P. 1
Kebijakan Pemerintah Terhadap Sertifikasi Guru Dalam Upaya Peningkatan Mutu

Kebijakan Pemerintah Terhadap Sertifikasi Guru Dalam Upaya Peningkatan Mutu

|Views: 8|Likes:
Published by Adrial Falahi
Kebijakan Pemerintah Terhadap Sertifikasi Guru Dalam Upaya Peningkatan Mutu
Kebijakan Pemerintah Terhadap Sertifikasi Guru Dalam Upaya Peningkatan Mutu

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Adrial Falahi on Apr 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/25/2013

pdf

text

original

Kebijakan Pemerintah Terhadap Sertifikasi Guru Dalam Upaya Peningkatan Mutu Guru

Guru adalah ujung tombak dalam proses pendidikan. Berhasil atau tidaknya suatu proses pendidikan serta tinggi rendahnya kualitas suatu pendidikan ditentukan salah satunya oleh guru. Demikian pentingnya peranan seorang guru tentunya membawa pada suatu tanggung jawab untuk menjalankan profesi tersebut dengan suatu sikap profesionalisme yang tinggi. Dan dalam menjalankan profesinya, seorang guru tidak hanya dituntut untuk mampu memberikan pengetahuan kepada anak didiknya, akan tetapi juga harus mampu menanamkan suatu nilai – nilai pendidikan dengan guru sebagai modelnya.

Dalam menjalankan profesinya, seorang guru harus melakukan dua fungsi sekaligus yaitu; fungsinya secara moral yang mana ia diharuskan membimbing anak didiknya tidak hanya dengan kecerdasannya akan tetapi juga dengan rasa cinta, dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Dan juga menjalankan fungsi kedinasannya yaitu mendidik dan membimbing para anak didiknya agar menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan bermanfaat bagi pembangunan bangsa. Seperti yang telah disampaikan diatas bahwa Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar – mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan SDM yang potensial dibidang pembangunan. Oleh karena itu, Guru yang merupakan salah satu unsur dibidang kependidikan harus berperan serta secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Dalam arti khusus dapat dikatakan bahwa pada setiap diri guru itu terletak tanggung jawab untuk membawa para siswanya pada kedewasaan atau taraf kematangan tertentu. Oleh karena itu menurut saya, Guru tidak semata – mata sebagai pengajar yang melakukan transfer of knowledge, akan tetapi juga sebagai “pendidik” yang melakukan transfer of values dan sekaligus sebagai “pembimbing” yang memberikan pengarahan dan menuntun siswa dalam belajar. Berkaitan dengan masalah ini, sebenarnya Guru memiliki peranan yang unik dan sangat kompleks didalam proses belajar – mengajar, dalam usahanya untuk mengantarkan siswa atau anak didik ke taraf yang dicita – citakan. Oleh karena itu, setiap rencana kegiatan Guru harus dapat didudukan dan dibenarkan semata – mata demi kepentingan anak didik, sesuai dengan profesi dan tanggung jawabnya. Berkenaan dengan peranan seorang Guru, maka profesionalisasi seorang Guru sangatlah penting untuk memenuhi tuntutan masyarakat. Namun demikian, membahas masalah profesionalisasi seorang Guru tidak dapat lepas dari persyaratan atau kualifikasi – kualifikasi yang harus dipenuhi. Dalam hal ini berkaitan dengan kualitas intelektual dan mentalnya untuk menjalankan fungsinya sebagai seorang pendidik dan pembimbing. Bagi saya secara pribadi memaknai “profesionalisme” seorang pendidik lebih kepada aspek afeksi seorang pendidik. Dimana seorang pendidik yang tidak profesional lebih hanya seorang “pekerja” yang hanya memberikan kewajibannya saja untuk mengajar dan menuntut haknya “uang” semata tanpa memikirkan aspek psikologis para murid dan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Sekarang ini jarang sekali kita temui seorang pendidik yang benar – benar berdedikasi secara luhur dan berdasarkan panggilan hati nuraninya sebagai seorang “Guru”. Saya termasuk orang yang kurang sependapat kalau “uang” adalah faktor utama yang dapat meningkatkan keprofesionalisasian seseorang terhadap pekerjaannya atau lebih tepatnya tanggung jawabnya. Kesejahteraan “uang” bukan satu – satunya alasan seorang pendidik

pada akhirnya peserta didik lah yang akan menjadi korbannya. Apalagi di era pengetahuan seperti sekarang ini. Sebagai contoh seorang “Butet” yang pendidikan terakhirnya S2. dan seharusnya kita malu! Menurut saya sudah saatnya kita menyikapi permasalahan – permasalahan yang ada di dunia pendidikan kita dari sekarang. Akan tetapi ada juga yang beranggapan bahwa “kesejahteraan” itu tidak dapat sepenuhnya menjamin keprofesionalan seorang Guru dalam bekerja. maka tidak menutup kemungkinan bahwa LPTK – LPTK yang ada akan diserbu dengan berbondong – bondong didatangi oleh calon – calon mahasiswa seperti yang terjadi pada jurusan kedokteran. tidak hanya secara intelektual saja akan tetapi juga harus diberikan tes bakat dan minat terhadap calon tenaga pendidik tersebut. Salah satunya melalui kebijakan mengenai sertifikasi guru yang sekarang ini sedang digembar – gemborkan. maka dunia pendidikan kita akan semakin tertinggal jauh baik secara kuantitas dan kualitasnya. menurut saya yang lebih layak menerimanya terlebih dahulu adalah para pendidik yang berada dipedalaman – pedalaman yang sudah barang tentu dedikasinya terhadap pendidikan harus kita acungi jempol. dan profesi lainnya. banyak yang pro dan kontra terhadap masalah “kesejahteraan” yang selama ini telah menjadi permasalahan yang belum ketemu ujung pangkalnya. Kita patut mencontoh terhadap perjuangannya untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Orang semacam ini yang seharusnya mendapatkan “kesejahteraan” yang selama ini dielu – elukan oleh para pendidik di negara kita. Sehingga jurusan – jurusan keguruan dan kependidikan kita sekarang berisikan tidak hanya orang – orang “nomer dua” yang terpaksa dalam memilih jurusan dan bukan karena panggilan hati nuraninya sebagai pendidik. psikologi. Seandainya “kesejahteraan” yang diberikan terlebih dahulu. Pada dasarnya sertifikasi adalah upaya untuk meningkatkan profesi seorang pendidik agar setara dengan profesi – profesi yang sudah ada seperti.untuk menjadikannya sebagai senjata ampuh untuk mereka mengeluhkan keprofesionalan pekerjaan mereka. Dalam menyikapi masalah satu ini. Pada hakikatnya profesi adalah suatu pernyataan atau janji seseorang yang . tanpa adanya panggilan hati nuraninya sebagai pendidik. dengan penuh dedikasi mengabdikan dirinya pada pendidikan anak – anak disuku Anak Dalam dipedalaman Jambi dan sekarang kalau tidak salah dia berada dipedalam Papua. psikolog. pengacara. Yang sangat kita khawatirkan adalah kecenderungan orang – orang untuk menjadi seorang pendidik hanya beralasan pada masalah “kesejahteraan” semata. apabila permasalahan – permasalahan dalam dunia pendidikan seperti sekarang ini belum juga dapat ditanggulangi dengan segera. tanpa memikirkan kesejahteraan dan kenikmatan dunia semata. Seandainya tenaga pendidik kita benar – benar diakui kedudukannya sebagai suatu profesi. Sebagian orang beranggapan bahwa sangat kurangnya kompensasi dari pemerintah terhadap kinerja guru mengakibatkan kurang profesionalnya para guru di negara kita selama ini. Upaya dalam menyikapi profesionalisme tenaga pendidik dalam usaha untuk meningkatkan mutu pendidik sekaligus juga mutu peserta didik di negara kita. hukum. sehingga kita dapat menciptakan tenaga – tenaga pendidik yang mantap secara intelektual dan dedikasinya terhadap dunia pendidik. dokter. Apabila ini dibiarkan maka akan semakin membuat terperosoknya kualitas pendidikan di negara kita. kita harus memperbaiki kesalahan – kesalahan yang telah kita lakukan terutamanya terhadap LPTK di negara kita untuk lebih selektif dalam penerimaan mahasiswanya. Hendaknya dilakukan seleksi yang ketat dan profesional. khususnya terhadap kualitas pendidik dinegara kita. Permasalahan klasik juga diutarakan pada artikel ini yang menyatakan faktor “kesejahteraan” sangat berimplikasi terhadap rendahnya kinerja seorang Guru. Kesejahteraan itu muncul apabila seorang Guru dapat bekerja secara profesional dan bersungguh – sungguh menjalankan tugasnya dengan penuh keikhlasan dan dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaan. dan lain sebagainya.

Secara tidak langsung pemerataan pendidikan dapat direalisasikan dan sekaligus kita mendapatkan para Guru yang memiliki dedikasi yang sungguh – sungguh terhadap jabatannya sebagai “Pendidik”. dan mahasiswanya dapat berjalan dengan kepala tegak sekaligus bangga “Aku Ingin Menjadi Guru”!. Apabila dihubungkan dengan profesi guru. Sebaiknya keseriusan yang dilakukan UPI dalam meningkatkan mutunya dapat dikiranya diikuti oleh LPTK – LPTK yang lain yang tersebar diseluruh Indonesia. untuk mengatasi hal itu adalah kemampuan guru harus ditingkatkan. Realita yang ada bahwa banyak sekolah – sekolah baik dari tingkat dasar bahkan kepada tingkat menengah di daerah pedalaman yang mengalami kekurangan pendidik? Saya mendukung pendapat J. bisa dipertimbangkan agar bagi mereka yang ingin menjadi seorang Guru negeri (PNS). Sehingga pemerataan mutu pendidikan semakin merata diseluruh pelosok bangsa. Dimana pemerataan pendidikan seakan – akan hanya sebatas angan – angan semata dari pemerintah. akan tetapi menjadi seorang kepala sekolah. Muncul pertanyaan bahwa siapa “Guru” yang bagaimana yang berhak mengikuti program sertifikasi ini? Kenyataannya sekarang bahwa kepala sekolah tidak bisa mengikuti program sertifikasi ini. Dan pada saat ini melalui UPI yang notabene adalah satu – satunya yang bersetatus sebagai BHMN.mengabdikan dirinya pada suatu jabatan atau layanan karena orang tersebut merasa terpanggil menjabat pekerjaan itu. Apakah kebijakan sertifikasi ini hanyalah sebagai upaya cuci tangan dari pemerintah untuk meredakan desakan . Bagaimana kiranya nasib pendidik didaerah pedalaman yang tidak hanya sebagai seorang Guru. sekaligus paman sekolah. hal ini malah nantinya mengakibatkan kesenjangan yang lebih fatal terhadap para pendidik itu sendiri!. Selama ini kita melihat bahwa pemerintah dalam membuat suatu kebijakan sangat kontroversial. harus kompeten dan profesional. Dengan demikian daerah yang kurang tenaga pendidiknya akan mendapat Guru yang segar dan masih bersemangat. diharapkan mampu mencetak lulusan tenaga pendidik yang kompeten dan profesional dibidangnya. Drost bahwa hendaknya pemerintah memikirkan semacam penempatan kerja para Guru. mungkin ada semacam “pengabdian Guru” selama 2 – 3 tahun didaerah – daerah terpencil. Akan tetapi apabila tidak didukung oleh niat tulus dari pemerintah. Apabila kebijakan sertifikasi ini menjadi suatu keharusan. jenjang dan bentuk pendidikan tertentu. akan tetapi dedikasinya terhadap profesi yang dipilih oleh calon mahasiswanya lewat tes minat bakat yang ketat. Ditambah dengan ketatnya penjaringan terhadap calon mahasiswa di UPI diharapkan mendapat input yang bagus sekaligus memiliki dedikasi yang tinggi dalam profesi pendidik yang dipilihnya. menjadi pembimbing. Sebenarnya profesionalisme pendidik sudah didengungkan sejak tahun 1973 yang dipelopori oleh Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Bandung. maka yang dapat mengaksesnya hanya terbatas kepada pendidik yang berada diperkotaan saja. Dari permasalahan seperti yang ada diatas ada asumsi bahwa faktor utama rendahnya mutu pendidikan adalah ditentukan oleh faktor guru. untuk itu LPTK sebagai subsistem pengajaran harus dibenahi kembali agar dapat mengelola dan menghasilkan lulusan yang kompeten dan profesional. Pada kenyataanya bahwa negara kita adalah negara kepulauan yang tersebar begitu luas dan berbudaya yang majemuk. maka semuanya ini hanyalah mimpi belaka. Untuk mereka yang sudah merasa cocok pada tempat pengabdiannya kelak dapat dibantu untuk menjadi kepala sekolah nantinya. maka sertifikasi dapat diartikan sebagai surat bukti kemampuan mengajar dalam mata pelajaran. Tidak hanya kemampuan intelegensi saja yang diutamakan dalam penjaringan mahasiswa baru di UPI. Sedangkan sertifikasi pada hakikatnya adalah pemberian sertifikat kompetensi atau surat keterangan sebagai pengakuan terhadap kemampuan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan setelah lulus uji kompetensi.

C. Berdasarkan ciri-ciri profesionalisme. Ada kerjasama dan kompetisi yang sehat antar sejawat. Guru dihadapkan pada tantangan untuk mengembangkan keprofesionalannya dalam tiga dimensi. (3). Memiliki sistem seleksi dan sertifikasi. Guru harus bisa membuat pintar (kognitif). Guru sebagai sosok profesional harus memiliki kecakapan kerja yang selaras dengan tuntutan bidang kerja yang ditekuni. Akan tetapi ada hal lain yang juga sama pentingnya dengan masalah kualitas kinerja dan kemampuan ini yaitu si subyek belajar itu sendiri yaitu para murid. Adanya kesadaran profesional yang tinggi. sehingga mempunyai kewenangan yang jelas dalam peningkatan kualitas masyarakat Indonesia. Sertifikasi adalah pemberian sertifikat kompetensi atau surat keterangan sebagai pengakuan terhadap kemampuan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan setelah lulus uji kompetensi. (2). (3) keinginan selalu mengembangkan profesi dengan meningkatkan pengetahuan dan penguasaan teknologi. dan (4). Memiliki keterampilan membangkitkan minat peserta didik. Penguasaan pengetahuan dan teknologi yang kuat. Apabila dihubungkan dengan profesi guru. Seperti janji pemerintah untuk menaikan gaji Guru dengan dua kali gaji pokok sekarang ditambah dengan tunjangan – tunjangan yang lain. Jaminan akan kualitas kinerja dan kemampuan guru memang sangat penting. Menurut Suyanto (2003) program sertifikasi bagi guru merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk memotong mata rantai penyebab rendahnya kuailtas guru. Memiliki kepribadian yang matang dan berkembang. jenjang dan bentuk pendidikan tertentu seperti yang diterangkan dalam sertifikat kompetensi tersebut (P3TK Depdiknas. 2003). Memiliki prinsip – prinsip etik yang berupa kode etik. Harus berdasarkan atas kompetensi individual bukan ats dasar KKN. Memiliki sikap profesional yang berkembang secara berkesinambungan. Adapun ciri – ciri profesionalisme guru menurut Huole. Memiliki sanksi profesi. Dalam suatu proses pendidikan / belajar-mengajar. (2)meningkatkan dan memelihara profesi. membuat terampil (psikomotor).O. (2). (4). Memiliki organisasi profesi. (5).– desakan dari para Guru yang sangat agresif dalam memperjuangkan kesejahteraannya?. (3). dalam Suyanto (2003) adalah : (1). (6). dan (5) kebanggan terhadap profesi. (4) mengejar kualitas dan citacita dalam profesi. Adanya militansi individual. maka sertifikasi dapat diartikan sebagai surat bukti kemampuan mengajar yang menunjukkan bahwa pemegangnya memiliki kompetensi mengajar dalam mata pelajaran. dan bersikap benar (afektif). dan (9). seorang guru dihadapkan pada situasi . Tujuan sertifikasi ini menurut Suyanto (2003) adalah untuk memberikan jaminan akan kinerja dan kemampuan guru dalam melakukan pekerjaan mengajar dan mendidik secara profesional. yaitu ilmu dan teknologi. Salah satu upaya untuk melihat apakah guru masih memiliki kemampuan profesional dan kemampuan akademik yang memadai dilakukan suatu program yaitu sertifikasi. Memiliki landasan pengetahuan yang kuat. Budiarso (2004) mengemukakan bahwa unjuk kerja guru profesional antara lain : (1) keinginan selalu menampilkan perilaku yang mendekati standar ideal. Sertifikasi berasal dari kata certification yang berarti diploma atau pengakuan secara resmi kompetensi seseorang untuk memangku sesuatu jabatan profesional. Tanpa kualitas kemampuan dan kinerja yang terjamin juga akan dapat menjadi ancaman bagi dunia pendidikan. Saya akan mencoba menganalisis dari segi mutu pendidik lewat sertifikasi profesi. pelayanan nyata pada masyarakat dan kode etik profesional. TAPI?. Sedangkan menurut Mungin (2003) guru yang profesional antara lain memiliki ciri : (1). (8). (7). jelas bahwa sertifikasi sangat penting bagi guru.

Anak didik adalah individu-individu yang kompleks yang membutuhkan “sentuhan” tidak hanya intelektual (dalam menguasai materi dan penyampaiannya) akan tetapi juga diperlukan “sentuhan-sentuhan” kasih sayang untuk mengatasi masalah-masalah belajar lainnya. Keberagaman itu meliputi karakter. Walaupun kualitas dan kemampuan seorang guru itu penting. Oleh karena itu. seorang guru akan dihadapkan pada berbagai “masalah-masalah individual” dari para murid. seorang guru akan berhadapan dengan anak didik yang beraneka ragam. hendaknya masalah sertifikasi profesi guru ini agar di cermati lebih lanjut. hendaknya dalam menjalankan suatu kebijakan yang berkenaan dengan sertifikasi profesi guru ini. . Oleh karena itu. kecerdasan dan kualitas mendidik para guru bisa jadi tidak diperlukan lagi. latar belakang keluarga.“keberagaman” dari para murid. Dan untuk dapat mengatasinya. kecerdasan. Dengan adanya keberagaman ini. namun kemampuan guru dalam berempati juga sangat penting. Karena dalam prosesnya. pemerintah dan pihakpihak lain yang berwenang didalamnya harus juga memperhatikan kemampuan ber-empati seorang guru karena untuk melahirkan seorang guru yang profesional yang dapat benar-benar meningkatkan dunia pendidikan di Indonesia adalah seorang guru yang berkualitas kemampuan dan kinerjanya sekaligus ia harus mencintai profesi dan anak didiknya. Untuk permasalahan-permasalahan tertentu. motivasi dalam belajar dan sebagainya. yang dibutuhkan adalah “empati” dan juga “cinta”.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->