KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 441/KPTS/1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG MENTERI PEKERJAAN

UMUM,

Menimbang

:

a.

bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah di bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah, urusan penyelenggaraan bangunan gedung telah diserahkan kepada Daerah baik Daerah Tingkat I maupun Daerah Tingkat II; bahwa perkembangan penyelenggaraan bangunan gedung dewasa ini semakin kompleks sehingga perlu adanya pengaturan mengenai ketentuan teknis yang menyangkut peruntukan dan intensitas bangunan, arsitektur dan lingkungan, serta keandalan bangunan yang menjadi persyaratan pokok suatu bangunan gedung; bahwa sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987, kepada Menteri Pekerjaan Umum diberi wewenang untuk melakukan pembinaan teknis dan pengawasan teknis dalam penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah; bahwa sehubungan dengan pertimbangan pertimbangan tersebut diatas perlu mengatur persyaratan teknis bangunan gedung, dengan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah; Undang-undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun; Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Parumahan dan Permukiman; Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang; Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan di Bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah; Keputusan Presiden Rl Nomor 44 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Organisasi Departemen; Keputusan Presiden Rl Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Keputusan Rl Nomor 15 tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Departemen Sebagaimana Telah Tiga Puluh Kali Diubah Terakhir Dengan Keputusan Rl Nomor 23 Tahun 1994 Keputusan Presiden Rl Nomor 122/M Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabinet Reformasi Pembangunan;

b.

c.

d.

Mengingat

:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

8.

9.

Keputusan Menteri PU Nomor 211/KPTS/1994 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum.
MEMUTUSKAN :

Menetapkan

:

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG. BAB I KETENTUAN UMUM

TENTANG

Bagian Pertama Pengertian Pasal 1 Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada, diatas, atau di dalam tanah dan atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tampat manusia melakukan kegiatannya. 2. Penyelenggaraan bangunan gedung adalah proses kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan gedung 3. Daerah adalah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. 4. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kotamadya Daerah T'ngkat II. Bagian Kedua Maksud dan Tujuan Pasal 2 (1) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung dimaksudkan untuk mewujudkan bangunan gedung yang berkualitas sesuai dengan fungsinya. (2) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung bertujuan terselenggaranya fungsi bangunan gedung yang aman, sehat, nyaman, efisien, seimbang, serasi dan selaras dengan lingkungannya

BAB II PENGATURAN PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG

Bagian Pertama Persyaratan Teknis Pasal 3 (1) Persyaratan teknis bangunan gedung meliputi persyaratan mengenai : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. I. m. (2) Peruntukan dan Intensitas Bangunan. Arsitektur dan lingkungan. Struktur Bangunan Gedung. Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran. Sarana Jalan Masuk dan Keluar. Transportasi dalam Gedung. Pencahayaan Darurat, Tanda Arah Keluar, dan Sistem Peringatan Bahaya. Instalasi Listrik Penangkal Petir, dan Komunikasi dalam Gedung Instalasi Gas. Sanitasi dalam gedung. Ventilasi dan Pengkondisian Udara Pencahayaan. Kebisingan dan Getaran.

Rincian persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini tercantum pada lampiran Keputusan Menten ini yang merupakan satu kesatuan pengaturan dalam keputusan ini Setiap orang atau badan termasuk instansi Pemerintah dalam penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung wajib memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) Pasal ini. Pasal 4

(3)

Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Kedua Pengaturan Pelaksanaan di Daerah Pasal 5 (1) Untuk pedoman pelaksanaan penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah perlu dibuat Peraturan Daerah yang didasarkan pada ketentuan-ketentuan dalam Keputusan Menteri ini. Dalam hal Daerah belum mempunyai Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini maka terhadap penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah

(2)

diberlakukan ketentuan-ketentuan Persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. (3) Daerah yang telah mempunyai Peraturan Daerah tentang persyaratan teknis bangunan gedung sebelum Keputusan Menteri ini diterbitkan harus menyesuaikannya dengan ketentuan-ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. Pasal 6 Dalam melaksanakan pembinaan pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah melakukan peningkatan kemampuan aparat Pemerintah maupun masyarakat dalam memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 untuk terwujudnya tertib pembangunan bangunan gedung. Dalam melaksanakan pengendalian pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah wajib menggunakan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 sebagai landasan dalam mengeluarkan persetujuan atau perizinan yang diperlukan. Terhadap aparat Pemerintah Daerah yang bertugas dalam pengendalian pembangunan bangunan gedung yang melakukan pelanggaran ketentuan dalam Pasal 3 dikenakan sanksi administrasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 7 (1) Penyelenggaraan bangunan gedung yang melanggar ketentuan-ketentuan Pasal 3 dan Pasal 4 Keputusan Menteri ini dikenakan sanksi administrasi yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 5. Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dikenakan sesuai dengan tingkat pelanggaran dapat berupa: a. Peringatan tertulis b. Pembatasan kegiatan c. Penghentian sementara kegiatan sampai dilakukannya pemenuhan persyaratan teknis bangunan gedung. d. Pencabutan izin yang telah dikeluarkan untok menyelenggarakan pembangunan bangunan gedung. (3) Selain sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), di dalam Peraturan Daerah dapat diatur mengenai pengenaan denda dan tindakan Pembongkaran atas terjadinya pelanggaran terhadap ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung.

(1)

(2)

(3)

(2)

BAB III PEMB1NAAN DAN PENGAWASAN TEKNIS

Pasal 8 (1) Pembinaan dan Pengawasan Teknis untuk pelaksanaan ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 58/PRT/1991 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Teknis dan Pengawasan Teknis Bidang Pekerjaan Umum kepada Dinas Pekerjaan Umum. Pelaksanaan pembinaan teknis dan pengawasan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini didasarkan pada Rencana dan program yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Cipta Karya.
BAB IV KETENTUAN PERALIHAN

(2)

Pasal 9 Dengan berlakunya Keputusan Menteri inl, maka semua ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Keputusan Menteri ini masih tetap berlaku, sampai digantikan dengan yang baru.
BAB V KETENTUAN PENUTUP

Pasal 10 (1) (2) Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Keputusan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang bersangkutan untuk diketahui dan dilaksanakan.
DITETAPKAN Dl PADA TANGGAL : JAKARTA : 10 NOPEMBER 1998

MENTERI PEKERJAAN UMUM

RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 441/KPTS/1998 TANGGAL 10 NOPEMBER 1998

DAFTAR ISI
BAGIAN I KETENTUAN UMUM I. 1 I.2 PENGERTIAN 1. Umum 2. Teknis MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud 2. Tujuan

BAGIAN II PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II.1 PERUNTUKAN, FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Peruntukan Lokasi 2. Fungsi Bangunan 3. Klasifikasi Bangunan INTENSITAS BANGUNAN 1. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan 2. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB 3. Perhitungan KDB dan KLB GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. Garis Sempadan (muka) Bangunan 2. Garis Sempadan Samping dan Belakang Bangunan 3. Pemisah di Sepanjang Halaman Depan, Samping, dan Belakang Bangunan

II.2

II.3

BAGIAN III ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III.1 ARSITEK BANGUNAN 1. Tata Letak Bangunan 2. Bentuk Bangunan 3. Tata Ruang Dalam 4. Kelengkapan Bangunan RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1. Fungsi dan Persyaratan Ruang Tebuka Hijau Pekarangan 2. Ruang Sempadan Bangunan 3. Tapak Basement 4. Hijau Pada Bangunan 5. Tata Tanaman SIRKULASI, PERTANDAAN, DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 2. Pertandaan (Signage) 3. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan

III.2

III.3

Prosedur dan Metoda IV. Sistem Pemadam Kebakaran 2. Keruntuhan Struktur DEMOLISI STUKTUR 1. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan 4. Kontruksi Baja 3. Kontruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus 5. Keselamatan Struktur 2. Kriteria Demolisi 2. Kontruksi Kayu 4. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi STRUKTUR BAWAH 1. Pengelolaan Daerah Bencana BAGIAN IV STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Pondasi Bawah KEANDALAN STRUKTUR 1.6 BAGIAN V PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V.4 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN 1. Dampak Penting 2. Persyaratan Struktur 2.3 IV. Pondasi Langsung 2.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1. Kompartemensasi dan Pemisahan 5. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan 5. Ketahanan Api dan Stabilitas 2.4 IV. Pusat Pengendali Kebakaran V. Persyaratan Bahan PEMBEBANAN STRUKTUR ATAS 1. Ketentuan UPL dan UKL 4.III.2 IV. Sistem Diteksi & Alarm Kebakaran 3.5 IV. Tipe Konstruksi Tahan Api 3.2 . Ketentuan Pengelolaan Dampak Ligkungan 3.1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. Pengendalian Asap Kebakaran 4. Proteksi Bukaan SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. Kontruksi Bangunan 2.

Jumlah Orang Yang Ditampung KONTRUKSI JALAN KELUAR 1.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. Pemisahan Tanjakan dan Turunan Tangga 5. Ramp dan Balkon Akses Yang Terbuka 6. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 12. Tangga. Pintu 19. Jarak Jalur Menuju Pintu Keluar 5. Fungsi 2. Jarak antara Pintu-pintu Keluar Alternatif 6. Tangga dan Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Ramp Pejalan Kaki 11. Keluar Melalui Pintu-pintu Keluar 11. Atap sebagai Ruang Terbuka 13. Balustrade 17. Lobby Bebas Asap 7. Rambu pada Pintu AKSES BAGI PENYANDANG CACAT VI. Dimensi/ukuran Pintu Keluar 7. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Pengoperasian Gerendel Pintu 21. Ruang Peralatan dan Ruang Motor Lift 14. Pintu Keluar Horisontal 12. Lebar Tangga 10. Injakan dan Tanjakan Tangga 14. Pegangan Rambat pada Tangga 18. Instalasi pada Pintu Keluar dan Jalan Lintasan 8. Lintasan Melalui Tangga/ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 10.4 . Bordes 15. Ramp atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan 13. Penerapan 2. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Tehadap Kebakaran 8.3 VI. Masuk dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 22.2 VI. Ambang Pintu 16.BAGIAN VI SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. Tangga Luar Bangunan 9. Perlindungan pada Ruang di Bawah Tangga dan Ramp 9. Tangga dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 3. Kebutuhan Jalan Keluar 3. Pesyaratan Kinerja KETENTUAN JALAN KELUAR 1. Persyaratan Keamanan 2. Pintu Ayun 20.

Jaringan Distribusi Listrik 3. Instalansi Tata Suara IX. Instalansi Telepon 3. Pemeriksaan dan Pengujian 4.2 BAGIAN VIII PENCAHAYAAN DARURAT. Mesin Lif dan Ruang Mesin Lif 8. Transformator Distribusi 6. Perencanaan Instalansi Listrik 2. Beban Listrik 4. Kapasitas Lif 2.3 .1 INSTALANSI LISTRIK 1. Peringatan Terhadap Pengguna Lif pada Saat Terjadi Kebakaran 4. TANDA ARAH KELUAR. Sumber Daya Listrik 5.3 1SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT TANDA ARAH KELUAR SISTEM PERINGATAN BAHAYA BAGIAN IX INSTALANSI LISTRIK. PENANGKAL PETIR.BAGIAN VII TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. Lif Kebakaran 3. Perencanaan Penangkal Petir 2.2 VIII.2 IX.1 LIF 1. Pemeliharaan INSTALANSI PENANGKAL PETIR 1. Pemerikasaan dan Pengujian 7. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. Pengujian dan Pemeliharaan TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN VII. Saf Lif 7. Pemeriksaan. Lif untuk Rumah Sakit 5. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung 2. Pemeliharaan INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 1. Instalansi Penangkal Petir 3.1 VIII. Instalasi Listrik 9. Sangkar Lif 6. SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII.

Jaringan Distribusi Gas Medik 3. Penempatan pada Bangunan 2. Sistem Penyediaan Air Bersih 3.2 XIII. Jenis Gas 2. Pewadahan 3. Jenis Gas 2. Ventilasi Buatan PENGKONDISIAN UDARA 1.2 BAGIAN XI SANITASI DALAM GEDUNG XI. Kebutuhan Ventilasi 2. BAGIAN XII VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII.1 INSTALANSI GAS PEMBAKARAN 1. Pemeriksaan dan Pengujian INSTALANSI GAS MEDIK 1. Jaringan Distribusi Gas Kota 3. Sistem Pembuangan Air Kotor 4. Sampah Berbahaya XI. Konservaasi Energi 3. Perencanaan Sistem Plumbing 2.3 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN PENCAHAYAAN BUATAN PENCAHAYAAN ALAMI .BAGIAN X INSTALANSI GAS X.1 VENTILASI 1. Pemeriksaan dan Pengujian X.2 BAGIAN XIII PENCAHAYAAN XIII. Ventilasi Alami 3.1 XIII. Tangki Penyediaan Air Bersih 6. 1 SISTEM PLAMBING 1. Pompa Air Bersih PERSAMPAHAN 1. Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan XII. Alat Plambing 5. Kebutuhan Pengkondisian Udara 2.

1 XIV.4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN BAGIAN XIV KEBISINGAN DAN GETARAN XIV.XIII.2 KEBISINGAN GETARAN BAGIAN XV PENUTUP LAMPIRAN .

b. termasuk setiap ruang yang berbatasan/ berdekatan tetapi tidak terpisahkan oleh pembatas. Teknis a. Atrium adalah suatu ruang dalam suatu bangunan yang menghubungkan 2 atau lebih tingka/lantai. olah raga. Umum Dalam pedoman teknis ini yang dimaksud dengan: a. seluruh atau sebagian ruangnya tertutup pada bagian atasnya oleh lantai atau atap. lorong ramp. pendidikan. bersosial-budaya. dan melaksanakan kegiatan yang bersifat publik lainnya. b. di mana: i. ii. Bangunan turutan adalah bangunan sebagai tambahan atau pengembangan dari bangunan yang sudah ada. e. dan kegiatan lainnya. Dinas Bangunan adalah salah satu Dinas Teknis di Daerah yang diantaranya mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pengaturan. KETENTUAN UMUM 1. PENGERTIAN 1. kakus dan peralatan-peralatan pembuangan lainnya. kamar mandi. iii. tidak termasuk lorong tangga. atau ruang dalam shaft. atau Gubernur untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Pengawas/Penilik Bangunan adalah pejabat atau tenaga teknis profesional yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah atau ketentuan yang berlaku untuk bertugas mengawasi/menilik bangunan gedung. 2. seperti keagamaan. di atas. Kepala Daerah adalah Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. dan pengendalian pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung yang berada di Daerah yang bersangkutan. berusaha. pembinaan. atau di daiam tanah dan/atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tempat manusia untuk melakukan kegiatan bertempat tinggal. Bangunan umum adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat manusia berkumpul. rekreasi. termasuk struktur atap kaca. d.I. Air kotor adalah semua air yang bercampur dengan kotoran-kotoran dapur. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada. mengadakan pertemuan. c. c. dsb. perbelanjaan. Daerah adalah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II atau Daerah Khusus Ibukota Jakarta. . d.

ii. d. Baku tingkat Kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dituang kelingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. atau iv. Garis sempadan loteng adaiah garis yang terhitung dan tepi jalan berbatasan yang tidak diperkenankan didirikan tingkat bangunan. Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan manusia. Getaran adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. Batas tepi sungai/pantai. iii. Baku Tingkat Getaran mekanik dan getaran kejut adalah batas maksimal tingkat getaran mekanik yang diperbolehkan dan usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan. Batas lahan yang dikuasai. Dinding Luar Non-struktural adalah suatu dinding luar yang tidak memikul beban dan bukan merupakan dinding panel. k. g. jaringan pipa gas dan sebagainya. jaringan tegangan tinggi listrik. Garis Sempadan Bangunan merupakan jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap: i. yang selanjutnya disebut DHB adalah ruang terbuka pada bangunan yang dimanfaatkan untuk penghijauan. Daerah Hijau Bangunan.f. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia. i. Dinding Luar adalah suatu dinding bangunan terluar yang bukan merupakan dinding pembatas. Getaran kejut adalah getaran yang berlangsung secara tiba-tiba dan sesaat. Garis sempadan pagar adalah garis bagian luar dari pagar persil atau pagar pekarangan. g. . Demolisi adalah kegiatan merobohkan atau membongkar bangunan secara total. Bangunan Induk adalah bangunan yang mempunyai fungsi dominan dalam suatu persil. h. Antar massa bangunan lainnya. c. b. h. Rencana saluran. e. f. a. j. Dinding Pembatas adalah dinding yang menjadi pembatas antara bangunan. l.

v. selain kamar untuk MCK dan dapur. s. Jaringan saluran umum kota adalah jaringan sarana dan prasarana saluran umum perkotaan. memperbaiki. t. Kamar adalah ruangan yang tertutup seluruhnya atau sebagian. Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Lubang Atrium adalah ruang dari suatu atrium yang dikelilingi oleh batas pinggir bukaan lantai atau oleh batas pinggir lantai dan dinding luar. serta pedoman pengendalian pelaksanaan yang umumnya meliputi suatu lingkungan/kawasan (urban design and development guidelines). u. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah pedoman rencana teknik. Jaringan persil adalah jaringan sanitasi dan jaringan drainasi dalam persil. y.w. Koefisien Tapak Basement (KTB) adalah angka prosentasi perbandingan luas tapak basement dengan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Jarak antara bangunan adalah jarak terkecil antara bangunan yang diukur antara permukaan-permukaan denah bangunan. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah koefisien perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. Mendirikan Bangunan i. seperti jaringan sanitasi dan jaringan drainasi. Mendirikan. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka prosentase perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan yang diperuntukkan bagi pertamanan/ penghijauan dengan luas tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. x. q. o. Pekarangan adalah bagian yang kosong dari suatu persil/ kaveling/blok peruntukan bangunan. Melakukan pekerjaan tanah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan yang dimaksud pada butir 2. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. n. untuk tempat kegiatan manusia. ii. mengubah atau membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu bangunan.m. p. r. memperluas. w.i. program tata bangunan dan lingkungan. .

Tujuan. termasuk dalam rangka proses perijinan pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan. Sambungan jaringan adalah penghubung antara sesuatu jaringan persil dengan jaringan saluran umum kota. Rumah adalah bangunan yang terdiri atas ruangan atau gabungan ruangan yang borhubungan satu sama lain. Tujuan Pedoman Teknis ini bertujuan untuk dapat terwujudnya bangunan gedung sesuai fungsi yang ditetapkan dan yang memenuhi persyaratan teknis. arsitektur dan lingkungan.1. dan insulasi. ruang ganti. Maksud Persyaratan Teknis Bangunan Gedung ini dimaksudkan sebagai acuan persyaratan teknis yang diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan bangunan gedung di Indonesia. yaitu meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan. Tinghat Ketahanan Api (TKA). peralatan. I. cc. integritas. ee. Contoh: TKA 90/-/60 berarti hanya terdapat persyaratan TKA untuk ketahanan struktural 90 menit dan insulasi 60 menit. dan berbatasan ke suatu panggung pada bangunan klas 9b yang dipergunakan untuk barang-barang dekorasi panggung.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1. yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. aa. dengan kriteria-kriteria berurut yaitu aspek ketahanan struktural. Peruntukan dan Intensitas: i. atau sejenisnya. dd.z. bb. ii. adalah tingkat ketahanan api yang dipersyaratakan pada bagian atau komponen bangunan sesuai ketentuan butir V. Tinggi bangunan adalah jarak antara garis potong permukaan atap dengan muka bangunan bagian luar dan permukaan lantai denah bawah. . 2. menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. serta keandalan bangunan. menjamin bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di Daerah yang bersangkutan. serta pemeriksaan kelaikan fungsi/keandalan bangunan gedung.2 dalam ukuran waktu satuan menit. Ruang persiapan adalah ruang yang berhubungan dengan. Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang akan dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat dB. Adapun tujuan dari pengaturan per-bagian adalah: a.

b. Ketahanan terhadap Kebakaran: i.iii. masyarakat. iv. d. menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan. dan budaya daerah. c. menjamin keselamatan pengguna. serasi dan selaras dengan lingkungannya. menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari cedera atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat . menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia. Sarana Jalan Masuk dan Keluar: i. menjamin perlindungan properti lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh kegagalan struktur. (3) dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. iii. ii. ketentuan wujud bangunan. (2) cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa sehinga mampu secara struktural stabil selama kebakaran. ii. e. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan. menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. ii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang layak. ii. sehingga seimbang. menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan oleh perilaku struktur. Arsitektur dan Lingkungan: i. dan lingkungan. aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamnya. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia pada saat terjadi kebakaran. Strukfur Bangunan: i. sehingga: (1) cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman. iii.

menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari bahaya akibat petir. Sanitasi dalam Bangunan: i. menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat. iii menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik. ii. menjamin tersedianya alat transportasi yang layak. f. menjamin tersedianya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. dan nyaman di dalam bangunan gedung. i. ii. menjamin tersedianya aksesibiltas bagi penyandang cacat khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. g. . Tanda arah Keluar. kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan. aman. h. menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam bangunan gedung apabila terjadi keadaan darurat. apabila terjadi keadaan darurat. menjamin terpenuhinya pemakaian gas yang aman dan cukup. dan Sistem Peringatan Bahaya: i. Instalasi Gas: i. menjamin tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. iii. Pencahayean Darurat. j. ii.iii. menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. ii. menjamin terwujudnya kebersihan. menjamin terpasangnya instalasi gas secara aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan secara baik. iii. Penangkal Petir dan Komunikasi: i. ii. Transportasl dalam Gedung: i. menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman. khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. Instalasi Listrik.

l. Kebisingan dan Getaran: i. ii. ii. menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran yang tidak diinginkan. . menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup. menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau mencegah perusakan lingkungan. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik. m. menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup. ii.k Ventilasi dan Pengkondisian Udara: i. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. Pencahayaan: i. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik.

f. Peraturan bangunan setempat dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). Apabila persetujuan yang telah diberikan terdapat ketidak sesuaian dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan kemudian. seperti kepadatan bangunan. Setiap pihak yang memerlukan keterangan atau ketentuan tata ruang dan tata bangunan dapat memperolehnya secara terbuka melalui Dinas Bangunan. maka Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan gedung dengan pertimbangan: i. RRTR. Keterangan atau ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir d meliputi keterangan tentang peruntukan lokasi dan intensitas bangunan. dengan tetap mengadakan peninjauan seperlunya terhadap rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada di Daerah. Ketentuan tata ruang dan tata bangunan ditetapkan melalui: i. . Bangunan gedung harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam ketentuan tata ruang dan tata bangunan dari lokasi yang bersangkutan. merupakan peruntukan utama. Kepala Daerah segera menyusun dan menetapkan RRTR. ii. peraturan bangunan setempat dan RTBL berdasarkan rencana tata ruang yang lebih makro. FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Persetujuan membangun tersebut berstfat sementara sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan tata ruang yang lebih makro. b.I. e. dan garis sempadan bangunan. d. ketinggian bangunan. Kepala Daerah dapat memberikan pertimbangan atas ketentuan yang diperlukan. Bagi Daerah yang belum memiliki RTRW. g. Rencana Rinci Tata Ruang (RRTR). sedangkan peruntukan penunjangnya sebagaimana ditetapkan di dalam ketentuan tata bangunan yang ada di Daerah setempat atau berdasarkan pertimbangan teknis Dinas Bangunan. iii. Peruntukan lokasi sebagaimana dimaksud dalam butir a. iii. PERUNTUKAN. PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Daerah. Peruntukan Lokasi a. ataupun peraturan bangunan setempat dan RTBL. Dalam hal rencana-rencana tata ruang dan tata bangunan sebagaimana dimaksud pada butir b belum ada. maka perlu c. kaidah perencanaan kota dan penataan bangunan ii.II.

tidak untuk fungsi hunian atau tempat tinggal. . tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah dan atau diatas tanah. dan fungsi indung kawasan. h. penghawaan dan pencahayaan bangunan telah memenuhi persyaratan kesehatan sesuai fungsi bangunan. ii. atau sarana lain perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. tetap memperhatikan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. Pembangunan bangunan gedung dibawah tanah yang melintasi sarana dan prasarana jaringan kota perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan pada daerah tersebut untuk jangka waktu sementara. tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas kendaraan. Apabila di kemudian hari terdapat penetapan RTRW Daerah yang bersangkutan. iv. tidak mengganggu keseimbangan lingkungan. Bagi Daerah yang belum memilih RTRW Daerah. ii. tidak menimbulkan perubahan atau arus air yang dapat merusak lingkungan. v. ii. Pembangunan bangunan gedung dibawah atau diatas air perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah tanah. iii. iii.diadakan penyesuaian dengan resiko ditanggung oleh pemohon/pemilik bangunan. maka bangunan tersebut harus disesuaikan dengan rencana tata ruang yang ditetapkan. iii. maupun barang. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. j. iv. orang. memiliki sarana khusus untuk kepentingan keamanan dan keselamatan bagi pengguna bangunan. Pembangunan bangunan gedung diatas jalan umum. iv. saluran. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. v. i.

2. perkantoran niaga. kenyamanan. Rumah tinggal tunggal Rumah tinggal deret Rumah tinggal susun Rumah tinggal vila Rumah tinggal asrama f. pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran. dan sejenisnya. telah mempertimbangkan faktor keamaan. kesehatan dan aksesibilitas bagi pengguna bangunan. e. dan sanitasi yang memadai. keselamatan. iii. . Fungsi bangunan dapat dikelompokkan dalam fungsi hunian. setelah mendapat pertimbangan teknis dari para ahli terkait. Penetapan fungsi dan klasifikasi bangunan yang bersifat sementara harus dengan mempertimbangkan tingkat permanensi. tidak menimbulkan pencemaran. Fungsi Bangunan a. ii. kesehatan. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. Pembangunan bangunan gedung pada daerah hantaran udara (transmisi tegangan tinggi perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai perikut: i. k. maupun dari segi keserasian bangunan terhadap lingkungannya. baik ditinjau dari segi intensitas banguanan arsitektur dan lingkungan. letak bangunan minimal 10 (sepuluh) meter diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. Bangunan perkantoran: perkantoran pemerintah. Fungsi dan klasifikasi bangunan merupakan acuan untuk persyaratan teknis bangunan gedung. iv. iii. dan fungsi khusus.iv. kenyamanan. v. d. keamanan. v. fungsi sosial dan budaya. c. Bangunan dengan fungsi hunian meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama hunian yang merupakan: i. b. keamanan. ii. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan fungsi utama bangunan. fungsi usaha. iv. letak bangunan tidak boleh melebihi atau melampaui garis sudut 45° (empat puluh lima derajat) diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. Bangunan dengan fungsi usaha meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk: i.

Dalam suatu persil. industri besar/berat. iv. dan sejenisnya. atau perubahan yang diperlukan pada bangunan. Bangunan Penyimpanan: gudang. pusat perbelanjaan. halte bus. j. rumah bersalin. sekolah dasar. Bangunan pendidikan: sekolah taman kanak-kanak. terminal udara. selain terdiri dari ruang-ruang dengan fungsi utama. keveling. Setiap bangunan gedung. dan sejenisnya. pura. Bangunan peribadatan: mesjid. pertokoan. Bangunan dengan fungsi umum.ii. terminal bus. a. i. Klas 1 : Bangunan Hunian Biasa Adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan: . penginapan. iii. gereja. serta dilengkapi pula dengan instalasi dan kelengkapan bangunan yang dapat menjamin terselenggaranya fungsi bangunan. kelenteng. juga dilengkapi dengan ruang fungsi penunjang. Klasifikasi Bangunan Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan. v. bangunan reaktor. meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk : i. iii. sesuai dengan persyatatan pokok yang diatur dalam Pedoman Teknis ini. vi. bioskop. dan vihara. dan sejenisnya. industri sedang. motel. Bangunan Terminal: stasiun kereta. pelabuhan laut. Bangunan dengan fungsi khusus meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi. dan sejenisnya. Bangunan pelayanan kesehatan: puskesmas. sosial dan budaya. poliklinik. iv. B. mal. sekolah lanjutan. 3. Bangunan Industri : industri kecil. ii. Bangunan perdagangan: pasar. dan sejenisnya. pelaksanaan. gedung kesenian. gedung tempat parkir. Bangunan Perhotelan/Penginapan: hotel. Bangunan kebudayaan : museum. hostel. dan sejenisnya h. atau blok peruntukan dimungkinkan adanya fungsi campuran (mixed use). sepanjang sesuai dengan peruntukan lokasinya dan standar perencanaan lingkungan yang berlaku. vii Bangunan Pariwisata: tempat rekreasi. rumah sakit klas A. g. sekolah tinggi/universitas. dan sejenisnya. atau tingkat resiko bahaya tinggi : seperti bangunan kemiliteran. & C.

tempat cuci umum. Klas 3: Bangunan hunian diluar bangunan klas 1 atau 2. ruang makan. unit town house . atau panti untuk orang berumur. ruang makan malam. ruang pamer. 6. rumah tamu. bar. pengurusan administrasi. v. cacat. f. atau 9. iv. Klas 6: Bangunan Perdagangan Adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. atau anak-anak. rumah asrama. tempat potong rambut /salon. restoran. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. .. 7. diluar bangunan klas 6. Klas 2: Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. Klas 1b : rumah asrama/kost. pasar. termasuk: i. hostel. termasuk rumah deret. atau usaha komersial. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. termasuk i. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya. rumah tamu. villa. rumah taman. losmen. atau iii. Klas 1a : bangunan hunian tunggal yang berupa: (1) satu rumah tunggal. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. kafe. Klas 5: Bangunan kantor Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. atau iv. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. atau ii. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. atau bengkel. ruang penjualan.i. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. ii iii. 8 atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut e. 8. c. 7. atau (2) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. atau ii. b. d. Klas 4 : Bangunan Hunian Campuran Adalah tempat tinggal yang berada didalam suatu bangunan klas 5.

ii. Klasifikasi jamak Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah. Bangunan yang penggunaannya insidentil Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya. atau sejenisnya. tetapi tidak temmasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. perubahan. Bangunan-bangunan yang tidak diklasifikasikan khusus Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi bangunan 1 s/d 10 tersebut. tempat parkir umum. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. Klas 9b: bangunan pertemuan. kolam renang. Klas 10a: bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. carport. m. dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan bangunan utamanya. perbaikan. dalam Pedoman Teknis dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai dengan peruntukannya l. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. finishing. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas.g. ii. perakitan. Klas 7: Bangunan Penyimpanan/Gudang Adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. bangunan peribadatan. k. termasuk: i. h. dan: . j. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. i. gudang. atau ii. yaitu: i. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. temmasuk bengkel kerja. hall. bangunan budaya atau sejenis. pengepakan. Klas 8 : Bangunan Laboratorium/lndustri/Pabrik Adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. Klas 10 : Adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian: i. antena. Klas 9: Bangunan Umum Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. atau sejenisnya. Klas 10b: struktur yang berupa pagar. tonggak.

iii. yang dibedakan dalam tingkatan KDB padat. kemampuannya dalam menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan optimalnya intensitas pembangunan. Klas-klas 1a. seperti kawasan wisata. d. Bangunan gedung yang didirikan harus memenuhi persyaratan kepadatan dan ketinggian bangunan gedung berdasarkan rencana tata ruang wilayah Daerah yang bersangkutan. 10a dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah. meliputi ketentuan tentang Jumlah Lantai Bangunan (JLB). 9b. dan peraturan bangunan setempat.2 INTENSITAS BANGUNAN 1. Ruang-ruang pengolah. Persyaratan kinerja dari ketentuan kepadatan dan ketinggian bangunan ditentukan oleh: i. e. dan rendah. rencana tata bangunan dan lingkungan yang ditetapkan. ii. klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi bangunan utamanya. pelestarian dan lain lain. dan renggang. f. sedang. ii. ruang boiler atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak II. dalam mencerminkan keserasian bangunan dengan b. Kepadatan bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a. iii. 1b. 9a. kemampuannya lingkungan. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan a. c. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud pada butir c tidak diperkenankan mengganggu lalu-lintas udara.i. ketinggian bangunan dan ketentuan tata bangunan lainnya dengan tetap memperhatikan keserasian dan kelestarian lingkungan. . dengan pertimbangan kepentingan umum dan dengan persetujuan Kepala Daerah dapat diberikan kelonggaran atau pembatasan terhadap ketentuan kepadatan. ruang mesin. dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) yang dibedakan dalam tingkatan KLB tinggi. Untuk suatu kawasan atau lingkungan tertentu. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a. meliputi ketentuan tentang Koefisien Dasar Bangunan (KDB). kemampuannya dalam menjamin kesehatan dan kenyamanan pengguna serta masyarakat pada umumnya. sedang. dan b' laboratorium. ruang mesin lift. bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan.

apabila perpetakan tidak ditetapkan. Penetapan besarnya kepadatan dan ketinggian bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam II. dimungkinkan adanya pemberian dan penerimaan besaran KDB/KLB diantara perpetakan yang berdekatan.2. Dimungkinkan adanya kompensasi berupa penambahan besarnya KDB JLB/KLB bagi perpetakan tanah yang memberikan sebagian luas tanahnya untuk kepentingan umum. maka lebar dan panjang persil tersebut diukur dari titik pertemuan garis perpanjangan pada sudut tersebut dan luas persil diperhitungkan berdasarkan lebar dan panjangnya. 3. maka KDB dan KLB diperhitungkan berdasarkan luas tanah di belakang garis sempadan jalan (GSJ) yang dimiliki. setiap bangunan yang didirikan harus sesuai dengan rencana perpetakan yang telah diatur di dalam rencana tata ruang. peraturan bangunan setempat. f. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB a. e.1 butir b dan c. b. Kepala Daerah dapat menetapkan rencana perpetakan dalam suatu kawasan/lingkungan dengan persyaratan: i. kebijaksanaan intensitas pembangunan. ditetapkan dengan mempertimbangkan perkembangan kota. JLB/KLB untuk pembangunan bangunan gedung diatas fasilitas umum adalah setelah mempertimbangkan keserasian. keserasian dan keamanan lingkungan serta memenuhi persyaratan teknis yang telah ditetapkan. daya dukung lahan/ lingkungan. maka Kepala Daerah dapat menetapkan berdasarkan berbagai pertimbangan dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. Dengan pertimbangan kepentingan umum dan ketertiban pembangunan. Penetapan besamya KDB. daya dukung lahan/lingkungan. v. ii. iii. keseimbangan dan persyaratan teknis serta mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. rencana tata bangunan dan lingkungan. c. dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. kebijaksanasn intensitas pembangunan. iv. dengan tetap menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan keserasian lingkungan. untuk memudahkan lalu lintas. dan dengan memperhitungkan keadaan lapangan. Ketentuan besarnya KDB dan JLB/KLB dapat diperbanui sejalan dengan pertimbangan perkembangan kota. Apabila KDB dan JLB/KLB belum ditetapkan dalam rencana tata ruang. penggabungan atau pemecahan perpetakan dimungkinkan dengan ketentuan KDB dan KLB tidak dilampaui.2. untuk persil-persil sudut bilamana sudut persil tersebut dilengkungkan atau disikukan. Perhitungan KDB dan KLB Perhitungan KDB maupun KLB ditentukan dengan pertimbangan sebagai berikut: . d.

a. teras tidak beratap yang mempunyai tinggi dinding tidak lebih dari 1. selama tidak melebihi l0% dari luas lantai dasar yang diperkenankan. selebihnya diperhitungkan 50 % terhadap KLB.50 m maka luas mendatar kelebihannya tersebut dianggap sebagai luas lantai denah.20 m diatas lantai ruangan dihitung 50 %. luas tapak yang diperhitungkan adalah yang dibelakang GSJ. Mezanine yang luasnya melebihi 50 % dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. . l. Garis Sempadan (muka) Bangunan a. f. I. j. ramp dan tangga terbuka dihitung 50 %. keselamatan.20 m di atas lantai teras tidak diperhitungkan sebagai luas lantai. perhitungan luas lantai bangunan adalah jumlah luas lantai yang diperhitungkan sampai batas dinding terluar. c. serta peraturan bangunan setempat. maka ketinggian bangunan tersebut dianggap sebagai dua lantai. kesehatan. g. i. h. Dalam perhitungan ketinggian bangunan. dan pendapat teknis para ahli terkait.3 GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. Batasan perhitungan luas ruang bawah tanah (basement) ditetapkan Kepala Daerah dengan pertimbangan keamanan. dan total keseluruhan luas lantai bangunan dalam kawasan tersebut tehadap total keseluruhan luas kawasan. asal tidak melebihi 50 % dari KLB yang ditetapkan. Untuk pembangunan yang berskala kawasan (superblock). Dalam perhitungan KDB dan KLB. e. overstek atap yang melebihi lebar 1. Garis Sempadan Bangunan ditetapkan dalam rencana tata ruang. selama tidak melebihi 10 % dari luas denah yang diperhitungkan sesuai dengan KDB yang ditetapkan. luas lantai bangunan yang diperhitungkan untuk parkir tidak diperhitungkan dalam perhitungan KLB. luas lantai ruangan beratap yang bersifat terbuka atau yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding tidak lebih dari 1. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 m.20 m di atas lantai ruangan tersebut dihiitung penuh 100 %. perhitungan KDB dan KLB adalah dihitung terhadap total seluruh lantai dasar bangunan. luas lantai ruangan beratap yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding yang tingginya lebih dari 1. k. rencana tata bangunan dan lingkungan. d. b.

serta belakang bangunan terhadap batas persil. untuk tiap-tiap klas bangunan dapat ditetapkan garis-garis sempadannya masing-masing. juga menetapkan garis sempadan samping kiri dan kanan. garis sempadan muka bangunan. kesehatan dan kenyamanan. Daerah menentukan garis-garis sempadan pagar. h. Kepala Daerah dengan pertimbangan keselamatan. Apabila Garis Sempadan Bangunan sebagaimana dimaksud pada butir a. tersebut belum ditetapkan.b. . Dalam mendirikan atau memperbarui seluruhnya atau sebagian dari suatu bangunan. sungai. danau. kesehatan. c. maupun pertimbangan lain dengan mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. sepanjang penempatan bangunan tidak mengganggu jalan dan penataan bangunan sekitarnya. Daerah berwenang untuk memberikan pembebasan dari ketentuan dalam butir g. Garis sempadan samping dan belakang bangunan a. rencana tata bangunan dan lingkungan. begitu pula garis-garis sempadan untuk pantai. maka Kepala Daerah dapat menetapkan GSB yang bersifat sementara untuk lokasi tersebut pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. Penetapan Garis Sempadan Bangunan didasarkan pada pertimbangan keamanan. dan keserasian dengan lingkungan serta ketinggian bangunan. dan peraturan bangunan setempat. kepentingan umum. kenyamanan. e. Garis Sempadan Bangunan yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam butir a. garis sempadan podium. garis sempadan menara. Sepanjang tidak ada jarak bebas samping maupun belakang bangunan yang ditetapkan. jaringan umum dan lapangan umum. yang ditetapkan pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. garis sempadan loteng. yang diatur di dalam rencana tata ruang. maka bagian muka bangunan harus ditempatkan pada garis tersebut. i Ketentuan besarnya GSB dapat diperbarui dengan pertimbangan perkembangan kota. Dalam hal garis sempadan pagar dan garis sempadan muka bangunan berimpit (GSB sama dengan nol). keserasian dengan lingkungan. maka Kepala Daerah menetapkan besarnya garis sempadan tersebut dengan setelah mempertimbangkan keamanan kesehatan dan kenyamanan. 2. f. g. Pada suatu kawasan/lingkungan yang diperkenankan adanya beberapa klas bangunan dan di dalam kawasan peruntukan campuran. tidak boleh dilanggar. d. b.

iii. f. dan pada setiap penambahan lantai/tingkat bangunan.c. e. ii. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. d. jarak bebas di atasnya ditambah 0. Untuk bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan bahanbahan/benda-benda yang mudah terbakar dan atau bahan berbahaya. . untuk perbaikan atau perombakan bangunan yang semula menggunakan bangunan dinding batas bersama dengan bangunan di sebelahnya. maka garis sempadan samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i.5 m.50 m dari jarak bebas lantai di bawahnya sampai mencapai jarak bebas terjauh 12. pada bangunan rumah tinggal rapat tidak terdapat jarak bebas samping. maka jarak antara dinding atau bidang tersebut minimal dua kali jarak bebas yang ditetapkan. dan sedangkan untuk bangunan gudang serta industri dapat diatur tersendiri. sedangkan jarak bebas belakang ditentukan minimal setengah dari besarnya garis sempadan muka bangunan. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang bukaan yang saling berhadapan. maka jarak bebas samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. disyaratkan untuk membuat dinding batas tersendiri disamping dinding batas terdahulu. maka Kepala Daerah dapat menetapkan syarat-syarat lebih lanjut mengenai jarakjarak yang harus dipatuhi. maka jarak antara dinding tersebut minimal satu kali jarak bebas yang ditetapkan. diluar yang diatur dalam butir a. bidang dinding terluar tidak boleh melampaui batas pekarangan. g Jarak bebas antara dua bangunan dalam suatu tapak diatur sebagai berikut: i. ii. struktur dan pondasi bangunan terluar harus berjarak sekurang-kurangnya 10 cm kearah dalam dari batas pekarangan. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. sisi bangunan yang didirikan harus mempunyai jarak bebas yang tidak dibangun pada kedua sisi samping kiri dan kanan serta bagian belakang yang berbatasan dengan pekarangan. iv. Pada daerah intensitas bangunan padat/rapat. dalam hal salah satu dinding yang berhadapan merupakan dinding tembok tertutup dan yang lain merupakan bidang terbuka dan atau berlubang. ii. Pada daerah intensitas bangunan rendah/renggang. Pada dinding batas pekarangan tidak boleh dibuat bukaan dalam bentuk apapun. jarak bebas samping dan jarak bebas belakang ditetapkan minimum 4 m pada lantai dasar.

Kepala Daerah dapat menetapkan lain terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir e dan f. Kepala Daerah menetapkan ketinggian maksimum pemisah halaman muka. b. dengan memperhatikan keamanan. dengan setelah mempertimbangkan hal teknis terkait. kecuali jika jalur-jalur jaringan umum kota direncanakan sebagai jalur jalan belakang untuk umum . Antara halaman belakang dan jalur-jalur jaringan umum kota harus diadakan pemagaran. e. dan untuk bangunan bukan rumah tinggal termasuk untuk bangunan industri maksimal 2 m di atas permukaan tanah pekarangan. f. Dalam hal yang khusus Kepala Daerah dapat memberikan pembebasan dari ketentuan-ketentuan dalam butir a dan b. Pada pemagaran ini tidak boleh diadakan pintu-pintu masuk. dan apabila pagar tersebut merupakan dinding bangunan rumah tinggal bertingkat tembok maksimal 7 m dari permukaan tanah pekarangan. Tinggi pagar batas pekarangan sepanjang pekarangan samping dan belakang untuk bangunan renggang maksimal 3 m di atas permukaan tanah pekarangan. Kepala Daerah berwenang untuk menetapkan syarat-syarat lebih lanjut yang berkaitan dengan desain dan spesifikasi teknis pemisah di sepanjang halaman depan.iii. j. Pagar sebagaimana dimaksud pada butir e harus tembus pandang. serta keserasian lingkungan. kenyamanan. Kepala Daerah dapat menerapkan desain standar pemisah halaman yang dimaksudkan dalam butir a. c.50 m di atas permukaan tanah. Penggunaan kawat berduri sebagai pemisah disepanjang jalan-jalan umum tidak diperkenankan. dengan bagian bawahnya dapat tidak tembus pandang maksimal setinggi 1 m diatas permukaan tanah pekarangan. d. k. Pemisah disepanjang halaman depan. Dalam hal pemisah berbentuk pagar. maka jarak dinding terluar minimal setengah kali jarak bebas yang ditetapkan. maka tinggi pagar pada GSJ dan antara GSJ dengan GSB pada bangunan rumah tinggal maksimal 1. Halaman muka dari suatu bangunan harus dipisahkan dari jalan menurut cara yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. 3. samping. dan belakang bangunan a. g h Untuk bangunan-bangunan tertentu. . atau ditetapkan lebih rendah setelah mempertimbangkan kenyamanan dan kesehatan lingkungan. samping. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang tertutup yang saling berhadapan. Untuk sepanjang jalan atau kawasan tertentu. i. dan belakang bangunan.

. dan penataan bangunan dan lingkungan yang diharapkan. dengan pertimbangan kepentingan kenyamanan kemudahan hubungan (aksesibilitas). keserasian lingkungan. Kepala Daerah dapat menetapkan tanpa adanya pagar pemisah halaman depan. samping maupun belakang bangunan pada ruas-ruas jalan atau kawasan tertentu.l.

(3) ketentuan penataan bangunan yang harus diikuti dengan memperhatikan keamanan. ARSITEKTUR BANGUNAN 1. b.(2) dapat diberikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. ii. Penambahan lantai/tingkat harus memenuhi persyaratan keamanan struktur. Ketentuan Umum i. keselamatan.1. lalu lintas dan ketertiban umum. atau yang mampu sebagai pedoman arsitektur atau teladan bagi lingkungannya. keindahan dan keserasian lingkungan. 2. iv. Penambahan lantai atau tingkat suatu bangunan gedung diperkenankan apabila masih memenuhi batas ketinggian yang ditetapkan dalam rencana tata ruang kota. Bentuk Bangunan a. (2) larangan membuat batas fisik atau pagar pekarangan. iv. Tata Letak Bangunan a. Pada jalan-jalan tertentu.1 b.iv.III. keselamatan. keindahan dan keserasian lingkungan. harus memenuhi persyaratan teknis yang berlaku dan keserasian lingkungan. ii. dengan ketentuan tidak melebihi KLB. persyaratan lebih lanjut dari ketentuanketentuan ini dapat ditetapkan pelaksanaaannya oleh Kepala Daerah dengan membentuk suatu panitia khusus yang bertugas memberi nasehat teknis mengenai ketentuan tata bangunan dan lingkungan.1. Pada daerah / lingkungan tertentu dapat ditetapkan: (1) ketentuan khusus tentang pemagaran suatu pekarangan kosong atau sedang dibangun. perlu ditetapkan penampang-penampang (profil) bangunan untuk memperoleh pemandangan jalan yang memenuhi syarat keindahan dan keserasian. iii. iii. pemasangan nama proyek dan sejenisnya dengan memperhatikan keamanan. Tapak Bangunan i. ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III. Ketentuan Umum i. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur lingkungan yang ada di sekitarnya. (4) Kekecualian kelonggaran terhadap ketentuan butir III. Bilamana dianggap perlu. Tinggi rendah (peil) pekarangan harus dibuat dengan tetap menjaga keserasian lingkungan serta tidak merugikan pihak lain. Penempatan bangunan gedung tidak boleh mengganggu fungsi prasarana kota. Pada lokasi-lokasi tertentu Kepala Daerah dapat menetapkan secara khusus arahan rencana tata bangunan dan lingkungan. .

Bentuk bangunan gedung harus dirancang sedemikian rupa sehingga setiap nuang dalam dimungkinkan menggunakan pencayahayaan dan penghawaan alami.b. Dalam hal tidak ada langit-langit. Ketinggian ruang pada lantai dasar disesuaikan dengan fungsi ruang dan arsitektur bangunannya. iv. detail. Tata Ruang Dalam a. v. Untuk bangunan dengan lantai banyak. vi. Perancangan Bangunan i. ii. Ketentuan pada butir II. Syarat-syarat lebih lanjut mengenai tinggi/tingkat dan sesuatunya ditetapkan berdasarkan ketentuan-ketentuan rencana tata ruang.1. 3. iii. material maupun warna bangunan harus dirancang memenuhi syarat keindahan dan keserasian lingkungan yang telah ada dan atau yang direncanakan kemudian dengan tidak menyimpang dari persyaratan fungsinya. Tinggi ruang adalah jarak terpendek dalam ruang diukur dari permukaan bawah langit-langit ke permukaan lantai. tinggi ruang diukur dari permukaan atas lantai sampai permukaan bawah dari lantai di atasnya atau sampai permukaan bawah kaso-kaso.i tidak berlaku apabila sesuai fungsi bangunan diperlukan sistem pencahayaan dan penghawaan buatan. Suatu bangunan gedung tertentu berdasarkan letak ketinggian dan penggunaannya.b. . harus dilengkapi dengan perlengkapan yang berfungsi sebagai pengaman terhadap lalu lintas udara dan atau lalu lintas laut. vi. tampak. iv. v. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan yang nyaman dan serasi terhadap lingkungannya. Ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir II 1. profil. Ruangan dalam bangunan harus mempunyai tinggi yang cukup untuk fungsi yang diharapkan.ii harus tetap mengacu pada prinsipprinsip konservasi energi. kulit atau selubung bangunan harus memenuhi persyaratan konservasi energi.1.ii. Ketentuan Umum i. b. Bentuk bangunan gedung sesuai kondisi daerahnya harus dirancang dengan mempertimbangkan kestabilan struktur dan ketahanannya terhadap gempa. iv. termasuk para penyandang cacat dan usia lanjut. Aksesibilitas bangunan harus mempertimbangkan kemudahan bagi semua orang.2. Bentuk. iii. ii.2. iii. Setiap bangunan gedung yang didirikan berdampingan dengan bangunan yang dilestarikan.1. Bangunan yang didirikan sampai pada batas samping persil tampak bangunannya harus bersambungan secara serasi dengan tampak bangunan atau dinding yang telah ada di sebelahnya. vii. dan atau rencana tata bangunan lingkungan yang ditetapkan untuk daerah/lokasi tersebut. harus serasi dengan bangunan yang dilestarikan tersebut.

Tata ruang dalam untuk bangunan tempat ibadah. gedung pertunjukan. Bangunan tempat tinggal sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan pribadi. dan pertokoan). gedung olah raga. keamanan dan keselamatan bangunan dan lingkungan. xi. viii. iv. tidak boleh menyebabkan berubahnya fungsi/penggunaan utama. gedung pertemuan. vi. viii. sekurang-kurangnya harus dilengkapi dengan kamar mandi dan kakus serta nuang kebutuhan karyawawan v.v. Suatu bangunan pabrik sehurang-kurangnya harus dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dan kakus. bangunan monumental. perluasan. Perhitungan ketinggian bangunan. ruang ganti pakaian karyawan. vi. Bangunan toko sekurang-kurang memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan toko. Bangunan atau bagian bangunan yang mengalami perubahan perbaikan. gedung sekolah. iii. x. b. Ruang rongga atap hanya dapat diijinkan apabila penggunaannya tidak menyimpang dari fungsi utama bangunan serta memperhatikan segi kesehatan.Jenis dan jumlah kebutuhan fasilitas penunjang yang harus disediakan pada setiap jenis penggunann bangunan ditetapkan oleh Kepala Daerah. maka ketinggian bangunan dianggap sebagai dua lantai. ruang umum dan ruang pelayanan. perkantoran. . kecuali untuk penggunaan ruang lobby. vii Ruang penunjang dapat ditambahkan dengan tujuan memenuhi kebutuhan kegiatan bangunan. Suatu bangunan gudang. ii. sepanjang tidak menyimpang dari penggunaan utama bangunan. kegiatan umum dan pelayanan. kegiatan keluarga bersama dan kegiatan pelayanan. Mezanin yang luasnya melebihi 50% dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. ix. Ruang rongga atap dilarang dipergunakan sebagai dapur atau kegiatan lain yang potensial menimbulkan kecelakaan/ kebakaran . vii. Perancangan Ruang Dalam i. karakter arsitektur bangunan dan bagian-bagian bangunan serta tidak boleh mengurangi atau mengganggu fungsi sarana jalan keluar/masuk. atau ruang pertemuan dalam bangunan komersial (antara lain hotel. Ruang-rongga atap untuk rumah tinggal harus mempunyai penghawaan dan pencahayaan alami yang memadai. gedung serbaguna. penambahan. serta ruang pelayanan kesehatan yang memadai. ix. Penempatan fasilitas kamar mandi dan kakus untuk pria dan wanita harus terpisah. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 meter. Bangunan kantor sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan kerja. serta gedung sejenis lainnya diatur secara khusus. ruang makan. Perubahan fungsi dan penggunaan ruang suatu bangunan atau bagian bangunan dapat diijinkan apabila masih memenuhi ketentuan penggunaan jenis bangunan dan dapat menjamin keamanan dan keselamatan bangunan serta penghuninya. ruang istirahat.

Ketentuan Umum i. Lantai tanah atau tanah dibawah lantai panggung harus ditempatkan sekurang-kurangnya 15 cm diatas tanah pekarangan serta dibuat kemiringan supaya air dapat mengalir. xvi. xx. Syarat-syarat teknis lebih lanjut terhadap ketentuan tersebut di atas mengikuti standar teknis yang berlaku. tidak boleh mengubah sifat dan karakter arsitektur bangunannya. Kelengkapan Bangunan a. Tinggi Lantai Denah: (1) Permukaan atas dari lantai denah (dasar) harus: (a) Sekurang-kurangnya 15 cm diatas titik tertinggi dari pekarangan yang sudah dipersiapkan. Tinggi lantai dasar suatu bangunan diperkenankan mencapai maksimal 1. tidak dianggap sebagai penambahan tingkat bangunan. xiv Pada ruang yang penggunaannya menghasilkan asap dan atau gas harus disediakan lobang hawa dan atau cerobong hawa secukupnya. (2) Dalam hal-hal yang luar biasa. xviii Apabila tinggi tanah pekarangan berada di bawah titik ketinggian (peil) bebas banjir atau terdapat kemiringan yang curam atau perbedaan tinggi yang besar pada tanah asli suatu perpetakan. xvii.20 m di atas tinggi rata-rata tanah pekarangan atau tinggi rata-rata jalan. Sarana dan prasarana pendukung harus menjamin bahwa pemanfaatan bangunan tersebut tidak mengganggu bangunan gedung lain dan lingkungan sekitarnya.xii. (b) Sekurang-kurangnya 25 cm diatas titik tertinggi dari sumbu jalan yang berbatasan. 4. termasuk pengaman/ rambu-rambu terhadap lalu-lintas udara dan atau laut. atau untuk tanah-tanah yang miring. kecuali menggunakan alat bantu mekanis. tidak berlaku jika letak lantai-lantai itu lebih tinggi dari 60 cm di atas tanah yang ada di sekelilingnya. dengan memperhatikan keserasian lingkungan. maka tinggi maksimal lantai dasar ditetapkan tersendiri. xiii Setiap bukaan pada ruang atap. ketinggian dan penggunaannya harus dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan bangunan. ii. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan. Sarana dan Prasarana Bangunan Gedung i. xv. kesehatan dan keselamatan pengguna bangunan gedung. Tinggi ruang dalam bangunan tidak boleh kurang dari ketentuan minimum yang ditetapkan. b. Cerobong asap dan atau gas harus dirancang memenuhi persyaratan pencegahan kebakaran. Bangunan tertentu berdasarkan letak. ketentuan dalam butir (1) tersebut. . ii Prasarana-prasarana pendukung bangunan harus direncanakan secara terintegrasi dengan sistem prasarana lingkungan sekitarnya iii. – xix. kenyamanan. Setiap penggunaan ruang rongga atap yang luasnya tidak lebih dari 50% dari luas lantai di bawahnya.

e dapat dipertimbangkan dan disesuaikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan.1. sungai. Parkir dan ketetapan lainnya. terhadap suatu kawasan/daerah dapat diterapkan b. gunung dan sebagainya. Bangunan gedung harus direncanakan dan dirancang sebaik-baiknya. KLB. unsur-unsur estetik. ekonomi maupun estetika.e ini belum ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan. v. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. RTHP menupakan bagian integral dari penataan bangunan gedung dan sub-sistem dari penataan lansekap kota. Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB.1. sosial. Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan gedung dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP).2. c. i. maka dapat dibuat ketetapan yang bersifat sementara untuk lokasi/lingkungan yang terkait dengan setiap pemmohonan bangunan. e. Setiap perencanaan bangunan baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau. Apabila Ruang Terbuka Hijau Pekarangan sebagaimana dimaksud pada butir 111. peresapan air. pohon-pohon menahun. sirkulasi.2 RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1. KDH. g.iv. f. Dalam hal terdapat makro lansekap yang dominan seperti laut. termasuk para penyandang cacat dan warga usia lanjut. j. . KDB. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir III. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. d. tanah dan permukaan tanah. Sebagai ruang transisi. sehingga dapat menjamin fungsi bangunan juga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh semua orang. III. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan tidak boleh dilanggar dalam mendirikan atau rnemperbaharui seluruhnya atau sebagian dari bangunan. Fungsi dan Persyaratan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan a. h. Ruang Terbuka Hijau adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kota/wilayah/halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. sungai besar.2. Pintu masuk dan keluar area bangunan gedung harus direncanakan secara terintegrasi serta tidak mengganggu tata sirkulasi lingkungannya.

Ketinggian maksimum/minimum lantai dasar bangunan dari muka jalan ditentukan untuk pengendalian keselamatan bangunan. 2. tiang bendera. tiang telepon di kedua sisi jalan / ruas jalan yang dimaksud. yang Sebagai perlindungan atas sumber-sumber daya alam yang ada. Ruang Sempadan Bangunan a. b. Tapak Basement a. d. pengendalian bentuk estetika bangunan secara keseluruhan/ kesatuan lingkungan. dimana terdapat beberapa klas bangunan dan kawasan campuran. Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTHP sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah. 3. dan aspek aksesibilitas. pagar. bak sampah dan papan nama bangunan. ketentuan teknis dan kebijaksanaan Daerah setempat. bangunan penunjang seperti pos jaga. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan / penanaman di atas tanah. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan peruntukan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. jalur pejalan kaki. c. serta tergantung pada kondisi lahan. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. k. b. KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan dalam kawasan-kawasan bangunan. tidak di dalam wadah / container yang kedap air. KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah. Untuk keperluan penyediaan RTHP yang memadai. dapat ditetapkan persyaratan khusus bagi permohonan ijin mendirikan bangunan dengan mempertimbangkan hal-hal pencagaran sumber daya alam. vegetasi besar / pohon. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan ruang sempadan depan bangunan. KDH minimal 10% pada daerah sangat padat/padat. Kebutuhan basement dan besaran koefisien tapak basement (KTB) ditetapkan berdasarkan rencana peruntukan lahan. Keserasian tersebut antara lain mencakup: pagar dan gerbang. seperti dari bahaya banjir. keselamatan pemakai dan kepentingan umum. lantai basement pertama (B-1) tidak dibenarkan keluar dari tapak bangunan (di atas tanah) dan atap .pengaturan khusus untok orientasi tata letak bangunan mempertimbangkan potensi arsitektural lansekap yang ada. e. 1.

batang dan cabangnya rapuh. kestabilan tanah / wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. Untuk pelaksanaan kepentingan tersebut pada butir III.5.a dan III. iii.2. air. 4. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan.2. b. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir a. b. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia.3 PERTANDAAN. Setiap bangunan bukan rumah hunian diwajibkan menyediakan area parkir kendaraan sesuai dengan jumlah area parkir yang proporsional dengan jumlah luas lantai bangunan. ii. III.basement kedua (B-2) yang di luar tapak bangun harus berkedalaman sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan tanah tempat penanaman. iv. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. d. Prasarana parkir untuk suatu rumah atau bangunan tidak diperkenankan mengganggu kelancaran lalu lintas. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25% luas RTHP. Tata Tanaman a. Hijau Pada Bangunan a. 5.b Kepala Daerah dapat membentuk tim penasehat untuk mengkaji rencana pemanfaatan jeni-jenis tanaman yang layak tanam di Ruang terbuka Hijau Pekarangan berikut standar perlakuannya yang memenuhi syarat keselamatan pemakai. Penyediaan parkir di pekarangan tidak boleh mengurangi daerah penghijauan yang telah ditetapkan. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roof-garden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan cara-cara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif.5. Ketentuan Umum i. . Jumlah kebutuhan parkir menurut jenis bangunan ditetapkan sesuai dengan standar teknis yang berlaku. atau mengganggu lingkungan di sekitarnya. c.

Sistem sirkulasi yang direncanakan harus saling mendukung. penghijauan. Sirkulasi i. Sirkulasi pertu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan. iii. memudahkan aksesibilitas. nyaman. iii. iv. baik yang bersifat pelayanan publik maupun pribadi. Jalur utama pedestrian harus telah mempertimbangkan sistem pedestrian secara keseluruhan. penghijauan. Sirkulasi harus memberikan pencapaian yang mudah dan jelas. Luas. antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan. distribusi dan perletakan fasilitas parkir diupayakan tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya. dan keJelasan kontinyuitas pedestrian. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa elemen perkerasan maupun tanaman). serta antara individu pemakai bangunan dengan sarana transportasinya. Pemilihan bahan pelapis jalan dapat mendukung pembentukan identitas lingkungan yang dikehendaki. pedestrian dan penghijauan. ii. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. papan informasi sirkulasi. Penataan jalan tidak dapat terpisahkan dari penataan pedestrian. Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran. ii. d. c. ii. Jalan i. Penataan pedestrian harus mampu merangsang terciptanya ruang yang layak digunakan/manusiawi. iii. dan termasuk untuk penataan elemen lingkungan.b. e. iv. Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang antar bangunan yang tidak hanya terbatas dalam Damija. iii. Elemen pedestrian (street fumiture) harus berorientasi pada kepentingan pejalan kaki. dan aksesibilitas dengan lingkungan sekitarnya. dan ruang terbuka umum. serta disesuaikan dengan daya tampung lahan. dan kendaraan pelayanan lainnya. Jalur pedestrian harus berhasil menciptakan pergerakan manusia yang tidak terganggu oleh lalu lintas kendaraan. dll. . aksesibilitas terhadap subsistem pedestrian dalam lingkungan. dan tidak terganggu oleh sirkulasi kendaraan. Penataan parkir harus berorientasi kepada kepentingan pejalan kaki. Pedestrian i. ii. rambu-rambu. Parkir i. aman. Penataan parkir tidak terpisahkan dengan penataan lainnya seperti untuk jalan. dan memberikan pemandangan yang menarik. guna mendukung sistim sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika.

dan komponen promosi. fungsi dan arsitektur bangunan estetika amenity. tetapi diharuskan melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai ketentuan yang berlaku. III. . Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang mengganggu dan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan harus dilengkapi dengan AMDAL sesuai ketentuan yang berlaku. iii. Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk lingkungan/ kawasan tertentu. dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku terancam punah. ii. Pencahayaan ruang luar bangunan harus disediakan dengan memperhatikan karakter lingkungan. Kepala Daerah dapat mengatur pembatasa-pembatasan ukuran. tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan. b. pagar. berdasarkan pertimbangan ilmiah. b. c. dan telah memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan. dan lokasi dari signage. Penempatan signage termasuk papan iklan/ reklame. Kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan adalah bila rencana kegiatan tersebut akan: i. yang melampaui baku mutu lingkungan menurut peraturan penundang-undangan yang bertaku. atau habitat alaminya mengalami kerusakan.2. mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik. Dampak Penting a. Pencahayaan yang dihasilkan harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum Pencahayaan yang dihasilkan dengan telah menghindari penerangan ruang luar yang berlebihan. c.4 PENGELOLAAN DAMPAK LAINGKUNGAN 1. motif. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan a. visual yang tidak menarik. silau. baik yang penempatannya pada bangunan keveling. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan. b. 3. bahan. atau ruang publik. harus membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter lingkungan yang ingin diciptakan/ dipertahankan. Pertandaan (Signage) a. atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya. menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui.

cagar alam. (3) Bagian dinding yang terlemah dari bangunan tersebut diarahkan ke daerah yang paling aman. Kegiatan yang dimaksud pada butir III. (2) Bangunan yang didirikan harus terletak pada jarak tertentu dari batas-batas pekarangan atau bangunan lainnya dalam pekarangan sesuai rekomendasi dinas terkait. Bangunan yang menurut fungsinya menggunakan.3. Ketentuan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang harus melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adaiah sesuai ketentuan yang berlaku.iv. vi. Ketentuan Pengelolaan Dampak Lingkungan Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang wajib AMDAL. menyimpan atau memproduksi bahan radioaktif. dan sebagainya) yang telah ditetapkan menunut peraturan perundang-undangan. mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi. d. merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi. mudah terbakar atau bahan lain yang berbahaya. dan atau pemerintah. 4. Untuk mendirikan bangunan yang menurut fungsinya menggunakan menyimpan atau memproduksi bahan peledak dan bahan-bahan lain yang sifatnya mudah meledak. Persyaratan Bangunan i. racun. Pada bangunan yang menggunakan kaca pantul pada tampak bangunan. vii. v. 3. jalan kereta api dan bangunan lain di sekitarnya sesuai rekomendasi dinas teknis terkait.1. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan a. taman nasional.c merupakan kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. harus dapat menjamin keamanan keselamatan serta kesehatan penghuni dan lingkungannya. iii. menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung (hutan lindung. mengakibatkan/ menimbulkan konflik atau kontroversi dengan masyarakat. ii. 2. suaka margasatwa. sinar yang dipantulkan tidak boleh melebihi 24% dan dengan memnperhatikan tata letak serta orientasi bangunan terhadap matahari. adalah sesuai Ketentuan pengelolaan Dampak Lingkungan yang berlaku. . dapat diberikan ijin apabila: (1) Lokasi bangunan terletak di luar lingkungan perumahan atau berjarak tertentu dari jalan umum.

iv. . atau tidak ada bangunan rumah yang rawan keretakan. Setiap kegiatan konstruksi yang menimbulkan genangan baru sekitar tapak bangunan harus dilengkapi dengan saluran pengering genangan sementara yang nantinya dapat dibuat permanen dan menjadi bagian sistem drainase yang ada. Sarana pongumpulan dan pongolahan air limbah harus dipelihara secara berkala untuk menjamin kualitas effluen yang memenuhi standar baku mutu limbah cair. Penggunaan peralatan konstruksi yang diperkirakan menimbulkan keretakan bangunan. Guna pemulihan cadangan air tanah dan mengurangi debit air larian. ii. ii. Penggunaan hammer pile untuk pemancangan pondasi hanya diijinkan bila tidak ada bangunan rumah sakit di sekitarnya. Apabila bangunan yang menurut fungsinya akan membangkitkan LHR >= 60 SMP per 1000 ft2 luas lantai. c. maka rencana teknis sistem jalan akses keluar masuk bangunan gedung harus mendapat ijin dari dinas teknis yang berwenang. v. b. Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dapat menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas umum harus dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang dioperasikan dan dikendalikan oleh tim pengatur lalu lintas. atau sampai sumur penduduk pulih seperti semula. sekelilingnya harus dilengkapi dengan kolam peredam getaran.iv. v. vi. Bangunan yang menurut fungsinya memerlukan pasokan air bersih dengan debit > 5 l/dt atau > 500 m3/hari dan akan mengambil sumber air tanah dangkal dan atau air tanah dalam (deep well) harus mendapat ijin dari dinas terkait yang bertanggung jawab serta menggunakan hanya untuk keperluan darurat atau alternatif dari sumber utama PDAM. harus dilengkapi dengan sarana pengumpulan dan pengolahan limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan yang diijinkan dan atau ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Setiap bangunan yang menghasilkan limbah cair dan padat atau buangan lainnya yang dapat menimbulkan pencemaran air dan tanah. Pembuangan limbah cair dan padat i. Sampah yang dikumpulkan di sarana pengumpulan sampah padat harus selalu dikosongkan setiap hari untuk menjamin agar lalat tidak berkembang biak dan mengganggu kesehatan lingkungan bangunan gedung. iii. maka setiap tapak bangunan gedung harus dilengkapi dengan bidang resapan yang ukurannya disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. Persyaratan Pelaksanaan Konstruksi i. iii. Setiap kegiatan pengeringan (dewatering) yang menimbulkan kekeringan sumur penduduk harus memperhitungkan pemberian kompensasi berupa penyediaan air bersih kepada masyarakat selama pelaksanaan kegiatan.

5. dibatasi. c.a dapat ditetapkan larangan membangun atau menetapkan tata cara dan persyaratan khusus di dalam membangun. Daerah sebagaimana dimaksud pada butir III. dapat ditetapkan sebagai daerah peremajaan kota. d. daerah Banjir dan yang sejenisnya.3.5. Suatu daerah dapat ditetapkan sebagai daerah bencana.5.3. dengan memperhatikan keamanan. b. e. keselamatan dan kesehatan dapat diperkenankan mengadakan perbaikan darurat. keselamatan dan kesehatan lingkungan. dengan memperhatikan keamanan. . Pengelolaan Daerah Bencana a. Pada daerah bencana sebagaimana dimaksud pada butir III.a. Lingkungan bangunan yang mengalami kebakaran dapat ditetapkan sebagai daerah tertutup dalam jangka waktu tertentu. bagi bangunanan yang rusak atau membangun bangunan sementara untuk kebutuhan darurat dalam batas waktu penggunaan tertentu dan dapat dibebaskan dari izin. Bangunan-bangunan pada lingkungan bangunan yang mengalami bencana. atau dilarang membangun bangunan.

IV. Penentuan mengenai jenis. 1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. termasuk beban tetap. Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan. gempa) dan beban khusus. termasuk kombinasi pembebanan yang kritis (antara lain: meliputi beban gempa yang mungkin terjadi sesuai zona gempanya). IV. Struktur bangunan yang direncanakan secara umum harus memenuhi persyaratan keamanan (safety) dan kelayakan (serviceability). Persyaratan Struktur a. c. dan beban-beban lainnya yang secara logis dapat terjadi pada struktur. d. seperti : 2. termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. c. b. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. beban sementara (angin. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. Dalam hal bilamana bahan struktur bangunan belum mempunyai SNI maka bahan struktur bangunan tersebut harus memenuhi ketentuan teknis yang sepadan dari negara/ produsen yang bersangkutan. STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. intensitas dan cara bekerjanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku. 2.beban yang mungkin bekerja selama umur layan struktur. keruntuhan yang terjadi menimbulkan kondisi struktur yang masih dapat mengamankan penghuni. serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan. Persyaratan Bahan a. Struktur bangunan harus direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa. sehingga pada kondisi pembebanan maksimum. harta benda dan masih dapat diperbaiki. Struktur bangunan harus direncanakan mampu memikul semua beban dan / atau pengaruh luar yang mungkin bekerja selama kurun waktu umur layan struktur.2 PEMBEBANAN 1 Analisa struktur harus dilakukan untuk memeriksa tanggap struktur terhadap beban . Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. b. .

Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung. SNI-1728 Tata Cara Perencanaan Beton dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung. 2. . d. Tata Cara Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung.3 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung SNI 1726. SNI-3430. seperti: a. d. c. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. b.a. 3. e. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung. Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan dengan Agregat Ringan. seperti: a. Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar-standar yang berlaku seperti: a. b. b. Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. SNI -1734. SNI-3976. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung SNI 1727. SNI-3449. SNI-1729 Tata cara / pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja. f. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung SNI 2847. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja. g. IV. c. SNI-2834 Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton. Konstruksi beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. STRUKTUR ATAS 1.

g. Perencanaan konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli struktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut.b. 5. Konstruksi dengan Bahan dan Teknologi Khusus a. SNI-2404. antara lain: a. standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanean suatu bangunan yang harus dipenuhi. i. d. b. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Radiologi di Rumah Sakit. Tata Cara Perancangan Bangunan Sederhana Tahan Angin. d. SNI-1745. Tata Cara Penanggulangan Rayap pada Bangunan Rumah dan Gedung dengan Temmitisida. SNI-1735. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. f. Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi. Tata cara/ pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu. SNI-2395. SNI-2405 . Tata Cara Pencegahan Rayap pada Pembuatan Bangunan Rumah dan Gedung. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar-standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis. SNI-1963. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. c. b. tata cara. SNI-2397. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. c. e. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut. SNI-2407. Tata Cara Dasar Koordinasi Modular untuk Perancangan Bangunan Rumah dan Gedung. h. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit. SNI-1736. 4. SNI-2394.

Pondasi Langsung a.IV. kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh Dinas Bangunan. . Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai. 2. Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang. Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan percobaan pembebanan. e. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas. c. c. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan korelasi tipikal parameter tanah yang lain. Pondasi Dalam a. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1 % dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik secara random. b. d. kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim. d. Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi. b.4 STRUKTUR BAWAH 1.

beban yang didukungnya. Ketidak andalan struktur akibat beban sendiri dan atau beban yang didukungnya disebabkan oleh karena umur bangunan yang secara teknis telah melebihi umur yang direncanakan. gempa. beban akibat perilaku manusia. IV.6 DEMOLISI STRUKTUR 1. dan kerusakan struktur sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki karena alasan teknis dan atau . Struktur bangunan sudah tidak andal. b. dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. maupun bencana lainnya. Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan. Keruntuhan sruktur adalah diakibatkan oleh ketidak andalan suatu sistem atau komponen stnuktur untuk memikul beban sendiri. b. Ketidak andalan struktur akibat beban perilaku alam dan atau manusia dapat diakibatkan oleh adanya kebakaran. Kriteria Demolisi Demolisi struktur dilakukan apabila: a. atau karena dilampauinya beban yang harus dipikulnya sesuai rencana sebagai akibat berubahnya fungsi bangunan atau kesalahan dalam pemanfaatannya. d. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/ Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. 2. Untuk mencegah terjadinya keruntuhan struktur yang tidak diharapkan pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/ petunjuk teknis yang berlaku.IV. d. dan atau beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan. c. Keselamatan Struktur a. c. sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandaian bangunan gedung. beban akibat perilaku manusia maupun beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. Keselamatan struktur tergantung pada keandalan struktur tersebut terhadap gaya-gaya yang dipikulnya.5 KEANDALAN STRUKTUR 1. Keruntuhan Struktur a.

masyarakat dan lingkungan. Prosedur. Prosedur dan Metoda a. Adanya perubahan peruntukan lokasi/fungsi bangunan. b. . dan secara teknis struktur bangunan tidak dapat dimanfaatkan lagi.ekonomis. metoda dan rencana demolisi struktur dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. serta dapat membahayakan pengguna bangunan. metoda dan rencana demolisi struktur harus memenuhi persyaratan teknis untuk pencegahan korban manusia dan untuk mencegah kerusakan serta dampak lingkungan. 2. Penyusunan prosedur. b.

ix intervensi pasukan pemadam kebakaran. viii. cukup waktu untuk evakuasi penghuni secara aman. . membatasi berkembangnya asap dan panas. waktu evakuasi ii. vi. fungsi atau penggunaan bangunan. 3 atau bagian dan bangunan klas 4: i. jumlah. d. iii. tingkat bahaya api. sistem proteksi aktif yang dipasang dalam bangunan. e. iii. yang menghubungkan kompartemen api. PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. iv. c. b. beban api. ii. terutama pada bangunan klas 2. sampai dengan tingkat tertentu.ukuran setiap kompartemen api. dan x. sehingga: i.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1.V. vii sistem proteksi aktif yang dipasang pada bangunan. yang sesuai dengan: i. ii. Bahan dan komponen bangunan harus tahan-penyebaran api. fungsi atau penggunaan bangunan. dan ii. serta gas-gas beracun yang mungkin timbul. Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran. v. mobilitas dan karakteristik penghuni lainnya. elemen bangunan lainnya. antara bangunan. intensitas kebakaran. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana/ prasarana pengamanan dan pencegahan penyebaran api. a. cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. kedekatan dengan bangunan lain. iii. yang sesuai dengan: i. Bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan yang pada tingkat tertentu akan mempertahankan stabilitas struktural selama kebakaran. ketinggian bangunan. Ruang perawatan pasien dari bangunan klas 9a harus dilindungi dari penyebaran api dan asap untuk memberi waktu cukup untuk evakuasi yang tertib dalam keadaan darurat. Ketahanan Api dan Stabilitas. iv. dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya.

Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api dari peralatan utilitas yang mempunyai pengaruh bahaya api yang tinggi. h. terdapat 3 (tiga) tipe konstruksi yaitu: a. intensitas kebakaran. iii. Pada konstruksi ini terdapat dinding pemisah pembentuk kompartemen untok mencegah penjaiaran panas ke ruang-ruang yang bersebelahan di dalam bangunan dan dinding luar untuk mencegah penjalaran api ke dan dari bangunan didekatnya. tingkat bahaya api. 2. ii. Akses ke dan sekeliling bangunan harus disediakan bagi kendaraan dan personil pemadam kebakaran. Dinding luar beton yang dapat runtuh dalam bentuk panel yang utuh (misalnya beton pracetak) harus dirancang sehingga pada kejadian kebakaran dalam bangunan. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api. atau potensial dapat meledak. yaitu pada bukaan. keruntuhan tersebut dapat dihindari. b. Tipe Konstruksi Tahan Api. iv. Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api. Setiap elemen bangunan yang disediakan untuk menahan penyebaran api. c. sesuai dengan: i. dan vi. sambungan konstruksi. beban api. sistem proteksi aktif. sehingga peralatan darurat yang tersedia dalam bangunan tetap beroperasi pada jangka waktu yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran. Tipe C: Konstruksi yang terbentuk dari unsur-unsur struktur yang dapat terbakar dan tidak dimaksudkan untuk mampu bertahan terhadap api. Tipe A: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuknya adalah tahan api dan mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran pada bangunan minimal 2 (dua) jam. .f. j. fungsi bangunan. i. Tipe B: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuk kompartemen penahanan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam bangunan dan unsur dinding luarnya mampu menahan penjalaran kebakaran dari luar bangunan selama sekurang kurangnya 1 (satu) jam. ukuran kompartemen. g. v. dan lubang untuk instalasi harus dilindungi sedemikian. untuk memudahkan tindakan pasukan pemadam kebakaran secara memadai. sehingga diperoleh tingkat kinerja yang memadai dari elemen tersebut.

menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran. Tabel V.000 m3 21. dan .3.000 m3 33.000 m3 volume Tipe Konstruksi bangunan Tipe A Tipe B Tipe C 8.3. agar dapat: i. bagian ini tidak berlaku untuk bangunan klas 1 atau 10. ii. mengendalikan kebaran api agar tidak menjelar ke bangunan lain yang berdekatan. perambatan api dan asap.9 A A B C 5. 2.7.500 m3 12.000 m2 b Pemberlakuan. melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan.1.000 m3 volume Maksimum 5.3 Tipe Konstruksi yang diwajibkan KETINGGIAN (dalam jumlah lantai) KLAS BANGUNAN 4 atau lebih 3 2 1 4. a.500 m2 2.8 A B C C Kompartemenisasi dan Pemisahan Ukuran Kompartemen Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat membatasi kobaran api yang potensial.000 m2 5.500 m3 18.8 atau 9a luasan lantai (kecuali daerah perawatan pasien Maksimum 30. Tipe konstruksi yang diwajibkan Minimum tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai dengan ketentuan pada tabel berikut: Tabel V.500 m2 3.000 m2 3.4 Ukuran maksimum dari kompartemen kebakaran Klasifikasi Bangunan Maksimum luasan lantai Klas 5 atau 9b Maksimum 48.6.000 m2 Klas 6. iii.1. i.7.

Ruang terbuka yang diperlukan harus: (1) Seluruhnya berada di dalam kapling yang sama kecuali jalan.000 m3 dengan ketentuan: (1) bangunan klas 7 atau 8 kurang dari 2 lantai dan terdapat ruang terbuka disekeliling bangunan tersebut. Bila terdapat lebih dari satu bangunan pada satu kapling. (2) bangunan klas 5 s.1. iv. dilengkapi dengan sistem pembuang asap sesuai ketentuan yang berlaku. 6. atau tempat umum yang berdampingan dengan kapling tersebut.4 dan butir f. Bangunan dengan luasan melebihi 18. tanki air. d. Untuk bangunan yang memiliki lubang atrium. Bangunan dengan luas tidak melebihi 18. namun berjarak tidak lebih dari 6 meter dengannya. Bagian dari bangunan yang hanya terdiri dari peralatan pendingin udara. Bagian bangunan.1. 7.ii. atau (2) ketinggian langit-langit lebih dari 12 meter. 8 atau 9 harus tidak melebihi luasan lantai maksimum atau volume maksimum seperti ditunjukkan dalam Tabel V. ventilasi. atau ii. Bangunan-bangunan besar yang diisolasi. harus merupakan suatu kompartemen terhadap penjalaran api. 9 yang dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler serta terdapat jalur kendaraan sekeliling bangunan yang memenuhi ketentuan butir 4. Batasan umum luas lantai.4 bila: i. e. c. atau unit utilitas sejenis dan berada di puncak bangunan.e. (2) bila jarak antara bangunan satu dengan lainnya kurang dari 6 meter. maka seluruhnya dianggap sebagai satu bangunan dan secara bersama harus memenuhi ketentuan butir i.000 m2 atau 108.d. atau: ii. Ukuran kompartemen pada bangunan dapat melebihi ketentuan dari yang tersebut dalam Tabel v. . dan dikelilingi jalan masuk kendaraan sesuai dengan butir 4. sungai. ruang dalam bangunan yang karena fungsinya mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran. dilengkapi dengan sistem pembuangan asap atau ventilasi asap dan panas sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku. iii. atau peralatan Lift.ii. Ukuran dari setiap kompartemen kebakaran atau atrium bangunan klas 5. ii.000 m3 dengan sistem sprinkler. ketentuan pada butir c. d dan e tidak berlaku untuk tempat parkir umum yang dilengkapi dengan sistem sprinkler. maka bagian dari ruang atrium yang dibatasi oleh sisi tepi di sekeliling bukaan pada lantai dasar sampai dengan langit-langit dari lantai tidak diperhitungkan sebagai volume atrium. kecuali seperti yang diijinkan pada butir d. tempat parkir tak beratap atau suatu panggung terbuka.e.i yang lebamya tidak kurang dari 18 meter. i. dan (1) setiap bangunan harus memenuhi ketentuan butir i atau ii di atas. yang memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut pada butir 4. Kebutuhan ruang terbuka dan jalan masuk kendaraan. dan apabila: (1) ketinggian langit-langit kompartemen tidak lebih dari 12 meter.e. i.ii. asap dan gas beracun.000 m2 dan volumenya tidak melebihi 108. tidak diperhitungkan sebagai luas lantai atau volume dari kompartemen atau atrium iii.

f. c.ii (3) tidak untuk penyimpanan dan pemrosesan material. ii. kecuali untuk gardu jaga dan bangunan penunjang ( seperti gardu listrik dan ruang pompa). (5) bila terdapat jalan umum yang memenuhi (1) s. Apabila harus diadakan bukaan pada dinding sebagaimana dimaksud pada butir b. dan pemisahan pada shaft lift mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. Tangga dan lift tidak boleh berada pada satu shaft yang sama.e. (4) memiliki kapasitas beban dan tinggi bebas yang memudahkan operasi mobil pemadam kebakaran. dan . Pada bangunan klas 2 dan 3. pemisahan oleh dinding tahan api. Tangga dan Lift pada satu shaft. (2) lebar bebas minimum 6 meter dan tidak ada bagian yang lebih jauh dari 18 meter terhadap bangunan. atau akan menambah risiko merambatnya api ke bangunan yang berdekatan dengan kapling tersebut. koridor umum yang panjangnya lebih dari 40 meter harus dibagi menjadi bagian yang tidak lebih dari 40 meter dengan dinding yang tahan asap. dan (4) tidak ada bangunan diatasnya. serta di atas jalan tersebut tidak boleh dibangun apapun kecuali hanya untuk kendaraan dan pejalan kaki (3) dilengkapi jalan untuk pejalan kaki yang memadai. Seluruh bukaan harus dilindungi. Jalan masuk kendaraan harus: (1) sebagai jalan masuk bagi kendaraan darurat dan lintasan dari jalan umum.d. 5. (4) di atas maka jalan tersebut dapat beriaku sebagai jalan lewatnya kendaraan atau bagian dari padanya. maka bukaan harus dilindungi dengan penutup tahan minimal sama dengan ketahanan api dinding atau lantai. bila salah satu tangga atau lift tersebut diwajibkan berada dalam suatu shaft tahan api.(2) termasuk jalan masuk kendaraan sesuai ketentuan butir 4. dan lubang utilitas harus diberi penyetop api untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan. Bukaan vertikal pada bangunan yang dipergunakan untuk shaft pipa. shaft ventilasi. dan tertutup pada setiap lantai. . g. Pemisahan Pemisahan vertikal pada bukaan di dinding luar. b. mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. tidak menghalangi penanggulangan kebakaran pada bagian manapun dari tepian kapling. yang tidak melanggar batas lebar dari ruang terbuka. Proteksi Bukaan a. dan shaft instalasi listrik harus sepenuhnya tertutup dengan dinding dari bawah sampai atas. h. Koridor umum pada bangunan klas 2 dan 3.

lubang ventilasi yang tidak mudah terbakar (non combustible ventilators). f. dan bila digunakan sprinkler pembasah-dinding maka sprinkler tersebut harus ditempatkan di bagian luar bangunan. ii sambungan pengendali.d.5. iii.d kurang dari 180° 180° atau lebih Jarak Minimal Antara Bukaan 6m 5m 4m 3m 2m nol .000 mm2. dan tidak berada pada atau dekat dengan lantai dasar bangunan. atau (2) 6 m dari sempadan jalan yang membatasi persil. Sarana dan atau peralatan proteksi seperti penyetop api. 135° Lebih dari 134° s. bangunan-bangunan klas 1 atau klas 10.d. Ketentuan proteksi pada bukaan ini tidak berlaku untuk: i.5 m pada bangunan dengan lebih dari 1 (satu) lantai. dan sejenisnya di dinding luar dari konstruksi pasangan. maka harus dilindungi sesuai dengan ketentuan butir h. damper. Kecuali bila dilindungi sesuai ketentuan tersebut pada butir 9. lubang tirai. bila bukaan di dinding luar tersebut terhadap suatu sumber api terletak kurang dari: (1) 3 m dari batas belakang persil bangunan.1. 45° Lebih dari 45° s. Pemisahan Bukaan Pada Kompartemen Kebakaran. jarak antara bukaan pada dinding luar pada kompartemen kebakaran harus tidak kurang dari yang tercantum pada Tabel V. dan iii. kecuali bila bukaan-bukaan tersebut pada bangunan klas 9b dan diberlakukan seperti bangunan panggung terbuka. atau (2) 1. Tabel V. bila bukaan tersebut wajib dilindungi sesuai dengan butir ii.d.1. bila luas penampang masing-masing tak melebihi 45. 90° Lebih darii 90° s. berjarak dari suatu obyek sumber api tidak kurang dari: (1) 1 m pada bangunan dengan 1 (satu) lantai. g. dan ii.5 JARAK ANTARA BUKAAN PADA KOMPARTEMEN KEBAKARAN YANG BERBEDA e. Sudut Terhadap Dinding 0° (dinding-dinding saling berhadapan) Lebih dari 0° s.d. maka tidak boleh menempati lebih dari 1/3 luas dinding luar dari lantai dimana bukaan tersebut berada. atau (3) 6 m dari bangunan lain pada persil yang sama. Proteksi Bukaan Pada Dinding Luar. dan sambungan antara panel di dinding luar dari beton pracetak. Bukaan pada dinding luar yang perlu memiliki TKA harus: i. dan jarak antara lubang ventilasi tak kurang dari 2 m pada dinding yang sama. dan sebagainya harus memenuhi persyaratan dan dapat dibuktikan melalui pengujian oleh lembaga uji yang diakui dan terakreditasi. yang bukan dari klas 10. bila luas lubang/sambungan tersebut tidak lebih luas dari yang diperlukan.

2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. yang sekurang-kurangnya satu pompa digerakkan oleh motor bakar atau motor listrik yang dicatu dari daya generator darurat. Sistem hidran kebakaran. (1) harus dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. kecuali pada satuan peruntukan bangunan.(menutup otomatis atau secara tetap dipasang pada posisi tertutup). dan (2) terdapat regu pemadam kebakaran. i. atau (b) motor listrik yang dicatu dari generator darurat. Sistem Pemadam Kebakaran a. 6. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. Sistem hidran harus dipasang pada bangunan: (1) yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 m2. atau jendela kebakaran dengan TKA -/60/. atau memasang penutup api otomatis dengan TKA -/60/(3) Bukaan-bukaan lain: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. ii. asalkan hidran dapat menjangkau seluruh satuan peruntukan bangunan. atau memasang pintu kebakaran dengan TKA -/60/30 (dapat menutup sendiri secara otomatis).h. Hidran kebakaran. (3) bila dilengkapi dengan pompa kebakaran harus terdiri dari: (a) 2 (dua) pompa. satu pompa digerakkan oleh: (a) motor-bakar. ii. i. jendela dan bukaan lainnya harus dilindungi sebagai berikut: (1) Jalan masuk/pintu : sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. maka jalan masuk. dan (2) hidran dalam bangunan harus melayani hanya di lantai hidran tersebut ditempatkan. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. dan penutup kebakaran harus memenuhi ketentuan butir i di atas dan standar teknis yang berlaku. 7. SNI 1745. di mana: (a) bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian klas 4. atau konstruksi dengan TKA tidak kurang dari-/60/-. Bila diperlukan proteksi. Pintu. V. atau (b) bangunan klas 5. jendela. (2) Jendela: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. (4) bila pompa kebakaran dihubungkan dengan jaringan pasokan air dan dipasang pada bangunan dengan ketinggian efektif kurang dari 25 m. (b) 2 (dua) pompa yang digerakkan oleh motor listrik yang dihubungkan dengan sumber tenaga yang terpisah satu sama lain. atau . Metoda Proteksi Yang Diperbolehkan. 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih dari 2 (dua).

dipertimbangkan sebagai kompartemen kebakaran. 7. untuk pompa yang ditempatkan di luar bangunan. dan dengan konstruksi yang mempunysi TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan bagi suatu dinding tahan api untuk klasifikasi bangunannya. (a) pada bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian Klas 4 dilayani oleh Hose Reel tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari unit hunian tersebut. tahan cuaca. dan (b) pada bangunan klas 5. serta harus dirancang untuk memenuhi tekanan dan laju aliran yang disyaratkan untuk operasi petugas pemadam kebakaran. bila sistem pasokan air mengambil air dari sumber statis. Sistem Hose Reel harus disediakan: (1) untuk melayani seluruh bangunan. dan jika dalam jarak 6 m dari bangunan. atau (b) jika bangunan tidak dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler sesuai ketentuan yang berlaku. kecuali pada satu unit hunian. pemasangan pompa kebakarannya dalam bangunan harus pada tempat yang: (a) mempunyai jelur keluar ke jalan atau ruang terbuka. 8 atau 9 yang tidak lebih dari 2 (dua) lantai. untuk melayani setiap kompartemen kebakaran dengan luas lantai lebih dari 500 m2 dan untuk maksud butir ini. dilayani oleh Hose Reei tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari satu unit hunian tersebut dengan syarat Hose Reel melayani seluruh unit hunian.(5) (6) (7) (c) motor listrik yang dihubungkan pada sumber tenaga yang terpisah satu sama lain melalui fasilitas pemindah daya otomatis. . dimana satu atau lebih hidran dalam dipasang. atau dinding antara bangunan dan rumah pompa yang berjarak 2 m dari sisi rurnah pompa dan 3 m di atas rumah pompa harus mempunyai TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan untuk dinding tahan api sesuai klas bangunannya. mempunyai jalur keluar langsung ke jalan atau ruang terbuka. 6. maka harus disediakan sambungan yang cocok dan jalan masuk kendaraan pemadam kebakaran untuk memudahkan petugas pemadam kebakaran memompa air dari sumber tersebut dan harus disediakan sambungan yang berdekatan dengan lokasi tersebut untuk meningkatkan tekanan air dalam sistem gedung. satu unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. b. maka dinding rumah pompa dan bagian dinding luar yang berjarak 2 m dari samping rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa. Sistem Hose Reel. atau: (2) bila hidran dalam tidak dipasang. Hose Reel i. maka bangunan rumah pompa tersebut harus jelas terlihat. tempat pompa harus terpisah dari bangunan. harus: (1) dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. ii. (2) melayani hanya lantai dimana alat ini ditempatkan.

yang merupakan bangunan terpisah Bangunan pertokoan (kbs 6). Ruang Pertemuan Umum.(3) (4) (5) (6) Memiliki slang kebakaran yang harus diletakkan sedemikian rupa untuk menghindari partisi atau penghalang di dalam mencapai setiap bagian lantai dari tingkat yang bersangkutan Hose reel yang dipasang mengikuti butir (3) diatas ditempatkan: (a) di luar bangunan. Ruang Pertunjukan. (b) diameter pipa dari meteran air atau instalasi PAM berdiameter tidak kurang dari 25 mm. Sistem sprinkler harus dipasang pada bangunan sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel V. dan (c). atau (b) di dalam bangunan sekitar 4 m dari pintu keluar.2. Termasuk lapangan parkir terbuka dalam bangunan campuran. Bangunan Rumah Sakit. Teater. Lebih dari 2 (dua) lantai. Luas panggung dan belakang panggung lebih dari 200 m Tiap bangunan beratrium Untuk memperoleh ukuran kompartemen .000 m3. Sistem Sprinkler i. c. (b). 2. (d) tiap katup yang mengatur aliran air dari sumber air utama ke Hose Reel harus dijaga pada posisi terbuka oleh pengunci dari logam. maka: (a) dipelihara kebutuhan kecepatan aliran dari hose reel. (b) volume ruangan lebih dari 21.d harus dipasang pada sambungan ke saluran utama. Tidak termasuk lapangan parkir terbuka. Pada bangunan yang tinggi efektifnya lebih dari 25 m Dalam kompartemenisasi dengan salah satu ketentuan berikut: (a) luas lantai lebih dari 3.500 m2. sebuah katup yang memenuhi butir 5. atau (d) kombinasi (a). sehingga hose tidak perlu melintasi pintu keluar masuk yang dilengkapi dengan pintu kebakaran atau pintu asap. Bila dipasok oleh sumber air utama dengan diameter nominal lebih besar dari 25 mm dan yang dihubungkan dengan sumber air untuk hidran. atau (c) di dalam bangunan berdekatan dengan hidran dalam (selain hidran yang dipasang di pintu keluar yang diisolasi tahan api).1 Persyaratan Pemakaian Sprinkler Jenis bangunan Kapan Sprinkler diperlukan: Semua klas bangunan: 1. (c) jaringan pipa memenuhi syarat pembagian pasokan air. Konstruksi Atrium. Bila dihubungkan dengan meteran air.

yang lebih besar: (a) bangunan klas 5 . ·) (b) Volume lebih dari 12. (4) Pasokan air. atau: (b) dalam hal sebagian bangunan: (i) sebagian bangunan dipasang sprinkler dan diberi kompartemen kebakaran pada bagian yang tanpa sprinkler. (b) semua bangunan dengan luas lantai lebih besar dari 18.000 m3. (5) Sambungan dengan peralatan alarm lainnya. dan klasifikas bangunan sesuai standar teknis yang berlaku. Katup kontrol sprinkler harus ditempatkan dalam suatu ruang yang aman atau ruang tertutup yang berhubungan langsung ke jalan atau ruang terbuka.000 m2 dan volume 108.000 m2 den volume Bangunan berukuran begar den terpisah. 108. Sistem sprinkler harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: (1) Standar perancangan dan pemasangan sprinkler otomatis sesuai standar teknis yang berlaku. Pada kompartemen. SNI-3989. ii. pasokan air untuk sistem sprinkler harus memperhatikan tinggi efektif bangunan. jika: (a) sprinkler terpasang diselunuh bangunan. amat tinggi.000 m3. Tanpa mengurangi ketentuan atau standar yang berlaku bangunan atau bagian bangunan dianggap bersprinkler. dengan salah satu dari Bangunan dengan risiko bahaya kebakaran 2(dua) persyaratan : 2 (dua) persyaratan berikut: (a) Luas lantai melebihi 2. Sistem sprinkler harus disambung atau dihubungkan ke dan dapat mengaktifkan: (a) setiap peringatan darurat dan sistem komunikasi intema yang disyaratkan. *) Jenis bangunan dengan resiko bahaya kebakaran tinggi sesuai standar teknis yang berlaku.9 dengan luas maksimum 18. (2) Bangunan bersprinkler.000 m2.000 m3. Tanpa mengurangi ketentuan dalam standar teknis yang berlaku mengenai sprinkler. . dan (ii) setiap bukaan pada konstruksi pemisah antara bagian ter-sprinkler dan bagian tak ter-sprinker diproteksi sesuai ketentuan proteksi pada bukaan (3) Katup kontrol sprinkler. Ruang parkir. atau (b) sistem pengeras suara atau peralatan lainnya yang dapat didengar bila peringatan darurat dan sistem komunikas intemal tidak disyaratkan. luar bangunan yang diisyaratkan menggunakan sprinkler. selain nuang parkir terbuka Bila menampung lebih dari 40 kendaraan.

2. atau (2) akomodasi bagi lanjut usia. ii. atau (2) bila sistem peringatan darurat dan sistem komunikasi intemal tidak dipersyaratkan. jika: (1) Disediakan dengan mengikuti standar teknis yang berlaku. Sistem sprinkler yang dipasang pada ruang parkir pada bangunan multi-klas. ruang pertemuan umum atau semacamnya. anak-anak atau orang cacat. Sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm otomatis harus dihubungkan dan mengaktifkan: (1) sistem peringatan keadaan darurat dan sistem komunikasi internal sebagaimana dipersyaratkan oleh ketentuan Bab VIII. bangunan klas 2 dengan persyaratan khusus. Sistem deteksi dan alarm kebakaran otomatis harus dipasang di: i. d. i. ataupun mempengaruhi efektivitas operasi sprinkler yang melindungi ruang parkir.(6) Peralatan anti gangguan (Anti Tamper). PAR yang jenisnya sesuai kebutuhan harus dipasang diseluruh bangunan. Pemadam Api Ringan (PAR) i. dan iv. harus dirancang sehingga sistem sprinkler yang melindungi bagian bukan nuang parkir dapat diisolasi dengan tanpa mengganggu aliran air. bangunan klas 3 yang menampung lebih dari 20 penghuni yang digunakan sebagai: (1) bagian hunian dari bangunan sekolah. dan (2) PAR dari jenis bukan klas A harus ditempatkan pada lokasi yang dapat menjangkau lokasi yang mengandung jenis bahaya yang harus diatasi. b. Untuk sistem sprinkler yang dipasang di teater. maka pada tiap katup yang berfungsi mengendalikan sprinkler didaerah panggung harus dipasang peralatan anti gangguan yang dihubungkan ke panel pemantau. maka dapat dihubungkan dengan sistem pengeras suara. kecuali di dalam unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. Spesifikasi Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran. iii. dengan ii. yang memungkinkan dilakukannya pemadaman awal efektip terhadap kebakaran oleh penghuni bangunan. alarm pengindera asap ataupun peralatan untuk peringatan . ii. bangunan klas 1b. Perancangan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm kebakaran harus memenuhi standar teknis yang berlaku. SNI-3985. tidak berhubungan dengan sistem sprinkler di bagian bangunan lainnya. 7) Sistem sprinkler di ruang parkir. harus: (a) berdiri sendiri. bangunan klas 9a. Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran a. SNI-3987 kecuali PAR jenis air yang tidak perlu dipasang di dalam bangunan atau bagian bangunan yang dilayani oleh Hose Reel. PAR memenuhi butir i. (b) bila berhubungan dengan sistem sprinkler yang melindungi bagian bangunan bukan ruang parkir.

lainnya yang dapat didengar dan yang ditempatkan disetiap lantai sesuai ketentuan yang berlaku. . seperti gudang dengan luas lantai 30 m2. dan (2) ketentuan yang berlaku tentang Spesifikasi Alat Pendeteksi dan Alarm Kebakaran otomatis pada Bangunan Gedung. sampai ke jalan atau ruang terbuka bebas. dan iv. ruang tanaman atau sejenisnya. 3. b. untuk selama tenggang waktu sampai dengan seluruh penghuni dapat terevakuasi dari bangunan. Perioda tenggang waktu harus memperhitungkan keadaan bangunan dan mobilitas manusia. termasuk didalam satuan numah hunian bangunan klas 2 atau 3 atau sebagian klas 4. ramp dan jalur sirkulasi yang terisolasi dari kebakaran serta koridor umum) pada setiap bagian bangunan. iii. ruang kompartemen sanitasi.5 % smoke obscuration/m. dan bila terdapat partikel jenis lainnya harus menggunakan detektor tipe ionisasi. iii. i. Penetapan batas ambang alarm bagi sistem detektor harus mengikuti ketentuan yang berlaku. Ketentuan pengendalian asap ini tidak berlaku untuk: i. d. ruang parkir terbuka atau panggung terbuka. dan Pemeriksaan Alat Deteksi dan Alarm Kebakaran Otomatis. Sistem sampling harus memenuhi Ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan. ii. jika dipasang di dalam saluran udara (ducts) atau udara yang terkontaminasi partikel debu dengan ukuran kurang dari 1 µm. Persyaratan umum i. dipasang dengan permukaan menghadap ke bawah dan di luar saluran unit pengkondisian udara. dan ii.50 meter jaraknya dari pintu kebakaran. sehingga (1) temperatur ruang tidak membahayakan manusia.c. bangunan klas 1 atau 10. yaitu: (1) ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan Ventilasi Mekanik dan Pengkondisian Udara dalam Bangunan Gedung. ditempatkan pada lokasi berkumpulnya asap panas dengan mempertimbangkan geometri langit-langit dan efeknya pada lintasan perpindahan asap. Pemasangan. (3) tingkat racun asap yang timbul tidak membahayakan manusia. dipilih tipe foto-elektrik. (2) tingkat penglihatan memungkinkan diketahui rute evakuasinya. ditempatkan kurang dari 1. Pada saat terjadi kebakaran. : Batas Ambang. setiap ruangan yang tidak digunakan oleh penghuni untuk waktu yang cukup lama. ii. Penempatan Alat Pendeteksi Asap. ii. i. Rute evakuasi merupakan jarak lintasan menerus perjalanan evakoasi/ penyelamatan dari suatu tempat (seperti pintu/ jalan keluar. dan iii. Pengendalian Asap Kebakaran a. atau menggunakan sistem point sampling yang mempunyai derajat kepekaan maksimum 0.10 m di atas level lantai. setiap rute evakuasi harus dijaga dengan ketinggian asap sekurang-kurangnya 2.

d. iii. ditaruh atau dipakai di dalam bangunan. iii. Ketentuan lebih teknis dalam pengendalian asap kebakaran untuk setiap klas bangunan mengikuti petunjuk dan standar teknis yang berlaku.. selain: (1) kegiatan pengendalian kebakaran. dan tidak mensirkulasikan asap diantara kompartemen kebakaran. Pada sistem pengkondisian udara terpusat yang memutar udara untuk lebih dari satu ruangan kompartemen kebakaran: (1) pada bangunan yang termasuk dalam butir v. tidak digunakan bagi keperluan lain. bila suatu bangunan tidak termasuk dalam Tabel V. dimana: b. ii. Untuk sistem pengatur udara lainnya. sebuah ruang untuk pengendalian dan pengarahan selama berlangsungnya operasi penanggulangan kebakaran atau penanganan kondisi darurat lainnya. Ruang Pusat Pengendaii Kebakaran pada bangunan gedung yang tinggi efektifnya lebih dari 50 meter harus merupakan ruang terpisah.2. peralatan dan sarana lainnya yang diperlukan dalam penanganan kondisi kebakaran.3 pada lampiran persyaratan teknis ini maka harus memenuhi ketentuan i. harus: (a) beroparasi seperti sistem pengendali asap. dan (2) kegiatan lain yang berkaitan dengan unsur keselamatan atau keamanan bagi penghuni bangunan. ii sifat penggunaan bangunan. dan tidak membentuk bagian sistem pengendali asap harus memenuhi ketentuan standar yang berlaku. Untuk keperluan ketentuan ini. vi.3. Berkaitan dengan butir c berikut tentang Persyaratan Untuk Bahaya Khusus. tata letak bangunan. (2) pada bangunan yang termasuk dalam butir vi. sistem tidak mengganggu beroperasinya peralatan pengendalian asap yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V. sifat dan jumlah bahan yang disimpan. c. bersama-sama dengan kelengkapan pengendalian asap lainnya yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V. v. setiap bagian yang menyebabkan penyebaran asap yang serius antar kompartemen. telepon. setiap hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 harus diberlakukan sebagai kompartemen terpisah.2. dilengkapi sarana alat pengendali. Persyaratan untuk bahaya khusus Upaya tambahan dalam pengendalian bahaya asap mungkin dipersyaratkan bilamana berkaitan dengan: i. panel kontrol. atau ketentuan pada butir b.iv. meubel. 4. atau ketentuan pada butir b. dan persyaratan lain dari pedoman teknis ini. . Kegunaan dan sarana yang ada di Pusat Pengendali Kebakaran adalah: i.2. Konstruksi. Pusat Pengendali Kebakaran a.. harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap sesuai ketentuan.3. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran.

konstruksi penutupnya dari beton. Proteksi pada bukaan. dan sistem manajemen. bahan lapis penutup. peralatan utilitas. sakelar kontrol dan indikator visual yang diperlukan untuk semua pompa kebakaran. Sebagai tambahan. dan sejenisnya harus mengikuti syarat teknis proteksi bukaan pada Bab V. Ruang pengendali kebakaran harus dilengkapi dengan sekurang-kurangnya: (1). sakelar pengendali jarak jauh untuk gas atau catu daya listrik. ii. Ruang pengendali harus: (1) mempunyai luas lantai tidak kurang dari 10 m2. Ruang pengendali haruslah dapat dimasuki dari (2) dua arah (1) arah pintu masuk di depan bangunan. Ukuran dan sarana. genset darurat. dan peralatan pengamanan kebakaran lainnya yang dipasang di dalam bangunan. yang tidak diperlukan untuk berfungsinya nuang pengendali. (2) telepon sambungan langsung.5 Pintu Keluar. dan (2) arah langsung dari tempat umum atau melalui jalan terusan yang dilindungi terhadap api.50 m. seperti pada lantai. tidak boleh lewat ruang tersebut. saluran. jika dikehendaki terpisah total dari sistem lainnya. Setiap bukaan pada ruang pengendali kebakaran. panel indikator lif. (3) sebuah papan tulis dan sebush papan tempel (pin-up board) berukuran cukup. i. d. sistem pengamatan. yang menuju ke tempat umum dan mempunyai nilai TKA tidak kurang dari -/120/30. kipas pengendali asap. dapat dikunci dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga orang yang menggunakan rute evakuasi dari dalam bangunan tidak menghalangi atau menutupi jalan masuk ke ruang pengendali tersebut. dan (4) sebuah meja berukuran cukup untuk menggelar gambar dan rencana taktis yang disebutkan dalam (5). saluran udara dan sejenisnya. Panel indikator kebakaran. c. dan (5) rencana taktis penanggulangan kebakaran. dan (2) sistem keamanan bangunan. . pembungkus atau sejenisnya harus memenuhi persyaratan terhadap kebakaran. ii. lantai atau langit-langit yang memisahkan ruang pengendali dengan ruang dalam bangunan dibatasi hanya untuk pintu. langit-langit dan dinding dalam. pintu. dan salah satu panjangnya dari sisi bagian dalam tidak kurang dari 2. dinding atau sejenisnya mempunyai kekokohan yang cukup terhadap keruntuhan akibat kebakaran dan dengan nilai TKA tidak kurang dari 120/120/120. yang khusus untuk melayani fungsi ruang pengendali tersebut. iv. ii. untuk jendela.i. i. e. bukaan pada dinding.1. Pintu yang menuju ruang pengendali harus membuka ke arah dalam ruang tersebut. iii. ventilasi dan lubang perawatan lainnya. ventilasi. iii. pipa. di ruang pengendali dapat disediakan: (1) Panel pengendali utama.

(4) mempunyai kipas. Tingkat suara (ambient) dalam ruang pengendali kebakaran yang diukur pada saat semua peralatan penanggulangan kebakaran beroperasi ketika kondisi darurat berlangsung tidak melebihi 65 dbA bila ditentukan berdasarkan ketentuan tingkat kebisingan didalam bangunan. h. dan (1) dipasang sesuai ketentuan yang berlaku seperti untuk tangga kebakaran yang dilindungi. Ventilasi dan pemasok daya. pompa pengendali sprinkler. g. Sistem udara bertekanan yang hanya melayani ruang pengendali. luas lantai bersih daerah tambahan adalah 2 m2 untuk setiap penambahan alat. i. tetapi tidak berada di dalam ruang pengendali dan diproteksi oleh dinding yang mempunyai TKA tidak lebih kecil dari 120/120/120. (3) jika dipasang peralatan tambahan. pemipaan dan sambungan-sambungan pipa tidak boleh dipasang dalam ruang pengendali.50 m2 dan ruang untuk tiap rute evakuasi penyelamatan dari ruang pengendali ke ruang lainnya harus disediakan sebagai tambahan persyaratan (2) dan (3) diatas. atau ii. dan tingkat iluminasi diatas meja kerja tak kurang dari 400 Lux. (5) mempunyai catu daya listrik ke ruang pengendali atau peralatan penting bagi beroperasinya ruang pengendali.50 m2.(2) jika hanya menampung peralatan minimum. ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. ventilasi alami dari jendela atau pintu pada dinding luar bangunan yang membuka langsung ke ruang pengendali. Beberapa peralatan seperti Motor bakar. f. Ruang pengendali harus diberi ventilasi dengan cara: i. luas lantai bersih tidak kurang dari 8 m dan luas ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. tetapi boleh dipasang di ruangan-ruangan yang dapat di capai dari ruang pengendali tersebut. (2) beroperasi otomatis melalui aktivitas sistem alarm atau sistem sprinkler yang dipasang pada bangunan. . (3) mengalirkan udara segar ke ruangan tidak kurang dari 30 kali pertukaran udara perjamnya pada waktu sistem beroperasi dengan dan salah satu pintu ruangan terbuka. motor dan pipa-pipa saluran udara yang membentuk bagian dari sistem. Pencahayaan darurat sesuai ketentuan yang berlaku harus dipasang dalam ruang pusat pengendali.

atau karena perbedaan tinggi lantai dalam bangunan. Setiap tangga dan ramp memiliki: (1) Permukaan lantai tidak licin pada ramp. (5) Tangga yang memadai untuk menampung volume dan frekwensi penggunaan. Kuat dan kokoh menahan pengaruh orang yang menabrak. b. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dan area lain untuk tujuan darurat. Pada area dimana orang bisa jatuh dari ketinggian 1m atau lebih dari lantai/atap/melalui bukaan pada dinding luar bangunan. ii. ii.VI. d.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. Kemiringan permukaan lantai harus aman bagi pejalan kaki. Butir c tersebut tidak berlaku juga untuk: i. Fungsi a. iv. harus dibuatkan penghalang yang: i. nyaman dan memadai. kecuali tangga/ramp di luar bangunan. c. . 2. Fungsi tersebut pada butir b di atas tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. (2) Pegangan rambat (handrails) yang memadai untuk membantu kestabilan pemakai tangga/ramp (3) Lantai bordes yang memadai uniuk menghindari keletihan (4) Pintu di lantai bordes sedemikian hingga pintu tersebut tidak menjadi rintangan. e. atau 4. Setiap pintu dibuat agar penghuni mudah mencapai akses keluar dan menghindari risiko terjebak di dalam bangunan. menerus sepanjang area yang berbahaya. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir mobil) dan klas 8. Melengkapi bangunan dengan sarana evakuasi yang memungkinkan penghuni punya waktu untuk menyelamatkan diri dengan aman tanpa meraskan keadaan darurat. dan memadai bagi semua orang. ii. Persyaratan kinerja: a. mampu menjaga lintasan anak-anak. Agar manusia dapat bergerak dengan aman ke dan di dalam bangunan maka bangunan harus mempunyai antara lain: i. nyaman. iii. dan tekanan orang pada penghalang tersebut. Akses ke dan di dalam bangunan harus tersedia yang memungkinkan pergerakan manusia secara aman. injakan dan akhiran injakan tangga. tempat bongkar muat barang dan sejenisnya. tinggi disesuaikan dengan risiko orang tanpa disengaja jatuh dari lantai /atap. aman. c. 3. Melengkapi bangunan dengan akses yang layak. SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. iii. b. Butir c tersebut di atas tidak berlaku bila penghalang tersebut digunakan untuk panggung.

b.2 KETENTUAN JALAN KELUAR 1. i.atau yang ketinggian efektifnya lebih dari 25 m. dan atap yang dapat dicapai oleh manusia harus mempunyai dinding pembatas. lokasi dan dimensi pintu keluar yang tersedia pada bangunan disediakan agar penghuni dapat menyelamatkan diri dengan aman. Tangga. i. sesuai dengan: i. balustrade atau penghalang lainya yang untuk melindungi pengguna bangunan terhadap risiko jatuh . Intervensi pasukan pemadam kebakaran Agar penghuni dapat keluar dengan aman dari bangunan. b Bangunan klas 2 s. mobilitas dan karakter lain dan penghuni ii. Jumlah. Jumlah.5 m. Tinggi bangunan Jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran dan sesuai dengan: i. Jumlah lantai yang dihubungkan dengan pintu tersebut ii. kecuali: i. ii. Bangunan klas 9: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada: i. dan ii. Jarak tempuh ii. Basement: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada lapis lantai manapun. c. iii. Jumlah. bila jalan keluar dari lapis lantai di dalam bangunan dimaksud naik lebih dari 1.d. 8: Minimal harus tersedia 2 jalan ke!uar pada setiap lapis lantainya apabila tinggi efektif bangunannya lebih dari 25 m c. balkon. Sistem kebakaran yang dipasang dalam bangunan iii. d. 2 . jarak tempuh dari titik manapun pada lantai dimaksud ke suatu jalan keluar tunggal tak lebih dari 20 m. Fungsi bangunan iv. dimensi jelur lintasan menuju ke pintu keluar harus sesuai dengan . Kebutuhan Jalan Keluar a. Persyaratan Keamanan a. Fungsi bangunan Butir h tersebut di atas tidak berlaku di dalam unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. Ramp kendaraan dan lantai yang dapat dilewati kendaraan harus mempunyai pembatas pinggir atau penghalang lainnya untuk melindungi pejalan kaki dan struktur bangunannya. g. Semua bangunan : Setiap bangunan harus mempunyai sedikitnya 1 jalan keluar dari setiap lantainya. Fungsi bangunan iv. setiap lapis lantai bila bangunan dengan jumlah lantai lebih dari 6. h. setiap lapis lantai termasuk area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. VI. lantai.f. Tangga. mobilitas dan karakter penghuni. 3 dan 4. ramp. ramp dan lorong (gang) harus aman bagi lalu lintas pengguna bangunan. luas lapis lantainya tak lebih dari 50 m2.

iii. b. tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan. Pintu masuk dari setiap hunian tunggal harus berjarak tidak lebih dari: (1) 6 m dari jalan keluar atau dari tempat dengan jalur yang berbeda arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. v. Setiap tempat dalam ruangan yang bukan pada unit hunian tunggal. iii. setiap lapis lantai pada bangunan klas 9b yang digunakan sebagai pusat asuhan balita. sedikitnya 2 jalan keluar. f. setiap lapis lantai atau mesanin yang dapat menampung lebih dari 50 orang sesuai fungsinya. setiap lapis lantai pada bangunan sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama dengan ketinggian 2 lantai atau lebih. 1 jalan keluar. masing-masing merupakan bagian jelur lintasan ke minimal 2 buah jalan keluar. 9 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap bahaya kebakaran kecuali: i. merupakan bagian dari tribun penonton terbuka. atau (2) 20 m dari pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan jalan keluar ke jalan atau ke ruang terbuka. ii. iv. 2 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 3. Akses ke jalan keluar: Tanpa harus melalui hunian tunggal lainnya. harus kurang dari 20 m dari pintu keluar atau tempat jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. e. Bangunan klas 2 dan 3: Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran. ii. . atau ii. atau ii. bila bangunan tersebut mempunyai sistem sprinkler yang menyeluruh. Bangunan klas 2 dan 3 i. Bagian bangunan klas 4: Pintu masuk harus tidak lebih dari 6 m dari pintu keluar. g. dan termasuk 1 lapis lantai tambahan bila digunakan sebagai tempat menyimpan kendaraan bermotor atau tempat pelengkap lainnya.d. setiap deret harus mempunyai minimal 2 tangga atau ramp. Jalan keluar yang diisolasi terhadap kebakaran a. pada bangunan klas 9a: tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan pada suatu tempat. b. Jarak jalur menuju pintu keluar a. 3. kecuali jalan tersebut menghubungkan tidak lebih dari: i. atau dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. Panggung terbuka: Pada panggung terbuka dan menampung lebih dari 1 deret tempat duduk. bila 2 atau lebih jalan keluar diwajibkan. Area perawatan pasien: Pada bangunan klas 9a sedikitnya harus ada 1 jalan keluar dari setiap bagian pada lapis lantai yang telah disekat menjadi kompartemen tahan api. setiap penghuni pada lapis lantai atau bagian lapis lantai bangunan harus dapat mencapai ke: i. 4. 3 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 2. selain area perawatan pasien. Bangunan kelas 5 s.

Gedung Pertemuan: Pada bangunan klas 9b selain gedung sekolah atau pusat asuhan balita. b. Jarak Antara Pintu-pintu Keluar Alternatif. b. 45 m pada bangunan klas 2 atau klas 3. memiliki TKA tidak kurang dari 60/60/60 dan konstruksi setiap pintunya terlindung serta dapat menutup sendiri dengan ketebalan tidak kurang dari 35 mm. berjarak tidak lebih dari: i. e. lobby.c. 5. Panggung Terbuka: Jarak jalur lintasan menuju ke pintu keluar pada bangunan klas 9b yang dipakai sebagai panggung terbuka harus tidak lebih dari 60 m. dan: i. f. atau tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. untuk bangunan lainnya. 60 m. 9: Terkena aturan butir d. berjarak tidak kurang dari 9 m. terletak sedemikian hingga alternatif jalur lintasan tidak bertemu hingga berjarak kurang dari 6 m. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan c. c.8 m pada lorong. jalur lintasan dari ruang tersebut ke pintu keluar melalui lorong/koridor. 1 m ditambah 250 mm untuk setiap kelebihan 25 orang. d. atau ii. atau 6. Dimensi/ukuran Pintu Keluar. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. Pintu keluar yang disyaratkan atau jalur sirkulasi ke jalan keluar: a. jarak ke salah satu pintu keluar dimungkinkan 60 m. 45 m pada bangunan klas 9a. bila : i.d. bila disyaratkan untuk pintu keluar pada tempat perawatan pasien. dan ii. jika jarak maksimum ke salah satu pintu keluar tersebut tidak melebihi 40 m. Setiap tempat pada lantai harus berjarak tidak lebih 12 m dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar yang dipersyaratkan tersedia. atau ruang sirkulasi lainnya. Pada bangunan klas 5 atau 6. Jarak maksimum dari satu tempat ke salah satu dari pintu keluar tersebut tidak lebih dari 30 m. Bangunan klas 5 s. ii. f. Bangunan klas 9a: Area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. Pintu yang disyaratkan sebagai alternatif jalan keluar harus: a. ramp. e. tinggi bebas seluruhnya harus tidak kurang dari 2 m. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. d. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 100 orang tetapi tidak lebih dari 200 orang. jarsk ke pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan akses ke jalan atau ke ruang terbuka dapat diperpanjang sampai 30 m. dan ii. atau ii. lebar bebas. 1. atau iii. konstruksi ruang tersebut bebas asap. jika lapis lantai atau mesanin menampung tidak lebih dari 100 orang. . Setiap tempat harus berjarak tidak lebih 20 m dari pintu keluar. lebar bebas. tersebar merata di sekeliling lantai dimaksud sehingga akses ke minimal dua pintu keluar tidak terhalang dari semua tempat termasuk area lif di lobby. i. 1 m.

ke area tertutup yang: (1) berbatasan dengan jalan atau ruang terbuka. koridor. ii. atau ii. lebar pintu keluar: i.2 m: 1070 mm. lebar dari setiap pintu keluar yang memenuhi ketentuan butir b. parkir kendaraan atau sejenisnya. ruang transisi atau yang sejenisnya. iii. (2) lintasan tanpa rintangan. lobby umum.2 m: 1200 mm. (4) mempunyai lintasan bebas rintangan dari tempat keluar ke jalan atau ruang terbuka yang tidak lebih dan 6 m. komponen sanitasi. 1. iii. dan tertutup tidak lebih dari 1/3 kelilingnya. pada panggung penonton yang menampung lebih dari 2000 orang. iii. b. g. hall atau yang sejenisnya. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 200 orang. a. e.2. Pintu dalam ruangan harus tidak membuka langsung ke arah tangga. d atau e. f. ketempat: (1) ruang atau lantai yang digunakan hanya untuk pejalan kaki. jika membuka ke arah koridor dengan (1) lebar koridor antara 1. pada area perawatan pasien. lebar bebas. (3) pintu keluar horisontal: 1250 mm. tersedia menuju ke jalan atau ruang terbuka. ii. kecuali pintu keluar harus ditambah menjadi: i. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. tidak lebih dari 20 m.8 m . (2) lebar koridor lebih dari 2. ke jalan atau ruang terbuka. ii. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 75 orang. c. Setiap tangga atau ramp tahan api harus menyediakan pintu keluar tersendiri dari tiap lapis lantai yang dilayani dan keluar secara langsung atau melawati lorong yang diisolasi terhadap kebakaran yang ada di lantai tersebut: i. 750 mm. lebar pintu keluar tidak boleh berkurang pada jalur lintasan ke jalan atau ruang terbuka. Bila lintasan keluar bangunan mengharuskan melewati 6 m dari dinding luar bangunan dimaksud. lorong. .8 m pada lorong. atau ii. lebar bebas. kecuali kalau pintu tersebut dari: i. minus 250 mm. (3) mernpunyai ketinggian bebas rintangan di semua bagian termasuk bukaan pada keliling area yang tidak kurang dari 3 m. unit hunian tunggal yang menempati seluruh lapis lantai. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 60 orang jika jalan keluar mencakup perubahan ketinggian lantai oleh tangga atau ramp dengan tinggi tanjakan 1:12. bila pintu tersebut untuk kompartemen sanitasi atau kamar mandi. 7. (2) terbuka untuk sedikitnya 1/3 dari keliling area tersebut. atau ramp yang disyaratkan diisolasi terhadap kebakaran. kecuali untuk pintu keluar harus diperlebar sampai 17 m ditambah dengan angka kelebihan tersebut dibagi 600. diukur tegak lurus ke jalur lintasan. pada kasus lain.d. bagian dinding tersebut harus mempunyai: c.

atau 9.i. . Jika Jebih dari dua akses pintu.d. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke Jalan atau ruang terbuka. d. Tangga Luar Bangunan Tangga luar bangunan dapat berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan menggantikan pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran. 60 m pada konstruksi bangunan lainnya. 8 ata u 9b. dengan injakan dan tanjakan dari setiap lantai yang dilayani menuju ke lantai dimana pintu keluar ke jalan atau ruang terbuka disediakan b. tangga/ramp yang tidak diisolasi torhadap kebakaran harus keluar ke tempat yang tidak lebih dari: i. bukaan terlindung di bagian dalam dilindungi sesuai ketentuan Proteksi Bukaan pada Bab V. pada bangunan dengan ketinggian efektif tidak lebih dari 25 m. 30 m pada konstruksi bangunan tipe C. Pada bangunan klas 2. Pada bangunan klas 5 s. Pada bangunan klas 5 s d. Lintasan Melalui Tangga/Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran a. 3 atau 9a. c. Tangga/ramp. bangunan klas 9a : Ramp harus tersedia untuk setiap perubahan ketinggian kurang dari 600 mm pada lorong yang diisolasi terhadap kebakaran. d. 8. Pada bangunan klas 2. yang berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan harus mempunyai jalan lintasan menerus.3 harus tersedia ii. tangga/ramp yan tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar pada tempat yang tidak lebih dari i. TKA sedikitnya 60/60/60.1. e. e.2. ii. 9. atau ii. atau ii. dan memenuhi ketentuan teknis yang berlaku. jarak antara sembarang tempat pada lantai ke tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melebihi 80 m. membuka ke pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran pada lantai dimaksud i lobby bebas asap sesuai dengan Bab V. bila konstruksi tangga tersebut (termasuk jembatan penghubung) secara keseluruhan dari bahan yang tidak mudah terbakar. bukan dari komponen sanitasi atau sejenisnya. jarak antara pintu keluar dari ruang atau unit hunian tunggal dan tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga atau ramp yang tidak diisolasii terhadap kebakaran harus tidak melampaui: i.5. 3 atau 4. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke jalan atau ruang terbuka. yang tidak diisolasi terhadap kebakaran. 15 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. 20 m dari pintu keluaar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. pintu keluar bertekanan udara sesuai standar yang berlaku. 30 m dan salah satu dari dua pintu atau lorong keluar bila arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah.

e. dan c. f. Pada bangunan klas 9a. dan bila perlu dibuat penghalang untuk mencegah kendaraan menghalangi jalan keluar atau akses menuju ke pintu keluar tersebut. tangga memenuhi ketentuan dari pedoman ini. tangga atau ramp yang disyaratkan harus tidak keluar ke arah area di depan panggung tersebut. a. dan mempunyai sedikitnya satu pintu keluar yang disyaratkan yang bukan pintu keluar horisontal Kasus selain butir b di atas. Keluar Melalui Pintu-Pintu Keluar a.2. atau mana yang lebih lebar. berupa ramp atau lereng dengan kemiringan kurang dari 1:8. b. atau lebar minimum dari pintu keluar yang disyaratkan. ii. 40 m dari salah satu dari dua pintu atau lorong keluar: arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. tidak lebih dari 2/3 lebar pintu keluar yang disyaratkan harus terletak di area pintu masuk utama. Jika pintu keluar yang disyaratkan menuju ke ruang terbuka. bebas asap. Vl.4. d. Pada bangunan klas 2 atau 3. pintu keluar horisontal dapat dianggap sebagai pintu keluar yang disyaratkan. d. lintasan ke arah jalan harus mempunyai lebar bebas tidak kurang dan 1 m. bila jalur lintasan dari kompartemen kebakaran menuju ke satu atau lebih pintu keluar horisontal langsung menuju ke kompartemen kebakaran lainnya. pada bangunan klas 9b yang digunakan untuk pusat asuhan balita bagunan SD atau SLTP.ii. c. antara unit hunian tunggal. Pintu keluar harus tidak terhalang. Jika pintu keluar menuju ke ruang terbuka yang terletak pada ketinggian berbeda dengan jalan umum yang menghubungkannya. maka masing-masing pintu keluar tersebut harus : i menyediakan jalan keluar terpisah menuju ke jalan atau ruang terbuka. . 11 Pintu Keluar Horisontal.5 m2 tiap pasien pada bangunan klas 9a. Pintu keluar horisontal bukan merupakan pintu keluar yang disyaratkan apabila: i.14 bila disyaratkan oleh ketentuan Bab. atau tidak setinggi 1. pintu keluar horisontal harus tidak lebih dari separuh pintu keluar yang disyaratkan pada lantai yang dipisahkan oleh dinding tahan api Pintu keluar horisontal harus mempunyai area bebas disetiap sisi dinding tahan api untuk menampung jumlah orang dari seluruh bagian lantai dengan tidak kurang dari: i. 2. Pada bangunan klas 9b dengan auditorium yang menampung lebih dan 500 orang. bila dua atau lebih pintu keluar disyaratkan dan disediakan sebagai sarana tangga/ramp yang tidak diisolasi. b. 10. Pada bangunan klas 9b. ii. terhadap kebakaran dalam bangunan. ii. panggung terbuka yang menampung lebih dari 500 orang. jalur lintasan menuju ke jalan harus i. kecuali bila pintu keluar dari bangunan klas 9a.

dan luas lantai dengan: a. Ramp Atau Eksalator Yang Tidak Disyaratkan Eskalator dan tangga/ramp pejalan kaki yang ditetapkan tidak diisolasi terhadap kebakaran a. . pada panggung terbuka atau stadion olah raga tertutup. dapat keluar pada lantai dan dipertimbangkan sebagai bagian dari jalur lintasan. 14. bila tiap lantai tersebut dilengkapi dengan sprinkler menyeluruh sesuai ketentuan Bab V. dan bila 2 atau lebih tempat jalan keluar tersedia dalam ruangan tersebut. harus memenuhi standar teknis terkait bila untuk ruang peralatan dan untuk ruang motor lift. pada bangunan klas 5 atau 6 yang dilengkapi dengan fasilitas sprinkler menyeluruh. tangga atau ramp disyaratkan memenuhi ketentuan butir 12 ini c. di luar bangunan. 8 atau 9. bila: i. tangga. hall. kompartemen sanitasi atau penggunaan tambahan. eskalator. 3 lantai. harus tidak digunakan di area perawatan pasien pada bangunan klas 9a b. 7. tangga pengait (ladder) dapat dipakai sebagai pengganti tangga (stairway) dari setiap tempat jalan keluar dari ruangan. tangga pengait dapat dipakai sebagai pengganti tangga seluruhnya. tata letak lantai tersebut. d. atau ii. tidak lebih dari 100 m2. Tangga. lebih dari 100 m2 dan tidak lebih dari 200 m2. ramp.2 sesuai jenis penghunian. dan satu dari lapis lantai tersebut terletak pada ketinggian yang terdapat jalan keluar langsung ke arah jalan atau ruang terbuka. kecuali bila dijinkan sesuai butir b atau c di atas. Ruang Peralatan Dan Ruang Motor Lift a. b.c. ii. tidak harus menghubungkan lebih dari i. ruang atau mesanin harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaan atau fungsi bangunan. kecuali diijinkan sesuai butir b di atas. iii. motor lif mempunyai luasan i. dan eskalator.2. 6. ii. lift. koridor. 2 lantai dengan ketentuan lantai bangunan tersebut harus berurutan. iii. Jumlah Orang Yang Ditampung Jumlah orang yang ditampung dalam satu lantai. 0. Tangga pengait diijinkan menurut (a) di atas.ii. iv. kecuali satu dari jalan keluar tersebut. 12. menghitung total jumlah orang tersebut dengan membagi luas lantai dari tiap lapis menurut Tabel Vl. Bila ruang peralatan atau ruang. merupakan bagian dari jalan keluar yang tersedia pada tangga yang diisolasi terhadap kebakaran yang terdapat dalam saf. dan ii. ii pada area parkir kendaraan atau atrium. harus tidak menghubungkan secara langsung atau tidak langsung ke lebih dari 2 lapis lantai pada bangunan klas 5. atau 13. tidak termasuk area yang dirancang untuk: i. lobby dan yang sejenis. ramp atau eskalator tersebut i.5 m2 tiap orang pada klas bangunan lainnya. dapat menghubungkan sejumlah lantai bangunan bila tangga. service duct dan yang sejenis. 1.

sidang Ruang dansa Asrama Pusat Penitipan Balita Pabrik: . r. r. . tunggu r. atau cara lain yang sesuai untuk menilai kapasitasnya.5 1 4 2 30 pabrik VI. museum Bar. manufaktur. . workshop . c.ventilasi. gereja.3 KONSTRUKSI JALAN KELUAR 1. prosesing . tempat cuci Perpustakaan : . listrik. ganti di teater Terminal Bengkel / workshop : staf pemeliharaan Proses manufaktur m2/orang 10 10 30 50 2 1 2 1 10 4 bengkel 3 5 5 0. kelas umum gedung serba guna ruang staf ruang praktek: SD SLTP Pertokoan. peragaan. dari material tidak mudah terbakar.2 LUASAN PER-ORANG SESUAI PENGGUNAANNYA (BEBAN PENGHUNIAN) Jenis Penggunaan Galeri seni. café. bila terjadi kenusakan setempat tidak merusak struktur yang dapat melemahkan ketahanan saf terhadap api. penyimpanan r. Tabel VI.r penyimpanan m2/orang 4 1 2 15 25 10 1 0. dll .r. baca. arcade Panggung penonton: darah panggung Kursi penonton R.b. pamer : r.mall.5 5 4 5 50 30 3 15 10 1 10 2 30 Jenis Penggunaan Kantor (pengetikan dan fotokopi) Ruang Perawatan Pasien Ruang industri : . r. telepon Kolam renang Teater dan Hall R. 3. Tangga Dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Tangga atau ramp yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi: a. mengacu kepada kapasitas tempat duduk di ruang atau bangunan gedung pertemuan. b. Penerapan Kecuali ketentuan butir 13 den 16. ruang pamer. guest-house Stadion indoor area Kios Dapur. laboratorium. elktrikal. Tangga Dan Ramp Yang tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran Untuk bangunan dengan ketinggian lebih dari 2 lantai. penjualan: Level langsung dari luar Level lainnya r. persyaratan ini tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 atau bagian klas 4. motel.3 1 30 1. ruang makan Ruang pengurus Pemondokan/losmen Ruang komputer Ruang sidang pengadilan: r.r.boiler/sumber tenaga Ruang baca Restoran Sekolah : r.ruang untuk fabrikasi dan proses selain di atas Garasi-garasi umum Ruang senam/gymnasium Hotel. tangga dan ramp yang tidak disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi sesuai ketentuan butir 2 diatas. atau dengan konstruksi: 2. kerja. hostel.

tanjakan tangga dari lantai di bawah lantai dasar ke arah jalan atau ruang terbuka.2. Instalasi Pada Jalan Keluar Dan Jalur Lintasan a. disyaratkan untuk diisolasi terhadap kebakaran. b. yang direkatkan dengan perekat khusus seperti resorcinol formaldehyde atau resorcinol phenol formaldehyde 4. d. baja dengan tebal minimal 6 mm kayu: i. Ramp dan Balkon Akses yang Terbuka Bila ramp dan balkon akses yang terbuka merupakan bagian dari jalan keluar yang disyaratkan. . b. b. tidak harus disediakan dari tangga. ii. dengan ketebalan minimal 44 mm setelah finishing ii. harus tidak ada hubungan langsung antara i. luas total area bebas minimal seluas ramp atau balkon ii. atap atau langit-langit harus ditutup dengan bahan yang bebas asap. mempunyai pintu bebas asap sesuai standar teknis yang berlaku. mempunyai luas minimal 6 m2. Jalan masuk ke saf servis dan lainnya. maka harus: a.7 harus: a. kecuali dengan grill atau sejenisnya dengan ruang bebas udara minimal 75% dari area tersebut. setiap konstruksi yang memisahkan tanjakan dan turunan tangga harus tidak mudah terbakar dan mempunyai TKA minimal 60/60/60. 6. mempunyai bukaan ventilasi ke udara luar dimana: i. 7. turunan tangga dari lantai di atas lantai dasar. setiap sambungan konstruksi antara bagian atas dinding balok lantai. dan: a. dengan berat jenis rata-rata tidak kurang dari 800 kg/m3 pada kelembaban 12% iii. dan ii.a. lorong atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. pada area terbuka dengan ketinggian 1 m tidak tertutup. iii. Pemisahan tanjakan dan turunan tangga Bila tangga dipakai sebagai jalan keluar. atau terdapat alat sensor asap diletakkan dekat dengan sisi bukaan. terbentang antar balok lantai. tersebar merata sepanjang sisi terbuka ramp atau balkon b. c. kecuali ke peralatan pemadam atau deteksi kebakaran sesuai yang diijinkan dalam pedoman ini. mempunyai TKA minimal 60/60/-. b. atau ke bagian bawah langit-langit yang tahan penjalaran api sampai 60 menit. di setiap bukaan dari area hunian. diberi tekanan udara sebagai bagian dari pintu keluar. c. Lobby Bebas Asap Lobby bebas asap yang disyaratkan sesuai Bab VI. beton bertulang atau beton prestressed. Bukaan pada saluran atau duct yang membawa hasil pembakaran yang panas harus tidak diletakkan di bagian manapun dari jalan keluar yang 5. terpisah dari area hunian dengan dinding kedap asap. di mana: i. bila pintu keluar disyaratkan harus diberi tekanan udara.

kecuali dipisahkan oleh balustrade atau pegangan rambat menerus antara lantai bordes dan lebar masing-masing bagian kurang dari 2 m. Ramp Pejalan Kaki a. ii. lebar dan tinggi langit-langit sesuai persyaratan untuk tangga yang diisolasi terhadap kabakaran.4 iii. 10. b. gang. Perlindungan Pada Ruang Di Bawah Tangga Dan Ramp a. bebas halangan. maka bagian tangga atau ramp tersebut harus tidak tertutup. kecuali untuk list langit-langit. lebar bebas halangan. di mana: . motor listrik atau peralatan motor lain dalam bangunan. koridor. Gas atau bahan bakar lainnya harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. 9. bila konstruksi yang menutup ramp. kecuali: i. Tangga dan ramp tidak tahan api: Ruang di bawah tangga atau ramp tidak tahan api yang disyaratkan (termasuk tangga luar) harusnya tidak tertutup. dinding dan langit-langit sekelilingnya mempunyai TKA minimal 60/60/60 ii. dan sejenisnya. Lebar tangga yang disyaratkan harus: i. d. disyaratkan. gang. lobby. b. lobby atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. disyaratkan sesuai ketentuan Bab VI. atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. atau koridor. kecuali terlindung oleh konstruksi yang tidak mudah terbakar atau tahan api dengan pintu atau bukaan yang terlindung dari penjalaran asap. 1:8 untuk kasus lainnya c. 11. seperti pegangan rambat (handrail). bagian dari balustrade. 8. Permakaan lantai ramp harus dengan bahan yang tidak licin. meter listrik.c. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran a. vertikal di atas garis sepanjang nosing injakan tangga atau lantai bordes. panel atau saluran distribusi. bila peralatan dimaksud terdiri atas: i. Ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dapat menggantikan tangga. panel atau peralatan distribusi telekomunikasi sentral. Peralatan harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. sampai ketinggian tidak kurang dari 2 m. Ramp yang berfungsi sebagai jalan keluar yang disyaratkan harus mempunyai tinggi tanjakan tidak kurang dari: i. b. dan iii. 1:12 pada area perawatan pasien di bangunan klas 9a ii. ii. Konstruksi lorong yang diisolasi terhadap kebakaran harus dari material yang tidak mudah terbakar. Tangga dan ramp tahan api: Bila ruang di bawah tangga atau ramp tahan api yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api. setiap pintu masuk ke ruang tertutup tersebut dilengkapi dengan pintu tahan api dengan TKA -/60130 yang dapat menutup secara otomatis Lebar Tangga a. Lebar tangga melebihi 2m dianggap mempunysi lebar hanya 2 m.

pada kasus lain TKA tidak kurang dari 60/60/60. injakan harus kuat bila tinggi tangga lebih dari 10 m atau menghubungkan lebih dari 3 lantai. kasus lainnya i. langit-langit dengan ketahanan terhadap penjalaran api tidak kurang dari 60 menit dan dalam kompartemen kebakaran. e. lantai. Atap Sebagai Ruang Terbuka Jika pintu keluar menuju ke atap bangunan. mempunyai TKA tidak kurang dari 120/120/120. 14. Iorong keluar dari tangga atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. bila dinding lorong tersebut merupakan perluasan dari: i. konstruksi atas dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran tidak perlu punya TKA. 16. d. injakan. b. balkon atau yang sejenis dimana pintu membuka. lebar minimal bordes 1.b. dan jumlah sesuai standar teknis. injakan dan tanjakan konstan. Balustrade a Balustrade menerus harus tersedia sekeliling atap yang terbuka untuk umum. Injakan Dan Tanjakan Tangga Tangga harus mempunyai: a. penutup atap yang tidak mudah terbakar ii. i. tidak terdapat pencahayaan atau bukaan atap iainnya sepanjang 3 m dari jalur lintasan yang dipakai untuk keluar mencapai jalan atau ruang terbuka. ii. ambang pintu tidak lebih dan 25 mm di atas ketinggian lantai dimana pintu membuka. ramp. ii. Sudut arah naik dan turun tangga harus 180°. b. tepi bordes diberi finishing yang tidak licin. Bordes a. 15. Bangunan klas 9a: i. 13. b. bila: . tanjakan. TKA tidak kurang dari yang disyaratkan untuk saf tangga atau ramp. Ambang Pintu Ambang pintu tidak mengenai anak tangga atau ramp minimal selebar daun pintu kecuali: a. tidak lebih dari 18 atau kurang dari 2 tanjakan. b. ujung injakan dekat nosing diberi finishing yang tidak licin. panjangnya tidak kurang dari 550 mm diukur dari tepi dalam bordes. Luas bordes harus cukup untuk gerakan usungan yang berukuran panjang 2 m dan lebar 60 cm. tangga atau balkon luar ii. 12. ruang perawatan pasien bangunan klas 9a.7 m.ii. balkon dan sejenisnya. tangga. Bordes tangga dengan maksimum kemiringan 1: 50 dapat digunakan. bukaan antara injakan maksimum 125 mm. atap tersebut harus a. ii.6 m dan panjangnya minimal 2. Meskipun dengan ketentuan butir a. untuk mengurangi jumlah tanjakan dan setiap bordes harus: i. f. pintu terbuka ke arah jalan atau ruang terbuka. koridor. ambang pintu tidak lebih dari 190 mm di atas permukaan tanah. c.

bila dibuat sesuai i. ii. Tinggi balustrade: i. tidak dibatasi dengan dinding. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. Pegangan rambat harus tersedia untuk membantu orang agar aman menggunakan tangga atau ramp. lorong. balkon atau sejenisnya dan jarak antar jeruji tidak lebih dari 460 mm. dipasang permanen dengan tinggi minimal 865 mm dengan jeruji pendukung permanen setinggi minimal 700 mm. c.iii dan g. Pegangan rambat memenuhi ketentuan butir a tersebut bila: i. 7. ii. g. tinggi lebih dari 1 m di atas lantai atau dibawah muka tanah. 17. atau 700 mm bila tonjolan keluar dari bagian atas balustrade diproyeksikan mendatar tidak kurang dari 1 m. kecuali sekeliling panggung. b. atap. tidak kurang dari 1 m di atas lantai akses masuk. yang tersedia akses untuk umum dan jalur masuk ke bangunan. Pegangan Rambat Pada Tangga a. minimal 865 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai ramp ii.i. balkon. Balustrade. Jarak antara lebar bukaan tidak lebih dari 300 mm ii. Bukaan pada balustrade memenuhi ketentuan butir b. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir) serta klas 8.ii. kecuali tangga/ramp luar bangunan. . c. e.i. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran atau area lain untuk keadaan darurat. tinggi jeruji tidak lebih dan 150 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai bordes. tempat bongkar muat barang atau tempat lain bagi staf untuk pemeliharaan. dan ramp di luar ketentuan butir b harus mengikuti ketentuan butir f dan g. Pada bangunan klas 9a harus tersedia sedikitnya sepanjang satu sisi dari setiap lorong atau koridor yang digunakan oleh pasien. Pintu Sebagai pintu keluar yang disyaratkan: a. mesanin dan sejenisnya. balkon dan sejenisnya. dibuat menerus 18. bukan pintu berputar b. lantai. bukan pintu gulung. dan harus: i. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. bangunan klas 9b untuk sekolah dasar. iii. Balustrade atau penghalang lain di depan tempat duduk permanen pada balkon atau mesanin auditorium bangunan klas 9b harus sesuai ketentuan f.ii. Bila menggunakan jeruji. dan ii. 8 dengan luas lantai tidak lebih dari 200 m2. f. koridor. i. Balustrade sesuai ketentuan butir e. tinggi di atas lantai tidak kurang dari 1m. sedikitnya dipasang sepanjang satu sisi ramp/tangga ii dipasang pada dua sisi bila lebar tangga/ramp 2 m atau lebih iii. permanen sedikitnya 50 mm dari dinding ii. kecuali dipasang pada bangunan atau bagian bangunan klas 6. Balustrade pada: i. d. Balustrade sepanjang sisi atau dekat permukaan horisontal seperti: i.b. tangga. i.

6. c. hanya melayani: i. dengan tangan. b. ii. merupakan satu-satunya pintu keluar yang disyaratkan dalam bangunan bukan pintu sorong. harus dapat dibuka secara manual. lebih dari 100 mm pada lebar pintu keluar yang disyaratkan. merupakan satu-satunya pintu keluar dari bangunan dan dipasang alat pegangan pada posisi membuka. kecuali semua pintu secara otomatis terkunci dengan alat yang mengaktifkan alarm kebakaran. Tidak mengganggu lebih dari 500 mm pada lebar yang disyaratkan dari tangga.2 m dari lantai. melayani lantai atau ruang yang menampung lebih dari 100 orang. dengan tenaga tidak lebih dan 110 N. khususnya oleh pemilik. dan . unit hunian tunggal dengan luas area tidak lebih dari 200 m2 pada bangunan klas 5. bangunan dengan tinggi efektif lebih 25 m. atau 8. c. panti asuhan balita atau bangunan keagamaan. melayani bangunan atau bagian bangunan dengan luas tidak lebih dari 200 m2. Pengoperasian Gerendel Pintu Pintu yang disyaratkan sebagai lintasan.c. dengan mendorong alat yang dipasang pada ketinggian antara 0. bagian atau jalan keluar harus siap dibuka tanpa kunci dari sisi dalam dengan satu tangan. d. kecuali bila: a. Masuk Dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Pintu harus tidak terkunci dari dalam tangga/ramp/lorong yang diisolasi terhadap kebakaran untuk melindungi orang yang masuk kembali ke lantai atau ruang yang dilayani pada a. dengan mengoperasikan alat pengontrol untuk mengaktifkan alat untuk membuka pintu.1. 3. melayani hunian yang perlu pengamanan khusus dan dapat segera dibuka: i. ii. termasuk bordes. Bila terbuka sempurna. atau bagian klas 4. Ayunan harus searah akses keluar. melayani komponen sanitasi atau sejenisnya.9 . b. lorong atau ramp. d. 21. kecuali: i. kecuali: i membuka secara langsung ke arah jalan atau ruang terbuka ii. 7. iii. pada bangunan klas 9b. ruangan yang tidak aksesibel sepanjang waktu bila pintu terkunci. bangunan klas 9a b. sehingga orang dalam bangunan segera dapat menyelamatkan diri bila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. pintu dapat dibuka secara manual. Pintu Ayun a. dengan tenaga tidak lebih dari 110 N. unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. ii. kecuali bangunan sekolah. ii. membuka langsung ke arah jalan atau ruang terbuka harus dapat membuka secara otomatis bila terjadi kegagalan pada daya listrik. alarm kebakaran dan lainnya. melayani kompartemen saniter. bila terjadi kerusakan atau tidak berfungsinya tenaga listrik ii. 19. 20. bila pintu dioperasikan dengan tenaga listrik: i.

22. b. sistem audibel/visual alarm yang droperasikan dari dalam ruangan khusus dekat pintu. dan juga rambu permanen tentang cara mengoperasikannya. Ketentuan-ketentuan teknis lebih lanjut mengenai akses bagi penyandang cacat pada butir a di atas mengikuti Pedoman Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. dipasang ditempat yang mudah dilihat atau dekat dengan pintu-pintu tahan api dan asap. Rambu.i. warna kontras dan menyatakan bahwa pintu jangan dihalangi. Rambu Pada Pintu a. tersedia sistem komunikasi internal. ii. sedikitnya setiap 4 tingkat terdapat pintu tidak terkunci dan terdapat rambu permanen bahwa dapat dilalui. 2. Untuk bangunan yang digunakan untuk pelayanan umum harus dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan akses dan sirkulasi bagi semua orang. Rambu tersebut harus dibuat dengan huruf kapital minimal tinggi huruf 20 mm. untuk memberi tanda pada orang bahwa pintu tertentu harus tidak dihalangi. termasuk penyandang cacat. .4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT 1. VI.

Kapasitas angkut lif barang yang diizinkan. f. tanpa terganggu oleh sakelar panggil lainnya. c. harus disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. g. d. harus dengan cara menekan sakelar kebakaran (Fire Switch) terlebih dahulu. Lif kebakaran harus dapat berhenti di setiap lantai. Jumlah dan kapasitas lif harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untak sirkulasi vertikal pada bangunan. b. d.VII. dan menggunakan kabel tahan api. harus tertulis pada sangkar dan dinyatakan dalam jumlah orang yang dapat diangkut. Lift Kebakaran a. Lif kebakaran dapat berupa lif penumpang biasa atau lif barang yang dapat diatur. dipasang ditempat yang mudah terbaca: i. Sumber daya listrik untuk lif kebakaran harus direncanakan dari sumber yang berbeda. sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh petuugas Kebakaran. Persyaratan teknis dari lif yang digunakan sebagai lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Pintu saf lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan peraturan yang berlaku di Indonesia. kecuali ii. dekat setiap tombol panggil untuk lif penumpang atau kelompok dari lif ada bangunan. Untuk mengubah fungsi lif penumpang atau lif barang menjadi lif kebakaran. e. TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. Peringatan Terhadap Pengguna Lif Pada Saat Terjadi Kebakaran Tanda peringatan harus: a. lif kecil seperti dumb waiter atau sejenisnya yang digunakan untuk mengangkut hanya barang-barang. 2. harus menjadi kapasitas angkut dari lif dimaksud. Waktu tunggu lif. Kapasitas angkut lif penumpang yang diizinkan. Kapasitas angkut yang dinyatakan dalam izin. 1 LIF 1. Kecepatan dan ukuran sangkar lif kebakaran disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. Kapasitas Lif a. 3. c. . harus tertulis dalam sangkar dan dinyatakan dalam Kg. b. e.

atau ii huruf yang diukir atau ditatah langsung dipermukaan bahan dinding iii. ditatah atau huruf timbul pada logam. dan terdiri dari i. huruf yang diukir. telepon. Dalam saf lif dilarang memasang pipa atau peralatan lain yang tidak merupakan bagian dari instalasi lif. kayu. 1 Tanda Peringatan Lif Penumpang b. 1. yang ruang rawat pasiennya tidak berada di lantai Lif pasien yang dibutuhkan pada butir a. sesuai dengan detail dan dimensi minimum seperti pada gambar Vll. Saf Lif a. misalnya bangunan Kelas 9a. . Mempunyai kapasitas beban tidak kurang dari 600 Kg. dengan penampilan khusus sehingga dapat terbaca pada keadaan gelap atau sewaktu terjadi kebakaran. b. harus: i. 5. Lif yang melayani ruang rawat pasien dihubungkan juga ke sistem tenaga listrik cadangan. Untuk saf lif yang menerus dan tidak memiliki pintu keluar pada setiap lantainya. 6. dan iii. Lif Untuk Rumah Sakit a. b. berukuran cukup untuk meletakkan fasilitas kereta dorong ( wheel strecther) secara horisontal ii. plastic atau sejenisnya dan dipasang tetap didinding. berupa bel listrik. Satu atau beberapa lif harus di pasang sebagai lif pasien untuk melayani setiap lantai dalam bangunan yang tidak menggunakan ramp.DILARANG MENGGUNAKAN LIF BILA TERJADI KEBAKARAN 10 mm 8 mm ATAU Dilarang menggunakan Lif bila terjadi Kebakaran Gambar VII. 4. bila diperlukan. atau alat-alat lainnya yang dipasang dalam gedung ditempat yang mudah didengar oleh pengelola bangunan gedung yang bersangkutan. setiap 3 lantai harus memiliki bukaan untuk digunakan dalam kondisi darurat. Sangkar Lif Sangkar pada setiap lif harus dilengkapi dengan peralatan tanda bahaya yang dapat dioperasikan dari dalam sangkar.

2 TANGGA DAN LANTAI BERJALAN Persyaratan Teknis tangga dan lantai berjalan harus mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. Beban balok dan penyangga harus sudah termasuk beban mesin lif.7. Semua hantaran listrik harus dipasang dalam pipa atau saluran kabel (duct) kecuali hantaran lemas (fleksibel) yang khusus. Dua kali jumlah beban komponen yang bergerak vertikal dari tromol (dihitung dari dua sisi). c. 9. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah tegak. Beban diperhitungkan pada saat bandul mekanis governor) bekerja. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada semua arah gaya d. sebelum dioperasikan harus diperiksa dan diuji terlebih dahulu oleh instansi yang berwenang. Prosedur pemeriksaan. Ruang mesin harus mempunyai sirkulasi udara. governor dan peralatan lain. Mesin Lif Dan Ruang Mesin Lif a. panel kontrol. iii. Jika mesin lif dan tali diempatkan di lantai bawah. ii. atau dihubungkan ke tali yang disangga oleh balok. iii. . 8. tromol. motor generator. Instalasi Listrik a. Vll. dan penyangga harus direncanakan sesuai beban dibawah ini: i. pengujian dan pemeliharaan instalasi lif sesuai dengan SNI 03-1718-1989 dan SNI 03-2190-1991. Pondasi harus menyangga berat mesin. Semua bagian logam dari lif pada keadaan bekerja normal tidak boleh bertegangan. tromol tali. c. b. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali baban berat pada arah sejajar. lantai dan penyangga di Ruang mesin harus di rencanakan dengan memenuhi: i. dengan beban sangkar lif. peralatan lain dan lantai diatasnya. Instalasi lif yang telah selesai dipasang atau yang telah mengalami perubahan teknis. termasuk lantai ruang mesin. Balok. ii. atau disamping ruang luncur di lantai bawah. b. Pemeriksaan. Pengujian Dan Pemeliharaan a. iv. Instalasi listrik untuk lif harus dilengkapi dengan pengaman harus lebih atau sakelar otomatis. b. untuk mempertahankan suhu udara dan panas dari peralatan mesin. Bangunan ruang mesin lif harus kuat dan kedap air serta berventilasi cukup. Minimum satu jalan keluar harus dibuat pada setiap nuang mesin lif. pondasi untuk mesin.

mempunyai huruf dan simbol dengan ukuran yang cukup diterangi dengan pencahayaan cukup sehingga jelas terbaca setiap waktu oleh orang yang masuk dan berada di dalam bangunan. setiap lorong. atau iii. Tanda KELUAR harus jelas kelihatan untuk orang yang menuju keluar. bekerja secara otomatis b. mudah dibaca. hall. harus : a. setiap ruang dengan luas lantai lebih dari 120 m2 yang digunakan pasien d. jika menggunakan sistem terpusat. Setiap tanda “KELUAR” dibutuhkan. harus: a. ke jalan raya. ke koridor. tangga yang tertutup. dan pada setiap jalan lintas yang mempunyai panjang lebih dari 6 meter diberikan sistem lampu darurat. Sistem lampu darurat dipasang pada: a b. yaitu pada: i. dipasang sehingga jika tenaga listrik normal terganggu. dan harus dipasang diatas atau di dekat setiap: a. Pintu yang digunakan untuk jalan keluar dari setiap lantai keluar i. mempunyai tigkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman. lorong atau ramp yang digunakan untuk Keluar iii.VIII.2 TANDA ARAH KELUAR 1. ii. TANDA ARAH KELUAR. 3. atau ii ke ruang yang mempunyai lampu darurat. bangunan kelas 9a. bangunan kelas 2 atau 3. ke ruang terbuka. DAN SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. catu daya cadangan dan kontrol otomatisnya harus dilindungi daari kerusakan karena api dengan konstsruksi penutup yang mempunyai TKA tidak kurang dari -/60/60. b c. koridor. pencahayaan darurat digunakan pada tanda KELUAR. c. atau ramp yang digunakan untuk ii tangga luar. e. 2. 2.1 SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT 1. atau sejenisnya yang digunakan pasien. lorong. . ruangan yang mempunyai luas lebih dari 100 m2 tetapi kurang 300 m2 yang terbuka: i. Jelas. c jalan lintas. atau iv. PENCAHAYAAN DARURAT. VIII. jalan keluar di balkon yang menuju Keluar. Setiap lampu darurat. Lampu darurat yang digunakan harus sesuai dengan standar yang berlaku. ruang yang mempunyai luas lebih dari 300 m2.

5. anak-anak. maka tanda Keluar dengan arah panah harus dipasang pada posisi yang tepat di koridor. hall umum. atau sejenisnya. lorong. akomodasi untuk orang tua. sistemnya harus diatur memberikan peringatan pada petugas b. Jika tanda “KELUAR" tidak segera diketahui oleh penghuni atau pengunjung bangunan. lobi. sistem alarm dapat diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan sesuai dengan tipe dan kondisi pasien Bangunan Kelas 9b a.1 3. . atau sejenisnya yang menunjukkan arah keluar yang disyaratkan. 2. 4. atau b. atau orang cacat. sesuai dengan tipe dan kondisi penghuni. bagian rumah dari sekolahan. yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua. b.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA Sistem peringatan bahaya dan komunikasi internal mengacu pada standar yang berlaku dan harus dipasang pada: 1. untuk gedung pertunjukan. sistem alarm diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan dan trauma. dan: Jalan keluar horisontal. c. Bangunan kelas 2 sebagai rumah perawatan orang tua. hall. dan: Pintu yang digunakan sebagai atau merupakan bagian dari jalan KELUAR" pada setiap lantai yang harus dilengkapi dengan lampu darurat sesuai VIII. VIII. Bangunan dengan ketinggian lebih dari 25 m Bangunan Kelas 2 yang mempunyai ketinggian lantai lebih dari dua lapis dan a. langsung memberikan peringatan pada petugas. mempunyai ketinggian lantai tidak lebih dari tiga b. kecuali bila sistemnya a. di daerah bangsal perawatan. Pintu dari tangga tertutup. atau ramp pada setiap tingkat yang menuju Jalan raya atau ruang terbuka. Bangunan Kelas 9a yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua: a.b. d. untuk sekolah. 3.

Perencanaan Instalasi Listrik Instalasi listrik harus memenuhi ketantuan: a.1 INSTALASI LISTRIK 1. Jaringan distribusi listrik terdiri dari kabel dengan inti tunggal atau banyak dan busduct dari berbagai tipe. transformator dan peralatan lainnya. Untuk hal-hal yang belum dicakup atau tidak disebut dalam PUIL. Dalam menentukan tipe peralatan yang dipakai untuk instalasi listrik harus kuat harus diperhatikan bahaya kebakaran yang mungkin dapat terjadi dan kerusakan yang mungkin terjadi akibat kebakaran. dengan frekuensi 50 Hertz. tidak membahayakan. maka segala sesuatu yang bersangkutan dengan instalasi dan perlengkapan listrik harus sesuai dengan buku Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. 2. papan hubung bagi dan isinya . lif kebakaran. sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. dan dilindungi terhadap kebakaran atau terdiri dari penghantar tahan api. dan lain-lain harus ditempatkan dengan baik sehingga memudahkan pengoperasiannya oleh petugas. c. Jaringan Distribusi Listrik a. ukuran dan kemampuan.IX. peralatan pengendali asap. Tipe dari kabel harus disesuaikan dengan sistem yang dilayani. Peralatan pada papan hubung bagi seperti sakelar. bagian bangunan dan instalasi lainnya. c. Sistem instalasi listrik terdiri dari sumber daya. seperti pompa kebakaran. dipelihara. sistem komunikasi darurat. Kecuali untuk hal-hal yang dianggap khusus atau yang tidak disebutkan. INSTALASI LISTRIK. dapat menggunakan ketentuan/ standar dari negara lain atau badan international. . jaringan distribusi. d. PENANGKAL PETIR DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. papan hubung bagi dan beban listrik. dan beban penting lainnya harus terpisah dari instalasi beban lainnya. b. Sistem tegangan rendah dalam gedung adalah 220/380 volt. alat ukur. Sistem instalasi listrik dan penempatannya harus mudah diamati. Sistem tegangan menengah dalam gedung adalah 20 kV atau kurang. tidak boleh dibebani melebihi batas kemampuannya e. sistem deteksi dan alarm kebakaran. mengganggu dan merugikan bagi manusia. dengan frekuensi 50 Hertz. b. lingkungan. tombol. Jaringan yang melayani beban penting. Semua peralatan listrik diantaranya penghantar.

harus terlebih dahulu diperiksa dan diuji mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku. di antaranya Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. secara otomatis. dengan ruangan yang cukup untuk perawatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. yang penempatannya harus aman dan tidak menimbulkan gangguan lingkungan serta harus mengikuti standar dan atau nomalisasi dari peraturan yang berlaku. Apabila ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir 1 di atas tidak momungkinkan. b. Sumber daya utama gedung harus menggunakan tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara. Bila ruang transformator dekat dengan ruang yang rawan kebakaran maka diharuskan mempergunakan transformator tipe kering. e. faktor kebersamaan (coincident factor) atau faktor ketidak bersamaan (diversity factor). b. dengan pintu yang hanya dapat dimasuki oleh petugas. d. . sumber daya utama dapat menggunakan sistem pembangkit tenaga sendiri. g. Transformator distribusi yang berada dalam gedung harus ditempatkan dalam ruangan khusus yang tahan api dan terdiri dari dinding. Beban dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut konservasi energi dan lain-lain. c. Transformator Distribusi a. atap dan lantai yang kokoh. harus memiliki pembangkit tenaga cadangan yang dayanya dapat memenuhi kelangsungan pelayanan dari seluruh atau sebagian dari bangunan atau ruang khusus tersebut. Bangunan dan ruang khusus yang pelayanan daya listrik tidak boleh putus. Ruangan trafo harus diberi ventilasi yang cukup. Sistem instalasi listrik pada bangunan gedung tinggi dan bangunan umum harus memiliki sumber daya listrik darurat yang mampu melayani kelangsungan pelayanan seluruh atau sebagian beban pada gedung apabila tajadi gangguan sumber utama. Sumber daya listrik darurat yang digunakan harus mampu melayani semua beban penting yang disebut dalam butir 3. Instalasi dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan dan diamankan terhadap dampak seperti interferensi golombang elektromanetik dan lain-lain. Pemeriksaan Dan Pengujian Instalasi listrik yang dipasang.3. 5. Sumber Daya Listrik a. sebelum dipergunakan. 4. dengan ijin instansi yang bersangkutan. f. Beban Listrik Beban maksimum suatu instalasi listrik arus kuat harus dihitung dengan memperhatikan besarnya beban terpasang. 6. c.

Pemasangan instalasi penangkal petir pada bangunan. instalasi penangkal petir harus diperiksa dan dipelihara secara berkala. 2. bagian bangunan dan instalasi lain.3 INSTANSI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG. Pemeliharaan instalasi listrik harus dilaksanakan dan diperiksa setiap lima tahun serta dilaporkan secara tertulis kepada instansi yang berwenang c. 3. Instalasi penangkal petir harus disesuaikan dengan adanya perluasan atau penambahan bangunan. IX. Pemeliharaan a. harus memperhatikan arsitektur bangunan. Pemasangan penangkal petir harus diperhitungkan berdasarkan standar. dipelihara. 1. tanpa mengurangi nilai perlindungan yang efektif terhadap sambaran petir. perbaikan dan pelayanan.7. antara lain SNI-3990 tentang Tata Cara Instalasi Penangkal Petir Untuk Bangunan dan SNI-3991 tentang Tata Cara Instalasi Penyalur Petir. Perencanaan Penangkal Petir a. Suatu instalasi penangkal petir harus dapat melindungi semua bagian dari bangunan. harus diadakan pemeriksaan dari bagian-bagiannya dan harus segera dilaksanakan perbaikan terhadap bangunan. c. b. sifat geografis. serta diberi ventilasi cukup. b. IX. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung a. harus mengacu pada rekomendasi dari badan International seperti IEC. normalisasi teknik dan peraturan lain yang berlaku. termasuk manusia yang ada di dalamnya. serta direncanakan . bentuk dan penggunaannya diperhitungkan mempunyai risiko terkena sambaran petir. b. terhadap bahaya sambaran petir. Ha-hal yang belum diatur didalam peraturan tersebut diatas baik yang menyangkut perhitungan maupun peralatan dan instalasinya. dan instalasi lainnya. Setiap bangunan atau yang berdasarkan letak. Pada ruang panel hubung bagi. Pemeriksaan dan Pemeliharaan a. bagian atau peralatan dan perlengkapan bangunan yang mengalami kerusakan. Apabila terjadi sambaran pada instalasi penangkal petir. tidak membahayakan. harus diberi instalasi penangkal petir. Sistem instalasi komunikasi telepon dan tata gedung dan penempatannya harus mudah diamati. Instalasi Penangkal Petir a. harus terdapat ruang yang cukup untuk memudahkan pemeriksaan.2 INSTALASI PENANGKAL PETIR 1. Pembangkit tenaga listrik darurat secara periodik harus dihidupkan untuk menjamin agar pembangkit tersebut dapat dioperasikan bila diperlukan. mengganggu dan merugikan lingkungan. b.

ii. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak. c. Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. 2. Instalasi Telpon a.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. c. harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran.b. kedap debu. Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. dan dilaksanakan berdasarkan standar. maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. Instalasi Tata Suara a. Ruang PABX dan TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan: i. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektro magnetik. dan lain-lain. b. Secara berkala dilakukan pengukuran/ pengujian terhadap EMC (Electro Magnetic Campatibility). Ruang batere sistem telepon harus bersih. ii. Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi Persyaratan: i. . aman dan mudah dikerjakan. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. c. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan. atau terdiri dari kabel tahan api. d. iii. Ruang yang bersih. mempunyai dinding dan lantai tahan asam.80m. Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir a diatas harus menggunakan sistem khusus. Dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. minimal berjarak 0. b.50 m x 0. iii. terang. Setiap bangunan dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m keatas. terang. tidak ada genangan air. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya dan dilindungi terhadap bahaya kebakaran. maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja. sirkulasi udara cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. 3.

yang terdiri dari kandungan methane (CH4) dan ethane (C2He ). harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas yang secara otomatis mematikan aliran gas. iii. b. Gas nitrous Oxida (N2O) c. b. INSTALASI GAS X. Konsumsi gas maksimum yang perlu disediakan. iv. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. Jenis Gas Jenis gas medik yang dimaksud. Berat jenis dari gas. Panjang pipa dan jumlah sambungan. Ukuran pipa gas harus mencukupi dan dipasang untuk melayani pasokan gas dalam rangka memenuhi kebutuhan maksimum tanpa terlalu banyak kerugian tekanan antara meter-gas dan peralatan-peralatan pengguna gas. Jaringan Distribusi Gas Kota a. Pada instalasi gas untuk pembakaran. v. Rancangan sistem distribusi gas pembakaran. Gas Kota Gas kota yang dipakai umumnya berupa gas alam (natural gas).1 INSTALASI GAS PEMBAKARAN 1.X. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. vi.2 INSTALASI GAS MEDIK 1. Faktor diversifikasi (diversity factor). Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. Udara tekan . Instalasi pemipaan untuk rumah dan gedung (mulai dari meter-gas)mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. X. 3. adalah : a. serta mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut : i. serta merupakan bagian pertimbangan keandalan bangunan. c. Gas elpiji. Gas oxigen b. 2. Gas elpiji (LPG = Liquefied Petroleum Gasses). Kerugian tekanan yang diperbolehkan dari meter-gas ke peralatan ii. terdiri dari propane (C3H8) dan Butane (C4H10). Jenis Gas Jenis gas pembakaran yang dimaksud meliputi: a.

seperti untuk ruang bedah orthopedi. pemilihan bahan dan kontruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. Instalasi pemipaan untuk bangunan gedung mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. 3. d. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. c. peralatan rawat gigi dan sebagainya. Pada instalasi pipa gas medik harus dilengkapi dengan biofilter. khususnya untuk instalasi pipa oksigen. b. Kebutuhan gas medik garus disesuaikan dengan kebutuhan untuk asien rawat inap dan kebutuhan lain. Jaringan Distribusi Gas Medik a. Rancangan sistem distribusi gas medik.d. pipa Nitrous Oxida dan pipa udara tekan. Pada instalasi gas medik harus dilengkap peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas dan dilengkapi dengan sistem isyarat tanda kebocoran gas. Vakum 2. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang . e.

Bangunan yang dilengkapi dengan sistem penyediaan air panas. meliputi sistem air bersih. g. Sistem Penyediaan Air Bersih a. . sistem air kotor dan alat plambing yang memadai. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam operasional dan pemeliharaannya. Kualitas air bersih yang dialirkan ke alat plambing dan perlengkapan plambing harus memenuhi standar kualitas air minum yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang.1. f. kecuali untuk penggunaan khusus. maka harus dilengkapi dengan pipa sirkulasi. b. tidak mengganggu lingkungan.XI. 2. Sistem distribusi air harus direncanakan sehingga dengan kapasitas dan tekanan air yang minimal. petunjuk teknik. dan apabila sumber air bukan dari PAM. alat plambing dapat bekerja dengan baik. sedangkan untuk kelas bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia. dimana pipa pembawa air panas dari sumber air panas ke alat plambing cukup panjang. sebelum digunakan harus mendapat persetujuan dari instansi yang berwenang. maka harus dipasang sistem tanki persediaan air dan pompa yang direncanakan dan ditempatkan sehingga dapat memberikan kapasitas dan tekanan yang optimal. Sumber air bersih pada bangunan harus diperoleh dari sumber air PAM (Perusahaan Air Minum). Pipa pembawa air panas yang cukup panjang tersebut harus dilapisi dengan bahan isolasi. Apabila kapasitas dan atau tekanan sumber yang digunakan tidak memenuhi kapasitas dan tekanan minimal pada titik pengaturan keluar. d. c. b. Temperatur air panas yang keluar dari alat plambing harus diatur. maksimum 60° C. dan Pedoman Plambing Indonesia yang berlaku. serta diperhitungkan berdasarkan standar. Perencanaan Sistem Plambing a. SISTEM PLAMBING 1. e. Kebutuhan air bersih untuk perumahan berkisar antara 60-250 liter/orang/hari. SANITASI DALAM GEDUNG XI. Setiap pembangunan baru dan atau perluasan bangunan harus diperlengkapi dengan sistem plambing.

kakus maupun kegiatan lainnya. mampu menahan tekanan sekurang-kurangnya 2 kali tekanan kerja. Sistem Pembuangan Air Kotor a. sehingga dapat mengalirkan air kotor secara gravitasi. h. d. sesuai dengan petunjuk teknis dari bahan pipa yang bersangkutan dan ketentuan-ketentuan lain yang berlaku di Indonesia. Diameter pipa sambungan pelanggan dari jaringan pipa distribusi kota harus disesuaikan dengan kelas bangunan. c. baik tempat mandi cuci. e. tembaga. baja maupun bahan lainnya yang tidak mudah rusak. maka dapat menggunakan sistem perpompaan. Sistem pengaliran air kotor direncanakan dengan menggunakan saluran tertutup dan kemiringan tertentu. PE (poli-etilena). Air kotor yang mengandung bahan buangan berbahaya dan beracun. j. i. harus ditangani secara khusus. Pemilihan bahan dan pemasangan saluran harus disesuaikan dengan penggunaannya dan sifat cairan yang akan dialirkan. karat dan kebocoran. Sistem air kotor didalam bangunan harus dilengkapi dengan pipa ven untuk menetralisir tekanan udara didalam saluran tersebut. Pada dasarnya air kotor berasal dari aktivitas manusia. tanah liat. Pemeliharaan sistem air kotor dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya penyumbatan. Semua sistem pelayanan air bersih harus direncanakan. tahan terhadap karat dan panas.h. Saluran air kotor dapat benupa pipa atau saluran lainnya. tidak mengandung bahan beracun dan pemasangannya harus sesuai dengan petunjuk teknis bahan pipa yang bersangkutan. besi tuang. 3. i. Semua air kotor harus diolah sebelum dibuang ke saluran air kotor umum kota atau disalurkan ke bangunan pengolahan air kotor komunal bila tersedia. sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia. . Penentuan diameter saluran dibuat seekonomis mungkin sesuai dengan kapasitas dan bahan buangan yang akan dialirkan. Bahan pipa yang digunakan dapat berupa PVC. serta yang mengandung radioaktif. PE. beton. f. baik dari bahan PVC. Apabila cara gravitasi ini tidak dapat dilaksanakan. b. besi lapis galvanis atau Tembaga. dipasang dan dipelihara sedemikian rupa sehingga tidak mudah rusak dan tidak terkontaminasi dari bahan yang dapat memperburuk kualitas air bersih. g.

fiberglass dan kayu. Konstnuksi dan bahan tanki penyediaan air bersih harus cukup kuat dan tidak mudah rusak. Peralatan plambing yang mengalirkan air bersih ke tempat-tempat yang dapat menimbulkan pencemaran. . Bahan tangki dapat berupa beton. baja. seperti katup penahan aliran balik dan katup pencegah atau pemutus vakum. Fungsi tangki penyediaan air bersih adalah untuk menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan penghuni. bahan tersebut tidak boleh memperburuk kualitas air bersih. harus dilengkapi dengan alat pencegah kontaminasi. c. Jumlah dan jenis alat plambing serta perlengkapannya harus disediakan sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. e. kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni bangunan. pipa penguras dan pipa ven. Tangki penyediaan air bersih harus direncanakan dan dipasang untuk penyediakan air dengan kuantitas dan tekanan yang cukup. harus dilengkapi dengan alat perangkap minyak dan lemak. tidak mengganggu struktur bangunan dan memberikan kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan. Pipa pembuangan dari alat plambing yang digunakan untuk menyimpan atau mengolah makanan. b. serta dilengkapi dengan 1ubang pemeriksa. 5. minuman bahan steril atau bahan sejenis lainnya. harus dilakukan secara berkala untuk menjamin kebersihan dan bekerjanya alat tersebut dengan baik. Semua alat plambing harus direncanakan dan dipasang sehingga memenuhi aspek kebersihan.4. penanggulangan kebakaran dan pengaturan tekanan air. perlengkapan bangunan. Pada pipa penyaluran air kotor dari alat plambing yang mungkin menerima buangan mengandung minyak atau lemak. harus dilengkapi dengan celah udara yang cukup untuk mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi. Tangki Penyediaan Air Bersih a. b. f. Alat Plambing a. d. g. e. babas dari kerusakan dan tidak mempunyai bagian kotor yang tersembunyi. Apabila tangki penyediaan air bersih menggunakan bahan lapisan untuk mencegah kebocoran dan karat. d. c. Bahan alat plambing harus mempunyai permukaan yang halus dan rapat air. tahan lama untuk digunakan. Pemeliharaan semua alat plambing. pipa peluap. Tangki penyediaan air bersih harus diiengkapi dengan sistem perpipaan dan perlengkapannya yang terdiri dari pipa masuk dan pipa keluar.

maka dapat menggunakan sistem perpompaan. Kelengkapan pada Bangunan a. XI. Fungsi pompa air bersih adalah memberikan kapasitas dan tekanan cukup pada sistem penyediaan air bersih atau menyalurkan air ke penyediaan air bersih. Setiap bangunan dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem saluran air hujan. Apabila saluran dibuat tertutup. maka pada tiap perubahan arah aliran harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa. dan bila tidak dapat dilakukan dengan cara gravitasi. sehingga dapat mengalirkan seluruh air hujan dengan baik agar bebas dari genangan air. SALURAN AIR HUJAN. b. lubang pemeriksa harus dibuat dengan jarak tiap 25-100 m. Pompa harus dipasang pada lokasi yang mudah untuk pengoperasian dan pemeliharaannya. disesuaikan dengan diameter saluran tersebut dan standar yang berlaku. c. yang tanki kotor kotor b. d. Kemiringan saluran harus dibuat. maka harus dilakukan cara-cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang 2.2 Pemilihan jenis pompa dan motor pompa disesuaikan dengan karakteristik pompa yang dibutuhkan dan mempunyai effsiensi yang maksimal. c. 1. Bila belum tersedia jaringan umum kota ataupun sebab-sebab lain yang dapat diterima. b Saluran air hujan dapat merupakan saluran terbuka dan atau saluran tertutup. . pipa isap dan pipa keluaran pompa. Pemasangan pompa harus dilengkapi peralatan peredam getaran yang dipasang pada dudukan pompa. Pompa harus dilengkapi dengan alat pengukur tekanan dan katup pencegah aliran balik pada pipa keluaran dan ujung pipa isap pompa. Air hujan harus dialirkan ke sumur resapan dan atau dialirkan ke jaringan air hujan umum kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Persyaratan Saluran a.6. e. c. dan pada saluran yang lurus. Fungsi pompa air kotor adalah menyalurkan air ke saluran air kotor umum Kota atau ke bangunan pengolahan air lainnya. Pompa a.

mempunyai tutup dan mudah diangkut. Sampah Berbahaya Untuk sampah padat yang dikatagorikan sebagai jenis buangan berbahaya dan beracun (sampah B3). . sehingga tidak mengganggu kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni. sesuai dengan ketentuan yang berlaku. peti kemas baja. Bahan saluran dapat berupa PVC. Khusus untuk bahan seng. Bahan tersebut dapat berupa kantong plastik. fiberglass. Penempatan pada Bangunan Setiap bangunan baru dan atau perluasan bangunan harus dilengkapi dengan fasilitas pewadahan dan atau penampungan sampah sementara yang memadai. Kapasitas pewadahan sampah atau tempat penampungan sementara harus dihitung berdasarkan jenis bangunan dan jumlah penghuninya. XI. 3. c. Pemeliharaan Pemeliharaan sistem air hujan harus dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. besi dan baja harus dilapisi dengan lapisan tahan karat. b. 3. 2. Bentuk pewadahan sampah harus disesuaikan untuk kemudahan pengangkutan sampah oleh Dinas Kebersihan Kota. Pewadahan a. besi dan baja. beton. seng. atau Pengelola Pengangkutan Sampah. dan pasangan bata atau beton.d. masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Tempat pewadahan sampah harus terbuat dari bahan kedap air. tanah liat. tidak mudah rusak. pasangan.3 PERSAMPAHAN 1. peti kemas fiberglass. penempatan dan pembuangannya harus ditangani secara khusus sesuai dengan peraturan yang berlaku.

bukaan. bukaan. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 10% luas lantai kedua ruangan tersebut. Kebutahan Ventilasi Setiap bangunan harus mempunyai: a. (3) ruangan bersebelahan yang dimaksud dalam butir b di bawah ini. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai lantai kedua ruangan tersebut. Ventilasi mekanis yang memenuhi ketentuan yang berlaku. (2) ruangan bersebelahan yang mempunyai jendela. dan hunian tunggal pada bangunan klas 3.1. Bangunan kelas 5. 6. ii ke arah. atau sarana lainnya dari ruangan yang bersebelahan (termasuk teras tertutup) jika kedua ruangan tersebut berada dalam satuan hunian yang sama atau mempunyai teras tertutup yang menjadi satu.XII. pintu atau sarana bukaan lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 10% dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. ii. 7. (2) teras terbuka. (3) ruangan bersebelahan dengan jendela. . bukaan pintu ventilasi. dengan jarak tidak lebih dari 3. b.2 di bawah ini atau b. bukaan. 8 atau 9. VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. (3) Luas ventilasi yang diatur pada butir (1 ) dan (2) dapat direduksi secukupnya jika tersedia ventilasi alami langsung dari sumber lainnya. (1) jendela.6 m diatas lantai. (1) ruang yang di ventilasi bukan kompartemen sanitasi. Bangunan klas 2. bukaan. (2) jendela. 2. pelataran parkir. Ventilasi Dari Ruangan Yang Bersebelahan Ventilasi alami pada suatu ruangan dapat berasal dari jendela. (1) halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai. Ventilasi alami harus terdiri dari bukaan permanen. Ventilasi alami sesuai dengan butir XII. dengan jumlah bukaan berukuran tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang dibutuhkan untuk di ventilasi. Ventilasi Alami a.1 VENTILASI 1. Penerapan ventilasi alami. dan yang sejenis. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang diventilasi. jendela. pintu atau sarana lain yang dapat dibuka i. dan: i. atau daerah yang terbuka ke atas.

ruang kerja yang umumnya digunakan oleh lebih dari satu orang. . e. Ruang antara Jika ruang kakus atau peturasan yang dilarang menurut butir c di atas terbuka langsung terhadap ruang lainnya: i. f. Batasan untuk posisi kakus dan peturasan. atau ii. atau (2) total daya masukan gas lebih dari 29 MJ/jam. Ruang kakus atau peturasan tidak boleh terbuka langsung ke arah: i. sekolah TK atau panggung terbuka). (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan udara mekanis. Dalam hunian tunggal pada bangunan kelas 2 atau 3 atau bagian bangunan kelas 4. ii ruang makan umum atau restoran. ii. harus mempunyai jarak melintang yang cukup untuk ventilasi antara bagian bawah permukaan lantai dasar dengan permukaan tanah/ halaman. jika: i. jika berada dibawah lantai dasar. (1) jalan masuk harus melalui ruang antara. Ventilasi ruangan dibawah lantai dasar Lantai paling bawah suatu bangunan: i.1 m2 dan pada setiap pintu jalan masuk harus dipasang alat penutup pintu otomatis. koridor atau ruang lainnya. ruang yang digunakan sebagai tempat berkumpul (yang tidak berbentuk pusat penitipan anak. koridor atau ruang lainnya dengan luas tidak kurang dari 1. (1) jalan masuk harus melalui suatu dinding terkurung. sekolah TK atau panggung terbuka). setiap peralatan masak yang mempunyai: (1) total daya masukan listrik maksimum lebih dari 8 kW. 8 atau 9 (yang bukan merupakan pusat penitipan anak. asrama pada bangunan Kelas 3. dan pintu ke ruangan tersebut harus terhalang dari penglihatan. 7. iii. Pembuangan udara dari dapur Pada dapur komersial harus tersedia tudung pembuangan gas dapur yang memenuhi ketentuan yang berlaku. dapur atau pantry. Gedung Parkir Setiap lantai gedung parkir. v. kecuali pelataran parkir terbuka harus mempunyai: i. iv. atau iii. harus mempunyai konstruksi lantai yang sesuai. g. sistem ventilasi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. harus mempunyai penutup yang kedap air diatas muka tanah/halaman dibawah lantai dasar. sistem ventilasi alami permanen yang memadai. pada bangunan Kelas 5. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan mekanis. d. 6.c. ii.

Prosedur Perhitungan beban pendinginan harus mengikuti prosedur sesuai yang ditunjukkan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. sistem tersebut harus bekerja terus menerus selama ruang tersebut dihuni. dan standar teknis lain yang berlaku.5 kW untuk daya listrik. rumah sakit. Konservasi Energi a. Ruang parkir pada ruang bawah tanah (basement) yang terdiri dari lebih satu lantai. serta biaya awal dan biaya umur pemakaian energi. Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara secara maksimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar. atau (2) 1. kantor. d.2 2. 3.8 MJ/jam untuk daya gas. Ventilasi buatan a. termasuk dengan memperhitungkan pemakaian energi per tahunnya. pemilihan peralatan. b. 3. total daya masukan maksimum per m2 luas lantai ruangan yang mempunyai lebih dari satu alat masak. Pengkondisian udara harus memperhatikan upaya konservasi energi minimal seperti dinyatakan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung.60 meter diatas lantai. c. PENGKONDISIAN UDARA 1. c. Rancangan sistem pengkondisian udara harus dikembangkan sehingga penggunaan energi yang optimal dapat diperoleh. f. gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya. Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan a. Besamya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruang dalam bangunan harus sesuai standar yang berlaku. Kebutuhan Pengkondisian Udara Setiap bangunan seperti untuk hunian. dan minimal 2/3 volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0. XII. dan setiap ruang lainnya bila diperlukan dapat mempunyai sistem pengkondisian udara yang memenuhi ketentuan yang berlaku. Bilamana digunakan ventilasi buatan. toko. Karakteristik beban bangunan harus dianalisa sehingga memungkinkan sistem dan peralatan dengan ukuran yang tepat serta dipilih untuk memperoleh efisiensi yang baik pada beban penuh atau beban paruh.ii. b. e. pabrik. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistem ventilasi buatan untuk membuang udara kotor dari dalam. Sistem Ventilasi buatan harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi syarat tidak memadai. lebih dari: (1) 0. . atau sebaliknya.

Kondisi Dalam Bangunan Kondisi dalam bangunan yang memerlukan pengkondisian udara harus dirancang sesuai penggunaannya.b. Dasar perancangan i. Penetapan sistem dan peralatan. sistem pompa dan pemipaan. tidak dibenarkan mempergunakan sistem sirkulasi udara yang dapat menyebabkan penularan penyakit ke bagian lain bangunan. isolasi pemipaan. (3) Sistem pengkondisian udara pada bangunan klas 8a untuk ruang operasi. sistem kontrol. Kondisi Luar Bangunan Kondisi rancangan udara luar bangunan mengacu pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. (2) Semua saluran udara harus direncanakan. (1) Penetapan sistem dan peralatan pengkondisian udara (Sistem Fan. . dibuat dan dipasang sesuai ketentuan yang berlaku. ii. isolasi sistem distribusi udara) mengacu pada SK SNI yang berlaku. . iii. sistem distribusi udara. ruang steril dan ruang perawatan bagi pasien yang berpenyakit menular. atau standar internasional lain yang diakui oleh instansi yang berwenang.

PENCAHAYAAN BUATAN. efektif dan sesuai dengan kebutuhan ruangan. g. tempat bongkar muat barang. dan diskotek dimana pencahayaan merupakan bagian penting untuk menghasilkan knalitas tampilan. pencahayaan untuk pembuatan film. j. c. sehingga diperoleh konsumsi energi yang masih dapat dipertanggung jawabkan. ruangan dan daerah yang dicakup oleh bagian ini meliputi: a. pintu ketuar. penyiaran televisi. ruang kelas yang direncanakan untuk kebutuhan khusus. Energi Yang Dikonsumsi Energi yang dikonsumsi untuk pencahayaan buatan mempunyai pengaruh besar pada peningkatan beban listrik dan beban pendinginan bangunan. Kamar. dsb.2 2. Sistem pencahayaan buatan harus dipilih secara fleksibel. pencahayaan darurat yang secara otomatis mati. museum dan monumen. ruangan. daerah luar bangunan.XIII. 2. kegiatan diluar bangunan. fasilitas luar untuk olahraga. PENCAHAYAAN XIII. termasuk daerah di udara terbuka dimana pencahayaan dibutuhkan dan disambungkan dengan listrik bangunan. iii. daerah dan peralatan yang tidak termasuk bagian ini. pencahayaan di unit pengeboran. daerah yang mempunyai risiko keamanan tinggi dan diperlukan tambahan pencahayaan untuk keamanan manusia. fasilitas pencahayaan untuk display di muka atau jendela toko. klub malam. i. taman dan daerah bagian luar lainnya. e. seperti: i. pencahayaan untuk rambu-rambu. c. 1. n. jalan. meliputi: a. .00 malam sampai jam 06. pencahayaan untuk pameran seni. d. gallery. presentasi audio visual dan bagian-bagian lain dan fasilitas pertunjukan seperti panggung di hotel. b. m.00 pagi. selama operasi normal. Kamar. reflektor khusus untuk medis dan perawatan gigi. Tingkat Iluminasi Tingkat iluminasi disarankan seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung XIII.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN 1. pencahayaan didalam bangunan yang digunakan dari jam 22. seperti proses produksi dan penyimpanan. pencahayaan luar untuk monumen publik. f. ruangan didalam bangunan b. 1. k. pencahayaan khusus laboratorium. pintu masuk ii.

Daya terpasang dapat diminimalkan dengan penggunaan lampu. 2. mempunysi karakteristik distribusi pencahayaan sesuai kebutuhan dan tidak menghasilkan ketidak nyamanan karena silau atau pantulan. kemampuan tahan panas dari kaca ditingkatkan dengan penggunaan tirai matahari dan atau kaca ganda. Penggunaan sakelar otomatis atau sistem pengendali lainnya agar tingkat pencahayaan buatan dalam bangunan dapat diatur. Konsumsi Energi Konsumsi energi pencahayaan buatan dapat diminimalkan dengan mengurangi daya terpasang dan waktu pemakaian. c. b. langit yang cerah. Untuk fasilitas banyak bangunan. Reflektor untuk lampu High Intensity Discharge (HID) menggunakan reflektor aluminium anodized berkualitas tinggi. kebutuhan daya pencahayaan luar bangunan terutama adalah untuk pencahayaan buatan diantara bangunan tersebut. 5. Daerah efisasi dari lampu yang ada ditunjukkan pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. XIII. a. Daya Maksimum Yang Diijinkan Beban pencahayaan total untuk ruang dalam bangunan disarankan tidak melebihi nilai maksimum seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. baik dari sumber sinar matahari langsung.3 PENCAHAYAAN ALAMI 1. maupun dari pantulan kaca dan sebagainya. Pemanfaatan pencahayaan alami Pemanfaatan pencahayaan alami yang optimal pada bangunan karena merupakan cara yang sangat penting untuk mengurangi beban energi bangunan. 6.3. Pengendalian silau pada bangunan. Penggunaan Lampu Penggunaan lampu sesuai kebutuhan dan mempertimbangkan upaya konservasi energi pada bangunan gedung. balas. dan reflaktor yang efisien. Perencanaan Sistem Pencahayaan Perencanaan sistem pencahayaan adalah dengan monggunakan sumber pencahayaan yang tepat. Daya pencahayaan buatan di luar bangunan. Kebanyakan reflektor yang efisien untuk lampu fluorecent adalah dari jenis mirror reflector atau prismatic. 7. jenis reflektor yang efisien. Penentuan besanya iluminasi Penentuan besarnya iluminasi mengikuti ketentuan teknis SNI-2396 tentang Penerangan Alami Siang hari untuk Rumah dan Gedung. b. obyek luar. Daya pencahayaan buatan untuk bagian luar bangunan sebaiknya tidak melebihi nilai seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. 3. Jika perlu. Kaca mengurangi kemampuan tahan panas dari dinding. . 4. Perencanaan pencahayaan alami Pertimbangan perencanaan pencahayaan alami pada bangunan: a.

Minimal satu sakelar harus dipasang untuk setiap group yang melayani luasan 30 m atau kurang. Semua sistem pencahayaan. kecuali: a. c. Semua ruangan yang tertutup dengan dinding bata atau partisi yang sampai ke plafond harus dilengkapi dengan satu pengendali pencahayaan manual untuk setiap kamar. Pengendali dipusatkan di lokasi yang berjarak jauh (seperti ruangan lobi dari kantor. f. Apabila dimungkinkan adanya pencahayaan alami. kecuali yang diperlukan untak pencahayaan darurat atau pencahayaan lampu “KELUAR”.4 PENGENDALIAAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN. d. hotel dan rumah sakit. Pengendali yang diprogram. Letak pengendali harus mudah dicapai. Pengendali haruss digunakan sehingga bekerja pada baris pencahayaan yang paralel dengan dinding luar bangunan. otomatis atau yang terprogram. Pencahayaan bagian luar tidak diperuntukkan beroperasi 24 jam terus menerus. Pengendali untuk keamanan bahaya dan keselamatan. Pengendali yang memerlukan operator yang terlatih. 2. pengendali manual lokal atau pengendali otomatis seperti sakelar yang dilengkapi dengan photoelectric atau dimmer otomatis sebaiknya digunakan di ruangan yang diterangi dengan pencahayaan alami. kecuali untuk hal-hal lain jika diperlukan. b. Sakelar pengendali dengan beban yang sama yang tedetak di lebih satu lokasi harus dinilai sebagai penambahan jumlah pengendali untuk memenuhi kebutuhan butir 1 di atas. Minimal satu sakelar dengan tanda khusus untuk melayani 1100 Watt yang disambungkan ke beban listrik. Pengendali otomatis. harus dilengkapi dengan pengendali manual. e. b. Kamar tamu hotel harus mempunyai sakelar utama didekat pintu yang mematikan semua lampu dan stop kontak.XIII. . pertokoan. pasar swalayan. e. gudang dan koridor yang dibawah pengendalian terpusat). Semua pengendali pencahayaan harus ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/dibaca untuk orang yang berada atau menggunakan ruang tersebut. c. Pengendali pencahayaan harus dilengkapi sebagai berikut: a. 1. d. dan harus secara manual atau otomatis dimatikan (misalnya dengan pembatas waktu atau photocell).

XIV. KEBISINGAN DAN GETARAN
XIV. 1. KEBISINGAN 1. Baku Tingkat Kebisingan a. Salah satu dampak dari usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat kebisingan yang dihasilkan. b. Baku tingkat kebisingan untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti ketentuan dalam standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat kebisingan lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut berlaku baku tingkat kebisingan sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2

XIV.2

GETARAN 1. Baku Tingkat Getaran a. Sala satu dampak dan usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat getaran yang dihasilkan. b. Baku tingkat getaran untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat getaran lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut, berlaku baku tingkat getaran sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2.

XV. KETENTUAN PENUTUP

XV.1

Persyaratan Teknis Bangunan Gedung seperti telah diuraikan pada Bab-bab sebelumnya merupakan persyaratan pokok yang ditunjang oleh standar teknis (SNI), pedoman atau petunjuk teknis yang berlaku dan lebih rinci berkaitan dengan spesifikasi, tata cara, dan metode uji bangunan, komponen, elemen, serta berbagai aspek teknis dari bangunan gedung. Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau yang bersifat alternatif serta penyesuaian penyesuaian yang diperlukan terhadap Persyaratan Teknis Bangunan Gedung diharapkan untuk dikembangkan oleh masing-masing Daerah disesuaikan dengan kondisi, permasalahan, kebutuhan, dan kesiapan kelembagaan di setiap Daerah.

XV.2

MENTERI PEKERJAAN UMUM ttd. RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN
TABEL V.2.3 PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. KETENTUAN UMUM
PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN Untuk: 1. Tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap jalan penghubung atau ramp yang melayani: a. Setiap lantai di atas tinggi efektif 25m, atau b. lebih dari 2 lantai di bawah tanah, atau c. atrium, atau d. bangunan klas 9a yang > 2 lantai, dan 2. jalan penghubung atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dengan panjang > 60 m ke jalan umum atau ruang terbuka, harus dilengkapi dengan: 1. Sistem presurisasi otomatis, atau 2. Ramp atau balkon akses yang terbuka sesuai ketentuan butir Vl.3. BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF >25 M Klas. 2, 3, den 4. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. 2. Bila panjang koridor umum > 40 m, harus dibagi dengan interval < 40 m, dengan konstruksi sesuai ketentuan V.1.3, kecuali bahan pelapis dan bahan yang tidak mudah terbakar Klas5,6, 7,8,dan 9b (selain ruang/tempat parkir) Klas 9a 1. Harus dilengkapi dengan sistem pengendali asap terzona sesuai ketentuan yang berlaku. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis, dan 2. Sistem pengendali asap tezona sesuai ketentuan yang berlaku

KLAS/BAGIAN BANGUNAN Jalan keluar yang Diisolasi terhadap kebakaran

BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF < 25 M Klas 2, 3, den 4 1. Harus dilengkapi dengan alarm dan detekai asap otomatis, dan 2. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran den bangunan kelas 2 atau 3 juga melayani satu atau lebih lantai dengan Kas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8, atau 9b, maka: a. tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap Jalan penghubung atau ramp harus dilengkapi dengan sistem presurisasi udara otomati, atau b. Klas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8 dan 9b harus

Bila < 2 lapis di bawah tanah: i. Sistem sprinkler 1. harus dipasang: a. maka: a. 8. atau 2. 6.a. atau 2. atau 4. fungsi khusus bangunan c. atau 9b (selain sekolah) dengan ketinggian > 2 lantai. atau b. Dengan ketinggian > 2 lantai dan terdiri atas: a. 7.b. Basement dengan > 3 lapis di bawah tanah atau terdapat klas 6 atau 9b dengan jumlah penghuni/pengguna yang banyak. kecuali bila alarm dan detektor tersebut hanya perlu dipasang pada tiap pintu menuju tangga yang diisolasi terhadap kebakaran untuk sistem peringatan. 7 (bukan tempat parkir terbuka). Pada bangunan: 1. persyaratan khusus dapat digunakan dengan pertimbangan: a. 8. atau iii. atau digunakan dalam bangunan d. diatas harus dipasang. 8. Klas 6. atau 2. 7. Basement dengan luas > 200 m2 harus dilengkapi dengan: a. dan 2. atau ii. Sistem sesuai butir 2. 3. Klas 5 atau 9b (sekolah) dengan ketinggian > 3 lantai. atau 3. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan klas 4 juga melayani satu atau lebih lantai dengan klas 5. bila basement mempunyai lebih daari satu kompartemen kebakaran. 2. Sistem presurisasi udara otomatis. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. harus dipasang: 1. Sistem pengendali asap terzona. atau 9b (selain sekolah) maka pada setiap tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran. Sistem sprinkler. Klas 5 atau 9b (sekolah) dan b. Klas 6.dilengkapi dengan i. 7. keragaman klasifikasi bangunan atau kompartemen Klas 5. Sistem detektor dan alarm asap. Sistem pengendali asap terzona. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. atau ii. atau 9b. Bila > 2 lapis dibawah tanah harus dilengkapi sistem sprinkler. atau 3. atau b. 6. sistem sprinkler 3. karakter khusus bangunan b. sistem alarm dan deteksi asap otomatis. dan 9b (selain ruang/tempat parkir Klas 9a BASEMENT (selain ruang/tempat parkir) . atau b. Bila bangunan >2 lantai. Sistem pengendali asap terzona. bila bangunan mempunyai lebih dari satu komprtemen kebakaran. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. 8. Sistem sprinkler 1. termasuk jlan penghubung dan rampnya. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendali asap terzona dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detekotr asap bekerja. dipajang. tipe dan jumlah material khusus yang disimpan.

sistem deteksi alarm kebakaran.Ruang/tempat parkir Atrium kebakaran Ruang/tempat parkir. dan sistem pengendalian asap sesuai standar teknis yang berlaku 2. Jenis kipas yang harus tahan suhu tinggi. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1. dan toko (selain pada ketentuan 3 ) yang tidak membuka ke arah selasar terlindung. bila: a. sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomaatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. sistem pembuangan asap otomaatis. sistem inter komunikasi darurat.kecuali yang ditetapkan pada butir 2. bangunan 2 lantai atau kurang. dipasang sistem alarm dan detektor asap otomatis. harus dilengkapi dengan: a.500 m2 dan bangunan 2 lantaai atau kurang. sistem pembuangan asap otomatis. atau ii. dan b. Bangunan satu lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. 1. diskotek. atau lubang-lubang Klas 6.500 m2. bangunan 1 lantai. bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka 1. harus dilengkapi dengan: a. atau 2.000 m2.000m2 yang membuka ke arah selasar terlindung.000 m2. dipasang sistem sprinkler 3. Bangunan Pertemuan . Bila bangunan 1 lantai. Kompartemen kebakaran > 2. Kompartemen Kebakaran > 2. toko dengan luas > 1. yang dilengkapi dengan sisitem ventilasi mekanis sesuai ketentuan: 1. sistem pembuangan asap otomatis. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. dan 2. Selasar terlindung. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran < 3. atau b. termasuk ruang parkir dibawah tanah. dan b. bila bangunan 1 lantai. tidak terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. harus dilengkapi dengan: a. luas bangunan < 2. bila: a. dan: i. luas lantai < 2. dan b.000m2. Bangunan klab malam. dan sejenis. atau c. terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko Klas 9b. dipasang sistem sprinkler 2. atau b. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran > 3. Setiap kompartemen kebakaran. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. sistem peringatan kondisi darurat. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1. Kabel pengendali dan daya listrik tidak harus yang tahan api Bangunan yang memiliki atrium harus dengan kelengkapan sistem sprinkler.000 m2. KETENTUAN KHUSUS KLAS/BAGIAN BANGUNAN Klas 6.

atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. atau ii.500m2 i. ruang senam. atau ii. Bila luas bangunan > 3. sistem pembuang asap otomatis. pada bangunan sekolah. atau sistem sprinkler. bilang bangunan 1 lantai 3. dengan luas > 200 m2. idem 1. atau iii. kolam renang dan sejenis) selain dari gedung olahraga(indoor) dengan jumlah tempat duduk > 1. Bukan pada bangunan sekolah. dengan luas > 300m2 atau b. sistem sprinkler. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis.000 m2 dan tinggi bangunan 2 lantai atau kurang. Bangunan pertemuan lainnya (diluar butir 3 dan 4 diatas): a.a. harus dilengkapi dengan a. dan b. atau harus dilengkapi dengan: i.500 m2.ventilasi asap dan panas otomatis pada bangunan 1 lantai. Bila luas bangunan 2. selain pada bangunan sekolah dengan luas lantai kompartemen kebakaran > 2. 5. Bangunan pameran.000 m2 i. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. bila bangunaan 1 lantai 4.000 m2 harus dilengkapi dengan ketentuan seperti butir 4. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. sistem pembuang asap otomatis. Setiap kompartemen kebakaran dengan luas > 2. kompleks olahraga (termasuk hall olah raga. digunakan sistem alarm dan detektor asap otomatis. . sistem pembuang asap otomatis. Bangunan theater atau tempaat pertemuan/hall umum: a. gereja. atau sistem sprinkler 2. dipasang sistem sprinkler dan i. dan c. bila bangunan 1 lantai. atau ii. Bangunan yang dikecualikan dari ketentuan butir a diatas adalah: i. atau iii. sistem pengelola udara mekanis yang bukan meru-pakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shutdown) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja.b diatas b. diatas. atau ii. gereja. Bangunan theater atau hall umum selain butir 3. Gereja. lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis.000-3. Mesjid dan tempat lainnya yang khusus hanya untuk kegiatan peribadatan. bila bangunan 1 lantai. sistem pembuang asap otomatis. termasuk theater kuliah dan komplek auditorium: a. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. bila luas lantai kompartemen kebakaran < 5. dan b.000 ii.

H. MM. Bitnek. PU Biro Hukum.BD. IAI Ir. PU Dit. MSc Ir. Harlansyah Soerarso.. Dep. PU Dit. MSc Ir. Achmad Lanti. Eko Widiatmo Ir. PU Sekretaris Ditjen Cipta Karya. Sefiawan Kanani Ir. Bintek. PU Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) . Adjar Prajudi. Sukartono Ir. Achid Winarno Ir. Sidjabat Ir. Gembong Priyono. HR. H. Ernawi. Bambang Guritno. Pengarah Drs. PU Dit. B. Diding Muchidin Ir. Balitbang. IAI. Balitbang. PU Dit. PU Staf Ahli Menteri PU V Bidang Pengembangan Jasa Konstruksi Direktur Bina Teknis . DJCK. P. MPA Ir. PU Sekretaris Jenderal Dep. Bintek. MSc Ir. Bitnek. DJCK Dit. Eng. Suprapto. Dep. SH Ir. Sunaryo Sumadji. Prawoto Menteri Pekerjaan Umum Direktur Jenderal Cipta Karya. DJCK. Sutikni Utoro Wibisono Setio Wibowo. PU Puslitbangkim. Dep. MSc. Dep. Binlak Wilayah Timur. MCM Ir G. Dep. Eko Djuli Sasongko Ir. Erry Saptaria Achyar. Bintek. Dipl. Ir. Binlak Wilayah Barat. Rusdi Marzuki Ir. SE Ir. Hendro Moeljono Ir. PU Widyaiswara Dep. DJCK. PU Puslitbangkim. Roestanto Wahidi D.. DJCK. Imam S. Aim Abdurachim Idris. Dep. MSc Ir. Pelaksana Ir.E. DJCK. Hari Sidharta. MCM. Jacob Ruzuar. Balitbang. Rachmadi BS. L. FRAIA Ir. Dep. Tulus Rachmat S Ir. Dep.TIM PENYUSUN PEDOMAN TEKNIS PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG Pembina Ir. Hari Sasongko Suwarmo S. Setjen Dep. Sri Hartinah. PU Kepala Biro Hukum. Balitbang.Arch. DJCK Bagian Hukum. Renyansih Ny. PU Puslitbangkim. Dep. MSc Kelompok Kerja Ir. Dep. PU Kepala Puslitbangkim. MSc Ir. Antonius Budiono.Sc. DJCK. Setjen Dep. Dipl. CES Ir. DJCK Dit. Ridwan Munzir Ir. PU Dit. DJCK. IAI Ir. Dep. PU Dit. M. J. J. PU Kepala Balitbang Dep. Dipl. Dep. MSc Ir. Binlak Wilayah Tengah . Dep. Sardjono Hadi Sugondo Ir. G. Wiedodo Ir. MCM.

MT Ir. MT Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Ikatan Ahli Lansekap Indonesia (IALI) Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Teknik Tanah Indoensia (HATTI) Institut Teknologi Bandung Institut Teknologi Bandung Universitas Trisakti. MEng DR.MAUD DR.Prasetiyo.M. MSA. MSCE Ir. Ir. Soedibyono Ir. Sofyan Nurbambang DR. Tulus Widiarso. G. IAI Ir.go. Departemen P. Drajat Hoedayanto. Jl. Sugeng Triyadi S. Jakarta Universitas Trisakti. MSc Ir.id . Eka Sediadi Rasyad Ir.U. Jakarta Universitas Trisakti. Hendro Moeljono Ir. MM Ir. IALI Ir. Ir. Binsar Hariandja DR. Hadi Prabowo. Bintang Agus Nugroho. Jakarta Disamping itu juga melibatkan peran aktif berbagai nara sumber di bidang tata bangunan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. A. Ir. Zaenal Walidin DR. Chaidir AM. Raden Patah l/1 Lantai 7 Wing 1 Kebayoran Baru. Eko Djuli Sasongko Studio Taba '98 Direktorat Bina Teknik Direktorat Jenderal Cipta Karya. Ariono Suprayogi Ir.March. Penyelaras Akhir Ir. Imam S. Bambang Tata Samiadji. J. Ernawi. Bambang Budiono Ir. MCM. Jakarta 12110 Indonesia Telepon: (021) 7268203 Faks: (021) 7235223 E-med: bintekctaba@pu. Daniel Mangindaan Ir.Ir. Ing. Ir.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful