Perspektif Ilmu Pendidikan (UNJ), Volume 6 Tahun III Oktober 2002

PERJUANGAN MEMPERBAIKI CITRA GURU INDONESIA
Drs. Hadiyanto, M.Ed. ABSTRACT Multidimensional crisis facing Indonesia since 1997 has not been solved completely, since the problem is likely to be harder and more complecated. The autonomy of governance which also means decentralization of educataion still remains slogan in most districts in Indonesia. It may happen since the Indonesian government has not find an acceptable format of education management for all nations. Guru’s destiny, is one of big problem in educational sector which has to be solved properly. It can not be done individually from one sector, but it must be done through political, economic, social, cultural struggle. Of course it is very expensive, needs patience and takes long time. It is needed reenergizing power to foster ‘second’ reformation.

PENDAHULUAN Pendidikan adalah sarana utama bagi suatu negara dalam meningkatkan sumber daya manusianya dalam mengikuti perkembangan dunia. Oleh karena itu, pendidikan patut memperoleh perhatian utama dalam perbaikan

kualitas manusia. Kalau tidak, suatu bangsa akan ketinggalan dengan bangsa lainnya di dunia, lebih-lebih lagi dalam percaturan dunia yang menggunakan teknologi canggih dan serba tanpa batas (borderless). Mengingat pentingnya peranan pendidikan dalam memben

Perjuangan Memperbaiki Citra Guru Indonesia (Hadiyanto) 53

2000). Bangsa Indonesia belum mampu menghargai guru sebagaimana mestinya. Gaji guru (honorer) di sebagian daerah di Indonesia di bawah UMR (Kompas. nampaknya tidak banyak orang Indonesia yang mau peduli atau sadar sedang dihadapkan pada pertanyaan besar itu. Oleh karena itu. 25 November 2000). negara-negara maju menempatkan pendidikan pada porsi yang utama sehingga membuat anggaran pendidikan dalam APBN-nya cukup besar. Dengan meminjam istilah senator John F Kennedy (dalam Soedijarto. 28 April 2000) dan lebih rendah dari gaji guru di negara baru Timor Timur. tidak mengherankan kalau sistem pendidikan di Indonesia belum mampu bangkit dari jerat krisis multi dimensi yang sedang melanda bangsa Indonesia. maka sekarang ini bangsa Indonesia sedang mempunyai pertanyaan besar ‘what is wrong with Indonesian educational system’? Namun demikian. Karena penghargaan rendah terhadap guru itu. pemerintah propinsi 25% dan pemerintah Tingkat II 35% dari total anggaran masingmasing (Soedijarto. Akibatnya.Perspektif Ilmu Pendidikan. 2000b) ‘what’s wrong with our American classroom’. Sebagai contoh di Taiwan alokasi anggaran pendidikan pemerintah pusat adalah 15%. serta lebih parah dibandingkan dengan tukang parkir di Brunei Darussalam (Haluan. maka pekerjaan guru di Indonesia menjadi pilihan terakhir setelah tidak memperoleh 54 Perjuangan Memperbaiki Citra Guru Indonesia (Hadiyanto) . kualitas pendidikan di Indonesia masih senantiasa dipertanyakan dan tidak pernah mampu bersaing dengan kualitas pendidikan di negara-negara yang sangat memperhatikan nasib pendidikannya. Salah satu hal penting yang sangat berkaitan dengan pendidikan adalah kualitas guru di Indonesia. Volume 6 Tahun III Oktober 2002 tuk sumber daya manusia untuk masa yang akan datang. Hal itu sangat ber-beda dengan kondisi di Indonesia yang hanya mampu menggalokasikan anggaran pendi-dikan kurang lebih 4% dari APBN-nya.

Permasalahan di atas menjadi tambah runyam ketika bangsa Indonesia dilanda kritis multi dimensi sehingga sangat berdampak terhadap perekonomian nasional. Selandia Baru 125%. Amerika Serikat 128%. gaji guru di Australia 115% lebih tinggi. pegawai pemerintah (19. Perancis 157%. kualitas mereka rendah dan kembali lagi dibayar murah. Dibandingkan dengan sektor industri. Australia 116%.7%). dkk. Belanda 126%. Hasil survai di Amerika tahun 1994. Skotlandia 120%. Negara tetangga yang berhasil memperbaiki Perjuangan Memperbaiki Citra Guru Indonesia (Hadiyanto) 55 .Perspektif Ilmu Pendidikan (UNJ). pekerjaan guru dihargai dengan gaji yang lebih. di mana pekerjaan guru memperoleh tempat yang lebih layak dibandingkan dengan di Indonesia. seperti yang dikutip Sahertian (1994).8%) dan ahli hukum (9. dan penghargaan gaji minimal terhadap guru itu menjadi lebih terpuruk lagi karena nilai uang yang mereka terima setiap bulannya sudah sangat rendah nilainya dan tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Tidak mungkin mereka mampu mengimplemantasikan empat pilar pendidikan seperti yang dikemukakan oleh Delors. Di Belanda gaji guru 111% lebih tinggi dibandingkan dengan gaji pegawai administrasi. Volume 6 Tahun III Oktober 2002 pekerjaan lain. dan pendidikan guru tidak pernah disentuh oleh putraputra terbaik bangsa. Berbeda dengan hal di atas.1%). menunjukkan bahwa pekerjaan guru menjadi urutan pertama (31. pedagang (12. Akibat dari penghargaan masyarakat terhadap guru yang rendah itu maka guru tidak mampu bangkit untuk mengupdate ilmunya sehingga menjadi seperti lingkaran setan. adalah apa yang terjadi di Amerika Serikat. (1996). Finlandia 234% dan Swedia 235%.3%) diikuti jabatan perawat (27.1%). Amerika Serikat 125%. Dibandingkan dengan tenaga administrasi di beberapa negara. Selandia Baru 185%. Jerman 213%. Supriadi (1999) mengidentifikasi bahwa gaji guru di negara maju lebih tinggi antara 111% s/d 235% lebih tinggi dibandingkan gaji para pegawai administrasi dan sektor industri.

68. Dalam survei yang dilakukan oleh Asia Week terhadap perguruan tinggi di lingkungan Asia Pasifik. 24 April 2001). Singapura. Bangsa Indonesia tidak harus malu mengakui kelemahannya sebab kalau ditutup-tutupi malah akan menjadi bumerang. Jepang. Sebagai salah unsur dalam sistem pendidikan nasional. 5 September 2001). perbaikan kualitas dan nasib guru diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan pada umumnya. India. karena guru sebenarnya merupakan ujung tombak dalam proses pendidikan. 2001). Hal itu diungkapkan lebih-lebih lagi setelah situasi politik dan ekonomi Indonesia tidak menguntungkan. Apabila dibandingkan dengan negara-negara di Asia urutan sistem pendidikan yang terbaik adalah Korea Selatan. empat perguruan tinggi terbaik di Indonesia hanya mampu menduduki peringkat ke 61. maka sudah waktunya bangsa Indonesia memikirkan perbaikan kualitas pendidikan dengan menempatkan guru sebagai prioritas utamanya. Menteri Pendidikan Nasional Republik In- donesia. Volume 6 Tahun III Oktober 2002 kualitas pendidikan dan memberikan penghargaan yang cukup kepada guru adalah Malaysia. di mana gaji guru pemula (sarjana) di negara jiran itu mencapai kurang lebih enam juta rupiah per bulan (Singgalang. Atas dasar perbandingan di atas. 73 dan 75 dari 77 universitas yang disurvei (Komite Reformasi Pendidikan. Taiwan. Cina serta Malaysia. Apa yang diakui oleh Fadjar menurut penulis adalah benar. 56 Perjuangan Memperbaiki Citra Guru Indonesia (Hadiyanto) . PERMASALAHAN GURU DAN KUALITAS PENDIDIK-AN DI INDONESIA Kualitas pendidikan di Indonesia sedang menjadi keprihatinan khususnya para pelaku dan pemerhati pendidikan. Malik Fadjar mengakui bahwa sistem pendidikan nasional memang terburuk di lingkungan Asia.Perspektif Ilmu Pendidikan. Indonesia menjadi juru kunci di urutan paling bawah (Kompas.

Pertama. Sekarang kondisinya sangat kontradiktif. dan yang keempat adalah gagal dalam melahirkan manusia Indonesia yang jujur dan bermoral (Kompas. sebagian guru maupun pedagang asongan samasama memulai kegiatannya dengan ‘mencegat’ bis atau angkutan kota di persimpangan jalan dan mereka sama-sama bergelantungan. Pendidikan di Indonesia tidak mampu memberikan pelayanan kualitas secara merata. padahal sekitar 15 tahun yang lalu banyak bangsa Malaysia yang datang ke Indonesia untuk belajar. Kedua. pendidikan di Indonesia gagal mendidik anak bangsa untuk hidup bersama secara damai dan sejuk. 20 Oktober 2001). jago di kandang sendiri. mereka mempunyai uang sendiri. Buruknya kualitas sistem pendidikan di Indonesia membuat nasib guru sangat menyedihkan. Volume 6 Tahun III Oktober 2002 Hal di atas menunjukkan bahwa memang kualitas bangsa Indonesia hanya semu. Jangan heran kalau ada pedagang asongan. Sekarang orang Indonesia yang akan belajar di Malaysia. Yang pertama adalah pendidikan telah gagal Dirjen melahirkan kualitas sumber daya manusia. dan yang pertama ditanyakan adalah ‘ada beasiswanya atau tidak’. sementara bangsa Malaysia berani dengan ketat menjaga nilai-nilai yang mereka punyai sehingga mampu membangun sistem pendidikan yang mapan. penulis melukiskan guru Indonesia tidak ubahnya seperti pedagang asongan. Hal itu juga dimungkinkan karena akibat sistem pendidikan di Indonesia yang korup. Dengan tidak menafikan upaya berbagai pihak dalam memperbaiki nasil guru. Pada waktu orang Malaysia belajar ke Indonesia. Ketiga. sebagai ilustrasi betapa sedihnya menjadi guru. Perlindungan HAM Departemen Kehakiman dan HAM Hafid Abbas mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia paling tidak mempunyai empat macam kegagalan.Perspektif Ilmu Pendidikan (UNJ). guru atau dosen yang tangannya panjang Perjuangan Memperbaiki Citra Guru Indonesia (Hadiyanto) 57 .

si pedagang asongan sudah turun dan lari dari bis sehingga ‘selamat’ dari omelan pembeli. Hasil dari ‘copetan’ ini jelas lebih menggiurkan (tempted) dibandingkan dengan hasil tukang copet konvensional di bis kota Jurusan Kampung Rambutan Grogol. yang menjiplak skripsi mahasiswa atau karya ilmiah orang lain untuk naik pangkat (Kompas. Pekerjaan asongan memang ada yang digunakan sebagai kedok karena ‘profesi’ yang sebenarnya adalah ‘mencopet’. karena sering meninggalkan kelas tertentu untuk mengejar kelas yang lain atau rapat di perguruan tinggi yang membayar lebih mahal. sebagian guru maupun pedagang asongan sama-sama menjual ‘dagangan basi’.Perspektif Ilmu Pendidikan. Volume 6 Tahun III Oktober 2002 sebelah karena setiap hari harus berdiri di bis menggantung tangannya itu sepanjang perjalanan Tangerang – Bekasi Timur. Kedua. Pekerjaan yang terakhir ini lebih banyak mendatangkan uang. Sebagian guru yang tidak pernah ‘meng-up date’ pengetahuannya sesuai dengan perkembangan jaman. Hal ini mirip dengan yang dilakukan sebagian guru dan bahkan dosen. termasuk di dalamnya desentralisasi 58 Perjuangan Memperbaiki Citra Guru Indonesia (Hadiyanto) . Aktivitas ini ‘mencuri’ banyak waktu. 4 Juni 1996). Secercah harapan sebenarnya mulai tampak pada awal pemerintah Indonesia memutuskan melakukan otonomi daerah. Catatan untuk mengajar itu telah kumal dan menguning. Hal itu tidak ubahnya seperti pedagang tahu lontong yang menjual dagangan ‘kemarin’. sayangnya dengan cara yang tidak halal. Cara lain adalah dengan mengajar di berbagai tempat dan masih merangkap berbagai jabatan di sekolah atau perguruan tinggi lain. hanya mengandalkan ilmu yang telah diperoleh lima atau sepuluh tahun lalu waktu yang bersangkutan kuliah. sebagian guru maupun pedagang asongan sama-sama merangkap jabatan ‘tukang copet’. Ketiga. Saat pembeli merasakan bahwa makanan yang dibeli itu ‘basi’.

untuk memenuhi kebutuhan keterampilan dan ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk masa yang akan datang. GURU SEBAGAI KOMPONEN UTAMA DALAM SISTEM PENDIDIKAN Pendidikan pada dasarnya merupakan sarana strategis untuk meningkatkan potensi bangsa agar mampu berkiprah dalam tataran yang lebih global. ‘telah jatuh tertimpa tangga’. 2001) dan sinyalemen Teten Masduki dari Indonesian Curroption Watch yang menyatakan bahwa pola KKN di pusat berjalan paralel ke daerah seiring dengan otonomi daerah (Kompas. Oleh karena itu. dan di sisi lain pendidikan merupakan sumber untuk pertumbuhan ekonomi. 25 Oktober 2001) menjadi kenyataan. untuk pengembangan individu dan masyarakat. banyak daerah yang melanggar peraturan pemerintah tentang keuangan daerah untuk ‘anggaran’ DPRD atau kepala daerah (Kompas. 27 November 2001). maka tidak ada pilihan lain bagi bangsa Perjuangan Memperbaiki Citra Guru Indonesia (Hadiyanto) 59 . menurut Mendagri. Volume 6 Tahun III Oktober 2002 pendidikan. Dengan mengkaji peranan stategis pendidikan bagi suatu bangsa. Hanson dan Brembeck (1966) menyebutkan bahwa pendidikan itu sebagai ‘investment in people’. sehingga dapat difungsikan sebagai penelitian. Namun. menemukan dan memupuk bakat. dan 40% kepala daerah tingkat II menyelewengkan dana alokasi umum (DAU) daerahnya (Kompas. nasib buruk guru di atas diperparah dengan terbuktinya kekhawatiran penulis (Hadiyanto. Diantara beberapa bukti yang memperburuk nasib guru itu diantaranya adalah sebagian daerah tidak mampu membayar rapel kenaikan gaji guru tahun 2001. 20 Februari 2002). menurut Hanson dan Brembeck pendidikan perlu dimantapkan.Perspektif Ilmu Pendidikan (UNJ). meningkatkan kemampuan manusia untuk menyesuaikan dan mengubah kesempatan kerja dalam rangka pertumbuhan ekonomi.

--termasuk di dalamnya kondisi ekonomi guru. Oleh karena itu. Supaya menjadi panutan. oleh karena itu. citra guru harus dipelihara baik oleh guru sendiri misalnya dengan meningkatkan pengetahuannya melalui pendidikan dan pelatihan.Perspektif Ilmu Pendidikan. berikut ini penulis kemukakan beberapa pendapat dan hasil kajian media masa tentang keinginan masyarakat tentang guru. Volume 6 Tahun III Oktober 2002 Indonesia untuk senantiasa meningkatkan kualitas pendidikannya. namun demikian. Artinya. juga oleh masyarakat dengan memberikan penghargaan yang lebih baik dari yang ada selama ini. Untuk memposisikan pen-tingnya guru. Masyarakat mengharapkan agar ‘guru’ adalah sosok yang dapat ‘digugu’ dan ‘ditiru’ (Bekal Pembina. guru harus senantiasa menambah ilmu pengetahuan dan wawasan (Haluan. (1996) menunjukkan bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan diantaranya bergantung pada status sosial. karakteristik personal. perubahan kurikulum atau meningkatkan kualifikasi masukan dari sistem pendidikan tanpa memperhatikan kualitas dan nasib atau kesejahteraan guru. apakah ‘inducement’ yang didapatkan guru selama ini telah mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya beserta jaminan masa depannya dibandingkan dengan ‘contribution’ yang mereka berikan kepada lembaga kerjanya. perbaikan kebutuhan dan nasib guru untuk dewasa ini perlu diintensifkan. Delors. 2000). masa depan profesi dan motivasi guru. sebagai salah satu sub komponen penting dalam sistem pendidikan nasional. 27 Mei 2001). masih sedikit yang dilakukan dengan menyentuh kebutuhan atau nasib guru secara utuh. dkk. Hadiyanto telah 60 Perjuangan Memperbaiki Citra Guru Indonesia (Hadiyanto) . pengetahuan dan keterampilan. Pada Perspektif Ilmu Pendidikan Edisi Oktober 2001. Perbaikan sarana dan prasarana. kurikulum telah banyak dilakukan. Perbaikan kualitas pendidikan tidak dapat hanya dengan melakukan peningkatan sarana dan prasarana.

diperlukan upaya-upaya atau perjuangan agar nasib mereka tidak lebih terpuruk lagi sehingga mereka mau dan mampu bangkit untuk mewujudkan harapan seluruh pihak tentang guru yang sebenarnya dan ideal. PERJUANGAN GURU UNTUK Untuk membuat pendidikan dan guru menjadi lebih baik diperlukan perjuangan berbagai pihak. maupun tingkah lakunya. sosial dan budaya. baik dalam keilmuannya. Oliva dalam Sahertian. Volume 6 Tahun III Oktober 2002 mengidentifikasi demikian banyak harapan atau idealisme masyarakat terhadap guru. yaitu di bidang politik. ekonomi. Oleh karena itu. maupun di luar kelas.Perspektif Ilmu Pendidikan (UNJ). Inti dari semua pendapat tersebut menyebutkan bahwa itu itu sebenarnya merupakan ‘manusia terhormat’ dalam segala aspek. Dengan mempelajari peran yang harus dilakukan guru. Namun demikian. Paragraph berikut akan mendiskusikannya melalui empat perjuangan. 1994) serta Pullias dan Young (1977). diantaranya disarikan dari Watten B (dalam Sahertian. baik bagi peserta didik maupun masyarakatnya. karena penghargaan bangsa Indonesia terhadap profesi guru itu masih relatif rendah. yang harus menjadi suri tauladan di kelas. Reformasi yang meletus sejak tahun 1997 masih terengah-engah macet di tengah jalan karena pelaku reformasinya juga perlu direformasi. a. maka untuk mendapatkan seluruh kesempurnaan guru di atas menjadi sangat sulit. 1994). sikap. guru ideal adalah harus orang yang memiliki seluruh sifat-sifat ‘baik dan sempurna’ dalam segala hal. Perjuangan Politik Perjuangan politik dalam rangka perbaikan kualitas dan nasib guru harus dilakukan melalui Perjuangan Memperbaiki Citra Guru Indonesia (Hadiyanto) 61 . Untuk itu diperlukan reformasi jilid II dengan penambahan energi (reenergizing) untuk mendongkrak kekuatan yang mengembalikan niat perbaikan bangsa dengan berpihak kepada rakyat. harus diakui bahwa tugas itu memang tidak ringan. Sebagai intinya.

masyarakat luas dan melek huruf (pendidikan). apati terhadap politik. kearifan. perjuangan politik merupakan perjuangan yang perlu diutamakan karena dalam situasi politik yang tidak menentu. birokrasi. Volume 6 Tahun III Oktober 2002 perjuangan mengubah image masyarakat tentang guru melalui jalur pemerintahan. sistem nilai kesetaraan (equalitarian).Perspektif Ilmu Pendidikan. Untuk mencapai perjuangan ini diperlukan pemahaman. Diantara tugas guru yang paling berat namun strategis untuk masa depan bangsa adalah mendidik bangas Indonesia untuk menjadi masyarakat yang demokratis. Demokrasi menurut Lipset (1963) berpengaruh terhadap sistem kelas (masyarakat) yang terbuka. ketulusan serta kesungguhan pengambil keputusan untuk mengangkat citra guru. Kondisi Kemungkinan Konsekuensi Konsekuensi Awal Tambahan 62 Perjuangan Memperbaiki Citra Guru Indonesia (Hadiyanto) . Hal ini dapat dilakukan oleh para anggota DPR. Perjuangan lewat jalur politik sebenarnya merupakan perjuangan yang strategis karena berhubungan langsung dengan pusat kekuasaan negara. di mana setiap golongan. maka kalau tidak ada perjuangan politik yang memperhatikan nasib mereka. Pendapat itu dia lukiskan dalam gambar sebagai berikut. partai politik lebih mementingkan kepentingan kelompoknya. partai politik atau kelompok Lembaga Swadaya Masyarakat untuk memberikan argumentasi dan ‘tekanan’ dalam rangka mengubah nasib guru. Untuk di Indonesia saat sekarang ini. karena guru adalah manusia sumber dalam bidang pendidikan yang mempunyai andil sangat besar dalam mengangkat generasi yang akan datang.

maka dapat diketahui bahwa untuk menciptakan suatu masyarakat yang demokratis. Diantara faktor-faktor itu. faktor pendidikan. harus dibantu dengan pihak-pihak lain terutama yang berhubungan langsung dengan kehidupan politik di Indonesia. Perjuangan Ekonomi Apa yang dikemukakan Harbison dan Myers (1965) bahwa perekonomian Indonesia sejak tahun 1949 tidak menjanjikan kepercayaan untuk masa-masa yang akan datang nampaknya masih perlu menjadi bahan renungan. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan seperti tersebut di atas. Dalam kaitannya dengan topik paper ini maka dapat diartikan bahwa tugas para guru Indonesia dalam menciptakan masyarakat yang demokratis melalui perbaikan kualitas pendidikannya. bukan sekeder melek huruf (literacy) merupakan faktor yang penting. Volume 6 Tahun III Oktober 2002 Sistem kelas terbuka kls terbuka Kekayaan ekonomis Sistem nilai Permodalan Melek huruf luas Partisipasi organisasi huruf Sistem Demokrasi Sistem nilai Apati Birokrasi Masyarakat Melek Dari gambaran di atas. b.Perspektif Ilmu Pendidikan (UNJ). tugas ‘pendemokrasian’ masyarakat itu tidak semata-mata tugas guru. sehingga dalam hasil analisisnya faktor pendidikan itu berkorelasi (0. Artinya semakin tinggi pendidikan suatu bangsa. Namun demikian.91) terhadap demokrasi. maka semakin tinggi pula tingkat demokrasi bangsa itu. seperti para pejabat negara dan anggota serta tokoh-tokoh partai politik. karena hal itu terbukti sampai sekarang Perjuangan Memperbaiki Citra Guru Indonesia (Hadiyanto) 63 .

Upaya menaikkan gaji guru belum mampu menandingi parahnya sistem perekonomian nasional karena nilai uang yang diterima guru sebagai inducement tidak sebanding dengan kenaikan harga kebutuhan pokok yang terus merembet membubung. Kenyataan ini memperburuk citra guru di depan peserta didik atau masyarakat karena guru dianggap sebagai seorang yang tidak bertanggung jawab terhadap tugas pokoknya.. perjuangan untuk meningkatkan kualitas ekonomi guru dilakukan untuk membuat agar pada saat mengajar guru tidak lagi memikirkan apakah keluarga dan anak-anaknya kekurangan makan atau tidak.namun mereka tetap tekun mengerjakan tugasnya (Kompas. maupun untuk keperluan pendidikannya. Pernyataan Mendiknas Malik Fadjar yang prihatin sekaligus bangga dengan imbalan guru per bulan hanya Rp. Volume 6 Tahun III Oktober 2002 perekonomian Indonesia masih belum mampu bangkit dari keterpurukannya yang lebih parah dan bahkan longsor lagi mulai tahun 1997. Melihat fenomena di atas.Perspektif Ilmu Pendidikan. Diantara cara yang dapat ditempuh adalah dengan meningkatkan nilai kesejahteraan guru dan menambah jumlah anggaran pendidikan pada umumnya seperti yang disitir oleh Soedijarto (2001) sampai minimal 4% dari GDP. keluarga mereka terancam kekurangan untuk kehidupan seharihari.000. Kalau tidak. 64 Perjuangan Memperbaiki Citra Guru Indonesia (Hadiyanto) . Oleh karena itu. 18 Juni 2002) adalah hanya dapat dilakukan oleh guru yang luar biasa dan di Indonesia jumlahnya hanya dua atau tiga orang saja. Saat ini banyak dijumpai guru ‘baik’ yang ‘terpaksa’ mencari uang tambahan guna menghidupi keluarganya di saat mereka seharusnya melaksanakan tugas pokoknya di sekolah. 150. maka tidak ada pilihan lain bagi bangsa Indonesia dalam meningkatkan kualitas pendidikan kecuali dengan memperbaiki kesejahteraan guru.

menurut hemat penulis seperti yang telah sering diinginkan oleh bangsa Indonesia saat ini adalah dengan menciptakan masyarakat madani atau civil society. Apabila masyarakat Indonesia telah benarbenar mencapai Perjuangan Memperbaiki Citra Guru Indonesia (Hadiyanto) 65 . 2) toleran. 3) A society that honors civil rights and responsibility 4) An order society and consencus of the law 5) A self confident and independent society 6) A society that is part a global society that encounters international and intergeneration solidarity. Hal itu paling tidak tercermin dari istilah guru adalah ‘orang yang dapat digugu dan ditiru’. 5) serta masyarakat yang berwawasan global. dalam membentuk masyarakat madani. diamalkan di lingkungan sekolah dan masyarakat secara luas. Konsep civil society seperti yang dikemukakan oleh Tilaar (2000) mempunyai ciriciri sebagai berikut: 1) A society that has future ideal and expectations 2) A civilized democratic educational society. Sekali lagi. beriman dan bertaqwa. 4) berakhlak tinggi. guru juga mempunyai peranan yang sangat penting karena keenam butir ciri-ciri masyarakat madani di atas sudah dan bahkan harus ditanamkan oleh guru di kelas. Untuk menciptakan masya-rakat yang menghargai guru. Civility elements are very important because there is a democratic society but does not respect humanitarian values.Perspektif Ilmu Pendidikan (UNJ). 3) saling pengertian. Perjuangan Sosial Perjuangan sosial berarti mengembalikan citra guru yang status sosialnya dulunya pernah ‘jaya’ dibandingkan dengan profesi lainnya. Hasil yang diharapkan dari pendidikan untuk membangun masyarakat madani itu menurut Tilaar (2000) adalah sikap masyarakat indonesia yang 1) demokratis. sehingga Pak Lurah rela dan bangga kalau anaknya disunting oleh guru. Volume 6 Tahun III Oktober 2002 c.

akan tetapi juga tatanan nilainilai dan norma-norma atau kadang aturan yang tidak tertulis yang diyakini manfaatnya oleh masyarakat. Kebudayaan sebenarnya bukan hanya berurusan dengan hasilhasil peninggalan karya generasi terdahulu. adalah salah satu nilai-nilai budaya Jawa yang telah meng-Indonesia yang patut dan perlu dipelihara oleh guru itu sendiri maupun bangsa Indonesia pada umumnya. d. gedung atau situs bersejarah. Ing Madya Mangun Karsa. dan perjuangan harus lebih banyak dilakukan oleh guru sendiri sebagai suatu corp. guru juga harus menjadi orang pertama penjaga gawang mempertahankan nilai-nilai budaya masyarakat ini. meskipun sekarang ini Direktorat Jenderal Kebudayaan harus 66 Perjuangan Memperbaiki Citra Guru Indonesia (Hadiyanto) .Perspektif Ilmu Pendidikan. Tut Wuri Handayani. mereka telah berjuang menjadi suri teladan agar para peserta didik yang juga akan menjadi anggota masyarakat meniru nilainilai yang telah ditanamkan dan diamalkan dalam kehidupan keseharian di masyarakat itu. penulis yakin mereka akan menghargai gurunya. Perjuangan Budaya Perbaikan kualitas dan nasib guru dapat dilakukan melalui jalur budaya. Volume 6 Tahun III Oktober 2002 masyarakat madani. seperti patung. Dari sisi ini harus diakui bahwa guru adalah penjaga nilainilai budaya masyarakat. Akhirnya. Ing Ngarso Sung Tulodho. Termasuk dalam hal ini adalah sopan santun dan menghargai kepada guru. mereka tidak rela kalau guru mereka hanya dihargai seperti yang sekarang ini. Pelestarian nilai-nilai yang terkandung pada ajaran itu tidak sekedar dijadikan sebagai ujud fisik dari semboyan pada logo Depdiknas. Oleh karena itu. Kebudayaan dengan sistem pendidikan sebenarnya bukan merupakan suatu yang terpisahkan. Mereka sadar bahwa dalam membentuk masyarakat seperti yang diinginkan itu jasa guru sangat besar. keramik. Sebagai contoh apa yang dikemukakan Ki Hadjar Dewantoro.

Perspektif Ilmu Pendidikan (UNJ). masyarakat dan pemerintah. tidak pernah ‘nyambi’ mencari uang dengan mengorbankan tugas pokoknya. jujur. Untuk memperoleh guru yang senantiasa berkualitas mengikuti perkembangan jaman dan ilmu pengetahuan. misalnya kalau guru mampu menampilkan dirinya di depan peserta didik dan masyarakat sebagai orang yang benar-benar berilmu. PENUTUP Pendidikan nasional di Indonesia sebenarnya merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua. Adalah suatu hal yang tidak masuk akal apabila peserta didik mempunyai kemampuan lebih atau informasi lebih baru dan lengkap dibandingkan dengan gurunya. banyak pihak secara bombardir menyalahkan pemerintah dan akhirnya tanggung jawab dari pemerintah itu dibebankan kepada guru. Perjuangan Memperbaiki Citra Guru Indonesia (Hadiyanto) 67 . Namun demikian. apabila pendidikan sedang mengalami krisis seperti yang sedang terjadi saat ini. Volume 6 Tahun III Oktober 2002 hengkang dari Depdiknas. sebab dari bidang pendidikan inilah letak masa depan politik. maka dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan yang lebih kepada guru melalui pendidikan atau pelatihan-pelatihan untuk meng-up date kemampuan guru dalam mengajarkan materi pelajaranya di kelas. dilestarikan dengan pendidikan yang baik atau bahkan dirusak dan dihancurkan dengan sistem pendidikan yang korup dan ‘amburadul’. Penanaman nila-nilai menghargai guru seharusnya juga dapat dilakukan lewat pendidikan itu sendiri dan dapat terjadi secara otomatis. ekonomi. sosial dan budaya masyarakat Indonesia. karena pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan dan kebudayaan dapat diciptakan. Tanggung jawab pendidikan ini bukan merupakan tanggung jawab yang ringan. maka para guru itu akan dihargai oleh peserta didik dan masyarakatnya sebagai orang yang pantas menjadi ‘tulodho’. dan semua tingkah laku yang paling tidak mendekati ‘perfect’.

2000 68 Perjuangan Memperbaiki Citra Guru Indonesia (Hadiyanto) . maka diharapkan kualitas sistem pendidikan di Indonesia akan meningkat. Perbaikan secara sistemik dari berbagai bidang ini pun juga harus dilakukan oleh berbagai pihak yang berwenang dan berkepentingan seperti guru itu melalui berbagai media dan pemerintah sebagai pengambil keputusan dan masyarakat sebagai pihak yang memberikan kontrol diiringi dengan kearifan dan kebersamaan sebagai suatu komponen bangsa yang sedang membangun bangsanya. Di balik tanggung jawab yang besar dan sistem imbalan yang belum sepadan itu. maka seharusnya bangsa Indonesia memikirkan perbaikan nasib dan citra guru Indonesia. Perbaikan kualitas itu hendaknya dilakukan secara simultan sebagai suatu sistem baik dari sisi politik. Sebagai konsekuensi logis dari besar pasak daripada tiang itu maka tidak mengherankan kalau sebagian (mungkin sebagian besar) guru dan tenaga pengajar lainnya masih harus mencari uang tambahan untuk sekedar membuat mereka ‘survive’ dari ketidakmenentuan kehidupan bangsa yang sedang dilanda krisis multi dimensi ini. masih besar ‘contribution’ yang harus diberikan guru dibandingkan dengan ‘inducement’ yang diterimanya. sosial maupun budaya Indonesia. Apabila nasib dan citra guru telah meningkat sesuai dengan yang pernah disandang sebelumnya. atau yang disandang oleh mereka di negara-negara yang telah ‘establish’. maka keinginan masyarakat madani seperti yang telah sering diperdengarkan juga akan terwujud. Kalau hal ini terlah tercapai. berada pada tataran yang selevel dengan negara lain. ekonomi.Perspektif Ilmu Pendidikan. nampaknya penghargaan masyarakat terhadap guru belum seimbang. Semoga. DAFTAR REFERENSI Bekal Pembina. Volume 6 Tahun III Oktober 2002 Sebagai pihak yang ‘kejatuhan’ tanggung jawab yang tidak ringan itu.

27 Mei 2001 Hanson. Paris: UNESCO. J. Education and the Development of Nations. 4 Juni 1996 Lipset. Harbison. Sahertian.. 20 Oktober 2001 Kompas. Bloomington: Indiana University Press. 1963. 1977. Jakarta: Balitbang Depdiknas. 27 November 2001 Kompas. Singgalang. 20 Februari 2002 Kompas.. New York: Anchor Books. Yogyakarta: Andi Offset. ‘Mengentaskan Nasib Guru Dan Sistem Pendidikan Di Indonesia. J. 25 Oktober 2001 Kompas. 28 April 2000 Kompas. E.. et al 1996. ‘Pendidikan Nasional dan Proses Transformasi Budaya Menuju Peradaban Negara-Bangsa Indonesia’.Perspektif Ilmu Pendidikan (UNJ). Political Man. dan Young. A Teacher is Many Things. New York: Holt. Pullias. 1966. 22-23 Maret 2000 di Semarang. Manpower and Education. Oktober 2001 Haluan. Learning: The Treasure Within. Kompas 5 September 2001 Kompas. disajikan pada Seminar Nasional PAH I BP MPR bekerjasama dengan ISPI dan UNES. 18 Juni 2002 Kompas. 25 November 2000 Haluan. John W. Kapankah?’ Perspektif Ilmu Pendidikan. P. 24 April 2001 Soedijarto. 1965.V. report to UNESCO of the International Comission of Education for the twenty-first century. Komite Reformasi Pendidikan. 2001. Myers. 16 Februari 2001 Kompas. 1994. New York: McGraw-Hill Book Company. dan Cole S. Hadiyanto. Profil pendidik profesional. D. Volume 6 Tahun III Oktober 2002 Delors. Country Studies in Economic Development. Seymour Martin. Naskah Akedemik Rancangan Undang-Undang Pendidikan Nasional. Frederick dan Charles A. Brembeck. Rinehart and Winston. Perjuangan Memperbaiki Citra Guru Indonesia (Hadiyanto) 69 .

Nilai dan Sikap’. makalah disampaikan pada Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia IV. Supriadi. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Volume 6 Tahun III Oktober 2002 Soedijarto. Pendidikan Nasional sebagai Wahana Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Membangun Peradaban Negara Bangsa. Strategi Reformasi Pendidikan Nasional. 1999. Soedijarto. D.R. ‘Rekonstruksi Kurikulum untuk Menunjang dapat Berfungsinya Lembaga Pendidikan sebagai Pusat Pembudayaan Kemampuan. Jakarta: CINAPS. Bandung: Remaja Rosdakarya. H.Perspektif Ilmu Pendidikan. Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia. 2000. Tilaar. 19-22 September 2000. 2000. Pendidikan. Mengangkat Citra dan Martabat Guru. 70 Perjuangan Memperbaiki Citra Guru Indonesia (Hadiyanto) .A. di Hotel Indonesia Jakarta.