Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

DIKTAT KULIAH TL-3204

PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)

DISIAPKAN OLEH : PROF. ENRI DAMANHURI

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
EDISI SEMESTER II 2009/2010
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 1

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI 2 KATA PENGANTAR 3 BAGIAN I : PENDAHULUAN 1 Umum 4 2 Kasus kucing menari di Minamata 7 3 Kasus love canal (Amerika Serikat) 8 4 Kasus kabut dioxin si Seveso (Italia) 10 5 Kasus Kepone di Hopewell (Amerika Serikat) 11 6 Kasus laha Stringfellow di Kalifornia 12 BAGIAN II : PERATURAN DALAM PENGELOLAAN B3 1 Umum 13 2 Pengelolaan B3 dalam PP 74/2001 14 3 Karakterisasi B3 menurut PP74/2001 18 BAGIAN III : PERATURAN DALAM PENGELOLAAN LIMBAH B3 1 Umum 21 2 Pengelolaan limbah B3 dalam PP18/99 jo PP85/99 22 3 Konsep cradle-to-grave Amerika Serikat 30 BAGIAN IV : PELABELAN, PENYIMPANAN DAN PENGANGKUTAN 1 Umum 35 2 Dokumen 35 3 Simbol dan label 36 4 Pengemasan dan pewadahan 40 5 Penyimpanan dan pengumpulan 44 6 Pengangkutan 48 BAGIAN V : SIFAT DAN KARAKTERISTIK BAHAN KIMIA BERBAHAYA 1 Umum 50 2 Kelas kebakaran 51 3 Informasi tingkat bahaya 52 4 Dokumen material safety data sheets (MSDS) 5 Bahan kimia korosif 56 6 Bahan kimia yang reaktif pada air 60 7 Bahan kimia toksik 64 8 Senyawa pengoksidasi 71 9 Beberapa senyawa organik berbahaya 75 BAGIAN VI : LIMBAH RADIOAKTIF 1 Umum 81 2 Sifta-sifat radioaktivitas 81 3 Pengelolaan limbah radioaktif 85 BAGIAN VII LIMBAH MEDIS DAN RUMAH TANGGA 1 Limbah medis 94 2 Limbah berbahaya dari rumah tangga 99

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 2

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

KATA PENGANTAR

Diktat ini disusun untuk membantu mahasiswa yang mengambil mata kuliah TL3204 Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Kurikulum-2008 pada Program Sarjana Teknik Lingkungan FTSL ITB. Bahan kuliah ini merupakan penyesuaian dari Diktat Kuliah TL-352 Pengelolaan Limbah B3, yang mulai diperkenalkan pada Program Sarjana Teknik Lingkungan ITB Kurikulum 1993. Pada kurikulum-kurikulum sebelum 1993, materi ajar tentang limbah B3 secara terpisah tercakup dalam beberapa mata kuliah yang membahas masalah penanganan limbah. Sejak Kurikulum 2008, materi kuliah Pengelolaan Limbah B3 berganti nama menjadi Pengelolaan B3, yaitu mempertegas bahwa materi kuliah ini bukan hanya membahas limbah, tetapi juga bahan yang berbahaya. Diktat ini disusun dengan acuan 14 sesi pertemuan tatap muka dalam semester II di ITB, termasuk 3 sesi diskusi tugas di kelas. Beberapa bagian dari diktat ini membahas materi yang akan dibahas lebih rinci lagi dalam mata kuliah yang berada pada semester yang lebih tinggi, sehingga materi yang ada dalam diktat ini dapat dikatakan bersifat umum untuk memberikan gambaran secara utuh tentang Pengelolaan B3. Untuk penyusunan diktat ini digunakan beberapa rujukan literatur dari negara industri seperti tercantum dalam Daftar Pustaka. Beberapa rujukan yang sangat dominan dalam penyusunan diktat ini dicantumkan secara khusus pada setiap akhir Bagian. Walaupun diktat ini bertujuan untuk membantu mahasiswa yang mengambil mata kuliah TL-3204 pada Program Sarjana, namun bahan yang diberikan pada Diktat ini relevan untuk digunakan pula pada Program Magister, serta tidak tertutup kemungkinan bahwa diktat ini bisa bermanfaat pula bagi mereka yang berminat dengan masalah bahan dan limbah B-3, sebab sangat jarang sekali bahan ajar ini ditulis secara utuh dalam Bahasa Indonesia. Semoga bermanfat bagi kita semua. Bandung, Februari 2010 Prof. Enri Damanhuri Program Sarjana Teknik Lingkungan FTSP ITB

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 3

Filipina. 4/1982). dengan definisi sebagai bahan berbaya dan beracun. Bandung dan Semarang) terdapat sekitar 36% dari total industri di Pulau Jawa. Intensitas atau perbandingan antara limbah bahan berbahaya yang ditimbulkan dengan unit hasil industri secara mencolok juga meningkat. Pelepasan bahan berbahaya pada tahun 1990-an di Indonesia. dan PP 18/99 juncto 85/99 mengatur lebih lanjut tentang pengelolaan limbah B3. 74/2001 mengatur lebih lanjut tentang pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3). Perkembangan industri disamping berdampak positif pada perkembangan ekonomi. Peraturanperaturan tentang masalah ini telah banyak dikeluarkan oleh Pemerintah.Pergeseran jenis industri Sektor lain yang berpotensi dampak negatif pada lingkungan adalah kegiatan pertambangan . Sekitar 55% dari pusat-pusat industri di Pulau Jawa berlokasi di daerah perkotaan. dan sepuluh kali lipat. dan Thailand diprakirakan telah meningkat menjadi sekitar empat. Senyawa-senyawa kimia sintetis inilah yang banyak dihasilkan oleh peradaban modern.Distribusi spasial yang belum merata . regional dan lingkungan secara global. lebih dari 85% hasil industri Indonesia berasal dari kegiatan industri yang berlokasi di Pulau Jawa. Pada permulaan tahun 1970-an. yang kemudian naik menjadi 60% pada tahun 1990. Dengan mengetahui komposisi dan memahami bagaimana perubahan terjadi. Kimia merupakan salah satu ilmu pengetahuan alam. juga menimbulkan dampak negatif tidak hanya pada pusatpusat industri dan daerah sekitarnya tetapi juga pada tingkat nasional. termasuk juga perubahan yang terjadi di dalamnya.Kecepatan pertumbuhan sektor industri . yang setara dengan sekitar 27% dari seluruh hasil industri Indonesia.FTSL ITB Halaman 4 . terutama di daerah industrialisasi yang berkembang dengan cepat seperti di negara-negara ASEAN dan China. tetapi di Enri Damanhuri . menempatkan masalah bahan dan limbah berbahaya sebagai salah satu perhatian utama. manusia dapat mengontrol dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan manusia. Selanjutnya Peraturan Pemerintah (PP) No. Menurut World Bank ada 3 pola pertumbuhan industri yang perlu diperhatikan. namun materi ini pulalah yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang berbahaya. Pasal 58 sampai Pasal 61 UU-32/2009 mengatur larangan membuang dan mengatur pengelolaan limbah dan B3. yang berkaitan dengan komposisi materi. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (menggantikan UU No. Masalah limbah menjadi perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah Indonesia. delapan. akibat dampaknya terhadap manusia dan lingkungan bila tidak dikelola secara baik. Di empat kota saja (Jakarta. terutama akibat perkembangan industri yang merupakan tulang punggung peningkatan perekonomian Indonesia. yaitu : . kegiatan medis dan kegiatan pertanian Undang-Undang No. baik secara alamiah maupun sintetis. khusunya sejak dekade terakhir ini.perminyakan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN I PENDAHULUAN 1 UMUM Penggunaan kimia dalam kebudayaan manusia sudah dimulai sejak zaman dahulu. Surabaya.

industrialisasi juga menimbulkan dampak secara langsung. Namun sebagian besar jenis limbah yang dihasikan. Keaneka ragaman jenis limbah akan tergantung pada aktivitas industri serta penghasil limbah lainnya. − Melalui perubahan intensitas pencemaran terhadap hasil industri. terganggunya kesehataan masyarakat serta penurunan kualitas ekologi lingkungan.FTSL ITB Halaman 5 . namun pula menimbulkan masalah toksisitas dari limbah tersebut. sehingga biaya pengolahannya dapat ditekan. yaitu berubahnya jumlah pencemaran yang ditimbulkan per unit hasil industri. Beberapa negara di wilayah ini malah menghasilkan limbah dalam jumlah yang tinggi. Mulai dari penggunaan bahan baku. tidak hanya pada pusat-pusat industri dan daerah sekitarnya. negara-negara di wilayah Asia and Pasifik secara keseluruhan memperlihatkan pertumbuhan industri yang kuat bila dibandingkan dengan tempat-tempat lain di dunia. walaupun limbah tersebut berasal dari industri. Tetapi jenis limbah ini berasal pula dari kegiatan lain. sehingga dapat mengurangi kemiskinan. Secara keseluruhan. Dampak negatif akibat limbah tersebut adalah kontaminasi sumber-sumber air. biasanya berasal dari kegiatan industri. Setelah berakhirnya Perang Dunia II. Masalah penanganan limbah berbahaya ini juga merupakan obyek dagang yang tidak terpuji. sektor industri telah mengakibatkan beban pencemaran : − Melalui peningkatan kuantitas cemaran dalam jangka waktu pendek dan menengah. pemilihan jenis mesin dan sebagainya. kegiatan kesehatan (seperti limbah infectious dari rumah sakit) atau dari kegiatan rumah tangga (misalnya penggunaan batere merkuri). Sesuai dengan PP 18/99 juncto 85/99. Penemuan minyak (petroleum) pada pertengahan tahun 1880 menyebabkan meningkatnya produk kimia organik disertai limbahnya. Sebelum krisis ekonomi 1997. Industrialisasi yang cepat telah menciptakan sebuah peluang baru untuk mendistribusikan hasil-hasil pembangunan dengan lebih efektif di negara-negara tersebut. industri memfokuskan dirinya pada produksi plastik dan pestisida. Masyarakat industri menghasilkan produk mulai dari gasoline. padanan kata untuk Hazardous Waste yang digunakan di Indonesia adalah Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dan disingkat menjadi Limbah B3. pemilihan proses produksi. timbulan limbah berbahaya pada tahun 1984 diprakirakan sekitar 300 juta ton. Namun pengadaan dan pengoperasian sarana pengolah limbah ternyata masih dianggap memberatkan bagi sebagian industri.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 lapangan banyak mengalami hambatan. Manusia membutuhkan lebih banyak jenis produk baru yang akhirnya menghasilkan limbah yang spesifik. seperti dari aktivitas pertanian (misalnya penggunaan pestisida). naphta ke kerosene. Limbah berkatagori non-hazardous tidak perlu ditangani seketat limbah hazardous. dalam jangka waktu panjang kuantitas cemaran mungkin menurun jika terjadi perubahan yang drastis dengan adanya industri yang lebih bersih lingkungan. akan mempengaruhi karakter limbah yang tidak terlepas dari proses industri itu sendiri. Sebagian dari limbah industri tersebut berkatagori hazardous waste. Di Amerika Serikat misalnya. regional dan lingkungan secara global. atau jika kontribusi sektor industri itu sendiri menurun. Revolusi industri dan penggunaan bahan kimia organik yang terus meningkat setelah perang dunia ke 2. Penanganan limbah merupakan suatu keharusan guna terjaganya kesehatan manusia serta lingkungan pada umumnya. bahkan pertumbuhan industri negara-negara sedang berkembang di wilayah ini lebih menonjol. tetapi juga pada tingkat nasional. kegiatan enersi (seperti limbah radioaktif PLTN). misalnya pembuangan limbah berbahaya negara maju ke negara yang sedang berkembang. Enri Damanhuri . bukan saja mengakibatkan kenaikan timbulan limbah secara dramatis. Tingginya jumlah limbah industri yang dihasilkan per unit hasil industri merupakan salah satu dari masalahmasalah utama yang ada. Walaupun demikian.

yang berpotensi menghasilkan limbah biosida. Secara keseluruhan. Lebih dari 75 % diantaranya merupakan cemaran-cemaran logam yang bioakumulatif. Bila strategi pengembangan industri tidak berubah seperti periode tersebut.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Pengelolaan limbah berbahaya telah menjadi perhatian Pemerintah Amerika Serikat semenjak penemuan tempat pengurugan limbah yang tidak memenuhi syarat di Love Canal. Kegiatan industri juga sangat berpotensi menghasilkan limbah berbahaya. Biaya implementasi sebuah program pengontrolan dan penyediaan sarana sebetulnya akan lebih kecil dibandingkan dengan upaya pemulihan lahan yang tidak dikelola secara baik. diantaranya terdapat 161 kasus (10%) yang menyebabkan kematian. 70 % industri berlokasi di kawasan-kawasan perkotaan dan sekitarnya. Departemen Kesehatan melaporkan sebanyak 1614 kasus keracunan. Selama periode 1984-89. New York. yaitu dari 70 % pada saat ini menjadi 60 % pada tahun 2020. Kali Surabaya. cat dan zat warna. Bila industri yang terlibat dalam komoditi proses terus meningkat di masa datang. Timbulan logam-logam berat dari industri di wilayah Asia dan Pasifik telah dinilai melebihi nilai batas ambang yang aman. Ciliwung. Pada waktu itu juga ditemukan sejumlah besar tempat-tempat yang terkontaminasi oleh limbah berbahaya di seluruh dunia. Menurut WHO telah terjadi 3 juta kasus keracunan pestisida Enri Damanhuri . delapan. Bandung dan Semarang. kontribusi pulau Jawa terhadap cemaran-cemaran toksik akan cenderung stabil. yang berpotensi menghasilkan limbah toksik dan infectious − Kegiatan pertanian dan agro-wisata. Mengacu pada pengalaman negara industri seperti Amerika Serikat. pestisida. kontribusi industri terhadap pencemaran akan menurun. dan zat kimia berbahaya lainnya. Namun kontribusi sektor-sektor lain juga perlu pula mendapat perhatian terutama dari : − Kegiatan medikal dan laboratorium. industri proses dinilai lebih intensif terhadap pencemaran. dari tahun 1970 sampai 1990 limbah penduduk dan industri telah menurunkan kualitas air sungai di bagian hilir seperti Cisadane. yang ditandai dengan meningkatnya cemaran-cemaran toksik dan logam-logam bioakumulatif. peranan sektor industri akan berkontribusi besar dalam produksi limbah berbahaya. dan Thailand diprakirakan telah meningkat masing-masing menjadi sekitar empat. pelepasan bahan berbahaya ini di Indonesia. Di pulau Jawa khususnya. akan menambah beban bagi sumber daya alam. sianida. Bahan pencemar berbahaya dan beracun yang dihasilkan oleh industri adalah seperti logam berat. yaitu sekitar 2/3 dari total cemaran di Indonesia. dan 85 % diantaranya akan terkonsentrasi di daerah perkotaan. The US Office of Technology and Assessment memprakirakan bahwa biaya pemulihan semua tempat yang telah diidentifikasi di Amerika Serikat adalah sekitar US $ 500 milyard. termasuk bertambahnya biaya dan resiko akibat pencemaran lingkungan. Kali Berantas dan Citarum. Surabaya. Dilaporkan pula oleh Bank Dunia bahwa intensitas pencemaran dari limbah berbahaya ternyata cenderung meningkat sejak tahun 1970. yang diprakirakan akan meningkat kurang dari 200. yaitu industri proses akan tumbuh lebih lambat dibanding industri perakitan. Filipina. di Indonesia akan terjadi pergeseran komposisi industri secara sektoral. dan sepuluh kali lipat. terutama di daerah industrialisasi yang berkembang dengan cepat seperti di negara-negara ASEAN dan China. Intensitas atau perbandingan antara limbah berbahaya yang ditimbulkan dengan unit hasil industri secara mencolok juga meningkat. namun beban cemarannya secara absolut akan meningkat sekitar 10 kali. Pada daerah perkotaan di Indonesia seperti di Jakarta. Tingkat pencemaran pestisida dan pengaruhnya terhadap kesehatan di Indonesia sulit untuk diprakirakan. Menurut analisa Bank Dunia (1994).FTSL ITB Halaman 6 . minyak. Sampai tahun 1994. Dalam hal ini. pelarut.000 ton pada tahun 1990 menjadi sekitar 1 juta ton pada tahun 2010.

Penelitian penyebab penyakit tersebut secara intensif dilakukan oleh pemerintah. Merkuri didapat di alam. tanpa mengetahui penyebab masalah ini.100 tahun akan persistan di alam. Jepang Selatan). Chisso mempekerjakan penduduk setempat (sekitar 1/3 tenaga pekerjanya). Mikroorganisme dalam air mengkonversi logam ini menjadi methylmercure.contoh tentang masalah limbah B3 dan pengelolaannya diambil dari pengalaman negara industri.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 akut dan 220. Kasus penyakit ini juga terus berlanjut. yang dapat menyerang syaraf dan otak. merupakan logam warna putih-perak. yaitu sejumlah ikan mati tanpa diketahui sebabnya. yang terungkap setelah sekitar 600 ton merkuri. keberadaan peraturan perundang-undangannya ataupun kesiapan masyarakatnya. Tetapi Chisso paada awalnya belum dicurigai sebagai penyebab. dan biasanya digunakan sebagai katalis.000 kematian setiap tahunnya di seluruh dunia. dan berada fasa cair pada suhu biasa. Dengan asumsi rata-rata kasus kematian karena pestisida seluruh dunia sebesar 0. yang digunakan sebagai katalis dalam prosesnya. tetapi tidak mendapatkan hasil memuaskan.FTSL ITB Halaman 7 . Hampir semua kasus tadi (90-99%) terjadi di negara-negara yang sedang berkembang. Sinyal pertama kasus ini datang pada tahun 1950. dan terutama menyerang anak-anak. tetapi tidak tercantum merkuri dalam daftar tersebut. khususnya Amerika Serikat guna memberikan gambaran kepada mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini pada khususnya. walaupun diketahui bahwa merkuri digunakan sebagai katalis proses dari pabrik tersebut. Tahun 1956 masyarakat sekitarnya mengadakan aksi menentang keberadaan Chisso. limbah dan kesehatan masyarakat. atau fihak-fihak lain pada umumnya akan pentingnya pengelolaan limbah B3 terutama bagi negara Indonesia yang diharapkan akan menjadi negara industri dalam masa mendatang. Merkuri alamiah dapat dievakuasi oleh tubuh manusia secepatnya melalui urin. Kasus ini lama kelamaan terungkap. Chisso Chemical Corporation membuka pabrik pupuk kimia di Minamata (terletak di pulau Kyushu. Pengalaman negara industri dengan masalah limbah B3 nya hendaknya memberikan masukan bagi pengambil keputusan atau fihak-fihak terkait di Indonesia untuk tidak menyebabkan kasus-kasus yang terjadi di negara industri tersebut terulang lagi di negara Indonesia. Chisso kemudian mengeluarkan daftar bahan yang digunakan dalam pabriknya. Beberapa diantaranya meninggal dunia. sehingga tidak menimbulkan masalah sosial pada awal pendiriannya. Pada tahun 1714 Gabriel Fahrenheit menggunakan merkuri ini untuk termometer. Pencemaran mercuri tetap berlanjut. Chisso memberikan santunan pada korban dan yang meninggal. yang secara kenyataan telah lebih maju dari Indonesia baik dari segi keberadaan industrinya.1956 gejala yang dikenal sebagai "kucing menari" ditemui pula pada manusia. Antara tahun 1953 . Asosiasi industri kimia Jepang juga membantu Chisso dalam melacak masalah ini dengan melakukan penelitian-penelitian. dengan prakiraan 70 . dibuang secara bertahap sekitar 45 tahun. sedang mercuri organik bersifat biokumulasi. Tahun 1952 timbul penyakit aneh pada kucing yang kadangkala berakhir dengan kematian.00005 maka diprakirakan kasus kematian karena pestisida di Indonesia adalah sekitar 9000 per tahun. hanya diketahui bahwa korban mengalami keracunan akibat memakan ikan yang berasal dari laut sekitar pabrik itu. Berikut ini akan diberikan illustrasi berbagai kasus yang menyangkut bahan atau limbah B3 dari negara industri. contoh. karena korban umumnya mengandung merkuri yang berlebihan pada Enri Damanhuri . Dalam diktat ini. Kasus Minamata ini terkenal di dunia bila membicarakan masalah industri. Penduduk di sekitarnya adalah nelayan atau petani. 2 KASUS PENYAKIT "KUCING MENARI" DI MINAMATA Pada tahun 1932. termasuk logam berat.

Pada suatu pagi di tahun 1974. 22 Maret 1979 dua pemimpin Chisso . Pada saat itu fihak pemerintah dan industri belum mengetahui akibat samping dari produk ini. Produk kimia yang dihasilkan antara lain adalah natrium hidroksida. dan pemerintah menyatakan bahwa Chisso adalah penanggung jawab penyakit yang berjangkit di Minamata. yang terproduksi dalam jumlah besar. Fihak Hooker menjual sebagian kanal tersebut ke pengelola kota hanya seharga US $ 1. sepanjang sekitar 7 mil. Niagara Falls menjadi pusat industri. satu keluarga mendapatkan kolam renang mereka menjadi lebih tinggi sekitar 60 cm. Pada tahun 1930-an.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 tubuhnya. Tahun 1959 sebuah keluarga lain mendapat masalah di lantai bawahnya (basement) dengan adanya lumpur hitam yang masuk ke dalamnya. Tahun 1978.FTSL ITB Halaman 8 . Disamping itu. Akhirnya pembuangan merkuri dihentikan dengan ditutupnya pabrik tersebut. Hooker Chemical and Plastic Corporation yang memproduksi bahan kimia di daerah tersebut mulai mengurug limbahnya pada bagian utara Love Canal yang belum terselesaikan. termasuk pula abu sisa pembakaran dari kota. 8100 penduduk mengklaim hal ini. Pembangunan dimulai tahun 1893. khususnya industri kimia. dengan sifat yang sangat tajam. endrin atau dari bahan organik berklor lainnya seperti pelarut berkhlor akan mendatangkan masalah bagi lingkungan di kemudian hari. Elektrolisa ini juga menghasilkan produk samping (by-product) yang tidak diinginkan yaitu khlor. korban kasus ini menerima santunan yang dibebankan pada Chisso. Pada tahun 1958 tiga anakanak mengalami luka bakar akibat terpapar dengan residu yang muncul ke permukaan. William T. Tahun 1953 fihak kotamadya meminta Hooker Chemical untuk menjual sebagian lahan kanal tersebut untuk pembangunan sekolah baru. Tahun 1952 kanal tersebut ditutup oleh Hooker Chemical. Belum seorangpun yang menyadari bahwa keuntungan dari pestisida seperti DDT. masing-masing sepanjang seperempat mil. dihukum masing-masing 2 tahun dan 3 tahun penjara. Pengembangan penelitian menghasilkan alternatif pemanfaatan produk samping ini menjadi bahan organik berkhlor seperti plastik. yang dapat menghanguskan akar pohon sekitarnya. dan 1500 diantaranya yang diperiksa diketahui keracunan merkuri. Ketika kolam ini dibongkar. Love pada tahun 1892 merencanakan membuat sebuah kanal yang akan dapat menghubungkan bagian hulu dan hilir sungai Niagara. Sebagian dari lahan tersebut dijadikan taman bermain. pestisida dan hasil industri antara lainnya. Sering dijumpai anak-anak bergembira menemukan residu fosfor yang dapat menimbulkan bunga api bila dilemparkan ke permukaan yang berbatu. Tahun 1976 sekitar 120 penduduk Minamata meninggal karena keracunan merkuri dan 800 orang menderita sakit. dan menyisakan dua bagian yang tidak terhubungkan. yang pada saat itu telah berumur 77 tahun dan 68 tahun. Direncanakan bahwa di sekitar kanal tersebut akan dibangun kawasan industri dan pemukiman untuk memanfaatkan tenaga listrik yang ada. Sekolah kemudian dibangun berdampingan dengan daerah yang sebelumnya adalah pengurug limbah industri. maka industri menjadi berkembang pesat di daerah tersebut. tetapi hal ini dianggap alamiah. 3 KASUS LOVE CANAL (AMERIKA SERIKAT) Dengan dibangunnya pembangkit listrik tenaga air di Niagara Falls pada tahun 1890. maka galiannya langsung terisi air tanah berwarna kuning. Namun pembangunan kanal tersebut tidak dilanjutkan. Seorang keluarga di dekat Love Canal melahirkan anak dengan cacat fisik dan mental. Sampai tahun 1947 dapat dikatakan daerah tersebut menjadi lahan pengurugan beragam jenis limbah terutama dari industri. biru dan ungu. Segala upaya dicoba untuk Enri Damanhuri . yang merupakan produk elektrolisa natrium khlorida. Bahkan Angkatan Darat Amerika Serikat juga mengurug sejumlah besar residu senjata biologis walaupun secara resmi fihak Pentagon menolak tuduhan tersebut.

dan yang sedang merencanakan membangun pusat kegiatan senilai US $ 17 juta. telah diurug di lahan-urug tersebut. agaknya mereka tidak ingin mengganggu kegiatan Hooker yang telah mempekerjakan sekitar 3000 penduduk setempat. Mereka menginginkan kompensasi yang lebih dari itu. dan memerintahkan memagari sekeliling lahan serta memberikan ventilasi pada basement yang tercemar. Peraturan pertama yang dikeluarkan oleh pemerintah negara bagian adalah menghentikan sama sekali pelindian yang tidak terkendali. Dari sudut teknik. chloform dan trichloroethylene. sehingga Pemerintahan Carter pada saat itu memerintahkan evakuasi sekitar 700 keluarga lagi. Enri Damanhuri .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 menghentikannya. Pemerintah negara bagian memerintahkan komisi kesehatan melakukan penelitian. Studi pada tahun 1980 mengemukakan adanya bukti kerusakan khromosom pada penduduk. 237 keluarga akhirnya diungsikan. Hooker Chemical akhirnya mengeluarkan pernyataan bahwa sekitar 22. Berdasarkan pertemuan dengan penduduk setempat. Akhirnya mereka membuat lobang untuk mengetahui apa yang terdapat di balik tembok. Suatu recana perbaikan dan penyembuhan (remedial) mulai dirancang. Sejak saat itu. Akhirnya pada tahun 1977 fihak pemerintah kota mengakui adanya masalah ini.000 ton limbah kimia. diantaranya 200 ton trichlorophenol. Dengan bantuan USEPA. sejumlah limbah kimia mulai muncul di halaman beberapa rumah. Analisa lebih lanjut menemukan bahwa cemaran kimia dalam konsentrasi tinggi telah mencemari air tanah. Mereka menganggap bahwa masalah ini bukanlah suatu krisis yang besar.5 meter tanah kedap untuk menghindari masuknya air dari luar. sakit kepala. Sebagian besar dari anggota keluarga ini secara rutin mengalami gangguan fisik seperti iritasi. Kegiatan remediasi tersebut dianggap terlalu lambat oleh penduduk sekitarnya. induk perusahaan Hooker Chemical. mencegah kemungkinan pelindian di masa datang dan menutup kanal. Sejumlah besar cairan hitam masuk memenuhi ruangan. Pendapat ini tetap berlangsung sampai pemerintah negara bagian mulai ikut campur. cepat lelah. Mulai tahun 1976. masalah Love Canal mulai diketahui dan diperhatikan. termasuk diantaranya 11 jenis cemaran penyebab kanker seperti benzene. Kanal tersebut juga ditutup setebal 2. Hooker mengemukakan bahwa teknologi yang mereka gunakan adalah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Namun dibutuhkan dana untuk melaksanakan kegiatan ini. Disamping itu. Delapan bulan setelah kejadian kolam renang di atas. diantaranya pembuatan drainase untuk mengalirkan lindi dan memompanya ke suatu tangki pengumpul untuk kemudian diolah sebelum dialirkan kembali pada sistem penyaluran air buangan kota. yang tetap digunakan oleh Pemerintahan Carter. maka diputuskan penutupan sekolah dan pengungsian anak-anak dan wanita yang sedang hamil yang tinggal berdekatan dengan kanal. Survai kesehatan juga dimulai dan dijumpai bahwa keguguran spontan ternyata 250 kali lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. senyawa-senyawa toksik berhalogen terdeteksi pada sistem penyaluran air buangan kota. Keluhan mereka pada fihak pemerintah kota tidak ditanggapi. Sampel darah yang diambil juga menunjukkan indikasi adanya kerusakan hati yang meningkat.FTSL ITB Halaman 9 . susah tidur dan diantaranya juga cacat mental. namun tetap tidak ingin menentukan yang bertanggungjawab. Kelahiran cacat fisik dan mental juga sering dijumpai. dilakukan pengambilan sampel udara di beberapa basement rumah di daerah tersebut. Namun akhirnya dicapai kesepakatan di pengadilan antara 1345 penduduk dengan Occidental Petroleum. tetapi pemerintah negara bagian menolak sampai adanya kejelasan kompensasi bagi penduduk. Hasilnya adalah bahwa udara di daerah tersebut mengandung bahan-bahan toksik yang berada di atas ambang threshold-limit value (TLV). walaupun pemerintah negara bagian mengajukan tuntutan denda pada Hooker Chemical sebesar US$ 635 juta.

didirikan di kota kecil Meda (dekat Seveso).FTSL ITB Halaman 10 . Area A penduduknya dievakuasi. Tanah terkontaminasi dikupas sedalam rata-rata 5 cm. Pembersihan daerah terkontaminasi merupakan usaha besar-besaran yang dilakukan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Kasus Love Canal menyebabkan adanya perbaikan dan pengetatan peraturanperaturan yang berlaku di Amerika Serikat dalam menangani limbah B3. Landfilling dalam tanah dilakukan dalam 2 lubang dengan proteksi kuat. Efek 2. dan tidak ditulis sebagai 'Dioxin'.3. Seveso terletak di Italia Utara. namun akhirnya beritanya tersebar di daratan Eropa dan menjadi pemberitaan hangat selama 9 bulan. Penduduk di sekitarnya dievakuasi.8-TCDD. namun semuanya sebagai penimbul agen kanker (carcinogen). reaksi kimiawi yang terjadi menghasilkan 2.7. kosmetik dan herbisida. karena ternyata bukan hanya lahan ini saja yang secara peraturan sebetulnya telah sesuai dengan yang berlaku. Pada temperatur yang sesuai. yaitu dilapis bentonit dan lembaran polyethylene. dan prianya dihawatirkan mengalami kerusakan pada fungsi genetiknya. terutama pada pabrik itu sendiri yang tercemar berat.7. guna memproduksi 2. Pemerintah Italia akhirnya memutuskan penggunaan teknik insinerasi dan landfilling bagi komponen-komponen pabrik tersebut. Atom chlor pada senyawa PCDD menghasilkan sampai 75 isomer dengan toksisitas yang sangat bervariasi. Agaknya dioxin ini menimbulkan tumor yang berbeda untuk organ yang berbeda. bukan dari Seveso (tempat yang dikenal untuk kasus ini). dan dilarang menggunakan barang-barangnya.3.5. Hoffman-La Roche memilih Seveso sebagai lokasi pabriknya di Italia. terutama dalam posisi lateral (2. Kecelakaan terjadi pada tanggal 10 Juli 1976. industri farmasi Swiss. dan para peneliti baru sampai pada tahap awal dalam memahami efek toksisitas dioksin ini pada manusia.8-TCDD ini terhadap spesies binatang ternyata berbeda. Pohon-pohon terkontaminasi ditebang. Dioxin adalah nama umum untuk grup polychlorinated dibenzodioxins (PCDD). Daerah tersebut kemudian dijadikan taman. Akhir 1960-an. Pabrik ini menghasilkan asap yang berbau. Ternyata penanggung jawab upaya pembersihan daerah Seveso tersebut mengirimkan 41 drum limbahnya untuk ditimbun di luar Italia. Pekerjaan ini membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun. Sekitar 1 Kg dioxin terbuang ke udara membentuk kabut melewati ribuan hektar sekitar bencana.7. sedang asalnya ditulis dari Meda. yaitu kasus transportasi dioxin antar negara. Pabrik tersebut dibangun dan dioperasikan oleh Industrie Chemiche Meda Societe Aromia (ICMESA). Informasi yang didapat menyatakan bahwa drum tersebut akan diangkut ke Inggeris untuk diinsinerasi. Isomer yang sangat aktif dan mempunyai potensi toksisitas tinggi adalah yang mempunyai 4 sampai 6 atom chlor. Daerah sekitarnya dibagi menjadi 2 area bahaya. Pengiriman ini bersifat rahasia. dengan timbulnya suatu kasus yang cukup meggegerkan daratan Eropa Barat pada tahun 1981.8-TCDD) dengan toksisitas akut.3.trichlorophenol untuk disinfektan. Kegiatan remediasi lahan yang terkontaminasi akhirnya menjadi salah satu program yang digalakkan di Amerika Serikat bagi lahan yang tercemar.4.8-Tetrachlorodibenzo-p-dioxin (2.3. Ibuibu yang hamil dianjurkan untuk menggugurkan kandungannya. ke Jerman Timur Enri Damanhuri . Drum tersebut diangkut oleh dua perusahaan swasta ke tempat yang tidak dispesifikasi secara jelas.7. Kasus tersebut ternyata tidak berhenti di sana. Drum tersebut berlabel 'bahan hidrokarbon aromatis'.3.binatang seperti terpanggang.8) seperti 2.7. tetapi penduduknya rupanyanya sudah terbiasa. Anak-anak dengan langsung menunjukkan gejala chloracne pada mukanya dan bagian lain di tubuhnya. ketika reaktor akan dipanaskan dan terjadi retak pada katup pengamannya. binatang. 4 KASUS KABUT DIOXIN DI SEVESO (ITALIA) Salah satu kasus limbah berbahaya yang terkenal adalah peristiwa kabut dioxin di Seveso (Italia). Daun-daun pohon di sekitarnya menjadi rontok.

Kemudian dioxin tersebut baru diinsinerasi setelah 2. Dinas kesehatan setempat kemudian menginvestigasi industri kepone tersebut setelah salah seorang pekerja dinyatakan keracunan kepone.72 ppm.1 . ternyata LSP telah mengeluarkan efluen kepone sebesar 500 . sedang sungai James sendiri mengandung kepone 0. Berangkat dari pengalaman tersebut. Yang dijumpai pada pabrik kepone tersebut ternyata lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya.600 ppb. Pencemaran udara juga telah meluas ke sekitar pabrik itu. dan harus mengeluarkannya dari Perancis. Debu kepone menutup lantai sampai beberapa inch dan memenuhi udara dalam pabrik. Kemudian 31 pekerja yang dirawat di Rumah Sakit. Masyarakat Ekonomi Eropa mencanangkan program kontrol bagaimana menangani dan mentransportasi limbah kimiawi yang berbahaya diantara anggotanya. Pihak Hoffman-La Roche harus bertanggung jawab untuk itu. dijumpai masalah kesehatan diantara karyawannya. Lumpur dari pengolah limbah mengandung kepone 200 . masyarakat Eropa sadar akan pentingnya peraturan yang ketat tentang pengelolaan limbah berbahaya.FTSL ITB Halaman 11 . sebagai negara asal industri tersebut.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 untuk ditimbun di lahan-urug industri dan ke Jerman Barat untuk dikubur dalam bekas tambang. baik Allied maupun LSP secara illegal membuang kepone ke sungai James yang bermuara di Chesapeake Bay. Dalam 2 bulan.600 ppm. Penelitian selanjutnya mengungkapkan bahwa LSP melanggar aturan-aturan kesehatan dan keselamatan kerja yang berlaku. Produksi tahunan meningkat dari 36. Tindakan berikutnya melibatkan US EPA (US Environmental Protection Agency). sedangkan konsentrasi tertinggi yang pernah diamati adalah 5 ppm. yaitu pada November 1985. tanaman dan limbah kota Hopewell serta sungai. ternyata 40 % dari total partikulat adalah kepone. dan dibawa ke Swiss. Sembilan bulan kemudian setelah dilakukan pencarian yang melibatkan semua fihak di negara terkait.4 ppb. Sebetulnya buruh di sana sudah mengeluh terhadap kondisi ini tetapi manajemen LSP tidak memperhatikan hal ini.1960. EPA kemudian melakukan sampling air minum. Lumpur dari pengolah limbah yang belum terolah secara baik langsung dibuang secara illegal ke lahan-urug. sedang pabrik kepone pada tahun 1975 ditutup. Maret 1974.20 ppm. Kepone dikembangkan oleh Allied sekitar tahun 1950-an.000 pound pada tahun 1965 menjadi 400.000 pound pada tahun 1972. limbah ini membunuh bakteri di sistem digester pengolah limbah. Ikan di dekat sungai James mengandung kepone 0. secara periodik limbah dari LSP masuk ke sistem penyaluran air buangan dan pengolahan limbah kota. sedangkan standar yang berlaku adalah 100 ppb. Tahun 1973 pembuatan kepone disubkontrakkan pada LSP sementara Allied tetap menangani polimer. Disamping itu.5 tahun dikeluarkan dari Seveso.1 . Pada tahun 1973 Allied Chemical mensubkontrakkan pembuatan pestisida pada Life Sciences Product (LSP) yang dikenal dengan nama kepone. udara. Allied memproduksi kepone di Hopewell.USA) memprolamirkan dirinya sebagai chemical capital of the south. 5 KASUS KEPONE DI HOPEWELL (AMERIKA SERIKAT) Hopewell (Virginia . ternyata drum tersebut tersembunyi di suatu area pejagalan hewan di Perancis. Darah yang diambil dari pekerja tersebut menunjukkan kandungan kepone antara 2 . Di beberapa tempat. Allied juga memproduksi sendiri. Agustus 1975 LSP didenda US$ 16500. Pemerintah akhirnya memutuskan bahwa pabrik Enri Damanhuri . Tetapi tidak satupun yang sampai. 2 minggu setelah produksi penuh. Beberapa saat kemudian. Produksinya dikontrakkan pada Hooker Chemical antara 1950 . dan disanalah dimulainya bencana kimiawi di USA. Namun karena pasaran meningkat.

Interpretasi hasil analisis air tanah pada tahun 1972 ternyata juga salah. 1989 Enri Damanhuri . Maret 1997 o LaGrega. maka diprakirakan tidak akan terjadi pencemaran air tanah. Namun biaya yang ditanggung Allied untuk operasi tersebut akhirnya menjadi US $ 394000. dengan program pengolahan in-situ terhadap air tanah yang tercemar. − Membangun sumur-sumur pemantauan.FTSL ITB Halaman 12 . : Hazardous waste management. tetapi LSP tidak sanggup untuk operasi tersebut.D. 1994 o Wentz.4 juta US$. dan 4 juta gallon (15140 m3) air tercemar dialirkan ke lahan-urug West Covina. M. Akhirnya Pemerintah memilih cara yang lebih murah.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 itu untuk 'dilucuti'. dan dengan membuat penghalang beton di hilirnya. 6 KASUS LAHAN STRINGFELLOW DI KALIFORNIA (USA) Lahan Stringfellow di Glen Avon (Kalifornia-USA) telah digunakan untuk menimbun limbah cair B3 dari tahun 1956 sampai 1972. misalnya 120 pedagang ikan yang merasa dirugikan karena mereka memperoleh ikannya dari sungai James yang tercemar. Lahan-urug lain. Referensi Utama: o Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia – UNDP: Agenda 21 Indonesia. : Hazardous waste management. dan masih dibutuhkan sekitar 65 juta US $ untuk mentuntaskan permasalahan. Ternyata evaluasi berikutnya menyatakan bahwa lahan itu sebetulnya tidak cocok untuk limbah cair B3 dan terjadilah pencemaran air tanah. − Menempatkan lapisan clay untuk mengisolasi. Sekitar 800. Allied diminta untuk bertanggung jawab operasi detoksifikasi tersebut dengan rencana biaya sebesar US $ 175000. Estimasi biaya pada tahun 1974 meningkat 4 kali lipat dengan cara tersebut. Sekitar 15 juta US $ telah dihabiskan untuk program tersebut.000 gallon (3028 m3) air tercemar dialirkan ke area di hilirnya. dengan menganggap bahwa pencemaran air tanah yang terjadi berasal dari limpasan air permukaan bukan dari lahan tersebut. Prakiraan biaya untuk menyingkirkan dan mengolah seluruh cairan dan tanah yang terkontaminasi pada tahun 1977 sekitar 3. Selama itu sekitar 30 juta galon (113. McGraw-Hill Book Co. dan biaya yang ditanggung akhirnya membengkak berlipat ganda dengan adanya tuntutan dari orang yang merasa dirugikan. tetapi dianggap belum dimonitor secara benar. Studi geologi sebelumnya menyimpulkan bahwa lahan tersebut berada di atas bedrock yang kedap. Hasil interpretasi yang salah juga dilakukan oleh sebuah konsultan lain pada tahun 1977. McGraw-Hill Book. yaitu : − Meyingkirkan cairan terkontaminasi ke lahan yang lain. Lahan ini juga berlokasi di atas akuifer Chino Basin yang merupakan sumber air minum bagi sekitar 500. − Menetralisir tanah terkontaminasi dengan abu semen kiln. Casmalia Resources.A. C.550 M3) limbah cair B3 telah ditimbun.000 gal/hari (265 m3) dari Stringfellow. juga menerima sekitar 70.000 penduduk. namun ternyata lahan ini juga bocor dan akhirnya ditutup.

membatasi produksi dan penggunaan. penyimpanan dan penggunaan pestisida − Peraturan Menteri Kesehatan No. dan/atau komponen lain yang karena sifat. menghasilkan. 31 Tahun 1964 tentang Enri Damanhuri . kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lain. 82 Tahun 1985 tentang Badan Tenaga Atom Nasional.536/Kpts/TP. mengangkut. mengurangi. Terkait dengan penggunaan bahan kimia organik berbahaya.33 Tahun 1985 tentang Dewan Tenaga Atom dan Badan Tenaga Atom Nasional dan Keputusan Presiden No. mengedarkan. yaitu : − Peraturan Pemerintah No.270/9/1984 tentang larangan penggunaan pestisida EDB − Keputusan Menteri Pertanian No.724/Kpts/TP.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN II PERATURAN DALAM PENGELOLAAN B3 1 UMUM Pada dasarnya pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3) di Indonesia mengacu pada prinsip-prinsip dan pedoman pembangunan berkelanjutan yang telah dituangkan dalam Undang-Undang No.148/M/SK/4/1985 tentang pengamanan bahan beracun dan berbahaya di lingkungan industri − Keputusan Menteri Pertanian No. Beberapa peraturan yang secara langsung akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas limbah B3 yang dihasilkan adalah peraturan-peraturan yang mengatur masalah bahan berbahaya.7/1973 tentang pengawasan atas peredaran. konsentrasi dan/atau jumlahnya. Semua yang berkaitan dengan ketenaga atoman pada dasarnya diatur oleh Undang-undang No.270/7/1985 tentang pengawasan pestisida Limbah radioaktif di Indonesia dikelola oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. Secara spesifik pengelolaan B3 ini telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun. Pasal 1 (21) UU-32/2009 mendefinisikan bahan berbahaya dan beracun (disingkat B3) adalah zat. Konvensi ini bertujuan untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan hidup dari bahan POPs dengan cara melarang. energi. 19 tahun 2009 tentang Pengesahan Konvensi Stockholm tentang Bahan Pencemar Organik yang Persisten atau Stockholm Convention on Persistent Organic Pollutants (POPs). baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup.453/Menkes/Per/XI/1983 tentang bahan berbahaya − Keputusan Menteri Perindustrian RI No. dan/atau membahayakan lingkungan hidup. mengolah. yang akan diuraikan lebih lanjut dalam Bagian ini. Bahan POPs ini akan dibahas lebih lanjut dalam Bagian 5 Diktat ini. dan/atau menimbun B3 wajib melakukan pengelolaan B3. menyimpan. serta mengelola timbunan bahan POPs yang berwawasan lingkungan.FTSL ITB Halaman 13 . memanfaatkan. Selanjutnya UU-32/2009 menggariskan dalam Ps 58 (1) bahwa setiap orang yang memasukkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. maka Indonesia telah merativikasi konvensi Stockholm melalui Undang-undang No. 32 tahun 2009 sebagai pengganti UU-23/1997 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. membuang.

− Bab VIII (pasal 32 sampai 34): Peningkatan Kesadaran Masyarakat. − Bab XI (pasal 38) : Sanksi Administrasi. − Bab VII (pasal 28 sampai 31) : Pengawasan dan Pelaporan. − Bab III (pasal 6 sampai 20) : Tata Laksana dan Pengelolaan B3. − Bab XIV (pasal 41 dan 42) : Ketentuan Peralihan. Disamping aspek yang terkait dengan pencegahan terjadinya pencemaran lingkungan dan atau kerusakan lingkungan yang menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap fihak yang terkait. Oleh karenanya. − Bab V (pasal 22 dan 23) : Keselamatan dan Kesehatan Kerja. dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Ketentuan-ketentuan pokok tenaga atom. menggunakan dan atau membuang B3’ (pasal 1 angka 2). kesehatan. − Bab XIII (pasal 40) : Ketentuan Pidana. dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup. pasal-pasal berikutnya mengatur masalah kewajiban dan perizinan bagi mereka yang akan memproduksi (menghasilkan). mengedarkan. Dalam kegiatan tersebut. menyimpan. Setiap mata rantai tersebut memerlukan pengawasan dan pengaturan. menyimpan. Kelima belas bab tersebut adalah : − Bab I (pasal 1 sampai 4) : Ketentuan Umum. mengangkut. 13 Tahun 1975 tentang pengangkutan zat radioaktif 2 PENGELOLAAN B3 DALAM PP 74/2001 PP74/2001 tentang pengelolaan berbahaya dan beracun terdiri dari 15 bab yang dibagi lagi menjadi 43 pasal. atau telah diatur oleh instansi lain berdasarkan konvesi internasional seperti bahan radioaktif. − Bab XII (pasal 39) : Ganti Kerugian. mengeksport. − Bab XV (pasal 43) : Ketentuan Penutup. 11 Tahun 1975 tentang keselamatan kerja terhadap radiasi − Peraturan Pemerintah No. Menurut PP 74/2001: ‘bahan berbahaya dan beracun yang selanjutnya disingkat dengan B3 adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya. mengimpor. maka aspek keselamatan dan kesehatan kerja serta penanggulangan kecelakaan dan keadaan darurat diatur dalam PP tersebut. kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya’ (pasal 1 angka 1). kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya’ (pasal 2). mendistribusikan. − Bab VI (pasal 24 sampai 27) : Penanggulangan Kecelakaan dan Keadaan Darurat. antara lain karena telah diatur dalam PP lain.FTSL ITB Halaman 14 . − Bab II (pasal 5) : Klasifikasi B3. Tidak semua pengelolaan bahan yang berbahaya diatur oleh PP tersebut. 12 Tahun 1975 tentang izin pemakaian zat radioaktif dan atau sumber radiasi − Peraturan Pemerintah No. Selanjutnya beberapa peraturan lain di bawahnya antara lain: − Peraturan Pemerintah No. Sedangkan sasaran pengelolaan B3 adalah 'untuk mencegah dan atau mengurangi resiko dampak B3 terhadap lingkungan hidup. Pengertian pengelolaan B3 adalah 'kegiatan yang menghasilkan. − Bab X (pasal 37) : Pembiayaan. Bahan berbahaya yang tidak termasuk yang diatur adalah (pasal 3): Enri Damanhuri . − Bab IV (pasal 21) : Komisi B3. menggunakan dan membuang bahan tersebut bilamana tidak dapat digunakan kembali. − Bab IX (pasal 35 dan 36) : Keterbukaan Informasi dan Peran Masyarakat. baik secara langsung maupun tidak langsung. terkait berbagai fihak yang merupakan mata rantai dalam pengelolaan B3.

dan Lampiran II . PP 74/2001) Dengan demikian. yaitu (pasal 5): o Mudak meledak (explosisive) o Pengoksidasi (oxidizing) o Menyala: o sangat mudah sekali menyala (extremely flammable) o sangat mudah menyala (highly flammable) o mudah menyala (flammable) o Beracun: o amat sangat beracun (extremely toxic) o sangat beracun (highly toxic) o beracun (moderately toxic) o Bebahaya (harmful) o Korosif (coorosive) o Bersifat iritasi (irritant) o Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment) o Toksik yang bersifat kronis: o karsinogenik (carcinogenic) o teratogenik (teratogenic) o mutagenik (metagenic) Penjelasan lebih lanjut tentang kriteria kapan sebuah bahan dikelompokkan sebagai B3 akan dijelaskan dalam Butir 3. atau sama sekali dilarang dipergunakan. yang terdapat dalam daftar Lampiran I dan Lampiran II PP 74/2001 tersebut (Tabel 1 sampai Tabel 3). atau terbatas penggunaannya. apakah diperbolehkan dipergunakan. PP 74/2001) o B3 yang terbatas dipergunakan (Lampiran II Tabel 2. psikotropika dan prekursor lainnya Bahan aditif lainnya Senjata kimia dan senjata biologi Untuk menentukan apakah sebuah bahan termasuk dalam kelompok B3.Tabel 1 mencantumkan 10 bahan B3 yang dilarang pengunaannya. maka PP tersebut mengklasifikasikan B3 dalam 8 kelompok. narkotika. 74 diantaranya dibatasi penggunaannya sampai tahun 2040. Lampiran I PP 74/2001 mencantumkan 209 buah bahan kimia yang tergolong B3 yang dapat digunakan di Indonesia. Untuk mempermudah menentukan B3 yang diatur dalam PP ini. Reg.FTSL ITB Halaman 15 .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 o o o o o o o o Bahan radioaktif Bahan peledak Hasil produksi tambang serta minyak gas dan gas bumi dan hasil olahannya Makanan dan minuman serta bahan tambahan makanan lainnya Perbekalan kesehatan rumah tangga dan kosmetika Bahan sediaan farmasi. bilamana sebuah bahan sudah terdapat dalam lampiran tersebut.Tabel 2 mencantumkan 45 bahan B3 yang dibatasi pengunaannya di Indonesia. yaitu (pasal 5): o B3 yang dapat atau boleh dipergunakan di Indonesia (Lampiran I PP 74/2001) o B3 yang dilarang dipergunakan di Indonesia (Lampiran II Tabel 1. Enri Damanhuri . disertai keterangan: o No. maka bahan tersebut termasuk B3. Chemical Abstract Sevice yang bersifat universal o Nama bahan kimia o Sinonim/nama dagang o Rumus molekul Berikut ini adalah beberapa contoh bahan kimia B3. dan penggunaannya di Indonesia disesuaikan dengan kelompok tabel yang berlaku. Lampiran II . B3 dibagi menjadi 3 bagian. maka berdasarkan penggunaannya di lapangan. Setiap bahan kimia dalam daftar tersebut. semuanya organik-berhalogen.

Sodium hydrate Nitrogen Nitrogen dioxide Ozone. maka fihak otorita negara yang akan memasukkan bahan tersebut ke Indonesia terlebih dahulu harus menyampaikan notifikasi kepada fihak yang bertanggung jawab di Indonesia (pasal 8). Oxybenzene Formadehyde solution. Cyclo hexatriene Phenol.FTSL ITB Halaman 16 . Soda lye. Morbicid. maka registrasinya harus diajukan kepada instansi yang bertanggung jawab. maka bahan tersebut terlebih dahulu harus didaftarkan oleh importirnya untuk diregistrasi sebelum secara rutin diimport. Formol. Caustic soda. Sulfurated hydrogen. Hydrogen chloride. Oil of Vitriol Benzene. Corrosive sublimate. Sedang bahan berbahaya lain yang tidak diatur dalam PP ini. Hidroxybenzene. Veracur Hydrogen sulphide.1: Contoh B3 (dapat digunakan) dalam Lampiran I PP 74/2001 No 7 14 16 17 23 24 31 52 54 58 76 78 79 80 81 85 87 98 No Reg Chemical Abstract Service 7664-41-7 64-19-7 7664-38-2 7647-01-0 74-90-8 7664-93-9 71-43-2 108-95-2 50-00-0 7783-06-4 124-38-9 7440-44-0 630-08-0 7782-50-5 67-66-3 7487-97 74-82-8 1310-73-2 Nama Bahan Kimia Amoniak Asam Asetat Asam Posfat Asam Klorida Asam Sianida Asam Sulfat Benzena Fenol Formalin (larutan) Hidrogen Sulfida Karbon dioxide Karbon hitam Karbonmonoksida Klor Kloform Merkuri klorida Methane Natrium Hidroksida Sinonim/Nama Dagang Ammonia Acetic acid. Phenic acid. maka sebelum dipergunakan secara luas produsen tersebut harus mendaftarkan terlebih dahulu kepada yang berwenang. Benzol. Bahan tersebut kemudian akan mendapat nomor registrasi sebagai alat kontrol terhadap peredaran B3 di Indonesia. Niran. Trichlorometthane Mercuric chloride. dalam hal ini Kementrian Lingkungan Hidup (pasal 6). Prussic acid Sulfuric Acid. 11) Tabel 2. Formalin. Velsicol 1068. Orthophosphoric acid Hydrochloric acid. Aci-jel Phosphoric acid. Bila bahan yang akan dimpor adalah termasuk dalam daftar B3 yang terbatas dipergunakan. Santhophene 20 Zinc chloride. Mercury perchloride. Hydrocyanic acid. Blausaure. Phenyl hydroxide.2: B3 yang dilarang dalam Lampiran II – Tabel 1 PP 74/2001 No 1 2 No Reg Chemical Abstract Service 309-00-2 57-74-9 Nama Bahan Kimia Aldrin Chlordane Sinonim/Nama Dagang HHDN CD68. Corrosive mercury chloride Sodium hydroxide. sehingga dengan mudah dilakukan pengawasan dan pencegahan terjadinya dampak B3 terhadap lingkungan. Penchloraol. Rumus Molekul C12H8Cl6 C10H6Cl8 Enri Damanhuri . Toxichlor. PCP.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Setiap produsen yang menghasilkan B3 baru yang termasuk diatur dalam PP ini. Triatomic oxygen Penta. Anhidrous hydrochloric acid Hydrogen cyanide. Demikian juga halnya unutk B3 yang diimport dari luar negeri. Butter zinc Lead Bromochloroethane Rumus Molekul NH3 CH3COOH H3PO4 HCl HCN H2SO4 C 6H 6 C6H5OH CH2O H 2S CO2 C CO Cl2 CHCl3 HgCl2 CH4 NaOH N2 NO2 O3 C6HCl5O AgNO3 ZnCl2 Pb - 105 7727-37-9 Nitrogen 106 10102-44-0 Nitrogen Dioksida 110 10028-15-6 Ozon 112 87-86-5 Pentaklorofenol 114 7761-88-8 Perak nitrat 122 7646-85-7 Seng Klorida 127 7439-92-1 Timbal (timah hitam) 209 CH2BrCl *) Muncul juga pada Lampiran II – Tabel 2 (no. misalnya Badan Tenaga Atom Nasional untuk bahan radioaktif. Carbolic acid. Mercury bichloride. Tabel 2. Hydrosulfuric acid Carbonic acid gas Amorphous Carbon monoxide Chlorine Chloroform. Phenilic acid.

Heptamul C6-1283. Nendrin. Prosedur yang sama diberlakukan bagi B3 yang akan dieksport ke luar negeri (pasal 7). Pyralene.Alkyloxyalkyl merkuri . Fenclor. Halon. Phenacide. Hexachloropentadienedimer Hercules 3956: Polycholorcamphene. Drinox. Enri Damanhuri . Campeclor. ENT 17251. G23922.FTSL ITB Halaman 17 .497. Frigen 11. PCP.2bis(4-chlorophenil)acetate EDB. Ethyl 4. 1. Chlorobiphenyls. D-58. Kenachlor. PP ini mewajibkan eksportir B3 tersebut untuk menyampaikan notivikasi ke otoritas negara tujuan ekspor. Acarabene. Necide Compound 497. Hexadrin E3314. Fundal. Schering 36. Frigen 114. HEOD. 112) Jawaban boleh tidaknya barang tersebut masuk ke Indonesia harus diterima oleh otorita negara pengekspor dalam waktu paling lambat 30 hari sejak tanggal diterimanya notifikasi tersebut. Julins carbon chloride Polychlorinated Biphenyls. Areton 11 Dichlorodifluoromethane. otoritas negara transit dan instansi yang bertanggung jawab di Indonesia terlebih dahulu. Bunt-cure. termasuk: . Penchloraol. Gesarex. Phenatox. Chlorinatedcamphene. Folbex. Isotron 2 Dichlorotetrafluoroethane.Alkyl merkuri . Penphene. Ethyl 4. Gesarol. Toxakil Polychlorobenzene. Sebelum ada persetujuan dari otoritas negara tujuan ekspor dan otoritas negara transit. Fluorotrichloromethane. Ethylenebromide. Octalox Compound 268.4-dichlorobenzilate. Corodane Dichlorodiphenyltrichloroethane. maka ekspor B3 tersebut belum boleh dilaksanakan. ENT 16225. Phenochlor. Freo 11. Hydragyrum.268: Spanon. Insecticide No. Santhophene 20 Liquid silver. Embafume C6HCl5O Hg CCl3 CCl2F2 C2Cl2F2 C2Rbr2F4 CH3Br *) Muncul juga pada Lampiran I (no. Synclor. serta dari instansi yang berwenang. Agritan. Prosedur ini adalah sesuai dengan Konvensi Basel yang mengatur lintas batas bahan dan limbah B3 antar negara. Velsicol 104. Clofenotane. Cryfluorane. Santotherm C14H9Cl5 C12H8Cl6OH C12H8Cl6OH C10H5Cl7 C10Cl12 C10H10Cl8 C6Cl6 C12X X=H or Cl Tabel 2. Monobromomethane. Freon 12. p. Chlorophenothane. Areton 114 Dibromotetrafluoroethane Bromomethane. Sym-dibromoethane Rumus Molekul C8H5Cl3O3 C10H13ClN2 C16H14Cl2O3 C12H4Br2 C6H6Cl6 - 11 21 26 27 29 43 45 87-86-5 7439-97-6 75-69-4 75-71-12 74-83-9 Penta. Gesapon.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 3 50-29-3 DDT 4 5 6 7 8 60-57-1 72-20-8 76-44-8 2385-85-5 8001-35-2 Dieldrin Endrin Heptachlor Mirex Toxaphene 9 10 118-74-1 1336-36-3 Hexachlorobenzene PCBs Octachlor. Orthochlor.4-hydroxy-2. Akar. Quicksilver Trichloromonofluoromethane. Dowfume WW85.2-dibromoethane. Anticarie.4. ENT 25719. Areton 12. Strobane-T. Ciba-8514. Gulecton. Guesapon. Arocloc.p-DDT.5-T Chlordimeform (CDM) Chlorobenzilate Ethylene Dibromida (EDB) Lindane Senayawa merkuri. Weedone CDM. Chlorophenamidine Compound 338. Belt. Frigen 12. Dicophane. Freon 114. Altox. Dechlorane.3: Contoh B3 (dibatasi) dalam Lampiran II – Tabel 2 PP 74/2001 No 1 2 4 6 9 10 No Reg Chemical Abstract Service 93-76-5 2425-98-3 510-15-6 106-93-4 58-89-9 Nama Bahan Kimia 2. Clophen.Anorganik merkuri . Mendrin. Geniphene. Bunt-no-more. Trioxone. Genetron 12. Motox.Aryl merkuri Pentaklorofenol* Mercury/Air raksa CFC-11 CFC-12 CFC-114 Halon-2402 Metil bromida Sinonim/Nama Dagang Esterone 245.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Salah satu informasi penting yang selalu harus disertakan dalam produksi B3 adalah Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet . Sedang B3 yang tidak memenuhi spesifikasi adalah bahan yang dalam proses produksinya tidak sesuai dengan yang ditentukan. PP 74/2001 mengatur juga masalah kesehatan dan keselamatan kerja bagi orang yang bekerja di bidang ini. yang menjadi tanggung jawab bagi pengusaha. Langkah darurat yang harus dilakukan adalah (pasal 25): o Mengamankan (mengisolasi) tempat terjadinya kecelakaan o Menanggulangi kecelakaan sesuai dengan prosedur standar penanggulangan kecelakaan o Melaporkan kecelakaan atau keadaan darurat tersebut kepada aparat Kota/Kabupaten setempat o Memberikan informasi. tetapi harus dikelola sebagai limbah B3 (pasal 20). yang memerlukan penanggulangan cepat dan tepat (pasal 24). 3 KARAKTERISASI B3 MENURUT PP 74/2001 Penjelasan PP 74/2001 menguraikan secara singkat klasifikasi B3 sebagai berikut: a. Salah satu kehawatiran utama dalam penanganan B3 adalah kemungkinan terjadinya kecelakaan baik pada saat masih dalam penyimpanan maupun kecelakaan pada saat dalam pengangkutannya.MSDS). atau tidak memenuhi spesifikasi.FTSL ITB Halaman 18 . 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat Enri Damanhuri . Bila terjadi kecelakaan. atau bekas kemasan. Lembar MSDS paling tidak berisi: o Merek dagang o Rumus kimia B3 o Jenis B3 o Klasifikasi B3 o Teknik penyimpanan. B3 kadaluwarsa adalah bahan yang karena kesalahan dalam penanganannya menyebabkan terjadinya perubahan komposisi dan atau karakteristik sehingga bahan tersebut tidak sesuai lagi dengan spesifikasinya. juga harus muncul pada dokumen pengangkutan. Kecelakaan B3 adalah lepasnya atau tumpahnya B3 ke lingkungan. denganmaksud untuk mengetahui sedini mungkin terjadinya kontaminasi oleh zat/senyawa kimia B3 terhadap pekerja atau pengawas lokasi tersebut (pasal 23). dan pengedaran B3 (pasal 12). B3 yang dianggap kadaluwarsa. yang tidak dapat digunakan tidak boleh dibuang sembarangan. bantuan dan melakukan evakuasi masyarakat sekitar lokasi kejadian. pengemasan B3 (pasal 15). sekurang-kurangnya 1 kali dalam 1 tahun. penyimpanan. dan juga pada kemasan bahan tersebut (pasal 14). Lokasi dan konstruksi tempat penyimpanan B3 membutuhkan pengaturan tersendiri. agar tidak terjadi kecelakaan akibat kesalahan dalam penyimpanan tersebut. Salah satu langkah yang wajib dilakukan adalah kewajiban uji kesehatan secara berkala bagi pekerja. Salah satu persyaratan kelengkapan pada tempat penyimpanan tersebut adalah sistem tanggap darurat dan prosedur penanganan B3 (pasal 19). Informasi MSDS disamping harus tercantum pada produksi B3 (pasal 11). Explosive (mudah meledak): adalah bahan yang pada suhu dan tekanan standar (25oC. penyimpanna B3 (pasal 18). pemberian label dan simbol (pasal 17). dan o Tata-cara penanganan bila terjadi kecelakaan PP 74/2001 mengatur juga secara umum pengangkutan B3 (pasal 13). maka kondisi awalnya adalah berstatus keadaan darurat (emergency).

Apabila nilai temperatur pemanasan suatu bahan lebih tinggi dari senyawa acuan. d. Enri Damanhuri . dan atau mempunyai titik nyala ≤ 60oC (140oF). dan apabila terus menerus kontak dengan kulit atau selaput lendir dapat menyebabkan peradangan h. kulit atau mulut. maka bahan tersebut diklasifikasikan mudah meledak. Toxic (beracun): akan menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan. Pengujiannya dapat dilakukan dengan menggunakan Diffrential Scanning Calorimetry (DSC) atau Differential Thermal Analysis (DTA).FTSL ITB Halaman 19 . Dari hasil pengujian tersebut. akan diperoleh nilai temperatur pemanasan. pada temperatur dan tekanan standar dengan mudah menyebabkan terjadinya kebakaran melalui gesekan. o Flammable: o Bila cairan: bahan yang mengandung alkohol kurang dari 24%-volume. Tabel 2. o Bila padatan: bahan bukan cairan. penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan.35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55oC. g.4-dinitrotoluena atau Dibenzoil-peroksida digunakan sebagai senyawa acuan. o Mempunyai pH ≤ 2 untuk B3 bersifat asam. dengan titik nyala di bawah 40oC. Tingkatan racun dikelompokkan seperti tabel berikut. Oxidizing (pengoksidasi): pengujian bahan padat dilakukan denganemtode uji pembakaan menggunakan ammonium persulfat sebagai senyawa standar.21oC. Pengujiannya dapat dilakukan dengan metode Closed-up test. b. Pengujian dapat pula dilakukan dengan Seta Closed-cup Flash Point Test. percikan api.4: Tingkat racun menurut PP 74/2001 Urutan 1 2 3 4 5 6 Kelompok Extremely toxic (amat sangat beracun) Highli toxic (sangat beracun) Moderately toxic (beracun) Slighly toxic (agak beracun) Practically non-toxic (praktis tidak beacun) Relatively harmless (realtif tidak berbahaya) LD50 (mg/kg) ≤1 1 – 50 51 – 500 501 – 5. f.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 merusak lingkungan di sekitarnya.000 > 15. c.5 untuk B3 bersifat basa. Corrosive (korosif): mempunyai sifat o Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit o Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja standar SAE-1020 dengan laju korosi lebih besar dari 6. sedang 2.000 5001 – 15. Sedang untuk bahan cair. akan menyala apabila terjadi kontak dengan api. persisten di lingkungan (misalnya PCBs). senyawa standar yang digunakan adalah larutan asam nitrat. dan atau pH ≥ 12. o Hghly flammable: padatan atau cairan yang memiliki titik nyala 0oC . Suatu bahan dinyatakan sebagai pengoksidasi apabila waktu pembakaran bahan tersebut sama atau lebih pendek dari waktu pembakaran senyawa standar. Irritant (bersifat iritasi): padatan maupun cairan yang bila terjadi kontak secara langsung. atau sumber nyala lainnya. dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran terus menerus dalam 10 detik. pada tekanan 760 mmHg. Flammable (mudah menyala): o Extremely flammable: padatan atau cairan yang memiliki titik nyala (flash point)di bawah 0oC dan titik didih lebih rendah atau sama dengan 35oC. atau bahan tersebut dapat merusak lingkungan. Dangerous to the Environment (berbahaya bagi lingkungan): seperti merusak lapisan ozon (misalnya CFC). Harmful (berbahaya): padatan maupun cairan ataupun gas yang jika kontak atau melalui inhalasi (pernafasan) atau melalui oral dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan sampai tingkat tertentu.000 e.

32 tahun 2009: Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Peraturan Pemerintah Nomor 74/2001: Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun. 19 tahun 2009: Pengesahan Konvensi Stockholm tentang Bahan Pencemar Organik yang Persisten Enri Damanhuri . Chronic toxic (toksik kronis): o Carcinogenic (karsinogen): sifat bahan penyebab sel kanker. yaitu sel liar yang dapat merusak jaringan tubuh o Teratogenic: sifat bahan yang dapat mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan embrio o Mutagenic: sifat bahan yang dapat menyebabkan perubahan kromosom yang dapat merubah genetika.FTSL ITB Halaman 20 .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 i. 26 November 2001 Undang-undang No. Referensi Utama: o o o Undang-Undang No.

khususnya Undangundang No. beracun (2. Lebih dari 90 % limbah yang berkatagori berbahaya. Sebagaimana dibahas pada Bagian I. 18 tahun 1999 (PP85/1999) PP 18/99 jo PP 85/99 merupakan pengganti PP 19/94 jo PP12/95.984. namun tidak semua berkatagori Limbah B3.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN III PERATURAN DALAM PENGELOLAAN LIMBAH B3 1 UMUM Survai di Amerika Serikat pada tahun 1981 mengungkapkan bahwa hampir 90 % dari limbah B3 yang dikelola berasal dari kegiatan industri dan 70 % diantaranya berasal dari industri kimia dan petroleum. cair dan gas). korosif (1. 05/Bapedal/09/1995 yang merupakan pengaturan lebih lanjut PP19/1994 dan PP12/1995. beracun (0.FTSL ITB Halaman 21 . 6.54 %) − Karakteristik limbah padat industri adalah : mudah terbakar (0 %). Keputusan pemberian izin wajib diumumkan. atau bupati/ walikota sesuai dengan kewenangannya.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pengelolaan limbah B3 wajib mendapat izin dari Menteri. dan tetap masih berlaku sebagai pengaturan lebih lanjut dari PP 18/99 jo PP 85/99. korosif (8. 01/Bapedal/09/1995 sampai No.58 %) − Limbah B3 (cair dan padat) dari industri rata-rata di bawah 5 % dari total limbah industri yang dihasilkan. merupakan limbah cair atau aquous liquid waste.52 %) dan non B3 (97. 3. Enri Damanhuri . Dalam hal setiap orang tidak mampu melakukan sendiri pengelolaan limbah B3. Menteri. gubernur.626 ton (padat. Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya.52 %). Pasal 59 UU tersebut menggariskan bahwa: 1. Studi yang dilakukan oleh Dames & Moore untuk mengkaji kelayakan pusat pengolah limbah B3 di Cileungsi menghasilkan proyeksi total limbah berbahaya di daerah Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi (Jabotabek) pada tahun 1990 sebesar 1.50 %). Selain itu. Dalam hal B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 ayat (1) telah kedaluwarsa.44 %) dan non B3 (77. 2. Secara spesifik pengelolaan limbah B3 telah diatur lebih lanjut dalam: − Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (PP18/1999) − Peraturan Pemerintah No 85 tahun 1999 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah No. atau bupati/walikota wajib mencantumkan persyaratan lingkungan hidup yang harus dipenuhi dan kewajiban yang harus dipatuhi pengelola limbah B3 dalam izin. 4. terutama karena sifat korosifitasnya. pada dasarnya pengelolaan limbah B3 di Indonesia mengacu pada prinsip-prinsip dan pedoman pembangunan berkelanjutan yang telah dituangkan dalam peraturan perudang-undangan. 5. survai limbah B3 yang berasal dari industri-industri di Otorita Batam menyimpulkan bahwa : − Karakteristik limbah cair industri adalah : mudah terbakar (11. pengelolaannya diserahkan kepada pihak lain. Peraturan-peraturan lain yang mengatur masalah limbah B3 adalah Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan dari No. gubernur.90 %). Walaupun limbah itu berasal dari kegiatan industri. pengelolaannya mengikuti ketentuan pengelolaan limbah B3.

− Bab IV (pasal 27 sampai 39): Kegiatan pengelolaan . − Bab V (pasal 40 sampai 61): Tata laksana. pengolahan limbah dan penimbunan limbah B3' (pasal 1 angka 3). 349/Kp/XI/92 tentang pelarangan impor limbah B3 dan plastik • Keputusan Menteri Perdagangan RI No. dan pasal 8. pemanfaatan. yaitu sebanyak 3 pasal. penyimpanan. pengangkutan. Sebagai negara industri yang dapat dikatakan relatif paling maju. Karakteristk dan Proses Penentuan Limbah B3: Pengertian pengelolaan limbah B3 adalah '. pengumpulan. Sedangkan tujuan pengelolaan tersebut Enri Damanhuri . rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi. misalnya hanya dibuang ke lahan landfill yang belum dilapis secara kedap. Peraturan-peraturan yang langsung menangani lintas batas limbah adalah: • Keputusan Presiden RI No. Indonesia telah meratifikasi Konvensi Basel.. − Bab VIII (pasal 66): Ketentuan penutup.61/1993 tentang Pengesahan Convension on The Control of Transboundary Movements of Hazardous Wastes and Their Disposal.. sampai jangka waktu terbatas. Timbulnya gerakan lingkungan tahun 1960-an.155/Kp/VII/95 tentang barang yang diatur tata niaga impornya • Keputusan Menteri Perdagangan RI No. limbah B3 yang dapat diimpor adalah skrap timah hitam (aki bekas).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Dalam hal masalah lintas batas limbah ini.. Sedang PP 85/1999 yang merupakan perubahan dari PP 18/1999 hanya terdiri dari 2 (dua) pasal. khususnya konsep cradle-to-grave yang menjadi rujukan dalam peraturan tentang limbah berbahaya di Indonesia. yang berupaya mengatur ekspor dan impor serta pembuangan limbah B3 secara tidak syah. Indonesia sangat potensial sebagai tempat pembuangan limbah berbahaya.. Sebagai negara kepulauan dengan perairannya yang terbuka. • Keputusan Menteri Perdagangan RI No. Pasal I berisi pasal-pasal dalam PP 18/1999 yang mengalami perubahan. Dalam pasal I dijelaskan pasal-pasal dalam PP18/1999 yang mengalami perubahan. Dapat dikatakan.156/Kp/VII/95 tentang prosedur impor limbah Disamping itu. memaksa Kongres Amerika untuk memperhatikan masalah limbah industri ini lebih serius. maupun limbah yang datang dari luar negeri. PP 18/1999 jo PP 85/1995 melarang impor limbah B3 kecuali dibutuhkan untuk penambahan kekurangan bahan baku sebagai bagian pelaksanaan daur-ulang limbah. Sumber. yaitu: pasal 6. Kedelapan bab tersebut adalah : − Bab I (pasal 1 sampai 5): Ketentuan umum. Dengan SK Menteri Perdagangan No. 2 PENGELOLAAN LIMBAH B3 DALAM PP 18/1999 JUNCTO PP 85/1999 Hal yang Diatur: PP 18/1999 tentang pengelolaan limbah berbahaya dan beracun terdiri dari 8 bab yang dibagi lagi menjadi 42 pasal. − Bab VII (pasal 64 sampai 65): Ketentuan peralihan. baik antar pula di Indonesia. sampai tahun 1960-an pengelolaan limbah industri di Amerika Serikat masih belum memadai.FTSL ITB Halaman 22 . − Bab II (pasal 6 sampai 8): Identifikasi limbah B3 − Bab III (pasal 9 sampai 26): Pelaku pengelolaan. dan pasal II (Penutup). maka tidaklah berlebihan bila dalam diktat ini dibahas juga pengertian dan pengembangan peraturanperaturan yang berkaitan dengan limbah B3 di Amerika Serikat. 156/KP/VII/95. − Bab VI (pasal 62 sampai 63): Sanksi. pasal 7.

Sebelumnya PP 19/1994 mendefinisikan bahwa penghasil limbah B3 tidak hanya mereka yang bergerak dalam kegiatan yang bersifat komersial tetapi termasuk juga perorangan yang menyimpan limbahnya dalam lokasi kegiatannya sebelum limbah tersebut ditangani lebih lanjut sesuai dengan peraturan yang ada. Bersiafat reaktif d. Pengertian ‘orang’ yang sering muncul dalam PP18/99 seperti dijelaskan dalam Ps1(18) adalah orang perorangan. Enri Damanhuri . yaitu: • Langkah 1: mengidentifikasi limbah yang dihasilkan. Bila terdapat dalam daftar. Ps 7(3) PP85/99 selanjutnya mendefinisikan uji karakteristik limbah B3 sebagai berikut: a. melalui beberapa langkah. PP18/99 mendefisikan bahwa penghasil limbah B3 adalah orang yang usaha dan atau kegiatannya menghasilkan limbah B3 seperti di tegaskan dalam Ps1(5). Bila batasan penghasil limbah B3 diterapkan juga pada kelompok tersebut.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 adalah : '. seperti ditegaskan dalam Ps9(6).FTSL ITB Halaman 23 . dan atau kelompok orang dan atau badan hukum. Menyebabkan infeksi f. untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang sudah tercemar sehingga sesuai fungsinya kembali ' (pasal 2). maka secara formal limbah tersebut adalah limbah B3.. Tabel 2 (Sumber spesifik) dan Tabel 3 (limbah kimia kadaluarsa). Limbah B3 dari sumber spesifik (Lampiran I Tabel 2) c. yaitu Tabel 1 (Sumber tidak spesifik).. yang hanya bisa dilaksanakan oleh sebuah usaha komersial. tumpahan. Pengujian toksikologi untuk menentukan sifat akut dan atau kronik. dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi (Lampiran I Tabel 3) Rincian dari masing-masing jenis kelompok tersebut terdapat pada Lampiran I PP85/99. Beracun e.. serta kegiatan skala kecil tidak terkena peraturan ini. Bila tidak terdapat dalam daftar tersebut. seperti diatur dalam Ps 7(1). karena izin pengelolaan limbah B3 membutuhkan prosedur administrasi yang tidak sederhana. Ps 7 (1) PP85/99 menyebutkan bahwa jenis limbah B3 menurut sumbernya meliputi: a. dengan daftar limbah (Lampiran 1 Tabel 1 dan 3) atau daftar kegiatan (Lampiran 1 Tabel 2) yang tercantum dalam PP85/99. karena pengaturannya akan ditetapkan kemudian oleh instansi yang bertanggungan jawab. Pasal 1 angka 2 mendefinisikan limbah berbahaya dan beracun (disingkat B3) adalah sebagai sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya yang dapat diidentifikasikan menurut sumber dan/atau uji karakteristik dan atau uji toksikologi (PP85/99 Ps 6). Mudah terbakar c. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik (Lampiran I Tabel 1) b. Bersifat korosif g. seperti batere bekas.. maka identifikasi harus dilanjutkan dengan Langkah berikutnya • Langkah 2: melakukan uji karakteristik sebagaimana tercantum dalam Ps 7(3) PP85/99 seperti diuraikan berikut ini. bahwa yang terkena definisi tersebut adalah badan usaha yang menghasilkan limbah B3. Kemudian PP 12/1995 membatasi. bekas kemasan. Sebuah limbah dinyatakan sebagai limbah B3. akan menimbulkan permasalahan.. Mudah meledak b. Limbah B3 yang dihasilkan oleh kegiatan rumah tangga. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa.

PLTU yang mengunakan bahan bakar batu-bara. 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan di sekitarnya (bandingkan dengan uraian pada PP74/2001) Limbah mudah terbakar adalah limbah-limbah yang memunyai salah satu sifat: • Berupa cairan yang mengandung alkohol kurang dari 24%-volume. Limbah B3 dari sumber spesifik adalah limbah sisa proses suatu industri atau kegiatan yang secara spesifik dapat ditentukan berdasarkan kajian ilmiah. penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan. Jenis kegiatan yang termasuk kelompok sumber spesifik adalah industri atau kegiatan: pupuk. sabun deterjen-produk pembersih desinfektan-kosmetik. tetapi berasal dari kegiatan pemeliharaan alat. proses kloro-alkali. Terdapat 43 jenis limbah yang termasuk kelompok ini. petrokimia. • Merupakan limbah yang bertekanan yang mudah terbakar • Merupakan limbah pengoksidasi Limbah yang bersifat reaktif pada air adalah limbah-limbah dengan salah satu sifat: • Limbah yang pada keadaan normal tidak stabil dan dapat menyebabkan perubahan tanpa peledakan • Limbah yang dapat bereaksi hebat dengan air Enri Damanhuri . bekas kemasan. laundry dan dry cleaning. atau sumber nyala lainnya. semua jenis industri konstruksi (untuk limbah asbestos). electroplating dan galvanis. zat warna dan pigmen. polimer. metal hardening. akan menyala apabila terjadi kontak dengan api. farmasi. penyamakan kulit. operasi penyempurnaan baja. dan atau pada titik nyala ≤ 60oC (140oF). peleburan dan penyempurnaan seng. cat. Terdapat 178 jenis bahan kimia yang termasuk kelompok limbah B3. daurulang minyak pelumas bekas. seal-gasket-packing. • Bukan berupa cairan yang pada temperatur dan tekanan standar dengan mudah menyebabkan terjadinya kebakaran melalui gesekan. tumpahan. chemical-industrial cleaning. pada tekanan 760 mmHg. pengolahan batu-bara dengan pirolisis. Limbah mudah meledak adalah limbah yang pada suhu dan tekanan standar (25oC. batere sel kering. metal-plastic shaping. produk kertas. pengawetan kayu. manufaktur dan perakitan kendaraan-mesin. pencegahan korosi. komponen elektronik-peralatan elektronik. pertambangan. pencucian. pestisida. peleburan-pengolahan besi dan baja. pengolahan lemak hewan/nabati dan derivatnya. tekstil. laboratorium riset dan komersial. resin adesif. peleburan-pemurnian tembaga. pengemasan. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa. IPAL industri. Sumber limbah ini terbagi dalam 51 jenis kegiatan yang termasuk kelompok penghasil limbah B3. percikan api. tinta. semua jenis industri yang menghasilkan dan menggunakan listrik (untuk limbah PCB). fotokopi. bengkel pemeliharaan kendaraan. prosers logam non-ferro. fotografi.FTSL ITB Halaman 24 . dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran terus menerus. daur-ulang pelarut bekas. kilang minyak dan gas bumi. eksplorasi dan produksi minyak-gas-panas bumi. dan buanagn produk yang tidak memenuhi spesifikasi yang ditentukan atau tidak dapat dimanfaatkan lagi. rumah sakit. batere sel basah. pengoperasian insinerator limbah. gas industri. gelas keramik/enamel. pelarutan kerak. peleburan timah hitan (Pb).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Sumber limbah tidak spesifik adalah sumber limbah yang menghasilkan limbah yang pada umumnya bukan berasal dari proses utamanya. allumunium thermal metallurgyallumunium chemical conversion coating.

seperti tercantum dalam lampiran II PP85/99. Asal limbahnya adalah sludge minyak. uji TCLP adalah uji yang dikembangkan oleh US-EPA. katalis bekas. filter bekas. yang merupakan batas ambang yang digunakan untuk indikasi B3. Pada dasarnya sebetulnya.35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55oC. dan atau pH ≥ 12.5 untuk B3 bersifat basa. yang airnya digunakan secara rutin. atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan Limbah yang dengan mudah dapat meledak atau bereaksi pada suhu dan tekanan standar Limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepas atau menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi Limbah yang beracun adalah limbah yang mengandung pencemar yang bersifat racun bagi manusia dan lignkungan yang dapat menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 • • • • Limbah yang bila bercampur dengan air (termasuk uap air) menimbulkan ledakan. sludge dari IPAL. limbah PCB Enri Damanhuri . Simulasi transportasi pencemar ini. daftar limbah yang dapat dikecualikan adalah seperti terdapat pada Lampiran I – Tabel 2. Asal limbahnya adalah slop minyak. menghasilkan batas aman yang memperhitungkan probabilitas terjadinya toksisitas kronik non-kanker maupun kanker. limbah dari laboratorium atau limbah lainnya yang terinfeksi kuman penyakit yang dapat menular. Limbah yang Dapat Dikeluarkan dari Daftar Lampiran I: Menurut PP85/99. limbah laboratorium. residu dasar tanki. cutting pemboran. menghasilkan gas. Asal limbahnya adalah fly ash. dan kewenangan pengelolaannya dilakukan oleh Badan Tenaga Atom Nasional sesuai dengan UU no. bottom ash. kulit dan mulut. Indikator sifat racun yang digunakan adalah TCLP (Toxicity Characteristics Leaching Procedure). yang merupakan simulasi terburuk kondisi landfill. penghasil limbah masih tetap diharuskan melakukan uji toksisitas akut maupun kronis Limbah yang menyebabkan infeksi yaitu bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan dari tubuh manusia yang terkena infeksi. sulfida atau amoniak yang pada pH antara 2 dan 12. drilling mud bekas. sludge minyak. Limbah ini berbahaya karena mengandung kuman penyakit seperti hepatitis dan kolera. residu dasar tanki. karbon aktif dan absorban bekas. pembersih jalan dan masyarakat lain di sekitar lokasi pembuangan limbah. Pengelolaan limbah radioaktif tidak termasuk dalam peraturan ini (Ps 5 PP18/99).FTSL ITB Halaman 25 . Limbah bersifat korosif adalah limbah yang mempunyai salah satu sifat o Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit o Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja standar SAE-1020 dengan laju korosi lebih besar dari 6. 31 tahun 1994 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Tenaga Atom. yang ditularkan pada pekerja. sludge dari IPAL.5 dapat menghasilkan gas. Namun dalam versi Indonesia. yang menyebabkan terjadinya pencemaran pada air tanah. karbon aktif bekas. o Mempunyai pH ≤ 2 untuk B3 bersifat asam. gas dan panas bumi. limbah PCB • D223: PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara. uap atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan Limbah sianida. dengan kode: • D220: limbah dari kegiatan eksplorasi dan produksi minyak. • D221: limbah dari kegiatan kilang minyak dan gas bumi. uap. bila ambang batas TCLP tidak terlampaui.

tanpa menunggu pembuktian terlebih dahulu. yang dikenal sebagai BAPEDAL. o Substitusi bahan o Modivikasi proses o Serta upaya reduksi lainnya Secara teknis operasional. maka Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Dengan penyatuan institusi Bapedal dalam Kementerian Lingkungan Hidup.FTSL ITB Halaman 26 . terkait berbagai fihak yang merupakan mata rantai dalam pengelolaan limbah B3. Sebelum dibubarkan beberapa tahun lalu. dan melakukan pengolahan. Kegiatan dan Pelaku Pengelolaan: Berbeda dengan PP19/94 jo PP12/95. Bila kegiatan reduksi tersebut masih menghasilkan limbah. tanpa kecuali. maka instansi yang bertanggung sepertinya berada pada Kementerian ini. − Pengangkutan limbah oleh pengangkut. dan/atau penimbunan bagi limbahnya. maka setiap penghasil limbah B3. semua jenis limbah tersebut oleh yang berwenang dinyatakan sebagai limbah B3. bertanggung jawab akan hal itu. Enri Damanhuri . baik dilakukan sendiri atau menggunakan jasa fihak lain. Oleh karenanya. Selanjutnya Ps 8 mengatur bahwa limbah B3 yang tercantum dalam Lampiran I Tabel 2 PP85/99 dapat dikeluarkan dari daftar setelah dapat dibuktikan bukan limbah B3 berdasarkan prosedur pembuktian secara ilmiah. Ps 27 (1) PP tersebut mengarahkan bahwa reduksi limbah B3 dapat dilakukan melalui upaya: o Penyempurnaan penyimpanan bahan baku dalam proses house keeping. maka PP 18/99 jo PP85/99 mengarahkan penanganan limbah B3 yang lebih berbasiskan pada cleaner production. Namun pada kenyataannya di lapangan. − Pengumpulan limbah oleh pengumpul. Aspek pengawasan dan sanksi juga diatur dalam kedua PP tersebut. Ps 9 (1) PP18/99 menegaskan bahwa setiap penanggung jawab usaha atau kegiatan yang menggunakan B3 atau menghasilkan limbah B3 wajib melakukan reduksi baik bahan maupun limbahnya. maka limbah B3 tersebut dapat dimanfaatkan. maka pengelolaan limbah B3 menurut PP 18/99 jo PP85/99 merupakan suatu rangkaian kegiatan (Ps 1.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Limbah tersebut di atas dapat dinyatakan sebagai limbah B3 setelah dilakukan uji karakteristik dan atau uji toksikologi. Setiap mata rantai tersebut memerlukan pengawasan dan pengaturan. dan − Pengolahan dan penimbunan limbah oleh pengolah Dalam kegiatan tersebut.3) dari terbentuknya limbah oleh penghasil. dan masih limbahnya dapat dimanfaatkan. yaitu: • Uji karakteristik limbah B3 • Uji toksikologi • Hasil studi yang menyimpulkan bahwa limbah yang dihasilkan tidak menimbulkan pencemaran dan gangguan kesehatan terhadap manusia dan mahluk hidup lainnya. Rangkaian mata rantai berikutnya adalah: − Pemanfaatan limbah oleh pemanfaat. Badan yang mempunyai kewenangan untuk mengawasi pengelolaan limbah B3 tersebut di Indonesia adalah sebuah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. Dengan adanya kedua PP tersebut. kemudian upaya reduksi limbah (sebelum terbentuk) seperti diuraikan di atas. artinya mengutamakan upaya reduksi di sumber. dilarang membuang limbahnya secara langsung ke dalam media lingkungan hidup. PP tersebut mengatur masalah perizinan bagi mereka yang akan terlibat dalam bisnis kegiatan operasional tersebut.

Informasi data tersebut akan digunakan untuk bahan inventarisasi serta bahan evaluasi guna pengembangan kebijakan pengelolaan limbah B3.FTSL ITB Halaman 27 . penanganan limbah B3 dengan jalan pengenceran sehingga konsentrasinya menjadi turun tidak diperbolehkan dilakukan (Ps4). dengan tembusan kepada instansi lain terkait. maka penghasil limbah dikenai kewajiban untuk mematuhi tata cara penyimpanan bagi limbah B3 (Ps29). Ps13 dan Ps14). Rantai berikutnya dalam pengelolaan ini adalah pengumpulan limbah (Ps12. Setiap pengangkutan limbah B3 oleh pengangkut. Batas waktu bagi penghasil limbah. Bila limbah B3 yang dihasilkan kurang dari 50 kg/hari. atau pemanfaat limbah atau pengolah/penimbun limbah untuk menyimpan limbahnya sebelum dikelola lebih lanjut tidak lebih dari 90 hari (Ps10. Selama penyimpanan tersebut. Bagi mereka yang tidak mampu untuk menangani limbahnya sesuai peraturan yang ada. serta melaporkan setiap 6 bulan sekali kepada instansi yang berwenang. Namun penghasil limbah B3 tetap bertanggung jawab atas limbah yang diolah tersebut. walaupun telah diserahkan penanganannya pada fihak lain. pemanfaat atau pengolah/penimbun limbah B3 Catatan tersebut wajib dilaporkan sekurang-kurangya sekali dalam enam bulan kepada instansi yang bertanggung jawab. sebagaimana diatur dalam Ps12 dan Ps15 PP18/99. Dengan demikian. maka limbah boleh disimpan paling lama 90 hari sebelum diserahkan kepada rantai pengelola berikutnya. Disamping itu.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 tanpa pengolahan terlebih dahulu (Ps3). merupakan hal yang harus dilaksanakan. karakteristik. wajib disertai dokumen limbah B3 (Ps16). Kewajiban penghasil limbah adalah mendata limbahnya secara baik. maka penghasil limbah tersebut diperbolehkan menyerahkan penanganan limbahnya kepada pemanfaat limbah (Ps9-2) atau pengolah atau penimbun limbah B3 (Ps9-4) yang mempunyai kewenangan untuk itu. dapat diserahkan kepada fihak lain. dengan syarat mendapat persetujuan instansi yang bertanggung jawab (Ps10). Demikian juga upaya kegiatan pengumpulan dan pengangkutan limbah B3 menuju lokasi pemerosesan berikutnya. wajib mengolah limbahnya sesuai dengan teknologi yang ada. maka penghasil limbah tersebut dapat menyimpan limbahnya lebih dari 90 hari. serta Bupati/Walikota yang bersangkutan. atau pengolah-penimbun limbah yang diakui oleh yang berwenang. baik pada saat limbah dihasilkan. Demikian pula pengolah limbah B3 dapat menyimpan limbah yang diterimanya maksimum 90 hari sebelum dilakukan pengolahan. dan bila tidak mampu diolah di dalam negeri dapat diekspor ke negara yang mempunyai teknologi pengolahan yang sesuai (Ps9-3). penghasil limbah tidak harus menyerahkan limbahnya setiap saat kepada pengumpul atau pengangkut atau pengolah limbah. jumlah dan waktu. Pengaturan lintas batas limbah B3 dari dan keluar Indonesia diatur dalam Ps53. Ps18 dan Ps23). dan limbah tersebut selanjutnya harus diserahkan kepada pemanfaat. Pengumpulan ini bersifat sementara. Pengangkut limbah B3 wajib menyerahkan limbah B3 dan dokumennya kepada Enri Damanhuri . karena kegiatan ini tidak akan menurunkan beban limbah yang dihasilkan. Sebagaimana pada penghasil limbah. maupun pada saat limbah tersebut diserahkan kepada pengelola berikutnya o Nama pengangkut limbah B3 yang melaksanakan pengiriman kepada pengumpul. Kewajiban untuk mendata limbah B3 yang dikelola. yang mencakup (Ps11-1): o Jenis. pemberian symbol dan label untuk setiap kemasan yang digunakan yang menunjukkan karakteristik dan jenis limbah B3 tersebut (Ps28). PP ini juga mengatur penghasil limbah yang dikatagorikan sedikit menghasilkan limbah B3. Setiap kegiatan yang menghasilkan limbah B3. yang dikenal sebagai Small Quantity Generator (SQG).

Usaha ini membutuhkan izin terlebih dahulu dari Menteri yang mempunyai kewenangan di bidang perhubungan setelah mendapat pertimbangan dari Menteri Lingkungan Hidup. Berdasarkan uraian dalam Penjelasan atas PP 18/99. dengan aturanaturan yang berlaku bagi pengangkut limbah B3. pengolahan secara fisika. Penghasil limbahpun dapat bertindak sebagai pengangkut limbah. pengolahan limbah bersasaran untuk merubah karakteristik dan komposisi limbah tersebut agar menjadi tidak berbahaya lagi. stabilisasi dan solidifikas. Selama dalam perjalanannya. Sektor pengangkutan merupakan aktivitas yang beresiko tinggi. Rantai akhir dari sistem ini adalah pengolahan dan penyingkiran (disposal) limbah. Apabila pengengkutan lebih dari satu kali (antar moda). Rantai pengeolaan yang paling akhir adalah penimbunan imbah B3 dalam sebuah landfill limbah B3 dengan system pelapis dasar. angkutan darat (UU 14/1992). Dokumen tersebut antara lain berisi: o Nama dan alamat penghasil limbah atau pengumpul yang menyerahkan limbah o Tanggal peneyerahan limbah o Nama dan alamat pengangkut limbah o Tujuan pengangkutan o Jenis. Pada dasarnya. alat angkut yang digunakan harus sesuai dengan peraturan tentang angkutan yang ada. penerbangan (UU 15/1992) dan pelayaran (UU 21/1992). rincian distribusi dokumen limbah tersebut adalah sebagai berikut: − Lembar ke 1 (asli): disimpan pengangkut setelah ditandatangani oleh pengirim limbah − Lembar ke 2: setelah ditandatangai oleh pengangkut limbah. maka dibutuhkan teknologi lain yang terbaik dan tersedia. dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan di jalan serta hal-hal lain yang tidak diinginkan. maka dibutuhkan dokumen 11 rangkap. Dokumen tersebut dibuat dalam rangkap 7 apabila pengangkutan hanya satu kali. dan menyerahkan dokumen tersebut kepada pengolah limbah bila limbah tersebut telah sampai di tujuan. pengolahan limbah bersasaran agar limbah tersebut dapat terdaur-ulang atau terdaurpakai. − Lembar ke 3: disimpan oleh penghasil setelah ditandatangani oleh pengangkut − Lembar ke 4: setelah ditanda tangani oleh pengirim limbah. Mekanisme Cradle-to-Grave: Dokumen limbah akan memegang peranan penting dalam pemantauan perjalanan limbah B3 dari penghasil sampai ke pengolah limbah. yang akan merupakan sarana permantauan yang serupa dengan konsep cradle-to-grave yang diterapkan di Amerika Serikat. seperti secara termal. yaitu : perkereta-apian (UU 13/1992). Proses tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi yang sesuai. kemudian oleh pengangkut diserahkan kepada penerima limbah − Lembar ke 5: dikirimkan oleh penerima kepada instansi yang bertanggung jawab setelah diterima oleh penerima limbah B3 − Lembar ke 6: dikirimkan oleh pengangkut kepada Bupati/Walikota yang bersangkutan dengan pengirim. setelah ditandatangani pleh penerima limbah Enri Damanhuri . dan karakteristik limbah yang diserahkan. Bila teknologi tersebut tidak dapat diterapkan. limbah tersebut harus dilengkapi dokumen-dokumen yang berasal dari penghasil limbah maupun dari pengumpul limbah yang menjelaskan tentang limbah tersebut. jumlah.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 pengumpul atau pemanfaat atau pengola atau penimbun yang ditunjuk oleh penghasil limbah B3 (Ps17). kimia dan biologi (Ps34). Disamping itu. kemudian dikirimkan kepada instansi yang bertanggung jawab oleh pengirim limbah.FTSL ITB Halaman 28 . komposisi. Disamping itu.

− Lembar ke 8 sampai ke 11 dikirim oleh pengangkut kepada pengirim limbah setelah ditandatangani oleh pengangkut terdahulu dan diserahkan kepada pengangkut berikutnya (antar moda). dibutuhkan analisis dampak lingkungan terlebih dahulu. − jumlah dan karakteristik limbah yang akan ditangani. − spesifikasi alat pengolah limbah. pengangkut maupun sebagai pengolah limbah tersebut. − lokasi tempat kegiatan. pengumpul. − alat pencegahan pencemaran yang digunakan Yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan izin lokasi pengolahan adalah kepala kantor pertanahan kabupaten/kota (pasal 42) sesuai dengan rencana tata ruang berdasarkan rekomendasi Kepala instansi yang bertanggung jawab. Disamping itu. Disamping mempunyai legalitas badan usaha. Enri Damanhuri . maka oleh pengangkut dikirimkan kepada pengirim limbah.1. baik sebagai penyimpan. yaitu : − dari Kepala instansi yang bertanggung jawab untuk kegiatan penyimpanan. persyaratan lain untuk memperoleh izin tersebut adalah adanya informasi yang menyangkut tentang: − nama dan alamat yang jelas dari badan usaha tersebut. pemanfataan. Untuk itu.FTSL ITB Halaman 29 . pemanfaat. pengumpulan.1 : Mata rantai perjalanan limbah beserta dokumennya Pengelolaan limbah B3 memungkin badan swasta untuk terlibat di dalamnya. disertai dokumen-dokumen yang biasa menyertainya. − dari Menteri Perhubungan untuk kegiatan pengangkutan limbah B3. Untuk itu dibutuhkan izin operasi (Ps40). dan pengolahan-penimbunan. hanya rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang telah disetujui oleh instansi berwenang yang diajukan kepada Instansi yang bertanggung jawab bersama persyaratan lainnya. − tata letak sarana dan prasarana. Dalam hal penghasil limbah bertindak pula sebagai pengolah limbah dan kegiatan tersebut dilakukan pada lokasi yang sama. − bentuk kegiatan yang akan dilakukan. setelah mendapat rekomendasi dari Kepala instansi yang bertanggung jawab. Skema 3. maka analisis dampak lingkungannya dibuat teritegrasi dengan kegiatan utamanya dengan persyaratan yang berlaku. Dalam bentuk skema. − bahan baku dan proses yang akan digunakan. − nama dan alamat penanggung jawab.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − Lembar ke 7: setelah ditandatangani oleh penerima. mata rantai perjalanan limbah beserta dokumennya adalah seperti tercantum dalam Skema 3. untuk melengkapi perizinan kegiatan pengolahan limbah tersebut.

Amerika Serikat relatif banyak mengalami banyak masalah dengan limbah. Pengawasan pengelolaan limbah B3 yang dilakukan oleh Instansi yang bertanggung jawab meliputi pematauan penaatan persyaratan serta ketentuan teknis dan administratif oleh fihak-fihak yang mengelola limbah B3. dan fihak pengelola diwajibkan untuk segera menaggulanginya.1976) : pengaturan penggunaan bahan kimia berbahaya yang baru dihasilkan. − Resource Conservation and Recovery Act (RCRA . Pengiriman limbah B3 ke luar Indonesia membutuhkan persetujuan tertulis dari pemerintah negara penerima dan izin tertulis dari pemerintah Indonesia. pengangkut dan atau pengolah limbah adalah membantu sepenuhnya aktivitas pengawasan yang dilakukan di daerah tanggung jawabnya.FTSL ITB Halaman 30 .1976) : pengaturan pengelolaan limbah berbahaya − Hazardous and Solid Waste Amandements Act (HSWA . maka Instansi yang bertanggung jawab akan melakukan upaya penanggulangan. Bila terjadi kecelakaan atau pencemaran atau kerusakan lingkungan akibat kegiatan tersebut.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 PP18/99 tersebut juga mengatur perpindahan lintas batas limbah B3 dari dan ke luar Indonesia (Ps53).1984) : tentang perlindungan terhadap air tanah dari limbah berbahaya − Comprehensive Environmental Response. Hal lain yang mendapat perhatian dalam kedua PP tersebut adalah kesehatan dan keselamatan pekerja yang terlibat dalam kegiatan pengelolaan ini serta tanggung jawab pengelola bila terjadi kecelakaan serta pencemaran. Pemeriksaan kesehatan pekerja oleh instansi yang berwenang di bidang kesehatan tenaga kerja dilakukan secara berkala agar sejak dini dapat diketahui terjadinya kontaminasi oleh zat-zat berbahaya. maka dibutuhkan pemberitahuan tertulis terlebih dahulu kepada pemerintah Republik Indonesia. khususnya limbah industri. − Toxic Substances Control Act (TSCA . 3 KONSEP CRADLE-TO-GRAVE AMERIKA SERIKAT Sebagai negara industri. pengumpul. − meminta keterangan tentang pelaksanaan pengelolaan limbah. − Solid Waste Disposal Act (1965) dan Resource Recovery Act (1970) : pengaturan tentang pengolahan dan pendaur-ulangan buangan padat. − mengambil contoh limbah untuk dianalisa di laboratorium.1980) dan Superfund Amendement and Reautorization Act (SARA Enri Damanhuri . Dalam hal pengangkutan limbah B3 antara negara yang melalui wilayah Indonesia. − Federal Insecticide. Pengawasan tersebut mempunyai kewenangan untuk: − memasuki area lokasi kegiatan. Compensation and Liabilities Act (CERCLA . dan biaya kegiatan tersebut dibebankan pada fihak pengelola. maka limbah B3 dilarang masuk ke wilayah Indonesia. Upaya ini merupakan kewajiban fihak pengelola untuk melaksanakannya. khususnya yang berkaitan dengan masalah pengelolaan limbah B3 antara lain adalah : − Atomic Energy Act (1954) : merupakan revisi Atomic Energy Act tahun 1946. Fungicide and Rodenticide Act (FIFRA-1972) : mengatur penyimpanan dan disposal pestisida. Kewajiban penghasil. Guna mencegah dijadikannya wilayah Indonesia sebagai tempat pembuangan limbah B3. maka fihak pengelola bertanggung jawab atas hal ini. yang mengatur permasalahan penggunaan energi nuklir. Beberapa peraturan-peraturan Federal yang berkaitan dengan masalah lingkungan. − melakukan pemotretan untuk kelengkapan pengawan tersebut. Bila fihak pengelola tidak dapat menanggulanginya secara baik. Kontrol yang aktif dari masyarakatnya banyak menelorkan peraturan-peraturan guna mengatur masalah ini.

yang terdiri dari berbagai Subtitle. agar tidak mengganggu terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. yaitu dari mulai identifikasi limbah berbahaya. yaitu : − Penghasil (generator). penyimpanan. RCRA (1976). makanan. Dengan adanya peraturan tersebut maka tidak satupun bahan kimia yang boleh diimport atau dieksport tanpa kontrol dan persetujuan USEPA. dikelola dengan baik.FTSL ITB Halaman 31 . Diperkirakan sekitar 77. aditif untuk makanan. atau 1600 ± 100°C selama 1. transformator tersebut akan ditarik dari peredaran oleh USEPA. Katagori produk yang tidak termasuk dalam kontrol TSCA adalah tembakau. disamping itu USEPA mempunyai kewenangan untuk mendapatkan informasi tentang bahan berbahaya ini di sumbernya (pabrik). serta bagaimana mengurangi timbulan limbah tersebut. RCRA dalam hal ini menugaskan USEPA untuk melaksanakan aturan-aturan yang ada. produk PCB di Amerika Serikat telah dihentikan (1977). pengolahan. senjata api/amunisi. persyaratanpersyaratan mulai dari sumber (timbulan). dan merupakan bahan cair dengan sifat-sifat yang menguntungkan yaitu mempunyai stabilitas panas serta sifat-sifat transfer panas yang ideal. harus diuji dulu sebelum bahan tersebut diproduksi untuk dipasarkan.000 transformator dengan PCB telah diproduksi. Salah satu kasus yang dapat dijadikan contoh adalah penggunaan polychlorinated biphenyl (PCB). PCB telah diproduksi di Amerika Serikat sejak tahun 1929. − Pollution Prevention Act (1990) : strategi penanganan pencemaran limbah dengan memberikan priporitas pada minimasi limbah Dari sekian banyak peraturan perundang-undangan tersebut di atas. namun sejumlah besar alat listrik masih menggunakan bahan ini. RCRA dianggap merupakan produk legislatif yang paling penting dalam pengaturan limbah B3. Namun uji coba pada hewan akhirnya menunjukkan bahwa PCB dapat menyebabkan kanker dan sebagainya. Dalam pengelolaan limbah berbahaya. dan telah mengalami beberapa kali amandemen sejak dikeluarkannya pada tahun 1976. Melalui TSCA. Produk ini telah diatur oleh peraturan-peraturan sebelumnya. Bahan-bahan kimia yang diproduksi sebelum TSCA juga terkena peraturan ini. obat-obatan dan kosmetika. Toxic Substances Control Act (TSCA) memberi kewenangan pada USEPA untuk mengidentifikasi dan memantau bahan-bahan kimia berbahaya di lingkungan . bahan nuklir. Direncanakan. serta terkonsentrasi pada jaringan lemak. dan Enri Damanhuri . DRE (Destruction and Removal Efficiency) yang dipersyaratkan paling tidak adalah sebesar 99. Dalam peraturan tersebut. dicantumkan aturan-aturan administratif dan tehnis untuk tiga katagori pelaku utama. Perkembangan lebih lanjut ternyata dibutuhkan aturan-aturan lebih jauh agar limbah tersebut. Solid Waste Disposal Act pada dasarnya mengatur tata cara disposal (penyingkiran) limbah kota dan industri. khususnya limbah B3. CERCLA (1980) dan SARA (1986). pestisida. transportasi. sampai penyingkiran/pemusnahan (disposal) limbah berbahaya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 1986) yaitu tentang pengaturan dan pendanaan bagi pembersihan site disposal berbahaya yang sudah tidak beroperasi. versi RCRA yang paling penting adalah aturan-aturan yang termasuk dalam Subtitle-C dengan program utamanya adalah Cradle-to-grave .5 detik dengan 2 % kelebihan oksigen. sehingga digunakan sebagai media transfer panas pada transformator dan kapasitor. HSWA (1980). maka yang sangat berkaitan erat dengan masalah limbah berbahaya adalah TSCA (1976). Berdasarkan hal ini keluarlah RCRA.9999 %. Efek toksik dari bahan yang baru dihasilkan. Proses pemusnahan yang paling cocok adalah dengan insinerasi pada temperatur 1200 ± 100°C selama 2 detik dengan 3% kelebihan oksigen di cerobong. − Pengangkut (transporter).

penyimpan. pembuang limbah B3 − Daur ulang limbah B3 − Land disposal limbah B3 − Izin fasilitas TSD Generator adalah penghasil (creator) limbah berbahaya yang harus menganalisis limbah padatnya sesuai aturan RCRA Subtitle-C.2 : Konsep cradle-to-grave Amerika Serikat − Setiap generator mengisi format standar dalam 6 kopi. Dengan pengecualian ini. Storage & Disposal) Enri Damanhuri . USEPA menyadari akan sulit menerapkannya. penyimpan (storage) dan pemusnah/penyingkir (disposal) atau TSD.FTSL ITB Halaman 32 . − Generator menyimpan kopi-6 dan mengirim kopi-5 ke USEPA serta memberikan copy yang lain ke transporter − Transporter selanjutnya menyimpan kopi-4. Aturan RCRA selanjutnya dikodifikasi dalam Code of Federal Regulation (CFR) dengan sebutan Title 40 CFR. dan pada tahun 1984 plafon SQG ini diturunkan lagi menjadi 100 kg limbah B3 per bulan. Guna memungkinkan pelacakan dan pengelolaan sesuai dengan konsep Cradle-tograve. Perusahaan kecil dibatasi kemampuan finansial dan kapasitasnya untuk melaksanakan aturan RCRA secara ketat. Oleh karenanya. Bila Generator skala kecil diharuskan mengikuti aturan tersebut. yang memungkinkan untuk pemanfaatkan dan pelacakan limbah berbahaya tersebut dalam mata rantai pengelolaan. dan menyerahkan copy yang lain pada perusahaan TSD (Treatment. sebagian besar jenis limbah dari SQG dikeluarkan dari Subtitle-C. antara lain berisi : − Identifikasi limbah B3 − Penghasil limbah B3 − Pengangkut limbah B3 − Pemilik/operator fasilitas pengolah.2 : Skema 3. walaupun pengusaha tetap diwajibkan untuk menganalisis limbahnya. yaitu aturan-aturan pengangkutan bahan berbahaya dan beracun mulai dari pengemasan. USEPA juga mengadopsi aturan-aturan yang telah lama digunakan oleh US Departement of Transportation (DOT). maka diciptakan mekanisme seperti Skema 3.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − Pemilik/operator fasilitas pengolah(treatment). selama pengangkutan sampai di tujuan. Generator limbah B3 harus mendapatkan nomor identifikasi dari USEPA. EPA pada tahun 1980 lebih lanjut mendefinisikan Small Quantity Generator (SQG) sebagai penghasil limbah berbahaya kurang dari 1000 kg per bulan.

kontaminasi terhadap rantai makanan atau pencemaran terhadap sumber-sumber air minum. Rantai akhir dari sistem ini adalah TSD. Transporter harus memiliki nomor-identifikasi USEPA. Sebelum adanya Comprehensive Enviromental Respons. kopi-2 ke USEPA dan TSD menyimpan kopi-3. EPA dan generator dapat melacak perjalanan limbah B3 tersebut dari penimbul atau generator (cradle) ke titik penyingkiran/pemusnahan final (grave). Setiap manifes isian tersebut berisi antara lain : − Pernyataan bahwa generator telah menggunakan cara-cara terbaik guna mengurangi volume dan toksisitas limbah B3 nya. kalau tidak. Generator harus sudah menerima kopi-1 dalam kurun waktu 35 hari sejak limbah tersebut diterima oleh perusahaan pengangkut (transporter). Dengan CERCLA. CERCLA adalah berfungsi menangani "dosa masa lalu". terutama pada landfill limbah B3 yang tidak terkontrol. yaitu : − Treatment (pengolahan) : setiap proses yang merubah karakteristik atau komposisi limbah berbahaya sehingga menjadi tidak berbahaya atau sedikit berbahaya. − Storage (penyimpanan) : penyimpanan sementara limbah berbahaya sebelum diolah atau dimusnahkan atau didaur-ulang. termasuk juga cara analisis limbah B3 dan sebagainya.FTSL ITB Halaman 33 . Salah satu isu penting terhadap lahan pengurugan (landfilling) yang tidak terkontrol secara baik adalah bagaimana mengidentifikasikan dan mengkuantifikasi resiko Enri Damanhuri . Transporter harus mengangkut limbah tersebut sesuai dengan jumlah yang tercantum dalam manifes. Dengan demikian. Sarana yang sudah ditutup sebelum peraturan ini keluar. atau setiap proses yang mampu melakukan pengurangan volume atau mampu memanfaatkan kembali limbah tersebut. Transporter harus menyimpan kopi-4 dari manifes selama 3 tahun setelah limbah tersebut diterima oleh TSD. dan tidak menerima limbah dari generator yang tanpa nomor tersebut. − Disposal (pemusnahan/penyingkiran) : penyimpanan limbah berbahaya dengan cara yang dianggap aman dengan penimbunan dalam tanah. maka USEPA mempunyai kewenangan untuk bertindak terutama bila berkaitan dengan pengaruh limbah B3 terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Karena DOT sudah lama menangani transportasi bahan berbahaya. yang melibatkan 3 kegiatan fungsional. ledakan. Bila usulan tersebut disetujui (bisa memakan waktu sampai 3 tahun). misalnya karena terjadinya kebocoran. − Pernyataan bahwa sarana TSD yang dipilih oleh generator adalah yang terbaik dalam meminimkan resiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. maka EPA hanya mampu mengatur pengelolaan limbah berbahaya yang masih aktif dan baru ditutup. Disamping itu generator harus melaporkan pada USEPA dengan menunjukkan tempat (lokasi) dimana limbah itu berada. Transporter merupakan masa rantai yang sangat penting dalam sistem ini. generator harus menghubungi transporter atau TSD untuk menentukan status dari limbah tersebut. Pengusaha yang ingin berkecimpung dalam usaha ini harus memasukkan permohonan yang mencakup rancangan sarananya. Compensation and Liabilites Act (CERCLA). maka USEPA bekerja erat dengan DOT.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − TSD kemudian mengirimkan kopi-1 kembali ke generator. Oleh karenanya. maka aktifitas tersebut dikomunikasikan pada masyarakat selama 45 hari. CERCLA diperkuat oleh SARA yang mengatur pengumpulan dana melalui pajak khusus untuk menjamin terlaksananya pembersihan lingkungan. tidak terjangkau oleh EPA.

Terdapat dua jenis tindakan dari USEPA. Van Nostrand Reinhold.T. McGraw-Hill Book. termasuk pula penentuan kontribusi penanggung jawab atas masalah ini. kegiatan ini bersifat program jangka pendek. 1989 Enri Damanhuri . Dalam kegiatan yang bersifat jangka panjang ini. 1990 − Wentz. sampai pemecahan final yang permanen diterapkan pada lahan tersebut . serta proporsi beban dana yang dipikulkan pada masing-masing pelaku. b) Kegiatan yang bersifat penyembuhan (remedial). yaitu : a) Penyingkiran (pengangkutan kembali) substansi berbahaya dan pembersihan segera bagian-bagian lahan. yaitu generator. transporter.: Hazardous waste management.: Hazardous waste identification and classification manual. yang merupakan pemecahan yang permanen dari masalah yang timbul. Referensi Utama: − Peraturan Pemerintah Nomor 18/1999: Pengelolaan Limbah B3 − Peraturan Pemerintah Nomor 85/1999: Amandemen PP18/99 − Wagner. atau kegiatan-kegiatan stabilisasi sementara lainnya.P.FTSL ITB Halaman 34 . C.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. pemilik/pengoperasi sarana TSD.A.

antara lain berisi: − Nama dan alamat pengolah atau pengumpul atau pemanfaat limbah B3 Enri Damanhuri . Namun terlihat bahwa pengaturan limbah B3 terkesan lebih ketat dibandingkan pengaturan B3. Penyimpanan.02/Bapedal/09/1995: tentang Dokumen Limbah B3 c) Kep. PENYIMPANAN DAN PENGANGKUTAN 1 UMUM Untuk memberikan gambaran tentang aspek penyimpanan sampai pengangkutan bahan berbahaya. harus dilengkapi dengan dokumen resmi.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN IV PELABELAN. antara lain berisi: − Nama dan alamat penghasil atau pengumpul limbah B3 yang menyerahkan limbah B3 − Nomor identifikasi (identification number) UN/NA − Kelompok kemasan (packing group). Dokumen ini dikenal pula sebagai shipping papers. keselamatan dan harta benda bila diangkut. karena pengaturan B3 sudah dilaksanakan sejak lama.Kepala Bapedal No. yang antara lain terdiri dari: a) Bagian yang harus diisi oleh penghasil atau pengumpul limbah B3. maka dokumen tersebut dilengkapi dengan salinan penyerahan limbah tersebut dari penghasil limbah.Kepala Bapedal No. untuk menyatakan bahwa limbahnya telah sesuai dengan keterangan yang ditulis serta telah dikemas sesuai peraturan yang berlaku Bila pengisi dokumen adalah pengumpul yang berbeda dengan penghasil.05/Bapedal/09/1995: tentang Simbol dan Label Limbah B3 2 DOKUMEN Bahan-bahan berbahaya tersebut bila akan diangkut ke tempat lain. antara lain berisi : − Nama dan alamat pengangkut limbah B3 − Tanggal pengangkutan limbah − Tanda tangan pejabat pengangkut limbah c) Bagian yang harus diisi oleh pengolah atau pengumpul atau pemanfaat limbah B3. volume dan sebagainya) − Kelas 'bahaya' dari bahan itu (hazard class). dan menjadi standar baku secara universal. dapat digunakan.Kepala Bapedal No. dengan format yang telah dibakukan dengan Keputusan Kepala Bapedal No. yang kemudian diganti menjadi PP 18/99 dan PP 85/1999. dilengkapi tanggal.01/Bapedal/09/1995: tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3 b) Kep. khususnya dalam menangani bahan kimia dan bahan bakar. − Tanggal penyerahan limbah − Tanda tangan pejabat penghasil atau pengumpul. b) Bagian yang harus diisi oleh pengangkut limbah B3. − Kuantitas (berat. Pada prinsipnya tidak ada perbedaan yang berarti dalam menyimpan dan mengangkut B3 atau limbah B3. Menurut US Department of Transportation (USDOT). pengumpulan dan pengangkutan merupakan komponen-komponen teknik operasional pengelolaan limbah B3 seperti diatur dalam PP 19/1994 dan PP12/1995.02/Bapedal/09/1995.FTSL ITB Halaman 35 . Pengaturan teknis tentang aspek ini sejak tahun 1995 diatur dalam: a) Kep. yang merupakan legalitas kegiatan pengelolaan sehingga dokumen ini akan merupakan sarana/alat pengawasan dalam konsep cradle-to-grave. Dalam Diktat ini juga diuraikan tata-cara yang berlaku di Indonesia dalam menanangani limbah B3 yang berasal dari beberapa regulasi yang dikeluarkan sebelum PP 74/2001 dikeluarkan. bahan berbahaya adalah setiap bahan yang dapat menimbulkan resiko terhadap kesehatan. khususnya dalam mengatur transportasi bahan berbahaya yang diatur dalam Hazardous Materials Transportation Act. maka aturan-aturan yang diberlakukan di USA.

sedangkan simbol pada kendaraan pengangkut tempat penyimpanan minimal 25 cm x 25 cm. untuk menyatakan bahwa limbah yang diterima sesuai dengan keterangan dari penghasil dan akan diproses sesuai peraturan yang berlaku d. Kriteria cairan yang mudah terbakar adalah setiap cairan dengan titik nyala (flash point) tidak lebih dari 60.1: flammable gas (gas mudah terbakar) yaitu bahan berupa gas yang pada temperatur -20 °C dan tekanan 1 atmosfir akan terbakar bila bercampur dengan udara sekitar 13 % volume atau kurang − Divisi 2. Diharapkan Tim yang bertanggungjawab dalam menangani kecelakaan.1 dan 2.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Tanda tangan pejabat pengolah. Warna garis yang membentuk belah ketupat dalam sama dengan warna simbol. b) Kelas-2: gas. c) Kelas-3: cairan mudah terbakar (flammable). Simbol yang dipasang pada kemasan minimal berukuran 10 cm x 10 cm. yang secara cepat akan dapat memberikan informasi bila terjadi kecelakaan. Apabila limbah yang diterima ternyata tidak sesuai dan tidak memenuhi syarat. terbagi menjadi 3 divisi dengan nomor 4. 2 SIMBOL DAN LABEL Label Versi US-DOT: Guna keamanan dan memudahkan pengenalan secara cepat bahan berbahaya tersebut. pengumpul atau pemanfaaat.FTSL ITB Halaman 36 .Department of Transportation (US-DOT) digunakan tanda-tanda dalam bentuk simbul dan label. Nomor identifikasi mempunyai kode UN (United Nation) atau NA (North America) diikuti oleh 4 digit angka. Terdapat 9 klasifikasi bahan berbahaya menurut versi USDOT yaitu: a) Kelas-1: bahan yang mudah meledak (explosive). Penghasil limbah B3 akan menerima kembali dokumen limbah B3 tersebut dari pengumpul atau pengolah selambatlambatnya 120 hari sejak limbah tersebut diangkut untuk dibawa ke pengumpul atau pengolah atau pemanfaat. disertai keterangan: − Jenis limbah dan jumlahnya − Alasan penolakan − Tanda tangan pejabat pengolah atau pemanfaat dan tanggal pengembalian − Surat-surat dokumentasi pengangkutan tersebut ditempatkan di kendaraan angkut sedemikian rupa sehingga cepat didapat dan tidak tercampur dengan surat-surat lain. pada bagian bawah simbol terdapat blok segilima dengan bagian atas mendatar dari sudut terlancip terhimpit dengan garis sudut bawah belah ketupat bagian dalam. atau dianggap toksik pada manusia dengan adanya pengujian pada binatang di laboratorium dengan harga LC50< 5000 ppm.1 sampai 1. terbagi menjadi 3 divisi dengan nomor 2. Simbol atau label tersebut pada dasarnya dibagi berdasarkan kelas ‘bahaya’ dari limbah yang akan diangkut.1 sampai 2. dilengkapi tanggal. maka limbah tersebut dikembalikan lagi kepada penghasil. Sedang label merupakan penandaan pelengkap yang berfungsi memberikan informasi dasar mengenai kondisi kualitatif dan kuantitatif dari suatu bahan yang dikemas. yaitu: − Divisi 2.3 sesuai dengan sifatsifatnya.3: poisonous gas (gas beracun) yaitu bahan berupa gas yang pada temperatur 20 °C dengan tekanan 1 atmosfir akan merupakan bahan toksik pada manusia. maka United States . yaitu : Enri Damanhuri .5 sesuai dengan jenis akibat yang dapat ditimbulkan oleh eksplosif tersebut. Pada keempat sisi belah ketupat tersebut dibuat garis sejajar yang menyambung sehingga membentuk bidang belah ketupat dalam ukuran 95 persen dari ukuran belah ketupat bahan. Simbol berbentuk bujur sangkar diputar 45 derajat sehingga membentuk belah ketupat. yang penggunaannya adalah dengan memfungsikan ledakannya.5 °C.3 sesuai dengan sifat-sifatnya. Definisi eksplosif menurut USDOT adalah setiap senyawa kimia. − Divisi 2.1 sampai 4. secara cepat dapat mengidentifikasi sifat bahan berbahaya itu serta cara penanggulangannya. d) Kelas-4: padatan mudah terbakar atau berbahaya bila lembab.2: nonflammable compressed gas yaitu setiap bahan atau campuran yang dikemas pada tabung gas dengan tekanan dan tidak termasuk ke dalam divisi 2. terbagi lagi menjadi 5 divisi dengan nomor 1. campuran atau peralatan.

nitrat dan sebagainya yang dapat mengoksidasi materi organik. kuning (bahaya terhadap reaktivitas). dan/atau diketahui mempunyai efek karsinogen. Kelompok lain-lain (kelas-9) adalah bahan yang yang dapat menyebabkan bahaya. dan/atau tidak berbahaya bila digunakan secara hati-hati dan bertanggung jawab o 2 = moderat.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Divisi 4. f) Kelas-6: bahan racun dan menular. artinya artinya mempunyai karakter yang dapat menyebabkan bahaya bila paparan berlanjut.2: spontaneously combustible materials yaitu bahan yang bila pada kondisi normal terjadi kecelakaan secara spontan akan menjadi panas akibat berkontak dengan udara misalnya bahan yang termasuk pyrophoric. Label dibutuhkan dipasang pada seluruh bahan kimia yang ada di sebuah laboratorium. permanganat. i) Kelas-9: lain-lain. Kelompok berikutnya adalah bahan beracun (di luar gas) yang diketahui toksik pada manusia. untuk mengindikasikan bahaya bahan kimia terhadap kesehatan. II atau III dengan warna merah. dengan plakat warna putih dan simbol hitam. dan mungkin menyebabkan luka atau kerusakan kecuali dilakukan pengobatan o 3 = serius.1: flammable solid yaitu bahan padat. artinya mempunyai karakter yang dapat menyebabkan luka atau kerusakan pada paparan yang singkat walau dilakukan pengobatan. Bentuk belah ketupat yang dibagi empat. Bahaya terhadap kesehatan: o 0 = minimal. Radioactive yellow-II dan Radioactive yellow-III. peroksida organik.O . sedang peroksida organik adalah senyawa yang mengandung struktur . maka di Amerika Serikat the National Fire Protection Association (NFPA) mengembangkan pula label berwarna dengan kode. Radioactive Yellow-III adalah dengan bahaya maksimum.. tetapi belum termasuk dalam katagori kelas sebelumnya. Bahan korosif (kelas-8). dengan warna masing-masing kotak berbeda. g) Kelas-7: bahan radioaktif. Plakat Radioactive yellow-II dan Radioactive yellow-III berwarna kuning di atas. artinya mempunyai karakter dapat menyebabkan iritasi. Bahan radioaktif (termasuk kelas-7) menurut versi USDOT adalah setiap materi atau kombinasi materi yang secara spontan mengionisasi radiasi dengan aktivitas spesifik lebih besar dari 0. Radioactive white-I dengan bahaya minimum. mutagen atau teratogen pada binatang Enri Damanhuri .FTSL ITB Halaman 37 . yaitu: − Bahan-bahan terlarang − Bahan-bahan eksplosif terlarang − Bahan-bahan dengan aturan lain. sedang tulisan I. bukan peledak. menurut versi USDOT didefinisikan sebagai bahan yang dapat menyebabkan kerusakan visibel ke materi yang kontak dengannya. − Divisi 4. dan bahan menular baik berupa mikroorganisme atau toxin yang dapat mendatangkan penyakit pada manusia. Plakat yang digunakan berlabelkan Radioactive white-I. dengan kode ORM (other regulated materials) ORM-D: komuditas konsumer seperti hair spray ORM-E: lain-lain yang diatur oleh USDOT − Label Versi NFPA: Disamping US-DOT. terbagi menjadi 2 divisi. merah (fbahaya terhadap kebakaran).002 microcurie per-gram. baik cair atau padat. artinya tidak terdapat bahaya toksisitas o 1 = ringan. terdapat bahan yang tidak termasuk dalam kelas tersebut (tertulis 'none'). Untuk menujukkan derajad bahaya maka digunakan angka: o Setiap kotak diberi warna: biru (bahaya terhadap kesehatan). e) Kelas-5: pengoksidasi dan peroksida organik. tetapi hanya berakibat minor bahkan tanpa perawatan. yang bila pada kondisi normal terjadi kecelakaan akan menyebabkan terbentuknya api akibat gesekan dan sebagainya. maka label NFPA ini merupakan label yang perlu dipasang. bila belum mencantumkan label yang sesuai. atau bila dibakar akan menyala segera dan cepat. dan reaktivitas. terbagi menjadi 2 divisi. dan putih (bahaya khsusus) o Angka dan notasi yang terdapat pada masing-masing kotak adalah: a. seperti obat bius dan sebagainya. h) Kelas-8: bahan korosif. − Divisi 4. Oksidator adalah bahan kimia seperti khlorat.3: dangerous when wet materials yaitu bahan yang secara spontan menyala atau memberikan gas bila berkontak dengan air. dan putih di bawah dengan simbol hitam. Disamping itu.O . flammabilitas.

artinya bahan yang tidak stabil dan akan cepat berubah tetapi tidak menimbulkan ledakan. tidak terbakar di o udara bila terpapar pada 815. artinya bahan yang stabil yang menjadi tidak stabil bila terpapar pada temperatur tekanan tinggi.5 C selama 5 menit. merupakan bahan yang mudah terbakar dengan flash point di bawah o 22. o 4 = ekstrim. dan/atau akan bereaksi dengan keras bila terdapat air. dan/atau bahan yang bereaksi dengan sendirinya dengan air tanpa membutuhkan panas terlebih dahulu.8 C o 4 = ekstrim. Bahaya terhadap timbulnya kebakaran: o 0 = minimal.5 C selama 5 menit. merupakan bahan yang sangat toksik. dan/atau o mempunyai flash point di bawah 93. Bahaya spesial. artinya tidak terbakar.8 C. atau dapat menyimpan panas sebelum terjadi kebakaran. artinya bahan yang stabil. atau perlu terpapar pada temperatur tinggi agar kebakaran terjadi. 4: jenis bahaya flammabilitas = extreme 4: jenis bahaya terhadap kesehatan = ekstrim 4: jenis bahaya terhadap reaktivitas = ekstrim W: jenis bahaya yang spesifik = reaktif terhadap air Enri Damanhuri . atau terhadap kejutan mekanis pada temperatur tin gi. artinya bahan mudah terbakar yang mempunyai karakter menghasilkan uap yang mudah terbakar dalam kondisi biasa.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 4 = ekstrim. dan/atau bahan yang sensitive terhadap panas. d.4 C o 3 = serius.4 C o 2 = moderat. artinya baru dapat terbakar bila dipanaskan terlebih dahulu. dan/atau bahan yang akan berobah kompisisi kimianya dengan melepaskan enersi yang dikandungnya pada temperatur dan tekanan normal. dan/atau o akan terbakar di udara terbuka bila terpapar pada 815. o 1 = ringan. bahan yang dapat meledak dan terdekomposisi secara keras pada temperatur dan tekanan normal. dan/atau akan menghasilkan ledakan bila bercampur dengan air. dan/atau mempunyai flash point di atas 37.FTSL ITB Halaman 38 . Bahaya terhadap adanya air (reaktif terhadap air): o 0 = minimal. o 1 = ringan.8 C tetapi lebih kecil dari 93. yaitu: o Reaktif terahadap air (dengan kode: W) o Bahan oksidator (dengan kode: Ox) o Bahan radioaktif (dengan kode tanda radioaktif) o Bahan racun (dengan kode tanda racun) o Contoh: No.8 C c. dan/atau siap terbakar dengan sendirinya akibat kandungan oksigen di dalamnya. dan dilakukan pengobatan b. dan atau bahan yang dapat menghasilkan reaksi eksotermis dengan sendirinya bila berkontak dengan bahan tanpa atau adanya biasa biasa. dan/atau dapat membentuk ledakan yang terbakar dengan cepat di udara. artinya bahan yang dapat meledak namun membutuhkan penyulut yang kuat agar eterjadi. tidak menyebabkan flash point. tetapi di bawah 37. artinya bahan tidak mudah terbakar yang mempunyai karakter dapat terbakar bila terpapar panas terlebih dahulu. dan/atau bahan padat yang menghasilkan uap mudah o o terbakar. dan/atau mempunyai flash point di atas o o 22. yang dapat menyebabkan kematian atau kerusakan dalam paparan yang sangat singkat. o 3 = serius. dan tidak reaktif terhadap air. o 2 = moderat. dan/atau bahan yang sensitive terhadap perubahan kejutan mekanis atau panas pada temperatur dan tekanan normal.

Blok segilima berwarna putih. o Simbol limbah B3 klasifikasi campuran: warna dasar bahan adalah putih dengan garis pembentuk belah ketupat bagian dalam berwarna hitam. yaitu: o Label identitas limbah: berfungsi untuk memberikan informasi tentang asal usul limbah. Pada bagian tengah terdapat tulisan “PADATAN” dan dibawahnya terdapat tulisan “MUDAH TERBAKAR” berwarna hitam. pada bagian tengah terdapat tulisan “INFEKSI” berwarna hitam. jumlah dan Enri Damanhuri . identitas limbah serta kuantifikasi limbah dalam suatu kemasan limbah B3. Simbol berupa tengkorak manusia dengan tulang bersilang berwarna hitam. Pada bagian atas yang berwarna putih terdapat 2 gambar.05/Bapedal/09/1995 terdapat delapan jenis simbol. gambar simbol berupa lidah api berwarna putih yang menyala pada suatu permukaan berwarna putih. Di sebelah bawah gambar simbol terdapt tulisan “REAKTIF” berwarna hitam. Blok segilima berwarna kebalikan dari warna dasar simbol. bidang segitiga berwarna hitam. serta blok segilima berwarna merah. berdasarkan keputusan Kepala Bapedal No. yaitu disebelah kiri adalah gambar tetesan limbah korosif yang merusak pelat bahan berwarna hitam. dengan warna dasar kuning dan tulisan serta garis tepi berwarna hitam. Simbol berupa lingkaran hitam dengan asap berwarna hitam mengarah ke atas yang terletak pada suatu permukaan garis berwarna hitam. dengan mencantumkan antara lain: nama dan alamat penghasil. o Simbol klasifikasi limbah B3 menimbulkan infeksi: warna dasar bahan adalah putih dengan garis pembentuk belah ketupat bagian dalam berwarna hitam. − simbol padatan mudah terbakar: dasar simbol terdiri dari warna merah dan putih yang berjajar vertikal berselingan. Simbol berupa gambar berwarna hitam suatu materi limbah yang menunjukkan meledak. terdapat tulisan “KOROSIF” berwarna putih.” dan dibawahnya terdapat tulisan “MUDAH TERBAKAR” berwarna putih.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Label Versi KepBapedal 05/09/1995: Di Indonesia. o Simbol klasifikasi limbah B3 korosif: belah ketupat terbagi pada garis horizontal menjadi dua bidang segitiga. Label identitas limbah berukuran minimum 15 cm x 20 cm atau lebih besar. dan dibawahnya terdapat blok segilima berwarna merah. o Simbol klasifikasi limbah B3 yang mudah terbakar : terdapat 2 (dua) macam simbol untuk klasifikasi limbah yang mudah terbakar. yang terdapat ditepi antara sudut atas dan sudut kiri belah ketupat bagian dalam. o Simbol klasifikasi limbah B3 reaktif: bahan dasar berwarna kuning dengan blok segilima berwarna merah. pada bagian bawah. yaitu (Gambar 1): o Simbol klasifikasi limbah B3 mudah meledak : warna dasar oranye. Gambar simbol berupa lidah apai berwarna hitam yang menyala pada satu bidang berwarna hitam. Simbol infeksi berwarna hitam terletak di sebelah bawah sustu atas garis belah ketupat bagian dalam. Pada bagian tengah terdapat tulisan “ CAIRAN. gambar simbol berupa tanda seru berwarna hitam terletak di sebelah bawah sudut atas garis belah ketupat bagian dalam. Menurut peraturan yang digunakan di Indonesia. o Simbol klasifikasi limbah B3 beracun: bahan dasar putih dengan blok segilima berwarna merah. Pada bagian tengah terdapat tulisan “MUDAH MELEDAK” berwarna hitam yang diapit oleh 2 garis sejajar berwarna hitam sehingga membentuk 2 buah bangun segitiga sama kaki pada bagian dalam belah ketupat. dan disebelah kanan adalah gambar lengan yang terkena tetesan limbah korosif. Gambar terletak di bawah sudut atas garis ketupat bagian dalam. Pada sebelah bawah gambar terdapt tulisan “BERACUN” berwarna hitam.. Pada bagian tengah bawah terdapat tuliasan “CAMPURAN” berwarna hitam serta blok segilima berwarna merah. dan tulisan “PERINGATAN !” dengan huruf yang lebih besar berwarna merahdiisi dengan huruf cetak dengan jelas terbaca dan tidak mudah terhapus serta dipasang pada setiap kemasan limbah B3 yang disimpan di tempat penyimpanan. Garis tepi simbol berwarna hitam.FTSL ITB Halaman 39 . yaitu simbol untuk cairan mudah terbakar dan padatan mudah terbakar: − simbol cairan mudah terbakar: bahan dasar merah. terdapat 3 jenis label yang berkaitan dengan sistem pengemasan limbah B3.

aturan tata cara serta konstruksi dan penggunaan kontainer untuk bahan berbahaya harus ketat. Label identitas dipasang pada kemasan di sebelah atas simbol dan harus terlihat dengan jelas.FTSL ITB Halaman 40 . Label untuk penandaan kemasan kosong : bentuk dasar label sama dengan bentuk dasar simbol dengan ukuran sisi minimal 10 x 10 cm2 dan tulisan “KOSONG” berwarna hitam ditengahnya. Gambar 4. Menjamin keselamatan transportasi bahan berbahaya merupakan aktivitas yang kompleks. maupun kemasan yang akan digunakan untuk mengemas limbah B3. Alat pengemas dapat berupa: drum baja. Gambar terdapat dalam frame hitam. terdiri dari 2 (dua) buah anak panah mengarah ke atas yang berdiri sejajar di atas balok hitam. Label penunjuk tutup kemasan: berukuran minimal 7 x 15 cm2 dengan warna dasar putih dan warna gambar hitam. Label dipasang dekat tutup kemasan dengan arah panah menunjukkan posisi penutup kemasan. baik yang telah diisi limbah B3. Dengan demikian. Label harus dipasang pada kemasan bekas pengemasan limbah B3 yang telah dikosongkan dan atau akan digunakan untuk mengemas limbah B3.1: Simbol Limbah B3 versi KepBapedal 05/09/1995 3 PENGEMASAN DAN PEWADAHAN Pengemas B3: Pengemasan (packaging) juga diatur dan perlu dicantumkan dalam surat pengangkutan. botol gelas dan sebagainya. kotak kayu. hak milik dan lingkungan. drum fiber. Pengemasan yang baik mempunyai kriteria: − Bahan tersebut selama pengangkutan tidak terlepas ke luar − Keefektifannya tidak berkurang − Tidak terdapat kemungkinan pencampuran gas dan uap Terdapat 3 jenis kelompok pengemasan. Label terbuat dari bahan yang tidak mudah rusak karena goresan atau akibat terkena limbah dan bahan kimia lainnya. yaitu: − Kelompok I: derajat bahaya besar − Kelompok II: derajat bahaya sedang − Kelompok III: derajat bahaya kecil. Kecelakaan akibat bahan berbahaya ini akan menimbulkan masalah serius bagi manusia. Enri Damanhuri .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 o o jenis limbah serta tanggal pengisian. Label harus terpasang kuat pada setiap kemasan limbah B3. Kecelakaan limpahan bahan berbahaya yang sering terjadi adalah karena kecelakaan lalu-lintas yang umumnya akibat kesalahan manusia dan atau alat/perlengkapan yang kurang sempurna.

Setiap penghasil/pengumpul limbah B3 harus dengan pasti mengetahui karakteristik bahaya dari setiap limbah B3 yang dihasilkan/dikumpulkan. seperti drum baja atau silinder untuk gas terkompres. Bahan pengemasan yang digunakan adalah: fiberboard. pengemasan tersebut harus menjamin tidak terjadi reaksi kimiawi di dalamnya. Kemasan komposit seperti drum-drum dari plastik berlapis baja kadang digunakan. yang dapat menimbulkan reaksi spontan (kenaikan panas atau ledakan) sehingga mengurangi keefektifan pengemasan. misalnya pengemasan yang tidak betul dan sebagainya. ketentuan tentang pengemasan dan pewadahan limbah B3 diatur dalam Kep. dan bagaimana menggunakan ruang transportasi yang efisien. Penghasil. b. Ditinjau dari tonase. sebelum dilakukan pengolahan dan atau penimbunan. kayu. plastik. Oleh karenanya kontainer yang digunakan dirancang untuk memudahkan loading. Produk yang diproduksi dengan kuantitas kecil biasanya dikemas dalam kuantitas tersebut. Bagi penghasil yang menghasilkan limbah B3 yang sama secara terus menerus. Pengumpul. Drum baja 55 gallon (208 liter) merupakan kapasitas terbesar yang biasa digunakan. Enri Damanhuri . untuk disimpan sementara di dalam lokasi penghasil. Banyak terjadi bahwa drum yang digunakan adalah drum bekas (walaupun kompatibel) untuk itu perlu diperhatikan efek jangka panjang dari drum tersebut. Beberapa temuan yang terdapat di USA adalah: − Ketidak tepatan dalam menayangkan label − Ketidak tepatan dalam mengelompokkan kontainer berbahaya − Kebocoran pada valve − Tidak tepat dalam mendeskripsikan bahan yang diangkut − Tidak tepat dalam pengisian shiping paper − Radiasi berlebihan di kabin truk. No. Penghasil. maka terhadap masing-masing limbah B3 hasil kegiatan perubahan tersebut harus dilakukan pengujian kembali terhadap karakteristiknya. d. Kemasan dari satu jenis bahan juga banyak digunakan. Ketentuan dalam bagian ini berlaku bagi kegiatan pengemasan dan pewadahan limbah B3 di fasilitas: a. maka pengujian dapat dilakukan sekurang-kurangnya satu kali.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 USDOT menggariskan bahwa kontainer yang digunakan untuk mengangkut bahan berbahaya dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga bila terjadi kecelakaan pada kondisi transportasi yang normal. maka: − Tidak menimbulkan penyebaran bahan tersebut ke lingkungan sekitarnya − Keefektifan pengemasan tidak berkurang selama perjalanan − Tidak terjadi pencampuran gas atau uap dalam kemasan.01/Bapedal/09/1995. Kadangkala bahan berbahaya disimpan (diakumulasi) dalam drum atau kontainer. kaca. c. untuk disimpan sebelum dikirim ke pengolah.botol gelas dimasukkan dalam peti-peti fiberboard. unloading. misalnya botol. Rancangan kontainer yang digunakan harus terkait dengan sistem transportasi terutama dimensi dan beratnya. Dibutuhkan inspeksi secara berkala. Hampir setengah bahan berbahaya kemasan kecil ini diangkut melalui jalan darat serta sebagian lagi melalui udara.FTSL ITB Halaman 41 . biasanya korosif dan dapat menimbulkan masalah pada kesehatan manusia dan lingkungan. untuk disimpan sementara di luar lokasi penghasil tetapi tidak sebagai pengumpul. Drum yang biasa. maka kemasan kecil di USA hanya merupakan sebagian kecil yang digunakan untuk menangani bahan berbahaya yang diangkut. Apabila ada keragu-raguan dengan karakteristik limbahnya. fiberglass dan logam. Kombinasi container sering digunakan.01/Bapedal/09/1995: Di Indonesia. Faktor kesalahan manusia pada pengemasan bahan berbahaya yang dikemas dalam kuantitas kecil relatif akan lebih tinggi. Pengolah. Pengemas dan Pewadah Limbah B3 Versi Kep No. Oleh karenanya bahan berbahaya harus ditempatkan dalam drum dan kontainer yang kompatibel atau sesuai. maka harus dilakukan pengujian. Apabila dalam perkembangannya terjadi perubahan kegiatan yang diperkirakan mengakibatkan berubahnya karakteristik limbah yang dihasilkan.

kemasan dirancang tahan akan kenaikan tekanan. 100 liter atau 200 liter. Limbah yang disimpan dalam satu kemasan adalah limbah yang sama. pembentukan gas dan kenaikan tekanan selama penyimpanan. kemudian disimpan dalam kemasan limbah B3 terpisah. SS316.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Bentuk. ukuran dan bahan kemasan limbah B3 disesuaikan dengan karakteristik limbah B3 yang akan dikemasnya dengan mempertimbangkan segi kemanan dan kemudahan dalam penanganannya. harus disimpan di tempat penyimpanan limbah B3. SS304.FTSL ITB Halaman 42 . Gambar 4. Kemasan dapat terbuat dari bahan plastik (HPDE. limbah dapat terlebih dahulu dikemas dalam kantong kemasan yang tahan terhadap sifat limbah sebelum kemudian dikemas dalam kemasan tersebut. maka isi limbah B3 tersebut harus segera dipindahkan ke dalam drum/tong yang baru. Apabila diketahui ada kemasan yang mengalami kerusakan (karat atau bocor). Untuk limbah yang bereaksi sendiri sebaiknya tidak menyisakan ruang kosong dalam kemasan. Untuk mempermudah pengisian limbah ke dalam kemasan. Pengisian limbah dalam satu kemasan harus mempertimbangkan karakteristik dan jenis limbah. kemudian disimpan di tempat yang memenuhi persyaratan untuk penyimpanan limbah B3 serta mematuhi tata cara penyimpanannya. Kemasan tersebut selalu dalam keadaan tertutup rapat dan hanya dapat dibuka jika akan dilakukan penambahan atau pengambilan limbah dari dalamnya. Kemasan yang telah diisi atau terisi penuh dengan limbah B3 harus ditandai dengan simbol dan label yang sesuai dengan ketentuan mengenai penandaan pada kemasan limbah B3. 4 M atau 8 M . serta agar lebih aman. pengaruh pemuaian. dan tumpahan limbah tersebut harus segera diangkat dan dibersihkan. Jika akan digunakan untuk menyimpan limbah B3 Enri Damanhuri . atau SS440) dengan syarat bahan kemasan yang dipergunakan tersebut tidak bereaksi dengan limbah B3 yang disimpannya. maka kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu sebelum dapat digunakan sebagai kemasan limbah B3 dengan memenuhi ketentuan butir 1 di atas.2: Penyimpan limbah B3 cair (A) dan limbah sludge (B) Drum/tong atau bak kontainer yang telah berisi limbah B3 dan disimpan di tempat penyimpanan harus dilakukan pemeriksaan kondisi kemasan sekurang-kurangnya 1 (satu) minggu satu kali. atau dapat pula berupa bak kontainer berpenutup dengan 3 3 3 kapasitas 2 M . Kemasan yang digunakan untuk pengemasan limbah dapat berupa drum/tong dengan volume 50 liter. baja karbon. PP atau PVC) atau bahan logam (teflon. Gambar 2 berikut adalah contoh drum pengemas limbah B3. Kemasan yang akan dikosongkan apabila akan digunakan kembali untuk mengemas limbah B3 lain dengan karakteristik yang sama. Kemasan bekas mengemas limbah B3 dapat digunakan kembali untuk mengemas limbah B3 yang mempunyai karakteristik sama (kompatibel) dengan limbah B3 sebelumnya. atau dapat pula disimpan bersama-sama dengan limbah lain yang memiliki karakteristik yang sama atau saling cocok. Jika akan digunakan untuk mengemas limbah B3 yang tidak saling cocok. Untuk limbah yang mudah meledak.

– Ditempatkan pada pondasi yang dapat mendukung ketahanan tangki terhadap tekanan dari atas dan bawah dan mampu mencegah kerusakan yang diakibatkan karena pengisian. Pemeriksaan rutin dilakukan sekurang-kurangnya 1 kali selama sistem tangki dioperasikan. monitoring dilakukan terhadap bahan konstruksi dan areal seputar sistem tangki termasuk struktur pengumpul sekunder untuk mendeteksi pengikisan atau tanda-tanda terlepasnya limbah misalnya bintik lembab. Disamping itu. Untuk mencegah terlepasnya limbah B3 ke lingkungan. – Penampungan sekunder. Apabila tangki akan digunakan untuk menyimpan limbah sebelumnya. maka harus dipastikan agar selama pemasangan tangki dan sistem penunjangnya telah diterapkan prosedur penanganan yang tepat untuk mencegah terjadinya kerusakan selama tahap konstruksi. logam dan kemungkinan harus mencakup pengukuran potensi korosi yang disebabkan oleh faktor lingkungan serta daya tahan bahan tangki terhadap korosi tersebut – Perhitungan umur operasional tangki. – Karakteristik limbah B3 yang akan disimpan. tekanan atau uplift. maka harus dengan memperhitungkan dampak kegiatan di atasnya serta menerapkan rancang bangun atau kegiatan yang dapat melindungi sistem tangki terhadap potensi kerusakan. Persyaratan penampungan sekunder tersebut adalah: – Dibuat atau dilapisi dengan bahan yang saling cocok dengan limbah yang disimpan serta memiliki ketebalan dan kekuatan memadai untuk mencegah kerusakan akibat pengaruh tekanan. pemilik atau operator harus mengajukan permohonan rekomendasi kepada Kepala Bapedal dengan melampirkan laporan hasil evaluasi terhadap rancang bangun dan sistem tangki yang akan dipasang untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan.FTSL ITB Halaman 43 . Sebelum melakukan pemasangan tangki penyimpanan limbah B3. Selama masa konstruksi berlangsung. ceceran dan presipitasi. tanggul atau berdinding ganda.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dengan karakteristik yang tidak saling sesuai dengan sebelumnya. – Rencana penutupan sistem tangki setelah masa operasionalnya berakhir. khususnya terhadap peralatan pengendalian luapan/tumpahan. dirancang untuk dapat menampung dan mengangkat cairan-cairan yang berasal dari kebocoran. terbuat dari bahan yang cocok dengan karakteristik limbah yang akan disimpan atau diolah. sehingga olahan atau campuran limbah yang terbentuk tidak lagi berkarakteristik mudah menyala atau reaktif. kematian vegetasi. dan aman terhadap korosi sehingga tangki tidak mudah rusak. dan lepasnya limbah B3 dari sistem penampungan sekunder. maka tangki harus terlebih dahulu dicuci bersih. Jika tangki dirancang untuk dibangun di dalam tanah. – Jika sistem tangki dan atau peralatan penunjangnya terbuat dari logam dan kemungkinan dapat terkontak dengan air dan atau tanah. Limbah-limbah yang tidak saling cocok tidak ditempatkan secara bersama-sama di dalam tangki. Penampung sekunder dapat berupa pelapisan di bagian luar tangki. maka kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu dan disimpan dengan memasang “label KOSONG” sesuai dengan ketentuan penandaan kemasan limbah B3. deteksi korosi atau lepasnya limbah dari tangki. Enri Damanhuri . – Dilengkapi dengan sistem deteksi kebocoran yang dioperasikan 24 jam sehingga mampu mendeteksi kerusakan pada struktur tangki primer dan sekunder. Laporan tersebut sekurang-kurangnya meliputi: – Rancang bangun dan peralatan penunjang sistem tangki yang akan dipasang. Tangki dan sistem penunjangnya harus terbuat dari bahan yang saling cocok dengan karakteristik dan jenis limbah B3 yang dikemas/disimpannya. atau – Limbah disimpan atau diolah dengan suatu cara sehingga tercegah dari kondisi atau bahan yang menyebabkan munculnya sifat mudah menyala atau reaktif. Tidak digunakan untuk menyimpan limbah mudah menyala atau reaktif kecuali : – Limbah tersebut telah diolah atau dicampur terlebih dahulu sebelum/segera setelah ditempatkan di dalam tangki. Sistem tangki harus ditunjang kekuatan rangka yang memadai. tangki wajib dilengkapi dengan penampung sekunder. Bentuk wadah berupa tangki biasa digunakan dalam pengemasan limbah B3.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Bila sistem tangki atau sistem tangki pengumpul sekunder mengalami kebocoran atau gangguan yang menyebabkan limbah terlepas. Persyaratan bangunan penyimpanan kemasan limbah B3 adalah (Gambar 6): o Memiliki rancang bangun dan luas ruang penyimpanan yang sesuai dengan jenis. Penyimpanan limbah cair dalam jumlah besar disarankan menggunakan tangki (Gambar 5) dengan ketentuan sebagai berikut: o Disekitar tangki harus dibuat tanggul dengan dilengkapi saluran pembuangan yang menuju bak penampung. Jarak tumpukan kemasan tertinggi dan jarak blok kemasan terluar terhadap atap dan dinding bangunan penyimpanan tidak boleh kurang dari 1 m. Lebar gang antar blok minimal 60 cm untuk memudahkan petugas melaluinya. tidak dalam satu blok. o Bak penampung harus kedap air dan mampu menampung cairan minimal 110% dan kapasitas maksimum volume tangki o Tangki harus diatur sedemikian rupa sehingga bila terguling akan terjadi di daerah tanggul dan tidak akan menimpa tangki lain. Lantai bagian dalam dibuat melandai kearah bak penampungan dengan kemiringan maksimum 1%. Jika kemasan berupa drum logam (isi 200 liter). Jika menggunakan lampu. Pada bagian luar bangunan. maka harus dipergunakan rak (Gambar 4). dan tidak dalam bagian penyimpanan yang sama. kuat dan tidak retak. maka tumpukan maksimum adalah 3 lapis dengan tiap lapis dialasi palet. maka lampu penerangan harus dipasang minimal 1 meter di atas kemasan. Kemasan-kemasan berisi limbah B3 yang tidak saling cocok harus disimpan secara terpisah. sehingga dapat dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap setiap kemasan. maka harus segera melakukan: – Penghentian operasional sistem tangki dan mencegah aliran limbah. Penempatan kemasan diatur agar tidak ada kemungkinan bagi limbah-limbah tersebut jika terguling/tumpah akan tercampur/masuk ke dalam bak penampungan bagian penyimpanan lain. karakteristik dan jumlah limbah B3 yang dihasilkan/akan disimpan. o Lantai bangunan penyimpanan harus kedap air. 4 PENYIMPANAN DAN PENGUMPULAN Penyimpanan kemasan menurut Keputusan Bapedal No. Jika tumpukan lebih dan 3 lapis atau kemasan terbuat dari plastik. o Dilengkapi dengan sistem penangkal petir. dan setiap palet mengalasi 4 drum.01/Bapedal/09/1995 dibuat dengan sistem blok. Penumpukan kemasan harus mempertimbangkan kestabilan tumpukan kemasan. mencegah terjadinya perpindahan tumpahan ke tanah atau air permukaan. sakelar harus terpasang di sisi luar bangunan.FTSL ITB Halaman 44 . Enri Damanhuri . o Tangki harus terlindung dari penyinaran matahari dan masuknya air hujan secara langsung. Dengan demikian jika terdapat kerusakan kecelakaan dapat segera ditangani. o Terlindung dari masuknya air hujan baik secara langsung maupun tidak langsung. – Membuat catatan dan laporan mengenai kecelakaan dan penanggulangan yang telah dilakukan. – Memindahkan limbah B3 dari sistem tangki atau sistem penampungan sekunder – Mewadahi limbah yang terlepas ke lingkungan. sedang lebar gang untuk lalu lintas kendaraan pengangkut (forklift) disesuaikan dengan kelayakan pengoperasiannya. serta mengangkat tumpahan yang terlanjur masuk ke tanah atau air permukaan. o Pada bagian luar tempat penyimpanan diberi penandaan (simbol) sesuai dengan tata cara yang berlaku. kemiringan lantai diatur sedemikian rupa sehingga air hujan dapat mengalir menjauhi bangunan penyimpanan. o Dibuat tanpa plafon dan memiliki sistem ventilasi udara yang memadai untuk mencegah terjadinya akumulasi gas di dalam ruang penyimpanan. Setiap blok terdiri atas 2 (dua) x 2 (dua) kemasan (Gambar 3). serta memasang kasa atau bahan lain untuk mencegah masuknya burung atau binatang kecil lainnya ke dalam ruang penyimpanan. tidak bergelombang. o Memiliki sistem penerangan (lampu/cahaya matahari) yang memadai untuk operasional atau inspeksi rutin.

3: Pola penyimpanan kemasan drum Gambar 4.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4.4: Pola penyimpanan kemasan drum dalam rak Enri Damanhuri .FTSL ITB Halaman 45 .

atau limbahlimbah B3 yang saling cocok. pembangkit listrik cadangan. fasilitas pertolongan pertama.FTSL ITB Halaman 46 . o Sarana lain yang harus tersedia adalah: peralatan dan sistem pemadam kebakaran. o Setiap bagian penyimpanan harus mempunyai bak penampung tumpahan limbah dengan kapasitas yang memadai. dengan ketentuan bahwa setiap bagian penyimpanan hanya diperuntukkan menyimpan 1 karakteristik limbah B3. o Sistem dan ukuran saluran yang ada dibuat sebanding dengan kapasitas maksimum limbah B3 yang tersimpan sehingga cairan yang masuk ke dalamnya dapat mengalir dengan lancar ke tempat penampungan yang telah disediakan. peralatan komunikasi.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4.6: Contoh tata letak penyimpanan limbah B3 Tempat penyimpanan yang digunakan untuk menyimpan lebih dari 1 karakteristik limbah B3. o Antara bagian penyimpanan satu dengan lainnya dibuat tanggul atau tembok pemisah untuk menghindarkan tercampurnya atau masuknya tumpahan limbah ke bagian lainnya. dan alarm. pintu darurat. pagar pengaman. gudang tempat penyimpanan peralatan dan perlengkapan.5: Tangki penyimpanan limbah B3 jumlah besar Gambar 4. Enri Damanhuri . mempunyai beberapa persyaratan: o Terdiri dari beberapa bagian penyimpanan.

sehingga bila terjadi ledakan yang sangat kuat akan mengarah ke atas dan tidak ke samping. hutan lindung. o Suhu dalam ruangan harus tetap dalam kondisi normal. (e) 300 meter dari daerah yang dilindungi seperti cagar alam. o Jarak terdekat yang diperkenankan adalah (a) 150 meter dari jalan utama atau jalan tol. berupa tembok beton bertulang (tebal minimum 15 cm) atau tembok bata merah (tebal minimum 23 cm) atau blok-blok (tidak berongga) tak bertulang (tebal minimum 30 cm). Konstruksi lantai dan dinding dibuat lebih kuat dari konstruksi atap. o Lokasi harus cukup jauh dari fasilitas umum dan ekosistem tertentu. hidran pemadam api dan perlindungan terhadap hidran. Enri Damanhuri . fasilitas bongkar muat dan fasilitas lain seperti diuraikan di atas. (d) 300 meter dari perairan. o Pintu darurat dibuat tidak pada tembok tahan api. kawasan suaka o Seperti halnya fasilitas penyimpanan yang telah diuraikan di atas. dinding dan lantai harus tahan terhadap korosi dan api. fasilitas pencucian peralatan. memiliki atap pelindung dengan lantai yang kedap air o Tangki dan daerah tanggul serta bak penampungannya terlindung dari penyinaran matahari secara langsung serta terhindar dari masuknya air hujan langsung maupun tidak langsung Lokasi bangunan tempat penyimpanan kemasan drum/tong. atau diupayakan aman dari kemungkinan terkena banjir. maka fasilitas pengumpulan merupakan fasilitas khusus yang harus dilengkapi dengan berbagai sarana untuk penunjang dan tata ruang yang tepat sehingga kegiatan pengumpulan dapat berlangsung dengan baik dan aman bagi lingkungan (gambar 7).FTSL ITB Halaman 47 . persediaan air untuk pemadam api. maka beberapa persyaratan adalah: o Luas tanah termasuk untuk bangunan penyimpanan dan fasilitas lainnya sekurangkurangnya 1 (satu) hektar. Konstruksi atap dibuat ringan. pelayanan kesehatan atau kegiatan sosial. o Jika bangunan dibuat terpisah dengan bangunan lain. (c) 300 meter dari fasilitas umum seperti daerah pemukiman. korosif dan beracun: o Konstruksi dinding dibuat mudah dilepas guna memudahkan pengamanan limbah dalam keadaan darurat. dan mudah hancur bila ada kebakaran. sehingga asap dan panas akan mudah keluar. Rancang bangun untuk penyimpanan limbah B3 mudah meledak: o Konstruksi bangunan dibuat tahan ledakan dan kedap air. maka jarak minimum dengan bangunan lain adalah 20 meter. perdagangan. o Struktur pendukung atap terdiri dari bahan yang tidak mudah menyala. Dalam hal limbah B3 dikumpulkan terlebih dahulu di sebuah tempat di luar lokasi penghasil limbah B3. Desain bangunan sedemikian rupa sehingga cahaya matahari tidak langsung masuk ke ruang gudang. rumah sakit. Rancang bangun khusus untuk penyimpan limbah B3 reaktif. (b) 50 meter dari jalan lainnya. o Konstruksi atap. o Untuk kestabilan struktur pada tembok penahan api dianjurkan digunakan tiang-tiang beton bertulang yang tidak ditembusi oleh kabel listrik. sumber air . o Jarak minimum antara lokasi dengan fasilitas umum adalah 50 meter.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Persyaratan bangunan penyimpanan limbah B3 mudah terbakar: o Jika bangunan berdampingan dengan gudang lain maka harus dibuat tembok pemisah tahan api. garis pasang tertinggi laut. o Beberapa fasilitas tambahan yang diperlukan adalah laboratorium analisa. o Menggunakan instalasi yang tidak menyebabkan ledakan/percikan listrik o Dilengkapi dengan: sistem pendeteksi dan pemadam kebakaran. Persyaratan bangunan untuk penempatan tangki: o Tangki penyimpanan limbah B3 harus terletak di luar bangunan tempat penyimpanan limbah o Merupakan konstruksi tanpa dinding. o Area secara geologis merupakan daerah bebas banjir tahunan. bangunan tempat penyimpanan bak kontainer dan bangunan tempat penyimpanan tangki: o Merupakan daerah bebas banjir.

kereta api atau laut. laut. Kapasitas yang digunakan di USA adalah antara 4000 sampai 12000 gallon (15 sampai 50 m3). Kapasitas tank car ini dibatasi 34. botle dan cask.7: Contoh tata ruang pengumpulan limbah B3 6 PENGANGKUTAN Di Amerika Serikat.500 gallon (130 m3) dengan berat kotor 236.40 tahun. Produk-produk berbahaya tersebut diangkut dengan berbagai container seperti : vessel.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4. Sekitar 80 % dari pengangkutan bahan berkapasitas besar menggunakan tank car yang mempunyai masa layan 30 . tank car. box. Perbedaan utama dari rail tank car ini adalah ada Enri Damanhuri .000 pound (36 ton). nikel atau stainless steel. seperti melalui darat. Transportasi bahan berbahaya yang bervolume besar (bulky) dapat dilakukan melalui segala jenis angkutan. Bahan-bahan ini diangkut melalui udara. Beban kendaraan biasanya dibatasi sampai 80. cylinder. can. tank truck. acuan-acuan teknik yang standar serta pengujian untuk itu. darat (termasuk kereta api).FTSL ITB Halaman 48 . barrel. intermodal portable tank. drum. aturan-aturan yang dikeluarkan oleh DOT telah meliputi lebih dari 30. Dalam hal ini Research and Special Programs Administration (RSPA) dari USDOT mengeluarkan dan bertanggungjawab untuk mengembangkan aturan-aturan. Cargo tank merupakan sarana yang biasa digunakan di darat.000 pound (107 ton). dan biasanya terbuat dari baja atau campuran alumunium atau dapat pula dari bahan lain seperti titanium.000 jenis bahan berbahaya.

Kemungkinan kecelakaan yang mungkin terjadi di sektor transportasi ini perlu mendapat perhatian. karena dapat mencelakakan manusia atau lingkungan yang tidak terlibat langsung dengan kecelakaan. walaupun bila terjadi kecelakaan maka limpahannya akan menyebar secara luas. pupuk. Respons terhadap bentuk kecelakaan itu harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan agar dapat menangani masalah yang timbul secara cepat dan tepat. 1989 Kep. TDI masuk de dalam sel jaringan. Penanganannya adalah truk tetap dipanaskan dan diisolasi agar TDI ini tetap dalam kondisi cair. Sisanya adalah bahan kimia semacam asam sulfat. mengkontaminasi daerah sekitarnya serta baju 2 orang petugas. Sekitar 66 % (berat) bahan yang diangkut di USA adalah bahan kimia (sebagian korosif) sedang 23 % merupakan produk minyak (bahan bakar). Hampir 90 % dari tank car ini terbuat dari baja. Cara ini relatif memungkinkan pengangkutan dengan kapasitas yang besar. Demikian juga peralatan tim harus sesuai dengan kebutuhan/jenis bahan atau limbah yang diangkut. Aturan-aturan yang ada menyangkut kegiatan selama loading serta pelatihan bagi awak kapalnya. bahan berikutnya yang sering digunakan adalah alumunium. Setelah mereka kembali ke kendaraan yang hangat.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 yang menggunkan tekanan (untuk gas) dan tanpa tekanan (untuk cair). Meyer: Chemistry of Hazardous Materials. Lebih dari 90 % (berat) dalam transport laut ini terdiri dari produk petroleum dan minyak mentah. mengiritasi mata. cara ini adalah yang teraman.FTSL ITB Halaman 49 .Kepala Bapedal 05/Bapedal/09/1995: tentang Simbol dan Label Limbah B3 http://www. Prentice Hall Building. Pada saat truk dibalikkan. baik dari jumlah kecelakaan maupun banyaknya limpahan dalam satuan ton-mile. Secara statistik. Container bulky melalui air yang terbesar adalah dengan tanker dan tank-barges. alkohol. NaOH. benzene. TDI yang melekat pada sepatu dan baju menguap dan terhiruplah gas toksik. dan dapat merusak paru. Peraturan-peraturan yang digunakan dalam transportasi hendaknya mengantisifasi kemungkinan timbulnya masalah ini. Tank-barges berkapasitas antara 300.labelmaster.000 gallon (1135-2270 3 m ) sedang tanker berkapasitas sampai 10 kali lebih besar. toluene dan sebagainya.paru. maka respon aparat terkait (polisi. demikian juga kegiatan penanganan korban akibat terpapar dengan bahan berbahaya akan tergantung apakah paramedis terkait telah mendapat pelatihan menangani korban semacam itu. Referensi Utama: o o o o o E.Kepala Bapedal 02/Bapedal/09/1995: tentang Dokumen Limbah B3 Kep.000 pound toluene diisocyanate (TDI) yang tergelincir dan menumpahkan sebagian isinya. Sebagai contoh adalah kecelakaan lalu-lintas yang terjadi di USA pada bulan Desember 1981 yang menimpa sebuah truk pembawa 40. Kedua petugas tersebut mengalami gangguan pernafasan yang permanen dan tidak dapat lagi aktif bekerja. Bila terjadi kecelakaan lalu-lintas. pemadam kebakaran dan sebagainya) akan tergantung pada apakah aparat tersebut terlatih untuk jenis kecelakaan itu. limpahan TDI ternyata terpapar pada tanah yang dingin.Bapedal 01/Bapedal/09/1995: tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3 Kep.000-600. yang mencakup sekitar 91 %.com (1 Maret 2008) Enri Damanhuri .

baik yang terdapat di alam maupun yang dibuat oleh manusia.FTSL ITB Halaman 50 . dan hampir setiap tahun 1.000 jenis diantaranya digunakan sehari-hari. panas.000 jenis bahan kimia baru masuk ke perdagangan. Enri Damanhuri . akan menghasilkan limbah berbahaya. Materi radioaktif : dicirikan dengan transformasi yang berlangsung dalam inti atom. tekanan atau kegiatan oksidasi atau kegiatan lain seperti aktivitas mikrobiologis. baik dalam kondisi biasa atau bila terpapar dengan panas.000 jenis. dan 2. terdapat 7 kelas bahan berbahaya. uap.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN V SIFAT DAN KARAKTERISTIK BAHAN KIMIA BERBAHAYA 1 UMUM Penggunaan kimia dalam kebudayaan manusia sudah dimulai sejak zaman dahulu. Peledak (explosive) : materi kimia ini dapat meledak. cair. Secara konvensional. Dari sekian banyak bahan kimia tersebut. Materi yang spontan terbakar (spontaneously ignitable material) : padat atau cair yang dapat menyala secara spontan tanpa sumber nyala. namun materi ini pulalah yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang berbahaya. ethanol. b. yang berkaitan dengan komposisi materi. yang dapat membakar dan merusak jaringan kulit bila berkontak dengannya. Pengoksidasi (oxidizer) : Materi yang menghasilkan oksigen. 40% berkaitan dengan petrokimia. terutama dari kegiatan industi khususnya penggunaan bahan kimia. misalnya uranium heksafluorida. f. Materi korosif : padat atau cair seperti asam kuat atau basa kuat. manusia dapat mengontrol dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan manusia. Dengan mengetahui komposisi dan memahami bagaimana perubahan terjadi. c. Kimia merupakan salah satu ilmu pengetahuan alam.atau gas yang menyala dengan mudah dan terbakar secara cepat bila dipaparkan pada sumber nyala.46% dari nilai perdagangan dunia. Perdagangan bahan kimia dunia pada tahun 1991 mencapai nilai 1. baik secara alamiah maupun sintetis. seperti karbon monoksida dan hidrogen sianida. Contoh materi ini misalnya fosfor putih.2 M US$. Contoh materi ini misalnya dinamit dan trinitrotoluene (TNT). atau mekanisme lainnya. 50. Materi mudah terbakar (flammable material) : padat. debu aluminum. misalnya pelarut (solvent) seperti benzene. Proses penggunaan bahan yang berbahaya dalam kegiatan sehari-hari. e. baru beberapa ratus jenis saja yang telah dievaluasi dampaknya tehadap kesehatan dan lingkungan. d. biasanya karena adanya kejutan (shock). Pemakaian bahan kimia di Indonesia (1991) sekitar 0.500 jenis digunakan sebagai bahan tambahan makanan.000 jenis sebagai bahan aktif obat-obatan. Ini ditunjukkan oleh hampir 11 juta jenis bahan kimia telah diidentifikasi pada tahun 1995. Materi toksik : racun yang dalam dosis kecil dapat membunuh atau mengganggu kesehatan. g. termasuk juga perubahan yang terjadi di dalamnya. Contoh materi ini adalah amonium nitrat dan benzoyl peroksida. sekitar 4.500 jenis merupakan bahan aktif pestisida. Penggunaan bahan-bahan kimia di dunia telah berkembang pesat. yaitu : a. yang sebagian besar merupakan bahan berbahaya. Senyawa-senyawa kimia sintetis inilah yang banyak dihasilkan oleh peradaban modern. Bahan kimia yang telah digunakan dan diperdagangkan secara umum sekitar 63. 1. misalnya karena perubahan panas. gas hidrogen dan metan.

akan memungkinkan bahan tepung tersebut secara spontan akan terbakar. seperti kayu. Air dapat digunakan untuk memadamkan jenis kebakaran ini Kebakaran kelas B: berasal dari bakaran gas bakar (flammable gases) atau cairan yang mudah terbakar (flammable and combustible liquids). Karbon dioksida. seperti LPG. aluminum. seperti logam titanium. ethyl ether. Kebakaran bahan ini akan meninggalkan bara api dan abu. dan dapat dibagi menjadi 4 kelas. methanol. dry chemical extinguisher. bahan-bahan sejenis baik alamiah maupun sintetis lainnya termasuk plastik dan karet. Interaksi bahan membentuk nyala atau bahan eksplosif: Bahan logam natrium akan dapat terbakar dengan sendirinya bila terdapat uap air yang berkontak dengannya. magnesium. motor dan generator. katon dan kertas. karena dihasilkan gas hidrogen. 2 KELAS KEBAKARAN Kebakaran biasanya dikaitkan dengan kecelakaan yang dipicu dari adanya bahan berbahaya. atau busa meruapakan bahan yang cocok untuk memadamkannya. Bila api yang dipadamkan dilakukan dengan air. kerosen. maka kebakaran akan tambah besar. kabel listrik. Kebakaran kelas D: berasal dari bakaran logam-logam yang mempunyai sifat reaktif yang spesifik terhadap air atau uap air. hidrogen. Tubuh manusia mentolerir konsentrasi bahan ini dengan konsentrasi tidak lebih dari 1 ppm di udara. Kebakaran jenis ini mudah dipadamkan oleh Halaman 51 o o o Enri Damanhuri . propane. Jangan dipadamkan dengan air. Beberapa ilustrasi di bawah ini akan menggambarkan hal tersebut: Interaksi bahan membentuk bahan toksik: Bila kita mencampur larutan asam yang banyak digunakan secara komersial untuk menghilangkan karat atau untuk membersihkan wastavel atau WC dengan pemutih cucian atau disinfektan yang digunakan dalam kolam renang. Kadangkala secara tidak sengaja terjadi pencampuran antara 2 materi yang asalnya tidak berbahaya. biasanya direkomnedasikan untuk memadamkannya. Reaksi yang terjadi akan berlangsung secara spontan. Pencampuran bahan berbahaya dapat menyebabkan: o Timbulnya bahan toksik o Timbulnya gas bakar yang dapat menimbulkan kebakaran atau ledakan. sikring.FTSL ITB . Interaksi bahan membentuk panas: Bahan-bahan pengoksidasi adalah contoh bahan berbahaya yang siap bereaksi dengan bahan mudah terbakar. atau o Panas akibat reaksi kimia yang terjadi akan dapat membakar bahan mudajh terbakar di sekitarnya. Karbon dioksida atau dry chemical extinguisher. menyebabkan terjadinya swa-kebakaran. Bila larutan asam nitrat (oksidator) tercampur dengan tepung beras. seperti dari stop-kontak. zirconium. Misalnya gudang penyimpan logam natrium terbakar. karena reaksi yang terjadi akan menghasilkan gas hidrogen yang dapat terbakar tanpa adanya pemantik api. dan natrium. Kebakaran kelas C: berasal dari bakaran bahan yang terjadi karena sirkuit tenaga listrik.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Materi tersebut kadangkala menjadi lebih berbahaya bila berada dalam kondisi tercampur dengan bahan lain. yaitu: o Kebakaran kelas A: berasal dari bakaran berbahan dasar sellulosa. menghasilkan gas klorin yang sangat toksik melalui pernafasan.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

baham spesifik sejenis graphite atau natrium kloroida (garam dapur). Sangat berbahaya bila dipadamkan dengan menggunakan air. 3 INFORMASI TINGKAT BAHAYA Tingkat bahaya suatu bahan berbahaya harus diinformasikan secara jelas kepada pemakai, khususnya dalam lingkungan kerja dimana bahan tersebut digunakan, melalui 2 jalan: o Penggunaan label dan bentuk peringatan lainnya: setiap produsen atau importir bahan kimia harus memastikan bahwa setiap kontainer atau pengemas produk B3nya telah diberi label, papan-nama, atau tanda-tanda peringatan lain yang sesuai dengan jenis bahaya yang dikandung bahan tersebut, nama dan alamta produsen, importir atau penanggung jawab lainnya. Label dapat menggunakan simbol, gambar atau kata-kata lainnya. Lihat contoh dalam Gambar 4.1 o Informasi tentang Material Safety Data Sheets (MSDS): merupakan bulletin yang bersifat teknis yang mengandung informasi mendetail tentang bahaya dari bahan tersebut. Di Amerika Serikat, melalui OSHA, mewajibkan setiap produsen untuk menyiapkan MSDS ini bagi setiap produknya. MSDS ini harus disertakan pada setiap sampel atau pengiriman ke sebuah tujuan untuk pertama kalinya.

Gambar 5.1: Contoh label untuk HCl Bila mengacu kepada Occupational Safety and Health Act (OSHA) yang berlaku di Amerika Serikat, maka: a. MSDS harus dirancang sangat komprehensif dalam bentuk informasi tertulis untuk seluruh karyawan b. Informasi minimum yang dibutuhkan adalah: o Identitas produk seperti tercantum dalam container atau pengemasnya o Nama umum dan nama kimia seluruh komponen yang mempunyai konsentrasi >1%, yang diketahui berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan, dan
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 52

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

mempunyai konsentrasi ≥ 0,1% bagi bahan yang diketahui sebgai penyebab kanker o Bahaya fisik dan kesehatan, termasuk tanda-tanda dan simptom-nya bila terpapar o Alur masuk ke tubuh manusia, kulit, pernafasan, makanan atau minuman o Batasan paparan yang diketahui o Apakah termasuk penyebab kanker atau berpotensi-kanker o Prosedur handling dan penggunaan yang aman, penanggulangan tumpahan atau kebocoran o Prosedur pertolongan pertama bila terjadi kecelakaan o Tanggal penyiapan bahan o Nama, alamat dan nomor telepon perusahaan, atau yang bertanggung jawab yang mendistribusikan MSDS c. Training yang bersifat regular adalah kegiatan yang dianggap kritis, yang berbentuk program komunikasi, yang menginformasikan apa yang tercantum dalam label maupun dalam MSDS suatu bahan berbahaya. Penanggung jawab kegiatan harus melatih pekerjanya dalam hal bagaimana mengenali bahan-bahan berbahaya yang dapat teremisi atau terpapar dalam ruangan dimana mereka bekerja, misalnya dalam bentiuk timbiulnya bau yang spesifik, dan sekaligus melatih bagaimana memproteksi dirinya akibat bahan berbahaya tersebut. 4 DOKUMEN MATERIAL SAFETY DATA SHEETS (MSDS) Berikut ini adalah contoh MSDS yang dikeluarkan oleh sebuah produsen bahan kimia di Amerika Serikat untuk produk HCl yang dihasilkan: Informasi Umum (muncul di setiap lembar MSDS)
o o o J.T. Baker Chemical Co. 222 Red School Lane, Phillipsburg, N.J. 08865, 24-Hour Emergency Telephone (201)859-2151, Chemtrec # (800) 424-9300, National Re4sponse Center # (800) 424-8802 H3880-02 Hydrochloric Acid Effective: 08/07/86 Issued: 10/19/87

Seksi I: Identifikasi Produk
o o o o o o o Nama produk: Hydrochloric acid Formula: HCl Formula Wt: 36, 46 Cas No: 7647-01-0 NIOSH/RTECS No: MW4025000 Sinonim Umum: Muriatic Acid; Chlorhydric Acid, Hydrochloride Kode produk: 9543, 9539, 9535, 9534, 9544, 9529, 9542, 4800, 9549, 9530, 9548, 9540, 5537, 9547, 9546, 9537, 5367

Precautionary Labelling: TM Baker SAF-T-DATA System: (dengan label kode gambar) o Kesehatan: Severe o Flammabilitas: None o Reactivitas: Moderate o Kontak: Severe o Laboratory protective equipment: goggles & shield, Lab coat & apron, vent hood, proper gloves o Precautionary label statements:

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 53

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

RACUN! BAHAYA! MENYEBABKAN LUKA BAKAR SERIUS MENJADI FATAL BILA TERTELAN ATAU TERHIRUP Jangan berkontak dengan mata, kulit, dan baju Jangan terhirup uapnya. Penyebab kerusakan pada sistem pernafasan (paru-paru), mata dan kulit. Simpan dalam container yang tertutup rapat. Buka dengan hati-hati. Gunakan ventilasi yang cukup. Cuci dengan cukup setelah penanganan. Bila terjadi tumpahan, netralisir dengan soda ash atau kapur dan tempatkan pada container kering.

Seksi II: Komponen Berbahaya
o o o o o o o o o o o o

Komponen: Hydrochloric Acid (23 Baume) %: 35-40 CAS No: 7647-01-0 Titik didih (boiling point): 110 C (230ºF) Tekanan uap (mmHg): N/A o o Titik leleh (melting point): -25 C (-13 F) Densitas uap (udara = 1): 1,3 Gravitasi spesifik (specific gravity H2O = 1): 1,19 Laju evaporasi (Butyl Acetate = 1): N/A Kelarutan (H2O): sempurna dalam seluruh proporsi % Volatil – volume: 100 Tampilan dan bau: jernih, tidak berwarna atau kuning muda, pungent, cairan berasap (fuming liuid)
o

o

Seksi III: Data Fisika

Seksi IV: Data Bahaya Kebakaran dan Ledakan
o o o o o Flash point: N/A NFPA 704M Rating: 3-0-0 Flammable limits: Upper – N/A % Lower – N/A % Media pemadam kebakaran: gunakan media pemadam kebakaran yang cocok untuk area sekitarnya Prosedur khusus pemadaman kebakaran: Anggota pemadam kebakaran harus m,engenakan perlengkapan perlindungan yang memadai, dengan perlengkapan pernafasan yang dioperasikan pada tekanan positif. Pindahkan kontainer dari lokasi kebakaran bila dapat dilakukan tanpa resiko. Gunakan air. Jangan masukkan air ke dalam kontainer. Bahaya kebakaran dan ledakan yang tidak biasa: dapat mengemisikan gas hidrogen bila berkontak dengan logam Gas toksik yang dihasilkan: hydrogen chlorida, gas hyrogen PEL dan TLV dalam daftar menandakan berada pada batas 3 Treshold Limit Value (TLV/TWA): 7 mg/m (5 ppm) 3 Permissible Exposure Limit (PEL) : 7 mg/m (5 ppm) Toksisitas : LD50 (oral-rabbit) (mg/kg) : 900 LD50 (ipr-mouse) (mg/kg) : 40 LD50 (inhl-rat-1H) (ppm) : 3124 Carcinogenicity NTP : No IARC : No Z List : No OSHA : No Pengaruh paparan yang berlebihan (overexposure) : Target organ : system pernafasan, mata, kulit Kondisi medis yang biasanya diperparah bila terpapar : tidak teridentifikasi Alur masuk: pencernaan, pernafasan, kontak kulitm kontak mata Darurat dan Pertolongan Pertama:

o o o o o o o

Sekis V: Data Bahaya Kesehatan

o o o o o

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 54

baju pelindung direkomendasi untuk digunakan SAF-T-DATA Storage Color Code: putih (korosif) Syarat khusus: Kontainer selalu tertutup rapat. asam sulfat. alat bantu pernafasan disarankan untuk digunakan Perlindungan mata/kulit: Sarung tangan acid-resistant dan perlindungan muka (face shield). Idsolasi dari bahan-bahan yang tidak kompatibel. klorin Gunakan alat masker pernafasan (self-contained breathing) dan baju pelindung Hentikan kebocoran bila dapat dilakukan tanpa resiko Berikan ventilasi pada area tersebut Netralisir tumpahan dengan abu soda atau kapur Dengan skop yang bersih. solution o Kelas bahaya (hazard class): 8 o UN/NA: UN1789 o Labels: Corrosive Info terakhir MSDS contoh di atas: The information Publisher in this MSDS has been compiled from our experience and data presented in various technical publications. hidrogen.T. We reserve the right to revise Material Safety Data Sheets periodically as new information becomes available. anhidrid asid. karbonat. asam klorosulfonik Produk dekomposisi: hidrogen klorida. Dilarang disimpan berdekatan dengan bahan pengoksidasi TM Seksi VII: Prosedur Penanganan Tumpahan dan Disposal Seksi VIII: Perlengkapan Perlindungan o Seksi IX: Penyimpanan dan Penanganan o o Seksi X: Data transportasi dan Informasi Tambahan Domestik (DOT): o Nama pengapalan (proper shipping name): Hydrochloric acid o Kelas bahaya: bahan korosif (cair) o UN/NA: UN1789 o Label: Korosif o Kuantitas dilaporkan: 5000 Lbs Internasional (IMO) o Nama pengapalan (proper shipping name): Hydrochloric acid. disarankan menggunakan masker chemical cartridge respirator dengan acid cartridge. air. Enri Damanhuri . kalsium fosfida. It is the user’s responsibility to determine the suitability of this information for the adoption of necessary safety precautions. basa kuat. Pada konsentrasi di sampai dengan 100 ppm.FTSL ITB Halaman 55 . formaldehid. Simpan di area anti korosi. seragam. alkali. vinil asetat. murkuri sulfat. oksida logam. tuang tumpahan dengan hati-hati ke dalam kontainer bersih. amine. dan pindahkan dari area tersebut Bilas area tumpahan dengan air R R J. Baker Neutraorb atau Penetralisir asam Neutrasol “Low Na” disarankan untuk digunakan untuk penanganan tumpahan Prosedur disposal: kubur atau timbun atau singkirkan sesuai dengan peraturan yang berlaku EPA Hazardous Waste Number: D002 (Coorosive Waste) Ventilasi: gunakan exhaust ventilation umum atau lokal untuk memenuhi standar TLV Perlindungan pernafasan: Masker pernafasan dibutuhkan bila konsentrasi di udara kerja melebihi TLV yang disyaratkan. Di atas konsentrasi tersebut. kering dan tutup. propiolakton.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Seksi VI: Data Reaktivitas o o o o o o o o o o o o o o o o Stabilitas: stabil Bahaya polumerisasi: tidak akan terjadi Kondisi yang dihindari: panas dan kelembaban Tidak kompatibel: hampir semua logam.

konsentrasinya dalam air : 98. akan menyebabkan terjadinya pendidihan lokal disertai percikan yang membahayakan. Bila asam sulfat bercampur dengan NaCl. juga terhadap jaringan kulit. .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 J. Selalu diperhatikan bahwa pengenceran dilakukan dengan penuangan secara perlahan pada air yang teraduk perlahan. natrium hidroksida.T. Beberapa bahan yang termasuk dalam kelompok ini adalah asam sulfat.T.sangat larut dalam air Asam ini akan membebaskan panas bila diencerkan (sekitar 20 kcal per mole). asam fluorida. dan sangat reaktif. dan dapat menimbulkan ledakan bila dicampur dengan bahan tertentu. COPYRIGHT 1987 J.bila sebuah cairan mempunyai laju korosi lebih besar dari 6.bila diuji terhadap kelinci albino.titik didih : 338 o C . kalium hidroksida. asam perkhlorit. 5 BAHAN KIMIA KOROSIF Biasanya pengertian korosi mengacu pada proses kimia yang mengakibatkan logam atau mineral dikonversi menjadi bahan yang berkarat. Bentuk bahaya yang kedua dari bahan ini adalah sifatnya yang dapat mengekstrak air dari bahan yang berkontak dengannya.33 % . Beberapa reaksi di bawah ini akan memperjelas mekanisme yang terjadi : Enri Damanhuri . Bila ini dilakukan terbalik. sehingga dianggap banyaknya konsumsi bahan ini di suatu negara dapat menggambarkan status ekonomi dari negara tersebut. asam khlorida. baik terhadap logam dan mineral. asam nitrat. Reaksi dehidrasi ini sangat kuat. Bahaya lain dari bahan ini adalah kemampuannya bereaksi dengan bahan lain. sehingga dapat menghancurkan sama sekali kertas dan tekstil.titik beku : 10 o C . dengan densitas sekitar 2 kali air. nyala dan ledakan. Beberapa sifat asam sulfat pekat adalah : . atau cairan yang mempunyai laju korosi yang kuat terhadap baja alumunium dengan kriteria : . Asam ini merupakan cairan yang tidak berwarna. Oleh karenanya US Department of Transportation (USDOT) mendefinisikan bahan korosif sebagai : cairan atau padatan yang dapat menimbulkan kerusakan yang terlihat pada jaringan kulit manusia bila berkontak. BAKER INC. Korosi dapat pula disebabkan karena perusakan oleh bahan kimia (seperti asam atau basa kuat). Gula misalnya akan menjadi arang bila bercampur dengan asam ini. seperti HclO4. yang menghasilkan oksida-oksida metalik.FTSL ITB Halaman 56 .84 . Namun korosi sebetulnya tidak terbatas pada aktivitas oksigen terhadap sebuah logam. proses ini biasanya terjadi karena adanya oksigen di udara. asam fosfat.25 mm per tahun terhadap baja atau alumunium standar pada temperatur pengujian 55 °C.gravitasi spesifik : 1. Baker makes no warranty or representation about the accuracy or completeness nor fitness for purpose of the information contained herein. yang akan dibahas secara umum di bawah ini. maka struktur jaringan di lokasi kontak mengalami kerusakan atau tidak dapat pulih setelah pemaparan 4 jam atau kurang. terjadinya bahan lain yang mudah terbakar atau terjadinya ledakan. Bahan ini juga akan menimbulkan ledakan bila bercampur dengan asam lain. dapat menimbulkan sifat toksik. Asam Sulfat (H2SO4) Bahan ini banyak digunakan di industri. akan terbentuk uap HCl yang merupakan bahan toksik bagi pernafasan. yang disertai akibat samping seperti timbulnya gas toksik.

5 x air dan merupakan oksidator kuat. atau nitrogen monoksida atau nitrogen dioksida atau dinitrogen monoksida atau ion amonium. Asam nitrat murni merupakan cairan yang tidak berwarna. digunakan misalnya dalam industri pupuk amonium-nitrat.reaksi exotermis dengan gula : C12H22O11(s) ⇒ 12 C(s) + 11 H2O(g) .5 . Asam Nitrat (HNO3) Asam nitrat merupakan cairan terpenting setelah H2SO4. Asam ini dibutuhkan untuk menghasilkan bahan peledak nitrogliserin dan trinitrotoluene (TNT). NI dan NaCN atau NaSCN : 2 NaBr(s) + 2 H2SO4(l) ⇒ Br2 (g) + SO2 (g) + Na2SO4 (l) + 2 H2O(l) SO2 dan Br2 adalah gas toksik Bahan ini juga tergolongkan sebagai oksidator.titik beku : . Asam nitrat (pekat) direduksi menjadi nitrogen. ClO2 bersifat toksik . Kerapatannya sekitar 1.70 % .menimbulkan ledakan dengan asam perkhlorit : 2HClO4 (l) ⇒ Cl2O7(g) + H7O(g) .sangat larut dalam air Asam ini dapat merusak logam karena sifatnya sebagai oksidator kuat. Nitrogen dioksida dapat terbentuk bila asam nitrat pekat yang digunakan. misalnya pada reaksi di bawah ini : Cu(s) + 2 H2SO4 (pekat) ⇒ CuSO4 (l) + SO2 (g) + 2 H2O(l) Pb(s) + 3 H2SO4 (pekat) ⇒ Pb(HSO4) 2 (s) + SO2 (g) + 2 H2O(l) Di lingkungan kerja.gravitasi spesifik : 1. sedang monoksida terbentuk bila asam nitrat encer yang digunakan.menghasilkan produk yang mudah terbakar dengan ethyl alkohol : C2H5OH(l) ⇒ C2H4(g) + H2O(g) . tergantung pada konsentrasi asam tersebut.menghasilkan gas racun dengan asam oksalit : H2C2O4(s) ⇒ H2O(g) + CO(g) + CO2(g) .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 . namun sering dijumpai dengan warna kuning sampai merah-kecoklatan tergantung dari kandungan nitrogen dioksida yang terlarut. senyawa-senyawa organik-bernitrat dan fiber sintetis.menghasilkan ledakan dan gas toksik dengan NaClO3: NaClO3(s) + H2SO4 (l) ⇒ NaHSO4 (s) + HclO3(l) 3 HClO3(l) ⇒ HClO4 + 2 ClO4 + H2O .konsentrasi dalam air : 68 . terutama pada kondisi panas. Bila logam yang dijumpainya adalah berupa serbuk maka reaksi akan Enri Damanhuri .FTSL ITB Halaman 57 . Beberapa sifat dari bahan ini pada kondisi pekat antara lain adalah : . Label bertuliskan 'korosif dan racun' dibutuhkan pada kontainer dan kendaraan yang mengangkutnya. aturan di USA membatasi pemaparan maksimum terhadap manusia sebesar 1 mg/m3.titik didih : 86 o C .42 o C .menghasilkan gas-gas racun dengan NaBr. seperti reaksi di bawah ini : 5 Zn(s) + 12 HNO3(l) ⇒ 5 Zn(NO3)2(l) + 6 H2O(l) + N2(g) 3 Zn(s) + 8 HNO3(l) ⇒ 3 Zn(NO3)2(l) + 4 H2O(l) + 2 NO(g) Zn(s) + 4 HNO3(l) ⇒ Zn(NO3)2(l) + 2 H2O(l) + 2 NO2(g) 4 Zn(s) + 10 HNO3(l) ⇒4 Zn(NO3)2(l) + 5 H2O(l) + N2O(g) 4 Zn(s) + 10 HNO3(l) ⇒4 Zn(NO3)2(l) + 3 H2O(l) + NH4NO3(g) Umumnya hanya satu reaksi yang terjadi.

oksidator dan racun'. minyak. terutama bila bahan ini dalam bentuk serbuk. misalnya pada industri pelapisan logam.gravitasi spesifik : 1.konsentrasi dalam air : 72. membentuk asap. Bahan ini bukan termasuk oksidator. seperti karbon dan sulfur.20 . Beberapa sifat (asam pekat) dari bahan ini adalah : . Asam ini dapat menimbulkan swa-nyala bagi bahan sellulosa.konsentrasi dalam air : 36 . Asam ini juga dapat merusak bahan non logam. Kerapatan gasnya sekitar 1/5 lebih ringan dari udara.85 °C . Sifat-sifat asam khlorida pekat antara lain adalah : . Asam Perchlorit (HclO4) Bahan ini termasuk asam mineral yang penting dalam perindustrian. terutama pada kondisi panas.titik beku : . sedang antara 50-72 % sebagai 'oksidator' dan pengangkutan HClO4 dengan konsentrasi lebih besar dari 72 % tidak Enri Damanhuri . Terhirupnya gas ini melalui pernafasan akan menyebakan degenerasi total sel pada bagian pernafasan.115 °C .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 disertai ledakan. Pengangkut dan kontainer yang digunakan mencantumkan label 'korosif. Asam ini. Asam ini juga mengoksidasi senyawa-senyawa organik seperti aceton. dan korosi pada besi tidak terjadi bila konsentrasi asam nitrat lebih tinggi dari 70 %. Pemaparan maksimum yang diizinkan di Amerika Serikat adalah 2 ppm.18 o C .kelarutan dalam air : sangat larut Departemen Transportasi Amerika Serikat menentukan bahwa HClO4 dengan konsentrasi lebih kecil dari 50 % sebagai 'korosif'. Bahan ini merupakan cairan yang tidak berwarna.38 % . kayu) akan tebakar dengan sendirinya bila berkontak dengannya. Batas yang diperbolehkan di Amerika Serikat pada lingkungan kerja adalah 5 ppm.FTSL ITB Halaman 58 . atau untuk menghasilkan senyawa yang mengandung khlor seperti karet sintetis. bahkan sama sekali merusaknya.4 % . misalnya pembersih WC. Asam Khlorida (HCl) Asam ini merupakan bahan kimia yang termasuk penting dalam kegiatan industri. Label yang disyaratkat pada kontainer dan pengangkutannya adalah 'korosif dan racun'. Oksidasi logam alumunium pada temperatur kamar tidak dapat terjadi bila konsentrasi asam nitrat lebih tinggi dari 80 %. Klasifikasi bahaya dari bahan ini karena bersifat korosif dan toksik.titik beku : .titik didih : 203 o C .gravitasi spesifik : 1.70 . nitrobenzene. atau produk yang banyak digunakan di rumah tangga.titik didih : . merupakan oksidator kuat khususnya terhadap senyawa organik. walaupun termasuk dalam kelompok asam kuat. Asam ini juga akan mengkorosi jaringan tubuh bereaksi dengan protein membentuk xanthroproteic acid berwarna kuning. misalnya pada industri kimia dan elektroplating.kelarutan dalam air : 85 g/100 g air. dan menyengat. ethyl alkohol. dan kadangkala disertai ledakan dan merupakan sumber nyala. Materi sellulosa (seperti kertas. Sedang logam khromium resistan terhadap asam ini.

Karena asam sulfat dapat menghidrasi asam perkhlorit. Beberapa sifat dari asam ini dalam keadaan pekat adalah : . dan merupakan satu-satunya asam yang mengkorosi gelas. Campuran kalsium dihidrogen fosfat dan kalsium fosfat dikenal sebagai superfosfat. Asam fosfat tidak berwarna dan tidak berbau. Reaksi yang terjadi adalah : CaSiO3(s) + 6 HF(pekat) ⇒ CaF2(s) + SiF4(g) + 3 H2O(l) Asam fluorida merupakan asam lemah.konsentrasi dalam air : 85 % . Beberapa sifatnya dalam kondisi pekat adalah : . Asam Fosfat (H3PO4) Unsur fosfor paling tidak mempunyai 8 jenis asam.titik beku : .sangat larut dalam air. NaOH merupakan basa kuat. Disamping itu.69 .titik didih : 20 o C . misalnya dalam pembuatan chip dalam industri komputer. Aturan pengangkutan di Amerika Serikat adalah mensyaratkan label 'korosif dan toksik'. yang merupakan pupuk sintetis yang penting. Asam ini dalam kondisi pekat lebih berbahaya bila kontak dengan kulit karena tidak mendatangkan sakit pada saat kontak.konsentrasi yang biasa dijumpai adalah : 48 .gravitasi spesifik :1 .sangat larut dalam air. larutan ini bereaksi dengan air secara keras. Label yang dipersyaratkan adalah : 'korosif dan oksidator'.FTSL ITB Halaman 59 .60 % .titik beku : 42 o C . larutan ini bersifat korosif pada bahan. Asam Fluorida (HF) Penggunaan asam fluorida dalam industri adalah penting. mampu bereaksi dengan silikon dioksida (pasir) dan gelas membentuk silikon tetrafluorida. namun asam fosfat adalah yang paling umum digunakan dalam industri. Cairan ini tidak berwarna. dapat mengkorosi bahan tetapi tidak sehebat asam-asam sebelumnya. baik digunakan secara langsung atau dicampur dengan H2SO4. maka botol kedua jenis asam ini tidak diperbolehkan diletakkan berdampingan. Natrium Hidroksida (NaOH) dan Kalium Hidroksida (KOH) Kelompok ini merupakan kelompok alkalin korosif yang paling penting dan dikenal sebagai caustic soda.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 diperkenankan. Batas pemaparan yang diizinkan di ruang kerja adalah 1 mg/m3. namun beberapa jam kemudian terjadilah penetrasi dalam kulit.gravitasi spesifik : 1. seperti dalam industri pupuk. Asam perckhlorit adalah stabil. atau dalam industri perminyakan untuk menghasilkan bahan bakar beroktan tinggi.83 o C . namun bentuk yang anhydrous dikenal sangat tidak stabil. banyak digunakan di industri Enri Damanhuri .titik didih : 260 o C . dan mengeluarkan panas. Label untuk pengangkutan dan kontainer mencantumkan sebagai 'korosif'.

6 BAHAN KIMIA YANG REAKTIF PADA AIR Air dapat bereaksi dengan bahan berbahaya membentuk suatu produk yang dapat terbakar dengan sendirinya. seperti H2O4 dan NaOH. Disamping itu dikenal pula bahan yang higroskopik. . bahan ini dapat mengkorosi gelas. Sifatsifat fisiknya antara lain : . menimbulkan ledakan. kertas.titik leleh : 315 o C . Tetapi proses hidrolisis ini tidak selalu menimbulkan bahaya.menghasilkan gas. membentuk natrium silikat. Kalium Hidroksida merupakan basa yang lebih kuat dibanding NaOH. tetapi dengan bahaya yang lebih kecil.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 seperti : petroleum. Logam-logam alkali ini merupakan kelompok logam yang paling reaktif. dan dikenal sebagai basa yang korosif. rubidium dan francium. Bahan ini umumnya digunakan pada industri pupuk. kalium. farmasi. Pengangkutan bahan ini di Amerika Serikat mensyaratkan penulisan label sebagai 'korosif'.membentuk campuran yang eksplosif bila bercampur air. sabun. natrium dan kalium. Beberapa sifat penting dari bahan ini adalah : .gravitasi spesifik : 2. Beberapa bahan dikenal pula sebagai piroforik. sehingga bila bahan tersebut dibiarkan terbuka di udara lembab.titik leleh : 360 o C . yaitu bahan yang mampu untuk menyerap air di udara. namun yang paling sering digunakan adalah lithium. NaOH adalah berbentuk padat-putih. cesium.04 .kelarutan dalam air : 42 gr/100 gr H2O. Bahan ini reaktif dengan air dan menghasilkan panas 10 kcal per mole sehingga dapat memicu kebakaran.gravitasi spesifik : 2.FTSL ITB Halaman 60 . toksik atau bersifat korosif. karena dapat : . bila terjadi kontak yang lama. seng. fotografi. Oleh karenanya. natrium.kelarutan dalam air : 107 gr/100 gr air. Pada temperatur kamar. uap atau asap toksik. Proses yang menyebabkan air mendekomposisi suatu materi dikenal sebagai hidrolisis. terutama dalam kondisi lembab akan menghasilkan gas H2 dengan resiko kebakaran yang tidak dapat Enri Damanhuri .titik didih : 1320 o C . Salah satu karakteristik B3 adalah sifat reaktifnya. dapat mengkorosi logam seperti alumunium.5 °C. wadah yang digunakan sebaiknya bukan bahan gelas. maka wadahnya lama kelamaan akan penuh. tembaga dan jaringan kulit dan melarutkan lemak. produk ini juga digunakan di rumah tangga. Batas pemaparan di ruang kerja adalah 2 mg/m3. dan dikenal dengan nama caustic potash.13 . tekstil. Reaksi yang terjadi umumnya seperti halnya NaOH. Dalam uraian berikut ini dijelaskan secara umum kelompok bahan yang termasuk dalam katagori reaktif dalam air.titik didih : 1390 o C . yaitu bahan yang dapat terbakar secara spontan bila berada dalam keadaan udara kering atau lembab atau pada temperatur < 54. . sabun dan sebagainya. Logam-logam Alkali Beberapa jenis logam ini adalah lithium. misalnya untuk menangani penyumbatan pipa plambing.bereaksi dengan air secara kuat.

tetapi biasanya dengan dry powder yang mengandung grafit. berasap kuning dan membentuk natrium oksida sesuai dengan reaksi : 4 Na(s) + O2(g) ⇒ 2 Na2O(s) Kalium merupakan unsur ketujuh yang paling banyak dijumpai di dalam tanah dan lautan. berasap ungu dan membentuk kalium oksida.2 4680 Natrium 0. natrium dan kalim adalah seperti terlihat dalam tabel 4.FTSL ITB Halaman 61 . Bila permukaan logam ini diselimuti oleh oksida. keramik.5 833 27. Logam ini juga lunak. sedangkan logam alkali lainnya akan meleleh. Sebagaian besar logam kalium digunakan untuk memproduksi logam campuran natrium-kalium sebagai penukar panas pada fluida. Bila terpapar dengan udara pada temperatur kamar. dan merupakan logam alkali yang paling umum digunakan. distribusi atau dispersi partikel. kelembaban dan jumlah oksigen yang terserap. seperti natrium peroksida. Magnesium merupakan unsur ke delapan yang terbanyak dijumpai di dalam tanah dan lautan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dipadamkan dengan air. Natrium adalah unsur keenam yang paling banyak dijumpai dalam tanah dan lautan. sehingga tidak berbahaya dibandingkan logam alkali lainnya. farmasi. titanium. logam ini akan terbakar. Logam-logam lain Beberapa jenis logam lain yang mempunyai sifat reaktif terhadap air adalah magnesium. merupakan unsur padat yang paling ringan dan dapat mengapung pada produk minyak bumi. Kemurnian dari logam kelompok ini akan menentukan resiko tersebut di atas. Bahan ini digunakan dalam industri porselen.6 496 Lithium adalah logam yang lunak. Bahan ini antara lain digunakan dalam produksi logam titanium. logam ini adalah yang paling reaktif. TABEL 5. Logam ini termasuk logam yang ringan sehingga sering digunakan dalam industri pesawat terbang.1 : Sifat fisika logam-logam alkali Kerapatan pada 20o C (g/ml) Titik leleh (° C) Titik didih (o C) Panas fusi (kcal/kg) Panas penguapan (kcal/kg) Lithium 0. Kelompok ini bila dalam bentuk bubuk akan secara spontan meledak sehingga dapat menimbulkan resiko kebakaran. atau untuk pembuatan bagian-bagian mesin dan Enri Damanhuri . sebagai katalis dalam pembuatan karet sintetis. sebagai bahan baku dalam pembuatan senyawa-senyawa yang mengandung natrium yang bersifat reaktif. Beberapa sifat dari lithium. agen pemutih. mobil. Natrium dapat menyala secara spontan dalam udara bertemperatur kamar. Oleh karena titik didihnya lebih tinggi dari air.972 97. Faktor lain yang mempengaruhinya adalah ukuran partikel.7 760 14. maka bila bereaksi dengan air akan tetap sebagai padatan. alumunium dan seng.534 179 1317 103. Pengangkutan bahan ini membutuhkan label yang menyatakan sebagai 'berbahaya bila lembab'.1. maka resiko tersebut dapat dikurangi. Dibandingkan dengan logam alkali yang lain. Bila bereaksi dengan air akan menghasilkan reaksi : 2 Li(s) + 2 H2O(l) ⇒ 2 LiOH(l) + H2(g) Reaksi berlangsung lambat bila dibandingkan dengan reaksi alkali yang lain.2 1005 Kalium 0. karena bersifat piroforik.819 63.

Asap dari magnesium oksida berbahaya bila terhisap karena bersifat reaktif terhadap lembab yang ada dalam saluran pernafasan dan membentuk magnesium hidroksida. Oleh karena kombinasi keras dan ringan ini. tetramethyltin Sn(CH3)4. seperti reaksi : 2 Mg(s) + O2(g) ⇒ 2 MgO(s) 3 Mg(s) + N2(g) ⇒ Mg3N2(s) Cahaya yang ditimbulkan oleh terbakarnya magnesium adalah putih terang. beberapa diantaranya adalah : diethylzinc (C2H5)2Zn. Seperti halnya yang lain. trimethylaluminum Al(CH3)3. Seng termasuk yang sering digunakan dalam kegiatan non-industri. Bila logam ini terbakar di udara. Aluminum (alumunium) merupakan bahan yang paling populer diantara bahan-bahan sebelumnya. dapat terbakar secara spontan di udara. Seng juga digunakan untuk melindungi besi dari korosi (galvanis). yang dapat membahayakan retina mata. seperti reaksi : (C2H5)2Zn(l) + 7 O2(g) ⇒ ZnO(s) + 4 CO2 (g) + 5 H2O(g) Enri Damanhuri .industri. dimethylcadmium Cd(CH3). Seperti halnya magnesium. Diethylzinc adalah organometalik yang biasanya digunakan dalam sintesa beberapa senyawa organik. hanya sekitar 75 % diantaranya yang bereaksi dengan oksigen untuk membentuk magnesium oksida. dan digunakan pula sebagai katalis dalam polimerisasi ethene. yang dapat menimbulkan luka pada paru-paru. Alumunium murni termasuk salah satu logam yang paling reaktif. membentuk seng oksida. Tidak kurang dari 50 jenis senyawa organometalik tersedia secara komersial. atau sebagai pigmen dalam pembuatan cat. Seperti halnya magnesium. tetraethyllead (C2H5)5Pb. senyawa ini akan bereaksi secara keras membentuk ethane. Campurannya dengan tembaga menghasilkan logam campuran yang dikenal sebagai kuningan. dan merupakan unsur ketiga terbanyak di perut bumi dan lautan. Dalam air.FTSL ITB Halaman 62 . umumnya mengandung satu sampai sepuluh atom karbon pada setiap molekulnya. Pengangkutan bahan ini membutuhkan label yang bertuliskan 'berbahaya bila lembab'. maka logam ini banyak digunakan dalam industri pesawat terbang. tri(isobutyl) aluminum Al(C4H9)3. Alumunium lebih ringan dibanding titanium. Namun biaya untuk memproduksi logam ini adalah sangat tinggi sehingga membatasi penggunaannya. logam ini termasuk yang mempunyai kerapatan kecil dibandingkan logam lainnya. Adanya lapisan inilah yang menyebabkan alumunium dianggap sebagai logam yang tidak berbahaya. maka bila serbuk alumunium diangkut maka dibutuhkan label sebagai 'berbahaya bila lembab'. Logam ini sekeras baja tetapi 45 % lebih ringan. sehingga dekenal sebagai senyawa-senyawa organometalik. terutama senyawa organometalik yang lain. Namun dengan terbentuknya alumunium oksida yang berada di permukaan akan melindungi logam ini dari reaksi kimia.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 sebagainya. Transportasi bubuk seng membutuhkan label 'berbahaya bila lembab'. Senyawa ini biasanya digunakan sebagai katalis polimerisasi. logam ini reaktif terhadap air dan berisiko terhadap terjadinya ledakan dan kebakaran. Bahan ini dapat dibentuk sebagai lembaran yang tipis dan banyak digunakan dalam kegiatan industri maupun non. Senyawa ini bersifat piroforik. Titanium merupakan elemen ke sepuluh yang paling banyak dijumpai di dalam tanah dan lautan. Senyawa Organometalik Kelompok senyawa organometalik yang penting dalam industri adalah dalam bentuk atom-atom logam yang terikat secara langsung dengan atom-atom karbon. Logam ini tahan terhadap sifat korosi air laut sehingga banyak digunakan dalam pembuatan kapal laut. karbon dioksida dan air. sedang sisanya akan membentuk magnesium nitrida.

senyawa ini merupakan satu. Seluruh senyawa kelompok ini merupakan senyawa yang piroforik. tetrahidridoaluminate (LiAlH4). Pemaparan maksimum Enri Damanhuri . seperti trimethylaluminum dan tri(isobutyl) aluminum. sehingga sangat tidak dianjurkan untuk digunakan. Berbeda dengan senyawa organometalik yang lain. menyebabkan diborane digunakan sebagai bahan bakar roket. disertai dengan berat molekulnya yang rendah. lithium aluminium hidrida (LiAlH4). akan menghasilkan gas H2 dan mudah terbakar. methane (CH4).FTSL ITB Halaman 63 . Oleh karenanya. atau logam alkali atau alumunium. aluminium tetrahidridoborate Al(BH4)3. karena berada sebagai satuan molekular. diborane tergolong toksik. Molekular hidrida yang umum adalah air. Kelompok ini juga bereaksi secara hebat dengan bahan odsidator. Borane Senyawa-senyawa hidrogen dengan satu atau lebih unsur non-metal dikenal sebagai hidrida-hidrida molekular. umumnya tidak stabil pada temperatur kamar. Hidrida-hidrida ini akan terdekomposisi menjadi boron dan hidrogen pada temperatur di atas 300 o C. transportasi bahan ini membutuhkan label bertuliskan 'racun'.senyawa yang mengandung atom alumunium yang terikat pada atom karbon. Dengan konsentrasi diborane sebesar 0. Hidrida-hidrida Metalik Kelompok hidrida-hidrida metalik yang paling banyak digunakan secara komersial adalah yang tersusun dari atom hidrogen. Beberapa jenis hidrida metalik ini antara lain adalah lithium atau natrium hidrida (LiH). Kelompok organometalik yang juga penting dalam industri adalah senyawa. Molekular hidrida dari boron disebut borane. serta tidak reaktif terhadap air. termasuk kelembaban udara. akan dihasilkan cemaran timbal di udara.satunya yang bukan termasuk piroforik. hidrogen khlorida (HCl) dan sebagainya. Maksimum pemaparan di ruang kerja adalah 0. yang digunakan terutama untuk katalis polimerisasi.8 % (volume) di udara. Dengan sifat panas pembakarannya yang tinggi (527 kcal/mol). Senyawa ini relatif stabil.satunya karakteristik bahaya yang menyertainya adalah sifat toksik dari cairan atau uapnya bila terhirup. bereaksi secara keras dengan air dan sangat toksik. lithium atau natrium borohidrida. terhisap atau kontak melalui kulit. merupakan senyawa yang reaktif terhadap air. serta lithium dan natrium borohidrida sebagai 'berbahaya bila lembab. atau kadangkala boron. namun bila bereaksi dengan air. Diborane ini termasuk gas yang mudah terbakar. Diantara bahan organometalik yang mungkin paling terkenal adalah tetraethyllead yang digunakan dalam mengurangi ketuk (knock).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 (C2H5)2Zn(l) + 2H2O(l) ⇒ Zn(OH)2(s) + C2H6(g) Tata cara pengangkutan di Amerika Serikat mensyaratkan label 'bahan bakar spontan'.075 mg/m3. Disamping itu. Bila terjadi pembakaran. sangat toksik dan bila terbakar akan terbentuk oksida boron. dan berubah menjadi diborane (B2H6). Borane (BH3)pada tekanan atmosfer adalah tidak stabil. dikenal sebagai senyawa aluminum alkyl. Paling tidak dikenal 14 jenis borane. yang ditambahkan pada bahan bakar kendaraan bermotor. Satu. Contoh lain adalah hidrogen sulfida (H2S). Departemen Transportasi Amerika Serikat mengatur secara khusus pengangkutan lithium dan natrium hidrida . amonia (NH3). akan dapat menyebabkan pembakaran spontan dan berasap hijau. Senyawa ini biasanya digunakan dalam industri sebagai pereduksi.

akan terbentuk gas bakar fosfine. yang umumnya berbahaya karena bersifat sebagai oksidator disamping reaktif terhadap air. Pengaruh racun dapat diklasifikasikan berdasarkan waktu yang dibutuhkan terjadinya penyakit atau gangguan. Barium peroksida disamping membutuhkan label 'oksidator'. Senyawa ini tidak terbakar. Untuk menghindari bahaya kebakaran atau ledakan. Hidrogen khlorida adalah toksik. Ion-ion karbon dalam bentuk C22-. namun dapat menimbulkan api. bisa saja keterpaparan ini terjadi secara berulang-ulang sampai menimbulkan kerusakan. Contoh fosfida metalik adalah kalsium fosfida. gas acetylene (C2H2) akan terbentuk sesuai dengan reaksi : CaC2 (s) + 2 H2O(l) ⇒ Ca(OH)2(s) + C2H2 (g) Gas acetylene inilah yang berfungsi sebagai bahan bakar pada saat digunakan dalam pengelasan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dalam ruangan kerja adalah hanya 0. seperti reaksi di bawah ini : Ca3P2(s) + 6 H2O(l) ⇒ 3 Ca(OH)2(s) + 2 PH3(g) Gas fosfine juga bersifat toksik. seperti kalsium karbida CaC2 yang digunakan dalam industri sebagai sumber acetylene dan pupuk kalsium cyanamida. karena bereaksi secara keras dengan air. boron trikhlorida (BCl3)menguap pada 18oC dan bersifat toksik. yaitu : . diperlukan juga label 'racun'. Beberapa jenis senyawa ini adalah : alumunium khlorida (AlCl3) yang bersifat korosif. dan senyawa yang mengandung logam dengan ion-ion karbida dikenal sebagai karbida-karbida metalik. Sebagai contoh. Karbida. seperti terhisapnya gas HCl beberapa detik yang akan menyebabkan kerusakan langsung pada paru-paru. Peroksida metalik yang penting dalam industri adalah yang tersusun dari logam alkali dan alkali tanah. menghasilkan hidrogen khlorida. bila merkuri terserap oleh kulit maka akan dapat merusak ginjal atau pusat sistem syaraf. C4. yang paling penting adalah melalui : mulut. terutama natrium peroksida dan barium peroksida. kulit dan pernafasan.dikenal sebagai karbida. Bila kalsium karbida bereaksi dengan air. maka kalsium karbida harus dijaga agar tetap kering dan bebas dari lembab udara. Fosfida dan Khlorida Metalik Senyawa-senyawa yang tersusun antara logam dengan ion peroksida (O2=) dikenal sebagai peroksida metalik. Enri Damanhuri .FTSL ITB Halaman 64 . Bila sebuah substansi bersifat toksik. yang mengakibatkan efek sistemis.Bersifat akut : kerusakan yang terjadi biasanya akibat sejenis bahan dengan pemaparan singkat. Bila kalsium fosfida bereaksi dengan air. gas iritan dan bila berbentuk larutan akan bersifat korosif. antimoni pentakhlorida (SbCl5) yang bersifat korosif.1 ppm. 7 BAHAN-BAHAN KIMIA TOKSIK Terdapat berbagai cara agar sebuah bahan/substansi masuk ke dalam tubuh manusia. Peroksida. yang juga reaktif terhadap air. dia dapat merusak jaringan di lokasi kontaknya (efek lokal) atau berpengaruh negatif dengan jalan lain. Transportasi bahan ini membutuhkan label 'gas beracun dan mudah terbakar'. Senyawa-senyawa yang mengandung khlor dengan metalik dan atau non-metalik merupakan substansi yang reaktif terhadap air.atau C34. fosforus oksikhlorida (POCl3) yang bersifat korosif dan toksik. Senyawa ini tergolong berbahaya.

yang menyebabkan kematian binatang penelitian sebanyak 50 % . yang mengatur beberapa cemaran logam toksik dan pestisida.] No. maka digunakan penelitian terhadap binatang percobaan. biasanya dilakukan percobaan melalui binatang.Bersifat kronis : suatu pengaruh atau keadaan sakit yang muncul sedikit demi sedikit dalam waktu yang agak lama setelah pemaparan pertama. . misalnya nitrogen. Konsentrasi maksimum tersebut adalah seperti terlihat dalam tabel 2.0 5.2 : Konsentrasi maksimum bahan toksik dengan EP-toxicity [. misalnya benzene akan mengakibatkan aplastic anemia setelah sekitar 10 tahun sejak pertama kali terjadinya pemaparan.Lethal dose-50 (LD50) : konsentrasi bahan.Irritant : substansi kimia yang melukai jaringan sistem pernafasan dan paru. . maka bahan tersebut dikenal sebagai suspect human carcinogen.2 Enri Damanhuri . dengan memberikan batasan konsentrasi maksimum cemaran yang diuji sesuai dengan protokol penelitian. Oleh karenanya bila substansi tersebut menyebabkan kanker pada binatang dan belum terbukti pada manusia. Untuk toksik yang bersifat kronis atau laten.2.. yang dapat mematikan 50 % binatang percobaan. karbon monoksida.limbah B-3 D004 D005 D006 D007 D008 D009 Cemaran Arsen Barium Kadmium Khromium Timah Merkuri Konsentrasi (mg/l) 5.0 5. dengan satuan ppm (gas) atau mg/m3 ( asap udara).0 0. Cara ini biasanya cocok untuk toksik yang bersifat akut.paru.0 1. .Immediately dangerous to life and health (IDLH) : merupakan konsentrasi maksimum suatu substansi yang memungkinkan manusia menghindar dalam 30 menit tanpa masalah pada kesehatannya. . Untuk mengkuantifikasi toksisitas akut.FTSL ITB Halaman 65 . . USEPA menggunakan tolak ukur yang bersifat praktis.0 100.Lethal concentration-50 (LC50) : konsentrasi bahan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 .Threshold limit value (TLV) : limit teratas dari sebuah konsentrasi toxin yang tidak menimbulkan pengaruh kesehatan pada manusia yang terpapar secara rutin. dan akan menjadi human carcinogen bila memang terbukti dapat menyebabkan kanker pada manusia. kemudian hasilnya di ekstrapolasi pada manusia. dalam satuan ppm (volume). percobaan melalui binatang tidak selalu relevan karena faal manusia dan binatang tidak selalu sama. misalnya timbulnya kanker liver angiosarcoma yang muncul beberapa tahun setelah menghirup vinyl khlorida. Dalam toksikologi. yaitu : . Sebuah substansi yang masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan dapat berakibat sebagai : . yaitu dengan EP-toxicity (extraction-procedure toxicity).rata di ruang kerja yang dapat diterima oleh sebagian besar pekerja selama 40 jam per minggu atau 8 jam per hari tanpa menimbulkan gangguan.Bersifat laten : suatu pengaruh atau keadaan sakit yang baru berkembang setelah masa inkubasi terlampaui. misalnya hidrogen khlorida yang merupakan bahan korosif. hidrogen. dengan satuan mg bahan per kg berat binatang.Asphyxiant : substansi kimia yang menyebabkan kehilangan kesadaran karena kurangnya oksigen dalam darah.Time weighted average threshold limit value (TWA-TLV) : konsentrasi rata. TABEL 5. . untuk melihat pengaruh suatu substansi pada manusia.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

D010 D011 D012 D013 D014 D015 D016 D017

Selenium Perak Endrin Lindane Methoxychlor Toxaphene 2,4-D 2,4,5-TP Silvex

1,0 5,0 0,02 0,4 10,0 0,5 10,0 1,0

Catatan : 2,4-D = 2,4-dikchlorophenoxyacetic acid 2,4,5-TP Silvex = 2-(2,4,5-trichlorophenoxy)propionic acid

Bila cemaran tersebut mengandung konsentrasi lebih tinggi dari yang tertera dalam tabel, maka cemaran tersebut terkatagorikan sebagai toksik. Beberapa kelompok bahan kimia yang bersifat toksik antara lain adalah : - Oksida-oksida karbon : seperti CO dan CO2 - Hidrogen cyanida : HCN - Senyawa sulfur : H2S, SO2 - Oksida-oksida nitrogen seperti N2O, NO2, N2O4 - Amonia - Logam-logam berat seperti : arsen, timah (Pb) - Asbestos. - Pestisida organik. Oksida-oksida Karbon Bila bahan mengandung karbon terbakar, maka akan terbentuk gas karbon dioksida (CO2). Bila pembakaran tidak sempurna akan dihasilkan gas karbon monoksida (CO), yang tergolong gas berbahaya karena dapat menyebabkan kematian. Reaksi yang umum, misalnya dalam pembakaran gas methane, adalah: 2 CH4(g) + 3 O2(g) --- 2 CO(g) + 4 H2O(g) CH4(g) + O2(g) --- C(s) + 2 H2O(g) Kedua jenis oksida tersebut adalah tidak berwarna dan tidak berbau. Beberapa sifat gas karbon monoksida adalah: - titik didih - 191,6 oC - densitas cairan (pada titik didih) 795 g/L - densitas gas (pada titik didih) 4,3 g/L - densitas gas (pada 20 C) 1,25 g/L - densitas uap (udara = 1) 0,97 - panas pembakaran 67,64 kcal/mol - % batas bawah ledakan 12,5 - % batas atas ledakan 74 -rasio ekspansi cair ke gas 700 Sedang beberapa sifat gas karbon dioksida adalah : - titik beku (oC) - 56,55 oC - titik sublimasi (pada 1 atm) 78,5 oC - panas fusi 47,5 kcal/kg - panas sublimasi 36,2 kcal/kg - densitas padat (pada 1 atm) 1,56 g/ml - densitas gas (pada titik sublim) 2,8 g/L - densitas gas (pada 20 oC) 1,98 g/L - densitas uap (udara = 1) 1,529 - rasio ekspansi cair ke gas 790
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 66

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

Karbonmonoksida merupakan gas toksik, yang dapat terserap oleh darah melalui pernafasan. Pada saat manusia bernafas, oksigen akan terbawa oleh aliran darah oleh komponen dalam darah yang disebut hemoglobin (Hb). Bila Hb ini menyerap oksigen akan terbentuk oksihemoglobin (O2Hb), dengan reaksi seperti : Hb(l) + O2(g) --- O2Hb(l) Oksihemoglobin ini akan melepaskan oksigen pada jaringan atau organ lainnya. Bila karbonmonoksida terhirup, akan terbentuk karboksihemoglobin (COHb) : Hb(l) + CO(g) --- COHb(l) yang mempunyai afinitas kimia sebesar 300 kali lebih tinggi daripada pembentukan oksihemoglobin. Oksigen yang terikat dalam oksihemoglobin juga dapat dilepaskan sesuai dengan reaksi : O2Hb(l) + CO(g) --- COHb(l) + O2 Karboksihemoglobin ini relatif stabil dan menghalangi penyerapan oksigen oleh darah sehingga penderita mengalami anoxia, yaitu kekurangan oksigen dalam darah. Pada dasarnya tubuh manusia lebih toleran terhadap CO2, walaupun adanya CO2 akan mempertinggi laju pernafasan seseorang, sehingga pekerjaan terasa menjadi lebih berat. TLV di udara untuk karbon monoksida adalah 100 ppm, sedangkan untuk CO2 adalah 5000 ppm (0,5 %); lebih dari konsentrasi tersebut akan menimbulkan gangguan pernafasan. Kontainer atau silinder gas karbon monoksida membutuhkan label 'gas beracun' dan ' gas mudah terbakar', sedang untuk gas karbon dioksida tergolongkan sebagai 'gas tidak terbakar'. Hidrogen Sianida (HCN) Pada temperatur kamar, hidrogen sianida adalah merupakan gas yang tidak berwarna, dengan sifat-sifat antara lain : - titik beku (oC) : - 14 oC - titik didih (oC) : 26 oC o - kerapatan pada 20 C : 1,2 g/L - kerapatan uap (udara = 1) : 0,93 - % batas terendah ledakan :6 - % batas tertinggi ledakan : 41 - titik nyala cairan : - 18 oC Gas HCN larut dalam air membentuk asam hidrosianik. Hidrogen sianida anhidrous (cair) merupakan bentuk yang secara komersial sering dijumpai, merupakan bahan yang tidak stabil. HCN banyak digunakan dalam pembuatan plastik seperti polyacrylonitrile yang mengandung grup -CN. Bila jenis plastik ini dipanaskan, maka akan terdekomposisi secara termal dan terbentuklah gas racun HCN. Bahan racun ini mempengaruhi transportasi oksigen dalam darah, karena dapat mengganggu aktivitas enzim cyctochrome oxidase yang dibutuhkan untuk respirasi selluler dan pembentukan enersi. Bahan ini masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan atau kulit. Beberapa senyawa kimia dengan ion-ion metalik yang bergabung dengan ion- ion sianida, seperti natrium sianida, banyak digunakan dalam industri elektroplating. Seperti halnya gas sianida, bahan ini juga bersifat racun bila terserap oleh manusia. Bahan ini juga akan bereaksi dengan asam membentuk gas HCN : NaCN(s) + HCl(l) --- NaCl(l) + HCN(g) Beberapa besaran konsentrasi (dalam ppm) yang berkaitan dengan sifat toksikologi dari HCN adalah :
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 67

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

- batas bau : 0,2 - 5,0 - TLV : 10 - keluhan sakit kepala : 18 -36 - bertahan selama 1/2 jam tanpa kesulitan : 45 - 54 - kematian dalam 1 jam : 110 - 135 - kematian langsung : 280 Pengaturan pengangkutan dan pewadahan mensyaratkan label : racun' dan 'cairan mudah terbakar'. Senyawa Sulfur Senyawa yang mengandung unsur sulfur dijumpai pada batu bara, gas alam, minyak mentah, wool, rambut, polimer-polimer sintetis dan sebagainya (lihat sub bab 2.2). Bila bahan ini terpapar dengan panas atau bila terbakar akan membentuk gas hidrogen sulfida (H2S) atau SO2. Hidrogen sulfida secara komersial banyak dijumpai dalam bentuk cairan, biasanya digunakan dalam industri yang memproduksi senyawasenyawa mengandung sulfur. Bahan ini juga digunakan dalam industri metalurgi. Gas H2S merupakan gas yang tidak dijumpai akibat proses dekomposisi dari gas ini adalah : - titik didih - titik beku - densitas pada 20 o C - kerapatan uap (udara = 1) - persen batas bawah ledakan - persen batas atas ledakan - panas fusi - panas penguapan berwarna, berbau seperti telur busuk. Secara alami senyawa organik dalam kondisi anaerob. Sifat-sifat : - 60 o C : - 83 o C : 1,539 g/L : 1,2 : 4,3 : 46 : 0,568 kcal/mol : 4,463 kcal/mol

TLV dari gas H2S dibatasi hanya 10 ppm. Bila terus menerus menghirup udara yang mengandung gas ini, akan mengakibatkan pusing dan sakit kepala; bila terhirup dengan konsentrasi 600 ppm selama 30 menit akan berakibat fatal. Tetapi karena gas ini mempunyai bau khas, maka kehadirannya dapat diketahui sejak dini. Pengangkutan dan kontainer bahan ini membutuhkan label bertuliskan 'gan beracun' dan 'gas mudah terbakar'. Sulfur dioksida merupakan gas tidak berwarna, berbau menyengat seperti karet terbakar. Gas ini terbentuk bila senyawa mengandung sulfur terbakar, misalnya pada pembakaran gas H2S akan terjadi reaksi : 2 H2S(g) + 3 O2 (g) --- 2 H2(g) + 2 SO2(g) Gas ini akan muncul misalnya karena pembakaran minyak bumi atau batu bara, karena kedua jenis bahan bakar ini mengandung senyawa sulfur. Dalam emisinya di udara, gas ini secara lambat akan teroksidasi menjadi sulfur trioksida (kadang-kadang ditulis sebagai SOx) yang larut dalam lembab udara membentuk asam sulfat sebagai penyebab hujan asam, sesuai dengan reaksi : 2 SO2(g) + O2(g) --- 2 SO3(g) SO3(g) + H2O(g) --- H2SO4(l) Masalah lingkungan yang ditimbulkan pada zone industri adalah adanya kabut sulfur (sulfurous smog), yang terbentuk akibat kumulasi asam sulfat di udara. Beberapa sifat dari gas ini adalah :
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 68

titik beku . Gas ini dapat berkombinasi dengan hemoglobin dalam darah.93 g/l : 2. TLV dari SO2 adalah 5 ppm. Label yang dibutuhkan dalam pengangkutannya adalah sebagai 'gas tidak terbakar' dan 'pengoksidasi'. yaitu dinitrogen monoksida (N2O).titik didih: . sehingga sulfur. fosfor dan karbon dapat terbakar dalam atmosfer N2O seperti halnya dalam atmosfer yang mengandung oksigen. membentuk metheglobin (NOHb). nitrogen dioksida (NO2).densitas: 0.titik didih .596 . dihasilkan campuran eksplosif. sehingga dapat menimbulkan methemoglobinemia dengan terhalangnya transportasi hemoglobin. Gas ini dalam pengangkutannya membutuhkan label bertuliskan 'gas racun'.10 o C : .771 g/L . Konsentrasi melebihi 500 ppm akan menyebabkan kematian seketika.kerapatan uap (udara = 1): 0.76 o C : 2.5 ppm.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 . dan 0.batas bawah ledakan: 16 % . Standar kedua adalah konsentrasi tahunan sebesar 0. Diantara keenam oksida tersebut.titik beku: .swa-penyalaan: 651 o C . dinitrogen trioksida (N2O3). sehingga digunakan sebagai agen pengoksida dalam roket.3 : 1. Oksida Nitrogen (NOx) Terdapat enam oksida-oksida nitrogen. seperti halnya karbon monoksida.78 o C .96 kcal/mol Standar emisi yang dikeluarkan oleh USEPA adalah 0.panas difusi . Bahan ini merupakan agen pengoksidasi yang baik. tidak berwarna dan berbau tajam. banyak digunakan sebagai anestesi oleh dokter gigi. Beberapa sifat dari gas ini adalah : . Gas NO merupakan agen pengoksida yang baik. Pengangkutan gas ini membutuhkan label bertuliskan 'gas beracun' dan 'pengoksidasi'.Kerapatan uap (udara =1) .densitas pada 20 o C .panas vaporasi : .33 o C .FTSL ITB Halaman 69 .03 ppm selama periode 24 jam. Pada konsentrasi sebesar 10 ppm (volume) gas ini akan mengakibatkan iritasi pada mata. maka N2O3 dan N2O5 yang tidak penting dalam industri. gas-gas ini juga toksik dan menyebabkan methemoglobinemia dengan batas TLV 5 ppm. gas ini tergolong toksik dengan batas TLV 25 ppm. NO2 dan N2O4 merupakan agen pengoksida yang lebih baik dibanding N2O atau NO. dinitrogen tetroksida (NO4) dan dinitrogen pentoksida (N2O5). Dengan adanya hidrogen atau amonia.77 kcal/mol : 5. Oleh karenanya. nitrogen monoksida (NO). Dalam ruang kerja. Magnesium dan fosfor dapat terbakar dengan baik dalam atmosfer yang mengandung gas ini seperti halnya atmosfer yang mengandung oksigen.batas atas ledakan: 25 % Enri Damanhuri . Amonia (NH3) Amonia merupakan gas yang tak berwarna dan berbau menyengat. Gas N2O merupakan gas tidak berwarna.14 ppm selama periode 3 jam.

Mata dan paruparu akan teritasi bila terpapar dengan bahan ini. Gas ini berakibat seperti halnya alkali terhadap kulit manusia. tembaga. Amonia yang dilarutkan dalam air merupakan larutan yang sering dijumpai secara komersial. beberapa logam berat akan merupakan racun. Enri Damanhuri . akan mengakibatkan kemungkinan terserang kanker 50 kali lebih besar dibanding orang yang tidak merokok. tidak terbakar dan digunakan sebagai penyekat panas.569). Namun bila tidak terkumpul di paru-paru. Bila terserap dalam tubuh manusia.FTSL ITB Halaman 70 . Debu asbes ini mempunyai efek sinergis. Karena bahan ini sangat larut dalam air. Bila logam ini terbawa oleh darah maka akan bersenyawa dengan sulfur yang berada pada fluida sellular tubuh. Dengan sifatnya yang lebih ringan dari udara (densitas uap = 0. Bahan ini juga menyebabkan mesothelioma pada paru-paru atau saluran pernafasan. Logam-logam Berat Toksik Yang dimaksud dengan logam berat dalam buku ini adalah setiap logam yang mempunyai berat atom lebih dari 50. hidrogen dan ion. yang tergantung pada lamanya pemaparan. merkuri. maka bahaya kebakaran relatif kecil. bahan ini akan terkumpul menyebabkan asbestosis. dan mempengaruhi kerja enzimatik dalam tubuh. serta limit bawahnya yang relatif besar (16 %). maka air merupakan bahan yang efektif untuk penanggulangan masalah yang timbul. Pengangkutan cairan ini membutuhkan label 'korosif'. yaitu amonium hidroksida (NH4OH). Pengangkutan amonia cair (anhydrous) membutuhkan label 'gas racun'. selenium. Bila terhirup masuk ke dalam paru-paru. nikel. Namun disamping kegunaannya tersebut. Gas amonia merupakan yang gas mudah terbakar. kadmiun. bila bahan cairan ini tumpah akan terbentuk awan putih akibat kondensasi lembab udara. Limit pemaparan di ruang kerja adalah 50 ppm. Pemaparan yang berlebihan akan menyebabkan kebutaan dan rusaknya jaringan pernafasan. timah. bila terlepas di udara akan cepat terdispersi apalagi bila terdapat angin. Mekanisme keracunan dari logam berat ini adalah tergantung dari jenisnya. Walaupun tidak berwarna. terutama bila asbestos hadir dalam bentuk debu asbes sehingga mudah terhisap melalui pernafasan atau mulut. yang hanya dijumpai pada orang yang terpapar debu asbes. Bahan ini mempunyai titik leleh yang sangat tinggi. sehingga memudahkan pelacakan terjadinya kebocoran. Debu asbes ini sangat ringan dan dapat melayang di udara. tetapi umumnya karena ion-ion logam ini mempunyai affinitas yang sangat besar dengan sulfur. maka akan masuk pada kerongkongan dan dapat memnyebabkan kanker pada pencernaan. yaitu dari iritasi ringan sampai rusaknya jaringan.ion metalik seperti natrium. misalnya bila terhisap oleh perokok.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gas ini mudah dicairkan dan dikenal sebagai anhydrous ammonia. Asbestos Absestos merupakan terminologi yang digunakan dalam ilmu mineral untuk berbagai fiber silikat yang tersusun dari silicon. Logam berat yang digolongkan toksik oleh USEPA adalah : antimon. perak. magnesium. asbestos sangat baik digunakan sebagai bahan tahan api yang banyak digunakan. oxygen. namun dengan rentang yang kecil. kalsium dan besi. pada kondisi khusus asbestos dapat membahayakan kesehatan manusia termasuk timbulnya karena kanker. thallium dan seng. berillium. arsen. Bila dicampur dengan magnesium oksida. khromium. apalagi bila dalam bentuk bubuk atau asap.

Salah satu jenis pestisida ini adalah Carbyl yang merupakan insektisida. Fungsinya pada insek atau vertebrata adalah mempengaruhi kerja enzim cholinistrase. Enri Damanhuri . seperti pembakaran bahan bakar. yang banyak digunakan selama perang dunia ke dua. sehingga pembuatan dan penjualannya dilarang. Salah satu pestisida kelompok ini adalah Linuron. contohnya adalah Parathion dengan formula (C2H5)2PSOC6H4NO2. Pestisida Organik Pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk membunuh insek. antara lain untuk mengontrol penyakit tifus dan malaria yang ditularkan melalui insek. Sebagian besar pestisida yang sekarang digunakan adalah merupakan senyawa-senyawa organik. Telah dihasilkan ribuan jenis pestisida. Pestisida organophosphorus merupakan turunan dari asam fosfat. Pestisida organochlorine merupakan turunan hidrokarbon kompleks. Namun ternyata bahan ini menimbulkan masalah kesehatan bagi manusia. Pestisida urea merupakan turunan dari urea. fungi. maka enersi yang terbentuk dapat menyebakan bahaya bagi manusia. yang terpenting adalah pestisida organochlorine. maka pestisida organik dapat dikelompokkan menjadi beberapa grup. Hanya diketahui bahwa bahan ini merusak keseimbangan natrium dan kalium dalam sel-sel syaraf sehingga mempengaruhi impuls sel tersebut. Umumnya pestisida ini digunakan sebagai herbisida yang dapat menghalangi proses fotosintesis. dan sangat stabil serta persisten. Enzim ini secara rutin berfungsi mempengaruhi impuls syaraf. Salah satu jenis kelompok ini yang terkenal adalah DDT. Sebagai contoh adalah Aldrin dengan formula C12H8Cl6. digantikan oleh atom khlor. peledakan dinamit. seperti terjadinya kebakaran. dikenal sebagai acetylcholinesterase (ACHE). Kelompok pestisida ini juga bersifat toksik. karena terbukti berbahaya bagi manusia. ledakan. Didasarkan atas struktur molekulnya. atau tanaman. roden. khlorinasi air. pestisida ini mempunyai kemampuan untuk menghalangi kerja enzim. Tetapi panas yang ditimbulkan dari reaksi redoks tersebut dapat terserap oleh bahan yang dapat terbakar yang berada di dekatnya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Kriteria yang diberlakukan di USA pada lingkungan kerja adalah dalam 1 cm3 udara tidak boleh terdapat lebih dari 10 fiber asbes yang lebih panjang dari 5 micrometer. paling tidak sebuah atom hidrogen dalam molekul hidrokarbon tersebut. yaitu dengan sebuah atom hidrogen (atau lebih) pada urea yang digantikan oleh atom-atom lain. pestisida karbamate dan pestisida urea. seperti pada batere. Bila misalnya gas alam dibakar. maka enersi yang ada dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Enersi dari reaksi ini dapat disimpan. Beberapa jenis pestisida carbamate juga berfungsi sebagai fungisida atau herbisida.FTSL ITB Halaman 71 . melalui rantai makananlah bahan ini akan sampai pada manusia. yang berasal dari hidrokarbon dengan formula C12H14. 8 SENYAWA PENGOKSIDASI Terjadinya reaksi oksidasi-reduksi (redoks) yang terkontrol sangat bermanfaat bagi manusia. Pada insek. Mekanisme bagaimana pestisida ini memepengaruhi aktivitas biologi belumlah banyak diketahui. Jenis organochlorine ini mempunyai efek biokumulasi terutama pada jaringan lemak. Pestisida carbamate merupakan turunan dari asam karbamik. beberapa diantaranya telah dilarang digunakan. pestisida organophosphorus. Bila reaksi tidak terkontrol.

pembakaran bahan semacam sulfur dan sebagainya. Hidrogen peroksida merupakan bahan yang relatif tidak stabil. Hidrogen peroksida murni mempunyai penampilan yang mirip air. Bahan ini digunakan pula dalam penyediaan air bersih atau pengolahan air limbah sebagai desinfektan. tetapi sudah cukup untuk memungkinkan terjadinya swa. Bila di atas konsentrasi tersebut diberi label : 'oksidator dan korosif'. oksigen selalu dibebaskan. seperti reaksi di bawah ini : 2 NaClO(l) + H2O(l) + CO2 --. Bahan ini banyak digunakan dalam industri tekstil untuk pengelantang. Hipokhlorit metal ini. Khlorat dan Perkhlorat Bahan pengoksidasi yang juga banyak digunakan adalah natrium dan kalsium hipokhlorit. tetapi mempunyai bau yang sedikit tajam. Kadangkala walapun agen pengoksidasi dijumpai dalam jumlah yang kecil. timah. Dalam industri kimia. mangan dapat bertindak sebagai katalis guna terjadinya dekomposisi. Sinar matahari akan bertindak sebagai katalisator. baja.2 HCl(l) + O3(g) Oksigen yang dibebaskan dari dekomposisi fotokimia ini akan memucatkan pakaian. Hidrogen Peroksida (H2O2) Hidrogen peroksida merupakan peroksida yang paling sering dijumpai. Beberapa logam seperti besi.Na2CO3(l) + 2 HClO(l) 2 HClO(l) --. yang akan bertindak sebagai katalis guna memperlama proses dekomposisi. Ada oksidator yang mempunyai kemampuan lebih tinggi dibanding oksigen. ada yang berada di bawah kemampuan oksigen. Beberapa agen pengoksidasi diuraikan di bawah ini secara umum. seng. Transportasi hidrogen peroiksida dengan konsentrasi sampai 20 % diberi label : 'oksidator'. dengan konsentrasi sekitar 3 sampai 5 %. maka larutan ini aka terdegradasi secara cepat yang disertai timbulnya panas sehingga akan dapat teruapkan. Larutan yang mengandung hidrogen peroksida lebih dari 50% (volume) dapat menyebabkan timbulnya api secara spontan dari bahan yang dapat terbakar. Kemampuan agen pengoksidasi bervariasi. namun dapat pula berfungsi sebagai reduktor lemah. Bahan tersebut akan memasok oksigen pada saat terjadinya kebakaran walaupun udara di sekitarnya kekurangan oksigen. Untuk menghindari bahaya ledakan. Hipokhlorit.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 sehingga bahan tersebut dapat terbakar dengan sendirinya. larutan ini distabilkan dengan sejumlah kecil natrium pirofosfat. Khlorit.FTSL ITB Halaman 72 . Enri Damanhuri . tembaga. yang merupakan komponen aktif sebagai pemutih maupun untuk pembersih peralatan saniter. Bahan pengoksidasi yang mengandung oksigen dapat dikatakan tidak stabil waktu dipanaskan. Hidrogen peroksida dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius. bahan ini digunakan untuk memproduksi bahan peroksida metalik dan organik. Larutan dengan konsentrasi 8 % (massa) secara lambat akan terdekomposisi menjadi air dan oksigen setelah 9 bulan. biasanya digunakan sebagai pemutih pada pencucian pakaian karena kemampuannya bereaksi dengan karbon di udara akan memproduksi asam hipokhlor dan melepaskan oksigen. Pada saat bertindak sebagai reduktor. Di lingkungan kerja batas pemaparan maksimum adalah 1 ppm. khrom. pada konsentrasi larutan lebih besar dari 30 % (volume) larutan ini korosif terhadap kulit. Bila berada pada konsentrasi yang pekat (lebih besar dari 30 %). Hidrogen peroksida selain dapat bertindak sebagi oksidator kuat.

bahan ini diperoleh dalam konsentrasi larutan sampai 80%. akan menimbulkan ledakan. baik sebagai pupuk maupun sebagai komponen bahan peledak. bahan ini dianggap sebagai bahan pengoksidasi. Senyawa-senyawa amonium merupakan senyawa yang sering dijumpai. Bila temperatur di atas 212 oC. Walaupun demikian.N2O(g) + 2 H2O(g) Bila pada saat pengangkutan bahan ini berada pada kontainer yang tertutup rapat. senyawa ini akan terdekomposisi dengan dua jalan. Bahan ini merupakan pengoksidasi yang sangat kuat. tetapi lebih umum akan membentuk nitrogen.bahan sebelumnya serta tidak menimbulkan reaksi yang prematur. Natrium khlorat sangat sensitif misalnya bila bergesekan dan dapat menimbulkan terjadinya api dengan mudah. Dalam pengangkutannya. oksigen dan oksida-oksida metalik dan non metalik.FTSL ITB Halaman 73 . yaitu : . Transportsai bahan ini membutuhkan label: 'pengoksidasi'. terutama yang berkaitan dengan penimbulan api dan ledakan. Amonium sulfat merupakan pupuk yang paling sering digunakan dibanding senyawa amonium yang lain. Pada temperatur 80o ke 93 o amonium nitrat terdekomposisi membentuk amonia dan asan nitrat. Amonium nitrat berpotensi menimbulkan resiko ledakan. Beberapa senyawa organik akan terbakar dengan sendirinya bila berkontak dengan bahan ini.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Natrium khlorit merupakan agen pemucat/pemutih yang banyak digunakan dalam industri kertas dan tekstil. Namun secara komersial. amonium nitrat akan meleleh. Bila bereaksi dengan serbuk logam seperti alumunium. maka ledakan tidak dapat dihindari. amonium nitrat akan terdekompiosisi membentuk dinitrogen oksida dan uap air yang berlangsung secara eksotermis : NH4NO3(g) --. herbisida dan sebagainya. Bila dipanaskan. digunakan terutama sebagai komponen serbuk mesiu. sedangkan dalam kondisi sebagai larutan dianggap sebagai korosif. maka metal-metal perkhlorat digunakan untuk kebutuhan yang hampir bersamaan.NH3(g) + HNO3 Pada temperatur sekitar 166 oC. Secara komersial. misalnya amonium khlorida yang secara termal terdekomposisi pada temperatur kurang dari 167 o C membentuk amonia dan hidrogen khlorida. pengangkutan bahan ini pada kontainer pengangkutnya membutuhkan label : 'pengoksidasi'. Seperti halnya metal khlorat. api dapat berkobar yang didukung oleh adanya N2O sebagai pengganti oksigen udara. Pada saat ini bahaya kebakaran dan ledakan akan besar bila senyawa ini tetap berada pada kondisi temperatur tinggi. .senyawa-senyawa amonium yang bukan agen-agen pengoksidasi terdekomposisi membentuk amonium.senyawa-senyawa amonium yang merupakan agen-agen pengoksidasi dapat juga terdekomposisi membentuk amonia. yang berlangsung secara endotermis : NH4NO3(s) --. Senyawa-senyawa Amonium Pada dasarnya semua senyawa yang mengandung ion amonium (NH4+) secara termal tidaklah stabil. Metal khlorat yang sering digunakan adalah natrium khlorat atau kalium khlorat. amonium nitrat dianggap sebagai yang paling penting diantara senyawa amonium yang lain. Namun bahan ini relatif lebih stabil dibanding bahan. Beberapa senyawa dikenal mempunyai peranan sebagai katalis dalam menaikkan laju dekopmposisi amonium ini. misalnya senyawa Enri Damanhuri .

Pada kondisi sebagai ion-ion metalik tidak berwarna. Senyawa ini bersifat karsinogenik dan dapat merusak ginjal. Larutan yang lebih terkonsentrasi kadang digunakan dalam pengolahan limbah. namun permanganat itu sendiri berwarna ungu. atau khromium anhidrid atau asam khromik dengan formula (CrO3). Enri Damanhuri . Pengangkutan dan pewadahan bahan ini membutuhkan label : 'pengoksidasi'. yang dikenal sebagai khromium oksikhlorida. Biasanya asam ini dibuat dengan penambahan asam sulfat pekat pada larutan kalium dikhromat. Nitrit dan Nitrat Permanganat metalik adalah senyawa yang mengandung mangan pada kondisi oksidasi +7 yang tidak berwarna. Penggunaan dalam industri adalah seperti halnya asam khromik. Oksidator ini banyak digunakan dalam industri elektropalting khrom. maka yang tersisa adalah oksida khrom (VI) yang dikenal sebagai khromium trioksida. Nitrit metalik dioksidasi menjadi nitrat metalik dan direduksi menjadi nitrogen monoksida. Larutan kalium permanganat digunakan untuk pengobatan dermatitis yang berasal dari bakteri atau fungi. Permanganat metalik yang paling terkenal adalah natrium dan kalium permanganat.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 yang mengandung tembaga. yang dianggap berpotensi sebagai senyawa karsinogenik. komponen bahan peledak dan sebagainya. Transportasinya membutuhkan label sebagai 'oksidator' atau sebagai 'bahan korosif'. misalnya dalam bentuk natrium nitrat dan natrium nitrit. yang banyak digunakan dalam industri makanan untuk mempertahankan warna. Namun natrium nitrit dengan kerja enzim tertentu akan membentuk senyawa nitrosamin. walaupun pada kenyataannya yang paling bersifat toksik adalah yang berada pada tingkat oksidasi +6. sebagai khromat akan berwarna kuning dan sebagai dikhromat akan berwarna oranye. Bila air diuapkan darinya. termasuk libah gas sebagai oksidator. sulfur. terutama bila berada dalam larutan asam. dapat dikonversi oleh bakteri dalam perut untuk membentuk nitrit. Nitrit dan nitrat metalik dengan kandungan nitrogen pada tingkat oksidasi masingmasing +3 dan +5 adalah oksidator yang termasuk penting. Nitrit metalik dapat bertindak sebagai oksidator maupun reduktor. Senyawa sejenis adalah khromil khlorida (CrO2Cl2). seperti kalium dikhromat (K2Cr2O4) merupakan oksidator yang kuat. Demikian juga halnya natrium nitrat.FTSL ITB Halaman 74 . Oksidator Mengandung Permanganat. Asam-asam yang berkaitan dengan khromat dan dikhromat hanya ada pada kondisi larutan. tergantung pada kondisi oksidasinya. suatu larutan merah yang terbentuk bila campuran asam khlorida dan asam sulfat ditambahkan pada larutan jenuk kalium dikhromat. Asam ini berwarna merah yang digunakan untuk pembersihan permukaan logam atau gelas. pewarnaan dan percetakan. Pengaturan pengangkutannya membutuhkan label : 'oksidator'. khrom trioksida dan khromilkhlorida. Seluruh senyawa yang mengandung khrom oleh USEPA dikatagorikan sebagai toksik. Oksidator Mengandung Khrom Khrom pada tingkat oksidasi +6 terdapat dalam bentuk senyawa logam khromat. logam dikhromat. Dikhromat metalik.

Senyawa organik yang paling sederhana adalah hidrokarbon. Seterusnya dikenal: C3H8 (propane). Hidrokarbon Alifatik Hidrokarbon alifatik dibagi menjadi beberapa sub kelompok. yaitu dengan satu atau lebih atom karbon yang terikat dengan atom-atom lain. Distilasi fraksi minyak bumi ini lebih lanjut akan menghasilkan produk non. vernis. yang dapat dibagi menjadi dua kelompok. Bila jumlah atom karbon satu. antara lain menyebabkan kerusakan pada hati.bahan bakar.atom karbon yang terikat satu sama lain dalam satu rantai yang menerus. pendingin. yaitu CH4 dikenal methane. C8H18 (oktane). yaitu campuran hidrokarbon yang molekul-molekulnya terutama mempunyai lima. yang mempunyai variasi atom karbon antara 3 sampai 60. cair atau padat. misalnya sebagai bahan baku plastik. yaitu alkane. C5H12 (pentane). Bila minyak bumi mentah dipanaskan pada temperatur tertentu.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 9 BEBERAPA SENYAWA ORGANIK BERBAHAYA Senyawa-senyawa organik merupakan bahan yang sangat banyak digunakan dalam kehidupan manusia modern. tekstil dan sebagainya. karet dan aneka ragam fiber sintetis lainnya. Produk destilasi yang penting adalah : o Petroleum naphtha. merupakan campuran hidrokarbon yang lebih berat dari pada minyak bensin. Dalam kaitannya dengan keselamatan. Alkane adalah hidrokarbon yang ikatan atom karbonnya tunggal. Molekul-molekul dari senyawa-senyawa organik mempunyai pola yang sama. ginjal. maka mulai dari C4H10 dikenal dua jenis struktur molekul. maka karakteristik yang umumnya dijumpai dari senyawa ini adalah mudah terbakar dan bila terbakar. Produk ini terdistilasi antara 35 o 90 o C. sistem syaraf dan beberapa diantaranya menjadi penyebab penyakit kanker. Seluruh molekul dari senyawa ini hanya tersusun oleh atom karbon dan hidrogen. o Bensin (gasoline). C4H10 (butane). maka campuran komponen-komponen tersebut tervolatilisasi sesuai titik didihnya masing-masing. Bahaya yang kedua dari kelompok ini adalah karena dapat bersifat toksik pada manusia. akan terbentuk karbon dioksida dan uap air. o Kerosene. fiber. yaitu hidrokarbon alifatik dan aromatik. aerosol. C7H16 (heptane). maka yang dimaksud adalah ethane C2H6 atau ditulis menurut struktur Lewis sebagai CH3CH3. . yaitu campuran hidrokarbon yang molekul-molekulnya terutama mempunyai lima sampai sembilan atom karbon. Senyawa ini pada temperatur kamar dapat berupa gas. plastik. dengan formula kimia CnH2n+2. resin. cat. C6H14 (hexane). Butane dalam struktur pertama dikenal sebagai n-butane. jantung.204 o C. Pada pembakaran sempurna. alkene dan alkine. enam atau tujuh atom karbon. Titih didihnya adalah 38 o . Menurut struktur Lewis. Selanjutnya.atom karbon yang ikatannya tidak selalu dalam satu rantai yang menerus. Sumber utama hidrokarbon yang digunakan manusia adalah minyak bumi (petroleum). yaitu : . terutama sebagai bahan baku untuk produk-produk yang banyak digunakan dalam industri petrokimia. Enri Damanhuri . misalnya untuk bahan bakar. sedang butane dalam struktur yang kedua dikenal sebagai isobutane. adesif. gas senyawa-senyawa ini dapat meledak di udara.FTSL ITB Halaman 75 . Senyawa organik ini dapat menguap dengan mudah dan uapnya mudah terbakar pada kondisi kamar. maka jumlah atom hidrogennya adalah 4. pelarut pembersih. sehingga dapat dipisahkan satu dengan yang lain. bila n = 2.

Alkine yang paling sederhana adalah C2H2 yaitu ethyne atau acetylene. yang menyerupai benzene atau yang tidak menyerupai benzene. dikenal sebagai alkene atau olefin. Hidrokarbon yang mempunyai satu atau lebih ikatan karbon ke karbon rangkap tiga dikenal sebagai alkine.FTSL ITB Halaman 76 . Pemaparan maksimum di ruang kerja adalah 10 ppm selama 8 jam. oleh karenanya penyimpanan dan pengangkutannya membutuhkan label : 'cairan mudah terbakar'. penyebab leukemia. Oleh karenanya. Ketiga bentuk tersebut bernama : ortho-xylene disingkat o-xylene. yang dikenal sebagai isomer dari xylene. Hidrokarbon dengan molekul-molekul yang mengandung satu atau lebih karbon yang terikat dengan ikatan ganda. Pada temperatur kamar. kelompok ini juga bersifat toksik bagi manusia karena mempengaruhi sistem syaraf pusat. dengan kemungkinan tiga bentuk struktur isometris. Disamping mudah terbakar. Bila salah satu atom hidrogen dari benzene digantikan oleh grup methil (-CH3). Enri Damanhuri . tidak larut dalam air serta mudah menguap. karena setiap ikatan elektron dari atom-atom karbon. Biasanya formula benzene dilambangkan oleh bentuk heksagon dengan cincin di dalamnya. Kelompok hidrokarbon aromatis dengan dua atau lebih cincin benzene dikenal sebagai polynuclear aromatic hydrocarbon (PAH). Campuran uap benzene dan udara akan siap untuk terbakar. Seperti halnya alkene. Formula umum dari kelompok ini adalah CnH2n. Senyawa ini dikenal pula sebagai sikloalkane karena atom karbon pertama dan terakhir terhubungkan satu sama lain dalam rantai yang menerus. maka kelompok ini dikenal sebagai hidrokarbon tak jenuh. yang membedakan antara hidrokarbon alifatis dengan hidrokarbon aromatis adalah struktur molekularnya. tetapi tidak termasuk karsinogen. Uap cairan ini bila bercampur dengan udara akan mudah terbakar. Karena setiap alkene kekurangan hidrogen relatif terhadap alkane. Benzene adalah senyawa yang tidak larut dalam air. Hidrokarbon Aromatik Hidrokarbon aromatik adalah senyawa-senyawa yang mempunyai satu atau lebih bentuk cincin ikatan atom karbon. Disamping bersifat mudah terbakar.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Alkane dikenal sebagai hidrokarbon jenuh. toluene dan isomer-isomer xylene adalah jernih. Formula umum dari alkine adalah CnH2n-2. PAH ini diaggap bersifat karsinogen. Senyawa yang paling sederhana dari kelompok ini adalah benzene dengan formula molekularnya C6H6. maka alkine adalah termasuk hidrokarbon tak jenuh. Oleh karenanya. Dua atom hidrogen dari benzene dapat pula digantikan oleh grup methil. Benzene bersifat karsinogen pada manusia. kontainer benzene mempunyai label : 'cairan mudah terbakar'. PAH yang penting adalah naftalene yang digunakan antara lain dalam industri fungisida. berpasangan dengan atom-atom yang terikat dengan karbon tersebut. tidak berwarna. Pemaparan maksimum selama 8 jam kerja adalah 200 ppm untuk toluene dan 100 ppm untuk isomer-isomer xylene. meta-xylene disingkat m-xylene dan para-xylene disingkat p-xylene. maka senyawa baru tersebut dikenal sebagai toluene. menguap pada temperatur kamar. Alkene yang paling sederhana dikenal sebagai ethene atau ethylene dengan formula C2H4.

Salah satu contoh dari kelompok ini adalah methane. Walaupun demikian. Terdapat empat kemungkinan penggantian atom hidrogen. sedangkan khloromethane adalah di bawah 0 o C. maka terjadilah perubahan karakteristik. yang terdiri dari sebuah atom C dan empat buah atom H. butene. Dari sudut industri. Penggunaan gas alam sekarang makin banyak dijumpai. maka senyawa baru tersebut bukan lagi kelompok bahan yang mudah terbakar. senyawa baru : khloroform atau trikhloromethane 4 atom diganti. Gas ini tidak berwarna. yang terbentuk misalnya dari dekomposisi karbon organik. propene. Methane merupakan gas alam.FTSL ITB Halaman 77 .188 o C. sehingga sifat kimia dari gas alam pada prinsipnya adalah merupakan sifat kimia dari gas methane. Belum dijumpai pengaruh kelompok ini terhadap kesehatan. Namun kelompok ini berkontribusi dalam pembentukan formasi ozone di atmosfer. yang dapat digantikan oleh atom khlorida. tidak berbau. dengan rentang keterbakaran 10. Bila yang menggantikan adalah khlor. Bila seluruh atom karbon digantikan oleh atom-atom halogen. isobutene dan sebagainya. dan pada kondisi murni berbau ether. titih nyala methane adalah .11. Oleh karenanya. Sebagai contoh. LPG ini mengandung pula komponen lain dalam jumlah kecil. butane dan campurannya dikenal sebagai liquefied petroleum gas (LPG). maka senyawa itu dikenal sebagai hidrokarbon berkhlor (chlorinated hydrocarbon). Sebagai contoh penamaan adalah untuk senyawa yang berasal dari methane (CH4). senyawa baru : karbon tetrakhlorida atau tetrakhloromethane. Umumnya mereka tidak berwarna. maka kelompok alkine yang paling sering digunakan adalah acetylene. sehingga senyawa itu dikenal sebagai hidrokarbon berhalogen (halogenated hydrocarbon). Temperatur yang dicapai bila terbakar dengan udara akan mencapai 3300 o C. karena mempunyai panas pembakaran tinggi yaitu 312. isobutane. terbentuk dari pengolahan gas alam.7 . Methane digolongkan sebagai gas non toksik. Gas ini banyak digunakan dalam industri metalurgi. ethene.4 % volume.4 kcal/mol. tidak berbau dan dijumpai dengan konsentrasi rendah. terutama untuk pengelasan/pengecoran. biasanya gas ini dilarutkan dalam cairan seperti acetone. dikenal sebagai liquefied natural gas (LNG). bila senyawa ini terpapar dengan Enri Damanhuri . gas yang tidak berwarna. Gas alam ini dapat pula dicairkan. Bentuk gas yang dicairkan dari propane. sedikit larut dalam air. senyawa baru : methylene khlorida atau dikhloromethane 3 atom diganti. tetapi bila terhirup akan menyebabkan sesak nafas. Dengan substitusi tersebut. senyawa baru : methyl khlorida atau khloromethane 2 atom diganti. dapat meledak pada kondisi ditekan. dan merupakan salah satu komponen utama dari gas alam. seperti ethane. sedang pada tekanan 12 atm akan terlarutkan acetylene sebanyak 300 bagian volume. Panas pembakarannya adalah 213 kcal/mol. yaitu : 1 atom diganti. Hidrokarbon Berhalogen Senyawa-senyawa organik dapat pula diturunkan dengan mengganti satu atau lebih atom hidrogen dari hidrokarbon dengan sebuah atom halogen.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Hidrokarbon Sederhana Beberapa hidrokarbon sederhana dijumpai sebagai cemaran melalui cerobong pembakaran sebuah industri atau dari kegiatan komersial lainnya. Satu bagian volume acetone dapat melarutkan 25 bagian acetylene pada tekanan 1 atm. Gas ini termasuk yang tidak stabil.

Cl (g) + O2(g) Masalah limbah yang paling banyak disorot dari kelompok ini adalah polychlorinated biphenyl (PCB). ginjal dan jantung. impotensi sampai kematian.(g) + O2(g) . Oleh karena itu DRE dari PCB ini disyaratkan 99. Nama komersial dari senyawa ini adalah freon. hati. misalnya efek racun dari khloroform pada sistem syaraf. juga disebut sebagai khlorofluorokarbon atau khlorofluoromethane. Sebagian besar PCB adalah merupakan cairan yang encer pada kondisi kamar. Namun residu hasil pembakaran akan berbahaya bila pembakarannya tidak sempurna karena membentuk dioxin. tidak terbakar. Beberapa diantara hidrokarbon berhalogen ini teruapkan pada temperatur kamar. menimpa lebih dari 1000 orang yang menkonsumsi beras terkontaminasi PCB akibat kebocoran pipa transfer panas dalam pemerosesan minyak. Terdapat berbagai struktur isomer dari PCB. kulit. dan dilepaskanlah atom khlor. .9999 %. stabil bila dipapar pada temperatur tinggi. kapasitor. .FTSL ITB Halaman 78 . beberapa diantaranya mempunyai titik didih sampai 267 °C tanpa mengalami dekomposisi. Sebuah transformator kadang mempunyai sampai 3. atau pada sistem pemindah panas dan sistem hidrolis. Enri Damanhuri . Reaksi di bawah ini akan memperjelas masalah tersebut : CFnCln-x (g) --. dengan simbol 2 heksagon bercincin. disamping dapat mengganggu hati dan ginjal juga dicurigai sebagai penyebab kanker pada manusia. ClO (g) + O --. ginjal. Atom khlor ini akan bereaksi dengan molekul ozon. Karbon tetrakhlorida misalnya. otot. Kelompok khusus dari senyawa hidrokarbon berhalogen adalah fluorokarbon (CFnClnx). dan merupakan bahan yang paling banyak diatur penggunaan dan penanganannya diantara bahan berbahaya yang lain.5 mg/m3. iritasi pada gastrointestinal. Ini terjadi karena pada tahun 1960 diketahui bahwa PCB ini ternyata merupakan penyebab berbagai masalah kesehatan yang serius : kanker. otak. senyawa ini langsung tersebar dalam berbagai jaringan reseptor seperti hati. Insiden yang paling dramatis dalam masalah toksikologi adalah yang terjadi di Jepang pada tahun 1968. Cara pengolahan PCB yang digunakan adalah dengan insinerasi. Bila terlepas akan bereaksi dengan lapisan ozon.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 panas. Konsentrasi maksimum di lingkungan kerja adalah 1. mata. Oleh karenanya. Senyawa ini mampu menyerap radiasi ultraviolet matahari. sehingga ikatan karbon ke khlor akan rapuh. Di USA produksi PCB sejak tahun 1979 sangat dibatasi yaitu hanya untuk penggunaan yang sangat khusus. sehingga lapisan ozon sebagai pelindung bumi dari radiasi ultra violet matahari akan terganggu/rusak.(g) . tetapi sifat-sifatnya hampir sama. dan sebagainya dan tetap tersimpan dalam organ tersebut. resistan terhadap hampir seluruh bahan kimia. O3(g) + Cl (g) --.0 µg/m3 dengan TLV 0. yang digunakan sebagai pendingin atau aerosol. PCB banyak digunakan dalam industri-industri yang membutuhkan sifat-sifat tersebut. tidak bereaksi dengan asam. Senyawa kelompok ini banyak digunakan dalam industri. sehingga mengakibatkan terganggunya fungsi biologis yang normal dan mengakibatkan perubahan fungsi faal tubuh.(g) + Cl.7 m3 PCB dengan konsentrasi 50 . misalnya dalam perlengkapan listrik seperti transformator.70 % .ClO. Bila PCB masuk ke dalam tubuh.CFnCl3-x. kerusakan organ tubuh. tetapi keterpaparannya pada manusia dapat menimbulkan masalah kesehatan. Senyawa ini bersifat inert. akan dihasilkan gas/uap yang berbahaya yaitu fosgene dan hidrogen khlorida.

5trikhlorofenol. Enri Damanhuri . Fenol dikenal cepat menyerap uap air di udara sehingga sering dianggap sebagai cairan. dan larut dalam air. Ether Ether adalah senyawa organik yang molekul-molekulnya mempunyai atom oksigen yang menjembatani 2 grup alkyl atau aryl (R-O-R'). Pemaparan fenol di ruang kerja dibatasi 5 ppm (kontak dengan kulit). hidung dan kerongkongan dapat teriritasi. karena resin-resin fenolis dan produk-produk farmasi lainnya terbuat darinya. Senyawa induk dari kelas alkohol ini juga bernama fenol atau hidroksibenzene. tetapi bisa saja tidak termasuk cairan yang berkatagori mudah terbakar. dan TLV = 19 mg/m3. yaitu sangat toksik pada manusia. Oleh karenya. maka penyebarannya akan melalui rantai makanan.senyawa fenolik yang diproduksi untuk beragam herbisida seperti asam 2. Efek iritasi juga dapat terjadi pada mata dan kulit. Toksisitas (LD50) bahan ini terhadap babi Guinea 3.dikhlorofenoxyacetik dan 2. reproduktif dan kanker. Dilihat dari sifat keterbakaran. Efek toksikologis antara lain adalah terhadap sistem syaraf. Dalam masalah limbah. dengan TLV 22 mg/m3.4. pengangkutan senyawa ini membutuhkan label bertuliskan : 'racun'. Pemaparan pekerja pada isomer kressol adalah 5 ppm kontak dengan kulit.FTSL ITB Halaman 79 . misalnya dalam industri farmasi. Dua alkohol yang sering dijumpai di pasaran adalah metanol (methyl alkohol) dan ethanol (ethyl alkohol). Ether sederhana sangat volatil dan berbahaya karena mudah terbakar serta meledak. Bila makanan terkontaminasi oleh bahan ini. Salah satu grup fenol adalah kressol yang merupakan disinfektan dan berasal dari resin fenolik. Dioxin merupakan produk samping dari pembuatan senyawa.8 tetrachlorodibenzo-p-dioxin. Senyawa organik yang dewasa ini dianggap salah satu substansi yang paling toksik adalah 2. yang dapat dilihat sebagai hidroksil turunan benzene. Tambah tinggi ether maka tambah tinggi titik nyalanya sehingga menjadi bahan bakar cair. Senyawa yang tergolong alkohol sederhana ini adalah mudah terbakar. Mata. yang paling sering dipersoalkan adalah fenol. dan merusak secara sistematis sistem syaraf. Dioxin sangat stabil dan terdekomposisi hanya secara thermal pada temperatur didih sekitar 500 °C. Fenol pada kondisi padat adalah tak berwarna sampai putih kristal dan sering juga dijumpai berwarna gelap/merah bila terpapar cahaya. dan berakumulasi (biomagnifikasi) pada jaringan lemak. Disamping itu. Fenol merupakan produk industri kimia yang penting. misalnya methyl ethyl ether (methoxyethane). Fenol adalah termasuk grup alkohol aromatis.1 x 10-9. Dioxin juga dicurigai dapat menghilangkan pertahanan tubuh terhadap penyakit.7.4.3. atau secara singkat dikenal sebagai Dioxin atau TCDD. Tetapi sifatnya yang racunlah yang mendatangkan masalah. Aplikasi isomer-isomer kressol pada tikus menimbulkan tumor. ether juga berbahaya karena ada yang mengandung peroksida organik sehingga mudah meledak.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Alkohol Alkohol adalah senyawa organik turunan dari hidrokarbon dengan penggantian paling tidak sebuah atom hidrogen oleh grup hidroksil (-OH). dengan titik nyala 78 o C. sebetulnya fenol tidak membahayakan. Pengangkutan senyawa ini membutuhkan label : 'cairan mudah terbakar'.

Bahan ini digunakan untuk mempengaruhi proses polimerisasi pada pembuatan plastik. Seluruh bahan dikutip dari: E. senyawa ini menyebabkan iritasi ringan pada mata. Seperti halnya peroksoanorganik. 1989 Enri Damanhuri . Senyawa perokso-organik merupakan turunan dari hidrogen peroksida. Titik nyalanya adalah .5o C. yang biasanya digunakan sebagai pelarut. Atom. Prentice Hall Building. merupakan cairan jernih dengan bau spesifik. Meyer: Chemistry of Hazardous Materials.atom hidrogen digantikan oleh satu atau lebih grup alkil atau aril. sehingga dikelompokkan sebagai cairan yang mudah terbakar. Salah satu jenis senyawa ini yang banyak digunakan dalam industri adalah ethyl asetat. Bila terpapar dengan manusia. Pemaparan di ruang kerja dibatasi sampai 400 ppm.FTSL ITB Halaman 80 . maka perokso-organik ini mempunyai kemampuan sebagai oksidator. yang terjadi bila asam-asam organik bereaksi dengan alkohol. karena mempunyai oksigen yang aktif pada strukr molekulnya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Senyawa Organik Lain Senyawa organik dengan formula umum R-CO-OR' dikenal sebagai ester. hidung dan kerongkongan.

elektron yang bermuatan negatif yang mampu mengimbangi muatan positif dari inti atom.008983 = 2. radiasi kosmis dari luar angkasa telah memborbardir planit biru kita ini. Selama berjuta tahun.030381 amu Perbedaan massa ini menghilang pada saat terjadinya fusi dua proton dan dua netron untuk 2 membentuk inti-atom helium.9979 x 10 ) erg = 4. dan terus berlanjut pengembangannya dengan perlombaan senjata nuklir sampai selesainya “perang dingin” antara negara-negara Barat dan negara-negara komunis di dunia. namun tidak bermuatan. Netron juga merupakan partikel dasar dengan besaran mendekati 1 unit satuan atom.8025 x 10 esu (electrostatic unit). Sejumlah besar materi radioaktif yang berumur sangat lama dihasilkan sebagai hasil samping yang tidak dapat dihindari. dibutuhkan satu ikatan yang sangat kuat.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 BAGIAN VI LIMBAH RADIO AKTIF 1 UMUM Radioaktivitas sebetulnya bukanlah fenomena baru. Misalnya diambil masa 2He yang terdiri dari 2 proton dan 2 netron: Massa proton = 2 x 1. Dimulai dengan teridentifikasinya sinar-X oleh William C. Röntgen pada Januari 1896. Simbol sebuah atom ditulis sebagai ZX . Dalam hal ini: c = kecepatan cahaya=2. Becquerel pada November 1896. terutama akibat penggunaan pembangkit enersi bertenaga nuklir di seluruh dunia dengan segala permasalahannya terhadap lingkungan.017966 amu ------------------.007595 = 2. Struktur sebuah Atom : Inti-atom (nucleus) terdiri dari proton dan netron. Intensitas radiasi tersebut relatif tidak tinggi dan radiasi tersebut dapat ditahan oleh atmosfer bumi. Oleh karenanya.9979 x 109 cm/detik m = perbedaan massa (amu) -24 10 -5 Sehingga E = 0. yang sepadan dengan jumlah netron dan proton. Dengan menggunakan persamaan Einstein. namun baru mendapat perhatian manusia pada akhir abad yang lalu. Proton adalah partikel dasar dengan massa mendekati 1 dalam skala berat atom dan bermuatan + e. dan nomor atom (Z). dan sepadan dengan A jumlah proton dalam inti-atom.FTSL ITB Halaman 81 . sebuah inti-atom dicirikan oleh nomor massa (A).+ = 4. Kapasitas penghancur senjata nuklir telah dibuktikan dalam Perang Dunia II.015190 amu (atomic mass unit) Massa netron = 2 x 1. 2 SIFAT-SIFAT RADIOAKTIVITAS Sebuah atom terdiri dari sebuah inti (nucleus) bermuatan positif dan sejumlah planet-planet yang mengorbit pada intinya dan elektron. Bentuk enersi nuklir merupakan hal yang paling spektakular yang pernah ditemukan dan digunakan oleh peradaban manusia selama ini. yaitu E = mc maka sejumlah ekuivalensi enersi akan terbebaskan. thorium dan radium. Untuk mengikat sejumlah besar netron dan proton dalam ruang yang sangat kecil yang tersedia dalam sebuah inti-atom. Unsur-unsur radioaktif yang secara alamiah terdapat di bumi adalah uranium. sebab bila tidak maka akibat adanya gaya tolakan elektrostatis antara proton-proton maka akan mengakibatkan mereka terpencar. dan kemudian ditemukannya radiasi dari radium oleh Antoine H. yang proporsional dengan muatan positif pada inti-atom (Ze). yaitu muatan sebuah elektron sebesar -10 4. dimana X adalah simbol kimia yang biasa digunakan untuk unsur tersebut. Karena massa atom terkonsentrasi dalam volume yang sangat kecil.002775 amu ------------------. Namun keberadaan unsur-unsur radioaktif ini telah meningkat dengan dihasilkannya materi radioaktif artifisial oleh manusia untuk berbagai tujuan.033156 amu Massa inti-atom helium = 4.030381 x 1. yaitu sekitar 2 x 10 gram/cm .65985 x 10 x (2. 14 3 maka densitas inti atom tersebut sangat tinggi.531 x 10 erg 4 Enri Damanhuri .Perbedaan massa (mass defect) = 0.

0033 20Ca 48 0. seperti pada contoh peluluhan uranium ke thorium: Enri Damanhuri . secara artifisial dapat dihasilkan isotop-isotop yang tidak stabil yang dikenal sebagai radionuklisida (radionuclicide) dari unsur-unsur yang ada. Terdapat pula sebuah atom dengan inti-atom yang terdiri dari sebuah proton dan sebuah netron disertai sebuah electron.20 O16 O17 18 8O 8 8 20 20 Ca40 96. dan menjadi isotop yang berbeda untuk elemen yang sama. dan tidak mengalami perubahan sifat-sifat kimiawi karena hanya melibatkan elektron.24 50Sn 117 7.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Elektron dapat dianggap sebagai partikel dengan muatan negatif e (4.1: Campuran isotop di alam ------------------------------Isotop Persentase ------------------------------1 99.02 1D 7 7 -10 N14 15 N 99. sehingga jumlah elektron harus mengimbangi nomor atom (jumlah proton dalam inti-atom). yang dikenal kemudian sebagai radiasi α (alfa). Atom terakhir ini merupakan sebuah isotop dari hidrogen. maka nomor atomnya menurun 2 satuan sedang massa atomnya menurun 4 satuan. Di alam terdapat atom dengan 1 elektron (hidrogen) sampai 92 elektron (uranium) dan massanya bervariasi dari 1 (sebuah proton pada hidrogen) sampai 238 (92 proton dan 146 netron pada uranium). Radiasi α adalah merupakan partikulat dan setiap partikel alfa adalah sebuah inti helium yang 9 berkecepatan tinggi sampai mencapai 10 cm/detik.365 99. dengan massa 1/1840 proton (0. Bila sebuah inti-atom yang tidak stabil mengemisikan partikel alfa. dan jumlah elektron serta susunannya merupakan kunci sifat-sifat kimiawi dari elemen tersebut. akan berbeda. tetapi sifat-sifat fisisnya yang tergantung pada masanya.28 ----------------------------- Peluluhan Radioaktif : Pada kondisi normal. dan sifat-sifat nuklirnya agak berbeda dari hidrogen biasa. dan biasanya cukup dituliskan sebagai U-235 dan U-238. β (beta) dan γ (gamma).elektron terluar.95 50Sn 114 0.19 20Ca ------------------------------- -------------------------------Isotop Persentase -------------------------------112 0. Tahun 1986 Becquerel menemukan bahwa garam-garam uranium meng-emisikan sejenis radiasi yang menyebabkan pelat fotografis menjadi hitam.97 42 Ca 0.58 50Sn 120 32. Sifat-sifat kimiawinya adalah identik.97 50Sn 122 4. dijumpai dalam bentuk 92U dan 92U . Sifat-sifat kimiawi dua buah isotop akan sama. Elektron-elektron ini terikat dalam orbitnya oleh gaya elektrostatis dengan jarak yang bervariasi terhadap inti-atom. tetapi mempunyai jumlah massa yang berbeda. Jadi isotop adalah elemen yang mempunyai nomor atom yang sama.98 50Sn U 235 92U 238 92U 92 234 0.65 50Sn 115 0.715 99. Radiasi ini terdiri dari emisi dua proton dan dua netron dari inti-atom.64 43 0.01 50 119 8. Dengan demikian.76 0.0058 0. Contoh lain adalah isotop uranium.FTSL ITB Halaman 82 . Tabel 6. Atom tersebut disebut sebagai isotopis satu terhadap yang lain.34 50Sn 116 14.15 20Ca 46 0. dikenal sebagai hidrogen berat atau deuterium. Hampir semua unsur terdapat di alam dalam bentuk campuran dari isotop-isotop seperti terlihat dalam Tabel 6.57 50Sn 118 Sn 24.98 1H 2 0. inti atom sangatlah stabil.635 0. Bisa saja dijumpai dua buah atom yang mempunyai nomor atom yang sama tetapi berbeda masanya. Sebuah atom adalah netral.04 0. yang 235 238 mempunyai proton sebanyak 92. Sebagai contoh adalah sebuah atom hidrogen yang mempunyai sebuah proton dan sebuah elektron. Rutherford kemudian menunjukkan bahwa radiasi tersebut terdiri dari tiga jenis radiasi yang berbeda.8025x10 esu).71 50Sn 124 5. Kemudian ternyata bahwa fenomena tersebut berasal dari kegiatan pada inti-atom dan fenomena tersebut terjadi pada seluruh elemen dengan nomor atom lebih dari 83.00055 amu). Isotop : Nomor atom dari sebuah unsur menentukan jumlah elektron dan merupakan identitas kimiawinya.1.

Oleh karenanya. Inti radium misalnya secara spontan akan terurai dengan melepaskan partikel α. yaitu: 234 234  91Pa + e 90Th Emisi sebuah muatan negatif dari inti-atom mengakibatkan muatan positif bertambah satu yaitu pada protactinium. Secara kimiawi. enersinya secara bertahap dilepaskan akibat interaksi dengan atom yang lain.99 kecepatan cahaya. menaikkan tingkat enersinya dan melepaskannya dari inti. Fenomena ini dikenal sebagai pengionan (ionization). misalnya digunakan sebagai pelacak (tracer) untuk membantu pengukuran aliran materi dalam lingkungan. Kulit manusia dapat menahan radiasi ini. Sebagai contoh adalah peluluhan strontium-90 menjadi yttrium : 90 90  39Y + β 38Sr Ionsasi yang terjadi pada partikel β frekuensinya lebih sedikit dibanding partikel α. dan akan meluluh dengan mengeluarkan sinar β. yaitu antara -3 -7 10 sampai 10 µm. namun dapat bermanfaat. Hal ini perlu mendapat perhatian pada saat penanganan limbahnya. penyekatan harus dirancang bukan saja agar mampu menahan radiasi dari limbah asalnya. sedang partikel β bisa mencapai beberapa cm. Partikel α relatif massif dan mudah dihentikan. Jumlah masa tidak berubah. Sebuah inti-atom dapat terurai dengan kehilangan partikel α atau β-nya. Thorium yang dihasilkan dalam reaksi itu tidak stabil. tetapi bila terhirup melalui pernafasan. Ketika partikel α melalui suatu media. yaitu: -Kt N = N0 dengan N = jumlah inti radioaktif setelah t waktu N0 = Jumlah inti awal t = waktu yang ditinjau K = konstanta peluluhan radioaktif 92U 238 234 4 Enri Damanhuri . dan membutuhkan beberapa cm timah untuk mengisolasinya. namun massanya tetap. Radiasi γ adalah radiasi eletromagnetis dengan panjang gelombang sangat pendek. Radiasi β dapat dianggap pula sebagai partikulat. dan bergerak dengan kecepatan cahaya. Dalam perjalanannya. Sinar β dan γ mempunyai kemapuan penetrasi yang lebih tinggi dibanding sinar α. sifat kimiawi dari kedua unsur tersebut berbeda. Sinar tersebut sangat sulit dihalangi. tetapi nomor atomnya meningkat satu satuan. namun hasil peluluhan bisa saja menjadi lain. Radiasi γ tidak mempunyai muatan atau masa. muatan positif menarik elektron. Massa partikel β diabaikan. dan setiap partikel β adalah sebuah elektron negatif yang berkecepatan tinggi sampai mencapai 0. Radiasi ini dipancarkan dari inti-atom yang tidak stabil sebagai transformasi spontan dari sebuah netron ke sebuah proton dan elektron. Sinar γ dapat pula terbentuk akibat transformasi itu.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010  92Th +2α Dalam reaksi ini dikeluarkan partikel α (inti helium) dari inti-atom. Rutherford et al menemukan bahwa intensitas radiasi mengalami peluluhan secara eksponensial terhadap waktu. terutama dalam penyimpanan dan penyingkiran. namun juga harus mampu menahan kemungkinan radiasi dari hasil peluluhannya yang bisa saja lebih berbahaya. sebab walaupun secara kimiawi asalnya tidak toksik atau tidak korosif. dan konversi tersebut dapat dianggap sebagai perubahan sebuah netron menjadi sebuah proton. thorium yang dihasilkan berbeda dengan uranium karena sifat-sifat kimia ditentukan oleh nomor atomnya. maka partikel ini sangat berbahaya. yaitu sebuah elektron. perlu memperhatikan sifat peluluhan itu sendiri. dan hanya dapat dihentikan misalnya dengan lembar alumunium setebal 1 cm. sehingga sinar ini mempunyai kemampuan untuk mengionisasi dan dapat merusak jaringan hidup. Perbedaan jenis radiasi tersebut di atas terkait dengan peluluhan inti atom-atom radioaktif. Partikel α dapat menembus pada jaringan tubuh sampai 100 µm. Sekali lagi. namun penetrasinya pada jaringan tubuh lebih dalam.FTSL ITB Halaman 83 . Radioaktivitas menjadi kajian yang menarik dalam masalah lingkungan karena dampak negatifnya terhadap organisme yang terpapar. Penentuan rancangan penyimpanan atau penyingkiran limbah radioaktif.

47 x 105 tahun 92U 230 4 α 8. yaitu waktu yang dibutuhkan agar inti tersebut luluh menjadi setengahnya.1 hari 90Th 234 β 1. yang dapat membingungkan pemakainya. dan luluh secara radioaktif. sehingga memberikan reaksi : 14 4 17 + 2He  8O + proton 7N Dalam hal ini 8O adalah stabil.17 menit 91U 234 α 2. Unit Satuan yang Digunakan: Banyak satuan yang digunakan dalam bidang radioaktivitas ini. bila dimulai dengan sebuah isotop yang mempunyai waktu-paruh 1 tahun dan mempunyai berat 100 gram. hal ini dikenal sebagai fisi nuklir. tetapi inti-atom memecah dalam dua fragmen dengan massa yang hampir sama. Dalam satuan SI. Waktu-paruh dari sebuah isotop adalah tetap.51 x 109 tahun 92U 234 β 24. Tabel 6. manusia mulai mengamati pengaruh radiasi terhadap materi yang diradiasinya. maka akan tertinggal sebanyak 50 gram setelah 1 tahun. artinya sebuah sumber dengan kekuatan 1 Bq akan mengemisikan satu 60 partikel per detik. Bila sebuah partikel seperti partikel alfa atau sebuah proton atau sebuah netron bertumbukan dengan inti-atom. yaitu N = 1/2 No. Misalnya 38Sr meluluh dengan emisi sebuah partikel beta. dan persamaannya menjadi : t1/2 = ln2/k ≈ 0. Reaksi lain yang dapat terjadi adalah bila inti-atom yang berat menyerap sebuah netron. Tidak terdapat pola yang jelas antara waktu-paruh isotop-isotop yang diamati dengan mekanisme peluluhannya. Namun banyak hasil rekasi yang bersifat tidak stabil. Aktivitas sebuah sumber tidak 90 langsung mengidentifikaikan jumlah partikel yang teremisi.7 x 10 per detik. seperti yang banyak dilakukan dalam reaktor-reaktor nuklir. tetapi waktuparuh dari nuklisida-nuklisida akan sangat bervariasi. Satu Ci sebanding dengan desintegrasi sebanyak 3. tetapi 27Co akan mengemisikan sebuah partikel beta dan dua sinar gamma.60 x 10 tahun 88 -------------------------------------------------Sebagai gambaran. aktivitas tersebut -11 dinyatakan sebagai becquerel (Bq).0 x 10 tahun 90Th 226 3 Ra α 1. Misalnya 236 236 menyerap sebuah netron menghasilkan isotop yang tidak stabil 92U (?). Nilai waktu paruh tersebut bervariasi dari satu isotop ke isotop yang lain.FTSL ITB Halaman 84 . 17 Enri Damanhuri . yang merupakan laju desintegrasi inti-atom 1 gram radium. menjadi 25 gram setelah 2 tahun. Satuan Curie (Ci) adalah satuan dasar yang menyatakan besarnya peluluhan 10 sebuah sumber. Waktu-paruh tersebut tidak dapat dirubah namun memainkan peranan yang penting dalam aktivitas penyimpanan dan penyingkirannya.2 memberikan gambaran waktu-paruh dari enam isotop pertama yang terdapat pada ilustrasi sebelumnya. Isotop Artifisial: Dengan ditemukannya radioaktivitas alamiah. Terbukalah pintu penelitian terhadap reaksi nuklir atau penelitian terhadap pembuatan isotop-isotop artifisial. hasilnya akan dapat dipisahkan secara kimiawi dan merupakan sumber yang berlimpah bagi isotop-isotop artifisial.2 : Contoh waktu-paruh -----------------------------------------------Isotop Radiasi Waktu-paruh ------------------------------------------------------------238 α 4. maka terbentuk isotop baru. Oleh karena itu seluruh rantai peluluhan tersebut harus diperhitungkan dalam perancangan limbah radioaktif.7 x 10 Ci.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Kemudian persamaan tersebut disederhanakan menjadi persamaan waktu-paruh t1/2.atom nitrogen di udara. Tabel 6. Reaksi nuklir pertama yang terdeteksi adalah partikel alfa dari polonium yang dibuat agar terjadi reaksi dengan atom. Bila cara reaksi fisi yang terkontrol ini berlangsung. Peluluhannya 92U tidak dengan jalan mengemisikan partikel-partikel α atau β. yaitu: 1 Bq = 2.693/k Waktu paruh sebetulnya tidak dapat dihitung tapi harus diukur secara eksperimental.

Dikatakan telah menyerap radiasi sebesar 1 rad bila 1 gram materi -2 menyerap 100 erg enersi. yang menyatakan ukuran ionisasi per kilogram. 3 PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF Pengolahan dan pembuangan (penyingkiran) limbah yang bersifat radioaktif merupakan masalah yang berat dalam abad nuklir ini. Bila limbah yang mengandung pencemar mengalir ke lautan atau ke sungai.5 mm untuk mengabsorbsi setiap partikel α. atau 1 Gy = 100 rad. Pengukuran aktivitas sumber ternyata tidak menjelaskan tentang pengaruh radiasi yang teremisi terhadap sekitarnya. tetapi ini hanya memindahkan masalah. Bagian yang tersuspensi akan mengendap. menghasilkan intensitas radiasi 0. atau sebesar 10 J/Kg. komponen radioaktif dalam limbah cair dikonversi menjadi limbah padat yang tetap bersifat radioaktif dan harus tetap ditangani. misalnya bagaimana menyerap unsur berbahaya. Dalam hal sebuah isotop menghasilkan produk yang tidak stabil. atau memindahkan dalam bentuk padat untuk kemudian dibuang/disingkirkan sambil menunggu luluh dengan sendirinya sesuai dengan waktu-paruhnya. maka intensitas totalnya persatuan waktu adalah merupakan penjumlahan. Untuk itu perlu adanya jaminan bahwa isotop-isotop yang aktif tidak berkontak dengan lingkungan sampai batas konsentrasi tertentu yang menyebabkan tidak timbulnya masalah.8 R per jam pada jarak 1 m dari sumber. bagian organiknya akan teroksidasi. Secara umum. Sifat mencemari dari sebuah limbah akan ditentukan oleh karakteristik fisis. Sebuah sumber sebesar 1 Ci dari radium yang dilindungi dengan sebuah kumparan platinum setebal 0. Dalam mengukur ionisasi selain gas. sedang bagian kimiawinya akan terencerkan. misalnya ke lautan yang dalam.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 jadi sumber tersebut yang mempunyai aktivitas 1 Bq mengemisikan tiga partikel sekaligus per detik. terdapat kesulitan. karena hanya bersifat mengurangi konsentrasinya. yaitu satuan pengukuran terhadap penyerapan enersi radiasi oleh jaringan tubuh manusia. sejumlah pencemar yang terkandungnya akan terolah secara alamiah. maka akan dihasilkan limbah radioaktif yang tambah banyak dan dapat menyebakan radiasi pengionan. bila kekuatan sebuah sumber serta mekanisme peluluhannya diketahui. ke dalam tanah yang dibangun khusus untuk itu. biologis serta kimiawinya. Dalam satuan SI. dengan perlindungan yang ketat agar sifat-sifat radioaktivitasnya tidak membahayakan lingkungan. digunakan satuan gray (Gy) yang sepadan dengan penyerapan enersi 1 J/Kg. Tetapi hanya fraksi dari radiasi ini yang terlacak ke luar. satu-satunya pemecahan yang tuntas adalah hanya dengan memanfaatkan waktu-paruh peluluhannya. Cara yang diterapkan sekarang sebetulnya tidaklah tuntas. Satuan baru (satuan SI) yang diusulkan adalah dengan satuan coulomb (C). Sampai saat ini praktis belum ditemukan teknologi atau tata cara baik secara kimiawi maupun biologis untuk menetralisisr sifat-sifat radioaktivitas. Pencemar radioaktif akan tereduksi dengan sendirinya dengan peluluhan alamiahnya. mulai limbah asal (limbah'orang tua'nya) sampai hasil luluhannya (limbah 'anak-anak'nya). karena beberapa diantaranya terserap oleh materi radioaktif itu sendiri. Satu rem adalah sepadan dengan penyerapan 100 erg enersi radiasi untuk satu gram jaringan tubuh. Pengukuran ini dilakukan pertama kali dengan satuan röntgen (R). Beberapa cara memang banyak dikembangkan. Oleh karena itu digunakan satuan rad (radiaton absorbed doses). Cara yang banyak dilakukan untuk menangani limbah cair adalah penyimpanan atau pengkonsentrasian. Dengan satuan ini memungkinkan dosis radiasi dalam gas diukur langsung dengan alat elektronik tanpa harus menentukan terlebih dahulu enersi terabsorbsi.FTSL ITB Halaman 85 . maka jumlah partikel yang teremisikan per satuan waktu akan dapat dihitung. Satuan yang digunakan dalam kesehatan adalam satuan rem (radiation equivalent man). yang 3 merupakan kuantitas dari radiasi X atau γ yang menghasikan ion-ion. Enri Damanhuri . Dalam hal ini 1 C/Kg = 3876 R. Sifat radioaktivitasnya akan menurun dengan sendirinya sesuai dengan waktu paruhnya. Dengan pengebangan teknologi dan ilmu nuklir serta penggunaan isotop-isotop radioaktif yang makin luas. 1cm udara mengandung muatan 1 esu. Cara yang biasa dilakukan untuk menangani limbah padat adalah membuangnya atau menyingkirkannya.

Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Sumber-sumber Limbah Radioaktif : Definisi buangan/limbah radioaktif dapat didasarkan atas tiga pendekatan. Dalam banyak hal. rhodium dan palladium 61 ----------------------------------------------------------------------------------- Enri Damanhuri . yang terakumulasi guna menurunkan tenaga reaktor melalui absorpsi netron.atas potensi bahayanya . tidak membutuhkan sedikit atau bahkan tidak dibutuhkan kontainer khusus. pembuangan limbha cair ke saluran riolering adalah dianggap aman bila ratarata konsentrasi radioaktivitas dalam saluran tidak lebih dari 10 -4 µc/ml. laju penghasil panas yang tinggi dan waktu paruh radioaktif yang panjang.limbah tingkat menengah/tinggi Limbah tingkat menengah/tinggi dihasilkan dari pemerosesan kembali bahan bakar nuklir yang mengandung seluruh produk fisi.01 mrem/tahun. pembangkit tenaga nuklir komersial sebesar 0. secara berkala dibutuhkan pengeluaran bahan bakar ini. Total keterpaparan radiasi di USA apada tahun 1980-an untuk segala sumber sekitar 182 mrem/tahun/orang. Tabel 10. Definisi limbah radioaktif adalah buangan dalam bentuk padat. Pertimbangan genetika mengharuskan bahaw rata-rata dosis radiasi yang dietreima oelh manusia secara keseluruhan adalah 1. yaitu: . yaitu : . Penyimpanan dan Pengkonsentrasian Limbah Cair : Limbah cair yang paling banyak dihasilkan agaknya berasal dari proses pembuatan bahan bakar nuklir. tetapi praktisnya sulit untuk direalisis. laboratorium-laboratorium penelitian. uranium menghasilkan sekitar 30 radionuklisida. Tabel 6. cair atau gas yang dihasilkan selama pembuatan atau penggunaan substansi radioaktif. Oleh karenanya. Metoide pembuangan dianggap aman. maka terdapat dua jenis limbah radioaktif. Berikutnya bahwa tidak sulit menarik keyakinan bahwa setelah dibuang konsentrasi tidak mengalami penurunan akibat reaksi kimiawi ataupun biologis. Sumber utama dari limbah jenis ini misalnya dari kegiatan kedokteran. yang lebih realistis adalah mendeteksinya berdasarkan sumbernya. Oleh karenanya.2 berikut menggambarkan hasil fisi bila digunakan 1 ton uranium. Termasuk di dalamnya adalah kelompok limbah yang sebetulnya tidak begitu berbahaya. Karena tidak praktis untuk memprediksi kandungan radioaktif buangan padat. diagnosa medikal dari sinar-X sekitar 72 mrem/tahun. Radiasi ini sebagian besar berasal dari sumber alamiah seperti sinar kosmis (102 mrem/tahun). namun tetap dianssumsi berbahaya sampai terdapat pembuktian. bila dapat menunjukkan bahawa tidak seorangpun menerima dosis lebih dari 10 milirem/minggu. Limbah ini dicirikan dengan kemampuan penetrasi radiasi yang tinggi. tetapi tetap mempunyai potensi konsentrasi limbah berbahaya.3: Hasil fisi dari pembakaran 1 ton Uranium -------------------------------------------------------------------------------------Kelompok Kimiawi Elemen Kimiawi Berat (Kg) ------------------------------------------------------------------------------------Gas jarang Kripton dan xenon 128 Alkali berat Rubidium 15 Caesium 118 Alkali tanah Strontium 42 Barium 43 Ytrium 317 Elemen ke 4 Zirconium 125 Elemen ke 5 Niobium 5 Elemen ke 6 Molybdenum 92 Tellurium 16 Elemen ke 7 Technetium 29 Iodine 7 Logam jarang Ruthenium.limbah tingkat rendah .atas sumbernya Pendapat pertama dan kedua secara prinsip lebih baik.atas kandungan radioaktifnya . Dalam proses fisi. Limbah tingkat tinggi sangat sedikit mengandung radioaktivitas.3 milirem/minggu Ditinjau dari tingkat aktivitas radioaktivnya. penelitian kesehatan.FTSL ITB Halaman 86 . mengambil uraniumnya dan memisahkan plutonium yang juga terbentuk.

namun yang mungkin adalah mengkonsentrasikan nuklisida-nuklisida tersebut dalam volume cairan yang relatif kecil. misalnya : Hg++ < Zr++++ < Li+ < H+ < Na+ < K+ < Rb+ < Cs+ < Ag+ < Mn++ < Mg++ < Cu++ < Ca++ < Sr++ < Al+++ Enri Damanhuri . misalnya dengan proses evaporasi. Media ini relatif lebih stabil. Masalah yang timbul bila limbah tidak dipertahankan dalam kondisi asam. sehinga membutuhkan penanganan dengan kontrol yang ketat. akan tervolatilisasi dengan sendirinya. Mengingat bahwa bila limbah cair yang disimpan dengan cara tersebut akan membutuhkan biaya besar. Sumur-sumur pemantau juga diperlukan di sekitar kontainer yang ditanam dalam tanah. proses kimiawi atau biologis. misalnya. Alternatif lain adalah dengan regenerasi sesuai dengan ion yang terkandungnya. dapat digunakan terus sampai materi tersebut menjadi jenuh dan tidak dapat lagi berfungsi. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam evaporator limbah jenis ini adalah agar sarana tersebut tidak membutuhkan perawatan yang terlalu rumit. Namun hal ini kurang memuaskan hasilnya karena panas yang dikeluarkan per satuan volume relatif rendah. Jadi ion. Limbah yang akan diuapkan biasanya diletakkan pada kontainer baja yang divakumkan sampai mencapai volume yang belum memungkinkan terjadinya endapan. maka usaha lain adalah mengkonsentrasikan limbah tersebut agar volumenya berkurang. Media penukar ion tersebut kemudian dapat dianggap sebagai limbah padat dan membutuhkan penanganan khsusus dalam pembuangan akhir.ion radioaktif tersebut ditukar dengan ion-ion yang tidak aktif yang terdapat dalam media. Pengolahan Limbah Cair: Seperti dibahas di muka. penukaran akan terjadi bila kation pada media penukar mempunyai affinitas yang sama atau lebih kecil dari yang akan menggantikannya. Kapasitasnya akan tergantung pada afinitas relatifnya. sehingga memudahkan dalam penanganan berikutnya. Larutan tersebut kemudian terevaporasi akibat panas yang terjadi. yaitu penukar kation dan penukar anion. Beberapa radioisotop. Sarana pemonitor dini terhadap kemungkinan kebocoran sangat diperlukan. Secara praktis. Dibutuhkan kumparan pendingin agar panas yang dihasilkan akibat terjadinya peluluhan radioaktif dapat dikeluarkan. Proses penukar ion adalah proses yang sudah lama dikenal. Dari proses ini akan dihasilkan cairan dengan konsentrasi yang sangat tinggi yang mengandung elemen radioaktif yang harus ditangani lebih lanjut. adalah kemungkinan terjadinya endapan. Guna mengurangi masalah ini. agar masalah bocornya limbah ini dapat segera diketahui. sifat-sifat radioaktif tidak dapat dimusnahkan. Dalam proses pendinginan. Media penukar ion yang mengandung sejumlah ionion yang dapat ditukar tersebut. Tetapi laju pelepasan panas tersebut tidaklah teratur. biasanya agitator udara atau sirkulasi cairan digunakan. melaslukan pencampuran limbah cair terkonsentrasi dengan silika dan borax dalam larutan asan nitrat.FTSL ITB Halaman 87 . misalnya dalam pembuangan atau penyingkiran akhir. Sebetulnya dengan sifat dapat memanaskan dirinya sendiri akan memungkinkan proses swa-evaporasi. Media yang dikenal mempunyai kapasitas penukar ion yang tinggi adalah resin sintetis. Limbah cair biasanya dinetralkan dan disimpan dalam kontainer baja kualitas baik atau dalam beton bertulang. yaitu ion-ion dari limbah. Bila limbah dipertahankan dalam kodisi asam. Limbah cair dengan sifat-sifat radioaktif mempunyai sifat yang secara spontan dapat mendidih dengan sendirinya karena adanya absorpsi enersi radiannya sendiri. seperti rutheniumakan. didapatkan limbah yang terbungkus secara solidifikasi. Inggeris. maka kontainer baja perlu dilapis dengan bahan anti karat. Perlu pula adanya katup pelepas tekanan uap dan uap tersebut kemudian dikembalikan lagi ke kontainer tersebut.tiba perlu diperhatikan dalam rancangan penyimpanan. yaitu dengan memanfaatkan media tertentu yang mempunyai sifat dapat menukarkan kation atau anionnya dengan kation dan anion lain dari limbah. Penyimpanan limbah radioaktif dalam bentuk solidifikasi dengan glas dianggap aman dan efektif. Akan terdapat dua jenis penukar ion. akan menyulitkan karena jenis limbahnya yang bersifat radioaktif. sebab bila tidak. yang tentu saja akan menaikkan biaya penyimpanan. Disamping dengan cara penguapan. sehingga masalah timbulnya tekanan yang meninggi secara tiba.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Elemen-elemen bahan bakar yang tidak teradiasi tetap mengandung bahaya radioaktif dengan tingkat aktivitas sekitar 10 sampai 15 curie/L. maka beberapa metode yang digunakan adalah dengan penukar ion.

silika aktif atau sodium fosfat juga dapat diterapkan dalam limbah radioaktif ini. Walaupun dilakukan penaikan pH. Dalam hal ini vermiculite mempunyai kemampuan untuk itu. maka relatif sulit untuk dipisahkan dari larutannya. yang prinsipnya adalah identik dengan penyisihan air asin. atau densitas buangan lumpurnya menjadi lebih tingi. Dengan demikian. namun hal ini cenderung mengurangi sifat-sifat mengendap dari partikel tersebut. maka pH yang lebih tinggi akan menghasilkan penyisihan yang lebih tinggi pula. Umumnya. Cara lain aplikasi penukar ion adalah penggunaan electrolitis deionisasi. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan penambahan koagulan. sehingga media menjadi lebih cepat jenuh.7 meq/gram. setiap media yang digunakan dalam penukar ion harus mampu menyisihkan kedua jenis isotop tersebut. Koagulan akan menyerap ion-ion tertentu dari larutan dan membentuk partikel yang lebih besar. Pemilihan proses yang dilakukan adalah tergantung pada kinerja penyisihan yang diinginkan. terutama montmorillonite mempunyai kapasitas penukar ion sampai 1 miliekuivaalen (meq) per gram. penambahan koagulan akan menyebabkan materi tersuspensi yang juga bersifat radioaktif.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Salah satu kelemahan dari cara ini adalah bahwa media ini tidak dapat membedakan antara ion yang aktif atau ion yang tidak aktif. misalnya disingkirkan ke dalam tanah dan sebagainya. Radiostrontium merupakan isotop yang paling berbahaya sebagai penyebar emisi beta. adalah partikel flok dan partikel tersuspensi tersebut harus diendapkan dan tidak terbawa ke dalam efluennya kembali. Barium khlorida juga dapat digunakan untuk mengendapkan ion-ion sulfat dan tellurate. Alternatif lain adalah dengan penambahan lempung selama koagulasi. Keberhasilan pembentukan flok harus diikuti dengan unit operasi yang lain yang sangat menentukan. Bila limbah dengan pH tinggi melalui media tersebut. dan dapat memampatkan media penukar ion tersebut. namun ada beberapa kation atau anion radioaktif yang membutuhkan penanganan khusus. Beberapa jenis media alamiah juga mempunyai kemampuan untuk berfungsi sebagai penukar ion antara lain adalah tanah lempung (clay). Diantara katode tersebut diletakkan membran secara bersilangan. yaitu sekitar 30 tahun. yaitu sebagai penukar anion dan penukar kation.koagulasi-pengendapan. Langkah berikutnya. yaitu unit pengendap. Media alamiah lainnya adalah penggunaan vermiculite atau lignite. cerium. Ion penukar dari media ini mayoritas adalah magnesium. Pengolahan limbah radioaktif secara kimiawi diterapkan di banyak negara. promethium dan ruthenium akan lebih mudah terserap sehingga dapat terkonsentrasi dalam lumpurnya. seperti telah dibahas di muka. bila yang akan ditangani adalah produk fisi yang tercampur. kemudian diikuti dengan pembubuhan ferri sulfat untuk menyisihkan kelebihan barium Enri Damanhuri . Salah satunya adalah radiocaesium. lignite atau resin sintetis terlebih dahulu. Unit-unit pengendap yang biasa digunakan dalam pengolahan limbah akan menghasilkan kinerja yang sama. sehingga akan menambah efisiensi penyisihan secara keseluruhan. Beberapa jenis lempung. namun media ini mempunyai sifat-sifat penyaringan yang buruk sehingga menyulitkan dalam operasionalnya. sedang caesium-137 mempunyai waktu paruh yang pajang. karena merupakan unsur monovalensi. namun tetap dibutuhkan mekanisme lain agar sebanyak mungkin materi tersebut terpisah dari cairannya. Dengan demikian akan terjadi sekaligus penukaran kation dan penukaran anion. Walapun telah dilakukan pembubuhan kimiawi secara flokulasi. Dalam hal garam-garam besi yang digunakan. Oleh karenanya. Disamping itu. yaitu dengan merangsang terjadinya partikel flok yang mudah mengendap. walaupun kemampuan dekontaminasinya relatif tidak begitu besar. yang biasanya dipisahkan melalui vermiculite. Disamping itu. Sasaran dari cara ini adalah bagaimana mengkonsentrasikan nuklisida. Aruh searah dilalukan pada dua elektrode yang terendam. Beberapa jenis flokulan yang biasa digunakan dalam teknologi pengolahan limbah seperti garam-garam aluminium. limbah lumpur yang terkonsentrasi tersebut dapat ditangani lebih lanjut. namun cara ini cocok untuk limbah yang mempunya kadar radioaktif rendah. terdapat kecendrungan bahwa kation multivalensi seperti yttrium. akan lebih mudah mengendap sehingga efisiensi penyisihannya menjadi lebih tinggi. Media ini mempunyai kemampuan filtrasi yang baik dibandingkan montmorillonite dan kapasitas penukar ionnya sekitar 0. jenis radionuklisida yang akan dipisahkan. Dua jenis isotop yang paling penting untuk dijadikan acuan adalah radiostrontium dan radiocaesium. maka Mg cenderung akan mengendap sebagai hidroksida.FTSL ITB Halaman 88 . ferro dan ferri sulfat.

Diketahui bahwa konsentrasi dari elemen-elemen yang biasa terdapat di alam seperti kalium. Secara umum pengolahan secara biologis ini akan berfungsi baik. Dapat saja terjadi bahwa ikan yang berada dalam sungai yang menerima efluen limbah radioaktif cair dengan konsentrasi phosphorus-32 di bawah konsentrasi maksimum yang diizinkan untuk air minum. seperti senyawa caustic-hydrolised polyacrylamide. polysaccharida. sehingga sebelumnya perlu diolah secara biologis guna mencapai baku muru yang diinginkan. seperti senyawa sellulosa. Oleh karenanya dalam beberapa hal digunakan coagulant-aids. dan dapat disisihkan dengan penggunaan garam-garam perak atau penukar anion. yaitu polyelectrolite. yaitu: a. yaitu: (aktivitas per satuan berat organisme)/(aktivitas per satuan berat air) Disamping itu. Langkah berikutnya adalah penanganan lumpur yang berasal dari unit pengendap yang masih mengandung kadar air tinggi (di atas 90%). Radioiodine biasanya hadir dalam kondisi anion. akan dihasilkan cake lumpur tetapi masih mengandung air sampai sekitar 85 %. bila limbah yang akan diolah tidak bersifat asam atau alkalin. Cara yang paling baik yang pernah dilakukan adalah dengan co-presipitasi dengan tembaga sulfida dalam suasana asam. misalnya oleh mikroorganisme semacam bakteria dan algae bersel tunggal. Limbah radioaktif yang akan dialirkan ke badan air. Pengolahan dengan pembekuan ini akan mengkonsentrasikan elektrolit yang ada di sekitar partikel koloidnya. dan biasanya yang paling efisien dalah menggunakan polimer dengan berat molekul ting gi. c. seperti yang dilakukan di Perancis. radioisotop tersebut akan cenderung berakumulasi pada tanaman air tersebut. Cara yang banyak dilakukan adalah pembekuan. Organisme tertentu di alam dalam hal ini dapat menimbun radioisotop dalam tubuhnya. sehingga penggunaan filtrasi sedapat mungkin dihindari. fenomena lain yang dapat terjadi secara alamiah adalah penyisihan elemenelemen radioaktif oleh adsorpsi permukaan. Beberapa diantara jenis polimer tersebut mempunyai muatan negatif (anion). Fenomena ini juga dimanfaatkan dalam penyerapan elemen-elemen tertentu oleh tumbuhan air seperti eceng gondok guna mengurangi konsentrasi pencemar radioaktif berkadar rendah.FTSL ITB Halaman 89 . Pengolahan secara biologis bagi limbah radioaktif yang dikatagorikan ringan biasanya didasarkan atas satu diantara tiga pertimbangan. yang akan mengganggu dalam pengolahan isotop radioaktif secara kimiawi. akan mengidentifikasikan maksimum konsentrasi isotop radioaktif yang dapat terjadi dengan cara tersebut. Efluen cair dari limbah radioaktif yang kadar radioaktivitasnya dikatagorikan rendah. mungkin mengadung komponenkomponen organik biodegradabel. pada suatu saat akan mengakumulasikan radioaktif ini sampai di atas batas yang diizinkan (biomagnifikasi). Pengolahan secara biologis yang sengaja dibangun mempunyai prinsip identik dengan yang biasa digunakan dalam pengolahan limbah lain. dilirkan ke badan air dengan mengandalkan pengenceran dan dispersi. atau bermuatan positif (kation) seperti polyvinyl pyridinium butyl bromide. yang dapat hadir sebagai kation. Akumulasi radioaktif oleh organisme biasanya dinyatakan dengan faktor konsentrasi (FK). Sentrifugasi juga tidak memberikan pemecahan yang baik. b. anion atau dalam bentuk non-ion. bebas dari substansi toksik dalam konsentrasi tertentu sehingga dapat menghambat aktivitas Enri Damanhuri . Partikel yang dihasilkan berupa granular dan dapat terendapkan serta tersaring secara baik. Jadi bila badan air tersebut terkontaminasi dengan isotop radioaktif. Pengolahan biologis juga dapat dipertimbangkan guna merangsang tumbuhnya mikroorganisme yang berfungsi sebagai adsorben biologis. Lumpur kering yang dihasilkan kemudian di tangani sebagai halnya limbah padat radioaktif. seperti sitrat. kalsium atau strontium akan lebih tinggi terdapat di tumbuhan air dibandingkan air sekitarnya. lumpur kimiawi yang dihasilkan dari pengolahan tersebut sebagian besar akan bersifat koloidal dan tidak mengendap secara baik serta sulit difilter dalam proses penanganan lumpur.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 dan bertindak pula sebagai koagulan. Penentuan analisis kimiawi dari elemen dalam organisme air dan air. Unsur-unsur multivalensi seperti zirconium dan plutonium dapat direduksi dengan cara ini. Hal yang penting dalam proses pengendapan tersebut adalah bagaimana mendapatkan efluen yang sangat baik. Dengan mengunakan filter vakum. Limbah tersebut mungkin mengandung agen-agen organik kompleks. Salah satu nuklisida yang relatif suulit untuk ditangani adalah ruthenium. Seperti telah dibahas di muka. sehinga menaikkan proses koagulasinya.

Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 biologis. Pengolahan lumpur yang dihasilkan adalah identik dengan pengolahan limbah lain. Beton baryte dua kali lebih aman dari beton biasa. Namun diperlukan perhatian agar beban sel yang diatas tidak akan langsung bertumpu pada sel limbah yang ada di bawahnya. Dalam proses biologis. dan limbah padat disimpan di sana sampai keaktifannya menjadi tidak membahayakan. yang dapat dibangun lapis perlapis. seperti pengeringan pada media berbutir. penyimpanan dapat dilakukan dalam konstruksi batu bata saja. Penyimpanan Limbah padat dan lumpur : Untuk limbah padat yang dikatagorikan menengah dan tinggi aktivitasnya. namun biayanya tiga kali lebih mahal. maupun secara vertikal. Tinja tersebut membutuhkan waktu tunggu lebih dahulu sebelum bebas dibuang pada riolering kota yang dilengkapi dengan pengolah limbah secara terpusat. sedang abunya ditangani seperti limbah padat. Dalam beberapa hal dibutuhkan penyimpanan yang bersifat sementara. sehingga praktis tidak terdapat bahaya radiasi. maka penyimpanan yang bersifat permanen akan dibutuhkan. Proses anaerobik juga dapat digunakan untuk mengurangi komponen. Hal yang sudah pasti bahwa cara ini sama sekali Enri Damanhuri . hal esensial yang perlu diperhatikan adalah bagaimana agar organisme yang berfungsi tersebut tidak terpengaruh oleh radiasi. yang dapat berbentuk tabung-tabung yang dapat dimasukkan ke dalam bunker secara vertikal. Dosis radiasi yang dibutuhkan agar dapat membunuh 99 % populasi bakteria dalam limbah radioaktif dapat mencapai 100. Bunker beton tersebut biasanya dilapis lagi dengan logam. atau dilakukan proses solidifikasi. supernatan tetap dialirkan kembali pada pengolahan limbah cairnya. Dalam hal limbah aktif tersebut hanya menghasilkan radiasi alfa.komponen materi organik yang dikandungnya dan dikonversi menjadi gas metan. Sarana tersebut harus juga mempertimbangkan pekerjaan berat untuk operasi menaikkan dan menurunkan beban yang berat. proses lumpur aktif dan saringan pasir lambat. setelah terlebih dahulu dilapis guna mencegah tersebarnya radioaktif tersebut seperti halnya pengelolaan limbah limbah padat. Beberapa pengolahan secara biologis yang telah diterapkan misalnya adalah kolamkolam oksidasi. maka perlindungan yang sangat ketat sangat dibutuhkan. misalnya dalam bentuk parit-parit beton bertulang. Bangunan tersebut dapat terdiri dari beberapa sel. kolam-kolam atau saluran-saluran biologis yang ditamani tumbuhan air. maka dibutuhkan materi lain seperti timah atau beton baryte. Penempatan secara vertikal baik untuk penyimpanan jangka panjang. Cara lain dengan memanfaatkan bekas sarana penambangan yang sudah tidak lagi berfungsi. filtrasi atau seperti pengolahan secara kimiawi untuk limbah radioaktif yaitu pembekuan. Misalnya tinja dari manusia yang mengandung iodine-131 atau phophorus-32 akibat kegiatan kelinis seseorang. penyingkiran dalam tanah dapat dilakukan dengan pembuatan lobang-lobang raksasa yang disiapkan dengan penuh kehati-hatian. Dengan cara demikian.000 rad.FTSL ITB Halaman 90 . misalnya dalam aktivitas pemantauan tingkat peluluhan yang telah terjadi. limbah tersebut dapat dipindahkan dengan mudah. Dalam hal limbah yang akan disimpan sangat aktif. plastik atau aspal. Dalam hal ini perlu adanya kontrol bahwa supernatan yang dihasilkanya tidak mengeluarkan aktivitas radioaktif yang menganggu. Pengaruh tersebut tidak terlihat secara nyata kecuali dalam tingkat aktivitas yang tinggi. Lumpur yang telah dikurangi kadar airnya dapat dibakar dalam sebuah insinerataor. Namun bila yang dikeluarkannya adalah radiasi beta atau gamma. Mikroorganisme pada umumnya lebih resistan dibandingkan organisme yang lebih tinggi. namun penempatan secara horizontal cocok untuk penyimpanan jangka pendek. Konstruksi kontainer atau bunker tersebut dapat terbuat dari beton bertulang setebal 2 meter. Penyingkiran Limbah Padat dan Lumpur: Penanganan akhir dari limbah padat atau lumpur adalah dalam bentuk penyingkiran dalam tanah atau dalam lautan. Menurut penelitian. Cara lain adalah disingkirkan ke dalam tanah atau ke larutan seperti halnya penanganan limbah padat. Penggunaan bahan baja atau keramik dapat pula dipertimbangkan sebagai kontainer sebelum dimasukkan ke dalam bunker tersebut. khususnya bagi isotop dengan waktu-paruh lama. misalnya dalam pasangan beton. filter perkolasi (trickling filter). Walaupun demikian. Beton bertulang digunakan terutama karena alasan biaya. lapisan 9 dengan aspal adalah cukup baik untuk menahan radiasi sampai 10 roentgen.

Sarana tersebut hendaknya memenuhi dua persyaratan. Masalah pertama adalah waktu untuk menyimpan. misalnya dari limbah radioaktif rumah sakit. Masalah kedua yang muncul adalah pemilihan jenis sarana penyimpan. sifat imbah yang disimpan akan berubah sesuia dengan perubahan waktu. namun pula lingkungannya yang dapat dikatakan jauh dari homogen. adalah menyingkirkannya dalam tanah yang sangat kedap dan dianggap mempunyai kemamppuan penukaran ion. maka hal ini perlu juga mendapat perhatian. bahwa limbah dengan tingkat aktivitas rendah.FTSL ITB Halaman 91 . materi radioaktif dapat saja dicampur dengan materi lain. serta seberapa baik fungsi penukar ion tersebut. yang bisa mencapai ratusan tahun. Hal ini akan menjadi masalah dengan meningkatnya limbah tersebut akibat penggunaan dan pengembangan industri nuklir dewasa ini. Analisis laboratorium menunjukkan bahwa radionuklisida yang mengalir dalam tanah tanpa menagalami absorpsi (tidak terserap dalam penukar ion tanah) adalah ruthenium. Ditinjau dari sifat kimiawi limbah tersebut akan terus berubah. bisa saja menjadi terkorosi setelah limbah tersebut mengalami perubahan. termasuk dengan limbah lain terutama yang bersifat penukar ion. Ion nitrat dideteksi pada jarak 520 meter dari sumbernya setelah 8 tahun. Oleh karena limbah radioaktif yang akan dingkirkan adalah masih berbentuk cairan. sedang limbah radioaktif dengan katagori menengah dan tinggi harrus disimpan secara aman sampai aktivitasnya menurun sampai tingkat dengan katagori aktivitas rendah. menunjukkan bahwa ternyata tidak terjadi bahaya radiasi di sekitarnya. sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi arah aliran air. Kekhawatiran lain adalah tersebarnya limbah tersebut akibat terjadinya retakan atau terjadinya ketidak homogenan media. Sarana tersebut oleh karenanya harus tetap dimonitor secara rutin. Pelaksanaan di lapangan ternyata lebh rumit terutama untuk jenis limbah menengah dan tinggi. seperti lapisan timah dan sebagainya. Banyaknya limbah yang akan disingkirkan akan tergantung pada kapasitas penukar ion media tersebut. sampai aktivitasnya menjadi sedemikian rendah dan tidak menghadirkan bahaya radioaktif lagi bila disingkirkan dalam cara-cara biasa seperti dalam landfilling. Ruthenium-106 adalah satusatunya radionuklisida yang teridentifikasi dalam sumur pemantau. Cara lama yang masih diterapkan untuk limbah yang dianggap mempunyai keaktifan rendah. Adanya sifat peluluhan radioaktif akan menyebabkan ketidakstabilan dari limbah yang dihasilkan kemudian serta media yang dilaluinya.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 bukan bertujuan untuk mengurangi keaktifan limbah tersebut tetapi sekedar menyimpan menunggu selesainya waktu paruhnya. Pengalaman yang diterapkan di Amerika. Konsep penyingkiran limbah radioaktif ini bersasaran menyingkirkan limbah agar tidak akan mengganggu lingkungan sampai keaktifannya terluluhkan dengan sendirinya sampai tingkat yang diperbolehkan. porositas dan sifat-sifat tanah lainnya terutama dikaitkan dengan transportasi dan penyebaran pencemar limbah berbahaya tersebut. Sulit memprediksi bahagiamana kestabilan sarana tersebut sampai ratusa tahun. Dalam metode disperasl. misalnya tahan terhadap korosi. Jadi konsep umum peyingkiran limbah radioaktif ini adalah. Hal ini merupakan pertanyaan yang sulit untuk terjawab di lapangan. Kontainer atau sarana penyimpan tersebut harus bertahan sesuai kondisinya semula. diperlukan perlakuan khusus agar sifat radioaktifnya tidak menyebar keluar. Ion-ion nitrat merupakan ion yang bergerak relatif cepat. baik berbentuk padat maupun cair. yaitu dengan mengkapsulinya dengan bahan yang dikenal baik dapat menahan radiasi limbah tersebut. Diperlukan studi yang sangat mendalam termasyuk studi tentang stratifikasi. sehingga sifat-sifat material penyimpan harus memperhatikan hal ini. bagi limbah denga waktu paruh lama. tekstur. yang pertama harus mampu menahan radiasi jangan sampai ke luar dan yang kedua tahan terhadap penggunaan jangka panjang. Untuk itu sebelum disingkirkan. Sarana yang dibangun dikelilingi dengan sumur-sumur pemantau yang relatif banyak (bisa mencapai lebih dari 50 sumur) dalam jarak yang berbeda. sedangkan ruthenium-106 terdeteksi pada jarak 370 meter dalam jangka waktu yang sama. Penyimpanan dalam fase cair relatif lebih sulit dibandingakan Enri Damanhuri . seperti lempung yang memounyai konsep identik dengan penukar ion. yaitu kurang dari beberapa milicurie dapat dicampur dan dibuang dengan limbah lain dan ditangani sebagai limbah berbahaya biasa. Sebuah materi yang tahan pada limbah pada saat awal. karena terkait erat dengan pengetahuan rinci dan lengkap bukan saja sifat-sifat tanah.

. Bila sistem tidak dihubungkan dengan riolering kota. seperti penguburan dalam tanah atau dalam bekas tambang. dan total aktivitas untuk setiap pembebanan adalah lebih kecil dari 10 µCi. Monitoring dibutuhkan bukan saja terhadap air tanah memalui sumur-sumur pemantau. reptil. serta masalah jangka panjang untuk mendapatkan area yang cukup dan cocok untuk itu. Untuk menjamin pengenceran yang cukup. Buangan padat dapat diinsinerasi. seperti dari kegiatan rumah sakit.tidak mudah rusak atau pecah sebelum dan setelah disingkirkan. Cara lain yang digunakan adalah penyingkiran dalam bekas tambang. Disamping itu. walaupun proses korosif berjalan lambat. maka tidak diperkenankan lebih dari 10 mCi selama 4 minggu secara terus menerus. b. Pembungkusan terlebih dahulu limbah diperlukan sebelum disingkirkan ke dalam tanah terutama bagi limbah dengan katagopri tingkat keaktifannya tinggi.bebas dari ruang-ruang yang kosong sehingga limbah tidak mudah keluar bila terjadi kebocoran. dengan volume tidak lebih dari 0. Oleh karenanya. Enri Damanhuri . bila terbukti pengencernya bukanlah limbah yang dikatagorikan aktif. Dalam jangka waktu tertentu. c. Kontainer yang digunakan untuk menyingkirkan jenis limbah ini harus mempunyai kriteria: . Pertama karena sifat cair akan lebih intik kontak dengan media sekitarnya. sifat cair akan memungkinkan mengalir ke tempat lain akan lebih leluasa dibandingkan bagian padat bila terjadi kebocoran dalam kontainer. ikan.FTSL ITB Halaman 92 . misalnya karena kegiatan binatang seperti tikus dan sebagainya. insek dan sebagainya. sehingga kemungkinan terjadinya korosi akan lebih besar. maka batasan tersebut menjadi 2 mCi. Oleh karenanya. Limbah radioaktif yang langsung ditanam dalam tanah harus diulindungi terhadap kemungkinan muncul ke permukaan. Elemen-elemen radioaktif tersebut biasanya terkonsentrasi di tulang yang prakktis tidak dikonsumsi oleh manusia.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 penyimpanan dalam fase padat. Kedalaman penananaman sedemikiaian rupa sehingga tidak mengganggu pertumbuhan di sekitarnya. sedang abunya yang akan ditangani adalah sesuai dengan butir (a) di atas. Dalam hal ini terdapat dua kemungkinan penanganan limbah sebelum disingkirkan. perlu diperhatikan bahwa limbah tersebut harus aman di tempatnya dalam jangka waktu yang lama. Limbah cair dapat dicampur dengan limbah sistem riolering perkotaan yang ada (menuju pengolahan limbah terpusat). dengan syarat bahwa aktivitas limbah yang akan dibakar tersebut tidak lebih dari 30 µCi per harinya. Buangan padat dapat disimpan/disingkirkan dalam landfill buangan berbahaya biasa bila ternyata seluruh komponen di dalamnya mempunyai aktivitas lebih kecil dari 1 µCi. daerah sekitarnya kemungkinan akan menjadi steril untuk selamanya. yaitu dalam bentuk paking dalam kontainer baja atau pasangan beton.1 m3. Masalah yang sangat diperhatikan kemungkinan terbawanya limbah tersebut akibat air eksternal. Cara ini merupakan cara yang terakhir karena praktis tidak mungkin lagi diambil bila terjadi sesuatu. daun. persoialan yang dihasapi oleh limbah radioaktif dengan tingkat yang menengah dan tinggi adalah bagaimana memecahkan masalah tersebut. Solidifikasi akan merupakan salah satu jawaban dalam usaha-usaha menanggulangi hal ini. namun pula terhadap benda-beda di sekitarnya: binatang. Pembungkusan dilakukan seperti dalam penyimpanan. Penyingkiran limbah ke dalam tanah hanya cocok bagi limbah dengan aktivitas rendah. Hal yang kedua. Dalam aplikasi di Inggeris. Cara ini menghilangkan keberatan-keberatan yang ada dengan cara lain. Salah satu masalah yang mungkin timbul adalah kemampuan ikan atau organisme laut lainnya dalam mengkonsentrasikan limbah radioaktif ini dalam fenomena biomagnifikasi. yaitu limbah tersebut langsung dibuang/didingkirkan atau limbah tersebut 'dibungkus' terlebih dahulu. tanah. Lubang-lubang tambang yang digunakan dipilih ketat yaitu yang tidak mempunyai hubunganb dengan daerah sekitarnya. batasan yang digunakan adalah jumlah limbah yang ditanam maksimum nuklisida adalah adalah 100 mikrocurie/bulan bagi limbah dengan waktu-paruh lebih dari 1 tahun dan 1 milicurie/bulan untuk limbah dengan waktu-paruh kurang darui 1 tahun. Pembuangan ke lautan dalam dianggap salah satu penyingkiran yang paling aman bila dilakukan secara baik. penelitian bila aktivitasnya adalah: a. 3 jenis cara penyingkiran untuk limbah radioaktif yang tergolong rendah.

1991 Enri Damanhuri . Englewood Cliffs. Wiley & Sons Inc. Masalah utama yang muncul adalah gas yang dikeluarkan yang dapat menyebar secara luas.Gilbert M. Abu yabng terkumpulkan kemudian ditangai seperti halnya limbah padat radioaktif. Addison-Wesley Publishing Company. Insinerasi limbah combustibel tidak diterapkan secara luas. Nemerow: Industrial Water Pollution. Butterworth. dapat digunakan untuk menangkap partikulat yang terbentuk. yaitu abu atau gas yang keluar dari cerobong akan tetap bersifat radioaktif.J.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 - mempunyai densitas paling tidak 1.rata tingkat radiasi di permukaan kontainer adalah tidak lebih dari 20 milirad per jam. Collins (Editor): Radioactive Wastes. Masters: Introduction to Environmental Engineering and Science. Suatu pengukuran yang dilakukan adalah bila rata. 1978 .FTSL ITB Halaman 93 . Produk akhir yang dikeluarkan. Peralatan pencegahan pencemaran udara seperti filter. Porteus (Editor): Hazardous Waste Management Handbook. presipitator elektrostatis. Prentice Hall.C.A. kadangkala dilapis dengan lapisan beton sesuai dengan karakteri atau tingka keaktifan limbahnya. Referensi Utama: . 1985 . pengendap dan sebagainya.2 gram/cm . mempunyai betuk dan ukuran yang mudah untuk ditangani 3 Drum-drum baja merupakan kontainer yang paling sering digunakan. scrubber.Nelson L. maka tidaka akan timbul masalah radiasi. 1960 .

FTSL ITB Halaman 94 . oncolagy. Limbah yang bersifat umum atau limbah infectious yang telah ditangani secara baik dapat dibuang pada landfill kota dengan syarat-syarat khusus disertai pengawasannya. Penggunaan insinerator untuk limbah rumah sakit kelompok biomedis banyak diterapkan. misalnya mereka yang terikat kontrak kerja seperti tukang cuci. yaitu: o Pasien dan personel dari rumah sakit o Personel yang memberikan pelayanan. o Penggunaan wadah dengan warna yang berbeda untuk setiap jenis limbah. c. sarung tangan). Tinja dan urin dari pasien yang diisolasi karena penyakit menular perlu didisinfektan terlebih dahulu sebelum digabung dengan sistem riolering. perhatian hendaknya diberikan pada kemungkinan pengaruh resiko tersebut terhadap masyarakat luar. o Penggunaan pewadahan tertutup untuk bahan-bahan yang bersifat volatil. mata dan telinga. Namun penggunaan disinfektan harus diminimalkan bila terdapat alternatif lain. orthopaedic. Sebetulnya cara ini tidak disarankan karena akan mendatangkan masalah pada pengolah limbah kota. o Penggunaan analisis epidemiologis untuk menentukan apakah kelompok atau sub kelompok tertentu akan mengalami resiko berlebihan terhadap penyakit tertentu. air dan tanah. Penggilingan limbah sisa makanan banyak diterapkan di negara undustri untuk kemudian dimasukkan dalam system saluran air (riolering) limbah kota. seperti resiko pencemaran udara. Bahan kimia dari institusi kesehatan akan merupakan sumber pencemaran yang potensial. terbakar.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 BAGIAN VII LIMBAH MEDIS DAN RUMAH TANGGA 1 LIMBAH MEDIS Terdapat tiga katagori orang yang dapat terpapar dengan limbah berbahaya dari rumah sakit. Jenis perawatan/aktivitas kesehatan yang dapat menghasilkan limbah adalah : a. terutama bila dilairkan melalui sistem rioreling. rehabilitasi. tetapi pengoperasian yang tidak baik akan mendatangkan masalah pencemaran udara. o Penggunaan alat pelindung (masker. dan bila mungkin dilakukan daur-ulang sehingga tidak masuk dalam penanganan limbah kota. o Penggunaan ventilasi yang baik sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan kerja. o Pemantauan rutin terutama terhadap aktivitas yang beresiko tinggi. maka dibutuhkan program kesehatan kerja yang mencakup: o Penggunaan bahan yang aman atau bahan yang lebih tidak berbahaya. Klinik: o Ruang dokter dan perawat o Pusat dialysis o Pusat penanganan kecanduan alcohol o Pusat penanganan kecanduan obat bius o Klinik bersalin o Klinik thrombosis. Rumah sakit dengan aktifitasnya: o Rumah sakit umum o Rumah sakit khusus o Sanotarium o Aktifitas spesifik dalam sebuah rumah sakit misalnya : paediatric. Disamping itu. penyakit-penyakit pernafasan b. Pada dasarnya limbah yang dihasilkan harus dipisahkan atau dikonsentrasikan di institusi itu sendiri untuk memudahkan penggolongannya. tukang sampah dan sebagainya o Pasien rawat jalan seperti yang sedang menjalani dialisis darah o Pengunjung Untuk mengurangi resiko kesehatan sehubungan dengan limbah rumah sakit ini. psychiatric. Asrama dan sejenis: Enri Damanhuri .

makanan binatang noninfectious. o Benda-benda tajam. reaktif (eksplosif.4 o Inggeris : 0. penelitian. organ.1 sampai 5. Sebagai gambaran. di bawah ini diberikan beberapa angka [21]. Seluruh jenis limbah ini dapat mengandung limbah berpotensi infeksi. limbah dari cuci serta materi lain yang tidak membutuhkan penanganan spesial atau tidak membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan o Limbah patologis: terdiri dari jaringan-jaringan. atau tidak dioperasikan sesuai dengan kriteria. o Limbah radioaktif. o Limbah kimiawi. dan shock sensitive). mutagenic. pathology. mudah terbakar (flammable). limbah kimiawi yang tidak berbahaya adalah seperti gula. o Kontainer dalam tekanan. o Limbah citotoksik.2 sampai 4. bangkai binatang. pembersihan / pemeliharaan atau prosedur desinfeksi. Timbulan limbah dari kegiatan rumah sakit bervariasi dari satu institusi ke institusi sesuai dengan besarnya aktivitas. dan dihasilkan dari analisis in-vitro terhadap jaringan tubuh dan cairan.0 o USA : 4.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 o Perawat o Rumah jompo o Rumah sakit jiwa d. cair maupun gas yang terkontaminasi dengan radionuklisida. o Limbah farmasi. maupun dihasilkan dari prosedur therapetis o Limbah kimiawi: dapat berupa padatan. cairan maupun gas misalnya berasal dari pekerjaan diagnostik atau penelitian. Pertimbangan terhadap limbah ini adalah seperti limbah berbahaya yang lain. misalnya obat-obatan cytotoxic. bagian tubuh. haemathology. Limbah rumah sakit merupakan campuran yang heterogen sifat-sifatnya. asam. o Limbah patologis (jaringan tubuh).2 sampai 6.3 o Belanda : 1. o Limbah berpotensi menularkan penyakit (infectious): mengandung mikroorganisme patogen yang dilihat dari konsentrasi dan kuantitasnya bila terpapar dengan manusia akan dapat Enri Damanhuri . darah dan cairan tubuh o Limbah radioaktif: dapat berfase padat. kimiawi. reaktif terhadap air. dilanjutkan dengan sifat-sifat spesifik seperti genotoxic (carcinogenic. Kadangkala. yaitu (Kg/bed/hari): o Sepanyol : 1.FTSL ITB Halaman 95 . teratogenic dan lain-lain). bahan pengemas. yaitu: o Limbah umum. yaitu dapat ditinjau dari sudut: toksik. termasuk untuk hewan maupun genetis.12 Kg/bed/hari. limbah residu insinerasi dapat dikagorikan sebagai limbah berbahaya bila insinerator sebuah rumah sakit tidak sesuai dengan kriteria. atau analisis in-vivo terhadap organ tubuh dalam pelacakan atau lokalisasi tumor. plasenta. korosif.24 Penelitian yang dilakukan di RSHS Bandung oleh Jurusan Teknik Lingkungan ITB (1993) memberikan angka rata-rata sebesar 2. Diskripsi umum tentang katagori utama limbah rumah sakit adalah: o Limbah umum: sejenis limbah domestik.25 sampai 3. Limbah dari pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dapat diklasifikasikan dalam beberapa katagori utama.asam animo. Kegiatan-kegiatan penunjang: o Bank darah o Apotik o Pusat pelatihan medis o Ruang mayat o Ruang steril o Ruang cuci pakaian o Ruang teknis o Laboratorium : klinis. garam-garam organik lainnya. o Limbah berpotensi menular (infectious).

sarung tangan dan sebagainya) atau materi yang berkontak dengan binatang yang sedang diinokulasi dengan penyakit menular atau sedang menderita penyakit menular Benda-benda tajam yang biasa digunakan dalam kegiatan rumah sakit: jarum suntik. Daur ulang sedapat mungkin diterapkan pada setiap kesempatan. Limbah ini biasanya hanya 10 . stok hewan atau mikroorganisme. Katagori yang termasuk limbah ini antara lain jaringan dan stok dari agen-agen infeksi dari kegiatan laboratorium. Beberapa contoh warna yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI adalah: o Kantong warna hitam: limbah sejenis rumah tangga biasa o Kantong warna kuning: semua jenis limbah yang harus masuk insinerator o Kantong warna kuning strip hitam: limbah yang sebaiknya ke insinerator. kuku. pacahan kaca dan sebagainya. digunakan pemisahan dengan kantong-kantong yang spesifik (biasanya dengan warna yang berbeda atau dengan pemberian label). bulu. sedang bahan-bahan tajam yang terinfeksi diperlakukan sebagai limbah berbahaya. Limbah infectious beresiko tinggi perlu ditangani terlebih dahulu dalam autoclave sebelum menuju pengolahan selanjutnya atau sebelum disingkirkan di landfill. Tidak termasuk dalam katagori ini adalah urin dan tinja.15 % dari seluruh volume limbah kegiatan pelayanan kesehatan. filter. Sasaran pengelolaan limbah rumah sakit adalah bagaimana menangani limbah berbahaya.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 o o o o menimbulkan penyakit. syring. sedang yang terinfeksi harus diperlakukan sebagai limbah berbahaya. dari ruang bedah atau dari autopsi pasien yang mempunyai penyakit menular . atau bahan atau peralatan laboratorium yang berkontak dengan bahan. namun bisa pula dibuang ke landfill bila dilakukan pengumpulan terpisah dan pengaturan pembuangan o Kantong warna biru muda atau transparans strip biru tua : limbah yang harus masuk ke autoclave sebelum ditangani lebih lanjut. organ. atau telah tertumpah. Jenis dari limbah ini secara spesifik adalah: o Limbah human anatomical: jaringan tubuh manusia. bagian-bagian tubuh. atau materi yang berkontak dengan pasien yang menjalani haemodialisis (tabung. tabung yang mengandung gas dan aerosol yang dapat meledak bila diinsinerasi atau bila mengalami kerusakan karena kecelakaan (tertusuk dan sebagainya). organ. Dari sekian banyak jenis limbah klinis tersebut. gunting. atau dari pasien yang diisolasi. d. Limbah yang harus dipisahkan dari yang lain adalah limbah patologis dan infektious. serbet. daluwarsa atau terkontaminasi atau harus dibuang karena sudah tidak digunakan lagi Limbah citotoksik: bahan yang terkontaminasi atau mungkin terkontaminasi dengan obat citotoksik selama peracikan. gunting kuku dan sebagainya yang dapat menyebabkan orang tertusuk (luka) dan terjadi infeksi. darah. dan sebagainya. bangkai. Benda-benda ini mungkin terkontaminasi oleh darah. o Limbah-limbah benda tajam seperti jarum suntik. Limbah darah yang tidak terinfeksi dapat dimasukkan ke dalam saluran limbah kota dan dibilas dengan air. maka yang membutuhkan sangat perhatian khusus adalah limbah yang dapat menyebabkan penyakit menular (infectious waste) atau limbah biomedis.FTSL ITB Halaman 96 . Untuk memudahkan pengenalan berbagai jenis limbah yang akan dibuang. obat-obatan dan bahan kimiawi yang dikembalikan dari ruangan pasien isolasi. tetapi tidak termasuk gigi. rambut dan muka o Limbah tubuh hewan: jaringan-jaringan tubuh . o Limbah laboratorium mikrobiologi: jaringan tubuh. Kontainer-kontainer dibawah tekanan (aerosol dan sebagainya) tidak boleh dimasukkan ke dalam insinerator. bahan mikrobiologi atau bahan citotoksik Limbah farmasi (obat-obatan): produk-produk kefarmasian. pisau. menyingkirkan dan memusnahkannya seekonomis mungkin. Untuk limbah yang bersifat umum. pengangkutan atau tindakan terapi citotoksik Kontainer di bawah tekanan: seperti yang digunakan untuk peragaan atau pengajaran. Limbah yang telah dipisahkan dimasukkan kantong-kantong yang kuat (dari pengaruh luar ataupun dari limbahnya sendiri) dan tahan air atau dimasukkan dalam kontainer-kontainer Enri Damanhuri . bagian terkontaminasi dengan darah. Limbah darah dan cairan manusia atau bahan/peralatan yang terkontaminasi dengannya. Bahan-bahan tajam yang terinfeksi harus dibungkus secara baik serta tidak akan mencelakakan pekerja yang menangani dan dapat dibuang seperti limbah umum. gunting. gaun. penanganannya adalah identik dengan limbah kota yang lain. namun higienis dan tidak membahayakan lingkungan. kaca pecah. cairan tubuh. tetapi tidak termasuk gigi. vaksin.bahan tersebut.

Aturan yang berlaku bagi limbah kimiawi dari rumah sakit ini adalah identik dengan penangan limbah kimiawi dari sumber industri. garam-garam picrat. o Bahan reaktif lain: asam nitrit diatas 70%. Mg. etylene glycol dimethyl ether (glyme). sodium amide.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 logam. K. asam citris dan garam-garamnya (Na. Limbah kimiawi berbahaya yang tidak dapat didaur-ulang segera dipisahkan sesuai dengan jenisnya dan pengolahannya. sulfat (Na. Limbah berbahaya dari rumah sakit yang akan diangkut. Sb. Limbah yang akan diangkut ke luar. Alat angkutan atau sarana pembawa tersebut harus dicuci secara rutin dan hanya digunakan untuk membawa lim bah. logam halida dari Al. chlorotrifluoroethylene. maka limbah ini dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam kontainer untuk ditangani seperti limbah biasa. Su dan Ti. As. bromida (Na. larutan. nitro cellulose. polynitroaromatic. oksidaoksida (B. Li. thionyl chloride. o Water reactive: logam-logam alkali dan alkali tanah. dicyclopentadiene. reagen Grignard. Ca). butadiene. sehingga tidak boleh dibuang melalui sistem riolering. garam-garam perchlorat. Ca dan NH4). borat (Na. K. Di rumah sakit modern. misalnya oleh Dinas Kebersihan setempat. Secara umum jenis pengolahan limbah rumah sakit adalah : Enri Damanhuri . iodida (Na. o 12 bulan: acrylonitrile. harus tidak mengandung resiko terhadap kesehatan pengangkut tersebut. K).K). tanda-tanda dan tata caranya. misalnya melalui sebuah insinerator.larutan boron trifluorida. S. vinylidene chloride. hidrida dari Al. Mg. phosphorus pentoxide. Si. Na. Ca). o 24 bulan: acetat. NH4. maka bila memungkinkan untuk didaur ulang. dioxane. K. reagen alkyl lithium. isoprophyl ether. sulfuryl chloride. dan diisi secukupnya agar dapat ditutup degan mudah dan rapat. P. karena limbah jenis ini kadangkala toksik dan flammable. Kontainer harus ditutup dengan baik sebelum diangkut. K). Namun kontainer maupun kantong-kantong yang digunakan harus jelas tertulis atau tertandai sebagai limbah tidak berbahaya. Bagi limbah kimiawi yang tergolong tidak berbahaya. vinyl ether. Kantong-kantong yang digunakan dibedakan dengan warna yang seragam dan jelas. K. Mobilitas dan transportasi limbah baik internal maupun eksternal hendaknya dipertimbangkan sebagai bagian menyeluruh dari sistem pengelolaaan dari institusi tersebut. kantong tersebut diberi label atau simbol yang sesuai. flourida (Ca). Ca. metal azide. diacetylene. misalnya jenis kontainer. Mg. Secara internal. Ca dan NH4). K. Mg Ca. khlorida (Na. Limbah radioaktif juga harus mempunyai tanda-tanda yang standar dan disimpan untuk menunggu masa aktifnya terlampaui sebelum dikatagorikan limbah biasa atau limbah berbahaya lainnya. tetrahydronaphtalene. maka kantong-kantong itu harus bisa ditembus oleh uap sehingga sterilisasi dapat berlangsung sempurna. gula dan sebagainya o kelompok kimia anorganik: bikarbonat (Na. Fe. methyl acethylene. perchloric acid. Ca). namun cara ini tidak boleh digunakan untuk limbah patologis dan infectious. vinyl chloride. diethylene glycol dimethil ether (diglyme). dan Na. bahan kimia peroksida. NH4). transportasi limbah ini bisa menggunakan cara pneumatis dengan perpipaan. Limbah reaktif yang berasal dari rumah sakit adalah senyawa-senyawa seperti: o Shock sensitive: senyawa-senyawa diazo. Seluruh bahan kimia peroksida di atas harus diberi tanggal begitu digunakan dan penyimpanannya (setelah dibuka) terbatas dengan lama penyimpanan maksimum: o 3 bulan: diethyl ether. Mg. Bila digunakan kantong dan terlebih dahulu harus masuk autoclave. K. diatur seperti halnya aturanaturan yang berlaku pada limbah berbahaya lain. Karbonat (Na. K. tetrahydrofuran. asam picric. asam-asam amino dan garamgaramnya. phosphorus oxychloride. phosphor (merah dan putih). Mg. Disamping warna yang seragam. cyclohexane. Mg. B. decahydronaphthalene. K). lactic dan garamgaramnya (Na. limbah biasanya diangkut dari titik penyimpanan awal manuju area penampungan atau menuju titik lokasi insinerator.FTSL ITB Halaman 97 . Contoh limbah kimiawi yang tidak tergolong berbahaya adalah: o kelompok kimia organik: asetat (Ca. Ca).

baik secara on-site maupun off-site. Enri Damanhuri . solven berhalogen membutuhkan penanganan khusus dan solven non. dan dapat disatukan dengan limbah domestik o Seluruh makanan yang telah meninggalkan dapur pada prinsipnya adalah limbah bila tidak dikonsumsi dan sisa makanan dari bagian penyakit menular perlu di autoclave dulu sebelum dibuang ke landfill. b. dan umumnya disimpan untuk menunggu waktu paruhnya telah habis. misalnya: disinfektan. autoclave tidak dibutuhkan bila limbah tersebut telah diwadahi dan ditangani secara baik sebelum diinsinerasi. nikel dan timbal o Insinerator merupakan sarana yang paling sering digunakan dalam menangani limbah jenis ini. Limbah kimia: o Bagi limbah kimia yang tidak berbahaya. Limbah umum: o Tidak diperlukan pengolahan khusus. sehingga perlu ditangani sesuai jenisnya e.FTSL ITB Halaman 98 . Limbah farmasi: obat-obatan yang tidak digunakan dikembalikan pada apotik. atau didaur-ulang untuk mendapatkan khromnya – Limbah logam . Limbah berpotensi menularkan penyakit (infectious): Memerlukan sterilisasi terlebih dahulu atau langsung ditangani pada insinerator .halogen dapat dibakar pada on-site insinerator o Limbah cytotoxic dan obat-obatan genotoxic atau limbah yang terkontaminasi harus dipisahkan. h. Limbah radioaktif: o Bahan radioaktif yang digunakan dalam kegiatan kesehatan/medis ini biasanya tergolong mempunyai daya radioaktivitas level rendah. kadmium. Limbah patologis: o Pengolahan yang dilakukan adalah dengan sterilisasi.merkuri dari termometer. dikemas dan diberi tanda serta dibakar pada insinerator. yaitu di bawah 1 megabecquerel (MBq) o Limbah radioaktif dari rumah sakit dapat dikatakan tidak mengandung bahaya yang signifikan bila ditangani secara baik o Penangan limbah dapat dilakukan di dalam area rumah sakit itu sendiri. oli dari trafo dan kapasitor atau dari mikroskop yang mengandung PCB dan sebagainya. acetone dan alkohol lainnya yang dapat diredistilasi – Solven organik lainnya yang tidak toksik atau tidak mengeluarkan produk toksik bila dibakar dapat digunakan sebagai bahan bakar – Asam-asam khromik dapat digunakan untuk membersihkan peralatan gelas di laboratorium. insinerasi dilanjutkan dengan landfilling o Insinerasi merupakan metode yang sangat dianjurkan. f.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 a. sedangkan yang tidak dipakai lagi ditangani secara khusus misalnya diinsinerasi atau di landfilling atau dikembalikan ke pemasok. sebelum dibakar dalam insinerator g. limbah jenis ini tidak di autoclave karena disamping tidak mengurangi toksiknya juga dapat berbahaya bagi operator o Beberapa jenis limbah kimia berbahaya juga dihasilkan dari bagian pelayanan alat-alat kesehatan. penanganannya adalah identik dengan limbah lainnya yang tidak termasuk katagori berbahaya o Konsep penanganan limbah kimia yang berbahaya adalah identik dengan penjelasan sebelumnya yang terdapat dalam diktat ini tentang limbah berbahaya o Beberapa kemungkinan daur-ulang limbah kimiawi berbahaya misalnya : – Solven semacam toluene. Benda-benda tajam: Dikemas dalam kemasan yang dapat melindungi petugas dari bahaya tertusuk. Kontainer-kontainer di bawah tekanan: di landfilling atau didaur-ulang. manometer dan sebagainya dikumpulkan untuk didaur-ulang . insinerator tersebut harus dilengkapi dengan sarana pencegah pencemaran udara. o Solven yang tidak diredistilasi harus dipisahkan antara solven yang berhalogen dan nonhalogen. sedang residunya yang mungkin mengandung logam-logam berbahaya dibuang ke landfill yang sesusai. limbah jenis ini dilarang untuk diinsinerasi karena akan menghasilkan gas toksik – Larutan-larutan pemerosesan dari radioaktif yang banyak mengandung silver dapat direklamasi secara elektrostatis – Batere-batere bekas dikumpulkan sesuai jenisnya untuk didaur-ulang seperti : merkuri. xylene. untuk kemudian disingkirkan sebagai limbah non-radioaktif biasa d. kantong-kantong yang digunakan untuk membungkus limbah juga harus diinsinerasi. c.

obat-obatan. Pada dasarnya bahan berbahaya tidak akan menimbulkan bahaya jika pemakaian. soda kaustik. Survai yang dilakukan di Amerika Serikat menggambarkan porsi limbah pada sampah kota yang berasal dari bahan yang biasa digunakan di rumah di Amerika Serikat.1 di bawah ini. yaitu : − di dapur. Produk pembersih: − bubuk penggosok abrasif : korosif − pembersih mengandung senyawa amunium dan turunannya : korosif − pengelantang : toksik. obat-obatan. shampo anti ketombe. air freshener. seperti adanya lapangan golf dan sebagainya menambah intesifnya penggunaan bahan biosida yang umumnya resistan dan bersifat biokumulasi serta mendatangkan dampak negatif dalam jangka panjang bagi manusia yang terpaparnya. maka bahan tersebut akan menjadi limbah. korosif − pembersih saluran air : korosif − pengkilap mebel : mudah terbakar − pembersih kaca : Korosif (iritasi) − pembersih oven : korosif − semir sepatu : mudah terbakar − pengkilap logam (perak) : mudah terbakar Enri Damanhuri . Pencampuran dua atau lebih dapat pula menimbulkan masalah. Efek pada kesehatan manusia yang paling ringan umumnya akan terasa langsung karena bersifat akut. kepala pusing. penyimpanan dan pengelolaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. seperti : korek api. cat dan solven pengencer. seperti : pembersih saluran air. pupuk. − di garasi/taman. yang kemungkinan besar tetap berkategori berbahaya.0 16. lamban. Kegiatan agrowisata. penggunaan bahan berbahaya agaknya juga sulit dihindari. Tabel 7. perekat.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 2 LIMBAH BERBAHAYA DARI RUMAH TANGGA Bahan sehari-hari yang digunakan di rumah tangga dewasa ini. Oleh karenanya.4 30. tanung bekas pewangi ruangan. namun dapat pula masih tersisa pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari seperti dalam sayur mayur dan buah-buahan. seperti tertera dalam Tabel 7. khususnya di kota. seperti penggunaan biosida dalam kegiatan pertanian.5 6. pembunuh nyamuk − di ruang keluarga. hairspray. Bahanbahan tersebut digunakan dalam hampir seluruh kegiatan di rumah tangga. pada kemasan bahan-bahan tersebut biasanya tertera aturan penyimpanan. semir. Bila bahan tersebut tidak lagi digunakan.FTSL ITB Halaman 99 .0 Contoh di bawah ini lebih lanjut menggambarkan karakteristik bahaya dari bahan yang biasa digunakan di rumah tangga tersebut di atas : a. alkohol. batere. minyak tanah. seperti : pestisida dan insektisida. misalnya tidak terpapar pada temperatur atau diletakkan agar tidak terjangkau oleh anak-anak. spiritus / alkohol − di kamar mandi dan cuci. termasuk pula bekas pewadahannya seperti bekas cat. kamfer. kaporit atau desinfektan. asam cuka. tidak terlepas dari penggunaan bahan berbahaya.1 7. seperti : cairan setelah mencukur. cairan pmbersih. aki bekas Di lingkungan pedesaan serta di lingkungan yang mungkin terlihat asri. yang dampaknya disamping akan menghasilkan residu yang terbuang pada badan penerima alamiah. oli mobil. kosmetik. seperti : parfum. seperti kesulitan bernafas. pembunuh kecoa − di kamar tidur. iritasi mata atau kulit.1: Limbah berbahaya dari rumah tangga Komponen Penggunaan untuk pembersih Penggunaan untuk perawatan badan Produk untuk otomotif Cat dan sejenisnya Penggunaan rumah tangga lain Persen 40. gas elpiji. pembersih toilet.

yaitu minimasi dan daur ulang limbah. Selain berasal dari pemukiman penduduk.35-0. dibolehkan membuang limbah jenis tersebut ke dalam sistem penyaluran limbah kota. penghasil limbah misalnya dari rumah tangga dapat membuang limbahnya bersama sampah kota bila jumlah per bulannya tidak melebihi nilai tersebut. toksik d. Di Indonesia agaknya bila didasarkan atas porsi limbah yang masuk ke landfill. nilai ini akan lebih tinggi mengingat bahwa yang masuk ke landfill bukan saja dari rumah tangga. seperti timbulnya : o Gas toksik: bila pembersih mengandung senyawa amonia bercampur dengan pengelantang mengandung khlor o Ledakan: bila tabung sisa bahan yang digunakan secara penyemprotan terbakar di bak sampah Hasil studi di Amerika Serikat oleh USEPA menyimpulkan bahwa 0. Di Amerika Serikat dikenal konsep small-quantity generator. limbah berkatagori sampah kota yang berbahaya dapat pula berasal dari kegiatan komersial atau perkantoran. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain adalah : Enri Damanhuri . atau dari kegiatan industri lainnya. Perawatan badan: − shampo (anti ketombe) : toksik − penghilang cat kuku : toksik. sisa tinta dari usaha percetakan/foto-kopi. mudah terbakar − minyak wangi : mudah terbakar − kosmetika : toksik − obat-obatan : toksik c. Namun adanya bahan tersebut dalam sistem pengolahan limbah kota dapat menimbulkan terganggunya proses pengolahan yang ada. oli bekas dari bengkel dan sebagainya. seperti dari usaha benatu (laundry dan dry cleaning). toksik − pelarut / tiner : mudah terbakar − baterei : korosif dan toksik − khlorin kolam renang : korosif dan toksik − biosida anti insek : toksik. Limbah ini akan masuk ke dalam sistim pengelolaan sampah kota. pupuk : toksik − aerosol : mudah terbakar.40 % sampah pemukiman yang dibuang ke lahan-urug kota termasuk kategori limbah B3. mudah terbakar − herbisida. Produk otomotif : − cairan anti beku : toksik − oli : mudah terbakar − aki mobil : korosif − bensin. yang membatasi jumlah limbah minimum perbulan yang terkena aturan pengelolaan limbah B3. mudah meledak Bahan tersebut dapat pula menimbulkan bahaya lain bila bercampur satu dengan yang lain.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 − penghilang bintik noda : mudah terbakar − pembersih toilet dan lantai: korosif − pembersih karpet/kain : korosif. mudah terbakar b. misalnya : − Bila dibakar dalam insinerator.FTSL ITB Halaman 100 . termasuk limbah patologis. akan menghasilkan ledakan yang membahayakan akibat tabung pewadah. tetapi dapat berasal dari kegiatan medis. minyak tanah : mudah terbakar. Di bebarapa negara bagian di Amerika Serikat. atau terlepasanya logam-logam berat toksik akibat terpapar dengan temperatur tinggi − Terganggunya proses biodegradasi sistem pengolahan air limbah atau pengolahan di landfilling − Terganggunya produk kompos bila bila tidak dilakukan pemilahan terlebih dahulu Penanganan limbah berbahaya di rumah tangga sebetulnya mempunyai pendekatan yang sama dengan industri. Dengan aturan tersebut. Produk rumah tangga lain : − cat : mudah terbakar.

disertai pengetahuan tentang seberapa lama suatu produk habis digunakan.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 − − − − − − Pemilihan produk yang disertai penjelasan lengkap tentang komponen bahan yang digunakan. atau mungkin saja masih bernilai untuk dijual Penanganan limbah atau wadah yang akan dibuang secara baik sesuai petunjuk yang diberikan Enri Damanhuri . penyimpanan dan cara pembuangan limbah atau wadah bekasnya Penggunaan produk sesuai kebutuhan. aturan penggunaan. diberikan kepada yang membutuhkan. dan apakah telah digunakan semestinya Pembelian yang sesuai kebutuhan. walapun dengan membeli lebih banyak diperoleh biaya persatuannya yang lebih murah Penggunaan produk yang biodegradabel atau terdaur-ulang Pemanfaatan kembali limbah yang terbentuk.FTSL ITB Halaman 101 . ditukarkan dengan produk lain. baik untuk digunakan sendiri.

1984 Enri Damanhuri . : Evaluation of remedial action unit operations at hazardous waste disposal sites. PPLH ITB. : Hazardous waste incineration. 1984 Diouhy. : Almanach cousteau de l'environnement. 1992 Dept. 1994 Ehrenfeld. 1990 Departemen Kesehatan RI . of the Environment (UK) : Clinical waste . 1986 Damanhuri. 1994 Buzzi.Dit. 2.Cileungsi Jawa Barat. : Disposal of radioactive waste. Noyes Publications. : Policy for cleaner production .J. R. Publishing Co.Jend PPM & PLP : Pedoman Sanitasi RS.C. P. 1993 BAPEDAL : Survey industri penyamakan kulit di Sukaregang . E.Goethe Institut. Bandung June 15-16. J. February 1992 Center for Chemical Process Safety : Guidelines for hazard evaluation procedures. 1973 Collins. Z. : Organo metallic compounds in the environment.workshop implementasi konvensi Basel tentang impor & ekspor limbah scrap logam. DTC ITB . McGraw-Hill Book Co. 1981 Craig. J. American Institute of Chemical Engineers. McGraw-Hill Book Co. Bass. Serpong 9 Januari 1996 Djajadiningrat. E. 1992 CCME (Canada) : Guidelines for the management of biomedical waste in Canada CCME-EPCWM-42.FTSL ITB Halaman 102 . 1995 Cousteau.T. McGraw-Hill Kogakusha Ltd. 1992 Brunner. : Radioactive wastes.A.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 DAFTAR PUSTAKA BAPEDAL : Perencanaan teknis sistem pengolahan air limbah industri penyamakan kulit skala kecil Sukaregang . 1992 CH2M Hill International : Feasibility study . Lewis Publisher.waste wanagement paper no. Wiley & Sons Inc. Longman Group Limited. J. Elsevier Sci. S. C. J. LAPI ITB. : Chemical hazards at water and wastewater treatment plant. July 1990 Chanlett. Robert Laffont. 1960 Cookson Jr.centralized hazardous waste and toxic waste treatment facility GKS region . 1982 Direktorat Pengelolaan Limbah B3 BAPEDAL : Kebijaksanaan impor-ekspor limbah B3 dan non B3 . J.Garut. Teknik Lingkungan ITB Dames & Moore : Laporan studi kelayakan PPL-B3 ..T.T.International seminar on clean products and clean production technologies for sustainable industrial development.Final report.Garut. : Diktat kuliah pengelolaan limbah B3 TL-352 Edisi Semeter II 1993/1994. : Bioremediation engineering.R.Y. : Environmental protection.

: Hazardous waste minimization. A. McGraw-Hill Book Co.J. M. 1991 Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup : Kemitraan nasional dalam pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan : Hasil rapat koordinasi nasional I pengelolaan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan t ahun 1994. R... S. Bandung June 15-16.. 1993 Institution of Civil Engineers : Design and practice guided . Kennedy. Seminar penanganan limbah rumah sakit sebagai upaya mengurangi beban pencemaran lingkungan. International seminar on clean products and clean production technologies for sustainable industrial development. 1994 Kiang. Jain. 1993 Gronow.. Technomic Publishing Co. (Editor) : Toxic and hazardous wastes. (Editor in chief) : Standard handbook of hazardous waste treatment and disposal. 1990 Freeman. R. J. A : Tenaga atom dan aspek keselamatan. : Hazardous waste treatment technologies. 1982 Kugelman.P.K. Jakarta 14 September 1993 Kusumaatmadja.M. Noyes Publications. A. M. Vienna 1992 Jackman. 1995 Hanafia WS. DTC ITB Goethe Institut. : Cleaner production and clean product. Thomas Telford.A.D. : Hazardous and industrial waste treatment. Bahan kuliah program pasca sarjana Teknik Lingkungan. R. : Dechets industriels.Inc. Gateway Books. 1994 LaGrega.M. C.N.I. 1985 Kusnoputranto.FTSL ITB Halaman 103 .Lavoisier.an IAEA source book.. A.J.L. Kohpalindo. : Hazardous waste processing technology. Indonesian waste minimization seminar. 1986 Mann.L. : Benefits from industrial application of waste minimization. : Land disposal of hazardous waste. : Government and industry cooperative efforts promoting waste minimization. 1994 Maes.J. J. Indonesian waste minimization seminar. A. M. H. Powell. Metry.contaminated land. H.N.S. H. McGraw-Hill Book Co. : Kualitas limbah rumah sakit dan dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan. Jakarta 22-24 November 1994 Keating. : Hazardous waste management.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Freeman. USAID background paper # 1. Technique et documentation .H. John Willey & Sons. I. : 1995 Guide to industrial estates in Indonesia. USAID background paper # 2. Prentice Hall Inc. 1995 International Atomic Energy Agency : Radioactive waste management . 1988 Haas. Proceedings of the 17th Mid-atlantic industrial waste conference. Schofield. 1995 Enri Damanhuri . McGraw-Hill Book Co. R. Y. Semester II 1995/1996 Hirschorn.R. Vamos. 1988 Gagnet. Ann Arbor Science. : Bumi lestari menuju abad 21.. M.

Johnson.D. 1994 Rachmawati. Saidi. ISBN 979-8456-00-9. : Chemistry of hazardous materials.G. 1982 Sittig.bunga rampai : residu pestisida dan alternatifnya. 1978 Novotny. BPP Teknologi. Damanhuri. H.. 1979 Enri Damanhuri . A. A. G. Noyes Data Co. V. Guide pour l'elimination et la valorisation des dechets industriels. 1982. Proceedings seminar nasional pengelolaan lingkungan ITB . Van Nostrand Reinhold Co. Shuckrow. E. 1989 Ministere de l'evironnenment (France). : Handbook of non-point pollution. : Landfill disposal of hazardous wastes and sludges.BPP Teknologi .waste stabilization and landfills. Addison-Wesley Publishing co. Touhill. Prentice-Hall.T. C..L. 1994 Secretariat d'etat a l'environnement et la qualite de la vie : Analyse et caracterisation des dechets industriels. E. Pesticide Action Network (PAN) Indonesia.M. E. Cahiers No. S. Chesters. John Wiley & Sons. : Waste containment systems . : Waste treatment and utilization. Van Nostrand Reinhold Co. 1993/1994 Patterson. G.W. : Implikasi impor limbah di Indonesia . : Pengelolaan terpusat buangan B-3 dari industri kecil. Noyes Data Co. Studi kasus industri kecil di ‘Gerbangkertasusila’ Jawa Timur. 1980 Nemerow. : Hazardous waste management engineering. ANRED Moo-Young..P. J. : Environmental quality management. Goethe Institut Jakarta . 8.W. L.J. 1973 Ross. Pajak. 1985 Riza V.D. Van Nostrand Reinhold Co. 1975. . second edition. : Introduction to environmental engineering and science. M. 1981 Otorita Batam : Rencana detail sistem pengelolaan sampah dan limbah industri di wilayah otorita pengembangan daerah industri pulau Batam..Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Martin.J.P. C. A. Proceeding seminar : Waste and sustainable development. McGraw-Hill Ltd.H. H.. M. : Industrial water pollution. : Hazardous waste leachate management manual. Englewood Cliffs. 1992 Sharma. PrenticeHall.FTSL ITB Halaman 104 . 1984 Sewell. Jakarta Decembre 14-17. Inc. Prentice Hall Building. Lewis.UNESCO.H. Robinson. 1987 Masters. : Environmental system engineering. G.Tantangan Masa Depan. Ann Arbor Science. Englewood Cliffs. G..J..J. Bandung1993 Rich. : Hazardous waste handbook. Farquhar. N.. 1975 Porteous. : Industrial waste land disposal. : Wastewater treatment technology. R.. Inc. Z. E. . Pergamon Press. 1991 Meyer. Butterworths. dan Gayatri (Penyunting) : Ingatlah bahaya pestisida .

. Van Nostrand Reinhold 1977 World Bank .Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Sjöblom. New York 1995 Anonymous: Pusat pengolahan limbah industri berbahaya dan beracun (PPLI-B3).challengers for the future. E/CN. 1989 Wilson. H. Ingatlah behaya pestisida .. EPA/625/6-89/024. K. M. T.1 World Health Organization : Management of waste for hospitals.. Vigil. : Hazardous waste management. McGraw-Hill Book. Report on a WHO meeting. Economic and Social Commision for Asia .P... Pesticide Action Network. Van Nostrand Reinhold. John Wiley and Sons Inc. 1994 Enri Damanhuri .the London Convention 1972. WHO Regional Office for Europe.17/1994/7 USEPA : Handbook of operation and maintenace of hospital medical waste incinerator. Geneva... : Integrated solid waste management. WHO/EHE/94.... G. January 1990 USEPA : Treatment potential for 56 EPA listed hazardous chemicals in soils. Linsley. IAEA Bulletin 2/1994 Tchobanoglous. Theisen. 12083-IND Indonesia environment and development . McGraw Hill Book.L. Mott and K.. D. : Handbook of solid waste management. C. 1990 Waxman.G.A. fisrt phase : toxic and chemical and hazardous wastes.FTSL ITB Halaman 105 .. : Hazardous waste site operations. PT Prasadhana Pamunah Limbah Industri. EPA/600/6-88/001 Wagner.Residu pestisida dan alternatifnya.A.Report no.F. : Sea disposal of radioactive wastes . .the Pasific. 1993 United Nations Economic and Social Council : Review of sectoral clusters. Snyder : Pesticide alert.. 1994 World Health Organization : Healthy and productive lives in harmony with nature. March 21. L. Copenhage 1983 Anonymous: State of the Environment in Asia and the Pasific.Bunga rampai . 1996 Wentz. S.. G.. : Hazardous waste identification and classification manual.

bahan kimia industri. pestisida. oksidator-reduktor Minggu 7: Bahan kimia organik berbahaya Bahan kimia turunan hidrokarbon.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 RENCANA KULIAH TL-3204 PENGELOLAAN B3 SEMESTER II . penggolongan limbah. informasi tingkat bahaya. uraian lanjut tentang pengelolaan B3 versi PP 18/99 jo PP85/99. pengolahan.TL FTSL ITB Minggu 1: Pendahuluan Latar belakang. mudah terbakar. unit satuan. toksik. produk yang tidak sengaja dihasilkan Minggu 8: Ujian Tengah Semester. UU-74/2001. penyimpanan dan pengangkutan Dokumen pengangkutan. simbol dan label. Love Canal. reaktif (pada air). karakteristik B3 versi undang-2. pengangkutan Minggu 5: Labeling dan MSDS Karakteristik umum kimia berbahaya. mekanisme cradle-to-grave Minggu 4: Pelabelan. ---. peluluhan. limbah berbahaya dari rumah tangga. api dan kelas dalam kebakaran. penyimpanan. pengemasan-pewadahan. beberapa kasus dunia tentang B3/limbah B3 (Minamata. penanganan Minggu 12 sampai Minggu 14: diskusi kelompok Tugas B Enri Damanhuri . Konvesi Stockholm tentang pencemar organik yg persisten Minggu 3: Peraturan dalam pengelolaan limbah B3 Besaran limbah B3. -----) Minggu 10: Idem minggu sebelumnya Minggu 11: Limbah berbahaya kegiatan medis dan rumah tangga Sumber limbah medis. Kabut dioxin Seveso) Minggu 2: Peraturan dalam pengelolaan B3 Penggunaan bahan kimia. pengelolaan limbah radioaktif (sumber.).FTSL ITB Halaman 106 . UU-32/2009 ttg LH. penanganan limbah medis. Tugas A masuk Mingu 9: Bahan radio aktif dan limbahnya Sifat-sifat radioaktif (isotop. dokumen MSDS Minggu 6: Sifat-sifat berbahaya bahan kimia Bahan kimia korosif.

atau dalam laporan-laporan yang bisa diperoleh di website. lalu mengaitkan dengan kasus yang pernah terjadi baik di dalam negeri maupun di luar negeri yang muncul di masmedia. Enri Damanhuri . Tesis. misalnya Power Point. Referensi harus jelas tercantum. dan sebagainya.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 TUGAS A Mahasiswa diminta membuat paper yang membahas sebuah bahan berbahaya dari berbagai literatur atau dari website. Disertasi) yang ada di perpustakaan. TUGAS B Merupakan tugas kelompok maksimum beranggotakan 10 orang. Referensi harus jelas dicantumkan.FTSL ITB Halaman 107 . atau dari bahanbahan lainnya yang dapat mendukung ulasan-ulasan tersebut. khususnya yang biasa dijumpai sehari-hari. Mahasiswa diminta membuat paper yang membahas sebuah bahan atau limbah. selengkap-lengkapnya seperti diuraikan dalam Bagian II. Bagian IV dan Bagian V. Bahasan-bahasan tersebut harus cukup komprehensif. termasuk bagaimana seharusnya mengelola dan menghindari terjadinya permasalahan. Naskah tertulis tersebut kemudian dibuatkan bahan presentasinya. khususnya dengan memasukkan ulasan-ulasan ataupun gagasangagasan yang didasarkan atas tulisan-tulisan seperti peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia atau di negara lain atau dari buku-buku referensi. bahan kimia di laboratorium. atau dari karya ilmiah mahasiswa (Tugas Akhir. seperti aki bekas. oli bekas. untuk dipresentasikan dan didiskusikan di kelas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful