MENEMUKAN MASALAH-MASALAH PETANI UNTUK DICARIKAN SOLUSINYA SEBAGAI UPAYA MENOLONG MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN MEREKA

Oleh: I Gede Setiawan Adi Putra1), Nurahimah Mohd Yusoff2, dan Amri Jahi3

PENDAHULUAN Latar Belakang Setiap mahluk hidup di dunia ini membutuhkan pangan untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Ketahanan pangan bukan hanya masalah “cukup makan”. Lebih jauh dari itu, pemenuhan hak atas pangan dapat dipandang sebagai salah satu pilar utama hak azasi manusia. Dalam PP No 68 tahun 2002, tentang Ketahanan Pangan, dinyatakan bahwa ketahanan pangan merupakan hal yang sangat penting dalam rangka pembangunan nasional untuk membentuk manusia Indonesia yang berkualitas, mandiri, dan sejahtera melalui perwujudan ketersediaan pangan yang cukup, aman, bermutu, bergizi dan beragam serta tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia dan terjangkau oleh daya beli masyarakat (Tempo Interaktif 2004:1). Hal ini menjadi renungan kita bersama bahwa bagaimana mungkin bisa mencapai prestasi jikalau kebutuhan pangan saja belum terpenuhi? Petani, sebagai insan yang berperan menghasilkan bahan pangan kondisinya sangat memperihatikan. Petani menghadapi banyak permasalahan dalam perannya menghasilkan bahan pangan. Permasalahan petani dan pertanian di Indonesia begitu kompleks baik secara makro maupun mikro. Secara makro masalah utama pertanian di Indonesia adalah (1) Marginalisasi pertanian, cirinya adalah pertanian kurang memberikan harapan, masih banyak petani yang berorientasi

1

Mahasiswa Program Doktor Istitut Pertanian Bogor , Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Pembimbing Program Sandwich di Universitas Utara Malaysia, Pimpinan Pusat Pengajaran Pembelajaran University (UTLC) Universiti Utara Malaysia. Ketua Komisi Pembimbing Disertasi, Dosen Institut Pertanian Bogor.

2

3

1

Mereka harus bisa mengatasi kompleksitas permasalahan yang dihadapi dan merancang solusi-solusi alternatif yang berkualitas dan dapat memecahkan masalah itu. Kita ingin segera memulihkan kembali equilibrium atau keseimbangan mental yang sempat terganggu itu. ketidak pastian dan kesulitan yang merusak equilibrium kita tadi itu. dan (2) Exchange farmer. Rumusan Masalah Sebagai change agent. kurangnya motivasi. Selain itu.pada off farm. solusi-solusi tersebut haruslah dapat diterima oleh berbagai pihak yang terkait. definisikan dulu. dan menimbulkan kesulitan. Dalam keadaan itu. jarang mendapatkan bimbingan dan conseling berupa penyuluhan dan tidak adanya wahana/tempat petani untuk belajar untuk meningkatkan kemapuan yang dibutuhkannya. yang menghadirkan ketidakpastian. pekerja pembangunan atau profesional lainnya. hilang keseimbangan dan tidak berdaya.02 ha (super gurem) sehingga pertanian penyumbang kemiskinan terbesar di Indonesia . Masalah tersebut diantaranya: rendahnya pengetahuan/wawasan. kebanyakan generasi muda enggan menjadi petani. Dengan kata lain. tidak memiliki kemampuan pengelolaan usaha tani. kurangnya dukungan atas modal dan sarana produksi usahatani. tepatkah tindakan coba-coba (trial and error). kita sering menghadapi situasi yang dihadapi petani yang membingungkan. pakar “berpikir reflektif. Pada tingkat petani masalah petani juga semakin banyak.” yang menemukan proses pemecahan masalah ini pada 1910. wajar bila kita ingin segera keluar dari situasi yang sulit itu. disisi lain petani hanya memanen 0. menyarankan: agar kita menunda dulu tindakan itu. Namun demikian. Kita ingin kembali berdaya seperti semula. mayoritas umur petani saat ini 70 tahun dan yang berumur dibawah 30 tahun jumlahnya sedikit. yang biasanya langsung kita lakukan? Dewey (dalam Amri Jahi). ketrampilan dan kreativitas pihak-pihak yang terlibat. apa yang menimbulkan kebingungan. apa lagi yang sifatnya masih coba-coba. Menemukan atau merancang berbagai solusi alternatif untuk memecahkan masalah di atas memerlukan kemampuan. Situasi itu membuat kita limbung. kurangnya dukungan kebijakan pemerintah. rumuskan dulu “apa masalah yang kita hadapi!” 2 . Pikirkan dulu. rendahnya tingkat keterampilan.

