P. 1
Isu Pasien Safety

Isu Pasien Safety

|Views: 70|Likes:
Published by Rizky Rinaldi B
tugas
tugas

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Rizky Rinaldi B on Apr 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/11/2013

pdf

text

original

1

REKOMENDASI KEPERAWATAN BAGIAN SISTEM INFORMASI ANTISIPASI MEDICAL ERROR SEBAGAI UPAYA PATIENT SAFETY
Erin Rika Herwina, NPM : 1006749094

Magister Manajemen dan Kepemimpinan Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia Abstrak Patient safety menjadi fenomena dalam budaya international. Isu utama yang menjadi tantangan terhadap patient safety adalah clean care is safer care, safe surgery saves lives dan culture of safety. Telaah jurnal ini memberikan informasi tentang pentingnya system informasi terhadap anisipasi yang seharusnya dilakukan dalam upaya patient safety di rumah saki pada khususnya. Penelitian yang berhubungan dengan patient safety yang dilakukan oleh perawat, resiko kesalahan pemberian obat karena pendokumentasian yang tidak efektif yang dilakukan oleh perawat primer dan catatan farmasi, serta bagaimana pengaruh medical error terhadap pasien. Tujuan telaah jurnal ini untuk mengetahui gambaran system informasi manajemen yang dibutuhkan pasien terhadap rekomedasi pemberian obat sebagai upaya patient safety terhadap medical error di lingkungan rumah sakit sehingga dapat memberikan masukan pada kebijakan rumah sakit dalam melalukan standard operasional procedure (SOP). Metode penulisan ini dilakukan dengan dengan cara telaah jurnal dan literature secara deskriptif analisis terhadap jurnal. yang berhubungan dengan system informasi manajemen patient safety yang berhubungan dengan medical error di rumah sakit ini untuk mengangkat beberapa data tentang penelitian yang ada tentang patient safety terhadap medical error. Hasil telaah ini memberikan masukan kepada stakeholder terhadap system informasi yang berhubungan dengan medical error dalam upaya patient safety di rumah sakit. Kata kunci : patient safety, medication error, system information

A. Latar Belakang Mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit saat ini menjadi isu yang sangat penting dalam memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu. Pada tahun 1996, Depkes memberikan program dalam penjaminan mutu dengan nama Quality Assurance (QA). Konsep mutu pelayanan kesehatan menurut IOM (1999) dan National Health Service menggunakan konsep mutu pelayanan kesehatan dalam 6 aspek, yaitu safety, effectiveness, timeliness, efficiency, equity, dan patient awareness. Teknologi informasi sebagai kunci untuk meningkatkan keamanan pelayanan kesehatan. Pada tahun 1999 , To Err Is Human: Building a Safer Health System, the Institute of Medicine (IOM) menekankan perlunya untuk teknologi khusus dirancang untuk mencegah kesalahan medis. Teknologi tersebut mencakup sistem order entry

teknologi dan sumber daya. 2008). Diprediksikan 1. Bahkan lebih penting lagi. pemberian injeksi yang tidak aman. diprediksikan memberikan kontribusi terhadap penyebaran HIV sekitar 5-15%. dan sistem pendukung keputusan. Hampir satu dari sepuluh pasien dirugikan saat menerima perawatan kesehatan di rumah sakit baik pemerintah atau rumah sakit swasta yang menggunakan teknologi maju (WHO. health care-assosiated infectionas. Penelitian tentang pemberian obat yang merugikan di estimasi 10% terjadi pada pasien dengan perawatan akut. Transfusi darah yang tidak aman. The Institute of Medicine memprediksikan bahwa 100. Corrigan & Donaldson. Studi WHO memperlihatakan bahwa 60 negara tidak memiliki penapisan terhadap prosedur pemberian transfuse yang aman. smetzer dan Cohen (2005) menemukan 50% terhadap medication error dan 20% dilaksanakan kesalahan pemberian obat dikarenakan komunikasi dan dokumentasi yang kurang efektif. memberikan kontribusi 40% di seluruh dunia bahwa pemberian injeksi dilakukan tanpa alat yang streril. pemberian injeksi yang tidak aman. teknologi seperti ini menjanjikan mengurangi kesalahan dalam pengambilan keputusan medis yang karena informasi yang tidak memadai terhadap area keperawatan. beberapan negara bahkan sampai 70% yang. The joint commission (2006) mengidentifikasi terdapat masalah terhadap obat. maternal and newborn care. kompetensi dan keahlian yang inadequate.2 otomatis. Dilaporkan 23 kota di Amerika bahwa telah terjadi medical error. . 2000). puluhan juta pasien di seluruh dunia mengalami keadaan cedera yang menetap atau kematian akibat perawatan medis yang tidak aman.3 juta kematian setiap tahun disebabkan oleh pemberian injeksi yang tidak aman.000 kematian pertahun terjadi akibat salah pemberian obat (Kohn.. yaitu : obat palsu dan obat yang belum memenuhi standar. Memanfaatkan data klinis dari sistem electronic health record systems (EHR). obat-obat yang behubungan dengan perangkat lunak. kita memiliki bukti yang sangat sedikit tentang beban perawatan yang tidak aman di negara-negara berkembang di mana mungkin ada risiko lebih besar membahayakan pasien karena keterbatasan infrastruktur. Setiap tahun. WHO (2011) menuliskan terdapat enam urutan teratas penelitian yang dibutuhkan untuk menidentifikasi tentang patient safety. Penelitian yang dilakukan oleh WHO (2011). dan pemberian transfuse darah yang tidak aman.

system merupakam bagian-bagian yang beroperasi secara bersama-sama untuk mencapai beberapa tujuan (Gordon B. Close loop System (Sistem tertutup Informasi. Sistem Informasi Keperawatan Standar pengetahuan perawat yang harus dimiliki diantaranya ilmu biomedis. pelayanan kesehatan dan struktur organisasi dan standar alat dilengkapi dengan standar prosedur.2. farmakologi. Davis. hukum. 1995). Salah satu klasifikasi informasi adalah sebagai system terbuka dan tertutup. Kedua jenis system ini dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 1. 1997) dalam Eti (2011). Perawat melakukan interaksi di rumah sakit . 2. pengendalian mekanis dan umpan balik (Raymond.3 Perkembangan ilmu tentan system informasi dan patient safety telah memberikan perubahan yang besar dalam undang-undang kesehatan dalam upaya perlindungan terhadap pasien.1. Telaah Literatur 1. manajemen dan yang lainnya. Sehingga di lapangan perawat akhirnya harus memiliki kemampuan melakukan analisa kebutuhan pasien dengan analisa keilmuan yang tepat dan benar. yaitu merupakan hasil pemrosesan data yang diperoleh dari setiap elemen system tersebut menjadi bentuk yang mudah dipahami dan merupakan pengetahuan yang relevan dan dibutuhkan dalam pemahaman fakta-fakta yang ada. Ackof. B. System terbuka adalah system yang dipengaruhi lingkungan. Informasi menurut Budi Sutedjo (2002) dalam Eli (2011). Open loop System (Sistem terbuka) Input Proses/ transformasi output Objectives Control Mechanism Input Transformation Output Gambar 1.. 2009). sedangkan system tertutup yaitu sebuah system yang memiliki sasaran. Sistem Informasi System adalah setiap kesatuan secara konseptual atau fisik yang terdiri dari bagian-bagian yang saling mempengaruhi (L.

4 selama 24 jam. sehingga tahu pada setiap perubahan respon pasien. Di luar negeri kasus hilangnya dokumentasi serta tidak tersedianya form pengisian tidak lagi menjadi masalah. Dalam definisi NHS di atas. Sistem informasi keperawatan adalah kombinasi ilmu komputer. ada 4 pilar utama dari . 2003). dan angka kejadian medical error (Lewis. akurat. mendukung proses pengambilan keputusan. infeksi nosokomial. Frank Dobson dalam Iwan (2008) mendefinisikan clinical governance sebagai "the best care for all patients everywhere" atau pelayanan yang terbaik untuk semua penderita. Indikator klinik mutu pelayanan antara lain: pengukuran angka pasien jatuh. ilmu informasi dan ilmu keperawatan yang disusun untuk memudahkan manajemen dan proses pengambilan informasi dan pengetahuan yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan (Callie.angka decubitus. Sedangkan menurut ANA (Mcline. System informasi berbasis computer ini akan mengidentifikasi berbagai macam kebutuhan pasien. informasi dan pengetahuan tentang standar dokumentasi. Sistem ini sering dikenal dengan Sistem Informasi Manjemen. terpercaya. System informasi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan dalam mencapai standar mutu pelayanan. 2010). detail. Kebutuhan pengobatan yang dilakukan oleh dokter akan memberikan respon terhadap pasien. cepat. pneumonia nosokomial. efektifitas dan efisiensi asuhan keperawaratan dan memberdayakan pasien untuk memilih asuhan kesehatan yang diiinginkan. komunikasi. sehingga perawat melakukan fungsi advocacy pasien sehubungan dengan pengobatan yang diberikan oleh dokter. sampai perhitungan keuangan yang harus dibayar oleh pasien terhadap perawatan yang telah diterima (Callie. di manapun berada. Kehandalan suatu sistem informasi pada suatu organisasi terletak pada keterkaitan antar komponen yang ada sehingga dapat dihasilkan dan dialirkan menjadi suatu informasi yang berguna. mengembangkan dan mendesiminasikan pengetahuan baru. seluruh dokumentasi yang berkaitan dengan pasien termasuk dokumentasi asuhan keperawatan telah dimasukkan dalam komputer. Hal ini karena pada rumah sakit yang sudah maju. relevan untuk suatu organisasi. dokumentasi pengobatan. 2005) dalam Callie (2010) system informasi keperawatan berkaitan dengan legalitas untuk memperoleh dan menggunakan data. mulai dari dokumentasi asuhan keperawatan. 2010). meningkatkan kualitas.

Hal ini untuk menjamin bahwa pelayanan yang diberikan adalah yang terbaik untuk pasien d. harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang mutakhir dan valid (current best evidence). Accountability. b. Disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang hal-hal terkait dengan keselamatan pasien. Pesan ini mengindikasikan bahwa setiap upaya medik haruslah dilaksanakan menurut standar pelayanan yang tertinggi. Standarnya adalah : a. b. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien. Rumah sakit merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan eksternal. apapun bentuknya. Dalam konteks ini maka National Health Service (NHS) mengisyaratkan agar setiap unit pelayanan kesehatan yang ada mampu memfasilitasi setiap upaya pelayanan medik yang paling efficacious. yaitu (1) accountability. Kriterianya adalah : a. High standard of care. Di sini mengandung arti bahwa setiap upaya medik yang dilakukan. dan ketrampilannya untuk menjamin bahwa mutu pelayanan kesehatan yang diberikan telah sesuai dengan yang diharapkan oleh konsumen. mulai dari diagnosis hingga terapi dan rehabilitasi. Menciptakan lingkungan yang dapat mendorong terlaksananya pelayanan klinik yang sempurna (excelence clinical care). pengetahuan. aman dan berorientasi pada keselamatan pasien. a. (3) high standard of care. Oleh sebab itu setiap unit pelayanan kesehatan harus memiliki berbagai standard. yaitu bahwa pelayanan kesehatan harus senantiasa ditingkatkan mutunya secara berkesinambungan. dan (4) menciptakan lingkungan yang dapat mendorong terlaksananya pelayanan klinik yang sempurna (excelence clinical care). Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat. Continuous quality improvement (CQI). Setiap komponen yang terlibat dalam proses pelayanan kesehatan haruslah mampu untuk senantiasa mengupdate ilmu. c. mulai dari standard operating procedure (SOP) hingga Evidence-based clinical practice guideline.5 clinical governance. (2) continuous quality improvement (CQI). b. Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk merevisi manajemen informasi yang ada .

Put the focus back on safety Setiap staf yang bekerja di rumah sakit pasti ingin memberikan yang terbaik dan teraman untuk pasien. Dengan perubahan data mortalitas dari tahun ke tahun. klinisi dan manajer bisa melihat bagaimana manfaat dari penerapan patient safety. Koordinator patient safety dan manajer rumah sakit harus membuat budaya yang mendorong pelaporan. Tetapi supaya keselamatan pasien ini bisa dikembangkan dan semua staf merasa mendapatkan dukungan. Diskusi terbuka mengenai insideninsiden yang terjadi bisa menjadi pembelajaran bagi semua staf. d. Encourage open reporting Belajar dari pengalaman. Tetapi dengan memecah kompleksitas ini dan membuat langkah-langkah yang lebih mudah mungkin akan memberikan peningkatan yang lebih nyata. Pengembangan hanya bisa terjadi jika ada sistem pendukung yang adekuat. Mencatat tindakan-tindakan yang membahayakan pasien sama pentingnya dengan mencatat tindakantindakan yang menyelamatkan pasien. Empat CEO rumah sakit yang terlibat dalam safer patient initiatives di Inggris mengatakan bahwa tanggung jawab untuk keselamatan pasien tidak bisa didelegasikan dan mereka memegang peran kunci dalam membangun dan mempertahankan fokus patient safety di dalam rumah sakit b. e. patient safety ini harus menjadi prioritas strategis dari rumah sakit atau unit pelayanan kesehatan lainnya. menurut Hasting G (2006) dalam Pabuti (2011) ada delapan langkah yang bisa dilakukan untuk mengembangkan budaya Patient safety ini : a.6 3. Misalnya saja data mortalitas. Think small and make the right thing easy to do Memberikan pelayanan kesehatan yang aman bagi pasien mungkin membutuhkan langkah-langkah yang agak kompleks. Make data capture a priority Dibutuhkan sistem pencatatan data yang lebih baik untuk mempelajari dan mengikuti perkembangan kualitas dari waktu ke waktu. meskipun itu sesuatu yang salah adalah pengalaman yang berharga. Upaya Patient Safety Selain itu. Staf juga harus dilatih dan didorong untuk melakukan peningkatan kualitas pelayanan dan keselamatan terhadap pasien. Use systems-wide approaches Keselamatan pasien tidak bisa menjadi tanggung jawab individual. c. Tetapi jika pendekatan patient .

Dimasukkannya perwakilan masyarakat umum dalam komite keselamatan pasien adalah salah satu bentuk kontribusi aktif dari masyarakat (pasien). Perannya saat ini mungkin masih kecil. pembangunan sistem untuk pengumpulan data-data berkualitas tinggi. serta dedikasi dan komitmen yang tinggi untuk tercapainya tujuan pengembangan budaya patient safety. f. sehingga diharapkan sesudah lulus kedua hal ini sudah menjadi bagian dalam budaya kerja. perawat memegang peranan penting terhadap control pemberian obat yang diberikan oleh dokter. Develop top-class patient safety leader Prioritisasi keselamatan pasien. Diperlukan kepemimpinan yang kuat. tetapi akan terus berkembang. Hasil penelitian Pada telaah jurnal ini memberikan gambaran bahwa dalam pelaksanaan asuhan keperawatan. sistem berfikir. dan melibatkan pasien dalam lingkungan kerja bukanlah sesuatu hal yang bisa tercapai dalam semalam. g. Pemimpin sebagai pengarah jalannya program disini memegang peranan kunci. Build implementation knowledge Staf juga membutuhkan motivasi dan dukungan untuk mengembangkan metodologi. Involve patients in safety efforts Keterlibatan pasien dalam pengembangan patient safety terbukti dapat memberikan pengaruh yang positif.7 safety tidak diintegrasikan secara utuh kedalam sistem yang berlaku di rumah sakit. mendorong budaya tidak saling menyalahkan. maka peningkatan yang terjadi hanya akan berumah sakitifat sementara. pengembangan mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien sudah dimasukkan ke dalam kurikulum kedokteran dan keperawatan. 4. dan implementasi program. Seringkali rumah sakit harus bekerja dengan konsultan leaderumah sakithip untuk mengembangkan kerjasama tim dan keterampilan komunikasi staf. memotivasi staf. Secara sederhana pasien bisa diarahkan untuk menjawab ketiga pertanyaan berikut: apa masalahnya? Apa yang bisa kubantu? Apa yang tidak boleh kukerjakan? h. masing-masing anggota tim dengan berbagai peran yang berbeda bisa saling melengkapi dengan anggota tim lainnya melalui kolaborasi yang erat. tim yang kompak. Dengan kepemimpinan yang baik. Hal ini terjadi bisa disebabkan karena pemberian resep . Di Inggris.

menyerukan sistem pendukung keputusan untuk hipertensi ketika hipertensi bukan prioritas klinis untuk kunjungan tersebut). perawat memiliki alasan mengapa dalam sistem pendukung keputusan berbasis computer penting untuk ke dalam alur kerja klinis: • • Hilang data yang mengarah ke rekomendasi dari obat yang kontraindikasi. Pada tabel 1. Medical error terjadi bisa disebabkan control yang kurang terhadap suatu system pelayanan terutama yang terjadi di rumah sakit.8 obat yang diberikan dokter bisa terjadi double atau interaksi obat yang menyebabkan komplikasi terhadap pemberian beberapa obat apabila pasien ditangani oleh beberapa dokter. Beberapa penelitian yang berhubungan dengan upaya patient safety a. dkk (2010). • ketidakakuratan dalam logika program yang dapat menyebabkan rekomendasi yang salah. Potensi interaksi obat dengan obat lain yang dianjurkan yang telah diresepkan untuk pasien. • Potensi data overload . sehingga diharapkan medical error bisa dihindari. • Potensi bahaya akibat penggantian dokter sehingga dokter memberikan obat yang berbeda sehingga dengan penggunaan diperlukan sistem pendukung keputusan (misalnya. Hal ini dapat dihindari sebagai upaya perlindungan terhadap keselamatan pasien/ patient safety yang dapat menyebabkan keadaan pasien yang merugikan baik yang bersifat kecacatan atau kematian.3 adalah kolom yang tersedia sebagai informasi yang bisa dijadikan rekomendasi terhadap control obat yang diberikan kepada pasien. • Para dokter-pengguna memiliki kesenjangan pengetahuan yang secara langsung relevan dengan rekomendasi sistem pendukung keputusan (misalnya. Chan. • Dokter hanya mengandalkan sistem bahwa sistem akan mengingatkan mereka untuk semua masalah. Penelitian yang dilakukan Albert S. Pelaksanaan system informasi yang dilakukan oleh perawat dalam memberikan rekomendasi kepada dokter pemberian obat yang dilakukan oleh dokter. mempromosikan penggunaan obat secara bersamaan pedoman direkomendasikan tanpa memberikan informasi tentang batas dosis).

9 • Sistem itu tidak dirancang untuk menangani pemberian obat. Pertama. Keadaan medical error sangat mempengaruhi terhadap pasien safety.3. memberikan informasi kepada pasien tentang prosedur pemberian obat sehingga pasien maupun petugas melakukan aspek . Kesimpulan Pendokumentasian sangat penting untuk dilakukan oleh seluruh tenaga kesehatan yang langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan pasien. • Gambar 1. sehingga diperlukan suatu kebijakan yang diambil oleh pemerintah dan rumah sakit untuk melindungi masyarakat. sehingga akan sangat penting ditambahkan dengan kolom rekomendasi. Gambaran catatan medical record pasien tentang kolom rekomendasi yang dilakukan perawat dalam pemberian obat yang diberikan dokter C. karena system computer tersebut belum memiliki system terhadap interaksi antar obat. Beberapa alternative penyelesaian masalah yang berhubungan dengan dokumentasi yang kurang efektif. Bukan saja menimbulkan cedera tetapi dapat resiko kematian.

Chan. Springer Publishing Company.10 legal. (2011). J. www.com (diakses tanggal 25 Oktober 2011). dkk.com (diakses tanggal 25 Oktober 2011) Eti Rochaety. Callie Chiah-Lee Chan. adalah dengan mengembangkan system informasi dan pendokumentasi secara elektronik. http://www.aspx (diakses tanggal 25 Oktober 2011) Albert S. Juni 2010.ahrq.Halasyamani. clinically relevant and implementable : A concencus statement on key principles and necessary first step.com .. Stucky E. (2011).. Martins.gov/glossary.. Advances in Patient Safety: From Research to Implementation (Volume 1: Research Findings). (diakses tanggal 25 Oktober 2011). Journal of Hospital Medicine. Iwan Dwiprahastohttp. Volume 37 No. Stephanie A. (2010). (diakses tanggal 03 Oktober 2011) Jeannet S Adam. Global patient safety effort.. Hasil yang diharapkan dengan system informasi dapat meningkatkan mutu pelayanan di rumah sakit. Rockville (MD): Agency for Healthcare Research and Quality (US).. Post-fielding Surveillance of a Guideline based Decision Support System. Greenswald. Jennifer Balon. Benjamin. Agency for Healthcare Research and Quality. Faizal Ridwan Z.ncbi. Denise K. Kepustakaan Agency for Healthcare Research and Quality.L. (2010). Sistem Informasi Manajemen.. Making inpatient medication reconciliation patient centered.psnet.(2005). Coleman. Nurse's perceptions on the impact of health information system usage in their workplace. Robert W. www. Implementasi clinical governance dalam pelayanan kesehatan Primer yang bermutu.2. sehingga memudahkan dan informasi terhadap mutlidisiplin terutama dengan melakukan control terhadap pemberian obat terhadap pasien. Singapore Nursing Journal. www. LaCivita C.dkk-bpp. Comparison of Hospital Admission Medication Lists With Primary Care Physician and Outpatient Pharmacy . (2008). 477-485. www. Jakarta. Tupi Setyowaty. Kedua. No 3.…. Greene L. Mitra Wacana Media. Susana B..Sysinfokes Kota Balikpapan. Williams M. 5(8).L.ebscho. Thomas. sehingga medical error dapat dihindari.. Hispanic Health Care International. (2011). Vol 9.(2008). mempertahankan keakuratan data dan mempertahankan kondisi lingkungan yang kondusif.com. dimana perawata melakukan fungsi advocacy terhadap resiko medical error dengan menuliskan rekomendasi dalam catatan pasien di computer.proquest.

Achieve Best Practice With an Evidence-Based Approach.. Kevin G. Lewis and Latney. Critical-Care Nurses.proquest. (2011) Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien di Rumah sakit. Pabuti.int/patientsafety/en/ (diakses tanggal 25 Oktober 2011). Best Practices in Medication Safety:Areas for Improvement in the Primary Care Physician’s Office Advances in Patient Safety: Vol. Washington. (2003). Murphy.ahrq/gov/qual Vol 1 (diakses tanggal 25 Oktober 2011) Kohn LT. (2006). Bramble. www. Rule. Corrigan JM. www. Vol 23. Proceedings of expert lecture of medical student of Block 21st of Andalas Universitity. Patient Safety Research. Advances in Nursing Science. & Dupler.com (diakses tanggal 25 Oktober 2011).ebscho. Exploring the concept of medication discrepancy within the context of patient safety to improve population health. World Health Organization. Fact about 2006 national patient safety.. (2009). 1. S. Galt. Kimberly A. DC. www.com (diakses tanggal 25 Oktober 2011). How System for Reporting Medical Errors Can and Cannot Improve Patient Safety. National Academy Press. Ann M. http://www. James D. Bartholomew E. www.proquest. Corbett.org.jointcommission. Donaldson MS. .org/.11 Lists. Wendy Taylor. Setter.com (diakses tanggal 25 Oktober 2011). Aumas.com (diakses tanggal 25 Oktober 2011).who. The American Surgeon. M. No 6. www. C. Indonesia The Joint Commission on Accreditation of Health Care Organization. Moores. Nurses’ medication work: what do nurses know?. A.aacnjournals. Louise Folkmann and Janet Rankin. L. (2000)..proquest. (2010). (30 October 2011).com (diakses tanggal 25 Oktober 2011). Clark. Jornal of Nursing Scholarship. www. (2006). Journal of Clinical Nursing. from: ccn. John Klarke. (2009).proquest. R. (diakses tanggal 28 Oktober 2011). Geneva.. World Health Organization. C. available at: www. To Err Is Human Building a safer Healt System.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->