KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 441/KPTS/1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG MENTERI PEKERJAAN

UMUM,

Menimbang

:

a.

bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah di bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah, urusan penyelenggaraan bangunan gedung telah diserahkan kepada Daerah baik Daerah Tingkat I maupun Daerah Tingkat II; bahwa perkembangan penyelenggaraan bangunan gedung dewasa ini semakin kompleks sehingga perlu adanya pengaturan mengenai ketentuan teknis yang menyangkut peruntukan dan intensitas bangunan, arsitektur dan lingkungan, serta keandalan bangunan yang menjadi persyaratan pokok suatu bangunan gedung; bahwa sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987, kepada Menteri Pekerjaan Umum diberi wewenang untuk melakukan pembinaan teknis dan pengawasan teknis dalam penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah; bahwa sehubungan dengan pertimbangan pertimbangan tersebut diatas perlu mengatur persyaratan teknis bangunan gedung, dengan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah; Undang-undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun; Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Parumahan dan Permukiman; Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang; Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan di Bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah; Keputusan Presiden Rl Nomor 44 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Organisasi Departemen; Keputusan Presiden Rl Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Keputusan Rl Nomor 15 tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Departemen Sebagaimana Telah Tiga Puluh Kali Diubah Terakhir Dengan Keputusan Rl Nomor 23 Tahun 1994 Keputusan Presiden Rl Nomor 122/M Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabinet Reformasi Pembangunan;

b.

c.

d.

Mengingat

:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

8.

9.

Keputusan Menteri PU Nomor 211/KPTS/1994 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum.
MEMUTUSKAN :

Menetapkan

:

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG. BAB I KETENTUAN UMUM

TENTANG

Bagian Pertama Pengertian Pasal 1 Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada, diatas, atau di dalam tanah dan atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tampat manusia melakukan kegiatannya. 2. Penyelenggaraan bangunan gedung adalah proses kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan gedung 3. Daerah adalah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. 4. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kotamadya Daerah T'ngkat II. Bagian Kedua Maksud dan Tujuan Pasal 2 (1) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung dimaksudkan untuk mewujudkan bangunan gedung yang berkualitas sesuai dengan fungsinya. (2) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung bertujuan terselenggaranya fungsi bangunan gedung yang aman, sehat, nyaman, efisien, seimbang, serasi dan selaras dengan lingkungannya

BAB II PENGATURAN PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG

Bagian Pertama Persyaratan Teknis Pasal 3 (1) Persyaratan teknis bangunan gedung meliputi persyaratan mengenai : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. I. m. (2) Peruntukan dan Intensitas Bangunan. Arsitektur dan lingkungan. Struktur Bangunan Gedung. Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran. Sarana Jalan Masuk dan Keluar. Transportasi dalam Gedung. Pencahayaan Darurat, Tanda Arah Keluar, dan Sistem Peringatan Bahaya. Instalasi Listrik Penangkal Petir, dan Komunikasi dalam Gedung Instalasi Gas. Sanitasi dalam gedung. Ventilasi dan Pengkondisian Udara Pencahayaan. Kebisingan dan Getaran.

Rincian persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini tercantum pada lampiran Keputusan Menten ini yang merupakan satu kesatuan pengaturan dalam keputusan ini Setiap orang atau badan termasuk instansi Pemerintah dalam penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung wajib memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) Pasal ini. Pasal 4

(3)

Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Kedua Pengaturan Pelaksanaan di Daerah Pasal 5 (1) Untuk pedoman pelaksanaan penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah perlu dibuat Peraturan Daerah yang didasarkan pada ketentuan-ketentuan dalam Keputusan Menteri ini. Dalam hal Daerah belum mempunyai Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini maka terhadap penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah

(2)

diberlakukan ketentuan-ketentuan Persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. (3) Daerah yang telah mempunyai Peraturan Daerah tentang persyaratan teknis bangunan gedung sebelum Keputusan Menteri ini diterbitkan harus menyesuaikannya dengan ketentuan-ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. Pasal 6 Dalam melaksanakan pembinaan pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah melakukan peningkatan kemampuan aparat Pemerintah maupun masyarakat dalam memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 untuk terwujudnya tertib pembangunan bangunan gedung. Dalam melaksanakan pengendalian pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah wajib menggunakan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 sebagai landasan dalam mengeluarkan persetujuan atau perizinan yang diperlukan. Terhadap aparat Pemerintah Daerah yang bertugas dalam pengendalian pembangunan bangunan gedung yang melakukan pelanggaran ketentuan dalam Pasal 3 dikenakan sanksi administrasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 7 (1) Penyelenggaraan bangunan gedung yang melanggar ketentuan-ketentuan Pasal 3 dan Pasal 4 Keputusan Menteri ini dikenakan sanksi administrasi yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 5. Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dikenakan sesuai dengan tingkat pelanggaran dapat berupa: a. Peringatan tertulis b. Pembatasan kegiatan c. Penghentian sementara kegiatan sampai dilakukannya pemenuhan persyaratan teknis bangunan gedung. d. Pencabutan izin yang telah dikeluarkan untok menyelenggarakan pembangunan bangunan gedung. (3) Selain sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), di dalam Peraturan Daerah dapat diatur mengenai pengenaan denda dan tindakan Pembongkaran atas terjadinya pelanggaran terhadap ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung.

(1)

(2)

(3)

(2)

BAB III PEMB1NAAN DAN PENGAWASAN TEKNIS

Pasal 8 (1) Pembinaan dan Pengawasan Teknis untuk pelaksanaan ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 58/PRT/1991 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Teknis dan Pengawasan Teknis Bidang Pekerjaan Umum kepada Dinas Pekerjaan Umum. Pelaksanaan pembinaan teknis dan pengawasan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini didasarkan pada Rencana dan program yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Cipta Karya.
BAB IV KETENTUAN PERALIHAN

(2)

Pasal 9 Dengan berlakunya Keputusan Menteri inl, maka semua ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Keputusan Menteri ini masih tetap berlaku, sampai digantikan dengan yang baru.
BAB V KETENTUAN PENUTUP

Pasal 10 (1) (2) Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Keputusan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang bersangkutan untuk diketahui dan dilaksanakan.
DITETAPKAN Dl PADA TANGGAL : JAKARTA : 10 NOPEMBER 1998

MENTERI PEKERJAAN UMUM

RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 441/KPTS/1998 TANGGAL 10 NOPEMBER 1998

DAFTAR ISI
BAGIAN I KETENTUAN UMUM I. 1 I.2 PENGERTIAN 1. Umum 2. Teknis MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud 2. Tujuan

BAGIAN II PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II.1 PERUNTUKAN, FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Peruntukan Lokasi 2. Fungsi Bangunan 3. Klasifikasi Bangunan INTENSITAS BANGUNAN 1. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan 2. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB 3. Perhitungan KDB dan KLB GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. Garis Sempadan (muka) Bangunan 2. Garis Sempadan Samping dan Belakang Bangunan 3. Pemisah di Sepanjang Halaman Depan, Samping, dan Belakang Bangunan

II.2

II.3

BAGIAN III ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III.1 ARSITEK BANGUNAN 1. Tata Letak Bangunan 2. Bentuk Bangunan 3. Tata Ruang Dalam 4. Kelengkapan Bangunan RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1. Fungsi dan Persyaratan Ruang Tebuka Hijau Pekarangan 2. Ruang Sempadan Bangunan 3. Tapak Basement 4. Hijau Pada Bangunan 5. Tata Tanaman SIRKULASI, PERTANDAAN, DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 2. Pertandaan (Signage) 3. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan

III.2

III.3

Kontruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus 5. Pengelolaan Daerah Bencana BAGIAN IV STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Ketahanan Api dan Stabilitas 2. Pengendalian Asap Kebakaran 4.3 IV. Pusat Pengendali Kebakaran V. Kontruksi Kayu 4. Tipe Konstruksi Tahan Api 3. Prosedur dan Metoda IV. Kriteria Demolisi 2.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan 5. Persyaratan Struktur 2.4 IV.4 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN 1. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi STRUKTUR BAWAH 1. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan 4. Sistem Diteksi & Alarm Kebakaran 3.III. Keselamatan Struktur 2. Ketentuan UPL dan UKL 4. Kompartemensasi dan Pemisahan 5.2 IV. Dampak Penting 2. Ketentuan Pengelolaan Dampak Ligkungan 3. Proteksi Bukaan SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. Keruntuhan Struktur DEMOLISI STUKTUR 1. Pondasi Langsung 2.2 .1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. Pondasi Bawah KEANDALAN STRUKTUR 1.6 BAGIAN V PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V.5 IV. Persyaratan Bahan PEMBEBANAN STRUKTUR ATAS 1. Kontruksi Bangunan 2. Sistem Pemadam Kebakaran 2. Kontruksi Baja 3.

Ambang Pintu 16. Masuk dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 22. Ruang Peralatan dan Ruang Motor Lift 14. Ramp dan Balkon Akses Yang Terbuka 6. Perlindungan pada Ruang di Bawah Tangga dan Ramp 9. Persyaratan Keamanan 2. Lintasan Melalui Tangga/ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 10. Penerapan 2. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 12. Lobby Bebas Asap 7. Injakan dan Tanjakan Tangga 14. Tangga dan Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Balustrade 17. Tangga Luar Bangunan 9. Pintu Keluar Horisontal 12.BAGIAN VI SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. Pintu 19. Pengoperasian Gerendel Pintu 21. Atap sebagai Ruang Terbuka 13. Instalasi pada Pintu Keluar dan Jalan Lintasan 8. Pintu Ayun 20. Jarak Jalur Menuju Pintu Keluar 5.3 VI. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Tehadap Kebakaran 8. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Fungsi 2. Kebutuhan Jalan Keluar 3. Pesyaratan Kinerja KETENTUAN JALAN KELUAR 1. Tangga dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 3. Keluar Melalui Pintu-pintu Keluar 11.2 VI. Rambu pada Pintu AKSES BAGI PENYANDANG CACAT VI. Jumlah Orang Yang Ditampung KONTRUKSI JALAN KELUAR 1. Pegangan Rambat pada Tangga 18. Bordes 15. Ramp atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan 13. Dimensi/ukuran Pintu Keluar 7. Tangga. Lebar Tangga 10. Pemisahan Tanjakan dan Turunan Tangga 5.4 .1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. Ramp Pejalan Kaki 11. Jarak antara Pintu-pintu Keluar Alternatif 6.

Instalansi Tata Suara IX. Pemeliharaan INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 1. Pemeriksaan dan Pengujian 4. Pemeliharaan INSTALANSI PENANGKAL PETIR 1. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung 2. SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. Pengujian dan Pemeliharaan TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN VII. Lif untuk Rumah Sakit 5. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. Sumber Daya Listrik 5. Mesin Lif dan Ruang Mesin Lif 8.1 VIII. Pemerikasaan dan Pengujian 7. Jaringan Distribusi Listrik 3.3 .BAGIAN VII TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. Transformator Distribusi 6.2 BAGIAN VIII PENCAHAYAAN DARURAT. Pemeriksaan. Instalansi Penangkal Petir 3. Kapasitas Lif 2. Lif Kebakaran 3. Perencanaan Penangkal Petir 2.2 VIII. Perencanaan Instalansi Listrik 2. Peringatan Terhadap Pengguna Lif pada Saat Terjadi Kebakaran 4. PENANGKAL PETIR.1 INSTALANSI LISTRIK 1.3 1SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT TANDA ARAH KELUAR SISTEM PERINGATAN BAHAYA BAGIAN IX INSTALANSI LISTRIK. Beban Listrik 4. Saf Lif 7. TANDA ARAH KELUAR. Instalasi Listrik 9.2 IX. Instalansi Telepon 3.1 LIF 1. Sangkar Lif 6.

1 VENTILASI 1. Sistem Pembuangan Air Kotor 4.3 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN PENCAHAYAAN BUATAN PENCAHAYAAN ALAMI . Tangki Penyediaan Air Bersih 6. Perencanaan Sistem Plumbing 2. Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan XII. Pompa Air Bersih PERSAMPAHAN 1. Alat Plambing 5. Jenis Gas 2. Pemeriksaan dan Pengujian INSTALANSI GAS MEDIK 1.1 XIII.2 BAGIAN XI SANITASI DALAM GEDUNG XI.BAGIAN X INSTALANSI GAS X. Sistem Penyediaan Air Bersih 3. Jaringan Distribusi Gas Medik 3. Pemeriksaan dan Pengujian X. Konservaasi Energi 3.2 XIII. Penempatan pada Bangunan 2. Ventilasi Buatan PENGKONDISIAN UDARA 1. Jenis Gas 2.2 BAGIAN XIII PENCAHAYAAN XIII. Jaringan Distribusi Gas Kota 3. Sampah Berbahaya XI. Kebutuhan Ventilasi 2. Ventilasi Alami 3. Kebutuhan Pengkondisian Udara 2.1 INSTALANSI GAS PEMBAKARAN 1. 1 SISTEM PLAMBING 1. BAGIAN XII VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. Pewadahan 3.

4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN BAGIAN XIV KEBISINGAN DAN GETARAN XIV.XIII.1 XIV.2 KEBISINGAN GETARAN BAGIAN XV PENUTUP LAMPIRAN .

e. Atrium adalah suatu ruang dalam suatu bangunan yang menghubungkan 2 atau lebih tingka/lantai. iii. atau Gubernur untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta. pendidikan.I. d. Dinas Bangunan adalah salah satu Dinas Teknis di Daerah yang diantaranya mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pengaturan. Teknis a. termasuk struktur atap kaca. berusaha. rekreasi. seluruh atau sebagian ruangnya tertutup pada bagian atasnya oleh lantai atau atap. . dsb. pembinaan. Bangunan umum adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat manusia berkumpul. mengadakan pertemuan. dan melaksanakan kegiatan yang bersifat publik lainnya. kakus dan peralatan-peralatan pembuangan lainnya. di mana: i. dan kegiatan lainnya. PENGERTIAN 1. atau di daiam tanah dan/atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tempat manusia untuk melakukan kegiatan bertempat tinggal. Kepala Daerah adalah Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. tidak termasuk lorong tangga. olah raga. kamar mandi. perbelanjaan. Umum Dalam pedoman teknis ini yang dimaksud dengan: a. 2. atau ruang dalam shaft. KETENTUAN UMUM 1. dan pengendalian pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung yang berada di Daerah yang bersangkutan. c. termasuk setiap ruang yang berbatasan/ berdekatan tetapi tidak terpisahkan oleh pembatas. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada. seperti keagamaan. Bangunan turutan adalah bangunan sebagai tambahan atau pengembangan dari bangunan yang sudah ada. lorong ramp. Pengawas/Penilik Bangunan adalah pejabat atau tenaga teknis profesional yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah atau ketentuan yang berlaku untuk bertugas mengawasi/menilik bangunan gedung. Air kotor adalah semua air yang bercampur dengan kotoran-kotoran dapur. Daerah adalah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II atau Daerah Khusus Ibukota Jakarta. c. bersosial-budaya. d. ii. di atas. b. b.

f. iii. Getaran adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan manusia. l. Rencana saluran. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia. Getaran kejut adalah getaran yang berlangsung secara tiba-tiba dan sesaat. j. yang selanjutnya disebut DHB adalah ruang terbuka pada bangunan yang dimanfaatkan untuk penghijauan. Garis Sempadan Bangunan merupakan jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap: i. Baku Tingkat Getaran mekanik dan getaran kejut adalah batas maksimal tingkat getaran mekanik yang diperbolehkan dan usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan. Dinding Pembatas adalah dinding yang menjadi pembatas antara bangunan. c. Bangunan Induk adalah bangunan yang mempunyai fungsi dominan dalam suatu persil. k. Demolisi adalah kegiatan merobohkan atau membongkar bangunan secara total. g. jaringan pipa gas dan sebagainya. ii. Batas tepi sungai/pantai. h. a. atau iv. Dinding Luar Non-struktural adalah suatu dinding luar yang tidak memikul beban dan bukan merupakan dinding panel. b.f. d. i. h. Antar massa bangunan lainnya. Batas lahan yang dikuasai. g. e. . Garis sempadan loteng adaiah garis yang terhitung dan tepi jalan berbatasan yang tidak diperkenankan didirikan tingkat bangunan. jaringan tegangan tinggi listrik. Dinding Luar adalah suatu dinding bangunan terluar yang bukan merupakan dinding pembatas. Baku tingkat Kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dituang kelingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Garis sempadan pagar adalah garis bagian luar dari pagar persil atau pagar pekarangan. Daerah Hijau Bangunan.

o. Mendirikan. x. mengubah atau membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu bangunan. r. memperluas. t. w. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka prosentase perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan yang diperuntukkan bagi pertamanan/ penghijauan dengan luas tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. memperbaiki. ii.i. s. Jaringan persil adalah jaringan sanitasi dan jaringan drainasi dalam persil. . Mendirikan Bangunan i. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. Jaringan saluran umum kota adalah jaringan sarana dan prasarana saluran umum perkotaan. u. seperti jaringan sanitasi dan jaringan drainasi. program tata bangunan dan lingkungan. Jarak antara bangunan adalah jarak terkecil antara bangunan yang diukur antara permukaan-permukaan denah bangunan.w. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah pedoman rencana teknik. Koefisien Tapak Basement (KTB) adalah angka prosentasi perbandingan luas tapak basement dengan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah koefisien perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. n. serta pedoman pengendalian pelaksanaan yang umumnya meliputi suatu lingkungan/kawasan (urban design and development guidelines). untuk tempat kegiatan manusia. p. Melakukan pekerjaan tanah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan yang dimaksud pada butir 2. y. q. Kamar adalah ruangan yang tertutup seluruhnya atau sebagian. Pekarangan adalah bagian yang kosong dari suatu persil/ kaveling/blok peruntukan bangunan. Lubang Atrium adalah ruang dari suatu atrium yang dikelilingi oleh batas pinggir bukaan lantai atau oleh batas pinggir lantai dan dinding luar. selain kamar untuk MCK dan dapur.m. Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. v.

dan berbatasan ke suatu panggung pada bangunan klas 9b yang dipergunakan untuk barang-barang dekorasi panggung. menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. menjamin bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di Daerah yang bersangkutan.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1. Rumah adalah bangunan yang terdiri atas ruangan atau gabungan ruangan yang borhubungan satu sama lain. serta keandalan bangunan. serta pemeriksaan kelaikan fungsi/keandalan bangunan gedung. Peruntukan dan Intensitas: i. Ruang persiapan adalah ruang yang berhubungan dengan. Tujuan.z. aa. Contoh: TKA 90/-/60 berarti hanya terdapat persyaratan TKA untuk ketahanan struktural 90 menit dan insulasi 60 menit. adalah tingkat ketahanan api yang dipersyaratakan pada bagian atau komponen bangunan sesuai ketentuan butir V. peralatan. termasuk dalam rangka proses perijinan pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan.1. 2. Maksud Persyaratan Teknis Bangunan Gedung ini dimaksudkan sebagai acuan persyaratan teknis yang diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan bangunan gedung di Indonesia. I. arsitektur dan lingkungan. . atau sejenisnya. yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Sambungan jaringan adalah penghubung antara sesuatu jaringan persil dengan jaringan saluran umum kota. dd. ee. ii. dan insulasi. ruang ganti. yaitu meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan.2 dalam ukuran waktu satuan menit. bb. Tinggi bangunan adalah jarak antara garis potong permukaan atap dengan muka bangunan bagian luar dan permukaan lantai denah bawah. Tinghat Ketahanan Api (TKA). dengan kriteria-kriteria berurut yaitu aspek ketahanan struktural. Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang akan dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat dB. integritas. cc. Tujuan Pedoman Teknis ini bertujuan untuk dapat terwujudnya bangunan gedung sesuai fungsi yang ditetapkan dan yang memenuhi persyaratan teknis. Adapun tujuan dari pengaturan per-bagian adalah: a.

iii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan. Strukfur Bangunan: i. menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan. dan lingkungan. Sarana Jalan Masuk dan Keluar: i. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa sehinga mampu secara struktural stabil selama kebakaran. sehingga: (1) cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman. iii. c.iii. (3) dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia. ii. ii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang layak. ketentuan wujud bangunan. Arsitektur dan Lingkungan: i. (2) cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan oleh perilaku struktur. sehingga seimbang. menjamin perlindungan properti lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh kegagalan struktur. dan budaya daerah. menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. e. b. ii. masyarakat. serasi dan selaras dengan lingkungannya. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia pada saat terjadi kebakaran. Ketahanan terhadap Kebakaran: i. menjamin keselamatan pengguna. menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. iv. d. ii. aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamnya. menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari cedera atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat .

i. menjamin tersedianya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. aman. ii. iii menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik. Sanitasi dalam Bangunan: i. khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. h. Pencahayean Darurat. Transportasl dalam Gedung: i. . iii. menjamin tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam bangunan gedung apabila terjadi keadaan darurat. iii. ii. menjamin tersedianya aksesibiltas bagi penyandang cacat khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. Instalasi Listrik. menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari bahaya akibat petir. apabila terjadi keadaan darurat. menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman. dan nyaman di dalam bangunan gedung. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan secara baik. dan Sistem Peringatan Bahaya: i. Tanda arah Keluar. Penangkal Petir dan Komunikasi: i. j. Instalasi Gas: i. ii. menjamin terpasangnya instalasi gas secara aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. ii. menjamin tersedianya alat transportasi yang layak. menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya.iii. menjamin terwujudnya kebersihan. g. kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan. menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat. menjamin terpenuhinya pemakaian gas yang aman dan cukup. f. ii.

ii. l. Pencahayaan: i. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup. menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik.k Ventilasi dan Pengkondisian Udara: i. m. menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau mencegah perusakan lingkungan. ii. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik. Kebisingan dan Getaran: i. . menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran yang tidak diinginkan. ii.

dengan tetap mengadakan peninjauan seperlunya terhadap rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada di Daerah. PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. Apabila persetujuan yang telah diberikan terdapat ketidak sesuaian dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan kemudian. ketinggian bangunan. Keterangan atau ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir d meliputi keterangan tentang peruntukan lokasi dan intensitas bangunan. Persetujuan membangun tersebut berstfat sementara sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan tata ruang yang lebih makro. merupakan peruntukan utama. g. Rencana Rinci Tata Ruang (RRTR). Peruntukan lokasi sebagaimana dimaksud dalam butir a. iii. Ketentuan tata ruang dan tata bangunan ditetapkan melalui: i. dan garis sempadan bangunan. RRTR.I. d. Dalam hal rencana-rencana tata ruang dan tata bangunan sebagaimana dimaksud pada butir b belum ada. . peraturan bangunan setempat dan RTBL berdasarkan rencana tata ruang yang lebih makro. maka perlu c. ii. Peraturan bangunan setempat dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). Setiap pihak yang memerlukan keterangan atau ketentuan tata ruang dan tata bangunan dapat memperolehnya secara terbuka melalui Dinas Bangunan. seperti kepadatan bangunan. Bangunan gedung harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam ketentuan tata ruang dan tata bangunan dari lokasi yang bersangkutan. e. Kepala Daerah segera menyusun dan menetapkan RRTR. f. maka Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan gedung dengan pertimbangan: i.II. Peruntukan Lokasi a. b. sedangkan peruntukan penunjangnya sebagaimana ditetapkan di dalam ketentuan tata bangunan yang ada di Daerah setempat atau berdasarkan pertimbangan teknis Dinas Bangunan. PERUNTUKAN. FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Daerah. Kepala Daerah dapat memberikan pertimbangan atas ketentuan yang diperlukan. kaidah perencanaan kota dan penataan bangunan ii. iii. ataupun peraturan bangunan setempat dan RTBL. Bagi Daerah yang belum memiliki RTRW.

saluran. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. Pembangunan bangunan gedung dibawah tanah yang melintasi sarana dan prasarana jaringan kota perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. tidak untuk fungsi hunian atau tempat tinggal. Bagi Daerah yang belum memilih RTRW Daerah. v. tetap memperhatikan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. j. iii. atau sarana lain perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. h. penghawaan dan pencahayaan bangunan telah memenuhi persyaratan kesehatan sesuai fungsi bangunan. orang. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. maupun barang. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah tanah. ii. maka bangunan tersebut harus disesuaikan dengan rencana tata ruang yang ditetapkan. iii. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah dan atau diatas tanah. v. i. iv. tidak menimbulkan perubahan atau arus air yang dapat merusak lingkungan. Pembangunan bangunan gedung dibawah atau diatas air perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. Pembangunan bangunan gedung diatas jalan umum. Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan pada daerah tersebut untuk jangka waktu sementara. . tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas kendaraan. iv. dan fungsi indung kawasan. ii. tidak mengganggu keseimbangan lingkungan. ii.diadakan penyesuaian dengan resiko ditanggung oleh pemohon/pemilik bangunan. Apabila di kemudian hari terdapat penetapan RTRW Daerah yang bersangkutan. memiliki sarana khusus untuk kepentingan keamanan dan keselamatan bagi pengguna bangunan. iv. iii. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah.

perkantoran niaga. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. Bangunan dengan fungsi hunian meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama hunian yang merupakan: i. keamanan. setelah mendapat pertimbangan teknis dari para ahli terkait. letak bangunan minimal 10 (sepuluh) meter diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. fungsi usaha. baik ditinjau dari segi intensitas banguanan arsitektur dan lingkungan. kesehatan. keselamatan. k. fungsi sosial dan budaya. kenyamanan. iii. d. dan sanitasi yang memadai. ii. iv. maupun dari segi keserasian bangunan terhadap lingkungannya. dan sejenisnya. b. Rumah tinggal tunggal Rumah tinggal deret Rumah tinggal susun Rumah tinggal vila Rumah tinggal asrama f. dan fungsi khusus. Penetapan fungsi dan klasifikasi bangunan yang bersifat sementara harus dengan mempertimbangkan tingkat permanensi. iv. kenyamanan. tidak menimbulkan pencemaran. c. Bangunan perkantoran: perkantoran pemerintah. telah mempertimbangkan faktor keamaan. v. Bangunan dengan fungsi usaha meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk: i. iii. Pembangunan bangunan gedung pada daerah hantaran udara (transmisi tegangan tinggi perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai perikut: i. v. keamanan. Fungsi Bangunan a. e.iv. letak bangunan tidak boleh melebihi atau melampaui garis sudut 45° (empat puluh lima derajat) diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. 2. ii. kesehatan dan aksesibilitas bagi pengguna bangunan. . Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan fungsi utama bangunan. Fungsi bangunan dapat dikelompokkan dalam fungsi hunian. Fungsi dan klasifikasi bangunan merupakan acuan untuk persyaratan teknis bangunan gedung. pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran.

gereja. terminal bus. penginapan. i. Bangunan kebudayaan : museum. Bangunan pendidikan: sekolah taman kanak-kanak. gedung tempat parkir. industri besar/berat. rumah sakit klas A. meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk : i. dan sejenisnya. sekolah dasar. g. motel. B. kelenteng. Bangunan Industri : industri kecil. Bangunan Perhotelan/Penginapan: hotel. gedung kesenian. hostel. iii. Klas 1 : Bangunan Hunian Biasa Adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan: . v. poliklinik. Bangunan dengan fungsi umum. dan sejenisnya. dan sejenisnya h. sepanjang sesuai dengan peruntukan lokasinya dan standar perencanaan lingkungan yang berlaku. a.ii. dan sejenisnya. industri sedang. halte bus. atau tingkat resiko bahaya tinggi : seperti bangunan kemiliteran. rumah bersalin. keveling. selain terdiri dari ruang-ruang dengan fungsi utama. atau blok peruntukan dimungkinkan adanya fungsi campuran (mixed use). sesuai dengan persyatatan pokok yang diatur dalam Pedoman Teknis ini. iv. Bangunan dengan fungsi khusus meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi. Setiap bangunan gedung. j. Bangunan perdagangan: pasar. Klasifikasi Bangunan Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan. Dalam suatu persil. vi. mal. dan vihara. dan sejenisnya. terminal udara. dan sejenisnya. pelaksanaan. iv. & C. pelabuhan laut. ii. Bangunan peribadatan: mesjid. sosial dan budaya. atau perubahan yang diperlukan pada bangunan. sekolah lanjutan. dan sejenisnya. juga dilengkapi dengan ruang fungsi penunjang. sekolah tinggi/universitas. pertokoan. vii Bangunan Pariwisata: tempat rekreasi. pusat perbelanjaan. Bangunan Terminal: stasiun kereta. 3. iii. pura. serta dilengkapi pula dengan instalasi dan kelengkapan bangunan yang dapat menjamin terselenggaranya fungsi bangunan. bioskop. Bangunan pelayanan kesehatan: puskesmas. Bangunan Penyimpanan: gudang. bangunan reaktor.

atau (2) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. Klas 5: Bangunan kantor Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. termasuk i. b. 8. tempat potong rambut /salon. losmen. 8 atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut e. ruang makan malam. ruang pamer. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. rumah taman. v. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. iv. atau bengkel. atau iii. rumah tamu.i. hostel. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. kafe. Klas 4 : Bangunan Hunian Campuran Adalah tempat tinggal yang berada didalam suatu bangunan klas 5. Klas 6: Bangunan Perdagangan Adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. atau usaha komersial. diluar bangunan klas 6. restoran. atau iv. ruang makan. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. Klas 2: Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. rumah tamu.. atau anak-anak. atau panti untuk orang berumur. Klas 1a : bangunan hunian tunggal yang berupa: (1) satu rumah tunggal. tempat cuci umum. villa. termasuk: i. c. Klas 1b : rumah asrama/kost. ruang penjualan. atau ii. 7. . ii iii. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. pengurusan administrasi. d. 7. pasar. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya. atau 9. f. atau ii. Klas 3: Bangunan hunian diluar bangunan klas 1 atau 2. cacat. rumah asrama. 6. termasuk rumah deret. bar. unit town house .

Klas 7: Bangunan Penyimpanan/Gudang Adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. yaitu: i. termasuk: i. atau sejenisnya. tetapi tidak temmasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. Bangunan-bangunan yang tidak diklasifikasikan khusus Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi bangunan 1 s/d 10 tersebut. Bangunan yang penggunaannya insidentil Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya. dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan bangunan utamanya. Klas 9b: bangunan pertemuan. antena. perubahan. finishing. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. kolam renang. j. atau sejenisnya. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. tonggak. dalam Pedoman Teknis dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai dengan peruntukannya l. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. m. dan: . Klas 9: Bangunan Umum Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. Klasifikasi jamak Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah. i. ii. Klas 10 : Adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian: i. k. bangunan peribadatan. bangunan budaya atau sejenis. Klas 8 : Bangunan Laboratorium/lndustri/Pabrik Adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. temmasuk bengkel kerja. h. pengepakan. carport. Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. tempat parkir umum. hall. ii. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang.g. atau ii. gudang. Klas 10b: struktur yang berupa pagar. Klas 10a: bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. perakitan. perbaikan.

Untuk suatu kawasan atau lingkungan tertentu. meliputi ketentuan tentang Koefisien Dasar Bangunan (KDB). c. Kepadatan bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a. ruang mesin. ketinggian bangunan dan ketentuan tata bangunan lainnya dengan tetap memperhatikan keserasian dan kelestarian lingkungan. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud pada butir c tidak diperkenankan mengganggu lalu-lintas udara. 9a. dalam mencerminkan keserasian bangunan dengan b. e. dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) yang dibedakan dalam tingkatan KLB tinggi. bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan. klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi bangunan utamanya. 1b. kemampuannya lingkungan. ii. iii. pelestarian dan lain lain. Klas-klas 1a. dengan pertimbangan kepentingan umum dan dengan persetujuan Kepala Daerah dapat diberikan kelonggaran atau pembatasan terhadap ketentuan kepadatan. dan peraturan bangunan setempat. Persyaratan kinerja dari ketentuan kepadatan dan ketinggian bangunan ditentukan oleh: i. sedang. ruang mesin lift. iii. meliputi ketentuan tentang Jumlah Lantai Bangunan (JLB). 9b.2 INTENSITAS BANGUNAN 1. ii. d. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a.i. f. dan b' laboratorium. kemampuannya dalam menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan optimalnya intensitas pembangunan. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan a. kemampuannya dalam menjamin kesehatan dan kenyamanan pengguna serta masyarakat pada umumnya. rencana tata bangunan dan lingkungan yang ditetapkan. ruang boiler atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak II. Ruang-ruang pengolah. sedang. yang dibedakan dalam tingkatan KDB padat. 10a dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah. Bangunan gedung yang didirikan harus memenuhi persyaratan kepadatan dan ketinggian bangunan gedung berdasarkan rencana tata ruang wilayah Daerah yang bersangkutan. . dan renggang. seperti kawasan wisata. dan rendah.

setiap bangunan yang didirikan harus sesuai dengan rencana perpetakan yang telah diatur di dalam rencana tata ruang. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB a. maka lebar dan panjang persil tersebut diukur dari titik pertemuan garis perpanjangan pada sudut tersebut dan luas persil diperhitungkan berdasarkan lebar dan panjangnya. Penetapan besamya KDB. 3. apabila perpetakan tidak ditetapkan. Perhitungan KDB dan KLB Perhitungan KDB maupun KLB ditentukan dengan pertimbangan sebagai berikut: . daya dukung lahan/lingkungan. Apabila KDB dan JLB/KLB belum ditetapkan dalam rencana tata ruang. maka KDB dan KLB diperhitungkan berdasarkan luas tanah di belakang garis sempadan jalan (GSJ) yang dimiliki. Penetapan besarnya kepadatan dan ketinggian bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam II. dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. c. Dimungkinkan adanya kompensasi berupa penambahan besarnya KDB JLB/KLB bagi perpetakan tanah yang memberikan sebagian luas tanahnya untuk kepentingan umum. penggabungan atau pemecahan perpetakan dimungkinkan dengan ketentuan KDB dan KLB tidak dilampaui. kebijaksanasn intensitas pembangunan. iii. dan dengan memperhitungkan keadaan lapangan. Ketentuan besarnya KDB dan JLB/KLB dapat diperbanui sejalan dengan pertimbangan perkembangan kota.2. f. untuk persil-persil sudut bilamana sudut persil tersebut dilengkungkan atau disikukan. kebijaksanaan intensitas pembangunan. maka Kepala Daerah dapat menetapkan berdasarkan berbagai pertimbangan dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. e.2. Dengan pertimbangan kepentingan umum dan ketertiban pembangunan. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. JLB/KLB untuk pembangunan bangunan gedung diatas fasilitas umum adalah setelah mempertimbangkan keserasian. peraturan bangunan setempat.1 butir b dan c. dengan tetap menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan keserasian lingkungan. rencana tata bangunan dan lingkungan. dimungkinkan adanya pemberian dan penerimaan besaran KDB/KLB diantara perpetakan yang berdekatan. keserasian dan keamanan lingkungan serta memenuhi persyaratan teknis yang telah ditetapkan. v. daya dukung lahan/ lingkungan. keseimbangan dan persyaratan teknis serta mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. ii. iv. Kepala Daerah dapat menetapkan rencana perpetakan dalam suatu kawasan/lingkungan dengan persyaratan: i. ditetapkan dengan mempertimbangkan perkembangan kota. b. untuk memudahkan lalu lintas. d.

Garis Sempadan (muka) Bangunan a. rencana tata bangunan dan lingkungan. f. I. maka ketinggian bangunan tersebut dianggap sebagai dua lantai. serta peraturan bangunan setempat. selebihnya diperhitungkan 50 % terhadap KLB. ramp dan tangga terbuka dihitung 50 %. selama tidak melebihi 10 % dari luas denah yang diperhitungkan sesuai dengan KDB yang ditetapkan. kesehatan. h. l. perhitungan KDB dan KLB adalah dihitung terhadap total seluruh lantai dasar bangunan. luas lantai bangunan yang diperhitungkan untuk parkir tidak diperhitungkan dalam perhitungan KLB.50 m maka luas mendatar kelebihannya tersebut dianggap sebagai luas lantai denah. b. luas lantai ruangan beratap yang bersifat terbuka atau yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding tidak lebih dari 1. . Untuk pembangunan yang berskala kawasan (superblock). apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 m.20 m di atas lantai teras tidak diperhitungkan sebagai luas lantai. overstek atap yang melebihi lebar 1. g. teras tidak beratap yang mempunyai tinggi dinding tidak lebih dari 1. c. luas lantai ruangan beratap yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding yang tingginya lebih dari 1. selama tidak melebihi l0% dari luas lantai dasar yang diperkenankan. Garis Sempadan Bangunan ditetapkan dalam rencana tata ruang.20 m di atas lantai ruangan tersebut dihiitung penuh 100 %. perhitungan luas lantai bangunan adalah jumlah luas lantai yang diperhitungkan sampai batas dinding terluar. Dalam perhitungan ketinggian bangunan.20 m diatas lantai ruangan dihitung 50 %.3 GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. j. i. Dalam perhitungan KDB dan KLB. d. e. k. Mezanine yang luasnya melebihi 50 % dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. luas tapak yang diperhitungkan adalah yang dibelakang GSJ.a. Batasan perhitungan luas ruang bawah tanah (basement) ditetapkan Kepala Daerah dengan pertimbangan keamanan. keselamatan. dan pendapat teknis para ahli terkait. asal tidak melebihi 50 % dari KLB yang ditetapkan. dan total keseluruhan luas lantai bangunan dalam kawasan tersebut tehadap total keseluruhan luas kawasan.

sepanjang penempatan bangunan tidak mengganggu jalan dan penataan bangunan sekitarnya. tidak boleh dilanggar. Daerah menentukan garis-garis sempadan pagar. . maka Kepala Daerah dapat menetapkan GSB yang bersifat sementara untuk lokasi tersebut pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. h. b. garis sempadan muka bangunan. maka Kepala Daerah menetapkan besarnya garis sempadan tersebut dengan setelah mempertimbangkan keamanan kesehatan dan kenyamanan. sungai. yang ditetapkan pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. juga menetapkan garis sempadan samping kiri dan kanan. keserasian dengan lingkungan. rencana tata bangunan dan lingkungan. Dalam mendirikan atau memperbarui seluruhnya atau sebagian dari suatu bangunan. danau. c. e. untuk tiap-tiap klas bangunan dapat ditetapkan garis-garis sempadannya masing-masing. garis sempadan podium. i Ketentuan besarnya GSB dapat diperbarui dengan pertimbangan perkembangan kota. maka bagian muka bangunan harus ditempatkan pada garis tersebut. Daerah berwenang untuk memberikan pembebasan dari ketentuan dalam butir g. Apabila Garis Sempadan Bangunan sebagaimana dimaksud pada butir a. kesehatan dan kenyamanan. serta belakang bangunan terhadap batas persil. Dalam hal garis sempadan pagar dan garis sempadan muka bangunan berimpit (GSB sama dengan nol). kepentingan umum.b. dan keserasian dengan lingkungan serta ketinggian bangunan. tersebut belum ditetapkan. g. Sepanjang tidak ada jarak bebas samping maupun belakang bangunan yang ditetapkan. Pada suatu kawasan/lingkungan yang diperkenankan adanya beberapa klas bangunan dan di dalam kawasan peruntukan campuran. Garis sempadan samping dan belakang bangunan a. begitu pula garis-garis sempadan untuk pantai. f. dan peraturan bangunan setempat. kenyamanan. garis sempadan loteng. Kepala Daerah dengan pertimbangan keselamatan. maupun pertimbangan lain dengan mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. Garis Sempadan Bangunan yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam butir a. garis sempadan menara. kesehatan. yang diatur di dalam rencana tata ruang. jaringan umum dan lapangan umum. Penetapan Garis Sempadan Bangunan didasarkan pada pertimbangan keamanan. d. 2.

maka jarak antara dinding tersebut minimal satu kali jarak bebas yang ditetapkan. dan pada setiap penambahan lantai/tingkat bangunan.50 m dari jarak bebas lantai di bawahnya sampai mencapai jarak bebas terjauh 12. jarak bebas samping dan jarak bebas belakang ditetapkan minimum 4 m pada lantai dasar. Pada daerah intensitas bangunan padat/rapat. maka jarak bebas samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. pada bangunan rumah tinggal rapat tidak terdapat jarak bebas samping. ii. jarak bebas di atasnya ditambah 0. Untuk bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan bahanbahan/benda-benda yang mudah terbakar dan atau bahan berbahaya. . dalam hal kedua-duanya memiliki bidang bukaan yang saling berhadapan. iv. f. iii. untuk perbaikan atau perombakan bangunan yang semula menggunakan bangunan dinding batas bersama dengan bangunan di sebelahnya. ii. disyaratkan untuk membuat dinding batas tersendiri disamping dinding batas terdahulu. sedangkan jarak bebas belakang ditentukan minimal setengah dari besarnya garis sempadan muka bangunan.5 m. maka Kepala Daerah dapat menetapkan syarat-syarat lebih lanjut mengenai jarakjarak yang harus dipatuhi. diluar yang diatur dalam butir a. Pada dinding batas pekarangan tidak boleh dibuat bukaan dalam bentuk apapun. maka jarak antara dinding atau bidang tersebut minimal dua kali jarak bebas yang ditetapkan. g Jarak bebas antara dua bangunan dalam suatu tapak diatur sebagai berikut: i. ii. d. dalam hal salah satu dinding yang berhadapan merupakan dinding tembok tertutup dan yang lain merupakan bidang terbuka dan atau berlubang. dan sedangkan untuk bangunan gudang serta industri dapat diatur tersendiri.c. struktur dan pondasi bangunan terluar harus berjarak sekurang-kurangnya 10 cm kearah dalam dari batas pekarangan. Pada daerah intensitas bangunan rendah/renggang. bidang dinding terluar tidak boleh melampaui batas pekarangan. maka garis sempadan samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. sisi bangunan yang didirikan harus mempunyai jarak bebas yang tidak dibangun pada kedua sisi samping kiri dan kanan serta bagian belakang yang berbatasan dengan pekarangan. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. e.

Kepala Daerah berwenang untuk menetapkan syarat-syarat lebih lanjut yang berkaitan dengan desain dan spesifikasi teknis pemisah di sepanjang halaman depan. 3. Tinggi pagar batas pekarangan sepanjang pekarangan samping dan belakang untuk bangunan renggang maksimal 3 m di atas permukaan tanah pekarangan. Penggunaan kawat berduri sebagai pemisah disepanjang jalan-jalan umum tidak diperkenankan. f.50 m di atas permukaan tanah. maka tinggi pagar pada GSJ dan antara GSJ dengan GSB pada bangunan rumah tinggal maksimal 1. maka jarak dinding terluar minimal setengah kali jarak bebas yang ditetapkan. g h Untuk bangunan-bangunan tertentu. dan apabila pagar tersebut merupakan dinding bangunan rumah tinggal bertingkat tembok maksimal 7 m dari permukaan tanah pekarangan. dengan setelah mempertimbangkan hal teknis terkait. c. atau ditetapkan lebih rendah setelah mempertimbangkan kenyamanan dan kesehatan lingkungan. j. dan belakang bangunan. Pemisah disepanjang halaman depan. Pagar sebagaimana dimaksud pada butir e harus tembus pandang. Kepala Daerah menetapkan ketinggian maksimum pemisah halaman muka. . serta keserasian lingkungan. Pada pemagaran ini tidak boleh diadakan pintu-pintu masuk. samping. dan untuk bangunan bukan rumah tinggal termasuk untuk bangunan industri maksimal 2 m di atas permukaan tanah pekarangan. b. kecuali jika jalur-jalur jaringan umum kota direncanakan sebagai jalur jalan belakang untuk umum . Kepala Daerah dapat menerapkan desain standar pemisah halaman yang dimaksudkan dalam butir a.iii. k. dengan memperhatikan keamanan. i. Antara halaman belakang dan jalur-jalur jaringan umum kota harus diadakan pemagaran. Untuk sepanjang jalan atau kawasan tertentu. Kepala Daerah dapat menetapkan lain terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir e dan f. e. Halaman muka dari suatu bangunan harus dipisahkan dari jalan menurut cara yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. kenyamanan. dan belakang bangunan a. Dalam hal pemisah berbentuk pagar. Dalam hal yang khusus Kepala Daerah dapat memberikan pembebasan dari ketentuan-ketentuan dalam butir a dan b. d. dengan bagian bawahnya dapat tidak tembus pandang maksimal setinggi 1 m diatas permukaan tanah pekarangan. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang tertutup yang saling berhadapan. samping.

dengan pertimbangan kepentingan kenyamanan kemudahan hubungan (aksesibilitas). keserasian lingkungan. dan penataan bangunan dan lingkungan yang diharapkan. samping maupun belakang bangunan pada ruas-ruas jalan atau kawasan tertentu. . Kepala Daerah dapat menetapkan tanpa adanya pagar pemisah halaman depan.l.

1. Bilamana dianggap perlu. lalu lintas dan ketertiban umum. Penempatan bangunan gedung tidak boleh mengganggu fungsi prasarana kota. Tata Letak Bangunan a. ii. Pada jalan-jalan tertentu. atau yang mampu sebagai pedoman arsitektur atau teladan bagi lingkungannya. Ketentuan Umum i. ii.(2) dapat diberikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. Tinggi rendah (peil) pekarangan harus dibuat dengan tetap menjaga keserasian lingkungan serta tidak merugikan pihak lain. 2. dengan ketentuan tidak melebihi KLB. (2) larangan membuat batas fisik atau pagar pekarangan. b. iv. pemasangan nama proyek dan sejenisnya dengan memperhatikan keamanan.III. Pada lokasi-lokasi tertentu Kepala Daerah dapat menetapkan secara khusus arahan rencana tata bangunan dan lingkungan. keindahan dan keserasian lingkungan. perlu ditetapkan penampang-penampang (profil) bangunan untuk memperoleh pemandangan jalan yang memenuhi syarat keindahan dan keserasian. harus memenuhi persyaratan teknis yang berlaku dan keserasian lingkungan. Bentuk Bangunan a. ARSITEKTUR BANGUNAN 1. Ketentuan Umum i. iii.1 b. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur lingkungan yang ada di sekitarnya. iii.1. persyaratan lebih lanjut dari ketentuanketentuan ini dapat ditetapkan pelaksanaaannya oleh Kepala Daerah dengan membentuk suatu panitia khusus yang bertugas memberi nasehat teknis mengenai ketentuan tata bangunan dan lingkungan. Pada daerah / lingkungan tertentu dapat ditetapkan: (1) ketentuan khusus tentang pemagaran suatu pekarangan kosong atau sedang dibangun. keselamatan. (3) ketentuan penataan bangunan yang harus diikuti dengan memperhatikan keamanan. (4) Kekecualian kelonggaran terhadap ketentuan butir III. Tapak Bangunan i. iv. Penambahan lantai atau tingkat suatu bangunan gedung diperkenankan apabila masih memenuhi batas ketinggian yang ditetapkan dalam rencana tata ruang kota. keselamatan. . ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III. Penambahan lantai/tingkat harus memenuhi persyaratan keamanan struktur.iv. keindahan dan keserasian lingkungan.

v. tinggi ruang diukur dari permukaan atas lantai sampai permukaan bawah dari lantai di atasnya atau sampai permukaan bawah kaso-kaso. v. dan atau rencana tata bangunan lingkungan yang ditetapkan untuk daerah/lokasi tersebut. 3. Perancangan Bangunan i.1. ii. vi. Bentuk. detail.1. Bangunan yang didirikan sampai pada batas samping persil tampak bangunannya harus bersambungan secara serasi dengan tampak bangunan atau dinding yang telah ada di sebelahnya.1.ii harus tetap mengacu pada prinsipprinsip konservasi energi. ii. tampak. Syarat-syarat lebih lanjut mengenai tinggi/tingkat dan sesuatunya ditetapkan berdasarkan ketentuan-ketentuan rencana tata ruang. iii. iii.b. Bentuk bangunan gedung sesuai kondisi daerahnya harus dirancang dengan mempertimbangkan kestabilan struktur dan ketahanannya terhadap gempa. kulit atau selubung bangunan harus memenuhi persyaratan konservasi energi. Suatu bangunan gedung tertentu berdasarkan letak ketinggian dan penggunaannya. Ketinggian ruang pada lantai dasar disesuaikan dengan fungsi ruang dan arsitektur bangunannya. Ketentuan Umum i.2. Dalam hal tidak ada langit-langit. iv. harus serasi dengan bangunan yang dilestarikan tersebut. Setiap bangunan gedung yang didirikan berdampingan dengan bangunan yang dilestarikan. Bentuk bangunan gedung harus dirancang sedemikian rupa sehingga setiap nuang dalam dimungkinkan menggunakan pencayahayaan dan penghawaan alami. iv. iii. iv. Ruangan dalam bangunan harus mempunyai tinggi yang cukup untuk fungsi yang diharapkan. Tata Ruang Dalam a. Untuk bangunan dengan lantai banyak.2. profil. Tinggi ruang adalah jarak terpendek dalam ruang diukur dari permukaan bawah langit-langit ke permukaan lantai. vii. harus dilengkapi dengan perlengkapan yang berfungsi sebagai pengaman terhadap lalu lintas udara dan atau lalu lintas laut. Aksesibilitas bangunan harus mempertimbangkan kemudahan bagi semua orang.ii. . termasuk para penyandang cacat dan usia lanjut. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan yang nyaman dan serasi terhadap lingkungannya. Ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir II 1.b.i tidak berlaku apabila sesuai fungsi bangunan diperlukan sistem pencahayaan dan penghawaan buatan. material maupun warna bangunan harus dirancang memenuhi syarat keindahan dan keserasian lingkungan yang telah ada dan atau yang direncanakan kemudian dengan tidak menyimpang dari persyaratan fungsinya. b. vi. Ketentuan pada butir II.

serta gedung sejenis lainnya diatur secara khusus. ruang istirahat. ruang makan. vi. ruang umum dan ruang pelayanan. gedung serbaguna. Bangunan tempat tinggal sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan pribadi. vii. Mezanin yang luasnya melebihi 50% dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. gedung pertunjukan.v. perluasan. dan pertokoan). Bangunan kantor sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan kerja. Suatu bangunan gudang. penambahan. gedung olah raga. Penempatan fasilitas kamar mandi dan kakus untuk pria dan wanita harus terpisah. xi. gedung pertemuan. bangunan monumental. iii. Bangunan toko sekurang-kurang memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan toko. maka ketinggian bangunan dianggap sebagai dua lantai. sekurang-kurangnya harus dilengkapi dengan kamar mandi dan kakus serta nuang kebutuhan karyawawan v. iv. serta ruang pelayanan kesehatan yang memadai. Ruang-rongga atap untuk rumah tinggal harus mempunyai penghawaan dan pencahayaan alami yang memadai. Bangunan atau bagian bangunan yang mengalami perubahan perbaikan.Jenis dan jumlah kebutuhan fasilitas penunjang yang harus disediakan pada setiap jenis penggunann bangunan ditetapkan oleh Kepala Daerah. viii. karakter arsitektur bangunan dan bagian-bagian bangunan serta tidak boleh mengurangi atau mengganggu fungsi sarana jalan keluar/masuk. ix. ii. kegiatan keluarga bersama dan kegiatan pelayanan. ruang ganti pakaian karyawan. b. atau ruang pertemuan dalam bangunan komersial (antara lain hotel. tidak boleh menyebabkan berubahnya fungsi/penggunaan utama. kegiatan umum dan pelayanan. kecuali untuk penggunaan ruang lobby. ix. vi. Tata ruang dalam untuk bangunan tempat ibadah. vii Ruang penunjang dapat ditambahkan dengan tujuan memenuhi kebutuhan kegiatan bangunan. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 meter. Perancangan Ruang Dalam i. keamanan dan keselamatan bangunan dan lingkungan. viii. Ruang rongga atap dilarang dipergunakan sebagai dapur atau kegiatan lain yang potensial menimbulkan kecelakaan/ kebakaran . perkantoran. x. gedung sekolah. . sepanjang tidak menyimpang dari penggunaan utama bangunan. Perubahan fungsi dan penggunaan ruang suatu bangunan atau bagian bangunan dapat diijinkan apabila masih memenuhi ketentuan penggunaan jenis bangunan dan dapat menjamin keamanan dan keselamatan bangunan serta penghuninya. Ruang rongga atap hanya dapat diijinkan apabila penggunaannya tidak menyimpang dari fungsi utama bangunan serta memperhatikan segi kesehatan. Perhitungan ketinggian bangunan. Suatu bangunan pabrik sehurang-kurangnya harus dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dan kakus.

Sarana dan prasarana pendukung harus menjamin bahwa pemanfaatan bangunan tersebut tidak mengganggu bangunan gedung lain dan lingkungan sekitarnya. ii. Tinggi ruang dalam bangunan tidak boleh kurang dari ketentuan minimum yang ditetapkan. Ketentuan Umum i. xvii. kenyamanan. tidak dianggap sebagai penambahan tingkat bangunan. Setiap penggunaan ruang rongga atap yang luasnya tidak lebih dari 50% dari luas lantai di bawahnya. xx. kesehatan dan keselamatan pengguna bangunan gedung. b. ketinggian dan penggunaannya harus dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan bangunan. 4. Syarat-syarat teknis lebih lanjut terhadap ketentuan tersebut di atas mengikuti standar teknis yang berlaku. – xix. Bangunan tertentu berdasarkan letak. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan. tidak berlaku jika letak lantai-lantai itu lebih tinggi dari 60 cm di atas tanah yang ada di sekelilingnya. Sarana dan Prasarana Bangunan Gedung i. termasuk pengaman/ rambu-rambu terhadap lalu-lintas udara dan atau laut. Cerobong asap dan atau gas harus dirancang memenuhi persyaratan pencegahan kebakaran. Lantai tanah atau tanah dibawah lantai panggung harus ditempatkan sekurang-kurangnya 15 cm diatas tanah pekarangan serta dibuat kemiringan supaya air dapat mengalir. maka tinggi maksimal lantai dasar ditetapkan tersendiri. Kelengkapan Bangunan a. . atau untuk tanah-tanah yang miring.xii. (b) Sekurang-kurangnya 25 cm diatas titik tertinggi dari sumbu jalan yang berbatasan. tidak boleh mengubah sifat dan karakter arsitektur bangunannya. ii Prasarana-prasarana pendukung bangunan harus direncanakan secara terintegrasi dengan sistem prasarana lingkungan sekitarnya iii. (2) Dalam hal-hal yang luar biasa. Tinggi lantai dasar suatu bangunan diperkenankan mencapai maksimal 1. dengan memperhatikan keserasian lingkungan. xviii Apabila tinggi tanah pekarangan berada di bawah titik ketinggian (peil) bebas banjir atau terdapat kemiringan yang curam atau perbedaan tinggi yang besar pada tanah asli suatu perpetakan. xiv Pada ruang yang penggunaannya menghasilkan asap dan atau gas harus disediakan lobang hawa dan atau cerobong hawa secukupnya. ketentuan dalam butir (1) tersebut.20 m di atas tinggi rata-rata tanah pekarangan atau tinggi rata-rata jalan. kecuali menggunakan alat bantu mekanis. xvi. xiii Setiap bukaan pada ruang atap. Tinggi Lantai Denah: (1) Permukaan atas dari lantai denah (dasar) harus: (a) Sekurang-kurangnya 15 cm diatas titik tertinggi dari pekarangan yang sudah dipersiapkan. xv.

sungai. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan tidak boleh dilanggar dalam mendirikan atau rnemperbaharui seluruhnya atau sebagian dari bangunan.1. d.e ini belum ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan. ekonomi maupun estetika. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir III. sungai besar.2. RTHP menupakan bagian integral dari penataan bangunan gedung dan sub-sistem dari penataan lansekap kota. j. Pintu masuk dan keluar area bangunan gedung harus direncanakan secara terintegrasi serta tidak mengganggu tata sirkulasi lingkungannya. Fungsi dan Persyaratan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan a. sosial. pohon-pohon menahun. sehingga dapat menjamin fungsi bangunan juga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh semua orang. Apabila Ruang Terbuka Hijau Pekarangan sebagaimana dimaksud pada butir 111. Dalam hal terdapat makro lansekap yang dominan seperti laut. peresapan air. f. g. Setiap perencanaan bangunan baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau. Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan gedung dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). . v. Ruang Terbuka Hijau adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kota/wilayah/halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. Parkir dan ketetapan lainnya.2. terhadap suatu kawasan/daerah dapat diterapkan b. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. h. gunung dan sebagainya. unsur-unsur estetik.2 RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1.1. c. III. KDB. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. i.iv. sirkulasi. Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. termasuk para penyandang cacat dan warga usia lanjut. Bangunan gedung harus direncanakan dan dirancang sebaik-baiknya.e dapat dipertimbangkan dan disesuaikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. e. Sebagai ruang transisi. maka dapat dibuat ketetapan yang bersifat sementara untuk lokasi/lingkungan yang terkait dengan setiap pemmohonan bangunan. KLB. KDH. tanah dan permukaan tanah.

keselamatan pemakai dan kepentingan umum. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan / penanaman di atas tanah. Ruang Sempadan Bangunan a. KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah. Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTHP sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah. dapat ditetapkan persyaratan khusus bagi permohonan ijin mendirikan bangunan dengan mempertimbangkan hal-hal pencagaran sumber daya alam. pagar. lantai basement pertama (B-1) tidak dibenarkan keluar dari tapak bangunan (di atas tanah) dan atap . 2. jalur pejalan kaki. KDH minimal 10% pada daerah sangat padat/padat. tiang bendera. e. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik.pengaturan khusus untok orientasi tata letak bangunan mempertimbangkan potensi arsitektural lansekap yang ada. tiang telepon di kedua sisi jalan / ruas jalan yang dimaksud. Untuk keperluan penyediaan RTHP yang memadai. seperti dari bahaya banjir. Tapak Basement a. Kebutuhan basement dan besaran koefisien tapak basement (KTB) ditetapkan berdasarkan rencana peruntukan lahan. Ketinggian maksimum/minimum lantai dasar bangunan dari muka jalan ditentukan untuk pengendalian keselamatan bangunan. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan peruntukan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. dan aspek aksesibilitas. KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan dalam kawasan-kawasan bangunan. d. pengendalian bentuk estetika bangunan secara keseluruhan/ kesatuan lingkungan. 3. 1. ketentuan teknis dan kebijaksanaan Daerah setempat. bak sampah dan papan nama bangunan. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan ruang sempadan depan bangunan. yang Sebagai perlindungan atas sumber-sumber daya alam yang ada. vegetasi besar / pohon. Keserasian tersebut antara lain mencakup: pagar dan gerbang. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. serta tergantung pada kondisi lahan. tidak di dalam wadah / container yang kedap air. k. c. b. bangunan penunjang seperti pos jaga. b. dimana terdapat beberapa klas bangunan dan kawasan campuran.

b Kepala Daerah dapat membentuk tim penasehat untuk mengkaji rencana pemanfaatan jeni-jenis tanaman yang layak tanam di Ruang terbuka Hijau Pekarangan berikut standar perlakuannya yang memenuhi syarat keselamatan pemakai. 4. iii.3 PERTANDAAN. iv. d. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. c. kestabilan tanah / wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. Hijau Pada Bangunan a. Setiap bangunan bukan rumah hunian diwajibkan menyediakan area parkir kendaraan sesuai dengan jumlah area parkir yang proporsional dengan jumlah luas lantai bangunan. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan.basement kedua (B-2) yang di luar tapak bangun harus berkedalaman sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan tanah tempat penanaman. batang dan cabangnya rapuh. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. Ketentuan Umum i. Penyediaan parkir di pekarangan tidak boleh mengurangi daerah penghijauan yang telah ditetapkan. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25% luas RTHP. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif.a dan III. atau mengganggu lingkungan di sekitarnya. Tata Tanaman a. Untuk pelaksanaan kepentingan tersebut pada butir III.5. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan. air.5. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Jumlah kebutuhan parkir menurut jenis bangunan ditetapkan sesuai dengan standar teknis yang berlaku. Prasarana parkir untuk suatu rumah atau bangunan tidak diperkenankan mengganggu kelancaran lalu lintas. ii. III. b. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir a.2. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roof-garden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan cara-cara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan.2. . b. 5.

distribusi dan perletakan fasilitas parkir diupayakan tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya. Parkir i. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa elemen perkerasan maupun tanaman). c. Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran. penghijauan. Jalan i. Elemen pedestrian (street fumiture) harus berorientasi pada kepentingan pejalan kaki. Sirkulasi i. dan termasuk untuk penataan elemen lingkungan. ii. memudahkan aksesibilitas. dan tidak terganggu oleh sirkulasi kendaraan. dan kendaraan pelayanan lainnya. . Jalur utama pedestrian harus telah mempertimbangkan sistem pedestrian secara keseluruhan. ii. Sirkulasi pertu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan. dan aksesibilitas dengan lingkungan sekitarnya. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang antar bangunan yang tidak hanya terbatas dalam Damija. iii. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus saling mendukung. rambu-rambu. nyaman. iv. iii. antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan. aman. serta disesuaikan dengan daya tampung lahan.b. penghijauan. pedestrian dan penghijauan. Penataan parkir tidak terpisahkan dengan penataan lainnya seperti untuk jalan. iii. Jalur pedestrian harus berhasil menciptakan pergerakan manusia yang tidak terganggu oleh lalu lintas kendaraan. dan memberikan pemandangan yang menarik. aksesibilitas terhadap subsistem pedestrian dalam lingkungan. Penataan parkir harus berorientasi kepada kepentingan pejalan kaki. d. Penataan jalan tidak dapat terpisahkan dari penataan pedestrian. serta antara individu pemakai bangunan dengan sarana transportasinya. Sirkulasi harus memberikan pencapaian yang mudah dan jelas. iii. Pedestrian i. dan ruang terbuka umum. papan informasi sirkulasi. Luas. e. ii. guna mendukung sistim sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. baik yang bersifat pelayanan publik maupun pribadi. iv. Pemilihan bahan pelapis jalan dapat mendukung pembentukan identitas lingkungan yang dikehendaki. Penataan pedestrian harus mampu merangsang terciptanya ruang yang layak digunakan/manusiawi. dan keJelasan kontinyuitas pedestrian. dll. ii.

tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya. b. b. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang mengganggu dan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan harus dilengkapi dengan AMDAL sesuai ketentuan yang berlaku. silau. motif. Kepala Daerah dapat mengatur pembatasa-pembatasan ukuran. dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku terancam punah. 3. atau habitat alaminya mengalami kerusakan. dan telah memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan. III.2. b. bahan. tetapi diharuskan melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai ketentuan yang berlaku. iii. Dampak Penting a. harus membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter lingkungan yang ingin diciptakan/ dipertahankan. c. . ii. pagar. dan lokasi dari signage. menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan. menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui. Pertandaan (Signage) a. visual yang tidak menarik. c. Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk lingkungan/ kawasan tertentu. Penempatan signage termasuk papan iklan/ reklame. atau ruang publik. Pencahayaan ruang luar bangunan harus disediakan dengan memperhatikan karakter lingkungan. yang melampaui baku mutu lingkungan menurut peraturan penundang-undangan yang bertaku. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan a. Pencahayaan yang dihasilkan harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum Pencahayaan yang dihasilkan dengan telah menghindari penerangan ruang luar yang berlebihan. baik yang penempatannya pada bangunan keveling. dan komponen promosi. Kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan adalah bila rencana kegiatan tersebut akan: i. fungsi dan arsitektur bangunan estetika amenity. berdasarkan pertimbangan ilmiah.4 PENGELOLAAN DAMPAK LAINGKUNGAN 1. mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan.

(2) Bangunan yang didirikan harus terletak pada jarak tertentu dari batas-batas pekarangan atau bangunan lainnya dalam pekarangan sesuai rekomendasi dinas terkait.1. adalah sesuai Ketentuan pengelolaan Dampak Lingkungan yang berlaku. menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung (hutan lindung.3. Kegiatan yang dimaksud pada butir III. (3) Bagian dinding yang terlemah dari bangunan tersebut diarahkan ke daerah yang paling aman. Ketentuan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang harus melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adaiah sesuai ketentuan yang berlaku.iv. harus dapat menjamin keamanan keselamatan serta kesehatan penghuni dan lingkungannya. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan a. mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi. . iii. merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi. Ketentuan Pengelolaan Dampak Lingkungan Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang wajib AMDAL. vii. ii. cagar alam. dan atau pemerintah. menyimpan atau memproduksi bahan radioaktif. d. 4. v.c merupakan kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. Bangunan yang menurut fungsinya menggunakan. Persyaratan Bangunan i. taman nasional. dan sebagainya) yang telah ditetapkan menunut peraturan perundang-undangan. Pada bangunan yang menggunakan kaca pantul pada tampak bangunan. suaka margasatwa. sinar yang dipantulkan tidak boleh melebihi 24% dan dengan memnperhatikan tata letak serta orientasi bangunan terhadap matahari. mengakibatkan/ menimbulkan konflik atau kontroversi dengan masyarakat. racun. dapat diberikan ijin apabila: (1) Lokasi bangunan terletak di luar lingkungan perumahan atau berjarak tertentu dari jalan umum. 3. 2. Untuk mendirikan bangunan yang menurut fungsinya menggunakan menyimpan atau memproduksi bahan peledak dan bahan-bahan lain yang sifatnya mudah meledak. mudah terbakar atau bahan lain yang berbahaya. vi. jalan kereta api dan bangunan lain di sekitarnya sesuai rekomendasi dinas teknis terkait.

ii. Setiap kegiatan konstruksi yang menimbulkan genangan baru sekitar tapak bangunan harus dilengkapi dengan saluran pengering genangan sementara yang nantinya dapat dibuat permanen dan menjadi bagian sistem drainase yang ada. Sarana pongumpulan dan pongolahan air limbah harus dipelihara secara berkala untuk menjamin kualitas effluen yang memenuhi standar baku mutu limbah cair. v.iv. Penggunaan hammer pile untuk pemancangan pondasi hanya diijinkan bila tidak ada bangunan rumah sakit di sekitarnya. Pembuangan limbah cair dan padat i. Sampah yang dikumpulkan di sarana pengumpulan sampah padat harus selalu dikosongkan setiap hari untuk menjamin agar lalat tidak berkembang biak dan mengganggu kesehatan lingkungan bangunan gedung. Penggunaan peralatan konstruksi yang diperkirakan menimbulkan keretakan bangunan. Persyaratan Pelaksanaan Konstruksi i. Setiap kegiatan pengeringan (dewatering) yang menimbulkan kekeringan sumur penduduk harus memperhitungkan pemberian kompensasi berupa penyediaan air bersih kepada masyarakat selama pelaksanaan kegiatan. harus dilengkapi dengan sarana pengumpulan dan pengolahan limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan yang diijinkan dan atau ditetapkan oleh instansi yang berwenang. iv. maka rencana teknis sistem jalan akses keluar masuk bangunan gedung harus mendapat ijin dari dinas teknis yang berwenang. iii. Apabila bangunan yang menurut fungsinya akan membangkitkan LHR >= 60 SMP per 1000 ft2 luas lantai. b. Setiap bangunan yang menghasilkan limbah cair dan padat atau buangan lainnya yang dapat menimbulkan pencemaran air dan tanah. Guna pemulihan cadangan air tanah dan mengurangi debit air larian. iii. Bangunan yang menurut fungsinya memerlukan pasokan air bersih dengan debit > 5 l/dt atau > 500 m3/hari dan akan mengambil sumber air tanah dangkal dan atau air tanah dalam (deep well) harus mendapat ijin dari dinas terkait yang bertanggung jawab serta menggunakan hanya untuk keperluan darurat atau alternatif dari sumber utama PDAM. c. vi. . Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dapat menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas umum harus dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang dioperasikan dan dikendalikan oleh tim pengatur lalu lintas. atau tidak ada bangunan rumah yang rawan keretakan. maka setiap tapak bangunan gedung harus dilengkapi dengan bidang resapan yang ukurannya disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. ii. atau sampai sumur penduduk pulih seperti semula. v. sekelilingnya harus dilengkapi dengan kolam peredam getaran.

a dapat ditetapkan larangan membangun atau menetapkan tata cara dan persyaratan khusus di dalam membangun. Pada daerah bencana sebagaimana dimaksud pada butir III. Daerah sebagaimana dimaksud pada butir III. Lingkungan bangunan yang mengalami kebakaran dapat ditetapkan sebagai daerah tertutup dalam jangka waktu tertentu. bagi bangunanan yang rusak atau membangun bangunan sementara untuk kebutuhan darurat dalam batas waktu penggunaan tertentu dan dapat dibebaskan dari izin. Bangunan-bangunan pada lingkungan bangunan yang mengalami bencana. c.5. Pengelolaan Daerah Bencana a. keselamatan dan kesehatan dapat diperkenankan mengadakan perbaikan darurat. b.3.5. dengan memperhatikan keamanan. keselamatan dan kesehatan lingkungan.a.5. . dapat ditetapkan sebagai daerah peremajaan kota. e. dengan memperhatikan keamanan. d. Suatu daerah dapat ditetapkan sebagai daerah bencana. atau dilarang membangun bangunan. daerah Banjir dan yang sejenisnya.3. dibatasi.

harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. . Struktur bangunan yang direncanakan secara umum harus memenuhi persyaratan keamanan (safety) dan kelayakan (serviceability). Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan. IV. beban sementara (angin. c. 1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. Struktur bangunan harus direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa. sehingga pada kondisi pembebanan maksimum. Struktur bangunan harus direncanakan mampu memikul semua beban dan / atau pengaruh luar yang mungkin bekerja selama kurun waktu umur layan struktur.beban yang mungkin bekerja selama umur layan struktur. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. termasuk kombinasi pembebanan yang kritis (antara lain: meliputi beban gempa yang mungkin terjadi sesuai zona gempanya). gempa) dan beban khusus. seperti : 2. Persyaratan Struktur a. dan beban-beban lainnya yang secara logis dapat terjadi pada struktur. d. harta benda dan masih dapat diperbaiki. b. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. Penentuan mengenai jenis. Dalam hal bilamana bahan struktur bangunan belum mempunyai SNI maka bahan struktur bangunan tersebut harus memenuhi ketentuan teknis yang sepadan dari negara/ produsen yang bersangkutan. 2. termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan. STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. termasuk beban tetap. b. keruntuhan yang terjadi menimbulkan kondisi struktur yang masih dapat mengamankan penghuni.IV. Persyaratan Bahan a.2 PEMBEBANAN 1 Analisa struktur harus dilakukan untuk memeriksa tanggap struktur terhadap beban . c. intensitas dan cara bekerjanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku.

Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan dengan Agregat Ringan. STRUKTUR ATAS 1. b. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung. SNI -1734. b. g.3 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung SNI 1726. d. e. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja. c. Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. SNI-3449. Tata Cara Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung. Konstruksi beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung. SNI-1729 Tata cara / pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja. SNI-2834 Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung SNI 1727. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. d. SNI-1728 Tata Cara Perencanaan Beton dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung. 2. 3. seperti: a. c. f. Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar-standar yang berlaku seperti: a. SNI-3976.a. . Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung SNI 2847. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. b. IV. seperti: a. SNI-3430. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku.

f. c. h. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Tata Cara Penanggulangan Rayap pada Bangunan Rumah dan Gedung dengan Temmitisida. SNI-1736. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi. i. c. Perencanaan konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli struktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut. SNI-2404. 4. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung. tata cara. 5. Konstruksi dengan Bahan dan Teknologi Khusus a. b. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Radiologi di Rumah Sakit.b. Tata Cara Dasar Koordinasi Modular untuk Perancangan Bangunan Rumah dan Gedung. SNI-1745. SNI-1963. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar-standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis. standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanean suatu bangunan yang harus dipenuhi. Tata Cara Perancangan Bangunan Sederhana Tahan Angin. SNI-2394. SNI-2405 . Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. d. SNI-2397. d. g. SNI-2395. Tata Cara Pencegahan Rayap pada Pembuatan Bangunan Rumah dan Gedung. SNI-2407. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut. b. Tata cara/ pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu. SNI-1735. antara lain: a. e.

d. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. Pondasi Langsung a.4 STRUKTUR BAWAH 1. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. Pondasi Dalam a. Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan percobaan pembebanan. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan korelasi tipikal parameter tanah yang lain. Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai. c. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. d. b. b. 2. Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang. kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh Dinas Bangunan. Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1 % dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik secara random. Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas. e. Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi. c.IV. kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim. .

Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan. beban yang didukungnya.6 DEMOLISI STRUKTUR 1. sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur. Kriteria Demolisi Demolisi struktur dilakukan apabila: a. Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan. maupun bencana lainnya. Ketidak andalan struktur akibat beban sendiri dan atau beban yang didukungnya disebabkan oleh karena umur bangunan yang secara teknis telah melebihi umur yang direncanakan. dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. dan kerusakan struktur sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki karena alasan teknis dan atau . beban akibat perilaku manusia. Ketidak andalan struktur akibat beban perilaku alam dan atau manusia dapat diakibatkan oleh adanya kebakaran. atau karena dilampauinya beban yang harus dipikulnya sesuai rencana sebagai akibat berubahnya fungsi bangunan atau kesalahan dalam pemanfaatannya. Keselamatan Struktur a. dan atau beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. c. Struktur bangunan sudah tidak andal. c. beban akibat perilaku manusia maupun beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. d. Untuk mencegah terjadinya keruntuhan struktur yang tidak diharapkan pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/ petunjuk teknis yang berlaku. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandaian bangunan gedung. IV. b.IV. Keselamatan struktur tergantung pada keandalan struktur tersebut terhadap gaya-gaya yang dipikulnya. b. d. Keruntuhan Struktur a. 2. Keruntuhan sruktur adalah diakibatkan oleh ketidak andalan suatu sistem atau komponen stnuktur untuk memikul beban sendiri. gempa.5 KEANDALAN STRUKTUR 1. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/ Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung.

serta dapat membahayakan pengguna bangunan. b. Prosedur dan Metoda a.ekonomis. Prosedur. 2. . Penyusunan prosedur. metoda dan rencana demolisi struktur dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. b. Adanya perubahan peruntukan lokasi/fungsi bangunan. masyarakat dan lingkungan. metoda dan rencana demolisi struktur harus memenuhi persyaratan teknis untuk pencegahan korban manusia dan untuk mencegah kerusakan serta dampak lingkungan. dan secara teknis struktur bangunan tidak dapat dimanfaatkan lagi.

a. yang sesuai dengan: i. cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. intensitas kebakaran.V. yang menghubungkan kompartemen api. sistem proteksi aktif yang dipasang dalam bangunan. dan x. sampai dengan tingkat tertentu. . vi. d. beban api. ii. cukup waktu untuk evakuasi penghuni secara aman. iv. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana/ prasarana pengamanan dan pencegahan penyebaran api. iii. dan ii. sehingga: i. iv. tingkat bahaya api. vii sistem proteksi aktif yang dipasang pada bangunan. iii. Ketahanan Api dan Stabilitas.ukuran setiap kompartemen api. fungsi atau penggunaan bangunan. dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. fungsi atau penggunaan bangunan. v. serta gas-gas beracun yang mungkin timbul.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1. jumlah. Bahan dan komponen bangunan harus tahan-penyebaran api. waktu evakuasi ii. mobilitas dan karakteristik penghuni lainnya. Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran. viii. yang sesuai dengan: i. PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. Ruang perawatan pasien dari bangunan klas 9a harus dilindungi dari penyebaran api dan asap untuk memberi waktu cukup untuk evakuasi yang tertib dalam keadaan darurat. membatasi berkembangnya asap dan panas. ii. iii. kedekatan dengan bangunan lain. ketinggian bangunan. antara bangunan. b. ix intervensi pasukan pemadam kebakaran. c. Bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan yang pada tingkat tertentu akan mempertahankan stabilitas struktural selama kebakaran. terutama pada bangunan klas 2. elemen bangunan lainnya. e. 3 atau bagian dan bangunan klas 4: i.

Pada konstruksi ini terdapat dinding pemisah pembentuk kompartemen untok mencegah penjaiaran panas ke ruang-ruang yang bersebelahan di dalam bangunan dan dinding luar untuk mencegah penjalaran api ke dan dari bangunan didekatnya. ukuran kompartemen. Tipe A: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuknya adalah tahan api dan mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran pada bangunan minimal 2 (dua) jam. sehingga peralatan darurat yang tersedia dalam bangunan tetap beroperasi pada jangka waktu yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran. atau potensial dapat meledak. iii. Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api. sistem proteksi aktif. sehingga diperoleh tingkat kinerja yang memadai dari elemen tersebut. . terdapat 3 (tiga) tipe konstruksi yaitu: a. untuk memudahkan tindakan pasukan pemadam kebakaran secara memadai. yaitu pada bukaan. Tipe B: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuk kompartemen penahanan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam bangunan dan unsur dinding luarnya mampu menahan penjalaran kebakaran dari luar bangunan selama sekurang kurangnya 1 (satu) jam. dan vi. g. i. 2. Setiap elemen bangunan yang disediakan untuk menahan penyebaran api. ii. keruntuhan tersebut dapat dihindari. Dinding luar beton yang dapat runtuh dalam bentuk panel yang utuh (misalnya beton pracetak) harus dirancang sehingga pada kejadian kebakaran dalam bangunan. h. dan lubang untuk instalasi harus dilindungi sedemikian. sesuai dengan: i. j. b. iv. v. tingkat bahaya api. Tipe Konstruksi Tahan Api. sambungan konstruksi. intensitas kebakaran. c. Akses ke dan sekeliling bangunan harus disediakan bagi kendaraan dan personil pemadam kebakaran. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api dari peralatan utilitas yang mempunyai pengaruh bahaya api yang tinggi.f. beban api. Tipe C: Konstruksi yang terbentuk dari unsur-unsur struktur yang dapat terbakar dan tidak dimaksudkan untuk mampu bertahan terhadap api. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api. fungsi bangunan.

6. dan .4 Ukuran maksimum dari kompartemen kebakaran Klasifikasi Bangunan Maksimum luasan lantai Klas 5 atau 9b Maksimum 48.1.8 atau 9a luasan lantai (kecuali daerah perawatan pasien Maksimum 30.500 m2 3.3 Tipe Konstruksi yang diwajibkan KETINGGIAN (dalam jumlah lantai) KLAS BANGUNAN 4 atau lebih 3 2 1 4. 2. bagian ini tidak berlaku untuk bangunan klas 1 atau 10.000 m3 volume Maksimum 5.000 m3 volume Tipe Konstruksi bangunan Tipe A Tipe B Tipe C 8. melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan.000 m2 b Pemberlakuan.000 m2 5.1.000 m2 Klas 6.000 m2 3.7. mengendalikan kebaran api agar tidak menjelar ke bangunan lain yang berdekatan.8 A B C C Kompartemenisasi dan Pemisahan Ukuran Kompartemen Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat membatasi kobaran api yang potensial.500 m3 12.7.3.500 m3 18.000 m3 33. perambatan api dan asap. ii. iii.3. agar dapat: i. Tipe konstruksi yang diwajibkan Minimum tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai dengan ketentuan pada tabel berikut: Tabel V. i.9 A A B C 5. Tabel V.500 m2 2.000 m3 21. menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran. a.

4 bila: i. ventilasi. Bagian bangunan. atau (2) ketinggian langit-langit lebih dari 12 meter.000 m2 dan volumenya tidak melebihi 108. dan apabila: (1) ketinggian langit-langit kompartemen tidak lebih dari 12 meter. i. tanki air. atau: ii. d dan e tidak berlaku untuk tempat parkir umum yang dilengkapi dengan sistem sprinkler. Kebutuhan ruang terbuka dan jalan masuk kendaraan. ketentuan pada butir c. namun berjarak tidak lebih dari 6 meter dengannya. atau peralatan Lift.e. dilengkapi dengan sistem pembuang asap sesuai ketentuan yang berlaku.000 m3 dengan ketentuan: (1) bangunan klas 7 atau 8 kurang dari 2 lantai dan terdapat ruang terbuka disekeliling bangunan tersebut. i. Untuk bangunan yang memiliki lubang atrium.ii. (2) bangunan klas 5 s.i yang lebamya tidak kurang dari 18 meter.e.e. kecuali seperti yang diijinkan pada butir d. ruang dalam bangunan yang karena fungsinya mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran.4 dan butir f. dan (1) setiap bangunan harus memenuhi ketentuan butir i atau ii di atas. c. yang memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut pada butir 4. e. (2) bila jarak antara bangunan satu dengan lainnya kurang dari 6 meter.d. Bangunan dengan luas tidak melebihi 18.000 m2 atau 108. Ukuran kompartemen pada bangunan dapat melebihi ketentuan dari yang tersebut dalam Tabel v. iii. Bagian dari bangunan yang hanya terdiri dari peralatan pendingin udara. 9 yang dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler serta terdapat jalur kendaraan sekeliling bangunan yang memenuhi ketentuan butir 4. d. maka bagian dari ruang atrium yang dibatasi oleh sisi tepi di sekeliling bukaan pada lantai dasar sampai dengan langit-langit dari lantai tidak diperhitungkan sebagai volume atrium. .000 m3 dengan sistem sprinkler.ii. maka seluruhnya dianggap sebagai satu bangunan dan secara bersama harus memenuhi ketentuan butir i. 7. tempat parkir tak beratap atau suatu panggung terbuka.ii. Ruang terbuka yang diperlukan harus: (1) Seluruhnya berada di dalam kapling yang sama kecuali jalan. iv. tidak diperhitungkan sebagai luas lantai atau volume dari kompartemen atau atrium iii.1. atau ii. ii. 6. Bangunan dengan luasan melebihi 18. Bila terdapat lebih dari satu bangunan pada satu kapling. Ukuran dari setiap kompartemen kebakaran atau atrium bangunan klas 5. Batasan umum luas lantai.1. atau tempat umum yang berdampingan dengan kapling tersebut. sungai. atau unit utilitas sejenis dan berada di puncak bangunan. 8 atau 9 harus tidak melebihi luasan lantai maksimum atau volume maksimum seperti ditunjukkan dalam Tabel V. dilengkapi dengan sistem pembuangan asap atau ventilasi asap dan panas sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku. dan dikelilingi jalan masuk kendaraan sesuai dengan butir 4. harus merupakan suatu kompartemen terhadap penjalaran api. Bangunan-bangunan besar yang diisolasi. asap dan gas beracun.

atau akan menambah risiko merambatnya api ke bangunan yang berdekatan dengan kapling tersebut. maka bukaan harus dilindungi dengan penutup tahan minimal sama dengan ketahanan api dinding atau lantai. kecuali untuk gardu jaga dan bangunan penunjang ( seperti gardu listrik dan ruang pompa). dan (4) tidak ada bangunan diatasnya. Jalan masuk kendaraan harus: (1) sebagai jalan masuk bagi kendaraan darurat dan lintasan dari jalan umum. dan lubang utilitas harus diberi penyetop api untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan. Seluruh bukaan harus dilindungi.ii (3) tidak untuk penyimpanan dan pemrosesan material. Tangga dan lift tidak boleh berada pada satu shaft yang sama. Pemisahan Pemisahan vertikal pada bukaan di dinding luar. c. tidak menghalangi penanggulangan kebakaran pada bagian manapun dari tepian kapling. shaft ventilasi. (5) bila terdapat jalan umum yang memenuhi (1) s. Pada bangunan klas 2 dan 3.d. f. (2) lebar bebas minimum 6 meter dan tidak ada bagian yang lebih jauh dari 18 meter terhadap bangunan. . 5. Proteksi Bukaan a. bila salah satu tangga atau lift tersebut diwajibkan berada dalam suatu shaft tahan api. ii. (4) di atas maka jalan tersebut dapat beriaku sebagai jalan lewatnya kendaraan atau bagian dari padanya. dan pemisahan pada shaft lift mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. (4) memiliki kapasitas beban dan tinggi bebas yang memudahkan operasi mobil pemadam kebakaran.(2) termasuk jalan masuk kendaraan sesuai ketentuan butir 4. dan . dan tertutup pada setiap lantai. Tangga dan Lift pada satu shaft. yang tidak melanggar batas lebar dari ruang terbuka. pemisahan oleh dinding tahan api. g. koridor umum yang panjangnya lebih dari 40 meter harus dibagi menjadi bagian yang tidak lebih dari 40 meter dengan dinding yang tahan asap. Bukaan vertikal pada bangunan yang dipergunakan untuk shaft pipa. h. serta di atas jalan tersebut tidak boleh dibangun apapun kecuali hanya untuk kendaraan dan pejalan kaki (3) dilengkapi jalan untuk pejalan kaki yang memadai.e. dan shaft instalasi listrik harus sepenuhnya tertutup dengan dinding dari bawah sampai atas. Apabila harus diadakan bukaan pada dinding sebagaimana dimaksud pada butir b. mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. b. Koridor umum pada bangunan klas 2 dan 3.

dan tidak berada pada atau dekat dengan lantai dasar bangunan. f. atau (3) 6 m dari bangunan lain pada persil yang sama. dan sebagainya harus memenuhi persyaratan dan dapat dibuktikan melalui pengujian oleh lembaga uji yang diakui dan terakreditasi. bila luas lubang/sambungan tersebut tidak lebih luas dari yang diperlukan. jarak antara bukaan pada dinding luar pada kompartemen kebakaran harus tidak kurang dari yang tercantum pada Tabel V. Pemisahan Bukaan Pada Kompartemen Kebakaran.1. Kecuali bila dilindungi sesuai ketentuan tersebut pada butir 9. iii.1. dan jarak antara lubang ventilasi tak kurang dari 2 m pada dinding yang sama. dan ii. bangunan-bangunan klas 1 atau klas 10. dan bila digunakan sprinkler pembasah-dinding maka sprinkler tersebut harus ditempatkan di bagian luar bangunan. Sarana dan atau peralatan proteksi seperti penyetop api.d.d. maka tidak boleh menempati lebih dari 1/3 luas dinding luar dari lantai dimana bukaan tersebut berada. g. lubang tirai. bila luas penampang masing-masing tak melebihi 45. kecuali bila bukaan-bukaan tersebut pada bangunan klas 9b dan diberlakukan seperti bangunan panggung terbuka. Bukaan pada dinding luar yang perlu memiliki TKA harus: i.5 JARAK ANTARA BUKAAN PADA KOMPARTEMEN KEBAKARAN YANG BERBEDA e. atau (2) 6 m dari sempadan jalan yang membatasi persil.d kurang dari 180° 180° atau lebih Jarak Minimal Antara Bukaan 6m 5m 4m 3m 2m nol . Tabel V. yang bukan dari klas 10.000 mm2. ii sambungan pengendali. Ketentuan proteksi pada bukaan ini tidak berlaku untuk: i. 90° Lebih darii 90° s. dan sambungan antara panel di dinding luar dari beton pracetak. berjarak dari suatu obyek sumber api tidak kurang dari: (1) 1 m pada bangunan dengan 1 (satu) lantai. bila bukaan tersebut wajib dilindungi sesuai dengan butir ii.d. 45° Lebih dari 45° s.5. dan iii. bila bukaan di dinding luar tersebut terhadap suatu sumber api terletak kurang dari: (1) 3 m dari batas belakang persil bangunan. damper. Proteksi Bukaan Pada Dinding Luar. atau (2) 1. Sudut Terhadap Dinding 0° (dinding-dinding saling berhadapan) Lebih dari 0° s.5 m pada bangunan dengan lebih dari 1 (satu) lantai. maka harus dilindungi sesuai dengan ketentuan butir h. lubang ventilasi yang tidak mudah terbakar (non combustible ventilators). dan sejenisnya di dinding luar dari konstruksi pasangan.d. 135° Lebih dari 134° s.

dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. V. di mana: (a) bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian klas 4. asalkan hidran dapat menjangkau seluruh satuan peruntukan bangunan. yang sekurang-kurangnya satu pompa digerakkan oleh motor bakar atau motor listrik yang dicatu dari daya generator darurat.(menutup otomatis atau secara tetap dipasang pada posisi tertutup). Pintu. i. ii.h. SNI 1745. Hidran kebakaran. (4) bila pompa kebakaran dihubungkan dengan jaringan pasokan air dan dipasang pada bangunan dengan ketinggian efektif kurang dari 25 m. jendela. 6.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. (3) bila dilengkapi dengan pompa kebakaran harus terdiri dari: (a) 2 (dua) pompa. atau . atau jendela kebakaran dengan TKA -/60/. Sistem hidran harus dipasang pada bangunan: (1) yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 m2. (2) Jendela: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. atau memasang penutup api otomatis dengan TKA -/60/(3) Bukaan-bukaan lain: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. kecuali pada satuan peruntukan bangunan. dan penutup kebakaran harus memenuhi ketentuan butir i di atas dan standar teknis yang berlaku. atau konstruksi dengan TKA tidak kurang dari-/60/-. dan (2) hidran dalam bangunan harus melayani hanya di lantai hidran tersebut ditempatkan. 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih dari 2 (dua). atau memasang pintu kebakaran dengan TKA -/60/30 (dapat menutup sendiri secara otomatis). jendela dan bukaan lainnya harus dilindungi sebagai berikut: (1) Jalan masuk/pintu : sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. i. ii. dan (2) terdapat regu pemadam kebakaran. Sistem Pemadam Kebakaran a. maka jalan masuk. atau (b) motor listrik yang dicatu dari generator darurat. atau (b) bangunan klas 5. Metoda Proteksi Yang Diperbolehkan. (b) 2 (dua) pompa yang digerakkan oleh motor listrik yang dihubungkan dengan sumber tenaga yang terpisah satu sama lain. (1) harus dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. Bila diperlukan proteksi. 7. satu pompa digerakkan oleh: (a) motor-bakar. Sistem hidran kebakaran.

Sistem Hose Reel harus disediakan: (1) untuk melayani seluruh bangunan. untuk pompa yang ditempatkan di luar bangunan. dipertimbangkan sebagai kompartemen kebakaran. 7. harus: (1) dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. maka dinding rumah pompa dan bagian dinding luar yang berjarak 2 m dari samping rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa. atau: (2) bila hidran dalam tidak dipasang. dilayani oleh Hose Reei tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari satu unit hunian tersebut dengan syarat Hose Reel melayani seluruh unit hunian. ii. (2) melayani hanya lantai dimana alat ini ditempatkan. tahan cuaca. dan dengan konstruksi yang mempunysi TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan bagi suatu dinding tahan api untuk klasifikasi bangunannya. Hose Reel i. serta harus dirancang untuk memenuhi tekanan dan laju aliran yang disyaratkan untuk operasi petugas pemadam kebakaran. dan (b) pada bangunan klas 5. Sistem Hose Reel. atau dinding antara bangunan dan rumah pompa yang berjarak 2 m dari sisi rurnah pompa dan 3 m di atas rumah pompa harus mempunyai TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan untuk dinding tahan api sesuai klas bangunannya. 8 atau 9 yang tidak lebih dari 2 (dua) lantai. bila sistem pasokan air mengambil air dari sumber statis. pemasangan pompa kebakarannya dalam bangunan harus pada tempat yang: (a) mempunyai jelur keluar ke jalan atau ruang terbuka. kecuali pada satu unit hunian. satu unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4.(5) (6) (7) (c) motor listrik yang dihubungkan pada sumber tenaga yang terpisah satu sama lain melalui fasilitas pemindah daya otomatis. 6. tempat pompa harus terpisah dari bangunan. maka harus disediakan sambungan yang cocok dan jalan masuk kendaraan pemadam kebakaran untuk memudahkan petugas pemadam kebakaran memompa air dari sumber tersebut dan harus disediakan sambungan yang berdekatan dengan lokasi tersebut untuk meningkatkan tekanan air dalam sistem gedung. dan jika dalam jarak 6 m dari bangunan. atau (b) jika bangunan tidak dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler sesuai ketentuan yang berlaku. b. (a) pada bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian Klas 4 dilayani oleh Hose Reel tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari unit hunian tersebut. dimana satu atau lebih hidran dalam dipasang. mempunyai jalur keluar langsung ke jalan atau ruang terbuka. maka bangunan rumah pompa tersebut harus jelas terlihat. untuk melayani setiap kompartemen kebakaran dengan luas lantai lebih dari 500 m2 dan untuk maksud butir ini. .

Konstruksi Atrium. Ruang Pertunjukan. (d) tiap katup yang mengatur aliran air dari sumber air utama ke Hose Reel harus dijaga pada posisi terbuka oleh pengunci dari logam.1 Persyaratan Pemakaian Sprinkler Jenis bangunan Kapan Sprinkler diperlukan: Semua klas bangunan: 1.500 m2. Bangunan Rumah Sakit. (b) volume ruangan lebih dari 21. atau (b) di dalam bangunan sekitar 4 m dari pintu keluar. atau (d) kombinasi (a). atau (c) di dalam bangunan berdekatan dengan hidran dalam (selain hidran yang dipasang di pintu keluar yang diisolasi tahan api). Tidak termasuk lapangan parkir terbuka. dan (c). Termasuk lapangan parkir terbuka dalam bangunan campuran. Lebih dari 2 (dua) lantai. c. maka: (a) dipelihara kebutuhan kecepatan aliran dari hose reel. (c) jaringan pipa memenuhi syarat pembagian pasokan air.(3) (4) (5) (6) Memiliki slang kebakaran yang harus diletakkan sedemikian rupa untuk menghindari partisi atau penghalang di dalam mencapai setiap bagian lantai dari tingkat yang bersangkutan Hose reel yang dipasang mengikuti butir (3) diatas ditempatkan: (a) di luar bangunan. Ruang Pertemuan Umum. Bila dipasok oleh sumber air utama dengan diameter nominal lebih besar dari 25 mm dan yang dihubungkan dengan sumber air untuk hidran. Bila dihubungkan dengan meteran air. (b). Pada bangunan yang tinggi efektifnya lebih dari 25 m Dalam kompartemenisasi dengan salah satu ketentuan berikut: (a) luas lantai lebih dari 3. 2. (b) diameter pipa dari meteran air atau instalasi PAM berdiameter tidak kurang dari 25 mm. yang merupakan bangunan terpisah Bangunan pertokoan (kbs 6). Teater.000 m3. Luas panggung dan belakang panggung lebih dari 200 m Tiap bangunan beratrium Untuk memperoleh ukuran kompartemen . Sistem sprinkler harus dipasang pada bangunan sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel V.2.d harus dipasang pada sambungan ke saluran utama. sebuah katup yang memenuhi butir 5. sehingga hose tidak perlu melintasi pintu keluar masuk yang dilengkapi dengan pintu kebakaran atau pintu asap. Sistem Sprinkler i.

108. jika: (a) sprinkler terpasang diselunuh bangunan.000 m3. Sistem sprinkler harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: (1) Standar perancangan dan pemasangan sprinkler otomatis sesuai standar teknis yang berlaku.000 m2 den volume Bangunan berukuran begar den terpisah. ·) (b) Volume lebih dari 12. ii. Tanpa mengurangi ketentuan dalam standar teknis yang berlaku mengenai sprinkler. Tanpa mengurangi ketentuan atau standar yang berlaku bangunan atau bagian bangunan dianggap bersprinkler.000 m3.000 m2 dan volume 108. Katup kontrol sprinkler harus ditempatkan dalam suatu ruang yang aman atau ruang tertutup yang berhubungan langsung ke jalan atau ruang terbuka. dan (ii) setiap bukaan pada konstruksi pemisah antara bagian ter-sprinkler dan bagian tak ter-sprinker diproteksi sesuai ketentuan proteksi pada bukaan (3) Katup kontrol sprinkler. Ruang parkir.yang lebih besar: (a) bangunan klas 5 . (2) Bangunan bersprinkler. (4) Pasokan air. . selain nuang parkir terbuka Bila menampung lebih dari 40 kendaraan.000 m3. *) Jenis bangunan dengan resiko bahaya kebakaran tinggi sesuai standar teknis yang berlaku.9 dengan luas maksimum 18. dengan salah satu dari Bangunan dengan risiko bahaya kebakaran 2(dua) persyaratan : 2 (dua) persyaratan berikut: (a) Luas lantai melebihi 2. amat tinggi. (b) semua bangunan dengan luas lantai lebih besar dari 18. SNI-3989. pasokan air untuk sistem sprinkler harus memperhatikan tinggi efektif bangunan. Pada kompartemen. atau: (b) dalam hal sebagian bangunan: (i) sebagian bangunan dipasang sprinkler dan diberi kompartemen kebakaran pada bagian yang tanpa sprinkler. dan klasifikas bangunan sesuai standar teknis yang berlaku. Sistem sprinkler harus disambung atau dihubungkan ke dan dapat mengaktifkan: (a) setiap peringatan darurat dan sistem komunikasi intema yang disyaratkan.000 m2. atau (b) sistem pengeras suara atau peralatan lainnya yang dapat didengar bila peringatan darurat dan sistem komunikas intemal tidak disyaratkan. (5) Sambungan dengan peralatan alarm lainnya. luar bangunan yang diisyaratkan menggunakan sprinkler.

iii. atau (2) bila sistem peringatan darurat dan sistem komunikasi intemal tidak dipersyaratkan. (b) bila berhubungan dengan sistem sprinkler yang melindungi bagian bangunan bukan ruang parkir. Spesifikasi Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran. yang memungkinkan dilakukannya pemadaman awal efektip terhadap kebakaran oleh penghuni bangunan. 7) Sistem sprinkler di ruang parkir. ii. Sistem deteksi dan alarm kebakaran otomatis harus dipasang di: i. tidak berhubungan dengan sistem sprinkler di bagian bangunan lainnya. dengan ii. Pemadam Api Ringan (PAR) i. bangunan klas 9a. dan (2) PAR dari jenis bukan klas A harus ditempatkan pada lokasi yang dapat menjangkau lokasi yang mengandung jenis bahaya yang harus diatasi. 2. ruang pertemuan umum atau semacamnya. bangunan klas 3 yang menampung lebih dari 20 penghuni yang digunakan sebagai: (1) bagian hunian dari bangunan sekolah. maka pada tiap katup yang berfungsi mengendalikan sprinkler didaerah panggung harus dipasang peralatan anti gangguan yang dihubungkan ke panel pemantau. kecuali di dalam unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. ii. ataupun mempengaruhi efektivitas operasi sprinkler yang melindungi ruang parkir. PAR yang jenisnya sesuai kebutuhan harus dipasang diseluruh bangunan. jika: (1) Disediakan dengan mengikuti standar teknis yang berlaku. Perancangan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm kebakaran harus memenuhi standar teknis yang berlaku. alarm pengindera asap ataupun peralatan untuk peringatan . SNI-3985. maka dapat dihubungkan dengan sistem pengeras suara. d. harus dirancang sehingga sistem sprinkler yang melindungi bagian bukan nuang parkir dapat diisolasi dengan tanpa mengganggu aliran air. harus: (a) berdiri sendiri.(6) Peralatan anti gangguan (Anti Tamper). atau (2) akomodasi bagi lanjut usia. Untuk sistem sprinkler yang dipasang di teater. b. dan iv. Sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm otomatis harus dihubungkan dan mengaktifkan: (1) sistem peringatan keadaan darurat dan sistem komunikasi internal sebagaimana dipersyaratkan oleh ketentuan Bab VIII. i. SNI-3987 kecuali PAR jenis air yang tidak perlu dipasang di dalam bangunan atau bagian bangunan yang dilayani oleh Hose Reel. bangunan klas 2 dengan persyaratan khusus. bangunan klas 1b. Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran a. Sistem sprinkler yang dipasang pada ruang parkir pada bangunan multi-klas. PAR memenuhi butir i. anak-anak atau orang cacat.

(3) tingkat racun asap yang timbul tidak membahayakan manusia. lainnya yang dapat didengar dan yang ditempatkan disetiap lantai sesuai ketentuan yang berlaku. dan (2) ketentuan yang berlaku tentang Spesifikasi Alat Pendeteksi dan Alarm Kebakaran otomatis pada Bangunan Gedung.5 % smoke obscuration/m. dipasang dengan permukaan menghadap ke bawah dan di luar saluran unit pengkondisian udara. sehingga (1) temperatur ruang tidak membahayakan manusia. Penempatan Alat Pendeteksi Asap. seperti gudang dengan luas lantai 30 m2. b. ditempatkan pada lokasi berkumpulnya asap panas dengan mempertimbangkan geometri langit-langit dan efeknya pada lintasan perpindahan asap. atau menggunakan sistem point sampling yang mempunyai derajat kepekaan maksimum 0. 3. Pada saat terjadi kebakaran. dan ii. dan iii.50 meter jaraknya dari pintu kebakaran. Ketentuan pengendalian asap ini tidak berlaku untuk: i. iii. termasuk didalam satuan numah hunian bangunan klas 2 atau 3 atau sebagian klas 4. i. Perioda tenggang waktu harus memperhitungkan keadaan bangunan dan mobilitas manusia. ruang kompartemen sanitasi. ruang parkir terbuka atau panggung terbuka. i. ruang tanaman atau sejenisnya. dan Pemeriksaan Alat Deteksi dan Alarm Kebakaran Otomatis. . (2) tingkat penglihatan memungkinkan diketahui rute evakuasinya. untuk selama tenggang waktu sampai dengan seluruh penghuni dapat terevakuasi dari bangunan. Penetapan batas ambang alarm bagi sistem detektor harus mengikuti ketentuan yang berlaku. ii. bangunan klas 1 atau 10. dipilih tipe foto-elektrik. jika dipasang di dalam saluran udara (ducts) atau udara yang terkontaminasi partikel debu dengan ukuran kurang dari 1 µm. setiap rute evakuasi harus dijaga dengan ketinggian asap sekurang-kurangnya 2. Pengendalian Asap Kebakaran a. ditempatkan kurang dari 1. Sistem sampling harus memenuhi Ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan. : Batas Ambang. Rute evakuasi merupakan jarak lintasan menerus perjalanan evakoasi/ penyelamatan dari suatu tempat (seperti pintu/ jalan keluar.c. iii. ramp dan jalur sirkulasi yang terisolasi dari kebakaran serta koridor umum) pada setiap bagian bangunan.10 m di atas level lantai. Pemasangan. ii. d. yaitu: (1) ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan Ventilasi Mekanik dan Pengkondisian Udara dalam Bangunan Gedung. dan iv. ii. setiap ruangan yang tidak digunakan oleh penghuni untuk waktu yang cukup lama. dan bila terdapat partikel jenis lainnya harus menggunakan detektor tipe ionisasi. sampai ke jalan atau ruang terbuka bebas. Persyaratan umum i.

