P. 1
Kepmen Pu 441 1998 Persyratan Teknis Bangunan Gedung

Kepmen Pu 441 1998 Persyratan Teknis Bangunan Gedung

|Views: 25|Likes:
Published by Petrus Janu

More info:

Published by: Petrus Janu on Apr 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/20/2013

pdf

text

original

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 441/KPTS/1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG MENTERI PEKERJAAN

UMUM,

Menimbang

:

a.

bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah di bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah, urusan penyelenggaraan bangunan gedung telah diserahkan kepada Daerah baik Daerah Tingkat I maupun Daerah Tingkat II; bahwa perkembangan penyelenggaraan bangunan gedung dewasa ini semakin kompleks sehingga perlu adanya pengaturan mengenai ketentuan teknis yang menyangkut peruntukan dan intensitas bangunan, arsitektur dan lingkungan, serta keandalan bangunan yang menjadi persyaratan pokok suatu bangunan gedung; bahwa sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987, kepada Menteri Pekerjaan Umum diberi wewenang untuk melakukan pembinaan teknis dan pengawasan teknis dalam penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah; bahwa sehubungan dengan pertimbangan pertimbangan tersebut diatas perlu mengatur persyaratan teknis bangunan gedung, dengan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah; Undang-undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun; Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Parumahan dan Permukiman; Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang; Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan di Bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah; Keputusan Presiden Rl Nomor 44 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Organisasi Departemen; Keputusan Presiden Rl Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Keputusan Rl Nomor 15 tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Departemen Sebagaimana Telah Tiga Puluh Kali Diubah Terakhir Dengan Keputusan Rl Nomor 23 Tahun 1994 Keputusan Presiden Rl Nomor 122/M Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabinet Reformasi Pembangunan;

b.

c.

d.

Mengingat

:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

8.

9.

Keputusan Menteri PU Nomor 211/KPTS/1994 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum.
MEMUTUSKAN :

Menetapkan

:

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG. BAB I KETENTUAN UMUM

TENTANG

Bagian Pertama Pengertian Pasal 1 Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada, diatas, atau di dalam tanah dan atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tampat manusia melakukan kegiatannya. 2. Penyelenggaraan bangunan gedung adalah proses kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan gedung 3. Daerah adalah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. 4. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kotamadya Daerah T'ngkat II. Bagian Kedua Maksud dan Tujuan Pasal 2 (1) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung dimaksudkan untuk mewujudkan bangunan gedung yang berkualitas sesuai dengan fungsinya. (2) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung bertujuan terselenggaranya fungsi bangunan gedung yang aman, sehat, nyaman, efisien, seimbang, serasi dan selaras dengan lingkungannya

BAB II PENGATURAN PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG

Bagian Pertama Persyaratan Teknis Pasal 3 (1) Persyaratan teknis bangunan gedung meliputi persyaratan mengenai : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. I. m. (2) Peruntukan dan Intensitas Bangunan. Arsitektur dan lingkungan. Struktur Bangunan Gedung. Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran. Sarana Jalan Masuk dan Keluar. Transportasi dalam Gedung. Pencahayaan Darurat, Tanda Arah Keluar, dan Sistem Peringatan Bahaya. Instalasi Listrik Penangkal Petir, dan Komunikasi dalam Gedung Instalasi Gas. Sanitasi dalam gedung. Ventilasi dan Pengkondisian Udara Pencahayaan. Kebisingan dan Getaran.

Rincian persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini tercantum pada lampiran Keputusan Menten ini yang merupakan satu kesatuan pengaturan dalam keputusan ini Setiap orang atau badan termasuk instansi Pemerintah dalam penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung wajib memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) Pasal ini. Pasal 4

(3)

Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Kedua Pengaturan Pelaksanaan di Daerah Pasal 5 (1) Untuk pedoman pelaksanaan penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah perlu dibuat Peraturan Daerah yang didasarkan pada ketentuan-ketentuan dalam Keputusan Menteri ini. Dalam hal Daerah belum mempunyai Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini maka terhadap penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah

(2)

diberlakukan ketentuan-ketentuan Persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. (3) Daerah yang telah mempunyai Peraturan Daerah tentang persyaratan teknis bangunan gedung sebelum Keputusan Menteri ini diterbitkan harus menyesuaikannya dengan ketentuan-ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. Pasal 6 Dalam melaksanakan pembinaan pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah melakukan peningkatan kemampuan aparat Pemerintah maupun masyarakat dalam memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 untuk terwujudnya tertib pembangunan bangunan gedung. Dalam melaksanakan pengendalian pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah wajib menggunakan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 sebagai landasan dalam mengeluarkan persetujuan atau perizinan yang diperlukan. Terhadap aparat Pemerintah Daerah yang bertugas dalam pengendalian pembangunan bangunan gedung yang melakukan pelanggaran ketentuan dalam Pasal 3 dikenakan sanksi administrasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 7 (1) Penyelenggaraan bangunan gedung yang melanggar ketentuan-ketentuan Pasal 3 dan Pasal 4 Keputusan Menteri ini dikenakan sanksi administrasi yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 5. Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dikenakan sesuai dengan tingkat pelanggaran dapat berupa: a. Peringatan tertulis b. Pembatasan kegiatan c. Penghentian sementara kegiatan sampai dilakukannya pemenuhan persyaratan teknis bangunan gedung. d. Pencabutan izin yang telah dikeluarkan untok menyelenggarakan pembangunan bangunan gedung. (3) Selain sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), di dalam Peraturan Daerah dapat diatur mengenai pengenaan denda dan tindakan Pembongkaran atas terjadinya pelanggaran terhadap ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung.

(1)

(2)

(3)

(2)

BAB III PEMB1NAAN DAN PENGAWASAN TEKNIS

Pasal 8 (1) Pembinaan dan Pengawasan Teknis untuk pelaksanaan ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 58/PRT/1991 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Teknis dan Pengawasan Teknis Bidang Pekerjaan Umum kepada Dinas Pekerjaan Umum. Pelaksanaan pembinaan teknis dan pengawasan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini didasarkan pada Rencana dan program yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Cipta Karya.
BAB IV KETENTUAN PERALIHAN

(2)

Pasal 9 Dengan berlakunya Keputusan Menteri inl, maka semua ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Keputusan Menteri ini masih tetap berlaku, sampai digantikan dengan yang baru.
BAB V KETENTUAN PENUTUP

Pasal 10 (1) (2) Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Keputusan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang bersangkutan untuk diketahui dan dilaksanakan.
DITETAPKAN Dl PADA TANGGAL : JAKARTA : 10 NOPEMBER 1998

MENTERI PEKERJAAN UMUM

RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 441/KPTS/1998 TANGGAL 10 NOPEMBER 1998

DAFTAR ISI
BAGIAN I KETENTUAN UMUM I. 1 I.2 PENGERTIAN 1. Umum 2. Teknis MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud 2. Tujuan

BAGIAN II PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II.1 PERUNTUKAN, FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Peruntukan Lokasi 2. Fungsi Bangunan 3. Klasifikasi Bangunan INTENSITAS BANGUNAN 1. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan 2. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB 3. Perhitungan KDB dan KLB GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. Garis Sempadan (muka) Bangunan 2. Garis Sempadan Samping dan Belakang Bangunan 3. Pemisah di Sepanjang Halaman Depan, Samping, dan Belakang Bangunan

II.2

II.3

BAGIAN III ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III.1 ARSITEK BANGUNAN 1. Tata Letak Bangunan 2. Bentuk Bangunan 3. Tata Ruang Dalam 4. Kelengkapan Bangunan RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1. Fungsi dan Persyaratan Ruang Tebuka Hijau Pekarangan 2. Ruang Sempadan Bangunan 3. Tapak Basement 4. Hijau Pada Bangunan 5. Tata Tanaman SIRKULASI, PERTANDAAN, DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 2. Pertandaan (Signage) 3. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan

III.2

III.3

Persyaratan Bahan PEMBEBANAN STRUKTUR ATAS 1. Ketentuan Pengelolaan Dampak Ligkungan 3. Prosedur dan Metoda IV. Keruntuhan Struktur DEMOLISI STUKTUR 1.2 . Keselamatan Struktur 2. Kontruksi Kayu 4. Kompartemensasi dan Pemisahan 5. Pengelolaan Daerah Bencana BAGIAN IV STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Kontruksi Bangunan 2. Dampak Penting 2. Kontruksi Baja 3.1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan 4. Pondasi Langsung 2. Kriteria Demolisi 2. Tipe Konstruksi Tahan Api 3.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1. Ketentuan UPL dan UKL 4.2 IV. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan 5. Pusat Pengendali Kebakaran V.4 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN 1. Pengendalian Asap Kebakaran 4.5 IV.3 IV. Persyaratan Struktur 2. Kontruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus 5. Pondasi Bawah KEANDALAN STRUKTUR 1.III. Sistem Pemadam Kebakaran 2.4 IV. Sistem Diteksi & Alarm Kebakaran 3. Proteksi Bukaan SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi STRUKTUR BAWAH 1.6 BAGIAN V PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. Ketahanan Api dan Stabilitas 2.

Jarak antara Pintu-pintu Keluar Alternatif 6. Pintu Ayun 20. Ruang Peralatan dan Ruang Motor Lift 14. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Ambang Pintu 16. Injakan dan Tanjakan Tangga 14. Dimensi/ukuran Pintu Keluar 7. Jumlah Orang Yang Ditampung KONTRUKSI JALAN KELUAR 1. Ramp Pejalan Kaki 11. Pengoperasian Gerendel Pintu 21.3 VI. Tangga dan Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Pemisahan Tanjakan dan Turunan Tangga 5. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Tehadap Kebakaran 8. Perlindungan pada Ruang di Bawah Tangga dan Ramp 9. Pesyaratan Kinerja KETENTUAN JALAN KELUAR 1. Lebar Tangga 10. Jarak Jalur Menuju Pintu Keluar 5. Ramp dan Balkon Akses Yang Terbuka 6. Penerapan 2. Ramp atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan 13. Kebutuhan Jalan Keluar 3. Atap sebagai Ruang Terbuka 13. Pegangan Rambat pada Tangga 18.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. Lobby Bebas Asap 7. Masuk dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 22. Bordes 15. Tangga. Balustrade 17. Tangga dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 3. Instalasi pada Pintu Keluar dan Jalan Lintasan 8.4 . Rambu pada Pintu AKSES BAGI PENYANDANG CACAT VI. Pintu 19. Fungsi 2. Keluar Melalui Pintu-pintu Keluar 11.BAGIAN VI SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 12. Tangga Luar Bangunan 9.2 VI. Persyaratan Keamanan 2. Pintu Keluar Horisontal 12. Lintasan Melalui Tangga/ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 10.

2 BAGIAN VIII PENCAHAYAAN DARURAT. Instalansi Tata Suara IX.BAGIAN VII TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII.1 LIF 1. Beban Listrik 4. Perencanaan Penangkal Petir 2. Peringatan Terhadap Pengguna Lif pada Saat Terjadi Kebakaran 4.3 .3 1SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT TANDA ARAH KELUAR SISTEM PERINGATAN BAHAYA BAGIAN IX INSTALANSI LISTRIK. Pengujian dan Pemeliharaan TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN VII. Pemeriksaan. Instalasi Listrik 9. Pemerikasaan dan Pengujian 7. SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. Pemeriksaan dan Pengujian 4. Kapasitas Lif 2. Jaringan Distribusi Listrik 3. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX.2 IX. Perencanaan Instalansi Listrik 2. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung 2.1 INSTALANSI LISTRIK 1. Transformator Distribusi 6. Instalansi Telepon 3. Sumber Daya Listrik 5. Mesin Lif dan Ruang Mesin Lif 8. Pemeliharaan INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 1. Saf Lif 7. Instalansi Penangkal Petir 3. Lif Kebakaran 3.1 VIII.2 VIII. Sangkar Lif 6. Pemeliharaan INSTALANSI PENANGKAL PETIR 1. PENANGKAL PETIR. Lif untuk Rumah Sakit 5. TANDA ARAH KELUAR.

BAGIAN X INSTALANSI GAS X. Sistem Penyediaan Air Bersih 3. Konservaasi Energi 3. Kebutuhan Pengkondisian Udara 2. Jenis Gas 2.2 BAGIAN XIII PENCAHAYAAN XIII. Jaringan Distribusi Gas Kota 3. Jenis Gas 2. Penempatan pada Bangunan 2. Ventilasi Buatan PENGKONDISIAN UDARA 1. BAGIAN XII VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. Pemeriksaan dan Pengujian X. Jaringan Distribusi Gas Medik 3. 1 SISTEM PLAMBING 1.1 INSTALANSI GAS PEMBAKARAN 1. Sampah Berbahaya XI.2 BAGIAN XI SANITASI DALAM GEDUNG XI.1 XIII.2 XIII. Pemeriksaan dan Pengujian INSTALANSI GAS MEDIK 1. Alat Plambing 5. Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan XII.3 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN PENCAHAYAAN BUATAN PENCAHAYAAN ALAMI . Pompa Air Bersih PERSAMPAHAN 1. Perencanaan Sistem Plumbing 2. Sistem Pembuangan Air Kotor 4. Kebutuhan Ventilasi 2. Tangki Penyediaan Air Bersih 6. Ventilasi Alami 3. Pewadahan 3.1 VENTILASI 1.

2 KEBISINGAN GETARAN BAGIAN XV PENUTUP LAMPIRAN .1 XIV.XIII.4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN BAGIAN XIV KEBISINGAN DAN GETARAN XIV.

perbelanjaan. ii. Daerah adalah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II atau Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Teknis a. pendidikan. di atas. b. e. lorong ramp. berusaha. b. c. mengadakan pertemuan. tidak termasuk lorong tangga. seluruh atau sebagian ruangnya tertutup pada bagian atasnya oleh lantai atau atap. Umum Dalam pedoman teknis ini yang dimaksud dengan: a. termasuk struktur atap kaca. olah raga. d. d.I. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada. dan melaksanakan kegiatan yang bersifat publik lainnya. termasuk setiap ruang yang berbatasan/ berdekatan tetapi tidak terpisahkan oleh pembatas. Air kotor adalah semua air yang bercampur dengan kotoran-kotoran dapur. pembinaan. 2. rekreasi. seperti keagamaan. iii. atau ruang dalam shaft. dsb. dan pengendalian pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung yang berada di Daerah yang bersangkutan. di mana: i. Kepala Daerah adalah Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. c. atau Gubernur untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Pengawas/Penilik Bangunan adalah pejabat atau tenaga teknis profesional yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah atau ketentuan yang berlaku untuk bertugas mengawasi/menilik bangunan gedung. atau di daiam tanah dan/atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tempat manusia untuk melakukan kegiatan bertempat tinggal. dan kegiatan lainnya. KETENTUAN UMUM 1. bersosial-budaya. Atrium adalah suatu ruang dalam suatu bangunan yang menghubungkan 2 atau lebih tingka/lantai. Bangunan umum adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat manusia berkumpul. kamar mandi. Dinas Bangunan adalah salah satu Dinas Teknis di Daerah yang diantaranya mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pengaturan. . PENGERTIAN 1. kakus dan peralatan-peralatan pembuangan lainnya. Bangunan turutan adalah bangunan sebagai tambahan atau pengembangan dari bangunan yang sudah ada.

Rencana saluran. Baku tingkat Kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dituang kelingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. . i. e. g. g. Getaran kejut adalah getaran yang berlangsung secara tiba-tiba dan sesaat. Batas tepi sungai/pantai. f. Demolisi adalah kegiatan merobohkan atau membongkar bangunan secara total. Daerah Hijau Bangunan. h. d. yang selanjutnya disebut DHB adalah ruang terbuka pada bangunan yang dimanfaatkan untuk penghijauan. jaringan tegangan tinggi listrik. jaringan pipa gas dan sebagainya. Getaran adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. Garis sempadan loteng adaiah garis yang terhitung dan tepi jalan berbatasan yang tidak diperkenankan didirikan tingkat bangunan. Bangunan Induk adalah bangunan yang mempunyai fungsi dominan dalam suatu persil. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia. Dinding Luar adalah suatu dinding bangunan terluar yang bukan merupakan dinding pembatas. h. k. Antar massa bangunan lainnya. Batas lahan yang dikuasai. Baku Tingkat Getaran mekanik dan getaran kejut adalah batas maksimal tingkat getaran mekanik yang diperbolehkan dan usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan. j. l. c. Garis sempadan pagar adalah garis bagian luar dari pagar persil atau pagar pekarangan.f. atau iv. a. Dinding Luar Non-struktural adalah suatu dinding luar yang tidak memikul beban dan bukan merupakan dinding panel. iii. ii. b. Dinding Pembatas adalah dinding yang menjadi pembatas antara bangunan. Garis Sempadan Bangunan merupakan jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap: i. Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan manusia.

v.i. o. mengubah atau membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu bangunan. Jaringan saluran umum kota adalah jaringan sarana dan prasarana saluran umum perkotaan. Kamar adalah ruangan yang tertutup seluruhnya atau sebagian. program tata bangunan dan lingkungan. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah pedoman rencana teknik. Melakukan pekerjaan tanah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan yang dimaksud pada butir 2. r.w. Lubang Atrium adalah ruang dari suatu atrium yang dikelilingi oleh batas pinggir bukaan lantai atau oleh batas pinggir lantai dan dinding luar. s. n. Jarak antara bangunan adalah jarak terkecil antara bangunan yang diukur antara permukaan-permukaan denah bangunan.m. untuk tempat kegiatan manusia. ii. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka prosentase perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan yang diperuntukkan bagi pertamanan/ penghijauan dengan luas tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Koefisien Tapak Basement (KTB) adalah angka prosentasi perbandingan luas tapak basement dengan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. u. selain kamar untuk MCK dan dapur. Pekarangan adalah bagian yang kosong dari suatu persil/ kaveling/blok peruntukan bangunan. . Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. Mendirikan. serta pedoman pengendalian pelaksanaan yang umumnya meliputi suatu lingkungan/kawasan (urban design and development guidelines). Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah koefisien perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. x. Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. memperluas. q. Mendirikan Bangunan i. y. Jaringan persil adalah jaringan sanitasi dan jaringan drainasi dalam persil. seperti jaringan sanitasi dan jaringan drainasi. p. memperbaiki. w. t.

Rumah adalah bangunan yang terdiri atas ruangan atau gabungan ruangan yang borhubungan satu sama lain. 2.2 dalam ukuran waktu satuan menit. serta keandalan bangunan. ii. atau sejenisnya. yaitu meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan. yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. bb. aa. Ruang persiapan adalah ruang yang berhubungan dengan. peralatan. I. Tujuan Pedoman Teknis ini bertujuan untuk dapat terwujudnya bangunan gedung sesuai fungsi yang ditetapkan dan yang memenuhi persyaratan teknis. Tinghat Ketahanan Api (TKA). ruang ganti. dd. Sambungan jaringan adalah penghubung antara sesuatu jaringan persil dengan jaringan saluran umum kota. menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. Tinggi bangunan adalah jarak antara garis potong permukaan atap dengan muka bangunan bagian luar dan permukaan lantai denah bawah. termasuk dalam rangka proses perijinan pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan. Maksud Persyaratan Teknis Bangunan Gedung ini dimaksudkan sebagai acuan persyaratan teknis yang diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan bangunan gedung di Indonesia. adalah tingkat ketahanan api yang dipersyaratakan pada bagian atau komponen bangunan sesuai ketentuan butir V. serta pemeriksaan kelaikan fungsi/keandalan bangunan gedung. Tujuan. integritas. dan berbatasan ke suatu panggung pada bangunan klas 9b yang dipergunakan untuk barang-barang dekorasi panggung. Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang akan dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat dB. arsitektur dan lingkungan.1. . Adapun tujuan dari pengaturan per-bagian adalah: a. dengan kriteria-kriteria berurut yaitu aspek ketahanan struktural. Peruntukan dan Intensitas: i. ee. dan insulasi. cc. menjamin bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di Daerah yang bersangkutan.z.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1. Contoh: TKA 90/-/60 berarti hanya terdapat persyaratan TKA untuk ketahanan struktural 90 menit dan insulasi 60 menit.

iii. dan budaya daerah. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia pada saat terjadi kebakaran. Strukfur Bangunan: i. c. sehingga seimbang. (3) dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang layak. Ketahanan terhadap Kebakaran: i. ketentuan wujud bangunan. Sarana Jalan Masuk dan Keluar: i. ii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa sehinga mampu secara struktural stabil selama kebakaran. d. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia. ii. menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. serasi dan selaras dengan lingkungannya. menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari cedera atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat . ii. menjamin keselamatan pengguna. iii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan. iv. b. menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan. ii. Arsitektur dan Lingkungan: i.iii. aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamnya. menjamin perlindungan properti lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh kegagalan struktur. e. dan lingkungan. (2) cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. masyarakat. menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan oleh perilaku struktur. sehingga: (1) cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman.

ii. Instalasi Listrik. ii. menjamin terpasangnya instalasi gas secara aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam bangunan gedung apabila terjadi keadaan darurat. f. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan secara baik.iii. menjamin tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. Tanda arah Keluar. Instalasi Gas: i. menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman. ii. dan nyaman di dalam bangunan gedung. Penangkal Petir dan Komunikasi: i. Transportasl dalam Gedung: i. g. j. kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan. i. apabila terjadi keadaan darurat. menjamin tersedianya alat transportasi yang layak. menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat. menjamin tersedianya aksesibiltas bagi penyandang cacat khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. aman. menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari bahaya akibat petir. khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. menjamin terpenuhinya pemakaian gas yang aman dan cukup. ii. . iii menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik. Pencahayean Darurat. Sanitasi dalam Bangunan: i. iii. menjamin terwujudnya kebersihan. h. menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. ii. iii. menjamin tersedianya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. dan Sistem Peringatan Bahaya: i.

menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau mencegah perusakan lingkungan. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik. menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran yang tidak diinginkan. ii.k Ventilasi dan Pengkondisian Udara: i. ii. l. ii. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik. menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup. m. menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup. Kebisingan dan Getaran: i. . Pencahayaan: i.

d. Apabila persetujuan yang telah diberikan terdapat ketidak sesuaian dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan kemudian. iii. kaidah perencanaan kota dan penataan bangunan ii. ii. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Daerah. FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Peraturan bangunan setempat dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). sedangkan peruntukan penunjangnya sebagaimana ditetapkan di dalam ketentuan tata bangunan yang ada di Daerah setempat atau berdasarkan pertimbangan teknis Dinas Bangunan. maka perlu c.II. Kepala Daerah segera menyusun dan menetapkan RRTR. Bangunan gedung harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam ketentuan tata ruang dan tata bangunan dari lokasi yang bersangkutan. Peruntukan Lokasi a. peraturan bangunan setempat dan RTBL berdasarkan rencana tata ruang yang lebih makro. g. maka Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan gedung dengan pertimbangan: i. e. PERUNTUKAN. f. Persetujuan membangun tersebut berstfat sementara sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan tata ruang yang lebih makro. Bagi Daerah yang belum memiliki RTRW. Keterangan atau ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir d meliputi keterangan tentang peruntukan lokasi dan intensitas bangunan. ketinggian bangunan. Dalam hal rencana-rencana tata ruang dan tata bangunan sebagaimana dimaksud pada butir b belum ada. dan garis sempadan bangunan. ataupun peraturan bangunan setempat dan RTBL. Rencana Rinci Tata Ruang (RRTR). PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. Ketentuan tata ruang dan tata bangunan ditetapkan melalui: i. RRTR.I. Peruntukan lokasi sebagaimana dimaksud dalam butir a. iii. dengan tetap mengadakan peninjauan seperlunya terhadap rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada di Daerah. Kepala Daerah dapat memberikan pertimbangan atas ketentuan yang diperlukan. . Setiap pihak yang memerlukan keterangan atau ketentuan tata ruang dan tata bangunan dapat memperolehnya secara terbuka melalui Dinas Bangunan. merupakan peruntukan utama. b. seperti kepadatan bangunan.

. Apabila di kemudian hari terdapat penetapan RTRW Daerah yang bersangkutan. i.diadakan penyesuaian dengan resiko ditanggung oleh pemohon/pemilik bangunan. Bagi Daerah yang belum memilih RTRW Daerah. h. memiliki sarana khusus untuk kepentingan keamanan dan keselamatan bagi pengguna bangunan. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah dan atau diatas tanah. tidak mengganggu keseimbangan lingkungan. v. maka bangunan tersebut harus disesuaikan dengan rencana tata ruang yang ditetapkan. saluran. iii. maupun barang. atau sarana lain perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. tidak menimbulkan perubahan atau arus air yang dapat merusak lingkungan. Pembangunan bangunan gedung dibawah atau diatas air perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. Pembangunan bangunan gedung diatas jalan umum. tidak untuk fungsi hunian atau tempat tinggal. dan fungsi indung kawasan. Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan pada daerah tersebut untuk jangka waktu sementara. ii. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas kendaraan. orang. Pembangunan bangunan gedung dibawah tanah yang melintasi sarana dan prasarana jaringan kota perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. iii. iv. tetap memperhatikan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. iv. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah tanah. iii. ii. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. v. penghawaan dan pencahayaan bangunan telah memenuhi persyaratan kesehatan sesuai fungsi bangunan. iv. j. ii.

maupun dari segi keserasian bangunan terhadap lingkungannya. keselamatan. Fungsi dan klasifikasi bangunan merupakan acuan untuk persyaratan teknis bangunan gedung. iii. baik ditinjau dari segi intensitas banguanan arsitektur dan lingkungan. kesehatan. b. fungsi sosial dan budaya. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan fungsi utama bangunan. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. iii. iv. k. e. letak bangunan tidak boleh melebihi atau melampaui garis sudut 45° (empat puluh lima derajat) diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. dan sejenisnya.iv. letak bangunan minimal 10 (sepuluh) meter diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. tidak menimbulkan pencemaran. Bangunan dengan fungsi hunian meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama hunian yang merupakan: i. ii. keamanan. dan fungsi khusus. Bangunan dengan fungsi usaha meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk: i. d. v. v. 2. Pembangunan bangunan gedung pada daerah hantaran udara (transmisi tegangan tinggi perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai perikut: i. kenyamanan. ii. iv. perkantoran niaga. Fungsi bangunan dapat dikelompokkan dalam fungsi hunian. c. dan sanitasi yang memadai. Rumah tinggal tunggal Rumah tinggal deret Rumah tinggal susun Rumah tinggal vila Rumah tinggal asrama f. kenyamanan. . setelah mendapat pertimbangan teknis dari para ahli terkait. telah mempertimbangkan faktor keamaan. Bangunan perkantoran: perkantoran pemerintah. Penetapan fungsi dan klasifikasi bangunan yang bersifat sementara harus dengan mempertimbangkan tingkat permanensi. pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran. Fungsi Bangunan a. kesehatan dan aksesibilitas bagi pengguna bangunan. keamanan. fungsi usaha.

atau tingkat resiko bahaya tinggi : seperti bangunan kemiliteran. 3. sekolah tinggi/universitas. gedung kesenian. g. Dalam suatu persil. rumah sakit klas A. Bangunan Terminal: stasiun kereta. sekolah lanjutan. iv. kelenteng. penginapan. poliklinik. pelabuhan laut. atau perubahan yang diperlukan pada bangunan. Bangunan pendidikan: sekolah taman kanak-kanak. terminal udara. sesuai dengan persyatatan pokok yang diatur dalam Pedoman Teknis ini. vii Bangunan Pariwisata: tempat rekreasi. halte bus. industri besar/berat. dan sejenisnya. dan sejenisnya. dan sejenisnya. dan sejenisnya. meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk : i. selain terdiri dari ruang-ruang dengan fungsi utama. Bangunan peribadatan: mesjid. vi. Klas 1 : Bangunan Hunian Biasa Adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan: . mal. Klasifikasi Bangunan Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan. dan sejenisnya. pura. Bangunan perdagangan: pasar. dan vihara. a. sekolah dasar. Setiap bangunan gedung. juga dilengkapi dengan ruang fungsi penunjang. pusat perbelanjaan. v. dan sejenisnya. terminal bus. sepanjang sesuai dengan peruntukan lokasinya dan standar perencanaan lingkungan yang berlaku. atau blok peruntukan dimungkinkan adanya fungsi campuran (mixed use). motel. pertokoan. Bangunan kebudayaan : museum. keveling. iii. Bangunan pelayanan kesehatan: puskesmas. bioskop. Bangunan dengan fungsi khusus meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi. industri sedang. dan sejenisnya h. B. gedung tempat parkir. j.ii. i. gereja. ii. Bangunan dengan fungsi umum. pelaksanaan. Bangunan Perhotelan/Penginapan: hotel. rumah bersalin. serta dilengkapi pula dengan instalasi dan kelengkapan bangunan yang dapat menjamin terselenggaranya fungsi bangunan. Bangunan Penyimpanan: gudang. iv. & C. sosial dan budaya. iii. hostel. Bangunan Industri : industri kecil. bangunan reaktor.

i. pengurusan administrasi. atau panti untuk orang berumur. atau ii. Klas 1a : bangunan hunian tunggal yang berupa: (1) satu rumah tunggal. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya. atau (2) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. atau ii. unit town house . tempat cuci umum. atau iii. c. iv. atau bengkel. 7. . rumah tamu. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. 6. villa. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. 7. rumah taman. tempat potong rambut /salon. diluar bangunan klas 6. cacat. Klas 1b : rumah asrama/kost. ruang makan malam. v. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. f. ruang pamer. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. kafe. Klas 5: Bangunan kantor Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. hostel. rumah tamu. Klas 6: Bangunan Perdagangan Adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. atau 9. 8.. Klas 4 : Bangunan Hunian Campuran Adalah tempat tinggal yang berada didalam suatu bangunan klas 5. ruang penjualan. pasar. termasuk i. losmen. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. atau iv. termasuk rumah deret. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. atau anak-anak. ii iii. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. d. b. rumah asrama. ruang makan. 8 atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut e. bar. restoran. termasuk: i. Klas 2: Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. Klas 3: Bangunan hunian diluar bangunan klas 1 atau 2. atau usaha komersial.

Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. bangunan peribadatan.g. hall. Klas 10a: bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. Klas 9b: bangunan pertemuan. perakitan. Bangunan-bangunan yang tidak diklasifikasikan khusus Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi bangunan 1 s/d 10 tersebut. perubahan. termasuk: i. Klas 10b: struktur yang berupa pagar. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. tetapi tidak temmasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. carport. ii. dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan bangunan utamanya. i. bangunan budaya atau sejenis. gudang. atau sejenisnya. m. ii. Klas 10 : Adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian: i. kolam renang. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. Klas 9: Bangunan Umum Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. finishing. tempat parkir umum. j. dan: . temmasuk bengkel kerja. atau sejenisnya. pengepakan. yaitu: i. dalam Pedoman Teknis dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai dengan peruntukannya l. Klas 8 : Bangunan Laboratorium/lndustri/Pabrik Adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. h. atau ii. tonggak. antena. Bangunan yang penggunaannya insidentil Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya. k. Klas 7: Bangunan Penyimpanan/Gudang Adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. perbaikan. Klasifikasi jamak Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas.

10a dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah. 9b.i. seperti kawasan wisata. 1b. dan renggang.2 INTENSITAS BANGUNAN 1. Bangunan gedung yang didirikan harus memenuhi persyaratan kepadatan dan ketinggian bangunan gedung berdasarkan rencana tata ruang wilayah Daerah yang bersangkutan. iii. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan a. meliputi ketentuan tentang Koefisien Dasar Bangunan (KDB). klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi bangunan utamanya. dan peraturan bangunan setempat. rencana tata bangunan dan lingkungan yang ditetapkan. dan rendah. . pelestarian dan lain lain. ketinggian bangunan dan ketentuan tata bangunan lainnya dengan tetap memperhatikan keserasian dan kelestarian lingkungan. Untuk suatu kawasan atau lingkungan tertentu. ruang mesin. c. sedang. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud pada butir c tidak diperkenankan mengganggu lalu-lintas udara. ruang boiler atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak II. kemampuannya dalam menjamin kesehatan dan kenyamanan pengguna serta masyarakat pada umumnya. Ruang-ruang pengolah. 9a. meliputi ketentuan tentang Jumlah Lantai Bangunan (JLB). d. e. dalam mencerminkan keserasian bangunan dengan b. Klas-klas 1a. f. dengan pertimbangan kepentingan umum dan dengan persetujuan Kepala Daerah dapat diberikan kelonggaran atau pembatasan terhadap ketentuan kepadatan. sedang. kemampuannya lingkungan. ii. iii. kemampuannya dalam menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan optimalnya intensitas pembangunan. ii. dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) yang dibedakan dalam tingkatan KLB tinggi. bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan. dan b' laboratorium. Persyaratan kinerja dari ketentuan kepadatan dan ketinggian bangunan ditentukan oleh: i. ruang mesin lift. yang dibedakan dalam tingkatan KDB padat. Kepadatan bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a.

dengan tetap menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan keserasian lingkungan. JLB/KLB untuk pembangunan bangunan gedung diatas fasilitas umum adalah setelah mempertimbangkan keserasian. v. ditetapkan dengan mempertimbangkan perkembangan kota. iii. Penetapan besamya KDB. daya dukung lahan/lingkungan. maka lebar dan panjang persil tersebut diukur dari titik pertemuan garis perpanjangan pada sudut tersebut dan luas persil diperhitungkan berdasarkan lebar dan panjangnya. Apabila KDB dan JLB/KLB belum ditetapkan dalam rencana tata ruang. 3.1 butir b dan c. apabila perpetakan tidak ditetapkan. peraturan bangunan setempat. dan dengan memperhitungkan keadaan lapangan. dimungkinkan adanya pemberian dan penerimaan besaran KDB/KLB diantara perpetakan yang berdekatan. untuk persil-persil sudut bilamana sudut persil tersebut dilengkungkan atau disikukan. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. setiap bangunan yang didirikan harus sesuai dengan rencana perpetakan yang telah diatur di dalam rencana tata ruang. daya dukung lahan/ lingkungan. Penetapan besarnya kepadatan dan ketinggian bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam II. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB a. Kepala Daerah dapat menetapkan rencana perpetakan dalam suatu kawasan/lingkungan dengan persyaratan: i. maka Kepala Daerah dapat menetapkan berdasarkan berbagai pertimbangan dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. Ketentuan besarnya KDB dan JLB/KLB dapat diperbanui sejalan dengan pertimbangan perkembangan kota. b. keseimbangan dan persyaratan teknis serta mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. d. c. kebijaksanaan intensitas pembangunan. kebijaksanasn intensitas pembangunan. Dengan pertimbangan kepentingan umum dan ketertiban pembangunan. Dimungkinkan adanya kompensasi berupa penambahan besarnya KDB JLB/KLB bagi perpetakan tanah yang memberikan sebagian luas tanahnya untuk kepentingan umum. iv. keserasian dan keamanan lingkungan serta memenuhi persyaratan teknis yang telah ditetapkan. e. f. penggabungan atau pemecahan perpetakan dimungkinkan dengan ketentuan KDB dan KLB tidak dilampaui. dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. maka KDB dan KLB diperhitungkan berdasarkan luas tanah di belakang garis sempadan jalan (GSJ) yang dimiliki.2. untuk memudahkan lalu lintas. ii. rencana tata bangunan dan lingkungan.2. Perhitungan KDB dan KLB Perhitungan KDB maupun KLB ditentukan dengan pertimbangan sebagai berikut: .

j. b. I. f.a. rencana tata bangunan dan lingkungan. Garis Sempadan Bangunan ditetapkan dalam rencana tata ruang. luas lantai ruangan beratap yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding yang tingginya lebih dari 1. serta peraturan bangunan setempat. Batasan perhitungan luas ruang bawah tanah (basement) ditetapkan Kepala Daerah dengan pertimbangan keamanan. perhitungan KDB dan KLB adalah dihitung terhadap total seluruh lantai dasar bangunan. perhitungan luas lantai bangunan adalah jumlah luas lantai yang diperhitungkan sampai batas dinding terluar. h. e. teras tidak beratap yang mempunyai tinggi dinding tidak lebih dari 1. l. d. asal tidak melebihi 50 % dari KLB yang ditetapkan. Untuk pembangunan yang berskala kawasan (superblock). Garis Sempadan (muka) Bangunan a. luas lantai ruangan beratap yang bersifat terbuka atau yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding tidak lebih dari 1. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 m. Mezanine yang luasnya melebihi 50 % dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. overstek atap yang melebihi lebar 1. luas tapak yang diperhitungkan adalah yang dibelakang GSJ. i. c.50 m maka luas mendatar kelebihannya tersebut dianggap sebagai luas lantai denah.20 m di atas lantai teras tidak diperhitungkan sebagai luas lantai. luas lantai bangunan yang diperhitungkan untuk parkir tidak diperhitungkan dalam perhitungan KLB. keselamatan. . dan total keseluruhan luas lantai bangunan dalam kawasan tersebut tehadap total keseluruhan luas kawasan.20 m diatas lantai ruangan dihitung 50 %.20 m di atas lantai ruangan tersebut dihiitung penuh 100 %. selama tidak melebihi 10 % dari luas denah yang diperhitungkan sesuai dengan KDB yang ditetapkan. k. maka ketinggian bangunan tersebut dianggap sebagai dua lantai. kesehatan. selebihnya diperhitungkan 50 % terhadap KLB. dan pendapat teknis para ahli terkait. ramp dan tangga terbuka dihitung 50 %.3 GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. g. Dalam perhitungan KDB dan KLB. selama tidak melebihi l0% dari luas lantai dasar yang diperkenankan. Dalam perhitungan ketinggian bangunan.

i Ketentuan besarnya GSB dapat diperbarui dengan pertimbangan perkembangan kota. kesehatan. Kepala Daerah dengan pertimbangan keselamatan. f. danau. maupun pertimbangan lain dengan mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. c. Daerah berwenang untuk memberikan pembebasan dari ketentuan dalam butir g. garis sempadan muka bangunan. garis sempadan menara. garis sempadan loteng. maka Kepala Daerah menetapkan besarnya garis sempadan tersebut dengan setelah mempertimbangkan keamanan kesehatan dan kenyamanan. tersebut belum ditetapkan. Dalam hal garis sempadan pagar dan garis sempadan muka bangunan berimpit (GSB sama dengan nol). Garis Sempadan Bangunan yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam butir a. g. yang diatur di dalam rencana tata ruang. keserasian dengan lingkungan. juga menetapkan garis sempadan samping kiri dan kanan. . Sepanjang tidak ada jarak bebas samping maupun belakang bangunan yang ditetapkan. Daerah menentukan garis-garis sempadan pagar. Garis sempadan samping dan belakang bangunan a. Apabila Garis Sempadan Bangunan sebagaimana dimaksud pada butir a. maka bagian muka bangunan harus ditempatkan pada garis tersebut. sungai. tidak boleh dilanggar. kesehatan dan kenyamanan. garis sempadan podium. rencana tata bangunan dan lingkungan. yang ditetapkan pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. Pada suatu kawasan/lingkungan yang diperkenankan adanya beberapa klas bangunan dan di dalam kawasan peruntukan campuran. kepentingan umum. kenyamanan. Dalam mendirikan atau memperbarui seluruhnya atau sebagian dari suatu bangunan. Penetapan Garis Sempadan Bangunan didasarkan pada pertimbangan keamanan. untuk tiap-tiap klas bangunan dapat ditetapkan garis-garis sempadannya masing-masing. serta belakang bangunan terhadap batas persil. jaringan umum dan lapangan umum. d. 2. h. maka Kepala Daerah dapat menetapkan GSB yang bersifat sementara untuk lokasi tersebut pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. dan keserasian dengan lingkungan serta ketinggian bangunan.b. dan peraturan bangunan setempat. e. sepanjang penempatan bangunan tidak mengganggu jalan dan penataan bangunan sekitarnya. begitu pula garis-garis sempadan untuk pantai. b.

Pada daerah intensitas bangunan padat/rapat. maka jarak antara dinding tersebut minimal satu kali jarak bebas yang ditetapkan. ii. disyaratkan untuk membuat dinding batas tersendiri disamping dinding batas terdahulu. dan pada setiap penambahan lantai/tingkat bangunan. Pada dinding batas pekarangan tidak boleh dibuat bukaan dalam bentuk apapun. iv. struktur dan pondasi bangunan terluar harus berjarak sekurang-kurangnya 10 cm kearah dalam dari batas pekarangan.c. maka Kepala Daerah dapat menetapkan syarat-syarat lebih lanjut mengenai jarakjarak yang harus dipatuhi. Untuk bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan bahanbahan/benda-benda yang mudah terbakar dan atau bahan berbahaya. ii. maka garis sempadan samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. jarak bebas di atasnya ditambah 0. diluar yang diatur dalam butir a. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. d. f. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang bukaan yang saling berhadapan. Pada daerah intensitas bangunan rendah/renggang. iii. . sisi bangunan yang didirikan harus mempunyai jarak bebas yang tidak dibangun pada kedua sisi samping kiri dan kanan serta bagian belakang yang berbatasan dengan pekarangan. maka jarak bebas samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. jarak bebas samping dan jarak bebas belakang ditetapkan minimum 4 m pada lantai dasar. pada bangunan rumah tinggal rapat tidak terdapat jarak bebas samping. maka jarak antara dinding atau bidang tersebut minimal dua kali jarak bebas yang ditetapkan. sedangkan jarak bebas belakang ditentukan minimal setengah dari besarnya garis sempadan muka bangunan. e. dan sedangkan untuk bangunan gudang serta industri dapat diatur tersendiri. ii.5 m. untuk perbaikan atau perombakan bangunan yang semula menggunakan bangunan dinding batas bersama dengan bangunan di sebelahnya. dalam hal salah satu dinding yang berhadapan merupakan dinding tembok tertutup dan yang lain merupakan bidang terbuka dan atau berlubang. bidang dinding terluar tidak boleh melampaui batas pekarangan. g Jarak bebas antara dua bangunan dalam suatu tapak diatur sebagai berikut: i.50 m dari jarak bebas lantai di bawahnya sampai mencapai jarak bebas terjauh 12.

k. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang tertutup yang saling berhadapan. serta keserasian lingkungan. i. dengan bagian bawahnya dapat tidak tembus pandang maksimal setinggi 1 m diatas permukaan tanah pekarangan. kecuali jika jalur-jalur jaringan umum kota direncanakan sebagai jalur jalan belakang untuk umum . Kepala Daerah berwenang untuk menetapkan syarat-syarat lebih lanjut yang berkaitan dengan desain dan spesifikasi teknis pemisah di sepanjang halaman depan. dengan setelah mempertimbangkan hal teknis terkait. Pada pemagaran ini tidak boleh diadakan pintu-pintu masuk. 3. f.iii. d. e. b.50 m di atas permukaan tanah. Pagar sebagaimana dimaksud pada butir e harus tembus pandang. dan belakang bangunan. samping. Dalam hal pemisah berbentuk pagar. Antara halaman belakang dan jalur-jalur jaringan umum kota harus diadakan pemagaran. dan belakang bangunan a. dengan memperhatikan keamanan. Pemisah disepanjang halaman depan. atau ditetapkan lebih rendah setelah mempertimbangkan kenyamanan dan kesehatan lingkungan. samping. Kepala Daerah dapat menetapkan lain terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir e dan f. Penggunaan kawat berduri sebagai pemisah disepanjang jalan-jalan umum tidak diperkenankan. maka jarak dinding terluar minimal setengah kali jarak bebas yang ditetapkan. kenyamanan. Kepala Daerah dapat menerapkan desain standar pemisah halaman yang dimaksudkan dalam butir a. Tinggi pagar batas pekarangan sepanjang pekarangan samping dan belakang untuk bangunan renggang maksimal 3 m di atas permukaan tanah pekarangan. Halaman muka dari suatu bangunan harus dipisahkan dari jalan menurut cara yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. c. Dalam hal yang khusus Kepala Daerah dapat memberikan pembebasan dari ketentuan-ketentuan dalam butir a dan b. Kepala Daerah menetapkan ketinggian maksimum pemisah halaman muka. maka tinggi pagar pada GSJ dan antara GSJ dengan GSB pada bangunan rumah tinggal maksimal 1. Untuk sepanjang jalan atau kawasan tertentu. g h Untuk bangunan-bangunan tertentu. dan untuk bangunan bukan rumah tinggal termasuk untuk bangunan industri maksimal 2 m di atas permukaan tanah pekarangan. dan apabila pagar tersebut merupakan dinding bangunan rumah tinggal bertingkat tembok maksimal 7 m dari permukaan tanah pekarangan. . j.

keserasian lingkungan. Kepala Daerah dapat menetapkan tanpa adanya pagar pemisah halaman depan. dan penataan bangunan dan lingkungan yang diharapkan.l. . dengan pertimbangan kepentingan kenyamanan kemudahan hubungan (aksesibilitas). samping maupun belakang bangunan pada ruas-ruas jalan atau kawasan tertentu.

iii. pemasangan nama proyek dan sejenisnya dengan memperhatikan keamanan. . perlu ditetapkan penampang-penampang (profil) bangunan untuk memperoleh pemandangan jalan yang memenuhi syarat keindahan dan keserasian. Ketentuan Umum i. (2) larangan membuat batas fisik atau pagar pekarangan. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur lingkungan yang ada di sekitarnya. persyaratan lebih lanjut dari ketentuanketentuan ini dapat ditetapkan pelaksanaaannya oleh Kepala Daerah dengan membentuk suatu panitia khusus yang bertugas memberi nasehat teknis mengenai ketentuan tata bangunan dan lingkungan.iv. ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III. keindahan dan keserasian lingkungan. 2.1 b. (4) Kekecualian kelonggaran terhadap ketentuan butir III. harus memenuhi persyaratan teknis yang berlaku dan keserasian lingkungan. iii. keselamatan. keselamatan. Penambahan lantai atau tingkat suatu bangunan gedung diperkenankan apabila masih memenuhi batas ketinggian yang ditetapkan dalam rencana tata ruang kota.III. Tinggi rendah (peil) pekarangan harus dibuat dengan tetap menjaga keserasian lingkungan serta tidak merugikan pihak lain. Pada lokasi-lokasi tertentu Kepala Daerah dapat menetapkan secara khusus arahan rencana tata bangunan dan lingkungan. Penambahan lantai/tingkat harus memenuhi persyaratan keamanan struktur. iv. ARSITEKTUR BANGUNAN 1. (3) ketentuan penataan bangunan yang harus diikuti dengan memperhatikan keamanan. Bentuk Bangunan a. atau yang mampu sebagai pedoman arsitektur atau teladan bagi lingkungannya. iv. ii. b. dengan ketentuan tidak melebihi KLB. Pada jalan-jalan tertentu. Tapak Bangunan i. Ketentuan Umum i.(2) dapat diberikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. ii. Tata Letak Bangunan a. keindahan dan keserasian lingkungan. Pada daerah / lingkungan tertentu dapat ditetapkan: (1) ketentuan khusus tentang pemagaran suatu pekarangan kosong atau sedang dibangun. Penempatan bangunan gedung tidak boleh mengganggu fungsi prasarana kota. Bilamana dianggap perlu. lalu lintas dan ketertiban umum.1.1.

Perancangan Bangunan i. Ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir II 1. Tata Ruang Dalam a. Ketentuan pada butir II. iv. Syarat-syarat lebih lanjut mengenai tinggi/tingkat dan sesuatunya ditetapkan berdasarkan ketentuan-ketentuan rencana tata ruang. Suatu bangunan gedung tertentu berdasarkan letak ketinggian dan penggunaannya. harus serasi dengan bangunan yang dilestarikan tersebut. iii. tampak. iii. vii.2.b. Bangunan yang didirikan sampai pada batas samping persil tampak bangunannya harus bersambungan secara serasi dengan tampak bangunan atau dinding yang telah ada di sebelahnya. Untuk bangunan dengan lantai banyak. iv. material maupun warna bangunan harus dirancang memenuhi syarat keindahan dan keserasian lingkungan yang telah ada dan atau yang direncanakan kemudian dengan tidak menyimpang dari persyaratan fungsinya.ii harus tetap mengacu pada prinsipprinsip konservasi energi. . Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan yang nyaman dan serasi terhadap lingkungannya. detail. iii.ii.1. v. b. Ketentuan Umum i. ii. termasuk para penyandang cacat dan usia lanjut. 3. Bentuk bangunan gedung harus dirancang sedemikian rupa sehingga setiap nuang dalam dimungkinkan menggunakan pencayahayaan dan penghawaan alami. Dalam hal tidak ada langit-langit. Setiap bangunan gedung yang didirikan berdampingan dengan bangunan yang dilestarikan. dan atau rencana tata bangunan lingkungan yang ditetapkan untuk daerah/lokasi tersebut. Ruangan dalam bangunan harus mempunyai tinggi yang cukup untuk fungsi yang diharapkan. profil. Tinggi ruang adalah jarak terpendek dalam ruang diukur dari permukaan bawah langit-langit ke permukaan lantai.i tidak berlaku apabila sesuai fungsi bangunan diperlukan sistem pencahayaan dan penghawaan buatan. kulit atau selubung bangunan harus memenuhi persyaratan konservasi energi. harus dilengkapi dengan perlengkapan yang berfungsi sebagai pengaman terhadap lalu lintas udara dan atau lalu lintas laut. Aksesibilitas bangunan harus mempertimbangkan kemudahan bagi semua orang.b.1. vi.1. iv. vi. tinggi ruang diukur dari permukaan atas lantai sampai permukaan bawah dari lantai di atasnya atau sampai permukaan bawah kaso-kaso. Bentuk. Ketinggian ruang pada lantai dasar disesuaikan dengan fungsi ruang dan arsitektur bangunannya. ii. v. Bentuk bangunan gedung sesuai kondisi daerahnya harus dirancang dengan mempertimbangkan kestabilan struktur dan ketahanannya terhadap gempa.2.

gedung olah raga. dan pertokoan). ruang istirahat. iv. kecuali untuk penggunaan ruang lobby. viii. Perubahan fungsi dan penggunaan ruang suatu bangunan atau bagian bangunan dapat diijinkan apabila masih memenuhi ketentuan penggunaan jenis bangunan dan dapat menjamin keamanan dan keselamatan bangunan serta penghuninya. tidak boleh menyebabkan berubahnya fungsi/penggunaan utama. ruang makan. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 meter. kegiatan keluarga bersama dan kegiatan pelayanan. Ruang rongga atap dilarang dipergunakan sebagai dapur atau kegiatan lain yang potensial menimbulkan kecelakaan/ kebakaran . atau ruang pertemuan dalam bangunan komersial (antara lain hotel. b. Suatu bangunan gudang. penambahan. iii. bangunan monumental. ix. ix. Suatu bangunan pabrik sehurang-kurangnya harus dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dan kakus. sekurang-kurangnya harus dilengkapi dengan kamar mandi dan kakus serta nuang kebutuhan karyawawan v. perkantoran. vi. karakter arsitektur bangunan dan bagian-bagian bangunan serta tidak boleh mengurangi atau mengganggu fungsi sarana jalan keluar/masuk. Ruang rongga atap hanya dapat diijinkan apabila penggunaannya tidak menyimpang dari fungsi utama bangunan serta memperhatikan segi kesehatan. kegiatan umum dan pelayanan. serta ruang pelayanan kesehatan yang memadai. keamanan dan keselamatan bangunan dan lingkungan. Bangunan atau bagian bangunan yang mengalami perubahan perbaikan. gedung pertunjukan. gedung sekolah. Perancangan Ruang Dalam i. . Bangunan tempat tinggal sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan pribadi.v. Bangunan kantor sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan kerja. ruang umum dan ruang pelayanan. ruang ganti pakaian karyawan. xi. ii. gedung pertemuan. Mezanin yang luasnya melebihi 50% dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. Tata ruang dalam untuk bangunan tempat ibadah. viii. vii. vi.Jenis dan jumlah kebutuhan fasilitas penunjang yang harus disediakan pada setiap jenis penggunann bangunan ditetapkan oleh Kepala Daerah. Perhitungan ketinggian bangunan. serta gedung sejenis lainnya diatur secara khusus. gedung serbaguna. vii Ruang penunjang dapat ditambahkan dengan tujuan memenuhi kebutuhan kegiatan bangunan. maka ketinggian bangunan dianggap sebagai dua lantai. sepanjang tidak menyimpang dari penggunaan utama bangunan. Bangunan toko sekurang-kurang memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan toko. x. perluasan. Penempatan fasilitas kamar mandi dan kakus untuk pria dan wanita harus terpisah. Ruang-rongga atap untuk rumah tinggal harus mempunyai penghawaan dan pencahayaan alami yang memadai.

xvi. kecuali menggunakan alat bantu mekanis. . tidak boleh mengubah sifat dan karakter arsitektur bangunannya. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan. b. atau untuk tanah-tanah yang miring. maka tinggi maksimal lantai dasar ditetapkan tersendiri. xvii. Tinggi Lantai Denah: (1) Permukaan atas dari lantai denah (dasar) harus: (a) Sekurang-kurangnya 15 cm diatas titik tertinggi dari pekarangan yang sudah dipersiapkan. xviii Apabila tinggi tanah pekarangan berada di bawah titik ketinggian (peil) bebas banjir atau terdapat kemiringan yang curam atau perbedaan tinggi yang besar pada tanah asli suatu perpetakan. ketinggian dan penggunaannya harus dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan bangunan. kenyamanan. termasuk pengaman/ rambu-rambu terhadap lalu-lintas udara dan atau laut. xiv Pada ruang yang penggunaannya menghasilkan asap dan atau gas harus disediakan lobang hawa dan atau cerobong hawa secukupnya. Ketentuan Umum i. Sarana dan prasarana pendukung harus menjamin bahwa pemanfaatan bangunan tersebut tidak mengganggu bangunan gedung lain dan lingkungan sekitarnya. tidak dianggap sebagai penambahan tingkat bangunan. Syarat-syarat teknis lebih lanjut terhadap ketentuan tersebut di atas mengikuti standar teknis yang berlaku. (2) Dalam hal-hal yang luar biasa. Kelengkapan Bangunan a. Tinggi ruang dalam bangunan tidak boleh kurang dari ketentuan minimum yang ditetapkan. ii. xv. – xix. tidak berlaku jika letak lantai-lantai itu lebih tinggi dari 60 cm di atas tanah yang ada di sekelilingnya. ketentuan dalam butir (1) tersebut.20 m di atas tinggi rata-rata tanah pekarangan atau tinggi rata-rata jalan. 4. Bangunan tertentu berdasarkan letak. ii Prasarana-prasarana pendukung bangunan harus direncanakan secara terintegrasi dengan sistem prasarana lingkungan sekitarnya iii.xii. Lantai tanah atau tanah dibawah lantai panggung harus ditempatkan sekurang-kurangnya 15 cm diatas tanah pekarangan serta dibuat kemiringan supaya air dapat mengalir. xiii Setiap bukaan pada ruang atap. xx. (b) Sekurang-kurangnya 25 cm diatas titik tertinggi dari sumbu jalan yang berbatasan. kesehatan dan keselamatan pengguna bangunan gedung. Cerobong asap dan atau gas harus dirancang memenuhi persyaratan pencegahan kebakaran. dengan memperhatikan keserasian lingkungan. Tinggi lantai dasar suatu bangunan diperkenankan mencapai maksimal 1. Setiap penggunaan ruang rongga atap yang luasnya tidak lebih dari 50% dari luas lantai di bawahnya. Sarana dan Prasarana Bangunan Gedung i.

Setiap perencanaan bangunan baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. peresapan air. KLB. III. v.2 RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1.e ini belum ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan. Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. Fungsi dan Persyaratan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan a. d. f. Sebagai ruang transisi. i.1. gunung dan sebagainya. sosial. Apabila Ruang Terbuka Hijau Pekarangan sebagaimana dimaksud pada butir 111. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan tidak boleh dilanggar dalam mendirikan atau rnemperbaharui seluruhnya atau sebagian dari bangunan. tanah dan permukaan tanah. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir III. RTHP menupakan bagian integral dari penataan bangunan gedung dan sub-sistem dari penataan lansekap kota. maka dapat dibuat ketetapan yang bersifat sementara untuk lokasi/lingkungan yang terkait dengan setiap pemmohonan bangunan.iv. h. terhadap suatu kawasan/daerah dapat diterapkan b. pohon-pohon menahun. unsur-unsur estetik. Pintu masuk dan keluar area bangunan gedung harus direncanakan secara terintegrasi serta tidak mengganggu tata sirkulasi lingkungannya. Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan gedung dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP).1. Parkir dan ketetapan lainnya. .2. e.e dapat dipertimbangkan dan disesuaikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. KDB. c. Ruang Terbuka Hijau adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kota/wilayah/halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. Dalam hal terdapat makro lansekap yang dominan seperti laut.2. Bangunan gedung harus direncanakan dan dirancang sebaik-baiknya. sungai. sirkulasi. g. j. sehingga dapat menjamin fungsi bangunan juga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh semua orang. sungai besar. ekonomi maupun estetika. KDH. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. termasuk para penyandang cacat dan warga usia lanjut.

Kebutuhan basement dan besaran koefisien tapak basement (KTB) ditetapkan berdasarkan rencana peruntukan lahan. dan aspek aksesibilitas. ketentuan teknis dan kebijaksanaan Daerah setempat. dapat ditetapkan persyaratan khusus bagi permohonan ijin mendirikan bangunan dengan mempertimbangkan hal-hal pencagaran sumber daya alam. 3. keselamatan pemakai dan kepentingan umum. Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTHP sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah. c. lantai basement pertama (B-1) tidak dibenarkan keluar dari tapak bangunan (di atas tanah) dan atap . dimana terdapat beberapa klas bangunan dan kawasan campuran. Tapak Basement a. KDH minimal 10% pada daerah sangat padat/padat. pengendalian bentuk estetika bangunan secara keseluruhan/ kesatuan lingkungan. Keserasian tersebut antara lain mencakup: pagar dan gerbang. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. Ketinggian maksimum/minimum lantai dasar bangunan dari muka jalan ditentukan untuk pengendalian keselamatan bangunan. 2. serta tergantung pada kondisi lahan. pagar. Ruang Sempadan Bangunan a. bangunan penunjang seperti pos jaga. d. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan peruntukan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. b. tiang telepon di kedua sisi jalan / ruas jalan yang dimaksud. jalur pejalan kaki.pengaturan khusus untok orientasi tata letak bangunan mempertimbangkan potensi arsitektural lansekap yang ada. tidak di dalam wadah / container yang kedap air. 1. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan / penanaman di atas tanah. vegetasi besar / pohon. k. b. e. seperti dari bahaya banjir. yang Sebagai perlindungan atas sumber-sumber daya alam yang ada. tiang bendera. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan ruang sempadan depan bangunan. KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan dalam kawasan-kawasan bangunan. bak sampah dan papan nama bangunan. Untuk keperluan penyediaan RTHP yang memadai. KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah.

a dan III. Untuk pelaksanaan kepentingan tersebut pada butir III. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. ii. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin.5. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. batang dan cabangnya rapuh. b. Prasarana parkir untuk suatu rumah atau bangunan tidak diperkenankan mengganggu kelancaran lalu lintas. iv.b Kepala Daerah dapat membentuk tim penasehat untuk mengkaji rencana pemanfaatan jeni-jenis tanaman yang layak tanam di Ruang terbuka Hijau Pekarangan berikut standar perlakuannya yang memenuhi syarat keselamatan pemakai.5. c. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir a. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia. . d. III. kestabilan tanah / wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. iii. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25% luas RTHP. 5. 4. Setiap bangunan bukan rumah hunian diwajibkan menyediakan area parkir kendaraan sesuai dengan jumlah area parkir yang proporsional dengan jumlah luas lantai bangunan. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan. air. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif.2.2. Jumlah kebutuhan parkir menurut jenis bangunan ditetapkan sesuai dengan standar teknis yang berlaku. Tata Tanaman a.3 PERTANDAAN. Hijau Pada Bangunan a. Ketentuan Umum i. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roof-garden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan cara-cara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan. Penyediaan parkir di pekarangan tidak boleh mengurangi daerah penghijauan yang telah ditetapkan.basement kedua (B-2) yang di luar tapak bangun harus berkedalaman sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan tanah tempat penanaman. b. atau mengganggu lingkungan di sekitarnya.

iii. penghijauan. Luas. penghijauan. pedestrian dan penghijauan. dan memberikan pemandangan yang menarik. memudahkan aksesibilitas. d. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus saling mendukung. iii. aman. aksesibilitas terhadap subsistem pedestrian dalam lingkungan. Penataan pedestrian harus mampu merangsang terciptanya ruang yang layak digunakan/manusiawi. guna mendukung sistim sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. c. Jalur pedestrian harus berhasil menciptakan pergerakan manusia yang tidak terganggu oleh lalu lintas kendaraan. Penataan parkir harus berorientasi kepada kepentingan pejalan kaki. Sirkulasi pertu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan. Penataan jalan tidak dapat terpisahkan dari penataan pedestrian. Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran. papan informasi sirkulasi. Sirkulasi harus memberikan pencapaian yang mudah dan jelas.b. ii. antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan. dan ruang terbuka umum. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa elemen perkerasan maupun tanaman). dan keJelasan kontinyuitas pedestrian. ii. Jalan i. ii. Penataan parkir tidak terpisahkan dengan penataan lainnya seperti untuk jalan. iii. distribusi dan perletakan fasilitas parkir diupayakan tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya. Parkir i. dan aksesibilitas dengan lingkungan sekitarnya. serta antara individu pemakai bangunan dengan sarana transportasinya. Jalur utama pedestrian harus telah mempertimbangkan sistem pedestrian secara keseluruhan. Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang antar bangunan yang tidak hanya terbatas dalam Damija. Elemen pedestrian (street fumiture) harus berorientasi pada kepentingan pejalan kaki. dll. iv. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. Pemilihan bahan pelapis jalan dapat mendukung pembentukan identitas lingkungan yang dikehendaki. e. baik yang bersifat pelayanan publik maupun pribadi. Pedestrian i. ii. Sirkulasi i. iii. iv. . rambu-rambu. nyaman. dan kendaraan pelayanan lainnya. dan termasuk untuk penataan elemen lingkungan. dan tidak terganggu oleh sirkulasi kendaraan. serta disesuaikan dengan daya tampung lahan.

atau habitat alaminya mengalami kerusakan. fungsi dan arsitektur bangunan estetika amenity. bahan. Penempatan signage termasuk papan iklan/ reklame. menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan. b.4 PENGELOLAAN DAMPAK LAINGKUNGAN 1. atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya. Kepala Daerah dapat mengatur pembatasa-pembatasan ukuran. motif. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan a. Pencahayaan ruang luar bangunan harus disediakan dengan memperhatikan karakter lingkungan. mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik. c.2. dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku terancam punah. III. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan. dan telah memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan. c. 3. Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk lingkungan/ kawasan tertentu. Pencahayaan yang dihasilkan harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum Pencahayaan yang dihasilkan dengan telah menghindari penerangan ruang luar yang berlebihan. Pertandaan (Signage) a. berdasarkan pertimbangan ilmiah. b. b. pagar. Kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan adalah bila rencana kegiatan tersebut akan: i. dan lokasi dari signage. dan komponen promosi. Dampak Penting a. visual yang tidak menarik. iii. . silau. harus membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter lingkungan yang ingin diciptakan/ dipertahankan. tetapi diharuskan melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai ketentuan yang berlaku. baik yang penempatannya pada bangunan keveling. menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang mengganggu dan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan harus dilengkapi dengan AMDAL sesuai ketentuan yang berlaku. ii. tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. yang melampaui baku mutu lingkungan menurut peraturan penundang-undangan yang bertaku. atau ruang publik.

(3) Bagian dinding yang terlemah dari bangunan tersebut diarahkan ke daerah yang paling aman. dan atau pemerintah. 4. . (2) Bangunan yang didirikan harus terletak pada jarak tertentu dari batas-batas pekarangan atau bangunan lainnya dalam pekarangan sesuai rekomendasi dinas terkait. Ketentuan Pengelolaan Dampak Lingkungan Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang wajib AMDAL. mudah terbakar atau bahan lain yang berbahaya. 2. sinar yang dipantulkan tidak boleh melebihi 24% dan dengan memnperhatikan tata letak serta orientasi bangunan terhadap matahari. Kegiatan yang dimaksud pada butir III. Pada bangunan yang menggunakan kaca pantul pada tampak bangunan. dapat diberikan ijin apabila: (1) Lokasi bangunan terletak di luar lingkungan perumahan atau berjarak tertentu dari jalan umum. Persyaratan Bangunan i. suaka margasatwa. menyimpan atau memproduksi bahan radioaktif. adalah sesuai Ketentuan pengelolaan Dampak Lingkungan yang berlaku. Untuk mendirikan bangunan yang menurut fungsinya menggunakan menyimpan atau memproduksi bahan peledak dan bahan-bahan lain yang sifatnya mudah meledak. Ketentuan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang harus melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adaiah sesuai ketentuan yang berlaku. 3. vi. v. cagar alam.iv. d. Bangunan yang menurut fungsinya menggunakan. racun. harus dapat menjamin keamanan keselamatan serta kesehatan penghuni dan lingkungannya. iii.1.3. mengakibatkan/ menimbulkan konflik atau kontroversi dengan masyarakat. jalan kereta api dan bangunan lain di sekitarnya sesuai rekomendasi dinas teknis terkait. dan sebagainya) yang telah ditetapkan menunut peraturan perundang-undangan. vii. menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung (hutan lindung. merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi. mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan a. ii.c merupakan kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. taman nasional.

Setiap bangunan yang menghasilkan limbah cair dan padat atau buangan lainnya yang dapat menimbulkan pencemaran air dan tanah. Penggunaan peralatan konstruksi yang diperkirakan menimbulkan keretakan bangunan. ii. c. atau tidak ada bangunan rumah yang rawan keretakan. Penggunaan hammer pile untuk pemancangan pondasi hanya diijinkan bila tidak ada bangunan rumah sakit di sekitarnya. Apabila bangunan yang menurut fungsinya akan membangkitkan LHR >= 60 SMP per 1000 ft2 luas lantai. v. Sarana pongumpulan dan pongolahan air limbah harus dipelihara secara berkala untuk menjamin kualitas effluen yang memenuhi standar baku mutu limbah cair. iii. harus dilengkapi dengan sarana pengumpulan dan pengolahan limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan yang diijinkan dan atau ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Sampah yang dikumpulkan di sarana pengumpulan sampah padat harus selalu dikosongkan setiap hari untuk menjamin agar lalat tidak berkembang biak dan mengganggu kesehatan lingkungan bangunan gedung. Pembuangan limbah cair dan padat i. iii. Guna pemulihan cadangan air tanah dan mengurangi debit air larian. atau sampai sumur penduduk pulih seperti semula. Bangunan yang menurut fungsinya memerlukan pasokan air bersih dengan debit > 5 l/dt atau > 500 m3/hari dan akan mengambil sumber air tanah dangkal dan atau air tanah dalam (deep well) harus mendapat ijin dari dinas terkait yang bertanggung jawab serta menggunakan hanya untuk keperluan darurat atau alternatif dari sumber utama PDAM. v. maka rencana teknis sistem jalan akses keluar masuk bangunan gedung harus mendapat ijin dari dinas teknis yang berwenang. maka setiap tapak bangunan gedung harus dilengkapi dengan bidang resapan yang ukurannya disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. Setiap kegiatan konstruksi yang menimbulkan genangan baru sekitar tapak bangunan harus dilengkapi dengan saluran pengering genangan sementara yang nantinya dapat dibuat permanen dan menjadi bagian sistem drainase yang ada. iv. Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dapat menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas umum harus dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang dioperasikan dan dikendalikan oleh tim pengatur lalu lintas. Persyaratan Pelaksanaan Konstruksi i. sekelilingnya harus dilengkapi dengan kolam peredam getaran. vi. .iv. ii. b. Setiap kegiatan pengeringan (dewatering) yang menimbulkan kekeringan sumur penduduk harus memperhitungkan pemberian kompensasi berupa penyediaan air bersih kepada masyarakat selama pelaksanaan kegiatan.

Lingkungan bangunan yang mengalami kebakaran dapat ditetapkan sebagai daerah tertutup dalam jangka waktu tertentu. dengan memperhatikan keamanan. Suatu daerah dapat ditetapkan sebagai daerah bencana. dibatasi.a dapat ditetapkan larangan membangun atau menetapkan tata cara dan persyaratan khusus di dalam membangun.5. bagi bangunanan yang rusak atau membangun bangunan sementara untuk kebutuhan darurat dalam batas waktu penggunaan tertentu dan dapat dibebaskan dari izin. keselamatan dan kesehatan dapat diperkenankan mengadakan perbaikan darurat.5. b. c. Pada daerah bencana sebagaimana dimaksud pada butir III. daerah Banjir dan yang sejenisnya. d. . keselamatan dan kesehatan lingkungan. Pengelolaan Daerah Bencana a. dengan memperhatikan keamanan.5. e. Bangunan-bangunan pada lingkungan bangunan yang mengalami bencana.3.3. dapat ditetapkan sebagai daerah peremajaan kota.a. Daerah sebagaimana dimaksud pada butir III. atau dilarang membangun bangunan.

IV. d. harta benda dan masih dapat diperbaiki. . b. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Struktur bangunan harus direncanakan mampu memikul semua beban dan / atau pengaruh luar yang mungkin bekerja selama kurun waktu umur layan struktur. Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. Struktur bangunan yang direncanakan secara umum harus memenuhi persyaratan keamanan (safety) dan kelayakan (serviceability).IV. Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan. intensitas dan cara bekerjanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku. c. termasuk beban tetap. Dalam hal bilamana bahan struktur bangunan belum mempunyai SNI maka bahan struktur bangunan tersebut harus memenuhi ketentuan teknis yang sepadan dari negara/ produsen yang bersangkutan. 2. Persyaratan Struktur a. termasuk kombinasi pembebanan yang kritis (antara lain: meliputi beban gempa yang mungkin terjadi sesuai zona gempanya).beban yang mungkin bekerja selama umur layan struktur. sehingga pada kondisi pembebanan maksimum. beban sementara (angin. b. Struktur bangunan harus direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa. keruntuhan yang terjadi menimbulkan kondisi struktur yang masih dapat mengamankan penghuni. seperti : 2.2 PEMBEBANAN 1 Analisa struktur harus dilakukan untuk memeriksa tanggap struktur terhadap beban . termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. 1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. gempa) dan beban khusus. Penentuan mengenai jenis. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan. c. Persyaratan Bahan a. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. dan beban-beban lainnya yang secara logis dapat terjadi pada struktur.

STRUKTUR ATAS 1. SNI-3449. Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar-standar yang berlaku seperti: a. Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan dengan Agregat Ringan. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. Tata Cara Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung. d. SNI -1734. IV. SNI-3976. 2.a. f. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. Konstruksi beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. seperti: a. seperti: a. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung. e. b. SNI-1728 Tata Cara Perencanaan Beton dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung. SNI-3430. b. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja.3 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung SNI 1726. c. d. SNI-1729 Tata cara / pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja. c. . Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung. b. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung SNI 1727. 3. g. SNI-2834 Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung SNI 2847. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal.

Tata Cara Pencegahan Rayap pada Pembuatan Bangunan Rumah dan Gedung. SNI-2407. f. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut. tata cara. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit. antara lain: a. e. Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung. g. b. Tata Cara Penanggulangan Rayap pada Bangunan Rumah dan Gedung dengan Temmitisida. Tata Cara Perancangan Bangunan Sederhana Tahan Angin. SNI-2405 . 4. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Radiologi di Rumah Sakit. Konstruksi dengan Bahan dan Teknologi Khusus a. SNI-2394. h. SNI-1735. SNI-1963. SNI-2395. c. SNI-1745. d. c. d. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar-standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis. Tata cara/ pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu. i. SNI-2397. standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanean suatu bangunan yang harus dipenuhi. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. 5. Perencanaan konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli struktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut. b. SNI-2404. SNI-1736.b. Tata Cara Dasar Koordinasi Modular untuk Perancangan Bangunan Rumah dan Gedung. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi.

Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1 % dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik secara random. 2.IV. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. d. c. b. b. Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan percobaan pembebanan. Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. e. Pondasi Dalam a. kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim. Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi. d. c. Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang. Pondasi Langsung a. kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh Dinas Bangunan. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan korelasi tipikal parameter tanah yang lain.4 STRUKTUR BAWAH 1. Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas. .

b. Keselamatan Struktur a. 2. Ketidak andalan struktur akibat beban perilaku alam dan atau manusia dapat diakibatkan oleh adanya kebakaran.6 DEMOLISI STRUKTUR 1. b. dan atau beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. maupun bencana lainnya.5 KEANDALAN STRUKTUR 1. Keselamatan struktur tergantung pada keandalan struktur tersebut terhadap gaya-gaya yang dipikulnya. beban yang didukungnya. beban akibat perilaku manusia maupun beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. beban akibat perilaku manusia. d. Untuk mencegah terjadinya keruntuhan struktur yang tidak diharapkan pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/ petunjuk teknis yang berlaku. Keruntuhan sruktur adalah diakibatkan oleh ketidak andalan suatu sistem atau komponen stnuktur untuk memikul beban sendiri. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/ Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan.IV. Ketidak andalan struktur akibat beban sendiri dan atau beban yang didukungnya disebabkan oleh karena umur bangunan yang secara teknis telah melebihi umur yang direncanakan. d. sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur. c. gempa. Struktur bangunan sudah tidak andal. IV. Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan. Kriteria Demolisi Demolisi struktur dilakukan apabila: a. Keruntuhan Struktur a. dan kerusakan struktur sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki karena alasan teknis dan atau . c. dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. atau karena dilampauinya beban yang harus dipikulnya sesuai rencana sebagai akibat berubahnya fungsi bangunan atau kesalahan dalam pemanfaatannya. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandaian bangunan gedung.

b. Prosedur. masyarakat dan lingkungan. serta dapat membahayakan pengguna bangunan. metoda dan rencana demolisi struktur dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. dan secara teknis struktur bangunan tidak dapat dimanfaatkan lagi. b. 2. Adanya perubahan peruntukan lokasi/fungsi bangunan.ekonomis. metoda dan rencana demolisi struktur harus memenuhi persyaratan teknis untuk pencegahan korban manusia dan untuk mencegah kerusakan serta dampak lingkungan. . Penyusunan prosedur. Prosedur dan Metoda a.

cukup waktu untuk evakuasi penghuni secara aman. vii sistem proteksi aktif yang dipasang pada bangunan. vi. tingkat bahaya api. fungsi atau penggunaan bangunan.ukuran setiap kompartemen api. sampai dengan tingkat tertentu. mobilitas dan karakteristik penghuni lainnya. v. iii. dan x. intensitas kebakaran. Bahan dan komponen bangunan harus tahan-penyebaran api. Ketahanan Api dan Stabilitas. beban api.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1. waktu evakuasi ii. yang sesuai dengan: i. Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran. ii. dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. terutama pada bangunan klas 2. d. yang sesuai dengan: i. iv. elemen bangunan lainnya. yang menghubungkan kompartemen api. fungsi atau penggunaan bangunan.V. dan ii. sehingga: i. ix intervensi pasukan pemadam kebakaran. e. kedekatan dengan bangunan lain. iv. . membatasi berkembangnya asap dan panas. ketinggian bangunan. c. antara bangunan. b. sistem proteksi aktif yang dipasang dalam bangunan. 3 atau bagian dan bangunan klas 4: i. ii. iii. jumlah. cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. viii. serta gas-gas beracun yang mungkin timbul. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana/ prasarana pengamanan dan pencegahan penyebaran api. PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. a. iii. Bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan yang pada tingkat tertentu akan mempertahankan stabilitas struktural selama kebakaran. Ruang perawatan pasien dari bangunan klas 9a harus dilindungi dari penyebaran api dan asap untuk memberi waktu cukup untuk evakuasi yang tertib dalam keadaan darurat.

ukuran kompartemen. Tipe Konstruksi Tahan Api. Akses ke dan sekeliling bangunan harus disediakan bagi kendaraan dan personil pemadam kebakaran. iii. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api. Tipe A: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuknya adalah tahan api dan mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran pada bangunan minimal 2 (dua) jam. Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api. sehingga diperoleh tingkat kinerja yang memadai dari elemen tersebut. dan lubang untuk instalasi harus dilindungi sedemikian. . Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api dari peralatan utilitas yang mempunyai pengaruh bahaya api yang tinggi. ii. h. yaitu pada bukaan. Setiap elemen bangunan yang disediakan untuk menahan penyebaran api. Pada konstruksi ini terdapat dinding pemisah pembentuk kompartemen untok mencegah penjaiaran panas ke ruang-ruang yang bersebelahan di dalam bangunan dan dinding luar untuk mencegah penjalaran api ke dan dari bangunan didekatnya. tingkat bahaya api. 2. fungsi bangunan. keruntuhan tersebut dapat dihindari. j. intensitas kebakaran. c. sambungan konstruksi. iv. atau potensial dapat meledak. beban api. dan vi. g. terdapat 3 (tiga) tipe konstruksi yaitu: a. sistem proteksi aktif. untuk memudahkan tindakan pasukan pemadam kebakaran secara memadai. sehingga peralatan darurat yang tersedia dalam bangunan tetap beroperasi pada jangka waktu yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran. v. Dinding luar beton yang dapat runtuh dalam bentuk panel yang utuh (misalnya beton pracetak) harus dirancang sehingga pada kejadian kebakaran dalam bangunan. Tipe B: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuk kompartemen penahanan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam bangunan dan unsur dinding luarnya mampu menahan penjalaran kebakaran dari luar bangunan selama sekurang kurangnya 1 (satu) jam. i.f. sesuai dengan: i. Tipe C: Konstruksi yang terbentuk dari unsur-unsur struktur yang dapat terbakar dan tidak dimaksudkan untuk mampu bertahan terhadap api. b.

7. melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan.000 m3 21.8 atau 9a luasan lantai (kecuali daerah perawatan pasien Maksimum 30.000 m3 volume Tipe Konstruksi bangunan Tipe A Tipe B Tipe C 8.3 Tipe Konstruksi yang diwajibkan KETINGGIAN (dalam jumlah lantai) KLAS BANGUNAN 4 atau lebih 3 2 1 4.3. ii. dan . 2. menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran. Tipe konstruksi yang diwajibkan Minimum tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai dengan ketentuan pada tabel berikut: Tabel V. a.7. perambatan api dan asap. i.500 m3 18.000 m3 33. mengendalikan kebaran api agar tidak menjelar ke bangunan lain yang berdekatan.000 m2 3.9 A A B C 5.1.6. Tabel V.000 m2 5.500 m3 12.8 A B C C Kompartemenisasi dan Pemisahan Ukuran Kompartemen Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat membatasi kobaran api yang potensial.500 m2 2.3. bagian ini tidak berlaku untuk bangunan klas 1 atau 10. iii. agar dapat: i.000 m2 Klas 6.000 m2 b Pemberlakuan.000 m3 volume Maksimum 5.500 m2 3.4 Ukuran maksimum dari kompartemen kebakaran Klasifikasi Bangunan Maksimum luasan lantai Klas 5 atau 9b Maksimum 48.1.

ii. (2) bila jarak antara bangunan satu dengan lainnya kurang dari 6 meter. i. dan apabila: (1) ketinggian langit-langit kompartemen tidak lebih dari 12 meter. atau peralatan Lift. i. maka bagian dari ruang atrium yang dibatasi oleh sisi tepi di sekeliling bukaan pada lantai dasar sampai dengan langit-langit dari lantai tidak diperhitungkan sebagai volume atrium.ii. Ruang terbuka yang diperlukan harus: (1) Seluruhnya berada di dalam kapling yang sama kecuali jalan. kecuali seperti yang diijinkan pada butir d. sungai. iii.ii.d.ii.000 m3 dengan ketentuan: (1) bangunan klas 7 atau 8 kurang dari 2 lantai dan terdapat ruang terbuka disekeliling bangunan tersebut.i yang lebamya tidak kurang dari 18 meter. asap dan gas beracun.4 bila: i. ruang dalam bangunan yang karena fungsinya mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran. atau unit utilitas sejenis dan berada di puncak bangunan.1. 6. tanki air. atau (2) ketinggian langit-langit lebih dari 12 meter. dilengkapi dengan sistem pembuangan asap atau ventilasi asap dan panas sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku. d dan e tidak berlaku untuk tempat parkir umum yang dilengkapi dengan sistem sprinkler. c. Bila terdapat lebih dari satu bangunan pada satu kapling. d. (2) bangunan klas 5 s. iv. Ukuran dari setiap kompartemen kebakaran atau atrium bangunan klas 5.1. Bangunan-bangunan besar yang diisolasi. namun berjarak tidak lebih dari 6 meter dengannya. Untuk bangunan yang memiliki lubang atrium. 7.e. . Bangunan dengan luas tidak melebihi 18.000 m2 atau 108. dan dikelilingi jalan masuk kendaraan sesuai dengan butir 4. e. harus merupakan suatu kompartemen terhadap penjalaran api. Kebutuhan ruang terbuka dan jalan masuk kendaraan. atau: ii. Batasan umum luas lantai.000 m2 dan volumenya tidak melebihi 108. tempat parkir tak beratap atau suatu panggung terbuka. tidak diperhitungkan sebagai luas lantai atau volume dari kompartemen atau atrium iii. 8 atau 9 harus tidak melebihi luasan lantai maksimum atau volume maksimum seperti ditunjukkan dalam Tabel V. Ukuran kompartemen pada bangunan dapat melebihi ketentuan dari yang tersebut dalam Tabel v. 9 yang dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler serta terdapat jalur kendaraan sekeliling bangunan yang memenuhi ketentuan butir 4.000 m3 dengan sistem sprinkler.e. Bagian dari bangunan yang hanya terdiri dari peralatan pendingin udara. atau tempat umum yang berdampingan dengan kapling tersebut. maka seluruhnya dianggap sebagai satu bangunan dan secara bersama harus memenuhi ketentuan butir i. atau ii.4 dan butir f. Bangunan dengan luasan melebihi 18. ketentuan pada butir c. ventilasi.e. yang memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut pada butir 4. Bagian bangunan. dan (1) setiap bangunan harus memenuhi ketentuan butir i atau ii di atas. dilengkapi dengan sistem pembuang asap sesuai ketentuan yang berlaku.

Jalan masuk kendaraan harus: (1) sebagai jalan masuk bagi kendaraan darurat dan lintasan dari jalan umum. dan tertutup pada setiap lantai. Koridor umum pada bangunan klas 2 dan 3.e. dan lubang utilitas harus diberi penyetop api untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan. h. dan .(2) termasuk jalan masuk kendaraan sesuai ketentuan butir 4. (2) lebar bebas minimum 6 meter dan tidak ada bagian yang lebih jauh dari 18 meter terhadap bangunan. mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. Tangga dan lift tidak boleh berada pada satu shaft yang sama. ii. pemisahan oleh dinding tahan api. Seluruh bukaan harus dilindungi. g. (5) bila terdapat jalan umum yang memenuhi (1) s. (4) di atas maka jalan tersebut dapat beriaku sebagai jalan lewatnya kendaraan atau bagian dari padanya. bila salah satu tangga atau lift tersebut diwajibkan berada dalam suatu shaft tahan api.ii (3) tidak untuk penyimpanan dan pemrosesan material. dan (4) tidak ada bangunan diatasnya. yang tidak melanggar batas lebar dari ruang terbuka. maka bukaan harus dilindungi dengan penutup tahan minimal sama dengan ketahanan api dinding atau lantai. kecuali untuk gardu jaga dan bangunan penunjang ( seperti gardu listrik dan ruang pompa). dan shaft instalasi listrik harus sepenuhnya tertutup dengan dinding dari bawah sampai atas. tidak menghalangi penanggulangan kebakaran pada bagian manapun dari tepian kapling. Pada bangunan klas 2 dan 3. dan pemisahan pada shaft lift mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. atau akan menambah risiko merambatnya api ke bangunan yang berdekatan dengan kapling tersebut. koridor umum yang panjangnya lebih dari 40 meter harus dibagi menjadi bagian yang tidak lebih dari 40 meter dengan dinding yang tahan asap. shaft ventilasi. . (4) memiliki kapasitas beban dan tinggi bebas yang memudahkan operasi mobil pemadam kebakaran. Tangga dan Lift pada satu shaft. Bukaan vertikal pada bangunan yang dipergunakan untuk shaft pipa. 5.d. Apabila harus diadakan bukaan pada dinding sebagaimana dimaksud pada butir b. Proteksi Bukaan a. serta di atas jalan tersebut tidak boleh dibangun apapun kecuali hanya untuk kendaraan dan pejalan kaki (3) dilengkapi jalan untuk pejalan kaki yang memadai. f. c. b. Pemisahan Pemisahan vertikal pada bukaan di dinding luar.

d. bangunan-bangunan klas 1 atau klas 10.d.1.000 mm2.d. berjarak dari suatu obyek sumber api tidak kurang dari: (1) 1 m pada bangunan dengan 1 (satu) lantai. lubang ventilasi yang tidak mudah terbakar (non combustible ventilators). dan iii. bila bukaan tersebut wajib dilindungi sesuai dengan butir ii. atau (2) 1. Bukaan pada dinding luar yang perlu memiliki TKA harus: i. dan sebagainya harus memenuhi persyaratan dan dapat dibuktikan melalui pengujian oleh lembaga uji yang diakui dan terakreditasi. dan sambungan antara panel di dinding luar dari beton pracetak. maka harus dilindungi sesuai dengan ketentuan butir h. dan sejenisnya di dinding luar dari konstruksi pasangan. kecuali bila bukaan-bukaan tersebut pada bangunan klas 9b dan diberlakukan seperti bangunan panggung terbuka. bila luas penampang masing-masing tak melebihi 45. 135° Lebih dari 134° s. ii sambungan pengendali.d kurang dari 180° 180° atau lebih Jarak Minimal Antara Bukaan 6m 5m 4m 3m 2m nol . Kecuali bila dilindungi sesuai ketentuan tersebut pada butir 9. Ketentuan proteksi pada bukaan ini tidak berlaku untuk: i.1.5. Sudut Terhadap Dinding 0° (dinding-dinding saling berhadapan) Lebih dari 0° s. bila luas lubang/sambungan tersebut tidak lebih luas dari yang diperlukan. iii. Tabel V. dan ii. jarak antara bukaan pada dinding luar pada kompartemen kebakaran harus tidak kurang dari yang tercantum pada Tabel V. f. damper.d. atau (2) 6 m dari sempadan jalan yang membatasi persil. dan jarak antara lubang ventilasi tak kurang dari 2 m pada dinding yang sama. lubang tirai.5 JARAK ANTARA BUKAAN PADA KOMPARTEMEN KEBAKARAN YANG BERBEDA e. g. atau (3) 6 m dari bangunan lain pada persil yang sama. dan bila digunakan sprinkler pembasah-dinding maka sprinkler tersebut harus ditempatkan di bagian luar bangunan. 45° Lebih dari 45° s. bila bukaan di dinding luar tersebut terhadap suatu sumber api terletak kurang dari: (1) 3 m dari batas belakang persil bangunan.5 m pada bangunan dengan lebih dari 1 (satu) lantai. yang bukan dari klas 10. maka tidak boleh menempati lebih dari 1/3 luas dinding luar dari lantai dimana bukaan tersebut berada. dan tidak berada pada atau dekat dengan lantai dasar bangunan. Sarana dan atau peralatan proteksi seperti penyetop api. Pemisahan Bukaan Pada Kompartemen Kebakaran. Proteksi Bukaan Pada Dinding Luar. 90° Lebih darii 90° s.

(2) Jendela: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. yang sekurang-kurangnya satu pompa digerakkan oleh motor bakar atau motor listrik yang dicatu dari daya generator darurat. atau (b) bangunan klas 5. V.(menutup otomatis atau secara tetap dipasang pada posisi tertutup). dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. Metoda Proteksi Yang Diperbolehkan. atau konstruksi dengan TKA tidak kurang dari-/60/-. atau (b) motor listrik yang dicatu dari generator darurat. ii. maka jalan masuk. ii. Hidran kebakaran. 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih dari 2 (dua). (1) harus dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. dan (2) hidran dalam bangunan harus melayani hanya di lantai hidran tersebut ditempatkan. atau memasang penutup api otomatis dengan TKA -/60/(3) Bukaan-bukaan lain: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. Sistem hidran kebakaran.h. SNI 1745. Sistem hidran harus dipasang pada bangunan: (1) yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 m2. jendela dan bukaan lainnya harus dilindungi sebagai berikut: (1) Jalan masuk/pintu : sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. di mana: (a) bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian klas 4. atau jendela kebakaran dengan TKA -/60/. atau . Bila diperlukan proteksi. satu pompa digerakkan oleh: (a) motor-bakar.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. Sistem Pemadam Kebakaran a. 7. jendela. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. kecuali pada satuan peruntukan bangunan. (4) bila pompa kebakaran dihubungkan dengan jaringan pasokan air dan dipasang pada bangunan dengan ketinggian efektif kurang dari 25 m. Pintu. i. (b) 2 (dua) pompa yang digerakkan oleh motor listrik yang dihubungkan dengan sumber tenaga yang terpisah satu sama lain. atau memasang pintu kebakaran dengan TKA -/60/30 (dapat menutup sendiri secara otomatis). i. asalkan hidran dapat menjangkau seluruh satuan peruntukan bangunan. dan penutup kebakaran harus memenuhi ketentuan butir i di atas dan standar teknis yang berlaku. dan (2) terdapat regu pemadam kebakaran. 6. (3) bila dilengkapi dengan pompa kebakaran harus terdiri dari: (a) 2 (dua) pompa.

b. 6. untuk pompa yang ditempatkan di luar bangunan. satu unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. bila sistem pasokan air mengambil air dari sumber statis. tahan cuaca. . dan jika dalam jarak 6 m dari bangunan. tempat pompa harus terpisah dari bangunan. mempunyai jalur keluar langsung ke jalan atau ruang terbuka. atau: (2) bila hidran dalam tidak dipasang. 7. (2) melayani hanya lantai dimana alat ini ditempatkan. (a) pada bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian Klas 4 dilayani oleh Hose Reel tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari unit hunian tersebut. maka bangunan rumah pompa tersebut harus jelas terlihat. maka dinding rumah pompa dan bagian dinding luar yang berjarak 2 m dari samping rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa. pemasangan pompa kebakarannya dalam bangunan harus pada tempat yang: (a) mempunyai jelur keluar ke jalan atau ruang terbuka. dan (b) pada bangunan klas 5. harus: (1) dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. untuk melayani setiap kompartemen kebakaran dengan luas lantai lebih dari 500 m2 dan untuk maksud butir ini. atau dinding antara bangunan dan rumah pompa yang berjarak 2 m dari sisi rurnah pompa dan 3 m di atas rumah pompa harus mempunyai TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan untuk dinding tahan api sesuai klas bangunannya. maka harus disediakan sambungan yang cocok dan jalan masuk kendaraan pemadam kebakaran untuk memudahkan petugas pemadam kebakaran memompa air dari sumber tersebut dan harus disediakan sambungan yang berdekatan dengan lokasi tersebut untuk meningkatkan tekanan air dalam sistem gedung. Sistem Hose Reel. dimana satu atau lebih hidran dalam dipasang. serta harus dirancang untuk memenuhi tekanan dan laju aliran yang disyaratkan untuk operasi petugas pemadam kebakaran.(5) (6) (7) (c) motor listrik yang dihubungkan pada sumber tenaga yang terpisah satu sama lain melalui fasilitas pemindah daya otomatis. dilayani oleh Hose Reei tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari satu unit hunian tersebut dengan syarat Hose Reel melayani seluruh unit hunian. atau (b) jika bangunan tidak dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler sesuai ketentuan yang berlaku. ii. dipertimbangkan sebagai kompartemen kebakaran. 8 atau 9 yang tidak lebih dari 2 (dua) lantai. Hose Reel i. dan dengan konstruksi yang mempunysi TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan bagi suatu dinding tahan api untuk klasifikasi bangunannya. Sistem Hose Reel harus disediakan: (1) untuk melayani seluruh bangunan. kecuali pada satu unit hunian.

(b). atau (d) kombinasi (a).(3) (4) (5) (6) Memiliki slang kebakaran yang harus diletakkan sedemikian rupa untuk menghindari partisi atau penghalang di dalam mencapai setiap bagian lantai dari tingkat yang bersangkutan Hose reel yang dipasang mengikuti butir (3) diatas ditempatkan: (a) di luar bangunan. yang merupakan bangunan terpisah Bangunan pertokoan (kbs 6). Sistem sprinkler harus dipasang pada bangunan sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel V. Teater. Termasuk lapangan parkir terbuka dalam bangunan campuran. 2. (b) volume ruangan lebih dari 21. Tidak termasuk lapangan parkir terbuka. sebuah katup yang memenuhi butir 5. (d) tiap katup yang mengatur aliran air dari sumber air utama ke Hose Reel harus dijaga pada posisi terbuka oleh pengunci dari logam. Bila dihubungkan dengan meteran air.d harus dipasang pada sambungan ke saluran utama. Ruang Pertunjukan. Lebih dari 2 (dua) lantai. atau (c) di dalam bangunan berdekatan dengan hidran dalam (selain hidran yang dipasang di pintu keluar yang diisolasi tahan api). maka: (a) dipelihara kebutuhan kecepatan aliran dari hose reel. Bila dipasok oleh sumber air utama dengan diameter nominal lebih besar dari 25 mm dan yang dihubungkan dengan sumber air untuk hidran. c. Ruang Pertemuan Umum. Sistem Sprinkler i. Konstruksi Atrium. Luas panggung dan belakang panggung lebih dari 200 m Tiap bangunan beratrium Untuk memperoleh ukuran kompartemen .000 m3. Pada bangunan yang tinggi efektifnya lebih dari 25 m Dalam kompartemenisasi dengan salah satu ketentuan berikut: (a) luas lantai lebih dari 3. atau (b) di dalam bangunan sekitar 4 m dari pintu keluar. Bangunan Rumah Sakit. dan (c).2.500 m2.1 Persyaratan Pemakaian Sprinkler Jenis bangunan Kapan Sprinkler diperlukan: Semua klas bangunan: 1. (c) jaringan pipa memenuhi syarat pembagian pasokan air. (b) diameter pipa dari meteran air atau instalasi PAM berdiameter tidak kurang dari 25 mm. sehingga hose tidak perlu melintasi pintu keluar masuk yang dilengkapi dengan pintu kebakaran atau pintu asap.

atau: (b) dalam hal sebagian bangunan: (i) sebagian bangunan dipasang sprinkler dan diberi kompartemen kebakaran pada bagian yang tanpa sprinkler. Tanpa mengurangi ketentuan dalam standar teknis yang berlaku mengenai sprinkler. atau (b) sistem pengeras suara atau peralatan lainnya yang dapat didengar bila peringatan darurat dan sistem komunikas intemal tidak disyaratkan.000 m3. 108.000 m2 dan volume 108. Sistem sprinkler harus disambung atau dihubungkan ke dan dapat mengaktifkan: (a) setiap peringatan darurat dan sistem komunikasi intema yang disyaratkan.000 m2 den volume Bangunan berukuran begar den terpisah. luar bangunan yang diisyaratkan menggunakan sprinkler. Tanpa mengurangi ketentuan atau standar yang berlaku bangunan atau bagian bangunan dianggap bersprinkler. (4) Pasokan air. selain nuang parkir terbuka Bila menampung lebih dari 40 kendaraan.000 m2. amat tinggi. . *) Jenis bangunan dengan resiko bahaya kebakaran tinggi sesuai standar teknis yang berlaku. (b) semua bangunan dengan luas lantai lebih besar dari 18.000 m3. dan klasifikas bangunan sesuai standar teknis yang berlaku. Pada kompartemen. jika: (a) sprinkler terpasang diselunuh bangunan. ·) (b) Volume lebih dari 12. Sistem sprinkler harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: (1) Standar perancangan dan pemasangan sprinkler otomatis sesuai standar teknis yang berlaku. (5) Sambungan dengan peralatan alarm lainnya. ii. Ruang parkir. Katup kontrol sprinkler harus ditempatkan dalam suatu ruang yang aman atau ruang tertutup yang berhubungan langsung ke jalan atau ruang terbuka.9 dengan luas maksimum 18.yang lebih besar: (a) bangunan klas 5 . dan (ii) setiap bukaan pada konstruksi pemisah antara bagian ter-sprinkler dan bagian tak ter-sprinker diproteksi sesuai ketentuan proteksi pada bukaan (3) Katup kontrol sprinkler.000 m3. pasokan air untuk sistem sprinkler harus memperhatikan tinggi efektif bangunan. (2) Bangunan bersprinkler. dengan salah satu dari Bangunan dengan risiko bahaya kebakaran 2(dua) persyaratan : 2 (dua) persyaratan berikut: (a) Luas lantai melebihi 2. SNI-3989.

(b) bila berhubungan dengan sistem sprinkler yang melindungi bagian bangunan bukan ruang parkir. dan iv. harus dirancang sehingga sistem sprinkler yang melindungi bagian bukan nuang parkir dapat diisolasi dengan tanpa mengganggu aliran air. SNI-3985. anak-anak atau orang cacat. Pemadam Api Ringan (PAR) i. iii. bangunan klas 1b. bangunan klas 2 dengan persyaratan khusus. ii. atau (2) bila sistem peringatan darurat dan sistem komunikasi intemal tidak dipersyaratkan. 7) Sistem sprinkler di ruang parkir. atau (2) akomodasi bagi lanjut usia. ruang pertemuan umum atau semacamnya. alarm pengindera asap ataupun peralatan untuk peringatan . Sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm otomatis harus dihubungkan dan mengaktifkan: (1) sistem peringatan keadaan darurat dan sistem komunikasi internal sebagaimana dipersyaratkan oleh ketentuan Bab VIII. maka pada tiap katup yang berfungsi mengendalikan sprinkler didaerah panggung harus dipasang peralatan anti gangguan yang dihubungkan ke panel pemantau. Sistem deteksi dan alarm kebakaran otomatis harus dipasang di: i. ii. PAR yang jenisnya sesuai kebutuhan harus dipasang diseluruh bangunan. Perancangan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm kebakaran harus memenuhi standar teknis yang berlaku. maka dapat dihubungkan dengan sistem pengeras suara. dengan ii. Untuk sistem sprinkler yang dipasang di teater. ataupun mempengaruhi efektivitas operasi sprinkler yang melindungi ruang parkir. kecuali di dalam unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. 2. d.(6) Peralatan anti gangguan (Anti Tamper). bangunan klas 9a. Spesifikasi Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran. harus: (a) berdiri sendiri. Sistem sprinkler yang dipasang pada ruang parkir pada bangunan multi-klas. b. dan (2) PAR dari jenis bukan klas A harus ditempatkan pada lokasi yang dapat menjangkau lokasi yang mengandung jenis bahaya yang harus diatasi. Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran a. SNI-3987 kecuali PAR jenis air yang tidak perlu dipasang di dalam bangunan atau bagian bangunan yang dilayani oleh Hose Reel. tidak berhubungan dengan sistem sprinkler di bagian bangunan lainnya. i. bangunan klas 3 yang menampung lebih dari 20 penghuni yang digunakan sebagai: (1) bagian hunian dari bangunan sekolah. jika: (1) Disediakan dengan mengikuti standar teknis yang berlaku. PAR memenuhi butir i. yang memungkinkan dilakukannya pemadaman awal efektip terhadap kebakaran oleh penghuni bangunan.

dan iii. d. Rute evakuasi merupakan jarak lintasan menerus perjalanan evakoasi/ penyelamatan dari suatu tempat (seperti pintu/ jalan keluar. ii. ii. ditempatkan pada lokasi berkumpulnya asap panas dengan mempertimbangkan geometri langit-langit dan efeknya pada lintasan perpindahan asap.50 meter jaraknya dari pintu kebakaran. bangunan klas 1 atau 10. : Batas Ambang.5 % smoke obscuration/m. i. Pemasangan. iii. setiap rute evakuasi harus dijaga dengan ketinggian asap sekurang-kurangnya 2. jika dipasang di dalam saluran udara (ducts) atau udara yang terkontaminasi partikel debu dengan ukuran kurang dari 1 µm. untuk selama tenggang waktu sampai dengan seluruh penghuni dapat terevakuasi dari bangunan. termasuk didalam satuan numah hunian bangunan klas 2 atau 3 atau sebagian klas 4. ruang kompartemen sanitasi. Persyaratan umum i. i. b. 3. dan bila terdapat partikel jenis lainnya harus menggunakan detektor tipe ionisasi.c. sehingga (1) temperatur ruang tidak membahayakan manusia. dan ii. sampai ke jalan atau ruang terbuka bebas. ii. seperti gudang dengan luas lantai 30 m2. iii. dan iv. ruang parkir terbuka atau panggung terbuka. setiap ruangan yang tidak digunakan oleh penghuni untuk waktu yang cukup lama. ramp dan jalur sirkulasi yang terisolasi dari kebakaran serta koridor umum) pada setiap bagian bangunan. . Perioda tenggang waktu harus memperhitungkan keadaan bangunan dan mobilitas manusia. (2) tingkat penglihatan memungkinkan diketahui rute evakuasinya.10 m di atas level lantai. dipasang dengan permukaan menghadap ke bawah dan di luar saluran unit pengkondisian udara. dipilih tipe foto-elektrik. Penetapan batas ambang alarm bagi sistem detektor harus mengikuti ketentuan yang berlaku. ditempatkan kurang dari 1. yaitu: (1) ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan Ventilasi Mekanik dan Pengkondisian Udara dalam Bangunan Gedung. Pada saat terjadi kebakaran. Penempatan Alat Pendeteksi Asap. lainnya yang dapat didengar dan yang ditempatkan disetiap lantai sesuai ketentuan yang berlaku. ruang tanaman atau sejenisnya. dan (2) ketentuan yang berlaku tentang Spesifikasi Alat Pendeteksi dan Alarm Kebakaran otomatis pada Bangunan Gedung. Sistem sampling harus memenuhi Ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan. (3) tingkat racun asap yang timbul tidak membahayakan manusia. Ketentuan pengendalian asap ini tidak berlaku untuk: i. dan Pemeriksaan Alat Deteksi dan Alarm Kebakaran Otomatis. atau menggunakan sistem point sampling yang mempunyai derajat kepekaan maksimum 0. Pengendalian Asap Kebakaran a.

harus: (a) beroparasi seperti sistem pengendali asap. Pada sistem pengkondisian udara terpusat yang memutar udara untuk lebih dari satu ruangan kompartemen kebakaran: (1) pada bangunan yang termasuk dalam butir v. c. tata letak bangunan. iii.. Konstruksi. ii. harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap sesuai ketentuan. dan tidak membentuk bagian sistem pengendali asap harus memenuhi ketentuan standar yang berlaku. dimana: b. dilengkapi sarana alat pengendali. . Berkaitan dengan butir c berikut tentang Persyaratan Untuk Bahaya Khusus. dan (2) kegiatan lain yang berkaitan dengan unsur keselamatan atau keamanan bagi penghuni bangunan.2. v. iii. 4. panel kontrol. Kegunaan dan sarana yang ada di Pusat Pengendali Kebakaran adalah: i. setiap hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 harus diberlakukan sebagai kompartemen terpisah. bila suatu bangunan tidak termasuk dalam Tabel V.2. Pusat Pengendali Kebakaran a. Persyaratan untuk bahaya khusus Upaya tambahan dalam pengendalian bahaya asap mungkin dipersyaratkan bilamana berkaitan dengan: i. sifat dan jumlah bahan yang disimpan. (2) pada bangunan yang termasuk dalam butir vi. telepon. sebuah ruang untuk pengendalian dan pengarahan selama berlangsungnya operasi penanggulangan kebakaran atau penanganan kondisi darurat lainnya. atau ketentuan pada butir b. dan persyaratan lain dari pedoman teknis ini. ii sifat penggunaan bangunan.2. tidak digunakan bagi keperluan lain. sistem tidak mengganggu beroperasinya peralatan pengendalian asap yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V. Ketentuan lebih teknis dalam pengendalian asap kebakaran untuk setiap klas bangunan mengikuti petunjuk dan standar teknis yang berlaku. Ruang Pusat Pengendaii Kebakaran pada bangunan gedung yang tinggi efektifnya lebih dari 50 meter harus merupakan ruang terpisah. Untuk sistem pengatur udara lainnya. d. Untuk keperluan ketentuan ini. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran.. peralatan dan sarana lainnya yang diperlukan dalam penanganan kondisi kebakaran. dan tidak mensirkulasikan asap diantara kompartemen kebakaran. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. bersama-sama dengan kelengkapan pengendalian asap lainnya yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V. vi. atau ketentuan pada butir b. selain: (1) kegiatan pengendalian kebakaran. ditaruh atau dipakai di dalam bangunan.3. setiap bagian yang menyebabkan penyebaran asap yang serius antar kompartemen.iv. meubel.3.3 pada lampiran persyaratan teknis ini maka harus memenuhi ketentuan i.

sistem pengamatan. i. jika dikehendaki terpisah total dari sistem lainnya. dan peralatan pengamanan kebakaran lainnya yang dipasang di dalam bangunan. dan salah satu panjangnya dari sisi bagian dalam tidak kurang dari 2. pipa.5 Pintu Keluar. tidak boleh lewat ruang tersebut. ii. pembungkus atau sejenisnya harus memenuhi persyaratan terhadap kebakaran. yang menuju ke tempat umum dan mempunyai nilai TKA tidak kurang dari -/120/30. (3) sebuah papan tulis dan sebush papan tempel (pin-up board) berukuran cukup. dan sejenisnya harus mengikuti syarat teknis proteksi bukaan pada Bab V. lantai atau langit-langit yang memisahkan ruang pengendali dengan ruang dalam bangunan dibatasi hanya untuk pintu. Pintu yang menuju ruang pengendali harus membuka ke arah dalam ruang tersebut. c. bukaan pada dinding. . sakelar kontrol dan indikator visual yang diperlukan untuk semua pompa kebakaran. i. Ruang pengendali kebakaran harus dilengkapi dengan sekurang-kurangnya: (1). bahan lapis penutup. yang khusus untuk melayani fungsi ruang pengendali tersebut. dan (4) sebuah meja berukuran cukup untuk menggelar gambar dan rencana taktis yang disebutkan dalam (5). peralatan utilitas. e. (2) telepon sambungan langsung. sakelar pengendali jarak jauh untuk gas atau catu daya listrik. dan sistem manajemen. Proteksi pada bukaan.1. Ukuran dan sarana. Ruang pengendali haruslah dapat dimasuki dari (2) dua arah (1) arah pintu masuk di depan bangunan. panel indikator lif. Ruang pengendali harus: (1) mempunyai luas lantai tidak kurang dari 10 m2. dan (5) rencana taktis penanggulangan kebakaran. yang tidak diperlukan untuk berfungsinya nuang pengendali. konstruksi penutupnya dari beton. untuk jendela. dan (2) sistem keamanan bangunan. dan (2) arah langsung dari tempat umum atau melalui jalan terusan yang dilindungi terhadap api. langit-langit dan dinding dalam. seperti pada lantai. saluran udara dan sejenisnya. pintu. Sebagai tambahan. ii.i. ii. dapat dikunci dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga orang yang menggunakan rute evakuasi dari dalam bangunan tidak menghalangi atau menutupi jalan masuk ke ruang pengendali tersebut. genset darurat. Setiap bukaan pada ruang pengendali kebakaran. kipas pengendali asap. iii. iv. iii. ventilasi dan lubang perawatan lainnya. ventilasi.50 m. di ruang pengendali dapat disediakan: (1) Panel pengendali utama. dinding atau sejenisnya mempunyai kekokohan yang cukup terhadap keruntuhan akibat kebakaran dan dengan nilai TKA tidak kurang dari 120/120/120. saluran. d. Panel indikator kebakaran.

50 m2. luas lantai bersih tidak kurang dari 8 m dan luas ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. Ruang pengendali harus diberi ventilasi dengan cara: i. Ventilasi dan pemasok daya. dan tingkat iluminasi diatas meja kerja tak kurang dari 400 Lux. Tingkat suara (ambient) dalam ruang pengendali kebakaran yang diukur pada saat semua peralatan penanggulangan kebakaran beroperasi ketika kondisi darurat berlangsung tidak melebihi 65 dbA bila ditentukan berdasarkan ketentuan tingkat kebisingan didalam bangunan. tetapi tidak berada di dalam ruang pengendali dan diproteksi oleh dinding yang mempunyai TKA tidak lebih kecil dari 120/120/120. pompa pengendali sprinkler. i. atau ii. (2) beroperasi otomatis melalui aktivitas sistem alarm atau sistem sprinkler yang dipasang pada bangunan. (3) mengalirkan udara segar ke ruangan tidak kurang dari 30 kali pertukaran udara perjamnya pada waktu sistem beroperasi dengan dan salah satu pintu ruangan terbuka. Sistem udara bertekanan yang hanya melayani ruang pengendali. ventilasi alami dari jendela atau pintu pada dinding luar bangunan yang membuka langsung ke ruang pengendali. (3) jika dipasang peralatan tambahan. motor dan pipa-pipa saluran udara yang membentuk bagian dari sistem. f. (5) mempunyai catu daya listrik ke ruang pengendali atau peralatan penting bagi beroperasinya ruang pengendali. h. pemipaan dan sambungan-sambungan pipa tidak boleh dipasang dalam ruang pengendali. tetapi boleh dipasang di ruangan-ruangan yang dapat di capai dari ruang pengendali tersebut. (4) mempunyai kipas. . g.(2) jika hanya menampung peralatan minimum. ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. dan (1) dipasang sesuai ketentuan yang berlaku seperti untuk tangga kebakaran yang dilindungi.50 m2 dan ruang untuk tiap rute evakuasi penyelamatan dari ruang pengendali ke ruang lainnya harus disediakan sebagai tambahan persyaratan (2) dan (3) diatas. luas lantai bersih daerah tambahan adalah 2 m2 untuk setiap penambahan alat. Pencahayaan darurat sesuai ketentuan yang berlaku harus dipasang dalam ruang pusat pengendali. Beberapa peralatan seperti Motor bakar.

nyaman. Butir c tersebut tidak berlaku juga untuk: i. Fungsi a. kecuali tangga/ramp di luar bangunan. 3. Kuat dan kokoh menahan pengaruh orang yang menabrak.VI. c. atau 4. Kemiringan permukaan lantai harus aman bagi pejalan kaki. d. iii. ii. Melengkapi bangunan dengan akses yang layak. Setiap pintu dibuat agar penghuni mudah mencapai akses keluar dan menghindari risiko terjebak di dalam bangunan. b. dan tekanan orang pada penghalang tersebut. c. Butir c tersebut di atas tidak berlaku bila penghalang tersebut digunakan untuk panggung. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dan area lain untuk tujuan darurat. Pada area dimana orang bisa jatuh dari ketinggian 1m atau lebih dari lantai/atap/melalui bukaan pada dinding luar bangunan. mampu menjaga lintasan anak-anak. Melengkapi bangunan dengan sarana evakuasi yang memungkinkan penghuni punya waktu untuk menyelamatkan diri dengan aman tanpa meraskan keadaan darurat. tempat bongkar muat barang dan sejenisnya. (5) Tangga yang memadai untuk menampung volume dan frekwensi penggunaan. b. Setiap tangga dan ramp memiliki: (1) Permukaan lantai tidak licin pada ramp. Persyaratan kinerja: a. ii. iv. nyaman dan memadai. ii. atau karena perbedaan tinggi lantai dalam bangunan. iii. 2. SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. menerus sepanjang area yang berbahaya. tinggi disesuaikan dengan risiko orang tanpa disengaja jatuh dari lantai /atap. Agar manusia dapat bergerak dengan aman ke dan di dalam bangunan maka bangunan harus mempunyai antara lain: i. e. Akses ke dan di dalam bangunan harus tersedia yang memungkinkan pergerakan manusia secara aman. (2) Pegangan rambat (handrails) yang memadai untuk membantu kestabilan pemakai tangga/ramp (3) Lantai bordes yang memadai uniuk menghindari keletihan (4) Pintu di lantai bordes sedemikian hingga pintu tersebut tidak menjadi rintangan. harus dibuatkan penghalang yang: i. Fungsi tersebut pada butir b di atas tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. injakan dan akhiran injakan tangga. aman. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir mobil) dan klas 8. . dan memadai bagi semua orang.

d. jarak tempuh dari titik manapun pada lantai dimaksud ke suatu jalan keluar tunggal tak lebih dari 20 m. b Bangunan klas 2 s. Persyaratan Keamanan a. Tangga. dimensi jelur lintasan menuju ke pintu keluar harus sesuai dengan . Semua bangunan : Setiap bangunan harus mempunyai sedikitnya 1 jalan keluar dari setiap lantainya. balustrade atau penghalang lainya yang untuk melindungi pengguna bangunan terhadap risiko jatuh .d. Intervensi pasukan pemadam kebakaran Agar penghuni dapat keluar dengan aman dari bangunan. Jumlah. ramp dan lorong (gang) harus aman bagi lalu lintas pengguna bangunan. iii. b. dan atap yang dapat dicapai oleh manusia harus mempunyai dinding pembatas.f. ramp. Ramp kendaraan dan lantai yang dapat dilewati kendaraan harus mempunyai pembatas pinggir atau penghalang lainnya untuk melindungi pejalan kaki dan struktur bangunannya. Bangunan klas 9: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada: i. Jumlah lantai yang dihubungkan dengan pintu tersebut ii. setiap lapis lantai bila bangunan dengan jumlah lantai lebih dari 6.5 m. mobilitas dan karakter penghuni. Jumlah. Tinggi bangunan Jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran dan sesuai dengan: i. sesuai dengan: i.2 KETENTUAN JALAN KELUAR 1. 2 .atau yang ketinggian efektifnya lebih dari 25 m. lantai. balkon. g. Kebutuhan Jalan Keluar a. Fungsi bangunan iv. 3 dan 4. setiap lapis lantai termasuk area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. Tangga. dan ii. Jumlah. h. Basement: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada lapis lantai manapun. mobilitas dan karakter lain dan penghuni ii. c. i. i. 8: Minimal harus tersedia 2 jalan ke!uar pada setiap lapis lantainya apabila tinggi efektif bangunannya lebih dari 25 m c. ii. Fungsi bangunan iv. bila jalan keluar dari lapis lantai di dalam bangunan dimaksud naik lebih dari 1. luas lapis lantainya tak lebih dari 50 m2. VI. Sistem kebakaran yang dipasang dalam bangunan iii. kecuali: i. Jarak tempuh ii. lokasi dan dimensi pintu keluar yang tersedia pada bangunan disediakan agar penghuni dapat menyelamatkan diri dengan aman. Fungsi bangunan Butir h tersebut di atas tidak berlaku di dalam unit hunian tunggal pada bangunan klas 2.

setiap lapis lantai pada bangunan sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama dengan ketinggian 2 lantai atau lebih. Area perawatan pasien: Pada bangunan klas 9a sedikitnya harus ada 1 jalan keluar dari setiap bagian pada lapis lantai yang telah disekat menjadi kompartemen tahan api. f. e. Bagian bangunan klas 4: Pintu masuk harus tidak lebih dari 6 m dari pintu keluar. bila bangunan tersebut mempunyai sistem sprinkler yang menyeluruh. Pintu masuk dari setiap hunian tunggal harus berjarak tidak lebih dari: (1) 6 m dari jalan keluar atau dari tempat dengan jalur yang berbeda arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. iii. harus kurang dari 20 m dari pintu keluar atau tempat jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. 4. selain area perawatan pasien. Bangunan klas 2 dan 3 i. Panggung terbuka: Pada panggung terbuka dan menampung lebih dari 1 deret tempat duduk. . 9 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap bahaya kebakaran kecuali: i. ii. atau ii. b. dan termasuk 1 lapis lantai tambahan bila digunakan sebagai tempat menyimpan kendaraan bermotor atau tempat pelengkap lainnya. setiap penghuni pada lapis lantai atau bagian lapis lantai bangunan harus dapat mencapai ke: i. v. atau dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. atau ii. kecuali jalan tersebut menghubungkan tidak lebih dari: i. Jalan keluar yang diisolasi terhadap kebakaran a. ii. Akses ke jalan keluar: Tanpa harus melalui hunian tunggal lainnya. masing-masing merupakan bagian jelur lintasan ke minimal 2 buah jalan keluar. tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan. setiap lapis lantai atau mesanin yang dapat menampung lebih dari 50 orang sesuai fungsinya. 2 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 3. 1 jalan keluar. 3. bila 2 atau lebih jalan keluar diwajibkan. atau (2) 20 m dari pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan jalan keluar ke jalan atau ke ruang terbuka. pada bangunan klas 9a: tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan pada suatu tempat. sedikitnya 2 jalan keluar. setiap lapis lantai pada bangunan klas 9b yang digunakan sebagai pusat asuhan balita. 3 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 2. g.iii. setiap deret harus mempunyai minimal 2 tangga atau ramp. merupakan bagian dari tribun penonton terbuka. b. Bangunan kelas 5 s. iv.d. Bangunan klas 2 dan 3: Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran. Setiap tempat dalam ruangan yang bukan pada unit hunian tunggal. Jarak jalur menuju pintu keluar a.

Gedung Pertemuan: Pada bangunan klas 9b selain gedung sekolah atau pusat asuhan balita. lebar bebas. 1 m ditambah 250 mm untuk setiap kelebihan 25 orang. atau ii. f. 9: Terkena aturan butir d. Jarak Antara Pintu-pintu Keluar Alternatif. i. 60 m. Pintu keluar yang disyaratkan atau jalur sirkulasi ke jalan keluar: a. dan: i. atau 6.8 m pada lorong. untuk bangunan lainnya.d. lobby. jarsk ke pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan akses ke jalan atau ke ruang terbuka dapat diperpanjang sampai 30 m. konstruksi ruang tersebut bebas asap. Setiap tempat harus berjarak tidak lebih 20 m dari pintu keluar. jika jarak maksimum ke salah satu pintu keluar tersebut tidak melebihi 40 m. atau iii. dan ii. jarak ke salah satu pintu keluar dimungkinkan 60 m. 45 m pada bangunan klas 2 atau klas 3. 1. dan ii. atau ii. jika lapis lantai atau mesanin menampung tidak lebih dari 100 orang. 1 m. d. Bangunan klas 9a: Area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. 45 m pada bangunan klas 9a. lebar bebas. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. berjarak tidak lebih dari: i. tinggi bebas seluruhnya harus tidak kurang dari 2 m. atau ruang sirkulasi lainnya. b. Pada bangunan klas 5 atau 6. tersebar merata di sekeliling lantai dimaksud sehingga akses ke minimal dua pintu keluar tidak terhalang dari semua tempat termasuk area lif di lobby. ramp. Dimensi/ukuran Pintu Keluar. Panggung Terbuka: Jarak jalur lintasan menuju ke pintu keluar pada bangunan klas 9b yang dipakai sebagai panggung terbuka harus tidak lebih dari 60 m. Bangunan klas 5 s. berjarak tidak kurang dari 9 m. d. bila : i. . koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan c. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 100 orang tetapi tidak lebih dari 200 orang. Setiap tempat pada lantai harus berjarak tidak lebih 12 m dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar yang dipersyaratkan tersedia. atau tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. Jarak maksimum dari satu tempat ke salah satu dari pintu keluar tersebut tidak lebih dari 30 m. c. 5. memiliki TKA tidak kurang dari 60/60/60 dan konstruksi setiap pintunya terlindung serta dapat menutup sendiri dengan ketebalan tidak kurang dari 35 mm. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. e. b. Pintu yang disyaratkan sebagai alternatif jalan keluar harus: a. f. ii. bila disyaratkan untuk pintu keluar pada tempat perawatan pasien. e. terletak sedemikian hingga alternatif jalur lintasan tidak bertemu hingga berjarak kurang dari 6 m. jalur lintasan dari ruang tersebut ke pintu keluar melalui lorong/koridor.c.

(2) terbuka untuk sedikitnya 1/3 dari keliling area tersebut. Setiap tangga atau ramp tahan api harus menyediakan pintu keluar tersendiri dari tiap lapis lantai yang dilayani dan keluar secara langsung atau melawati lorong yang diisolasi terhadap kebakaran yang ada di lantai tersebut: i. d atau e. atau ii. Pintu dalam ruangan harus tidak membuka langsung ke arah tangga. lebar dari setiap pintu keluar yang memenuhi ketentuan butir b. c. a. lobby umum. lebar pintu keluar tidak boleh berkurang pada jalur lintasan ke jalan atau ruang terbuka. Bila lintasan keluar bangunan mengharuskan melewati 6 m dari dinding luar bangunan dimaksud. unit hunian tunggal yang menempati seluruh lapis lantai. diukur tegak lurus ke jalur lintasan. (4) mempunyai lintasan bebas rintangan dari tempat keluar ke jalan atau ruang terbuka yang tidak lebih dan 6 m. pada area perawatan pasien. jika membuka ke arah koridor dengan (1) lebar koridor antara 1. kecuali kalau pintu tersebut dari: i. g.2 m: 1070 mm. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran. bagian dinding tersebut harus mempunyai: c. ii. (2) lintasan tanpa rintangan.8 m . iii. tersedia menuju ke jalan atau ruang terbuka. lorong. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 75 orang. iii. atau ramp yang disyaratkan diisolasi terhadap kebakaran. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. iii.d. b. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 60 orang jika jalan keluar mencakup perubahan ketinggian lantai oleh tangga atau ramp dengan tinggi tanjakan 1:12. ruang transisi atau yang sejenisnya. . tidak lebih dari 20 m. 7. kecuali untuk pintu keluar harus diperlebar sampai 17 m ditambah dengan angka kelebihan tersebut dibagi 600.2 m: 1200 mm.2. (3) mernpunyai ketinggian bebas rintangan di semua bagian termasuk bukaan pada keliling area yang tidak kurang dari 3 m. lebar bebas. komponen sanitasi. e.8 m pada lorong. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 200 orang. 1. lebar bebas. ii. lebar pintu keluar: i. 750 mm. ke area tertutup yang: (1) berbatasan dengan jalan atau ruang terbuka. ketempat: (1) ruang atau lantai yang digunakan hanya untuk pejalan kaki. (3) pintu keluar horisontal: 1250 mm. f. bila pintu tersebut untuk kompartemen sanitasi atau kamar mandi. hall atau yang sejenisnya. koridor. pada panggung penonton yang menampung lebih dari 2000 orang. ii. (2) lebar koridor lebih dari 2. minus 250 mm. dan tertutup tidak lebih dari 1/3 kelilingnya. pada kasus lain. parkir kendaraan atau sejenisnya. ke jalan atau ruang terbuka. kecuali pintu keluar harus ditambah menjadi: i. atau ii.

15 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka.1. Pada bangunan klas 2. 20 m dari pintu keluaar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. Pada bangunan klas 5 s. 9. Tangga Luar Bangunan Tangga luar bangunan dapat berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan menggantikan pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran. jarak antara sembarang tempat pada lantai ke tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melebihi 80 m. 60 m pada konstruksi bangunan lainnya. .3 harus tersedia ii. Pada bangunan klas 5 s d.2. ii. 30 m dan salah satu dari dua pintu atau lorong keluar bila arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. pada bangunan dengan ketinggian efektif tidak lebih dari 25 m. atau ii. Jika Jebih dari dua akses pintu. tangga/ramp yang tidak diisolasi torhadap kebakaran harus keluar ke tempat yang tidak lebih dari: i. 8.i. bangunan klas 9a : Ramp harus tersedia untuk setiap perubahan ketinggian kurang dari 600 mm pada lorong yang diisolasi terhadap kebakaran. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke jalan atau ruang terbuka.5. dan memenuhi ketentuan teknis yang berlaku. 3 atau 4. pintu keluar bertekanan udara sesuai standar yang berlaku. e. bukaan terlindung di bagian dalam dilindungi sesuai ketentuan Proteksi Bukaan pada Bab V. 30 m pada konstruksi bangunan tipe C. c. Tangga/ramp. Lintasan Melalui Tangga/Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran a. bila konstruksi tangga tersebut (termasuk jembatan penghubung) secara keseluruhan dari bahan yang tidak mudah terbakar. d. e. atau ii. d. yang tidak diisolasi terhadap kebakaran. membuka ke pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran pada lantai dimaksud i lobby bebas asap sesuai dengan Bab V. Pada bangunan klas 2. 3 atau 9a. atau 9. tangga/ramp yan tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar pada tempat yang tidak lebih dari i. bukan dari komponen sanitasi atau sejenisnya.d. TKA sedikitnya 60/60/60. 8 ata u 9b. dengan injakan dan tanjakan dari setiap lantai yang dilayani menuju ke lantai dimana pintu keluar ke jalan atau ruang terbuka disediakan b. jarak antara pintu keluar dari ruang atau unit hunian tunggal dan tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga atau ramp yang tidak diisolasii terhadap kebakaran harus tidak melampaui: i. yang berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan harus mempunyai jalan lintasan menerus. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke Jalan atau ruang terbuka.

tidak lebih dari 2/3 lebar pintu keluar yang disyaratkan harus terletak di area pintu masuk utama. pintu keluar horisontal dapat dianggap sebagai pintu keluar yang disyaratkan. f. . kecuali bila pintu keluar dari bangunan klas 9a. lintasan ke arah jalan harus mempunyai lebar bebas tidak kurang dan 1 m. bila jalur lintasan dari kompartemen kebakaran menuju ke satu atau lebih pintu keluar horisontal langsung menuju ke kompartemen kebakaran lainnya. jalur lintasan menuju ke jalan harus i. Pada bangunan klas 9a. dan mempunyai sedikitnya satu pintu keluar yang disyaratkan yang bukan pintu keluar horisontal Kasus selain butir b di atas. pada bangunan klas 9b yang digunakan untuk pusat asuhan balita bagunan SD atau SLTP. e. bebas asap.4. Pintu keluar horisontal bukan merupakan pintu keluar yang disyaratkan apabila: i. maka masing-masing pintu keluar tersebut harus : i menyediakan jalan keluar terpisah menuju ke jalan atau ruang terbuka. Pada bangunan klas 2 atau 3.14 bila disyaratkan oleh ketentuan Bab.5 m2 tiap pasien pada bangunan klas 9a. pintu keluar horisontal harus tidak lebih dari separuh pintu keluar yang disyaratkan pada lantai yang dipisahkan oleh dinding tahan api Pintu keluar horisontal harus mempunyai area bebas disetiap sisi dinding tahan api untuk menampung jumlah orang dari seluruh bagian lantai dengan tidak kurang dari: i. Jika pintu keluar menuju ke ruang terbuka yang terletak pada ketinggian berbeda dengan jalan umum yang menghubungkannya. panggung terbuka yang menampung lebih dari 500 orang. berupa ramp atau lereng dengan kemiringan kurang dari 1:8. 2. b. Vl. antara unit hunian tunggal. atau lebar minimum dari pintu keluar yang disyaratkan. ii. tangga memenuhi ketentuan dari pedoman ini. atau mana yang lebih lebar.ii. Jika pintu keluar yang disyaratkan menuju ke ruang terbuka. tangga atau ramp yang disyaratkan harus tidak keluar ke arah area di depan panggung tersebut. c. a. 10. 40 m dari salah satu dari dua pintu atau lorong keluar: arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. bila dua atau lebih pintu keluar disyaratkan dan disediakan sebagai sarana tangga/ramp yang tidak diisolasi. Keluar Melalui Pintu-Pintu Keluar a. Pintu keluar harus tidak terhalang. ii. 11 Pintu Keluar Horisontal. Pada bangunan klas 9b. dan bila perlu dibuat penghalang untuk mencegah kendaraan menghalangi jalan keluar atau akses menuju ke pintu keluar tersebut. b.2. dan c. Pada bangunan klas 9b dengan auditorium yang menampung lebih dan 500 orang. ii. d. d. terhadap kebakaran dalam bangunan. atau tidak setinggi 1.

dan eskalator. ramp. kecuali bila dijinkan sesuai butir b atau c di atas. pada bangunan klas 5 atau 6 yang dilengkapi dengan fasilitas sprinkler menyeluruh. koridor. iv. Tangga. ramp atau eskalator tersebut i. atau 13. 2 lantai dengan ketentuan lantai bangunan tersebut harus berurutan.c. motor lif mempunyai luasan i. kecuali diijinkan sesuai butir b di atas.2 sesuai jenis penghunian. harus tidak digunakan di area perawatan pasien pada bangunan klas 9a b. bila: i. 0. Tangga pengait diijinkan menurut (a) di atas. harus tidak menghubungkan secara langsung atau tidak langsung ke lebih dari 2 lapis lantai pada bangunan klas 5. dapat keluar pada lantai dan dipertimbangkan sebagai bagian dari jalur lintasan. dan bila 2 atau lebih tempat jalan keluar tersedia dalam ruangan tersebut. b. di luar bangunan. tangga pengait (ladder) dapat dipakai sebagai pengganti tangga (stairway) dari setiap tempat jalan keluar dari ruangan. 12. pada panggung terbuka atau stadion olah raga tertutup. tangga. ruang atau mesanin harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaan atau fungsi bangunan. service duct dan yang sejenis. kecuali satu dari jalan keluar tersebut. tangga pengait dapat dipakai sebagai pengganti tangga seluruhnya. harus memenuhi standar teknis terkait bila untuk ruang peralatan dan untuk ruang motor lift. 6. dan ii. menghitung total jumlah orang tersebut dengan membagi luas lantai dari tiap lapis menurut Tabel Vl. merupakan bagian dari jalan keluar yang tersedia pada tangga yang diisolasi terhadap kebakaran yang terdapat dalam saf. hall. tangga atau ramp disyaratkan memenuhi ketentuan butir 12 ini c. Ramp Atau Eksalator Yang Tidak Disyaratkan Eskalator dan tangga/ramp pejalan kaki yang ditetapkan tidak diisolasi terhadap kebakaran a. ii. iii. Ruang Peralatan Dan Ruang Motor Lift a. dan satu dari lapis lantai tersebut terletak pada ketinggian yang terdapat jalan keluar langsung ke arah jalan atau ruang terbuka. bila tiap lantai tersebut dilengkapi dengan sprinkler menyeluruh sesuai ketentuan Bab V. kompartemen sanitasi atau penggunaan tambahan. tidak lebih dari 100 m2. ii. Bila ruang peralatan atau ruang. iii. dan luas lantai dengan: a. 8 atau 9. . dapat menghubungkan sejumlah lantai bangunan bila tangga. Jumlah Orang Yang Ditampung Jumlah orang yang ditampung dalam satu lantai.ii. lobby dan yang sejenis. 14. d. lift.5 m2 tiap orang pada klas bangunan lainnya. ii pada area parkir kendaraan atau atrium. tidak harus menghubungkan lebih dari i. 3 lantai. atau ii.2. tidak termasuk area yang dirancang untuk: i. 1. lebih dari 100 m2 dan tidak lebih dari 200 m2. 7. tata letak lantai tersebut. eskalator.

telepon Kolam renang Teater dan Hall R. arcade Panggung penonton: darah panggung Kursi penonton R. prosesing . manufaktur. mengacu kepada kapasitas tempat duduk di ruang atau bangunan gedung pertemuan. Penerapan Kecuali ketentuan butir 13 den 16. guest-house Stadion indoor area Kios Dapur. Tangga Dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Tangga atau ramp yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi: a. r.2 LUASAN PER-ORANG SESUAI PENGGUNAANNYA (BEBAN PENGHUNIAN) Jenis Penggunaan Galeri seni. kerja. r. workshop . Tabel VI. b. laboratorium.5 5 4 5 50 30 3 15 10 1 10 2 30 Jenis Penggunaan Kantor (pengetikan dan fotokopi) Ruang Perawatan Pasien Ruang industri : . dari material tidak mudah terbakar.boiler/sumber tenaga Ruang baca Restoran Sekolah : r. café. c.5 1 4 2 30 pabrik VI. pamer : r. 3.3 1 30 1. . listrik. kelas umum gedung serba guna ruang staf ruang praktek: SD SLTP Pertokoan. elktrikal. dll .mall. hostel.3 KONSTRUKSI JALAN KELUAR 1. penjualan: Level langsung dari luar Level lainnya r.r penyimpanan m2/orang 4 1 2 15 25 10 1 0.b. . museum Bar. tangga dan ramp yang tidak disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi sesuai ketentuan butir 2 diatas.r. bila terjadi kenusakan setempat tidak merusak struktur yang dapat melemahkan ketahanan saf terhadap api.r. Tangga Dan Ramp Yang tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran Untuk bangunan dengan ketinggian lebih dari 2 lantai. tunggu r. peragaan. ruang pamer. r. persyaratan ini tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 atau bagian klas 4. ganti di teater Terminal Bengkel / workshop : staf pemeliharaan Proses manufaktur m2/orang 10 10 30 50 2 1 2 1 10 4 bengkel 3 5 5 0. ruang makan Ruang pengurus Pemondokan/losmen Ruang komputer Ruang sidang pengadilan: r.ventilasi. tempat cuci Perpustakaan : . baca. atau cara lain yang sesuai untuk menilai kapasitasnya.ruang untuk fabrikasi dan proses selain di atas Garasi-garasi umum Ruang senam/gymnasium Hotel. gereja. penyimpanan r. atau dengan konstruksi: 2. sidang Ruang dansa Asrama Pusat Penitipan Balita Pabrik: . motel.

setiap konstruksi yang memisahkan tanjakan dan turunan tangga harus tidak mudah terbakar dan mempunyai TKA minimal 60/60/60. luas total area bebas minimal seluas ramp atau balkon ii. atau ke bagian bawah langit-langit yang tahan penjalaran api sampai 60 menit. b. d. b. Instalasi Pada Jalan Keluar Dan Jalur Lintasan a. terbentang antar balok lantai. atau terdapat alat sensor asap diletakkan dekat dengan sisi bukaan. bila pintu keluar disyaratkan harus diberi tekanan udara. beton bertulang atau beton prestressed. turunan tangga dari lantai di atas lantai dasar. Jalan masuk ke saf servis dan lainnya. baja dengan tebal minimal 6 mm kayu: i.7 harus: a. tidak harus disediakan dari tangga. diberi tekanan udara sebagai bagian dari pintu keluar. pada area terbuka dengan ketinggian 1 m tidak tertutup. iii. tanjakan tangga dari lantai di bawah lantai dasar ke arah jalan atau ruang terbuka. mempunyai TKA minimal 60/60/-. kecuali ke peralatan pemadam atau deteksi kebakaran sesuai yang diijinkan dalam pedoman ini. mempunyai bukaan ventilasi ke udara luar dimana: i. disyaratkan untuk diisolasi terhadap kebakaran. dan ii.2. mempunyai luas minimal 6 m2. di mana: i. c. atap atau langit-langit harus ditutup dengan bahan yang bebas asap. dengan berat jenis rata-rata tidak kurang dari 800 kg/m3 pada kelembaban 12% iii.a. dan: a. 7. harus tidak ada hubungan langsung antara i. Lobby Bebas Asap Lobby bebas asap yang disyaratkan sesuai Bab VI. tersebar merata sepanjang sisi terbuka ramp atau balkon b. di setiap bukaan dari area hunian. b. 6. lorong atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. setiap sambungan konstruksi antara bagian atas dinding balok lantai. dengan ketebalan minimal 44 mm setelah finishing ii. Bukaan pada saluran atau duct yang membawa hasil pembakaran yang panas harus tidak diletakkan di bagian manapun dari jalan keluar yang 5. maka harus: a. . c. yang direkatkan dengan perekat khusus seperti resorcinol formaldehyde atau resorcinol phenol formaldehyde 4. Pemisahan tanjakan dan turunan tangga Bila tangga dipakai sebagai jalan keluar. terpisah dari area hunian dengan dinding kedap asap. kecuali dengan grill atau sejenisnya dengan ruang bebas udara minimal 75% dari area tersebut. mempunyai pintu bebas asap sesuai standar teknis yang berlaku. Ramp dan Balkon Akses yang Terbuka Bila ramp dan balkon akses yang terbuka merupakan bagian dari jalan keluar yang disyaratkan. b. ii.

Gas atau bahan bakar lainnya harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. panel atau peralatan distribusi telekomunikasi sentral. lebar dan tinggi langit-langit sesuai persyaratan untuk tangga yang diisolasi terhadap kabakaran. di mana: . d. lobby atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. lebar bebas halangan. gang. dan sejenisnya. Konstruksi lorong yang diisolasi terhadap kebakaran harus dari material yang tidak mudah terbakar. b. kecuali dipisahkan oleh balustrade atau pegangan rambat menerus antara lantai bordes dan lebar masing-masing bagian kurang dari 2 m. koridor. atau koridor. setiap pintu masuk ke ruang tertutup tersebut dilengkapi dengan pintu tahan api dengan TKA -/60130 yang dapat menutup secara otomatis Lebar Tangga a. ii. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran a. 1:8 untuk kasus lainnya c. motor listrik atau peralatan motor lain dalam bangunan. Permakaan lantai ramp harus dengan bahan yang tidak licin. ii. disyaratkan. panel atau saluran distribusi. Ramp Pejalan Kaki a. 8. Ramp yang berfungsi sebagai jalan keluar yang disyaratkan harus mempunyai tinggi tanjakan tidak kurang dari: i. Perlindungan Pada Ruang Di Bawah Tangga Dan Ramp a. Ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dapat menggantikan tangga. maka bagian tangga atau ramp tersebut harus tidak tertutup. 9. lobby. dan iii. b. Tangga dan ramp tidak tahan api: Ruang di bawah tangga atau ramp tidak tahan api yang disyaratkan (termasuk tangga luar) harusnya tidak tertutup. kecuali: i. 1:12 pada area perawatan pasien di bangunan klas 9a ii. Lebar tangga melebihi 2m dianggap mempunysi lebar hanya 2 m. vertikal di atas garis sepanjang nosing injakan tangga atau lantai bordes. Lebar tangga yang disyaratkan harus: i. Peralatan harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. meter listrik. Tangga dan ramp tahan api: Bila ruang di bawah tangga atau ramp tahan api yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api. bebas halangan. atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. bila konstruksi yang menutup ramp.4 iii. 11. dinding dan langit-langit sekelilingnya mempunyai TKA minimal 60/60/60 ii. gang. 10. disyaratkan sesuai ketentuan Bab VI. seperti pegangan rambat (handrail). sampai ketinggian tidak kurang dari 2 m. bila peralatan dimaksud terdiri atas: i. kecuali terlindung oleh konstruksi yang tidak mudah terbakar atau tahan api dengan pintu atau bukaan yang terlindung dari penjalaran asap. bagian dari balustrade. kecuali untuk list langit-langit.c. b.

Ambang Pintu Ambang pintu tidak mengenai anak tangga atau ramp minimal selebar daun pintu kecuali: a. dan jumlah sesuai standar teknis. ii.6 m dan panjangnya minimal 2. TKA tidak kurang dari yang disyaratkan untuk saf tangga atau ramp. balkon atau yang sejenis dimana pintu membuka. Meskipun dengan ketentuan butir a. injakan dan tanjakan konstan. c. tangga atau balkon luar ii. pada kasus lain TKA tidak kurang dari 60/60/60. e. ambang pintu tidak lebih dari 190 mm di atas permukaan tanah. tidak lebih dari 18 atau kurang dari 2 tanjakan. Luas bordes harus cukup untuk gerakan usungan yang berukuran panjang 2 m dan lebar 60 cm. langit-langit dengan ketahanan terhadap penjalaran api tidak kurang dari 60 menit dan dalam kompartemen kebakaran. 12. tanjakan. d. Atap Sebagai Ruang Terbuka Jika pintu keluar menuju ke atap bangunan. untuk mengurangi jumlah tanjakan dan setiap bordes harus: i. tangga. ii. 16. Bangunan klas 9a: i. balkon dan sejenisnya. Injakan Dan Tanjakan Tangga Tangga harus mempunyai: a.ii. i. mempunyai TKA tidak kurang dari 120/120/120. 13. ramp. koridor. b. atap tersebut harus a. bila: . tepi bordes diberi finishing yang tidak licin. tidak terdapat pencahayaan atau bukaan atap iainnya sepanjang 3 m dari jalur lintasan yang dipakai untuk keluar mencapai jalan atau ruang terbuka. Iorong keluar dari tangga atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. kasus lainnya i. Bordes tangga dengan maksimum kemiringan 1: 50 dapat digunakan. injakan. 15. pintu terbuka ke arah jalan atau ruang terbuka. b. Balustrade a Balustrade menerus harus tersedia sekeliling atap yang terbuka untuk umum. bila dinding lorong tersebut merupakan perluasan dari: i. lantai. ii. penutup atap yang tidak mudah terbakar ii. injakan harus kuat bila tinggi tangga lebih dari 10 m atau menghubungkan lebih dari 3 lantai. bukaan antara injakan maksimum 125 mm. ruang perawatan pasien bangunan klas 9a. b. panjangnya tidak kurang dari 550 mm diukur dari tepi dalam bordes. ambang pintu tidak lebih dan 25 mm di atas ketinggian lantai dimana pintu membuka. 14. f. Bordes a. b. konstruksi atas dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran tidak perlu punya TKA.b.7 m. Sudut arah naik dan turun tangga harus 180°. ujung injakan dekat nosing diberi finishing yang tidak licin. lebar minimal bordes 1.

Jarak antara lebar bukaan tidak lebih dari 300 mm ii. kecuali dipasang pada bangunan atau bagian bangunan klas 6. harus mengikuti ketentuan butir f dan g.ii. c. Tinggi balustrade: i. lorong. g. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. Pegangan rambat memenuhi ketentuan butir a tersebut bila: i. minimal 865 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai ramp ii. lantai. tinggi jeruji tidak lebih dan 150 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai bordes. Balustrade pada: i. balkon dan sejenisnya. ii. tinggi di atas lantai tidak kurang dari 1m. tidak kurang dari 1 m di atas lantai akses masuk. bukan pintu berputar b. 7. balkon. dan ii. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran atau area lain untuk keadaan darurat. Bila menggunakan jeruji. Pintu Sebagai pintu keluar yang disyaratkan: a. atau 700 mm bila tonjolan keluar dari bagian atas balustrade diproyeksikan mendatar tidak kurang dari 1 m. kecuali sekeliling panggung. iii. tidak dibatasi dengan dinding. bukan pintu gulung. permanen sedikitnya 50 mm dari dinding ii. yang tersedia akses untuk umum dan jalur masuk ke bangunan. tempat bongkar muat barang atau tempat lain bagi staf untuk pemeliharaan. e. Balustrade. Balustrade sesuai ketentuan butir e. tangga.i.iii dan g.b. ii. 8 dengan luas lantai tidak lebih dari 200 m2. dan ramp di luar ketentuan butir b harus mengikuti ketentuan butir f dan g. koridor. Balustrade atau penghalang lain di depan tempat duduk permanen pada balkon atau mesanin auditorium bangunan klas 9b harus sesuai ketentuan f. f. Balustrade sepanjang sisi atau dekat permukaan horisontal seperti: i. dipasang permanen dengan tinggi minimal 865 mm dengan jeruji pendukung permanen setinggi minimal 700 mm. bangunan klas 9b untuk sekolah dasar. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir) serta klas 8. atap. Pegangan rambat harus tersedia untuk membantu orang agar aman menggunakan tangga atau ramp.i. bila dibuat sesuai i. b. dan harus: i. Pada bangunan klas 9a harus tersedia sedikitnya sepanjang satu sisi dari setiap lorong atau koridor yang digunakan oleh pasien. Bukaan pada balustrade memenuhi ketentuan butir b. c. i. balkon atau sejenisnya dan jarak antar jeruji tidak lebih dari 460 mm. d.ii. sedikitnya dipasang sepanjang satu sisi ramp/tangga ii dipasang pada dua sisi bila lebar tangga/ramp 2 m atau lebih iii. tinggi lebih dari 1 m di atas lantai atau dibawah muka tanah. Pegangan Rambat Pada Tangga a. dibuat menerus 18. . mesanin dan sejenisnya. 17. kecuali tangga/ramp luar bangunan. i.

2 m dari lantai. melayani bangunan atau bagian bangunan dengan luas tidak lebih dari 200 m2. melayani hunian yang perlu pengamanan khusus dan dapat segera dibuka: i. dengan tenaga tidak lebih dari 110 N. 21. Pintu Ayun a. lebih dari 100 mm pada lebar pintu keluar yang disyaratkan. bila pintu dioperasikan dengan tenaga listrik: i. iii. 19. membuka langsung ke arah jalan atau ruang terbuka harus dapat membuka secara otomatis bila terjadi kegagalan pada daya listrik. dan . panti asuhan balita atau bangunan keagamaan. ii. bila terjadi kerusakan atau tidak berfungsinya tenaga listrik ii. 3. dengan mengoperasikan alat pengontrol untuk mengaktifkan alat untuk membuka pintu. bagian atau jalan keluar harus siap dibuka tanpa kunci dari sisi dalam dengan satu tangan. b. 7.9 . unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. ii. ruangan yang tidak aksesibel sepanjang waktu bila pintu terkunci. termasuk bordes. dengan tangan. 20. merupakan satu-satunya pintu keluar yang disyaratkan dalam bangunan bukan pintu sorong. d. unit hunian tunggal dengan luas area tidak lebih dari 200 m2 pada bangunan klas 5. 6. kecuali bangunan sekolah. Ayunan harus searah akses keluar. c.c. Pengoperasian Gerendel Pintu Pintu yang disyaratkan sebagai lintasan. lorong atau ramp. merupakan satu-satunya pintu keluar dari bangunan dan dipasang alat pegangan pada posisi membuka. sehingga orang dalam bangunan segera dapat menyelamatkan diri bila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. pintu dapat dibuka secara manual.1. pada bangunan klas 9b. Bila terbuka sempurna. atau 8. kecuali bila: a. dengan mendorong alat yang dipasang pada ketinggian antara 0. dengan tenaga tidak lebih dan 110 N. bangunan dengan tinggi efektif lebih 25 m. b. kecuali: i membuka secara langsung ke arah jalan atau ruang terbuka ii. khususnya oleh pemilik. alarm kebakaran dan lainnya. c. melayani lantai atau ruang yang menampung lebih dari 100 orang. melayani komponen sanitasi atau sejenisnya. kecuali: i. Masuk Dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Pintu harus tidak terkunci dari dalam tangga/ramp/lorong yang diisolasi terhadap kebakaran untuk melindungi orang yang masuk kembali ke lantai atau ruang yang dilayani pada a. kecuali semua pintu secara otomatis terkunci dengan alat yang mengaktifkan alarm kebakaran. hanya melayani: i. harus dapat dibuka secara manual. ii. d. atau bagian klas 4. Tidak mengganggu lebih dari 500 mm pada lebar yang disyaratkan dari tangga. ii. bangunan klas 9a b. melayani kompartemen saniter.

dipasang ditempat yang mudah dilihat atau dekat dengan pintu-pintu tahan api dan asap. Rambu tersebut harus dibuat dengan huruf kapital minimal tinggi huruf 20 mm. tersedia sistem komunikasi internal. sistem audibel/visual alarm yang droperasikan dari dalam ruangan khusus dekat pintu. b. VI. 22. warna kontras dan menyatakan bahwa pintu jangan dihalangi. untuk memberi tanda pada orang bahwa pintu tertentu harus tidak dihalangi.i. . sedikitnya setiap 4 tingkat terdapat pintu tidak terkunci dan terdapat rambu permanen bahwa dapat dilalui. ii.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT 1. dan juga rambu permanen tentang cara mengoperasikannya. Rambu Pada Pintu a. Untuk bangunan yang digunakan untuk pelayanan umum harus dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan akses dan sirkulasi bagi semua orang. 2. Ketentuan-ketentuan teknis lebih lanjut mengenai akses bagi penyandang cacat pada butir a di atas mengikuti Pedoman Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. termasuk penyandang cacat. Rambu.

c. Kecepatan dan ukuran sangkar lif kebakaran disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. 3. Peringatan Terhadap Pengguna Lif Pada Saat Terjadi Kebakaran Tanda peringatan harus: a. Sumber daya listrik untuk lif kebakaran harus direncanakan dari sumber yang berbeda. e. Kapasitas angkut yang dinyatakan dalam izin. dan menggunakan kabel tahan api. harus tertulis pada sangkar dan dinyatakan dalam jumlah orang yang dapat diangkut. Waktu tunggu lif. f. dekat setiap tombol panggil untuk lif penumpang atau kelompok dari lif ada bangunan. Lif kebakaran dapat berupa lif penumpang biasa atau lif barang yang dapat diatur. harus menjadi kapasitas angkut dari lif dimaksud. b. TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. e. 2.VII. tanpa terganggu oleh sakelar panggil lainnya. harus tertulis dalam sangkar dan dinyatakan dalam Kg. d. Pintu saf lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan peraturan yang berlaku di Indonesia. Untuk mengubah fungsi lif penumpang atau lif barang menjadi lif kebakaran. g. kecuali ii. Persyaratan teknis dari lif yang digunakan sebagai lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Jumlah dan kapasitas lif harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untak sirkulasi vertikal pada bangunan. . lif kecil seperti dumb waiter atau sejenisnya yang digunakan untuk mengangkut hanya barang-barang. Kapasitas angkut lif barang yang diizinkan. d. dipasang ditempat yang mudah terbaca: i. Kapasitas Lif a. 1 LIF 1. b. Lift Kebakaran a. c. harus disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. Lif kebakaran harus dapat berhenti di setiap lantai. Kapasitas angkut lif penumpang yang diizinkan. sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh petuugas Kebakaran. harus dengan cara menekan sakelar kebakaran (Fire Switch) terlebih dahulu.

Lif yang melayani ruang rawat pasien dihubungkan juga ke sistem tenaga listrik cadangan. telepon. berukuran cukup untuk meletakkan fasilitas kereta dorong ( wheel strecther) secara horisontal ii. dan terdiri dari i. dan iii. atau alat-alat lainnya yang dipasang dalam gedung ditempat yang mudah didengar oleh pengelola bangunan gedung yang bersangkutan. dengan penampilan khusus sehingga dapat terbaca pada keadaan gelap atau sewaktu terjadi kebakaran. atau ii huruf yang diukir atau ditatah langsung dipermukaan bahan dinding iii. setiap 3 lantai harus memiliki bukaan untuk digunakan dalam kondisi darurat. Untuk saf lif yang menerus dan tidak memiliki pintu keluar pada setiap lantainya. yang ruang rawat pasiennya tidak berada di lantai Lif pasien yang dibutuhkan pada butir a. Saf Lif a. Sangkar Lif Sangkar pada setiap lif harus dilengkapi dengan peralatan tanda bahaya yang dapat dioperasikan dari dalam sangkar. . 6. Lif Untuk Rumah Sakit a. b. harus: i. 4. Dalam saf lif dilarang memasang pipa atau peralatan lain yang tidak merupakan bagian dari instalasi lif. kayu. plastic atau sejenisnya dan dipasang tetap didinding. Satu atau beberapa lif harus di pasang sebagai lif pasien untuk melayani setiap lantai dalam bangunan yang tidak menggunakan ramp. 5. Mempunyai kapasitas beban tidak kurang dari 600 Kg. huruf yang diukir. sesuai dengan detail dan dimensi minimum seperti pada gambar Vll.DILARANG MENGGUNAKAN LIF BILA TERJADI KEBAKARAN 10 mm 8 mm ATAU Dilarang menggunakan Lif bila terjadi Kebakaran Gambar VII. ditatah atau huruf timbul pada logam. b. misalnya bangunan Kelas 9a. bila diperlukan. 1 Tanda Peringatan Lif Penumpang b. berupa bel listrik. 1.

governor dan peralatan lain. sebelum dioperasikan harus diperiksa dan diuji terlebih dahulu oleh instansi yang berwenang. atau disamping ruang luncur di lantai bawah. Dua kali jumlah beban komponen yang bergerak vertikal dari tromol (dihitung dari dua sisi). termasuk lantai ruang mesin. Balok. ii. iii. Semua bagian logam dari lif pada keadaan bekerja normal tidak boleh bertegangan. Beban diperhitungkan pada saat bandul mekanis governor) bekerja. Minimum satu jalan keluar harus dibuat pada setiap nuang mesin lif. panel kontrol. c. ii. Pondasi harus menyangga berat mesin. 8. dan penyangga harus direncanakan sesuai beban dibawah ini: i. lantai dan penyangga di Ruang mesin harus di rencanakan dengan memenuhi: i. c. atau dihubungkan ke tali yang disangga oleh balok. Jika mesin lif dan tali diempatkan di lantai bawah. Pemeriksaan. b. Instalasi listrik untuk lif harus dilengkapi dengan pengaman harus lebih atau sakelar otomatis. pondasi untuk mesin. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada semua arah gaya d. Pengujian Dan Pemeliharaan a. . Prosedur pemeriksaan. tromol. pengujian dan pemeliharaan instalasi lif sesuai dengan SNI 03-1718-1989 dan SNI 03-2190-1991. untuk mempertahankan suhu udara dan panas dari peralatan mesin.7. Bangunan ruang mesin lif harus kuat dan kedap air serta berventilasi cukup. iii. Instalasi Listrik a.2 TANGGA DAN LANTAI BERJALAN Persyaratan Teknis tangga dan lantai berjalan harus mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. Beban balok dan penyangga harus sudah termasuk beban mesin lif. Ruang mesin harus mempunyai sirkulasi udara. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah tegak. Instalasi lif yang telah selesai dipasang atau yang telah mengalami perubahan teknis. iv. Semua hantaran listrik harus dipasang dalam pipa atau saluran kabel (duct) kecuali hantaran lemas (fleksibel) yang khusus. motor generator. 9. Vll. b. b. tromol tali. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali baban berat pada arah sejajar. peralatan lain dan lantai diatasnya. Mesin Lif Dan Ruang Mesin Lif a. dengan beban sangkar lif.

e. bangunan kelas 2 atau 3. mudah dibaca. hall. c. lorong atau ramp yang digunakan untuk Keluar iii. Lampu darurat yang digunakan harus sesuai dengan standar yang berlaku. Pintu yang digunakan untuk jalan keluar dari setiap lantai keluar i. bangunan kelas 9a. harus : a. VIII. koridor. 2. atau iv. atau ramp yang digunakan untuk ii tangga luar. Setiap tanda “KELUAR” dibutuhkan. lorong. setiap lorong. b c. PENCAHAYAAN DARURAT.2 TANDA ARAH KELUAR 1. jalan keluar di balkon yang menuju Keluar.1 SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT 1. mempunyai tigkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman. setiap ruang dengan luas lantai lebih dari 120 m2 yang digunakan pasien d. Setiap lampu darurat. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 100 m2 tetapi kurang 300 m2 yang terbuka: i. atau ii ke ruang yang mempunyai lampu darurat. TANDA ARAH KELUAR. dan harus dipasang diatas atau di dekat setiap: a. 2. ii. atau iii. catu daya cadangan dan kontrol otomatisnya harus dilindungi daari kerusakan karena api dengan konstsruksi penutup yang mempunyai TKA tidak kurang dari -/60/60. tangga yang tertutup. ruang yang mempunyai luas lebih dari 300 m2. jika menggunakan sistem terpusat. Sistem lampu darurat dipasang pada: a b. harus: a. ke ruang terbuka. Tanda KELUAR harus jelas kelihatan untuk orang yang menuju keluar. ke koridor. ke jalan raya. mempunyai huruf dan simbol dengan ukuran yang cukup diterangi dengan pencahayaan cukup sehingga jelas terbaca setiap waktu oleh orang yang masuk dan berada di dalam bangunan. 3. bekerja secara otomatis b. c jalan lintas. . dipasang sehingga jika tenaga listrik normal terganggu. dan pada setiap jalan lintas yang mempunyai panjang lebih dari 6 meter diberikan sistem lampu darurat. yaitu pada: i.VIII. pencahayaan darurat digunakan pada tanda KELUAR. atau sejenisnya yang digunakan pasien. DAN SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. Jelas.

sistem alarm diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan dan trauma. hall umum. Pintu dari tangga tertutup. c. maka tanda Keluar dengan arah panah harus dipasang pada posisi yang tepat di koridor. lobi. 3. atau orang cacat. Jika tanda “KELUAR" tidak segera diketahui oleh penghuni atau pengunjung bangunan. d. b. akomodasi untuk orang tua.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA Sistem peringatan bahaya dan komunikasi internal mengacu pada standar yang berlaku dan harus dipasang pada: 1. mempunyai ketinggian lantai tidak lebih dari tiga b. 5.1 3. di daerah bangsal perawatan. . atau b. Bangunan Kelas 9a yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua: a. dan: Jalan keluar horisontal. anak-anak. langsung memberikan peringatan pada petugas. yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua. hall. lorong. untuk gedung pertunjukan. Bangunan kelas 2 sebagai rumah perawatan orang tua. sistemnya harus diatur memberikan peringatan pada petugas b. atau sejenisnya yang menunjukkan arah keluar yang disyaratkan. kecuali bila sistemnya a. Bangunan dengan ketinggian lebih dari 25 m Bangunan Kelas 2 yang mempunyai ketinggian lantai lebih dari dua lapis dan a. bagian rumah dari sekolahan. atau ramp pada setiap tingkat yang menuju Jalan raya atau ruang terbuka. sesuai dengan tipe dan kondisi penghuni. VIII. 4. atau sejenisnya. dan: Pintu yang digunakan sebagai atau merupakan bagian dari jalan KELUAR" pada setiap lantai yang harus dilengkapi dengan lampu darurat sesuai VIII. untuk sekolah.b. 2. sistem alarm dapat diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan sesuai dengan tipe dan kondisi pasien Bangunan Kelas 9b a.

Perencanaan Instalasi Listrik Instalasi listrik harus memenuhi ketantuan: a. papan hubung bagi dan beban listrik. transformator dan peralatan lainnya. Sistem tegangan menengah dalam gedung adalah 20 kV atau kurang. tidak membahayakan. Tipe dari kabel harus disesuaikan dengan sistem yang dilayani. dan dilindungi terhadap kebakaran atau terdiri dari penghantar tahan api. lingkungan. Sistem tegangan rendah dalam gedung adalah 220/380 volt. seperti pompa kebakaran. dan lain-lain harus ditempatkan dengan baik sehingga memudahkan pengoperasiannya oleh petugas. Untuk hal-hal yang belum dicakup atau tidak disebut dalam PUIL. . Sistem instalasi listrik terdiri dari sumber daya. dan beban penting lainnya harus terpisah dari instalasi beban lainnya. alat ukur. mengganggu dan merugikan bagi manusia. Jaringan distribusi listrik terdiri dari kabel dengan inti tunggal atau banyak dan busduct dari berbagai tipe. lif kebakaran. tidak boleh dibebani melebihi batas kemampuannya e. Peralatan pada papan hubung bagi seperti sakelar. dengan frekuensi 50 Hertz. Dalam menentukan tipe peralatan yang dipakai untuk instalasi listrik harus kuat harus diperhatikan bahaya kebakaran yang mungkin dapat terjadi dan kerusakan yang mungkin terjadi akibat kebakaran. maka segala sesuatu yang bersangkutan dengan instalasi dan perlengkapan listrik harus sesuai dengan buku Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. PENANGKAL PETIR DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX.1 INSTALASI LISTRIK 1. c. dapat menggunakan ketentuan/ standar dari negara lain atau badan international. bagian bangunan dan instalasi lainnya. d.IX. peralatan pengendali asap. tombol. Sistem instalasi listrik dan penempatannya harus mudah diamati. Jaringan yang melayani beban penting. dengan frekuensi 50 Hertz. ukuran dan kemampuan. Kecuali untuk hal-hal yang dianggap khusus atau yang tidak disebutkan. 2. b. sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. sistem komunikasi darurat. jaringan distribusi. papan hubung bagi dan isinya . c. Semua peralatan listrik diantaranya penghantar. b. sistem deteksi dan alarm kebakaran. Jaringan Distribusi Listrik a. INSTALASI LISTRIK. dipelihara.

b. harus memiliki pembangkit tenaga cadangan yang dayanya dapat memenuhi kelangsungan pelayanan dari seluruh atau sebagian dari bangunan atau ruang khusus tersebut. Pemeriksaan Dan Pengujian Instalasi listrik yang dipasang. Bangunan dan ruang khusus yang pelayanan daya listrik tidak boleh putus. c. di antaranya Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Apabila ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir 1 di atas tidak momungkinkan.3. yang penempatannya harus aman dan tidak menimbulkan gangguan lingkungan serta harus mengikuti standar dan atau nomalisasi dari peraturan yang berlaku. Transformator distribusi yang berada dalam gedung harus ditempatkan dalam ruangan khusus yang tahan api dan terdiri dari dinding. harus terlebih dahulu diperiksa dan diuji mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku. secara otomatis. Sistem instalasi listrik pada bangunan gedung tinggi dan bangunan umum harus memiliki sumber daya listrik darurat yang mampu melayani kelangsungan pelayanan seluruh atau sebagian beban pada gedung apabila tajadi gangguan sumber utama. g. 6. b. Sumber Daya Listrik a. dengan pintu yang hanya dapat dimasuki oleh petugas. Beban dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut konservasi energi dan lain-lain. 5. . Instalasi dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan dan diamankan terhadap dampak seperti interferensi golombang elektromanetik dan lain-lain. faktor kebersamaan (coincident factor) atau faktor ketidak bersamaan (diversity factor). Bila ruang transformator dekat dengan ruang yang rawan kebakaran maka diharuskan mempergunakan transformator tipe kering. Transformator Distribusi a. c. dengan ruangan yang cukup untuk perawatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. f. dengan ijin instansi yang bersangkutan. d. Sumber daya listrik darurat yang digunakan harus mampu melayani semua beban penting yang disebut dalam butir 3. Ruangan trafo harus diberi ventilasi yang cukup. Sumber daya utama gedung harus menggunakan tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara. sumber daya utama dapat menggunakan sistem pembangkit tenaga sendiri. 4. e. sebelum dipergunakan. Beban Listrik Beban maksimum suatu instalasi listrik arus kuat harus dihitung dengan memperhatikan besarnya beban terpasang. atap dan lantai yang kokoh.

Ha-hal yang belum diatur didalam peraturan tersebut diatas baik yang menyangkut perhitungan maupun peralatan dan instalasinya. Apabila terjadi sambaran pada instalasi penangkal petir.3 INSTANSI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG. tanpa mengurangi nilai perlindungan yang efektif terhadap sambaran petir. termasuk manusia yang ada di dalamnya. b. c. Pemasangan instalasi penangkal petir pada bangunan. Suatu instalasi penangkal petir harus dapat melindungi semua bagian dari bangunan. sifat geografis. Pemasangan penangkal petir harus diperhitungkan berdasarkan standar. tidak membahayakan. 2. Pemeriksaan dan Pemeliharaan a. normalisasi teknik dan peraturan lain yang berlaku. Setiap bangunan atau yang berdasarkan letak. 3. harus terdapat ruang yang cukup untuk memudahkan pemeriksaan. Sistem instalasi komunikasi telepon dan tata gedung dan penempatannya harus mudah diamati.2 INSTALASI PENANGKAL PETIR 1. harus diberi instalasi penangkal petir. instalasi penangkal petir harus diperiksa dan dipelihara secara berkala. Instalasi penangkal petir harus disesuaikan dengan adanya perluasan atau penambahan bangunan. bagian bangunan dan instalasi lain. 1. Pemeliharaan a. b. Pada ruang panel hubung bagi. perbaikan dan pelayanan. Pemeliharaan instalasi listrik harus dilaksanakan dan diperiksa setiap lima tahun serta dilaporkan secara tertulis kepada instansi yang berwenang c. b. dan instalasi lainnya.7. bentuk dan penggunaannya diperhitungkan mempunyai risiko terkena sambaran petir. serta direncanakan . harus memperhatikan arsitektur bangunan. bagian atau peralatan dan perlengkapan bangunan yang mengalami kerusakan. terhadap bahaya sambaran petir. dipelihara. IX. antara lain SNI-3990 tentang Tata Cara Instalasi Penangkal Petir Untuk Bangunan dan SNI-3991 tentang Tata Cara Instalasi Penyalur Petir. IX. b. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung a. Instalasi Penangkal Petir a. serta diberi ventilasi cukup. mengganggu dan merugikan lingkungan. Perencanaan Penangkal Petir a. Pembangkit tenaga listrik darurat secara periodik harus dihidupkan untuk menjamin agar pembangkit tersebut dapat dioperasikan bila diperlukan. harus diadakan pemeriksaan dari bagian-bagiannya dan harus segera dilaksanakan perbaikan terhadap bangunan. harus mengacu pada rekomendasi dari badan International seperti IEC.

. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir a diatas harus menggunakan sistem khusus. tidak ada genangan air. maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. ii. minimal berjarak 0. terang. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja.80m. Ruang batere sistem telepon harus bersih. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas. d. dan dilaksanakan berdasarkan standar. b. Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. 3. Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. iii. atau terdiri dari kabel tahan api. c. Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya dan dilindungi terhadap bahaya kebakaran. Ruang PABX dan TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan: i. 2. c. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan. harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran. terang. Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. Instalasi Tata Suara a. b. Secara berkala dilakukan pengukuran/ pengujian terhadap EMC (Electro Magnetic Campatibility). sirkulasi udara cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. dan lain-lain. Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi Persyaratan: i. Dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. ii. kedap debu. iii.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. c. Ruang yang bersih. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak.b. Setiap bangunan dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m keatas. aman dan mudah dikerjakan.50 m x 0. Instalasi Telpon a. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektro magnetik. Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik.

Rancangan sistem distribusi gas pembakaran. Udara tekan . Gas oxigen b. Gas elpiji (LPG = Liquefied Petroleum Gasses). Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku.X. iv. Panjang pipa dan jumlah sambungan. INSTALASI GAS X. Gas Kota Gas kota yang dipakai umumnya berupa gas alam (natural gas). Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. serta mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut : i. vi. yang terdiri dari kandungan methane (CH4) dan ethane (C2He ). terdiri dari propane (C3H8) dan Butane (C4H10). c. Instalasi pemipaan untuk rumah dan gedung (mulai dari meter-gas)mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. 2. Jenis Gas Jenis gas pembakaran yang dimaksud meliputi: a. Faktor diversifikasi (diversity factor). Berat jenis dari gas. Kerugian tekanan yang diperbolehkan dari meter-gas ke peralatan ii. adalah : a. serta merupakan bagian pertimbangan keandalan bangunan. Konsumsi gas maksimum yang perlu disediakan. Jaringan Distribusi Gas Kota a. v. 3. harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas yang secara otomatis mematikan aliran gas. b. b. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. Ukuran pipa gas harus mencukupi dan dipasang untuk melayani pasokan gas dalam rangka memenuhi kebutuhan maksimum tanpa terlalu banyak kerugian tekanan antara meter-gas dan peralatan-peralatan pengguna gas.2 INSTALASI GAS MEDIK 1. X. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. Gas elpiji. Jenis Gas Jenis gas medik yang dimaksud. iii. Pada instalasi gas untuk pembakaran.1 INSTALASI GAS PEMBAKARAN 1. Gas nitrous Oxida (N2O) c.

pemilihan bahan dan kontruksinya disesuaikan dengan penggunaannya.d. d. Pada instalasi pipa gas medik harus dilengkapi dengan biofilter. Kebutuhan gas medik garus disesuaikan dengan kebutuhan untuk asien rawat inap dan kebutuhan lain. c. khususnya untuk instalasi pipa oksigen. 3. Rancangan sistem distribusi gas medik. peralatan rawat gigi dan sebagainya. b. Pada instalasi gas medik harus dilengkap peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas dan dilengkapi dengan sistem isyarat tanda kebocoran gas. e. seperti untuk ruang bedah orthopedi. Vakum 2. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. Jaringan Distribusi Gas Medik a. pipa Nitrous Oxida dan pipa udara tekan. Instalasi pemipaan untuk bangunan gedung mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang .

Perencanaan Sistem Plambing a. Bangunan yang dilengkapi dengan sistem penyediaan air panas. sebelum digunakan harus mendapat persetujuan dari instansi yang berwenang. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam operasional dan pemeliharaannya. SISTEM PLAMBING 1. Pipa pembawa air panas yang cukup panjang tersebut harus dilapisi dengan bahan isolasi. kecuali untuk penggunaan khusus. b.1. dan Pedoman Plambing Indonesia yang berlaku. 2. dan apabila sumber air bukan dari PAM. meliputi sistem air bersih. Apabila kapasitas dan atau tekanan sumber yang digunakan tidak memenuhi kapasitas dan tekanan minimal pada titik pengaturan keluar.XI. . SANITASI DALAM GEDUNG XI. c. Sumber air bersih pada bangunan harus diperoleh dari sumber air PAM (Perusahaan Air Minum). alat plambing dapat bekerja dengan baik. f. sistem air kotor dan alat plambing yang memadai. g. dimana pipa pembawa air panas dari sumber air panas ke alat plambing cukup panjang. Sistem Penyediaan Air Bersih a. Kualitas air bersih yang dialirkan ke alat plambing dan perlengkapan plambing harus memenuhi standar kualitas air minum yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. maka harus dipasang sistem tanki persediaan air dan pompa yang direncanakan dan ditempatkan sehingga dapat memberikan kapasitas dan tekanan yang optimal. serta diperhitungkan berdasarkan standar. sedangkan untuk kelas bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia. Sistem distribusi air harus direncanakan sehingga dengan kapasitas dan tekanan air yang minimal. maka harus dilengkapi dengan pipa sirkulasi. Temperatur air panas yang keluar dari alat plambing harus diatur. Setiap pembangunan baru dan atau perluasan bangunan harus diperlengkapi dengan sistem plambing. b. maksimum 60° C. d. e. Kebutuhan air bersih untuk perumahan berkisar antara 60-250 liter/orang/hari. tidak mengganggu lingkungan. petunjuk teknik.

c. Semua air kotor harus diolah sebelum dibuang ke saluran air kotor umum kota atau disalurkan ke bangunan pengolahan air kotor komunal bila tersedia. dipasang dan dipelihara sedemikian rupa sehingga tidak mudah rusak dan tidak terkontaminasi dari bahan yang dapat memperburuk kualitas air bersih. Pemeliharaan sistem air kotor dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya penyumbatan. tembaga. sehingga dapat mengalirkan air kotor secara gravitasi. sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia. . tanah liat. b. Diameter pipa sambungan pelanggan dari jaringan pipa distribusi kota harus disesuaikan dengan kelas bangunan. e. Semua sistem pelayanan air bersih harus direncanakan. Pada dasarnya air kotor berasal dari aktivitas manusia. Sistem Pembuangan Air Kotor a. Bahan pipa yang digunakan dapat berupa PVC. Penentuan diameter saluran dibuat seekonomis mungkin sesuai dengan kapasitas dan bahan buangan yang akan dialirkan. i. beton. Pemilihan bahan dan pemasangan saluran harus disesuaikan dengan penggunaannya dan sifat cairan yang akan dialirkan. karat dan kebocoran. Saluran air kotor dapat benupa pipa atau saluran lainnya. mampu menahan tekanan sekurang-kurangnya 2 kali tekanan kerja. PE (poli-etilena). PE. baja maupun bahan lainnya yang tidak mudah rusak. baik dari bahan PVC. sesuai dengan petunjuk teknis dari bahan pipa yang bersangkutan dan ketentuan-ketentuan lain yang berlaku di Indonesia. d. Sistem air kotor didalam bangunan harus dilengkapi dengan pipa ven untuk menetralisir tekanan udara didalam saluran tersebut. 3. j. besi tuang. h. baik tempat mandi cuci. besi lapis galvanis atau Tembaga. kakus maupun kegiatan lainnya. harus ditangani secara khusus. Air kotor yang mengandung bahan buangan berbahaya dan beracun. tahan terhadap karat dan panas. maka dapat menggunakan sistem perpompaan. g. Apabila cara gravitasi ini tidak dapat dilaksanakan.h. tidak mengandung bahan beracun dan pemasangannya harus sesuai dengan petunjuk teknis bahan pipa yang bersangkutan. i. Sistem pengaliran air kotor direncanakan dengan menggunakan saluran tertutup dan kemiringan tertentu. f. serta yang mengandung radioaktif.

Konstnuksi dan bahan tanki penyediaan air bersih harus cukup kuat dan tidak mudah rusak. pipa peluap. babas dari kerusakan dan tidak mempunyai bagian kotor yang tersembunyi.4. perlengkapan bangunan. serta dilengkapi dengan 1ubang pemeriksa. Tangki penyediaan air bersih harus direncanakan dan dipasang untuk penyediakan air dengan kuantitas dan tekanan yang cukup. Fungsi tangki penyediaan air bersih adalah untuk menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan penghuni. Pada pipa penyaluran air kotor dari alat plambing yang mungkin menerima buangan mengandung minyak atau lemak. minuman bahan steril atau bahan sejenis lainnya. harus dilengkapi dengan celah udara yang cukup untuk mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi. . bahan tersebut tidak boleh memperburuk kualitas air bersih. harus dilengkapi dengan alat pencegah kontaminasi. Tangki penyediaan air bersih harus diiengkapi dengan sistem perpipaan dan perlengkapannya yang terdiri dari pipa masuk dan pipa keluar. Apabila tangki penyediaan air bersih menggunakan bahan lapisan untuk mencegah kebocoran dan karat. tidak mengganggu struktur bangunan dan memberikan kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan. kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni bangunan. seperti katup penahan aliran balik dan katup pencegah atau pemutus vakum. harus dilakukan secara berkala untuk menjamin kebersihan dan bekerjanya alat tersebut dengan baik. c. b. d. Bahan alat plambing harus mempunyai permukaan yang halus dan rapat air. Alat Plambing a. e. penanggulangan kebakaran dan pengaturan tekanan air. Semua alat plambing harus direncanakan dan dipasang sehingga memenuhi aspek kebersihan. baja. Jumlah dan jenis alat plambing serta perlengkapannya harus disediakan sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. pipa penguras dan pipa ven. fiberglass dan kayu. Bahan tangki dapat berupa beton. d. e. f. c. Peralatan plambing yang mengalirkan air bersih ke tempat-tempat yang dapat menimbulkan pencemaran. Pipa pembuangan dari alat plambing yang digunakan untuk menyimpan atau mengolah makanan. harus dilengkapi dengan alat perangkap minyak dan lemak. Pemeliharaan semua alat plambing. g. b. Tangki Penyediaan Air Bersih a. 5. tahan lama untuk digunakan.

XI. c. d. Air hujan harus dialirkan ke sumur resapan dan atau dialirkan ke jaringan air hujan umum kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. SALURAN AIR HUJAN. yang tanki kotor kotor b. c. Persyaratan Saluran a. b. Kemiringan saluran harus dibuat. dan bila tidak dapat dilakukan dengan cara gravitasi. pipa isap dan pipa keluaran pompa. lubang pemeriksa harus dibuat dengan jarak tiap 25-100 m. 1. Fungsi pompa air bersih adalah memberikan kapasitas dan tekanan cukup pada sistem penyediaan air bersih atau menyalurkan air ke penyediaan air bersih. . e. Apabila saluran dibuat tertutup. Bila belum tersedia jaringan umum kota ataupun sebab-sebab lain yang dapat diterima. maka dapat menggunakan sistem perpompaan. maka pada tiap perubahan arah aliran harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa. Pemasangan pompa harus dilengkapi peralatan peredam getaran yang dipasang pada dudukan pompa. Pompa a. dan pada saluran yang lurus. sehingga dapat mengalirkan seluruh air hujan dengan baik agar bebas dari genangan air. b Saluran air hujan dapat merupakan saluran terbuka dan atau saluran tertutup. Pompa harus dilengkapi dengan alat pengukur tekanan dan katup pencegah aliran balik pada pipa keluaran dan ujung pipa isap pompa. c. Setiap bangunan dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem saluran air hujan. Pompa harus dipasang pada lokasi yang mudah untuk pengoperasian dan pemeliharaannya.6. maka harus dilakukan cara-cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang 2. Kelengkapan pada Bangunan a.2 Pemilihan jenis pompa dan motor pompa disesuaikan dengan karakteristik pompa yang dibutuhkan dan mempunyai effsiensi yang maksimal. Fungsi pompa air kotor adalah menyalurkan air ke saluran air kotor umum Kota atau ke bangunan pengolahan air lainnya. disesuaikan dengan diameter saluran tersebut dan standar yang berlaku.

Pemeliharaan Pemeliharaan sistem air hujan harus dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. mempunyai tutup dan mudah diangkut. Pewadahan a. besi dan baja harus dilapisi dengan lapisan tahan karat. dan pasangan bata atau beton. tanah liat. Bahan saluran dapat berupa PVC. XI. b.3 PERSAMPAHAN 1.d. 2. penempatan dan pembuangannya harus ditangani secara khusus sesuai dengan peraturan yang berlaku. masyarakat dan lingkungan sekitarnya. besi dan baja. 3. peti kemas fiberglass. Bentuk pewadahan sampah harus disesuaikan untuk kemudahan pengangkutan sampah oleh Dinas Kebersihan Kota. sesuai dengan ketentuan yang berlaku. atau Pengelola Pengangkutan Sampah. tidak mudah rusak. seng. c. Sampah Berbahaya Untuk sampah padat yang dikatagorikan sebagai jenis buangan berbahaya dan beracun (sampah B3). fiberglass. . 3. sehingga tidak mengganggu kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni. peti kemas baja. Khusus untuk bahan seng. Tempat pewadahan sampah harus terbuat dari bahan kedap air. pasangan. Kapasitas pewadahan sampah atau tempat penampungan sementara harus dihitung berdasarkan jenis bangunan dan jumlah penghuninya. beton. Bahan tersebut dapat berupa kantong plastik. Penempatan pada Bangunan Setiap bangunan baru dan atau perluasan bangunan harus dilengkapi dengan fasilitas pewadahan dan atau penampungan sampah sementara yang memadai.

(3) ruangan bersebelahan dengan jendela.1 VENTILASI 1. pintu atau sarana bukaan lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 10% dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. .2 di bawah ini atau b. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai lantai kedua ruangan tersebut. atau daerah yang terbuka ke atas. (2) jendela. 8 atau 9. bukaan. VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. dan: i. (2) ruangan bersebelahan yang mempunyai jendela. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang diventilasi. 6. bukaan. 2. bukaan. atau sarana lainnya dari ruangan yang bersebelahan (termasuk teras tertutup) jika kedua ruangan tersebut berada dalam satuan hunian yang sama atau mempunyai teras tertutup yang menjadi satu. jendela. dengan jarak tidak lebih dari 3. Ventilasi mekanis yang memenuhi ketentuan yang berlaku. Ventilasi Dari Ruangan Yang Bersebelahan Ventilasi alami pada suatu ruangan dapat berasal dari jendela. pintu atau sarana lain yang dapat dibuka i. dan yang sejenis. Bangunan kelas 5. ii.XII. 7. bukaan pintu ventilasi. ii ke arah. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 10% luas lantai kedua ruangan tersebut.6 m diatas lantai. (1) ruang yang di ventilasi bukan kompartemen sanitasi.1. pelataran parkir. Ventilasi Alami a. dengan jumlah bukaan berukuran tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang dibutuhkan untuk di ventilasi. (3) Luas ventilasi yang diatur pada butir (1 ) dan (2) dapat direduksi secukupnya jika tersedia ventilasi alami langsung dari sumber lainnya. b. Kebutahan Ventilasi Setiap bangunan harus mempunyai: a. Bangunan klas 2. Ventilasi alami sesuai dengan butir XII. (3) ruangan bersebelahan yang dimaksud dalam butir b di bawah ini. (2) teras terbuka. Penerapan ventilasi alami. bukaan. dan hunian tunggal pada bangunan klas 3. Ventilasi alami harus terdiri dari bukaan permanen. (1) jendela. (1) halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai.

f. Dalam hunian tunggal pada bangunan kelas 2 atau 3 atau bagian bangunan kelas 4. jika berada dibawah lantai dasar. Gedung Parkir Setiap lantai gedung parkir. harus mempunyai penutup yang kedap air diatas muka tanah/halaman dibawah lantai dasar. ruang kerja yang umumnya digunakan oleh lebih dari satu orang. d.1 m2 dan pada setiap pintu jalan masuk harus dipasang alat penutup pintu otomatis. 7. iv. atau iii. pada bangunan Kelas 5. ii. Ruang antara Jika ruang kakus atau peturasan yang dilarang menurut butir c di atas terbuka langsung terhadap ruang lainnya: i. Ruang kakus atau peturasan tidak boleh terbuka langsung ke arah: i. 8 atau 9 (yang bukan merupakan pusat penitipan anak. (1) jalan masuk harus melalui suatu dinding terkurung. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan udara mekanis. 6. harus mempunyai jarak melintang yang cukup untuk ventilasi antara bagian bawah permukaan lantai dasar dengan permukaan tanah/ halaman. sistem ventilasi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. sekolah TK atau panggung terbuka). iii. Pembuangan udara dari dapur Pada dapur komersial harus tersedia tudung pembuangan gas dapur yang memenuhi ketentuan yang berlaku. Batasan untuk posisi kakus dan peturasan. setiap peralatan masak yang mempunyai: (1) total daya masukan listrik maksimum lebih dari 8 kW. g. sistem ventilasi alami permanen yang memadai. asrama pada bangunan Kelas 3. v. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan mekanis. ii ruang makan umum atau restoran. e. dan pintu ke ruangan tersebut harus terhalang dari penglihatan. (1) jalan masuk harus melalui ruang antara. dapur atau pantry. Ventilasi ruangan dibawah lantai dasar Lantai paling bawah suatu bangunan: i. koridor atau ruang lainnya. kecuali pelataran parkir terbuka harus mempunyai: i. . sekolah TK atau panggung terbuka). atau ii. koridor atau ruang lainnya dengan luas tidak kurang dari 1. atau (2) total daya masukan gas lebih dari 29 MJ/jam.c. harus mempunyai konstruksi lantai yang sesuai. ii. ruang yang digunakan sebagai tempat berkumpul (yang tidak berbentuk pusat penitipan anak. jika: i.

Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara secara maksimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar. Ventilasi buatan a. dan standar teknis lain yang berlaku. total daya masukan maksimum per m2 luas lantai ruangan yang mempunyai lebih dari satu alat masak.60 meter diatas lantai.5 kW untuk daya listrik. dan setiap ruang lainnya bila diperlukan dapat mempunyai sistem pengkondisian udara yang memenuhi ketentuan yang berlaku. Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan a. d. Besamya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruang dalam bangunan harus sesuai standar yang berlaku. pabrik. lebih dari: (1) 0. XII.ii. rumah sakit. b. toko. atau (2) 1. Ruang parkir pada ruang bawah tanah (basement) yang terdiri dari lebih satu lantai. c. c. .8 MJ/jam untuk daya gas. e. serta biaya awal dan biaya umur pemakaian energi. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistem ventilasi buatan untuk membuang udara kotor dari dalam. Kebutuhan Pengkondisian Udara Setiap bangunan seperti untuk hunian. Karakteristik beban bangunan harus dianalisa sehingga memungkinkan sistem dan peralatan dengan ukuran yang tepat serta dipilih untuk memperoleh efisiensi yang baik pada beban penuh atau beban paruh. 3. kantor. Sistem Ventilasi buatan harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi syarat tidak memadai. pemilihan peralatan. b. Konservasi Energi a. termasuk dengan memperhitungkan pemakaian energi per tahunnya. Prosedur Perhitungan beban pendinginan harus mengikuti prosedur sesuai yang ditunjukkan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Rancangan sistem pengkondisian udara harus dikembangkan sehingga penggunaan energi yang optimal dapat diperoleh. f. PENGKONDISIAN UDARA 1. dan minimal 2/3 volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0. atau sebaliknya. Bilamana digunakan ventilasi buatan. Pengkondisian udara harus memperhatikan upaya konservasi energi minimal seperti dinyatakan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung.2 2. sistem tersebut harus bekerja terus menerus selama ruang tersebut dihuni. gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya. 3.

(3) Sistem pengkondisian udara pada bangunan klas 8a untuk ruang operasi. Dasar perancangan i. sistem pompa dan pemipaan. ii. sistem distribusi udara. . tidak dibenarkan mempergunakan sistem sirkulasi udara yang dapat menyebabkan penularan penyakit ke bagian lain bangunan. iii. ruang steril dan ruang perawatan bagi pasien yang berpenyakit menular. (2) Semua saluran udara harus direncanakan. isolasi pemipaan. (1) Penetapan sistem dan peralatan pengkondisian udara (Sistem Fan. dibuat dan dipasang sesuai ketentuan yang berlaku. atau standar internasional lain yang diakui oleh instansi yang berwenang.b. isolasi sistem distribusi udara) mengacu pada SK SNI yang berlaku. . Penetapan sistem dan peralatan. sistem kontrol. Kondisi Luar Bangunan Kondisi rancangan udara luar bangunan mengacu pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Kondisi Dalam Bangunan Kondisi dalam bangunan yang memerlukan pengkondisian udara harus dirancang sesuai penggunaannya.

ruangan. taman dan daerah bagian luar lainnya. . presentasi audio visual dan bagian-bagian lain dan fasilitas pertunjukan seperti panggung di hotel. Sistem pencahayaan buatan harus dipilih secara fleksibel. Kamar. 1. pencahayaan di unit pengeboran. pencahayaan didalam bangunan yang digunakan dari jam 22. meliputi: a. selama operasi normal. pencahayaan untuk pembuatan film. k. Kamar. seperti proses produksi dan penyimpanan. fasilitas luar untuk olahraga.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN 1. pencahayaan untuk rambu-rambu.00 malam sampai jam 06. ruang kelas yang direncanakan untuk kebutuhan khusus. c. i. pencahayaan luar untuk monumen publik. d. gallery. sehingga diperoleh konsumsi energi yang masih dapat dipertanggung jawabkan. museum dan monumen. Energi Yang Dikonsumsi Energi yang dikonsumsi untuk pencahayaan buatan mempunyai pengaruh besar pada peningkatan beban listrik dan beban pendinginan bangunan. ruangan dan daerah yang dicakup oleh bagian ini meliputi: a. kegiatan diluar bangunan. 1. reflektor khusus untuk medis dan perawatan gigi. iii. c. daerah dan peralatan yang tidak termasuk bagian ini. pencahayaan untuk pameran seni. seperti: i. efektif dan sesuai dengan kebutuhan ruangan. ruangan didalam bangunan b. f. e. pencahayaan darurat yang secara otomatis mati.XIII. jalan. pencahayaan khusus laboratorium. j. tempat bongkar muat barang. b. pintu masuk ii. Tingkat Iluminasi Tingkat iluminasi disarankan seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung XIII. m. daerah yang mempunyai risiko keamanan tinggi dan diperlukan tambahan pencahayaan untuk keamanan manusia. pintu ketuar. dan diskotek dimana pencahayaan merupakan bagian penting untuk menghasilkan knalitas tampilan. fasilitas pencahayaan untuk display di muka atau jendela toko.2 2. PENCAHAYAAN BUATAN. PENCAHAYAAN XIII. 2.00 pagi. penyiaran televisi. daerah luar bangunan. klub malam. n. termasuk daerah di udara terbuka dimana pencahayaan dibutuhkan dan disambungkan dengan listrik bangunan. g. dsb.

Penggunaan Lampu Penggunaan lampu sesuai kebutuhan dan mempertimbangkan upaya konservasi energi pada bangunan gedung. Pengendalian silau pada bangunan. Kebanyakan reflektor yang efisien untuk lampu fluorecent adalah dari jenis mirror reflector atau prismatic. Untuk fasilitas banyak bangunan. c. Daerah efisasi dari lampu yang ada ditunjukkan pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Perencanaan Sistem Pencahayaan Perencanaan sistem pencahayaan adalah dengan monggunakan sumber pencahayaan yang tepat.3 PENCAHAYAAN ALAMI 1. 6. mempunysi karakteristik distribusi pencahayaan sesuai kebutuhan dan tidak menghasilkan ketidak nyamanan karena silau atau pantulan. baik dari sumber sinar matahari langsung. 7. Penggunaan sakelar otomatis atau sistem pengendali lainnya agar tingkat pencahayaan buatan dalam bangunan dapat diatur. Penentuan besanya iluminasi Penentuan besarnya iluminasi mengikuti ketentuan teknis SNI-2396 tentang Penerangan Alami Siang hari untuk Rumah dan Gedung. 2. XIII. b.3. balas. kebutuhan daya pencahayaan luar bangunan terutama adalah untuk pencahayaan buatan diantara bangunan tersebut. maupun dari pantulan kaca dan sebagainya. Pemanfaatan pencahayaan alami Pemanfaatan pencahayaan alami yang optimal pada bangunan karena merupakan cara yang sangat penting untuk mengurangi beban energi bangunan. Perencanaan pencahayaan alami Pertimbangan perencanaan pencahayaan alami pada bangunan: a. kemampuan tahan panas dari kaca ditingkatkan dengan penggunaan tirai matahari dan atau kaca ganda. langit yang cerah. Daya terpasang dapat diminimalkan dengan penggunaan lampu. Daya Maksimum Yang Diijinkan Beban pencahayaan total untuk ruang dalam bangunan disarankan tidak melebihi nilai maksimum seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Jika perlu. jenis reflektor yang efisien. 4. obyek luar. 3. a. Reflektor untuk lampu High Intensity Discharge (HID) menggunakan reflektor aluminium anodized berkualitas tinggi. . Daya pencahayaan buatan di luar bangunan. dan reflaktor yang efisien. Kaca mengurangi kemampuan tahan panas dari dinding. 5. b. Konsumsi Energi Konsumsi energi pencahayaan buatan dapat diminimalkan dengan mengurangi daya terpasang dan waktu pemakaian. Daya pencahayaan buatan untuk bagian luar bangunan sebaiknya tidak melebihi nilai seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung.

Kamar tamu hotel harus mempunyai sakelar utama didekat pintu yang mematikan semua lampu dan stop kontak. pertokoan. kecuali untuk hal-hal lain jika diperlukan. otomatis atau yang terprogram. Apabila dimungkinkan adanya pencahayaan alami. Semua sistem pencahayaan. Minimal satu sakelar dengan tanda khusus untuk melayani 1100 Watt yang disambungkan ke beban listrik. dan harus secara manual atau otomatis dimatikan (misalnya dengan pembatas waktu atau photocell). c. kecuali yang diperlukan untak pencahayaan darurat atau pencahayaan lampu “KELUAR”. c.XIII. Pengendali yang diprogram. Semua ruangan yang tertutup dengan dinding bata atau partisi yang sampai ke plafond harus dilengkapi dengan satu pengendali pencahayaan manual untuk setiap kamar. b. f. Pengendali dipusatkan di lokasi yang berjarak jauh (seperti ruangan lobi dari kantor. Pengendali otomatis. b. d. . hotel dan rumah sakit. 2. d. Pengendali yang memerlukan operator yang terlatih. kecuali: a. harus dilengkapi dengan pengendali manual. Pengendali haruss digunakan sehingga bekerja pada baris pencahayaan yang paralel dengan dinding luar bangunan. Pengendali pencahayaan harus dilengkapi sebagai berikut: a. 1. gudang dan koridor yang dibawah pengendalian terpusat). pengendali manual lokal atau pengendali otomatis seperti sakelar yang dilengkapi dengan photoelectric atau dimmer otomatis sebaiknya digunakan di ruangan yang diterangi dengan pencahayaan alami. Pengendali untuk keamanan bahaya dan keselamatan. Semua pengendali pencahayaan harus ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/dibaca untuk orang yang berada atau menggunakan ruang tersebut. Letak pengendali harus mudah dicapai. e. Pencahayaan bagian luar tidak diperuntukkan beroperasi 24 jam terus menerus. Sakelar pengendali dengan beban yang sama yang tedetak di lebih satu lokasi harus dinilai sebagai penambahan jumlah pengendali untuk memenuhi kebutuhan butir 1 di atas. e. pasar swalayan. Minimal satu sakelar harus dipasang untuk setiap group yang melayani luasan 30 m atau kurang.4 PENGENDALIAAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN.

XIV. KEBISINGAN DAN GETARAN
XIV. 1. KEBISINGAN 1. Baku Tingkat Kebisingan a. Salah satu dampak dari usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat kebisingan yang dihasilkan. b. Baku tingkat kebisingan untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti ketentuan dalam standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat kebisingan lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut berlaku baku tingkat kebisingan sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2

XIV.2

GETARAN 1. Baku Tingkat Getaran a. Sala satu dampak dan usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat getaran yang dihasilkan. b. Baku tingkat getaran untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat getaran lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut, berlaku baku tingkat getaran sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2.

XV. KETENTUAN PENUTUP

XV.1

Persyaratan Teknis Bangunan Gedung seperti telah diuraikan pada Bab-bab sebelumnya merupakan persyaratan pokok yang ditunjang oleh standar teknis (SNI), pedoman atau petunjuk teknis yang berlaku dan lebih rinci berkaitan dengan spesifikasi, tata cara, dan metode uji bangunan, komponen, elemen, serta berbagai aspek teknis dari bangunan gedung. Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau yang bersifat alternatif serta penyesuaian penyesuaian yang diperlukan terhadap Persyaratan Teknis Bangunan Gedung diharapkan untuk dikembangkan oleh masing-masing Daerah disesuaikan dengan kondisi, permasalahan, kebutuhan, dan kesiapan kelembagaan di setiap Daerah.

XV.2

MENTERI PEKERJAAN UMUM ttd. RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN
TABEL V.2.3 PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. KETENTUAN UMUM
PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN Untuk: 1. Tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap jalan penghubung atau ramp yang melayani: a. Setiap lantai di atas tinggi efektif 25m, atau b. lebih dari 2 lantai di bawah tanah, atau c. atrium, atau d. bangunan klas 9a yang > 2 lantai, dan 2. jalan penghubung atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dengan panjang > 60 m ke jalan umum atau ruang terbuka, harus dilengkapi dengan: 1. Sistem presurisasi otomatis, atau 2. Ramp atau balkon akses yang terbuka sesuai ketentuan butir Vl.3. BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF >25 M Klas. 2, 3, den 4. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. 2. Bila panjang koridor umum > 40 m, harus dibagi dengan interval < 40 m, dengan konstruksi sesuai ketentuan V.1.3, kecuali bahan pelapis dan bahan yang tidak mudah terbakar Klas5,6, 7,8,dan 9b (selain ruang/tempat parkir) Klas 9a 1. Harus dilengkapi dengan sistem pengendali asap terzona sesuai ketentuan yang berlaku. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis, dan 2. Sistem pengendali asap tezona sesuai ketentuan yang berlaku

KLAS/BAGIAN BANGUNAN Jalan keluar yang Diisolasi terhadap kebakaran

BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF < 25 M Klas 2, 3, den 4 1. Harus dilengkapi dengan alarm dan detekai asap otomatis, dan 2. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran den bangunan kelas 2 atau 3 juga melayani satu atau lebih lantai dengan Kas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8, atau 9b, maka: a. tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap Jalan penghubung atau ramp harus dilengkapi dengan sistem presurisasi udara otomati, atau b. Klas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8 dan 9b harus

atau 2. diatas harus dipasang. atau 3. harus dipasang: a. kecuali bila alarm dan detektor tersebut hanya perlu dipasang pada tiap pintu menuju tangga yang diisolasi terhadap kebakaran untuk sistem peringatan. Klas 6. harus dipasang: 1. atau 9b. Sistem detektor dan alarm asap.b. 6. 8. 7. atau b. 2. Sistem sprinkler 1. Klas 5 atau 9b (sekolah) dengan ketinggian > 3 lantai. termasuk jlan penghubung dan rampnya. atau 9b (selain sekolah) dengan ketinggian > 2 lantai. bila bangunan mempunyai lebih dari satu komprtemen kebakaran. 7. Klas 6. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan klas 4 juga melayani satu atau lebih lantai dengan klas 5. atau b. bila basement mempunyai lebih daari satu kompartemen kebakaran. Sistem presurisasi udara otomatis. atau 9b (selain sekolah) maka pada setiap tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran. sistem alarm dan deteksi asap otomatis. Bila bangunan >2 lantai. keragaman klasifikasi bangunan atau kompartemen Klas 5. Bila < 2 lapis di bawah tanah: i. atau iii. dan 2. Sistem pengendali asap terzona. dipajang.dilengkapi dengan i. Basement dengan luas > 200 m2 harus dilengkapi dengan: a. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. fungsi khusus bangunan c. 8. atau 3. Sistem sesuai butir 2. 7. dan 9b (selain ruang/tempat parkir Klas 9a BASEMENT (selain ruang/tempat parkir) .a. Pada bangunan: 1. tipe dan jumlah material khusus yang disimpan. sistem sprinkler 3. atau ii. atau 2. 8. karakter khusus bangunan b. atau b. 6. 3. Sistem pengendali asap terzona. maka: a. atau 2. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. Dengan ketinggian > 2 lantai dan terdiri atas: a. atau 4. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendali asap terzona dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detekotr asap bekerja. 7 (bukan tempat parkir terbuka). Sistem sprinkler. atau ii. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. persyaratan khusus dapat digunakan dengan pertimbangan: a. Basement dengan > 3 lapis di bawah tanah atau terdapat klas 6 atau 9b dengan jumlah penghuni/pengguna yang banyak. atau digunakan dalam bangunan d. Sistem pengendali asap terzona. 8. Bila > 2 lapis dibawah tanah harus dilengkapi sistem sprinkler. Sistem sprinkler 1. Klas 5 atau 9b (sekolah) dan b.

dipasang sistem sprinkler 2. Kabel pengendali dan daya listrik tidak harus yang tahan api Bangunan yang memiliki atrium harus dengan kelengkapan sistem sprinkler. dan b. sistem peringatan kondisi darurat. dan b. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap.kecuali yang ditetapkan pada butir 2. bila: a. tidak terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. dan sejenis. terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko Klas 9b. harus dilengkapi dengan: a. dan sistem pengendalian asap sesuai standar teknis yang berlaku 2. toko dengan luas > 1. 1. bangunan 2 lantai atau kurang. diskotek.000 m2. sistem inter komunikasi darurat. dan 2. dan toko (selain pada ketentuan 3 ) yang tidak membuka ke arah selasar terlindung.Ruang/tempat parkir Atrium kebakaran Ruang/tempat parkir. Jenis kipas yang harus tahan suhu tinggi. Bangunan klab malam. Setiap kompartemen kebakaran. bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka 1. dan b. luas lantai < 2. atau c. Bila bangunan 1 lantai. sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomaatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1. bila: a. harus dilengkapi dengan: a. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. dan: i. atau b. sistem pembuangan asap otomaatis. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran > 3. harus dilengkapi dengan: a.000m2. atau 2. sistem deteksi alarm kebakaran.500 m2 dan bangunan 2 lantaai atau kurang. atau b. sistem pembuangan asap otomatis. Kompartemen Kebakaran > 2.500 m2. sistem pembuangan asap otomatis. dipasang sistem sprinkler 3. bangunan 1 lantai. Selasar terlindung. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran < 3.000 m2.000 m2. Kompartemen kebakaran > 2. KETENTUAN KHUSUS KLAS/BAGIAN BANGUNAN Klas 6. termasuk ruang parkir dibawah tanah. atau lubang-lubang Klas 6. atau ii. Bangunan satu lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. bila bangunan 1 lantai. Bangunan Pertemuan . yang dilengkapi dengan sisitem ventilasi mekanis sesuai ketentuan: 1. dipasang sistem alarm dan detektor asap otomatis.000m2 yang membuka ke arah selasar terlindung. luas bangunan < 2. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1.

500 m2. diatas. ruang senam. harus dilengkapi dengan a. Bangunan pertemuan lainnya (diluar butir 3 dan 4 diatas): a. gereja. Setiap kompartemen kebakaran dengan luas > 2.000 m2 i. Bila luas bangunan > 3. Mesjid dan tempat lainnya yang khusus hanya untuk kegiatan peribadatan. gereja. sistem sprinkler.000 m2 harus dilengkapi dengan ketentuan seperti butir 4. Gereja.a. sistem pembuang asap otomatis. atau ii. dan c. atau sistem sprinkler. . dengan luas > 200 m2. atau iii. selain pada bangunan sekolah dengan luas lantai kompartemen kebakaran > 2.000 ii. atau harus dilengkapi dengan: i. dipasang sistem sprinkler dan i. pada bangunan sekolah. bila luas lantai kompartemen kebakaran < 5. Bukan pada bangunan sekolah. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. 5. kolam renang dan sejenis) selain dari gedung olahraga(indoor) dengan jumlah tempat duduk > 1. Bangunan pameran. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. sistem pembuang asap otomatis. atau ii. sistem pembuang asap otomatis.ventilasi asap dan panas otomatis pada bangunan 1 lantai. sistem pembuang asap otomatis. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. dan b. atau sistem sprinkler 2. bila bangunan 1 lantai. bilang bangunan 1 lantai 3. Bangunan yang dikecualikan dari ketentuan butir a diatas adalah: i.000-3. kompleks olahraga (termasuk hall olah raga. bila bangunaan 1 lantai 4. bila bangunan 1 lantai. Bangunan theater atau tempaat pertemuan/hall umum: a.000 m2 dan tinggi bangunan 2 lantai atau kurang.b diatas b. dengan luas > 300m2 atau b. digunakan sistem alarm dan detektor asap otomatis. idem 1. atau ii. lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. atau iii. dan b.500m2 i. atau ii. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. termasuk theater kuliah dan komplek auditorium: a. Bila luas bangunan 2. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. sistem pengelola udara mekanis yang bukan meru-pakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shutdown) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. Bangunan theater atau hall umum selain butir 3.

Ridwan Munzir Ir. MSc Ir. Wiedodo Ir. Bambang Guritno. DJCK. G. Bintek. Ernawi. Dep. PU Dit. SE Ir. MSc Ir. HR. J. Binlak Wilayah Tengah . PU Dit.BD.TIM PENYUSUN PEDOMAN TEKNIS PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG Pembina Ir. Dep. J. Dep. DJCK. Eko Widiatmo Ir. Achid Winarno Ir.Arch. Dipl. Dipl. Rusdi Marzuki Ir.E. PU Kepala Balitbang Dep. IAI. Gembong Priyono. IAI Ir. Antonius Budiono. Jacob Ruzuar. PU Puslitbangkim. CES Ir. PU Widyaiswara Dep. Sukartono Ir. Dep. Bintek. PU Dit. IAI Ir. Dep. DJCK. Imam S. Binlak Wilayah Timur. Setjen Dep. Diding Muchidin Ir. MSc Ir. PU Dit. Balitbang. PU Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) . Bitnek. Balitbang. SH Ir. Dep. Adjar Prajudi. DJCK. Prawoto Menteri Pekerjaan Umum Direktur Jenderal Cipta Karya. Ir. PU Kepala Puslitbangkim.. Dep. Erry Saptaria Achyar. Bitnek. Sidjabat Ir. MCM Ir G. Renyansih Ny. PU Sekretaris Ditjen Cipta Karya. B.Sc. PU Biro Hukum. Roestanto Wahidi D. MCM. MPA Ir. Rachmadi BS. Sefiawan Kanani Ir. MSc Ir. Hari Sidharta. PU Staf Ahli Menteri PU V Bidang Pengembangan Jasa Konstruksi Direktur Bina Teknis . MSc. DJCK. Bintek. DJCK. Dipl. Sardjono Hadi Sugondo Ir. PU Kepala Biro Hukum. Sri Hartinah. Binlak Wilayah Barat. FRAIA Ir. PU Dit. Dep. Dep. Tulus Rachmat S Ir. PU Sekretaris Jenderal Dep. PU Dit. Eko Djuli Sasongko Ir. Sunaryo Sumadji. Achmad Lanti. DJCK. Dep. Harlansyah Soerarso. Dep. Hendro Moeljono Ir. H. Balitbang. Sutikni Utoro Wibisono Setio Wibowo. MM. MCM. MSc Ir. PU Puslitbangkim. Suprapto. Dep. Setjen Dep. DJCK Bagian Hukum. DJCK Dit. Pelaksana Ir. Balitbang. Hari Sasongko Suwarmo S. Pengarah Drs.. DJCK Dit. M. L. Eng. Aim Abdurachim Idris. MSc Kelompok Kerja Ir. P. MSc Ir. PU Puslitbangkim. H. Dep.

Bintang Agus Nugroho. Daniel Mangindaan Ir.March. Tulus Widiarso.U. Hadi Prabowo. Ir. Soedibyono Ir. MSc Ir. Bambang Budiono Ir. Imam S. Departemen P. Ir. Jl. Ir. MSA. Jakarta 12110 Indonesia Telepon: (021) 7268203 Faks: (021) 7235223 E-med: bintekctaba@pu. Drajat Hoedayanto. J.Ir. IAI Ir.MAUD DR. Eka Sediadi Rasyad Ir. MCM.go.Prasetiyo. MT Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Ikatan Ahli Lansekap Indonesia (IALI) Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Teknik Tanah Indoensia (HATTI) Institut Teknologi Bandung Institut Teknologi Bandung Universitas Trisakti. Jakarta Universitas Trisakti. Chaidir AM. Binsar Hariandja DR. Ariono Suprayogi Ir. Raden Patah l/1 Lantai 7 Wing 1 Kebayoran Baru. MEng DR. MM Ir. MSCE Ir. Zaenal Walidin DR. Bambang Tata Samiadji. Ing. Sofyan Nurbambang DR. Ernawi. IALI Ir. Penyelaras Akhir Ir. Hendro Moeljono Ir. Jakarta Universitas Trisakti. A. Ir.M. G. Jakarta Disamping itu juga melibatkan peran aktif berbagai nara sumber di bidang tata bangunan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. MT Ir. Eko Djuli Sasongko Studio Taba '98 Direktorat Bina Teknik Direktorat Jenderal Cipta Karya.id . Sugeng Triyadi S.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->