P. 1
Presentation 1

Presentation 1

|Views: 5|Likes:
Published by Irma Sihotang
fever
fever

More info:

Published by: Irma Sihotang on Apr 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/29/2013

pdf

text

original

Infeksi, toksin mikroba, mediator inflamasi, reaksi imun

PATOFISIOLOGI Toksin mikroba

Cyclic AMP Monosit/ makrofag, selsel endotel, dan lainnya.

PGE2

Sitokin pirogenik IL-1, IL-6, TNF, IFN

Endotel Hipotalamus

Peningkatan set point pada pusat termoregulasi

DEMAM sirkulasi

Produk mikroba Pirogen eksogen Toksin mikroba mikroba pirogen Interleukin Pirogen endogen TNF IFN .

(5) malaria .

.

.

Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan peningkatan suhu tubuh. tepi dan ujung merah dan tremor). Salmonella schottmuelerri.Etiologi demam tifoid adalah Salmonella typhi. Dalam minggu kedua: gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam. perasaan tidak enak diperut. sedangkan roseolae jarang ditemukan pada orang Indonesia. batuk dan epistaksis. lidah tifoid (putih di tengah. sedangkan demam paratifoid disebabkan oleh organisme yang termasuk dalam spesies Salmonella enteritidis. yaitu demam. hepatomegali. anoreksia.2 Biakan darah positif memastikan demam tifoid. Biakan tinja positif menyokong diagnosis klinis demam tifoid. splenomegali.2 Gejala-gejala yang timbul bervariasi. meteorismus. mual. Dalam minggu pertama: keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya. Pada beberapa pasien. Reaksi Widal tunggal dengan titer antibodi O> 1:320 atau titer antibodi H> 1:640 menyokong diagnosis demam tifoid pada pasien dengan gambaran klinis yang khas. tetapi biakan darah negatif tidak menyingkirkan demam tifoid. obstipasi atau diare. muntah. Peningkatan titer uji Widal empat kali lipat selama 2-3 minggu memastikan diagnosis demam tifoid. gangguan kesadaran berupa somnolen sampai koma. yaitu Salmonella paratyphi A. uji Widal tetap negatif pada pemeriksaan ulang.2 Penatalaksanaan : Antibiotik Istirahat Diet . pusing. dan Salmonella hirschfeldii. walaupun biakan darah positif. nyeri kepala. bradikardi relatif. nyeri otot.

Diagnosis malaria ditegakkan seperti diagnosis penyakit lainnya berdasarkan anamnesis. antara lain klorokuin. Plasmodium vivax penyebab penyakit malaria tertian. primakuin. serta derivate artemisin. Plasmodium malarie penyebab malaria quartiana.5 – 40 derajat. Gejala klasik berupa suatu parokisme yang terdiri dari 3 stadium. Jenis plasmodium yang ditemukan antara lain Plasmodium falciparum penyebab malaria tropika. yaitu:2 Mengigil 15 . kina.60 menit Demam 2 . 2. pada penderita hiper parasitemia (> 5%) suhu meningkat sampai > 40 derajat celsius Berlangsung Berkeringat selama 2-4 jam.6 jam. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan Obat anti malaria yang tersedia di Indonesia laboratorium. 3. sulfadoksin-pirimetamin. timbul setelah penderita mengigil. demam biasanya suhu sekitar 37. dan Plasmodium ovale jarang ditemukan di Indonesia 1. . anemia dan pembesaran limpa.Penyakit Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus Plasmodium dengan manifestasi klinis berupa demam. timbul setelah demam terjadi akibat gangguan metabolisme.

Paramyxoviruses) dan bakteri (Streptococcus pneumonie. .Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang berlangsung selama 14 hari. menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran napas mulai dari hidung (saluran pernapasan atas) sampai alveoli (saluran pernapasan bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus rongga telinga telinga tengah dan pleura. Penyebab tersering pada saluran pernapasan bagian atas adalah Virus (Rhinoviruses. Adenoviruses. 5 Sedangkan pada saluran pernapasan bagian bawah adalah Virus (Respiratory syncytial virus. Escherichia coli. Staphylococcus aureus. Mycoplasma pneumoniae. influenza virus type A) dan bakteri (Streptococcus pneumoniae. Enteroviruses. Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus. H. Coronaviruses. Streptococcus agalactiae group B). parainfluenza viruses. Haemophilus influenzae.Influenszae). Orthomyxoviruses.

Diagnosis infeksi saluran pernapasan akut biasanya dapat ditangani berdasarkan anamnesis yang tepat dan temuan klinis dan juga pemeriksaan fisik pasien. Selain itu dapat dilakukan foto rontgen dada untuk melihat corakan paru terutama pada kasus infeksi dicurigai telah mencapai saluran pernapasan bawah. atau bersin-bersin •Nyeri tenggorokan/nyeri menelan •Suara serak •Sakit kepala.Secara umum manifestasi klinis sebagai berikut: •Demam •Batuk •Pilek. yang mungkin menunjukkan tanda-tanda pneumonia. limfositosis. atau limfopenia dapat dilihat di beberapa infeksi virus. . hidung tersumbat. Pemeriksaan darah lengkap dengan hitung diferensial akan menunjukkan jumlah leukosit yang meningkat dengan pergeseran kiri. Limfosit atipikal. atau nyeri sendi •Lesu. badan pegal-pegal. lemas •Sesak napas •Frekuensi napas cepat langkah yang dapat dilakukan yaitu: •Mengatasi demam •Mengatasi batuk dan pilek •Pemberian asupan gizi yang cukup •Antibiotik tidak diperlukan apabila ISPA yang disebabkan infeksi virus d an hanya digunakan apabila telah terjadi infeksi yang disebabkan oleh bakteri.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->