Kegunaan dan sarana yang ada di Pusat Pengendali Kebakaran adalah: i. Konstruksi. selain: (1) kegiatan pengendalian kebakaran.2. (2) pada bangunan yang termasuk dalam butir vi. tidak digunakan bagi keperluan lain. Berkaitan dengan butir c berikut tentang Persyaratan Untuk Bahaya Khusus. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran... Ketentuan lebih teknis dalam pengendalian asap kebakaran untuk setiap klas bangunan mengikuti petunjuk dan standar teknis yang berlaku.2. harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap sesuai ketentuan. sifat dan jumlah bahan yang disimpan.3. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. dan (2) kegiatan lain yang berkaitan dengan unsur keselamatan atau keamanan bagi penghuni bangunan. panel kontrol.3. iii. dan tidak membentuk bagian sistem pengendali asap harus memenuhi ketentuan standar yang berlaku.2. atau ketentuan pada butir b.3 pada lampiran persyaratan teknis ini maka harus memenuhi ketentuan i. Untuk sistem pengatur udara lainnya. dilengkapi sarana alat pengendali. atau ketentuan pada butir b. dimana: b. . tata letak bangunan. dan tidak mensirkulasikan asap diantara kompartemen kebakaran. 4. meubel. bila suatu bangunan tidak termasuk dalam Tabel V. d. Untuk keperluan ketentuan ini. dan persyaratan lain dari pedoman teknis ini. bersama-sama dengan kelengkapan pengendalian asap lainnya yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V. sistem tidak mengganggu beroperasinya peralatan pengendalian asap yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V. Pusat Pengendali Kebakaran a. Persyaratan untuk bahaya khusus Upaya tambahan dalam pengendalian bahaya asap mungkin dipersyaratkan bilamana berkaitan dengan: i. setiap hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 harus diberlakukan sebagai kompartemen terpisah. iii. Ruang Pusat Pengendaii Kebakaran pada bangunan gedung yang tinggi efektifnya lebih dari 50 meter harus merupakan ruang terpisah. Pada sistem pengkondisian udara terpusat yang memutar udara untuk lebih dari satu ruangan kompartemen kebakaran: (1) pada bangunan yang termasuk dalam butir v. vi. ii sifat penggunaan bangunan. telepon. peralatan dan sarana lainnya yang diperlukan dalam penanganan kondisi kebakaran. ii. setiap bagian yang menyebabkan penyebaran asap yang serius antar kompartemen.iv. c. ditaruh atau dipakai di dalam bangunan. v. harus: (a) beroparasi seperti sistem pengendali asap. sebuah ruang untuk pengendalian dan pengarahan selama berlangsungnya operasi penanggulangan kebakaran atau penanganan kondisi darurat lainnya.

Setiap bukaan pada ruang pengendali kebakaran. c. . ii. jika dikehendaki terpisah total dari sistem lainnya. untuk jendela. (3) sebuah papan tulis dan sebush papan tempel (pin-up board) berukuran cukup. dinding atau sejenisnya mempunyai kekokohan yang cukup terhadap keruntuhan akibat kebakaran dan dengan nilai TKA tidak kurang dari 120/120/120. Ruang pengendali harus: (1) mempunyai luas lantai tidak kurang dari 10 m2. Ukuran dan sarana. dan salah satu panjangnya dari sisi bagian dalam tidak kurang dari 2. pipa. dan (4) sebuah meja berukuran cukup untuk menggelar gambar dan rencana taktis yang disebutkan dalam (5). Proteksi pada bukaan. peralatan utilitas. iv. dan sejenisnya harus mengikuti syarat teknis proteksi bukaan pada Bab V. kipas pengendali asap. panel indikator lif. lantai atau langit-langit yang memisahkan ruang pengendali dengan ruang dalam bangunan dibatasi hanya untuk pintu. Ruang pengendali haruslah dapat dimasuki dari (2) dua arah (1) arah pintu masuk di depan bangunan. dan (5) rencana taktis penanggulangan kebakaran.i. sakelar kontrol dan indikator visual yang diperlukan untuk semua pompa kebakaran. d. bukaan pada dinding. sakelar pengendali jarak jauh untuk gas atau catu daya listrik. iii.1. sistem pengamatan. Pintu yang menuju ruang pengendali harus membuka ke arah dalam ruang tersebut. pembungkus atau sejenisnya harus memenuhi persyaratan terhadap kebakaran. e. dan peralatan pengamanan kebakaran lainnya yang dipasang di dalam bangunan. saluran udara dan sejenisnya. ii. dan sistem manajemen. i. konstruksi penutupnya dari beton. Sebagai tambahan. pintu. tidak boleh lewat ruang tersebut. bahan lapis penutup. ii. seperti pada lantai. dan (2) sistem keamanan bangunan. yang tidak diperlukan untuk berfungsinya nuang pengendali.50 m. (2) telepon sambungan langsung. yang khusus untuk melayani fungsi ruang pengendali tersebut. Panel indikator kebakaran. iii. yang menuju ke tempat umum dan mempunyai nilai TKA tidak kurang dari -/120/30. di ruang pengendali dapat disediakan: (1) Panel pengendali utama. langit-langit dan dinding dalam. ventilasi. saluran. i. genset darurat. ventilasi dan lubang perawatan lainnya. dan (2) arah langsung dari tempat umum atau melalui jalan terusan yang dilindungi terhadap api. Ruang pengendali kebakaran harus dilengkapi dengan sekurang-kurangnya: (1). dapat dikunci dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga orang yang menggunakan rute evakuasi dari dalam bangunan tidak menghalangi atau menutupi jalan masuk ke ruang pengendali tersebut.5 Pintu Keluar.

f.(2) jika hanya menampung peralatan minimum. h. ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. Sistem udara bertekanan yang hanya melayani ruang pengendali. motor dan pipa-pipa saluran udara yang membentuk bagian dari sistem. tetapi tidak berada di dalam ruang pengendali dan diproteksi oleh dinding yang mempunyai TKA tidak lebih kecil dari 120/120/120. i. ventilasi alami dari jendela atau pintu pada dinding luar bangunan yang membuka langsung ke ruang pengendali. luas lantai bersih daerah tambahan adalah 2 m2 untuk setiap penambahan alat.50 m2. Beberapa peralatan seperti Motor bakar. (4) mempunyai kipas. g. Ventilasi dan pemasok daya. (3) mengalirkan udara segar ke ruangan tidak kurang dari 30 kali pertukaran udara perjamnya pada waktu sistem beroperasi dengan dan salah satu pintu ruangan terbuka. tetapi boleh dipasang di ruangan-ruangan yang dapat di capai dari ruang pengendali tersebut. atau ii. (2) beroperasi otomatis melalui aktivitas sistem alarm atau sistem sprinkler yang dipasang pada bangunan. pompa pengendali sprinkler. Ruang pengendali harus diberi ventilasi dengan cara: i.50 m2 dan ruang untuk tiap rute evakuasi penyelamatan dari ruang pengendali ke ruang lainnya harus disediakan sebagai tambahan persyaratan (2) dan (3) diatas. Pencahayaan darurat sesuai ketentuan yang berlaku harus dipasang dalam ruang pusat pengendali. (3) jika dipasang peralatan tambahan. dan tingkat iluminasi diatas meja kerja tak kurang dari 400 Lux. . pemipaan dan sambungan-sambungan pipa tidak boleh dipasang dalam ruang pengendali. Tingkat suara (ambient) dalam ruang pengendali kebakaran yang diukur pada saat semua peralatan penanggulangan kebakaran beroperasi ketika kondisi darurat berlangsung tidak melebihi 65 dbA bila ditentukan berdasarkan ketentuan tingkat kebisingan didalam bangunan. dan (1) dipasang sesuai ketentuan yang berlaku seperti untuk tangga kebakaran yang dilindungi. luas lantai bersih tidak kurang dari 8 m dan luas ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. (5) mempunyai catu daya listrik ke ruang pengendali atau peralatan penting bagi beroperasinya ruang pengendali.

(5) Tangga yang memadai untuk menampung volume dan frekwensi penggunaan. iii. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir mobil) dan klas 8. 2. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dan area lain untuk tujuan darurat. dan tekanan orang pada penghalang tersebut. d. Persyaratan kinerja: a.VI. . Pada area dimana orang bisa jatuh dari ketinggian 1m atau lebih dari lantai/atap/melalui bukaan pada dinding luar bangunan. b. injakan dan akhiran injakan tangga. e. mampu menjaga lintasan anak-anak. Setiap tangga dan ramp memiliki: (1) Permukaan lantai tidak licin pada ramp. nyaman dan memadai. kecuali tangga/ramp di luar bangunan. SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. menerus sepanjang area yang berbahaya. Setiap pintu dibuat agar penghuni mudah mencapai akses keluar dan menghindari risiko terjebak di dalam bangunan. Fungsi tersebut pada butir b di atas tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. nyaman. c. b. ii. ii. Fungsi a. Kuat dan kokoh menahan pengaruh orang yang menabrak. Melengkapi bangunan dengan sarana evakuasi yang memungkinkan penghuni punya waktu untuk menyelamatkan diri dengan aman tanpa meraskan keadaan darurat. Kemiringan permukaan lantai harus aman bagi pejalan kaki. (2) Pegangan rambat (handrails) yang memadai untuk membantu kestabilan pemakai tangga/ramp (3) Lantai bordes yang memadai uniuk menghindari keletihan (4) Pintu di lantai bordes sedemikian hingga pintu tersebut tidak menjadi rintangan. atau 4. ii. Butir c tersebut tidak berlaku juga untuk: i. c. Agar manusia dapat bergerak dengan aman ke dan di dalam bangunan maka bangunan harus mempunyai antara lain: i. tempat bongkar muat barang dan sejenisnya. Melengkapi bangunan dengan akses yang layak. Butir c tersebut di atas tidak berlaku bila penghalang tersebut digunakan untuk panggung. harus dibuatkan penghalang yang: i. iv. Akses ke dan di dalam bangunan harus tersedia yang memungkinkan pergerakan manusia secara aman. iii. aman.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. atau karena perbedaan tinggi lantai dalam bangunan. tinggi disesuaikan dengan risiko orang tanpa disengaja jatuh dari lantai /atap. dan memadai bagi semua orang. 3.

luas lapis lantainya tak lebih dari 50 m2. setiap lapis lantai bila bangunan dengan jumlah lantai lebih dari 6. h. Sistem kebakaran yang dipasang dalam bangunan iii. 3 dan 4. ramp dan lorong (gang) harus aman bagi lalu lintas pengguna bangunan.atau yang ketinggian efektifnya lebih dari 25 m. i. ii. b Bangunan klas 2 s. lokasi dan dimensi pintu keluar yang tersedia pada bangunan disediakan agar penghuni dapat menyelamatkan diri dengan aman. b. jarak tempuh dari titik manapun pada lantai dimaksud ke suatu jalan keluar tunggal tak lebih dari 20 m. Jarak tempuh ii. dan atap yang dapat dicapai oleh manusia harus mempunyai dinding pembatas. g.f. Ramp kendaraan dan lantai yang dapat dilewati kendaraan harus mempunyai pembatas pinggir atau penghalang lainnya untuk melindungi pejalan kaki dan struktur bangunannya. mobilitas dan karakter lain dan penghuni ii. Jumlah. Fungsi bangunan iv. Tinggi bangunan Jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran dan sesuai dengan: i. i.d. Fungsi bangunan Butir h tersebut di atas tidak berlaku di dalam unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. Jumlah. ramp. 2 . sesuai dengan: i. 8: Minimal harus tersedia 2 jalan ke!uar pada setiap lapis lantainya apabila tinggi efektif bangunannya lebih dari 25 m c. dan ii. dimensi jelur lintasan menuju ke pintu keluar harus sesuai dengan . balkon. Jumlah. setiap lapis lantai termasuk area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. Bangunan klas 9: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada: i. mobilitas dan karakter penghuni. bila jalan keluar dari lapis lantai di dalam bangunan dimaksud naik lebih dari 1. iii. Intervensi pasukan pemadam kebakaran Agar penghuni dapat keluar dengan aman dari bangunan. Tangga. Fungsi bangunan iv.5 m. c. d. Kebutuhan Jalan Keluar a.2 KETENTUAN JALAN KELUAR 1. VI. Tangga. lantai. balustrade atau penghalang lainya yang untuk melindungi pengguna bangunan terhadap risiko jatuh . Persyaratan Keamanan a. Basement: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada lapis lantai manapun. kecuali: i. Jumlah lantai yang dihubungkan dengan pintu tersebut ii. Semua bangunan : Setiap bangunan harus mempunyai sedikitnya 1 jalan keluar dari setiap lantainya.

Pintu masuk dari setiap hunian tunggal harus berjarak tidak lebih dari: (1) 6 m dari jalan keluar atau dari tempat dengan jalur yang berbeda arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. selain area perawatan pasien. atau ii. f. 4. masing-masing merupakan bagian jelur lintasan ke minimal 2 buah jalan keluar. iii. b. sedikitnya 2 jalan keluar. 3 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 2. setiap penghuni pada lapis lantai atau bagian lapis lantai bangunan harus dapat mencapai ke: i. bila 2 atau lebih jalan keluar diwajibkan. Bangunan kelas 5 s. kecuali jalan tersebut menghubungkan tidak lebih dari: i. v. pada bangunan klas 9a: tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan pada suatu tempat. . Panggung terbuka: Pada panggung terbuka dan menampung lebih dari 1 deret tempat duduk. Jalan keluar yang diisolasi terhadap kebakaran a. merupakan bagian dari tribun penonton terbuka. ii. bila bangunan tersebut mempunyai sistem sprinkler yang menyeluruh. e. atau ii. setiap lapis lantai pada bangunan klas 9b yang digunakan sebagai pusat asuhan balita. 9 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap bahaya kebakaran kecuali: i. Bangunan klas 2 dan 3: Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran. atau (2) 20 m dari pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan jalan keluar ke jalan atau ke ruang terbuka.iii. 1 jalan keluar. harus kurang dari 20 m dari pintu keluar atau tempat jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. Bagian bangunan klas 4: Pintu masuk harus tidak lebih dari 6 m dari pintu keluar. dan termasuk 1 lapis lantai tambahan bila digunakan sebagai tempat menyimpan kendaraan bermotor atau tempat pelengkap lainnya. Jarak jalur menuju pintu keluar a.d. setiap deret harus mempunyai minimal 2 tangga atau ramp. Bangunan klas 2 dan 3 i. Setiap tempat dalam ruangan yang bukan pada unit hunian tunggal. b. 2 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 3. Akses ke jalan keluar: Tanpa harus melalui hunian tunggal lainnya. 3. atau dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. iv. Area perawatan pasien: Pada bangunan klas 9a sedikitnya harus ada 1 jalan keluar dari setiap bagian pada lapis lantai yang telah disekat menjadi kompartemen tahan api. setiap lapis lantai pada bangunan sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama dengan ketinggian 2 lantai atau lebih. ii. setiap lapis lantai atau mesanin yang dapat menampung lebih dari 50 orang sesuai fungsinya. tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan. g.

e. jarsk ke pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan akses ke jalan atau ke ruang terbuka dapat diperpanjang sampai 30 m. Jarak maksimum dari satu tempat ke salah satu dari pintu keluar tersebut tidak lebih dari 30 m. f. dan ii. jalur lintasan dari ruang tersebut ke pintu keluar melalui lorong/koridor. lebar bebas. tinggi bebas seluruhnya harus tidak kurang dari 2 m. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan c. atau ii. Bangunan klas 5 s. 9: Terkena aturan butir d. dan ii. Bangunan klas 9a: Area perawatan pasien pada bangunan klas 9a.d. atau ii. Pada bangunan klas 5 atau 6. Pintu yang disyaratkan sebagai alternatif jalan keluar harus: a. Jarak Antara Pintu-pintu Keluar Alternatif. jarak ke salah satu pintu keluar dimungkinkan 60 m. lebar bebas. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. berjarak tidak kurang dari 9 m. bila : i. bila disyaratkan untuk pintu keluar pada tempat perawatan pasien.8 m pada lorong. Pintu keluar yang disyaratkan atau jalur sirkulasi ke jalan keluar: a. terletak sedemikian hingga alternatif jalur lintasan tidak bertemu hingga berjarak kurang dari 6 m. b. jika lapis lantai atau mesanin menampung tidak lebih dari 100 orang. jika jarak maksimum ke salah satu pintu keluar tersebut tidak melebihi 40 m. 1 m ditambah 250 mm untuk setiap kelebihan 25 orang. atau 6. Dimensi/ukuran Pintu Keluar. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 100 orang tetapi tidak lebih dari 200 orang. tersebar merata di sekeliling lantai dimaksud sehingga akses ke minimal dua pintu keluar tidak terhalang dari semua tempat termasuk area lif di lobby. ramp. atau iii. Setiap tempat pada lantai harus berjarak tidak lebih 12 m dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar yang dipersyaratkan tersedia.c. 1 m. d. lobby. 60 m. 1. berjarak tidak lebih dari: i. c. Panggung Terbuka: Jarak jalur lintasan menuju ke pintu keluar pada bangunan klas 9b yang dipakai sebagai panggung terbuka harus tidak lebih dari 60 m. dan: i. memiliki TKA tidak kurang dari 60/60/60 dan konstruksi setiap pintunya terlindung serta dapat menutup sendiri dengan ketebalan tidak kurang dari 35 mm. 45 m pada bangunan klas 2 atau klas 3. f. i. . Gedung Pertemuan: Pada bangunan klas 9b selain gedung sekolah atau pusat asuhan balita. konstruksi ruang tersebut bebas asap. Setiap tempat harus berjarak tidak lebih 20 m dari pintu keluar. 45 m pada bangunan klas 9a. e. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. b. 5. ii. atau tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. atau ruang sirkulasi lainnya. d. untuk bangunan lainnya.

pada area perawatan pasien. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 60 orang jika jalan keluar mencakup perubahan ketinggian lantai oleh tangga atau ramp dengan tinggi tanjakan 1:12. kecuali kalau pintu tersebut dari: i.2 m: 1070 mm. iii.8 m pada lorong. (3) mernpunyai ketinggian bebas rintangan di semua bagian termasuk bukaan pada keliling area yang tidak kurang dari 3 m. diukur tegak lurus ke jalur lintasan. (4) mempunyai lintasan bebas rintangan dari tempat keluar ke jalan atau ruang terbuka yang tidak lebih dan 6 m. parkir kendaraan atau sejenisnya. atau ramp yang disyaratkan diisolasi terhadap kebakaran. g. ketempat: (1) ruang atau lantai yang digunakan hanya untuk pejalan kaki. 750 mm. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 200 orang. dan tertutup tidak lebih dari 1/3 kelilingnya. Bila lintasan keluar bangunan mengharuskan melewati 6 m dari dinding luar bangunan dimaksud. (2) lebar koridor lebih dari 2. kecuali pintu keluar harus ditambah menjadi: i. d atau e. (2) terbuka untuk sedikitnya 1/3 dari keliling area tersebut. pada kasus lain. lobby umum. koridor. . ii. ii. lorong. a. ke area tertutup yang: (1) berbatasan dengan jalan atau ruang terbuka. ruang transisi atau yang sejenisnya. ke jalan atau ruang terbuka. lebar bebas. 1. b. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 75 orang. f. 7. Setiap tangga atau ramp tahan api harus menyediakan pintu keluar tersendiri dari tiap lapis lantai yang dilayani dan keluar secara langsung atau melawati lorong yang diisolasi terhadap kebakaran yang ada di lantai tersebut: i. minus 250 mm.8 m . e. Pintu dalam ruangan harus tidak membuka langsung ke arah tangga. (3) pintu keluar horisontal: 1250 mm. jika membuka ke arah koridor dengan (1) lebar koridor antara 1. hall atau yang sejenisnya. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. lebar bebas. atau ii. iii. pada panggung penonton yang menampung lebih dari 2000 orang. tersedia menuju ke jalan atau ruang terbuka. c. kecuali untuk pintu keluar harus diperlebar sampai 17 m ditambah dengan angka kelebihan tersebut dibagi 600.2.d. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran. lebar dari setiap pintu keluar yang memenuhi ketentuan butir b. atau ii. ii. komponen sanitasi. tidak lebih dari 20 m. unit hunian tunggal yang menempati seluruh lapis lantai. lebar pintu keluar: i. iii. bila pintu tersebut untuk kompartemen sanitasi atau kamar mandi. (2) lintasan tanpa rintangan. lebar pintu keluar tidak boleh berkurang pada jalur lintasan ke jalan atau ruang terbuka. bagian dinding tersebut harus mempunyai: c.2 m: 1200 mm.

Pada bangunan klas 2. bukaan terlindung di bagian dalam dilindungi sesuai ketentuan Proteksi Bukaan pada Bab V. ii. atau 9. pintu keluar bertekanan udara sesuai standar yang berlaku. yang berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan harus mempunyai jalan lintasan menerus. 30 m pada konstruksi bangunan tipe C. 20 m dari pintu keluaar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. Lintasan Melalui Tangga/Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran a.3 harus tersedia ii.i.2. membuka ke pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran pada lantai dimaksud i lobby bebas asap sesuai dengan Bab V. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke Jalan atau ruang terbuka. 8. tangga/ramp yang tidak diisolasi torhadap kebakaran harus keluar ke tempat yang tidak lebih dari: i. Pada bangunan klas 5 s. atau ii. jarak antara pintu keluar dari ruang atau unit hunian tunggal dan tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga atau ramp yang tidak diisolasii terhadap kebakaran harus tidak melampaui: i. yang tidak diisolasi terhadap kebakaran. 8 ata u 9b. 9. pada bangunan dengan ketinggian efektif tidak lebih dari 25 m. 3 atau 9a. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke jalan atau ruang terbuka. .d. TKA sedikitnya 60/60/60. Pada bangunan klas 2. atau ii. 15 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. d. dan memenuhi ketentuan teknis yang berlaku. Jika Jebih dari dua akses pintu. c.1. Tangga/ramp. d. Pada bangunan klas 5 s d. bangunan klas 9a : Ramp harus tersedia untuk setiap perubahan ketinggian kurang dari 600 mm pada lorong yang diisolasi terhadap kebakaran. 30 m dan salah satu dari dua pintu atau lorong keluar bila arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah.5. dengan injakan dan tanjakan dari setiap lantai yang dilayani menuju ke lantai dimana pintu keluar ke jalan atau ruang terbuka disediakan b. 3 atau 4. jarak antara sembarang tempat pada lantai ke tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melebihi 80 m. bila konstruksi tangga tersebut (termasuk jembatan penghubung) secara keseluruhan dari bahan yang tidak mudah terbakar. tangga/ramp yan tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar pada tempat yang tidak lebih dari i. e. bukan dari komponen sanitasi atau sejenisnya. e. 60 m pada konstruksi bangunan lainnya. Tangga Luar Bangunan Tangga luar bangunan dapat berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan menggantikan pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran.

lintasan ke arah jalan harus mempunyai lebar bebas tidak kurang dan 1 m. panggung terbuka yang menampung lebih dari 500 orang.5 m2 tiap pasien pada bangunan klas 9a. kecuali bila pintu keluar dari bangunan klas 9a. 2. Keluar Melalui Pintu-Pintu Keluar a. . jalur lintasan menuju ke jalan harus i. e. f. d. bebas asap. Pintu keluar harus tidak terhalang. Vl. a. ii. Jika pintu keluar yang disyaratkan menuju ke ruang terbuka. atau mana yang lebih lebar. pintu keluar horisontal dapat dianggap sebagai pintu keluar yang disyaratkan. bila jalur lintasan dari kompartemen kebakaran menuju ke satu atau lebih pintu keluar horisontal langsung menuju ke kompartemen kebakaran lainnya. terhadap kebakaran dalam bangunan. berupa ramp atau lereng dengan kemiringan kurang dari 1:8. Pada bangunan klas 9b. Jika pintu keluar menuju ke ruang terbuka yang terletak pada ketinggian berbeda dengan jalan umum yang menghubungkannya.2. tangga memenuhi ketentuan dari pedoman ini. dan mempunyai sedikitnya satu pintu keluar yang disyaratkan yang bukan pintu keluar horisontal Kasus selain butir b di atas. Pada bangunan klas 9b dengan auditorium yang menampung lebih dan 500 orang. antara unit hunian tunggal.4. dan bila perlu dibuat penghalang untuk mencegah kendaraan menghalangi jalan keluar atau akses menuju ke pintu keluar tersebut. b. d. 10. tidak lebih dari 2/3 lebar pintu keluar yang disyaratkan harus terletak di area pintu masuk utama. atau tidak setinggi 1. dan c. 40 m dari salah satu dari dua pintu atau lorong keluar: arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah.ii. pada bangunan klas 9b yang digunakan untuk pusat asuhan balita bagunan SD atau SLTP. bila dua atau lebih pintu keluar disyaratkan dan disediakan sebagai sarana tangga/ramp yang tidak diisolasi. pintu keluar horisontal harus tidak lebih dari separuh pintu keluar yang disyaratkan pada lantai yang dipisahkan oleh dinding tahan api Pintu keluar horisontal harus mempunyai area bebas disetiap sisi dinding tahan api untuk menampung jumlah orang dari seluruh bagian lantai dengan tidak kurang dari: i. Pada bangunan klas 2 atau 3. c. maka masing-masing pintu keluar tersebut harus : i menyediakan jalan keluar terpisah menuju ke jalan atau ruang terbuka. atau lebar minimum dari pintu keluar yang disyaratkan.14 bila disyaratkan oleh ketentuan Bab. ii. 11 Pintu Keluar Horisontal. Pintu keluar horisontal bukan merupakan pintu keluar yang disyaratkan apabila: i. tangga atau ramp yang disyaratkan harus tidak keluar ke arah area di depan panggung tersebut. b. Pada bangunan klas 9a. ii.

pada bangunan klas 5 atau 6 yang dilengkapi dengan fasilitas sprinkler menyeluruh. 6. 14. lebih dari 100 m2 dan tidak lebih dari 200 m2. Jumlah Orang Yang Ditampung Jumlah orang yang ditampung dalam satu lantai. kecuali diijinkan sesuai butir b di atas. menghitung total jumlah orang tersebut dengan membagi luas lantai dari tiap lapis menurut Tabel Vl. tidak termasuk area yang dirancang untuk: i. iv. atau ii. tangga pengait (ladder) dapat dipakai sebagai pengganti tangga (stairway) dari setiap tempat jalan keluar dari ruangan. eskalator. 8 atau 9. tidak lebih dari 100 m2. ii. harus tidak menghubungkan secara langsung atau tidak langsung ke lebih dari 2 lapis lantai pada bangunan klas 5. . Tangga pengait diijinkan menurut (a) di atas. kecuali bila dijinkan sesuai butir b atau c di atas. Tangga. dan bila 2 atau lebih tempat jalan keluar tersedia dalam ruangan tersebut. 2 lantai dengan ketentuan lantai bangunan tersebut harus berurutan. 12. iii. dan satu dari lapis lantai tersebut terletak pada ketinggian yang terdapat jalan keluar langsung ke arah jalan atau ruang terbuka. dapat keluar pada lantai dan dipertimbangkan sebagai bagian dari jalur lintasan. motor lif mempunyai luasan i. bila: i. ramp. 3 lantai. merupakan bagian dari jalan keluar yang tersedia pada tangga yang diisolasi terhadap kebakaran yang terdapat dalam saf. dan luas lantai dengan: a. ii. 0.c. tangga pengait dapat dipakai sebagai pengganti tangga seluruhnya. dan eskalator. ruang atau mesanin harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaan atau fungsi bangunan. dapat menghubungkan sejumlah lantai bangunan bila tangga. tangga. atau 13. tangga atau ramp disyaratkan memenuhi ketentuan butir 12 ini c. b. di luar bangunan. tata letak lantai tersebut. iii.2. d. Ramp Atau Eksalator Yang Tidak Disyaratkan Eskalator dan tangga/ramp pejalan kaki yang ditetapkan tidak diisolasi terhadap kebakaran a. kecuali satu dari jalan keluar tersebut. service duct dan yang sejenis. harus tidak digunakan di area perawatan pasien pada bangunan klas 9a b. dan ii. koridor. bila tiap lantai tersebut dilengkapi dengan sprinkler menyeluruh sesuai ketentuan Bab V. tidak harus menghubungkan lebih dari i.ii. 7. Bila ruang peralatan atau ruang. lobby dan yang sejenis. ii pada area parkir kendaraan atau atrium. Ruang Peralatan Dan Ruang Motor Lift a. 1.2 sesuai jenis penghunian. ramp atau eskalator tersebut i. kompartemen sanitasi atau penggunaan tambahan. lift. harus memenuhi standar teknis terkait bila untuk ruang peralatan dan untuk ruang motor lift.5 m2 tiap orang pada klas bangunan lainnya. hall. pada panggung terbuka atau stadion olah raga tertutup.

2 LUASAN PER-ORANG SESUAI PENGGUNAANNYA (BEBAN PENGHUNIAN) Jenis Penggunaan Galeri seni. workshop . dll . ganti di teater Terminal Bengkel / workshop : staf pemeliharaan Proses manufaktur m2/orang 10 10 30 50 2 1 2 1 10 4 bengkel 3 5 5 0. telepon Kolam renang Teater dan Hall R. gereja.r. . kerja. mengacu kepada kapasitas tempat duduk di ruang atau bangunan gedung pertemuan. laboratorium.r. Tangga Dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Tangga atau ramp yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi: a. Penerapan Kecuali ketentuan butir 13 den 16. motel. ruang makan Ruang pengurus Pemondokan/losmen Ruang komputer Ruang sidang pengadilan: r. penjualan: Level langsung dari luar Level lainnya r. prosesing . hostel. baca.5 5 4 5 50 30 3 15 10 1 10 2 30 Jenis Penggunaan Kantor (pengetikan dan fotokopi) Ruang Perawatan Pasien Ruang industri : .boiler/sumber tenaga Ruang baca Restoran Sekolah : r. pamer : r. r. museum Bar.mall. atau cara lain yang sesuai untuk menilai kapasitasnya. dari material tidak mudah terbakar. b. . tangga dan ramp yang tidak disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi sesuai ketentuan butir 2 diatas.ruang untuk fabrikasi dan proses selain di atas Garasi-garasi umum Ruang senam/gymnasium Hotel. kelas umum gedung serba guna ruang staf ruang praktek: SD SLTP Pertokoan. ruang pamer.3 KONSTRUKSI JALAN KELUAR 1. atau dengan konstruksi: 2. arcade Panggung penonton: darah panggung Kursi penonton R.r penyimpanan m2/orang 4 1 2 15 25 10 1 0. r. r. persyaratan ini tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 atau bagian klas 4. 3. listrik.3 1 30 1.b. bila terjadi kenusakan setempat tidak merusak struktur yang dapat melemahkan ketahanan saf terhadap api. Tabel VI. elktrikal.ventilasi. café. c. guest-house Stadion indoor area Kios Dapur. sidang Ruang dansa Asrama Pusat Penitipan Balita Pabrik: . manufaktur. tempat cuci Perpustakaan : . tunggu r. penyimpanan r.5 1 4 2 30 pabrik VI. Tangga Dan Ramp Yang tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran Untuk bangunan dengan ketinggian lebih dari 2 lantai. peragaan.

harus tidak ada hubungan langsung antara i. Instalasi Pada Jalan Keluar Dan Jalur Lintasan a. di mana: i. ii. . Ramp dan Balkon Akses yang Terbuka Bila ramp dan balkon akses yang terbuka merupakan bagian dari jalan keluar yang disyaratkan. Jalan masuk ke saf servis dan lainnya. b. b.a. dan: a. lorong atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. c. 7. d. mempunyai bukaan ventilasi ke udara luar dimana: i. setiap sambungan konstruksi antara bagian atas dinding balok lantai. disyaratkan untuk diisolasi terhadap kebakaran. terpisah dari area hunian dengan dinding kedap asap. luas total area bebas minimal seluas ramp atau balkon ii. diberi tekanan udara sebagai bagian dari pintu keluar. Pemisahan tanjakan dan turunan tangga Bila tangga dipakai sebagai jalan keluar. tersebar merata sepanjang sisi terbuka ramp atau balkon b. 6. dengan berat jenis rata-rata tidak kurang dari 800 kg/m3 pada kelembaban 12% iii. pada area terbuka dengan ketinggian 1 m tidak tertutup. maka harus: a. b. mempunyai TKA minimal 60/60/-. setiap konstruksi yang memisahkan tanjakan dan turunan tangga harus tidak mudah terbakar dan mempunyai TKA minimal 60/60/60. turunan tangga dari lantai di atas lantai dasar. iii. tidak harus disediakan dari tangga.2. dan ii. bila pintu keluar disyaratkan harus diberi tekanan udara.7 harus: a. di setiap bukaan dari area hunian. kecuali ke peralatan pemadam atau deteksi kebakaran sesuai yang diijinkan dalam pedoman ini. beton bertulang atau beton prestressed. yang direkatkan dengan perekat khusus seperti resorcinol formaldehyde atau resorcinol phenol formaldehyde 4. b. mempunyai luas minimal 6 m2. atau terdapat alat sensor asap diletakkan dekat dengan sisi bukaan. atau ke bagian bawah langit-langit yang tahan penjalaran api sampai 60 menit. baja dengan tebal minimal 6 mm kayu: i. Lobby Bebas Asap Lobby bebas asap yang disyaratkan sesuai Bab VI. atap atau langit-langit harus ditutup dengan bahan yang bebas asap. mempunyai pintu bebas asap sesuai standar teknis yang berlaku. Bukaan pada saluran atau duct yang membawa hasil pembakaran yang panas harus tidak diletakkan di bagian manapun dari jalan keluar yang 5. dengan ketebalan minimal 44 mm setelah finishing ii. kecuali dengan grill atau sejenisnya dengan ruang bebas udara minimal 75% dari area tersebut. tanjakan tangga dari lantai di bawah lantai dasar ke arah jalan atau ruang terbuka. c. terbentang antar balok lantai.

Permakaan lantai ramp harus dengan bahan yang tidak licin. Peralatan harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. dan iii. kecuali: i. lobby. lobby atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. Konstruksi lorong yang diisolasi terhadap kebakaran harus dari material yang tidak mudah terbakar. atau koridor. 9. disyaratkan sesuai ketentuan Bab VI. b. bagian dari balustrade. lebar bebas halangan. Tangga dan ramp tidak tahan api: Ruang di bawah tangga atau ramp tidak tahan api yang disyaratkan (termasuk tangga luar) harusnya tidak tertutup. 8. b. 1:8 untuk kasus lainnya c. dan sejenisnya. setiap pintu masuk ke ruang tertutup tersebut dilengkapi dengan pintu tahan api dengan TKA -/60130 yang dapat menutup secara otomatis Lebar Tangga a. bebas halangan. d. bila konstruksi yang menutup ramp. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran a. 1:12 pada area perawatan pasien di bangunan klas 9a ii. Ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dapat menggantikan tangga. atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. maka bagian tangga atau ramp tersebut harus tidak tertutup.4 iii. ii. Lebar tangga melebihi 2m dianggap mempunysi lebar hanya 2 m. meter listrik. bila peralatan dimaksud terdiri atas: i. sampai ketinggian tidak kurang dari 2 m. Perlindungan Pada Ruang Di Bawah Tangga Dan Ramp a. disyaratkan. dinding dan langit-langit sekelilingnya mempunyai TKA minimal 60/60/60 ii. panel atau peralatan distribusi telekomunikasi sentral. Lebar tangga yang disyaratkan harus: i. motor listrik atau peralatan motor lain dalam bangunan. kecuali dipisahkan oleh balustrade atau pegangan rambat menerus antara lantai bordes dan lebar masing-masing bagian kurang dari 2 m. seperti pegangan rambat (handrail). b. 11. Ramp Pejalan Kaki a. Tangga dan ramp tahan api: Bila ruang di bawah tangga atau ramp tahan api yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api. Gas atau bahan bakar lainnya harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. gang. lebar dan tinggi langit-langit sesuai persyaratan untuk tangga yang diisolasi terhadap kabakaran. di mana: . kecuali untuk list langit-langit. gang. Ramp yang berfungsi sebagai jalan keluar yang disyaratkan harus mempunyai tinggi tanjakan tidak kurang dari: i. panel atau saluran distribusi. 10. ii.c. vertikal di atas garis sepanjang nosing injakan tangga atau lantai bordes. kecuali terlindung oleh konstruksi yang tidak mudah terbakar atau tahan api dengan pintu atau bukaan yang terlindung dari penjalaran asap. koridor.

Bordes a. injakan. ruang perawatan pasien bangunan klas 9a. Balustrade a Balustrade menerus harus tersedia sekeliling atap yang terbuka untuk umum. Luas bordes harus cukup untuk gerakan usungan yang berukuran panjang 2 m dan lebar 60 cm. TKA tidak kurang dari yang disyaratkan untuk saf tangga atau ramp. f. balkon dan sejenisnya. tepi bordes diberi finishing yang tidak licin. mempunyai TKA tidak kurang dari 120/120/120. b. Atap Sebagai Ruang Terbuka Jika pintu keluar menuju ke atap bangunan. Sudut arah naik dan turun tangga harus 180°. c. penutup atap yang tidak mudah terbakar ii. tangga atau balkon luar ii. kasus lainnya i. dan jumlah sesuai standar teknis. Ambang Pintu Ambang pintu tidak mengenai anak tangga atau ramp minimal selebar daun pintu kecuali: a. e. injakan harus kuat bila tinggi tangga lebih dari 10 m atau menghubungkan lebih dari 3 lantai. pada kasus lain TKA tidak kurang dari 60/60/60. panjangnya tidak kurang dari 550 mm diukur dari tepi dalam bordes. Iorong keluar dari tangga atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran.b. lebar minimal bordes 1. ramp. b. bila: . balkon atau yang sejenis dimana pintu membuka. Bordes tangga dengan maksimum kemiringan 1: 50 dapat digunakan. koridor. ambang pintu tidak lebih dan 25 mm di atas ketinggian lantai dimana pintu membuka. 16. tidak lebih dari 18 atau kurang dari 2 tanjakan. 13. b. Meskipun dengan ketentuan butir a. b. 12. pintu terbuka ke arah jalan atau ruang terbuka. ii. 15. ambang pintu tidak lebih dari 190 mm di atas permukaan tanah. untuk mengurangi jumlah tanjakan dan setiap bordes harus: i. langit-langit dengan ketahanan terhadap penjalaran api tidak kurang dari 60 menit dan dalam kompartemen kebakaran. injakan dan tanjakan konstan. ujung injakan dekat nosing diberi finishing yang tidak licin. 14. tangga. lantai. bukaan antara injakan maksimum 125 mm. Injakan Dan Tanjakan Tangga Tangga harus mempunyai: a.6 m dan panjangnya minimal 2. ii. bila dinding lorong tersebut merupakan perluasan dari: i.7 m. ii. tidak terdapat pencahayaan atau bukaan atap iainnya sepanjang 3 m dari jalur lintasan yang dipakai untuk keluar mencapai jalan atau ruang terbuka. i. atap tersebut harus a. d. tanjakan. konstruksi atas dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran tidak perlu punya TKA. Bangunan klas 9a: i.ii.

f. atau 700 mm bila tonjolan keluar dari bagian atas balustrade diproyeksikan mendatar tidak kurang dari 1 m. i.i. lantai. dan harus: i. kecuali tangga/ramp luar bangunan.iii dan g. Balustrade. bangunan klas 9b untuk sekolah dasar. g. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. Balustrade sepanjang sisi atau dekat permukaan horisontal seperti: i. permanen sedikitnya 50 mm dari dinding ii. Balustrade pada: i. Bila menggunakan jeruji. mesanin dan sejenisnya. c. b. ii. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir) serta klas 8. iii. dipasang permanen dengan tinggi minimal 865 mm dengan jeruji pendukung permanen setinggi minimal 700 mm. Pintu Sebagai pintu keluar yang disyaratkan: a. bukan pintu berputar b. 8 dengan luas lantai tidak lebih dari 200 m2. . c. tidak dibatasi dengan dinding. bila dibuat sesuai i. kecuali dipasang pada bangunan atau bagian bangunan klas 6. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran atau area lain untuk keadaan darurat. Balustrade atau penghalang lain di depan tempat duduk permanen pada balkon atau mesanin auditorium bangunan klas 9b harus sesuai ketentuan f. d. Balustrade sesuai ketentuan butir e.b.i. sedikitnya dipasang sepanjang satu sisi ramp/tangga ii dipasang pada dua sisi bila lebar tangga/ramp 2 m atau lebih iii. 17. ii. dan ii. Bukaan pada balustrade memenuhi ketentuan butir b. minimal 865 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai ramp ii. kecuali sekeliling panggung.ii. Pada bangunan klas 9a harus tersedia sedikitnya sepanjang satu sisi dari setiap lorong atau koridor yang digunakan oleh pasien. lorong. tinggi lebih dari 1 m di atas lantai atau dibawah muka tanah. tempat bongkar muat barang atau tempat lain bagi staf untuk pemeliharaan. atap. dibuat menerus 18. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. 7. bukan pintu gulung. tinggi di atas lantai tidak kurang dari 1m. balkon dan sejenisnya. tangga. tidak kurang dari 1 m di atas lantai akses masuk. Jarak antara lebar bukaan tidak lebih dari 300 mm ii. tinggi jeruji tidak lebih dan 150 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai bordes.ii. balkon atau sejenisnya dan jarak antar jeruji tidak lebih dari 460 mm. Pegangan Rambat Pada Tangga a. balkon. Pegangan rambat harus tersedia untuk membantu orang agar aman menggunakan tangga atau ramp. Tinggi balustrade: i. e. yang tersedia akses untuk umum dan jalur masuk ke bangunan. Pegangan rambat memenuhi ketentuan butir a tersebut bila: i. dan ramp di luar ketentuan butir b harus mengikuti ketentuan butir f dan g. i. koridor.

dengan tenaga tidak lebih dan 110 N.9 .c. unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. kecuali: i membuka secara langsung ke arah jalan atau ruang terbuka ii. harus dapat dibuka secara manual. bila terjadi kerusakan atau tidak berfungsinya tenaga listrik ii. kecuali: i. 7. dengan tangan. Masuk Dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Pintu harus tidak terkunci dari dalam tangga/ramp/lorong yang diisolasi terhadap kebakaran untuk melindungi orang yang masuk kembali ke lantai atau ruang yang dilayani pada a. unit hunian tunggal dengan luas area tidak lebih dari 200 m2 pada bangunan klas 5. Ayunan harus searah akses keluar. 21. melayani bangunan atau bagian bangunan dengan luas tidak lebih dari 200 m2. kecuali bangunan sekolah. ii. atau bagian klas 4. kecuali bila: a. d.1. dengan mengoperasikan alat pengontrol untuk mengaktifkan alat untuk membuka pintu. dan . b. 19. sehingga orang dalam bangunan segera dapat menyelamatkan diri bila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. 6. lorong atau ramp. b. pada bangunan klas 9b. ruangan yang tidak aksesibel sepanjang waktu bila pintu terkunci. bagian atau jalan keluar harus siap dibuka tanpa kunci dari sisi dalam dengan satu tangan. atau 8. c. c. khususnya oleh pemilik. Pintu Ayun a. bila pintu dioperasikan dengan tenaga listrik: i. 3. kecuali semua pintu secara otomatis terkunci dengan alat yang mengaktifkan alarm kebakaran. 20. bangunan dengan tinggi efektif lebih 25 m. dengan tenaga tidak lebih dari 110 N. melayani kompartemen saniter. termasuk bordes. Bila terbuka sempurna. bangunan klas 9a b. dengan mendorong alat yang dipasang pada ketinggian antara 0. d. melayani komponen sanitasi atau sejenisnya. merupakan satu-satunya pintu keluar dari bangunan dan dipasang alat pegangan pada posisi membuka. melayani lantai atau ruang yang menampung lebih dari 100 orang. iii. melayani hunian yang perlu pengamanan khusus dan dapat segera dibuka: i. ii. ii. Pengoperasian Gerendel Pintu Pintu yang disyaratkan sebagai lintasan. pintu dapat dibuka secara manual. panti asuhan balita atau bangunan keagamaan.2 m dari lantai. hanya melayani: i. Tidak mengganggu lebih dari 500 mm pada lebar yang disyaratkan dari tangga. lebih dari 100 mm pada lebar pintu keluar yang disyaratkan. ii. merupakan satu-satunya pintu keluar yang disyaratkan dalam bangunan bukan pintu sorong. membuka langsung ke arah jalan atau ruang terbuka harus dapat membuka secara otomatis bila terjadi kegagalan pada daya listrik. alarm kebakaran dan lainnya.

VI. ii. b. 2. termasuk penyandang cacat. dan juga rambu permanen tentang cara mengoperasikannya. Ketentuan-ketentuan teknis lebih lanjut mengenai akses bagi penyandang cacat pada butir a di atas mengikuti Pedoman Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Rambu Pada Pintu a. tersedia sistem komunikasi internal. 22. sedikitnya setiap 4 tingkat terdapat pintu tidak terkunci dan terdapat rambu permanen bahwa dapat dilalui. Rambu tersebut harus dibuat dengan huruf kapital minimal tinggi huruf 20 mm. Untuk bangunan yang digunakan untuk pelayanan umum harus dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan akses dan sirkulasi bagi semua orang. untuk memberi tanda pada orang bahwa pintu tertentu harus tidak dihalangi. warna kontras dan menyatakan bahwa pintu jangan dihalangi.i. . Rambu. sistem audibel/visual alarm yang droperasikan dari dalam ruangan khusus dekat pintu. dipasang ditempat yang mudah dilihat atau dekat dengan pintu-pintu tahan api dan asap.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT 1.

Kapasitas angkut lif penumpang yang diizinkan. c. 1 LIF 1. TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. d. Lif kebakaran dapat berupa lif penumpang biasa atau lif barang yang dapat diatur. Kapasitas angkut yang dinyatakan dalam izin. b. 2. . dekat setiap tombol panggil untuk lif penumpang atau kelompok dari lif ada bangunan. e. harus menjadi kapasitas angkut dari lif dimaksud. harus tertulis dalam sangkar dan dinyatakan dalam Kg. lif kecil seperti dumb waiter atau sejenisnya yang digunakan untuk mengangkut hanya barang-barang. Kapasitas Lif a.VII. Sumber daya listrik untuk lif kebakaran harus direncanakan dari sumber yang berbeda. dan menggunakan kabel tahan api. harus tertulis pada sangkar dan dinyatakan dalam jumlah orang yang dapat diangkut. e. b. harus dengan cara menekan sakelar kebakaran (Fire Switch) terlebih dahulu. d. c. f. sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh petuugas Kebakaran. Lift Kebakaran a. Peringatan Terhadap Pengguna Lif Pada Saat Terjadi Kebakaran Tanda peringatan harus: a. tanpa terganggu oleh sakelar panggil lainnya. Untuk mengubah fungsi lif penumpang atau lif barang menjadi lif kebakaran. Pintu saf lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan peraturan yang berlaku di Indonesia. g. 3. harus disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. dipasang ditempat yang mudah terbaca: i. Lif kebakaran harus dapat berhenti di setiap lantai. Waktu tunggu lif. Persyaratan teknis dari lif yang digunakan sebagai lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Kapasitas angkut lif barang yang diizinkan. kecuali ii. Kecepatan dan ukuran sangkar lif kebakaran disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. Jumlah dan kapasitas lif harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untak sirkulasi vertikal pada bangunan.

misalnya bangunan Kelas 9a. ditatah atau huruf timbul pada logam. atau alat-alat lainnya yang dipasang dalam gedung ditempat yang mudah didengar oleh pengelola bangunan gedung yang bersangkutan. Untuk saf lif yang menerus dan tidak memiliki pintu keluar pada setiap lantainya. kayu. Mempunyai kapasitas beban tidak kurang dari 600 Kg. plastic atau sejenisnya dan dipasang tetap didinding. harus: i. 1.DILARANG MENGGUNAKAN LIF BILA TERJADI KEBAKARAN 10 mm 8 mm ATAU Dilarang menggunakan Lif bila terjadi Kebakaran Gambar VII. yang ruang rawat pasiennya tidak berada di lantai Lif pasien yang dibutuhkan pada butir a. b. Lif Untuk Rumah Sakit a. Saf Lif a. . setiap 3 lantai harus memiliki bukaan untuk digunakan dalam kondisi darurat. Dalam saf lif dilarang memasang pipa atau peralatan lain yang tidak merupakan bagian dari instalasi lif. 6. atau ii huruf yang diukir atau ditatah langsung dipermukaan bahan dinding iii. b. Satu atau beberapa lif harus di pasang sebagai lif pasien untuk melayani setiap lantai dalam bangunan yang tidak menggunakan ramp. Lif yang melayani ruang rawat pasien dihubungkan juga ke sistem tenaga listrik cadangan. 5. dan iii. dengan penampilan khusus sehingga dapat terbaca pada keadaan gelap atau sewaktu terjadi kebakaran. bila diperlukan. berukuran cukup untuk meletakkan fasilitas kereta dorong ( wheel strecther) secara horisontal ii. Sangkar Lif Sangkar pada setiap lif harus dilengkapi dengan peralatan tanda bahaya yang dapat dioperasikan dari dalam sangkar. 4. berupa bel listrik. huruf yang diukir. 1 Tanda Peringatan Lif Penumpang b. dan terdiri dari i. telepon. sesuai dengan detail dan dimensi minimum seperti pada gambar Vll.

Semua bagian logam dari lif pada keadaan bekerja normal tidak boleh bertegangan. Bangunan ruang mesin lif harus kuat dan kedap air serta berventilasi cukup. lantai dan penyangga di Ruang mesin harus di rencanakan dengan memenuhi: i. tromol. dan penyangga harus direncanakan sesuai beban dibawah ini: i. Beban diperhitungkan pada saat bandul mekanis governor) bekerja. 9. Pengujian Dan Pemeliharaan a. b. Mesin Lif Dan Ruang Mesin Lif a. untuk mempertahankan suhu udara dan panas dari peralatan mesin. Instalasi Listrik a. Balok. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah tegak. Dua kali jumlah beban komponen yang bergerak vertikal dari tromol (dihitung dari dua sisi). Ruang mesin harus mempunyai sirkulasi udara. Instalasi listrik untuk lif harus dilengkapi dengan pengaman harus lebih atau sakelar otomatis. governor dan peralatan lain. Jika mesin lif dan tali diempatkan di lantai bawah. atau disamping ruang luncur di lantai bawah. Pemeriksaan. c. atau dihubungkan ke tali yang disangga oleh balok. pondasi untuk mesin. . dengan beban sangkar lif. sebelum dioperasikan harus diperiksa dan diuji terlebih dahulu oleh instansi yang berwenang. termasuk lantai ruang mesin. b. panel kontrol. iv. Minimum satu jalan keluar harus dibuat pada setiap nuang mesin lif. peralatan lain dan lantai diatasnya. Beban balok dan penyangga harus sudah termasuk beban mesin lif. Semua hantaran listrik harus dipasang dalam pipa atau saluran kabel (duct) kecuali hantaran lemas (fleksibel) yang khusus. c. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali baban berat pada arah sejajar. Vll. pengujian dan pemeliharaan instalasi lif sesuai dengan SNI 03-1718-1989 dan SNI 03-2190-1991. ii. iii. b. tromol tali. motor generator. 8. ii. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada semua arah gaya d. Prosedur pemeriksaan.2 TANGGA DAN LANTAI BERJALAN Persyaratan Teknis tangga dan lantai berjalan harus mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. Pondasi harus menyangga berat mesin. Instalasi lif yang telah selesai dipasang atau yang telah mengalami perubahan teknis. iii.7.

dipasang sehingga jika tenaga listrik normal terganggu. yaitu pada: i. bangunan kelas 2 atau 3.VIII. koridor. harus: a. mempunyai tigkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman. harus : a. ke ruang terbuka. Jelas. dan pada setiap jalan lintas yang mempunyai panjang lebih dari 6 meter diberikan sistem lampu darurat. DAN SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. tangga yang tertutup. atau sejenisnya yang digunakan pasien.2 TANDA ARAH KELUAR 1. atau iv. ruang yang mempunyai luas lebih dari 300 m2. 2. ii. Setiap tanda “KELUAR” dibutuhkan. lorong atau ramp yang digunakan untuk Keluar iii. 2. . Lampu darurat yang digunakan harus sesuai dengan standar yang berlaku. bekerja secara otomatis b. atau ramp yang digunakan untuk ii tangga luar. jika menggunakan sistem terpusat. Tanda KELUAR harus jelas kelihatan untuk orang yang menuju keluar. VIII. PENCAHAYAAN DARURAT. hall. jalan keluar di balkon yang menuju Keluar. Setiap lampu darurat. setiap lorong. setiap ruang dengan luas lantai lebih dari 120 m2 yang digunakan pasien d. mudah dibaca. c. e. c jalan lintas. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 100 m2 tetapi kurang 300 m2 yang terbuka: i. bangunan kelas 9a. pencahayaan darurat digunakan pada tanda KELUAR. Sistem lampu darurat dipasang pada: a b. dan harus dipasang diatas atau di dekat setiap: a. atau ii ke ruang yang mempunyai lampu darurat. atau iii. ke koridor. ke jalan raya. Pintu yang digunakan untuk jalan keluar dari setiap lantai keluar i. catu daya cadangan dan kontrol otomatisnya harus dilindungi daari kerusakan karena api dengan konstsruksi penutup yang mempunyai TKA tidak kurang dari -/60/60. 3.1 SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT 1. lorong. TANDA ARAH KELUAR. b c. mempunyai huruf dan simbol dengan ukuran yang cukup diterangi dengan pencahayaan cukup sehingga jelas terbaca setiap waktu oleh orang yang masuk dan berada di dalam bangunan.

hall. Bangunan Kelas 9a yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua: a. langsung memberikan peringatan pada petugas. Jika tanda “KELUAR" tidak segera diketahui oleh penghuni atau pengunjung bangunan. Bangunan kelas 2 sebagai rumah perawatan orang tua. dan: Pintu yang digunakan sebagai atau merupakan bagian dari jalan KELUAR" pada setiap lantai yang harus dilengkapi dengan lampu darurat sesuai VIII. di daerah bangsal perawatan. untuk gedung pertunjukan. Bangunan dengan ketinggian lebih dari 25 m Bangunan Kelas 2 yang mempunyai ketinggian lantai lebih dari dua lapis dan a. d. VIII.b. dan: Jalan keluar horisontal. lobi. Pintu dari tangga tertutup. atau ramp pada setiap tingkat yang menuju Jalan raya atau ruang terbuka. 5. untuk sekolah. atau sejenisnya. 4. anak-anak. sistem alarm diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan dan trauma. kecuali bila sistemnya a. lorong. c. yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua. sesuai dengan tipe dan kondisi penghuni. b.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA Sistem peringatan bahaya dan komunikasi internal mengacu pada standar yang berlaku dan harus dipasang pada: 1. atau b. bagian rumah dari sekolahan. mempunyai ketinggian lantai tidak lebih dari tiga b. hall umum. sistem alarm dapat diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan sesuai dengan tipe dan kondisi pasien Bangunan Kelas 9b a. 2.1 3. maka tanda Keluar dengan arah panah harus dipasang pada posisi yang tepat di koridor. atau sejenisnya yang menunjukkan arah keluar yang disyaratkan. atau orang cacat. . sistemnya harus diatur memberikan peringatan pada petugas b. akomodasi untuk orang tua. 3.

dengan frekuensi 50 Hertz. mengganggu dan merugikan bagi manusia. jaringan distribusi. Peralatan pada papan hubung bagi seperti sakelar. seperti pompa kebakaran. dengan frekuensi 50 Hertz. dan dilindungi terhadap kebakaran atau terdiri dari penghantar tahan api. tidak membahayakan.1 INSTALASI LISTRIK 1. Sistem tegangan menengah dalam gedung adalah 20 kV atau kurang. Kecuali untuk hal-hal yang dianggap khusus atau yang tidak disebutkan. Untuk hal-hal yang belum dicakup atau tidak disebut dalam PUIL. Dalam menentukan tipe peralatan yang dipakai untuk instalasi listrik harus kuat harus diperhatikan bahaya kebakaran yang mungkin dapat terjadi dan kerusakan yang mungkin terjadi akibat kebakaran. Semua peralatan listrik diantaranya penghantar. b. dipelihara. lingkungan. papan hubung bagi dan beban listrik. maka segala sesuatu yang bersangkutan dengan instalasi dan perlengkapan listrik harus sesuai dengan buku Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. ukuran dan kemampuan. sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. c. d. . lif kebakaran. alat ukur. Sistem instalasi listrik terdiri dari sumber daya. Jaringan yang melayani beban penting. tombol.IX. sistem komunikasi darurat. INSTALASI LISTRIK. Sistem instalasi listrik dan penempatannya harus mudah diamati. dan lain-lain harus ditempatkan dengan baik sehingga memudahkan pengoperasiannya oleh petugas. b. dan beban penting lainnya harus terpisah dari instalasi beban lainnya. c. tidak boleh dibebani melebihi batas kemampuannya e. transformator dan peralatan lainnya. 2. sistem deteksi dan alarm kebakaran. Jaringan distribusi listrik terdiri dari kabel dengan inti tunggal atau banyak dan busduct dari berbagai tipe. Perencanaan Instalasi Listrik Instalasi listrik harus memenuhi ketantuan: a. Sistem tegangan rendah dalam gedung adalah 220/380 volt. peralatan pengendali asap. PENANGKAL PETIR DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. papan hubung bagi dan isinya . Tipe dari kabel harus disesuaikan dengan sistem yang dilayani. Jaringan Distribusi Listrik a. bagian bangunan dan instalasi lainnya. dapat menggunakan ketentuan/ standar dari negara lain atau badan international.

e. atap dan lantai yang kokoh. faktor kebersamaan (coincident factor) atau faktor ketidak bersamaan (diversity factor). di antaranya Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. . dengan pintu yang hanya dapat dimasuki oleh petugas. c. Bila ruang transformator dekat dengan ruang yang rawan kebakaran maka diharuskan mempergunakan transformator tipe kering. Beban dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut konservasi energi dan lain-lain. dengan ijin instansi yang bersangkutan. 4. yang penempatannya harus aman dan tidak menimbulkan gangguan lingkungan serta harus mengikuti standar dan atau nomalisasi dari peraturan yang berlaku. f. Sumber Daya Listrik a.3. Bangunan dan ruang khusus yang pelayanan daya listrik tidak boleh putus. Sistem instalasi listrik pada bangunan gedung tinggi dan bangunan umum harus memiliki sumber daya listrik darurat yang mampu melayani kelangsungan pelayanan seluruh atau sebagian beban pada gedung apabila tajadi gangguan sumber utama. Pemeriksaan Dan Pengujian Instalasi listrik yang dipasang. Instalasi dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan dan diamankan terhadap dampak seperti interferensi golombang elektromanetik dan lain-lain. sumber daya utama dapat menggunakan sistem pembangkit tenaga sendiri. Ruangan trafo harus diberi ventilasi yang cukup. harus terlebih dahulu diperiksa dan diuji mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku. dengan ruangan yang cukup untuk perawatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Transformator Distribusi a. 5. d. secara otomatis. Sumber daya listrik darurat yang digunakan harus mampu melayani semua beban penting yang disebut dalam butir 3. sebelum dipergunakan. Apabila ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir 1 di atas tidak momungkinkan. Beban Listrik Beban maksimum suatu instalasi listrik arus kuat harus dihitung dengan memperhatikan besarnya beban terpasang. g. Sumber daya utama gedung harus menggunakan tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara. b. Transformator distribusi yang berada dalam gedung harus ditempatkan dalam ruangan khusus yang tahan api dan terdiri dari dinding. b. harus memiliki pembangkit tenaga cadangan yang dayanya dapat memenuhi kelangsungan pelayanan dari seluruh atau sebagian dari bangunan atau ruang khusus tersebut. c. 6.

serta diberi ventilasi cukup. termasuk manusia yang ada di dalamnya. Pemeriksaan dan Pemeliharaan a. 1.3 INSTANSI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG.7. antara lain SNI-3990 tentang Tata Cara Instalasi Penangkal Petir Untuk Bangunan dan SNI-3991 tentang Tata Cara Instalasi Penyalur Petir. Setiap bangunan atau yang berdasarkan letak. c. b. Instalasi penangkal petir harus disesuaikan dengan adanya perluasan atau penambahan bangunan. b. perbaikan dan pelayanan. 2. mengganggu dan merugikan lingkungan. Sistem instalasi komunikasi telepon dan tata gedung dan penempatannya harus mudah diamati. serta direncanakan . tanpa mengurangi nilai perlindungan yang efektif terhadap sambaran petir. IX. tidak membahayakan. dan instalasi lainnya. Pemasangan penangkal petir harus diperhitungkan berdasarkan standar. Suatu instalasi penangkal petir harus dapat melindungi semua bagian dari bangunan. Ha-hal yang belum diatur didalam peraturan tersebut diatas baik yang menyangkut perhitungan maupun peralatan dan instalasinya. instalasi penangkal petir harus diperiksa dan dipelihara secara berkala. harus terdapat ruang yang cukup untuk memudahkan pemeriksaan. harus diberi instalasi penangkal petir. sifat geografis. Apabila terjadi sambaran pada instalasi penangkal petir. Pemasangan instalasi penangkal petir pada bangunan.2 INSTALASI PENANGKAL PETIR 1. dipelihara. Instalasi Penangkal Petir a. IX. harus mengacu pada rekomendasi dari badan International seperti IEC. bagian atau peralatan dan perlengkapan bangunan yang mengalami kerusakan. Pemeliharaan a. b. Pemeliharaan instalasi listrik harus dilaksanakan dan diperiksa setiap lima tahun serta dilaporkan secara tertulis kepada instansi yang berwenang c. bentuk dan penggunaannya diperhitungkan mempunyai risiko terkena sambaran petir. Pada ruang panel hubung bagi. bagian bangunan dan instalasi lain. harus diadakan pemeriksaan dari bagian-bagiannya dan harus segera dilaksanakan perbaikan terhadap bangunan. harus memperhatikan arsitektur bangunan. Pembangkit tenaga listrik darurat secara periodik harus dihidupkan untuk menjamin agar pembangkit tersebut dapat dioperasikan bila diperlukan. normalisasi teknik dan peraturan lain yang berlaku. 3. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung a. b. Perencanaan Penangkal Petir a. terhadap bahaya sambaran petir.

kedap debu. atau terdiri dari kabel tahan api. 2. Ruang PABX dan TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan: i. iii.b. sirkulasi udara cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. c. Setiap bangunan dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m keatas. terang. maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. ii. Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya dan dilindungi terhadap bahaya kebakaran. Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas. tidak ada genangan air. Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak. c. Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir a diatas harus menggunakan sistem khusus. maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja. Secara berkala dilakukan pengukuran/ pengujian terhadap EMC (Electro Magnetic Campatibility). dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektro magnetik. Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. minimal berjarak 0. Instalasi Tata Suara a. Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. Instalasi Telpon a. terang. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. Ruang batere sistem telepon harus bersih. dan lain-lain. d. Dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku.50 m x 0. aman dan mudah dikerjakan. iii.80m. b. harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran. Ruang yang bersih. Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi Persyaratan: i. dan dilaksanakan berdasarkan standar. 3. b. c. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. ii. . normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku.

Ukuran pipa gas harus mencukupi dan dipasang untuk melayani pasokan gas dalam rangka memenuhi kebutuhan maksimum tanpa terlalu banyak kerugian tekanan antara meter-gas dan peralatan-peralatan pengguna gas. Faktor diversifikasi (diversity factor). Gas nitrous Oxida (N2O) c. serta merupakan bagian pertimbangan keandalan bangunan. serta mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut : i. yang terdiri dari kandungan methane (CH4) dan ethane (C2He ). atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. Konsumsi gas maksimum yang perlu disediakan. b. v. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. X. Instalasi pemipaan untuk rumah dan gedung (mulai dari meter-gas)mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. Gas elpiji (LPG = Liquefied Petroleum Gasses). Rancangan sistem distribusi gas pembakaran. adalah : a. INSTALASI GAS X. harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas yang secara otomatis mematikan aliran gas. Udara tekan . 2. Kerugian tekanan yang diperbolehkan dari meter-gas ke peralatan ii. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. Gas Kota Gas kota yang dipakai umumnya berupa gas alam (natural gas). 3.1 INSTALASI GAS PEMBAKARAN 1. Pada instalasi gas untuk pembakaran. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku. iii. terdiri dari propane (C3H8) dan Butane (C4H10).X. c. Gas elpiji.2 INSTALASI GAS MEDIK 1. iv. vi. Gas oxigen b. Jenis Gas Jenis gas medik yang dimaksud. b. Panjang pipa dan jumlah sambungan. Jenis Gas Jenis gas pembakaran yang dimaksud meliputi: a. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. Berat jenis dari gas. Jaringan Distribusi Gas Kota a.

khususnya untuk instalasi pipa oksigen. Vakum 2. c. Rancangan sistem distribusi gas medik. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang . Instalasi pemipaan untuk bangunan gedung mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. Jaringan Distribusi Gas Medik a. seperti untuk ruang bedah orthopedi. pemilihan bahan dan kontruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. e. Pada instalasi gas medik harus dilengkap peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas dan dilengkapi dengan sistem isyarat tanda kebocoran gas. d. peralatan rawat gigi dan sebagainya. Kebutuhan gas medik garus disesuaikan dengan kebutuhan untuk asien rawat inap dan kebutuhan lain. Pada instalasi pipa gas medik harus dilengkapi dengan biofilter. 3.d. pipa Nitrous Oxida dan pipa udara tekan. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. b.

tidak mengganggu lingkungan. dan Pedoman Plambing Indonesia yang berlaku. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam operasional dan pemeliharaannya. maksimum 60° C. Pipa pembawa air panas yang cukup panjang tersebut harus dilapisi dengan bahan isolasi. petunjuk teknik. Perencanaan Sistem Plambing a. kecuali untuk penggunaan khusus. SISTEM PLAMBING 1. e. SANITASI DALAM GEDUNG XI. Sistem distribusi air harus direncanakan sehingga dengan kapasitas dan tekanan air yang minimal. maka harus dipasang sistem tanki persediaan air dan pompa yang direncanakan dan ditempatkan sehingga dapat memberikan kapasitas dan tekanan yang optimal. Bangunan yang dilengkapi dengan sistem penyediaan air panas. b. f. . meliputi sistem air bersih. 2. Sumber air bersih pada bangunan harus diperoleh dari sumber air PAM (Perusahaan Air Minum). d. maka harus dilengkapi dengan pipa sirkulasi.1. serta diperhitungkan berdasarkan standar. sistem air kotor dan alat plambing yang memadai. sebelum digunakan harus mendapat persetujuan dari instansi yang berwenang. dimana pipa pembawa air panas dari sumber air panas ke alat plambing cukup panjang. dan apabila sumber air bukan dari PAM. Setiap pembangunan baru dan atau perluasan bangunan harus diperlengkapi dengan sistem plambing. b.XI. Temperatur air panas yang keluar dari alat plambing harus diatur. Kualitas air bersih yang dialirkan ke alat plambing dan perlengkapan plambing harus memenuhi standar kualitas air minum yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. c. alat plambing dapat bekerja dengan baik. Kebutuhan air bersih untuk perumahan berkisar antara 60-250 liter/orang/hari. Apabila kapasitas dan atau tekanan sumber yang digunakan tidak memenuhi kapasitas dan tekanan minimal pada titik pengaturan keluar. sedangkan untuk kelas bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia. Sistem Penyediaan Air Bersih a. g.

baja maupun bahan lainnya yang tidak mudah rusak. Pada dasarnya air kotor berasal dari aktivitas manusia. besi tuang. f. i. h. Saluran air kotor dapat benupa pipa atau saluran lainnya. Semua air kotor harus diolah sebelum dibuang ke saluran air kotor umum kota atau disalurkan ke bangunan pengolahan air kotor komunal bila tersedia. maka dapat menggunakan sistem perpompaan. . Apabila cara gravitasi ini tidak dapat dilaksanakan. kakus maupun kegiatan lainnya. sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia. d. b. Pemilihan bahan dan pemasangan saluran harus disesuaikan dengan penggunaannya dan sifat cairan yang akan dialirkan. Sistem air kotor didalam bangunan harus dilengkapi dengan pipa ven untuk menetralisir tekanan udara didalam saluran tersebut. baik dari bahan PVC. beton. Air kotor yang mengandung bahan buangan berbahaya dan beracun. sehingga dapat mengalirkan air kotor secara gravitasi. tembaga. serta yang mengandung radioaktif. Semua sistem pelayanan air bersih harus direncanakan. baik tempat mandi cuci. Sistem pengaliran air kotor direncanakan dengan menggunakan saluran tertutup dan kemiringan tertentu. PE. c. 3. Diameter pipa sambungan pelanggan dari jaringan pipa distribusi kota harus disesuaikan dengan kelas bangunan. harus ditangani secara khusus. tidak mengandung bahan beracun dan pemasangannya harus sesuai dengan petunjuk teknis bahan pipa yang bersangkutan. Pemeliharaan sistem air kotor dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya penyumbatan. Bahan pipa yang digunakan dapat berupa PVC. e. i. PE (poli-etilena). dipasang dan dipelihara sedemikian rupa sehingga tidak mudah rusak dan tidak terkontaminasi dari bahan yang dapat memperburuk kualitas air bersih. karat dan kebocoran. sesuai dengan petunjuk teknis dari bahan pipa yang bersangkutan dan ketentuan-ketentuan lain yang berlaku di Indonesia. Sistem Pembuangan Air Kotor a.h. mampu menahan tekanan sekurang-kurangnya 2 kali tekanan kerja. j. g. besi lapis galvanis atau Tembaga. Penentuan diameter saluran dibuat seekonomis mungkin sesuai dengan kapasitas dan bahan buangan yang akan dialirkan. tanah liat. tahan terhadap karat dan panas.

babas dari kerusakan dan tidak mempunyai bagian kotor yang tersembunyi. kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni bangunan. harus dilengkapi dengan alat perangkap minyak dan lemak. e. Pemeliharaan semua alat plambing. harus dilengkapi dengan alat pencegah kontaminasi. 5. baja. f. penanggulangan kebakaran dan pengaturan tekanan air. perlengkapan bangunan. d. e. Bahan alat plambing harus mempunyai permukaan yang halus dan rapat air. Semua alat plambing harus direncanakan dan dipasang sehingga memenuhi aspek kebersihan. c. Pipa pembuangan dari alat plambing yang digunakan untuk menyimpan atau mengolah makanan. Pada pipa penyaluran air kotor dari alat plambing yang mungkin menerima buangan mengandung minyak atau lemak. harus dilakukan secara berkala untuk menjamin kebersihan dan bekerjanya alat tersebut dengan baik. b. tahan lama untuk digunakan. Tangki Penyediaan Air Bersih a. fiberglass dan kayu. Bahan tangki dapat berupa beton. pipa penguras dan pipa ven. pipa peluap. Apabila tangki penyediaan air bersih menggunakan bahan lapisan untuk mencegah kebocoran dan karat. serta dilengkapi dengan 1ubang pemeriksa. Jumlah dan jenis alat plambing serta perlengkapannya harus disediakan sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. bahan tersebut tidak boleh memperburuk kualitas air bersih. b. . minuman bahan steril atau bahan sejenis lainnya. Tangki penyediaan air bersih harus diiengkapi dengan sistem perpipaan dan perlengkapannya yang terdiri dari pipa masuk dan pipa keluar. Alat Plambing a. seperti katup penahan aliran balik dan katup pencegah atau pemutus vakum. harus dilengkapi dengan celah udara yang cukup untuk mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi. tidak mengganggu struktur bangunan dan memberikan kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan.4. c. g. Fungsi tangki penyediaan air bersih adalah untuk menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan penghuni. Tangki penyediaan air bersih harus direncanakan dan dipasang untuk penyediakan air dengan kuantitas dan tekanan yang cukup. Konstnuksi dan bahan tanki penyediaan air bersih harus cukup kuat dan tidak mudah rusak. d. Peralatan plambing yang mengalirkan air bersih ke tempat-tempat yang dapat menimbulkan pencemaran.

Air hujan harus dialirkan ke sumur resapan dan atau dialirkan ke jaringan air hujan umum kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. c. Bila belum tersedia jaringan umum kota ataupun sebab-sebab lain yang dapat diterima. Pompa harus dilengkapi dengan alat pengukur tekanan dan katup pencegah aliran balik pada pipa keluaran dan ujung pipa isap pompa. d. b Saluran air hujan dapat merupakan saluran terbuka dan atau saluran tertutup.6. XI. c. maka harus dilakukan cara-cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang 2. b. c. Fungsi pompa air kotor adalah menyalurkan air ke saluran air kotor umum Kota atau ke bangunan pengolahan air lainnya. Pompa harus dipasang pada lokasi yang mudah untuk pengoperasian dan pemeliharaannya. dan bila tidak dapat dilakukan dengan cara gravitasi. disesuaikan dengan diameter saluran tersebut dan standar yang berlaku. Pemasangan pompa harus dilengkapi peralatan peredam getaran yang dipasang pada dudukan pompa. Setiap bangunan dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem saluran air hujan. 1. SALURAN AIR HUJAN. lubang pemeriksa harus dibuat dengan jarak tiap 25-100 m. sehingga dapat mengalirkan seluruh air hujan dengan baik agar bebas dari genangan air. Apabila saluran dibuat tertutup. e. dan pada saluran yang lurus. Kemiringan saluran harus dibuat. maka dapat menggunakan sistem perpompaan. yang tanki kotor kotor b. Kelengkapan pada Bangunan a. Pompa a.2 Pemilihan jenis pompa dan motor pompa disesuaikan dengan karakteristik pompa yang dibutuhkan dan mempunyai effsiensi yang maksimal. maka pada tiap perubahan arah aliran harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa. Persyaratan Saluran a. . pipa isap dan pipa keluaran pompa. Fungsi pompa air bersih adalah memberikan kapasitas dan tekanan cukup pada sistem penyediaan air bersih atau menyalurkan air ke penyediaan air bersih.

Pewadahan a.d. tidak mudah rusak. dan pasangan bata atau beton. b. beton. mempunyai tutup dan mudah diangkut. besi dan baja harus dilapisi dengan lapisan tahan karat. c. Sampah Berbahaya Untuk sampah padat yang dikatagorikan sebagai jenis buangan berbahaya dan beracun (sampah B3). Bahan tersebut dapat berupa kantong plastik. Bahan saluran dapat berupa PVC. atau Pengelola Pengangkutan Sampah. Khusus untuk bahan seng. Penempatan pada Bangunan Setiap bangunan baru dan atau perluasan bangunan harus dilengkapi dengan fasilitas pewadahan dan atau penampungan sampah sementara yang memadai. besi dan baja. peti kemas baja. masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Tempat pewadahan sampah harus terbuat dari bahan kedap air. sehingga tidak mengganggu kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni. 3.3 PERSAMPAHAN 1. fiberglass. Bentuk pewadahan sampah harus disesuaikan untuk kemudahan pengangkutan sampah oleh Dinas Kebersihan Kota. tanah liat. 3. Kapasitas pewadahan sampah atau tempat penampungan sementara harus dihitung berdasarkan jenis bangunan dan jumlah penghuninya. peti kemas fiberglass. pasangan. penempatan dan pembuangannya harus ditangani secara khusus sesuai dengan peraturan yang berlaku. seng. sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pemeliharaan Pemeliharaan sistem air hujan harus dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. 2. . XI.

Bangunan kelas 5. pintu atau sarana lain yang dapat dibuka i. (3) ruangan bersebelahan yang dimaksud dalam butir b di bawah ini. (1) jendela. . (2) teras terbuka. 2. dengan jarak tidak lebih dari 3. Ventilasi alami harus terdiri dari bukaan permanen. ii ke arah. jendela. Penerapan ventilasi alami. (1) ruang yang di ventilasi bukan kompartemen sanitasi. bukaan.6 m diatas lantai. VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII.1. bukaan. Bangunan klas 2. Ventilasi mekanis yang memenuhi ketentuan yang berlaku. pelataran parkir. 8 atau 9.1 VENTILASI 1. 6. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai lantai kedua ruangan tersebut. b. Kebutahan Ventilasi Setiap bangunan harus mempunyai: a. Ventilasi Dari Ruangan Yang Bersebelahan Ventilasi alami pada suatu ruangan dapat berasal dari jendela. 7. bukaan pintu ventilasi. (3) ruangan bersebelahan dengan jendela. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 10% luas lantai kedua ruangan tersebut. ii. dan: i. Ventilasi alami sesuai dengan butir XII. (2) ruangan bersebelahan yang mempunyai jendela. (2) jendela.XII. dan yang sejenis. dengan jumlah bukaan berukuran tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang dibutuhkan untuk di ventilasi. pintu atau sarana bukaan lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 10% dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. bukaan. atau sarana lainnya dari ruangan yang bersebelahan (termasuk teras tertutup) jika kedua ruangan tersebut berada dalam satuan hunian yang sama atau mempunyai teras tertutup yang menjadi satu. atau daerah yang terbuka ke atas. (3) Luas ventilasi yang diatur pada butir (1 ) dan (2) dapat direduksi secukupnya jika tersedia ventilasi alami langsung dari sumber lainnya. bukaan. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang diventilasi. (1) halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai. Ventilasi Alami a.2 di bawah ini atau b. dan hunian tunggal pada bangunan klas 3.

v. pada bangunan Kelas 5. dan pintu ke ruangan tersebut harus terhalang dari penglihatan.1 m2 dan pada setiap pintu jalan masuk harus dipasang alat penutup pintu otomatis.c. harus mempunyai konstruksi lantai yang sesuai. setiap peralatan masak yang mempunyai: (1) total daya masukan listrik maksimum lebih dari 8 kW. e. g. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan mekanis. ruang yang digunakan sebagai tempat berkumpul (yang tidak berbentuk pusat penitipan anak. f. iv. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan udara mekanis. ruang kerja yang umumnya digunakan oleh lebih dari satu orang. sistem ventilasi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. ii. jika berada dibawah lantai dasar. 6. sekolah TK atau panggung terbuka). dapur atau pantry. harus mempunyai penutup yang kedap air diatas muka tanah/halaman dibawah lantai dasar. 8 atau 9 (yang bukan merupakan pusat penitipan anak. atau iii. Batasan untuk posisi kakus dan peturasan. (1) jalan masuk harus melalui suatu dinding terkurung. kecuali pelataran parkir terbuka harus mempunyai: i. ii ruang makan umum atau restoran. sistem ventilasi alami permanen yang memadai. jika: i. harus mempunyai jarak melintang yang cukup untuk ventilasi antara bagian bawah permukaan lantai dasar dengan permukaan tanah/ halaman. atau ii. Ruang antara Jika ruang kakus atau peturasan yang dilarang menurut butir c di atas terbuka langsung terhadap ruang lainnya: i. d. (1) jalan masuk harus melalui ruang antara. Pembuangan udara dari dapur Pada dapur komersial harus tersedia tudung pembuangan gas dapur yang memenuhi ketentuan yang berlaku. koridor atau ruang lainnya. Ventilasi ruangan dibawah lantai dasar Lantai paling bawah suatu bangunan: i. koridor atau ruang lainnya dengan luas tidak kurang dari 1. Dalam hunian tunggal pada bangunan kelas 2 atau 3 atau bagian bangunan kelas 4. Gedung Parkir Setiap lantai gedung parkir. . Ruang kakus atau peturasan tidak boleh terbuka langsung ke arah: i. 7. sekolah TK atau panggung terbuka). atau (2) total daya masukan gas lebih dari 29 MJ/jam. asrama pada bangunan Kelas 3. ii. iii.

pabrik.60 meter diatas lantai. rumah sakit. serta biaya awal dan biaya umur pemakaian energi. Besamya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruang dalam bangunan harus sesuai standar yang berlaku. atau sebaliknya. d. Karakteristik beban bangunan harus dianalisa sehingga memungkinkan sistem dan peralatan dengan ukuran yang tepat serta dipilih untuk memperoleh efisiensi yang baik pada beban penuh atau beban paruh. dan minimal 2/3 volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0. termasuk dengan memperhitungkan pemakaian energi per tahunnya. kantor. sistem tersebut harus bekerja terus menerus selama ruang tersebut dihuni. total daya masukan maksimum per m2 luas lantai ruangan yang mempunyai lebih dari satu alat masak. Konservasi Energi a. Ruang parkir pada ruang bawah tanah (basement) yang terdiri dari lebih satu lantai. c. lebih dari: (1) 0. Bilamana digunakan ventilasi buatan. b. Ventilasi buatan a. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistem ventilasi buatan untuk membuang udara kotor dari dalam. Prosedur Perhitungan beban pendinginan harus mengikuti prosedur sesuai yang ditunjukkan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung.5 kW untuk daya listrik. . 3. f. dan standar teknis lain yang berlaku. c. 3. Kebutuhan Pengkondisian Udara Setiap bangunan seperti untuk hunian. Rancangan sistem pengkondisian udara harus dikembangkan sehingga penggunaan energi yang optimal dapat diperoleh. b. Pengkondisian udara harus memperhatikan upaya konservasi energi minimal seperti dinyatakan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya. e. Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan a. pemilihan peralatan. dan setiap ruang lainnya bila diperlukan dapat mempunyai sistem pengkondisian udara yang memenuhi ketentuan yang berlaku.8 MJ/jam untuk daya gas. XII. PENGKONDISIAN UDARA 1. Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara secara maksimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar.2 2. atau (2) 1. toko. Sistem Ventilasi buatan harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi syarat tidak memadai.ii.

ruang steril dan ruang perawatan bagi pasien yang berpenyakit menular.b. atau standar internasional lain yang diakui oleh instansi yang berwenang. dibuat dan dipasang sesuai ketentuan yang berlaku. (2) Semua saluran udara harus direncanakan. (3) Sistem pengkondisian udara pada bangunan klas 8a untuk ruang operasi. ii. sistem distribusi udara. isolasi pemipaan. sistem pompa dan pemipaan. sistem kontrol. Kondisi Luar Bangunan Kondisi rancangan udara luar bangunan mengacu pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. . Dasar perancangan i. . Penetapan sistem dan peralatan. Kondisi Dalam Bangunan Kondisi dalam bangunan yang memerlukan pengkondisian udara harus dirancang sesuai penggunaannya. tidak dibenarkan mempergunakan sistem sirkulasi udara yang dapat menyebabkan penularan penyakit ke bagian lain bangunan. (1) Penetapan sistem dan peralatan pengkondisian udara (Sistem Fan. iii. isolasi sistem distribusi udara) mengacu pada SK SNI yang berlaku.

pintu ketuar. pencahayaan untuk pameran seni. pencahayaan luar untuk monumen publik. seperti proses produksi dan penyimpanan. .00 pagi. taman dan daerah bagian luar lainnya.XIII. fasilitas pencahayaan untuk display di muka atau jendela toko. PENCAHAYAAN XIII. dan diskotek dimana pencahayaan merupakan bagian penting untuk menghasilkan knalitas tampilan. fasilitas luar untuk olahraga. g. kegiatan diluar bangunan. PENCAHAYAAN BUATAN. 2. daerah yang mempunyai risiko keamanan tinggi dan diperlukan tambahan pencahayaan untuk keamanan manusia. selama operasi normal. f. pencahayaan di unit pengeboran. meliputi: a. dsb. presentasi audio visual dan bagian-bagian lain dan fasilitas pertunjukan seperti panggung di hotel. c. m. sehingga diperoleh konsumsi energi yang masih dapat dipertanggung jawabkan. Sistem pencahayaan buatan harus dipilih secara fleksibel. 1. pencahayaan darurat yang secara otomatis mati.2 2. daerah luar bangunan. pencahayaan untuk pembuatan film. Energi Yang Dikonsumsi Energi yang dikonsumsi untuk pencahayaan buatan mempunyai pengaruh besar pada peningkatan beban listrik dan beban pendinginan bangunan. n. i. museum dan monumen. jalan. pintu masuk ii. pencahayaan didalam bangunan yang digunakan dari jam 22. j. ruangan dan daerah yang dicakup oleh bagian ini meliputi: a. Kamar. c. pencahayaan untuk rambu-rambu. daerah dan peralatan yang tidak termasuk bagian ini. ruangan didalam bangunan b. klub malam. Kamar. d. gallery. k. efektif dan sesuai dengan kebutuhan ruangan. termasuk daerah di udara terbuka dimana pencahayaan dibutuhkan dan disambungkan dengan listrik bangunan.00 malam sampai jam 06. e. ruang kelas yang direncanakan untuk kebutuhan khusus. seperti: i. iii. b. penyiaran televisi. tempat bongkar muat barang. ruangan. 1. reflektor khusus untuk medis dan perawatan gigi. pencahayaan khusus laboratorium.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN 1. Tingkat Iluminasi Tingkat iluminasi disarankan seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung XIII.

Daya Maksimum Yang Diijinkan Beban pencahayaan total untuk ruang dalam bangunan disarankan tidak melebihi nilai maksimum seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Pengendalian silau pada bangunan. Untuk fasilitas banyak bangunan. 2. Reflektor untuk lampu High Intensity Discharge (HID) menggunakan reflektor aluminium anodized berkualitas tinggi. 4. mempunysi karakteristik distribusi pencahayaan sesuai kebutuhan dan tidak menghasilkan ketidak nyamanan karena silau atau pantulan. Penentuan besanya iluminasi Penentuan besarnya iluminasi mengikuti ketentuan teknis SNI-2396 tentang Penerangan Alami Siang hari untuk Rumah dan Gedung. jenis reflektor yang efisien. Jika perlu. Kebanyakan reflektor yang efisien untuk lampu fluorecent adalah dari jenis mirror reflector atau prismatic. b. 6. Perencanaan Sistem Pencahayaan Perencanaan sistem pencahayaan adalah dengan monggunakan sumber pencahayaan yang tepat. 3. c. Kaca mengurangi kemampuan tahan panas dari dinding. XIII. a.3. kebutuhan daya pencahayaan luar bangunan terutama adalah untuk pencahayaan buatan diantara bangunan tersebut. 5. balas. . maupun dari pantulan kaca dan sebagainya.3 PENCAHAYAAN ALAMI 1. Daya pencahayaan buatan untuk bagian luar bangunan sebaiknya tidak melebihi nilai seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. kemampuan tahan panas dari kaca ditingkatkan dengan penggunaan tirai matahari dan atau kaca ganda. baik dari sumber sinar matahari langsung. Daerah efisasi dari lampu yang ada ditunjukkan pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Perencanaan pencahayaan alami Pertimbangan perencanaan pencahayaan alami pada bangunan: a. Pemanfaatan pencahayaan alami Pemanfaatan pencahayaan alami yang optimal pada bangunan karena merupakan cara yang sangat penting untuk mengurangi beban energi bangunan. Penggunaan sakelar otomatis atau sistem pengendali lainnya agar tingkat pencahayaan buatan dalam bangunan dapat diatur. 7. Konsumsi Energi Konsumsi energi pencahayaan buatan dapat diminimalkan dengan mengurangi daya terpasang dan waktu pemakaian. Daya pencahayaan buatan di luar bangunan. langit yang cerah. dan reflaktor yang efisien. Daya terpasang dapat diminimalkan dengan penggunaan lampu. obyek luar. Penggunaan Lampu Penggunaan lampu sesuai kebutuhan dan mempertimbangkan upaya konservasi energi pada bangunan gedung. b.

. Pengendali otomatis. Semua pengendali pencahayaan harus ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/dibaca untuk orang yang berada atau menggunakan ruang tersebut.XIII. kecuali: a. otomatis atau yang terprogram. b. Pengendali untuk keamanan bahaya dan keselamatan. pasar swalayan. kecuali yang diperlukan untak pencahayaan darurat atau pencahayaan lampu “KELUAR”. 1. Minimal satu sakelar dengan tanda khusus untuk melayani 1100 Watt yang disambungkan ke beban listrik. Apabila dimungkinkan adanya pencahayaan alami. e. c. pengendali manual lokal atau pengendali otomatis seperti sakelar yang dilengkapi dengan photoelectric atau dimmer otomatis sebaiknya digunakan di ruangan yang diterangi dengan pencahayaan alami. pertokoan. d. Semua ruangan yang tertutup dengan dinding bata atau partisi yang sampai ke plafond harus dilengkapi dengan satu pengendali pencahayaan manual untuk setiap kamar.4 PENGENDALIAAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN. Kamar tamu hotel harus mempunyai sakelar utama didekat pintu yang mematikan semua lampu dan stop kontak. c. hotel dan rumah sakit. harus dilengkapi dengan pengendali manual. Pengendali dipusatkan di lokasi yang berjarak jauh (seperti ruangan lobi dari kantor. Semua sistem pencahayaan. Pengendali haruss digunakan sehingga bekerja pada baris pencahayaan yang paralel dengan dinding luar bangunan. Pengendali yang memerlukan operator yang terlatih. b. gudang dan koridor yang dibawah pengendalian terpusat). dan harus secara manual atau otomatis dimatikan (misalnya dengan pembatas waktu atau photocell). Minimal satu sakelar harus dipasang untuk setiap group yang melayani luasan 30 m atau kurang. Letak pengendali harus mudah dicapai. f. 2. Pengendali yang diprogram. e. Pencahayaan bagian luar tidak diperuntukkan beroperasi 24 jam terus menerus. Pengendali pencahayaan harus dilengkapi sebagai berikut: a. d. Sakelar pengendali dengan beban yang sama yang tedetak di lebih satu lokasi harus dinilai sebagai penambahan jumlah pengendali untuk memenuhi kebutuhan butir 1 di atas. kecuali untuk hal-hal lain jika diperlukan.

XIV. KEBISINGAN DAN GETARAN
XIV. 1. KEBISINGAN 1. Baku Tingkat Kebisingan a. Salah satu dampak dari usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat kebisingan yang dihasilkan. b. Baku tingkat kebisingan untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti ketentuan dalam standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat kebisingan lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut berlaku baku tingkat kebisingan sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2

XIV.2

GETARAN 1. Baku Tingkat Getaran a. Sala satu dampak dan usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat getaran yang dihasilkan. b. Baku tingkat getaran untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat getaran lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut, berlaku baku tingkat getaran sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2.

XV. KETENTUAN PENUTUP

XV.1

Persyaratan Teknis Bangunan Gedung seperti telah diuraikan pada Bab-bab sebelumnya merupakan persyaratan pokok yang ditunjang oleh standar teknis (SNI), pedoman atau petunjuk teknis yang berlaku dan lebih rinci berkaitan dengan spesifikasi, tata cara, dan metode uji bangunan, komponen, elemen, serta berbagai aspek teknis dari bangunan gedung. Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau yang bersifat alternatif serta penyesuaian penyesuaian yang diperlukan terhadap Persyaratan Teknis Bangunan Gedung diharapkan untuk dikembangkan oleh masing-masing Daerah disesuaikan dengan kondisi, permasalahan, kebutuhan, dan kesiapan kelembagaan di setiap Daerah.

XV.2

MENTERI PEKERJAAN UMUM ttd. RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN
TABEL V.2.3 PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. KETENTUAN UMUM
PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN Untuk: 1. Tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap jalan penghubung atau ramp yang melayani: a. Setiap lantai di atas tinggi efektif 25m, atau b. lebih dari 2 lantai di bawah tanah, atau c. atrium, atau d. bangunan klas 9a yang > 2 lantai, dan 2. jalan penghubung atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dengan panjang > 60 m ke jalan umum atau ruang terbuka, harus dilengkapi dengan: 1. Sistem presurisasi otomatis, atau 2. Ramp atau balkon akses yang terbuka sesuai ketentuan butir Vl.3. BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF >25 M Klas. 2, 3, den 4. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. 2. Bila panjang koridor umum > 40 m, harus dibagi dengan interval < 40 m, dengan konstruksi sesuai ketentuan V.1.3, kecuali bahan pelapis dan bahan yang tidak mudah terbakar Klas5,6, 7,8,dan 9b (selain ruang/tempat parkir) Klas 9a 1. Harus dilengkapi dengan sistem pengendali asap terzona sesuai ketentuan yang berlaku. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis, dan 2. Sistem pengendali asap tezona sesuai ketentuan yang berlaku

KLAS/BAGIAN BANGUNAN Jalan keluar yang Diisolasi terhadap kebakaran

BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF < 25 M Klas 2, 3, den 4 1. Harus dilengkapi dengan alarm dan detekai asap otomatis, dan 2. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran den bangunan kelas 2 atau 3 juga melayani satu atau lebih lantai dengan Kas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8, atau 9b, maka: a. tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap Jalan penghubung atau ramp harus dilengkapi dengan sistem presurisasi udara otomati, atau b. Klas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8 dan 9b harus

Bila > 2 lapis dibawah tanah harus dilengkapi sistem sprinkler. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. atau 4. Sistem sprinkler 1. 3. termasuk jlan penghubung dan rampnya.a. persyaratan khusus dapat digunakan dengan pertimbangan: a. Dengan ketinggian > 2 lantai dan terdiri atas: a. 7. atau b. Sistem detektor dan alarm asap. atau ii. fungsi khusus bangunan c. Sistem sesuai butir 2. 6. sistem sprinkler 3. Sistem presurisasi udara otomatis. Bila < 2 lapis di bawah tanah: i. dan 2. bila basement mempunyai lebih daari satu kompartemen kebakaran. atau 3. tipe dan jumlah material khusus yang disimpan. atau 2. maka: a. diatas harus dipasang. atau 2. Sistem pengendali asap terzona. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. Sistem pengendali asap terzona. 7 (bukan tempat parkir terbuka). Pada bangunan: 1. keragaman klasifikasi bangunan atau kompartemen Klas 5. kecuali bila alarm dan detektor tersebut hanya perlu dipasang pada tiap pintu menuju tangga yang diisolasi terhadap kebakaran untuk sistem peringatan. Klas 6. Klas 5 atau 9b (sekolah) dan b. harus dipasang: a. 8. bila bangunan mempunyai lebih dari satu komprtemen kebakaran. Klas 5 atau 9b (sekolah) dengan ketinggian > 3 lantai. atau ii. harus dipasang: 1. atau b. 8. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendali asap terzona dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detekotr asap bekerja. atau iii. atau b. Basement dengan luas > 200 m2 harus dilengkapi dengan: a.dilengkapi dengan i. Klas 6. 8. Basement dengan > 3 lapis di bawah tanah atau terdapat klas 6 atau 9b dengan jumlah penghuni/pengguna yang banyak. Sistem sprinkler 1. atau 9b. sistem alarm dan deteksi asap otomatis. atau 3. atau 2. 7. atau 9b (selain sekolah) maka pada setiap tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran. dan 9b (selain ruang/tempat parkir Klas 9a BASEMENT (selain ruang/tempat parkir) . dipajang. 2.b. 8. 7. 6. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan klas 4 juga melayani satu atau lebih lantai dengan klas 5. karakter khusus bangunan b. atau 9b (selain sekolah) dengan ketinggian > 2 lantai. atau digunakan dalam bangunan d. Bila bangunan >2 lantai. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. Sistem sprinkler. Sistem pengendali asap terzona.

Bangunan klab malam. dan sistem pengendalian asap sesuai standar teknis yang berlaku 2. 1. atau c.000 m2.000 m2. Bangunan Pertemuan . sistem pembuangan asap otomaatis.500 m2 dan bangunan 2 lantaai atau kurang.kecuali yang ditetapkan pada butir 2. sistem inter komunikasi darurat. dipasang sistem sprinkler 2. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran < 3. terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko Klas 9b. harus dilengkapi dengan: a.000m2 yang membuka ke arah selasar terlindung. sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomaatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. atau ii. dipasang sistem sprinkler 3. harus dilengkapi dengan: a. dan sejenis. sistem peringatan kondisi darurat. termasuk ruang parkir dibawah tanah.Ruang/tempat parkir Atrium kebakaran Ruang/tempat parkir. Setiap kompartemen kebakaran. dan b. atau b. bangunan 1 lantai. dan b. atau lubang-lubang Klas 6. yang dilengkapi dengan sisitem ventilasi mekanis sesuai ketentuan: 1. diskotek. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap.500 m2. sistem pembuangan asap otomatis. sistem pembuangan asap otomatis. tidak terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. Bila bangunan 1 lantai. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1. Selasar terlindung. luas bangunan < 2. bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka 1. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1. bangunan 2 lantai atau kurang. toko dengan luas > 1. atau b. KETENTUAN KHUSUS KLAS/BAGIAN BANGUNAN Klas 6. bila bangunan 1 lantai. luas lantai < 2. dipasang sistem alarm dan detektor asap otomatis. Kompartemen kebakaran > 2. bila: a. dan b. atau 2. Kompartemen Kebakaran > 2.000m2. dan toko (selain pada ketentuan 3 ) yang tidak membuka ke arah selasar terlindung. Jenis kipas yang harus tahan suhu tinggi. sistem deteksi alarm kebakaran.000 m2. harus dilengkapi dengan: a. dan: i. Kabel pengendali dan daya listrik tidak harus yang tahan api Bangunan yang memiliki atrium harus dengan kelengkapan sistem sprinkler. Bangunan satu lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. dan 2. bila: a. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran > 3.

Bangunan pertemuan lainnya (diluar butir 3 dan 4 diatas): a.500 m2. bila bangunaan 1 lantai 4. atau iii. sistem pengelola udara mekanis yang bukan meru-pakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shutdown) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. kolam renang dan sejenis) selain dari gedung olahraga(indoor) dengan jumlah tempat duduk > 1. selain pada bangunan sekolah dengan luas lantai kompartemen kebakaran > 2. termasuk theater kuliah dan komplek auditorium: a. Bila luas bangunan > 3. ruang senam. atau sistem sprinkler.000 m2 harus dilengkapi dengan ketentuan seperti butir 4. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. sistem pembuang asap otomatis. gereja. sistem pembuang asap otomatis. bila bangunan 1 lantai. Gereja.000-3. Bangunan yang dikecualikan dari ketentuan butir a diatas adalah: i. dan c. Bukan pada bangunan sekolah.000 m2 i.000 m2 dan tinggi bangunan 2 lantai atau kurang. dan b. Bangunan pameran. sistem pembuang asap otomatis. atau ii. Mesjid dan tempat lainnya yang khusus hanya untuk kegiatan peribadatan. atau iii.000 ii. Setiap kompartemen kebakaran dengan luas > 2. atau sistem sprinkler 2. diatas. sistem pembuang asap otomatis. 5. . atau ii. Bila luas bangunan 2. dipasang sistem sprinkler dan i. dengan luas > 200 m2. Bangunan theater atau tempaat pertemuan/hall umum: a. dan b. bila luas lantai kompartemen kebakaran < 5. idem 1. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. harus dilengkapi dengan a. atau ii.500m2 i. atau ii.b diatas b. atau harus dilengkapi dengan: i. pada bangunan sekolah. lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis.a.ventilasi asap dan panas otomatis pada bangunan 1 lantai. Bangunan theater atau hall umum selain butir 3. sistem sprinkler. dengan luas > 300m2 atau b. kompleks olahraga (termasuk hall olah raga. bila bangunan 1 lantai. bilang bangunan 1 lantai 3. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. gereja. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. digunakan sistem alarm dan detektor asap otomatis.

Sri Hartinah. Hendro Moeljono Ir. J. Tulus Rachmat S Ir. Balitbang. H. Dipl. IAI. PU Dit.Arch. Renyansih Ny. Sefiawan Kanani Ir. Dep. DJCK Bagian Hukum. MSc Ir. L. DJCK. Ir. MSc Ir. IAI Ir. Dep. Sardjono Hadi Sugondo Ir. Balitbang. DJCK.Sc. Dipl. MPA Ir. Wiedodo Ir. PU Biro Hukum. PU Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) . Dep. Setjen Dep. DJCK Dit. Achid Winarno Ir. CES Ir. Erry Saptaria Achyar. HR. Binlak Wilayah Timur. SH Ir. P. MSc. PU Dit. Gembong Priyono. IAI Ir. Jacob Ruzuar. Dipl. J.E.. Dep. MSc Ir. PU Puslitbangkim. Eko Widiatmo Ir. Binlak Wilayah Tengah . Antonius Budiono. Dep. Bambang Guritno. Dep. DJCK. Setjen Dep. H. DJCK Dit. Rusdi Marzuki Ir.. DJCK. Bintek. Hari Sasongko Suwarmo S. PU Staf Ahli Menteri PU V Bidang Pengembangan Jasa Konstruksi Direktur Bina Teknis . Suprapto. B. MCM. Bitnek. Dep. Bintek. Adjar Prajudi. MSc Ir. Pelaksana Ir. PU Widyaiswara Dep. Ridwan Munzir Ir. Balitbang. PU Sekretaris Ditjen Cipta Karya. Imam S. Sukartono Ir. G. DJCK.BD. PU Kepala Puslitbangkim. MCM. M. PU Puslitbangkim. PU Kepala Balitbang Dep. Aim Abdurachim Idris. Prawoto Menteri Pekerjaan Umum Direktur Jenderal Cipta Karya. Dep. PU Kepala Biro Hukum. Balitbang. Sidjabat Ir. Harlansyah Soerarso. Roestanto Wahidi D. Dep. Bitnek. Dep. Hari Sidharta. MSc Kelompok Kerja Ir. PU Dit. Achmad Lanti. MCM Ir G. PU Puslitbangkim. Rachmadi BS. Dep. FRAIA Ir. Ernawi. Sunaryo Sumadji. Dep. PU Sekretaris Jenderal Dep. MSc Ir. Dep. Pengarah Drs. Eko Djuli Sasongko Ir. Diding Muchidin Ir. SE Ir. Binlak Wilayah Barat. DJCK. PU Dit. PU Dit. MM. Bintek.TIM PENYUSUN PEDOMAN TEKNIS PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG Pembina Ir. Eng. MSc Ir. PU Dit. Sutikni Utoro Wibisono Setio Wibowo. DJCK.

Sugeng Triyadi S. G. Eka Sediadi Rasyad Ir. Drajat Hoedayanto. MEng DR. MT Ir. Tulus Widiarso.MAUD DR.Ir. Jl. Eko Djuli Sasongko Studio Taba '98 Direktorat Bina Teknik Direktorat Jenderal Cipta Karya. Jakarta Universitas Trisakti.March. Daniel Mangindaan Ir.U. MSA. Hendro Moeljono Ir. A. Ernawi.M. Hadi Prabowo.id . MT Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Ikatan Ahli Lansekap Indonesia (IALI) Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Teknik Tanah Indoensia (HATTI) Institut Teknologi Bandung Institut Teknologi Bandung Universitas Trisakti. J. Jakarta 12110 Indonesia Telepon: (021) 7268203 Faks: (021) 7235223 E-med: bintekctaba@pu. IAI Ir. Ing. Imam S. Ir. Bintang Agus Nugroho. Sofyan Nurbambang DR. Ariono Suprayogi Ir. Penyelaras Akhir Ir. Departemen P. MM Ir. Jakarta Disamping itu juga melibatkan peran aktif berbagai nara sumber di bidang tata bangunan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Ir.go. MSc Ir. Ir. Ir. Bambang Tata Samiadji. Chaidir AM. Jakarta Universitas Trisakti. MCM.Prasetiyo. Soedibyono Ir. IALI Ir. Bambang Budiono Ir. MSCE Ir. Raden Patah l/1 Lantai 7 Wing 1 Kebayoran Baru. Binsar Hariandja DR. Zaenal Walidin DR.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful