BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Jembatan II.1.1 Perkembangan Jembatan Jembatan dikatakan sebagai peralatan yang tertua di dalam peradaban manusia. Pada zaman dahulu, jembatan dibuat untuk menyeberangi sungai kecil dengan menggunakan balok kayu atau batang pohon yang besar dan kuat. Menurut Degrand, jembatan pertama sekali tercatat pernah dibangun di sungai Nil oleh raja Manes dari Mesir pada tahun 2650 SM. Suatu deskripsi jembatan kayu yang dibangun Ratu Semiwaris dari Babilonis yang melintasi sungai Efhrat pada tahun 783 SM juga pernah disusun oleh Diodrons Siculus. Jembatan ini berlantai kayu, dan bertumpu pada pier dari batu. Lantai kayu ini dapat dipindahkan atau digeser pada malam hari untuk mencegah pencuri memasuki kota. Jembatan terapung, yang terbuat dari rangkaian perahu untuk menyeberangkan tentara pada masa-masa perang pernah dibangun oleh raja Alexander dari Cyprus pad tahun 556 SM. Jembatan kayu digunakan telah lama, disebabkan materialnya banyak, dan pelaksanaannya mudah. Perkembangan Jembatan semakin maju, antara lain dikarenakan penemuanpenemuan material yang baru antara lain kayu atau batu digabungkan dengan besi. Jembatan pelengkung beton yang pertama dibangun pada tahun 1776 melintas sungai Severn di Inggris. Belakangan pada tahun 1824 jembatan gelagar baja dibangun pada jalan kereta api Dublin Drogheda.

Universitas Sumatera Utara

Jembatan beton hanya digunakan untuk bentuk pelengkung, karena tidak kuat menahan tegangan tarik. Dengan penemuan baja pada tahun 1825, masa pembangunan jembatan modern dimulai. Pada tahun 1964, dibangunlah suatu jembatan yang terpanjang di dunia pada saat itu, yaitu Jembatan Verazano di New York - USA dengan bentang total adalah 2038 meter, dengan bentang utama adalah 1298 meter. Di banyak negara, jembatan umumnya dibuat dari beton bertulang, walaupun mulai digantikan oleh beton pratekan. II.1.2 Pengertiaan Jembatan Berdasarkan UU 38 Tahun 2004 bahwa jalan dan juga termasuk jembatan sebagai bagian dari sistem transportasi nasional mempunyai peranan penting terutama dalam mendukung bidang ekonomi, sosial dan budaya serta lingkungan yang dikembangkan melalui pendekatan pengembangan wilayah agar tercapai keseimbangan dan pemerataan pembangunan antar daerah. Konstruksi jembatan adalah suatu konstruksi bangunan pelengkap sarana trasportasi jalan yang menghubungkan suatu tempat ke tempat yang lainnya, yang dapat dilintasi oleh sesuatu benda bergerak misalnya suatu lintas yang terputus akibat suatu rintangan atau sebab lainnya, dengan cara melompati rintangan tersebut tanpa menimbun / menutup rintangan itu dan apabila jembatan terputus maka lalu lintas akan terhenti. Lintas tersebut bisa merupakan jalan kendaraan, jalan kereta api atau jalan pejalan kaki, sedangkan rintangan tersebut dapat berupa jalan kenderaan, jalan kereta api, sungai, lintasan air, lembah atau jurang. Jembatan juga merupakan suatu bangunan pelengkap prasarana lalu lintas darat dengan konstruksi terdiri dari pondasi, struktur bangunan bawah dan struktur

Universitas Sumatera Utara

bangunan atas, yang menghubungkan dua ujung jalan yang terputus akibat bentuk rintangan melalui konstruksi struktur bangunan atas. Jembatan adalah jenis bangunan yang apabila akan dilakukan perubahan konstruksi, tidak dapat dimodifikasi secara mudah, biaya yang diperlukan relatif mahal dan berpengaruh pada kelancaran lalu lintas pada saat pelaksanaan pekerjaan. Jembatan dibangun dengan umur rencana 100 tahun untuk jembatan besar, minimum jembatan dapat digunakan 50 tahun. Ini berarti, disamping kekuatan dan kemampuan untuk melayani beban lalu lintas, perlu diperhatikan juga bagaimana pemeliharaan jembatan yang baik. Karena perkembangan lalu lintas yang ada relatip besar, jembatan yang dibangun, biasanya dalam beberapa tahun tidak mampu lagi menampung volume lalu lintas, sehingga biasanya perlu diadakan pelebaran. Untuk memudahkan pelebaran perlu disiapkan desain dari seluruh jembatan sehingga dimungkinkan dilakukan pelebaran dikemudian hari, sehingga pelebaran dapat dilaksanakan dengan biaya yang murah dan konstruksi menjadi mudah. Pada saat pelaksanaan konstruksi jembatan harus dilakukan pengawasan dan pengujian yang tepat untuk memastikan bahwa seluruh pekerjaan dapat diselesaikan, sesuai dengan tahapan pekerjaan yang benar dan memenuhi persyaratan teknis yang berlaku, sehingga dicapai pelaksanaan yang efektif dan efisien, biaya dan mutu serta waktu yang telah ditentukan.

Universitas Sumatera Utara

Ditinjau dari material yang digunakan. Jembatan lengkung atau portal (Compression arch bridge) Gambar II. 2. maka jembatan diklasifikasikan atas : 1. 2000) Universitas Sumatera Utara . Jembatan gelagar biasa (Beam bridge) c. Jembatan portal (Rigid frame bridge) d. Jembatan Beton Prategang Jembatan Khusus. Jembatan Kayu b.yakni : a.1. Ditinjau dari bentuk struktur konstruksi. yakni : a. Jembatan penyangga (Cantilever bridge) e. Jembatan Beton Bertulang d.3 Klasifikasi Jembatan Ditinjau dari berbagai aspek. jembatan bisa dibedakan. Jembatan batang kayu (Log bridge) b. Jembatan Gelagar Baja c. Jembatan Komposit e.1 Berbagai Tipe Jembatan Pelengkung (Sumber: Chen & Duan. misalnya jembatan dimana mutu bahannya berbeda untuk konstruksi utama dan sekunder / jembatan gelagar baja pratekan.II. jembatan bisa dibedakan .

2 Jembatan Gantung (Sumber: Chen & Duan. Jembatan kerangka (Truss bridge) h. Jembatan gantung (Suspension bridge) Gambar II. 2000) i. Universitas Sumatera Utara . Pada bagian atas diletakkan papan lantai jembatan dan kemudian dilapisi dengan aspal. Jembatan kabel penahan (Cable-stayed bridge) Gambar II. yang konstruksi utama (bagian atas) terdiri dari beberapa buah gelagar. Jembatan gelagar I segmental beton atau beton pra tekan Jembatan gelagar sederhana merupakan suatu jembatan. Pada bagian bawah gelagar dibuat beberapa buah profil melintang dan menyilang yang berfungsi sebagai penyatu gelagar. 2000) g.f.3 Jenis Jembatan Kabel Tarik (a) jembatan bentang dua dengan angker tanah dan (b) jembatan bentang tiga dengan pendukung antara di sisi bentang (Sumber: Chen & Duan. yang dikonstruksikan dan diletakkan di atas dua buah tumpuan atau perletakkan dengan anggapan satu sendi dan satu rol.

Universitas Sumatera Utara . jembatan bisa dibedakan antara lain : a. Jembatan khusus. jembatan militer dan lain-lain. Jembatan statis tertentu b. pipa gas. dan sebagainya.4 Jembatan Gelagar I segmental panjang 20 m j. pengairan. Jembatan untuk lalu lintas biasa atau umum (highway bridge) c. Jembatan baja berdinding penuh (Plat girder bridge) 3. untuk lalu lintas umum dan air minum. Ditinjau dari fungsi atau kegunaannya. jembatan bisa dibedakan antara lain : Berdasarkan analisa struktur (statika konstruksi) maka jembatan dapat di bagi atas dua bagian yaitu : a. Jembatan untuk lalu lintas kereta api (railway bridge) b. misalnya untuk pipa-pipa air minum. Jembatan berfungsi ganda. Jembatan statis tak tertentu 4. Ditinjau dari statika konstruksi. Jembatan untuk pejalan kaki (foot path) d. e. misalnya untuk lalu lintas kereta api dan mobil.Gambar II.

Jembatan di atas saluran sungai. Ditinjau menurut letak lantainya. Jembatan dengan lantai kenderaan di tengah d.5. Jawa Barat. Bentang utama 132 meter dua sisi simetris 45 meter (total 222 meter) Universitas Sumatera Utara . 6. 1979. Jembatan bergerak. Ditinjau menurut letak atau posisinya. Jembatan dengan lantai kenderaan di bawah b. Jembatan di atas jalan yang sudah ada (Viaduct) 7. yaitu jembatan yang dapat digerakkan misalnya agar penyeberangan kapal-kapal di sungai tidak terganggu.5 Jembatan Box Girder Beton Menerus Kelas-A. Jembatan di atas lembah d. Jembatan tetap atau permanen c. jembatan bisa dibedakan antara lain : a. Jembatan sementara atau darurat b. Jembatan lantai kenderaan di atas dan bawah (Double deck bridge) Gambar II. Jembatan dengan lantai kenderaan di atas c. Jembatan di atas perairan (Aquaduct) c. jembatan bisa dibedakan antara lain : a. jembatan bisa dibedakan antara lain : a. saluran irigasi atau drainase b. Ditinjau menurut sifat-sifatnya.

c Faktor Bahan dan Lokasi Ada kalanya di sungai tertentu.1. Untuk tanah keras atau batu cadas yang menghubungkan jurang yang dalam.1. II.b Faktor Peralatan dan Tenaga Teknis Perencanaan jembatan gelagar sederhana. dijumpai banyak sekali batu kerikil yang baik untuk beton dan juga pasir dan batu koral yang Universitas Sumatera Utara .a Keadaan Struktur Tanah Pondasi Untuk tanah pondasi lunak adalah kurang cocok bila dibuat suatu jembatan pelengkung. mengingat gaya horizontal yang besar dan memerlukan pondasi tiang pancang miring. tidak memerlukan keahlian khusus dalam bidang tertentu. II.II.4 Dasar Pemilihan Tipe Jembatan Banyak beberapa faktor yang menentukan tipe dari jembatan yang akan dibangun agar bangunan yang akan dibangun efisien dan ekononis.1.4. Selain itu juga sangat cocok di bangun di pegunungan yang memiliki tanah pendasar atau pondasi yang curam. Jembatan beton pratekan (pre-cast) dengan bentang 20 meter. Adapun faktor tersebut antara lain : II. sehingga bahaya longsoran dapat dikurangi. Dengan adanya gaya horizontal pada pondasi. Peralatan berat harus dipikirkan dalam perencanaan sebuah jembatan beton yang dicor di tempat lain. yang sulit dilaksanakan.4. maka gaya geser vertikal pada tanah pondasi bisa diimbangi oleh gaya horizontal.4. sangat cocok bila dibangun jembatan pelengkung.1. yang akan dibangun di daerah pedalaman atau pegunungan tentunya kurang relevan karena akan sulit dalam pengangkutan dan pelaksanaannya yang akan melalui jalan berliku. bila akan dibangun jembatan.

Stabil & Mampu Menahan Gerusan Air 6. II. Tipe jembatan umumnya ditentukan oleh faktor seperti beban yang direncanakan. pondasi dari pasangan batu koral dan sebagainya. Bentuk dan warna alam sekitar mempengaruhi ketentraman jiwa. persyaratan ruang di bawah jembatan. Selain faktor di atas. agar indah dipandang. maka perlu dipertimbangkan prinsip pemilihan konstruksi jembatan. dimana udara sekeliling mengandung garam.1.bermutu tinggi. sebagai berikut : 1. jalur lintasan dan lebarnya.4. transportasi material konstruksi. panjang dan bentang jembatan. maka perlu dipertimbangkan pemakaian konstruksi baja apakah masih sesuai mengingat faktor perkaratan.1 berikut menunjukkan aplikasi panjang bentang beberapa tipe jembatan. Di daerah pantai laut. estetika. kondisi geografi sekitar. Konstruksi Sederhana (bisa dikerjakan masyarakat) 2. Perencanaan abutment yang dihindari terlalu tinggi. biaya dan masa pembangunan. Ketentraman bathin menentukan dalam ruang gerak kehidupan manusia. Perawatan Mudah & Murah (bisa dilakukan masyarakat) 5. Kuat & Tahan Lama (mampu menerima beban lalin) 4.d Faktor Lingkungan Sebaiknya bentuk jembatan harmonis dengan sekitarnya. Universitas Sumatera Utara . Bentang yang direncanakan adalah yang terpendek 7. Tabel II. Harga Murah (manfaatkan material lokal) 3. Di sana mungkin akan sangat ekonomis bila jembatan di buat dari beton bertulang. prosedur pendirian.

376 40 .300 15 .Tabel II. China. China. Gambar II. Norwegia. tetapi juga boleh secara serong (skew). 301 m Jembatan Stalassa.425 110 . ataupun jalur jalan yang lain. 2000) Struktur jembatan bagian atas dipakai untuk melintasi aliran air. baik ke kanan. Itali.1 Tipe Jembatan dan Aplikasi Panjang Jembatan No 1 2 3 4 5 6 7 Tipe Jembatan Gelagar Beton Prestress Gelagar Baja I / Kotak Rangka Baja Baja Lengkung Beton Lengkung Kabel Tarik Gantung Panjang Bentang (m) 10 .2000 Contoh Jembatan dan Panjangnya Stolmasundet. Bangunan bawah jembatan menyalurkan beban dari bangunan atas jembatan ke tapak atau pondasi. 549 m Shanghai Lupu. Jepang. Universitas Sumatera Utara .5 Bagian Struktur Jembatan Elemen struktur jembatan sebenarnya dapat dibedakan menjadi bagian atas (super-structure) dan bagian bawah (sub-structure). 425 m (pipa baja berisi beton) Sutong.550 40 . Struktur jembatan tidak harus memotong aliran air atau alur lainnya secara tegak lurus. jalur rel.1. 376 m Quebec. Canada. maupun ke kiri. yang dapat mengimbangi tambahan biaya struktur jembatan serong (skew). 1088 m Akaski-Kaikyo.1100 150 . 550 m Wan Xian.550 50 .6 Tipikal Struktur Jembatan (Sumber: Chen & Duan. China. 1991 m II. Alinemen jalan yang lebih baik akan menghasilkan biaya operasi kendaraan dan waktu perjalanan yang lebih kecil.

jembatan kabel (cable stayed) atau pelengkung. struktur utama bangunan atas jembatan dapat berbentuk pelat. sambungan siar muai dan perlengkapan lainnya seperti bangunan pengaman jembatan dan oprit jembatan.5. II. kenderaan dan lain-lain. sistem rangka. maka pemadatan harus dibuat maksimum dan di atasnya dipasang plat injak di belakang abutment.a Struktur Bangunan Atas Jembatan (Upper/Super-Structure) Adalah bagian dari struktur jembatan yang secara langsung menahan beban yang ditimbulkan oleh lalu lintas orang. gantung. Apabila terjadi penurunan atau kerusakkan pada hubungan ekspansi yang merupakan bidang pertemuan antara bangunan atas dengan abutment. timbunan tanah ini dibuat sepadat mungkin. sistem perletakan. bagian-bagian pada struktur bangunan atas jembatan terdiri atas struktur utama. Struktur bangunan bawah perlu didesain khusus sesuai dengan jenis kekuatan tanah dasar dan elevasi jembatan. Bangunan bawah dibagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu kepala jembatan (abutment) atau pilar (pier) dan pondasi untuk kepala jembatan atau pilar.II. sistem lantai. untuk menghindari terjadinya penurunan (settlement) yang tidak disukai bagi pengendara.1.5. Universitas Sumatera Utara .b Struktur Bangunan Bawah Jembatan (Sub-Structure) Adalah bagian dari struktur jembatan yang umumnya terletak di sebelah bawah bangunan atas dengan fungsi untuk menerima dan memikul beban dari bangunan atas agar dapat disalurkan kepada pondasi. Oprit-jembatan merupakan timbunan tanah di belakang abutment.1. gelagar. untuk selanjutnya disalurkan kepada bangunan bawah jembatan.

2. yang berfungsi mengurangi atau menghilangkan tegangan tarik pada saat beton mengalami beban kerja. Universitas Sumatera Utara . yaitu gaya tekan yang memberikan prategang pada penampang di sepanjang bentang suatu elemen struktural sebelum bekerjanya beban mati dan beban hidup transversal atau beban hidup horizontal transien. mengantikan tulangan tarik pada struktur beton bertulang biasa. Penampang dapat berperilaku elastis. Kuat tarik beton bervariasi mulai dari 8 sampai 14 persen dari kuat tekannya. dan torsional penampang tersebut. dan hampir semua kapasitas beton dalam memikul tekan dapat secara efektif dimanfaatkan di seluruh tinggi penampang beton pada saat semua beban bekerja di struktur tersebut Gaya longitudinal yang diterapkan tersebut di atas disebut gaya prategang. geser. Gaya ini mencegah berkembangnya retak dengan cara mengeliminasi atau sangat mengurangi tegangan tarik di bagian tumpuan dan daerah kritis pada kondisi beban kerja sehingga dapat meningkatkan kapasitas lentur.II. akan tetapi material yang lemah terhadap kondisi tarik. Rendahnya kapasitas tarik beton menimbulkan terjadinya retak lentur pada taraf pembebanan yang masih rendah. gaya konsentris atau eksentris diberikan dalam arah longitudinal elemen struktural.1 Pengertian Beton Prategang Beton adalah meterial yang kuat terhadap kondisi tekan. Gaya prategang ini berupa tendon yang diberikan tegangan awal sebelum memikul beban kerjanya.2 Gelagar Beton Prategang II. Untuk mengurangi atau mencegah berkembangnya retak tersebut.

gaya tarik yang berasal dari momen lentur ditahan oleh lekatan yang terjadi antara tulangan dan beton. modulus elastis yang tinggi dan mengalami rangkak ultimit yang lebih kecil. yang menghasilkan kehilangan prategang yang lebih kecil pada baja. prategang pada umumnya diberikan dengan menarik baja tulangan.Pada beton bertulang biasa. Pada beton bertulang. ini yang dikenal sebagi beton prategang. mengakibatkan berkurangnya retak. suatu hal yang berlawanan dengan aksi baja (tendon) prategang yang menghasilkan gaya dari dirinya sehingga memungkinkan pemulihan retak dan defleksi akibat momen lentur tersebut. Beton yang digunkan dalam beton prategang adalah mempunyai kuat tekan yang cukup tinggi dengan nilai f’c min K-300. Pemberian gaya prategang berupa tendon. tulangan di dalam komponen struktur beton bertulang tidak memberikan gaya dari dirinya pada komponen struktur tersebut. Prategang meliputi tambahan gaya tekan pada struktur untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan gaya tarik internal dan dalam hal ini retak pada beton dapat dihilangkan. Gaya tekan disebabkan oleh reaksi baja tulangan yang ditarik. Beton prategang pada dasarnya adalah beton di mana tegangan-tegangan internal dengan besar serta distribusi yang sesuai diberikan sedemikian rupa sehingga tegangan-tegangan yang diakibatkan oleh beban-beban luar dilawan sampai suatu tingkat yang diinginkan. Akan tetapi. Beton prategang adalah material yang sangat banyak digunakan dalam kontruksi. Prategangan juga menyebabkan gaya dalam yang berlawanan dengan gaya luar dan mengurangi atau bahkan menghilangkan lendutan secara signifikan pada struktur. Kuat tekan yang tinggi ini diperlukan untuk Universitas Sumatera Utara . guna mengurangi atau menghilangkan tegangan tarik. elemen beton prategang akan jauh lebih kokoh dari elemen beton bertulang biasa.

Tipikal diagram tegangan-regangan beton dapat dilihat pada gambar II.7. Pemakaian beton berkekuatan tinggi dapat memperkecil dimensi penampang melintang unsur-unsur struktural beton prategang. Dengan berkurangnya berat mati material. mencegah terjadinya keretakan. Universitas Sumatera Utara . Tegangan (Mpa) Regangan Gambar II. kelengkungan pada penampang. Pada beban tetap. maka secara teknis maupun ekonomis bentang yang lebih panjang dapat dilakukan. kehilangan tegangan lokal antara beton dan baja. perubahan bentuk bertambah dengan waktu dan jauh lebih besar dibandingkan harga langsungnya. tetapi merupakan akibat dari hilangnya air dalam proses pengeringan beton. sementara rangkak oleh bekerjanya tegangan. pengangkuran tendon.menahan tegangan tekan pada serat tertekan. Susut tidak disebabkan oleh tegangan.7 Diagram Tegangan Regangan Pada Beton Perubahan bentuk pada beton adalah langsung dan tergantung pada waktu. redistribusi aksi internal pada struktur statis tertentu. Susut dan rangkak menyebabkan perubahan bentuk aksial.

Hanya baja dengan tegangan elastis tinggi yang cocok digunakan pada beton prategang. Gaya pratekan dihasilkan dengan menarik kabel tendon yang ditempatkan pada beton dengan alat penarik. 2. biasanya digunkan untuk baja prategang pada beton prategang dengan system pratarik (pre-tension). Setelah penarikan tendon mencapai gaya/tekanan yang direncanakan. agar gaya tarik yang tadi dikerjakan tidak hilang. bentang yang lebih besar dan lebih ekonomis jika ditinjau dari segi pemasangan dibandingkan dengan beton bertulang biasa. Penarikan kabel tendon dapat dilakukan baik sebelum beton dicor (pre-tension) atau setelah beton mengeras (post-tension). penggunaan baja tulangan (tendon) dan beton mutu tinggi akan lebih efisien.2 Penggunaan Baja Prategang Untuk penggunaan pada beban layan yang tinggi. Kawat untaian (strand).II.2. 3. Kawat tunggal (wires). biasanya digunkan untuk baja prategang pada beton pratengang dengan system pascatarik (post-tension). Penggunaan baja tulangan mutu tinggi bukan saja merupakan suatu keuntungan. Prategangan akan menghasilkan elemen yang lebih ringan. tendon ditahan dengan angkur. tetapi merupakan suatu keharusan. yaitu : 1. biasanya digunakan untuk baja prategang pada beton prategang dengan system pratarik (pre-tension) Universitas Sumatera Utara . Baja (tendon) yang dipakai untuk beton prategang dalam prakteknya ada tiga macam. Prategang pada dasarnya merupakan suatu beban yang menimbulkan tegangan dalam awal sebelum pembebanan luar dengan besar dan distribusi tertentu bekerja sehingga tegangan yang dihasilkan dari beban luar dilawan sampai tingkat yang diinginkan. Kawat batangan (bar).

(c) Kawat batangan (bars) (Sumber: Prestressed Concrete Design. Universitas Sumatera Utara . gambar II. dengan tengangan tarik (fp) antara 1500 – 1700 Mpa dengan modulus elastisitas Ep = 200 x 103 Mpa. Kawat tunggal (wires) (b) Untaian Kawat (strand) (c) Kawat batangan (bars) Gambar II.11.9.K. stress-relieved strands mengikuti standar ASTM A 416. dan gambar II. Strands terbuat dari tujuh kawat dengan memuntir enam diantaranya pada pich sebesar 12 sampai 16 kali diameter di sekeliling kawat lurus yang sedikit kebih besar. Ukuran dari kawat tunggal bervariasi dengan diameter antara 3 – 8 m. M. Tipikal diagram tegangan-regangan dari ketiga jenis tendon tersebut dapat dilihat pada gambar II. Hurst) Kawat tunggal yang dipakai untuk beton prategang adalah yang sesuai dengan dpesifikasi sepeti ASTM A 421.8 Jenis-jenis Baja yang Dipakai Untuk Beton Prategang : (a) Kawat tunggal (wires). (b) Untaian Kawat (strand).10.

Gambar II.9 Diagram Tegangan-Regangan Pada Kawat Tunggal (Sumber: Desain Praktis Beton Prategang.10 Diagram Tegangan-Tegangan Pada Untaian Kawat (Sumber: Desain Praktis Beton Prategang.11 Diagram Tegangan-Regangan Pada Baja Batangan (Sumber: Desain Praktis Beton Prategang. Andri Budiadi) Gambar II. Andri Budiadi) Gambar II. Andri Budiadi) Universitas Sumatera Utara .

350 35. kawat standar dapat dibentuk menjadi strands yang dipadatkan seperti pada gambar II.500) 3/5 (0.000 36.300 58.000 14. Edward G.12 Strands Prategang 7 Kawat Standard dan Dipadatkan. (b) Penampang strand yang dipadatkan (Sumber: Beton Prategang.1 in = 2.300 17.49 untuk mendapatkan berat dalam kg per 1000 m.000 54. Nawi) Table II.2 Strand Standar Tujuh Kawat Untuk Beton Prategang Diameter nominal strand (in) Kuat patah strand (min.000 31.900 2 Berat nominal strand (lb/100 ft) * Beban minimum pada ekstensi 1% (lb) * 100.085 0.153 0.000 27.100 49.375) 7/16 (0.058 0. 1 in2 = 645 berat: kalikan dengan 1. 1000 lb = 4448 N (Sumber: Beton Prategang.Untuk memaksimumkan luas baja strands 7 kawat untuk suatu diameter nominal.438) 1/2 (0.800 122 197 272 367 490 737 7.217 290 390 520 740 19. Edward G. Nawi) Universitas Sumatera Utara .600) 23.438) 1/2 (0.375) 7/16 (0.216 MUTU 270 3/8 (0.500 20.600) 9.500) 3/5 (0.2.12. (a) Penampang strand standar.650 12. Gambar II.5 Mpa 0.250) 5/16 (0.54 mm. Standar ASTM yang disyaratkan masing-masing tercantum pada table II.144 0.000 psi = 689.080 0.000 0. ) MUTU 250 1/4 (0.000 41. lb) Luas baja nominal strand (in.313) 3/8 (0.000 30.550 26.108 0.036 0.600 0.115 0.000 23.600 45.

yang harus diimbangi oleh prategang melingkar (Sumber: Beton Prategang. bersama besarnya.13 Pinsip-prinsip Prategang Linier dan Melingkar. (d) Prategang melingkar pada satu papan kayu. maka prinsip-prinsip prategang dikenal sebagai pemberian prategang linier.2. (b) Tegangan tekan di penmpang tengah bentang C dan penampang Atau B. Edward G. (c) Pemberian prategang melingkar pada gentong kayu dengan pemberian tarik pada pita logam. Gambar II. (a) Pemberian prategang linier pada sederetan blok untuk membentuk balok. ditentukan terutama berdasarkan jenis sistem yang dilaksanakan dan panjang bentang serta kelangsingan yang dikehendaki.II.3 Prinsip Dasar Prategang Pemberian gaya prategang. Nawi) Universitas Sumatera Utara . (e) Gaya tarik F pada detengah pita logam akibat tekanan internal. Gaya pratengang yang diberikan secara longitudinal di sepanjang atau sejajar dengan sumbu komponen struktur.

Akan tetapi. Konsep ini memperlakukan beton sebagai bahan yang elastis. papan-papan kayu di dalam bagian (c) kelihatan dapat terpisah satu sama lain sebagai akibat adanya tekanan yang radial internal yang bekerja padanya. blok-blok beton bekerja bersama sebagai sebuah balok pembarian gaya prategang tekan P. Ini merupakan sebuah pemikiran dari Eugene Freyssnet yang memvisualisasikan beton prategang yang pada dasarnya adalah beton dari bahan yang getas menjadi bhan yang elastis dengan memberikan tekanan (desakan) terlebih dahulu (pratekan) pada bahan tersebut.2. Beban yang tidak mampu menahan tarikan dana kuat memikul tekanan (umumnya dengan baja mutu tinggi yang ditarik) sedemikiaan sehingga beton yang getas dapat memikul tegangan tarik. Pada blok-blok tersebut kemungkinan tergelincir pda arah vertical yang mensimulasikan kegagalan gelincir geser. karena adanya prategang tekan yang diberikan oleh pita logam sebagai prategang melingkar. pada kenyataan tidak demikian karena adanya gaya longitudinal P. Sistem Prategang Untuk Mengubah Beton Menjadi Bahan Yang Elastis.4 Konsep-Konsep Dasar Beton Prategang Ada tiga konsep yang dapat dipakai untuk menjelaskan dan menganalisis sifat-sifat dasar dari beton prategang. papan-papan tersebut tetap menyatu. Dengan cara yang sama. II.Gambar II.13 menjelaskan bahwa aksi pemberian prategang pada kedua sestem structural dan respon tegangan yang dihasilkan. Hal ini dapat diterangkan sebagai berikut : Konsep pertama. Unumnya telah diketahui bahwa jika tidak ada tegangan Universitas Sumatera Utara . Pada bagian (a). Dari konsep inilah lahir kriteria “tidak ada tegangan tarik” pada beton.

berarti tidak akan terjadi retak. T... Akibatnya gaya prategang tekan secara merata sebesar f = F ....Mc/I) Akibat Gaya Prategang Akibat Momen Eksternal M Akibat F dan M Gambar II..c Gaya diberi Prategang dan Dibebani (F/A + Mc/I) (F/A My/I My/I) F/A Mc/I (F/A .................... maka tegangan pada setiap titik sepanjang penampang akibat M adalah Universitas Sumatera Utara ...... Tendon Konsentris (Gaya F) c.... ditinjau sebuah balok persegi panjang yang diberi gaya prategang oleh sebuah tendon melalui sumbu yang melalui titik berat dan dibebani oleh gaya eksternal.14 Distribusi Tegangan Sepanjang Penampang Beton Prategang Konsentris (Sumber: Desain Struktur Beton Prategang... Burns) Gaya partegang F pda tendon menghasilkan gaya tekan F yang sama pada beton yang juga bekerja pada titik berat tendon............. dan beton tidak merupakan bahan yang getas lagi melainkan bahan yang elastis... jika M adalah momen eksternal pada penampang akibat beban dan berat sendiri balok..g... lihat gambar II.....1) A akan timbul pada penampang seluas A......................Y.... Dalam bentuk yang sederhana...............14.(2.......tarik pada beton..... Lin & Ned H..

......................... dan kedua gaya membentuk momen kopel dengan memen diantaranya........ Dengan demikian kedua bahan membentuk kopel penahan untuk melawan momen eksternal....................Y.... Hal ini merupakan konsep yang mudah.................f = My . dimana baja menahan tarikan dan beton menahan teknan............... Sistem Prategang Untuk Kombinasi Baja Mutu Tinggi Dengan Beton..(2. dimana baja menahan gaya tarik dan beton menahan gaya tekan....... P P C T Bagian Balok Prategang Bagian Balok Bertulang C T Gambar II... Lin & Ned H.......15...................3) A I Kosep kedua.........15 Momen Penahan Internal Pada Beton Prategang dan Beton Bertulang (Sumber: Desain Struktur Beton Prategang. Jadi distribusi tegangan yang dihasilkan adalah f = F My ± ...................... T.... Konsep ini mempertimbangkan beton prategang sebagai kombinasi (gabungan) dari baja dan beton. Burns) Universitas Sumatera Utara ..... seperti pada beton bertulang.....................2) I dimana y adalah jarak dari sumbu yang melalui titik berat dan I adalah momen inersia penampang........ Dengan beton bertulang........... gambar II...(2......

Pada beton prategang. Ini memungkinkan transformasi dari batan lentur menjadi batang yang mengalami tegangan langsung dan sangat menyederhanakan persoalan baik didalam desain maupun analisis dan struktur yang rumit. Pada beton bertulang mengalami retak dan lendutan yang besar Pada beton prategang mengalami retak dan lendutan yang kecil Gambar II. dan gelagar (girder) tidak akan mengalami tegangan lentur pada kondisi pembebanan yang terjadi. pengaruh dari prategang dipandang sebagai keseimbangan berat sendiri sehingga batang yang mengalami lenturan seperti pelat (slab). T.Y. Konsep ini terutama menggunakan prategang sebagai suatu usaha untuk membuat seimbang gaya-gaya pada sebuah batang. beton sekitarnya akan mengalami retak sebelum seluruh kekuatan baja digunkan.16.16 Balok Beton Menggunakan Baja Mutu Tinggi (Sumber: Desain Struktur Beton Prategang. seperti pada beton betulang biasa. Burns) Konsep ketiga. balok. Pada keseluruhan desain struktur beton prategang. Penerapan dari konsep ini menganggap beton diambil sebagai benda bebas dan menggantikan tendon dengan gaya-gaya yang bekerja pada beton sepanjang Universitas Sumatera Utara . Jika beton mutu tinggi ditanamkan pada beton. baja mutu tinggi dipakai dengan cara menariknya sebelum kekuatannya dimanfaatkan sepenuhnya. Sistem Prategang untuk Mencapai Keseimbangan Beban. Lin & Ned H. Gambar II.

.... sebuah balok prategang diatas dua tumpuan (simple beam) dengan tendon berbentuk parabola seperti Gambar II....... Sebagai contoh.. T... beban tegak lurus pada balok diimbangi........... dan balok hanya dibebani oleh gaya aksial F.....17 Balok Prategang Dengan Tendon Parabola (Sumber: Desain Struktur Beton Prategang.. h Tendon Parabola L Beban Merata Wb Gambar II........ Universitas Sumatera Utara ...... Lin & Ned H...........Y....... yang menghasilkan tegangan merata pada beton (persamaan 2.1)......(2................... untuk W yang terdistribusi secara merata ke arah bawah yang diberikan. F = Gaya Pratengang L = Panjang Bentang H = Tinggi Parabola Beban yang terdistribusi secara merata kea rah atas dinyatakan dalam Wb = 8 Fh ...17.. Burns) Jika.........bentang.......4) L2 Jadi.....

sehingga tendon-tendon dari beberapa sistem dapat ditempatkan dengan baik. Pembangkit gaya tekan antara elemen structural dan tumpuan-tumpuannya dengan pemakaian dongkrak (flat jack).II. Pengembangan Tekanan Keliling (hoop compression) dalam struktur berbentuk silinder dengan mengulung kawat secara melingkar.5 Sistem Pratengang dan Pengangkeran Sehubungan dengan perbedaan system untuk penarikan dan pengangkeran tendon.18 Pengangkeran Sistem Pratarik (Pre-tensioning) (Sumber: Prestressed Concrete Design. Universitas Sumatera Utara . Hurst) Berbagai metode dengan nama pratekanan (pre-compression) diberikan pada beton dapat dilakukan sebagai berikut : 1. M. 2.2.K. Seorang sarjana teknik wsipil harus mempunyai pengetahuan umum mengenai metode-metode yang ada dan mengingatnya pada saat menentukan dimensi komponen struktur. maka situasinya sedikit membingungkan dalam perancangan dan penerapan beton prategang. Gambar II.

6.19 Pengangkeran Sistem Pascatarik (Post-tensioning) dengan Mengunakan jack 1000 ton (Sumber: Prestressed Concrete Design. Prategang dengan menggunakan gaya-gaya langsung diantara Universitas Sumatera Utara . Hurst) Metode yang biasa dipakai untuk memberikan parategang pada semen beton strukural adalah dengan menarik baja ke arah longitudinal dengan alat penarik yang berbeda-beda. Pemakaian pemotong baja structural yang dilendutkan dan ditanam dalam beton sampai beton tersebut mengeras. Pemakaian baja yang ditarik secara longitudinal yang ditanam dalam beton atau ditempatkan dalam selongsong.K. M. Pengembangan tarikan terbatas pada baja dan tekanan pada beton dengan memakai semen yang mengembang Gambar II. 4. Pemakaian prinsip distorsi suatu struktur statis tak tentu baik dengan perpindahan maupun dengan rotasi satu bagian relatif terhadap bagian lainnya. 5.3.

Pegangkeran ini sering dijumpai dalam prategang dengan sistem pasca tarik.21 Penempatan Angker Pada Beton Prategang (Post-tensioning) Universitas Sumatera Utara . (b) Angker mati.K. Sedangkan angker hidup dapat dilakukan penarikan kembali jika hal itu diperlukan. Hurst) Gambar II. (a)Angker hidup (b) Angker mati.tumpuan-tumpuan umumnya dipakai pelengkung dan perkerasan. Pengankeran ada 2 macam yaitu : angker mati dan angker hidup.20 Jenis Pengankeran (a) Angker hidup. Gambar II. Angker mati adalah angker yang tidak bias dilakukan lagi penarikan setelah penegangan tendon dilakukan. dan dongkrak datar selalu dipakai untuk memberikan gaya-gaya yang diinginkan. (Sumber: Prestressed Concrete Design. Angker mati sering digunakan dalam prategang dengan sistem pratarik. M.

Beton-beton pracetak biasanya digunakan pada konstruksi-konstruksi bangunan. kabel perlahan-lahan dilepaskan dari kedua angkur dan dipotong. Setelah mencapai gaya yang diinginkan. Setelah beton mengeras. tiang pondasi atau balok dengan bentang yang panjang. hal itu penting bahwa setiap tendon harus merekat sepanjang deluruh panjang badan. Hal inilah yang menyebabkan adanya gaya tekan internal pada beton.5. Oleh karena sistem pratarik besandar pada rekatan yang timbul antara baja dan tendon sekelilingnya. kolom-kolom gedung.a Sistem Pratarik (Pre-tensioning) Didalam sistem pratarik (Pre-tensioning). Adapun tahap urutan pengerjaan beton pre-tension adalah sebagai berikut : Kabel tendon dipersiapkan terlebih dahulu pada sebuah angkur yang mati (fixed anchorage) dan sebuah angkur yang hidup (live anchorage).22. dan selanjutnya dicor dan dipadatkan sesuai dengan bentuk serta ukuran yang diinginkan. Setelah beton mencapai umur yang cukup. tendon lebih dahulu ditarik antara blok-blok angker yang kaku (rigid) yang dicetak diatas tanah atau didalam suatu kolom atau perangkat cetakan pratarik seperti terlihat pada gambar II.2. Universitas Sumatera Utara .II. Metode ini digunakan untuk beton-beton pracetak dan biasanya digunakan untuk konstruksi-konstruksi kecil. Jack biasanya dilengkapi dengan manometer untuk mengetahui besarnya gaya yang ditimbulkan oleh jack. Kabel tendon akan berusaha kembali ke bentuknya semula setelah pertambahan panjang yang diakibatkan oleh penarikan pada awal pelaksanaan. Kemudian live anchorage ditarik dengan dongkrak (jack) sehingga kabel tendon bertambah panjang. tendon dilepaskan dari alas prapenarikan dan gaya prategang ditranfer ke beton. beton dicor.

b Sistem Pascatarik (Post-tensioning) Kebanyakan pelaksanaan pretensioning dilapangan dilaksanakan dengan metode post-tensioning. Pascatarik dipakai untuk memperkuat bendungan beton.5. Pascatarik (Post-tensioning) juga banyak digunakan konstruksi beton prategang segmental pada jembatan dengan bentang yang panjang. dongkrak Universitas Sumatera Utara .2. Adapun metode dalam pelaksanaan pengerjaan beton pasca tarik (Posttensioning) adalah sebagai berikut : Selongsong kabel tendon dimasukkan dengan posisi yang benar pada cetakan beton beserta atau tanpa tendon dengan salah satu ujungnya diberi angkur hidup dan ujung lainnya angkur mati atau kedua ujungnya dipasang angkur hidup. Andri Budiadi) II.Gambar II.22 Proses Pengerjaan Beton Pratarik (Pre-tensioning) (Sumber: Desain Praktis Beton Prategang. Beton dicor dan dibiarkan mengeras hingga mencapai umur yang mencukupi. prategang melingkar dari tangki-tangki beton yang besar. serta perisai-perisai biologis dari reactor nuklir. Selanjutnya.

Batang tersebut mengalami perpanjangan kira-kira 0.5. umumnya disebut sebagai “Prategang Termo-Listrik”.3 – 0. Untuk mencegah kabel tendon kehilangan tegangan akibat slip pada ujung angkur terdapat baji. Waktu pendinginan diperhitungkan 12 – 15 menit. Andri Budiadi) II.2.24. (a) Beton dicor (b) Tendon ditarik dan gaya tekan ditransfer (c) Tendon diangkur dan digrouting Gambar II.hidrolik dipasang pada angkur hidup dan kabel tendon ditarik hingga mencapai tegangan atau gaya yang direncanakan seperti terlihat pada gambar II. Universitas Sumatera Utara . Gaya tarik akan berpindah pada beton sebagai gaya tekan internal akibat reaksi angkur.c Prategang Termo-Listrik Metode prategang dengan tendon yang dipanaskan. Setelah pendinginan batang tersebut berusaha memperpendek diri ada ini dicegah oleh jepitan angkur pada kedua ujungnya seperti yang ditunjukan dengan gambar II. yang dicapai dengan melewatkan aliran listrik pada kawat yang bermutu tinggi.23 Proses Pengerjaan Beton Pascatarik (Post-tensioning) (Sumber: Desain Praktis Beton Prategang.5 persen. Prosesnya terdiri atas pemanasan batang dengan arus listrik sampai temperature 300 – 400 ºC selama 3 – 5 menit.23.

Hal ini juga berlaku untuk pelat. Oleh karena pengembangan beton dikekang oleh kawat baja bermutu tinggi. Bila semen ini digunakan untuk membuat beton dengan baja yang tertanam.24 Proses Prategang Termo-Listrik (Sumber: Beton Pratekan. Universitas Sumatera Utara .Batang Didinginkan L = (Ly Batang Dipanaskan L) L Lt > Ly Ly Batang setelah Pengangkuran Blok Ujung Cetakan Gambar II. Krishna Raju) II. maka timbul tegangan tekan pada beton dan kawat baja mengalami tegangan tarik. Karena pemuaian terjadi pada tiga arah. Hal ini sering disebut dengan penegangan sendiri (self-sressing) atau disebut juga prategang kimiawi. N. untuk pipa-pipa tekanan dan perkerasan jalan (pavement).5. sistem prategang kimiawi lebih ekonomis. dimana prategang sekurang-kurangnya pada dua arah.2. Aka tetapi. maka baja akan mengalami pertambahan panjang sejalan dengan pemgembangan beton tersebut. dan cangkang. sehingga akan lebih sulit untuk menggunkan system prategang secara kimia pada struktur-struktur yang dicor setempat seperti gedung. dinding.d Prategang Secara Kimia Reaksi kimia dalam semen ekspansif dapat menegangkan baja yang ditanam yang kemudian menekan beton.

Didalam batas-batas tegangan kerja.II. baik beton maupun baja berperilaku elastis.6 Analisa Prategang Tegangan yang disebabkan oleh prategang umumnya merupakan tegangan kombinasi yang disebabkan oleh beban langsung dan lenturan yang dihasilkan oleh beban yang ditempatkan secara eksentris. yang menyatakan suatu distribusi regangan linier pada keseluruhan tinggi batang. setiap perubahan dalam pembebanan batang menghasilkan perubahan tegangan pada beton saja. Suatu potongan datar sebelum melentur dianggap tetap datar meskipun sudah mengalami lenturan. Beton prategang adalah suatu mineral yang elastic serta homogen 2. Tegangan yang disebabkan oleh prategang umumnya merupakan tegangan kombinasi yang disebabkan oleh aksi beban langsung dan lenturan yang dihasilkan oleh beban yang ditempatkan secara eksentris maupun kosentris. Selama tegangan tarik tidak melampaui batas modulus keruntuhan beton (yang sesuai dengan tahap retakan yang terlihat pada beton). satu-satunya fungsi dari tendon prategang adalah untuk memberikan dan memelihara prategang pada beton. Analisa tegangan-tegangan yang timbul pada suatu elemen struktur beton prategang didasarkan atas asumsi-asumsi berikut : 1. tidak dapat menahan rangkak yang kecil yang terjadi pada kedua material tersebut pada pembebanan terus-menerus. 3. Universitas Sumatera Utara .2.

6. N.c Tegangan = F/A Gambar II.II. Krishna Raju) Gambar di atas menunjukkan sebuah beton prategangan tanpa eksentrisitas.c).25.g.a Tedon Konsentris Balok beton prategang dengan satu tedon konsentris yang ditunjukan dalam gambar II.2. tendon berada pada garis berat beton (cental grafity of concrete. Pada umumnya beban-beban yang dipakai dan beban mati balok menimbulkan tegangan tarik terhadap bidang bagian bawah dan ini diimbangi lebih efektif dengan memakai tendon. Prategang seragam pada beton = F/A yang berupa tekan pada seluruh tinggi balok. F Tendon Konsentris (Gaya F) F c.g.25 Prategang Konsentris (Sumber: Beton Pratekan.26 Distribusi Tegangan Tendon Konsentris Universitas Sumatera Utara . Gambar II.c.

6. Konsep ini terutama terjadi pada beton prategang post-tension.27 Distribusi Tegangan Tendon Eksentris Eksentisitas akan menambah kemampuan untuk menerima/memikul tegangan tarik yang lebih besar lagi (serat bawah).2.e/W Resultan Tegangan Gambar II.II.e/W F/A = M/W – F. Prategangan juga menyebabkan perimbangan gaya-gaya dalam komponen beton prategang. Eksentrisitas tendon akan menambah kemampuan untuk memikul beban eksternal. Universitas Sumatera Utara .b Tendon Eksentris Sebuah balok yang mengalami suatu gaya prategang eksentris sebesar P yang ditempatkan dengan eksentrisitas e. F/A = M/W + F. Tendon ditempatkan secara eksentris terhadap titik berat penampang beton.

.........28 Gaya-gaya Penyeimbang Beban Pada Tendon Parabola Tegangan yang ditimbulkan pada serat-serat bagian atas dan bagian bawah balok diperoleh dengan hubungan :  P Pe  P  ey b  f bawah =   = A 1 + i 2 .................Gambar II.......6) A−Z    t   Dimana : P = Gaya Prategang (positif apabila menghasilkan tekanan langsung) E A Zt dan Zb f atas dan f bawah = Eksentrsitas gaya prategang = Luas potongan melintang batang beton = Momen penampang serat paling atas dan paling bawah = Prategang pada beton yang ditimbulkan pada serat paling atas dan paling bawah (positif apabila tekan dan negatif apabila tarik) yt dan yb = Jarak antara serat paling atas dan serat paling bawah terhadap titik berat panampang i = Jari-jari girasi Universitas Sumatera Utara ..........................(2............................................5) A+Z    b    P Pe  P  ey t  f atas =   = A 1 + i 2 ....(2....................................................

...29 Distribusi Tegangan Balok Prategang dengan Tendon Eksentris Beban mati dan Beban Hidup (Sumber: Beton Pratekan......... Jika Mq dan Mg merupakan momen akibat beban hidup dan beban mati pada penampang di tegah bentang... Balok diprategangkan dengan suatu tendon lurus yang membawa suatu gaya prategang P dengan eksentrisitas e..2.....(2........ Mg   8     ....Pe/Zt + Mg/Zt + Mq ) Penampang melintang Prategang Tegangan akibat beban mati Tegangan akibat beban Tegangan resultan Gambar II............. Tegangan resultan pada suatu penampang beton diperoleh dengan superposisi pengaruh prategang dan tegangan-tegangan lentur yang ditimbulkan oleh bebanbeban tersebut...Pe/Zt + Mg/Zt + Mq ) e + + + Pe/Zb + Mg/Zt + Mq/Zt = + P/A ( P/A .29 memikul beban hidup dan mati yang terbagi rata dengan q dan g................c Tegangan Resultan pada Suatu Penampang Balok beton yang diperlihatkan pada gamabar II..6...... Krishna Raju) Universitas Sumatera Utara . N...............  qL2 Mq =   8    gL2   ........7)  Beban mati dan beban hidup (g + q) P e P L P/A Pe/Zt - Mg/Zt + Mq/Zt + ( P/A ...II.....

.......................8)  Z + Z  + A−Z  t  t   t   P Pe   Mg Mq  f bawah =  .7 Kehilangan Prategang Gaya prategang akan mengalami pengurangan/reduksi saat transfer (jangka pendek) atau saat service (jangka panjang)...........(2................... Kehilangan prategangan saat transfer terjadi sesaat setelah penarikan tendon..............................(2...............10) Universitas Sumatera Utara ........ Kehilangan pada saat transfer berupa : • Dudukan angkur pada saat penyaluran gaya (slip) • Friksi akibat kelengkungan tendon pada post-tensioning • Perpendekan elastis beton Kehilangan pada saat service berupa : • Rangkak beton • Susut beton • Relaksasi kabel tendon Kehilangan akibat friksi tendon pada post-tensioning dihitung berdasarkan rumus : PS = PX e( Kl X + µα ) …………………………………………....………(2................Tegangan-tegangan resultan pada serat-serat beton paling atas dan paling bawah penampang tertentu diperoleh :  P Pe   Mg Mq  f atas =  .2.......9) Z − Z  − A−Z  b  b   b  II.................... sedangkan kehilangan saat service terjadi perlahan-lahan pada saat umur pelayanan dan karena pengaruh waktu........

(2. Nilai koefisien friksi akibat wobble K dan kelengkungan μ dapat dilihat pada table II.Bila (KlX+μα) tidak lebih besar dari 0.3 di bawah ini. Table II.3 maka kehilangan akibat friksi dihitung sebagai berikut : PS = PX (1 + Kl X + µα ) ………………………………………….3 Koefisien Friksi Tendon Pasca-tarik (Sumber: Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung SNI – 3 – 2847 – 2002) Universitas Sumatera Utara .11) Koefisien friksi akibat wobble K dan kelengkungan μ ditentukan secara eksperimental dan harus dibuktikan pada saat penarikan tendon dilakukan.

3. 1.2.28.3.8 Pembebanan Jembatan II.8.1987 Pembebanan yang digunakan dalam perencanaan jembatan Sei Belumai (di lapangan) berdasarkan data yang diperoleh adalah sebagai berikut : Pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya (PPPJJR SKBI.1987) II. tingkat keperluan.8.2.2.b Pembebanan Jembatan di Lapangan Berdasarkan PPPJJR SKBI. sehingga proses pelaksanaan dalam perencanaan jembatan menjadi efektif.a Beban dan Aksi yang Bekerja Pembebanan untuk merencanakan jembatan jalan raya merupakan dasar dalam menentukan beban-beban dan gaya-gaya untuk perhitungan tegangantegangan yang terjadi pada setiap bagian jembatan jalan raya.b.1 Beban Primer Yang termasuk beban primer adalah : • • • • Beban Mati Beban Hidup Beban Kejut Gaya Akibat Tekanan Tanah Universitas Sumatera Utara .8. Penggunaan pembebanan ini dimaksudkan agar dapat mencapai perencanaan yang aman dan ekonomis sesuai dengan kondisi setempat.II. 1.2.28. II. kemampuan pelaksanaan dan syarat teknis lainnya.

28. pasir.1987) 2.75 meter. harus diperhitungkan berat isi yang sesungguhnya.75 meter dan lebar maksimum 3.50 1.2 Lantai kendaraan dan jalur lalu lintas Jalur lalu lintas mempunyai lebar minimum 2.00 2. kerikil (semua dalam keadaan padat) Perkerasan jalan beraspal Air Berat Bahan per Satuan Isi (t/m3) 7.1. (Sumber: Pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya PPPJJR SKB.28.3. 1.85 7. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bahan Baja tuang Besi tuang Aluminium paduan Beton bertulang/pratekan Beton biasa. Universitas Sumatera Utara .60 2. 1. Lebar jalur minimum ini harus digunakan untuk menentukan beban “D” perlajur.50 – 2.1 Macam Beban Hidup Beban hidup pada jembatan yang ditnjau dinyatakan dalam dua macam. Beban Mati Dalam menentukan besarnya beban mati tersebut.0 – 2.4 Berat Isi untuk Beban Mati (t/m³) (PPPJJR SKBI.3. tumbuk.00 1.80 2. 2.20 2. harus digunakan nilai berat isi untuk bahan-bahan bangunan tersebut dibawah ini : Tabel II.25 2. Beban Hidup 2. yaitu beban “T” yang merupakan beban terpusat untuk lantai kendaraan dan beban “D” yang merupakan beban jalur untuk gelagar.1987) No. siklop Pasangan batu/bata Kayu Tanah.00 Untuk bahan-bahan yang belum disebut di atas.00 2.

Jumlah jalur lalu lintas untuk lantai kendaraan dengan lebar 5,50 meter atau lebih ditentukan menurut table I. Utnuk selanjutnya jumlah jalur jembatan ini digunakan dalam menentukan beban “D” pada perhitungan beban “D” pda perhitungan reaksi perletakan. Tabel II.5 Jumlah Jalur Lalu lintas Lebar Lantai Kendaraan 5,50 m sampai dengan 8,25 m Lebih dari 8,25 m sampai dengan 11,25 Lebih dari 11,25 m sampai dengan 15,00 m Lebih dari 15,00 m sampai dengan 18,75 m Lebih dari 18,75 m sampai dengan 32,50 m Jumlah Jalur Lalu Lintas 2 3 4 5 6

Catatan : Daftar tersebut di atas hanya diguanakn dalam menentukan jumlah jalur pada jemabatan (Sumber: Pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya PPPJJR SKB. 1.3.28.1987)

a. Beban “T” Untuk perhitungan kekuatan lantai kendaraan atau system lantai kendaraan jembatan, harus digunakan beban “T” seperti dijelaskan berikut ini : Beban “T” adalah beban yang merupakan beban yang merupakan kendaraan truk yang mempunyai beban roda ganda (dual wheel load) sebesar 10 ton dengan ukuran-ukuran serta kedudukan seperti tertera pada gambar II.30.

Universitas Sumatera Utara

Dimana : a1 = a2 = 30,00 cm b1 = 12,50 cm b2 = 50,00 cm Ms = Muatan rencana sumbu = 20 ton.

Gambar II.30 Pembebanan Truk ”T” PPPJJR
(Sumber: Pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya PPPJJR SKB. 1.3.28.1987)

b. Beban “D” • Untuk perhitungan kekuatyan gelagar-gelagar harus digunakan beban “D”. Beban “D” atau beban lajur adalah susunan beban pada setiap jalur lalu lintas yang terdiri dari beban terbagi rata sebesar “q” ton per meter panjang per jalur, dan beban garis “p” ton per jalur lalu lintas tersebut.

Universitas Sumatera Utara

Beban “D” adalah seperti tertera pada gambar II.31

Gambar II.31 Beban Lajur “D” PPPJJR
(Sumber: Pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya PPPJJR SKB. 1.3.28.1987)

Besar “q” ditentukan sebagai berikut : q = 2,2 t/m’ …….untuk L < 30 m ………………………………….…..(2.12) q = 2,2 t/m’ – x (L – 30) t/m’ ….... untuk 30 m < L < 60 m …...…..(2.13)

q = 1,1 (1 + L t/m’ •

) t/m’ …….untuk L > 60 m ……………………….…….(2.14)

= Panjang dalam meter, ditentukan oleh tipe kontruksi jembatan = ton per meter panjang, per lajur

Ketentuan penggunaan beban “D” dalam arah melintang jembatan adalah sebagai berikut :  Untuk jembatan dengan lebar lantai kendaraan sama atau lebih kecil dari 5,50 meter, beban “D” sepenuhnya (100%) harus dibebankan pada seluruh lebar jembatan.  Untuk jembatan dengan lebar lantai kendaraan lebih besar dari 5,50 meter, beban “D” sepenuhnya (100%) dibebankan pada lebar jalur 5,50 meter

Universitas Sumatera Utara

16) Angka pembagi 2.1987) • Dalam menentukan beban hidup (beban terbagi rata dan beban garis) perlu diperhatikan ketentuan bahwa :  Panjang bentang (L) untuk muatan terbagi rata.(2.15) Beban garis = ……………………. lihat gambar II. Gambar II. Universitas Sumatera Utara .3.32.75 meter di atas selalu tetap dan tidak tergantung pada jalur lalu lintas.…….sedangakan selebihnya dibebani hanya separuh “D” (50%). 1.32 Ketentuan Penggunaan Beban “D” PPPJJR (Sumber: Pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya PPPJJR SKB. sesuai ketentuan dalam perumusan koefisisn kejut  Beban hidup per meter lebar jembatan menjadi sebagai berikut : Beban terbagi rata = ………………….28. • Beban “D” tersebut harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga menghasilkan pengaruh terbesar pada gelagar.(2.…….

. K = Koefisien kejut L = Panjang bentang dalam meter.(2. Koefisien Kejut ditentukan dengan rumus .……………………. yang bekerja pada tinggi 90 cm di atas lantai trotoir. • Kerb yang terdapat pada tepi-tepi lantai kendaraan harus diperhitungkan untuk dapat menahan satu beban horizontal kea rah melintang jembatan sebesar 500 kg/m’ yang bekerja pada puncak kerb yang bersangkutan atau pada tinggi 25 cm di atas permukaan lantai kendaraan apabila kerb yang bersangkutan lebih tinggi dari 25 cm. Universitas Sumatera Utara . • Tiang-tiang sandaran pada setiap tepi trotoir harus diperhitungkan untuk dapat menahan beban horizontal sebesar 100 kg/m’. K = 1 + 20 / (50 + L) ……………………. Beban pada Trotoir. Beban Kejut Untuk memperhitungkan pengaruh-pengaruh getaran-getaran dan pengaruhpengaruh dinamis lainnya.c. 3. tegangan-tegangan akibat beban garis “p” harus dikalikan dengan koefisien kejut yang akan memberikan hasil maksimum..17) Dimana . ditentukan oleh tipe konstruksi jembatan (keadaan statis) dan kedudukna muatan “p”. sedangkan beban merata “q” dan beban “T” tidak dikalikan dengan koefisien kejut. diperhitungkan beban sebesar 60% beban hidup trotoir. Dalam perhitungan kekuatan gelagar karena pengaruh beban hidup pada trotoir. Kerb dan Sandaran • Kontruksi trotoir harus diperhitungkan terhadap beban hidup sebesar 500 kg/m2.

Universitas Sumatera Utara . sistem kontruksi. tipe jembatan serta keadaan tempat. Bila bangunan bawah dan bangunan atas merupakan satu kesatuan maka koefisien kejut diperhitungkan terhadap bangunan bawah.8.Koefisien kejut tidak diperhitungkan terhadap bangunan bawah. Gaya Akibat Tekanan Tanah Bagian bangunan jembatan yang menahan tanah harus direncanakan dapat menahan tekanan tanah sesuai rumus-rumus yang ada.2 Beban Sekunder Yang termasuk beban sekunder adalah : • • • • • • Beban Angin Gaya Akibat Perbedaan Suhu Gaya Akibat Rangkak dan Susut Gaya Rem dan Traksi Gaya-gaya akibat Gempa Bumi Gaya Gesekan pada Tumpuan-tumpuan bergerak Pada umumnya beban ini mengakibatkan tegangan-tegangan relatif lebih kecil dari tegangan-tegangan akibat beban primer kecuali gaya akiabat gempa bumi dan gaya gesekan yang kadang-kadang menentukan dan biasanya tergantung dari bentang. apabila bangunan bawah dan bangunan atas merupakan satu kesatuan. bahan.2. II. 4.b.

Beban Angin Pengaruh beban angin sebesar 150 kg/m2 pada jembatan ditinjauberdasarkan bekerjanya beban angin horizontal terbagi rata pada bidang vertical jembatan. Dalam menghitung jumlah luas bagian-bagian sisi jembatan yang terkena angin dapat digunakan ketentuan sebagai berikut : a. Universitas Sumatera Utara . Jumlah luas bidang vertikal bangunan atas jembatan yang dianggap terkena oleh angin ditetapkan sebesar suatu prosentase tertentu terhadap luas bagian-bagian sisi jembatan dan luas bidang vertikal beban hidup.1.a). • Untuk jembatan rangka diambil sebesar 30% luas bidang sisi jembatan yang langsung terkena angin. ditambah 15% luas bidang sisi-sisi lainnya. dalam arah tegak lurus sumbu memanjang jembatan. Keadaan dengan beban hidup • • Untuk jembatan diambil sebesar 50% terhadap luas bidang menurut (1. ditambah 50% luas bidang sisi lainnya. b. Untuk beban hidup diambil sebesar 100% bidang sisi yang langsung terkena angin. Bidang vertikal beban hidup ditetapkan sebagi suatu permukaan bidang vertikal yang mempunyai tinggi menerus sebesar 2 (dua) meter di atas lantai kendaraan. Keadaan tanpa beban hidup • untuk jembatan gelagar penuh diambil sebesar 100% luas bidang sisi jembatan yang langsung terkena angin.

Pada umumnya pengaruh perbedaan suhu tersebut dapat dihitung dengan mengambil perbedaan suhu untuk : Bangunan baja : Perbedaan suhu maksimum-minimum = 30o C Perbedaan suhu antaa bagian-bagian jembatan = 15o C Bnguan beton : Perbedaan suhu maksimum-minimum = 15o C Perbedaan suhu antaa bagian-bagian jembatan < 10o C. harus diadakan penelitian khusus. Jembatan menerus di atas lebih dari dua perletakan Untuk perletakan tetap perlu diperhitungkan beban angin dalam arah longitudinal jembatan yang terjadi bersamaan dengan beban angin masing-masing sebesar 40% terhadap luas bidang menurut keadaan (1. 2. Pada jembatan yang memerlukan perhitungan pengaruh angin yang teliti. Perbedaan suhu ditetapkan sesuai dengan data perkembangan suhu setempat. tergantung dimensi penampang Untuk perhitungan tegangan-tegangan dan pergerakan pada jembatan/bagianbagian jembatan/perletakan akibat perbedaan suhu dapat diambil nilai Modulus Elastisitas Young (E) dan koefisien muai panjang (Є) sesuai table II. Gaya Akibat Perbedaan Suhu Peninjauan diadakan terhadap timbulnya tegangan-tegangan structural karena adanya perubahan bentuk akibat perbedaan suhu antaa bagian-bagian jembatan baik yang menggunakan bahan yang sama maupun dengan bahan yang berbeda.b).a dan 1.6 Universitas Sumatera Utara .c.

0 x 105* 1. Gaya dem tersebut dianggap bekerja horizontal dalam arah sumbu jemabatan dengan titik tangkap setinggi 1. 1. Gaya Akibat Gempa Bumi Jembatan-jembatan yang akan dibangun pada daerah-daerah di mana diperkirakan terjadi pengaruh-pengaruh gempa bumi. Gaya Rangkak dan Susut Pengaruh rangkak dan susut bahan beton terhadap kontruksi.3. Gaya Rem Pengaruh-pengaruh dalam arah memanjang jembatan akibat gaya rem.1987) 3. harus direncanakan dengan menghitung pengaruh-pengaruh gempa bumi tersebut sesuai denga “Buku Petunjuk Perencanaan Tahan Gempa untuk Jembatan Jalan Raya 1986”. 4. Besarnya pengaruh tersebut apabila tidak ada ketentuan lain.0 x 104* 5 x 10-6 50 x 10-6* (Sumber: Pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya PPPJJR SKB.28. Universitas Sumatera Utara .1 x 106 2 sampai 4 x 105* Є per derajat Celcius 12 x 10-6 10 x 10-6 Kayu : .80 meter di atas permukaan lantai kendaraan.6 Modulus Elastisitas Young (E) dan Koefisien Muai Panjang (Є) Jenis Bahan Baja Beton E (kg/cm2) 2. dan dalam satu jurusan.Tegak lurus serat *) Tergantung pada mutu bahan 1.Tabel II. 5.Sejajar serat . harus ditinjau. dapat dianggap senilai dengan gaya yang timbul akibat turunnya sehu sebesar 15o C. Pengaruh ini diperhitungkan senilai dengan pengaruh gaya rem sebesar 5% dari beban “D” tanpa koefisien kejut yang memenuhi semua jalu lalu lintas yang ada. harus ditinjau.

2. Gaya Akibat Gesekan Jembatan harus pula ditinjau terhadap gaya yang timbul akibat gesekan pada tumpuan bergerak. apabila hal tersebut menyangkut kekhususan jembatan. dan lain-lain. gaya angkat (buoyancy). karena adanya pemuaian dan penyusutan dari jembatan akibat perbedaan suhu atau akibat-akibat lain. II. antara lain sistem kontruksi dan tipe jembatan serta keadaan setempat.b. misalnya gaya pratekan. Universitas Sumatera Utara .8.6.3 Beban Khusus Yang termasuk beban Khusus adalah : • • • • • Gaya Sentrifugal Gaya Tumbuk pada Jembatan Layang Gaya dan Beban Selama Pelaksanaan Gaya Aliran Air dan Tumbukan Benda-benda Hanyutan Gaya Angkat Beban-beban dan gaya-gaya selain tersenut di atas perlu diperhatikan.

Beban mati terdiri dari beban mati primer dan beban mati sekunder. tiang sandaran dan lain-lain yang dipasang setelah pelat dicor.8. Beban mati primer terdiri atas berat sendiri dari pelat dan sistem lainnya yang dipikul langsung oleh masing-masing gelagar jembatan.2.c. harus digunakan nilai berat isi untuk bahan-bahan seperti pada tabel II. Masingmasing berat elemen ini harus dianggap sebagai aksi yang terintegrasi pada waktu menerapkan faktor beban biasa dan faktor beban yang terkurangi. Universitas Sumatera Utara .9. beban Beban primer terbagi atas beberapa beban yaitu beban mati dan beban hidup.c Pembebanan Jembatan Berdasarkan RSNI T – 02 – 2005 Standar Pembebanan Untuk Jembatan II.1 Beban Primer Beban primer adalah beban yang selalu bekerja pada perencanaan bagianbagian utama konstruksi jembatan. termasuk segala unsur tambahan yang dianggap merupakan satu kesatuan tetap dengannya yang terdiri dari berat masing-masing bagian struktural dan elemen-elemen non-struktural. Beban Mati Sendiri Beban sendiri jembatan adalah semua beban tetap yang berasal dari berat sendiri jembatan atau bagian jembatan yang ditinjau. Sedangkan beban mati sekunder terdiri atas berat kerb. trotoar.2.8.II. yang merupakan beban utama dalam perhitungan tegangan pada setiap perencanaan jembatan jalan raya. Dalam menetukan besarnya beban mati dan merupakan satu kesatuan dengannya. beban tersebut dianggap terbagi rata diseluruh gelagar. 1 Beban Mati a.

0 1. P*MS = berat sendiri rencana.8 N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A 0.0 1.0 1.8 * (3) N/A 1.0 1.0 1.0 N/A N/A 0.0 1. Catatan (3) Untuk penjelasan lihat Pasal pada peraturan RSNI T-02-2005 yang sesuai.8 N/A * (3) Normal Terkurangi Catatan (1) Simbol yang terlihat hanya untuk beban nominal.0 * (3) 1.8 1.Tabel II.0/1.0 * (3) * (3) 2.0 1.0 1.0 N/A 1.8 N/A N/A * (3) 0.3 1. untuk: PMS = berat sendiri nominal.8 N/A 1.7/0.0 1. faktor beban yang cocok adalah nol.25 1.3 N/A * (3) * (3) 0.2 1. Catatan (2) Tran = transien. Catatan (4) “N/A” menandakan tidak dapat dipakai. Dalam hal di mana pengaruh beban transien adalah meningkatkan keamanan.0 1.0 1. (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Universitas Sumatera Utara .2 * (3) 1.0 1.0 1.8 1. simbol untuk beban rencana menggunakan tanda bintang.0 1.0 1.0 1.0/1.0 1.8 1.7 Ringkasan Aksi-aksi Rencana Aksi No Nama 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Berat Sendiri Beban Mati Tambahan Penyusutan & Rangkak Prategang Tekanan Tanah Beban Pelaksanaan Tetap Beban Lajur “D” Beban Truk “T” Gaya Rem Gaya Sentrifugal Beban trotoar Beban-beban Tumbukan Penurunan Temperatur Aliran/Benda hanyutan Hidro/Daya apung Angin Gempa Gesekan Getaran Pelaksanaan Simbol (1) PMS PMA PSR PPR PTA PPL TTD TTT TTB TTR TTP TTC PES TET TEF TEU TEW TEQ TBF TVI TCL Lama Waktu (3) Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tran Tran Tran Tran Tran Tran Tetap Tran Tran Tran Tran Tran Tran Tran Tran Faktor beban pada keadaan batas Daya Layan K 1.8 1.4 1.0 * (3) 1.

Tabel II.8 17.7-17.5 Kerapatan Masa (kg/m3) 2720 2240 7200 1760 1920-2320 2240 1250-2000 2240-2560 2560-2640 2400-2600 11 400 1280 2400 1150 1600-1760 1840-1920 1760 7850 800 1120 1000 1025 7680 (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Universitas Sumatera Utara .5 23.4 Terkurangi 0.2 1.2 18.75 0.8 Faktor Beban untuk Berat Sendiri FAKTOR BEBAN JANGKA WAKTU Baja.7 22.0 1.2 77.6.0 71.Tabel II.85 0.0 9.0-18.0 75.6 22.0 12.5 111 12.0 7.3 15. aluminium Beton pra cetak Beton dicor di tempat Kayu 1.5-25.2 18. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Bahan Campuran aluminium Lapisan permukaan beraspal Besi tuang Timbunan tanah dipadatkan Kerikil dipadatkan Aspal beton Beton ringan Beton Beton prategang Beton bertulang Timbal Lempung lepas Batu pasangan Neoprin Pasir kering Pasir basah Lumpur lunak Baja Kayu (ringan) Kayu (keras) Air murni Air garam Besi tempa Berat Bahan per Satuan Isi (kN/m3) 26.5 11.8 11.1 1.0-25.0 23.0 25.0 17.8-22.7 22.0 Biasa 1.7 TETAP (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Besarnya kerapatan masa dan berat isi untuk berbagai macam bahan diberikan dalam tabel II.8 10.25-19.0 1.0-26.3 1.9 Berat Isi untuk Beban Mati (kN/m³) No.0 1.9 0.

0 (1) 1. Lapisan ini harus ditambahkan pada lapisan permukaan yang tercantum dalam gambar. Pelapisan kembali merupakan beban nominal yang dikaitkan dengan faktor beban untuk mendapatkan beban rencana. Tabel II.8 Catatan (1) Faktor beban daya layan 1. saluran air kotor dan lainnya harus ditinjau pada keadaan kosong dan penuh sehingga kondisi yang paling membahayakan dapat diperhitungkan.0 2. Hal ini bisa dilakukan bila instansi tersebut mengawasi beban mati tambahan sehingga tidak dilampaui selama umur jembatan.10 Faktor Beban untuk Beban Mati Tambahan FAKTOR BEBAN JANGKA WAKTU Biasa TETAP Keadaan Umum Keadaan Khusus 1. Berat Mati Tambahan atau Utilitas Beban mati tambahan adalah berat seluruh bahan yang membentuk elemen non struktural dan menjadi satu beban pada jembatan dan besarnya dapat berubah selama umur jembatan.0 1.7 0. Kecuali ditentukan oleh instansi berwenang.3 digunakan untuk berat utilitas (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Universitas Sumatera Utara . semua jembatan harus direncanakan untuk bisa memikul beban tambahan yang berupa aspal beton setebal 50 mm untuk pelapisan kembali dikemudian hari.b. Pengaruh dari alat pelengkap dan sarana umum yang ditempatkan pada jembatan harus dihitung setepat mungkin.4 Terkurangi 0. Berat dari pipa untuk saluran air bersih. Dalam hal tertentu harga KMA yang telah berkurang boleh digunakan dengan persetujuan instansi berwenang.

Catatan (2) Lebar jalur kendaraan adalah jarak minimum antara kerb atau rintangan untuk satu arah atau jarak antara kerb dengan median untuk banyak arah.0 m.22.3 .2 Beban Hidup Beban hidup adalah semua baban yang berasal dari berat kendaraan-kendaraan yang bergerak/lalu lintas dan/atau pejalan kaki yang mana dianggap bekerja pada struktur jembatan. jumlah lajur lalu lintas rencana harus ditentukan oleh instansi berwenang. a.25 .8.5 Jumlah Lajur Lalu Lintas Rencana (nl) 1 2 (3) 4 3 4 5 6 Banyak arah Catatan (1) Untuk jembatan lain.25 11.75 18.1 .0 m harus dihindari oleh karena hal ini akan memberikan kesan kepada pengemudi seolah-olah memungkinkan untuk menyiap. Lebar jembatan antara 5. Jumlah maksimum lajur yang digunakan untuk berbagai lebar jembatan bisa dilihat dalam table II.15.25 11.8 .11 Jumlah Lajur Lalu Lintas Rencana Tipe Jembatan (1) Satu lajur Dua arah.5 . Beban Lalu Lintas Lajur lalu lintas rencana harus mempunyai lebar 2.11. Lajur lalu lintas rencana harus disusun sejajar dengan sumbu memanjang jembatan. Tabel II.0 m sampai 6.75 m. tanpa median Lebar Jalur Kendaraan (m) (2) 4.18.0 15. Beban hidup pada jembatan merupakan beban bergerak yang bekerja pada jembatan.0 .3 .0 8. Catatan (3) Lebar minimum yang aman untuk dua-lajur kendaraan adalah 6.11. (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Universitas Sumatera Utara .5.0 5.15.

Beban truk "T" adalah satu kendaraan berat dengan 3 as yang ditempatkan pada beberapa posisi dalam lajur lalu lintas rencana. Hanya satu truk "T" diterapkan per lajur lalu lintas rencana.33 Beban Lajur “D” RSNI T-02-2005 (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Tabel II.1 Beban lajur “D” Intensitas dari Beban lajur "D" terdiri dari beban tersebar merata (BTR) yang digabung dengan beban garis (BGT) seperti terlihat dalam gambar II. Jumlah total beban lajur "D" yang bekerja tergantung pada lebar jalur kendaraan itu sendiri. Tiap as terdiri dari dua bidang kontak pembebanan yang dimaksud sebagai simulasi pengaruh roda kendaraan berat. beban "D" akan menjadi beban penentu. Secara umum. a.33. sedangkan beban "T" digunakan untuk bentang pendek dan lantai kendaraan. Beban lajur "D" bekerja pada seluruh lebar jalur kendaraan dan menimbulkan pengaruh pada jembatan yang ekuivalen dengan suatu iringan kendaraan yang sebenarnya.0 FAKTOR BEBAN 1.Beban lalu lintas untuk perencanaan jembatan terdiri atas beban lajur "D" dan beban truk "T". Gambar II.8 (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Universitas Sumatera Utara .12 Faktor Beban Akibat Beban Lajur “D” JANGKA WAKTU TRANSIEN 1.

0 kPa……………………………………. Universitas Sumatera Utara .19) dengan pengertian q adalah intensitas beban terbagi rata (BTR) dalam arah memanjang jembatan..(2.35. Gambar II.0 kPa………………………………………………….34 BTR Berbanding dengan Panjang yang Dibebani (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Panjang yang dibebani (L) adalah panjang total beban yang bekerja pada jembatan.18) L > 30 m : q = 9.34. Beban mungkin harus dipecah guna mendapat pengaruh maksimum pada jembatan. sedangkan L adalah panjang total jembatan yang dibebani (meter).• Beban Terbagi Rata (BTR) mempunyai intensitas q kPa. Dalam hal ini L adalah jumlah dari masing-masing panjang beban yang dipecah seperti terlihat dalam gambar II. Hubungan ini bisa dilihat dalam gambar II.(2.. dimana besarnya q tergantung pada panjang total yang dibebani L seperti berikut: L ≤ 30 m : q = 9.

Gambar II. Besar intensitas p = 49 kN/m.• Beban Garis (BGT) Dengan intensitas p kN/m harus ditempatkan tegak lurus terhadap lalu lintas jembatan. Ini bisa dilihat dalam gambar II. Untuk mendapatkan momen lentur negatif maksimum jembatan menerus.35 Susunan Pembebanan “D” (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Universitas Sumatera Utara . BGT kedua identik harus ditempatkan pada posisi dalam dengan arah melintang jembatan pada bentang lainnya.35.

36. kedua-duanya bekerja berupa strip pada jalur selebar nl x 2. Penempatan beban dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut : • Bila lebar jalur kendaraan jembatan kurang atau sama dengan 5. Hasilnya berupa beban garis ekuivalen nl x 2. Penyusunan komponen BTR dan BGT dari beban "D" pada arah melintang harus sama. beban "D" ditempatkan pada jumlah lajur lalu lintas rencana (nl) yang berdekatan.36 Penyebaran Pembebanan Pada Arah Melintang (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Universitas Sumatera Utara .75 m. Beban "D" tambahan harus ditempatkan pada seluruh lebar sisa dari jalur dengan intensitas sebesar 50 %. dengan intensitas 100 %.Beban "D" harus disusun pada arah melintang sedemikian rupa sehingga menimbulkan momen maksimum. • Lajur lalu lintas rencana yang membentuk strip ini bisa ditempatkan dimana saja pada jalur jembatan.5 m. Gambar II.5 m. • Apabila lebar jalur lebih besar dari 5.75 p kN. Susunan pembebanan ini bisa dilihat dalam gambar II.75 q kN/m dan beban terpusat ekuivalen sebesar nl x 2. maka beban "D" ditempatkan pada seluruh jalur dengan intensitas 100 %.

Kendaraan truk "T" ditempatkan ditengah lajur lalu lintas rencana seperti dalam gambar II.8 (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Terlepas dari panjang jembatan atau susunan bentang.37. Berat dari masing-masing as disebarkan menjadi 2 beban merata sama besar yang merupakan bidang kontak antara roda dengan permukaan lantai.0 m untuk mendapatkan pengaruh terbesar pada arah memanjang jembatan. Jumlah lajur lalu lintas rencana lebih kecil bisa digunakan dalam perencanaan apabila Universitas Sumatera Utara .0 FAKTOR BEBAN 1.13 Faktor Beban Akibat Pembebanan Truk “T” JANGKA WAKTU TRANSIEN 1.2 Pembebanan Truk "T" Pembebanan truk "T" terdiri dari kendaraan semi-trailer yang mempunyai susunan dan berat as seperti terlihat dalam gambar II. hanya ada satu truk yang bisa ditempatkan pada satu lajur lalu lintas rencana.37.0 m sampai 9.a.37 Pembebanan Truk “T” (500 kN) RSNI T-02-2005 (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Tabel II. Gambar II. Jarak antara 2 as tersebut bisa diubah-ubah antara 4.

6 S/3. S = bentang bersih + setengah lebar duduk tumpuan Universitas Sumatera Utara . Tabel II. 1) Catatan 1 Dalam hal ini.3 Jembatan Jalur Majemuk S/3.8 (bila S > 3.0 (bila S > 1. S = bentang bersih. 1) S/4. Untuk plat lantai yang didukung pada gelagar dari bahan berbeda atau tidak dicor menjadi kesatuan. (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Bentang efektif (S) diambil sebagai berikut: • • Untuk plat lantai yang bersatu dengan balok atau dinding.3 m-lihat Cat.7 m-lihat Cat.9 m-lihat Cat.1) S/3. Catatan 2 Geser balok dihitung untuk beban roda dengan reaksi 2S yang disebarkan oleh S/faktor≥ 0.2 (bila S > 4.2 m-lihat Cat.1) S/2. Jumlah lajur lalu lintas rencana harus digunakan dalam nilai bulat dan ditempatkan dimana saja pada lajur jembatan. 1) S/2.0 m-lihat Cat.14.0 (bila S > 3.5. beban pada tiap balok memanjang adalah reaksi beban roda dengan anggapan lantai antara gelagar sebagai balok sederhana.2 S/2.8 m-lihat Cat.14 Faktor Distribusi Untuk Pembebanan Truk “T” Jenis Bangunan Atas Pelat lantai beton di atas: . 1) S/4.6 (bila S > 3. Balok kayu Lantai papan kayu Lantai baja gelombang tebal 50 mm atau lebih Kisi-kisi baja : Kurang dari tebal 100 mm Tebal 100 mm atau lebih Jembatan Jalur Tunggal S/4.4 (bila S > 4.6 (bila S > 3. 1) S/4.4 S/3.2 (bila S > 3. Balok beton bertulang T -.menghasilkan pengaruh lebih besar. Balok baja I atau balok beton pra tekan -.7 S/2. Catatan 3 S adalah jarak rata-rata antara balok memanjang (m).4 S/3.0 m-lihat Cat.6 m-lihat Cat. 1) S/2. Distribusi beban hidup dalam arah melintang digunakan untuk memperoleh momen dan geser dalam arah longitudinal pada gelagar jembatan dengan menyebar beban truk tunggal “T” pada balok memanjang sesuai dengan faktor yang diberikan dalam tabel II.

kadar kelembaban.0 1.0 1. maka harga dari rangkak dan penyusutan tersebut harus diambil minimum.70 lihat penjelasan (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Koefisien tekanan tanah nominal harus dihitung dari sifat-sifat tanah. Tabel II.40 Terkurangi 0. Sedangkan tekanan tanah lateral ultimit dihitung dengan menggunakan harga nominal dari ws dan harga rencana dari c dan φ.16.25 (1) 1.25 1. Tekanan tanah lateral daya layan dihitung berdasarkan harga nominal ws. seperti dalam table II. kohesi sudut geser dalam dan lain sebagainya) bisa diperoleh dari hasil pengukuran dan pengujian tanah.0 1. Harga rencana dari c dan φ diperoleh dari harga nominal dengan menggunakan Faktor Pengurangan Kekuatan KR. Apabila rangkak dan penyusutan bisa mengurangi pengaruh muatan lainnya. Tekanan Tanah Pengaruh diperhitungkan dalam perencanaan. Sifatsifat tanah (kepadatan.80 0.0 1. c dan φ. Tekanan tanah lateral yang diperoleh masih berupa harga nominal dan selanjutnya harus dikalikan dengan Faktor Beban yang cukup.aktif .15 Faktor Beban Akibat Tekanan Tanah FAKTOR BEBAN JANGKA WAKTU DESKRIPSI Biasa Tekanan tanah vertikal TETAP Tekanan tanah lateral . Tekanan tanah lateral mempunyai hubungan yang tidak linier dengan sifatsifat bahan tanah.keadaan diam 1.3.80 0. dengan menggunakan beban mati dari jembatan.pasif . Universitas Sumatera Utara .

δ*. maka faktor beban yang digunakan menghitung harga rencana dari tekanan tanah dalam keadaan diam harus seperti tekanan tanah dalam keadaan aktif. tetapi dalam pemilihan harga nominal yang memadai untuk tekanan harus hatihati.16 Sifat Tanah untuk Tekanan Tanah Sifat Bahan untuk Menghitung Tekanan Tanah Aktif: (1) ws* φ* c* ws* φ* c* ws* = = = = = = = Keadaan Batas Ultimit Biasa ws tan-1 ( tan φ ) (3) Terkurangi ws tan-1 [(tan φ) / c/ ws ] tan-1 ( tan φ ) (3) ] ws tan-1 [(tan φ) / c/ ws Pasif: (1) Vertikal: ws Catatan (1) Harga rencana untuk geseran dinding. Faktor pengaruh pengurangan dari beban tambahan ini harus nol. Besarnya beban tambahan ini adalah setara dengan tanah setebal 0. Tabel II.Tekanan tanah lateral dalam keadaan diam umumnya tidak diperhitungkan pada keadaan batas ultimit. Beban tambahan ini hanya diterapkan untuk menghitung tekanan tanah dalam arah lateral saja.0. Universitas Sumatera Utara . Faktor beban daya layan tekanan tanah dalam keadaan diam adalah 1.6 m yang bekerja secara merata pada bagian tanah yang dilewati oleh beban lalu lintas tersebut. dan faktor beban yang digunakan harus sama seperti yang telah ditentukan dalam menghitung tekanan tanah arah lateral. dihitung dengan cara sama seperti φ* Catatan (2) dan adalah faktor reduksi kekuatan bahan Catatan (3) Nilai φ* dan c* minimum berlaku umum untuk tekanan tanah aktif dan pasif (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Tanah dibelakang dinding penahan biasanya mendapatkan beban tambahan yang bekerja apabila beban lalu lintas bekerja pada bagian daerah keruntuhan aktif teoritis.

biasanya antara 2 sampai 5 Hz untuk kendaraan berat. dan frekuensi dari getaran lentur jembatan.38 Tambahan Beban Hidup (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) 4.Gambar II. FBD dinyatakan sebagai beban statis ekuivalen. Universitas Sumatera Utara . Untuk perencanaan. Faktor Beban Dinamis Faktor beban dinamis (FBD) merupakan hasil interaksi antara kendaraan yang bergerak dengan jembatan. Besarnya nilai tambah dinyatakan dalam fraksi dari beban statis. Besarnya FBD tergantung frekuensi dasar dari suspensi kendaraan. FBD ini diterapkan pada keadaan batas daya layan dan batas ultimit. Besarnya BGT dari pembebanan lajur "D" dan beban roda dari Pembebanan Truk "T" harus cukup untuk memberikan terjadinya interaksi antara kendaraan yang bergerak dengan jembatan.

39 Faktor Beban Dinamis BGT serta Pembebanan Lajur “D” (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Universitas Sumatera Utara . Untuk bentang tunggal panjang bentang ekuivalen diambil sama dengan panjang bentang sebenarnya.20) dengan pengertian : Lav adalah panjang bentang rata-rata dari kelompok bentang yang disambungkan secara menerus Lmax adalah panjang bentang maksimum dalam kelompok bentang yang disambung secara menerus.……(2.. Gambar II.• Untuk pembebanan "D" Faktor beban dinamis merupakan fungsi panjang bentang ekuivalen seperti dalam gambar II.39. Untuk bentang menerus panjang bentang ekuivalen LE diberikan dengan rumus: ……………………………………………….

Bila trotoar memungkinkan digunakan kendaraan ringan atau ternak. Harga FBD yang digunakan untuk kedalaman yang dipilih harus diterapkan untuk bangunan seutuhnya. pembebanan lalu lintas dan pejalan kaki jangan diambil secara bersamaan pada keadaan batas ultimit (lihat table II. harga faktor beban dinamis jangan diambil kurang dari 40 % untuk kedalaman nol dan jangan kurang dari 10 % untuk kedalaman 2 m. Universitas Sumatera Utara . Pembebanan untuk Pejalan Kaki Semua elemen dari trotoar atau jembatan penyeberangan yang langsung memikul pejalan kaki harus direncanakan untuk beban nominal 5 kPa. harga faktor beban dinamis harus diambil sebagai peralihan linier dari harga pada garis permukaan tanah sampai nol pada kedalaman 2 m.40. Harga faktor beban dinamis yang dihitung digunakan pada seluruh bagian bangunan yang berada di atas permukaan tanah.• Untuk pembebanan truk "T" Faktor beban dinamis diambil 30%. 5. Jembatan pejalan kaki dan trotoar pada jembatan jalan raya harus direncanakan untuk memikul beban per m2 dari luas yang dibebani seperti pada gambar II.17). Luas yang dibebani adalah luas yang terkait dengan elemen bangunan yang ditinjau. Untuk jembatan. Untuk bangunan yang terkubur. Untuk bagian bangunan bawah dan fondasi yang berada di bawah garis permukaan. seperti halnya gorong-gorong dan struktur baja-tanah. maka trotoar harus direncanakan untuk bisa memikul beban hidup terpusat sebesar 20 kN. Untuk kedalaman antara bisa di interpolasi linier.

Gambar II. bahan yang ada pada rencana jembatan.c. Umumnya beban ini mengakibatkan tegangan yang relatif lebih kecil dari tegangan primer. Universitas Sumatera Utara .0 FAKTOR BEBAN 1.2.2 Beban Sekunder Beban sekunder adalah muatan sederhana pada jembatan yang dipergunakan untuk perhitungan tegangan jembatan. sistem jembatan.17 Faktor Beban Akibat Pembebanan untuk Pejalan Kaki JANGKA WAKTU TRANSIEN 1. yang biasanya tergantung pada bentang.8.40 Pembebanan untuk Pejalan Kaki (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Tabel II.8 (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) II.

0 FAKTOR BEBAN 1. Gaya rem dianggap bekerja horisontal dalam arah sumbu jembatan dengan titik tangkap setinggi 1. Jika beban lalu lintas vertikal mengurangi pengaruh gaya rem (seperti hitungan stabilitas guling dari pangkal jembatan). gunakan rumus (2.8 (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Universitas Sumatera Utara . harus ditinjau untuk kedua jurusan lalu lintas. tanpa dikalikan faktor beban dinamis dalam satu jurusan.18) q = 9 kPa. akibat gaya rem dan traksi. Dalam memperkirakan pengaruh gaya memanjang terhadap perletakan dan bangunan bawah. maka Faktor Beban Ultimit terkurangi sebesar 40 % boleh digunakan untuk pengaruh beban lalu lintas vertikal.8 m di atas permukaan lantai kendaraan. Tabel II. Gaya Rem Bekerjanya gaya di arah memanjang jembatan. Pengaruh diperhitungkan senilai dengan gaya rem sebesar 5 % dari beban lajur D dan dianggap pada semua jalur lalu lintas. Gaya rem tidak boleh digunakan tanpa memperhitungkan pengaruh beban lalu lintas vertikal.1. maka gesekan atau karakteristik perpindahan geser perletakan ekspansi dan kekakuan bangunan bawah harus diperhitungkan. Beban lajur D jangan direduksi bila panjang bentang melebihi 30 m.18 Faktor Beban Akibat Gaya Rem JANGKA WAKTU TRANSIEN 1.

75 m (KBU) (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) 2.41 Gaya Rem per Lajur 2. maka nilai anggapan tersebut merupakan batas atas dari penurunan yang bakal terjadi. Perencana mempunyai tanggung jawab untuk mengidentifikasi kejadian khusus setempat dan harus memperhitungkannya dalam perencanaan. a. Penurunan dapat diperkirakan dari pengujian yang dilakukan terhadap bahan fondasi yang digunakan. Universitas Sumatera Utara .Gambar II. Aksi Lingkungan Aksi lingkungan memasukkan pengaruh temperatur. angin. Apabila perencana memutuskan untuk tidak melakukan pengujian akan tetapi besarnya penurunan diambil sebagai suatu anggapan. Besarnya beban rencana yang diberikan. banjir. gempa dan penyebab alamiah lainnya. dihitung berdasarkan analisa statistik dari kejadian umum yang tercatat tanpa memperhitungkan hal khusus yang mungkin akan memperbesar pengaruh setempat. Pengaruh penurunan mungkin bisa dikurangi dengan adanya rangkak dan interaksi pada struktur tanah. Beban Akibat Penurunan Jembatan direncanakan untuk menahan penurunan yang diperkirakan terjadi. atau selisih penurunan. sebagai aksi daya layan.

perencanaan bangunan bawah dan bangunan atas harus memuat ketentuan khusus untuk mengatasi penurunan. • Variasi temperatur di dalam bangunan atas jembatan atau perbedaan temperatur disebabkan oleh pemanasan langsung dari sinar matahari diwaktu siang pada bagian atas permukaan lantai dan pelepasan kembali radiasi dari seluruh permukaan jembatan diwaktu malam.22. Besarnya harga koefisien perpanjangan dan modulus elastisitas yang digunakan untuk menghitung besarnya pergerakan dan gaya yang terjadi diberi dalam tabel II. serta harus memastikan bahwa temperatur tercantum pada gambar rencana. Variasi temperatur rata-rata berbagai tipe bangunan jembatan diberikan dalam tabel II.19 Faktor Beban Akibat Penurunan JANGKA WAKTU TRANSIEN 1. Tabel II. Perencana harus menentukan besarnya temperatur jembatan rata-rata yang diperlukan untuk memasang sambungan siar muai. Universitas Sumatera Utara .0 FAKTOR BEBAN Tak bisa dipakai (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) b. perletakan dan lainnya.Apabila nilai penurunan besar. Pengaruh Temperatur atau Suhu Pengaruh temperatur dibagi menjadi: • Variasi temperatur jembatan rata-rata digunakan dalam menghitung pergerakan temperatur dan sambungan pelat lantai.23.20. Gradien temperatur nominal arah vertikal untuk berbagai tipe bangunan atas diberikan dalam tabel II. dan untuk menghitung beban akibat terjadinya pengekangan dari pergerakan tersebut.

palung. Gelagar Beton Tipe Box 3. Lantai Beton pada Rangka Baja. Oleh karena itu. box atau gelagar ‘I’ Kunci : Gradien Perbedaan Temperatur Positif Gradien Perbedaan Temperatur Negatif Catatan : Gradien lantai berongga berlaku untuk ketebalan lantai (termasuk fillet) dengan d < 300 mm.Pada tipe jembatan yang lebar mungkin diperlukan untuk meninjau gradien perbedaan temperatur dalam arah melintang.20 Gradien Perbedaan Temperatur Jenis Jembatan Tipe Potongan Melintang Gradien Temperatur Efektif 1. Tabel II. atau Pelat saja 2. Balok Beton dan Pelat. No 1 2 Lokasi Jembatan Lebih kecil dari 500 m di atas permukaan laut Lebih besar dari 500 m di atas permukaan laut Tp 12oC 17oC (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Universitas Sumatera Utara . suatu atau sebagian pelat lantai di atas rongga tipe box dengan ketebalan > 300 mm harus menurut gradien temperatur efektif arah vertikal seperti terlihat dalam gambar.

000 (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Universitas Sumatera Utara .000 70.21 Faktor Beban Akibat Pengaruh Temperatur atau Suhu FAKTOR BEBAN JANGKA WAKTU TRANSIEN 1.8 (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Tabel II.000 34.23 Sifat Bahan Rata-rata Akibat Pengaruh Temperatur Bahan Baja Beton: Kuat tekan < 30 MPa Kuat tekan > 30 MPa Aluminium Koefisien Perpanjangan Akibat Suhu 12 x 10-6 per oC 10 x 10-6 per oC 11 x 10-6 per oC 24 x 10-6 per oC Modulus Elastisitas MPa 200.0 Biasa 1.000 25.Tabel II. boks atau rangka baja Lantai pelat baja di atas Temperatur Jembatan Rata-rata Minimum (1) Temperatur Jembatan Rata-rata Maksimum 15oC 40oC 15oC 40oC gelagar.22 Temperatur Jembatan Rata-rata Nominal Tipe Bangunan Atas Lantai beton di atas gelagar atau boks beton Lantai beton di atas gelagar. boks atau rangka baja 15oC 45oC Catatan (1) Temperatur jembatan rata-rata minimum bisa dikurangi 5°C untuk lokasi yang terletak pada ketinggian lebih besar dari 500 m diatas permukaan laut. (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Tabel II.2 Terkurangi 0.

..(2.20 1.0 1..............0 5....0006 Cw (Vw)2 As [kN] .. VW adalah kecepatan angin tencana (m/dtk) Cw adalah koefisien seret yang ditentukan dari tabel II...3..2 Tanda lalu lintas 1.. sisi datar 1..0 10.0 2...2 Catatan (1) untuk harga antara gunakan interpolasi linier (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Universitas Sumatera Utara .24 As adalah luas bagian samping dari bangunan untuk rambu lalu lintas atau penerangan Tabel II.....0 FAKTOR BEBAN 1.19 1....25 Koefisien Seret Untuk Rambu Jalan Uraian Panel tanda lalu lintas : • Perbandingan lebar/tinggi = Koefisien seret Cw 1..... dihitung dengan : Hw = 0..0 15...23 1.24 Faktor Beban Akibat Beban Angin JANGKA WAKTU TRANSIEN 1..18 1...2 (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Tabel II....5 Bentuk segi empat..21) Dimana .....30 Pencahayaan : Bentuk bulat 0...... Beban Angin Pengaruh beban angin rencana Hw.......

Tabel II. Tabel II.4. maka harga dari rangkak dan penyusutan tersebut harus diambil minimum.0 FAKTOR BEBAN 1. Dalam menghitung pengaruh tekanan hidrostatis.27 Faktor Beban Akibat Pengaruh Gempa JANGKA WAKTU TRANSIEN FAKTOR BEBAN Tidak dapat digunakan 1. Pengaruh Penyusutan dan Rangkak Pengaruh diperhitungkan dalam perencanaan.0 (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Universitas Sumatera Utara . Pengaruh gempa rencana hanya ditinjau pada keadaan batas ultimit. Pengaruh Gempa Permukaan air rendah dan tinggi harus ditentukan selama umur bangunan guna menghitung tekanan hidrostatis dan gaya apung.26 Faktor Beban Akibat Penyusutan dan Rangkak JANGKA WAKTU TETAP 1. Apabila rangkak dan penyusutan bisa mengurangi pengaruh muatan lainnya. gradien hidrolis yang melintang bangunan harus diperhitungkan. dengan menggunakan beban mati dari jembatan.0 Catatan (1) Walaupun rangkak dan penyusutan bertambah lambat menurut waktu akan tetapi pada akhirnya akan mencapai harga yang konstan (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) 5.

Koefisien Geser Dasar (C) Koefisien geser dasar diperoleh dari gambar II. Universitas Sumatera Utara .(2. Beban rencana gempa minimum diperoleh dari rumus berikut: …………………………………………………….…. Untuk jembatan besar. gambar II.23) Dimana : dengan pengertian : adalah Gaya geser dasar total dalam arah yang ditinjau (kN) Kh C I S WT adalah Koefisien beban gempa horisontal adalah Koefisien geser dasar waktu dan kondisi setempat yang sesuai adalah Faktor kepentingan adalah Faktor tipe bangunan adalah Berat total nominal bangunan yang mempengaruhi percepatan gempa.42 dan sesuai daerah gempa. Beban Horizontal Statis Ekuivalen Metoda untuk menghitung beban statis ekuivalen untuk jembatan. fleksibilitas tanah di bawah permukaan dicantumkan berupa garis dan waktu getar bangunan.a.(2.22) ………………………………………………………. dimana analisa statis ekuivalen adalah sesuai. rumit dan penting mungkin diperlukan analisa dinamis. diambil sebagai beban mati ditambah beban mati tambahan (kN) b.42 untuk menentukan pembagian daerah.

42 Koefisien Geser Dasar (C) Plastis untuk Analisis Statis (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Universitas Sumatera Utara .Gambar II.

43 Wilayah Gempa Indonesia untuk Periode Ulang 500 Tahun (Sumber : Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI-T-02-2005) .Universitas Sumatera Utara Gambar II.

27.42 diberikan dalam tabel II.Kondisi tanah di bawah permukaan didefinisikan sebagai teguh. Untuk bangunan dengan satu derajat kebebasan. sedang dan lunak sesuai kriteria yang tercantum pada tabel II.…(2. Untuk jelasnya.24) dengan pengertian : T g ialah waktu getar dalam detik untuk free body dengan satu derajat kebebasan adalah percepatan gravitasi (m/dtk2) WTP adalah berat total nominal bangunan atas termasuk beban mati tambahan ditambah setengah berat dari pilar (bila perlu dipertimbangkan) (kN) Kp adalah kekakuan gabungan sebagai gaya horisontal yang diperlukan untuk menimbulkan satu satuan lendutan pada bagian atas pilar (kN/m) Universitas Sumatera Utara . Waktu dasar getaran jembatan yang digunakan menghitung geser dasar harus dihitung dari analisa seluruh elemen bangunan yang memberi kekakuan dan fleksibilitas dari sistem fondasi. perubahan titik pada garis dalam gambar II. rumus berikut bisa digunakan: ……………………………………………………………..27.

13 0.40 1.80 "C" 0.11 0.10 0.40 0.18 0.10 0.06 "T" 0.10 0.40 0.60 0.60 1.75 0.06 (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Universitas Sumatera Utara .80 0.Tabel II. atau tanah berbutir yang sangat padat: Untuk tanah kohesif dengan kekuatan geser undrained rata-rata tidak melebihi 200 kPa: Untuk tanah berbutir dengan ikatan matrik padat: Catatan (1) Tanah Teguh ≤3m ≤6m Tanah Sedang > 3 m sampai 25 m > 6 m sampai 25 m Tanah Lunak > 25 m > 25 m ≤9m > 9 m sampai 25 m > 25 m ≤ 12 m ≤ 20 m > 12 m sampai 30 m > 20 m sampai 40 m > 30 m > 40 m Ketentuan ini harus digunakan dengan mengabaikan apakah tiang pancang diperpanjang sampai lapisan tanah keras yang lebih dalam (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Tabel II.50 0.10 0.40 0.11 0.70 0.40 0.10 0.10 0.70 0. 1 2 3 4 5 6 "T" 0.14 0.28 Kondisi Tanah untuk Koefisien Geser Dasar Jenis Tanah Untuk seluruh jenis tanah Untuk tanah kohesif dengan kekuatan geser undrained rata-rata tidak melebihi 50 kPa: Pada tempat dimana hamparan tanah salah satunya mempunyai sifat kohesif dengan kekuatan geser undrained ratarata lebih besar dari 100 kPa.17 0.13 0.23 0.40 0.06 "T" 0.12 0.29 Titik Belok Untuk Garis Dalam Gambar II.60 "C" 0.12 0.42 Daerah No.60 0.80 "C" 0.55 1.10 0.90 0.20 0.20 0.40 1.23 0.40 0.07 0.18 0.95 0.30 0.10 0.21 0.15 0.13 0.11 0.15 0.21 0.10 0.10 0.50 0.60 1.60 1.

1. dan tipe bangunan yang sesuai harus digunakan untuk masing arah.3 F 3.5.0 1.8 (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Tabel II.25 – 0. Seluruh jembatan permanen lain.2 1. Catatan (2) Yang dimaksud dalam tabel ini.025 n .0 F 1.15 F 1. Jembatan sementara (misal: Bailey) dan jembatan yang direncanakan untuk pembebanan lalu lintas yang dikurangi sesuai dengan pasal 6. Beton prategang penuh mempunyai prapenegangan yang cukup untuk mengimbangi pengaruh beban total rencana.0 Catatan (1) Jembatan mungkin mempunyai tipe bangunan yang berbeda pada arah melintang dan memanjang.30 Faktor Kepentingan 1 2 3 Jembatan memuat lebih dari 2000 kendaraan/hari.0 0. F ≥ 1.3 F 1.Tabel II. dimana ada rute alternatif. beton prategang parsial mempunyai prapenegangan yang cukup untuk kira-kira mengimbangi pengaruh dari beban tetap rencana dan selebihnya diimbangi oleh tulangan biasa. tidak termasuk jembatan direncanakan pembebanan lalu lintas dikurangi.31 Faktor Tipe Bangunan Tipe Jembatan(1) Jembatan dengan Daerah Sendi Beton Bertulang atau Baja Jembatan dengan Daerah Sendi Beton Prategang Prategang Parsial(2) Prategang Penuh(2) Tipe A (3) Tipe B (3) Tipe C 1.0 F 3. jembatan pada jalan raya utama atau arteri dan jembatan dimana tidak ada rute alternatif.00 n = jumlah sendi plastis yang menahan deformasi arah lateral pada masing bagian monolit dari jembatan yang berdiri sendiri (misalnya : bagian yang dipisahkan oleh sambungan siar muai yang memberikan keleluasan untuk bergerak dalam arah lateral secara sendirisendiri) Catatan (4) Tipe A : jembatan daktail (bangunan atas bersatu dengan bangunan bawah) Tipe B : jembatan daktail (bangunan atas terpisah dengan bangunan bawah) Tipe C : jembatan tidak daktail (tanpa sendi plastis) (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Perhatikan bahwa jembatan biasanya mempunyai waktu getar yang berbeda pada arah memanjang dan melintang sehingga beban rencana statis ekuivalen yang berbeda harus dihitung untuk masing-masing arah.15 F 3.0 1. Universitas Sumatera Utara . Catatan (3) F = Faktor perangkaan = 1.

Gaya gempa vertikal bekerja pada bangunan berdasarkan pembagian massa. dan pembagian gaya gempa antara bangunan atas dan bangunan bawah harus sebanding dengan kekakuan relatif dari perletakan atau sambungannya.44 Beban Gempa pada Pilar Tinggi (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) d.44.1 g. Beban Vertikal Statis Ekuivalen Untuk perencanaan perletakan dan sambungan. Universitas Sumatera Utara .c.31 dan faktor kepentingan I diberikan dalam tabel II. Ketentuan Khusus Untuk Pilar Tinggi Untuk pilar tinggi berat pilar dapat menjadi cukup besar untuk mengubah respons bangunan akibat gerakan gempa. Tekanan Tanah Lateral Akibat Gempa Gaya gempa arah lateral akibat tekanan tanah (tekanan tanah dinamis) dihitung dengan menggunakan faktor harga dari sifat bahan. e. koefisien geser dasar C diberikan dalam tabel II. gaya gempa vertikal dihitung dengan menggunakan percepatan vertikal (ke atas atau ke bawah) sebesar 0. Gaya ini jangan dikurangi oleh berat sendiri jembatan dan bangunan pelengkapnya. maka beban statis ekuivalen arah horisontal pada pilar harus disebarkan sesuai dengan gambar II.29. yang harus bekerja secara bersamaan dengan gaya horisontal. Gambar II.

17 0.21 0.07 0.15 0.06 0.23 0. Catatan (2) Definisi dari teguh. faktor tipe bangunan.15 0. harus ditentukan sebagai berikut: • Bila bagian tertanam dari struktur dapat menahan simpangan horisontal yang besar (konsisten dengan gerakan gempa) sebelum runtuh.12 0.18 0.07 Catatan (1) Daerah gempa bisa dilihat dalam Gambar 14.0. Tabel II. untuk bagian tertanam struktur.06 0.0. (S) yang akan digunakan dalam menghitung beban statis ekuivalen akibat massa bagian tertanam.20 0. maka S untuk bagian tertanam harus diambil sebesar 3. Koefisien geser dasar. dan sisa struktur dapat mengikuti simpangan tersebut. (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) f. seperti kepala jembatan (abutments) tertanam. Pengaruh dari percepatan tanah arah vertikal bisa diabaikan. harus sesuai dengan tabel II. atau bila sisa struktur tidak dapat mengikuti simpangan tersebut. • Bila bagian tertanam dari struktur tidak dapat menahan simpangan horisontal besar.31.14 0. Bagian Tertanam dari Jembatan Bila bagian jembatan.18 0.23 0.12 0. C.32 Koefisien Geser Dasar untuk Tekanan Tanah Lateral Koefisien Geser Dasar C Daerah Gempa 1 2 3 4 5 6 (1) Tanah Teguh (2) Tanah Sedang (2) Tanah Lunak (2) 0.Faktor tipe struktur S untuk perhitungan kh harus diambil sama dengan 1. Universitas Sumatera Utara .21 0.0. sedang dan lunak dari tanah di bawah permukaan diberikan dalam Tabel 30. maka S untuk bagian tertanam harus diambil sebesar 1.10 0.

Gaya ini dianggap bekerja pada bangunan pada kedalaman sama dengan setengah dari kedalaman air ratarata. Tekanan Air Lateral Akibat Gempa Gaya gempa arah lateral akibat tekanan air ditentukan dalam tabel II.g.32.1 3.1 < b / h (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) dengan pengertian : Kh adalah koefisien pembebanan gempa horisontal.8 kN/m3 b h adalah lebar dinding diambil tegak lurus dari arah gaya (m) adalah kedalaman air (m) Universitas Sumatera Utara .33 Gaya air lateral akibat gempa Tipe Bangunan Tipe dinding yang menahan air pada satu sisi b / h ≤ 2. ketinggian yang diambil dalam perencanaan adalah yang terlampaui untuk rata-rata enam bulan untuk setiap tahun.17*Kh*I*wo*b*h2 0. Tabel II.58*Kh*I*wo*b*h2 0. bisa diambil 9.29 wo adalah berat isi air.23) I adalah faktor kepentingan dari tabel II. Ketinggian permukaan air yang digunakan untuk menentukan kedalaman air rata-rata harus sesuai dengan: • untuk arus yang mengalir.0 Gaya Air Horisontal 0. • untuk arus pasang. seperti didefinisikan dalam persamaan (2.75*Kh*I*wo*h*b2 [1-b/(4h)] 1.38*Kh*I*wo*h*b2 Kolom : 2 < b / h ≤ 3. diambil ketinggian permukaan air rata-rata.

Tabel II. Dalam hal ini gesekan perletakan harus memperhitungkan pengaruh tetap yang besar.3 Terkurangi 0. pada bangunan atas tetapi gaya sisa mungkin terjadi setelah pergerakan berhenti.34 Faktor Beban Akibat Gesekan pada Perletakan FAKTOR BEBAN JANGKA WAKTU Biasa TRANSIEN 1. antara lain sistem kontruksi dan tipe jembatan serta keadaan setempat. Universitas Sumatera Utara .8 m di atas lantai kendaraan. Beban yang juga perlu diperhatikan dimana hal tersebut menyangkut kekhususan jembatan. dan harga rata-rata dari koefisien gesekan (atau kekakuan geser apabila menggunakan perletakan elastomer). misalnya : 1.8 Catatan (1) Gaya akibat gesekan pada perletakan terjadi selama adanya pergerakan. Gaya Sentrifugal Jembatan yang berada pada tikungan harus memperhitungkan bekerjanya suatu gaya horisontal radial yang dianggap bekerja pada tinggi 1. Untuk kondisi ini rumus (2.3 Beban Khusus Beban yang merupakan beban-beban dan gaya-gaya khusus untuk perhitungan tegangan pada perencanaan jembatan.28).2. tanpa dikalikan dengan faktor beban dinamis. Gaya horisontal tersebut harus sebanding dengan beban lajur D yang dianggap ada pada semua jalur lalu lintas. Beban lajur D disini tidak boleh direduksi bila panjang bentang melebihi 30 m. Aksi Lainnya Gesekan pada perletakan termasuk pengaruh kekakuan geser dari perletakan elastomer. (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) II. dimana q = 9 kPa berlaku.0 1.6. Gaya akibat gesekan pada perletakan dihitung dengan menggunakan hanya beban tetap.8.c.

......7 TT.... Gaya sentrifugal ditentukan dengan rumus berikut: TTR = 0....... seperti berat sendiri..0 FAKTOR BEBAN 1..... Beban ini biasanya mempunyai kaitan dengan aksi lainnya...8 (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) 2.(2..25) dengan pengertian : TTR TT adalah gaya sentrifugal yang bekerja pada bagian jembatan adalah Pembebanan lalu lintas total yang bekerja pada bagian yang sama (TTR dan TT mempunyai satuan yang sama) V r adalah kecepatan lalu lintas rencana (km/jam) adalah jari-jari lengkungan (m) Tabel II.... Dalam hal ini................ Pengaruh Tetap Pelaksanaan Pengaruh tetap pelaksanaan adalah beban yang muncul karena disebabkan oleh metoda dan urutan pelaksanaan jembatan..35 Faktor Beban Akibat Gaya Sentrifugal JANGKA WAKTU TRANSIEN 1..................Gaya sentrifugal harus bekerja secara bersamaan dengan pembebanan "D" atau "T" dengan pola yang sama sepanjang jembatan... pengaruh faktor ini tetap harus dikombinasikan dengan aksi tersebut dengan faktor beban yang sesuai Universitas Sumatera Utara ..........................

lihat tabel II. Aliran Air.36 Faktor Beban Akibat Pengaruh Pelaksanaan JANGKA WAKTU TETAP 1.35. Kecepatan batas harus dikaitkan dgn periode ulang dalam tabel II. CD adalah koefisien seret .8 (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) 3.34.38.(2.26) dengan pengertian : Vs adalah kecepatan air rata-rata (m/s) untuk keadaan batas yang ditinjau.0 FAKTOR BEBAN Biasa 1. Universitas Sumatera Utara . Tabel II.…. Ad adalah luas proyeksi pilar tegak lurus arah aliran (m2) dengan tinggi sama dengan kedalaman aliran . maka pengaruh tersebut harus dimaksudkan dalam batas daya layan dan batas ultimit dengan menggunakan faktor beban yang tercantum dalam tabel II. Benda Hanyutan dan Tumbukan dengan Batang Kayu JANGKA WAKTU TRANSIEN 1.25 Terkurangi 0.5 * CD*(Vs)2 *Ad (kN) ……………………………………….0 FAKTOR BEBAN Lihat Tabel 33 (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Gaya seret nominal ultimit dan daya layan pada pilar akibat aliran air tergantung kepada kecepatan sebagai berikut: TEF = 0..Bila pengaruh tetap yang terjadi tidak begitu terkait dengan aksi rencana lainnya.45.lihat gambar II.37 Faktor Beban Akibat Aliran Air. Benda Hanyutan dan Tumbukan Kayu Tabel II.

Bentuk Pilar CD CL Koefisien Angkat Θ 0.0 Tidak bisa dipakai (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Universitas Sumatera Utara .9 1.5 0.7 ≥ 30o CL 0 0.0 1.0 1.0 100 tahun 50 tahun 50 tahun 20 tahun 2.Tabel II.39 Koefisien Seret dan Angkat untuk Bermacam-macam Bentuk Pilar Koefisien Seret No.9 0.4 5o 10o 20o 0.5 Catatan (1) Jembatan besar dan penting harus ditentukan oleh Instansi yang berwenang Catatan (2) Gorong-gorong tidak mencakup bangunan drainase (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Tabel II.8 0o 1 1.5 1.7 2 0.38 Periode Ulang Banjir Untuk Kecepatan Air Keadaan Batas Daya layan untuk semua jembatan Ultimit : Jembatan besar dan penting (1) Jembatan permanen Gorong-gorong (2) Jembatan sementara Periode Ulang Banjir 20 tahun Faktor Beban 1.

3 3.9 L/a =12 1.3 5.0 0.27) Universitas Sumatera Utara .5 * CD*(Vs)2 *AL (kN) ……………………………………….0 2. adalah: TEF = 0.45 Luas Proyeksi Pilar untuk Gaya Aliran (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Bila pilar tipe dinding membuat sudut dengan arah aliran.3 o 5 90 2.1 1.0 (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Gambar II. gaya angkat melintang semakin meningkat..5 4.(2.0 1.0 2.0 2 15o 1.9 (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Tabel II.5 o 3 30 2.5 Θ = sudut kemiringan aliran L = panjang pilar searah arus (m) L/a = 8 1.41 Koefisien Koreksi untuk Arah Datang Aliran Air No Θ L/a = 4 o 1 0 1.0 o 4 45 2.0 1. Harga nominal gaya dalam arah tegak lurus gaya seret.Tabel II.75 3.…. 1 2 3 4 5 Bentuk Ujung Pilar Persegi Bulat Lingkaran Silinder Kumpulan Silinder Tajam K1 1.40 Koefisien Koreksi untuk Bentuk Penampang Pilar (Piers) No.5 3.0 2.

dengan pengertian : Vs adalah kecepatan air rata-rata (m/s) untuk keadaan batas yang ditinjau.2 m dibawah muka air banjir.lihat gambar II. Perhitungan untuk gaya angkat tersebut adalah sama. Kecepatan batas harus dikaitkan dgn periode ulang dalam abel II.28) kecuali apabila data yang lebih tepat tersedia. koefisien seret (CD) yang bekerja disekeliling bangunan.37.…….45. Panjang hamparan dari benda hanyutan diambil setengahnya dari jumlah bentang yang berdekatan atau 20 m. CD adalah koefisien seret .(2. Universitas Sumatera Utara .2 ……………………………………………………………. luas proyeksi benda hanyutan dihitung seperti : a. kecuali bila besarnya AL diambil sebagai luas dari daerah lantai jembatan. gaya angkat akan meningkat dengan cara yang sama seperti pada pilar tipe dinding. Bila bangunan atas jembatan terendam. Gaya akibat benda hanyutan dihitung menggunakan persamaan (2.04……………………………………………………………. diambil yang terkecil dari kedua harga ini. dengan tinggi sama dengan kedalaman aliran .lihat tabel II. untuk jembatan yang terendam.…….26) dengan : CD = 1.38. Untuk jembatan yang permukaan air terletak di bawah bangunan atas Lluas benda hanyutan yang bekerja pada pilar dihitung dengan menganggap bahwa kedalaman minimum dari benda hanyutan adalah 1. AL adalah luas proyeksi pilar sejajar arah aliran (m2).29) AD adalah luas proyeksi benda hanyutan tegak lurus arah aliran (m2) Jika tidak ada data yang tepat.. yang diproyeksikan tegak lurus arah aliran diambil sebesar CD = 2....(2.

Va bisa diambil 1.075 0.30) M adalah massa batang kayu = 2 ton Va adalah kecepatan air permukaan (m/dtk) pada keadaan batas yang ditinjau.41 Tabel II.300 (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Universitas Sumatera Utara . Gaya akibat tumbukan dengan batang kayu dihitung dengan anggapan massa minimum sebesar 2 Ton hanyut pada kecepatan aliran rencana harus bisa ditahan dengan gaya maksimum berdasarkan lendutan elastis ekuivalen pilar dengan rumus TEF = dengan pengertian : (kN) …………………………………………..42 Lendutan Ekuivalen untuk Tumbukan Batang Kayu Tipe Pilar Pilar beton masif Tiang beton perancah Tiang kayu perancah d (m) 0. Untuk jembatan dimana bangunan atas terendam Kedalaman benda hanyutan diambil sama dengan kedalaman bangunan atas termasuk sandaran atau penghalang lalu lintas ditambah minimal 1.4 x kecepatan rata-rata Vs* d adalah lendutan elastis ekuivalen . Panjang hamparan benda hanyutan yang bekerja pada pilar diambil setengah dari jumlah bentang yang berdekatan.……(2.b.2 m. Kedalaman maksimum benda hanyutan boleh diambil 3 m kecuali bila menurut pengalaman menunjukkan bahwa hamparan dari benda hanyutan dapat terakumulasi.lihat tabel II.150 0.

maka pilar tersebut harus direncanakan untuk bisa menahan beban statis ekuivalen sebesar 100 kN yang bekerja membentuk sudut 10° dengan sumbu jalan yang terletak dibawah jembatan.0 (1) Catatan (1) Tumbukan harus dikaitkan pada faktor beban ultimit atau daya layan. 4. berat dan ukuran kapal yang menggunakan jalan air. Untuk kombinasi.0 (1) FAKTOR BEBAN 1. Beban rencana dan beban mati rencana pada bangunan harus ditinjau sebagai batas daya layan. Apabila pilar yang mendukung jembatan layang terletak dibelakang penghalang. • Kecepatan kapal yang menggunakan jalan air.Gaya akibat tumbukan kayu dan benda hanyutan lainnya jangan diambil secara bersamaan. Kalau tidak. Beban Tumbukan dengan Kapal Risiko terjadinya tumbukan kapal dengan jembatan harus diperhitungkan dengan meninjau keadaan masing-masing lokasi untuk parameter berikut: • Jumlah lalu lintas air. Beban Tumbukan pada Penyangga Jembatan Pilar pendukung jembatan yang melintasi jalan raya. (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) 5. Universitas Sumatera Utara .8 m diatas permukaan jalan. pilar harus direncanakan untuk diberi pelindung. Beban ini bekerja 1. • Tipe.43 Faktor Beban Akibat Beban Tumbukan Pada Penyangga Jembatan JANGKA WAKTU TRANSIEN 1. Tabel II. Tumbukan batang kayu ditinjau secara bersamaan dengan gaya angkat dan seret. tumbukan batang kayu ditinjau sebagai aksi transien. jalan kereta api dan navigasi sungai harus direncanakan mampu menahan beban tumbukan.

Sistem fender harus direncanakan dengan menggunakan metoda yang berdasarkan kepada penyerapan energi tumbukan akibat terjadinya deformasi pada fender. Pilar tanpa fender harus direncanakan untuk bisa menahan tumbukan tanpa menimbulkan kerusakan yang permanen (pada batas daya layan). dengan resiko terjadinya tumbukan sangat besar. • Pengaruh tumbukan kapal terhadap jembatan. harus diperhitungkan dalam keadaan batas ultimit. Bangunan penahan-tanah direncanakan mampu menahan pengaruh total dari air Universitas Sumatera Utara . teristimewa yang terkait dengan lebar jalan air yang bisa dilalui. Tekanan Hidrostatis dan Gaya Apung Permukaan air rendah dan tinggi ditentukan selama umur bangunan untuk menghitung tekanan hidrostatis dan gaya apung.• Kecepatan arus dan geometrik jalan air disekitar jembatan termasuk pengaruh gelombang. Dalam menghitung tekanan hidrostatis. Bidang pengaku horisontal ini harus ditempatkan sedekat mungkin dengan permukaan dimana tumbukan akan terjadi. Ujung kepala fender. Jarak antara fender dengan pilar jembatan harus cukup sehingga tidak akan terjadi kontak apabila beban tumbukan bekerja. Sistem fender yang terpisah harus dipasang dalam hal-hal tertentu. • Lebar dan tinggi navigasi dibawah jembatan. dan kemungkinan gaya tumbukan yang terjadi terlalu besar untuk dipikul sendiri oleh jembatan. 6. gradien hidrolis yang melintang bangunan harus diperhitungkan. Fender harus mempunyai pengaku dalam arah horisontal untuk meneruskan gaya tumbukan keseluruh elemen penahan tumbukan. dimana energi kinetik paling besar yang terjadi akibat tumbukan diserap.

c. dengan bagian belakang dari irisan naik dari dasar dinding pada sudut maksimum 60° dari arah horisontal.9) Catatan (1) Angka yang ditunjukan dalam tanda kurung digunakan untuk bangunan penahan air atau bangunan lainnya dimana gaya apung dan hidrostatis sangat dominan (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Permukaan air rendah dan tinggi harus ditentukan selama umur bangunan guna menghitung tekanan hidrostatis dan gaya apung. Dalam menghitung pengaruh tekanan hidrostatis. Bangunan penahan-tanah harus direncanakan mampu menahan pengaruh total dari Universitas Sumatera Utara . agar air bisa keluar pada waktu surut. Sistem drainase merupakan irisan dari timbunan yang mudah mengalirkan air dibelakang dinding.tanah kecuali timbunan bisa mengalirkan air. Dalam memperkirakan pengaruh daya apung. harus ditinjau beberapa ketentuan sebagai berikut: a. gradien hidrolis yang melintang bangunan harus diperhitungkan.0 (1. Tabel II. Daya apung harus ditinjau dengan gaya akibat aliran. Syarat sistem ikatan dari bangunan atas.1) Terkurangi 1. Syarat drainase dengan adanya rongga pada bagian dalam.44 Faktor Beban Akibat Tekanan Hidrostatis Dan Gaya Apung FAKTOR BEBAN JANGKA WAKTU TRANSIEN 1. Pengaruh daya apung ditinjau terhadap bangunan atas yang mempunyai rongga atau lubang dimana mungkin udara terjebak. Pengaruh daya apung bangunan bawah (tiang) dan beban mati bangunan atas.0 Biasa 1.0 (0. kecuali bila ventilasi udara dipasang. b.

0 (1. gaya prategang dapat dianggap bekerja sebagai suatu sistem beban unsur. Prateganga harus diperhitungkan sebelum (selama pelaksanaan) dan sesudah kehilangan tegangan dalam kombinasinya dengan beban-beban lainnya. Pada keadaan batas ultimit. melainkan harus tercangkup dalam perhitungan kekuatan unsur. pengaruh utama dari prategang tidak dianggap sebagai beban yang bekerja. Universitas Sumatera Utara .0 b. Nilai rencana dari beban prategang tersebut harus dihitung dengan menggunakan faktor beban prategang daya layan sebesar 1.45 Faktor Beban Akibat Pengaruh Prategang JANGKA WAKTU TRANSIEN KSPR 1.7.0 FAKTOR BEBAN KUPR 1. Pengaruh sekunder tersebut harus diperhitungkan baik pada batas daya layan ataupun batas ultimit. Pada keadaan batas daya layan. Tabel II. Pengaruh Prategang Prategang akan menyebabkan pengaruh sekunder pafa komponen-komponen yang terkekang pada bangunan statis tidak tentu.15 pada prapenegang) (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Pengaruh utama dari prategang adalah sebagai berikut : a.

apakah itu biasa atau terkurangi. Tabel II. seperti terlihat dalam Tabel II.2. seperti beban mati tambahan PMA. Kombinasi beban yang diambil termasuk harga maksimum dan minimum dari semua aksi untuk menentukan pengaruh total dari yang paling berbahaya. penyusutan dan rangkak PSR. Untuk jembatan dengan umur rencana yang berbeda. pengaruh prategang PPR dan pengaruh penurunan PES bisa berubah secara perlahan berdasarkan kepada waktu.4 Kombinasi Beban Kombinasi beban umumnya didasarkan kepada beberapa kemungkinan tipe yang berbeda dari aksi yang bekerja secara bersamaan. hanyutan dan tumbukan (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Aksi Tetap Nama Berat sendiri Beban mati tambahan Penyusutan/rangkak Prategang Tekanan tanah Penurunan Pengaruh pelaksanaan tetap Simbol TTD TTT TTB TTR TTP TTC TEW TEQ TVI TBF TET TEU TCL TEF 1.8.c. Faktor beban untuk keadaan batas ultimit didasarkan kepada umur rencana jembatan selama 50 tahun.46 Tipe Aksi Rencana Aksi Transien Simbol Nama Beban lajur "D" PMS Beban truk "T" PMA Gaya rem PSR Gaya sentrifugal PPR Beban pejalan kaki PTA Beban tumbukan PES Beban angin PPL Gempa Getaran Gesekan pada perletakan Pengaruh temperatur Hidro atau daya apung Beban pelaksanaan Arus. Aksi rencana ditentukan dari aksi nominal yaitu mengalikan aksi nominal dengan faktor beban yang memadai.46.II. Seluruh pengaruh aksi rencana harus mengambil faktor beban yang sama. Universitas Sumatera Utara . Aksi rencana digolongkan kedalam aksi tetap dan transien. Pengaruh Umur Rencana dan Waktu Beberapa aksi tetap.

faktor beban ultimit harus diubah dengan menggunakan faktor pengali seperti yang diberikan dalam Tabel II.47. Tabel II.47 Pengaruh Umur Rencana pada Faktor Beban Ultimit
No Klasifikasi Jembatan Umur Rencana Kalikan KU dengan Aksi Tetap Aksi Transien 0,87 1,00 1,10

20 tahun Jembatan sementara 1,0 1 50 tahun Jembatan biasa 1,0 2 100 tahun Jembatan khusus 1,0 3 (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005)

2. Kombinasi Pada Keadaan Batas Daya Layan Kombinasi pada keadaan batas daya layan primer terdiri dari jumlah pengaruh aksi tetap dengan satu aksi transien. Pada keadaan batas daya layan, lebih dari satu aksi transien bisa terjadi secara bersamaan. Beberapa aksi kemungkinan dapat terjadi pada tingkat daya layan pada waktu yang sama dengan aksi lainnya yang terjadi pada tingkat ultimit. Kemungkinan terjadinya kombinasi seperti ini harus diperhitungkan, tetapi hanya satu aksi pada tingkat daya layan yang dimasukkan pada kombinasi pembebanan. Keadaan batas kelayanan adalah serupa dengan kriteria rencana untuk perencanaan tegangan kerja. Getaran umumnya hanya penting bila pejalan kaki menggunakan jembatan. Tabel II.48 Kombinasi Beban Untuk Keadaan Batas Daya Layan
Kombinasi primer Kombinasi sekunder Kombinasi tersier Aksi tetap + satu aksi transien (cat.1), (cat.2) Kombinasi primer + 0,7 x (satu aksi transien lainnya) Kombinasi primer + 0,5 x (dua atau lebih aksi transien)

Catatan (1) Beban lajur ‘D’ yaitu TTD atau beban truk ‘T’ yaitu TTT diperlukan untuk membangkitkan gaya rem TTB dan gaya sentrifugal TTR pada jembatan. Tidak ada faktor pengurangan yang harus digunakan apabila TTB atau TTR terjadi dalam kombinasi dengan TTD atau TTT sebagai kombinasi primer Catatan (2) Gesekan pada perletakan TBF bisa terjadi bersamaan dengan pengaruh temperatur TET dan harus dianggap sebagai satu aksi kombinasi beban. (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005)

Universitas Sumatera Utara

3. Kombinasi Pada Keadaan Batas Ultimate Kombinasi pada keadaan batas ultimit terdiri dari jumlah pengaruh aksi tetap dengan satu pengaruh transien. Pada keadaan batas ultimit, tidak diadakan aksi transien lain untuk kombinasi dengan aksi gempa. Keadaan batas ultimate umumnya mencakup keruntuhan fatal yang membahayakan jiwa manusia. Kemungkinan akan keruntuhan, harus dijaga serendah mungkin dan batas 5% sepanjang umur jembatan umumnya diambil. Faktor beban yang sudah dikurangi diterapkan dalam hal ini untuk mengurangi kemungkinan dari peristiwa ini, seperti diberikan Tabel II.49. Tabel II.49 Ringkasasn Kombinasi Beban untuk Batas Daya Layan dan Ultimit
Aksi Aksi Permanen : -Berat Sendiri dan Mati Tambahn -Susut Rangak dan Pratekan -Akibat Beban Tetap Pelaksanaan - Penurunan dan Tekanan Tanah Aksi Transien : -Beban Lajur ‘D’ atau Beban Truk ‘T’ -Gaya Rem atau Gaya Sentrifugal -Beban Pejalan Kaki -Gesekan Perletakan -Pengaruh Suhu -Aliran, Hanyutan, Batang Kayu dan Hidrostatik atau Gaya Apung -Beban Angin Aksi Khusus : -Gempa -Pengaruh Getaran -Beban Pelaksanaan
‘v‘ berarti beban yang selalu aktif. ‘O‘ berarti beban yang boleh di kombinasi dengan beban aktif, tunggal atau seperti ditunjukkan.

1

Kombinasi Kelayanan 2 3 4 5 6

1

Kombinasi Ultimit 2 3 4 5 6

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v v o o o

o o v o o

o o v v o o

o o o o v o

o o o o o v o o o o

v v o o o o

o o v o o

o o o o v o

o o o o o v

o

o o o o v

v

v v v
Aksi permanen ‘v’ KBU + beban aktif ‘v’ KBU + 1 beban ‘o’ KBL

(1) = aksi permanen ‘v’ KBL + beban aktif ‘v’KBL + 1 beban ‘o’KBL (2) = aksi permanen ‘v’ KBL + beban aktif‘v’KBL + 1 beban‘o’KBL+ 0,7 beban ‘o’ KBL (3) = aksi permanen ‘v’ KBL + beban Aktif‘v’KBL+1 beban‘o’KBL + 0,5 (beban‘o’ + beban ‘o’KBL)

(Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005)

Universitas Sumatera Utara

Hal yang harus diperhatikan dalam menentukan kombinasi beban umum untuk keadaan batas kelayanan dan ultimit adalah sebagai berikut : a. Perencana harus mengenali dan memperhitungkan kombinasi beban yang tidak tercantum dalam tabel jembatan tertentu yang mungkin menjadi kritis. b. Dalam keadaan batas daya layan pada tabel, aksi dengan tanda ‘V’ untuk kombinasi tertentu dimasukkan dengan faktor beban daya layan penuh. Butir dengan tanda ‘O’ dimasukkan faktor beban layan yang diturunkan harganya. c. Dalam keadaan batas ultimit pada bagian tabel, aksi dengan tanda ‘V’ untuk kombinasi tertentu dimasukkan dengan faktor beban ultimit penuh. Butir dengan tanda ‘O’ dimasukkan dengan harga yang sudah diturunkan yang besarnya sama dengan beban daya layan. d. Tingkat keadaan batas dari gaya sentrifugal dan gaya rem tidak terjadi secara bersamaan. Perlu perhitungan untuk faktor beban ultimit terkurangi bagi beban lalu lintas vertikal dalam kombinasi dengan gaya rem. e. Pengaruh perbedaan temperatur pada seluruh jembatan. Gesekan pada perletakan sangat erat kaitannya dengan pengaruh temperatur akan tetapi arah aksi dari gesekan perletakan akan berubah, tergantung kepada arah pergerakan dari perletakan atau dengan kata lain, apakah temperatur itu naik atau turun. Pengaruh temperatur tidak mungkin kritis pada keadaan batas ultimit kecuali bersamaan dengan aksi lainnya. Dengan demikian temperatur hanya ditinjau sebagai kontribusi pada tingkat keadaan batas daya layan. f. Gesekan pada perletakan harus ditinjau apabila sewaktu aksi lainnya memberikan pegaruh yang cenderung menyebabkan gerakan arah horisontal pada perletakan tersebut.

Universitas Sumatera Utara

2. j.c. h.II. Pengaruh gempa hanya ditinjau pada keadaan batas ultimit. Tegangan berlebihan yang diberikan dalam Tabe. beban nominal bekerja pada jembatan dan satu factor keamanan digunakan untuk menghitunga besarnya penurunan kekuatan atau perlawanan dari komponen bangunan. Semua pengaruh dari air dapat dimasukkan bersama. i. 3 4 5 X X X X X X X X X X X X 25 40 50% % % 6 X X 30% 7 X X 50 % Universitas Sumatera Utara . Tabel II.g. 50 Kombinasi Beban untuk Perencanaan Tegangan Kerja 2 Aksi tetap X Beban lalu lintas X Pengaruh temperatur X Arus/hanyutan/hidro/daya apung X Beban angin Pengaruh gempa Beban tumbukan Beban pelaksanaan 25 Nil Tegangan berlebihan yang diperbolehkan % (Sumber: Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005) Aksi 1 X X X Kombinasi No. Beban tumbukan merupakan beban daya layan atau beban ultimit.50. II. Untuk perencanaan yang baik. Tegangan yang Berlebihan yang Diperbolehkan Beberapa kombinasi beban mempunyai probabilitas kejadian yang rendah dan jangka waktu yang pendek.8. Pengaruh getaran hanya digunakan dalam keadaan batas daya layan.5 Tegangan Keria Rencana Dalam perencanaan tegangan kerja. 1. Untuk kombinasi yang demikian maka tegangan yang diperbolehkan berdasarkan prinsip tegangan kerja. hubungan itu harus memenuhi syarat yang berlaku.

0 kN/m 1.2 1.0 10 ton * * 1. 1.8 * Besaran beban mati akibat berat sendiri dipengaruhi oleh dimensi gelagar dan berat jenis beton prategang **Besaran beban rem dan traksi dipengaruhi oleh beban lajur “D” yang digunakan Universitas Sumatera Utara .2.1987 Pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya dan RSNI T – 02 – 2005 Standar Pembebanan Untuk Jembatan di atas.25 ton * * 1.0 kPa RSNI T – 02 – 2005 Besar beban Faktor beban 11.2 1. dapat dilihat beberapa perbedaan yang mendasar. Perbedaan ini dapat dilihat di bawah ini : Tabel II.2 2.II.3.1987 Beban Besar beban Faktor beban Beban Truk “T” Beban Mati (berat sendiri) Beban Mati Tambahan Beban Hidup • Beban Lajur “D”  Beban q  Beban p • Beban Angin q = 2.1987 dengan Pembebanan RSNI T – 02 – 2005 Dari uraian penjabaran pembebanan PPPJJR SKBI. 1.2 • Beban Rem & Traksi ** ** 1.3. 1.8 12 ton 150 kg/m2 1.28.6 1.51 Pembebanan PPPJJR SKBI.28.28.8 1.d Perbedaan Antara Pembebanan PPPJJR SKBI. yaitu pada besar beban desain serta faktor beban yang digunakan.6 49.3.3.1987 dan RSNI T – 02 – 2005 PPPJJR SKBI.8.28.8 PEW = [ 1/2*h / x * TEW ] kN 1.2 t/m – x (L – 30) q = 9. 1.

Beban mati. Adapun beban-beban dan gaya luar yang ada dalam konstruksi antara lain : 1. aspal. Besarnya beban-beban yang bekerja pada gelagar memanjang tergantung dari beberapa hal sebagai berikut : 1. Jenis konstruksi bangunan atas 2. Sepert halnya gelagar memanjang harus dapat memikul beban-beban yang didukungnya serta gaya-gaya luar lainnya. Beban hidup.9 Beban yang Dipikul Gelagar Memanjang Dalam perencanaan jembatan. dll) 2. Beban-beban yang bekerja pada konstruksi tersebut 3. Gelagar memanjang diperhitungkan dapat memikul beban total yang bekerja. yaitu bagian atas sangat diperhitungkan bebanbeban yang bekerja karena ini sangat mempengaruhi dalam perencanaan jembatan khususnya perencanaan gelagar jembatan. Lokasi atau tempat dimana dilaksanakannya konstruksi tersebut. yaitu beban bergerak (kendaraan) yang melintasi jembatan Gelagar memanjang di lapangan yang dipakai untuk memikul beban-beban di atas adalah beton prategang I segmental. yaitu berat sendiri gelagar dan berat sendiri di luar berat gelagar (pelat lantai.2.II. sandaran. Universitas Sumatera Utara . difragma.

10 Beban Kerja Recana Beban kerja rencana untuk berbagai keadaan batas diperoleh dari beban primer dan beban sekunder yang bekerja pada jembatan.2. seperti beban mati yaitu berat sendiri pelat. aspal. gelagar dan sistem lainnya yang dipikul langsung oleh masing-masing gelagar jembatan. Pada umumnya beban iani mengakibatkan tegangan-tegangan relatif lebih kecil dari tegangan-tegangan akibat beban primer. yaitu beban angin yang merupakan beban sementara yang selalu diperhitungkan dalam perhitungan tegangan dalam setiap perencanaan jembatan. Beban mati digunakan dalam perhitungan kekuatan gelagar (gelagar tengah dan gelagar pinggir). Perkiraan pengaruh pembebanan yang tidak cermat dan reditribusi tegangan yang tak terduga di dalam strktur Universitas Sumatera Utara . trotoar. pemilihan tidak dapat langsung tersedia karena statistik pembebanan selalu sulit dikumpulkan karena memerlukan pengamatan serta pencatatan data selama jangka waktu yang panjang.II. sandaran. Dalam statistik yang diperlukan untuk menentukan beban untuk berbagai tipe. difragma. Nilai-nilai untuk beban memperhitungkan variasi-variasi yang mungkin terjadi dengan memperhatikan hal-hal berikut : 1. Beban sekunder. Peningkatan beban luar biasa yang memungkinkan di luar pertimbangan dalam perhitungan pembebanan 2. Beban hidup adalah beban yang diperhitungkan terhadap beban hidup ”T” dalam menghitung kekuatan lantai dan beban hidup ”D” juaga beban garis ”P” dalam menghitung momen dan gaya lintang terhadap gelagar memanjang.

275 0.52 Faktor Keamanan Parsial Untuk Beban-beban γ Beban Mati.2.6 1. Nilai-nilai faktor keamanan parsial yang dianjurkan dalam peraturanperaturan Inggris.46.8 1.5 1. Wk Tahap batas Nama peraturan Dengan beban terpasang Dengan beban angin Dengan beban terpasang dan angin Denan beban mati Dengan beban mati dan terpasang Ultimit BSCP 110: 1972 Konsep IS: 1343 ACI: 318-1977 BSCP 110-1972 1.25 1. dan India dikumpulkan dalam tabel II.05 0.5 1.3 1.275 0.8 II.0 0.2 1.9 0.5 1.4 1. Amerika dan India. faktor keamanan parsial γf dipakai untuk setiap kadaan batas guna memperhitungkan kekurangan-kekurangan ini dan juaga keadaan kritis suatu keadaan batas yang akan dicapai.0 0. Ketentuan-ketentuan yang dibuat dalam peraturanperaturan standar Inggris.8 1.4 1.0 1.0 1.25 1.8 Penggunaan 1.11 Tegangan yang Diperkenankan pada Beton Tegangan-tegangan tarik dan tekan yang diperkenankan pada beton pada tahap beban transfer dan beban layan dinyatakan dalam kekuatan tekan beton yang sesuai pada masing-masing tahap.0 1.7 1.25 1. Variasi dalam ketepatan dimensional yang dicapai dalam pelaksanaan konstruksi Oleh karena itu.0 0.0 Konsep IS: 1343 (Sumber : Beton Pratekan. Qk Dengan beban mati Dengan beban mati dan angin Beban Angin.9 1. Tabel II.9 0.8 1.2 1. Gk Beban Terpasang.3. Dengan memperhatikan tegangan- Universitas Sumatera Utara .0 1. Untuk SNI 2002 nilai faktor aman tersebut 1.6 WL.2 WD + 1. N Krishna Raju) 1.2 1.0 1.4 1. Amerika.

4 sampai 0.25 fcu diperkenankan tergantung pada mutu beton dan lebar retak (Sumber : Beton pratekan.45 (fcu)1/2 N/mm2 Post-tensioning : 0.7 N/mm2 dalam kasus-kasus tertentu.43 untuk beton dengan kekuatan kubus 55 N/mm2 untuk pekerjaan pascatarik. N Krishna Raju) Universitas Sumatera Utara .36 (fcu)1/2 N/mm2 0. Koefisien tersebut berkurang secara linier sampai nilai sebesar 0.5 sampai 0.45 kali kekuatan tekan silinder yang ditentukan Tegangan tarik Pada beban rencana Struktur tipe 1 – tidak ada Struktur tipe 2 – tegangan tarik 3 N/mm2 Sruktur tipe 3 – tegangn tarik hipotesis sampai dengan 0.36 fcu tergantung pada kekuatan beton 0.5 fci untuk lenturan 0.53 Tegangan Maksimum yang Diperkenankan di dalam Beton 1 2 Tegangan tekan Konsep IS : 1343 3 Berubah secara linier dari 0.3.tegangan izin maksimum dirangkum dalam tabel 2.6 kali kekuatan silinder pada pemindahan CP 110 : 72 5 0.5 fcu dalam beton prategang pada konstruksi komposit Struktur klas 1 – tidak ada Struktur klas 2 – Pre-tensioning : 0.S suatu keofisien reduksi yang lebih besar dipakai apabila kekuatan kubusnya merupakan minimum yang diperkenankan sebesar 35 N/mm2. Didalam peraturan I.25 fcu diperkenankan tergantung pada mutu beton dan lebar retak Penampang tak retak : Penampang berpindah dan retak : Struktur klas 1.45 fci tergantung pada kekuatan beton ACI : 318-71 4 0. 1 N/mm2 Struktur klas 2 dan 3 Pre-tensioning : 0.25 fcu dalam tekanan langsung 0.36 (fcu)1/2 N/mm2 ini Tegangan-tegangan dapat dinaikan sampai dengan 1. Struktur klas 3 – Tegangan tarik hipotesis sampai dengan 0. Tabel II.4 fci untuk beban aksial Pada pemindahan Tegangan tarik pada saat pemindahan Tegangan tekan Berubah secara linier dari 0.45 (fcu)1/2 N/mm2 Post-tensioning : 0.33 fcu dalam lenturan yang boleh dinakan sampai 0.4 fcu dalam wilayah momen tumpuan dalam struktur statis tak tertentu 0.

peraturan-peraturan Inggris dan Ameriak menentukan koefisien reduksi yang seragam untuk kekuatan tekan pada tahap transfer dan beban kerja rencana.Sebagai perbandingan. II.12. Karena adanya variabel-variabel ini. Ada berat sendiri komponen strktur yang mempengaruhi desain.60 fci’ Universitas Sumatera Utara . Sb dan St harus dilakukan terlebih dahulu. = 0. Ada bentuk perkiraan penampang beton yang ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan praktis dan teoritis yang harus diasumsikan untuk percobaan. tetapi harus diasumsikan sebelum melakukan perhitungan momen.12 Desain Penampang Beton Prategang Terhadap Lentur Pada waktu pendesainan penampang beton prategang pada dasarnya dilakukan dengan cara coba-coba (trial & error). Ada kerangkan struktur yang harus dipilih sebagai permulaan dan mungkin dimodifikasi pada waktu proses desain berlangsung. disimpulkan bahwa prosedur yang terbaik adalah suatu cara coba-coba yang berpedoman pada hubungan-hubungan yang diketahui sehingga memungkinkan diperolehnya hasil akhir yang lebih cepat.2. II. Jika : fci = Tegangan tekan izin maksimum di beton segera sesudah transfer dan sebelum terjadi kehilang.a Modulus Penampang Minimum Untuk mendesain dan memilih penampang. penentuan mudulus penampang minimum yang dibutuhkan.2. Tegangan tarik yang diperkenankan pada tahap transfer dan beban kerja berkaitan dengan kekuatan tekan beton dalam peraturan Inggris dan Amerika.

................. Perhitungan tegangan dalam setiap tahapan pembebanan dilakukan dengan menggunakan persamaan-persamaan sebagai berikut : Pada saat transfer Serat atas ...31) Serat bawah .32) dimana Pi adalah gaya prategang awal..........(2. namun untuk semua tujuan praktis hal tersebut tidak diperlukan............60 fc’ apabila diperkenankan oleh standar ft = Tegangan tarik izin maksimum di beton sesudah semua kehilangan pada taraf beban kerja =6 (pada sistem satu arah nilai ini dapat diperbesar menjadi 12 taraf jika persyaratan defleksi jangka panjang dipenuhi) Maka tegangan serat serat ekstrim aktual di beton tidak dapat melebihi nilai-nilai yang dicantumkan di atas........ Universitas Sumatera Utara ............................fti = Tegangan tarik izin maksimum di beton segera setelah transfer dan sebelum terjadi kehilangan =3 (nilai ini dapat diperbesar menjadi 6 ditumpuan komponen struktur yang titumpu sederhana) fc = Tegangan tekan izin maksimum di beton sesudah kehilangan pada beban kerja = 0. Meskipun nilai yang lebih akurat yang deharusnya digunakan adalah komponen horizontal dari Pi..45 fc’ atau 0....(2..........

..(2..............35) ..................33) Serat bawah Tegangan Akhir pada Kondisi Beban Kerja Serat atas Serat bawah dimana : MT MD MSD ML Pi Pe = momen total (MD + MSD + ML) = momen akibat berat sendiri ...................Tegangan Efektif sesudah Kehilangan Serat atas ....................... seperti lantai = momen akibat beban hidup.....................36) = momen akibat beban mati tambahan.... cgc ct & cb = jarak dari pusat berat penampang (garis cgc) ke serat atas dan serat bawah r2 = kuadrat dari jari-jari girasi St & Sb = modulus penampang atas & modulus penampang bawah beton Universitas Sumatera Utara .. termasuk beban kejut dan gempa = prategang awal = prategang efektif sesudah kehilangan t menunjukkan serat atas dan b menunjukkan serat bawah e = eksentrisitas tendon dari pusat berat penampang beton......(2..............................................................(2...(2...........34) .......

........41) atau ftn = γ fti – (1 – γ) ..................(2..............................................................................................................................fc...............γ fci – (1 – γ) ..32 dapat dinyatakan dengan ∆ft = (1 ...................γ) ......... Eksentrisitas maksimum biasanya terjadi di penampang tengah bentang yang menentukan untuk kasus balok bertumpuan sederhana........(2..(2.................38) Jika tegangan di serat beton aktual sama dengan tegangan izin maksimum............II...fc ..39) .............................(2.............γ) ∆fb = (1 ............(2.......................................................................................... dari persamaan 2...........................43) atau fbn = ft ..........12.......................... maka perubahan tegangan ini sesudah kehilangan............................ Dengan mengasumsikan bahwa gaya prategang efektif adalah Pe = γPi .......... maka kehilangan prategang adalah Pi – Pe = (1 – γ) Pi ..b Balok dengan Eksentrisitas Tendon Bervariasi Balok diberi prategang dengan tendon harped dan draped............................................................42) Tegangan netto di serat bawah adalah fbn = ft – fci -∆ fb ...............................31 dan 2..............................40) Pada saat momen akibat beban mati tambahan MSD dan momen akibat beban hidup MSD telah bekerja..2.....(2. tegangannetto diserat atas adalah ftn = fti .........(2...37) dimana γ adalah rasiso prategang residual..............................(2...∆ft .44) Universitas Sumatera Utara .................

..48) adalah tegangan beton pada saat transfer pada level pusat berat (cgc) ........... PCI..................................... Dengan demikian.........49) II........(2..........c Selubung untuk Meletakkan Tendon Tegangan tendon di serat beton ekstrim pada kondisi beban kerja tidak dapat melebihi nilai izin maksimumnya..............................................2..........(2.(2......................................46) ...........47) penampang beton dan Pi = jadi.. yaitu selubung (envelove) yang didalamnya gaya prategang Universitas Sumatera Utara ..41/42 dan 2.... = fti (fti ...........fci) ......... zona yang membatasi di penampang beton perlu ditetapkan... atau CEB – FIB..........................(2.......................................................(2.............................Dari persamaan 2..............(2...12.............................. adalah ec = dan di tumpuan adalah ec = dimana ....................50) Ac .45) Eksentrisitas tendon prategang yang dibutuhkan di penampang kritis.............................................. AASHTO.......................... berdasarkan standar-standar seperti ACI.....................43/44 penampang yang telah dipilih harus mempunyai modulus penampang St ≥ dan Sb ≥ . seperti penmapang tengah bentang.................................

.......52) Dengan cara yang sama.......... Dengan demikian titk kern atas adalah kt = ........... titik kern ..........2... b.. Dengan demikian.... Jika gaya prategang bekerja di atas titik kern atas...................................53) Dari penentuan titk-titk atas dan bawah....12................... II.................d Selubung Eksentrisitas yang Membatasi Eksentrisitas tendon yang didesain di sepanjang bentang diharapkan sedemikian hingga tarik yang terjadi di serat ekstrim balok hanya terbatas atau tidak ada sama sekali di penampang yang menentukan dalam desain. karena eksentrisitas positif adalah ke arah bawah................ dari persamaan 2...................(2........................ Dari persamaan.........dapat bekrja tanpa menyebabkan terjadinya tarik di serat beton ekstrim......(2..........................didapatkan ft = 0 = ....51) Untuk bagian gaya prategang saja. tegangan tarik terjadi di serat ekstrim atas dari penampang beton..... didapat –e = .............(2................................. Jika tarik tidak Universitas Sumatera Utara .... sehingga e = bawah adalah kb = ....... Jika gaya prategang bekrja di bawah titik kern bawah.. jelaslah bahwa : a.. yang mana tanda negatif menunjukkan pengukuran ke arah bawah dari sumbu netral............40 jiak fb = 0... tegangan tarik terjadi di serat ekstrim bawah penampang beton...

... Jika MD adalah momen akibat beban mati dan MT adalah momen total akibat semua beban transversal.......46............... maka lengan dari kopel antara garis tekan pusat (garis C) dan pusat dari garis tendon pratengang (garis cgs) akibat MD dan MT masing-masing adalah amin dan amaks.........(2...................... Edward G......... Nawi) Universitas Sumatera Utara .. seperti terlihat pada gambar II....dikehendaki sama sekali di sepanjang bentang balok dengan tendon berbentuk draped..... lengan minimum dari kopel tendon adalah amin = ... (b) Bidang momen. maka eksentrisitasnya harus ditentukan di penampang-penampang berikut di sepanjang bentang....54) (a) MT MD (b) amax amin (c) kt kb Gambar II....... Selubung cgs bawah...... (c) Batas-batas selubung cgs (Sumber: Beton Prategang.46 Penentuan Selubung cgs (a) Lokasi satu tendon di balok.............

....... Dengan demikian eksentrisitas atas yang membatasi adalah et = (amaks ............................................................................................kt) ...................(2......... Dalam hal in.....55) Selubung cgs atas..... Apabila eksentrisitas tambahan eb’ dan et’ ditambahkan pada selubung garis cgs yang menghasilkan tegangan tarik terbatas di serat beton atas dan bawah..... lengan maksimum dari kopel tendon adalah amaks = ............................ maka tegangan tambahan di atas f(t) dan f(b) adalah f(t) = dan f(b) = ...........................................................(2................................................ sehingga mencegah terjadinya tegangan tarik di serat ekstrim atas..........................................57) Di dalam standar diperkenankan terjadi tegangan terbatas pada saat transfer dan pada kondisi beban kerja............ sehingga mencegah terjadinya tegangan tarik di serat ekstrim bawah.(2....(2................59) ................................... Dengan demikian eksentrisitas bawah yang membatasi adalah eb = (amin + kb) ............54) dan (2.(2...................58) Universitas Sumatera Utara ......................56) Persamaan ini mendefinidikan jarak minimum di bawah kern atas dimana garis cgs ditentukan sedemikian hingga garis C tidak terletak di atas garis kern atas...................... garis cgs diperkenankan terletak sedikit di luar dua batas selubung cgs yang didefenisikan dalam persamaan (2.Persamaan ini mendefinidikan jarak maksimum di bawah kern bawah dimana garis cgs ditentukan sedemikian hingga garis C tidak terletak di bawah garis kern bawah.................56).....

.......................... tarik tidak boleh terjadi amax e'b (a) Batas bawah. Nawi) Selubung yang memungkinkan terjadinya tarik terbatas ditunjukkan dalam gambar II.. tetapi tegangannya ada di dalam batas-batas izin......47...............57) adalah eb’ = dan et’ = ............47 Selubung yang Memungkinkan Terjadinya Tarik di Serat Beton Ekstrim (Sumber: Beton Prategang. tarik nol Gambar II. tarik nol e't Batas atas..............55) dan (2..dimana t dan b masing-masing menunjukkan serat atas dan bawah. Edward G.............. yang menunjukkan penampang yang tidak ekonomis.........60) Batas atas..... Universitas Sumatera Utara ..................... tarik tidak boleh terjadi amin Batas bawah........................ Dari persamaan (2........51) eksentrisitas tambhan yang akan ditambahkan pada persamaan (2. Perlu dicatat bahwa selubung atas terletak di luar penampang........61) ..(2. Perubahan eksentrisitas atau gaya prategang dapat memperbaiki desain.....................(2.........

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.