LAPORAN PENDAHULUAN ASKEP ABORTUS

LAPORAN PENDAHULUAN ASKEP ABORTUS I. KONSEP MEDIK A. Pengertian Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. Dimana masa gestasi belum mencapai usia 22 minggu dan beratnya kurang dari 500gr (Derek liewollyn&Jones, 2002). Terdapat beberapa macam kelainan dalam kehamilan dalam hal ini adalah abortus yaitu abortus spontan, abortus buatan, dan terapeutik. Abortus spontan terjadi karena kualitas sel telur dan sel sperma yang kurang baik untuk berkembang menjadi sebuah janin. Abortus buatan merupakan pengakhiran kehamilan dengan disengaja sebelum usia kandungan 28 minggu.Pengguguran kandungan buatan karena indikasi medik disebut abortus terapeutik (Prawirohardjo, S, 2002). Abortus terjadi pada usisa kehamilan kurang dari 8 minggu, janin dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua secara mendalam. Pada kehamilan 8– 14 minggu villi koriales menembus desidua secara mendalam, plasenta tidak dilepaskan sempurna sehingga banyak perdarahan. Pada kehamilan diatas 14 minggu, setelah ketubah pecah janin yang telah mati akan dikeluarkan dalam bentuk kantong amnion kosong dan kemudian plasenta (Prawirohardjo, S, 2002). B. Klasifikasi 1. Abortus spontanea (abortus yang berlangsung tanpa tindakan) Yaitu: Abortus imminens : Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanyadilatasi serviks. Abortus insipiens : Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Abortus inkompletus : Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Abortus kompletus : Semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. 2. Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat) Yaitu: Menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. Pada umumnya dianggap bayi belum dapat hidup diluar kandungan apabila kehamilan belum mencapai umur 28 minggu, atau berat badanbayi belum 1000 gram, walaupun terdapat kasus bahwa bayi dibawah 1000 gram dapat terus hidup. C. Etiologi

• •

typus. inkompetensia serviks. • Penyebab yang bersifat lokal: 1. Retroversi kronis. Hubungan seksual yang berlebihan sewaktu hamil. hepatitis.Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu : 1. anemia berat. Sifilis. rubella. Kelainan kromosom. 2. 3. Trauma fisik. Infeksi bakteri. Fibroid. Kelainan pada plasenta. Penyakit kronis. 2. biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua. sehingga menyebabkan hiperemiadan abortus Penyebab dari segi Janin • Kematian janin akibat kelainan bawaan. Penyebab dari segi Maternal Penyebab secara umum: • Infeksi akut 1. toxemia gravidarum 5. biasanya menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum usia 8 minggu. nephritis 3. air raksa. dll. Gangguan fisiologis. seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada trimester kedua). Kelainan traktus genetalia. hipertensi 2. misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi menahun 3. 4. • Mola hidatidosa. misalnya keracunan tembaga. misalnya cacar. 4. Keracunan. misalnya streptokokus. • Infeksi kronis 1. ketakutan. Radang pelvis kronis. anemia berat 5. keracunan dan toksoplasmosis. misalnya inflamasi dan degenerasi. 2. penyakit jantung 6. virus. endometrtis. • Penyakit plasenta dan desidua. terutama trimosoma dan monosoma X b. Pengaruh teratogen akibat radiasi. Faktor maternal seperti pneumonia. misalnya malaria. . 3. virus. mioma uteri dan kelainan bawaan uterus. misalnya Syok. retroversi uteri. timah. Lingkungan sekitar tempat impaltasi kurang sempurna c. Tuberkulosis paru aktif. diabetes 4. 4. obat-obatan temabakau dan alcohol 2. Parasit. 3. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi. dll. misalnya : 1. 6. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah : a.

Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup. diikuti dengan nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. fetus kompresus. tercium bau busuk dari vulva b.D. villi korialis belum menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. janin masih hidup. tekanan darah normal atau menurun. E.Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri. Patofisiologi Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum). Komplikasi 1. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu. Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil konsepsi 4. Pemeriksaan Penunjang 1. besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan. ada atau tidak jaringan keluar dari ostium.janin lahir mati. Manifestasi Klinis 1. F. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut. penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. sering nyeri pingang akibat kontraksi uterus 5. bahkan 2-3 minggu setelah abortus 2. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion H. Diagnosa Banding . Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu 2. Pemeriksaan ginekologi : a. Tes Kehamilan Positif bila janin masih hidup. suhu badan normal atau meningkat 3. tidak nyeri saat porsio digoyang. Rasa mulas atau kram perut. tidak nyeri pada perabaan adneksa. teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri. c. mola kruenta. Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun. cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri. denyut nadi normal atau cepat dan kecil. Perdarahan. ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium. perforasi. maserasi atau fetus papiraseus. syok dan infeksi 2. Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah G. Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu. didaerah atas simfisis. Pemeriksaaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup 3. osteum uteri terbuka atau sudah tertutup.

dari beberapa jam sampai beberapa hari kemudian terjadi nyeri kram perut. nyeri dapat berupa nyeri punggung bawah yang menetap disertai perasaan tertekan di panggul. Apabila di dalam rongga uterus terdapat jaringan dalam jumlah signifikan.pemeriksaan kuantitatif serial kadar gonadotropin korionik (hCG) serum. dimana hasil konsepsi masih dalam uterus. Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih sering dan kual perdarahan bertambah. Abortus Imminens Abortus Imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu. berwarna merah. tetapi karena faktor alamiah. Kadang-kadang terjadi perdarahan ringan selama beberapa minggu. mungkin diperlukan kuretase. Semua jaringan yang keluar harus diperiksa untuk menentukan apakah abortusnya telah lengkap. mola hidatidosa. Penatalaksanaan Abortus dapat dibagi dalam 2 golongan. Dalam hal ini perlu diputuskan apakah kehamilan dapat dilanjutkan. Sonografi vagina. uterus harus dikosongkan. Ulhasonografi abdomen atau probe vagina Dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan ini. dan tidak disertai mules-mules. Pengeluaran hasil . 2. cepat terhenti. Yang pertama kali muncul biasanya adalah perdarahan. Aspek klinis abortus spontaneus meliputi : 1.  Terapi hormon progesteron intramuskular atau dengan berbagai zat progestasional sintetik peroral atau secara intramuskular. karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik. dan tanpa adanya dilatasi serviks. I. Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan. maka dianjurkan dilakukan kuretase. Abortus Insipiens Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus.  Pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukan apaka}r janin masih hidup. kemamilan dengan kelainan serviks. yaitu : 1) Abortus spontaneous Yaitu abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau medisinalis. Dapat juga digunakan tekhnik pencitraan colour and pulsed Doppler flow per vaginam dalam mengidentifikasi gestasi intrauterus hidup. untuk memastikan apakah terdapat janin hidup intrauterus. atau rasa tidak nyaman atau nyeri tumpul di garis tengah suprapubis. Kecuali apabila janin dan plasenta dapat didentifikasi secara pasti. Setelah konseptus meninggal.Kehamilan etopik terganggu. Penanganan abortus imminens meliputi :  Istirahat baring. Diagnosis abortus imminens ditentukan apabila terjadi perdarahan pervaginam pada paruh pertama kehamilan. Nyeri abortus mungkin terasa di anterior dan jelas bersifat ritmis. Abortion imiteins perlu dibedakan dengan perdarahan implantasi yang biasanya sedikit.Walaupun bukti efektivitasnya tidak diketahui secara pasti. yang diperiksa tersendiri atau dalam berbagai kombinasi. dan kadar progesteron serum.

Jika perdarahan berhenti. . Evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia. 2) Jika perdarahanb anyak atau terus berlangsungd an usia kehamilan kurang 16 minggu. perdarahan kadang-kadang sedemikian masif sehingga menyebabkan hipovolemia berat. 3) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan 3.  Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera beri ergometrin 0. Penanganan abortus inkomplit : 1) Jika perdarahant idak seberapab anyak dan kehamilan kurang 16 minggu. Penanganan Abortus Insipiens meliputi : 1) Jika usia kehamilan kurang 16 minggu.2 mg intramuskuler (diulang setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg peroral (dapat diulang setelah 4 jam bila perlu). disusul dengan kerokan. cepat atau lambat akan terjadi perdarahan yang merupakan tanda utama abortus inkompletus. 4) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan. segera lakukan:  Berikan ergomefiin 0. lakukan evaluasi uterus dengan aspirasi vakum manual. 2) Jika usia kehamilan lebih 16 minggu :  Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa hasil konsepsi.2 mg intramuskulera taum iso prostol4 00 mcg per oral. 3) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu:  Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau ringer laktat) dengan k ecepatan 40 tetes permenit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi  Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg per vaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg)  Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus. evaluasi hasil konsepsi dengan :  Aspirasi vakum manual merupakan metode evaluasi yang terpilih. Abortus lnkompletus Abortus Inkompletus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.  Jika perlu.2 mg intramuskuler (dapat diulang setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam bila perlu). Pada abortus yang lebih lanjut.  Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus. evaluasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau larutan ringer laktat dengan kecepatan 40 tetes permenit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi. Jika evaluasi tidak dapat. Apabila plasenta (seluruhnya atau sebagian) tertahan di uterus. beri ergometrin 0.konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vakum atau dengan cunam ovum.

Hipofibrinogenemia dapat terjadi apabila janin yang mati lebih dari I bulan tidak dikeluarkan. Gejala subyektif kehamilan menghilang. mamma agak mengendor lagi. Dengan ultrasonografi dapat ditentukan segera apakah janin sudah mati dan besamya sesuai dengan usia kehamilan. sehingga pemeriksaan ke arah ini perlu dilakukan. Selain itu faktor mental penderita perlu diperhatikan karena tidak jarang wanita yang bersangkutan merasa gelisah. tes kehamilan menjadi negatif. sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis dan serviks uteri menjadi besar. Abortus Habitualis . Penderita dengan abortus kompletus tidak memerlukan pengobatan khusus. mengetahui ia mengandung janin yang telah mati. dan uterus sudah banyak mengecil. 5. timbul pertanyaan apakah hasil konsepsi perlu segera dikeluarkan. tetapi janin yang telah mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. Etiologi missed abortion tidak diketahui. Perlu diketahui pula bahwa missed abortion kadangkadang disertai oleh gangguan pembekuan darah karena hipofibrinogenemia. 6. Penanganan Setelah diagnosis missed abortion dibuat. uterus tidak membesar lagi malah mengecil. Tindakan pengeluaran itu tergantung dari berbagai faktor. Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit. ostium uteri telah menutup. Missed Abortion Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu. Terapi terdiri atas dilatasi serviks dengan busi Hegar dan kerokan untuk mengeluarkan hasil konsepsi dari kanalis servikalis. Diagnosis Missed abortion biasanya didahului oleh tanda-tanda abortus imminens yang kemudian menghilang secara spontan atau setelah pengobatan. Abortus Servikalis Pada abortus servikalis keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uteri eksternum yang tidak membuka. seperti apakah kadar fibrinogen dalam darah sudatr mulai turun. dengan dinding menipis. hanya apabila penderita anemia perlu diberikan tablet sulfas ferrosus 600 mg perhari atau jika anemia berat maka perlu diberikan transfusi darah. tetapi diduga pengaruh hormone progesterone. dan ingin supaya janin secepatnya dikeluarkan. 7. Abortus Kompletus Pada abortus kompletus semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan.4. Pemakaian Hormone progesterone pada abortus imminens mungkin juga dapat menyebabkan missed abortion. Padap emeriksaand itemukan serviks membesar dan di atas ostium uteri eksternum teraba jaringan. Diagnosis dapat dipermudah apabila hasil konsepsi dapat diperiksa dan dapat dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar dengan lengkap. kurang lebih bundar.

pekerjaan.Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut turut. bau. 2) Riwayat kesehatan masa lalu ¬ Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien. merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. . gejala serta keluahan yang menyertainya ¬ Riwayat kehamilan . ¬ Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM . ¬ Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien. status perkawinan. ¬ Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe. pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. umur. bagaimana keadaan kesehatan anaknya. jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya. ¬ Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga. lamanya perkawinan dan alamat ¬ Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang ¬ Riwayat kesehatan . Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. tetapi kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu. agama. lamanya. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan. oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. jantung . melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan. masalah ginekologi/urinary . hipertensi . warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah : ¬ Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi .. 1. sifat darah. suku bangsa. jenis pembedahan . II. perkawinan ke. persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini. Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil. yang terdiri atas : 1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid. dan penyakit-penyakit lainnya. saling berkaitan dan dinamis. siklus menstruasi. penyakit endokrin . kapan . menentukan cara pemecahannya. KONSEP ASUHAN KEPERWATAN Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis. nama. terus menerus. banyaknya. pendidikan.

hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan. derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. pap smear. istirahat tidur. adanya keterbatasan fifik. massa atau konsolidasi. Pemeriksaan fisik. penggunaan ekstremitas. dan seterusnya Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari. USG. memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung.¬ Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral. dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. ¬ Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi.  Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien  Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME.  Tekanan : menentukan karakter nadi. dan menggunakan KB jenis apa.  Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB. mengevaluasi edema. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah. pergerakan dan postur.Data psikososial. lesi terhadap drainase. cairan dan elektrolit. biopsi.  Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan .  Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya. (Johnson & Taylor. pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan. mencatat suhu. obat digitalis dan jenis obat lainnya. memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna. dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan.  Kaji orang terdekat dengan klien.  Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah. perubahan warna. apakah klien menggunakan kontrasepsi.  Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan. bahasa tubuh. bagaimana pola komunikasi dalam keluarga. apakah klien setuju. 2005 : 39) Pemeriksaan laboratorium :  Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen. ketergantungan. laserasi. hygiene. Data lain-lain :  Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS. baik sebelum dan saat sakit. . eliminasi (BAB dan BAK).

Devisit Volume Cairan s. istirahat mutlak sangat diperlukan 5) Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas Rsional : Menilai kondisi umum klien 3.d perdarahan 2. kondisi vulva lembab 5. Devisit Volume Cairan s. seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas. tetapi perdarahan masif perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk 2) Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan Rasional : Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi 3) Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari Rasional : Mengistiratkan klilen secara optimal 4) Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien Rasional : Mengoptimalkan kondisi klien. penurunan sirkulasi Tujuan : Klien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi Intervensi : 1) Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas Rasional : Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti.d kelemahan. Gangguan Aktivitas s.d Perdarahan Tujuan : Tidak terjadi devisit volume cairan.Gangguan rasa nyaman : Nyeri s. Cemas s.d Kerusakan jaringan intrauteri Tujuan : Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami . Diagnosa Keperwatan 1. Resiko tinggi Infeksi s.d kurang pengetahuan 3. Intervensi : 1) Kaji kondisi status hemodinamika Rasional : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karekteristik bervariasi 2) Ukur pengeluaran harian Rasional : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginal 3) Berikan sejumlah cairan pengganti harian Rasional : Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan massif 4) Evaluasi status hemodinamika Rasional : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik 2.d kerusakan jaringan intrauteri 4.2. penurunan sirkulasi 3.d kelemahan. Gangguan rasa nyaman: Nyeri s.d perdarahan. Gangguan Aktivitas s. pada abortus imminens. Intervensi Keperwatan 1.

kondisi vulva lembab Tujuan : Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan Intervensi : 1) Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar . dan bau Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi 6) Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama se. warna. pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat Intervensi : 1) Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit Rasional : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas 2) Kaji derajat kecemasan yang dialami klien Rasional : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit 3)Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan Rasional : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien 4) Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama .ama masa perdarahan Rasional : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu.d kurang pengetahuan Tujuan : Tidak terjadi kecemasan. 2) Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya Rasional : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri 3) Kolaborasi pemberian analgetika Rasional : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik 4. senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan. Resiko tinggi Infeksi s.Intervensi : 1) Kaji kondisi nyeri yang dialami klien Rasional : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun dsekripsi. 5.d perdarahan. 5) Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi 2) Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar 3) Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart Rasional : Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart 4) Lakukan perawatan vulva Rasional : Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi. Cemas s. jumlah.

Penerbit Buku Kedokteran .Rasional : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan 5) Terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga Rasional : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga. (2001). DAFTAR PUSTAKA Carpenito. untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga. Lynda. Buku Saku Diagnosa Keperawatan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful