P. 1
TEORI KESALAHAN

TEORI KESALAHAN

|Views: 216|Likes:
Published by Yeremia Ivan
Pemetaan
Pemetaan

More info:

Published by: Yeremia Ivan on Apr 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/10/2015

pdf

text

original

POKOK BAHASAN : TEORI KESALAHAN Klasifikasai kesalahan : Kesalahan kasar, sistematik dan kesalahan acak, Definisi : Nilai ukuran

, nilai yang benar, kesalahan, nilai mendekati benar, residual, derajat kebebasan, variance, standar kesalahan dan standat deviasi, Teori probabilitas , Distribusi normal

3.1

Landasan Teori

3.1.1. Histogram

Histogram adalah pernyataan grafis untuk suatu distribusi frekuensi yang digambarkan dengan lajur – lajur persegi panjang sedemikian rupa sehingga : (a) pusat alasnya menyatakan pusat (b) luas persegi panjang menyataka frekuensi Jika selang kelasnya beraturan, maka frekuensi kelas akan ditunjukkan juga oleh tinggi persegi panjang tersbut.

. Lakukanlah itu sebagai pembukaan awal.Contoh: Pengukuran panjang 50 b batang kuningan memberikan ditribusi frekuensi sebagai beikut : Pertama-tama tariklah garis alasnya dan berilah tanda x pada garis tersebut agar kita dapat menentukan letak harga – harga pusat kelas diatas.

Distribusi normal memiliki fungsi kerapatan probabilitas (probability density function = pdf).3.2τ Parameter-parameter µ µ + 2τ . seperti terlihat pada gambar dibawah ini. µ . DISTRIBUSI NORMAL Distribusi Normal merupakan distribusi yang paling terkenal dan paling umum dipakai.1.2.

.. σ ).... σ2) Cara perhitungan distribusi normal Ditentukan bahwa variabel X ada diantara a dan b. Tabel dari distribusi normal standar (standard normal distribution) Z 0.. 0.. dan membuat suatu variabel baru yaitu z= X −µ δ Dengan mean = 0 dan deviasi standar = 1 maka Z ≈ Nor (0.1) Distribusi ini disebut distribusi normal standar (standard normal distribution) Maka dapat dituliskan kembali bahwa..09 ... 0..  X −µ a −µ Pr( X > a ) = Pr  >  δ   δ a−µ  = Pr  Z >  δ   dim ana X −µ Z= δ Z diikuti dengan a fungsi distribusi Nor (0.06 ..01 .00 0.0 0.1 . sehingga Pr (a<X<b) = Pr (X>a) – Pr (X>b) 2 Jika X ≈ Nor (µ. .. 0.• • • • mean (nilai purata) atau µ dan varians (variance) σ2 dimana (σ deviasi standart) kurva pdf adalah mean simetris area dibawah pdf besarnya adalah 1 maka dapat dituliskan sebagai berikut : X ≈ Nor (µ.1).. . ditabulasikan secara luas sebagai Tabel dari probabilitas normal.

2.2 2. Maka hubungan kedua angka tadi didapat Pr (Z> 2. Kesalahan ini dapat datasi dengan metoda pengukuran yang benar.. Sumber Alam Kesalahan disebabkan karena cuaca. kebiasan (undulasi). c.maka kita pilih kolom kiri 2. Tentu saja dengan cara pengkran yang sekasama dan hatihati serta teliti kan mengurangi terjadinya kesalahan. suhu dan kelembaban udara. Sumber Kesalahan Pengukuran Dalam pengukuran dapat hampir dapat dipastikan bahwa kesalahan pasti akan terjadi baik disengaja maupun tidak disengaja sehingga menyebabkan hasil pengkuran itu perlu mendapatkan koreksi. .4 dan baris atas dengan 0. yakni a. b. 21186 01390 00695 Keterangan Pr (Z>2.46) = 0.. misalnya tidak seragmnya skala rambu.4 .00695 3.0...8 .06. 2. Kesalahan karena Instrumen Kesalahan timbul karena ketidak sempurnaan konstruksi instrument atau keslahan penyetelan. Kesalahan karena Perorangan Kesalahan timbul karena keterbatasan manusia dalam membaca meraba dan melihat.. gaya berat dan deklnasi magnetik sperti perubahan panjnag pita karena pengembangan dan penysusutan. arah angin. Paling tidak terdapat 3 (tiga) sumber kesalahan dalam pengukuran.46) ----.

baik disebabkan oleh kerena kecerobohan maupun penggunaan alat yang tidak sempurna . Kesalahan kasar hanya dapat diperbaiki dengan cara melakukan pengkuran ulang. Klasifikasi Kesalahan a. Kesalahan acak dapat bernilai positif dan negatif sehingga dapat saling menghilangkan 3. Istilah-istilah Istilah yang sering dipakai dalam teori kesalahan antara lain : .3. Kesalahan Sistematik (Systematic Error) Kesalahan sistematik biasanya disebabkan karena menngunakan instrumen yang belum terkaliberasi atau terkoreksi sehingga terjadi penumpukan kesalahan karena akan berulang-ulang terjadi. Besar dan nilai kesalahan jenis ini adalah kemungkinan dan tidak ada cara yang mutlak untuk menghilangkan . Contoh kesalahan sistemaik sifatnya berulang misalnya penyusutan dan pengembangan pita atau pegas ukur oleh karena temperatur. b. Contoh kesalahan kasar antara lain : i) menngunakan pita yang terputus ( kurang panjangnya). Kasalahan jenis ini dapat dicegah dengan cara mengoreksi alat terlebih dahulu sebelum pengukuran. a. Kesalahan Kasar (Blunders) Dalam pengukuran dijumpai adanya kesalahan kasar atau blunder sebagai akibat ketidak cermatan dalam mengukur. Kesalahan Acak (Random Error) Kesalahan yan bersifat tetap yang tidak diketahui secara pasti penyebabnya akan tetapi lajim terjadi menurut kaidah statistik (probability).3.4. ii) kesalahan membaca skala pada rambu atau mikrometer pada bacaan sudut iii) kesalahan pencatatan dsb.

Nilai mendekati benar (The most possible value) : Oleh karena harga yang benar tidak dapat dihitung maka hany harga yang paling mungkin dapat dihitung jika terdapat pengkuran lebih.a. dalam kenyataan nilai tidak pernah diketahui d. Oleh karen itu sebagai pendekatan maka nilai mendekatai benar dihitung berdasarkan harga rata-rata (mean) M =∑ M n Dimana : M M n : : : nilai yang mendekati benar nilai hasil pengkuran jumlah pengukuran e. v = M −M M M v : : : nilai yang mendekati benar nilai hasil pengkuran residual . Kesalahan (Error) :adalah selisih antara nilai hasil pengkuran (mesured value) dengan nilai yang benar (true value). b. Nilai yang benar (True value) :adalah nilai teoritis yang dianggap benar. Hasil Ukuran (Measured value) :adalah nilai atau besaran yang merupakan hasil obesrvasi langsung. Residual : Setelah ditentukan harga yang mendekati benar suatu ukuran maka dapat ditentukan besarnya residiul yakni selisih nilai hasil pengukuran sembarang dengan harga rata-rata atau nilai yang mendekati benar. nilai error ini hanya teoritis. dalam kenyataan nilai yang benar tidak pernah diketahui c.

Simpangan baku dapat berikut. hitung . 3. Misalkan suatu pengkuran jarak sebanyak 9 kali dengan varisali hasil pengkuran seperti pada tabel dianggap telah bebas dari kesalahan kasar dan kesalahan sistematis. sedangkan kuadrat dari standar deviasi disebut varian. dinyatakan secara matematis sebagai σ =± ∑v 2 n −1 v n v : : : residual nilai hasil pengkuran derajat kebebasan (degree of freedom) standar deviasi n-1 : Teori probablitas dapat juga diterapkan dalam bidang pengukuran untuk meratakan (adjustment) adanya kesalahan acak. Dengan tingkat keyakinan 90 % dan 95 % kesalahan standar dan simpangan bakunya. Contoh-contoh Soal 1). Simpangan baku (Standart deviation)i : Menggambarkan kesaksamaan atau ketelitian hasil ukuran. Jadi kesalahan dapat diratakan dengan anggapan telah terbebas dari kesalahan kasar (blunders) dan kesalahan sistematis (systematic error).5.f.

47 m Kesalahan standar pengkuran 0.0 0 0 .28 = ±0.2 1 0 .0 8 0 .3 2 5 0 0 .0 4 0 .4 7 5 0 0 .0 0 0 .0 0 0 .5 5 5 0 0 .0 1 0 .4635-500.065 m ( Range jarak yang mungin antara 500.04)= ±0.04)= ±0.545 m 2) Utnuk pengkuran bebobot misalnya pengkuran sudut dalam suatu segitiga dengan sudut A=49°51’15” (bobot 1).2 6 5 0 0 .04 m Dengan keyakinan 90 % ±0.4 8 5 0 0 .075 m Dari hasil perhtiungan maka jarak yang paling mungkin 500.47 m 9 (n −1) ∑v 2 = ∑0. Hitung perataan sudut berbobot. .0 0 0 .0 2 -0 . sudut B =60°32’08” (bobot2) dan sudut C =69°36’33” (bobot3).065 m Untuk tingkat kelyakinan 95 % ( E95)=±1.0 1 -0 .5 5 4 .0 8 0 .4525-500.0 1 0 .0 2 -0 .0 8 0 .6649(0.4 7 (V) 0 .0 2 0 .(m ) 5 0 0 .5004.5 0 4 .535 m     Dengan keyaknan 95 % ±0.0 1 0 .0 4 σ= 4.26 Residu = 500.1 5 -0 .2 8 0 .4 5 5 0 0 .4 9 5 0 0 .9599(0.0 0 0 .075 m( Range jarak yang mungin antara 500.4 6 5 0 0 .04 8 M = V2 Jarak Untuk tingkat kelyakinan 90 % ( E90)=±1.4 9 5 0 0 .

36” .1”(atau1”) +0. B 3x dan C 2x Sudut Bobot Koreksi 6X 3X 2X Koreksi Numeris +2.73” Pembulatan Koreksi +2.18” +1. sehingga A koreksi 6x.2” (atau2”) +1.7(atau1”) Sudu Terkoreksi 49°51’17” 60°32’09” 69°36’34” A 49°51’15” 1 B 60°32’08” 2 C 69°36’33” 3 11X=4” dan x = +0.Oleh karana pengukuan berbobot maka koreksi harus diberikan secara terbalik untuk bobot tinggi diberi koreksi tebesar.09 +0.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->