di negara maju petani dengan berbagai cara membuat wadah untuk memenuhi kepentingan bersama. Di masa yang akan datang. Sehingga harapan penulis adalah masalah-masalah yang dihadapi petani terpecahkan sehingga kesulitan. 3 . Apa masalah-masalah yang dihadapi petani dan level terjadinya masalah tersebut?. dan 2. dan 2. Mengidendifikasi masalah-masalah yang dihadapi petani melalui kajian literature. maka secara spesifik tujuan penulisan literature studi ini adalah: 1. yang lebih baik. masalah sering dinyatakan sebagai kesenjangan diantara dua situasi. Di negara berkembang belum ada organisasi yang dengan efektif memperjuangkan hak-hak petani. dan diinginkan. dan situasi baru. para penyuluh memegang peranan penting untuk membantu para petani menumbuhkan wadah-wadah untuk petani kembali belajar tentang berbagai hal yang berhubungan dengan usahataninya. Organisasi demikian memegang peranan penting dalam pembangunan pertanian di negara industri maju. yang tidak lagi memuaskan. Bagaimanakah cara menolong mereka agar bisa menolong dirinya keluar dari masalah yang dihadapinya? Tujuan Dalam perencanaan program. Berdasarkan uraian di atas maka dirumuskan masalah penulisan dalam literature studi ini sebagai berikut: 1. Menghilangkan atau mengurangi besarnya kesenjangan inilah yang kemudian menjadi tujuan penulisan ini yang hendak dicapai. kebingungan dan ketidak pastian dapat dihilangkan dan pada akhirnya equilibrium atau keseimbangan pertanian di negeri ini pulih kembali. Kesenjangan antara situasi saat ini. Menemukan alternative-alternatif pemecahan masalah petani terutama yang berhubungan dengan bagaimana menolong mereka untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya.Sebagai perbandingan. Selain itu penulisan ini bertujuan untuk merancang solusi terbaik yang dapat dipilih itu untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Berdasarkan uraian singkat di atas.

Tugas agen penyuluh adalah meniadakan hambatan tersebut dengan cara menyediakan informasi dan memberikan pandangan mengenai masalah yang dihadapi. kelemahan. petani sebenarnya memiliki pengetahuan berupa kearifan lokal yang bisa diwariskan kepada generasi berikutnya. memikirkan pemecahannya. (d) Tidak adanya atau terbatasnya akses terhadap informasi dan teknologi yang lebih baik. listrik.LITERATURE REVIEW Keadaan Petani yang Menghambat Pembangunan Pertanian Kesejahteraan petani yang relatif rendah dan menurun saat ini akan sangat menentukan prospek ketahanan pangan. maka kegiatan penyuluhan tidak akan berjalan dengan baik (Sabetghadam 2003:1) Motivasi 4 . atau ketidak-tahuan petani sendiri. (c) Terbatasnya akses terhadap dukungan layanan pembiayaan. Selama penyuluh belum mampu memberikan informasi yang dibutuhkan petani tersebut. Pengetahuan Sebagian petani tidak mempunyai pengetahuan serta wawasan yang memadai untuk dapat memahami permasalahan mereka. Kesejahteraan tersebut ditentukan oleh berbagai faktor dan keterbatasan. (b) Luas lahan petani sempit dan mendapat tekanan untuk terus terkonversi. diantaranya yang utama menurut (Bayu Krisnamurthi 2008:1) adalah (a) Sebagian petani miskin karena memang tidak memiliki faktor produktif apapun kecuali tenaga kerjanya (they are poor becouse they are poor). jalan. telekomunikasi) yang tidak memadai (f) Struktur pasar yang tidak adil dan eksploitatif akibat posisi rebut-tawar (bargaining position) yang sangat lemah. Agen penyuluh dapat memberikan bantuan berupa pemberian informasi yang memadai yang bersifat teknis mengenai masalah yang dibutuhkan petani dan menunjukkan cara penanggulanganya. dan (g) Ketidak-mampuan. atau memilih pemecahan masalah yang paling tepat untuk mencapai tujuan mereka. Di sisi lain. (e) Infrastruktur produksi (air.

Kegiatan penyuluhan di Indonesia biasanya berada di bawah Departemen Pertanian seringkali diberikan tanggung jawab untuk mengawasi kredit dan mendistribusikan sarana produksi seperti pupuk.Motivasi berasal dari kata motive dan action. bertanggung jawab atas kelangsungan hidupnya dan mementingkan aspek-aspek kehidupan bersama (Soedijanto 2005:91). Petani Adalah Orang yang Terpinggirkan (Marginal) 5 . Selama petani belum dimotivasi. Masalahnya sekarang adalah organisasi yang menyediakan sumber daya tersebut tidak terlibat melainkan dilakukan oleh penyuluh. kegiatan pengaturan dilakukan oleh lembaga regulation dan kegiatan penyuluhan hanya dilakukan oleh lembaga penyuluhan. maka akan menjadi masalah (Heryanti Suryantini 2003:36). Sumber daya Beberapa organisasi penyuluhan bertanggung jawab untuk meniadakan hambatan yang disebabkan oleh kekurangan sumber daya. artinya bagaimana membuat orang untuk berusaha. saling mengakui hak dan kewajiban. Kadang-kadang penyuluhan dapat mengatasi hal demikian dengan membantu petani mempertimbangkan kembali motivasi mereka. Atau sifat pertanian yang subsisten kurang diarahkan untuk berorientasi pada pasar. Seharunsya kegiatan pelayanan dilakukan oleh lembaga service. lebih mengedepankan prestasi ketimbang prestige. Petani kurang dimotivasi berusaha untuk merubah cara-cara tradisional kearah modernisasi. SDM petani harus menyadari bahwa setiap anggota masyarakat akan memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi. dan peranan penyuluhan sangat diperlukan pada keadaan seperti ini. Tugas penyuluh adalah memberikan pandangan supaya wawasan petani menjadi lebih luas. Wawasan Sebagian petani kurang memiliki wawasan untuk memperoleh sumber daya yang diperlukan. Apabila ketiga lembaga ini dapat berfungsi dengan baik maka kegiatan pembangunan pertanian juga akan berjalan dengan baik. Sebagian besar petani kurang memiliki motivasi untuk mengubah perilaku karena perubahan yang diharapkan berbenturan dengan motivasi yang lain. Masalah ini hampir sama dengan hambatan pengetahuan. saling menghargai satu sama lain.

Fenomena lain adalah mulai berkembangnya sistem pertanian beririgasi berkelanjutan berbasis sistem irigasi pompa air tanah. Asosiasi petani tebu Jawa timur. Menghadapi kedua fenomena yang bersifat substitusi tersebut. dengan kepemilikan lahan rata-rata 0. Selain petani.34 hektar (Hermas 2008:1).8 juta ton. Penyebabnya adalah fragmentasi lahan atau penyusutan kepemilikan lahan pertanian sebagai dampak sistem bagi waris dan alih fungsi lahan. penyuluh juga harus membentuk asosiasi penyuluh sehingga kuat untuk mempejuangkan nasib petani. perekonomian yang lemah dan penguasaan tanah yang sangat sempit. Penyuluh pertanian akan dapat berjalan seperti yang diharapkan apabila terdapat iklim kerja yang egaliter (Soedijanto 2005:92) Alih Fungsi Lahan Pertanian Laju penyusutan lahan pertanian di Indonesia kian cepat. Dengan kata lain. Petani adalah orang yang memiliki status sosial yang rendah. Petani lemah inilah yang harus diberdayakan untuk membentuk suatu asosiasi petani. maka selayaknya eksistensi subak dilestarikan dan bahkan diperkuat secara proporsional guna mendukung pembangunan sektor pertanian yang berkelanjutan (Budiasa 2005:147) Dalam pembangunan pertanian berkelanjutan. Ini tercermin dari peningkatan jumlah rumah tangga petani kecil alias gurem. Contoh: Asosiasi petani tebu jawa tengah. Bali sebagai daerah pariwisata paling menjadi contoh nyata dalam penyusutan lahan pertanian. Sempitnya lahan pertanian ini dihadapkan pada peningkatan kebutuhan pangan. lahan merupakan sumber daya pokok dalam usaha tani karena usaha yang dikembangkan bersifat land base agricultural. perlu pertimbangan bahwa apabila pertanian masih diyakini sebagai salah satu leading sector dalam perekonomian Bali dan sistem subak masih dipercaya sebagai model kelembagaannya. dan lain-lain sehingga petani tebu tersebut menjadi kuat. Penduduk sebanyak itu mengonsumsi beras 39. dalam waktu 21 6 .Kekuasaan petani untuk mengeluarkan pendapat belum diperhatikan. Tanpa berkelompok petani dan penyuluh tidak ada artinya. jumlah penduduk Indonesia tahun 2030 sebanyak 286 juta orang. Adanya fenomena alih fungsi lahan sawah ke non-pertanian dan musnahnya beberapa sistem subak di suatu daerah di Bali merupakan bagian sekaligus dampak dari modernisasi. Badan Ketahanan Pangan Deptan memperkirakan.

terutama antara sektor pertanian dan sektor nonpertanian. Sutawan (2005:6) menyatakan di Bali telah terjadi penciutan lahan sawah akibat alih fungsi. telah terjadi pencemaran air sungai dan air pada saluran irigasi.63 juta ha (Hermas 2008:1). Selain itu. banjir dan tanah longsonr sering terjadi karena kerusakan daerah hulu sungai (catchment area) akibat semakin menipisnya hutan serta pembangunan rumah dan vila di lereng-lereng bukit (Sutawan 2005:7). oleh Pemda Tabanan untuk kebutuhan air minum sekitar tahun 1990-an adalah contoh dari akibat persaingan pemanfaatan air. Di beberapa tempat telah muncul keluhan-keluahan dari masyarakat petani tentang adanya pencemaran air sungai dan air saluran irigasi akibat limbah dari industri garmen. Kasus petani-petani di Penebel Tabanan yang memprotes keras pengambilan air di Yeh Gembrong.tahun lagi. hotel. Penelitian perlu dilakukan agar lebih jelas seberapa jauh tingkat pencemaran yang terjadi dan dari mana menanggung pembiayaan pencemaran tersebut. Selain itu. sumber ancaman lainnya bagi eksistensi subak adalah pesatnya alih fungsi lahan sawah beririgasi ke arah penggunaan lain di luar pertanian. Indonesia memerlukan tambahan produksi beras sekitar 5 juta ton atau perlu tambahan lahan padi 3. Padahal. Kelestarian atau ketangguhan subak nampaknya mulai terancam akibat pesatnya perkembangan pariwisata Bali yang telah banyak membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali. menuntut terpenuhinya akan air yang terus meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. indeks penggunaan air (IPA) yaitu rasio persediaan air terhadap penggunaannya di Bali tahun 2000 sudah diperkirakan mencapai 1. Karena air semakin langka maka ini berimplikasi pada semakin tajamnya persaingan yang bisa menjurus ke arah konflik kepentingan dalam pemanfaatan air antara berbagai pengguna.13 yang berarti sudah tergolong “sangat kritis” (Sugandhi dalam Sutawan 2005:7). sebab rumah tangga juga sangat perpotensi dalam menghasilkan limbah. Selain kurang berminatnya para pemuda pedesaan Bali untuk bekerja sebagai petani. Semakin meningkatnya jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat dan perkembangan jumlah hotel dan restoran akibat pesatnya laju pembangunan sektor pariwisata. Pemerhati lingkungan merasa cemas dan menyarankan pihak hotel untuk melakukan program penanggulangan limbah. sablon. dan restoran. 7 .

harus didasarkan leh hasil percobaan/penelitian verifikasi di lokasi yang bersangkutan (Tjitropranoto 2005:96). Pada dasarnya. untuk menetapkan anjuran teknologi untuk suatu lokasi. pantai sekitar persawahan. informasi atau materi penyuluhan kalau dirasakannya berguna untuk kegiatan usaha pertaniannya. juga hanyut ke sungai dan mengalir ke laut. informasi ataupun materi penyuluhan pertanian yang dibutuhkan petani adalah yang benar-benar diyakini petani akan menguntungkannya. Revolusi hijau dengan demikian dapat dianggap kurang mendukung keberlanjutan pertanian karena tidak ramah lingkungan. teknologi usahatani yang sesuai untuk suatu lokasi belum tentu sesuai untuk lokasi lainnya. Teknologi pertanian yang ada saat ini tidak selalu sesuai dengan yang dibutuhkan petani. curah hujan. Teknologi Pertanian Tenologi yang tepatguna adalah teknologi yang bermakna bagi masyarakat penggunanya. petani akan mencari teknologi. terjangkau oleh kemampuannya.Selanjutnya Sutawan (2005:8) menyatakan bahwa pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan oleh petani-petani di Bali juga telah terjadi di subak. tetapi didominasi oleh upaya program/proyek untuk pencapaian target produksi yang telah ditetapkan. Hal ini tergantung pada “keadaan” masyarakat sasaran (Asngari 2008:11). Teknologi. Oleh karena itu. secara teknis dapat dikerjakan dan dimanfaatkan. Jadi Iptek yang bermakna adalah yang secara ekonomis menguntungkan dan dapat meningkatkan kesejahteraann. dan ketersediaan air irigasi dan sifat-sifat tanah. dan secara sosial-psikologus dapat diterima serta sejalan dengan kebijakan pemerintah. dan memiliki pasar yang dekat dengan usaha pertaniannya. Usahatani sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim. Adanya berbagai dampak negatif dari Revolusi hijau telah mendorong ahli-ahli pertanian mengembangkan caracara baru yang lebih menjamin kelestarian lingkungan seperti penggunaan pupuk organik atau setidak-tidaknya mengurangi dosis penggunaan pupuk anorganik dan obat-obatan kimia (low external inputs sustainable agriculture). Materi penyuluhan yang dibutuhkan petani harus didasarkan pada 8 . Unsur-unsur kimia yang berlebihan selain bisa merusak tanaman. Mungkin saja Iptek baru itu tidak/belum dirasakan dibutuhkan masyarakat dan mungkin pula Iptek tersebut benar-benar telah dibutuhkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dalam kaitan itu.

Hal seperti ini kurang efektif menjawab tantangan kebutuhan inovasi bagi upaya peningkatan pendapatan petani. Asngari (2008:11) menyebutkan bahwa pemanfaatan Iptek tergantung pada klien dan juga tergantung pada para penyuluh. maupun pendanaan yang memadai untuk menjangkau wilayah kerjany. pupuk. dan kemampuan petani untuk menrapkan/memanfaatkannya. Teknologi pertanian yang memerlukan sarana produksi yang mahal akan diterapkan oleh pertani selama ada bantuan untuk menerapkannya. Meskipun kebijakan pengembangan Balai Pengembangan Teknologi Pertanian (BPTP/LPTP) dinilai lebih kondusif bagi pengembangan inovasi yang berbasis pada Iptek unggul spesifik lokal beragam komoditi yang sesuai dengan kebutuhan petani. sehingga kemudian Stuart dikenal sebagai Bapak Penyuluhan.keempatan. namun nampaknya lembaga ini kurang didukung oleh tanga ahli baik dalam jumlah maupun kualitas. Meningkatnya harga sarana produksi terutama benih. Tentu akan lebih cepat prosesnya bilamana kedua belah pihak tersebut saling aktif dan dinamis mencari sampai menemukan teknologi tepat guna pertanian (TTP). cenderung bias padi dan kurang kondusif dengan perkembangan inovasi yang spesifik lokal. Sumardjo (2005:162) menyatakan bahwa kajian Iptek yang disponsori oleh pemerintah di masa lalu yang cenderung sentralistis. pestisida. walaupun produktivitasnya tidak begitu besar tetapi terjangkau oleh petani. misalnya pemberian saranann produksi oleh proyek. pakan ternak dan ikan. Penyuluhan Pertanian Istilah penyuluhan pertama kali digagas oleh James Stuart dari Trinity College (Canbridge) pada tahun 1967-68. lebih kearah teknologi sederhana. maka mereka akan kembali ke teknologi semula (Tjitropranoto 2005:101).. bukan karena perhitungan yangsecara ilmiah akan menguntungkan (Tjitropranoto 2005:101). kemauan. Dalam hal ini tentu saja masih diperlukan energi untuk mengatasi kelemahan tersebut. tetapi begitu proyek meninggalkan petani. menyebabkan adanya kecenderungan teknologi yang dikehendaki petani adalah teknologi yang tidak memerlukan modal besar. baik dengan modal uang tunai maupun kredit. baik berupa komitmen pemerintah terhadap pengembangan SDM maupun terhadap pengembangan Iptek dan kelembagaan petani. 9 .

A. Dari asal perkataan tersebut dapat diartikan bahwa penyuluhan dimaksudkan untuk memberi penerangan ataupun penjelasan kepada mereka yang disukai. pengertian penyuluhan bukanlah sekedar penerapan tentang kebijakan penguasa.S Hawkins (1999. (6) meningkatkan motivasi petani untuk dapat menerapkan pilihannya. (7) membantu petani untuk mengevaluasi dan meningkatkan keterampilan mereka dalam membentuk pendapat dan mengambil keputusan. A. Secara sistematis pengertian penyuluhan tersebut adalah proses yang. dan H. (5) membantu petani memutuskan pilihan yang tepat yang menurut pendapat mereka sudah optimal. (3) fordering (Bahasa Austria) yang diartikan sebagai menggiring seseorang ke arah yang diinginkan Van Den Ban.Berbagai istilah digunakan pada berbagai negara menggambarkan proses-proses belajar penyuluhan (extention). (2) beratung (Bahasa Inggris dan Jerman) yang mengandung makna sebagai seorang pakar memberikan petunjuk kepada seseorang tetapi seseorang tersebut yang berhak untuk menentukan pilihannya. agar tidak lagi berada dalam kegelapan mengenai suatu masalah tertentuVan Den Ban. dan H. (4) membantu petani memperoleh pengetahuan yang khusus berkaitan dengan cara pemecahan masalah yang dihadapi serta akibat yang ditimbulkannya sehingga mereka mempunyai berbagai alternatif tindakan. 25) mengartikan penyuluhan sebagai keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa membuat keputusan yang benar. bukan hanya diseminasi teknologi. Menurut Margono Slamet (2005:15-17).W.W.S Hawkins (1999. seperti’ (1) voorichting (Bahasa Belanda) yang berarti memberi penerangan untuk menolong seseorang menemukan jalannya. bukan program charity yang bersifat darurat. (3) erzeiehung (mirip artinya dengan pendidikan di Amerika Serikat) yang menekankan tujuan penyuluhan untuk mengajar seseorang sehingga dapat memecahkan sendiri masalahnya. serta membantu menyusun kerangka berdasarkan pengetahuan yang dimikili petani. (1) membantu petani menganalisis situasi yang sedang dihadapi dan melakukan perkiraan ke depan. Tetapi adalah program pendidikan luar sekolah yang 10 . (2) membantu petani menyadarkan terhadap kemungkinan timbulnya masalah dari analisis tersebut. 23-25) Secara harfiah penyuluhan berasal dari kata suluh yang berarti obor ataupun alat untuk menerangi keadaan yang gelap. (3) Meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan wawasan terhadap suatu masalah. dan bukan program untuk mencapai tujuan yang tak merupakan kepentingan pokok kelompok sasaran.

Kurangnya pengorganisasian kegiatan penyuluhan menyebabkan kurangnya keberhasilan penyuluhan pertanian (Soedijanto 2001:2). (2) Kegiatan penyuluhan kurang terorganisasi. Belum selesai BIPP dibentuk sudah digulirkannya UU No. (6) Perbedaan nilai yang dianut petani dan penyuluh. 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. 11 . Pada jaman BIMAS dikeluarkan SK Mendagri-Mentan tahun 1985 tentang pembentukan BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) sehingga penyuluh pertanian berada di BPP. (8) penyuluh kurang membantu petani mencapai tujuan. serta program yang menghasilkan perubahan perilaku dan tindakan sasaran yang menguntungkan sasaran dan masyarakatnya. Tahun 1996 dikeluarkan SK Mendagri-Mentan tentang pembentukan BIPP (Balai Informasi Penyuluhan Pertanian). Diantaranya adalah: (1) Penyuluh melupakan tugas utama. Pada kenyataannya kegiatan penyuluhan pertanian di Indonesia banyak mengalami masalah di dalam upaya menolong petani menolong dirinya sendiri. (10) Penyuluh kurang mendidik petani.bertujuan memberdayakan sasaran. Sehingga secara singkat penyuluhan dapat diartikan sebagai suatu pendidikan yang bersifat non formal yang bertujuan untuk membantu masyarakat/petani merubah perilakunya dalam hal pengetahuan. (5) Penyimpangan tujuan organisasi penyuluhan. (8) Penyuluh lebih banyak mengubah cara bertani dibandingkan dengan mengubah petani. Tetapi masalah penyuluhan sekarang adalah kegiatan penyuluhan lebih banyak pada proses pelayanan bukan mendidik petani agar mampu mengambil keputusan sendiri (Soedijanto 2001:2). (3) Kegiatan penyuluhan tidak berjalan dengan baik. (9) Penyuluh kurang membuat wadah untuk membantu petani. keterampilan dan sikap agar mereka dapat memecahkan masalah yang dihadapinya guna mencapai kehidupan yang lebih baik. meningkatkan kesejahteraaan sasaran secara mandiri dan membangun masyarakat madani. (7) Pengetahuan penyuluh kurang memadai. sistem yang berfungsi secara berkelanjutlan dan tidak bersifat adhoc. dan (11) Penyuluh kurang mengubah keadaan petani. (4) Kelembagaan penyuluhan belum tertata dengan baik. Tugas utama penyuluhan adalah membantu petani di dalam pengambilan keputusan dari berbagai alternatif pemecahan masalah. Kemudian tahun 1992 penyuluh berda di dinas-dinas sehingga BPP di bagi-bagi sesuai dengan dinas yang ada.

Seharusnya penyuluhan lebih mendidik petani agar dapat memecahkan masalahnya sendiri. Upaya pemberdayaan petani miskin melalui pengembangan kelembagaan. input. Organisasi penyuluhan bertujuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi petani. Selama ini kegiatan penyuluhan lebih dilaksanakan oleh lembaga penerangan yang bertanggung jawab untuk menjembatani kebijakan pemerintah agar sampai kepada rakyat. sehingga rancangan kelembagaan akan menjadi lebih tepat (BPPP DEPTAN 2006:2). harus didasarkan kepada pemahaman yang utuh terhadap ragam dan sifat modal sosial yang mereka miliki. partisipatif • Terpusat • Bekerja dalam wilayah kecil • Bekerja dalam skala nasional • Juga menghasilkan pengetahuan • Semata-mata alih pengetahuan • Tidak diarahkan • Diarahkan Sumber: Van Den Ban. Sikap-sikap yang berbeda dari berbagai organisasi penyuluhan Kenyataan Harapan • Bertujuan meningkatkan • Bertujuan memecahkan masalah produktivitas • Holistik • Parsial • Pelayanan terpadu • Semata-mata penyuluhan • Bantuan sendiri berdasarkan organisasi swasta • Agen pemerintah • Tidak terpusat.W. dan H. Penyuluh harus memainkan peranan bagaimana petani terlibat dalam kegiatan penyuluhan. A. Organisasi penyuluhan yang sekarang ini ingin menyampaikan kebijakan yang sebenarnya dilakukan oleh lembaga penerangan Van Den Ban. Tujuan kegiatan yang terjadi sekarang ini sangat jauh dari harapan. tetapi tidak beralasan jika beranggapan bahwa nilai-nilai agen penyuluhan dan atasannya lebih baik dibandingkan nilai-nilai petani dan keluarganya. Bagaimana membangun pertanian yang baik bila 80 % masalah berada di luar petani. Tabel 1. A. intensitas produksi (harga yang layak) dan transportasi desa mencapai keadaan maksimum.Kegiatan penyuluhan akan berjalan dengan baik bila: pasar. Tujuan tersebut dapat dilihat pada Tabe 1. Kegiatan penyuluhan tidak efektif apabila kelima masalah diatas tidak diatasi. teknologi. Selama penyuluh belum bisa menyamakan nilai-nilai yang dianut ini maka akan timbul masalah. 12 .S Hawkins (1999) Nilai-nilai yang dianut petani kemungkinan berbeda dari nilai-nilai agen penyuluhan yang “berbau perkotaan”. .W. dan H.S Hawkins (1999:35-36).

Puspadi (2005:121) menyatakan bahwa penyuluh dituntut memiliki kompetensi sebagai berikut: (1) system social setempat. Mereka akan mengetahui tujuan-tujuan mereka. Salah satu pendekatan pertanian berkelanjutan adalah input minimal (low input) Sistem pertanian memiliki kapasitas internal yang besar untuk melakukan regenerasi dengan menggunakan sumberdaya-sumberdaya internal (Drommond et. jumlah modal yang dimiliki. (7) mamajemen teknologi. Banyak agen penyuluh belum terlatih dalam proses mengubah sikap. tetapi biasanya tidak sebanyak pengetahuan yang dimiliki oleh keluarga petani sendiri. hubungan dengan petani lain. (15) teknologi pasca panen. dan (18) berkepribadian sesuai dengan profesinya sebagai penyuluh. dan sebagainya. (16) usahatani sebagai bisnis. Mereka diajar mengenai “apa yang harus dilakukan” kepada petani. (3) analisis system. pupuk. (10) memahami caa petani belajar. Pengetahuan khas setempat dari petani sangatlah penting untuk mengembangkan pertanian yang berkelanjutan karena cara ini harus disesuaikan dengan situasi setempat yang biasanya petani tahu lebih banyak dibandingkan peneliti atau agen penyuluhan Kebanyakan agen penyuluhan petanian memperoleh pendidikan formal tentang cara-cara mengubah atau memperbaiki cara bertani. (12) perilaku pasar. (11) pengembangan kelompok dan organisasi. Oleh sebab itu. al 2008:1). Agen penyuluhan mungkin memiliki sebagian dari pengetahuan tersebut.m. Mereka belajar tentang varietas tanaman. yaitu dalam hal pendidikan orang dewasa dan komunikasi. sedangkan petani dan keluarganya melengkapi kekurangannya. (2) perilaku petani. tetapi tidak tentang “bagaimana” mengatakannya agar petani mampu menjadi manajer yang baik dalam 13 . (6) perencanaan usaha pertanian. (4) analisis data. tetapi di dalam tugasnya diminta untuk “mengubah petani” yang kemudian dapat membuat keputusan untuk mengubah “usaha taninya”. (13) peta kognitif petani. kualitas lahan serta kesempatan-kesempatan menghasilkan uang diluar sektor pertanian. (5) merancang pendekatan penyuluhan. Dewasa ini agen penyuluhan lebih mengarahkan langkahnya pada sistem pertanian yang berkelanjutan dan kurang memperhatikan input pertanian yang tinggi dibandingkan tahun-tahun yang lalu. persyaratan tenaga kerja pertanian mereka selama bulan-bulan yang berbeda. (14) teknologi produksi. makanan ternak. (17) proses pengembangan pertanian. (9) mengembangkan teknologi local spesifik.Agen penyuluh hanya memiliki setengah dari pengetahuan yang diperlukan untuk mengambil keputusan. (8) ekonomi rumah tangga.

2001:9). Organisasi penyuluhan memegang peranan penting dalam membimbing petani mengorganisasikan diri secara efektif. dan (7) Mendorongnya untuk tukar-menukar informasi dengan petani lainnya. Di negara industri maju petani dengan berbagai cara membuat wadah untuk memenuhi kepentingan bersama mereka. Selama ini kegiatan penyuluhan kurang membantu petani mencapai tujuan. Organisasi demikian memegang peranan penting dalam pembangunan pertanian di negara industri maju. (3) Memberi informasi mengenai konsekuensi yang dapat diharapkan dari masing-masing alternatif. disamping adanya anggapan bahwa petani terbelakang dan tradisional. Petani kecil jarang membentuk kelompok tani formal. Tugas utama penyuluhan di banyak negara berkembang adalah menganjurkan penggunaan teknologi modern. kemungkinan disebabkan oleh adanya koordinasi informal di antara petani-petani yang berdekatan. Tugas mendidik dan pendidikan penyuluhan merupakan cabang dari pendidikan orang dewasa. (2) Menambahkan kisaran alternatif yang dapat menjadi pilihannya. Agen penyuluhan sudah merasa puas jika pertanian menjadi lebih efisien. (5) Membantunya dalam mengambil keputusan secara sistematis baik secara perorangan maupun berkelompok. Agen penyuluhan dapat memanfaatkan berbagai cara untuk membantu kliennya untuk mencapai tujuannya. (4) membantunya dalam memutusakan tujuan mana yang paling penting. atau kalaupun ada cenderung belum efektif. 14 . Walaupun demikian diperlukan dukungan politik untuk dapat berperan tanpa membahayakan jabatan mereka. (6) Membantunnya belajar dari pengalaman dan dari pengujicobaan. Perubahan yang demikian merupakan salah satu tujuan penting dari pendidikan penyuluhan. efisiensi sistem pengumpulan di mana meningkatnya petani yang memasuki pasar mendorong harga-harga bersaing dan lokasi lebih menyenangkan untuk pelayanan petani pengumpul (Bank Dunia. yaitu: (1) Memberi nasihat secara tepat waktu guna menyadarkannya tentang suatu masalah. dan kurang berminat untuk mengubah petani. Agen penyuluhan di banyak negara Eropa lebih merupakan seseorang yang menolong petani untuk memecahkan masalah mereka. Adanya organisasi pertanian yang efektif sama pentingnya dengan penerapan teknologi di banyak negara. seperti pemakaian pupuk.usaha taninya. Kenaikan hasil merupakan tujuan utama di negara-negara berkembang karena cepatnya pertumbuhan penduduk. Di negara berkembang belum ada organisasi demikian.

karena cara bertani yang tidak menguntungkanlah yang membuat mereka tidak menggunakan teknologi tersebut. Petani wajib diberi pengertian tentang masalah mana yang dapat mereka pecahkan sendiri dan manakah yang tidak (Soedijanto 2005:89). 15 . tetapi perlu disadari bahwa seseorang yang diberi pendidikan sepotong-sepotong lebih berbahaya dari orang buta huruf. Cara demikianlah yang terbaik. Petani di negara berkembang juga ingin memperbaiki cara bertani mereka.Petani dapat dididik dengan dua cara yang berbeda: 1) mengajari mereka bagaimana cara memecahkan masalah spesifik. Hal demikian ternyata tidak selalu benar. Cara kedua memerlukan banyak waktu dan upaya dari kedua pihak. tetapi untuk jangka panjang menghemat waktu dan menambah kemungkinan dikenalinya gejala hama dan penyakit secara tepat waktu dan segera dapat ditanggulangi. dan kewajiban agen penyuluhan adalah mendukung dan menciptakan proses demikian melalui belajar yang disebut “belajar mandiri” atau self-directed learning Selama bertahun-tahun konservatisme petani dianggap sebagai penyebab kegagalan adopsi teknologi yang dikembangkan penelitian. atau 2) mengajari mereka proses pemecahan masalah.

DAFTAR PUSTAKA Amri Jahi. 2008. Diperoleh dari: http://www. Jurnal Ekonomi Rakyat Th. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Diakses pada 22 Oktober 2008. Internet. Drommond T. “Agenda Pemberdayaan Petani dalam Rangka Pemantapan Ketahanan Pangan Nasional”. Makalah presentasi dalam bentuk powerpoint disampaikan dalam Perkuliahan Aksi Sosial pada PS Ilmu Penyuluhan Pembangunan.J.org/INTINDONESIA/ Resources/Publication/2800161168483675167/holtikultura_sum_bh.” Dalam: Revitalisasi Subak dalam Memasuki Era Globalisasi.pd. [Article on-line].. 2008. “Penyelesaian Masalah dalam Penyuluhan Sosial”. Diperoleh dari: http://www. diperoleh dari: www. Bayu Krisnamurti.geocities. Diakses pada 6 Oktober 2008. Diakses pada 22 Oktober 2008.id/Agro/agr-sust. dan Andy Olson 2008.org/edisi19/artikel 3. 25 Juli 2006. 7 [Jurnal On-Line].htm. Budiasa. Diperoleh dari: http://siteresources.W. I.or. Internet. Stacy Dysart. Bogor: IPB Press. 2006. Internet. Asngari. ”Subak dan Keberlanjutan Pengelolaan Sistem Pertanian Beririgasi di Bali.htm. Internet. Institut Pertanian Bogor (file elektronik). Pang S. 2005. ”Pemanfaatan dan Penggunaan Teknologi Tepat Guna Bidang Pertanian. Diedit oleh: Ida Yustina dan Adjat Sudrajat.lablink. 2001. “Pertanian Berkelanjutan” [Article OnLine].com/syahyuti/ 2006socialcapital_proposal. Diedit oleh: I Gde Pitana dan I Gede Setiawan Adi Putra.pdf. 11 No.worldbank.” Dalam: Pemberdayaan Manusia Pembangunan yang Bermartabat. “Pengembangan Modal Sosial Masyarakat dalam Upaya Membangun Kelembagaan dan Pemberdayaan Petani Miskin” [Article On-Line]. Yogyakarta: Penerbit Andi. Diakses pada 22 Oktober 2008. “Produsen Hortikultura dan Pengembangan Pasar Swalayan di Indonesia”.ekonomirakyat. 2006. Bank Dunia. 16 .

com/read/xml/2008/10/04/0145356/penyusutan.pdf. Internet. 2005. Ketut. Dalam: Pemberdayaan Sumberdaya Manusia Menuju Terwujudnya Masyarakat Madani. Puspadi. Soedijanto Padmowihardjo. 2001.68 Thn 2002 Tentang Ketahanan Pangan” [Article on-line]. Dalam: Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. Diakses pada 6 Oktober 2008. Jakarta.” Dalam: Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan.pustaka-deptan.id/publikasi/pp122031. ”Subak Menghadapi Tantantan Globalisasi.com/hg/peraturan/2004/03/29/prn. N. [Jurnal On-Line].tempointeraktif.edu. 2004. Heryanti Suryantini.uum. “PP RI No. 2005.my/ pqdweb?did=765280381&sid=3& Fmt=2&clientId=28929&RQT=309&VName=PQD.go. ketahanan. ”Kualitas SDM Penyuluhan Pertanian dan Pertanian Masa Depan di Indonesia. “Kebutuhan Inforamsi dan Motivasi Kognitif Penyuluh Pertanian serta Hubungannya dengan Penggunaan Informasi (Kasus di Kabupaten Bogor Jawa Barat)” Jurnal Perpustakaan Pertanian. 2000. P. Bogor: IPB Press. Tempo Interaktif.” Dalam: Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan.com. Departemen Pertanian. Bogor: IPB Press. Proseding Seminar Nasional. Diperoleh dari: http://www. 2008. 2005. lahan. 17 . Vol 12.pangan. Tahun 2003. “Penyusutan Lahan Isu Utama Ketahanan Pangan”.isu. ” Penyuluhan sebagai Pilar Akselerasi Pembangunan Pertanian di Indonesia pada Masa Mendatang”. ”Kepemimpinan dan Pengembangan Kelembagaan Perdesaan: Kasus Kelembagaan Ketahanan Pangan.2004032907. Diakses pada 6 Oktober 2008. Diperoleh dari:http://www.” Dalam: Revitalisasi Subak dalam Memasuki Era Globalisasi. [Jurnal On-Line]. Diedit oleh: Ida Yustina dan Adjat Sudrajat.umi. Bogor: IPB Press.id.eserv. Diperoleh dari: http://proquest. No. Sumardjo.K. Diperoleh dari: http://cetak. Bogor: IPB Press. 2. Tjitropranoto. Internet. Ahmad. Perlu Upaya Pelestarian dan Pemberdayaan Secara Lebih Serius. Diedit oleh: Ida Yustina dan Adjat Sudrajat.html. Sutawan. September 2000.” Dalam: Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. ”Penyuluhan Pertanian: Masa Kini dan Masa Depan. Diedit oleh: Pambudy R dan Kardi A. [Article on-line]. ”Indigenous knowledge: Implications for the theory and practice of agricultural education and extension” Agricultural Education Journal No. “Pemantapan Posisi dan Meningkatkan Peran Penyuluhan Pembangunan dalam Pembangunan”.utama. 2005. 2005.Hermas E Prabowo. Penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian dalam Pembangunan Sistem dan Usaha Agribisnis. Yogyakarta: Penerbit Andi. Bogor. Diedit oleh: I Gde Pitana dan I Gede Setiawan Adi Putra. Sabetghadam. Internet. Diakses pada 6 Oktober 2008. Margono Slamet. 2003. AAT NQ88041. Soedijanto Padmowihardjo. Diakses pada 22 Oktober 2008. Pustaka Wirausaha Muda. Diedit oleh: Ida Yustina dan Adjat Sudrajat.kompas. Diedit oleh: Ida Yustina dan Adjat Sudrajat. 2003.

Van Den Ban dan Hawkins. 1999. Kanisius. Agnes Dwina Herdiastuti. penerjemah. Terjemahan dari Agricultural Extention (Second Edition). Jakarta 18 . Penyuluhan Pertanian.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful