P. 1
Adab Menuntut Ilmu

Adab Menuntut Ilmu

|Views: 21|Likes:
Published by Hunied Kautsar

More info:

Published by: Hunied Kautsar on Apr 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/03/2013

pdf

text

original

Menuntut ilmu adalah satu keharusan bagi kita kaum muslimin.

Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, para penuntut ilmu dan yang mengajarkannya.
 Adab-adab dalam menuntut ilmu yang harus kita ketahui agar ilmu yang kita tuntut berfaidah bagi kita dan orang yang ada di sekitar kita sangatlah banyak. Adab-adab tersebut di antaranya adalah: 1. Ikhlas karena Allah I .
 
 Hendaknya niat kita dalam menuntut ilmu adalah kerena Allah I dan untuk negeri akhirat. Apabila seseorang menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan gelar agar bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi atau ingin menjadi orang yang terpandang atau niat yang sejenisnya, maka Rasulullah e telah memberi peringatan tentang hal ini dalam sabdanya e: "Barangsiapa yang menuntut ilmu yang pelajari hanya karena Allah I sedang ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan mata-benda dunia, ia tidak akan mendapatkan bau sorga pada hari kiamat".( HR: Ahmad, Abu,Daud dan Ibnu Majah
 
 Tetapi kalau ada orang yang mengatakan bahwa saya ingin mendapatkan syahadah (MA atau Doktor, misalnya ) bukan karena ingin mendapatkan dunia, tetapi karena sudah menjadi peraturan yang tidak tertulis kalau seseorang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi, segala ucapannya menjadi lebih didengarkan orang dalam menyampaikan ilmu atau dalam mengajar. Niat ini - insya Allah - termasuk niat yang benar. 2.Untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain.
 
 Semua manusia pada mulanya adalah bodoh. Kita berniat untuk meng-hilangkan kebodohan dari diri kita, setelah kita menjadi orang yang memiliki ilmu kita harus mengajarkannya kepada orang lain untuk menghilang kebodohan dari diri mereka, dan tentu saja mengajarkan kepada orang lain itu dengan berbagai cara agar orang lain dapat mengambil faidah dari ilmu kita.
 
 Apakah disyaratkan untuk memberi mamfaat pada orang lain itu kita duduk dimasjid dan mengadakan satu pengajian ataukah kita memberi mamfa'at pada orang lain dengan ilmu itu pada setiap saat? Jawaban yang benar adalah yang kedua; karena Rasulullah e bersabda : "Sampaikanlah dariku walupun cuma satu ayat (HR: Bukhari)
 Imam Ahmad berkata: Ilmu itu tidak ada bandingannya apabila niatnya benar. Para muridnya bertanya: Bagaimanakah yang demikian itu? Beliau menjawab: ia berniat menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang lain. 3. Berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari'at. 
 
 Sudah menjadi keharusan bagi para penuntut ilmu berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari'at. Karena kedudukan syari'at sama dengan pedang kalau tidak ada seseorang yang menggunakannya ia tidak berarti apa-apa. Penuntut ilmu harus membela agamanya dari hal-hal yang menyimpang dari agama (bid'ah), sebagaimana tuntunan yang diajarkan Rasulullah e. Hal ini tidak ada yang bisa melakukannya kecuali orang yang memiliki ilmu yang benar, sesuai petunjuk Al-Qor'an dan As-Sunnah. 4. Lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat. 
 
 Apabila ada

perbedaan pendapat, hendaknya penuntut ilmu menerima perbedaan itu dengan lapang dada selama perbedaan itu pada persoalaan ijtihad, bukan persoalaan aqidah, karena persoalaan aqidah adalah masalah yang tidak ada perbedaan pendapat di kalangan salaf. Berbeda dalam masalah ijtihad, perbedaan pendapat telah ada sejak zaman shahabat, bahkan pada masa Rasulullah e masih hidup. Karena itu jangan sampai kita menghina atau menjelekkan orang lain yang kebetulan berbeda pandapat dengan kita. 5. Mengamalkan ilmu yang telah didapatkan.
 
 Termasuk adab yang tepenting bagi para penuntut ilmu adalah mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, karena amal adalah buah dari ilmu, baik itu aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Karena orang yang telah memiliki ilmu adalah seperti orang memiliki senjata. Ilmu atau senjata (pedang) tidak akan ada gunanya kecuali diamalkan (digunakan). 6. Menghormati para ulama dan memuliakan mereka.
 
 Penuntut ilmu harus selalu lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama. Jangan sampai ia mengumpat atau mencela ulama yang kebetulan keliru di dalam memutuskan suatu masalah. Mengumpat orang biasa saja sudah termasuk dosa besar apalagi kalau orang itu adalah seorang ulama. 7. Mencari kebenaran dan sabar
 
 Termasuk adab yang paling penting bagi kita sebagai seorang penuntut ilmu adalah mencari kebenaran dari ilmu yang telah didapatkan. Mencari kebenaran dari berita berita yang sampai kepada kita yang menjadi sumber hukum. Ketika sampai kepada kita sebuah hadits misalnya, kita harus meneliti lebih dahulu tentang keshahihan hadits tersebut. Kalau sudah kita temukan bukti bahwa hadits itu adalah shahih, kita berusaha lagi mencari makna (pengertian ) dari hadits tersebut. Dalam mencari kebenaran ini kita harus sabar, jangan tergesa-gasa, jangan cepat merasa bosan atau keluh kesah. Jangan sampai kita mempelajari satu pelajaran setengah-setengah, belajar satu kitab sebentar lalu ganti lagi dengan kitab yang lain. Kalau seperti itu kita tidak akan mendapatkan apa dari yang kita tuntut.
 
 Di samping itu, mencari kebenaran dalam ilmu sangat penting karena sesungguhnya pembawa berita terkadang punya maksud yang tidak benar, atau barangkali dia tidak bermaksud jahat namun dia keliru dalam memahami sebuah dalil.Wallahu 'Alam. Dikutip dari " Kitabul ilmi" Syaikh Muhammad bin Shalih Al'Utsaimin
 .(Abu Luthfi) http://van.9f.com/adab_menuntut_ilmu.htm

Di antara akhlak Islam adalah berhias diri dengan cita-cita tinggi, yang menjadi titik sentral alam dirimu, baik untuk maju ataupun mundur, juga yang mengawasi gerak-gerik badanmu. Cita-cita yang tinggi bisa mendatangkan kebaikan yang tiada terputus dengan izin Allah, agar engkau bisa mencapai derajat yang sempurna, sehingga cita-cita itu akan mengalirkan darah kesatriaan dalam urat nadimu dan mengayunkan langkah untuk menjalani dunia ilmu dan amal. Orang lain tidak akan pernah melihatmu kecuali berada di tempat yang mulia, engkau tidak akan membentangkan tangan kecuali untuk menyelesaikan perkara-perkara yang penting. Ini adalah perkara yang penting bagi para pelajar dalam menuntut ilmu, yaitu hendaklah dia mempunyai tujuan dalam belajarnya, bukan sekadar menghabiskan waktu di bangku sekolah, tetapi hendaklah seorang pelajar itu mempunyai cita-cita. Dan di antara cita-cita yang paling mulia adalah agar dengan ilmunya ia menjadi imam yang memimpin umat Islam di bidang ilmu pengetahuan, dan dia harus merasa bahwa dia bisa mencapainya sedikit demi sedikit sampai bisa mencapai cita-citanya. Kalau seorang pelajar melakukannya, dia akan menjadi perantara antara Allah dengan hamba-Nya dalam menyampaikan syariat Islam ini, yang akan membawanya untuk mengikuti Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan berpaling dari semua pendapat akal manusia, kecuali kalau bisa membantunya dalam mencapai kebenaran, seperti yang diucapkan oleh para ulama, yang itu merupakan sebuah ilmu yang bisa menjadi pintu bagi kita untuk mengetahui kebenaran. Karena, kalau tanpa ucapan-ucapan mereka, kita tidak akan mampu mengambil hukum langsung dari nash-nash yang ada, atau untuk mengetahui mana yang rajih (pendapat yang kuat) dan mana yang marjuh (pendapat yang lemah) atau yang semisalnya. Cita-cita yang tinggi akan menghindarkanmu dari angan-angan dan perbuatan yang rendah dan akan memangkas habis batang kehinaan darimu seperti sikap suka menjilat dan basa-basi. Orang yang mempunyai cita-cita yang tinggi akan tegar, dia tidak akan gentar menghadapi masa-masa sulit. Sebaliknya, orang yang bercita-cita rendah akan menjadi penakut, pengecut, dan terbungkam mulutnya hanya oleh sedikit kelelahan.

jangan salah persepsi. Yang itu akan merendahkan martabatmu. Misalnya. maka kamu wajib membelinya. Wallaahu a'lam. maka dia tidak harus menerimanya. Termasuk cita-cita yang tinggi adalah jangan sampai engkau mengharap milik orang lain.Namun. maka mereka akan memilikimu. agar engkau selalu siap mendapatkannya. lalu mereka memberikannya kepadamu. Karena. jangan berpaling darinya. "Kalau ada yang menjual air kepadamu. Wahai para pelajar. para ulama membedakan antara orang yang mendapatkan orang yang menjual air dengan yang memberinya air. maka tangannya akan lebih tinggi daripada tanganmu. Hal ini untuk menghindari jangan sampai dia berhutang budi kepada orang lain. tetapi dia boleh bertayamum. Padahal. Cita-cita yang tinggi adalah perhiasan para ulama pewaris nabi. mereka mengatakan. Syariat kita telah memberi isyarat akan hal itu pada banyak masalah fiqih yang engkau jalani setiap hari. wudhu dengan air itu hanya wajib bagi yang mampu mendapatkan air saja." (HR Bukhari dan Muslim). sebagaimana digambarkan dalam sebuah hadits: "Tangan yang di aas lebih baik daripada tangan yang di bawah. jika engkau menginginkan kepunyaan orang lain. Jangan arahkan pandanganmu. Seandainya ada seseorang yang memberimu satu keping uang. sedangkan kesombongan adalah penyakit orang-orang yang sakit dari kalangan para diktator yang sebenarnya miskin hati. seperti perbedaan antara langit dan bumi. sedangkan tangan yang di bawah adalah yang diberi. . Tangan yang di atas adalah yang memberi. jangan campuradukkan antara cita-cita yang tinggi dengan kesombongan. dibolehkannya tayamum bagi mukallaf tatkala tidak ada air. Oleh karena itu. dan dia tidak diharuskan menerima hadiah sehingga air wudhu dari orang lain karena itu akan membuat orang lain merasa berjasa padamu. canangkanlah pada dirimu cita-cita yang tinggi. karena perbuatan itu sebenarnya akan mengikatmu. antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat tajam. Karena. Sampai-sampai kalau ada orang yang tidak memiliki air (untuk wudhu) lalu ada yang memberinya. Dan perhatikanlah contoh-contoh lain yang seperti ini. juga jangan ulurkan tanganmu untuk meminta kepunyaan orang lain.

" (Lihat Faidhul Qadiir [IV/110]). serta meneliti ilmu. Akan tetapi. setinggi apa pun ilmumu. jika yang memberimu air itu tidak meminta balas budi.karena kalau kamu membelinya. kewajibanmu adalah memperbanyak belajar Sunnah Nabawiyah. Dari sini kita ketahui bahwa nilai setiap orang adalah tergantung dari apa yang dia kuasai. Telah disebutkan di atas bahwa "tidak ada ucapan yang lebih bisa memberi semangat bagi penuntut ilmu daripada ucapan ini. karena engkau akan berutang budi kepadanya. maka engkau tidak wajib menerimanya." Maka." Maka. namun jika ada yang memberimu. menimba. Antusias dalam Menuntut Ilmu Jika engkau tahu sebuah kalimat yang iucapkan oleh Khalifah Ali bin Abu Thalib: "Nilai setiap orang tergantung pada apa yang dia kuasai. maka itu tidak berakibat engkau berhutang budi kepadanya. Yang penting di sini bahwa termasuk cita-cita yang tinggi adalah jangan sampai engkau menginginkan kepunyaan orang lain. dan curahkan kemampuanmu dalam menuntut. karena engkau telah memberi harganya." Seseorang yang menguasai ilmu fiqih dan ilmu syariat niscaya akan mempunyai nilai lebih daripada orang yang mahir dalam memperbaiki kabel yang rusak atau lainnya. hanya saja ada bedanya antara yang pandai dalam ilmu agama dengan yang pandai dalam ilmu dunia. yang akan mengikat dirimu. Karena. bahkan mungkin dia berterima kasih kepadamu karena engkau mau menerima pemberiannya." akan tetapi lafazh yang benar adalah: "Berapa banyak yang ditinggalkan oleh generasi pertama untuk generasi berikutnya. engkau harus tetap ingat bahwa: "Berapa banyak yang masih ditinggalkan oleh generasi pertama untuk generasi selanjutnya." Perkataan yang diambil . Ada yang mengatakan: "Tidaklah ada satu kalimat pun yang lebih bisa memberikan semangat bagi penuntut ilmu daripada kalimat ini. seperti saudara kepada saudaranya. maka hukum itu tidak berlaku karena sebabnya sudah hilang. atau karena yang memberimu adalah orang tertentu yang biasanya tidak harus membalas budi dalam pemberiannya. waspadalah terhadap kesalahan orang yang berkata: "Generasi awal tidaklah meninggalkan apa pun untuk yang sesudahnya. Hal ini karena keduanya sama-sama menguasai sebuah bidang tertentu.

Barang siapa yang mengambilnya. "Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah mendapatkan kebaikan. engkau tidak perlu lagi melihat sanadnya. tetapi mereka mewariskan ilmu. Orang yang tidak menelitinya akan mempertentangkan antara satu hadits dengan yang lainnya. Ahmad." maksudnya adalah kemampuan dalam meneliti.. ". sabda Nabi saw... Karena. karena dia tidak . Ucapan Syaikh: "Perbanyaklah . Juga. maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agama. Adapun jika berupa As-Sunnah. Kemudian." (HR Bukhari dan Muslim).. karena Al-Qur'an sampai kepada kita dengan jalan yang mutawatir. hanya saja itu bukan perkataan yang terbaik dalam hal anjuran menuntut ilmu." (Az-Zumar: 9). dan Ad-Darimi).... Dan." maksudnya adalah sebuah anjuran agar engkau memperbanyak mendapatkan warisan Rasulullah saw. Tidak disangsikan lagi bahwa yang dikatakan oleh Ali bin Abu Thalib adalah sebuah kalimat yang mengandung makna yang luas. "Ulama adalah pewaris para nabi. maka yang harus engkau lihat pertama kali adalah apakah Sunnah itu shahih dari Rasulullah atau tidak." (Al-Mujaadilah: 11).. sabda beliau pula. Tirmidzi. para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham. Dan. Perkataan Syaikh selanjutnya: "Curahkan kemampuanmu. Apabila warisan itu berupa AlQur'an. ".... karena kalimat yang paling bisa memberikan semangat belajar para penuntut ilmu adalah firman Allah (yang artinya). Katakanlah: 'Adaklah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui . sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat banyak dari warisan tersebut. apakah keumuman nash itu dikhususkan atau tidak. Dan. niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat .. Karena. ada sebagian orang yang hanya mengambil zhahir dan umumnya nash tanpa meneliti lagi apakah zhahirnya nash itu yang dimaksud oleh hadits ini ataukah tidak. nash lainnya yang menganjurkan untuk menuntut ilmu.. firmanNya. ketahuilah bahwasannya warisan Rasulullah ada yang berupa AlQur'an dan ada yang berupa As-Sunnah.oleh Syaikh tersebut tidaklah benar. yang berupa ilmu..." (HR Abu Dawud.

atau dengan cepatnya dia menghukumi pada sebuah hadits.mempunyai ilmu tentang masalah ini." Dalam biografi Ahmad Ibnu Abdul Jalil yang tertulis dalam Tarikh Baghdad oleh Al-Khatib al-Baghdadi. Mereka lebih mengutamakan ilmu khark (ilmu yang diambil langsung dengan . Perkataan Syaikh: "Setinggi apa pun ilmumu tetaplah ingat bahwa masih sangat banyak yang ditinggalkan oleh generasi pertama untuk generasi berikutnya. Barang siapa yang tidak pernah pergi dalam masa belajarnya untuk mencari guru serta menimba ilmu dari mereka. Ini adalah sebuah bahaya yang sangat besar. maka dia tidak akan didatangi untuk belajar darinya. karangan-karangan ilmiah. yang banyak perhatian terhadap Sunnah Rasulullah saw." Meninggalkan Kampung Halaman untuk Menuntut Ilmu Barang siapa yang tidak pernah pergi untuk menuntut ilmu. dan pengalaman-pengalaman yang sulit ditemukan di dalam kitab. Karena.' (Yusuf: 76). maka tidak perlu didatangi (untuk ditimba ilmunya). maka dia tidak akan didatangi untuk ditimba ilmunya. 
 Inilah yang diputuskan oleh Imam Ali bin Abu Thalib. 
 Nilai seseorang itu setiap kali dia bisa menguasai sesuatu dengan baik. beliau menyebutkan seuntai syair: 
 "Tidaklah orang mulia itu seperti orang hina 
 dan tidak pula orang yang cerdik itu semacam orang yang bodoh. Dan jauhilah cara belajarnya orang-orang shufi. Biasanya salah seorang di antara mereka dengan cepatnya mengambil hukum dari hadits tersebut." Ini sebuah perkataan yang bagus. 'Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit'. yaitu kita katakan. para ulama dahulu yang telah melewati masa belajar dan mengajar mempunyai banyak tulisan. namun ada yang lebih bagus dari itu. tetaplah ingat firman Allah: 'Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Mahamengetahui. yang hanya duduk di tempat. Ini banyak terjadi di kalangan pelajar yang masih muda. "Setinggi apa pun ilmumu. Maksud perkataan Syaikh di atas: bahwa orang yang tidak pernah bepergian untuk menuntut ilmu.

Maka. karena ayat-ayat yang berhubungan dengan asma dan sifat Allah jauh lebih banyak daripada yang menjelaskan tentang hari kebangkitan. yang biasa dinamakan dengan ilmu laduni. beliau berkata: "Orang-orang ahli kalam itu tidak pernah menolong Islam. Karena. Pernah dikatakan kepada sebagian orang di antara mereka: "Mengapa engkau tidak berangkat untuk mendengarkan hadits dari 'Abdurrazzaq? Maka dia menjawab: "Apa gunanya mendengarkan hadits dari 'Abdurrazzaq bagi orang yang bisa mendengar secara langsung dari Allah Ta'ala." Maksudnya. juga tidak pernah menghancurkan ahli falsafah. pent. mereka tidak pernah menolong Islam dan tidak pernah melawan orang-orang kafir. Bahkan. Bukti akan hal ini bahwasannya ahli kalam itu mengubah beberapa nash dari zhahirnya.. 
 Maka saya menandingi mereka dengan ilmu yang diambil langsung dari Allah Ta'ala. Ungkapan Syaikh yang terakhir diambil dari ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang ahli kalam. Mereka mengaku bahwasannya hal itu didasari pada akal yang sehat.cara menembus hijab antara dia dengan Allah. jauhilah mereka. kalau begitu biarkanlah kami menakwilkan ayat-ayat tentang hari kebangkitan. ini dalam persangkaan mereka. padahal keduanya sangat jelas. mereka pun tidak pernah melawan ahli falsafah yang menjelek-jelekkan agama Islam. bahkan . mereka menakwilkannya kepada makna lain atau membuat makna yang baru. jika kalian boleh menakwilkan nama dan sifat Allah yang terdapat dalam Al-Kitab dan As-Sunnah.) daripada ilmu yang diambil dari lembaran-lembaran kitab. Ahli falsafah pun mengatakan kepada mereka: "Kalian menakwilkan ayat dan hadits tentang sifat Allah Ta'ala. maka biarkanlah kami menakwilkan ayat-ayat tentang hari kebangkitan. serta mengaku bahwasannya Allah SWT mengunjungi mereka demikian juga sebaliknya. Ini adalah salah satu kepercayaan khurafat mereka." 
 Oleh karena itu. di antara mereka ada yang menjadi bencana dan bumerang bagi agama Islam. Orang-orang shufi mengaku bahwasannya Allah langsung berbicara dengan mereka dan memberikan wahyu kepada mereka. ahli kalam itu tidak pernah membela agama Islam yang dibawa oleh Muhammad saw." Ada lagi yang mengatakan: 
 Jika orangorang itu berbicara kepadaku dengan ilmu yang diambil dari lembaran kitab.

Juga. Salah seorang di antara mereka mengatakan: "Tidaklah yang berada di dalam pakaian ini kecuali Allah." maksudnya adalah dirinya sendiri. Saat ini kaset rekaman bisa dijadikan sebagai ganti dari pergi menuntut ilmu. Syaikh telah menyerang orang-orang shufi. adab. juga bisa mempersingkat waktu kalau ingin membahasnya saat dibutuhkan. dan akhlaknya. terutama beberapa masalah ilmiah yang terdapat bukan pada tempat yang selayaknya.biarkan juga kami mengingkari hari kebangkitan secara total. Para ulama yang berbicara tentang masalah pergi belajar belum menjumpai perkembangan teknologi yang ada saat ini." Maksudnya. Dan. Ada lagi yang berkata: 
 "Tuhan itu adalah hamba dan hamba itu adalah tuhan. engkau akan dapat lebih mudah terpengaruh dengannya. maka dia akan memperoleh ilmu. Menjaga Ilmu dengan Mencatatnya Curahkan kemampuanmu untuk menjaga ilmu dengan mencatatnya. red. kepada namun ahli kita kalam juga yang seharusnya merampas mengonsentrasikan dasar akal mereka. kalau engkau langsung melihatnya saat berbicara. karena dengan mencatat akan aman dari hilangnya ilmu itu. meskipun pergi menuntut ilmu tetap lebih besar faidahnya." Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah sebuah hujjah yang sangat kuat bagi ahli falsafah (ahli filsafat. 
 Duhai sekiranya aku tahu siapakah yang harus diberi beban kewajiban.) terhadap ahli kalam. Karena. karena memang tidak ada perbedaan di antara keduanya. maka engkau masih mempunyai ilmu yang serangan kesempurnaan Allah dengan ucapan-ucapan serta mengingkari sifat-Nya atas . dan mereka memang pantas untuk diperlakukan seperti itu. Sampai ada di antara mereka yang meyakini bahwasannya dirinya adalah Allah. tidak ada perbedaan antara keduanya. kalau engkau pergi kepada seorang alim. Dan di antara faidahnya yang paling besar adalah saat sudah berusia lanjut dan kekuatan badan sudah melemah. sebagian orang shufi ada yang sampai batas kekufuran dan pengingkaran terhadap Allah. Karena. masih banyak lagi khurafat yang mereka ucapkan.

terutama faidah-faidah penting yang terdapat bukan pada tempat yang sewajarnya. yang para ulama besar pun terkadang sulit untuk mendapatkannya. juga mutiara-mutiara ilmu yang mungkin engkau lihat dan dengar yang engkau khawatir akan hilang serta hal lainnya. dan janganlah ia jadikan ilmu itu sebagai sarana untuk mencapai kedudukan yang tinggi. Telah datang ancaman bagi orang yang menuntut ilmu namun tidak ikhlas karena Allah. yaitu dia tidak akan mendapatkan bau surga. dan bertujuan menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri. catatlah ilmu. kemuliaan. sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Khatib al-Baghdadi. Al-Khatib al-Baghdadi berkata." (Diriwayatkan oleh Khaitsamah). Tetapi. karena itu akan sangat membantumu pada saat-saat mendesak. juga orang lain. menjaga dan membela syariat Allah. .masih bisa ditulis tanpa harus membahas dan menelaahnya kembali. karena telah daang ancaman bagi orang yang menjual ilmunya untuk mendapatkan keuntungan duniawi. bukan bertujuan mendapatkan kehormatan. "Apabila engkau mendengar sesuatu. dan jabatan. dia berangan-angan seandainya dulu mencatatnya. Berkata Imam Asy-Sya'bi. ternyata akhirnya dia pun lupa. "Seseorang yang mempelajari hadits wajib untuk mengikhlaskan niatnya dalam belajar dan bertujuan mencari wajah (ridha) Allah. Maka. Oleh karena itu. Menjaga Ilmu dengan Mengamalkannya Jagalah ilmumu dengan cara mengamalkan dan mengikuti Sunnah Rasulullah saw. maka urutkanlah dalam kitab atau buku saku sesuai dengan judulnya. bahwa seharusnya seorang penuntut ilmu itu mengikhlaskan niatnya. jangan pula digunakan untuk mencari jabatan. Apabila sudah terkumpul pada dirimu catatan tersebut. karena hafalan itu bisa melemah dan orang bisa saja lupa. Semua itu menunjukkan adanya keikhlasan. yaitu berniat melaksanakan perintah Allah dan mencari pahala dalam belajarnya. Betapa banyak masalah-masalah penting tetapi tidak tercatat dengan alasan bahwa insya Allah saya tidak akan lupa. maka catatlah meskipun di dining. martabat.

karena pada zaman ini seseorang tidak mungkin bisa menjadi dai kecuali kalau memiliki ijazah. maka terserah engkau berniat apa saja selama masih dihalalkan oleh Allah." Apakah ini haram? Tidak! Karena. karena perawi ilmu itu banyak. "Setiap orang yang belajar di perguruan tinggi pasti bertujuan mendapatkan ijazah. juga betapa banyak orang yang berilmu seerti orang bodoh dan orang yang menghafal hadits namun sama sekali tidak memahaminya. semacam pedagang yang berniat agar mendapatkan untuk yang banyak. Jadikanlah hafalanmu terhadap hadits Rasulullah sebagai hafalan ri'ayah (menjaga ajaran agama). dia bertujuan untuk memberikan manfaat bagi sesama. memperbanyak pengikut.Jika ada yang bertanya." Atau. maka insya Allah itu adalah niat yang baik. Hindarilah sikap berbangga dan menyombongkan diri. itu ilmu duniawi. namun yang mampu menjaga dan mengamalkannya itu hanya sedikit. karena tanpa ijazah saya tidak mungkin bisa mengajar di perguruan tinggi. yang karena itulah banyak kita lihat sebagian mereka menempuh cara-cara kotor demi memperoleh ijazah tersebut. jika ada yang mengatakan. karena pada zaman ini orang yang tidak mempunyai ijazah tidak akan bisa menjadi guru atau yang sejenisnya dari lembaga-lembaga yang membutuhkan ijazah. Karena. "Saya ingin menjadi insinyur agar nanti gajiku sebesar sepuluh ribu real. misalnya ijazah palsu dan semisalnya. bukan sekadar menghafal untuk meriwayatkannya. yang tidak akan merusak belajar ilmu syar'i. juga jangan sampai tujuanmu dalam belajar hadits adalah untuk mencari jabatan. kebanyakan penyakit yang merasuki para ulama adalah dari sisi ini." Kita jawab. Seandainya ada orang yang belajar ilmu teknik dan berkata. Dan. serta mendirikan majelis ilmu. Adapun kalau urusan ilmu duniawi. "Saya ingin memperoleh ijazah agar saya bisa menjadi seorang dai. apabila di dalam menyampaikan ilmunya. Dan betapa banyak orang yang datang untuk belajar tetapi seperti orang yang tidak datang." Kalau memang niatnya semacam ini. "Saya ingin mendapatkan ijazah agar bisa mengajar di perguruan tinggi. menyampaikan hukumnya seperti orang yang kehilangan ilmu dan . "Bukankah mungkin saja orang itu belajar di perguruan tinggi dengan niat yang ikhlas. kalau ada yang berkata.

baik untuk dirinya maupun orang lain. Ini permisalan bagi orang yang sama sekali tidak memperhatikan ilmu. dengan cara mengikuti sunnah Rasulullah sebisanya serta mempraktikkan sunnah pada dirinya. maka bumi yang terkena air hujan itu ada tiga macam. mengamalkan. Sebenarnya tujuan dari belajar Al-Qur'an dan As-Sunnah itu untuk memahami maknanya." (Al-Ahzaab: 21). ada sebagian manusia yang memiliki keduanya. Ada lagi orang yang diberi karunia mudah memahami tetapi lemah dalam hafalan. Maksud menjaga ri'ayah adalah memahami makna hadits. namun mereka sendiri tidak bisa melakukan apa-apa kecuali sekadar menghafalkannya. Ini permisalan bagi orang yang memperhatikan ilmu. sehingga bisa mengamalkan serta mendakwahkannya. Ada di antara mereka yang hanya bisa meriwayatkan namun tidak tahu maknanya. namun hafalannya sangat kuat. namun ini sangat jarang. yaitu kekuatan hafalan dan kefahaman. Mereka bisa memberi manfaat bagi diri dan orang lain. seperti para perawi hadits. sebagaimana firman Allah. Kedua.. "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suriteladan yang baik bagimu . mereka mampu menahan air sehingga orang lain bisa minum dan mengairi sawah untuk menanam. Maka. Namun. tanah subur yang mampu menyerap air dan menumbuhkan tanaman.. Ketiga.pengetahuannya. kecuali makna yang sangat jelas yang tidak butuh dijelaskan lagi. Dia tidak mengambil manfaat. Rasulullah telah menggambarkan tentang orang-orang yang diberi oleh Allah SWT ilmu sebagai air hujan yang menyirami bumi. tanah tandus yang menelan air namun tidak bisa menumbuhkan rerumputan. (HR Bukhari dan Muslim) 
 Pertama. seharusnya seseorang yang belajar ilmu agama bersikap berbeda dengan kebiasaan orang-orang awam. . lalu menjelaskannya kepada orang lain. namun Allah SWT menjadikan manusia itu bermacam-macam. Ini permislaan bagi orang yang diberi oleh Allah ilmu dan kefahaman.. tanah yang bisa menyerap air namun tidak bisa menumbuhkan tanaman.

betapa banyak orang yang bisa menghafal ilmu namun tidak memahaminya.a. niscaya ilmu itu akan hilang." (HR Bukhari. Mendalami Ilmu dengan Mengeluarkan Cabang Ilmu dari Pokoknya Pelakunya adalah orang yang mampu tafaqquh (mendalami ilmu) menghubungkan hukum-hukum syar'i dari sumbernya." Sebagian ulama berkata. "Hadits ini menunjukkan bahwa siapa pun yang tidak menjaga ilmunya. kalau dia menjaganya (mengikatnya).. maka bagaimana dengan ilmu lainnya? Dan sebaik-baik ilmu adalah manakala pokoknya dikuasai betul. maka dia akan pergi. Muslim." (Ini adalah ucapan Al-Akhnas bin Qais). bersabda. iscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (Ali Imran: 31). namun jika dilepas. maka dia tidak akan pergi. Menjaga Hafalan Jagalah ilmumu dari waktu ke waktu. "Sesungguhnya permisalan orang yang menghafal Al-Qur'an semacm pemilik unta yang ditambatkan. sementara cabang-cabangnya dipelajari dan bisa mengantarkannya untuk taat kepada Allah serta bisa menunjukkan kepada perbuatan yang diridhai-Nya.Firman-Nya yang lain. bersabda. "Ikutilah aku. dan Malik dalam Al-Muwaththa'). karena ilmu mereka pada saat itu hanyalah Al-Qur'an. Dalam hadits Abdullah bin Mas'ud bahwasannya Rasulullah saw. karena kalau tidak dijaga maka akan hilang meski bagaimanapun hebatnya ilmu itu. "Setiap kemuliaan yang tidak didukung dengan ilmu. kemudian menyampaikannya sebagaimana dia dingar. Berkata Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr r. dan betapa banyak orang yang menghafal ilmu. lalu dia menyampaikannya . Kalau Al-Qur'an saja yang dimudahkan oleh Allah dalam menghafalnya bisa hilang kalau tidak dijaga. Dari Abdullah bin Umar bahwasannya Rasulullah saw. "Semoga Allah memberi cahaya pada wajah orang yang mendengar ucapanku lalu menghafalnya dan memeliharannya. maka akan berakhir pada kehinaan.

. "Amma ba'du. sebagaimana firman Allah. dengan cara seperti itu. karena sesungguhnya Allah Ta'ala menyeru kepada hamba-Nya bukan hanya di situ ayat agar bergerak dan memutar pandangan yang tajam untuk berpikir tentang langit dan bumi. banyak mempunyai kepahaman dalam h al ini.. lalu kami menganalisa dalil-dalil syar'i secara penggambaran masalah. sehingga dia sanggup mengembalikan cabang-cabang ilmu kepada pokoknya dan mampu menerapkan segala sesuatu di atas hukum asalnya. 'Laa haula wala quwwata illa billaah. "Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu . untuk membuka kekuatan akal pikiran. Barang siapa yang membaca kitabkitab kedua imam tersebut. yang mana hal ini mengandung kewajiban memahami dan mendalami makna hadits serta mengeluarkan ilmunya yang masih tersimpan. Berkata Ibnu Khair tentang pemahaman hadits di atas. sehingga bisa memperkuat imam dan memperdalam hukum serta memperoleh kemenangan ilmiah. Sehingga. Imam Ibnul Qayyim. dia mendapatkan kebaikan yang banyak. juga memusatkan perhatiannya untuk melihat dirinya sendiri dan juga keadaan alam sekitarnya." Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid beliau.. beliau berkata." Ketahuilah--semoga Allah memberi petunjuk kepadamu--bahwasannya memahami dan mendalami ilmu syar'i itu harus didahului dengan berpikir (tafakkur). hal ini didasari atas satu pokok pembahasan dan dua pasal'. dulu kami berada di majelis tafaqquh fiddin. "Dalam hadits ini ada keterangan bahwa ilmu itu adalah kemampuan mengambil dalil dan mengetahui makna sebuah ucapan dengan cara memahaminya. lalu saya berkata. maka dia bisa mengetahui cara yang benar dalam memahami ilmu syar'i." (HR Tirmidzi).kepada orang yang lebih paham dari dia. maka ada sebuah pembicaraan mengenai . Orang yang paham ialah orang yang mengetahui rahasia syariat Islam serta tujuan dan hikmah-hikmahnya. pendasaran hukum dan perinciannya. penetapan masalah. Di antara keunikan perkataan Imam Ibnu Taimiyyah adalah apa yang beliau katakan saat berada di majelis tafaqquh (pendalaman ilmu).

Ketika malam. Pernah Imam Syafi'i bertamu kepada Imam Ahmad. padahal menurut Sunnah Rasulullah. seseorang seyogyanya hanya makan sedikit saja. "Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu." (An-Nisaa': 78)." (Al-Baqarah: 120). sepertiga untuk menuman. Imam Syafi'i menghabiskannya dan mengembalikan piring dalam keadaan kosong. dan beliau adalah murid Imam Syafi'i. "Cukuplah bagi seorang anak Adam makan beberapa suapan yang cukup untuk menegakkan tulang rusuknya. Allah Ta'ala berfirman.berpikir." (Al-Baqarah: 219). kalau tidak maka sebagaimana firman Allah Ta'ala. Imam Ahmad banyak memuji Imam Syafi'i di hadapan keluarganya. dan tatkala adzan fajar beliau keluar untuk shalat namun tidak mengambil air wudhu. dan jika harus makan lebih. padahal dia memakan habis seluruh makanan. Dari sini diketahui bahwasannya memahami (tafaqquh) ilmu syar'i itu lebih jauh jangkauannya daripada sekadar berpikir. "Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun. Bagaimana beliau menghabiskan seluruh makanan. maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. Tatkala pagi hari keluarga Imam Ahmad berkata kepada beliau: "Bagaimana engkau sangat memuji Imam Syafi'i. memahami ilmu syar'i ini dibatasi dengan dalil dan juga harus dihalangi dari mengikuti hawa nafsu. bagaimana ini?" Maka. firman-Nya. tatkala disuguhkan makan malam. sebagaimana sabda Rasulullah. maka sepertiga perutnya untuk makanan. Imam Syafi'i memakan semuanya. Namun." Maka." (Al-An'am: 50). keluarga Imam Ahmad pun heran dengan Imam Syafi'i. karena memahami ilmu syar'i itu merupakan hasil dari berpikir. Kemudian Imam Ahmad masuk menemui keluarganya dan Imam Syafi'i tidur." (HR Tirmidzi). . "Saya akan memberitahukan kepada kalian. Maka. dan sepertiga untuk napasnya. beliau tidak mengambil air wudhu. lalu tidur kemudian pada pagi hari tidak mengambil air wudhu. "Katakanlah: 'Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?' Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya). Namun. Juga. beliau bertanya kepada Imam Syafi'i perihal tersebut. Lalu. Imam Ahmad berkata.

dengan istilah lain jenjang orang yang faqihul badan sebagaimana dalam istilah ahli hadits. untuk apa saya minta air padahal saya masih dalam keadaan punya wudhu'.sehingga beliau menjawab: "Adapun mengenai masalah makanan. maka arahkanlah pandanganmu kepada dalil-dalil yang ada untuk menyimpulkan cabang-cabang hukum dari pokoknya. apa yang dilakukan oleh si burung kecil (AnNughair)!'[*] seratus atau seribu faidah (hukum). mendatangkan kemudahan. maka saya ingin memenuhi perutku dengannya. serta perhatikan juga kaidah syariat Islam yang bersifat umum. Wahai para pelajar. sehingga mereka berkata: "Sekarang baru terjawab teka-tekinya!" (*: HR Bukhari dan Muslim). yaitu orang yang mampu menghubungkan hukum syar'i dengan sumber aslinya. hiasilah dirimu dengan selalu berpikir dan menganalisis. Atau. semoga engkau mampu meneruskan jenjang dari hanya sebagai orang yang sekadar faqih (memahami hukum-hukum agama) kepada jenjang orang yang faqihun nafsi (menyimpulkan hukum-hukum agama sendiri). karena ini akan menolongmu pada saat-saat sulit. juga merenungi tujuan syariat ini. dengan benarbenar memperhatikan seluruh kaidah yang ada. sebagaimana yang diistilahkan oleh para fuqaha. Imam Ahmad menyebutkan jawaban itu kepada keluarganya. adapun masalah saya tidak shalat tahajud karena memikirkan ilmu lebih baik daripada shalat tahajud. Kalau engkau tidak memahami masalah ini. seperti kaidah maslahat. menutup pintupintu hilah (cari-cari alasan) serta menutup segala jalan menuju perbuatan yang haram. Demikianlah engkau akan mendapatkan jalan petunjukmu selama-lamanya. saya tidak menemukan makanan yang lebih halal daripada makanan Imam Ahmad. Adapun mengenai saya tidak meminta air wudhu untuk shalat shubuh. menghilangkan segala mudharat dan kesulitan. Oleh karena itu. dan . juga hiasilah dirimu dengan memahami dan mendalami ilmu syar'i. juga sebagaimana yang telah saya katakan bahwasannya wajib bagimu berupaya untuk memahami nash-nash syar'i dan memandang dengan jeli hal-hal yang melatarbelakangi hukum-hukum tersebut. saya semalam sedang berpikir dan menyimpulkan hukum dari perkataan Rasulullah: 'Wahai Abu Umair." Kemudian. maka waktu belajarmu itu akan sia-sia belaka.

Ahli balaghah (sastra Arab) yang sebenarnya bukanlah sekadar orang yang dapat menyebutkan macam dan perincian babbabnya. Seorang ahli fiqih (faqih) adalah orang yang apabila menghadapi permasalahan yang muncul yang tidak terdapat nashnya. Abul Hasan al-Qathi'i. Dulu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kalau kesulitan memahami tafsir salah satu . Abu Zakaria Yahya bin Ziyad al-Farra'. Karena ada sebagian cabang ilmu yang tidak bisa dipahami oleh sebagian ulama besar. maka dia bisa mengetahui hukumnya dengan melihat pada dalilnya. di antara mereka ada yang berterus terang mengatakannya sebagaimana diketahui dalam biografinya. dan pasrah di hadapan Allah. lipat gandakan semangat. Imam AsySuyuthi tidak menguasai ilmu matematika. namun dia adalah orang yang kepiawaian balaghahnya mengalir saat membaca kitabullah atau lainnya.engkau berhak tetap dinamakan orang yang jahil. Bersandar kepada Allah dalam Menuntut Ilmu Jangan gusar apabila engkau belum bisa menguasai salah satu cabang ilmu. berserah diri. demikian juga Imam Abu Ubaidah. Mereka itu adalah Imam AlAshma'i tidak mengerti ilmu 'arudh (ilmu tentang syair Arab). dengan pengertian kalau ada sebuah permasalahan baru. Muhammad bin 'Abdul Baqi al-Anshari. Juga setiap kali dia mengetahui sesuatu bisa menerapkannya dalam ucapan dan perbuatannya sehari-hari. mampu mengeluarkan simpanan ilmunya ini dan berbagai segi baik saat dia menulis atau berceramah. Abu Muslim an-Nahwi tiak ilmu sharaf. kelima irang ini tidak menguasai ilmu nahwu. Imam Ibnu Shalah tidak bisa menguasai ilmu manthiq. maka dia bisa menetapkan hukumnya. seharunya setiap orang bisa menerapkan ilmunya pada kehidupan nyata. pusatkanlah perhatianmu kepada Allah dalam berdoa. Ar-Ruhawi-seorang ahli hadits--tidak menguasai ilmu khat. Demikian juga hal ini berlaku dalam semua disiplin ilmu. Oleh karena itu. dan Abu Hamid al-Ghazali. Kemampuan inilah yang sebenarnya bisa dijadikan ukuran yang jeli tentang sampai di mana engkau mampu menguasai ilmu syar'i. Wahai pelajar.

juga saat menukil ucapan ulama.
 Namun Rabb-mu orang-orang mengerjakan shalat'. Tidak menambahi dan tidak mengurangi. beliau sering berdoa: "Ya Allah. dan menghalangi keberhasilan umat ini dengan batu sandungan.ayat. Sebagaimana ucapan penyair: 
 "Rabb-mu tidak mengatakan pada kelompok berkata: pertama 'Celakalah bahwa mereka itu yang mabuk. sehingga umat ini bisa mengetahui . Wahai Dzat yang memberikan kepahaman kepada Sulaiman. dia menukil yang dia senangi dan membuang lainnya. maka dia telah mengotori ilmu itu sendiri dengan nanah. Ini merupakan sebuah batu sandungan dan penipuan dalam dunia ilmiah. ataupun saat menyampaikan ilmu. bekerja." (Al-Maa'uun: 5). dan kebaikan amalnya tergantung pada kebenaran ilmunya. karena wajib bagimu untuk mengikuti dalil yang ada. Amanah Ilmiah Wajib bagi seorang pelajar untuk benar-benar menjaga amanah ilmiah. menuntut ilmu. Karena. Ada yang kalau menyifati sesuatu. nantinya Dan dalil bukankah tidak akan dengan membahayakanmu tersebut berbeda pendapatmu. baik saat belajar. karena kewajiban seseorang itu kalau menukil dan menyifati (memaparkan) haruslah dengan penuh kalau amanah. ajarkanlah kepadaku. pahamkanlah aku. keberhasilan sebuah umat tergantung pada kebaikan amalnya. dia menyampaikan sesuatu dan membuang yang tidak disenangi. dan kebenaran ilmunya adalah manakala ulamanya bersikap amanah dalam hal yang mereka lihat dan paparkan. karena kebanyakan manusia tidak terlalu perhatian pada masalah amanah. Barang siapa yang berbicara pada salah satu bidang ilmu tanpa adanya rasa amanah. dia harus amanah dalam menukil dan menyifati (memaparkan) sesuatu. Sesuatu yang sangat penting bagi seorang pelajar adalah mempunyai rasa amanah ilmiah. wahai Dzat yang mengajarkan Adam dan Ibrahim. (*: Lihat Majmuu'al Fatawa [IV/38])."[*] sehingga beliau dapat memahaminya." Dia membuang terusan ayat tersebut:
 "(Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Lalu engkau menyampaikannya kepada umat.

kemuliaan jia. dan penjagaan terhadap din. kecintaan antar-sesama. senangnya kebersamaan. atau kuat mana antara jujur dan dustanya. amanah ilmiah hanya akan terwujud dengan adanya kejujuran. Oleh karena inilah kejujuran menjadi fardhu 'ain (kewajiban bagi setiap individu). ataupun juga menceritakan hal yang tidak mereka ketahui. juga tidak untuk memberi manfaat kepada orang lain dengan ilmu yang mereka pelajari. kemuliaan jiwa. karena dia (dianggap) seorang penipu. sedangkan kejujuran sebagaimana yang dikatakan Syaikh di sini adalah sebagai tanda kewibawaan. sehingga para penuntut ilmu bisa mengetahui kadar ilmiah apa yang mereka baca. kuatnya akal. yang tidak boleh diterima kabar dan beritanya. jika dengan kedustaan saja bisa berhasil. tidak lagi samar bagi mereka. Tidak adanya rasa amanah bisa menjadikan pelakunya menjadi fasik. jadi mereka tidak pernah merasa berdosa untuk meriwayatkan apa yang sebenarnya tidak mereka dengar. ketinggian cita-cita. Setiap kelompok penuntut ilmu tidak akan pernah kosong dari orang-orang yang (mereka) dalam menuntut ilmu bukan bertujuan untuk berakhlak yang mulia. Kejujuran Tutur kata yang jujur merupakan tanda kewibawaan. dan barang siapa yang tidak jujur. Maka. maka alangkah meruginya orang yang tidak memilikinya. ataukah mungkin memiliki kadar yang sama. Karena. Inilah yang menjadikan para ulama besar mengkritisi para perawi hadits.perkara yang sebenarnya. juga bisa diketahui kepastian apakah dia jujur atau dusta. Orang-orang yang semisal mereka ini tidak akan mempunyai sifat amanah. Kejujuran di sini hampir mirip dengan masalah amanah ilmiah. Hendaklah dibedakan antara orang yang berlebih-lebihan dalam perkataannya dengan orang yang hanya mengatakan apa yang diketahuinya. maka dia berarti telah mengotori jiwa dan ilmunya dengan penyakit. maka tentunya dengan kejujuran akan lebih . dan juga kebersihan hati. kebersihan hati.

" padahal Allah tidak mengharmkannya.menjamin keberhasilan. kalau sudah kita lihat dari sisi pembicaraannya. Sarah. dan jika seseorang selalu berbuat jujur. maka sabarlah. yang mendengar lafaz itu menyangka salah satu maknanya. untuk mendamaikan manusia. janganlah engkau mengatakan: "Sesungguhnya Allah mengharamkan ini. akan tetapi dia berdusta untuk menghadapi orang yang zalim dan melampaui batas. (*: Tauriyah adalah mengucapkan sebuah lafaz yang mengandung dua arti. tidak perlu ada pengecualian dalam hal ini.s." padahal tidak. sesungguhnya kejujuran itu menghantarkan kepada kebaikan. meskipun Nabi Ibrahim a. Dan jika engkau takut bahwa kejujuran itu akan bisa membahayakanmu.s. "Allah mewajibkan itu. yaitu dalam peperangan. dan kebaikan akan menghantarkan ke Surga. Jauhilah olehmu berkata semacam itu. berudzur saat dimintai syafa'at dengan alasan karena dia pernah berdusta sebanyak tiga kali. Akan tetapi. padahal sebenarnya beliau saat itu telah berkata jujur.). Kejujuran pasti akan berakibat baik. Sebagian ulama mengecualikan juga dusta yang dibolehkan sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa tidak boleh dusta kecuali dalam tiga hal. padahal yang diinginkan oleh pembicara adalah makna yang lain." maksud beliau adalah istrinya." padahal tidak. Perkataan ini tidak terhitung sebagai kebohongan. maka dari itu milikilah sikap jujur itu. Maka. pen. karena tauriyah sebenarnya adalah kejujuran. Dan jangan pula mengatakan: "Si Fulan yang seorang alim berkata begini. kepada seorang raja yang zalim: "Ini adalah saudariku. Sebagian ulama mengecualikan bahwa ada dusta yang diperbolehkan. bab "Bolehnya Dusta . karena dengan cepat akan terungkaplah kebohongannya. dan perkataan seorang wanita terhadap suaminya atau suami terhadap istrinya. Karena. dan kebohongan itu tidak akan berlangsung lama. maka Allah akan mencatat di sisi-Nya bahwa dia adalah seorang yang jujur. (Lihat Syarh an-Nawawi 'ala Shahihi Muslim [XII/45]. yaitu dusta untuk tauriyah[*]. Sebagai contoh adalah perkataan Nabi Ibrahim a.

Demikian juga dalam masalah mendamaikan antara sesama manusia." Maka dari itu. namun bisa disimpulkan menjadi tiga hal. dan tidak akan mengantarkan pada kebaikan. bukan termasuk dalam dusta yang sebenarnya. kejujuran ini hanya ada satu cara. janganlah engkau berdusta." Waqi' berkata. yaitu (sebagai berikut). "Ilmu ini tidak akan diperoleh kecuali oleh orang-orang yang jujur. Contohnya orang yang mencari muka terhadap orang yang dia ketahui sebagai orang fasik dan ahli bid'ah.dalam Peperangan"). "Pelajarilah kejujuran sebelum engkau mempelajari ilmu. Kejujuran adalah mengatakan sesuatu sesuai dengan kenyataan dan keyakinan yang ada. . namun dia katakan sebagai orang yang istiqamah untuk mencari muka (perhatian) darinya. karena kebohongan akan mengantarkan pada kemaksiatan. tetapi katakanlah: "Seandainya ada yang bertanya kepadamu: 'Apakah dia menggunjingku?' Maka jawablah bahwa dia tidak pernah menggunjingmu sedikit pun'. sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw. sebab peperangan adalah tipu daya. Yang dimaksud adalah secara tauriyah. Imam Al-Auza'i berkata. atau trik-trik lainnya. 1. Akan tetapi. bukan benar-benar berdusta." Begitu juga masalah kebolehan dusta bagi seorang wanita terhadap suaminya. yakni dengan cara memperlihatkan kepada musuh bahwa engkau akan menuju sebuah arah padahal yang engkau tuju adalah arah yang lain. sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa hal ini masuk pada bab tauriyah. Pendapat ini tidaklah jauh dari kebenaran. sedangkan kedustaan banyak cara dan ragamnya. pelajarilah kejujuran terlebih dahulu sebelum engkau mempelajari ilmu. Dusta Seorang Penjilat : Maksudnya adalah kedustaan yang berbeda dengan kenyataan dan juga keyakinan yang sebenarnya.

selalulah bekerja. oleh karena itu betapa banyak manusia yang diberi fatwa oleh orang-orang awam dengan fatwa yang salah. belajar. bahkan akan menambah kepercayaan orang lain kepadanya. Dusta Orang Dungu : Maksudnya adalah kedustaan yang berbeda dengan kenyataan namun serasi dengan keyakinan.2. 3. beradalah di tempat kerja jangan berada di tempat begadang malam. Ini tidak akan membahayakannya. menyibukkan diri dengan membaca maupun mengajar. jangan menganggur dan malas. yaitu Waktu dan Umurmu Pergunakanlah selalu waktumu untuk belajar. menelaah. Adapun ucapan Syaikh: "Setengah kebodohan adalah ucapan saya kira atau katanya. maka kalau setengah ilmu adalah ucapan "saya tidak tahu. merenung." apabila memang tidak tahu. Manfaatkanlah waktu . berkumpul dengan para guru." Ini benar dan ini juga sebagai pelengkap penjelasan sebelumnya. namun sama dengan kenyataan." Bolehkah kita percaya pada ucapan orang awam? Tidak boleh. menghafal. Perisai bagi Seorang Pelajar Perisai seorang ulama adalah ucapan: "Saya tidak tahu. Jagalah waktumu dengan selalu bekerja keras. sebagaimana orang munafik. Karena." Berdasarkan prinsip ini." maka setengah kebodohan adalah ucapan "katanya atau saya kira. Dia menjawab. Terutama pada saat masih muda yang ketika itu engkau masih sehat. sebagian orang awam banyak yang ditanya hukum ini halal atau haram." ini juga benar. Menjaga Modal Utamanya. bahwa seseorang itu wajib berkata "saya tidak tahu. juga ucapannya: "Katanya. lalu dia menyebutnya sebagai wali." dan tirainya akan dirobek oleh kesombongan tidak mau mengucapkannya. seperti orang yang percaya akan keshalehan orang sufi yang mubtadi' (ahli bid'ah). terutama sekali saat musim haji. Dusta Orang Munafik : Maksudnya adalah kedustaan yang berbeda dengan keyakinan. "Saya kira ini haram. dan meneliti. mereka mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh Ahlus Sunnah.

Jadikanlah penelitianmu secara runut dari yang sangat penting ke yang penting terlebih dahulu. "Nanti kalau sudah selesai dari pekerjaan ini . seseorang kalau sudah menjadi pemimpin akan banyak urusannya.
 Dan lemahnya kaki serta tanganku sangat menyusahkanku. padahal hanya untuk memegang pena. sehingga konsentrasinya pun buyar." Namun.yang sangat berharga ini agar engkau mampu mendapatkan derajat ilmu yang tinggi.
 Kalau saya menulis. Oleh karena itu.
 sehingga sekarang saya seakan-akan orang merunduk untuk mendekati binatang buruan. Oleh karena itu.
 Saya heran dengan lemahnya tanganku." Berkata Usamah bin Munqidz:
 "Pada umur 80 tubuhku sudah dikuasai oleh kelemahan. jangan katakan.
 sehingga orang lain menyangka akan terikat padahal tidak. Jadikanlah lembaran-lembaran kitab itu menjadi rutinitas pandangan matamu. Ketahuilah bahwasannya kalau engkau telah terbiasa dengan sungguh-sungguh dalam belajar. Umar bin Khaththab berkata. maka tulisanku seperti tulisan orang yang gemetar. karena waktu muda adalah waktu yang bagus untuk kosentrasi hati dan pikiran. jangan asal comot dari sana-sini. sehingga engkau mempunyai kemampuan untuk mengeluarkan setiap permasalahan dari kaidahnya..." Karena. lalu pikirannya pun bercabang. maka ini akan menjadi kebiasaanmu... bergegaslah sebelum engkau terkena untaian bait syair Abu Thahhan al-Qaini:
 "Tubuhku membungkuk oleh karena sudah tua. Saat dia ingin mengerjakan sesuatu tiba-tiba ada keperluan lain yang jauh lebih mendesak dari yang akan dia kerjakan sebelumnya.
 Saya berjalan sangat lambat. Jangan sampai engkau suka menunda-nunda pekerjaan. serta mampu mengeluarkan cabang dari pokoknya. juga saat beban dan tanggungan masih ringan. karena masih sedikit untuk memenuhi kehidupan dan kepemimpinan. sungguh-sungguhlah engkau belajar mumpung masih memiliki waktu longgar. nanti kalau sudah pensiun . "Belajarlah kalian sebelum menjadi pemimpin. maka dia pun harus mengurungkan niatnya. Jadikanlah penelitianmu itu terarah dengan baik.
 Padahal dahulu mampu menancapkan tombak di . atau lainnya.

maka berikanlah hak mereka masing-masing." (Majmu' Fatawa [XXIII/187]).." (HR Bukhari). Wallaahu a'lam. oleh karena itu Mu'adz bin Jabal berkata. maka itu adalah bukti bahwa engkau benar-benar mempunyai cita-cita yang besar dalam menuntut ilmu. 'Sesungguhnya saya mengharapkan pahala dengan tidurku sebagaimana saya juga berharap pahala saat aku terjaga'. sebagaimana bisa juga istirahat dengan tidur atau lainnya. 
 Ini adalah kesudahan dari orang yang berumur panjang. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang hikmah dilarangnya shalat sunnah di semua waktu. Dari sini harus kita ketahui bahwasannya merilekkan hati dan memberinya sedikit waktu untuk istirahat agar nantinya bisa semangat lagi adalah sesuatu yang disyariatkan seperti dalam sabda Rasulullah saw. "Bahkan termasuk hikmah larangan menjalankan shalat sunnah di sebagian waktu adalah untuk mengistirahatkan jiwa saat waktu terlarang agar jiwa bisa semangat lagi saat menjalankan shalat. "Sesungguhnya jiwamu punya hak atasmu begitu juga Rabb-mu mempunyai hak atasmu serta keluarga dan istrimu pun juga mempunyai hak atsmu." Namun. karena hati itu harus diistirahatkan sewaktuwaktu. karena hati itu bila merasa bosan (jenuh) sebagaimana badan. Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib bahwasannya beliau berkata. "Larangan menjalankan shalat sunnah di sebagian waktu terdapat banyak manfaatnya." (Lihat Kasyful Khafa' [I/524]). "Rilekkanlah hatimu dengan mempelajari keunikan ilmu dan hikmah. Istirahat Luangkanlah sedikit waktumu untuk istirahat di taman ilmu dengan menelaah kitab-kitab tsaqafah umum.leher singa." (Majmu' Fatawa [XXIII/217]). karena jiwa itu akan bersemangat untuk menjalankan ibadah yang tadinya dilarang. Syaikhul Islam juga berkata. jika engkau bersegera belajar. Sebenarnya hadits inilah timbangan . yaitu untuk mengistirahatkan jiwa beberapa saat dari lelahnya ibadah.
 Katakanlah kepada orang yang ingin berumur panjang. juga akan rajin untuk menjalankan shalat setelah beristirahat.

terutama para pakar ahli hadits. Kami temukan hal semacam ini dalam kitab-kitab adab belajar dan juga kitab sejarah. niscaya akan engkau dapatkan jumlah yang tidak sedikit. Mu'jamul Buldan (III/102). dan Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (XXV/318-320. dan lainnya. maka hindarilah dia. Poin ini sangat penting. Alaisa ash-Shubbu Biqariib oleh Thahir Ibnu 'Asyur. Kadang-kadang engkau dapati ada seorang guru yang bisa menguasai ilmu fara'idh namun tidak menguasai hukum seputar shalat. pasti akan semakin jelas permasalahannya. karena dia akan banyak membahayakanmu. Sebagai sebuah contoh kitab Adab al-Mu'allimin oleh Imam AsSuhnun (hlm. mereka membaca kitab-kitab besar di banyak majelis dan selama berhari-hari untuk sekadar membetulkan bacaan kepada seorang guru yang mumpuni. misalnya kalau engkau mendapatkan seseorang yang sangat menguasai ilmu bahasa Arab namun dia menyeleweng dalam aqidah dan akhlaknya.utama yang bisa membuat hati menjadi tenang. kesalahan. karena itulah ilmu yang sebenarnya. 329). juga ada orang yang menguasai ilmu bahasa namun tidak menguasai ilmu syar'i. dan perubahan kata. Maka. Apabila engkau amati biografi para ulama. 135137). Pembetulan dan Pelurusan Bacaan Bersungguh-sungguhlah untuk membetulkan bacaanmu kepada seorang guru yang mumpuni agar engkau terbebas dari penyelewengan. Pemantapan ilmu itu ada cara tersendiri dalam setiap disiplin ilmunya. mantapkanlah ilmumu dari seorang alim yang menguasainya selagi hal itu tidak membahayakanmu. 120). Fatawa Rasyid Ridha (1212). Dan itu harus dilakukan dengan seorang guru (syaikh) yang mumpuni. Seandainya Syaikh berdalil dengan hadits ini. Ali. maka orang semacam ini tidak selayaknya kita berguru kepadanya. Ar-Risalah al-Mufashshalah oleh Al-Qabishy (hlm. bukan apa yang diriwayatkan dari Umar. karena hal itu akan membuat banyak orang tertipu. 104). yaitu memantapkan ilmu dan meluruskannya agar menancap di hati. Asy-Syaqa'iq an-Nu'maniyyah (hlm. adapun guru karbitan (pura-pura jadi syaikh). Abjadul 'Ulum (I/195-196). .

mengeluarkan hal-hal tersembunyi dari lautan faedah ilmiah dan istimewa. Dahulu para ulama selalu menulis pada akhir bacaan mereka . Beliau juga membaca Shahih Muslim dalam empat majelis sekitar dua hari hari lebih sedikit. Al-Hafidz Ibnu Hajar membaca Shahih al-Bukhari dalam sepuluh majelis. dan selain mereka yang akan sangat panjang kalau disebutkan satu per satu. lagi menakjubkan. juga Thabaqaat asy-Syaafi'iyyah karya Imam As-Subki (IV/30). Ada banyak kisah aneh. AlMu'taman as-Saji. selama tiga hari. Sadzaraatudz Dzahab (VIII/121. Beliau juga membaca Sunan Abu Dawud dalam empat majelis dan Mu'jam ath-Thabrani ash-Shaghir hanya dalam satu majelis antara shalat dhuhur dan ashar. itu hanya membaca saja tanpa keterangan dan pemahaman. meskipun sebenarnya orang tadilah yang paling menguasai ilmu tersebut. meluaskan pemahaman. Namun. dan setiap majelis selama sepuluh jam. Kita harus belajar kepada orang lain yang aqidahnya lurus dan akhlaknya baik. Hulaashatul Atsar (I/72-73). Menelaah Kitab-Kitab Besar Menelaah kitab-kitab yang besar adalah perkara yang sangat penting agar memperoleh banyak ilmu pengetahuan. Fihris al-Fahaaris oleh AlKattani dan Taajul Aruus (I/45-46). Pekerjaan ini beliau slesaikan pada hari Arafah tepatnya pada hari Jumat tahun 813 H. Maka. XXI/253). berpengalaman dalam mencari titik-titik pembahasan dan masalah-masalah ilmiah serta bisa mengetahui cara para ulama dalam karya ilmiah dan istilah mereka. jangan sampai engkau melupakan bagianmu dalam hal itu. Begitu juga guru beliau. XIX/310. tentang hal semacam ini dari Al-Khatib al-Baghdadi. Ibnul Abar. cukup lihat saja di dalam kitab Siyar A'lamin Nubala' oleh Imam Adz-Dzahabi (XVIII/277-279. Ibnu Jahbal. 206). saat berada di Damaskus beliau membaca Shahih Muslim dengan bacaan cermat (tepat) pada gurunya. Al-Jawaahir wadDurar oleh Imam As-Sakhawi (I/103).mereka akan menyangka bahwasannya dia itu berada di atas kebenaran. Fat-hul Mughiits (II/46). Imam Al-Fairuz Abadi. Kalau begitu berapa jamkah itu semua? Seratus jam! Allaahul musta'an (hanya kepada Allah kami memohon pertolongan).

" karena ini adalah adab yang hina dan mengadu domba antar-para ulama. (3) memahami dengan baik. Kemudian. maka bertanyalah dengan tujuan agar engkau mengetahui jawabannya. (2) agar orang lain mengetahui bahwa engkau sudah menguasainya. bukan untuk membantahnya. Dan. (4) menghafal. memahami jawaban dengan baik. Adapun menulis lafaz "Sampai di sini". (2) mendengarkan dengan baik. . Karena." dan jangan engkau sebutkan namanya. maka menelaah kitab-kitab besar semacam itu akan membawa kehancuran pada dirinya. menelaah kitab-kitab besar bisa bermanfaat bagi seorang pelajar namun bisa juga membahayakannya. beliau menerangkan satu per satu dengan sebuah penjelasan yang penting. "Apa pendapat Anda tentang fatwa semacam ini. maka jelaskanlah dalam bentuk pertanyaan. Bertanya dengan Baik Beradablah yang baik ketika bertanya. dan setelah mendapatkan jawaban janganlah engkau mengatakan. katakanlah. Kalau dia seorang pelajar yang masih pemula. Pembahasan ini masih perlu dirinci." agar tidak ada yang terlewatkan saat ingin mengulangi kembali. jauhilah hal ini. maka menelaah kitab-kitab besar ini adalah sesuatu yang baik. Beliau juga berkata.kalimat: "Sampai di sini. Namun. namun masih ingin menambah ilmu pengetahuannya lagi. terutama kalau sudah lama ditinggalkan. 168]). inilah buah dari sebuah ilmu. (6) mengamalkan dan menjaga adab-adabnya. "Apabila engkau belajar kepada seorang ulama. gambarannya semacam orang yang tidak pandai berenang lalu terjun ke dalam air. ini adalah sesuatu yang baik." (Lihat Miftah Darus Sa'adah [hlm. Berkata Imam Ibnul Qayyim. "Ustadz Fulan berkata begini dan begitu. Dan jika memang hal itu harus engkau lakukan. "Ilmu itu mempunyai enam tingkatan: (1) bertanya dengan baik. kalau dia orang yang sudah berilmu. (5) mengajarkan. maka dia akan semakin percaya kepadamu. mendengarkan. yang mengandung dua faedah: (1) agar engkau tidak lupa aya yang sudah engkau baca.

Menghafal dengan usaha. Mengahafal ini ada dua macam. Dalam pandanganku (editor isi: Abu 'Azzam.s.. 2. iman. "Dia itu Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan ajaran agama kalian. lalu mempelajarinya dan menghafalnya. karena di antara cara mengamalkan ilmu adalah engkau laksanakan apa yang telah diwajibkan oleh Allah Ta'ala dengan cara menyebarkan dan mengajarkannya. Ketiga. Namun. tatkala didatangi oleh Jibril a." Oleh karena itu. serta tanda-tanda hari kiamat. kalau Anda mau bertanya dengan maksud agar orang lain mengetahui meskipun Anda sendiri sudah mengetahui. dan yang kelima adalah mengamalkan ilmunya. Ini kalau memang butuh bertanya. maka Rasulullah saw. maksudnya seseorang melatih diri untuk menghafal dan mengingat-ingat apa yang telah dihafalkannya. Keempat. Rasulullah saw. dan ihsan. Kalau orang ini sering mengulang-ulang. ini adalah sebuah sikap yang salah. Namun.Pertama. maka boleh. Diskusi dengan tanpa Perdebatan . Dia harus mengamalkan ilmunya untuk memperbaiki dirinya sendiri sebelum memperbaiki orang lain. jangan bertanya. bahkan orang yang bertanya semacam ini sama saja dengan mengajarkan ilmu kepada mereka. mendengarkan dengan baik (cukup jelas). Rasulullah saw. dan tidak pernah melupakannya. memahami dengan baik (cukup jelas). Sesuatu yang secara tabiat diberikan oleh Allah Ta'ala kepada orang yang dikehendaki-Nya. kalau tidak butuh. lalu baru mengajarkan kepada orang lain. Juga merupakan sebuah kesalahan kalau ada yang mengatakan. Namun. maka akan mudah baginya menghafalkannya. "Saya tidak ingin bertanya karena malu. Karena. amalkanlah dahulu sebelum mengerjakannya. jika dia bertanya agar dipuji oleh orang lain. "Mulailah dari dirimu sendiri kemudian keluargamu. bersabda. bersabda. red) bahwa ini adalah tingkatan yang keenam. 
 1. Kelima." Kedua." (HR Muslim). bertanya dengan baik. Kadang ada orang yang menghadapi sebuah masalah. menghafal. bisa saja engkau mengatakan bahwa mengajarkannya termasuk mengamalkan ilmu. lalu beliau bertanya tentang Islam. mengajarkan.

Diskusi ini didasari atas saling manasihati.. riya. lalu dia berkata. "Subhanallah. "Jadikanlah ucapanmu (bagaimana pendapatmu) di negeri Yaman. karena hal ini terkadang bisa lebih baik daripada menelaah ilmu sendiri. mencari kesalahan. dan keinginan menyebarkan ilmu. juga jauhilah orang yang suka berdebat. Namun. Ada seorang yang berdebat dengan Abdullah bin Umar. sebab akan bisa menampakkan mana yang benar dan mana yang bathil. baik saat berdebat dengan orang lain ataupun saat merenung sendirian. berhati-hatilah karena mengulang pelajaran ini akan mengungkap cela orang yang tidak serius. tidak berbuat zalim. permusuhan. Tatkala orang-orang Irak bertanya kepada beliau tentang darah nyamuk. lembut. Juga. sombong. Saudaraku ..Jauhilah perdebatan karena akan menjadi bencana. maka beliau menjawab. Mengulangi Pelajaran Bergembiralah dengan mengulangi pelajaran dan mendiskusikannya bersama orang-orang yang cerdas. mana yang kuat dan tidak. dan membodohi orang yang memang bodoh. bisa mengasah otak dan membuat kuatnya ingatan. juga kalau mengulangi pelajaran bersama orang yang rendah ilmunya dan otaknya tumpul bisa menjadi sebuah penyakit. maka segeralah mengatakan saya dengar dan saya akan menaatinya. apakah boleh membunuh nyamuk ataukah tidak. Adapun perdebatan hanyalah ingin menang. dan menjauhi kecurangan. orang tersebut memang berasal dari Yaman. Oleh karena itu. beliau menjawab. yang penting menang. dengan tetap bersikap sportif. Adapun kalau engkau mengulangi . tanpa membantah sedikit pun. niscaya engkau akan selamat dari dosa dan perbuatan haram.. Maka. kasih sayang. para sahabat menerima hukuman Rasulullah saw." Karena. juga mereka tidaklah mengatakan bagaimana pendapatmu tentang hal ini dan itu. bagaimana pendapatmu? Maka. orang-orang Irak ini membunuh cucu Rasulullah. lalu mereka datang untuk bertanya tentang darah nyamuk?" Tidak diragukan lagi bahwa orang semacam ini hanyalah ingin berdebat saja. Adapun berdiskusi dalam kebenaran adalah kenikmatan. hendaknya engkau mencari kebenaran. kalau kebenaran itu sudah nampak. jauhilah perdebatan ini. kacau. dan serampangan.

maka dia tidak akan bisa terbang lagi. Menyempurnakan Ilmu Alat dalam setiap Disiplin Ilmu . tidak perlu melihat pendapat orang lain." Ini adalah sebuah kesalahan. Kalau begitu." Oleh karana itulah para ulama apabila menguatkan salah satu pendapat. "Menghidupkan ilmu itu adalah dengan cara mengulangulangnya. kalau belum ada yang mengucapkannya. memperhatikan Al-Qur'an namun meremehkan As-Sunnah. Ini adalah salah satu adab belajar. Atau sebaliknya. Al-Qur'an dan As-Sunnah adalah semacam dua sayap burung. "Saya berpendapat demikian jika ada yang sudah berpendapat demikian. apabila salah satu dari keduanya patah. maka kami pun tidak mengatakannya. Ada lagi perkara yang ketiga yang harus diperhatikan. maka beliau mengatakan. "Saya bisa memahami sendiri Al-Qur'an. mereka selalu mengatkan. Janganlah engkau meremehkan perkataan para ulama." Jangan mengambil pendapatnya sendiri. lalu berkata. yaitu perkataan para ulama." Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah apabila berpendapat sesuatu yang beliau sendiri belum mengetahui ada yang berpendapat demikian--padahal beliau sangat luas ilmunya--. Seorang pelajar harus selalu besanding dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. maka memang itu harus engkau lakukan. meskipun ini sudah tercakup dalam ucapan Syaikh: "Dan cabangcabang ilmu keduanya. maka jangan sampai salah satu sayap itu terputus. Namun. "Kalau memang ini sudah ada yang mengatakannya. maka inilah pendapat kami. karena mereka lebih dalam ilmunya daripada ilmumu.pelajaran dengan sendirian. sebagaimana seekor burung yang tidak bisa terbang kecuali dengan dua sayap. juga mereka mempunyai kaidah-kaidah syara' yang tidak engkau ketahui. dalam sebuah ungkapan. janganlah engkau selalu memperhatikan As-Sunnah lalu meremehkan Al-Qur'an." Selalu Hidup Bersama Al-Qur'an dan As-Sunnah serta Cabang-Cabang Ilmunya Karena.

Dalam ilmu hadits antara ilmu riwayah dengan dirayah. mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya . sampaipun kalau si unta masuk ke lubang jarum. Lc. Dari ayat ini diambil pelajaran bahwa seorang pelajar janganlah meninggalkan sebuah disiplin ilmu sehingga menguasainya dengan baik.. Kalau tidak demikian. diambil dari kata "talaahu" yang artinya adalah mengikutinya. dan begitu seterusnya. Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin (Maktabah Nurul Huda.alquran-sunnah. 2005). Dalam bidang fiqih harus menguasai ilmu fiqih dengan ushul fiqih.. Yang dimaksud dengan tilawah di sini adalah membaca lafaz dan memahami maknanya serta mengamalkannya. "Orang-orang yang telah beri al-kitab kepadanya.. editor isi Abu 'Azzam (Pustaka Imam Asy-Syafi'i. judul asli: Syarah Hilyah Thaalibil 'Ilmi. Ahmad Sabiq. maka jangan menyusahkan diri. terj." (Al-Baqarah: 121). 2003). sedangkan yang dimaksud dirayah adalah memahami maknanya. http://www. Sumber: Diringkas oleh Abu Annisa dari Syarah Adab dan Manfaat Menuntut Ilmu.html . Allah Ta'ala berfirman.com/artikel/akhlak/726-adab-dan-manfaatmenuntut-ilmu. Yang dimaksud ilmu riwayah adalah meriwayatkan sanad dan rawi hadits. Orang-orang yang telah diturunkan kepada mereka kitab tidak mungkin dinamakan ahli kitab kecuali kalau mereka membacanya dengan sebenar-benarnya.Engkau tidak akan pernah menjadi seorang pelajar yang bagus selagi tidak menyempurnakan ilmu alat dalam setiap disiplin ilmu. Karena.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->