KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 441/KPTS/1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG MENTERI PEKERJAAN

UMUM,

Menimbang

:

a.

bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah di bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah, urusan penyelenggaraan bangunan gedung telah diserahkan kepada Daerah baik Daerah Tingkat I maupun Daerah Tingkat II; bahwa perkembangan penyelenggaraan bangunan gedung dewasa ini semakin kompleks sehingga perlu adanya pengaturan mengenai ketentuan teknis yang menyangkut peruntukan dan intensitas bangunan, arsitektur dan lingkungan, serta keandalan bangunan yang menjadi persyaratan pokok suatu bangunan gedung; bahwa sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987, kepada Menteri Pekerjaan Umum diberi wewenang untuk melakukan pembinaan teknis dan pengawasan teknis dalam penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah; bahwa sehubungan dengan pertimbangan pertimbangan tersebut diatas perlu mengatur persyaratan teknis bangunan gedung, dengan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah; Undang-undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun; Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Parumahan dan Permukiman; Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang; Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan di Bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah; Keputusan Presiden Rl Nomor 44 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Organisasi Departemen; Keputusan Presiden Rl Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Keputusan Rl Nomor 15 tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Departemen Sebagaimana Telah Tiga Puluh Kali Diubah Terakhir Dengan Keputusan Rl Nomor 23 Tahun 1994 Keputusan Presiden Rl Nomor 122/M Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabinet Reformasi Pembangunan;

b.

c.

d.

Mengingat

:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

8.

9.

Keputusan Menteri PU Nomor 211/KPTS/1994 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum.
MEMUTUSKAN :

Menetapkan

:

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG. BAB I KETENTUAN UMUM

TENTANG

Bagian Pertama Pengertian Pasal 1 Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada, diatas, atau di dalam tanah dan atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tampat manusia melakukan kegiatannya. 2. Penyelenggaraan bangunan gedung adalah proses kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan gedung 3. Daerah adalah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. 4. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kotamadya Daerah T'ngkat II. Bagian Kedua Maksud dan Tujuan Pasal 2 (1) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung dimaksudkan untuk mewujudkan bangunan gedung yang berkualitas sesuai dengan fungsinya. (2) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung bertujuan terselenggaranya fungsi bangunan gedung yang aman, sehat, nyaman, efisien, seimbang, serasi dan selaras dengan lingkungannya

BAB II PENGATURAN PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG

Bagian Pertama Persyaratan Teknis Pasal 3 (1) Persyaratan teknis bangunan gedung meliputi persyaratan mengenai : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. I. m. (2) Peruntukan dan Intensitas Bangunan. Arsitektur dan lingkungan. Struktur Bangunan Gedung. Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran. Sarana Jalan Masuk dan Keluar. Transportasi dalam Gedung. Pencahayaan Darurat, Tanda Arah Keluar, dan Sistem Peringatan Bahaya. Instalasi Listrik Penangkal Petir, dan Komunikasi dalam Gedung Instalasi Gas. Sanitasi dalam gedung. Ventilasi dan Pengkondisian Udara Pencahayaan. Kebisingan dan Getaran.

Rincian persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini tercantum pada lampiran Keputusan Menten ini yang merupakan satu kesatuan pengaturan dalam keputusan ini Setiap orang atau badan termasuk instansi Pemerintah dalam penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung wajib memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) Pasal ini. Pasal 4

(3)

Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Kedua Pengaturan Pelaksanaan di Daerah Pasal 5 (1) Untuk pedoman pelaksanaan penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah perlu dibuat Peraturan Daerah yang didasarkan pada ketentuan-ketentuan dalam Keputusan Menteri ini. Dalam hal Daerah belum mempunyai Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini maka terhadap penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah

(2)

diberlakukan ketentuan-ketentuan Persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. (3) Daerah yang telah mempunyai Peraturan Daerah tentang persyaratan teknis bangunan gedung sebelum Keputusan Menteri ini diterbitkan harus menyesuaikannya dengan ketentuan-ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. Pasal 6 Dalam melaksanakan pembinaan pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah melakukan peningkatan kemampuan aparat Pemerintah maupun masyarakat dalam memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 untuk terwujudnya tertib pembangunan bangunan gedung. Dalam melaksanakan pengendalian pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah wajib menggunakan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 sebagai landasan dalam mengeluarkan persetujuan atau perizinan yang diperlukan. Terhadap aparat Pemerintah Daerah yang bertugas dalam pengendalian pembangunan bangunan gedung yang melakukan pelanggaran ketentuan dalam Pasal 3 dikenakan sanksi administrasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 7 (1) Penyelenggaraan bangunan gedung yang melanggar ketentuan-ketentuan Pasal 3 dan Pasal 4 Keputusan Menteri ini dikenakan sanksi administrasi yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 5. Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dikenakan sesuai dengan tingkat pelanggaran dapat berupa: a. Peringatan tertulis b. Pembatasan kegiatan c. Penghentian sementara kegiatan sampai dilakukannya pemenuhan persyaratan teknis bangunan gedung. d. Pencabutan izin yang telah dikeluarkan untok menyelenggarakan pembangunan bangunan gedung. (3) Selain sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), di dalam Peraturan Daerah dapat diatur mengenai pengenaan denda dan tindakan Pembongkaran atas terjadinya pelanggaran terhadap ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung.

(1)

(2)

(3)

(2)

BAB III PEMB1NAAN DAN PENGAWASAN TEKNIS

Pasal 8 (1) Pembinaan dan Pengawasan Teknis untuk pelaksanaan ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 58/PRT/1991 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Teknis dan Pengawasan Teknis Bidang Pekerjaan Umum kepada Dinas Pekerjaan Umum. Pelaksanaan pembinaan teknis dan pengawasan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini didasarkan pada Rencana dan program yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Cipta Karya.
BAB IV KETENTUAN PERALIHAN

(2)

Pasal 9 Dengan berlakunya Keputusan Menteri inl, maka semua ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Keputusan Menteri ini masih tetap berlaku, sampai digantikan dengan yang baru.
BAB V KETENTUAN PENUTUP

Pasal 10 (1) (2) Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Keputusan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang bersangkutan untuk diketahui dan dilaksanakan.
DITETAPKAN Dl PADA TANGGAL : JAKARTA : 10 NOPEMBER 1998

MENTERI PEKERJAAN UMUM

RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 441/KPTS/1998 TANGGAL 10 NOPEMBER 1998

DAFTAR ISI
BAGIAN I KETENTUAN UMUM I. 1 I.2 PENGERTIAN 1. Umum 2. Teknis MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud 2. Tujuan

BAGIAN II PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II.1 PERUNTUKAN, FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Peruntukan Lokasi 2. Fungsi Bangunan 3. Klasifikasi Bangunan INTENSITAS BANGUNAN 1. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan 2. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB 3. Perhitungan KDB dan KLB GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. Garis Sempadan (muka) Bangunan 2. Garis Sempadan Samping dan Belakang Bangunan 3. Pemisah di Sepanjang Halaman Depan, Samping, dan Belakang Bangunan

II.2

II.3

BAGIAN III ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III.1 ARSITEK BANGUNAN 1. Tata Letak Bangunan 2. Bentuk Bangunan 3. Tata Ruang Dalam 4. Kelengkapan Bangunan RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1. Fungsi dan Persyaratan Ruang Tebuka Hijau Pekarangan 2. Ruang Sempadan Bangunan 3. Tapak Basement 4. Hijau Pada Bangunan 5. Tata Tanaman SIRKULASI, PERTANDAAN, DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 2. Pertandaan (Signage) 3. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan

III.2

III.3

Pengelolaan Daerah Bencana BAGIAN IV STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Pengendalian Asap Kebakaran 4.5 IV. Keselamatan Struktur 2. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi STRUKTUR BAWAH 1. Pondasi Bawah KEANDALAN STRUKTUR 1. Tipe Konstruksi Tahan Api 3.2 IV. Kriteria Demolisi 2. Persyaratan Bahan PEMBEBANAN STRUKTUR ATAS 1. Pusat Pengendali Kebakaran V. Persyaratan Struktur 2. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan 4.3 IV. Ketentuan Pengelolaan Dampak Ligkungan 3.4 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN 1.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1. Sistem Pemadam Kebakaran 2. Kontruksi Baja 3. Kontruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus 5.III. Pondasi Langsung 2.2 . Sistem Diteksi & Alarm Kebakaran 3. Ketahanan Api dan Stabilitas 2. Dampak Penting 2. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan 5. Proteksi Bukaan SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. Ketentuan UPL dan UKL 4. Prosedur dan Metoda IV.1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. Kompartemensasi dan Pemisahan 5. Keruntuhan Struktur DEMOLISI STUKTUR 1.6 BAGIAN V PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. Kontruksi Bangunan 2. Kontruksi Kayu 4.4 IV.

Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Tangga dan Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Pegangan Rambat pada Tangga 18. Bordes 15. Ambang Pintu 16. Fungsi 2. Persyaratan Keamanan 2. Masuk dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 22. Kebutuhan Jalan Keluar 3. Injakan dan Tanjakan Tangga 14. Pengoperasian Gerendel Pintu 21. Lintasan Melalui Tangga/ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 10. Ruang Peralatan dan Ruang Motor Lift 14. Balustrade 17. Keluar Melalui Pintu-pintu Keluar 11. Instalasi pada Pintu Keluar dan Jalan Lintasan 8. Ramp atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan 13.2 VI. Jumlah Orang Yang Ditampung KONTRUKSI JALAN KELUAR 1. Tangga dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 3. Pesyaratan Kinerja KETENTUAN JALAN KELUAR 1. Pintu Keluar Horisontal 12. Pintu Ayun 20. Lebar Tangga 10. Tangga. Ramp dan Balkon Akses Yang Terbuka 6. Jarak Jalur Menuju Pintu Keluar 5. Rambu pada Pintu AKSES BAGI PENYANDANG CACAT VI. Penerapan 2. Jarak antara Pintu-pintu Keluar Alternatif 6. Pintu 19. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 12. Lobby Bebas Asap 7. Ramp Pejalan Kaki 11. Dimensi/ukuran Pintu Keluar 7.3 VI. Tangga Luar Bangunan 9.BAGIAN VI SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. Perlindungan pada Ruang di Bawah Tangga dan Ramp 9.4 . Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Tehadap Kebakaran 8.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. Pemisahan Tanjakan dan Turunan Tangga 5. Atap sebagai Ruang Terbuka 13.

BAGIAN VII TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. Sangkar Lif 6. Transformator Distribusi 6. PENANGKAL PETIR. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung 2. Instalansi Tata Suara IX.1 LIF 1. Perencanaan Instalansi Listrik 2. Instalansi Penangkal Petir 3. Instalasi Listrik 9. Instalansi Telepon 3. Pemeriksaan dan Pengujian 4.1 INSTALANSI LISTRIK 1. SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII.2 IX.3 . Lif Kebakaran 3. Lif untuk Rumah Sakit 5. Pemerikasaan dan Pengujian 7. Jaringan Distribusi Listrik 3. Beban Listrik 4. Saf Lif 7. Pemeriksaan. Kapasitas Lif 2. TANDA ARAH KELUAR.2 VIII. Perencanaan Penangkal Petir 2. Mesin Lif dan Ruang Mesin Lif 8. Pengujian dan Pemeliharaan TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN VII.1 VIII. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. Sumber Daya Listrik 5.3 1SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT TANDA ARAH KELUAR SISTEM PERINGATAN BAHAYA BAGIAN IX INSTALANSI LISTRIK.2 BAGIAN VIII PENCAHAYAAN DARURAT. Pemeliharaan INSTALANSI PENANGKAL PETIR 1. Peringatan Terhadap Pengguna Lif pada Saat Terjadi Kebakaran 4. Pemeliharaan INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 1.

Tangki Penyediaan Air Bersih 6. Penempatan pada Bangunan 2. Kebutuhan Ventilasi 2.1 XIII. Jenis Gas 2.2 XIII. Kebutuhan Pengkondisian Udara 2. Sampah Berbahaya XI.2 BAGIAN XIII PENCAHAYAAN XIII.1 INSTALANSI GAS PEMBAKARAN 1.BAGIAN X INSTALANSI GAS X. 1 SISTEM PLAMBING 1. Sistem Pembuangan Air Kotor 4. Pompa Air Bersih PERSAMPAHAN 1.3 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN PENCAHAYAAN BUATAN PENCAHAYAAN ALAMI . Pemeriksaan dan Pengujian INSTALANSI GAS MEDIK 1. Jenis Gas 2. Pewadahan 3.2 BAGIAN XI SANITASI DALAM GEDUNG XI. Perencanaan Sistem Plumbing 2. Konservaasi Energi 3. Jaringan Distribusi Gas Medik 3. Alat Plambing 5. Pemeriksaan dan Pengujian X.1 VENTILASI 1. Ventilasi Alami 3. BAGIAN XII VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. Jaringan Distribusi Gas Kota 3. Sistem Penyediaan Air Bersih 3. Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan XII. Ventilasi Buatan PENGKONDISIAN UDARA 1.

4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN BAGIAN XIV KEBISINGAN DAN GETARAN XIV.2 KEBISINGAN GETARAN BAGIAN XV PENUTUP LAMPIRAN .1 XIV.XIII.

atau di daiam tanah dan/atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tempat manusia untuk melakukan kegiatan bertempat tinggal. . Umum Dalam pedoman teknis ini yang dimaksud dengan: a. pembinaan. Bangunan umum adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat manusia berkumpul. iii. di mana: i. d. Dinas Bangunan adalah salah satu Dinas Teknis di Daerah yang diantaranya mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pengaturan.I. Teknis a. pendidikan. d. bersosial-budaya. ii. kamar mandi. di atas. atau ruang dalam shaft. Daerah adalah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II atau Daerah Khusus Ibukota Jakarta. c. Atrium adalah suatu ruang dalam suatu bangunan yang menghubungkan 2 atau lebih tingka/lantai. tidak termasuk lorong tangga. dan melaksanakan kegiatan yang bersifat publik lainnya. KETENTUAN UMUM 1. lorong ramp. Pengawas/Penilik Bangunan adalah pejabat atau tenaga teknis profesional yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah atau ketentuan yang berlaku untuk bertugas mengawasi/menilik bangunan gedung. dsb. rekreasi. kakus dan peralatan-peralatan pembuangan lainnya. e. c. dan kegiatan lainnya. Bangunan turutan adalah bangunan sebagai tambahan atau pengembangan dari bangunan yang sudah ada. b. olah raga. 2. mengadakan pertemuan. seperti keagamaan. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada. perbelanjaan. berusaha. seluruh atau sebagian ruangnya tertutup pada bagian atasnya oleh lantai atau atap. dan pengendalian pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung yang berada di Daerah yang bersangkutan. Kepala Daerah adalah Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. b. PENGERTIAN 1. termasuk setiap ruang yang berbatasan/ berdekatan tetapi tidak terpisahkan oleh pembatas. atau Gubernur untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta. termasuk struktur atap kaca. Air kotor adalah semua air yang bercampur dengan kotoran-kotoran dapur.

Garis sempadan pagar adalah garis bagian luar dari pagar persil atau pagar pekarangan. j. e.f. jaringan tegangan tinggi listrik. Demolisi adalah kegiatan merobohkan atau membongkar bangunan secara total. k. g. atau iv. Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan manusia. h. Garis Sempadan Bangunan merupakan jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap: i. Dinding Luar adalah suatu dinding bangunan terluar yang bukan merupakan dinding pembatas. Dinding Pembatas adalah dinding yang menjadi pembatas antara bangunan. Garis sempadan loteng adaiah garis yang terhitung dan tepi jalan berbatasan yang tidak diperkenankan didirikan tingkat bangunan. l. yang selanjutnya disebut DHB adalah ruang terbuka pada bangunan yang dimanfaatkan untuk penghijauan. Antar massa bangunan lainnya. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia. Dinding Luar Non-struktural adalah suatu dinding luar yang tidak memikul beban dan bukan merupakan dinding panel. Daerah Hijau Bangunan. jaringan pipa gas dan sebagainya. Getaran kejut adalah getaran yang berlangsung secara tiba-tiba dan sesaat. . a. f. b. Batas lahan yang dikuasai. Bangunan Induk adalah bangunan yang mempunyai fungsi dominan dalam suatu persil. Getaran adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. Baku tingkat Kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dituang kelingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. h. iii. g. d. ii. Rencana saluran. Baku Tingkat Getaran mekanik dan getaran kejut adalah batas maksimal tingkat getaran mekanik yang diperbolehkan dan usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan. i. c. Batas tepi sungai/pantai.

p. r. mengubah atau membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu bangunan.i. Pekarangan adalah bagian yang kosong dari suatu persil/ kaveling/blok peruntukan bangunan. Mendirikan. seperti jaringan sanitasi dan jaringan drainasi. u. . selain kamar untuk MCK dan dapur. Jarak antara bangunan adalah jarak terkecil antara bangunan yang diukur antara permukaan-permukaan denah bangunan. s. q. y. Mendirikan Bangunan i. o. untuk tempat kegiatan manusia. memperluas. memperbaiki. Koefisien Tapak Basement (KTB) adalah angka prosentasi perbandingan luas tapak basement dengan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. x. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah pedoman rencana teknik. ii.m. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah koefisien perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. Melakukan pekerjaan tanah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan yang dimaksud pada butir 2. serta pedoman pengendalian pelaksanaan yang umumnya meliputi suatu lingkungan/kawasan (urban design and development guidelines). w. Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Jaringan saluran umum kota adalah jaringan sarana dan prasarana saluran umum perkotaan.w. n. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. v. Lubang Atrium adalah ruang dari suatu atrium yang dikelilingi oleh batas pinggir bukaan lantai atau oleh batas pinggir lantai dan dinding luar. Kamar adalah ruangan yang tertutup seluruhnya atau sebagian. program tata bangunan dan lingkungan. t. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka prosentase perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan yang diperuntukkan bagi pertamanan/ penghijauan dengan luas tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Jaringan persil adalah jaringan sanitasi dan jaringan drainasi dalam persil.

Tinghat Ketahanan Api (TKA). adalah tingkat ketahanan api yang dipersyaratakan pada bagian atau komponen bangunan sesuai ketentuan butir V. aa. bb. Adapun tujuan dari pengaturan per-bagian adalah: a. Contoh: TKA 90/-/60 berarti hanya terdapat persyaratan TKA untuk ketahanan struktural 90 menit dan insulasi 60 menit. integritas. dan insulasi. 2.2 dalam ukuran waktu satuan menit. dan berbatasan ke suatu panggung pada bangunan klas 9b yang dipergunakan untuk barang-barang dekorasi panggung. serta pemeriksaan kelaikan fungsi/keandalan bangunan gedung. dengan kriteria-kriteria berurut yaitu aspek ketahanan struktural.z. termasuk dalam rangka proses perijinan pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan. peralatan. Peruntukan dan Intensitas: i. yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Tujuan Pedoman Teknis ini bertujuan untuk dapat terwujudnya bangunan gedung sesuai fungsi yang ditetapkan dan yang memenuhi persyaratan teknis. dd. Ruang persiapan adalah ruang yang berhubungan dengan. menjamin bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di Daerah yang bersangkutan. yaitu meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan. Tinggi bangunan adalah jarak antara garis potong permukaan atap dengan muka bangunan bagian luar dan permukaan lantai denah bawah. ee.1. I. serta keandalan bangunan. atau sejenisnya. cc. ruang ganti. ii. Rumah adalah bangunan yang terdiri atas ruangan atau gabungan ruangan yang borhubungan satu sama lain. Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang akan dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat dB. Tujuan. . arsitektur dan lingkungan. Sambungan jaringan adalah penghubung antara sesuatu jaringan persil dengan jaringan saluran umum kota.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1. menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. Maksud Persyaratan Teknis Bangunan Gedung ini dimaksudkan sebagai acuan persyaratan teknis yang diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan bangunan gedung di Indonesia.

ii. menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. menjamin perlindungan properti lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh kegagalan struktur. e. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa sehinga mampu secara struktural stabil selama kebakaran.iii. dan budaya daerah. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia. ketentuan wujud bangunan. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia pada saat terjadi kebakaran. c. b. menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan oleh perilaku struktur. Ketahanan terhadap Kebakaran: i. menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan. sehingga seimbang. sehingga: (1) cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman. menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari cedera atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat . Sarana Jalan Masuk dan Keluar: i. ii. ii. (2) cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. ii. masyarakat. iv. iii. serasi dan selaras dengan lingkungannya. aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamnya. Arsitektur dan Lingkungan: i. iii. Strukfur Bangunan: i. menjamin keselamatan pengguna. d. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan. dan lingkungan. (3) dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang layak.

menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat. iii. menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman. h. menjamin terpasangnya instalasi gas secara aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. dan Sistem Peringatan Bahaya: i. j. aman. menjamin tersedianya aksesibiltas bagi penyandang cacat khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. Transportasl dalam Gedung: i. iii menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik. Tanda arah Keluar. Sanitasi dalam Bangunan: i. menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari bahaya akibat petir. ii. menjamin terpenuhinya pemakaian gas yang aman dan cukup. menjamin tersedianya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. iii. Instalasi Gas: i. Penangkal Petir dan Komunikasi: i. ii. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan secara baik. menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin tersedianya alat transportasi yang layak. ii. i. f. Pencahayean Darurat. ii. menjamin terwujudnya kebersihan. Instalasi Listrik. kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan. . dan nyaman di dalam bangunan gedung. g. ii. menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam bangunan gedung apabila terjadi keadaan darurat.iii. khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. apabila terjadi keadaan darurat. menjamin tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya.

baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. m. ii. . menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup. Pencahayaan: i. ii. ii. menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau mencegah perusakan lingkungan.k Ventilasi dan Pengkondisian Udara: i. l. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik. menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran yang tidak diinginkan. menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik. Kebisingan dan Getaran: i. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya.

Ketentuan tata ruang dan tata bangunan ditetapkan melalui: i. dan garis sempadan bangunan. Rencana Rinci Tata Ruang (RRTR). PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. Keterangan atau ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir d meliputi keterangan tentang peruntukan lokasi dan intensitas bangunan. FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Daerah. Kepala Daerah segera menyusun dan menetapkan RRTR. RRTR. sedangkan peruntukan penunjangnya sebagaimana ditetapkan di dalam ketentuan tata bangunan yang ada di Daerah setempat atau berdasarkan pertimbangan teknis Dinas Bangunan. iii. Bangunan gedung harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam ketentuan tata ruang dan tata bangunan dari lokasi yang bersangkutan. Setiap pihak yang memerlukan keterangan atau ketentuan tata ruang dan tata bangunan dapat memperolehnya secara terbuka melalui Dinas Bangunan. Persetujuan membangun tersebut berstfat sementara sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan tata ruang yang lebih makro. Apabila persetujuan yang telah diberikan terdapat ketidak sesuaian dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan kemudian. ii. Kepala Daerah dapat memberikan pertimbangan atas ketentuan yang diperlukan. Peraturan bangunan setempat dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). merupakan peruntukan utama. PERUNTUKAN. Bagi Daerah yang belum memiliki RTRW. g.I. iii. . f. seperti kepadatan bangunan. kaidah perencanaan kota dan penataan bangunan ii. Dalam hal rencana-rencana tata ruang dan tata bangunan sebagaimana dimaksud pada butir b belum ada. Peruntukan Lokasi a. d. dengan tetap mengadakan peninjauan seperlunya terhadap rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada di Daerah. maka Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan gedung dengan pertimbangan: i. e. Peruntukan lokasi sebagaimana dimaksud dalam butir a. b. maka perlu c. ataupun peraturan bangunan setempat dan RTBL. ketinggian bangunan.II. peraturan bangunan setempat dan RTBL berdasarkan rencana tata ruang yang lebih makro.

tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. orang. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah dan atau diatas tanah. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. Pembangunan bangunan gedung dibawah atau diatas air perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. tidak untuk fungsi hunian atau tempat tinggal. maka bangunan tersebut harus disesuaikan dengan rencana tata ruang yang ditetapkan. Bagi Daerah yang belum memilih RTRW Daerah. ii. iii. tetap memperhatikan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. ii. saluran. v. Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan pada daerah tersebut untuk jangka waktu sementara. h. Apabila di kemudian hari terdapat penetapan RTRW Daerah yang bersangkutan. tidak mengganggu keseimbangan lingkungan. memiliki sarana khusus untuk kepentingan keamanan dan keselamatan bagi pengguna bangunan. . iii. Pembangunan bangunan gedung diatas jalan umum. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah tanah. j. i. iv. v. atau sarana lain perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas kendaraan. tidak menimbulkan perubahan atau arus air yang dapat merusak lingkungan. iv. dan fungsi indung kawasan. iv. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. penghawaan dan pencahayaan bangunan telah memenuhi persyaratan kesehatan sesuai fungsi bangunan. Pembangunan bangunan gedung dibawah tanah yang melintasi sarana dan prasarana jaringan kota perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. ii. maupun barang.diadakan penyesuaian dengan resiko ditanggung oleh pemohon/pemilik bangunan. iii.

ii. kesehatan dan aksesibilitas bagi pengguna bangunan. maupun dari segi keserasian bangunan terhadap lingkungannya. pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran. k. e. letak bangunan minimal 10 (sepuluh) meter diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. 2. iii. d. iv. perkantoran niaga. c. telah mempertimbangkan faktor keamaan. Rumah tinggal tunggal Rumah tinggal deret Rumah tinggal susun Rumah tinggal vila Rumah tinggal asrama f. iii. Bangunan dengan fungsi usaha meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk: i. dan fungsi khusus. b. keamanan. v. fungsi usaha. v. keselamatan. ii. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. Fungsi Bangunan a. kenyamanan. keamanan. Penetapan fungsi dan klasifikasi bangunan yang bersifat sementara harus dengan mempertimbangkan tingkat permanensi. dan sanitasi yang memadai. kenyamanan. baik ditinjau dari segi intensitas banguanan arsitektur dan lingkungan. . kesehatan. Pembangunan bangunan gedung pada daerah hantaran udara (transmisi tegangan tinggi perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai perikut: i. letak bangunan tidak boleh melebihi atau melampaui garis sudut 45° (empat puluh lima derajat) diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. Fungsi dan klasifikasi bangunan merupakan acuan untuk persyaratan teknis bangunan gedung.iv. iv. dan sejenisnya. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan fungsi utama bangunan. Bangunan perkantoran: perkantoran pemerintah. setelah mendapat pertimbangan teknis dari para ahli terkait. tidak menimbulkan pencemaran. Fungsi bangunan dapat dikelompokkan dalam fungsi hunian. Bangunan dengan fungsi hunian meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama hunian yang merupakan: i. fungsi sosial dan budaya.

Bangunan pelayanan kesehatan: puskesmas. gedung tempat parkir. a. pelabuhan laut. sekolah tinggi/universitas. pelaksanaan. j. vi. selain terdiri dari ruang-ruang dengan fungsi utama. kelenteng. hostel. Bangunan kebudayaan : museum. gereja. atau blok peruntukan dimungkinkan adanya fungsi campuran (mixed use). iv. dan sejenisnya h. terminal udara. iv. v. Bangunan pendidikan: sekolah taman kanak-kanak.ii. bangunan reaktor. atau perubahan yang diperlukan pada bangunan. ii. industri sedang. Bangunan peribadatan: mesjid. Bangunan Perhotelan/Penginapan: hotel. Klas 1 : Bangunan Hunian Biasa Adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan: . halte bus. motel. 3. iii. dan sejenisnya. poliklinik. terminal bus. & C. sepanjang sesuai dengan peruntukan lokasinya dan standar perencanaan lingkungan yang berlaku. Bangunan dengan fungsi umum. Dalam suatu persil. sesuai dengan persyatatan pokok yang diatur dalam Pedoman Teknis ini. dan sejenisnya. penginapan. mal. dan sejenisnya. Bangunan Terminal: stasiun kereta. gedung kesenian. dan vihara. dan sejenisnya. serta dilengkapi pula dengan instalasi dan kelengkapan bangunan yang dapat menjamin terselenggaranya fungsi bangunan. iii. dan sejenisnya. g. Bangunan dengan fungsi khusus meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi. rumah sakit klas A. juga dilengkapi dengan ruang fungsi penunjang. keveling. sosial dan budaya. sekolah dasar. pertokoan. Bangunan perdagangan: pasar. industri besar/berat. pura. Bangunan Industri : industri kecil. Klasifikasi Bangunan Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan. Setiap bangunan gedung. sekolah lanjutan. meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk : i. rumah bersalin. B. pusat perbelanjaan. bioskop. dan sejenisnya. i. vii Bangunan Pariwisata: tempat rekreasi. Bangunan Penyimpanan: gudang. atau tingkat resiko bahaya tinggi : seperti bangunan kemiliteran.

c. atau ii. pasar. ruang makan malam. b. atau usaha komersial. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. Klas 2: Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. Klas 5: Bangunan kantor Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya. Klas 1a : bangunan hunian tunggal yang berupa: (1) satu rumah tunggal. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan.i. termasuk i.. bar. Klas 4 : Bangunan Hunian Campuran Adalah tempat tinggal yang berada didalam suatu bangunan klas 5. atau (2) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. tempat potong rambut /salon. atau bengkel. ruang makan. Klas 3: Bangunan hunian diluar bangunan klas 1 atau 2. v. ii iii. atau ii. ruang penjualan. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. f. cacat. restoran. rumah asrama. Klas 1b : rumah asrama/kost. villa. unit town house . 6. atau panti untuk orang berumur. 7. Klas 6: Bangunan Perdagangan Adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. diluar bangunan klas 6. termasuk rumah deret. d. tempat cuci umum. atau iii. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. atau anak-anak. hostel. . atau 9. rumah tamu. 8. rumah taman. iv. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. atau iv. pengurusan administrasi. rumah tamu. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. 8 atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut e. termasuk: i. ruang pamer. 7. losmen. kafe.

Klas 9b: bangunan pertemuan. ii. perbaikan. Klas 10a: bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. Klas 9: Bangunan Umum Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. Klas 10 : Adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian: i. tonggak. yaitu: i. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. antena. atau ii. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. gudang. dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan bangunan utamanya. perubahan. j. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. Klas 10b: struktur yang berupa pagar. ii. hall. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium.g. perakitan. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. tetapi tidak temmasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. carport. atau sejenisnya. tempat parkir umum. dan: . Klasifikasi jamak Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah. bangunan peribadatan. Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. dalam Pedoman Teknis dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai dengan peruntukannya l. Bangunan-bangunan yang tidak diklasifikasikan khusus Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi bangunan 1 s/d 10 tersebut. Klas 7: Bangunan Penyimpanan/Gudang Adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. m. pengepakan. i. h. kolam renang. termasuk: i. Klas 8 : Bangunan Laboratorium/lndustri/Pabrik Adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. Bangunan yang penggunaannya insidentil Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya. bangunan budaya atau sejenis. temmasuk bengkel kerja. k. finishing. atau sejenisnya.

Kepadatan bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a. rencana tata bangunan dan lingkungan yang ditetapkan. dalam mencerminkan keserasian bangunan dengan b. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan a. bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan. 9a. ruang mesin lift. kemampuannya dalam menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan optimalnya intensitas pembangunan. iii. dan renggang. 1b. e. kemampuannya dalam menjamin kesehatan dan kenyamanan pengguna serta masyarakat pada umumnya. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud pada butir c tidak diperkenankan mengganggu lalu-lintas udara. f. . ruang mesin.i. sedang. ii. seperti kawasan wisata. kemampuannya lingkungan. ketinggian bangunan dan ketentuan tata bangunan lainnya dengan tetap memperhatikan keserasian dan kelestarian lingkungan. 9b. pelestarian dan lain lain. Bangunan gedung yang didirikan harus memenuhi persyaratan kepadatan dan ketinggian bangunan gedung berdasarkan rencana tata ruang wilayah Daerah yang bersangkutan. Untuk suatu kawasan atau lingkungan tertentu. yang dibedakan dalam tingkatan KDB padat. dan peraturan bangunan setempat. sedang. klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi bangunan utamanya. meliputi ketentuan tentang Koefisien Dasar Bangunan (KDB). d. Klas-klas 1a. dengan pertimbangan kepentingan umum dan dengan persetujuan Kepala Daerah dapat diberikan kelonggaran atau pembatasan terhadap ketentuan kepadatan. iii. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a.2 INTENSITAS BANGUNAN 1. ii. dan rendah. Ruang-ruang pengolah. 10a dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah. dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) yang dibedakan dalam tingkatan KLB tinggi. c. dan b' laboratorium. meliputi ketentuan tentang Jumlah Lantai Bangunan (JLB). ruang boiler atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak II. Persyaratan kinerja dari ketentuan kepadatan dan ketinggian bangunan ditentukan oleh: i.

Penetapan besarnya kepadatan dan ketinggian bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam II. iv.1 butir b dan c. v.2. apabila perpetakan tidak ditetapkan. Dengan pertimbangan kepentingan umum dan ketertiban pembangunan. f. maka Kepala Daerah dapat menetapkan berdasarkan berbagai pertimbangan dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. daya dukung lahan/ lingkungan. daya dukung lahan/lingkungan. untuk memudahkan lalu lintas. dimungkinkan adanya pemberian dan penerimaan besaran KDB/KLB diantara perpetakan yang berdekatan. Penetapan besamya KDB. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. Kepala Daerah dapat menetapkan rencana perpetakan dalam suatu kawasan/lingkungan dengan persyaratan: i. untuk persil-persil sudut bilamana sudut persil tersebut dilengkungkan atau disikukan. kebijaksanaan intensitas pembangunan. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB a. ditetapkan dengan mempertimbangkan perkembangan kota. dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. kebijaksanasn intensitas pembangunan. ii. dengan tetap menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan keserasian lingkungan. penggabungan atau pemecahan perpetakan dimungkinkan dengan ketentuan KDB dan KLB tidak dilampaui. keserasian dan keamanan lingkungan serta memenuhi persyaratan teknis yang telah ditetapkan. maka KDB dan KLB diperhitungkan berdasarkan luas tanah di belakang garis sempadan jalan (GSJ) yang dimiliki. JLB/KLB untuk pembangunan bangunan gedung diatas fasilitas umum adalah setelah mempertimbangkan keserasian. peraturan bangunan setempat. e. b. maka lebar dan panjang persil tersebut diukur dari titik pertemuan garis perpanjangan pada sudut tersebut dan luas persil diperhitungkan berdasarkan lebar dan panjangnya. keseimbangan dan persyaratan teknis serta mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. d. dan dengan memperhitungkan keadaan lapangan. Perhitungan KDB dan KLB Perhitungan KDB maupun KLB ditentukan dengan pertimbangan sebagai berikut: . iii. Dimungkinkan adanya kompensasi berupa penambahan besarnya KDB JLB/KLB bagi perpetakan tanah yang memberikan sebagian luas tanahnya untuk kepentingan umum. rencana tata bangunan dan lingkungan. setiap bangunan yang didirikan harus sesuai dengan rencana perpetakan yang telah diatur di dalam rencana tata ruang.2. Apabila KDB dan JLB/KLB belum ditetapkan dalam rencana tata ruang. 3. c. Ketentuan besarnya KDB dan JLB/KLB dapat diperbanui sejalan dengan pertimbangan perkembangan kota.

j. l. Dalam perhitungan KDB dan KLB. overstek atap yang melebihi lebar 1. selebihnya diperhitungkan 50 % terhadap KLB. Garis Sempadan Bangunan ditetapkan dalam rencana tata ruang. dan total keseluruhan luas lantai bangunan dalam kawasan tersebut tehadap total keseluruhan luas kawasan.50 m maka luas mendatar kelebihannya tersebut dianggap sebagai luas lantai denah.20 m di atas lantai ruangan tersebut dihiitung penuh 100 %. h. kesehatan.3 GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. Mezanine yang luasnya melebihi 50 % dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. serta peraturan bangunan setempat. luas lantai bangunan yang diperhitungkan untuk parkir tidak diperhitungkan dalam perhitungan KLB. I. b. e. g. c. k. maka ketinggian bangunan tersebut dianggap sebagai dua lantai. perhitungan luas lantai bangunan adalah jumlah luas lantai yang diperhitungkan sampai batas dinding terluar. luas lantai ruangan beratap yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding yang tingginya lebih dari 1. teras tidak beratap yang mempunyai tinggi dinding tidak lebih dari 1. asal tidak melebihi 50 % dari KLB yang ditetapkan.20 m di atas lantai teras tidak diperhitungkan sebagai luas lantai. Batasan perhitungan luas ruang bawah tanah (basement) ditetapkan Kepala Daerah dengan pertimbangan keamanan. ramp dan tangga terbuka dihitung 50 %. d. dan pendapat teknis para ahli terkait. luas tapak yang diperhitungkan adalah yang dibelakang GSJ. selama tidak melebihi 10 % dari luas denah yang diperhitungkan sesuai dengan KDB yang ditetapkan. selama tidak melebihi l0% dari luas lantai dasar yang diperkenankan. Untuk pembangunan yang berskala kawasan (superblock).a. Dalam perhitungan ketinggian bangunan.20 m diatas lantai ruangan dihitung 50 %. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 m. f. Garis Sempadan (muka) Bangunan a. keselamatan. . perhitungan KDB dan KLB adalah dihitung terhadap total seluruh lantai dasar bangunan. i. rencana tata bangunan dan lingkungan. luas lantai ruangan beratap yang bersifat terbuka atau yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding tidak lebih dari 1.

sungai. Sepanjang tidak ada jarak bebas samping maupun belakang bangunan yang ditetapkan. dan peraturan bangunan setempat. keserasian dengan lingkungan. Pada suatu kawasan/lingkungan yang diperkenankan adanya beberapa klas bangunan dan di dalam kawasan peruntukan campuran. danau. jaringan umum dan lapangan umum. d. serta belakang bangunan terhadap batas persil. garis sempadan menara. yang diatur di dalam rencana tata ruang. Dalam mendirikan atau memperbarui seluruhnya atau sebagian dari suatu bangunan. h. f. rencana tata bangunan dan lingkungan. Daerah berwenang untuk memberikan pembebasan dari ketentuan dalam butir g. juga menetapkan garis sempadan samping kiri dan kanan. untuk tiap-tiap klas bangunan dapat ditetapkan garis-garis sempadannya masing-masing. Garis Sempadan Bangunan yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam butir a. dan keserasian dengan lingkungan serta ketinggian bangunan. Garis sempadan samping dan belakang bangunan a. Kepala Daerah dengan pertimbangan keselamatan. i Ketentuan besarnya GSB dapat diperbarui dengan pertimbangan perkembangan kota. g. maupun pertimbangan lain dengan mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. Daerah menentukan garis-garis sempadan pagar. begitu pula garis-garis sempadan untuk pantai. kenyamanan. Penetapan Garis Sempadan Bangunan didasarkan pada pertimbangan keamanan. Dalam hal garis sempadan pagar dan garis sempadan muka bangunan berimpit (GSB sama dengan nol). yang ditetapkan pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. maka bagian muka bangunan harus ditempatkan pada garis tersebut. kesehatan. garis sempadan loteng. garis sempadan podium. tersebut belum ditetapkan. sepanjang penempatan bangunan tidak mengganggu jalan dan penataan bangunan sekitarnya. 2. tidak boleh dilanggar. maka Kepala Daerah menetapkan besarnya garis sempadan tersebut dengan setelah mempertimbangkan keamanan kesehatan dan kenyamanan. garis sempadan muka bangunan. . Apabila Garis Sempadan Bangunan sebagaimana dimaksud pada butir a.b. b. kepentingan umum. maka Kepala Daerah dapat menetapkan GSB yang bersifat sementara untuk lokasi tersebut pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. kesehatan dan kenyamanan. c. e.

Pada dinding batas pekarangan tidak boleh dibuat bukaan dalam bentuk apapun. ii. iii. pada bangunan rumah tinggal rapat tidak terdapat jarak bebas samping. f. . diluar yang diatur dalam butir a. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. dan sedangkan untuk bangunan gudang serta industri dapat diatur tersendiri. d. maka jarak antara dinding atau bidang tersebut minimal dua kali jarak bebas yang ditetapkan. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. dan pada setiap penambahan lantai/tingkat bangunan. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang bukaan yang saling berhadapan. dalam hal salah satu dinding yang berhadapan merupakan dinding tembok tertutup dan yang lain merupakan bidang terbuka dan atau berlubang. jarak bebas samping dan jarak bebas belakang ditetapkan minimum 4 m pada lantai dasar. ii.c. Pada daerah intensitas bangunan rendah/renggang. maka garis sempadan samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. bidang dinding terluar tidak boleh melampaui batas pekarangan. maka jarak antara dinding tersebut minimal satu kali jarak bebas yang ditetapkan. struktur dan pondasi bangunan terluar harus berjarak sekurang-kurangnya 10 cm kearah dalam dari batas pekarangan. maka Kepala Daerah dapat menetapkan syarat-syarat lebih lanjut mengenai jarakjarak yang harus dipatuhi. iv. sedangkan jarak bebas belakang ditentukan minimal setengah dari besarnya garis sempadan muka bangunan. ii. maka jarak bebas samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. jarak bebas di atasnya ditambah 0. e.50 m dari jarak bebas lantai di bawahnya sampai mencapai jarak bebas terjauh 12. Untuk bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan bahanbahan/benda-benda yang mudah terbakar dan atau bahan berbahaya. Pada daerah intensitas bangunan padat/rapat. g Jarak bebas antara dua bangunan dalam suatu tapak diatur sebagai berikut: i. sisi bangunan yang didirikan harus mempunyai jarak bebas yang tidak dibangun pada kedua sisi samping kiri dan kanan serta bagian belakang yang berbatasan dengan pekarangan. untuk perbaikan atau perombakan bangunan yang semula menggunakan bangunan dinding batas bersama dengan bangunan di sebelahnya. disyaratkan untuk membuat dinding batas tersendiri disamping dinding batas terdahulu.5 m.

b. Dalam hal pemisah berbentuk pagar. maka tinggi pagar pada GSJ dan antara GSJ dengan GSB pada bangunan rumah tinggal maksimal 1. maka jarak dinding terluar minimal setengah kali jarak bebas yang ditetapkan.iii. kecuali jika jalur-jalur jaringan umum kota direncanakan sebagai jalur jalan belakang untuk umum . samping. 3.50 m di atas permukaan tanah. Dalam hal yang khusus Kepala Daerah dapat memberikan pembebasan dari ketentuan-ketentuan dalam butir a dan b. e. j. Untuk sepanjang jalan atau kawasan tertentu. Pada pemagaran ini tidak boleh diadakan pintu-pintu masuk. Kepala Daerah menetapkan ketinggian maksimum pemisah halaman muka. dan belakang bangunan. dengan setelah mempertimbangkan hal teknis terkait. . kenyamanan. c. Tinggi pagar batas pekarangan sepanjang pekarangan samping dan belakang untuk bangunan renggang maksimal 3 m di atas permukaan tanah pekarangan. Kepala Daerah dapat menerapkan desain standar pemisah halaman yang dimaksudkan dalam butir a. d. i. atau ditetapkan lebih rendah setelah mempertimbangkan kenyamanan dan kesehatan lingkungan. Halaman muka dari suatu bangunan harus dipisahkan dari jalan menurut cara yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. dan apabila pagar tersebut merupakan dinding bangunan rumah tinggal bertingkat tembok maksimal 7 m dari permukaan tanah pekarangan. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang tertutup yang saling berhadapan. f. Kepala Daerah berwenang untuk menetapkan syarat-syarat lebih lanjut yang berkaitan dengan desain dan spesifikasi teknis pemisah di sepanjang halaman depan. dan untuk bangunan bukan rumah tinggal termasuk untuk bangunan industri maksimal 2 m di atas permukaan tanah pekarangan. Kepala Daerah dapat menetapkan lain terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir e dan f. dengan bagian bawahnya dapat tidak tembus pandang maksimal setinggi 1 m diatas permukaan tanah pekarangan. dengan memperhatikan keamanan. k. Penggunaan kawat berduri sebagai pemisah disepanjang jalan-jalan umum tidak diperkenankan. Pagar sebagaimana dimaksud pada butir e harus tembus pandang. serta keserasian lingkungan. Pemisah disepanjang halaman depan. Antara halaman belakang dan jalur-jalur jaringan umum kota harus diadakan pemagaran. samping. dan belakang bangunan a. g h Untuk bangunan-bangunan tertentu.

dan penataan bangunan dan lingkungan yang diharapkan. . Kepala Daerah dapat menetapkan tanpa adanya pagar pemisah halaman depan. keserasian lingkungan. dengan pertimbangan kepentingan kenyamanan kemudahan hubungan (aksesibilitas).l. samping maupun belakang bangunan pada ruas-ruas jalan atau kawasan tertentu.

b. iii. ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III. Tapak Bangunan i. Ketentuan Umum i. . (2) larangan membuat batas fisik atau pagar pekarangan. iv.1. dengan ketentuan tidak melebihi KLB. ii. pemasangan nama proyek dan sejenisnya dengan memperhatikan keamanan. ii. Pada daerah / lingkungan tertentu dapat ditetapkan: (1) ketentuan khusus tentang pemagaran suatu pekarangan kosong atau sedang dibangun. iv. atau yang mampu sebagai pedoman arsitektur atau teladan bagi lingkungannya. Tata Letak Bangunan a. (3) ketentuan penataan bangunan yang harus diikuti dengan memperhatikan keamanan. iii. Pada lokasi-lokasi tertentu Kepala Daerah dapat menetapkan secara khusus arahan rencana tata bangunan dan lingkungan. lalu lintas dan ketertiban umum. harus memenuhi persyaratan teknis yang berlaku dan keserasian lingkungan. 2.(2) dapat diberikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. keselamatan. Ketentuan Umum i. Penempatan bangunan gedung tidak boleh mengganggu fungsi prasarana kota.1. Bilamana dianggap perlu. Penambahan lantai atau tingkat suatu bangunan gedung diperkenankan apabila masih memenuhi batas ketinggian yang ditetapkan dalam rencana tata ruang kota. Bentuk Bangunan a. keindahan dan keserasian lingkungan.iv. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur lingkungan yang ada di sekitarnya. persyaratan lebih lanjut dari ketentuanketentuan ini dapat ditetapkan pelaksanaaannya oleh Kepala Daerah dengan membentuk suatu panitia khusus yang bertugas memberi nasehat teknis mengenai ketentuan tata bangunan dan lingkungan. Tinggi rendah (peil) pekarangan harus dibuat dengan tetap menjaga keserasian lingkungan serta tidak merugikan pihak lain. ARSITEKTUR BANGUNAN 1. keindahan dan keserasian lingkungan. Pada jalan-jalan tertentu.III.1 b. (4) Kekecualian kelonggaran terhadap ketentuan butir III. Penambahan lantai/tingkat harus memenuhi persyaratan keamanan struktur. keselamatan. perlu ditetapkan penampang-penampang (profil) bangunan untuk memperoleh pemandangan jalan yang memenuhi syarat keindahan dan keserasian.

Bentuk bangunan gedung harus dirancang sedemikian rupa sehingga setiap nuang dalam dimungkinkan menggunakan pencayahayaan dan penghawaan alami. tampak. detail. vi.b. iv.1.ii. iii. Syarat-syarat lebih lanjut mengenai tinggi/tingkat dan sesuatunya ditetapkan berdasarkan ketentuan-ketentuan rencana tata ruang. termasuk para penyandang cacat dan usia lanjut. Bentuk. kulit atau selubung bangunan harus memenuhi persyaratan konservasi energi.2. harus dilengkapi dengan perlengkapan yang berfungsi sebagai pengaman terhadap lalu lintas udara dan atau lalu lintas laut. dan atau rencana tata bangunan lingkungan yang ditetapkan untuk daerah/lokasi tersebut. Bentuk bangunan gedung sesuai kondisi daerahnya harus dirancang dengan mempertimbangkan kestabilan struktur dan ketahanannya terhadap gempa. v. iv. Aksesibilitas bangunan harus mempertimbangkan kemudahan bagi semua orang. Ketentuan Umum i.i tidak berlaku apabila sesuai fungsi bangunan diperlukan sistem pencahayaan dan penghawaan buatan. profil.2. Ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir II 1. vi. harus serasi dengan bangunan yang dilestarikan tersebut. material maupun warna bangunan harus dirancang memenuhi syarat keindahan dan keserasian lingkungan yang telah ada dan atau yang direncanakan kemudian dengan tidak menyimpang dari persyaratan fungsinya. tinggi ruang diukur dari permukaan atas lantai sampai permukaan bawah dari lantai di atasnya atau sampai permukaan bawah kaso-kaso. Perancangan Bangunan i. iii. iv. Ruangan dalam bangunan harus mempunyai tinggi yang cukup untuk fungsi yang diharapkan. iii. Untuk bangunan dengan lantai banyak. ii. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan yang nyaman dan serasi terhadap lingkungannya.ii harus tetap mengacu pada prinsipprinsip konservasi energi.b. Suatu bangunan gedung tertentu berdasarkan letak ketinggian dan penggunaannya. Ketentuan pada butir II. vii. Bangunan yang didirikan sampai pada batas samping persil tampak bangunannya harus bersambungan secara serasi dengan tampak bangunan atau dinding yang telah ada di sebelahnya. . b. 3. Setiap bangunan gedung yang didirikan berdampingan dengan bangunan yang dilestarikan. ii. Tata Ruang Dalam a. Dalam hal tidak ada langit-langit. Tinggi ruang adalah jarak terpendek dalam ruang diukur dari permukaan bawah langit-langit ke permukaan lantai.1.1. Ketinggian ruang pada lantai dasar disesuaikan dengan fungsi ruang dan arsitektur bangunannya. v.

serta gedung sejenis lainnya diatur secara khusus. b. gedung pertunjukan. tidak boleh menyebabkan berubahnya fungsi/penggunaan utama.v. Tata ruang dalam untuk bangunan tempat ibadah. Suatu bangunan gudang. Perhitungan ketinggian bangunan. Bangunan kantor sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan kerja. gedung sekolah. kegiatan umum dan pelayanan. keamanan dan keselamatan bangunan dan lingkungan. ruang makan. Perancangan Ruang Dalam i. ix. ruang umum dan ruang pelayanan. viii. vii. Perubahan fungsi dan penggunaan ruang suatu bangunan atau bagian bangunan dapat diijinkan apabila masih memenuhi ketentuan penggunaan jenis bangunan dan dapat menjamin keamanan dan keselamatan bangunan serta penghuninya. Ruang rongga atap hanya dapat diijinkan apabila penggunaannya tidak menyimpang dari fungsi utama bangunan serta memperhatikan segi kesehatan. dan pertokoan). Bangunan tempat tinggal sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan pribadi. Ruang-rongga atap untuk rumah tinggal harus mempunyai penghawaan dan pencahayaan alami yang memadai. vii Ruang penunjang dapat ditambahkan dengan tujuan memenuhi kebutuhan kegiatan bangunan. Penempatan fasilitas kamar mandi dan kakus untuk pria dan wanita harus terpisah. perkantoran. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 meter. sepanjang tidak menyimpang dari penggunaan utama bangunan. kecuali untuk penggunaan ruang lobby. iv. Mezanin yang luasnya melebihi 50% dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. gedung olah raga. ii. ix. kegiatan keluarga bersama dan kegiatan pelayanan. x. xi.Jenis dan jumlah kebutuhan fasilitas penunjang yang harus disediakan pada setiap jenis penggunann bangunan ditetapkan oleh Kepala Daerah. Bangunan toko sekurang-kurang memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan toko. perluasan. sekurang-kurangnya harus dilengkapi dengan kamar mandi dan kakus serta nuang kebutuhan karyawawan v. viii. gedung pertemuan. penambahan. vi. Bangunan atau bagian bangunan yang mengalami perubahan perbaikan. iii. Suatu bangunan pabrik sehurang-kurangnya harus dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dan kakus. Ruang rongga atap dilarang dipergunakan sebagai dapur atau kegiatan lain yang potensial menimbulkan kecelakaan/ kebakaran . vi. atau ruang pertemuan dalam bangunan komersial (antara lain hotel. karakter arsitektur bangunan dan bagian-bagian bangunan serta tidak boleh mengurangi atau mengganggu fungsi sarana jalan keluar/masuk. gedung serbaguna. ruang istirahat. serta ruang pelayanan kesehatan yang memadai. . maka ketinggian bangunan dianggap sebagai dua lantai. bangunan monumental. ruang ganti pakaian karyawan.

(b) Sekurang-kurangnya 25 cm diatas titik tertinggi dari sumbu jalan yang berbatasan.20 m di atas tinggi rata-rata tanah pekarangan atau tinggi rata-rata jalan. tidak berlaku jika letak lantai-lantai itu lebih tinggi dari 60 cm di atas tanah yang ada di sekelilingnya. ii. dengan memperhatikan keserasian lingkungan. kesehatan dan keselamatan pengguna bangunan gedung. b.xii. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan. Ketentuan Umum i. (2) Dalam hal-hal yang luar biasa. Bangunan tertentu berdasarkan letak. ketentuan dalam butir (1) tersebut. tidak dianggap sebagai penambahan tingkat bangunan. kenyamanan. kecuali menggunakan alat bantu mekanis. – xix. Tinggi lantai dasar suatu bangunan diperkenankan mencapai maksimal 1. termasuk pengaman/ rambu-rambu terhadap lalu-lintas udara dan atau laut. Kelengkapan Bangunan a. xiv Pada ruang yang penggunaannya menghasilkan asap dan atau gas harus disediakan lobang hawa dan atau cerobong hawa secukupnya. xx. ketinggian dan penggunaannya harus dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan bangunan. xviii Apabila tinggi tanah pekarangan berada di bawah titik ketinggian (peil) bebas banjir atau terdapat kemiringan yang curam atau perbedaan tinggi yang besar pada tanah asli suatu perpetakan. Syarat-syarat teknis lebih lanjut terhadap ketentuan tersebut di atas mengikuti standar teknis yang berlaku. . maka tinggi maksimal lantai dasar ditetapkan tersendiri. Tinggi ruang dalam bangunan tidak boleh kurang dari ketentuan minimum yang ditetapkan. xvii. ii Prasarana-prasarana pendukung bangunan harus direncanakan secara terintegrasi dengan sistem prasarana lingkungan sekitarnya iii. Sarana dan prasarana pendukung harus menjamin bahwa pemanfaatan bangunan tersebut tidak mengganggu bangunan gedung lain dan lingkungan sekitarnya. xv. tidak boleh mengubah sifat dan karakter arsitektur bangunannya. Lantai tanah atau tanah dibawah lantai panggung harus ditempatkan sekurang-kurangnya 15 cm diatas tanah pekarangan serta dibuat kemiringan supaya air dapat mengalir. 4. Sarana dan Prasarana Bangunan Gedung i. xvi. atau untuk tanah-tanah yang miring. Cerobong asap dan atau gas harus dirancang memenuhi persyaratan pencegahan kebakaran. Setiap penggunaan ruang rongga atap yang luasnya tidak lebih dari 50% dari luas lantai di bawahnya. Tinggi Lantai Denah: (1) Permukaan atas dari lantai denah (dasar) harus: (a) Sekurang-kurangnya 15 cm diatas titik tertinggi dari pekarangan yang sudah dipersiapkan. xiii Setiap bukaan pada ruang atap.

gunung dan sebagainya. RTHP menupakan bagian integral dari penataan bangunan gedung dan sub-sistem dari penataan lansekap kota.2. . sungai besar. Setiap perencanaan bangunan baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau.1.iv.e dapat dipertimbangkan dan disesuaikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. terhadap suatu kawasan/daerah dapat diterapkan b. Apabila Ruang Terbuka Hijau Pekarangan sebagaimana dimaksud pada butir 111. sirkulasi. f. unsur-unsur estetik. KDH. h. Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan gedung dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). Fungsi dan Persyaratan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan a. sehingga dapat menjamin fungsi bangunan juga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh semua orang.2. c. KDB. Dalam hal terdapat makro lansekap yang dominan seperti laut. Sebagai ruang transisi. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman.1. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir III. v. Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. d. termasuk para penyandang cacat dan warga usia lanjut. maka dapat dibuat ketetapan yang bersifat sementara untuk lokasi/lingkungan yang terkait dengan setiap pemmohonan bangunan. Pintu masuk dan keluar area bangunan gedung harus direncanakan secara terintegrasi serta tidak mengganggu tata sirkulasi lingkungannya. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity.2 RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1. KLB. j. sungai. pohon-pohon menahun. ekonomi maupun estetika.e ini belum ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan. peresapan air. e. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan tidak boleh dilanggar dalam mendirikan atau rnemperbaharui seluruhnya atau sebagian dari bangunan. Bangunan gedung harus direncanakan dan dirancang sebaik-baiknya. III. Parkir dan ketetapan lainnya. i. sosial. g. Ruang Terbuka Hijau adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kota/wilayah/halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. tanah dan permukaan tanah.

pagar. KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan dalam kawasan-kawasan bangunan. e. bangunan penunjang seperti pos jaga. KDH minimal 10% pada daerah sangat padat/padat. b. Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTHP sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah. seperti dari bahaya banjir. Keserasian tersebut antara lain mencakup: pagar dan gerbang. tidak di dalam wadah / container yang kedap air. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. tiang telepon di kedua sisi jalan / ruas jalan yang dimaksud. bak sampah dan papan nama bangunan. b. pengendalian bentuk estetika bangunan secara keseluruhan/ kesatuan lingkungan. dapat ditetapkan persyaratan khusus bagi permohonan ijin mendirikan bangunan dengan mempertimbangkan hal-hal pencagaran sumber daya alam. Ruang Sempadan Bangunan a. d. vegetasi besar / pohon. 3. yang Sebagai perlindungan atas sumber-sumber daya alam yang ada. Ketinggian maksimum/minimum lantai dasar bangunan dari muka jalan ditentukan untuk pengendalian keselamatan bangunan. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan ruang sempadan depan bangunan. serta tergantung pada kondisi lahan.pengaturan khusus untok orientasi tata letak bangunan mempertimbangkan potensi arsitektural lansekap yang ada. 2. 1. jalur pejalan kaki. dimana terdapat beberapa klas bangunan dan kawasan campuran. Tapak Basement a. c. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. lantai basement pertama (B-1) tidak dibenarkan keluar dari tapak bangunan (di atas tanah) dan atap . KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah. Untuk keperluan penyediaan RTHP yang memadai. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan peruntukan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. Kebutuhan basement dan besaran koefisien tapak basement (KTB) ditetapkan berdasarkan rencana peruntukan lahan. k. ketentuan teknis dan kebijaksanaan Daerah setempat. dan aspek aksesibilitas. keselamatan pemakai dan kepentingan umum. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan / penanaman di atas tanah. tiang bendera.

Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roof-garden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan cara-cara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan. atau mengganggu lingkungan di sekitarnya. Tata Tanaman a. Jumlah kebutuhan parkir menurut jenis bangunan ditetapkan sesuai dengan standar teknis yang berlaku.a dan III. b.basement kedua (B-2) yang di luar tapak bangun harus berkedalaman sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan tanah tempat penanaman. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif. kestabilan tanah / wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. Penyediaan parkir di pekarangan tidak boleh mengurangi daerah penghijauan yang telah ditetapkan. Prasarana parkir untuk suatu rumah atau bangunan tidak diperkenankan mengganggu kelancaran lalu lintas. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin. Hijau Pada Bangunan a. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Setiap bangunan bukan rumah hunian diwajibkan menyediakan area parkir kendaraan sesuai dengan jumlah area parkir yang proporsional dengan jumlah luas lantai bangunan.b Kepala Daerah dapat membentuk tim penasehat untuk mengkaji rencana pemanfaatan jeni-jenis tanaman yang layak tanam di Ruang terbuka Hijau Pekarangan berikut standar perlakuannya yang memenuhi syarat keselamatan pemakai. ii. Untuk pelaksanaan kepentingan tersebut pada butir III. b. Ketentuan Umum i. III. 5. d.3 PERTANDAAN. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP.2. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25% luas RTHP. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. batang dan cabangnya rapuh.2. iv. air.5. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir a. c. . 4. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan.5. iii.

Sirkulasi pertu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan. Luas. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus saling mendukung. c. iv. Parkir i. rambu-rambu. Sirkulasi harus memberikan pencapaian yang mudah dan jelas. guna mendukung sistim sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan. d. Sirkulasi i. pedestrian dan penghijauan. ii. Penataan pedestrian harus mampu merangsang terciptanya ruang yang layak digunakan/manusiawi. iv. . dll. Pemilihan bahan pelapis jalan dapat mendukung pembentukan identitas lingkungan yang dikehendaki. nyaman. ii. serta antara individu pemakai bangunan dengan sarana transportasinya. ii. memudahkan aksesibilitas. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa elemen perkerasan maupun tanaman). aman. dan keJelasan kontinyuitas pedestrian. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. iii. Penataan parkir tidak terpisahkan dengan penataan lainnya seperti untuk jalan.b. dan aksesibilitas dengan lingkungan sekitarnya. Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang antar bangunan yang tidak hanya terbatas dalam Damija. serta disesuaikan dengan daya tampung lahan. papan informasi sirkulasi. Jalur utama pedestrian harus telah mempertimbangkan sistem pedestrian secara keseluruhan. Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran. e. dan kendaraan pelayanan lainnya. dan ruang terbuka umum. Penataan jalan tidak dapat terpisahkan dari penataan pedestrian. penghijauan. iii. dan memberikan pemandangan yang menarik. iii. Pedestrian i. distribusi dan perletakan fasilitas parkir diupayakan tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya. Elemen pedestrian (street fumiture) harus berorientasi pada kepentingan pejalan kaki. baik yang bersifat pelayanan publik maupun pribadi. dan tidak terganggu oleh sirkulasi kendaraan. iii. Jalur pedestrian harus berhasil menciptakan pergerakan manusia yang tidak terganggu oleh lalu lintas kendaraan. penghijauan. aksesibilitas terhadap subsistem pedestrian dalam lingkungan. ii. Jalan i. Penataan parkir harus berorientasi kepada kepentingan pejalan kaki. dan termasuk untuk penataan elemen lingkungan.

ii. visual yang tidak menarik. atau habitat alaminya mengalami kerusakan. Penempatan signage termasuk papan iklan/ reklame. Kepala Daerah dapat mengatur pembatasa-pembatasan ukuran. fungsi dan arsitektur bangunan estetika amenity. III. iii. Pencahayaan ruang luar bangunan harus disediakan dengan memperhatikan karakter lingkungan. 3.4 PENGELOLAAN DAMPAK LAINGKUNGAN 1. dan lokasi dari signage. yang melampaui baku mutu lingkungan menurut peraturan penundang-undangan yang bertaku. tetapi diharuskan melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai ketentuan yang berlaku. menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan.2. harus membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter lingkungan yang ingin diciptakan/ dipertahankan. c. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan a. dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku terancam punah. baik yang penempatannya pada bangunan keveling. Pencahayaan yang dihasilkan harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum Pencahayaan yang dihasilkan dengan telah menghindari penerangan ruang luar yang berlebihan. tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. atau ruang publik. motif. . mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang mengganggu dan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan harus dilengkapi dengan AMDAL sesuai ketentuan yang berlaku. b. Pertandaan (Signage) a. dan komponen promosi. atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya. dan telah memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan. pagar. b. menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan. Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk lingkungan/ kawasan tertentu. c. b. silau. berdasarkan pertimbangan ilmiah. Dampak Penting a. bahan. Kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan adalah bila rencana kegiatan tersebut akan: i.

Bangunan yang menurut fungsinya menggunakan. 3. jalan kereta api dan bangunan lain di sekitarnya sesuai rekomendasi dinas teknis terkait. (2) Bangunan yang didirikan harus terletak pada jarak tertentu dari batas-batas pekarangan atau bangunan lainnya dalam pekarangan sesuai rekomendasi dinas terkait. dan sebagainya) yang telah ditetapkan menunut peraturan perundang-undangan. . vi. mengakibatkan/ menimbulkan konflik atau kontroversi dengan masyarakat. v. suaka margasatwa. taman nasional. Kegiatan yang dimaksud pada butir III. dapat diberikan ijin apabila: (1) Lokasi bangunan terletak di luar lingkungan perumahan atau berjarak tertentu dari jalan umum. 2. d. Ketentuan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang harus melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adaiah sesuai ketentuan yang berlaku. ii. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan a. Ketentuan Pengelolaan Dampak Lingkungan Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang wajib AMDAL. 4. harus dapat menjamin keamanan keselamatan serta kesehatan penghuni dan lingkungannya. merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi.iv. vii. Untuk mendirikan bangunan yang menurut fungsinya menggunakan menyimpan atau memproduksi bahan peledak dan bahan-bahan lain yang sifatnya mudah meledak. dan atau pemerintah. mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi. (3) Bagian dinding yang terlemah dari bangunan tersebut diarahkan ke daerah yang paling aman. Pada bangunan yang menggunakan kaca pantul pada tampak bangunan. menyimpan atau memproduksi bahan radioaktif.c merupakan kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung (hutan lindung.3. sinar yang dipantulkan tidak boleh melebihi 24% dan dengan memnperhatikan tata letak serta orientasi bangunan terhadap matahari. iii. mudah terbakar atau bahan lain yang berbahaya.1. cagar alam. racun. Persyaratan Bangunan i. adalah sesuai Ketentuan pengelolaan Dampak Lingkungan yang berlaku.

v. Penggunaan hammer pile untuk pemancangan pondasi hanya diijinkan bila tidak ada bangunan rumah sakit di sekitarnya. c. Sampah yang dikumpulkan di sarana pengumpulan sampah padat harus selalu dikosongkan setiap hari untuk menjamin agar lalat tidak berkembang biak dan mengganggu kesehatan lingkungan bangunan gedung.iv. Persyaratan Pelaksanaan Konstruksi i. Guna pemulihan cadangan air tanah dan mengurangi debit air larian. Setiap kegiatan pengeringan (dewatering) yang menimbulkan kekeringan sumur penduduk harus memperhitungkan pemberian kompensasi berupa penyediaan air bersih kepada masyarakat selama pelaksanaan kegiatan. . ii. iii. iv. sekelilingnya harus dilengkapi dengan kolam peredam getaran. atau tidak ada bangunan rumah yang rawan keretakan. Setiap bangunan yang menghasilkan limbah cair dan padat atau buangan lainnya yang dapat menimbulkan pencemaran air dan tanah. Setiap kegiatan konstruksi yang menimbulkan genangan baru sekitar tapak bangunan harus dilengkapi dengan saluran pengering genangan sementara yang nantinya dapat dibuat permanen dan menjadi bagian sistem drainase yang ada. maka setiap tapak bangunan gedung harus dilengkapi dengan bidang resapan yang ukurannya disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. maka rencana teknis sistem jalan akses keluar masuk bangunan gedung harus mendapat ijin dari dinas teknis yang berwenang. Apabila bangunan yang menurut fungsinya akan membangkitkan LHR >= 60 SMP per 1000 ft2 luas lantai. Sarana pongumpulan dan pongolahan air limbah harus dipelihara secara berkala untuk menjamin kualitas effluen yang memenuhi standar baku mutu limbah cair. Bangunan yang menurut fungsinya memerlukan pasokan air bersih dengan debit > 5 l/dt atau > 500 m3/hari dan akan mengambil sumber air tanah dangkal dan atau air tanah dalam (deep well) harus mendapat ijin dari dinas terkait yang bertanggung jawab serta menggunakan hanya untuk keperluan darurat atau alternatif dari sumber utama PDAM. harus dilengkapi dengan sarana pengumpulan dan pengolahan limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan yang diijinkan dan atau ditetapkan oleh instansi yang berwenang. vi. Pembuangan limbah cair dan padat i. v. Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dapat menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas umum harus dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang dioperasikan dan dikendalikan oleh tim pengatur lalu lintas. ii. Penggunaan peralatan konstruksi yang diperkirakan menimbulkan keretakan bangunan. atau sampai sumur penduduk pulih seperti semula. b. iii.

5.5. Suatu daerah dapat ditetapkan sebagai daerah bencana. d. daerah Banjir dan yang sejenisnya. b. Daerah sebagaimana dimaksud pada butir III. dapat ditetapkan sebagai daerah peremajaan kota. keselamatan dan kesehatan lingkungan. . keselamatan dan kesehatan dapat diperkenankan mengadakan perbaikan darurat.a dapat ditetapkan larangan membangun atau menetapkan tata cara dan persyaratan khusus di dalam membangun.3. dengan memperhatikan keamanan.3. dengan memperhatikan keamanan. Pada daerah bencana sebagaimana dimaksud pada butir III.5. Lingkungan bangunan yang mengalami kebakaran dapat ditetapkan sebagai daerah tertutup dalam jangka waktu tertentu. bagi bangunanan yang rusak atau membangun bangunan sementara untuk kebutuhan darurat dalam batas waktu penggunaan tertentu dan dapat dibebaskan dari izin. Pengelolaan Daerah Bencana a. c.a. e. dibatasi. atau dilarang membangun bangunan. Bangunan-bangunan pada lingkungan bangunan yang mengalami bencana.

c. IV. termasuk beban tetap. gempa) dan beban khusus. termasuk kombinasi pembebanan yang kritis (antara lain: meliputi beban gempa yang mungkin terjadi sesuai zona gempanya). Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan. c. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. keruntuhan yang terjadi menimbulkan kondisi struktur yang masih dapat mengamankan penghuni. b. seperti : 2. Penentuan mengenai jenis. intensitas dan cara bekerjanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku. dan beban-beban lainnya yang secara logis dapat terjadi pada struktur. Struktur bangunan yang direncanakan secara umum harus memenuhi persyaratan keamanan (safety) dan kelayakan (serviceability). Struktur bangunan harus direncanakan mampu memikul semua beban dan / atau pengaruh luar yang mungkin bekerja selama kurun waktu umur layan struktur. Persyaratan Struktur a. d. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. 2.beban yang mungkin bekerja selama umur layan struktur. Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan. harta benda dan masih dapat diperbaiki. beban sementara (angin. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. . Struktur bangunan harus direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa. b. Dalam hal bilamana bahan struktur bangunan belum mempunyai SNI maka bahan struktur bangunan tersebut harus memenuhi ketentuan teknis yang sepadan dari negara/ produsen yang bersangkutan. 1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1.IV. Persyaratan Bahan a. STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. sehingga pada kondisi pembebanan maksimum.2 PEMBEBANAN 1 Analisa struktur harus dilakukan untuk memeriksa tanggap struktur terhadap beban . termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan.

3. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. g. Konstruksi beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. b. c. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. 2. e. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung. Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar-standar yang berlaku seperti: a. SNI-1728 Tata Cara Perencanaan Beton dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung SNI 2847. d. b. SNI -1734. Tata Cara Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung. seperti: a. Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. SNI-3976. b. seperti: a.3 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung SNI 1726. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja. SNI-2834 Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung SNI 1727. . STRUKTUR ATAS 1. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung. SNI-3430. SNI-1729 Tata cara / pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja. c. f.a. SNI-3449. Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan dengan Agregat Ringan. d. IV.

Tata Cara Penanggulangan Rayap pada Bangunan Rumah dan Gedung dengan Temmitisida. c. h. SNI-2394. g. SNI-2405 . Tata cara/ pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu. antara lain: a. SNI-2397. SNI-2404. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. 5. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Radiologi di Rumah Sakit. Perencanaan konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli struktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut. f. SNI-2395. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut. Tata Cara Dasar Koordinasi Modular untuk Perancangan Bangunan Rumah dan Gedung. d. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Konstruksi dengan Bahan dan Teknologi Khusus a. Tata Cara Pencegahan Rayap pada Pembuatan Bangunan Rumah dan Gedung. e. SNI-1963. tata cara. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. SNI-1736. Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung. b. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit. SNI-2407. 4. c. d. i. Tata Cara Perancangan Bangunan Sederhana Tahan Angin. SNI-1745. b. standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanean suatu bangunan yang harus dipenuhi.b. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar-standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis. SNI-1735.

. b. Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang. e. Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas. Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. b. c. d. kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh Dinas Bangunan. Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan percobaan pembebanan. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. d. kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim. Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi. Pondasi Dalam a. c.4 STRUKTUR BAWAH 1. Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1 % dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik secara random. Pondasi Langsung a. 2.IV. Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan korelasi tipikal parameter tanah yang lain. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek.

Keselamatan struktur tergantung pada keandalan struktur tersebut terhadap gaya-gaya yang dipikulnya. Ketidak andalan struktur akibat beban sendiri dan atau beban yang didukungnya disebabkan oleh karena umur bangunan yang secara teknis telah melebihi umur yang direncanakan. sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur. Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan. b. beban akibat perilaku manusia. d. d. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan. c. Keruntuhan sruktur adalah diakibatkan oleh ketidak andalan suatu sistem atau komponen stnuktur untuk memikul beban sendiri. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandaian bangunan gedung. beban yang didukungnya. beban akibat perilaku manusia maupun beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. Kriteria Demolisi Demolisi struktur dilakukan apabila: a. Untuk mencegah terjadinya keruntuhan struktur yang tidak diharapkan pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/ petunjuk teknis yang berlaku. Ketidak andalan struktur akibat beban perilaku alam dan atau manusia dapat diakibatkan oleh adanya kebakaran. b.IV. Keruntuhan Struktur a.6 DEMOLISI STRUKTUR 1. Struktur bangunan sudah tidak andal. c. 2. dan atau beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/ Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. gempa. dan kerusakan struktur sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki karena alasan teknis dan atau .5 KEANDALAN STRUKTUR 1. atau karena dilampauinya beban yang harus dipikulnya sesuai rencana sebagai akibat berubahnya fungsi bangunan atau kesalahan dalam pemanfaatannya. Keselamatan Struktur a. IV. maupun bencana lainnya. dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

Prosedur dan Metoda a. dan secara teknis struktur bangunan tidak dapat dimanfaatkan lagi. metoda dan rencana demolisi struktur dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. b. b. metoda dan rencana demolisi struktur harus memenuhi persyaratan teknis untuk pencegahan korban manusia dan untuk mencegah kerusakan serta dampak lingkungan. Prosedur.ekonomis. masyarakat dan lingkungan. 2. serta dapat membahayakan pengguna bangunan. Penyusunan prosedur. . Adanya perubahan peruntukan lokasi/fungsi bangunan.

fungsi atau penggunaan bangunan. dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. 3 atau bagian dan bangunan klas 4: i. elemen bangunan lainnya. cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. terutama pada bangunan klas 2. iv. vii sistem proteksi aktif yang dipasang pada bangunan. tingkat bahaya api. mobilitas dan karakteristik penghuni lainnya. beban api. PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. b. d. viii. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana/ prasarana pengamanan dan pencegahan penyebaran api. ii. Ketahanan Api dan Stabilitas. cukup waktu untuk evakuasi penghuni secara aman. ketinggian bangunan. intensitas kebakaran. ii. v. dan x. serta gas-gas beracun yang mungkin timbul. membatasi berkembangnya asap dan panas.ukuran setiap kompartemen api. iv. dan ii. sampai dengan tingkat tertentu. c.V. yang menghubungkan kompartemen api. vi. sistem proteksi aktif yang dipasang dalam bangunan. Bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan yang pada tingkat tertentu akan mempertahankan stabilitas struktural selama kebakaran. fungsi atau penggunaan bangunan. iii. iii. Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran. Ruang perawatan pasien dari bangunan klas 9a harus dilindungi dari penyebaran api dan asap untuk memberi waktu cukup untuk evakuasi yang tertib dalam keadaan darurat. a. e. iii. sehingga: i. ix intervensi pasukan pemadam kebakaran. Bahan dan komponen bangunan harus tahan-penyebaran api. . waktu evakuasi ii. kedekatan dengan bangunan lain. jumlah. yang sesuai dengan: i. antara bangunan.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1. yang sesuai dengan: i.

Tipe B: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuk kompartemen penahanan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam bangunan dan unsur dinding luarnya mampu menahan penjalaran kebakaran dari luar bangunan selama sekurang kurangnya 1 (satu) jam. beban api. Pada konstruksi ini terdapat dinding pemisah pembentuk kompartemen untok mencegah penjaiaran panas ke ruang-ruang yang bersebelahan di dalam bangunan dan dinding luar untuk mencegah penjalaran api ke dan dari bangunan didekatnya. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api. atau potensial dapat meledak. v. sehingga peralatan darurat yang tersedia dalam bangunan tetap beroperasi pada jangka waktu yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran. intensitas kebakaran. Dinding luar beton yang dapat runtuh dalam bentuk panel yang utuh (misalnya beton pracetak) harus dirancang sehingga pada kejadian kebakaran dalam bangunan. Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api. dan vi. j. 2. untuk memudahkan tindakan pasukan pemadam kebakaran secara memadai. c. ii. tingkat bahaya api. h. Akses ke dan sekeliling bangunan harus disediakan bagi kendaraan dan personil pemadam kebakaran. Tipe Konstruksi Tahan Api. . Setiap elemen bangunan yang disediakan untuk menahan penyebaran api. Tipe C: Konstruksi yang terbentuk dari unsur-unsur struktur yang dapat terbakar dan tidak dimaksudkan untuk mampu bertahan terhadap api. keruntuhan tersebut dapat dihindari. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api dari peralatan utilitas yang mempunyai pengaruh bahaya api yang tinggi. sehingga diperoleh tingkat kinerja yang memadai dari elemen tersebut. sesuai dengan: i. b. iv. iii. terdapat 3 (tiga) tipe konstruksi yaitu: a. Tipe A: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuknya adalah tahan api dan mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran pada bangunan minimal 2 (dua) jam. yaitu pada bukaan. i. ukuran kompartemen. g.f. sistem proteksi aktif. dan lubang untuk instalasi harus dilindungi sedemikian. fungsi bangunan. sambungan konstruksi.

mengendalikan kebaran api agar tidak menjelar ke bangunan lain yang berdekatan. i.000 m2 5. dan .6.7. menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran.3.500 m2 3. perambatan api dan asap.3 Tipe Konstruksi yang diwajibkan KETINGGIAN (dalam jumlah lantai) KLAS BANGUNAN 4 atau lebih 3 2 1 4. a.000 m3 volume Maksimum 5.3.7. iii.1.500 m3 12.000 m2 3.500 m2 2.500 m3 18. bagian ini tidak berlaku untuk bangunan klas 1 atau 10.000 m3 33. Tipe konstruksi yang diwajibkan Minimum tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai dengan ketentuan pada tabel berikut: Tabel V.000 m2 Klas 6.8 atau 9a luasan lantai (kecuali daerah perawatan pasien Maksimum 30. melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan.000 m2 b Pemberlakuan.8 A B C C Kompartemenisasi dan Pemisahan Ukuran Kompartemen Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat membatasi kobaran api yang potensial. agar dapat: i. ii.000 m3 volume Tipe Konstruksi bangunan Tipe A Tipe B Tipe C 8. 2.9 A A B C 5.000 m3 21.4 Ukuran maksimum dari kompartemen kebakaran Klasifikasi Bangunan Maksimum luasan lantai Klas 5 atau 9b Maksimum 48. Tabel V.1.

ventilasi. iv. Bangunan-bangunan besar yang diisolasi. maka bagian dari ruang atrium yang dibatasi oleh sisi tepi di sekeliling bukaan pada lantai dasar sampai dengan langit-langit dari lantai tidak diperhitungkan sebagai volume atrium.1. tanki air. Ukuran dari setiap kompartemen kebakaran atau atrium bangunan klas 5. 7.000 m2 atau 108. yang memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut pada butir 4. atau unit utilitas sejenis dan berada di puncak bangunan.e. 9 yang dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler serta terdapat jalur kendaraan sekeliling bangunan yang memenuhi ketentuan butir 4. Kebutuhan ruang terbuka dan jalan masuk kendaraan.d. kecuali seperti yang diijinkan pada butir d. ruang dalam bangunan yang karena fungsinya mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran. Bangunan dengan luas tidak melebihi 18. 6. Ruang terbuka yang diperlukan harus: (1) Seluruhnya berada di dalam kapling yang sama kecuali jalan. Bangunan dengan luasan melebihi 18.000 m3 dengan ketentuan: (1) bangunan klas 7 atau 8 kurang dari 2 lantai dan terdapat ruang terbuka disekeliling bangunan tersebut. harus merupakan suatu kompartemen terhadap penjalaran api. Batasan umum luas lantai. Bila terdapat lebih dari satu bangunan pada satu kapling.e.4 bila: i. e.000 m2 dan volumenya tidak melebihi 108. dilengkapi dengan sistem pembuang asap sesuai ketentuan yang berlaku. iii.ii. Ukuran kompartemen pada bangunan dapat melebihi ketentuan dari yang tersebut dalam Tabel v. sungai. i.ii. maka seluruhnya dianggap sebagai satu bangunan dan secara bersama harus memenuhi ketentuan butir i.000 m3 dengan sistem sprinkler. atau ii. Untuk bangunan yang memiliki lubang atrium. c. ii. atau: ii. dan (1) setiap bangunan harus memenuhi ketentuan butir i atau ii di atas.1. 8 atau 9 harus tidak melebihi luasan lantai maksimum atau volume maksimum seperti ditunjukkan dalam Tabel V. atau peralatan Lift. (2) bangunan klas 5 s. d dan e tidak berlaku untuk tempat parkir umum yang dilengkapi dengan sistem sprinkler. tempat parkir tak beratap atau suatu panggung terbuka.i yang lebamya tidak kurang dari 18 meter. .e.4 dan butir f. d. Bagian dari bangunan yang hanya terdiri dari peralatan pendingin udara. Bagian bangunan. asap dan gas beracun. (2) bila jarak antara bangunan satu dengan lainnya kurang dari 6 meter. ketentuan pada butir c.ii. dilengkapi dengan sistem pembuangan asap atau ventilasi asap dan panas sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku. atau tempat umum yang berdampingan dengan kapling tersebut. i. dan apabila: (1) ketinggian langit-langit kompartemen tidak lebih dari 12 meter. tidak diperhitungkan sebagai luas lantai atau volume dari kompartemen atau atrium iii. dan dikelilingi jalan masuk kendaraan sesuai dengan butir 4. namun berjarak tidak lebih dari 6 meter dengannya. atau (2) ketinggian langit-langit lebih dari 12 meter.

(4) di atas maka jalan tersebut dapat beriaku sebagai jalan lewatnya kendaraan atau bagian dari padanya. kecuali untuk gardu jaga dan bangunan penunjang ( seperti gardu listrik dan ruang pompa). (4) memiliki kapasitas beban dan tinggi bebas yang memudahkan operasi mobil pemadam kebakaran. ii. shaft ventilasi. dan lubang utilitas harus diberi penyetop api untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan. maka bukaan harus dilindungi dengan penutup tahan minimal sama dengan ketahanan api dinding atau lantai. f. dan tertutup pada setiap lantai. Pemisahan Pemisahan vertikal pada bukaan di dinding luar. h. bila salah satu tangga atau lift tersebut diwajibkan berada dalam suatu shaft tahan api. Pada bangunan klas 2 dan 3. dan shaft instalasi listrik harus sepenuhnya tertutup dengan dinding dari bawah sampai atas. atau akan menambah risiko merambatnya api ke bangunan yang berdekatan dengan kapling tersebut. b. c. . pemisahan oleh dinding tahan api. dan (4) tidak ada bangunan diatasnya. Bukaan vertikal pada bangunan yang dipergunakan untuk shaft pipa. g. dan pemisahan pada shaft lift mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. tidak menghalangi penanggulangan kebakaran pada bagian manapun dari tepian kapling. yang tidak melanggar batas lebar dari ruang terbuka.d. mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. Tangga dan Lift pada satu shaft. (5) bila terdapat jalan umum yang memenuhi (1) s. koridor umum yang panjangnya lebih dari 40 meter harus dibagi menjadi bagian yang tidak lebih dari 40 meter dengan dinding yang tahan asap. 5. Koridor umum pada bangunan klas 2 dan 3. Tangga dan lift tidak boleh berada pada satu shaft yang sama. Proteksi Bukaan a. dan .ii (3) tidak untuk penyimpanan dan pemrosesan material. serta di atas jalan tersebut tidak boleh dibangun apapun kecuali hanya untuk kendaraan dan pejalan kaki (3) dilengkapi jalan untuk pejalan kaki yang memadai. Seluruh bukaan harus dilindungi. Apabila harus diadakan bukaan pada dinding sebagaimana dimaksud pada butir b.e.(2) termasuk jalan masuk kendaraan sesuai ketentuan butir 4. (2) lebar bebas minimum 6 meter dan tidak ada bagian yang lebih jauh dari 18 meter terhadap bangunan. Jalan masuk kendaraan harus: (1) sebagai jalan masuk bagi kendaraan darurat dan lintasan dari jalan umum.

yang bukan dari klas 10. Ketentuan proteksi pada bukaan ini tidak berlaku untuk: i. f. Bukaan pada dinding luar yang perlu memiliki TKA harus: i. dan bila digunakan sprinkler pembasah-dinding maka sprinkler tersebut harus ditempatkan di bagian luar bangunan. lubang tirai. Tabel V. Pemisahan Bukaan Pada Kompartemen Kebakaran. atau (2) 1.000 mm2.d kurang dari 180° 180° atau lebih Jarak Minimal Antara Bukaan 6m 5m 4m 3m 2m nol . dan iii. 45° Lebih dari 45° s. bangunan-bangunan klas 1 atau klas 10. bila bukaan tersebut wajib dilindungi sesuai dengan butir ii. dan sejenisnya di dinding luar dari konstruksi pasangan. Sudut Terhadap Dinding 0° (dinding-dinding saling berhadapan) Lebih dari 0° s.5 m pada bangunan dengan lebih dari 1 (satu) lantai.1.5.d. lubang ventilasi yang tidak mudah terbakar (non combustible ventilators). Proteksi Bukaan Pada Dinding Luar. maka harus dilindungi sesuai dengan ketentuan butir h. dan tidak berada pada atau dekat dengan lantai dasar bangunan. jarak antara bukaan pada dinding luar pada kompartemen kebakaran harus tidak kurang dari yang tercantum pada Tabel V. 90° Lebih darii 90° s.1. bila luas lubang/sambungan tersebut tidak lebih luas dari yang diperlukan. berjarak dari suatu obyek sumber api tidak kurang dari: (1) 1 m pada bangunan dengan 1 (satu) lantai.5 JARAK ANTARA BUKAAN PADA KOMPARTEMEN KEBAKARAN YANG BERBEDA e. dan sambungan antara panel di dinding luar dari beton pracetak. atau (3) 6 m dari bangunan lain pada persil yang sama. dan sebagainya harus memenuhi persyaratan dan dapat dibuktikan melalui pengujian oleh lembaga uji yang diakui dan terakreditasi.d. g.d. maka tidak boleh menempati lebih dari 1/3 luas dinding luar dari lantai dimana bukaan tersebut berada. dan jarak antara lubang ventilasi tak kurang dari 2 m pada dinding yang sama. bila luas penampang masing-masing tak melebihi 45.d. 135° Lebih dari 134° s. ii sambungan pengendali. damper. atau (2) 6 m dari sempadan jalan yang membatasi persil. Sarana dan atau peralatan proteksi seperti penyetop api. kecuali bila bukaan-bukaan tersebut pada bangunan klas 9b dan diberlakukan seperti bangunan panggung terbuka. Kecuali bila dilindungi sesuai ketentuan tersebut pada butir 9. dan ii. bila bukaan di dinding luar tersebut terhadap suatu sumber api terletak kurang dari: (1) 3 m dari batas belakang persil bangunan. iii.

(3) bila dilengkapi dengan pompa kebakaran harus terdiri dari: (a) 2 (dua) pompa. maka jalan masuk. kecuali pada satuan peruntukan bangunan. (2) Jendela: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. Metoda Proteksi Yang Diperbolehkan. dan (2) terdapat regu pemadam kebakaran. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. (b) 2 (dua) pompa yang digerakkan oleh motor listrik yang dihubungkan dengan sumber tenaga yang terpisah satu sama lain. jendela. dan penutup kebakaran harus memenuhi ketentuan butir i di atas dan standar teknis yang berlaku.h.(menutup otomatis atau secara tetap dipasang pada posisi tertutup). ii. satu pompa digerakkan oleh: (a) motor-bakar. 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih dari 2 (dua). Hidran kebakaran. Sistem Pemadam Kebakaran a. SNI 1745. Sistem hidran harus dipasang pada bangunan: (1) yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 m2. Bila diperlukan proteksi. Sistem hidran kebakaran. jendela dan bukaan lainnya harus dilindungi sebagai berikut: (1) Jalan masuk/pintu : sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. di mana: (a) bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian klas 4. i. V. atau memasang pintu kebakaran dengan TKA -/60/30 (dapat menutup sendiri secara otomatis). 7. atau jendela kebakaran dengan TKA -/60/. Pintu. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. atau (b) bangunan klas 5. 6. (1) harus dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. atau . asalkan hidran dapat menjangkau seluruh satuan peruntukan bangunan. atau (b) motor listrik yang dicatu dari generator darurat. atau memasang penutup api otomatis dengan TKA -/60/(3) Bukaan-bukaan lain: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. atau konstruksi dengan TKA tidak kurang dari-/60/-. ii. i. (4) bila pompa kebakaran dihubungkan dengan jaringan pasokan air dan dipasang pada bangunan dengan ketinggian efektif kurang dari 25 m. dan (2) hidran dalam bangunan harus melayani hanya di lantai hidran tersebut ditempatkan. yang sekurang-kurangnya satu pompa digerakkan oleh motor bakar atau motor listrik yang dicatu dari daya generator darurat.

satu unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. atau: (2) bila hidran dalam tidak dipasang. pemasangan pompa kebakarannya dalam bangunan harus pada tempat yang: (a) mempunyai jelur keluar ke jalan atau ruang terbuka. ii. dimana satu atau lebih hidran dalam dipasang. Sistem Hose Reel. kecuali pada satu unit hunian. dan dengan konstruksi yang mempunysi TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan bagi suatu dinding tahan api untuk klasifikasi bangunannya. maka harus disediakan sambungan yang cocok dan jalan masuk kendaraan pemadam kebakaran untuk memudahkan petugas pemadam kebakaran memompa air dari sumber tersebut dan harus disediakan sambungan yang berdekatan dengan lokasi tersebut untuk meningkatkan tekanan air dalam sistem gedung. serta harus dirancang untuk memenuhi tekanan dan laju aliran yang disyaratkan untuk operasi petugas pemadam kebakaran. harus: (1) dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. dan jika dalam jarak 6 m dari bangunan. tempat pompa harus terpisah dari bangunan. untuk pompa yang ditempatkan di luar bangunan. atau dinding antara bangunan dan rumah pompa yang berjarak 2 m dari sisi rurnah pompa dan 3 m di atas rumah pompa harus mempunyai TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan untuk dinding tahan api sesuai klas bangunannya. dilayani oleh Hose Reei tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari satu unit hunian tersebut dengan syarat Hose Reel melayani seluruh unit hunian. bila sistem pasokan air mengambil air dari sumber statis. (a) pada bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian Klas 4 dilayani oleh Hose Reel tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari unit hunian tersebut. 6. atau (b) jika bangunan tidak dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler sesuai ketentuan yang berlaku. maka dinding rumah pompa dan bagian dinding luar yang berjarak 2 m dari samping rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa. 7.(5) (6) (7) (c) motor listrik yang dihubungkan pada sumber tenaga yang terpisah satu sama lain melalui fasilitas pemindah daya otomatis. Hose Reel i. mempunyai jalur keluar langsung ke jalan atau ruang terbuka. untuk melayani setiap kompartemen kebakaran dengan luas lantai lebih dari 500 m2 dan untuk maksud butir ini. 8 atau 9 yang tidak lebih dari 2 (dua) lantai. (2) melayani hanya lantai dimana alat ini ditempatkan. tahan cuaca. dipertimbangkan sebagai kompartemen kebakaran. Sistem Hose Reel harus disediakan: (1) untuk melayani seluruh bangunan. maka bangunan rumah pompa tersebut harus jelas terlihat. dan (b) pada bangunan klas 5. b. .

dan (c). Bila dipasok oleh sumber air utama dengan diameter nominal lebih besar dari 25 mm dan yang dihubungkan dengan sumber air untuk hidran.d harus dipasang pada sambungan ke saluran utama. (c) jaringan pipa memenuhi syarat pembagian pasokan air.000 m3. atau (b) di dalam bangunan sekitar 4 m dari pintu keluar. maka: (a) dipelihara kebutuhan kecepatan aliran dari hose reel. yang merupakan bangunan terpisah Bangunan pertokoan (kbs 6).(3) (4) (5) (6) Memiliki slang kebakaran yang harus diletakkan sedemikian rupa untuk menghindari partisi atau penghalang di dalam mencapai setiap bagian lantai dari tingkat yang bersangkutan Hose reel yang dipasang mengikuti butir (3) diatas ditempatkan: (a) di luar bangunan. Ruang Pertunjukan. (b) diameter pipa dari meteran air atau instalasi PAM berdiameter tidak kurang dari 25 mm. Ruang Pertemuan Umum. 2. Konstruksi Atrium. (d) tiap katup yang mengatur aliran air dari sumber air utama ke Hose Reel harus dijaga pada posisi terbuka oleh pengunci dari logam. (b) volume ruangan lebih dari 21. (b).2. Teater. Sistem Sprinkler i. atau (d) kombinasi (a). Luas panggung dan belakang panggung lebih dari 200 m Tiap bangunan beratrium Untuk memperoleh ukuran kompartemen . Bila dihubungkan dengan meteran air. c. sebuah katup yang memenuhi butir 5.500 m2. Termasuk lapangan parkir terbuka dalam bangunan campuran. Lebih dari 2 (dua) lantai. Bangunan Rumah Sakit.1 Persyaratan Pemakaian Sprinkler Jenis bangunan Kapan Sprinkler diperlukan: Semua klas bangunan: 1. Tidak termasuk lapangan parkir terbuka. Sistem sprinkler harus dipasang pada bangunan sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel V. sehingga hose tidak perlu melintasi pintu keluar masuk yang dilengkapi dengan pintu kebakaran atau pintu asap. Pada bangunan yang tinggi efektifnya lebih dari 25 m Dalam kompartemenisasi dengan salah satu ketentuan berikut: (a) luas lantai lebih dari 3. atau (c) di dalam bangunan berdekatan dengan hidran dalam (selain hidran yang dipasang di pintu keluar yang diisolasi tahan api).

Pada kompartemen. Ruang parkir.000 m2 den volume Bangunan berukuran begar den terpisah. selain nuang parkir terbuka Bila menampung lebih dari 40 kendaraan.000 m2 dan volume 108.yang lebih besar: (a) bangunan klas 5 . Tanpa mengurangi ketentuan dalam standar teknis yang berlaku mengenai sprinkler. SNI-3989. (4) Pasokan air. (b) semua bangunan dengan luas lantai lebih besar dari 18. Katup kontrol sprinkler harus ditempatkan dalam suatu ruang yang aman atau ruang tertutup yang berhubungan langsung ke jalan atau ruang terbuka. pasokan air untuk sistem sprinkler harus memperhatikan tinggi efektif bangunan. dan klasifikas bangunan sesuai standar teknis yang berlaku. *) Jenis bangunan dengan resiko bahaya kebakaran tinggi sesuai standar teknis yang berlaku. Sistem sprinkler harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: (1) Standar perancangan dan pemasangan sprinkler otomatis sesuai standar teknis yang berlaku.000 m3. dengan salah satu dari Bangunan dengan risiko bahaya kebakaran 2(dua) persyaratan : 2 (dua) persyaratan berikut: (a) Luas lantai melebihi 2. ii.000 m3. Tanpa mengurangi ketentuan atau standar yang berlaku bangunan atau bagian bangunan dianggap bersprinkler.000 m2. jika: (a) sprinkler terpasang diselunuh bangunan. Sistem sprinkler harus disambung atau dihubungkan ke dan dapat mengaktifkan: (a) setiap peringatan darurat dan sistem komunikasi intema yang disyaratkan.9 dengan luas maksimum 18. luar bangunan yang diisyaratkan menggunakan sprinkler. 108. atau: (b) dalam hal sebagian bangunan: (i) sebagian bangunan dipasang sprinkler dan diberi kompartemen kebakaran pada bagian yang tanpa sprinkler. .000 m3. amat tinggi. atau (b) sistem pengeras suara atau peralatan lainnya yang dapat didengar bila peringatan darurat dan sistem komunikas intemal tidak disyaratkan. (5) Sambungan dengan peralatan alarm lainnya. ·) (b) Volume lebih dari 12. (2) Bangunan bersprinkler. dan (ii) setiap bukaan pada konstruksi pemisah antara bagian ter-sprinkler dan bagian tak ter-sprinker diproteksi sesuai ketentuan proteksi pada bukaan (3) Katup kontrol sprinkler.

Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran a. alarm pengindera asap ataupun peralatan untuk peringatan . ii. ataupun mempengaruhi efektivitas operasi sprinkler yang melindungi ruang parkir. ii. jika: (1) Disediakan dengan mengikuti standar teknis yang berlaku. Untuk sistem sprinkler yang dipasang di teater. dan (2) PAR dari jenis bukan klas A harus ditempatkan pada lokasi yang dapat menjangkau lokasi yang mengandung jenis bahaya yang harus diatasi. tidak berhubungan dengan sistem sprinkler di bagian bangunan lainnya.(6) Peralatan anti gangguan (Anti Tamper). atau (2) bila sistem peringatan darurat dan sistem komunikasi intemal tidak dipersyaratkan. (b) bila berhubungan dengan sistem sprinkler yang melindungi bagian bangunan bukan ruang parkir. iii. Pemadam Api Ringan (PAR) i. b. anak-anak atau orang cacat. SNI-3987 kecuali PAR jenis air yang tidak perlu dipasang di dalam bangunan atau bagian bangunan yang dilayani oleh Hose Reel. dengan ii. bangunan klas 3 yang menampung lebih dari 20 penghuni yang digunakan sebagai: (1) bagian hunian dari bangunan sekolah. dan iv. yang memungkinkan dilakukannya pemadaman awal efektip terhadap kebakaran oleh penghuni bangunan. PAR memenuhi butir i. 2. bangunan klas 2 dengan persyaratan khusus. kecuali di dalam unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. maka pada tiap katup yang berfungsi mengendalikan sprinkler didaerah panggung harus dipasang peralatan anti gangguan yang dihubungkan ke panel pemantau. bangunan klas 1b. harus dirancang sehingga sistem sprinkler yang melindungi bagian bukan nuang parkir dapat diisolasi dengan tanpa mengganggu aliran air. SNI-3985. harus: (a) berdiri sendiri. Spesifikasi Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran. 7) Sistem sprinkler di ruang parkir. i. atau (2) akomodasi bagi lanjut usia. Perancangan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm kebakaran harus memenuhi standar teknis yang berlaku. Sistem deteksi dan alarm kebakaran otomatis harus dipasang di: i. PAR yang jenisnya sesuai kebutuhan harus dipasang diseluruh bangunan. maka dapat dihubungkan dengan sistem pengeras suara. bangunan klas 9a. Sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm otomatis harus dihubungkan dan mengaktifkan: (1) sistem peringatan keadaan darurat dan sistem komunikasi internal sebagaimana dipersyaratkan oleh ketentuan Bab VIII. d. Sistem sprinkler yang dipasang pada ruang parkir pada bangunan multi-klas. ruang pertemuan umum atau semacamnya.

bangunan klas 1 atau 10. Pengendalian Asap Kebakaran a. iii. jika dipasang di dalam saluran udara (ducts) atau udara yang terkontaminasi partikel debu dengan ukuran kurang dari 1 µm. dan (2) ketentuan yang berlaku tentang Spesifikasi Alat Pendeteksi dan Alarm Kebakaran otomatis pada Bangunan Gedung. (2) tingkat penglihatan memungkinkan diketahui rute evakuasinya. Perioda tenggang waktu harus memperhitungkan keadaan bangunan dan mobilitas manusia. dipilih tipe foto-elektrik. i. (3) tingkat racun asap yang timbul tidak membahayakan manusia. Pemasangan. dan iii. dan bila terdapat partikel jenis lainnya harus menggunakan detektor tipe ionisasi. ii. . sehingga (1) temperatur ruang tidak membahayakan manusia. ruang tanaman atau sejenisnya. Penetapan batas ambang alarm bagi sistem detektor harus mengikuti ketentuan yang berlaku. Persyaratan umum i. dan iv.5 % smoke obscuration/m. dan Pemeriksaan Alat Deteksi dan Alarm Kebakaran Otomatis. Penempatan Alat Pendeteksi Asap. untuk selama tenggang waktu sampai dengan seluruh penghuni dapat terevakuasi dari bangunan. ditempatkan pada lokasi berkumpulnya asap panas dengan mempertimbangkan geometri langit-langit dan efeknya pada lintasan perpindahan asap. sampai ke jalan atau ruang terbuka bebas. d. : Batas Ambang. setiap rute evakuasi harus dijaga dengan ketinggian asap sekurang-kurangnya 2.c. ruang parkir terbuka atau panggung terbuka. yaitu: (1) ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan Ventilasi Mekanik dan Pengkondisian Udara dalam Bangunan Gedung. seperti gudang dengan luas lantai 30 m2. ii. b. Pada saat terjadi kebakaran. atau menggunakan sistem point sampling yang mempunyai derajat kepekaan maksimum 0.50 meter jaraknya dari pintu kebakaran. Ketentuan pengendalian asap ini tidak berlaku untuk: i. termasuk didalam satuan numah hunian bangunan klas 2 atau 3 atau sebagian klas 4. Rute evakuasi merupakan jarak lintasan menerus perjalanan evakoasi/ penyelamatan dari suatu tempat (seperti pintu/ jalan keluar. ruang kompartemen sanitasi. dipasang dengan permukaan menghadap ke bawah dan di luar saluran unit pengkondisian udara. iii. setiap ruangan yang tidak digunakan oleh penghuni untuk waktu yang cukup lama. lainnya yang dapat didengar dan yang ditempatkan disetiap lantai sesuai ketentuan yang berlaku.10 m di atas level lantai. i. dan ii. Sistem sampling harus memenuhi Ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan. ramp dan jalur sirkulasi yang terisolasi dari kebakaran serta koridor umum) pada setiap bagian bangunan. ditempatkan kurang dari 1. 3. ii.

dan tidak mensirkulasikan asap diantara kompartemen kebakaran. telepon. bila suatu bangunan tidak termasuk dalam Tabel V. v. atau ketentuan pada butir b. Ruang Pusat Pengendaii Kebakaran pada bangunan gedung yang tinggi efektifnya lebih dari 50 meter harus merupakan ruang terpisah. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran.iv. vi.3.2. . harus: (a) beroparasi seperti sistem pengendali asap. Untuk sistem pengatur udara lainnya. (2) pada bangunan yang termasuk dalam butir vi. tata letak bangunan. bersama-sama dengan kelengkapan pengendalian asap lainnya yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V. sifat dan jumlah bahan yang disimpan. harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap sesuai ketentuan. iii. d. dan persyaratan lain dari pedoman teknis ini. meubel. setiap hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 harus diberlakukan sebagai kompartemen terpisah. Persyaratan untuk bahaya khusus Upaya tambahan dalam pengendalian bahaya asap mungkin dipersyaratkan bilamana berkaitan dengan: i. ii sifat penggunaan bangunan.. Konstruksi. setiap bagian yang menyebabkan penyebaran asap yang serius antar kompartemen. Berkaitan dengan butir c berikut tentang Persyaratan Untuk Bahaya Khusus. dilengkapi sarana alat pengendali. dan tidak membentuk bagian sistem pengendali asap harus memenuhi ketentuan standar yang berlaku.3. peralatan dan sarana lainnya yang diperlukan dalam penanganan kondisi kebakaran. ii.2. atau ketentuan pada butir b.2. Pusat Pengendali Kebakaran a. sebuah ruang untuk pengendalian dan pengarahan selama berlangsungnya operasi penanggulangan kebakaran atau penanganan kondisi darurat lainnya.. panel kontrol. dimana: b. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. Untuk keperluan ketentuan ini. Ketentuan lebih teknis dalam pengendalian asap kebakaran untuk setiap klas bangunan mengikuti petunjuk dan standar teknis yang berlaku. selain: (1) kegiatan pengendalian kebakaran. Pada sistem pengkondisian udara terpusat yang memutar udara untuk lebih dari satu ruangan kompartemen kebakaran: (1) pada bangunan yang termasuk dalam butir v. c. Kegunaan dan sarana yang ada di Pusat Pengendali Kebakaran adalah: i. tidak digunakan bagi keperluan lain. dan (2) kegiatan lain yang berkaitan dengan unsur keselamatan atau keamanan bagi penghuni bangunan.3 pada lampiran persyaratan teknis ini maka harus memenuhi ketentuan i. sistem tidak mengganggu beroperasinya peralatan pengendalian asap yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V. iii. ditaruh atau dipakai di dalam bangunan. 4.

sakelar pengendali jarak jauh untuk gas atau catu daya listrik. (3) sebuah papan tulis dan sebush papan tempel (pin-up board) berukuran cukup. Ruang pengendali kebakaran harus dilengkapi dengan sekurang-kurangnya: (1). lantai atau langit-langit yang memisahkan ruang pengendali dengan ruang dalam bangunan dibatasi hanya untuk pintu. Setiap bukaan pada ruang pengendali kebakaran. bahan lapis penutup. Ruang pengendali haruslah dapat dimasuki dari (2) dua arah (1) arah pintu masuk di depan bangunan. e. peralatan utilitas. Panel indikator kebakaran.5 Pintu Keluar. dan sejenisnya harus mengikuti syarat teknis proteksi bukaan pada Bab V. sistem pengamatan. c. pembungkus atau sejenisnya harus memenuhi persyaratan terhadap kebakaran. tidak boleh lewat ruang tersebut. sakelar kontrol dan indikator visual yang diperlukan untuk semua pompa kebakaran. iii. genset darurat. dan peralatan pengamanan kebakaran lainnya yang dipasang di dalam bangunan.50 m. dan (4) sebuah meja berukuran cukup untuk menggelar gambar dan rencana taktis yang disebutkan dalam (5). iii. iv.i. kipas pengendali asap. bukaan pada dinding.1. seperti pada lantai. ventilasi. dan (5) rencana taktis penanggulangan kebakaran. yang tidak diperlukan untuk berfungsinya nuang pengendali. Ukuran dan sarana. dinding atau sejenisnya mempunyai kekokohan yang cukup terhadap keruntuhan akibat kebakaran dan dengan nilai TKA tidak kurang dari 120/120/120. dapat dikunci dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga orang yang menggunakan rute evakuasi dari dalam bangunan tidak menghalangi atau menutupi jalan masuk ke ruang pengendali tersebut. d. i. ventilasi dan lubang perawatan lainnya. untuk jendela. saluran. pintu. pipa. dan (2) sistem keamanan bangunan. yang khusus untuk melayani fungsi ruang pengendali tersebut. langit-langit dan dinding dalam. ii. di ruang pengendali dapat disediakan: (1) Panel pengendali utama. saluran udara dan sejenisnya. (2) telepon sambungan langsung. konstruksi penutupnya dari beton. ii. jika dikehendaki terpisah total dari sistem lainnya. dan sistem manajemen. Proteksi pada bukaan. dan (2) arah langsung dari tempat umum atau melalui jalan terusan yang dilindungi terhadap api. Pintu yang menuju ruang pengendali harus membuka ke arah dalam ruang tersebut. . Sebagai tambahan. yang menuju ke tempat umum dan mempunyai nilai TKA tidak kurang dari -/120/30. panel indikator lif. dan salah satu panjangnya dari sisi bagian dalam tidak kurang dari 2. Ruang pengendali harus: (1) mempunyai luas lantai tidak kurang dari 10 m2. i. ii.

50 m2.50 m2 dan ruang untuk tiap rute evakuasi penyelamatan dari ruang pengendali ke ruang lainnya harus disediakan sebagai tambahan persyaratan (2) dan (3) diatas. Beberapa peralatan seperti Motor bakar. g. Ventilasi dan pemasok daya. ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. luas lantai bersih daerah tambahan adalah 2 m2 untuk setiap penambahan alat. tetapi boleh dipasang di ruangan-ruangan yang dapat di capai dari ruang pengendali tersebut. (3) mengalirkan udara segar ke ruangan tidak kurang dari 30 kali pertukaran udara perjamnya pada waktu sistem beroperasi dengan dan salah satu pintu ruangan terbuka. Sistem udara bertekanan yang hanya melayani ruang pengendali. (2) beroperasi otomatis melalui aktivitas sistem alarm atau sistem sprinkler yang dipasang pada bangunan. luas lantai bersih tidak kurang dari 8 m dan luas ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. Pencahayaan darurat sesuai ketentuan yang berlaku harus dipasang dalam ruang pusat pengendali. Ruang pengendali harus diberi ventilasi dengan cara: i. pompa pengendali sprinkler. tetapi tidak berada di dalam ruang pengendali dan diproteksi oleh dinding yang mempunyai TKA tidak lebih kecil dari 120/120/120.(2) jika hanya menampung peralatan minimum. pemipaan dan sambungan-sambungan pipa tidak boleh dipasang dalam ruang pengendali. dan (1) dipasang sesuai ketentuan yang berlaku seperti untuk tangga kebakaran yang dilindungi. . ventilasi alami dari jendela atau pintu pada dinding luar bangunan yang membuka langsung ke ruang pengendali. (5) mempunyai catu daya listrik ke ruang pengendali atau peralatan penting bagi beroperasinya ruang pengendali. (4) mempunyai kipas. motor dan pipa-pipa saluran udara yang membentuk bagian dari sistem. atau ii. h. dan tingkat iluminasi diatas meja kerja tak kurang dari 400 Lux. (3) jika dipasang peralatan tambahan. Tingkat suara (ambient) dalam ruang pengendali kebakaran yang diukur pada saat semua peralatan penanggulangan kebakaran beroperasi ketika kondisi darurat berlangsung tidak melebihi 65 dbA bila ditentukan berdasarkan ketentuan tingkat kebisingan didalam bangunan. i. f.

1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. d. 3. Butir c tersebut tidak berlaku juga untuk: i. aman. menerus sepanjang area yang berbahaya. ii. Butir c tersebut di atas tidak berlaku bila penghalang tersebut digunakan untuk panggung. Kemiringan permukaan lantai harus aman bagi pejalan kaki. c. (2) Pegangan rambat (handrails) yang memadai untuk membantu kestabilan pemakai tangga/ramp (3) Lantai bordes yang memadai uniuk menghindari keletihan (4) Pintu di lantai bordes sedemikian hingga pintu tersebut tidak menjadi rintangan. 2. dan tekanan orang pada penghalang tersebut.VI. SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. kecuali tangga/ramp di luar bangunan. b. nyaman dan memadai. Persyaratan kinerja: a. Fungsi a. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir mobil) dan klas 8. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dan area lain untuk tujuan darurat. atau 4. c. (5) Tangga yang memadai untuk menampung volume dan frekwensi penggunaan. Pada area dimana orang bisa jatuh dari ketinggian 1m atau lebih dari lantai/atap/melalui bukaan pada dinding luar bangunan. mampu menjaga lintasan anak-anak. b. iv. dan memadai bagi semua orang. ii. Setiap tangga dan ramp memiliki: (1) Permukaan lantai tidak licin pada ramp. Melengkapi bangunan dengan sarana evakuasi yang memungkinkan penghuni punya waktu untuk menyelamatkan diri dengan aman tanpa meraskan keadaan darurat. atau karena perbedaan tinggi lantai dalam bangunan. Fungsi tersebut pada butir b di atas tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. harus dibuatkan penghalang yang: i. injakan dan akhiran injakan tangga. . Setiap pintu dibuat agar penghuni mudah mencapai akses keluar dan menghindari risiko terjebak di dalam bangunan. e. iii. tinggi disesuaikan dengan risiko orang tanpa disengaja jatuh dari lantai /atap. iii. Agar manusia dapat bergerak dengan aman ke dan di dalam bangunan maka bangunan harus mempunyai antara lain: i. Melengkapi bangunan dengan akses yang layak. tempat bongkar muat barang dan sejenisnya. Kuat dan kokoh menahan pengaruh orang yang menabrak. Akses ke dan di dalam bangunan harus tersedia yang memungkinkan pergerakan manusia secara aman. ii. nyaman.

setiap lapis lantai termasuk area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. d. VI.atau yang ketinggian efektifnya lebih dari 25 m. 2 . setiap lapis lantai bila bangunan dengan jumlah lantai lebih dari 6. Sistem kebakaran yang dipasang dalam bangunan iii. ii. Jarak tempuh ii. b Bangunan klas 2 s. 3 dan 4. lokasi dan dimensi pintu keluar yang tersedia pada bangunan disediakan agar penghuni dapat menyelamatkan diri dengan aman.5 m. sesuai dengan: i. Bangunan klas 9: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada: i. Jumlah lantai yang dihubungkan dengan pintu tersebut ii. balustrade atau penghalang lainya yang untuk melindungi pengguna bangunan terhadap risiko jatuh . Fungsi bangunan Butir h tersebut di atas tidak berlaku di dalam unit hunian tunggal pada bangunan klas 2.2 KETENTUAN JALAN KELUAR 1. balkon. dan atap yang dapat dicapai oleh manusia harus mempunyai dinding pembatas. Jumlah. b. Jumlah. h. Fungsi bangunan iv. Intervensi pasukan pemadam kebakaran Agar penghuni dapat keluar dengan aman dari bangunan. i. Basement: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada lapis lantai manapun. i. 8: Minimal harus tersedia 2 jalan ke!uar pada setiap lapis lantainya apabila tinggi efektif bangunannya lebih dari 25 m c. g. mobilitas dan karakter lain dan penghuni ii. Tinggi bangunan Jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran dan sesuai dengan: i. Tangga. luas lapis lantainya tak lebih dari 50 m2. Ramp kendaraan dan lantai yang dapat dilewati kendaraan harus mempunyai pembatas pinggir atau penghalang lainnya untuk melindungi pejalan kaki dan struktur bangunannya. ramp. mobilitas dan karakter penghuni. Fungsi bangunan iv. Semua bangunan : Setiap bangunan harus mempunyai sedikitnya 1 jalan keluar dari setiap lantainya. bila jalan keluar dari lapis lantai di dalam bangunan dimaksud naik lebih dari 1. Kebutuhan Jalan Keluar a. c. iii. kecuali: i. Tangga.f. ramp dan lorong (gang) harus aman bagi lalu lintas pengguna bangunan. dimensi jelur lintasan menuju ke pintu keluar harus sesuai dengan . jarak tempuh dari titik manapun pada lantai dimaksud ke suatu jalan keluar tunggal tak lebih dari 20 m. lantai. Persyaratan Keamanan a.d. Jumlah. dan ii.

ii. Bagian bangunan klas 4: Pintu masuk harus tidak lebih dari 6 m dari pintu keluar. v. Bangunan klas 2 dan 3 i. selain area perawatan pasien. sedikitnya 2 jalan keluar. pada bangunan klas 9a: tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan pada suatu tempat. iv. ii. setiap lapis lantai pada bangunan sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama dengan ketinggian 2 lantai atau lebih. setiap deret harus mempunyai minimal 2 tangga atau ramp. setiap lapis lantai pada bangunan klas 9b yang digunakan sebagai pusat asuhan balita. Area perawatan pasien: Pada bangunan klas 9a sedikitnya harus ada 1 jalan keluar dari setiap bagian pada lapis lantai yang telah disekat menjadi kompartemen tahan api. atau ii. 2 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 3. Panggung terbuka: Pada panggung terbuka dan menampung lebih dari 1 deret tempat duduk. g. 3 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 2. e. Bangunan kelas 5 s. atau (2) 20 m dari pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan jalan keluar ke jalan atau ke ruang terbuka. f. Pintu masuk dari setiap hunian tunggal harus berjarak tidak lebih dari: (1) 6 m dari jalan keluar atau dari tempat dengan jalur yang berbeda arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. 1 jalan keluar. Bangunan klas 2 dan 3: Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran. kecuali jalan tersebut menghubungkan tidak lebih dari: i. Jarak jalur menuju pintu keluar a. tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan. 3. masing-masing merupakan bagian jelur lintasan ke minimal 2 buah jalan keluar. setiap penghuni pada lapis lantai atau bagian lapis lantai bangunan harus dapat mencapai ke: i.d. atau ii. . harus kurang dari 20 m dari pintu keluar atau tempat jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. 4. iii. Setiap tempat dalam ruangan yang bukan pada unit hunian tunggal. b. Akses ke jalan keluar: Tanpa harus melalui hunian tunggal lainnya. Jalan keluar yang diisolasi terhadap kebakaran a. bila bangunan tersebut mempunyai sistem sprinkler yang menyeluruh. dan termasuk 1 lapis lantai tambahan bila digunakan sebagai tempat menyimpan kendaraan bermotor atau tempat pelengkap lainnya. merupakan bagian dari tribun penonton terbuka. setiap lapis lantai atau mesanin yang dapat menampung lebih dari 50 orang sesuai fungsinya. bila 2 atau lebih jalan keluar diwajibkan.iii. atau dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. 9 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap bahaya kebakaran kecuali: i. b.

1. 45 m pada bangunan klas 9a. 5. atau iii. atau ruang sirkulasi lainnya. ramp. Setiap tempat pada lantai harus berjarak tidak lebih 12 m dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar yang dipersyaratkan tersedia. bila : i.d. jarsk ke pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan akses ke jalan atau ke ruang terbuka dapat diperpanjang sampai 30 m. Bangunan klas 5 s. terletak sedemikian hingga alternatif jalur lintasan tidak bertemu hingga berjarak kurang dari 6 m. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. berjarak tidak kurang dari 9 m. e. b. Pada bangunan klas 5 atau 6. dan: i. 45 m pada bangunan klas 2 atau klas 3. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. f. i. Jarak maksimum dari satu tempat ke salah satu dari pintu keluar tersebut tidak lebih dari 30 m. ii. atau ii. atau 6. memiliki TKA tidak kurang dari 60/60/60 dan konstruksi setiap pintunya terlindung serta dapat menutup sendiri dengan ketebalan tidak kurang dari 35 mm. e. lobby. berjarak tidak lebih dari: i. 60 m. Panggung Terbuka: Jarak jalur lintasan menuju ke pintu keluar pada bangunan klas 9b yang dipakai sebagai panggung terbuka harus tidak lebih dari 60 m. 1 m. b. Gedung Pertemuan: Pada bangunan klas 9b selain gedung sekolah atau pusat asuhan balita. jika jarak maksimum ke salah satu pintu keluar tersebut tidak melebihi 40 m. lebar bebas. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 100 orang tetapi tidak lebih dari 200 orang. Setiap tempat harus berjarak tidak lebih 20 m dari pintu keluar. 1 m ditambah 250 mm untuk setiap kelebihan 25 orang.c. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan c. dan ii. tinggi bebas seluruhnya harus tidak kurang dari 2 m. atau ii. dan ii. Bangunan klas 9a: Area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. d. d. . lebar bebas. f. untuk bangunan lainnya. atau tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. 9: Terkena aturan butir d. tersebar merata di sekeliling lantai dimaksud sehingga akses ke minimal dua pintu keluar tidak terhalang dari semua tempat termasuk area lif di lobby.8 m pada lorong. bila disyaratkan untuk pintu keluar pada tempat perawatan pasien. c. Pintu keluar yang disyaratkan atau jalur sirkulasi ke jalan keluar: a. Jarak Antara Pintu-pintu Keluar Alternatif. jalur lintasan dari ruang tersebut ke pintu keluar melalui lorong/koridor. jika lapis lantai atau mesanin menampung tidak lebih dari 100 orang. Dimensi/ukuran Pintu Keluar. konstruksi ruang tersebut bebas asap. jarak ke salah satu pintu keluar dimungkinkan 60 m. Pintu yang disyaratkan sebagai alternatif jalan keluar harus: a.

ii. pada panggung penonton yang menampung lebih dari 2000 orang. bagian dinding tersebut harus mempunyai: c. lorong. 750 mm. jika membuka ke arah koridor dengan (1) lebar koridor antara 1. ii. lebar bebas. koridor. kecuali pintu keluar harus ditambah menjadi: i. ketempat: (1) ruang atau lantai yang digunakan hanya untuk pejalan kaki. . ke jalan atau ruang terbuka. kecuali untuk pintu keluar harus diperlebar sampai 17 m ditambah dengan angka kelebihan tersebut dibagi 600. (3) pintu keluar horisontal: 1250 mm.2 m: 1070 mm.d. lebar pintu keluar: i. hall atau yang sejenisnya. diukur tegak lurus ke jalur lintasan. b. iii. 7. bila pintu tersebut untuk kompartemen sanitasi atau kamar mandi. parkir kendaraan atau sejenisnya. lebar pintu keluar tidak boleh berkurang pada jalur lintasan ke jalan atau ruang terbuka. 1. d atau e. dan tertutup tidak lebih dari 1/3 kelilingnya. Bila lintasan keluar bangunan mengharuskan melewati 6 m dari dinding luar bangunan dimaksud. (3) mernpunyai ketinggian bebas rintangan di semua bagian termasuk bukaan pada keliling area yang tidak kurang dari 3 m. tidak lebih dari 20 m. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 200 orang. lebar dari setiap pintu keluar yang memenuhi ketentuan butir b.8 m pada lorong. atau ramp yang disyaratkan diisolasi terhadap kebakaran. pada area perawatan pasien. lebar bebas. (2) terbuka untuk sedikitnya 1/3 dari keliling area tersebut. iii. f. kecuali kalau pintu tersebut dari: i. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran. e. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 75 orang. komponen sanitasi. ruang transisi atau yang sejenisnya. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 60 orang jika jalan keluar mencakup perubahan ketinggian lantai oleh tangga atau ramp dengan tinggi tanjakan 1:12. unit hunian tunggal yang menempati seluruh lapis lantai. atau ii. atau ii. ke area tertutup yang: (1) berbatasan dengan jalan atau ruang terbuka.2 m: 1200 mm. minus 250 mm. ii. lobby umum. Setiap tangga atau ramp tahan api harus menyediakan pintu keluar tersendiri dari tiap lapis lantai yang dilayani dan keluar secara langsung atau melawati lorong yang diisolasi terhadap kebakaran yang ada di lantai tersebut: i.8 m . (2) lebar koridor lebih dari 2.2. (4) mempunyai lintasan bebas rintangan dari tempat keluar ke jalan atau ruang terbuka yang tidak lebih dan 6 m. pada kasus lain. (2) lintasan tanpa rintangan. tersedia menuju ke jalan atau ruang terbuka. a. g. iii. c. Pintu dalam ruangan harus tidak membuka langsung ke arah tangga. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan.

3 harus tersedia ii. tangga/ramp yang tidak diisolasi torhadap kebakaran harus keluar ke tempat yang tidak lebih dari: i. bukan dari komponen sanitasi atau sejenisnya. c. 60 m pada konstruksi bangunan lainnya. pada bangunan dengan ketinggian efektif tidak lebih dari 25 m.i. jarak antara pintu keluar dari ruang atau unit hunian tunggal dan tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga atau ramp yang tidak diisolasii terhadap kebakaran harus tidak melampaui: i. Pada bangunan klas 2. 3 atau 9a. bangunan klas 9a : Ramp harus tersedia untuk setiap perubahan ketinggian kurang dari 600 mm pada lorong yang diisolasi terhadap kebakaran. Pada bangunan klas 5 s. bila konstruksi tangga tersebut (termasuk jembatan penghubung) secara keseluruhan dari bahan yang tidak mudah terbakar. 8. 30 m dan salah satu dari dua pintu atau lorong keluar bila arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. ii. Pada bangunan klas 2. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke jalan atau ruang terbuka. Pada bangunan klas 5 s d. 9. Lintasan Melalui Tangga/Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran a. 3 atau 4. yang berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan harus mempunyai jalan lintasan menerus. atau ii.5. Tangga/ramp. yang tidak diisolasi terhadap kebakaran.d. atau 9. TKA sedikitnya 60/60/60. e. pintu keluar bertekanan udara sesuai standar yang berlaku. membuka ke pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran pada lantai dimaksud i lobby bebas asap sesuai dengan Bab V. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke Jalan atau ruang terbuka. atau ii. 20 m dari pintu keluaar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. jarak antara sembarang tempat pada lantai ke tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melebihi 80 m. tangga/ramp yan tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar pada tempat yang tidak lebih dari i. 15 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. d.2. Tangga Luar Bangunan Tangga luar bangunan dapat berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan menggantikan pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran. e. dengan injakan dan tanjakan dari setiap lantai yang dilayani menuju ke lantai dimana pintu keluar ke jalan atau ruang terbuka disediakan b. dan memenuhi ketentuan teknis yang berlaku. Jika Jebih dari dua akses pintu. bukaan terlindung di bagian dalam dilindungi sesuai ketentuan Proteksi Bukaan pada Bab V. . 30 m pada konstruksi bangunan tipe C. d. 8 ata u 9b.1.

Pintu keluar horisontal bukan merupakan pintu keluar yang disyaratkan apabila: i.14 bila disyaratkan oleh ketentuan Bab. Pada bangunan klas 9b dengan auditorium yang menampung lebih dan 500 orang. ii. kecuali bila pintu keluar dari bangunan klas 9a. bila jalur lintasan dari kompartemen kebakaran menuju ke satu atau lebih pintu keluar horisontal langsung menuju ke kompartemen kebakaran lainnya. 11 Pintu Keluar Horisontal. c. ii. atau tidak setinggi 1. Vl. d. Pada bangunan klas 2 atau 3. panggung terbuka yang menampung lebih dari 500 orang. maka masing-masing pintu keluar tersebut harus : i menyediakan jalan keluar terpisah menuju ke jalan atau ruang terbuka. antara unit hunian tunggal. b. jalur lintasan menuju ke jalan harus i. a. . 10. 40 m dari salah satu dari dua pintu atau lorong keluar: arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. bebas asap. b. Jika pintu keluar yang disyaratkan menuju ke ruang terbuka. atau lebar minimum dari pintu keluar yang disyaratkan. f. Pintu keluar harus tidak terhalang. tangga memenuhi ketentuan dari pedoman ini. Jika pintu keluar menuju ke ruang terbuka yang terletak pada ketinggian berbeda dengan jalan umum yang menghubungkannya. dan mempunyai sedikitnya satu pintu keluar yang disyaratkan yang bukan pintu keluar horisontal Kasus selain butir b di atas. d. Pada bangunan klas 9b. terhadap kebakaran dalam bangunan.2.ii. lintasan ke arah jalan harus mempunyai lebar bebas tidak kurang dan 1 m. ii. e. dan bila perlu dibuat penghalang untuk mencegah kendaraan menghalangi jalan keluar atau akses menuju ke pintu keluar tersebut.4. atau mana yang lebih lebar. tangga atau ramp yang disyaratkan harus tidak keluar ke arah area di depan panggung tersebut.5 m2 tiap pasien pada bangunan klas 9a. tidak lebih dari 2/3 lebar pintu keluar yang disyaratkan harus terletak di area pintu masuk utama. Pada bangunan klas 9a. pintu keluar horisontal dapat dianggap sebagai pintu keluar yang disyaratkan. Keluar Melalui Pintu-Pintu Keluar a. 2. dan c. pada bangunan klas 9b yang digunakan untuk pusat asuhan balita bagunan SD atau SLTP. bila dua atau lebih pintu keluar disyaratkan dan disediakan sebagai sarana tangga/ramp yang tidak diisolasi. pintu keluar horisontal harus tidak lebih dari separuh pintu keluar yang disyaratkan pada lantai yang dipisahkan oleh dinding tahan api Pintu keluar horisontal harus mempunyai area bebas disetiap sisi dinding tahan api untuk menampung jumlah orang dari seluruh bagian lantai dengan tidak kurang dari: i. berupa ramp atau lereng dengan kemiringan kurang dari 1:8.

dan satu dari lapis lantai tersebut terletak pada ketinggian yang terdapat jalan keluar langsung ke arah jalan atau ruang terbuka. 3 lantai. di luar bangunan. eskalator. iii.2. tangga pengait dapat dipakai sebagai pengganti tangga seluruhnya. dan bila 2 atau lebih tempat jalan keluar tersedia dalam ruangan tersebut. tidak lebih dari 100 m2. kecuali diijinkan sesuai butir b di atas. menghitung total jumlah orang tersebut dengan membagi luas lantai dari tiap lapis menurut Tabel Vl. kecuali satu dari jalan keluar tersebut. 7. 14. harus tidak menghubungkan secara langsung atau tidak langsung ke lebih dari 2 lapis lantai pada bangunan klas 5. ruang atau mesanin harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaan atau fungsi bangunan. 1. bila tiap lantai tersebut dilengkapi dengan sprinkler menyeluruh sesuai ketentuan Bab V. lebih dari 100 m2 dan tidak lebih dari 200 m2. iv. 8 atau 9. bila: i. d. dapat menghubungkan sejumlah lantai bangunan bila tangga. tangga atau ramp disyaratkan memenuhi ketentuan butir 12 ini c. 2 lantai dengan ketentuan lantai bangunan tersebut harus berurutan. ii pada area parkir kendaraan atau atrium. kompartemen sanitasi atau penggunaan tambahan. dan luas lantai dengan: a. atau 13. harus tidak digunakan di area perawatan pasien pada bangunan klas 9a b. b. iii. 12. hall. Ruang Peralatan Dan Ruang Motor Lift a. .c. ramp atau eskalator tersebut i. lift. 6. lobby dan yang sejenis. Tangga. Ramp Atau Eksalator Yang Tidak Disyaratkan Eskalator dan tangga/ramp pejalan kaki yang ditetapkan tidak diisolasi terhadap kebakaran a. dan ii. Jumlah Orang Yang Ditampung Jumlah orang yang ditampung dalam satu lantai. tata letak lantai tersebut. dapat keluar pada lantai dan dipertimbangkan sebagai bagian dari jalur lintasan. pada bangunan klas 5 atau 6 yang dilengkapi dengan fasilitas sprinkler menyeluruh. tangga pengait (ladder) dapat dipakai sebagai pengganti tangga (stairway) dari setiap tempat jalan keluar dari ruangan. service duct dan yang sejenis. Bila ruang peralatan atau ruang. kecuali bila dijinkan sesuai butir b atau c di atas. ii. motor lif mempunyai luasan i. ii. tangga. dan eskalator. Tangga pengait diijinkan menurut (a) di atas.5 m2 tiap orang pada klas bangunan lainnya. merupakan bagian dari jalan keluar yang tersedia pada tangga yang diisolasi terhadap kebakaran yang terdapat dalam saf. pada panggung terbuka atau stadion olah raga tertutup. ramp. 0. harus memenuhi standar teknis terkait bila untuk ruang peralatan dan untuk ruang motor lift. tidak harus menghubungkan lebih dari i.2 sesuai jenis penghunian.ii. tidak termasuk area yang dirancang untuk: i. koridor. atau ii.

peragaan. atau dengan konstruksi: 2. prosesing . ganti di teater Terminal Bengkel / workshop : staf pemeliharaan Proses manufaktur m2/orang 10 10 30 50 2 1 2 1 10 4 bengkel 3 5 5 0. listrik.2 LUASAN PER-ORANG SESUAI PENGGUNAANNYA (BEBAN PENGHUNIAN) Jenis Penggunaan Galeri seni. penyimpanan r. laboratorium.r.3 1 30 1. Tangga Dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Tangga atau ramp yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi: a. Tangga Dan Ramp Yang tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran Untuk bangunan dengan ketinggian lebih dari 2 lantai. penjualan: Level langsung dari luar Level lainnya r. 3. r. arcade Panggung penonton: darah panggung Kursi penonton R. kerja.b. sidang Ruang dansa Asrama Pusat Penitipan Balita Pabrik: . gereja. tunggu r. ruang pamer. kelas umum gedung serba guna ruang staf ruang praktek: SD SLTP Pertokoan. bila terjadi kenusakan setempat tidak merusak struktur yang dapat melemahkan ketahanan saf terhadap api. b. r. elktrikal. ruang makan Ruang pengurus Pemondokan/losmen Ruang komputer Ruang sidang pengadilan: r.5 1 4 2 30 pabrik VI. c.boiler/sumber tenaga Ruang baca Restoran Sekolah : r. . atau cara lain yang sesuai untuk menilai kapasitasnya.5 5 4 5 50 30 3 15 10 1 10 2 30 Jenis Penggunaan Kantor (pengetikan dan fotokopi) Ruang Perawatan Pasien Ruang industri : .r penyimpanan m2/orang 4 1 2 15 25 10 1 0.3 KONSTRUKSI JALAN KELUAR 1. mengacu kepada kapasitas tempat duduk di ruang atau bangunan gedung pertemuan. pamer : r. persyaratan ini tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 atau bagian klas 4.r. café. motel. guest-house Stadion indoor area Kios Dapur. dll . r. workshop . tangga dan ramp yang tidak disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi sesuai ketentuan butir 2 diatas.mall. manufaktur. hostel. telepon Kolam renang Teater dan Hall R. Tabel VI. dari material tidak mudah terbakar. . baca.ruang untuk fabrikasi dan proses selain di atas Garasi-garasi umum Ruang senam/gymnasium Hotel. tempat cuci Perpustakaan : .ventilasi. Penerapan Kecuali ketentuan butir 13 den 16. museum Bar.

atau ke bagian bawah langit-langit yang tahan penjalaran api sampai 60 menit. tanjakan tangga dari lantai di bawah lantai dasar ke arah jalan atau ruang terbuka. disyaratkan untuk diisolasi terhadap kebakaran. Pemisahan tanjakan dan turunan tangga Bila tangga dipakai sebagai jalan keluar.7 harus: a. turunan tangga dari lantai di atas lantai dasar. b. terpisah dari area hunian dengan dinding kedap asap. di setiap bukaan dari area hunian. setiap konstruksi yang memisahkan tanjakan dan turunan tangga harus tidak mudah terbakar dan mempunyai TKA minimal 60/60/60. lorong atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. beton bertulang atau beton prestressed. dan: a. dengan ketebalan minimal 44 mm setelah finishing ii. maka harus: a. Bukaan pada saluran atau duct yang membawa hasil pembakaran yang panas harus tidak diletakkan di bagian manapun dari jalan keluar yang 5. tersebar merata sepanjang sisi terbuka ramp atau balkon b. c. Jalan masuk ke saf servis dan lainnya. atap atau langit-langit harus ditutup dengan bahan yang bebas asap. Lobby Bebas Asap Lobby bebas asap yang disyaratkan sesuai Bab VI. yang direkatkan dengan perekat khusus seperti resorcinol formaldehyde atau resorcinol phenol formaldehyde 4. Instalasi Pada Jalan Keluar Dan Jalur Lintasan a. b. Ramp dan Balkon Akses yang Terbuka Bila ramp dan balkon akses yang terbuka merupakan bagian dari jalan keluar yang disyaratkan. atau terdapat alat sensor asap diletakkan dekat dengan sisi bukaan. pada area terbuka dengan ketinggian 1 m tidak tertutup. bila pintu keluar disyaratkan harus diberi tekanan udara. mempunyai bukaan ventilasi ke udara luar dimana: i. b. dengan berat jenis rata-rata tidak kurang dari 800 kg/m3 pada kelembaban 12% iii. kecuali ke peralatan pemadam atau deteksi kebakaran sesuai yang diijinkan dalam pedoman ini. harus tidak ada hubungan langsung antara i. di mana: i. baja dengan tebal minimal 6 mm kayu: i. c. terbentang antar balok lantai. diberi tekanan udara sebagai bagian dari pintu keluar. setiap sambungan konstruksi antara bagian atas dinding balok lantai. luas total area bebas minimal seluas ramp atau balkon ii. mempunyai luas minimal 6 m2. dan ii. tidak harus disediakan dari tangga.a. 7. ii. 6. b. . mempunyai pintu bebas asap sesuai standar teknis yang berlaku. iii. mempunyai TKA minimal 60/60/-. kecuali dengan grill atau sejenisnya dengan ruang bebas udara minimal 75% dari area tersebut.2. d.

c. d. 10. bila peralatan dimaksud terdiri atas: i. bebas halangan. Tangga dan ramp tidak tahan api: Ruang di bawah tangga atau ramp tidak tahan api yang disyaratkan (termasuk tangga luar) harusnya tidak tertutup. bila konstruksi yang menutup ramp. 1:12 pada area perawatan pasien di bangunan klas 9a ii. Gas atau bahan bakar lainnya harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. motor listrik atau peralatan motor lain dalam bangunan. lobby. kecuali: i. disyaratkan. b. atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. gang. kecuali dipisahkan oleh balustrade atau pegangan rambat menerus antara lantai bordes dan lebar masing-masing bagian kurang dari 2 m. meter listrik. ii. ii. 1:8 untuk kasus lainnya c. dan sejenisnya. Ramp yang berfungsi sebagai jalan keluar yang disyaratkan harus mempunyai tinggi tanjakan tidak kurang dari: i. Ramp Pejalan Kaki a. maka bagian tangga atau ramp tersebut harus tidak tertutup. Konstruksi lorong yang diisolasi terhadap kebakaran harus dari material yang tidak mudah terbakar. panel atau peralatan distribusi telekomunikasi sentral. Perlindungan Pada Ruang Di Bawah Tangga Dan Ramp a. Ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dapat menggantikan tangga. Permakaan lantai ramp harus dengan bahan yang tidak licin. Peralatan harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. Tangga dan ramp tahan api: Bila ruang di bawah tangga atau ramp tahan api yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran a. gang. vertikal di atas garis sepanjang nosing injakan tangga atau lantai bordes. 9. Lebar tangga yang disyaratkan harus: i. 11. atau koridor. lobby atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut.4 iii. panel atau saluran distribusi. b. bagian dari balustrade. dan iii. sampai ketinggian tidak kurang dari 2 m. seperti pegangan rambat (handrail). setiap pintu masuk ke ruang tertutup tersebut dilengkapi dengan pintu tahan api dengan TKA -/60130 yang dapat menutup secara otomatis Lebar Tangga a. kecuali terlindung oleh konstruksi yang tidak mudah terbakar atau tahan api dengan pintu atau bukaan yang terlindung dari penjalaran asap. koridor. lebar bebas halangan. disyaratkan sesuai ketentuan Bab VI. lebar dan tinggi langit-langit sesuai persyaratan untuk tangga yang diisolasi terhadap kabakaran. kecuali untuk list langit-langit. Lebar tangga melebihi 2m dianggap mempunysi lebar hanya 2 m. b. 8. di mana: . dinding dan langit-langit sekelilingnya mempunyai TKA minimal 60/60/60 ii.

panjangnya tidak kurang dari 550 mm diukur dari tepi dalam bordes. Ambang Pintu Ambang pintu tidak mengenai anak tangga atau ramp minimal selebar daun pintu kecuali: a.7 m. Bordes a. koridor. konstruksi atas dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran tidak perlu punya TKA. Atap Sebagai Ruang Terbuka Jika pintu keluar menuju ke atap bangunan. ujung injakan dekat nosing diberi finishing yang tidak licin. pada kasus lain TKA tidak kurang dari 60/60/60. tangga. Sudut arah naik dan turun tangga harus 180°. Bordes tangga dengan maksimum kemiringan 1: 50 dapat digunakan. lantai. pintu terbuka ke arah jalan atau ruang terbuka. bukaan antara injakan maksimum 125 mm. Meskipun dengan ketentuan butir a. 15. 12. mempunyai TKA tidak kurang dari 120/120/120.ii. Balustrade a Balustrade menerus harus tersedia sekeliling atap yang terbuka untuk umum. langit-langit dengan ketahanan terhadap penjalaran api tidak kurang dari 60 menit dan dalam kompartemen kebakaran. Iorong keluar dari tangga atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. ii. tidak lebih dari 18 atau kurang dari 2 tanjakan. injakan.b. Bangunan klas 9a: i. ruang perawatan pasien bangunan klas 9a. ramp. b. injakan harus kuat bila tinggi tangga lebih dari 10 m atau menghubungkan lebih dari 3 lantai. untuk mengurangi jumlah tanjakan dan setiap bordes harus: i. Injakan Dan Tanjakan Tangga Tangga harus mempunyai: a. tidak terdapat pencahayaan atau bukaan atap iainnya sepanjang 3 m dari jalur lintasan yang dipakai untuk keluar mencapai jalan atau ruang terbuka. Luas bordes harus cukup untuk gerakan usungan yang berukuran panjang 2 m dan lebar 60 cm. c. 16. b. dan jumlah sesuai standar teknis. atap tersebut harus a. ii. f. tepi bordes diberi finishing yang tidak licin. balkon dan sejenisnya. bila: . injakan dan tanjakan konstan. lebar minimal bordes 1.6 m dan panjangnya minimal 2. 14. tangga atau balkon luar ii. b. ii. e. kasus lainnya i. TKA tidak kurang dari yang disyaratkan untuk saf tangga atau ramp. penutup atap yang tidak mudah terbakar ii. ambang pintu tidak lebih dari 190 mm di atas permukaan tanah. b. d. 13. i. tanjakan. bila dinding lorong tersebut merupakan perluasan dari: i. balkon atau yang sejenis dimana pintu membuka. ambang pintu tidak lebih dan 25 mm di atas ketinggian lantai dimana pintu membuka.

bangunan klas 9b untuk sekolah dasar. dipasang permanen dengan tinggi minimal 865 mm dengan jeruji pendukung permanen setinggi minimal 700 mm. Bila menggunakan jeruji. kecuali dipasang pada bangunan atau bagian bangunan klas 6. 17. bila dibuat sesuai i. f. tangga. kecuali tangga/ramp luar bangunan. c. dan ramp di luar ketentuan butir b harus mengikuti ketentuan butir f dan g. lorong. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir) serta klas 8. atap. ii. tempat bongkar muat barang atau tempat lain bagi staf untuk pemeliharaan. Pegangan rambat harus tersedia untuk membantu orang agar aman menggunakan tangga atau ramp. 8 dengan luas lantai tidak lebih dari 200 m2. c. balkon. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. balkon atau sejenisnya dan jarak antar jeruji tidak lebih dari 460 mm. tidak dibatasi dengan dinding. . tinggi lebih dari 1 m di atas lantai atau dibawah muka tanah. d. atau 700 mm bila tonjolan keluar dari bagian atas balustrade diproyeksikan mendatar tidak kurang dari 1 m. i. tidak kurang dari 1 m di atas lantai akses masuk. i. b. minimal 865 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai ramp ii. Pegangan Rambat Pada Tangga a. ii. Pintu Sebagai pintu keluar yang disyaratkan: a. permanen sedikitnya 50 mm dari dinding ii. Balustrade sepanjang sisi atau dekat permukaan horisontal seperti: i.b. kecuali sekeliling panggung.iii dan g. sedikitnya dipasang sepanjang satu sisi ramp/tangga ii dipasang pada dua sisi bila lebar tangga/ramp 2 m atau lebih iii. Pada bangunan klas 9a harus tersedia sedikitnya sepanjang satu sisi dari setiap lorong atau koridor yang digunakan oleh pasien. g. bukan pintu berputar b. 7. yang tersedia akses untuk umum dan jalur masuk ke bangunan. e. dan ii. bukan pintu gulung. iii. Bukaan pada balustrade memenuhi ketentuan butir b. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. Jarak antara lebar bukaan tidak lebih dari 300 mm ii. lantai.ii. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran atau area lain untuk keadaan darurat. Balustrade atau penghalang lain di depan tempat duduk permanen pada balkon atau mesanin auditorium bangunan klas 9b harus sesuai ketentuan f. dan harus: i. Balustrade sesuai ketentuan butir e.i. tinggi di atas lantai tidak kurang dari 1m. Balustrade pada: i. mesanin dan sejenisnya.ii. Balustrade. koridor. balkon dan sejenisnya. tinggi jeruji tidak lebih dan 150 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai bordes. Pegangan rambat memenuhi ketentuan butir a tersebut bila: i. dibuat menerus 18.i. Tinggi balustrade: i.

melayani komponen sanitasi atau sejenisnya. ii. 3. dengan mengoperasikan alat pengontrol untuk mengaktifkan alat untuk membuka pintu. Pengoperasian Gerendel Pintu Pintu yang disyaratkan sebagai lintasan.9 . hanya melayani: i. harus dapat dibuka secara manual. ii. ii. sehingga orang dalam bangunan segera dapat menyelamatkan diri bila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. dan . bangunan klas 9a b. dengan tangan. pada bangunan klas 9b. membuka langsung ke arah jalan atau ruang terbuka harus dapat membuka secara otomatis bila terjadi kegagalan pada daya listrik. 7. melayani hunian yang perlu pengamanan khusus dan dapat segera dibuka: i. kecuali: i. d. kecuali: i membuka secara langsung ke arah jalan atau ruang terbuka ii. melayani bangunan atau bagian bangunan dengan luas tidak lebih dari 200 m2. c. pintu dapat dibuka secara manual. melayani lantai atau ruang yang menampung lebih dari 100 orang. kecuali bila: a. bila pintu dioperasikan dengan tenaga listrik: i. panti asuhan balita atau bangunan keagamaan. lebih dari 100 mm pada lebar pintu keluar yang disyaratkan. Masuk Dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Pintu harus tidak terkunci dari dalam tangga/ramp/lorong yang diisolasi terhadap kebakaran untuk melindungi orang yang masuk kembali ke lantai atau ruang yang dilayani pada a. ii. iii.2 m dari lantai. khususnya oleh pemilik. unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. c. lorong atau ramp. d. atau 8. 21. unit hunian tunggal dengan luas area tidak lebih dari 200 m2 pada bangunan klas 5. ruangan yang tidak aksesibel sepanjang waktu bila pintu terkunci. atau bagian klas 4.1. kecuali semua pintu secara otomatis terkunci dengan alat yang mengaktifkan alarm kebakaran. bila terjadi kerusakan atau tidak berfungsinya tenaga listrik ii. dengan mendorong alat yang dipasang pada ketinggian antara 0. merupakan satu-satunya pintu keluar dari bangunan dan dipasang alat pegangan pada posisi membuka. alarm kebakaran dan lainnya. kecuali bangunan sekolah. melayani kompartemen saniter. Tidak mengganggu lebih dari 500 mm pada lebar yang disyaratkan dari tangga. 19. merupakan satu-satunya pintu keluar yang disyaratkan dalam bangunan bukan pintu sorong. b.c. dengan tenaga tidak lebih dari 110 N. b. Pintu Ayun a. Ayunan harus searah akses keluar. Bila terbuka sempurna. bangunan dengan tinggi efektif lebih 25 m. 20. 6. bagian atau jalan keluar harus siap dibuka tanpa kunci dari sisi dalam dengan satu tangan. dengan tenaga tidak lebih dan 110 N. termasuk bordes.

2. dan juga rambu permanen tentang cara mengoperasikannya. Rambu Pada Pintu a. termasuk penyandang cacat. dipasang ditempat yang mudah dilihat atau dekat dengan pintu-pintu tahan api dan asap. Rambu. Untuk bangunan yang digunakan untuk pelayanan umum harus dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan akses dan sirkulasi bagi semua orang. tersedia sistem komunikasi internal.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT 1. sedikitnya setiap 4 tingkat terdapat pintu tidak terkunci dan terdapat rambu permanen bahwa dapat dilalui. sistem audibel/visual alarm yang droperasikan dari dalam ruangan khusus dekat pintu. 22. . Rambu tersebut harus dibuat dengan huruf kapital minimal tinggi huruf 20 mm. Ketentuan-ketentuan teknis lebih lanjut mengenai akses bagi penyandang cacat pada butir a di atas mengikuti Pedoman Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. b. untuk memberi tanda pada orang bahwa pintu tertentu harus tidak dihalangi. ii. VI.i. warna kontras dan menyatakan bahwa pintu jangan dihalangi.

Lif kebakaran dapat berupa lif penumpang biasa atau lif barang yang dapat diatur. dipasang ditempat yang mudah terbaca: i. f. harus tertulis dalam sangkar dan dinyatakan dalam Kg. e. harus dengan cara menekan sakelar kebakaran (Fire Switch) terlebih dahulu. Kapasitas angkut lif barang yang diizinkan. Pintu saf lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan peraturan yang berlaku di Indonesia. . harus disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. g.VII. e. d. Untuk mengubah fungsi lif penumpang atau lif barang menjadi lif kebakaran. Kecepatan dan ukuran sangkar lif kebakaran disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. harus tertulis pada sangkar dan dinyatakan dalam jumlah orang yang dapat diangkut. d. c. kecuali ii. 2. b. Kapasitas angkut yang dinyatakan dalam izin. Persyaratan teknis dari lif yang digunakan sebagai lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. 1 LIF 1. lif kecil seperti dumb waiter atau sejenisnya yang digunakan untuk mengangkut hanya barang-barang. Waktu tunggu lif. tanpa terganggu oleh sakelar panggil lainnya. Lift Kebakaran a. c. Kapasitas angkut lif penumpang yang diizinkan. Jumlah dan kapasitas lif harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untak sirkulasi vertikal pada bangunan. harus menjadi kapasitas angkut dari lif dimaksud. Kapasitas Lif a. sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh petuugas Kebakaran. Sumber daya listrik untuk lif kebakaran harus direncanakan dari sumber yang berbeda. dan menggunakan kabel tahan api. Lif kebakaran harus dapat berhenti di setiap lantai. TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. Peringatan Terhadap Pengguna Lif Pada Saat Terjadi Kebakaran Tanda peringatan harus: a. dekat setiap tombol panggil untuk lif penumpang atau kelompok dari lif ada bangunan. 3. b.

5. plastic atau sejenisnya dan dipasang tetap didinding. Mempunyai kapasitas beban tidak kurang dari 600 Kg. huruf yang diukir. Dalam saf lif dilarang memasang pipa atau peralatan lain yang tidak merupakan bagian dari instalasi lif. harus: i. 4. kayu. Lif yang melayani ruang rawat pasien dihubungkan juga ke sistem tenaga listrik cadangan. berukuran cukup untuk meletakkan fasilitas kereta dorong ( wheel strecther) secara horisontal ii. b. atau ii huruf yang diukir atau ditatah langsung dipermukaan bahan dinding iii.DILARANG MENGGUNAKAN LIF BILA TERJADI KEBAKARAN 10 mm 8 mm ATAU Dilarang menggunakan Lif bila terjadi Kebakaran Gambar VII. dengan penampilan khusus sehingga dapat terbaca pada keadaan gelap atau sewaktu terjadi kebakaran. bila diperlukan. 6. setiap 3 lantai harus memiliki bukaan untuk digunakan dalam kondisi darurat. yang ruang rawat pasiennya tidak berada di lantai Lif pasien yang dibutuhkan pada butir a. 1. atau alat-alat lainnya yang dipasang dalam gedung ditempat yang mudah didengar oleh pengelola bangunan gedung yang bersangkutan. Untuk saf lif yang menerus dan tidak memiliki pintu keluar pada setiap lantainya. Sangkar Lif Sangkar pada setiap lif harus dilengkapi dengan peralatan tanda bahaya yang dapat dioperasikan dari dalam sangkar. dan iii. misalnya bangunan Kelas 9a. . ditatah atau huruf timbul pada logam. berupa bel listrik. Satu atau beberapa lif harus di pasang sebagai lif pasien untuk melayani setiap lantai dalam bangunan yang tidak menggunakan ramp. Saf Lif a. b. sesuai dengan detail dan dimensi minimum seperti pada gambar Vll. telepon. dan terdiri dari i. 1 Tanda Peringatan Lif Penumpang b. Lif Untuk Rumah Sakit a.

Prosedur pemeriksaan. c. sebelum dioperasikan harus diperiksa dan diuji terlebih dahulu oleh instansi yang berwenang. b. Beban balok dan penyangga harus sudah termasuk beban mesin lif. dengan beban sangkar lif. Pengujian Dan Pemeliharaan a. tromol. 9. pengujian dan pemeliharaan instalasi lif sesuai dengan SNI 03-1718-1989 dan SNI 03-2190-1991. Instalasi lif yang telah selesai dipasang atau yang telah mengalami perubahan teknis. motor generator. dan penyangga harus direncanakan sesuai beban dibawah ini: i. pondasi untuk mesin. iii. Pondasi harus menyangga berat mesin. Jika mesin lif dan tali diempatkan di lantai bawah. untuk mempertahankan suhu udara dan panas dari peralatan mesin. atau disamping ruang luncur di lantai bawah. ii. Instalasi listrik untuk lif harus dilengkapi dengan pengaman harus lebih atau sakelar otomatis. termasuk lantai ruang mesin. panel kontrol. . Mesin Lif Dan Ruang Mesin Lif a. peralatan lain dan lantai diatasnya. lantai dan penyangga di Ruang mesin harus di rencanakan dengan memenuhi: i.7. Semua bagian logam dari lif pada keadaan bekerja normal tidak boleh bertegangan.2 TANGGA DAN LANTAI BERJALAN Persyaratan Teknis tangga dan lantai berjalan harus mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. b. tromol tali. atau dihubungkan ke tali yang disangga oleh balok. Beban diperhitungkan pada saat bandul mekanis governor) bekerja. Dua kali jumlah beban komponen yang bergerak vertikal dari tromol (dihitung dari dua sisi). Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada semua arah gaya d. b. iii. Minimum satu jalan keluar harus dibuat pada setiap nuang mesin lif. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah tegak. governor dan peralatan lain. Pemeriksaan. Balok. 8. Bangunan ruang mesin lif harus kuat dan kedap air serta berventilasi cukup. Instalasi Listrik a. Ruang mesin harus mempunyai sirkulasi udara. Semua hantaran listrik harus dipasang dalam pipa atau saluran kabel (duct) kecuali hantaran lemas (fleksibel) yang khusus. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali baban berat pada arah sejajar. Vll. c. ii. iv.

c jalan lintas. harus: a. ruang yang mempunyai luas lebih dari 300 m2. atau ramp yang digunakan untuk ii tangga luar.2 TANDA ARAH KELUAR 1. 2. TANDA ARAH KELUAR. Jelas. bekerja secara otomatis b. c. atau sejenisnya yang digunakan pasien. koridor. dan pada setiap jalan lintas yang mempunyai panjang lebih dari 6 meter diberikan sistem lampu darurat. ii. Setiap lampu darurat. . setiap ruang dengan luas lantai lebih dari 120 m2 yang digunakan pasien d. DAN SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. Lampu darurat yang digunakan harus sesuai dengan standar yang berlaku. tangga yang tertutup. atau iii. 3. pencahayaan darurat digunakan pada tanda KELUAR. b c. e. mempunyai huruf dan simbol dengan ukuran yang cukup diterangi dengan pencahayaan cukup sehingga jelas terbaca setiap waktu oleh orang yang masuk dan berada di dalam bangunan.VIII. bangunan kelas 9a. bangunan kelas 2 atau 3. 2. lorong atau ramp yang digunakan untuk Keluar iii. atau iv. lorong. dan harus dipasang diatas atau di dekat setiap: a. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 100 m2 tetapi kurang 300 m2 yang terbuka: i. jalan keluar di balkon yang menuju Keluar. yaitu pada: i. ke ruang terbuka. Tanda KELUAR harus jelas kelihatan untuk orang yang menuju keluar. mudah dibaca. ke jalan raya. VIII. dipasang sehingga jika tenaga listrik normal terganggu. catu daya cadangan dan kontrol otomatisnya harus dilindungi daari kerusakan karena api dengan konstsruksi penutup yang mempunyai TKA tidak kurang dari -/60/60.1 SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT 1. Pintu yang digunakan untuk jalan keluar dari setiap lantai keluar i. setiap lorong. mempunyai tigkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman. PENCAHAYAAN DARURAT. Setiap tanda “KELUAR” dibutuhkan. hall. jika menggunakan sistem terpusat. ke koridor. harus : a. Sistem lampu darurat dipasang pada: a b. atau ii ke ruang yang mempunyai lampu darurat.

anak-anak. . Jika tanda “KELUAR" tidak segera diketahui oleh penghuni atau pengunjung bangunan. lorong. bagian rumah dari sekolahan. mempunyai ketinggian lantai tidak lebih dari tiga b. sistem alarm dapat diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan sesuai dengan tipe dan kondisi pasien Bangunan Kelas 9b a. hall umum. untuk gedung pertunjukan. sistemnya harus diatur memberikan peringatan pada petugas b.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA Sistem peringatan bahaya dan komunikasi internal mengacu pada standar yang berlaku dan harus dipasang pada: 1. sistem alarm diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan dan trauma. langsung memberikan peringatan pada petugas. sesuai dengan tipe dan kondisi penghuni. 5. yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua. di daerah bangsal perawatan. 2. atau sejenisnya yang menunjukkan arah keluar yang disyaratkan. 4. atau ramp pada setiap tingkat yang menuju Jalan raya atau ruang terbuka. lobi. Bangunan kelas 2 sebagai rumah perawatan orang tua. Bangunan Kelas 9a yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua: a. Pintu dari tangga tertutup. b. atau orang cacat. akomodasi untuk orang tua. dan: Pintu yang digunakan sebagai atau merupakan bagian dari jalan KELUAR" pada setiap lantai yang harus dilengkapi dengan lampu darurat sesuai VIII. 3. untuk sekolah. kecuali bila sistemnya a. maka tanda Keluar dengan arah panah harus dipasang pada posisi yang tepat di koridor.1 3. atau b. VIII. hall.b. atau sejenisnya. Bangunan dengan ketinggian lebih dari 25 m Bangunan Kelas 2 yang mempunyai ketinggian lantai lebih dari dua lapis dan a. c. d. dan: Jalan keluar horisontal.

PENANGKAL PETIR DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. b. seperti pompa kebakaran. lif kebakaran. dapat menggunakan ketentuan/ standar dari negara lain atau badan international. Sistem tegangan rendah dalam gedung adalah 220/380 volt. alat ukur. Jaringan Distribusi Listrik a. d. 2. c. Jaringan distribusi listrik terdiri dari kabel dengan inti tunggal atau banyak dan busduct dari berbagai tipe. Peralatan pada papan hubung bagi seperti sakelar. peralatan pengendali asap.IX. . Perencanaan Instalasi Listrik Instalasi listrik harus memenuhi ketantuan: a. dipelihara. Semua peralatan listrik diantaranya penghantar. Sistem instalasi listrik terdiri dari sumber daya. dengan frekuensi 50 Hertz. tidak boleh dibebani melebihi batas kemampuannya e.1 INSTALASI LISTRIK 1. jaringan distribusi. sistem komunikasi darurat. lingkungan. Kecuali untuk hal-hal yang dianggap khusus atau yang tidak disebutkan. b. papan hubung bagi dan beban listrik. ukuran dan kemampuan. mengganggu dan merugikan bagi manusia. dan dilindungi terhadap kebakaran atau terdiri dari penghantar tahan api. c. Sistem instalasi listrik dan penempatannya harus mudah diamati. dan beban penting lainnya harus terpisah dari instalasi beban lainnya. sistem deteksi dan alarm kebakaran. Tipe dari kabel harus disesuaikan dengan sistem yang dilayani. dengan frekuensi 50 Hertz. Untuk hal-hal yang belum dicakup atau tidak disebut dalam PUIL. Dalam menentukan tipe peralatan yang dipakai untuk instalasi listrik harus kuat harus diperhatikan bahaya kebakaran yang mungkin dapat terjadi dan kerusakan yang mungkin terjadi akibat kebakaran. papan hubung bagi dan isinya . maka segala sesuatu yang bersangkutan dengan instalasi dan perlengkapan listrik harus sesuai dengan buku Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. INSTALASI LISTRIK. Jaringan yang melayani beban penting. tombol. sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. transformator dan peralatan lainnya. bagian bangunan dan instalasi lainnya. Sistem tegangan menengah dalam gedung adalah 20 kV atau kurang. dan lain-lain harus ditempatkan dengan baik sehingga memudahkan pengoperasiannya oleh petugas. tidak membahayakan.

dengan pintu yang hanya dapat dimasuki oleh petugas. 6. 5. Transformator distribusi yang berada dalam gedung harus ditempatkan dalam ruangan khusus yang tahan api dan terdiri dari dinding. Beban dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut konservasi energi dan lain-lain. Sumber Daya Listrik a. Instalasi dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan dan diamankan terhadap dampak seperti interferensi golombang elektromanetik dan lain-lain.3. harus terlebih dahulu diperiksa dan diuji mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku. secara otomatis. . dengan ijin instansi yang bersangkutan. Bila ruang transformator dekat dengan ruang yang rawan kebakaran maka diharuskan mempergunakan transformator tipe kering. c. faktor kebersamaan (coincident factor) atau faktor ketidak bersamaan (diversity factor). Beban Listrik Beban maksimum suatu instalasi listrik arus kuat harus dihitung dengan memperhatikan besarnya beban terpasang. b. di antaranya Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. sumber daya utama dapat menggunakan sistem pembangkit tenaga sendiri. e. Apabila ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir 1 di atas tidak momungkinkan. d. Sistem instalasi listrik pada bangunan gedung tinggi dan bangunan umum harus memiliki sumber daya listrik darurat yang mampu melayani kelangsungan pelayanan seluruh atau sebagian beban pada gedung apabila tajadi gangguan sumber utama. Transformator Distribusi a. c. Bangunan dan ruang khusus yang pelayanan daya listrik tidak boleh putus. 4. Pemeriksaan Dan Pengujian Instalasi listrik yang dipasang. Ruangan trafo harus diberi ventilasi yang cukup. f. b. harus memiliki pembangkit tenaga cadangan yang dayanya dapat memenuhi kelangsungan pelayanan dari seluruh atau sebagian dari bangunan atau ruang khusus tersebut. sebelum dipergunakan. yang penempatannya harus aman dan tidak menimbulkan gangguan lingkungan serta harus mengikuti standar dan atau nomalisasi dari peraturan yang berlaku. dengan ruangan yang cukup untuk perawatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Sumber daya listrik darurat yang digunakan harus mampu melayani semua beban penting yang disebut dalam butir 3. Sumber daya utama gedung harus menggunakan tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara. g. atap dan lantai yang kokoh.

harus diberi instalasi penangkal petir. normalisasi teknik dan peraturan lain yang berlaku. dan instalasi lainnya. tidak membahayakan. b. Pemeliharaan a. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung a. b. b. bagian bangunan dan instalasi lain. perbaikan dan pelayanan.3 INSTANSI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG. serta diberi ventilasi cukup. instalasi penangkal petir harus diperiksa dan dipelihara secara berkala. 1. Pemeriksaan dan Pemeliharaan a.7. Apabila terjadi sambaran pada instalasi penangkal petir. Ha-hal yang belum diatur didalam peraturan tersebut diatas baik yang menyangkut perhitungan maupun peralatan dan instalasinya. IX. Sistem instalasi komunikasi telepon dan tata gedung dan penempatannya harus mudah diamati. sifat geografis. harus memperhatikan arsitektur bangunan. Pemasangan penangkal petir harus diperhitungkan berdasarkan standar. terhadap bahaya sambaran petir. Setiap bangunan atau yang berdasarkan letak. Pemasangan instalasi penangkal petir pada bangunan.2 INSTALASI PENANGKAL PETIR 1. c. serta direncanakan . 2. b. Perencanaan Penangkal Petir a. Instalasi Penangkal Petir a. tanpa mengurangi nilai perlindungan yang efektif terhadap sambaran petir. Pada ruang panel hubung bagi. harus mengacu pada rekomendasi dari badan International seperti IEC. Pemeliharaan instalasi listrik harus dilaksanakan dan diperiksa setiap lima tahun serta dilaporkan secara tertulis kepada instansi yang berwenang c. IX. Instalasi penangkal petir harus disesuaikan dengan adanya perluasan atau penambahan bangunan. bagian atau peralatan dan perlengkapan bangunan yang mengalami kerusakan. Suatu instalasi penangkal petir harus dapat melindungi semua bagian dari bangunan. dipelihara. mengganggu dan merugikan lingkungan. 3. antara lain SNI-3990 tentang Tata Cara Instalasi Penangkal Petir Untuk Bangunan dan SNI-3991 tentang Tata Cara Instalasi Penyalur Petir. Pembangkit tenaga listrik darurat secara periodik harus dihidupkan untuk menjamin agar pembangkit tersebut dapat dioperasikan bila diperlukan. harus terdapat ruang yang cukup untuk memudahkan pemeriksaan. termasuk manusia yang ada di dalamnya. harus diadakan pemeriksaan dari bagian-bagiannya dan harus segera dilaksanakan perbaikan terhadap bangunan. bentuk dan penggunaannya diperhitungkan mempunyai risiko terkena sambaran petir.

Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir a diatas harus menggunakan sistem khusus. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. kedap debu. sirkulasi udara cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. c. Ruang yang bersih. Ruang batere sistem telepon harus bersih. Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. Ruang PABX dan TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan: i. harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran.50 m x 0. Instalasi Tata Suara a. Instalasi Telpon a. c. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektro magnetik. maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja. minimal berjarak 0. terang.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. ii.80m. iii. tidak ada genangan air. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak. iii. atau terdiri dari kabel tahan api. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan. ii. . Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. dan lain-lain. Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. b. Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. terang. c. 2. b. aman dan mudah dikerjakan. dan dilaksanakan berdasarkan standar. Secara berkala dilakukan pengukuran/ pengujian terhadap EMC (Electro Magnetic Campatibility). Setiap bangunan dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m keatas. 3. Dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas. Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi Persyaratan: i. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya dan dilindungi terhadap bahaya kebakaran. d. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku.b.

iii. v. Gas elpiji. 3. Jenis Gas Jenis gas medik yang dimaksud. b.2 INSTALASI GAS MEDIK 1.X. Pada instalasi gas untuk pembakaran. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. Berat jenis dari gas. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku. b. serta merupakan bagian pertimbangan keandalan bangunan. yang terdiri dari kandungan methane (CH4) dan ethane (C2He ). Gas Kota Gas kota yang dipakai umumnya berupa gas alam (natural gas). 2. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. Faktor diversifikasi (diversity factor). Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. Rancangan sistem distribusi gas pembakaran. serta mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut : i. Konsumsi gas maksimum yang perlu disediakan. Gas oxigen b. Udara tekan . Instalasi pemipaan untuk rumah dan gedung (mulai dari meter-gas)mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. Gas elpiji (LPG = Liquefied Petroleum Gasses). iv. Panjang pipa dan jumlah sambungan. terdiri dari propane (C3H8) dan Butane (C4H10). Jaringan Distribusi Gas Kota a. X.1 INSTALASI GAS PEMBAKARAN 1. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. Jenis Gas Jenis gas pembakaran yang dimaksud meliputi: a. INSTALASI GAS X. Ukuran pipa gas harus mencukupi dan dipasang untuk melayani pasokan gas dalam rangka memenuhi kebutuhan maksimum tanpa terlalu banyak kerugian tekanan antara meter-gas dan peralatan-peralatan pengguna gas. c. harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas yang secara otomatis mematikan aliran gas. adalah : a. vi. Kerugian tekanan yang diperbolehkan dari meter-gas ke peralatan ii. Gas nitrous Oxida (N2O) c.

Jaringan Distribusi Gas Medik a. b. d. seperti untuk ruang bedah orthopedi. Instalasi pemipaan untuk bangunan gedung mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. 3. c. Rancangan sistem distribusi gas medik. e. Pada instalasi gas medik harus dilengkap peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas dan dilengkapi dengan sistem isyarat tanda kebocoran gas. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. peralatan rawat gigi dan sebagainya. Vakum 2. pemilihan bahan dan kontruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. khususnya untuk instalasi pipa oksigen. Kebutuhan gas medik garus disesuaikan dengan kebutuhan untuk asien rawat inap dan kebutuhan lain. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang .d. Pada instalasi pipa gas medik harus dilengkapi dengan biofilter. pipa Nitrous Oxida dan pipa udara tekan.

petunjuk teknik. g. e. 2. maka harus dilengkapi dengan pipa sirkulasi. Pipa pembawa air panas yang cukup panjang tersebut harus dilapisi dengan bahan isolasi. SANITASI DALAM GEDUNG XI. . d. sistem air kotor dan alat plambing yang memadai. sedangkan untuk kelas bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia. f. c. Bangunan yang dilengkapi dengan sistem penyediaan air panas. sebelum digunakan harus mendapat persetujuan dari instansi yang berwenang. dan Pedoman Plambing Indonesia yang berlaku. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam operasional dan pemeliharaannya. kecuali untuk penggunaan khusus. dan apabila sumber air bukan dari PAM. b.1. serta diperhitungkan berdasarkan standar. Setiap pembangunan baru dan atau perluasan bangunan harus diperlengkapi dengan sistem plambing. Sistem Penyediaan Air Bersih a. SISTEM PLAMBING 1. alat plambing dapat bekerja dengan baik. Sistem distribusi air harus direncanakan sehingga dengan kapasitas dan tekanan air yang minimal. maka harus dipasang sistem tanki persediaan air dan pompa yang direncanakan dan ditempatkan sehingga dapat memberikan kapasitas dan tekanan yang optimal. meliputi sistem air bersih. maksimum 60° C. Perencanaan Sistem Plambing a. Sumber air bersih pada bangunan harus diperoleh dari sumber air PAM (Perusahaan Air Minum). b.XI. dimana pipa pembawa air panas dari sumber air panas ke alat plambing cukup panjang. Kebutuhan air bersih untuk perumahan berkisar antara 60-250 liter/orang/hari. tidak mengganggu lingkungan. Temperatur air panas yang keluar dari alat plambing harus diatur. Kualitas air bersih yang dialirkan ke alat plambing dan perlengkapan plambing harus memenuhi standar kualitas air minum yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. Apabila kapasitas dan atau tekanan sumber yang digunakan tidak memenuhi kapasitas dan tekanan minimal pada titik pengaturan keluar.

3. sesuai dengan petunjuk teknis dari bahan pipa yang bersangkutan dan ketentuan-ketentuan lain yang berlaku di Indonesia. i. Sistem air kotor didalam bangunan harus dilengkapi dengan pipa ven untuk menetralisir tekanan udara didalam saluran tersebut. . tembaga. baja maupun bahan lainnya yang tidak mudah rusak. Pemeliharaan sistem air kotor dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya penyumbatan. g. PE (poli-etilena).h. maka dapat menggunakan sistem perpompaan. i. serta yang mengandung radioaktif. Sistem Pembuangan Air Kotor a. karat dan kebocoran. sehingga dapat mengalirkan air kotor secara gravitasi. Sistem pengaliran air kotor direncanakan dengan menggunakan saluran tertutup dan kemiringan tertentu. c. tahan terhadap karat dan panas. d. harus ditangani secara khusus. Semua sistem pelayanan air bersih harus direncanakan. besi tuang. Bahan pipa yang digunakan dapat berupa PVC. tidak mengandung bahan beracun dan pemasangannya harus sesuai dengan petunjuk teknis bahan pipa yang bersangkutan. Pemilihan bahan dan pemasangan saluran harus disesuaikan dengan penggunaannya dan sifat cairan yang akan dialirkan. PE. beton. e. b. tanah liat. Semua air kotor harus diolah sebelum dibuang ke saluran air kotor umum kota atau disalurkan ke bangunan pengolahan air kotor komunal bila tersedia. j. baik dari bahan PVC. Saluran air kotor dapat benupa pipa atau saluran lainnya. kakus maupun kegiatan lainnya. dipasang dan dipelihara sedemikian rupa sehingga tidak mudah rusak dan tidak terkontaminasi dari bahan yang dapat memperburuk kualitas air bersih. f. Diameter pipa sambungan pelanggan dari jaringan pipa distribusi kota harus disesuaikan dengan kelas bangunan. Pada dasarnya air kotor berasal dari aktivitas manusia. mampu menahan tekanan sekurang-kurangnya 2 kali tekanan kerja. besi lapis galvanis atau Tembaga. baik tempat mandi cuci. Air kotor yang mengandung bahan buangan berbahaya dan beracun. sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia. Penentuan diameter saluran dibuat seekonomis mungkin sesuai dengan kapasitas dan bahan buangan yang akan dialirkan. Apabila cara gravitasi ini tidak dapat dilaksanakan. h.

harus dilakukan secara berkala untuk menjamin kebersihan dan bekerjanya alat tersebut dengan baik. Pipa pembuangan dari alat plambing yang digunakan untuk menyimpan atau mengolah makanan. bahan tersebut tidak boleh memperburuk kualitas air bersih. c. 5. e. harus dilengkapi dengan celah udara yang cukup untuk mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi. . pipa penguras dan pipa ven. d. Peralatan plambing yang mengalirkan air bersih ke tempat-tempat yang dapat menimbulkan pencemaran. Konstnuksi dan bahan tanki penyediaan air bersih harus cukup kuat dan tidak mudah rusak. harus dilengkapi dengan alat pencegah kontaminasi. perlengkapan bangunan. g. penanggulangan kebakaran dan pengaturan tekanan air. b. Alat Plambing a. harus dilengkapi dengan alat perangkap minyak dan lemak. f. Pemeliharaan semua alat plambing. minuman bahan steril atau bahan sejenis lainnya. Bahan alat plambing harus mempunyai permukaan yang halus dan rapat air. d. Pada pipa penyaluran air kotor dari alat plambing yang mungkin menerima buangan mengandung minyak atau lemak. e. Tangki penyediaan air bersih harus diiengkapi dengan sistem perpipaan dan perlengkapannya yang terdiri dari pipa masuk dan pipa keluar. Fungsi tangki penyediaan air bersih adalah untuk menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan penghuni. babas dari kerusakan dan tidak mempunyai bagian kotor yang tersembunyi. c. tidak mengganggu struktur bangunan dan memberikan kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan. kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni bangunan.4. Tangki Penyediaan Air Bersih a. tahan lama untuk digunakan. Bahan tangki dapat berupa beton. seperti katup penahan aliran balik dan katup pencegah atau pemutus vakum. pipa peluap. Jumlah dan jenis alat plambing serta perlengkapannya harus disediakan sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. baja. Tangki penyediaan air bersih harus direncanakan dan dipasang untuk penyediakan air dengan kuantitas dan tekanan yang cukup. b. fiberglass dan kayu. Apabila tangki penyediaan air bersih menggunakan bahan lapisan untuk mencegah kebocoran dan karat. serta dilengkapi dengan 1ubang pemeriksa. Semua alat plambing harus direncanakan dan dipasang sehingga memenuhi aspek kebersihan.

c. pipa isap dan pipa keluaran pompa. XI. SALURAN AIR HUJAN. 1. c. c. Apabila saluran dibuat tertutup. yang tanki kotor kotor b. Pemasangan pompa harus dilengkapi peralatan peredam getaran yang dipasang pada dudukan pompa. Kemiringan saluran harus dibuat. Persyaratan Saluran a. lubang pemeriksa harus dibuat dengan jarak tiap 25-100 m. Air hujan harus dialirkan ke sumur resapan dan atau dialirkan ke jaringan air hujan umum kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. maka harus dilakukan cara-cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang 2. Kelengkapan pada Bangunan a. dan pada saluran yang lurus. d. maka pada tiap perubahan arah aliran harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa. b Saluran air hujan dapat merupakan saluran terbuka dan atau saluran tertutup. sehingga dapat mengalirkan seluruh air hujan dengan baik agar bebas dari genangan air.6. dan bila tidak dapat dilakukan dengan cara gravitasi. Fungsi pompa air bersih adalah memberikan kapasitas dan tekanan cukup pada sistem penyediaan air bersih atau menyalurkan air ke penyediaan air bersih. Setiap bangunan dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem saluran air hujan. Pompa a. Fungsi pompa air kotor adalah menyalurkan air ke saluran air kotor umum Kota atau ke bangunan pengolahan air lainnya. Pompa harus dipasang pada lokasi yang mudah untuk pengoperasian dan pemeliharaannya. disesuaikan dengan diameter saluran tersebut dan standar yang berlaku. maka dapat menggunakan sistem perpompaan. b. . Pompa harus dilengkapi dengan alat pengukur tekanan dan katup pencegah aliran balik pada pipa keluaran dan ujung pipa isap pompa.2 Pemilihan jenis pompa dan motor pompa disesuaikan dengan karakteristik pompa yang dibutuhkan dan mempunyai effsiensi yang maksimal. e. Bila belum tersedia jaringan umum kota ataupun sebab-sebab lain yang dapat diterima.

besi dan baja. seng. Penempatan pada Bangunan Setiap bangunan baru dan atau perluasan bangunan harus dilengkapi dengan fasilitas pewadahan dan atau penampungan sampah sementara yang memadai. atau Pengelola Pengangkutan Sampah. Sampah Berbahaya Untuk sampah padat yang dikatagorikan sebagai jenis buangan berbahaya dan beracun (sampah B3). dan pasangan bata atau beton. Kapasitas pewadahan sampah atau tempat penampungan sementara harus dihitung berdasarkan jenis bangunan dan jumlah penghuninya. Bentuk pewadahan sampah harus disesuaikan untuk kemudahan pengangkutan sampah oleh Dinas Kebersihan Kota. pasangan. masyarakat dan lingkungan sekitarnya. fiberglass. Bahan saluran dapat berupa PVC. beton. Bahan tersebut dapat berupa kantong plastik. mempunyai tutup dan mudah diangkut. 3. 3. sesuai dengan ketentuan yang berlaku. c. 2. tidak mudah rusak. peti kemas fiberglass. . b. Pemeliharaan Pemeliharaan sistem air hujan harus dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran.3 PERSAMPAHAN 1. tanah liat. sehingga tidak mengganggu kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni.d. XI. Pewadahan a. Khusus untuk bahan seng. besi dan baja harus dilapisi dengan lapisan tahan karat. Tempat pewadahan sampah harus terbuat dari bahan kedap air. peti kemas baja. penempatan dan pembuangannya harus ditangani secara khusus sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Ventilasi alami sesuai dengan butir XII. Penerapan ventilasi alami. (3) ruangan bersebelahan yang dimaksud dalam butir b di bawah ini. pelataran parkir. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 10% luas lantai kedua ruangan tersebut. bukaan. . Bangunan klas 2. Ventilasi Dari Ruangan Yang Bersebelahan Ventilasi alami pada suatu ruangan dapat berasal dari jendela.XII. VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. dan: i. 7. dan hunian tunggal pada bangunan klas 3. 2. Bangunan kelas 5. (2) ruangan bersebelahan yang mempunyai jendela. Kebutahan Ventilasi Setiap bangunan harus mempunyai: a. bukaan pintu ventilasi. pintu atau sarana lain yang dapat dibuka i.1. b. 8 atau 9. (2) teras terbuka. 6. ii. (1) ruang yang di ventilasi bukan kompartemen sanitasi. (3) ruangan bersebelahan dengan jendela.2 di bawah ini atau b.6 m diatas lantai.1 VENTILASI 1. pintu atau sarana bukaan lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 10% dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. bukaan. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang diventilasi. (3) Luas ventilasi yang diatur pada butir (1 ) dan (2) dapat direduksi secukupnya jika tersedia ventilasi alami langsung dari sumber lainnya. jendela. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai lantai kedua ruangan tersebut. Ventilasi mekanis yang memenuhi ketentuan yang berlaku. (2) jendela. atau daerah yang terbuka ke atas. dengan jumlah bukaan berukuran tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang dibutuhkan untuk di ventilasi. Ventilasi Alami a. bukaan. dan yang sejenis. bukaan. dengan jarak tidak lebih dari 3. (1) jendela. ii ke arah. (1) halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai. Ventilasi alami harus terdiri dari bukaan permanen. atau sarana lainnya dari ruangan yang bersebelahan (termasuk teras tertutup) jika kedua ruangan tersebut berada dalam satuan hunian yang sama atau mempunyai teras tertutup yang menjadi satu.

jika berada dibawah lantai dasar. ruang yang digunakan sebagai tempat berkumpul (yang tidak berbentuk pusat penitipan anak. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan udara mekanis. atau (2) total daya masukan gas lebih dari 29 MJ/jam. 7.c. ii. 6. ii. pada bangunan Kelas 5. dan pintu ke ruangan tersebut harus terhalang dari penglihatan. f. 8 atau 9 (yang bukan merupakan pusat penitipan anak. asrama pada bangunan Kelas 3. kecuali pelataran parkir terbuka harus mempunyai: i.1 m2 dan pada setiap pintu jalan masuk harus dipasang alat penutup pintu otomatis. . harus mempunyai jarak melintang yang cukup untuk ventilasi antara bagian bawah permukaan lantai dasar dengan permukaan tanah/ halaman. (1) jalan masuk harus melalui suatu dinding terkurung. sistem ventilasi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Batasan untuk posisi kakus dan peturasan. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan mekanis. koridor atau ruang lainnya dengan luas tidak kurang dari 1. atau iii. d. harus mempunyai penutup yang kedap air diatas muka tanah/halaman dibawah lantai dasar. Pembuangan udara dari dapur Pada dapur komersial harus tersedia tudung pembuangan gas dapur yang memenuhi ketentuan yang berlaku. Ventilasi ruangan dibawah lantai dasar Lantai paling bawah suatu bangunan: i. iv. v. jika: i. koridor atau ruang lainnya. sekolah TK atau panggung terbuka). Dalam hunian tunggal pada bangunan kelas 2 atau 3 atau bagian bangunan kelas 4. g. iii. Ruang kakus atau peturasan tidak boleh terbuka langsung ke arah: i. sistem ventilasi alami permanen yang memadai. e. (1) jalan masuk harus melalui ruang antara. sekolah TK atau panggung terbuka). ii ruang makan umum atau restoran. setiap peralatan masak yang mempunyai: (1) total daya masukan listrik maksimum lebih dari 8 kW. harus mempunyai konstruksi lantai yang sesuai. ruang kerja yang umumnya digunakan oleh lebih dari satu orang. atau ii. dapur atau pantry. Ruang antara Jika ruang kakus atau peturasan yang dilarang menurut butir c di atas terbuka langsung terhadap ruang lainnya: i. Gedung Parkir Setiap lantai gedung parkir.

Rancangan sistem pengkondisian udara harus dikembangkan sehingga penggunaan energi yang optimal dapat diperoleh. e. pemilihan peralatan. toko. Karakteristik beban bangunan harus dianalisa sehingga memungkinkan sistem dan peralatan dengan ukuran yang tepat serta dipilih untuk memperoleh efisiensi yang baik pada beban penuh atau beban paruh. total daya masukan maksimum per m2 luas lantai ruangan yang mempunyai lebih dari satu alat masak. rumah sakit. Besamya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruang dalam bangunan harus sesuai standar yang berlaku.60 meter diatas lantai.8 MJ/jam untuk daya gas. d. b. Bilamana digunakan ventilasi buatan. 3. atau (2) 1. dan setiap ruang lainnya bila diperlukan dapat mempunyai sistem pengkondisian udara yang memenuhi ketentuan yang berlaku.ii. PENGKONDISIAN UDARA 1. Pengkondisian udara harus memperhatikan upaya konservasi energi minimal seperti dinyatakan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. serta biaya awal dan biaya umur pemakaian energi. dan standar teknis lain yang berlaku. Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara secara maksimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar. kantor. Prosedur Perhitungan beban pendinginan harus mengikuti prosedur sesuai yang ditunjukkan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. . Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan a.2 2. atau sebaliknya. termasuk dengan memperhitungkan pemakaian energi per tahunnya. lebih dari: (1) 0. c.5 kW untuk daya listrik. Sistem Ventilasi buatan harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi syarat tidak memadai. b. Ventilasi buatan a. c. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistem ventilasi buatan untuk membuang udara kotor dari dalam. XII. dan minimal 2/3 volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0. f. 3. Kebutuhan Pengkondisian Udara Setiap bangunan seperti untuk hunian. Ruang parkir pada ruang bawah tanah (basement) yang terdiri dari lebih satu lantai. sistem tersebut harus bekerja terus menerus selama ruang tersebut dihuni. Konservasi Energi a. gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya. pabrik.

isolasi pemipaan. ii. iii. (1) Penetapan sistem dan peralatan pengkondisian udara (Sistem Fan. Penetapan sistem dan peralatan. dibuat dan dipasang sesuai ketentuan yang berlaku. isolasi sistem distribusi udara) mengacu pada SK SNI yang berlaku. Kondisi Luar Bangunan Kondisi rancangan udara luar bangunan mengacu pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. tidak dibenarkan mempergunakan sistem sirkulasi udara yang dapat menyebabkan penularan penyakit ke bagian lain bangunan. .b. . Kondisi Dalam Bangunan Kondisi dalam bangunan yang memerlukan pengkondisian udara harus dirancang sesuai penggunaannya. atau standar internasional lain yang diakui oleh instansi yang berwenang. ruang steril dan ruang perawatan bagi pasien yang berpenyakit menular. sistem kontrol. (2) Semua saluran udara harus direncanakan. Dasar perancangan i. sistem pompa dan pemipaan. (3) Sistem pengkondisian udara pada bangunan klas 8a untuk ruang operasi. sistem distribusi udara.

meliputi: a. museum dan monumen. pencahayaan khusus laboratorium. klub malam. Tingkat Iluminasi Tingkat iluminasi disarankan seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung XIII. j. tempat bongkar muat barang. sehingga diperoleh konsumsi energi yang masih dapat dipertanggung jawabkan. seperti: i.00 malam sampai jam 06. penyiaran televisi. iii. termasuk daerah di udara terbuka dimana pencahayaan dibutuhkan dan disambungkan dengan listrik bangunan. b. pintu masuk ii. dan diskotek dimana pencahayaan merupakan bagian penting untuk menghasilkan knalitas tampilan. k. . taman dan daerah bagian luar lainnya. 2. f. 1.XIII. dsb. fasilitas pencahayaan untuk display di muka atau jendela toko. 1. seperti proses produksi dan penyimpanan. e. n.2 2.00 pagi. pencahayaan luar untuk monumen publik. Kamar. PENCAHAYAAN XIII. Kamar. presentasi audio visual dan bagian-bagian lain dan fasilitas pertunjukan seperti panggung di hotel. gallery. ruangan didalam bangunan b. jalan. ruangan dan daerah yang dicakup oleh bagian ini meliputi: a. c. Energi Yang Dikonsumsi Energi yang dikonsumsi untuk pencahayaan buatan mempunyai pengaruh besar pada peningkatan beban listrik dan beban pendinginan bangunan. pencahayaan untuk rambu-rambu. daerah luar bangunan. pintu ketuar. pencahayaan darurat yang secara otomatis mati. efektif dan sesuai dengan kebutuhan ruangan. ruangan. reflektor khusus untuk medis dan perawatan gigi. pencahayaan untuk pembuatan film. Sistem pencahayaan buatan harus dipilih secara fleksibel. pencahayaan untuk pameran seni. PENCAHAYAAN BUATAN. i. kegiatan diluar bangunan.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN 1. daerah yang mempunyai risiko keamanan tinggi dan diperlukan tambahan pencahayaan untuk keamanan manusia. g. pencahayaan didalam bangunan yang digunakan dari jam 22. m. ruang kelas yang direncanakan untuk kebutuhan khusus. selama operasi normal. pencahayaan di unit pengeboran. fasilitas luar untuk olahraga. c. daerah dan peralatan yang tidak termasuk bagian ini. d.

Daya Maksimum Yang Diijinkan Beban pencahayaan total untuk ruang dalam bangunan disarankan tidak melebihi nilai maksimum seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Untuk fasilitas banyak bangunan. Pemanfaatan pencahayaan alami Pemanfaatan pencahayaan alami yang optimal pada bangunan karena merupakan cara yang sangat penting untuk mengurangi beban energi bangunan. Kebanyakan reflektor yang efisien untuk lampu fluorecent adalah dari jenis mirror reflector atau prismatic. Jika perlu. Perencanaan pencahayaan alami Pertimbangan perencanaan pencahayaan alami pada bangunan: a. Pengendalian silau pada bangunan. obyek luar. Penentuan besanya iluminasi Penentuan besarnya iluminasi mengikuti ketentuan teknis SNI-2396 tentang Penerangan Alami Siang hari untuk Rumah dan Gedung. Konsumsi Energi Konsumsi energi pencahayaan buatan dapat diminimalkan dengan mengurangi daya terpasang dan waktu pemakaian. a. jenis reflektor yang efisien.3 PENCAHAYAAN ALAMI 1. Daya terpasang dapat diminimalkan dengan penggunaan lampu.3. Kaca mengurangi kemampuan tahan panas dari dinding. b. balas. c. langit yang cerah. mempunysi karakteristik distribusi pencahayaan sesuai kebutuhan dan tidak menghasilkan ketidak nyamanan karena silau atau pantulan. kemampuan tahan panas dari kaca ditingkatkan dengan penggunaan tirai matahari dan atau kaca ganda. dan reflaktor yang efisien. b. 4. baik dari sumber sinar matahari langsung. 6. 3. Penggunaan sakelar otomatis atau sistem pengendali lainnya agar tingkat pencahayaan buatan dalam bangunan dapat diatur. Daya pencahayaan buatan di luar bangunan. Daerah efisasi dari lampu yang ada ditunjukkan pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Reflektor untuk lampu High Intensity Discharge (HID) menggunakan reflektor aluminium anodized berkualitas tinggi. XIII. 2. Perencanaan Sistem Pencahayaan Perencanaan sistem pencahayaan adalah dengan monggunakan sumber pencahayaan yang tepat. Daya pencahayaan buatan untuk bagian luar bangunan sebaiknya tidak melebihi nilai seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. 7. . Penggunaan Lampu Penggunaan lampu sesuai kebutuhan dan mempertimbangkan upaya konservasi energi pada bangunan gedung. 5. kebutuhan daya pencahayaan luar bangunan terutama adalah untuk pencahayaan buatan diantara bangunan tersebut. maupun dari pantulan kaca dan sebagainya.

harus dilengkapi dengan pengendali manual. 1. . e. hotel dan rumah sakit. Pengendali yang diprogram. kecuali yang diperlukan untak pencahayaan darurat atau pencahayaan lampu “KELUAR”. Pengendali yang memerlukan operator yang terlatih. Semua ruangan yang tertutup dengan dinding bata atau partisi yang sampai ke plafond harus dilengkapi dengan satu pengendali pencahayaan manual untuk setiap kamar. c. d. pertokoan. e. f.4 PENGENDALIAAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN. Kamar tamu hotel harus mempunyai sakelar utama didekat pintu yang mematikan semua lampu dan stop kontak. Minimal satu sakelar dengan tanda khusus untuk melayani 1100 Watt yang disambungkan ke beban listrik. Pengendali haruss digunakan sehingga bekerja pada baris pencahayaan yang paralel dengan dinding luar bangunan. kecuali untuk hal-hal lain jika diperlukan. Pencahayaan bagian luar tidak diperuntukkan beroperasi 24 jam terus menerus. kecuali: a. Pengendali untuk keamanan bahaya dan keselamatan.XIII. Sakelar pengendali dengan beban yang sama yang tedetak di lebih satu lokasi harus dinilai sebagai penambahan jumlah pengendali untuk memenuhi kebutuhan butir 1 di atas. Semua pengendali pencahayaan harus ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/dibaca untuk orang yang berada atau menggunakan ruang tersebut. b. otomatis atau yang terprogram. gudang dan koridor yang dibawah pengendalian terpusat). Pengendali otomatis. dan harus secara manual atau otomatis dimatikan (misalnya dengan pembatas waktu atau photocell). b. Apabila dimungkinkan adanya pencahayaan alami. pengendali manual lokal atau pengendali otomatis seperti sakelar yang dilengkapi dengan photoelectric atau dimmer otomatis sebaiknya digunakan di ruangan yang diterangi dengan pencahayaan alami. d. Minimal satu sakelar harus dipasang untuk setiap group yang melayani luasan 30 m atau kurang. 2. Semua sistem pencahayaan. Letak pengendali harus mudah dicapai. pasar swalayan. Pengendali dipusatkan di lokasi yang berjarak jauh (seperti ruangan lobi dari kantor. c. Pengendali pencahayaan harus dilengkapi sebagai berikut: a.

XIV. KEBISINGAN DAN GETARAN
XIV. 1. KEBISINGAN 1. Baku Tingkat Kebisingan a. Salah satu dampak dari usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat kebisingan yang dihasilkan. b. Baku tingkat kebisingan untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti ketentuan dalam standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat kebisingan lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut berlaku baku tingkat kebisingan sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2

XIV.2

GETARAN 1. Baku Tingkat Getaran a. Sala satu dampak dan usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat getaran yang dihasilkan. b. Baku tingkat getaran untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat getaran lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut, berlaku baku tingkat getaran sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2.

XV. KETENTUAN PENUTUP

XV.1

Persyaratan Teknis Bangunan Gedung seperti telah diuraikan pada Bab-bab sebelumnya merupakan persyaratan pokok yang ditunjang oleh standar teknis (SNI), pedoman atau petunjuk teknis yang berlaku dan lebih rinci berkaitan dengan spesifikasi, tata cara, dan metode uji bangunan, komponen, elemen, serta berbagai aspek teknis dari bangunan gedung. Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau yang bersifat alternatif serta penyesuaian penyesuaian yang diperlukan terhadap Persyaratan Teknis Bangunan Gedung diharapkan untuk dikembangkan oleh masing-masing Daerah disesuaikan dengan kondisi, permasalahan, kebutuhan, dan kesiapan kelembagaan di setiap Daerah.

XV.2

MENTERI PEKERJAAN UMUM ttd. RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN
TABEL V.2.3 PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. KETENTUAN UMUM
PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN Untuk: 1. Tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap jalan penghubung atau ramp yang melayani: a. Setiap lantai di atas tinggi efektif 25m, atau b. lebih dari 2 lantai di bawah tanah, atau c. atrium, atau d. bangunan klas 9a yang > 2 lantai, dan 2. jalan penghubung atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dengan panjang > 60 m ke jalan umum atau ruang terbuka, harus dilengkapi dengan: 1. Sistem presurisasi otomatis, atau 2. Ramp atau balkon akses yang terbuka sesuai ketentuan butir Vl.3. BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF >25 M Klas. 2, 3, den 4. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. 2. Bila panjang koridor umum > 40 m, harus dibagi dengan interval < 40 m, dengan konstruksi sesuai ketentuan V.1.3, kecuali bahan pelapis dan bahan yang tidak mudah terbakar Klas5,6, 7,8,dan 9b (selain ruang/tempat parkir) Klas 9a 1. Harus dilengkapi dengan sistem pengendali asap terzona sesuai ketentuan yang berlaku. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis, dan 2. Sistem pengendali asap tezona sesuai ketentuan yang berlaku

KLAS/BAGIAN BANGUNAN Jalan keluar yang Diisolasi terhadap kebakaran

BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF < 25 M Klas 2, 3, den 4 1. Harus dilengkapi dengan alarm dan detekai asap otomatis, dan 2. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran den bangunan kelas 2 atau 3 juga melayani satu atau lebih lantai dengan Kas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8, atau 9b, maka: a. tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap Jalan penghubung atau ramp harus dilengkapi dengan sistem presurisasi udara otomati, atau b. Klas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8 dan 9b harus

atau b. diatas harus dipasang. Pada bangunan: 1. harus dipasang: 1. Bila bangunan >2 lantai. Bila > 2 lapis dibawah tanah harus dilengkapi sistem sprinkler. atau 9b (selain sekolah) maka pada setiap tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran. atau 9b. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan klas 4 juga melayani satu atau lebih lantai dengan klas 5. atau 2. Basement dengan luas > 200 m2 harus dilengkapi dengan: a. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. Basement dengan > 3 lapis di bawah tanah atau terdapat klas 6 atau 9b dengan jumlah penghuni/pengguna yang banyak. 2. Bila < 2 lapis di bawah tanah: i. keragaman klasifikasi bangunan atau kompartemen Klas 5. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. atau digunakan dalam bangunan d. tipe dan jumlah material khusus yang disimpan. Sistem presurisasi udara otomatis. 3. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendali asap terzona dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detekotr asap bekerja. harus dipasang: a. atau 2. Sistem pengendali asap terzona. atau 3. Sistem sesuai butir 2. fungsi khusus bangunan c. 8. atau ii. termasuk jlan penghubung dan rampnya. sistem alarm dan deteksi asap otomatis. karakter khusus bangunan b. 7 (bukan tempat parkir terbuka). atau 2. kecuali bila alarm dan detektor tersebut hanya perlu dipasang pada tiap pintu menuju tangga yang diisolasi terhadap kebakaran untuk sistem peringatan. 6.dilengkapi dengan i. 6. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. 7. Klas 6. atau b. 7. Sistem sprinkler 1. Klas 6. Sistem detektor dan alarm asap. bila basement mempunyai lebih daari satu kompartemen kebakaran. atau ii. dan 2. 8. persyaratan khusus dapat digunakan dengan pertimbangan: a. sistem sprinkler 3.a. dan 9b (selain ruang/tempat parkir Klas 9a BASEMENT (selain ruang/tempat parkir) . atau 3. atau iii. maka: a.b. bila bangunan mempunyai lebih dari satu komprtemen kebakaran. dipajang. 7. 8. 8. Sistem sprinkler. atau 4. Klas 5 atau 9b (sekolah) dan b. atau 9b (selain sekolah) dengan ketinggian > 2 lantai. Dengan ketinggian > 2 lantai dan terdiri atas: a. Sistem pengendali asap terzona. Sistem pengendali asap terzona. atau b. Sistem sprinkler 1. Klas 5 atau 9b (sekolah) dengan ketinggian > 3 lantai.

harus dilengkapi dengan: a. 1. dan b. termasuk ruang parkir dibawah tanah. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1. Bangunan satu lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. Bangunan Pertemuan .500 m2. bangunan 1 lantai. sistem pembuangan asap otomatis. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran > 3. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1.000 m2. luas lantai < 2.000m2 yang membuka ke arah selasar terlindung. dipasang sistem sprinkler 2. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran < 3. atau lubang-lubang Klas 6. Kompartemen Kebakaran > 2. Kompartemen kebakaran > 2.000 m2. atau c. sistem pembuangan asap otomaatis. toko dengan luas > 1. dan sejenis. harus dilengkapi dengan: a. sistem pembuangan asap otomatis. atau b. bila: a.000m2. atau 2.Ruang/tempat parkir Atrium kebakaran Ruang/tempat parkir.000 m2. dipasang sistem sprinkler 3. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. dan toko (selain pada ketentuan 3 ) yang tidak membuka ke arah selasar terlindung. Setiap kompartemen kebakaran. sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomaatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. bila bangunan 1 lantai. Bangunan klab malam. dan 2. tidak terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. dan b. atau b. sistem peringatan kondisi darurat. dipasang sistem alarm dan detektor asap otomatis. atau ii. Kabel pengendali dan daya listrik tidak harus yang tahan api Bangunan yang memiliki atrium harus dengan kelengkapan sistem sprinkler. terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko Klas 9b. dan sistem pengendalian asap sesuai standar teknis yang berlaku 2. Bila bangunan 1 lantai. sistem deteksi alarm kebakaran. harus dilengkapi dengan: a. yang dilengkapi dengan sisitem ventilasi mekanis sesuai ketentuan: 1. dan: i. KETENTUAN KHUSUS KLAS/BAGIAN BANGUNAN Klas 6. sistem inter komunikasi darurat. Selasar terlindung. dan b. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. luas bangunan < 2. bangunan 2 lantai atau kurang. bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka 1.kecuali yang ditetapkan pada butir 2. diskotek.500 m2 dan bangunan 2 lantaai atau kurang. Jenis kipas yang harus tahan suhu tinggi. bila: a.

sistem pembuang asap otomatis.ventilasi asap dan panas otomatis pada bangunan 1 lantai. kompleks olahraga (termasuk hall olah raga. idem 1.000 m2 harus dilengkapi dengan ketentuan seperti butir 4.500m2 i. Bangunan pameran. . Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. dengan luas > 200 m2. Bangunan theater atau hall umum selain butir 3. sistem pembuang asap otomatis. Bukan pada bangunan sekolah. sistem pembuang asap otomatis. Bila luas bangunan > 3. atau ii. bila bangunaan 1 lantai 4. bilang bangunan 1 lantai 3. Setiap kompartemen kebakaran dengan luas > 2. Bila luas bangunan 2.000 m2 i. atau iii.000-3. dipasang sistem sprinkler dan i. atau sistem sprinkler 2. sistem pembuang asap otomatis. Bangunan theater atau tempaat pertemuan/hall umum: a. bila bangunan 1 lantai. diatas. Bangunan pertemuan lainnya (diluar butir 3 dan 4 diatas): a. bila bangunan 1 lantai. ruang senam. Bangunan yang dikecualikan dari ketentuan butir a diatas adalah: i. dengan luas > 300m2 atau b. atau ii. sistem pengelola udara mekanis yang bukan meru-pakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shutdown) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. bila luas lantai kompartemen kebakaran < 5. gereja. Gereja.a.500 m2. Mesjid dan tempat lainnya yang khusus hanya untuk kegiatan peribadatan. atau harus dilengkapi dengan: i. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. dan c. atau iii. harus dilengkapi dengan a. sistem sprinkler. atau sistem sprinkler. atau ii. dan b. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. digunakan sistem alarm dan detektor asap otomatis. selain pada bangunan sekolah dengan luas lantai kompartemen kebakaran > 2. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. pada bangunan sekolah. lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis.b diatas b. atau ii.000 ii.000 m2 dan tinggi bangunan 2 lantai atau kurang. dan b. gereja. 5. termasuk theater kuliah dan komplek auditorium: a. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. kolam renang dan sejenis) selain dari gedung olahraga(indoor) dengan jumlah tempat duduk > 1.

Dep. Achid Winarno Ir. MCM. Pelaksana Ir. SH Ir. Aim Abdurachim Idris. SE Ir. Hendro Moeljono Ir. PU Puslitbangkim. Sardjono Hadi Sugondo Ir. Bintek. Eko Widiatmo Ir. Setjen Dep. PU Puslitbangkim. DJCK Dit. PU Sekretaris Jenderal Dep. P. Sutikni Utoro Wibisono Setio Wibowo. IAI Ir. PU Widyaiswara Dep.. Dep. Sukartono Ir. Dep. J. MSc Ir. PU Sekretaris Ditjen Cipta Karya. IAI Ir. MSc Ir. Dep. Sidjabat Ir. Gembong Priyono. Dipl. Dep. Bitnek. Pengarah Drs. Renyansih Ny. Hari Sidharta. Binlak Wilayah Tengah . Imam S.E. MCM. Adjar Prajudi. Jacob Ruzuar. Hari Sasongko Suwarmo S. PU Staf Ahli Menteri PU V Bidang Pengembangan Jasa Konstruksi Direktur Bina Teknis . DJCK. Balitbang. PU Dit. H. PU Dit. PU Kepala Puslitbangkim. PU Dit. Bintek. Ir. DJCK. DJCK. MSc. CES Ir. Sefiawan Kanani Ir. Antonius Budiono. Setjen Dep. Binlak Wilayah Barat. DJCK. L. Dep. Eko Djuli Sasongko Ir.. PU Dit. Wiedodo Ir. DJCK. Diding Muchidin Ir. M. Eng. MSc Kelompok Kerja Ir. Roestanto Wahidi D. Tulus Rachmat S Ir. G. HR.Arch. Harlansyah Soerarso. Dep. MPA Ir. Achmad Lanti. Dipl. Ridwan Munzir Ir. J. MSc Ir. Balitbang. B. Dep.BD. Dep. Rachmadi BS. PU Puslitbangkim. Bintek. MSc Ir. DJCK Dit. Erry Saptaria Achyar. Dep. DJCK. Binlak Wilayah Timur. MSc Ir. PU Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) . Bitnek. Sri Hartinah. DJCK Bagian Hukum. MSc Ir. PU Kepala Balitbang Dep. Bambang Guritno. Dep. Dipl. PU Biro Hukum. FRAIA Ir. Suprapto. PU Dit. MCM Ir G. PU Dit. Prawoto Menteri Pekerjaan Umum Direktur Jenderal Cipta Karya. Rusdi Marzuki Ir. Balitbang. Ernawi.Sc. PU Kepala Biro Hukum. MM.TIM PENYUSUN PEDOMAN TEKNIS PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG Pembina Ir. DJCK. IAI. Sunaryo Sumadji. H. Dep. Balitbang. Dep.

MEng DR. Imam S. Eka Sediadi Rasyad Ir.MAUD DR. Sofyan Nurbambang DR. Zaenal Walidin DR. Hadi Prabowo. Ir. Chaidir AM. MSc Ir. Soedibyono Ir. Bambang Tata Samiadji. Ir. Daniel Mangindaan Ir. Bambang Budiono Ir.id . Ir.Ir. Jakarta Universitas Trisakti. MM Ir. Tulus Widiarso. MSCE Ir.March. G. Jakarta Universitas Trisakti. IAI Ir. Ing. Eko Djuli Sasongko Studio Taba '98 Direktorat Bina Teknik Direktorat Jenderal Cipta Karya. J.U. A. Hendro Moeljono Ir. Drajat Hoedayanto. Jakarta Disamping itu juga melibatkan peran aktif berbagai nara sumber di bidang tata bangunan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Ernawi. MSA. Bintang Agus Nugroho. Penyelaras Akhir Ir. Binsar Hariandja DR. IALI Ir. Ir. Jakarta 12110 Indonesia Telepon: (021) 7268203 Faks: (021) 7235223 E-med: bintekctaba@pu.go.Prasetiyo. Jl.M. Departemen P. Raden Patah l/1 Lantai 7 Wing 1 Kebayoran Baru. Ariono Suprayogi Ir. MCM. Sugeng Triyadi S. MT Ir. MT Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Ikatan Ahli Lansekap Indonesia (IALI) Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Teknik Tanah Indoensia (HATTI) Institut Teknologi Bandung Institut Teknologi Bandung Universitas Trisakti.