“AT THE END OF GLOBALISATION, WE ARE ALL DEAD”

Oleh: Bonnie Setiawan*

A. EKONOMI POLITIK GLOBALISASI Sejak krisis 1997, maka semua orang menyadari betapa terkaitnya masalah-masalah ekonomi dengan masalah-masalah politik. Bagaimana kejatuhan Suharto sangat terkait erat dengan kejatuhan ekonomi Indonesia; dengan pertumbuhan ekonomi bahkan menjadi minus dan utang meroket 2,5 kali lipat hanya dalam 2 tahun. Dan situasi ekonominya tidak juga membaik-baik, terutama karena situasi politiknya yang serba tidak pasti. Secara awam, orang kini mengerti hubungan antara ekonomi dengan politik. Bahkan kini para ekonom ortodoks, mulai menyadari keterbatasan ilmu ekonominya dan mulai memasukkan faktor politik ke dalamnya. Tidak bisa lagi hanya mengutak-atik instrumen ekonomi makro, moneter dan fiskal; tetapi juga harus mengutakatik masalah demokrasi, penegakan HAM atau proses pelembagaan politik. Akan tetapi sesungguhnya pendekatan ekonomi-politik jauh lebih dalam daripada hanya hubungan antara ekonomi dan politik maupun penataan kelembagaan dan isu good-governance dari Bank Dunia. Ekonomi–politik adalah pendekatan yang mengupas/ menganalisis pola hubungan dan pola kepentingan berbagai golongan dan kelas yang terkandung dalam berbagai proses perubahan ekonomi modern, khususnya ekonomi modal (ekonomi kapitalisme). Masalah perubahan dan transformasi sosial dari berbagai kelas dan golongan sepanjang sejarah terkait erat dengan bagaimana berlangsungnya proses pemupukan modal dan akumulasi kekayaan di masyarakat. Hal ini yang semakin lama semakin menciptakan kesenjangan di antara berbagai golongan/kelas di masyarakat, yaitu : kaum kaya dan kaum miskin; kaum tani dan kelompok industrialis; kelompok pekerja dan kelompok majikan; kelas pengusaha dan kelas buruh. Ini adalah analisis ekonomi politik, yaitu keterkaitan mendalam antara hubungan-hubungan sosial-ekonomi dengan kekuasaan (politik). Analisis ekonomi-politik sangat cocok dalam menjelaskan situasi di Indonesia setelah krisis. Dan sebenarnya juga mampu menjelaskan situasi Indonesia sebelum krisis, maupun prediksi Indonesia pasca-krisis. Akan tetapi pendekatan ini bertabrakan dengan ilmu ekonomi ortodoks (economics). Ilmu ekonomi ortodoks bersifat sangat positivis, tidak menjelaskan kepentingan-kepentingan golongan/kelas, mengabaikan hubungan-hubungan sosial-ekonomi, dan hanya bicara secara agregat saja (besaran umum). Karena itu juga bersifat doktriner, yaitu melalui konsep pertumbuhan ekonomi, yang dianggap merupakan resep pokok berjalannya sistem ekonomi. Doktrin ekonomi ortodoks adalah pertumbuhan ekonomi dalam mekanisme pasar bebas. Tidak dipermasalahkan siapa yang tumbuh dan siapa yang dirugikan, karena mekanisme pasar bebas yang akan mengatur dengan sendirinya. Doktrin ini semakin besifat fundamentalis dengan menguatnya Neo-liberalisme. Mereka adalah segolongan ekonom yang sangat percaya bahwa ekonomi pasar harus bersifat sebebas-bebasnya; sebuah free-fight liberalism (liberalisme pertarungan bebas). Liberalisme ekonomi memang akan melahirkan korban-korban dan pemenang-pemenang. Hal itu tidak menjadi soal. Ini adalah kembali ke masa awal pertumbuhan kapitalisme, yang tidak diregulasi dan dibatasi. Dan seperti pada masa
Direktur Eksekutif di Institute for Global Justice (IGJ) di Jakarta (www.globaljust.org, igj@globaljust.org ), sebuah NGO yang melakukan advokasi isu-isu WTO dan Globalisasi.
*

tumbuh pula ekonomi-politik sebagai penentangnya. badan-badan keagamaan. sebagaimana banyak dinyatakan secara retorik oleh Bank Dunia dan IMF. baik pemerintah nasional. tapi juga berlawanan secara mendasar. Pasar adalah mengenai bagaimana menghasilkan profit dan profit. maka lebih baik menyingkirkan demokrasi. Dan PASAR tidak pernah memikirkan mengenai aspek sosial atau agenda penghapusan kemiskinan. Doktrin Neo-Liberalisme adalah kembali kepada prinsip “Laissez-Faire” (kompetisi bebas) yang ekstrim. tetapi nama lain dari kapitalisme. Bahkan kalau demokrasi menghalanginya. kenyataannya hanyalah sikap mengelabui publik (kebohongan publik) secara terang-terangan. PASAR dengan sendirinya berlawanan dengan agenda penghapusan kemiskinan yang hendak dilakukan oleh siapapun. badan-badan PBB. dan volatilitas keuangan yang tidak berkesudahan yang membangkrutkan bangsa-bangsa negara berkembang dan miskin hanya dalam hitungan jam dan hari. organisasi-organisasi charity. sehingga ekonom-ekonom ini justru ikut serta menggerogoti negaranya sendiri. beban utang yang meningkat tajam. B. Upaya penghapusan kemiskinan (poverty alleviation). sekarang berubah nama menjadi kapitalisme global. maka milyaran dollar bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Pasar bebas menjadi hukum universal pengaturan ekonomi. Globalisasi adalah mengenai pembukaan pasar seluas-luasnya di seluruh dunia melalui berbagai instrumen. yaitu kekuasaan badan-badan antar pemerintah yang telah menjadi kepanjangan tangan ekspansi global kapitalisme. Globalisasi adalah pasar yang meng-global. selama globalisasi didefinisikan seperti sekarang ini. Bukti paling jelas adalah liberalisasi sektor keuangan yang diperjuangkan oleh World Bank dan IMF sejak tahun 1980-an. tanpa mengindahkan konteks dan keberagaman situasi ekonomi berbagai negara. sekarang cukup dalam hitungan per-detik. pelarian modal keluar. Pasar bukanlah konsep netral. dan lain-lainnya. Paham ini sekarang juga dipeluk oleh para ekonom mainstream di setiap negara. Mengapa demikian? Karena nyatanya arah dan tujuan globalisasi dengan arah dan tujuan penghapusan kemiskinan telah bertolak belakang. yang menyerahkan sepenuhnya sistem perekonomian kepada kehendak dan mekanisme pasar bebas. dan menjadi corong saja dari kepentingan badan-badan multilateral.itu. sekarang di tahun 1990-an meningkat tajam menjadi 1 trilyun dollar sehari! Kalau dulu transaksi memerlukan waktu berhari-hari. transaksi keuangan dunia hanya sekitar 300 juta dollar sehari. Jadi masa kini juga memperlihatkan bahwa ekonomi neo-liberal akan mendapat tentangan dari pendekatan ekonomi-politik. Terutama perhatian harus tertuju kepada masalah gap (kesenjangan) yang semakin melebar antara negara-negara berkembang dan miskin dengan negara-negara maju maupun dengan transnational corporation (TNC). organisasi-organisasi nonpemerintah. Jadi arti kata global mengandung arti lingkupnya yang kompak. Karena itu para aktivis sosial yang menentang neo-liberalisme. GLOBALISASI NEO-LIBERAL Masalah-masalah dunia sekarang ini mau tidak mau harus dikaitkan dengan isu-isu globalisasi. Upaya penghapusan kemiskinan akan mirip “menabur garam di laut”. yaitu globalisasi versi neo-liberal. Globalisasi seperti ini mengandung dua ciri utama. Kalau dulu sekitar tahun 1980-an. yaitu tiga bersaudara (triumvirat) Bank Dunia- 2 . berkat electronic mail. menggantikan ekonomi nasional dan regional. yang lebih banyak tidak siap atau tidak cocok melakukannya. yaitu : (1) Multilateralisme. terintegrasi dan menyatu. atau kapitalisme global. selayaknya mempelajari kembali ekonomi-politik. Bukan saja bertolak belakang. yang kini menjadi sebab utama krisis ekonomi. karena secara kuantitatif telah membesar secara luar biasa. Kalau dulu bernama kapitalisme internasional.

Jepang. peraturan. Semua kemudahan tersebut dan penghapusan atas berbagai hambatan usaha di suatu negara. khususnya dengan menggunakan crossconditionalities (prasyarat bersilang) kepada negara-negara Dunia Ketiga. penguasaan dan monopoli HAKI sehingga teknologi terus menerus dikuasai mereka. Bank Dunia dan para ekonom neo-liberal. Lembaga-lembaga Bretton Woods semula dimaksudkan untuk menstabilkan perekonomian setelah perang dunia ke-II guna membangun kesejahteraan negara-negara anggotanya. seperti tarif bea masuk yang rendah atau malahan nol persen. IMF dan Bank Dunia. INDONESIA SEBAGAI KORBAN GLOBALISASI Sejak memasuki dasawarsa tahun 1980-an. Multilateralisme juga berarti koherensi atau kerjasama erat di antara Bank Dunia-IMF-WTO dalam operasi-operasinya. Globalisasi melestarikan kompradorisme (kaki tangan dan kepanjangan tangan kapitalisme internasional). dan tindakan pemerintah adalah untuk melayani kepentingan korporasi. Globalisme dan multilateralisme adalah sistem dan mekanisme guna menempatkan TNC pada kedudukan utama. mengintervensi kebijakan domestik. yang selalu menyalahkannya kepada 3 . Semua mekanisme kapitalisme global berujung pada keuntungan di pihak TNC (Trans-National Corporation). yang pada masa itu adalah para konglomerat Orde Baru. Dengan liberalisme itu. Jerman. Setidaknya berbagai kebijakan deregulasi perbankan dan keuangan di awal tahun 1980-an adalah awal dari liberalisme ekonomi dan dominasi paham neo-liberal di antara para ekonom. Akan tetapi semenjak 1980-an bersamaan dengan dominannya paham neo-liberal. (2) Transnasionalisasi. Inggeris. Kita bisa mencatat banyak kejadian kasus globalisasi yang kemudiannya telah menghancurkan dan mengorbankan Indonesia. dikuasai sepenuhnya oleh kepentingan negara-negara maju. Ini yang tidak mau diakui oleh IMF. tetapi sekaligus juga hendak menancapkan kukunya lebih dalam lagi guna menguasai secara total perekonomian nasional suatu negara. Operasi badan-badan ini telah melabrak kedaulatan nasional negara. kemudahan untuk menguasai dan memonopoli berbagai sektor usaha di berbagai negara. Kaum komprador yang terlalu berkuasa secara nasional juga tidak mereka sukai. Sejak itu berbagai kebijakan. khususnya hegemoni AS dan negara-negara G-7 (AS. dan memfasilitasi masuknya TNC untuk menguasai ekonomi suatu negara bersangkutan. multilateralisme telah menempatkan dirinya menjadi supra-negara. akan semakin memperbesar TNC dan membuatnya sebagai penguasa dunia yang sebenarnya. kedaulatan hukum. Dan bersamaan dengan kapitalisme global. Kanada. dan kontrol hukum sepenuhnya. Yang mereka inginkan sekarang adalah dominasi sepenuhnya. keluarga Suharto dan TNC yang digandengnya. kemudahan investasi lewat penanaman modal asing 100%. yaitu menguatnya monopoli dan konsentrasi modal serta kekuasaan ekonomi kepada korporasi-korporasi besar dunia. Pada intinya adalah menghancurkan kedaulatan nasional. dan korban berjuta-juta rakyat Indonesia memasuki masa depan yang gelap. Hal ini semua yang diatur oleh WTO. Perancis. mekanisme pasar sepenuhnya. Akan tetapi perlu diingat bahwa di balik badan-badan ini. seperti kerajaan bisnis Suharto serta kroni-kroni konglomeratnya. maka multilateralisme telah bertukar paham ikut memeluk neo-liberal. Paham dasarnya adalah Keynesian. C. Italia). karena seringkali mampu menghalang-halangi kepentingan kapital global untuk kepentingan mereka sendiri yang mengganggu mekanisme pasar. Krisis yang terus berlanjut hingga kini adalah gambaran bahwa Indonesia merupakan korban terparah globalisasi. Ini memudahkan TNC untuk melakukan eksansi ke berbagai negara dengan mendapat berbagai kemudahan. bahkan yang bersifat barang publik (public goods).IMF-WTO. baik dari segi kedaulatan nasional. mulai nampak kecenderungan ekonomi Indonesia semakin terintegrasi kepada ekonomi global. mereka menjarah berbagai asset dan sumberdaya nasional untuk memenuhi kepentingan keserakahan modal dan kehidupan serba mewah mereka.

Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Besarnya US$ 600 juta yang tahap pertamanya telah dikucurkan sebesar US$ 300 juta pada Januari 2000. di www.imf. bersama-sama dengan Bank Dunia dan ADB sejak bulan Oktober 1997. yang dibayar dari dana APBN. karena hanya menambah beban utang dan bersifat tambal sulam. Merupakan politik etis dari Bank Dunia agar krisis yang terjadi tidak menyebabkan kerusakan yang tidak diinginkan yang bisa merugikan kepentingan Bank Dunia sendiri. Pemerintah dengan ini mempunyai kewajiban untuk membayar angsuran dan bunga obligasi tersebut.2 trilyun) dan untuk keperluan pembangunan hanya 11. jangka waktu dan jaminan tertentu. Sementara bila kita tengok pengeluaran APBN untuk keperluan subsidi masyarakat hanya mencapai 16. Contoh kasus-kasus dampak globalisasi yang bisa kita catat adalah sebagai berikut: 1. sehingga tidak jelas lagi aspek pertanggungjawabannya.53 trilyun (per-29 Januari 2000). Akan tetapi melalui program penjaminan pemerintah. PDM-DKE (Pemberdayaan Daerah dalam Mengatasi Dampak “BLBI: Bantuan atau Bencana”.pemerintah dan negara bersangkutan. BLBI secara jelasnya adalah bantuan dana yang diberikan oleh BI kepada bank-bank yang mengalami kesulitan likuiditas. Tambal sulam kemiskinan lewat utang Program pinjaman dari Bank Dunia dan ADB dengan nama SSNAL (Social Safety Net Adjustment Loan) atau pinjaman untuk Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang dilaksanakan sejak terjadinya krisis. Sejak awal telah ditentang oleh para aktivis. adalah skema program bail-out (penalangan) utang perbankan (swasta dan pemerintah) untuk dialihkan menjadi beban pemerintah lewat penerbitan obligasi. jadi merupakan utang bank-bank penerima kepada BI. kini diganti menjadi bersifat “Bantuan”. akan tetapi kita juga harus menyalahkan sebuah sistem liberalisme ekonomi dan kapitalisme global. Pengurasan tersebut diperkirakan telah mencapai Rp 144. Sementara itu kerugian dan dampaknya terhadap APBN juga luar biasa.3 trilyun). pada akhirnya menjadi pengurasan uang negara yang diduga dilakukan baik oleh bank penerima maupun oleh pejabat-pejabat BI sendiri. Laporan audit investigasi BPK tanggal 31 Juli 2000 mengungkapkan dugaan penyimpangan tersebut. Seharusnya selain kita harus mendukung adanya sebuah pemerintahan yang bersih.78%) dari dana penyaluran BLBI. Untuk membayar hak tagih tersebut. Ini adalah bagian dari program pemulihan krisis ekonomi Indonesia yang dipaksakan oleh IMF lewat LoI. diantaranya OPK (Operasi Pasar Khusus). bad-governance dan lainnya. hak tagih BI dialihkan kepada pemerintah. Skema program JPS ini dibagi ke dalam 12 program.7%) dari dana BLBI. Sementara penyimpangan dari bank penerima dana BLBI berupa berbagai pelanggaran yang mencapai nilai Rp 84. Semula BLBI bernama KLBI yang bersifat “Kredit”.org 1 4 .3% (Rp 33. Baru itu seimbang namanya. maka telah mengorbankan berbagai subsidi yang seharusnya diterima oleh rakyat lewat APBN. Di tahun 2001 diperkirakan angsuran dan bunga obligasi tersebut mencapai Rp 55.7 trilyun. Perampokan besar-besaran Bank Sentral Ini sesungguhnya adalah skandal keuangan Bank Sentral terbesar di dunia. Potensi kerugian negara yang ditimbulkannya adalah Rp 138. artinya sekitar 18.53 trilyun dan juga menerbitkan Surat Utang untuk penyediaan dana dalam rangka program penjaminan senlai Rp 53. Meskipun hakekatnya adalah pinjaman dengan persyaratan suku bunga. pemerintah menerbitkan Surat Utang (Obligasi) senilai Rp 164. LoI dan MEFP 31 Oktober 1997.77 trilyun. yang disarankan oleh IMF. korupsi.9% dari APBN hanya akan dipakai untuk membayar beban utang BLBI. Pernyataan Bersama LSM Tentang Penyelesaian Kasus BLBI.84 trilyun (59.44 trilyun (95. Dengan skandal keuangan BLBI ini.4% (Rp 48. baik dari segi KKN. dilakukan oleh 48 bank penerima.1 2. karena hendak menutupi kepentingan mereka yang sebenarnya.

setelah keluar dari Tanjung Priok dijual Rp 1. Baru kemudian setelah terlihat bahwa program ini dapat menghancurkan kredibilitas Bank Dunia sendiri.3 milyar yang tidak disalurkan ke siswa dan sekolah. terbukti terjadi banyak penyimpangan. 3. dan uang yang tidak bisa dipertanggungjawabkan (6 temuan) sebesar Rp 227. melainkan diserahkan pada mekanisme pasar. Bank Dunia dan pemerintah terus melanjutkan program ini. DBO (Dana Bantuan Operasional). Harga beras impor dari Thailand misalnya. dan terdapat dana untuk Beasiswa dan Dana Bantuan Operasional (DPO) sebesar Rp 12.5 milyar.4 milyar yang diragukan kebenarannya. bila tidak ada langkah-langkah 5 . Sejak itu masuklah secara besar-besaran impor beras dari luar dengan harga lebih murah dari beras hasil petani lokal. IMF menuntut diberlakukannya tariff impor beras sebesar 0%. akhirnya pada Juli 2001 oleh Bank Dunia program ini dibatalkan sama sekali. sehingga sebenarnya Indonesia hanya membutuhkan impor 2 juta ton. Meskipun jelas ada banyak penyimpangan. dan beras dari Australia dijual Rp 1.5 milyar dana OPK dan Rp 500 juta dana PDM-DKE untuk 15 propinsi di Indonesia. Demikian pula. kekurangan penerimaan negara sebesar Rp 75. Padahal produksi beras dalam negeri sekitar 30 juta ton. itupun harus bersaing dengan pedagang swasta. dan PKP (Padat Karya Perkotaan). Selain itu LoI juga mengatur agar BULOG tidak lagi mengurus kestabilan harga pangan dan agar melepaskannya ke mekanisme pasar. Karena jeritan para petani dan kritik yang berdatangan. yang mengatur penghapusan dan pengurangan tarif serta pengurangan subsidi. beras impor yang masuk ke Indonesia mencapai 9. BULOG dan pihak swasta kini berlomba untuk mendatangkan beras dari mancanegara. Sampai tahun anggaran 1999/2000 program JPS telah menghabiskan dana Rp 15 trilyun.8 juta ton. tidak lagi dari dana BLBI yang sangat ringan. Demikian pula BULOG harus mengambil pinjaman dari bank komersial.400/kg. Akan tetapi ternyata hal ini tetap bukan penghalang bagi importir untuk mengimpor beras dari Thailand. Salah satu bukti yang jelas adalah sebesar Rp 8 trilyun dari Rp 17. Dalam kenyataannya.8 trilyun (bandingkan dengan dana BLBI). akhirnya bea masuk impor dinaikkan menjadi 30%. adalah harga padi lokal terus merosot tajam. 6 juta ton diantaranya sudah masuk pasar. ternyata belum dapat mengangkat harga gabah di tingkat petani. dan tetap masih meraih laba sekitar Rp 600. ditemukan bahwa dana JPS bidang pendidikan tahun 1998/1999 dan 1999/2000 terdapat pengeluaran sebesar Rp 5.6 juta. Liberalisasi juga telah diberlakukan dalam hal harga pupuk dan sarana produksi padi lainnya yang tidak lagi disubsidi pemerintah. Juga ditemukan 21 kasus yang merugikan negara sebesar Rp 1.600/kg. itupun semula IMF berkeberatan. sementara kebutuhan nasional diperkirakan mencapai 32 juta ton. Ini juga berlaku bagi jagung. Padahal harga pupuk sudah sekitar Rp 700/kg.9 trilyun dana JPS di tahun anggaran 1998/1999 malah digunakan untuk kampanye otonomi luas Timor Timur dan Kampanye Pemilu 1998. Sementara itu subsidi petani lewat KUT (kredit usaha tani) hanya sebesar Rp 1. HKTI mencatat bahwa hingga akhir Maret 2000. Demikian pula dari hasil audit BPK. Liberalisasi pertanian sebenarnya juga bagian dari ratifikasi Indonesia atas Agreement on Agriculture (AOA) dari WTO. tepung terigu dan gula. sementara harga jual padi hancur.9 juta. Penghancuran ketahanan pangan Lewat LoI Oktober 1997 dan MEFP 11 September 1998. Vietnam dan Australia dengan tetap meraih untung. BULOG dibatasi menjadi sebatas perdagangan beras. Akibatnya yang parah. Beras impor terus saja masuk dengan deras. Dengan demikian kini petani menghadapi harga produksi yang mahal. dugaan penyelewengan dana JPS tahun 1999/2000 hampir sebanyak Rp 4. Inilah awal dimulainya tragedi kehancuran ketahanan pangan Indonesia. di mana sebagian besar penyelewengan (49%) terjadi di tingkat kecamatan. sehingga kini hanya mencapai sekitar Rp 600/kg. kedele.Ekonomi). Meskipun kemudian pemerintah menghentikan impor beras pada Maret 2000.

Pelaksanaan LAP I. sebelum ada proses sertifikasi. di mana ditentukan setiap transaksi tanah atau bangunan senilai di atas Rp 30 juta sejak Januari 1998 akan dikenai pajak 5%. sebagaimana sudah diduga. didanai dari anggaran nasional sebesar US$44. Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap setiap lima tahun. Petani pedesaan mengalami kebangkrutan dan akan menyebabkan kerawanan ekonomi masyarakat pedesaan yang tak terkira. Dampaknya. partisipasi dan kontrol masyarakat. LAP I mempunyai banyak masalah. Bisnis Indonesia. Terakhir LAP II akan kembali dilaksanakan. “Hentikan LAP II dan Tinjau LAP I”. karena sudah adanya pilot proyek sebelumnya yang dijalankan di Sumatera Barat. tanah akan dijadikan obyek penguasaan pemodal besar dan TNC. akan tetapi mereka tetap jalan terus.500.9 juta (32%). Sebuah kasus di Depok. rakyat kembali yang akan dibebankan pembayaran utang.000. Rencananya LAP II akan bernilai sebesar US$ 110 juta. sementara kwitansi dari BPN hanya tertera Rp 11. Sementara itu BPN berkilah mengenai beban hutang. telah menimbulkan banyak masalah.1 juta. Ini adalah suatu proyek ambisius mengenai deregulasi pertanahan dengan istilah “Land Resource and Management Planning” yang akan berlangsung selama 25 tahun (1995-2020) yang hendak merancang suatu desain perubahan manajemen dan administrasi pertanahan yang tujuan akhirnya adalah terciptanya pasar tanah (land market).2 juta (11%) adalah grant dari AusAid. maka akan habislah petani Indonesia dilibas oleh TNC dan importir besar. Penemuan di lapangan oleh KPA (Konsorsium Pembaruan Agraria) memperlihatkan adanya peluang bagi petugas untuk korupsi dan menipu warga. Second and Third Memorandum on Land Administration Project in Indonesia. LAP I juga mempunyai dampak negatif terhadap kaum perempuan. dan akan mulai memasukkan obyek tanah masyarakat adat. yaitu tanah yang diambil secara paksa dari rakyat pada zaman Orde Baru. 2 Oktober 2000. Penciptaan pasar tanah Pemerintah (dan BPN) bersama dengan Bank Dunia dan AusAid sedang menjalankan suatu mega-proyek yang disebut sebagai Land Administration Project (LAP). Juga tidak ada standard biaya registrasi. Oktober 2000 2 6 . diantaranya adalah: proyek tersebut tidak sustainable. Bahkan hasil analisis dari Bank Dunia sendiri berjudul “The Social Assessment of the Land Certification Program: The Indonesia Land Administration Project”. Dengan demikian. Registrasi tanah LAP I yang katanya menggunakan prinsip transparansi. Warga juga tidak mengetahui keberadaan LAP sampai petugas BPN datang mengukur tanah mereka. karena tanah kini dijadikan obyek komoditas (barang dagangan). 18 Maret 2000 3 KPA’s First. Secara keseluruhan. 13 April 2000. Meskipun program ini telah ditentang oleh aktivis. Background Paper INFID untuk Lobby CGI. Masalah “residual claims” ini seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. 11 September 1998.protektif dengan segera. Menurutnya pembayaran utang akibat program LAP ini akan diambil dari pemasukan UU PHTB (Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan). Selain itu di Jawa ada jutaan hektar tanah yang merupakan “residual claims”.3 5. Penguasaan air minum MEFP. LAP I (1995-2000) menelan biaya sebesar US$ 140. dengan legalitas yang dijamin. pinjaman dari Bank Dunia US$ 80 juta (57%) dan sisanya US$ 15. Suara Pembaruan. LAP akan meliberalisasi pertanahan di Indonesia. karena 62% dari Tim Ajudikasi Tanah telah bubar sesudah proyek selesai. ternyata tidak terjadi. karena nama-nama perempuan tidak dimasukkan di dalam sertifikat tanah.2 4. yaitu US$ 20 juta dari pemerintah Indonesia dan US$ 90 juta dari pinjaman Bank Dunia. warga dikenakan biaya Rp 50. Dengan liberalisasi pertanian ini.

1 tahun 1961 yang melarang swastanisasi bisnis air minum.4 trilyun untuk pengembangan Jakarta. Padahal privatisasi ini jelas-jelas melanggar Konstitusi UUD 45 pasal 33 dan UU No. Hasilnya. Lyonnaise des Eaux (LDE). Perannya adalah merealisasikan berbagai proyek investasi dan infrastruktur berskala besar di negara-negara berkembang. yaitu 2. karena di negara asalnya tidak dapat dikontrol parlemen. dan tidak membuka informasi 4 TEMPO.6 milyar. dan Palyja Rp 2. justru 20 aktivisnya ditahan dan terus-menerus ditekan. yang merupakan badan milik pemerintah di negara-negara maju. Dua perusahaan asing tersebut kemudian berganti nama menjadi PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) dan PT Thames PAM Jaya (TPJ). Serikat Pekerja PAM yang juga telah berjuang untuk menentang proses ini. sementara Thames dan Lyonnaise sebagai pemilik saham mayoritas yaitu 90%. Liberalisasi air didorong pula oleh Bank Dunia. Meskipun merupakan proyek antar swasta. akhirnya diambil alih oleh Pemda Jakarta lewat instruksi Gubernur Sutiyoso No. Sampai Oktober 2000. Dengan itu. Bank Dunia merekomendasikan agar Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya – milik Pemda DKI – diswastakan. Padahal harga jual air PAM Jaya ke konsumen jauh di bawah itu. Bayangkan saja captive market (pasar yang sudah pasti) dari PAM Jaya. Pemerintah diwajibkan untuk menjamin keamanan politik dan membayar kembali investasi yang sudah dikeluarkan apabila proyek gagal akibat situasi politik. Dalam laporannya tentang kerangka kebijakan untuk sektor air di perkotaan (Urban Water Supply Sector Policy Framework). Nampaknya proses privatisasi ini akan menjadi contoh bagi privatisasi air minum berikutnya di daerah-daerah lain.130 per-meter kubik.400 per-meter kubik. 27 November-3 Desember 2000 7 . yakni Rp 2. dan oleh PT Garuda Dipta Semesta milik Anthony Salim yang menggandeng perusahaan air dari Perancis. Akan tetapi PAM kini tidak bisa berbuat apa-apa. defisit yang harus ditanggung pemerintah adalah sebesar Rp 86.4 6.Air minum telah dijadikan incaran banyak TNC dunia. Badan ini memberikan asuransi risiko politik apabila ada “jaminan balik” (counter guarantee) dari pemerintah Indonesia. maka risiko hutang swasta bisa menjadi hutang pemerintah. 131 tanggal 22 Mei 1998. PT TPJ menetapkan harga Rp 2. karena sudah terikat kontrak selama 25 tahun. nampaknya TNC dan pemerintah jalan terus. Hasilnya tanggal 12 Juni 1994. Jadi alhasil sebenarnya pemerintah mensubsidi rakyat atau mensubsidi TNC? Dan siapa yang membayar semua itu? Sampai kini pun layanan dan harga air tetap tidak memuaskan. Pemda DKI mengambil alih dengan saham 10 persen. Proses privatisasi ini melalui proses KKN. Sektor Air disebut juga sebagai “emas biru” (blue gold). di mana akhirnya dikuasai oleh PT Kekarpola Airindo milik Sigit Harjojudanto dan Bambang Trihatmojo yang menggandeng perusahaan air Inggeris. Thames Water International (TWI). Bank Dunia lalu memberikan pinjaman sebesar Rp 2.900 pe-meter kubik. kekurangan tersebut harus ditutupi oleh perusahaan daerah ini. sehingga bisa langsung menangguk keuntungan. Cara kerja ECA ini mirip mafia. termasuk di dalamnya untuk pembiayaan pengelolaan air minum. tanpa perlu membangun jaringan infrastruktur dan pelanggan.4 milyar dengan beban utang Rp 394. Meskipun sudah berjuang lebih dari dua tahun. Akan tetapi dalam penetapan harga air untuk semester I tahun 1999.3 juta pelanggan. Mafia Utang lewat Kredit Ekspor Fasilitas kredit ekspor disediakan oleh ECA (Export Credit Agencies and Investment Insurance Agencies). merupakan sektor yang strategis sekaligus bisnis besar. Setelah Suharto turun tahta. tidak transparan. Tujuannya untuk meringankan beban utang pemerintah. dikeluarkan instruksi presiden (Suharto) untuk mengalihkan pengelolaan usaha air minum di Jakarta dan sekitarnya kepada swasta (privatisasi). tetapi dua perusahaan asing tersebut semakin dikukuhkan sebagai pengelola. Mereka juga mendapatkan hak eksklusif untuk mengelola seluruh asset PAM Jaya selama 25 tahun. tetapi karena dijamin oleh pemerintah.

yang memberikan hak istimewa bagi individu atau perusahaan atas karya ciptanya. maka berbagai barang temuan dapat dikuasai siapa saja yang mendaftarkannya terlebih dahulu. 2 paten oleh Gyorgy mengenai minyak ECA NEWS. Pada masa Suharto. edisi I. Ini disebut sebagai bio-piracy (pembajakan hayati). JBIC (Japan Bank for International Cooperation) kini adalah ECA terbesar di dunia. PT Indah Kiat Pulp and Paper di Sumatera Selatan. Dengan TRIPs ini maka akan terjadi bahaya besar lewat pematenan atas kekayaan intelektual milik publik /komunitas. semua mega-proyek ini bermasalah karena mark-up proyek dan korupsi besar-besaran. kemukus. Sementara di Indonesia. kroni dan anak-anak Suharto. proyek PLTGU Paiton I di Jawa Timur. dan PT Riau Andalan Permai di Riau. Tambang Batu Hijau. “Export Credit Agency Finance in Indonesia”. April 2000 5 8 . Hal ini telah terjadi dengan rempah-rempah Indonesia. Diantaranya adalah berbagai pabrik pulp and paper.kepada publik mengenai proyek-proyeknya. makanan tradisional Jawa. dari tahun 1992-1996. Indonesia telah membuat 5 UU HAKI sebagaimana di atas. dan dapat diterapkan dalam industri (produksi massal). Ini adalah kepentingan TNC bioteknologi yang telah memantenkan berbagai benih dan tanaman hasil rekayasa genetik. telah diratifikasi oleh pemerintah. Jakarta. karena merusak lingkungan. pelantas. Syaratnya adalah merupakan temuan baru. ECA juga aman bagi TNC. tambang tembaga dan emas PT Newmont Nusa Tenggara di Sumbawa. Di Indonesia proyek-proyek yang dibiayainya sebanyak 33 buah. yang juga mengelola proyek-proyek pinjaman bilateral pemerintah Jepang. Semen Indo-Kodeco. serta teknologi dan transport militer. yang biasanya merupakan mega-proyek milik konglomerat. ECA kini cenderung semakin menggantikan mekanisme ODA (Overseas Development Assistance). teknologi satelit. mengandung langkah inovatif.Tiga besar ECA yang aktif di Indonesia adalah Bank Exim Jepang (JEXIM. Ini adalah perjanjian HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) terkait perdagangan. JBIC mendanai 10 proyek besar di Indonesia. serta berbagai proyek semen. di mana 13 buah paten adalah milik AS. Januari 2000. telah mematenkan kosmetiknya yang berasal dari berbagai bahan rempah di Indonesia. karena besarnya kepentingan TNC-TNC di negara maju untuk mengerjakan berbagai mega-proyek infrastruktur lewat pembiayaan bilateral maupun multilateral. menggusur rakyat dan menambah beban hutang. juga telah dipatenkan. Bank Exim AS.5 7. yaitu PLTGU Paiton. Tanjung Enim Lestari pulp and paper. karena harus bersesuaian dengan TRIPs. Penjarahan kekayaan intelektual masyarakat/komunitas Perjanjian TRIPs (Trade Related Aspect of Intellectual Property Rights). yaitu: 8 paten dimiliki oleh Z-L Limited Partnership. Rahasia Dagang. dalam bentuk Paten. hutang dari ECA sebanyak US$ 28. dan Hak Cipta. Artinya rakyat juga yang harus membayar hutangnya. yaitu mikro-organisme dan jasad renik juga dapat dipatenkan. Dengan UU Paten. LNG Pertamina. Stephanie Fried dan Titi Soentoro. Paten atas makhluk hidup. adalah proyek-proyek berbiaya tinggi yang penuh dengan KKN. dan Indikasi Geografis.2 milyar. brotowali. karena akan digaransi oleh pemerintah. dan Hermes dari Jerman. sekarang merger dengan OECF menjadi JBIC). listrik Tambak Lorok. dengan sekedar merubah proses dan produknya. proyek listrik Jawa dan Jawa Barat. atau 24% dari stok hutang Indonesia. Merk. Dalam kenyataannya. Sementara itu Tempe. penyulingan minyak Pertamina. seperti kayu rapet. Tercatat ada 19 paten tentang tempe. dan bunga cangkok. serta membawa bencana. kayu legi. juga untuk Sirkuit Terpadu. mega proyek yang didanainya. Shiseido. yaitu PT Tanjung Enim Lestari. Perusahaan kosmetik besar Jepang. Indocement. dan tambang INCO. salah satu perjanjian di dalam WTO. HAKI komunitas dapat saja dirampok oleh perusahaan-perusahaan asing maupun para peneliti/individu. pulowaras. cabe jawa. lempuyang. diluwih.

sehingga posisi negara-negara miskin tersebut ada di bawah (disubordinasi). GLOBALISASI UTANG Mekanisme globalisasi yang juga merupakan bentuk kolonialisme baru adalah utang. sehingga mereka harus mencari peminjam di luar negeri mereka. Petani akan semakin tergantung kepada benih-benih milik TNC. 1 paten mengenai antioksidan. Dalam kasus lain. Suwarti tidak bisa berbuat apa-apa. berbagai kekayaan budaya itu tidak mungkin dipatenkan.tempe. dan 1 paten oleh Yueh mengenai pembuatan makanan ringan dengan campuran tempe. temuan Nishi dan Inoue (Riken Vitamin Co. Justru kemudian Suwarti yang dituntut oleh pengusaha tersebut. karena berarti terbuka luas order untuk perusahaan-perusahaan di negara maju. Demikian pula kasus pematenan disain kerajinan perak hasil kerja Suwarti di Bali. Apalagi dana pensiun dan dana-dana yang parkir dari orang-orang kaya negara berkembang tidak bisa diserap oleh mereka. dan 1 paten mengenai kosmetik menggunakan bahan tempe yang diisolasi. disebut Tempeh. Di lain pihak. Utang telah memainkan peran yang luar biasa dalam menjaga suatu negara tunduk pada orbit kapitalisme Barat. tepung terigu. karena tingkat pengembaliannya lebih pasti ketimbang utang komersial. Begitu pula dengan konsultan-konsultannya. Dan makin lama jangka waktu peminjamannya. juga menyesatkan. tepung beras. harus dari 9 . Negara pasti membayar. karena pasar domestik mereka stagnan. atau kebijakan apa yang baik dan apa yang buruk bagi mereka. barang-barangnya juga sama. kenyataannya nilai politisnya jauh lebih besar. karena berarti pokok dan bunganya akan berlipat-lipat dalam jangka waktu lama. bahkan di Jepang pernah bunga utang bank komersial sampai minus. Pertanian lama-kelamaan akan menjadi lahan bisnis dan monopoli (paten) teknologi oleh TNC-TNC. Utang merupakan alat ampuh hegemoni negara Barat atas klien-kliennya. Utang juga menguntungkan. Kebalikannya. Ini adalah kasus nyata pembajakan HAKI komunitas Indonesia oleh pemodal besar. mereka sebenarnya diuntungkan. ketika dia masuk ke pasar Amerika. merupakan dasar dari strategi pembangunanisme yang salah kaprah. Ltd) diberikan pada 10 Juli 1986. karena biaya peradilan HAKI sangat mahal untuk pengrajin seperti dirinya. oleh pengusaha asal AS. Jadi dengan memberikan utang kepada negara-negara berkembang. dekstrin. akan mengancam keberlangsungan benih tradisional dan kelestarian tanaman. Utang juga menghidupkan perekonomian mereka sendiri. Sedangkan 6 buah milik Jepang adalah 4 paten mengenai pembuatan tempe. Tempe tersebut terbuat dari limbah susu kedelai dicampur tepung kedele. Mereka memang harus mencari pasar di luar. berkisar antara 2-5%. Semenjak 1950-an. Na-kaseinat dan putih telur. paten atas benih dan tanaman transgenik oleh TNC. tepung jagung. harus dibeli dari negeri si pemberi utang. sudah disadari bahwa utang merupakan instrumen bagi pendiktean kepentingan negara-negara Barat kepada negara kiskin peminjamnya. Utang adalah bisnis yang stabil. sebagaimana yang terjadi dengan kasus Monsanto yang menanam kapas Bt di Sulawesi Selatan. Kecenderungan ini akan semakin meningkat. Paten lain untuk Jepang. Utang adalah in-natura (barang) dan mengikat (tied-aid) dalam arti penggunaannya harus sesuai dengan kepentingan si pemberi pinjaman. Dalih bahwa bunga utang dari Bank Dunia dan IMF sangat ringan. karena merupakan milik publik. Jadi nilai dominasi negara maju untuk mendikte apa yang boleh dan apa yang tidak. D. Ini berarti supplier-nya harus dari negara pemberi utang. 2 paten oleh Pfaff mengenai alat inkubator dan cara membuat bahan makanan. maka semakin menguntungkan. utang merupakan bagian utama dari kolonialisme baru. Meskipun dalihnya adalah bunga lunak yang meringankan. Padahal bagi orang Indonesia. Saat ini bunga utang komersial di tingkat domestik negara-negara Barat juga kecil. karena dijamin negara. Ini karena utang tidak berbentuk tunai dan juga tidak bebas digunakan. TNC tersebut akan masuk langsung untuk menanamnya di negara bersangkutan. Utang pada dasarnya bukanlah sebuah kedermawanan atau bantuan negara maju kepada negara berkembang.

dan juga kepanjangan bagi kolonialisme baru. Ini sama dengan penggunaan pinjaman dari ADB untuk Indonesia sebesar US$ 1. yang bukan pendapatan. Jadi Indonesia sudah pasti nanti suatu waktu akan bangkrut karena tidak mampu bayar utang dalam negerinya sendiri. di mana nilai sebenarnya kita tidak tahu. memaksakan adanya BPPN. Adalah naif pernyataan yang menyatakan bahwa seluruh pinjaman akan masuk menjadi penerimaan dalam APBN dan akan dikonversikan ke Rupiah sehingga Rupiah membanjir. Sebagaimana diketahui ada tiga komponen pokok dalam pinjaman CGI. Contohnya adalah mengenai dana pinjaman yang diorganisir IMF sebesar US$ 43 milyar. di mana sebesar US$ 1. yang akhirnya berbuah pada utang domestik Indonesia yang menggelembung hingga mencapai Rp 600 trilyun sekarang ini. dan hanya dipakai sebagai “pancingan” atau gula-gula pemikat untuk proyek utang yang lebih besar. technical assistance dan pinjaman untuk memperkuat cadangan devisa. yaitu volatilitas pasar uang. Inilah inti dari krisis ekonomi sekarang. Bisnis mereka tidak terganggu. Technical assistance adalah nilai jasa-jasa asing. menurut scenario yang telah diteliti BPPN. seperti dengan obligasi rekap hasil dari BLBI kepada para konglomerat Indonesia. memaksakan BLBI. Grant juga dipakai untuk memastikan bahwa si penghutang betul-betul akan membayar utangnya. Pokoknya piutang mereka selamat. meskipun tahu bahwa setiap tahun uang pinjaman tersebut bocor. disebutkan sebagian besar akan digunakan untuk membiayai defisit perkiraan berjalan dalam neraca pembayaran. sampai Korea dan Thailand. karena mereka terus saja mengucurkan utang. yaitu IMF. menurut Sritua Arief. Jadi utang ini kembali dinikmati oleh pihak asing dan bebannya ditanggung rakyat Indonesia. Jadi pada dasarnya korupsi direstui. sebagian besar akan digunakan untuk membiayai kepentingan asing dalam impor. Kebijakan bail-out ini adalah resep generic yang dipaksakan IMF dimana-mana. Pinjaman program terdiri dari nilai barang-barang keperluan proyek yang diimpor dari negara kreditor. lembaga-lembaga keuangan internasional dan negara-negara kreditor. yang penting “business must go on”. dan jasa-jasa asing lainnya. Sedangkan ini berarti beban dialihkan ke rakyat. Utang jangka pendek tiba-tiba membengkak sehingga tidak mampu dibayar. adalah Indonesia kembali di bawah kekuasaan asing! Contoh lain adalah program bail-out (penalangan) utang swasta yang diambil-alih oleh pemerintah. yang kesemuanya untuk melayani dipastikannya membayar utang saja. katanya.mereka juga. Dan 10 . IMF memaksakan 0bligasi rekap. Hal ini didiamkan saja oleh otoritas keuangan dunia. Pada tahun 2038. mereka tidak mau tahu. Ini artinya. repatriasi keuntungan investasi asing. karena kurs uang mudah digoyang dan dijadikan ajang spekulasi mengeruk keuntungan. tidak lagi untuk pembangunan. bukan untuk menciptakan kesejahteraan. tetapi utang. mulai dari Mexico dan Argentina. Utang juga tutup mata mengenai korupsi. Utang membengkak karena anarkisme pasar. Bayangkan dahsyatnya utang ini. Untuk apa? Untuk membayar utang ke kreditor. yaitu para perbankan asing. “Sungguh ketololan luar biasa jikalau pemerintah Indonesia mengucapkan ‘matur nuwun’ atau ‘hatur nuhun’ kepada IMF”. Jadi utang pada dasarnya memberi penghidupan kepada mereka sendiri. tetapi problem likuiditas (keuangan). Yang disebut sebagai bantuan atau grant jumlahnya sangat kecil. Utang dengan demikian adalah sebuah bisnis kotor. Arti ini semua. yaitu para konsultan asing yang bergentayangan di Indonesia dan pembayaran atas jasa-jasa para birokrat asing yang mengelola pinjaman.4 milyar harus digunakan untuk impor. Demikian pula keadaan yang sama berlaku untuk pinjaman CGI. bunga hutang luar negeri.5 milyar. Tetapi siapa yang bertanggungjawab? Tidak lain adalah IMF. Semua hal dilakukan untuk bayar utang luar negeri dan dalam negeri. yaitu pinjaman program. Kata Sritua. maka utang Indonesia akan membengkak menjadi Rp 13. Sedangkan pinjaman untuk memperkuat cadangan devisa masuk menjadi cadangan pinjaman (borrowed reserve) di Bank Indonesia dan terbenam di sana. Mengapa? Karena IMF-lah yang memaksakan diadakannya kebijakan bail-out tersebut.000 trilyun! Ini angka fantastis luar biasa. Sungguh ironis! Privatisasi dilakukan agar mampu membayar utang. Bukan problem insolvency (ketidakmampuan membayar). dengan korban perekonomian kecil-kecil di negara berkembang. bahkan dijaga ketat agar para pemodal tetap bisa mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

Privatisasi adalah paradigma korporatis. serta skema BOT (Build-Operate-Transfer). mencari keuntungan. Dalam prakteknya. Pada periode yang sama pula terjadi kenaikan jumlah negara yang menjalankan privatisasi. Dalam periode antara tahun1988-1995 penerimaan pemerintah negara berkembang dari penjualan perusahaanperusahaan negara berjumlah US$ 132 milyar. E. adalah privatisasi mendorong perusahaan-perusahan tersebut untuk merampingkan strukturnya melalui pengurangan staf dan pekerja secara tajam. Di tahun 1980-an dimulai penerbitan beberapa UU. 11 . kontrak manajemen. dan sejak itu dijalankan oleh berbagai negara berkembang. Hal lainnya yang terkait. privatisasi adalah penjualan asset-asset pemerintah secara murah kepada pihak swasta. GLOBALISASI PRIVATISASI Bentuk nyata Globalisasi adalah privatisasi. dan setelah itu kita akan menggadaikan negeri ini pada ekonomi asing. khususnya setelah Bank Dunia menjalankan program penyesuaian sruktural (structural adjustment) dan setelah IMF menjalankan program poverty reduction and growth facility (PRGF) di tahun 1980-an. yang berasal dari pengalihan kontrol atas 3. jalan raya dan lain-lain.800 perusahaan dari tangan pemerintah kepada swasta. berorientasi ke pasar. dan masih saja mau ikut dengan skema IMF itu. perjanjian penyewaan usaha. yang disebut neo-liberal: yaitu tuntutan akan efisiensi dan efektivitas pemerintahan yang saat ini dianggap berada di bawah standard dan mengalami tekanan anggaran. seperti baja dan kimia. IMF secara instrumental menerapkannya melalui Letter of Intent. Privatisasi baru berkembang pesat dalam 15 tahun terakhir ini. yaitu dengan alasan bagi pengikutsertaan pihak swasta di berbagai bidang usaha dalam pengembangan infrastruktur untuk kepentingan umum. Bagi Indonesia privatisasi sudah dijalankan sejak jaman Suharto. perjanjian lisensi. Di Amerika Latin. privatisasi sektor infrastruktur didominasi oleh perusahaan penyedia jasa telekomunikasi. Akan tetapi kini arti privatisasi lebih luas dari sekedar penjualan asset publik lewat lelang publik atau penjualan langsung. masih setia pada tuannya dan tetap menganggap harus terus dengan tuannya itu karena merasa hidupnya bisa selamat. dengan nilai penjualan mencapai US$ 185 milyar pada tahun 1990. Dari sinilah privatisasi dijadikan sebagai pilihan strategi global. pelepasan kontrol pemerintah banyak terjadi di sektor industri manufaktur.pemerintah kita tetap seperti budak hamba sahaya. peralatan atau asset. dan meminimalkan peran negara dalam perekonomian. Dalam kenyataannya privatisasi tersebut dimaksud untuk memfasilitasi penguasaan ekonomi kepada para Konglomerat kroni-kroni Suharto dan kepada perusahaanperusahaan milik Cendana (keluarga Suharto). transportasi dan pengairan. Laporan Bank Dunia menyebutkan bahwa pada awal 1990-an saja sudah ada 80 negara yang disebut “launched ambitious efforts to privatise their state owned companies”. Kedua lembaga ini menekankan kepada liberalisasi perdagangan. karena tidak mampu membayar. Privatisasi atau swastanisasi secara umum berarti pengalihan BUMN kepada perusahaan swasta. bila tidak lama lagi Indonesia akan default. seperti air. Jangan heran. akan bangkrut. listrik. seperti pemberian sub-kontrak dan konsesi dari jasa pemerintah. Privatisasi dalam kenyataannya bukan sekedar mengatasi masalah fiskal. penjanjian usaha patungan (joint-venture). persis sama seperti Mexico atau Argentina. energi. tetapi adalah komponen utama dari sebuah paradigma governance baru. yang sudah babak belur. Sedangkan di Asia Tengah dan Eropa Timur. bahkan asset yang termasuk hajat hidup publik. sementara Bank Dunia menyediakan pinjaman khusus untuk proyek-proyek privatisasi lewat asistensi teknis dan finansial. dan memperbaiki kemampuan pemerintah dalam membayar utang-utangnya. pengurangan defisit anggaran. khususnya yang menderita ketidakseimbangan ekonomi makro dan terlilit hutang. yaitu termasuk juga berbagai cara lain.000 trilyun itu didiamkan saja. Kezaliman luar biasa bila skenario utang Rp 13. dari 14 negara menjadi 60 negara.

Akibat krisis ekonomi 1997 yang terus berlanjut. Dalam hal sektor listrik. Kini berdasarkan conditionalities yang diterapkan oleh Bank Dunia. 5 disebutkan bahwa “… the 49 percent limit on foreign holdings of listed shares was abolished”.” Sementara poin no. Cemex dengan Semen Gresik. Bank Dunia dan ADB tersebut pada akhirnya melahirkan Keppres No. Privatisasi di sini diartikan sebagai proses swastanisasi BUMN. 72 tahun 1998 tentang Tim Evaluasi Privatisasi BUMN dengan mencabut Keppres No. maka Indonesia sudah terjebak hutang dan mengalami krisis utang. Privatisasi BUMN masuk di dalam persyaratan pinjaman yang dituntut oleh IMF untuk memulihkan perekonomian Indonesia sebagaimana dituangkan dalam Letter of Intent. without direct government involvement”. UU No. Dari daftar itu. 12 . seperti dalam kasus Paiton dengan PLN. Akan tetapi hasil kerja Tim Evaluasi tersebut tidak pernah terdengar. 96 tahun 2000 ini adalah dasar dari dijalankannya privatisasi BUMN di Indonesia saat ini. 20 tahun 1994 tentang Pemilikan Saham dalam Perusahaan yang Didirikan Dalam Rangka PMA. A working group of senior government and PLN officials is defining the framework of principles within which PLN conducts the renegotiations of contracts with independent power producers (IPPs) and to ensure that fair. The aim of this program is to improve their efficiency and subsequently privatise them…The state banks will not be recapitalised except in conjunction with privatisation. the government will introduce legislation by the end-June 1998 to amend the Banking law in order to remove the limit on private ownership”. Bidang-bidang lain sudah terbuka untuk dikuasai badan asing. Keppres no. yaitu: UU No. terkuak banyaknya praktek KKN dalam privatisasi tersebut. LoI IMF tanggal 14 Mei 1999 butir 37 disebutkan: “the government is overseeing PLN’s restructuring effort. Ternyata privatisasi tersebut menyebabkan banyak kasus sengketa/ perselisihan antara pihak pemerintah atau Serikat Pekerja di BUMN dengan pihak asing. 15 tahun 1992 tentang Penerbangan. di mana pemilikan sahamnya sebagian besar dikuasai oleh swasta atau pengelolaan operasionalnya dilakukan dengan cara kerjasama antara pemerintah dengan investor swasta. the government has also taken steps to resolve the problems of the state banks and ensure their safety and soundness. well-structured. UU No. 26 disebutkan: “With technical assistance from the World Bank. However.PP dan Keppres. Palyja dan Thames Jaya dengan PDAM. dan (b) kepemilikan saham warga negara / Badan Hukum Asing maksimal sebesar 45%. 13 tahun 1992 tentang Perkeretaapian. maka pemerintah diminta untuk menjual 144 BUMN-nya. dan UU No. Selanjutnya peran swasta asing didorong lebih lanjut lewat PP No. hanya tinggal dua bidang usaha yang masih terlindungi dalam arti saham asing dibatasi maksimal 45%. 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. UU No. di mana dibagi ke dalam dua kelompok: (a) kepemilikan saham warga negara / Badan Hukum Asing maksimal sebesar 95%. all negotiations with the IPPs are being conducted by PLN on a commercial basis. Menyangkut privatisasi perbankan. Dalam LoI IMF tanggal 15 Januari 1998 butir no. Demikian pula sejak adanya reformasi. 15 tahun 1985 tentang ketenagalistrikan. Dalam Keppres tersebut ditetapkan daftar bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan patungan antara modal asing dan modal dalam negeri. dan Grosbeak dengan JICT. Tuntutan dari IMF. meskipun itu menyangkut bidang yang menguasai hajat hidup orang banyak sekalipun. Dengan berbagai peraturan yang memudahkan privatisasi tersebut. UU No. Intinya peraturanperaturan tersebut memungkinkan perusahaan-perusahaan swasta ikut serta dalam penyelenggaraan jasa di berbagai bidang usaha. 27 dituntut: “In support of the ultimate goal of full privatisation of all state banks. 96 tahun 2000. and transparent procedures are followed. maka sejak itu berbagai BUMN strategis mulai dikuasai perusahaan asing. ADB dan IMF. 3 tahun 1989 tentang Telekomunikasi. Oleh karenanya di tahun 1998 dikeluarkan Keppres No. 15 tahun 1987 tentang Jalan Tol. dalam butir no. Keppres No. 21 tahun 1992 tentang Pelayaran. yaitu bidang usaha telekomunikasi dan angkutan udara niaga berjadwal/tidak berjadwal. 55 tahun 1996 tentang Tim Privatisasi BUMN.

(5) penerbangan. 1994. Perdagangan yang diatur oleh WTO sejak berdirinya. (4) pelayaran. transmisi dan distribusi tenaga listrik untuk umum. disiplin. Di lain pihak. yaitu “Pemerintah berupaya melaksanakan program privatisasi yang telah disusun dengan persetujuan DPR. (3) telekomunikasi. progresif dan total. yaitu Government Procurement (Belanja Pemerintah). perdagangan yang diatur oleh GATT (General Agreement on Trade and Tariffs) dengan yang sekarang diatur oleh WTO (World Trade Organization) mengalami perubahan luar biasa. (10) dan bidang-bidang yang meduduki peranan penting dalam pertahanan negara antara lain produksi senjata.5 trilyun. (9) media massa. Dengan melebarnya lingkup kerja WTO. Ini dapat dilihat dari adanya TRIPs (Trade Related Aspect of Intellectual Property’s Rights). industri. transportasi. (7) kereta api umum. ditambah dengan kekuatan legal binding dari agreements yang dihasilkannya. mesiu. Hal ini nampak dari ketidakpuasan para delegasi negara berkembang di dalam Konferensi WTO III di Seattle tahun 1999 dan Konferensi WTO IV di Doha. terus menerus coba dipaksakan oleh negara maju. AOA (Agreement on Agriculture) maupun New Issues yang sejak Konferensi WTO I di Singapura. Ini membuat ekonomi negara berkembang harus menyerahkan sepenuhnya kegiatan ekonominya kepada mekanisme pasar bebas dan liberalisme ekonomi. membuat WTO menjadi lembaga dunia yang sangat berkuasa. baik itu yang berasal dari kalangan status-quo yang merasa terancam posisinya. dengan target-target sebagaimana yang dikehendaki di dalam LoI IMF tanggal 27 Agustus 2001 pada butir 6. Program privatisasi tahun 2001 telah dipublikasikan 6 Agustus 2001 dan diharapkan menghasilkan Rp 6. GLOBALISASI PERDAGANGAN Isu-isu perdagangan global akhir-akhir ini semakin menonjol. merambah ke bidang-bidang non-perdagangan. Ini tidak lepas dari adanya tentangan di masyarakat. Investasi. Para anggota WTO kini harus tunduk sepenuhnya pada agreements tersebut yang intinya membuat mereka harus meliberalisasikan perekonomiannya secara terjadual. (8) pembangkit tenaga atom. Qatar tahun 2001 yang lalu. dan pertanian”. pemerintahan Megawati kembali membentuk Kementerian Pendayagunaan BUMN. F. mengikat. Menurut pasal 6 UU PMA tersebut adalah sebagai berikut: (1) pelabuhan-pelabuhan. alat-alat peledak dan peralatan perang dilarang sama sekali bagi modal asing. kalangan masyarakat daerah yang merasa asset BUMN-nya bisa hilang. Competition Policy (Kebijakan Persaingan). kalangan pekerja yang terancam dengan PHK. kalangan ornop yang selalu menyuarakan penentangannya terhadap ide privatisasi dan berbagai kalangan lain di masyarakat. terutama setelah Konferensi WTO keIII di Seattle tahun 1999. Lingkungan Hidup dan Perburuhan. Tidak ada lagi kebebasan dan kemandirian untuk merancang dan menyusun sendiri model perekonomiannya yang cocok dengan situasi dan kondisi negaranya masing-masing. Ini merupakan kekuatan beragam di masyarakat yang tidak menghendaki adanya privatisasi. (6) air minum.Peraturan terakhir ini dengan sendirinya telah menabrak UUD 1945 pasal 33 yang dalam penjelasannya menyebutkan: “Hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh ada di tangan orang-seorang”. 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) tetap jelas dinyatakan bidang-bidang usaha yang tertutup untuk penanaman modal asing secara penguasaan penuh. Ini akan memposisikan mereka dalam keadaan kalah dan lemah dalam menghadapi perekonomian negara maju. Kenyataannya. 13 . (2) produksi. Dalam perkembangannya. Nyatanya program privatisasi tahun 2001 kembali nihil. yaitu bidang-bidang yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak. Pemerintah akan memusatkan privatisasi pada perusahaan di bidang telekomunikasi. berbagai implementasi agreements tersebut kenyataannya lebih banyak merugikan negara berkembang dan sementara itu sangat sulit untuk diterapkan. TRIMS (Trade Related Investment Measures). Demikian pula dalam UU no.

6 7 Data dari The Uruguay Round Agreement on Agriculture: The Policy Concerns of Emerging and Transition Economies. Contohnya subsidi ke produsen pertanian di negara-negara OECD berkisar 40% dari pendapatan pertanian tahun 1999. Trade and Development Report 1999. June 2001.6 Sampai sekarang negara-negara maju tetap saja menikmati subsidi secara terbuka. Ini dapat ditunjukkan dari adanya Special and Differential Treatment (S&D) yang seolah-olah merupakan keuntungan utama yang diberikan oleh negara maju dan WTO kepada negara berkembang. negara maju dalam kenyataannya telah mengambil keuntungan lebih banyak dari implementasi yang ada. Rata-rata applied tariff negara maju untuk produk pertanian pokok (cereal. dalam Greed dan Priyadarshi. Mobilising Resources to Fight Hunger. Negara berkembang meminta adanya tinjauan atas implementasi yang ada. maka hampir tidak ada batasan sampai seberapa besar tingkat dukungan domestik diberikan.. Juga Duncan Greed dan Shishir Priyadarshi. Total dukungan OECD ke pertanian di tahun 1999 adalah US$ 360 milyar. Kekritisan orang terhadap WTO kini mulai terbuka. Hal ini nampak dalam berbagai negosiasi. hlm. meskipun ada komitmen pengurangan AOA. klausul dan aturan-aturan yang pada kenyataannya hanya menguntungkan negara maju dan memberi jalan bagi kepentingan bisnis dan korporasi-korporasi raksasa di negara maju. Seperti terlihat dalam nominal pengurangan yang lebih kecil atau periode implementasi yang lebih panjang. hlm.Perundingan-perundingan yang terus berlangsung hingga kini. Bahkan di Jepang. 3 6 14 . karena pilihan pembiayaan pemerintah sangatlah terbatas. daging. Dalam prakteknya. FAO. Karenanya S&D pada dasarnya bekerja untuk keuntungan negara maju. Bandingkan dengan seluruh ekspor pertanian dari negara berkembang yang sekitar US$ 170 milyar. Akan tetapi realitasnya adalah kebalikannya. CAFOD-South Centre. di mana 90%nya terjadi di UE. Implementasi WTO menggambarkan adanya ketidak-adilan dan ketimpangan yang semakin lebar antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang dan miskin (LDC). namun kenyataannya hanya bernilai tidak seberapa bagi negara berkembang. melainkan masalah power dan dominasi negara maju ke negara berkembang. Implementasi yang terjadi bahkan menunjukkan kecurangan-kecurangan dari negara maju. UNCTAD. Op. Disamping mendesakkan usulan New Round. sehingga di dapat kesimpulan bagi pembenahan-pembenahan. OECD 2000. berkat pengecualian dalam Blue Box dan Green Box. bahwa untuk memenuhi sasaran World Food Summit tahun 1996 bagi separuh penduduk yang kelaparan di dunia sampai tahun 2015. Meskipun schedules dianggap sebagai S&D. Korea Selatan. ini sama dengan persentase di pertengahan tahun 1980an. “Proposal for a ‘Development Box’ in the WTO Agreement on Agriculture”. Apa yang terjadi di WTO telah membawa kepada dimensi internasional baru. terutama dalam dukungan domestik dan subsidi ekspor. produk ternak) setidaknya dua kali dari tarif yang ditetapkan negara berkembang (sekitar 40% dibanding 20%). hlm 4. angkanya sekitar 2/3. July 2001. Bandingkan pula dengan perkiraan FAO. AS dan Jepang. yaitu kesadaran akan ketimpangan dan ketidakadilan di WTO. April 2001. di mana negara maju memberikan subsidi ekspor sebesar lebih dari 90% dan subsidi domestik juga sebesar 90% (di Box yang manapun). berkat perlawanan terus menerus masyarakat sipil internasional terhadap WTO dan terhadap agen-agen globalisasi lainnya. Contohnya bisa dilihat di dalam AOA.cit. maka diperlukan investasi pertanian tahunan total sebesar US$ 180 milyar!7 Lengkapnya lihat Jacques Berthelot. WTO adalah bukan sekedar masalah perdagangan global. Berbagai manuver dan move terus menerus diupayakan negara maju yang semakin mengarah pada ketidak-seimbangan luar biasa dan gap disparitas yang semakin melebar. Norwegia dan Swiss. Solidarite. nampaknya tidak membawa banyak kemajuan. Akan tetapi hal tersebut selalu ditolak oleh negara-negara maju. “Some Theoretical and Factual Clarifications in Order to Get to a Fair Agreement on Agriculture at the WTO”.

mematikan tumbuhnya infant industry. kacang tanah. Hal ini ditunjukkan juga oleh posisi neraca perdagangan sektor pertanian yang terus menerus negatif sejak bergabungnya Indonesia di WTO. 4 15 . Banyaknya protes petani ke Istana dan Depperindag. Misalnya dalam hal implementasi perjanjian tekstil dan pakaian (ATC). Dalam hal pertanian yang merupakan sektor strategis. negara-negara berkembang hanya punya sedikit atau tidak sama sekali memberikan dukungannya kepada petani. Dengan ada di dalam Cairns Group.8 Selain itu mandat yang seharusnya dilaksanakan dalam Agreement on Textiles and Clothing berjalan sangat lamban. June 2001. Di lain pihak kebijakan pertanian Indonesia tidak pernah mengantisipasi dampak buruk yang akan terjadi. tingkat dukungannya hanya antara 0-5 persen dari produksi pertanian mereka. Data menunjukkan 61 dari 71 negara berkembang di tahun 1996 telah menotifikasi untuk tidak menyediakan dukungan domestik. Indonesia yang menjadi anggota Cairns Group nyatanya bukanlah negara eksportir pertanian. seperti pedagang dan importir sebagai pengambil keuntungan utama.2 AOA. terutama Australia sebagai pemimpin Cairns Group. maka TRIPs menjadi ancaman nyata bagi perlindungan keanekaragaman hayati. Dan di 13 negara ini. Bahkan seringkali sektor pertanian dikorbankan (atau ditarik pajak) ketimbang mendapat subsidi. akses obat bagi masyarakat. Semua-muanya diserahkan kepada pasar bebas. sebagaimana tercantum di dalam Amber Box. dan lain-lainnya yang berjangkauan luas. ekonomi dan budaya masyarakat negara berkembang. hanya sejumlah kecil restriksi kuota yang dihapus. Data sejak 1996 hingga sekarang menunjukkan bahwa untuk tanaman pangan seperti beras. dan negara maju terus menerus mencoba menunda pelaksanaannya. sebagaimana tuntutan Cairns Group. ternak hidup. Hanya sedikit sekali tekstil yang diekspor oleh negara berkembang dikeluarkan dari daftar kuota. Bahkan harga pangan ditekan rendah untuk mensubsidi sektor industri dan penduduk kota. dan sebenarnya mendistorsi perdagangan. dikarenakan derasnya import komoditas pertanian dari luar. gandum.. jagung. hlm. Dewan 8 9 UNCTAD 1999 Trade and Development Report. akses bibit pertanian. hanya terseret-seret saja di dalam upaya meliberalisasikan pertaniannya. dalam Aileen Kwa. sangat mengecewakan. hlm. Ini sebenarnya memperlihatkan kecenderungan dari terus menurunnya kemampuan pertanian Indonesia menghadapi globalisasi. Demikian pula pelaksanaan TRIMS dengan sendirinya telah membatasi pilihan-pilihan pembangunan dan industrialisasi yang mungkin bagi negara berkembang.Di lain pihak posisi negara berkembang semakin tersudutkan dan berada di pihak yang dirugikan. seperti pada kasus petani beras dan petani gula. TRIMS mematikan industri kecil dan menengah karena pembatasan local content. nilai impornya lebih besar daripada ekspor. akses teknologi. termasuk pengerdilan BULOG sebagai badan pengendali harga dan munculnya dominasi pelaku-pelaku pasar bebas.9 Demikian pula negara berkembang. dan mematikan kesempatan akan fair trade dan keberpihakan kepada pengusaha kecil dan lemah. Pemerintah masih pro kepada kebijakan agribisnis (yang berarti tidak berpihak kepada petani kecil yang mayoritas) dan tetap menjalankan liberalisasi pertanian. TRIPs nampaknya dibuat hanya untuk kepentingan monopoli teknologi dan HAKI perusahaan-perusahaan transnasional raksasa. Hanya 13 dari 71 negara berkembang yang menotifikasi adanya penyediaan dukungan investasi dan input sebagaimana pasal 6. dan dengan itu harmonisasi regulasi yang dipaksakan. dan di Kanada 29 dari 295 item. maka Indonesia sebenarnya diperalat saja oleh negara-negara eksportir pertanian besar. 2 Ibid. Hal ini bisa menjadi fatal akibatnya bagi Indonesia bila harus menjalankan liberalisasi pertanian. Dengan berlakunya TRIPs sejak 1 Januari 2000. di UE 14 dari 219 item. Sementara itu pelaksanaan TRIPs telah banyak membawa bencana dan ancaman terhadap kehidupan sosial. serta susu dan produk susu. Menurut Textiles and Clothing Bureau pada Juni 2000. di mana terjadi neraca negatif atas daging segar dan beku. Hal ini juga terjadi di sektor peternakan. yaitu menyerahkan pertanian kepada mekanisme pasar. yaitu di AS 13 dari 750 item.

malahan bergerak sebaliknya ke arah penghancuran bumi. maka semakin mengarah kepada penghancuran alam dan lingkungan. Sistem WTO telah bertolak belakang dengan sistem PBB dalam banyak hal. Jadi hasil-hasil Doha dan berbagai implementasi WTO selama ini bertolak belakang dengan keinginan umat manusia ke arah keadilan dan keberlanjutan sistem kehidupan dan planet. dan pengusaha agribisnis. G. para importir. kedaulatan hukum. karena hendak menutupi kepentingan mereka yang sebenarnya. berbagai keuntungan yang didapat negara maju juga tidak menciptakan keadilan dan keberlanjutan yang sebenarnya. Apalagi hasil Doha telah menyetujui diadakannya negosiasi baru di bidang lingkungan hidup. Globalisasi pertanian nyatanya hanya memberikan kehidupan kepada TNC pertanian yang menguasai perdagangan global. dan khususnya kepentingan perusahaan-perusahaan multinasional. Di lain pihak. Kaum petani kecil/menengah dan buruh tani yang mayoritas akan kembali disingkirkan dan dipinggirkan. yang selalu menyalahkannya kepada pemerintah dan negara bersangkutan. tidak transparan. baik dari segi KKN. Sebaliknya yang terjadi adalah proses pemiskinan dan marjinalisasi luar biasa disertai dengan semakin lebarnya kesenjangan kaum miskin dengan sekelompok kecil kaum kaya yang merupakan komprador Bank Dunia. WTO dan TNC.*** 16 . juga bersifat pro-pasar dan hanya memperlakukan ketahanan pangan sebagai proyek tambal sulam. bad-governance dan lainnya. konvensi Kyoto. yang arahnya kepada pengabaian terhadap standar-standar lingkungan demi tidak mendistorsi atau menghambat arus perdagangan. karena semakin cepat dan semakin tinggi pertumbuhan. maka semakin nyata bahwa sistem WTO dan hasil-hasilnya yang dibawakan oleh konferensi Doha. Negara-negara berkembang telah dipaksa untuk masuk ke pilihan yang pahit dan merugikan. dan menjalani hidup serba nestapa-miskin. Jadi jangan mengharap ada upaya menciptakan kesejahteraan masyarakat. Sementara itu petani Indonesia terus terpuruk dan akan bangkrut karena menghadapi impor pertanian dari luar yang serba murah dan lebih berkualitas. Dengan demikian sistem pembangunan berkeadilan dan berkelanjutan yang hendak dirancang akan berakhir gagal bila permasalahan ketidakadilan dan ketimpangan di WTO masih tetap ada dan dipertahankan. Krisis yang terus berlanjut hingga kini adalah gambaran bahwa Indonesia merupakan korban terparah globalisasi. dan korban berjuta-juta rakyat Indonesia yang semakin miskin memasuki masa depan yang gelap. Ini yang tidak mau diakui oleh IMF. Hal ini tidaklah sesuai dengan pembangunan berkelanjutan yang diidamkan. karena mengancam dijalankannya berbagai protokol dan konvensi yang telah dihasilkannya. IMF. dan lainnya. alam dan lingkungan semakin cepat. selama WTO hanya telah menjadi alat kepentingan negara maju saja. tidak mengarah kepada suatu sistem yang berkeadilan dan berkelanjutan. Ini nampak dari Kredit Ketahanan Pangan yang juga mengikuti ketentuan bunga komersial. pemerataan dan keadilan selama globalisasi neo-liberal berlangsung. baik dari segi kedaulatan nasional. Bank Dunia dan para ekonom neo-liberal. Juga semakin mengarah kepada ketidakadilan dan pemiskinan sebagian besar manusia. Dengan melihat ketimpangan-ketimpangan di atas. karena hanya berorientasi kepada bagaimana modal dan keuntungan bisa tetap bertahan dan bahkan terus berekspansi.Ketahanan Pangan yang dibentuk. PENUTUP Banyak sekali kasus-kasus globalisasi yang terjadi di Indonesia yang kemudiannya telah menghancurkan dan mengorbankan Indonesia. spekulan komoditas. “Business as Usual”. Nampaknya sulit untuk dihindari. seperti konvensi keanekaragaman hayati. Apakah hasil Doha akan bertabrakan dengan berbagai MEAs (Multilateral Environtment Agreements).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful