KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 441/KPTS/1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG MENTERI PEKERJAAN

UMUM,

Menimbang

:

a.

bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah di bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah, urusan penyelenggaraan bangunan gedung telah diserahkan kepada Daerah baik Daerah Tingkat I maupun Daerah Tingkat II; bahwa perkembangan penyelenggaraan bangunan gedung dewasa ini semakin kompleks sehingga perlu adanya pengaturan mengenai ketentuan teknis yang menyangkut peruntukan dan intensitas bangunan, arsitektur dan lingkungan, serta keandalan bangunan yang menjadi persyaratan pokok suatu bangunan gedung; bahwa sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987, kepada Menteri Pekerjaan Umum diberi wewenang untuk melakukan pembinaan teknis dan pengawasan teknis dalam penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah; bahwa sehubungan dengan pertimbangan pertimbangan tersebut diatas perlu mengatur persyaratan teknis bangunan gedung, dengan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah; Undang-undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun; Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Parumahan dan Permukiman; Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang; Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan di Bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah; Keputusan Presiden Rl Nomor 44 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Organisasi Departemen; Keputusan Presiden Rl Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Keputusan Rl Nomor 15 tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Departemen Sebagaimana Telah Tiga Puluh Kali Diubah Terakhir Dengan Keputusan Rl Nomor 23 Tahun 1994 Keputusan Presiden Rl Nomor 122/M Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabinet Reformasi Pembangunan;

b.

c.

d.

Mengingat

:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

8.

9.

Keputusan Menteri PU Nomor 211/KPTS/1994 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum.
MEMUTUSKAN :

Menetapkan

:

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG. BAB I KETENTUAN UMUM

TENTANG

Bagian Pertama Pengertian Pasal 1 Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada, diatas, atau di dalam tanah dan atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tampat manusia melakukan kegiatannya. 2. Penyelenggaraan bangunan gedung adalah proses kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan gedung 3. Daerah adalah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. 4. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kotamadya Daerah T'ngkat II. Bagian Kedua Maksud dan Tujuan Pasal 2 (1) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung dimaksudkan untuk mewujudkan bangunan gedung yang berkualitas sesuai dengan fungsinya. (2) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung bertujuan terselenggaranya fungsi bangunan gedung yang aman, sehat, nyaman, efisien, seimbang, serasi dan selaras dengan lingkungannya

BAB II PENGATURAN PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG

Bagian Pertama Persyaratan Teknis Pasal 3 (1) Persyaratan teknis bangunan gedung meliputi persyaratan mengenai : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. I. m. (2) Peruntukan dan Intensitas Bangunan. Arsitektur dan lingkungan. Struktur Bangunan Gedung. Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran. Sarana Jalan Masuk dan Keluar. Transportasi dalam Gedung. Pencahayaan Darurat, Tanda Arah Keluar, dan Sistem Peringatan Bahaya. Instalasi Listrik Penangkal Petir, dan Komunikasi dalam Gedung Instalasi Gas. Sanitasi dalam gedung. Ventilasi dan Pengkondisian Udara Pencahayaan. Kebisingan dan Getaran.

Rincian persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini tercantum pada lampiran Keputusan Menten ini yang merupakan satu kesatuan pengaturan dalam keputusan ini Setiap orang atau badan termasuk instansi Pemerintah dalam penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung wajib memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) Pasal ini. Pasal 4

(3)

Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Kedua Pengaturan Pelaksanaan di Daerah Pasal 5 (1) Untuk pedoman pelaksanaan penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah perlu dibuat Peraturan Daerah yang didasarkan pada ketentuan-ketentuan dalam Keputusan Menteri ini. Dalam hal Daerah belum mempunyai Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini maka terhadap penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah

(2)

diberlakukan ketentuan-ketentuan Persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. (3) Daerah yang telah mempunyai Peraturan Daerah tentang persyaratan teknis bangunan gedung sebelum Keputusan Menteri ini diterbitkan harus menyesuaikannya dengan ketentuan-ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. Pasal 6 Dalam melaksanakan pembinaan pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah melakukan peningkatan kemampuan aparat Pemerintah maupun masyarakat dalam memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 untuk terwujudnya tertib pembangunan bangunan gedung. Dalam melaksanakan pengendalian pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah wajib menggunakan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 sebagai landasan dalam mengeluarkan persetujuan atau perizinan yang diperlukan. Terhadap aparat Pemerintah Daerah yang bertugas dalam pengendalian pembangunan bangunan gedung yang melakukan pelanggaran ketentuan dalam Pasal 3 dikenakan sanksi administrasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 7 (1) Penyelenggaraan bangunan gedung yang melanggar ketentuan-ketentuan Pasal 3 dan Pasal 4 Keputusan Menteri ini dikenakan sanksi administrasi yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 5. Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dikenakan sesuai dengan tingkat pelanggaran dapat berupa: a. Peringatan tertulis b. Pembatasan kegiatan c. Penghentian sementara kegiatan sampai dilakukannya pemenuhan persyaratan teknis bangunan gedung. d. Pencabutan izin yang telah dikeluarkan untok menyelenggarakan pembangunan bangunan gedung. (3) Selain sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), di dalam Peraturan Daerah dapat diatur mengenai pengenaan denda dan tindakan Pembongkaran atas terjadinya pelanggaran terhadap ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung.

(1)

(2)

(3)

(2)

BAB III PEMB1NAAN DAN PENGAWASAN TEKNIS

Pasal 8 (1) Pembinaan dan Pengawasan Teknis untuk pelaksanaan ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 58/PRT/1991 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Teknis dan Pengawasan Teknis Bidang Pekerjaan Umum kepada Dinas Pekerjaan Umum. Pelaksanaan pembinaan teknis dan pengawasan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini didasarkan pada Rencana dan program yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Cipta Karya.
BAB IV KETENTUAN PERALIHAN

(2)

Pasal 9 Dengan berlakunya Keputusan Menteri inl, maka semua ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Keputusan Menteri ini masih tetap berlaku, sampai digantikan dengan yang baru.
BAB V KETENTUAN PENUTUP

Pasal 10 (1) (2) Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Keputusan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang bersangkutan untuk diketahui dan dilaksanakan.
DITETAPKAN Dl PADA TANGGAL : JAKARTA : 10 NOPEMBER 1998

MENTERI PEKERJAAN UMUM

RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 441/KPTS/1998 TANGGAL 10 NOPEMBER 1998

DAFTAR ISI
BAGIAN I KETENTUAN UMUM I. 1 I.2 PENGERTIAN 1. Umum 2. Teknis MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud 2. Tujuan

BAGIAN II PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II.1 PERUNTUKAN, FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Peruntukan Lokasi 2. Fungsi Bangunan 3. Klasifikasi Bangunan INTENSITAS BANGUNAN 1. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan 2. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB 3. Perhitungan KDB dan KLB GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. Garis Sempadan (muka) Bangunan 2. Garis Sempadan Samping dan Belakang Bangunan 3. Pemisah di Sepanjang Halaman Depan, Samping, dan Belakang Bangunan

II.2

II.3

BAGIAN III ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III.1 ARSITEK BANGUNAN 1. Tata Letak Bangunan 2. Bentuk Bangunan 3. Tata Ruang Dalam 4. Kelengkapan Bangunan RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1. Fungsi dan Persyaratan Ruang Tebuka Hijau Pekarangan 2. Ruang Sempadan Bangunan 3. Tapak Basement 4. Hijau Pada Bangunan 5. Tata Tanaman SIRKULASI, PERTANDAAN, DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 2. Pertandaan (Signage) 3. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan

III.2

III.3

Ketentuan UPL dan UKL 4. Ketentuan Pengelolaan Dampak Ligkungan 3. Pondasi Langsung 2. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan 4. Keruntuhan Struktur DEMOLISI STUKTUR 1. Kompartemensasi dan Pemisahan 5. Proteksi Bukaan SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. Kontruksi Kayu 4. Tipe Konstruksi Tahan Api 3. Persyaratan Struktur 2. Pusat Pengendali Kebakaran V. Persyaratan Bahan PEMBEBANAN STRUKTUR ATAS 1. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan 5. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi STRUKTUR BAWAH 1.5 IV.2 IV. Sistem Pemadam Kebakaran 2. Kontruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus 5. Ketahanan Api dan Stabilitas 2.4 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN 1. Pondasi Bawah KEANDALAN STRUKTUR 1. Sistem Diteksi & Alarm Kebakaran 3. Pengelolaan Daerah Bencana BAGIAN IV STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Kriteria Demolisi 2.III.6 BAGIAN V PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V.4 IV.3 IV. Prosedur dan Metoda IV.1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. Keselamatan Struktur 2. Kontruksi Bangunan 2.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1.2 . Pengendalian Asap Kebakaran 4. Kontruksi Baja 3. Dampak Penting 2.

Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Tehadap Kebakaran 8. Lebar Tangga 10. Ramp atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan 13. Atap sebagai Ruang Terbuka 13. Rambu pada Pintu AKSES BAGI PENYANDANG CACAT VI.4 . Pengoperasian Gerendel Pintu 21. Tangga dan Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Lintasan Melalui Tangga/ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 10. Pintu 19. Ramp dan Balkon Akses Yang Terbuka 6. Jumlah Orang Yang Ditampung KONTRUKSI JALAN KELUAR 1. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 12. Keluar Melalui Pintu-pintu Keluar 11.BAGIAN VI SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. Bordes 15. Pesyaratan Kinerja KETENTUAN JALAN KELUAR 1. Perlindungan pada Ruang di Bawah Tangga dan Ramp 9. Ambang Pintu 16. Pintu Keluar Horisontal 12. Jarak Jalur Menuju Pintu Keluar 5. Instalasi pada Pintu Keluar dan Jalan Lintasan 8. Ramp Pejalan Kaki 11. Fungsi 2. Ruang Peralatan dan Ruang Motor Lift 14. Pintu Ayun 20. Tangga Luar Bangunan 9. Masuk dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 22. Tangga dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 3. Pemisahan Tanjakan dan Turunan Tangga 5. Penerapan 2. Lobby Bebas Asap 7. Pegangan Rambat pada Tangga 18. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Persyaratan Keamanan 2. Kebutuhan Jalan Keluar 3. Balustrade 17.3 VI. Injakan dan Tanjakan Tangga 14.2 VI. Dimensi/ukuran Pintu Keluar 7. Tangga.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. Jarak antara Pintu-pintu Keluar Alternatif 6.

Jaringan Distribusi Listrik 3. Mesin Lif dan Ruang Mesin Lif 8. Beban Listrik 4.BAGIAN VII TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. Instalansi Penangkal Petir 3. Transformator Distribusi 6.1 VIII.3 . Pemeriksaan dan Pengujian 4. Instalasi Listrik 9. Pemeliharaan INSTALANSI PENANGKAL PETIR 1. Instalansi Telepon 3. Sangkar Lif 6. Lif Kebakaran 3. Sumber Daya Listrik 5. Peringatan Terhadap Pengguna Lif pada Saat Terjadi Kebakaran 4.3 1SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT TANDA ARAH KELUAR SISTEM PERINGATAN BAHAYA BAGIAN IX INSTALANSI LISTRIK. Pengujian dan Pemeliharaan TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN VII.2 VIII. Pemerikasaan dan Pengujian 7. Pemeliharaan INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 1. Perencanaan Instalansi Listrik 2. TANDA ARAH KELUAR.1 LIF 1. Instalansi Tata Suara IX.1 INSTALANSI LISTRIK 1. Perencanaan Penangkal Petir 2. Kapasitas Lif 2. Saf Lif 7. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung 2. Lif untuk Rumah Sakit 5.2 IX.2 BAGIAN VIII PENCAHAYAAN DARURAT. Pemeriksaan. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. PENANGKAL PETIR. SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII.

2 BAGIAN XIII PENCAHAYAAN XIII. Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan XII. Penempatan pada Bangunan 2. Sampah Berbahaya XI. Kebutuhan Pengkondisian Udara 2. Jenis Gas 2. Ventilasi Buatan PENGKONDISIAN UDARA 1.1 VENTILASI 1. BAGIAN XII VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII.2 XIII. Tangki Penyediaan Air Bersih 6. Konservaasi Energi 3. Jaringan Distribusi Gas Medik 3. Perencanaan Sistem Plumbing 2. Jenis Gas 2. 1 SISTEM PLAMBING 1. Ventilasi Alami 3. Kebutuhan Ventilasi 2.BAGIAN X INSTALANSI GAS X.1 INSTALANSI GAS PEMBAKARAN 1. Pemeriksaan dan Pengujian X. Jaringan Distribusi Gas Kota 3. Pewadahan 3.3 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN PENCAHAYAAN BUATAN PENCAHAYAAN ALAMI . Alat Plambing 5. Sistem Penyediaan Air Bersih 3.1 XIII.2 BAGIAN XI SANITASI DALAM GEDUNG XI. Pompa Air Bersih PERSAMPAHAN 1. Pemeriksaan dan Pengujian INSTALANSI GAS MEDIK 1. Sistem Pembuangan Air Kotor 4.

4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN BAGIAN XIV KEBISINGAN DAN GETARAN XIV.1 XIV.2 KEBISINGAN GETARAN BAGIAN XV PENUTUP LAMPIRAN .XIII.

Kepala Daerah adalah Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. bersosial-budaya. 2. di mana: i. atau Gubernur untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta. dan kegiatan lainnya. e. berusaha. d. Dinas Bangunan adalah salah satu Dinas Teknis di Daerah yang diantaranya mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pengaturan. seluruh atau sebagian ruangnya tertutup pada bagian atasnya oleh lantai atau atap. dan pengendalian pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung yang berada di Daerah yang bersangkutan. Daerah adalah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II atau Daerah Khusus Ibukota Jakarta. di atas. d. termasuk setiap ruang yang berbatasan/ berdekatan tetapi tidak terpisahkan oleh pembatas. olah raga. perbelanjaan. Bangunan turutan adalah bangunan sebagai tambahan atau pengembangan dari bangunan yang sudah ada. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada. atau ruang dalam shaft. atau di daiam tanah dan/atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tempat manusia untuk melakukan kegiatan bertempat tinggal. pendidikan. kakus dan peralatan-peralatan pembuangan lainnya. . termasuk struktur atap kaca. Pengawas/Penilik Bangunan adalah pejabat atau tenaga teknis profesional yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah atau ketentuan yang berlaku untuk bertugas mengawasi/menilik bangunan gedung. PENGERTIAN 1. kamar mandi. ii. dsb. Bangunan umum adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat manusia berkumpul. seperti keagamaan. b. dan melaksanakan kegiatan yang bersifat publik lainnya.I. c. tidak termasuk lorong tangga. Air kotor adalah semua air yang bercampur dengan kotoran-kotoran dapur. KETENTUAN UMUM 1. Atrium adalah suatu ruang dalam suatu bangunan yang menghubungkan 2 atau lebih tingka/lantai. b. c. pembinaan. mengadakan pertemuan. iii. Umum Dalam pedoman teknis ini yang dimaksud dengan: a. rekreasi. lorong ramp. Teknis a.

l. Garis sempadan pagar adalah garis bagian luar dari pagar persil atau pagar pekarangan. yang selanjutnya disebut DHB adalah ruang terbuka pada bangunan yang dimanfaatkan untuk penghijauan. Daerah Hijau Bangunan. c. f. j. d. Getaran kejut adalah getaran yang berlangsung secara tiba-tiba dan sesaat. jaringan tegangan tinggi listrik. ii. Batas lahan yang dikuasai. k. Dinding Pembatas adalah dinding yang menjadi pembatas antara bangunan. Dinding Luar Non-struktural adalah suatu dinding luar yang tidak memikul beban dan bukan merupakan dinding panel. .f. Baku tingkat Kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dituang kelingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. iii. Garis sempadan loteng adaiah garis yang terhitung dan tepi jalan berbatasan yang tidak diperkenankan didirikan tingkat bangunan. Getaran adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia. Rencana saluran. h. atau iv. a. Garis Sempadan Bangunan merupakan jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap: i. Antar massa bangunan lainnya. Demolisi adalah kegiatan merobohkan atau membongkar bangunan secara total. i. Batas tepi sungai/pantai. Baku Tingkat Getaran mekanik dan getaran kejut adalah batas maksimal tingkat getaran mekanik yang diperbolehkan dan usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan. g. g. h. Dinding Luar adalah suatu dinding bangunan terluar yang bukan merupakan dinding pembatas. Bangunan Induk adalah bangunan yang mempunyai fungsi dominan dalam suatu persil. e. jaringan pipa gas dan sebagainya. Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan manusia. b.

Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. untuk tempat kegiatan manusia. ii. selain kamar untuk MCK dan dapur. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka prosentase perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan yang diperuntukkan bagi pertamanan/ penghijauan dengan luas tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Jaringan persil adalah jaringan sanitasi dan jaringan drainasi dalam persil. q. Melakukan pekerjaan tanah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan yang dimaksud pada butir 2. u. Koefisien Tapak Basement (KTB) adalah angka prosentasi perbandingan luas tapak basement dengan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. t. Jarak antara bangunan adalah jarak terkecil antara bangunan yang diukur antara permukaan-permukaan denah bangunan. p. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. memperbaiki. Kamar adalah ruangan yang tertutup seluruhnya atau sebagian.w. v.m. seperti jaringan sanitasi dan jaringan drainasi. n. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah koefisien perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. r. Lubang Atrium adalah ruang dari suatu atrium yang dikelilingi oleh batas pinggir bukaan lantai atau oleh batas pinggir lantai dan dinding luar.i. mengubah atau membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu bangunan. s. serta pedoman pengendalian pelaksanaan yang umumnya meliputi suatu lingkungan/kawasan (urban design and development guidelines). memperluas. x. w. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah pedoman rencana teknik. Mendirikan Bangunan i. Jaringan saluran umum kota adalah jaringan sarana dan prasarana saluran umum perkotaan. . Pekarangan adalah bagian yang kosong dari suatu persil/ kaveling/blok peruntukan bangunan. y. program tata bangunan dan lingkungan. Mendirikan. o.

cc. termasuk dalam rangka proses perijinan pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan. Tujuan Pedoman Teknis ini bertujuan untuk dapat terwujudnya bangunan gedung sesuai fungsi yang ditetapkan dan yang memenuhi persyaratan teknis. Adapun tujuan dari pengaturan per-bagian adalah: a. atau sejenisnya. Tujuan. Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang akan dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat dB. serta keandalan bangunan. ruang ganti. adalah tingkat ketahanan api yang dipersyaratakan pada bagian atau komponen bangunan sesuai ketentuan butir V. menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. serta pemeriksaan kelaikan fungsi/keandalan bangunan gedung. Tinghat Ketahanan Api (TKA). peralatan. dan berbatasan ke suatu panggung pada bangunan klas 9b yang dipergunakan untuk barang-barang dekorasi panggung. ii. Tinggi bangunan adalah jarak antara garis potong permukaan atap dengan muka bangunan bagian luar dan permukaan lantai denah bawah. aa. Sambungan jaringan adalah penghubung antara sesuatu jaringan persil dengan jaringan saluran umum kota. Contoh: TKA 90/-/60 berarti hanya terdapat persyaratan TKA untuk ketahanan struktural 90 menit dan insulasi 60 menit. arsitektur dan lingkungan.2 dalam ukuran waktu satuan menit. bb. I.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1.z. Rumah adalah bangunan yang terdiri atas ruangan atau gabungan ruangan yang borhubungan satu sama lain. Ruang persiapan adalah ruang yang berhubungan dengan. 2. Peruntukan dan Intensitas: i. menjamin bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di Daerah yang bersangkutan.1. integritas. . dengan kriteria-kriteria berurut yaitu aspek ketahanan struktural. yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. ee. dd. dan insulasi. yaitu meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan. Maksud Persyaratan Teknis Bangunan Gedung ini dimaksudkan sebagai acuan persyaratan teknis yang diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan bangunan gedung di Indonesia.

menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari cedera atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat . iv. Ketahanan terhadap Kebakaran: i. ii. menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan oleh perilaku struktur. dan budaya daerah. dan lingkungan. ii. iii. menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan. menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. e.iii. (2) cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. Arsitektur dan Lingkungan: i. serasi dan selaras dengan lingkungannya. ketentuan wujud bangunan. aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamnya. sehingga: (1) cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman. menjamin perlindungan properti lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh kegagalan struktur. Strukfur Bangunan: i. iii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang layak. ii. sehingga seimbang. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia. menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. ii. d. Sarana Jalan Masuk dan Keluar: i. (3) dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. c. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa sehinga mampu secara struktural stabil selama kebakaran. menjamin keselamatan pengguna. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia pada saat terjadi kebakaran. masyarakat. b.

iii. ii. ii. . khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. Instalasi Gas: i. menjamin tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. Instalasi Listrik. menjamin tersedianya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. iii menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik. kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan. apabila terjadi keadaan darurat. i. ii. Tanda arah Keluar. menjamin terpasangnya instalasi gas secara aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. Pencahayean Darurat. menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam bangunan gedung apabila terjadi keadaan darurat. dan nyaman di dalam bangunan gedung. iii. h. ii. menjamin terwujudnya kebersihan. dan Sistem Peringatan Bahaya: i. f. aman. g. j. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan secara baik.iii. menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat. menjamin tersedianya alat transportasi yang layak. menjamin tersedianya aksesibiltas bagi penyandang cacat khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. Transportasl dalam Gedung: i. ii. menjamin terpenuhinya pemakaian gas yang aman dan cukup. Sanitasi dalam Bangunan: i. Penangkal Petir dan Komunikasi: i. menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari bahaya akibat petir. menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman.

ii.k Ventilasi dan Pengkondisian Udara: i. menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup. l. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. Kebisingan dan Getaran: i. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik. menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran yang tidak diinginkan. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik. . baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau mencegah perusakan lingkungan. menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup. m. Pencahayaan: i. ii. ii.

iii. . Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Daerah. Persetujuan membangun tersebut berstfat sementara sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan tata ruang yang lebih makro. ataupun peraturan bangunan setempat dan RTBL.I. Kepala Daerah dapat memberikan pertimbangan atas ketentuan yang diperlukan. b. FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. PERUNTUKAN. Apabila persetujuan yang telah diberikan terdapat ketidak sesuaian dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan kemudian. Peruntukan lokasi sebagaimana dimaksud dalam butir a. Peruntukan Lokasi a. Ketentuan tata ruang dan tata bangunan ditetapkan melalui: i. seperti kepadatan bangunan. merupakan peruntukan utama. sedangkan peruntukan penunjangnya sebagaimana ditetapkan di dalam ketentuan tata bangunan yang ada di Daerah setempat atau berdasarkan pertimbangan teknis Dinas Bangunan. maka perlu c. kaidah perencanaan kota dan penataan bangunan ii. peraturan bangunan setempat dan RTBL berdasarkan rencana tata ruang yang lebih makro. ii. Peraturan bangunan setempat dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). maka Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan gedung dengan pertimbangan: i. ketinggian bangunan. RRTR.II. Setiap pihak yang memerlukan keterangan atau ketentuan tata ruang dan tata bangunan dapat memperolehnya secara terbuka melalui Dinas Bangunan. iii. d. PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. dengan tetap mengadakan peninjauan seperlunya terhadap rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada di Daerah. f. Kepala Daerah segera menyusun dan menetapkan RRTR. g. Keterangan atau ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir d meliputi keterangan tentang peruntukan lokasi dan intensitas bangunan. Bagi Daerah yang belum memiliki RTRW. Bangunan gedung harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam ketentuan tata ruang dan tata bangunan dari lokasi yang bersangkutan. e. Dalam hal rencana-rencana tata ruang dan tata bangunan sebagaimana dimaksud pada butir b belum ada. dan garis sempadan bangunan. Rencana Rinci Tata Ruang (RRTR).

iii. Apabila di kemudian hari terdapat penetapan RTRW Daerah yang bersangkutan. saluran. . Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan pada daerah tersebut untuk jangka waktu sementara. tidak untuk fungsi hunian atau tempat tinggal.diadakan penyesuaian dengan resiko ditanggung oleh pemohon/pemilik bangunan. memiliki sarana khusus untuk kepentingan keamanan dan keselamatan bagi pengguna bangunan. tidak mengganggu keseimbangan lingkungan. tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas kendaraan. tidak menimbulkan perubahan atau arus air yang dapat merusak lingkungan. ii. Bagi Daerah yang belum memilih RTRW Daerah. ii. iii. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. dan fungsi indung kawasan. v. v. Pembangunan bangunan gedung diatas jalan umum. h. ii. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. maka bangunan tersebut harus disesuaikan dengan rencana tata ruang yang ditetapkan. penghawaan dan pencahayaan bangunan telah memenuhi persyaratan kesehatan sesuai fungsi bangunan. Pembangunan bangunan gedung dibawah tanah yang melintasi sarana dan prasarana jaringan kota perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. iv. atau sarana lain perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. iii. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah dan atau diatas tanah. i. iv. j. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah tanah. maupun barang. tetap memperhatikan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. iv. Pembangunan bangunan gedung dibawah atau diatas air perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. orang. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah.

Penetapan fungsi dan klasifikasi bangunan yang bersifat sementara harus dengan mempertimbangkan tingkat permanensi. iv. dan sanitasi yang memadai. ii. ii. keamanan. e. tidak menimbulkan pencemaran. kenyamanan. Fungsi Bangunan a. perkantoran niaga. telah mempertimbangkan faktor keamaan. iv. letak bangunan tidak boleh melebihi atau melampaui garis sudut 45° (empat puluh lima derajat) diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran.iv. d. kesehatan dan aksesibilitas bagi pengguna bangunan. kesehatan. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan fungsi utama bangunan. keamanan. Rumah tinggal tunggal Rumah tinggal deret Rumah tinggal susun Rumah tinggal vila Rumah tinggal asrama f. Fungsi bangunan dapat dikelompokkan dalam fungsi hunian. kenyamanan. . tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. v. fungsi usaha. fungsi sosial dan budaya. b. Bangunan perkantoran: perkantoran pemerintah. Bangunan dengan fungsi hunian meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama hunian yang merupakan: i. dan sejenisnya. setelah mendapat pertimbangan teknis dari para ahli terkait. v. 2. k. maupun dari segi keserasian bangunan terhadap lingkungannya. Pembangunan bangunan gedung pada daerah hantaran udara (transmisi tegangan tinggi perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai perikut: i. dan fungsi khusus. Bangunan dengan fungsi usaha meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk: i. letak bangunan minimal 10 (sepuluh) meter diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. c. iii. iii. Fungsi dan klasifikasi bangunan merupakan acuan untuk persyaratan teknis bangunan gedung. baik ditinjau dari segi intensitas banguanan arsitektur dan lingkungan. keselamatan.

Klas 1 : Bangunan Hunian Biasa Adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan: . terminal bus. Klasifikasi Bangunan Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan. atau blok peruntukan dimungkinkan adanya fungsi campuran (mixed use). motel. iv. serta dilengkapi pula dengan instalasi dan kelengkapan bangunan yang dapat menjamin terselenggaranya fungsi bangunan. kelenteng. gedung tempat parkir. & C. Bangunan Terminal: stasiun kereta. B. vi. sepanjang sesuai dengan peruntukan lokasinya dan standar perencanaan lingkungan yang berlaku. pusat perbelanjaan. Bangunan peribadatan: mesjid. pelabuhan laut. iii. poliklinik. hostel. dan vihara. dan sejenisnya h. meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk : i. mal. penginapan. gedung kesenian. bioskop. Bangunan dengan fungsi umum. sekolah lanjutan. dan sejenisnya. Bangunan kebudayaan : museum. ii. pura. Bangunan dengan fungsi khusus meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi. bangunan reaktor. iv. Dalam suatu persil. industri besar/berat. j. sekolah tinggi/universitas. Bangunan pelayanan kesehatan: puskesmas. Bangunan perdagangan: pasar. Setiap bangunan gedung. dan sejenisnya. dan sejenisnya. pertokoan. Bangunan pendidikan: sekolah taman kanak-kanak. dan sejenisnya. vii Bangunan Pariwisata: tempat rekreasi. g. iii. a. Bangunan Penyimpanan: gudang. Bangunan Industri : industri kecil. rumah bersalin. pelaksanaan. rumah sakit klas A. Bangunan Perhotelan/Penginapan: hotel. atau tingkat resiko bahaya tinggi : seperti bangunan kemiliteran. selain terdiri dari ruang-ruang dengan fungsi utama. terminal udara. sosial dan budaya. dan sejenisnya. v. keveling. atau perubahan yang diperlukan pada bangunan. juga dilengkapi dengan ruang fungsi penunjang. sesuai dengan persyatatan pokok yang diatur dalam Pedoman Teknis ini. gereja. dan sejenisnya. sekolah dasar. industri sedang. i.ii. 3. halte bus.

ruang makan. ruang penjualan. Klas 2: Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. 6. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. . atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. b. d. villa. atau panti untuk orang berumur. atau usaha komersial. cacat. ruang makan malam. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. 7. Klas 5: Bangunan kantor Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. 8 atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut e. Klas 1b : rumah asrama/kost. rumah tamu. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. ruang pamer. termasuk i. 8. atau (2) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. losmen. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. ii iii. rumah taman. pengurusan administrasi. rumah asrama. hostel. v. termasuk: i. Klas 4 : Bangunan Hunian Campuran Adalah tempat tinggal yang berada didalam suatu bangunan klas 5. 7. atau bengkel. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. Klas 3: Bangunan hunian diluar bangunan klas 1 atau 2.i. pasar. atau 9. Klas 6: Bangunan Perdagangan Adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. restoran. atau ii.. termasuk rumah deret. bar. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. unit town house . c. rumah tamu. atau ii. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya. atau anak-anak. diluar bangunan klas 6. tempat potong rambut /salon. tempat cuci umum. atau iii. kafe. Klas 1a : bangunan hunian tunggal yang berupa: (1) satu rumah tunggal. iv. atau iv. f.

Bangunan-bangunan yang tidak diklasifikasikan khusus Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi bangunan 1 s/d 10 tersebut. Klas 7: Bangunan Penyimpanan/Gudang Adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. kolam renang. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. bangunan peribadatan. m. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. ii. Klasifikasi jamak Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah. h. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. atau sejenisnya. gudang. j. yaitu: i. k. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. dalam Pedoman Teknis dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai dengan peruntukannya l. i. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. Klas 10b: struktur yang berupa pagar. Klas 9: Bangunan Umum Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. atau sejenisnya. termasuk: i. Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. tetapi tidak temmasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. tonggak. Bangunan yang penggunaannya insidentil Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya. Klas 9b: bangunan pertemuan. carport. atau ii. tempat parkir umum. dan: . perakitan. finishing. perbaikan. dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan bangunan utamanya. bangunan budaya atau sejenis. Klas 10 : Adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian: i. pengepakan. Klas 10a: bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. ii. hall. Klas 8 : Bangunan Laboratorium/lndustri/Pabrik Adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. perubahan. antena. temmasuk bengkel kerja.g.

rencana tata bangunan dan lingkungan yang ditetapkan.2 INTENSITAS BANGUNAN 1. dan peraturan bangunan setempat. meliputi ketentuan tentang Koefisien Dasar Bangunan (KDB). kemampuannya dalam menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan optimalnya intensitas pembangunan. seperti kawasan wisata. c.i. meliputi ketentuan tentang Jumlah Lantai Bangunan (JLB). dan renggang. 10a dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah. Kepadatan bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a. 9a. d. 1b. Persyaratan kinerja dari ketentuan kepadatan dan ketinggian bangunan ditentukan oleh: i. yang dibedakan dalam tingkatan KDB padat. ruang mesin lift. dan b' laboratorium. iii. sedang. ii. Klas-klas 1a. pelestarian dan lain lain. ketinggian bangunan dan ketentuan tata bangunan lainnya dengan tetap memperhatikan keserasian dan kelestarian lingkungan. . ruang boiler atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak II. iii. kemampuannya dalam menjamin kesehatan dan kenyamanan pengguna serta masyarakat pada umumnya. f. ruang mesin. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud pada butir c tidak diperkenankan mengganggu lalu-lintas udara. 9b. Ruang-ruang pengolah. kemampuannya lingkungan. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan a. Untuk suatu kawasan atau lingkungan tertentu. bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan. dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) yang dibedakan dalam tingkatan KLB tinggi. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a. Bangunan gedung yang didirikan harus memenuhi persyaratan kepadatan dan ketinggian bangunan gedung berdasarkan rencana tata ruang wilayah Daerah yang bersangkutan. dan rendah. e. dengan pertimbangan kepentingan umum dan dengan persetujuan Kepala Daerah dapat diberikan kelonggaran atau pembatasan terhadap ketentuan kepadatan. ii. sedang. dalam mencerminkan keserasian bangunan dengan b. klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi bangunan utamanya.

apabila perpetakan tidak ditetapkan. ii. daya dukung lahan/lingkungan.2. dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. kebijaksanasn intensitas pembangunan. Ketentuan besarnya KDB dan JLB/KLB dapat diperbanui sejalan dengan pertimbangan perkembangan kota. b. f. e. maka Kepala Daerah dapat menetapkan berdasarkan berbagai pertimbangan dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. JLB/KLB untuk pembangunan bangunan gedung diatas fasilitas umum adalah setelah mempertimbangkan keserasian. Apabila KDB dan JLB/KLB belum ditetapkan dalam rencana tata ruang. iv.1 butir b dan c. untuk persil-persil sudut bilamana sudut persil tersebut dilengkungkan atau disikukan. setiap bangunan yang didirikan harus sesuai dengan rencana perpetakan yang telah diatur di dalam rencana tata ruang. Penetapan besamya KDB.2. 3. c. untuk memudahkan lalu lintas. v. daya dukung lahan/ lingkungan. Dimungkinkan adanya kompensasi berupa penambahan besarnya KDB JLB/KLB bagi perpetakan tanah yang memberikan sebagian luas tanahnya untuk kepentingan umum. Dengan pertimbangan kepentingan umum dan ketertiban pembangunan. dan dengan memperhitungkan keadaan lapangan. keserasian dan keamanan lingkungan serta memenuhi persyaratan teknis yang telah ditetapkan. maka KDB dan KLB diperhitungkan berdasarkan luas tanah di belakang garis sempadan jalan (GSJ) yang dimiliki. ditetapkan dengan mempertimbangkan perkembangan kota. Kepala Daerah dapat menetapkan rencana perpetakan dalam suatu kawasan/lingkungan dengan persyaratan: i. Penetapan besarnya kepadatan dan ketinggian bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam II. maka lebar dan panjang persil tersebut diukur dari titik pertemuan garis perpanjangan pada sudut tersebut dan luas persil diperhitungkan berdasarkan lebar dan panjangnya. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. d. Perhitungan KDB dan KLB Perhitungan KDB maupun KLB ditentukan dengan pertimbangan sebagai berikut: . keseimbangan dan persyaratan teknis serta mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. dengan tetap menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan keserasian lingkungan. dimungkinkan adanya pemberian dan penerimaan besaran KDB/KLB diantara perpetakan yang berdekatan. rencana tata bangunan dan lingkungan. peraturan bangunan setempat. kebijaksanaan intensitas pembangunan. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB a. iii. penggabungan atau pemecahan perpetakan dimungkinkan dengan ketentuan KDB dan KLB tidak dilampaui.

selebihnya diperhitungkan 50 % terhadap KLB. perhitungan luas lantai bangunan adalah jumlah luas lantai yang diperhitungkan sampai batas dinding terluar. k. l. h.a. j. ramp dan tangga terbuka dihitung 50 %. perhitungan KDB dan KLB adalah dihitung terhadap total seluruh lantai dasar bangunan. I.20 m di atas lantai teras tidak diperhitungkan sebagai luas lantai. f. Garis Sempadan Bangunan ditetapkan dalam rencana tata ruang. kesehatan. Dalam perhitungan KDB dan KLB. selama tidak melebihi 10 % dari luas denah yang diperhitungkan sesuai dengan KDB yang ditetapkan.20 m di atas lantai ruangan tersebut dihiitung penuh 100 %. keselamatan. c. rencana tata bangunan dan lingkungan. dan total keseluruhan luas lantai bangunan dalam kawasan tersebut tehadap total keseluruhan luas kawasan. Dalam perhitungan ketinggian bangunan. luas tapak yang diperhitungkan adalah yang dibelakang GSJ. selama tidak melebihi l0% dari luas lantai dasar yang diperkenankan. teras tidak beratap yang mempunyai tinggi dinding tidak lebih dari 1.50 m maka luas mendatar kelebihannya tersebut dianggap sebagai luas lantai denah. b. d. e. luas lantai ruangan beratap yang bersifat terbuka atau yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding tidak lebih dari 1. Untuk pembangunan yang berskala kawasan (superblock). asal tidak melebihi 50 % dari KLB yang ditetapkan. g. Mezanine yang luasnya melebihi 50 % dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. Batasan perhitungan luas ruang bawah tanah (basement) ditetapkan Kepala Daerah dengan pertimbangan keamanan. dan pendapat teknis para ahli terkait. Garis Sempadan (muka) Bangunan a. i. maka ketinggian bangunan tersebut dianggap sebagai dua lantai.3 GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. luas lantai bangunan yang diperhitungkan untuk parkir tidak diperhitungkan dalam perhitungan KLB. serta peraturan bangunan setempat. luas lantai ruangan beratap yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding yang tingginya lebih dari 1. .20 m diatas lantai ruangan dihitung 50 %. overstek atap yang melebihi lebar 1. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 m.

h. serta belakang bangunan terhadap batas persil. rencana tata bangunan dan lingkungan. maka bagian muka bangunan harus ditempatkan pada garis tersebut. i Ketentuan besarnya GSB dapat diperbarui dengan pertimbangan perkembangan kota. untuk tiap-tiap klas bangunan dapat ditetapkan garis-garis sempadannya masing-masing. tersebut belum ditetapkan. sungai. Penetapan Garis Sempadan Bangunan didasarkan pada pertimbangan keamanan. f. garis sempadan menara. dan peraturan bangunan setempat. keserasian dengan lingkungan. Daerah berwenang untuk memberikan pembebasan dari ketentuan dalam butir g. Dalam mendirikan atau memperbarui seluruhnya atau sebagian dari suatu bangunan. kepentingan umum. e. yang ditetapkan pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. sepanjang penempatan bangunan tidak mengganggu jalan dan penataan bangunan sekitarnya. juga menetapkan garis sempadan samping kiri dan kanan. c. Apabila Garis Sempadan Bangunan sebagaimana dimaksud pada butir a. Kepala Daerah dengan pertimbangan keselamatan. tidak boleh dilanggar. garis sempadan loteng. 2.b. Garis Sempadan Bangunan yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam butir a. begitu pula garis-garis sempadan untuk pantai. kesehatan. Garis sempadan samping dan belakang bangunan a. garis sempadan muka bangunan. b. kenyamanan. jaringan umum dan lapangan umum. maupun pertimbangan lain dengan mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. dan keserasian dengan lingkungan serta ketinggian bangunan. . g. maka Kepala Daerah dapat menetapkan GSB yang bersifat sementara untuk lokasi tersebut pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. Daerah menentukan garis-garis sempadan pagar. kesehatan dan kenyamanan. Dalam hal garis sempadan pagar dan garis sempadan muka bangunan berimpit (GSB sama dengan nol). yang diatur di dalam rencana tata ruang. danau. maka Kepala Daerah menetapkan besarnya garis sempadan tersebut dengan setelah mempertimbangkan keamanan kesehatan dan kenyamanan. garis sempadan podium. Pada suatu kawasan/lingkungan yang diperkenankan adanya beberapa klas bangunan dan di dalam kawasan peruntukan campuran. d. Sepanjang tidak ada jarak bebas samping maupun belakang bangunan yang ditetapkan.

diluar yang diatur dalam butir a. iv. e. maka jarak bebas samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. untuk perbaikan atau perombakan bangunan yang semula menggunakan bangunan dinding batas bersama dengan bangunan di sebelahnya. f. . sedangkan jarak bebas belakang ditentukan minimal setengah dari besarnya garis sempadan muka bangunan. jarak bebas samping dan jarak bebas belakang ditetapkan minimum 4 m pada lantai dasar. maka garis sempadan samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. Pada daerah intensitas bangunan padat/rapat. kecuali untuk bangunan rumah tinggal.c. dalam hal salah satu dinding yang berhadapan merupakan dinding tembok tertutup dan yang lain merupakan bidang terbuka dan atau berlubang. dan pada setiap penambahan lantai/tingkat bangunan. disyaratkan untuk membuat dinding batas tersendiri disamping dinding batas terdahulu. ii. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. iii. g Jarak bebas antara dua bangunan dalam suatu tapak diatur sebagai berikut: i. Untuk bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan bahanbahan/benda-benda yang mudah terbakar dan atau bahan berbahaya.5 m. jarak bebas di atasnya ditambah 0. maka Kepala Daerah dapat menetapkan syarat-syarat lebih lanjut mengenai jarakjarak yang harus dipatuhi. bidang dinding terluar tidak boleh melampaui batas pekarangan. Pada daerah intensitas bangunan rendah/renggang. sisi bangunan yang didirikan harus mempunyai jarak bebas yang tidak dibangun pada kedua sisi samping kiri dan kanan serta bagian belakang yang berbatasan dengan pekarangan. pada bangunan rumah tinggal rapat tidak terdapat jarak bebas samping. maka jarak antara dinding atau bidang tersebut minimal dua kali jarak bebas yang ditetapkan. Pada dinding batas pekarangan tidak boleh dibuat bukaan dalam bentuk apapun. dan sedangkan untuk bangunan gudang serta industri dapat diatur tersendiri. ii. maka jarak antara dinding tersebut minimal satu kali jarak bebas yang ditetapkan.50 m dari jarak bebas lantai di bawahnya sampai mencapai jarak bebas terjauh 12. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang bukaan yang saling berhadapan. struktur dan pondasi bangunan terluar harus berjarak sekurang-kurangnya 10 cm kearah dalam dari batas pekarangan. ii. d.

Dalam hal pemisah berbentuk pagar. . Pada pemagaran ini tidak boleh diadakan pintu-pintu masuk. atau ditetapkan lebih rendah setelah mempertimbangkan kenyamanan dan kesehatan lingkungan. maka tinggi pagar pada GSJ dan antara GSJ dengan GSB pada bangunan rumah tinggal maksimal 1. b. j. e. Halaman muka dari suatu bangunan harus dipisahkan dari jalan menurut cara yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. dengan memperhatikan keamanan. dan belakang bangunan. k. maka jarak dinding terluar minimal setengah kali jarak bebas yang ditetapkan. Kepala Daerah menetapkan ketinggian maksimum pemisah halaman muka. serta keserasian lingkungan. g h Untuk bangunan-bangunan tertentu. Kepala Daerah dapat menerapkan desain standar pemisah halaman yang dimaksudkan dalam butir a. i. Pemisah disepanjang halaman depan. samping. dan untuk bangunan bukan rumah tinggal termasuk untuk bangunan industri maksimal 2 m di atas permukaan tanah pekarangan. Kepala Daerah dapat menetapkan lain terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir e dan f. Untuk sepanjang jalan atau kawasan tertentu. samping. c. f. dengan bagian bawahnya dapat tidak tembus pandang maksimal setinggi 1 m diatas permukaan tanah pekarangan. dan belakang bangunan a. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang tertutup yang saling berhadapan. Tinggi pagar batas pekarangan sepanjang pekarangan samping dan belakang untuk bangunan renggang maksimal 3 m di atas permukaan tanah pekarangan. kenyamanan. dan apabila pagar tersebut merupakan dinding bangunan rumah tinggal bertingkat tembok maksimal 7 m dari permukaan tanah pekarangan. Antara halaman belakang dan jalur-jalur jaringan umum kota harus diadakan pemagaran. Penggunaan kawat berduri sebagai pemisah disepanjang jalan-jalan umum tidak diperkenankan. kecuali jika jalur-jalur jaringan umum kota direncanakan sebagai jalur jalan belakang untuk umum .50 m di atas permukaan tanah. d. Pagar sebagaimana dimaksud pada butir e harus tembus pandang. Kepala Daerah berwenang untuk menetapkan syarat-syarat lebih lanjut yang berkaitan dengan desain dan spesifikasi teknis pemisah di sepanjang halaman depan.iii. 3. Dalam hal yang khusus Kepala Daerah dapat memberikan pembebasan dari ketentuan-ketentuan dalam butir a dan b. dengan setelah mempertimbangkan hal teknis terkait.

dan penataan bangunan dan lingkungan yang diharapkan.l. keserasian lingkungan. Kepala Daerah dapat menetapkan tanpa adanya pagar pemisah halaman depan. . samping maupun belakang bangunan pada ruas-ruas jalan atau kawasan tertentu. dengan pertimbangan kepentingan kenyamanan kemudahan hubungan (aksesibilitas).

Tata Letak Bangunan a. Penempatan bangunan gedung tidak boleh mengganggu fungsi prasarana kota.iv. persyaratan lebih lanjut dari ketentuanketentuan ini dapat ditetapkan pelaksanaaannya oleh Kepala Daerah dengan membentuk suatu panitia khusus yang bertugas memberi nasehat teknis mengenai ketentuan tata bangunan dan lingkungan. Ketentuan Umum i. pemasangan nama proyek dan sejenisnya dengan memperhatikan keamanan. Pada daerah / lingkungan tertentu dapat ditetapkan: (1) ketentuan khusus tentang pemagaran suatu pekarangan kosong atau sedang dibangun. Pada lokasi-lokasi tertentu Kepala Daerah dapat menetapkan secara khusus arahan rencana tata bangunan dan lingkungan. ii.III. Tapak Bangunan i. Pada jalan-jalan tertentu. iii. Ketentuan Umum i. (2) larangan membuat batas fisik atau pagar pekarangan.1 b. Bentuk Bangunan a. iii. keindahan dan keserasian lingkungan. ii. keindahan dan keserasian lingkungan. Bilamana dianggap perlu. Tinggi rendah (peil) pekarangan harus dibuat dengan tetap menjaga keserasian lingkungan serta tidak merugikan pihak lain. ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III. Penambahan lantai atau tingkat suatu bangunan gedung diperkenankan apabila masih memenuhi batas ketinggian yang ditetapkan dalam rencana tata ruang kota.(2) dapat diberikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. iv.1. b. perlu ditetapkan penampang-penampang (profil) bangunan untuk memperoleh pemandangan jalan yang memenuhi syarat keindahan dan keserasian. keselamatan. iv.1. dengan ketentuan tidak melebihi KLB. ARSITEKTUR BANGUNAN 1. atau yang mampu sebagai pedoman arsitektur atau teladan bagi lingkungannya. keselamatan. . Penambahan lantai/tingkat harus memenuhi persyaratan keamanan struktur. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur lingkungan yang ada di sekitarnya. harus memenuhi persyaratan teknis yang berlaku dan keserasian lingkungan. (3) ketentuan penataan bangunan yang harus diikuti dengan memperhatikan keamanan. 2. (4) Kekecualian kelonggaran terhadap ketentuan butir III. lalu lintas dan ketertiban umum.

Tinggi ruang adalah jarak terpendek dalam ruang diukur dari permukaan bawah langit-langit ke permukaan lantai.ii harus tetap mengacu pada prinsipprinsip konservasi energi. b.1. detail. dan atau rencana tata bangunan lingkungan yang ditetapkan untuk daerah/lokasi tersebut.1. Suatu bangunan gedung tertentu berdasarkan letak ketinggian dan penggunaannya. ii. Bentuk. Ketentuan pada butir II.b. tinggi ruang diukur dari permukaan atas lantai sampai permukaan bawah dari lantai di atasnya atau sampai permukaan bawah kaso-kaso. iv. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan yang nyaman dan serasi terhadap lingkungannya. Tata Ruang Dalam a. Ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir II 1. Bangunan yang didirikan sampai pada batas samping persil tampak bangunannya harus bersambungan secara serasi dengan tampak bangunan atau dinding yang telah ada di sebelahnya. material maupun warna bangunan harus dirancang memenuhi syarat keindahan dan keserasian lingkungan yang telah ada dan atau yang direncanakan kemudian dengan tidak menyimpang dari persyaratan fungsinya.ii. Untuk bangunan dengan lantai banyak. iii. ii.i tidak berlaku apabila sesuai fungsi bangunan diperlukan sistem pencahayaan dan penghawaan buatan. vi. Syarat-syarat lebih lanjut mengenai tinggi/tingkat dan sesuatunya ditetapkan berdasarkan ketentuan-ketentuan rencana tata ruang. Aksesibilitas bangunan harus mempertimbangkan kemudahan bagi semua orang.1. Perancangan Bangunan i. v. Dalam hal tidak ada langit-langit. vii. profil. tampak. Bentuk bangunan gedung harus dirancang sedemikian rupa sehingga setiap nuang dalam dimungkinkan menggunakan pencayahayaan dan penghawaan alami.b. Ruangan dalam bangunan harus mempunyai tinggi yang cukup untuk fungsi yang diharapkan.2. harus dilengkapi dengan perlengkapan yang berfungsi sebagai pengaman terhadap lalu lintas udara dan atau lalu lintas laut. iii. termasuk para penyandang cacat dan usia lanjut. Ketinggian ruang pada lantai dasar disesuaikan dengan fungsi ruang dan arsitektur bangunannya.2. iv. Bentuk bangunan gedung sesuai kondisi daerahnya harus dirancang dengan mempertimbangkan kestabilan struktur dan ketahanannya terhadap gempa. iv. Setiap bangunan gedung yang didirikan berdampingan dengan bangunan yang dilestarikan. 3. iii. v. harus serasi dengan bangunan yang dilestarikan tersebut. kulit atau selubung bangunan harus memenuhi persyaratan konservasi energi. . vi. Ketentuan Umum i.

atau ruang pertemuan dalam bangunan komersial (antara lain hotel. Ruang rongga atap hanya dapat diijinkan apabila penggunaannya tidak menyimpang dari fungsi utama bangunan serta memperhatikan segi kesehatan. karakter arsitektur bangunan dan bagian-bagian bangunan serta tidak boleh mengurangi atau mengganggu fungsi sarana jalan keluar/masuk. ruang ganti pakaian karyawan. penambahan. iv. tidak boleh menyebabkan berubahnya fungsi/penggunaan utama. kegiatan umum dan pelayanan. Bangunan atau bagian bangunan yang mengalami perubahan perbaikan. Bangunan toko sekurang-kurang memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan toko.Jenis dan jumlah kebutuhan fasilitas penunjang yang harus disediakan pada setiap jenis penggunann bangunan ditetapkan oleh Kepala Daerah. kegiatan keluarga bersama dan kegiatan pelayanan. dan pertokoan). iii. ruang umum dan ruang pelayanan. x. . Perhitungan ketinggian bangunan. gedung olah raga. vii Ruang penunjang dapat ditambahkan dengan tujuan memenuhi kebutuhan kegiatan bangunan. Ruang-rongga atap untuk rumah tinggal harus mempunyai penghawaan dan pencahayaan alami yang memadai.v. bangunan monumental. viii. ii. vi. Bangunan kantor sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan kerja. ruang makan. ix. xi. sepanjang tidak menyimpang dari penggunaan utama bangunan. maka ketinggian bangunan dianggap sebagai dua lantai. serta ruang pelayanan kesehatan yang memadai. gedung serbaguna. kecuali untuk penggunaan ruang lobby. perkantoran. keamanan dan keselamatan bangunan dan lingkungan. viii. Suatu bangunan gudang. Ruang rongga atap dilarang dipergunakan sebagai dapur atau kegiatan lain yang potensial menimbulkan kecelakaan/ kebakaran . gedung sekolah. perluasan. b. Bangunan tempat tinggal sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan pribadi. Perancangan Ruang Dalam i. ruang istirahat. Suatu bangunan pabrik sehurang-kurangnya harus dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dan kakus. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 meter. sekurang-kurangnya harus dilengkapi dengan kamar mandi dan kakus serta nuang kebutuhan karyawawan v. gedung pertunjukan. Tata ruang dalam untuk bangunan tempat ibadah. gedung pertemuan. vii. Perubahan fungsi dan penggunaan ruang suatu bangunan atau bagian bangunan dapat diijinkan apabila masih memenuhi ketentuan penggunaan jenis bangunan dan dapat menjamin keamanan dan keselamatan bangunan serta penghuninya. ix. Penempatan fasilitas kamar mandi dan kakus untuk pria dan wanita harus terpisah. Mezanin yang luasnya melebihi 50% dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. serta gedung sejenis lainnya diatur secara khusus. vi.

Tinggi lantai dasar suatu bangunan diperkenankan mencapai maksimal 1.20 m di atas tinggi rata-rata tanah pekarangan atau tinggi rata-rata jalan. xx. atau untuk tanah-tanah yang miring. Tinggi Lantai Denah: (1) Permukaan atas dari lantai denah (dasar) harus: (a) Sekurang-kurangnya 15 cm diatas titik tertinggi dari pekarangan yang sudah dipersiapkan. kecuali menggunakan alat bantu mekanis. dengan memperhatikan keserasian lingkungan. tidak boleh mengubah sifat dan karakter arsitektur bangunannya. ii. Cerobong asap dan atau gas harus dirancang memenuhi persyaratan pencegahan kebakaran. xviii Apabila tinggi tanah pekarangan berada di bawah titik ketinggian (peil) bebas banjir atau terdapat kemiringan yang curam atau perbedaan tinggi yang besar pada tanah asli suatu perpetakan. Lantai tanah atau tanah dibawah lantai panggung harus ditempatkan sekurang-kurangnya 15 cm diatas tanah pekarangan serta dibuat kemiringan supaya air dapat mengalir.xii. maka tinggi maksimal lantai dasar ditetapkan tersendiri. Tinggi ruang dalam bangunan tidak boleh kurang dari ketentuan minimum yang ditetapkan. Bangunan tertentu berdasarkan letak. . kenyamanan. ketinggian dan penggunaannya harus dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan bangunan. ii Prasarana-prasarana pendukung bangunan harus direncanakan secara terintegrasi dengan sistem prasarana lingkungan sekitarnya iii. xiv Pada ruang yang penggunaannya menghasilkan asap dan atau gas harus disediakan lobang hawa dan atau cerobong hawa secukupnya. Syarat-syarat teknis lebih lanjut terhadap ketentuan tersebut di atas mengikuti standar teknis yang berlaku. (b) Sekurang-kurangnya 25 cm diatas titik tertinggi dari sumbu jalan yang berbatasan. b. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan. – xix. xvi. xiii Setiap bukaan pada ruang atap. Kelengkapan Bangunan a. Setiap penggunaan ruang rongga atap yang luasnya tidak lebih dari 50% dari luas lantai di bawahnya. kesehatan dan keselamatan pengguna bangunan gedung. Ketentuan Umum i. ketentuan dalam butir (1) tersebut. Sarana dan Prasarana Bangunan Gedung i. (2) Dalam hal-hal yang luar biasa. xvii. termasuk pengaman/ rambu-rambu terhadap lalu-lintas udara dan atau laut. tidak dianggap sebagai penambahan tingkat bangunan. Sarana dan prasarana pendukung harus menjamin bahwa pemanfaatan bangunan tersebut tidak mengganggu bangunan gedung lain dan lingkungan sekitarnya. tidak berlaku jika letak lantai-lantai itu lebih tinggi dari 60 cm di atas tanah yang ada di sekelilingnya. xv. 4.

peresapan air. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan tidak boleh dilanggar dalam mendirikan atau rnemperbaharui seluruhnya atau sebagian dari bangunan. i. d.2 RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1. sungai. g. c.e ini belum ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan. maka dapat dibuat ketetapan yang bersifat sementara untuk lokasi/lingkungan yang terkait dengan setiap pemmohonan bangunan.1. e. Apabila Ruang Terbuka Hijau Pekarangan sebagaimana dimaksud pada butir 111.2. Dalam hal terdapat makro lansekap yang dominan seperti laut. v. RTHP menupakan bagian integral dari penataan bangunan gedung dan sub-sistem dari penataan lansekap kota. Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. sosial. j. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir III. tanah dan permukaan tanah. terhadap suatu kawasan/daerah dapat diterapkan b. sehingga dapat menjamin fungsi bangunan juga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh semua orang. Bangunan gedung harus direncanakan dan dirancang sebaik-baiknya. Pintu masuk dan keluar area bangunan gedung harus direncanakan secara terintegrasi serta tidak mengganggu tata sirkulasi lingkungannya. KLB. KDB. Sebagai ruang transisi. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. Setiap perencanaan bangunan baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau.1. .2. III. termasuk para penyandang cacat dan warga usia lanjut. Ruang Terbuka Hijau adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kota/wilayah/halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. h.e dapat dipertimbangkan dan disesuaikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. f. ekonomi maupun estetika. unsur-unsur estetik. sungai besar. KDH. Fungsi dan Persyaratan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan a. Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan gedung dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). Parkir dan ketetapan lainnya. gunung dan sebagainya. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. pohon-pohon menahun.iv. sirkulasi.

dan aspek aksesibilitas. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. yang Sebagai perlindungan atas sumber-sumber daya alam yang ada. tidak di dalam wadah / container yang kedap air. tiang telepon di kedua sisi jalan / ruas jalan yang dimaksud. b. Keserasian tersebut antara lain mencakup: pagar dan gerbang. KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah. 3. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan peruntukan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. k. jalur pejalan kaki. Ketinggian maksimum/minimum lantai dasar bangunan dari muka jalan ditentukan untuk pengendalian keselamatan bangunan. ketentuan teknis dan kebijaksanaan Daerah setempat. b. serta tergantung pada kondisi lahan. KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan dalam kawasan-kawasan bangunan. Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTHP sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah. c. Untuk keperluan penyediaan RTHP yang memadai. Tapak Basement a. d.pengaturan khusus untok orientasi tata letak bangunan mempertimbangkan potensi arsitektural lansekap yang ada. 2. bangunan penunjang seperti pos jaga. lantai basement pertama (B-1) tidak dibenarkan keluar dari tapak bangunan (di atas tanah) dan atap . bak sampah dan papan nama bangunan. seperti dari bahaya banjir. vegetasi besar / pohon. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan / penanaman di atas tanah. dimana terdapat beberapa klas bangunan dan kawasan campuran. 1. KDH minimal 10% pada daerah sangat padat/padat. Kebutuhan basement dan besaran koefisien tapak basement (KTB) ditetapkan berdasarkan rencana peruntukan lahan. pagar. dapat ditetapkan persyaratan khusus bagi permohonan ijin mendirikan bangunan dengan mempertimbangkan hal-hal pencagaran sumber daya alam. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan ruang sempadan depan bangunan. pengendalian bentuk estetika bangunan secara keseluruhan/ kesatuan lingkungan. tiang bendera. keselamatan pemakai dan kepentingan umum. e. Ruang Sempadan Bangunan a.

Prasarana parkir untuk suatu rumah atau bangunan tidak diperkenankan mengganggu kelancaran lalu lintas. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia. ii. iii.5. d.b Kepala Daerah dapat membentuk tim penasehat untuk mengkaji rencana pemanfaatan jeni-jenis tanaman yang layak tanam di Ruang terbuka Hijau Pekarangan berikut standar perlakuannya yang memenuhi syarat keselamatan pemakai. b. c. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roof-garden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan cara-cara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan.2.a dan III. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir a. 5. III.2.5. atau mengganggu lingkungan di sekitarnya. batang dan cabangnya rapuh.3 PERTANDAAN. 4. Penyediaan parkir di pekarangan tidak boleh mengurangi daerah penghijauan yang telah ditetapkan. Jumlah kebutuhan parkir menurut jenis bangunan ditetapkan sesuai dengan standar teknis yang berlaku. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan.basement kedua (B-2) yang di luar tapak bangun harus berkedalaman sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan tanah tempat penanaman. Hijau Pada Bangunan a. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25% luas RTHP. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. air. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan. . iv. b. Setiap bangunan bukan rumah hunian diwajibkan menyediakan area parkir kendaraan sesuai dengan jumlah area parkir yang proporsional dengan jumlah luas lantai bangunan. Ketentuan Umum i. Tata Tanaman a. kestabilan tanah / wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. Untuk pelaksanaan kepentingan tersebut pada butir III.

dan kendaraan pelayanan lainnya. serta disesuaikan dengan daya tampung lahan. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. iv. Penataan parkir harus berorientasi kepada kepentingan pejalan kaki. guna mendukung sistim sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. rambu-rambu. antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan. penghijauan. nyaman. Jalur utama pedestrian harus telah mempertimbangkan sistem pedestrian secara keseluruhan. Sirkulasi i. dan memberikan pemandangan yang menarik. distribusi dan perletakan fasilitas parkir diupayakan tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya. dan ruang terbuka umum. dan tidak terganggu oleh sirkulasi kendaraan. d. papan informasi sirkulasi. Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang antar bangunan yang tidak hanya terbatas dalam Damija. dan aksesibilitas dengan lingkungan sekitarnya. penghijauan. ii. Sirkulasi pertu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan. baik yang bersifat pelayanan publik maupun pribadi. ii. Jalur pedestrian harus berhasil menciptakan pergerakan manusia yang tidak terganggu oleh lalu lintas kendaraan. iii.b. Penataan parkir tidak terpisahkan dengan penataan lainnya seperti untuk jalan. dll. Penataan pedestrian harus mampu merangsang terciptanya ruang yang layak digunakan/manusiawi. Elemen pedestrian (street fumiture) harus berorientasi pada kepentingan pejalan kaki. Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran. c. Sirkulasi harus memberikan pencapaian yang mudah dan jelas. iii. iii. Parkir i. pedestrian dan penghijauan. Jalan i. . memudahkan aksesibilitas. serta antara individu pemakai bangunan dengan sarana transportasinya. Luas. ii. iv. ii. aksesibilitas terhadap subsistem pedestrian dalam lingkungan. dan termasuk untuk penataan elemen lingkungan. iii. e. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa elemen perkerasan maupun tanaman). aman. Pemilihan bahan pelapis jalan dapat mendukung pembentukan identitas lingkungan yang dikehendaki. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus saling mendukung. Pedestrian i. dan keJelasan kontinyuitas pedestrian. Penataan jalan tidak dapat terpisahkan dari penataan pedestrian.

. pagar. dan telah memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan. silau. Pencahayaan ruang luar bangunan harus disediakan dengan memperhatikan karakter lingkungan. yang melampaui baku mutu lingkungan menurut peraturan penundang-undangan yang bertaku. tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. b. visual yang tidak menarik. atau habitat alaminya mengalami kerusakan. dan lokasi dari signage. Dampak Penting a. menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui. b. fungsi dan arsitektur bangunan estetika amenity. mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik. c. b. Pertandaan (Signage) a. tetapi diharuskan melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai ketentuan yang berlaku. atau ruang publik. Kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan adalah bila rencana kegiatan tersebut akan: i. berdasarkan pertimbangan ilmiah. atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya. menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan. 3. iii. harus membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter lingkungan yang ingin diciptakan/ dipertahankan. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang mengganggu dan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan harus dilengkapi dengan AMDAL sesuai ketentuan yang berlaku. Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk lingkungan/ kawasan tertentu. Kepala Daerah dapat mengatur pembatasa-pembatasan ukuran. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan. Pencahayaan yang dihasilkan harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum Pencahayaan yang dihasilkan dengan telah menghindari penerangan ruang luar yang berlebihan. dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku terancam punah. dan komponen promosi. baik yang penempatannya pada bangunan keveling. III. Penempatan signage termasuk papan iklan/ reklame.2. c. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan a.4 PENGELOLAAN DAMPAK LAINGKUNGAN 1. motif. ii. bahan.

3. Kegiatan yang dimaksud pada butir III. dan atau pemerintah. taman nasional. jalan kereta api dan bangunan lain di sekitarnya sesuai rekomendasi dinas teknis terkait. ii. d. (2) Bangunan yang didirikan harus terletak pada jarak tertentu dari batas-batas pekarangan atau bangunan lainnya dalam pekarangan sesuai rekomendasi dinas terkait. merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi. Ketentuan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang harus melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adaiah sesuai ketentuan yang berlaku. v. harus dapat menjamin keamanan keselamatan serta kesehatan penghuni dan lingkungannya. Untuk mendirikan bangunan yang menurut fungsinya menggunakan menyimpan atau memproduksi bahan peledak dan bahan-bahan lain yang sifatnya mudah meledak. Bangunan yang menurut fungsinya menggunakan. 4. 2. mudah terbakar atau bahan lain yang berbahaya. Ketentuan Pengelolaan Dampak Lingkungan Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang wajib AMDAL. Pada bangunan yang menggunakan kaca pantul pada tampak bangunan. menyimpan atau memproduksi bahan radioaktif. dapat diberikan ijin apabila: (1) Lokasi bangunan terletak di luar lingkungan perumahan atau berjarak tertentu dari jalan umum. racun.3. suaka margasatwa. vii. vi. dan sebagainya) yang telah ditetapkan menunut peraturan perundang-undangan. mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi. adalah sesuai Ketentuan pengelolaan Dampak Lingkungan yang berlaku. sinar yang dipantulkan tidak boleh melebihi 24% dan dengan memnperhatikan tata letak serta orientasi bangunan terhadap matahari. cagar alam. menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung (hutan lindung. iii. (3) Bagian dinding yang terlemah dari bangunan tersebut diarahkan ke daerah yang paling aman. mengakibatkan/ menimbulkan konflik atau kontroversi dengan masyarakat. Persyaratan Bangunan i. .1.c merupakan kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan a.iv.

sekelilingnya harus dilengkapi dengan kolam peredam getaran. Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dapat menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas umum harus dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang dioperasikan dan dikendalikan oleh tim pengatur lalu lintas. atau sampai sumur penduduk pulih seperti semula. harus dilengkapi dengan sarana pengumpulan dan pengolahan limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan yang diijinkan dan atau ditetapkan oleh instansi yang berwenang.iv. iv. v. vi. Apabila bangunan yang menurut fungsinya akan membangkitkan LHR >= 60 SMP per 1000 ft2 luas lantai. iii. Setiap kegiatan konstruksi yang menimbulkan genangan baru sekitar tapak bangunan harus dilengkapi dengan saluran pengering genangan sementara yang nantinya dapat dibuat permanen dan menjadi bagian sistem drainase yang ada. ii. v. ii. Penggunaan hammer pile untuk pemancangan pondasi hanya diijinkan bila tidak ada bangunan rumah sakit di sekitarnya. Sampah yang dikumpulkan di sarana pengumpulan sampah padat harus selalu dikosongkan setiap hari untuk menjamin agar lalat tidak berkembang biak dan mengganggu kesehatan lingkungan bangunan gedung. Penggunaan peralatan konstruksi yang diperkirakan menimbulkan keretakan bangunan. Sarana pongumpulan dan pongolahan air limbah harus dipelihara secara berkala untuk menjamin kualitas effluen yang memenuhi standar baku mutu limbah cair. Setiap kegiatan pengeringan (dewatering) yang menimbulkan kekeringan sumur penduduk harus memperhitungkan pemberian kompensasi berupa penyediaan air bersih kepada masyarakat selama pelaksanaan kegiatan. maka setiap tapak bangunan gedung harus dilengkapi dengan bidang resapan yang ukurannya disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. atau tidak ada bangunan rumah yang rawan keretakan. b. Pembuangan limbah cair dan padat i. Setiap bangunan yang menghasilkan limbah cair dan padat atau buangan lainnya yang dapat menimbulkan pencemaran air dan tanah. c. Persyaratan Pelaksanaan Konstruksi i. iii. Bangunan yang menurut fungsinya memerlukan pasokan air bersih dengan debit > 5 l/dt atau > 500 m3/hari dan akan mengambil sumber air tanah dangkal dan atau air tanah dalam (deep well) harus mendapat ijin dari dinas terkait yang bertanggung jawab serta menggunakan hanya untuk keperluan darurat atau alternatif dari sumber utama PDAM. . Guna pemulihan cadangan air tanah dan mengurangi debit air larian. maka rencana teknis sistem jalan akses keluar masuk bangunan gedung harus mendapat ijin dari dinas teknis yang berwenang.

e. d.3. keselamatan dan kesehatan dapat diperkenankan mengadakan perbaikan darurat.5. . keselamatan dan kesehatan lingkungan. c.3. daerah Banjir dan yang sejenisnya. b.5. Pengelolaan Daerah Bencana a.a dapat ditetapkan larangan membangun atau menetapkan tata cara dan persyaratan khusus di dalam membangun.5. Lingkungan bangunan yang mengalami kebakaran dapat ditetapkan sebagai daerah tertutup dalam jangka waktu tertentu. dibatasi. dengan memperhatikan keamanan.a. bagi bangunanan yang rusak atau membangun bangunan sementara untuk kebutuhan darurat dalam batas waktu penggunaan tertentu dan dapat dibebaskan dari izin. Bangunan-bangunan pada lingkungan bangunan yang mengalami bencana. dengan memperhatikan keamanan. Suatu daerah dapat ditetapkan sebagai daerah bencana. Pada daerah bencana sebagaimana dimaksud pada butir III. dapat ditetapkan sebagai daerah peremajaan kota. atau dilarang membangun bangunan. Daerah sebagaimana dimaksud pada butir III.

IV. serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan. harta benda dan masih dapat diperbaiki. c. c. seperti : 2. d. intensitas dan cara bekerjanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku.beban yang mungkin bekerja selama umur layan struktur.IV. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. beban sementara (angin.2 PEMBEBANAN 1 Analisa struktur harus dilakukan untuk memeriksa tanggap struktur terhadap beban . dan beban-beban lainnya yang secara logis dapat terjadi pada struktur. termasuk kombinasi pembebanan yang kritis (antara lain: meliputi beban gempa yang mungkin terjadi sesuai zona gempanya). Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. b. . termasuk beban tetap. Dalam hal bilamana bahan struktur bangunan belum mempunyai SNI maka bahan struktur bangunan tersebut harus memenuhi ketentuan teknis yang sepadan dari negara/ produsen yang bersangkutan. gempa) dan beban khusus. Persyaratan Struktur a. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. 1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. b. Persyaratan Bahan a. keruntuhan yang terjadi menimbulkan kondisi struktur yang masih dapat mengamankan penghuni. STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Struktur bangunan harus direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa. 2. Struktur bangunan yang direncanakan secara umum harus memenuhi persyaratan keamanan (safety) dan kelayakan (serviceability). Struktur bangunan harus direncanakan mampu memikul semua beban dan / atau pengaruh luar yang mungkin bekerja selama kurun waktu umur layan struktur. sehingga pada kondisi pembebanan maksimum. Penentuan mengenai jenis.

SNI-2834 Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton. . SNI-3430. Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan dengan Agregat Ringan. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. seperti: a. b. c. f. Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. SNI-3976. c. SNI -1734. IV. g. b. SNI-1729 Tata cara / pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja. b. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung. d. 3. Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung. e. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. Tata Cara Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung. Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar-standar yang berlaku seperti: a. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung SNI 2847. SNI-1728 Tata Cara Perencanaan Beton dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung SNI 1727. 2.3 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung SNI 1726. STRUKTUR ATAS 1. d. Konstruksi beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku.a. SNI-3449. seperti: a.

standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanean suatu bangunan yang harus dipenuhi. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut. f. Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung. Tata Cara Pencegahan Rayap pada Pembuatan Bangunan Rumah dan Gedung. 5. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Tata Cara Perancangan Bangunan Sederhana Tahan Angin. Tata cara/ pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu. SNI-1745. Tata Cara Penanggulangan Rayap pada Bangunan Rumah dan Gedung dengan Temmitisida. b. Tata Cara Dasar Koordinasi Modular untuk Perancangan Bangunan Rumah dan Gedung. tata cara. antara lain: a. 4.b. c. Konstruksi dengan Bahan dan Teknologi Khusus a. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. SNI-2394. SNI-1963. Perencanaan konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli struktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut. SNI-2397. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi. b. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Radiologi di Rumah Sakit. c. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar-standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit. SNI-2405 . Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. d. h. SNI-1735. SNI-2404. SNI-2407. SNI-1736. e. d. i. g. SNI-2395.

b. Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan percobaan pembebanan. Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai. . Pondasi Langsung a. Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan korelasi tipikal parameter tanah yang lain. 2. Pondasi Dalam a. Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1 % dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik secara random. e. b. Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi. d. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek.IV. c. kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim. d. kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh Dinas Bangunan.4 STRUKTUR BAWAH 1. c.

d. b. Kriteria Demolisi Demolisi struktur dilakukan apabila: a.5 KEANDALAN STRUKTUR 1. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandaian bangunan gedung. d. Ketidak andalan struktur akibat beban perilaku alam dan atau manusia dapat diakibatkan oleh adanya kebakaran. atau karena dilampauinya beban yang harus dipikulnya sesuai rencana sebagai akibat berubahnya fungsi bangunan atau kesalahan dalam pemanfaatannya. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan. Keselamatan struktur tergantung pada keandalan struktur tersebut terhadap gaya-gaya yang dipikulnya. Keselamatan Struktur a. Keruntuhan Struktur a. c. 2. dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/ Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. beban akibat perilaku manusia. Struktur bangunan sudah tidak andal. dan atau beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. dan kerusakan struktur sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki karena alasan teknis dan atau . sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur. maupun bencana lainnya.6 DEMOLISI STRUKTUR 1. gempa. Ketidak andalan struktur akibat beban sendiri dan atau beban yang didukungnya disebabkan oleh karena umur bangunan yang secara teknis telah melebihi umur yang direncanakan. b. c. Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan.IV. IV. beban akibat perilaku manusia maupun beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. beban yang didukungnya. Keruntuhan sruktur adalah diakibatkan oleh ketidak andalan suatu sistem atau komponen stnuktur untuk memikul beban sendiri. Untuk mencegah terjadinya keruntuhan struktur yang tidak diharapkan pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/ petunjuk teknis yang berlaku.

2. serta dapat membahayakan pengguna bangunan. Penyusunan prosedur. metoda dan rencana demolisi struktur harus memenuhi persyaratan teknis untuk pencegahan korban manusia dan untuk mencegah kerusakan serta dampak lingkungan. Prosedur. masyarakat dan lingkungan. b.ekonomis. Adanya perubahan peruntukan lokasi/fungsi bangunan. metoda dan rencana demolisi struktur dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. Prosedur dan Metoda a. dan secara teknis struktur bangunan tidak dapat dimanfaatkan lagi. b. .

yang sesuai dengan: i. vii sistem proteksi aktif yang dipasang pada bangunan. ketinggian bangunan.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1. . iii. vi.ukuran setiap kompartemen api. iv. d. sehingga: i. dan x. ii. Ketahanan Api dan Stabilitas. sampai dengan tingkat tertentu. ii. mobilitas dan karakteristik penghuni lainnya. yang sesuai dengan: i. intensitas kebakaran. PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. b. antara bangunan. viii. ix intervensi pasukan pemadam kebakaran. cukup waktu untuk evakuasi penghuni secara aman. Ruang perawatan pasien dari bangunan klas 9a harus dilindungi dari penyebaran api dan asap untuk memberi waktu cukup untuk evakuasi yang tertib dalam keadaan darurat. jumlah. fungsi atau penggunaan bangunan. Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran. c. v. Bahan dan komponen bangunan harus tahan-penyebaran api. iv.V. sistem proteksi aktif yang dipasang dalam bangunan. dan ii. elemen bangunan lainnya. membatasi berkembangnya asap dan panas. tingkat bahaya api. cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. iii. 3 atau bagian dan bangunan klas 4: i. a. serta gas-gas beracun yang mungkin timbul. Bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan yang pada tingkat tertentu akan mempertahankan stabilitas struktural selama kebakaran. e. terutama pada bangunan klas 2. iii. yang menghubungkan kompartemen api. beban api. fungsi atau penggunaan bangunan. dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana/ prasarana pengamanan dan pencegahan penyebaran api. waktu evakuasi ii. kedekatan dengan bangunan lain.

i. sehingga diperoleh tingkat kinerja yang memadai dari elemen tersebut. j. fungsi bangunan. sesuai dengan: i. Tipe C: Konstruksi yang terbentuk dari unsur-unsur struktur yang dapat terbakar dan tidak dimaksudkan untuk mampu bertahan terhadap api. b. keruntuhan tersebut dapat dihindari. atau potensial dapat meledak. Akses ke dan sekeliling bangunan harus disediakan bagi kendaraan dan personil pemadam kebakaran. sambungan konstruksi. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api. . Setiap elemen bangunan yang disediakan untuk menahan penyebaran api.f. g. dan lubang untuk instalasi harus dilindungi sedemikian. untuk memudahkan tindakan pasukan pemadam kebakaran secara memadai. Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api. sistem proteksi aktif. iv. c. Tipe B: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuk kompartemen penahanan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam bangunan dan unsur dinding luarnya mampu menahan penjalaran kebakaran dari luar bangunan selama sekurang kurangnya 1 (satu) jam. tingkat bahaya api. ii. Pada konstruksi ini terdapat dinding pemisah pembentuk kompartemen untok mencegah penjaiaran panas ke ruang-ruang yang bersebelahan di dalam bangunan dan dinding luar untuk mencegah penjalaran api ke dan dari bangunan didekatnya. terdapat 3 (tiga) tipe konstruksi yaitu: a. 2. Dinding luar beton yang dapat runtuh dalam bentuk panel yang utuh (misalnya beton pracetak) harus dirancang sehingga pada kejadian kebakaran dalam bangunan. Tipe Konstruksi Tahan Api. yaitu pada bukaan. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api dari peralatan utilitas yang mempunyai pengaruh bahaya api yang tinggi. intensitas kebakaran. h. Tipe A: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuknya adalah tahan api dan mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran pada bangunan minimal 2 (dua) jam. v. iii. ukuran kompartemen. dan vi. sehingga peralatan darurat yang tersedia dalam bangunan tetap beroperasi pada jangka waktu yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran. beban api.

dan . perambatan api dan asap. 2.000 m2 5.6.000 m2 3.8 A B C C Kompartemenisasi dan Pemisahan Ukuran Kompartemen Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat membatasi kobaran api yang potensial.000 m3 33. mengendalikan kebaran api agar tidak menjelar ke bangunan lain yang berdekatan.4 Ukuran maksimum dari kompartemen kebakaran Klasifikasi Bangunan Maksimum luasan lantai Klas 5 atau 9b Maksimum 48.500 m2 3.000 m2 b Pemberlakuan. agar dapat: i.9 A A B C 5.000 m3 volume Maksimum 5. a.000 m2 Klas 6.000 m3 volume Tipe Konstruksi bangunan Tipe A Tipe B Tipe C 8.3.3 Tipe Konstruksi yang diwajibkan KETINGGIAN (dalam jumlah lantai) KLAS BANGUNAN 4 atau lebih 3 2 1 4.7.7.500 m3 12.000 m3 21.3.500 m3 18.500 m2 2. i. Tabel V. melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan. bagian ini tidak berlaku untuk bangunan klas 1 atau 10. Tipe konstruksi yang diwajibkan Minimum tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai dengan ketentuan pada tabel berikut: Tabel V.1.1.8 atau 9a luasan lantai (kecuali daerah perawatan pasien Maksimum 30. menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran. iii. ii.

6. 9 yang dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler serta terdapat jalur kendaraan sekeliling bangunan yang memenuhi ketentuan butir 4.e. ventilasi. atau peralatan Lift.1. maka seluruhnya dianggap sebagai satu bangunan dan secara bersama harus memenuhi ketentuan butir i.ii. ruang dalam bangunan yang karena fungsinya mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran. c. asap dan gas beracun. iv.4 dan butir f.000 m3 dengan sistem sprinkler. yang memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut pada butir 4. d dan e tidak berlaku untuk tempat parkir umum yang dilengkapi dengan sistem sprinkler. atau unit utilitas sejenis dan berada di puncak bangunan. tidak diperhitungkan sebagai luas lantai atau volume dari kompartemen atau atrium iii. i. Bila terdapat lebih dari satu bangunan pada satu kapling.e. dan apabila: (1) ketinggian langit-langit kompartemen tidak lebih dari 12 meter. atau (2) ketinggian langit-langit lebih dari 12 meter.ii. harus merupakan suatu kompartemen terhadap penjalaran api.000 m2 dan volumenya tidak melebihi 108. atau ii.d. Bagian bangunan. ii. dilengkapi dengan sistem pembuang asap sesuai ketentuan yang berlaku. tanki air. dan dikelilingi jalan masuk kendaraan sesuai dengan butir 4. i. maka bagian dari ruang atrium yang dibatasi oleh sisi tepi di sekeliling bukaan pada lantai dasar sampai dengan langit-langit dari lantai tidak diperhitungkan sebagai volume atrium. Ruang terbuka yang diperlukan harus: (1) Seluruhnya berada di dalam kapling yang sama kecuali jalan. Untuk bangunan yang memiliki lubang atrium. 7. (2) bangunan klas 5 s. dan (1) setiap bangunan harus memenuhi ketentuan butir i atau ii di atas.e. . Bangunan-bangunan besar yang diisolasi.ii. atau tempat umum yang berdampingan dengan kapling tersebut. dilengkapi dengan sistem pembuangan asap atau ventilasi asap dan panas sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku.1. Ukuran dari setiap kompartemen kebakaran atau atrium bangunan klas 5.4 bila: i. e. kecuali seperti yang diijinkan pada butir d. 8 atau 9 harus tidak melebihi luasan lantai maksimum atau volume maksimum seperti ditunjukkan dalam Tabel V. Bangunan dengan luasan melebihi 18. iii. (2) bila jarak antara bangunan satu dengan lainnya kurang dari 6 meter.000 m2 atau 108. tempat parkir tak beratap atau suatu panggung terbuka.i yang lebamya tidak kurang dari 18 meter. Batasan umum luas lantai. Ukuran kompartemen pada bangunan dapat melebihi ketentuan dari yang tersebut dalam Tabel v. sungai. d.000 m3 dengan ketentuan: (1) bangunan klas 7 atau 8 kurang dari 2 lantai dan terdapat ruang terbuka disekeliling bangunan tersebut. ketentuan pada butir c. Kebutuhan ruang terbuka dan jalan masuk kendaraan. Bangunan dengan luas tidak melebihi 18. namun berjarak tidak lebih dari 6 meter dengannya. Bagian dari bangunan yang hanya terdiri dari peralatan pendingin udara. atau: ii.

Tangga dan lift tidak boleh berada pada satu shaft yang sama. dan tertutup pada setiap lantai. b. atau akan menambah risiko merambatnya api ke bangunan yang berdekatan dengan kapling tersebut. (2) lebar bebas minimum 6 meter dan tidak ada bagian yang lebih jauh dari 18 meter terhadap bangunan. kecuali untuk gardu jaga dan bangunan penunjang ( seperti gardu listrik dan ruang pompa). . shaft ventilasi. dan (4) tidak ada bangunan diatasnya. maka bukaan harus dilindungi dengan penutup tahan minimal sama dengan ketahanan api dinding atau lantai. 5. dan shaft instalasi listrik harus sepenuhnya tertutup dengan dinding dari bawah sampai atas. mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. Apabila harus diadakan bukaan pada dinding sebagaimana dimaksud pada butir b. pemisahan oleh dinding tahan api. tidak menghalangi penanggulangan kebakaran pada bagian manapun dari tepian kapling. Bukaan vertikal pada bangunan yang dipergunakan untuk shaft pipa. (5) bila terdapat jalan umum yang memenuhi (1) s. bila salah satu tangga atau lift tersebut diwajibkan berada dalam suatu shaft tahan api. Pada bangunan klas 2 dan 3. ii. Pemisahan Pemisahan vertikal pada bukaan di dinding luar. h. Seluruh bukaan harus dilindungi. dan . (4) memiliki kapasitas beban dan tinggi bebas yang memudahkan operasi mobil pemadam kebakaran.e.d. Koridor umum pada bangunan klas 2 dan 3. (4) di atas maka jalan tersebut dapat beriaku sebagai jalan lewatnya kendaraan atau bagian dari padanya. c. serta di atas jalan tersebut tidak boleh dibangun apapun kecuali hanya untuk kendaraan dan pejalan kaki (3) dilengkapi jalan untuk pejalan kaki yang memadai.ii (3) tidak untuk penyimpanan dan pemrosesan material. g. f.(2) termasuk jalan masuk kendaraan sesuai ketentuan butir 4. dan pemisahan pada shaft lift mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. dan lubang utilitas harus diberi penyetop api untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan. Jalan masuk kendaraan harus: (1) sebagai jalan masuk bagi kendaraan darurat dan lintasan dari jalan umum. yang tidak melanggar batas lebar dari ruang terbuka. Proteksi Bukaan a. koridor umum yang panjangnya lebih dari 40 meter harus dibagi menjadi bagian yang tidak lebih dari 40 meter dengan dinding yang tahan asap. Tangga dan Lift pada satu shaft.

d. maka harus dilindungi sesuai dengan ketentuan butir h. iii. dan tidak berada pada atau dekat dengan lantai dasar bangunan. dan sebagainya harus memenuhi persyaratan dan dapat dibuktikan melalui pengujian oleh lembaga uji yang diakui dan terakreditasi. bila luas penampang masing-masing tak melebihi 45. atau (2) 1.d kurang dari 180° 180° atau lebih Jarak Minimal Antara Bukaan 6m 5m 4m 3m 2m nol . g. 135° Lebih dari 134° s. yang bukan dari klas 10.5. berjarak dari suatu obyek sumber api tidak kurang dari: (1) 1 m pada bangunan dengan 1 (satu) lantai. dan sejenisnya di dinding luar dari konstruksi pasangan. dan iii.1. Proteksi Bukaan Pada Dinding Luar.1. 90° Lebih darii 90° s. dan sambungan antara panel di dinding luar dari beton pracetak. bangunan-bangunan klas 1 atau klas 10. Sarana dan atau peralatan proteksi seperti penyetop api. bila bukaan tersebut wajib dilindungi sesuai dengan butir ii. Pemisahan Bukaan Pada Kompartemen Kebakaran. Ketentuan proteksi pada bukaan ini tidak berlaku untuk: i. lubang tirai. 45° Lebih dari 45° s. f. atau (2) 6 m dari sempadan jalan yang membatasi persil. Tabel V. Sudut Terhadap Dinding 0° (dinding-dinding saling berhadapan) Lebih dari 0° s. dan ii. Bukaan pada dinding luar yang perlu memiliki TKA harus: i. lubang ventilasi yang tidak mudah terbakar (non combustible ventilators). jarak antara bukaan pada dinding luar pada kompartemen kebakaran harus tidak kurang dari yang tercantum pada Tabel V. Kecuali bila dilindungi sesuai ketentuan tersebut pada butir 9. dan bila digunakan sprinkler pembasah-dinding maka sprinkler tersebut harus ditempatkan di bagian luar bangunan.d.5 JARAK ANTARA BUKAAN PADA KOMPARTEMEN KEBAKARAN YANG BERBEDA e. dan jarak antara lubang ventilasi tak kurang dari 2 m pada dinding yang sama.d. bila bukaan di dinding luar tersebut terhadap suatu sumber api terletak kurang dari: (1) 3 m dari batas belakang persil bangunan. damper. atau (3) 6 m dari bangunan lain pada persil yang sama. kecuali bila bukaan-bukaan tersebut pada bangunan klas 9b dan diberlakukan seperti bangunan panggung terbuka. bila luas lubang/sambungan tersebut tidak lebih luas dari yang diperlukan.d.000 mm2. maka tidak boleh menempati lebih dari 1/3 luas dinding luar dari lantai dimana bukaan tersebut berada. ii sambungan pengendali.5 m pada bangunan dengan lebih dari 1 (satu) lantai.

atau memasang pintu kebakaran dengan TKA -/60/30 (dapat menutup sendiri secara otomatis). (1) harus dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. atau memasang penutup api otomatis dengan TKA -/60/(3) Bukaan-bukaan lain: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. 7. ii. (2) Jendela: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan.h. Sistem hidran harus dipasang pada bangunan: (1) yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 m2. Metoda Proteksi Yang Diperbolehkan.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. satu pompa digerakkan oleh: (a) motor-bakar.(menutup otomatis atau secara tetap dipasang pada posisi tertutup). dan (2) hidran dalam bangunan harus melayani hanya di lantai hidran tersebut ditempatkan. Sistem Pemadam Kebakaran a. atau (b) bangunan klas 5. asalkan hidran dapat menjangkau seluruh satuan peruntukan bangunan. (b) 2 (dua) pompa yang digerakkan oleh motor listrik yang dihubungkan dengan sumber tenaga yang terpisah satu sama lain. di mana: (a) bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian klas 4. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. yang sekurang-kurangnya satu pompa digerakkan oleh motor bakar atau motor listrik yang dicatu dari daya generator darurat. i. Hidran kebakaran. dan penutup kebakaran harus memenuhi ketentuan butir i di atas dan standar teknis yang berlaku. Pintu. Bila diperlukan proteksi. atau jendela kebakaran dengan TKA -/60/. 6. atau konstruksi dengan TKA tidak kurang dari-/60/-. Sistem hidran kebakaran. (4) bila pompa kebakaran dihubungkan dengan jaringan pasokan air dan dipasang pada bangunan dengan ketinggian efektif kurang dari 25 m. kecuali pada satuan peruntukan bangunan. SNI 1745. atau (b) motor listrik yang dicatu dari generator darurat. 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih dari 2 (dua). atau . jendela dan bukaan lainnya harus dilindungi sebagai berikut: (1) Jalan masuk/pintu : sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. maka jalan masuk. (3) bila dilengkapi dengan pompa kebakaran harus terdiri dari: (a) 2 (dua) pompa. jendela. V. i. dan (2) terdapat regu pemadam kebakaran. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. ii.

maka bangunan rumah pompa tersebut harus jelas terlihat. dan jika dalam jarak 6 m dari bangunan. kecuali pada satu unit hunian. pemasangan pompa kebakarannya dalam bangunan harus pada tempat yang: (a) mempunyai jelur keluar ke jalan atau ruang terbuka. dan (b) pada bangunan klas 5. . 6. atau dinding antara bangunan dan rumah pompa yang berjarak 2 m dari sisi rurnah pompa dan 3 m di atas rumah pompa harus mempunyai TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan untuk dinding tahan api sesuai klas bangunannya. b. Hose Reel i. untuk melayani setiap kompartemen kebakaran dengan luas lantai lebih dari 500 m2 dan untuk maksud butir ini. untuk pompa yang ditempatkan di luar bangunan. harus: (1) dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. tempat pompa harus terpisah dari bangunan. dan dengan konstruksi yang mempunysi TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan bagi suatu dinding tahan api untuk klasifikasi bangunannya. 7. (2) melayani hanya lantai dimana alat ini ditempatkan. dilayani oleh Hose Reei tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari satu unit hunian tersebut dengan syarat Hose Reel melayani seluruh unit hunian. maka dinding rumah pompa dan bagian dinding luar yang berjarak 2 m dari samping rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa. dipertimbangkan sebagai kompartemen kebakaran. ii. bila sistem pasokan air mengambil air dari sumber statis. mempunyai jalur keluar langsung ke jalan atau ruang terbuka. atau: (2) bila hidran dalam tidak dipasang. Sistem Hose Reel harus disediakan: (1) untuk melayani seluruh bangunan. Sistem Hose Reel. (a) pada bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian Klas 4 dilayani oleh Hose Reel tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari unit hunian tersebut. maka harus disediakan sambungan yang cocok dan jalan masuk kendaraan pemadam kebakaran untuk memudahkan petugas pemadam kebakaran memompa air dari sumber tersebut dan harus disediakan sambungan yang berdekatan dengan lokasi tersebut untuk meningkatkan tekanan air dalam sistem gedung. tahan cuaca. satu unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4.(5) (6) (7) (c) motor listrik yang dihubungkan pada sumber tenaga yang terpisah satu sama lain melalui fasilitas pemindah daya otomatis. atau (b) jika bangunan tidak dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler sesuai ketentuan yang berlaku. serta harus dirancang untuk memenuhi tekanan dan laju aliran yang disyaratkan untuk operasi petugas pemadam kebakaran. dimana satu atau lebih hidran dalam dipasang. 8 atau 9 yang tidak lebih dari 2 (dua) lantai.

Tidak termasuk lapangan parkir terbuka. (b). Luas panggung dan belakang panggung lebih dari 200 m Tiap bangunan beratrium Untuk memperoleh ukuran kompartemen . 2.500 m2. Teater. Sistem sprinkler harus dipasang pada bangunan sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel V. c. (b) diameter pipa dari meteran air atau instalasi PAM berdiameter tidak kurang dari 25 mm. Bangunan Rumah Sakit. (c) jaringan pipa memenuhi syarat pembagian pasokan air.000 m3. Termasuk lapangan parkir terbuka dalam bangunan campuran. Bila dihubungkan dengan meteran air.d harus dipasang pada sambungan ke saluran utama. atau (c) di dalam bangunan berdekatan dengan hidran dalam (selain hidran yang dipasang di pintu keluar yang diisolasi tahan api). atau (d) kombinasi (a). maka: (a) dipelihara kebutuhan kecepatan aliran dari hose reel.1 Persyaratan Pemakaian Sprinkler Jenis bangunan Kapan Sprinkler diperlukan: Semua klas bangunan: 1. dan (c). Sistem Sprinkler i. Konstruksi Atrium.2. atau (b) di dalam bangunan sekitar 4 m dari pintu keluar. Lebih dari 2 (dua) lantai.(3) (4) (5) (6) Memiliki slang kebakaran yang harus diletakkan sedemikian rupa untuk menghindari partisi atau penghalang di dalam mencapai setiap bagian lantai dari tingkat yang bersangkutan Hose reel yang dipasang mengikuti butir (3) diatas ditempatkan: (a) di luar bangunan. Ruang Pertemuan Umum. sebuah katup yang memenuhi butir 5. (b) volume ruangan lebih dari 21. (d) tiap katup yang mengatur aliran air dari sumber air utama ke Hose Reel harus dijaga pada posisi terbuka oleh pengunci dari logam. sehingga hose tidak perlu melintasi pintu keluar masuk yang dilengkapi dengan pintu kebakaran atau pintu asap. Ruang Pertunjukan. Bila dipasok oleh sumber air utama dengan diameter nominal lebih besar dari 25 mm dan yang dihubungkan dengan sumber air untuk hidran. yang merupakan bangunan terpisah Bangunan pertokoan (kbs 6). Pada bangunan yang tinggi efektifnya lebih dari 25 m Dalam kompartemenisasi dengan salah satu ketentuan berikut: (a) luas lantai lebih dari 3.

. selain nuang parkir terbuka Bila menampung lebih dari 40 kendaraan. atau (b) sistem pengeras suara atau peralatan lainnya yang dapat didengar bila peringatan darurat dan sistem komunikas intemal tidak disyaratkan. Tanpa mengurangi ketentuan atau standar yang berlaku bangunan atau bagian bangunan dianggap bersprinkler. ·) (b) Volume lebih dari 12.000 m2 den volume Bangunan berukuran begar den terpisah. Tanpa mengurangi ketentuan dalam standar teknis yang berlaku mengenai sprinkler. *) Jenis bangunan dengan resiko bahaya kebakaran tinggi sesuai standar teknis yang berlaku. jika: (a) sprinkler terpasang diselunuh bangunan. Sistem sprinkler harus disambung atau dihubungkan ke dan dapat mengaktifkan: (a) setiap peringatan darurat dan sistem komunikasi intema yang disyaratkan. (4) Pasokan air.9 dengan luas maksimum 18. (2) Bangunan bersprinkler. amat tinggi. (b) semua bangunan dengan luas lantai lebih besar dari 18.000 m3. Pada kompartemen. atau: (b) dalam hal sebagian bangunan: (i) sebagian bangunan dipasang sprinkler dan diberi kompartemen kebakaran pada bagian yang tanpa sprinkler. dengan salah satu dari Bangunan dengan risiko bahaya kebakaran 2(dua) persyaratan : 2 (dua) persyaratan berikut: (a) Luas lantai melebihi 2. pasokan air untuk sistem sprinkler harus memperhatikan tinggi efektif bangunan. dan (ii) setiap bukaan pada konstruksi pemisah antara bagian ter-sprinkler dan bagian tak ter-sprinker diproteksi sesuai ketentuan proteksi pada bukaan (3) Katup kontrol sprinkler. Katup kontrol sprinkler harus ditempatkan dalam suatu ruang yang aman atau ruang tertutup yang berhubungan langsung ke jalan atau ruang terbuka. dan klasifikas bangunan sesuai standar teknis yang berlaku.000 m2. SNI-3989.000 m3.yang lebih besar: (a) bangunan klas 5 . Sistem sprinkler harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: (1) Standar perancangan dan pemasangan sprinkler otomatis sesuai standar teknis yang berlaku.000 m2 dan volume 108. (5) Sambungan dengan peralatan alarm lainnya. luar bangunan yang diisyaratkan menggunakan sprinkler. ii.000 m3. 108. Ruang parkir.

Untuk sistem sprinkler yang dipasang di teater. i. bangunan klas 3 yang menampung lebih dari 20 penghuni yang digunakan sebagai: (1) bagian hunian dari bangunan sekolah. Sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm otomatis harus dihubungkan dan mengaktifkan: (1) sistem peringatan keadaan darurat dan sistem komunikasi internal sebagaimana dipersyaratkan oleh ketentuan Bab VIII. Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran a. (b) bila berhubungan dengan sistem sprinkler yang melindungi bagian bangunan bukan ruang parkir. Perancangan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm kebakaran harus memenuhi standar teknis yang berlaku. dan iv. alarm pengindera asap ataupun peralatan untuk peringatan . ruang pertemuan umum atau semacamnya. harus: (a) berdiri sendiri. Spesifikasi Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran. maka dapat dihubungkan dengan sistem pengeras suara. SNI-3985. bangunan klas 9a. 7) Sistem sprinkler di ruang parkir. dan (2) PAR dari jenis bukan klas A harus ditempatkan pada lokasi yang dapat menjangkau lokasi yang mengandung jenis bahaya yang harus diatasi. tidak berhubungan dengan sistem sprinkler di bagian bangunan lainnya. 2. b. jika: (1) Disediakan dengan mengikuti standar teknis yang berlaku.(6) Peralatan anti gangguan (Anti Tamper). atau (2) bila sistem peringatan darurat dan sistem komunikasi intemal tidak dipersyaratkan. Pemadam Api Ringan (PAR) i. dengan ii. ataupun mempengaruhi efektivitas operasi sprinkler yang melindungi ruang parkir. harus dirancang sehingga sistem sprinkler yang melindungi bagian bukan nuang parkir dapat diisolasi dengan tanpa mengganggu aliran air. yang memungkinkan dilakukannya pemadaman awal efektip terhadap kebakaran oleh penghuni bangunan. kecuali di dalam unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. SNI-3987 kecuali PAR jenis air yang tidak perlu dipasang di dalam bangunan atau bagian bangunan yang dilayani oleh Hose Reel. PAR memenuhi butir i. PAR yang jenisnya sesuai kebutuhan harus dipasang diseluruh bangunan. iii. ii. anak-anak atau orang cacat. d. atau (2) akomodasi bagi lanjut usia. maka pada tiap katup yang berfungsi mengendalikan sprinkler didaerah panggung harus dipasang peralatan anti gangguan yang dihubungkan ke panel pemantau. bangunan klas 1b. ii. bangunan klas 2 dengan persyaratan khusus. Sistem deteksi dan alarm kebakaran otomatis harus dipasang di: i. Sistem sprinkler yang dipasang pada ruang parkir pada bangunan multi-klas.

3. Ketentuan pengendalian asap ini tidak berlaku untuk: i. seperti gudang dengan luas lantai 30 m2. (3) tingkat racun asap yang timbul tidak membahayakan manusia. ditempatkan kurang dari 1. dan iii. yaitu: (1) ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan Ventilasi Mekanik dan Pengkondisian Udara dalam Bangunan Gedung. (2) tingkat penglihatan memungkinkan diketahui rute evakuasinya. dan ii.50 meter jaraknya dari pintu kebakaran. iii. lainnya yang dapat didengar dan yang ditempatkan disetiap lantai sesuai ketentuan yang berlaku. dipilih tipe foto-elektrik. dan bila terdapat partikel jenis lainnya harus menggunakan detektor tipe ionisasi. . dan iv. ditempatkan pada lokasi berkumpulnya asap panas dengan mempertimbangkan geometri langit-langit dan efeknya pada lintasan perpindahan asap. ruang parkir terbuka atau panggung terbuka. Penempatan Alat Pendeteksi Asap. Pemasangan. Pada saat terjadi kebakaran. b. Sistem sampling harus memenuhi Ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan. i. ii. ruang tanaman atau sejenisnya. termasuk didalam satuan numah hunian bangunan klas 2 atau 3 atau sebagian klas 4.5 % smoke obscuration/m. i. Rute evakuasi merupakan jarak lintasan menerus perjalanan evakoasi/ penyelamatan dari suatu tempat (seperti pintu/ jalan keluar. sehingga (1) temperatur ruang tidak membahayakan manusia. iii. ramp dan jalur sirkulasi yang terisolasi dari kebakaran serta koridor umum) pada setiap bagian bangunan. setiap ruangan yang tidak digunakan oleh penghuni untuk waktu yang cukup lama. dipasang dengan permukaan menghadap ke bawah dan di luar saluran unit pengkondisian udara. Pengendalian Asap Kebakaran a. Perioda tenggang waktu harus memperhitungkan keadaan bangunan dan mobilitas manusia.c. setiap rute evakuasi harus dijaga dengan ketinggian asap sekurang-kurangnya 2. bangunan klas 1 atau 10. ii. untuk selama tenggang waktu sampai dengan seluruh penghuni dapat terevakuasi dari bangunan. jika dipasang di dalam saluran udara (ducts) atau udara yang terkontaminasi partikel debu dengan ukuran kurang dari 1 µm. ii. atau menggunakan sistem point sampling yang mempunyai derajat kepekaan maksimum 0. dan (2) ketentuan yang berlaku tentang Spesifikasi Alat Pendeteksi dan Alarm Kebakaran otomatis pada Bangunan Gedung. ruang kompartemen sanitasi. : Batas Ambang.10 m di atas level lantai. sampai ke jalan atau ruang terbuka bebas. d. dan Pemeriksaan Alat Deteksi dan Alarm Kebakaran Otomatis. Persyaratan umum i. Penetapan batas ambang alarm bagi sistem detektor harus mengikuti ketentuan yang berlaku.

tata letak bangunan. atau ketentuan pada butir b. Untuk sistem pengatur udara lainnya. tidak digunakan bagi keperluan lain. Konstruksi. Kegunaan dan sarana yang ada di Pusat Pengendali Kebakaran adalah: i. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. peralatan dan sarana lainnya yang diperlukan dalam penanganan kondisi kebakaran. Berkaitan dengan butir c berikut tentang Persyaratan Untuk Bahaya Khusus. dilengkapi sarana alat pengendali. dan tidak mensirkulasikan asap diantara kompartemen kebakaran. selain: (1) kegiatan pengendalian kebakaran. setiap bagian yang menyebabkan penyebaran asap yang serius antar kompartemen. dan tidak membentuk bagian sistem pengendali asap harus memenuhi ketentuan standar yang berlaku. telepon. Ketentuan lebih teknis dalam pengendalian asap kebakaran untuk setiap klas bangunan mengikuti petunjuk dan standar teknis yang berlaku. sebuah ruang untuk pengendalian dan pengarahan selama berlangsungnya operasi penanggulangan kebakaran atau penanganan kondisi darurat lainnya. c.2. harus: (a) beroparasi seperti sistem pengendali asap. setiap hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 harus diberlakukan sebagai kompartemen terpisah. atau ketentuan pada butir b. ii sifat penggunaan bangunan. sifat dan jumlah bahan yang disimpan.. Pusat Pengendali Kebakaran a.. iii. dan persyaratan lain dari pedoman teknis ini. Ruang Pusat Pengendaii Kebakaran pada bangunan gedung yang tinggi efektifnya lebih dari 50 meter harus merupakan ruang terpisah. bila suatu bangunan tidak termasuk dalam Tabel V. ditaruh atau dipakai di dalam bangunan. panel kontrol. vi. v. d. meubel. dimana: b. Untuk keperluan ketentuan ini. 4. iii. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. sistem tidak mengganggu beroperasinya peralatan pengendalian asap yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V. Persyaratan untuk bahaya khusus Upaya tambahan dalam pengendalian bahaya asap mungkin dipersyaratkan bilamana berkaitan dengan: i. ii.3.iv. (2) pada bangunan yang termasuk dalam butir vi. . harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap sesuai ketentuan. Pada sistem pengkondisian udara terpusat yang memutar udara untuk lebih dari satu ruangan kompartemen kebakaran: (1) pada bangunan yang termasuk dalam butir v. bersama-sama dengan kelengkapan pengendalian asap lainnya yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V. dan (2) kegiatan lain yang berkaitan dengan unsur keselamatan atau keamanan bagi penghuni bangunan.3.3 pada lampiran persyaratan teknis ini maka harus memenuhi ketentuan i.2.2.

seperti pada lantai.1. sistem pengamatan. d. langit-langit dan dinding dalam. yang tidak diperlukan untuk berfungsinya nuang pengendali. saluran udara dan sejenisnya. Ukuran dan sarana. dan sistem manajemen. ii. bahan lapis penutup. yang khusus untuk melayani fungsi ruang pengendali tersebut. iv. e. Ruang pengendali harus: (1) mempunyai luas lantai tidak kurang dari 10 m2. dan (2) arah langsung dari tempat umum atau melalui jalan terusan yang dilindungi terhadap api. peralatan utilitas. pembungkus atau sejenisnya harus memenuhi persyaratan terhadap kebakaran. dinding atau sejenisnya mempunyai kekokohan yang cukup terhadap keruntuhan akibat kebakaran dan dengan nilai TKA tidak kurang dari 120/120/120. Sebagai tambahan. tidak boleh lewat ruang tersebut. Pintu yang menuju ruang pengendali harus membuka ke arah dalam ruang tersebut. pintu. pipa. genset darurat. dan (4) sebuah meja berukuran cukup untuk menggelar gambar dan rencana taktis yang disebutkan dalam (5). Setiap bukaan pada ruang pengendali kebakaran. bukaan pada dinding. lantai atau langit-langit yang memisahkan ruang pengendali dengan ruang dalam bangunan dibatasi hanya untuk pintu. (3) sebuah papan tulis dan sebush papan tempel (pin-up board) berukuran cukup. sakelar pengendali jarak jauh untuk gas atau catu daya listrik. dan (2) sistem keamanan bangunan. iii. panel indikator lif. Panel indikator kebakaran.50 m. Ruang pengendali haruslah dapat dimasuki dari (2) dua arah (1) arah pintu masuk di depan bangunan. Proteksi pada bukaan. saluran. . kipas pengendali asap. dan sejenisnya harus mengikuti syarat teknis proteksi bukaan pada Bab V. untuk jendela. ventilasi. Ruang pengendali kebakaran harus dilengkapi dengan sekurang-kurangnya: (1).i. dapat dikunci dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga orang yang menggunakan rute evakuasi dari dalam bangunan tidak menghalangi atau menutupi jalan masuk ke ruang pengendali tersebut. di ruang pengendali dapat disediakan: (1) Panel pengendali utama. dan salah satu panjangnya dari sisi bagian dalam tidak kurang dari 2. yang menuju ke tempat umum dan mempunyai nilai TKA tidak kurang dari -/120/30. i. dan (5) rencana taktis penanggulangan kebakaran. i. ventilasi dan lubang perawatan lainnya. dan peralatan pengamanan kebakaran lainnya yang dipasang di dalam bangunan. jika dikehendaki terpisah total dari sistem lainnya. sakelar kontrol dan indikator visual yang diperlukan untuk semua pompa kebakaran.5 Pintu Keluar. ii. ii. c. konstruksi penutupnya dari beton. (2) telepon sambungan langsung. iii.

pemipaan dan sambungan-sambungan pipa tidak boleh dipasang dalam ruang pengendali. (3) mengalirkan udara segar ke ruangan tidak kurang dari 30 kali pertukaran udara perjamnya pada waktu sistem beroperasi dengan dan salah satu pintu ruangan terbuka. atau ii. (2) beroperasi otomatis melalui aktivitas sistem alarm atau sistem sprinkler yang dipasang pada bangunan. (5) mempunyai catu daya listrik ke ruang pengendali atau peralatan penting bagi beroperasinya ruang pengendali. dan (1) dipasang sesuai ketentuan yang berlaku seperti untuk tangga kebakaran yang dilindungi. luas lantai bersih tidak kurang dari 8 m dan luas ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. f. Beberapa peralatan seperti Motor bakar. dan tingkat iluminasi diatas meja kerja tak kurang dari 400 Lux. Ruang pengendali harus diberi ventilasi dengan cara: i. . i. Sistem udara bertekanan yang hanya melayani ruang pengendali.50 m2. tetapi boleh dipasang di ruangan-ruangan yang dapat di capai dari ruang pengendali tersebut. Ventilasi dan pemasok daya. (4) mempunyai kipas. Tingkat suara (ambient) dalam ruang pengendali kebakaran yang diukur pada saat semua peralatan penanggulangan kebakaran beroperasi ketika kondisi darurat berlangsung tidak melebihi 65 dbA bila ditentukan berdasarkan ketentuan tingkat kebisingan didalam bangunan. Pencahayaan darurat sesuai ketentuan yang berlaku harus dipasang dalam ruang pusat pengendali. g.50 m2 dan ruang untuk tiap rute evakuasi penyelamatan dari ruang pengendali ke ruang lainnya harus disediakan sebagai tambahan persyaratan (2) dan (3) diatas. motor dan pipa-pipa saluran udara yang membentuk bagian dari sistem. (3) jika dipasang peralatan tambahan.(2) jika hanya menampung peralatan minimum. tetapi tidak berada di dalam ruang pengendali dan diproteksi oleh dinding yang mempunyai TKA tidak lebih kecil dari 120/120/120. ventilasi alami dari jendela atau pintu pada dinding luar bangunan yang membuka langsung ke ruang pengendali. luas lantai bersih daerah tambahan adalah 2 m2 untuk setiap penambahan alat. pompa pengendali sprinkler. h.

(5) Tangga yang memadai untuk menampung volume dan frekwensi penggunaan. c. b. 3. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir mobil) dan klas 8. ii. Agar manusia dapat bergerak dengan aman ke dan di dalam bangunan maka bangunan harus mempunyai antara lain: i. iv. Melengkapi bangunan dengan akses yang layak. Setiap tangga dan ramp memiliki: (1) Permukaan lantai tidak licin pada ramp. 2. harus dibuatkan penghalang yang: i. iii. Melengkapi bangunan dengan sarana evakuasi yang memungkinkan penghuni punya waktu untuk menyelamatkan diri dengan aman tanpa meraskan keadaan darurat. aman. Akses ke dan di dalam bangunan harus tersedia yang memungkinkan pergerakan manusia secara aman. Fungsi a. Kemiringan permukaan lantai harus aman bagi pejalan kaki. Setiap pintu dibuat agar penghuni mudah mencapai akses keluar dan menghindari risiko terjebak di dalam bangunan. SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. atau 4. injakan dan akhiran injakan tangga. . kecuali tangga/ramp di luar bangunan.VI. tempat bongkar muat barang dan sejenisnya. Butir c tersebut di atas tidak berlaku bila penghalang tersebut digunakan untuk panggung. mampu menjaga lintasan anak-anak. iii. nyaman. menerus sepanjang area yang berbahaya. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dan area lain untuk tujuan darurat. Pada area dimana orang bisa jatuh dari ketinggian 1m atau lebih dari lantai/atap/melalui bukaan pada dinding luar bangunan. b. Persyaratan kinerja: a. dan memadai bagi semua orang. nyaman dan memadai. Fungsi tersebut pada butir b di atas tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. tinggi disesuaikan dengan risiko orang tanpa disengaja jatuh dari lantai /atap. dan tekanan orang pada penghalang tersebut. ii. (2) Pegangan rambat (handrails) yang memadai untuk membantu kestabilan pemakai tangga/ramp (3) Lantai bordes yang memadai uniuk menghindari keletihan (4) Pintu di lantai bordes sedemikian hingga pintu tersebut tidak menjadi rintangan. Butir c tersebut tidak berlaku juga untuk: i. atau karena perbedaan tinggi lantai dalam bangunan. c. e. Kuat dan kokoh menahan pengaruh orang yang menabrak. ii. d.

iii. ramp. balustrade atau penghalang lainya yang untuk melindungi pengguna bangunan terhadap risiko jatuh . lokasi dan dimensi pintu keluar yang tersedia pada bangunan disediakan agar penghuni dapat menyelamatkan diri dengan aman. ramp dan lorong (gang) harus aman bagi lalu lintas pengguna bangunan. h. Intervensi pasukan pemadam kebakaran Agar penghuni dapat keluar dengan aman dari bangunan.f. Jarak tempuh ii.5 m. Sistem kebakaran yang dipasang dalam bangunan iii. dan ii. dan atap yang dapat dicapai oleh manusia harus mempunyai dinding pembatas. i. kecuali: i. setiap lapis lantai termasuk area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. g.d. 3 dan 4. d. balkon. Ramp kendaraan dan lantai yang dapat dilewati kendaraan harus mempunyai pembatas pinggir atau penghalang lainnya untuk melindungi pejalan kaki dan struktur bangunannya. Jumlah lantai yang dihubungkan dengan pintu tersebut ii. Basement: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada lapis lantai manapun.2 KETENTUAN JALAN KELUAR 1. b Bangunan klas 2 s. jarak tempuh dari titik manapun pada lantai dimaksud ke suatu jalan keluar tunggal tak lebih dari 20 m. Bangunan klas 9: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada: i. setiap lapis lantai bila bangunan dengan jumlah lantai lebih dari 6. Fungsi bangunan iv. Semua bangunan : Setiap bangunan harus mempunyai sedikitnya 1 jalan keluar dari setiap lantainya. Persyaratan Keamanan a. 8: Minimal harus tersedia 2 jalan ke!uar pada setiap lapis lantainya apabila tinggi efektif bangunannya lebih dari 25 m c. Kebutuhan Jalan Keluar a. ii. dimensi jelur lintasan menuju ke pintu keluar harus sesuai dengan . b. Jumlah. VI. mobilitas dan karakter penghuni. Fungsi bangunan iv. mobilitas dan karakter lain dan penghuni ii. sesuai dengan: i. c. Tinggi bangunan Jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran dan sesuai dengan: i. i. Fungsi bangunan Butir h tersebut di atas tidak berlaku di dalam unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. Jumlah. bila jalan keluar dari lapis lantai di dalam bangunan dimaksud naik lebih dari 1. 2 . Tangga. Jumlah. luas lapis lantainya tak lebih dari 50 m2. lantai. Tangga.atau yang ketinggian efektifnya lebih dari 25 m.

Jalan keluar yang diisolasi terhadap kebakaran a. 3 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 2. 3. 2 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 3. setiap penghuni pada lapis lantai atau bagian lapis lantai bangunan harus dapat mencapai ke: i. . b. 1 jalan keluar. atau ii. kecuali jalan tersebut menghubungkan tidak lebih dari: i. iv. setiap lapis lantai atau mesanin yang dapat menampung lebih dari 50 orang sesuai fungsinya. bila bangunan tersebut mempunyai sistem sprinkler yang menyeluruh.d.iii. dan termasuk 1 lapis lantai tambahan bila digunakan sebagai tempat menyimpan kendaraan bermotor atau tempat pelengkap lainnya. Area perawatan pasien: Pada bangunan klas 9a sedikitnya harus ada 1 jalan keluar dari setiap bagian pada lapis lantai yang telah disekat menjadi kompartemen tahan api. Bangunan klas 2 dan 3: Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran. e. Pintu masuk dari setiap hunian tunggal harus berjarak tidak lebih dari: (1) 6 m dari jalan keluar atau dari tempat dengan jalur yang berbeda arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. sedikitnya 2 jalan keluar. iii. masing-masing merupakan bagian jelur lintasan ke minimal 2 buah jalan keluar. atau dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. harus kurang dari 20 m dari pintu keluar atau tempat jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. ii. setiap lapis lantai pada bangunan sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama dengan ketinggian 2 lantai atau lebih. setiap lapis lantai pada bangunan klas 9b yang digunakan sebagai pusat asuhan balita. Bagian bangunan klas 4: Pintu masuk harus tidak lebih dari 6 m dari pintu keluar. Setiap tempat dalam ruangan yang bukan pada unit hunian tunggal. atau ii. Bangunan kelas 5 s. b. tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan. v. Bangunan klas 2 dan 3 i. ii. pada bangunan klas 9a: tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan pada suatu tempat. Jarak jalur menuju pintu keluar a. bila 2 atau lebih jalan keluar diwajibkan. setiap deret harus mempunyai minimal 2 tangga atau ramp. merupakan bagian dari tribun penonton terbuka. Akses ke jalan keluar: Tanpa harus melalui hunian tunggal lainnya. selain area perawatan pasien. f. Panggung terbuka: Pada panggung terbuka dan menampung lebih dari 1 deret tempat duduk. 4. 9 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap bahaya kebakaran kecuali: i. g. atau (2) 20 m dari pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan jalan keluar ke jalan atau ke ruang terbuka.

dan ii. c. atau tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. f. bila disyaratkan untuk pintu keluar pada tempat perawatan pasien. d. atau ii. lobby. lebar bebas. Pintu yang disyaratkan sebagai alternatif jalan keluar harus: a. e. jarsk ke pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan akses ke jalan atau ke ruang terbuka dapat diperpanjang sampai 30 m. ramp. 1. bila : i.c. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 100 orang tetapi tidak lebih dari 200 orang. b. . jarak ke salah satu pintu keluar dimungkinkan 60 m. atau 6. lebar bebas. i.8 m pada lorong. 1 m ditambah 250 mm untuk setiap kelebihan 25 orang. Dimensi/ukuran Pintu Keluar. 9: Terkena aturan butir d. dan ii. d. Jarak Antara Pintu-pintu Keluar Alternatif. jika jarak maksimum ke salah satu pintu keluar tersebut tidak melebihi 40 m. Panggung Terbuka: Jarak jalur lintasan menuju ke pintu keluar pada bangunan klas 9b yang dipakai sebagai panggung terbuka harus tidak lebih dari 60 m. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. konstruksi ruang tersebut bebas asap. atau ruang sirkulasi lainnya. berjarak tidak lebih dari: i. tinggi bebas seluruhnya harus tidak kurang dari 2 m. Jarak maksimum dari satu tempat ke salah satu dari pintu keluar tersebut tidak lebih dari 30 m. berjarak tidak kurang dari 9 m. e. 45 m pada bangunan klas 9a. 60 m. atau iii. Setiap tempat pada lantai harus berjarak tidak lebih 12 m dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar yang dipersyaratkan tersedia. 1 m. Gedung Pertemuan: Pada bangunan klas 9b selain gedung sekolah atau pusat asuhan balita. jalur lintasan dari ruang tersebut ke pintu keluar melalui lorong/koridor. 5. memiliki TKA tidak kurang dari 60/60/60 dan konstruksi setiap pintunya terlindung serta dapat menutup sendiri dengan ketebalan tidak kurang dari 35 mm.d. Setiap tempat harus berjarak tidak lebih 20 m dari pintu keluar. b. terletak sedemikian hingga alternatif jalur lintasan tidak bertemu hingga berjarak kurang dari 6 m. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. 45 m pada bangunan klas 2 atau klas 3. atau ii. ii. Pada bangunan klas 5 atau 6. f. dan: i. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan c. Bangunan klas 9a: Area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. Bangunan klas 5 s. Pintu keluar yang disyaratkan atau jalur sirkulasi ke jalan keluar: a. tersebar merata di sekeliling lantai dimaksud sehingga akses ke minimal dua pintu keluar tidak terhalang dari semua tempat termasuk area lif di lobby. untuk bangunan lainnya. jika lapis lantai atau mesanin menampung tidak lebih dari 100 orang.

2 m: 1070 mm. lebar bebas. lobby umum. ke area tertutup yang: (1) berbatasan dengan jalan atau ruang terbuka. komponen sanitasi. pada area perawatan pasien. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. f. koridor. (2) lintasan tanpa rintangan. e. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 200 orang. diukur tegak lurus ke jalur lintasan. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 75 orang. unit hunian tunggal yang menempati seluruh lapis lantai. pada kasus lain.8 m . iii. 750 mm. jika membuka ke arah koridor dengan (1) lebar koridor antara 1. lebar pintu keluar: i. tersedia menuju ke jalan atau ruang terbuka. (2) terbuka untuk sedikitnya 1/3 dari keliling area tersebut. parkir kendaraan atau sejenisnya. ketempat: (1) ruang atau lantai yang digunakan hanya untuk pejalan kaki. hall atau yang sejenisnya. ii. lebar bebas. a. 7. (3) pintu keluar horisontal: 1250 mm. kecuali pintu keluar harus ditambah menjadi: i. Setiap tangga atau ramp tahan api harus menyediakan pintu keluar tersendiri dari tiap lapis lantai yang dilayani dan keluar secara langsung atau melawati lorong yang diisolasi terhadap kebakaran yang ada di lantai tersebut: i. dan tertutup tidak lebih dari 1/3 kelilingnya. (4) mempunyai lintasan bebas rintangan dari tempat keluar ke jalan atau ruang terbuka yang tidak lebih dan 6 m.8 m pada lorong.2 m: 1200 mm. bila pintu tersebut untuk kompartemen sanitasi atau kamar mandi. c. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 60 orang jika jalan keluar mencakup perubahan ketinggian lantai oleh tangga atau ramp dengan tinggi tanjakan 1:12. Pintu dalam ruangan harus tidak membuka langsung ke arah tangga. atau ramp yang disyaratkan diisolasi terhadap kebakaran. bagian dinding tersebut harus mempunyai: c. lebar pintu keluar tidak boleh berkurang pada jalur lintasan ke jalan atau ruang terbuka. 1. atau ii.2. atau ii.d. iii. iii. b. kecuali untuk pintu keluar harus diperlebar sampai 17 m ditambah dengan angka kelebihan tersebut dibagi 600. (3) mernpunyai ketinggian bebas rintangan di semua bagian termasuk bukaan pada keliling area yang tidak kurang dari 3 m. tidak lebih dari 20 m. g. lebar dari setiap pintu keluar yang memenuhi ketentuan butir b. (2) lebar koridor lebih dari 2. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran. ke jalan atau ruang terbuka. minus 250 mm. lorong. pada panggung penonton yang menampung lebih dari 2000 orang. . Bila lintasan keluar bangunan mengharuskan melewati 6 m dari dinding luar bangunan dimaksud. d atau e. ii. ruang transisi atau yang sejenisnya. ii. kecuali kalau pintu tersebut dari: i.

Pada bangunan klas 2. 9. yang berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan harus mempunyai jalan lintasan menerus. Tangga Luar Bangunan Tangga luar bangunan dapat berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan menggantikan pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran. Tangga/ramp.3 harus tersedia ii. d. bangunan klas 9a : Ramp harus tersedia untuk setiap perubahan ketinggian kurang dari 600 mm pada lorong yang diisolasi terhadap kebakaran. e. 30 m dan salah satu dari dua pintu atau lorong keluar bila arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah.2. bila konstruksi tangga tersebut (termasuk jembatan penghubung) secara keseluruhan dari bahan yang tidak mudah terbakar. Pada bangunan klas 5 s. d.5. tangga/ramp yang tidak diisolasi torhadap kebakaran harus keluar ke tempat yang tidak lebih dari: i. atau ii. dan memenuhi ketentuan teknis yang berlaku.d. atau 9. pada bangunan dengan ketinggian efektif tidak lebih dari 25 m.i.1. Pada bangunan klas 5 s d. TKA sedikitnya 60/60/60. . 3 atau 4. dengan injakan dan tanjakan dari setiap lantai yang dilayani menuju ke lantai dimana pintu keluar ke jalan atau ruang terbuka disediakan b. 15 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke jalan atau ruang terbuka. jarak antara sembarang tempat pada lantai ke tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melebihi 80 m. Jika Jebih dari dua akses pintu. 30 m pada konstruksi bangunan tipe C. ii. tangga/ramp yan tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar pada tempat yang tidak lebih dari i. bukan dari komponen sanitasi atau sejenisnya. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke Jalan atau ruang terbuka. 20 m dari pintu keluaar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. pintu keluar bertekanan udara sesuai standar yang berlaku. 8 ata u 9b. c. Pada bangunan klas 2. atau ii. Lintasan Melalui Tangga/Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran a. 3 atau 9a. 60 m pada konstruksi bangunan lainnya. bukaan terlindung di bagian dalam dilindungi sesuai ketentuan Proteksi Bukaan pada Bab V. jarak antara pintu keluar dari ruang atau unit hunian tunggal dan tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga atau ramp yang tidak diisolasii terhadap kebakaran harus tidak melampaui: i. membuka ke pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran pada lantai dimaksud i lobby bebas asap sesuai dengan Bab V. 8. e. yang tidak diisolasi terhadap kebakaran.

e. berupa ramp atau lereng dengan kemiringan kurang dari 1:8. Keluar Melalui Pintu-Pintu Keluar a. bila dua atau lebih pintu keluar disyaratkan dan disediakan sebagai sarana tangga/ramp yang tidak diisolasi. a. bebas asap. ii. maka masing-masing pintu keluar tersebut harus : i menyediakan jalan keluar terpisah menuju ke jalan atau ruang terbuka. . jalur lintasan menuju ke jalan harus i. tidak lebih dari 2/3 lebar pintu keluar yang disyaratkan harus terletak di area pintu masuk utama. atau tidak setinggi 1. 40 m dari salah satu dari dua pintu atau lorong keluar: arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. Pada bangunan klas 9b. Pada bangunan klas 9a. pintu keluar horisontal harus tidak lebih dari separuh pintu keluar yang disyaratkan pada lantai yang dipisahkan oleh dinding tahan api Pintu keluar horisontal harus mempunyai area bebas disetiap sisi dinding tahan api untuk menampung jumlah orang dari seluruh bagian lantai dengan tidak kurang dari: i. Jika pintu keluar menuju ke ruang terbuka yang terletak pada ketinggian berbeda dengan jalan umum yang menghubungkannya. dan c. atau mana yang lebih lebar. tangga memenuhi ketentuan dari pedoman ini. antara unit hunian tunggal. d. c. tangga atau ramp yang disyaratkan harus tidak keluar ke arah area di depan panggung tersebut. Jika pintu keluar yang disyaratkan menuju ke ruang terbuka.ii.14 bila disyaratkan oleh ketentuan Bab. Pintu keluar horisontal bukan merupakan pintu keluar yang disyaratkan apabila: i. pintu keluar horisontal dapat dianggap sebagai pintu keluar yang disyaratkan. pada bangunan klas 9b yang digunakan untuk pusat asuhan balita bagunan SD atau SLTP. atau lebar minimum dari pintu keluar yang disyaratkan. panggung terbuka yang menampung lebih dari 500 orang. Vl. 2.5 m2 tiap pasien pada bangunan klas 9a.2. Pintu keluar harus tidak terhalang. lintasan ke arah jalan harus mempunyai lebar bebas tidak kurang dan 1 m. dan mempunyai sedikitnya satu pintu keluar yang disyaratkan yang bukan pintu keluar horisontal Kasus selain butir b di atas. dan bila perlu dibuat penghalang untuk mencegah kendaraan menghalangi jalan keluar atau akses menuju ke pintu keluar tersebut. Pada bangunan klas 9b dengan auditorium yang menampung lebih dan 500 orang. 10.4. b. f. terhadap kebakaran dalam bangunan. bila jalur lintasan dari kompartemen kebakaran menuju ke satu atau lebih pintu keluar horisontal langsung menuju ke kompartemen kebakaran lainnya. b. d. Pada bangunan klas 2 atau 3. ii. kecuali bila pintu keluar dari bangunan klas 9a. ii. 11 Pintu Keluar Horisontal.

. kecuali satu dari jalan keluar tersebut. Tangga pengait diijinkan menurut (a) di atas. ramp. motor lif mempunyai luasan i. Ruang Peralatan Dan Ruang Motor Lift a. tangga pengait dapat dipakai sebagai pengganti tangga seluruhnya. Bila ruang peralatan atau ruang. d. harus tidak menghubungkan secara langsung atau tidak langsung ke lebih dari 2 lapis lantai pada bangunan klas 5. b. kecuali diijinkan sesuai butir b di atas. di luar bangunan. 7. koridor. merupakan bagian dari jalan keluar yang tersedia pada tangga yang diisolasi terhadap kebakaran yang terdapat dalam saf. 0. atau ii. ramp atau eskalator tersebut i. dan ii. ii. pada bangunan klas 5 atau 6 yang dilengkapi dengan fasilitas sprinkler menyeluruh. 8 atau 9. ruang atau mesanin harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaan atau fungsi bangunan. 2 lantai dengan ketentuan lantai bangunan tersebut harus berurutan. tidak termasuk area yang dirancang untuk: i. harus memenuhi standar teknis terkait bila untuk ruang peralatan dan untuk ruang motor lift. atau 13. dan satu dari lapis lantai tersebut terletak pada ketinggian yang terdapat jalan keluar langsung ke arah jalan atau ruang terbuka. bila: i. tangga pengait (ladder) dapat dipakai sebagai pengganti tangga (stairway) dari setiap tempat jalan keluar dari ruangan. hall. iv. lift. Tangga. tidak lebih dari 100 m2.2. dan bila 2 atau lebih tempat jalan keluar tersedia dalam ruangan tersebut. ii. 3 lantai. Jumlah Orang Yang Ditampung Jumlah orang yang ditampung dalam satu lantai. 12. iii. eskalator. service duct dan yang sejenis.5 m2 tiap orang pada klas bangunan lainnya. menghitung total jumlah orang tersebut dengan membagi luas lantai dari tiap lapis menurut Tabel Vl. 6. dapat keluar pada lantai dan dipertimbangkan sebagai bagian dari jalur lintasan.ii. dapat menghubungkan sejumlah lantai bangunan bila tangga. kompartemen sanitasi atau penggunaan tambahan. tata letak lantai tersebut. kecuali bila dijinkan sesuai butir b atau c di atas. tangga. bila tiap lantai tersebut dilengkapi dengan sprinkler menyeluruh sesuai ketentuan Bab V. dan luas lantai dengan: a. 14. harus tidak digunakan di area perawatan pasien pada bangunan klas 9a b.2 sesuai jenis penghunian.c. lobby dan yang sejenis. ii pada area parkir kendaraan atau atrium. dan eskalator. tangga atau ramp disyaratkan memenuhi ketentuan butir 12 ini c. pada panggung terbuka atau stadion olah raga tertutup. 1. lebih dari 100 m2 dan tidak lebih dari 200 m2. Ramp Atau Eksalator Yang Tidak Disyaratkan Eskalator dan tangga/ramp pejalan kaki yang ditetapkan tidak diisolasi terhadap kebakaran a. tidak harus menghubungkan lebih dari i. iii.

Tabel VI. .3 KONSTRUKSI JALAN KELUAR 1. laboratorium.mall. prosesing . hostel. peragaan. penyimpanan r. b. workshop . r. ruang pamer.r. ganti di teater Terminal Bengkel / workshop : staf pemeliharaan Proses manufaktur m2/orang 10 10 30 50 2 1 2 1 10 4 bengkel 3 5 5 0. c. manufaktur. elktrikal. baca. r. pamer : r. atau dengan konstruksi: 2.boiler/sumber tenaga Ruang baca Restoran Sekolah : r. café. dari material tidak mudah terbakar.5 5 4 5 50 30 3 15 10 1 10 2 30 Jenis Penggunaan Kantor (pengetikan dan fotokopi) Ruang Perawatan Pasien Ruang industri : .2 LUASAN PER-ORANG SESUAI PENGGUNAANNYA (BEBAN PENGHUNIAN) Jenis Penggunaan Galeri seni. motel. guest-house Stadion indoor area Kios Dapur. bila terjadi kenusakan setempat tidak merusak struktur yang dapat melemahkan ketahanan saf terhadap api. atau cara lain yang sesuai untuk menilai kapasitasnya. r. museum Bar. dll .r. listrik. kerja. gereja. telepon Kolam renang Teater dan Hall R.ventilasi. mengacu kepada kapasitas tempat duduk di ruang atau bangunan gedung pertemuan. persyaratan ini tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 atau bagian klas 4. sidang Ruang dansa Asrama Pusat Penitipan Balita Pabrik: . tempat cuci Perpustakaan : .r penyimpanan m2/orang 4 1 2 15 25 10 1 0. .3 1 30 1.b. Tangga Dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Tangga atau ramp yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi: a. tunggu r. ruang makan Ruang pengurus Pemondokan/losmen Ruang komputer Ruang sidang pengadilan: r. Tangga Dan Ramp Yang tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran Untuk bangunan dengan ketinggian lebih dari 2 lantai. Penerapan Kecuali ketentuan butir 13 den 16. penjualan: Level langsung dari luar Level lainnya r.ruang untuk fabrikasi dan proses selain di atas Garasi-garasi umum Ruang senam/gymnasium Hotel.5 1 4 2 30 pabrik VI. kelas umum gedung serba guna ruang staf ruang praktek: SD SLTP Pertokoan. arcade Panggung penonton: darah panggung Kursi penonton R. tangga dan ramp yang tidak disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi sesuai ketentuan butir 2 diatas. 3.

d. Pemisahan tanjakan dan turunan tangga Bila tangga dipakai sebagai jalan keluar. Ramp dan Balkon Akses yang Terbuka Bila ramp dan balkon akses yang terbuka merupakan bagian dari jalan keluar yang disyaratkan. disyaratkan untuk diisolasi terhadap kebakaran. kecuali ke peralatan pemadam atau deteksi kebakaran sesuai yang diijinkan dalam pedoman ini. Lobby Bebas Asap Lobby bebas asap yang disyaratkan sesuai Bab VI. atau terdapat alat sensor asap diletakkan dekat dengan sisi bukaan. diberi tekanan udara sebagai bagian dari pintu keluar. mempunyai bukaan ventilasi ke udara luar dimana: i. harus tidak ada hubungan langsung antara i. mempunyai pintu bebas asap sesuai standar teknis yang berlaku.7 harus: a. Jalan masuk ke saf servis dan lainnya. Instalasi Pada Jalan Keluar Dan Jalur Lintasan a. dan ii. atap atau langit-langit harus ditutup dengan bahan yang bebas asap. turunan tangga dari lantai di atas lantai dasar. iii. tersebar merata sepanjang sisi terbuka ramp atau balkon b. terpisah dari area hunian dengan dinding kedap asap. pada area terbuka dengan ketinggian 1 m tidak tertutup. lorong atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. kecuali dengan grill atau sejenisnya dengan ruang bebas udara minimal 75% dari area tersebut. 6.a. Bukaan pada saluran atau duct yang membawa hasil pembakaran yang panas harus tidak diletakkan di bagian manapun dari jalan keluar yang 5. b. dan: a. dengan ketebalan minimal 44 mm setelah finishing ii. b. yang direkatkan dengan perekat khusus seperti resorcinol formaldehyde atau resorcinol phenol formaldehyde 4.2. tanjakan tangga dari lantai di bawah lantai dasar ke arah jalan atau ruang terbuka. c. bila pintu keluar disyaratkan harus diberi tekanan udara. ii. terbentang antar balok lantai. 7. . tidak harus disediakan dari tangga. maka harus: a. beton bertulang atau beton prestressed. mempunyai luas minimal 6 m2. setiap konstruksi yang memisahkan tanjakan dan turunan tangga harus tidak mudah terbakar dan mempunyai TKA minimal 60/60/60. di mana: i. setiap sambungan konstruksi antara bagian atas dinding balok lantai. mempunyai TKA minimal 60/60/-. baja dengan tebal minimal 6 mm kayu: i. di setiap bukaan dari area hunian. b. c. b. atau ke bagian bawah langit-langit yang tahan penjalaran api sampai 60 menit. dengan berat jenis rata-rata tidak kurang dari 800 kg/m3 pada kelembaban 12% iii. luas total area bebas minimal seluas ramp atau balkon ii.

setiap pintu masuk ke ruang tertutup tersebut dilengkapi dengan pintu tahan api dengan TKA -/60130 yang dapat menutup secara otomatis Lebar Tangga a. Tangga dan ramp tahan api: Bila ruang di bawah tangga atau ramp tahan api yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api. lebar bebas halangan. dan sejenisnya. meter listrik. lobby atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. Lebar tangga melebihi 2m dianggap mempunysi lebar hanya 2 m. 11. seperti pegangan rambat (handrail). d. Ramp yang berfungsi sebagai jalan keluar yang disyaratkan harus mempunyai tinggi tanjakan tidak kurang dari: i. 1:8 untuk kasus lainnya c.c. sampai ketinggian tidak kurang dari 2 m. kecuali terlindung oleh konstruksi yang tidak mudah terbakar atau tahan api dengan pintu atau bukaan yang terlindung dari penjalaran asap. bila konstruksi yang menutup ramp. Ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dapat menggantikan tangga. lobby. gang. lebar dan tinggi langit-langit sesuai persyaratan untuk tangga yang diisolasi terhadap kabakaran. Konstruksi lorong yang diisolasi terhadap kebakaran harus dari material yang tidak mudah terbakar. bagian dari balustrade. dinding dan langit-langit sekelilingnya mempunyai TKA minimal 60/60/60 ii. disyaratkan. kecuali dipisahkan oleh balustrade atau pegangan rambat menerus antara lantai bordes dan lebar masing-masing bagian kurang dari 2 m. b.4 iii. 1:12 pada area perawatan pasien di bangunan klas 9a ii. ii. 9. Permakaan lantai ramp harus dengan bahan yang tidak licin. dan iii. 8. atau koridor. Peralatan harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. b. Perlindungan Pada Ruang Di Bawah Tangga Dan Ramp a. Gas atau bahan bakar lainnya harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. vertikal di atas garis sepanjang nosing injakan tangga atau lantai bordes. panel atau peralatan distribusi telekomunikasi sentral. ii. bebas halangan. kecuali untuk list langit-langit. 10. Ramp Pejalan Kaki a. koridor. kecuali: i. gang. bila peralatan dimaksud terdiri atas: i. motor listrik atau peralatan motor lain dalam bangunan. panel atau saluran distribusi. Lebar tangga yang disyaratkan harus: i. Tangga dan ramp tidak tahan api: Ruang di bawah tangga atau ramp tidak tahan api yang disyaratkan (termasuk tangga luar) harusnya tidak tertutup. b. di mana: . disyaratkan sesuai ketentuan Bab VI. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran a. maka bagian tangga atau ramp tersebut harus tidak tertutup.

ii. tidak terdapat pencahayaan atau bukaan atap iainnya sepanjang 3 m dari jalur lintasan yang dipakai untuk keluar mencapai jalan atau ruang terbuka. injakan dan tanjakan konstan. mempunyai TKA tidak kurang dari 120/120/120. tepi bordes diberi finishing yang tidak licin. b. Bangunan klas 9a: i. Balustrade a Balustrade menerus harus tersedia sekeliling atap yang terbuka untuk umum. e. tangga atau balkon luar ii. Meskipun dengan ketentuan butir a. dan jumlah sesuai standar teknis. f.6 m dan panjangnya minimal 2. ruang perawatan pasien bangunan klas 9a. penutup atap yang tidak mudah terbakar ii. tangga. ii.ii.b. atap tersebut harus a. b. ramp. Iorong keluar dari tangga atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. ambang pintu tidak lebih dari 190 mm di atas permukaan tanah. pintu terbuka ke arah jalan atau ruang terbuka. injakan. balkon dan sejenisnya. TKA tidak kurang dari yang disyaratkan untuk saf tangga atau ramp. Atap Sebagai Ruang Terbuka Jika pintu keluar menuju ke atap bangunan. i. koridor. lebar minimal bordes 1. tanjakan. 14. Injakan Dan Tanjakan Tangga Tangga harus mempunyai: a. 15. kasus lainnya i. lantai. langit-langit dengan ketahanan terhadap penjalaran api tidak kurang dari 60 menit dan dalam kompartemen kebakaran. b. Ambang Pintu Ambang pintu tidak mengenai anak tangga atau ramp minimal selebar daun pintu kecuali: a. injakan harus kuat bila tinggi tangga lebih dari 10 m atau menghubungkan lebih dari 3 lantai. 13. ambang pintu tidak lebih dan 25 mm di atas ketinggian lantai dimana pintu membuka. pada kasus lain TKA tidak kurang dari 60/60/60. bila: . ujung injakan dekat nosing diberi finishing yang tidak licin. Bordes a. untuk mengurangi jumlah tanjakan dan setiap bordes harus: i. bukaan antara injakan maksimum 125 mm. 12. balkon atau yang sejenis dimana pintu membuka. Luas bordes harus cukup untuk gerakan usungan yang berukuran panjang 2 m dan lebar 60 cm. panjangnya tidak kurang dari 550 mm diukur dari tepi dalam bordes. tidak lebih dari 18 atau kurang dari 2 tanjakan. c. ii. bila dinding lorong tersebut merupakan perluasan dari: i. Bordes tangga dengan maksimum kemiringan 1: 50 dapat digunakan. Sudut arah naik dan turun tangga harus 180°. 16. konstruksi atas dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran tidak perlu punya TKA. b. d.7 m.

bangunan klas 9b untuk sekolah dasar. i. f. tidak kurang dari 1 m di atas lantai akses masuk. Bila menggunakan jeruji. lorong. tinggi di atas lantai tidak kurang dari 1m. bukan pintu berputar b. tempat bongkar muat barang atau tempat lain bagi staf untuk pemeliharaan.b. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. 7. harus mengikuti ketentuan butir f dan g.ii. dan ramp di luar ketentuan butir b harus mengikuti ketentuan butir f dan g. c. Balustrade sepanjang sisi atau dekat permukaan horisontal seperti: i. Pegangan Rambat Pada Tangga a. e. Balustrade atau penghalang lain di depan tempat duduk permanen pada balkon atau mesanin auditorium bangunan klas 9b harus sesuai ketentuan f. . dan harus: i. atau 700 mm bila tonjolan keluar dari bagian atas balustrade diproyeksikan mendatar tidak kurang dari 1 m. dipasang permanen dengan tinggi minimal 865 mm dengan jeruji pendukung permanen setinggi minimal 700 mm.iii dan g. 8 dengan luas lantai tidak lebih dari 200 m2. dibuat menerus 18. Pintu Sebagai pintu keluar yang disyaratkan: a. atap. c. kecuali sekeliling panggung. bila dibuat sesuai i. Jarak antara lebar bukaan tidak lebih dari 300 mm ii.i. dan ii. Balustrade. balkon. permanen sedikitnya 50 mm dari dinding ii. Pegangan rambat memenuhi ketentuan butir a tersebut bila: i. tidak dibatasi dengan dinding. tinggi lebih dari 1 m di atas lantai atau dibawah muka tanah. kecuali dipasang pada bangunan atau bagian bangunan klas 6. mesanin dan sejenisnya. lantai. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran atau area lain untuk keadaan darurat. Balustrade sesuai ketentuan butir e. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir) serta klas 8. Balustrade pada: i. Bukaan pada balustrade memenuhi ketentuan butir b. iii. b. 17.i. tinggi jeruji tidak lebih dan 150 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai bordes. tangga. balkon atau sejenisnya dan jarak antar jeruji tidak lebih dari 460 mm. d. Pada bangunan klas 9a harus tersedia sedikitnya sepanjang satu sisi dari setiap lorong atau koridor yang digunakan oleh pasien. bukan pintu gulung. sedikitnya dipasang sepanjang satu sisi ramp/tangga ii dipasang pada dua sisi bila lebar tangga/ramp 2 m atau lebih iii. Tinggi balustrade: i. yang tersedia akses untuk umum dan jalur masuk ke bangunan. i. g. Pegangan rambat harus tersedia untuk membantu orang agar aman menggunakan tangga atau ramp. ii. balkon dan sejenisnya.ii. koridor. ii. kecuali tangga/ramp luar bangunan. minimal 865 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai ramp ii.

kecuali: i membuka secara langsung ke arah jalan atau ruang terbuka ii. Bila terbuka sempurna. kecuali bila: a. melayani kompartemen saniter. dengan tenaga tidak lebih dari 110 N. Pengoperasian Gerendel Pintu Pintu yang disyaratkan sebagai lintasan. pintu dapat dibuka secara manual. 6. d. kecuali semua pintu secara otomatis terkunci dengan alat yang mengaktifkan alarm kebakaran. Pintu Ayun a. harus dapat dibuka secara manual. bila terjadi kerusakan atau tidak berfungsinya tenaga listrik ii. dengan tenaga tidak lebih dan 110 N. membuka langsung ke arah jalan atau ruang terbuka harus dapat membuka secara otomatis bila terjadi kegagalan pada daya listrik.9 . 19. melayani hunian yang perlu pengamanan khusus dan dapat segera dibuka: i. unit hunian tunggal dengan luas area tidak lebih dari 200 m2 pada bangunan klas 5.2 m dari lantai. kecuali: i. bangunan klas 9a b. b. merupakan satu-satunya pintu keluar dari bangunan dan dipasang alat pegangan pada posisi membuka. pada bangunan klas 9b. khususnya oleh pemilik. melayani bangunan atau bagian bangunan dengan luas tidak lebih dari 200 m2. ii. bangunan dengan tinggi efektif lebih 25 m. termasuk bordes. dengan tangan. 7. melayani lantai atau ruang yang menampung lebih dari 100 orang. atau 8. hanya melayani: i. sehingga orang dalam bangunan segera dapat menyelamatkan diri bila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. dengan mendorong alat yang dipasang pada ketinggian antara 0. kecuali bangunan sekolah. lebih dari 100 mm pada lebar pintu keluar yang disyaratkan. panti asuhan balita atau bangunan keagamaan. ii. atau bagian klas 4.1.c. d. dan . lorong atau ramp. merupakan satu-satunya pintu keluar yang disyaratkan dalam bangunan bukan pintu sorong. 3. Tidak mengganggu lebih dari 500 mm pada lebar yang disyaratkan dari tangga. c. Ayunan harus searah akses keluar. iii. c. bila pintu dioperasikan dengan tenaga listrik: i. Masuk Dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Pintu harus tidak terkunci dari dalam tangga/ramp/lorong yang diisolasi terhadap kebakaran untuk melindungi orang yang masuk kembali ke lantai atau ruang yang dilayani pada a. bagian atau jalan keluar harus siap dibuka tanpa kunci dari sisi dalam dengan satu tangan. b. 21. alarm kebakaran dan lainnya. ii. unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. dengan mengoperasikan alat pengontrol untuk mengaktifkan alat untuk membuka pintu. 20. melayani komponen sanitasi atau sejenisnya. ruangan yang tidak aksesibel sepanjang waktu bila pintu terkunci. ii.

dipasang ditempat yang mudah dilihat atau dekat dengan pintu-pintu tahan api dan asap. Rambu Pada Pintu a. tersedia sistem komunikasi internal. . Rambu. dan juga rambu permanen tentang cara mengoperasikannya. warna kontras dan menyatakan bahwa pintu jangan dihalangi.i. sedikitnya setiap 4 tingkat terdapat pintu tidak terkunci dan terdapat rambu permanen bahwa dapat dilalui. VI. Ketentuan-ketentuan teknis lebih lanjut mengenai akses bagi penyandang cacat pada butir a di atas mengikuti Pedoman Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Rambu tersebut harus dibuat dengan huruf kapital minimal tinggi huruf 20 mm. ii. untuk memberi tanda pada orang bahwa pintu tertentu harus tidak dihalangi. termasuk penyandang cacat. b. 22.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT 1. Untuk bangunan yang digunakan untuk pelayanan umum harus dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan akses dan sirkulasi bagi semua orang. sistem audibel/visual alarm yang droperasikan dari dalam ruangan khusus dekat pintu. 2.

dekat setiap tombol panggil untuk lif penumpang atau kelompok dari lif ada bangunan. dan menggunakan kabel tahan api. Untuk mengubah fungsi lif penumpang atau lif barang menjadi lif kebakaran. Kecepatan dan ukuran sangkar lif kebakaran disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. 1 LIF 1. Lif kebakaran harus dapat berhenti di setiap lantai. harus dengan cara menekan sakelar kebakaran (Fire Switch) terlebih dahulu. Peringatan Terhadap Pengguna Lif Pada Saat Terjadi Kebakaran Tanda peringatan harus: a. Kapasitas angkut lif barang yang diizinkan. c. e. 3.VII. harus disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. lif kecil seperti dumb waiter atau sejenisnya yang digunakan untuk mengangkut hanya barang-barang. Pintu saf lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan peraturan yang berlaku di Indonesia. TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. dipasang ditempat yang mudah terbaca: i. Kapasitas Lif a. c. Persyaratan teknis dari lif yang digunakan sebagai lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. b. harus menjadi kapasitas angkut dari lif dimaksud. b. Sumber daya listrik untuk lif kebakaran harus direncanakan dari sumber yang berbeda. Kapasitas angkut lif penumpang yang diizinkan. d. Lif kebakaran dapat berupa lif penumpang biasa atau lif barang yang dapat diatur. f. sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh petuugas Kebakaran. kecuali ii. d. e. g. Waktu tunggu lif. Jumlah dan kapasitas lif harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untak sirkulasi vertikal pada bangunan. . 2. harus tertulis pada sangkar dan dinyatakan dalam jumlah orang yang dapat diangkut. Lift Kebakaran a. tanpa terganggu oleh sakelar panggil lainnya. harus tertulis dalam sangkar dan dinyatakan dalam Kg. Kapasitas angkut yang dinyatakan dalam izin.

. Lif Untuk Rumah Sakit a. dan iii. Sangkar Lif Sangkar pada setiap lif harus dilengkapi dengan peralatan tanda bahaya yang dapat dioperasikan dari dalam sangkar. 5. Untuk saf lif yang menerus dan tidak memiliki pintu keluar pada setiap lantainya. Dalam saf lif dilarang memasang pipa atau peralatan lain yang tidak merupakan bagian dari instalasi lif. 1 Tanda Peringatan Lif Penumpang b. berukuran cukup untuk meletakkan fasilitas kereta dorong ( wheel strecther) secara horisontal ii. kayu. plastic atau sejenisnya dan dipasang tetap didinding. Lif yang melayani ruang rawat pasien dihubungkan juga ke sistem tenaga listrik cadangan. 1. berupa bel listrik. bila diperlukan. dan terdiri dari i. harus: i. 6. telepon. setiap 3 lantai harus memiliki bukaan untuk digunakan dalam kondisi darurat. yang ruang rawat pasiennya tidak berada di lantai Lif pasien yang dibutuhkan pada butir a. ditatah atau huruf timbul pada logam. misalnya bangunan Kelas 9a. b. dengan penampilan khusus sehingga dapat terbaca pada keadaan gelap atau sewaktu terjadi kebakaran. sesuai dengan detail dan dimensi minimum seperti pada gambar Vll. Satu atau beberapa lif harus di pasang sebagai lif pasien untuk melayani setiap lantai dalam bangunan yang tidak menggunakan ramp. Saf Lif a. atau alat-alat lainnya yang dipasang dalam gedung ditempat yang mudah didengar oleh pengelola bangunan gedung yang bersangkutan. Mempunyai kapasitas beban tidak kurang dari 600 Kg. huruf yang diukir. 4.DILARANG MENGGUNAKAN LIF BILA TERJADI KEBAKARAN 10 mm 8 mm ATAU Dilarang menggunakan Lif bila terjadi Kebakaran Gambar VII. b. atau ii huruf yang diukir atau ditatah langsung dipermukaan bahan dinding iii.

Instalasi Listrik a. governor dan peralatan lain. b. Ruang mesin harus mempunyai sirkulasi udara. Beban balok dan penyangga harus sudah termasuk beban mesin lif. Balok. iii. ii. pondasi untuk mesin. iii. ii. Pengujian Dan Pemeliharaan a. panel kontrol. sebelum dioperasikan harus diperiksa dan diuji terlebih dahulu oleh instansi yang berwenang. tromol. peralatan lain dan lantai diatasnya. 9. tromol tali.7. . b. Minimum satu jalan keluar harus dibuat pada setiap nuang mesin lif. Instalasi listrik untuk lif harus dilengkapi dengan pengaman harus lebih atau sakelar otomatis. motor generator. lantai dan penyangga di Ruang mesin harus di rencanakan dengan memenuhi: i. c. Prosedur pemeriksaan. Jika mesin lif dan tali diempatkan di lantai bawah. termasuk lantai ruang mesin. Pondasi harus menyangga berat mesin. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali baban berat pada arah sejajar. atau dihubungkan ke tali yang disangga oleh balok. Pemeriksaan. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada semua arah gaya d. b. pengujian dan pemeliharaan instalasi lif sesuai dengan SNI 03-1718-1989 dan SNI 03-2190-1991. dan penyangga harus direncanakan sesuai beban dibawah ini: i. Beban diperhitungkan pada saat bandul mekanis governor) bekerja. Vll. atau disamping ruang luncur di lantai bawah. Semua hantaran listrik harus dipasang dalam pipa atau saluran kabel (duct) kecuali hantaran lemas (fleksibel) yang khusus. Dua kali jumlah beban komponen yang bergerak vertikal dari tromol (dihitung dari dua sisi). c. Semua bagian logam dari lif pada keadaan bekerja normal tidak boleh bertegangan. Bangunan ruang mesin lif harus kuat dan kedap air serta berventilasi cukup. dengan beban sangkar lif.2 TANGGA DAN LANTAI BERJALAN Persyaratan Teknis tangga dan lantai berjalan harus mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. iv. untuk mempertahankan suhu udara dan panas dari peralatan mesin. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah tegak. Instalasi lif yang telah selesai dipasang atau yang telah mengalami perubahan teknis. 8. Mesin Lif Dan Ruang Mesin Lif a.

jika menggunakan sistem terpusat. Jelas. TANDA ARAH KELUAR. . tangga yang tertutup. ke jalan raya. mempunyai huruf dan simbol dengan ukuran yang cukup diterangi dengan pencahayaan cukup sehingga jelas terbaca setiap waktu oleh orang yang masuk dan berada di dalam bangunan. mudah dibaca. yaitu pada: i. bekerja secara otomatis b. setiap lorong. atau iii. catu daya cadangan dan kontrol otomatisnya harus dilindungi daari kerusakan karena api dengan konstsruksi penutup yang mempunyai TKA tidak kurang dari -/60/60. Setiap lampu darurat. Tanda KELUAR harus jelas kelihatan untuk orang yang menuju keluar. lorong atau ramp yang digunakan untuk Keluar iii. Pintu yang digunakan untuk jalan keluar dari setiap lantai keluar i. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 100 m2 tetapi kurang 300 m2 yang terbuka: i. dipasang sehingga jika tenaga listrik normal terganggu. dan harus dipasang diatas atau di dekat setiap: a. c. atau iv. e. atau sejenisnya yang digunakan pasien. ke koridor. b c.VIII. DAN SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. mempunyai tigkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman.1 SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT 1. pencahayaan darurat digunakan pada tanda KELUAR. ruang yang mempunyai luas lebih dari 300 m2. jalan keluar di balkon yang menuju Keluar. 2. 3. 2. ii. VIII. hall. c jalan lintas. bangunan kelas 9a. lorong. ke ruang terbuka. koridor. Sistem lampu darurat dipasang pada: a b. Lampu darurat yang digunakan harus sesuai dengan standar yang berlaku. atau ii ke ruang yang mempunyai lampu darurat. atau ramp yang digunakan untuk ii tangga luar. harus: a.2 TANDA ARAH KELUAR 1. bangunan kelas 2 atau 3. setiap ruang dengan luas lantai lebih dari 120 m2 yang digunakan pasien d. harus : a. Setiap tanda “KELUAR” dibutuhkan. PENCAHAYAAN DARURAT. dan pada setiap jalan lintas yang mempunyai panjang lebih dari 6 meter diberikan sistem lampu darurat.

3. d. atau ramp pada setiap tingkat yang menuju Jalan raya atau ruang terbuka. hall. di daerah bangsal perawatan. 4. Jika tanda “KELUAR" tidak segera diketahui oleh penghuni atau pengunjung bangunan. dan: Jalan keluar horisontal.1 3. Bangunan dengan ketinggian lebih dari 25 m Bangunan Kelas 2 yang mempunyai ketinggian lantai lebih dari dua lapis dan a. . bagian rumah dari sekolahan. anak-anak. mempunyai ketinggian lantai tidak lebih dari tiga b. kecuali bila sistemnya a. VIII. b. atau orang cacat. atau sejenisnya yang menunjukkan arah keluar yang disyaratkan. langsung memberikan peringatan pada petugas. sistemnya harus diatur memberikan peringatan pada petugas b. sistem alarm dapat diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan sesuai dengan tipe dan kondisi pasien Bangunan Kelas 9b a. untuk sekolah. sesuai dengan tipe dan kondisi penghuni. yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua. akomodasi untuk orang tua.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA Sistem peringatan bahaya dan komunikasi internal mengacu pada standar yang berlaku dan harus dipasang pada: 1. 5. sistem alarm diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan dan trauma. Bangunan kelas 2 sebagai rumah perawatan orang tua. untuk gedung pertunjukan. atau b. c. Pintu dari tangga tertutup. Bangunan Kelas 9a yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua: a. atau sejenisnya. lobi.b. lorong. 2. maka tanda Keluar dengan arah panah harus dipasang pada posisi yang tepat di koridor. dan: Pintu yang digunakan sebagai atau merupakan bagian dari jalan KELUAR" pada setiap lantai yang harus dilengkapi dengan lampu darurat sesuai VIII. hall umum.

tidak boleh dibebani melebihi batas kemampuannya e. Semua peralatan listrik diantaranya penghantar. INSTALASI LISTRIK. mengganggu dan merugikan bagi manusia. Jaringan distribusi listrik terdiri dari kabel dengan inti tunggal atau banyak dan busduct dari berbagai tipe. dengan frekuensi 50 Hertz. lif kebakaran. Jaringan Distribusi Listrik a. Untuk hal-hal yang belum dicakup atau tidak disebut dalam PUIL. peralatan pengendali asap. tombol. Jaringan yang melayani beban penting. tidak membahayakan. Dalam menentukan tipe peralatan yang dipakai untuk instalasi listrik harus kuat harus diperhatikan bahaya kebakaran yang mungkin dapat terjadi dan kerusakan yang mungkin terjadi akibat kebakaran. PENANGKAL PETIR DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. papan hubung bagi dan isinya . b.1 INSTALASI LISTRIK 1. sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. dapat menggunakan ketentuan/ standar dari negara lain atau badan international. d. c. sistem deteksi dan alarm kebakaran. Tipe dari kabel harus disesuaikan dengan sistem yang dilayani. Sistem instalasi listrik dan penempatannya harus mudah diamati. Sistem tegangan menengah dalam gedung adalah 20 kV atau kurang. dan beban penting lainnya harus terpisah dari instalasi beban lainnya. dan lain-lain harus ditempatkan dengan baik sehingga memudahkan pengoperasiannya oleh petugas. dan dilindungi terhadap kebakaran atau terdiri dari penghantar tahan api.IX. Kecuali untuk hal-hal yang dianggap khusus atau yang tidak disebutkan. c. Peralatan pada papan hubung bagi seperti sakelar. . 2. alat ukur. Perencanaan Instalasi Listrik Instalasi listrik harus memenuhi ketantuan: a. dengan frekuensi 50 Hertz. transformator dan peralatan lainnya. lingkungan. maka segala sesuatu yang bersangkutan dengan instalasi dan perlengkapan listrik harus sesuai dengan buku Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Sistem instalasi listrik terdiri dari sumber daya. ukuran dan kemampuan. jaringan distribusi. papan hubung bagi dan beban listrik. dipelihara. Sistem tegangan rendah dalam gedung adalah 220/380 volt. seperti pompa kebakaran. bagian bangunan dan instalasi lainnya. sistem komunikasi darurat. b.

c. atap dan lantai yang kokoh. Beban dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut konservasi energi dan lain-lain. Bila ruang transformator dekat dengan ruang yang rawan kebakaran maka diharuskan mempergunakan transformator tipe kering. d. Sumber daya utama gedung harus menggunakan tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara. b. harus memiliki pembangkit tenaga cadangan yang dayanya dapat memenuhi kelangsungan pelayanan dari seluruh atau sebagian dari bangunan atau ruang khusus tersebut. Beban Listrik Beban maksimum suatu instalasi listrik arus kuat harus dihitung dengan memperhatikan besarnya beban terpasang. Ruangan trafo harus diberi ventilasi yang cukup. di antaranya Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Pemeriksaan Dan Pengujian Instalasi listrik yang dipasang. sebelum dipergunakan. Apabila ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir 1 di atas tidak momungkinkan. yang penempatannya harus aman dan tidak menimbulkan gangguan lingkungan serta harus mengikuti standar dan atau nomalisasi dari peraturan yang berlaku. Sistem instalasi listrik pada bangunan gedung tinggi dan bangunan umum harus memiliki sumber daya listrik darurat yang mampu melayani kelangsungan pelayanan seluruh atau sebagian beban pada gedung apabila tajadi gangguan sumber utama. Instalasi dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan dan diamankan terhadap dampak seperti interferensi golombang elektromanetik dan lain-lain. Sumber Daya Listrik a. Sumber daya listrik darurat yang digunakan harus mampu melayani semua beban penting yang disebut dalam butir 3. c. f. dengan pintu yang hanya dapat dimasuki oleh petugas. 4. dengan ruangan yang cukup untuk perawatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. harus terlebih dahulu diperiksa dan diuji mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku. b. secara otomatis. Bangunan dan ruang khusus yang pelayanan daya listrik tidak boleh putus. Transformator Distribusi a. faktor kebersamaan (coincident factor) atau faktor ketidak bersamaan (diversity factor). g. sumber daya utama dapat menggunakan sistem pembangkit tenaga sendiri. e. . Transformator distribusi yang berada dalam gedung harus ditempatkan dalam ruangan khusus yang tahan api dan terdiri dari dinding. 6.3. 5. dengan ijin instansi yang bersangkutan.

IX. mengganggu dan merugikan lingkungan. antara lain SNI-3990 tentang Tata Cara Instalasi Penangkal Petir Untuk Bangunan dan SNI-3991 tentang Tata Cara Instalasi Penyalur Petir.3 INSTANSI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG. 3. harus diadakan pemeriksaan dari bagian-bagiannya dan harus segera dilaksanakan perbaikan terhadap bangunan.2 INSTALASI PENANGKAL PETIR 1. IX. harus diberi instalasi penangkal petir. 1. Pemasangan penangkal petir harus diperhitungkan berdasarkan standar. sifat geografis. c. normalisasi teknik dan peraturan lain yang berlaku. b. Pemasangan instalasi penangkal petir pada bangunan. b. serta diberi ventilasi cukup. b. Pemeriksaan dan Pemeliharaan a. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung a. tidak membahayakan. harus terdapat ruang yang cukup untuk memudahkan pemeriksaan. Ha-hal yang belum diatur didalam peraturan tersebut diatas baik yang menyangkut perhitungan maupun peralatan dan instalasinya. Pembangkit tenaga listrik darurat secara periodik harus dihidupkan untuk menjamin agar pembangkit tersebut dapat dioperasikan bila diperlukan. Suatu instalasi penangkal petir harus dapat melindungi semua bagian dari bangunan. bagian atau peralatan dan perlengkapan bangunan yang mengalami kerusakan. bagian bangunan dan instalasi lain. Apabila terjadi sambaran pada instalasi penangkal petir. Pemeliharaan a. bentuk dan penggunaannya diperhitungkan mempunyai risiko terkena sambaran petir. instalasi penangkal petir harus diperiksa dan dipelihara secara berkala. Sistem instalasi komunikasi telepon dan tata gedung dan penempatannya harus mudah diamati. perbaikan dan pelayanan. serta direncanakan .7. Instalasi penangkal petir harus disesuaikan dengan adanya perluasan atau penambahan bangunan. dan instalasi lainnya. harus mengacu pada rekomendasi dari badan International seperti IEC. tanpa mengurangi nilai perlindungan yang efektif terhadap sambaran petir. harus memperhatikan arsitektur bangunan. 2. Setiap bangunan atau yang berdasarkan letak. Instalasi Penangkal Petir a. Perencanaan Penangkal Petir a. Pada ruang panel hubung bagi. b. termasuk manusia yang ada di dalamnya. Pemeliharaan instalasi listrik harus dilaksanakan dan diperiksa setiap lima tahun serta dilaporkan secara tertulis kepada instansi yang berwenang c. terhadap bahaya sambaran petir. dipelihara.

Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi Persyaratan: i. b. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. Setiap bangunan dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m keatas. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak. terang. harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran. ii. dan lain-lain. iii. d. Ruang yang bersih. terang. 3. Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya dan dilindungi terhadap bahaya kebakaran. maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan.80m. Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. minimal berjarak 0. Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas. Instalasi Telpon a.b. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. atau terdiri dari kabel tahan api. Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. b. sirkulasi udara cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. Ruang PABX dan TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan: i. tidak ada genangan air. Ruang batere sistem telepon harus bersih. c. iii. maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja. Secara berkala dilakukan pengukuran/ pengujian terhadap EMC (Electro Magnetic Campatibility). kedap debu.50 m x 0. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektro magnetik. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. c. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. aman dan mudah dikerjakan. ii. Dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. dan dilaksanakan berdasarkan standar.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. . 2. Instalasi Tata Suara a. c. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan. Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir a diatas harus menggunakan sistem khusus.

Jaringan Distribusi Gas Kota a. Konsumsi gas maksimum yang perlu disediakan. Pada instalasi gas untuk pembakaran. Rancangan sistem distribusi gas pembakaran. Berat jenis dari gas.2 INSTALASI GAS MEDIK 1. serta merupakan bagian pertimbangan keandalan bangunan. Gas nitrous Oxida (N2O) c. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut.X. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. vi. X. b. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. Gas Kota Gas kota yang dipakai umumnya berupa gas alam (natural gas). INSTALASI GAS X. Gas oxigen b. Udara tekan . v.1 INSTALASI GAS PEMBAKARAN 1. Gas elpiji (LPG = Liquefied Petroleum Gasses). Instalasi pemipaan untuk rumah dan gedung (mulai dari meter-gas)mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. c. Jenis Gas Jenis gas medik yang dimaksud. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku. Panjang pipa dan jumlah sambungan. Ukuran pipa gas harus mencukupi dan dipasang untuk melayani pasokan gas dalam rangka memenuhi kebutuhan maksimum tanpa terlalu banyak kerugian tekanan antara meter-gas dan peralatan-peralatan pengguna gas. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. 3. Faktor diversifikasi (diversity factor). Gas elpiji. Jenis Gas Jenis gas pembakaran yang dimaksud meliputi: a. harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas yang secara otomatis mematikan aliran gas. yang terdiri dari kandungan methane (CH4) dan ethane (C2He ). iii. adalah : a. terdiri dari propane (C3H8) dan Butane (C4H10). b. serta mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut : i. 2. iv. Kerugian tekanan yang diperbolehkan dari meter-gas ke peralatan ii.

b. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. Rancangan sistem distribusi gas medik. c.d. khususnya untuk instalasi pipa oksigen. Instalasi pemipaan untuk bangunan gedung mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. d. 3. Vakum 2. peralatan rawat gigi dan sebagainya. seperti untuk ruang bedah orthopedi. Pada instalasi gas medik harus dilengkap peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas dan dilengkapi dengan sistem isyarat tanda kebocoran gas. Pada instalasi pipa gas medik harus dilengkapi dengan biofilter. Jaringan Distribusi Gas Medik a. pemilihan bahan dan kontruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. Kebutuhan gas medik garus disesuaikan dengan kebutuhan untuk asien rawat inap dan kebutuhan lain. pipa Nitrous Oxida dan pipa udara tekan. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang . e.

Perencanaan Sistem Plambing a. Sistem Penyediaan Air Bersih a. SANITASI DALAM GEDUNG XI. g. b. 2.XI. Sumber air bersih pada bangunan harus diperoleh dari sumber air PAM (Perusahaan Air Minum). Temperatur air panas yang keluar dari alat plambing harus diatur. b. dan Pedoman Plambing Indonesia yang berlaku.1. petunjuk teknik. Setiap pembangunan baru dan atau perluasan bangunan harus diperlengkapi dengan sistem plambing. sistem air kotor dan alat plambing yang memadai. Pipa pembawa air panas yang cukup panjang tersebut harus dilapisi dengan bahan isolasi. kecuali untuk penggunaan khusus. f. tidak mengganggu lingkungan. alat plambing dapat bekerja dengan baik. dimana pipa pembawa air panas dari sumber air panas ke alat plambing cukup panjang. d. Bangunan yang dilengkapi dengan sistem penyediaan air panas. Apabila kapasitas dan atau tekanan sumber yang digunakan tidak memenuhi kapasitas dan tekanan minimal pada titik pengaturan keluar. SISTEM PLAMBING 1. Kualitas air bersih yang dialirkan ke alat plambing dan perlengkapan plambing harus memenuhi standar kualitas air minum yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. sebelum digunakan harus mendapat persetujuan dari instansi yang berwenang. maka harus dipasang sistem tanki persediaan air dan pompa yang direncanakan dan ditempatkan sehingga dapat memberikan kapasitas dan tekanan yang optimal. . serta diperhitungkan berdasarkan standar. e. Kebutuhan air bersih untuk perumahan berkisar antara 60-250 liter/orang/hari. meliputi sistem air bersih. Sistem distribusi air harus direncanakan sehingga dengan kapasitas dan tekanan air yang minimal. sedangkan untuk kelas bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia. maka harus dilengkapi dengan pipa sirkulasi. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam operasional dan pemeliharaannya. maksimum 60° C. c. dan apabila sumber air bukan dari PAM.

Pemilihan bahan dan pemasangan saluran harus disesuaikan dengan penggunaannya dan sifat cairan yang akan dialirkan. Semua sistem pelayanan air bersih harus direncanakan. beton. . PE. g. Diameter pipa sambungan pelanggan dari jaringan pipa distribusi kota harus disesuaikan dengan kelas bangunan. Sistem pengaliran air kotor direncanakan dengan menggunakan saluran tertutup dan kemiringan tertentu. maka dapat menggunakan sistem perpompaan. harus ditangani secara khusus. d. f. Air kotor yang mengandung bahan buangan berbahaya dan beracun. j. sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia. kakus maupun kegiatan lainnya. Pemeliharaan sistem air kotor dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya penyumbatan. tidak mengandung bahan beracun dan pemasangannya harus sesuai dengan petunjuk teknis bahan pipa yang bersangkutan. i. i. baik dari bahan PVC. besi lapis galvanis atau Tembaga. Semua air kotor harus diolah sebelum dibuang ke saluran air kotor umum kota atau disalurkan ke bangunan pengolahan air kotor komunal bila tersedia. Bahan pipa yang digunakan dapat berupa PVC. Saluran air kotor dapat benupa pipa atau saluran lainnya. Penentuan diameter saluran dibuat seekonomis mungkin sesuai dengan kapasitas dan bahan buangan yang akan dialirkan. e. serta yang mengandung radioaktif. h. besi tuang. karat dan kebocoran. b. Sistem Pembuangan Air Kotor a. tahan terhadap karat dan panas. sehingga dapat mengalirkan air kotor secara gravitasi.h. 3. mampu menahan tekanan sekurang-kurangnya 2 kali tekanan kerja. dipasang dan dipelihara sedemikian rupa sehingga tidak mudah rusak dan tidak terkontaminasi dari bahan yang dapat memperburuk kualitas air bersih. sesuai dengan petunjuk teknis dari bahan pipa yang bersangkutan dan ketentuan-ketentuan lain yang berlaku di Indonesia. baik tempat mandi cuci. PE (poli-etilena). Pada dasarnya air kotor berasal dari aktivitas manusia. Apabila cara gravitasi ini tidak dapat dilaksanakan. tembaga. Sistem air kotor didalam bangunan harus dilengkapi dengan pipa ven untuk menetralisir tekanan udara didalam saluran tersebut. c. baja maupun bahan lainnya yang tidak mudah rusak. tanah liat.

baja. pipa peluap. bahan tersebut tidak boleh memperburuk kualitas air bersih. Pada pipa penyaluran air kotor dari alat plambing yang mungkin menerima buangan mengandung minyak atau lemak. Apabila tangki penyediaan air bersih menggunakan bahan lapisan untuk mencegah kebocoran dan karat. penanggulangan kebakaran dan pengaturan tekanan air. fiberglass dan kayu. Tangki penyediaan air bersih harus direncanakan dan dipasang untuk penyediakan air dengan kuantitas dan tekanan yang cukup. Peralatan plambing yang mengalirkan air bersih ke tempat-tempat yang dapat menimbulkan pencemaran. 5. d. tahan lama untuk digunakan. b. kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni bangunan. . Bahan alat plambing harus mempunyai permukaan yang halus dan rapat air. harus dilengkapi dengan alat perangkap minyak dan lemak. harus dilengkapi dengan celah udara yang cukup untuk mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi. Pemeliharaan semua alat plambing. minuman bahan steril atau bahan sejenis lainnya. Tangki penyediaan air bersih harus diiengkapi dengan sistem perpipaan dan perlengkapannya yang terdiri dari pipa masuk dan pipa keluar. babas dari kerusakan dan tidak mempunyai bagian kotor yang tersembunyi. Tangki Penyediaan Air Bersih a. Konstnuksi dan bahan tanki penyediaan air bersih harus cukup kuat dan tidak mudah rusak. b. seperti katup penahan aliran balik dan katup pencegah atau pemutus vakum. serta dilengkapi dengan 1ubang pemeriksa.4. Bahan tangki dapat berupa beton. tidak mengganggu struktur bangunan dan memberikan kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan. harus dilengkapi dengan alat pencegah kontaminasi. c. c. Alat Plambing a. Semua alat plambing harus direncanakan dan dipasang sehingga memenuhi aspek kebersihan. Fungsi tangki penyediaan air bersih adalah untuk menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan penghuni. Pipa pembuangan dari alat plambing yang digunakan untuk menyimpan atau mengolah makanan. e. e. d. harus dilakukan secara berkala untuk menjamin kebersihan dan bekerjanya alat tersebut dengan baik. pipa penguras dan pipa ven. Jumlah dan jenis alat plambing serta perlengkapannya harus disediakan sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. perlengkapan bangunan. f. g.

Fungsi pompa air kotor adalah menyalurkan air ke saluran air kotor umum Kota atau ke bangunan pengolahan air lainnya. dan pada saluran yang lurus. maka harus dilakukan cara-cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang 2. c. maka dapat menggunakan sistem perpompaan. dan bila tidak dapat dilakukan dengan cara gravitasi. Fungsi pompa air bersih adalah memberikan kapasitas dan tekanan cukup pada sistem penyediaan air bersih atau menyalurkan air ke penyediaan air bersih. Apabila saluran dibuat tertutup. 1. Pemasangan pompa harus dilengkapi peralatan peredam getaran yang dipasang pada dudukan pompa. lubang pemeriksa harus dibuat dengan jarak tiap 25-100 m. Kelengkapan pada Bangunan a. maka pada tiap perubahan arah aliran harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa. Pompa harus dipasang pada lokasi yang mudah untuk pengoperasian dan pemeliharaannya. b. XI. . Bila belum tersedia jaringan umum kota ataupun sebab-sebab lain yang dapat diterima.2 Pemilihan jenis pompa dan motor pompa disesuaikan dengan karakteristik pompa yang dibutuhkan dan mempunyai effsiensi yang maksimal. e. SALURAN AIR HUJAN. Pompa a. sehingga dapat mengalirkan seluruh air hujan dengan baik agar bebas dari genangan air. yang tanki kotor kotor b.6. Pompa harus dilengkapi dengan alat pengukur tekanan dan katup pencegah aliran balik pada pipa keluaran dan ujung pipa isap pompa. pipa isap dan pipa keluaran pompa. Persyaratan Saluran a. Setiap bangunan dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem saluran air hujan. disesuaikan dengan diameter saluran tersebut dan standar yang berlaku. b Saluran air hujan dapat merupakan saluran terbuka dan atau saluran tertutup. d. Kemiringan saluran harus dibuat. c. c. Air hujan harus dialirkan ke sumur resapan dan atau dialirkan ke jaringan air hujan umum kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Bahan tersebut dapat berupa kantong plastik. peti kemas fiberglass. 3. besi dan baja harus dilapisi dengan lapisan tahan karat. atau Pengelola Pengangkutan Sampah. beton. Tempat pewadahan sampah harus terbuat dari bahan kedap air. c. mempunyai tutup dan mudah diangkut. sehingga tidak mengganggu kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni. Kapasitas pewadahan sampah atau tempat penampungan sementara harus dihitung berdasarkan jenis bangunan dan jumlah penghuninya. penempatan dan pembuangannya harus ditangani secara khusus sesuai dengan peraturan yang berlaku. besi dan baja. 3. pasangan. b. Pemeliharaan Pemeliharaan sistem air hujan harus dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. sesuai dengan ketentuan yang berlaku. tidak mudah rusak.d. masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Sampah Berbahaya Untuk sampah padat yang dikatagorikan sebagai jenis buangan berbahaya dan beracun (sampah B3). . XI. Bahan saluran dapat berupa PVC. Khusus untuk bahan seng. peti kemas baja. Penempatan pada Bangunan Setiap bangunan baru dan atau perluasan bangunan harus dilengkapi dengan fasilitas pewadahan dan atau penampungan sampah sementara yang memadai. dan pasangan bata atau beton. Pewadahan a. 2. tanah liat.3 PERSAMPAHAN 1. seng. Bentuk pewadahan sampah harus disesuaikan untuk kemudahan pengangkutan sampah oleh Dinas Kebersihan Kota. fiberglass.

(2) jendela. (3) ruangan bersebelahan yang dimaksud dalam butir b di bawah ini. dan hunian tunggal pada bangunan klas 3. (1) halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai. Penerapan ventilasi alami. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang diventilasi. Bangunan klas 2. 7.2 di bawah ini atau b. Ventilasi alami sesuai dengan butir XII.1 VENTILASI 1. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 10% luas lantai kedua ruangan tersebut. dan yang sejenis. jendela. bukaan. (1) jendela. bukaan. 6. Ventilasi alami harus terdiri dari bukaan permanen. 8 atau 9. pelataran parkir. (2) ruangan bersebelahan yang mempunyai jendela. VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. dengan jumlah bukaan berukuran tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang dibutuhkan untuk di ventilasi. . Ventilasi mekanis yang memenuhi ketentuan yang berlaku. dengan jarak tidak lebih dari 3. (3) Luas ventilasi yang diatur pada butir (1 ) dan (2) dapat direduksi secukupnya jika tersedia ventilasi alami langsung dari sumber lainnya.1. atau sarana lainnya dari ruangan yang bersebelahan (termasuk teras tertutup) jika kedua ruangan tersebut berada dalam satuan hunian yang sama atau mempunyai teras tertutup yang menjadi satu. pintu atau sarana bukaan lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 10% dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. Ventilasi Dari Ruangan Yang Bersebelahan Ventilasi alami pada suatu ruangan dapat berasal dari jendela. (1) ruang yang di ventilasi bukan kompartemen sanitasi.XII. atau daerah yang terbuka ke atas. bukaan. b. (3) ruangan bersebelahan dengan jendela.6 m diatas lantai. ii. bukaan. dan: i. Kebutahan Ventilasi Setiap bangunan harus mempunyai: a. 2. (2) teras terbuka. pintu atau sarana lain yang dapat dibuka i. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai lantai kedua ruangan tersebut. bukaan pintu ventilasi. ii ke arah. Bangunan kelas 5. Ventilasi Alami a.

e. Batasan untuk posisi kakus dan peturasan. harus mempunyai penutup yang kedap air diatas muka tanah/halaman dibawah lantai dasar. koridor atau ruang lainnya.c. iv. Gedung Parkir Setiap lantai gedung parkir. ruang yang digunakan sebagai tempat berkumpul (yang tidak berbentuk pusat penitipan anak. 8 atau 9 (yang bukan merupakan pusat penitipan anak. Dalam hunian tunggal pada bangunan kelas 2 atau 3 atau bagian bangunan kelas 4. sekolah TK atau panggung terbuka). setiap peralatan masak yang mempunyai: (1) total daya masukan listrik maksimum lebih dari 8 kW. harus mempunyai konstruksi lantai yang sesuai. ruang kerja yang umumnya digunakan oleh lebih dari satu orang. asrama pada bangunan Kelas 3. pada bangunan Kelas 5. Ruang kakus atau peturasan tidak boleh terbuka langsung ke arah: i. f. jika berada dibawah lantai dasar. ii. . harus mempunyai jarak melintang yang cukup untuk ventilasi antara bagian bawah permukaan lantai dasar dengan permukaan tanah/ halaman. ii. dapur atau pantry. Pembuangan udara dari dapur Pada dapur komersial harus tersedia tudung pembuangan gas dapur yang memenuhi ketentuan yang berlaku. iii. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan mekanis. 6. Ruang antara Jika ruang kakus atau peturasan yang dilarang menurut butir c di atas terbuka langsung terhadap ruang lainnya: i. d. atau ii. v. kecuali pelataran parkir terbuka harus mempunyai: i. (1) jalan masuk harus melalui suatu dinding terkurung. atau iii. g. ii ruang makan umum atau restoran. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan udara mekanis. dan pintu ke ruangan tersebut harus terhalang dari penglihatan. 7. koridor atau ruang lainnya dengan luas tidak kurang dari 1.1 m2 dan pada setiap pintu jalan masuk harus dipasang alat penutup pintu otomatis. sistem ventilasi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. jika: i. Ventilasi ruangan dibawah lantai dasar Lantai paling bawah suatu bangunan: i. sekolah TK atau panggung terbuka). atau (2) total daya masukan gas lebih dari 29 MJ/jam. (1) jalan masuk harus melalui ruang antara. sistem ventilasi alami permanen yang memadai.

3. Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara secara maksimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistem ventilasi buatan untuk membuang udara kotor dari dalam.60 meter diatas lantai. Konservasi Energi a. Ruang parkir pada ruang bawah tanah (basement) yang terdiri dari lebih satu lantai. termasuk dengan memperhitungkan pemakaian energi per tahunnya. kantor. PENGKONDISIAN UDARA 1. Rancangan sistem pengkondisian udara harus dikembangkan sehingga penggunaan energi yang optimal dapat diperoleh. XII. total daya masukan maksimum per m2 luas lantai ruangan yang mempunyai lebih dari satu alat masak. atau (2) 1. Karakteristik beban bangunan harus dianalisa sehingga memungkinkan sistem dan peralatan dengan ukuran yang tepat serta dipilih untuk memperoleh efisiensi yang baik pada beban penuh atau beban paruh. pabrik. Prosedur Perhitungan beban pendinginan harus mengikuti prosedur sesuai yang ditunjukkan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. c. lebih dari: (1) 0. serta biaya awal dan biaya umur pemakaian energi.8 MJ/jam untuk daya gas. dan standar teknis lain yang berlaku. Sistem Ventilasi buatan harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi syarat tidak memadai. d. Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan a.2 2. Bilamana digunakan ventilasi buatan. atau sebaliknya. Kebutuhan Pengkondisian Udara Setiap bangunan seperti untuk hunian. Pengkondisian udara harus memperhatikan upaya konservasi energi minimal seperti dinyatakan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. 3. dan setiap ruang lainnya bila diperlukan dapat mempunyai sistem pengkondisian udara yang memenuhi ketentuan yang berlaku. c. . b. gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya. b. e. dan minimal 2/3 volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0. Ventilasi buatan a.ii. sistem tersebut harus bekerja terus menerus selama ruang tersebut dihuni. rumah sakit. pemilihan peralatan. toko.5 kW untuk daya listrik. f. Besamya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruang dalam bangunan harus sesuai standar yang berlaku.

Kondisi Dalam Bangunan Kondisi dalam bangunan yang memerlukan pengkondisian udara harus dirancang sesuai penggunaannya. Penetapan sistem dan peralatan. sistem kontrol. . sistem distribusi udara. ruang steril dan ruang perawatan bagi pasien yang berpenyakit menular. ii. atau standar internasional lain yang diakui oleh instansi yang berwenang. Dasar perancangan i. sistem pompa dan pemipaan. (3) Sistem pengkondisian udara pada bangunan klas 8a untuk ruang operasi. (1) Penetapan sistem dan peralatan pengkondisian udara (Sistem Fan. isolasi sistem distribusi udara) mengacu pada SK SNI yang berlaku. . dibuat dan dipasang sesuai ketentuan yang berlaku. tidak dibenarkan mempergunakan sistem sirkulasi udara yang dapat menyebabkan penularan penyakit ke bagian lain bangunan. Kondisi Luar Bangunan Kondisi rancangan udara luar bangunan mengacu pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. (2) Semua saluran udara harus direncanakan. isolasi pemipaan. iii.b.

dsb. pencahayaan khusus laboratorium. daerah luar bangunan. k. dan diskotek dimana pencahayaan merupakan bagian penting untuk menghasilkan knalitas tampilan. pencahayaan darurat yang secara otomatis mati. f. fasilitas luar untuk olahraga. 1. d. efektif dan sesuai dengan kebutuhan ruangan. daerah yang mempunyai risiko keamanan tinggi dan diperlukan tambahan pencahayaan untuk keamanan manusia. pencahayaan untuk pembuatan film. c. i. tempat bongkar muat barang. reflektor khusus untuk medis dan perawatan gigi. g. j. . Kamar. PENCAHAYAAN XIII. 1. penyiaran televisi. Energi Yang Dikonsumsi Energi yang dikonsumsi untuk pencahayaan buatan mempunyai pengaruh besar pada peningkatan beban listrik dan beban pendinginan bangunan. Tingkat Iluminasi Tingkat iluminasi disarankan seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung XIII.2 2. Sistem pencahayaan buatan harus dipilih secara fleksibel. b. jalan. pencahayaan untuk rambu-rambu. seperti proses produksi dan penyimpanan. n. ruang kelas yang direncanakan untuk kebutuhan khusus. PENCAHAYAAN BUATAN. museum dan monumen. pencahayaan di unit pengeboran. pencahayaan didalam bangunan yang digunakan dari jam 22. termasuk daerah di udara terbuka dimana pencahayaan dibutuhkan dan disambungkan dengan listrik bangunan. pintu ketuar. pencahayaan luar untuk monumen publik.00 pagi. 2. ruangan didalam bangunan b. c. seperti: i.00 malam sampai jam 06. meliputi: a. ruangan dan daerah yang dicakup oleh bagian ini meliputi: a. selama operasi normal. sehingga diperoleh konsumsi energi yang masih dapat dipertanggung jawabkan. m. taman dan daerah bagian luar lainnya. pencahayaan untuk pameran seni. ruangan. Kamar.XIII. fasilitas pencahayaan untuk display di muka atau jendela toko. iii. e. kegiatan diluar bangunan. gallery. klub malam.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN 1. daerah dan peralatan yang tidak termasuk bagian ini. pintu masuk ii. presentasi audio visual dan bagian-bagian lain dan fasilitas pertunjukan seperti panggung di hotel.

kebutuhan daya pencahayaan luar bangunan terutama adalah untuk pencahayaan buatan diantara bangunan tersebut.3. balas. kemampuan tahan panas dari kaca ditingkatkan dengan penggunaan tirai matahari dan atau kaca ganda. baik dari sumber sinar matahari langsung. Reflektor untuk lampu High Intensity Discharge (HID) menggunakan reflektor aluminium anodized berkualitas tinggi. Untuk fasilitas banyak bangunan. Daya Maksimum Yang Diijinkan Beban pencahayaan total untuk ruang dalam bangunan disarankan tidak melebihi nilai maksimum seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. langit yang cerah. Pengendalian silau pada bangunan. maupun dari pantulan kaca dan sebagainya. 6. Daya pencahayaan buatan di luar bangunan. Konsumsi Energi Konsumsi energi pencahayaan buatan dapat diminimalkan dengan mengurangi daya terpasang dan waktu pemakaian. a. Penggunaan sakelar otomatis atau sistem pengendali lainnya agar tingkat pencahayaan buatan dalam bangunan dapat diatur. Penentuan besanya iluminasi Penentuan besarnya iluminasi mengikuti ketentuan teknis SNI-2396 tentang Penerangan Alami Siang hari untuk Rumah dan Gedung. Penggunaan Lampu Penggunaan lampu sesuai kebutuhan dan mempertimbangkan upaya konservasi energi pada bangunan gedung. b. Jika perlu. 3.3 PENCAHAYAAN ALAMI 1. 2. b. Daya pencahayaan buatan untuk bagian luar bangunan sebaiknya tidak melebihi nilai seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Kaca mengurangi kemampuan tahan panas dari dinding. 5. . dan reflaktor yang efisien. c. Perencanaan Sistem Pencahayaan Perencanaan sistem pencahayaan adalah dengan monggunakan sumber pencahayaan yang tepat. Daya terpasang dapat diminimalkan dengan penggunaan lampu. Kebanyakan reflektor yang efisien untuk lampu fluorecent adalah dari jenis mirror reflector atau prismatic. jenis reflektor yang efisien. 4. Daerah efisasi dari lampu yang ada ditunjukkan pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Pemanfaatan pencahayaan alami Pemanfaatan pencahayaan alami yang optimal pada bangunan karena merupakan cara yang sangat penting untuk mengurangi beban energi bangunan. 7. mempunysi karakteristik distribusi pencahayaan sesuai kebutuhan dan tidak menghasilkan ketidak nyamanan karena silau atau pantulan. Perencanaan pencahayaan alami Pertimbangan perencanaan pencahayaan alami pada bangunan: a. obyek luar. XIII.

kecuali yang diperlukan untak pencahayaan darurat atau pencahayaan lampu “KELUAR”. Pengendali yang memerlukan operator yang terlatih. Pengendali yang diprogram. Minimal satu sakelar harus dipasang untuk setiap group yang melayani luasan 30 m atau kurang. pertokoan. 1. d. Letak pengendali harus mudah dicapai. pengendali manual lokal atau pengendali otomatis seperti sakelar yang dilengkapi dengan photoelectric atau dimmer otomatis sebaiknya digunakan di ruangan yang diterangi dengan pencahayaan alami. Semua ruangan yang tertutup dengan dinding bata atau partisi yang sampai ke plafond harus dilengkapi dengan satu pengendali pencahayaan manual untuk setiap kamar. b.XIII. Pengendali pencahayaan harus dilengkapi sebagai berikut: a. Minimal satu sakelar dengan tanda khusus untuk melayani 1100 Watt yang disambungkan ke beban listrik. harus dilengkapi dengan pengendali manual. Sakelar pengendali dengan beban yang sama yang tedetak di lebih satu lokasi harus dinilai sebagai penambahan jumlah pengendali untuk memenuhi kebutuhan butir 1 di atas.4 PENGENDALIAAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN. 2. hotel dan rumah sakit. pasar swalayan. c. kecuali untuk hal-hal lain jika diperlukan. dan harus secara manual atau otomatis dimatikan (misalnya dengan pembatas waktu atau photocell). Pengendali untuk keamanan bahaya dan keselamatan. c. otomatis atau yang terprogram. Semua sistem pencahayaan. b. kecuali: a. e. e. d. Pengendali haruss digunakan sehingga bekerja pada baris pencahayaan yang paralel dengan dinding luar bangunan. gudang dan koridor yang dibawah pengendalian terpusat). Pengendali dipusatkan di lokasi yang berjarak jauh (seperti ruangan lobi dari kantor. Semua pengendali pencahayaan harus ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/dibaca untuk orang yang berada atau menggunakan ruang tersebut. Kamar tamu hotel harus mempunyai sakelar utama didekat pintu yang mematikan semua lampu dan stop kontak. f. Apabila dimungkinkan adanya pencahayaan alami. . Pencahayaan bagian luar tidak diperuntukkan beroperasi 24 jam terus menerus. Pengendali otomatis.

XIV. KEBISINGAN DAN GETARAN
XIV. 1. KEBISINGAN 1. Baku Tingkat Kebisingan a. Salah satu dampak dari usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat kebisingan yang dihasilkan. b. Baku tingkat kebisingan untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti ketentuan dalam standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat kebisingan lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut berlaku baku tingkat kebisingan sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2

XIV.2

GETARAN 1. Baku Tingkat Getaran a. Sala satu dampak dan usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat getaran yang dihasilkan. b. Baku tingkat getaran untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat getaran lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut, berlaku baku tingkat getaran sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2.

XV. KETENTUAN PENUTUP

XV.1

Persyaratan Teknis Bangunan Gedung seperti telah diuraikan pada Bab-bab sebelumnya merupakan persyaratan pokok yang ditunjang oleh standar teknis (SNI), pedoman atau petunjuk teknis yang berlaku dan lebih rinci berkaitan dengan spesifikasi, tata cara, dan metode uji bangunan, komponen, elemen, serta berbagai aspek teknis dari bangunan gedung. Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau yang bersifat alternatif serta penyesuaian penyesuaian yang diperlukan terhadap Persyaratan Teknis Bangunan Gedung diharapkan untuk dikembangkan oleh masing-masing Daerah disesuaikan dengan kondisi, permasalahan, kebutuhan, dan kesiapan kelembagaan di setiap Daerah.

XV.2

MENTERI PEKERJAAN UMUM ttd. RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN
TABEL V.2.3 PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. KETENTUAN UMUM
PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN Untuk: 1. Tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap jalan penghubung atau ramp yang melayani: a. Setiap lantai di atas tinggi efektif 25m, atau b. lebih dari 2 lantai di bawah tanah, atau c. atrium, atau d. bangunan klas 9a yang > 2 lantai, dan 2. jalan penghubung atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dengan panjang > 60 m ke jalan umum atau ruang terbuka, harus dilengkapi dengan: 1. Sistem presurisasi otomatis, atau 2. Ramp atau balkon akses yang terbuka sesuai ketentuan butir Vl.3. BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF >25 M Klas. 2, 3, den 4. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. 2. Bila panjang koridor umum > 40 m, harus dibagi dengan interval < 40 m, dengan konstruksi sesuai ketentuan V.1.3, kecuali bahan pelapis dan bahan yang tidak mudah terbakar Klas5,6, 7,8,dan 9b (selain ruang/tempat parkir) Klas 9a 1. Harus dilengkapi dengan sistem pengendali asap terzona sesuai ketentuan yang berlaku. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis, dan 2. Sistem pengendali asap tezona sesuai ketentuan yang berlaku

KLAS/BAGIAN BANGUNAN Jalan keluar yang Diisolasi terhadap kebakaran

BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF < 25 M Klas 2, 3, den 4 1. Harus dilengkapi dengan alarm dan detekai asap otomatis, dan 2. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran den bangunan kelas 2 atau 3 juga melayani satu atau lebih lantai dengan Kas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8, atau 9b, maka: a. tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap Jalan penghubung atau ramp harus dilengkapi dengan sistem presurisasi udara otomati, atau b. Klas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8 dan 9b harus

Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. bila basement mempunyai lebih daari satu kompartemen kebakaran. kecuali bila alarm dan detektor tersebut hanya perlu dipasang pada tiap pintu menuju tangga yang diisolasi terhadap kebakaran untuk sistem peringatan. atau b. Sistem presurisasi udara otomatis. diatas harus dipasang. atau iii. atau 2. sistem alarm dan deteksi asap otomatis. Klas 5 atau 9b (sekolah) dan b. atau 2. Klas 5 atau 9b (sekolah) dengan ketinggian > 3 lantai. sistem sprinkler 3. atau 9b. Klas 6. Sistem sprinkler. atau ii. atau 9b (selain sekolah) dengan ketinggian > 2 lantai. Klas 6. Bila bangunan >2 lantai. Bila > 2 lapis dibawah tanah harus dilengkapi sistem sprinkler. atau 4. dan 9b (selain ruang/tempat parkir Klas 9a BASEMENT (selain ruang/tempat parkir) . 2. atau digunakan dalam bangunan d. dan 2.a. 7 (bukan tempat parkir terbuka). dipajang. atau ii. 7. karakter khusus bangunan b. harus dipasang: 1. Sistem pengendali asap terzona. keragaman klasifikasi bangunan atau kompartemen Klas 5. maka: a. Sistem pengendali asap terzona. 8. 7. fungsi khusus bangunan c. Sistem detektor dan alarm asap. atau b. bila bangunan mempunyai lebih dari satu komprtemen kebakaran. Bila < 2 lapis di bawah tanah: i. Sistem pengendali asap terzona. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. harus dipasang: a. Basement dengan > 3 lapis di bawah tanah atau terdapat klas 6 atau 9b dengan jumlah penghuni/pengguna yang banyak. Pada bangunan: 1. 8. atau 3. 8. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan klas 4 juga melayani satu atau lebih lantai dengan klas 5. atau 9b (selain sekolah) maka pada setiap tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran. 7. 6. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendali asap terzona dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detekotr asap bekerja. termasuk jlan penghubung dan rampnya. 3. persyaratan khusus dapat digunakan dengan pertimbangan: a. Sistem sprinkler 1. tipe dan jumlah material khusus yang disimpan. 6. 8.b.dilengkapi dengan i. Dengan ketinggian > 2 lantai dan terdiri atas: a. atau b. Sistem sprinkler 1. Sistem sesuai butir 2. atau 2. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. Basement dengan luas > 200 m2 harus dilengkapi dengan: a. atau 3.

Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran < 3. Kompartemen Kebakaran > 2. harus dilengkapi dengan: a. Bangunan klab malam. dipasang sistem alarm dan detektor asap otomatis. sistem peringatan kondisi darurat. toko dengan luas > 1.000 m2. atau b. bangunan 2 lantai atau kurang. termasuk ruang parkir dibawah tanah. atau c. Kabel pengendali dan daya listrik tidak harus yang tahan api Bangunan yang memiliki atrium harus dengan kelengkapan sistem sprinkler. sistem pembuangan asap otomaatis. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap.Ruang/tempat parkir Atrium kebakaran Ruang/tempat parkir. Selasar terlindung. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1. harus dilengkapi dengan: a. Bangunan Pertemuan . Jenis kipas yang harus tahan suhu tinggi. KETENTUAN KHUSUS KLAS/BAGIAN BANGUNAN Klas 6. bangunan 1 lantai. luas lantai < 2. dan 2. luas bangunan < 2. atau 2. Bangunan satu lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. Setiap kompartemen kebakaran. bila: a. dan sejenis. tidak terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. dan b. bila bangunan 1 lantai. sistem pembuangan asap otomatis. atau lubang-lubang Klas 6.000 m2. 1.000 m2. Kompartemen kebakaran > 2. atau ii. dan b.500 m2. sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomaatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. dipasang sistem sprinkler 3. sistem pembuangan asap otomatis. Bila bangunan 1 lantai. bila: a.500 m2 dan bangunan 2 lantaai atau kurang. dan b.000m2 yang membuka ke arah selasar terlindung. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. dan: i. dan toko (selain pada ketentuan 3 ) yang tidak membuka ke arah selasar terlindung.000m2. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran > 3. terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko Klas 9b. sistem deteksi alarm kebakaran.kecuali yang ditetapkan pada butir 2. sistem inter komunikasi darurat. yang dilengkapi dengan sisitem ventilasi mekanis sesuai ketentuan: 1. dipasang sistem sprinkler 2. atau b. harus dilengkapi dengan: a. dan sistem pengendalian asap sesuai standar teknis yang berlaku 2. diskotek. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1. bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka 1.

atau sistem sprinkler. bila bangunan 1 lantai. dengan luas > 300m2 atau b. Bangunan yang dikecualikan dari ketentuan butir a diatas adalah: i.000 m2 dan tinggi bangunan 2 lantai atau kurang. dan b. bila bangunaan 1 lantai 4. 5. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. harus dilengkapi dengan a. dipasang sistem sprinkler dan i. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. atau ii. Bila luas bangunan > 3. bila bangunan 1 lantai. bila luas lantai kompartemen kebakaran < 5. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. Bangunan pameran. Bangunan theater atau tempaat pertemuan/hall umum: a. kompleks olahraga (termasuk hall olah raga. ruang senam.a. dan b. digunakan sistem alarm dan detektor asap otomatis. bilang bangunan 1 lantai 3. gereja. dan c.b diatas b. Gereja. idem 1. sistem pembuang asap otomatis. atau ii.000 m2 i. gereja.000-3. Bangunan theater atau hall umum selain butir 3. atau ii. selain pada bangunan sekolah dengan luas lantai kompartemen kebakaran > 2. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. Mesjid dan tempat lainnya yang khusus hanya untuk kegiatan peribadatan. atau sistem sprinkler 2.500m2 i. sistem pengelola udara mekanis yang bukan meru-pakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shutdown) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. atau ii. sistem pembuang asap otomatis. sistem pembuang asap otomatis. .500 m2. Bukan pada bangunan sekolah. Bila luas bangunan 2. dengan luas > 200 m2. diatas. sistem sprinkler. termasuk theater kuliah dan komplek auditorium: a. Setiap kompartemen kebakaran dengan luas > 2.000 m2 harus dilengkapi dengan ketentuan seperti butir 4. pada bangunan sekolah. kolam renang dan sejenis) selain dari gedung olahraga(indoor) dengan jumlah tempat duduk > 1. lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. atau iii. atau harus dilengkapi dengan: i.ventilasi asap dan panas otomatis pada bangunan 1 lantai. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. Bangunan pertemuan lainnya (diluar butir 3 dan 4 diatas): a.000 ii. atau iii. sistem pembuang asap otomatis.

Dep. Dep. Sunaryo Sumadji. PU Puslitbangkim. SE Ir. Aim Abdurachim Idris. Dep. Harlansyah Soerarso. Dep. Roestanto Wahidi D. IAI. Binlak Wilayah Timur. Sukartono Ir. PU Dit. DJCK Dit. Sutikni Utoro Wibisono Setio Wibowo. DJCK Dit. MSc. Ridwan Munzir Ir. CES Ir. PU Puslitbangkim. Rusdi Marzuki Ir. Setjen Dep. Rachmadi BS.Arch. MM. Balitbang. H. Achid Winarno Ir. Adjar Prajudi. Bintek. Hari Sidharta. Dep. Sardjono Hadi Sugondo Ir. Suprapto. Eko Widiatmo Ir. Dep. MCM. Ernawi. PU Widyaiswara Dep. Bintek. Ir. FRAIA Ir. Wiedodo Ir. Pengarah Drs. MSc Kelompok Kerja Ir. Dep. Dep. Diding Muchidin Ir. DJCK. Eng. Dipl. Pelaksana Ir. Bambang Guritno. MSc Ir.E. Dep. Setjen Dep. PU Sekretaris Jenderal Dep.BD. Tulus Rachmat S Ir. M. Bitnek. G. Antonius Budiono.. Bintek. Bitnek. Hari Sasongko Suwarmo S. PU Staf Ahli Menteri PU V Bidang Pengembangan Jasa Konstruksi Direktur Bina Teknis . Achmad Lanti. PU Dit. Sri Hartinah. MPA Ir. Sidjabat Ir. PU Dit. PU Biro Hukum. MCM. Hendro Moeljono Ir. MCM Ir G. Erry Saptaria Achyar. H. Dep. PU Kepala Biro Hukum.Sc. HR. DJCK. PU Sekretaris Ditjen Cipta Karya. Balitbang. Balitbang.TIM PENYUSUN PEDOMAN TEKNIS PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG Pembina Ir. L. Eko Djuli Sasongko Ir. MSc Ir. PU Kepala Balitbang Dep. Prawoto Menteri Pekerjaan Umum Direktur Jenderal Cipta Karya. SH Ir. MSc Ir. DJCK. PU Puslitbangkim. PU Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) . Imam S. Dep. DJCK. Balitbang. PU Dit.. Gembong Priyono. IAI Ir. DJCK Bagian Hukum. Sefiawan Kanani Ir. Dipl. PU Dit. J. PU Kepala Puslitbangkim. PU Dit. MSc Ir. IAI Ir. MSc Ir. DJCK. DJCK. J. B. Dipl. Binlak Wilayah Barat. Renyansih Ny. Dep. Binlak Wilayah Tengah . Jacob Ruzuar. DJCK. Dep. MSc Ir. P.

Departemen P. Sofyan Nurbambang DR. Eka Sediadi Rasyad Ir. Zaenal Walidin DR.Prasetiyo. Sugeng Triyadi S. Jakarta Universitas Trisakti. Hendro Moeljono Ir. Bambang Budiono Ir. MCM. Chaidir AM. Ir.MAUD DR.id . MSA. IAI Ir. Ariono Suprayogi Ir. Tulus Widiarso. Ir. A. Ernawi. Bambang Tata Samiadji. Soedibyono Ir. Hadi Prabowo. Bintang Agus Nugroho. IALI Ir. Jakarta Disamping itu juga melibatkan peran aktif berbagai nara sumber di bidang tata bangunan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. MM Ir. MT Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Ikatan Ahli Lansekap Indonesia (IALI) Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Teknik Tanah Indoensia (HATTI) Institut Teknologi Bandung Institut Teknologi Bandung Universitas Trisakti. G.M.go. J. Raden Patah l/1 Lantai 7 Wing 1 Kebayoran Baru. Penyelaras Akhir Ir. Ing. MEng DR. MSc Ir. Binsar Hariandja DR.Ir. Drajat Hoedayanto. Jakarta Universitas Trisakti. Eko Djuli Sasongko Studio Taba '98 Direktorat Bina Teknik Direktorat Jenderal Cipta Karya. Ir. Ir. MT Ir. Imam S. Jakarta 12110 Indonesia Telepon: (021) 7268203 Faks: (021) 7235223 E-med: bintekctaba@pu.U. Daniel Mangindaan Ir. MSCE Ir. Jl.March.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful