Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

DIKTAT KULIAH TL-3204

PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)

DISIAPKAN OLEH : PROF. ENRI DAMANHURI

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
EDISI SEMESTER II 2009/2010
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 1

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI 2 KATA PENGANTAR 3 BAGIAN I : PENDAHULUAN 1 Umum 4 2 Kasus kucing menari di Minamata 7 3 Kasus love canal (Amerika Serikat) 8 4 Kasus kabut dioxin si Seveso (Italia) 10 5 Kasus Kepone di Hopewell (Amerika Serikat) 11 6 Kasus laha Stringfellow di Kalifornia 12 BAGIAN II : PERATURAN DALAM PENGELOLAAN B3 1 Umum 13 2 Pengelolaan B3 dalam PP 74/2001 14 3 Karakterisasi B3 menurut PP74/2001 18 BAGIAN III : PERATURAN DALAM PENGELOLAAN LIMBAH B3 1 Umum 21 2 Pengelolaan limbah B3 dalam PP18/99 jo PP85/99 22 3 Konsep cradle-to-grave Amerika Serikat 30 BAGIAN IV : PELABELAN, PENYIMPANAN DAN PENGANGKUTAN 1 Umum 35 2 Dokumen 35 3 Simbol dan label 36 4 Pengemasan dan pewadahan 40 5 Penyimpanan dan pengumpulan 44 6 Pengangkutan 48 BAGIAN V : SIFAT DAN KARAKTERISTIK BAHAN KIMIA BERBAHAYA 1 Umum 50 2 Kelas kebakaran 51 3 Informasi tingkat bahaya 52 4 Dokumen material safety data sheets (MSDS) 5 Bahan kimia korosif 56 6 Bahan kimia yang reaktif pada air 60 7 Bahan kimia toksik 64 8 Senyawa pengoksidasi 71 9 Beberapa senyawa organik berbahaya 75 BAGIAN VI : LIMBAH RADIOAKTIF 1 Umum 81 2 Sifta-sifat radioaktivitas 81 3 Pengelolaan limbah radioaktif 85 BAGIAN VII LIMBAH MEDIS DAN RUMAH TANGGA 1 Limbah medis 94 2 Limbah berbahaya dari rumah tangga 99

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 2

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

KATA PENGANTAR

Diktat ini disusun untuk membantu mahasiswa yang mengambil mata kuliah TL3204 Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Kurikulum-2008 pada Program Sarjana Teknik Lingkungan FTSL ITB. Bahan kuliah ini merupakan penyesuaian dari Diktat Kuliah TL-352 Pengelolaan Limbah B3, yang mulai diperkenalkan pada Program Sarjana Teknik Lingkungan ITB Kurikulum 1993. Pada kurikulum-kurikulum sebelum 1993, materi ajar tentang limbah B3 secara terpisah tercakup dalam beberapa mata kuliah yang membahas masalah penanganan limbah. Sejak Kurikulum 2008, materi kuliah Pengelolaan Limbah B3 berganti nama menjadi Pengelolaan B3, yaitu mempertegas bahwa materi kuliah ini bukan hanya membahas limbah, tetapi juga bahan yang berbahaya. Diktat ini disusun dengan acuan 14 sesi pertemuan tatap muka dalam semester II di ITB, termasuk 3 sesi diskusi tugas di kelas. Beberapa bagian dari diktat ini membahas materi yang akan dibahas lebih rinci lagi dalam mata kuliah yang berada pada semester yang lebih tinggi, sehingga materi yang ada dalam diktat ini dapat dikatakan bersifat umum untuk memberikan gambaran secara utuh tentang Pengelolaan B3. Untuk penyusunan diktat ini digunakan beberapa rujukan literatur dari negara industri seperti tercantum dalam Daftar Pustaka. Beberapa rujukan yang sangat dominan dalam penyusunan diktat ini dicantumkan secara khusus pada setiap akhir Bagian. Walaupun diktat ini bertujuan untuk membantu mahasiswa yang mengambil mata kuliah TL-3204 pada Program Sarjana, namun bahan yang diberikan pada Diktat ini relevan untuk digunakan pula pada Program Magister, serta tidak tertutup kemungkinan bahwa diktat ini bisa bermanfaat pula bagi mereka yang berminat dengan masalah bahan dan limbah B-3, sebab sangat jarang sekali bahan ajar ini ditulis secara utuh dalam Bahasa Indonesia. Semoga bermanfat bagi kita semua. Bandung, Februari 2010 Prof. Enri Damanhuri Program Sarjana Teknik Lingkungan FTSP ITB

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 3

Pergeseran jenis industri Sektor lain yang berpotensi dampak negatif pada lingkungan adalah kegiatan pertambangan . 4/1982). kegiatan medis dan kegiatan pertanian Undang-Undang No. Filipina. Menurut World Bank ada 3 pola pertumbuhan industri yang perlu diperhatikan. yaitu : . Perkembangan industri disamping berdampak positif pada perkembangan ekonomi. Di empat kota saja (Jakarta. manusia dapat mengontrol dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan manusia. baik secara alamiah maupun sintetis.FTSL ITB Halaman 4 . Pasal 58 sampai Pasal 61 UU-32/2009 mengatur larangan membuang dan mengatur pengelolaan limbah dan B3. dan Thailand diprakirakan telah meningkat menjadi sekitar empat.Kecepatan pertumbuhan sektor industri . Pelepasan bahan berbahaya pada tahun 1990-an di Indonesia. Selanjutnya Peraturan Pemerintah (PP) No. Surabaya. yang setara dengan sekitar 27% dari seluruh hasil industri Indonesia. delapan.perminyakan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN I PENDAHULUAN 1 UMUM Penggunaan kimia dalam kebudayaan manusia sudah dimulai sejak zaman dahulu. terutama di daerah industrialisasi yang berkembang dengan cepat seperti di negara-negara ASEAN dan China. Sekitar 55% dari pusat-pusat industri di Pulau Jawa berlokasi di daerah perkotaan. terutama akibat perkembangan industri yang merupakan tulang punggung peningkatan perekonomian Indonesia. juga menimbulkan dampak negatif tidak hanya pada pusatpusat industri dan daerah sekitarnya tetapi juga pada tingkat nasional. Dengan mengetahui komposisi dan memahami bagaimana perubahan terjadi. lebih dari 85% hasil industri Indonesia berasal dari kegiatan industri yang berlokasi di Pulau Jawa. Masalah limbah menjadi perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah Indonesia. dan PP 18/99 juncto 85/99 mengatur lebih lanjut tentang pengelolaan limbah B3. Intensitas atau perbandingan antara limbah bahan berbahaya yang ditimbulkan dengan unit hasil industri secara mencolok juga meningkat. yang berkaitan dengan komposisi materi. dan sepuluh kali lipat. dengan definisi sebagai bahan berbaya dan beracun. Peraturanperaturan tentang masalah ini telah banyak dikeluarkan oleh Pemerintah. Kimia merupakan salah satu ilmu pengetahuan alam. menempatkan masalah bahan dan limbah berbahaya sebagai salah satu perhatian utama. yang kemudian naik menjadi 60% pada tahun 1990. Pada permulaan tahun 1970-an. tetapi di Enri Damanhuri . 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (menggantikan UU No. Bandung dan Semarang) terdapat sekitar 36% dari total industri di Pulau Jawa. khusunya sejak dekade terakhir ini. termasuk juga perubahan yang terjadi di dalamnya.Distribusi spasial yang belum merata . regional dan lingkungan secara global. namun materi ini pulalah yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang berbahaya. Senyawa-senyawa kimia sintetis inilah yang banyak dihasilkan oleh peradaban modern. akibat dampaknya terhadap manusia dan lingkungan bila tidak dikelola secara baik. 74/2001 mengatur lebih lanjut tentang pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3).

Limbah berkatagori non-hazardous tidak perlu ditangani seketat limbah hazardous. Di Amerika Serikat misalnya. sehingga biaya pengolahannya dapat ditekan. negara-negara di wilayah Asia and Pasifik secara keseluruhan memperlihatkan pertumbuhan industri yang kuat bila dibandingkan dengan tempat-tempat lain di dunia. Masyarakat industri menghasilkan produk mulai dari gasoline. Setelah berakhirnya Perang Dunia II. − Melalui perubahan intensitas pencemaran terhadap hasil industri. Keaneka ragaman jenis limbah akan tergantung pada aktivitas industri serta penghasil limbah lainnya. Revolusi industri dan penggunaan bahan kimia organik yang terus meningkat setelah perang dunia ke 2. terganggunya kesehataan masyarakat serta penurunan kualitas ekologi lingkungan. Dampak negatif akibat limbah tersebut adalah kontaminasi sumber-sumber air. Sebelum krisis ekonomi 1997. tetapi juga pada tingkat nasional. padanan kata untuk Hazardous Waste yang digunakan di Indonesia adalah Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dan disingkat menjadi Limbah B3. atau jika kontribusi sektor industri itu sendiri menurun. bahkan pertumbuhan industri negara-negara sedang berkembang di wilayah ini lebih menonjol. akan mempengaruhi karakter limbah yang tidak terlepas dari proses industri itu sendiri. Sebagian dari limbah industri tersebut berkatagori hazardous waste.FTSL ITB Halaman 5 . Sesuai dengan PP 18/99 juncto 85/99. Mulai dari penggunaan bahan baku. pemilihan jenis mesin dan sebagainya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 lapangan banyak mengalami hambatan. kegiatan enersi (seperti limbah radioaktif PLTN). industri memfokuskan dirinya pada produksi plastik dan pestisida. naphta ke kerosene. dalam jangka waktu panjang kuantitas cemaran mungkin menurun jika terjadi perubahan yang drastis dengan adanya industri yang lebih bersih lingkungan. Tingginya jumlah limbah industri yang dihasilkan per unit hasil industri merupakan salah satu dari masalahmasalah utama yang ada. yaitu berubahnya jumlah pencemaran yang ditimbulkan per unit hasil industri. biasanya berasal dari kegiatan industri. sehingga dapat mengurangi kemiskinan. seperti dari aktivitas pertanian (misalnya penggunaan pestisida). pemilihan proses produksi. Namun sebagian besar jenis limbah yang dihasikan. bukan saja mengakibatkan kenaikan timbulan limbah secara dramatis. Walaupun demikian. sektor industri telah mengakibatkan beban pencemaran : − Melalui peningkatan kuantitas cemaran dalam jangka waktu pendek dan menengah. Penanganan limbah merupakan suatu keharusan guna terjaganya kesehatan manusia serta lingkungan pada umumnya. industrialisasi juga menimbulkan dampak secara langsung. Beberapa negara di wilayah ini malah menghasilkan limbah dalam jumlah yang tinggi. Namun pengadaan dan pengoperasian sarana pengolah limbah ternyata masih dianggap memberatkan bagi sebagian industri. Penemuan minyak (petroleum) pada pertengahan tahun 1880 menyebabkan meningkatnya produk kimia organik disertai limbahnya. Tetapi jenis limbah ini berasal pula dari kegiatan lain. Secara keseluruhan. Industrialisasi yang cepat telah menciptakan sebuah peluang baru untuk mendistribusikan hasil-hasil pembangunan dengan lebih efektif di negara-negara tersebut. Enri Damanhuri . Manusia membutuhkan lebih banyak jenis produk baru yang akhirnya menghasilkan limbah yang spesifik. tidak hanya pada pusat-pusat industri dan daerah sekitarnya. Masalah penanganan limbah berbahaya ini juga merupakan obyek dagang yang tidak terpuji. walaupun limbah tersebut berasal dari industri. regional dan lingkungan secara global. kegiatan kesehatan (seperti limbah infectious dari rumah sakit) atau dari kegiatan rumah tangga (misalnya penggunaan batere merkuri). namun pula menimbulkan masalah toksisitas dari limbah tersebut. timbulan limbah berbahaya pada tahun 1984 diprakirakan sekitar 300 juta ton. misalnya pembuangan limbah berbahaya negara maju ke negara yang sedang berkembang.

Ciliwung. Sampai tahun 1994. New York. cat dan zat warna. Kali Surabaya. Namun kontribusi sektor-sektor lain juga perlu pula mendapat perhatian terutama dari : − Kegiatan medikal dan laboratorium. Tingkat pencemaran pestisida dan pengaruhnya terhadap kesehatan di Indonesia sulit untuk diprakirakan. Pada waktu itu juga ditemukan sejumlah besar tempat-tempat yang terkontaminasi oleh limbah berbahaya di seluruh dunia. yang ditandai dengan meningkatnya cemaran-cemaran toksik dan logam-logam bioakumulatif. dan 85 % diantaranya akan terkonsentrasi di daerah perkotaan. Lebih dari 75 % diantaranya merupakan cemaran-cemaran logam yang bioakumulatif. Bahan pencemar berbahaya dan beracun yang dihasilkan oleh industri adalah seperti logam berat. diantaranya terdapat 161 kasus (10%) yang menyebabkan kematian. kontribusi industri terhadap pencemaran akan menurun. dan sepuluh kali lipat. Mengacu pada pengalaman negara industri seperti Amerika Serikat. Kegiatan industri juga sangat berpotensi menghasilkan limbah berbahaya. Surabaya. Dilaporkan pula oleh Bank Dunia bahwa intensitas pencemaran dari limbah berbahaya ternyata cenderung meningkat sejak tahun 1970. yaitu industri proses akan tumbuh lebih lambat dibanding industri perakitan. Pada daerah perkotaan di Indonesia seperti di Jakarta. Menurut analisa Bank Dunia (1994). pestisida. delapan. termasuk bertambahnya biaya dan resiko akibat pencemaran lingkungan. kontribusi pulau Jawa terhadap cemaran-cemaran toksik akan cenderung stabil. Departemen Kesehatan melaporkan sebanyak 1614 kasus keracunan. yang berpotensi menghasilkan limbah toksik dan infectious − Kegiatan pertanian dan agro-wisata. Filipina. Intensitas atau perbandingan antara limbah berbahaya yang ditimbulkan dengan unit hasil industri secara mencolok juga meningkat. dan Thailand diprakirakan telah meningkat masing-masing menjadi sekitar empat. industri proses dinilai lebih intensif terhadap pencemaran. Selama periode 1984-89. Bila industri yang terlibat dalam komoditi proses terus meningkat di masa datang. Biaya implementasi sebuah program pengontrolan dan penyediaan sarana sebetulnya akan lebih kecil dibandingkan dengan upaya pemulihan lahan yang tidak dikelola secara baik. pelepasan bahan berbahaya ini di Indonesia. akan menambah beban bagi sumber daya alam. Dalam hal ini. Menurut WHO telah terjadi 3 juta kasus keracunan pestisida Enri Damanhuri . Secara keseluruhan. peranan sektor industri akan berkontribusi besar dalam produksi limbah berbahaya. terutama di daerah industrialisasi yang berkembang dengan cepat seperti di negara-negara ASEAN dan China. minyak. yaitu dari 70 % pada saat ini menjadi 60 % pada tahun 2020. sianida. dan zat kimia berbahaya lainnya. yaitu sekitar 2/3 dari total cemaran di Indonesia.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Pengelolaan limbah berbahaya telah menjadi perhatian Pemerintah Amerika Serikat semenjak penemuan tempat pengurugan limbah yang tidak memenuhi syarat di Love Canal. dari tahun 1970 sampai 1990 limbah penduduk dan industri telah menurunkan kualitas air sungai di bagian hilir seperti Cisadane. Bila strategi pengembangan industri tidak berubah seperti periode tersebut. di Indonesia akan terjadi pergeseran komposisi industri secara sektoral. The US Office of Technology and Assessment memprakirakan bahwa biaya pemulihan semua tempat yang telah diidentifikasi di Amerika Serikat adalah sekitar US $ 500 milyard.000 ton pada tahun 1990 menjadi sekitar 1 juta ton pada tahun 2010. Di pulau Jawa khususnya. Kali Berantas dan Citarum. 70 % industri berlokasi di kawasan-kawasan perkotaan dan sekitarnya. yang berpotensi menghasilkan limbah biosida.FTSL ITB Halaman 6 . Bandung dan Semarang. Timbulan logam-logam berat dari industri di wilayah Asia dan Pasifik telah dinilai melebihi nilai batas ambang yang aman. namun beban cemarannya secara absolut akan meningkat sekitar 10 kali. pelarut. yang diprakirakan akan meningkat kurang dari 200.

Chisso Chemical Corporation membuka pabrik pupuk kimia di Minamata (terletak di pulau Kyushu. hanya diketahui bahwa korban mengalami keracunan akibat memakan ikan yang berasal dari laut sekitar pabrik itu. termasuk logam berat. Asosiasi industri kimia Jepang juga membantu Chisso dalam melacak masalah ini dengan melakukan penelitian-penelitian. Pencemaran mercuri tetap berlanjut. Tahun 1956 masyarakat sekitarnya mengadakan aksi menentang keberadaan Chisso. Berikut ini akan diberikan illustrasi berbagai kasus yang menyangkut bahan atau limbah B3 dari negara industri. karena korban umumnya mengandung merkuri yang berlebihan pada Enri Damanhuri . tanpa mengetahui penyebab masalah ini. dengan prakiraan 70 . contoh. sedang mercuri organik bersifat biokumulasi. atau fihak-fihak lain pada umumnya akan pentingnya pengelolaan limbah B3 terutama bagi negara Indonesia yang diharapkan akan menjadi negara industri dalam masa mendatang. Hampir semua kasus tadi (90-99%) terjadi di negara-negara yang sedang berkembang. yang secara kenyataan telah lebih maju dari Indonesia baik dari segi keberadaan industrinya. tetapi tidak mendapatkan hasil memuaskan. Sinyal pertama kasus ini datang pada tahun 1950. Dengan asumsi rata-rata kasus kematian karena pestisida seluruh dunia sebesar 0. yang terungkap setelah sekitar 600 ton merkuri. Merkuri didapat di alam. dan terutama menyerang anak-anak.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 akut dan 220.contoh tentang masalah limbah B3 dan pengelolaannya diambil dari pengalaman negara industri. sehingga tidak menimbulkan masalah sosial pada awal pendiriannya. tetapi tidak tercantum merkuri dalam daftar tersebut. Chisso kemudian mengeluarkan daftar bahan yang digunakan dalam pabriknya. Kasus penyakit ini juga terus berlanjut. Penduduk di sekitarnya adalah nelayan atau petani. yang dapat menyerang syaraf dan otak. Pada tahun 1714 Gabriel Fahrenheit menggunakan merkuri ini untuk termometer. dan berada fasa cair pada suhu biasa.100 tahun akan persistan di alam.FTSL ITB Halaman 7 . Tahun 1952 timbul penyakit aneh pada kucing yang kadangkala berakhir dengan kematian. Dalam diktat ini. Merkuri alamiah dapat dievakuasi oleh tubuh manusia secepatnya melalui urin. yang digunakan sebagai katalis dalam prosesnya. dan biasanya digunakan sebagai katalis.1956 gejala yang dikenal sebagai "kucing menari" ditemui pula pada manusia. dibuang secara bertahap sekitar 45 tahun. merupakan logam warna putih-perak.000 kematian setiap tahunnya di seluruh dunia. 2 KASUS PENYAKIT "KUCING MENARI" DI MINAMATA Pada tahun 1932. Kasus ini lama kelamaan terungkap. yaitu sejumlah ikan mati tanpa diketahui sebabnya. Jepang Selatan). Antara tahun 1953 .00005 maka diprakirakan kasus kematian karena pestisida di Indonesia adalah sekitar 9000 per tahun. Mikroorganisme dalam air mengkonversi logam ini menjadi methylmercure. Kasus Minamata ini terkenal di dunia bila membicarakan masalah industri. khususnya Amerika Serikat guna memberikan gambaran kepada mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini pada khususnya. Tetapi Chisso paada awalnya belum dicurigai sebagai penyebab. Pengalaman negara industri dengan masalah limbah B3 nya hendaknya memberikan masukan bagi pengambil keputusan atau fihak-fihak terkait di Indonesia untuk tidak menyebabkan kasus-kasus yang terjadi di negara industri tersebut terulang lagi di negara Indonesia. Beberapa diantaranya meninggal dunia. Chisso mempekerjakan penduduk setempat (sekitar 1/3 tenaga pekerjanya). limbah dan kesehatan masyarakat. walaupun diketahui bahwa merkuri digunakan sebagai katalis proses dari pabrik tersebut. keberadaan peraturan perundang-undangannya ataupun kesiapan masyarakatnya. Penelitian penyebab penyakit tersebut secara intensif dilakukan oleh pemerintah. Chisso memberikan santunan pada korban dan yang meninggal.

FTSL ITB Halaman 8 . Akhirnya pembuangan merkuri dihentikan dengan ditutupnya pabrik tersebut. maka galiannya langsung terisi air tanah berwarna kuning. satu keluarga mendapatkan kolam renang mereka menjadi lebih tinggi sekitar 60 cm. dan 1500 diantaranya yang diperiksa diketahui keracunan merkuri. Direncanakan bahwa di sekitar kanal tersebut akan dibangun kawasan industri dan pemukiman untuk memanfaatkan tenaga listrik yang ada. Sekolah kemudian dibangun berdampingan dengan daerah yang sebelumnya adalah pengurug limbah industri. Niagara Falls menjadi pusat industri. dan menyisakan dua bagian yang tidak terhubungkan. Love pada tahun 1892 merencanakan membuat sebuah kanal yang akan dapat menghubungkan bagian hulu dan hilir sungai Niagara. pestisida dan hasil industri antara lainnya. Bahkan Angkatan Darat Amerika Serikat juga mengurug sejumlah besar residu senjata biologis walaupun secara resmi fihak Pentagon menolak tuduhan tersebut.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 tubuhnya. sepanjang sekitar 7 mil. yang merupakan produk elektrolisa natrium khlorida. Tahun 1978. Tahun 1976 sekitar 120 penduduk Minamata meninggal karena keracunan merkuri dan 800 orang menderita sakit. 8100 penduduk mengklaim hal ini. maka industri menjadi berkembang pesat di daerah tersebut. 3 KASUS LOVE CANAL (AMERIKA SERIKAT) Dengan dibangunnya pembangkit listrik tenaga air di Niagara Falls pada tahun 1890. Seorang keluarga di dekat Love Canal melahirkan anak dengan cacat fisik dan mental. Tahun 1959 sebuah keluarga lain mendapat masalah di lantai bawahnya (basement) dengan adanya lumpur hitam yang masuk ke dalamnya. Fihak Hooker menjual sebagian kanal tersebut ke pengelola kota hanya seharga US $ 1. Produk kimia yang dihasilkan antara lain adalah natrium hidroksida. yang pada saat itu telah berumur 77 tahun dan 68 tahun. Tahun 1953 fihak kotamadya meminta Hooker Chemical untuk menjual sebagian lahan kanal tersebut untuk pembangunan sekolah baru. yang dapat menghanguskan akar pohon sekitarnya. Sebagian dari lahan tersebut dijadikan taman bermain. endrin atau dari bahan organik berklor lainnya seperti pelarut berkhlor akan mendatangkan masalah bagi lingkungan di kemudian hari. Pada suatu pagi di tahun 1974. Sering dijumpai anak-anak bergembira menemukan residu fosfor yang dapat menimbulkan bunga api bila dilemparkan ke permukaan yang berbatu. 22 Maret 1979 dua pemimpin Chisso . Pada saat itu fihak pemerintah dan industri belum mengetahui akibat samping dari produk ini. yang terproduksi dalam jumlah besar. biru dan ungu. dan pemerintah menyatakan bahwa Chisso adalah penanggung jawab penyakit yang berjangkit di Minamata. termasuk pula abu sisa pembakaran dari kota. Elektrolisa ini juga menghasilkan produk samping (by-product) yang tidak diinginkan yaitu khlor. William T. Pada tahun 1930-an. khususnya industri kimia. Pada tahun 1958 tiga anakanak mengalami luka bakar akibat terpapar dengan residu yang muncul ke permukaan. Disamping itu. Namun pembangunan kanal tersebut tidak dilanjutkan. korban kasus ini menerima santunan yang dibebankan pada Chisso. Pembangunan dimulai tahun 1893. Segala upaya dicoba untuk Enri Damanhuri . Tahun 1952 kanal tersebut ditutup oleh Hooker Chemical. Sampai tahun 1947 dapat dikatakan daerah tersebut menjadi lahan pengurugan beragam jenis limbah terutama dari industri. Ketika kolam ini dibongkar. dihukum masing-masing 2 tahun dan 3 tahun penjara. masing-masing sepanjang seperempat mil. tetapi hal ini dianggap alamiah. Belum seorangpun yang menyadari bahwa keuntungan dari pestisida seperti DDT. Hooker Chemical and Plastic Corporation yang memproduksi bahan kimia di daerah tersebut mulai mengurug limbahnya pada bagian utara Love Canal yang belum terselesaikan. dengan sifat yang sangat tajam. Pengembangan penelitian menghasilkan alternatif pemanfaatan produk samping ini menjadi bahan organik berkhlor seperti plastik.

dan yang sedang merencanakan membangun pusat kegiatan senilai US $ 17 juta. Kanal tersebut juga ditutup setebal 2. termasuk diantaranya 11 jenis cemaran penyebab kanker seperti benzene. Mereka menganggap bahwa masalah ini bukanlah suatu krisis yang besar. sehingga Pemerintahan Carter pada saat itu memerintahkan evakuasi sekitar 700 keluarga lagi. walaupun pemerintah negara bagian mengajukan tuntutan denda pada Hooker Chemical sebesar US$ 635 juta. Pendapat ini tetap berlangsung sampai pemerintah negara bagian mulai ikut campur. Dengan bantuan USEPA. induk perusahaan Hooker Chemical. diantaranya 200 ton trichlorophenol. Hasilnya adalah bahwa udara di daerah tersebut mengandung bahan-bahan toksik yang berada di atas ambang threshold-limit value (TLV). susah tidur dan diantaranya juga cacat mental. sejumlah limbah kimia mulai muncul di halaman beberapa rumah. diantaranya pembuatan drainase untuk mengalirkan lindi dan memompanya ke suatu tangki pengumpul untuk kemudian diolah sebelum dialirkan kembali pada sistem penyaluran air buangan kota. Namun akhirnya dicapai kesepakatan di pengadilan antara 1345 penduduk dengan Occidental Petroleum. Peraturan pertama yang dikeluarkan oleh pemerintah negara bagian adalah menghentikan sama sekali pelindian yang tidak terkendali. Sejak saat itu. Suatu recana perbaikan dan penyembuhan (remedial) mulai dirancang. masalah Love Canal mulai diketahui dan diperhatikan. Hooker mengemukakan bahwa teknologi yang mereka gunakan adalah sesuai dengan peraturan yang berlaku. yang tetap digunakan oleh Pemerintahan Carter. maka diputuskan penutupan sekolah dan pengungsian anak-anak dan wanita yang sedang hamil yang tinggal berdekatan dengan kanal. dan memerintahkan memagari sekeliling lahan serta memberikan ventilasi pada basement yang tercemar. sakit kepala. Kegiatan remediasi tersebut dianggap terlalu lambat oleh penduduk sekitarnya. Enri Damanhuri .5 meter tanah kedap untuk menghindari masuknya air dari luar. telah diurug di lahan-urug tersebut. 237 keluarga akhirnya diungsikan. tetapi pemerintah negara bagian menolak sampai adanya kejelasan kompensasi bagi penduduk. agaknya mereka tidak ingin mengganggu kegiatan Hooker yang telah mempekerjakan sekitar 3000 penduduk setempat. Sejumlah besar cairan hitam masuk memenuhi ruangan. Sampel darah yang diambil juga menunjukkan indikasi adanya kerusakan hati yang meningkat. Mereka menginginkan kompensasi yang lebih dari itu. Mulai tahun 1976. Akhirnya mereka membuat lobang untuk mengetahui apa yang terdapat di balik tembok. Sebagian besar dari anggota keluarga ini secara rutin mengalami gangguan fisik seperti iritasi. Dari sudut teknik. Berdasarkan pertemuan dengan penduduk setempat.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 menghentikannya. Survai kesehatan juga dimulai dan dijumpai bahwa keguguran spontan ternyata 250 kali lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. Keluhan mereka pada fihak pemerintah kota tidak ditanggapi. Akhirnya pada tahun 1977 fihak pemerintah kota mengakui adanya masalah ini. mencegah kemungkinan pelindian di masa datang dan menutup kanal. dilakukan pengambilan sampel udara di beberapa basement rumah di daerah tersebut. namun tetap tidak ingin menentukan yang bertanggungjawab. Hooker Chemical akhirnya mengeluarkan pernyataan bahwa sekitar 22. Studi pada tahun 1980 mengemukakan adanya bukti kerusakan khromosom pada penduduk. senyawa-senyawa toksik berhalogen terdeteksi pada sistem penyaluran air buangan kota.000 ton limbah kimia. cepat lelah. Pemerintah negara bagian memerintahkan komisi kesehatan melakukan penelitian. Disamping itu. Namun dibutuhkan dana untuk melaksanakan kegiatan ini. chloform dan trichloroethylene. Analisa lebih lanjut menemukan bahwa cemaran kimia dalam konsentrasi tinggi telah mencemari air tanah. Delapan bulan setelah kejadian kolam renang di atas. Kelahiran cacat fisik dan mental juga sering dijumpai.FTSL ITB Halaman 9 .

dan prianya dihawatirkan mengalami kerusakan pada fungsi genetiknya. Isomer yang sangat aktif dan mempunyai potensi toksisitas tinggi adalah yang mempunyai 4 sampai 6 atom chlor. dan para peneliti baru sampai pada tahap awal dalam memahami efek toksisitas dioksin ini pada manusia. Pabrik ini menghasilkan asap yang berbau. reaksi kimiawi yang terjadi menghasilkan 2.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Kasus Love Canal menyebabkan adanya perbaikan dan pengetatan peraturanperaturan yang berlaku di Amerika Serikat dalam menangani limbah B3. ketika reaktor akan dipanaskan dan terjadi retak pada katup pengamannya. Efek 2.3.7. Seveso terletak di Italia Utara. terutama pada pabrik itu sendiri yang tercemar berat.8-TCDD) dengan toksisitas akut. Agaknya dioxin ini menimbulkan tumor yang berbeda untuk organ yang berbeda. Kecelakaan terjadi pada tanggal 10 Juli 1976. Akhir 1960-an. industri farmasi Swiss. Area A penduduknya dievakuasi. Pabrik tersebut dibangun dan dioperasikan oleh Industrie Chemiche Meda Societe Aromia (ICMESA). Informasi yang didapat menyatakan bahwa drum tersebut akan diangkut ke Inggeris untuk diinsinerasi. dan dilarang menggunakan barang-barangnya.5.FTSL ITB Halaman 10 . Anak-anak dengan langsung menunjukkan gejala chloracne pada mukanya dan bagian lain di tubuhnya.7. guna memproduksi 2.7. sedang asalnya ditulis dari Meda. Dioxin adalah nama umum untuk grup polychlorinated dibenzodioxins (PCDD).3.8-TCDD.8-TCDD ini terhadap spesies binatang ternyata berbeda. Drum tersebut diangkut oleh dua perusahaan swasta ke tempat yang tidak dispesifikasi secara jelas. Pembersihan daerah terkontaminasi merupakan usaha besar-besaran yang dilakukan. Ibuibu yang hamil dianjurkan untuk menggugurkan kandungannya. dan tidak ditulis sebagai 'Dioxin'. tetapi penduduknya rupanyanya sudah terbiasa. yaitu kasus transportasi dioxin antar negara.3. Ternyata penanggung jawab upaya pembersihan daerah Seveso tersebut mengirimkan 41 drum limbahnya untuk ditimbun di luar Italia. Pohon-pohon terkontaminasi ditebang. Penduduk di sekitarnya dievakuasi. didirikan di kota kecil Meda (dekat Seveso). Sekitar 1 Kg dioxin terbuang ke udara membentuk kabut melewati ribuan hektar sekitar bencana.7.8-Tetrachlorodibenzo-p-dioxin (2.trichlorophenol untuk disinfektan. Pekerjaan ini membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun. Atom chlor pada senyawa PCDD menghasilkan sampai 75 isomer dengan toksisitas yang sangat bervariasi. Pemerintah Italia akhirnya memutuskan penggunaan teknik insinerasi dan landfilling bagi komponen-komponen pabrik tersebut. Kegiatan remediasi lahan yang terkontaminasi akhirnya menjadi salah satu program yang digalakkan di Amerika Serikat bagi lahan yang tercemar. ke Jerman Timur Enri Damanhuri . Hoffman-La Roche memilih Seveso sebagai lokasi pabriknya di Italia. bukan dari Seveso (tempat yang dikenal untuk kasus ini). namun akhirnya beritanya tersebar di daratan Eropa dan menjadi pemberitaan hangat selama 9 bulan.4. Daun-daun pohon di sekitarnya menjadi rontok.binatang seperti terpanggang. Tanah terkontaminasi dikupas sedalam rata-rata 5 cm. kosmetik dan herbisida. dengan timbulnya suatu kasus yang cukup meggegerkan daratan Eropa Barat pada tahun 1981. Daerah tersebut kemudian dijadikan taman. Pada temperatur yang sesuai. namun semuanya sebagai penimbul agen kanker (carcinogen). Drum tersebut berlabel 'bahan hidrokarbon aromatis'.8) seperti 2. binatang. 4 KASUS KABUT DIOXIN DI SEVESO (ITALIA) Salah satu kasus limbah berbahaya yang terkenal adalah peristiwa kabut dioxin di Seveso (Italia). Daerah sekitarnya dibagi menjadi 2 area bahaya. Landfilling dalam tanah dilakukan dalam 2 lubang dengan proteksi kuat. terutama dalam posisi lateral (2.3.3. karena ternyata bukan hanya lahan ini saja yang secara peraturan sebetulnya telah sesuai dengan yang berlaku.7. Pengiriman ini bersifat rahasia. yaitu dilapis bentonit dan lembaran polyethylene. Kasus tersebut ternyata tidak berhenti di sana.

Masyarakat Ekonomi Eropa mencanangkan program kontrol bagaimana menangani dan mentransportasi limbah kimiawi yang berbahaya diantara anggotanya. 5 KASUS KEPONE DI HOPEWELL (AMERIKA SERIKAT) Hopewell (Virginia .20 ppm.1960. Beberapa saat kemudian. ternyata 40 % dari total partikulat adalah kepone.72 ppm. ternyata drum tersebut tersembunyi di suatu area pejagalan hewan di Perancis. Darah yang diambil dari pekerja tersebut menunjukkan kandungan kepone antara 2 .FTSL ITB Halaman 11 .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 untuk ditimbun di lahan-urug industri dan ke Jerman Barat untuk dikubur dalam bekas tambang. sedang pabrik kepone pada tahun 1975 ditutup. dan disanalah dimulainya bencana kimiawi di USA. dijumpai masalah kesehatan diantara karyawannya. yaitu pada November 1985.600 ppb. Tindakan berikutnya melibatkan US EPA (US Environmental Protection Agency). Penelitian selanjutnya mengungkapkan bahwa LSP melanggar aturan-aturan kesehatan dan keselamatan kerja yang berlaku. limbah ini membunuh bakteri di sistem digester pengolah limbah. Yang dijumpai pada pabrik kepone tersebut ternyata lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya. Kepone dikembangkan oleh Allied sekitar tahun 1950-an.1 . EPA kemudian melakukan sampling air minum. Produksi tahunan meningkat dari 36. Pihak Hoffman-La Roche harus bertanggung jawab untuk itu. Dalam 2 bulan. Lumpur dari pengolah limbah mengandung kepone 200 . Dinas kesehatan setempat kemudian menginvestigasi industri kepone tersebut setelah salah seorang pekerja dinyatakan keracunan kepone. Allied memproduksi kepone di Hopewell. sedangkan konsentrasi tertinggi yang pernah diamati adalah 5 ppm. Kemudian dioxin tersebut baru diinsinerasi setelah 2.USA) memprolamirkan dirinya sebagai chemical capital of the south. 2 minggu setelah produksi penuh. Tetapi tidak satupun yang sampai. sedang sungai James sendiri mengandung kepone 0. dan harus mengeluarkannya dari Perancis. Tahun 1973 pembuatan kepone disubkontrakkan pada LSP sementara Allied tetap menangani polimer. Pemerintah akhirnya memutuskan bahwa pabrik Enri Damanhuri . Lumpur dari pengolah limbah yang belum terolah secara baik langsung dibuang secara illegal ke lahan-urug.600 ppm. Sembilan bulan kemudian setelah dilakukan pencarian yang melibatkan semua fihak di negara terkait.1 . udara. Namun karena pasaran meningkat.5 tahun dikeluarkan dari Seveso. Ikan di dekat sungai James mengandung kepone 0. sebagai negara asal industri tersebut.000 pound pada tahun 1965 menjadi 400. Agustus 1975 LSP didenda US$ 16500. Allied juga memproduksi sendiri. Debu kepone menutup lantai sampai beberapa inch dan memenuhi udara dalam pabrik. secara periodik limbah dari LSP masuk ke sistem penyaluran air buangan dan pengolahan limbah kota.4 ppb.000 pound pada tahun 1972. Di beberapa tempat. Produksinya dikontrakkan pada Hooker Chemical antara 1950 . baik Allied maupun LSP secara illegal membuang kepone ke sungai James yang bermuara di Chesapeake Bay. dan dibawa ke Swiss. Maret 1974. Sebetulnya buruh di sana sudah mengeluh terhadap kondisi ini tetapi manajemen LSP tidak memperhatikan hal ini. tanaman dan limbah kota Hopewell serta sungai. Kemudian 31 pekerja yang dirawat di Rumah Sakit. masyarakat Eropa sadar akan pentingnya peraturan yang ketat tentang pengelolaan limbah berbahaya. ternyata LSP telah mengeluarkan efluen kepone sebesar 500 . Pencemaran udara juga telah meluas ke sekitar pabrik itu. Pada tahun 1973 Allied Chemical mensubkontrakkan pembuatan pestisida pada Life Sciences Product (LSP) yang dikenal dengan nama kepone. Disamping itu. sedangkan standar yang berlaku adalah 100 ppb. Berangkat dari pengalaman tersebut.

Namun biaya yang ditanggung Allied untuk operasi tersebut akhirnya menjadi US $ 394000. : Hazardous waste management.550 M3) limbah cair B3 telah ditimbun. Referensi Utama: o Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia – UNDP: Agenda 21 Indonesia. Casmalia Resources. McGraw-Hill Book Co. Lahan-urug lain. : Hazardous waste management. dan masih dibutuhkan sekitar 65 juta US $ untuk mentuntaskan permasalahan. Sekitar 800. tetapi LSP tidak sanggup untuk operasi tersebut. Ternyata evaluasi berikutnya menyatakan bahwa lahan itu sebetulnya tidak cocok untuk limbah cair B3 dan terjadilah pencemaran air tanah. 1994 o Wentz. C. Interpretasi hasil analisis air tanah pada tahun 1972 ternyata juga salah. Lahan ini juga berlokasi di atas akuifer Chino Basin yang merupakan sumber air minum bagi sekitar 500. M. Prakiraan biaya untuk menyingkirkan dan mengolah seluruh cairan dan tanah yang terkontaminasi pada tahun 1977 sekitar 3. dan dengan membuat penghalang beton di hilirnya.4 juta US$. Selama itu sekitar 30 juta galon (113. dan 4 juta gallon (15140 m3) air tercemar dialirkan ke lahan-urug West Covina. tetapi dianggap belum dimonitor secara benar.D.000 penduduk. maka diprakirakan tidak akan terjadi pencemaran air tanah.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 itu untuk 'dilucuti'. namun ternyata lahan ini juga bocor dan akhirnya ditutup. Maret 1997 o LaGrega. dengan program pengolahan in-situ terhadap air tanah yang tercemar. − Membangun sumur-sumur pemantauan. dengan menganggap bahwa pencemaran air tanah yang terjadi berasal dari limpasan air permukaan bukan dari lahan tersebut. − Menetralisir tanah terkontaminasi dengan abu semen kiln.A.000 gal/hari (265 m3) dari Stringfellow.FTSL ITB Halaman 12 .000 gallon (3028 m3) air tercemar dialirkan ke area di hilirnya. McGraw-Hill Book. Akhirnya Pemerintah memilih cara yang lebih murah. Sekitar 15 juta US $ telah dihabiskan untuk program tersebut. Estimasi biaya pada tahun 1974 meningkat 4 kali lipat dengan cara tersebut. yaitu : − Meyingkirkan cairan terkontaminasi ke lahan yang lain. − Menempatkan lapisan clay untuk mengisolasi. dan biaya yang ditanggung akhirnya membengkak berlipat ganda dengan adanya tuntutan dari orang yang merasa dirugikan. 1989 Enri Damanhuri . Allied diminta untuk bertanggung jawab operasi detoksifikasi tersebut dengan rencana biaya sebesar US $ 175000. juga menerima sekitar 70. Hasil interpretasi yang salah juga dilakukan oleh sebuah konsultan lain pada tahun 1977. 6 KASUS LAHAN STRINGFELLOW DI KALIFORNIA (USA) Lahan Stringfellow di Glen Avon (Kalifornia-USA) telah digunakan untuk menimbun limbah cair B3 dari tahun 1956 sampai 1972. Studi geologi sebelumnya menyimpulkan bahwa lahan tersebut berada di atas bedrock yang kedap. misalnya 120 pedagang ikan yang merasa dirugikan karena mereka memperoleh ikannya dari sungai James yang tercemar.

mengurangi.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN II PERATURAN DALAM PENGELOLAAN B3 1 UMUM Pada dasarnya pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3) di Indonesia mengacu pada prinsip-prinsip dan pedoman pembangunan berkelanjutan yang telah dituangkan dalam Undang-Undang No.536/Kpts/TP. dan/atau komponen lain yang karena sifat. mengangkut. Konvensi ini bertujuan untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan hidup dari bahan POPs dengan cara melarang. serta mengelola timbunan bahan POPs yang berwawasan lingkungan. 19 tahun 2009 tentang Pengesahan Konvensi Stockholm tentang Bahan Pencemar Organik yang Persisten atau Stockholm Convention on Persistent Organic Pollutants (POPs).7/1973 tentang pengawasan atas peredaran.FTSL ITB Halaman 13 . Semua yang berkaitan dengan ketenaga atoman pada dasarnya diatur oleh Undang-undang No. dan/atau membahayakan lingkungan hidup. 31 Tahun 1964 tentang Enri Damanhuri . maka Indonesia telah merativikasi konvensi Stockholm melalui Undang-undang No. energi. membatasi produksi dan penggunaan.270/7/1985 tentang pengawasan pestisida Limbah radioaktif di Indonesia dikelola oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No.453/Menkes/Per/XI/1983 tentang bahan berbahaya − Keputusan Menteri Perindustrian RI No. Bahan POPs ini akan dibahas lebih lanjut dalam Bagian 5 Diktat ini. Beberapa peraturan yang secara langsung akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas limbah B3 yang dihasilkan adalah peraturan-peraturan yang mengatur masalah bahan berbahaya.33 Tahun 1985 tentang Dewan Tenaga Atom dan Badan Tenaga Atom Nasional dan Keputusan Presiden No. 82 Tahun 1985 tentang Badan Tenaga Atom Nasional. konsentrasi dan/atau jumlahnya.270/9/1984 tentang larangan penggunaan pestisida EDB − Keputusan Menteri Pertanian No.724/Kpts/TP.148/M/SK/4/1985 tentang pengamanan bahan beracun dan berbahaya di lingkungan industri − Keputusan Menteri Pertanian No. 32 tahun 2009 sebagai pengganti UU-23/1997 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. dan/atau menimbun B3 wajib melakukan pengelolaan B3. menghasilkan. Terkait dengan penggunaan bahan kimia organik berbahaya. baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup. memanfaatkan. mengedarkan. Secara spesifik pengelolaan B3 ini telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun. penyimpanan dan penggunaan pestisida − Peraturan Menteri Kesehatan No. membuang. yang akan diuraikan lebih lanjut dalam Bagian ini. menyimpan. Selanjutnya UU-32/2009 menggariskan dalam Ps 58 (1) bahwa setiap orang yang memasukkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pasal 1 (21) UU-32/2009 mendefinisikan bahan berbahaya dan beracun (disingkat B3) adalah zat. kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lain. mengolah. yaitu : − Peraturan Pemerintah No.

terkait berbagai fihak yang merupakan mata rantai dalam pengelolaan B3. atau telah diatur oleh instansi lain berdasarkan konvesi internasional seperti bahan radioaktif. Bahan berbahaya yang tidak termasuk yang diatur adalah (pasal 3): Enri Damanhuri . menyimpan. 12 Tahun 1975 tentang izin pemakaian zat radioaktif dan atau sumber radiasi − Peraturan Pemerintah No. − Bab XI (pasal 38) : Sanksi Administrasi. − Bab IX (pasal 35 dan 36) : Keterbukaan Informasi dan Peran Masyarakat. Selanjutnya beberapa peraturan lain di bawahnya antara lain: − Peraturan Pemerintah No. kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya’ (pasal 1 angka 1). mengimpor. 13 Tahun 1975 tentang pengangkutan zat radioaktif 2 PENGELOLAAN B3 DALAM PP 74/2001 PP74/2001 tentang pengelolaan berbahaya dan beracun terdiri dari 15 bab yang dibagi lagi menjadi 43 pasal. Oleh karenanya. − Bab XIV (pasal 41 dan 42) : Ketentuan Peralihan. kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya’ (pasal 2). Setiap mata rantai tersebut memerlukan pengawasan dan pengaturan. Menurut PP 74/2001: ‘bahan berbahaya dan beracun yang selanjutnya disingkat dengan B3 adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya. menggunakan dan membuang bahan tersebut bilamana tidak dapat digunakan kembali. maka aspek keselamatan dan kesehatan kerja serta penanggulangan kecelakaan dan keadaan darurat diatur dalam PP tersebut. mendistribusikan. baik secara langsung maupun tidak langsung. − Bab VII (pasal 28 sampai 31) : Pengawasan dan Pelaporan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Ketentuan-ketentuan pokok tenaga atom. antara lain karena telah diatur dalam PP lain. Dalam kegiatan tersebut. − Bab XV (pasal 43) : Ketentuan Penutup. − Bab X (pasal 37) : Pembiayaan. − Bab XIII (pasal 40) : Ketentuan Pidana. Kelima belas bab tersebut adalah : − Bab I (pasal 1 sampai 4) : Ketentuan Umum. mengeksport. Disamping aspek yang terkait dengan pencegahan terjadinya pencemaran lingkungan dan atau kerusakan lingkungan yang menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap fihak yang terkait. − Bab VIII (pasal 32 sampai 34): Peningkatan Kesadaran Masyarakat. − Bab XII (pasal 39) : Ganti Kerugian. menggunakan dan atau membuang B3’ (pasal 1 angka 2). Tidak semua pengelolaan bahan yang berbahaya diatur oleh PP tersebut. dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup. menyimpan. − Bab VI (pasal 24 sampai 27) : Penanggulangan Kecelakaan dan Keadaan Darurat. mengangkut. − Bab II (pasal 5) : Klasifikasi B3. − Bab III (pasal 6 sampai 20) : Tata Laksana dan Pengelolaan B3. Sedangkan sasaran pengelolaan B3 adalah 'untuk mencegah dan atau mengurangi resiko dampak B3 terhadap lingkungan hidup. pasal-pasal berikutnya mengatur masalah kewajiban dan perizinan bagi mereka yang akan memproduksi (menghasilkan).FTSL ITB Halaman 14 . 11 Tahun 1975 tentang keselamatan kerja terhadap radiasi − Peraturan Pemerintah No. kesehatan. Pengertian pengelolaan B3 adalah 'kegiatan yang menghasilkan. − Bab V (pasal 22 dan 23) : Keselamatan dan Kesehatan Kerja. dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup. mengedarkan. − Bab IV (pasal 21) : Komisi B3.

disertai keterangan: o No. semuanya organik-berhalogen. atau terbatas penggunaannya. Lampiran I PP 74/2001 mencantumkan 209 buah bahan kimia yang tergolong B3 yang dapat digunakan di Indonesia.Tabel 1 mencantumkan 10 bahan B3 yang dilarang pengunaannya. B3 dibagi menjadi 3 bagian. Setiap bahan kimia dalam daftar tersebut. maka PP tersebut mengklasifikasikan B3 dalam 8 kelompok. 74 diantaranya dibatasi penggunaannya sampai tahun 2040. Lampiran II . maka berdasarkan penggunaannya di lapangan. psikotropika dan prekursor lainnya Bahan aditif lainnya Senjata kimia dan senjata biologi Untuk menentukan apakah sebuah bahan termasuk dalam kelompok B3.Tabel 2 mencantumkan 45 bahan B3 yang dibatasi pengunaannya di Indonesia. dan Lampiran II . Untuk mempermudah menentukan B3 yang diatur dalam PP ini. PP 74/2001) o B3 yang terbatas dipergunakan (Lampiran II Tabel 2. PP 74/2001) Dengan demikian. apakah diperbolehkan dipergunakan. maka bahan tersebut termasuk B3. yaitu (pasal 5): o Mudak meledak (explosisive) o Pengoksidasi (oxidizing) o Menyala: o sangat mudah sekali menyala (extremely flammable) o sangat mudah menyala (highly flammable) o mudah menyala (flammable) o Beracun: o amat sangat beracun (extremely toxic) o sangat beracun (highly toxic) o beracun (moderately toxic) o Bebahaya (harmful) o Korosif (coorosive) o Bersifat iritasi (irritant) o Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment) o Toksik yang bersifat kronis: o karsinogenik (carcinogenic) o teratogenik (teratogenic) o mutagenik (metagenic) Penjelasan lebih lanjut tentang kriteria kapan sebuah bahan dikelompokkan sebagai B3 akan dijelaskan dalam Butir 3. Reg. yang terdapat dalam daftar Lampiran I dan Lampiran II PP 74/2001 tersebut (Tabel 1 sampai Tabel 3). Enri Damanhuri . dan penggunaannya di Indonesia disesuaikan dengan kelompok tabel yang berlaku. bilamana sebuah bahan sudah terdapat dalam lampiran tersebut.FTSL ITB Halaman 15 . atau sama sekali dilarang dipergunakan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 o o o o o o o o Bahan radioaktif Bahan peledak Hasil produksi tambang serta minyak gas dan gas bumi dan hasil olahannya Makanan dan minuman serta bahan tambahan makanan lainnya Perbekalan kesehatan rumah tangga dan kosmetika Bahan sediaan farmasi. narkotika. yaitu (pasal 5): o B3 yang dapat atau boleh dipergunakan di Indonesia (Lampiran I PP 74/2001) o B3 yang dilarang dipergunakan di Indonesia (Lampiran II Tabel 1. Chemical Abstract Sevice yang bersifat universal o Nama bahan kimia o Sinonim/nama dagang o Rumus molekul Berikut ini adalah beberapa contoh bahan kimia B3.

dalam hal ini Kementrian Lingkungan Hidup (pasal 6). Hydrogen chloride. Soda lye. Velsicol 1068. sehingga dengan mudah dilakukan pengawasan dan pencegahan terjadinya dampak B3 terhadap lingkungan. Corrosive mercury chloride Sodium hydroxide. maka sebelum dipergunakan secara luas produsen tersebut harus mendaftarkan terlebih dahulu kepada yang berwenang. Formol.FTSL ITB Halaman 16 . Hydrocyanic acid. Triatomic oxygen Penta. Phenilic acid. Oil of Vitriol Benzene. Morbicid. Cyclo hexatriene Phenol. Sodium hydrate Nitrogen Nitrogen dioxide Ozone. Hidroxybenzene. Anhidrous hydrochloric acid Hydrogen cyanide. Benzol. Formalin. Veracur Hydrogen sulphide. Phenic acid. Mercury perchloride. Sedang bahan berbahaya lain yang tidak diatur dalam PP ini. PCP. Sulfurated hydrogen. Blausaure.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Setiap produsen yang menghasilkan B3 baru yang termasuk diatur dalam PP ini. Phenyl hydroxide. Oxybenzene Formadehyde solution. maka registrasinya harus diajukan kepada instansi yang bertanggung jawab. Toxichlor. Demikian juga halnya unutk B3 yang diimport dari luar negeri. Carbolic acid. Rumus Molekul C12H8Cl6 C10H6Cl8 Enri Damanhuri . misalnya Badan Tenaga Atom Nasional untuk bahan radioaktif. Bila bahan yang akan dimpor adalah termasuk dalam daftar B3 yang terbatas dipergunakan. maka bahan tersebut terlebih dahulu harus didaftarkan oleh importirnya untuk diregistrasi sebelum secara rutin diimport.1: Contoh B3 (dapat digunakan) dalam Lampiran I PP 74/2001 No 7 14 16 17 23 24 31 52 54 58 76 78 79 80 81 85 87 98 No Reg Chemical Abstract Service 7664-41-7 64-19-7 7664-38-2 7647-01-0 74-90-8 7664-93-9 71-43-2 108-95-2 50-00-0 7783-06-4 124-38-9 7440-44-0 630-08-0 7782-50-5 67-66-3 7487-97 74-82-8 1310-73-2 Nama Bahan Kimia Amoniak Asam Asetat Asam Posfat Asam Klorida Asam Sianida Asam Sulfat Benzena Fenol Formalin (larutan) Hidrogen Sulfida Karbon dioxide Karbon hitam Karbonmonoksida Klor Kloform Merkuri klorida Methane Natrium Hidroksida Sinonim/Nama Dagang Ammonia Acetic acid. 11) Tabel 2. Mercury bichloride. Aci-jel Phosphoric acid. Prussic acid Sulfuric Acid. Tabel 2. Santhophene 20 Zinc chloride. Corrosive sublimate. Orthophosphoric acid Hydrochloric acid.2: B3 yang dilarang dalam Lampiran II – Tabel 1 PP 74/2001 No 1 2 No Reg Chemical Abstract Service 309-00-2 57-74-9 Nama Bahan Kimia Aldrin Chlordane Sinonim/Nama Dagang HHDN CD68. Butter zinc Lead Bromochloroethane Rumus Molekul NH3 CH3COOH H3PO4 HCl HCN H2SO4 C 6H 6 C6H5OH CH2O H 2S CO2 C CO Cl2 CHCl3 HgCl2 CH4 NaOH N2 NO2 O3 C6HCl5O AgNO3 ZnCl2 Pb - 105 7727-37-9 Nitrogen 106 10102-44-0 Nitrogen Dioksida 110 10028-15-6 Ozon 112 87-86-5 Pentaklorofenol 114 7761-88-8 Perak nitrat 122 7646-85-7 Seng Klorida 127 7439-92-1 Timbal (timah hitam) 209 CH2BrCl *) Muncul juga pada Lampiran II – Tabel 2 (no. Hydrosulfuric acid Carbonic acid gas Amorphous Carbon monoxide Chlorine Chloroform. maka fihak otorita negara yang akan memasukkan bahan tersebut ke Indonesia terlebih dahulu harus menyampaikan notifikasi kepada fihak yang bertanggung jawab di Indonesia (pasal 8). Niran. Trichlorometthane Mercuric chloride. Penchloraol. Caustic soda. Bahan tersebut kemudian akan mendapat nomor registrasi sebagai alat kontrol terhadap peredaran B3 di Indonesia.

Chlorinatedcamphene. Genetron 12. Velsicol 104. Toxakil Polychlorobenzene. Frigen 114. Folbex. Prosedur yang sama diberlakukan bagi B3 yang akan dieksport ke luar negeri (pasal 7). Clophen. ENT 17251. Freon 12. Weedone CDM. Campeclor.2bis(4-chlorophenil)acetate EDB. Frigen 11. Santotherm C14H9Cl5 C12H8Cl6OH C12H8Cl6OH C10H5Cl7 C10Cl12 C10H10Cl8 C6Cl6 C12X X=H or Cl Tabel 2.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 3 50-29-3 DDT 4 5 6 7 8 60-57-1 72-20-8 76-44-8 2385-85-5 8001-35-2 Dieldrin Endrin Heptachlor Mirex Toxaphene 9 10 118-74-1 1336-36-3 Hexachlorobenzene PCBs Octachlor.4-hydroxy-2. Octalox Compound 268. Heptamul C6-1283. Gesapon. Guesapon. Embafume C6HCl5O Hg CCl3 CCl2F2 C2Cl2F2 C2Rbr2F4 CH3Br *) Muncul juga pada Lampiran I (no. Belt. Gesarol. Nendrin. Phenochlor. Bunt-cure. Gulecton. Gesarex. Pyralene. Julins carbon chloride Polychlorinated Biphenyls. Arocloc. Chlorophenothane. Agritan. Mendrin. p. Chlorobiphenyls. Altox. Monobromomethane. Sebelum ada persetujuan dari otoritas negara tujuan ekspor dan otoritas negara transit.497. Quicksilver Trichloromonofluoromethane. Hexachloropentadienedimer Hercules 3956: Polycholorcamphene. Dechlorane.Aryl merkuri Pentaklorofenol* Mercury/Air raksa CFC-11 CFC-12 CFC-114 Halon-2402 Metil bromida Sinonim/Nama Dagang Esterone 245. Cryfluorane. Akar. Ethyl 4. Santhophene 20 Liquid silver. Areton 11 Dichlorodifluoromethane. Clofenotane. 112) Jawaban boleh tidaknya barang tersebut masuk ke Indonesia harus diterima oleh otorita negara pengekspor dalam waktu paling lambat 30 hari sejak tanggal diterimanya notifikasi tersebut. Freo 11.Anorganik merkuri . Sym-dibromoethane Rumus Molekul C8H5Cl3O3 C10H13ClN2 C16H14Cl2O3 C12H4Br2 C6H6Cl6 - 11 21 26 27 29 43 45 87-86-5 7439-97-6 75-69-4 75-71-12 74-83-9 Penta.Alkyloxyalkyl merkuri . Halon. Kenachlor.Alkyl merkuri . Penchloraol. otoritas negara transit dan instansi yang bertanggung jawab di Indonesia terlebih dahulu. Ethylenebromide. Synclor.268: Spanon.FTSL ITB Halaman 17 . Fluorotrichloromethane. Fenclor. HEOD. 1.5-T Chlordimeform (CDM) Chlorobenzilate Ethylene Dibromida (EDB) Lindane Senayawa merkuri. Schering 36. Frigen 12. Chlorophenamidine Compound 338. Phenatox. Ciba-8514. Corodane Dichlorodiphenyltrichloroethane. Hexadrin E3314. Trioxone. Penphene. ENT 25719.p-DDT.2-dibromoethane. maka ekspor B3 tersebut belum boleh dilaksanakan. Dowfume WW85. Strobane-T. termasuk: .3: Contoh B3 (dibatasi) dalam Lampiran II – Tabel 2 PP 74/2001 No 1 2 4 6 9 10 No Reg Chemical Abstract Service 93-76-5 2425-98-3 510-15-6 106-93-4 58-89-9 Nama Bahan Kimia 2. serta dari instansi yang berwenang. Necide Compound 497. Hydragyrum. Drinox.4-dichlorobenzilate. ENT 16225. Prosedur ini adalah sesuai dengan Konvensi Basel yang mengatur lintas batas bahan dan limbah B3 antar negara. Bunt-no-more. Fundal. PP ini mewajibkan eksportir B3 tersebut untuk menyampaikan notivikasi ke otoritas negara tujuan ekspor.4. Dicophane. PCP. Areton 12. Phenacide. Areton 114 Dibromotetrafluoroethane Bromomethane. Freon 114. Acarabene. Enri Damanhuri . Isotron 2 Dichlorotetrafluoroethane. Motox. G23922. Anticarie. Orthochlor. Ethyl 4. D-58. Insecticide No. Geniphene.

Lokasi dan konstruksi tempat penyimpanan B3 membutuhkan pengaturan tersendiri. Kecelakaan B3 adalah lepasnya atau tumpahnya B3 ke lingkungan. yang tidak dapat digunakan tidak boleh dibuang sembarangan. atau bekas kemasan. Explosive (mudah meledak): adalah bahan yang pada suhu dan tekanan standar (25oC. PP 74/2001 mengatur juga masalah kesehatan dan keselamatan kerja bagi orang yang bekerja di bidang ini. juga harus muncul pada dokumen pengangkutan. yang menjadi tanggung jawab bagi pengusaha. pemberian label dan simbol (pasal 17). B3 yang dianggap kadaluwarsa. dan pengedaran B3 (pasal 12). atau tidak memenuhi spesifikasi. Salah satu kehawatiran utama dalam penanganan B3 adalah kemungkinan terjadinya kecelakaan baik pada saat masih dalam penyimpanan maupun kecelakaan pada saat dalam pengangkutannya. 3 KARAKTERISASI B3 MENURUT PP 74/2001 Penjelasan PP 74/2001 menguraikan secara singkat klasifikasi B3 sebagai berikut: a. Lembar MSDS paling tidak berisi: o Merek dagang o Rumus kimia B3 o Jenis B3 o Klasifikasi B3 o Teknik penyimpanan. maka kondisi awalnya adalah berstatus keadaan darurat (emergency). Sedang B3 yang tidak memenuhi spesifikasi adalah bahan yang dalam proses produksinya tidak sesuai dengan yang ditentukan. dan o Tata-cara penanganan bila terjadi kecelakaan PP 74/2001 mengatur juga secara umum pengangkutan B3 (pasal 13). agar tidak terjadi kecelakaan akibat kesalahan dalam penyimpanan tersebut. Salah satu persyaratan kelengkapan pada tempat penyimpanan tersebut adalah sistem tanggap darurat dan prosedur penanganan B3 (pasal 19). Langkah darurat yang harus dilakukan adalah (pasal 25): o Mengamankan (mengisolasi) tempat terjadinya kecelakaan o Menanggulangi kecelakaan sesuai dengan prosedur standar penanggulangan kecelakaan o Melaporkan kecelakaan atau keadaan darurat tersebut kepada aparat Kota/Kabupaten setempat o Memberikan informasi.MSDS). Bila terjadi kecelakaan. penyimpanan. Informasi MSDS disamping harus tercantum pada produksi B3 (pasal 11).FTSL ITB Halaman 18 . penyimpanna B3 (pasal 18). denganmaksud untuk mengetahui sedini mungkin terjadinya kontaminasi oleh zat/senyawa kimia B3 terhadap pekerja atau pengawas lokasi tersebut (pasal 23). Salah satu langkah yang wajib dilakukan adalah kewajiban uji kesehatan secara berkala bagi pekerja. 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat Enri Damanhuri . yang memerlukan penanggulangan cepat dan tepat (pasal 24). pengemasan B3 (pasal 15). tetapi harus dikelola sebagai limbah B3 (pasal 20). bantuan dan melakukan evakuasi masyarakat sekitar lokasi kejadian. dan juga pada kemasan bahan tersebut (pasal 14). B3 kadaluwarsa adalah bahan yang karena kesalahan dalam penanganannya menyebabkan terjadinya perubahan komposisi dan atau karakteristik sehingga bahan tersebut tidak sesuai lagi dengan spesifikasinya. sekurang-kurangnya 1 kali dalam 1 tahun.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Salah satu informasi penting yang selalu harus disertakan dalam produksi B3 adalah Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet .

o Flammable: o Bila cairan: bahan yang mengandung alkohol kurang dari 24%-volume. Flammable (mudah menyala): o Extremely flammable: padatan atau cairan yang memiliki titik nyala (flash point)di bawah 0oC dan titik didih lebih rendah atau sama dengan 35oC. akan diperoleh nilai temperatur pemanasan. g. persisten di lingkungan (misalnya PCBs). Pengujian dapat pula dilakukan dengan Seta Closed-cup Flash Point Test. Apabila nilai temperatur pemanasan suatu bahan lebih tinggi dari senyawa acuan. Suatu bahan dinyatakan sebagai pengoksidasi apabila waktu pembakaran bahan tersebut sama atau lebih pendek dari waktu pembakaran senyawa standar. dan atau mempunyai titik nyala ≤ 60oC (140oF). pada tekanan 760 mmHg. f. b.FTSL ITB Halaman 19 .21oC. Dari hasil pengujian tersebut.4-dinitrotoluena atau Dibenzoil-peroksida digunakan sebagai senyawa acuan. o Hghly flammable: padatan atau cairan yang memiliki titik nyala 0oC . dan atau pH ≥ 12.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 merusak lingkungan di sekitarnya. atau sumber nyala lainnya. kulit atau mulut. o Mempunyai pH ≤ 2 untuk B3 bersifat asam. Toxic (beracun): akan menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan. Pengujiannya dapat dilakukan dengan menggunakan Diffrential Scanning Calorimetry (DSC) atau Differential Thermal Analysis (DTA). atau bahan tersebut dapat merusak lingkungan. pada temperatur dan tekanan standar dengan mudah menyebabkan terjadinya kebakaran melalui gesekan. akan menyala apabila terjadi kontak dengan api. sedang 2. dengan titik nyala di bawah 40oC. Harmful (berbahaya): padatan maupun cairan ataupun gas yang jika kontak atau melalui inhalasi (pernafasan) atau melalui oral dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan sampai tingkat tertentu. o Bila padatan: bahan bukan cairan. dan apabila terus menerus kontak dengan kulit atau selaput lendir dapat menyebabkan peradangan h.4: Tingkat racun menurut PP 74/2001 Urutan 1 2 3 4 5 6 Kelompok Extremely toxic (amat sangat beracun) Highli toxic (sangat beracun) Moderately toxic (beracun) Slighly toxic (agak beracun) Practically non-toxic (praktis tidak beacun) Relatively harmless (realtif tidak berbahaya) LD50 (mg/kg) ≤1 1 – 50 51 – 500 501 – 5. senyawa standar yang digunakan adalah larutan asam nitrat. Tingkatan racun dikelompokkan seperti tabel berikut. maka bahan tersebut diklasifikasikan mudah meledak. c.5 untuk B3 bersifat basa. Oxidizing (pengoksidasi): pengujian bahan padat dilakukan denganemtode uji pembakaan menggunakan ammonium persulfat sebagai senyawa standar.000 5001 – 15. Sedang untuk bahan cair. Tabel 2. penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan. Dangerous to the Environment (berbahaya bagi lingkungan): seperti merusak lapisan ozon (misalnya CFC). Pengujiannya dapat dilakukan dengan metode Closed-up test. d.35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55oC. percikan api. dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran terus menerus dalam 10 detik. Corrosive (korosif): mempunyai sifat o Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit o Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja standar SAE-1020 dengan laju korosi lebih besar dari 6. Irritant (bersifat iritasi): padatan maupun cairan yang bila terjadi kontak secara langsung.000 > 15.000 e. Enri Damanhuri .

yaitu sel liar yang dapat merusak jaringan tubuh o Teratogenic: sifat bahan yang dapat mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan embrio o Mutagenic: sifat bahan yang dapat menyebabkan perubahan kromosom yang dapat merubah genetika. 32 tahun 2009: Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Peraturan Pemerintah Nomor 74/2001: Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun. Chronic toxic (toksik kronis): o Carcinogenic (karsinogen): sifat bahan penyebab sel kanker. Referensi Utama: o o o Undang-Undang No. 19 tahun 2009: Pengesahan Konvensi Stockholm tentang Bahan Pencemar Organik yang Persisten Enri Damanhuri .FTSL ITB Halaman 20 . 26 November 2001 Undang-undang No.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 i.

50 %). Menteri. Lebih dari 90 % limbah yang berkatagori berbahaya. 18 tahun 1999 (PP85/1999) PP 18/99 jo PP 85/99 merupakan pengganti PP 19/94 jo PP12/95. Pasal 59 UU tersebut menggariskan bahwa: 1. survai limbah B3 yang berasal dari industri-industri di Otorita Batam menyimpulkan bahwa : − Karakteristik limbah cair industri adalah : mudah terbakar (11. pengelolaannya mengikuti ketentuan pengelolaan limbah B3. merupakan limbah cair atau aquous liquid waste.44 %) dan non B3 (77.58 %) − Limbah B3 (cair dan padat) dari industri rata-rata di bawah 5 % dari total limbah industri yang dihasilkan. namun tidak semua berkatagori Limbah B3. korosif (1. Walaupun limbah itu berasal dari kegiatan industri. korosif (8. atau bupati/walikota wajib mencantumkan persyaratan lingkungan hidup yang harus dipenuhi dan kewajiban yang harus dipatuhi pengelola limbah B3 dalam izin. Keputusan pemberian izin wajib diumumkan. Studi yang dilakukan oleh Dames & Moore untuk mengkaji kelayakan pusat pengolah limbah B3 di Cileungsi menghasilkan proyeksi total limbah berbahaya di daerah Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi (Jabotabek) pada tahun 1990 sebesar 1. beracun (2.52 %).FTSL ITB Halaman 21 . Secara spesifik pengelolaan limbah B3 telah diatur lebih lanjut dalam: − Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (PP18/1999) − Peraturan Pemerintah No 85 tahun 1999 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah No. Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya. Sebagaimana dibahas pada Bagian I. Selain itu. Dalam hal B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 ayat (1) telah kedaluwarsa.90 %). 3. 4.52 %) dan non B3 (97.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN III PERATURAN DALAM PENGELOLAAN LIMBAH B3 1 UMUM Survai di Amerika Serikat pada tahun 1981 mengungkapkan bahwa hampir 90 % dari limbah B3 yang dikelola berasal dari kegiatan industri dan 70 % diantaranya berasal dari industri kimia dan petroleum. khususnya Undangundang No. Enri Damanhuri . pengelolaannya diserahkan kepada pihak lain.984.626 ton (padat. Dalam hal setiap orang tidak mampu melakukan sendiri pengelolaan limbah B3. 2. beracun (0. dan tetap masih berlaku sebagai pengaturan lebih lanjut dari PP 18/99 jo PP 85/99. 5.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.54 %) − Karakteristik limbah padat industri adalah : mudah terbakar (0 %). cair dan gas). atau bupati/ walikota sesuai dengan kewenangannya. terutama karena sifat korosifitasnya. 01/Bapedal/09/1995 sampai No. 05/Bapedal/09/1995 yang merupakan pengaturan lebih lanjut PP19/1994 dan PP12/1995. gubernur. 6. Pengelolaan limbah B3 wajib mendapat izin dari Menteri. Peraturan-peraturan lain yang mengatur masalah limbah B3 adalah Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan dari No. pada dasarnya pengelolaan limbah B3 di Indonesia mengacu pada prinsip-prinsip dan pedoman pembangunan berkelanjutan yang telah dituangkan dalam peraturan perudang-undangan. gubernur.

− Bab VII (pasal 64 sampai 65): Ketentuan peralihan. limbah B3 yang dapat diimpor adalah skrap timah hitam (aki bekas). Timbulnya gerakan lingkungan tahun 1960-an. Dengan SK Menteri Perdagangan No.156/Kp/VII/95 tentang prosedur impor limbah Disamping itu.155/Kp/VII/95 tentang barang yang diatur tata niaga impornya • Keputusan Menteri Perdagangan RI No. − Bab VIII (pasal 66): Ketentuan penutup. Indonesia telah meratifikasi Konvensi Basel. pengolahan limbah dan penimbunan limbah B3' (pasal 1 angka 3). Peraturan-peraturan yang langsung menangani lintas batas limbah adalah: • Keputusan Presiden RI No. − Bab VI (pasal 62 sampai 63): Sanksi. Sedang PP 85/1999 yang merupakan perubahan dari PP 18/1999 hanya terdiri dari 2 (dua) pasal. − Bab II (pasal 6 sampai 8): Identifikasi limbah B3 − Bab III (pasal 9 sampai 26): Pelaku pengelolaan. yaitu: pasal 6.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Dalam hal masalah lintas batas limbah ini. dan pasal II (Penutup). Dalam pasal I dijelaskan pasal-pasal dalam PP18/1999 yang mengalami perubahan. PP 18/1999 jo PP 85/1995 melarang impor limbah B3 kecuali dibutuhkan untuk penambahan kekurangan bahan baku sebagai bagian pelaksanaan daur-ulang limbah. Pasal I berisi pasal-pasal dalam PP 18/1999 yang mengalami perubahan. rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi. maupun limbah yang datang dari luar negeri. Dapat dikatakan. pengumpulan. − Bab IV (pasal 27 sampai 39): Kegiatan pengelolaan . Sumber.. Sebagai negara kepulauan dengan perairannya yang terbuka. Karakteristk dan Proses Penentuan Limbah B3: Pengertian pengelolaan limbah B3 adalah '. sampai tahun 1960-an pengelolaan limbah industri di Amerika Serikat masih belum memadai. misalnya hanya dibuang ke lahan landfill yang belum dilapis secara kedap. Sebagai negara industri yang dapat dikatakan relatif paling maju. maka tidaklah berlebihan bila dalam diktat ini dibahas juga pengertian dan pengembangan peraturanperaturan yang berkaitan dengan limbah B3 di Amerika Serikat. Sedangkan tujuan pengelolaan tersebut Enri Damanhuri . 2 PENGELOLAAN LIMBAH B3 DALAM PP 18/1999 JUNCTO PP 85/1999 Hal yang Diatur: PP 18/1999 tentang pengelolaan limbah berbahaya dan beracun terdiri dari 8 bab yang dibagi lagi menjadi 42 pasal. Kedelapan bab tersebut adalah : − Bab I (pasal 1 sampai 5): Ketentuan umum. 349/Kp/XI/92 tentang pelarangan impor limbah B3 dan plastik • Keputusan Menteri Perdagangan RI No. khususnya konsep cradle-to-grave yang menjadi rujukan dalam peraturan tentang limbah berbahaya di Indonesia.61/1993 tentang Pengesahan Convension on The Control of Transboundary Movements of Hazardous Wastes and Their Disposal. penyimpanan. baik antar pula di Indonesia. memaksa Kongres Amerika untuk memperhatikan masalah limbah industri ini lebih serius. 156/KP/VII/95. − Bab V (pasal 40 sampai 61): Tata laksana.FTSL ITB Halaman 22 . pemanfaatan. pengangkutan. yaitu sebanyak 3 pasal. pasal 7. dan pasal 8.. sampai jangka waktu terbatas.. • Keputusan Menteri Perdagangan RI No. yang berupaya mengatur ekspor dan impor serta pembuangan limbah B3 secara tidak syah.. Indonesia sangat potensial sebagai tempat pembuangan limbah berbahaya.

. Pengujian toksikologi untuk menentukan sifat akut dan atau kronik. melalui beberapa langkah. Ps 7 (1) PP85/99 menyebutkan bahwa jenis limbah B3 menurut sumbernya meliputi: a. yang hanya bisa dilaksanakan oleh sebuah usaha komersial. Bila batasan penghasil limbah B3 diterapkan juga pada kelompok tersebut. Limbah B3 dari sumber spesifik (Lampiran I Tabel 2) c. Pasal 1 angka 2 mendefinisikan limbah berbahaya dan beracun (disingkat B3) adalah sebagai sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya yang dapat diidentifikasikan menurut sumber dan/atau uji karakteristik dan atau uji toksikologi (PP85/99 Ps 6). Tabel 2 (Sumber spesifik) dan Tabel 3 (limbah kimia kadaluarsa). tumpahan. karena pengaturannya akan ditetapkan kemudian oleh instansi yang bertanggungan jawab. Pengertian ‘orang’ yang sering muncul dalam PP18/99 seperti dijelaskan dalam Ps1(18) adalah orang perorangan. Beracun e...FTSL ITB Halaman 23 .. Bila terdapat dalam daftar. Menyebabkan infeksi f. seperti batere bekas. karena izin pengelolaan limbah B3 membutuhkan prosedur administrasi yang tidak sederhana. untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang sudah tercemar sehingga sesuai fungsinya kembali ' (pasal 2). PP18/99 mendefisikan bahwa penghasil limbah B3 adalah orang yang usaha dan atau kegiatannya menghasilkan limbah B3 seperti di tegaskan dalam Ps1(5). yaitu Tabel 1 (Sumber tidak spesifik). maka secara formal limbah tersebut adalah limbah B3. dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi (Lampiran I Tabel 3) Rincian dari masing-masing jenis kelompok tersebut terdapat pada Lampiran I PP85/99. Sebelumnya PP 19/1994 mendefinisikan bahwa penghasil limbah B3 tidak hanya mereka yang bergerak dalam kegiatan yang bersifat komersial tetapi termasuk juga perorangan yang menyimpan limbahnya dalam lokasi kegiatannya sebelum limbah tersebut ditangani lebih lanjut sesuai dengan peraturan yang ada. serta kegiatan skala kecil tidak terkena peraturan ini. bekas kemasan. Kemudian PP 12/1995 membatasi. Sebuah limbah dinyatakan sebagai limbah B3. Ps 7(3) PP85/99 selanjutnya mendefinisikan uji karakteristik limbah B3 sebagai berikut: a. Mudah meledak b. Bersiafat reaktif d. Mudah terbakar c. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa. seperti ditegaskan dalam Ps9(6). dan atau kelompok orang dan atau badan hukum. seperti diatur dalam Ps 7(1). Enri Damanhuri . Bila tidak terdapat dalam daftar tersebut. Limbah B3 yang dihasilkan oleh kegiatan rumah tangga. bahwa yang terkena definisi tersebut adalah badan usaha yang menghasilkan limbah B3. yaitu: • Langkah 1: mengidentifikasi limbah yang dihasilkan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 adalah : '. maka identifikasi harus dilanjutkan dengan Langkah berikutnya • Langkah 2: melakukan uji karakteristik sebagaimana tercantum dalam Ps 7(3) PP85/99 seperti diuraikan berikut ini. dengan daftar limbah (Lampiran 1 Tabel 1 dan 3) atau daftar kegiatan (Lampiran 1 Tabel 2) yang tercantum dalam PP85/99. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik (Lampiran I Tabel 1) b. Bersifat korosif g. akan menimbulkan permasalahan..

bengkel pemeliharaan kendaraan. peleburan-pengolahan besi dan baja. allumunium thermal metallurgyallumunium chemical conversion coating. pengolahan lemak hewan/nabati dan derivatnya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Sumber limbah tidak spesifik adalah sumber limbah yang menghasilkan limbah yang pada umumnya bukan berasal dari proses utamanya. zat warna dan pigmen. Terdapat 43 jenis limbah yang termasuk kelompok ini. pengawetan kayu. prosers logam non-ferro. semua jenis industri yang menghasilkan dan menggunakan listrik (untuk limbah PCB). Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa. proses kloro-alkali. komponen elektronik-peralatan elektronik. metal-plastic shaping. cat. fotografi. dan atau pada titik nyala ≤ 60oC (140oF). penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan. Terdapat 178 jenis bahan kimia yang termasuk kelompok limbah B3. farmasi. pelarutan kerak. PLTU yang mengunakan bahan bakar batu-bara. semua jenis industri konstruksi (untuk limbah asbestos). Limbah B3 dari sumber spesifik adalah limbah sisa proses suatu industri atau kegiatan yang secara spesifik dapat ditentukan berdasarkan kajian ilmiah. gelas keramik/enamel. batere sel basah. pestisida. produk kertas. electroplating dan galvanis. Jenis kegiatan yang termasuk kelompok sumber spesifik adalah industri atau kegiatan: pupuk. Limbah mudah meledak adalah limbah yang pada suhu dan tekanan standar (25oC. 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan di sekitarnya (bandingkan dengan uraian pada PP74/2001) Limbah mudah terbakar adalah limbah-limbah yang memunyai salah satu sifat: • Berupa cairan yang mengandung alkohol kurang dari 24%-volume. dan buanagn produk yang tidak memenuhi spesifikasi yang ditentukan atau tidak dapat dimanfaatkan lagi. daur-ulang pelarut bekas. tetapi berasal dari kegiatan pemeliharaan alat. pencucian. peleburan-pemurnian tembaga. Sumber limbah ini terbagi dalam 51 jenis kegiatan yang termasuk kelompok penghasil limbah B3. laundry dan dry cleaning. dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran terus menerus. laboratorium riset dan komersial. • Bukan berupa cairan yang pada temperatur dan tekanan standar dengan mudah menyebabkan terjadinya kebakaran melalui gesekan. tumpahan. bekas kemasan. metal hardening. penyamakan kulit. tinta. pertambangan. operasi penyempurnaan baja. batere sel kering. sabun deterjen-produk pembersih desinfektan-kosmetik. atau sumber nyala lainnya. IPAL industri. tekstil. percikan api. pengoperasian insinerator limbah. seal-gasket-packing. pengolahan batu-bara dengan pirolisis. chemical-industrial cleaning. resin adesif. rumah sakit. manufaktur dan perakitan kendaraan-mesin. kilang minyak dan gas bumi. fotokopi.FTSL ITB Halaman 24 . pengemasan. polimer. • Merupakan limbah yang bertekanan yang mudah terbakar • Merupakan limbah pengoksidasi Limbah yang bersifat reaktif pada air adalah limbah-limbah dengan salah satu sifat: • Limbah yang pada keadaan normal tidak stabil dan dapat menyebabkan perubahan tanpa peledakan • Limbah yang dapat bereaksi hebat dengan air Enri Damanhuri . petrokimia. gas industri. pencegahan korosi. eksplorasi dan produksi minyak-gas-panas bumi. daurulang minyak pelumas bekas. peleburan dan penyempurnaan seng. peleburan timah hitan (Pb). akan menyala apabila terjadi kontak dengan api. pada tekanan 760 mmHg.

dan kewenangan pengelolaannya dilakukan oleh Badan Tenaga Atom Nasional sesuai dengan UU no. kulit dan mulut. sulfida atau amoniak yang pada pH antara 2 dan 12.5 dapat menghasilkan gas. bottom ash. dan atau pH ≥ 12. Asal limbahnya adalah slop minyak. Pengelolaan limbah radioaktif tidak termasuk dalam peraturan ini (Ps 5 PP18/99). Indikator sifat racun yang digunakan adalah TCLP (Toxicity Characteristics Leaching Procedure). uap. Namun dalam versi Indonesia. karbon aktif dan absorban bekas. sludge dari IPAL. karbon aktif bekas. Asal limbahnya adalah sludge minyak. drilling mud bekas. daftar limbah yang dapat dikecualikan adalah seperti terdapat pada Lampiran I – Tabel 2. filter bekas.35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55oC. limbah PCB • D223: PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara. menghasilkan batas aman yang memperhitungkan probabilitas terjadinya toksisitas kronik non-kanker maupun kanker. dengan kode: • D220: limbah dari kegiatan eksplorasi dan produksi minyak. Limbah yang Dapat Dikeluarkan dari Daftar Lampiran I: Menurut PP85/99. Asal limbahnya adalah fly ash. Pada dasarnya sebetulnya. yang airnya digunakan secara rutin. o Mempunyai pH ≤ 2 untuk B3 bersifat asam. limbah laboratorium. penghasil limbah masih tetap diharuskan melakukan uji toksisitas akut maupun kronis Limbah yang menyebabkan infeksi yaitu bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan dari tubuh manusia yang terkena infeksi. atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan Limbah yang dengan mudah dapat meledak atau bereaksi pada suhu dan tekanan standar Limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepas atau menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi Limbah yang beracun adalah limbah yang mengandung pencemar yang bersifat racun bagi manusia dan lignkungan yang dapat menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan. 31 tahun 1994 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Tenaga Atom. residu dasar tanki.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 • • • • Limbah yang bila bercampur dengan air (termasuk uap air) menimbulkan ledakan. • D221: limbah dari kegiatan kilang minyak dan gas bumi. yang merupakan batas ambang yang digunakan untuk indikasi B3. pembersih jalan dan masyarakat lain di sekitar lokasi pembuangan limbah. cutting pemboran. yang ditularkan pada pekerja. gas dan panas bumi. menghasilkan gas. sludge dari IPAL. Limbah bersifat korosif adalah limbah yang mempunyai salah satu sifat o Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit o Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja standar SAE-1020 dengan laju korosi lebih besar dari 6. Limbah ini berbahaya karena mengandung kuman penyakit seperti hepatitis dan kolera. yang merupakan simulasi terburuk kondisi landfill. yang menyebabkan terjadinya pencemaran pada air tanah. katalis bekas. uap atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan Limbah sianida. limbah dari laboratorium atau limbah lainnya yang terinfeksi kuman penyakit yang dapat menular. bila ambang batas TCLP tidak terlampaui. limbah PCB Enri Damanhuri .FTSL ITB Halaman 25 .5 untuk B3 bersifat basa. seperti tercantum dalam lampiran II PP85/99. Simulasi transportasi pencemar ini. sludge minyak. uji TCLP adalah uji yang dikembangkan oleh US-EPA. residu dasar tanki.

Namun pada kenyataannya di lapangan. Rangkaian mata rantai berikutnya adalah: − Pemanfaatan limbah oleh pemanfaat. dan melakukan pengolahan. dan masih limbahnya dapat dimanfaatkan. artinya mengutamakan upaya reduksi di sumber. semua jenis limbah tersebut oleh yang berwenang dinyatakan sebagai limbah B3. − Pengangkutan limbah oleh pengangkut. maka pengelolaan limbah B3 menurut PP 18/99 jo PP85/99 merupakan suatu rangkaian kegiatan (Ps 1. maka limbah B3 tersebut dapat dimanfaatkan. kemudian upaya reduksi limbah (sebelum terbentuk) seperti diuraikan di atas. Dengan adanya kedua PP tersebut. Bila kegiatan reduksi tersebut masih menghasilkan limbah. baik dilakukan sendiri atau menggunakan jasa fihak lain. − Pengumpulan limbah oleh pengumpul. Aspek pengawasan dan sanksi juga diatur dalam kedua PP tersebut. maka setiap penghasil limbah B3. Setiap mata rantai tersebut memerlukan pengawasan dan pengaturan. Oleh karenanya. yang dikenal sebagai BAPEDAL. maka instansi yang bertanggung sepertinya berada pada Kementerian ini. terkait berbagai fihak yang merupakan mata rantai dalam pengelolaan limbah B3. o Substitusi bahan o Modivikasi proses o Serta upaya reduksi lainnya Secara teknis operasional. Selanjutnya Ps 8 mengatur bahwa limbah B3 yang tercantum dalam Lampiran I Tabel 2 PP85/99 dapat dikeluarkan dari daftar setelah dapat dibuktikan bukan limbah B3 berdasarkan prosedur pembuktian secara ilmiah.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Limbah tersebut di atas dapat dinyatakan sebagai limbah B3 setelah dilakukan uji karakteristik dan atau uji toksikologi. dan − Pengolahan dan penimbunan limbah oleh pengolah Dalam kegiatan tersebut. Dengan penyatuan institusi Bapedal dalam Kementerian Lingkungan Hidup.FTSL ITB Halaman 26 . maka PP 18/99 jo PP85/99 mengarahkan penanganan limbah B3 yang lebih berbasiskan pada cleaner production. Ps 27 (1) PP tersebut mengarahkan bahwa reduksi limbah B3 dapat dilakukan melalui upaya: o Penyempurnaan penyimpanan bahan baku dalam proses house keeping. Ps 9 (1) PP18/99 menegaskan bahwa setiap penanggung jawab usaha atau kegiatan yang menggunakan B3 atau menghasilkan limbah B3 wajib melakukan reduksi baik bahan maupun limbahnya.3) dari terbentuknya limbah oleh penghasil. bertanggung jawab akan hal itu. Sebelum dibubarkan beberapa tahun lalu. PP tersebut mengatur masalah perizinan bagi mereka yang akan terlibat dalam bisnis kegiatan operasional tersebut. yaitu: • Uji karakteristik limbah B3 • Uji toksikologi • Hasil studi yang menyimpulkan bahwa limbah yang dihasilkan tidak menimbulkan pencemaran dan gangguan kesehatan terhadap manusia dan mahluk hidup lainnya. tanpa menunggu pembuktian terlebih dahulu. tanpa kecuali. dan/atau penimbunan bagi limbahnya. Kegiatan dan Pelaku Pengelolaan: Berbeda dengan PP19/94 jo PP12/95. Badan yang mempunyai kewenangan untuk mengawasi pengelolaan limbah B3 tersebut di Indonesia adalah sebuah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. dilarang membuang limbahnya secara langsung ke dalam media lingkungan hidup. Enri Damanhuri . maka Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.

maupun pada saat limbah tersebut diserahkan kepada pengelola berikutnya o Nama pengangkut limbah B3 yang melaksanakan pengiriman kepada pengumpul. maka penghasil limbah tersebut diperbolehkan menyerahkan penanganan limbahnya kepada pemanfaat limbah (Ps9-2) atau pengolah atau penimbun limbah B3 (Ps9-4) yang mempunyai kewenangan untuk itu. wajib mengolah limbahnya sesuai dengan teknologi yang ada. Demikian juga upaya kegiatan pengumpulan dan pengangkutan limbah B3 menuju lokasi pemerosesan berikutnya. Bila limbah B3 yang dihasilkan kurang dari 50 kg/hari. dapat diserahkan kepada fihak lain. Selama penyimpanan tersebut. Rantai berikutnya dalam pengelolaan ini adalah pengumpulan limbah (Ps12. Sebagaimana pada penghasil limbah. Namun penghasil limbah B3 tetap bertanggung jawab atas limbah yang diolah tersebut. Ps13 dan Ps14). sebagaimana diatur dalam Ps12 dan Ps15 PP18/99. Demikian pula pengolah limbah B3 dapat menyimpan limbah yang diterimanya maksimum 90 hari sebelum dilakukan pengolahan. maka penghasil limbah tersebut dapat menyimpan limbahnya lebih dari 90 hari. serta Bupati/Walikota yang bersangkutan. PP ini juga mengatur penghasil limbah yang dikatagorikan sedikit menghasilkan limbah B3. Ps18 dan Ps23). dan limbah tersebut selanjutnya harus diserahkan kepada pemanfaat. dengan syarat mendapat persetujuan instansi yang bertanggung jawab (Ps10). jumlah dan waktu.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 tanpa pengolahan terlebih dahulu (Ps3). yang mencakup (Ps11-1): o Jenis. pemanfaat atau pengolah/penimbun limbah B3 Catatan tersebut wajib dilaporkan sekurang-kurangya sekali dalam enam bulan kepada instansi yang bertanggung jawab. Kewajiban penghasil limbah adalah mendata limbahnya secara baik. penghasil limbah tidak harus menyerahkan limbahnya setiap saat kepada pengumpul atau pengangkut atau pengolah limbah. Setiap pengangkutan limbah B3 oleh pengangkut. atau pengolah-penimbun limbah yang diakui oleh yang berwenang. walaupun telah diserahkan penanganannya pada fihak lain. Pengumpulan ini bersifat sementara. yang dikenal sebagai Small Quantity Generator (SQG). maka limbah boleh disimpan paling lama 90 hari sebelum diserahkan kepada rantai pengelola berikutnya. Batas waktu bagi penghasil limbah.FTSL ITB Halaman 27 . dengan tembusan kepada instansi lain terkait. Setiap kegiatan yang menghasilkan limbah B3. pemberian symbol dan label untuk setiap kemasan yang digunakan yang menunjukkan karakteristik dan jenis limbah B3 tersebut (Ps28). Kewajiban untuk mendata limbah B3 yang dikelola. Dengan demikian. Bagi mereka yang tidak mampu untuk menangani limbahnya sesuai peraturan yang ada. Pengaturan lintas batas limbah B3 dari dan keluar Indonesia diatur dalam Ps53. serta melaporkan setiap 6 bulan sekali kepada instansi yang berwenang. penanganan limbah B3 dengan jalan pengenceran sehingga konsentrasinya menjadi turun tidak diperbolehkan dilakukan (Ps4). atau pemanfaat limbah atau pengolah/penimbun limbah untuk menyimpan limbahnya sebelum dikelola lebih lanjut tidak lebih dari 90 hari (Ps10. baik pada saat limbah dihasilkan. merupakan hal yang harus dilaksanakan. Informasi data tersebut akan digunakan untuk bahan inventarisasi serta bahan evaluasi guna pengembangan kebijakan pengelolaan limbah B3. maka penghasil limbah dikenai kewajiban untuk mematuhi tata cara penyimpanan bagi limbah B3 (Ps29). Disamping itu. karena kegiatan ini tidak akan menurunkan beban limbah yang dihasilkan. dan bila tidak mampu diolah di dalam negeri dapat diekspor ke negara yang mempunyai teknologi pengolahan yang sesuai (Ps9-3). Pengangkut limbah B3 wajib menyerahkan limbah B3 dan dokumennya kepada Enri Damanhuri . wajib disertai dokumen limbah B3 (Ps16). karakteristik.

dengan aturanaturan yang berlaku bagi pengangkut limbah B3. jumlah. setelah ditandatangani pleh penerima limbah Enri Damanhuri . Proses tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi yang sesuai. Bila teknologi tersebut tidak dapat diterapkan. Disamping itu. Rantai pengeolaan yang paling akhir adalah penimbunan imbah B3 dalam sebuah landfill limbah B3 dengan system pelapis dasar. Berdasarkan uraian dalam Penjelasan atas PP 18/99. rincian distribusi dokumen limbah tersebut adalah sebagai berikut: − Lembar ke 1 (asli): disimpan pengangkut setelah ditandatangani oleh pengirim limbah − Lembar ke 2: setelah ditandatangai oleh pengangkut limbah.FTSL ITB Halaman 28 . Disamping itu. Sektor pengangkutan merupakan aktivitas yang beresiko tinggi. kemudian oleh pengangkut diserahkan kepada penerima limbah − Lembar ke 5: dikirimkan oleh penerima kepada instansi yang bertanggung jawab setelah diterima oleh penerima limbah B3 − Lembar ke 6: dikirimkan oleh pengangkut kepada Bupati/Walikota yang bersangkutan dengan pengirim. limbah tersebut harus dilengkapi dokumen-dokumen yang berasal dari penghasil limbah maupun dari pengumpul limbah yang menjelaskan tentang limbah tersebut. dan menyerahkan dokumen tersebut kepada pengolah limbah bila limbah tersebut telah sampai di tujuan. kemudian dikirimkan kepada instansi yang bertanggung jawab oleh pengirim limbah. Pada dasarnya. penerbangan (UU 15/1992) dan pelayaran (UU 21/1992). kimia dan biologi (Ps34). Mekanisme Cradle-to-Grave: Dokumen limbah akan memegang peranan penting dalam pemantauan perjalanan limbah B3 dari penghasil sampai ke pengolah limbah. Dokumen tersebut antara lain berisi: o Nama dan alamat penghasil limbah atau pengumpul yang menyerahkan limbah o Tanggal peneyerahan limbah o Nama dan alamat pengangkut limbah o Tujuan pengangkutan o Jenis. angkutan darat (UU 14/1992). dan karakteristik limbah yang diserahkan. pengolahan limbah bersasaran untuk merubah karakteristik dan komposisi limbah tersebut agar menjadi tidak berbahaya lagi. pengolahan limbah bersasaran agar limbah tersebut dapat terdaur-ulang atau terdaurpakai. komposisi. Selama dalam perjalanannya. stabilisasi dan solidifikas. alat angkut yang digunakan harus sesuai dengan peraturan tentang angkutan yang ada. pengolahan secara fisika. Usaha ini membutuhkan izin terlebih dahulu dari Menteri yang mempunyai kewenangan di bidang perhubungan setelah mendapat pertimbangan dari Menteri Lingkungan Hidup. maka dibutuhkan teknologi lain yang terbaik dan tersedia. Apabila pengengkutan lebih dari satu kali (antar moda). yang akan merupakan sarana permantauan yang serupa dengan konsep cradle-to-grave yang diterapkan di Amerika Serikat. Penghasil limbahpun dapat bertindak sebagai pengangkut limbah. yaitu : perkereta-apian (UU 13/1992).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 pengumpul atau pemanfaat atau pengola atau penimbun yang ditunjuk oleh penghasil limbah B3 (Ps17). Rantai akhir dari sistem ini adalah pengolahan dan penyingkiran (disposal) limbah. dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan di jalan serta hal-hal lain yang tidak diinginkan. seperti secara termal. − Lembar ke 3: disimpan oleh penghasil setelah ditandatangani oleh pengangkut − Lembar ke 4: setelah ditanda tangani oleh pengirim limbah. Dokumen tersebut dibuat dalam rangkap 7 apabila pengangkutan hanya satu kali. maka dibutuhkan dokumen 11 rangkap.

pemanfaat. − alat pencegahan pencemaran yang digunakan Yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan izin lokasi pengolahan adalah kepala kantor pertanahan kabupaten/kota (pasal 42) sesuai dengan rencana tata ruang berdasarkan rekomendasi Kepala instansi yang bertanggung jawab. Untuk itu. dan pengolahan-penimbunan. Enri Damanhuri . setelah mendapat rekomendasi dari Kepala instansi yang bertanggung jawab.1. − bahan baku dan proses yang akan digunakan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − Lembar ke 7: setelah ditandatangani oleh penerima.1 : Mata rantai perjalanan limbah beserta dokumennya Pengelolaan limbah B3 memungkin badan swasta untuk terlibat di dalamnya. − tata letak sarana dan prasarana. Untuk itu dibutuhkan izin operasi (Ps40). − spesifikasi alat pengolah limbah.FTSL ITB Halaman 29 . pengumpulan. − jumlah dan karakteristik limbah yang akan ditangani. baik sebagai penyimpan. Dalam bentuk skema. disertai dokumen-dokumen yang biasa menyertainya. persyaratan lain untuk memperoleh izin tersebut adalah adanya informasi yang menyangkut tentang: − nama dan alamat yang jelas dari badan usaha tersebut. pengumpul. − Lembar ke 8 sampai ke 11 dikirim oleh pengangkut kepada pengirim limbah setelah ditandatangani oleh pengangkut terdahulu dan diserahkan kepada pengangkut berikutnya (antar moda). − nama dan alamat penanggung jawab. pengangkut maupun sebagai pengolah limbah tersebut. Dalam hal penghasil limbah bertindak pula sebagai pengolah limbah dan kegiatan tersebut dilakukan pada lokasi yang sama. dibutuhkan analisis dampak lingkungan terlebih dahulu. yaitu : − dari Kepala instansi yang bertanggung jawab untuk kegiatan penyimpanan. maka oleh pengangkut dikirimkan kepada pengirim limbah. − dari Menteri Perhubungan untuk kegiatan pengangkutan limbah B3. hanya rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang telah disetujui oleh instansi berwenang yang diajukan kepada Instansi yang bertanggung jawab bersama persyaratan lainnya. maka analisis dampak lingkungannya dibuat teritegrasi dengan kegiatan utamanya dengan persyaratan yang berlaku. − lokasi tempat kegiatan. mata rantai perjalanan limbah beserta dokumennya adalah seperti tercantum dalam Skema 3. − bentuk kegiatan yang akan dilakukan. untuk melengkapi perizinan kegiatan pengolahan limbah tersebut. Skema 3. Disamping mempunyai legalitas badan usaha. Disamping itu. pemanfataan.

Compensation and Liabilities Act (CERCLA . Hal lain yang mendapat perhatian dalam kedua PP tersebut adalah kesehatan dan keselamatan pekerja yang terlibat dalam kegiatan pengelolaan ini serta tanggung jawab pengelola bila terjadi kecelakaan serta pencemaran. khususnya limbah industri. − meminta keterangan tentang pelaksanaan pengelolaan limbah. yang mengatur permasalahan penggunaan energi nuklir. − Federal Insecticide. Pengawasan pengelolaan limbah B3 yang dilakukan oleh Instansi yang bertanggung jawab meliputi pematauan penaatan persyaratan serta ketentuan teknis dan administratif oleh fihak-fihak yang mengelola limbah B3. Kewajiban penghasil. Amerika Serikat relatif banyak mengalami banyak masalah dengan limbah. Kontrol yang aktif dari masyarakatnya banyak menelorkan peraturan-peraturan guna mengatur masalah ini. maka limbah B3 dilarang masuk ke wilayah Indonesia. maka fihak pengelola bertanggung jawab atas hal ini. dan fihak pengelola diwajibkan untuk segera menaggulanginya.1984) : tentang perlindungan terhadap air tanah dari limbah berbahaya − Comprehensive Environmental Response.1980) dan Superfund Amendement and Reautorization Act (SARA Enri Damanhuri . Upaya ini merupakan kewajiban fihak pengelola untuk melaksanakannya. Pengiriman limbah B3 ke luar Indonesia membutuhkan persetujuan tertulis dari pemerintah negara penerima dan izin tertulis dari pemerintah Indonesia. − Solid Waste Disposal Act (1965) dan Resource Recovery Act (1970) : pengaturan tentang pengolahan dan pendaur-ulangan buangan padat. maka dibutuhkan pemberitahuan tertulis terlebih dahulu kepada pemerintah Republik Indonesia. Bila terjadi kecelakaan atau pencemaran atau kerusakan lingkungan akibat kegiatan tersebut. Pengawasan tersebut mempunyai kewenangan untuk: − memasuki area lokasi kegiatan. Pemeriksaan kesehatan pekerja oleh instansi yang berwenang di bidang kesehatan tenaga kerja dilakukan secara berkala agar sejak dini dapat diketahui terjadinya kontaminasi oleh zat-zat berbahaya.FTSL ITB Halaman 30 . Fungicide and Rodenticide Act (FIFRA-1972) : mengatur penyimpanan dan disposal pestisida. Beberapa peraturan-peraturan Federal yang berkaitan dengan masalah lingkungan. pengangkut dan atau pengolah limbah adalah membantu sepenuhnya aktivitas pengawasan yang dilakukan di daerah tanggung jawabnya.1976) : pengaturan penggunaan bahan kimia berbahaya yang baru dihasilkan. Bila fihak pengelola tidak dapat menanggulanginya secara baik. maka Instansi yang bertanggung jawab akan melakukan upaya penanggulangan. pengumpul. 3 KONSEP CRADLE-TO-GRAVE AMERIKA SERIKAT Sebagai negara industri.1976) : pengaturan pengelolaan limbah berbahaya − Hazardous and Solid Waste Amandements Act (HSWA . khususnya yang berkaitan dengan masalah pengelolaan limbah B3 antara lain adalah : − Atomic Energy Act (1954) : merupakan revisi Atomic Energy Act tahun 1946. − melakukan pemotretan untuk kelengkapan pengawan tersebut. dan biaya kegiatan tersebut dibebankan pada fihak pengelola. Dalam hal pengangkutan limbah B3 antara negara yang melalui wilayah Indonesia. Guna mencegah dijadikannya wilayah Indonesia sebagai tempat pembuangan limbah B3. − mengambil contoh limbah untuk dianalisa di laboratorium. − Toxic Substances Control Act (TSCA .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 PP18/99 tersebut juga mengatur perpindahan lintas batas limbah B3 dari dan ke luar Indonesia (Ps53). − Resource Conservation and Recovery Act (RCRA .

Produk ini telah diatur oleh peraturan-peraturan sebelumnya. Namun uji coba pada hewan akhirnya menunjukkan bahwa PCB dapat menyebabkan kanker dan sebagainya. versi RCRA yang paling penting adalah aturan-aturan yang termasuk dalam Subtitle-C dengan program utamanya adalah Cradle-to-grave . serta terkonsentrasi pada jaringan lemak. − Pengangkut (transporter).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 1986) yaitu tentang pengaturan dan pendanaan bagi pembersihan site disposal berbahaya yang sudah tidak beroperasi. Dalam pengelolaan limbah berbahaya. RCRA dalam hal ini menugaskan USEPA untuk melaksanakan aturan-aturan yang ada. Solid Waste Disposal Act pada dasarnya mengatur tata cara disposal (penyingkiran) limbah kota dan industri. bahan nuklir. RCRA (1976). pestisida. Katagori produk yang tidak termasuk dalam kontrol TSCA adalah tembakau. yaitu dari mulai identifikasi limbah berbahaya.FTSL ITB Halaman 31 . DRE (Destruction and Removal Efficiency) yang dipersyaratkan paling tidak adalah sebesar 99. Direncanakan. harus diuji dulu sebelum bahan tersebut diproduksi untuk dipasarkan. Dengan adanya peraturan tersebut maka tidak satupun bahan kimia yang boleh diimport atau dieksport tanpa kontrol dan persetujuan USEPA. agar tidak mengganggu terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.000 transformator dengan PCB telah diproduksi. makanan. Proses pemusnahan yang paling cocok adalah dengan insinerasi pada temperatur 1200 ± 100°C selama 2 detik dengan 3% kelebihan oksigen di cerobong. sehingga digunakan sebagai media transfer panas pada transformator dan kapasitor. Salah satu kasus yang dapat dijadikan contoh adalah penggunaan polychlorinated biphenyl (PCB). yaitu : − Penghasil (generator). persyaratanpersyaratan mulai dari sumber (timbulan). atau 1600 ± 100°C selama 1. khususnya limbah B3. pengolahan. Perkembangan lebih lanjut ternyata dibutuhkan aturan-aturan lebih jauh agar limbah tersebut. Melalui TSCA. RCRA dianggap merupakan produk legislatif yang paling penting dalam pengaturan limbah B3. serta bagaimana mengurangi timbulan limbah tersebut. transformator tersebut akan ditarik dari peredaran oleh USEPA.9999 %. HSWA (1980). aditif untuk makanan. Berdasarkan hal ini keluarlah RCRA. transportasi. namun sejumlah besar alat listrik masih menggunakan bahan ini. dikelola dengan baik. dan Enri Damanhuri . Diperkirakan sekitar 77. maka yang sangat berkaitan erat dengan masalah limbah berbahaya adalah TSCA (1976). Toxic Substances Control Act (TSCA) memberi kewenangan pada USEPA untuk mengidentifikasi dan memantau bahan-bahan kimia berbahaya di lingkungan . Efek toksik dari bahan yang baru dihasilkan. dan merupakan bahan cair dengan sifat-sifat yang menguntungkan yaitu mempunyai stabilitas panas serta sifat-sifat transfer panas yang ideal. Dalam peraturan tersebut. dan telah mengalami beberapa kali amandemen sejak dikeluarkannya pada tahun 1976. obat-obatan dan kosmetika. disamping itu USEPA mempunyai kewenangan untuk mendapatkan informasi tentang bahan berbahaya ini di sumbernya (pabrik). produk PCB di Amerika Serikat telah dihentikan (1977). sampai penyingkiran/pemusnahan (disposal) limbah berbahaya. − Pollution Prevention Act (1990) : strategi penanganan pencemaran limbah dengan memberikan priporitas pada minimasi limbah Dari sekian banyak peraturan perundang-undangan tersebut di atas.5 detik dengan 2 % kelebihan oksigen. yang terdiri dari berbagai Subtitle. PCB telah diproduksi di Amerika Serikat sejak tahun 1929. CERCLA (1980) dan SARA (1986). penyimpanan. dicantumkan aturan-aturan administratif dan tehnis untuk tiga katagori pelaku utama. Bahan-bahan kimia yang diproduksi sebelum TSCA juga terkena peraturan ini. senjata api/amunisi.

walaupun pengusaha tetap diwajibkan untuk menganalisis limbahnya. dan pada tahun 1984 plafon SQG ini diturunkan lagi menjadi 100 kg limbah B3 per bulan. Bila Generator skala kecil diharuskan mengikuti aturan tersebut. yaitu aturan-aturan pengangkutan bahan berbahaya dan beracun mulai dari pengemasan.FTSL ITB Halaman 32 . Generator limbah B3 harus mendapatkan nomor identifikasi dari USEPA. Dengan pengecualian ini.2 : Skema 3. penyimpan (storage) dan pemusnah/penyingkir (disposal) atau TSD. penyimpan. USEPA menyadari akan sulit menerapkannya. Perusahaan kecil dibatasi kemampuan finansial dan kapasitasnya untuk melaksanakan aturan RCRA secara ketat. selama pengangkutan sampai di tujuan. sebagian besar jenis limbah dari SQG dikeluarkan dari Subtitle-C. yang memungkinkan untuk pemanfaatkan dan pelacakan limbah berbahaya tersebut dalam mata rantai pengelolaan. Guna memungkinkan pelacakan dan pengelolaan sesuai dengan konsep Cradle-tograve. EPA pada tahun 1980 lebih lanjut mendefinisikan Small Quantity Generator (SQG) sebagai penghasil limbah berbahaya kurang dari 1000 kg per bulan. − Generator menyimpan kopi-6 dan mengirim kopi-5 ke USEPA serta memberikan copy yang lain ke transporter − Transporter selanjutnya menyimpan kopi-4. USEPA juga mengadopsi aturan-aturan yang telah lama digunakan oleh US Departement of Transportation (DOT). Oleh karenanya. dan menyerahkan copy yang lain pada perusahaan TSD (Treatment.2 : Konsep cradle-to-grave Amerika Serikat − Setiap generator mengisi format standar dalam 6 kopi.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − Pemilik/operator fasilitas pengolah(treatment). antara lain berisi : − Identifikasi limbah B3 − Penghasil limbah B3 − Pengangkut limbah B3 − Pemilik/operator fasilitas pengolah. Storage & Disposal) Enri Damanhuri . Aturan RCRA selanjutnya dikodifikasi dalam Code of Federal Regulation (CFR) dengan sebutan Title 40 CFR. maka diciptakan mekanisme seperti Skema 3. pembuang limbah B3 − Daur ulang limbah B3 − Land disposal limbah B3 − Izin fasilitas TSD Generator adalah penghasil (creator) limbah berbahaya yang harus menganalisis limbah padatnya sesuai aturan RCRA Subtitle-C.

termasuk juga cara analisis limbah B3 dan sebagainya. Pengusaha yang ingin berkecimpung dalam usaha ini harus memasukkan permohonan yang mencakup rancangan sarananya. Karena DOT sudah lama menangani transportasi bahan berbahaya. tidak terjangkau oleh EPA. generator harus menghubungi transporter atau TSD untuk menentukan status dari limbah tersebut.FTSL ITB Halaman 33 . atau setiap proses yang mampu melakukan pengurangan volume atau mampu memanfaatkan kembali limbah tersebut. − Pernyataan bahwa sarana TSD yang dipilih oleh generator adalah yang terbaik dalam meminimkan resiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. maka aktifitas tersebut dikomunikasikan pada masyarakat selama 45 hari. EPA dan generator dapat melacak perjalanan limbah B3 tersebut dari penimbul atau generator (cradle) ke titik penyingkiran/pemusnahan final (grave). Disamping itu generator harus melaporkan pada USEPA dengan menunjukkan tempat (lokasi) dimana limbah itu berada. ledakan. Salah satu isu penting terhadap lahan pengurugan (landfilling) yang tidak terkontrol secara baik adalah bagaimana mengidentifikasikan dan mengkuantifikasi resiko Enri Damanhuri . maka EPA hanya mampu mengatur pengelolaan limbah berbahaya yang masih aktif dan baru ditutup. Transporter harus memiliki nomor-identifikasi USEPA. Compensation and Liabilites Act (CERCLA). kalau tidak. Sebelum adanya Comprehensive Enviromental Respons. kopi-2 ke USEPA dan TSD menyimpan kopi-3. misalnya karena terjadinya kebocoran. kontaminasi terhadap rantai makanan atau pencemaran terhadap sumber-sumber air minum. Bila usulan tersebut disetujui (bisa memakan waktu sampai 3 tahun). yaitu : − Treatment (pengolahan) : setiap proses yang merubah karakteristik atau komposisi limbah berbahaya sehingga menjadi tidak berbahaya atau sedikit berbahaya. Setiap manifes isian tersebut berisi antara lain : − Pernyataan bahwa generator telah menggunakan cara-cara terbaik guna mengurangi volume dan toksisitas limbah B3 nya. Rantai akhir dari sistem ini adalah TSD. Transporter harus mengangkut limbah tersebut sesuai dengan jumlah yang tercantum dalam manifes. yang melibatkan 3 kegiatan fungsional. Sarana yang sudah ditutup sebelum peraturan ini keluar. Dengan demikian. maka USEPA bekerja erat dengan DOT. − Storage (penyimpanan) : penyimpanan sementara limbah berbahaya sebelum diolah atau dimusnahkan atau didaur-ulang. dan tidak menerima limbah dari generator yang tanpa nomor tersebut. Transporter harus menyimpan kopi-4 dari manifes selama 3 tahun setelah limbah tersebut diterima oleh TSD.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − TSD kemudian mengirimkan kopi-1 kembali ke generator. CERCLA diperkuat oleh SARA yang mengatur pengumpulan dana melalui pajak khusus untuk menjamin terlaksananya pembersihan lingkungan. Oleh karenanya. Generator harus sudah menerima kopi-1 dalam kurun waktu 35 hari sejak limbah tersebut diterima oleh perusahaan pengangkut (transporter). CERCLA adalah berfungsi menangani "dosa masa lalu". maka USEPA mempunyai kewenangan untuk bertindak terutama bila berkaitan dengan pengaruh limbah B3 terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. terutama pada landfill limbah B3 yang tidak terkontrol. Dengan CERCLA. Transporter merupakan masa rantai yang sangat penting dalam sistem ini. − Disposal (pemusnahan/penyingkiran) : penyimpanan limbah berbahaya dengan cara yang dianggap aman dengan penimbunan dalam tanah.

: Hazardous waste identification and classification manual. yang merupakan pemecahan yang permanen dari masalah yang timbul. Van Nostrand Reinhold. Dalam kegiatan yang bersifat jangka panjang ini. termasuk pula penentuan kontribusi penanggung jawab atas masalah ini. atau kegiatan-kegiatan stabilisasi sementara lainnya.: Hazardous waste management. C.T.P. transporter.FTSL ITB Halaman 34 . pemilik/pengoperasi sarana TSD. Terdapat dua jenis tindakan dari USEPA. serta proporsi beban dana yang dipikulkan pada masing-masing pelaku. 1990 − Wentz. yaitu : a) Penyingkiran (pengangkutan kembali) substansi berbahaya dan pembersihan segera bagian-bagian lahan. kegiatan ini bersifat program jangka pendek.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. McGraw-Hill Book. sampai pemecahan final yang permanen diterapkan pada lahan tersebut . Referensi Utama: − Peraturan Pemerintah Nomor 18/1999: Pengelolaan Limbah B3 − Peraturan Pemerintah Nomor 85/1999: Amandemen PP18/99 − Wagner. 1989 Enri Damanhuri . yaitu generator. b) Kegiatan yang bersifat penyembuhan (remedial).A.

dapat digunakan. maka dokumen tersebut dilengkapi dengan salinan penyerahan limbah tersebut dari penghasil limbah.05/Bapedal/09/1995: tentang Simbol dan Label Limbah B3 2 DOKUMEN Bahan-bahan berbahaya tersebut bila akan diangkut ke tempat lain. dan menjadi standar baku secara universal. karena pengaturan B3 sudah dilaksanakan sejak lama. khususnya dalam menangani bahan kimia dan bahan bakar.02/Bapedal/09/1995: tentang Dokumen Limbah B3 c) Kep. yang kemudian diganti menjadi PP 18/99 dan PP 85/1999. yang antara lain terdiri dari: a) Bagian yang harus diisi oleh penghasil atau pengumpul limbah B3. harus dilengkapi dengan dokumen resmi. b) Bagian yang harus diisi oleh pengangkut limbah B3. − Tanggal penyerahan limbah − Tanda tangan pejabat penghasil atau pengumpul.Kepala Bapedal No.01/Bapedal/09/1995: tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3 b) Kep.Kepala Bapedal No. − Kuantitas (berat. antara lain berisi : − Nama dan alamat pengangkut limbah B3 − Tanggal pengangkutan limbah − Tanda tangan pejabat pengangkut limbah c) Bagian yang harus diisi oleh pengolah atau pengumpul atau pemanfaat limbah B3. Dalam Diktat ini juga diuraikan tata-cara yang berlaku di Indonesia dalam menanangani limbah B3 yang berasal dari beberapa regulasi yang dikeluarkan sebelum PP 74/2001 dikeluarkan.FTSL ITB Halaman 35 .Kepala Bapedal No. dengan format yang telah dibakukan dengan Keputusan Kepala Bapedal No. pengumpulan dan pengangkutan merupakan komponen-komponen teknik operasional pengelolaan limbah B3 seperti diatur dalam PP 19/1994 dan PP12/1995. keselamatan dan harta benda bila diangkut. volume dan sebagainya) − Kelas 'bahaya' dari bahan itu (hazard class). bahan berbahaya adalah setiap bahan yang dapat menimbulkan resiko terhadap kesehatan. maka aturan-aturan yang diberlakukan di USA. Menurut US Department of Transportation (USDOT). khususnya dalam mengatur transportasi bahan berbahaya yang diatur dalam Hazardous Materials Transportation Act. PENYIMPANAN DAN PENGANGKUTAN 1 UMUM Untuk memberikan gambaran tentang aspek penyimpanan sampai pengangkutan bahan berbahaya. Namun terlihat bahwa pengaturan limbah B3 terkesan lebih ketat dibandingkan pengaturan B3. yang merupakan legalitas kegiatan pengelolaan sehingga dokumen ini akan merupakan sarana/alat pengawasan dalam konsep cradle-to-grave. Penyimpanan. Dokumen ini dikenal pula sebagai shipping papers.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN IV PELABELAN. dilengkapi tanggal. Pada prinsipnya tidak ada perbedaan yang berarti dalam menyimpan dan mengangkut B3 atau limbah B3. Pengaturan teknis tentang aspek ini sejak tahun 1995 diatur dalam: a) Kep. antara lain berisi: − Nama dan alamat pengolah atau pengumpul atau pemanfaat limbah B3 Enri Damanhuri .02/Bapedal/09/1995. untuk menyatakan bahwa limbahnya telah sesuai dengan keterangan yang ditulis serta telah dikemas sesuai peraturan yang berlaku Bila pengisi dokumen adalah pengumpul yang berbeda dengan penghasil. antara lain berisi: − Nama dan alamat penghasil atau pengumpul limbah B3 yang menyerahkan limbah B3 − Nomor identifikasi (identification number) UN/NA − Kelompok kemasan (packing group).

FTSL ITB Halaman 36 .1: flammable gas (gas mudah terbakar) yaitu bahan berupa gas yang pada temperatur -20 °C dan tekanan 1 atmosfir akan terbakar bila bercampur dengan udara sekitar 13 % volume atau kurang − Divisi 2. Penghasil limbah B3 akan menerima kembali dokumen limbah B3 tersebut dari pengumpul atau pengolah selambatlambatnya 120 hari sejak limbah tersebut diangkut untuk dibawa ke pengumpul atau pengolah atau pemanfaat. Diharapkan Tim yang bertanggungjawab dalam menangani kecelakaan. 2 SIMBOL DAN LABEL Label Versi US-DOT: Guna keamanan dan memudahkan pengenalan secara cepat bahan berbahaya tersebut. Simbol atau label tersebut pada dasarnya dibagi berdasarkan kelas ‘bahaya’ dari limbah yang akan diangkut.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Tanda tangan pejabat pengolah. Simbol berbentuk bujur sangkar diputar 45 derajat sehingga membentuk belah ketupat. terbagi menjadi 3 divisi dengan nomor 4. untuk menyatakan bahwa limbah yang diterima sesuai dengan keterangan dari penghasil dan akan diproses sesuai peraturan yang berlaku d. disertai keterangan: − Jenis limbah dan jumlahnya − Alasan penolakan − Tanda tangan pejabat pengolah atau pemanfaat dan tanggal pengembalian − Surat-surat dokumentasi pengangkutan tersebut ditempatkan di kendaraan angkut sedemikian rupa sehingga cepat didapat dan tidak tercampur dengan surat-surat lain. c) Kelas-3: cairan mudah terbakar (flammable). pengumpul atau pemanfaaat. − Divisi 2.1 dan 2. Kriteria cairan yang mudah terbakar adalah setiap cairan dengan titik nyala (flash point) tidak lebih dari 60. dilengkapi tanggal.3 sesuai dengan sifat-sifatnya. Pada keempat sisi belah ketupat tersebut dibuat garis sejajar yang menyambung sehingga membentuk bidang belah ketupat dalam ukuran 95 persen dari ukuran belah ketupat bahan. yaitu : Enri Damanhuri . Nomor identifikasi mempunyai kode UN (United Nation) atau NA (North America) diikuti oleh 4 digit angka. sedangkan simbol pada kendaraan pengangkut tempat penyimpanan minimal 25 cm x 25 cm. secara cepat dapat mengidentifikasi sifat bahan berbahaya itu serta cara penanggulangannya. Sedang label merupakan penandaan pelengkap yang berfungsi memberikan informasi dasar mengenai kondisi kualitatif dan kuantitatif dari suatu bahan yang dikemas. d) Kelas-4: padatan mudah terbakar atau berbahaya bila lembab.2: nonflammable compressed gas yaitu setiap bahan atau campuran yang dikemas pada tabung gas dengan tekanan dan tidak termasuk ke dalam divisi 2. Terdapat 9 klasifikasi bahan berbahaya menurut versi USDOT yaitu: a) Kelas-1: bahan yang mudah meledak (explosive). Simbol yang dipasang pada kemasan minimal berukuran 10 cm x 10 cm. campuran atau peralatan. terbagi lagi menjadi 5 divisi dengan nomor 1.1 sampai 4. terbagi menjadi 3 divisi dengan nomor 2. yang penggunaannya adalah dengan memfungsikan ledakannya. yaitu: − Divisi 2. maka United States . pada bagian bawah simbol terdapat blok segilima dengan bagian atas mendatar dari sudut terlancip terhimpit dengan garis sudut bawah belah ketupat bagian dalam. Warna garis yang membentuk belah ketupat dalam sama dengan warna simbol. atau dianggap toksik pada manusia dengan adanya pengujian pada binatang di laboratorium dengan harga LC50< 5000 ppm. Definisi eksplosif menurut USDOT adalah setiap senyawa kimia. yang secara cepat akan dapat memberikan informasi bila terjadi kecelakaan.3 sesuai dengan sifatsifatnya. maka limbah tersebut dikembalikan lagi kepada penghasil.3: poisonous gas (gas beracun) yaitu bahan berupa gas yang pada temperatur 20 °C dengan tekanan 1 atmosfir akan merupakan bahan toksik pada manusia.5 sesuai dengan jenis akibat yang dapat ditimbulkan oleh eksplosif tersebut. Apabila limbah yang diterima ternyata tidak sesuai dan tidak memenuhi syarat.1 sampai 1.5 °C.1 sampai 2.Department of Transportation (US-DOT) digunakan tanda-tanda dalam bentuk simbul dan label. b) Kelas-2: gas.

merah (fbahaya terhadap kebakaran).1: flammable solid yaitu bahan padat. Disamping itu. tetapi belum termasuk dalam katagori kelas sebelumnya. Bahaya terhadap kesehatan: o 0 = minimal. artinya mempunyai karakter dapat menyebabkan iritasi.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Divisi 4. Bentuk belah ketupat yang dibagi empat. nitrat dan sebagainya yang dapat mengoksidasi materi organik. artinya tidak terdapat bahaya toksisitas o 1 = ringan. untuk mengindikasikan bahaya bahan kimia terhadap kesehatan. yang bila pada kondisi normal terjadi kecelakaan akan menyebabkan terbentuknya api akibat gesekan dan sebagainya.O . dan mungkin menyebabkan luka atau kerusakan kecuali dilakukan pengobatan o 3 = serius. dengan plakat warna putih dan simbol hitam. dan bahan menular baik berupa mikroorganisme atau toxin yang dapat mendatangkan penyakit pada manusia. Bahan radioaktif (termasuk kelas-7) menurut versi USDOT adalah setiap materi atau kombinasi materi yang secara spontan mengionisasi radiasi dengan aktivitas spesifik lebih besar dari 0. dan putih di bawah dengan simbol hitam. dengan warna masing-masing kotak berbeda. maka di Amerika Serikat the National Fire Protection Association (NFPA) mengembangkan pula label berwarna dengan kode. Untuk menujukkan derajad bahaya maka digunakan angka: o Setiap kotak diberi warna: biru (bahaya terhadap kesehatan). Radioactive yellow-II dan Radioactive yellow-III. seperti obat bius dan sebagainya. yaitu: − Bahan-bahan terlarang − Bahan-bahan eksplosif terlarang − Bahan-bahan dengan aturan lain. dengan kode ORM (other regulated materials) ORM-D: komuditas konsumer seperti hair spray ORM-E: lain-lain yang diatur oleh USDOT − Label Versi NFPA: Disamping US-DOT. dan/atau tidak berbahaya bila digunakan secara hati-hati dan bertanggung jawab o 2 = moderat. sedang peroksida organik adalah senyawa yang mengandung struktur . e) Kelas-5: pengoksidasi dan peroksida organik.O . Plakat Radioactive yellow-II dan Radioactive yellow-III berwarna kuning di atas.. Bahan korosif (kelas-8). dan reaktivitas.002 microcurie per-gram. terdapat bahan yang tidak termasuk dalam kelas tersebut (tertulis 'none'). baik cair atau padat. II atau III dengan warna merah. kuning (bahaya terhadap reaktivitas). Kelompok berikutnya adalah bahan beracun (di luar gas) yang diketahui toksik pada manusia. terbagi menjadi 2 divisi. terbagi menjadi 2 divisi.2: spontaneously combustible materials yaitu bahan yang bila pada kondisi normal terjadi kecelakaan secara spontan akan menjadi panas akibat berkontak dengan udara misalnya bahan yang termasuk pyrophoric. peroksida organik. sedang tulisan I. atau bila dibakar akan menyala segera dan cepat. f) Kelas-6: bahan racun dan menular. artinya mempunyai karakter yang dapat menyebabkan luka atau kerusakan pada paparan yang singkat walau dilakukan pengobatan. permanganat. dan/atau diketahui mempunyai efek karsinogen. g) Kelas-7: bahan radioaktif. − Divisi 4. artinya artinya mempunyai karakter yang dapat menyebabkan bahaya bila paparan berlanjut. menurut versi USDOT didefinisikan sebagai bahan yang dapat menyebabkan kerusakan visibel ke materi yang kontak dengannya. i) Kelas-9: lain-lain. Label dibutuhkan dipasang pada seluruh bahan kimia yang ada di sebuah laboratorium. maka label NFPA ini merupakan label yang perlu dipasang. bukan peledak. Oksidator adalah bahan kimia seperti khlorat. Kelompok lain-lain (kelas-9) adalah bahan yang yang dapat menyebabkan bahaya. tetapi hanya berakibat minor bahkan tanpa perawatan. Radioactive Yellow-III adalah dengan bahaya maksimum. flammabilitas. bila belum mencantumkan label yang sesuai. − Divisi 4. Radioactive white-I dengan bahaya minimum. mutagen atau teratogen pada binatang Enri Damanhuri .FTSL ITB Halaman 37 . Plakat yang digunakan berlabelkan Radioactive white-I. dan putih (bahaya khsusus) o Angka dan notasi yang terdapat pada masing-masing kotak adalah: a. h) Kelas-8: bahan korosif.3: dangerous when wet materials yaitu bahan yang secara spontan menyala atau memberikan gas bila berkontak dengan air.

atau terhadap kejutan mekanis pada temperatur tin gi. Bahaya spesial. 4: jenis bahaya flammabilitas = extreme 4: jenis bahaya terhadap kesehatan = ekstrim 4: jenis bahaya terhadap reaktivitas = ekstrim W: jenis bahaya yang spesifik = reaktif terhadap air Enri Damanhuri . artinya bahan yang stabil yang menjadi tidak stabil bila terpapar pada temperatur tekanan tinggi. dan/atau akan bereaksi dengan keras bila terdapat air. dan/atau dapat membentuk ledakan yang terbakar dengan cepat di udara. o 1 = ringan. atau dapat menyimpan panas sebelum terjadi kebakaran. artinya bahan mudah terbakar yang mempunyai karakter menghasilkan uap yang mudah terbakar dalam kondisi biasa. yaitu: o Reaktif terahadap air (dengan kode: W) o Bahan oksidator (dengan kode: Ox) o Bahan radioaktif (dengan kode tanda radioaktif) o Bahan racun (dengan kode tanda racun) o Contoh: No. dan tidak reaktif terhadap air. o 2 = moderat.5 C selama 5 menit. Bahaya terhadap timbulnya kebakaran: o 0 = minimal. tidak terbakar di o udara bila terpapar pada 815. dan/atau mempunyai flash point di atas o o 22. bahan yang dapat meledak dan terdekomposisi secara keras pada temperatur dan tekanan normal. dan/atau mempunyai flash point di atas 37. dan/atau bahan padat yang menghasilkan uap mudah o o terbakar. dan/atau bahan yang sensitive terhadap panas. dan/atau siap terbakar dengan sendirinya akibat kandungan oksigen di dalamnya. artinya bahan yang dapat meledak namun membutuhkan penyulut yang kuat agar eterjadi. yang dapat menyebabkan kematian atau kerusakan dalam paparan yang sangat singkat. merupakan bahan yang sangat toksik. dan/atau bahan yang akan berobah kompisisi kimianya dengan melepaskan enersi yang dikandungnya pada temperatur dan tekanan normal. atau perlu terpapar pada temperatur tinggi agar kebakaran terjadi.FTSL ITB Halaman 38 . artinya tidak terbakar. merupakan bahan yang mudah terbakar dengan flash point di bawah o 22. tidak menyebabkan flash point. artinya bahan yang tidak stabil dan akan cepat berubah tetapi tidak menimbulkan ledakan.8 C. dan atau bahan yang dapat menghasilkan reaksi eksotermis dengan sendirinya bila berkontak dengan bahan tanpa atau adanya biasa biasa. tetapi di bawah 37. dan/atau bahan yang bereaksi dengan sendirinya dengan air tanpa membutuhkan panas terlebih dahulu.8 C tetapi lebih kecil dari 93. Bahaya terhadap adanya air (reaktif terhadap air): o 0 = minimal. dan/atau o mempunyai flash point di bawah 93.4 C o 2 = moderat.5 C selama 5 menit. dan dilakukan pengobatan b. artinya bahan yang stabil. artinya bahan tidak mudah terbakar yang mempunyai karakter dapat terbakar bila terpapar panas terlebih dahulu.8 C c.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 4 = ekstrim. dan/atau akan menghasilkan ledakan bila bercampur dengan air. o 1 = ringan. o 3 = serius. dan/atau bahan yang sensitive terhadap perubahan kejutan mekanis atau panas pada temperatur dan tekanan normal. artinya baru dapat terbakar bila dipanaskan terlebih dahulu. d. o 4 = ekstrim. dan/atau o akan terbakar di udara terbuka bila terpapar pada 815.4 C o 3 = serius.8 C o 4 = ekstrim.

dengan mencantumkan antara lain: nama dan alamat penghasil. − simbol padatan mudah terbakar: dasar simbol terdiri dari warna merah dan putih yang berjajar vertikal berselingan. bidang segitiga berwarna hitam. Menurut peraturan yang digunakan di Indonesia.FTSL ITB Halaman 39 . yang terdapat ditepi antara sudut atas dan sudut kiri belah ketupat bagian dalam. gambar simbol berupa tanda seru berwarna hitam terletak di sebelah bawah sudut atas garis belah ketupat bagian dalam. Di sebelah bawah gambar simbol terdapt tulisan “REAKTIF” berwarna hitam. Simbol berupa lingkaran hitam dengan asap berwarna hitam mengarah ke atas yang terletak pada suatu permukaan garis berwarna hitam. jumlah dan Enri Damanhuri . berdasarkan keputusan Kepala Bapedal No. serta blok segilima berwarna merah. o Simbol klasifikasi limbah B3 yang mudah terbakar : terdapat 2 (dua) macam simbol untuk klasifikasi limbah yang mudah terbakar. Blok segilima berwarna putih. Gambar simbol berupa lidah apai berwarna hitam yang menyala pada satu bidang berwarna hitam. dan tulisan “PERINGATAN !” dengan huruf yang lebih besar berwarna merahdiisi dengan huruf cetak dengan jelas terbaca dan tidak mudah terhapus serta dipasang pada setiap kemasan limbah B3 yang disimpan di tempat penyimpanan. yaitu simbol untuk cairan mudah terbakar dan padatan mudah terbakar: − simbol cairan mudah terbakar: bahan dasar merah. Pada bagian tengah terdapat tulisan “PADATAN” dan dibawahnya terdapat tulisan “MUDAH TERBAKAR” berwarna hitam. pada bagian tengah terdapat tulisan “INFEKSI” berwarna hitam. Simbol berupa tengkorak manusia dengan tulang bersilang berwarna hitam. dan disebelah kanan adalah gambar lengan yang terkena tetesan limbah korosif. o Simbol limbah B3 klasifikasi campuran: warna dasar bahan adalah putih dengan garis pembentuk belah ketupat bagian dalam berwarna hitam. Pada bagian tengah terdapat tulisan “MUDAH MELEDAK” berwarna hitam yang diapit oleh 2 garis sejajar berwarna hitam sehingga membentuk 2 buah bangun segitiga sama kaki pada bagian dalam belah ketupat. o Simbol klasifikasi limbah B3 korosif: belah ketupat terbagi pada garis horizontal menjadi dua bidang segitiga. Simbol berupa gambar berwarna hitam suatu materi limbah yang menunjukkan meledak. Gambar terletak di bawah sudut atas garis ketupat bagian dalam.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Label Versi KepBapedal 05/09/1995: Di Indonesia. Pada bagian atas yang berwarna putih terdapat 2 gambar. terdapat 3 jenis label yang berkaitan dengan sistem pengemasan limbah B3.. pada bagian bawah. Simbol infeksi berwarna hitam terletak di sebelah bawah sustu atas garis belah ketupat bagian dalam. Garis tepi simbol berwarna hitam.05/Bapedal/09/1995 terdapat delapan jenis simbol. Blok segilima berwarna kebalikan dari warna dasar simbol. o Simbol klasifikasi limbah B3 reaktif: bahan dasar berwarna kuning dengan blok segilima berwarna merah. Label identitas limbah berukuran minimum 15 cm x 20 cm atau lebih besar. gambar simbol berupa lidah api berwarna putih yang menyala pada suatu permukaan berwarna putih. identitas limbah serta kuantifikasi limbah dalam suatu kemasan limbah B3. Pada bagian tengah terdapat tulisan “ CAIRAN. dan dibawahnya terdapat blok segilima berwarna merah. Pada sebelah bawah gambar terdapt tulisan “BERACUN” berwarna hitam. o Simbol klasifikasi limbah B3 beracun: bahan dasar putih dengan blok segilima berwarna merah. yaitu (Gambar 1): o Simbol klasifikasi limbah B3 mudah meledak : warna dasar oranye. dengan warna dasar kuning dan tulisan serta garis tepi berwarna hitam. Pada bagian tengah bawah terdapat tuliasan “CAMPURAN” berwarna hitam serta blok segilima berwarna merah.” dan dibawahnya terdapat tulisan “MUDAH TERBAKAR” berwarna putih. terdapat tulisan “KOROSIF” berwarna putih. o Simbol klasifikasi limbah B3 menimbulkan infeksi: warna dasar bahan adalah putih dengan garis pembentuk belah ketupat bagian dalam berwarna hitam. yaitu disebelah kiri adalah gambar tetesan limbah korosif yang merusak pelat bahan berwarna hitam. yaitu: o Label identitas limbah: berfungsi untuk memberikan informasi tentang asal usul limbah.

drum fiber. aturan tata cara serta konstruksi dan penggunaan kontainer untuk bahan berbahaya harus ketat. Label dipasang dekat tutup kemasan dengan arah panah menunjukkan posisi penutup kemasan. hak milik dan lingkungan. Label harus dipasang pada kemasan bekas pengemasan limbah B3 yang telah dikosongkan dan atau akan digunakan untuk mengemas limbah B3. Gambar terdapat dalam frame hitam. Label untuk penandaan kemasan kosong : bentuk dasar label sama dengan bentuk dasar simbol dengan ukuran sisi minimal 10 x 10 cm2 dan tulisan “KOSONG” berwarna hitam ditengahnya. maupun kemasan yang akan digunakan untuk mengemas limbah B3. Label identitas dipasang pada kemasan di sebelah atas simbol dan harus terlihat dengan jelas. kotak kayu. Gambar 4. Kecelakaan limpahan bahan berbahaya yang sering terjadi adalah karena kecelakaan lalu-lintas yang umumnya akibat kesalahan manusia dan atau alat/perlengkapan yang kurang sempurna. Dengan demikian.1: Simbol Limbah B3 versi KepBapedal 05/09/1995 3 PENGEMASAN DAN PEWADAHAN Pengemas B3: Pengemasan (packaging) juga diatur dan perlu dicantumkan dalam surat pengangkutan. yaitu: − Kelompok I: derajat bahaya besar − Kelompok II: derajat bahaya sedang − Kelompok III: derajat bahaya kecil. Enri Damanhuri . Alat pengemas dapat berupa: drum baja. Label terbuat dari bahan yang tidak mudah rusak karena goresan atau akibat terkena limbah dan bahan kimia lainnya. Pengemasan yang baik mempunyai kriteria: − Bahan tersebut selama pengangkutan tidak terlepas ke luar − Keefektifannya tidak berkurang − Tidak terdapat kemungkinan pencampuran gas dan uap Terdapat 3 jenis kelompok pengemasan. terdiri dari 2 (dua) buah anak panah mengarah ke atas yang berdiri sejajar di atas balok hitam. Label harus terpasang kuat pada setiap kemasan limbah B3.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 o o jenis limbah serta tanggal pengisian. Kecelakaan akibat bahan berbahaya ini akan menimbulkan masalah serius bagi manusia. baik yang telah diisi limbah B3. Label penunjuk tutup kemasan: berukuran minimal 7 x 15 cm2 dengan warna dasar putih dan warna gambar hitam. Menjamin keselamatan transportasi bahan berbahaya merupakan aktivitas yang kompleks. botol gelas dan sebagainya.FTSL ITB Halaman 40 .

biasanya korosif dan dapat menimbulkan masalah pada kesehatan manusia dan lingkungan. No.botol gelas dimasukkan dalam peti-peti fiberboard. Bagi penghasil yang menghasilkan limbah B3 yang sama secara terus menerus. unloading. maka pengujian dapat dilakukan sekurang-kurangnya satu kali. Apabila dalam perkembangannya terjadi perubahan kegiatan yang diperkirakan mengakibatkan berubahnya karakteristik limbah yang dihasilkan. plastik. untuk disimpan sementara di dalam lokasi penghasil. pengemasan tersebut harus menjamin tidak terjadi reaksi kimiawi di dalamnya. Penghasil. Dibutuhkan inspeksi secara berkala. Drum baja 55 gallon (208 liter) merupakan kapasitas terbesar yang biasa digunakan. Bahan pengemasan yang digunakan adalah: fiberboard. ketentuan tentang pengemasan dan pewadahan limbah B3 diatur dalam Kep. misalnya botol. Ketentuan dalam bagian ini berlaku bagi kegiatan pengemasan dan pewadahan limbah B3 di fasilitas: a. Penghasil. Hampir setengah bahan berbahaya kemasan kecil ini diangkut melalui jalan darat serta sebagian lagi melalui udara. Kadangkala bahan berbahaya disimpan (diakumulasi) dalam drum atau kontainer. Enri Damanhuri . fiberglass dan logam. untuk disimpan sebelum dikirim ke pengolah.FTSL ITB Halaman 41 . Faktor kesalahan manusia pada pengemasan bahan berbahaya yang dikemas dalam kuantitas kecil relatif akan lebih tinggi. d. b. Banyak terjadi bahwa drum yang digunakan adalah drum bekas (walaupun kompatibel) untuk itu perlu diperhatikan efek jangka panjang dari drum tersebut. Pengolah. Pengumpul. Apabila ada keragu-raguan dengan karakteristik limbahnya. misalnya pengemasan yang tidak betul dan sebagainya. Kombinasi container sering digunakan. maka terhadap masing-masing limbah B3 hasil kegiatan perubahan tersebut harus dilakukan pengujian kembali terhadap karakteristiknya. Oleh karenanya kontainer yang digunakan dirancang untuk memudahkan loading. Drum yang biasa. yang dapat menimbulkan reaksi spontan (kenaikan panas atau ledakan) sehingga mengurangi keefektifan pengemasan. kayu. Kemasan komposit seperti drum-drum dari plastik berlapis baja kadang digunakan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 USDOT menggariskan bahwa kontainer yang digunakan untuk mengangkut bahan berbahaya dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga bila terjadi kecelakaan pada kondisi transportasi yang normal. Pengemas dan Pewadah Limbah B3 Versi Kep No.01/Bapedal/09/1995: Di Indonesia. Rancangan kontainer yang digunakan harus terkait dengan sistem transportasi terutama dimensi dan beratnya. dan bagaimana menggunakan ruang transportasi yang efisien. Ditinjau dari tonase. Oleh karenanya bahan berbahaya harus ditempatkan dalam drum dan kontainer yang kompatibel atau sesuai. c. Setiap penghasil/pengumpul limbah B3 harus dengan pasti mengetahui karakteristik bahaya dari setiap limbah B3 yang dihasilkan/dikumpulkan.01/Bapedal/09/1995. Beberapa temuan yang terdapat di USA adalah: − Ketidak tepatan dalam menayangkan label − Ketidak tepatan dalam mengelompokkan kontainer berbahaya − Kebocoran pada valve − Tidak tepat dalam mendeskripsikan bahan yang diangkut − Tidak tepat dalam pengisian shiping paper − Radiasi berlebihan di kabin truk. maka harus dilakukan pengujian. kaca. maka kemasan kecil di USA hanya merupakan sebagian kecil yang digunakan untuk menangani bahan berbahaya yang diangkut. Kemasan dari satu jenis bahan juga banyak digunakan. untuk disimpan sementara di luar lokasi penghasil tetapi tidak sebagai pengumpul. seperti drum baja atau silinder untuk gas terkompres. maka: − Tidak menimbulkan penyebaran bahan tersebut ke lingkungan sekitarnya − Keefektifan pengemasan tidak berkurang selama perjalanan − Tidak terjadi pencampuran gas atau uap dalam kemasan. sebelum dilakukan pengolahan dan atau penimbunan. Produk yang diproduksi dengan kuantitas kecil biasanya dikemas dalam kuantitas tersebut.

Gambar 4. Kemasan yang digunakan untuk pengemasan limbah dapat berupa drum/tong dengan volume 50 liter.2: Penyimpan limbah B3 cair (A) dan limbah sludge (B) Drum/tong atau bak kontainer yang telah berisi limbah B3 dan disimpan di tempat penyimpanan harus dilakukan pemeriksaan kondisi kemasan sekurang-kurangnya 1 (satu) minggu satu kali. Jika akan digunakan untuk menyimpan limbah B3 Enri Damanhuri . PP atau PVC) atau bahan logam (teflon. SS304. Kemasan yang akan dikosongkan apabila akan digunakan kembali untuk mengemas limbah B3 lain dengan karakteristik yang sama. pengaruh pemuaian. Untuk mempermudah pengisian limbah ke dalam kemasan. Kemasan bekas mengemas limbah B3 dapat digunakan kembali untuk mengemas limbah B3 yang mempunyai karakteristik sama (kompatibel) dengan limbah B3 sebelumnya. maka kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu sebelum dapat digunakan sebagai kemasan limbah B3 dengan memenuhi ketentuan butir 1 di atas. atau SS440) dengan syarat bahan kemasan yang dipergunakan tersebut tidak bereaksi dengan limbah B3 yang disimpannya. Untuk limbah yang mudah meledak. atau dapat pula berupa bak kontainer berpenutup dengan 3 3 3 kapasitas 2 M . atau dapat pula disimpan bersama-sama dengan limbah lain yang memiliki karakteristik yang sama atau saling cocok. Kemasan dapat terbuat dari bahan plastik (HPDE. maka isi limbah B3 tersebut harus segera dipindahkan ke dalam drum/tong yang baru. Limbah yang disimpan dalam satu kemasan adalah limbah yang sama. dan tumpahan limbah tersebut harus segera diangkat dan dibersihkan. pembentukan gas dan kenaikan tekanan selama penyimpanan. limbah dapat terlebih dahulu dikemas dalam kantong kemasan yang tahan terhadap sifat limbah sebelum kemudian dikemas dalam kemasan tersebut. Untuk limbah yang bereaksi sendiri sebaiknya tidak menyisakan ruang kosong dalam kemasan. serta agar lebih aman.FTSL ITB Halaman 42 . 4 M atau 8 M .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Bentuk. kemudian disimpan di tempat yang memenuhi persyaratan untuk penyimpanan limbah B3 serta mematuhi tata cara penyimpanannya. Pengisian limbah dalam satu kemasan harus mempertimbangkan karakteristik dan jenis limbah. ukuran dan bahan kemasan limbah B3 disesuaikan dengan karakteristik limbah B3 yang akan dikemasnya dengan mempertimbangkan segi kemanan dan kemudahan dalam penanganannya. Kemasan tersebut selalu dalam keadaan tertutup rapat dan hanya dapat dibuka jika akan dilakukan penambahan atau pengambilan limbah dari dalamnya. 100 liter atau 200 liter. Apabila diketahui ada kemasan yang mengalami kerusakan (karat atau bocor). kemasan dirancang tahan akan kenaikan tekanan. harus disimpan di tempat penyimpanan limbah B3. baja karbon. kemudian disimpan dalam kemasan limbah B3 terpisah. Kemasan yang telah diisi atau terisi penuh dengan limbah B3 harus ditandai dengan simbol dan label yang sesuai dengan ketentuan mengenai penandaan pada kemasan limbah B3. Gambar 2 berikut adalah contoh drum pengemas limbah B3. Jika akan digunakan untuk mengemas limbah B3 yang tidak saling cocok. SS316.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dengan karakteristik yang tidak saling sesuai dengan sebelumnya. monitoring dilakukan terhadap bahan konstruksi dan areal seputar sistem tangki termasuk struktur pengumpul sekunder untuk mendeteksi pengikisan atau tanda-tanda terlepasnya limbah misalnya bintik lembab. Untuk mencegah terlepasnya limbah B3 ke lingkungan. Laporan tersebut sekurang-kurangnya meliputi: – Rancang bangun dan peralatan penunjang sistem tangki yang akan dipasang. Selama masa konstruksi berlangsung. khususnya terhadap peralatan pengendalian luapan/tumpahan.FTSL ITB Halaman 43 . – Dilengkapi dengan sistem deteksi kebocoran yang dioperasikan 24 jam sehingga mampu mendeteksi kerusakan pada struktur tangki primer dan sekunder. Apabila tangki akan digunakan untuk menyimpan limbah sebelumnya. Persyaratan penampungan sekunder tersebut adalah: – Dibuat atau dilapisi dengan bahan yang saling cocok dengan limbah yang disimpan serta memiliki ketebalan dan kekuatan memadai untuk mencegah kerusakan akibat pengaruh tekanan. – Rencana penutupan sistem tangki setelah masa operasionalnya berakhir. maka harus dengan memperhitungkan dampak kegiatan di atasnya serta menerapkan rancang bangun atau kegiatan yang dapat melindungi sistem tangki terhadap potensi kerusakan. – Jika sistem tangki dan atau peralatan penunjangnya terbuat dari logam dan kemungkinan dapat terkontak dengan air dan atau tanah. dan lepasnya limbah B3 dari sistem penampungan sekunder. logam dan kemungkinan harus mencakup pengukuran potensi korosi yang disebabkan oleh faktor lingkungan serta daya tahan bahan tangki terhadap korosi tersebut – Perhitungan umur operasional tangki. Tidak digunakan untuk menyimpan limbah mudah menyala atau reaktif kecuali : – Limbah tersebut telah diolah atau dicampur terlebih dahulu sebelum/segera setelah ditempatkan di dalam tangki. tekanan atau uplift. maka harus dipastikan agar selama pemasangan tangki dan sistem penunjangnya telah diterapkan prosedur penanganan yang tepat untuk mencegah terjadinya kerusakan selama tahap konstruksi. Pemeriksaan rutin dilakukan sekurang-kurangnya 1 kali selama sistem tangki dioperasikan. – Karakteristik limbah B3 yang akan disimpan. kematian vegetasi. maka kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu dan disimpan dengan memasang “label KOSONG” sesuai dengan ketentuan penandaan kemasan limbah B3. Disamping itu. tangki wajib dilengkapi dengan penampung sekunder. – Penampungan sekunder. maka tangki harus terlebih dahulu dicuci bersih. dirancang untuk dapat menampung dan mengangkat cairan-cairan yang berasal dari kebocoran. ceceran dan presipitasi. Jika tangki dirancang untuk dibangun di dalam tanah. Sebelum melakukan pemasangan tangki penyimpanan limbah B3. sehingga olahan atau campuran limbah yang terbentuk tidak lagi berkarakteristik mudah menyala atau reaktif. – Ditempatkan pada pondasi yang dapat mendukung ketahanan tangki terhadap tekanan dari atas dan bawah dan mampu mencegah kerusakan yang diakibatkan karena pengisian. deteksi korosi atau lepasnya limbah dari tangki. Bentuk wadah berupa tangki biasa digunakan dalam pengemasan limbah B3. dan aman terhadap korosi sehingga tangki tidak mudah rusak. atau – Limbah disimpan atau diolah dengan suatu cara sehingga tercegah dari kondisi atau bahan yang menyebabkan munculnya sifat mudah menyala atau reaktif. Enri Damanhuri . Sistem tangki harus ditunjang kekuatan rangka yang memadai. terbuat dari bahan yang cocok dengan karakteristik limbah yang akan disimpan atau diolah. tanggul atau berdinding ganda. Penampung sekunder dapat berupa pelapisan di bagian luar tangki. Limbah-limbah yang tidak saling cocok tidak ditempatkan secara bersama-sama di dalam tangki. pemilik atau operator harus mengajukan permohonan rekomendasi kepada Kepala Bapedal dengan melampirkan laporan hasil evaluasi terhadap rancang bangun dan sistem tangki yang akan dipasang untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan. Tangki dan sistem penunjangnya harus terbuat dari bahan yang saling cocok dengan karakteristik dan jenis limbah B3 yang dikemas/disimpannya.

Persyaratan bangunan penyimpanan kemasan limbah B3 adalah (Gambar 6): o Memiliki rancang bangun dan luas ruang penyimpanan yang sesuai dengan jenis. Lebar gang antar blok minimal 60 cm untuk memudahkan petugas melaluinya. Enri Damanhuri . maka tumpukan maksimum adalah 3 lapis dengan tiap lapis dialasi palet. dan setiap palet mengalasi 4 drum. o Memiliki sistem penerangan (lampu/cahaya matahari) yang memadai untuk operasional atau inspeksi rutin. Jika tumpukan lebih dan 3 lapis atau kemasan terbuat dari plastik. kemiringan lantai diatur sedemikian rupa sehingga air hujan dapat mengalir menjauhi bangunan penyimpanan. mencegah terjadinya perpindahan tumpahan ke tanah atau air permukaan. karakteristik dan jumlah limbah B3 yang dihasilkan/akan disimpan. serta mengangkat tumpahan yang terlanjur masuk ke tanah atau air permukaan. sedang lebar gang untuk lalu lintas kendaraan pengangkut (forklift) disesuaikan dengan kelayakan pengoperasiannya. sehingga dapat dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap setiap kemasan. Lantai bagian dalam dibuat melandai kearah bak penampungan dengan kemiringan maksimum 1%. Penempatan kemasan diatur agar tidak ada kemungkinan bagi limbah-limbah tersebut jika terguling/tumpah akan tercampur/masuk ke dalam bak penampungan bagian penyimpanan lain. dan tidak dalam bagian penyimpanan yang sama. Kemasan-kemasan berisi limbah B3 yang tidak saling cocok harus disimpan secara terpisah. o Bak penampung harus kedap air dan mampu menampung cairan minimal 110% dan kapasitas maksimum volume tangki o Tangki harus diatur sedemikian rupa sehingga bila terguling akan terjadi di daerah tanggul dan tidak akan menimpa tangki lain.01/Bapedal/09/1995 dibuat dengan sistem blok. Setiap blok terdiri atas 2 (dua) x 2 (dua) kemasan (Gambar 3). o Terlindung dari masuknya air hujan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada bagian luar bangunan.FTSL ITB Halaman 44 . kuat dan tidak retak. o Dilengkapi dengan sistem penangkal petir. tidak dalam satu blok. sakelar harus terpasang di sisi luar bangunan. maka harus dipergunakan rak (Gambar 4). Jika menggunakan lampu. maka harus segera melakukan: – Penghentian operasional sistem tangki dan mencegah aliran limbah. Jika kemasan berupa drum logam (isi 200 liter). Jarak tumpukan kemasan tertinggi dan jarak blok kemasan terluar terhadap atap dan dinding bangunan penyimpanan tidak boleh kurang dari 1 m. maka lampu penerangan harus dipasang minimal 1 meter di atas kemasan. 4 PENYIMPANAN DAN PENGUMPULAN Penyimpanan kemasan menurut Keputusan Bapedal No. – Memindahkan limbah B3 dari sistem tangki atau sistem penampungan sekunder – Mewadahi limbah yang terlepas ke lingkungan. o Dibuat tanpa plafon dan memiliki sistem ventilasi udara yang memadai untuk mencegah terjadinya akumulasi gas di dalam ruang penyimpanan. Penumpukan kemasan harus mempertimbangkan kestabilan tumpukan kemasan. o Tangki harus terlindung dari penyinaran matahari dan masuknya air hujan secara langsung. Penyimpanan limbah cair dalam jumlah besar disarankan menggunakan tangki (Gambar 5) dengan ketentuan sebagai berikut: o Disekitar tangki harus dibuat tanggul dengan dilengkapi saluran pembuangan yang menuju bak penampung. serta memasang kasa atau bahan lain untuk mencegah masuknya burung atau binatang kecil lainnya ke dalam ruang penyimpanan. – Membuat catatan dan laporan mengenai kecelakaan dan penanggulangan yang telah dilakukan. Dengan demikian jika terdapat kerusakan kecelakaan dapat segera ditangani.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Bila sistem tangki atau sistem tangki pengumpul sekunder mengalami kebocoran atau gangguan yang menyebabkan limbah terlepas. o Lantai bangunan penyimpanan harus kedap air. tidak bergelombang. o Pada bagian luar tempat penyimpanan diberi penandaan (simbol) sesuai dengan tata cara yang berlaku.

FTSL ITB Halaman 45 .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4.4: Pola penyimpanan kemasan drum dalam rak Enri Damanhuri .3: Pola penyimpanan kemasan drum Gambar 4.

atau limbahlimbah B3 yang saling cocok. o Sistem dan ukuran saluran yang ada dibuat sebanding dengan kapasitas maksimum limbah B3 yang tersimpan sehingga cairan yang masuk ke dalamnya dapat mengalir dengan lancar ke tempat penampungan yang telah disediakan. pintu darurat. pembangkit listrik cadangan. dan alarm. Enri Damanhuri . mempunyai beberapa persyaratan: o Terdiri dari beberapa bagian penyimpanan. dengan ketentuan bahwa setiap bagian penyimpanan hanya diperuntukkan menyimpan 1 karakteristik limbah B3. pagar pengaman. peralatan komunikasi.FTSL ITB Halaman 46 . gudang tempat penyimpanan peralatan dan perlengkapan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4. o Setiap bagian penyimpanan harus mempunyai bak penampung tumpahan limbah dengan kapasitas yang memadai. o Antara bagian penyimpanan satu dengan lainnya dibuat tanggul atau tembok pemisah untuk menghindarkan tercampurnya atau masuknya tumpahan limbah ke bagian lainnya.5: Tangki penyimpanan limbah B3 jumlah besar Gambar 4. fasilitas pertolongan pertama.6: Contoh tata letak penyimpanan limbah B3 Tempat penyimpanan yang digunakan untuk menyimpan lebih dari 1 karakteristik limbah B3. o Sarana lain yang harus tersedia adalah: peralatan dan sistem pemadam kebakaran.

o Konstruksi atap. o Jarak terdekat yang diperkenankan adalah (a) 150 meter dari jalan utama atau jalan tol. korosif dan beracun: o Konstruksi dinding dibuat mudah dilepas guna memudahkan pengamanan limbah dalam keadaan darurat. perdagangan. Enri Damanhuri . pelayanan kesehatan atau kegiatan sosial.FTSL ITB Halaman 47 . Rancang bangun khusus untuk penyimpan limbah B3 reaktif. o Suhu dalam ruangan harus tetap dalam kondisi normal. dan mudah hancur bila ada kebakaran. (b) 50 meter dari jalan lainnya. o Area secara geologis merupakan daerah bebas banjir tahunan. Konstruksi lantai dan dinding dibuat lebih kuat dari konstruksi atap. garis pasang tertinggi laut. fasilitas pencucian peralatan. sehingga bila terjadi ledakan yang sangat kuat akan mengarah ke atas dan tidak ke samping. fasilitas bongkar muat dan fasilitas lain seperti diuraikan di atas. o Pintu darurat dibuat tidak pada tembok tahan api. bangunan tempat penyimpanan bak kontainer dan bangunan tempat penyimpanan tangki: o Merupakan daerah bebas banjir. (c) 300 meter dari fasilitas umum seperti daerah pemukiman. hidran pemadam api dan perlindungan terhadap hidran. maka beberapa persyaratan adalah: o Luas tanah termasuk untuk bangunan penyimpanan dan fasilitas lainnya sekurangkurangnya 1 (satu) hektar. (d) 300 meter dari perairan. Konstruksi atap dibuat ringan. (e) 300 meter dari daerah yang dilindungi seperti cagar alam. Rancang bangun untuk penyimpanan limbah B3 mudah meledak: o Konstruksi bangunan dibuat tahan ledakan dan kedap air. atau diupayakan aman dari kemungkinan terkena banjir.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Persyaratan bangunan penyimpanan limbah B3 mudah terbakar: o Jika bangunan berdampingan dengan gudang lain maka harus dibuat tembok pemisah tahan api. o Lokasi harus cukup jauh dari fasilitas umum dan ekosistem tertentu. kawasan suaka o Seperti halnya fasilitas penyimpanan yang telah diuraikan di atas. maka fasilitas pengumpulan merupakan fasilitas khusus yang harus dilengkapi dengan berbagai sarana untuk penunjang dan tata ruang yang tepat sehingga kegiatan pengumpulan dapat berlangsung dengan baik dan aman bagi lingkungan (gambar 7). maka jarak minimum dengan bangunan lain adalah 20 meter. sumber air . o Struktur pendukung atap terdiri dari bahan yang tidak mudah menyala. o Menggunakan instalasi yang tidak menyebabkan ledakan/percikan listrik o Dilengkapi dengan: sistem pendeteksi dan pemadam kebakaran. memiliki atap pelindung dengan lantai yang kedap air o Tangki dan daerah tanggul serta bak penampungannya terlindung dari penyinaran matahari secara langsung serta terhindar dari masuknya air hujan langsung maupun tidak langsung Lokasi bangunan tempat penyimpanan kemasan drum/tong. rumah sakit. hutan lindung. Persyaratan bangunan untuk penempatan tangki: o Tangki penyimpanan limbah B3 harus terletak di luar bangunan tempat penyimpanan limbah o Merupakan konstruksi tanpa dinding. o Jika bangunan dibuat terpisah dengan bangunan lain. Dalam hal limbah B3 dikumpulkan terlebih dahulu di sebuah tempat di luar lokasi penghasil limbah B3. o Beberapa fasilitas tambahan yang diperlukan adalah laboratorium analisa. sehingga asap dan panas akan mudah keluar. persediaan air untuk pemadam api. Desain bangunan sedemikian rupa sehingga cahaya matahari tidak langsung masuk ke ruang gudang. o Untuk kestabilan struktur pada tembok penahan api dianjurkan digunakan tiang-tiang beton bertulang yang tidak ditembusi oleh kabel listrik. berupa tembok beton bertulang (tebal minimum 15 cm) atau tembok bata merah (tebal minimum 23 cm) atau blok-blok (tidak berongga) tak bertulang (tebal minimum 30 cm). o Jarak minimum antara lokasi dengan fasilitas umum adalah 50 meter. dinding dan lantai harus tahan terhadap korosi dan api.

Kapasitas yang digunakan di USA adalah antara 4000 sampai 12000 gallon (15 sampai 50 m3). tank car.7: Contoh tata ruang pengumpulan limbah B3 6 PENGANGKUTAN Di Amerika Serikat.000 pound (107 ton). Kapasitas tank car ini dibatasi 34. Perbedaan utama dari rail tank car ini adalah ada Enri Damanhuri . darat (termasuk kereta api). Beban kendaraan biasanya dibatasi sampai 80. Sekitar 80 % dari pengangkutan bahan berkapasitas besar menggunakan tank car yang mempunyai masa layan 30 . Produk-produk berbahaya tersebut diangkut dengan berbagai container seperti : vessel.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4. cylinder.500 gallon (130 m3) dengan berat kotor 236. can.000 pound (36 ton). dan biasanya terbuat dari baja atau campuran alumunium atau dapat pula dari bahan lain seperti titanium. Cargo tank merupakan sarana yang biasa digunakan di darat. Dalam hal ini Research and Special Programs Administration (RSPA) dari USDOT mengeluarkan dan bertanggungjawab untuk mengembangkan aturan-aturan. Transportasi bahan berbahaya yang bervolume besar (bulky) dapat dilakukan melalui segala jenis angkutan. laut. aturan-aturan yang dikeluarkan oleh DOT telah meliputi lebih dari 30. acuan-acuan teknik yang standar serta pengujian untuk itu. box. drum. intermodal portable tank. Bahan-bahan ini diangkut melalui udara. botle dan cask. barrel. seperti melalui darat. nikel atau stainless steel.FTSL ITB Halaman 48 .000 jenis bahan berbahaya. kereta api atau laut.40 tahun. tank truck.

Prentice Hall Building.000-600. Respons terhadap bentuk kecelakaan itu harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan agar dapat menangani masalah yang timbul secara cepat dan tepat. Referensi Utama: o o o o o E.000 pound toluene diisocyanate (TDI) yang tergelincir dan menumpahkan sebagian isinya.000 gallon (1135-2270 3 m ) sedang tanker berkapasitas sampai 10 kali lebih besar.Kepala Bapedal 05/Bapedal/09/1995: tentang Simbol dan Label Limbah B3 http://www. NaOH. Sisanya adalah bahan kimia semacam asam sulfat. yang mencakup sekitar 91 %. pupuk. Setelah mereka kembali ke kendaraan yang hangat.Bapedal 01/Bapedal/09/1995: tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3 Kep. Cara ini relatif memungkinkan pengangkutan dengan kapasitas yang besar. alkohol. karena dapat mencelakakan manusia atau lingkungan yang tidak terlibat langsung dengan kecelakaan. TDI yang melekat pada sepatu dan baju menguap dan terhiruplah gas toksik. bahan berikutnya yang sering digunakan adalah alumunium. Meyer: Chemistry of Hazardous Materials. Demikian juga peralatan tim harus sesuai dengan kebutuhan/jenis bahan atau limbah yang diangkut. Bila terjadi kecelakaan lalu-lintas. Lebih dari 90 % (berat) dalam transport laut ini terdiri dari produk petroleum dan minyak mentah. dan dapat merusak paru. mengiritasi mata. Container bulky melalui air yang terbesar adalah dengan tanker dan tank-barges. demikian juga kegiatan penanganan korban akibat terpapar dengan bahan berbahaya akan tergantung apakah paramedis terkait telah mendapat pelatihan menangani korban semacam itu.paru. 1989 Kep. Pada saat truk dibalikkan. pemadam kebakaran dan sebagainya) akan tergantung pada apakah aparat tersebut terlatih untuk jenis kecelakaan itu. Tank-barges berkapasitas antara 300. toluene dan sebagainya.labelmaster. Sekitar 66 % (berat) bahan yang diangkut di USA adalah bahan kimia (sebagian korosif) sedang 23 % merupakan produk minyak (bahan bakar). cara ini adalah yang teraman. Peraturan-peraturan yang digunakan dalam transportasi hendaknya mengantisifasi kemungkinan timbulnya masalah ini. Hampir 90 % dari tank car ini terbuat dari baja. Aturan-aturan yang ada menyangkut kegiatan selama loading serta pelatihan bagi awak kapalnya. benzene.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 yang menggunkan tekanan (untuk gas) dan tanpa tekanan (untuk cair). TDI masuk de dalam sel jaringan. Kemungkinan kecelakaan yang mungkin terjadi di sektor transportasi ini perlu mendapat perhatian. baik dari jumlah kecelakaan maupun banyaknya limpahan dalam satuan ton-mile. maka respon aparat terkait (polisi.FTSL ITB Halaman 49 . mengkontaminasi daerah sekitarnya serta baju 2 orang petugas. Secara statistik. Kedua petugas tersebut mengalami gangguan pernafasan yang permanen dan tidak dapat lagi aktif bekerja. Sebagai contoh adalah kecelakaan lalu-lintas yang terjadi di USA pada bulan Desember 1981 yang menimpa sebuah truk pembawa 40. walaupun bila terjadi kecelakaan maka limpahannya akan menyebar secara luas.Kepala Bapedal 02/Bapedal/09/1995: tentang Dokumen Limbah B3 Kep. Penanganannya adalah truk tetap dipanaskan dan diisolasi agar TDI ini tetap dalam kondisi cair.com (1 Maret 2008) Enri Damanhuri . limpahan TDI ternyata terpapar pada tanah yang dingin.

Contoh materi ini adalah amonium nitrat dan benzoyl peroksida. tekanan atau kegiatan oksidasi atau kegiatan lain seperti aktivitas mikrobiologis. Senyawa-senyawa kimia sintetis inilah yang banyak dihasilkan oleh peradaban modern. Perdagangan bahan kimia dunia pada tahun 1991 mencapai nilai 1. misalnya pelarut (solvent) seperti benzene. terdapat 7 kelas bahan berbahaya. ethanol. c. seperti karbon monoksida dan hidrogen sianida. uap.000 jenis bahan kimia baru masuk ke perdagangan. misalnya uranium heksafluorida.000 jenis sebagai bahan aktif obat-obatan. Pemakaian bahan kimia di Indonesia (1991) sekitar 0. Ini ditunjukkan oleh hampir 11 juta jenis bahan kimia telah diidentifikasi pada tahun 1995.FTSL ITB Halaman 50 .000 jenis diantaranya digunakan sehari-hari. dan 2. dan hampir setiap tahun 1. Materi yang spontan terbakar (spontaneously ignitable material) : padat atau cair yang dapat menyala secara spontan tanpa sumber nyala. Dengan mengetahui komposisi dan memahami bagaimana perubahan terjadi. d. Contoh materi ini misalnya fosfor putih.46% dari nilai perdagangan dunia. Materi mudah terbakar (flammable material) : padat. Dari sekian banyak bahan kimia tersebut. cair. Materi radioaktif : dicirikan dengan transformasi yang berlangsung dalam inti atom.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN V SIFAT DAN KARAKTERISTIK BAHAN KIMIA BERBAHAYA 1 UMUM Penggunaan kimia dalam kebudayaan manusia sudah dimulai sejak zaman dahulu. yaitu : a.atau gas yang menyala dengan mudah dan terbakar secara cepat bila dipaparkan pada sumber nyala. 1. Kimia merupakan salah satu ilmu pengetahuan alam. Enri Damanhuri . Pengoksidasi (oxidizer) : Materi yang menghasilkan oksigen. biasanya karena adanya kejutan (shock). namun materi ini pulalah yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang berbahaya. panas.000 jenis. 40% berkaitan dengan petrokimia. Materi korosif : padat atau cair seperti asam kuat atau basa kuat. Bahan kimia yang telah digunakan dan diperdagangkan secara umum sekitar 63.500 jenis merupakan bahan aktif pestisida. misalnya karena perubahan panas. gas hidrogen dan metan. Materi toksik : racun yang dalam dosis kecil dapat membunuh atau mengganggu kesehatan. baik secara alamiah maupun sintetis. f. manusia dapat mengontrol dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan manusia. b. akan menghasilkan limbah berbahaya. yang berkaitan dengan komposisi materi. Penggunaan bahan-bahan kimia di dunia telah berkembang pesat.500 jenis digunakan sebagai bahan tambahan makanan. terutama dari kegiatan industi khususnya penggunaan bahan kimia. Proses penggunaan bahan yang berbahaya dalam kegiatan sehari-hari. atau mekanisme lainnya. debu aluminum. baru beberapa ratus jenis saja yang telah dievaluasi dampaknya tehadap kesehatan dan lingkungan. Secara konvensional. yang dapat membakar dan merusak jaringan kulit bila berkontak dengannya. e. yang sebagian besar merupakan bahan berbahaya. sekitar 4. baik dalam kondisi biasa atau bila terpapar dengan panas. Contoh materi ini misalnya dinamit dan trinitrotoluene (TNT). g.2 M US$. Peledak (explosive) : materi kimia ini dapat meledak. 50. baik yang terdapat di alam maupun yang dibuat oleh manusia. termasuk juga perubahan yang terjadi di dalamnya.

Jangan dipadamkan dengan air. Kebakaran kelas D: berasal dari bakaran logam-logam yang mempunyai sifat reaktif yang spesifik terhadap air atau uap air. 2 KELAS KEBAKARAN Kebakaran biasanya dikaitkan dengan kecelakaan yang dipicu dari adanya bahan berbahaya. atau busa meruapakan bahan yang cocok untuk memadamkannya. seperti dari stop-kontak. aluminum. ethyl ether. methanol. katon dan kertas. Kebakaran kelas C: berasal dari bakaran bahan yang terjadi karena sirkuit tenaga listrik. Reaksi yang terjadi akan berlangsung secara spontan. dan dapat dibagi menjadi 4 kelas. dry chemical extinguisher. Kebakaran jenis ini mudah dipadamkan oleh Halaman 51 o o o Enri Damanhuri . Bila larutan asam nitrat (oksidator) tercampur dengan tepung beras. magnesium. Karbon dioksida atau dry chemical extinguisher. Kebakaran bahan ini akan meninggalkan bara api dan abu. menyebabkan terjadinya swa-kebakaran. seperti LPG. hidrogen. Kadangkala secara tidak sengaja terjadi pencampuran antara 2 materi yang asalnya tidak berbahaya. atau o Panas akibat reaksi kimia yang terjadi akan dapat membakar bahan mudajh terbakar di sekitarnya. Interaksi bahan membentuk nyala atau bahan eksplosif: Bahan logam natrium akan dapat terbakar dengan sendirinya bila terdapat uap air yang berkontak dengannya. motor dan generator. Misalnya gudang penyimpan logam natrium terbakar. Beberapa ilustrasi di bawah ini akan menggambarkan hal tersebut: Interaksi bahan membentuk bahan toksik: Bila kita mencampur larutan asam yang banyak digunakan secara komersial untuk menghilangkan karat atau untuk membersihkan wastavel atau WC dengan pemutih cucian atau disinfektan yang digunakan dalam kolam renang. kerosen. menghasilkan gas klorin yang sangat toksik melalui pernafasan. sikring. yaitu: o Kebakaran kelas A: berasal dari bakaran berbahan dasar sellulosa. bahan-bahan sejenis baik alamiah maupun sintetis lainnya termasuk plastik dan karet. propane. Tubuh manusia mentolerir konsentrasi bahan ini dengan konsentrasi tidak lebih dari 1 ppm di udara.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Materi tersebut kadangkala menjadi lebih berbahaya bila berada dalam kondisi tercampur dengan bahan lain. zirconium. biasanya direkomnedasikan untuk memadamkannya. seperti kayu. dan natrium. seperti logam titanium. akan memungkinkan bahan tepung tersebut secara spontan akan terbakar. Bila api yang dipadamkan dilakukan dengan air. Air dapat digunakan untuk memadamkan jenis kebakaran ini Kebakaran kelas B: berasal dari bakaran gas bakar (flammable gases) atau cairan yang mudah terbakar (flammable and combustible liquids).FTSL ITB . karena reaksi yang terjadi akan menghasilkan gas hidrogen yang dapat terbakar tanpa adanya pemantik api. maka kebakaran akan tambah besar. Karbon dioksida. Pencampuran bahan berbahaya dapat menyebabkan: o Timbulnya bahan toksik o Timbulnya gas bakar yang dapat menimbulkan kebakaran atau ledakan. karena dihasilkan gas hidrogen. kabel listrik. Interaksi bahan membentuk panas: Bahan-bahan pengoksidasi adalah contoh bahan berbahaya yang siap bereaksi dengan bahan mudah terbakar.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

baham spesifik sejenis graphite atau natrium kloroida (garam dapur). Sangat berbahaya bila dipadamkan dengan menggunakan air. 3 INFORMASI TINGKAT BAHAYA Tingkat bahaya suatu bahan berbahaya harus diinformasikan secara jelas kepada pemakai, khususnya dalam lingkungan kerja dimana bahan tersebut digunakan, melalui 2 jalan: o Penggunaan label dan bentuk peringatan lainnya: setiap produsen atau importir bahan kimia harus memastikan bahwa setiap kontainer atau pengemas produk B3nya telah diberi label, papan-nama, atau tanda-tanda peringatan lain yang sesuai dengan jenis bahaya yang dikandung bahan tersebut, nama dan alamta produsen, importir atau penanggung jawab lainnya. Label dapat menggunakan simbol, gambar atau kata-kata lainnya. Lihat contoh dalam Gambar 4.1 o Informasi tentang Material Safety Data Sheets (MSDS): merupakan bulletin yang bersifat teknis yang mengandung informasi mendetail tentang bahaya dari bahan tersebut. Di Amerika Serikat, melalui OSHA, mewajibkan setiap produsen untuk menyiapkan MSDS ini bagi setiap produknya. MSDS ini harus disertakan pada setiap sampel atau pengiriman ke sebuah tujuan untuk pertama kalinya.

Gambar 5.1: Contoh label untuk HCl Bila mengacu kepada Occupational Safety and Health Act (OSHA) yang berlaku di Amerika Serikat, maka: a. MSDS harus dirancang sangat komprehensif dalam bentuk informasi tertulis untuk seluruh karyawan b. Informasi minimum yang dibutuhkan adalah: o Identitas produk seperti tercantum dalam container atau pengemasnya o Nama umum dan nama kimia seluruh komponen yang mempunyai konsentrasi >1%, yang diketahui berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan, dan
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 52

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

mempunyai konsentrasi ≥ 0,1% bagi bahan yang diketahui sebgai penyebab kanker o Bahaya fisik dan kesehatan, termasuk tanda-tanda dan simptom-nya bila terpapar o Alur masuk ke tubuh manusia, kulit, pernafasan, makanan atau minuman o Batasan paparan yang diketahui o Apakah termasuk penyebab kanker atau berpotensi-kanker o Prosedur handling dan penggunaan yang aman, penanggulangan tumpahan atau kebocoran o Prosedur pertolongan pertama bila terjadi kecelakaan o Tanggal penyiapan bahan o Nama, alamat dan nomor telepon perusahaan, atau yang bertanggung jawab yang mendistribusikan MSDS c. Training yang bersifat regular adalah kegiatan yang dianggap kritis, yang berbentuk program komunikasi, yang menginformasikan apa yang tercantum dalam label maupun dalam MSDS suatu bahan berbahaya. Penanggung jawab kegiatan harus melatih pekerjanya dalam hal bagaimana mengenali bahan-bahan berbahaya yang dapat teremisi atau terpapar dalam ruangan dimana mereka bekerja, misalnya dalam bentiuk timbiulnya bau yang spesifik, dan sekaligus melatih bagaimana memproteksi dirinya akibat bahan berbahaya tersebut. 4 DOKUMEN MATERIAL SAFETY DATA SHEETS (MSDS) Berikut ini adalah contoh MSDS yang dikeluarkan oleh sebuah produsen bahan kimia di Amerika Serikat untuk produk HCl yang dihasilkan: Informasi Umum (muncul di setiap lembar MSDS)
o o o J.T. Baker Chemical Co. 222 Red School Lane, Phillipsburg, N.J. 08865, 24-Hour Emergency Telephone (201)859-2151, Chemtrec # (800) 424-9300, National Re4sponse Center # (800) 424-8802 H3880-02 Hydrochloric Acid Effective: 08/07/86 Issued: 10/19/87

Seksi I: Identifikasi Produk
o o o o o o o Nama produk: Hydrochloric acid Formula: HCl Formula Wt: 36, 46 Cas No: 7647-01-0 NIOSH/RTECS No: MW4025000 Sinonim Umum: Muriatic Acid; Chlorhydric Acid, Hydrochloride Kode produk: 9543, 9539, 9535, 9534, 9544, 9529, 9542, 4800, 9549, 9530, 9548, 9540, 5537, 9547, 9546, 9537, 5367

Precautionary Labelling: TM Baker SAF-T-DATA System: (dengan label kode gambar) o Kesehatan: Severe o Flammabilitas: None o Reactivitas: Moderate o Kontak: Severe o Laboratory protective equipment: goggles & shield, Lab coat & apron, vent hood, proper gloves o Precautionary label statements:

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 53

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

RACUN! BAHAYA! MENYEBABKAN LUKA BAKAR SERIUS MENJADI FATAL BILA TERTELAN ATAU TERHIRUP Jangan berkontak dengan mata, kulit, dan baju Jangan terhirup uapnya. Penyebab kerusakan pada sistem pernafasan (paru-paru), mata dan kulit. Simpan dalam container yang tertutup rapat. Buka dengan hati-hati. Gunakan ventilasi yang cukup. Cuci dengan cukup setelah penanganan. Bila terjadi tumpahan, netralisir dengan soda ash atau kapur dan tempatkan pada container kering.

Seksi II: Komponen Berbahaya
o o o o o o o o o o o o

Komponen: Hydrochloric Acid (23 Baume) %: 35-40 CAS No: 7647-01-0 Titik didih (boiling point): 110 C (230ºF) Tekanan uap (mmHg): N/A o o Titik leleh (melting point): -25 C (-13 F) Densitas uap (udara = 1): 1,3 Gravitasi spesifik (specific gravity H2O = 1): 1,19 Laju evaporasi (Butyl Acetate = 1): N/A Kelarutan (H2O): sempurna dalam seluruh proporsi % Volatil – volume: 100 Tampilan dan bau: jernih, tidak berwarna atau kuning muda, pungent, cairan berasap (fuming liuid)
o

o

Seksi III: Data Fisika

Seksi IV: Data Bahaya Kebakaran dan Ledakan
o o o o o Flash point: N/A NFPA 704M Rating: 3-0-0 Flammable limits: Upper – N/A % Lower – N/A % Media pemadam kebakaran: gunakan media pemadam kebakaran yang cocok untuk area sekitarnya Prosedur khusus pemadaman kebakaran: Anggota pemadam kebakaran harus m,engenakan perlengkapan perlindungan yang memadai, dengan perlengkapan pernafasan yang dioperasikan pada tekanan positif. Pindahkan kontainer dari lokasi kebakaran bila dapat dilakukan tanpa resiko. Gunakan air. Jangan masukkan air ke dalam kontainer. Bahaya kebakaran dan ledakan yang tidak biasa: dapat mengemisikan gas hidrogen bila berkontak dengan logam Gas toksik yang dihasilkan: hydrogen chlorida, gas hyrogen PEL dan TLV dalam daftar menandakan berada pada batas 3 Treshold Limit Value (TLV/TWA): 7 mg/m (5 ppm) 3 Permissible Exposure Limit (PEL) : 7 mg/m (5 ppm) Toksisitas : LD50 (oral-rabbit) (mg/kg) : 900 LD50 (ipr-mouse) (mg/kg) : 40 LD50 (inhl-rat-1H) (ppm) : 3124 Carcinogenicity NTP : No IARC : No Z List : No OSHA : No Pengaruh paparan yang berlebihan (overexposure) : Target organ : system pernafasan, mata, kulit Kondisi medis yang biasanya diperparah bila terpapar : tidak teridentifikasi Alur masuk: pencernaan, pernafasan, kontak kulitm kontak mata Darurat dan Pertolongan Pertama:

o o o o o o o

Sekis V: Data Bahaya Kesehatan

o o o o o

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 54

Enri Damanhuri . Dilarang disimpan berdekatan dengan bahan pengoksidasi TM Seksi VII: Prosedur Penanganan Tumpahan dan Disposal Seksi VIII: Perlengkapan Perlindungan o Seksi IX: Penyimpanan dan Penanganan o o Seksi X: Data transportasi dan Informasi Tambahan Domestik (DOT): o Nama pengapalan (proper shipping name): Hydrochloric acid o Kelas bahaya: bahan korosif (cair) o UN/NA: UN1789 o Label: Korosif o Kuantitas dilaporkan: 5000 Lbs Internasional (IMO) o Nama pengapalan (proper shipping name): Hydrochloric acid. Di atas konsentrasi tersebut. alkali.FTSL ITB Halaman 55 . propiolakton. Idsolasi dari bahan-bahan yang tidak kompatibel. formaldehid. asam sulfat. anhidrid asid. We reserve the right to revise Material Safety Data Sheets periodically as new information becomes available. It is the user’s responsibility to determine the suitability of this information for the adoption of necessary safety precautions. oksida logam. Simpan di area anti korosi. Pada konsentrasi di sampai dengan 100 ppm. asam klorosulfonik Produk dekomposisi: hidrogen klorida. alat bantu pernafasan disarankan untuk digunakan Perlindungan mata/kulit: Sarung tangan acid-resistant dan perlindungan muka (face shield). amine. vinil asetat. basa kuat. dan pindahkan dari area tersebut Bilas area tumpahan dengan air R R J. solution o Kelas bahaya (hazard class): 8 o UN/NA: UN1789 o Labels: Corrosive Info terakhir MSDS contoh di atas: The information Publisher in this MSDS has been compiled from our experience and data presented in various technical publications. klorin Gunakan alat masker pernafasan (self-contained breathing) dan baju pelindung Hentikan kebocoran bila dapat dilakukan tanpa resiko Berikan ventilasi pada area tersebut Netralisir tumpahan dengan abu soda atau kapur Dengan skop yang bersih. seragam. baju pelindung direkomendasi untuk digunakan SAF-T-DATA Storage Color Code: putih (korosif) Syarat khusus: Kontainer selalu tertutup rapat. karbonat. kalsium fosfida.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Seksi VI: Data Reaktivitas o o o o o o o o o o o o o o o o Stabilitas: stabil Bahaya polumerisasi: tidak akan terjadi Kondisi yang dihindari: panas dan kelembaban Tidak kompatibel: hampir semua logam. hidrogen. kering dan tutup. murkuri sulfat. tuang tumpahan dengan hati-hati ke dalam kontainer bersih. air. disarankan menggunakan masker chemical cartridge respirator dengan acid cartridge.T. Baker Neutraorb atau Penetralisir asam Neutrasol “Low Na” disarankan untuk digunakan untuk penanganan tumpahan Prosedur disposal: kubur atau timbun atau singkirkan sesuai dengan peraturan yang berlaku EPA Hazardous Waste Number: D002 (Coorosive Waste) Ventilasi: gunakan exhaust ventilation umum atau lokal untuk memenuhi standar TLV Perlindungan pernafasan: Masker pernafasan dibutuhkan bila konsentrasi di udara kerja melebihi TLV yang disyaratkan.

asam khlorida. asam fluorida.84 . Baker makes no warranty or representation about the accuracy or completeness nor fitness for purpose of the information contained herein. proses ini biasanya terjadi karena adanya oksigen di udara.gravitasi spesifik : 1. nyala dan ledakan. atau cairan yang mempunyai laju korosi yang kuat terhadap baja alumunium dengan kriteria : . Beberapa bahan yang termasuk dalam kelompok ini adalah asam sulfat. terjadinya bahan lain yang mudah terbakar atau terjadinya ledakan.33 % . COPYRIGHT 1987 J. Reaksi dehidrasi ini sangat kuat. Bentuk bahaya yang kedua dari bahan ini adalah sifatnya yang dapat mengekstrak air dari bahan yang berkontak dengannya. Korosi dapat pula disebabkan karena perusakan oleh bahan kimia (seperti asam atau basa kuat). akan terbentuk uap HCl yang merupakan bahan toksik bagi pernafasan. sehingga dapat menghancurkan sama sekali kertas dan tekstil. yang akan dibahas secara umum di bawah ini.titik beku : 10 o C . BAKER INC.bila diuji terhadap kelinci albino. yang menghasilkan oksida-oksida metalik. asam perkhlorit. Asam ini merupakan cairan yang tidak berwarna. Beberapa reaksi di bawah ini akan memperjelas mekanisme yang terjadi : Enri Damanhuri . 5 BAHAN KIMIA KOROSIF Biasanya pengertian korosi mengacu pada proses kimia yang mengakibatkan logam atau mineral dikonversi menjadi bahan yang berkarat. natrium hidroksida.T. dan sangat reaktif. Gula misalnya akan menjadi arang bila bercampur dengan asam ini. Oleh karenanya US Department of Transportation (USDOT) mendefinisikan bahan korosif sebagai : cairan atau padatan yang dapat menimbulkan kerusakan yang terlihat pada jaringan kulit manusia bila berkontak.bila sebuah cairan mempunyai laju korosi lebih besar dari 6. yang disertai akibat samping seperti timbulnya gas toksik. dengan densitas sekitar 2 kali air. dan dapat menimbulkan ledakan bila dicampur dengan bahan tertentu. akan menyebabkan terjadinya pendidihan lokal disertai percikan yang membahayakan. Asam Sulfat (H2SO4) Bahan ini banyak digunakan di industri.konsentrasinya dalam air : 98. Bahaya lain dari bahan ini adalah kemampuannya bereaksi dengan bahan lain. sehingga dianggap banyaknya konsumsi bahan ini di suatu negara dapat menggambarkan status ekonomi dari negara tersebut. Namun korosi sebetulnya tidak terbatas pada aktivitas oksigen terhadap sebuah logam. Bila ini dilakukan terbalik.T.FTSL ITB Halaman 56 . . asam fosfat.titik didih : 338 o C . kalium hidroksida. Bila asam sulfat bercampur dengan NaCl. juga terhadap jaringan kulit. maka struktur jaringan di lokasi kontak mengalami kerusakan atau tidak dapat pulih setelah pemaparan 4 jam atau kurang. seperti HclO4.25 mm per tahun terhadap baja atau alumunium standar pada temperatur pengujian 55 °C. baik terhadap logam dan mineral.sangat larut dalam air Asam ini akan membebaskan panas bila diencerkan (sekitar 20 kcal per mole).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 J. dapat menimbulkan sifat toksik. asam nitrat. Selalu diperhatikan bahwa pengenceran dilakukan dengan penuangan secara perlahan pada air yang teraduk perlahan. Beberapa sifat asam sulfat pekat adalah : . Bahan ini juga akan menimbulkan ledakan bila bercampur dengan asam lain.

Label bertuliskan 'korosif dan racun' dibutuhkan pada kontainer dan kendaraan yang mengangkutnya. Kerapatannya sekitar 1. Nitrogen dioksida dapat terbentuk bila asam nitrat pekat yang digunakan.konsentrasi dalam air : 68 . seperti reaksi di bawah ini : 5 Zn(s) + 12 HNO3(l) ⇒ 5 Zn(NO3)2(l) + 6 H2O(l) + N2(g) 3 Zn(s) + 8 HNO3(l) ⇒ 3 Zn(NO3)2(l) + 4 H2O(l) + 2 NO(g) Zn(s) + 4 HNO3(l) ⇒ Zn(NO3)2(l) + 2 H2O(l) + 2 NO2(g) 4 Zn(s) + 10 HNO3(l) ⇒4 Zn(NO3)2(l) + 5 H2O(l) + N2O(g) 4 Zn(s) + 10 HNO3(l) ⇒4 Zn(NO3)2(l) + 3 H2O(l) + NH4NO3(g) Umumnya hanya satu reaksi yang terjadi.gravitasi spesifik : 1. misalnya pada reaksi di bawah ini : Cu(s) + 2 H2SO4 (pekat) ⇒ CuSO4 (l) + SO2 (g) + 2 H2O(l) Pb(s) + 3 H2SO4 (pekat) ⇒ Pb(HSO4) 2 (s) + SO2 (g) + 2 H2O(l) Di lingkungan kerja. aturan di USA membatasi pemaparan maksimum terhadap manusia sebesar 1 mg/m3. Asam ini dibutuhkan untuk menghasilkan bahan peledak nitrogliserin dan trinitrotoluene (TNT).70 % .titik didih : 86 o C . atau nitrogen monoksida atau nitrogen dioksida atau dinitrogen monoksida atau ion amonium.titik beku : . Asam nitrat murni merupakan cairan yang tidak berwarna. sedang monoksida terbentuk bila asam nitrat encer yang digunakan.reaksi exotermis dengan gula : C12H22O11(s) ⇒ 12 C(s) + 11 H2O(g) .menghasilkan gas-gas racun dengan NaBr.menghasilkan produk yang mudah terbakar dengan ethyl alkohol : C2H5OH(l) ⇒ C2H4(g) + H2O(g) .5 . NI dan NaCN atau NaSCN : 2 NaBr(s) + 2 H2SO4(l) ⇒ Br2 (g) + SO2 (g) + Na2SO4 (l) + 2 H2O(l) SO2 dan Br2 adalah gas toksik Bahan ini juga tergolongkan sebagai oksidator.menimbulkan ledakan dengan asam perkhlorit : 2HClO4 (l) ⇒ Cl2O7(g) + H7O(g) .sangat larut dalam air Asam ini dapat merusak logam karena sifatnya sebagai oksidator kuat. Bila logam yang dijumpainya adalah berupa serbuk maka reaksi akan Enri Damanhuri .FTSL ITB Halaman 57 . digunakan misalnya dalam industri pupuk amonium-nitrat.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 .5 x air dan merupakan oksidator kuat.menghasilkan gas racun dengan asam oksalit : H2C2O4(s) ⇒ H2O(g) + CO(g) + CO2(g) . ClO2 bersifat toksik .42 o C . terutama pada kondisi panas. Asam Nitrat (HNO3) Asam nitrat merupakan cairan terpenting setelah H2SO4. Asam nitrat (pekat) direduksi menjadi nitrogen. Beberapa sifat dari bahan ini pada kondisi pekat antara lain adalah : . namun sering dijumpai dengan warna kuning sampai merah-kecoklatan tergantung dari kandungan nitrogen dioksida yang terlarut. senyawa-senyawa organik-bernitrat dan fiber sintetis. tergantung pada konsentrasi asam tersebut.menghasilkan ledakan dan gas toksik dengan NaClO3: NaClO3(s) + H2SO4 (l) ⇒ NaHSO4 (s) + HclO3(l) 3 HClO3(l) ⇒ HClO4 + 2 ClO4 + H2O .

konsentrasi dalam air : 72.titik beku : .115 °C .85 °C . Asam Perchlorit (HclO4) Bahan ini termasuk asam mineral yang penting dalam perindustrian. Oksidasi logam alumunium pada temperatur kamar tidak dapat terjadi bila konsentrasi asam nitrat lebih tinggi dari 80 %. atau untuk menghasilkan senyawa yang mengandung khlor seperti karet sintetis. Sedang logam khromium resistan terhadap asam ini. nitrobenzene. Klasifikasi bahaya dari bahan ini karena bersifat korosif dan toksik. Batas yang diperbolehkan di Amerika Serikat pada lingkungan kerja adalah 5 ppm.kelarutan dalam air : 85 g/100 g air. membentuk asap. terutama bila bahan ini dalam bentuk serbuk. ethyl alkohol. dan menyengat.FTSL ITB Halaman 58 . terutama pada kondisi panas.4 % . kayu) akan tebakar dengan sendirinya bila berkontak dengannya.titik didih : . Asam ini juga dapat merusak bahan non logam. Label yang disyaratkat pada kontainer dan pengangkutannya adalah 'korosif dan racun'. Asam ini.konsentrasi dalam air : 36 . minyak. Beberapa sifat (asam pekat) dari bahan ini adalah : . Asam Khlorida (HCl) Asam ini merupakan bahan kimia yang termasuk penting dalam kegiatan industri. Terhirupnya gas ini melalui pernafasan akan menyebakan degenerasi total sel pada bagian pernafasan. dan korosi pada besi tidak terjadi bila konsentrasi asam nitrat lebih tinggi dari 70 %.18 o C . Sifat-sifat asam khlorida pekat antara lain adalah : .gravitasi spesifik : 1. merupakan oksidator kuat khususnya terhadap senyawa organik. Bahan ini bukan termasuk oksidator.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 disertai ledakan. atau produk yang banyak digunakan di rumah tangga. seperti karbon dan sulfur.kelarutan dalam air : sangat larut Departemen Transportasi Amerika Serikat menentukan bahwa HClO4 dengan konsentrasi lebih kecil dari 50 % sebagai 'korosif'.70 . Asam ini juga akan mengkorosi jaringan tubuh bereaksi dengan protein membentuk xanthroproteic acid berwarna kuning.gravitasi spesifik : 1. dan kadangkala disertai ledakan dan merupakan sumber nyala.20 . Pengangkut dan kontainer yang digunakan mencantumkan label 'korosif. Kerapatan gasnya sekitar 1/5 lebih ringan dari udara. Pemaparan maksimum yang diizinkan di Amerika Serikat adalah 2 ppm. Materi sellulosa (seperti kertas. sedang antara 50-72 % sebagai 'oksidator' dan pengangkutan HClO4 dengan konsentrasi lebih besar dari 72 % tidak Enri Damanhuri . misalnya pada industri pelapisan logam. walaupun termasuk dalam kelompok asam kuat.titik beku : . oksidator dan racun'. misalnya pada industri kimia dan elektroplating.38 % . bahkan sama sekali merusaknya. Asam ini juga mengoksidasi senyawa-senyawa organik seperti aceton. misalnya pembersih WC.titik didih : 203 o C . Asam ini dapat menimbulkan swa-nyala bagi bahan sellulosa. Bahan ini merupakan cairan yang tidak berwarna.

Label yang dipersyaratkan adalah : 'korosif dan oksidator'.sangat larut dalam air. namun beberapa jam kemudian terjadilah penetrasi dalam kulit.FTSL ITB Halaman 59 . Batas pemaparan yang diizinkan di ruang kerja adalah 1 mg/m3. dapat mengkorosi bahan tetapi tidak sehebat asam-asam sebelumnya. larutan ini bereaksi dengan air secara keras.60 % . dan merupakan satu-satunya asam yang mengkorosi gelas. namun asam fosfat adalah yang paling umum digunakan dalam industri. seperti dalam industri pupuk.titik beku : 42 o C . Asam Fosfat (H3PO4) Unsur fosfor paling tidak mempunyai 8 jenis asam. Karena asam sulfat dapat menghidrasi asam perkhlorit. Campuran kalsium dihidrogen fosfat dan kalsium fosfat dikenal sebagai superfosfat.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 diperkenankan. Label untuk pengangkutan dan kontainer mencantumkan sebagai 'korosif'. banyak digunakan di industri Enri Damanhuri . atau dalam industri perminyakan untuk menghasilkan bahan bakar beroktan tinggi. Reaksi yang terjadi adalah : CaSiO3(s) + 6 HF(pekat) ⇒ CaF2(s) + SiF4(g) + 3 H2O(l) Asam fluorida merupakan asam lemah. yang merupakan pupuk sintetis yang penting.titik beku : .83 o C . Beberapa sifat dari asam ini dalam keadaan pekat adalah : .konsentrasi yang biasa dijumpai adalah : 48 . Beberapa sifatnya dalam kondisi pekat adalah : . larutan ini bersifat korosif pada bahan. maka botol kedua jenis asam ini tidak diperbolehkan diletakkan berdampingan.gravitasi spesifik : 1. Asam fosfat tidak berwarna dan tidak berbau. NaOH merupakan basa kuat. dan mengeluarkan panas.titik didih : 20 o C .konsentrasi dalam air : 85 % . baik digunakan secara langsung atau dicampur dengan H2SO4. misalnya dalam pembuatan chip dalam industri komputer. Asam Fluorida (HF) Penggunaan asam fluorida dalam industri adalah penting.gravitasi spesifik :1 . Disamping itu. mampu bereaksi dengan silikon dioksida (pasir) dan gelas membentuk silikon tetrafluorida. Aturan pengangkutan di Amerika Serikat adalah mensyaratkan label 'korosif dan toksik'. Natrium Hidroksida (NaOH) dan Kalium Hidroksida (KOH) Kelompok ini merupakan kelompok alkalin korosif yang paling penting dan dikenal sebagai caustic soda.titik didih : 260 o C . namun bentuk yang anhydrous dikenal sangat tidak stabil.69 . Cairan ini tidak berwarna. Asam ini dalam kondisi pekat lebih berbahaya bila kontak dengan kulit karena tidak mendatangkan sakit pada saat kontak. Asam perckhlorit adalah stabil.sangat larut dalam air.

natrium. dan dikenal dengan nama caustic potash. Beberapa sifat penting dari bahan ini adalah : . karena dapat : . kalium. misalnya untuk menangani penyumbatan pipa plambing. wadah yang digunakan sebaiknya bukan bahan gelas. Logam-logam alkali ini merupakan kelompok logam yang paling reaktif. 6 BAHAN KIMIA YANG REAKTIF PADA AIR Air dapat bereaksi dengan bahan berbahaya membentuk suatu produk yang dapat terbakar dengan sendirinya. sehingga bila bahan tersebut dibiarkan terbuka di udara lembab.gravitasi spesifik : 2. Kalium Hidroksida merupakan basa yang lebih kuat dibanding NaOH. Bahan ini reaktif dengan air dan menghasilkan panas 10 kcal per mole sehingga dapat memicu kebakaran. Beberapa bahan dikenal pula sebagai piroforik. bila terjadi kontak yang lama. sabun.titik didih : 1320 o C . dan dikenal sebagai basa yang korosif. toksik atau bersifat korosif. Salah satu karakteristik B3 adalah sifat reaktifnya. Oleh karenanya.bereaksi dengan air secara kuat. Logam-logam Alkali Beberapa jenis logam ini adalah lithium.5 °C. Disamping itu dikenal pula bahan yang higroskopik. natrium dan kalium. terutama dalam kondisi lembab akan menghasilkan gas H2 dengan resiko kebakaran yang tidak dapat Enri Damanhuri . .kelarutan dalam air : 107 gr/100 gr air. membentuk natrium silikat. uap atau asap toksik. produk ini juga digunakan di rumah tangga. dapat mengkorosi logam seperti alumunium. NaOH adalah berbentuk padat-putih. .04 . fotografi. Pada temperatur kamar. cesium. bahan ini dapat mengkorosi gelas.membentuk campuran yang eksplosif bila bercampur air. farmasi. kertas. tekstil. Reaksi yang terjadi umumnya seperti halnya NaOH.titik leleh : 360 o C . seng. tembaga dan jaringan kulit dan melarutkan lemak.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 seperti : petroleum. tetapi dengan bahaya yang lebih kecil. Sifatsifat fisiknya antara lain : . rubidium dan francium.gravitasi spesifik : 2.titik didih : 1390 o C .titik leleh : 315 o C . Proses yang menyebabkan air mendekomposisi suatu materi dikenal sebagai hidrolisis. Bahan ini umumnya digunakan pada industri pupuk.FTSL ITB Halaman 60 . menimbulkan ledakan. sabun dan sebagainya. yaitu bahan yang mampu untuk menyerap air di udara. seperti H2O4 dan NaOH.menghasilkan gas. namun yang paling sering digunakan adalah lithium. Batas pemaparan di ruang kerja adalah 2 mg/m3. yaitu bahan yang dapat terbakar secara spontan bila berada dalam keadaan udara kering atau lembab atau pada temperatur < 54.13 . Tetapi proses hidrolisis ini tidak selalu menimbulkan bahaya. Pengangkutan bahan ini di Amerika Serikat mensyaratkan penulisan label sebagai 'korosif'.kelarutan dalam air : 42 gr/100 gr H2O. Dalam uraian berikut ini dijelaskan secara umum kelompok bahan yang termasuk dalam katagori reaktif dalam air. maka wadahnya lama kelamaan akan penuh.

logam ini adalah yang paling reaktif.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dipadamkan dengan air.819 63.5 833 27.2 4680 Natrium 0. natrium dan kalim adalah seperti terlihat dalam tabel 4. seperti natrium peroksida. sehingga tidak berbahaya dibandingkan logam alkali lainnya. farmasi. Logam-logam lain Beberapa jenis logam lain yang mempunyai sifat reaktif terhadap air adalah magnesium. Dibandingkan dengan logam alkali yang lain. alumunium dan seng.972 97. Magnesium merupakan unsur ke delapan yang terbanyak dijumpai di dalam tanah dan lautan. berasap ungu dan membentuk kalium oksida. Logam ini termasuk logam yang ringan sehingga sering digunakan dalam industri pesawat terbang. agen pemutih. Beberapa sifat dari lithium. Sebagaian besar logam kalium digunakan untuk memproduksi logam campuran natrium-kalium sebagai penukar panas pada fluida.6 496 Lithium adalah logam yang lunak. Bahan ini digunakan dalam industri porselen. karena bersifat piroforik. TABEL 5. titanium. Kelompok ini bila dalam bentuk bubuk akan secara spontan meledak sehingga dapat menimbulkan resiko kebakaran. Bila permukaan logam ini diselimuti oleh oksida.2 1005 Kalium 0. Bila bereaksi dengan air akan menghasilkan reaksi : 2 Li(s) + 2 H2O(l) ⇒ 2 LiOH(l) + H2(g) Reaksi berlangsung lambat bila dibandingkan dengan reaksi alkali yang lain. berasap kuning dan membentuk natrium oksida sesuai dengan reaksi : 4 Na(s) + O2(g) ⇒ 2 Na2O(s) Kalium merupakan unsur ketujuh yang paling banyak dijumpai di dalam tanah dan lautan. distribusi atau dispersi partikel. merupakan unsur padat yang paling ringan dan dapat mengapung pada produk minyak bumi. Bila terpapar dengan udara pada temperatur kamar. Faktor lain yang mempengaruhinya adalah ukuran partikel. Oleh karena titik didihnya lebih tinggi dari air. sedangkan logam alkali lainnya akan meleleh.1 : Sifat fisika logam-logam alkali Kerapatan pada 20o C (g/ml) Titik leleh (° C) Titik didih (o C) Panas fusi (kcal/kg) Panas penguapan (kcal/kg) Lithium 0. kelembaban dan jumlah oksigen yang terserap. Kemurnian dari logam kelompok ini akan menentukan resiko tersebut di atas.7 760 14. dan merupakan logam alkali yang paling umum digunakan. Logam ini juga lunak. logam ini akan terbakar. keramik. tetapi biasanya dengan dry powder yang mengandung grafit. sebagai katalis dalam pembuatan karet sintetis. maka resiko tersebut dapat dikurangi. atau untuk pembuatan bagian-bagian mesin dan Enri Damanhuri . Bahan ini antara lain digunakan dalam produksi logam titanium.1. Pengangkutan bahan ini membutuhkan label yang menyatakan sebagai 'berbahaya bila lembab'. Natrium adalah unsur keenam yang paling banyak dijumpai dalam tanah dan lautan. sebagai bahan baku dalam pembuatan senyawa-senyawa yang mengandung natrium yang bersifat reaktif. maka bila bereaksi dengan air akan tetap sebagai padatan. Natrium dapat menyala secara spontan dalam udara bertemperatur kamar.FTSL ITB Halaman 61 . mobil.534 179 1317 103.

Oleh karena kombinasi keras dan ringan ini. seperti reaksi : 2 Mg(s) + O2(g) ⇒ 2 MgO(s) 3 Mg(s) + N2(g) ⇒ Mg3N2(s) Cahaya yang ditimbulkan oleh terbakarnya magnesium adalah putih terang. Seng juga digunakan untuk melindungi besi dari korosi (galvanis). Bila logam ini terbakar di udara. Dalam air. trimethylaluminum Al(CH3)3. dimethylcadmium Cd(CH3). tri(isobutyl) aluminum Al(C4H9)3. Seperti halnya magnesium.FTSL ITB Halaman 62 . atau sebagai pigmen dalam pembuatan cat. Asap dari magnesium oksida berbahaya bila terhisap karena bersifat reaktif terhadap lembab yang ada dalam saluran pernafasan dan membentuk magnesium hidroksida.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 sebagainya. Seperti halnya yang lain. Logam ini tahan terhadap sifat korosi air laut sehingga banyak digunakan dalam pembuatan kapal laut. Alumunium murni termasuk salah satu logam yang paling reaktif. beberapa diantaranya adalah : diethylzinc (C2H5)2Zn. hanya sekitar 75 % diantaranya yang bereaksi dengan oksigen untuk membentuk magnesium oksida. Bahan ini dapat dibentuk sebagai lembaran yang tipis dan banyak digunakan dalam kegiatan industri maupun non. terutama senyawa organometalik yang lain. Senyawa ini bersifat piroforik. Diethylzinc adalah organometalik yang biasanya digunakan dalam sintesa beberapa senyawa organik. Senyawa Organometalik Kelompok senyawa organometalik yang penting dalam industri adalah dalam bentuk atom-atom logam yang terikat secara langsung dengan atom-atom karbon. sedang sisanya akan membentuk magnesium nitrida. Aluminum (alumunium) merupakan bahan yang paling populer diantara bahan-bahan sebelumnya. Logam ini sekeras baja tetapi 45 % lebih ringan. Pengangkutan bahan ini membutuhkan label yang bertuliskan 'berbahaya bila lembab'. Seng termasuk yang sering digunakan dalam kegiatan non-industri. Alumunium lebih ringan dibanding titanium. Namun dengan terbentuknya alumunium oksida yang berada di permukaan akan melindungi logam ini dari reaksi kimia. sehingga dekenal sebagai senyawa-senyawa organometalik. Transportasi bubuk seng membutuhkan label 'berbahaya bila lembab'. karbon dioksida dan air. tetraethyllead (C2H5)5Pb. yang dapat membahayakan retina mata. membentuk seng oksida. Seperti halnya magnesium. maka bila serbuk alumunium diangkut maka dibutuhkan label sebagai 'berbahaya bila lembab'. yang dapat menimbulkan luka pada paru-paru. Campurannya dengan tembaga menghasilkan logam campuran yang dikenal sebagai kuningan. Senyawa ini biasanya digunakan sebagai katalis polimerisasi.industri. seperti reaksi : (C2H5)2Zn(l) + 7 O2(g) ⇒ ZnO(s) + 4 CO2 (g) + 5 H2O(g) Enri Damanhuri . Adanya lapisan inilah yang menyebabkan alumunium dianggap sebagai logam yang tidak berbahaya. Namun biaya untuk memproduksi logam ini adalah sangat tinggi sehingga membatasi penggunaannya. dan digunakan pula sebagai katalis dalam polimerisasi ethene. dan merupakan unsur ketiga terbanyak di perut bumi dan lautan. tetramethyltin Sn(CH3)4. senyawa ini akan bereaksi secara keras membentuk ethane. Tidak kurang dari 50 jenis senyawa organometalik tersedia secara komersial. maka logam ini banyak digunakan dalam industri pesawat terbang. dapat terbakar secara spontan di udara. logam ini reaktif terhadap air dan berisiko terhadap terjadinya ledakan dan kebakaran. logam ini termasuk yang mempunyai kerapatan kecil dibandingkan logam lainnya. Titanium merupakan elemen ke sepuluh yang paling banyak dijumpai di dalam tanah dan lautan. umumnya mengandung satu sampai sepuluh atom karbon pada setiap molekulnya.

seperti trimethylaluminum dan tri(isobutyl) aluminum. Berbeda dengan senyawa organometalik yang lain. aluminium tetrahidridoborate Al(BH4)3. Borane (BH3)pada tekanan atmosfer adalah tidak stabil. Molekular hidrida yang umum adalah air. akan dapat menyebabkan pembakaran spontan dan berasap hijau. hidrogen khlorida (HCl) dan sebagainya. Pemaparan maksimum Enri Damanhuri . atau kadangkala boron.senyawa yang mengandung atom alumunium yang terikat pada atom karbon. Paling tidak dikenal 14 jenis borane. termasuk kelembaban udara. Bila terjadi pembakaran. bereaksi secara keras dengan air dan sangat toksik.8 % (volume) di udara. umumnya tidak stabil pada temperatur kamar. tetrahidridoaluminate (LiAlH4). Beberapa jenis hidrida metalik ini antara lain adalah lithium atau natrium hidrida (LiH). Diborane ini termasuk gas yang mudah terbakar. terhisap atau kontak melalui kulit. transportasi bahan ini membutuhkan label bertuliskan 'racun'. Kelompok organometalik yang juga penting dalam industri adalah senyawa. Hidrida-hidrida Metalik Kelompok hidrida-hidrida metalik yang paling banyak digunakan secara komersial adalah yang tersusun dari atom hidrogen. sangat toksik dan bila terbakar akan terbentuk oksida boron. Satu. dan berubah menjadi diborane (B2H6).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 (C2H5)2Zn(l) + 2H2O(l) ⇒ Zn(OH)2(s) + C2H6(g) Tata cara pengangkutan di Amerika Serikat mensyaratkan label 'bahan bakar spontan'. disertai dengan berat molekulnya yang rendah.satunya yang bukan termasuk piroforik. yang ditambahkan pada bahan bakar kendaraan bermotor. serta lithium dan natrium borohidrida sebagai 'berbahaya bila lembab. akan menghasilkan gas H2 dan mudah terbakar. lithium atau natrium borohidrida. namun bila bereaksi dengan air. Seluruh senyawa kelompok ini merupakan senyawa yang piroforik. yang digunakan terutama untuk katalis polimerisasi. akan dihasilkan cemaran timbal di udara.075 mg/m3. amonia (NH3). Senyawa ini relatif stabil. Diantara bahan organometalik yang mungkin paling terkenal adalah tetraethyllead yang digunakan dalam mengurangi ketuk (knock). merupakan senyawa yang reaktif terhadap air. Oleh karenanya. Dengan sifat panas pembakarannya yang tinggi (527 kcal/mol). Contoh lain adalah hidrogen sulfida (H2S). sehingga sangat tidak dianjurkan untuk digunakan. Disamping itu. Dengan konsentrasi diborane sebesar 0. lithium aluminium hidrida (LiAlH4). Kelompok ini juga bereaksi secara hebat dengan bahan odsidator. Maksimum pemaparan di ruang kerja adalah 0. senyawa ini merupakan satu. dikenal sebagai senyawa aluminum alkyl. menyebabkan diborane digunakan sebagai bahan bakar roket. Departemen Transportasi Amerika Serikat mengatur secara khusus pengangkutan lithium dan natrium hidrida .FTSL ITB Halaman 63 . serta tidak reaktif terhadap air. Hidrida-hidrida ini akan terdekomposisi menjadi boron dan hidrogen pada temperatur di atas 300 o C. Borane Senyawa-senyawa hidrogen dengan satu atau lebih unsur non-metal dikenal sebagai hidrida-hidrida molekular. diborane tergolong toksik. karena berada sebagai satuan molekular. atau logam alkali atau alumunium. Molekular hidrida dari boron disebut borane. methane (CH4).satunya karakteristik bahaya yang menyertainya adalah sifat toksik dari cairan atau uapnya bila terhirup. Senyawa ini biasanya digunakan dalam industri sebagai pereduksi.

FTSL ITB Halaman 64 .Bersifat akut : kerusakan yang terjadi biasanya akibat sejenis bahan dengan pemaparan singkat. Bila kalsium karbida bereaksi dengan air. Sebagai contoh. antimoni pentakhlorida (SbCl5) yang bersifat korosif. diperlukan juga label 'racun'. Karbida. Barium peroksida disamping membutuhkan label 'oksidator'.dikenal sebagai karbida. Senyawa ini tidak terbakar. terutama natrium peroksida dan barium peroksida. Pengaruh racun dapat diklasifikasikan berdasarkan waktu yang dibutuhkan terjadinya penyakit atau gangguan. Hidrogen khlorida adalah toksik. kulit dan pernafasan. Senyawa-senyawa yang mengandung khlor dengan metalik dan atau non-metalik merupakan substansi yang reaktif terhadap air. karena bereaksi secara keras dengan air. boron trikhlorida (BCl3)menguap pada 18oC dan bersifat toksik. gas iritan dan bila berbentuk larutan akan bersifat korosif. Untuk menghindari bahaya kebakaran atau ledakan.atau C34.1 ppm. menghasilkan hidrogen khlorida. Beberapa jenis senyawa ini adalah : alumunium khlorida (AlCl3) yang bersifat korosif. yang juga reaktif terhadap air. fosforus oksikhlorida (POCl3) yang bersifat korosif dan toksik. Peroksida metalik yang penting dalam industri adalah yang tersusun dari logam alkali dan alkali tanah. yaitu : . Fosfida dan Khlorida Metalik Senyawa-senyawa yang tersusun antara logam dengan ion peroksida (O2=) dikenal sebagai peroksida metalik. Senyawa ini tergolong berbahaya. Enri Damanhuri . yang umumnya berbahaya karena bersifat sebagai oksidator disamping reaktif terhadap air. bisa saja keterpaparan ini terjadi secara berulang-ulang sampai menimbulkan kerusakan. bila merkuri terserap oleh kulit maka akan dapat merusak ginjal atau pusat sistem syaraf. Bila kalsium fosfida bereaksi dengan air. seperti kalsium karbida CaC2 yang digunakan dalam industri sebagai sumber acetylene dan pupuk kalsium cyanamida. yang mengakibatkan efek sistemis.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dalam ruangan kerja adalah hanya 0. seperti terhisapnya gas HCl beberapa detik yang akan menyebabkan kerusakan langsung pada paru-paru. C4. akan terbentuk gas bakar fosfine. gas acetylene (C2H2) akan terbentuk sesuai dengan reaksi : CaC2 (s) + 2 H2O(l) ⇒ Ca(OH)2(s) + C2H2 (g) Gas acetylene inilah yang berfungsi sebagai bahan bakar pada saat digunakan dalam pengelasan. Bila sebuah substansi bersifat toksik. seperti reaksi di bawah ini : Ca3P2(s) + 6 H2O(l) ⇒ 3 Ca(OH)2(s) + 2 PH3(g) Gas fosfine juga bersifat toksik. Peroksida. Contoh fosfida metalik adalah kalsium fosfida. yang paling penting adalah melalui : mulut. namun dapat menimbulkan api. dan senyawa yang mengandung logam dengan ion-ion karbida dikenal sebagai karbida-karbida metalik. Transportasi bahan ini membutuhkan label 'gas beracun dan mudah terbakar'. 7 BAHAN-BAHAN KIMIA TOKSIK Terdapat berbagai cara agar sebuah bahan/substansi masuk ke dalam tubuh manusia. maka kalsium karbida harus dijaga agar tetap kering dan bebas dari lembab udara. dia dapat merusak jaringan di lokasi kontaknya (efek lokal) atau berpengaruh negatif dengan jalan lain. Ion-ion karbon dalam bentuk C22-.

maka digunakan penelitian terhadap binatang percobaan. dengan satuan mg bahan per kg berat binatang.0 5.Bersifat laten : suatu pengaruh atau keadaan sakit yang baru berkembang setelah masa inkubasi terlampaui. misalnya benzene akan mengakibatkan aplastic anemia setelah sekitar 10 tahun sejak pertama kali terjadinya pemaparan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 .0 100. yang mengatur beberapa cemaran logam toksik dan pestisida. untuk melihat pengaruh suatu substansi pada manusia. biasanya dilakukan percobaan melalui binatang. Dalam toksikologi. yang dapat mematikan 50 % binatang percobaan. yaitu dengan EP-toxicity (extraction-procedure toxicity). Cara ini biasanya cocok untuk toksik yang bersifat akut. . hidrogen.2 Enri Damanhuri .Asphyxiant : substansi kimia yang menyebabkan kehilangan kesadaran karena kurangnya oksigen dalam darah. karbon monoksida. Oleh karenanya bila substansi tersebut menyebabkan kanker pada binatang dan belum terbukti pada manusia. Sebuah substansi yang masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan dapat berakibat sebagai : . misalnya nitrogen. dengan memberikan batasan konsentrasi maksimum cemaran yang diuji sesuai dengan protokol penelitian. TABEL 5.FTSL ITB Halaman 65 .Immediately dangerous to life and health (IDLH) : merupakan konsentrasi maksimum suatu substansi yang memungkinkan manusia menghindar dalam 30 menit tanpa masalah pada kesehatannya. Konsentrasi maksimum tersebut adalah seperti terlihat dalam tabel 2. dan akan menjadi human carcinogen bila memang terbukti dapat menyebabkan kanker pada manusia.paru.rata di ruang kerja yang dapat diterima oleh sebagian besar pekerja selama 40 jam per minggu atau 8 jam per hari tanpa menimbulkan gangguan.0 5.Lethal concentration-50 (LC50) : konsentrasi bahan. . Untuk mengkuantifikasi toksisitas akut.0 0. misalnya timbulnya kanker liver angiosarcoma yang muncul beberapa tahun setelah menghirup vinyl khlorida.2. dalam satuan ppm (volume). Untuk toksik yang bersifat kronis atau laten.Threshold limit value (TLV) : limit teratas dari sebuah konsentrasi toxin yang tidak menimbulkan pengaruh kesehatan pada manusia yang terpapar secara rutin.Time weighted average threshold limit value (TWA-TLV) : konsentrasi rata.Lethal dose-50 (LD50) : konsentrasi bahan. percobaan melalui binatang tidak selalu relevan karena faal manusia dan binatang tidak selalu sama. misalnya hidrogen khlorida yang merupakan bahan korosif. . .Irritant : substansi kimia yang melukai jaringan sistem pernafasan dan paru. yang menyebabkan kematian binatang penelitian sebanyak 50 % . . USEPA menggunakan tolak ukur yang bersifat praktis.limbah B-3 D004 D005 D006 D007 D008 D009 Cemaran Arsen Barium Kadmium Khromium Timah Merkuri Konsentrasi (mg/l) 5.0 1.. dengan satuan ppm (gas) atau mg/m3 ( asap udara). yaitu : .2 : Konsentrasi maksimum bahan toksik dengan EP-toxicity [. .Bersifat kronis : suatu pengaruh atau keadaan sakit yang muncul sedikit demi sedikit dalam waktu yang agak lama setelah pemaparan pertama. maka bahan tersebut dikenal sebagai suspect human carcinogen. kemudian hasilnya di ekstrapolasi pada manusia.] No.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

D010 D011 D012 D013 D014 D015 D016 D017

Selenium Perak Endrin Lindane Methoxychlor Toxaphene 2,4-D 2,4,5-TP Silvex

1,0 5,0 0,02 0,4 10,0 0,5 10,0 1,0

Catatan : 2,4-D = 2,4-dikchlorophenoxyacetic acid 2,4,5-TP Silvex = 2-(2,4,5-trichlorophenoxy)propionic acid

Bila cemaran tersebut mengandung konsentrasi lebih tinggi dari yang tertera dalam tabel, maka cemaran tersebut terkatagorikan sebagai toksik. Beberapa kelompok bahan kimia yang bersifat toksik antara lain adalah : - Oksida-oksida karbon : seperti CO dan CO2 - Hidrogen cyanida : HCN - Senyawa sulfur : H2S, SO2 - Oksida-oksida nitrogen seperti N2O, NO2, N2O4 - Amonia - Logam-logam berat seperti : arsen, timah (Pb) - Asbestos. - Pestisida organik. Oksida-oksida Karbon Bila bahan mengandung karbon terbakar, maka akan terbentuk gas karbon dioksida (CO2). Bila pembakaran tidak sempurna akan dihasilkan gas karbon monoksida (CO), yang tergolong gas berbahaya karena dapat menyebabkan kematian. Reaksi yang umum, misalnya dalam pembakaran gas methane, adalah: 2 CH4(g) + 3 O2(g) --- 2 CO(g) + 4 H2O(g) CH4(g) + O2(g) --- C(s) + 2 H2O(g) Kedua jenis oksida tersebut adalah tidak berwarna dan tidak berbau. Beberapa sifat gas karbon monoksida adalah: - titik didih - 191,6 oC - densitas cairan (pada titik didih) 795 g/L - densitas gas (pada titik didih) 4,3 g/L - densitas gas (pada 20 C) 1,25 g/L - densitas uap (udara = 1) 0,97 - panas pembakaran 67,64 kcal/mol - % batas bawah ledakan 12,5 - % batas atas ledakan 74 -rasio ekspansi cair ke gas 700 Sedang beberapa sifat gas karbon dioksida adalah : - titik beku (oC) - 56,55 oC - titik sublimasi (pada 1 atm) 78,5 oC - panas fusi 47,5 kcal/kg - panas sublimasi 36,2 kcal/kg - densitas padat (pada 1 atm) 1,56 g/ml - densitas gas (pada titik sublim) 2,8 g/L - densitas gas (pada 20 oC) 1,98 g/L - densitas uap (udara = 1) 1,529 - rasio ekspansi cair ke gas 790
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 66

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

Karbonmonoksida merupakan gas toksik, yang dapat terserap oleh darah melalui pernafasan. Pada saat manusia bernafas, oksigen akan terbawa oleh aliran darah oleh komponen dalam darah yang disebut hemoglobin (Hb). Bila Hb ini menyerap oksigen akan terbentuk oksihemoglobin (O2Hb), dengan reaksi seperti : Hb(l) + O2(g) --- O2Hb(l) Oksihemoglobin ini akan melepaskan oksigen pada jaringan atau organ lainnya. Bila karbonmonoksida terhirup, akan terbentuk karboksihemoglobin (COHb) : Hb(l) + CO(g) --- COHb(l) yang mempunyai afinitas kimia sebesar 300 kali lebih tinggi daripada pembentukan oksihemoglobin. Oksigen yang terikat dalam oksihemoglobin juga dapat dilepaskan sesuai dengan reaksi : O2Hb(l) + CO(g) --- COHb(l) + O2 Karboksihemoglobin ini relatif stabil dan menghalangi penyerapan oksigen oleh darah sehingga penderita mengalami anoxia, yaitu kekurangan oksigen dalam darah. Pada dasarnya tubuh manusia lebih toleran terhadap CO2, walaupun adanya CO2 akan mempertinggi laju pernafasan seseorang, sehingga pekerjaan terasa menjadi lebih berat. TLV di udara untuk karbon monoksida adalah 100 ppm, sedangkan untuk CO2 adalah 5000 ppm (0,5 %); lebih dari konsentrasi tersebut akan menimbulkan gangguan pernafasan. Kontainer atau silinder gas karbon monoksida membutuhkan label 'gas beracun' dan ' gas mudah terbakar', sedang untuk gas karbon dioksida tergolongkan sebagai 'gas tidak terbakar'. Hidrogen Sianida (HCN) Pada temperatur kamar, hidrogen sianida adalah merupakan gas yang tidak berwarna, dengan sifat-sifat antara lain : - titik beku (oC) : - 14 oC - titik didih (oC) : 26 oC o - kerapatan pada 20 C : 1,2 g/L - kerapatan uap (udara = 1) : 0,93 - % batas terendah ledakan :6 - % batas tertinggi ledakan : 41 - titik nyala cairan : - 18 oC Gas HCN larut dalam air membentuk asam hidrosianik. Hidrogen sianida anhidrous (cair) merupakan bentuk yang secara komersial sering dijumpai, merupakan bahan yang tidak stabil. HCN banyak digunakan dalam pembuatan plastik seperti polyacrylonitrile yang mengandung grup -CN. Bila jenis plastik ini dipanaskan, maka akan terdekomposisi secara termal dan terbentuklah gas racun HCN. Bahan racun ini mempengaruhi transportasi oksigen dalam darah, karena dapat mengganggu aktivitas enzim cyctochrome oxidase yang dibutuhkan untuk respirasi selluler dan pembentukan enersi. Bahan ini masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan atau kulit. Beberapa senyawa kimia dengan ion-ion metalik yang bergabung dengan ion- ion sianida, seperti natrium sianida, banyak digunakan dalam industri elektroplating. Seperti halnya gas sianida, bahan ini juga bersifat racun bila terserap oleh manusia. Bahan ini juga akan bereaksi dengan asam membentuk gas HCN : NaCN(s) + HCl(l) --- NaCl(l) + HCN(g) Beberapa besaran konsentrasi (dalam ppm) yang berkaitan dengan sifat toksikologi dari HCN adalah :
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 67

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

- batas bau : 0,2 - 5,0 - TLV : 10 - keluhan sakit kepala : 18 -36 - bertahan selama 1/2 jam tanpa kesulitan : 45 - 54 - kematian dalam 1 jam : 110 - 135 - kematian langsung : 280 Pengaturan pengangkutan dan pewadahan mensyaratkan label : racun' dan 'cairan mudah terbakar'. Senyawa Sulfur Senyawa yang mengandung unsur sulfur dijumpai pada batu bara, gas alam, minyak mentah, wool, rambut, polimer-polimer sintetis dan sebagainya (lihat sub bab 2.2). Bila bahan ini terpapar dengan panas atau bila terbakar akan membentuk gas hidrogen sulfida (H2S) atau SO2. Hidrogen sulfida secara komersial banyak dijumpai dalam bentuk cairan, biasanya digunakan dalam industri yang memproduksi senyawasenyawa mengandung sulfur. Bahan ini juga digunakan dalam industri metalurgi. Gas H2S merupakan gas yang tidak dijumpai akibat proses dekomposisi dari gas ini adalah : - titik didih - titik beku - densitas pada 20 o C - kerapatan uap (udara = 1) - persen batas bawah ledakan - persen batas atas ledakan - panas fusi - panas penguapan berwarna, berbau seperti telur busuk. Secara alami senyawa organik dalam kondisi anaerob. Sifat-sifat : - 60 o C : - 83 o C : 1,539 g/L : 1,2 : 4,3 : 46 : 0,568 kcal/mol : 4,463 kcal/mol

TLV dari gas H2S dibatasi hanya 10 ppm. Bila terus menerus menghirup udara yang mengandung gas ini, akan mengakibatkan pusing dan sakit kepala; bila terhirup dengan konsentrasi 600 ppm selama 30 menit akan berakibat fatal. Tetapi karena gas ini mempunyai bau khas, maka kehadirannya dapat diketahui sejak dini. Pengangkutan dan kontainer bahan ini membutuhkan label bertuliskan 'gan beracun' dan 'gas mudah terbakar'. Sulfur dioksida merupakan gas tidak berwarna, berbau menyengat seperti karet terbakar. Gas ini terbentuk bila senyawa mengandung sulfur terbakar, misalnya pada pembakaran gas H2S akan terjadi reaksi : 2 H2S(g) + 3 O2 (g) --- 2 H2(g) + 2 SO2(g) Gas ini akan muncul misalnya karena pembakaran minyak bumi atau batu bara, karena kedua jenis bahan bakar ini mengandung senyawa sulfur. Dalam emisinya di udara, gas ini secara lambat akan teroksidasi menjadi sulfur trioksida (kadang-kadang ditulis sebagai SOx) yang larut dalam lembab udara membentuk asam sulfat sebagai penyebab hujan asam, sesuai dengan reaksi : 2 SO2(g) + O2(g) --- 2 SO3(g) SO3(g) + H2O(g) --- H2SO4(l) Masalah lingkungan yang ditimbulkan pada zone industri adalah adanya kabut sulfur (sulfurous smog), yang terbentuk akibat kumulasi asam sulfat di udara. Beberapa sifat dari gas ini adalah :
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 68

gas ini tergolong toksik dengan batas TLV 25 ppm. nitrogen monoksida (NO). Standar kedua adalah konsentrasi tahunan sebesar 0. Oleh karenanya. Magnesium dan fosfor dapat terbakar dengan baik dalam atmosfer yang mengandung gas ini seperti halnya atmosfer yang mengandung oksigen.77 kcal/mol : 5. Dengan adanya hidrogen atau amonia. Dalam ruang kerja. Bahan ini merupakan agen pengoksidasi yang baik.Kerapatan uap (udara =1) . Amonia (NH3) Amonia merupakan gas yang tak berwarna dan berbau menyengat. NO2 dan N2O4 merupakan agen pengoksida yang lebih baik dibanding N2O atau NO. Pada konsentrasi sebesar 10 ppm (volume) gas ini akan mengakibatkan iritasi pada mata. seperti halnya karbon monoksida.03 ppm selama periode 24 jam.3 : 1.swa-penyalaan: 651 o C .titik beku: .batas bawah ledakan: 16 % . sehingga sulfur. yaitu dinitrogen monoksida (N2O).78 o C . banyak digunakan sebagai anestesi oleh dokter gigi.10 o C : . Gas NO merupakan agen pengoksida yang baik. sehingga digunakan sebagai agen pengoksida dalam roket.panas vaporasi : . dan 0.densitas pada 20 o C .14 ppm selama periode 3 jam. nitrogen dioksida (NO2). Gas N2O merupakan gas tidak berwarna.76 o C : 2.titik didih: .FTSL ITB Halaman 69 . TLV dari SO2 adalah 5 ppm.titik beku .771 g/L . Konsentrasi melebihi 500 ppm akan menyebabkan kematian seketika.densitas: 0.96 kcal/mol Standar emisi yang dikeluarkan oleh USEPA adalah 0. membentuk metheglobin (NOHb).titik didih . dihasilkan campuran eksplosif. Pengangkutan gas ini membutuhkan label bertuliskan 'gas beracun' dan 'pengoksidasi'.5 ppm.33 o C . Label yang dibutuhkan dalam pengangkutannya adalah sebagai 'gas tidak terbakar' dan 'pengoksidasi'. Diantara keenam oksida tersebut.93 g/l : 2. dinitrogen trioksida (N2O3). Gas ini dapat berkombinasi dengan hemoglobin dalam darah. maka N2O3 dan N2O5 yang tidak penting dalam industri. tidak berwarna dan berbau tajam. Gas ini dalam pengangkutannya membutuhkan label bertuliskan 'gas racun'. Oksida Nitrogen (NOx) Terdapat enam oksida-oksida nitrogen. gas-gas ini juga toksik dan menyebabkan methemoglobinemia dengan batas TLV 5 ppm. fosfor dan karbon dapat terbakar dalam atmosfer N2O seperti halnya dalam atmosfer yang mengandung oksigen.kerapatan uap (udara = 1): 0.batas atas ledakan: 25 % Enri Damanhuri .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 . dinitrogen tetroksida (NO4) dan dinitrogen pentoksida (N2O5).panas difusi . sehingga dapat menimbulkan methemoglobinemia dengan terhalangnya transportasi hemoglobin. Beberapa sifat dari gas ini adalah : .596 .

yang hanya dijumpai pada orang yang terpapar debu asbes. Namun disamping kegunaannya tersebut. serta limit bawahnya yang relatif besar (16 %). Logam-logam Berat Toksik Yang dimaksud dengan logam berat dalam buku ini adalah setiap logam yang mempunyai berat atom lebih dari 50. tidak terbakar dan digunakan sebagai penyekat panas. akan mengakibatkan kemungkinan terserang kanker 50 kali lebih besar dibanding orang yang tidak merokok. Bila dicampur dengan magnesium oksida. Bahan ini juga menyebabkan mesothelioma pada paru-paru atau saluran pernafasan. maka akan masuk pada kerongkongan dan dapat memnyebabkan kanker pada pencernaan.ion metalik seperti natrium. Bila logam ini terbawa oleh darah maka akan bersenyawa dengan sulfur yang berada pada fluida sellular tubuh. Gas ini berakibat seperti halnya alkali terhadap kulit manusia. Debu asbes ini mempunyai efek sinergis. terutama bila asbestos hadir dalam bentuk debu asbes sehingga mudah terhisap melalui pernafasan atau mulut. yang tergantung pada lamanya pemaparan. Pengangkutan cairan ini membutuhkan label 'korosif'. magnesium. yaitu amonium hidroksida (NH4OH). kalsium dan besi. Logam berat yang digolongkan toksik oleh USEPA adalah : antimon.569). bila bahan cairan ini tumpah akan terbentuk awan putih akibat kondensasi lembab udara. misalnya bila terhisap oleh perokok. Bahan ini mempunyai titik leleh yang sangat tinggi. pada kondisi khusus asbestos dapat membahayakan kesehatan manusia termasuk timbulnya karena kanker. asbestos sangat baik digunakan sebagai bahan tahan api yang banyak digunakan. sehingga memudahkan pelacakan terjadinya kebocoran. dan mempengaruhi kerja enzimatik dalam tubuh. arsen. Pemaparan yang berlebihan akan menyebabkan kebutaan dan rusaknya jaringan pernafasan. Dengan sifatnya yang lebih ringan dari udara (densitas uap = 0. hidrogen dan ion. thallium dan seng. selenium. beberapa logam berat akan merupakan racun. bila terlepas di udara akan cepat terdispersi apalagi bila terdapat angin. Asbestos Absestos merupakan terminologi yang digunakan dalam ilmu mineral untuk berbagai fiber silikat yang tersusun dari silicon. kadmiun. perak. bahan ini akan terkumpul menyebabkan asbestosis. Bila terserap dalam tubuh manusia. Debu asbes ini sangat ringan dan dapat melayang di udara. tetapi umumnya karena ion-ion logam ini mempunyai affinitas yang sangat besar dengan sulfur. namun dengan rentang yang kecil. Bila terhirup masuk ke dalam paru-paru. berillium. apalagi bila dalam bentuk bubuk atau asap. Karena bahan ini sangat larut dalam air. maka bahaya kebakaran relatif kecil. yaitu dari iritasi ringan sampai rusaknya jaringan. Walaupun tidak berwarna. nikel. Enri Damanhuri . merkuri. Pengangkutan amonia cair (anhydrous) membutuhkan label 'gas racun'. oxygen. timah. Mata dan paruparu akan teritasi bila terpapar dengan bahan ini. maka air merupakan bahan yang efektif untuk penanggulangan masalah yang timbul. tembaga. Namun bila tidak terkumpul di paru-paru. Amonia yang dilarutkan dalam air merupakan larutan yang sering dijumpai secara komersial. Gas amonia merupakan yang gas mudah terbakar. Mekanisme keracunan dari logam berat ini adalah tergantung dari jenisnya. khromium.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gas ini mudah dicairkan dan dikenal sebagai anhydrous ammonia. Limit pemaparan di ruang kerja adalah 50 ppm.FTSL ITB Halaman 70 .

Pada insek. seperti pada batere. Salah satu jenis pestisida ini adalah Carbyl yang merupakan insektisida. beberapa diantaranya telah dilarang digunakan. maka enersi yang ada dapat digunakan untuk berbagai keperluan. pestisida organophosphorus. maka pestisida organik dapat dikelompokkan menjadi beberapa grup. Pestisida carbamate merupakan turunan dari asam karbamik. roden. karena terbukti berbahaya bagi manusia. Enri Damanhuri . maka enersi yang terbentuk dapat menyebakan bahaya bagi manusia. Tetapi panas yang ditimbulkan dari reaksi redoks tersebut dapat terserap oleh bahan yang dapat terbakar yang berada di dekatnya. pestisida ini mempunyai kemampuan untuk menghalangi kerja enzim. Namun ternyata bahan ini menimbulkan masalah kesehatan bagi manusia. Jenis organochlorine ini mempunyai efek biokumulasi terutama pada jaringan lemak. dan sangat stabil serta persisten. Pestisida urea merupakan turunan dari urea. peledakan dinamit. Hanya diketahui bahwa bahan ini merusak keseimbangan natrium dan kalium dalam sel-sel syaraf sehingga mempengaruhi impuls sel tersebut. fungi. pestisida karbamate dan pestisida urea. Salah satu pestisida kelompok ini adalah Linuron. yang berasal dari hidrokarbon dengan formula C12H14. seperti pembakaran bahan bakar. Beberapa jenis pestisida carbamate juga berfungsi sebagai fungisida atau herbisida. Pestisida organochlorine merupakan turunan hidrokarbon kompleks. Sebagian besar pestisida yang sekarang digunakan adalah merupakan senyawa-senyawa organik. antara lain untuk mengontrol penyakit tifus dan malaria yang ditularkan melalui insek. yang terpenting adalah pestisida organochlorine. Enersi dari reaksi ini dapat disimpan. Fungsinya pada insek atau vertebrata adalah mempengaruhi kerja enzim cholinistrase. khlorinasi air. 8 SENYAWA PENGOKSIDASI Terjadinya reaksi oksidasi-reduksi (redoks) yang terkontrol sangat bermanfaat bagi manusia.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Kriteria yang diberlakukan di USA pada lingkungan kerja adalah dalam 1 cm3 udara tidak boleh terdapat lebih dari 10 fiber asbes yang lebih panjang dari 5 micrometer. Sebagai contoh adalah Aldrin dengan formula C12H8Cl6. Pestisida Organik Pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk membunuh insek.FTSL ITB Halaman 71 . Salah satu jenis kelompok ini yang terkenal adalah DDT. seperti terjadinya kebakaran. contohnya adalah Parathion dengan formula (C2H5)2PSOC6H4NO2. Bila reaksi tidak terkontrol. atau tanaman. Bila misalnya gas alam dibakar. melalui rantai makananlah bahan ini akan sampai pada manusia. yang banyak digunakan selama perang dunia ke dua. dikenal sebagai acetylcholinesterase (ACHE). Pestisida organophosphorus merupakan turunan dari asam fosfat. Mekanisme bagaimana pestisida ini memepengaruhi aktivitas biologi belumlah banyak diketahui. yaitu dengan sebuah atom hidrogen (atau lebih) pada urea yang digantikan oleh atom-atom lain. Telah dihasilkan ribuan jenis pestisida. paling tidak sebuah atom hidrogen dalam molekul hidrokarbon tersebut. ledakan. digantikan oleh atom khlor. sehingga pembuatan dan penjualannya dilarang. Umumnya pestisida ini digunakan sebagai herbisida yang dapat menghalangi proses fotosintesis. Didasarkan atas struktur molekulnya. Kelompok pestisida ini juga bersifat toksik. Enzim ini secara rutin berfungsi mempengaruhi impuls syaraf.

Enri Damanhuri . namun dapat pula berfungsi sebagai reduktor lemah. tembaga. tetapi sudah cukup untuk memungkinkan terjadinya swa.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 sehingga bahan tersebut dapat terbakar dengan sendirinya. Hidrogen peroksida merupakan bahan yang relatif tidak stabil. Khlorit. dengan konsentrasi sekitar 3 sampai 5 %. Bahan ini banyak digunakan dalam industri tekstil untuk pengelantang. timah. Di lingkungan kerja batas pemaparan maksimum adalah 1 ppm.2 HCl(l) + O3(g) Oksigen yang dibebaskan dari dekomposisi fotokimia ini akan memucatkan pakaian. Dalam industri kimia.FTSL ITB Halaman 72 . Bahan tersebut akan memasok oksigen pada saat terjadinya kebakaran walaupun udara di sekitarnya kekurangan oksigen. Pada saat bertindak sebagai reduktor. seperti reaksi di bawah ini : 2 NaClO(l) + H2O(l) + CO2 --. Bahan ini digunakan pula dalam penyediaan air bersih atau pengolahan air limbah sebagai desinfektan. Hidrogen peroksida dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius. larutan ini distabilkan dengan sejumlah kecil natrium pirofosfat. yang akan bertindak sebagai katalis guna memperlama proses dekomposisi. Kemampuan agen pengoksidasi bervariasi. oksigen selalu dibebaskan. Transportasi hidrogen peroiksida dengan konsentrasi sampai 20 % diberi label : 'oksidator'. Beberapa agen pengoksidasi diuraikan di bawah ini secara umum. Bila di atas konsentrasi tersebut diberi label : 'oksidator dan korosif'. Hipokhlorit metal ini. maka larutan ini aka terdegradasi secara cepat yang disertai timbulnya panas sehingga akan dapat teruapkan. Beberapa logam seperti besi. ada yang berada di bawah kemampuan oksigen. Untuk menghindari bahaya ledakan. biasanya digunakan sebagai pemutih pada pencucian pakaian karena kemampuannya bereaksi dengan karbon di udara akan memproduksi asam hipokhlor dan melepaskan oksigen. Kadangkala walapun agen pengoksidasi dijumpai dalam jumlah yang kecil. Bahan pengoksidasi yang mengandung oksigen dapat dikatakan tidak stabil waktu dipanaskan. yang merupakan komponen aktif sebagai pemutih maupun untuk pembersih peralatan saniter. Hipokhlorit. seng. Hidrogen Peroksida (H2O2) Hidrogen peroksida merupakan peroksida yang paling sering dijumpai.pembakaran bahan semacam sulfur dan sebagainya. Khlorat dan Perkhlorat Bahan pengoksidasi yang juga banyak digunakan adalah natrium dan kalsium hipokhlorit. Hidrogen peroksida selain dapat bertindak sebagi oksidator kuat. bahan ini digunakan untuk memproduksi bahan peroksida metalik dan organik. Larutan dengan konsentrasi 8 % (massa) secara lambat akan terdekomposisi menjadi air dan oksigen setelah 9 bulan. pada konsentrasi larutan lebih besar dari 30 % (volume) larutan ini korosif terhadap kulit. tetapi mempunyai bau yang sedikit tajam. Ada oksidator yang mempunyai kemampuan lebih tinggi dibanding oksigen. mangan dapat bertindak sebagai katalis guna terjadinya dekomposisi. Larutan yang mengandung hidrogen peroksida lebih dari 50% (volume) dapat menyebabkan timbulnya api secara spontan dari bahan yang dapat terbakar. Sinar matahari akan bertindak sebagai katalisator.Na2CO3(l) + 2 HClO(l) 2 HClO(l) --. khrom. baja. Hidrogen peroksida murni mempunyai penampilan yang mirip air. Bila berada pada konsentrasi yang pekat (lebih besar dari 30 %).

Pada saat ini bahaya kebakaran dan ledakan akan besar bila senyawa ini tetap berada pada kondisi temperatur tinggi. Beberapa senyawa organik akan terbakar dengan sendirinya bila berkontak dengan bahan ini. Bahan ini merupakan pengoksidasi yang sangat kuat. Senyawa-senyawa amonium merupakan senyawa yang sering dijumpai. api dapat berkobar yang didukung oleh adanya N2O sebagai pengganti oksigen udara. Beberapa senyawa dikenal mempunyai peranan sebagai katalis dalam menaikkan laju dekopmposisi amonium ini. bahan ini dianggap sebagai bahan pengoksidasi.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Natrium khlorit merupakan agen pemucat/pemutih yang banyak digunakan dalam industri kertas dan tekstil. bahan ini diperoleh dalam konsentrasi larutan sampai 80%. Dalam pengangkutannya. amonium nitrat akan meleleh.NH3(g) + HNO3 Pada temperatur sekitar 166 oC. Namun secara komersial. amonium nitrat akan terdekompiosisi membentuk dinitrogen oksida dan uap air yang berlangsung secara eksotermis : NH4NO3(g) --. herbisida dan sebagainya. Walaupun demikian. Namun bahan ini relatif lebih stabil dibanding bahan. baik sebagai pupuk maupun sebagai komponen bahan peledak. yang berlangsung secara endotermis : NH4NO3(s) --. pengangkutan bahan ini pada kontainer pengangkutnya membutuhkan label : 'pengoksidasi'. . Amonium nitrat berpotensi menimbulkan resiko ledakan. maka ledakan tidak dapat dihindari. Senyawa-senyawa Amonium Pada dasarnya semua senyawa yang mengandung ion amonium (NH4+) secara termal tidaklah stabil.N2O(g) + 2 H2O(g) Bila pada saat pengangkutan bahan ini berada pada kontainer yang tertutup rapat. sedangkan dalam kondisi sebagai larutan dianggap sebagai korosif. Bila bereaksi dengan serbuk logam seperti alumunium. Natrium khlorat sangat sensitif misalnya bila bergesekan dan dapat menimbulkan terjadinya api dengan mudah. Seperti halnya metal khlorat. Metal khlorat yang sering digunakan adalah natrium khlorat atau kalium khlorat. akan menimbulkan ledakan. digunakan terutama sebagai komponen serbuk mesiu. Bila temperatur di atas 212 oC. tetapi lebih umum akan membentuk nitrogen.FTSL ITB Halaman 73 . senyawa ini akan terdekomposisi dengan dua jalan. Pada temperatur 80o ke 93 o amonium nitrat terdekomposisi membentuk amonia dan asan nitrat. Transportsai bahan ini membutuhkan label: 'pengoksidasi'. misalnya amonium khlorida yang secara termal terdekomposisi pada temperatur kurang dari 167 o C membentuk amonia dan hidrogen khlorida. yaitu : . misalnya senyawa Enri Damanhuri . terutama yang berkaitan dengan penimbulan api dan ledakan. Bila dipanaskan.bahan sebelumnya serta tidak menimbulkan reaksi yang prematur. amonium nitrat dianggap sebagai yang paling penting diantara senyawa amonium yang lain.senyawa-senyawa amonium yang bukan agen-agen pengoksidasi terdekomposisi membentuk amonium. Secara komersial. maka metal-metal perkhlorat digunakan untuk kebutuhan yang hampir bersamaan. oksigen dan oksida-oksida metalik dan non metalik.senyawa-senyawa amonium yang merupakan agen-agen pengoksidasi dapat juga terdekomposisi membentuk amonia. Amonium sulfat merupakan pupuk yang paling sering digunakan dibanding senyawa amonium yang lain.

atau khromium anhidrid atau asam khromik dengan formula (CrO3). pewarnaan dan percetakan. walaupun pada kenyataannya yang paling bersifat toksik adalah yang berada pada tingkat oksidasi +6. khrom trioksida dan khromilkhlorida. termasuk libah gas sebagai oksidator.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 yang mengandung tembaga. Nitrit metalik dioksidasi menjadi nitrat metalik dan direduksi menjadi nitrogen monoksida. Senyawa sejenis adalah khromil khlorida (CrO2Cl2). Dikhromat metalik. Pengangkutan dan pewadahan bahan ini membutuhkan label : 'pengoksidasi'. misalnya dalam bentuk natrium nitrat dan natrium nitrit. Larutan kalium permanganat digunakan untuk pengobatan dermatitis yang berasal dari bakteri atau fungi. sebagai khromat akan berwarna kuning dan sebagai dikhromat akan berwarna oranye. Nitrit dan nitrat metalik dengan kandungan nitrogen pada tingkat oksidasi masingmasing +3 dan +5 adalah oksidator yang termasuk penting. Bila air diuapkan darinya. Permanganat metalik yang paling terkenal adalah natrium dan kalium permanganat. Biasanya asam ini dibuat dengan penambahan asam sulfat pekat pada larutan kalium dikhromat. Oksidator ini banyak digunakan dalam industri elektropalting khrom.FTSL ITB Halaman 74 . Seluruh senyawa yang mengandung khrom oleh USEPA dikatagorikan sebagai toksik. terutama bila berada dalam larutan asam. yang dianggap berpotensi sebagai senyawa karsinogenik. Enri Damanhuri . sulfur. Asam-asam yang berkaitan dengan khromat dan dikhromat hanya ada pada kondisi larutan. tergantung pada kondisi oksidasinya. Oksidator Mengandung Permanganat. yang banyak digunakan dalam industri makanan untuk mempertahankan warna. Larutan yang lebih terkonsentrasi kadang digunakan dalam pengolahan limbah. Demikian juga halnya natrium nitrat. dapat dikonversi oleh bakteri dalam perut untuk membentuk nitrit. Pengaturan pengangkutannya membutuhkan label : 'oksidator'. Penggunaan dalam industri adalah seperti halnya asam khromik. Transportasinya membutuhkan label sebagai 'oksidator' atau sebagai 'bahan korosif'. Asam ini berwarna merah yang digunakan untuk pembersihan permukaan logam atau gelas. suatu larutan merah yang terbentuk bila campuran asam khlorida dan asam sulfat ditambahkan pada larutan jenuk kalium dikhromat. Nitrit dan Nitrat Permanganat metalik adalah senyawa yang mengandung mangan pada kondisi oksidasi +7 yang tidak berwarna. maka yang tersisa adalah oksida khrom (VI) yang dikenal sebagai khromium trioksida. namun permanganat itu sendiri berwarna ungu. yang dikenal sebagai khromium oksikhlorida. Nitrit metalik dapat bertindak sebagai oksidator maupun reduktor. Senyawa ini bersifat karsinogenik dan dapat merusak ginjal. seperti kalium dikhromat (K2Cr2O4) merupakan oksidator yang kuat. Pada kondisi sebagai ion-ion metalik tidak berwarna. logam dikhromat. Namun natrium nitrit dengan kerja enzim tertentu akan membentuk senyawa nitrosamin. komponen bahan peledak dan sebagainya. Oksidator Mengandung Khrom Khrom pada tingkat oksidasi +6 terdapat dalam bentuk senyawa logam khromat.

yang mempunyai variasi atom karbon antara 3 sampai 60. Bila jumlah atom karbon satu. sehingga dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Senyawa organik ini dapat menguap dengan mudah dan uapnya mudah terbakar pada kondisi kamar. Hidrokarbon Alifatik Hidrokarbon alifatik dibagi menjadi beberapa sub kelompok. merupakan campuran hidrokarbon yang lebih berat dari pada minyak bensin. tekstil dan sebagainya. Sumber utama hidrokarbon yang digunakan manusia adalah minyak bumi (petroleum). maka campuran komponen-komponen tersebut tervolatilisasi sesuai titik didihnya masing-masing. misalnya sebagai bahan baku plastik. aerosol. Pada pembakaran sempurna. ginjal. yang dapat dibagi menjadi dua kelompok. yaitu alkane. Selanjutnya. jantung. Alkane adalah hidrokarbon yang ikatan atom karbonnya tunggal. misalnya untuk bahan bakar. Seterusnya dikenal: C3H8 (propane). cat.atom karbon yang ikatannya tidak selalu dalam satu rantai yang menerus. enam atau tujuh atom karbon. Dalam kaitannya dengan keselamatan. Molekul-molekul dari senyawa-senyawa organik mempunyai pola yang sama. Produk destilasi yang penting adalah : o Petroleum naphtha.atom karbon yang terikat satu sama lain dalam satu rantai yang menerus. Senyawa ini pada temperatur kamar dapat berupa gas. maka yang dimaksud adalah ethane C2H6 atau ditulis menurut struktur Lewis sebagai CH3CH3. antara lain menyebabkan kerusakan pada hati. C5H12 (pentane). akan terbentuk karbon dioksida dan uap air. cair atau padat. maka mulai dari C4H10 dikenal dua jenis struktur molekul.204 o C. plastik. yaitu : . gas senyawa-senyawa ini dapat meledak di udara. sistem syaraf dan beberapa diantaranya menjadi penyebab penyakit kanker.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 9 BEBERAPA SENYAWA ORGANIK BERBAHAYA Senyawa-senyawa organik merupakan bahan yang sangat banyak digunakan dalam kehidupan manusia modern. C4H10 (butane). Butane dalam struktur pertama dikenal sebagai n-butane. sedang butane dalam struktur yang kedua dikenal sebagai isobutane. Titih didihnya adalah 38 o . . Senyawa organik yang paling sederhana adalah hidrokarbon. alkene dan alkine. pendingin. Produk ini terdistilasi antara 35 o 90 o C. C6H14 (hexane). Menurut struktur Lewis. Bila minyak bumi mentah dipanaskan pada temperatur tertentu. terutama sebagai bahan baku untuk produk-produk yang banyak digunakan dalam industri petrokimia. yaitu CH4 dikenal methane. maka karakteristik yang umumnya dijumpai dari senyawa ini adalah mudah terbakar dan bila terbakar. pelarut pembersih. vernis. karet dan aneka ragam fiber sintetis lainnya. yaitu campuran hidrokarbon yang molekul-molekulnya terutama mempunyai lima sampai sembilan atom karbon. C7H16 (heptane). Enri Damanhuri . Distilasi fraksi minyak bumi ini lebih lanjut akan menghasilkan produk non. C8H18 (oktane). o Bensin (gasoline). adesif. yaitu dengan satu atau lebih atom karbon yang terikat dengan atom-atom lain. yaitu campuran hidrokarbon yang molekul-molekulnya terutama mempunyai lima. Bahaya yang kedua dari kelompok ini adalah karena dapat bersifat toksik pada manusia. o Kerosene.FTSL ITB Halaman 75 . bila n = 2. maka jumlah atom hidrogennya adalah 4. Seluruh molekul dari senyawa ini hanya tersusun oleh atom karbon dan hidrogen. yaitu hidrokarbon alifatik dan aromatik.bahan bakar. resin. fiber. dengan formula kimia CnH2n+2.

Biasanya formula benzene dilambangkan oleh bentuk heksagon dengan cincin di dalamnya. meta-xylene disingkat m-xylene dan para-xylene disingkat p-xylene. Hidrokarbon Aromatik Hidrokarbon aromatik adalah senyawa-senyawa yang mempunyai satu atau lebih bentuk cincin ikatan atom karbon. toluene dan isomer-isomer xylene adalah jernih. Oleh karenanya. Senyawa yang paling sederhana dari kelompok ini adalah benzene dengan formula molekularnya C6H6. berpasangan dengan atom-atom yang terikat dengan karbon tersebut. kontainer benzene mempunyai label : 'cairan mudah terbakar'. Pemaparan maksimum selama 8 jam kerja adalah 200 ppm untuk toluene dan 100 ppm untuk isomer-isomer xylene. oleh karenanya penyimpanan dan pengangkutannya membutuhkan label : 'cairan mudah terbakar'. Formula umum dari kelompok ini adalah CnH2n. karena setiap ikatan elektron dari atom-atom karbon. Benzene adalah senyawa yang tidak larut dalam air. Senyawa ini dikenal pula sebagai sikloalkane karena atom karbon pertama dan terakhir terhubungkan satu sama lain dalam rantai yang menerus. yang membedakan antara hidrokarbon alifatis dengan hidrokarbon aromatis adalah struktur molekularnya. Kelompok hidrokarbon aromatis dengan dua atau lebih cincin benzene dikenal sebagai polynuclear aromatic hydrocarbon (PAH). Bila salah satu atom hidrogen dari benzene digantikan oleh grup methil (-CH3). Alkine yang paling sederhana adalah C2H2 yaitu ethyne atau acetylene. penyebab leukemia. Benzene bersifat karsinogen pada manusia. Disamping bersifat mudah terbakar. Hidrokarbon dengan molekul-molekul yang mengandung satu atau lebih karbon yang terikat dengan ikatan ganda. Dua atom hidrogen dari benzene dapat pula digantikan oleh grup methil. Oleh karenanya.FTSL ITB Halaman 76 . maka senyawa baru tersebut dikenal sebagai toluene. maka alkine adalah termasuk hidrokarbon tak jenuh. menguap pada temperatur kamar. yang dikenal sebagai isomer dari xylene. Uap cairan ini bila bercampur dengan udara akan mudah terbakar. Campuran uap benzene dan udara akan siap untuk terbakar. Ketiga bentuk tersebut bernama : ortho-xylene disingkat o-xylene. dikenal sebagai alkene atau olefin. tidak larut dalam air serta mudah menguap. maka kelompok ini dikenal sebagai hidrokarbon tak jenuh. kelompok ini juga bersifat toksik bagi manusia karena mempengaruhi sistem syaraf pusat.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Alkane dikenal sebagai hidrokarbon jenuh. Pemaparan maksimum di ruang kerja adalah 10 ppm selama 8 jam. tidak berwarna. dengan kemungkinan tiga bentuk struktur isometris. PAH ini diaggap bersifat karsinogen. yang menyerupai benzene atau yang tidak menyerupai benzene. Hidrokarbon yang mempunyai satu atau lebih ikatan karbon ke karbon rangkap tiga dikenal sebagai alkine. Formula umum dari alkine adalah CnH2n-2. Karena setiap alkene kekurangan hidrogen relatif terhadap alkane. Alkene yang paling sederhana dikenal sebagai ethene atau ethylene dengan formula C2H4. PAH yang penting adalah naftalene yang digunakan antara lain dalam industri fungisida. Disamping mudah terbakar. Enri Damanhuri . Pada temperatur kamar. Seperti halnya alkene. tetapi tidak termasuk karsinogen.

Bila seluruh atom karbon digantikan oleh atom-atom halogen. maka senyawa itu dikenal sebagai hidrokarbon berkhlor (chlorinated hydrocarbon). maka terjadilah perubahan karakteristik. Bila yang menggantikan adalah khlor. propene. Panas pembakarannya adalah 213 kcal/mol. tidak berbau. terutama untuk pengelasan/pengecoran.FTSL ITB Halaman 77 . Gas ini banyak digunakan dalam industri metalurgi. Oleh karenanya. Sebagai contoh. Gas ini tidak berwarna. Gas ini termasuk yang tidak stabil. dan merupakan salah satu komponen utama dari gas alam. ethene. sedikit larut dalam air. yang terdiri dari sebuah atom C dan empat buah atom H. dan pada kondisi murni berbau ether. karena mempunyai panas pembakaran tinggi yaitu 312. Methane digolongkan sebagai gas non toksik. Bentuk gas yang dicairkan dari propane. senyawa baru : khloroform atau trikhloromethane 4 atom diganti. biasanya gas ini dilarutkan dalam cairan seperti acetone. titih nyala methane adalah . Hidrokarbon Berhalogen Senyawa-senyawa organik dapat pula diturunkan dengan mengganti satu atau lebih atom hidrogen dari hidrokarbon dengan sebuah atom halogen. butene. Sebagai contoh penamaan adalah untuk senyawa yang berasal dari methane (CH4). Satu bagian volume acetone dapat melarutkan 25 bagian acetylene pada tekanan 1 atm. senyawa baru : methyl khlorida atau khloromethane 2 atom diganti. sedangkan khloromethane adalah di bawah 0 o C. gas yang tidak berwarna. yang terbentuk misalnya dari dekomposisi karbon organik.4 % volume. tidak berbau dan dijumpai dengan konsentrasi rendah. butane dan campurannya dikenal sebagai liquefied petroleum gas (LPG). isobutane. tetapi bila terhirup akan menyebabkan sesak nafas. sehingga senyawa itu dikenal sebagai hidrokarbon berhalogen (halogenated hydrocarbon). terbentuk dari pengolahan gas alam. Salah satu contoh dari kelompok ini adalah methane. maka senyawa baru tersebut bukan lagi kelompok bahan yang mudah terbakar. Walaupun demikian. Penggunaan gas alam sekarang makin banyak dijumpai. senyawa baru : methylene khlorida atau dikhloromethane 3 atom diganti. dapat meledak pada kondisi ditekan.188 o C. dengan rentang keterbakaran 10. isobutene dan sebagainya. bila senyawa ini terpapar dengan Enri Damanhuri .11. maka kelompok alkine yang paling sering digunakan adalah acetylene. yang dapat digantikan oleh atom khlorida. Dari sudut industri. Gas alam ini dapat pula dicairkan. Belum dijumpai pengaruh kelompok ini terhadap kesehatan. Methane merupakan gas alam. dikenal sebagai liquefied natural gas (LNG). senyawa baru : karbon tetrakhlorida atau tetrakhloromethane. seperti ethane.4 kcal/mol. Temperatur yang dicapai bila terbakar dengan udara akan mencapai 3300 o C. LPG ini mengandung pula komponen lain dalam jumlah kecil. sehingga sifat kimia dari gas alam pada prinsipnya adalah merupakan sifat kimia dari gas methane. Dengan substitusi tersebut. yaitu : 1 atom diganti. Namun kelompok ini berkontribusi dalam pembentukan formasi ozone di atmosfer. Umumnya mereka tidak berwarna.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Hidrokarbon Sederhana Beberapa hidrokarbon sederhana dijumpai sebagai cemaran melalui cerobong pembakaran sebuah industri atau dari kegiatan komersial lainnya.7 . sedang pada tekanan 12 atm akan terlarutkan acetylene sebanyak 300 bagian volume. Terdapat empat kemungkinan penggantian atom hidrogen.

Oleh karena itu DRE dari PCB ini disyaratkan 99. Reaksi di bawah ini akan memperjelas masalah tersebut : CFnCln-x (g) --. Cara pengolahan PCB yang digunakan adalah dengan insinerasi.9999 %. kerusakan organ tubuh. Namun residu hasil pembakaran akan berbahaya bila pembakarannya tidak sempurna karena membentuk dioxin. tetapi sifat-sifatnya hampir sama. Senyawa kelompok ini banyak digunakan dalam industri. ginjal. beberapa diantaranya mempunyai titik didih sampai 267 °C tanpa mengalami dekomposisi. Senyawa ini mampu menyerap radiasi ultraviolet matahari. kapasitor. . senyawa ini langsung tersebar dalam berbagai jaringan reseptor seperti hati. tetapi keterpaparannya pada manusia dapat menimbulkan masalah kesehatan. dengan simbol 2 heksagon bercincin. ClO (g) + O --. akan dihasilkan gas/uap yang berbahaya yaitu fosgene dan hidrogen khlorida. juga disebut sebagai khlorofluorokarbon atau khlorofluoromethane. sehingga ikatan karbon ke khlor akan rapuh. Karbon tetrakhlorida misalnya.ClO. atau pada sistem pemindah panas dan sistem hidrolis. sehingga mengakibatkan terganggunya fungsi biologis yang normal dan mengakibatkan perubahan fungsi faal tubuh. tidak terbakar. dan merupakan bahan yang paling banyak diatur penggunaan dan penanganannya diantara bahan berbahaya yang lain.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 panas. Kelompok khusus dari senyawa hidrokarbon berhalogen adalah fluorokarbon (CFnClnx).70 % .(g) + Cl. Beberapa diantara hidrokarbon berhalogen ini teruapkan pada temperatur kamar. Bila terlepas akan bereaksi dengan lapisan ozon. hati. resistan terhadap hampir seluruh bahan kimia. dan dilepaskanlah atom khlor.(g) + O2(g) . misalnya efek racun dari khloroform pada sistem syaraf. kulit. misalnya dalam perlengkapan listrik seperti transformator. PCB banyak digunakan dalam industri-industri yang membutuhkan sifat-sifat tersebut.(g) . dan sebagainya dan tetap tersimpan dalam organ tersebut. Oleh karenanya.7 m3 PCB dengan konsentrasi 50 . Insiden yang paling dramatis dalam masalah toksikologi adalah yang terjadi di Jepang pada tahun 1968. Sebuah transformator kadang mempunyai sampai 3. Konsentrasi maksimum di lingkungan kerja adalah 1. Bila PCB masuk ke dalam tubuh. impotensi sampai kematian. Ini terjadi karena pada tahun 1960 diketahui bahwa PCB ini ternyata merupakan penyebab berbagai masalah kesehatan yang serius : kanker. tidak bereaksi dengan asam. Senyawa ini bersifat inert. mata. Nama komersial dari senyawa ini adalah freon.FTSL ITB Halaman 78 . Enri Damanhuri . yang digunakan sebagai pendingin atau aerosol. menimpa lebih dari 1000 orang yang menkonsumsi beras terkontaminasi PCB akibat kebocoran pipa transfer panas dalam pemerosesan minyak. Di USA produksi PCB sejak tahun 1979 sangat dibatasi yaitu hanya untuk penggunaan yang sangat khusus. otot. iritasi pada gastrointestinal.CFnCl3-x. otak. . disamping dapat mengganggu hati dan ginjal juga dicurigai sebagai penyebab kanker pada manusia.5 mg/m3. Sebagian besar PCB adalah merupakan cairan yang encer pada kondisi kamar. sehingga lapisan ozon sebagai pelindung bumi dari radiasi ultra violet matahari akan terganggu/rusak. ginjal dan jantung.0 µg/m3 dengan TLV 0.Cl (g) + O2(g) Masalah limbah yang paling banyak disorot dari kelompok ini adalah polychlorinated biphenyl (PCB). Terdapat berbagai struktur isomer dari PCB. stabil bila dipapar pada temperatur tinggi. O3(g) + Cl (g) --. Atom khlor ini akan bereaksi dengan molekul ozon.

8 tetrachlorodibenzo-p-dioxin. yang paling sering dipersoalkan adalah fenol. dan merusak secara sistematis sistem syaraf. ether juga berbahaya karena ada yang mengandung peroksida organik sehingga mudah meledak. misalnya methyl ethyl ether (methoxyethane). Senyawa yang tergolong alkohol sederhana ini adalah mudah terbakar.7. Enri Damanhuri . tetapi bisa saja tidak termasuk cairan yang berkatagori mudah terbakar. Dioxin merupakan produk samping dari pembuatan senyawa.3. Efek toksikologis antara lain adalah terhadap sistem syaraf. misalnya dalam industri farmasi. sebetulnya fenol tidak membahayakan. dengan TLV 22 mg/m3. Fenol dikenal cepat menyerap uap air di udara sehingga sering dianggap sebagai cairan. dan TLV = 19 mg/m3. Fenol pada kondisi padat adalah tak berwarna sampai putih kristal dan sering juga dijumpai berwarna gelap/merah bila terpapar cahaya. karena resin-resin fenolis dan produk-produk farmasi lainnya terbuat darinya. Dua alkohol yang sering dijumpai di pasaran adalah metanol (methyl alkohol) dan ethanol (ethyl alkohol). Ether sederhana sangat volatil dan berbahaya karena mudah terbakar serta meledak.4. Senyawa organik yang dewasa ini dianggap salah satu substansi yang paling toksik adalah 2. Tambah tinggi ether maka tambah tinggi titik nyalanya sehingga menjadi bahan bakar cair.5trikhlorofenol. atau secara singkat dikenal sebagai Dioxin atau TCDD. Dioxin sangat stabil dan terdekomposisi hanya secara thermal pada temperatur didih sekitar 500 °C.FTSL ITB Halaman 79 . dengan titik nyala 78 o C. Pemaparan fenol di ruang kerja dibatasi 5 ppm (kontak dengan kulit). Pengangkutan senyawa ini membutuhkan label : 'cairan mudah terbakar'. dan larut dalam air. Fenol adalah termasuk grup alkohol aromatis. maka penyebarannya akan melalui rantai makanan. Efek iritasi juga dapat terjadi pada mata dan kulit.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Alkohol Alkohol adalah senyawa organik turunan dari hidrokarbon dengan penggantian paling tidak sebuah atom hidrogen oleh grup hidroksil (-OH). yang dapat dilihat sebagai hidroksil turunan benzene. Pemaparan pekerja pada isomer kressol adalah 5 ppm kontak dengan kulit. pengangkutan senyawa ini membutuhkan label bertuliskan : 'racun'.dikhlorofenoxyacetik dan 2. yaitu sangat toksik pada manusia. Toksisitas (LD50) bahan ini terhadap babi Guinea 3. Aplikasi isomer-isomer kressol pada tikus menimbulkan tumor. Salah satu grup fenol adalah kressol yang merupakan disinfektan dan berasal dari resin fenolik. Mata.senyawa fenolik yang diproduksi untuk beragam herbisida seperti asam 2. Dalam masalah limbah.1 x 10-9. Bila makanan terkontaminasi oleh bahan ini. Dilihat dari sifat keterbakaran. dan berakumulasi (biomagnifikasi) pada jaringan lemak. Dioxin juga dicurigai dapat menghilangkan pertahanan tubuh terhadap penyakit. Tetapi sifatnya yang racunlah yang mendatangkan masalah. Ether Ether adalah senyawa organik yang molekul-molekulnya mempunyai atom oksigen yang menjembatani 2 grup alkyl atau aryl (R-O-R'). Oleh karenya. Senyawa induk dari kelas alkohol ini juga bernama fenol atau hidroksibenzene. Fenol merupakan produk industri kimia yang penting. Disamping itu.4. reproduktif dan kanker. hidung dan kerongkongan dapat teriritasi.

yang biasanya digunakan sebagai pelarut. Salah satu jenis senyawa ini yang banyak digunakan dalam industri adalah ethyl asetat. Atom.5o C. Pemaparan di ruang kerja dibatasi sampai 400 ppm. Titik nyalanya adalah . Prentice Hall Building. yang terjadi bila asam-asam organik bereaksi dengan alkohol. sehingga dikelompokkan sebagai cairan yang mudah terbakar. Seluruh bahan dikutip dari: E. senyawa ini menyebabkan iritasi ringan pada mata.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Senyawa Organik Lain Senyawa organik dengan formula umum R-CO-OR' dikenal sebagai ester. merupakan cairan jernih dengan bau spesifik. Bila terpapar dengan manusia. Seperti halnya peroksoanorganik. 1989 Enri Damanhuri . hidung dan kerongkongan. Bahan ini digunakan untuk mempengaruhi proses polimerisasi pada pembuatan plastik. Senyawa perokso-organik merupakan turunan dari hidrogen peroksida.atom hidrogen digantikan oleh satu atau lebih grup alkil atau aril. karena mempunyai oksigen yang aktif pada strukr molekulnya. maka perokso-organik ini mempunyai kemampuan sebagai oksidator.FTSL ITB Halaman 80 . Meyer: Chemistry of Hazardous Materials.

yaitu muatan sebuah elektron sebesar -10 4.017966 amu ------------------. Simbol sebuah atom ditulis sebagai ZX .531 x 10 erg 4 Enri Damanhuri . Proton adalah partikel dasar dengan massa mendekati 1 dalam skala berat atom dan bermuatan + e.002775 amu ------------------. Unsur-unsur radioaktif yang secara alamiah terdapat di bumi adalah uranium. Misalnya diambil masa 2He yang terdiri dari 2 proton dan 2 netron: Massa proton = 2 x 1. radiasi kosmis dari luar angkasa telah memborbardir planit biru kita ini.015190 amu (atomic mass unit) Massa netron = 2 x 1. sebuah inti-atom dicirikan oleh nomor massa (A). Dimulai dengan teridentifikasinya sinar-X oleh William C.9979 x 10 ) erg = 4. yang sepadan dengan jumlah netron dan proton.033156 amu Massa inti-atom helium = 4.008983 = 2. yaitu E = mc maka sejumlah ekuivalensi enersi akan terbebaskan. dimana X adalah simbol kimia yang biasa digunakan untuk unsur tersebut. Untuk mengikat sejumlah besar netron dan proton dalam ruang yang sangat kecil yang tersedia dalam sebuah inti-atom. Karena massa atom terkonsentrasi dalam volume yang sangat kecil. dan terus berlanjut pengembangannya dengan perlombaan senjata nuklir sampai selesainya “perang dingin” antara negara-negara Barat dan negara-negara komunis di dunia. Becquerel pada November 1896. 14 3 maka densitas inti atom tersebut sangat tinggi.030381 x 1. Dengan menggunakan persamaan Einstein.Perbedaan massa (mass defect) = 0.030381 amu Perbedaan massa ini menghilang pada saat terjadinya fusi dua proton dan dua netron untuk 2 membentuk inti-atom helium. thorium dan radium. yaitu sekitar 2 x 10 gram/cm . Struktur sebuah Atom : Inti-atom (nucleus) terdiri dari proton dan netron. Röntgen pada Januari 1896. Oleh karenanya.8025 x 10 esu (electrostatic unit). yang proporsional dengan muatan positif pada inti-atom (Ze). dan kemudian ditemukannya radiasi dari radium oleh Antoine H. namun baru mendapat perhatian manusia pada akhir abad yang lalu.9979 x 109 cm/detik m = perbedaan massa (amu) -24 10 -5 Sehingga E = 0. Bentuk enersi nuklir merupakan hal yang paling spektakular yang pernah ditemukan dan digunakan oleh peradaban manusia selama ini. namun tidak bermuatan.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 BAGIAN VI LIMBAH RADIO AKTIF 1 UMUM Radioaktivitas sebetulnya bukanlah fenomena baru.+ = 4. Sejumlah besar materi radioaktif yang berumur sangat lama dihasilkan sebagai hasil samping yang tidak dapat dihindari. Namun keberadaan unsur-unsur radioaktif ini telah meningkat dengan dihasilkannya materi radioaktif artifisial oleh manusia untuk berbagai tujuan. terutama akibat penggunaan pembangkit enersi bertenaga nuklir di seluruh dunia dengan segala permasalahannya terhadap lingkungan. Netron juga merupakan partikel dasar dengan besaran mendekati 1 unit satuan atom. dan nomor atom (Z). Intensitas radiasi tersebut relatif tidak tinggi dan radiasi tersebut dapat ditahan oleh atmosfer bumi. Kapasitas penghancur senjata nuklir telah dibuktikan dalam Perang Dunia II.FTSL ITB Halaman 81 . dibutuhkan satu ikatan yang sangat kuat. dan sepadan dengan A jumlah proton dalam inti-atom.elektron yang bermuatan negatif yang mampu mengimbangi muatan positif dari inti atom. sebab bila tidak maka akibat adanya gaya tolakan elektrostatis antara proton-proton maka akan mengakibatkan mereka terpencar.65985 x 10 x (2. 2 SIFAT-SIFAT RADIOAKTIVITAS Sebuah atom terdiri dari sebuah inti (nucleus) bermuatan positif dan sejumlah planet-planet yang mengorbit pada intinya dan elektron. Dalam hal ini: c = kecepatan cahaya=2. Selama berjuta tahun.007595 = 2.

yang 235 238 mempunyai proton sebanyak 92.715 99.FTSL ITB Halaman 82 . Jadi isotop adalah elemen yang mempunyai nomor atom yang sama.02 1D 7 7 -10 N14 15 N 99. dikenal sebagai hidrogen berat atau deuterium.elektron terluar.95 50Sn 114 0. Dengan demikian.365 99. dan biasanya cukup dituliskan sebagai U-235 dan U-238. Atom terakhir ini merupakan sebuah isotop dari hidrogen.98 50Sn U 235 92U 238 92U 92 234 0.34 50Sn 116 14.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Elektron dapat dianggap sebagai partikel dengan muatan negatif e (4.635 0.24 50Sn 117 7. Atom tersebut disebut sebagai isotopis satu terhadap yang lain. Terdapat pula sebuah atom dengan inti-atom yang terdiri dari sebuah proton dan sebuah netron disertai sebuah electron. Sebuah atom adalah netral.15 20Ca 46 0.28 ----------------------------- Peluluhan Radioaktif : Pada kondisi normal. sehingga jumlah elektron harus mengimbangi nomor atom (jumlah proton dalam inti-atom). Sifat-sifat kimiawi dua buah isotop akan sama.20 O16 O17 18 8O 8 8 20 20 Ca40 96.58 50Sn 120 32. Contoh lain adalah isotop uranium. Tabel 6. inti atom sangatlah stabil.1: Campuran isotop di alam ------------------------------Isotop Persentase ------------------------------1 99. Elektron-elektron ini terikat dalam orbitnya oleh gaya elektrostatis dengan jarak yang bervariasi terhadap inti-atom.97 50Sn 122 4. Sifat-sifat kimiawinya adalah identik. Di alam terdapat atom dengan 1 elektron (hidrogen) sampai 92 elektron (uranium) dan massanya bervariasi dari 1 (sebuah proton pada hidrogen) sampai 238 (92 proton dan 146 netron pada uranium). Isotop : Nomor atom dari sebuah unsur menentukan jumlah elektron dan merupakan identitas kimiawinya. akan berbeda. Bisa saja dijumpai dua buah atom yang mempunyai nomor atom yang sama tetapi berbeda masanya. Sebagai contoh adalah sebuah atom hidrogen yang mempunyai sebuah proton dan sebuah elektron.64 43 0. Bila sebuah inti-atom yang tidak stabil mengemisikan partikel alfa. dijumpai dalam bentuk 92U dan 92U . dan menjadi isotop yang berbeda untuk elemen yang sama. tetapi sifat-sifat fisisnya yang tergantung pada masanya. Rutherford kemudian menunjukkan bahwa radiasi tersebut terdiri dari tiga jenis radiasi yang berbeda. dan tidak mengalami perubahan sifat-sifat kimiawi karena hanya melibatkan elektron.1.97 42 Ca 0.8025x10 esu). secara artifisial dapat dihasilkan isotop-isotop yang tidak stabil yang dikenal sebagai radionuklisida (radionuclicide) dari unsur-unsur yang ada. Hampir semua unsur terdapat di alam dalam bentuk campuran dari isotop-isotop seperti terlihat dalam Tabel 6. Radiasi ini terdiri dari emisi dua proton dan dua netron dari inti-atom. Kemudian ternyata bahwa fenomena tersebut berasal dari kegiatan pada inti-atom dan fenomena tersebut terjadi pada seluruh elemen dengan nomor atom lebih dari 83.19 20Ca ------------------------------- -------------------------------Isotop Persentase -------------------------------112 0. maka nomor atomnya menurun 2 satuan sedang massa atomnya menurun 4 satuan. β (beta) dan γ (gamma).76 0.98 1H 2 0. seperti pada contoh peluluhan uranium ke thorium: Enri Damanhuri . Radiasi α adalah merupakan partikulat dan setiap partikel alfa adalah sebuah inti helium yang 9 berkecepatan tinggi sampai mencapai 10 cm/detik. tetapi mempunyai jumlah massa yang berbeda. Tahun 1986 Becquerel menemukan bahwa garam-garam uranium meng-emisikan sejenis radiasi yang menyebabkan pelat fotografis menjadi hitam. dengan massa 1/1840 proton (0.00055 amu).04 0.0033 20Ca 48 0. dan jumlah elektron serta susunannya merupakan kunci sifat-sifat kimiawi dari elemen tersebut. dan sifat-sifat nuklirnya agak berbeda dari hidrogen biasa.01 50 119 8.0058 0.71 50Sn 124 5.65 50Sn 115 0.57 50Sn 118 Sn 24. yang dikenal kemudian sebagai radiasi α (alfa).

namun dapat bermanfaat. dan hanya dapat dihentikan misalnya dengan lembar alumunium setebal 1 cm. Radioaktivitas menjadi kajian yang menarik dalam masalah lingkungan karena dampak negatifnya terhadap organisme yang terpapar. enersinya secara bertahap dilepaskan akibat interaksi dengan atom yang lain. muatan positif menarik elektron. namun juga harus mampu menahan kemungkinan radiasi dari hasil peluluhannya yang bisa saja lebih berbahaya. misalnya digunakan sebagai pelacak (tracer) untuk membantu pengukuran aliran materi dalam lingkungan. Radiasi ini dipancarkan dari inti-atom yang tidak stabil sebagai transformasi spontan dari sebuah netron ke sebuah proton dan elektron. dan membutuhkan beberapa cm timah untuk mengisolasinya. Ketika partikel α melalui suatu media. sebab walaupun secara kimiawi asalnya tidak toksik atau tidak korosif. thorium yang dihasilkan berbeda dengan uranium karena sifat-sifat kimia ditentukan oleh nomor atomnya.99 kecepatan cahaya. penyekatan harus dirancang bukan saja agar mampu menahan radiasi dari limbah asalnya. Penentuan rancangan penyimpanan atau penyingkiran limbah radioaktif. Radiasi β dapat dianggap pula sebagai partikulat. yaitu antara -3 -7 10 sampai 10 µm. Secara kimiawi. Kulit manusia dapat menahan radiasi ini. namun penetrasinya pada jaringan tubuh lebih dalam. Partikel α dapat menembus pada jaringan tubuh sampai 100 µm. dan bergerak dengan kecepatan cahaya. maka partikel ini sangat berbahaya. Oleh karenanya. Dalam perjalanannya. sehingga sinar ini mempunyai kemampuan untuk mengionisasi dan dapat merusak jaringan hidup.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010  92Th +2α Dalam reaksi ini dikeluarkan partikel α (inti helium) dari inti-atom. menaikkan tingkat enersinya dan melepaskannya dari inti. tetapi nomor atomnya meningkat satu satuan. Sinar γ dapat pula terbentuk akibat transformasi itu. Massa partikel β diabaikan. yaitu: -Kt N = N0 dengan N = jumlah inti radioaktif setelah t waktu N0 = Jumlah inti awal t = waktu yang ditinjau K = konstanta peluluhan radioaktif 92U 238 234 4 Enri Damanhuri . Sinar β dan γ mempunyai kemapuan penetrasi yang lebih tinggi dibanding sinar α. perlu memperhatikan sifat peluluhan itu sendiri. Sinar tersebut sangat sulit dihalangi. Sebuah inti-atom dapat terurai dengan kehilangan partikel α atau β-nya. Rutherford et al menemukan bahwa intensitas radiasi mengalami peluluhan secara eksponensial terhadap waktu. yaitu sebuah elektron. Thorium yang dihasilkan dalam reaksi itu tidak stabil. dan setiap partikel β adalah sebuah elektron negatif yang berkecepatan tinggi sampai mencapai 0. Sekali lagi. Radiasi γ tidak mempunyai muatan atau masa. Radiasi γ adalah radiasi eletromagnetis dengan panjang gelombang sangat pendek. namun massanya tetap. sifat kimiawi dari kedua unsur tersebut berbeda. Inti radium misalnya secara spontan akan terurai dengan melepaskan partikel α. namun hasil peluluhan bisa saja menjadi lain.FTSL ITB Halaman 83 . Jumlah masa tidak berubah. Partikel α relatif massif dan mudah dihentikan. dan konversi tersebut dapat dianggap sebagai perubahan sebuah netron menjadi sebuah proton. tetapi bila terhirup melalui pernafasan. Hal ini perlu mendapat perhatian pada saat penanganan limbahnya. terutama dalam penyimpanan dan penyingkiran. yaitu: 234 234  91Pa + e 90Th Emisi sebuah muatan negatif dari inti-atom mengakibatkan muatan positif bertambah satu yaitu pada protactinium. Perbedaan jenis radiasi tersebut di atas terkait dengan peluluhan inti atom-atom radioaktif. sedang partikel β bisa mencapai beberapa cm. dan akan meluluh dengan mengeluarkan sinar β. Sebagai contoh adalah peluluhan strontium-90 menjadi yttrium : 90 90  39Y + β 38Sr Ionsasi yang terjadi pada partikel β frekuensinya lebih sedikit dibanding partikel α. Fenomena ini dikenal sebagai pengionan (ionization).

FTSL ITB Halaman 84 . Nilai waktu paruh tersebut bervariasi dari satu isotop ke isotop yang lain. Tidak terdapat pola yang jelas antara waktu-paruh isotop-isotop yang diamati dengan mekanisme peluluhannya. Tabel 6.60 x 10 tahun 88 -------------------------------------------------Sebagai gambaran. Isotop Artifisial: Dengan ditemukannya radioaktivitas alamiah. dan persamaannya menjadi : t1/2 = ln2/k ≈ 0. maka akan tertinggal sebanyak 50 gram setelah 1 tahun.51 x 109 tahun 92U 234 β 24. tetapi inti-atom memecah dalam dua fragmen dengan massa yang hampir sama. seperti yang banyak dilakukan dalam reaktor-reaktor nuklir. Oleh karena itu seluruh rantai peluluhan tersebut harus diperhitungkan dalam perancangan limbah radioaktif.7 x 10 Ci. Bila sebuah partikel seperti partikel alfa atau sebuah proton atau sebuah netron bertumbukan dengan inti-atom. menjadi 25 gram setelah 2 tahun. Reaksi lain yang dapat terjadi adalah bila inti-atom yang berat menyerap sebuah netron. hasilnya akan dapat dipisahkan secara kimiawi dan merupakan sumber yang berlimpah bagi isotop-isotop artifisial. maka terbentuk isotop baru. tetapi waktuparuh dari nuklisida-nuklisida akan sangat bervariasi. yang merupakan laju desintegrasi inti-atom 1 gram radium. aktivitas tersebut -11 dinyatakan sebagai becquerel (Bq). Namun banyak hasil rekasi yang bersifat tidak stabil.atom nitrogen di udara. 17 Enri Damanhuri . hal ini dikenal sebagai fisi nuklir.17 menit 91U 234 α 2. dan luluh secara radioaktif. yaitu waktu yang dibutuhkan agar inti tersebut luluh menjadi setengahnya. Misalnya 236 236 menyerap sebuah netron menghasilkan isotop yang tidak stabil 92U (?). Tabel 6. Dalam satuan SI. artinya sebuah sumber dengan kekuatan 1 Bq akan mengemisikan satu 60 partikel per detik. bila dimulai dengan sebuah isotop yang mempunyai waktu-paruh 1 tahun dan mempunyai berat 100 gram. tetapi 27Co akan mengemisikan sebuah partikel beta dan dua sinar gamma.7 x 10 per detik. manusia mulai mengamati pengaruh radiasi terhadap materi yang diradiasinya.2 : Contoh waktu-paruh -----------------------------------------------Isotop Radiasi Waktu-paruh ------------------------------------------------------------238 α 4. Misalnya 38Sr meluluh dengan emisi sebuah partikel beta. yaitu: 1 Bq = 2. Waktu-paruh tersebut tidak dapat dirubah namun memainkan peranan yang penting dalam aktivitas penyimpanan dan penyingkirannya.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Kemudian persamaan tersebut disederhanakan menjadi persamaan waktu-paruh t1/2. Satu Ci sebanding dengan desintegrasi sebanyak 3. Aktivitas sebuah sumber tidak 90 langsung mengidentifikaikan jumlah partikel yang teremisi.0 x 10 tahun 90Th 226 3 Ra α 1. yang dapat membingungkan pemakainya.47 x 105 tahun 92U 230 4 α 8. Unit Satuan yang Digunakan: Banyak satuan yang digunakan dalam bidang radioaktivitas ini. Waktu-paruh dari sebuah isotop adalah tetap. yaitu N = 1/2 No.2 memberikan gambaran waktu-paruh dari enam isotop pertama yang terdapat pada ilustrasi sebelumnya. Terbukalah pintu penelitian terhadap reaksi nuklir atau penelitian terhadap pembuatan isotop-isotop artifisial. Reaksi nuklir pertama yang terdeteksi adalah partikel alfa dari polonium yang dibuat agar terjadi reaksi dengan atom. Peluluhannya 92U tidak dengan jalan mengemisikan partikel-partikel α atau β.1 hari 90Th 234 β 1. Satuan Curie (Ci) adalah satuan dasar yang menyatakan besarnya peluluhan 10 sebuah sumber. sehingga memberikan reaksi : 14 4 17 + 2He  8O + proton 7N Dalam hal ini 8O adalah stabil. Bila cara reaksi fisi yang terkontrol ini berlangsung.693/k Waktu paruh sebetulnya tidak dapat dihitung tapi harus diukur secara eksperimental.

Sifat radioaktivitasnya akan menurun dengan sendirinya sesuai dengan waktu paruhnya. Pengukuran aktivitas sumber ternyata tidak menjelaskan tentang pengaruh radiasi yang teremisi terhadap sekitarnya. Satuan yang digunakan dalam kesehatan adalam satuan rem (radiation equivalent man). Satu rem adalah sepadan dengan penyerapan 100 erg enersi radiasi untuk satu gram jaringan tubuh. mulai limbah asal (limbah'orang tua'nya) sampai hasil luluhannya (limbah 'anak-anak'nya). Satuan baru (satuan SI) yang diusulkan adalah dengan satuan coulomb (C). Untuk itu perlu adanya jaminan bahwa isotop-isotop yang aktif tidak berkontak dengan lingkungan sampai batas konsentrasi tertentu yang menyebabkan tidak timbulnya masalah. biologis serta kimiawinya. misalnya bagaimana menyerap unsur berbahaya. Sifat mencemari dari sebuah limbah akan ditentukan oleh karakteristik fisis. yang menyatakan ukuran ionisasi per kilogram. Tetapi hanya fraksi dari radiasi ini yang terlacak ke luar.FTSL ITB Halaman 85 . atau sebesar 10 J/Kg. Bila limbah yang mengandung pencemar mengalir ke lautan atau ke sungai. Sampai saat ini praktis belum ditemukan teknologi atau tata cara baik secara kimiawi maupun biologis untuk menetralisisr sifat-sifat radioaktivitas. Sebuah sumber sebesar 1 Ci dari radium yang dilindungi dengan sebuah kumparan platinum setebal 0.5 mm untuk mengabsorbsi setiap partikel α. maka akan dihasilkan limbah radioaktif yang tambah banyak dan dapat menyebakan radiasi pengionan. Dalam hal sebuah isotop menghasilkan produk yang tidak stabil. Bagian yang tersuspensi akan mengendap. Cara yang banyak dilakukan untuk menangani limbah cair adalah penyimpanan atau pengkonsentrasian. Secara umum. atau 1 Gy = 100 rad. dengan perlindungan yang ketat agar sifat-sifat radioaktivitasnya tidak membahayakan lingkungan. misalnya ke lautan yang dalam. Beberapa cara memang banyak dikembangkan. komponen radioaktif dalam limbah cair dikonversi menjadi limbah padat yang tetap bersifat radioaktif dan harus tetap ditangani. Dalam satuan SI. yang 3 merupakan kuantitas dari radiasi X atau γ yang menghasikan ion-ion. tetapi ini hanya memindahkan masalah. bagian organiknya akan teroksidasi. Dalam mengukur ionisasi selain gas. terdapat kesulitan. menghasilkan intensitas radiasi 0. Cara yang biasa dilakukan untuk menangani limbah padat adalah membuangnya atau menyingkirkannya. maka jumlah partikel yang teremisikan per satuan waktu akan dapat dihitung. Cara yang diterapkan sekarang sebetulnya tidaklah tuntas. satu-satunya pemecahan yang tuntas adalah hanya dengan memanfaatkan waktu-paruh peluluhannya. Dalam hal ini 1 C/Kg = 3876 R. yaitu satuan pengukuran terhadap penyerapan enersi radiasi oleh jaringan tubuh manusia. Dengan pengebangan teknologi dan ilmu nuklir serta penggunaan isotop-isotop radioaktif yang makin luas.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 jadi sumber tersebut yang mempunyai aktivitas 1 Bq mengemisikan tiga partikel sekaligus per detik. sedang bagian kimiawinya akan terencerkan. 3 PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF Pengolahan dan pembuangan (penyingkiran) limbah yang bersifat radioaktif merupakan masalah yang berat dalam abad nuklir ini. atau memindahkan dalam bentuk padat untuk kemudian dibuang/disingkirkan sambil menunggu luluh dengan sendirinya sesuai dengan waktu-paruhnya. bila kekuatan sebuah sumber serta mekanisme peluluhannya diketahui.8 R per jam pada jarak 1 m dari sumber. Enri Damanhuri . ke dalam tanah yang dibangun khusus untuk itu. Pengukuran ini dilakukan pertama kali dengan satuan röntgen (R). karena hanya bersifat mengurangi konsentrasinya. Oleh karena itu digunakan satuan rad (radiaton absorbed doses). Pencemar radioaktif akan tereduksi dengan sendirinya dengan peluluhan alamiahnya. 1cm udara mengandung muatan 1 esu. maka intensitas totalnya persatuan waktu adalah merupakan penjumlahan. sejumlah pencemar yang terkandungnya akan terolah secara alamiah. karena beberapa diantaranya terserap oleh materi radioaktif itu sendiri. Dikatakan telah menyerap radiasi sebesar 1 rad bila 1 gram materi -2 menyerap 100 erg enersi. digunakan satuan gray (Gy) yang sepadan dengan penyerapan enersi 1 J/Kg. Dengan satuan ini memungkinkan dosis radiasi dalam gas diukur langsung dengan alat elektronik tanpa harus menentukan terlebih dahulu enersi terabsorbsi.

3 milirem/minggu Ditinjau dari tingkat aktivitas radioaktivnya. yaitu: . Radiasi ini sebagian besar berasal dari sumber alamiah seperti sinar kosmis (102 mrem/tahun). diagnosa medikal dari sinar-X sekitar 72 mrem/tahun.2 berikut menggambarkan hasil fisi bila digunakan 1 ton uranium.atas kandungan radioaktifnya . pembangkit tenaga nuklir komersial sebesar 0. Dalam banyak hal. Berikutnya bahwa tidak sulit menarik keyakinan bahwa setelah dibuang konsentrasi tidak mengalami penurunan akibat reaksi kimiawi ataupun biologis. secara berkala dibutuhkan pengeluaran bahan bakar ini. yaitu : . Pertimbangan genetika mengharuskan bahaw rata-rata dosis radiasi yang dietreima oelh manusia secara keseluruhan adalah 1. bila dapat menunjukkan bahawa tidak seorangpun menerima dosis lebih dari 10 milirem/minggu.01 mrem/tahun. yang lebih realistis adalah mendeteksinya berdasarkan sumbernya. yang terakumulasi guna menurunkan tenaga reaktor melalui absorpsi netron.3: Hasil fisi dari pembakaran 1 ton Uranium -------------------------------------------------------------------------------------Kelompok Kimiawi Elemen Kimiawi Berat (Kg) ------------------------------------------------------------------------------------Gas jarang Kripton dan xenon 128 Alkali berat Rubidium 15 Caesium 118 Alkali tanah Strontium 42 Barium 43 Ytrium 317 Elemen ke 4 Zirconium 125 Elemen ke 5 Niobium 5 Elemen ke 6 Molybdenum 92 Tellurium 16 Elemen ke 7 Technetium 29 Iodine 7 Logam jarang Ruthenium. laju penghasil panas yang tinggi dan waktu paruh radioaktif yang panjang. Sumber utama dari limbah jenis ini misalnya dari kegiatan kedokteran. cair atau gas yang dihasilkan selama pembuatan atau penggunaan substansi radioaktif. Tabel 6. Tabel 10. mengambil uraniumnya dan memisahkan plutonium yang juga terbentuk. pembuangan limbha cair ke saluran riolering adalah dianggap aman bila ratarata konsentrasi radioaktivitas dalam saluran tidak lebih dari 10 -4 µc/ml. Total keterpaparan radiasi di USA apada tahun 1980-an untuk segala sumber sekitar 182 mrem/tahun/orang. Definisi limbah radioaktif adalah buangan dalam bentuk padat. Limbah tingkat tinggi sangat sedikit mengandung radioaktivitas.atas potensi bahayanya . Penyimpanan dan Pengkonsentrasian Limbah Cair : Limbah cair yang paling banyak dihasilkan agaknya berasal dari proses pembuatan bahan bakar nuklir. Metoide pembuangan dianggap aman. Karena tidak praktis untuk memprediksi kandungan radioaktif buangan padat. uranium menghasilkan sekitar 30 radionuklisida. Dalam proses fisi. penelitian kesehatan.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Sumber-sumber Limbah Radioaktif : Definisi buangan/limbah radioaktif dapat didasarkan atas tiga pendekatan. Oleh karenanya. rhodium dan palladium 61 ----------------------------------------------------------------------------------- Enri Damanhuri . tetapi praktisnya sulit untuk direalisis. maka terdapat dua jenis limbah radioaktif.limbah tingkat rendah .FTSL ITB Halaman 86 . Termasuk di dalamnya adalah kelompok limbah yang sebetulnya tidak begitu berbahaya. Limbah ini dicirikan dengan kemampuan penetrasi radiasi yang tinggi. Oleh karenanya. tetapi tetap mempunyai potensi konsentrasi limbah berbahaya. tidak membutuhkan sedikit atau bahkan tidak dibutuhkan kontainer khusus.limbah tingkat menengah/tinggi Limbah tingkat menengah/tinggi dihasilkan dari pemerosesan kembali bahan bakar nuklir yang mengandung seluruh produk fisi. namun tetap dianssumsi berbahaya sampai terdapat pembuktian.atas sumbernya Pendapat pertama dan kedua secara prinsip lebih baik. laboratorium-laboratorium penelitian.

Penyimpanan limbah radioaktif dalam bentuk solidifikasi dengan glas dianggap aman dan efektif. Media penukar ion yang mengandung sejumlah ionion yang dapat ditukar tersebut. Pengolahan Limbah Cair: Seperti dibahas di muka. akan tervolatilisasi dengan sendirinya. Disamping dengan cara penguapan. misalnya dalam pembuangan atau penyingkiran akhir. sehingga masalah timbulnya tekanan yang meninggi secara tiba. namun yang mungkin adalah mengkonsentrasikan nuklisida-nuklisida tersebut dalam volume cairan yang relatif kecil. didapatkan limbah yang terbungkus secara solidifikasi. penukaran akan terjadi bila kation pada media penukar mempunyai affinitas yang sama atau lebih kecil dari yang akan menggantikannya.FTSL ITB Halaman 87 . Beberapa radioisotop. Alternatif lain adalah dengan regenerasi sesuai dengan ion yang terkandungnya. Tetapi laju pelepasan panas tersebut tidaklah teratur. maka beberapa metode yang digunakan adalah dengan penukar ion. Media yang dikenal mempunyai kapasitas penukar ion yang tinggi adalah resin sintetis. Limbah cair biasanya dinetralkan dan disimpan dalam kontainer baja kualitas baik atau dalam beton bertulang. biasanya agitator udara atau sirkulasi cairan digunakan. Secara praktis. yaitu penukar kation dan penukar anion. Sarana pemonitor dini terhadap kemungkinan kebocoran sangat diperlukan. Limbah yang akan diuapkan biasanya diletakkan pada kontainer baja yang divakumkan sampai mencapai volume yang belum memungkinkan terjadinya endapan. sifat-sifat radioaktif tidak dapat dimusnahkan. Limbah cair dengan sifat-sifat radioaktif mempunyai sifat yang secara spontan dapat mendidih dengan sendirinya karena adanya absorpsi enersi radiannya sendiri. Perlu pula adanya katup pelepas tekanan uap dan uap tersebut kemudian dikembalikan lagi ke kontainer tersebut. proses kimiawi atau biologis. misalnya : Hg++ < Zr++++ < Li+ < H+ < Na+ < K+ < Rb+ < Cs+ < Ag+ < Mn++ < Mg++ < Cu++ < Ca++ < Sr++ < Al+++ Enri Damanhuri . yaitu dengan memanfaatkan media tertentu yang mempunyai sifat dapat menukarkan kation atau anionnya dengan kation dan anion lain dari limbah. Akan terdapat dua jenis penukar ion. adalah kemungkinan terjadinya endapan. sebab bila tidak. misalnya. yang tentu saja akan menaikkan biaya penyimpanan. seperti rutheniumakan. Media ini relatif lebih stabil. maka usaha lain adalah mengkonsentrasikan limbah tersebut agar volumenya berkurang. yaitu ion-ion dari limbah. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam evaporator limbah jenis ini adalah agar sarana tersebut tidak membutuhkan perawatan yang terlalu rumit. dapat digunakan terus sampai materi tersebut menjadi jenuh dan tidak dapat lagi berfungsi. Proses penukar ion adalah proses yang sudah lama dikenal. Dalam proses pendinginan. Dari proses ini akan dihasilkan cairan dengan konsentrasi yang sangat tinggi yang mengandung elemen radioaktif yang harus ditangani lebih lanjut. akan menyulitkan karena jenis limbahnya yang bersifat radioaktif.ion radioaktif tersebut ditukar dengan ion-ion yang tidak aktif yang terdapat dalam media. sehinga membutuhkan penanganan dengan kontrol yang ketat. Inggeris. maka kontainer baja perlu dilapis dengan bahan anti karat.tiba perlu diperhatikan dalam rancangan penyimpanan. sehingga memudahkan dalam penanganan berikutnya. Masalah yang timbul bila limbah tidak dipertahankan dalam kondisi asam. Larutan tersebut kemudian terevaporasi akibat panas yang terjadi. Namun hal ini kurang memuaskan hasilnya karena panas yang dikeluarkan per satuan volume relatif rendah. Bila limbah dipertahankan dalam kodisi asam. melaslukan pencampuran limbah cair terkonsentrasi dengan silika dan borax dalam larutan asan nitrat. Mengingat bahwa bila limbah cair yang disimpan dengan cara tersebut akan membutuhkan biaya besar. Sumur-sumur pemantau juga diperlukan di sekitar kontainer yang ditanam dalam tanah. Sebetulnya dengan sifat dapat memanaskan dirinya sendiri akan memungkinkan proses swa-evaporasi. Media penukar ion tersebut kemudian dapat dianggap sebagai limbah padat dan membutuhkan penanganan khsusus dalam pembuangan akhir. misalnya dengan proses evaporasi. Jadi ion.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Elemen-elemen bahan bakar yang tidak teradiasi tetap mengandung bahaya radioaktif dengan tingkat aktivitas sekitar 10 sampai 15 curie/L. agar masalah bocornya limbah ini dapat segera diketahui. Kapasitasnya akan tergantung pada afinitas relatifnya. Dibutuhkan kumparan pendingin agar panas yang dihasilkan akibat terjadinya peluluhan radioaktif dapat dikeluarkan. Guna mengurangi masalah ini.

Ion penukar dari media ini mayoritas adalah magnesium. akan lebih mudah mengendap sehingga efisiensi penyisihannya menjadi lebih tinggi. Oleh karenanya. promethium dan ruthenium akan lebih mudah terserap sehingga dapat terkonsentrasi dalam lumpurnya. dan dapat memampatkan media penukar ion tersebut. silika aktif atau sodium fosfat juga dapat diterapkan dalam limbah radioaktif ini. penambahan koagulan akan menyebabkan materi tersuspensi yang juga bersifat radioaktif. Walapun telah dilakukan pembubuhan kimiawi secara flokulasi. sedang caesium-137 mempunyai waktu paruh yang pajang. Diantara katode tersebut diletakkan membran secara bersilangan. namun hal ini cenderung mengurangi sifat-sifat mengendap dari partikel tersebut. cerium. Radiostrontium merupakan isotop yang paling berbahaya sebagai penyebar emisi beta. yang biasanya dipisahkan melalui vermiculite. Sasaran dari cara ini adalah bagaimana mengkonsentrasikan nuklisida. Dengan demikian akan terjadi sekaligus penukaran kation dan penukaran anion. maka pH yang lebih tinggi akan menghasilkan penyisihan yang lebih tinggi pula. Dalam hal ini vermiculite mempunyai kemampuan untuk itu.koagulasi-pengendapan. yang prinsipnya adalah identik dengan penyisihan air asin. walaupun kemampuan dekontaminasinya relatif tidak begitu besar. adalah partikel flok dan partikel tersuspensi tersebut harus diendapkan dan tidak terbawa ke dalam efluennya kembali. karena merupakan unsur monovalensi. Beberapa jenis flokulan yang biasa digunakan dalam teknologi pengolahan limbah seperti garam-garam aluminium. ferro dan ferri sulfat. yaitu sebagai penukar anion dan penukar kation. sehingga media menjadi lebih cepat jenuh. lignite atau resin sintetis terlebih dahulu. terdapat kecendrungan bahwa kation multivalensi seperti yttrium. Beberapa jenis lempung. Aruh searah dilalukan pada dua elektrode yang terendam. atau densitas buangan lumpurnya menjadi lebih tingi. sehingga akan menambah efisiensi penyisihan secara keseluruhan. namun media ini mempunyai sifat-sifat penyaringan yang buruk sehingga menyulitkan dalam operasionalnya. Unit-unit pengendap yang biasa digunakan dalam pengolahan limbah akan menghasilkan kinerja yang sama. seperti telah dibahas di muka. Walaupun dilakukan penaikan pH. maka relatif sulit untuk dipisahkan dari larutannya.FTSL ITB Halaman 88 . Disamping itu. terutama montmorillonite mempunyai kapasitas penukar ion sampai 1 miliekuivaalen (meq) per gram. Dua jenis isotop yang paling penting untuk dijadikan acuan adalah radiostrontium dan radiocaesium.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Salah satu kelemahan dari cara ini adalah bahwa media ini tidak dapat membedakan antara ion yang aktif atau ion yang tidak aktif. Pengolahan limbah radioaktif secara kimiawi diterapkan di banyak negara. setiap media yang digunakan dalam penukar ion harus mampu menyisihkan kedua jenis isotop tersebut. Dengan demikian. bila yang akan ditangani adalah produk fisi yang tercampur. Media alamiah lainnya adalah penggunaan vermiculite atau lignite. Koagulan akan menyerap ion-ion tertentu dari larutan dan membentuk partikel yang lebih besar. yaitu sekitar 30 tahun. Cara lain aplikasi penukar ion adalah penggunaan electrolitis deionisasi. maka Mg cenderung akan mengendap sebagai hidroksida. misalnya disingkirkan ke dalam tanah dan sebagainya. namun tetap dibutuhkan mekanisme lain agar sebanyak mungkin materi tersebut terpisah dari cairannya. Beberapa jenis media alamiah juga mempunyai kemampuan untuk berfungsi sebagai penukar ion antara lain adalah tanah lempung (clay). limbah lumpur yang terkonsentrasi tersebut dapat ditangani lebih lanjut. yaitu dengan merangsang terjadinya partikel flok yang mudah mengendap. Barium khlorida juga dapat digunakan untuk mengendapkan ion-ion sulfat dan tellurate. Salah satunya adalah radiocaesium. yaitu unit pengendap. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan penambahan koagulan. Media ini mempunyai kemampuan filtrasi yang baik dibandingkan montmorillonite dan kapasitas penukar ionnya sekitar 0. Bila limbah dengan pH tinggi melalui media tersebut. jenis radionuklisida yang akan dipisahkan.7 meq/gram. Alternatif lain adalah dengan penambahan lempung selama koagulasi. Disamping itu. Umumnya. Dalam hal garam-garam besi yang digunakan. namun ada beberapa kation atau anion radioaktif yang membutuhkan penanganan khusus. namun cara ini cocok untuk limbah yang mempunya kadar radioaktif rendah. Langkah berikutnya. kemudian diikuti dengan pembubuhan ferri sulfat untuk menyisihkan kelebihan barium Enri Damanhuri . Pemilihan proses yang dilakukan adalah tergantung pada kinerja penyisihan yang diinginkan. Keberhasilan pembentukan flok harus diikuti dengan unit operasi yang lain yang sangat menentukan.

misalnya oleh mikroorganisme semacam bakteria dan algae bersel tunggal. c. yaitu: a. Salah satu nuklisida yang relatif suulit untuk ditangani adalah ruthenium. mungkin mengadung komponenkomponen organik biodegradabel. pada suatu saat akan mengakumulasikan radioaktif ini sampai di atas batas yang diizinkan (biomagnifikasi). Jadi bila badan air tersebut terkontaminasi dengan isotop radioaktif. Pengolahan biologis juga dapat dipertimbangkan guna merangsang tumbuhnya mikroorganisme yang berfungsi sebagai adsorben biologis. Pengolahan secara biologis bagi limbah radioaktif yang dikatagorikan ringan biasanya didasarkan atas satu diantara tiga pertimbangan. yaitu: (aktivitas per satuan berat organisme)/(aktivitas per satuan berat air) Disamping itu. Cara yang paling baik yang pernah dilakukan adalah dengan co-presipitasi dengan tembaga sulfida dalam suasana asam. atau bermuatan positif (kation) seperti polyvinyl pyridinium butyl bromide. sehinga menaikkan proses koagulasinya. Akumulasi radioaktif oleh organisme biasanya dinyatakan dengan faktor konsentrasi (FK). Pengolahan secara biologis yang sengaja dibangun mempunyai prinsip identik dengan yang biasa digunakan dalam pengolahan limbah lain. b.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 dan bertindak pula sebagai koagulan. Fenomena ini juga dimanfaatkan dalam penyerapan elemen-elemen tertentu oleh tumbuhan air seperti eceng gondok guna mengurangi konsentrasi pencemar radioaktif berkadar rendah. Beberapa diantara jenis polimer tersebut mempunyai muatan negatif (anion).FTSL ITB Halaman 89 . fenomena lain yang dapat terjadi secara alamiah adalah penyisihan elemenelemen radioaktif oleh adsorpsi permukaan. akan dihasilkan cake lumpur tetapi masih mengandung air sampai sekitar 85 %. yang akan mengganggu dalam pengolahan isotop radioaktif secara kimiawi. Dengan mengunakan filter vakum. Langkah berikutnya adalah penanganan lumpur yang berasal dari unit pengendap yang masih mengandung kadar air tinggi (di atas 90%). Oleh karenanya dalam beberapa hal digunakan coagulant-aids. Hal yang penting dalam proses pengendapan tersebut adalah bagaimana mendapatkan efluen yang sangat baik. Sentrifugasi juga tidak memberikan pemecahan yang baik. bila limbah yang akan diolah tidak bersifat asam atau alkalin. Pengolahan dengan pembekuan ini akan mengkonsentrasikan elektrolit yang ada di sekitar partikel koloidnya. Limbah tersebut mungkin mengandung agen-agen organik kompleks. radioisotop tersebut akan cenderung berakumulasi pada tanaman air tersebut. bebas dari substansi toksik dalam konsentrasi tertentu sehingga dapat menghambat aktivitas Enri Damanhuri . yang dapat hadir sebagai kation. sehingga sebelumnya perlu diolah secara biologis guna mencapai baku muru yang diinginkan. dan dapat disisihkan dengan penggunaan garam-garam perak atau penukar anion. Cara yang banyak dilakukan adalah pembekuan. seperti senyawa caustic-hydrolised polyacrylamide. seperti senyawa sellulosa. Radioiodine biasanya hadir dalam kondisi anion. Seperti telah dibahas di muka. Partikel yang dihasilkan berupa granular dan dapat terendapkan serta tersaring secara baik. anion atau dalam bentuk non-ion. Penentuan analisis kimiawi dari elemen dalam organisme air dan air. Unsur-unsur multivalensi seperti zirconium dan plutonium dapat direduksi dengan cara ini. seperti sitrat. seperti yang dilakukan di Perancis. Efluen cair dari limbah radioaktif yang kadar radioaktivitasnya dikatagorikan rendah. Secara umum pengolahan secara biologis ini akan berfungsi baik. polysaccharida. Lumpur kering yang dihasilkan kemudian di tangani sebagai halnya limbah padat radioaktif. dilirkan ke badan air dengan mengandalkan pengenceran dan dispersi. lumpur kimiawi yang dihasilkan dari pengolahan tersebut sebagian besar akan bersifat koloidal dan tidak mengendap secara baik serta sulit difilter dalam proses penanganan lumpur. Organisme tertentu di alam dalam hal ini dapat menimbun radioisotop dalam tubuhnya. dan biasanya yang paling efisien dalah menggunakan polimer dengan berat molekul ting gi. Diketahui bahwa konsentrasi dari elemen-elemen yang biasa terdapat di alam seperti kalium. Limbah radioaktif yang akan dialirkan ke badan air. yaitu polyelectrolite. Dapat saja terjadi bahwa ikan yang berada dalam sungai yang menerima efluen limbah radioaktif cair dengan konsentrasi phosphorus-32 di bawah konsentrasi maksimum yang diizinkan untuk air minum. akan mengidentifikasikan maksimum konsentrasi isotop radioaktif yang dapat terjadi dengan cara tersebut. sehingga penggunaan filtrasi sedapat mungkin dihindari. kalsium atau strontium akan lebih tinggi terdapat di tumbuhan air dibandingkan air sekitarnya.

misalnya dalam pasangan beton. namun penempatan secara horizontal cocok untuk penyimpanan jangka pendek. supernatan tetap dialirkan kembali pada pengolahan limbah cairnya. atau dilakukan proses solidifikasi. Beton bertulang digunakan terutama karena alasan biaya. Dalam hal limbah aktif tersebut hanya menghasilkan radiasi alfa.000 rad. misalnya dalam aktivitas pemantauan tingkat peluluhan yang telah terjadi. Penyimpanan Limbah padat dan lumpur : Untuk limbah padat yang dikatagorikan menengah dan tinggi aktivitasnya. namun biayanya tiga kali lebih mahal. Dalam proses biologis. Menurut penelitian. misalnya dalam bentuk parit-parit beton bertulang. Dalam hal limbah yang akan disimpan sangat aktif. kolam-kolam atau saluran-saluran biologis yang ditamani tumbuhan air. seperti pengeringan pada media berbutir. limbah tersebut dapat dipindahkan dengan mudah. Konstruksi kontainer atau bunker tersebut dapat terbuat dari beton bertulang setebal 2 meter. yang dapat berbentuk tabung-tabung yang dapat dimasukkan ke dalam bunker secara vertikal. Dosis radiasi yang dibutuhkan agar dapat membunuh 99 % populasi bakteria dalam limbah radioaktif dapat mencapai 100. Beberapa pengolahan secara biologis yang telah diterapkan misalnya adalah kolamkolam oksidasi. Dengan cara demikian. filter perkolasi (trickling filter). penyimpanan dapat dilakukan dalam konstruksi batu bata saja. yang dapat dibangun lapis perlapis. Lumpur yang telah dikurangi kadar airnya dapat dibakar dalam sebuah insinerataor. Tinja tersebut membutuhkan waktu tunggu lebih dahulu sebelum bebas dibuang pada riolering kota yang dilengkapi dengan pengolah limbah secara terpusat.FTSL ITB Halaman 90 . Pengolahan lumpur yang dihasilkan adalah identik dengan pengolahan limbah lain. Dalam beberapa hal dibutuhkan penyimpanan yang bersifat sementara. sehingga praktis tidak terdapat bahaya radiasi. setelah terlebih dahulu dilapis guna mencegah tersebarnya radioaktif tersebut seperti halnya pengelolaan limbah limbah padat. hal esensial yang perlu diperhatikan adalah bagaimana agar organisme yang berfungsi tersebut tidak terpengaruh oleh radiasi. filtrasi atau seperti pengolahan secara kimiawi untuk limbah radioaktif yaitu pembekuan. maupun secara vertikal. khususnya bagi isotop dengan waktu-paruh lama. Cara lain adalah disingkirkan ke dalam tanah atau ke larutan seperti halnya penanganan limbah padat. Penyingkiran Limbah Padat dan Lumpur: Penanganan akhir dari limbah padat atau lumpur adalah dalam bentuk penyingkiran dalam tanah atau dalam lautan. maka perlindungan yang sangat ketat sangat dibutuhkan. plastik atau aspal. Bangunan tersebut dapat terdiri dari beberapa sel. maka dibutuhkan materi lain seperti timah atau beton baryte. Walaupun demikian. Mikroorganisme pada umumnya lebih resistan dibandingkan organisme yang lebih tinggi. Sarana tersebut harus juga mempertimbangkan pekerjaan berat untuk operasi menaikkan dan menurunkan beban yang berat. Pengaruh tersebut tidak terlihat secara nyata kecuali dalam tingkat aktivitas yang tinggi. penyingkiran dalam tanah dapat dilakukan dengan pembuatan lobang-lobang raksasa yang disiapkan dengan penuh kehati-hatian. proses lumpur aktif dan saringan pasir lambat. maka penyimpanan yang bersifat permanen akan dibutuhkan. Namun diperlukan perhatian agar beban sel yang diatas tidak akan langsung bertumpu pada sel limbah yang ada di bawahnya. Beton baryte dua kali lebih aman dari beton biasa. Penempatan secara vertikal baik untuk penyimpanan jangka panjang. dan limbah padat disimpan di sana sampai keaktifannya menjadi tidak membahayakan. Dalam hal ini perlu adanya kontrol bahwa supernatan yang dihasilkanya tidak mengeluarkan aktivitas radioaktif yang menganggu. lapisan 9 dengan aspal adalah cukup baik untuk menahan radiasi sampai 10 roentgen. Hal yang sudah pasti bahwa cara ini sama sekali Enri Damanhuri . Proses anaerobik juga dapat digunakan untuk mengurangi komponen. sedang abunya ditangani seperti limbah padat.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 biologis. Misalnya tinja dari manusia yang mengandung iodine-131 atau phophorus-32 akibat kegiatan kelinis seseorang. Bunker beton tersebut biasanya dilapis lagi dengan logam. Namun bila yang dikeluarkannya adalah radiasi beta atau gamma. Penggunaan bahan baja atau keramik dapat pula dipertimbangkan sebagai kontainer sebelum dimasukkan ke dalam bunker tersebut.komponen materi organik yang dikandungnya dan dikonversi menjadi gas metan. Cara lain dengan memanfaatkan bekas sarana penambangan yang sudah tidak lagi berfungsi.

menunjukkan bahwa ternyata tidak terjadi bahaya radiasi di sekitarnya. sifat imbah yang disimpan akan berubah sesuia dengan perubahan waktu. Adanya sifat peluluhan radioaktif akan menyebabkan ketidakstabilan dari limbah yang dihasilkan kemudian serta media yang dilaluinya. sampai aktivitasnya menjadi sedemikian rendah dan tidak menghadirkan bahaya radioaktif lagi bila disingkirkan dalam cara-cara biasa seperti dalam landfilling. diperlukan perlakuan khusus agar sifat radioaktifnya tidak menyebar keluar. bagi limbah denga waktu paruh lama. seperti lempung yang memounyai konsep identik dengan penukar ion. Analisis laboratorium menunjukkan bahwa radionuklisida yang mengalir dalam tanah tanpa menagalami absorpsi (tidak terserap dalam penukar ion tanah) adalah ruthenium. sehingga sifat-sifat material penyimpan harus memperhatikan hal ini. Dalam metode disperasl. Sarana yang dibangun dikelilingi dengan sumur-sumur pemantau yang relatif banyak (bisa mencapai lebih dari 50 sumur) dalam jarak yang berbeda. Untuk itu sebelum disingkirkan. tekstur. Penyimpanan dalam fase cair relatif lebih sulit dibandingakan Enri Damanhuri . Sulit memprediksi bahagiamana kestabilan sarana tersebut sampai ratusa tahun. sedangkan ruthenium-106 terdeteksi pada jarak 370 meter dalam jangka waktu yang sama. Kontainer atau sarana penyimpan tersebut harus bertahan sesuai kondisinya semula. bisa saja menjadi terkorosi setelah limbah tersebut mengalami perubahan. Masalah kedua yang muncul adalah pemilihan jenis sarana penyimpan. yaitu kurang dari beberapa milicurie dapat dicampur dan dibuang dengan limbah lain dan ditangani sebagai limbah berbahaya biasa. yaitu dengan mengkapsulinya dengan bahan yang dikenal baik dapat menahan radiasi limbah tersebut. Ion nitrat dideteksi pada jarak 520 meter dari sumbernya setelah 8 tahun. Pelaksanaan di lapangan ternyata lebh rumit terutama untuk jenis limbah menengah dan tinggi. Pengalaman yang diterapkan di Amerika. Ion-ion nitrat merupakan ion yang bergerak relatif cepat. Sarana tersebut oleh karenanya harus tetap dimonitor secara rutin. Hal ini akan menjadi masalah dengan meningkatnya limbah tersebut akibat penggunaan dan pengembangan industri nuklir dewasa ini. Konsep penyingkiran limbah radioaktif ini bersasaran menyingkirkan limbah agar tidak akan mengganggu lingkungan sampai keaktifannya terluluhkan dengan sendirinya sampai tingkat yang diperbolehkan. adalah menyingkirkannya dalam tanah yang sangat kedap dan dianggap mempunyai kemamppuan penukaran ion.FTSL ITB Halaman 91 . Ditinjau dari sifat kimiawi limbah tersebut akan terus berubah. termasuk dengan limbah lain terutama yang bersifat penukar ion. yang pertama harus mampu menahan radiasi jangan sampai ke luar dan yang kedua tahan terhadap penggunaan jangka panjang. sedang limbah radioaktif dengan katagori menengah dan tinggi harrus disimpan secara aman sampai aktivitasnya menurun sampai tingkat dengan katagori aktivitas rendah. porositas dan sifat-sifat tanah lainnya terutama dikaitkan dengan transportasi dan penyebaran pencemar limbah berbahaya tersebut. yang bisa mencapai ratusan tahun. maka hal ini perlu juga mendapat perhatian. seperti lapisan timah dan sebagainya. Diperlukan studi yang sangat mendalam termasyuk studi tentang stratifikasi.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 bukan bertujuan untuk mengurangi keaktifan limbah tersebut tetapi sekedar menyimpan menunggu selesainya waktu paruhnya. bahwa limbah dengan tingkat aktivitas rendah. Kekhawatiran lain adalah tersebarnya limbah tersebut akibat terjadinya retakan atau terjadinya ketidak homogenan media. Banyaknya limbah yang akan disingkirkan akan tergantung pada kapasitas penukar ion media tersebut. Hal ini merupakan pertanyaan yang sulit untuk terjawab di lapangan. Ruthenium-106 adalah satusatunya radionuklisida yang teridentifikasi dalam sumur pemantau. Jadi konsep umum peyingkiran limbah radioaktif ini adalah. serta seberapa baik fungsi penukar ion tersebut. Cara lama yang masih diterapkan untuk limbah yang dianggap mempunyai keaktifan rendah. karena terkait erat dengan pengetahuan rinci dan lengkap bukan saja sifat-sifat tanah. Sarana tersebut hendaknya memenuhi dua persyaratan. misalnya dari limbah radioaktif rumah sakit. misalnya tahan terhadap korosi. namun pula lingkungannya yang dapat dikatakan jauh dari homogen. Oleh karena limbah radioaktif yang akan dingkirkan adalah masih berbentuk cairan. Sebuah materi yang tahan pada limbah pada saat awal. materi radioaktif dapat saja dicampur dengan materi lain. Masalah pertama adalah waktu untuk menyimpan. sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi arah aliran air. baik berbentuk padat maupun cair.

Solidifikasi akan merupakan salah satu jawaban dalam usaha-usaha menanggulangi hal ini. Disamping itu. Pembuangan ke lautan dalam dianggap salah satu penyingkiran yang paling aman bila dilakukan secara baik. Cara lain yang digunakan adalah penyingkiran dalam bekas tambang. seperti penguburan dalam tanah atau dalam bekas tambang. persoialan yang dihasapi oleh limbah radioaktif dengan tingkat yang menengah dan tinggi adalah bagaimana memecahkan masalah tersebut. Lubang-lubang tambang yang digunakan dipilih ketat yaitu yang tidak mempunyai hubunganb dengan daerah sekitarnya. serta masalah jangka panjang untuk mendapatkan area yang cukup dan cocok untuk itu. Enri Damanhuri . sehingga kemungkinan terjadinya korosi akan lebih besar. yaitu limbah tersebut langsung dibuang/didingkirkan atau limbah tersebut 'dibungkus' terlebih dahulu. Dalam hal ini terdapat dua kemungkinan penanganan limbah sebelum disingkirkan.bebas dari ruang-ruang yang kosong sehingga limbah tidak mudah keluar bila terjadi kebocoran. Buangan padat dapat disimpan/disingkirkan dalam landfill buangan berbahaya biasa bila ternyata seluruh komponen di dalamnya mempunyai aktivitas lebih kecil dari 1 µCi. Elemen-elemen radioaktif tersebut biasanya terkonsentrasi di tulang yang prakktis tidak dikonsumsi oleh manusia.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 penyimpanan dalam fase padat. reptil. Oleh karenanya. c. misalnya karena kegiatan binatang seperti tikus dan sebagainya. Dalam aplikasi di Inggeris.FTSL ITB Halaman 92 . . Limbah cair dapat dicampur dengan limbah sistem riolering perkotaan yang ada (menuju pengolahan limbah terpusat). yaitu dalam bentuk paking dalam kontainer baja atau pasangan beton. Buangan padat dapat diinsinerasi. Pembungkusan terlebih dahulu limbah diperlukan sebelum disingkirkan ke dalam tanah terutama bagi limbah dengan katagopri tingkat keaktifannya tinggi. insek dan sebagainya. bila terbukti pengencernya bukanlah limbah yang dikatagorikan aktif. Masalah yang sangat diperhatikan kemungkinan terbawanya limbah tersebut akibat air eksternal. batasan yang digunakan adalah jumlah limbah yang ditanam maksimum nuklisida adalah adalah 100 mikrocurie/bulan bagi limbah dengan waktu-paruh lebih dari 1 tahun dan 1 milicurie/bulan untuk limbah dengan waktu-paruh kurang darui 1 tahun. perlu diperhatikan bahwa limbah tersebut harus aman di tempatnya dalam jangka waktu yang lama. maka tidak diperkenankan lebih dari 10 mCi selama 4 minggu secara terus menerus. Kedalaman penananaman sedemikiaian rupa sehingga tidak mengganggu pertumbuhan di sekitarnya. Untuk menjamin pengenceran yang cukup. Monitoring dibutuhkan bukan saja terhadap air tanah memalui sumur-sumur pemantau. dengan volume tidak lebih dari 0. sedang abunya yang akan ditangani adalah sesuai dengan butir (a) di atas. walaupun proses korosif berjalan lambat. Pertama karena sifat cair akan lebih intik kontak dengan media sekitarnya. Salah satu masalah yang mungkin timbul adalah kemampuan ikan atau organisme laut lainnya dalam mengkonsentrasikan limbah radioaktif ini dalam fenomena biomagnifikasi. dan total aktivitas untuk setiap pembebanan adalah lebih kecil dari 10 µCi. Dalam jangka waktu tertentu. Pembungkusan dilakukan seperti dalam penyimpanan. Bila sistem tidak dihubungkan dengan riolering kota. tanah. b. sifat cair akan memungkinkan mengalir ke tempat lain akan lebih leluasa dibandingkan bagian padat bila terjadi kebocoran dalam kontainer. seperti dari kegiatan rumah sakit. daerah sekitarnya kemungkinan akan menjadi steril untuk selamanya. Cara ini menghilangkan keberatan-keberatan yang ada dengan cara lain. maka batasan tersebut menjadi 2 mCi. daun. Penyingkiran limbah ke dalam tanah hanya cocok bagi limbah dengan aktivitas rendah. Hal yang kedua. Kontainer yang digunakan untuk menyingkirkan jenis limbah ini harus mempunyai kriteria: .1 m3. dengan syarat bahwa aktivitas limbah yang akan dibakar tersebut tidak lebih dari 30 µCi per harinya. namun pula terhadap benda-beda di sekitarnya: binatang. penelitian bila aktivitasnya adalah: a.tidak mudah rusak atau pecah sebelum dan setelah disingkirkan. Cara ini merupakan cara yang terakhir karena praktis tidak mungkin lagi diambil bila terjadi sesuatu. ikan. Oleh karenanya. 3 jenis cara penyingkiran untuk limbah radioaktif yang tergolong rendah. Limbah radioaktif yang langsung ditanam dalam tanah harus diulindungi terhadap kemungkinan muncul ke permukaan.

A. maka tidaka akan timbul masalah radiasi. Abu yabng terkumpulkan kemudian ditangai seperti halnya limbah padat radioaktif. Masters: Introduction to Environmental Engineering and Science. yaitu abu atau gas yang keluar dari cerobong akan tetap bersifat radioaktif.2 gram/cm . Wiley & Sons Inc. 1991 Enri Damanhuri . Porteus (Editor): Hazardous Waste Management Handbook. Referensi Utama: . presipitator elektrostatis. 1985 . dapat digunakan untuk menangkap partikulat yang terbentuk.Nelson L.FTSL ITB Halaman 93 . Peralatan pencegahan pencemaran udara seperti filter.rata tingkat radiasi di permukaan kontainer adalah tidak lebih dari 20 milirad per jam. 1960 . Englewood Cliffs.C. Addison-Wesley Publishing Company. kadangkala dilapis dengan lapisan beton sesuai dengan karakteri atau tingka keaktifan limbahnya. 1978 . Masalah utama yang muncul adalah gas yang dikeluarkan yang dapat menyebar secara luas. Collins (Editor): Radioactive Wastes. scrubber. Butterworth.Gilbert M. Suatu pengukuran yang dilakukan adalah bila rata. Prentice Hall. Nemerow: Industrial Water Pollution. Produk akhir yang dikeluarkan.J.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 - mempunyai densitas paling tidak 1. mempunyai betuk dan ukuran yang mudah untuk ditangani 3 Drum-drum baja merupakan kontainer yang paling sering digunakan. Insinerasi limbah combustibel tidak diterapkan secara luas. pengendap dan sebagainya.

o Penggunaan analisis epidemiologis untuk menentukan apakah kelompok atau sub kelompok tertentu akan mengalami resiko berlebihan terhadap penyakit tertentu.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 BAGIAN VII LIMBAH MEDIS DAN RUMAH TANGGA 1 LIMBAH MEDIS Terdapat tiga katagori orang yang dapat terpapar dengan limbah berbahaya dari rumah sakit. Rumah sakit dengan aktifitasnya: o Rumah sakit umum o Rumah sakit khusus o Sanotarium o Aktifitas spesifik dalam sebuah rumah sakit misalnya : paediatric. Asrama dan sejenis: Enri Damanhuri . o Pemantauan rutin terutama terhadap aktivitas yang beresiko tinggi. sarung tangan). penyakit-penyakit pernafasan b. mata dan telinga. Disamping itu. Penggunaan insinerator untuk limbah rumah sakit kelompok biomedis banyak diterapkan. Jenis perawatan/aktivitas kesehatan yang dapat menghasilkan limbah adalah : a. misalnya mereka yang terikat kontrak kerja seperti tukang cuci. Bahan kimia dari institusi kesehatan akan merupakan sumber pencemaran yang potensial. perhatian hendaknya diberikan pada kemungkinan pengaruh resiko tersebut terhadap masyarakat luar. Pada dasarnya limbah yang dihasilkan harus dipisahkan atau dikonsentrasikan di institusi itu sendiri untuk memudahkan penggolongannya. seperti resiko pencemaran udara. maka dibutuhkan program kesehatan kerja yang mencakup: o Penggunaan bahan yang aman atau bahan yang lebih tidak berbahaya. o Penggunaan ventilasi yang baik sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan kerja. tukang sampah dan sebagainya o Pasien rawat jalan seperti yang sedang menjalani dialisis darah o Pengunjung Untuk mengurangi resiko kesehatan sehubungan dengan limbah rumah sakit ini. yaitu: o Pasien dan personel dari rumah sakit o Personel yang memberikan pelayanan. c. Penggilingan limbah sisa makanan banyak diterapkan di negara undustri untuk kemudian dimasukkan dalam system saluran air (riolering) limbah kota. Klinik: o Ruang dokter dan perawat o Pusat dialysis o Pusat penanganan kecanduan alcohol o Pusat penanganan kecanduan obat bius o Klinik bersalin o Klinik thrombosis. Sebetulnya cara ini tidak disarankan karena akan mendatangkan masalah pada pengolah limbah kota. o Penggunaan wadah dengan warna yang berbeda untuk setiap jenis limbah. rehabilitasi. terutama bila dilairkan melalui sistem rioreling. oncolagy. Namun penggunaan disinfektan harus diminimalkan bila terdapat alternatif lain. o Penggunaan pewadahan tertutup untuk bahan-bahan yang bersifat volatil. Tinja dan urin dari pasien yang diisolasi karena penyakit menular perlu didisinfektan terlebih dahulu sebelum digabung dengan sistem riolering.FTSL ITB Halaman 94 . orthopaedic. Limbah yang bersifat umum atau limbah infectious yang telah ditangani secara baik dapat dibuang pada landfill kota dengan syarat-syarat khusus disertai pengawasannya. terbakar. dan bila mungkin dilakukan daur-ulang sehingga tidak masuk dalam penanganan limbah kota. air dan tanah. o Penggunaan alat pelindung (masker. psychiatric. tetapi pengoperasian yang tidak baik akan mendatangkan masalah pencemaran udara.

yaitu: o Limbah umum. yaitu dapat ditinjau dari sudut: toksik. termasuk untuk hewan maupun genetis.4 o Inggeris : 0. dilanjutkan dengan sifat-sifat spesifik seperti genotoxic (carcinogenic. limbah residu insinerasi dapat dikagorikan sebagai limbah berbahaya bila insinerator sebuah rumah sakit tidak sesuai dengan kriteria. cairan maupun gas misalnya berasal dari pekerjaan diagnostik atau penelitian. Seluruh jenis limbah ini dapat mengandung limbah berpotensi infeksi. organ. Pertimbangan terhadap limbah ini adalah seperti limbah berbahaya yang lain. atau tidak dioperasikan sesuai dengan kriteria. di bawah ini diberikan beberapa angka [21]. pathology. maupun dihasilkan dari prosedur therapetis o Limbah kimiawi: dapat berupa padatan. Sebagai gambaran. o Limbah patologis (jaringan tubuh).asam animo.25 sampai 3. o Limbah berpotensi menular (infectious).FTSL ITB Halaman 95 .1 sampai 5.2 sampai 6.12 Kg/bed/hari. kimiawi. penelitian. dan shock sensitive). o Limbah citotoksik.2 sampai 4. pembersihan / pemeliharaan atau prosedur desinfeksi. atau analisis in-vivo terhadap organ tubuh dalam pelacakan atau lokalisasi tumor.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 o Perawat o Rumah jompo o Rumah sakit jiwa d. Limbah rumah sakit merupakan campuran yang heterogen sifat-sifatnya. mutagenic. Limbah dari pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dapat diklasifikasikan dalam beberapa katagori utama. haemathology. mudah terbakar (flammable). Diskripsi umum tentang katagori utama limbah rumah sakit adalah: o Limbah umum: sejenis limbah domestik. o Limbah berpotensi menularkan penyakit (infectious): mengandung mikroorganisme patogen yang dilihat dari konsentrasi dan kuantitasnya bila terpapar dengan manusia akan dapat Enri Damanhuri . garam-garam organik lainnya.3 o Belanda : 1.0 o USA : 4. asam. Timbulan limbah dari kegiatan rumah sakit bervariasi dari satu institusi ke institusi sesuai dengan besarnya aktivitas. o Kontainer dalam tekanan. bagian tubuh. teratogenic dan lain-lain). o Limbah kimiawi. limbah dari cuci serta materi lain yang tidak membutuhkan penanganan spesial atau tidak membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan o Limbah patologis: terdiri dari jaringan-jaringan. cair maupun gas yang terkontaminasi dengan radionuklisida. o Limbah farmasi. reaktif terhadap air. limbah kimiawi yang tidak berbahaya adalah seperti gula. korosif. o Benda-benda tajam. Kadangkala. Kegiatan-kegiatan penunjang: o Bank darah o Apotik o Pusat pelatihan medis o Ruang mayat o Ruang steril o Ruang cuci pakaian o Ruang teknis o Laboratorium : klinis.24 Penelitian yang dilakukan di RSHS Bandung oleh Jurusan Teknik Lingkungan ITB (1993) memberikan angka rata-rata sebesar 2. reaktif (eksplosif. dan dihasilkan dari analisis in-vitro terhadap jaringan tubuh dan cairan. yaitu (Kg/bed/hari): o Sepanyol : 1. plasenta. bahan pengemas. makanan binatang noninfectious. bangkai binatang. o Limbah radioaktif. darah dan cairan tubuh o Limbah radioaktif: dapat berfase padat. misalnya obat-obatan cytotoxic.

stok hewan atau mikroorganisme. gunting. tetapi tidak termasuk gigi. gunting. serbet. penanganannya adalah identik dengan limbah kota yang lain. Limbah darah yang tidak terinfeksi dapat dimasukkan ke dalam saluran limbah kota dan dibilas dengan air. Limbah ini biasanya hanya 10 . atau telah tertumpah. Untuk limbah yang bersifat umum. Daur ulang sedapat mungkin diterapkan pada setiap kesempatan.15 % dari seluruh volume limbah kegiatan pelayanan kesehatan. Jenis dari limbah ini secara spesifik adalah: o Limbah human anatomical: jaringan tubuh manusia. Dari sekian banyak jenis limbah klinis tersebut. sarung tangan dan sebagainya) atau materi yang berkontak dengan binatang yang sedang diinokulasi dengan penyakit menular atau sedang menderita penyakit menular Benda-benda tajam yang biasa digunakan dalam kegiatan rumah sakit: jarum suntik. bangkai.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 o o o o menimbulkan penyakit. filter. organ. pisau. syring. gunting kuku dan sebagainya yang dapat menyebabkan orang tertusuk (luka) dan terjadi infeksi. sedang bahan-bahan tajam yang terinfeksi diperlakukan sebagai limbah berbahaya. rambut dan muka o Limbah tubuh hewan: jaringan-jaringan tubuh . tabung yang mengandung gas dan aerosol yang dapat meledak bila diinsinerasi atau bila mengalami kerusakan karena kecelakaan (tertusuk dan sebagainya). Limbah infectious beresiko tinggi perlu ditangani terlebih dahulu dalam autoclave sebelum menuju pengolahan selanjutnya atau sebelum disingkirkan di landfill. atau materi yang berkontak dengan pasien yang menjalani haemodialisis (tabung. Benda-benda ini mungkin terkontaminasi oleh darah. dari ruang bedah atau dari autopsi pasien yang mempunyai penyakit menular . Bahan-bahan tajam yang terinfeksi harus dibungkus secara baik serta tidak akan mencelakakan pekerja yang menangani dan dapat dibuang seperti limbah umum. d. Tidak termasuk dalam katagori ini adalah urin dan tinja. kuku. Limbah yang harus dipisahkan dari yang lain adalah limbah patologis dan infektious. atau bahan atau peralatan laboratorium yang berkontak dengan bahan. Limbah darah dan cairan manusia atau bahan/peralatan yang terkontaminasi dengannya. dan sebagainya. bagian terkontaminasi dengan darah. o Limbah laboratorium mikrobiologi: jaringan tubuh. maka yang membutuhkan sangat perhatian khusus adalah limbah yang dapat menyebabkan penyakit menular (infectious waste) atau limbah biomedis. cairan tubuh.bahan tersebut. organ. menyingkirkan dan memusnahkannya seekonomis mungkin. gaun. namun bisa pula dibuang ke landfill bila dilakukan pengumpulan terpisah dan pengaturan pembuangan o Kantong warna biru muda atau transparans strip biru tua : limbah yang harus masuk ke autoclave sebelum ditangani lebih lanjut. Limbah yang telah dipisahkan dimasukkan kantong-kantong yang kuat (dari pengaruh luar ataupun dari limbahnya sendiri) dan tahan air atau dimasukkan dalam kontainer-kontainer Enri Damanhuri . kaca pecah. darah. Katagori yang termasuk limbah ini antara lain jaringan dan stok dari agen-agen infeksi dari kegiatan laboratorium. obat-obatan dan bahan kimiawi yang dikembalikan dari ruangan pasien isolasi. Sasaran pengelolaan limbah rumah sakit adalah bagaimana menangani limbah berbahaya. pengangkutan atau tindakan terapi citotoksik Kontainer di bawah tekanan: seperti yang digunakan untuk peragaan atau pengajaran. bahan mikrobiologi atau bahan citotoksik Limbah farmasi (obat-obatan): produk-produk kefarmasian. atau dari pasien yang diisolasi. digunakan pemisahan dengan kantong-kantong yang spesifik (biasanya dengan warna yang berbeda atau dengan pemberian label). Beberapa contoh warna yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI adalah: o Kantong warna hitam: limbah sejenis rumah tangga biasa o Kantong warna kuning: semua jenis limbah yang harus masuk insinerator o Kantong warna kuning strip hitam: limbah yang sebaiknya ke insinerator. pacahan kaca dan sebagainya. o Limbah-limbah benda tajam seperti jarum suntik. bagian-bagian tubuh. vaksin. Untuk memudahkan pengenalan berbagai jenis limbah yang akan dibuang. tetapi tidak termasuk gigi. daluwarsa atau terkontaminasi atau harus dibuang karena sudah tidak digunakan lagi Limbah citotoksik: bahan yang terkontaminasi atau mungkin terkontaminasi dengan obat citotoksik selama peracikan. Kontainer-kontainer dibawah tekanan (aerosol dan sebagainya) tidak boleh dimasukkan ke dalam insinerator. namun higienis dan tidak membahayakan lingkungan. bulu. sedang yang terinfeksi harus diperlakukan sebagai limbah berbahaya.FTSL ITB Halaman 96 .

oksidaoksida (B. Mg. asam citris dan garam-garamnya (Na. Ca dan NH4). Ca). Mg Ca. Limbah kimiawi berbahaya yang tidak dapat didaur-ulang segera dipisahkan sesuai dengan jenisnya dan pengolahannya. o 12 bulan: acrylonitrile.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 logam. sulfat (Na. tanda-tanda dan tata caranya. garam-garam perchlorat. tetrahydrofuran. vinylidene chloride. Disamping warna yang seragam. metal azide. nitro cellulose. butadiene. thionyl chloride. Alat angkutan atau sarana pembawa tersebut harus dicuci secara rutin dan hanya digunakan untuk membawa lim bah. maka limbah ini dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam kontainer untuk ditangani seperti limbah biasa. S. cyclohexane. Di rumah sakit modern. sulfuryl chloride. phosphor (merah dan putih). larutan. Limbah radioaktif juga harus mempunyai tanda-tanda yang standar dan disimpan untuk menunggu masa aktifnya terlampaui sebelum dikatagorikan limbah biasa atau limbah berbahaya lainnya. Fe. Su dan Ti. Bagi limbah kimiawi yang tergolong tidak berbahaya. lactic dan garamgaramnya (Na. flourida (Ca). phosphorus oxychloride. transportasi limbah ini bisa menggunakan cara pneumatis dengan perpipaan. o 24 bulan: acetat. iodida (Na. P. Ca dan NH4). Na. K. sodium amide. namun cara ini tidak boleh digunakan untuk limbah patologis dan infectious. polynitroaromatic. As. dan Na. diacetylene. harus tidak mengandung resiko terhadap kesehatan pengangkut tersebut. Sb. decahydronaphthalene. maka kantong-kantong itu harus bisa ditembus oleh uap sehingga sterilisasi dapat berlangsung sempurna. methyl acethylene. sehingga tidak boleh dibuang melalui sistem riolering. bahan kimia peroksida. logam halida dari Al. K. o Water reactive: logam-logam alkali dan alkali tanah. Limbah yang akan diangkut ke luar. Mg. Mobilitas dan transportasi limbah baik internal maupun eksternal hendaknya dipertimbangkan sebagai bagian menyeluruh dari sistem pengelolaaan dari institusi tersebut. karena limbah jenis ini kadangkala toksik dan flammable. K. garam-garam picrat. tetrahydronaphtalene. khlorida (Na. Limbah berbahaya dari rumah sakit yang akan diangkut. K). K). bromida (Na. vinyl ether. dioxane. maka bila memungkinkan untuk didaur ulang. reagen alkyl lithium. dan diisi secukupnya agar dapat ditutup degan mudah dan rapat. Secara internal. misalnya melalui sebuah insinerator. Namun kontainer maupun kantong-kantong yang digunakan harus jelas tertulis atau tertandai sebagai limbah tidak berbahaya. Kontainer harus ditutup dengan baik sebelum diangkut. Mg. K. Si.larutan boron trifluorida. diethylene glycol dimethil ether (diglyme). Li. Karbonat (Na. Ca).K). K). vinyl chloride. misalnya oleh Dinas Kebersihan setempat. asam picric. Contoh limbah kimiawi yang tidak tergolong berbahaya adalah: o kelompok kimia organik: asetat (Ca. Mg. o Bahan reaktif lain: asam nitrit diatas 70%. isoprophyl ether. gula dan sebagainya o kelompok kimia anorganik: bikarbonat (Na. limbah biasanya diangkut dari titik penyimpanan awal manuju area penampungan atau menuju titik lokasi insinerator. NH4). kantong tersebut diberi label atau simbol yang sesuai. Mg. Limbah reaktif yang berasal dari rumah sakit adalah senyawa-senyawa seperti: o Shock sensitive: senyawa-senyawa diazo.FTSL ITB Halaman 97 . Ca). K. Kantong-kantong yang digunakan dibedakan dengan warna yang seragam dan jelas. K. dicyclopentadiene. phosphorus pentoxide. chlorotrifluoroethylene. etylene glycol dimethyl ether (glyme). Mg. perchloric acid. K. asam-asam amino dan garamgaramnya. Aturan yang berlaku bagi limbah kimiawi dari rumah sakit ini adalah identik dengan penangan limbah kimiawi dari sumber industri. Ca). Bila digunakan kantong dan terlebih dahulu harus masuk autoclave. reagen Grignard. Seluruh bahan kimia peroksida di atas harus diberi tanggal begitu digunakan dan penyimpanannya (setelah dibuka) terbatas dengan lama penyimpanan maksimum: o 3 bulan: diethyl ether. NH4. Ca. misalnya jenis kontainer. Secara umum jenis pengolahan limbah rumah sakit adalah : Enri Damanhuri . B. borat (Na. hidrida dari Al. diatur seperti halnya aturanaturan yang berlaku pada limbah berbahaya lain.

Limbah kimia: o Bagi limbah kimia yang tidak berbahaya. o Solven yang tidak diredistilasi harus dipisahkan antara solven yang berhalogen dan nonhalogen. penanganannya adalah identik dengan limbah lainnya yang tidak termasuk katagori berbahaya o Konsep penanganan limbah kimia yang berbahaya adalah identik dengan penjelasan sebelumnya yang terdapat dalam diktat ini tentang limbah berbahaya o Beberapa kemungkinan daur-ulang limbah kimiawi berbahaya misalnya : – Solven semacam toluene. Limbah radioaktif: o Bahan radioaktif yang digunakan dalam kegiatan kesehatan/medis ini biasanya tergolong mempunyai daya radioaktivitas level rendah. dan umumnya disimpan untuk menunggu waktu paruhnya telah habis.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 a. xylene. Enri Damanhuri . sedangkan yang tidak dipakai lagi ditangani secara khusus misalnya diinsinerasi atau di landfilling atau dikembalikan ke pemasok. autoclave tidak dibutuhkan bila limbah tersebut telah diwadahi dan ditangani secara baik sebelum diinsinerasi. insinerator tersebut harus dilengkapi dengan sarana pencegah pencemaran udara. solven berhalogen membutuhkan penanganan khusus dan solven non. b. c. Limbah umum: o Tidak diperlukan pengolahan khusus. misalnya: disinfektan. insinerasi dilanjutkan dengan landfilling o Insinerasi merupakan metode yang sangat dianjurkan. Limbah berpotensi menularkan penyakit (infectious): Memerlukan sterilisasi terlebih dahulu atau langsung ditangani pada insinerator . dikemas dan diberi tanda serta dibakar pada insinerator. dan dapat disatukan dengan limbah domestik o Seluruh makanan yang telah meninggalkan dapur pada prinsipnya adalah limbah bila tidak dikonsumsi dan sisa makanan dari bagian penyakit menular perlu di autoclave dulu sebelum dibuang ke landfill. nikel dan timbal o Insinerator merupakan sarana yang paling sering digunakan dalam menangani limbah jenis ini. limbah jenis ini dilarang untuk diinsinerasi karena akan menghasilkan gas toksik – Larutan-larutan pemerosesan dari radioaktif yang banyak mengandung silver dapat direklamasi secara elektrostatis – Batere-batere bekas dikumpulkan sesuai jenisnya untuk didaur-ulang seperti : merkuri. manometer dan sebagainya dikumpulkan untuk didaur-ulang .FTSL ITB Halaman 98 . Benda-benda tajam: Dikemas dalam kemasan yang dapat melindungi petugas dari bahaya tertusuk. baik secara on-site maupun off-site.merkuri dari termometer. Limbah patologis: o Pengolahan yang dilakukan adalah dengan sterilisasi. sedang residunya yang mungkin mengandung logam-logam berbahaya dibuang ke landfill yang sesusai. sehingga perlu ditangani sesuai jenisnya e. h. Limbah farmasi: obat-obatan yang tidak digunakan dikembalikan pada apotik. limbah jenis ini tidak di autoclave karena disamping tidak mengurangi toksiknya juga dapat berbahaya bagi operator o Beberapa jenis limbah kimia berbahaya juga dihasilkan dari bagian pelayanan alat-alat kesehatan. sebelum dibakar dalam insinerator g. kadmium. f.halogen dapat dibakar pada on-site insinerator o Limbah cytotoxic dan obat-obatan genotoxic atau limbah yang terkontaminasi harus dipisahkan. untuk kemudian disingkirkan sebagai limbah non-radioaktif biasa d. Kontainer-kontainer di bawah tekanan: di landfilling atau didaur-ulang. oli dari trafo dan kapasitor atau dari mikroskop yang mengandung PCB dan sebagainya. yaitu di bawah 1 megabecquerel (MBq) o Limbah radioaktif dari rumah sakit dapat dikatakan tidak mengandung bahaya yang signifikan bila ditangani secara baik o Penangan limbah dapat dilakukan di dalam area rumah sakit itu sendiri. atau didaur-ulang untuk mendapatkan khromnya – Limbah logam . acetone dan alkohol lainnya yang dapat diredistilasi – Solven organik lainnya yang tidak toksik atau tidak mengeluarkan produk toksik bila dibakar dapat digunakan sebagai bahan bakar – Asam-asam khromik dapat digunakan untuk membersihkan peralatan gelas di laboratorium. kantong-kantong yang digunakan untuk membungkus limbah juga harus diinsinerasi.

misalnya tidak terpapar pada temperatur atau diletakkan agar tidak terjangkau oleh anak-anak.1 7. cat dan solven pengencer. seperti kesulitan bernafas. seperti : korek api. cairan pmbersih. pembersih toilet. seperti : pestisida dan insektisida. lamban. Pada dasarnya bahan berbahaya tidak akan menimbulkan bahaya jika pemakaian. kamfer. tanung bekas pewangi ruangan.5 6. kaporit atau desinfektan. gas elpiji. aki bekas Di lingkungan pedesaan serta di lingkungan yang mungkin terlihat asri. kosmetik.0 Contoh di bawah ini lebih lanjut menggambarkan karakteristik bahaya dari bahan yang biasa digunakan di rumah tangga tersebut di atas : a. seperti tertera dalam Tabel 7. seperti adanya lapangan golf dan sebagainya menambah intesifnya penggunaan bahan biosida yang umumnya resistan dan bersifat biokumulasi serta mendatangkan dampak negatif dalam jangka panjang bagi manusia yang terpaparnya. pada kemasan bahan-bahan tersebut biasanya tertera aturan penyimpanan. asam cuka.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 2 LIMBAH BERBAHAYA DARI RUMAH TANGGA Bahan sehari-hari yang digunakan di rumah tangga dewasa ini. kepala pusing.4 30. yaitu : − di dapur. Survai yang dilakukan di Amerika Serikat menggambarkan porsi limbah pada sampah kota yang berasal dari bahan yang biasa digunakan di rumah di Amerika Serikat. korosif − pembersih saluran air : korosif − pengkilap mebel : mudah terbakar − pembersih kaca : Korosif (iritasi) − pembersih oven : korosif − semir sepatu : mudah terbakar − pengkilap logam (perak) : mudah terbakar Enri Damanhuri . semir.0 16. Pencampuran dua atau lebih dapat pula menimbulkan masalah. yang kemungkinan besar tetap berkategori berbahaya. penggunaan bahan berbahaya agaknya juga sulit dihindari. spiritus / alkohol − di kamar mandi dan cuci. pupuk. iritasi mata atau kulit. Tabel 7. obat-obatan. Bahanbahan tersebut digunakan dalam hampir seluruh kegiatan di rumah tangga.1 di bawah ini. hairspray. oli mobil. perekat. air freshener. soda kaustik. khususnya di kota. seperti : cairan setelah mencukur. shampo anti ketombe. minyak tanah. obat-obatan. Kegiatan agrowisata. pembunuh kecoa − di kamar tidur. penyimpanan dan pengelolaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.1: Limbah berbahaya dari rumah tangga Komponen Penggunaan untuk pembersih Penggunaan untuk perawatan badan Produk untuk otomotif Cat dan sejenisnya Penggunaan rumah tangga lain Persen 40. batere. seperti : pembersih saluran air. Bila bahan tersebut tidak lagi digunakan. pembunuh nyamuk − di ruang keluarga. termasuk pula bekas pewadahannya seperti bekas cat. Efek pada kesehatan manusia yang paling ringan umumnya akan terasa langsung karena bersifat akut. seperti penggunaan biosida dalam kegiatan pertanian. Produk pembersih: − bubuk penggosok abrasif : korosif − pembersih mengandung senyawa amunium dan turunannya : korosif − pengelantang : toksik. namun dapat pula masih tersisa pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari seperti dalam sayur mayur dan buah-buahan. Oleh karenanya. seperti : parfum. tidak terlepas dari penggunaan bahan berbahaya. maka bahan tersebut akan menjadi limbah. − di garasi/taman. alkohol.FTSL ITB Halaman 99 . yang dampaknya disamping akan menghasilkan residu yang terbuang pada badan penerima alamiah.

Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 − penghilang bintik noda : mudah terbakar − pembersih toilet dan lantai: korosif − pembersih karpet/kain : korosif. dibolehkan membuang limbah jenis tersebut ke dalam sistem penyaluran limbah kota. minyak tanah : mudah terbakar. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain adalah : Enri Damanhuri . Namun adanya bahan tersebut dalam sistem pengolahan limbah kota dapat menimbulkan terganggunya proses pengolahan yang ada. toksik d. pupuk : toksik − aerosol : mudah terbakar. sisa tinta dari usaha percetakan/foto-kopi. Di Amerika Serikat dikenal konsep small-quantity generator. misalnya : − Bila dibakar dalam insinerator. mudah terbakar b. seperti dari usaha benatu (laundry dan dry cleaning). yang membatasi jumlah limbah minimum perbulan yang terkena aturan pengelolaan limbah B3. penghasil limbah misalnya dari rumah tangga dapat membuang limbahnya bersama sampah kota bila jumlah per bulannya tidak melebihi nilai tersebut. Produk rumah tangga lain : − cat : mudah terbakar. mudah terbakar − minyak wangi : mudah terbakar − kosmetika : toksik − obat-obatan : toksik c. seperti timbulnya : o Gas toksik: bila pembersih mengandung senyawa amonia bercampur dengan pengelantang mengandung khlor o Ledakan: bila tabung sisa bahan yang digunakan secara penyemprotan terbakar di bak sampah Hasil studi di Amerika Serikat oleh USEPA menyimpulkan bahwa 0.FTSL ITB Halaman 100 . akan menghasilkan ledakan yang membahayakan akibat tabung pewadah. Di Indonesia agaknya bila didasarkan atas porsi limbah yang masuk ke landfill. oli bekas dari bengkel dan sebagainya. atau dari kegiatan industri lainnya. termasuk limbah patologis. Selain berasal dari pemukiman penduduk. yaitu minimasi dan daur ulang limbah. nilai ini akan lebih tinggi mengingat bahwa yang masuk ke landfill bukan saja dari rumah tangga. tetapi dapat berasal dari kegiatan medis.35-0. Produk otomotif : − cairan anti beku : toksik − oli : mudah terbakar − aki mobil : korosif − bensin.40 % sampah pemukiman yang dibuang ke lahan-urug kota termasuk kategori limbah B3. toksik − pelarut / tiner : mudah terbakar − baterei : korosif dan toksik − khlorin kolam renang : korosif dan toksik − biosida anti insek : toksik. mudah terbakar − herbisida. Dengan aturan tersebut. atau terlepasanya logam-logam berat toksik akibat terpapar dengan temperatur tinggi − Terganggunya proses biodegradasi sistem pengolahan air limbah atau pengolahan di landfilling − Terganggunya produk kompos bila bila tidak dilakukan pemilahan terlebih dahulu Penanganan limbah berbahaya di rumah tangga sebetulnya mempunyai pendekatan yang sama dengan industri. mudah meledak Bahan tersebut dapat pula menimbulkan bahaya lain bila bercampur satu dengan yang lain. Limbah ini akan masuk ke dalam sistim pengelolaan sampah kota. limbah berkatagori sampah kota yang berbahaya dapat pula berasal dari kegiatan komersial atau perkantoran. Perawatan badan: − shampo (anti ketombe) : toksik − penghilang cat kuku : toksik. Di bebarapa negara bagian di Amerika Serikat.

baik untuk digunakan sendiri. diberikan kepada yang membutuhkan.FTSL ITB Halaman 101 .Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 − − − − − − Pemilihan produk yang disertai penjelasan lengkap tentang komponen bahan yang digunakan. disertai pengetahuan tentang seberapa lama suatu produk habis digunakan. penyimpanan dan cara pembuangan limbah atau wadah bekasnya Penggunaan produk sesuai kebutuhan. dan apakah telah digunakan semestinya Pembelian yang sesuai kebutuhan. atau mungkin saja masih bernilai untuk dijual Penanganan limbah atau wadah yang akan dibuang secara baik sesuai petunjuk yang diberikan Enri Damanhuri . ditukarkan dengan produk lain. aturan penggunaan. walapun dengan membeli lebih banyak diperoleh biaya persatuannya yang lebih murah Penggunaan produk yang biodegradabel atau terdaur-ulang Pemanfaatan kembali limbah yang terbentuk.

1960 Cookson Jr. February 1992 Center for Chemical Process Safety : Guidelines for hazard evaluation procedures.FTSL ITB Halaman 102 .Jend PPM & PLP : Pedoman Sanitasi RS. Noyes Publications.R. E. 1973 Collins. 1986 Damanhuri.T. Publishing Co. 1992 CCME (Canada) : Guidelines for the management of biomedical waste in Canada CCME-EPCWM-42. : Radioactive wastes. PPLH ITB. Serpong 9 Januari 1996 Djajadiningrat.Garut. Robert Laffont. McGraw-Hill Book Co. 1993 BAPEDAL : Survey industri penyamakan kulit di Sukaregang . : Diktat kuliah pengelolaan limbah B3 TL-352 Edisi Semeter II 1993/1994. J.A. 1984 Enri Damanhuri . Elsevier Sci.International seminar on clean products and clean production technologies for sustainable industrial development. 1981 Craig..Goethe Institut. : Bioremediation engineering.Cileungsi Jawa Barat. Longman Group Limited. American Institute of Chemical Engineers. R.Y. Z. 1992 Brunner. 1995 Cousteau. DTC ITB . of the Environment (UK) : Clinical waste . : Evaluation of remedial action unit operations at hazardous waste disposal sites. : Environmental protection. : Almanach cousteau de l'environnement. E. : Policy for cleaner production .Dit. 1992 Dept. LAPI ITB.centralized hazardous waste and toxic waste treatment facility GKS region . S. McGraw-Hill Kogakusha Ltd. : Hazardous waste incineration. Wiley & Sons Inc. 1984 Diouhy. 1982 Direktorat Pengelolaan Limbah B3 BAPEDAL : Kebijaksanaan impor-ekspor limbah B3 dan non B3 .workshop implementasi konvensi Basel tentang impor & ekspor limbah scrap logam. 1990 Departemen Kesehatan RI . : Organo metallic compounds in the environment. Lewis Publisher. J.C.Final report. J. P. : Disposal of radioactive waste. Teknik Lingkungan ITB Dames & Moore : Laporan studi kelayakan PPL-B3 .T. Bass.T.J. C. 1992 CH2M Hill International : Feasibility study . 2. 1994 Buzzi.waste wanagement paper no.Garut. July 1990 Chanlett. Bandung June 15-16.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 DAFTAR PUSTAKA BAPEDAL : Perencanaan teknis sistem pengolahan air limbah industri penyamakan kulit skala kecil Sukaregang . 1994 Ehrenfeld. McGraw-Hill Book Co. : Chemical hazards at water and wastewater treatment plant. J. J.

FTSL ITB Halaman 103 . Jain. : Cleaner production and clean product.J. A. Vienna 1992 Jackman. M. : Kualitas limbah rumah sakit dan dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan. DTC ITB Goethe Institut.. S. Technomic Publishing Co. Seminar penanganan limbah rumah sakit sebagai upaya mengurangi beban pencemaran lingkungan.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Freeman. (Editor) : Toxic and hazardous wastes.. I. 1982 Kugelman.contaminated land. Noyes Publications. M. 1994 Maes. Vamos. : Bumi lestari menuju abad 21. : Dechets industriels.J. 1985 Kusnoputranto. International seminar on clean products and clean production technologies for sustainable industrial development. Thomas Telford.L. Jakarta 22-24 November 1994 Keating.Lavoisier.L. : 1995 Guide to industrial estates in Indonesia. Powell. 1988 Gagnet.A. A : Tenaga atom dan aspek keselamatan.. Kohpalindo. : Hazardous waste treatment technologies.. 1993 Institution of Civil Engineers : Design and practice guided . H. 1994 LaGrega. 1990 Freeman. 1995 Hanafia WS.R. 1986 Mann. H. Gateway Books.M. : Government and industry cooperative efforts promoting waste minimization.H.an IAEA source book. 1994 Kiang.S. : Hazardous waste processing technology.P. R. J. 1988 Haas. Schofield. John Willey & Sons. C. Jakarta 14 September 1993 Kusumaatmadja..N. Indonesian waste minimization seminar.J. 1991 Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup : Kemitraan nasional dalam pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan : Hasil rapat koordinasi nasional I pengelolaan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan t ahun 1994. Kennedy. M. Semester II 1995/1996 Hirschorn. A.Inc. Bahan kuliah program pasca sarjana Teknik Lingkungan. McGraw-Hill Book Co. M. H. Proceedings of the 17th Mid-atlantic industrial waste conference. J. R. McGraw-Hill Book Co.I. : Hazardous waste minimization. A. USAID background paper # 2.. Indonesian waste minimization seminar. McGraw-Hill Book Co. R. (Editor in chief) : Standard handbook of hazardous waste treatment and disposal.K. : Hazardous and industrial waste treatment. : Land disposal of hazardous waste. : Hazardous waste management. R. Y. A. 1993 Gronow. USAID background paper # 1. 1995 International Atomic Energy Agency : Radioactive waste management .D. 1995 Enri Damanhuri .M. Metry. : Benefits from industrial application of waste minimization. Prentice Hall Inc. Ann Arbor Science. Technique et documentation .N. Bandung June 15-16.

bunga rampai : residu pestisida dan alternatifnya. V. : Environmental quality management. : Industrial water pollution. Inc.H. McGraw-Hill Ltd. Proceedings seminar nasional pengelolaan lingkungan ITB .W. ANRED Moo-Young. C. Damanhuri.waste stabilization and landfills. 1994 Secretariat d'etat a l'environnement et la qualite de la vie : Analyse et caracterisation des dechets industriels.J.J. L. Pajak.. : Waste treatment and utilization. : Environmental system engineering. ISBN 979-8456-00-9. 1993/1994 Patterson. Ann Arbor Science. 1989 Ministere de l'evironnenment (France). 1992 Sharma. Jakarta Decembre 14-17. Van Nostrand Reinhold Co... E. A. S. Englewood Cliffs. 1975 Porteous. G. A. Chesters. Cahiers No. 1982 Sittig. : Industrial waste land disposal.P. : Introduction to environmental engineering and science.T. 1979 Enri Damanhuri . Butterworths.H. M. : Hazardous waste management engineering. C. 1980 Nemerow. John Wiley & Sons. Saidi.. 1978 Novotny.UNESCO.P. dan Gayatri (Penyunting) : Ingatlah bahaya pestisida . : Hazardous waste handbook. Addison-Wesley Publishing co. Proceeding seminar : Waste and sustainable development.. : Chemistry of hazardous materials. Bandung1993 Rich. : Hazardous waste leachate management manual. Noyes Data Co.FTSL ITB Halaman 104 . 1982. Johnson. G. 1991 Meyer. R. Shuckrow. A. : Landfill disposal of hazardous wastes and sludges. Pesticide Action Network (PAN) Indonesia. M. 1984 Sewell. E. 1981 Otorita Batam : Rencana detail sistem pengelolaan sampah dan limbah industri di wilayah otorita pengembangan daerah industri pulau Batam. Noyes Data Co.. Goethe Institut Jakarta . Prentice Hall Building. BPP Teknologi. 1985 Riza V.Tantangan Masa Depan. : Implikasi impor limbah di Indonesia . Touhill. G. N. E. . Van Nostrand Reinhold Co. : Wastewater treatment technology.W. PrenticeHall. E.D. . : Handbook of non-point pollution. second edition.. Inc. Van Nostrand Reinhold Co. Prentice-Hall. 1973 Ross. 8. J.D.M. 1987 Masters. Guide pour l'elimination et la valorisation des dechets industriels. : Waste containment systems . Englewood Cliffs.G. Robinson.L. : Pengelolaan terpusat buangan B-3 dari industri kecil.J.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Martin.. H. Pergamon Press. G. Z. H. Farquhar.J.BPP Teknologi . Studi kasus industri kecil di ‘Gerbangkertasusila’ Jawa Timur. Lewis.. 1975. 1994 Rachmawati.

Ingatlah behaya pestisida . Mott and K. D. H.FTSL ITB Halaman 105 . : Hazardous waste management.the London Convention 1972... C. New York 1995 Anonymous: Pusat pengolahan limbah industri berbahaya dan beracun (PPLI-B3)..17/1994/7 USEPA : Handbook of operation and maintenace of hospital medical waste incinerator.1 World Health Organization : Management of waste for hospitals. T. McGraw Hill Book. John Wiley and Sons Inc. fisrt phase : toxic and chemical and hazardous wastes.. Vigil..F. Van Nostrand Reinhold.. WHO Regional Office for Europe.. Theisen.. Van Nostrand Reinhold 1977 World Bank .challengers for the future. : Sea disposal of radioactive wastes . K.. January 1990 USEPA : Treatment potential for 56 EPA listed hazardous chemicals in soils. 1989 Wilson. WHO/EHE/94. Linsley.. EPA/625/6-89/024.G.A. : Integrated solid waste management. Copenhage 1983 Anonymous: State of the Environment in Asia and the Pasific. L.. . 1994 Enri Damanhuri . Geneva.Bunga rampai . McGraw-Hill Book. 1990 Waxman. M.Report no.. 12083-IND Indonesia environment and development .Residu pestisida dan alternatifnya. Snyder : Pesticide alert.A. : Hazardous waste identification and classification manual. E/CN.the Pasific.. 1993 United Nations Economic and Social Council : Review of sectoral clusters. S. 1996 Wentz.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Sjöblom.. Economic and Social Commision for Asia . Report on a WHO meeting.. EPA/600/6-88/001 Wagner. : Handbook of solid waste management. 1994 World Health Organization : Healthy and productive lives in harmony with nature. IAEA Bulletin 2/1994 Tchobanoglous. PT Prasadhana Pamunah Limbah Industri. Pesticide Action Network. : Hazardous waste site operations.P. March 21. G. G.L.

-----) Minggu 10: Idem minggu sebelumnya Minggu 11: Limbah berbahaya kegiatan medis dan rumah tangga Sumber limbah medis. pengolahan. api dan kelas dalam kebakaran. pengemasan-pewadahan. penggolongan limbah. simbol dan label. uraian lanjut tentang pengelolaan B3 versi PP 18/99 jo PP85/99. Love Canal.TL FTSL ITB Minggu 1: Pendahuluan Latar belakang.FTSL ITB Halaman 106 . penyimpanan dan pengangkutan Dokumen pengangkutan. peluluhan. dokumen MSDS Minggu 6: Sifat-sifat berbahaya bahan kimia Bahan kimia korosif. toksik.). limbah berbahaya dari rumah tangga. mekanisme cradle-to-grave Minggu 4: Pelabelan. penanganan Minggu 12 sampai Minggu 14: diskusi kelompok Tugas B Enri Damanhuri . reaktif (pada air). ---. UU-74/2001. Konvesi Stockholm tentang pencemar organik yg persisten Minggu 3: Peraturan dalam pengelolaan limbah B3 Besaran limbah B3. karakteristik B3 versi undang-2. Kabut dioxin Seveso) Minggu 2: Peraturan dalam pengelolaan B3 Penggunaan bahan kimia. unit satuan. penyimpanan. produk yang tidak sengaja dihasilkan Minggu 8: Ujian Tengah Semester. Tugas A masuk Mingu 9: Bahan radio aktif dan limbahnya Sifat-sifat radioaktif (isotop.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 RENCANA KULIAH TL-3204 PENGELOLAAN B3 SEMESTER II . pestisida. penanganan limbah medis. mudah terbakar. bahan kimia industri. oksidator-reduktor Minggu 7: Bahan kimia organik berbahaya Bahan kimia turunan hidrokarbon. pengangkutan Minggu 5: Labeling dan MSDS Karakteristik umum kimia berbahaya. beberapa kasus dunia tentang B3/limbah B3 (Minamata. informasi tingkat bahaya. pengelolaan limbah radioaktif (sumber. UU-32/2009 ttg LH.

misalnya Power Point. Bagian IV dan Bagian V.FTSL ITB Halaman 107 . Mahasiswa diminta membuat paper yang membahas sebuah bahan atau limbah. termasuk bagaimana seharusnya mengelola dan menghindari terjadinya permasalahan. dan sebagainya. TUGAS B Merupakan tugas kelompok maksimum beranggotakan 10 orang. seperti aki bekas. selengkap-lengkapnya seperti diuraikan dalam Bagian II. khususnya yang biasa dijumpai sehari-hari. atau dari bahanbahan lainnya yang dapat mendukung ulasan-ulasan tersebut. Referensi harus jelas tercantum. Naskah tertulis tersebut kemudian dibuatkan bahan presentasinya. atau dalam laporan-laporan yang bisa diperoleh di website. Referensi harus jelas dicantumkan. Tesis. untuk dipresentasikan dan didiskusikan di kelas. bahan kimia di laboratorium. Enri Damanhuri . atau dari karya ilmiah mahasiswa (Tugas Akhir.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 TUGAS A Mahasiswa diminta membuat paper yang membahas sebuah bahan berbahaya dari berbagai literatur atau dari website. lalu mengaitkan dengan kasus yang pernah terjadi baik di dalam negeri maupun di luar negeri yang muncul di masmedia. khususnya dengan memasukkan ulasan-ulasan ataupun gagasangagasan yang didasarkan atas tulisan-tulisan seperti peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia atau di negara lain atau dari buku-buku referensi. Disertasi) yang ada di perpustakaan. oli bekas. Bahasan-bahasan tersebut harus cukup komprehensif.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful