P. 1
Atonia Uteri

Atonia Uteri

|Views: 21|Likes:
Published by boy_dysu
Perdarahan post partum merupakan penyebab kematian maternal terbanyak. Semua wanita yang sedang hamil 20 minggu memiliki resiko perdarahan post partum dan sekuelenya. Walaupun angka kematian maternal telah turun secara drastis di negara-negara berkembang, perdarahan post partum tetap merupakan penyebab kematian maternal terbanyak dimana-mana.
Perdarahan post partum didefinisikan sebagai kehilangan darah lebih dari 500 mL setelah persalinan vaginal atau lebih dari 1.000 mL setelah persalinan abdominal. Perdarahan dalam jumlah ini dalam waktu kurang dari 24 jam disebut sebagai perdarahan post partum primer, dan apabila perdarahan ini terjadi lebih dari 24 jam disebut sebagai perdarahan post partum sekunder.
Frekuensi perdarahan post partum yang dilaporkan Mochtar, R. dkk. (1965-1969) di R.S. Pirngadi Medan adalah 5,1% dari seluruh persalinan. Dari laporan-laporan baik di negara maju maupun di negara berkembang angka kejadian berkisar antara 5% sampai 15%. Dari angka tersebut, diperoleh sebaran etiologi antara lain: atonia uteri (50 – 60 %), sisa plasenta (23 – 24 %), retensio plasenta (16 – 17 %), laserasi jalan lahir (4 – 5 %), kelainan darah (0,5 – 0,8 %).
Penanganan perdarahan post partum harus dilakukan dalam 2 komponen, yaitu: (1) resusitasi dan penanganan perdarahan obstetri serta kemungkinan syok hipovolemik dan (2) identifikasi dan penanganan penyebab terjadinya perdarahan post partum.
Perdarahan post partum merupakan penyebab kematian maternal terbanyak. Semua wanita yang sedang hamil 20 minggu memiliki resiko perdarahan post partum dan sekuelenya. Walaupun angka kematian maternal telah turun secara drastis di negara-negara berkembang, perdarahan post partum tetap merupakan penyebab kematian maternal terbanyak dimana-mana.
Perdarahan post partum didefinisikan sebagai kehilangan darah lebih dari 500 mL setelah persalinan vaginal atau lebih dari 1.000 mL setelah persalinan abdominal. Perdarahan dalam jumlah ini dalam waktu kurang dari 24 jam disebut sebagai perdarahan post partum primer, dan apabila perdarahan ini terjadi lebih dari 24 jam disebut sebagai perdarahan post partum sekunder.
Frekuensi perdarahan post partum yang dilaporkan Mochtar, R. dkk. (1965-1969) di R.S. Pirngadi Medan adalah 5,1% dari seluruh persalinan. Dari laporan-laporan baik di negara maju maupun di negara berkembang angka kejadian berkisar antara 5% sampai 15%. Dari angka tersebut, diperoleh sebaran etiologi antara lain: atonia uteri (50 – 60 %), sisa plasenta (23 – 24 %), retensio plasenta (16 – 17 %), laserasi jalan lahir (4 – 5 %), kelainan darah (0,5 – 0,8 %).
Penanganan perdarahan post partum harus dilakukan dalam 2 komponen, yaitu: (1) resusitasi dan penanganan perdarahan obstetri serta kemungkinan syok hipovolemik dan (2) identifikasi dan penanganan penyebab terjadinya perdarahan post partum.

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: boy_dysu on Apr 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2013

pdf

text

original

Atonia Uteri

a.

Pengertian Atonia uteri terjadi jika uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri. Perdarahan postpartum dengan penyebab uteri tidak terlalu banyak dijumpai karena penerimaan gerakan keluarga berencana makin meningkat (Manuaba & APN). Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan pospartum dini (50%), dan merupakan alasan paling sering untuk melakukan histerektomi postpartum. Kontraksi uterus merupakan mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan setelah melahirkan. Atonia terjadi karena kegagalan mekanisme ini. Perdarahan pospartum secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut miometrium yang mengelilingi pembuluh darah yang memvaskularisasi daerah implantasi plasenta. Atonia uteri terjadi apabila serabut-serabut miometrium tidak berkontraksi. Batasan: Atonia uteri adalah uterus yang tidak berkontraksi setelah janin dan plasenta lahir. b. Penyebab :

Atonia uteri dapat terjadi pada ibu hamil dan melahirkan dengan faktor predisposisi (penunjang ) seperti : 1. Overdistention uterus seperti: gemeli makrosomia, polihidramnion, atau paritas tinggi. 2. Umur yang terlalu muda atau terlalu tua. 3. Multipara dengan jarak kelahiran pendek 4. Partus lama / partus terlantar 5. Malnutrisi. 6. Penanganan salah dalam usaha melahirkan plasenta, misalnya plasenta belum terlepas dari dinding uterus.

c.

Gejala Klinis: · Uterus tidak berkontraksi dan lunak · Perdarahan segera setelah plasenta dan janin lahir (P3).

Pastikan bahwa kontraksi uterus baik: lakukan pijatan uterus untuk mengeluarkan bekuan darah. Jika dicurigai adanya syok segera lakukan tindakan. ingatlah saat melakukan evaluasi lanjut karena status ibu tersebut dapat memburuk dengan cepat.Oksitosin mempunyai onset yang cepat. Segera mobilisasi tenaga yang ada dan siapkan fasilitas tindakan gawat darurat. Prostaglandin (Misoprostol) akhir-akhir ini digunakan sebagai pencegahan perdarahan postpartum. berikan 10 unit oksitosin IM Lakukan kateterisasi. e. Periksa kelengkapan plasenta Periksa kemungkinan robekan serviks. lakukan uji beku darah. anemia. Menejemen aktif kala III dapat mengurangi jumlah perdarahan dalam persalinan. vagina. dan kebutuhan transfusi darah. dan tidak menyebabkan kenaikan tekanan darah atau kontraksi tetani seperti preparat ergometrin. Jika tanda -tanda syok tidak terlihat. Pemberian oksitosin rutin pada kala III dapat mengurangi risiko perdarahan pospartum lebih dari 40%. Pemeriksaan golongan darah dan crossmatch perlu dilakukan untuk persiapan transfusi darah. · · · · · · .d. segera mulai penanganan syok. Masa paruh oksitosin lebih cepat dari Ergometrin yaitu 5-15 menit. Lakukan pemeriksaan cepat keadaan umum ibu termasuk tanda vital(TNSP). dan juga dapat mengurangi kebutuhan obat tersebut sebagai terapi. Jika terjadi syok. Penanganan Atonia Uteri Penanganan Umum · · · Mintalah Bantuan.oksigenasi dan pemberian cairan cepat. atau 5U IM dan 5 U Intravenous atau 10-20 U perliter Intravenous drips 100-150 cc/jam. Jika perdarahan terus berlangsung. dan pantau cairan keluar-masuk. dan perineum. yaitu pemberian oksitosin segera setelah bayi lahir (Oksitosin injeksi 10U IM. Bekuan darah yang terperangkap di uterus akan menghalangi kontraksi uterus yang efektif. Atonia uteri dapat dicegah dengan Managemen aktif kala III. Pencegahan atonia uteri.

· · Setelah perdarahan teratasi (24 jam setelah perdarahan berhenti). Oksitosin dapat diberikan bersamaan atau berurutan Jika uterus berkontraksi. periksa apakah perineum / vagina dan serviks mengalami laserasi dan jahit atau rujuk segera. Jika Hb 7-11 g/dl: beri sulfas ferrosus 600 mg atau ferous fumarat 60 mg ditambah asam folat 400 mcg per oral sekali sehari selama 6 bulan. Penanganan Khusus Kenali dan tegakkan diagnosis kerja atonia uteri. periksa kadarHemoglobin: Jika Hb kurang dari 7 g/dl atau hematokrit kurang dari 20%( anemia berat):berilah sulfas ferrosus 600 mg atau ferous fumarat 120 mg ditambah asam folat 400 mcg per oral sekali sehari selama 6 bulan. Pastikan bahwa kandung kemih telah kosong Antisipasi dini akan kebutuhan darah dan lakukan transfusi sesuai kebutuhan.Evaluasi. Teruskan pemijatan uterus. jika uterus berkontraksi tapi perdarahan uterus berlangsung.Jika terdapat tanda-tanda sisa plasenta (tidak adanya bagian permukaan maternal atau robeknya membran dengan pembuluh darahnya). Jika uterus tidak berkontraksi maka :Bersihkanlah bekuan darah atau selaput ketuban dari vagina & ostium serviks. Sikap bidan · · · · · . Jika perdarahan terus berlangsung: Pastikan plasenta plasenta lahir lengkap.Masase uterus akan menstimulasi kontraksi uterus yang menghentikan perdarahan. keluarkan sisa plasenta tersebut.Lakukan uji pembekuan darah sederhana. Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudah menunjukkan adanya koagulopati.

2. Letakkan kepalan tangan pada fornik anterior tekan dinding anteror uteri sementara telapak tangan lain pada abdomen.penanganan atonia uteri Teknik KBI 1. Periksa vagina & serviks. Jika ada selaput ketuban atau bekuan darah pada kavum uteri mungkin uterus tidak dapat berkontraksi secara penuh. Pakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril. menekan dengan kuat dinding belakang uterus ke arah kepalan tangan dalam. 3. dengan lembut masukkan tangan (dengan cara menyatukan kelima ujung jari) ke intraktus dan ke dalam vagina itu. .

Minta tolong keluarga untuk mulai menyiapkan rujukan. vagina dari serviks apakah terjadi laserasi di bagian tersebut. jika KBl tidak berhasil dalam waktu 5 menit diperlukan tindakan-tindakan lain. Gambar 5-4) kemudian terus kan dengan langkah-langkah 5.kompresi bimanual eksterna (KBE) 4. . akan meningkatkan tekanan darah lebih tinggi dari kondisi normal. Pantau kondisi ibu secara melekat selama kala empat. Jika kontraksi uterus tidak terjadi dalam waktu 5 menit. Jika uterus berkontraksi tapi perdarahan terus berlangsung. - - penatalaksanaan atonia uteri selanjutnya. periksa perineum. ajarkan keluarga untuk melakukan kompresi bimanual eksternal (KBE. Alasan: Atonia uteri seringkali bisa diatasi dengan KBl.2 mg ergometrin IM (jangan berikan ergometrin kepada ibu dengan hipertensi) Alasan : Ergometrin yang diberikan. Segera lakukan si penjahitan jika ditemukan laserasi. teruskan melakukan KBl selama dua menit. Tekan uterus dengan kedua tangan secara kuat. Kompresi uterus ini memberikan tekanan langsung pada pembuluh darah di dalam dinding uterus dan juga merang sang miometrium untuk berkontraksi. 6. Evaluasi keberhasilan: Jika uterus berkontraksi dan perdarahan berkurang. Berikan 0. kemudian perlahan-lahan keluarkan tangan dari dalam vagina.

pasang infus dan berikan 500 ml larutan Ringer Laktat yang mengandung 20 unit oksitosin. c. Ringer Laktat akan membantu mengganti volume cairan yang hiking selama perdarahan. Dampingi ibu ke tempat rujukan. tepat di atas simfisis pubis. 2.7. Letakkan satu tangan pada abdomen di depan uterus. Oksitosin IV akan dengan cepat merangsang kontraksi uterus. b. dan dapat langsung digunakan jika ibu membutuhkan transfusi darah. segera lakukan rujukan Berarti ini bukan atonia uteri sederhana. memungkinkan pemberian cairan IV secara cepat. Letakkan tangan yang lain pada dinding abdomen (dibelakang korpus uteri). Teruskan pemberian cairan IV hingga ibu tiba di fasilitas rujukan: a. Jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu sampai 2 menit. Alasan: Jarum dengan diameter besar. 10. Jika cairan IV tidak cukup. 8. Pakai sarung tangan steril atau disinfeksi tingkat tinggi dan ulangi KBI. Alasan: KBI yang digunakan bersama dengan ergometrin dan oksitosin dapat membantu membuat uterus-berkontraksi 9. Menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18). Kemudian berikan 500 ml/jam hingga tiba di tempat rujukan atau hingga jumlah cairan yang diinfuskan mencapai 1.5 liter. dan kemudian berikan 125 ml/jam. usahakan memegang bagian belakang uterus seluas mungkin. Infus 500 ml yang pertama dan habiskan dalam waktu 10 menit. Teruskan melakukan KBI hingga ibu tiba di tempat rujukan. Ibu membutuhkan perawatan gawat-darurat di fasilitas kesehatan yang dapat melakukan tindakan pembedahan dan transfusi darah. Kompresi bimanual eksterna (KBE) . Kompresi bimanual eksternal 1. infuskan botol kedua berisi 500 ml cairan dengan tetesan lambat dan berikan cairan secara oral untuk asupan cairan tambahan.

intramuscular. (Pusdiknakes. Lakukan gerakan saling merapatkan kedua tangan untuk melakukan kompresi pembuluh darah di dinding uterus dengan cara menekan uterus di antara kedua tangan tersebut. transvaginal. tetapi pada dosis tinggi menyebabkan tetani. jika sirkulasi kolaps bisa diberikan oksitosin 10 IU intramiometrikal (IMM). dapat juga menimbulkan nausea dan vomitus.3. Misoprostol dapat diberikan secara intramiometrikal. Dapat diberikan secara IM 0. intraservikal. Efek samping pemberian oksitosin sangat sedikit ditemukan yaitu nausea dan vomitus.25 mg. Pemberian secara rektal dapat dipakai untuk mengatasi . untuk perdarahan aktif diberikan lewat infus dengan Larutan Ringer laktat 20 IU perliter.25 mg. dapat diulang setiap 5 menit sampai dosis maksimum 1. Uterotonika : Oksitosin : merupakan hormon sintetik yang diproduksi oleh lobus posterior hipofisis. dan rectal. intravenous. Obat ini dikenal dapat menyebabkan vasospasme perifer dan hipertensi. · Lakukan histerektomi jika terjadi perdarahan yang mengancam jiwa setelah ligasi. dapat juga diberikan langsung pada miometrium jika diperlukan (IMM) atau IV bolus 0. yang dapat diulang setiap 15 menit sampai dosis maksimum 2 mg. 3. Prostaglandin (Misoprostol) : merupakan sintetik analog 15 metil prostaglandin F2alfa. Pemberian secara IM atau IMM 0. Pada dosis rendah oksitosin menguatkan kontraksi dan meningkatkan frekwensi.25 mg. Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan hipertensi. Oksitosin dapat diberikan secara IM atau IV. efek samping lain yaitu intoksikasi cairan jarang ditemukan. Metilergonovin maleat : merupakan golongan ergot alkaloid yang dapat menyebabkan tetani uteri setelah 5 menit pemberian IM. Asuhan Persalinan Normal) Jika perdarahan terus berlangsung setelah dilakukan kompresi: · Lakukan ligasi arteri uterina dan ovarika. Obat ini menimbulkan kontraksi uterus yang efeknya meningkat seiring dengan meningkatnya umur kehamilan dan timbulnya reseptor oksitosin.125 mg.

1993. pulmonal. Rustam. Mochamad martoprawiro. bekerja juga pada sistem termoregulasi sentral. Jakarta: EGC. sehingga kadang-kadang menyebabkan muka kemerahan. Jakarta: EGC. Ed. sakit kepala. Sumber: : http://jurnalbidandiah. Uterotonika ini tidak boleh diberikan pada ibu dengan kelainan kardiovaskular. Alih bahasa H. Ilmu kebidanan. Mochtar. Lowdermilk. diare. Sinopsis obstetrik. Fakultas Kedokteran Unversitas Padjajaran Bandung. Prostaglandin ini merupakan uterotonika yang efektif tetapi dapat menimbulkan efek samping prostaglandin seperti: nausea. dan gangguan hepatik. berkeringat. Efek samping serius penggunaannya jarang ditemukan dan sebagian besar dapat hilang sendiri. Bagian Obstetri dan Ginekologi. Peter I. Jakarta: EGC.html#ixzz2QD7f7k3L . Dari beberapa laporan kasus penggunaan prostaglandin efektif untuk mengatasi perdarahan persisten yang disebabkan atonia uteri dengan angka keberhasilan 84%-96%. Alih bahasa TMA Chalik. hipertensi dan bronkospasme yang disebabkan kontraksi otot halus.blogspot. Daftar Pustaka : James R Scott. 1998. 1997. 2. Manuaba. Luz.com/2012/04/artikel-lengkap-atonia-uteri_25. Alih bahasa: Maria A. Gawat darurat ginekologi dan obstetric. Perdarahan pospartum dini sebagian besar disebabkan oleh atonia uteri maka perlu dipertimbangkan pemakaian Uterotonika untuk menghindari perdarahan masif yang terjadi. 2002. Anugerah. dan gelisah yang disebabkan peningkatan basal temperatur.perdarahan pospartum (5 tablet 200 µg = 1 g). Jakarta: EGC. Jensen. Wijayarini. Ida Bagus Gede. Obstetri fisiologi. . Bobak. Danforth buku saku obstetric dan ginekologi. penyakit kandungan dan keluarga berencana. vomitus. et al. 2004 Heller. Buku ajar keperawatan maternitas. 1998. Adji Dharma. hal ini menyebabkan penurunan saturasi oksigen. Jakarta: Widya Medika.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->