P. 1
Hukum Pidana Lanjutan

Hukum Pidana Lanjutan

|Views: 53|Likes:
Published by Dewa Gede Agung
Hukum Pidana Lanjutan
Hukum Pidana Lanjutan

More info:

Published by: Dewa Gede Agung on Apr 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2013

pdf

text

original

PENYERTAAN Secara umum penyertaan dapat diartikan sebagai suatu perbuatan (tindak pidana) yang dilakukan lebih dari

satu orang. Kata penertaan (deelneming) berarti turut sertanya seseorang atau lebih pada waktu seseorang lain melakukan tindak pidana. Menurut Chazawi (2002:71) mengartikan penyertaan sebagai berikut : Pengertian yang meliputi semua bentuk turut serta atau terlibatnya orang atau orang-orang baik secara psikis maupun fisik dengan melakukan masing-masing perbuatan sehingga melahirkan suatu tindak pidana. Dasar hukum penyertaan telah diatur dalam Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP. Ketentuan pidana dalam Pasal 55 KUHP menurut rumusannya berbunyi : (1) Dihukum sebagai pelaku-pelaku dari suatu tindak pidana, yaitu: 1. Mereka yang melakukan, menyuruh melakukan atau yang turut melakukan. 2. Mereka yang dengan pemberian-pemberian, janji-janji, dengan menyalahgunakan kekuasaan atau keterpandangan, dengan kekerasan, ancaman atau dengan menimbulkan kesalahpahaman atau dengan memberikan kesempatan, sarana-sarana atau keterangan-keterangan, dengan sengaja telah menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana yang bersangkutan. (2) Mengenai mereka yang disebutkan terakhir ini, yang dapat dipertanggungjawabkan kepada mereka itu hanyalah tindakan-tindakan yang dengan sengaja telah mereka gerakkan untuk dilakukan oleh orang lain, berikut akibat-akibatnya. Sedangkan ketentuan pidana dalam Pasal 56 KUHP menurut rumusannya berbunyi: 1. Mereka yang dengan sengaja telah memberikan bantuan dalam melakukan kejahatan tersebut. 2. Mereka yang dengan sengaja telah memberikan kesempatan, sarana-sarana atau keteranganketerangan untuk melakukan kejahatan tersebut. Perlunya Penyertaan Dipidana. Tindak pidana adalah perbuatan yang oleh undang-undang dinyatakan dilarang yang disetai ancaman pidana pada barang siapa yang melanggar larangan tersebut. Wadah tindak pidana ialah undang-undang., baik berbentuk kodifikasi yakni KUHP dan di luar kodifikasi tesebar luas dalam berbagai peraturan perundang-undangan.
1

adalah orang. dengan berdasarkan ketentuan perihal penyertaan ini maka B dibebani tanggung jawab pidana dan karenanya dapat dipidana pula. dan orang itu hanya satu orang. Pembentuk Undang-undang merasa perlu membebani tanggung jawab pidana dan yang sekaligus besarnya bagi orang-orang yang perbuatannya semacam itu. Mengapa B tidak dipidana ? karena apa yang dilakukan B pembunhan dan demikian tidak memenuhi rumusan pembunuhan (338). perbuatan masing-masing dan mereka berbeda satu dengan 2 . bukan banyak orang atau beberapa orang. Jelas yang dimaksudkan dengan barang siapa (Hij die). Perhatikanlah rumusan misalnya pasal 338 KUHP yang menyatakan “barangsiapa dengan sengaja menhilangkan nyawa orang lain. Pertanggung Jawaban Pada Penyertaan Penyertaan (deelneming) adalah pengertian yang meliputi semua bentuk turut serta / terlibatnya orang atau orang-orang baik secara psikis maupun pisik dengan melakukan masing-masing perbuatan sehingga melahirkan suatu tindak pidana.Subyek hukum yang disebutkan dan dimaksudkan dalam rumusan tindak pidana adalah hanya satu orang . Apabila semata-mata berdasarkan rumusan pasal 338 tadi. untuk menjadi pegangan hakim dalam menjatuhkan pidana. tampak dengan jelas bahwa apabila didasarkan pada rumusan kejahatan 338 semata-mata . dia hanya melakukan sebagian saja dari unsur perbuatan dalam kejahatan itu. Dengan maksud yang denikianlah maka dibentuknya ketentuan umum penyertaan yang dimuatkan dalam Bab V Buku I (pasal 55-62) KUHP. pada kasus A membunuh Y dengan tikaman. Orang-orang yang terlibat dalam kerja sama yang mewujudkan tindak pidana. tentulah B karena perbuatannya memegang tangan pasti tidak dapat dipidana karena tidak memenuhi rumusan tindak pidana pembunuhan. maka B tentulah tidak dapat di bebani tanggung jawab pidana dan pidana atas peran dan keterlibatan dalam pembunuhan dan pencurian yang dilakukan oleh A tadi. maka haruslah ada ketentuan lain yang membebani pertanggung jawaban atas perbuatan itu. diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara setinggi-tingginya lima belas tahun. Ketentuan penyertaan yang dibentuk dan dimuat dalam KUHP bertujuan agar dapat dipertanggung jawabkandan dipidananya orang-orang yang terlibat dan mempunyai andil baik secara fisik (obyektif) maupun psikhis (subyektif) seperti orang yang terlibat dalam kasus diatas. Agar B dapat juga dipidana. Dari peristiwa diatas. dimana B memegangi tangannya agar supaya tidak melawan. Dari perbuatan B memegang tangan tidaklah menimbulkan kematian Y. bukan beberapa orang.

Apakah syaratnya seseorang dapat disebut sebagai ikut terlibat dan ikut bertanggung jawab dengan peserta lainnya di dalam mewujudkan tindak pidana : 1. menurut ajaran subyektif yang bertitik tolak dan memberatkan pandangannya pada sikap batin pembuat. Adanya hubungan batin (kesengajaan. dialah yang membeban tanggung jawab pidana yang lebih besar. Adanya hubungan batin (kesengajaan) dengan tindak pidana yang hendak diwujudkan. ialah: 1. yang menyatakan bahwa setiap orang yang terlibat bersama-sama ke dalam suatu 3 . Sebaliknya menurut ajaran obyektif. sedikit atau banyak ada kepentingan untuk terwujudnya tindak pidana. seperti mengetahui) antara dirinya dengan peserta lainnya. mempunyai tujuan dan kepentingan untuk terwujudnya tindak pidana. terhadap terwujudnya tindak pidana. artinya kesengajaan dalam berbuat diarahkan pada terwujudnya tindak pidana. atau dengan kata lain wujud perbuatan orang itu secara obyektif ada perannya / pengaruh positif bauk besar atau kecil. ialah: a. di mana perbuatan oleh yang satu menunjang perbuatan oleh yang lainnya yang semuanya mengarah pada satu istilah terwujudnya tindak pidana.yang lain. dan bahkan dengan apa yang diperbuat oleh peserta lainnya. Tetapi dari perbedaan-perbedaan yang ada pada masing-masing itu terjalinlah suatu hubungan yang sedemikian rupa eratnya. memberikan ukuran bahwa orang yang terlibat dalam suatu tindak pidana yang dilakukan oleh lebih dari satu orang (penyertaan) ialah apabila ia berkhendak. dikenal ada 2 sistem pembebanan pertanggungjawaban pidana. Dari Sudut Obyektif. b. yang menitik beratkan pada wujud perbuatan apa serta sejauh mana peran dan andil serta pengaruh positif dari wujud perbuatan itu terhadap timbulnya tindak pidana yang dimaksdukan. pertama. demikian juga dalam penyertaan ada 2 ajaran. ialah bahwa perbuatan orang itu ada hubungan debgan terwujudnya tindak pidana. Dari Sudut Subyektif . 2. Dalam doktrin hukum pidana. Sebagaimana dalam percobaan yang mengenal dua ajaran subyektif dan obyektif. demikian juga bisa tidak sama apa yang ada dalam sikap batin mereka terhadap peserta yang lain. Disini. yang menentukan sebarapa berat tanggung jawab yang dibebannya terhadap terjadinya tindak pidana. Siapa yang berkehendak yang paling kuat dan atau mempunyai kepentingan yang paling besar terhadap tindak pidana itu. ada 2 syratnya. Menyangkut tentang sistem pembebanan pertanggungjawaban pidana dalam penyertaan. subyektif dan obyektif .

mereka yang sengaja memberi kesempatan. dikurangi sepertiga”. . Tetapi juga menurut KUHP bagi orang yang terlibat sebagai pembuat pembantu. Pasal 55 merumuskan sebagai berikut: (1) Dipidana sebagai pembuat tindak pidana: a.tindak pidana dipandang dan dipertanggung jawabkan secara sama dengan orang yang sendirian (dader) melakukan tindak pidana. baik pembantuan pada saat pelaksanaan kejahatan maupun pembantuan sebelum pelaksanaan kejahatan (56) beban tanggung jawabnya dibedakan dengan orang-orang yang masuk kelompok pertama (mededader) pada pasal 55. mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan dilakukan. hanya perbuatan yang sengaja dianjurkan sajalah yang diperhitungkan. tanpa dibeda-bedakan baik atas perbuatan baik atas perbuatan yang dilakukannya maupun yang ada dalam sikap batinnya. 2. ancaman atau penyesatan. (2) Terhadap penganjur. dan pasal 56 mengenai medeplichtige (pembuat pembantu). dimana menurut pasal 57 atay (1) ditetapkan bahwa “ dalam hal pembantuan. dengan kekerasan. b. Bentuk-bentuk Penyertaan Bentuk-bentuk penyertaan terdapat dan diterangkan dalam pasal 55 dan 56. atau dengan memberi kesempatan. sarana atau keterangan untuk melakukan 4 . mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu. b. yang mmerupakan bahwa masing-masing orang yang bersama-sama terlibat kedalam suatu tindak pidana dipandang dan dipertanggungjawabkan berbeda-beda. Pasal 56 merumuskan sebagai berikut: Dipidana sebagai pembantu kejahatan : a. beserta akibat-akibatnya. maksimum pidana pokok terhadap kejahatan. kedua. yakni beban tanggung jawab pelaku pembantu ini lebih ringan pada daripada tanggung jawab pelaku mededader tersebut. dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat. atau para pembuat). yang menyuruh lakukan. sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan. sarana atau keterangan. mereka yang melakukan. yang berat-ringannya sesuai dengan bentuk dan luasnya wujud perbuatan masing-masing orang dalam mewujudkan tindak pidana. dan yang turut serta melakukan perbuatan. pasal 55 mengenai golongan yang disebut dengan mededader (disebut pada peserta.

atau dengan syarat-syarat apa seorang yang terlibat dalam tindak pidana disebut dengan orang yang melakukan atau pembuat pelaksana (pleger)? Apakah pembuat pelaksana ini sama atau tidak sama dengan pembuat tunggal (enkelvoudige dader)? Undang-undang tidak menjelaskan lebih jauh tentang siapa yang dimaksud dengan “mereka yang melakukan” ini. apabila orang lain berbuat tanpa kesengajaan. ialah secara umum ialah perbuatannya telah memenuhi semua unsur tindak pidana. melainkan dengan perantaraan orang lain sebagai alat dalam tangannya. yang menyatakan bahwa “yang menyuruh melakukan ialah juga dia yang melakukan tindak pidana akan tetapi tidak secara pribadi. wujud perbuatannya ialah sama dengan perbuatan apa yang dicantumkan dalam rumusan tindak pidana. Sedangkan dalam tindak pidana materiil perbuatan apa yang dilakukannya telah menimbulakan akibat yang dilarang oleh undang-undang.kejahatan. 2. Dalam keterangan MvT tersebut. plegernya adalah orang yang perbuatannya menimbulkan akibat yang dilarang oleh undang-undang. ialah kenyataannya tindak pidana itu dilakukan oleh orang lain yang ada dalam kekuasaannya sebagai alat. Pada kenyataannya untuk menentukan seorang pembuat tunggal. Kreteriannya cukup jelas. tidaklah terlalu sukar. Bagi tindak pidana formil. Dalam mencari pengertian dan syarat dari orang yang menyuruh lakukan (Doen Pleger) banyak ahli hukum merujuk pada keterangan yang ada di dalam MvT WvS Belanda. 1. Mereka yang Menyuruh Melakukan (Pembuat Penyuruh: Doen Pleger) Undang-undang tidak menerangkan tentang siapa yang dimaksud yang menyuruh melakukan itu. yang dia berbuat tanpa kesalahan dan tanpa tanggung jawab. Pada tindak pidana yang dirumuskan secara materiil. Mereka yang Melakukan (pembuat pelaksana: pleger) Siapakah yang dimaksud dengan mereka yang melakukan (zij die het feit plegen). maka dapatlah disimpulkan bahwa penentuan bentuk pembuat penyuruh lebih ditekankan pada ukuran obyektif. pembuat pelaksanaannya ialah siapa yang melakukan dan menyelesaikan perbuatan terlarang yang dirumuskan dalam tindak pidana yang bersangkutan. yakni dalam hal tidak dipidananya pembuat materiilnya (orang yang disuruh 5 . disesatkan atau tunduk pada keerasan. Walaupun sesungguhnya juga tetap memperhatikan hal-hal yang teryata subyektif. kealpaan atau tanpa tanggung jawab karena keadaan yang tidak diketahui. Dalam tindak pidana yang dirumuskan secara formil.

Pada mulanya disebut dengan turut berbuat (meedoet) itu ialah bahwa pada masing-masing peserta telah melakukan perbuatan yang sama-sama memenuhi semua rumusan tindak pidana yang bersangkutan. sesuatu yang subyektif. Sedangkan pandangan luas tentang pembuat peserta. Keterangan ini belum memberikan penjelasan yang tuntas. Pada contoh ini perbutan A dan Perbuatan B sama-sama (bersama) mengangkat televisi. Bedanya. dan tidak dapat mengangkat televisi oleh hanya satu orang. dan dalam hal tidak dipertanggung jawabkan karena keadaan batin orang yang dipakai sebagai alat itu. perbuatannya tidak perlu memenuhi semua rumusan tindak pidana. Mereka yang Turut Serta Melakukan (Pembuat Peserta: Medepleger) Tentang siapa yang dimaksud dengan turut serta melakukan (medepleger). tetapi melalui orang lain. tidak mewujudkan tindak pidana secara materiil. ialah “yang menyuruh melakukan” (doen plegen). Oleh karena itu menimbulkan perbedaan pandangan.melakukan) karena dia berbuat tanpa kesalahan. disebut juga auctor intellectualis). Orang yang Sengaja Menganjurkan (pembuat Penganjur: uitlokker) Orang yang sengaja menganjurkan (pembuat penganjur. kesengajaannya sama dengan kesengajaan dari pembuat pelaksana. Seperti dua orang A dan B mencuri sebuah televisi disebuah kediaman. Kalau pembuat penyuruh dirumuskan dalam pasal 55 ayat (1) dengan sangat singkat. Jelas perbuatan mereka telah sama-sama memenuhi rumusan tindak pidana. yakni tidak tahu dan tersesatkan. ialah seorang dader dia sebagai pembuat tunggal. oleh MvT WvS Belanda diterangkan bahwa yang turut serta melakukan ialah setiap orang yang sengaja berbuat (meedoet) dalam melakukan suatu tindak pidana. dimana mereka berdua sama-sama masuk melalui jendela yang tidak terkunci dan sama-sama pula mengangkat obyek televisi tersebut ke dalam mobil yang telah disediakan dipinggir jalan. tidak mensyaratkan bahwa perbuatan pelaku peserta harus sama dengan perbuatan seorang pembuat (dader). dengan menyebutkan 6 . 3. pencurian terjadi karena perbuatan yang sama. tetapi pada bentuk orang yang sengaja menganjurkan inidirumuskan dengan lebih lengkap. sedangkan alasan karena tunduk pada kekerasan adalah bersifat obyektif. Sama seperti perbuatan seorang pembuat (dader). asalkan. seperti juga pada orang yang menyuruh lakukan. 4. sudahlah cukup memenuhi sebagian saja dari rumusan tindak pidana.

Pembantuan dalam rumusan ini mirip dengan penganjuran (uitlokking). 3). sedangkan turut serta dipidana sama. Pembantuan sebelum kejahatan dilakukan. Cara bagaimana pembantuannya tidak disebutkan dalam KUHP. Pada pembantuan. dengan cara bekerja sama dan mempunyai tujuan sendiri. dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat. sarana atau keterangan. sedangkan dalam penganjuran. Rumusan itu selengkapnya ialah. Maksimum pidana pembantu adalah maksimum pidana yang bersangkutan dikurangi 1/3 (sepertiga). sedangkan turut serta dalam pelanggaran tetap dipidana. yang dilakukan dengan cara memberi kesempatan. memberi kesempatan. 2). 4). PEMBANTUAN Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 56 KUHP. kehendak melakukan kejahatan pada pembuat materiel ditimbulkan oleh si penganjur.unsur obyektif yang sekaligus unsur subyektif. namun perbedaannya terletak pada : 1). Pada pembantuan perbuatannya hanya bersifat membantu atau menunjang. 7 . pada pembantuan kehendak jahat pembuat materiel sudah ada sejak semula atau tidak ditimbulkan oleh pembantu. pembantu hanya sengaja memberi bantuan tanpa diisyaratkan harus kerja sama dan tidak bertujuan atau berkepentingan sendiri. sedang pada turut serta merupakan perbuatan pelaksanaan. orang yang turut serta sengaja melakukan tindak pidana.”mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu. Perbedaannya pada niat atau kehendak. sarana atau keterangan. Pembantuan dalam pelanggaran tidak dipidana (Pasal 60 KUHP). sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan”. pembantuan ada 2 (dua) jenis. yaitu : • Pembantuan pada saat kejahatan dilakukan. Pembantuan pada saat kejahatan dilakukan ini mirip dengan turut serta (medeplegen). sedangkan dalam turut serta.

Namun ada beberapa catatan pengecualian : 1. • • 2. 8 . Membantu menggelapkan uang atau surat oleh pejabat (Pasal 415 KUHP). pembantu dipidana penjara maksimal 15 tahun. Pembantu dipidana sama berat dengan pembuat. yaitu pada kasus tindak pidana : • Membantu merampas kemerdekaan (Pasal 333 ayat (4) KUHP) dengan cara memberi tempat untuk perampasan kemerdekaan. pembantu dipidana lebih ringan dari pada pembuatnya. Dokter yang membantu menggugurkan kandungan (Pasal 349 KUHP). Jika kejahatan diancam dengan pidana mati atau pidana seumur hidup.Berbeda dengan pertanggungjawaban pembuat yang semuanya dipidana sama dengan pelaku. Pembantu dipidana lebih berat dari pada pembuat. yaitu dalam hal melakukan tindak pidana : • • Membantu menyembunyikan barang titipan hakim (Pasal 231 ayat (3) KUHP). Meniadakan surat-surat penting (Pasal 417 KUHP). yaitu dikurangi sepertiga dari ancaman maksimal pidana yang dilakukan (Pasal 57 ayat (1) KUHP).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->