P. 1
tugasku

tugasku

|Views: 197|Likes:
Published by EkaPutri Aziz
ap aj lah
ap aj lah

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: EkaPutri Aziz on Apr 13, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/21/2015

pdf

text

original

1) Manajemen informasi (Information Management) Proses Perencanaan untuk pembaharuan atau peninjauan kembali sistem suplai obat termasuk

dalam a drug manjemen information system (DMIS) yang merupakan sistem pengatuaran untuk mengumpulkan, memproses,

melaporkan, dan menggunakan sistem informasi untuk membuat keputusan. Koordinasi dari setiap elemen pada sistem suplai obat membutuhkan keakuratan dan sistem informasi yang tepat waktu. DMIS mampu secara

efektif mensisntesis data dalam jumlah yang sangat banyak dalam manajemen obat. Data-data obat tersebut digunakan sebagai informasi untuk perencanaan, aktivitas, memperkirakan permintaan, pengalokasian, sumber daya, monitoring dan evaluasi manajemen obat (Quick et.al., 1997).

Pengelolaan Perbekalan Farmasi Sub Instalasi Perbekalan Farmasi merupakan bagian dari Instalasi Farmasi di RSD Dr. Soebandi yang bertanggung jawab dalam pengelolaan obat, bahan baku, Alat Medis Habis Pakai (AMHP), dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP). Untuk menjalankan tugas dan fungsinya, Gudang IFRS Dr. Soebandi dipimpin oleh seorang Apoteker dan dibantu oleh 2 orang Asisten Apoteker, 2 tenaga administrasi, dan 2 tenaga transportasi perbekalan. Sub Instalasi Perbekalan mempunyai tugas pokok mengkoordinasi kegiatan pengelolaan perbekalan farmasi di RSD Dr. Soebandi. Farmasis berperan dalam pengelolaan perbekalan farmasi yang diperlukan bagi kegiatan pelayanan meliputi seleksi, perencanaan dan pengadaan, pendistribusian, dan penggunaan termasuk evaluasi sampai pelaporan. Proses tersebut difasilitasi oleh PFT yang berperan dalam menentukan formularium obat yang digunakan RSD Dr. Soebandi. Dokter yang mewakili masing-masing satuan medis fungsional (SMF) memberikan usulan obat yang digunakan di RS. PFT kemudian mendiskusikan dan menyeleksi usulan obat yang ada untuk menghasilkan formularium obat yang akan menjadi dasar pengadaan obat di RS. a. Seleksi (Selection) Seleksi merupakan proses kegiatan sejak dari meninjau masalah kesehatan yang terjadi di rumah sakit, identifikasi pemilihan terapi, bentuk dan dosis obat,

kemudian diseleksi oleh PFT untuk menyusun atau merevisi formularium dan tata laksana penggunaannya di RSD Dr. Dimana masing-masing SMF mengusulkan kebutuhan obat ke PFT. Soebandi dilakukan dengan metode bottom up dan metode top down untuk formularium lainnya. dan perbekalan farmasi lainnya. Seleksi obat dilakukan berdasarkan kebutuhan obat masing-masing SMF yang disesuaikan dengan siklus penyakit yang biasa ditangani oleh RSD Dr. Soebandi untuk menetapkan kualitas dan efektifitas. Metode bottom up dilakukan berdasarkan konsumsi penggunaan obat oleh dokter/SMF. Perencanaan perbekalan farmasi RSD . untuk menghindari kekosongan obat dengan menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan dan dasar-dasar perencanaan yang telah ditentukan merupakan proses perencanaan. Perencanaan di RSD Dr. Soebandi dilakukan oleh suatu tim perencanaan yang dipimpin Kepala Instalasi Farmasi. 1) Perencanaan Dalam melaksanakan suatu kegiatan. serta jaminan purna transaksi pembelian. Procurement Merupakan proses kegiatan yang meliputi perencanaan dan pengadaan perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran. b. tetapi memiliki keuntungan dalam hal kepatuhan dokter dalam menggunakan obat-obat di formularium sangat tinggi. Soebandi. perlu dilakukan perencanaan tentang kebutuhan obat. sampai menjaga dan memperbaharui standar obat. bahan baku. jumlah dan harga perbekalan farmasi dengan tujuan untuk mendapatkan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan anggaran serta menghindari kekosongan. standarisasi. Perencanaan perbekalan farmasi merupakan proses kegiatan pemilihan jenis. Soebandi. Perencanaan perbekalan farmasi menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pelayanan farmasi. Oleh karena itu metode bottom up memiliki kekurangan yaitu waktu penyusunan yang relatif lama. Perencanaan dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi pengadaan barang dan tercipta keseimbangan antara persediaan dan permintaan.menentukan kriteria pemilihan dengan memprioritaskan obat esensial. Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) mempunyai peran aktif dalam penentuan seleksi obat di RSD Dr. Penyusunan formularium di RSD Dr.

jumlah pengeluaran. AMHP dan BMHP. Soebandi. 2) Pengadaan Pengadaan perbekalan farmasi di rumah sakit dapat dilakukan secara produksi. Perencanaan yang telah dibuat perlu dievaluasi sebelum diusulkan oleh panitia perencanaan ke bagian perencanaan rumah sakit.Dr. pemakaiaan nyata per tahun. Soebandi sudah menggunakan sistem BLU (Badan Layanan Umum). Metode ini berdasarkan pada data konsumsi bulan sebelumnya. Perencanaan obat golongan psikotropika dan narkotika dibuat menggunakan formulir pesanan khusus psikotropika dan narkotika. purata pemakaian tiap bulan. Surat pesanan ditandatangani oleh apoteker penanggungjawab gudang perbekalan diketahui oleh Kepala Instalasi Farmasi. tunai. waktu kekosongan barang. Untuk pengadaan dilakukan oleh tim / panitia pengadaan rumah sakit yang mengadakan kebutuhan berdasarkan pada rencana yang telah disetujui oleh Direktur Rumah Sakit. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi penumpukan barang di gudang farmasi yang dapat menimbulkan kerugian. Soebandi dilakukan dengan cara pembelian baik kredit. dan pasien maskin (obat untuk pelayanan di depo farmasi). Dengan terbatasnya dana. pembelian. pasien reguler. maka prioritas perencanaan disusun berdasarkan analisa VEN dan ABC. Perencanaan di RSD Dr. waktu tunggu. Dropping atau bantuan. karena rumah sakit dr. Sistem pengadaan untuk obat-obatan dan alat kesehatan di RSD Dr. Selain itu ada beberapa perbekalan farmasi yang merupakan bantuan/hibah dari . Soebandi dikelola secara intern oleh rumah sakit. Analisa ABC ini juga menjadi acuan perbekalan farmasi yang perlu pengawasan lebih terkait besarnya dana yang terserap. meliputi: perencanaan obat untuk pelayanan pasien askes. serta dana yang tersedia. stok awal. maupun konsiyasi. Prosentase untuk stock pengamanan ±10% untuk perbekalan farmasi yang sifatnya “fast moving”. Untuk melaksanakan metode ini maka data yang diperlukan adalah daftar obat. Pendanaan pengadaan perbekalan farmasi di rumah sakit dr. stok pengaman. Soebandi menggunakan metode konsumsi dan epidemiologi. stok akhir. Pembelian sendiri dapat dilakukan secara tunai (cash) atau kredit tergantung kesepakatan dengan distributor terkait. jumlah penerimaan.

Gudang IFRS RSD Dr. Barang yang diterima selanjutnya disimpan sesuai dengan jenis barang serta peruntukkannya dan dilengkapi dokumen administrasinya. Expire date. Selanjutnya bagian gudang IFRS RSD Dr. v. ix. Faktur asli yang menyertai barang selanjutnya dikembalikan kepada distributor untuk kepentingan penagihan dan salinanya disimpan di gudang sebagai arsip dan diberi nomor daftar penerimaan barang. Distributor yang ditunjuk selanjutnya mengirimkan barang ke Rumah Sakit kemudian diterima bendahara barang medis. Pemeriksaan barang . obat dan alat berdasarkan permintaan depo-depo farmasi setiap minggu kepada Kepala Instalasi Farmasi. Alur pengadaan Obat dan Alkes di gudang IFRS RSD Dr. iv. ii. Soebandi) melakukan pemesanan Obat dan Alkes kepada distributor yang ditunjuk. Sebelum barang disimpan di ruang penyimpanan terlebih dahulu dicatat di buku penerimaan barang dan kartu stock. kelengkapannya seperti pemeriksaan kondisi barang (kemasan barang baik atau rusak). Gudang mengajukan usulan tentang perencanaan kebutuhan sisa barang. viii. Instalasi Farmasi menyampaikan surat pemesanan melalui PPK sesuai rencana kebutuhan yang telah ditetapkan. Soebandi mendistribusikan barang ke tiap depo farmasi berdasarkan permintaan depo melalui buku defecta. Rekanan mengirimkan barang yang telah dipesan selanjutnya diterima oleh bagian gudang dan dilakukan pemeriksaan barang. dicek kesesuaiannya. iii. Dengan persetujuan PPK maka obat dan BHP (bahan habis Pakai) kebutuhan farmasi diadakan oleh ketua panitia pengadaan Rumah Sakit. Penerimaan dan pemeriksaan barang merupakan proses lanjutan setelah pengadaan. Soebandi adalah sebagai berikut : i. Ketua panitia pengadaan ini merencanakan tentang kebutuhan Obat dan Alkes yang akan dipesan serta menunjuk distributor yang sesuai dengan kriteria.instansi lain. jumlah dan jenisnya. Soebandi (dalam hal ini apoteker sebagai penanggung jawab gudang IFRS RSD Dr. vi. Sedangkan untuk pengadaan dengan cara produksi tidak dilakukan karena terbatasnya fasilitas dan SDM yang ada. vii.

bertujuan untuk mengetahui kesesuaian barang yang diterima (sesuai dengan spesifikasi obat) dengan SP. dan ED. menjaga kelangsungan persediaan. Tata ruang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efisiensi dan efektifitas kegiatan-kegiatan di Gudang Perbekalan Farmasi. memudahkan pencarian. kartu stok. Barang yang telah diterima dan diserahkan ke Gudang Perbekalan Farmasi selanjutnya disimpan sesuai dengan ketentuan dan aturan penyimpanan. iii. Pengeluaran perbekalan farmasi dilakukan gudang dengan sistem FIFO (First In First Out) yaitu barang yang masuk paling awal dikeluarkan terlebih dahulu. . 3) Distribusi (distribution) Pendistribusian perbekalan farmasi dilakukan oleh gudang farmasi. Setelah sesuai dibuat Berita Acara Penerimaan Barang (BAPB) yang diketahui dan disetujui oleh Direktur Rumah sakit. ii. kemudian dicatat pada buku penerimaan. jenis. pencatatan mutu obat. Barang yang telah diterima diserahkan ke gudang perbekalan farmasi disertai dengan berita acara serah terima barang yang disetujui oleh Kepala Gudang dan Bendahara Material Bahan Medis yang diketahui oleh Kepala Instalasi Farmasi dan Kuasa barang RS Dr. dan maskin). dan kemudian disimpan (sesuai dengan kriteria peruntukan yaitu askes. pengamanan mutu obat. Tujuan penyimpanan adalah memelihara mutu barang. Soebandi. Faktur asli diserahkan kepada rekanan untuk penagihan ke kasir sentral dan salinannya disimpan digudang sebagai arsip setelah dilegalisir dan diberi nomor daftar penerimaan barang. dan pengawasan serta menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab. dan keterangan lain yang menyertai. reguler. Barang yang diterima di bagian gudang diperiksa kembali kesesuaiannya. Selain itu dengan pemeriksaan dapat diketahui kondisi barang yang diterima dan batas Expired Date (ED). Prosedur penerimaan barang : i. Barang yang telah dikirim oleh rekanan atau distributor diterima dan dicocokkan kesesuaian antara faktur barang dengan SP mengenai jumlah. Kegiatan-kegiatan penyimpanan meliputi pengaturan tata ruang dan penyusunan stok.

Soebandi Jember didistribusikan melalui dua metode yaitu distribusi dari gudang ke masing-masing depo dan dispensing dari tiap depo ke pasien. laboratorium klinik. serta menghitung harga . Terima resep Penyerahan obat disertai KIE Skrining resep dan cek kelengkapan administrasi sesuai status pasien Penyiapan obat sesuai resep. penyerahan obat dengan pemberian informasi obat yang memadai disertai sistem dokumentasi. Dispensing dilakukan oleh Apoteker yang didelegasikan pada Asisten Apoteker (AA). Dispensing merupakan kegiatan pelayanan yang dimulai dari tahap validasi. dan pembuatan dokumentasi resep Cek ketersediaan obat dan alat. Pendistribusian barang-barang dari gudang perbekalan farmasi dilakukan berdasarkan permintaan dari depo farmasi (rawat jalan. Distribusi dari gudang ke depo dilaksanakan berdasarkan permintaan dari tiap depo yang diajukan melalui buku de fecta. menyiapkan atau meracik obat. Penggunaan (use) Bagian ini meliputi dispensing dan evaluasi penggunaan obat. rawat inap. operasi dan gawat darurat). Setiap permintaan yang masuk harus menggunakan buku permintaan barang (buku de fecta) diserta bon permintaan barang dan barang-barang yang keluar dicatat dalam buku rekap pengeluaran barang. Pendelegasian ini disebabkan karena terbatasnya jumlah Apoteker di rumah sakit ini. dan ruangan/poliklinik. c.Sistem lain yang digunakan yaitu berdasarkan pertimbangan waktu kadaluwarsa atau dikenal dengan sistem FEFO (First Expired Date First Out). interpretasi. memberikan label atau etiket. Perbekalan farmasi di RSD Dr. Soebandi Jember. pemberian etiket. Apoteker bertugas memantau pelaksanaan proses dispensing tersebut. Pada proses dispensing inilah yang merupakan kegiatan pelayanan farmasi pada pasien. Dispensing dari depo ke pasien dilaksanakan sesuai dengan pelayanan farmasi yang ada di RSD Dr.

Soebandi Jember. warna putih untuk obat oral dan warna biru untuk obat non oral. dan pasien umum. Pasien di RSD. Persyaratan administrasi dari masingmasing pasien berbeda tergantung dari statusnya. Siklus dispensing obat di RSD dr Soebandi Jember Berdasarkan gambar di atas secara umum siklus dispensing obat di RSD. Soebandi Jember meliputi : 1) Terima resep Resep yang diterima disetiap depo pelayanan berasal dari berbagai macam poli rawat jalan dan bangsal rawat inap yang ada di RSD dr. 4) Penyiapan obat sesuai resep. Sedangkan resep dari bangsal rawat inap dapat diserahkan ke depo UDD atau depo Jamkesmas. dan pembuatan dokumentasi resep Setelah perhitungan harga. pemberian etiket. Dokumentasi juga dibuat untuk . dr Soebandi Jember dibagi berdasarakan status pasien yaitu pasien askes. serta menghitung harga Tahapan selanjutnya setelah pengecekan kelengkapan administrasi yaitu melihat ketersediaan obat yang dibutuhkan oleh pasien sesuai resep dan menghitung jumlah harga obat yang akan dibayar oleh pasien khusus untuk pasien umum. pasien jamkesmas. Adapun persyaratan administrasi pasien askes meliputi kartu askes dan surat jaminan pelayanan (SJP) sedangkan pasien jamkesmas harus memiliki kartu jamkesmas.Gambar 7. Etiket juga dibuat sesuai ketentuan yang ada. surat keterangan miskin serta rujukan dari puskemas dan untuk pasien umum hanya mengisi surat keterangan kesanggupan bayar. Resep yang diterima di bagian rawat jalan diserahkan ke depo rawat jalan untuk diproses selanjutnya. 3) Cek ketersediaan obat dan alat. dilakukan penyiapan obat dan alat sesuai resep yang ada. 2) Skrining resep dan cek kelengkapan administrasi sesuai status pasien Tahapan selanjutnya setelah penerimaan resep dari pasien maka dilakukan skrining resep oleh Asisten Apoteker (AA) meliputi kelengkapan resep.

dan edukasi non farmakologi. Gudang farmasi berperan sebagai jantung dari menjemen logistik karena sangat menetukan kelancaran dari pendistribusian. Indikator penyimpanan obat yaitu: 1) Kecocokan antara barang dan kartu stok. barang terhindar dari kerusakan fisik. yaitu seberapa cepat obat dibeli. aturan pakai. dipahami dan diketahui secara baik. 5. pengadaan. Gudang farmasi mempunyai fungsi sebagai tempat penyimpanan yang merupakan kegiatan dan usaha untuk mengelola barang persediaan farmasi yang dilakukan sedemikian rupa agar kualitas dapat diperhatikan.kepentingan data dan administrasi rumah sakit serta bisa menjadi bahan rujukan untuk meninjau kembali resep sebelumnya. perbekalan kesehatan atau persediaan farmasi. sampai dipesan kembali. Oleh karena itu. Gudang Farmasi Gudang Farmasi Rumah Sakit merupakan suatu bagian di rumah sakit yang kegiatannya dibawah manajemen departemen Instalasi Farmasi. 5) Penyerahan obat disertai dengan KIE Dalam penyerahan obat juga dilakukan pemberian informasi meliputi nama obat. maka metode pengendalian persediaan atau inventory control diperlukan. indikator ini digunakan untuk mengetahui ketelitian petugas gudang dan mempermudah dalam pengecekan obat. produksi. 2) Turn Over Ratio. Departemen Instalasi Farmasi dipimpin oleh seorang apoteker dan dibantu beberapa orang apoteker yang bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan kefarmasian yang mencakup pelayanan perencanaan. penyimpanan. dengan demikian nilai TOR akan berpengaruh pada ketersediaan . pencarian barang mudah dan cepat. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker langsung atau asisten apoteker yang memang cakap dalam berkomunikasi dan memiliki pengetahuan tentang obat. pengendalian mutu dan pengendalian distribusi penggunaan seluruh perbekalan kesehatan di rumah sakit. didistribusi. indikator ini digunakan untuk mengetahui kecepatan perputaran obat. kegunaan obat. membantu dalam perencanaan dan pengadaan obat sehingga tidak menyebabkan terjadinya akumulasi obat dan kekosongan obat. barang aman dari pencuri dan mempermudah pengawasan stok.

demikian pula sebaliknya. 1 orang Bendaharawan Barang Medis (BBM) yang dalam hal ini bertanggung jawab pula dalam pengelolaan Alkes dan BHP (barang habis pakai). 6) Persentase nilai stok akhir. Dimana. penyimpanan. indikator ini digunakan untuk menilai sistem penataan gudang standar adalah FIFO dan FEFO. Kegiatan di depo Gudang Farmasi di dukung beberapa tenaga kerja yaitu 1 orang Apoteker sebagai penanggung jawab. pemusnahan dan pendistribusian. Depo Gudang Farmasi RSD. Depo Gudang Farmasi sendiri terbagi atas dua yaitu Gudang 1 khusus untuk Alkes dan BHP. dan JAMKESMAS. BHP dan Obat-obatan di Depo Gudang Farmasi dibedakan berdasarkan status pasien antara lain Regular. TOR yang tinggi berarti mempunyai pengendalian persediaan yang baik. dimana kegiatan pengelolaannya meliputi dari penerimaan. nilai stok akhir adalah nilai yang menunjukkan berapa besar persentase jumlah barang yang tersisa pada periode tertentu. 1 orang Asisten Apoteker (sebagai Penanggung jawab obat-obatan). nilai persentese stok akhir berbanding terbalik dengan nilai TOR. 2 tenaga administrasi (SIM) yang terbagi dua yaitu admin penerimaan dan admin pengeluaran dan 2 orang pembantu umum dalam ini terbagi atas dua juga yaitu alkes dan BHP serta obat-obatan. Dr. Askes. barang habis pakai (BHP) maupun obat-obatan. indikator ini digunakan untuk menilai kerugian rumah sakit. penerimaan sendiri dilakukan oleh Bendaharawan Barang Medis (BBM) sebagai yang bertanggungjawab atas penyerahan perbekalan farmasi dari distributor kepada Instalasi Farmasi. Penerimaan perbekalan sendiri harus sesuai prosedur . 3) Persentase obat yang sampai kadaluwarsa dan atau rusak. Alat kesehatan (Alkes). dan Gudang 2 untuk Obat-obatan. Soebandi merupakan depo yang bertanggung jawab dalam pengelolaan perbekalan farmasi baik berupa alat kesehatan. stok mati merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan item persediaan obat di gudang yang tidak mengalami transaksi dalam waktu minimal 3 bulan. sehingga biaya penyimpanan akan menjadi minimal.obat. 4) Sistem penataan gudang. 5) Persentase stok mati. Penerimaan Penerimaan obat di Gudang Farmasi hampir setiap hari dilakukan. Kegiatan depo Gudang farmasi antara lain : 1.

a.untuk menjamin ketertiban administrasi penerimaan barang dan menjamin jenis dan jumlah. meliputi : Faktur/surat penyerahan barang Kartu stok Buku pembelian Pengarsipan faktur f. Tim pemeriksa barang melakukan recek perbekalan farmasi yang datang. serta mutu barang yang diterima. b. Pastikan kesesuaian antara pesanan dengan barang yang meliputi: c. 2. Pemeriksaan barang bertujuan untuk mengetahui kesesuaian barang yang diterima (sesuai dengan spesifikasi obat) dengan SP. Selain itu dengan pemeriksaan dapat diketahui kondisi barang yang diterima dan batas Expired Date (ED). bentuk dan kerusakan Terlihat partikel/benda asing dalam cairan/kemasan Terlihat kebocoran d. Adapun protap perbekalan farmasi yaitu: . Kebenaran jumlah kemasan Kebesaran jumlah satuan dalam kemasan Kebenaran jenis barang yang diterima Kebenaran identitas produk Kebenaran kondisi kemasan seperti yang disarankan Pastikan ketiadaan hal-hal sebagai berikut : Tanda-tanda kerusakan Kelainan warna. Waktu kadaluarsa memadai Pastikan adanya dokumentasi penerimaan. Prosedur tetap (Protap) penerimaan obat di gudang farmasi adalah sebagai berikut. Penyimpanan Penyimpanan perbekalan farmasi di depo Gudang Farmasi dilakukan sesuai prosedur untuk menjamin mutu obat dan pelayanan yang optimal. Perbekalam farmasi yang datang diterima oleh BBM dan dilakukan pengecekan secara fisik. e.

menjaga kelangsungan persediaan. Pendistribusian Distribusi perbekalan farmasi dilakukan secara sentralisasi dari gudang farmasi untuk menjamin tercapainya layanan farmasi yang optimal. 2. Alur keluar masuknya barang harus dicatat pada kartu stock Barang yang telah diterima dan diserahkan ke Gudang Farmasi selanjutnya disimpan sesuai dengan ketentuan dan aturan penyimpanan. disertai dengan pencatatan penerimaan pada kartu stok meliputi tanggal. antara lain Instalasi Rawat jalan. Instalasi rawat inap (UDD Barat dan UDD Timur). Gudang Farmasi RSD Dr. Tujuan penyimpanan adalah memelihara mutu barang. disimpan pada lemari es. 8. Pemusnahan Untuk kegiatan pemusnahan pada depo gudang farmasi sendiri baru sekali dilakukan pada tahun 2012 oleh tim yang telah dibentuk. reagen dan BHP disimpan di gudang 1 3. Obat-obatan dan alkes yang telah kadaluwarsa dari setiap depo maupun gudang sendiri dikumpulkan untuk selanjutnya dilakukan pemusnahan. Obat narkotika dan psikotropika disimpan dalam almari tersendiri. jumlah serta nama distributor yang mengirim. 5. Soebandi Jember melayani permintaan obat dan alat-alat kesehatan dari berbagai depo farmasi yang ada di rumah sakit. IBS . 6. Sedangkan untuk obat-obatan askes dilakukan penataan secara alphabetis pada kadungan zat berkhasiatnya. Penyimpanan perbekalan farmasi di depo gudang farmasi khusus obatobatan ditata berdasarkan bentuk sediaan dan juga secara alphabetis. Barang datang setelah dilakukan recek oleh BBM.1. 3. Obat yang perlu suhu 2-8oC. 4. Semua barang disusun berdasarkan urutan nama alphabetisnya. pengamanan mutu obat. jamkesmas. pencatatan mutu obat. Alat kesehatan. memudahkan pencarian dan pengawasan serta menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab. Semua barang yang ditata dicatat pada pada kartu stock dan kartu diletakkan disamping barang. reguler disimpan di gudang 2 4. 7. dan ED. kemudian disimpan ditempatnya masing-masing. Obat askes. Kegiatan-kegiatan penyimpanan meliputi pengaturan tata ruang dan penyusunan stok.

Pendistribusian juga mengacu pada FEFO (First expired. . pencatatan perbekalan farmasi di buku penerimaan obat dan alat kesehatan. dan IGD (Instalasi Gawat Darurat). kecuali bila permintaan kurang dari isi perkamen d. Hal ini penting untuk proses pengadaan obat dan alkes periode berikutnya. Perbekalan farmasi yang tidak ada ketersediaanya di gudang. Pendistibusian perbekalan farmasi harus dalam kemasan primerya. Perbekalan farmasi yang akan didistribusikan ke unit layanan dengan menyertakan buku permintaan untuk ditandatangani. Pengeluaran barang dari gudang harus selalu dicatat pada kartu stock Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelayanan perbekalan farmasi antara lain penulisan kartu stock tiap masing-masing obat/alat kesehatan setelah diambil. f. dan pengecekan ulang kesesuaian pengambilan obat/alat kesehatan dengan buku defecta dari tiap-tiap depo farmasi. dan jamkesmas). Pelayanan dilakukan sesuai dengan permintaan masing-masing depo farmasi melalui buku defecta yang dikirim ke gudang farmasi. direncanakan untuk pembelian secara UP/tunai tergantung kebutuhan (mendesak atau tidak). Petugas gudang mencatat kebutuhan masing-masing unit layanan berdasarkan permintaan sesuai ketersediaan barang di gudang b. Obat yang diserahkan dibedakan sesuai dengan status pasien (reguler/umum. askes. a. Tiap 3 bulan dilakukan pemeriksaan Stock Opname untuk mengetahui sisa stok obat dan alkes yang ada di rumah sakit. c. Secara garis besar alur distribusi depo gudang farmasi dapat dilihat PROTAP Distribusi berikut ini. First Out). Perbekalan farmasi yang sudah disiapkan. g. dicatat pada masingmasing pada buku bon permintaan unit layanan sesuai keperuntukkannya. Perbekalan farmasi yang perlu penanganan khusus harus diserahkan dalam keadaan yang terkondisikan e.(Instalasi Bedah sentral).

gudang farmasi juga melakukan pendistribusian ke ruangan-ruangan (yang dilakukan setiap 1 bulan sekali).Alur pelayanan distribusi perbekalan farmasi di depo Gudang Farmasi RSD. Tiap awal bulan petugas dari ruangan yang bersangkutan menulis pada buku bon ruangan. Dr. Soebandi dapat digambarkan secara singkat sebagai berikut: Catat di buku penerimaan masing-masing Depo Farmasi Kirim beserta buku penerima an Dilayani Catat di kartu stock Ada Di input komputer Cek ulang Gudang Farmasi Permintaan Depo Farmasi Simpan kartu stok Tidak ada Perencanaan secara UP Barang datang Depo yang membutukan Gambar 17. Komoditi- . selanjutnya dilakukan sesuai dengan permintaan ruangan. Skema Alur Distribusi Perbekalan Farmasi Selain melakukan pendistribusian ke tiap-tiap depo.

alkohol 70%. BHP (alkohol 96%. reagen. Namun di Gudang farmasi sendiri belum melakukan perhitungan TOR tersebut sehingga belum dapat diketahui apakah pengelolaan persediaan obatnya sudah efektif dan efisien atau belum. kertas perkamen). Penyimpanan reagen 4. nilai persentese stok akhir berbanding terbalik dengan nilai TOR . Soebandi Jember antara lain : 1. 2) Persentase obat yang sampai kadaluwarsa dan atau rusak. povidon.komoditi yang biasanya diminta adalah kassa. Suhu ruangan penyimpanan obat 2. 1. ditandai dengan tidak adanya pengukur suhu (thermometer) di setiap ruangan sehingga jika masalah ini tetap berlangsung maka akan mempengaruhi kualitas dan khasiat dari obat tersebut. stok mati merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan item persediaan obat di gudang yang tidak mengalami transaksi dalam waktu minimal 3 bulan belum dihitung dan dilakukan oleh Gudang farmasi. ukuran bangunan gudang farmasi yang sekarang masih terlalu kecil untuk menampung . Soebandi yang terakreditasi B Pendidikan. sehingga nantinya juga akan mempengaruhi pengobatan dan tujuan terapi pada pasien. Sarana dan fasilitas gudang 5. 2. Selain indikator terebut juga ditemukan beberapa masalah terkait Gudang Farmasi RS Dr. Ukuran gudang 3. Untuk sekelas RSD Dr. Hewan pengganggu Adapun penjelasan tentang masalah diatas dapat dilihat berikut ini. Berdasarkan indikator penyimpanan obat terdapat permasalahan yang muncul yaitu 1) Turn Over Ratio merupakan indikator untuk mengetahui apakah pengendalian persedian sudah efektif atau belum. nilai stok akhir adalah nilai yang menunjukkan berapa besar persentase jumlah barang yang tersisa pada periode tertentu. Suhu ruangan di gudang farmasi belum terkontrol dengan baik. indikator ini digunakan untuk menilai kerugian rumah sakit belum dihitung dan dilakukan oleh Gudang farmasi. 3) Persentase stok mati. 4) Persentase nilai stok akhir juga belum dihitung dan dilakukan oleh Gudang farmasi.

Untuk penyimpanan reagen sebaiknya dilakukan pemisahan dengan alkes atau dibuat tempat penyimpanan khusus sehingga hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi.seluruh perbekalan farmasi sehingga masih banyak obat dan alkes yang masih tidak teratur penyimpanannya. keberadaan tikus juga dikhawatirkan dapat membantu dalam penyebaran penyakit yang ada di rumah sakit. Penyimpanan obat sitostatika juga diletakkan di tempat yang sama (digabung) dengan obat-obatan yang lain. 3. Keberadaan tikus yang populasinya terbilang banyak sangat mengganggu pada penyimpanan sediaan farmasi. Adapun saran/solusi yang bisa diberikan terkait permasalahan diatas adalah 1. Penyimpanan reagen di gudang farmasi masih tercampur dengan alat kesehatan sehingga hal-hal yang tidak diinginkan mungkin bisa terjadi seperti kebakaran atau kontamiasi dari reagen tersebut. Selain dapat merusak sediaan farmasi yang ada di gudang. Hewan pengganggu yang dimaksud adalah tikus. Hal tersebut tentu akan mempengaruhi kelembaban serta keamanan dari sediaan farmasi. 3. Pendingin ruangan yang tidak berfungsi dengan baik terutama pada ruang penyimpanan obat ASKES dan JAMKESMAS sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi kualitas dan khasiat dari obat tersebut. Rak penyimpanan yang juga kurang memadai sehingga masih banyak sediaan farmasi yang langsung diletakkan di atas lantai tanpa menggunakan alas. 4. 5. Penyimpanan obat sitostatika juga seharusnya . alkes dan BHMP dapat tersusun rapi dan tidak terjadi penumpukan barang. Sebaiknya dilakukan pengontrolan terhadap suhu ruangan sehingga kualitas dan khasiat obat tetap terjaga 2. Ada beberapa sedian farmasi yang telah dirusak oleh binatang pengerat tersebut. Sekiranya agar dilakukan perluasan terhadap ukuran Gudang Farmasi sehingga obat-obatan. Alarm yang berfungsi sebagai bunyi peringatan misalnya jika terjadi kebakaran juga tidak tersedia di gudang farmasi. Sarana dan fasilitas yang ada di gudang masih kurang memadai seperti lemari narkotik dan psikotropik yang ukurannya tidak mencukupi sehingga ada obat golongan psikotrotik yang diletakkan di luar lemari.

disebabkan kerumitan dan kepekaan kebijakan dari tugas tersebut. Akan tetapi. perawat. dan tenaga kesehatan lainnya) akan pengetahuan terbaru dan lengkap berkenaan dengan obat-obatan dan penggunaannya. evaluasi yang pengembangan berkaitan dan formularium dengan penggunaan obat investigasi atau obat percobaan. maka dalam pelaksanaannya selalu diberikan kepada suatu staf medik yang biasa disebut Panitia Farmasi dan Terapi. . 2. farmasis. Membersihkan dan merapikan gudang serta membasmi seluruh hewan penggangu dari gudang farmasi. dimana memiliki tujuan membantu pimpinan rumah sakit dalam meningkatkan mutu pelayanan obat terutama dalam hal rasionalitas penggunaan obat di rumah sakit. serta penetapan dan pengkajian semua reaksi obat yang merugikan. Jadi Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) adalah organisasi yang berfungsi menjembatani hubungan antara staf medik dan Instalasi Farmasi melalui garis organisatoris. Tujuan umum dari Panitia Farmasi dan Terapi adalah : 1. Bidang pendidikan Memberikan usulan atau membantu dalam merumuskan programprogram yang dibuat guna memenuhi kebutuhan staf profesional (dokter. 4.harus terpisah dari obat yang lain dan harus dengan ditangani secara khusus karena memiliki resiko yang besar terhadap kesehatan. Melengkapai sarana dan fasilitas gudang farmasi agar terjaganya kualitas sediaan farmasi serta keamanan gudang. uji diagnostik. Fungsi pemantauan dan terapi tersebut dapat dilakukan oleh suatu komite. Memberi nasehat Memberikan usulan penggunaan atau membantu dalam merumuskan kebijaksanaan atau cara-cara untuk evaluasi. pemilihan dan pemakaian obat-obatan di rumah sakit. Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) Di suatu rumah sakit diperlukan suatu fungsi pemantauan terapi yang mencakup pengembangan kebijakan dan prosedur mengenai pengelolaan pemeliharaan obat dan bahan obat.

4.Tugas dan tanggung jawab dari Panitia Farmasi dan Terapi ini adalah : 1. Mengkoordinir uji klinik obat. Menjalin kerjasama dengan panitia sejenis baik secara horisontal maupun vertikal dengan instansi kesehatan lain di luar rumah sakit. dan harus menjadi seorang anggota yang mempunyai hak suara dalam panitia ini. Menyusun formularium rumah sakit dan tata laksana penggunaannya. Jadwal rapat harus disiapkan oleh sekretaris (farmasis) dan disimpan dalam notulen rapat rumah sakit tersebut. keterampilan. perawat dan seorang tenaga administrasi. 9. Usulan-usulan dari Panitia Farmasi dan Terapi harus disampaikan kepada staf medis dan atau kepada direktur rumah sakit. 8. Panitia Farmasi dan Terapi sekurangnya terdiri dari 3 dokter. Memantau serta menganalisis kerasionalan penggunaan obat di rumah sakit. 3. idealnya dokter ahli farmakologi klinik. 3. Melakukan analisis efektifitas dan efisiensi penggunaan obat di rumah sakit. apoteker. Revisi formularium sesuai kemajuan. dan pendapat khusus. . Organisasi dan tata kerja Panitia Farmasi dan Terapi diselenggarakan berdasarkan pedoman yang berlaku secara umum : 1. Panitia Farmasi dan Terapi harus mengadakan pertemuan/ rapat rutin minimal 2 bulan sekali. 4. Panitia tersebut harus mengundang orang-orang. 2. 7. Ketua Panitia Farmasi dan Terapi adalah dokter. Menampung. 5. sedang farmasis disini berperan sebagai sekretaris. 5. memberi saran dan ikut memecahkan masalah lain dalam pengelolaan barang farmasi. 2. untuk kemudian diterima dan mendapatkan rekomendasi. 6. Mengkoordinir monitoring efek samping obat. 6. Membantu pimpinan rumah sakit melalui komite medik untuk meningkatkan pengelolaan dan penggunaan obat. serta penilaian ke dalam rapat mereka. baik dari dalam maupun luar rumah sakit yang dapat memberikan sumbangan pengetahuan.

7. Informasi tentang pengobatan dasar. Hubungan dengan panitia lain di rumah sakit yang berkaitan dengan penggunaan obat-obatan harus tetap dipelihara dalam bentuk terselenggaranya semacam rapat koordinasi periodik termasuk di dalamnya ialah Panitia Pengendalian Infeksi. bentuk sediaan. 5. Konsep sistem formularium ini adalah suatu metode untuk mengadakan program yang digunakan oleh berbagai rumah sakit baik rumah sakit umum maupun swasta. Formularium rumah sakit adalah daftar obat baku yang dipakai oleh rumah sakit yang dipilih secara rasional dan dilengkapi dengan penjelasan sehingga merupakaan informasi obat yang lengkap untuk pelayanan medik di rumah sakit. 4. Informasi tentang kebijakan dan prosedur di rumah sakit yang berkaitan dengan penggunaan obat-obatan. dosis. tugas dan tanggung jawab. . Informasi tentang pelayanan farmasi. 3. Uraian singkat tentang Panitia Farmasi dan Terapi termasuk keanggotaan. rumah sakit harus mempunyai suatu program evaluasi pemilihan dan penggunaan obat yang tepat dan ekonomis. Informasi tentang obat : kelas terapi. Pada umumnya formularium rumah sakit berisi : 1. 2. Untuk kepentingan perawatan penderita yang lebih baik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->