URL: http://www.tubasmedia.

com/berita/tentang-aborsi-kuhp-dengan-uu-kesehatan-berbeda/

Tentang Aborsi, KUHP dengan UU Kesehatan Berbeda
Terbit 22 November 2011 - 09:45 WIB | Dibaca : 4909 kali Oleh: Dr Jimmy Tambunan SpOG

Ilustrasi ABORSI (pengguguran kandungan) sampai sekarang masih menimbulkan pro dan kontra maupun perdebatan yang tidak ada akhirnya, baik oleh pihak yang mendukung aborsi maupun yang kontra aborsi. Perdebatan yang tidak kunjung mendapatkan titik temu ini mengakibatkan munculnya penganut paham pro-life yang berupaya mempertahankan kehidupan Janin dan penganut paham pro-choice yang menginginkan aborsi boleh dilakukan disebabkan perempuan mempunyai hak untuk memelihara kesehatannya dalam menentukan hak kesehatan reproduksinya. Aborsi adalah cara tertua mengatur kehamilan dan ini sudah sejak dahulu kaum lelaki maupun negara mengatur kehamilan itu. Aristoteles dan Plato mengatakan menjadi (melahirkan anak) adalah kewajiban ibu, baik terhadap suaminya maupun terhadap Negara. Dari perundang-undangan yang berlaku di Indonesia hak aborsi dibenarkan secara hukum jika dilakukan karena adanya alasan atau pertimbangan medis atan kedaruratan medis. Dengan kata lain, tenaga medis mempunyai hak untuk melakukan aborsi bila dan pertimbangan media atau kedaruratan media dilakukan untuk menyelamatkan nyawa ibu hamil. Berdasarkan UU Kesehatan RI No. 36 Thn 2009, Pasal 75 bahwa setiap orang dilarang melakukan aborsi dapat dikecualikan berdasarkan indikasi kedaruratan media yang dideteksi sejak usia dini kehamilan dan aturan ini diperkuat dengan Pasal 77 yang berisi pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 mengenai tindakan aborsi yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab sera bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

78 melarang aborsi tetapi masih mengijinkan tindakan aborsi atas indikasi medis dan trauma psikis dengan syarat tertentu. persalinan maupun abortus kriminalis.76. Aborsi sudah perlu mendapat perhatian melalui pengaturan yang lebih bijak untuk menghindari praktek aborsi tidak aman dan pemenuhan hak reproduksi perempuan maupun hak azasi perempuan dan janin. Berdasarkan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) disebut. 348. Pasal-pasal KUHP yang mengatur hal ini adalah pasal 229.000.Istilah “aborsi?’ yang berasal dari kata abortus (latin). 349 dan 535 yang dengan tegas melarang aborsi dengan alasan apapun serta dalam UU RI No. hak mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa perbedaan (diskriminatif) dan terjadinya tindakan aborsi tidak aman pada kasus-kasus kehamilan yang tidak diinginkan dan masalah etik. tetapi dalam Undang-undang kesehatan No.36 tahun 2009 tenaga media diperbolehkan untuk melakukan aborsi legal pada perempuan hamil karena alasan medis dengan persetujuan perempuan yang bersangkutan disertai suami dan keluarganya. Walaupun ada perbedaan antara KUHP dengan UU Kesehatan No. Menurut KUHP. 347. Hal ini sesuai dengan data WHO yang menyatakan. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 75. Sinonim dengan itu dikenal juga istilah “kelahiran yang prematur” atau miskraam (Belanda).1%). perempuan tidak diperkenankan melakukan tindakan aborsi. KUHP dengan tegas mendukung mempertahankan kehidupan janin. Jadi melihat kedua peraturan perundang -undangan yang ada mengenai aborsi lebih mengutamakam kehidupan janin (pro life). di seluruh dunia 500. Sekitar 20 juta pertahun terjadi unsafe abortion. 346. Dalam hukum positif di Indonesia. 346.36 tahun 2009 tentang aborsi. 349 dan 535. Legalisasi aborsi perlu diperhatikan lebih bijak tetapi bukan dalam pengertian memberikan liberalisasi aborsi. Khususnya di Indonesia sekitar 750 000-1.77. Meskipun aborsi secara hukum terlarang.500 diantaranya mati berakibat kematian (11. 348.000 pertahun dilakukan unsafe abortion. Tindakan aborsi menurut KUHP di Indonesia dikategorikan sebagai tindakan kriminal atau dikategorikan sebagai kejahatan terhadap nyawa. 2. “kelahiran sebelum waktunya. 347.000 perempuan meninggal akibat kehamilan. Masalah lain yang belum terpecahkan atau berkembang dan berlakunya kedua peraturan perundang-undangan adalah perlindungan hukum terhadap perempuan mengenai fungsi alat reproduksinya atau terjadinya pelanggaran terhadap hak reproduksi perempuan dari hidup janin hak atas informasi kesehatan. pengaturan tindakan aborsi terdapat dalam dua undangundang yaitu KUHP pasal 299. keguguran. 15-50% kematian ibu disebabkan oleh pengguguran kandungan yang tidak aman. aborsi merupakan: Pengeluaran hasil konsepsi pada setiap stadium perkembangannya sebelum masa kehamilan yang lengkap tercapai (38-40 minggu). tetapi kenyataannya aborsi masih banyak dilakukan oleh perempuan dengan berbagai alasan disebabkan peraturan dan hukum yang ada kurang akomodatif terhadap alasan-alasan yang memaksa perempuan melakukan tindakan aborsi (Pro Choice) . .

ataupun secara terang-terangan atau dengan menyiarkan tulisan tanpa diminta menunjuk sebagai bisa didapat. Pasal 348 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya. Kalau dicermati ketentuan dalam KUHP tersebut dilandasi suatu pemikiran atau paradigma bahwa anak yang masih dalam kandungan merupakan subjek hukum sehingga berhak untuk mendapatkan perlindungan hukum. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut. Oleh karena itu dalam KUHP tindakan aborsi dikualifikasikan sebagai kejahatan terhadap nyawa. dalam prakteknya dokter yang melakukannya tidak dihukum bila ia dapat mengemukakan alasan yang kuat dan alasan tersebut diterima oleh hakim (Pasal 48). maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan. ibu sendiri sudah tidak ingin punya anak lagi akibat incest. diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.Pasal 346: “Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu. Pasal 349 : Jika seorang dokter. bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346. sarana atau perantaraan yang demikian itu. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut.” Pasal 347: (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya. ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan diterangkan dalam pasal 347 dan 348. Pasal 535 : Barang siapa secara terang-terangan mempertunjukkan suatu sarana untuk menggugurkan kandungan. alasan kesehatan dan sebagainya. Juga apabila dilihat dari aspek hak asasi manusia bahwa setiap orang berhak untuk hidup maupun mempertahankan hidupnya sehingga pengakhiran kandungan (aborsi) dapat dikualifikasikan sebagai tindakan yang melanggar hak asasi manusia. diancam dengan kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Dengan kata lain paradigma yang digunakan adalah paradigma yang mengutamakan hak anak (pro life). Meskipun dalam KUHP tidak terdapat satu pasal pun yang mernperboiehkan seorang dokter melakukan abortus atas indikasi medik. maupun secara terang-terangan atau tanpa diminta menawarkan. Berdasarkan pasal-pasal KUHP di atas berarti apapun alasannya diluar alasan medis perempuan tidak boleh melakukan tindakan aborsi. . sekalipun untuk menyelamatkan jiwa ibu. Pada kehamilan yang tidak diinginkan aborsi yang dilakukan umumnya adalah Abortus Provokatus Kriminalis dengan beberapa alasan seperti. Kehamilan di luar nikah. diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. masalah beban ekonomi. diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Yang dimaksud dengan aborsi tidak aman (Unsafe Abortion) adalah penghentian kehamilan yang dilakukan oleh orang yang tidak terlatih/kompeten dan menggunakan sarana yang tidak memadai. kegagalan alat kontrasepsi dan lain-lain. atau tidak mengikuti prosedur kesehatan atau kedua-duanya (Definisi WHO). .(penulis merupakan Kandidat Magister Hukum Kesehatan UNIKA Soegijapranata). sehingga menimbulkan banyak komplikasi bahkan kematian. Apalagi bila aborsi dikategorikan tanpa indikasi medis. Umumnya aborsi yang tidak aman terjadi karena tidak tersedianya pelayanan kesehatan yang memadai. Aborsi yang tidak aman adalah penghentian kehamilan yang tidak diinginkan yang dilakukan oleh tenaga yang tidak terlatih. seperti korban perkosaan. Unti perlu dilakukan Yudisial review Undang-Undang Kesehatan khususnya mengenai pasalpasal yang bunyinya tidak tegas. Ketakutan dari calon ibu dan pandangan negatif dari keluarga atau masyarakat akhirnya menuntut calon ibu untuk melakukan pengguguran kandungan secara diam-diam tanpa memperhatikan resikonya. hamil diluar nikah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful