KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 441/KPTS/1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG MENTERI PEKERJAAN

UMUM,

Menimbang

:

a.

bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah di bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah, urusan penyelenggaraan bangunan gedung telah diserahkan kepada Daerah baik Daerah Tingkat I maupun Daerah Tingkat II; bahwa perkembangan penyelenggaraan bangunan gedung dewasa ini semakin kompleks sehingga perlu adanya pengaturan mengenai ketentuan teknis yang menyangkut peruntukan dan intensitas bangunan, arsitektur dan lingkungan, serta keandalan bangunan yang menjadi persyaratan pokok suatu bangunan gedung; bahwa sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987, kepada Menteri Pekerjaan Umum diberi wewenang untuk melakukan pembinaan teknis dan pengawasan teknis dalam penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah; bahwa sehubungan dengan pertimbangan pertimbangan tersebut diatas perlu mengatur persyaratan teknis bangunan gedung, dengan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah; Undang-undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun; Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Parumahan dan Permukiman; Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang; Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan di Bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah; Keputusan Presiden Rl Nomor 44 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Organisasi Departemen; Keputusan Presiden Rl Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Keputusan Rl Nomor 15 tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Departemen Sebagaimana Telah Tiga Puluh Kali Diubah Terakhir Dengan Keputusan Rl Nomor 23 Tahun 1994 Keputusan Presiden Rl Nomor 122/M Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabinet Reformasi Pembangunan;

b.

c.

d.

Mengingat

:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

8.

9.

Keputusan Menteri PU Nomor 211/KPTS/1994 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum.
MEMUTUSKAN :

Menetapkan

:

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG. BAB I KETENTUAN UMUM

TENTANG

Bagian Pertama Pengertian Pasal 1 Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada, diatas, atau di dalam tanah dan atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tampat manusia melakukan kegiatannya. 2. Penyelenggaraan bangunan gedung adalah proses kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan gedung 3. Daerah adalah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. 4. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kotamadya Daerah T'ngkat II. Bagian Kedua Maksud dan Tujuan Pasal 2 (1) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung dimaksudkan untuk mewujudkan bangunan gedung yang berkualitas sesuai dengan fungsinya. (2) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung bertujuan terselenggaranya fungsi bangunan gedung yang aman, sehat, nyaman, efisien, seimbang, serasi dan selaras dengan lingkungannya

BAB II PENGATURAN PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG

Bagian Pertama Persyaratan Teknis Pasal 3 (1) Persyaratan teknis bangunan gedung meliputi persyaratan mengenai : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. I. m. (2) Peruntukan dan Intensitas Bangunan. Arsitektur dan lingkungan. Struktur Bangunan Gedung. Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran. Sarana Jalan Masuk dan Keluar. Transportasi dalam Gedung. Pencahayaan Darurat, Tanda Arah Keluar, dan Sistem Peringatan Bahaya. Instalasi Listrik Penangkal Petir, dan Komunikasi dalam Gedung Instalasi Gas. Sanitasi dalam gedung. Ventilasi dan Pengkondisian Udara Pencahayaan. Kebisingan dan Getaran.

Rincian persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini tercantum pada lampiran Keputusan Menten ini yang merupakan satu kesatuan pengaturan dalam keputusan ini Setiap orang atau badan termasuk instansi Pemerintah dalam penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung wajib memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) Pasal ini. Pasal 4

(3)

Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Kedua Pengaturan Pelaksanaan di Daerah Pasal 5 (1) Untuk pedoman pelaksanaan penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah perlu dibuat Peraturan Daerah yang didasarkan pada ketentuan-ketentuan dalam Keputusan Menteri ini. Dalam hal Daerah belum mempunyai Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini maka terhadap penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah

(2)

diberlakukan ketentuan-ketentuan Persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. (3) Daerah yang telah mempunyai Peraturan Daerah tentang persyaratan teknis bangunan gedung sebelum Keputusan Menteri ini diterbitkan harus menyesuaikannya dengan ketentuan-ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. Pasal 6 Dalam melaksanakan pembinaan pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah melakukan peningkatan kemampuan aparat Pemerintah maupun masyarakat dalam memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 untuk terwujudnya tertib pembangunan bangunan gedung. Dalam melaksanakan pengendalian pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah wajib menggunakan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 sebagai landasan dalam mengeluarkan persetujuan atau perizinan yang diperlukan. Terhadap aparat Pemerintah Daerah yang bertugas dalam pengendalian pembangunan bangunan gedung yang melakukan pelanggaran ketentuan dalam Pasal 3 dikenakan sanksi administrasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 7 (1) Penyelenggaraan bangunan gedung yang melanggar ketentuan-ketentuan Pasal 3 dan Pasal 4 Keputusan Menteri ini dikenakan sanksi administrasi yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 5. Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dikenakan sesuai dengan tingkat pelanggaran dapat berupa: a. Peringatan tertulis b. Pembatasan kegiatan c. Penghentian sementara kegiatan sampai dilakukannya pemenuhan persyaratan teknis bangunan gedung. d. Pencabutan izin yang telah dikeluarkan untok menyelenggarakan pembangunan bangunan gedung. (3) Selain sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), di dalam Peraturan Daerah dapat diatur mengenai pengenaan denda dan tindakan Pembongkaran atas terjadinya pelanggaran terhadap ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung.

(1)

(2)

(3)

(2)

BAB III PEMB1NAAN DAN PENGAWASAN TEKNIS

Pasal 8 (1) Pembinaan dan Pengawasan Teknis untuk pelaksanaan ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 58/PRT/1991 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Teknis dan Pengawasan Teknis Bidang Pekerjaan Umum kepada Dinas Pekerjaan Umum. Pelaksanaan pembinaan teknis dan pengawasan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini didasarkan pada Rencana dan program yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Cipta Karya.
BAB IV KETENTUAN PERALIHAN

(2)

Pasal 9 Dengan berlakunya Keputusan Menteri inl, maka semua ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Keputusan Menteri ini masih tetap berlaku, sampai digantikan dengan yang baru.
BAB V KETENTUAN PENUTUP

Pasal 10 (1) (2) Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Keputusan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang bersangkutan untuk diketahui dan dilaksanakan.
DITETAPKAN Dl PADA TANGGAL : JAKARTA : 10 NOPEMBER 1998

MENTERI PEKERJAAN UMUM

RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 441/KPTS/1998 TANGGAL 10 NOPEMBER 1998

DAFTAR ISI
BAGIAN I KETENTUAN UMUM I. 1 I.2 PENGERTIAN 1. Umum 2. Teknis MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud 2. Tujuan

BAGIAN II PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II.1 PERUNTUKAN, FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Peruntukan Lokasi 2. Fungsi Bangunan 3. Klasifikasi Bangunan INTENSITAS BANGUNAN 1. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan 2. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB 3. Perhitungan KDB dan KLB GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. Garis Sempadan (muka) Bangunan 2. Garis Sempadan Samping dan Belakang Bangunan 3. Pemisah di Sepanjang Halaman Depan, Samping, dan Belakang Bangunan

II.2

II.3

BAGIAN III ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III.1 ARSITEK BANGUNAN 1. Tata Letak Bangunan 2. Bentuk Bangunan 3. Tata Ruang Dalam 4. Kelengkapan Bangunan RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1. Fungsi dan Persyaratan Ruang Tebuka Hijau Pekarangan 2. Ruang Sempadan Bangunan 3. Tapak Basement 4. Hijau Pada Bangunan 5. Tata Tanaman SIRKULASI, PERTANDAAN, DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 2. Pertandaan (Signage) 3. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan

III.2

III.3

Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi STRUKTUR BAWAH 1. Prosedur dan Metoda IV.3 IV. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan 5. Pusat Pengendali Kebakaran V. Dampak Penting 2.5 IV. Persyaratan Struktur 2. Sistem Diteksi & Alarm Kebakaran 3. Pondasi Langsung 2. Kontruksi Bangunan 2. Kriteria Demolisi 2. Ketentuan UPL dan UKL 4.6 BAGIAN V PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. Ketahanan Api dan Stabilitas 2. Keruntuhan Struktur DEMOLISI STUKTUR 1. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan 4. Keselamatan Struktur 2. Proteksi Bukaan SISTEM PROTEKSI AKTIF 1.III.2 .1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. Pengelolaan Daerah Bencana BAGIAN IV STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Kontruksi Kayu 4. Kompartemensasi dan Pemisahan 5. Tipe Konstruksi Tahan Api 3.4 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN 1. Pondasi Bawah KEANDALAN STRUKTUR 1.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1.2 IV. Kontruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus 5. Kontruksi Baja 3. Persyaratan Bahan PEMBEBANAN STRUKTUR ATAS 1.4 IV. Pengendalian Asap Kebakaran 4. Sistem Pemadam Kebakaran 2. Ketentuan Pengelolaan Dampak Ligkungan 3.

Rambu pada Pintu AKSES BAGI PENYANDANG CACAT VI. Ruang Peralatan dan Ruang Motor Lift 14.2 VI. Penerapan 2. Injakan dan Tanjakan Tangga 14. Ramp Pejalan Kaki 11. Pintu Ayun 20. Pesyaratan Kinerja KETENTUAN JALAN KELUAR 1.BAGIAN VI SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Tehadap Kebakaran 8. Atap sebagai Ruang Terbuka 13. Ramp dan Balkon Akses Yang Terbuka 6. Balustrade 17. Pintu 19. Tangga dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 3. Jarak antara Pintu-pintu Keluar Alternatif 6. Lobby Bebas Asap 7. Tangga. Lintasan Melalui Tangga/ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 10. Ambang Pintu 16. Jumlah Orang Yang Ditampung KONTRUKSI JALAN KELUAR 1. Tangga dan Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Pegangan Rambat pada Tangga 18. Pemisahan Tanjakan dan Turunan Tangga 5. Dimensi/ukuran Pintu Keluar 7.4 . Ramp atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan 13. Jarak Jalur Menuju Pintu Keluar 5. Perlindungan pada Ruang di Bawah Tangga dan Ramp 9. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Lebar Tangga 10.3 VI. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 12. Pintu Keluar Horisontal 12. Persyaratan Keamanan 2. Masuk dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 22. Bordes 15. Fungsi 2. Pengoperasian Gerendel Pintu 21. Instalasi pada Pintu Keluar dan Jalan Lintasan 8. Tangga Luar Bangunan 9. Kebutuhan Jalan Keluar 3. Keluar Melalui Pintu-pintu Keluar 11.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1.

Mesin Lif dan Ruang Mesin Lif 8. Perencanaan Instalansi Listrik 2. Instalansi Penangkal Petir 3. Saf Lif 7. Lif Kebakaran 3.1 LIF 1. Perencanaan Penangkal Petir 2. Pemeliharaan INSTALANSI PENANGKAL PETIR 1. Beban Listrik 4. PENANGKAL PETIR. Kapasitas Lif 2.1 VIII. Instalansi Tata Suara IX. Sumber Daya Listrik 5. Pemeliharaan INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 1. TANDA ARAH KELUAR.2 BAGIAN VIII PENCAHAYAAN DARURAT. Sangkar Lif 6. Pemeriksaan. Instalansi Telepon 3. Transformator Distribusi 6. Instalasi Listrik 9. Peringatan Terhadap Pengguna Lif pada Saat Terjadi Kebakaran 4. SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. Pemerikasaan dan Pengujian 7.1 INSTALANSI LISTRIK 1. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. Pemeriksaan dan Pengujian 4. Jaringan Distribusi Listrik 3.2 VIII. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung 2.3 1SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT TANDA ARAH KELUAR SISTEM PERINGATAN BAHAYA BAGIAN IX INSTALANSI LISTRIK.BAGIAN VII TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII.3 . Lif untuk Rumah Sakit 5. Pengujian dan Pemeliharaan TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN VII.2 IX.

1 INSTALANSI GAS PEMBAKARAN 1. Ventilasi Alami 3. Perencanaan Sistem Plumbing 2. Tangki Penyediaan Air Bersih 6. Kebutuhan Pengkondisian Udara 2. 1 SISTEM PLAMBING 1. Sampah Berbahaya XI. Penempatan pada Bangunan 2.1 VENTILASI 1.BAGIAN X INSTALANSI GAS X. Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan XII.1 XIII. Konservaasi Energi 3. Pemeriksaan dan Pengujian INSTALANSI GAS MEDIK 1. Pewadahan 3. Alat Plambing 5. Pompa Air Bersih PERSAMPAHAN 1. Kebutuhan Ventilasi 2. Sistem Penyediaan Air Bersih 3. Ventilasi Buatan PENGKONDISIAN UDARA 1. Jenis Gas 2. Sistem Pembuangan Air Kotor 4.3 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN PENCAHAYAAN BUATAN PENCAHAYAAN ALAMI . Jenis Gas 2.2 XIII.2 BAGIAN XI SANITASI DALAM GEDUNG XI. BAGIAN XII VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. Jaringan Distribusi Gas Kota 3. Pemeriksaan dan Pengujian X.2 BAGIAN XIII PENCAHAYAAN XIII. Jaringan Distribusi Gas Medik 3.

2 KEBISINGAN GETARAN BAGIAN XV PENUTUP LAMPIRAN .1 XIV.4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN BAGIAN XIV KEBISINGAN DAN GETARAN XIV.XIII.

dan kegiatan lainnya. Dinas Bangunan adalah salah satu Dinas Teknis di Daerah yang diantaranya mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pengaturan. . pembinaan. e. b. rekreasi. Atrium adalah suatu ruang dalam suatu bangunan yang menghubungkan 2 atau lebih tingka/lantai. Teknis a. Pengawas/Penilik Bangunan adalah pejabat atau tenaga teknis profesional yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah atau ketentuan yang berlaku untuk bertugas mengawasi/menilik bangunan gedung. Kepala Daerah adalah Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. pendidikan. di mana: i. seperti keagamaan. ii. olah raga. 2. Bangunan umum adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat manusia berkumpul. dsb. b. lorong ramp. Air kotor adalah semua air yang bercampur dengan kotoran-kotoran dapur. termasuk struktur atap kaca. atau ruang dalam shaft. Bangunan turutan adalah bangunan sebagai tambahan atau pengembangan dari bangunan yang sudah ada. iii. perbelanjaan. bersosial-budaya.I. termasuk setiap ruang yang berbatasan/ berdekatan tetapi tidak terpisahkan oleh pembatas. PENGERTIAN 1. c. dan pengendalian pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung yang berada di Daerah yang bersangkutan. kamar mandi. d. kakus dan peralatan-peralatan pembuangan lainnya. tidak termasuk lorong tangga. berusaha. mengadakan pertemuan. Daerah adalah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II atau Daerah Khusus Ibukota Jakarta. seluruh atau sebagian ruangnya tertutup pada bagian atasnya oleh lantai atau atap. atau di daiam tanah dan/atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tempat manusia untuk melakukan kegiatan bertempat tinggal. atau Gubernur untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta. dan melaksanakan kegiatan yang bersifat publik lainnya. c. di atas. Umum Dalam pedoman teknis ini yang dimaksud dengan: a. KETENTUAN UMUM 1. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada. d.

k. f. Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan manusia. g. . Dinding Luar Non-struktural adalah suatu dinding luar yang tidak memikul beban dan bukan merupakan dinding panel. b. jaringan tegangan tinggi listrik. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia. g. Batas lahan yang dikuasai. l. Getaran kejut adalah getaran yang berlangsung secara tiba-tiba dan sesaat. d. iii. a. atau iv. Rencana saluran. Getaran adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. h. Garis sempadan loteng adaiah garis yang terhitung dan tepi jalan berbatasan yang tidak diperkenankan didirikan tingkat bangunan. Baku tingkat Kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dituang kelingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. j. Garis Sempadan Bangunan merupakan jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap: i. Antar massa bangunan lainnya.f. Dinding Luar adalah suatu dinding bangunan terluar yang bukan merupakan dinding pembatas. h. e. c. i. Demolisi adalah kegiatan merobohkan atau membongkar bangunan secara total. Daerah Hijau Bangunan. Dinding Pembatas adalah dinding yang menjadi pembatas antara bangunan. jaringan pipa gas dan sebagainya. ii. Bangunan Induk adalah bangunan yang mempunyai fungsi dominan dalam suatu persil. yang selanjutnya disebut DHB adalah ruang terbuka pada bangunan yang dimanfaatkan untuk penghijauan. Batas tepi sungai/pantai. Baku Tingkat Getaran mekanik dan getaran kejut adalah batas maksimal tingkat getaran mekanik yang diperbolehkan dan usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan. Garis sempadan pagar adalah garis bagian luar dari pagar persil atau pagar pekarangan.

u. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah pedoman rencana teknik. . t. Pekarangan adalah bagian yang kosong dari suatu persil/ kaveling/blok peruntukan bangunan. r. Melakukan pekerjaan tanah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan yang dimaksud pada butir 2. memperluas. v. Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah koefisien perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan.w. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka prosentase perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan yang diperuntukkan bagi pertamanan/ penghijauan dengan luas tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada.i. p. y. o. Koefisien Tapak Basement (KTB) adalah angka prosentasi perbandingan luas tapak basement dengan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Mendirikan Bangunan i. Jarak antara bangunan adalah jarak terkecil antara bangunan yang diukur antara permukaan-permukaan denah bangunan. untuk tempat kegiatan manusia. Jaringan saluran umum kota adalah jaringan sarana dan prasarana saluran umum perkotaan. Kamar adalah ruangan yang tertutup seluruhnya atau sebagian. w. seperti jaringan sanitasi dan jaringan drainasi. s. selain kamar untuk MCK dan dapur. program tata bangunan dan lingkungan. x. mengubah atau membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu bangunan. q. Jaringan persil adalah jaringan sanitasi dan jaringan drainasi dalam persil. ii. n.m. serta pedoman pengendalian pelaksanaan yang umumnya meliputi suatu lingkungan/kawasan (urban design and development guidelines). Mendirikan. memperbaiki. Lubang Atrium adalah ruang dari suatu atrium yang dikelilingi oleh batas pinggir bukaan lantai atau oleh batas pinggir lantai dan dinding luar.

Adapun tujuan dari pengaturan per-bagian adalah: a. Tujuan Pedoman Teknis ini bertujuan untuk dapat terwujudnya bangunan gedung sesuai fungsi yang ditetapkan dan yang memenuhi persyaratan teknis. ee. arsitektur dan lingkungan. atau sejenisnya. dengan kriteria-kriteria berurut yaitu aspek ketahanan struktural. yaitu meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan. integritas. Contoh: TKA 90/-/60 berarti hanya terdapat persyaratan TKA untuk ketahanan struktural 90 menit dan insulasi 60 menit.2 dalam ukuran waktu satuan menit. Ruang persiapan adalah ruang yang berhubungan dengan. ii. menjamin bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di Daerah yang bersangkutan. . yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. cc. bb. Tinggi bangunan adalah jarak antara garis potong permukaan atap dengan muka bangunan bagian luar dan permukaan lantai denah bawah.1. termasuk dalam rangka proses perijinan pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan. Maksud Persyaratan Teknis Bangunan Gedung ini dimaksudkan sebagai acuan persyaratan teknis yang diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan bangunan gedung di Indonesia. Peruntukan dan Intensitas: i. dan insulasi. Rumah adalah bangunan yang terdiri atas ruangan atau gabungan ruangan yang borhubungan satu sama lain. adalah tingkat ketahanan api yang dipersyaratakan pada bagian atau komponen bangunan sesuai ketentuan butir V. Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang akan dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat dB. dan berbatasan ke suatu panggung pada bangunan klas 9b yang dipergunakan untuk barang-barang dekorasi panggung. dd. Tujuan. serta pemeriksaan kelaikan fungsi/keandalan bangunan gedung.z. Sambungan jaringan adalah penghubung antara sesuatu jaringan persil dengan jaringan saluran umum kota. Tinghat Ketahanan Api (TKA). 2. aa. peralatan. serta keandalan bangunan. ruang ganti. menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. I.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1.

serasi dan selaras dengan lingkungannya. ii. ketentuan wujud bangunan. (2) cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. (3) dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia pada saat terjadi kebakaran. ii. ii. dan lingkungan. menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. iii. iv. sehingga: (1) cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa sehinga mampu secara struktural stabil selama kebakaran. e. Arsitektur dan Lingkungan: i. masyarakat. d. Strukfur Bangunan: i. b. Sarana Jalan Masuk dan Keluar: i. menjamin keselamatan pengguna. dan budaya daerah.iii. aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamnya. sehingga seimbang. menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari cedera atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat . c. iii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia. Ketahanan terhadap Kebakaran: i. menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan oleh perilaku struktur. menjamin perlindungan properti lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh kegagalan struktur. menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang layak. ii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan.

iii. menjamin terwujudnya kebersihan. apabila terjadi keadaan darurat. iii menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik. Transportasl dalam Gedung: i. Tanda arah Keluar. ii. menjamin tersedianya alat transportasi yang layak. . menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari bahaya akibat petir. menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. ii. Sanitasi dalam Bangunan: i. iii. menjamin tersedianya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan. khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan secara baik. j. ii. dan nyaman di dalam bangunan gedung. f. menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam bangunan gedung apabila terjadi keadaan darurat. h. menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat. menjamin tersedianya aksesibiltas bagi penyandang cacat khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. ii. menjamin tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. ii. i. Instalasi Gas: i. aman. dan Sistem Peringatan Bahaya: i. Pencahayean Darurat. menjamin terpenuhinya pemakaian gas yang aman dan cukup. menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman. Penangkal Petir dan Komunikasi: i. Instalasi Listrik. g. menjamin terpasangnya instalasi gas secara aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya.iii.

menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau mencegah perusakan lingkungan. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik. ii. menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran yang tidak diinginkan. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik. Kebisingan dan Getaran: i. m. . ii. ii. l.k Ventilasi dan Pengkondisian Udara: i. menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup. Pencahayaan: i.

e. Ketentuan tata ruang dan tata bangunan ditetapkan melalui: i. Apabila persetujuan yang telah diberikan terdapat ketidak sesuaian dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan kemudian. Peruntukan Lokasi a. b. Bagi Daerah yang belum memiliki RTRW. peraturan bangunan setempat dan RTBL berdasarkan rencana tata ruang yang lebih makro. kaidah perencanaan kota dan penataan bangunan ii. Kepala Daerah segera menyusun dan menetapkan RRTR. f. maka Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan gedung dengan pertimbangan: i. dengan tetap mengadakan peninjauan seperlunya terhadap rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada di Daerah. Peruntukan lokasi sebagaimana dimaksud dalam butir a. PERUNTUKAN. ataupun peraturan bangunan setempat dan RTBL. FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. dan garis sempadan bangunan.I. Dalam hal rencana-rencana tata ruang dan tata bangunan sebagaimana dimaksud pada butir b belum ada.II. Bangunan gedung harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam ketentuan tata ruang dan tata bangunan dari lokasi yang bersangkutan. Peraturan bangunan setempat dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). Keterangan atau ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir d meliputi keterangan tentang peruntukan lokasi dan intensitas bangunan. merupakan peruntukan utama. ketinggian bangunan. iii. g. RRTR. d. PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. Persetujuan membangun tersebut berstfat sementara sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan tata ruang yang lebih makro. ii. . seperti kepadatan bangunan. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Daerah. iii. Setiap pihak yang memerlukan keterangan atau ketentuan tata ruang dan tata bangunan dapat memperolehnya secara terbuka melalui Dinas Bangunan. Kepala Daerah dapat memberikan pertimbangan atas ketentuan yang diperlukan. Rencana Rinci Tata Ruang (RRTR). sedangkan peruntukan penunjangnya sebagaimana ditetapkan di dalam ketentuan tata bangunan yang ada di Daerah setempat atau berdasarkan pertimbangan teknis Dinas Bangunan. maka perlu c.

tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. iv. memiliki sarana khusus untuk kepentingan keamanan dan keselamatan bagi pengguna bangunan. dan fungsi indung kawasan. j. iv. tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas kendaraan. v. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. Apabila di kemudian hari terdapat penetapan RTRW Daerah yang bersangkutan. tetap memperhatikan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. penghawaan dan pencahayaan bangunan telah memenuhi persyaratan kesehatan sesuai fungsi bangunan. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. iv. iii. Bagi Daerah yang belum memilih RTRW Daerah. Pembangunan bangunan gedung dibawah atau diatas air perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. i. v. saluran. Pembangunan bangunan gedung diatas jalan umum. Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan pada daerah tersebut untuk jangka waktu sementara. atau sarana lain perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. orang. iii. tidak untuk fungsi hunian atau tempat tinggal. . tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah tanah. Pembangunan bangunan gedung dibawah tanah yang melintasi sarana dan prasarana jaringan kota perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. h. iii. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah dan atau diatas tanah. maupun barang.diadakan penyesuaian dengan resiko ditanggung oleh pemohon/pemilik bangunan. tidak mengganggu keseimbangan lingkungan. ii. tidak menimbulkan perubahan atau arus air yang dapat merusak lingkungan. maka bangunan tersebut harus disesuaikan dengan rencana tata ruang yang ditetapkan. ii. ii.

Fungsi bangunan dapat dikelompokkan dalam fungsi hunian. kenyamanan. keamanan. keamanan. maupun dari segi keserasian bangunan terhadap lingkungannya. c. Bangunan dengan fungsi hunian meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama hunian yang merupakan: i. dan fungsi khusus. iii. fungsi sosial dan budaya. tidak menimbulkan pencemaran. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. kesehatan dan aksesibilitas bagi pengguna bangunan. kenyamanan. iii. 2. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan fungsi utama bangunan. iv. ii. telah mempertimbangkan faktor keamaan. v. Rumah tinggal tunggal Rumah tinggal deret Rumah tinggal susun Rumah tinggal vila Rumah tinggal asrama f. . Fungsi Bangunan a. keselamatan. perkantoran niaga. Bangunan dengan fungsi usaha meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk: i. letak bangunan tidak boleh melebihi atau melampaui garis sudut 45° (empat puluh lima derajat) diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar.iv. d. b. Pembangunan bangunan gedung pada daerah hantaran udara (transmisi tegangan tinggi perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai perikut: i. Penetapan fungsi dan klasifikasi bangunan yang bersifat sementara harus dengan mempertimbangkan tingkat permanensi. v. setelah mendapat pertimbangan teknis dari para ahli terkait. baik ditinjau dari segi intensitas banguanan arsitektur dan lingkungan. k. kesehatan. e. ii. Bangunan perkantoran: perkantoran pemerintah. letak bangunan minimal 10 (sepuluh) meter diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran. Fungsi dan klasifikasi bangunan merupakan acuan untuk persyaratan teknis bangunan gedung. fungsi usaha. iv. dan sejenisnya. dan sanitasi yang memadai.

j. dan vihara. dan sejenisnya. Bangunan pelayanan kesehatan: puskesmas. dan sejenisnya. vii Bangunan Pariwisata: tempat rekreasi. Bangunan perdagangan: pasar. sepanjang sesuai dengan peruntukan lokasinya dan standar perencanaan lingkungan yang berlaku. industri sedang. Setiap bangunan gedung. Bangunan peribadatan: mesjid. keveling. motel. Klas 1 : Bangunan Hunian Biasa Adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan: . B. gedung tempat parkir. pelaksanaan. Dalam suatu persil. juga dilengkapi dengan ruang fungsi penunjang. Bangunan pendidikan: sekolah taman kanak-kanak. gedung kesenian. i. sosial dan budaya. Bangunan Terminal: stasiun kereta. terminal udara. halte bus. pura. vi. ii. Bangunan dengan fungsi umum.ii. Bangunan Perhotelan/Penginapan: hotel. & C. meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk : i. industri besar/berat. Bangunan dengan fungsi khusus meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi. sekolah dasar. serta dilengkapi pula dengan instalasi dan kelengkapan bangunan yang dapat menjamin terselenggaranya fungsi bangunan. iv. iii. Bangunan kebudayaan : museum. sekolah lanjutan. rumah bersalin. bangunan reaktor. a. iii. atau perubahan yang diperlukan pada bangunan. dan sejenisnya. atau blok peruntukan dimungkinkan adanya fungsi campuran (mixed use). dan sejenisnya h. gereja. bioskop. mal. Bangunan Penyimpanan: gudang. kelenteng. iv. selain terdiri dari ruang-ruang dengan fungsi utama. terminal bus. v. dan sejenisnya. Bangunan Industri : industri kecil. penginapan. poliklinik. sesuai dengan persyatatan pokok yang diatur dalam Pedoman Teknis ini. pusat perbelanjaan. dan sejenisnya. atau tingkat resiko bahaya tinggi : seperti bangunan kemiliteran. sekolah tinggi/universitas. hostel. g. rumah sakit klas A. pelabuhan laut. 3. dan sejenisnya. pertokoan. Klasifikasi Bangunan Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan.

8. f. b. tempat potong rambut /salon. cacat. tempat cuci umum. ruang pamer. Klas 1b : rumah asrama/kost. . kafe. unit town house . diluar bangunan klas 6. rumah tamu. atau iii. bar. 8 atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut e. villa. rumah asrama. termasuk rumah deret. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya. termasuk i. atau anak-anak. c. iv. Klas 6: Bangunan Perdagangan Adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. 7. termasuk: i. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. ruang makan. ii iii. Klas 3: Bangunan hunian diluar bangunan klas 1 atau 2. v. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. atau ii. Klas 4 : Bangunan Hunian Campuran Adalah tempat tinggal yang berada didalam suatu bangunan klas 5. atau ii. ruang penjualan. ruang makan malam. hostel. atau 9.i. 6. 7. Klas 2: Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. rumah tamu. atau iv. Klas 1a : bangunan hunian tunggal yang berupa: (1) satu rumah tunggal. d. losmen. pengurusan administrasi. atau bengkel. pasar.. atau (2) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. Klas 5: Bangunan kantor Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. rumah taman. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. atau usaha komersial. restoran. atau panti untuk orang berumur.

Bangunan yang penggunaannya insidentil Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya. Klas 10a: bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. hall. atau sejenisnya. Klas 10b: struktur yang berupa pagar. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. atau ii. Klasifikasi jamak Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. Klas 9b: bangunan pertemuan. Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. Klas 10 : Adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian: i. bangunan peribadatan. antena. k. pengepakan. Bangunan-bangunan yang tidak diklasifikasikan khusus Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi bangunan 1 s/d 10 tersebut. Klas 8 : Bangunan Laboratorium/lndustri/Pabrik Adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. Klas 9: Bangunan Umum Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. atau sejenisnya. tempat parkir umum. ii. perubahan. temmasuk bengkel kerja. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. i. carport. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. finishing. h. m. kolam renang. tonggak. dan: . perakitan. dalam Pedoman Teknis dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai dengan peruntukannya l. termasuk: i.g. dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan bangunan utamanya. gudang. perbaikan. tetapi tidak temmasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. j. Klas 7: Bangunan Penyimpanan/Gudang Adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. yaitu: i. bangunan budaya atau sejenis. ii. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium.

rencana tata bangunan dan lingkungan yang ditetapkan. meliputi ketentuan tentang Jumlah Lantai Bangunan (JLB). Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a. dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) yang dibedakan dalam tingkatan KLB tinggi. ruang boiler atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak II. meliputi ketentuan tentang Koefisien Dasar Bangunan (KDB). ketinggian bangunan dan ketentuan tata bangunan lainnya dengan tetap memperhatikan keserasian dan kelestarian lingkungan. 9a.i. f. c. kemampuannya dalam menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan optimalnya intensitas pembangunan. kemampuannya dalam menjamin kesehatan dan kenyamanan pengguna serta masyarakat pada umumnya. sedang. 10a dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah. seperti kawasan wisata. dan b' laboratorium. Ruang-ruang pengolah. d. Kepadatan bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a. Untuk suatu kawasan atau lingkungan tertentu. dan rendah. e. pelestarian dan lain lain. dengan pertimbangan kepentingan umum dan dengan persetujuan Kepala Daerah dapat diberikan kelonggaran atau pembatasan terhadap ketentuan kepadatan. Klas-klas 1a. dalam mencerminkan keserasian bangunan dengan b. 1b. ii. iii. yang dibedakan dalam tingkatan KDB padat. ii. Persyaratan kinerja dari ketentuan kepadatan dan ketinggian bangunan ditentukan oleh: i. iii. kemampuannya lingkungan. 9b. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud pada butir c tidak diperkenankan mengganggu lalu-lintas udara. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan a.2 INTENSITAS BANGUNAN 1. sedang. bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan. klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi bangunan utamanya. dan renggang. . dan peraturan bangunan setempat. Bangunan gedung yang didirikan harus memenuhi persyaratan kepadatan dan ketinggian bangunan gedung berdasarkan rencana tata ruang wilayah Daerah yang bersangkutan. ruang mesin lift. ruang mesin.

1 butir b dan c. d. f. c. keserasian dan keamanan lingkungan serta memenuhi persyaratan teknis yang telah ditetapkan. ditetapkan dengan mempertimbangkan perkembangan kota. ii. maka Kepala Daerah dapat menetapkan berdasarkan berbagai pertimbangan dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. Kepala Daerah dapat menetapkan rencana perpetakan dalam suatu kawasan/lingkungan dengan persyaratan: i. apabila perpetakan tidak ditetapkan. setiap bangunan yang didirikan harus sesuai dengan rencana perpetakan yang telah diatur di dalam rencana tata ruang.2. JLB/KLB untuk pembangunan bangunan gedung diatas fasilitas umum adalah setelah mempertimbangkan keserasian. Apabila KDB dan JLB/KLB belum ditetapkan dalam rencana tata ruang. iii. keseimbangan dan persyaratan teknis serta mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. untuk persil-persil sudut bilamana sudut persil tersebut dilengkungkan atau disikukan. Penetapan besamya KDB.2. penggabungan atau pemecahan perpetakan dimungkinkan dengan ketentuan KDB dan KLB tidak dilampaui. kebijaksanaan intensitas pembangunan. iv. e. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB a. daya dukung lahan/ lingkungan. dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. kebijaksanasn intensitas pembangunan. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. daya dukung lahan/lingkungan. Dengan pertimbangan kepentingan umum dan ketertiban pembangunan. maka lebar dan panjang persil tersebut diukur dari titik pertemuan garis perpanjangan pada sudut tersebut dan luas persil diperhitungkan berdasarkan lebar dan panjangnya. b. v. Dimungkinkan adanya kompensasi berupa penambahan besarnya KDB JLB/KLB bagi perpetakan tanah yang memberikan sebagian luas tanahnya untuk kepentingan umum. untuk memudahkan lalu lintas. dimungkinkan adanya pemberian dan penerimaan besaran KDB/KLB diantara perpetakan yang berdekatan. dengan tetap menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan keserasian lingkungan. Perhitungan KDB dan KLB Perhitungan KDB maupun KLB ditentukan dengan pertimbangan sebagai berikut: . maka KDB dan KLB diperhitungkan berdasarkan luas tanah di belakang garis sempadan jalan (GSJ) yang dimiliki. 3. dan dengan memperhitungkan keadaan lapangan. peraturan bangunan setempat. Penetapan besarnya kepadatan dan ketinggian bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam II. Ketentuan besarnya KDB dan JLB/KLB dapat diperbanui sejalan dengan pertimbangan perkembangan kota. rencana tata bangunan dan lingkungan.

Mezanine yang luasnya melebihi 50 % dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. serta peraturan bangunan setempat. maka ketinggian bangunan tersebut dianggap sebagai dua lantai. rencana tata bangunan dan lingkungan.3 GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 m. perhitungan luas lantai bangunan adalah jumlah luas lantai yang diperhitungkan sampai batas dinding terluar. selebihnya diperhitungkan 50 % terhadap KLB. j.a. selama tidak melebihi l0% dari luas lantai dasar yang diperkenankan. luas lantai ruangan beratap yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding yang tingginya lebih dari 1. dan pendapat teknis para ahli terkait. g. c. keselamatan. . i. l. Dalam perhitungan KDB dan KLB. teras tidak beratap yang mempunyai tinggi dinding tidak lebih dari 1.50 m maka luas mendatar kelebihannya tersebut dianggap sebagai luas lantai denah. luas tapak yang diperhitungkan adalah yang dibelakang GSJ. asal tidak melebihi 50 % dari KLB yang ditetapkan. ramp dan tangga terbuka dihitung 50 %. b. luas lantai bangunan yang diperhitungkan untuk parkir tidak diperhitungkan dalam perhitungan KLB.20 m di atas lantai ruangan tersebut dihiitung penuh 100 %. h. Batasan perhitungan luas ruang bawah tanah (basement) ditetapkan Kepala Daerah dengan pertimbangan keamanan. dan total keseluruhan luas lantai bangunan dalam kawasan tersebut tehadap total keseluruhan luas kawasan. Garis Sempadan (muka) Bangunan a. overstek atap yang melebihi lebar 1. f. I.20 m di atas lantai teras tidak diperhitungkan sebagai luas lantai. k. selama tidak melebihi 10 % dari luas denah yang diperhitungkan sesuai dengan KDB yang ditetapkan. Garis Sempadan Bangunan ditetapkan dalam rencana tata ruang. d.20 m diatas lantai ruangan dihitung 50 %. Dalam perhitungan ketinggian bangunan. perhitungan KDB dan KLB adalah dihitung terhadap total seluruh lantai dasar bangunan. e. kesehatan. luas lantai ruangan beratap yang bersifat terbuka atau yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding tidak lebih dari 1. Untuk pembangunan yang berskala kawasan (superblock).

sungai. juga menetapkan garis sempadan samping kiri dan kanan. untuk tiap-tiap klas bangunan dapat ditetapkan garis-garis sempadannya masing-masing. garis sempadan muka bangunan. h. jaringan umum dan lapangan umum. tidak boleh dilanggar. Pada suatu kawasan/lingkungan yang diperkenankan adanya beberapa klas bangunan dan di dalam kawasan peruntukan campuran.b. Penetapan Garis Sempadan Bangunan didasarkan pada pertimbangan keamanan. begitu pula garis-garis sempadan untuk pantai. Daerah menentukan garis-garis sempadan pagar. g. serta belakang bangunan terhadap batas persil. b. rencana tata bangunan dan lingkungan. d. Dalam mendirikan atau memperbarui seluruhnya atau sebagian dari suatu bangunan. dan keserasian dengan lingkungan serta ketinggian bangunan. keserasian dengan lingkungan. Garis Sempadan Bangunan yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam butir a. kesehatan. garis sempadan loteng. i Ketentuan besarnya GSB dapat diperbarui dengan pertimbangan perkembangan kota. Dalam hal garis sempadan pagar dan garis sempadan muka bangunan berimpit (GSB sama dengan nol). maka Kepala Daerah dapat menetapkan GSB yang bersifat sementara untuk lokasi tersebut pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. kenyamanan. maka bagian muka bangunan harus ditempatkan pada garis tersebut. sepanjang penempatan bangunan tidak mengganggu jalan dan penataan bangunan sekitarnya. maupun pertimbangan lain dengan mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. e. garis sempadan menara. c. kepentingan umum. f. . dan peraturan bangunan setempat. kesehatan dan kenyamanan. Apabila Garis Sempadan Bangunan sebagaimana dimaksud pada butir a. Garis sempadan samping dan belakang bangunan a. tersebut belum ditetapkan. Daerah berwenang untuk memberikan pembebasan dari ketentuan dalam butir g. yang ditetapkan pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. Kepala Daerah dengan pertimbangan keselamatan. garis sempadan podium. 2. maka Kepala Daerah menetapkan besarnya garis sempadan tersebut dengan setelah mempertimbangkan keamanan kesehatan dan kenyamanan. Sepanjang tidak ada jarak bebas samping maupun belakang bangunan yang ditetapkan. danau. yang diatur di dalam rencana tata ruang.

maka Kepala Daerah dapat menetapkan syarat-syarat lebih lanjut mengenai jarakjarak yang harus dipatuhi. maka jarak antara dinding tersebut minimal satu kali jarak bebas yang ditetapkan.50 m dari jarak bebas lantai di bawahnya sampai mencapai jarak bebas terjauh 12. disyaratkan untuk membuat dinding batas tersendiri disamping dinding batas terdahulu. iv. Pada daerah intensitas bangunan padat/rapat. bidang dinding terluar tidak boleh melampaui batas pekarangan. maka jarak bebas samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. iii. dan pada setiap penambahan lantai/tingkat bangunan. d. untuk perbaikan atau perombakan bangunan yang semula menggunakan bangunan dinding batas bersama dengan bangunan di sebelahnya.5 m. jarak bebas samping dan jarak bebas belakang ditetapkan minimum 4 m pada lantai dasar. f. e. jarak bebas di atasnya ditambah 0. ii. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. diluar yang diatur dalam butir a. . sisi bangunan yang didirikan harus mempunyai jarak bebas yang tidak dibangun pada kedua sisi samping kiri dan kanan serta bagian belakang yang berbatasan dengan pekarangan. Pada dinding batas pekarangan tidak boleh dibuat bukaan dalam bentuk apapun. Pada daerah intensitas bangunan rendah/renggang. Untuk bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan bahanbahan/benda-benda yang mudah terbakar dan atau bahan berbahaya. dalam hal salah satu dinding yang berhadapan merupakan dinding tembok tertutup dan yang lain merupakan bidang terbuka dan atau berlubang.c. sedangkan jarak bebas belakang ditentukan minimal setengah dari besarnya garis sempadan muka bangunan. g Jarak bebas antara dua bangunan dalam suatu tapak diatur sebagai berikut: i. struktur dan pondasi bangunan terluar harus berjarak sekurang-kurangnya 10 cm kearah dalam dari batas pekarangan. maka garis sempadan samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang bukaan yang saling berhadapan. maka jarak antara dinding atau bidang tersebut minimal dua kali jarak bebas yang ditetapkan. ii. pada bangunan rumah tinggal rapat tidak terdapat jarak bebas samping. dan sedangkan untuk bangunan gudang serta industri dapat diatur tersendiri. ii.

kecuali jika jalur-jalur jaringan umum kota direncanakan sebagai jalur jalan belakang untuk umum . Dalam hal yang khusus Kepala Daerah dapat memberikan pembebasan dari ketentuan-ketentuan dalam butir a dan b. Halaman muka dari suatu bangunan harus dipisahkan dari jalan menurut cara yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. Pada pemagaran ini tidak boleh diadakan pintu-pintu masuk. i. Kepala Daerah dapat menetapkan lain terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir e dan f. c. Antara halaman belakang dan jalur-jalur jaringan umum kota harus diadakan pemagaran. Kepala Daerah menetapkan ketinggian maksimum pemisah halaman muka. serta keserasian lingkungan.50 m di atas permukaan tanah. atau ditetapkan lebih rendah setelah mempertimbangkan kenyamanan dan kesehatan lingkungan. Untuk sepanjang jalan atau kawasan tertentu.iii. samping. dan untuk bangunan bukan rumah tinggal termasuk untuk bangunan industri maksimal 2 m di atas permukaan tanah pekarangan. j. 3. Dalam hal pemisah berbentuk pagar. d. dan belakang bangunan a. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang tertutup yang saling berhadapan. dan belakang bangunan. b. kenyamanan. dengan memperhatikan keamanan. dengan setelah mempertimbangkan hal teknis terkait. e. f. maka tinggi pagar pada GSJ dan antara GSJ dengan GSB pada bangunan rumah tinggal maksimal 1. dengan bagian bawahnya dapat tidak tembus pandang maksimal setinggi 1 m diatas permukaan tanah pekarangan. samping. Kepala Daerah berwenang untuk menetapkan syarat-syarat lebih lanjut yang berkaitan dengan desain dan spesifikasi teknis pemisah di sepanjang halaman depan. Kepala Daerah dapat menerapkan desain standar pemisah halaman yang dimaksudkan dalam butir a. maka jarak dinding terluar minimal setengah kali jarak bebas yang ditetapkan. Pagar sebagaimana dimaksud pada butir e harus tembus pandang. Pemisah disepanjang halaman depan. Penggunaan kawat berduri sebagai pemisah disepanjang jalan-jalan umum tidak diperkenankan. Tinggi pagar batas pekarangan sepanjang pekarangan samping dan belakang untuk bangunan renggang maksimal 3 m di atas permukaan tanah pekarangan. k. g h Untuk bangunan-bangunan tertentu. dan apabila pagar tersebut merupakan dinding bangunan rumah tinggal bertingkat tembok maksimal 7 m dari permukaan tanah pekarangan. .

keserasian lingkungan. Kepala Daerah dapat menetapkan tanpa adanya pagar pemisah halaman depan. samping maupun belakang bangunan pada ruas-ruas jalan atau kawasan tertentu.l. dan penataan bangunan dan lingkungan yang diharapkan. dengan pertimbangan kepentingan kenyamanan kemudahan hubungan (aksesibilitas). .

iv.III.1.1. Tapak Bangunan i. (3) ketentuan penataan bangunan yang harus diikuti dengan memperhatikan keamanan. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur lingkungan yang ada di sekitarnya. harus memenuhi persyaratan teknis yang berlaku dan keserasian lingkungan. Bentuk Bangunan a. keselamatan. Pada lokasi-lokasi tertentu Kepala Daerah dapat menetapkan secara khusus arahan rencana tata bangunan dan lingkungan. Pada daerah / lingkungan tertentu dapat ditetapkan: (1) ketentuan khusus tentang pemagaran suatu pekarangan kosong atau sedang dibangun. (4) Kekecualian kelonggaran terhadap ketentuan butir III.(2) dapat diberikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. atau yang mampu sebagai pedoman arsitektur atau teladan bagi lingkungannya. Tinggi rendah (peil) pekarangan harus dibuat dengan tetap menjaga keserasian lingkungan serta tidak merugikan pihak lain.1 b. Ketentuan Umum i. pemasangan nama proyek dan sejenisnya dengan memperhatikan keamanan. Tata Letak Bangunan a. . Penambahan lantai/tingkat harus memenuhi persyaratan keamanan struktur. b. iv. lalu lintas dan ketertiban umum. Bilamana dianggap perlu. ARSITEKTUR BANGUNAN 1. Penempatan bangunan gedung tidak boleh mengganggu fungsi prasarana kota. (2) larangan membuat batas fisik atau pagar pekarangan. ii. perlu ditetapkan penampang-penampang (profil) bangunan untuk memperoleh pemandangan jalan yang memenuhi syarat keindahan dan keserasian. iii. iii. keselamatan. Ketentuan Umum i. ii. Penambahan lantai atau tingkat suatu bangunan gedung diperkenankan apabila masih memenuhi batas ketinggian yang ditetapkan dalam rencana tata ruang kota. ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III. keindahan dan keserasian lingkungan. persyaratan lebih lanjut dari ketentuanketentuan ini dapat ditetapkan pelaksanaaannya oleh Kepala Daerah dengan membentuk suatu panitia khusus yang bertugas memberi nasehat teknis mengenai ketentuan tata bangunan dan lingkungan. Pada jalan-jalan tertentu. dengan ketentuan tidak melebihi KLB.iv. keindahan dan keserasian lingkungan. 2.

Suatu bangunan gedung tertentu berdasarkan letak ketinggian dan penggunaannya. Ruangan dalam bangunan harus mempunyai tinggi yang cukup untuk fungsi yang diharapkan. iv. Aksesibilitas bangunan harus mempertimbangkan kemudahan bagi semua orang. Ketinggian ruang pada lantai dasar disesuaikan dengan fungsi ruang dan arsitektur bangunannya. Bentuk.ii.i tidak berlaku apabila sesuai fungsi bangunan diperlukan sistem pencahayaan dan penghawaan buatan. dan atau rencana tata bangunan lingkungan yang ditetapkan untuk daerah/lokasi tersebut. Bentuk bangunan gedung sesuai kondisi daerahnya harus dirancang dengan mempertimbangkan kestabilan struktur dan ketahanannya terhadap gempa.2. tampak. vii.ii harus tetap mengacu pada prinsipprinsip konservasi energi.1. profil. Dalam hal tidak ada langit-langit. iii. Tinggi ruang adalah jarak terpendek dalam ruang diukur dari permukaan bawah langit-langit ke permukaan lantai.1. Ketentuan Umum i. v. termasuk para penyandang cacat dan usia lanjut. Syarat-syarat lebih lanjut mengenai tinggi/tingkat dan sesuatunya ditetapkan berdasarkan ketentuan-ketentuan rencana tata ruang. Ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir II 1. Untuk bangunan dengan lantai banyak. Setiap bangunan gedung yang didirikan berdampingan dengan bangunan yang dilestarikan. Bangunan yang didirikan sampai pada batas samping persil tampak bangunannya harus bersambungan secara serasi dengan tampak bangunan atau dinding yang telah ada di sebelahnya. iii. ii. . v.b. iv. material maupun warna bangunan harus dirancang memenuhi syarat keindahan dan keserasian lingkungan yang telah ada dan atau yang direncanakan kemudian dengan tidak menyimpang dari persyaratan fungsinya. iii. kulit atau selubung bangunan harus memenuhi persyaratan konservasi energi. iv.1. ii. vi. Perancangan Bangunan i. Tata Ruang Dalam a. Ketentuan pada butir II. harus dilengkapi dengan perlengkapan yang berfungsi sebagai pengaman terhadap lalu lintas udara dan atau lalu lintas laut. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan yang nyaman dan serasi terhadap lingkungannya.2. 3.b. tinggi ruang diukur dari permukaan atas lantai sampai permukaan bawah dari lantai di atasnya atau sampai permukaan bawah kaso-kaso. vi. b. detail. harus serasi dengan bangunan yang dilestarikan tersebut. Bentuk bangunan gedung harus dirancang sedemikian rupa sehingga setiap nuang dalam dimungkinkan menggunakan pencayahayaan dan penghawaan alami.

apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 meter. Tata ruang dalam untuk bangunan tempat ibadah. perluasan. gedung sekolah. Penempatan fasilitas kamar mandi dan kakus untuk pria dan wanita harus terpisah. ruang istirahat. gedung pertunjukan. x. vi.Jenis dan jumlah kebutuhan fasilitas penunjang yang harus disediakan pada setiap jenis penggunann bangunan ditetapkan oleh Kepala Daerah. . iv. ruang makan. ruang umum dan ruang pelayanan. Mezanin yang luasnya melebihi 50% dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. Bangunan tempat tinggal sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan pribadi. kegiatan umum dan pelayanan.v. Ruang rongga atap dilarang dipergunakan sebagai dapur atau kegiatan lain yang potensial menimbulkan kecelakaan/ kebakaran . iii. viii. kecuali untuk penggunaan ruang lobby. ix. Ruang-rongga atap untuk rumah tinggal harus mempunyai penghawaan dan pencahayaan alami yang memadai. atau ruang pertemuan dalam bangunan komersial (antara lain hotel. Ruang rongga atap hanya dapat diijinkan apabila penggunaannya tidak menyimpang dari fungsi utama bangunan serta memperhatikan segi kesehatan. b. Bangunan kantor sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan kerja. kegiatan keluarga bersama dan kegiatan pelayanan. gedung olah raga. viii. gedung serbaguna. Bangunan toko sekurang-kurang memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan toko. Suatu bangunan gudang. bangunan monumental. karakter arsitektur bangunan dan bagian-bagian bangunan serta tidak boleh mengurangi atau mengganggu fungsi sarana jalan keluar/masuk. maka ketinggian bangunan dianggap sebagai dua lantai. dan pertokoan). serta ruang pelayanan kesehatan yang memadai. Perancangan Ruang Dalam i. perkantoran. ix. Perhitungan ketinggian bangunan. ii. sepanjang tidak menyimpang dari penggunaan utama bangunan. gedung pertemuan. ruang ganti pakaian karyawan. keamanan dan keselamatan bangunan dan lingkungan. Suatu bangunan pabrik sehurang-kurangnya harus dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dan kakus. penambahan. sekurang-kurangnya harus dilengkapi dengan kamar mandi dan kakus serta nuang kebutuhan karyawawan v. xi. vii. serta gedung sejenis lainnya diatur secara khusus. vi. tidak boleh menyebabkan berubahnya fungsi/penggunaan utama. Bangunan atau bagian bangunan yang mengalami perubahan perbaikan. Perubahan fungsi dan penggunaan ruang suatu bangunan atau bagian bangunan dapat diijinkan apabila masih memenuhi ketentuan penggunaan jenis bangunan dan dapat menjamin keamanan dan keselamatan bangunan serta penghuninya. vii Ruang penunjang dapat ditambahkan dengan tujuan memenuhi kebutuhan kegiatan bangunan.

Cerobong asap dan atau gas harus dirancang memenuhi persyaratan pencegahan kebakaran. kecuali menggunakan alat bantu mekanis. xv. xviii Apabila tinggi tanah pekarangan berada di bawah titik ketinggian (peil) bebas banjir atau terdapat kemiringan yang curam atau perbedaan tinggi yang besar pada tanah asli suatu perpetakan. . tidak boleh mengubah sifat dan karakter arsitektur bangunannya. – xix. ketinggian dan penggunaannya harus dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan bangunan. Syarat-syarat teknis lebih lanjut terhadap ketentuan tersebut di atas mengikuti standar teknis yang berlaku. Kelengkapan Bangunan a. Sarana dan prasarana pendukung harus menjamin bahwa pemanfaatan bangunan tersebut tidak mengganggu bangunan gedung lain dan lingkungan sekitarnya.20 m di atas tinggi rata-rata tanah pekarangan atau tinggi rata-rata jalan. 4. Sarana dan Prasarana Bangunan Gedung i. xiii Setiap bukaan pada ruang atap. Tinggi lantai dasar suatu bangunan diperkenankan mencapai maksimal 1. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan. (b) Sekurang-kurangnya 25 cm diatas titik tertinggi dari sumbu jalan yang berbatasan. b. xx. Lantai tanah atau tanah dibawah lantai panggung harus ditempatkan sekurang-kurangnya 15 cm diatas tanah pekarangan serta dibuat kemiringan supaya air dapat mengalir. (2) Dalam hal-hal yang luar biasa. xiv Pada ruang yang penggunaannya menghasilkan asap dan atau gas harus disediakan lobang hawa dan atau cerobong hawa secukupnya. kesehatan dan keselamatan pengguna bangunan gedung. dengan memperhatikan keserasian lingkungan. maka tinggi maksimal lantai dasar ditetapkan tersendiri. xvii. termasuk pengaman/ rambu-rambu terhadap lalu-lintas udara dan atau laut. Setiap penggunaan ruang rongga atap yang luasnya tidak lebih dari 50% dari luas lantai di bawahnya. Ketentuan Umum i. ketentuan dalam butir (1) tersebut. Bangunan tertentu berdasarkan letak. xvi. kenyamanan. tidak berlaku jika letak lantai-lantai itu lebih tinggi dari 60 cm di atas tanah yang ada di sekelilingnya.xii. tidak dianggap sebagai penambahan tingkat bangunan. atau untuk tanah-tanah yang miring. ii Prasarana-prasarana pendukung bangunan harus direncanakan secara terintegrasi dengan sistem prasarana lingkungan sekitarnya iii. Tinggi ruang dalam bangunan tidak boleh kurang dari ketentuan minimum yang ditetapkan. Tinggi Lantai Denah: (1) Permukaan atas dari lantai denah (dasar) harus: (a) Sekurang-kurangnya 15 cm diatas titik tertinggi dari pekarangan yang sudah dipersiapkan. ii.

e dapat dipertimbangkan dan disesuaikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. g. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. termasuk para penyandang cacat dan warga usia lanjut. Parkir dan ketetapan lainnya. KDB. Pintu masuk dan keluar area bangunan gedung harus direncanakan secara terintegrasi serta tidak mengganggu tata sirkulasi lingkungannya. Setiap perencanaan bangunan baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau. Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. unsur-unsur estetik. Dalam hal terdapat makro lansekap yang dominan seperti laut. RTHP menupakan bagian integral dari penataan bangunan gedung dan sub-sistem dari penataan lansekap kota. i. . pohon-pohon menahun. sungai besar.iv. Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan gedung dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). Sebagai ruang transisi. d. sehingga dapat menjamin fungsi bangunan juga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh semua orang. h. maka dapat dibuat ketetapan yang bersifat sementara untuk lokasi/lingkungan yang terkait dengan setiap pemmohonan bangunan. Ruang Terbuka Hijau adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kota/wilayah/halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity.1. Bangunan gedung harus direncanakan dan dirancang sebaik-baiknya. e. ekonomi maupun estetika. c.1. Fungsi dan Persyaratan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan a. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan tidak boleh dilanggar dalam mendirikan atau rnemperbaharui seluruhnya atau sebagian dari bangunan. j. sosial. v. peresapan air. KLB. Apabila Ruang Terbuka Hijau Pekarangan sebagaimana dimaksud pada butir 111. terhadap suatu kawasan/daerah dapat diterapkan b. sungai.2 RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1.2. gunung dan sebagainya. KDH. f. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir III.2. sirkulasi. III.e ini belum ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan. tanah dan permukaan tanah.

Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTHP sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah.pengaturan khusus untok orientasi tata letak bangunan mempertimbangkan potensi arsitektural lansekap yang ada. serta tergantung pada kondisi lahan. jalur pejalan kaki. Kebutuhan basement dan besaran koefisien tapak basement (KTB) ditetapkan berdasarkan rencana peruntukan lahan. dimana terdapat beberapa klas bangunan dan kawasan campuran. 2. pengendalian bentuk estetika bangunan secara keseluruhan/ kesatuan lingkungan. b. pagar. tidak di dalam wadah / container yang kedap air. e. ketentuan teknis dan kebijaksanaan Daerah setempat. b. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. 3. KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah. Ruang Sempadan Bangunan a. Ketinggian maksimum/minimum lantai dasar bangunan dari muka jalan ditentukan untuk pengendalian keselamatan bangunan. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan peruntukan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. KDH minimal 10% pada daerah sangat padat/padat. d. tiang telepon di kedua sisi jalan / ruas jalan yang dimaksud. keselamatan pemakai dan kepentingan umum. KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan dalam kawasan-kawasan bangunan. vegetasi besar / pohon. Keserasian tersebut antara lain mencakup: pagar dan gerbang. lantai basement pertama (B-1) tidak dibenarkan keluar dari tapak bangunan (di atas tanah) dan atap . dan aspek aksesibilitas. bak sampah dan papan nama bangunan. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan / penanaman di atas tanah. bangunan penunjang seperti pos jaga. 1. k. dapat ditetapkan persyaratan khusus bagi permohonan ijin mendirikan bangunan dengan mempertimbangkan hal-hal pencagaran sumber daya alam. seperti dari bahaya banjir. Tapak Basement a. c. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan ruang sempadan depan bangunan. yang Sebagai perlindungan atas sumber-sumber daya alam yang ada. Untuk keperluan penyediaan RTHP yang memadai. tiang bendera.

tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. atau mengganggu lingkungan di sekitarnya. Penyediaan parkir di pekarangan tidak boleh mengurangi daerah penghijauan yang telah ditetapkan. Tata Tanaman a. ii. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin.3 PERTANDAAN. air. batang dan cabangnya rapuh. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roof-garden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan cara-cara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan. Untuk pelaksanaan kepentingan tersebut pada butir III.b Kepala Daerah dapat membentuk tim penasehat untuk mengkaji rencana pemanfaatan jeni-jenis tanaman yang layak tanam di Ruang terbuka Hijau Pekarangan berikut standar perlakuannya yang memenuhi syarat keselamatan pemakai. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. b. . Jumlah kebutuhan parkir menurut jenis bangunan ditetapkan sesuai dengan standar teknis yang berlaku.2. Ketentuan Umum i.a dan III. c. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir a. kestabilan tanah / wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif. b. d. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. iii. Prasarana parkir untuk suatu rumah atau bangunan tidak diperkenankan mengganggu kelancaran lalu lintas. 5. iv. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. Setiap bangunan bukan rumah hunian diwajibkan menyediakan area parkir kendaraan sesuai dengan jumlah area parkir yang proporsional dengan jumlah luas lantai bangunan. 4.basement kedua (B-2) yang di luar tapak bangun harus berkedalaman sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan tanah tempat penanaman. III. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia.5. Hijau Pada Bangunan a.2.5. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25% luas RTHP.

iii. iv. ii. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. dll. dan kendaraan pelayanan lainnya. Jalur pedestrian harus berhasil menciptakan pergerakan manusia yang tidak terganggu oleh lalu lintas kendaraan. papan informasi sirkulasi. d. dan ruang terbuka umum. Jalan i. penghijauan.b. dan memberikan pemandangan yang menarik. iv. Elemen pedestrian (street fumiture) harus berorientasi pada kepentingan pejalan kaki. ii. Luas. Pemilihan bahan pelapis jalan dapat mendukung pembentukan identitas lingkungan yang dikehendaki. dan tidak terganggu oleh sirkulasi kendaraan. nyaman. antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan. serta disesuaikan dengan daya tampung lahan. iii. distribusi dan perletakan fasilitas parkir diupayakan tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya. Parkir i. rambu-rambu. Sirkulasi pertu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan. dan keJelasan kontinyuitas pedestrian. Sirkulasi i. iii. baik yang bersifat pelayanan publik maupun pribadi. e. Sirkulasi harus memberikan pencapaian yang mudah dan jelas. Penataan parkir harus berorientasi kepada kepentingan pejalan kaki. Jalur utama pedestrian harus telah mempertimbangkan sistem pedestrian secara keseluruhan. c. Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang antar bangunan yang tidak hanya terbatas dalam Damija. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa elemen perkerasan maupun tanaman). Sistem sirkulasi yang direncanakan harus saling mendukung. Penataan jalan tidak dapat terpisahkan dari penataan pedestrian. aksesibilitas terhadap subsistem pedestrian dalam lingkungan. . aman. Penataan pedestrian harus mampu merangsang terciptanya ruang yang layak digunakan/manusiawi. memudahkan aksesibilitas. guna mendukung sistim sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. dan aksesibilitas dengan lingkungan sekitarnya. dan termasuk untuk penataan elemen lingkungan. ii. serta antara individu pemakai bangunan dengan sarana transportasinya. Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran. Penataan parkir tidak terpisahkan dengan penataan lainnya seperti untuk jalan. penghijauan. Pedestrian i. pedestrian dan penghijauan. ii. iii.

menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui. Pencahayaan ruang luar bangunan harus disediakan dengan memperhatikan karakter lingkungan. atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya. tetapi diharuskan melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai ketentuan yang berlaku. dan lokasi dari signage. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan a. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang mengganggu dan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan harus dilengkapi dengan AMDAL sesuai ketentuan yang berlaku. c. bahan.2. atau habitat alaminya mengalami kerusakan. visual yang tidak menarik. 3. iii. c. b. III. baik yang penempatannya pada bangunan keveling. dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku terancam punah. atau ruang publik. Pencahayaan yang dihasilkan harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum Pencahayaan yang dihasilkan dengan telah menghindari penerangan ruang luar yang berlebihan. yang melampaui baku mutu lingkungan menurut peraturan penundang-undangan yang bertaku. Penempatan signage termasuk papan iklan/ reklame. mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik. dan telah memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan. ii. Kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan adalah bila rencana kegiatan tersebut akan: i. harus membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter lingkungan yang ingin diciptakan/ dipertahankan. silau.4 PENGELOLAAN DAMPAK LAINGKUNGAN 1. fungsi dan arsitektur bangunan estetika amenity. menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan. Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk lingkungan/ kawasan tertentu. tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. dan komponen promosi. Pertandaan (Signage) a. Kepala Daerah dapat mengatur pembatasa-pembatasan ukuran. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan. b. . pagar. berdasarkan pertimbangan ilmiah. motif. b. Dampak Penting a.

(3) Bagian dinding yang terlemah dari bangunan tersebut diarahkan ke daerah yang paling aman. Kegiatan yang dimaksud pada butir III. mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi. Ketentuan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang harus melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adaiah sesuai ketentuan yang berlaku. Ketentuan Pengelolaan Dampak Lingkungan Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang wajib AMDAL.1.iv. iii.3. ii. jalan kereta api dan bangunan lain di sekitarnya sesuai rekomendasi dinas teknis terkait. suaka margasatwa. dan atau pemerintah. vi. Pada bangunan yang menggunakan kaca pantul pada tampak bangunan. menyimpan atau memproduksi bahan radioaktif. menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung (hutan lindung. (2) Bangunan yang didirikan harus terletak pada jarak tertentu dari batas-batas pekarangan atau bangunan lainnya dalam pekarangan sesuai rekomendasi dinas terkait. cagar alam. Untuk mendirikan bangunan yang menurut fungsinya menggunakan menyimpan atau memproduksi bahan peledak dan bahan-bahan lain yang sifatnya mudah meledak. racun. vii. merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi. Bangunan yang menurut fungsinya menggunakan. 3. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan a. adalah sesuai Ketentuan pengelolaan Dampak Lingkungan yang berlaku. dapat diberikan ijin apabila: (1) Lokasi bangunan terletak di luar lingkungan perumahan atau berjarak tertentu dari jalan umum. 4. taman nasional. mudah terbakar atau bahan lain yang berbahaya. dan sebagainya) yang telah ditetapkan menunut peraturan perundang-undangan.c merupakan kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. Persyaratan Bangunan i. mengakibatkan/ menimbulkan konflik atau kontroversi dengan masyarakat. sinar yang dipantulkan tidak boleh melebihi 24% dan dengan memnperhatikan tata letak serta orientasi bangunan terhadap matahari. v. . 2. d. harus dapat menjamin keamanan keselamatan serta kesehatan penghuni dan lingkungannya.

ii.iv. iii. ii. Setiap kegiatan konstruksi yang menimbulkan genangan baru sekitar tapak bangunan harus dilengkapi dengan saluran pengering genangan sementara yang nantinya dapat dibuat permanen dan menjadi bagian sistem drainase yang ada. Pembuangan limbah cair dan padat i. harus dilengkapi dengan sarana pengumpulan dan pengolahan limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan yang diijinkan dan atau ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Setiap bangunan yang menghasilkan limbah cair dan padat atau buangan lainnya yang dapat menimbulkan pencemaran air dan tanah. v. maka setiap tapak bangunan gedung harus dilengkapi dengan bidang resapan yang ukurannya disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. Guna pemulihan cadangan air tanah dan mengurangi debit air larian. Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dapat menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas umum harus dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang dioperasikan dan dikendalikan oleh tim pengatur lalu lintas. Apabila bangunan yang menurut fungsinya akan membangkitkan LHR >= 60 SMP per 1000 ft2 luas lantai. v. sekelilingnya harus dilengkapi dengan kolam peredam getaran. Sampah yang dikumpulkan di sarana pengumpulan sampah padat harus selalu dikosongkan setiap hari untuk menjamin agar lalat tidak berkembang biak dan mengganggu kesehatan lingkungan bangunan gedung. atau sampai sumur penduduk pulih seperti semula. Penggunaan hammer pile untuk pemancangan pondasi hanya diijinkan bila tidak ada bangunan rumah sakit di sekitarnya. maka rencana teknis sistem jalan akses keluar masuk bangunan gedung harus mendapat ijin dari dinas teknis yang berwenang. . vi. c. Penggunaan peralatan konstruksi yang diperkirakan menimbulkan keretakan bangunan. atau tidak ada bangunan rumah yang rawan keretakan. Setiap kegiatan pengeringan (dewatering) yang menimbulkan kekeringan sumur penduduk harus memperhitungkan pemberian kompensasi berupa penyediaan air bersih kepada masyarakat selama pelaksanaan kegiatan. iii. b. Persyaratan Pelaksanaan Konstruksi i. iv. Bangunan yang menurut fungsinya memerlukan pasokan air bersih dengan debit > 5 l/dt atau > 500 m3/hari dan akan mengambil sumber air tanah dangkal dan atau air tanah dalam (deep well) harus mendapat ijin dari dinas terkait yang bertanggung jawab serta menggunakan hanya untuk keperluan darurat atau alternatif dari sumber utama PDAM. Sarana pongumpulan dan pongolahan air limbah harus dipelihara secara berkala untuk menjamin kualitas effluen yang memenuhi standar baku mutu limbah cair.

d. dapat ditetapkan sebagai daerah peremajaan kota. keselamatan dan kesehatan lingkungan.5.5. Pengelolaan Daerah Bencana a. Lingkungan bangunan yang mengalami kebakaran dapat ditetapkan sebagai daerah tertutup dalam jangka waktu tertentu.5. dibatasi.3.3. daerah Banjir dan yang sejenisnya. bagi bangunanan yang rusak atau membangun bangunan sementara untuk kebutuhan darurat dalam batas waktu penggunaan tertentu dan dapat dibebaskan dari izin. b. Daerah sebagaimana dimaksud pada butir III.a. dengan memperhatikan keamanan. atau dilarang membangun bangunan. Pada daerah bencana sebagaimana dimaksud pada butir III. .a dapat ditetapkan larangan membangun atau menetapkan tata cara dan persyaratan khusus di dalam membangun. e. keselamatan dan kesehatan dapat diperkenankan mengadakan perbaikan darurat. dengan memperhatikan keamanan. Suatu daerah dapat ditetapkan sebagai daerah bencana. c. Bangunan-bangunan pada lingkungan bangunan yang mengalami bencana.

Persyaratan Struktur a. c. b. beban sementara (angin. c. Penentuan mengenai jenis. serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan. STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Persyaratan Bahan a. seperti : 2. Dalam hal bilamana bahan struktur bangunan belum mempunyai SNI maka bahan struktur bangunan tersebut harus memenuhi ketentuan teknis yang sepadan dari negara/ produsen yang bersangkutan.beban yang mungkin bekerja selama umur layan struktur. keruntuhan yang terjadi menimbulkan kondisi struktur yang masih dapat mengamankan penghuni.IV. intensitas dan cara bekerjanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku. IV. Struktur bangunan yang direncanakan secara umum harus memenuhi persyaratan keamanan (safety) dan kelayakan (serviceability). sehingga pada kondisi pembebanan maksimum. Struktur bangunan harus direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa. harta benda dan masih dapat diperbaiki. d. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. . 2. termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. termasuk beban tetap. 1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. gempa) dan beban khusus. dan beban-beban lainnya yang secara logis dapat terjadi pada struktur. Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan. b. Struktur bangunan harus direncanakan mampu memikul semua beban dan / atau pengaruh luar yang mungkin bekerja selama kurun waktu umur layan struktur.2 PEMBEBANAN 1 Analisa struktur harus dilakukan untuk memeriksa tanggap struktur terhadap beban . termasuk kombinasi pembebanan yang kritis (antara lain: meliputi beban gempa yang mungkin terjadi sesuai zona gempanya).

e. SNI-3430. c. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. Tata Cara Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung. Konstruksi beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. SNI -1734. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung SNI 1727. 3.a. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. seperti: a. g. IV. b. SNI-3976. Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja. d. SNI-3449. Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan dengan Agregat Ringan. SNI-1728 Tata Cara Perencanaan Beton dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung. b. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung SNI 2847. b. Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. SNI-2834 Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton. c. 2. STRUKTUR ATAS 1. d. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung. f. seperti: a. Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar-standar yang berlaku seperti: a. .3 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung SNI 1726. SNI-1729 Tata cara / pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja.

b. Tata Cara Dasar Koordinasi Modular untuk Perancangan Bangunan Rumah dan Gedung. standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanean suatu bangunan yang harus dipenuhi. Tata cara/ pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu. SNI-1735. SNI-2397. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit. antara lain: a. Konstruksi dengan Bahan dan Teknologi Khusus a. Perencanaan konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli struktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut. tata cara. g. SNI-1745. e. f. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut. SNI-2407. Tata Cara Perancangan Bangunan Sederhana Tahan Angin. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi. i. SNI-2405 . SNI-2395. h. d. SNI-1963. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. b. Tata Cara Penanggulangan Rayap pada Bangunan Rumah dan Gedung dengan Temmitisida. 5. d.b. c. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar-standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis. Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung. SNI-2404. SNI-1736. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Radiologi di Rumah Sakit. c. 4. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Tata Cara Pencegahan Rayap pada Pembuatan Bangunan Rumah dan Gedung. SNI-2394.

berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan korelasi tipikal parameter tanah yang lain. . Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas. 2. Pondasi Langsung a. e.4 STRUKTUR BAWAH 1.IV. b. b. c. d. Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai. kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim. d. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1 % dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik secara random. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang. Pondasi Dalam a. Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan percobaan pembebanan. Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh Dinas Bangunan. c.

sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur. dan kerusakan struktur sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki karena alasan teknis dan atau . Struktur bangunan sudah tidak andal. b. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan. dan atau beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandaian bangunan gedung. 2. Keruntuhan sruktur adalah diakibatkan oleh ketidak andalan suatu sistem atau komponen stnuktur untuk memikul beban sendiri. c. Keselamatan Struktur a. b. Untuk mencegah terjadinya keruntuhan struktur yang tidak diharapkan pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/ petunjuk teknis yang berlaku. beban akibat perilaku manusia.6 DEMOLISI STRUKTUR 1. Ketidak andalan struktur akibat beban perilaku alam dan atau manusia dapat diakibatkan oleh adanya kebakaran. maupun bencana lainnya. beban akibat perilaku manusia maupun beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/ Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung.IV. dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. d. beban yang didukungnya. Kriteria Demolisi Demolisi struktur dilakukan apabila: a. IV. atau karena dilampauinya beban yang harus dipikulnya sesuai rencana sebagai akibat berubahnya fungsi bangunan atau kesalahan dalam pemanfaatannya. Ketidak andalan struktur akibat beban sendiri dan atau beban yang didukungnya disebabkan oleh karena umur bangunan yang secara teknis telah melebihi umur yang direncanakan. Keselamatan struktur tergantung pada keandalan struktur tersebut terhadap gaya-gaya yang dipikulnya.5 KEANDALAN STRUKTUR 1. Keruntuhan Struktur a. gempa. c. d.

Prosedur. 2. Prosedur dan Metoda a. b. serta dapat membahayakan pengguna bangunan. metoda dan rencana demolisi struktur dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. metoda dan rencana demolisi struktur harus memenuhi persyaratan teknis untuk pencegahan korban manusia dan untuk mencegah kerusakan serta dampak lingkungan. dan secara teknis struktur bangunan tidak dapat dimanfaatkan lagi. masyarakat dan lingkungan.ekonomis. b. Penyusunan prosedur. Adanya perubahan peruntukan lokasi/fungsi bangunan. .

yang sesuai dengan: i. kedekatan dengan bangunan lain. . Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran. beban api. ii. iii. b. PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. iii. jumlah. antara bangunan. fungsi atau penggunaan bangunan. e. mobilitas dan karakteristik penghuni lainnya. waktu evakuasi ii. fungsi atau penggunaan bangunan. tingkat bahaya api. Ketahanan Api dan Stabilitas. serta gas-gas beracun yang mungkin timbul. yang menghubungkan kompartemen api.V. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana/ prasarana pengamanan dan pencegahan penyebaran api. dan ii. Bahan dan komponen bangunan harus tahan-penyebaran api. 3 atau bagian dan bangunan klas 4: i.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1. d. c. iv. ii. intensitas kebakaran. membatasi berkembangnya asap dan panas.ukuran setiap kompartemen api. a. dan x. v. sampai dengan tingkat tertentu. cukup waktu untuk evakuasi penghuni secara aman. iv. yang sesuai dengan: i. ix intervensi pasukan pemadam kebakaran. terutama pada bangunan klas 2. vii sistem proteksi aktif yang dipasang pada bangunan. elemen bangunan lainnya. ketinggian bangunan. Ruang perawatan pasien dari bangunan klas 9a harus dilindungi dari penyebaran api dan asap untuk memberi waktu cukup untuk evakuasi yang tertib dalam keadaan darurat. iii. sistem proteksi aktif yang dipasang dalam bangunan. sehingga: i. vi. Bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan yang pada tingkat tertentu akan mempertahankan stabilitas struktural selama kebakaran. cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. viii. dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya.

h. Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api. ukuran kompartemen. terdapat 3 (tiga) tipe konstruksi yaitu: a.f. ii. keruntuhan tersebut dapat dihindari. dan lubang untuk instalasi harus dilindungi sedemikian. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api. j. untuk memudahkan tindakan pasukan pemadam kebakaran secara memadai. sehingga peralatan darurat yang tersedia dalam bangunan tetap beroperasi pada jangka waktu yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran. v. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api dari peralatan utilitas yang mempunyai pengaruh bahaya api yang tinggi. dan vi. intensitas kebakaran. sistem proteksi aktif. iv. Tipe A: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuknya adalah tahan api dan mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran pada bangunan minimal 2 (dua) jam. sambungan konstruksi. beban api. Tipe C: Konstruksi yang terbentuk dari unsur-unsur struktur yang dapat terbakar dan tidak dimaksudkan untuk mampu bertahan terhadap api. Dinding luar beton yang dapat runtuh dalam bentuk panel yang utuh (misalnya beton pracetak) harus dirancang sehingga pada kejadian kebakaran dalam bangunan. Setiap elemen bangunan yang disediakan untuk menahan penyebaran api. yaitu pada bukaan. Tipe B: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuk kompartemen penahanan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam bangunan dan unsur dinding luarnya mampu menahan penjalaran kebakaran dari luar bangunan selama sekurang kurangnya 1 (satu) jam. Pada konstruksi ini terdapat dinding pemisah pembentuk kompartemen untok mencegah penjaiaran panas ke ruang-ruang yang bersebelahan di dalam bangunan dan dinding luar untuk mencegah penjalaran api ke dan dari bangunan didekatnya. i. sesuai dengan: i. b. Akses ke dan sekeliling bangunan harus disediakan bagi kendaraan dan personil pemadam kebakaran. c. iii. tingkat bahaya api. g. atau potensial dapat meledak. sehingga diperoleh tingkat kinerja yang memadai dari elemen tersebut. 2. . fungsi bangunan. Tipe Konstruksi Tahan Api.

1.000 m3 volume Maksimum 5.000 m2 b Pemberlakuan.9 A A B C 5.7.000 m2 Klas 6. i.000 m2 5.500 m2 3.500 m3 18.4 Ukuran maksimum dari kompartemen kebakaran Klasifikasi Bangunan Maksimum luasan lantai Klas 5 atau 9b Maksimum 48. Tabel V. a.3 Tipe Konstruksi yang diwajibkan KETINGGIAN (dalam jumlah lantai) KLAS BANGUNAN 4 atau lebih 3 2 1 4.000 m2 3.1. menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran.000 m3 21.3. 2. perambatan api dan asap. ii. iii. dan .000 m3 33. melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan.500 m2 2.3.8 atau 9a luasan lantai (kecuali daerah perawatan pasien Maksimum 30.000 m3 volume Tipe Konstruksi bangunan Tipe A Tipe B Tipe C 8. mengendalikan kebaran api agar tidak menjelar ke bangunan lain yang berdekatan. agar dapat: i. Tipe konstruksi yang diwajibkan Minimum tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai dengan ketentuan pada tabel berikut: Tabel V.6.7.8 A B C C Kompartemenisasi dan Pemisahan Ukuran Kompartemen Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat membatasi kobaran api yang potensial.500 m3 12. bagian ini tidak berlaku untuk bangunan klas 1 atau 10.

000 m3 dengan sistem sprinkler. d dan e tidak berlaku untuk tempat parkir umum yang dilengkapi dengan sistem sprinkler. Bangunan dengan luasan melebihi 18. kecuali seperti yang diijinkan pada butir d. Bila terdapat lebih dari satu bangunan pada satu kapling. iv. dilengkapi dengan sistem pembuang asap sesuai ketentuan yang berlaku.ii.000 m2 dan volumenya tidak melebihi 108. 9 yang dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler serta terdapat jalur kendaraan sekeliling bangunan yang memenuhi ketentuan butir 4. Untuk bangunan yang memiliki lubang atrium. Batasan umum luas lantai.e.4 dan butir f.ii. i. maka seluruhnya dianggap sebagai satu bangunan dan secara bersama harus memenuhi ketentuan butir i. ii.e. d.000 m2 atau 108. namun berjarak tidak lebih dari 6 meter dengannya. (2) bila jarak antara bangunan satu dengan lainnya kurang dari 6 meter. dan dikelilingi jalan masuk kendaraan sesuai dengan butir 4. ketentuan pada butir c. iii. asap dan gas beracun. Bagian bangunan.4 bila: i.i yang lebamya tidak kurang dari 18 meter. atau unit utilitas sejenis dan berada di puncak bangunan. ruang dalam bangunan yang karena fungsinya mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran. Kebutuhan ruang terbuka dan jalan masuk kendaraan. maka bagian dari ruang atrium yang dibatasi oleh sisi tepi di sekeliling bukaan pada lantai dasar sampai dengan langit-langit dari lantai tidak diperhitungkan sebagai volume atrium. dilengkapi dengan sistem pembuangan asap atau ventilasi asap dan panas sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku. (2) bangunan klas 5 s. . atau peralatan Lift.000 m3 dengan ketentuan: (1) bangunan klas 7 atau 8 kurang dari 2 lantai dan terdapat ruang terbuka disekeliling bangunan tersebut.ii. Bangunan dengan luas tidak melebihi 18. Bangunan-bangunan besar yang diisolasi. Ruang terbuka yang diperlukan harus: (1) Seluruhnya berada di dalam kapling yang sama kecuali jalan. sungai.1. harus merupakan suatu kompartemen terhadap penjalaran api. Ukuran dari setiap kompartemen kebakaran atau atrium bangunan klas 5. atau: ii. c. 8 atau 9 harus tidak melebihi luasan lantai maksimum atau volume maksimum seperti ditunjukkan dalam Tabel V. 6. tempat parkir tak beratap atau suatu panggung terbuka. ventilasi. atau ii. i. dan (1) setiap bangunan harus memenuhi ketentuan butir i atau ii di atas. tanki air. Bagian dari bangunan yang hanya terdiri dari peralatan pendingin udara. e. yang memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut pada butir 4.1. Ukuran kompartemen pada bangunan dapat melebihi ketentuan dari yang tersebut dalam Tabel v. 7. atau tempat umum yang berdampingan dengan kapling tersebut. atau (2) ketinggian langit-langit lebih dari 12 meter.d.e. dan apabila: (1) ketinggian langit-langit kompartemen tidak lebih dari 12 meter. tidak diperhitungkan sebagai luas lantai atau volume dari kompartemen atau atrium iii.

Apabila harus diadakan bukaan pada dinding sebagaimana dimaksud pada butir b. dan lubang utilitas harus diberi penyetop api untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan. Bukaan vertikal pada bangunan yang dipergunakan untuk shaft pipa.ii (3) tidak untuk penyimpanan dan pemrosesan material. 5.d. Seluruh bukaan harus dilindungi. tidak menghalangi penanggulangan kebakaran pada bagian manapun dari tepian kapling. koridor umum yang panjangnya lebih dari 40 meter harus dibagi menjadi bagian yang tidak lebih dari 40 meter dengan dinding yang tahan asap. Pada bangunan klas 2 dan 3. c. g.(2) termasuk jalan masuk kendaraan sesuai ketentuan butir 4. b. maka bukaan harus dilindungi dengan penutup tahan minimal sama dengan ketahanan api dinding atau lantai. dan (4) tidak ada bangunan diatasnya. dan . Proteksi Bukaan a. Tangga dan Lift pada satu shaft. yang tidak melanggar batas lebar dari ruang terbuka. atau akan menambah risiko merambatnya api ke bangunan yang berdekatan dengan kapling tersebut. ii. f. mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. dan pemisahan pada shaft lift mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. kecuali untuk gardu jaga dan bangunan penunjang ( seperti gardu listrik dan ruang pompa). (2) lebar bebas minimum 6 meter dan tidak ada bagian yang lebih jauh dari 18 meter terhadap bangunan. dan tertutup pada setiap lantai. (4) di atas maka jalan tersebut dapat beriaku sebagai jalan lewatnya kendaraan atau bagian dari padanya. bila salah satu tangga atau lift tersebut diwajibkan berada dalam suatu shaft tahan api. dan shaft instalasi listrik harus sepenuhnya tertutup dengan dinding dari bawah sampai atas. Tangga dan lift tidak boleh berada pada satu shaft yang sama. (4) memiliki kapasitas beban dan tinggi bebas yang memudahkan operasi mobil pemadam kebakaran. h. . serta di atas jalan tersebut tidak boleh dibangun apapun kecuali hanya untuk kendaraan dan pejalan kaki (3) dilengkapi jalan untuk pejalan kaki yang memadai. (5) bila terdapat jalan umum yang memenuhi (1) s. shaft ventilasi. pemisahan oleh dinding tahan api. Jalan masuk kendaraan harus: (1) sebagai jalan masuk bagi kendaraan darurat dan lintasan dari jalan umum. Pemisahan Pemisahan vertikal pada bukaan di dinding luar. Koridor umum pada bangunan klas 2 dan 3.e.

Sudut Terhadap Dinding 0° (dinding-dinding saling berhadapan) Lebih dari 0° s. lubang tirai. dan tidak berada pada atau dekat dengan lantai dasar bangunan.5. jarak antara bukaan pada dinding luar pada kompartemen kebakaran harus tidak kurang dari yang tercantum pada Tabel V.5 JARAK ANTARA BUKAAN PADA KOMPARTEMEN KEBAKARAN YANG BERBEDA e. iii. dan sejenisnya di dinding luar dari konstruksi pasangan.000 mm2. ii sambungan pengendali.d kurang dari 180° 180° atau lebih Jarak Minimal Antara Bukaan 6m 5m 4m 3m 2m nol . dan ii.d. f. Ketentuan proteksi pada bukaan ini tidak berlaku untuk: i. bangunan-bangunan klas 1 atau klas 10. Tabel V. 90° Lebih darii 90° s. bila luas penampang masing-masing tak melebihi 45. 135° Lebih dari 134° s. bila luas lubang/sambungan tersebut tidak lebih luas dari yang diperlukan. g. atau (3) 6 m dari bangunan lain pada persil yang sama.d.d. Bukaan pada dinding luar yang perlu memiliki TKA harus: i. Sarana dan atau peralatan proteksi seperti penyetop api. lubang ventilasi yang tidak mudah terbakar (non combustible ventilators).1. atau (2) 1. berjarak dari suatu obyek sumber api tidak kurang dari: (1) 1 m pada bangunan dengan 1 (satu) lantai. yang bukan dari klas 10. bila bukaan di dinding luar tersebut terhadap suatu sumber api terletak kurang dari: (1) 3 m dari batas belakang persil bangunan. dan sambungan antara panel di dinding luar dari beton pracetak. maka tidak boleh menempati lebih dari 1/3 luas dinding luar dari lantai dimana bukaan tersebut berada. dan jarak antara lubang ventilasi tak kurang dari 2 m pada dinding yang sama. dan iii. 45° Lebih dari 45° s. atau (2) 6 m dari sempadan jalan yang membatasi persil. kecuali bila bukaan-bukaan tersebut pada bangunan klas 9b dan diberlakukan seperti bangunan panggung terbuka. dan sebagainya harus memenuhi persyaratan dan dapat dibuktikan melalui pengujian oleh lembaga uji yang diakui dan terakreditasi. bila bukaan tersebut wajib dilindungi sesuai dengan butir ii. Proteksi Bukaan Pada Dinding Luar.5 m pada bangunan dengan lebih dari 1 (satu) lantai. maka harus dilindungi sesuai dengan ketentuan butir h. Kecuali bila dilindungi sesuai ketentuan tersebut pada butir 9. Pemisahan Bukaan Pada Kompartemen Kebakaran. damper.1.d. dan bila digunakan sprinkler pembasah-dinding maka sprinkler tersebut harus ditempatkan di bagian luar bangunan.

atau memasang penutup api otomatis dengan TKA -/60/(3) Bukaan-bukaan lain: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. (3) bila dilengkapi dengan pompa kebakaran harus terdiri dari: (a) 2 (dua) pompa. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. atau . SNI 1745. Sistem Pemadam Kebakaran a. jendela. asalkan hidran dapat menjangkau seluruh satuan peruntukan bangunan. atau jendela kebakaran dengan TKA -/60/. yang sekurang-kurangnya satu pompa digerakkan oleh motor bakar atau motor listrik yang dicatu dari daya generator darurat.h. atau (b) motor listrik yang dicatu dari generator darurat. atau memasang pintu kebakaran dengan TKA -/60/30 (dapat menutup sendiri secara otomatis). dan (2) hidran dalam bangunan harus melayani hanya di lantai hidran tersebut ditempatkan. ii.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. 6. V. 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih dari 2 (dua). atau konstruksi dengan TKA tidak kurang dari-/60/-. maka jalan masuk. i. ii. (4) bila pompa kebakaran dihubungkan dengan jaringan pasokan air dan dipasang pada bangunan dengan ketinggian efektif kurang dari 25 m. satu pompa digerakkan oleh: (a) motor-bakar. i. di mana: (a) bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian klas 4. Sistem hidran kebakaran. (1) harus dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. kecuali pada satuan peruntukan bangunan. 7. Pintu. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. atau (b) bangunan klas 5. jendela dan bukaan lainnya harus dilindungi sebagai berikut: (1) Jalan masuk/pintu : sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. (2) Jendela: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. Sistem hidran harus dipasang pada bangunan: (1) yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 m2.(menutup otomatis atau secara tetap dipasang pada posisi tertutup). Bila diperlukan proteksi. dan (2) terdapat regu pemadam kebakaran. Hidran kebakaran. dan penutup kebakaran harus memenuhi ketentuan butir i di atas dan standar teknis yang berlaku. Metoda Proteksi Yang Diperbolehkan. (b) 2 (dua) pompa yang digerakkan oleh motor listrik yang dihubungkan dengan sumber tenaga yang terpisah satu sama lain.

atau dinding antara bangunan dan rumah pompa yang berjarak 2 m dari sisi rurnah pompa dan 3 m di atas rumah pompa harus mempunyai TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan untuk dinding tahan api sesuai klas bangunannya. maka dinding rumah pompa dan bagian dinding luar yang berjarak 2 m dari samping rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa. dimana satu atau lebih hidran dalam dipasang. (2) melayani hanya lantai dimana alat ini ditempatkan. untuk pompa yang ditempatkan di luar bangunan. harus: (1) dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. dan (b) pada bangunan klas 5. untuk melayani setiap kompartemen kebakaran dengan luas lantai lebih dari 500 m2 dan untuk maksud butir ini.(5) (6) (7) (c) motor listrik yang dihubungkan pada sumber tenaga yang terpisah satu sama lain melalui fasilitas pemindah daya otomatis. atau (b) jika bangunan tidak dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler sesuai ketentuan yang berlaku. maka harus disediakan sambungan yang cocok dan jalan masuk kendaraan pemadam kebakaran untuk memudahkan petugas pemadam kebakaran memompa air dari sumber tersebut dan harus disediakan sambungan yang berdekatan dengan lokasi tersebut untuk meningkatkan tekanan air dalam sistem gedung. b. 7. dan jika dalam jarak 6 m dari bangunan. Hose Reel i. dipertimbangkan sebagai kompartemen kebakaran. 8 atau 9 yang tidak lebih dari 2 (dua) lantai. maka bangunan rumah pompa tersebut harus jelas terlihat. tahan cuaca. (a) pada bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian Klas 4 dilayani oleh Hose Reel tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari unit hunian tersebut. ii. satu unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. kecuali pada satu unit hunian. atau: (2) bila hidran dalam tidak dipasang. serta harus dirancang untuk memenuhi tekanan dan laju aliran yang disyaratkan untuk operasi petugas pemadam kebakaran. dan dengan konstruksi yang mempunysi TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan bagi suatu dinding tahan api untuk klasifikasi bangunannya. mempunyai jalur keluar langsung ke jalan atau ruang terbuka. . bila sistem pasokan air mengambil air dari sumber statis. Sistem Hose Reel harus disediakan: (1) untuk melayani seluruh bangunan. pemasangan pompa kebakarannya dalam bangunan harus pada tempat yang: (a) mempunyai jelur keluar ke jalan atau ruang terbuka. dilayani oleh Hose Reei tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari satu unit hunian tersebut dengan syarat Hose Reel melayani seluruh unit hunian. 6. tempat pompa harus terpisah dari bangunan. Sistem Hose Reel.

Bila dihubungkan dengan meteran air. sehingga hose tidak perlu melintasi pintu keluar masuk yang dilengkapi dengan pintu kebakaran atau pintu asap. atau (b) di dalam bangunan sekitar 4 m dari pintu keluar. Pada bangunan yang tinggi efektifnya lebih dari 25 m Dalam kompartemenisasi dengan salah satu ketentuan berikut: (a) luas lantai lebih dari 3. Termasuk lapangan parkir terbuka dalam bangunan campuran. yang merupakan bangunan terpisah Bangunan pertokoan (kbs 6). atau (d) kombinasi (a). sebuah katup yang memenuhi butir 5. Ruang Pertemuan Umum. Luas panggung dan belakang panggung lebih dari 200 m Tiap bangunan beratrium Untuk memperoleh ukuran kompartemen . (b) volume ruangan lebih dari 21. Tidak termasuk lapangan parkir terbuka. Teater. (b) diameter pipa dari meteran air atau instalasi PAM berdiameter tidak kurang dari 25 mm. 2. Bila dipasok oleh sumber air utama dengan diameter nominal lebih besar dari 25 mm dan yang dihubungkan dengan sumber air untuk hidran.(3) (4) (5) (6) Memiliki slang kebakaran yang harus diletakkan sedemikian rupa untuk menghindari partisi atau penghalang di dalam mencapai setiap bagian lantai dari tingkat yang bersangkutan Hose reel yang dipasang mengikuti butir (3) diatas ditempatkan: (a) di luar bangunan. Bangunan Rumah Sakit.1 Persyaratan Pemakaian Sprinkler Jenis bangunan Kapan Sprinkler diperlukan: Semua klas bangunan: 1.000 m3.500 m2. atau (c) di dalam bangunan berdekatan dengan hidran dalam (selain hidran yang dipasang di pintu keluar yang diisolasi tahan api).2. Sistem Sprinkler i. (c) jaringan pipa memenuhi syarat pembagian pasokan air. Lebih dari 2 (dua) lantai. (b). Konstruksi Atrium. maka: (a) dipelihara kebutuhan kecepatan aliran dari hose reel. dan (c). Ruang Pertunjukan. c.d harus dipasang pada sambungan ke saluran utama. (d) tiap katup yang mengatur aliran air dari sumber air utama ke Hose Reel harus dijaga pada posisi terbuka oleh pengunci dari logam. Sistem sprinkler harus dipasang pada bangunan sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel V.

jika: (a) sprinkler terpasang diselunuh bangunan. SNI-3989. (2) Bangunan bersprinkler. amat tinggi.000 m2 den volume Bangunan berukuran begar den terpisah. 108. atau: (b) dalam hal sebagian bangunan: (i) sebagian bangunan dipasang sprinkler dan diberi kompartemen kebakaran pada bagian yang tanpa sprinkler.9 dengan luas maksimum 18.yang lebih besar: (a) bangunan klas 5 .000 m2 dan volume 108. atau (b) sistem pengeras suara atau peralatan lainnya yang dapat didengar bila peringatan darurat dan sistem komunikas intemal tidak disyaratkan. Sistem sprinkler harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: (1) Standar perancangan dan pemasangan sprinkler otomatis sesuai standar teknis yang berlaku. Katup kontrol sprinkler harus ditempatkan dalam suatu ruang yang aman atau ruang tertutup yang berhubungan langsung ke jalan atau ruang terbuka.000 m3. pasokan air untuk sistem sprinkler harus memperhatikan tinggi efektif bangunan. (b) semua bangunan dengan luas lantai lebih besar dari 18. ii. Ruang parkir. *) Jenis bangunan dengan resiko bahaya kebakaran tinggi sesuai standar teknis yang berlaku. (5) Sambungan dengan peralatan alarm lainnya. luar bangunan yang diisyaratkan menggunakan sprinkler. ·) (b) Volume lebih dari 12. dan klasifikas bangunan sesuai standar teknis yang berlaku. (4) Pasokan air.000 m2.000 m3. Tanpa mengurangi ketentuan atau standar yang berlaku bangunan atau bagian bangunan dianggap bersprinkler. Tanpa mengurangi ketentuan dalam standar teknis yang berlaku mengenai sprinkler. . Sistem sprinkler harus disambung atau dihubungkan ke dan dapat mengaktifkan: (a) setiap peringatan darurat dan sistem komunikasi intema yang disyaratkan. dengan salah satu dari Bangunan dengan risiko bahaya kebakaran 2(dua) persyaratan : 2 (dua) persyaratan berikut: (a) Luas lantai melebihi 2. selain nuang parkir terbuka Bila menampung lebih dari 40 kendaraan. Pada kompartemen. dan (ii) setiap bukaan pada konstruksi pemisah antara bagian ter-sprinkler dan bagian tak ter-sprinker diproteksi sesuai ketentuan proteksi pada bukaan (3) Katup kontrol sprinkler.000 m3.

harus dirancang sehingga sistem sprinkler yang melindungi bagian bukan nuang parkir dapat diisolasi dengan tanpa mengganggu aliran air. i. atau (2) akomodasi bagi lanjut usia. Sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm otomatis harus dihubungkan dan mengaktifkan: (1) sistem peringatan keadaan darurat dan sistem komunikasi internal sebagaimana dipersyaratkan oleh ketentuan Bab VIII. PAR yang jenisnya sesuai kebutuhan harus dipasang diseluruh bangunan. bangunan klas 2 dengan persyaratan khusus. d. anak-anak atau orang cacat. b. bangunan klas 9a. maka pada tiap katup yang berfungsi mengendalikan sprinkler didaerah panggung harus dipasang peralatan anti gangguan yang dihubungkan ke panel pemantau. ruang pertemuan umum atau semacamnya. Sistem deteksi dan alarm kebakaran otomatis harus dipasang di: i. SNI-3987 kecuali PAR jenis air yang tidak perlu dipasang di dalam bangunan atau bagian bangunan yang dilayani oleh Hose Reel. 2. harus: (a) berdiri sendiri. SNI-3985. 7) Sistem sprinkler di ruang parkir. dengan ii. Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran a. iii. atau (2) bila sistem peringatan darurat dan sistem komunikasi intemal tidak dipersyaratkan. kecuali di dalam unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. dan iv. (b) bila berhubungan dengan sistem sprinkler yang melindungi bagian bangunan bukan ruang parkir. bangunan klas 1b. dan (2) PAR dari jenis bukan klas A harus ditempatkan pada lokasi yang dapat menjangkau lokasi yang mengandung jenis bahaya yang harus diatasi.(6) Peralatan anti gangguan (Anti Tamper). Sistem sprinkler yang dipasang pada ruang parkir pada bangunan multi-klas. ii. maka dapat dihubungkan dengan sistem pengeras suara. Spesifikasi Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran. alarm pengindera asap ataupun peralatan untuk peringatan . Untuk sistem sprinkler yang dipasang di teater. PAR memenuhi butir i. ii. yang memungkinkan dilakukannya pemadaman awal efektip terhadap kebakaran oleh penghuni bangunan. jika: (1) Disediakan dengan mengikuti standar teknis yang berlaku. Pemadam Api Ringan (PAR) i. bangunan klas 3 yang menampung lebih dari 20 penghuni yang digunakan sebagai: (1) bagian hunian dari bangunan sekolah. ataupun mempengaruhi efektivitas operasi sprinkler yang melindungi ruang parkir. Perancangan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm kebakaran harus memenuhi standar teknis yang berlaku. tidak berhubungan dengan sistem sprinkler di bagian bangunan lainnya.

yaitu: (1) ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan Ventilasi Mekanik dan Pengkondisian Udara dalam Bangunan Gedung. seperti gudang dengan luas lantai 30 m2. setiap rute evakuasi harus dijaga dengan ketinggian asap sekurang-kurangnya 2. Persyaratan umum i. : Batas Ambang.5 % smoke obscuration/m. atau menggunakan sistem point sampling yang mempunyai derajat kepekaan maksimum 0. dan ii. Pemasangan. i. d. dan bila terdapat partikel jenis lainnya harus menggunakan detektor tipe ionisasi. sampai ke jalan atau ruang terbuka bebas.c.10 m di atas level lantai. iii. termasuk didalam satuan numah hunian bangunan klas 2 atau 3 atau sebagian klas 4.50 meter jaraknya dari pintu kebakaran. lainnya yang dapat didengar dan yang ditempatkan disetiap lantai sesuai ketentuan yang berlaku. iii. i. Ketentuan pengendalian asap ini tidak berlaku untuk: i. Penempatan Alat Pendeteksi Asap. dan iii. bangunan klas 1 atau 10. setiap ruangan yang tidak digunakan oleh penghuni untuk waktu yang cukup lama. ruang parkir terbuka atau panggung terbuka. (2) tingkat penglihatan memungkinkan diketahui rute evakuasinya. Pada saat terjadi kebakaran. Perioda tenggang waktu harus memperhitungkan keadaan bangunan dan mobilitas manusia. dan (2) ketentuan yang berlaku tentang Spesifikasi Alat Pendeteksi dan Alarm Kebakaran otomatis pada Bangunan Gedung. (3) tingkat racun asap yang timbul tidak membahayakan manusia. ii. ditempatkan pada lokasi berkumpulnya asap panas dengan mempertimbangkan geometri langit-langit dan efeknya pada lintasan perpindahan asap. ramp dan jalur sirkulasi yang terisolasi dari kebakaran serta koridor umum) pada setiap bagian bangunan. ruang kompartemen sanitasi. dan iv. ii. b. untuk selama tenggang waktu sampai dengan seluruh penghuni dapat terevakuasi dari bangunan. Rute evakuasi merupakan jarak lintasan menerus perjalanan evakoasi/ penyelamatan dari suatu tempat (seperti pintu/ jalan keluar. dipilih tipe foto-elektrik. 3. dan Pemeriksaan Alat Deteksi dan Alarm Kebakaran Otomatis. jika dipasang di dalam saluran udara (ducts) atau udara yang terkontaminasi partikel debu dengan ukuran kurang dari 1 µm. Pengendalian Asap Kebakaran a. ditempatkan kurang dari 1. ii. Penetapan batas ambang alarm bagi sistem detektor harus mengikuti ketentuan yang berlaku. dipasang dengan permukaan menghadap ke bawah dan di luar saluran unit pengkondisian udara. Sistem sampling harus memenuhi Ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan. . ruang tanaman atau sejenisnya. sehingga (1) temperatur ruang tidak membahayakan manusia.

sistem tidak mengganggu beroperasinya peralatan pengendalian asap yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V.iv. setiap hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 harus diberlakukan sebagai kompartemen terpisah. d. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. ii sifat penggunaan bangunan. ditaruh atau dipakai di dalam bangunan. tata letak bangunan. vi. (2) pada bangunan yang termasuk dalam butir vi. dan tidak mensirkulasikan asap diantara kompartemen kebakaran. ii. Berkaitan dengan butir c berikut tentang Persyaratan Untuk Bahaya Khusus. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. panel kontrol. bersama-sama dengan kelengkapan pengendalian asap lainnya yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V. Untuk keperluan ketentuan ini. selain: (1) kegiatan pengendalian kebakaran. sifat dan jumlah bahan yang disimpan. dilengkapi sarana alat pengendali..3. Kegunaan dan sarana yang ada di Pusat Pengendali Kebakaran adalah: i.. dan (2) kegiatan lain yang berkaitan dengan unsur keselamatan atau keamanan bagi penghuni bangunan.2. Ruang Pusat Pengendaii Kebakaran pada bangunan gedung yang tinggi efektifnya lebih dari 50 meter harus merupakan ruang terpisah. tidak digunakan bagi keperluan lain. telepon.2. atau ketentuan pada butir b. harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap sesuai ketentuan. dan persyaratan lain dari pedoman teknis ini. c. v. dimana: b. atau ketentuan pada butir b. bila suatu bangunan tidak termasuk dalam Tabel V. dan tidak membentuk bagian sistem pengendali asap harus memenuhi ketentuan standar yang berlaku. Pada sistem pengkondisian udara terpusat yang memutar udara untuk lebih dari satu ruangan kompartemen kebakaran: (1) pada bangunan yang termasuk dalam butir v. setiap bagian yang menyebabkan penyebaran asap yang serius antar kompartemen.3. iii. iii. sebuah ruang untuk pengendalian dan pengarahan selama berlangsungnya operasi penanggulangan kebakaran atau penanganan kondisi darurat lainnya. meubel. 4. Konstruksi. Untuk sistem pengatur udara lainnya. . Pusat Pengendali Kebakaran a. Ketentuan lebih teknis dalam pengendalian asap kebakaran untuk setiap klas bangunan mengikuti petunjuk dan standar teknis yang berlaku.3 pada lampiran persyaratan teknis ini maka harus memenuhi ketentuan i.2. harus: (a) beroparasi seperti sistem pengendali asap. Persyaratan untuk bahaya khusus Upaya tambahan dalam pengendalian bahaya asap mungkin dipersyaratkan bilamana berkaitan dengan: i. peralatan dan sarana lainnya yang diperlukan dalam penanganan kondisi kebakaran.

Ukuran dan sarana. dinding atau sejenisnya mempunyai kekokohan yang cukup terhadap keruntuhan akibat kebakaran dan dengan nilai TKA tidak kurang dari 120/120/120. ventilasi. langit-langit dan dinding dalam. dan (2) sistem keamanan bangunan. (2) telepon sambungan langsung. dan sistem manajemen. seperti pada lantai. e. Pintu yang menuju ruang pengendali harus membuka ke arah dalam ruang tersebut. Ruang pengendali harus: (1) mempunyai luas lantai tidak kurang dari 10 m2. Panel indikator kebakaran. Proteksi pada bukaan. dan (2) arah langsung dari tempat umum atau melalui jalan terusan yang dilindungi terhadap api. yang khusus untuk melayani fungsi ruang pengendali tersebut. d.5 Pintu Keluar. dan salah satu panjangnya dari sisi bagian dalam tidak kurang dari 2.1. i. lantai atau langit-langit yang memisahkan ruang pengendali dengan ruang dalam bangunan dibatasi hanya untuk pintu. konstruksi penutupnya dari beton. Ruang pengendali haruslah dapat dimasuki dari (2) dua arah (1) arah pintu masuk di depan bangunan. ii. yang menuju ke tempat umum dan mempunyai nilai TKA tidak kurang dari -/120/30. dan peralatan pengamanan kebakaran lainnya yang dipasang di dalam bangunan. bahan lapis penutup. Ruang pengendali kebakaran harus dilengkapi dengan sekurang-kurangnya: (1). genset darurat. pintu. i. dan (4) sebuah meja berukuran cukup untuk menggelar gambar dan rencana taktis yang disebutkan dalam (5). ii. bukaan pada dinding. sistem pengamatan. iv. panel indikator lif. kipas pengendali asap. iii.50 m. sakelar kontrol dan indikator visual yang diperlukan untuk semua pompa kebakaran. dan (5) rencana taktis penanggulangan kebakaran. Sebagai tambahan. sakelar pengendali jarak jauh untuk gas atau catu daya listrik. ii. dan sejenisnya harus mengikuti syarat teknis proteksi bukaan pada Bab V. Setiap bukaan pada ruang pengendali kebakaran. iii. untuk jendela. jika dikehendaki terpisah total dari sistem lainnya. saluran. c. saluran udara dan sejenisnya. pipa.i. (3) sebuah papan tulis dan sebush papan tempel (pin-up board) berukuran cukup. ventilasi dan lubang perawatan lainnya. dapat dikunci dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga orang yang menggunakan rute evakuasi dari dalam bangunan tidak menghalangi atau menutupi jalan masuk ke ruang pengendali tersebut. yang tidak diperlukan untuk berfungsinya nuang pengendali. tidak boleh lewat ruang tersebut. . peralatan utilitas. di ruang pengendali dapat disediakan: (1) Panel pengendali utama. pembungkus atau sejenisnya harus memenuhi persyaratan terhadap kebakaran.

Pencahayaan darurat sesuai ketentuan yang berlaku harus dipasang dalam ruang pusat pengendali. Ventilasi dan pemasok daya. luas lantai bersih daerah tambahan adalah 2 m2 untuk setiap penambahan alat. pemipaan dan sambungan-sambungan pipa tidak boleh dipasang dalam ruang pengendali. tetapi boleh dipasang di ruangan-ruangan yang dapat di capai dari ruang pengendali tersebut. i. dan (1) dipasang sesuai ketentuan yang berlaku seperti untuk tangga kebakaran yang dilindungi. Sistem udara bertekanan yang hanya melayani ruang pengendali. tetapi tidak berada di dalam ruang pengendali dan diproteksi oleh dinding yang mempunyai TKA tidak lebih kecil dari 120/120/120. (4) mempunyai kipas. Ruang pengendali harus diberi ventilasi dengan cara: i. h. luas lantai bersih tidak kurang dari 8 m dan luas ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. Beberapa peralatan seperti Motor bakar. f. . atau ii. pompa pengendali sprinkler. g. (2) beroperasi otomatis melalui aktivitas sistem alarm atau sistem sprinkler yang dipasang pada bangunan.50 m2 dan ruang untuk tiap rute evakuasi penyelamatan dari ruang pengendali ke ruang lainnya harus disediakan sebagai tambahan persyaratan (2) dan (3) diatas. dan tingkat iluminasi diatas meja kerja tak kurang dari 400 Lux. (5) mempunyai catu daya listrik ke ruang pengendali atau peralatan penting bagi beroperasinya ruang pengendali. (3) mengalirkan udara segar ke ruangan tidak kurang dari 30 kali pertukaran udara perjamnya pada waktu sistem beroperasi dengan dan salah satu pintu ruangan terbuka. ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. Tingkat suara (ambient) dalam ruang pengendali kebakaran yang diukur pada saat semua peralatan penanggulangan kebakaran beroperasi ketika kondisi darurat berlangsung tidak melebihi 65 dbA bila ditentukan berdasarkan ketentuan tingkat kebisingan didalam bangunan.50 m2. (3) jika dipasang peralatan tambahan. motor dan pipa-pipa saluran udara yang membentuk bagian dari sistem. ventilasi alami dari jendela atau pintu pada dinding luar bangunan yang membuka langsung ke ruang pengendali.(2) jika hanya menampung peralatan minimum.

nyaman. b. Setiap tangga dan ramp memiliki: (1) Permukaan lantai tidak licin pada ramp. aman.VI. mampu menjaga lintasan anak-anak. Pada area dimana orang bisa jatuh dari ketinggian 1m atau lebih dari lantai/atap/melalui bukaan pada dinding luar bangunan. Agar manusia dapat bergerak dengan aman ke dan di dalam bangunan maka bangunan harus mempunyai antara lain: i. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir mobil) dan klas 8. iii. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dan area lain untuk tujuan darurat. harus dibuatkan penghalang yang: i. tempat bongkar muat barang dan sejenisnya. Fungsi a. Butir c tersebut di atas tidak berlaku bila penghalang tersebut digunakan untuk panggung. dan tekanan orang pada penghalang tersebut. Kuat dan kokoh menahan pengaruh orang yang menabrak. Melengkapi bangunan dengan sarana evakuasi yang memungkinkan penghuni punya waktu untuk menyelamatkan diri dengan aman tanpa meraskan keadaan darurat. Akses ke dan di dalam bangunan harus tersedia yang memungkinkan pergerakan manusia secara aman. Persyaratan kinerja: a. dan memadai bagi semua orang. injakan dan akhiran injakan tangga. ii. ii. tinggi disesuaikan dengan risiko orang tanpa disengaja jatuh dari lantai /atap. ii. c. (2) Pegangan rambat (handrails) yang memadai untuk membantu kestabilan pemakai tangga/ramp (3) Lantai bordes yang memadai uniuk menghindari keletihan (4) Pintu di lantai bordes sedemikian hingga pintu tersebut tidak menjadi rintangan. atau karena perbedaan tinggi lantai dalam bangunan. Kemiringan permukaan lantai harus aman bagi pejalan kaki. atau 4. Butir c tersebut tidak berlaku juga untuk: i. (5) Tangga yang memadai untuk menampung volume dan frekwensi penggunaan. iii. Setiap pintu dibuat agar penghuni mudah mencapai akses keluar dan menghindari risiko terjebak di dalam bangunan. e. SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. kecuali tangga/ramp di luar bangunan. 2. d. nyaman dan memadai.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. b. 3. Fungsi tersebut pada butir b di atas tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. c. iv. . Melengkapi bangunan dengan akses yang layak. menerus sepanjang area yang berbahaya.

iii. 8: Minimal harus tersedia 2 jalan ke!uar pada setiap lapis lantainya apabila tinggi efektif bangunannya lebih dari 25 m c. lokasi dan dimensi pintu keluar yang tersedia pada bangunan disediakan agar penghuni dapat menyelamatkan diri dengan aman. dan atap yang dapat dicapai oleh manusia harus mempunyai dinding pembatas. Basement: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada lapis lantai manapun. 3 dan 4. i.2 KETENTUAN JALAN KELUAR 1. 2 . Jumlah. Bangunan klas 9: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada: i.f. balkon.atau yang ketinggian efektifnya lebih dari 25 m. Ramp kendaraan dan lantai yang dapat dilewati kendaraan harus mempunyai pembatas pinggir atau penghalang lainnya untuk melindungi pejalan kaki dan struktur bangunannya. Fungsi bangunan Butir h tersebut di atas tidak berlaku di dalam unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. Jumlah lantai yang dihubungkan dengan pintu tersebut ii. d. jarak tempuh dari titik manapun pada lantai dimaksud ke suatu jalan keluar tunggal tak lebih dari 20 m. ii. dan ii. kecuali: i. Persyaratan Keamanan a.5 m. mobilitas dan karakter penghuni. g. Kebutuhan Jalan Keluar a. Tangga. ramp dan lorong (gang) harus aman bagi lalu lintas pengguna bangunan. b. Tinggi bangunan Jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran dan sesuai dengan: i. Intervensi pasukan pemadam kebakaran Agar penghuni dapat keluar dengan aman dari bangunan. mobilitas dan karakter lain dan penghuni ii. b Bangunan klas 2 s. ramp. Sistem kebakaran yang dipasang dalam bangunan iii. Fungsi bangunan iv. Jarak tempuh ii. h. Fungsi bangunan iv. setiap lapis lantai termasuk area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. VI. dimensi jelur lintasan menuju ke pintu keluar harus sesuai dengan . i. Jumlah. balustrade atau penghalang lainya yang untuk melindungi pengguna bangunan terhadap risiko jatuh . Semua bangunan : Setiap bangunan harus mempunyai sedikitnya 1 jalan keluar dari setiap lantainya. Tangga. sesuai dengan: i. setiap lapis lantai bila bangunan dengan jumlah lantai lebih dari 6. lantai. bila jalan keluar dari lapis lantai di dalam bangunan dimaksud naik lebih dari 1.d. Jumlah. luas lapis lantainya tak lebih dari 50 m2. c.

tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan. atau dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. Pintu masuk dari setiap hunian tunggal harus berjarak tidak lebih dari: (1) 6 m dari jalan keluar atau dari tempat dengan jalur yang berbeda arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. harus kurang dari 20 m dari pintu keluar atau tempat jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. Setiap tempat dalam ruangan yang bukan pada unit hunian tunggal. Akses ke jalan keluar: Tanpa harus melalui hunian tunggal lainnya. 3 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 2. e. 2 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 3. sedikitnya 2 jalan keluar. b. masing-masing merupakan bagian jelur lintasan ke minimal 2 buah jalan keluar. setiap deret harus mempunyai minimal 2 tangga atau ramp. atau (2) 20 m dari pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan jalan keluar ke jalan atau ke ruang terbuka. bila 2 atau lebih jalan keluar diwajibkan. 4. b. f. g. Jarak jalur menuju pintu keluar a. atau ii. atau ii. Bangunan klas 2 dan 3: Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran. Area perawatan pasien: Pada bangunan klas 9a sedikitnya harus ada 1 jalan keluar dari setiap bagian pada lapis lantai yang telah disekat menjadi kompartemen tahan api. bila bangunan tersebut mempunyai sistem sprinkler yang menyeluruh. ii. Panggung terbuka: Pada panggung terbuka dan menampung lebih dari 1 deret tempat duduk. 3. merupakan bagian dari tribun penonton terbuka. Jalan keluar yang diisolasi terhadap kebakaran a. setiap penghuni pada lapis lantai atau bagian lapis lantai bangunan harus dapat mencapai ke: i. Bangunan klas 2 dan 3 i. iv. Bangunan kelas 5 s. 1 jalan keluar. setiap lapis lantai pada bangunan klas 9b yang digunakan sebagai pusat asuhan balita. Bagian bangunan klas 4: Pintu masuk harus tidak lebih dari 6 m dari pintu keluar. selain area perawatan pasien. iii. v. dan termasuk 1 lapis lantai tambahan bila digunakan sebagai tempat menyimpan kendaraan bermotor atau tempat pelengkap lainnya. . setiap lapis lantai pada bangunan sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama dengan ketinggian 2 lantai atau lebih. setiap lapis lantai atau mesanin yang dapat menampung lebih dari 50 orang sesuai fungsinya.iii. kecuali jalan tersebut menghubungkan tidak lebih dari: i.d. 9 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap bahaya kebakaran kecuali: i. ii. pada bangunan klas 9a: tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan pada suatu tempat.

1 m. atau tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan c. ii.d. lebar bebas. d. lobby.8 m pada lorong. bila disyaratkan untuk pintu keluar pada tempat perawatan pasien. Bangunan klas 5 s. jarsk ke pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan akses ke jalan atau ke ruang terbuka dapat diperpanjang sampai 30 m. 1. Pintu keluar yang disyaratkan atau jalur sirkulasi ke jalan keluar: a. tinggi bebas seluruhnya harus tidak kurang dari 2 m. atau ruang sirkulasi lainnya. jika lapis lantai atau mesanin menampung tidak lebih dari 100 orang. atau iii. memiliki TKA tidak kurang dari 60/60/60 dan konstruksi setiap pintunya terlindung serta dapat menutup sendiri dengan ketebalan tidak kurang dari 35 mm. dan: i.c. jika jarak maksimum ke salah satu pintu keluar tersebut tidak melebihi 40 m. 60 m. f. Panggung Terbuka: Jarak jalur lintasan menuju ke pintu keluar pada bangunan klas 9b yang dipakai sebagai panggung terbuka harus tidak lebih dari 60 m. atau 6. Dimensi/ukuran Pintu Keluar. 5. terletak sedemikian hingga alternatif jalur lintasan tidak bertemu hingga berjarak kurang dari 6 m. jarak ke salah satu pintu keluar dimungkinkan 60 m. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 100 orang tetapi tidak lebih dari 200 orang. untuk bangunan lainnya. 1 m ditambah 250 mm untuk setiap kelebihan 25 orang. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. berjarak tidak lebih dari: i. jalur lintasan dari ruang tersebut ke pintu keluar melalui lorong/koridor. 45 m pada bangunan klas 2 atau klas 3. Pada bangunan klas 5 atau 6. dan ii. Bangunan klas 9a: Area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. Gedung Pertemuan: Pada bangunan klas 9b selain gedung sekolah atau pusat asuhan balita. Setiap tempat pada lantai harus berjarak tidak lebih 12 m dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar yang dipersyaratkan tersedia. ramp. f. d. Pintu yang disyaratkan sebagai alternatif jalan keluar harus: a. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. atau ii. lebar bebas. Jarak Antara Pintu-pintu Keluar Alternatif. atau ii. Setiap tempat harus berjarak tidak lebih 20 m dari pintu keluar. c. tersebar merata di sekeliling lantai dimaksud sehingga akses ke minimal dua pintu keluar tidak terhalang dari semua tempat termasuk area lif di lobby. . berjarak tidak kurang dari 9 m. bila : i. i. e. 45 m pada bangunan klas 9a. b. 9: Terkena aturan butir d. konstruksi ruang tersebut bebas asap. e. Jarak maksimum dari satu tempat ke salah satu dari pintu keluar tersebut tidak lebih dari 30 m. dan ii. b.

lebar pintu keluar tidak boleh berkurang pada jalur lintasan ke jalan atau ruang terbuka. g. lebar bebas.8 m . iii.2 m: 1070 mm. ke jalan atau ruang terbuka. koridor. hall atau yang sejenisnya. kecuali kalau pintu tersebut dari: i. tidak lebih dari 20 m. 7. iii. c. tersedia menuju ke jalan atau ruang terbuka. diukur tegak lurus ke jalur lintasan. lebar dari setiap pintu keluar yang memenuhi ketentuan butir b.8 m pada lorong. pada panggung penonton yang menampung lebih dari 2000 orang. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. Bila lintasan keluar bangunan mengharuskan melewati 6 m dari dinding luar bangunan dimaksud. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 75 orang. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 60 orang jika jalan keluar mencakup perubahan ketinggian lantai oleh tangga atau ramp dengan tinggi tanjakan 1:12. e. (4) mempunyai lintasan bebas rintangan dari tempat keluar ke jalan atau ruang terbuka yang tidak lebih dan 6 m.2. ii. ruang transisi atau yang sejenisnya. 750 mm. bagian dinding tersebut harus mempunyai: c. atau ii. d atau e. bila pintu tersebut untuk kompartemen sanitasi atau kamar mandi. pada area perawatan pasien. ii. ii. lorong. kecuali untuk pintu keluar harus diperlebar sampai 17 m ditambah dengan angka kelebihan tersebut dibagi 600. 1. lobby umum. pada kasus lain. ke area tertutup yang: (1) berbatasan dengan jalan atau ruang terbuka. jika membuka ke arah koridor dengan (1) lebar koridor antara 1. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 200 orang. (3) mernpunyai ketinggian bebas rintangan di semua bagian termasuk bukaan pada keliling area yang tidak kurang dari 3 m. (2) lintasan tanpa rintangan.d.2 m: 1200 mm. atau ramp yang disyaratkan diisolasi terhadap kebakaran. (3) pintu keluar horisontal: 1250 mm. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran. atau ii. komponen sanitasi. parkir kendaraan atau sejenisnya. f. a. Pintu dalam ruangan harus tidak membuka langsung ke arah tangga. lebar pintu keluar: i. b. (2) terbuka untuk sedikitnya 1/3 dari keliling area tersebut. ketempat: (1) ruang atau lantai yang digunakan hanya untuk pejalan kaki. iii. Setiap tangga atau ramp tahan api harus menyediakan pintu keluar tersendiri dari tiap lapis lantai yang dilayani dan keluar secara langsung atau melawati lorong yang diisolasi terhadap kebakaran yang ada di lantai tersebut: i. unit hunian tunggal yang menempati seluruh lapis lantai. kecuali pintu keluar harus ditambah menjadi: i. lebar bebas. dan tertutup tidak lebih dari 1/3 kelilingnya. (2) lebar koridor lebih dari 2. minus 250 mm. .

5. d. Pada bangunan klas 2.2. Pada bangunan klas 2. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke jalan atau ruang terbuka. 30 m dan salah satu dari dua pintu atau lorong keluar bila arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. bukan dari komponen sanitasi atau sejenisnya. Pada bangunan klas 5 s. Tangga/ramp. 20 m dari pintu keluaar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka.d. tangga/ramp yan tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar pada tempat yang tidak lebih dari i.3 harus tersedia ii. e. jarak antara sembarang tempat pada lantai ke tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melebihi 80 m. 8 ata u 9b. yang berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan harus mempunyai jalan lintasan menerus. c. tangga/ramp yang tidak diisolasi torhadap kebakaran harus keluar ke tempat yang tidak lebih dari: i. 3 atau 4. Tangga Luar Bangunan Tangga luar bangunan dapat berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan menggantikan pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran. 30 m pada konstruksi bangunan tipe C. 15 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. 3 atau 9a. membuka ke pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran pada lantai dimaksud i lobby bebas asap sesuai dengan Bab V. e.1. jarak antara pintu keluar dari ruang atau unit hunian tunggal dan tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga atau ramp yang tidak diisolasii terhadap kebakaran harus tidak melampaui: i. . Lintasan Melalui Tangga/Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran a. atau ii. Jika Jebih dari dua akses pintu. TKA sedikitnya 60/60/60. pada bangunan dengan ketinggian efektif tidak lebih dari 25 m. dan memenuhi ketentuan teknis yang berlaku. ii. pintu keluar bertekanan udara sesuai standar yang berlaku.i. atau 9. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke Jalan atau ruang terbuka. bila konstruksi tangga tersebut (termasuk jembatan penghubung) secara keseluruhan dari bahan yang tidak mudah terbakar. 9. 8. dengan injakan dan tanjakan dari setiap lantai yang dilayani menuju ke lantai dimana pintu keluar ke jalan atau ruang terbuka disediakan b. yang tidak diisolasi terhadap kebakaran. atau ii. Pada bangunan klas 5 s d. d. bangunan klas 9a : Ramp harus tersedia untuk setiap perubahan ketinggian kurang dari 600 mm pada lorong yang diisolasi terhadap kebakaran. bukaan terlindung di bagian dalam dilindungi sesuai ketentuan Proteksi Bukaan pada Bab V. 60 m pada konstruksi bangunan lainnya.

dan mempunyai sedikitnya satu pintu keluar yang disyaratkan yang bukan pintu keluar horisontal Kasus selain butir b di atas. atau tidak setinggi 1. b. lintasan ke arah jalan harus mempunyai lebar bebas tidak kurang dan 1 m. d. f. Keluar Melalui Pintu-Pintu Keluar a. 40 m dari salah satu dari dua pintu atau lorong keluar: arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. Jika pintu keluar menuju ke ruang terbuka yang terletak pada ketinggian berbeda dengan jalan umum yang menghubungkannya. berupa ramp atau lereng dengan kemiringan kurang dari 1:8. panggung terbuka yang menampung lebih dari 500 orang.14 bila disyaratkan oleh ketentuan Bab. dan bila perlu dibuat penghalang untuk mencegah kendaraan menghalangi jalan keluar atau akses menuju ke pintu keluar tersebut. c. d. Pada bangunan klas 9b. kecuali bila pintu keluar dari bangunan klas 9a. b. pintu keluar horisontal dapat dianggap sebagai pintu keluar yang disyaratkan.5 m2 tiap pasien pada bangunan klas 9a. tidak lebih dari 2/3 lebar pintu keluar yang disyaratkan harus terletak di area pintu masuk utama. bila jalur lintasan dari kompartemen kebakaran menuju ke satu atau lebih pintu keluar horisontal langsung menuju ke kompartemen kebakaran lainnya. bebas asap. antara unit hunian tunggal. 11 Pintu Keluar Horisontal. atau lebar minimum dari pintu keluar yang disyaratkan. Pintu keluar horisontal bukan merupakan pintu keluar yang disyaratkan apabila: i. Jika pintu keluar yang disyaratkan menuju ke ruang terbuka. maka masing-masing pintu keluar tersebut harus : i menyediakan jalan keluar terpisah menuju ke jalan atau ruang terbuka. bila dua atau lebih pintu keluar disyaratkan dan disediakan sebagai sarana tangga/ramp yang tidak diisolasi. ii. pada bangunan klas 9b yang digunakan untuk pusat asuhan balita bagunan SD atau SLTP. Pintu keluar harus tidak terhalang. e. Vl. 10. 2. jalur lintasan menuju ke jalan harus i. tangga memenuhi ketentuan dari pedoman ini. . Pada bangunan klas 9a.2.ii. terhadap kebakaran dalam bangunan. Pada bangunan klas 9b dengan auditorium yang menampung lebih dan 500 orang.4. dan c. atau mana yang lebih lebar. pintu keluar horisontal harus tidak lebih dari separuh pintu keluar yang disyaratkan pada lantai yang dipisahkan oleh dinding tahan api Pintu keluar horisontal harus mempunyai area bebas disetiap sisi dinding tahan api untuk menampung jumlah orang dari seluruh bagian lantai dengan tidak kurang dari: i. ii. ii. Pada bangunan klas 2 atau 3. tangga atau ramp yang disyaratkan harus tidak keluar ke arah area di depan panggung tersebut. a.

lebih dari 100 m2 dan tidak lebih dari 200 m2. ii pada area parkir kendaraan atau atrium. 6. lift. tidak lebih dari 100 m2. Ruang Peralatan Dan Ruang Motor Lift a. tangga pengait dapat dipakai sebagai pengganti tangga seluruhnya. di luar bangunan. ramp atau eskalator tersebut i. b. harus tidak digunakan di area perawatan pasien pada bangunan klas 9a b. tangga. harus memenuhi standar teknis terkait bila untuk ruang peralatan dan untuk ruang motor lift. atau ii. tangga pengait (ladder) dapat dipakai sebagai pengganti tangga (stairway) dari setiap tempat jalan keluar dari ruangan. tidak termasuk area yang dirancang untuk: i. dan ii. koridor. kecuali diijinkan sesuai butir b di atas. dan luas lantai dengan: a. 2 lantai dengan ketentuan lantai bangunan tersebut harus berurutan. lobby dan yang sejenis. ruang atau mesanin harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaan atau fungsi bangunan. bila tiap lantai tersebut dilengkapi dengan sprinkler menyeluruh sesuai ketentuan Bab V. 12. iv. tangga atau ramp disyaratkan memenuhi ketentuan butir 12 ini c. service duct dan yang sejenis. Bila ruang peralatan atau ruang. kecuali satu dari jalan keluar tersebut. pada panggung terbuka atau stadion olah raga tertutup. ii. ramp. 14. harus tidak menghubungkan secara langsung atau tidak langsung ke lebih dari 2 lapis lantai pada bangunan klas 5. ii. Ramp Atau Eksalator Yang Tidak Disyaratkan Eskalator dan tangga/ramp pejalan kaki yang ditetapkan tidak diisolasi terhadap kebakaran a.2 sesuai jenis penghunian. 3 lantai. dan eskalator. 8 atau 9. kompartemen sanitasi atau penggunaan tambahan. hall. pada bangunan klas 5 atau 6 yang dilengkapi dengan fasilitas sprinkler menyeluruh.c. d. Jumlah Orang Yang Ditampung Jumlah orang yang ditampung dalam satu lantai. 0. merupakan bagian dari jalan keluar yang tersedia pada tangga yang diisolasi terhadap kebakaran yang terdapat dalam saf.2. tidak harus menghubungkan lebih dari i. dan bila 2 atau lebih tempat jalan keluar tersedia dalam ruangan tersebut. Tangga. iii. bila: i. dapat keluar pada lantai dan dipertimbangkan sebagai bagian dari jalur lintasan. iii. 7. eskalator. tata letak lantai tersebut. dapat menghubungkan sejumlah lantai bangunan bila tangga. 1. . menghitung total jumlah orang tersebut dengan membagi luas lantai dari tiap lapis menurut Tabel Vl. atau 13.5 m2 tiap orang pada klas bangunan lainnya.ii. Tangga pengait diijinkan menurut (a) di atas. dan satu dari lapis lantai tersebut terletak pada ketinggian yang terdapat jalan keluar langsung ke arah jalan atau ruang terbuka. motor lif mempunyai luasan i. kecuali bila dijinkan sesuai butir b atau c di atas.

5 5 4 5 50 30 3 15 10 1 10 2 30 Jenis Penggunaan Kantor (pengetikan dan fotokopi) Ruang Perawatan Pasien Ruang industri : . r. sidang Ruang dansa Asrama Pusat Penitipan Balita Pabrik: . b.mall.2 LUASAN PER-ORANG SESUAI PENGGUNAANNYA (BEBAN PENGHUNIAN) Jenis Penggunaan Galeri seni. atau cara lain yang sesuai untuk menilai kapasitasnya. guest-house Stadion indoor area Kios Dapur. Tabel VI. bila terjadi kenusakan setempat tidak merusak struktur yang dapat melemahkan ketahanan saf terhadap api. tangga dan ramp yang tidak disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi sesuai ketentuan butir 2 diatas. persyaratan ini tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 atau bagian klas 4. arcade Panggung penonton: darah panggung Kursi penonton R. penjualan: Level langsung dari luar Level lainnya r. r. prosesing .b. c. . dari material tidak mudah terbakar.5 1 4 2 30 pabrik VI.3 1 30 1. telepon Kolam renang Teater dan Hall R.r penyimpanan m2/orang 4 1 2 15 25 10 1 0. 3. gereja. Tangga Dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Tangga atau ramp yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi: a. museum Bar. tempat cuci Perpustakaan : . elktrikal. motel. . workshop . hostel. Penerapan Kecuali ketentuan butir 13 den 16. pamer : r. peragaan. laboratorium. kerja.ruang untuk fabrikasi dan proses selain di atas Garasi-garasi umum Ruang senam/gymnasium Hotel.r. baca. ganti di teater Terminal Bengkel / workshop : staf pemeliharaan Proses manufaktur m2/orang 10 10 30 50 2 1 2 1 10 4 bengkel 3 5 5 0. ruang makan Ruang pengurus Pemondokan/losmen Ruang komputer Ruang sidang pengadilan: r. kelas umum gedung serba guna ruang staf ruang praktek: SD SLTP Pertokoan. ruang pamer.3 KONSTRUKSI JALAN KELUAR 1. atau dengan konstruksi: 2. r. dll . listrik. manufaktur. tunggu r.boiler/sumber tenaga Ruang baca Restoran Sekolah : r. café. penyimpanan r. Tangga Dan Ramp Yang tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran Untuk bangunan dengan ketinggian lebih dari 2 lantai.ventilasi. mengacu kepada kapasitas tempat duduk di ruang atau bangunan gedung pertemuan.r.

pada area terbuka dengan ketinggian 1 m tidak tertutup. mempunyai TKA minimal 60/60/-. Bukaan pada saluran atau duct yang membawa hasil pembakaran yang panas harus tidak diletakkan di bagian manapun dari jalan keluar yang 5. Jalan masuk ke saf servis dan lainnya. tanjakan tangga dari lantai di bawah lantai dasar ke arah jalan atau ruang terbuka. atau terdapat alat sensor asap diletakkan dekat dengan sisi bukaan. kecuali ke peralatan pemadam atau deteksi kebakaran sesuai yang diijinkan dalam pedoman ini. tersebar merata sepanjang sisi terbuka ramp atau balkon b. dan ii. turunan tangga dari lantai di atas lantai dasar. iii. Lobby Bebas Asap Lobby bebas asap yang disyaratkan sesuai Bab VI. setiap konstruksi yang memisahkan tanjakan dan turunan tangga harus tidak mudah terbakar dan mempunyai TKA minimal 60/60/60. lorong atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. terpisah dari area hunian dengan dinding kedap asap. baja dengan tebal minimal 6 mm kayu: i. terbentang antar balok lantai. atau ke bagian bawah langit-langit yang tahan penjalaran api sampai 60 menit. di setiap bukaan dari area hunian. b. mempunyai bukaan ventilasi ke udara luar dimana: i. dan: a. di mana: i.2. 6. b. Instalasi Pada Jalan Keluar Dan Jalur Lintasan a. kecuali dengan grill atau sejenisnya dengan ruang bebas udara minimal 75% dari area tersebut. setiap sambungan konstruksi antara bagian atas dinding balok lantai. 7.7 harus: a. mempunyai pintu bebas asap sesuai standar teknis yang berlaku. d.a. dengan berat jenis rata-rata tidak kurang dari 800 kg/m3 pada kelembaban 12% iii. c. maka harus: a. atap atau langit-langit harus ditutup dengan bahan yang bebas asap. diberi tekanan udara sebagai bagian dari pintu keluar. yang direkatkan dengan perekat khusus seperti resorcinol formaldehyde atau resorcinol phenol formaldehyde 4. mempunyai luas minimal 6 m2. . luas total area bebas minimal seluas ramp atau balkon ii. ii. Ramp dan Balkon Akses yang Terbuka Bila ramp dan balkon akses yang terbuka merupakan bagian dari jalan keluar yang disyaratkan. c. beton bertulang atau beton prestressed. bila pintu keluar disyaratkan harus diberi tekanan udara. b. b. disyaratkan untuk diisolasi terhadap kebakaran. harus tidak ada hubungan langsung antara i. tidak harus disediakan dari tangga. dengan ketebalan minimal 44 mm setelah finishing ii. Pemisahan tanjakan dan turunan tangga Bila tangga dipakai sebagai jalan keluar.

Perlindungan Pada Ruang Di Bawah Tangga Dan Ramp a. dan iii. di mana: . kecuali untuk list langit-langit. bila peralatan dimaksud terdiri atas: i. lebar bebas halangan. Ramp yang berfungsi sebagai jalan keluar yang disyaratkan harus mempunyai tinggi tanjakan tidak kurang dari: i. vertikal di atas garis sepanjang nosing injakan tangga atau lantai bordes. Ramp Pejalan Kaki a. ii. dinding dan langit-langit sekelilingnya mempunyai TKA minimal 60/60/60 ii. Lebar tangga yang disyaratkan harus: i. 8. Lebar tangga melebihi 2m dianggap mempunysi lebar hanya 2 m. koridor. 10. atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. atau koridor. gang. kecuali terlindung oleh konstruksi yang tidak mudah terbakar atau tahan api dengan pintu atau bukaan yang terlindung dari penjalaran asap. ii. setiap pintu masuk ke ruang tertutup tersebut dilengkapi dengan pintu tahan api dengan TKA -/60130 yang dapat menutup secara otomatis Lebar Tangga a.c. Tangga dan ramp tahan api: Bila ruang di bawah tangga atau ramp tahan api yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api.4 iii. kecuali dipisahkan oleh balustrade atau pegangan rambat menerus antara lantai bordes dan lebar masing-masing bagian kurang dari 2 m. Permakaan lantai ramp harus dengan bahan yang tidak licin. bagian dari balustrade. seperti pegangan rambat (handrail). b. lobby. bila konstruksi yang menutup ramp. 1:12 pada area perawatan pasien di bangunan klas 9a ii. b. Konstruksi lorong yang diisolasi terhadap kebakaran harus dari material yang tidak mudah terbakar. lobby atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. gang. motor listrik atau peralatan motor lain dalam bangunan. 9. b. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran a. sampai ketinggian tidak kurang dari 2 m. panel atau peralatan distribusi telekomunikasi sentral. Peralatan harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. disyaratkan. dan sejenisnya. maka bagian tangga atau ramp tersebut harus tidak tertutup. Tangga dan ramp tidak tahan api: Ruang di bawah tangga atau ramp tidak tahan api yang disyaratkan (termasuk tangga luar) harusnya tidak tertutup. lebar dan tinggi langit-langit sesuai persyaratan untuk tangga yang diisolasi terhadap kabakaran. meter listrik. d. panel atau saluran distribusi. bebas halangan. 1:8 untuk kasus lainnya c. Ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dapat menggantikan tangga. kecuali: i. 11. disyaratkan sesuai ketentuan Bab VI. Gas atau bahan bakar lainnya harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan.

kasus lainnya i. Meskipun dengan ketentuan butir a. ruang perawatan pasien bangunan klas 9a. 13. ramp. Atap Sebagai Ruang Terbuka Jika pintu keluar menuju ke atap bangunan. pada kasus lain TKA tidak kurang dari 60/60/60. konstruksi atas dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran tidak perlu punya TKA. untuk mengurangi jumlah tanjakan dan setiap bordes harus: i. Bordes tangga dengan maksimum kemiringan 1: 50 dapat digunakan. langit-langit dengan ketahanan terhadap penjalaran api tidak kurang dari 60 menit dan dalam kompartemen kebakaran. injakan harus kuat bila tinggi tangga lebih dari 10 m atau menghubungkan lebih dari 3 lantai. Ambang Pintu Ambang pintu tidak mengenai anak tangga atau ramp minimal selebar daun pintu kecuali: a. balkon dan sejenisnya.b. Balustrade a Balustrade menerus harus tersedia sekeliling atap yang terbuka untuk umum. ii.ii. d. Injakan Dan Tanjakan Tangga Tangga harus mempunyai: a. Bordes a. bila dinding lorong tersebut merupakan perluasan dari: i. balkon atau yang sejenis dimana pintu membuka. c. ambang pintu tidak lebih dan 25 mm di atas ketinggian lantai dimana pintu membuka. tangga. injakan. koridor.7 m. penutup atap yang tidak mudah terbakar ii. Sudut arah naik dan turun tangga harus 180°. 15. injakan dan tanjakan konstan. ii. ujung injakan dekat nosing diberi finishing yang tidak licin. Luas bordes harus cukup untuk gerakan usungan yang berukuran panjang 2 m dan lebar 60 cm. e. Bangunan klas 9a: i. ii. tanjakan. i. tangga atau balkon luar ii. panjangnya tidak kurang dari 550 mm diukur dari tepi dalam bordes. atap tersebut harus a. 14. b. lebar minimal bordes 1. bila: . lantai. tidak terdapat pencahayaan atau bukaan atap iainnya sepanjang 3 m dari jalur lintasan yang dipakai untuk keluar mencapai jalan atau ruang terbuka. b. bukaan antara injakan maksimum 125 mm.6 m dan panjangnya minimal 2. tidak lebih dari 18 atau kurang dari 2 tanjakan. tepi bordes diberi finishing yang tidak licin. pintu terbuka ke arah jalan atau ruang terbuka. TKA tidak kurang dari yang disyaratkan untuk saf tangga atau ramp. mempunyai TKA tidak kurang dari 120/120/120. b. ambang pintu tidak lebih dari 190 mm di atas permukaan tanah. f. 12. Iorong keluar dari tangga atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. 16. b. dan jumlah sesuai standar teknis.

ii. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir) serta klas 8. yang tersedia akses untuk umum dan jalur masuk ke bangunan. Bukaan pada balustrade memenuhi ketentuan butir b. bangunan klas 9b untuk sekolah dasar. balkon. dan ramp di luar ketentuan butir b harus mengikuti ketentuan butir f dan g. Jarak antara lebar bukaan tidak lebih dari 300 mm ii. . Pintu Sebagai pintu keluar yang disyaratkan: a. tangga. kecuali sekeliling panggung. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. koridor.i. kecuali dipasang pada bangunan atau bagian bangunan klas 6.ii. 17. tidak kurang dari 1 m di atas lantai akses masuk. bukan pintu gulung. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran atau area lain untuk keadaan darurat. c. tidak dibatasi dengan dinding.i. i. Balustrade sesuai ketentuan butir e. e. atap. balkon atau sejenisnya dan jarak antar jeruji tidak lebih dari 460 mm. 8 dengan luas lantai tidak lebih dari 200 m2. sedikitnya dipasang sepanjang satu sisi ramp/tangga ii dipasang pada dua sisi bila lebar tangga/ramp 2 m atau lebih iii.iii dan g. tinggi jeruji tidak lebih dan 150 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai bordes.b. lantai. d. Balustrade atau penghalang lain di depan tempat duduk permanen pada balkon atau mesanin auditorium bangunan klas 9b harus sesuai ketentuan f. tempat bongkar muat barang atau tempat lain bagi staf untuk pemeliharaan. dan ii. 7. kecuali tangga/ramp luar bangunan. Balustrade sepanjang sisi atau dekat permukaan horisontal seperti: i. lorong. balkon dan sejenisnya. c. bila dibuat sesuai i.ii. g. dibuat menerus 18. Pada bangunan klas 9a harus tersedia sedikitnya sepanjang satu sisi dari setiap lorong atau koridor yang digunakan oleh pasien. Balustrade pada: i. Tinggi balustrade: i. iii. b. i. atau 700 mm bila tonjolan keluar dari bagian atas balustrade diproyeksikan mendatar tidak kurang dari 1 m. mesanin dan sejenisnya. tinggi lebih dari 1 m di atas lantai atau dibawah muka tanah. f. ii. Bila menggunakan jeruji. dipasang permanen dengan tinggi minimal 865 mm dengan jeruji pendukung permanen setinggi minimal 700 mm. Pegangan rambat harus tersedia untuk membantu orang agar aman menggunakan tangga atau ramp. tinggi di atas lantai tidak kurang dari 1m. bukan pintu berputar b. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. minimal 865 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai ramp ii. Pegangan rambat memenuhi ketentuan butir a tersebut bila: i. dan harus: i. permanen sedikitnya 50 mm dari dinding ii. Pegangan Rambat Pada Tangga a. Balustrade.

kecuali semua pintu secara otomatis terkunci dengan alat yang mengaktifkan alarm kebakaran. ii. harus dapat dibuka secara manual. bangunan dengan tinggi efektif lebih 25 m. melayani lantai atau ruang yang menampung lebih dari 100 orang. Ayunan harus searah akses keluar. pintu dapat dibuka secara manual. sehingga orang dalam bangunan segera dapat menyelamatkan diri bila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. termasuk bordes. dengan mendorong alat yang dipasang pada ketinggian antara 0. melayani bangunan atau bagian bangunan dengan luas tidak lebih dari 200 m2. dengan mengoperasikan alat pengontrol untuk mengaktifkan alat untuk membuka pintu. 6. dan . b. melayani hunian yang perlu pengamanan khusus dan dapat segera dibuka: i.2 m dari lantai. Masuk Dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Pintu harus tidak terkunci dari dalam tangga/ramp/lorong yang diisolasi terhadap kebakaran untuk melindungi orang yang masuk kembali ke lantai atau ruang yang dilayani pada a. ii.9 . atau bagian klas 4. unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. c. melayani komponen sanitasi atau sejenisnya.c. ii. pada bangunan klas 9b. kecuali: i. Bila terbuka sempurna. iii. 7. bila terjadi kerusakan atau tidak berfungsinya tenaga listrik ii. lorong atau ramp. ii. 21. Pintu Ayun a. lebih dari 100 mm pada lebar pintu keluar yang disyaratkan. dengan tenaga tidak lebih dari 110 N. Tidak mengganggu lebih dari 500 mm pada lebar yang disyaratkan dari tangga. bila pintu dioperasikan dengan tenaga listrik: i. melayani kompartemen saniter. 19.1. Pengoperasian Gerendel Pintu Pintu yang disyaratkan sebagai lintasan. dengan tenaga tidak lebih dan 110 N. merupakan satu-satunya pintu keluar yang disyaratkan dalam bangunan bukan pintu sorong. khususnya oleh pemilik. panti asuhan balita atau bangunan keagamaan. d. bangunan klas 9a b. 3. 20. membuka langsung ke arah jalan atau ruang terbuka harus dapat membuka secara otomatis bila terjadi kegagalan pada daya listrik. kecuali bangunan sekolah. ruangan yang tidak aksesibel sepanjang waktu bila pintu terkunci. merupakan satu-satunya pintu keluar dari bangunan dan dipasang alat pegangan pada posisi membuka. unit hunian tunggal dengan luas area tidak lebih dari 200 m2 pada bangunan klas 5. hanya melayani: i. bagian atau jalan keluar harus siap dibuka tanpa kunci dari sisi dalam dengan satu tangan. c. dengan tangan. atau 8. b. kecuali: i membuka secara langsung ke arah jalan atau ruang terbuka ii. alarm kebakaran dan lainnya. kecuali bila: a. d.

Rambu Pada Pintu a. Rambu. b. tersedia sistem komunikasi internal. VI.i. sedikitnya setiap 4 tingkat terdapat pintu tidak terkunci dan terdapat rambu permanen bahwa dapat dilalui. dipasang ditempat yang mudah dilihat atau dekat dengan pintu-pintu tahan api dan asap. warna kontras dan menyatakan bahwa pintu jangan dihalangi. sistem audibel/visual alarm yang droperasikan dari dalam ruangan khusus dekat pintu. termasuk penyandang cacat. untuk memberi tanda pada orang bahwa pintu tertentu harus tidak dihalangi. 22. . dan juga rambu permanen tentang cara mengoperasikannya. Rambu tersebut harus dibuat dengan huruf kapital minimal tinggi huruf 20 mm. Untuk bangunan yang digunakan untuk pelayanan umum harus dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan akses dan sirkulasi bagi semua orang. 2. ii.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT 1. Ketentuan-ketentuan teknis lebih lanjut mengenai akses bagi penyandang cacat pada butir a di atas mengikuti Pedoman Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.

Kapasitas angkut yang dinyatakan dalam izin. sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh petuugas Kebakaran. harus disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. g. b. dekat setiap tombol panggil untuk lif penumpang atau kelompok dari lif ada bangunan. Kapasitas angkut lif penumpang yang diizinkan. Untuk mengubah fungsi lif penumpang atau lif barang menjadi lif kebakaran. 1 LIF 1. TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. e. dan menggunakan kabel tahan api. Pintu saf lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan peraturan yang berlaku di Indonesia. d. tanpa terganggu oleh sakelar panggil lainnya. 3. 2. Lif kebakaran harus dapat berhenti di setiap lantai. . c. Jumlah dan kapasitas lif harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untak sirkulasi vertikal pada bangunan. harus dengan cara menekan sakelar kebakaran (Fire Switch) terlebih dahulu.VII. Waktu tunggu lif. Kapasitas angkut lif barang yang diizinkan. Kapasitas Lif a. c. e. harus tertulis dalam sangkar dan dinyatakan dalam Kg. Lift Kebakaran a. lif kecil seperti dumb waiter atau sejenisnya yang digunakan untuk mengangkut hanya barang-barang. harus tertulis pada sangkar dan dinyatakan dalam jumlah orang yang dapat diangkut. Persyaratan teknis dari lif yang digunakan sebagai lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. f. Kecepatan dan ukuran sangkar lif kebakaran disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. kecuali ii. Lif kebakaran dapat berupa lif penumpang biasa atau lif barang yang dapat diatur. Sumber daya listrik untuk lif kebakaran harus direncanakan dari sumber yang berbeda. d. b. Peringatan Terhadap Pengguna Lif Pada Saat Terjadi Kebakaran Tanda peringatan harus: a. dipasang ditempat yang mudah terbaca: i. harus menjadi kapasitas angkut dari lif dimaksud.

setiap 3 lantai harus memiliki bukaan untuk digunakan dalam kondisi darurat. berupa bel listrik. plastic atau sejenisnya dan dipasang tetap didinding. Mempunyai kapasitas beban tidak kurang dari 600 Kg. atau ii huruf yang diukir atau ditatah langsung dipermukaan bahan dinding iii. Lif yang melayani ruang rawat pasien dihubungkan juga ke sistem tenaga listrik cadangan. Lif Untuk Rumah Sakit a. huruf yang diukir. 6. 5. 1 Tanda Peringatan Lif Penumpang b. dan iii. sesuai dengan detail dan dimensi minimum seperti pada gambar Vll. dengan penampilan khusus sehingga dapat terbaca pada keadaan gelap atau sewaktu terjadi kebakaran. Saf Lif a. harus: i. telepon. Dalam saf lif dilarang memasang pipa atau peralatan lain yang tidak merupakan bagian dari instalasi lif. . misalnya bangunan Kelas 9a. 1. ditatah atau huruf timbul pada logam. kayu. yang ruang rawat pasiennya tidak berada di lantai Lif pasien yang dibutuhkan pada butir a. 4. bila diperlukan. Satu atau beberapa lif harus di pasang sebagai lif pasien untuk melayani setiap lantai dalam bangunan yang tidak menggunakan ramp.DILARANG MENGGUNAKAN LIF BILA TERJADI KEBAKARAN 10 mm 8 mm ATAU Dilarang menggunakan Lif bila terjadi Kebakaran Gambar VII. Sangkar Lif Sangkar pada setiap lif harus dilengkapi dengan peralatan tanda bahaya yang dapat dioperasikan dari dalam sangkar. b. berukuran cukup untuk meletakkan fasilitas kereta dorong ( wheel strecther) secara horisontal ii. b. atau alat-alat lainnya yang dipasang dalam gedung ditempat yang mudah didengar oleh pengelola bangunan gedung yang bersangkutan. dan terdiri dari i. Untuk saf lif yang menerus dan tidak memiliki pintu keluar pada setiap lantainya.

Jika mesin lif dan tali diempatkan di lantai bawah. lantai dan penyangga di Ruang mesin harus di rencanakan dengan memenuhi: i. Prosedur pemeriksaan. Instalasi listrik untuk lif harus dilengkapi dengan pengaman harus lebih atau sakelar otomatis. ii.2 TANGGA DAN LANTAI BERJALAN Persyaratan Teknis tangga dan lantai berjalan harus mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. tromol. governor dan peralatan lain. tromol tali. c. Mesin Lif Dan Ruang Mesin Lif a. sebelum dioperasikan harus diperiksa dan diuji terlebih dahulu oleh instansi yang berwenang. 8. Bangunan ruang mesin lif harus kuat dan kedap air serta berventilasi cukup. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada semua arah gaya d. 9. b. peralatan lain dan lantai diatasnya. Pondasi harus menyangga berat mesin.7. c. panel kontrol. . atau disamping ruang luncur di lantai bawah. Pemeriksaan. termasuk lantai ruang mesin. b. motor generator. atau dihubungkan ke tali yang disangga oleh balok. Semua bagian logam dari lif pada keadaan bekerja normal tidak boleh bertegangan. Semua hantaran listrik harus dipasang dalam pipa atau saluran kabel (duct) kecuali hantaran lemas (fleksibel) yang khusus. pondasi untuk mesin. Pengujian Dan Pemeliharaan a. Dua kali jumlah beban komponen yang bergerak vertikal dari tromol (dihitung dari dua sisi). Ruang mesin harus mempunyai sirkulasi udara. Instalasi Listrik a. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah tegak. iii. Minimum satu jalan keluar harus dibuat pada setiap nuang mesin lif. ii. iv. Instalasi lif yang telah selesai dipasang atau yang telah mengalami perubahan teknis. Beban balok dan penyangga harus sudah termasuk beban mesin lif. dengan beban sangkar lif. Vll. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali baban berat pada arah sejajar. Balok. Beban diperhitungkan pada saat bandul mekanis governor) bekerja. b. untuk mempertahankan suhu udara dan panas dari peralatan mesin. pengujian dan pemeliharaan instalasi lif sesuai dengan SNI 03-1718-1989 dan SNI 03-2190-1991. iii. dan penyangga harus direncanakan sesuai beban dibawah ini: i.

ruangan yang mempunyai luas lebih dari 100 m2 tetapi kurang 300 m2 yang terbuka: i. e. dan pada setiap jalan lintas yang mempunyai panjang lebih dari 6 meter diberikan sistem lampu darurat. bekerja secara otomatis b. . Setiap lampu darurat. 2. Pintu yang digunakan untuk jalan keluar dari setiap lantai keluar i. harus: a. ke jalan raya. Sistem lampu darurat dipasang pada: a b. mempunyai tigkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman. DAN SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. harus : a. atau iii. setiap lorong. bangunan kelas 2 atau 3. lorong atau ramp yang digunakan untuk Keluar iii. ruang yang mempunyai luas lebih dari 300 m2. 3. atau iv. mempunyai huruf dan simbol dengan ukuran yang cukup diterangi dengan pencahayaan cukup sehingga jelas terbaca setiap waktu oleh orang yang masuk dan berada di dalam bangunan. atau sejenisnya yang digunakan pasien. pencahayaan darurat digunakan pada tanda KELUAR. koridor. ke ruang terbuka. Tanda KELUAR harus jelas kelihatan untuk orang yang menuju keluar. hall. mudah dibaca. tangga yang tertutup. atau ramp yang digunakan untuk ii tangga luar. TANDA ARAH KELUAR. PENCAHAYAAN DARURAT. dan harus dipasang diatas atau di dekat setiap: a.VIII. Setiap tanda “KELUAR” dibutuhkan. ii. b c.1 SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT 1. atau ii ke ruang yang mempunyai lampu darurat. yaitu pada: i. lorong. ke koridor. Jelas. Lampu darurat yang digunakan harus sesuai dengan standar yang berlaku. c. jika menggunakan sistem terpusat. c jalan lintas. catu daya cadangan dan kontrol otomatisnya harus dilindungi daari kerusakan karena api dengan konstsruksi penutup yang mempunyai TKA tidak kurang dari -/60/60. jalan keluar di balkon yang menuju Keluar. dipasang sehingga jika tenaga listrik normal terganggu. bangunan kelas 9a. setiap ruang dengan luas lantai lebih dari 120 m2 yang digunakan pasien d. 2. VIII.2 TANDA ARAH KELUAR 1.

3. bagian rumah dari sekolahan. yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua. VIII. maka tanda Keluar dengan arah panah harus dipasang pada posisi yang tepat di koridor. 5. c. langsung memberikan peringatan pada petugas. atau sejenisnya yang menunjukkan arah keluar yang disyaratkan. lorong. dan: Pintu yang digunakan sebagai atau merupakan bagian dari jalan KELUAR" pada setiap lantai yang harus dilengkapi dengan lampu darurat sesuai VIII. mempunyai ketinggian lantai tidak lebih dari tiga b. 2. Bangunan dengan ketinggian lebih dari 25 m Bangunan Kelas 2 yang mempunyai ketinggian lantai lebih dari dua lapis dan a. untuk gedung pertunjukan. atau sejenisnya. Bangunan kelas 2 sebagai rumah perawatan orang tua. Jika tanda “KELUAR" tidak segera diketahui oleh penghuni atau pengunjung bangunan. sesuai dengan tipe dan kondisi penghuni. dan: Jalan keluar horisontal. atau ramp pada setiap tingkat yang menuju Jalan raya atau ruang terbuka. atau b. kecuali bila sistemnya a. sistem alarm diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan dan trauma. di daerah bangsal perawatan. Pintu dari tangga tertutup. sistem alarm dapat diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan sesuai dengan tipe dan kondisi pasien Bangunan Kelas 9b a. sistemnya harus diatur memberikan peringatan pada petugas b. hall. hall umum.1 3. . b. lobi. anak-anak. Bangunan Kelas 9a yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua: a. 4.b. untuk sekolah. d. akomodasi untuk orang tua.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA Sistem peringatan bahaya dan komunikasi internal mengacu pada standar yang berlaku dan harus dipasang pada: 1. atau orang cacat.

Dalam menentukan tipe peralatan yang dipakai untuk instalasi listrik harus kuat harus diperhatikan bahaya kebakaran yang mungkin dapat terjadi dan kerusakan yang mungkin terjadi akibat kebakaran. Peralatan pada papan hubung bagi seperti sakelar. dan beban penting lainnya harus terpisah dari instalasi beban lainnya. b. dipelihara. ukuran dan kemampuan. papan hubung bagi dan beban listrik. peralatan pengendali asap. maka segala sesuatu yang bersangkutan dengan instalasi dan perlengkapan listrik harus sesuai dengan buku Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Untuk hal-hal yang belum dicakup atau tidak disebut dalam PUIL. Jaringan yang melayani beban penting. INSTALASI LISTRIK. dan lain-lain harus ditempatkan dengan baik sehingga memudahkan pengoperasiannya oleh petugas. Sistem tegangan rendah dalam gedung adalah 220/380 volt. Semua peralatan listrik diantaranya penghantar. lingkungan. tombol. dengan frekuensi 50 Hertz.1 INSTALASI LISTRIK 1. sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. Perencanaan Instalasi Listrik Instalasi listrik harus memenuhi ketantuan: a. transformator dan peralatan lainnya. jaringan distribusi. Sistem tegangan menengah dalam gedung adalah 20 kV atau kurang. lif kebakaran. bagian bangunan dan instalasi lainnya. 2. Jaringan Distribusi Listrik a. mengganggu dan merugikan bagi manusia. Jaringan distribusi listrik terdiri dari kabel dengan inti tunggal atau banyak dan busduct dari berbagai tipe. tidak membahayakan. c. Sistem instalasi listrik dan penempatannya harus mudah diamati. . Kecuali untuk hal-hal yang dianggap khusus atau yang tidak disebutkan. Tipe dari kabel harus disesuaikan dengan sistem yang dilayani.IX. alat ukur. dan dilindungi terhadap kebakaran atau terdiri dari penghantar tahan api. sistem komunikasi darurat. seperti pompa kebakaran. dengan frekuensi 50 Hertz. PENANGKAL PETIR DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. tidak boleh dibebani melebihi batas kemampuannya e. dapat menggunakan ketentuan/ standar dari negara lain atau badan international. b. d. c. Sistem instalasi listrik terdiri dari sumber daya. sistem deteksi dan alarm kebakaran. papan hubung bagi dan isinya .

sumber daya utama dapat menggunakan sistem pembangkit tenaga sendiri. dengan pintu yang hanya dapat dimasuki oleh petugas. Sistem instalasi listrik pada bangunan gedung tinggi dan bangunan umum harus memiliki sumber daya listrik darurat yang mampu melayani kelangsungan pelayanan seluruh atau sebagian beban pada gedung apabila tajadi gangguan sumber utama. Sumber Daya Listrik a. secara otomatis. Bila ruang transformator dekat dengan ruang yang rawan kebakaran maka diharuskan mempergunakan transformator tipe kering. di antaranya Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Pemeriksaan Dan Pengujian Instalasi listrik yang dipasang. d. b. 6. Transformator Distribusi a. dengan ruangan yang cukup untuk perawatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Apabila ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir 1 di atas tidak momungkinkan. Sumber daya listrik darurat yang digunakan harus mampu melayani semua beban penting yang disebut dalam butir 3. b. 5. sebelum dipergunakan. . dengan ijin instansi yang bersangkutan. g. harus memiliki pembangkit tenaga cadangan yang dayanya dapat memenuhi kelangsungan pelayanan dari seluruh atau sebagian dari bangunan atau ruang khusus tersebut. atap dan lantai yang kokoh. Transformator distribusi yang berada dalam gedung harus ditempatkan dalam ruangan khusus yang tahan api dan terdiri dari dinding. yang penempatannya harus aman dan tidak menimbulkan gangguan lingkungan serta harus mengikuti standar dan atau nomalisasi dari peraturan yang berlaku. 4.3. harus terlebih dahulu diperiksa dan diuji mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku. e. c. c. Beban dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut konservasi energi dan lain-lain. Ruangan trafo harus diberi ventilasi yang cukup. Beban Listrik Beban maksimum suatu instalasi listrik arus kuat harus dihitung dengan memperhatikan besarnya beban terpasang. faktor kebersamaan (coincident factor) atau faktor ketidak bersamaan (diversity factor). Bangunan dan ruang khusus yang pelayanan daya listrik tidak boleh putus. f. Sumber daya utama gedung harus menggunakan tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara. Instalasi dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan dan diamankan terhadap dampak seperti interferensi golombang elektromanetik dan lain-lain.

antara lain SNI-3990 tentang Tata Cara Instalasi Penangkal Petir Untuk Bangunan dan SNI-3991 tentang Tata Cara Instalasi Penyalur Petir. mengganggu dan merugikan lingkungan. 1.2 INSTALASI PENANGKAL PETIR 1. b. Pemeriksaan dan Pemeliharaan a. b. IX. IX. 2. Pemasangan penangkal petir harus diperhitungkan berdasarkan standar. b. harus mengacu pada rekomendasi dari badan International seperti IEC. perbaikan dan pelayanan. Instalasi penangkal petir harus disesuaikan dengan adanya perluasan atau penambahan bangunan. sifat geografis. instalasi penangkal petir harus diperiksa dan dipelihara secara berkala. Pada ruang panel hubung bagi.7. serta diberi ventilasi cukup. dipelihara. bagian bangunan dan instalasi lain. terhadap bahaya sambaran petir. Pemeliharaan instalasi listrik harus dilaksanakan dan diperiksa setiap lima tahun serta dilaporkan secara tertulis kepada instansi yang berwenang c. harus diberi instalasi penangkal petir. Instalasi Penangkal Petir a. c. serta direncanakan . bagian atau peralatan dan perlengkapan bangunan yang mengalami kerusakan. Setiap bangunan atau yang berdasarkan letak. harus diadakan pemeriksaan dari bagian-bagiannya dan harus segera dilaksanakan perbaikan terhadap bangunan. harus terdapat ruang yang cukup untuk memudahkan pemeriksaan. normalisasi teknik dan peraturan lain yang berlaku. Pembangkit tenaga listrik darurat secara periodik harus dihidupkan untuk menjamin agar pembangkit tersebut dapat dioperasikan bila diperlukan. Pemasangan instalasi penangkal petir pada bangunan. Pemeliharaan a. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung a. Ha-hal yang belum diatur didalam peraturan tersebut diatas baik yang menyangkut perhitungan maupun peralatan dan instalasinya. dan instalasi lainnya. bentuk dan penggunaannya diperhitungkan mempunyai risiko terkena sambaran petir. termasuk manusia yang ada di dalamnya. tidak membahayakan. b. 3.3 INSTANSI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG. tanpa mengurangi nilai perlindungan yang efektif terhadap sambaran petir. Perencanaan Penangkal Petir a. Sistem instalasi komunikasi telepon dan tata gedung dan penempatannya harus mudah diamati. Suatu instalasi penangkal petir harus dapat melindungi semua bagian dari bangunan. harus memperhatikan arsitektur bangunan. Apabila terjadi sambaran pada instalasi penangkal petir.

maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya dan dilindungi terhadap bahaya kebakaran. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak. Dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. dan lain-lain. terang. 3. sirkulasi udara cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. tidak ada genangan air. ii. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektro magnetik. b. Instalasi Tata Suara a. Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir a diatas harus menggunakan sistem khusus. Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. Instalasi Telpon a. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi Persyaratan: i. c.80m. minimal berjarak 0. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan.b. Ruang batere sistem telepon harus bersih. aman dan mudah dikerjakan. Ruang yang bersih. Secara berkala dilakukan pengukuran/ pengujian terhadap EMC (Electro Magnetic Campatibility). terang. atau terdiri dari kabel tahan api. ii. . dan dilaksanakan berdasarkan standar. c. c. Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas. iii. maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja. Ruang PABX dan TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan: i. 2. d. Setiap bangunan dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m keatas. kedap debu. Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. b. iii. harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran. Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak.50 m x 0.

serta merupakan bagian pertimbangan keandalan bangunan. iv. X. iii. adalah : a. 3.1 INSTALASI GAS PEMBAKARAN 1. b. Faktor diversifikasi (diversity factor). Gas nitrous Oxida (N2O) c. INSTALASI GAS X. 2. b. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. v. Jaringan Distribusi Gas Kota a. Gas elpiji (LPG = Liquefied Petroleum Gasses). Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku. vi.X. terdiri dari propane (C3H8) dan Butane (C4H10). Gas oxigen b. Rancangan sistem distribusi gas pembakaran. c. yang terdiri dari kandungan methane (CH4) dan ethane (C2He ). Ukuran pipa gas harus mencukupi dan dipasang untuk melayani pasokan gas dalam rangka memenuhi kebutuhan maksimum tanpa terlalu banyak kerugian tekanan antara meter-gas dan peralatan-peralatan pengguna gas. harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas yang secara otomatis mematikan aliran gas. Pada instalasi gas untuk pembakaran. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. Udara tekan . Panjang pipa dan jumlah sambungan. Kerugian tekanan yang diperbolehkan dari meter-gas ke peralatan ii. Jenis Gas Jenis gas medik yang dimaksud. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut.2 INSTALASI GAS MEDIK 1. Instalasi pemipaan untuk rumah dan gedung (mulai dari meter-gas)mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. Gas elpiji. Konsumsi gas maksimum yang perlu disediakan. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. Berat jenis dari gas. serta mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut : i. Jenis Gas Jenis gas pembakaran yang dimaksud meliputi: a. Gas Kota Gas kota yang dipakai umumnya berupa gas alam (natural gas).

Jaringan Distribusi Gas Medik a. d.d. peralatan rawat gigi dan sebagainya. c. e. pemilihan bahan dan kontruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. Instalasi pemipaan untuk bangunan gedung mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. seperti untuk ruang bedah orthopedi. Rancangan sistem distribusi gas medik. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. pipa Nitrous Oxida dan pipa udara tekan. 3. b. Vakum 2. Pada instalasi pipa gas medik harus dilengkapi dengan biofilter. Pada instalasi gas medik harus dilengkap peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas dan dilengkapi dengan sistem isyarat tanda kebocoran gas. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang . khususnya untuk instalasi pipa oksigen. Kebutuhan gas medik garus disesuaikan dengan kebutuhan untuk asien rawat inap dan kebutuhan lain.

tidak mengganggu lingkungan. b. b. dan Pedoman Plambing Indonesia yang berlaku.XI. SISTEM PLAMBING 1. sebelum digunakan harus mendapat persetujuan dari instansi yang berwenang. dan apabila sumber air bukan dari PAM. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam operasional dan pemeliharaannya. f. maksimum 60° C. SANITASI DALAM GEDUNG XI. g. kecuali untuk penggunaan khusus. Sistem distribusi air harus direncanakan sehingga dengan kapasitas dan tekanan air yang minimal. sistem air kotor dan alat plambing yang memadai. Apabila kapasitas dan atau tekanan sumber yang digunakan tidak memenuhi kapasitas dan tekanan minimal pada titik pengaturan keluar. alat plambing dapat bekerja dengan baik. serta diperhitungkan berdasarkan standar. meliputi sistem air bersih. maka harus dipasang sistem tanki persediaan air dan pompa yang direncanakan dan ditempatkan sehingga dapat memberikan kapasitas dan tekanan yang optimal. Sumber air bersih pada bangunan harus diperoleh dari sumber air PAM (Perusahaan Air Minum). petunjuk teknik.1. Kualitas air bersih yang dialirkan ke alat plambing dan perlengkapan plambing harus memenuhi standar kualitas air minum yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. Bangunan yang dilengkapi dengan sistem penyediaan air panas. e. d. Temperatur air panas yang keluar dari alat plambing harus diatur. Perencanaan Sistem Plambing a. sedangkan untuk kelas bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia. Sistem Penyediaan Air Bersih a. 2. Setiap pembangunan baru dan atau perluasan bangunan harus diperlengkapi dengan sistem plambing. c. . Kebutuhan air bersih untuk perumahan berkisar antara 60-250 liter/orang/hari. maka harus dilengkapi dengan pipa sirkulasi. dimana pipa pembawa air panas dari sumber air panas ke alat plambing cukup panjang. Pipa pembawa air panas yang cukup panjang tersebut harus dilapisi dengan bahan isolasi.

g. PE. Pemilihan bahan dan pemasangan saluran harus disesuaikan dengan penggunaannya dan sifat cairan yang akan dialirkan. tanah liat. PE (poli-etilena). sesuai dengan petunjuk teknis dari bahan pipa yang bersangkutan dan ketentuan-ketentuan lain yang berlaku di Indonesia. j. Diameter pipa sambungan pelanggan dari jaringan pipa distribusi kota harus disesuaikan dengan kelas bangunan. i. baja maupun bahan lainnya yang tidak mudah rusak. . Apabila cara gravitasi ini tidak dapat dilaksanakan. besi lapis galvanis atau Tembaga. Bahan pipa yang digunakan dapat berupa PVC. Semua sistem pelayanan air bersih harus direncanakan. d. Sistem pengaliran air kotor direncanakan dengan menggunakan saluran tertutup dan kemiringan tertentu. Semua air kotor harus diolah sebelum dibuang ke saluran air kotor umum kota atau disalurkan ke bangunan pengolahan air kotor komunal bila tersedia. tidak mengandung bahan beracun dan pemasangannya harus sesuai dengan petunjuk teknis bahan pipa yang bersangkutan. mampu menahan tekanan sekurang-kurangnya 2 kali tekanan kerja. i. Penentuan diameter saluran dibuat seekonomis mungkin sesuai dengan kapasitas dan bahan buangan yang akan dialirkan. harus ditangani secara khusus. Pada dasarnya air kotor berasal dari aktivitas manusia. 3. dipasang dan dipelihara sedemikian rupa sehingga tidak mudah rusak dan tidak terkontaminasi dari bahan yang dapat memperburuk kualitas air bersih. tembaga. Pemeliharaan sistem air kotor dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya penyumbatan. Saluran air kotor dapat benupa pipa atau saluran lainnya. kakus maupun kegiatan lainnya. Sistem Pembuangan Air Kotor a. besi tuang. sehingga dapat mengalirkan air kotor secara gravitasi. h. tahan terhadap karat dan panas. b. serta yang mengandung radioaktif. beton. sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia. Sistem air kotor didalam bangunan harus dilengkapi dengan pipa ven untuk menetralisir tekanan udara didalam saluran tersebut.h. maka dapat menggunakan sistem perpompaan. f. c. karat dan kebocoran. baik tempat mandi cuci. Air kotor yang mengandung bahan buangan berbahaya dan beracun. e. baik dari bahan PVC.

kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni bangunan. e. . tahan lama untuk digunakan. baja. harus dilengkapi dengan alat pencegah kontaminasi. Peralatan plambing yang mengalirkan air bersih ke tempat-tempat yang dapat menimbulkan pencemaran. Fungsi tangki penyediaan air bersih adalah untuk menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan penghuni. seperti katup penahan aliran balik dan katup pencegah atau pemutus vakum. Alat Plambing a. pipa penguras dan pipa ven. tidak mengganggu struktur bangunan dan memberikan kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan. harus dilakukan secara berkala untuk menjamin kebersihan dan bekerjanya alat tersebut dengan baik. 5. Bahan tangki dapat berupa beton. Tangki penyediaan air bersih harus direncanakan dan dipasang untuk penyediakan air dengan kuantitas dan tekanan yang cukup. g. Apabila tangki penyediaan air bersih menggunakan bahan lapisan untuk mencegah kebocoran dan karat. minuman bahan steril atau bahan sejenis lainnya. bahan tersebut tidak boleh memperburuk kualitas air bersih. Tangki Penyediaan Air Bersih a. d. penanggulangan kebakaran dan pengaturan tekanan air.4. Pipa pembuangan dari alat plambing yang digunakan untuk menyimpan atau mengolah makanan. d. perlengkapan bangunan. Konstnuksi dan bahan tanki penyediaan air bersih harus cukup kuat dan tidak mudah rusak. b. c. c. Tangki penyediaan air bersih harus diiengkapi dengan sistem perpipaan dan perlengkapannya yang terdiri dari pipa masuk dan pipa keluar. e. Semua alat plambing harus direncanakan dan dipasang sehingga memenuhi aspek kebersihan. serta dilengkapi dengan 1ubang pemeriksa. Pemeliharaan semua alat plambing. harus dilengkapi dengan alat perangkap minyak dan lemak. Bahan alat plambing harus mempunyai permukaan yang halus dan rapat air. f. fiberglass dan kayu. babas dari kerusakan dan tidak mempunyai bagian kotor yang tersembunyi. harus dilengkapi dengan celah udara yang cukup untuk mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi. Pada pipa penyaluran air kotor dari alat plambing yang mungkin menerima buangan mengandung minyak atau lemak. pipa peluap. Jumlah dan jenis alat plambing serta perlengkapannya harus disediakan sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. b.

maka harus dilakukan cara-cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang 2. c. dan bila tidak dapat dilakukan dengan cara gravitasi. c. c. yang tanki kotor kotor b. sehingga dapat mengalirkan seluruh air hujan dengan baik agar bebas dari genangan air. disesuaikan dengan diameter saluran tersebut dan standar yang berlaku. pipa isap dan pipa keluaran pompa. Pompa a. Apabila saluran dibuat tertutup. SALURAN AIR HUJAN. Fungsi pompa air kotor adalah menyalurkan air ke saluran air kotor umum Kota atau ke bangunan pengolahan air lainnya. lubang pemeriksa harus dibuat dengan jarak tiap 25-100 m. b. Pompa harus dipasang pada lokasi yang mudah untuk pengoperasian dan pemeliharaannya. Pompa harus dilengkapi dengan alat pengukur tekanan dan katup pencegah aliran balik pada pipa keluaran dan ujung pipa isap pompa. Kemiringan saluran harus dibuat. . Pemasangan pompa harus dilengkapi peralatan peredam getaran yang dipasang pada dudukan pompa.6. maka dapat menggunakan sistem perpompaan. dan pada saluran yang lurus. Bila belum tersedia jaringan umum kota ataupun sebab-sebab lain yang dapat diterima. e. Air hujan harus dialirkan ke sumur resapan dan atau dialirkan ke jaringan air hujan umum kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. d. b Saluran air hujan dapat merupakan saluran terbuka dan atau saluran tertutup.2 Pemilihan jenis pompa dan motor pompa disesuaikan dengan karakteristik pompa yang dibutuhkan dan mempunyai effsiensi yang maksimal. Setiap bangunan dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem saluran air hujan. 1. Kelengkapan pada Bangunan a. Fungsi pompa air bersih adalah memberikan kapasitas dan tekanan cukup pada sistem penyediaan air bersih atau menyalurkan air ke penyediaan air bersih. XI. maka pada tiap perubahan arah aliran harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa. Persyaratan Saluran a.

d. Pewadahan a. Bentuk pewadahan sampah harus disesuaikan untuk kemudahan pengangkutan sampah oleh Dinas Kebersihan Kota. c. Penempatan pada Bangunan Setiap bangunan baru dan atau perluasan bangunan harus dilengkapi dengan fasilitas pewadahan dan atau penampungan sampah sementara yang memadai. peti kemas baja. 3. mempunyai tutup dan mudah diangkut. Sampah Berbahaya Untuk sampah padat yang dikatagorikan sebagai jenis buangan berbahaya dan beracun (sampah B3). fiberglass. seng.3 PERSAMPAHAN 1. b. . tidak mudah rusak. dan pasangan bata atau beton. besi dan baja harus dilapisi dengan lapisan tahan karat. tanah liat. Kapasitas pewadahan sampah atau tempat penampungan sementara harus dihitung berdasarkan jenis bangunan dan jumlah penghuninya. peti kemas fiberglass. Bahan tersebut dapat berupa kantong plastik. sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tempat pewadahan sampah harus terbuat dari bahan kedap air. pasangan. sehingga tidak mengganggu kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni. Bahan saluran dapat berupa PVC. Pemeliharaan Pemeliharaan sistem air hujan harus dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. 2. beton. atau Pengelola Pengangkutan Sampah. Khusus untuk bahan seng. 3. XI. besi dan baja. penempatan dan pembuangannya harus ditangani secara khusus sesuai dengan peraturan yang berlaku. masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

(1) jendela. pelataran parkir. Ventilasi alami sesuai dengan butir XII. jendela. 8 atau 9. (2) ruangan bersebelahan yang mempunyai jendela. dengan jumlah bukaan berukuran tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang dibutuhkan untuk di ventilasi. dan: i. Ventilasi mekanis yang memenuhi ketentuan yang berlaku.1. Ventilasi Alami a. ii. Kebutahan Ventilasi Setiap bangunan harus mempunyai: a. Ventilasi alami harus terdiri dari bukaan permanen. . Ventilasi Dari Ruangan Yang Bersebelahan Ventilasi alami pada suatu ruangan dapat berasal dari jendela. 7. 2. Bangunan klas 2. Bangunan kelas 5. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang diventilasi. VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. (1) halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai. bukaan. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 10% luas lantai kedua ruangan tersebut. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai lantai kedua ruangan tersebut. (3) ruangan bersebelahan dengan jendela. pintu atau sarana bukaan lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 10% dari luas lantai ruangan yang di ventilasi.2 di bawah ini atau b.6 m diatas lantai. bukaan pintu ventilasi. (3) ruangan bersebelahan yang dimaksud dalam butir b di bawah ini. (2) teras terbuka. bukaan.1 VENTILASI 1. bukaan. b. (3) Luas ventilasi yang diatur pada butir (1 ) dan (2) dapat direduksi secukupnya jika tersedia ventilasi alami langsung dari sumber lainnya. bukaan. 6. atau daerah yang terbuka ke atas. dan hunian tunggal pada bangunan klas 3. atau sarana lainnya dari ruangan yang bersebelahan (termasuk teras tertutup) jika kedua ruangan tersebut berada dalam satuan hunian yang sama atau mempunyai teras tertutup yang menjadi satu. (2) jendela.XII. dengan jarak tidak lebih dari 3. (1) ruang yang di ventilasi bukan kompartemen sanitasi. Penerapan ventilasi alami. pintu atau sarana lain yang dapat dibuka i. ii ke arah. dan yang sejenis.

Gedung Parkir Setiap lantai gedung parkir. ruang yang digunakan sebagai tempat berkumpul (yang tidak berbentuk pusat penitipan anak. Ruang antara Jika ruang kakus atau peturasan yang dilarang menurut butir c di atas terbuka langsung terhadap ruang lainnya: i. harus mempunyai konstruksi lantai yang sesuai. kecuali pelataran parkir terbuka harus mempunyai: i. Dalam hunian tunggal pada bangunan kelas 2 atau 3 atau bagian bangunan kelas 4. ii ruang makan umum atau restoran. dan pintu ke ruangan tersebut harus terhalang dari penglihatan. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan udara mekanis. (1) jalan masuk harus melalui ruang antara. v. g. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan mekanis. e. atau (2) total daya masukan gas lebih dari 29 MJ/jam. sistem ventilasi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 7. setiap peralatan masak yang mempunyai: (1) total daya masukan listrik maksimum lebih dari 8 kW. koridor atau ruang lainnya. Ruang kakus atau peturasan tidak boleh terbuka langsung ke arah: i. (1) jalan masuk harus melalui suatu dinding terkurung. ruang kerja yang umumnya digunakan oleh lebih dari satu orang. iii. jika berada dibawah lantai dasar. koridor atau ruang lainnya dengan luas tidak kurang dari 1. ii. 6. Ventilasi ruangan dibawah lantai dasar Lantai paling bawah suatu bangunan: i. asrama pada bangunan Kelas 3. iv. Pembuangan udara dari dapur Pada dapur komersial harus tersedia tudung pembuangan gas dapur yang memenuhi ketentuan yang berlaku. atau iii. . d. sekolah TK atau panggung terbuka). Batasan untuk posisi kakus dan peturasan. harus mempunyai penutup yang kedap air diatas muka tanah/halaman dibawah lantai dasar. f. harus mempunyai jarak melintang yang cukup untuk ventilasi antara bagian bawah permukaan lantai dasar dengan permukaan tanah/ halaman. sekolah TK atau panggung terbuka). ii. sistem ventilasi alami permanen yang memadai. 8 atau 9 (yang bukan merupakan pusat penitipan anak. jika: i.c. atau ii. dapur atau pantry.1 m2 dan pada setiap pintu jalan masuk harus dipasang alat penutup pintu otomatis. pada bangunan Kelas 5.

8 MJ/jam untuk daya gas. atau (2) 1. Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan a. pabrik. Rancangan sistem pengkondisian udara harus dikembangkan sehingga penggunaan energi yang optimal dapat diperoleh. Kebutuhan Pengkondisian Udara Setiap bangunan seperti untuk hunian. Pengkondisian udara harus memperhatikan upaya konservasi energi minimal seperti dinyatakan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. total daya masukan maksimum per m2 luas lantai ruangan yang mempunyai lebih dari satu alat masak. Ruang parkir pada ruang bawah tanah (basement) yang terdiri dari lebih satu lantai. 3. pemilihan peralatan. termasuk dengan memperhitungkan pemakaian energi per tahunnya. Karakteristik beban bangunan harus dianalisa sehingga memungkinkan sistem dan peralatan dengan ukuran yang tepat serta dipilih untuk memperoleh efisiensi yang baik pada beban penuh atau beban paruh. f.2 2. Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara secara maksimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar. dan setiap ruang lainnya bila diperlukan dapat mempunyai sistem pengkondisian udara yang memenuhi ketentuan yang berlaku. gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya. b. sistem tersebut harus bekerja terus menerus selama ruang tersebut dihuni. Sistem Ventilasi buatan harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi syarat tidak memadai. toko. atau sebaliknya. 3.5 kW untuk daya listrik. d. Konservasi Energi a. Prosedur Perhitungan beban pendinginan harus mengikuti prosedur sesuai yang ditunjukkan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. XII. Ventilasi buatan a. c. Bilamana digunakan ventilasi buatan. dan standar teknis lain yang berlaku. . Besamya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruang dalam bangunan harus sesuai standar yang berlaku. e. serta biaya awal dan biaya umur pemakaian energi. dan minimal 2/3 volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0. PENGKONDISIAN UDARA 1. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistem ventilasi buatan untuk membuang udara kotor dari dalam. lebih dari: (1) 0.ii. c. b.60 meter diatas lantai. rumah sakit. kantor.

Kondisi Dalam Bangunan Kondisi dalam bangunan yang memerlukan pengkondisian udara harus dirancang sesuai penggunaannya. ii. tidak dibenarkan mempergunakan sistem sirkulasi udara yang dapat menyebabkan penularan penyakit ke bagian lain bangunan. (2) Semua saluran udara harus direncanakan. iii. isolasi sistem distribusi udara) mengacu pada SK SNI yang berlaku. (3) Sistem pengkondisian udara pada bangunan klas 8a untuk ruang operasi. atau standar internasional lain yang diakui oleh instansi yang berwenang. Penetapan sistem dan peralatan. . dibuat dan dipasang sesuai ketentuan yang berlaku.b. (1) Penetapan sistem dan peralatan pengkondisian udara (Sistem Fan. Dasar perancangan i. ruang steril dan ruang perawatan bagi pasien yang berpenyakit menular. sistem distribusi udara. sistem kontrol. . Kondisi Luar Bangunan Kondisi rancangan udara luar bangunan mengacu pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. sistem pompa dan pemipaan. isolasi pemipaan.

1. iii. c.00 pagi. Energi Yang Dikonsumsi Energi yang dikonsumsi untuk pencahayaan buatan mempunyai pengaruh besar pada peningkatan beban listrik dan beban pendinginan bangunan. tempat bongkar muat barang. PENCAHAYAAN XIII. Tingkat Iluminasi Tingkat iluminasi disarankan seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung XIII. dsb. meliputi: a. jalan. pencahayaan khusus laboratorium.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN 1. daerah luar bangunan. seperti proses produksi dan penyimpanan. selama operasi normal. PENCAHAYAAN BUATAN. c. d. ruang kelas yang direncanakan untuk kebutuhan khusus. 2. pencahayaan luar untuk monumen publik. kegiatan diluar bangunan. termasuk daerah di udara terbuka dimana pencahayaan dibutuhkan dan disambungkan dengan listrik bangunan. fasilitas luar untuk olahraga. sehingga diperoleh konsumsi energi yang masih dapat dipertanggung jawabkan. Kamar. b. pencahayaan didalam bangunan yang digunakan dari jam 22. ruangan didalam bangunan b.XIII. daerah yang mempunyai risiko keamanan tinggi dan diperlukan tambahan pencahayaan untuk keamanan manusia. gallery. ruangan dan daerah yang dicakup oleh bagian ini meliputi: a. pencahayaan darurat yang secara otomatis mati. pencahayaan untuk pameran seni. k. efektif dan sesuai dengan kebutuhan ruangan. taman dan daerah bagian luar lainnya. pintu masuk ii. m. Kamar. 1. pintu ketuar. i. n. pencahayaan di unit pengeboran. daerah dan peralatan yang tidak termasuk bagian ini. pencahayaan untuk pembuatan film. fasilitas pencahayaan untuk display di muka atau jendela toko.2 2. klub malam. reflektor khusus untuk medis dan perawatan gigi. e. . g. presentasi audio visual dan bagian-bagian lain dan fasilitas pertunjukan seperti panggung di hotel. penyiaran televisi. dan diskotek dimana pencahayaan merupakan bagian penting untuk menghasilkan knalitas tampilan. Sistem pencahayaan buatan harus dipilih secara fleksibel. j. pencahayaan untuk rambu-rambu.00 malam sampai jam 06. seperti: i. ruangan. museum dan monumen. f.

Pemanfaatan pencahayaan alami Pemanfaatan pencahayaan alami yang optimal pada bangunan karena merupakan cara yang sangat penting untuk mengurangi beban energi bangunan. b. langit yang cerah. Konsumsi Energi Konsumsi energi pencahayaan buatan dapat diminimalkan dengan mengurangi daya terpasang dan waktu pemakaian. c. 2. 4. kebutuhan daya pencahayaan luar bangunan terutama adalah untuk pencahayaan buatan diantara bangunan tersebut. a. Perencanaan pencahayaan alami Pertimbangan perencanaan pencahayaan alami pada bangunan: a.3. Jika perlu. balas.3 PENCAHAYAAN ALAMI 1. Daya terpasang dapat diminimalkan dengan penggunaan lampu. Daerah efisasi dari lampu yang ada ditunjukkan pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. jenis reflektor yang efisien. dan reflaktor yang efisien. kemampuan tahan panas dari kaca ditingkatkan dengan penggunaan tirai matahari dan atau kaca ganda. Kebanyakan reflektor yang efisien untuk lampu fluorecent adalah dari jenis mirror reflector atau prismatic. Reflektor untuk lampu High Intensity Discharge (HID) menggunakan reflektor aluminium anodized berkualitas tinggi. mempunysi karakteristik distribusi pencahayaan sesuai kebutuhan dan tidak menghasilkan ketidak nyamanan karena silau atau pantulan. Daya pencahayaan buatan untuk bagian luar bangunan sebaiknya tidak melebihi nilai seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. 7. baik dari sumber sinar matahari langsung. Kaca mengurangi kemampuan tahan panas dari dinding. Perencanaan Sistem Pencahayaan Perencanaan sistem pencahayaan adalah dengan monggunakan sumber pencahayaan yang tepat. 3. Penggunaan Lampu Penggunaan lampu sesuai kebutuhan dan mempertimbangkan upaya konservasi energi pada bangunan gedung. XIII. Penentuan besanya iluminasi Penentuan besarnya iluminasi mengikuti ketentuan teknis SNI-2396 tentang Penerangan Alami Siang hari untuk Rumah dan Gedung. obyek luar. 5. Penggunaan sakelar otomatis atau sistem pengendali lainnya agar tingkat pencahayaan buatan dalam bangunan dapat diatur. 6. Daya Maksimum Yang Diijinkan Beban pencahayaan total untuk ruang dalam bangunan disarankan tidak melebihi nilai maksimum seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Pengendalian silau pada bangunan. Daya pencahayaan buatan di luar bangunan. maupun dari pantulan kaca dan sebagainya. . Untuk fasilitas banyak bangunan. b.

Kamar tamu hotel harus mempunyai sakelar utama didekat pintu yang mematikan semua lampu dan stop kontak. Pengendali haruss digunakan sehingga bekerja pada baris pencahayaan yang paralel dengan dinding luar bangunan. Sakelar pengendali dengan beban yang sama yang tedetak di lebih satu lokasi harus dinilai sebagai penambahan jumlah pengendali untuk memenuhi kebutuhan butir 1 di atas. Pengendali otomatis. c. 1. Letak pengendali harus mudah dicapai. Pengendali untuk keamanan bahaya dan keselamatan. Pengendali yang diprogram.XIII. Pencahayaan bagian luar tidak diperuntukkan beroperasi 24 jam terus menerus. Semua sistem pencahayaan. kecuali: a. d. Pengendali yang memerlukan operator yang terlatih. kecuali yang diperlukan untak pencahayaan darurat atau pencahayaan lampu “KELUAR”. Pengendali dipusatkan di lokasi yang berjarak jauh (seperti ruangan lobi dari kantor. pertokoan. f. kecuali untuk hal-hal lain jika diperlukan. e. pasar swalayan. b. otomatis atau yang terprogram. e. harus dilengkapi dengan pengendali manual. Semua ruangan yang tertutup dengan dinding bata atau partisi yang sampai ke plafond harus dilengkapi dengan satu pengendali pencahayaan manual untuk setiap kamar. b. gudang dan koridor yang dibawah pengendalian terpusat). d. Semua pengendali pencahayaan harus ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/dibaca untuk orang yang berada atau menggunakan ruang tersebut. 2. dan harus secara manual atau otomatis dimatikan (misalnya dengan pembatas waktu atau photocell). pengendali manual lokal atau pengendali otomatis seperti sakelar yang dilengkapi dengan photoelectric atau dimmer otomatis sebaiknya digunakan di ruangan yang diterangi dengan pencahayaan alami.4 PENGENDALIAAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN. Apabila dimungkinkan adanya pencahayaan alami. Pengendali pencahayaan harus dilengkapi sebagai berikut: a. Minimal satu sakelar dengan tanda khusus untuk melayani 1100 Watt yang disambungkan ke beban listrik. Minimal satu sakelar harus dipasang untuk setiap group yang melayani luasan 30 m atau kurang. c. . hotel dan rumah sakit.

XIV. KEBISINGAN DAN GETARAN
XIV. 1. KEBISINGAN 1. Baku Tingkat Kebisingan a. Salah satu dampak dari usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat kebisingan yang dihasilkan. b. Baku tingkat kebisingan untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti ketentuan dalam standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat kebisingan lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut berlaku baku tingkat kebisingan sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2

XIV.2

GETARAN 1. Baku Tingkat Getaran a. Sala satu dampak dan usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat getaran yang dihasilkan. b. Baku tingkat getaran untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat getaran lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut, berlaku baku tingkat getaran sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2.

XV. KETENTUAN PENUTUP

XV.1

Persyaratan Teknis Bangunan Gedung seperti telah diuraikan pada Bab-bab sebelumnya merupakan persyaratan pokok yang ditunjang oleh standar teknis (SNI), pedoman atau petunjuk teknis yang berlaku dan lebih rinci berkaitan dengan spesifikasi, tata cara, dan metode uji bangunan, komponen, elemen, serta berbagai aspek teknis dari bangunan gedung. Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau yang bersifat alternatif serta penyesuaian penyesuaian yang diperlukan terhadap Persyaratan Teknis Bangunan Gedung diharapkan untuk dikembangkan oleh masing-masing Daerah disesuaikan dengan kondisi, permasalahan, kebutuhan, dan kesiapan kelembagaan di setiap Daerah.

XV.2

MENTERI PEKERJAAN UMUM ttd. RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN
TABEL V.2.3 PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. KETENTUAN UMUM
PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN Untuk: 1. Tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap jalan penghubung atau ramp yang melayani: a. Setiap lantai di atas tinggi efektif 25m, atau b. lebih dari 2 lantai di bawah tanah, atau c. atrium, atau d. bangunan klas 9a yang > 2 lantai, dan 2. jalan penghubung atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dengan panjang > 60 m ke jalan umum atau ruang terbuka, harus dilengkapi dengan: 1. Sistem presurisasi otomatis, atau 2. Ramp atau balkon akses yang terbuka sesuai ketentuan butir Vl.3. BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF >25 M Klas. 2, 3, den 4. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. 2. Bila panjang koridor umum > 40 m, harus dibagi dengan interval < 40 m, dengan konstruksi sesuai ketentuan V.1.3, kecuali bahan pelapis dan bahan yang tidak mudah terbakar Klas5,6, 7,8,dan 9b (selain ruang/tempat parkir) Klas 9a 1. Harus dilengkapi dengan sistem pengendali asap terzona sesuai ketentuan yang berlaku. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis, dan 2. Sistem pengendali asap tezona sesuai ketentuan yang berlaku

KLAS/BAGIAN BANGUNAN Jalan keluar yang Diisolasi terhadap kebakaran

BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF < 25 M Klas 2, 3, den 4 1. Harus dilengkapi dengan alarm dan detekai asap otomatis, dan 2. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran den bangunan kelas 2 atau 3 juga melayani satu atau lebih lantai dengan Kas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8, atau 9b, maka: a. tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap Jalan penghubung atau ramp harus dilengkapi dengan sistem presurisasi udara otomati, atau b. Klas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8 dan 9b harus

Bila < 2 lapis di bawah tanah: i. 6. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. Basement dengan > 3 lapis di bawah tanah atau terdapat klas 6 atau 9b dengan jumlah penghuni/pengguna yang banyak. bila basement mempunyai lebih daari satu kompartemen kebakaran. Sistem sprinkler 1. 8. sistem alarm dan deteksi asap otomatis. atau 9b (selain sekolah) dengan ketinggian > 2 lantai. Sistem sprinkler 1.a. 7. 7 (bukan tempat parkir terbuka). Klas 5 atau 9b (sekolah) dengan ketinggian > 3 lantai. atau ii. Sistem pengendali asap terzona. Klas 6. maka: a. Sistem detektor dan alarm asap. termasuk jlan penghubung dan rampnya. sistem sprinkler 3. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan klas 4 juga melayani satu atau lebih lantai dengan klas 5. Klas 5 atau 9b (sekolah) dan b. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendali asap terzona dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detekotr asap bekerja. 7. 8. Basement dengan luas > 200 m2 harus dilengkapi dengan: a. tipe dan jumlah material khusus yang disimpan. dan 2. atau b. atau ii. karakter khusus bangunan b. atau 2. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. atau iii. atau 3. 2. Sistem presurisasi udara otomatis. Sistem sesuai butir 2. Sistem sprinkler. harus dipasang: 1. persyaratan khusus dapat digunakan dengan pertimbangan: a. atau 9b. Bila > 2 lapis dibawah tanah harus dilengkapi sistem sprinkler.b. 8. atau 3. kecuali bila alarm dan detektor tersebut hanya perlu dipasang pada tiap pintu menuju tangga yang diisolasi terhadap kebakaran untuk sistem peringatan. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. diatas harus dipasang. dipajang. harus dipasang: a. dan 9b (selain ruang/tempat parkir Klas 9a BASEMENT (selain ruang/tempat parkir) . Pada bangunan: 1. Dengan ketinggian > 2 lantai dan terdiri atas: a. 3. bila bangunan mempunyai lebih dari satu komprtemen kebakaran. 7. atau 2. atau 9b (selain sekolah) maka pada setiap tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran. atau 2.dilengkapi dengan i. 8. atau b. fungsi khusus bangunan c. atau b. Sistem pengendali asap terzona. Bila bangunan >2 lantai. atau 4. atau digunakan dalam bangunan d. Sistem pengendali asap terzona. Klas 6. keragaman klasifikasi bangunan atau kompartemen Klas 5. 6.

toko dengan luas > 1.000m2. sistem pembuangan asap otomaatis.000 m2. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. dipasang sistem alarm dan detektor asap otomatis. bangunan 1 lantai. sistem inter komunikasi darurat. terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko Klas 9b. harus dilengkapi dengan: a.kecuali yang ditetapkan pada butir 2. dan 2.Ruang/tempat parkir Atrium kebakaran Ruang/tempat parkir. dan b. luas bangunan < 2. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1. yang dilengkapi dengan sisitem ventilasi mekanis sesuai ketentuan: 1. Kabel pengendali dan daya listrik tidak harus yang tahan api Bangunan yang memiliki atrium harus dengan kelengkapan sistem sprinkler. Setiap kompartemen kebakaran. Bangunan satu lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. Kompartemen Kebakaran > 2. dipasang sistem sprinkler 3. Kompartemen kebakaran > 2. bila: a. KETENTUAN KHUSUS KLAS/BAGIAN BANGUNAN Klas 6.000m2 yang membuka ke arah selasar terlindung. sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomaatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. 1. atau b. bila bangunan 1 lantai. atau 2. dan: i. tidak terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. Bila bangunan 1 lantai.000 m2. dan toko (selain pada ketentuan 3 ) yang tidak membuka ke arah selasar terlindung. sistem pembuangan asap otomatis. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. sistem peringatan kondisi darurat. harus dilengkapi dengan: a. dan b. sistem deteksi alarm kebakaran. Jenis kipas yang harus tahan suhu tinggi. atau c.000 m2. Bangunan klab malam. dipasang sistem sprinkler 2. atau ii. sistem pembuangan asap otomatis. dan sejenis. Selasar terlindung. luas lantai < 2. atau b. dan sistem pengendalian asap sesuai standar teknis yang berlaku 2. bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka 1. dan b. atau lubang-lubang Klas 6. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran < 3. Bangunan Pertemuan . termasuk ruang parkir dibawah tanah.500 m2. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran > 3. harus dilengkapi dengan: a. bangunan 2 lantai atau kurang. diskotek. bila: a.500 m2 dan bangunan 2 lantaai atau kurang.

Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. Bangunan theater atau hall umum selain butir 3. atau harus dilengkapi dengan: i. sistem pembuang asap otomatis.000 ii. sistem sprinkler. Gereja. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. Bangunan pameran. Bangunan theater atau tempaat pertemuan/hall umum: a.500m2 i. bila bangunan 1 lantai. dan b. . gereja. atau ii. diatas. atau ii. 5. sistem pembuang asap otomatis. termasuk theater kuliah dan komplek auditorium: a. gereja.000-3. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. dipasang sistem sprinkler dan i. atau sistem sprinkler. dengan luas > 200 m2. ruang senam. Bukan pada bangunan sekolah.000 m2 harus dilengkapi dengan ketentuan seperti butir 4.b diatas b. bila luas lantai kompartemen kebakaran < 5. bila bangunaan 1 lantai 4. bilang bangunan 1 lantai 3.000 m2 i. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. Bangunan pertemuan lainnya (diluar butir 3 dan 4 diatas): a. kolam renang dan sejenis) selain dari gedung olahraga(indoor) dengan jumlah tempat duduk > 1. selain pada bangunan sekolah dengan luas lantai kompartemen kebakaran > 2. atau ii.a. Bila luas bangunan 2. kompleks olahraga (termasuk hall olah raga. atau sistem sprinkler 2.000 m2 dan tinggi bangunan 2 lantai atau kurang. Setiap kompartemen kebakaran dengan luas > 2. atau iii. dengan luas > 300m2 atau b. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. digunakan sistem alarm dan detektor asap otomatis.500 m2. harus dilengkapi dengan a. Bangunan yang dikecualikan dari ketentuan butir a diatas adalah: i. sistem pengelola udara mekanis yang bukan meru-pakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shutdown) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. Bila luas bangunan > 3.ventilasi asap dan panas otomatis pada bangunan 1 lantai. bila bangunan 1 lantai. Mesjid dan tempat lainnya yang khusus hanya untuk kegiatan peribadatan. pada bangunan sekolah. dan c. atau iii. idem 1. atau ii. dan b. sistem pembuang asap otomatis. sistem pembuang asap otomatis. lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis.

Setjen Dep. PU Sekretaris Jenderal Dep. Binlak Wilayah Barat. Rachmadi BS. Dep. PU Kepala Puslitbangkim. Dep. Sutikni Utoro Wibisono Setio Wibowo. Balitbang. H. PU Dit.BD. Dipl. IAI. Pelaksana Ir. DJCK Bagian Hukum. Setjen Dep. Dep. Dipl. J. Sefiawan Kanani Ir. MSc Ir. MSc Ir. PU Dit. DJCK. MCM. Dep. DJCK Dit. Eko Widiatmo Ir. Achid Winarno Ir. Binlak Wilayah Tengah . MM. Pengarah Drs. DJCK. MSc Ir. Sardjono Hadi Sugondo Ir. PU Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) . Diding Muchidin Ir. Bintek. Erry Saptaria Achyar. PU Dit. Ernawi. Dep. MSc. Wiedodo Ir. Sukartono Ir. SH Ir. Dep. Dep. Hendro Moeljono Ir. Harlansyah Soerarso. PU Dit.TIM PENYUSUN PEDOMAN TEKNIS PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG Pembina Ir. HR. J. Hari Sidharta. Ridwan Munzir Ir. B. SE Ir. Bintek. PU Sekretaris Ditjen Cipta Karya. Sidjabat Ir. Dep.Sc. PU Dit.. Bintek. Jacob Ruzuar. Eko Djuli Sasongko Ir. Dep. MSc Ir. Dipl. PU Kepala Biro Hukum. PU Staf Ahli Menteri PU V Bidang Pengembangan Jasa Konstruksi Direktur Bina Teknis . Bitnek. Balitbang. M. Dep. PU Puslitbangkim. Balitbang. Binlak Wilayah Timur. Rusdi Marzuki Ir. Ir. MSc Kelompok Kerja Ir. PU Kepala Balitbang Dep. Dep. Eng. FRAIA Ir. H. Achmad Lanti.Arch. Balitbang. L.. MCM. Bitnek. DJCK. Imam S. MPA Ir. MSc Ir. IAI Ir. PU Biro Hukum. DJCK. Hari Sasongko Suwarmo S.E. Dep. MSc Ir. Sri Hartinah. Suprapto. Roestanto Wahidi D. CES Ir. Prawoto Menteri Pekerjaan Umum Direktur Jenderal Cipta Karya. DJCK. Renyansih Ny. P. Bambang Guritno. PU Widyaiswara Dep. PU Puslitbangkim. G. Aim Abdurachim Idris. Adjar Prajudi. Tulus Rachmat S Ir. IAI Ir. Gembong Priyono. MCM Ir G. Sunaryo Sumadji. PU Puslitbangkim. Dep. Antonius Budiono. DJCK Dit. PU Dit. DJCK. DJCK.

M. Ir. IAI Ir. Ir. MSc Ir. Penyelaras Akhir Ir. Zaenal Walidin DR. MM Ir.Prasetiyo. MT Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Ikatan Ahli Lansekap Indonesia (IALI) Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Teknik Tanah Indoensia (HATTI) Institut Teknologi Bandung Institut Teknologi Bandung Universitas Trisakti. Departemen P. Raden Patah l/1 Lantai 7 Wing 1 Kebayoran Baru. Binsar Hariandja DR. J. G.go. Bintang Agus Nugroho. Sugeng Triyadi S. Ir. Jakarta Universitas Trisakti. Ariono Suprayogi Ir. Hendro Moeljono Ir.U.March. A. Ir. IALI Ir. Hadi Prabowo. Drajat Hoedayanto. Tulus Widiarso. Sofyan Nurbambang DR. Eka Sediadi Rasyad Ir. Bambang Tata Samiadji. MT Ir. Jakarta 12110 Indonesia Telepon: (021) 7268203 Faks: (021) 7235223 E-med: bintekctaba@pu.Ir. Eko Djuli Sasongko Studio Taba '98 Direktorat Bina Teknik Direktorat Jenderal Cipta Karya. Jl.id . Ing. MSCE Ir. Chaidir AM. Ernawi. Imam S. Jakarta Universitas Trisakti. Jakarta Disamping itu juga melibatkan peran aktif berbagai nara sumber di bidang tata bangunan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Daniel Mangindaan Ir. MCM. MEng DR. Soedibyono Ir.MAUD DR. Bambang Budiono Ir. MSA.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful