di depan meja tempat ayahnya sering melakukan hobinya memperbaiki alat-alat elektronika. ia juga sering teringat pada ayahnya. dengan menduduki kursi kesayangan sang ayah. pewawancara yang berempati dengan mitranya. juga dapat mengundang memori pasangan atau anak-anak mereka. serta buku-buku yang pernah dibacanya atau lama berada di perpustakaan pribadinya. Barang-barang lain. luapan emosi itu dapat menjadi pembuka jalan untuk berceritera tentang kejadian-kejadian traumatis yang kaya makna dari sudut kemanusiaan. dan lain sebagainya (lihat Handout No. suka „menikmati‟ kenangan sang ayah. orang yang dibunuh.

adalah memberikan kertas dan pinsil warna kepada anak-anak. 1998-2000. maupun benci. warnanya dua macam. kemudian dimakan oleh ikan di muara sungai itu. di Poso ikan makan orang”. anak-anak itu menjawab. tidak terbatas pada proses tanya-jawab yang bilateral. sebab sejak kapan sapi yang herbivora. dan ada yang berwarna putih. Berarti. Ungkapan ini timbul karena banyak mayat korban yang hanyut atau dibuang ke Sungai Poso. seorang mahasiswa IRB menemukan. seperti dalam interogasi maupun psikoanalisa. Kesimpulannya. seringkali melahirkan ucapan-ucapan berupa metafora atau idiom. ada yang berwarna merah.“… waktu kami mengadakan lomba menggambar. Kata-kata itu tidak perlu ditafsirkan secara harafiah. menjadi karnivora? Kata-kata itu mungkin merupakan indikator banyaknya mayat manusia yang bergelimpangan. yang sudah memasuki tahun ketujuh. METAFOR DAN IDIOM-IDIOM YANG SARAT MEMORI PERCAKAPAN-percakapan yang ‟berhasil‟. jauh lebih efektif dari pada melakukan wawancara dengan kata-kata. gunungnya terbakar. NTT. yakni bahwa ”kalau di Palu orang makan ikan. Idiom dari Timor itu mengingatkan saya pada istilah yang muncul setelah konflik Poso. dalam menggali persepsi dan memori anak-anak. jadi kalau ada perang bisa diketahui” (Ishak 2003: 86). Tapi waktu itu [sesudah kerusuhan Poso – GJA] [anak-anak] rata-rata menggambar gunung warna merah. Ungkapan itu dicatat oleh sang mahasiswi. Dalam percakapan awalnya dengan seorang saksi mata gejolak sosial pasca-referendum di Timor Leste. untuk menggambarkan kesan mereka tentang topik yang ingin kita teliti. Waktu kami tanyakan. serangkaian wawancara mendalam yang berhasil. rumah warna merah milik orang Kristen. biasanya anak-anak kalau menggambar gunung berwarna hijau. Anak-anak itu menjelaskan. Entah cinta. bahwa respondennya itu suka-suka mengulang-ulang kata-kata ”sapi makan bangkai”. . dimediasi oleh berbagai kodifikasi yang mengingatkan sang mitra akan “dunia” dengan siapa ia punya hubungan emosional yang kuat. sehingga sapi-sapi hampir tidak punya tempat untuk merumput. Yang lain ada juga yang menggambar rumah. yang dapat dijadikan ‟pegangan‟ dalam percakapan lebih lanjut dengan para mitra. ketika bercerita tentang pelariannya dari enclave Oikussi (yang termasuk Timor Leste) ke Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). dan warna putih milik orang Islam. untuk menjadi salah satu pegangan dalam rencana penelitiannya bersama para pengungsi Timor Leste yang terpaksa (atau dipaksa?) menetap di Timor Barat. melainkan dalam interaksi antara dua manusia atau lebih. kenapa gunungnya berwarna merah.

panas-panas tahi ayam. sebagaimana terungkap dalam eksplorasi di kelas mata kuliah Metodologi Penelitian IRB. ayam kampus untuk menggambarkan mahasiswi yang berdwifungsi sebagai PSK. sangat kaya dengan metafor-metafor yang menggambarkan pelecehan seksual oleh personil aparat bersenjata. dan “penggoda”. istilah-istilah plesetan itu juga bergeser dari Koramil („korban rayuan militer‟) danBabinsa (babini di sana-sini. Metafor-metafor yang paling populer juga menunjukkan transformasi kita dari masyarakat agraris ke masyarakat pasca agraris. yakni korps pegang susu(Aditjondro 2006).tidur-tidur ayam sambil mendengarkan kuliah. “perempuan organik” (bandingkan dengan „senjata organik‟). Sebab metafor dan idiom adalah ”wahana” orang untuk menyampaikan ide-ide yang lebih kompleks. sehingga bentuk perlawanan kultural rakyat setempat. idiom-idiom atau ungkapan-ungkapan yang ‟tidak biasa‟ seperti itu penting untuk dicatat. Metafor-metafor yang lebih bersifat labeling itu juga diterapkan terhadap anak-anak yang lahir akibat ulah para personil aparat bersenjata yang menjadikan perempuan setempat sebagai obyek hiburan mereka. untuk dijadikan pijakan percakapan lebih lanjut antara peneliti dan mitranya. singkatan dari tampa bapolo‟ (tempat berpelukan) bagi perempuan setempat yang mau berpacaran dengan anggota TNI dan Polri. muncul istilah tapol. atau ide-ide yang sarat emosi (Lakoff & Johnson 1980). Seiring dengan pergeseran dominasi militer yang mulai membagi peranan dengan polisi sebagai „penjaga keamanan‟ di daerah-daerah konflik. mungkin tanpa kita sadari. muncul pula berbagai istilah untuk melecehkan perempuan setempat yang mau berpacaran dengan personil aparat bersenjata. Sebab.Metafor-metafor. Namun pada saat yang sama. yang menemukan segudang (metafor!) metafor yang menggunakan sifat-sifat ayam. jago kandang untuk menggambarkan laki-laki yang hanya berani menunjukkan kekuasaannya di lingkungannya sendiri. Sedangkan di Aceh ada pemaknaan lain buat Kopassus. Sedangkan di Poso. seperti “perempuan gatal”. Timbul istilah “Kostrad Kecil” atau “Brimob Kecil” (Hutabarat 2003: 218). dalam percakapan lisan orang banyak sekali menggunakan metafor. yang dikonotasikan sebagai PSK (idem). Daerah-daerah konflik seperti Aceh (dulu) maupun di Poso (masih). Namun kalau itu memang muncul dari percakapan dengan orang-orang . tulisan seperti cakar ayam. khususnya di daerah Tentena yang kini dihuni ribuan pengungsi Nasrani yang lari dari kota Poso dan sekitarnya. yang dapat menimbulkan stigma kepada bocah -bocah tak bersalah itu.ayam kampung untuk menggambarkan PSK lokal. Misalnya: kamar berantakan seperti kandang ayam. beristeri di sanasini) ke SSB (sisa-sisa Brimob) dan Selebrites (selera Brimob & Perintis).

dan melepaskan diri dari proses tanya-jawab yang hanya berputar pada kata-kata. Yogyakarta.dewasa. mengkajinya bersama para orang tua. Wawancara mendalam hendaknya menjauhi hal-hal yang mengukuhkan struktur kekuasaan dan hirarki antara peneliti dan yang diteliti. peneliti perlu mencatatnya. dengan mediasi berbagai bentuk kodifikasi yang sudah hadir di tengahtengah lingkungan mitra penelitian. serta ‟berpegang‟ pada metafor-metafor yang muncul dari memori dan mulut para mitra wawancara. PENUTUP BEGITULAH gambaran singkat penulis tentang teknik wawancara mendalam. yang dilakukan dalam paradigma penelitian pembebasan. tapi tidak menggunakannya di depan dan kepada anak-anak di daerah konflik. 6 Mei 2006. .

dan dengan tepat. Sub fokus kedua. dimana rincian itu menjadi sebuah bangunan struktur materi pembicaraan. Daftar media apa. Hubungan kerja antara peneliti dengan nara sumber identik dengan hubungan pembelajaran antara siswa dengan guru. dengan serius. dan meminta informasi lebih rinci/ lanjut. Kenapa fisik dipertanyakan. meminta kejelasan atas pembelajaran yang masih meragukan (bukan membantah). gurulah yang lebih pantas menentukan skenario pembelajaran. Tidak mungkin anda berolah raga. ”Bagaimana karakteristik hubungan kerja kepala sekolah dengan guru dan staf‟. mettoda apa. Seorang siswa tidaklah pantas melakukan pengarahan materi kepada gurunya. Misalnya kalau anda di Masjid sekolah. Siswa memiliki kesempatan untuk bertanya mengenai informasi yang sangat dibutuhkan. guru. Karena fisik sekolah yang tepat akan mendorong terciptanya suasana belajar yang baik. Siswa tidak pantas menyusun daftar pertanyaan secara rinci. Pertanyaan. maka tidak mungkin guru dapat mengajar dengan tenang. Karena ketika hubngan kerja antara kepala sekolah. Contoh rumusan fokus ”Bagaimanakah bapak kepala sekolah memimpin sekolah hingga menjadi sekolah unggul”. Penentuan sebuah wawancara menjadi mendalam atau terstruktur bergantung pada kedudukan peneliti dan nara sumber. dan staf itu rukun akan menjadi indikator . tidaklah di Masjid itu anda bermain musik. Dengan cara itu maka orisionalitas materi ajar masih dapat dipertanggungjawabkan. menentukan kisi-kisi materi ajar. Fokus tersebut boleh jadi dijabarkan menjadi beberapa sub fokus.Teknik Wawancara Mendalam (Harsono UMS) 2 Oktober 2009 oleh Harsono Universitas Muhammadiyah Surakarta Kedudukan. Ketika peneliti menempatkan diri sebagai siswa maka kedudukan nara sumber adalah sebagai guru. menentukan media pembelajaran kepada siswa. Misalnya. pasti anda akan membaca Al Qur‟an dan atau Hadist. sub fokus pertama “Bagaimana karakteristik fisik sekolah”. mengapa hal ini ditanyakan. Siswa hanyalah berhak mengajukan pertanyaan dalam rumusan fokus tertentu. Meskipun tidak ada jaminan kalau kepala sekolah. menentukan metode pembelajaran. guru. Secara lengkap. jadi seorang gurulah yang pantas menyusun struktur informasi. dan seterusnya. dengan struktur materi bagaimana. Siswa tidak memiliki hak untuk mengarahkan guru agar mengajar apa. dan staf itu penuh intrik dan konflik.

situasi kompetisi kolektif. . setelah selesai wawancara haruslah peneliti memindahkan naskah dalam bentuk teks. Kalau organisasi sekolah dihuni oleh orang-orang yang stagnan akan berbeda maka sekolah itu damai tetapi akan menunju pada situasi kesakitan bahkan kematian organisasi. Pertama. pertama pencuri. sehingga nampak santai. dan staf yang dinamis. Kedua. Itulah yang disebut dengan konfirmabilitas keabsahan data. wawancara dilakukan dalam situasi informal. Peneliti tidak dibenarkan berada dalam situasi berat sebelah. Jika nara sumber menerima maka dipersilahkan memberikan persetujuannya dengan membubuhkan paraf. supaya diskusi tidak terganggu dengan catat mencatat yang lambat.keberhasilan sekolah. harus dipilih tempat yang tepat untuk berbicara panjang lebar dalam waktu yang cukup lama. Ketiga informan tersebut akan mendorong informasi tidak berat sebelah. kompetitif. atau informasi yang belum jelas. Kelima. Sebagai peneliti harus memiliki kecerdasan komunikasi sehingga idapat memilih informan yang tepat. Keempat. Organisasi sekolah haruslah dinamis. mereka bekerja dalam situasi tim kerja. konfrontasikan informasi dari nara sumber utama tadi dengan nara sumber kedua. itulah yang disebut dengan teknik trianggulasi data. Keempat. Siapa nara sumbernya. Kalau sekolah ditempati oleh kepala sekolah. kedua rival polisi. tetapi hanya diperkenankan menanyakan informasi lebih lanjut. maka aura organisasi sekolah akan memungkinkan berkembang lebih baik. Situasi seperti itu akan menjebak peneliti untuk mendapatkan informasi yang tidak dapat dipercaya dan lebih lanjut tidak dapat diterima semua pihak karena validitasnya rendah. guru. informasi dari kedua informan konfrontasikan dengan nara sumber ketiga. kemudian melakukan konfirmasi kepada nara sumber untuk dibaca. misalnya 2 jam. Misalnya ada 3 informan. dan informan dapat memberikan informasi sesuai dengan keinginannya. Ketiga. dan mendalami perasaan nara sumber. Informasi haruslah berimbang. maka anda meminta persetujuan informan untuk merekan pembicaraan dengan maksud dapat dikover secara lengkap. peneliti tidak diperkenankan untuk membawa daftar pertanyaan. Bagaimana wawancara mendalam dilakukan. dan berwawasan kemajuan. tidak ada beban. dan ketiga anggota masyarakat.

semoga sukses. Cobalah teman-teman melakukan penelitian dengan wawancara mendalam ini. janganlah membiarkan anda penuh praduga kepada siapain – nara sumber.Penutup. sebelum melakukan wawanara. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful