P. 1
Pengolahan Bahan Beracun Dan Berbahaya

Pengolahan Bahan Beracun Dan Berbahaya

|Views: 57|Likes:
Published by fadhyela

More info:

Published by: fadhyela on Apr 13, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/27/2013

pdf

text

original

Sections

  • KATA PENGANTAR
  • 3 KASUS LOVE CANAL (AMERIKA SERIKAT)
  • 4 KASUS KABUT DIOXIN DI SEVESO (ITALIA)
  • 1 UMUM
  • 2 PENGELOLAAN B3 DALAM PP 74/2001
  • 3 KARAKTERISASI B3 MENURUT PP 74/2001
  • 6 PENGANGKUTAN
  • 9 BEBERAPA SENYAWA ORGANIK BERBAHAYA
  • 1 LIMBAH MEDIS
  • 2 LIMBAH BERBAHAYA DARI RUMAH TANGGA

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

DIKTAT KULIAH TL-3204

PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)

DISIAPKAN OLEH : PROF. ENRI DAMANHURI

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
EDISI SEMESTER II 2009/2010
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 1

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI 2 KATA PENGANTAR 3 BAGIAN I : PENDAHULUAN 1 Umum 4 2 Kasus kucing menari di Minamata 7 3 Kasus love canal (Amerika Serikat) 8 4 Kasus kabut dioxin si Seveso (Italia) 10 5 Kasus Kepone di Hopewell (Amerika Serikat) 11 6 Kasus laha Stringfellow di Kalifornia 12 BAGIAN II : PERATURAN DALAM PENGELOLAAN B3 1 Umum 13 2 Pengelolaan B3 dalam PP 74/2001 14 3 Karakterisasi B3 menurut PP74/2001 18 BAGIAN III : PERATURAN DALAM PENGELOLAAN LIMBAH B3 1 Umum 21 2 Pengelolaan limbah B3 dalam PP18/99 jo PP85/99 22 3 Konsep cradle-to-grave Amerika Serikat 30 BAGIAN IV : PELABELAN, PENYIMPANAN DAN PENGANGKUTAN 1 Umum 35 2 Dokumen 35 3 Simbol dan label 36 4 Pengemasan dan pewadahan 40 5 Penyimpanan dan pengumpulan 44 6 Pengangkutan 48 BAGIAN V : SIFAT DAN KARAKTERISTIK BAHAN KIMIA BERBAHAYA 1 Umum 50 2 Kelas kebakaran 51 3 Informasi tingkat bahaya 52 4 Dokumen material safety data sheets (MSDS) 5 Bahan kimia korosif 56 6 Bahan kimia yang reaktif pada air 60 7 Bahan kimia toksik 64 8 Senyawa pengoksidasi 71 9 Beberapa senyawa organik berbahaya 75 BAGIAN VI : LIMBAH RADIOAKTIF 1 Umum 81 2 Sifta-sifat radioaktivitas 81 3 Pengelolaan limbah radioaktif 85 BAGIAN VII LIMBAH MEDIS DAN RUMAH TANGGA 1 Limbah medis 94 2 Limbah berbahaya dari rumah tangga 99

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 2

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

KATA PENGANTAR

Diktat ini disusun untuk membantu mahasiswa yang mengambil mata kuliah TL3204 Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Kurikulum-2008 pada Program Sarjana Teknik Lingkungan FTSL ITB. Bahan kuliah ini merupakan penyesuaian dari Diktat Kuliah TL-352 Pengelolaan Limbah B3, yang mulai diperkenalkan pada Program Sarjana Teknik Lingkungan ITB Kurikulum 1993. Pada kurikulum-kurikulum sebelum 1993, materi ajar tentang limbah B3 secara terpisah tercakup dalam beberapa mata kuliah yang membahas masalah penanganan limbah. Sejak Kurikulum 2008, materi kuliah Pengelolaan Limbah B3 berganti nama menjadi Pengelolaan B3, yaitu mempertegas bahwa materi kuliah ini bukan hanya membahas limbah, tetapi juga bahan yang berbahaya. Diktat ini disusun dengan acuan 14 sesi pertemuan tatap muka dalam semester II di ITB, termasuk 3 sesi diskusi tugas di kelas. Beberapa bagian dari diktat ini membahas materi yang akan dibahas lebih rinci lagi dalam mata kuliah yang berada pada semester yang lebih tinggi, sehingga materi yang ada dalam diktat ini dapat dikatakan bersifat umum untuk memberikan gambaran secara utuh tentang Pengelolaan B3. Untuk penyusunan diktat ini digunakan beberapa rujukan literatur dari negara industri seperti tercantum dalam Daftar Pustaka. Beberapa rujukan yang sangat dominan dalam penyusunan diktat ini dicantumkan secara khusus pada setiap akhir Bagian. Walaupun diktat ini bertujuan untuk membantu mahasiswa yang mengambil mata kuliah TL-3204 pada Program Sarjana, namun bahan yang diberikan pada Diktat ini relevan untuk digunakan pula pada Program Magister, serta tidak tertutup kemungkinan bahwa diktat ini bisa bermanfaat pula bagi mereka yang berminat dengan masalah bahan dan limbah B-3, sebab sangat jarang sekali bahan ajar ini ditulis secara utuh dalam Bahasa Indonesia. Semoga bermanfat bagi kita semua. Bandung, Februari 2010 Prof. Enri Damanhuri Program Sarjana Teknik Lingkungan FTSP ITB

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 3

Pelepasan bahan berbahaya pada tahun 1990-an di Indonesia.perminyakan.Kecepatan pertumbuhan sektor industri . Filipina. Selanjutnya Peraturan Pemerintah (PP) No. akibat dampaknya terhadap manusia dan lingkungan bila tidak dikelola secara baik. Di empat kota saja (Jakarta. 4/1982). yaitu : . 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (menggantikan UU No. Intensitas atau perbandingan antara limbah bahan berbahaya yang ditimbulkan dengan unit hasil industri secara mencolok juga meningkat. Dengan mengetahui komposisi dan memahami bagaimana perubahan terjadi. yang kemudian naik menjadi 60% pada tahun 1990. yang setara dengan sekitar 27% dari seluruh hasil industri Indonesia. 74/2001 mengatur lebih lanjut tentang pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3). terutama di daerah industrialisasi yang berkembang dengan cepat seperti di negara-negara ASEAN dan China. dan Thailand diprakirakan telah meningkat menjadi sekitar empat. Menurut World Bank ada 3 pola pertumbuhan industri yang perlu diperhatikan. baik secara alamiah maupun sintetis. yang berkaitan dengan komposisi materi. menempatkan masalah bahan dan limbah berbahaya sebagai salah satu perhatian utama. dan PP 18/99 juncto 85/99 mengatur lebih lanjut tentang pengelolaan limbah B3. Masalah limbah menjadi perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah Indonesia. delapan. kegiatan medis dan kegiatan pertanian Undang-Undang No. Pasal 58 sampai Pasal 61 UU-32/2009 mengatur larangan membuang dan mengatur pengelolaan limbah dan B3. Perkembangan industri disamping berdampak positif pada perkembangan ekonomi. lebih dari 85% hasil industri Indonesia berasal dari kegiatan industri yang berlokasi di Pulau Jawa. Kimia merupakan salah satu ilmu pengetahuan alam. khusunya sejak dekade terakhir ini. namun materi ini pulalah yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang berbahaya. terutama akibat perkembangan industri yang merupakan tulang punggung peningkatan perekonomian Indonesia. dengan definisi sebagai bahan berbaya dan beracun.Pergeseran jenis industri Sektor lain yang berpotensi dampak negatif pada lingkungan adalah kegiatan pertambangan . manusia dapat mengontrol dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan manusia.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN I PENDAHULUAN 1 UMUM Penggunaan kimia dalam kebudayaan manusia sudah dimulai sejak zaman dahulu. juga menimbulkan dampak negatif tidak hanya pada pusatpusat industri dan daerah sekitarnya tetapi juga pada tingkat nasional. tetapi di Enri Damanhuri . termasuk juga perubahan yang terjadi di dalamnya. Senyawa-senyawa kimia sintetis inilah yang banyak dihasilkan oleh peradaban modern. Sekitar 55% dari pusat-pusat industri di Pulau Jawa berlokasi di daerah perkotaan. Surabaya. dan sepuluh kali lipat. Peraturanperaturan tentang masalah ini telah banyak dikeluarkan oleh Pemerintah. regional dan lingkungan secara global. Pada permulaan tahun 1970-an. Bandung dan Semarang) terdapat sekitar 36% dari total industri di Pulau Jawa.FTSL ITB Halaman 4 .Distribusi spasial yang belum merata .

Dampak negatif akibat limbah tersebut adalah kontaminasi sumber-sumber air. terganggunya kesehataan masyarakat serta penurunan kualitas ekologi lingkungan. namun pula menimbulkan masalah toksisitas dari limbah tersebut. industrialisasi juga menimbulkan dampak secara langsung. atau jika kontribusi sektor industri itu sendiri menurun. Manusia membutuhkan lebih banyak jenis produk baru yang akhirnya menghasilkan limbah yang spesifik. tetapi juga pada tingkat nasional. sehingga biaya pengolahannya dapat ditekan. Masyarakat industri menghasilkan produk mulai dari gasoline. Secara keseluruhan. Tingginya jumlah limbah industri yang dihasilkan per unit hasil industri merupakan salah satu dari masalahmasalah utama yang ada. bahkan pertumbuhan industri negara-negara sedang berkembang di wilayah ini lebih menonjol. Mulai dari penggunaan bahan baku. Sesuai dengan PP 18/99 juncto 85/99. Namun sebagian besar jenis limbah yang dihasikan. negara-negara di wilayah Asia and Pasifik secara keseluruhan memperlihatkan pertumbuhan industri yang kuat bila dibandingkan dengan tempat-tempat lain di dunia. industri memfokuskan dirinya pada produksi plastik dan pestisida. Revolusi industri dan penggunaan bahan kimia organik yang terus meningkat setelah perang dunia ke 2. Enri Damanhuri . pemilihan jenis mesin dan sebagainya. sektor industri telah mengakibatkan beban pencemaran : − Melalui peningkatan kuantitas cemaran dalam jangka waktu pendek dan menengah. akan mempengaruhi karakter limbah yang tidak terlepas dari proses industri itu sendiri.FTSL ITB Halaman 5 . kegiatan enersi (seperti limbah radioaktif PLTN). kegiatan kesehatan (seperti limbah infectious dari rumah sakit) atau dari kegiatan rumah tangga (misalnya penggunaan batere merkuri). timbulan limbah berbahaya pada tahun 1984 diprakirakan sekitar 300 juta ton. Sebelum krisis ekonomi 1997. naphta ke kerosene. Beberapa negara di wilayah ini malah menghasilkan limbah dalam jumlah yang tinggi. Sebagian dari limbah industri tersebut berkatagori hazardous waste. Penanganan limbah merupakan suatu keharusan guna terjaganya kesehatan manusia serta lingkungan pada umumnya. tidak hanya pada pusat-pusat industri dan daerah sekitarnya. Keaneka ragaman jenis limbah akan tergantung pada aktivitas industri serta penghasil limbah lainnya. Walaupun demikian. Namun pengadaan dan pengoperasian sarana pengolah limbah ternyata masih dianggap memberatkan bagi sebagian industri. sehingga dapat mengurangi kemiskinan. walaupun limbah tersebut berasal dari industri. regional dan lingkungan secara global. misalnya pembuangan limbah berbahaya negara maju ke negara yang sedang berkembang. dalam jangka waktu panjang kuantitas cemaran mungkin menurun jika terjadi perubahan yang drastis dengan adanya industri yang lebih bersih lingkungan. pemilihan proses produksi. Industrialisasi yang cepat telah menciptakan sebuah peluang baru untuk mendistribusikan hasil-hasil pembangunan dengan lebih efektif di negara-negara tersebut. Penemuan minyak (petroleum) pada pertengahan tahun 1880 menyebabkan meningkatnya produk kimia organik disertai limbahnya. Limbah berkatagori non-hazardous tidak perlu ditangani seketat limbah hazardous. Masalah penanganan limbah berbahaya ini juga merupakan obyek dagang yang tidak terpuji.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 lapangan banyak mengalami hambatan. bukan saja mengakibatkan kenaikan timbulan limbah secara dramatis. yaitu berubahnya jumlah pencemaran yang ditimbulkan per unit hasil industri. seperti dari aktivitas pertanian (misalnya penggunaan pestisida). padanan kata untuk Hazardous Waste yang digunakan di Indonesia adalah Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dan disingkat menjadi Limbah B3. biasanya berasal dari kegiatan industri. Di Amerika Serikat misalnya. Tetapi jenis limbah ini berasal pula dari kegiatan lain. Setelah berakhirnya Perang Dunia II. − Melalui perubahan intensitas pencemaran terhadap hasil industri.

industri proses dinilai lebih intensif terhadap pencemaran. Tingkat pencemaran pestisida dan pengaruhnya terhadap kesehatan di Indonesia sulit untuk diprakirakan. Filipina. Di pulau Jawa khususnya. Pada daerah perkotaan di Indonesia seperti di Jakarta. yang ditandai dengan meningkatnya cemaran-cemaran toksik dan logam-logam bioakumulatif. Intensitas atau perbandingan antara limbah berbahaya yang ditimbulkan dengan unit hasil industri secara mencolok juga meningkat. pelarut. Sampai tahun 1994. kontribusi industri terhadap pencemaran akan menurun. yang berpotensi menghasilkan limbah toksik dan infectious − Kegiatan pertanian dan agro-wisata. yang diprakirakan akan meningkat kurang dari 200. Timbulan logam-logam berat dari industri di wilayah Asia dan Pasifik telah dinilai melebihi nilai batas ambang yang aman. dan zat kimia berbahaya lainnya. di Indonesia akan terjadi pergeseran komposisi industri secara sektoral. Ciliwung. Dilaporkan pula oleh Bank Dunia bahwa intensitas pencemaran dari limbah berbahaya ternyata cenderung meningkat sejak tahun 1970. dari tahun 1970 sampai 1990 limbah penduduk dan industri telah menurunkan kualitas air sungai di bagian hilir seperti Cisadane. Pada waktu itu juga ditemukan sejumlah besar tempat-tempat yang terkontaminasi oleh limbah berbahaya di seluruh dunia. termasuk bertambahnya biaya dan resiko akibat pencemaran lingkungan. New York. namun beban cemarannya secara absolut akan meningkat sekitar 10 kali. Menurut WHO telah terjadi 3 juta kasus keracunan pestisida Enri Damanhuri . yang berpotensi menghasilkan limbah biosida.FTSL ITB Halaman 6 . Bandung dan Semarang. delapan. Bila strategi pengembangan industri tidak berubah seperti periode tersebut. dan Thailand diprakirakan telah meningkat masing-masing menjadi sekitar empat. The US Office of Technology and Assessment memprakirakan bahwa biaya pemulihan semua tempat yang telah diidentifikasi di Amerika Serikat adalah sekitar US $ 500 milyard. Secara keseluruhan. Bahan pencemar berbahaya dan beracun yang dihasilkan oleh industri adalah seperti logam berat. yaitu industri proses akan tumbuh lebih lambat dibanding industri perakitan. peranan sektor industri akan berkontribusi besar dalam produksi limbah berbahaya. diantaranya terdapat 161 kasus (10%) yang menyebabkan kematian. Bila industri yang terlibat dalam komoditi proses terus meningkat di masa datang. Departemen Kesehatan melaporkan sebanyak 1614 kasus keracunan. Dalam hal ini.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Pengelolaan limbah berbahaya telah menjadi perhatian Pemerintah Amerika Serikat semenjak penemuan tempat pengurugan limbah yang tidak memenuhi syarat di Love Canal. cat dan zat warna.000 ton pada tahun 1990 menjadi sekitar 1 juta ton pada tahun 2010. Namun kontribusi sektor-sektor lain juga perlu pula mendapat perhatian terutama dari : − Kegiatan medikal dan laboratorium. dan 85 % diantaranya akan terkonsentrasi di daerah perkotaan. Mengacu pada pengalaman negara industri seperti Amerika Serikat. dan sepuluh kali lipat. pelepasan bahan berbahaya ini di Indonesia. yaitu sekitar 2/3 dari total cemaran di Indonesia. sianida. 70 % industri berlokasi di kawasan-kawasan perkotaan dan sekitarnya. kontribusi pulau Jawa terhadap cemaran-cemaran toksik akan cenderung stabil. yaitu dari 70 % pada saat ini menjadi 60 % pada tahun 2020. pestisida. Menurut analisa Bank Dunia (1994). Surabaya. Lebih dari 75 % diantaranya merupakan cemaran-cemaran logam yang bioakumulatif. akan menambah beban bagi sumber daya alam. Kegiatan industri juga sangat berpotensi menghasilkan limbah berbahaya. Biaya implementasi sebuah program pengontrolan dan penyediaan sarana sebetulnya akan lebih kecil dibandingkan dengan upaya pemulihan lahan yang tidak dikelola secara baik. minyak. terutama di daerah industrialisasi yang berkembang dengan cepat seperti di negara-negara ASEAN dan China. Kali Berantas dan Citarum. Kali Surabaya. Selama periode 1984-89.

Tahun 1952 timbul penyakit aneh pada kucing yang kadangkala berakhir dengan kematian. tetapi tidak mendapatkan hasil memuaskan. Kasus penyakit ini juga terus berlanjut. sedang mercuri organik bersifat biokumulasi. Hampir semua kasus tadi (90-99%) terjadi di negara-negara yang sedang berkembang.1956 gejala yang dikenal sebagai "kucing menari" ditemui pula pada manusia.contoh tentang masalah limbah B3 dan pengelolaannya diambil dari pengalaman negara industri. Dengan asumsi rata-rata kasus kematian karena pestisida seluruh dunia sebesar 0.FTSL ITB Halaman 7 . Penduduk di sekitarnya adalah nelayan atau petani. Chisso Chemical Corporation membuka pabrik pupuk kimia di Minamata (terletak di pulau Kyushu. Kasus ini lama kelamaan terungkap.00005 maka diprakirakan kasus kematian karena pestisida di Indonesia adalah sekitar 9000 per tahun. Kasus Minamata ini terkenal di dunia bila membicarakan masalah industri. Tahun 1956 masyarakat sekitarnya mengadakan aksi menentang keberadaan Chisso. Chisso mempekerjakan penduduk setempat (sekitar 1/3 tenaga pekerjanya). hanya diketahui bahwa korban mengalami keracunan akibat memakan ikan yang berasal dari laut sekitar pabrik itu. dan berada fasa cair pada suhu biasa. Pada tahun 1714 Gabriel Fahrenheit menggunakan merkuri ini untuk termometer. yaitu sejumlah ikan mati tanpa diketahui sebabnya. Jepang Selatan). yang dapat menyerang syaraf dan otak. karena korban umumnya mengandung merkuri yang berlebihan pada Enri Damanhuri . Merkuri alamiah dapat dievakuasi oleh tubuh manusia secepatnya melalui urin. Merkuri didapat di alam. Chisso memberikan santunan pada korban dan yang meninggal. dan biasanya digunakan sebagai katalis. dan terutama menyerang anak-anak. keberadaan peraturan perundang-undangannya ataupun kesiapan masyarakatnya.100 tahun akan persistan di alam. Tetapi Chisso paada awalnya belum dicurigai sebagai penyebab. Antara tahun 1953 . dibuang secara bertahap sekitar 45 tahun. yang secara kenyataan telah lebih maju dari Indonesia baik dari segi keberadaan industrinya. Sinyal pertama kasus ini datang pada tahun 1950. Mikroorganisme dalam air mengkonversi logam ini menjadi methylmercure. Beberapa diantaranya meninggal dunia. walaupun diketahui bahwa merkuri digunakan sebagai katalis proses dari pabrik tersebut. merupakan logam warna putih-perak. atau fihak-fihak lain pada umumnya akan pentingnya pengelolaan limbah B3 terutama bagi negara Indonesia yang diharapkan akan menjadi negara industri dalam masa mendatang. Pengalaman negara industri dengan masalah limbah B3 nya hendaknya memberikan masukan bagi pengambil keputusan atau fihak-fihak terkait di Indonesia untuk tidak menyebabkan kasus-kasus yang terjadi di negara industri tersebut terulang lagi di negara Indonesia. yang terungkap setelah sekitar 600 ton merkuri. Asosiasi industri kimia Jepang juga membantu Chisso dalam melacak masalah ini dengan melakukan penelitian-penelitian. contoh. termasuk logam berat. limbah dan kesehatan masyarakat.000 kematian setiap tahunnya di seluruh dunia. Pencemaran mercuri tetap berlanjut. khususnya Amerika Serikat guna memberikan gambaran kepada mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini pada khususnya. 2 KASUS PENYAKIT "KUCING MENARI" DI MINAMATA Pada tahun 1932. dengan prakiraan 70 . Chisso kemudian mengeluarkan daftar bahan yang digunakan dalam pabriknya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 akut dan 220. Penelitian penyebab penyakit tersebut secara intensif dilakukan oleh pemerintah. yang digunakan sebagai katalis dalam prosesnya. tanpa mengetahui penyebab masalah ini. tetapi tidak tercantum merkuri dalam daftar tersebut. sehingga tidak menimbulkan masalah sosial pada awal pendiriannya. Dalam diktat ini. Berikut ini akan diberikan illustrasi berbagai kasus yang menyangkut bahan atau limbah B3 dari negara industri.

Sampai tahun 1947 dapat dikatakan daerah tersebut menjadi lahan pengurugan beragam jenis limbah terutama dari industri. khususnya industri kimia. Fihak Hooker menjual sebagian kanal tersebut ke pengelola kota hanya seharga US $ 1. yang dapat menghanguskan akar pohon sekitarnya. Pengembangan penelitian menghasilkan alternatif pemanfaatan produk samping ini menjadi bahan organik berkhlor seperti plastik. Niagara Falls menjadi pusat industri. tetapi hal ini dianggap alamiah. Belum seorangpun yang menyadari bahwa keuntungan dari pestisida seperti DDT. sepanjang sekitar 7 mil. Produk kimia yang dihasilkan antara lain adalah natrium hidroksida. biru dan ungu. dan pemerintah menyatakan bahwa Chisso adalah penanggung jawab penyakit yang berjangkit di Minamata. Pada tahun 1930-an. maka industri menjadi berkembang pesat di daerah tersebut. pestisida dan hasil industri antara lainnya. 8100 penduduk mengklaim hal ini. endrin atau dari bahan organik berklor lainnya seperti pelarut berkhlor akan mendatangkan masalah bagi lingkungan di kemudian hari. satu keluarga mendapatkan kolam renang mereka menjadi lebih tinggi sekitar 60 cm. Tahun 1953 fihak kotamadya meminta Hooker Chemical untuk menjual sebagian lahan kanal tersebut untuk pembangunan sekolah baru. Segala upaya dicoba untuk Enri Damanhuri .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 tubuhnya. korban kasus ini menerima santunan yang dibebankan pada Chisso. William T. masing-masing sepanjang seperempat mil. Pada saat itu fihak pemerintah dan industri belum mengetahui akibat samping dari produk ini. Elektrolisa ini juga menghasilkan produk samping (by-product) yang tidak diinginkan yaitu khlor. Ketika kolam ini dibongkar. 3 KASUS LOVE CANAL (AMERIKA SERIKAT) Dengan dibangunnya pembangkit listrik tenaga air di Niagara Falls pada tahun 1890. Akhirnya pembuangan merkuri dihentikan dengan ditutupnya pabrik tersebut. maka galiannya langsung terisi air tanah berwarna kuning. dan menyisakan dua bagian yang tidak terhubungkan. Tahun 1959 sebuah keluarga lain mendapat masalah di lantai bawahnya (basement) dengan adanya lumpur hitam yang masuk ke dalamnya. termasuk pula abu sisa pembakaran dari kota. yang merupakan produk elektrolisa natrium khlorida.FTSL ITB Halaman 8 . Hooker Chemical and Plastic Corporation yang memproduksi bahan kimia di daerah tersebut mulai mengurug limbahnya pada bagian utara Love Canal yang belum terselesaikan. Pembangunan dimulai tahun 1893. yang terproduksi dalam jumlah besar. yang pada saat itu telah berumur 77 tahun dan 68 tahun. dengan sifat yang sangat tajam. dan 1500 diantaranya yang diperiksa diketahui keracunan merkuri. Namun pembangunan kanal tersebut tidak dilanjutkan. Seorang keluarga di dekat Love Canal melahirkan anak dengan cacat fisik dan mental. Sekolah kemudian dibangun berdampingan dengan daerah yang sebelumnya adalah pengurug limbah industri. Sebagian dari lahan tersebut dijadikan taman bermain. Tahun 1978. dihukum masing-masing 2 tahun dan 3 tahun penjara. 22 Maret 1979 dua pemimpin Chisso . Direncanakan bahwa di sekitar kanal tersebut akan dibangun kawasan industri dan pemukiman untuk memanfaatkan tenaga listrik yang ada. Sering dijumpai anak-anak bergembira menemukan residu fosfor yang dapat menimbulkan bunga api bila dilemparkan ke permukaan yang berbatu. Disamping itu. Tahun 1952 kanal tersebut ditutup oleh Hooker Chemical. Pada tahun 1958 tiga anakanak mengalami luka bakar akibat terpapar dengan residu yang muncul ke permukaan. Love pada tahun 1892 merencanakan membuat sebuah kanal yang akan dapat menghubungkan bagian hulu dan hilir sungai Niagara. Bahkan Angkatan Darat Amerika Serikat juga mengurug sejumlah besar residu senjata biologis walaupun secara resmi fihak Pentagon menolak tuduhan tersebut. Tahun 1976 sekitar 120 penduduk Minamata meninggal karena keracunan merkuri dan 800 orang menderita sakit. Pada suatu pagi di tahun 1974.

masalah Love Canal mulai diketahui dan diperhatikan. Suatu recana perbaikan dan penyembuhan (remedial) mulai dirancang. Pemerintah negara bagian memerintahkan komisi kesehatan melakukan penelitian. Sejak saat itu. telah diurug di lahan-urug tersebut. diantaranya pembuatan drainase untuk mengalirkan lindi dan memompanya ke suatu tangki pengumpul untuk kemudian diolah sebelum dialirkan kembali pada sistem penyaluran air buangan kota. Kegiatan remediasi tersebut dianggap terlalu lambat oleh penduduk sekitarnya. sakit kepala. Akhirnya mereka membuat lobang untuk mengetahui apa yang terdapat di balik tembok. Kelahiran cacat fisik dan mental juga sering dijumpai.5 meter tanah kedap untuk menghindari masuknya air dari luar. Hasilnya adalah bahwa udara di daerah tersebut mengandung bahan-bahan toksik yang berada di atas ambang threshold-limit value (TLV). chloform dan trichloroethylene. Mereka menganggap bahwa masalah ini bukanlah suatu krisis yang besar. susah tidur dan diantaranya juga cacat mental. Peraturan pertama yang dikeluarkan oleh pemerintah negara bagian adalah menghentikan sama sekali pelindian yang tidak terkendali. Berdasarkan pertemuan dengan penduduk setempat. Hooker mengemukakan bahwa teknologi yang mereka gunakan adalah sesuai dengan peraturan yang berlaku. yang tetap digunakan oleh Pemerintahan Carter. induk perusahaan Hooker Chemical. Pendapat ini tetap berlangsung sampai pemerintah negara bagian mulai ikut campur. Analisa lebih lanjut menemukan bahwa cemaran kimia dalam konsentrasi tinggi telah mencemari air tanah. Sampel darah yang diambil juga menunjukkan indikasi adanya kerusakan hati yang meningkat. Dari sudut teknik. Sebagian besar dari anggota keluarga ini secara rutin mengalami gangguan fisik seperti iritasi. Kanal tersebut juga ditutup setebal 2. termasuk diantaranya 11 jenis cemaran penyebab kanker seperti benzene. dan yang sedang merencanakan membangun pusat kegiatan senilai US $ 17 juta. Studi pada tahun 1980 mengemukakan adanya bukti kerusakan khromosom pada penduduk. namun tetap tidak ingin menentukan yang bertanggungjawab. Namun dibutuhkan dana untuk melaksanakan kegiatan ini. dan memerintahkan memagari sekeliling lahan serta memberikan ventilasi pada basement yang tercemar. Mulai tahun 1976. walaupun pemerintah negara bagian mengajukan tuntutan denda pada Hooker Chemical sebesar US$ 635 juta. Enri Damanhuri .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 menghentikannya. Keluhan mereka pada fihak pemerintah kota tidak ditanggapi. maka diputuskan penutupan sekolah dan pengungsian anak-anak dan wanita yang sedang hamil yang tinggal berdekatan dengan kanal. tetapi pemerintah negara bagian menolak sampai adanya kejelasan kompensasi bagi penduduk. Survai kesehatan juga dimulai dan dijumpai bahwa keguguran spontan ternyata 250 kali lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. senyawa-senyawa toksik berhalogen terdeteksi pada sistem penyaluran air buangan kota.000 ton limbah kimia. Sejumlah besar cairan hitam masuk memenuhi ruangan. dilakukan pengambilan sampel udara di beberapa basement rumah di daerah tersebut. Disamping itu. cepat lelah. sehingga Pemerintahan Carter pada saat itu memerintahkan evakuasi sekitar 700 keluarga lagi. sejumlah limbah kimia mulai muncul di halaman beberapa rumah. agaknya mereka tidak ingin mengganggu kegiatan Hooker yang telah mempekerjakan sekitar 3000 penduduk setempat. Delapan bulan setelah kejadian kolam renang di atas. mencegah kemungkinan pelindian di masa datang dan menutup kanal. 237 keluarga akhirnya diungsikan. diantaranya 200 ton trichlorophenol. Mereka menginginkan kompensasi yang lebih dari itu.FTSL ITB Halaman 9 . Dengan bantuan USEPA. Akhirnya pada tahun 1977 fihak pemerintah kota mengakui adanya masalah ini. Hooker Chemical akhirnya mengeluarkan pernyataan bahwa sekitar 22. Namun akhirnya dicapai kesepakatan di pengadilan antara 1345 penduduk dengan Occidental Petroleum.

Kegiatan remediasi lahan yang terkontaminasi akhirnya menjadi salah satu program yang digalakkan di Amerika Serikat bagi lahan yang tercemar. ke Jerman Timur Enri Damanhuri .7. Pembersihan daerah terkontaminasi merupakan usaha besar-besaran yang dilakukan. Landfilling dalam tanah dilakukan dalam 2 lubang dengan proteksi kuat. Drum tersebut berlabel 'bahan hidrokarbon aromatis'. Seveso terletak di Italia Utara. didirikan di kota kecil Meda (dekat Seveso). dan dilarang menggunakan barang-barangnya. Anak-anak dengan langsung menunjukkan gejala chloracne pada mukanya dan bagian lain di tubuhnya. terutama dalam posisi lateral (2. Akhir 1960-an.7. Agaknya dioxin ini menimbulkan tumor yang berbeda untuk organ yang berbeda.7. Ibuibu yang hamil dianjurkan untuk menggugurkan kandungannya. industri farmasi Swiss. Atom chlor pada senyawa PCDD menghasilkan sampai 75 isomer dengan toksisitas yang sangat bervariasi. Kecelakaan terjadi pada tanggal 10 Juli 1976.3.8-Tetrachlorodibenzo-p-dioxin (2. dengan timbulnya suatu kasus yang cukup meggegerkan daratan Eropa Barat pada tahun 1981. terutama pada pabrik itu sendiri yang tercemar berat. Pohon-pohon terkontaminasi ditebang. dan prianya dihawatirkan mengalami kerusakan pada fungsi genetiknya.8-TCDD ini terhadap spesies binatang ternyata berbeda. Daun-daun pohon di sekitarnya menjadi rontok. ketika reaktor akan dipanaskan dan terjadi retak pada katup pengamannya. Hoffman-La Roche memilih Seveso sebagai lokasi pabriknya di Italia. Pemerintah Italia akhirnya memutuskan penggunaan teknik insinerasi dan landfilling bagi komponen-komponen pabrik tersebut.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Kasus Love Canal menyebabkan adanya perbaikan dan pengetatan peraturanperaturan yang berlaku di Amerika Serikat dalam menangani limbah B3. namun semuanya sebagai penimbul agen kanker (carcinogen). bukan dari Seveso (tempat yang dikenal untuk kasus ini).8-TCDD) dengan toksisitas akut. binatang.7. Area A penduduknya dievakuasi. Isomer yang sangat aktif dan mempunyai potensi toksisitas tinggi adalah yang mempunyai 4 sampai 6 atom chlor. yaitu kasus transportasi dioxin antar negara. yaitu dilapis bentonit dan lembaran polyethylene. Tanah terkontaminasi dikupas sedalam rata-rata 5 cm. Sekitar 1 Kg dioxin terbuang ke udara membentuk kabut melewati ribuan hektar sekitar bencana. reaksi kimiawi yang terjadi menghasilkan 2. Pabrik tersebut dibangun dan dioperasikan oleh Industrie Chemiche Meda Societe Aromia (ICMESA). Pengiriman ini bersifat rahasia.8) seperti 2.FTSL ITB Halaman 10 . Efek 2. dan tidak ditulis sebagai 'Dioxin'.4.binatang seperti terpanggang. Pekerjaan ini membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun. Dioxin adalah nama umum untuk grup polychlorinated dibenzodioxins (PCDD).3. karena ternyata bukan hanya lahan ini saja yang secara peraturan sebetulnya telah sesuai dengan yang berlaku.3.8-TCDD. sedang asalnya ditulis dari Meda.7. namun akhirnya beritanya tersebar di daratan Eropa dan menjadi pemberitaan hangat selama 9 bulan. dan para peneliti baru sampai pada tahap awal dalam memahami efek toksisitas dioksin ini pada manusia. Informasi yang didapat menyatakan bahwa drum tersebut akan diangkut ke Inggeris untuk diinsinerasi. kosmetik dan herbisida. guna memproduksi 2. Pada temperatur yang sesuai.3. Daerah tersebut kemudian dijadikan taman. Drum tersebut diangkut oleh dua perusahaan swasta ke tempat yang tidak dispesifikasi secara jelas. Daerah sekitarnya dibagi menjadi 2 area bahaya.5.trichlorophenol untuk disinfektan. Ternyata penanggung jawab upaya pembersihan daerah Seveso tersebut mengirimkan 41 drum limbahnya untuk ditimbun di luar Italia. 4 KASUS KABUT DIOXIN DI SEVESO (ITALIA) Salah satu kasus limbah berbahaya yang terkenal adalah peristiwa kabut dioxin di Seveso (Italia). tetapi penduduknya rupanyanya sudah terbiasa. Kasus tersebut ternyata tidak berhenti di sana. Penduduk di sekitarnya dievakuasi. Pabrik ini menghasilkan asap yang berbau.3.

sedangkan standar yang berlaku adalah 100 ppb. Masyarakat Ekonomi Eropa mencanangkan program kontrol bagaimana menangani dan mentransportasi limbah kimiawi yang berbahaya diantara anggotanya. Penelitian selanjutnya mengungkapkan bahwa LSP melanggar aturan-aturan kesehatan dan keselamatan kerja yang berlaku. yaitu pada November 1985. Allied memproduksi kepone di Hopewell. ternyata drum tersebut tersembunyi di suatu area pejagalan hewan di Perancis. EPA kemudian melakukan sampling air minum. Produksi tahunan meningkat dari 36. secara periodik limbah dari LSP masuk ke sistem penyaluran air buangan dan pengolahan limbah kota. Produksinya dikontrakkan pada Hooker Chemical antara 1950 . Sebetulnya buruh di sana sudah mengeluh terhadap kondisi ini tetapi manajemen LSP tidak memperhatikan hal ini. Dalam 2 bulan. sedang sungai James sendiri mengandung kepone 0.1 .1 . Lumpur dari pengolah limbah yang belum terolah secara baik langsung dibuang secara illegal ke lahan-urug. Tetapi tidak satupun yang sampai.20 ppm. dijumpai masalah kesehatan diantara karyawannya.4 ppb. limbah ini membunuh bakteri di sistem digester pengolah limbah. 2 minggu setelah produksi penuh. Beberapa saat kemudian. Pihak Hoffman-La Roche harus bertanggung jawab untuk itu. Dinas kesehatan setempat kemudian menginvestigasi industri kepone tersebut setelah salah seorang pekerja dinyatakan keracunan kepone. sedangkan konsentrasi tertinggi yang pernah diamati adalah 5 ppm. Berangkat dari pengalaman tersebut. masyarakat Eropa sadar akan pentingnya peraturan yang ketat tentang pengelolaan limbah berbahaya. ternyata 40 % dari total partikulat adalah kepone. Pada tahun 1973 Allied Chemical mensubkontrakkan pembuatan pestisida pada Life Sciences Product (LSP) yang dikenal dengan nama kepone. Namun karena pasaran meningkat. Tahun 1973 pembuatan kepone disubkontrakkan pada LSP sementara Allied tetap menangani polimer.5 tahun dikeluarkan dari Seveso. Pencemaran udara juga telah meluas ke sekitar pabrik itu. dan disanalah dimulainya bencana kimiawi di USA. Disamping itu. Yang dijumpai pada pabrik kepone tersebut ternyata lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya. Kemudian dioxin tersebut baru diinsinerasi setelah 2. dan dibawa ke Swiss.1960. Ikan di dekat sungai James mengandung kepone 0.600 ppb. Debu kepone menutup lantai sampai beberapa inch dan memenuhi udara dalam pabrik.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 untuk ditimbun di lahan-urug industri dan ke Jerman Barat untuk dikubur dalam bekas tambang. Kepone dikembangkan oleh Allied sekitar tahun 1950-an.000 pound pada tahun 1972. sedang pabrik kepone pada tahun 1975 ditutup. dan harus mengeluarkannya dari Perancis.72 ppm. Kemudian 31 pekerja yang dirawat di Rumah Sakit. Allied juga memproduksi sendiri. Agustus 1975 LSP didenda US$ 16500.FTSL ITB Halaman 11 .USA) memprolamirkan dirinya sebagai chemical capital of the south. Pemerintah akhirnya memutuskan bahwa pabrik Enri Damanhuri . Darah yang diambil dari pekerja tersebut menunjukkan kandungan kepone antara 2 . tanaman dan limbah kota Hopewell serta sungai.600 ppm. sebagai negara asal industri tersebut. Sembilan bulan kemudian setelah dilakukan pencarian yang melibatkan semua fihak di negara terkait. baik Allied maupun LSP secara illegal membuang kepone ke sungai James yang bermuara di Chesapeake Bay. Lumpur dari pengolah limbah mengandung kepone 200 . Tindakan berikutnya melibatkan US EPA (US Environmental Protection Agency). 5 KASUS KEPONE DI HOPEWELL (AMERIKA SERIKAT) Hopewell (Virginia . Di beberapa tempat.000 pound pada tahun 1965 menjadi 400. Maret 1974. ternyata LSP telah mengeluarkan efluen kepone sebesar 500 . udara.

1989 Enri Damanhuri .A. dan biaya yang ditanggung akhirnya membengkak berlipat ganda dengan adanya tuntutan dari orang yang merasa dirugikan. Casmalia Resources. : Hazardous waste management. Akhirnya Pemerintah memilih cara yang lebih murah. McGraw-Hill Book.000 gal/hari (265 m3) dari Stringfellow. Hasil interpretasi yang salah juga dilakukan oleh sebuah konsultan lain pada tahun 1977. Selama itu sekitar 30 juta galon (113. Studi geologi sebelumnya menyimpulkan bahwa lahan tersebut berada di atas bedrock yang kedap. − Menempatkan lapisan clay untuk mengisolasi. 1994 o Wentz.D. Lahan-urug lain. − Membangun sumur-sumur pemantauan. Namun biaya yang ditanggung Allied untuk operasi tersebut akhirnya menjadi US $ 394000. misalnya 120 pedagang ikan yang merasa dirugikan karena mereka memperoleh ikannya dari sungai James yang tercemar. dan dengan membuat penghalang beton di hilirnya. Interpretasi hasil analisis air tanah pada tahun 1972 ternyata juga salah. yaitu : − Meyingkirkan cairan terkontaminasi ke lahan yang lain. dan 4 juta gallon (15140 m3) air tercemar dialirkan ke lahan-urug West Covina. : Hazardous waste management. Sekitar 15 juta US $ telah dihabiskan untuk program tersebut. McGraw-Hill Book Co. juga menerima sekitar 70. dengan menganggap bahwa pencemaran air tanah yang terjadi berasal dari limpasan air permukaan bukan dari lahan tersebut. namun ternyata lahan ini juga bocor dan akhirnya ditutup.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 itu untuk 'dilucuti'. Allied diminta untuk bertanggung jawab operasi detoksifikasi tersebut dengan rencana biaya sebesar US $ 175000.550 M3) limbah cair B3 telah ditimbun. tetapi dianggap belum dimonitor secara benar.FTSL ITB Halaman 12 . M. Estimasi biaya pada tahun 1974 meningkat 4 kali lipat dengan cara tersebut.000 gallon (3028 m3) air tercemar dialirkan ke area di hilirnya. tetapi LSP tidak sanggup untuk operasi tersebut. C.4 juta US$. 6 KASUS LAHAN STRINGFELLOW DI KALIFORNIA (USA) Lahan Stringfellow di Glen Avon (Kalifornia-USA) telah digunakan untuk menimbun limbah cair B3 dari tahun 1956 sampai 1972. Lahan ini juga berlokasi di atas akuifer Chino Basin yang merupakan sumber air minum bagi sekitar 500. dan masih dibutuhkan sekitar 65 juta US $ untuk mentuntaskan permasalahan. Maret 1997 o LaGrega. − Menetralisir tanah terkontaminasi dengan abu semen kiln. Referensi Utama: o Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia – UNDP: Agenda 21 Indonesia. Prakiraan biaya untuk menyingkirkan dan mengolah seluruh cairan dan tanah yang terkontaminasi pada tahun 1977 sekitar 3. Ternyata evaluasi berikutnya menyatakan bahwa lahan itu sebetulnya tidak cocok untuk limbah cair B3 dan terjadilah pencemaran air tanah. maka diprakirakan tidak akan terjadi pencemaran air tanah.000 penduduk. Sekitar 800. dengan program pengolahan in-situ terhadap air tanah yang tercemar.

Selanjutnya UU-32/2009 menggariskan dalam Ps 58 (1) bahwa setiap orang yang memasukkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. mengangkut. 31 Tahun 1964 tentang Enri Damanhuri . membatasi produksi dan penggunaan. mengedarkan. dan/atau menimbun B3 wajib melakukan pengelolaan B3. dan/atau komponen lain yang karena sifat. dan/atau membahayakan lingkungan hidup. Pasal 1 (21) UU-32/2009 mendefinisikan bahan berbahaya dan beracun (disingkat B3) adalah zat. energi. konsentrasi dan/atau jumlahnya. kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lain.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN II PERATURAN DALAM PENGELOLAAN B3 1 UMUM Pada dasarnya pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3) di Indonesia mengacu pada prinsip-prinsip dan pedoman pembangunan berkelanjutan yang telah dituangkan dalam Undang-Undang No.33 Tahun 1985 tentang Dewan Tenaga Atom dan Badan Tenaga Atom Nasional dan Keputusan Presiden No. penyimpanan dan penggunaan pestisida − Peraturan Menteri Kesehatan No. yang akan diuraikan lebih lanjut dalam Bagian ini. membuang. Konvensi ini bertujuan untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan hidup dari bahan POPs dengan cara melarang.FTSL ITB Halaman 13 .270/7/1985 tentang pengawasan pestisida Limbah radioaktif di Indonesia dikelola oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. Terkait dengan penggunaan bahan kimia organik berbahaya. mengolah. 82 Tahun 1985 tentang Badan Tenaga Atom Nasional. serta mengelola timbunan bahan POPs yang berwawasan lingkungan.270/9/1984 tentang larangan penggunaan pestisida EDB − Keputusan Menteri Pertanian No. Bahan POPs ini akan dibahas lebih lanjut dalam Bagian 5 Diktat ini. menyimpan. baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup. Secara spesifik pengelolaan B3 ini telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun. Beberapa peraturan yang secara langsung akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas limbah B3 yang dihasilkan adalah peraturan-peraturan yang mengatur masalah bahan berbahaya.148/M/SK/4/1985 tentang pengamanan bahan beracun dan berbahaya di lingkungan industri − Keputusan Menteri Pertanian No.536/Kpts/TP.724/Kpts/TP. maka Indonesia telah merativikasi konvensi Stockholm melalui Undang-undang No. 19 tahun 2009 tentang Pengesahan Konvensi Stockholm tentang Bahan Pencemar Organik yang Persisten atau Stockholm Convention on Persistent Organic Pollutants (POPs). Semua yang berkaitan dengan ketenaga atoman pada dasarnya diatur oleh Undang-undang No.453/Menkes/Per/XI/1983 tentang bahan berbahaya − Keputusan Menteri Perindustrian RI No. 32 tahun 2009 sebagai pengganti UU-23/1997 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.7/1973 tentang pengawasan atas peredaran. mengurangi. memanfaatkan. yaitu : − Peraturan Pemerintah No. menghasilkan.

kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya’ (pasal 1 angka 1). 11 Tahun 1975 tentang keselamatan kerja terhadap radiasi − Peraturan Pemerintah No. menggunakan dan atau membuang B3’ (pasal 1 angka 2). − Bab VIII (pasal 32 sampai 34): Peningkatan Kesadaran Masyarakat. Sedangkan sasaran pengelolaan B3 adalah 'untuk mencegah dan atau mengurangi resiko dampak B3 terhadap lingkungan hidup. Setiap mata rantai tersebut memerlukan pengawasan dan pengaturan. Bahan berbahaya yang tidak termasuk yang diatur adalah (pasal 3): Enri Damanhuri . − Bab IV (pasal 21) : Komisi B3. − Bab III (pasal 6 sampai 20) : Tata Laksana dan Pengelolaan B3. Pengertian pengelolaan B3 adalah 'kegiatan yang menghasilkan. Tidak semua pengelolaan bahan yang berbahaya diatur oleh PP tersebut. − Bab II (pasal 5) : Klasifikasi B3. − Bab VI (pasal 24 sampai 27) : Penanggulangan Kecelakaan dan Keadaan Darurat. terkait berbagai fihak yang merupakan mata rantai dalam pengelolaan B3. mengimpor.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Ketentuan-ketentuan pokok tenaga atom. kesehatan. 13 Tahun 1975 tentang pengangkutan zat radioaktif 2 PENGELOLAAN B3 DALAM PP 74/2001 PP74/2001 tentang pengelolaan berbahaya dan beracun terdiri dari 15 bab yang dibagi lagi menjadi 43 pasal. − Bab VII (pasal 28 sampai 31) : Pengawasan dan Pelaporan. menyimpan. menyimpan. menggunakan dan membuang bahan tersebut bilamana tidak dapat digunakan kembali. 12 Tahun 1975 tentang izin pemakaian zat radioaktif dan atau sumber radiasi − Peraturan Pemerintah No. mendistribusikan. − Bab XV (pasal 43) : Ketentuan Penutup. Kelima belas bab tersebut adalah : − Bab I (pasal 1 sampai 4) : Ketentuan Umum.FTSL ITB Halaman 14 . Selanjutnya beberapa peraturan lain di bawahnya antara lain: − Peraturan Pemerintah No. Oleh karenanya. − Bab XI (pasal 38) : Sanksi Administrasi. maka aspek keselamatan dan kesehatan kerja serta penanggulangan kecelakaan dan keadaan darurat diatur dalam PP tersebut. − Bab IX (pasal 35 dan 36) : Keterbukaan Informasi dan Peran Masyarakat. Dalam kegiatan tersebut. Menurut PP 74/2001: ‘bahan berbahaya dan beracun yang selanjutnya disingkat dengan B3 adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya. baik secara langsung maupun tidak langsung. − Bab V (pasal 22 dan 23) : Keselamatan dan Kesehatan Kerja. − Bab XII (pasal 39) : Ganti Kerugian. mengangkut. − Bab XIV (pasal 41 dan 42) : Ketentuan Peralihan. mengeksport. mengedarkan. dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup. antara lain karena telah diatur dalam PP lain. − Bab X (pasal 37) : Pembiayaan. Disamping aspek yang terkait dengan pencegahan terjadinya pencemaran lingkungan dan atau kerusakan lingkungan yang menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap fihak yang terkait. pasal-pasal berikutnya mengatur masalah kewajiban dan perizinan bagi mereka yang akan memproduksi (menghasilkan). dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup. kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya’ (pasal 2). − Bab XIII (pasal 40) : Ketentuan Pidana. atau telah diatur oleh instansi lain berdasarkan konvesi internasional seperti bahan radioaktif.

Lampiran II .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 o o o o o o o o Bahan radioaktif Bahan peledak Hasil produksi tambang serta minyak gas dan gas bumi dan hasil olahannya Makanan dan minuman serta bahan tambahan makanan lainnya Perbekalan kesehatan rumah tangga dan kosmetika Bahan sediaan farmasi. dan penggunaannya di Indonesia disesuaikan dengan kelompok tabel yang berlaku. maka PP tersebut mengklasifikasikan B3 dalam 8 kelompok. 74 diantaranya dibatasi penggunaannya sampai tahun 2040. Setiap bahan kimia dalam daftar tersebut. atau terbatas penggunaannya.FTSL ITB Halaman 15 .Tabel 2 mencantumkan 45 bahan B3 yang dibatasi pengunaannya di Indonesia. Lampiran I PP 74/2001 mencantumkan 209 buah bahan kimia yang tergolong B3 yang dapat digunakan di Indonesia. yang terdapat dalam daftar Lampiran I dan Lampiran II PP 74/2001 tersebut (Tabel 1 sampai Tabel 3). Untuk mempermudah menentukan B3 yang diatur dalam PP ini. Enri Damanhuri . apakah diperbolehkan dipergunakan. PP 74/2001) o B3 yang terbatas dipergunakan (Lampiran II Tabel 2. psikotropika dan prekursor lainnya Bahan aditif lainnya Senjata kimia dan senjata biologi Untuk menentukan apakah sebuah bahan termasuk dalam kelompok B3. atau sama sekali dilarang dipergunakan. maka bahan tersebut termasuk B3. semuanya organik-berhalogen. B3 dibagi menjadi 3 bagian. PP 74/2001) Dengan demikian.Tabel 1 mencantumkan 10 bahan B3 yang dilarang pengunaannya. narkotika. Reg. dan Lampiran II . bilamana sebuah bahan sudah terdapat dalam lampiran tersebut. yaitu (pasal 5): o B3 yang dapat atau boleh dipergunakan di Indonesia (Lampiran I PP 74/2001) o B3 yang dilarang dipergunakan di Indonesia (Lampiran II Tabel 1. yaitu (pasal 5): o Mudak meledak (explosisive) o Pengoksidasi (oxidizing) o Menyala: o sangat mudah sekali menyala (extremely flammable) o sangat mudah menyala (highly flammable) o mudah menyala (flammable) o Beracun: o amat sangat beracun (extremely toxic) o sangat beracun (highly toxic) o beracun (moderately toxic) o Bebahaya (harmful) o Korosif (coorosive) o Bersifat iritasi (irritant) o Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment) o Toksik yang bersifat kronis: o karsinogenik (carcinogenic) o teratogenik (teratogenic) o mutagenik (metagenic) Penjelasan lebih lanjut tentang kriteria kapan sebuah bahan dikelompokkan sebagai B3 akan dijelaskan dalam Butir 3. Chemical Abstract Sevice yang bersifat universal o Nama bahan kimia o Sinonim/nama dagang o Rumus molekul Berikut ini adalah beberapa contoh bahan kimia B3. disertai keterangan: o No. maka berdasarkan penggunaannya di lapangan.

FTSL ITB Halaman 16 . Bahan tersebut kemudian akan mendapat nomor registrasi sebagai alat kontrol terhadap peredaran B3 di Indonesia. maka bahan tersebut terlebih dahulu harus didaftarkan oleh importirnya untuk diregistrasi sebelum secara rutin diimport. Veracur Hydrogen sulphide. Carbolic acid. Trichlorometthane Mercuric chloride. Mercury bichloride. Penchloraol. Hidroxybenzene. Benzol. Prussic acid Sulfuric Acid. Hydrogen chloride. Mercury perchloride. Hydrocyanic acid. Blausaure. Sodium hydrate Nitrogen Nitrogen dioxide Ozone. Phenic acid. dalam hal ini Kementrian Lingkungan Hidup (pasal 6). Velsicol 1068.1: Contoh B3 (dapat digunakan) dalam Lampiran I PP 74/2001 No 7 14 16 17 23 24 31 52 54 58 76 78 79 80 81 85 87 98 No Reg Chemical Abstract Service 7664-41-7 64-19-7 7664-38-2 7647-01-0 74-90-8 7664-93-9 71-43-2 108-95-2 50-00-0 7783-06-4 124-38-9 7440-44-0 630-08-0 7782-50-5 67-66-3 7487-97 74-82-8 1310-73-2 Nama Bahan Kimia Amoniak Asam Asetat Asam Posfat Asam Klorida Asam Sianida Asam Sulfat Benzena Fenol Formalin (larutan) Hidrogen Sulfida Karbon dioxide Karbon hitam Karbonmonoksida Klor Kloform Merkuri klorida Methane Natrium Hidroksida Sinonim/Nama Dagang Ammonia Acetic acid. Formol. maka registrasinya harus diajukan kepada instansi yang bertanggung jawab. Toxichlor. Formalin. Butter zinc Lead Bromochloroethane Rumus Molekul NH3 CH3COOH H3PO4 HCl HCN H2SO4 C 6H 6 C6H5OH CH2O H 2S CO2 C CO Cl2 CHCl3 HgCl2 CH4 NaOH N2 NO2 O3 C6HCl5O AgNO3 ZnCl2 Pb - 105 7727-37-9 Nitrogen 106 10102-44-0 Nitrogen Dioksida 110 10028-15-6 Ozon 112 87-86-5 Pentaklorofenol 114 7761-88-8 Perak nitrat 122 7646-85-7 Seng Klorida 127 7439-92-1 Timbal (timah hitam) 209 CH2BrCl *) Muncul juga pada Lampiran II – Tabel 2 (no. Demikian juga halnya unutk B3 yang diimport dari luar negeri. Tabel 2. Sulfurated hydrogen. Oxybenzene Formadehyde solution. Sedang bahan berbahaya lain yang tidak diatur dalam PP ini. Rumus Molekul C12H8Cl6 C10H6Cl8 Enri Damanhuri . Cyclo hexatriene Phenol. maka fihak otorita negara yang akan memasukkan bahan tersebut ke Indonesia terlebih dahulu harus menyampaikan notifikasi kepada fihak yang bertanggung jawab di Indonesia (pasal 8). Niran.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Setiap produsen yang menghasilkan B3 baru yang termasuk diatur dalam PP ini. Aci-jel Phosphoric acid. Anhidrous hydrochloric acid Hydrogen cyanide. Corrosive mercury chloride Sodium hydroxide. PCP.2: B3 yang dilarang dalam Lampiran II – Tabel 1 PP 74/2001 No 1 2 No Reg Chemical Abstract Service 309-00-2 57-74-9 Nama Bahan Kimia Aldrin Chlordane Sinonim/Nama Dagang HHDN CD68. misalnya Badan Tenaga Atom Nasional untuk bahan radioaktif. Phenilic acid. maka sebelum dipergunakan secara luas produsen tersebut harus mendaftarkan terlebih dahulu kepada yang berwenang. Orthophosphoric acid Hydrochloric acid. Soda lye. Triatomic oxygen Penta. Bila bahan yang akan dimpor adalah termasuk dalam daftar B3 yang terbatas dipergunakan. Hydrosulfuric acid Carbonic acid gas Amorphous Carbon monoxide Chlorine Chloroform. Morbicid. sehingga dengan mudah dilakukan pengawasan dan pencegahan terjadinya dampak B3 terhadap lingkungan. Oil of Vitriol Benzene. Phenyl hydroxide. Corrosive sublimate. Santhophene 20 Zinc chloride. 11) Tabel 2. Caustic soda.

Freo 11. Areton 11 Dichlorodifluoromethane. Insecticide No. Santotherm C14H9Cl5 C12H8Cl6OH C12H8Cl6OH C10H5Cl7 C10Cl12 C10H10Cl8 C6Cl6 C12X X=H or Cl Tabel 2. serta dari instansi yang berwenang. ENT 25719. Schering 36. G23922. Pyralene. Toxakil Polychlorobenzene. Chlorobiphenyls. ENT 17251. Gesapon. Ethylenebromide. ENT 16225. Acarabene. Quicksilver Trichloromonofluoromethane. Frigen 11. Julins carbon chloride Polychlorinated Biphenyls. Areton 12. Phenochlor. p. Hydragyrum. D-58. Belt. Gesarol. Cryfluorane. PP ini mewajibkan eksportir B3 tersebut untuk menyampaikan notivikasi ke otoritas negara tujuan ekspor. Corodane Dichlorodiphenyltrichloroethane.2-dibromoethane. Freon 12.Alkyl merkuri . Synclor. PCP. Hexachloropentadienedimer Hercules 3956: Polycholorcamphene. Santhophene 20 Liquid silver. Arocloc. Velsicol 104.p-DDT. Embafume C6HCl5O Hg CCl3 CCl2F2 C2Cl2F2 C2Rbr2F4 CH3Br *) Muncul juga pada Lampiran I (no. Isotron 2 Dichlorotetrafluoroethane. Clofenotane. Guesapon.4-dichlorobenzilate. Dicophane. Mendrin. 1. Bunt-cure.Alkyloxyalkyl merkuri . Akar. Bunt-no-more.497. Motox. Heptamul C6-1283.FTSL ITB Halaman 17 . Sebelum ada persetujuan dari otoritas negara tujuan ekspor dan otoritas negara transit. Fundal.5-T Chlordimeform (CDM) Chlorobenzilate Ethylene Dibromida (EDB) Lindane Senayawa merkuri. Chlorophenamidine Compound 338. Strobane-T. Phenatox. Ciba-8514. Trioxone. Gesarex.Aryl merkuri Pentaklorofenol* Mercury/Air raksa CFC-11 CFC-12 CFC-114 Halon-2402 Metil bromida Sinonim/Nama Dagang Esterone 245. Octalox Compound 268.Anorganik merkuri .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 3 50-29-3 DDT 4 5 6 7 8 60-57-1 72-20-8 76-44-8 2385-85-5 8001-35-2 Dieldrin Endrin Heptachlor Mirex Toxaphene 9 10 118-74-1 1336-36-3 Hexachlorobenzene PCBs Octachlor. Ethyl 4. Altox.268: Spanon. Ethyl 4. Fenclor.2bis(4-chlorophenil)acetate EDB.4-hydroxy-2. Campeclor. Chlorinatedcamphene. 112) Jawaban boleh tidaknya barang tersebut masuk ke Indonesia harus diterima oleh otorita negara pengekspor dalam waktu paling lambat 30 hari sejak tanggal diterimanya notifikasi tersebut. Frigen 114. Weedone CDM. Agritan. Frigen 12.3: Contoh B3 (dibatasi) dalam Lampiran II – Tabel 2 PP 74/2001 No 1 2 4 6 9 10 No Reg Chemical Abstract Service 93-76-5 2425-98-3 510-15-6 106-93-4 58-89-9 Nama Bahan Kimia 2. maka ekspor B3 tersebut belum boleh dilaksanakan. Phenacide. Dechlorane. Penphene. Monobromomethane. Genetron 12. Prosedur yang sama diberlakukan bagi B3 yang akan dieksport ke luar negeri (pasal 7). Kenachlor. Dowfume WW85. Drinox. Chlorophenothane. Geniphene. Freon 114. Clophen. Sym-dibromoethane Rumus Molekul C8H5Cl3O3 C10H13ClN2 C16H14Cl2O3 C12H4Br2 C6H6Cl6 - 11 21 26 27 29 43 45 87-86-5 7439-97-6 75-69-4 75-71-12 74-83-9 Penta. Penchloraol.4. Orthochlor. Hexadrin E3314. Gulecton. Areton 114 Dibromotetrafluoroethane Bromomethane. otoritas negara transit dan instansi yang bertanggung jawab di Indonesia terlebih dahulu. Prosedur ini adalah sesuai dengan Konvensi Basel yang mengatur lintas batas bahan dan limbah B3 antar negara. Necide Compound 497. Fluorotrichloromethane. termasuk: . Halon. Folbex. HEOD. Anticarie. Enri Damanhuri . Nendrin.

atau bekas kemasan. B3 kadaluwarsa adalah bahan yang karena kesalahan dalam penanganannya menyebabkan terjadinya perubahan komposisi dan atau karakteristik sehingga bahan tersebut tidak sesuai lagi dengan spesifikasinya. Lokasi dan konstruksi tempat penyimpanan B3 membutuhkan pengaturan tersendiri. Lembar MSDS paling tidak berisi: o Merek dagang o Rumus kimia B3 o Jenis B3 o Klasifikasi B3 o Teknik penyimpanan. Informasi MSDS disamping harus tercantum pada produksi B3 (pasal 11). Sedang B3 yang tidak memenuhi spesifikasi adalah bahan yang dalam proses produksinya tidak sesuai dengan yang ditentukan. PP 74/2001 mengatur juga masalah kesehatan dan keselamatan kerja bagi orang yang bekerja di bidang ini. Explosive (mudah meledak): adalah bahan yang pada suhu dan tekanan standar (25oC. Bila terjadi kecelakaan. yang tidak dapat digunakan tidak boleh dibuang sembarangan. pemberian label dan simbol (pasal 17). juga harus muncul pada dokumen pengangkutan. sekurang-kurangnya 1 kali dalam 1 tahun. Salah satu langkah yang wajib dilakukan adalah kewajiban uji kesehatan secara berkala bagi pekerja. Salah satu kehawatiran utama dalam penanganan B3 adalah kemungkinan terjadinya kecelakaan baik pada saat masih dalam penyimpanan maupun kecelakaan pada saat dalam pengangkutannya. penyimpanan.FTSL ITB Halaman 18 . penyimpanna B3 (pasal 18). Langkah darurat yang harus dilakukan adalah (pasal 25): o Mengamankan (mengisolasi) tempat terjadinya kecelakaan o Menanggulangi kecelakaan sesuai dengan prosedur standar penanggulangan kecelakaan o Melaporkan kecelakaan atau keadaan darurat tersebut kepada aparat Kota/Kabupaten setempat o Memberikan informasi.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Salah satu informasi penting yang selalu harus disertakan dalam produksi B3 adalah Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet . 3 KARAKTERISASI B3 MENURUT PP 74/2001 Penjelasan PP 74/2001 menguraikan secara singkat klasifikasi B3 sebagai berikut: a. yang memerlukan penanggulangan cepat dan tepat (pasal 24). tetapi harus dikelola sebagai limbah B3 (pasal 20). bantuan dan melakukan evakuasi masyarakat sekitar lokasi kejadian.MSDS). denganmaksud untuk mengetahui sedini mungkin terjadinya kontaminasi oleh zat/senyawa kimia B3 terhadap pekerja atau pengawas lokasi tersebut (pasal 23). dan juga pada kemasan bahan tersebut (pasal 14). yang menjadi tanggung jawab bagi pengusaha. atau tidak memenuhi spesifikasi. dan pengedaran B3 (pasal 12). pengemasan B3 (pasal 15). dan o Tata-cara penanganan bila terjadi kecelakaan PP 74/2001 mengatur juga secara umum pengangkutan B3 (pasal 13). maka kondisi awalnya adalah berstatus keadaan darurat (emergency). Kecelakaan B3 adalah lepasnya atau tumpahnya B3 ke lingkungan. agar tidak terjadi kecelakaan akibat kesalahan dalam penyimpanan tersebut. B3 yang dianggap kadaluwarsa. 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat Enri Damanhuri . Salah satu persyaratan kelengkapan pada tempat penyimpanan tersebut adalah sistem tanggap darurat dan prosedur penanganan B3 (pasal 19).

atau sumber nyala lainnya. persisten di lingkungan (misalnya PCBs). akan diperoleh nilai temperatur pemanasan. Tingkatan racun dikelompokkan seperti tabel berikut.000 > 15.5 untuk B3 bersifat basa. dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran terus menerus dalam 10 detik. Pengujiannya dapat dilakukan dengan metode Closed-up test. Pengujiannya dapat dilakukan dengan menggunakan Diffrential Scanning Calorimetry (DSC) atau Differential Thermal Analysis (DTA). Sedang untuk bahan cair. o Flammable: o Bila cairan: bahan yang mengandung alkohol kurang dari 24%-volume. dan atau mempunyai titik nyala ≤ 60oC (140oF).FTSL ITB Halaman 19 .4-dinitrotoluena atau Dibenzoil-peroksida digunakan sebagai senyawa acuan. Apabila nilai temperatur pemanasan suatu bahan lebih tinggi dari senyawa acuan. Oxidizing (pengoksidasi): pengujian bahan padat dilakukan denganemtode uji pembakaan menggunakan ammonium persulfat sebagai senyawa standar. o Bila padatan: bahan bukan cairan. o Mempunyai pH ≤ 2 untuk B3 bersifat asam. Irritant (bersifat iritasi): padatan maupun cairan yang bila terjadi kontak secara langsung. Harmful (berbahaya): padatan maupun cairan ataupun gas yang jika kontak atau melalui inhalasi (pernafasan) atau melalui oral dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan sampai tingkat tertentu. akan menyala apabila terjadi kontak dengan api.35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55oC.21oC. atau bahan tersebut dapat merusak lingkungan. Pengujian dapat pula dilakukan dengan Seta Closed-cup Flash Point Test. percikan api.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 merusak lingkungan di sekitarnya.000 e. sedang 2. maka bahan tersebut diklasifikasikan mudah meledak. Dangerous to the Environment (berbahaya bagi lingkungan): seperti merusak lapisan ozon (misalnya CFC). dan apabila terus menerus kontak dengan kulit atau selaput lendir dapat menyebabkan peradangan h.000 5001 – 15. c. penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan.4: Tingkat racun menurut PP 74/2001 Urutan 1 2 3 4 5 6 Kelompok Extremely toxic (amat sangat beracun) Highli toxic (sangat beracun) Moderately toxic (beracun) Slighly toxic (agak beracun) Practically non-toxic (praktis tidak beacun) Relatively harmless (realtif tidak berbahaya) LD50 (mg/kg) ≤1 1 – 50 51 – 500 501 – 5. dan atau pH ≥ 12. Dari hasil pengujian tersebut. senyawa standar yang digunakan adalah larutan asam nitrat. f. o Hghly flammable: padatan atau cairan yang memiliki titik nyala 0oC . Enri Damanhuri . d. Toxic (beracun): akan menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan. kulit atau mulut. Suatu bahan dinyatakan sebagai pengoksidasi apabila waktu pembakaran bahan tersebut sama atau lebih pendek dari waktu pembakaran senyawa standar. Tabel 2. dengan titik nyala di bawah 40oC. b. Flammable (mudah menyala): o Extremely flammable: padatan atau cairan yang memiliki titik nyala (flash point)di bawah 0oC dan titik didih lebih rendah atau sama dengan 35oC. g. Corrosive (korosif): mempunyai sifat o Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit o Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja standar SAE-1020 dengan laju korosi lebih besar dari 6. pada tekanan 760 mmHg. pada temperatur dan tekanan standar dengan mudah menyebabkan terjadinya kebakaran melalui gesekan.

Chronic toxic (toksik kronis): o Carcinogenic (karsinogen): sifat bahan penyebab sel kanker. 32 tahun 2009: Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Peraturan Pemerintah Nomor 74/2001: Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun. 19 tahun 2009: Pengesahan Konvensi Stockholm tentang Bahan Pencemar Organik yang Persisten Enri Damanhuri . Referensi Utama: o o o Undang-Undang No.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 i. 26 November 2001 Undang-undang No. yaitu sel liar yang dapat merusak jaringan tubuh o Teratogenic: sifat bahan yang dapat mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan embrio o Mutagenic: sifat bahan yang dapat menyebabkan perubahan kromosom yang dapat merubah genetika.FTSL ITB Halaman 20 .

gubernur. Enri Damanhuri . 05/Bapedal/09/1995 yang merupakan pengaturan lebih lanjut PP19/1994 dan PP12/1995. Studi yang dilakukan oleh Dames & Moore untuk mengkaji kelayakan pusat pengolah limbah B3 di Cileungsi menghasilkan proyeksi total limbah berbahaya di daerah Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi (Jabotabek) pada tahun 1990 sebesar 1.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN III PERATURAN DALAM PENGELOLAAN LIMBAH B3 1 UMUM Survai di Amerika Serikat pada tahun 1981 mengungkapkan bahwa hampir 90 % dari limbah B3 yang dikelola berasal dari kegiatan industri dan 70 % diantaranya berasal dari industri kimia dan petroleum.90 %). 2. namun tidak semua berkatagori Limbah B3. 4. korosif (8. Dalam hal setiap orang tidak mampu melakukan sendiri pengelolaan limbah B3. Menteri.626 ton (padat. terutama karena sifat korosifitasnya. Pengelolaan limbah B3 wajib mendapat izin dari Menteri. korosif (1. khususnya Undangundang No.50 %). 01/Bapedal/09/1995 sampai No. atau bupati/walikota wajib mencantumkan persyaratan lingkungan hidup yang harus dipenuhi dan kewajiban yang harus dipatuhi pengelola limbah B3 dalam izin.984. atau bupati/ walikota sesuai dengan kewenangannya. dan tetap masih berlaku sebagai pengaturan lebih lanjut dari PP 18/99 jo PP 85/99.44 %) dan non B3 (77. Pasal 59 UU tersebut menggariskan bahwa: 1. pengelolaannya mengikuti ketentuan pengelolaan limbah B3. Lebih dari 90 % limbah yang berkatagori berbahaya. pada dasarnya pengelolaan limbah B3 di Indonesia mengacu pada prinsip-prinsip dan pedoman pembangunan berkelanjutan yang telah dituangkan dalam peraturan perudang-undangan. Selain itu. pengelolaannya diserahkan kepada pihak lain. Keputusan pemberian izin wajib diumumkan.54 %) − Karakteristik limbah padat industri adalah : mudah terbakar (0 %). 3.FTSL ITB Halaman 21 . merupakan limbah cair atau aquous liquid waste. Peraturan-peraturan lain yang mengatur masalah limbah B3 adalah Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan dari No. 18 tahun 1999 (PP85/1999) PP 18/99 jo PP 85/99 merupakan pengganti PP 19/94 jo PP12/95. Walaupun limbah itu berasal dari kegiatan industri. Dalam hal B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 ayat (1) telah kedaluwarsa. cair dan gas).32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Secara spesifik pengelolaan limbah B3 telah diatur lebih lanjut dalam: − Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (PP18/1999) − Peraturan Pemerintah No 85 tahun 1999 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah No. 5. Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya. gubernur. beracun (0.58 %) − Limbah B3 (cair dan padat) dari industri rata-rata di bawah 5 % dari total limbah industri yang dihasilkan.52 %).52 %) dan non B3 (97. 6. survai limbah B3 yang berasal dari industri-industri di Otorita Batam menyimpulkan bahwa : − Karakteristik limbah cair industri adalah : mudah terbakar (11. Sebagaimana dibahas pada Bagian I. beracun (2.

156/Kp/VII/95 tentang prosedur impor limbah Disamping itu. khususnya konsep cradle-to-grave yang menjadi rujukan dalam peraturan tentang limbah berbahaya di Indonesia. Sedangkan tujuan pengelolaan tersebut Enri Damanhuri . PP 18/1999 jo PP 85/1995 melarang impor limbah B3 kecuali dibutuhkan untuk penambahan kekurangan bahan baku sebagai bagian pelaksanaan daur-ulang limbah. sampai jangka waktu terbatas. Sebagai negara kepulauan dengan perairannya yang terbuka. memaksa Kongres Amerika untuk memperhatikan masalah limbah industri ini lebih serius. misalnya hanya dibuang ke lahan landfill yang belum dilapis secara kedap. • Keputusan Menteri Perdagangan RI No.. yang berupaya mengatur ekspor dan impor serta pembuangan limbah B3 secara tidak syah. Sebagai negara industri yang dapat dikatakan relatif paling maju. Karakteristk dan Proses Penentuan Limbah B3: Pengertian pengelolaan limbah B3 adalah '. maupun limbah yang datang dari luar negeri. − Bab V (pasal 40 sampai 61): Tata laksana. Kedelapan bab tersebut adalah : − Bab I (pasal 1 sampai 5): Ketentuan umum. yaitu sebanyak 3 pasal. 2 PENGELOLAAN LIMBAH B3 DALAM PP 18/1999 JUNCTO PP 85/1999 Hal yang Diatur: PP 18/1999 tentang pengelolaan limbah berbahaya dan beracun terdiri dari 8 bab yang dibagi lagi menjadi 42 pasal. Sedang PP 85/1999 yang merupakan perubahan dari PP 18/1999 hanya terdiri dari 2 (dua) pasal. Peraturan-peraturan yang langsung menangani lintas batas limbah adalah: • Keputusan Presiden RI No. 349/Kp/XI/92 tentang pelarangan impor limbah B3 dan plastik • Keputusan Menteri Perdagangan RI No. maka tidaklah berlebihan bila dalam diktat ini dibahas juga pengertian dan pengembangan peraturanperaturan yang berkaitan dengan limbah B3 di Amerika Serikat.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Dalam hal masalah lintas batas limbah ini.. pemanfaatan.FTSL ITB Halaman 22 . sampai tahun 1960-an pengelolaan limbah industri di Amerika Serikat masih belum memadai. Sumber.. Indonesia sangat potensial sebagai tempat pembuangan limbah berbahaya. limbah B3 yang dapat diimpor adalah skrap timah hitam (aki bekas). − Bab II (pasal 6 sampai 8): Identifikasi limbah B3 − Bab III (pasal 9 sampai 26): Pelaku pengelolaan. − Bab VII (pasal 64 sampai 65): Ketentuan peralihan. − Bab IV (pasal 27 sampai 39): Kegiatan pengelolaan . dan pasal 8. penyimpanan.61/1993 tentang Pengesahan Convension on The Control of Transboundary Movements of Hazardous Wastes and Their Disposal. pengangkutan. baik antar pula di Indonesia. yaitu: pasal 6. Indonesia telah meratifikasi Konvensi Basel. Dengan SK Menteri Perdagangan No.155/Kp/VII/95 tentang barang yang diatur tata niaga impornya • Keputusan Menteri Perdagangan RI No. dan pasal II (Penutup). − Bab VIII (pasal 66): Ketentuan penutup. Pasal I berisi pasal-pasal dalam PP 18/1999 yang mengalami perubahan. Dalam pasal I dijelaskan pasal-pasal dalam PP18/1999 yang mengalami perubahan. pengumpulan. Timbulnya gerakan lingkungan tahun 1960-an. pasal 7. rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi. 156/KP/VII/95. − Bab VI (pasal 62 sampai 63): Sanksi.. pengolahan limbah dan penimbunan limbah B3' (pasal 1 angka 3). Dapat dikatakan.

bekas kemasan. Tabel 2 (Sumber spesifik) dan Tabel 3 (limbah kimia kadaluarsa). karena izin pengelolaan limbah B3 membutuhkan prosedur administrasi yang tidak sederhana. Bersiafat reaktif d. yaitu Tabel 1 (Sumber tidak spesifik). Sebuah limbah dinyatakan sebagai limbah B3. yang hanya bisa dilaksanakan oleh sebuah usaha komersial. Pasal 1 angka 2 mendefinisikan limbah berbahaya dan beracun (disingkat B3) adalah sebagai sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya yang dapat diidentifikasikan menurut sumber dan/atau uji karakteristik dan atau uji toksikologi (PP85/99 Ps 6). dengan daftar limbah (Lampiran 1 Tabel 1 dan 3) atau daftar kegiatan (Lampiran 1 Tabel 2) yang tercantum dalam PP85/99. Limbah B3 dari sumber spesifik (Lampiran I Tabel 2) c. Beracun e. tumpahan. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa. seperti batere bekas. yaitu: • Langkah 1: mengidentifikasi limbah yang dihasilkan. Menyebabkan infeksi f. seperti ditegaskan dalam Ps9(6). Pengujian toksikologi untuk menentukan sifat akut dan atau kronik. maka secara formal limbah tersebut adalah limbah B3.. Kemudian PP 12/1995 membatasi. PP18/99 mendefisikan bahwa penghasil limbah B3 adalah orang yang usaha dan atau kegiatannya menghasilkan limbah B3 seperti di tegaskan dalam Ps1(5). dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi (Lampiran I Tabel 3) Rincian dari masing-masing jenis kelompok tersebut terdapat pada Lampiran I PP85/99. karena pengaturannya akan ditetapkan kemudian oleh instansi yang bertanggungan jawab.. Bila tidak terdapat dalam daftar tersebut. dan atau kelompok orang dan atau badan hukum. Bila terdapat dalam daftar. melalui beberapa langkah. Limbah B3 yang dihasilkan oleh kegiatan rumah tangga. Bersifat korosif g. Mudah terbakar c.FTSL ITB Halaman 23 .. Pengertian ‘orang’ yang sering muncul dalam PP18/99 seperti dijelaskan dalam Ps1(18) adalah orang perorangan. seperti diatur dalam Ps 7(1). maka identifikasi harus dilanjutkan dengan Langkah berikutnya • Langkah 2: melakukan uji karakteristik sebagaimana tercantum dalam Ps 7(3) PP85/99 seperti diuraikan berikut ini. Sebelumnya PP 19/1994 mendefinisikan bahwa penghasil limbah B3 tidak hanya mereka yang bergerak dalam kegiatan yang bersifat komersial tetapi termasuk juga perorangan yang menyimpan limbahnya dalam lokasi kegiatannya sebelum limbah tersebut ditangani lebih lanjut sesuai dengan peraturan yang ada.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 adalah : '. untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang sudah tercemar sehingga sesuai fungsinya kembali ' (pasal 2). akan menimbulkan permasalahan. bahwa yang terkena definisi tersebut adalah badan usaha yang menghasilkan limbah B3. Enri Damanhuri .. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik (Lampiran I Tabel 1) b. Ps 7(3) PP85/99 selanjutnya mendefinisikan uji karakteristik limbah B3 sebagai berikut: a. Bila batasan penghasil limbah B3 diterapkan juga pada kelompok tersebut. serta kegiatan skala kecil tidak terkena peraturan ini. Mudah meledak b. Ps 7 (1) PP85/99 menyebutkan bahwa jenis limbah B3 menurut sumbernya meliputi: a..

batere sel basah. peleburan-pengolahan besi dan baja. laboratorium riset dan komersial. 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan di sekitarnya (bandingkan dengan uraian pada PP74/2001) Limbah mudah terbakar adalah limbah-limbah yang memunyai salah satu sifat: • Berupa cairan yang mengandung alkohol kurang dari 24%-volume. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa. produk kertas. tumpahan. Sumber limbah ini terbagi dalam 51 jenis kegiatan yang termasuk kelompok penghasil limbah B3. pencucian. tinta. fotografi. electroplating dan galvanis. petrokimia. batere sel kering. peleburan dan penyempurnaan seng. pengemasan. bengkel pemeliharaan kendaraan. peleburan-pemurnian tembaga. pengolahan lemak hewan/nabati dan derivatnya. operasi penyempurnaan baja. pengolahan batu-bara dengan pirolisis. komponen elektronik-peralatan elektronik. daur-ulang pelarut bekas. manufaktur dan perakitan kendaraan-mesin. rumah sakit. fotokopi. IPAL industri. peleburan timah hitan (Pb). pelarutan kerak. • Bukan berupa cairan yang pada temperatur dan tekanan standar dengan mudah menyebabkan terjadinya kebakaran melalui gesekan. pertambangan. dan atau pada titik nyala ≤ 60oC (140oF). prosers logam non-ferro. proses kloro-alkali. • Merupakan limbah yang bertekanan yang mudah terbakar • Merupakan limbah pengoksidasi Limbah yang bersifat reaktif pada air adalah limbah-limbah dengan salah satu sifat: • Limbah yang pada keadaan normal tidak stabil dan dapat menyebabkan perubahan tanpa peledakan • Limbah yang dapat bereaksi hebat dengan air Enri Damanhuri . percikan api. semua jenis industri yang menghasilkan dan menggunakan listrik (untuk limbah PCB). eksplorasi dan produksi minyak-gas-panas bumi. sabun deterjen-produk pembersih desinfektan-kosmetik. akan menyala apabila terjadi kontak dengan api. zat warna dan pigmen. metal hardening. gas industri. bekas kemasan. metal-plastic shaping. cat. semua jenis industri konstruksi (untuk limbah asbestos).FTSL ITB Halaman 24 . penyamakan kulit. resin adesif. kilang minyak dan gas bumi. pengoperasian insinerator limbah. seal-gasket-packing. gelas keramik/enamel. pada tekanan 760 mmHg. Terdapat 43 jenis limbah yang termasuk kelompok ini. atau sumber nyala lainnya. Limbah B3 dari sumber spesifik adalah limbah sisa proses suatu industri atau kegiatan yang secara spesifik dapat ditentukan berdasarkan kajian ilmiah. tetapi berasal dari kegiatan pemeliharaan alat. pestisida. PLTU yang mengunakan bahan bakar batu-bara. Terdapat 178 jenis bahan kimia yang termasuk kelompok limbah B3. daurulang minyak pelumas bekas. Limbah mudah meledak adalah limbah yang pada suhu dan tekanan standar (25oC. dan buanagn produk yang tidak memenuhi spesifikasi yang ditentukan atau tidak dapat dimanfaatkan lagi. pencegahan korosi. tekstil. Jenis kegiatan yang termasuk kelompok sumber spesifik adalah industri atau kegiatan: pupuk. allumunium thermal metallurgyallumunium chemical conversion coating. dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran terus menerus. laundry dan dry cleaning. pengawetan kayu. penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan. polimer. chemical-industrial cleaning. farmasi.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Sumber limbah tidak spesifik adalah sumber limbah yang menghasilkan limbah yang pada umumnya bukan berasal dari proses utamanya.

karbon aktif dan absorban bekas. Limbah bersifat korosif adalah limbah yang mempunyai salah satu sifat o Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit o Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja standar SAE-1020 dengan laju korosi lebih besar dari 6. Asal limbahnya adalah sludge minyak. seperti tercantum dalam lampiran II PP85/99. • D221: limbah dari kegiatan kilang minyak dan gas bumi.35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55oC. sludge dari IPAL.5 dapat menghasilkan gas. o Mempunyai pH ≤ 2 untuk B3 bersifat asam.5 untuk B3 bersifat basa. yang merupakan batas ambang yang digunakan untuk indikasi B3. Pada dasarnya sebetulnya. limbah PCB Enri Damanhuri . limbah dari laboratorium atau limbah lainnya yang terinfeksi kuman penyakit yang dapat menular. 31 tahun 1994 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Tenaga Atom. dan atau pH ≥ 12. Namun dalam versi Indonesia. Limbah ini berbahaya karena mengandung kuman penyakit seperti hepatitis dan kolera. Pengelolaan limbah radioaktif tidak termasuk dalam peraturan ini (Ps 5 PP18/99). filter bekas. katalis bekas. dan kewenangan pengelolaannya dilakukan oleh Badan Tenaga Atom Nasional sesuai dengan UU no. dengan kode: • D220: limbah dari kegiatan eksplorasi dan produksi minyak. menghasilkan batas aman yang memperhitungkan probabilitas terjadinya toksisitas kronik non-kanker maupun kanker. bila ambang batas TCLP tidak terlampaui. residu dasar tanki. kulit dan mulut. sludge minyak.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 • • • • Limbah yang bila bercampur dengan air (termasuk uap air) menimbulkan ledakan. pembersih jalan dan masyarakat lain di sekitar lokasi pembuangan limbah. Simulasi transportasi pencemar ini. yang airnya digunakan secara rutin. sludge dari IPAL. menghasilkan gas. yang ditularkan pada pekerja. gas dan panas bumi. Asal limbahnya adalah fly ash. penghasil limbah masih tetap diharuskan melakukan uji toksisitas akut maupun kronis Limbah yang menyebabkan infeksi yaitu bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan dari tubuh manusia yang terkena infeksi. karbon aktif bekas. cutting pemboran.FTSL ITB Halaman 25 . yang menyebabkan terjadinya pencemaran pada air tanah. uap atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan Limbah sianida. uap. uji TCLP adalah uji yang dikembangkan oleh US-EPA. limbah laboratorium. drilling mud bekas. Asal limbahnya adalah slop minyak. Indikator sifat racun yang digunakan adalah TCLP (Toxicity Characteristics Leaching Procedure). bottom ash. residu dasar tanki. daftar limbah yang dapat dikecualikan adalah seperti terdapat pada Lampiran I – Tabel 2. limbah PCB • D223: PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara. Limbah yang Dapat Dikeluarkan dari Daftar Lampiran I: Menurut PP85/99. sulfida atau amoniak yang pada pH antara 2 dan 12. yang merupakan simulasi terburuk kondisi landfill. atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan Limbah yang dengan mudah dapat meledak atau bereaksi pada suhu dan tekanan standar Limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepas atau menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi Limbah yang beracun adalah limbah yang mengandung pencemar yang bersifat racun bagi manusia dan lignkungan yang dapat menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan.

− Pengumpulan limbah oleh pengumpul. Badan yang mempunyai kewenangan untuk mengawasi pengelolaan limbah B3 tersebut di Indonesia adalah sebuah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. PP tersebut mengatur masalah perizinan bagi mereka yang akan terlibat dalam bisnis kegiatan operasional tersebut. Rangkaian mata rantai berikutnya adalah: − Pemanfaatan limbah oleh pemanfaat. terkait berbagai fihak yang merupakan mata rantai dalam pengelolaan limbah B3. dan melakukan pengolahan. maka limbah B3 tersebut dapat dimanfaatkan. Kegiatan dan Pelaku Pengelolaan: Berbeda dengan PP19/94 jo PP12/95. yang dikenal sebagai BAPEDAL. tanpa menunggu pembuktian terlebih dahulu. Bila kegiatan reduksi tersebut masih menghasilkan limbah. Enri Damanhuri . yaitu: • Uji karakteristik limbah B3 • Uji toksikologi • Hasil studi yang menyimpulkan bahwa limbah yang dihasilkan tidak menimbulkan pencemaran dan gangguan kesehatan terhadap manusia dan mahluk hidup lainnya. dan masih limbahnya dapat dimanfaatkan. dan − Pengolahan dan penimbunan limbah oleh pengolah Dalam kegiatan tersebut. − Pengangkutan limbah oleh pengangkut. Ps 27 (1) PP tersebut mengarahkan bahwa reduksi limbah B3 dapat dilakukan melalui upaya: o Penyempurnaan penyimpanan bahan baku dalam proses house keeping. semua jenis limbah tersebut oleh yang berwenang dinyatakan sebagai limbah B3. baik dilakukan sendiri atau menggunakan jasa fihak lain. maka PP 18/99 jo PP85/99 mengarahkan penanganan limbah B3 yang lebih berbasiskan pada cleaner production. o Substitusi bahan o Modivikasi proses o Serta upaya reduksi lainnya Secara teknis operasional. tanpa kecuali. dan/atau penimbunan bagi limbahnya. Namun pada kenyataannya di lapangan. bertanggung jawab akan hal itu. Aspek pengawasan dan sanksi juga diatur dalam kedua PP tersebut. Sebelum dibubarkan beberapa tahun lalu. maka setiap penghasil limbah B3. Dengan adanya kedua PP tersebut. Ps 9 (1) PP18/99 menegaskan bahwa setiap penanggung jawab usaha atau kegiatan yang menggunakan B3 atau menghasilkan limbah B3 wajib melakukan reduksi baik bahan maupun limbahnya. Selanjutnya Ps 8 mengatur bahwa limbah B3 yang tercantum dalam Lampiran I Tabel 2 PP85/99 dapat dikeluarkan dari daftar setelah dapat dibuktikan bukan limbah B3 berdasarkan prosedur pembuktian secara ilmiah. maka instansi yang bertanggung sepertinya berada pada Kementerian ini. maka Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. dilarang membuang limbahnya secara langsung ke dalam media lingkungan hidup.3) dari terbentuknya limbah oleh penghasil. maka pengelolaan limbah B3 menurut PP 18/99 jo PP85/99 merupakan suatu rangkaian kegiatan (Ps 1. Oleh karenanya. Dengan penyatuan institusi Bapedal dalam Kementerian Lingkungan Hidup.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Limbah tersebut di atas dapat dinyatakan sebagai limbah B3 setelah dilakukan uji karakteristik dan atau uji toksikologi. kemudian upaya reduksi limbah (sebelum terbentuk) seperti diuraikan di atas.FTSL ITB Halaman 26 . artinya mengutamakan upaya reduksi di sumber. Setiap mata rantai tersebut memerlukan pengawasan dan pengaturan.

Demikian juga upaya kegiatan pengumpulan dan pengangkutan limbah B3 menuju lokasi pemerosesan berikutnya. serta melaporkan setiap 6 bulan sekali kepada instansi yang berwenang. maka penghasil limbah dikenai kewajiban untuk mematuhi tata cara penyimpanan bagi limbah B3 (Ps29). PP ini juga mengatur penghasil limbah yang dikatagorikan sedikit menghasilkan limbah B3. Pengangkut limbah B3 wajib menyerahkan limbah B3 dan dokumennya kepada Enri Damanhuri . Batas waktu bagi penghasil limbah. Sebagaimana pada penghasil limbah. pemberian symbol dan label untuk setiap kemasan yang digunakan yang menunjukkan karakteristik dan jenis limbah B3 tersebut (Ps28). Kewajiban penghasil limbah adalah mendata limbahnya secara baik. atau pemanfaat limbah atau pengolah/penimbun limbah untuk menyimpan limbahnya sebelum dikelola lebih lanjut tidak lebih dari 90 hari (Ps10. baik pada saat limbah dihasilkan. serta Bupati/Walikota yang bersangkutan. dan limbah tersebut selanjutnya harus diserahkan kepada pemanfaat. merupakan hal yang harus dilaksanakan. dengan syarat mendapat persetujuan instansi yang bertanggung jawab (Ps10).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 tanpa pengolahan terlebih dahulu (Ps3). Pengumpulan ini bersifat sementara. Ps13 dan Ps14). Setiap kegiatan yang menghasilkan limbah B3. Selama penyimpanan tersebut. Informasi data tersebut akan digunakan untuk bahan inventarisasi serta bahan evaluasi guna pengembangan kebijakan pengelolaan limbah B3. sebagaimana diatur dalam Ps12 dan Ps15 PP18/99. maka penghasil limbah tersebut dapat menyimpan limbahnya lebih dari 90 hari. karena kegiatan ini tidak akan menurunkan beban limbah yang dihasilkan. Namun penghasil limbah B3 tetap bertanggung jawab atas limbah yang diolah tersebut.FTSL ITB Halaman 27 . walaupun telah diserahkan penanganannya pada fihak lain. Bagi mereka yang tidak mampu untuk menangani limbahnya sesuai peraturan yang ada. wajib mengolah limbahnya sesuai dengan teknologi yang ada. Rantai berikutnya dalam pengelolaan ini adalah pengumpulan limbah (Ps12. yang mencakup (Ps11-1): o Jenis. maka limbah boleh disimpan paling lama 90 hari sebelum diserahkan kepada rantai pengelola berikutnya. Setiap pengangkutan limbah B3 oleh pengangkut. yang dikenal sebagai Small Quantity Generator (SQG). Ps18 dan Ps23). jumlah dan waktu. maka penghasil limbah tersebut diperbolehkan menyerahkan penanganan limbahnya kepada pemanfaat limbah (Ps9-2) atau pengolah atau penimbun limbah B3 (Ps9-4) yang mempunyai kewenangan untuk itu. penghasil limbah tidak harus menyerahkan limbahnya setiap saat kepada pengumpul atau pengangkut atau pengolah limbah. Kewajiban untuk mendata limbah B3 yang dikelola. Demikian pula pengolah limbah B3 dapat menyimpan limbah yang diterimanya maksimum 90 hari sebelum dilakukan pengolahan. maupun pada saat limbah tersebut diserahkan kepada pengelola berikutnya o Nama pengangkut limbah B3 yang melaksanakan pengiriman kepada pengumpul. dengan tembusan kepada instansi lain terkait. dapat diserahkan kepada fihak lain. Pengaturan lintas batas limbah B3 dari dan keluar Indonesia diatur dalam Ps53. atau pengolah-penimbun limbah yang diakui oleh yang berwenang. pemanfaat atau pengolah/penimbun limbah B3 Catatan tersebut wajib dilaporkan sekurang-kurangya sekali dalam enam bulan kepada instansi yang bertanggung jawab. Dengan demikian. penanganan limbah B3 dengan jalan pengenceran sehingga konsentrasinya menjadi turun tidak diperbolehkan dilakukan (Ps4). dan bila tidak mampu diolah di dalam negeri dapat diekspor ke negara yang mempunyai teknologi pengolahan yang sesuai (Ps9-3). wajib disertai dokumen limbah B3 (Ps16). Disamping itu. karakteristik. Bila limbah B3 yang dihasilkan kurang dari 50 kg/hari.

stabilisasi dan solidifikas. penerbangan (UU 15/1992) dan pelayaran (UU 21/1992). pengolahan limbah bersasaran agar limbah tersebut dapat terdaur-ulang atau terdaurpakai. setelah ditandatangani pleh penerima limbah Enri Damanhuri . Rantai pengeolaan yang paling akhir adalah penimbunan imbah B3 dalam sebuah landfill limbah B3 dengan system pelapis dasar. dan karakteristik limbah yang diserahkan. Dokumen tersebut dibuat dalam rangkap 7 apabila pengangkutan hanya satu kali. Usaha ini membutuhkan izin terlebih dahulu dari Menteri yang mempunyai kewenangan di bidang perhubungan setelah mendapat pertimbangan dari Menteri Lingkungan Hidup. rincian distribusi dokumen limbah tersebut adalah sebagai berikut: − Lembar ke 1 (asli): disimpan pengangkut setelah ditandatangani oleh pengirim limbah − Lembar ke 2: setelah ditandatangai oleh pengangkut limbah. maka dibutuhkan teknologi lain yang terbaik dan tersedia. − Lembar ke 3: disimpan oleh penghasil setelah ditandatangani oleh pengangkut − Lembar ke 4: setelah ditanda tangani oleh pengirim limbah. Penghasil limbahpun dapat bertindak sebagai pengangkut limbah. Mekanisme Cradle-to-Grave: Dokumen limbah akan memegang peranan penting dalam pemantauan perjalanan limbah B3 dari penghasil sampai ke pengolah limbah. maka dibutuhkan dokumen 11 rangkap. seperti secara termal. Selama dalam perjalanannya. komposisi. Proses tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi yang sesuai. jumlah. pengolahan secara fisika. kemudian oleh pengangkut diserahkan kepada penerima limbah − Lembar ke 5: dikirimkan oleh penerima kepada instansi yang bertanggung jawab setelah diterima oleh penerima limbah B3 − Lembar ke 6: dikirimkan oleh pengangkut kepada Bupati/Walikota yang bersangkutan dengan pengirim. Sektor pengangkutan merupakan aktivitas yang beresiko tinggi. dengan aturanaturan yang berlaku bagi pengangkut limbah B3. Rantai akhir dari sistem ini adalah pengolahan dan penyingkiran (disposal) limbah. kemudian dikirimkan kepada instansi yang bertanggung jawab oleh pengirim limbah. Pada dasarnya. Disamping itu. Disamping itu. alat angkut yang digunakan harus sesuai dengan peraturan tentang angkutan yang ada. Dokumen tersebut antara lain berisi: o Nama dan alamat penghasil limbah atau pengumpul yang menyerahkan limbah o Tanggal peneyerahan limbah o Nama dan alamat pengangkut limbah o Tujuan pengangkutan o Jenis. dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan di jalan serta hal-hal lain yang tidak diinginkan. yang akan merupakan sarana permantauan yang serupa dengan konsep cradle-to-grave yang diterapkan di Amerika Serikat. dan menyerahkan dokumen tersebut kepada pengolah limbah bila limbah tersebut telah sampai di tujuan. angkutan darat (UU 14/1992). Bila teknologi tersebut tidak dapat diterapkan.FTSL ITB Halaman 28 . pengolahan limbah bersasaran untuk merubah karakteristik dan komposisi limbah tersebut agar menjadi tidak berbahaya lagi. kimia dan biologi (Ps34). Berdasarkan uraian dalam Penjelasan atas PP 18/99. Apabila pengengkutan lebih dari satu kali (antar moda). limbah tersebut harus dilengkapi dokumen-dokumen yang berasal dari penghasil limbah maupun dari pengumpul limbah yang menjelaskan tentang limbah tersebut. yaitu : perkereta-apian (UU 13/1992).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 pengumpul atau pemanfaat atau pengola atau penimbun yang ditunjuk oleh penghasil limbah B3 (Ps17).

− bahan baku dan proses yang akan digunakan. − dari Menteri Perhubungan untuk kegiatan pengangkutan limbah B3. − bentuk kegiatan yang akan dilakukan. − spesifikasi alat pengolah limbah. pengumpul. yaitu : − dari Kepala instansi yang bertanggung jawab untuk kegiatan penyimpanan. Disamping itu.1 : Mata rantai perjalanan limbah beserta dokumennya Pengelolaan limbah B3 memungkin badan swasta untuk terlibat di dalamnya. Dalam bentuk skema. − jumlah dan karakteristik limbah yang akan ditangani. dibutuhkan analisis dampak lingkungan terlebih dahulu. pemanfataan. Untuk itu dibutuhkan izin operasi (Ps40). hanya rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang telah disetujui oleh instansi berwenang yang diajukan kepada Instansi yang bertanggung jawab bersama persyaratan lainnya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − Lembar ke 7: setelah ditandatangani oleh penerima. Skema 3. − alat pencegahan pencemaran yang digunakan Yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan izin lokasi pengolahan adalah kepala kantor pertanahan kabupaten/kota (pasal 42) sesuai dengan rencana tata ruang berdasarkan rekomendasi Kepala instansi yang bertanggung jawab. maka oleh pengangkut dikirimkan kepada pengirim limbah. pemanfaat. Disamping mempunyai legalitas badan usaha. dan pengolahan-penimbunan. Dalam hal penghasil limbah bertindak pula sebagai pengolah limbah dan kegiatan tersebut dilakukan pada lokasi yang sama. pengumpulan. mata rantai perjalanan limbah beserta dokumennya adalah seperti tercantum dalam Skema 3. − Lembar ke 8 sampai ke 11 dikirim oleh pengangkut kepada pengirim limbah setelah ditandatangani oleh pengangkut terdahulu dan diserahkan kepada pengangkut berikutnya (antar moda).FTSL ITB Halaman 29 . disertai dokumen-dokumen yang biasa menyertainya. − lokasi tempat kegiatan. − tata letak sarana dan prasarana. Enri Damanhuri . maka analisis dampak lingkungannya dibuat teritegrasi dengan kegiatan utamanya dengan persyaratan yang berlaku. pengangkut maupun sebagai pengolah limbah tersebut. Untuk itu. persyaratan lain untuk memperoleh izin tersebut adalah adanya informasi yang menyangkut tentang: − nama dan alamat yang jelas dari badan usaha tersebut. baik sebagai penyimpan. untuk melengkapi perizinan kegiatan pengolahan limbah tersebut. − nama dan alamat penanggung jawab. setelah mendapat rekomendasi dari Kepala instansi yang bertanggung jawab.1.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 PP18/99 tersebut juga mengatur perpindahan lintas batas limbah B3 dari dan ke luar Indonesia (Ps53). dan biaya kegiatan tersebut dibebankan pada fihak pengelola. Bila terjadi kecelakaan atau pencemaran atau kerusakan lingkungan akibat kegiatan tersebut. Dalam hal pengangkutan limbah B3 antara negara yang melalui wilayah Indonesia. Kewajiban penghasil. yang mengatur permasalahan penggunaan energi nuklir. Kontrol yang aktif dari masyarakatnya banyak menelorkan peraturan-peraturan guna mengatur masalah ini. Fungicide and Rodenticide Act (FIFRA-1972) : mengatur penyimpanan dan disposal pestisida.1980) dan Superfund Amendement and Reautorization Act (SARA Enri Damanhuri . − meminta keterangan tentang pelaksanaan pengelolaan limbah. khususnya limbah industri. pengangkut dan atau pengolah limbah adalah membantu sepenuhnya aktivitas pengawasan yang dilakukan di daerah tanggung jawabnya. Guna mencegah dijadikannya wilayah Indonesia sebagai tempat pembuangan limbah B3.1984) : tentang perlindungan terhadap air tanah dari limbah berbahaya − Comprehensive Environmental Response.1976) : pengaturan penggunaan bahan kimia berbahaya yang baru dihasilkan. Pengawasan pengelolaan limbah B3 yang dilakukan oleh Instansi yang bertanggung jawab meliputi pematauan penaatan persyaratan serta ketentuan teknis dan administratif oleh fihak-fihak yang mengelola limbah B3. pengumpul. Bila fihak pengelola tidak dapat menanggulanginya secara baik. Compensation and Liabilities Act (CERCLA . maka dibutuhkan pemberitahuan tertulis terlebih dahulu kepada pemerintah Republik Indonesia. khususnya yang berkaitan dengan masalah pengelolaan limbah B3 antara lain adalah : − Atomic Energy Act (1954) : merupakan revisi Atomic Energy Act tahun 1946.FTSL ITB Halaman 30 . − mengambil contoh limbah untuk dianalisa di laboratorium. − Toxic Substances Control Act (TSCA . Pengawasan tersebut mempunyai kewenangan untuk: − memasuki area lokasi kegiatan. dan fihak pengelola diwajibkan untuk segera menaggulanginya. maka limbah B3 dilarang masuk ke wilayah Indonesia. 3 KONSEP CRADLE-TO-GRAVE AMERIKA SERIKAT Sebagai negara industri. − melakukan pemotretan untuk kelengkapan pengawan tersebut. Pengiriman limbah B3 ke luar Indonesia membutuhkan persetujuan tertulis dari pemerintah negara penerima dan izin tertulis dari pemerintah Indonesia. maka Instansi yang bertanggung jawab akan melakukan upaya penanggulangan. Upaya ini merupakan kewajiban fihak pengelola untuk melaksanakannya. maka fihak pengelola bertanggung jawab atas hal ini. Pemeriksaan kesehatan pekerja oleh instansi yang berwenang di bidang kesehatan tenaga kerja dilakukan secara berkala agar sejak dini dapat diketahui terjadinya kontaminasi oleh zat-zat berbahaya. − Resource Conservation and Recovery Act (RCRA . Beberapa peraturan-peraturan Federal yang berkaitan dengan masalah lingkungan. Amerika Serikat relatif banyak mengalami banyak masalah dengan limbah. − Federal Insecticide.1976) : pengaturan pengelolaan limbah berbahaya − Hazardous and Solid Waste Amandements Act (HSWA . Hal lain yang mendapat perhatian dalam kedua PP tersebut adalah kesehatan dan keselamatan pekerja yang terlibat dalam kegiatan pengelolaan ini serta tanggung jawab pengelola bila terjadi kecelakaan serta pencemaran. − Solid Waste Disposal Act (1965) dan Resource Recovery Act (1970) : pengaturan tentang pengolahan dan pendaur-ulangan buangan padat.

Solid Waste Disposal Act pada dasarnya mengatur tata cara disposal (penyingkiran) limbah kota dan industri. Toxic Substances Control Act (TSCA) memberi kewenangan pada USEPA untuk mengidentifikasi dan memantau bahan-bahan kimia berbahaya di lingkungan . Melalui TSCA. atau 1600 ± 100°C selama 1. sehingga digunakan sebagai media transfer panas pada transformator dan kapasitor. dan Enri Damanhuri . Berdasarkan hal ini keluarlah RCRA. Katagori produk yang tidak termasuk dalam kontrol TSCA adalah tembakau.000 transformator dengan PCB telah diproduksi. produk PCB di Amerika Serikat telah dihentikan (1977). serta bagaimana mengurangi timbulan limbah tersebut. dan merupakan bahan cair dengan sifat-sifat yang menguntungkan yaitu mempunyai stabilitas panas serta sifat-sifat transfer panas yang ideal. Dalam peraturan tersebut. Diperkirakan sekitar 77. persyaratanpersyaratan mulai dari sumber (timbulan). yang terdiri dari berbagai Subtitle. disamping itu USEPA mempunyai kewenangan untuk mendapatkan informasi tentang bahan berbahaya ini di sumbernya (pabrik). harus diuji dulu sebelum bahan tersebut diproduksi untuk dipasarkan. maka yang sangat berkaitan erat dengan masalah limbah berbahaya adalah TSCA (1976). khususnya limbah B3. transportasi. Proses pemusnahan yang paling cocok adalah dengan insinerasi pada temperatur 1200 ± 100°C selama 2 detik dengan 3% kelebihan oksigen di cerobong. Namun uji coba pada hewan akhirnya menunjukkan bahwa PCB dapat menyebabkan kanker dan sebagainya. Direncanakan. penyimpanan. Bahan-bahan kimia yang diproduksi sebelum TSCA juga terkena peraturan ini. dicantumkan aturan-aturan administratif dan tehnis untuk tiga katagori pelaku utama. yaitu dari mulai identifikasi limbah berbahaya. aditif untuk makanan. − Pengangkut (transporter).FTSL ITB Halaman 31 . HSWA (1980). dan telah mengalami beberapa kali amandemen sejak dikeluarkannya pada tahun 1976. CERCLA (1980) dan SARA (1986). pestisida. makanan. − Pollution Prevention Act (1990) : strategi penanganan pencemaran limbah dengan memberikan priporitas pada minimasi limbah Dari sekian banyak peraturan perundang-undangan tersebut di atas. RCRA dianggap merupakan produk legislatif yang paling penting dalam pengaturan limbah B3. RCRA dalam hal ini menugaskan USEPA untuk melaksanakan aturan-aturan yang ada. yaitu : − Penghasil (generator). namun sejumlah besar alat listrik masih menggunakan bahan ini.9999 %. Dalam pengelolaan limbah berbahaya. bahan nuklir. Salah satu kasus yang dapat dijadikan contoh adalah penggunaan polychlorinated biphenyl (PCB). agar tidak mengganggu terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. transformator tersebut akan ditarik dari peredaran oleh USEPA. serta terkonsentrasi pada jaringan lemak. Perkembangan lebih lanjut ternyata dibutuhkan aturan-aturan lebih jauh agar limbah tersebut. DRE (Destruction and Removal Efficiency) yang dipersyaratkan paling tidak adalah sebesar 99. Efek toksik dari bahan yang baru dihasilkan. pengolahan. Dengan adanya peraturan tersebut maka tidak satupun bahan kimia yang boleh diimport atau dieksport tanpa kontrol dan persetujuan USEPA. senjata api/amunisi.5 detik dengan 2 % kelebihan oksigen. dikelola dengan baik. obat-obatan dan kosmetika. sampai penyingkiran/pemusnahan (disposal) limbah berbahaya. versi RCRA yang paling penting adalah aturan-aturan yang termasuk dalam Subtitle-C dengan program utamanya adalah Cradle-to-grave . Produk ini telah diatur oleh peraturan-peraturan sebelumnya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 1986) yaitu tentang pengaturan dan pendanaan bagi pembersihan site disposal berbahaya yang sudah tidak beroperasi. PCB telah diproduksi di Amerika Serikat sejak tahun 1929. RCRA (1976).

− Generator menyimpan kopi-6 dan mengirim kopi-5 ke USEPA serta memberikan copy yang lain ke transporter − Transporter selanjutnya menyimpan kopi-4. dan menyerahkan copy yang lain pada perusahaan TSD (Treatment. maka diciptakan mekanisme seperti Skema 3. USEPA menyadari akan sulit menerapkannya. dan pada tahun 1984 plafon SQG ini diturunkan lagi menjadi 100 kg limbah B3 per bulan. Bila Generator skala kecil diharuskan mengikuti aturan tersebut. Oleh karenanya.FTSL ITB Halaman 32 .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − Pemilik/operator fasilitas pengolah(treatment).2 : Konsep cradle-to-grave Amerika Serikat − Setiap generator mengisi format standar dalam 6 kopi. sebagian besar jenis limbah dari SQG dikeluarkan dari Subtitle-C. USEPA juga mengadopsi aturan-aturan yang telah lama digunakan oleh US Departement of Transportation (DOT). EPA pada tahun 1980 lebih lanjut mendefinisikan Small Quantity Generator (SQG) sebagai penghasil limbah berbahaya kurang dari 1000 kg per bulan. pembuang limbah B3 − Daur ulang limbah B3 − Land disposal limbah B3 − Izin fasilitas TSD Generator adalah penghasil (creator) limbah berbahaya yang harus menganalisis limbah padatnya sesuai aturan RCRA Subtitle-C. Guna memungkinkan pelacakan dan pengelolaan sesuai dengan konsep Cradle-tograve. selama pengangkutan sampai di tujuan. penyimpan. Aturan RCRA selanjutnya dikodifikasi dalam Code of Federal Regulation (CFR) dengan sebutan Title 40 CFR. yaitu aturan-aturan pengangkutan bahan berbahaya dan beracun mulai dari pengemasan. Dengan pengecualian ini. antara lain berisi : − Identifikasi limbah B3 − Penghasil limbah B3 − Pengangkut limbah B3 − Pemilik/operator fasilitas pengolah. penyimpan (storage) dan pemusnah/penyingkir (disposal) atau TSD. yang memungkinkan untuk pemanfaatkan dan pelacakan limbah berbahaya tersebut dalam mata rantai pengelolaan.2 : Skema 3. Perusahaan kecil dibatasi kemampuan finansial dan kapasitasnya untuk melaksanakan aturan RCRA secara ketat. Generator limbah B3 harus mendapatkan nomor identifikasi dari USEPA. walaupun pengusaha tetap diwajibkan untuk menganalisis limbahnya. Storage & Disposal) Enri Damanhuri .

Setiap manifes isian tersebut berisi antara lain : − Pernyataan bahwa generator telah menggunakan cara-cara terbaik guna mengurangi volume dan toksisitas limbah B3 nya. termasuk juga cara analisis limbah B3 dan sebagainya. maka EPA hanya mampu mengatur pengelolaan limbah berbahaya yang masih aktif dan baru ditutup.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − TSD kemudian mengirimkan kopi-1 kembali ke generator. CERCLA diperkuat oleh SARA yang mengatur pengumpulan dana melalui pajak khusus untuk menjamin terlaksananya pembersihan lingkungan. − Disposal (pemusnahan/penyingkiran) : penyimpanan limbah berbahaya dengan cara yang dianggap aman dengan penimbunan dalam tanah. misalnya karena terjadinya kebocoran. Dengan demikian. Generator harus sudah menerima kopi-1 dalam kurun waktu 35 hari sejak limbah tersebut diterima oleh perusahaan pengangkut (transporter). Oleh karenanya. dan tidak menerima limbah dari generator yang tanpa nomor tersebut. yang melibatkan 3 kegiatan fungsional. yaitu : − Treatment (pengolahan) : setiap proses yang merubah karakteristik atau komposisi limbah berbahaya sehingga menjadi tidak berbahaya atau sedikit berbahaya. − Storage (penyimpanan) : penyimpanan sementara limbah berbahaya sebelum diolah atau dimusnahkan atau didaur-ulang. Pengusaha yang ingin berkecimpung dalam usaha ini harus memasukkan permohonan yang mencakup rancangan sarananya. Dengan CERCLA.FTSL ITB Halaman 33 . terutama pada landfill limbah B3 yang tidak terkontrol. Rantai akhir dari sistem ini adalah TSD. Transporter harus memiliki nomor-identifikasi USEPA. tidak terjangkau oleh EPA. atau setiap proses yang mampu melakukan pengurangan volume atau mampu memanfaatkan kembali limbah tersebut. kopi-2 ke USEPA dan TSD menyimpan kopi-3. ledakan. Compensation and Liabilites Act (CERCLA). generator harus menghubungi transporter atau TSD untuk menentukan status dari limbah tersebut. maka USEPA mempunyai kewenangan untuk bertindak terutama bila berkaitan dengan pengaruh limbah B3 terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Karena DOT sudah lama menangani transportasi bahan berbahaya. Disamping itu generator harus melaporkan pada USEPA dengan menunjukkan tempat (lokasi) dimana limbah itu berada. kalau tidak. Sarana yang sudah ditutup sebelum peraturan ini keluar. Bila usulan tersebut disetujui (bisa memakan waktu sampai 3 tahun). − Pernyataan bahwa sarana TSD yang dipilih oleh generator adalah yang terbaik dalam meminimkan resiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Transporter merupakan masa rantai yang sangat penting dalam sistem ini. kontaminasi terhadap rantai makanan atau pencemaran terhadap sumber-sumber air minum. EPA dan generator dapat melacak perjalanan limbah B3 tersebut dari penimbul atau generator (cradle) ke titik penyingkiran/pemusnahan final (grave). CERCLA adalah berfungsi menangani "dosa masa lalu". maka aktifitas tersebut dikomunikasikan pada masyarakat selama 45 hari. Salah satu isu penting terhadap lahan pengurugan (landfilling) yang tidak terkontrol secara baik adalah bagaimana mengidentifikasikan dan mengkuantifikasi resiko Enri Damanhuri . Sebelum adanya Comprehensive Enviromental Respons. Transporter harus menyimpan kopi-4 dari manifes selama 3 tahun setelah limbah tersebut diterima oleh TSD. maka USEPA bekerja erat dengan DOT. Transporter harus mengangkut limbah tersebut sesuai dengan jumlah yang tercantum dalam manifes.

C.A. transporter.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. atau kegiatan-kegiatan stabilisasi sementara lainnya.P.FTSL ITB Halaman 34 . yaitu generator. Dalam kegiatan yang bersifat jangka panjang ini. sampai pemecahan final yang permanen diterapkan pada lahan tersebut . kegiatan ini bersifat program jangka pendek. Van Nostrand Reinhold. Terdapat dua jenis tindakan dari USEPA.: Hazardous waste identification and classification manual. termasuk pula penentuan kontribusi penanggung jawab atas masalah ini. yaitu : a) Penyingkiran (pengangkutan kembali) substansi berbahaya dan pembersihan segera bagian-bagian lahan. McGraw-Hill Book. serta proporsi beban dana yang dipikulkan pada masing-masing pelaku.T. 1989 Enri Damanhuri . 1990 − Wentz.: Hazardous waste management. Referensi Utama: − Peraturan Pemerintah Nomor 18/1999: Pengelolaan Limbah B3 − Peraturan Pemerintah Nomor 85/1999: Amandemen PP18/99 − Wagner. b) Kegiatan yang bersifat penyembuhan (remedial). yang merupakan pemecahan yang permanen dari masalah yang timbul. pemilik/pengoperasi sarana TSD.

dapat digunakan. yang kemudian diganti menjadi PP 18/99 dan PP 85/1999. Namun terlihat bahwa pengaturan limbah B3 terkesan lebih ketat dibandingkan pengaturan B3. bahan berbahaya adalah setiap bahan yang dapat menimbulkan resiko terhadap kesehatan. Dalam Diktat ini juga diuraikan tata-cara yang berlaku di Indonesia dalam menanangani limbah B3 yang berasal dari beberapa regulasi yang dikeluarkan sebelum PP 74/2001 dikeluarkan. dan menjadi standar baku secara universal. maka aturan-aturan yang diberlakukan di USA. khususnya dalam mengatur transportasi bahan berbahaya yang diatur dalam Hazardous Materials Transportation Act. antara lain berisi: − Nama dan alamat pengolah atau pengumpul atau pemanfaat limbah B3 Enri Damanhuri . untuk menyatakan bahwa limbahnya telah sesuai dengan keterangan yang ditulis serta telah dikemas sesuai peraturan yang berlaku Bila pengisi dokumen adalah pengumpul yang berbeda dengan penghasil. Dokumen ini dikenal pula sebagai shipping papers. antara lain berisi : − Nama dan alamat pengangkut limbah B3 − Tanggal pengangkutan limbah − Tanda tangan pejabat pengangkut limbah c) Bagian yang harus diisi oleh pengolah atau pengumpul atau pemanfaat limbah B3. Penyimpanan. − Tanggal penyerahan limbah − Tanda tangan pejabat penghasil atau pengumpul. Pada prinsipnya tidak ada perbedaan yang berarti dalam menyimpan dan mengangkut B3 atau limbah B3.Kepala Bapedal No.02/Bapedal/09/1995: tentang Dokumen Limbah B3 c) Kep. maka dokumen tersebut dilengkapi dengan salinan penyerahan limbah tersebut dari penghasil limbah. Pengaturan teknis tentang aspek ini sejak tahun 1995 diatur dalam: a) Kep. PENYIMPANAN DAN PENGANGKUTAN 1 UMUM Untuk memberikan gambaran tentang aspek penyimpanan sampai pengangkutan bahan berbahaya. Menurut US Department of Transportation (USDOT).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN IV PELABELAN.Kepala Bapedal No.Kepala Bapedal No. volume dan sebagainya) − Kelas 'bahaya' dari bahan itu (hazard class).05/Bapedal/09/1995: tentang Simbol dan Label Limbah B3 2 DOKUMEN Bahan-bahan berbahaya tersebut bila akan diangkut ke tempat lain. antara lain berisi: − Nama dan alamat penghasil atau pengumpul limbah B3 yang menyerahkan limbah B3 − Nomor identifikasi (identification number) UN/NA − Kelompok kemasan (packing group). pengumpulan dan pengangkutan merupakan komponen-komponen teknik operasional pengelolaan limbah B3 seperti diatur dalam PP 19/1994 dan PP12/1995.01/Bapedal/09/1995: tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3 b) Kep. dengan format yang telah dibakukan dengan Keputusan Kepala Bapedal No. karena pengaturan B3 sudah dilaksanakan sejak lama.FTSL ITB Halaman 35 . khususnya dalam menangani bahan kimia dan bahan bakar. harus dilengkapi dengan dokumen resmi. yang antara lain terdiri dari: a) Bagian yang harus diisi oleh penghasil atau pengumpul limbah B3. keselamatan dan harta benda bila diangkut. − Kuantitas (berat. b) Bagian yang harus diisi oleh pengangkut limbah B3.02/Bapedal/09/1995. dilengkapi tanggal. yang merupakan legalitas kegiatan pengelolaan sehingga dokumen ini akan merupakan sarana/alat pengawasan dalam konsep cradle-to-grave.

b) Kelas-2: gas. 2 SIMBOL DAN LABEL Label Versi US-DOT: Guna keamanan dan memudahkan pengenalan secara cepat bahan berbahaya tersebut.5 sesuai dengan jenis akibat yang dapat ditimbulkan oleh eksplosif tersebut. campuran atau peralatan. Definisi eksplosif menurut USDOT adalah setiap senyawa kimia. Pada keempat sisi belah ketupat tersebut dibuat garis sejajar yang menyambung sehingga membentuk bidang belah ketupat dalam ukuran 95 persen dari ukuran belah ketupat bahan. untuk menyatakan bahwa limbah yang diterima sesuai dengan keterangan dari penghasil dan akan diproses sesuai peraturan yang berlaku d. Diharapkan Tim yang bertanggungjawab dalam menangani kecelakaan.FTSL ITB Halaman 36 . pada bagian bawah simbol terdapat blok segilima dengan bagian atas mendatar dari sudut terlancip terhimpit dengan garis sudut bawah belah ketupat bagian dalam.1 dan 2.3 sesuai dengan sifatsifatnya. maka United States . terbagi menjadi 3 divisi dengan nomor 2. pengumpul atau pemanfaaat. disertai keterangan: − Jenis limbah dan jumlahnya − Alasan penolakan − Tanda tangan pejabat pengolah atau pemanfaat dan tanggal pengembalian − Surat-surat dokumentasi pengangkutan tersebut ditempatkan di kendaraan angkut sedemikian rupa sehingga cepat didapat dan tidak tercampur dengan surat-surat lain. dilengkapi tanggal.3 sesuai dengan sifat-sifatnya.1 sampai 2. Terdapat 9 klasifikasi bahan berbahaya menurut versi USDOT yaitu: a) Kelas-1: bahan yang mudah meledak (explosive). Simbol yang dipasang pada kemasan minimal berukuran 10 cm x 10 cm. Simbol berbentuk bujur sangkar diputar 45 derajat sehingga membentuk belah ketupat.3: poisonous gas (gas beracun) yaitu bahan berupa gas yang pada temperatur 20 °C dengan tekanan 1 atmosfir akan merupakan bahan toksik pada manusia. d) Kelas-4: padatan mudah terbakar atau berbahaya bila lembab. Apabila limbah yang diterima ternyata tidak sesuai dan tidak memenuhi syarat. Sedang label merupakan penandaan pelengkap yang berfungsi memberikan informasi dasar mengenai kondisi kualitatif dan kuantitatif dari suatu bahan yang dikemas. Kriteria cairan yang mudah terbakar adalah setiap cairan dengan titik nyala (flash point) tidak lebih dari 60. terbagi lagi menjadi 5 divisi dengan nomor 1.1 sampai 4. − Divisi 2. yang secara cepat akan dapat memberikan informasi bila terjadi kecelakaan. yaitu: − Divisi 2. yaitu : Enri Damanhuri .2: nonflammable compressed gas yaitu setiap bahan atau campuran yang dikemas pada tabung gas dengan tekanan dan tidak termasuk ke dalam divisi 2. sedangkan simbol pada kendaraan pengangkut tempat penyimpanan minimal 25 cm x 25 cm.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Tanda tangan pejabat pengolah.Department of Transportation (US-DOT) digunakan tanda-tanda dalam bentuk simbul dan label. terbagi menjadi 3 divisi dengan nomor 4. Nomor identifikasi mempunyai kode UN (United Nation) atau NA (North America) diikuti oleh 4 digit angka. Warna garis yang membentuk belah ketupat dalam sama dengan warna simbol.5 °C.1 sampai 1. atau dianggap toksik pada manusia dengan adanya pengujian pada binatang di laboratorium dengan harga LC50< 5000 ppm. maka limbah tersebut dikembalikan lagi kepada penghasil. secara cepat dapat mengidentifikasi sifat bahan berbahaya itu serta cara penanggulangannya. Simbol atau label tersebut pada dasarnya dibagi berdasarkan kelas ‘bahaya’ dari limbah yang akan diangkut. Penghasil limbah B3 akan menerima kembali dokumen limbah B3 tersebut dari pengumpul atau pengolah selambatlambatnya 120 hari sejak limbah tersebut diangkut untuk dibawa ke pengumpul atau pengolah atau pemanfaat.1: flammable gas (gas mudah terbakar) yaitu bahan berupa gas yang pada temperatur -20 °C dan tekanan 1 atmosfir akan terbakar bila bercampur dengan udara sekitar 13 % volume atau kurang − Divisi 2. yang penggunaannya adalah dengan memfungsikan ledakannya. c) Kelas-3: cairan mudah terbakar (flammable).

2: spontaneously combustible materials yaitu bahan yang bila pada kondisi normal terjadi kecelakaan secara spontan akan menjadi panas akibat berkontak dengan udara misalnya bahan yang termasuk pyrophoric. Oksidator adalah bahan kimia seperti khlorat. bukan peledak. artinya tidak terdapat bahaya toksisitas o 1 = ringan. terbagi menjadi 2 divisi. Bahan radioaktif (termasuk kelas-7) menurut versi USDOT adalah setiap materi atau kombinasi materi yang secara spontan mengionisasi radiasi dengan aktivitas spesifik lebih besar dari 0. tetapi hanya berakibat minor bahkan tanpa perawatan.002 microcurie per-gram. dengan kode ORM (other regulated materials) ORM-D: komuditas konsumer seperti hair spray ORM-E: lain-lain yang diatur oleh USDOT − Label Versi NFPA: Disamping US-DOT. merah (fbahaya terhadap kebakaran). Plakat Radioactive yellow-II dan Radioactive yellow-III berwarna kuning di atas. Disamping itu. f) Kelas-6: bahan racun dan menular. permanganat. Kelompok lain-lain (kelas-9) adalah bahan yang yang dapat menyebabkan bahaya. dan putih (bahaya khsusus) o Angka dan notasi yang terdapat pada masing-masing kotak adalah: a. Untuk menujukkan derajad bahaya maka digunakan angka: o Setiap kotak diberi warna: biru (bahaya terhadap kesehatan).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Divisi 4. Radioactive yellow-II dan Radioactive yellow-III. dan reaktivitas.. Bahaya terhadap kesehatan: o 0 = minimal. − Divisi 4. Label dibutuhkan dipasang pada seluruh bahan kimia yang ada di sebuah laboratorium. g) Kelas-7: bahan radioaktif. terdapat bahan yang tidak termasuk dalam kelas tersebut (tertulis 'none'). Kelompok berikutnya adalah bahan beracun (di luar gas) yang diketahui toksik pada manusia. e) Kelas-5: pengoksidasi dan peroksida organik. dan/atau tidak berbahaya bila digunakan secara hati-hati dan bertanggung jawab o 2 = moderat. Radioactive white-I dengan bahaya minimum. maka di Amerika Serikat the National Fire Protection Association (NFPA) mengembangkan pula label berwarna dengan kode.O . dengan warna masing-masing kotak berbeda. bila belum mencantumkan label yang sesuai. Bahan korosif (kelas-8).1: flammable solid yaitu bahan padat. sedang peroksida organik adalah senyawa yang mengandung struktur . artinya mempunyai karakter yang dapat menyebabkan luka atau kerusakan pada paparan yang singkat walau dilakukan pengobatan. sedang tulisan I. nitrat dan sebagainya yang dapat mengoksidasi materi organik. terbagi menjadi 2 divisi. − Divisi 4. II atau III dengan warna merah. seperti obat bius dan sebagainya. Plakat yang digunakan berlabelkan Radioactive white-I. dengan plakat warna putih dan simbol hitam. Bentuk belah ketupat yang dibagi empat. artinya artinya mempunyai karakter yang dapat menyebabkan bahaya bila paparan berlanjut. tetapi belum termasuk dalam katagori kelas sebelumnya. dan putih di bawah dengan simbol hitam. Radioactive Yellow-III adalah dengan bahaya maksimum. mutagen atau teratogen pada binatang Enri Damanhuri . artinya mempunyai karakter dapat menyebabkan iritasi. yang bila pada kondisi normal terjadi kecelakaan akan menyebabkan terbentuknya api akibat gesekan dan sebagainya. baik cair atau padat.O . dan bahan menular baik berupa mikroorganisme atau toxin yang dapat mendatangkan penyakit pada manusia.FTSL ITB Halaman 37 . kuning (bahaya terhadap reaktivitas). h) Kelas-8: bahan korosif. flammabilitas. maka label NFPA ini merupakan label yang perlu dipasang. yaitu: − Bahan-bahan terlarang − Bahan-bahan eksplosif terlarang − Bahan-bahan dengan aturan lain. atau bila dibakar akan menyala segera dan cepat. untuk mengindikasikan bahaya bahan kimia terhadap kesehatan. menurut versi USDOT didefinisikan sebagai bahan yang dapat menyebabkan kerusakan visibel ke materi yang kontak dengannya. peroksida organik. dan mungkin menyebabkan luka atau kerusakan kecuali dilakukan pengobatan o 3 = serius. i) Kelas-9: lain-lain.3: dangerous when wet materials yaitu bahan yang secara spontan menyala atau memberikan gas bila berkontak dengan air. dan/atau diketahui mempunyai efek karsinogen.

dan/atau bahan yang sensitive terhadap perubahan kejutan mekanis atau panas pada temperatur dan tekanan normal. Bahaya terhadap adanya air (reaktif terhadap air): o 0 = minimal. tidak menyebabkan flash point. dan/atau bahan yang akan berobah kompisisi kimianya dengan melepaskan enersi yang dikandungnya pada temperatur dan tekanan normal. yang dapat menyebabkan kematian atau kerusakan dalam paparan yang sangat singkat. merupakan bahan yang mudah terbakar dengan flash point di bawah o 22. dan dilakukan pengobatan b. dan/atau bahan padat yang menghasilkan uap mudah o o terbakar. artinya tidak terbakar.8 C. merupakan bahan yang sangat toksik. o 3 = serius. artinya bahan yang tidak stabil dan akan cepat berubah tetapi tidak menimbulkan ledakan. yaitu: o Reaktif terahadap air (dengan kode: W) o Bahan oksidator (dengan kode: Ox) o Bahan radioaktif (dengan kode tanda radioaktif) o Bahan racun (dengan kode tanda racun) o Contoh: No.FTSL ITB Halaman 38 . dan/atau bahan yang bereaksi dengan sendirinya dengan air tanpa membutuhkan panas terlebih dahulu. tidak terbakar di o udara bila terpapar pada 815.4 C o 3 = serius. dan atau bahan yang dapat menghasilkan reaksi eksotermis dengan sendirinya bila berkontak dengan bahan tanpa atau adanya biasa biasa.8 C c. d. o 1 = ringan.8 C tetapi lebih kecil dari 93. atau dapat menyimpan panas sebelum terjadi kebakaran. tetapi di bawah 37. o 2 = moderat.5 C selama 5 menit. dan/atau akan bereaksi dengan keras bila terdapat air. dan/atau bahan yang sensitive terhadap panas. dan/atau o akan terbakar di udara terbuka bila terpapar pada 815. atau perlu terpapar pada temperatur tinggi agar kebakaran terjadi. artinya bahan tidak mudah terbakar yang mempunyai karakter dapat terbakar bila terpapar panas terlebih dahulu. dan/atau akan menghasilkan ledakan bila bercampur dengan air. Bahaya terhadap timbulnya kebakaran: o 0 = minimal. dan/atau dapat membentuk ledakan yang terbakar dengan cepat di udara. artinya bahan yang stabil. Bahaya spesial. dan/atau mempunyai flash point di atas 37. dan/atau mempunyai flash point di atas o o 22. artinya bahan mudah terbakar yang mempunyai karakter menghasilkan uap yang mudah terbakar dalam kondisi biasa.5 C selama 5 menit. artinya bahan yang stabil yang menjadi tidak stabil bila terpapar pada temperatur tekanan tinggi. o 4 = ekstrim.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 4 = ekstrim. artinya bahan yang dapat meledak namun membutuhkan penyulut yang kuat agar eterjadi. atau terhadap kejutan mekanis pada temperatur tin gi. artinya baru dapat terbakar bila dipanaskan terlebih dahulu. o 1 = ringan.8 C o 4 = ekstrim. dan/atau o mempunyai flash point di bawah 93. dan/atau siap terbakar dengan sendirinya akibat kandungan oksigen di dalamnya. dan tidak reaktif terhadap air. 4: jenis bahaya flammabilitas = extreme 4: jenis bahaya terhadap kesehatan = ekstrim 4: jenis bahaya terhadap reaktivitas = ekstrim W: jenis bahaya yang spesifik = reaktif terhadap air Enri Damanhuri . bahan yang dapat meledak dan terdekomposisi secara keras pada temperatur dan tekanan normal.4 C o 2 = moderat.

yaitu simbol untuk cairan mudah terbakar dan padatan mudah terbakar: − simbol cairan mudah terbakar: bahan dasar merah. yaitu disebelah kiri adalah gambar tetesan limbah korosif yang merusak pelat bahan berwarna hitam. Label identitas limbah berukuran minimum 15 cm x 20 cm atau lebih besar. Pada bagian tengah bawah terdapat tuliasan “CAMPURAN” berwarna hitam serta blok segilima berwarna merah. jumlah dan Enri Damanhuri . Simbol berupa gambar berwarna hitam suatu materi limbah yang menunjukkan meledak.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Label Versi KepBapedal 05/09/1995: Di Indonesia. dengan mencantumkan antara lain: nama dan alamat penghasil. terdapat tulisan “KOROSIF” berwarna putih. Gambar terletak di bawah sudut atas garis ketupat bagian dalam. dengan warna dasar kuning dan tulisan serta garis tepi berwarna hitam. Menurut peraturan yang digunakan di Indonesia. serta blok segilima berwarna merah. o Simbol klasifikasi limbah B3 yang mudah terbakar : terdapat 2 (dua) macam simbol untuk klasifikasi limbah yang mudah terbakar. dan disebelah kanan adalah gambar lengan yang terkena tetesan limbah korosif. dan tulisan “PERINGATAN !” dengan huruf yang lebih besar berwarna merahdiisi dengan huruf cetak dengan jelas terbaca dan tidak mudah terhapus serta dipasang pada setiap kemasan limbah B3 yang disimpan di tempat penyimpanan. Garis tepi simbol berwarna hitam. Blok segilima berwarna kebalikan dari warna dasar simbol. Blok segilima berwarna putih. − simbol padatan mudah terbakar: dasar simbol terdiri dari warna merah dan putih yang berjajar vertikal berselingan. o Simbol klasifikasi limbah B3 beracun: bahan dasar putih dengan blok segilima berwarna merah. o Simbol limbah B3 klasifikasi campuran: warna dasar bahan adalah putih dengan garis pembentuk belah ketupat bagian dalam berwarna hitam. dan dibawahnya terdapat blok segilima berwarna merah. Simbol infeksi berwarna hitam terletak di sebelah bawah sustu atas garis belah ketupat bagian dalam. Pada bagian tengah terdapat tulisan “MUDAH MELEDAK” berwarna hitam yang diapit oleh 2 garis sejajar berwarna hitam sehingga membentuk 2 buah bangun segitiga sama kaki pada bagian dalam belah ketupat.05/Bapedal/09/1995 terdapat delapan jenis simbol. pada bagian bawah. Pada sebelah bawah gambar terdapt tulisan “BERACUN” berwarna hitam. yaitu: o Label identitas limbah: berfungsi untuk memberikan informasi tentang asal usul limbah. Gambar simbol berupa lidah apai berwarna hitam yang menyala pada satu bidang berwarna hitam. Pada bagian tengah terdapat tulisan “PADATAN” dan dibawahnya terdapat tulisan “MUDAH TERBAKAR” berwarna hitam. Di sebelah bawah gambar simbol terdapt tulisan “REAKTIF” berwarna hitam. berdasarkan keputusan Kepala Bapedal No. o Simbol klasifikasi limbah B3 reaktif: bahan dasar berwarna kuning dengan blok segilima berwarna merah. Pada bagian tengah terdapat tulisan “ CAIRAN.FTSL ITB Halaman 39 . gambar simbol berupa tanda seru berwarna hitam terletak di sebelah bawah sudut atas garis belah ketupat bagian dalam. o Simbol klasifikasi limbah B3 korosif: belah ketupat terbagi pada garis horizontal menjadi dua bidang segitiga. yang terdapat ditepi antara sudut atas dan sudut kiri belah ketupat bagian dalam. bidang segitiga berwarna hitam. gambar simbol berupa lidah api berwarna putih yang menyala pada suatu permukaan berwarna putih. o Simbol klasifikasi limbah B3 menimbulkan infeksi: warna dasar bahan adalah putih dengan garis pembentuk belah ketupat bagian dalam berwarna hitam. pada bagian tengah terdapat tulisan “INFEKSI” berwarna hitam. Simbol berupa tengkorak manusia dengan tulang bersilang berwarna hitam. Pada bagian atas yang berwarna putih terdapat 2 gambar. yaitu (Gambar 1): o Simbol klasifikasi limbah B3 mudah meledak : warna dasar oranye.” dan dibawahnya terdapat tulisan “MUDAH TERBAKAR” berwarna putih.. Simbol berupa lingkaran hitam dengan asap berwarna hitam mengarah ke atas yang terletak pada suatu permukaan garis berwarna hitam. identitas limbah serta kuantifikasi limbah dalam suatu kemasan limbah B3. terdapat 3 jenis label yang berkaitan dengan sistem pengemasan limbah B3.

Gambar 4. Label terbuat dari bahan yang tidak mudah rusak karena goresan atau akibat terkena limbah dan bahan kimia lainnya. Menjamin keselamatan transportasi bahan berbahaya merupakan aktivitas yang kompleks. Label untuk penandaan kemasan kosong : bentuk dasar label sama dengan bentuk dasar simbol dengan ukuran sisi minimal 10 x 10 cm2 dan tulisan “KOSONG” berwarna hitam ditengahnya. botol gelas dan sebagainya. Kecelakaan akibat bahan berbahaya ini akan menimbulkan masalah serius bagi manusia. Pengemasan yang baik mempunyai kriteria: − Bahan tersebut selama pengangkutan tidak terlepas ke luar − Keefektifannya tidak berkurang − Tidak terdapat kemungkinan pencampuran gas dan uap Terdapat 3 jenis kelompok pengemasan. Label dipasang dekat tutup kemasan dengan arah panah menunjukkan posisi penutup kemasan. hak milik dan lingkungan. terdiri dari 2 (dua) buah anak panah mengarah ke atas yang berdiri sejajar di atas balok hitam. Label penunjuk tutup kemasan: berukuran minimal 7 x 15 cm2 dengan warna dasar putih dan warna gambar hitam. yaitu: − Kelompok I: derajat bahaya besar − Kelompok II: derajat bahaya sedang − Kelompok III: derajat bahaya kecil. Enri Damanhuri . Gambar terdapat dalam frame hitam. aturan tata cara serta konstruksi dan penggunaan kontainer untuk bahan berbahaya harus ketat. kotak kayu. Alat pengemas dapat berupa: drum baja.1: Simbol Limbah B3 versi KepBapedal 05/09/1995 3 PENGEMASAN DAN PEWADAHAN Pengemas B3: Pengemasan (packaging) juga diatur dan perlu dicantumkan dalam surat pengangkutan. Label harus dipasang pada kemasan bekas pengemasan limbah B3 yang telah dikosongkan dan atau akan digunakan untuk mengemas limbah B3. Dengan demikian. Label harus terpasang kuat pada setiap kemasan limbah B3. Kecelakaan limpahan bahan berbahaya yang sering terjadi adalah karena kecelakaan lalu-lintas yang umumnya akibat kesalahan manusia dan atau alat/perlengkapan yang kurang sempurna. baik yang telah diisi limbah B3. drum fiber. Label identitas dipasang pada kemasan di sebelah atas simbol dan harus terlihat dengan jelas.FTSL ITB Halaman 40 . maupun kemasan yang akan digunakan untuk mengemas limbah B3.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 o o jenis limbah serta tanggal pengisian.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 USDOT menggariskan bahwa kontainer yang digunakan untuk mengangkut bahan berbahaya dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga bila terjadi kecelakaan pada kondisi transportasi yang normal. misalnya pengemasan yang tidak betul dan sebagainya. Ketentuan dalam bagian ini berlaku bagi kegiatan pengemasan dan pewadahan limbah B3 di fasilitas: a. Oleh karenanya bahan berbahaya harus ditempatkan dalam drum dan kontainer yang kompatibel atau sesuai. Apabila dalam perkembangannya terjadi perubahan kegiatan yang diperkirakan mengakibatkan berubahnya karakteristik limbah yang dihasilkan. No. Produk yang diproduksi dengan kuantitas kecil biasanya dikemas dalam kuantitas tersebut. Dibutuhkan inspeksi secara berkala.01/Bapedal/09/1995. unloading. Enri Damanhuri . Pengolah. Hampir setengah bahan berbahaya kemasan kecil ini diangkut melalui jalan darat serta sebagian lagi melalui udara. b. kayu. c. maka terhadap masing-masing limbah B3 hasil kegiatan perubahan tersebut harus dilakukan pengujian kembali terhadap karakteristiknya.FTSL ITB Halaman 41 . Kadangkala bahan berbahaya disimpan (diakumulasi) dalam drum atau kontainer. Kombinasi container sering digunakan. maka: − Tidak menimbulkan penyebaran bahan tersebut ke lingkungan sekitarnya − Keefektifan pengemasan tidak berkurang selama perjalanan − Tidak terjadi pencampuran gas atau uap dalam kemasan. Bagi penghasil yang menghasilkan limbah B3 yang sama secara terus menerus. Beberapa temuan yang terdapat di USA adalah: − Ketidak tepatan dalam menayangkan label − Ketidak tepatan dalam mengelompokkan kontainer berbahaya − Kebocoran pada valve − Tidak tepat dalam mendeskripsikan bahan yang diangkut − Tidak tepat dalam pengisian shiping paper − Radiasi berlebihan di kabin truk. maka harus dilakukan pengujian. Drum yang biasa. Oleh karenanya kontainer yang digunakan dirancang untuk memudahkan loading. misalnya botol. Ditinjau dari tonase. Penghasil. Banyak terjadi bahwa drum yang digunakan adalah drum bekas (walaupun kompatibel) untuk itu perlu diperhatikan efek jangka panjang dari drum tersebut. untuk disimpan sebelum dikirim ke pengolah. dan bagaimana menggunakan ruang transportasi yang efisien. seperti drum baja atau silinder untuk gas terkompres. Drum baja 55 gallon (208 liter) merupakan kapasitas terbesar yang biasa digunakan. pengemasan tersebut harus menjamin tidak terjadi reaksi kimiawi di dalamnya. ketentuan tentang pengemasan dan pewadahan limbah B3 diatur dalam Kep. d.01/Bapedal/09/1995: Di Indonesia.botol gelas dimasukkan dalam peti-peti fiberboard. Pengemas dan Pewadah Limbah B3 Versi Kep No. Kemasan komposit seperti drum-drum dari plastik berlapis baja kadang digunakan. Rancangan kontainer yang digunakan harus terkait dengan sistem transportasi terutama dimensi dan beratnya. sebelum dilakukan pengolahan dan atau penimbunan. plastik. yang dapat menimbulkan reaksi spontan (kenaikan panas atau ledakan) sehingga mengurangi keefektifan pengemasan. kaca. biasanya korosif dan dapat menimbulkan masalah pada kesehatan manusia dan lingkungan. Setiap penghasil/pengumpul limbah B3 harus dengan pasti mengetahui karakteristik bahaya dari setiap limbah B3 yang dihasilkan/dikumpulkan. Apabila ada keragu-raguan dengan karakteristik limbahnya. Bahan pengemasan yang digunakan adalah: fiberboard. maka pengujian dapat dilakukan sekurang-kurangnya satu kali. Pengumpul. Kemasan dari satu jenis bahan juga banyak digunakan. maka kemasan kecil di USA hanya merupakan sebagian kecil yang digunakan untuk menangani bahan berbahaya yang diangkut. Faktor kesalahan manusia pada pengemasan bahan berbahaya yang dikemas dalam kuantitas kecil relatif akan lebih tinggi. untuk disimpan sementara di luar lokasi penghasil tetapi tidak sebagai pengumpul. Penghasil. untuk disimpan sementara di dalam lokasi penghasil. fiberglass dan logam.

FTSL ITB Halaman 42 . Kemasan yang telah diisi atau terisi penuh dengan limbah B3 harus ditandai dengan simbol dan label yang sesuai dengan ketentuan mengenai penandaan pada kemasan limbah B3. Gambar 2 berikut adalah contoh drum pengemas limbah B3. atau dapat pula berupa bak kontainer berpenutup dengan 3 3 3 kapasitas 2 M . pengaruh pemuaian. kemasan dirancang tahan akan kenaikan tekanan. limbah dapat terlebih dahulu dikemas dalam kantong kemasan yang tahan terhadap sifat limbah sebelum kemudian dikemas dalam kemasan tersebut. Kemasan dapat terbuat dari bahan plastik (HPDE. Jika akan digunakan untuk mengemas limbah B3 yang tidak saling cocok. Kemasan bekas mengemas limbah B3 dapat digunakan kembali untuk mengemas limbah B3 yang mempunyai karakteristik sama (kompatibel) dengan limbah B3 sebelumnya. ukuran dan bahan kemasan limbah B3 disesuaikan dengan karakteristik limbah B3 yang akan dikemasnya dengan mempertimbangkan segi kemanan dan kemudahan dalam penanganannya. Limbah yang disimpan dalam satu kemasan adalah limbah yang sama. Jika akan digunakan untuk menyimpan limbah B3 Enri Damanhuri .2: Penyimpan limbah B3 cair (A) dan limbah sludge (B) Drum/tong atau bak kontainer yang telah berisi limbah B3 dan disimpan di tempat penyimpanan harus dilakukan pemeriksaan kondisi kemasan sekurang-kurangnya 1 (satu) minggu satu kali.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Bentuk. 4 M atau 8 M . Gambar 4. maka kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu sebelum dapat digunakan sebagai kemasan limbah B3 dengan memenuhi ketentuan butir 1 di atas. serta agar lebih aman. Kemasan tersebut selalu dalam keadaan tertutup rapat dan hanya dapat dibuka jika akan dilakukan penambahan atau pengambilan limbah dari dalamnya. Untuk limbah yang mudah meledak. kemudian disimpan di tempat yang memenuhi persyaratan untuk penyimpanan limbah B3 serta mematuhi tata cara penyimpanannya. Untuk mempermudah pengisian limbah ke dalam kemasan. Pengisian limbah dalam satu kemasan harus mempertimbangkan karakteristik dan jenis limbah. 100 liter atau 200 liter. Untuk limbah yang bereaksi sendiri sebaiknya tidak menyisakan ruang kosong dalam kemasan. kemudian disimpan dalam kemasan limbah B3 terpisah. dan tumpahan limbah tersebut harus segera diangkat dan dibersihkan. pembentukan gas dan kenaikan tekanan selama penyimpanan. atau SS440) dengan syarat bahan kemasan yang dipergunakan tersebut tidak bereaksi dengan limbah B3 yang disimpannya. SS304. PP atau PVC) atau bahan logam (teflon. Kemasan yang digunakan untuk pengemasan limbah dapat berupa drum/tong dengan volume 50 liter. harus disimpan di tempat penyimpanan limbah B3. SS316. Kemasan yang akan dikosongkan apabila akan digunakan kembali untuk mengemas limbah B3 lain dengan karakteristik yang sama. baja karbon. atau dapat pula disimpan bersama-sama dengan limbah lain yang memiliki karakteristik yang sama atau saling cocok. maka isi limbah B3 tersebut harus segera dipindahkan ke dalam drum/tong yang baru. Apabila diketahui ada kemasan yang mengalami kerusakan (karat atau bocor).

pemilik atau operator harus mengajukan permohonan rekomendasi kepada Kepala Bapedal dengan melampirkan laporan hasil evaluasi terhadap rancang bangun dan sistem tangki yang akan dipasang untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan. – Penampungan sekunder. Selama masa konstruksi berlangsung. deteksi korosi atau lepasnya limbah dari tangki. terbuat dari bahan yang cocok dengan karakteristik limbah yang akan disimpan atau diolah. Bentuk wadah berupa tangki biasa digunakan dalam pengemasan limbah B3. tangki wajib dilengkapi dengan penampung sekunder. atau – Limbah disimpan atau diolah dengan suatu cara sehingga tercegah dari kondisi atau bahan yang menyebabkan munculnya sifat mudah menyala atau reaktif. sehingga olahan atau campuran limbah yang terbentuk tidak lagi berkarakteristik mudah menyala atau reaktif. maka kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu dan disimpan dengan memasang “label KOSONG” sesuai dengan ketentuan penandaan kemasan limbah B3. Sebelum melakukan pemasangan tangki penyimpanan limbah B3. khususnya terhadap peralatan pengendalian luapan/tumpahan. – Jika sistem tangki dan atau peralatan penunjangnya terbuat dari logam dan kemungkinan dapat terkontak dengan air dan atau tanah. maka harus dengan memperhitungkan dampak kegiatan di atasnya serta menerapkan rancang bangun atau kegiatan yang dapat melindungi sistem tangki terhadap potensi kerusakan. dirancang untuk dapat menampung dan mengangkat cairan-cairan yang berasal dari kebocoran. maka tangki harus terlebih dahulu dicuci bersih. Sistem tangki harus ditunjang kekuatan rangka yang memadai. Disamping itu. tanggul atau berdinding ganda. logam dan kemungkinan harus mencakup pengukuran potensi korosi yang disebabkan oleh faktor lingkungan serta daya tahan bahan tangki terhadap korosi tersebut – Perhitungan umur operasional tangki. dan lepasnya limbah B3 dari sistem penampungan sekunder. – Ditempatkan pada pondasi yang dapat mendukung ketahanan tangki terhadap tekanan dari atas dan bawah dan mampu mencegah kerusakan yang diakibatkan karena pengisian. Pemeriksaan rutin dilakukan sekurang-kurangnya 1 kali selama sistem tangki dioperasikan. ceceran dan presipitasi. Enri Damanhuri . Penampung sekunder dapat berupa pelapisan di bagian luar tangki. kematian vegetasi. Tangki dan sistem penunjangnya harus terbuat dari bahan yang saling cocok dengan karakteristik dan jenis limbah B3 yang dikemas/disimpannya. Laporan tersebut sekurang-kurangnya meliputi: – Rancang bangun dan peralatan penunjang sistem tangki yang akan dipasang. – Dilengkapi dengan sistem deteksi kebocoran yang dioperasikan 24 jam sehingga mampu mendeteksi kerusakan pada struktur tangki primer dan sekunder.FTSL ITB Halaman 43 . Untuk mencegah terlepasnya limbah B3 ke lingkungan. dan aman terhadap korosi sehingga tangki tidak mudah rusak. Tidak digunakan untuk menyimpan limbah mudah menyala atau reaktif kecuali : – Limbah tersebut telah diolah atau dicampur terlebih dahulu sebelum/segera setelah ditempatkan di dalam tangki.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dengan karakteristik yang tidak saling sesuai dengan sebelumnya. – Rencana penutupan sistem tangki setelah masa operasionalnya berakhir. Jika tangki dirancang untuk dibangun di dalam tanah. Limbah-limbah yang tidak saling cocok tidak ditempatkan secara bersama-sama di dalam tangki. Apabila tangki akan digunakan untuk menyimpan limbah sebelumnya. maka harus dipastikan agar selama pemasangan tangki dan sistem penunjangnya telah diterapkan prosedur penanganan yang tepat untuk mencegah terjadinya kerusakan selama tahap konstruksi. Persyaratan penampungan sekunder tersebut adalah: – Dibuat atau dilapisi dengan bahan yang saling cocok dengan limbah yang disimpan serta memiliki ketebalan dan kekuatan memadai untuk mencegah kerusakan akibat pengaruh tekanan. – Karakteristik limbah B3 yang akan disimpan. monitoring dilakukan terhadap bahan konstruksi dan areal seputar sistem tangki termasuk struktur pengumpul sekunder untuk mendeteksi pengikisan atau tanda-tanda terlepasnya limbah misalnya bintik lembab. tekanan atau uplift.

sedang lebar gang untuk lalu lintas kendaraan pengangkut (forklift) disesuaikan dengan kelayakan pengoperasiannya. sehingga dapat dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap setiap kemasan. Dengan demikian jika terdapat kerusakan kecelakaan dapat segera ditangani. maka harus segera melakukan: – Penghentian operasional sistem tangki dan mencegah aliran limbah. – Membuat catatan dan laporan mengenai kecelakaan dan penanggulangan yang telah dilakukan. Jika menggunakan lampu.FTSL ITB Halaman 44 . Enri Damanhuri . dan tidak dalam bagian penyimpanan yang sama. maka tumpukan maksimum adalah 3 lapis dengan tiap lapis dialasi palet. o Memiliki sistem penerangan (lampu/cahaya matahari) yang memadai untuk operasional atau inspeksi rutin. Kemasan-kemasan berisi limbah B3 yang tidak saling cocok harus disimpan secara terpisah. mencegah terjadinya perpindahan tumpahan ke tanah atau air permukaan. Jarak tumpukan kemasan tertinggi dan jarak blok kemasan terluar terhadap atap dan dinding bangunan penyimpanan tidak boleh kurang dari 1 m. o Dibuat tanpa plafon dan memiliki sistem ventilasi udara yang memadai untuk mencegah terjadinya akumulasi gas di dalam ruang penyimpanan. Lebar gang antar blok minimal 60 cm untuk memudahkan petugas melaluinya. – Memindahkan limbah B3 dari sistem tangki atau sistem penampungan sekunder – Mewadahi limbah yang terlepas ke lingkungan. dan setiap palet mengalasi 4 drum. karakteristik dan jumlah limbah B3 yang dihasilkan/akan disimpan. serta mengangkat tumpahan yang terlanjur masuk ke tanah atau air permukaan. o Pada bagian luar tempat penyimpanan diberi penandaan (simbol) sesuai dengan tata cara yang berlaku. Penyimpanan limbah cair dalam jumlah besar disarankan menggunakan tangki (Gambar 5) dengan ketentuan sebagai berikut: o Disekitar tangki harus dibuat tanggul dengan dilengkapi saluran pembuangan yang menuju bak penampung. Setiap blok terdiri atas 2 (dua) x 2 (dua) kemasan (Gambar 3).01/Bapedal/09/1995 dibuat dengan sistem blok. 4 PENYIMPANAN DAN PENGUMPULAN Penyimpanan kemasan menurut Keputusan Bapedal No. kuat dan tidak retak. maka harus dipergunakan rak (Gambar 4). tidak bergelombang. Pada bagian luar bangunan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Bila sistem tangki atau sistem tangki pengumpul sekunder mengalami kebocoran atau gangguan yang menyebabkan limbah terlepas. Lantai bagian dalam dibuat melandai kearah bak penampungan dengan kemiringan maksimum 1%. sakelar harus terpasang di sisi luar bangunan. o Bak penampung harus kedap air dan mampu menampung cairan minimal 110% dan kapasitas maksimum volume tangki o Tangki harus diatur sedemikian rupa sehingga bila terguling akan terjadi di daerah tanggul dan tidak akan menimpa tangki lain. Persyaratan bangunan penyimpanan kemasan limbah B3 adalah (Gambar 6): o Memiliki rancang bangun dan luas ruang penyimpanan yang sesuai dengan jenis. Jika tumpukan lebih dan 3 lapis atau kemasan terbuat dari plastik. o Lantai bangunan penyimpanan harus kedap air. kemiringan lantai diatur sedemikian rupa sehingga air hujan dapat mengalir menjauhi bangunan penyimpanan. Penempatan kemasan diatur agar tidak ada kemungkinan bagi limbah-limbah tersebut jika terguling/tumpah akan tercampur/masuk ke dalam bak penampungan bagian penyimpanan lain. serta memasang kasa atau bahan lain untuk mencegah masuknya burung atau binatang kecil lainnya ke dalam ruang penyimpanan. o Terlindung dari masuknya air hujan baik secara langsung maupun tidak langsung. o Tangki harus terlindung dari penyinaran matahari dan masuknya air hujan secara langsung. Penumpukan kemasan harus mempertimbangkan kestabilan tumpukan kemasan. tidak dalam satu blok. o Dilengkapi dengan sistem penangkal petir. Jika kemasan berupa drum logam (isi 200 liter). maka lampu penerangan harus dipasang minimal 1 meter di atas kemasan.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4.FTSL ITB Halaman 45 .3: Pola penyimpanan kemasan drum Gambar 4.4: Pola penyimpanan kemasan drum dalam rak Enri Damanhuri .

pintu darurat. atau limbahlimbah B3 yang saling cocok.6: Contoh tata letak penyimpanan limbah B3 Tempat penyimpanan yang digunakan untuk menyimpan lebih dari 1 karakteristik limbah B3. o Setiap bagian penyimpanan harus mempunyai bak penampung tumpahan limbah dengan kapasitas yang memadai. dan alarm.FTSL ITB Halaman 46 . pagar pengaman. peralatan komunikasi. Enri Damanhuri . o Sarana lain yang harus tersedia adalah: peralatan dan sistem pemadam kebakaran. mempunyai beberapa persyaratan: o Terdiri dari beberapa bagian penyimpanan. o Sistem dan ukuran saluran yang ada dibuat sebanding dengan kapasitas maksimum limbah B3 yang tersimpan sehingga cairan yang masuk ke dalamnya dapat mengalir dengan lancar ke tempat penampungan yang telah disediakan. gudang tempat penyimpanan peralatan dan perlengkapan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4. pembangkit listrik cadangan. dengan ketentuan bahwa setiap bagian penyimpanan hanya diperuntukkan menyimpan 1 karakteristik limbah B3. o Antara bagian penyimpanan satu dengan lainnya dibuat tanggul atau tembok pemisah untuk menghindarkan tercampurnya atau masuknya tumpahan limbah ke bagian lainnya. fasilitas pertolongan pertama.5: Tangki penyimpanan limbah B3 jumlah besar Gambar 4.

o Konstruksi atap. pelayanan kesehatan atau kegiatan sosial. o Menggunakan instalasi yang tidak menyebabkan ledakan/percikan listrik o Dilengkapi dengan: sistem pendeteksi dan pemadam kebakaran. persediaan air untuk pemadam api. Desain bangunan sedemikian rupa sehingga cahaya matahari tidak langsung masuk ke ruang gudang. o Beberapa fasilitas tambahan yang diperlukan adalah laboratorium analisa. Konstruksi lantai dan dinding dibuat lebih kuat dari konstruksi atap. dan mudah hancur bila ada kebakaran. (d) 300 meter dari perairan. bangunan tempat penyimpanan bak kontainer dan bangunan tempat penyimpanan tangki: o Merupakan daerah bebas banjir. Rancang bangun untuk penyimpanan limbah B3 mudah meledak: o Konstruksi bangunan dibuat tahan ledakan dan kedap air. rumah sakit. o Jika bangunan dibuat terpisah dengan bangunan lain. berupa tembok beton bertulang (tebal minimum 15 cm) atau tembok bata merah (tebal minimum 23 cm) atau blok-blok (tidak berongga) tak bertulang (tebal minimum 30 cm). (e) 300 meter dari daerah yang dilindungi seperti cagar alam. Persyaratan bangunan untuk penempatan tangki: o Tangki penyimpanan limbah B3 harus terletak di luar bangunan tempat penyimpanan limbah o Merupakan konstruksi tanpa dinding. Dalam hal limbah B3 dikumpulkan terlebih dahulu di sebuah tempat di luar lokasi penghasil limbah B3. o Jarak terdekat yang diperkenankan adalah (a) 150 meter dari jalan utama atau jalan tol. maka fasilitas pengumpulan merupakan fasilitas khusus yang harus dilengkapi dengan berbagai sarana untuk penunjang dan tata ruang yang tepat sehingga kegiatan pengumpulan dapat berlangsung dengan baik dan aman bagi lingkungan (gambar 7). o Area secara geologis merupakan daerah bebas banjir tahunan.FTSL ITB Halaman 47 . sumber air . sehingga asap dan panas akan mudah keluar. fasilitas bongkar muat dan fasilitas lain seperti diuraikan di atas. korosif dan beracun: o Konstruksi dinding dibuat mudah dilepas guna memudahkan pengamanan limbah dalam keadaan darurat. o Suhu dalam ruangan harus tetap dalam kondisi normal. o Pintu darurat dibuat tidak pada tembok tahan api. o Struktur pendukung atap terdiri dari bahan yang tidak mudah menyala. dinding dan lantai harus tahan terhadap korosi dan api. fasilitas pencucian peralatan. (c) 300 meter dari fasilitas umum seperti daerah pemukiman.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Persyaratan bangunan penyimpanan limbah B3 mudah terbakar: o Jika bangunan berdampingan dengan gudang lain maka harus dibuat tembok pemisah tahan api. sehingga bila terjadi ledakan yang sangat kuat akan mengarah ke atas dan tidak ke samping. maka beberapa persyaratan adalah: o Luas tanah termasuk untuk bangunan penyimpanan dan fasilitas lainnya sekurangkurangnya 1 (satu) hektar. kawasan suaka o Seperti halnya fasilitas penyimpanan yang telah diuraikan di atas. o Lokasi harus cukup jauh dari fasilitas umum dan ekosistem tertentu. o Untuk kestabilan struktur pada tembok penahan api dianjurkan digunakan tiang-tiang beton bertulang yang tidak ditembusi oleh kabel listrik. hidran pemadam api dan perlindungan terhadap hidran. hutan lindung. Rancang bangun khusus untuk penyimpan limbah B3 reaktif. Konstruksi atap dibuat ringan. atau diupayakan aman dari kemungkinan terkena banjir. o Jarak minimum antara lokasi dengan fasilitas umum adalah 50 meter. garis pasang tertinggi laut. maka jarak minimum dengan bangunan lain adalah 20 meter. Enri Damanhuri . memiliki atap pelindung dengan lantai yang kedap air o Tangki dan daerah tanggul serta bak penampungannya terlindung dari penyinaran matahari secara langsung serta terhindar dari masuknya air hujan langsung maupun tidak langsung Lokasi bangunan tempat penyimpanan kemasan drum/tong. (b) 50 meter dari jalan lainnya. perdagangan.

nikel atau stainless steel. tank car. Sekitar 80 % dari pengangkutan bahan berkapasitas besar menggunakan tank car yang mempunyai masa layan 30 . acuan-acuan teknik yang standar serta pengujian untuk itu. aturan-aturan yang dikeluarkan oleh DOT telah meliputi lebih dari 30.000 jenis bahan berbahaya. intermodal portable tank. botle dan cask. Dalam hal ini Research and Special Programs Administration (RSPA) dari USDOT mengeluarkan dan bertanggungjawab untuk mengembangkan aturan-aturan. can. seperti melalui darat. tank truck. Beban kendaraan biasanya dibatasi sampai 80. Cargo tank merupakan sarana yang biasa digunakan di darat. kereta api atau laut. darat (termasuk kereta api). Produk-produk berbahaya tersebut diangkut dengan berbagai container seperti : vessel.FTSL ITB Halaman 48 . cylinder. Perbedaan utama dari rail tank car ini adalah ada Enri Damanhuri . Kapasitas yang digunakan di USA adalah antara 4000 sampai 12000 gallon (15 sampai 50 m3). box. laut. drum. dan biasanya terbuat dari baja atau campuran alumunium atau dapat pula dari bahan lain seperti titanium.500 gallon (130 m3) dengan berat kotor 236. Transportasi bahan berbahaya yang bervolume besar (bulky) dapat dilakukan melalui segala jenis angkutan. Kapasitas tank car ini dibatasi 34.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4.000 pound (107 ton). barrel.40 tahun.000 pound (36 ton).7: Contoh tata ruang pengumpulan limbah B3 6 PENGANGKUTAN Di Amerika Serikat. Bahan-bahan ini diangkut melalui udara.

Respons terhadap bentuk kecelakaan itu harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan agar dapat menangani masalah yang timbul secara cepat dan tepat. 1989 Kep. Hampir 90 % dari tank car ini terbuat dari baja. walaupun bila terjadi kecelakaan maka limpahannya akan menyebar secara luas. karena dapat mencelakakan manusia atau lingkungan yang tidak terlibat langsung dengan kecelakaan. Setelah mereka kembali ke kendaraan yang hangat. limpahan TDI ternyata terpapar pada tanah yang dingin. maka respon aparat terkait (polisi. Referensi Utama: o o o o o E. mengkontaminasi daerah sekitarnya serta baju 2 orang petugas. bahan berikutnya yang sering digunakan adalah alumunium. Pada saat truk dibalikkan. Sebagai contoh adalah kecelakaan lalu-lintas yang terjadi di USA pada bulan Desember 1981 yang menimpa sebuah truk pembawa 40.000-600. Aturan-aturan yang ada menyangkut kegiatan selama loading serta pelatihan bagi awak kapalnya.labelmaster. Prentice Hall Building. cara ini adalah yang teraman.000 gallon (1135-2270 3 m ) sedang tanker berkapasitas sampai 10 kali lebih besar. Kedua petugas tersebut mengalami gangguan pernafasan yang permanen dan tidak dapat lagi aktif bekerja. alkohol. pupuk. TDI yang melekat pada sepatu dan baju menguap dan terhiruplah gas toksik. Lebih dari 90 % (berat) dalam transport laut ini terdiri dari produk petroleum dan minyak mentah. TDI masuk de dalam sel jaringan. Cara ini relatif memungkinkan pengangkutan dengan kapasitas yang besar. Sekitar 66 % (berat) bahan yang diangkut di USA adalah bahan kimia (sebagian korosif) sedang 23 % merupakan produk minyak (bahan bakar). Meyer: Chemistry of Hazardous Materials. yang mencakup sekitar 91 %. Kemungkinan kecelakaan yang mungkin terjadi di sektor transportasi ini perlu mendapat perhatian. dan dapat merusak paru.Bapedal 01/Bapedal/09/1995: tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3 Kep. baik dari jumlah kecelakaan maupun banyaknya limpahan dalam satuan ton-mile. mengiritasi mata. Sisanya adalah bahan kimia semacam asam sulfat. toluene dan sebagainya. Penanganannya adalah truk tetap dipanaskan dan diisolasi agar TDI ini tetap dalam kondisi cair. Container bulky melalui air yang terbesar adalah dengan tanker dan tank-barges. NaOH.Kepala Bapedal 05/Bapedal/09/1995: tentang Simbol dan Label Limbah B3 http://www.Kepala Bapedal 02/Bapedal/09/1995: tentang Dokumen Limbah B3 Kep. Demikian juga peralatan tim harus sesuai dengan kebutuhan/jenis bahan atau limbah yang diangkut. Secara statistik. Tank-barges berkapasitas antara 300.FTSL ITB Halaman 49 . Peraturan-peraturan yang digunakan dalam transportasi hendaknya mengantisifasi kemungkinan timbulnya masalah ini.com (1 Maret 2008) Enri Damanhuri .paru.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 yang menggunkan tekanan (untuk gas) dan tanpa tekanan (untuk cair). Bila terjadi kecelakaan lalu-lintas. pemadam kebakaran dan sebagainya) akan tergantung pada apakah aparat tersebut terlatih untuk jenis kecelakaan itu.000 pound toluene diisocyanate (TDI) yang tergelincir dan menumpahkan sebagian isinya. benzene. demikian juga kegiatan penanganan korban akibat terpapar dengan bahan berbahaya akan tergantung apakah paramedis terkait telah mendapat pelatihan menangani korban semacam itu.

d. Pemakaian bahan kimia di Indonesia (1991) sekitar 0. yaitu : a. biasanya karena adanya kejutan (shock).000 jenis. Dari sekian banyak bahan kimia tersebut. seperti karbon monoksida dan hidrogen sianida. manusia dapat mengontrol dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan manusia. f. Secara konvensional.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN V SIFAT DAN KARAKTERISTIK BAHAN KIMIA BERBAHAYA 1 UMUM Penggunaan kimia dalam kebudayaan manusia sudah dimulai sejak zaman dahulu.000 jenis bahan kimia baru masuk ke perdagangan. gas hidrogen dan metan. sekitar 4.500 jenis digunakan sebagai bahan tambahan makanan.atau gas yang menyala dengan mudah dan terbakar secara cepat bila dipaparkan pada sumber nyala. baru beberapa ratus jenis saja yang telah dievaluasi dampaknya tehadap kesehatan dan lingkungan. terutama dari kegiatan industi khususnya penggunaan bahan kimia. cair. panas.2 M US$. e. misalnya uranium heksafluorida.FTSL ITB Halaman 50 .000 jenis sebagai bahan aktif obat-obatan. Peledak (explosive) : materi kimia ini dapat meledak. misalnya pelarut (solvent) seperti benzene. Proses penggunaan bahan yang berbahaya dalam kegiatan sehari-hari. g. Materi korosif : padat atau cair seperti asam kuat atau basa kuat. yang sebagian besar merupakan bahan berbahaya. Dengan mengetahui komposisi dan memahami bagaimana perubahan terjadi. dan 2. Contoh materi ini misalnya fosfor putih. Penggunaan bahan-bahan kimia di dunia telah berkembang pesat. Pengoksidasi (oxidizer) : Materi yang menghasilkan oksigen. Senyawa-senyawa kimia sintetis inilah yang banyak dihasilkan oleh peradaban modern. baik dalam kondisi biasa atau bila terpapar dengan panas. baik secara alamiah maupun sintetis. termasuk juga perubahan yang terjadi di dalamnya. atau mekanisme lainnya. namun materi ini pulalah yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang berbahaya. debu aluminum. Perdagangan bahan kimia dunia pada tahun 1991 mencapai nilai 1. yang dapat membakar dan merusak jaringan kulit bila berkontak dengannya. terdapat 7 kelas bahan berbahaya. Ini ditunjukkan oleh hampir 11 juta jenis bahan kimia telah diidentifikasi pada tahun 1995.46% dari nilai perdagangan dunia.000 jenis diantaranya digunakan sehari-hari. Contoh materi ini misalnya dinamit dan trinitrotoluene (TNT). baik yang terdapat di alam maupun yang dibuat oleh manusia. Materi mudah terbakar (flammable material) : padat. ethanol. Bahan kimia yang telah digunakan dan diperdagangkan secara umum sekitar 63. misalnya karena perubahan panas. Materi toksik : racun yang dalam dosis kecil dapat membunuh atau mengganggu kesehatan. Kimia merupakan salah satu ilmu pengetahuan alam. 1. b. 40% berkaitan dengan petrokimia. Enri Damanhuri . dan hampir setiap tahun 1. Materi yang spontan terbakar (spontaneously ignitable material) : padat atau cair yang dapat menyala secara spontan tanpa sumber nyala. Materi radioaktif : dicirikan dengan transformasi yang berlangsung dalam inti atom. tekanan atau kegiatan oksidasi atau kegiatan lain seperti aktivitas mikrobiologis. 50. c. Contoh materi ini adalah amonium nitrat dan benzoyl peroksida. akan menghasilkan limbah berbahaya. yang berkaitan dengan komposisi materi.500 jenis merupakan bahan aktif pestisida. uap.

kerosen. dan natrium. zirconium. yaitu: o Kebakaran kelas A: berasal dari bakaran berbahan dasar sellulosa. sikring. dan dapat dibagi menjadi 4 kelas. Air dapat digunakan untuk memadamkan jenis kebakaran ini Kebakaran kelas B: berasal dari bakaran gas bakar (flammable gases) atau cairan yang mudah terbakar (flammable and combustible liquids). menghasilkan gas klorin yang sangat toksik melalui pernafasan. Karbon dioksida atau dry chemical extinguisher. biasanya direkomnedasikan untuk memadamkannya. methanol. Tubuh manusia mentolerir konsentrasi bahan ini dengan konsentrasi tidak lebih dari 1 ppm di udara. Jangan dipadamkan dengan air. propane. menyebabkan terjadinya swa-kebakaran. Interaksi bahan membentuk panas: Bahan-bahan pengoksidasi adalah contoh bahan berbahaya yang siap bereaksi dengan bahan mudah terbakar. seperti LPG. seperti kayu. magnesium. karena dihasilkan gas hidrogen. Kebakaran bahan ini akan meninggalkan bara api dan abu. Pencampuran bahan berbahaya dapat menyebabkan: o Timbulnya bahan toksik o Timbulnya gas bakar yang dapat menimbulkan kebakaran atau ledakan. aluminum. karena reaksi yang terjadi akan menghasilkan gas hidrogen yang dapat terbakar tanpa adanya pemantik api. Kebakaran kelas C: berasal dari bakaran bahan yang terjadi karena sirkuit tenaga listrik. Kadangkala secara tidak sengaja terjadi pencampuran antara 2 materi yang asalnya tidak berbahaya. Karbon dioksida. bahan-bahan sejenis baik alamiah maupun sintetis lainnya termasuk plastik dan karet. Kebakaran jenis ini mudah dipadamkan oleh Halaman 51 o o o Enri Damanhuri . seperti dari stop-kontak. ethyl ether. atau o Panas akibat reaksi kimia yang terjadi akan dapat membakar bahan mudajh terbakar di sekitarnya. Reaksi yang terjadi akan berlangsung secara spontan. 2 KELAS KEBAKARAN Kebakaran biasanya dikaitkan dengan kecelakaan yang dipicu dari adanya bahan berbahaya. kabel listrik. Bila larutan asam nitrat (oksidator) tercampur dengan tepung beras. maka kebakaran akan tambah besar. akan memungkinkan bahan tepung tersebut secara spontan akan terbakar. seperti logam titanium. atau busa meruapakan bahan yang cocok untuk memadamkannya. Kebakaran kelas D: berasal dari bakaran logam-logam yang mempunyai sifat reaktif yang spesifik terhadap air atau uap air. katon dan kertas. dry chemical extinguisher. Bila api yang dipadamkan dilakukan dengan air.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Materi tersebut kadangkala menjadi lebih berbahaya bila berada dalam kondisi tercampur dengan bahan lain.FTSL ITB . Beberapa ilustrasi di bawah ini akan menggambarkan hal tersebut: Interaksi bahan membentuk bahan toksik: Bila kita mencampur larutan asam yang banyak digunakan secara komersial untuk menghilangkan karat atau untuk membersihkan wastavel atau WC dengan pemutih cucian atau disinfektan yang digunakan dalam kolam renang. motor dan generator. Misalnya gudang penyimpan logam natrium terbakar. hidrogen. Interaksi bahan membentuk nyala atau bahan eksplosif: Bahan logam natrium akan dapat terbakar dengan sendirinya bila terdapat uap air yang berkontak dengannya.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

baham spesifik sejenis graphite atau natrium kloroida (garam dapur). Sangat berbahaya bila dipadamkan dengan menggunakan air. 3 INFORMASI TINGKAT BAHAYA Tingkat bahaya suatu bahan berbahaya harus diinformasikan secara jelas kepada pemakai, khususnya dalam lingkungan kerja dimana bahan tersebut digunakan, melalui 2 jalan: o Penggunaan label dan bentuk peringatan lainnya: setiap produsen atau importir bahan kimia harus memastikan bahwa setiap kontainer atau pengemas produk B3nya telah diberi label, papan-nama, atau tanda-tanda peringatan lain yang sesuai dengan jenis bahaya yang dikandung bahan tersebut, nama dan alamta produsen, importir atau penanggung jawab lainnya. Label dapat menggunakan simbol, gambar atau kata-kata lainnya. Lihat contoh dalam Gambar 4.1 o Informasi tentang Material Safety Data Sheets (MSDS): merupakan bulletin yang bersifat teknis yang mengandung informasi mendetail tentang bahaya dari bahan tersebut. Di Amerika Serikat, melalui OSHA, mewajibkan setiap produsen untuk menyiapkan MSDS ini bagi setiap produknya. MSDS ini harus disertakan pada setiap sampel atau pengiriman ke sebuah tujuan untuk pertama kalinya.

Gambar 5.1: Contoh label untuk HCl Bila mengacu kepada Occupational Safety and Health Act (OSHA) yang berlaku di Amerika Serikat, maka: a. MSDS harus dirancang sangat komprehensif dalam bentuk informasi tertulis untuk seluruh karyawan b. Informasi minimum yang dibutuhkan adalah: o Identitas produk seperti tercantum dalam container atau pengemasnya o Nama umum dan nama kimia seluruh komponen yang mempunyai konsentrasi >1%, yang diketahui berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan, dan
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 52

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

mempunyai konsentrasi ≥ 0,1% bagi bahan yang diketahui sebgai penyebab kanker o Bahaya fisik dan kesehatan, termasuk tanda-tanda dan simptom-nya bila terpapar o Alur masuk ke tubuh manusia, kulit, pernafasan, makanan atau minuman o Batasan paparan yang diketahui o Apakah termasuk penyebab kanker atau berpotensi-kanker o Prosedur handling dan penggunaan yang aman, penanggulangan tumpahan atau kebocoran o Prosedur pertolongan pertama bila terjadi kecelakaan o Tanggal penyiapan bahan o Nama, alamat dan nomor telepon perusahaan, atau yang bertanggung jawab yang mendistribusikan MSDS c. Training yang bersifat regular adalah kegiatan yang dianggap kritis, yang berbentuk program komunikasi, yang menginformasikan apa yang tercantum dalam label maupun dalam MSDS suatu bahan berbahaya. Penanggung jawab kegiatan harus melatih pekerjanya dalam hal bagaimana mengenali bahan-bahan berbahaya yang dapat teremisi atau terpapar dalam ruangan dimana mereka bekerja, misalnya dalam bentiuk timbiulnya bau yang spesifik, dan sekaligus melatih bagaimana memproteksi dirinya akibat bahan berbahaya tersebut. 4 DOKUMEN MATERIAL SAFETY DATA SHEETS (MSDS) Berikut ini adalah contoh MSDS yang dikeluarkan oleh sebuah produsen bahan kimia di Amerika Serikat untuk produk HCl yang dihasilkan: Informasi Umum (muncul di setiap lembar MSDS)
o o o J.T. Baker Chemical Co. 222 Red School Lane, Phillipsburg, N.J. 08865, 24-Hour Emergency Telephone (201)859-2151, Chemtrec # (800) 424-9300, National Re4sponse Center # (800) 424-8802 H3880-02 Hydrochloric Acid Effective: 08/07/86 Issued: 10/19/87

Seksi I: Identifikasi Produk
o o o o o o o Nama produk: Hydrochloric acid Formula: HCl Formula Wt: 36, 46 Cas No: 7647-01-0 NIOSH/RTECS No: MW4025000 Sinonim Umum: Muriatic Acid; Chlorhydric Acid, Hydrochloride Kode produk: 9543, 9539, 9535, 9534, 9544, 9529, 9542, 4800, 9549, 9530, 9548, 9540, 5537, 9547, 9546, 9537, 5367

Precautionary Labelling: TM Baker SAF-T-DATA System: (dengan label kode gambar) o Kesehatan: Severe o Flammabilitas: None o Reactivitas: Moderate o Kontak: Severe o Laboratory protective equipment: goggles & shield, Lab coat & apron, vent hood, proper gloves o Precautionary label statements:

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 53

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

RACUN! BAHAYA! MENYEBABKAN LUKA BAKAR SERIUS MENJADI FATAL BILA TERTELAN ATAU TERHIRUP Jangan berkontak dengan mata, kulit, dan baju Jangan terhirup uapnya. Penyebab kerusakan pada sistem pernafasan (paru-paru), mata dan kulit. Simpan dalam container yang tertutup rapat. Buka dengan hati-hati. Gunakan ventilasi yang cukup. Cuci dengan cukup setelah penanganan. Bila terjadi tumpahan, netralisir dengan soda ash atau kapur dan tempatkan pada container kering.

Seksi II: Komponen Berbahaya
o o o o o o o o o o o o

Komponen: Hydrochloric Acid (23 Baume) %: 35-40 CAS No: 7647-01-0 Titik didih (boiling point): 110 C (230ºF) Tekanan uap (mmHg): N/A o o Titik leleh (melting point): -25 C (-13 F) Densitas uap (udara = 1): 1,3 Gravitasi spesifik (specific gravity H2O = 1): 1,19 Laju evaporasi (Butyl Acetate = 1): N/A Kelarutan (H2O): sempurna dalam seluruh proporsi % Volatil – volume: 100 Tampilan dan bau: jernih, tidak berwarna atau kuning muda, pungent, cairan berasap (fuming liuid)
o

o

Seksi III: Data Fisika

Seksi IV: Data Bahaya Kebakaran dan Ledakan
o o o o o Flash point: N/A NFPA 704M Rating: 3-0-0 Flammable limits: Upper – N/A % Lower – N/A % Media pemadam kebakaran: gunakan media pemadam kebakaran yang cocok untuk area sekitarnya Prosedur khusus pemadaman kebakaran: Anggota pemadam kebakaran harus m,engenakan perlengkapan perlindungan yang memadai, dengan perlengkapan pernafasan yang dioperasikan pada tekanan positif. Pindahkan kontainer dari lokasi kebakaran bila dapat dilakukan tanpa resiko. Gunakan air. Jangan masukkan air ke dalam kontainer. Bahaya kebakaran dan ledakan yang tidak biasa: dapat mengemisikan gas hidrogen bila berkontak dengan logam Gas toksik yang dihasilkan: hydrogen chlorida, gas hyrogen PEL dan TLV dalam daftar menandakan berada pada batas 3 Treshold Limit Value (TLV/TWA): 7 mg/m (5 ppm) 3 Permissible Exposure Limit (PEL) : 7 mg/m (5 ppm) Toksisitas : LD50 (oral-rabbit) (mg/kg) : 900 LD50 (ipr-mouse) (mg/kg) : 40 LD50 (inhl-rat-1H) (ppm) : 3124 Carcinogenicity NTP : No IARC : No Z List : No OSHA : No Pengaruh paparan yang berlebihan (overexposure) : Target organ : system pernafasan, mata, kulit Kondisi medis yang biasanya diperparah bila terpapar : tidak teridentifikasi Alur masuk: pencernaan, pernafasan, kontak kulitm kontak mata Darurat dan Pertolongan Pertama:

o o o o o o o

Sekis V: Data Bahaya Kesehatan

o o o o o

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 54

Dilarang disimpan berdekatan dengan bahan pengoksidasi TM Seksi VII: Prosedur Penanganan Tumpahan dan Disposal Seksi VIII: Perlengkapan Perlindungan o Seksi IX: Penyimpanan dan Penanganan o o Seksi X: Data transportasi dan Informasi Tambahan Domestik (DOT): o Nama pengapalan (proper shipping name): Hydrochloric acid o Kelas bahaya: bahan korosif (cair) o UN/NA: UN1789 o Label: Korosif o Kuantitas dilaporkan: 5000 Lbs Internasional (IMO) o Nama pengapalan (proper shipping name): Hydrochloric acid. vinil asetat. Enri Damanhuri . Simpan di area anti korosi. kering dan tutup. Baker Neutraorb atau Penetralisir asam Neutrasol “Low Na” disarankan untuk digunakan untuk penanganan tumpahan Prosedur disposal: kubur atau timbun atau singkirkan sesuai dengan peraturan yang berlaku EPA Hazardous Waste Number: D002 (Coorosive Waste) Ventilasi: gunakan exhaust ventilation umum atau lokal untuk memenuhi standar TLV Perlindungan pernafasan: Masker pernafasan dibutuhkan bila konsentrasi di udara kerja melebihi TLV yang disyaratkan. alat bantu pernafasan disarankan untuk digunakan Perlindungan mata/kulit: Sarung tangan acid-resistant dan perlindungan muka (face shield). disarankan menggunakan masker chemical cartridge respirator dengan acid cartridge. Di atas konsentrasi tersebut. solution o Kelas bahaya (hazard class): 8 o UN/NA: UN1789 o Labels: Corrosive Info terakhir MSDS contoh di atas: The information Publisher in this MSDS has been compiled from our experience and data presented in various technical publications. anhidrid asid. asam sulfat. We reserve the right to revise Material Safety Data Sheets periodically as new information becomes available. alkali.FTSL ITB Halaman 55 . amine. tuang tumpahan dengan hati-hati ke dalam kontainer bersih.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Seksi VI: Data Reaktivitas o o o o o o o o o o o o o o o o Stabilitas: stabil Bahaya polumerisasi: tidak akan terjadi Kondisi yang dihindari: panas dan kelembaban Tidak kompatibel: hampir semua logam.T. dan pindahkan dari area tersebut Bilas area tumpahan dengan air R R J. baju pelindung direkomendasi untuk digunakan SAF-T-DATA Storage Color Code: putih (korosif) Syarat khusus: Kontainer selalu tertutup rapat. Idsolasi dari bahan-bahan yang tidak kompatibel. basa kuat. air. Pada konsentrasi di sampai dengan 100 ppm. karbonat. seragam. It is the user’s responsibility to determine the suitability of this information for the adoption of necessary safety precautions. murkuri sulfat. propiolakton. formaldehid. klorin Gunakan alat masker pernafasan (self-contained breathing) dan baju pelindung Hentikan kebocoran bila dapat dilakukan tanpa resiko Berikan ventilasi pada area tersebut Netralisir tumpahan dengan abu soda atau kapur Dengan skop yang bersih. oksida logam. hidrogen. kalsium fosfida. asam klorosulfonik Produk dekomposisi: hidrogen klorida.

BAKER INC. yang akan dibahas secara umum di bawah ini. natrium hidroksida.33 % . Bentuk bahaya yang kedua dari bahan ini adalah sifatnya yang dapat mengekstrak air dari bahan yang berkontak dengannya.bila diuji terhadap kelinci albino.bila sebuah cairan mempunyai laju korosi lebih besar dari 6. proses ini biasanya terjadi karena adanya oksigen di udara. Selalu diperhatikan bahwa pengenceran dilakukan dengan penuangan secara perlahan pada air yang teraduk perlahan. Reaksi dehidrasi ini sangat kuat. maka struktur jaringan di lokasi kontak mengalami kerusakan atau tidak dapat pulih setelah pemaparan 4 jam atau kurang. baik terhadap logam dan mineral. Asam ini merupakan cairan yang tidak berwarna. Bila asam sulfat bercampur dengan NaCl.T. sehingga dianggap banyaknya konsumsi bahan ini di suatu negara dapat menggambarkan status ekonomi dari negara tersebut. akan menyebabkan terjadinya pendidihan lokal disertai percikan yang membahayakan. Oleh karenanya US Department of Transportation (USDOT) mendefinisikan bahan korosif sebagai : cairan atau padatan yang dapat menimbulkan kerusakan yang terlihat pada jaringan kulit manusia bila berkontak. seperti HclO4.84 .FTSL ITB Halaman 56 . COPYRIGHT 1987 J. yang menghasilkan oksida-oksida metalik. dan dapat menimbulkan ledakan bila dicampur dengan bahan tertentu. terjadinya bahan lain yang mudah terbakar atau terjadinya ledakan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 J. Beberapa reaksi di bawah ini akan memperjelas mekanisme yang terjadi : Enri Damanhuri . Baker makes no warranty or representation about the accuracy or completeness nor fitness for purpose of the information contained herein.titik beku : 10 o C . Bila ini dilakukan terbalik.sangat larut dalam air Asam ini akan membebaskan panas bila diencerkan (sekitar 20 kcal per mole). sehingga dapat menghancurkan sama sekali kertas dan tekstil.konsentrasinya dalam air : 98.gravitasi spesifik : 1. Gula misalnya akan menjadi arang bila bercampur dengan asam ini. Bahaya lain dari bahan ini adalah kemampuannya bereaksi dengan bahan lain. yang disertai akibat samping seperti timbulnya gas toksik. 5 BAHAN KIMIA KOROSIF Biasanya pengertian korosi mengacu pada proses kimia yang mengakibatkan logam atau mineral dikonversi menjadi bahan yang berkarat. Bahan ini juga akan menimbulkan ledakan bila bercampur dengan asam lain. asam khlorida. asam fluorida. . Korosi dapat pula disebabkan karena perusakan oleh bahan kimia (seperti asam atau basa kuat). Asam Sulfat (H2SO4) Bahan ini banyak digunakan di industri. akan terbentuk uap HCl yang merupakan bahan toksik bagi pernafasan. asam perkhlorit. kalium hidroksida. asam fosfat. nyala dan ledakan. Beberapa sifat asam sulfat pekat adalah : . dapat menimbulkan sifat toksik.T. dengan densitas sekitar 2 kali air.titik didih : 338 o C . Beberapa bahan yang termasuk dalam kelompok ini adalah asam sulfat. atau cairan yang mempunyai laju korosi yang kuat terhadap baja alumunium dengan kriteria : . Namun korosi sebetulnya tidak terbatas pada aktivitas oksigen terhadap sebuah logam.25 mm per tahun terhadap baja atau alumunium standar pada temperatur pengujian 55 °C. dan sangat reaktif. juga terhadap jaringan kulit. asam nitrat.

Bila logam yang dijumpainya adalah berupa serbuk maka reaksi akan Enri Damanhuri . misalnya pada reaksi di bawah ini : Cu(s) + 2 H2SO4 (pekat) ⇒ CuSO4 (l) + SO2 (g) + 2 H2O(l) Pb(s) + 3 H2SO4 (pekat) ⇒ Pb(HSO4) 2 (s) + SO2 (g) + 2 H2O(l) Di lingkungan kerja.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 . senyawa-senyawa organik-bernitrat dan fiber sintetis. atau nitrogen monoksida atau nitrogen dioksida atau dinitrogen monoksida atau ion amonium.menghasilkan gas-gas racun dengan NaBr.titik beku : . Asam nitrat (pekat) direduksi menjadi nitrogen. tergantung pada konsentrasi asam tersebut. Asam nitrat murni merupakan cairan yang tidak berwarna.sangat larut dalam air Asam ini dapat merusak logam karena sifatnya sebagai oksidator kuat.FTSL ITB Halaman 57 . ClO2 bersifat toksik .42 o C . seperti reaksi di bawah ini : 5 Zn(s) + 12 HNO3(l) ⇒ 5 Zn(NO3)2(l) + 6 H2O(l) + N2(g) 3 Zn(s) + 8 HNO3(l) ⇒ 3 Zn(NO3)2(l) + 4 H2O(l) + 2 NO(g) Zn(s) + 4 HNO3(l) ⇒ Zn(NO3)2(l) + 2 H2O(l) + 2 NO2(g) 4 Zn(s) + 10 HNO3(l) ⇒4 Zn(NO3)2(l) + 5 H2O(l) + N2O(g) 4 Zn(s) + 10 HNO3(l) ⇒4 Zn(NO3)2(l) + 3 H2O(l) + NH4NO3(g) Umumnya hanya satu reaksi yang terjadi.gravitasi spesifik : 1.menimbulkan ledakan dengan asam perkhlorit : 2HClO4 (l) ⇒ Cl2O7(g) + H7O(g) . sedang monoksida terbentuk bila asam nitrat encer yang digunakan.5 .5 x air dan merupakan oksidator kuat.reaksi exotermis dengan gula : C12H22O11(s) ⇒ 12 C(s) + 11 H2O(g) .konsentrasi dalam air : 68 . namun sering dijumpai dengan warna kuning sampai merah-kecoklatan tergantung dari kandungan nitrogen dioksida yang terlarut. Nitrogen dioksida dapat terbentuk bila asam nitrat pekat yang digunakan. aturan di USA membatasi pemaparan maksimum terhadap manusia sebesar 1 mg/m3. Kerapatannya sekitar 1. Beberapa sifat dari bahan ini pada kondisi pekat antara lain adalah : .70 % . digunakan misalnya dalam industri pupuk amonium-nitrat.menghasilkan produk yang mudah terbakar dengan ethyl alkohol : C2H5OH(l) ⇒ C2H4(g) + H2O(g) . Asam Nitrat (HNO3) Asam nitrat merupakan cairan terpenting setelah H2SO4. Label bertuliskan 'korosif dan racun' dibutuhkan pada kontainer dan kendaraan yang mengangkutnya.menghasilkan ledakan dan gas toksik dengan NaClO3: NaClO3(s) + H2SO4 (l) ⇒ NaHSO4 (s) + HclO3(l) 3 HClO3(l) ⇒ HClO4 + 2 ClO4 + H2O .titik didih : 86 o C . NI dan NaCN atau NaSCN : 2 NaBr(s) + 2 H2SO4(l) ⇒ Br2 (g) + SO2 (g) + Na2SO4 (l) + 2 H2O(l) SO2 dan Br2 adalah gas toksik Bahan ini juga tergolongkan sebagai oksidator.menghasilkan gas racun dengan asam oksalit : H2C2O4(s) ⇒ H2O(g) + CO(g) + CO2(g) . Asam ini dibutuhkan untuk menghasilkan bahan peledak nitrogliserin dan trinitrotoluene (TNT). terutama pada kondisi panas.

misalnya pembersih WC. Asam Perchlorit (HclO4) Bahan ini termasuk asam mineral yang penting dalam perindustrian. Asam Khlorida (HCl) Asam ini merupakan bahan kimia yang termasuk penting dalam kegiatan industri. atau produk yang banyak digunakan di rumah tangga.titik beku : .konsentrasi dalam air : 36 . terutama bila bahan ini dalam bentuk serbuk.70 . oksidator dan racun'. Asam ini dapat menimbulkan swa-nyala bagi bahan sellulosa. walaupun termasuk dalam kelompok asam kuat. Asam ini juga akan mengkorosi jaringan tubuh bereaksi dengan protein membentuk xanthroproteic acid berwarna kuning. Pemaparan maksimum yang diizinkan di Amerika Serikat adalah 2 ppm.38 % . sedang antara 50-72 % sebagai 'oksidator' dan pengangkutan HClO4 dengan konsentrasi lebih besar dari 72 % tidak Enri Damanhuri .4 % . nitrobenzene. kayu) akan tebakar dengan sendirinya bila berkontak dengannya.FTSL ITB Halaman 58 . Sedang logam khromium resistan terhadap asam ini.85 °C .titik beku : . dan korosi pada besi tidak terjadi bila konsentrasi asam nitrat lebih tinggi dari 70 %. Asam ini juga dapat merusak bahan non logam. Terhirupnya gas ini melalui pernafasan akan menyebakan degenerasi total sel pada bagian pernafasan. Oksidasi logam alumunium pada temperatur kamar tidak dapat terjadi bila konsentrasi asam nitrat lebih tinggi dari 80 %. Batas yang diperbolehkan di Amerika Serikat pada lingkungan kerja adalah 5 ppm. Materi sellulosa (seperti kertas. misalnya pada industri kimia dan elektroplating. membentuk asap.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 disertai ledakan. seperti karbon dan sulfur. Label yang disyaratkat pada kontainer dan pengangkutannya adalah 'korosif dan racun'. merupakan oksidator kuat khususnya terhadap senyawa organik.115 °C . Pengangkut dan kontainer yang digunakan mencantumkan label 'korosif.titik didih : 203 o C .titik didih : . Klasifikasi bahaya dari bahan ini karena bersifat korosif dan toksik. Asam ini.kelarutan dalam air : sangat larut Departemen Transportasi Amerika Serikat menentukan bahwa HClO4 dengan konsentrasi lebih kecil dari 50 % sebagai 'korosif'. ethyl alkohol. Sifat-sifat asam khlorida pekat antara lain adalah : .gravitasi spesifik : 1. atau untuk menghasilkan senyawa yang mengandung khlor seperti karet sintetis. terutama pada kondisi panas.kelarutan dalam air : 85 g/100 g air. Bahan ini merupakan cairan yang tidak berwarna. Beberapa sifat (asam pekat) dari bahan ini adalah : .20 . Asam ini juga mengoksidasi senyawa-senyawa organik seperti aceton. bahkan sama sekali merusaknya. Bahan ini bukan termasuk oksidator. dan kadangkala disertai ledakan dan merupakan sumber nyala.konsentrasi dalam air : 72. minyak.18 o C . dan menyengat. Kerapatan gasnya sekitar 1/5 lebih ringan dari udara. misalnya pada industri pelapisan logam.gravitasi spesifik : 1.

Cairan ini tidak berwarna.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 diperkenankan. namun asam fosfat adalah yang paling umum digunakan dalam industri. mampu bereaksi dengan silikon dioksida (pasir) dan gelas membentuk silikon tetrafluorida. misalnya dalam pembuatan chip dalam industri komputer. Batas pemaparan yang diizinkan di ruang kerja adalah 1 mg/m3. Disamping itu.gravitasi spesifik : 1. Beberapa sifat dari asam ini dalam keadaan pekat adalah : . Label yang dipersyaratkan adalah : 'korosif dan oksidator'. Asam Fosfat (H3PO4) Unsur fosfor paling tidak mempunyai 8 jenis asam. namun bentuk yang anhydrous dikenal sangat tidak stabil. Reaksi yang terjadi adalah : CaSiO3(s) + 6 HF(pekat) ⇒ CaF2(s) + SiF4(g) + 3 H2O(l) Asam fluorida merupakan asam lemah. yang merupakan pupuk sintetis yang penting. seperti dalam industri pupuk. Asam Fluorida (HF) Penggunaan asam fluorida dalam industri adalah penting. dapat mengkorosi bahan tetapi tidak sehebat asam-asam sebelumnya. Karena asam sulfat dapat menghidrasi asam perkhlorit. Campuran kalsium dihidrogen fosfat dan kalsium fosfat dikenal sebagai superfosfat.titik didih : 260 o C .69 . namun beberapa jam kemudian terjadilah penetrasi dalam kulit. Beberapa sifatnya dalam kondisi pekat adalah : . Asam perckhlorit adalah stabil. atau dalam industri perminyakan untuk menghasilkan bahan bakar beroktan tinggi.konsentrasi dalam air : 85 % .titik didih : 20 o C . maka botol kedua jenis asam ini tidak diperbolehkan diletakkan berdampingan.FTSL ITB Halaman 59 .titik beku : 42 o C . Label untuk pengangkutan dan kontainer mencantumkan sebagai 'korosif'. NaOH merupakan basa kuat. Asam ini dalam kondisi pekat lebih berbahaya bila kontak dengan kulit karena tidak mendatangkan sakit pada saat kontak. Asam fosfat tidak berwarna dan tidak berbau. larutan ini bersifat korosif pada bahan.sangat larut dalam air.sangat larut dalam air. dan mengeluarkan panas. Natrium Hidroksida (NaOH) dan Kalium Hidroksida (KOH) Kelompok ini merupakan kelompok alkalin korosif yang paling penting dan dikenal sebagai caustic soda. Aturan pengangkutan di Amerika Serikat adalah mensyaratkan label 'korosif dan toksik'. larutan ini bereaksi dengan air secara keras.gravitasi spesifik :1 .titik beku : . baik digunakan secara langsung atau dicampur dengan H2SO4.60 % .konsentrasi yang biasa dijumpai adalah : 48 . dan merupakan satu-satunya asam yang mengkorosi gelas.83 o C . banyak digunakan di industri Enri Damanhuri .

bahan ini dapat mengkorosi gelas. Reaksi yang terjadi umumnya seperti halnya NaOH. Logam-logam Alkali Beberapa jenis logam ini adalah lithium. 6 BAHAN KIMIA YANG REAKTIF PADA AIR Air dapat bereaksi dengan bahan berbahaya membentuk suatu produk yang dapat terbakar dengan sendirinya.gravitasi spesifik : 2.5 °C. membentuk natrium silikat. . seperti H2O4 dan NaOH.titik didih : 1390 o C . Batas pemaparan di ruang kerja adalah 2 mg/m3. Bahan ini umumnya digunakan pada industri pupuk. rubidium dan francium.titik leleh : 315 o C . cesium. Sifatsifat fisiknya antara lain : . produk ini juga digunakan di rumah tangga.gravitasi spesifik : 2. Logam-logam alkali ini merupakan kelompok logam yang paling reaktif. sabun dan sebagainya. Pengangkutan bahan ini di Amerika Serikat mensyaratkan penulisan label sebagai 'korosif'. natrium. fotografi. Kalium Hidroksida merupakan basa yang lebih kuat dibanding NaOH. namun yang paling sering digunakan adalah lithium. dan dikenal dengan nama caustic potash. yaitu bahan yang dapat terbakar secara spontan bila berada dalam keadaan udara kering atau lembab atau pada temperatur < 54. farmasi. dan dikenal sebagai basa yang korosif. tekstil.kelarutan dalam air : 107 gr/100 gr air.bereaksi dengan air secara kuat.membentuk campuran yang eksplosif bila bercampur air. uap atau asap toksik. . Dalam uraian berikut ini dijelaskan secara umum kelompok bahan yang termasuk dalam katagori reaktif dalam air.04 .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 seperti : petroleum. wadah yang digunakan sebaiknya bukan bahan gelas. Salah satu karakteristik B3 adalah sifat reaktifnya. Beberapa bahan dikenal pula sebagai piroforik. tembaga dan jaringan kulit dan melarutkan lemak. dapat mengkorosi logam seperti alumunium. NaOH adalah berbentuk padat-putih. toksik atau bersifat korosif. maka wadahnya lama kelamaan akan penuh. sehingga bila bahan tersebut dibiarkan terbuka di udara lembab. Beberapa sifat penting dari bahan ini adalah : . menimbulkan ledakan. karena dapat : . Proses yang menyebabkan air mendekomposisi suatu materi dikenal sebagai hidrolisis.kelarutan dalam air : 42 gr/100 gr H2O. Tetapi proses hidrolisis ini tidak selalu menimbulkan bahaya. tetapi dengan bahaya yang lebih kecil. Disamping itu dikenal pula bahan yang higroskopik. kalium. Oleh karenanya. Bahan ini reaktif dengan air dan menghasilkan panas 10 kcal per mole sehingga dapat memicu kebakaran.FTSL ITB Halaman 60 .titik leleh : 360 o C . yaitu bahan yang mampu untuk menyerap air di udara.titik didih : 1320 o C . terutama dalam kondisi lembab akan menghasilkan gas H2 dengan resiko kebakaran yang tidak dapat Enri Damanhuri .13 . sabun. kertas. natrium dan kalium. Pada temperatur kamar. bila terjadi kontak yang lama. seng.menghasilkan gas. misalnya untuk menangani penyumbatan pipa plambing.

keramik. dan merupakan logam alkali yang paling umum digunakan. Logam ini termasuk logam yang ringan sehingga sering digunakan dalam industri pesawat terbang. Kelompok ini bila dalam bentuk bubuk akan secara spontan meledak sehingga dapat menimbulkan resiko kebakaran.1 : Sifat fisika logam-logam alkali Kerapatan pada 20o C (g/ml) Titik leleh (° C) Titik didih (o C) Panas fusi (kcal/kg) Panas penguapan (kcal/kg) Lithium 0. Dibandingkan dengan logam alkali yang lain. mobil.819 63. tetapi biasanya dengan dry powder yang mengandung grafit. TABEL 5.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dipadamkan dengan air. Faktor lain yang mempengaruhinya adalah ukuran partikel.2 1005 Kalium 0.2 4680 Natrium 0. titanium. Bila terpapar dengan udara pada temperatur kamar. sebagai katalis dalam pembuatan karet sintetis. sedangkan logam alkali lainnya akan meleleh. Pengangkutan bahan ini membutuhkan label yang menyatakan sebagai 'berbahaya bila lembab'.972 97.5 833 27. Beberapa sifat dari lithium. Oleh karena titik didihnya lebih tinggi dari air. seperti natrium peroksida. kelembaban dan jumlah oksigen yang terserap. karena bersifat piroforik. atau untuk pembuatan bagian-bagian mesin dan Enri Damanhuri .1. Bahan ini digunakan dalam industri porselen. Natrium dapat menyala secara spontan dalam udara bertemperatur kamar. Logam-logam lain Beberapa jenis logam lain yang mempunyai sifat reaktif terhadap air adalah magnesium. farmasi. berasap kuning dan membentuk natrium oksida sesuai dengan reaksi : 4 Na(s) + O2(g) ⇒ 2 Na2O(s) Kalium merupakan unsur ketujuh yang paling banyak dijumpai di dalam tanah dan lautan. Bahan ini antara lain digunakan dalam produksi logam titanium. merupakan unsur padat yang paling ringan dan dapat mengapung pada produk minyak bumi. distribusi atau dispersi partikel. logam ini adalah yang paling reaktif. Sebagaian besar logam kalium digunakan untuk memproduksi logam campuran natrium-kalium sebagai penukar panas pada fluida. maka bila bereaksi dengan air akan tetap sebagai padatan. natrium dan kalim adalah seperti terlihat dalam tabel 4. Natrium adalah unsur keenam yang paling banyak dijumpai dalam tanah dan lautan. berasap ungu dan membentuk kalium oksida. logam ini akan terbakar.534 179 1317 103. maka resiko tersebut dapat dikurangi. alumunium dan seng.6 496 Lithium adalah logam yang lunak. agen pemutih. Kemurnian dari logam kelompok ini akan menentukan resiko tersebut di atas. sehingga tidak berbahaya dibandingkan logam alkali lainnya. Logam ini juga lunak. Bila permukaan logam ini diselimuti oleh oksida. Magnesium merupakan unsur ke delapan yang terbanyak dijumpai di dalam tanah dan lautan.FTSL ITB Halaman 61 . sebagai bahan baku dalam pembuatan senyawa-senyawa yang mengandung natrium yang bersifat reaktif. Bila bereaksi dengan air akan menghasilkan reaksi : 2 Li(s) + 2 H2O(l) ⇒ 2 LiOH(l) + H2(g) Reaksi berlangsung lambat bila dibandingkan dengan reaksi alkali yang lain.7 760 14.

Adanya lapisan inilah yang menyebabkan alumunium dianggap sebagai logam yang tidak berbahaya. umumnya mengandung satu sampai sepuluh atom karbon pada setiap molekulnya.industri. Seng termasuk yang sering digunakan dalam kegiatan non-industri. seperti reaksi : 2 Mg(s) + O2(g) ⇒ 2 MgO(s) 3 Mg(s) + N2(g) ⇒ Mg3N2(s) Cahaya yang ditimbulkan oleh terbakarnya magnesium adalah putih terang. dapat terbakar secara spontan di udara.FTSL ITB Halaman 62 . Seperti halnya magnesium. Logam ini sekeras baja tetapi 45 % lebih ringan. Namun biaya untuk memproduksi logam ini adalah sangat tinggi sehingga membatasi penggunaannya. Titanium merupakan elemen ke sepuluh yang paling banyak dijumpai di dalam tanah dan lautan. Tidak kurang dari 50 jenis senyawa organometalik tersedia secara komersial. Oleh karena kombinasi keras dan ringan ini. tetraethyllead (C2H5)5Pb.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 sebagainya. membentuk seng oksida. logam ini reaktif terhadap air dan berisiko terhadap terjadinya ledakan dan kebakaran. sedang sisanya akan membentuk magnesium nitrida. karbon dioksida dan air. Bila logam ini terbakar di udara. dan digunakan pula sebagai katalis dalam polimerisasi ethene. Transportasi bubuk seng membutuhkan label 'berbahaya bila lembab'. atau sebagai pigmen dalam pembuatan cat. maka logam ini banyak digunakan dalam industri pesawat terbang. senyawa ini akan bereaksi secara keras membentuk ethane. Alumunium murni termasuk salah satu logam yang paling reaktif. Campurannya dengan tembaga menghasilkan logam campuran yang dikenal sebagai kuningan. Seperti halnya magnesium. yang dapat membahayakan retina mata. logam ini termasuk yang mempunyai kerapatan kecil dibandingkan logam lainnya. tri(isobutyl) aluminum Al(C4H9)3. trimethylaluminum Al(CH3)3. hanya sekitar 75 % diantaranya yang bereaksi dengan oksigen untuk membentuk magnesium oksida. beberapa diantaranya adalah : diethylzinc (C2H5)2Zn. dimethylcadmium Cd(CH3). Logam ini tahan terhadap sifat korosi air laut sehingga banyak digunakan dalam pembuatan kapal laut. sehingga dekenal sebagai senyawa-senyawa organometalik. Dalam air. tetramethyltin Sn(CH3)4. Senyawa Organometalik Kelompok senyawa organometalik yang penting dalam industri adalah dalam bentuk atom-atom logam yang terikat secara langsung dengan atom-atom karbon. Seperti halnya yang lain. maka bila serbuk alumunium diangkut maka dibutuhkan label sebagai 'berbahaya bila lembab'. Aluminum (alumunium) merupakan bahan yang paling populer diantara bahan-bahan sebelumnya. Bahan ini dapat dibentuk sebagai lembaran yang tipis dan banyak digunakan dalam kegiatan industri maupun non. Seng juga digunakan untuk melindungi besi dari korosi (galvanis). Alumunium lebih ringan dibanding titanium. Diethylzinc adalah organometalik yang biasanya digunakan dalam sintesa beberapa senyawa organik. Namun dengan terbentuknya alumunium oksida yang berada di permukaan akan melindungi logam ini dari reaksi kimia. Pengangkutan bahan ini membutuhkan label yang bertuliskan 'berbahaya bila lembab'. dan merupakan unsur ketiga terbanyak di perut bumi dan lautan. yang dapat menimbulkan luka pada paru-paru. seperti reaksi : (C2H5)2Zn(l) + 7 O2(g) ⇒ ZnO(s) + 4 CO2 (g) + 5 H2O(g) Enri Damanhuri . Senyawa ini bersifat piroforik. Senyawa ini biasanya digunakan sebagai katalis polimerisasi. Asap dari magnesium oksida berbahaya bila terhisap karena bersifat reaktif terhadap lembab yang ada dalam saluran pernafasan dan membentuk magnesium hidroksida. terutama senyawa organometalik yang lain.

dikenal sebagai senyawa aluminum alkyl. yang digunakan terutama untuk katalis polimerisasi. Contoh lain adalah hidrogen sulfida (H2S). yang ditambahkan pada bahan bakar kendaraan bermotor. Beberapa jenis hidrida metalik ini antara lain adalah lithium atau natrium hidrida (LiH). Diborane ini termasuk gas yang mudah terbakar. Borane Senyawa-senyawa hidrogen dengan satu atau lebih unsur non-metal dikenal sebagai hidrida-hidrida molekular. karena berada sebagai satuan molekular. umumnya tidak stabil pada temperatur kamar. hidrogen khlorida (HCl) dan sebagainya. serta lithium dan natrium borohidrida sebagai 'berbahaya bila lembab. merupakan senyawa yang reaktif terhadap air. Departemen Transportasi Amerika Serikat mengatur secara khusus pengangkutan lithium dan natrium hidrida .8 % (volume) di udara. Diantara bahan organometalik yang mungkin paling terkenal adalah tetraethyllead yang digunakan dalam mengurangi ketuk (knock). serta tidak reaktif terhadap air. Hidrida-hidrida Metalik Kelompok hidrida-hidrida metalik yang paling banyak digunakan secara komersial adalah yang tersusun dari atom hidrogen. lithium aluminium hidrida (LiAlH4). disertai dengan berat molekulnya yang rendah.satunya yang bukan termasuk piroforik. Senyawa ini biasanya digunakan dalam industri sebagai pereduksi. Seluruh senyawa kelompok ini merupakan senyawa yang piroforik. Oleh karenanya. transportasi bahan ini membutuhkan label bertuliskan 'racun'. Paling tidak dikenal 14 jenis borane. namun bila bereaksi dengan air. seperti trimethylaluminum dan tri(isobutyl) aluminum. sangat toksik dan bila terbakar akan terbentuk oksida boron. Berbeda dengan senyawa organometalik yang lain. terhisap atau kontak melalui kulit. dan berubah menjadi diborane (B2H6). Molekular hidrida yang umum adalah air. Senyawa ini relatif stabil. tetrahidridoaluminate (LiAlH4). Kelompok ini juga bereaksi secara hebat dengan bahan odsidator. Maksimum pemaparan di ruang kerja adalah 0.satunya karakteristik bahaya yang menyertainya adalah sifat toksik dari cairan atau uapnya bila terhirup. Disamping itu. senyawa ini merupakan satu. methane (CH4). Bila terjadi pembakaran. lithium atau natrium borohidrida. akan dihasilkan cemaran timbal di udara. bereaksi secara keras dengan air dan sangat toksik.075 mg/m3. Hidrida-hidrida ini akan terdekomposisi menjadi boron dan hidrogen pada temperatur di atas 300 o C.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 (C2H5)2Zn(l) + 2H2O(l) ⇒ Zn(OH)2(s) + C2H6(g) Tata cara pengangkutan di Amerika Serikat mensyaratkan label 'bahan bakar spontan'. amonia (NH3). Borane (BH3)pada tekanan atmosfer adalah tidak stabil. Dengan sifat panas pembakarannya yang tinggi (527 kcal/mol). akan dapat menyebabkan pembakaran spontan dan berasap hijau. atau kadangkala boron.senyawa yang mengandung atom alumunium yang terikat pada atom karbon. aluminium tetrahidridoborate Al(BH4)3. Molekular hidrida dari boron disebut borane. Dengan konsentrasi diborane sebesar 0. atau logam alkali atau alumunium. diborane tergolong toksik.FTSL ITB Halaman 63 . menyebabkan diborane digunakan sebagai bahan bakar roket. akan menghasilkan gas H2 dan mudah terbakar. Satu. termasuk kelembaban udara. Kelompok organometalik yang juga penting dalam industri adalah senyawa. sehingga sangat tidak dianjurkan untuk digunakan. Pemaparan maksimum Enri Damanhuri .

Beberapa jenis senyawa ini adalah : alumunium khlorida (AlCl3) yang bersifat korosif. yang mengakibatkan efek sistemis. namun dapat menimbulkan api. Senyawa-senyawa yang mengandung khlor dengan metalik dan atau non-metalik merupakan substansi yang reaktif terhadap air. Bila kalsium fosfida bereaksi dengan air. Senyawa ini tidak terbakar. 7 BAHAN-BAHAN KIMIA TOKSIK Terdapat berbagai cara agar sebuah bahan/substansi masuk ke dalam tubuh manusia. gas iritan dan bila berbentuk larutan akan bersifat korosif. seperti terhisapnya gas HCl beberapa detik yang akan menyebabkan kerusakan langsung pada paru-paru. Transportasi bahan ini membutuhkan label 'gas beracun dan mudah terbakar'. Fosfida dan Khlorida Metalik Senyawa-senyawa yang tersusun antara logam dengan ion peroksida (O2=) dikenal sebagai peroksida metalik. yaitu : . seperti reaksi di bawah ini : Ca3P2(s) + 6 H2O(l) ⇒ 3 Ca(OH)2(s) + 2 PH3(g) Gas fosfine juga bersifat toksik. dia dapat merusak jaringan di lokasi kontaknya (efek lokal) atau berpengaruh negatif dengan jalan lain. Pengaruh racun dapat diklasifikasikan berdasarkan waktu yang dibutuhkan terjadinya penyakit atau gangguan. dan senyawa yang mengandung logam dengan ion-ion karbida dikenal sebagai karbida-karbida metalik. akan terbentuk gas bakar fosfine. Senyawa ini tergolong berbahaya. diperlukan juga label 'racun'. Peroksida. yang umumnya berbahaya karena bersifat sebagai oksidator disamping reaktif terhadap air.dikenal sebagai karbida. maka kalsium karbida harus dijaga agar tetap kering dan bebas dari lembab udara. Contoh fosfida metalik adalah kalsium fosfida. Barium peroksida disamping membutuhkan label 'oksidator'. Sebagai contoh. karena bereaksi secara keras dengan air. C4. Bila sebuah substansi bersifat toksik. fosforus oksikhlorida (POCl3) yang bersifat korosif dan toksik.atau C34.FTSL ITB Halaman 64 .Bersifat akut : kerusakan yang terjadi biasanya akibat sejenis bahan dengan pemaparan singkat. antimoni pentakhlorida (SbCl5) yang bersifat korosif. Bila kalsium karbida bereaksi dengan air. gas acetylene (C2H2) akan terbentuk sesuai dengan reaksi : CaC2 (s) + 2 H2O(l) ⇒ Ca(OH)2(s) + C2H2 (g) Gas acetylene inilah yang berfungsi sebagai bahan bakar pada saat digunakan dalam pengelasan. menghasilkan hidrogen khlorida. Untuk menghindari bahaya kebakaran atau ledakan. Hidrogen khlorida adalah toksik. boron trikhlorida (BCl3)menguap pada 18oC dan bersifat toksik. yang juga reaktif terhadap air. bisa saja keterpaparan ini terjadi secara berulang-ulang sampai menimbulkan kerusakan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dalam ruangan kerja adalah hanya 0. Ion-ion karbon dalam bentuk C22-. seperti kalsium karbida CaC2 yang digunakan dalam industri sebagai sumber acetylene dan pupuk kalsium cyanamida. Peroksida metalik yang penting dalam industri adalah yang tersusun dari logam alkali dan alkali tanah. kulit dan pernafasan. Enri Damanhuri . Karbida. yang paling penting adalah melalui : mulut. bila merkuri terserap oleh kulit maka akan dapat merusak ginjal atau pusat sistem syaraf. terutama natrium peroksida dan barium peroksida.1 ppm.

Untuk toksik yang bersifat kronis atau laten. misalnya benzene akan mengakibatkan aplastic anemia setelah sekitar 10 tahun sejak pertama kali terjadinya pemaparan. USEPA menggunakan tolak ukur yang bersifat praktis. . maka bahan tersebut dikenal sebagai suspect human carcinogen.2 : Konsentrasi maksimum bahan toksik dengan EP-toxicity [.limbah B-3 D004 D005 D006 D007 D008 D009 Cemaran Arsen Barium Kadmium Khromium Timah Merkuri Konsentrasi (mg/l) 5.paru.Asphyxiant : substansi kimia yang menyebabkan kehilangan kesadaran karena kurangnya oksigen dalam darah. dengan satuan ppm (gas) atau mg/m3 ( asap udara).0 0.0 100. Konsentrasi maksimum tersebut adalah seperti terlihat dalam tabel 2. yaitu : . yang mengatur beberapa cemaran logam toksik dan pestisida. percobaan melalui binatang tidak selalu relevan karena faal manusia dan binatang tidak selalu sama.2 Enri Damanhuri . misalnya hidrogen khlorida yang merupakan bahan korosif. misalnya timbulnya kanker liver angiosarcoma yang muncul beberapa tahun setelah menghirup vinyl khlorida.Threshold limit value (TLV) : limit teratas dari sebuah konsentrasi toxin yang tidak menimbulkan pengaruh kesehatan pada manusia yang terpapar secara rutin. . Untuk mengkuantifikasi toksisitas akut.Lethal concentration-50 (LC50) : konsentrasi bahan. maka digunakan penelitian terhadap binatang percobaan. kemudian hasilnya di ekstrapolasi pada manusia. yang dapat mematikan 50 % binatang percobaan.0 5.Lethal dose-50 (LD50) : konsentrasi bahan. dan akan menjadi human carcinogen bila memang terbukti dapat menyebabkan kanker pada manusia.Bersifat laten : suatu pengaruh atau keadaan sakit yang baru berkembang setelah masa inkubasi terlampaui.. . . TABEL 5. hidrogen. yang menyebabkan kematian binatang penelitian sebanyak 50 % . Oleh karenanya bila substansi tersebut menyebabkan kanker pada binatang dan belum terbukti pada manusia. Dalam toksikologi. yaitu dengan EP-toxicity (extraction-procedure toxicity).0 1. Sebuah substansi yang masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan dapat berakibat sebagai : . .Irritant : substansi kimia yang melukai jaringan sistem pernafasan dan paru. . biasanya dilakukan percobaan melalui binatang. Cara ini biasanya cocok untuk toksik yang bersifat akut. dengan memberikan batasan konsentrasi maksimum cemaran yang diuji sesuai dengan protokol penelitian.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 .rata di ruang kerja yang dapat diterima oleh sebagian besar pekerja selama 40 jam per minggu atau 8 jam per hari tanpa menimbulkan gangguan. karbon monoksida. dengan satuan mg bahan per kg berat binatang. dalam satuan ppm (volume).Immediately dangerous to life and health (IDLH) : merupakan konsentrasi maksimum suatu substansi yang memungkinkan manusia menghindar dalam 30 menit tanpa masalah pada kesehatannya.Bersifat kronis : suatu pengaruh atau keadaan sakit yang muncul sedikit demi sedikit dalam waktu yang agak lama setelah pemaparan pertama.0 5.] No.FTSL ITB Halaman 65 . untuk melihat pengaruh suatu substansi pada manusia.Time weighted average threshold limit value (TWA-TLV) : konsentrasi rata. misalnya nitrogen.2.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

D010 D011 D012 D013 D014 D015 D016 D017

Selenium Perak Endrin Lindane Methoxychlor Toxaphene 2,4-D 2,4,5-TP Silvex

1,0 5,0 0,02 0,4 10,0 0,5 10,0 1,0

Catatan : 2,4-D = 2,4-dikchlorophenoxyacetic acid 2,4,5-TP Silvex = 2-(2,4,5-trichlorophenoxy)propionic acid

Bila cemaran tersebut mengandung konsentrasi lebih tinggi dari yang tertera dalam tabel, maka cemaran tersebut terkatagorikan sebagai toksik. Beberapa kelompok bahan kimia yang bersifat toksik antara lain adalah : - Oksida-oksida karbon : seperti CO dan CO2 - Hidrogen cyanida : HCN - Senyawa sulfur : H2S, SO2 - Oksida-oksida nitrogen seperti N2O, NO2, N2O4 - Amonia - Logam-logam berat seperti : arsen, timah (Pb) - Asbestos. - Pestisida organik. Oksida-oksida Karbon Bila bahan mengandung karbon terbakar, maka akan terbentuk gas karbon dioksida (CO2). Bila pembakaran tidak sempurna akan dihasilkan gas karbon monoksida (CO), yang tergolong gas berbahaya karena dapat menyebabkan kematian. Reaksi yang umum, misalnya dalam pembakaran gas methane, adalah: 2 CH4(g) + 3 O2(g) --- 2 CO(g) + 4 H2O(g) CH4(g) + O2(g) --- C(s) + 2 H2O(g) Kedua jenis oksida tersebut adalah tidak berwarna dan tidak berbau. Beberapa sifat gas karbon monoksida adalah: - titik didih - 191,6 oC - densitas cairan (pada titik didih) 795 g/L - densitas gas (pada titik didih) 4,3 g/L - densitas gas (pada 20 C) 1,25 g/L - densitas uap (udara = 1) 0,97 - panas pembakaran 67,64 kcal/mol - % batas bawah ledakan 12,5 - % batas atas ledakan 74 -rasio ekspansi cair ke gas 700 Sedang beberapa sifat gas karbon dioksida adalah : - titik beku (oC) - 56,55 oC - titik sublimasi (pada 1 atm) 78,5 oC - panas fusi 47,5 kcal/kg - panas sublimasi 36,2 kcal/kg - densitas padat (pada 1 atm) 1,56 g/ml - densitas gas (pada titik sublim) 2,8 g/L - densitas gas (pada 20 oC) 1,98 g/L - densitas uap (udara = 1) 1,529 - rasio ekspansi cair ke gas 790
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 66

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

Karbonmonoksida merupakan gas toksik, yang dapat terserap oleh darah melalui pernafasan. Pada saat manusia bernafas, oksigen akan terbawa oleh aliran darah oleh komponen dalam darah yang disebut hemoglobin (Hb). Bila Hb ini menyerap oksigen akan terbentuk oksihemoglobin (O2Hb), dengan reaksi seperti : Hb(l) + O2(g) --- O2Hb(l) Oksihemoglobin ini akan melepaskan oksigen pada jaringan atau organ lainnya. Bila karbonmonoksida terhirup, akan terbentuk karboksihemoglobin (COHb) : Hb(l) + CO(g) --- COHb(l) yang mempunyai afinitas kimia sebesar 300 kali lebih tinggi daripada pembentukan oksihemoglobin. Oksigen yang terikat dalam oksihemoglobin juga dapat dilepaskan sesuai dengan reaksi : O2Hb(l) + CO(g) --- COHb(l) + O2 Karboksihemoglobin ini relatif stabil dan menghalangi penyerapan oksigen oleh darah sehingga penderita mengalami anoxia, yaitu kekurangan oksigen dalam darah. Pada dasarnya tubuh manusia lebih toleran terhadap CO2, walaupun adanya CO2 akan mempertinggi laju pernafasan seseorang, sehingga pekerjaan terasa menjadi lebih berat. TLV di udara untuk karbon monoksida adalah 100 ppm, sedangkan untuk CO2 adalah 5000 ppm (0,5 %); lebih dari konsentrasi tersebut akan menimbulkan gangguan pernafasan. Kontainer atau silinder gas karbon monoksida membutuhkan label 'gas beracun' dan ' gas mudah terbakar', sedang untuk gas karbon dioksida tergolongkan sebagai 'gas tidak terbakar'. Hidrogen Sianida (HCN) Pada temperatur kamar, hidrogen sianida adalah merupakan gas yang tidak berwarna, dengan sifat-sifat antara lain : - titik beku (oC) : - 14 oC - titik didih (oC) : 26 oC o - kerapatan pada 20 C : 1,2 g/L - kerapatan uap (udara = 1) : 0,93 - % batas terendah ledakan :6 - % batas tertinggi ledakan : 41 - titik nyala cairan : - 18 oC Gas HCN larut dalam air membentuk asam hidrosianik. Hidrogen sianida anhidrous (cair) merupakan bentuk yang secara komersial sering dijumpai, merupakan bahan yang tidak stabil. HCN banyak digunakan dalam pembuatan plastik seperti polyacrylonitrile yang mengandung grup -CN. Bila jenis plastik ini dipanaskan, maka akan terdekomposisi secara termal dan terbentuklah gas racun HCN. Bahan racun ini mempengaruhi transportasi oksigen dalam darah, karena dapat mengganggu aktivitas enzim cyctochrome oxidase yang dibutuhkan untuk respirasi selluler dan pembentukan enersi. Bahan ini masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan atau kulit. Beberapa senyawa kimia dengan ion-ion metalik yang bergabung dengan ion- ion sianida, seperti natrium sianida, banyak digunakan dalam industri elektroplating. Seperti halnya gas sianida, bahan ini juga bersifat racun bila terserap oleh manusia. Bahan ini juga akan bereaksi dengan asam membentuk gas HCN : NaCN(s) + HCl(l) --- NaCl(l) + HCN(g) Beberapa besaran konsentrasi (dalam ppm) yang berkaitan dengan sifat toksikologi dari HCN adalah :
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 67

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

- batas bau : 0,2 - 5,0 - TLV : 10 - keluhan sakit kepala : 18 -36 - bertahan selama 1/2 jam tanpa kesulitan : 45 - 54 - kematian dalam 1 jam : 110 - 135 - kematian langsung : 280 Pengaturan pengangkutan dan pewadahan mensyaratkan label : racun' dan 'cairan mudah terbakar'. Senyawa Sulfur Senyawa yang mengandung unsur sulfur dijumpai pada batu bara, gas alam, minyak mentah, wool, rambut, polimer-polimer sintetis dan sebagainya (lihat sub bab 2.2). Bila bahan ini terpapar dengan panas atau bila terbakar akan membentuk gas hidrogen sulfida (H2S) atau SO2. Hidrogen sulfida secara komersial banyak dijumpai dalam bentuk cairan, biasanya digunakan dalam industri yang memproduksi senyawasenyawa mengandung sulfur. Bahan ini juga digunakan dalam industri metalurgi. Gas H2S merupakan gas yang tidak dijumpai akibat proses dekomposisi dari gas ini adalah : - titik didih - titik beku - densitas pada 20 o C - kerapatan uap (udara = 1) - persen batas bawah ledakan - persen batas atas ledakan - panas fusi - panas penguapan berwarna, berbau seperti telur busuk. Secara alami senyawa organik dalam kondisi anaerob. Sifat-sifat : - 60 o C : - 83 o C : 1,539 g/L : 1,2 : 4,3 : 46 : 0,568 kcal/mol : 4,463 kcal/mol

TLV dari gas H2S dibatasi hanya 10 ppm. Bila terus menerus menghirup udara yang mengandung gas ini, akan mengakibatkan pusing dan sakit kepala; bila terhirup dengan konsentrasi 600 ppm selama 30 menit akan berakibat fatal. Tetapi karena gas ini mempunyai bau khas, maka kehadirannya dapat diketahui sejak dini. Pengangkutan dan kontainer bahan ini membutuhkan label bertuliskan 'gan beracun' dan 'gas mudah terbakar'. Sulfur dioksida merupakan gas tidak berwarna, berbau menyengat seperti karet terbakar. Gas ini terbentuk bila senyawa mengandung sulfur terbakar, misalnya pada pembakaran gas H2S akan terjadi reaksi : 2 H2S(g) + 3 O2 (g) --- 2 H2(g) + 2 SO2(g) Gas ini akan muncul misalnya karena pembakaran minyak bumi atau batu bara, karena kedua jenis bahan bakar ini mengandung senyawa sulfur. Dalam emisinya di udara, gas ini secara lambat akan teroksidasi menjadi sulfur trioksida (kadang-kadang ditulis sebagai SOx) yang larut dalam lembab udara membentuk asam sulfat sebagai penyebab hujan asam, sesuai dengan reaksi : 2 SO2(g) + O2(g) --- 2 SO3(g) SO3(g) + H2O(g) --- H2SO4(l) Masalah lingkungan yang ditimbulkan pada zone industri adalah adanya kabut sulfur (sulfurous smog), yang terbentuk akibat kumulasi asam sulfat di udara. Beberapa sifat dari gas ini adalah :
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 68

Kerapatan uap (udara =1) . Pengangkutan gas ini membutuhkan label bertuliskan 'gas beracun' dan 'pengoksidasi'. Beberapa sifat dari gas ini adalah : . Amonia (NH3) Amonia merupakan gas yang tak berwarna dan berbau menyengat. maka N2O3 dan N2O5 yang tidak penting dalam industri.96 kcal/mol Standar emisi yang dikeluarkan oleh USEPA adalah 0.771 g/L . Pada konsentrasi sebesar 10 ppm (volume) gas ini akan mengakibatkan iritasi pada mata. tidak berwarna dan berbau tajam.swa-penyalaan: 651 o C . yaitu dinitrogen monoksida (N2O). banyak digunakan sebagai anestesi oleh dokter gigi.densitas: 0. nitrogen monoksida (NO).03 ppm selama periode 24 jam. Diantara keenam oksida tersebut. dinitrogen tetroksida (NO4) dan dinitrogen pentoksida (N2O5). Gas N2O merupakan gas tidak berwarna.titik didih: .batas atas ledakan: 25 % Enri Damanhuri . membentuk metheglobin (NOHb). Standar kedua adalah konsentrasi tahunan sebesar 0. Gas NO merupakan agen pengoksida yang baik. Label yang dibutuhkan dalam pengangkutannya adalah sebagai 'gas tidak terbakar' dan 'pengoksidasi'.FTSL ITB Halaman 69 .77 kcal/mol : 5. seperti halnya karbon monoksida. Oksida Nitrogen (NOx) Terdapat enam oksida-oksida nitrogen. dihasilkan campuran eksplosif. dinitrogen trioksida (N2O3). sehingga sulfur. nitrogen dioksida (NO2).batas bawah ledakan: 16 % . Magnesium dan fosfor dapat terbakar dengan baik dalam atmosfer yang mengandung gas ini seperti halnya atmosfer yang mengandung oksigen.kerapatan uap (udara = 1): 0.densitas pada 20 o C . NO2 dan N2O4 merupakan agen pengoksida yang lebih baik dibanding N2O atau NO. Konsentrasi melebihi 500 ppm akan menyebabkan kematian seketika.596 .3 : 1. Oleh karenanya. fosfor dan karbon dapat terbakar dalam atmosfer N2O seperti halnya dalam atmosfer yang mengandung oksigen.panas vaporasi : . sehingga digunakan sebagai agen pengoksida dalam roket. Gas ini dapat berkombinasi dengan hemoglobin dalam darah.10 o C : .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 .titik beku: .panas difusi . dan 0.76 o C : 2.33 o C .93 g/l : 2. gas ini tergolong toksik dengan batas TLV 25 ppm. Dengan adanya hidrogen atau amonia. Dalam ruang kerja. sehingga dapat menimbulkan methemoglobinemia dengan terhalangnya transportasi hemoglobin. TLV dari SO2 adalah 5 ppm. Gas ini dalam pengangkutannya membutuhkan label bertuliskan 'gas racun'. Bahan ini merupakan agen pengoksidasi yang baik.78 o C .14 ppm selama periode 3 jam.titik didih .titik beku . gas-gas ini juga toksik dan menyebabkan methemoglobinemia dengan batas TLV 5 ppm.5 ppm.

kalsium dan besi. Bila dicampur dengan magnesium oksida.FTSL ITB Halaman 70 . arsen. Amonia yang dilarutkan dalam air merupakan larutan yang sering dijumpai secara komersial. Debu asbes ini mempunyai efek sinergis. Walaupun tidak berwarna. maka air merupakan bahan yang efektif untuk penanggulangan masalah yang timbul. perak. berillium. Enri Damanhuri . Bila terhirup masuk ke dalam paru-paru. Namun disamping kegunaannya tersebut. Mata dan paruparu akan teritasi bila terpapar dengan bahan ini. Mekanisme keracunan dari logam berat ini adalah tergantung dari jenisnya. thallium dan seng. Pengangkutan amonia cair (anhydrous) membutuhkan label 'gas racun'. selenium. maka akan masuk pada kerongkongan dan dapat memnyebabkan kanker pada pencernaan. Gas ini berakibat seperti halnya alkali terhadap kulit manusia. hidrogen dan ion. maka bahaya kebakaran relatif kecil. yang tergantung pada lamanya pemaparan. Bahan ini mempunyai titik leleh yang sangat tinggi. beberapa logam berat akan merupakan racun. tidak terbakar dan digunakan sebagai penyekat panas. oxygen. asbestos sangat baik digunakan sebagai bahan tahan api yang banyak digunakan. sehingga memudahkan pelacakan terjadinya kebocoran.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gas ini mudah dicairkan dan dikenal sebagai anhydrous ammonia. yang hanya dijumpai pada orang yang terpapar debu asbes. Dengan sifatnya yang lebih ringan dari udara (densitas uap = 0. apalagi bila dalam bentuk bubuk atau asap. serta limit bawahnya yang relatif besar (16 %). Pemaparan yang berlebihan akan menyebabkan kebutaan dan rusaknya jaringan pernafasan. Gas amonia merupakan yang gas mudah terbakar.ion metalik seperti natrium. terutama bila asbestos hadir dalam bentuk debu asbes sehingga mudah terhisap melalui pernafasan atau mulut. Limit pemaparan di ruang kerja adalah 50 ppm. Bila terserap dalam tubuh manusia. khromium. pada kondisi khusus asbestos dapat membahayakan kesehatan manusia termasuk timbulnya karena kanker. yaitu dari iritasi ringan sampai rusaknya jaringan. akan mengakibatkan kemungkinan terserang kanker 50 kali lebih besar dibanding orang yang tidak merokok. Bila logam ini terbawa oleh darah maka akan bersenyawa dengan sulfur yang berada pada fluida sellular tubuh. Logam-logam Berat Toksik Yang dimaksud dengan logam berat dalam buku ini adalah setiap logam yang mempunyai berat atom lebih dari 50. Karena bahan ini sangat larut dalam air. nikel. Bahan ini juga menyebabkan mesothelioma pada paru-paru atau saluran pernafasan. Debu asbes ini sangat ringan dan dapat melayang di udara. bahan ini akan terkumpul menyebabkan asbestosis. namun dengan rentang yang kecil. yaitu amonium hidroksida (NH4OH).569). tetapi umumnya karena ion-ion logam ini mempunyai affinitas yang sangat besar dengan sulfur. Logam berat yang digolongkan toksik oleh USEPA adalah : antimon. Namun bila tidak terkumpul di paru-paru. Pengangkutan cairan ini membutuhkan label 'korosif'. dan mempengaruhi kerja enzimatik dalam tubuh. timah. tembaga. Asbestos Absestos merupakan terminologi yang digunakan dalam ilmu mineral untuk berbagai fiber silikat yang tersusun dari silicon. kadmiun. bila bahan cairan ini tumpah akan terbentuk awan putih akibat kondensasi lembab udara. merkuri. misalnya bila terhisap oleh perokok. magnesium. bila terlepas di udara akan cepat terdispersi apalagi bila terdapat angin.

antara lain untuk mengontrol penyakit tifus dan malaria yang ditularkan melalui insek. seperti terjadinya kebakaran. yang terpenting adalah pestisida organochlorine. maka pestisida organik dapat dikelompokkan menjadi beberapa grup. yang berasal dari hidrokarbon dengan formula C12H14.FTSL ITB Halaman 71 . Enzim ini secara rutin berfungsi mempengaruhi impuls syaraf. yang banyak digunakan selama perang dunia ke dua. Pada insek. beberapa diantaranya telah dilarang digunakan. Salah satu pestisida kelompok ini adalah Linuron. sehingga pembuatan dan penjualannya dilarang. yaitu dengan sebuah atom hidrogen (atau lebih) pada urea yang digantikan oleh atom-atom lain. Enersi dari reaksi ini dapat disimpan. ledakan. paling tidak sebuah atom hidrogen dalam molekul hidrokarbon tersebut. maka enersi yang terbentuk dapat menyebakan bahaya bagi manusia.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Kriteria yang diberlakukan di USA pada lingkungan kerja adalah dalam 1 cm3 udara tidak boleh terdapat lebih dari 10 fiber asbes yang lebih panjang dari 5 micrometer. melalui rantai makananlah bahan ini akan sampai pada manusia. Pestisida urea merupakan turunan dari urea. Hanya diketahui bahwa bahan ini merusak keseimbangan natrium dan kalium dalam sel-sel syaraf sehingga mempengaruhi impuls sel tersebut. seperti pada batere. khlorinasi air. seperti pembakaran bahan bakar. Pestisida organochlorine merupakan turunan hidrokarbon kompleks. Namun ternyata bahan ini menimbulkan masalah kesehatan bagi manusia. Salah satu jenis pestisida ini adalah Carbyl yang merupakan insektisida. Bila reaksi tidak terkontrol. Sebagai contoh adalah Aldrin dengan formula C12H8Cl6. digantikan oleh atom khlor. Tetapi panas yang ditimbulkan dari reaksi redoks tersebut dapat terserap oleh bahan yang dapat terbakar yang berada di dekatnya. karena terbukti berbahaya bagi manusia. fungi. Beberapa jenis pestisida carbamate juga berfungsi sebagai fungisida atau herbisida. dan sangat stabil serta persisten. Didasarkan atas struktur molekulnya. Kelompok pestisida ini juga bersifat toksik. pestisida ini mempunyai kemampuan untuk menghalangi kerja enzim. atau tanaman. Salah satu jenis kelompok ini yang terkenal adalah DDT. Pestisida organophosphorus merupakan turunan dari asam fosfat. Fungsinya pada insek atau vertebrata adalah mempengaruhi kerja enzim cholinistrase. pestisida organophosphorus. Mekanisme bagaimana pestisida ini memepengaruhi aktivitas biologi belumlah banyak diketahui. peledakan dinamit. Jenis organochlorine ini mempunyai efek biokumulasi terutama pada jaringan lemak. Telah dihasilkan ribuan jenis pestisida. Pestisida Organik Pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk membunuh insek. dikenal sebagai acetylcholinesterase (ACHE). Umumnya pestisida ini digunakan sebagai herbisida yang dapat menghalangi proses fotosintesis. 8 SENYAWA PENGOKSIDASI Terjadinya reaksi oksidasi-reduksi (redoks) yang terkontrol sangat bermanfaat bagi manusia. Bila misalnya gas alam dibakar. Sebagian besar pestisida yang sekarang digunakan adalah merupakan senyawa-senyawa organik. maka enersi yang ada dapat digunakan untuk berbagai keperluan. pestisida karbamate dan pestisida urea. Pestisida carbamate merupakan turunan dari asam karbamik. contohnya adalah Parathion dengan formula (C2H5)2PSOC6H4NO2. roden. Enri Damanhuri .

Di lingkungan kerja batas pemaparan maksimum adalah 1 ppm. ada yang berada di bawah kemampuan oksigen. Hipokhlorit metal ini. Bahan tersebut akan memasok oksigen pada saat terjadinya kebakaran walaupun udara di sekitarnya kekurangan oksigen. dengan konsentrasi sekitar 3 sampai 5 %. Bahan pengoksidasi yang mengandung oksigen dapat dikatakan tidak stabil waktu dipanaskan. seng. larutan ini distabilkan dengan sejumlah kecil natrium pirofosfat. tetapi mempunyai bau yang sedikit tajam. Sinar matahari akan bertindak sebagai katalisator. Hipokhlorit. Khlorit. Hidrogen Peroksida (H2O2) Hidrogen peroksida merupakan peroksida yang paling sering dijumpai. Pada saat bertindak sebagai reduktor. Hidrogen peroksida murni mempunyai penampilan yang mirip air. bahan ini digunakan untuk memproduksi bahan peroksida metalik dan organik.Na2CO3(l) + 2 HClO(l) 2 HClO(l) --. timah. yang merupakan komponen aktif sebagai pemutih maupun untuk pembersih peralatan saniter. Bahan ini digunakan pula dalam penyediaan air bersih atau pengolahan air limbah sebagai desinfektan. Khlorat dan Perkhlorat Bahan pengoksidasi yang juga banyak digunakan adalah natrium dan kalsium hipokhlorit.FTSL ITB Halaman 72 . Larutan dengan konsentrasi 8 % (massa) secara lambat akan terdekomposisi menjadi air dan oksigen setelah 9 bulan. Kemampuan agen pengoksidasi bervariasi. Dalam industri kimia. biasanya digunakan sebagai pemutih pada pencucian pakaian karena kemampuannya bereaksi dengan karbon di udara akan memproduksi asam hipokhlor dan melepaskan oksigen. oksigen selalu dibebaskan. Bila berada pada konsentrasi yang pekat (lebih besar dari 30 %). maka larutan ini aka terdegradasi secara cepat yang disertai timbulnya panas sehingga akan dapat teruapkan. Enri Damanhuri . pada konsentrasi larutan lebih besar dari 30 % (volume) larutan ini korosif terhadap kulit.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 sehingga bahan tersebut dapat terbakar dengan sendirinya. Bila di atas konsentrasi tersebut diberi label : 'oksidator dan korosif'. Hidrogen peroksida dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius. khrom. tetapi sudah cukup untuk memungkinkan terjadinya swa. Bahan ini banyak digunakan dalam industri tekstil untuk pengelantang. namun dapat pula berfungsi sebagai reduktor lemah. Kadangkala walapun agen pengoksidasi dijumpai dalam jumlah yang kecil. Untuk menghindari bahaya ledakan. Hidrogen peroksida selain dapat bertindak sebagi oksidator kuat. tembaga.pembakaran bahan semacam sulfur dan sebagainya. Hidrogen peroksida merupakan bahan yang relatif tidak stabil. seperti reaksi di bawah ini : 2 NaClO(l) + H2O(l) + CO2 --. Transportasi hidrogen peroiksida dengan konsentrasi sampai 20 % diberi label : 'oksidator'. baja. Larutan yang mengandung hidrogen peroksida lebih dari 50% (volume) dapat menyebabkan timbulnya api secara spontan dari bahan yang dapat terbakar. Beberapa agen pengoksidasi diuraikan di bawah ini secara umum. mangan dapat bertindak sebagai katalis guna terjadinya dekomposisi.2 HCl(l) + O3(g) Oksigen yang dibebaskan dari dekomposisi fotokimia ini akan memucatkan pakaian. yang akan bertindak sebagai katalis guna memperlama proses dekomposisi. Ada oksidator yang mempunyai kemampuan lebih tinggi dibanding oksigen. Beberapa logam seperti besi.

tetapi lebih umum akan membentuk nitrogen. digunakan terutama sebagai komponen serbuk mesiu.NH3(g) + HNO3 Pada temperatur sekitar 166 oC. yang berlangsung secara endotermis : NH4NO3(s) --. sedangkan dalam kondisi sebagai larutan dianggap sebagai korosif. amonium nitrat dianggap sebagai yang paling penting diantara senyawa amonium yang lain. misalnya senyawa Enri Damanhuri . api dapat berkobar yang didukung oleh adanya N2O sebagai pengganti oksigen udara. senyawa ini akan terdekomposisi dengan dua jalan. amonium nitrat akan terdekompiosisi membentuk dinitrogen oksida dan uap air yang berlangsung secara eksotermis : NH4NO3(g) --.senyawa-senyawa amonium yang merupakan agen-agen pengoksidasi dapat juga terdekomposisi membentuk amonia. Amonium nitrat berpotensi menimbulkan resiko ledakan. Bahan ini merupakan pengoksidasi yang sangat kuat. bahan ini diperoleh dalam konsentrasi larutan sampai 80%. Pada temperatur 80o ke 93 o amonium nitrat terdekomposisi membentuk amonia dan asan nitrat. Senyawa-senyawa Amonium Pada dasarnya semua senyawa yang mengandung ion amonium (NH4+) secara termal tidaklah stabil. Bila dipanaskan. Pada saat ini bahaya kebakaran dan ledakan akan besar bila senyawa ini tetap berada pada kondisi temperatur tinggi. herbisida dan sebagainya. Beberapa senyawa organik akan terbakar dengan sendirinya bila berkontak dengan bahan ini.senyawa-senyawa amonium yang bukan agen-agen pengoksidasi terdekomposisi membentuk amonium. baik sebagai pupuk maupun sebagai komponen bahan peledak. Bila bereaksi dengan serbuk logam seperti alumunium. Amonium sulfat merupakan pupuk yang paling sering digunakan dibanding senyawa amonium yang lain. Natrium khlorat sangat sensitif misalnya bila bergesekan dan dapat menimbulkan terjadinya api dengan mudah. Secara komersial. Seperti halnya metal khlorat. Transportsai bahan ini membutuhkan label: 'pengoksidasi'. oksigen dan oksida-oksida metalik dan non metalik. terutama yang berkaitan dengan penimbulan api dan ledakan. Beberapa senyawa dikenal mempunyai peranan sebagai katalis dalam menaikkan laju dekopmposisi amonium ini. Senyawa-senyawa amonium merupakan senyawa yang sering dijumpai. . Bila temperatur di atas 212 oC. maka ledakan tidak dapat dihindari. bahan ini dianggap sebagai bahan pengoksidasi.N2O(g) + 2 H2O(g) Bila pada saat pengangkutan bahan ini berada pada kontainer yang tertutup rapat. Namun bahan ini relatif lebih stabil dibanding bahan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Natrium khlorit merupakan agen pemucat/pemutih yang banyak digunakan dalam industri kertas dan tekstil. akan menimbulkan ledakan. misalnya amonium khlorida yang secara termal terdekomposisi pada temperatur kurang dari 167 o C membentuk amonia dan hidrogen khlorida.bahan sebelumnya serta tidak menimbulkan reaksi yang prematur. Metal khlorat yang sering digunakan adalah natrium khlorat atau kalium khlorat. Dalam pengangkutannya. amonium nitrat akan meleleh. pengangkutan bahan ini pada kontainer pengangkutnya membutuhkan label : 'pengoksidasi'.FTSL ITB Halaman 73 . Walaupun demikian. maka metal-metal perkhlorat digunakan untuk kebutuhan yang hampir bersamaan. yaitu : . Namun secara komersial.

seperti kalium dikhromat (K2Cr2O4) merupakan oksidator yang kuat. pewarnaan dan percetakan. sulfur. suatu larutan merah yang terbentuk bila campuran asam khlorida dan asam sulfat ditambahkan pada larutan jenuk kalium dikhromat. Permanganat metalik yang paling terkenal adalah natrium dan kalium permanganat. Pengangkutan dan pewadahan bahan ini membutuhkan label : 'pengoksidasi'.FTSL ITB Halaman 74 . dapat dikonversi oleh bakteri dalam perut untuk membentuk nitrit. Namun natrium nitrit dengan kerja enzim tertentu akan membentuk senyawa nitrosamin. khrom trioksida dan khromilkhlorida. Nitrit dan Nitrat Permanganat metalik adalah senyawa yang mengandung mangan pada kondisi oksidasi +7 yang tidak berwarna. Nitrit metalik dapat bertindak sebagai oksidator maupun reduktor. Enri Damanhuri . yang banyak digunakan dalam industri makanan untuk mempertahankan warna. Asam-asam yang berkaitan dengan khromat dan dikhromat hanya ada pada kondisi larutan. Penggunaan dalam industri adalah seperti halnya asam khromik. termasuk libah gas sebagai oksidator. walaupun pada kenyataannya yang paling bersifat toksik adalah yang berada pada tingkat oksidasi +6.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 yang mengandung tembaga. tergantung pada kondisi oksidasinya. Biasanya asam ini dibuat dengan penambahan asam sulfat pekat pada larutan kalium dikhromat. Asam ini berwarna merah yang digunakan untuk pembersihan permukaan logam atau gelas. Oksidator Mengandung Permanganat. Larutan yang lebih terkonsentrasi kadang digunakan dalam pengolahan limbah. terutama bila berada dalam larutan asam. Bila air diuapkan darinya. Nitrit metalik dioksidasi menjadi nitrat metalik dan direduksi menjadi nitrogen monoksida. Demikian juga halnya natrium nitrat. Pengaturan pengangkutannya membutuhkan label : 'oksidator'. komponen bahan peledak dan sebagainya. namun permanganat itu sendiri berwarna ungu. maka yang tersisa adalah oksida khrom (VI) yang dikenal sebagai khromium trioksida. Oksidator ini banyak digunakan dalam industri elektropalting khrom. Transportasinya membutuhkan label sebagai 'oksidator' atau sebagai 'bahan korosif'. yang dianggap berpotensi sebagai senyawa karsinogenik. Senyawa sejenis adalah khromil khlorida (CrO2Cl2). Senyawa ini bersifat karsinogenik dan dapat merusak ginjal. Seluruh senyawa yang mengandung khrom oleh USEPA dikatagorikan sebagai toksik. yang dikenal sebagai khromium oksikhlorida. logam dikhromat. Pada kondisi sebagai ion-ion metalik tidak berwarna. Dikhromat metalik. sebagai khromat akan berwarna kuning dan sebagai dikhromat akan berwarna oranye. Larutan kalium permanganat digunakan untuk pengobatan dermatitis yang berasal dari bakteri atau fungi. atau khromium anhidrid atau asam khromik dengan formula (CrO3). misalnya dalam bentuk natrium nitrat dan natrium nitrit. Nitrit dan nitrat metalik dengan kandungan nitrogen pada tingkat oksidasi masingmasing +3 dan +5 adalah oksidator yang termasuk penting. Oksidator Mengandung Khrom Khrom pada tingkat oksidasi +6 terdapat dalam bentuk senyawa logam khromat.

sedang butane dalam struktur yang kedua dikenal sebagai isobutane. maka karakteristik yang umumnya dijumpai dari senyawa ini adalah mudah terbakar dan bila terbakar. maka campuran komponen-komponen tersebut tervolatilisasi sesuai titik didihnya masing-masing. Distilasi fraksi minyak bumi ini lebih lanjut akan menghasilkan produk non. Produk ini terdistilasi antara 35 o 90 o C. C5H12 (pentane). Seterusnya dikenal: C3H8 (propane). o Kerosene. yaitu hidrokarbon alifatik dan aromatik. plastik. resin. gas senyawa-senyawa ini dapat meledak di udara. Pada pembakaran sempurna. Senyawa organik ini dapat menguap dengan mudah dan uapnya mudah terbakar pada kondisi kamar. pendingin. yaitu alkane. Bahaya yang kedua dari kelompok ini adalah karena dapat bersifat toksik pada manusia. Menurut struktur Lewis. dengan formula kimia CnH2n+2.atom karbon yang ikatannya tidak selalu dalam satu rantai yang menerus. Senyawa ini pada temperatur kamar dapat berupa gas. Titih didihnya adalah 38 o . maka yang dimaksud adalah ethane C2H6 atau ditulis menurut struktur Lewis sebagai CH3CH3. o Bensin (gasoline). Alkane adalah hidrokarbon yang ikatan atom karbonnya tunggal. Senyawa organik yang paling sederhana adalah hidrokarbon. C6H14 (hexane). Sumber utama hidrokarbon yang digunakan manusia adalah minyak bumi (petroleum). C7H16 (heptane). misalnya untuk bahan bakar. terutama sebagai bahan baku untuk produk-produk yang banyak digunakan dalam industri petrokimia. Hidrokarbon Alifatik Hidrokarbon alifatik dibagi menjadi beberapa sub kelompok. misalnya sebagai bahan baku plastik. bila n = 2. adesif.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 9 BEBERAPA SENYAWA ORGANIK BERBAHAYA Senyawa-senyawa organik merupakan bahan yang sangat banyak digunakan dalam kehidupan manusia modern. Bila minyak bumi mentah dipanaskan pada temperatur tertentu. Butane dalam struktur pertama dikenal sebagai n-butane. maka mulai dari C4H10 dikenal dua jenis struktur molekul. karet dan aneka ragam fiber sintetis lainnya. yaitu dengan satu atau lebih atom karbon yang terikat dengan atom-atom lain. pelarut pembersih. yaitu campuran hidrokarbon yang molekul-molekulnya terutama mempunyai lima sampai sembilan atom karbon. aerosol. Produk destilasi yang penting adalah : o Petroleum naphtha. jantung. yaitu CH4 dikenal methane. akan terbentuk karbon dioksida dan uap air. vernis. fiber. Molekul-molekul dari senyawa-senyawa organik mempunyai pola yang sama. merupakan campuran hidrokarbon yang lebih berat dari pada minyak bensin. Enri Damanhuri . sistem syaraf dan beberapa diantaranya menjadi penyebab penyakit kanker. yang dapat dibagi menjadi dua kelompok. C4H10 (butane). yaitu : . Dalam kaitannya dengan keselamatan. tekstil dan sebagainya. . cair atau padat. alkene dan alkine. cat.atom karbon yang terikat satu sama lain dalam satu rantai yang menerus. antara lain menyebabkan kerusakan pada hati. enam atau tujuh atom karbon. Selanjutnya. maka jumlah atom hidrogennya adalah 4.204 o C. sehingga dapat dipisahkan satu dengan yang lain. yaitu campuran hidrokarbon yang molekul-molekulnya terutama mempunyai lima. yang mempunyai variasi atom karbon antara 3 sampai 60. Seluruh molekul dari senyawa ini hanya tersusun oleh atom karbon dan hidrogen. Bila jumlah atom karbon satu.bahan bakar. ginjal.FTSL ITB Halaman 75 . C8H18 (oktane).

Disamping mudah terbakar. oleh karenanya penyimpanan dan pengangkutannya membutuhkan label : 'cairan mudah terbakar'. berpasangan dengan atom-atom yang terikat dengan karbon tersebut. Biasanya formula benzene dilambangkan oleh bentuk heksagon dengan cincin di dalamnya. Benzene adalah senyawa yang tidak larut dalam air. Alkine yang paling sederhana adalah C2H2 yaitu ethyne atau acetylene. karena setiap ikatan elektron dari atom-atom karbon. Oleh karenanya. maka alkine adalah termasuk hidrokarbon tak jenuh. yang dikenal sebagai isomer dari xylene. PAH ini diaggap bersifat karsinogen. Karena setiap alkene kekurangan hidrogen relatif terhadap alkane. Kelompok hidrokarbon aromatis dengan dua atau lebih cincin benzene dikenal sebagai polynuclear aromatic hydrocarbon (PAH). maka senyawa baru tersebut dikenal sebagai toluene. dikenal sebagai alkene atau olefin. Benzene bersifat karsinogen pada manusia. Hidrokarbon Aromatik Hidrokarbon aromatik adalah senyawa-senyawa yang mempunyai satu atau lebih bentuk cincin ikatan atom karbon. Disamping bersifat mudah terbakar. Seperti halnya alkene. Ketiga bentuk tersebut bernama : ortho-xylene disingkat o-xylene. penyebab leukemia. kelompok ini juga bersifat toksik bagi manusia karena mempengaruhi sistem syaraf pusat. Pemaparan maksimum di ruang kerja adalah 10 ppm selama 8 jam. Senyawa ini dikenal pula sebagai sikloalkane karena atom karbon pertama dan terakhir terhubungkan satu sama lain dalam rantai yang menerus. Uap cairan ini bila bercampur dengan udara akan mudah terbakar. Oleh karenanya. Pemaparan maksimum selama 8 jam kerja adalah 200 ppm untuk toluene dan 100 ppm untuk isomer-isomer xylene. PAH yang penting adalah naftalene yang digunakan antara lain dalam industri fungisida. Pada temperatur kamar. Campuran uap benzene dan udara akan siap untuk terbakar. Hidrokarbon yang mempunyai satu atau lebih ikatan karbon ke karbon rangkap tiga dikenal sebagai alkine. Hidrokarbon dengan molekul-molekul yang mengandung satu atau lebih karbon yang terikat dengan ikatan ganda. tidak berwarna. kontainer benzene mempunyai label : 'cairan mudah terbakar'. yang menyerupai benzene atau yang tidak menyerupai benzene. meta-xylene disingkat m-xylene dan para-xylene disingkat p-xylene. Dua atom hidrogen dari benzene dapat pula digantikan oleh grup methil. Enri Damanhuri . Bila salah satu atom hidrogen dari benzene digantikan oleh grup methil (-CH3). dengan kemungkinan tiga bentuk struktur isometris. toluene dan isomer-isomer xylene adalah jernih. tetapi tidak termasuk karsinogen. menguap pada temperatur kamar.FTSL ITB Halaman 76 . maka kelompok ini dikenal sebagai hidrokarbon tak jenuh. Alkene yang paling sederhana dikenal sebagai ethene atau ethylene dengan formula C2H4. Formula umum dari alkine adalah CnH2n-2. yang membedakan antara hidrokarbon alifatis dengan hidrokarbon aromatis adalah struktur molekularnya. Senyawa yang paling sederhana dari kelompok ini adalah benzene dengan formula molekularnya C6H6. Formula umum dari kelompok ini adalah CnH2n.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Alkane dikenal sebagai hidrokarbon jenuh. tidak larut dalam air serta mudah menguap.

Sebagai contoh penamaan adalah untuk senyawa yang berasal dari methane (CH4).4 % volume. tetapi bila terhirup akan menyebabkan sesak nafas. titih nyala methane adalah . dikenal sebagai liquefied natural gas (LNG). gas yang tidak berwarna. Terdapat empat kemungkinan penggantian atom hidrogen. Methane merupakan gas alam. Salah satu contoh dari kelompok ini adalah methane. sehingga sifat kimia dari gas alam pada prinsipnya adalah merupakan sifat kimia dari gas methane. yaitu : 1 atom diganti. sedikit larut dalam air. propene. bila senyawa ini terpapar dengan Enri Damanhuri . maka kelompok alkine yang paling sering digunakan adalah acetylene. dapat meledak pada kondisi ditekan. Namun kelompok ini berkontribusi dalam pembentukan formasi ozone di atmosfer.11. maka senyawa itu dikenal sebagai hidrokarbon berkhlor (chlorinated hydrocarbon). maka terjadilah perubahan karakteristik. Bila seluruh atom karbon digantikan oleh atom-atom halogen. dengan rentang keterbakaran 10. Gas ini tidak berwarna. Walaupun demikian. Bentuk gas yang dicairkan dari propane. Gas ini termasuk yang tidak stabil. terbentuk dari pengolahan gas alam. ethene. tidak berbau. Gas alam ini dapat pula dicairkan.FTSL ITB Halaman 77 . Temperatur yang dicapai bila terbakar dengan udara akan mencapai 3300 o C. yang terdiri dari sebuah atom C dan empat buah atom H. butene. butane dan campurannya dikenal sebagai liquefied petroleum gas (LPG). isobutene dan sebagainya. yang terbentuk misalnya dari dekomposisi karbon organik. senyawa baru : methyl khlorida atau khloromethane 2 atom diganti. Hidrokarbon Berhalogen Senyawa-senyawa organik dapat pula diturunkan dengan mengganti satu atau lebih atom hidrogen dari hidrokarbon dengan sebuah atom halogen. LPG ini mengandung pula komponen lain dalam jumlah kecil. yang dapat digantikan oleh atom khlorida. seperti ethane. dan pada kondisi murni berbau ether. Satu bagian volume acetone dapat melarutkan 25 bagian acetylene pada tekanan 1 atm. tidak berbau dan dijumpai dengan konsentrasi rendah. dan merupakan salah satu komponen utama dari gas alam.4 kcal/mol. terutama untuk pengelasan/pengecoran. Gas ini banyak digunakan dalam industri metalurgi. maka senyawa baru tersebut bukan lagi kelompok bahan yang mudah terbakar. karena mempunyai panas pembakaran tinggi yaitu 312. isobutane.188 o C.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Hidrokarbon Sederhana Beberapa hidrokarbon sederhana dijumpai sebagai cemaran melalui cerobong pembakaran sebuah industri atau dari kegiatan komersial lainnya. Panas pembakarannya adalah 213 kcal/mol. Penggunaan gas alam sekarang makin banyak dijumpai. Methane digolongkan sebagai gas non toksik. senyawa baru : methylene khlorida atau dikhloromethane 3 atom diganti. senyawa baru : karbon tetrakhlorida atau tetrakhloromethane. Sebagai contoh. Belum dijumpai pengaruh kelompok ini terhadap kesehatan. sedangkan khloromethane adalah di bawah 0 o C. Oleh karenanya. Umumnya mereka tidak berwarna. Dengan substitusi tersebut. sehingga senyawa itu dikenal sebagai hidrokarbon berhalogen (halogenated hydrocarbon). senyawa baru : khloroform atau trikhloromethane 4 atom diganti. Bila yang menggantikan adalah khlor. sedang pada tekanan 12 atm akan terlarutkan acetylene sebanyak 300 bagian volume. biasanya gas ini dilarutkan dalam cairan seperti acetone.7 . Dari sudut industri.

Enri Damanhuri . akan dihasilkan gas/uap yang berbahaya yaitu fosgene dan hidrogen khlorida. mata. senyawa ini langsung tersebar dalam berbagai jaringan reseptor seperti hati. juga disebut sebagai khlorofluorokarbon atau khlorofluoromethane. Oleh karenanya. PCB banyak digunakan dalam industri-industri yang membutuhkan sifat-sifat tersebut. . beberapa diantaranya mempunyai titik didih sampai 267 °C tanpa mengalami dekomposisi. Terdapat berbagai struktur isomer dari PCB.5 mg/m3. stabil bila dipapar pada temperatur tinggi.7 m3 PCB dengan konsentrasi 50 . Senyawa kelompok ini banyak digunakan dalam industri.(g) + O2(g) . kerusakan organ tubuh. Cara pengolahan PCB yang digunakan adalah dengan insinerasi. Sebuah transformator kadang mempunyai sampai 3. . Kelompok khusus dari senyawa hidrokarbon berhalogen adalah fluorokarbon (CFnClnx). tidak terbakar. iritasi pada gastrointestinal. dengan simbol 2 heksagon bercincin. Oleh karena itu DRE dari PCB ini disyaratkan 99. kulit.0 µg/m3 dengan TLV 0. sehingga ikatan karbon ke khlor akan rapuh. resistan terhadap hampir seluruh bahan kimia. ClO (g) + O --. ginjal dan jantung.(g) + Cl.ClO. Konsentrasi maksimum di lingkungan kerja adalah 1. otot.(g) . Sebagian besar PCB adalah merupakan cairan yang encer pada kondisi kamar. atau pada sistem pemindah panas dan sistem hidrolis. Bila PCB masuk ke dalam tubuh. O3(g) + Cl (g) --. tidak bereaksi dengan asam. yang digunakan sebagai pendingin atau aerosol.70 % .CFnCl3-x. misalnya efek racun dari khloroform pada sistem syaraf. Karbon tetrakhlorida misalnya. Ini terjadi karena pada tahun 1960 diketahui bahwa PCB ini ternyata merupakan penyebab berbagai masalah kesehatan yang serius : kanker. Namun residu hasil pembakaran akan berbahaya bila pembakarannya tidak sempurna karena membentuk dioxin. sehingga lapisan ozon sebagai pelindung bumi dari radiasi ultra violet matahari akan terganggu/rusak. misalnya dalam perlengkapan listrik seperti transformator. kapasitor. tetapi keterpaparannya pada manusia dapat menimbulkan masalah kesehatan. dan dilepaskanlah atom khlor. sehingga mengakibatkan terganggunya fungsi biologis yang normal dan mengakibatkan perubahan fungsi faal tubuh. Reaksi di bawah ini akan memperjelas masalah tersebut : CFnCln-x (g) --. ginjal. hati. impotensi sampai kematian.FTSL ITB Halaman 78 . dan merupakan bahan yang paling banyak diatur penggunaan dan penanganannya diantara bahan berbahaya yang lain. Di USA produksi PCB sejak tahun 1979 sangat dibatasi yaitu hanya untuk penggunaan yang sangat khusus. Beberapa diantara hidrokarbon berhalogen ini teruapkan pada temperatur kamar. Insiden yang paling dramatis dalam masalah toksikologi adalah yang terjadi di Jepang pada tahun 1968. menimpa lebih dari 1000 orang yang menkonsumsi beras terkontaminasi PCB akibat kebocoran pipa transfer panas dalam pemerosesan minyak. Atom khlor ini akan bereaksi dengan molekul ozon. dan sebagainya dan tetap tersimpan dalam organ tersebut.9999 %. otak. tetapi sifat-sifatnya hampir sama.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 panas. Senyawa ini mampu menyerap radiasi ultraviolet matahari. disamping dapat mengganggu hati dan ginjal juga dicurigai sebagai penyebab kanker pada manusia. Senyawa ini bersifat inert.Cl (g) + O2(g) Masalah limbah yang paling banyak disorot dari kelompok ini adalah polychlorinated biphenyl (PCB). Nama komersial dari senyawa ini adalah freon. Bila terlepas akan bereaksi dengan lapisan ozon.

Pemaparan fenol di ruang kerja dibatasi 5 ppm (kontak dengan kulit). Pengangkutan senyawa ini membutuhkan label : 'cairan mudah terbakar'. Fenol pada kondisi padat adalah tak berwarna sampai putih kristal dan sering juga dijumpai berwarna gelap/merah bila terpapar cahaya. dan TLV = 19 mg/m3. dan berakumulasi (biomagnifikasi) pada jaringan lemak.7. misalnya methyl ethyl ether (methoxyethane). atau secara singkat dikenal sebagai Dioxin atau TCDD. Efek iritasi juga dapat terjadi pada mata dan kulit. Disamping itu. Toksisitas (LD50) bahan ini terhadap babi Guinea 3. Senyawa yang tergolong alkohol sederhana ini adalah mudah terbakar.1 x 10-9. yaitu sangat toksik pada manusia. sebetulnya fenol tidak membahayakan. Pemaparan pekerja pada isomer kressol adalah 5 ppm kontak dengan kulit. Bila makanan terkontaminasi oleh bahan ini.4.FTSL ITB Halaman 79 . Fenol adalah termasuk grup alkohol aromatis. Aplikasi isomer-isomer kressol pada tikus menimbulkan tumor.3. dan merusak secara sistematis sistem syaraf. Mata. ether juga berbahaya karena ada yang mengandung peroksida organik sehingga mudah meledak. Senyawa organik yang dewasa ini dianggap salah satu substansi yang paling toksik adalah 2.dikhlorofenoxyacetik dan 2. Fenol dikenal cepat menyerap uap air di udara sehingga sering dianggap sebagai cairan. Dilihat dari sifat keterbakaran. Tambah tinggi ether maka tambah tinggi titik nyalanya sehingga menjadi bahan bakar cair. Oleh karenya. yang dapat dilihat sebagai hidroksil turunan benzene. Enri Damanhuri .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Alkohol Alkohol adalah senyawa organik turunan dari hidrokarbon dengan penggantian paling tidak sebuah atom hidrogen oleh grup hidroksil (-OH). Salah satu grup fenol adalah kressol yang merupakan disinfektan dan berasal dari resin fenolik. Senyawa induk dari kelas alkohol ini juga bernama fenol atau hidroksibenzene. reproduktif dan kanker. yang paling sering dipersoalkan adalah fenol. Dioxin juga dicurigai dapat menghilangkan pertahanan tubuh terhadap penyakit.4. Efek toksikologis antara lain adalah terhadap sistem syaraf. pengangkutan senyawa ini membutuhkan label bertuliskan : 'racun'. tetapi bisa saja tidak termasuk cairan yang berkatagori mudah terbakar. maka penyebarannya akan melalui rantai makanan. karena resin-resin fenolis dan produk-produk farmasi lainnya terbuat darinya. Dua alkohol yang sering dijumpai di pasaran adalah metanol (methyl alkohol) dan ethanol (ethyl alkohol).senyawa fenolik yang diproduksi untuk beragam herbisida seperti asam 2. dengan TLV 22 mg/m3.8 tetrachlorodibenzo-p-dioxin.5trikhlorofenol. Ether Ether adalah senyawa organik yang molekul-molekulnya mempunyai atom oksigen yang menjembatani 2 grup alkyl atau aryl (R-O-R'). Dioxin merupakan produk samping dari pembuatan senyawa. Dalam masalah limbah. Tetapi sifatnya yang racunlah yang mendatangkan masalah. dan larut dalam air. Fenol merupakan produk industri kimia yang penting. misalnya dalam industri farmasi. dengan titik nyala 78 o C. hidung dan kerongkongan dapat teriritasi. Ether sederhana sangat volatil dan berbahaya karena mudah terbakar serta meledak. Dioxin sangat stabil dan terdekomposisi hanya secara thermal pada temperatur didih sekitar 500 °C.

Titik nyalanya adalah .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Senyawa Organik Lain Senyawa organik dengan formula umum R-CO-OR' dikenal sebagai ester. yang terjadi bila asam-asam organik bereaksi dengan alkohol. Meyer: Chemistry of Hazardous Materials. karena mempunyai oksigen yang aktif pada strukr molekulnya. hidung dan kerongkongan. sehingga dikelompokkan sebagai cairan yang mudah terbakar. Seluruh bahan dikutip dari: E. Seperti halnya peroksoanorganik. 1989 Enri Damanhuri . Prentice Hall Building. yang biasanya digunakan sebagai pelarut.5o C. merupakan cairan jernih dengan bau spesifik. Bahan ini digunakan untuk mempengaruhi proses polimerisasi pada pembuatan plastik. Senyawa perokso-organik merupakan turunan dari hidrogen peroksida. maka perokso-organik ini mempunyai kemampuan sebagai oksidator. Bila terpapar dengan manusia. Pemaparan di ruang kerja dibatasi sampai 400 ppm. Atom. Salah satu jenis senyawa ini yang banyak digunakan dalam industri adalah ethyl asetat.atom hidrogen digantikan oleh satu atau lebih grup alkil atau aril.FTSL ITB Halaman 80 . senyawa ini menyebabkan iritasi ringan pada mata.

dan terus berlanjut pengembangannya dengan perlombaan senjata nuklir sampai selesainya “perang dingin” antara negara-negara Barat dan negara-negara komunis di dunia. dibutuhkan satu ikatan yang sangat kuat. Dengan menggunakan persamaan Einstein. thorium dan radium. Struktur sebuah Atom : Inti-atom (nucleus) terdiri dari proton dan netron. Intensitas radiasi tersebut relatif tidak tinggi dan radiasi tersebut dapat ditahan oleh atmosfer bumi. Kapasitas penghancur senjata nuklir telah dibuktikan dalam Perang Dunia II.FTSL ITB Halaman 81 . Oleh karenanya. Selama berjuta tahun.030381 x 1. yang proporsional dengan muatan positif pada inti-atom (Ze). 2 SIFAT-SIFAT RADIOAKTIVITAS Sebuah atom terdiri dari sebuah inti (nucleus) bermuatan positif dan sejumlah planet-planet yang mengorbit pada intinya dan elektron.65985 x 10 x (2. dan nomor atom (Z).9979 x 10 ) erg = 4. dan kemudian ditemukannya radiasi dari radium oleh Antoine H. Dalam hal ini: c = kecepatan cahaya=2.8025 x 10 esu (electrostatic unit).015190 amu (atomic mass unit) Massa netron = 2 x 1. Misalnya diambil masa 2He yang terdiri dari 2 proton dan 2 netron: Massa proton = 2 x 1. Namun keberadaan unsur-unsur radioaktif ini telah meningkat dengan dihasilkannya materi radioaktif artifisial oleh manusia untuk berbagai tujuan. sebab bila tidak maka akibat adanya gaya tolakan elektrostatis antara proton-proton maka akan mengakibatkan mereka terpencar.030381 amu Perbedaan massa ini menghilang pada saat terjadinya fusi dua proton dan dua netron untuk 2 membentuk inti-atom helium. yaitu muatan sebuah elektron sebesar -10 4. Proton adalah partikel dasar dengan massa mendekati 1 dalam skala berat atom dan bermuatan + e. Simbol sebuah atom ditulis sebagai ZX . terutama akibat penggunaan pembangkit enersi bertenaga nuklir di seluruh dunia dengan segala permasalahannya terhadap lingkungan. Unsur-unsur radioaktif yang secara alamiah terdapat di bumi adalah uranium. sebuah inti-atom dicirikan oleh nomor massa (A).017966 amu ------------------. Untuk mengikat sejumlah besar netron dan proton dalam ruang yang sangat kecil yang tersedia dalam sebuah inti-atom. yang sepadan dengan jumlah netron dan proton. Becquerel pada November 1896. namun tidak bermuatan. Dimulai dengan teridentifikasinya sinar-X oleh William C. Röntgen pada Januari 1896. Karena massa atom terkonsentrasi dalam volume yang sangat kecil.531 x 10 erg 4 Enri Damanhuri .008983 = 2.9979 x 109 cm/detik m = perbedaan massa (amu) -24 10 -5 Sehingga E = 0.Perbedaan massa (mass defect) = 0. radiasi kosmis dari luar angkasa telah memborbardir planit biru kita ini. yaitu sekitar 2 x 10 gram/cm . Netron juga merupakan partikel dasar dengan besaran mendekati 1 unit satuan atom. Bentuk enersi nuklir merupakan hal yang paling spektakular yang pernah ditemukan dan digunakan oleh peradaban manusia selama ini. dan sepadan dengan A jumlah proton dalam inti-atom.002775 amu ------------------.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 BAGIAN VI LIMBAH RADIO AKTIF 1 UMUM Radioaktivitas sebetulnya bukanlah fenomena baru.elektron yang bermuatan negatif yang mampu mengimbangi muatan positif dari inti atom. dimana X adalah simbol kimia yang biasa digunakan untuk unsur tersebut. 14 3 maka densitas inti atom tersebut sangat tinggi. yaitu E = mc maka sejumlah ekuivalensi enersi akan terbebaskan.033156 amu Massa inti-atom helium = 4. Sejumlah besar materi radioaktif yang berumur sangat lama dihasilkan sebagai hasil samping yang tidak dapat dihindari.+ = 4.007595 = 2. namun baru mendapat perhatian manusia pada akhir abad yang lalu.

95 50Sn 114 0. Rutherford kemudian menunjukkan bahwa radiasi tersebut terdiri dari tiga jenis radiasi yang berbeda.02 1D 7 7 -10 N14 15 N 99. akan berbeda. Di alam terdapat atom dengan 1 elektron (hidrogen) sampai 92 elektron (uranium) dan massanya bervariasi dari 1 (sebuah proton pada hidrogen) sampai 238 (92 proton dan 146 netron pada uranium). Terdapat pula sebuah atom dengan inti-atom yang terdiri dari sebuah proton dan sebuah netron disertai sebuah electron.57 50Sn 118 Sn 24.00055 amu). Radiasi α adalah merupakan partikulat dan setiap partikel alfa adalah sebuah inti helium yang 9 berkecepatan tinggi sampai mencapai 10 cm/detik. Dengan demikian.1. Bisa saja dijumpai dua buah atom yang mempunyai nomor atom yang sama tetapi berbeda masanya. dengan massa 1/1840 proton (0.04 0. dijumpai dalam bentuk 92U dan 92U . dan menjadi isotop yang berbeda untuk elemen yang sama. Jadi isotop adalah elemen yang mempunyai nomor atom yang sama. seperti pada contoh peluluhan uranium ke thorium: Enri Damanhuri . Atom tersebut disebut sebagai isotopis satu terhadap yang lain. Elektron-elektron ini terikat dalam orbitnya oleh gaya elektrostatis dengan jarak yang bervariasi terhadap inti-atom. Contoh lain adalah isotop uranium. dan biasanya cukup dituliskan sebagai U-235 dan U-238. yang 235 238 mempunyai proton sebanyak 92. secara artifisial dapat dihasilkan isotop-isotop yang tidak stabil yang dikenal sebagai radionuklisida (radionuclicide) dari unsur-unsur yang ada.34 50Sn 116 14.8025x10 esu). tetapi mempunyai jumlah massa yang berbeda. dan tidak mengalami perubahan sifat-sifat kimiawi karena hanya melibatkan elektron.71 50Sn 124 5. sehingga jumlah elektron harus mengimbangi nomor atom (jumlah proton dalam inti-atom). Hampir semua unsur terdapat di alam dalam bentuk campuran dari isotop-isotop seperti terlihat dalam Tabel 6. yang dikenal kemudian sebagai radiasi α (alfa). Tabel 6. Radiasi ini terdiri dari emisi dua proton dan dua netron dari inti-atom.elektron terluar.76 0. β (beta) dan γ (gamma). Sebagai contoh adalah sebuah atom hidrogen yang mempunyai sebuah proton dan sebuah elektron. Kemudian ternyata bahwa fenomena tersebut berasal dari kegiatan pada inti-atom dan fenomena tersebut terjadi pada seluruh elemen dengan nomor atom lebih dari 83. Tahun 1986 Becquerel menemukan bahwa garam-garam uranium meng-emisikan sejenis radiasi yang menyebabkan pelat fotografis menjadi hitam.65 50Sn 115 0. dan sifat-sifat nuklirnya agak berbeda dari hidrogen biasa.0058 0. Sebuah atom adalah netral.98 1H 2 0.64 43 0. inti atom sangatlah stabil.635 0.97 50Sn 122 4. tetapi sifat-sifat fisisnya yang tergantung pada masanya. Bila sebuah inti-atom yang tidak stabil mengemisikan partikel alfa.15 20Ca 46 0.1: Campuran isotop di alam ------------------------------Isotop Persentase ------------------------------1 99.FTSL ITB Halaman 82 . Atom terakhir ini merupakan sebuah isotop dari hidrogen. Sifat-sifat kimiawi dua buah isotop akan sama.98 50Sn U 235 92U 238 92U 92 234 0.01 50 119 8. Isotop : Nomor atom dari sebuah unsur menentukan jumlah elektron dan merupakan identitas kimiawinya.19 20Ca ------------------------------- -------------------------------Isotop Persentase -------------------------------112 0.28 ----------------------------- Peluluhan Radioaktif : Pada kondisi normal. dikenal sebagai hidrogen berat atau deuterium.0033 20Ca 48 0. maka nomor atomnya menurun 2 satuan sedang massa atomnya menurun 4 satuan. Sifat-sifat kimiawinya adalah identik.715 99.24 50Sn 117 7.20 O16 O17 18 8O 8 8 20 20 Ca40 96.97 42 Ca 0.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Elektron dapat dianggap sebagai partikel dengan muatan negatif e (4. dan jumlah elektron serta susunannya merupakan kunci sifat-sifat kimiawi dari elemen tersebut.58 50Sn 120 32.365 99.

Jumlah masa tidak berubah. Secara kimiawi. tetapi bila terhirup melalui pernafasan. sebab walaupun secara kimiawi asalnya tidak toksik atau tidak korosif. namun juga harus mampu menahan kemungkinan radiasi dari hasil peluluhannya yang bisa saja lebih berbahaya. yaitu: -Kt N = N0 dengan N = jumlah inti radioaktif setelah t waktu N0 = Jumlah inti awal t = waktu yang ditinjau K = konstanta peluluhan radioaktif 92U 238 234 4 Enri Damanhuri . Rutherford et al menemukan bahwa intensitas radiasi mengalami peluluhan secara eksponensial terhadap waktu. dan akan meluluh dengan mengeluarkan sinar β. namun hasil peluluhan bisa saja menjadi lain. Radiasi γ adalah radiasi eletromagnetis dengan panjang gelombang sangat pendek. Inti radium misalnya secara spontan akan terurai dengan melepaskan partikel α. Dalam perjalanannya. perlu memperhatikan sifat peluluhan itu sendiri. Massa partikel β diabaikan. Penentuan rancangan penyimpanan atau penyingkiran limbah radioaktif. namun penetrasinya pada jaringan tubuh lebih dalam. misalnya digunakan sebagai pelacak (tracer) untuk membantu pengukuran aliran materi dalam lingkungan. enersinya secara bertahap dilepaskan akibat interaksi dengan atom yang lain. Radiasi β dapat dianggap pula sebagai partikulat. Hal ini perlu mendapat perhatian pada saat penanganan limbahnya. penyekatan harus dirancang bukan saja agar mampu menahan radiasi dari limbah asalnya. dan konversi tersebut dapat dianggap sebagai perubahan sebuah netron menjadi sebuah proton.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010  92Th +2α Dalam reaksi ini dikeluarkan partikel α (inti helium) dari inti-atom. tetapi nomor atomnya meningkat satu satuan.99 kecepatan cahaya. yaitu: 234 234  91Pa + e 90Th Emisi sebuah muatan negatif dari inti-atom mengakibatkan muatan positif bertambah satu yaitu pada protactinium. Partikel α dapat menembus pada jaringan tubuh sampai 100 µm. sifat kimiawi dari kedua unsur tersebut berbeda. Perbedaan jenis radiasi tersebut di atas terkait dengan peluluhan inti atom-atom radioaktif. menaikkan tingkat enersinya dan melepaskannya dari inti. dan bergerak dengan kecepatan cahaya. Sekali lagi.FTSL ITB Halaman 83 . Sinar tersebut sangat sulit dihalangi. muatan positif menarik elektron. Fenomena ini dikenal sebagai pengionan (ionization). yaitu sebuah elektron. Oleh karenanya. maka partikel ini sangat berbahaya. Radiasi γ tidak mempunyai muatan atau masa. sedang partikel β bisa mencapai beberapa cm. namun massanya tetap. sehingga sinar ini mempunyai kemampuan untuk mengionisasi dan dapat merusak jaringan hidup. Radioaktivitas menjadi kajian yang menarik dalam masalah lingkungan karena dampak negatifnya terhadap organisme yang terpapar. Radiasi ini dipancarkan dari inti-atom yang tidak stabil sebagai transformasi spontan dari sebuah netron ke sebuah proton dan elektron. dan setiap partikel β adalah sebuah elektron negatif yang berkecepatan tinggi sampai mencapai 0. Sebuah inti-atom dapat terurai dengan kehilangan partikel α atau β-nya. Sinar β dan γ mempunyai kemapuan penetrasi yang lebih tinggi dibanding sinar α. Partikel α relatif massif dan mudah dihentikan. Sinar γ dapat pula terbentuk akibat transformasi itu. namun dapat bermanfaat. terutama dalam penyimpanan dan penyingkiran. Kulit manusia dapat menahan radiasi ini. dan membutuhkan beberapa cm timah untuk mengisolasinya. dan hanya dapat dihentikan misalnya dengan lembar alumunium setebal 1 cm. thorium yang dihasilkan berbeda dengan uranium karena sifat-sifat kimia ditentukan oleh nomor atomnya. Sebagai contoh adalah peluluhan strontium-90 menjadi yttrium : 90 90  39Y + β 38Sr Ionsasi yang terjadi pada partikel β frekuensinya lebih sedikit dibanding partikel α. yaitu antara -3 -7 10 sampai 10 µm. Ketika partikel α melalui suatu media. Thorium yang dihasilkan dalam reaksi itu tidak stabil.

aktivitas tersebut -11 dinyatakan sebagai becquerel (Bq). sehingga memberikan reaksi : 14 4 17 + 2He  8O + proton 7N Dalam hal ini 8O adalah stabil.51 x 109 tahun 92U 234 β 24. hasilnya akan dapat dipisahkan secara kimiawi dan merupakan sumber yang berlimpah bagi isotop-isotop artifisial. tetapi inti-atom memecah dalam dua fragmen dengan massa yang hampir sama. Satuan Curie (Ci) adalah satuan dasar yang menyatakan besarnya peluluhan 10 sebuah sumber. tetapi waktuparuh dari nuklisida-nuklisida akan sangat bervariasi. manusia mulai mengamati pengaruh radiasi terhadap materi yang diradiasinya. Oleh karena itu seluruh rantai peluluhan tersebut harus diperhitungkan dalam perancangan limbah radioaktif.1 hari 90Th 234 β 1.2 memberikan gambaran waktu-paruh dari enam isotop pertama yang terdapat pada ilustrasi sebelumnya.2 : Contoh waktu-paruh -----------------------------------------------Isotop Radiasi Waktu-paruh ------------------------------------------------------------238 α 4.atom nitrogen di udara. Reaksi lain yang dapat terjadi adalah bila inti-atom yang berat menyerap sebuah netron. Tabel 6.693/k Waktu paruh sebetulnya tidak dapat dihitung tapi harus diukur secara eksperimental. Namun banyak hasil rekasi yang bersifat tidak stabil. Misalnya 236 236 menyerap sebuah netron menghasilkan isotop yang tidak stabil 92U (?). hal ini dikenal sebagai fisi nuklir. Terbukalah pintu penelitian terhadap reaksi nuklir atau penelitian terhadap pembuatan isotop-isotop artifisial. Aktivitas sebuah sumber tidak 90 langsung mengidentifikaikan jumlah partikel yang teremisi. Bila cara reaksi fisi yang terkontrol ini berlangsung.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Kemudian persamaan tersebut disederhanakan menjadi persamaan waktu-paruh t1/2. yaitu: 1 Bq = 2. Waktu-paruh tersebut tidak dapat dirubah namun memainkan peranan yang penting dalam aktivitas penyimpanan dan penyingkirannya. Peluluhannya 92U tidak dengan jalan mengemisikan partikel-partikel α atau β.47 x 105 tahun 92U 230 4 α 8. Isotop Artifisial: Dengan ditemukannya radioaktivitas alamiah.0 x 10 tahun 90Th 226 3 Ra α 1. yang merupakan laju desintegrasi inti-atom 1 gram radium. Dalam satuan SI. seperti yang banyak dilakukan dalam reaktor-reaktor nuklir.17 menit 91U 234 α 2. dan luluh secara radioaktif. Misalnya 38Sr meluluh dengan emisi sebuah partikel beta. Reaksi nuklir pertama yang terdeteksi adalah partikel alfa dari polonium yang dibuat agar terjadi reaksi dengan atom. yaitu waktu yang dibutuhkan agar inti tersebut luluh menjadi setengahnya. Satu Ci sebanding dengan desintegrasi sebanyak 3. yang dapat membingungkan pemakainya. Tidak terdapat pola yang jelas antara waktu-paruh isotop-isotop yang diamati dengan mekanisme peluluhannya.7 x 10 Ci. yaitu N = 1/2 No. Waktu-paruh dari sebuah isotop adalah tetap.FTSL ITB Halaman 84 . Bila sebuah partikel seperti partikel alfa atau sebuah proton atau sebuah netron bertumbukan dengan inti-atom.60 x 10 tahun 88 -------------------------------------------------Sebagai gambaran. maka akan tertinggal sebanyak 50 gram setelah 1 tahun. maka terbentuk isotop baru. Nilai waktu paruh tersebut bervariasi dari satu isotop ke isotop yang lain. Tabel 6. menjadi 25 gram setelah 2 tahun. 17 Enri Damanhuri . bila dimulai dengan sebuah isotop yang mempunyai waktu-paruh 1 tahun dan mempunyai berat 100 gram. artinya sebuah sumber dengan kekuatan 1 Bq akan mengemisikan satu 60 partikel per detik. dan persamaannya menjadi : t1/2 = ln2/k ≈ 0.7 x 10 per detik. tetapi 27Co akan mengemisikan sebuah partikel beta dan dua sinar gamma. Unit Satuan yang Digunakan: Banyak satuan yang digunakan dalam bidang radioaktivitas ini.

Tetapi hanya fraksi dari radiasi ini yang terlacak ke luar. Pengukuran ini dilakukan pertama kali dengan satuan röntgen (R). maka akan dihasilkan limbah radioaktif yang tambah banyak dan dapat menyebakan radiasi pengionan. Dalam satuan SI. atau memindahkan dalam bentuk padat untuk kemudian dibuang/disingkirkan sambil menunggu luluh dengan sendirinya sesuai dengan waktu-paruhnya. Oleh karena itu digunakan satuan rad (radiaton absorbed doses). misalnya ke lautan yang dalam. 3 PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF Pengolahan dan pembuangan (penyingkiran) limbah yang bersifat radioaktif merupakan masalah yang berat dalam abad nuklir ini.FTSL ITB Halaman 85 . Pengukuran aktivitas sumber ternyata tidak menjelaskan tentang pengaruh radiasi yang teremisi terhadap sekitarnya. Dalam hal sebuah isotop menghasilkan produk yang tidak stabil. Dengan pengebangan teknologi dan ilmu nuklir serta penggunaan isotop-isotop radioaktif yang makin luas. Satuan yang digunakan dalam kesehatan adalam satuan rem (radiation equivalent man). misalnya bagaimana menyerap unsur berbahaya. sejumlah pencemar yang terkandungnya akan terolah secara alamiah. digunakan satuan gray (Gy) yang sepadan dengan penyerapan enersi 1 J/Kg. Dalam hal ini 1 C/Kg = 3876 R. atau 1 Gy = 100 rad. Secara umum. yaitu satuan pengukuran terhadap penyerapan enersi radiasi oleh jaringan tubuh manusia. Sampai saat ini praktis belum ditemukan teknologi atau tata cara baik secara kimiawi maupun biologis untuk menetralisisr sifat-sifat radioaktivitas. Satuan baru (satuan SI) yang diusulkan adalah dengan satuan coulomb (C). dengan perlindungan yang ketat agar sifat-sifat radioaktivitasnya tidak membahayakan lingkungan. tetapi ini hanya memindahkan masalah. Untuk itu perlu adanya jaminan bahwa isotop-isotop yang aktif tidak berkontak dengan lingkungan sampai batas konsentrasi tertentu yang menyebabkan tidak timbulnya masalah.8 R per jam pada jarak 1 m dari sumber. Sifat radioaktivitasnya akan menurun dengan sendirinya sesuai dengan waktu paruhnya. atau sebesar 10 J/Kg. bagian organiknya akan teroksidasi. 1cm udara mengandung muatan 1 esu. bila kekuatan sebuah sumber serta mekanisme peluluhannya diketahui. biologis serta kimiawinya. Dikatakan telah menyerap radiasi sebesar 1 rad bila 1 gram materi -2 menyerap 100 erg enersi. sedang bagian kimiawinya akan terencerkan. mulai limbah asal (limbah'orang tua'nya) sampai hasil luluhannya (limbah 'anak-anak'nya). yang menyatakan ukuran ionisasi per kilogram. Sifat mencemari dari sebuah limbah akan ditentukan oleh karakteristik fisis. Beberapa cara memang banyak dikembangkan. terdapat kesulitan. maka jumlah partikel yang teremisikan per satuan waktu akan dapat dihitung. Sebuah sumber sebesar 1 Ci dari radium yang dilindungi dengan sebuah kumparan platinum setebal 0. menghasilkan intensitas radiasi 0. Cara yang biasa dilakukan untuk menangani limbah padat adalah membuangnya atau menyingkirkannya. Bila limbah yang mengandung pencemar mengalir ke lautan atau ke sungai.5 mm untuk mengabsorbsi setiap partikel α. Enri Damanhuri . Dengan satuan ini memungkinkan dosis radiasi dalam gas diukur langsung dengan alat elektronik tanpa harus menentukan terlebih dahulu enersi terabsorbsi. Pencemar radioaktif akan tereduksi dengan sendirinya dengan peluluhan alamiahnya. Cara yang banyak dilakukan untuk menangani limbah cair adalah penyimpanan atau pengkonsentrasian. Cara yang diterapkan sekarang sebetulnya tidaklah tuntas. yang 3 merupakan kuantitas dari radiasi X atau γ yang menghasikan ion-ion. karena hanya bersifat mengurangi konsentrasinya. komponen radioaktif dalam limbah cair dikonversi menjadi limbah padat yang tetap bersifat radioaktif dan harus tetap ditangani. maka intensitas totalnya persatuan waktu adalah merupakan penjumlahan. Bagian yang tersuspensi akan mengendap. ke dalam tanah yang dibangun khusus untuk itu. Satu rem adalah sepadan dengan penyerapan 100 erg enersi radiasi untuk satu gram jaringan tubuh. karena beberapa diantaranya terserap oleh materi radioaktif itu sendiri. Dalam mengukur ionisasi selain gas. satu-satunya pemecahan yang tuntas adalah hanya dengan memanfaatkan waktu-paruh peluluhannya.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 jadi sumber tersebut yang mempunyai aktivitas 1 Bq mengemisikan tiga partikel sekaligus per detik.

cair atau gas yang dihasilkan selama pembuatan atau penggunaan substansi radioaktif. Tabel 10. Dalam proses fisi. Karena tidak praktis untuk memprediksi kandungan radioaktif buangan padat.2 berikut menggambarkan hasil fisi bila digunakan 1 ton uranium. secara berkala dibutuhkan pengeluaran bahan bakar ini. laboratorium-laboratorium penelitian. yaitu: . Tabel 6. Dalam banyak hal. bila dapat menunjukkan bahawa tidak seorangpun menerima dosis lebih dari 10 milirem/minggu. namun tetap dianssumsi berbahaya sampai terdapat pembuktian. Radiasi ini sebagian besar berasal dari sumber alamiah seperti sinar kosmis (102 mrem/tahun). mengambil uraniumnya dan memisahkan plutonium yang juga terbentuk. Penyimpanan dan Pengkonsentrasian Limbah Cair : Limbah cair yang paling banyak dihasilkan agaknya berasal dari proses pembuatan bahan bakar nuklir.FTSL ITB Halaman 86 . pembangkit tenaga nuklir komersial sebesar 0. maka terdapat dua jenis limbah radioaktif. diagnosa medikal dari sinar-X sekitar 72 mrem/tahun.limbah tingkat rendah . uranium menghasilkan sekitar 30 radionuklisida. Oleh karenanya. Total keterpaparan radiasi di USA apada tahun 1980-an untuk segala sumber sekitar 182 mrem/tahun/orang. penelitian kesehatan.atas potensi bahayanya . Limbah tingkat tinggi sangat sedikit mengandung radioaktivitas. laju penghasil panas yang tinggi dan waktu paruh radioaktif yang panjang. Metoide pembuangan dianggap aman.atas kandungan radioaktifnya .01 mrem/tahun.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Sumber-sumber Limbah Radioaktif : Definisi buangan/limbah radioaktif dapat didasarkan atas tiga pendekatan.atas sumbernya Pendapat pertama dan kedua secara prinsip lebih baik. rhodium dan palladium 61 ----------------------------------------------------------------------------------- Enri Damanhuri . pembuangan limbha cair ke saluran riolering adalah dianggap aman bila ratarata konsentrasi radioaktivitas dalam saluran tidak lebih dari 10 -4 µc/ml. Limbah ini dicirikan dengan kemampuan penetrasi radiasi yang tinggi.3 milirem/minggu Ditinjau dari tingkat aktivitas radioaktivnya. tetapi tetap mempunyai potensi konsentrasi limbah berbahaya. Definisi limbah radioaktif adalah buangan dalam bentuk padat. tidak membutuhkan sedikit atau bahkan tidak dibutuhkan kontainer khusus.3: Hasil fisi dari pembakaran 1 ton Uranium -------------------------------------------------------------------------------------Kelompok Kimiawi Elemen Kimiawi Berat (Kg) ------------------------------------------------------------------------------------Gas jarang Kripton dan xenon 128 Alkali berat Rubidium 15 Caesium 118 Alkali tanah Strontium 42 Barium 43 Ytrium 317 Elemen ke 4 Zirconium 125 Elemen ke 5 Niobium 5 Elemen ke 6 Molybdenum 92 Tellurium 16 Elemen ke 7 Technetium 29 Iodine 7 Logam jarang Ruthenium. Sumber utama dari limbah jenis ini misalnya dari kegiatan kedokteran. Termasuk di dalamnya adalah kelompok limbah yang sebetulnya tidak begitu berbahaya. yang terakumulasi guna menurunkan tenaga reaktor melalui absorpsi netron. Berikutnya bahwa tidak sulit menarik keyakinan bahwa setelah dibuang konsentrasi tidak mengalami penurunan akibat reaksi kimiawi ataupun biologis. Oleh karenanya. Pertimbangan genetika mengharuskan bahaw rata-rata dosis radiasi yang dietreima oelh manusia secara keseluruhan adalah 1. tetapi praktisnya sulit untuk direalisis. yaitu : .limbah tingkat menengah/tinggi Limbah tingkat menengah/tinggi dihasilkan dari pemerosesan kembali bahan bakar nuklir yang mengandung seluruh produk fisi. yang lebih realistis adalah mendeteksinya berdasarkan sumbernya.

Namun hal ini kurang memuaskan hasilnya karena panas yang dikeluarkan per satuan volume relatif rendah. Kapasitasnya akan tergantung pada afinitas relatifnya. Limbah cair biasanya dinetralkan dan disimpan dalam kontainer baja kualitas baik atau dalam beton bertulang. Perlu pula adanya katup pelepas tekanan uap dan uap tersebut kemudian dikembalikan lagi ke kontainer tersebut. Media yang dikenal mempunyai kapasitas penukar ion yang tinggi adalah resin sintetis. sehingga memudahkan dalam penanganan berikutnya. melaslukan pencampuran limbah cair terkonsentrasi dengan silika dan borax dalam larutan asan nitrat. biasanya agitator udara atau sirkulasi cairan digunakan. Sebetulnya dengan sifat dapat memanaskan dirinya sendiri akan memungkinkan proses swa-evaporasi.tiba perlu diperhatikan dalam rancangan penyimpanan. Limbah yang akan diuapkan biasanya diletakkan pada kontainer baja yang divakumkan sampai mencapai volume yang belum memungkinkan terjadinya endapan. misalnya : Hg++ < Zr++++ < Li+ < H+ < Na+ < K+ < Rb+ < Cs+ < Ag+ < Mn++ < Mg++ < Cu++ < Ca++ < Sr++ < Al+++ Enri Damanhuri . maka usaha lain adalah mengkonsentrasikan limbah tersebut agar volumenya berkurang. Guna mengurangi masalah ini. namun yang mungkin adalah mengkonsentrasikan nuklisida-nuklisida tersebut dalam volume cairan yang relatif kecil. Pengolahan Limbah Cair: Seperti dibahas di muka. yaitu ion-ion dari limbah. penukaran akan terjadi bila kation pada media penukar mempunyai affinitas yang sama atau lebih kecil dari yang akan menggantikannya. Beberapa radioisotop. misalnya. sehinga membutuhkan penanganan dengan kontrol yang ketat. sebab bila tidak. Media ini relatif lebih stabil. akan menyulitkan karena jenis limbahnya yang bersifat radioaktif. Larutan tersebut kemudian terevaporasi akibat panas yang terjadi. maka beberapa metode yang digunakan adalah dengan penukar ion. adalah kemungkinan terjadinya endapan. Sumur-sumur pemantau juga diperlukan di sekitar kontainer yang ditanam dalam tanah. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam evaporator limbah jenis ini adalah agar sarana tersebut tidak membutuhkan perawatan yang terlalu rumit. Dari proses ini akan dihasilkan cairan dengan konsentrasi yang sangat tinggi yang mengandung elemen radioaktif yang harus ditangani lebih lanjut. Jadi ion. didapatkan limbah yang terbungkus secara solidifikasi. Sarana pemonitor dini terhadap kemungkinan kebocoran sangat diperlukan. Masalah yang timbul bila limbah tidak dipertahankan dalam kondisi asam. Akan terdapat dua jenis penukar ion. Alternatif lain adalah dengan regenerasi sesuai dengan ion yang terkandungnya. yaitu penukar kation dan penukar anion. Media penukar ion tersebut kemudian dapat dianggap sebagai limbah padat dan membutuhkan penanganan khsusus dalam pembuangan akhir.FTSL ITB Halaman 87 . yaitu dengan memanfaatkan media tertentu yang mempunyai sifat dapat menukarkan kation atau anionnya dengan kation dan anion lain dari limbah. yang tentu saja akan menaikkan biaya penyimpanan. misalnya dalam pembuangan atau penyingkiran akhir. Dalam proses pendinginan. Proses penukar ion adalah proses yang sudah lama dikenal. Penyimpanan limbah radioaktif dalam bentuk solidifikasi dengan glas dianggap aman dan efektif. Dibutuhkan kumparan pendingin agar panas yang dihasilkan akibat terjadinya peluluhan radioaktif dapat dikeluarkan. agar masalah bocornya limbah ini dapat segera diketahui. Disamping dengan cara penguapan. sehingga masalah timbulnya tekanan yang meninggi secara tiba.ion radioaktif tersebut ditukar dengan ion-ion yang tidak aktif yang terdapat dalam media. Mengingat bahwa bila limbah cair yang disimpan dengan cara tersebut akan membutuhkan biaya besar. misalnya dengan proses evaporasi. Bila limbah dipertahankan dalam kodisi asam. dapat digunakan terus sampai materi tersebut menjadi jenuh dan tidak dapat lagi berfungsi. akan tervolatilisasi dengan sendirinya. Media penukar ion yang mengandung sejumlah ionion yang dapat ditukar tersebut. Secara praktis. Limbah cair dengan sifat-sifat radioaktif mempunyai sifat yang secara spontan dapat mendidih dengan sendirinya karena adanya absorpsi enersi radiannya sendiri. Inggeris. proses kimiawi atau biologis. Tetapi laju pelepasan panas tersebut tidaklah teratur.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Elemen-elemen bahan bakar yang tidak teradiasi tetap mengandung bahaya radioaktif dengan tingkat aktivitas sekitar 10 sampai 15 curie/L. seperti rutheniumakan. maka kontainer baja perlu dilapis dengan bahan anti karat. sifat-sifat radioaktif tidak dapat dimusnahkan.

akan lebih mudah mengendap sehingga efisiensi penyisihannya menjadi lebih tinggi. namun ada beberapa kation atau anion radioaktif yang membutuhkan penanganan khusus. Beberapa jenis lempung.7 meq/gram. bila yang akan ditangani adalah produk fisi yang tercampur. maka Mg cenderung akan mengendap sebagai hidroksida. namun media ini mempunyai sifat-sifat penyaringan yang buruk sehingga menyulitkan dalam operasionalnya. namun cara ini cocok untuk limbah yang mempunya kadar radioaktif rendah. Alternatif lain adalah dengan penambahan lempung selama koagulasi. Ion penukar dari media ini mayoritas adalah magnesium. maka relatif sulit untuk dipisahkan dari larutannya. Walapun telah dilakukan pembubuhan kimiawi secara flokulasi. maka pH yang lebih tinggi akan menghasilkan penyisihan yang lebih tinggi pula. walaupun kemampuan dekontaminasinya relatif tidak begitu besar. Unit-unit pengendap yang biasa digunakan dalam pengolahan limbah akan menghasilkan kinerja yang sama. jenis radionuklisida yang akan dipisahkan. Dengan demikian. yaitu unit pengendap. cerium. Dalam hal ini vermiculite mempunyai kemampuan untuk itu. Cara lain aplikasi penukar ion adalah penggunaan electrolitis deionisasi. Koagulan akan menyerap ion-ion tertentu dari larutan dan membentuk partikel yang lebih besar. yaitu sekitar 30 tahun. yaitu sebagai penukar anion dan penukar kation. Keberhasilan pembentukan flok harus diikuti dengan unit operasi yang lain yang sangat menentukan. Diantara katode tersebut diletakkan membran secara bersilangan. Oleh karenanya. yang prinsipnya adalah identik dengan penyisihan air asin. karena merupakan unsur monovalensi. penambahan koagulan akan menyebabkan materi tersuspensi yang juga bersifat radioaktif. ferro dan ferri sulfat. Disamping itu. Radiostrontium merupakan isotop yang paling berbahaya sebagai penyebar emisi beta. Disamping itu. Pengolahan limbah radioaktif secara kimiawi diterapkan di banyak negara. sedang caesium-137 mempunyai waktu paruh yang pajang. sehingga media menjadi lebih cepat jenuh. Beberapa jenis flokulan yang biasa digunakan dalam teknologi pengolahan limbah seperti garam-garam aluminium. yaitu dengan merangsang terjadinya partikel flok yang mudah mengendap. yang biasanya dipisahkan melalui vermiculite. setiap media yang digunakan dalam penukar ion harus mampu menyisihkan kedua jenis isotop tersebut. Salah satunya adalah radiocaesium.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Salah satu kelemahan dari cara ini adalah bahwa media ini tidak dapat membedakan antara ion yang aktif atau ion yang tidak aktif. Walaupun dilakukan penaikan pH. seperti telah dibahas di muka. limbah lumpur yang terkonsentrasi tersebut dapat ditangani lebih lanjut. terdapat kecendrungan bahwa kation multivalensi seperti yttrium. Media alamiah lainnya adalah penggunaan vermiculite atau lignite. Dengan demikian akan terjadi sekaligus penukaran kation dan penukaran anion. dan dapat memampatkan media penukar ion tersebut. Umumnya. namun hal ini cenderung mengurangi sifat-sifat mengendap dari partikel tersebut. Pemilihan proses yang dilakukan adalah tergantung pada kinerja penyisihan yang diinginkan. terutama montmorillonite mempunyai kapasitas penukar ion sampai 1 miliekuivaalen (meq) per gram. Bila limbah dengan pH tinggi melalui media tersebut. lignite atau resin sintetis terlebih dahulu. promethium dan ruthenium akan lebih mudah terserap sehingga dapat terkonsentrasi dalam lumpurnya.koagulasi-pengendapan. Langkah berikutnya. Dua jenis isotop yang paling penting untuk dijadikan acuan adalah radiostrontium dan radiocaesium. kemudian diikuti dengan pembubuhan ferri sulfat untuk menyisihkan kelebihan barium Enri Damanhuri . adalah partikel flok dan partikel tersuspensi tersebut harus diendapkan dan tidak terbawa ke dalam efluennya kembali. Media ini mempunyai kemampuan filtrasi yang baik dibandingkan montmorillonite dan kapasitas penukar ionnya sekitar 0. Aruh searah dilalukan pada dua elektrode yang terendam. Dalam hal garam-garam besi yang digunakan. silika aktif atau sodium fosfat juga dapat diterapkan dalam limbah radioaktif ini. sehingga akan menambah efisiensi penyisihan secara keseluruhan. Barium khlorida juga dapat digunakan untuk mengendapkan ion-ion sulfat dan tellurate. Sasaran dari cara ini adalah bagaimana mengkonsentrasikan nuklisida. namun tetap dibutuhkan mekanisme lain agar sebanyak mungkin materi tersebut terpisah dari cairannya. misalnya disingkirkan ke dalam tanah dan sebagainya. Beberapa jenis media alamiah juga mempunyai kemampuan untuk berfungsi sebagai penukar ion antara lain adalah tanah lempung (clay).FTSL ITB Halaman 88 . Cara yang bisa dilakukan adalah dengan penambahan koagulan. atau densitas buangan lumpurnya menjadi lebih tingi.

FTSL ITB Halaman 89 . yaitu: a. dan dapat disisihkan dengan penggunaan garam-garam perak atau penukar anion. Cara yang banyak dilakukan adalah pembekuan. yaitu: (aktivitas per satuan berat organisme)/(aktivitas per satuan berat air) Disamping itu. Dapat saja terjadi bahwa ikan yang berada dalam sungai yang menerima efluen limbah radioaktif cair dengan konsentrasi phosphorus-32 di bawah konsentrasi maksimum yang diizinkan untuk air minum. dan biasanya yang paling efisien dalah menggunakan polimer dengan berat molekul ting gi. Dengan mengunakan filter vakum. Hal yang penting dalam proses pengendapan tersebut adalah bagaimana mendapatkan efluen yang sangat baik. sehingga sebelumnya perlu diolah secara biologis guna mencapai baku muru yang diinginkan. radioisotop tersebut akan cenderung berakumulasi pada tanaman air tersebut. Akumulasi radioaktif oleh organisme biasanya dinyatakan dengan faktor konsentrasi (FK). yaitu polyelectrolite. pada suatu saat akan mengakumulasikan radioaktif ini sampai di atas batas yang diizinkan (biomagnifikasi). fenomena lain yang dapat terjadi secara alamiah adalah penyisihan elemenelemen radioaktif oleh adsorpsi permukaan. Oleh karenanya dalam beberapa hal digunakan coagulant-aids. b. Fenomena ini juga dimanfaatkan dalam penyerapan elemen-elemen tertentu oleh tumbuhan air seperti eceng gondok guna mengurangi konsentrasi pencemar radioaktif berkadar rendah. seperti yang dilakukan di Perancis. kalsium atau strontium akan lebih tinggi terdapat di tumbuhan air dibandingkan air sekitarnya. Cara yang paling baik yang pernah dilakukan adalah dengan co-presipitasi dengan tembaga sulfida dalam suasana asam. Beberapa diantara jenis polimer tersebut mempunyai muatan negatif (anion). sehinga menaikkan proses koagulasinya. Limbah tersebut mungkin mengandung agen-agen organik kompleks. Salah satu nuklisida yang relatif suulit untuk ditangani adalah ruthenium. Langkah berikutnya adalah penanganan lumpur yang berasal dari unit pengendap yang masih mengandung kadar air tinggi (di atas 90%). polysaccharida. lumpur kimiawi yang dihasilkan dari pengolahan tersebut sebagian besar akan bersifat koloidal dan tidak mengendap secara baik serta sulit difilter dalam proses penanganan lumpur. seperti sitrat. atau bermuatan positif (kation) seperti polyvinyl pyridinium butyl bromide. Diketahui bahwa konsentrasi dari elemen-elemen yang biasa terdapat di alam seperti kalium. seperti senyawa caustic-hydrolised polyacrylamide. bebas dari substansi toksik dalam konsentrasi tertentu sehingga dapat menghambat aktivitas Enri Damanhuri . Pengolahan dengan pembekuan ini akan mengkonsentrasikan elektrolit yang ada di sekitar partikel koloidnya. sehingga penggunaan filtrasi sedapat mungkin dihindari. Unsur-unsur multivalensi seperti zirconium dan plutonium dapat direduksi dengan cara ini. mungkin mengadung komponenkomponen organik biodegradabel. akan dihasilkan cake lumpur tetapi masih mengandung air sampai sekitar 85 %. seperti senyawa sellulosa. Lumpur kering yang dihasilkan kemudian di tangani sebagai halnya limbah padat radioaktif. Pengolahan secara biologis bagi limbah radioaktif yang dikatagorikan ringan biasanya didasarkan atas satu diantara tiga pertimbangan. Seperti telah dibahas di muka. Limbah radioaktif yang akan dialirkan ke badan air. Partikel yang dihasilkan berupa granular dan dapat terendapkan serta tersaring secara baik. Organisme tertentu di alam dalam hal ini dapat menimbun radioisotop dalam tubuhnya. bila limbah yang akan diolah tidak bersifat asam atau alkalin. akan mengidentifikasikan maksimum konsentrasi isotop radioaktif yang dapat terjadi dengan cara tersebut. yang akan mengganggu dalam pengolahan isotop radioaktif secara kimiawi. Pengolahan secara biologis yang sengaja dibangun mempunyai prinsip identik dengan yang biasa digunakan dalam pengolahan limbah lain.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 dan bertindak pula sebagai koagulan. c. Penentuan analisis kimiawi dari elemen dalam organisme air dan air. misalnya oleh mikroorganisme semacam bakteria dan algae bersel tunggal. Radioiodine biasanya hadir dalam kondisi anion. anion atau dalam bentuk non-ion. Secara umum pengolahan secara biologis ini akan berfungsi baik. Sentrifugasi juga tidak memberikan pemecahan yang baik. dilirkan ke badan air dengan mengandalkan pengenceran dan dispersi. yang dapat hadir sebagai kation. Jadi bila badan air tersebut terkontaminasi dengan isotop radioaktif. Pengolahan biologis juga dapat dipertimbangkan guna merangsang tumbuhnya mikroorganisme yang berfungsi sebagai adsorben biologis. Efluen cair dari limbah radioaktif yang kadar radioaktivitasnya dikatagorikan rendah.

Dosis radiasi yang dibutuhkan agar dapat membunuh 99 % populasi bakteria dalam limbah radioaktif dapat mencapai 100. Sarana tersebut harus juga mempertimbangkan pekerjaan berat untuk operasi menaikkan dan menurunkan beban yang berat. Namun bila yang dikeluarkannya adalah radiasi beta atau gamma. Walaupun demikian. Pengolahan lumpur yang dihasilkan adalah identik dengan pengolahan limbah lain. Dalam hal limbah aktif tersebut hanya menghasilkan radiasi alfa. yang dapat dibangun lapis perlapis. Dalam hal limbah yang akan disimpan sangat aktif. misalnya dalam pasangan beton. Tinja tersebut membutuhkan waktu tunggu lebih dahulu sebelum bebas dibuang pada riolering kota yang dilengkapi dengan pengolah limbah secara terpusat. namun biayanya tiga kali lebih mahal. setelah terlebih dahulu dilapis guna mencegah tersebarnya radioaktif tersebut seperti halnya pengelolaan limbah limbah padat. sehingga praktis tidak terdapat bahaya radiasi.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 biologis. maka dibutuhkan materi lain seperti timah atau beton baryte. Pengaruh tersebut tidak terlihat secara nyata kecuali dalam tingkat aktivitas yang tinggi. Namun diperlukan perhatian agar beban sel yang diatas tidak akan langsung bertumpu pada sel limbah yang ada di bawahnya. Dalam hal ini perlu adanya kontrol bahwa supernatan yang dihasilkanya tidak mengeluarkan aktivitas radioaktif yang menganggu. filter perkolasi (trickling filter). maka perlindungan yang sangat ketat sangat dibutuhkan. Misalnya tinja dari manusia yang mengandung iodine-131 atau phophorus-32 akibat kegiatan kelinis seseorang. yang dapat berbentuk tabung-tabung yang dapat dimasukkan ke dalam bunker secara vertikal. misalnya dalam aktivitas pemantauan tingkat peluluhan yang telah terjadi. Proses anaerobik juga dapat digunakan untuk mengurangi komponen. khususnya bagi isotop dengan waktu-paruh lama.000 rad. atau dilakukan proses solidifikasi. proses lumpur aktif dan saringan pasir lambat. Dalam proses biologis. Konstruksi kontainer atau bunker tersebut dapat terbuat dari beton bertulang setebal 2 meter. supernatan tetap dialirkan kembali pada pengolahan limbah cairnya. Hal yang sudah pasti bahwa cara ini sama sekali Enri Damanhuri . hal esensial yang perlu diperhatikan adalah bagaimana agar organisme yang berfungsi tersebut tidak terpengaruh oleh radiasi. Mikroorganisme pada umumnya lebih resistan dibandingkan organisme yang lebih tinggi. limbah tersebut dapat dipindahkan dengan mudah. Penempatan secara vertikal baik untuk penyimpanan jangka panjang. Cara lain dengan memanfaatkan bekas sarana penambangan yang sudah tidak lagi berfungsi.komponen materi organik yang dikandungnya dan dikonversi menjadi gas metan. namun penempatan secara horizontal cocok untuk penyimpanan jangka pendek. Beton bertulang digunakan terutama karena alasan biaya. filtrasi atau seperti pengolahan secara kimiawi untuk limbah radioaktif yaitu pembekuan. penyimpanan dapat dilakukan dalam konstruksi batu bata saja. maka penyimpanan yang bersifat permanen akan dibutuhkan. kolam-kolam atau saluran-saluran biologis yang ditamani tumbuhan air. Menurut penelitian. dan limbah padat disimpan di sana sampai keaktifannya menjadi tidak membahayakan. Bunker beton tersebut biasanya dilapis lagi dengan logam. Dalam beberapa hal dibutuhkan penyimpanan yang bersifat sementara. Penggunaan bahan baja atau keramik dapat pula dipertimbangkan sebagai kontainer sebelum dimasukkan ke dalam bunker tersebut. Lumpur yang telah dikurangi kadar airnya dapat dibakar dalam sebuah insinerataor. plastik atau aspal. maupun secara vertikal. Beberapa pengolahan secara biologis yang telah diterapkan misalnya adalah kolamkolam oksidasi.FTSL ITB Halaman 90 . lapisan 9 dengan aspal adalah cukup baik untuk menahan radiasi sampai 10 roentgen. Bangunan tersebut dapat terdiri dari beberapa sel. seperti pengeringan pada media berbutir. Penyingkiran Limbah Padat dan Lumpur: Penanganan akhir dari limbah padat atau lumpur adalah dalam bentuk penyingkiran dalam tanah atau dalam lautan. Penyimpanan Limbah padat dan lumpur : Untuk limbah padat yang dikatagorikan menengah dan tinggi aktivitasnya. Cara lain adalah disingkirkan ke dalam tanah atau ke larutan seperti halnya penanganan limbah padat. misalnya dalam bentuk parit-parit beton bertulang. Dengan cara demikian. sedang abunya ditangani seperti limbah padat. penyingkiran dalam tanah dapat dilakukan dengan pembuatan lobang-lobang raksasa yang disiapkan dengan penuh kehati-hatian. Beton baryte dua kali lebih aman dari beton biasa.

sampai aktivitasnya menjadi sedemikian rendah dan tidak menghadirkan bahaya radioaktif lagi bila disingkirkan dalam cara-cara biasa seperti dalam landfilling. Ion-ion nitrat merupakan ion yang bergerak relatif cepat. karena terkait erat dengan pengetahuan rinci dan lengkap bukan saja sifat-sifat tanah. Ruthenium-106 adalah satusatunya radionuklisida yang teridentifikasi dalam sumur pemantau. sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi arah aliran air. namun pula lingkungannya yang dapat dikatakan jauh dari homogen. sedangkan ruthenium-106 terdeteksi pada jarak 370 meter dalam jangka waktu yang sama. Diperlukan studi yang sangat mendalam termasyuk studi tentang stratifikasi. bahwa limbah dengan tingkat aktivitas rendah. seperti lempung yang memounyai konsep identik dengan penukar ion. Hal ini akan menjadi masalah dengan meningkatnya limbah tersebut akibat penggunaan dan pengembangan industri nuklir dewasa ini. maka hal ini perlu juga mendapat perhatian. seperti lapisan timah dan sebagainya. Sarana tersebut hendaknya memenuhi dua persyaratan. Ion nitrat dideteksi pada jarak 520 meter dari sumbernya setelah 8 tahun. misalnya tahan terhadap korosi. bisa saja menjadi terkorosi setelah limbah tersebut mengalami perubahan. porositas dan sifat-sifat tanah lainnya terutama dikaitkan dengan transportasi dan penyebaran pencemar limbah berbahaya tersebut.FTSL ITB Halaman 91 .Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 bukan bertujuan untuk mengurangi keaktifan limbah tersebut tetapi sekedar menyimpan menunggu selesainya waktu paruhnya. misalnya dari limbah radioaktif rumah sakit. termasuk dengan limbah lain terutama yang bersifat penukar ion. Pengalaman yang diterapkan di Amerika. Kekhawatiran lain adalah tersebarnya limbah tersebut akibat terjadinya retakan atau terjadinya ketidak homogenan media. bagi limbah denga waktu paruh lama. Masalah kedua yang muncul adalah pemilihan jenis sarana penyimpan. Jadi konsep umum peyingkiran limbah radioaktif ini adalah. Dalam metode disperasl. Ditinjau dari sifat kimiawi limbah tersebut akan terus berubah. Cara lama yang masih diterapkan untuk limbah yang dianggap mempunyai keaktifan rendah. Kontainer atau sarana penyimpan tersebut harus bertahan sesuai kondisinya semula. Untuk itu sebelum disingkirkan. Penyimpanan dalam fase cair relatif lebih sulit dibandingakan Enri Damanhuri . Konsep penyingkiran limbah radioaktif ini bersasaran menyingkirkan limbah agar tidak akan mengganggu lingkungan sampai keaktifannya terluluhkan dengan sendirinya sampai tingkat yang diperbolehkan. diperlukan perlakuan khusus agar sifat radioaktifnya tidak menyebar keluar. yaitu kurang dari beberapa milicurie dapat dicampur dan dibuang dengan limbah lain dan ditangani sebagai limbah berbahaya biasa. sehingga sifat-sifat material penyimpan harus memperhatikan hal ini. Masalah pertama adalah waktu untuk menyimpan. yaitu dengan mengkapsulinya dengan bahan yang dikenal baik dapat menahan radiasi limbah tersebut. sifat imbah yang disimpan akan berubah sesuia dengan perubahan waktu. Adanya sifat peluluhan radioaktif akan menyebabkan ketidakstabilan dari limbah yang dihasilkan kemudian serta media yang dilaluinya. adalah menyingkirkannya dalam tanah yang sangat kedap dan dianggap mempunyai kemamppuan penukaran ion. Sarana yang dibangun dikelilingi dengan sumur-sumur pemantau yang relatif banyak (bisa mencapai lebih dari 50 sumur) dalam jarak yang berbeda. tekstur. Hal ini merupakan pertanyaan yang sulit untuk terjawab di lapangan. sedang limbah radioaktif dengan katagori menengah dan tinggi harrus disimpan secara aman sampai aktivitasnya menurun sampai tingkat dengan katagori aktivitas rendah. yang pertama harus mampu menahan radiasi jangan sampai ke luar dan yang kedua tahan terhadap penggunaan jangka panjang. Sulit memprediksi bahagiamana kestabilan sarana tersebut sampai ratusa tahun. Sebuah materi yang tahan pada limbah pada saat awal. yang bisa mencapai ratusan tahun. menunjukkan bahwa ternyata tidak terjadi bahaya radiasi di sekitarnya. Banyaknya limbah yang akan disingkirkan akan tergantung pada kapasitas penukar ion media tersebut. Oleh karena limbah radioaktif yang akan dingkirkan adalah masih berbentuk cairan. materi radioaktif dapat saja dicampur dengan materi lain. baik berbentuk padat maupun cair. Analisis laboratorium menunjukkan bahwa radionuklisida yang mengalir dalam tanah tanpa menagalami absorpsi (tidak terserap dalam penukar ion tanah) adalah ruthenium. Sarana tersebut oleh karenanya harus tetap dimonitor secara rutin. Pelaksanaan di lapangan ternyata lebh rumit terutama untuk jenis limbah menengah dan tinggi. serta seberapa baik fungsi penukar ion tersebut.

Pembuangan ke lautan dalam dianggap salah satu penyingkiran yang paling aman bila dilakukan secara baik. perlu diperhatikan bahwa limbah tersebut harus aman di tempatnya dalam jangka waktu yang lama.tidak mudah rusak atau pecah sebelum dan setelah disingkirkan. Pembungkusan terlebih dahulu limbah diperlukan sebelum disingkirkan ke dalam tanah terutama bagi limbah dengan katagopri tingkat keaktifannya tinggi. Dalam aplikasi di Inggeris. ikan. Penyingkiran limbah ke dalam tanah hanya cocok bagi limbah dengan aktivitas rendah. Masalah yang sangat diperhatikan kemungkinan terbawanya limbah tersebut akibat air eksternal. daun. Enri Damanhuri . dan total aktivitas untuk setiap pembebanan adalah lebih kecil dari 10 µCi. Cara ini merupakan cara yang terakhir karena praktis tidak mungkin lagi diambil bila terjadi sesuatu. dengan volume tidak lebih dari 0.FTSL ITB Halaman 92 . daerah sekitarnya kemungkinan akan menjadi steril untuk selamanya. Buangan padat dapat diinsinerasi. Dalam hal ini terdapat dua kemungkinan penanganan limbah sebelum disingkirkan. bila terbukti pengencernya bukanlah limbah yang dikatagorikan aktif. sifat cair akan memungkinkan mengalir ke tempat lain akan lebih leluasa dibandingkan bagian padat bila terjadi kebocoran dalam kontainer. Oleh karenanya. Cara ini menghilangkan keberatan-keberatan yang ada dengan cara lain. Salah satu masalah yang mungkin timbul adalah kemampuan ikan atau organisme laut lainnya dalam mengkonsentrasikan limbah radioaktif ini dalam fenomena biomagnifikasi.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 penyimpanan dalam fase padat. Cara lain yang digunakan adalah penyingkiran dalam bekas tambang. c. b. Hal yang kedua. dengan syarat bahwa aktivitas limbah yang akan dibakar tersebut tidak lebih dari 30 µCi per harinya. tanah. Dalam jangka waktu tertentu. Monitoring dibutuhkan bukan saja terhadap air tanah memalui sumur-sumur pemantau. Kontainer yang digunakan untuk menyingkirkan jenis limbah ini harus mempunyai kriteria: . misalnya karena kegiatan binatang seperti tikus dan sebagainya. Buangan padat dapat disimpan/disingkirkan dalam landfill buangan berbahaya biasa bila ternyata seluruh komponen di dalamnya mempunyai aktivitas lebih kecil dari 1 µCi. Bila sistem tidak dihubungkan dengan riolering kota. seperti penguburan dalam tanah atau dalam bekas tambang. Pembungkusan dilakukan seperti dalam penyimpanan. Limbah cair dapat dicampur dengan limbah sistem riolering perkotaan yang ada (menuju pengolahan limbah terpusat). sehingga kemungkinan terjadinya korosi akan lebih besar.bebas dari ruang-ruang yang kosong sehingga limbah tidak mudah keluar bila terjadi kebocoran. Solidifikasi akan merupakan salah satu jawaban dalam usaha-usaha menanggulangi hal ini. reptil. Untuk menjamin pengenceran yang cukup. yaitu dalam bentuk paking dalam kontainer baja atau pasangan beton. walaupun proses korosif berjalan lambat. . maka tidak diperkenankan lebih dari 10 mCi selama 4 minggu secara terus menerus. Elemen-elemen radioaktif tersebut biasanya terkonsentrasi di tulang yang prakktis tidak dikonsumsi oleh manusia. seperti dari kegiatan rumah sakit. insek dan sebagainya. yaitu limbah tersebut langsung dibuang/didingkirkan atau limbah tersebut 'dibungkus' terlebih dahulu. batasan yang digunakan adalah jumlah limbah yang ditanam maksimum nuklisida adalah adalah 100 mikrocurie/bulan bagi limbah dengan waktu-paruh lebih dari 1 tahun dan 1 milicurie/bulan untuk limbah dengan waktu-paruh kurang darui 1 tahun. persoialan yang dihasapi oleh limbah radioaktif dengan tingkat yang menengah dan tinggi adalah bagaimana memecahkan masalah tersebut. Kedalaman penananaman sedemikiaian rupa sehingga tidak mengganggu pertumbuhan di sekitarnya. Oleh karenanya. penelitian bila aktivitasnya adalah: a. Disamping itu. serta masalah jangka panjang untuk mendapatkan area yang cukup dan cocok untuk itu. namun pula terhadap benda-beda di sekitarnya: binatang.1 m3. maka batasan tersebut menjadi 2 mCi. 3 jenis cara penyingkiran untuk limbah radioaktif yang tergolong rendah. Limbah radioaktif yang langsung ditanam dalam tanah harus diulindungi terhadap kemungkinan muncul ke permukaan. Lubang-lubang tambang yang digunakan dipilih ketat yaitu yang tidak mempunyai hubunganb dengan daerah sekitarnya. Pertama karena sifat cair akan lebih intik kontak dengan media sekitarnya. sedang abunya yang akan ditangani adalah sesuai dengan butir (a) di atas.

Porteus (Editor): Hazardous Waste Management Handbook. presipitator elektrostatis. Prentice Hall. Wiley & Sons Inc. maka tidaka akan timbul masalah radiasi. 1991 Enri Damanhuri .A.2 gram/cm . Referensi Utama: . Addison-Wesley Publishing Company. scrubber. yaitu abu atau gas yang keluar dari cerobong akan tetap bersifat radioaktif.Nelson L. Abu yabng terkumpulkan kemudian ditangai seperti halnya limbah padat radioaktif. Produk akhir yang dikeluarkan. Insinerasi limbah combustibel tidak diterapkan secara luas. Masalah utama yang muncul adalah gas yang dikeluarkan yang dapat menyebar secara luas.Gilbert M. mempunyai betuk dan ukuran yang mudah untuk ditangani 3 Drum-drum baja merupakan kontainer yang paling sering digunakan.C. Suatu pengukuran yang dilakukan adalah bila rata.rata tingkat radiasi di permukaan kontainer adalah tidak lebih dari 20 milirad per jam.FTSL ITB Halaman 93 . Collins (Editor): Radioactive Wastes. 1985 . Butterworth.J. 1960 . dapat digunakan untuk menangkap partikulat yang terbentuk. Peralatan pencegahan pencemaran udara seperti filter. pengendap dan sebagainya. Nemerow: Industrial Water Pollution. kadangkala dilapis dengan lapisan beton sesuai dengan karakteri atau tingka keaktifan limbahnya. Englewood Cliffs. Masters: Introduction to Environmental Engineering and Science.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 - mempunyai densitas paling tidak 1. 1978 .

air dan tanah. Rumah sakit dengan aktifitasnya: o Rumah sakit umum o Rumah sakit khusus o Sanotarium o Aktifitas spesifik dalam sebuah rumah sakit misalnya : paediatric. o Penggunaan ventilasi yang baik sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan kerja. terutama bila dilairkan melalui sistem rioreling. Limbah yang bersifat umum atau limbah infectious yang telah ditangani secara baik dapat dibuang pada landfill kota dengan syarat-syarat khusus disertai pengawasannya. Penggilingan limbah sisa makanan banyak diterapkan di negara undustri untuk kemudian dimasukkan dalam system saluran air (riolering) limbah kota. Pada dasarnya limbah yang dihasilkan harus dipisahkan atau dikonsentrasikan di institusi itu sendiri untuk memudahkan penggolongannya. dan bila mungkin dilakukan daur-ulang sehingga tidak masuk dalam penanganan limbah kota. tetapi pengoperasian yang tidak baik akan mendatangkan masalah pencemaran udara. psychiatric. misalnya mereka yang terikat kontrak kerja seperti tukang cuci.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 BAGIAN VII LIMBAH MEDIS DAN RUMAH TANGGA 1 LIMBAH MEDIS Terdapat tiga katagori orang yang dapat terpapar dengan limbah berbahaya dari rumah sakit. oncolagy. Penggunaan insinerator untuk limbah rumah sakit kelompok biomedis banyak diterapkan. c. yaitu: o Pasien dan personel dari rumah sakit o Personel yang memberikan pelayanan. orthopaedic. o Penggunaan pewadahan tertutup untuk bahan-bahan yang bersifat volatil. mata dan telinga. perhatian hendaknya diberikan pada kemungkinan pengaruh resiko tersebut terhadap masyarakat luar. Tinja dan urin dari pasien yang diisolasi karena penyakit menular perlu didisinfektan terlebih dahulu sebelum digabung dengan sistem riolering. terbakar. Asrama dan sejenis: Enri Damanhuri . o Penggunaan wadah dengan warna yang berbeda untuk setiap jenis limbah. tukang sampah dan sebagainya o Pasien rawat jalan seperti yang sedang menjalani dialisis darah o Pengunjung Untuk mengurangi resiko kesehatan sehubungan dengan limbah rumah sakit ini. sarung tangan). maka dibutuhkan program kesehatan kerja yang mencakup: o Penggunaan bahan yang aman atau bahan yang lebih tidak berbahaya. seperti resiko pencemaran udara.FTSL ITB Halaman 94 . Bahan kimia dari institusi kesehatan akan merupakan sumber pencemaran yang potensial. o Pemantauan rutin terutama terhadap aktivitas yang beresiko tinggi. Sebetulnya cara ini tidak disarankan karena akan mendatangkan masalah pada pengolah limbah kota. Klinik: o Ruang dokter dan perawat o Pusat dialysis o Pusat penanganan kecanduan alcohol o Pusat penanganan kecanduan obat bius o Klinik bersalin o Klinik thrombosis. Namun penggunaan disinfektan harus diminimalkan bila terdapat alternatif lain. rehabilitasi. Jenis perawatan/aktivitas kesehatan yang dapat menghasilkan limbah adalah : a. o Penggunaan analisis epidemiologis untuk menentukan apakah kelompok atau sub kelompok tertentu akan mengalami resiko berlebihan terhadap penyakit tertentu. penyakit-penyakit pernafasan b. Disamping itu. o Penggunaan alat pelindung (masker.

24 Penelitian yang dilakukan di RSHS Bandung oleh Jurusan Teknik Lingkungan ITB (1993) memberikan angka rata-rata sebesar 2. haemathology.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 o Perawat o Rumah jompo o Rumah sakit jiwa d. darah dan cairan tubuh o Limbah radioaktif: dapat berfase padat. dilanjutkan dengan sifat-sifat spesifik seperti genotoxic (carcinogenic. o Limbah berpotensi menular (infectious). Diskripsi umum tentang katagori utama limbah rumah sakit adalah: o Limbah umum: sejenis limbah domestik. o Benda-benda tajam.12 Kg/bed/hari. misalnya obat-obatan cytotoxic. bagian tubuh.2 sampai 6. yaitu (Kg/bed/hari): o Sepanyol : 1. Kegiatan-kegiatan penunjang: o Bank darah o Apotik o Pusat pelatihan medis o Ruang mayat o Ruang steril o Ruang cuci pakaian o Ruang teknis o Laboratorium : klinis. yaitu: o Limbah umum. di bawah ini diberikan beberapa angka [21]. Seluruh jenis limbah ini dapat mengandung limbah berpotensi infeksi. o Limbah berpotensi menularkan penyakit (infectious): mengandung mikroorganisme patogen yang dilihat dari konsentrasi dan kuantitasnya bila terpapar dengan manusia akan dapat Enri Damanhuri . atau tidak dioperasikan sesuai dengan kriteria. teratogenic dan lain-lain). cair maupun gas yang terkontaminasi dengan radionuklisida. o Limbah radioaktif. plasenta. maupun dihasilkan dari prosedur therapetis o Limbah kimiawi: dapat berupa padatan. penelitian.3 o Belanda : 1. garam-garam organik lainnya. o Limbah patologis (jaringan tubuh). mudah terbakar (flammable). limbah kimiawi yang tidak berbahaya adalah seperti gula. Sebagai gambaran. pathology. kimiawi. Kadangkala. Limbah rumah sakit merupakan campuran yang heterogen sifat-sifatnya.4 o Inggeris : 0. pembersihan / pemeliharaan atau prosedur desinfeksi. Pertimbangan terhadap limbah ini adalah seperti limbah berbahaya yang lain.asam animo. cairan maupun gas misalnya berasal dari pekerjaan diagnostik atau penelitian. limbah dari cuci serta materi lain yang tidak membutuhkan penanganan spesial atau tidak membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan o Limbah patologis: terdiri dari jaringan-jaringan.2 sampai 4. dan shock sensitive).FTSL ITB Halaman 95 .0 o USA : 4. korosif. yaitu dapat ditinjau dari sudut: toksik. dan dihasilkan dari analisis in-vitro terhadap jaringan tubuh dan cairan. o Limbah kimiawi.25 sampai 3.1 sampai 5. reaktif terhadap air. o Kontainer dalam tekanan. reaktif (eksplosif. bahan pengemas. o Limbah citotoksik. o Limbah farmasi. limbah residu insinerasi dapat dikagorikan sebagai limbah berbahaya bila insinerator sebuah rumah sakit tidak sesuai dengan kriteria. mutagenic. makanan binatang noninfectious. termasuk untuk hewan maupun genetis. asam. atau analisis in-vivo terhadap organ tubuh dalam pelacakan atau lokalisasi tumor. Timbulan limbah dari kegiatan rumah sakit bervariasi dari satu institusi ke institusi sesuai dengan besarnya aktivitas. Limbah dari pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dapat diklasifikasikan dalam beberapa katagori utama. bangkai binatang. organ.

Untuk limbah yang bersifat umum. organ. namun higienis dan tidak membahayakan lingkungan. tetapi tidak termasuk gigi. Limbah darah dan cairan manusia atau bahan/peralatan yang terkontaminasi dengannya. Sasaran pengelolaan limbah rumah sakit adalah bagaimana menangani limbah berbahaya. Limbah ini biasanya hanya 10 . atau telah tertumpah. sedang bahan-bahan tajam yang terinfeksi diperlakukan sebagai limbah berbahaya. vaksin. gunting kuku dan sebagainya yang dapat menyebabkan orang tertusuk (luka) dan terjadi infeksi. serbet. Kontainer-kontainer dibawah tekanan (aerosol dan sebagainya) tidak boleh dimasukkan ke dalam insinerator. sarung tangan dan sebagainya) atau materi yang berkontak dengan binatang yang sedang diinokulasi dengan penyakit menular atau sedang menderita penyakit menular Benda-benda tajam yang biasa digunakan dalam kegiatan rumah sakit: jarum suntik. penanganannya adalah identik dengan limbah kota yang lain.FTSL ITB Halaman 96 . darah.bahan tersebut. digunakan pemisahan dengan kantong-kantong yang spesifik (biasanya dengan warna yang berbeda atau dengan pemberian label). Limbah yang harus dipisahkan dari yang lain adalah limbah patologis dan infektious. dan sebagainya. filter. atau dari pasien yang diisolasi. Jenis dari limbah ini secara spesifik adalah: o Limbah human anatomical: jaringan tubuh manusia. maka yang membutuhkan sangat perhatian khusus adalah limbah yang dapat menyebabkan penyakit menular (infectious waste) atau limbah biomedis. gaun. sedang yang terinfeksi harus diperlakukan sebagai limbah berbahaya. Beberapa contoh warna yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI adalah: o Kantong warna hitam: limbah sejenis rumah tangga biasa o Kantong warna kuning: semua jenis limbah yang harus masuk insinerator o Kantong warna kuning strip hitam: limbah yang sebaiknya ke insinerator. menyingkirkan dan memusnahkannya seekonomis mungkin. pacahan kaca dan sebagainya. bagian-bagian tubuh.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 o o o o menimbulkan penyakit. Bahan-bahan tajam yang terinfeksi harus dibungkus secara baik serta tidak akan mencelakakan pekerja yang menangani dan dapat dibuang seperti limbah umum. Limbah infectious beresiko tinggi perlu ditangani terlebih dahulu dalam autoclave sebelum menuju pengolahan selanjutnya atau sebelum disingkirkan di landfill. Benda-benda ini mungkin terkontaminasi oleh darah.15 % dari seluruh volume limbah kegiatan pelayanan kesehatan. kaca pecah. bagian terkontaminasi dengan darah. gunting. rambut dan muka o Limbah tubuh hewan: jaringan-jaringan tubuh . Tidak termasuk dalam katagori ini adalah urin dan tinja. organ. stok hewan atau mikroorganisme. o Limbah-limbah benda tajam seperti jarum suntik. Limbah darah yang tidak terinfeksi dapat dimasukkan ke dalam saluran limbah kota dan dibilas dengan air. pisau. bangkai. d. tetapi tidak termasuk gigi. atau materi yang berkontak dengan pasien yang menjalani haemodialisis (tabung. dari ruang bedah atau dari autopsi pasien yang mempunyai penyakit menular . syring. Daur ulang sedapat mungkin diterapkan pada setiap kesempatan. Untuk memudahkan pengenalan berbagai jenis limbah yang akan dibuang. daluwarsa atau terkontaminasi atau harus dibuang karena sudah tidak digunakan lagi Limbah citotoksik: bahan yang terkontaminasi atau mungkin terkontaminasi dengan obat citotoksik selama peracikan. Dari sekian banyak jenis limbah klinis tersebut. tabung yang mengandung gas dan aerosol yang dapat meledak bila diinsinerasi atau bila mengalami kerusakan karena kecelakaan (tertusuk dan sebagainya). pengangkutan atau tindakan terapi citotoksik Kontainer di bawah tekanan: seperti yang digunakan untuk peragaan atau pengajaran. o Limbah laboratorium mikrobiologi: jaringan tubuh. kuku. namun bisa pula dibuang ke landfill bila dilakukan pengumpulan terpisah dan pengaturan pembuangan o Kantong warna biru muda atau transparans strip biru tua : limbah yang harus masuk ke autoclave sebelum ditangani lebih lanjut. bulu. cairan tubuh. Limbah yang telah dipisahkan dimasukkan kantong-kantong yang kuat (dari pengaruh luar ataupun dari limbahnya sendiri) dan tahan air atau dimasukkan dalam kontainer-kontainer Enri Damanhuri . bahan mikrobiologi atau bahan citotoksik Limbah farmasi (obat-obatan): produk-produk kefarmasian. atau bahan atau peralatan laboratorium yang berkontak dengan bahan. obat-obatan dan bahan kimiawi yang dikembalikan dari ruangan pasien isolasi. gunting. Katagori yang termasuk limbah ini antara lain jaringan dan stok dari agen-agen infeksi dari kegiatan laboratorium.

limbah biasanya diangkut dari titik penyimpanan awal manuju area penampungan atau menuju titik lokasi insinerator. K. Limbah berbahaya dari rumah sakit yang akan diangkut. misalnya melalui sebuah insinerator. vinylidene chloride. Limbah radioaktif juga harus mempunyai tanda-tanda yang standar dan disimpan untuk menunggu masa aktifnya terlampaui sebelum dikatagorikan limbah biasa atau limbah berbahaya lainnya. oksidaoksida (B. chlorotrifluoroethylene. garam-garam picrat. NH4). gula dan sebagainya o kelompok kimia anorganik: bikarbonat (Na. Aturan yang berlaku bagi limbah kimiawi dari rumah sakit ini adalah identik dengan penangan limbah kimiawi dari sumber industri. Karbonat (Na. phosphor (merah dan putih). kantong tersebut diberi label atau simbol yang sesuai. perchloric acid. dioxane. iodida (Na. bromida (Na. Na. o 12 bulan: acrylonitrile. K. tanda-tanda dan tata caranya. Ca). tetrahydronaphtalene. K). Ca dan NH4). lactic dan garamgaramnya (Na. cyclohexane. Mg. Mg. o 24 bulan: acetat. phosphorus oxychloride. flourida (Ca). Limbah reaktif yang berasal dari rumah sakit adalah senyawa-senyawa seperti: o Shock sensitive: senyawa-senyawa diazo. Fe. o Water reactive: logam-logam alkali dan alkali tanah. dan Na. logam halida dari Al. K. dicyclopentadiene. vinyl chloride. Ca dan NH4). K. Mg Ca. thionyl chloride. Secara internal.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 logam. methyl acethylene. karena limbah jenis ini kadangkala toksik dan flammable. K). Su dan Ti. namun cara ini tidak boleh digunakan untuk limbah patologis dan infectious. K. Sb. Li. Limbah yang akan diangkut ke luar. Bagi limbah kimiawi yang tergolong tidak berbahaya. Seluruh bahan kimia peroksida di atas harus diberi tanggal begitu digunakan dan penyimpanannya (setelah dibuka) terbatas dengan lama penyimpanan maksimum: o 3 bulan: diethyl ether. Mg. borat (Na. K). dan diisi secukupnya agar dapat ditutup degan mudah dan rapat. garam-garam perchlorat. asam citris dan garam-garamnya (Na. Alat angkutan atau sarana pembawa tersebut harus dicuci secara rutin dan hanya digunakan untuk membawa lim bah.larutan boron trifluorida. nitro cellulose. reagen Grignard. Kontainer harus ditutup dengan baik sebelum diangkut. misalnya jenis kontainer. larutan. decahydronaphthalene. vinyl ether. K. Ca). sehingga tidak boleh dibuang melalui sistem riolering. diatur seperti halnya aturanaturan yang berlaku pada limbah berbahaya lain. hidrida dari Al. butadiene. Di rumah sakit modern. Mg. maka kantong-kantong itu harus bisa ditembus oleh uap sehingga sterilisasi dapat berlangsung sempurna. Mobilitas dan transportasi limbah baik internal maupun eksternal hendaknya dipertimbangkan sebagai bagian menyeluruh dari sistem pengelolaaan dari institusi tersebut. Namun kontainer maupun kantong-kantong yang digunakan harus jelas tertulis atau tertandai sebagai limbah tidak berbahaya. maka bila memungkinkan untuk didaur ulang. As. diethylene glycol dimethil ether (diglyme). Contoh limbah kimiawi yang tidak tergolong berbahaya adalah: o kelompok kimia organik: asetat (Ca. reagen alkyl lithium. misalnya oleh Dinas Kebersihan setempat. NH4. Ca. transportasi limbah ini bisa menggunakan cara pneumatis dengan perpipaan. Ca). Mg. polynitroaromatic. o Bahan reaktif lain: asam nitrit diatas 70%. B. S. P. harus tidak mengandung resiko terhadap kesehatan pengangkut tersebut. bahan kimia peroksida. isoprophyl ether. Limbah kimiawi berbahaya yang tidak dapat didaur-ulang segera dipisahkan sesuai dengan jenisnya dan pengolahannya.K). Mg. metal azide. sulfuryl chloride. Kantong-kantong yang digunakan dibedakan dengan warna yang seragam dan jelas. Disamping warna yang seragam. phosphorus pentoxide. Si. sulfat (Na.FTSL ITB Halaman 97 . Bila digunakan kantong dan terlebih dahulu harus masuk autoclave. sodium amide. tetrahydrofuran. etylene glycol dimethyl ether (glyme). diacetylene. Secara umum jenis pengolahan limbah rumah sakit adalah : Enri Damanhuri . K. Ca). asam picric. khlorida (Na. maka limbah ini dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam kontainer untuk ditangani seperti limbah biasa. asam-asam amino dan garamgaramnya.

penanganannya adalah identik dengan limbah lainnya yang tidak termasuk katagori berbahaya o Konsep penanganan limbah kimia yang berbahaya adalah identik dengan penjelasan sebelumnya yang terdapat dalam diktat ini tentang limbah berbahaya o Beberapa kemungkinan daur-ulang limbah kimiawi berbahaya misalnya : – Solven semacam toluene. limbah jenis ini dilarang untuk diinsinerasi karena akan menghasilkan gas toksik – Larutan-larutan pemerosesan dari radioaktif yang banyak mengandung silver dapat direklamasi secara elektrostatis – Batere-batere bekas dikumpulkan sesuai jenisnya untuk didaur-ulang seperti : merkuri. baik secara on-site maupun off-site. acetone dan alkohol lainnya yang dapat diredistilasi – Solven organik lainnya yang tidak toksik atau tidak mengeluarkan produk toksik bila dibakar dapat digunakan sebagai bahan bakar – Asam-asam khromik dapat digunakan untuk membersihkan peralatan gelas di laboratorium. sedang residunya yang mungkin mengandung logam-logam berbahaya dibuang ke landfill yang sesusai.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 a.merkuri dari termometer. Enri Damanhuri . Limbah berpotensi menularkan penyakit (infectious): Memerlukan sterilisasi terlebih dahulu atau langsung ditangani pada insinerator . Limbah umum: o Tidak diperlukan pengolahan khusus. xylene. sebelum dibakar dalam insinerator g. Benda-benda tajam: Dikemas dalam kemasan yang dapat melindungi petugas dari bahaya tertusuk. misalnya: disinfektan. manometer dan sebagainya dikumpulkan untuk didaur-ulang . solven berhalogen membutuhkan penanganan khusus dan solven non. f. limbah jenis ini tidak di autoclave karena disamping tidak mengurangi toksiknya juga dapat berbahaya bagi operator o Beberapa jenis limbah kimia berbahaya juga dihasilkan dari bagian pelayanan alat-alat kesehatan. Kontainer-kontainer di bawah tekanan: di landfilling atau didaur-ulang.FTSL ITB Halaman 98 . oli dari trafo dan kapasitor atau dari mikroskop yang mengandung PCB dan sebagainya. untuk kemudian disingkirkan sebagai limbah non-radioaktif biasa d. o Solven yang tidak diredistilasi harus dipisahkan antara solven yang berhalogen dan nonhalogen. kantong-kantong yang digunakan untuk membungkus limbah juga harus diinsinerasi. Limbah radioaktif: o Bahan radioaktif yang digunakan dalam kegiatan kesehatan/medis ini biasanya tergolong mempunyai daya radioaktivitas level rendah. autoclave tidak dibutuhkan bila limbah tersebut telah diwadahi dan ditangani secara baik sebelum diinsinerasi. b. kadmium.halogen dapat dibakar pada on-site insinerator o Limbah cytotoxic dan obat-obatan genotoxic atau limbah yang terkontaminasi harus dipisahkan. dan dapat disatukan dengan limbah domestik o Seluruh makanan yang telah meninggalkan dapur pada prinsipnya adalah limbah bila tidak dikonsumsi dan sisa makanan dari bagian penyakit menular perlu di autoclave dulu sebelum dibuang ke landfill. c. Limbah patologis: o Pengolahan yang dilakukan adalah dengan sterilisasi. h. dikemas dan diberi tanda serta dibakar pada insinerator. nikel dan timbal o Insinerator merupakan sarana yang paling sering digunakan dalam menangani limbah jenis ini. sedangkan yang tidak dipakai lagi ditangani secara khusus misalnya diinsinerasi atau di landfilling atau dikembalikan ke pemasok. Limbah farmasi: obat-obatan yang tidak digunakan dikembalikan pada apotik. Limbah kimia: o Bagi limbah kimia yang tidak berbahaya. insinerasi dilanjutkan dengan landfilling o Insinerasi merupakan metode yang sangat dianjurkan. atau didaur-ulang untuk mendapatkan khromnya – Limbah logam . sehingga perlu ditangani sesuai jenisnya e. yaitu di bawah 1 megabecquerel (MBq) o Limbah radioaktif dari rumah sakit dapat dikatakan tidak mengandung bahaya yang signifikan bila ditangani secara baik o Penangan limbah dapat dilakukan di dalam area rumah sakit itu sendiri. dan umumnya disimpan untuk menunggu waktu paruhnya telah habis. insinerator tersebut harus dilengkapi dengan sarana pencegah pencemaran udara.

yang dampaknya disamping akan menghasilkan residu yang terbuang pada badan penerima alamiah. seperti : parfum. oli mobil.0 16. iritasi mata atau kulit. seperti kesulitan bernafas. Bahanbahan tersebut digunakan dalam hampir seluruh kegiatan di rumah tangga. termasuk pula bekas pewadahannya seperti bekas cat. tanung bekas pewangi ruangan. penggunaan bahan berbahaya agaknya juga sulit dihindari. batere. pada kemasan bahan-bahan tersebut biasanya tertera aturan penyimpanan. tidak terlepas dari penggunaan bahan berbahaya. cat dan solven pengencer. obat-obatan. pembunuh kecoa − di kamar tidur. Efek pada kesehatan manusia yang paling ringan umumnya akan terasa langsung karena bersifat akut. alkohol.4 30. namun dapat pula masih tersisa pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari seperti dalam sayur mayur dan buah-buahan.1: Limbah berbahaya dari rumah tangga Komponen Penggunaan untuk pembersih Penggunaan untuk perawatan badan Produk untuk otomotif Cat dan sejenisnya Penggunaan rumah tangga lain Persen 40. air freshener. soda kaustik. obat-obatan. seperti : pembersih saluran air. seperti : pestisida dan insektisida.1 7. seperti tertera dalam Tabel 7. Pada dasarnya bahan berbahaya tidak akan menimbulkan bahaya jika pemakaian. hairspray. pembunuh nyamuk − di ruang keluarga. penyimpanan dan pengelolaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kegiatan agrowisata. kosmetik. Tabel 7. seperti : cairan setelah mencukur.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 2 LIMBAH BERBAHAYA DARI RUMAH TANGGA Bahan sehari-hari yang digunakan di rumah tangga dewasa ini. misalnya tidak terpapar pada temperatur atau diletakkan agar tidak terjangkau oleh anak-anak. kaporit atau desinfektan. korosif − pembersih saluran air : korosif − pengkilap mebel : mudah terbakar − pembersih kaca : Korosif (iritasi) − pembersih oven : korosif − semir sepatu : mudah terbakar − pengkilap logam (perak) : mudah terbakar Enri Damanhuri . aki bekas Di lingkungan pedesaan serta di lingkungan yang mungkin terlihat asri.5 6. pupuk.0 Contoh di bawah ini lebih lanjut menggambarkan karakteristik bahaya dari bahan yang biasa digunakan di rumah tangga tersebut di atas : a. pembersih toilet. cairan pmbersih. seperti : korek api. − di garasi/taman. perekat. spiritus / alkohol − di kamar mandi dan cuci. Oleh karenanya. kamfer. Pencampuran dua atau lebih dapat pula menimbulkan masalah. Bila bahan tersebut tidak lagi digunakan. seperti penggunaan biosida dalam kegiatan pertanian. yang kemungkinan besar tetap berkategori berbahaya. minyak tanah. shampo anti ketombe.FTSL ITB Halaman 99 . lamban.1 di bawah ini. yaitu : − di dapur. asam cuka. khususnya di kota. Produk pembersih: − bubuk penggosok abrasif : korosif − pembersih mengandung senyawa amunium dan turunannya : korosif − pengelantang : toksik. gas elpiji. semir. seperti adanya lapangan golf dan sebagainya menambah intesifnya penggunaan bahan biosida yang umumnya resistan dan bersifat biokumulasi serta mendatangkan dampak negatif dalam jangka panjang bagi manusia yang terpaparnya. maka bahan tersebut akan menjadi limbah. Survai yang dilakukan di Amerika Serikat menggambarkan porsi limbah pada sampah kota yang berasal dari bahan yang biasa digunakan di rumah di Amerika Serikat. kepala pusing.

seperti dari usaha benatu (laundry dan dry cleaning). Di bebarapa negara bagian di Amerika Serikat. mudah terbakar − minyak wangi : mudah terbakar − kosmetika : toksik − obat-obatan : toksik c. Produk rumah tangga lain : − cat : mudah terbakar. atau dari kegiatan industri lainnya. mudah terbakar b. mudah meledak Bahan tersebut dapat pula menimbulkan bahaya lain bila bercampur satu dengan yang lain. Selain berasal dari pemukiman penduduk. mudah terbakar − herbisida. toksik − pelarut / tiner : mudah terbakar − baterei : korosif dan toksik − khlorin kolam renang : korosif dan toksik − biosida anti insek : toksik. sisa tinta dari usaha percetakan/foto-kopi. Perawatan badan: − shampo (anti ketombe) : toksik − penghilang cat kuku : toksik. Dengan aturan tersebut. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain adalah : Enri Damanhuri . dibolehkan membuang limbah jenis tersebut ke dalam sistem penyaluran limbah kota. oli bekas dari bengkel dan sebagainya. Namun adanya bahan tersebut dalam sistem pengolahan limbah kota dapat menimbulkan terganggunya proses pengolahan yang ada.40 % sampah pemukiman yang dibuang ke lahan-urug kota termasuk kategori limbah B3. toksik d. nilai ini akan lebih tinggi mengingat bahwa yang masuk ke landfill bukan saja dari rumah tangga. minyak tanah : mudah terbakar.35-0. seperti timbulnya : o Gas toksik: bila pembersih mengandung senyawa amonia bercampur dengan pengelantang mengandung khlor o Ledakan: bila tabung sisa bahan yang digunakan secara penyemprotan terbakar di bak sampah Hasil studi di Amerika Serikat oleh USEPA menyimpulkan bahwa 0. Di Amerika Serikat dikenal konsep small-quantity generator. yang membatasi jumlah limbah minimum perbulan yang terkena aturan pengelolaan limbah B3.FTSL ITB Halaman 100 . pupuk : toksik − aerosol : mudah terbakar. limbah berkatagori sampah kota yang berbahaya dapat pula berasal dari kegiatan komersial atau perkantoran. Produk otomotif : − cairan anti beku : toksik − oli : mudah terbakar − aki mobil : korosif − bensin.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 − penghilang bintik noda : mudah terbakar − pembersih toilet dan lantai: korosif − pembersih karpet/kain : korosif. yaitu minimasi dan daur ulang limbah. penghasil limbah misalnya dari rumah tangga dapat membuang limbahnya bersama sampah kota bila jumlah per bulannya tidak melebihi nilai tersebut. tetapi dapat berasal dari kegiatan medis. atau terlepasanya logam-logam berat toksik akibat terpapar dengan temperatur tinggi − Terganggunya proses biodegradasi sistem pengolahan air limbah atau pengolahan di landfilling − Terganggunya produk kompos bila bila tidak dilakukan pemilahan terlebih dahulu Penanganan limbah berbahaya di rumah tangga sebetulnya mempunyai pendekatan yang sama dengan industri. Di Indonesia agaknya bila didasarkan atas porsi limbah yang masuk ke landfill. misalnya : − Bila dibakar dalam insinerator. akan menghasilkan ledakan yang membahayakan akibat tabung pewadah. termasuk limbah patologis. Limbah ini akan masuk ke dalam sistim pengelolaan sampah kota.

atau mungkin saja masih bernilai untuk dijual Penanganan limbah atau wadah yang akan dibuang secara baik sesuai petunjuk yang diberikan Enri Damanhuri . walapun dengan membeli lebih banyak diperoleh biaya persatuannya yang lebih murah Penggunaan produk yang biodegradabel atau terdaur-ulang Pemanfaatan kembali limbah yang terbentuk. aturan penggunaan. diberikan kepada yang membutuhkan. baik untuk digunakan sendiri.FTSL ITB Halaman 101 . disertai pengetahuan tentang seberapa lama suatu produk habis digunakan. ditukarkan dengan produk lain. dan apakah telah digunakan semestinya Pembelian yang sesuai kebutuhan. penyimpanan dan cara pembuangan limbah atau wadah bekasnya Penggunaan produk sesuai kebutuhan.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 − − − − − − Pemilihan produk yang disertai penjelasan lengkap tentang komponen bahan yang digunakan.

1992 Brunner. P. Robert Laffont. Bass.Y.Garut. : Environmental protection.waste wanagement paper no. 2. Publishing Co. : Almanach cousteau de l'environnement. McGraw-Hill Kogakusha Ltd.T. J. February 1992 Center for Chemical Process Safety : Guidelines for hazard evaluation procedures. DTC ITB .T. 1992 CH2M Hill International : Feasibility study .Garut. 1995 Cousteau.Jend PPM & PLP : Pedoman Sanitasi RS.centralized hazardous waste and toxic waste treatment facility GKS region .Goethe Institut. S. C. Wiley & Sons Inc. Lewis Publisher. J.. PPLH ITB. J. Elsevier Sci. LAPI ITB. : Bioremediation engineering. 1984 Enri Damanhuri . R. J. Bandung June 15-16.C. 1993 BAPEDAL : Survey industri penyamakan kulit di Sukaregang .workshop implementasi konvensi Basel tentang impor & ekspor limbah scrap logam. 1981 Craig.A. : Radioactive wastes. 1982 Direktorat Pengelolaan Limbah B3 BAPEDAL : Kebijaksanaan impor-ekspor limbah B3 dan non B3 . : Diktat kuliah pengelolaan limbah B3 TL-352 Edisi Semeter II 1993/1994. : Disposal of radioactive waste. : Policy for cleaner production . J. July 1990 Chanlett.T. 1992 CCME (Canada) : Guidelines for the management of biomedical waste in Canada CCME-EPCWM-42. : Hazardous waste incineration.Dit. McGraw-Hill Book Co. Noyes Publications.International seminar on clean products and clean production technologies for sustainable industrial development. 1984 Diouhy. E. E.J. 1992 Dept.FTSL ITB Halaman 102 .Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 DAFTAR PUSTAKA BAPEDAL : Perencanaan teknis sistem pengolahan air limbah industri penyamakan kulit skala kecil Sukaregang . : Organo metallic compounds in the environment. Z. Longman Group Limited. Teknik Lingkungan ITB Dames & Moore : Laporan studi kelayakan PPL-B3 . 1973 Collins. American Institute of Chemical Engineers. 1990 Departemen Kesehatan RI . : Evaluation of remedial action unit operations at hazardous waste disposal sites.R. Serpong 9 Januari 1996 Djajadiningrat. 1960 Cookson Jr. 1994 Ehrenfeld.Final report. : Chemical hazards at water and wastewater treatment plant. 1986 Damanhuri. 1994 Buzzi. of the Environment (UK) : Clinical waste .Cileungsi Jawa Barat. McGraw-Hill Book Co.

McGraw-Hill Book Co. Bandung June 15-16.contaminated land.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Freeman. : 1995 Guide to industrial estates in Indonesia.. Ann Arbor Science. R.I.J.M. M.J. : Cleaner production and clean product. Gateway Books. Thomas Telford. 1994 LaGrega. R. : Benefits from industrial application of waste minimization. H. Kennedy. 1994 Kiang. 1986 Mann.. : Government and industry cooperative efforts promoting waste minimization. Noyes Publications. Powell. Jain. Y. : Hazardous and industrial waste treatment. 1995 Enri Damanhuri . Indonesian waste minimization seminar. Metry. Seminar penanganan limbah rumah sakit sebagai upaya mengurangi beban pencemaran lingkungan. Jakarta 14 September 1993 Kusumaatmadja. Prentice Hall Inc. A : Tenaga atom dan aspek keselamatan.R. Vienna 1992 Jackman. A.. Kohpalindo.an IAEA source book. : Hazardous waste processing technology. 1993 Institution of Civil Engineers : Design and practice guided . : Kualitas limbah rumah sakit dan dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan.Lavoisier. John Willey & Sons. H.M. J. Technomic Publishing Co. 1991 Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup : Kemitraan nasional dalam pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan : Hasil rapat koordinasi nasional I pengelolaan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan t ahun 1994. M. A.H.Inc.FTSL ITB Halaman 103 . International seminar on clean products and clean production technologies for sustainable industrial development. Schofield. Proceedings of the 17th Mid-atlantic industrial waste conference. Bahan kuliah program pasca sarjana Teknik Lingkungan. Indonesian waste minimization seminar. M. 1993 Gronow. Jakarta 22-24 November 1994 Keating. McGraw-Hill Book Co. I. 1988 Gagnet. A.D.. R. R. (Editor) : Toxic and hazardous wastes. 1982 Kugelman.. : Hazardous waste minimization. H. McGraw-Hill Book Co. M. (Editor in chief) : Standard handbook of hazardous waste treatment and disposal. S. : Hazardous waste management. 1988 Haas. 1994 Maes. : Land disposal of hazardous waste.L. A. Semester II 1995/1996 Hirschorn. 1985 Kusnoputranto.N. : Hazardous waste treatment technologies.L.P. 1995 Hanafia WS.A.N. J. USAID background paper # 2. 1995 International Atomic Energy Agency : Radioactive waste management . Vamos. DTC ITB Goethe Institut. : Dechets industriels. Technique et documentation . : Bumi lestari menuju abad 21. USAID background paper # 1.S. 1990 Freeman. C..J.K.

1978 Novotny. Saidi. Proceedings seminar nasional pengelolaan lingkungan ITB . BPP Teknologi. Lewis. : Hazardous waste leachate management manual. C. 1992 Sharma.J. G. Noyes Data Co. H. Farquhar.H.. Pajak. E. Cahiers No. PrenticeHall. G. . 1975 Porteous. V. : Implikasi impor limbah di Indonesia . M. 1982 Sittig. : Hazardous waste handbook. ISBN 979-8456-00-9. : Handbook of non-point pollution. ANRED Moo-Young. McGraw-Hill Ltd.UNESCO. A. 1984 Sewell. Studi kasus industri kecil di ‘Gerbangkertasusila’ Jawa Timur. R. : Environmental quality management. Touhill. Van Nostrand Reinhold Co. second edition. Englewood Cliffs.bunga rampai : residu pestisida dan alternatifnya. G. N. Jakarta Decembre 14-17. John Wiley & Sons. H. A. Prentice Hall Building. : Industrial water pollution.W. 1987 Masters. 1975..BPP Teknologi .. Noyes Data Co.J.. 1985 Riza V.P. Butterworths. : Landfill disposal of hazardous wastes and sludges. . M.FTSL ITB Halaman 104 . J.Tantangan Masa Depan. 1994 Secretariat d'etat a l'environnement et la qualite de la vie : Analyse et caracterisation des dechets industriels.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Martin.G.J..J.D. E. Shuckrow. Robinson. 1979 Enri Damanhuri . : Wastewater treatment technology. : Waste treatment and utilization. Goethe Institut Jakarta . S. Proceeding seminar : Waste and sustainable development. dan Gayatri (Penyunting) : Ingatlah bahaya pestisida . 1994 Rachmawati. Van Nostrand Reinhold Co. A. Inc. Guide pour l'elimination et la valorisation des dechets industriels. : Environmental system engineering.P. G. E. Johnson. 1973 Ross. Pesticide Action Network (PAN) Indonesia. : Hazardous waste management engineering. Z. Bandung1993 Rich. Ann Arbor Science.. 1982. L. Addison-Wesley Publishing co.. Pergamon Press. : Waste containment systems .L. Van Nostrand Reinhold Co. Englewood Cliffs. 1989 Ministere de l'evironnenment (France). C. 8.M. E.. 1980 Nemerow.. : Pengelolaan terpusat buangan B-3 dari industri kecil.T. 1993/1994 Patterson. : Industrial waste land disposal.waste stabilization and landfills.H.W. : Chemistry of hazardous materials. 1981 Otorita Batam : Rencana detail sistem pengelolaan sampah dan limbah industri di wilayah otorita pengembangan daerah industri pulau Batam. 1991 Meyer. Inc.D. Chesters. Damanhuri. : Introduction to environmental engineering and science. Prentice-Hall.

17/1994/7 USEPA : Handbook of operation and maintenace of hospital medical waste incinerator. M. January 1990 USEPA : Treatment potential for 56 EPA listed hazardous chemicals in soils. : Handbook of solid waste management.the Pasific.A. Economic and Social Commision for Asia .. G. Report on a WHO meeting. 1996 Wentz.. K. Snyder : Pesticide alert.. D. : Hazardous waste management.Bunga rampai . 12083-IND Indonesia environment and development . Ingatlah behaya pestisida . McGraw-Hill Book. McGraw Hill Book.. 1994 Enri Damanhuri . H..Report no. Copenhage 1983 Anonymous: State of the Environment in Asia and the Pasific.1 World Health Organization : Management of waste for hospitals. . Van Nostrand Reinhold. G. 1990 Waxman. fisrt phase : toxic and chemical and hazardous wastes. Geneva. : Hazardous waste identification and classification manual. Vigil. C. IAEA Bulletin 2/1994 Tchobanoglous. EPA/600/6-88/001 Wagner. 1994 World Health Organization : Healthy and productive lives in harmony with nature..F. L.. : Integrated solid waste management.FTSL ITB Halaman 105 . PT Prasadhana Pamunah Limbah Industri...G. T. John Wiley and Sons Inc. Mott and K. : Sea disposal of radioactive wastes . EPA/625/6-89/024.P.. Theisen.Residu pestisida dan alternatifnya. E/CN. : Hazardous waste site operations. 1993 United Nations Economic and Social Council : Review of sectoral clusters. WHO/EHE/94. Van Nostrand Reinhold 1977 World Bank . S. 1989 Wilson..challengers for the future.the London Convention 1972.. Pesticide Action Network.L... New York 1995 Anonymous: Pusat pengolahan limbah industri berbahaya dan beracun (PPLI-B3).A. March 21. Linsley..Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Sjöblom. WHO Regional Office for Europe.

Love Canal. unit satuan. oksidator-reduktor Minggu 7: Bahan kimia organik berbahaya Bahan kimia turunan hidrokarbon. mekanisme cradle-to-grave Minggu 4: Pelabelan. ---. -----) Minggu 10: Idem minggu sebelumnya Minggu 11: Limbah berbahaya kegiatan medis dan rumah tangga Sumber limbah medis. Kabut dioxin Seveso) Minggu 2: Peraturan dalam pengelolaan B3 Penggunaan bahan kimia. penyimpanan dan pengangkutan Dokumen pengangkutan. pengolahan. penyimpanan. Konvesi Stockholm tentang pencemar organik yg persisten Minggu 3: Peraturan dalam pengelolaan limbah B3 Besaran limbah B3. pengelolaan limbah radioaktif (sumber. pengemasan-pewadahan. peluluhan. bahan kimia industri. api dan kelas dalam kebakaran. limbah berbahaya dari rumah tangga.FTSL ITB Halaman 106 . penanganan Minggu 12 sampai Minggu 14: diskusi kelompok Tugas B Enri Damanhuri . produk yang tidak sengaja dihasilkan Minggu 8: Ujian Tengah Semester. beberapa kasus dunia tentang B3/limbah B3 (Minamata. dokumen MSDS Minggu 6: Sifat-sifat berbahaya bahan kimia Bahan kimia korosif. pengangkutan Minggu 5: Labeling dan MSDS Karakteristik umum kimia berbahaya. mudah terbakar. informasi tingkat bahaya. penggolongan limbah. uraian lanjut tentang pengelolaan B3 versi PP 18/99 jo PP85/99. penanganan limbah medis.).TL FTSL ITB Minggu 1: Pendahuluan Latar belakang. Tugas A masuk Mingu 9: Bahan radio aktif dan limbahnya Sifat-sifat radioaktif (isotop. karakteristik B3 versi undang-2. UU-32/2009 ttg LH. toksik.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 RENCANA KULIAH TL-3204 PENGELOLAAN B3 SEMESTER II . UU-74/2001. simbol dan label. pestisida. reaktif (pada air).

dan sebagainya. lalu mengaitkan dengan kasus yang pernah terjadi baik di dalam negeri maupun di luar negeri yang muncul di masmedia. misalnya Power Point. Referensi harus jelas tercantum. untuk dipresentasikan dan didiskusikan di kelas.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 TUGAS A Mahasiswa diminta membuat paper yang membahas sebuah bahan berbahaya dari berbagai literatur atau dari website. selengkap-lengkapnya seperti diuraikan dalam Bagian II. Mahasiswa diminta membuat paper yang membahas sebuah bahan atau limbah. Tesis. Referensi harus jelas dicantumkan. Bagian IV dan Bagian V. khususnya dengan memasukkan ulasan-ulasan ataupun gagasangagasan yang didasarkan atas tulisan-tulisan seperti peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia atau di negara lain atau dari buku-buku referensi.FTSL ITB Halaman 107 . termasuk bagaimana seharusnya mengelola dan menghindari terjadinya permasalahan. atau dalam laporan-laporan yang bisa diperoleh di website. khususnya yang biasa dijumpai sehari-hari. Disertasi) yang ada di perpustakaan. seperti aki bekas. atau dari bahanbahan lainnya yang dapat mendukung ulasan-ulasan tersebut. Enri Damanhuri . Naskah tertulis tersebut kemudian dibuatkan bahan presentasinya. bahan kimia di laboratorium. TUGAS B Merupakan tugas kelompok maksimum beranggotakan 10 orang. oli bekas. Bahasan-bahasan tersebut harus cukup komprehensif. atau dari karya ilmiah mahasiswa (Tugas Akhir.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->