Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

DIKTAT KULIAH TL-3204

PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)

DISIAPKAN OLEH : PROF. ENRI DAMANHURI

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
EDISI SEMESTER II 2009/2010
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 1

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI 2 KATA PENGANTAR 3 BAGIAN I : PENDAHULUAN 1 Umum 4 2 Kasus kucing menari di Minamata 7 3 Kasus love canal (Amerika Serikat) 8 4 Kasus kabut dioxin si Seveso (Italia) 10 5 Kasus Kepone di Hopewell (Amerika Serikat) 11 6 Kasus laha Stringfellow di Kalifornia 12 BAGIAN II : PERATURAN DALAM PENGELOLAAN B3 1 Umum 13 2 Pengelolaan B3 dalam PP 74/2001 14 3 Karakterisasi B3 menurut PP74/2001 18 BAGIAN III : PERATURAN DALAM PENGELOLAAN LIMBAH B3 1 Umum 21 2 Pengelolaan limbah B3 dalam PP18/99 jo PP85/99 22 3 Konsep cradle-to-grave Amerika Serikat 30 BAGIAN IV : PELABELAN, PENYIMPANAN DAN PENGANGKUTAN 1 Umum 35 2 Dokumen 35 3 Simbol dan label 36 4 Pengemasan dan pewadahan 40 5 Penyimpanan dan pengumpulan 44 6 Pengangkutan 48 BAGIAN V : SIFAT DAN KARAKTERISTIK BAHAN KIMIA BERBAHAYA 1 Umum 50 2 Kelas kebakaran 51 3 Informasi tingkat bahaya 52 4 Dokumen material safety data sheets (MSDS) 5 Bahan kimia korosif 56 6 Bahan kimia yang reaktif pada air 60 7 Bahan kimia toksik 64 8 Senyawa pengoksidasi 71 9 Beberapa senyawa organik berbahaya 75 BAGIAN VI : LIMBAH RADIOAKTIF 1 Umum 81 2 Sifta-sifat radioaktivitas 81 3 Pengelolaan limbah radioaktif 85 BAGIAN VII LIMBAH MEDIS DAN RUMAH TANGGA 1 Limbah medis 94 2 Limbah berbahaya dari rumah tangga 99

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 2

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

KATA PENGANTAR

Diktat ini disusun untuk membantu mahasiswa yang mengambil mata kuliah TL3204 Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Kurikulum-2008 pada Program Sarjana Teknik Lingkungan FTSL ITB. Bahan kuliah ini merupakan penyesuaian dari Diktat Kuliah TL-352 Pengelolaan Limbah B3, yang mulai diperkenalkan pada Program Sarjana Teknik Lingkungan ITB Kurikulum 1993. Pada kurikulum-kurikulum sebelum 1993, materi ajar tentang limbah B3 secara terpisah tercakup dalam beberapa mata kuliah yang membahas masalah penanganan limbah. Sejak Kurikulum 2008, materi kuliah Pengelolaan Limbah B3 berganti nama menjadi Pengelolaan B3, yaitu mempertegas bahwa materi kuliah ini bukan hanya membahas limbah, tetapi juga bahan yang berbahaya. Diktat ini disusun dengan acuan 14 sesi pertemuan tatap muka dalam semester II di ITB, termasuk 3 sesi diskusi tugas di kelas. Beberapa bagian dari diktat ini membahas materi yang akan dibahas lebih rinci lagi dalam mata kuliah yang berada pada semester yang lebih tinggi, sehingga materi yang ada dalam diktat ini dapat dikatakan bersifat umum untuk memberikan gambaran secara utuh tentang Pengelolaan B3. Untuk penyusunan diktat ini digunakan beberapa rujukan literatur dari negara industri seperti tercantum dalam Daftar Pustaka. Beberapa rujukan yang sangat dominan dalam penyusunan diktat ini dicantumkan secara khusus pada setiap akhir Bagian. Walaupun diktat ini bertujuan untuk membantu mahasiswa yang mengambil mata kuliah TL-3204 pada Program Sarjana, namun bahan yang diberikan pada Diktat ini relevan untuk digunakan pula pada Program Magister, serta tidak tertutup kemungkinan bahwa diktat ini bisa bermanfaat pula bagi mereka yang berminat dengan masalah bahan dan limbah B-3, sebab sangat jarang sekali bahan ajar ini ditulis secara utuh dalam Bahasa Indonesia. Semoga bermanfat bagi kita semua. Bandung, Februari 2010 Prof. Enri Damanhuri Program Sarjana Teknik Lingkungan FTSP ITB

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 3

dan PP 18/99 juncto 85/99 mengatur lebih lanjut tentang pengelolaan limbah B3. Selanjutnya Peraturan Pemerintah (PP) No.Distribusi spasial yang belum merata . juga menimbulkan dampak negatif tidak hanya pada pusatpusat industri dan daerah sekitarnya tetapi juga pada tingkat nasional. akibat dampaknya terhadap manusia dan lingkungan bila tidak dikelola secara baik. yang setara dengan sekitar 27% dari seluruh hasil industri Indonesia. Filipina. Masalah limbah menjadi perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah Indonesia. Kimia merupakan salah satu ilmu pengetahuan alam. namun materi ini pulalah yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang berbahaya. Perkembangan industri disamping berdampak positif pada perkembangan ekonomi.Pergeseran jenis industri Sektor lain yang berpotensi dampak negatif pada lingkungan adalah kegiatan pertambangan . yang kemudian naik menjadi 60% pada tahun 1990. yaitu : .FTSL ITB Halaman 4 .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN I PENDAHULUAN 1 UMUM Penggunaan kimia dalam kebudayaan manusia sudah dimulai sejak zaman dahulu. Pelepasan bahan berbahaya pada tahun 1990-an di Indonesia. dengan definisi sebagai bahan berbaya dan beracun. Di empat kota saja (Jakarta. Sekitar 55% dari pusat-pusat industri di Pulau Jawa berlokasi di daerah perkotaan. yang berkaitan dengan komposisi materi.perminyakan. tetapi di Enri Damanhuri . Bandung dan Semarang) terdapat sekitar 36% dari total industri di Pulau Jawa. manusia dapat mengontrol dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan manusia. khusunya sejak dekade terakhir ini. kegiatan medis dan kegiatan pertanian Undang-Undang No.Kecepatan pertumbuhan sektor industri . dan Thailand diprakirakan telah meningkat menjadi sekitar empat. terutama di daerah industrialisasi yang berkembang dengan cepat seperti di negara-negara ASEAN dan China. 74/2001 mengatur lebih lanjut tentang pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3). lebih dari 85% hasil industri Indonesia berasal dari kegiatan industri yang berlokasi di Pulau Jawa. regional dan lingkungan secara global. termasuk juga perubahan yang terjadi di dalamnya. delapan. Surabaya. Senyawa-senyawa kimia sintetis inilah yang banyak dihasilkan oleh peradaban modern. menempatkan masalah bahan dan limbah berbahaya sebagai salah satu perhatian utama. Dengan mengetahui komposisi dan memahami bagaimana perubahan terjadi. Peraturanperaturan tentang masalah ini telah banyak dikeluarkan oleh Pemerintah. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (menggantikan UU No. Pasal 58 sampai Pasal 61 UU-32/2009 mengatur larangan membuang dan mengatur pengelolaan limbah dan B3. dan sepuluh kali lipat. Intensitas atau perbandingan antara limbah bahan berbahaya yang ditimbulkan dengan unit hasil industri secara mencolok juga meningkat. 4/1982). terutama akibat perkembangan industri yang merupakan tulang punggung peningkatan perekonomian Indonesia. baik secara alamiah maupun sintetis. Pada permulaan tahun 1970-an. Menurut World Bank ada 3 pola pertumbuhan industri yang perlu diperhatikan.

tidak hanya pada pusat-pusat industri dan daerah sekitarnya. bahkan pertumbuhan industri negara-negara sedang berkembang di wilayah ini lebih menonjol. Sebelum krisis ekonomi 1997. kegiatan kesehatan (seperti limbah infectious dari rumah sakit) atau dari kegiatan rumah tangga (misalnya penggunaan batere merkuri). biasanya berasal dari kegiatan industri.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 lapangan banyak mengalami hambatan. sehingga biaya pengolahannya dapat ditekan. terganggunya kesehataan masyarakat serta penurunan kualitas ekologi lingkungan. Penanganan limbah merupakan suatu keharusan guna terjaganya kesehatan manusia serta lingkungan pada umumnya. Secara keseluruhan. Tetapi jenis limbah ini berasal pula dari kegiatan lain. Sesuai dengan PP 18/99 juncto 85/99. Penemuan minyak (petroleum) pada pertengahan tahun 1880 menyebabkan meningkatnya produk kimia organik disertai limbahnya. pemilihan proses produksi. akan mempengaruhi karakter limbah yang tidak terlepas dari proses industri itu sendiri. sektor industri telah mengakibatkan beban pencemaran : − Melalui peningkatan kuantitas cemaran dalam jangka waktu pendek dan menengah. yaitu berubahnya jumlah pencemaran yang ditimbulkan per unit hasil industri. bukan saja mengakibatkan kenaikan timbulan limbah secara dramatis. Enri Damanhuri . sehingga dapat mengurangi kemiskinan. Walaupun demikian. Setelah berakhirnya Perang Dunia II.FTSL ITB Halaman 5 . Limbah berkatagori non-hazardous tidak perlu ditangani seketat limbah hazardous. Revolusi industri dan penggunaan bahan kimia organik yang terus meningkat setelah perang dunia ke 2. misalnya pembuangan limbah berbahaya negara maju ke negara yang sedang berkembang. Mulai dari penggunaan bahan baku. industri memfokuskan dirinya pada produksi plastik dan pestisida. negara-negara di wilayah Asia and Pasifik secara keseluruhan memperlihatkan pertumbuhan industri yang kuat bila dibandingkan dengan tempat-tempat lain di dunia. Di Amerika Serikat misalnya. atau jika kontribusi sektor industri itu sendiri menurun. Sebagian dari limbah industri tersebut berkatagori hazardous waste. seperti dari aktivitas pertanian (misalnya penggunaan pestisida). timbulan limbah berbahaya pada tahun 1984 diprakirakan sekitar 300 juta ton. Namun pengadaan dan pengoperasian sarana pengolah limbah ternyata masih dianggap memberatkan bagi sebagian industri. Masalah penanganan limbah berbahaya ini juga merupakan obyek dagang yang tidak terpuji. kegiatan enersi (seperti limbah radioaktif PLTN). pemilihan jenis mesin dan sebagainya. − Melalui perubahan intensitas pencemaran terhadap hasil industri. walaupun limbah tersebut berasal dari industri. padanan kata untuk Hazardous Waste yang digunakan di Indonesia adalah Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dan disingkat menjadi Limbah B3. Namun sebagian besar jenis limbah yang dihasikan. Manusia membutuhkan lebih banyak jenis produk baru yang akhirnya menghasilkan limbah yang spesifik. Keaneka ragaman jenis limbah akan tergantung pada aktivitas industri serta penghasil limbah lainnya. industrialisasi juga menimbulkan dampak secara langsung. naphta ke kerosene. Industrialisasi yang cepat telah menciptakan sebuah peluang baru untuk mendistribusikan hasil-hasil pembangunan dengan lebih efektif di negara-negara tersebut. tetapi juga pada tingkat nasional. namun pula menimbulkan masalah toksisitas dari limbah tersebut. regional dan lingkungan secara global. Masyarakat industri menghasilkan produk mulai dari gasoline. dalam jangka waktu panjang kuantitas cemaran mungkin menurun jika terjadi perubahan yang drastis dengan adanya industri yang lebih bersih lingkungan. Tingginya jumlah limbah industri yang dihasilkan per unit hasil industri merupakan salah satu dari masalahmasalah utama yang ada. Beberapa negara di wilayah ini malah menghasilkan limbah dalam jumlah yang tinggi. Dampak negatif akibat limbah tersebut adalah kontaminasi sumber-sumber air.

Pada daerah perkotaan di Indonesia seperti di Jakarta. yang berpotensi menghasilkan limbah toksik dan infectious − Kegiatan pertanian dan agro-wisata. 70 % industri berlokasi di kawasan-kawasan perkotaan dan sekitarnya. dan zat kimia berbahaya lainnya. pelepasan bahan berbahaya ini di Indonesia. Lebih dari 75 % diantaranya merupakan cemaran-cemaran logam yang bioakumulatif. di Indonesia akan terjadi pergeseran komposisi industri secara sektoral. The US Office of Technology and Assessment memprakirakan bahwa biaya pemulihan semua tempat yang telah diidentifikasi di Amerika Serikat adalah sekitar US $ 500 milyard. Biaya implementasi sebuah program pengontrolan dan penyediaan sarana sebetulnya akan lebih kecil dibandingkan dengan upaya pemulihan lahan yang tidak dikelola secara baik. Dilaporkan pula oleh Bank Dunia bahwa intensitas pencemaran dari limbah berbahaya ternyata cenderung meningkat sejak tahun 1970. dari tahun 1970 sampai 1990 limbah penduduk dan industri telah menurunkan kualitas air sungai di bagian hilir seperti Cisadane. Selama periode 1984-89. Kali Berantas dan Citarum. pestisida. Surabaya. yaitu sekitar 2/3 dari total cemaran di Indonesia.FTSL ITB Halaman 6 . Secara keseluruhan. Menurut analisa Bank Dunia (1994). kontribusi pulau Jawa terhadap cemaran-cemaran toksik akan cenderung stabil. Kali Surabaya. Filipina. yang diprakirakan akan meningkat kurang dari 200. delapan. sianida. Bila industri yang terlibat dalam komoditi proses terus meningkat di masa datang. Menurut WHO telah terjadi 3 juta kasus keracunan pestisida Enri Damanhuri . termasuk bertambahnya biaya dan resiko akibat pencemaran lingkungan. Tingkat pencemaran pestisida dan pengaruhnya terhadap kesehatan di Indonesia sulit untuk diprakirakan. Pada waktu itu juga ditemukan sejumlah besar tempat-tempat yang terkontaminasi oleh limbah berbahaya di seluruh dunia. industri proses dinilai lebih intensif terhadap pencemaran. Kegiatan industri juga sangat berpotensi menghasilkan limbah berbahaya. yaitu dari 70 % pada saat ini menjadi 60 % pada tahun 2020. terutama di daerah industrialisasi yang berkembang dengan cepat seperti di negara-negara ASEAN dan China. cat dan zat warna. akan menambah beban bagi sumber daya alam. Bila strategi pengembangan industri tidak berubah seperti periode tersebut. diantaranya terdapat 161 kasus (10%) yang menyebabkan kematian. pelarut. yang ditandai dengan meningkatnya cemaran-cemaran toksik dan logam-logam bioakumulatif. peranan sektor industri akan berkontribusi besar dalam produksi limbah berbahaya. minyak. Ciliwung. yang berpotensi menghasilkan limbah biosida. Sampai tahun 1994. dan 85 % diantaranya akan terkonsentrasi di daerah perkotaan. yaitu industri proses akan tumbuh lebih lambat dibanding industri perakitan. Di pulau Jawa khususnya. dan sepuluh kali lipat.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Pengelolaan limbah berbahaya telah menjadi perhatian Pemerintah Amerika Serikat semenjak penemuan tempat pengurugan limbah yang tidak memenuhi syarat di Love Canal. Mengacu pada pengalaman negara industri seperti Amerika Serikat. Bandung dan Semarang. Bahan pencemar berbahaya dan beracun yang dihasilkan oleh industri adalah seperti logam berat. Namun kontribusi sektor-sektor lain juga perlu pula mendapat perhatian terutama dari : − Kegiatan medikal dan laboratorium.000 ton pada tahun 1990 menjadi sekitar 1 juta ton pada tahun 2010. dan Thailand diprakirakan telah meningkat masing-masing menjadi sekitar empat. kontribusi industri terhadap pencemaran akan menurun. namun beban cemarannya secara absolut akan meningkat sekitar 10 kali. Timbulan logam-logam berat dari industri di wilayah Asia dan Pasifik telah dinilai melebihi nilai batas ambang yang aman. Departemen Kesehatan melaporkan sebanyak 1614 kasus keracunan. Intensitas atau perbandingan antara limbah berbahaya yang ditimbulkan dengan unit hasil industri secara mencolok juga meningkat. New York. Dalam hal ini.

Pengalaman negara industri dengan masalah limbah B3 nya hendaknya memberikan masukan bagi pengambil keputusan atau fihak-fihak terkait di Indonesia untuk tidak menyebabkan kasus-kasus yang terjadi di negara industri tersebut terulang lagi di negara Indonesia. Mikroorganisme dalam air mengkonversi logam ini menjadi methylmercure. yang dapat menyerang syaraf dan otak. dan biasanya digunakan sebagai katalis. Kasus Minamata ini terkenal di dunia bila membicarakan masalah industri. Sinyal pertama kasus ini datang pada tahun 1950. termasuk logam berat.1956 gejala yang dikenal sebagai "kucing menari" ditemui pula pada manusia. Penduduk di sekitarnya adalah nelayan atau petani. yang terungkap setelah sekitar 600 ton merkuri. Hampir semua kasus tadi (90-99%) terjadi di negara-negara yang sedang berkembang. Penelitian penyebab penyakit tersebut secara intensif dilakukan oleh pemerintah.100 tahun akan persistan di alam. Kasus penyakit ini juga terus berlanjut. khususnya Amerika Serikat guna memberikan gambaran kepada mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini pada khususnya. tetapi tidak mendapatkan hasil memuaskan. merupakan logam warna putih-perak. Chisso Chemical Corporation membuka pabrik pupuk kimia di Minamata (terletak di pulau Kyushu. Chisso memberikan santunan pada korban dan yang meninggal. Dalam diktat ini. hanya diketahui bahwa korban mengalami keracunan akibat memakan ikan yang berasal dari laut sekitar pabrik itu.FTSL ITB Halaman 7 .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 akut dan 220. tetapi tidak tercantum merkuri dalam daftar tersebut. Tetapi Chisso paada awalnya belum dicurigai sebagai penyebab. tanpa mengetahui penyebab masalah ini. yang secara kenyataan telah lebih maju dari Indonesia baik dari segi keberadaan industrinya. dan berada fasa cair pada suhu biasa. Merkuri didapat di alam. 2 KASUS PENYAKIT "KUCING MENARI" DI MINAMATA Pada tahun 1932. Jepang Selatan). dan terutama menyerang anak-anak. walaupun diketahui bahwa merkuri digunakan sebagai katalis proses dari pabrik tersebut. Pencemaran mercuri tetap berlanjut. karena korban umumnya mengandung merkuri yang berlebihan pada Enri Damanhuri . Berikut ini akan diberikan illustrasi berbagai kasus yang menyangkut bahan atau limbah B3 dari negara industri. Asosiasi industri kimia Jepang juga membantu Chisso dalam melacak masalah ini dengan melakukan penelitian-penelitian. Pada tahun 1714 Gabriel Fahrenheit menggunakan merkuri ini untuk termometer. keberadaan peraturan perundang-undangannya ataupun kesiapan masyarakatnya. Chisso mempekerjakan penduduk setempat (sekitar 1/3 tenaga pekerjanya).00005 maka diprakirakan kasus kematian karena pestisida di Indonesia adalah sekitar 9000 per tahun. Chisso kemudian mengeluarkan daftar bahan yang digunakan dalam pabriknya. sehingga tidak menimbulkan masalah sosial pada awal pendiriannya. limbah dan kesehatan masyarakat. Tahun 1952 timbul penyakit aneh pada kucing yang kadangkala berakhir dengan kematian. contoh. Merkuri alamiah dapat dievakuasi oleh tubuh manusia secepatnya melalui urin. sedang mercuri organik bersifat biokumulasi. Kasus ini lama kelamaan terungkap. dibuang secara bertahap sekitar 45 tahun.000 kematian setiap tahunnya di seluruh dunia. dengan prakiraan 70 . yang digunakan sebagai katalis dalam prosesnya. atau fihak-fihak lain pada umumnya akan pentingnya pengelolaan limbah B3 terutama bagi negara Indonesia yang diharapkan akan menjadi negara industri dalam masa mendatang. Antara tahun 1953 .contoh tentang masalah limbah B3 dan pengelolaannya diambil dari pengalaman negara industri. Beberapa diantaranya meninggal dunia. Tahun 1956 masyarakat sekitarnya mengadakan aksi menentang keberadaan Chisso. Dengan asumsi rata-rata kasus kematian karena pestisida seluruh dunia sebesar 0. yaitu sejumlah ikan mati tanpa diketahui sebabnya.

endrin atau dari bahan organik berklor lainnya seperti pelarut berkhlor akan mendatangkan masalah bagi lingkungan di kemudian hari. maka industri menjadi berkembang pesat di daerah tersebut. dan pemerintah menyatakan bahwa Chisso adalah penanggung jawab penyakit yang berjangkit di Minamata. Pada tahun 1958 tiga anakanak mengalami luka bakar akibat terpapar dengan residu yang muncul ke permukaan. Sebagian dari lahan tersebut dijadikan taman bermain. Niagara Falls menjadi pusat industri. korban kasus ini menerima santunan yang dibebankan pada Chisso. termasuk pula abu sisa pembakaran dari kota. pestisida dan hasil industri antara lainnya. Bahkan Angkatan Darat Amerika Serikat juga mengurug sejumlah besar residu senjata biologis walaupun secara resmi fihak Pentagon menolak tuduhan tersebut. Hooker Chemical and Plastic Corporation yang memproduksi bahan kimia di daerah tersebut mulai mengurug limbahnya pada bagian utara Love Canal yang belum terselesaikan. Tahun 1978. Namun pembangunan kanal tersebut tidak dilanjutkan. Disamping itu. yang pada saat itu telah berumur 77 tahun dan 68 tahun. Produk kimia yang dihasilkan antara lain adalah natrium hidroksida. Pengembangan penelitian menghasilkan alternatif pemanfaatan produk samping ini menjadi bahan organik berkhlor seperti plastik. maka galiannya langsung terisi air tanah berwarna kuning. yang terproduksi dalam jumlah besar. Akhirnya pembuangan merkuri dihentikan dengan ditutupnya pabrik tersebut. Love pada tahun 1892 merencanakan membuat sebuah kanal yang akan dapat menghubungkan bagian hulu dan hilir sungai Niagara. 3 KASUS LOVE CANAL (AMERIKA SERIKAT) Dengan dibangunnya pembangkit listrik tenaga air di Niagara Falls pada tahun 1890. Segala upaya dicoba untuk Enri Damanhuri . 22 Maret 1979 dua pemimpin Chisso . dan menyisakan dua bagian yang tidak terhubungkan. Sering dijumpai anak-anak bergembira menemukan residu fosfor yang dapat menimbulkan bunga api bila dilemparkan ke permukaan yang berbatu. Tahun 1953 fihak kotamadya meminta Hooker Chemical untuk menjual sebagian lahan kanal tersebut untuk pembangunan sekolah baru. dengan sifat yang sangat tajam. yang dapat menghanguskan akar pohon sekitarnya. yang merupakan produk elektrolisa natrium khlorida. Seorang keluarga di dekat Love Canal melahirkan anak dengan cacat fisik dan mental. Ketika kolam ini dibongkar. Sekolah kemudian dibangun berdampingan dengan daerah yang sebelumnya adalah pengurug limbah industri. sepanjang sekitar 7 mil. tetapi hal ini dianggap alamiah. dan 1500 diantaranya yang diperiksa diketahui keracunan merkuri. Pada saat itu fihak pemerintah dan industri belum mengetahui akibat samping dari produk ini. biru dan ungu. khususnya industri kimia.FTSL ITB Halaman 8 . Sampai tahun 1947 dapat dikatakan daerah tersebut menjadi lahan pengurugan beragam jenis limbah terutama dari industri. Direncanakan bahwa di sekitar kanal tersebut akan dibangun kawasan industri dan pemukiman untuk memanfaatkan tenaga listrik yang ada. Elektrolisa ini juga menghasilkan produk samping (by-product) yang tidak diinginkan yaitu khlor. Belum seorangpun yang menyadari bahwa keuntungan dari pestisida seperti DDT. Pada suatu pagi di tahun 1974. Tahun 1959 sebuah keluarga lain mendapat masalah di lantai bawahnya (basement) dengan adanya lumpur hitam yang masuk ke dalamnya. dihukum masing-masing 2 tahun dan 3 tahun penjara. satu keluarga mendapatkan kolam renang mereka menjadi lebih tinggi sekitar 60 cm. 8100 penduduk mengklaim hal ini. Pembangunan dimulai tahun 1893. Tahun 1952 kanal tersebut ditutup oleh Hooker Chemical. masing-masing sepanjang seperempat mil. William T. Tahun 1976 sekitar 120 penduduk Minamata meninggal karena keracunan merkuri dan 800 orang menderita sakit. Fihak Hooker menjual sebagian kanal tersebut ke pengelola kota hanya seharga US $ 1. Pada tahun 1930-an.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 tubuhnya.

Hasilnya adalah bahwa udara di daerah tersebut mengandung bahan-bahan toksik yang berada di atas ambang threshold-limit value (TLV). Suatu recana perbaikan dan penyembuhan (remedial) mulai dirancang. Akhirnya mereka membuat lobang untuk mengetahui apa yang terdapat di balik tembok. Keluhan mereka pada fihak pemerintah kota tidak ditanggapi. Kelahiran cacat fisik dan mental juga sering dijumpai. sakit kepala. dilakukan pengambilan sampel udara di beberapa basement rumah di daerah tersebut. Hooker Chemical akhirnya mengeluarkan pernyataan bahwa sekitar 22. Kanal tersebut juga ditutup setebal 2.FTSL ITB Halaman 9 .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 menghentikannya. dan yang sedang merencanakan membangun pusat kegiatan senilai US $ 17 juta. Peraturan pertama yang dikeluarkan oleh pemerintah negara bagian adalah menghentikan sama sekali pelindian yang tidak terkendali. maka diputuskan penutupan sekolah dan pengungsian anak-anak dan wanita yang sedang hamil yang tinggal berdekatan dengan kanal. namun tetap tidak ingin menentukan yang bertanggungjawab. Enri Damanhuri . Survai kesehatan juga dimulai dan dijumpai bahwa keguguran spontan ternyata 250 kali lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. yang tetap digunakan oleh Pemerintahan Carter.5 meter tanah kedap untuk menghindari masuknya air dari luar. Studi pada tahun 1980 mengemukakan adanya bukti kerusakan khromosom pada penduduk. walaupun pemerintah negara bagian mengajukan tuntutan denda pada Hooker Chemical sebesar US$ 635 juta. Hooker mengemukakan bahwa teknologi yang mereka gunakan adalah sesuai dengan peraturan yang berlaku. dan memerintahkan memagari sekeliling lahan serta memberikan ventilasi pada basement yang tercemar. Delapan bulan setelah kejadian kolam renang di atas. diantaranya 200 ton trichlorophenol. chloform dan trichloroethylene. Analisa lebih lanjut menemukan bahwa cemaran kimia dalam konsentrasi tinggi telah mencemari air tanah. induk perusahaan Hooker Chemical. Akhirnya pada tahun 1977 fihak pemerintah kota mengakui adanya masalah ini. Sebagian besar dari anggota keluarga ini secara rutin mengalami gangguan fisik seperti iritasi. Mereka menganggap bahwa masalah ini bukanlah suatu krisis yang besar. Mereka menginginkan kompensasi yang lebih dari itu. masalah Love Canal mulai diketahui dan diperhatikan.000 ton limbah kimia. sehingga Pemerintahan Carter pada saat itu memerintahkan evakuasi sekitar 700 keluarga lagi. diantaranya pembuatan drainase untuk mengalirkan lindi dan memompanya ke suatu tangki pengumpul untuk kemudian diolah sebelum dialirkan kembali pada sistem penyaluran air buangan kota. sejumlah limbah kimia mulai muncul di halaman beberapa rumah. susah tidur dan diantaranya juga cacat mental. Berdasarkan pertemuan dengan penduduk setempat. Dari sudut teknik. Namun dibutuhkan dana untuk melaksanakan kegiatan ini. 237 keluarga akhirnya diungsikan. cepat lelah. termasuk diantaranya 11 jenis cemaran penyebab kanker seperti benzene. Disamping itu. tetapi pemerintah negara bagian menolak sampai adanya kejelasan kompensasi bagi penduduk. Kegiatan remediasi tersebut dianggap terlalu lambat oleh penduduk sekitarnya. telah diurug di lahan-urug tersebut. Pemerintah negara bagian memerintahkan komisi kesehatan melakukan penelitian. mencegah kemungkinan pelindian di masa datang dan menutup kanal. senyawa-senyawa toksik berhalogen terdeteksi pada sistem penyaluran air buangan kota. Mulai tahun 1976. Sampel darah yang diambil juga menunjukkan indikasi adanya kerusakan hati yang meningkat. Namun akhirnya dicapai kesepakatan di pengadilan antara 1345 penduduk dengan Occidental Petroleum. Dengan bantuan USEPA. Pendapat ini tetap berlangsung sampai pemerintah negara bagian mulai ikut campur. Sejak saat itu. Sejumlah besar cairan hitam masuk memenuhi ruangan. agaknya mereka tidak ingin mengganggu kegiatan Hooker yang telah mempekerjakan sekitar 3000 penduduk setempat.

Daun-daun pohon di sekitarnya menjadi rontok. terutama pada pabrik itu sendiri yang tercemar berat. tetapi penduduknya rupanyanya sudah terbiasa. Atom chlor pada senyawa PCDD menghasilkan sampai 75 isomer dengan toksisitas yang sangat bervariasi. kosmetik dan herbisida. 4 KASUS KABUT DIOXIN DI SEVESO (ITALIA) Salah satu kasus limbah berbahaya yang terkenal adalah peristiwa kabut dioxin di Seveso (Italia). Hoffman-La Roche memilih Seveso sebagai lokasi pabriknya di Italia. Informasi yang didapat menyatakan bahwa drum tersebut akan diangkut ke Inggeris untuk diinsinerasi. Landfilling dalam tanah dilakukan dalam 2 lubang dengan proteksi kuat.8-Tetrachlorodibenzo-p-dioxin (2. reaksi kimiawi yang terjadi menghasilkan 2. Akhir 1960-an.8-TCDD) dengan toksisitas akut.8) seperti 2.8-TCDD. yaitu dilapis bentonit dan lembaran polyethylene.trichlorophenol untuk disinfektan. binatang. Pabrik ini menghasilkan asap yang berbau.7. Efek 2. dengan timbulnya suatu kasus yang cukup meggegerkan daratan Eropa Barat pada tahun 1981. dan dilarang menggunakan barang-barangnya. Daerah sekitarnya dibagi menjadi 2 area bahaya. Ternyata penanggung jawab upaya pembersihan daerah Seveso tersebut mengirimkan 41 drum limbahnya untuk ditimbun di luar Italia. Pekerjaan ini membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun. dan tidak ditulis sebagai 'Dioxin'. Seveso terletak di Italia Utara. industri farmasi Swiss. Pengiriman ini bersifat rahasia. Ibuibu yang hamil dianjurkan untuk menggugurkan kandungannya. Drum tersebut diangkut oleh dua perusahaan swasta ke tempat yang tidak dispesifikasi secara jelas.3.7. Agaknya dioxin ini menimbulkan tumor yang berbeda untuk organ yang berbeda. Tanah terkontaminasi dikupas sedalam rata-rata 5 cm. Pemerintah Italia akhirnya memutuskan penggunaan teknik insinerasi dan landfilling bagi komponen-komponen pabrik tersebut. Daerah tersebut kemudian dijadikan taman.binatang seperti terpanggang. Kasus tersebut ternyata tidak berhenti di sana. dan para peneliti baru sampai pada tahap awal dalam memahami efek toksisitas dioksin ini pada manusia.3. Penduduk di sekitarnya dievakuasi. terutama dalam posisi lateral (2.3. Sekitar 1 Kg dioxin terbuang ke udara membentuk kabut melewati ribuan hektar sekitar bencana. Area A penduduknya dievakuasi. Kecelakaan terjadi pada tanggal 10 Juli 1976.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Kasus Love Canal menyebabkan adanya perbaikan dan pengetatan peraturanperaturan yang berlaku di Amerika Serikat dalam menangani limbah B3. dan prianya dihawatirkan mengalami kerusakan pada fungsi genetiknya.8-TCDD ini terhadap spesies binatang ternyata berbeda. didirikan di kota kecil Meda (dekat Seveso).4. Pabrik tersebut dibangun dan dioperasikan oleh Industrie Chemiche Meda Societe Aromia (ICMESA).7.3.7.3. yaitu kasus transportasi dioxin antar negara. Anak-anak dengan langsung menunjukkan gejala chloracne pada mukanya dan bagian lain di tubuhnya.5. Isomer yang sangat aktif dan mempunyai potensi toksisitas tinggi adalah yang mempunyai 4 sampai 6 atom chlor. karena ternyata bukan hanya lahan ini saja yang secara peraturan sebetulnya telah sesuai dengan yang berlaku. Dioxin adalah nama umum untuk grup polychlorinated dibenzodioxins (PCDD). guna memproduksi 2. bukan dari Seveso (tempat yang dikenal untuk kasus ini). ketika reaktor akan dipanaskan dan terjadi retak pada katup pengamannya. Pada temperatur yang sesuai. Kegiatan remediasi lahan yang terkontaminasi akhirnya menjadi salah satu program yang digalakkan di Amerika Serikat bagi lahan yang tercemar. Pohon-pohon terkontaminasi ditebang. namun semuanya sebagai penimbul agen kanker (carcinogen). sedang asalnya ditulis dari Meda.FTSL ITB Halaman 10 . ke Jerman Timur Enri Damanhuri . Pembersihan daerah terkontaminasi merupakan usaha besar-besaran yang dilakukan. Drum tersebut berlabel 'bahan hidrokarbon aromatis'.7. namun akhirnya beritanya tersebar di daratan Eropa dan menjadi pemberitaan hangat selama 9 bulan.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 untuk ditimbun di lahan-urug industri dan ke Jerman Barat untuk dikubur dalam bekas tambang. Berangkat dari pengalaman tersebut. Kemudian dioxin tersebut baru diinsinerasi setelah 2. Tetapi tidak satupun yang sampai. sedangkan konsentrasi tertinggi yang pernah diamati adalah 5 ppm. sedang pabrik kepone pada tahun 1975 ditutup.600 ppb. dan harus mengeluarkannya dari Perancis. Disamping itu. Tahun 1973 pembuatan kepone disubkontrakkan pada LSP sementara Allied tetap menangani polimer. 5 KASUS KEPONE DI HOPEWELL (AMERIKA SERIKAT) Hopewell (Virginia . limbah ini membunuh bakteri di sistem digester pengolah limbah.72 ppm. Produksi tahunan meningkat dari 36. Sembilan bulan kemudian setelah dilakukan pencarian yang melibatkan semua fihak di negara terkait.600 ppm. Pemerintah akhirnya memutuskan bahwa pabrik Enri Damanhuri . yaitu pada November 1985. Pihak Hoffman-La Roche harus bertanggung jawab untuk itu.1960. Produksinya dikontrakkan pada Hooker Chemical antara 1950 . udara.FTSL ITB Halaman 11 .USA) memprolamirkan dirinya sebagai chemical capital of the south. Lumpur dari pengolah limbah yang belum terolah secara baik langsung dibuang secara illegal ke lahan-urug.5 tahun dikeluarkan dari Seveso. tanaman dan limbah kota Hopewell serta sungai. Lumpur dari pengolah limbah mengandung kepone 200 . Kepone dikembangkan oleh Allied sekitar tahun 1950-an. dan disanalah dimulainya bencana kimiawi di USA.1 .000 pound pada tahun 1965 menjadi 400. Darah yang diambil dari pekerja tersebut menunjukkan kandungan kepone antara 2 . Debu kepone menutup lantai sampai beberapa inch dan memenuhi udara dalam pabrik. Masyarakat Ekonomi Eropa mencanangkan program kontrol bagaimana menangani dan mentransportasi limbah kimiawi yang berbahaya diantara anggotanya. dan dibawa ke Swiss. sebagai negara asal industri tersebut. Beberapa saat kemudian. sedangkan standar yang berlaku adalah 100 ppb. Agustus 1975 LSP didenda US$ 16500. Allied memproduksi kepone di Hopewell. 2 minggu setelah produksi penuh. Pencemaran udara juga telah meluas ke sekitar pabrik itu. Ikan di dekat sungai James mengandung kepone 0. Pada tahun 1973 Allied Chemical mensubkontrakkan pembuatan pestisida pada Life Sciences Product (LSP) yang dikenal dengan nama kepone.1 . sedang sungai James sendiri mengandung kepone 0. Dalam 2 bulan. secara periodik limbah dari LSP masuk ke sistem penyaluran air buangan dan pengolahan limbah kota. masyarakat Eropa sadar akan pentingnya peraturan yang ketat tentang pengelolaan limbah berbahaya. Di beberapa tempat. Kemudian 31 pekerja yang dirawat di Rumah Sakit. EPA kemudian melakukan sampling air minum.4 ppb.20 ppm. Dinas kesehatan setempat kemudian menginvestigasi industri kepone tersebut setelah salah seorang pekerja dinyatakan keracunan kepone. Namun karena pasaran meningkat. baik Allied maupun LSP secara illegal membuang kepone ke sungai James yang bermuara di Chesapeake Bay.000 pound pada tahun 1972. Sebetulnya buruh di sana sudah mengeluh terhadap kondisi ini tetapi manajemen LSP tidak memperhatikan hal ini. Allied juga memproduksi sendiri. Maret 1974. ternyata LSP telah mengeluarkan efluen kepone sebesar 500 . dijumpai masalah kesehatan diantara karyawannya. Penelitian selanjutnya mengungkapkan bahwa LSP melanggar aturan-aturan kesehatan dan keselamatan kerja yang berlaku. ternyata 40 % dari total partikulat adalah kepone. Tindakan berikutnya melibatkan US EPA (US Environmental Protection Agency). ternyata drum tersebut tersembunyi di suatu area pejagalan hewan di Perancis. Yang dijumpai pada pabrik kepone tersebut ternyata lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya.

tetapi dianggap belum dimonitor secara benar. − Menetralisir tanah terkontaminasi dengan abu semen kiln. McGraw-Hill Book. McGraw-Hill Book Co. Lahan-urug lain. Ternyata evaluasi berikutnya menyatakan bahwa lahan itu sebetulnya tidak cocok untuk limbah cair B3 dan terjadilah pencemaran air tanah. Interpretasi hasil analisis air tanah pada tahun 1972 ternyata juga salah. : Hazardous waste management.000 gallon (3028 m3) air tercemar dialirkan ke area di hilirnya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 itu untuk 'dilucuti'.FTSL ITB Halaman 12 . dan 4 juta gallon (15140 m3) air tercemar dialirkan ke lahan-urug West Covina. : Hazardous waste management. namun ternyata lahan ini juga bocor dan akhirnya ditutup. Akhirnya Pemerintah memilih cara yang lebih murah.000 gal/hari (265 m3) dari Stringfellow. Maret 1997 o LaGrega. 1994 o Wentz. Estimasi biaya pada tahun 1974 meningkat 4 kali lipat dengan cara tersebut. Allied diminta untuk bertanggung jawab operasi detoksifikasi tersebut dengan rencana biaya sebesar US $ 175000. Referensi Utama: o Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia – UNDP: Agenda 21 Indonesia. Studi geologi sebelumnya menyimpulkan bahwa lahan tersebut berada di atas bedrock yang kedap. maka diprakirakan tidak akan terjadi pencemaran air tanah. Lahan ini juga berlokasi di atas akuifer Chino Basin yang merupakan sumber air minum bagi sekitar 500. Casmalia Resources. M. 6 KASUS LAHAN STRINGFELLOW DI KALIFORNIA (USA) Lahan Stringfellow di Glen Avon (Kalifornia-USA) telah digunakan untuk menimbun limbah cair B3 dari tahun 1956 sampai 1972. Prakiraan biaya untuk menyingkirkan dan mengolah seluruh cairan dan tanah yang terkontaminasi pada tahun 1977 sekitar 3. − Membangun sumur-sumur pemantauan. Sekitar 15 juta US $ telah dihabiskan untuk program tersebut.000 penduduk. dan biaya yang ditanggung akhirnya membengkak berlipat ganda dengan adanya tuntutan dari orang yang merasa dirugikan. juga menerima sekitar 70.4 juta US$. C. 1989 Enri Damanhuri .D. dengan program pengolahan in-situ terhadap air tanah yang tercemar. dan masih dibutuhkan sekitar 65 juta US $ untuk mentuntaskan permasalahan. Namun biaya yang ditanggung Allied untuk operasi tersebut akhirnya menjadi US $ 394000. dengan menganggap bahwa pencemaran air tanah yang terjadi berasal dari limpasan air permukaan bukan dari lahan tersebut. Selama itu sekitar 30 juta galon (113. Hasil interpretasi yang salah juga dilakukan oleh sebuah konsultan lain pada tahun 1977.A. yaitu : − Meyingkirkan cairan terkontaminasi ke lahan yang lain. dan dengan membuat penghalang beton di hilirnya. tetapi LSP tidak sanggup untuk operasi tersebut. − Menempatkan lapisan clay untuk mengisolasi. misalnya 120 pedagang ikan yang merasa dirugikan karena mereka memperoleh ikannya dari sungai James yang tercemar. Sekitar 800.550 M3) limbah cair B3 telah ditimbun.

Pasal 1 (21) UU-32/2009 mendefinisikan bahan berbahaya dan beracun (disingkat B3) adalah zat. 32 tahun 2009 sebagai pengganti UU-23/1997 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Bahan POPs ini akan dibahas lebih lanjut dalam Bagian 5 Diktat ini. membatasi produksi dan penggunaan. 19 tahun 2009 tentang Pengesahan Konvensi Stockholm tentang Bahan Pencemar Organik yang Persisten atau Stockholm Convention on Persistent Organic Pollutants (POPs). Semua yang berkaitan dengan ketenaga atoman pada dasarnya diatur oleh Undang-undang No. 31 Tahun 1964 tentang Enri Damanhuri . dan/atau komponen lain yang karena sifat. 82 Tahun 1985 tentang Badan Tenaga Atom Nasional. penyimpanan dan penggunaan pestisida − Peraturan Menteri Kesehatan No.7/1973 tentang pengawasan atas peredaran.270/9/1984 tentang larangan penggunaan pestisida EDB − Keputusan Menteri Pertanian No. dan/atau menimbun B3 wajib melakukan pengelolaan B3.FTSL ITB Halaman 13 . Konvensi ini bertujuan untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan hidup dari bahan POPs dengan cara melarang. yang akan diuraikan lebih lanjut dalam Bagian ini.536/Kpts/TP. energi. yaitu : − Peraturan Pemerintah No. memanfaatkan. mengurangi. mengolah. dan/atau membahayakan lingkungan hidup. serta mengelola timbunan bahan POPs yang berwawasan lingkungan.33 Tahun 1985 tentang Dewan Tenaga Atom dan Badan Tenaga Atom Nasional dan Keputusan Presiden No.453/Menkes/Per/XI/1983 tentang bahan berbahaya − Keputusan Menteri Perindustrian RI No. kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lain. Beberapa peraturan yang secara langsung akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas limbah B3 yang dihasilkan adalah peraturan-peraturan yang mengatur masalah bahan berbahaya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN II PERATURAN DALAM PENGELOLAAN B3 1 UMUM Pada dasarnya pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3) di Indonesia mengacu pada prinsip-prinsip dan pedoman pembangunan berkelanjutan yang telah dituangkan dalam Undang-Undang No. mengedarkan.270/7/1985 tentang pengawasan pestisida Limbah radioaktif di Indonesia dikelola oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. konsentrasi dan/atau jumlahnya. Secara spesifik pengelolaan B3 ini telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun. Terkait dengan penggunaan bahan kimia organik berbahaya. mengangkut.148/M/SK/4/1985 tentang pengamanan bahan beracun dan berbahaya di lingkungan industri − Keputusan Menteri Pertanian No. membuang. maka Indonesia telah merativikasi konvensi Stockholm melalui Undang-undang No. menyimpan. Selanjutnya UU-32/2009 menggariskan dalam Ps 58 (1) bahwa setiap orang yang memasukkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.724/Kpts/TP. baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup. menghasilkan.

− Bab III (pasal 6 sampai 20) : Tata Laksana dan Pengelolaan B3. − Bab XII (pasal 39) : Ganti Kerugian. − Bab XI (pasal 38) : Sanksi Administrasi. − Bab VII (pasal 28 sampai 31) : Pengawasan dan Pelaporan.FTSL ITB Halaman 14 . dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup. Oleh karenanya. antara lain karena telah diatur dalam PP lain. kesehatan. menyimpan. baik secara langsung maupun tidak langsung. Selanjutnya beberapa peraturan lain di bawahnya antara lain: − Peraturan Pemerintah No. − Bab X (pasal 37) : Pembiayaan. − Bab XV (pasal 43) : Ketentuan Penutup. kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya’ (pasal 2). pasal-pasal berikutnya mengatur masalah kewajiban dan perizinan bagi mereka yang akan memproduksi (menghasilkan). Menurut PP 74/2001: ‘bahan berbahaya dan beracun yang selanjutnya disingkat dengan B3 adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya. Sedangkan sasaran pengelolaan B3 adalah 'untuk mencegah dan atau mengurangi resiko dampak B3 terhadap lingkungan hidup. mengangkut. mengedarkan. − Bab XIV (pasal 41 dan 42) : Ketentuan Peralihan. Dalam kegiatan tersebut.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Ketentuan-ketentuan pokok tenaga atom. terkait berbagai fihak yang merupakan mata rantai dalam pengelolaan B3. menggunakan dan atau membuang B3’ (pasal 1 angka 2). mengimpor. maka aspek keselamatan dan kesehatan kerja serta penanggulangan kecelakaan dan keadaan darurat diatur dalam PP tersebut. − Bab IX (pasal 35 dan 36) : Keterbukaan Informasi dan Peran Masyarakat. mendistribusikan. menyimpan. 13 Tahun 1975 tentang pengangkutan zat radioaktif 2 PENGELOLAAN B3 DALAM PP 74/2001 PP74/2001 tentang pengelolaan berbahaya dan beracun terdiri dari 15 bab yang dibagi lagi menjadi 43 pasal. − Bab VIII (pasal 32 sampai 34): Peningkatan Kesadaran Masyarakat. − Bab VI (pasal 24 sampai 27) : Penanggulangan Kecelakaan dan Keadaan Darurat. Kelima belas bab tersebut adalah : − Bab I (pasal 1 sampai 4) : Ketentuan Umum. Pengertian pengelolaan B3 adalah 'kegiatan yang menghasilkan. − Bab II (pasal 5) : Klasifikasi B3. kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya’ (pasal 1 angka 1). − Bab XIII (pasal 40) : Ketentuan Pidana. Tidak semua pengelolaan bahan yang berbahaya diatur oleh PP tersebut. menggunakan dan membuang bahan tersebut bilamana tidak dapat digunakan kembali. Setiap mata rantai tersebut memerlukan pengawasan dan pengaturan. dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup. − Bab IV (pasal 21) : Komisi B3. atau telah diatur oleh instansi lain berdasarkan konvesi internasional seperti bahan radioaktif. − Bab V (pasal 22 dan 23) : Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Bahan berbahaya yang tidak termasuk yang diatur adalah (pasal 3): Enri Damanhuri . mengeksport. 11 Tahun 1975 tentang keselamatan kerja terhadap radiasi − Peraturan Pemerintah No. Disamping aspek yang terkait dengan pencegahan terjadinya pencemaran lingkungan dan atau kerusakan lingkungan yang menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap fihak yang terkait. 12 Tahun 1975 tentang izin pemakaian zat radioaktif dan atau sumber radiasi − Peraturan Pemerintah No.

Chemical Abstract Sevice yang bersifat universal o Nama bahan kimia o Sinonim/nama dagang o Rumus molekul Berikut ini adalah beberapa contoh bahan kimia B3. Lampiran II . yaitu (pasal 5): o Mudak meledak (explosisive) o Pengoksidasi (oxidizing) o Menyala: o sangat mudah sekali menyala (extremely flammable) o sangat mudah menyala (highly flammable) o mudah menyala (flammable) o Beracun: o amat sangat beracun (extremely toxic) o sangat beracun (highly toxic) o beracun (moderately toxic) o Bebahaya (harmful) o Korosif (coorosive) o Bersifat iritasi (irritant) o Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment) o Toksik yang bersifat kronis: o karsinogenik (carcinogenic) o teratogenik (teratogenic) o mutagenik (metagenic) Penjelasan lebih lanjut tentang kriteria kapan sebuah bahan dikelompokkan sebagai B3 akan dijelaskan dalam Butir 3. Lampiran I PP 74/2001 mencantumkan 209 buah bahan kimia yang tergolong B3 yang dapat digunakan di Indonesia. maka PP tersebut mengklasifikasikan B3 dalam 8 kelompok. disertai keterangan: o No. semuanya organik-berhalogen. apakah diperbolehkan dipergunakan. narkotika. Enri Damanhuri .Tabel 2 mencantumkan 45 bahan B3 yang dibatasi pengunaannya di Indonesia. atau terbatas penggunaannya.Tabel 1 mencantumkan 10 bahan B3 yang dilarang pengunaannya. atau sama sekali dilarang dipergunakan.FTSL ITB Halaman 15 . PP 74/2001) o B3 yang terbatas dipergunakan (Lampiran II Tabel 2. 74 diantaranya dibatasi penggunaannya sampai tahun 2040.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 o o o o o o o o Bahan radioaktif Bahan peledak Hasil produksi tambang serta minyak gas dan gas bumi dan hasil olahannya Makanan dan minuman serta bahan tambahan makanan lainnya Perbekalan kesehatan rumah tangga dan kosmetika Bahan sediaan farmasi. B3 dibagi menjadi 3 bagian. yaitu (pasal 5): o B3 yang dapat atau boleh dipergunakan di Indonesia (Lampiran I PP 74/2001) o B3 yang dilarang dipergunakan di Indonesia (Lampiran II Tabel 1. dan penggunaannya di Indonesia disesuaikan dengan kelompok tabel yang berlaku. Untuk mempermudah menentukan B3 yang diatur dalam PP ini. psikotropika dan prekursor lainnya Bahan aditif lainnya Senjata kimia dan senjata biologi Untuk menentukan apakah sebuah bahan termasuk dalam kelompok B3. maka bahan tersebut termasuk B3. dan Lampiran II . maka berdasarkan penggunaannya di lapangan. bilamana sebuah bahan sudah terdapat dalam lampiran tersebut. Reg. Setiap bahan kimia dalam daftar tersebut. PP 74/2001) Dengan demikian. yang terdapat dalam daftar Lampiran I dan Lampiran II PP 74/2001 tersebut (Tabel 1 sampai Tabel 3).

PCP.1: Contoh B3 (dapat digunakan) dalam Lampiran I PP 74/2001 No 7 14 16 17 23 24 31 52 54 58 76 78 79 80 81 85 87 98 No Reg Chemical Abstract Service 7664-41-7 64-19-7 7664-38-2 7647-01-0 74-90-8 7664-93-9 71-43-2 108-95-2 50-00-0 7783-06-4 124-38-9 7440-44-0 630-08-0 7782-50-5 67-66-3 7487-97 74-82-8 1310-73-2 Nama Bahan Kimia Amoniak Asam Asetat Asam Posfat Asam Klorida Asam Sianida Asam Sulfat Benzena Fenol Formalin (larutan) Hidrogen Sulfida Karbon dioxide Karbon hitam Karbonmonoksida Klor Kloform Merkuri klorida Methane Natrium Hidroksida Sinonim/Nama Dagang Ammonia Acetic acid. Orthophosphoric acid Hydrochloric acid. Niran. Prussic acid Sulfuric Acid. Demikian juga halnya unutk B3 yang diimport dari luar negeri. Toxichlor. dalam hal ini Kementrian Lingkungan Hidup (pasal 6).FTSL ITB Halaman 16 . Phenilic acid. maka registrasinya harus diajukan kepada instansi yang bertanggung jawab. Aci-jel Phosphoric acid. Hydrocyanic acid. Phenyl hydroxide. Sodium hydrate Nitrogen Nitrogen dioxide Ozone. Mercury perchloride. Butter zinc Lead Bromochloroethane Rumus Molekul NH3 CH3COOH H3PO4 HCl HCN H2SO4 C 6H 6 C6H5OH CH2O H 2S CO2 C CO Cl2 CHCl3 HgCl2 CH4 NaOH N2 NO2 O3 C6HCl5O AgNO3 ZnCl2 Pb - 105 7727-37-9 Nitrogen 106 10102-44-0 Nitrogen Dioksida 110 10028-15-6 Ozon 112 87-86-5 Pentaklorofenol 114 7761-88-8 Perak nitrat 122 7646-85-7 Seng Klorida 127 7439-92-1 Timbal (timah hitam) 209 CH2BrCl *) Muncul juga pada Lampiran II – Tabel 2 (no. Bila bahan yang akan dimpor adalah termasuk dalam daftar B3 yang terbatas dipergunakan. maka bahan tersebut terlebih dahulu harus didaftarkan oleh importirnya untuk diregistrasi sebelum secara rutin diimport. Formol. Blausaure.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Setiap produsen yang menghasilkan B3 baru yang termasuk diatur dalam PP ini. Cyclo hexatriene Phenol. Mercury bichloride. Rumus Molekul C12H8Cl6 C10H6Cl8 Enri Damanhuri . 11) Tabel 2. Corrosive sublimate. Trichlorometthane Mercuric chloride. Soda lye. Triatomic oxygen Penta. Velsicol 1068. Hydrosulfuric acid Carbonic acid gas Amorphous Carbon monoxide Chlorine Chloroform. Sedang bahan berbahaya lain yang tidak diatur dalam PP ini. Morbicid. maka fihak otorita negara yang akan memasukkan bahan tersebut ke Indonesia terlebih dahulu harus menyampaikan notifikasi kepada fihak yang bertanggung jawab di Indonesia (pasal 8). Anhidrous hydrochloric acid Hydrogen cyanide. Hydrogen chloride. Phenic acid. Sulfurated hydrogen. Benzol. sehingga dengan mudah dilakukan pengawasan dan pencegahan terjadinya dampak B3 terhadap lingkungan. Carbolic acid. Formalin. Santhophene 20 Zinc chloride. Tabel 2. Caustic soda. Veracur Hydrogen sulphide. Bahan tersebut kemudian akan mendapat nomor registrasi sebagai alat kontrol terhadap peredaran B3 di Indonesia. misalnya Badan Tenaga Atom Nasional untuk bahan radioaktif. Oil of Vitriol Benzene. Hidroxybenzene. maka sebelum dipergunakan secara luas produsen tersebut harus mendaftarkan terlebih dahulu kepada yang berwenang. Corrosive mercury chloride Sodium hydroxide. Penchloraol. Oxybenzene Formadehyde solution.2: B3 yang dilarang dalam Lampiran II – Tabel 1 PP 74/2001 No 1 2 No Reg Chemical Abstract Service 309-00-2 57-74-9 Nama Bahan Kimia Aldrin Chlordane Sinonim/Nama Dagang HHDN CD68.

Gesarex. Arocloc.Anorganik merkuri .4. Halon. ENT 16225. Clophen. Freon 114. Embafume C6HCl5O Hg CCl3 CCl2F2 C2Cl2F2 C2Rbr2F4 CH3Br *) Muncul juga pada Lampiran I (no. ENT 17251. Velsicol 104. Akar. Fluorotrichloromethane.Alkyl merkuri . termasuk: . Penphene. Bunt-no-more.5-T Chlordimeform (CDM) Chlorobenzilate Ethylene Dibromida (EDB) Lindane Senayawa merkuri. Pyralene. Freon 12.4-hydroxy-2. Phenochlor. Chlorinatedcamphene. Phenatox. Hydragyrum. Monobromomethane. Isotron 2 Dichlorotetrafluoroethane. Ethyl 4.497. Agritan. D-58. Campeclor. Gesarol. Genetron 12. Dechlorane.Alkyloxyalkyl merkuri . Weedone CDM. Guesapon. Enri Damanhuri . Altox. Penchloraol. Gesapon. Belt. Schering 36.4-dichlorobenzilate. Hexachloropentadienedimer Hercules 3956: Polycholorcamphene. 112) Jawaban boleh tidaknya barang tersebut masuk ke Indonesia harus diterima oleh otorita negara pengekspor dalam waktu paling lambat 30 hari sejak tanggal diterimanya notifikasi tersebut. Necide Compound 497. Santhophene 20 Liquid silver. Cryfluorane. Hexadrin E3314. serta dari instansi yang berwenang. Anticarie. Mendrin. Santotherm C14H9Cl5 C12H8Cl6OH C12H8Cl6OH C10H5Cl7 C10Cl12 C10H10Cl8 C6Cl6 C12X X=H or Cl Tabel 2.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 3 50-29-3 DDT 4 5 6 7 8 60-57-1 72-20-8 76-44-8 2385-85-5 8001-35-2 Dieldrin Endrin Heptachlor Mirex Toxaphene 9 10 118-74-1 1336-36-3 Hexachlorobenzene PCBs Octachlor. Synclor. Kenachlor. Bunt-cure. Sebelum ada persetujuan dari otoritas negara tujuan ekspor dan otoritas negara transit.3: Contoh B3 (dibatasi) dalam Lampiran II – Tabel 2 PP 74/2001 No 1 2 4 6 9 10 No Reg Chemical Abstract Service 93-76-5 2425-98-3 510-15-6 106-93-4 58-89-9 Nama Bahan Kimia 2. Toxakil Polychlorobenzene. G23922. Areton 114 Dibromotetrafluoroethane Bromomethane. Quicksilver Trichloromonofluoromethane. ENT 25719. Ethylenebromide. Dowfume WW85. maka ekspor B3 tersebut belum boleh dilaksanakan. Julins carbon chloride Polychlorinated Biphenyls.FTSL ITB Halaman 17 . Freo 11. Gulecton.p-DDT. Trioxone. PP ini mewajibkan eksportir B3 tersebut untuk menyampaikan notivikasi ke otoritas negara tujuan ekspor. Motox. Orthochlor. Dicophane. Fenclor.Aryl merkuri Pentaklorofenol* Mercury/Air raksa CFC-11 CFC-12 CFC-114 Halon-2402 Metil bromida Sinonim/Nama Dagang Esterone 245. Areton 12. Sym-dibromoethane Rumus Molekul C8H5Cl3O3 C10H13ClN2 C16H14Cl2O3 C12H4Br2 C6H6Cl6 - 11 21 26 27 29 43 45 87-86-5 7439-97-6 75-69-4 75-71-12 74-83-9 Penta. Nendrin. Phenacide. 1. Ciba-8514. Prosedur ini adalah sesuai dengan Konvensi Basel yang mengatur lintas batas bahan dan limbah B3 antar negara. p. Chlorobiphenyls. Clofenotane. Strobane-T. Prosedur yang sama diberlakukan bagi B3 yang akan dieksport ke luar negeri (pasal 7). Chlorophenamidine Compound 338. Drinox. Acarabene. Frigen 11. Chlorophenothane.2-dibromoethane. Corodane Dichlorodiphenyltrichloroethane.268: Spanon. Folbex. Ethyl 4. Areton 11 Dichlorodifluoromethane. Frigen 114. PCP. Insecticide No. Frigen 12. Fundal. Geniphene. HEOD. otoritas negara transit dan instansi yang bertanggung jawab di Indonesia terlebih dahulu.2bis(4-chlorophenil)acetate EDB. Heptamul C6-1283. Octalox Compound 268.

denganmaksud untuk mengetahui sedini mungkin terjadinya kontaminasi oleh zat/senyawa kimia B3 terhadap pekerja atau pengawas lokasi tersebut (pasal 23). B3 kadaluwarsa adalah bahan yang karena kesalahan dalam penanganannya menyebabkan terjadinya perubahan komposisi dan atau karakteristik sehingga bahan tersebut tidak sesuai lagi dengan spesifikasinya. dan o Tata-cara penanganan bila terjadi kecelakaan PP 74/2001 mengatur juga secara umum pengangkutan B3 (pasal 13). Lokasi dan konstruksi tempat penyimpanan B3 membutuhkan pengaturan tersendiri. juga harus muncul pada dokumen pengangkutan. PP 74/2001 mengatur juga masalah kesehatan dan keselamatan kerja bagi orang yang bekerja di bidang ini. atau tidak memenuhi spesifikasi. 3 KARAKTERISASI B3 MENURUT PP 74/2001 Penjelasan PP 74/2001 menguraikan secara singkat klasifikasi B3 sebagai berikut: a. agar tidak terjadi kecelakaan akibat kesalahan dalam penyimpanan tersebut. Bila terjadi kecelakaan. Salah satu persyaratan kelengkapan pada tempat penyimpanan tersebut adalah sistem tanggap darurat dan prosedur penanganan B3 (pasal 19). Salah satu langkah yang wajib dilakukan adalah kewajiban uji kesehatan secara berkala bagi pekerja. pengemasan B3 (pasal 15). penyimpanan. yang tidak dapat digunakan tidak boleh dibuang sembarangan. sekurang-kurangnya 1 kali dalam 1 tahun. Kecelakaan B3 adalah lepasnya atau tumpahnya B3 ke lingkungan. Sedang B3 yang tidak memenuhi spesifikasi adalah bahan yang dalam proses produksinya tidak sesuai dengan yang ditentukan. Informasi MSDS disamping harus tercantum pada produksi B3 (pasal 11). Langkah darurat yang harus dilakukan adalah (pasal 25): o Mengamankan (mengisolasi) tempat terjadinya kecelakaan o Menanggulangi kecelakaan sesuai dengan prosedur standar penanggulangan kecelakaan o Melaporkan kecelakaan atau keadaan darurat tersebut kepada aparat Kota/Kabupaten setempat o Memberikan informasi. Explosive (mudah meledak): adalah bahan yang pada suhu dan tekanan standar (25oC. yang memerlukan penanggulangan cepat dan tepat (pasal 24).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Salah satu informasi penting yang selalu harus disertakan dalam produksi B3 adalah Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet . dan pengedaran B3 (pasal 12). penyimpanna B3 (pasal 18). bantuan dan melakukan evakuasi masyarakat sekitar lokasi kejadian. tetapi harus dikelola sebagai limbah B3 (pasal 20). maka kondisi awalnya adalah berstatus keadaan darurat (emergency). pemberian label dan simbol (pasal 17). Salah satu kehawatiran utama dalam penanganan B3 adalah kemungkinan terjadinya kecelakaan baik pada saat masih dalam penyimpanan maupun kecelakaan pada saat dalam pengangkutannya. Lembar MSDS paling tidak berisi: o Merek dagang o Rumus kimia B3 o Jenis B3 o Klasifikasi B3 o Teknik penyimpanan. atau bekas kemasan. B3 yang dianggap kadaluwarsa.MSDS). yang menjadi tanggung jawab bagi pengusaha. dan juga pada kemasan bahan tersebut (pasal 14).FTSL ITB Halaman 18 . 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat Enri Damanhuri .

Tingkatan racun dikelompokkan seperti tabel berikut. sedang 2. akan menyala apabila terjadi kontak dengan api. Pengujiannya dapat dilakukan dengan metode Closed-up test. dengan titik nyala di bawah 40oC. Dangerous to the Environment (berbahaya bagi lingkungan): seperti merusak lapisan ozon (misalnya CFC). senyawa standar yang digunakan adalah larutan asam nitrat. Harmful (berbahaya): padatan maupun cairan ataupun gas yang jika kontak atau melalui inhalasi (pernafasan) atau melalui oral dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan sampai tingkat tertentu. o Flammable: o Bila cairan: bahan yang mengandung alkohol kurang dari 24%-volume. atau sumber nyala lainnya. penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan.000 5001 – 15. f.000 e. pada temperatur dan tekanan standar dengan mudah menyebabkan terjadinya kebakaran melalui gesekan. pada tekanan 760 mmHg. g. atau bahan tersebut dapat merusak lingkungan. o Mempunyai pH ≤ 2 untuk B3 bersifat asam. Pengujiannya dapat dilakukan dengan menggunakan Diffrential Scanning Calorimetry (DSC) atau Differential Thermal Analysis (DTA).4-dinitrotoluena atau Dibenzoil-peroksida digunakan sebagai senyawa acuan.4: Tingkat racun menurut PP 74/2001 Urutan 1 2 3 4 5 6 Kelompok Extremely toxic (amat sangat beracun) Highli toxic (sangat beracun) Moderately toxic (beracun) Slighly toxic (agak beracun) Practically non-toxic (praktis tidak beacun) Relatively harmless (realtif tidak berbahaya) LD50 (mg/kg) ≤1 1 – 50 51 – 500 501 – 5. dan atau pH ≥ 12. Dari hasil pengujian tersebut. Sedang untuk bahan cair. o Hghly flammable: padatan atau cairan yang memiliki titik nyala 0oC . Tabel 2. Oxidizing (pengoksidasi): pengujian bahan padat dilakukan denganemtode uji pembakaan menggunakan ammonium persulfat sebagai senyawa standar.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 merusak lingkungan di sekitarnya.5 untuk B3 bersifat basa. Apabila nilai temperatur pemanasan suatu bahan lebih tinggi dari senyawa acuan. c.21oC. Pengujian dapat pula dilakukan dengan Seta Closed-cup Flash Point Test. Toxic (beracun): akan menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan.FTSL ITB Halaman 19 . akan diperoleh nilai temperatur pemanasan. maka bahan tersebut diklasifikasikan mudah meledak. dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran terus menerus dalam 10 detik. Irritant (bersifat iritasi): padatan maupun cairan yang bila terjadi kontak secara langsung. dan atau mempunyai titik nyala ≤ 60oC (140oF). d. Enri Damanhuri . dan apabila terus menerus kontak dengan kulit atau selaput lendir dapat menyebabkan peradangan h. persisten di lingkungan (misalnya PCBs). Corrosive (korosif): mempunyai sifat o Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit o Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja standar SAE-1020 dengan laju korosi lebih besar dari 6. kulit atau mulut. Suatu bahan dinyatakan sebagai pengoksidasi apabila waktu pembakaran bahan tersebut sama atau lebih pendek dari waktu pembakaran senyawa standar.35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55oC. o Bila padatan: bahan bukan cairan. Flammable (mudah menyala): o Extremely flammable: padatan atau cairan yang memiliki titik nyala (flash point)di bawah 0oC dan titik didih lebih rendah atau sama dengan 35oC.000 > 15. b. percikan api.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 i. Referensi Utama: o o o Undang-Undang No. 26 November 2001 Undang-undang No.FTSL ITB Halaman 20 . Chronic toxic (toksik kronis): o Carcinogenic (karsinogen): sifat bahan penyebab sel kanker. yaitu sel liar yang dapat merusak jaringan tubuh o Teratogenic: sifat bahan yang dapat mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan embrio o Mutagenic: sifat bahan yang dapat menyebabkan perubahan kromosom yang dapat merubah genetika. 32 tahun 2009: Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Peraturan Pemerintah Nomor 74/2001: Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun. 19 tahun 2009: Pengesahan Konvensi Stockholm tentang Bahan Pencemar Organik yang Persisten Enri Damanhuri .

Studi yang dilakukan oleh Dames & Moore untuk mengkaji kelayakan pusat pengolah limbah B3 di Cileungsi menghasilkan proyeksi total limbah berbahaya di daerah Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi (Jabotabek) pada tahun 1990 sebesar 1. 05/Bapedal/09/1995 yang merupakan pengaturan lebih lanjut PP19/1994 dan PP12/1995.90 %). atau bupati/ walikota sesuai dengan kewenangannya. Dalam hal setiap orang tidak mampu melakukan sendiri pengelolaan limbah B3.984. merupakan limbah cair atau aquous liquid waste.FTSL ITB Halaman 21 . Dalam hal B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 ayat (1) telah kedaluwarsa. Sebagaimana dibahas pada Bagian I. Keputusan pemberian izin wajib diumumkan. Pasal 59 UU tersebut menggariskan bahwa: 1. gubernur. Lebih dari 90 % limbah yang berkatagori berbahaya. survai limbah B3 yang berasal dari industri-industri di Otorita Batam menyimpulkan bahwa : − Karakteristik limbah cair industri adalah : mudah terbakar (11. beracun (0.626 ton (padat. cair dan gas). korosif (1. pengelolaannya diserahkan kepada pihak lain. pada dasarnya pengelolaan limbah B3 di Indonesia mengacu pada prinsip-prinsip dan pedoman pembangunan berkelanjutan yang telah dituangkan dalam peraturan perudang-undangan. Peraturan-peraturan lain yang mengatur masalah limbah B3 adalah Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan dari No. khususnya Undangundang No.52 %) dan non B3 (97. dan tetap masih berlaku sebagai pengaturan lebih lanjut dari PP 18/99 jo PP 85/99. namun tidak semua berkatagori Limbah B3. Selain itu.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN III PERATURAN DALAM PENGELOLAAN LIMBAH B3 1 UMUM Survai di Amerika Serikat pada tahun 1981 mengungkapkan bahwa hampir 90 % dari limbah B3 yang dikelola berasal dari kegiatan industri dan 70 % diantaranya berasal dari industri kimia dan petroleum. beracun (2. 01/Bapedal/09/1995 sampai No. 3. terutama karena sifat korosifitasnya. Menteri. atau bupati/walikota wajib mencantumkan persyaratan lingkungan hidup yang harus dipenuhi dan kewajiban yang harus dipatuhi pengelola limbah B3 dalam izin. 6. korosif (8.54 %) − Karakteristik limbah padat industri adalah : mudah terbakar (0 %). 2. gubernur.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 5.44 %) dan non B3 (77. 4. Enri Damanhuri .52 %). Pengelolaan limbah B3 wajib mendapat izin dari Menteri. Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya. 18 tahun 1999 (PP85/1999) PP 18/99 jo PP 85/99 merupakan pengganti PP 19/94 jo PP12/95.58 %) − Limbah B3 (cair dan padat) dari industri rata-rata di bawah 5 % dari total limbah industri yang dihasilkan. Secara spesifik pengelolaan limbah B3 telah diatur lebih lanjut dalam: − Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (PP18/1999) − Peraturan Pemerintah No 85 tahun 1999 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah No.50 %). pengelolaannya mengikuti ketentuan pengelolaan limbah B3. Walaupun limbah itu berasal dari kegiatan industri.

Peraturan-peraturan yang langsung menangani lintas batas limbah adalah: • Keputusan Presiden RI No. − Bab VI (pasal 62 sampai 63): Sanksi. misalnya hanya dibuang ke lahan landfill yang belum dilapis secara kedap. PP 18/1999 jo PP 85/1995 melarang impor limbah B3 kecuali dibutuhkan untuk penambahan kekurangan bahan baku sebagai bagian pelaksanaan daur-ulang limbah.156/Kp/VII/95 tentang prosedur impor limbah Disamping itu. dan pasal II (Penutup). 349/Kp/XI/92 tentang pelarangan impor limbah B3 dan plastik • Keputusan Menteri Perdagangan RI No. Sedang PP 85/1999 yang merupakan perubahan dari PP 18/1999 hanya terdiri dari 2 (dua) pasal. pengangkutan. 156/KP/VII/95. 2 PENGELOLAAN LIMBAH B3 DALAM PP 18/1999 JUNCTO PP 85/1999 Hal yang Diatur: PP 18/1999 tentang pengelolaan limbah berbahaya dan beracun terdiri dari 8 bab yang dibagi lagi menjadi 42 pasal. − Bab V (pasal 40 sampai 61): Tata laksana. pengolahan limbah dan penimbunan limbah B3' (pasal 1 angka 3). pasal 7. baik antar pula di Indonesia. Indonesia telah meratifikasi Konvensi Basel. • Keputusan Menteri Perdagangan RI No.FTSL ITB Halaman 22 . sampai jangka waktu terbatas. − Bab VIII (pasal 66): Ketentuan penutup. Sebagai negara kepulauan dengan perairannya yang terbuka. yaitu sebanyak 3 pasal. Pasal I berisi pasal-pasal dalam PP 18/1999 yang mengalami perubahan. Dapat dikatakan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Dalam hal masalah lintas batas limbah ini. yang berupaya mengatur ekspor dan impor serta pembuangan limbah B3 secara tidak syah.. − Bab IV (pasal 27 sampai 39): Kegiatan pengelolaan . Dengan SK Menteri Perdagangan No. Indonesia sangat potensial sebagai tempat pembuangan limbah berbahaya. penyimpanan. Sedangkan tujuan pengelolaan tersebut Enri Damanhuri . Karakteristk dan Proses Penentuan Limbah B3: Pengertian pengelolaan limbah B3 adalah '. pemanfaatan. Kedelapan bab tersebut adalah : − Bab I (pasal 1 sampai 5): Ketentuan umum. rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi. dan pasal 8. pengumpulan. Timbulnya gerakan lingkungan tahun 1960-an. memaksa Kongres Amerika untuk memperhatikan masalah limbah industri ini lebih serius.61/1993 tentang Pengesahan Convension on The Control of Transboundary Movements of Hazardous Wastes and Their Disposal. khususnya konsep cradle-to-grave yang menjadi rujukan dalam peraturan tentang limbah berbahaya di Indonesia.. maupun limbah yang datang dari luar negeri. limbah B3 yang dapat diimpor adalah skrap timah hitam (aki bekas). − Bab VII (pasal 64 sampai 65): Ketentuan peralihan. yaitu: pasal 6. − Bab II (pasal 6 sampai 8): Identifikasi limbah B3 − Bab III (pasal 9 sampai 26): Pelaku pengelolaan.155/Kp/VII/95 tentang barang yang diatur tata niaga impornya • Keputusan Menteri Perdagangan RI No. Dalam pasal I dijelaskan pasal-pasal dalam PP18/1999 yang mengalami perubahan. Sumber. maka tidaklah berlebihan bila dalam diktat ini dibahas juga pengertian dan pengembangan peraturanperaturan yang berkaitan dengan limbah B3 di Amerika Serikat. sampai tahun 1960-an pengelolaan limbah industri di Amerika Serikat masih belum memadai. Sebagai negara industri yang dapat dikatakan relatif paling maju...

karena izin pengelolaan limbah B3 membutuhkan prosedur administrasi yang tidak sederhana. Bila tidak terdapat dalam daftar tersebut. Ps 7 (1) PP85/99 menyebutkan bahwa jenis limbah B3 menurut sumbernya meliputi: a.. Bila terdapat dalam daftar. Limbah B3 yang dihasilkan oleh kegiatan rumah tangga. Bila batasan penghasil limbah B3 diterapkan juga pada kelompok tersebut. yang hanya bisa dilaksanakan oleh sebuah usaha komersial. Mudah meledak b. yaitu: • Langkah 1: mengidentifikasi limbah yang dihasilkan. serta kegiatan skala kecil tidak terkena peraturan ini. Limbah B3 dari sumber spesifik (Lampiran I Tabel 2) c. tumpahan. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa. dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi (Lampiran I Tabel 3) Rincian dari masing-masing jenis kelompok tersebut terdapat pada Lampiran I PP85/99.. maka identifikasi harus dilanjutkan dengan Langkah berikutnya • Langkah 2: melakukan uji karakteristik sebagaimana tercantum dalam Ps 7(3) PP85/99 seperti diuraikan berikut ini. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik (Lampiran I Tabel 1) b.FTSL ITB Halaman 23 . Sebuah limbah dinyatakan sebagai limbah B3. PP18/99 mendefisikan bahwa penghasil limbah B3 adalah orang yang usaha dan atau kegiatannya menghasilkan limbah B3 seperti di tegaskan dalam Ps1(5). seperti ditegaskan dalam Ps9(6).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 adalah : '. dengan daftar limbah (Lampiran 1 Tabel 1 dan 3) atau daftar kegiatan (Lampiran 1 Tabel 2) yang tercantum dalam PP85/99. bekas kemasan. Bersiafat reaktif d. Bersifat korosif g. dan atau kelompok orang dan atau badan hukum. Beracun e. seperti diatur dalam Ps 7(1). melalui beberapa langkah. Pengujian toksikologi untuk menentukan sifat akut dan atau kronik. karena pengaturannya akan ditetapkan kemudian oleh instansi yang bertanggungan jawab. Pengertian ‘orang’ yang sering muncul dalam PP18/99 seperti dijelaskan dalam Ps1(18) adalah orang perorangan. Pasal 1 angka 2 mendefinisikan limbah berbahaya dan beracun (disingkat B3) adalah sebagai sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya yang dapat diidentifikasikan menurut sumber dan/atau uji karakteristik dan atau uji toksikologi (PP85/99 Ps 6). Kemudian PP 12/1995 membatasi. untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang sudah tercemar sehingga sesuai fungsinya kembali ' (pasal 2). Tabel 2 (Sumber spesifik) dan Tabel 3 (limbah kimia kadaluarsa). Menyebabkan infeksi f. yaitu Tabel 1 (Sumber tidak spesifik).. Enri Damanhuri . Mudah terbakar c. Sebelumnya PP 19/1994 mendefinisikan bahwa penghasil limbah B3 tidak hanya mereka yang bergerak dalam kegiatan yang bersifat komersial tetapi termasuk juga perorangan yang menyimpan limbahnya dalam lokasi kegiatannya sebelum limbah tersebut ditangani lebih lanjut sesuai dengan peraturan yang ada.. bahwa yang terkena definisi tersebut adalah badan usaha yang menghasilkan limbah B3. maka secara formal limbah tersebut adalah limbah B3.. Ps 7(3) PP85/99 selanjutnya mendefinisikan uji karakteristik limbah B3 sebagai berikut: a. akan menimbulkan permasalahan. seperti batere bekas.

fotografi. • Bukan berupa cairan yang pada temperatur dan tekanan standar dengan mudah menyebabkan terjadinya kebakaran melalui gesekan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Sumber limbah tidak spesifik adalah sumber limbah yang menghasilkan limbah yang pada umumnya bukan berasal dari proses utamanya. IPAL industri. akan menyala apabila terjadi kontak dengan api. eksplorasi dan produksi minyak-gas-panas bumi. metal-plastic shaping. dan atau pada titik nyala ≤ 60oC (140oF). semua jenis industri konstruksi (untuk limbah asbestos). laboratorium riset dan komersial. zat warna dan pigmen. fotokopi. semua jenis industri yang menghasilkan dan menggunakan listrik (untuk limbah PCB). peleburan timah hitan (Pb). manufaktur dan perakitan kendaraan-mesin. resin adesif. pencegahan korosi. allumunium thermal metallurgyallumunium chemical conversion coating. daurulang minyak pelumas bekas. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa. dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran terus menerus. kilang minyak dan gas bumi. 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan di sekitarnya (bandingkan dengan uraian pada PP74/2001) Limbah mudah terbakar adalah limbah-limbah yang memunyai salah satu sifat: • Berupa cairan yang mengandung alkohol kurang dari 24%-volume. operasi penyempurnaan baja. Terdapat 43 jenis limbah yang termasuk kelompok ini.FTSL ITB Halaman 24 . Sumber limbah ini terbagi dalam 51 jenis kegiatan yang termasuk kelompok penghasil limbah B3. Jenis kegiatan yang termasuk kelompok sumber spesifik adalah industri atau kegiatan: pupuk. peleburan-pengolahan besi dan baja. PLTU yang mengunakan bahan bakar batu-bara. polimer. bekas kemasan. Terdapat 178 jenis bahan kimia yang termasuk kelompok limbah B3. batere sel kering. penyamakan kulit. Limbah mudah meledak adalah limbah yang pada suhu dan tekanan standar (25oC. pengolahan lemak hewan/nabati dan derivatnya. tumpahan. komponen elektronik-peralatan elektronik. laundry dan dry cleaning. pengawetan kayu. tekstil. gelas keramik/enamel. pengolahan batu-bara dengan pirolisis. Limbah B3 dari sumber spesifik adalah limbah sisa proses suatu industri atau kegiatan yang secara spesifik dapat ditentukan berdasarkan kajian ilmiah. gas industri. farmasi. pengoperasian insinerator limbah. produk kertas. tetapi berasal dari kegiatan pemeliharaan alat. tinta. pestisida. atau sumber nyala lainnya. chemical-industrial cleaning. bengkel pemeliharaan kendaraan. pencucian. penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan. daur-ulang pelarut bekas. batere sel basah. petrokimia. prosers logam non-ferro. • Merupakan limbah yang bertekanan yang mudah terbakar • Merupakan limbah pengoksidasi Limbah yang bersifat reaktif pada air adalah limbah-limbah dengan salah satu sifat: • Limbah yang pada keadaan normal tidak stabil dan dapat menyebabkan perubahan tanpa peledakan • Limbah yang dapat bereaksi hebat dengan air Enri Damanhuri . pada tekanan 760 mmHg. metal hardening. sabun deterjen-produk pembersih desinfektan-kosmetik. peleburan dan penyempurnaan seng. cat. pelarutan kerak. pengemasan. seal-gasket-packing. rumah sakit. pertambangan. peleburan-pemurnian tembaga. percikan api. dan buanagn produk yang tidak memenuhi spesifikasi yang ditentukan atau tidak dapat dimanfaatkan lagi. electroplating dan galvanis. proses kloro-alkali.

yang merupakan batas ambang yang digunakan untuk indikasi B3. residu dasar tanki. drilling mud bekas. limbah PCB • D223: PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara. dengan kode: • D220: limbah dari kegiatan eksplorasi dan produksi minyak. uap. Limbah bersifat korosif adalah limbah yang mempunyai salah satu sifat o Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit o Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja standar SAE-1020 dengan laju korosi lebih besar dari 6. Asal limbahnya adalah slop minyak. dan kewenangan pengelolaannya dilakukan oleh Badan Tenaga Atom Nasional sesuai dengan UU no. Asal limbahnya adalah fly ash. Pengelolaan limbah radioaktif tidak termasuk dalam peraturan ini (Ps 5 PP18/99).5 dapat menghasilkan gas. atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan Limbah yang dengan mudah dapat meledak atau bereaksi pada suhu dan tekanan standar Limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepas atau menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi Limbah yang beracun adalah limbah yang mengandung pencemar yang bersifat racun bagi manusia dan lignkungan yang dapat menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan. Namun dalam versi Indonesia. limbah laboratorium. sludge dari IPAL. Asal limbahnya adalah sludge minyak. karbon aktif dan absorban bekas. uap atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan Limbah sianida. Indikator sifat racun yang digunakan adalah TCLP (Toxicity Characteristics Leaching Procedure). yang ditularkan pada pekerja. katalis bekas. sludge dari IPAL. menghasilkan gas. cutting pemboran. pembersih jalan dan masyarakat lain di sekitar lokasi pembuangan limbah. • D221: limbah dari kegiatan kilang minyak dan gas bumi. uji TCLP adalah uji yang dikembangkan oleh US-EPA. yang merupakan simulasi terburuk kondisi landfill. yang airnya digunakan secara rutin. bottom ash. menghasilkan batas aman yang memperhitungkan probabilitas terjadinya toksisitas kronik non-kanker maupun kanker. o Mempunyai pH ≤ 2 untuk B3 bersifat asam. bila ambang batas TCLP tidak terlampaui. filter bekas. Limbah ini berbahaya karena mengandung kuman penyakit seperti hepatitis dan kolera. sludge minyak.35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55oC. residu dasar tanki.5 untuk B3 bersifat basa. kulit dan mulut. penghasil limbah masih tetap diharuskan melakukan uji toksisitas akut maupun kronis Limbah yang menyebabkan infeksi yaitu bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan dari tubuh manusia yang terkena infeksi. daftar limbah yang dapat dikecualikan adalah seperti terdapat pada Lampiran I – Tabel 2. limbah PCB Enri Damanhuri . Limbah yang Dapat Dikeluarkan dari Daftar Lampiran I: Menurut PP85/99. Simulasi transportasi pencemar ini. gas dan panas bumi. yang menyebabkan terjadinya pencemaran pada air tanah. karbon aktif bekas.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 • • • • Limbah yang bila bercampur dengan air (termasuk uap air) menimbulkan ledakan.FTSL ITB Halaman 25 . Pada dasarnya sebetulnya. sulfida atau amoniak yang pada pH antara 2 dan 12. 31 tahun 1994 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Tenaga Atom. limbah dari laboratorium atau limbah lainnya yang terinfeksi kuman penyakit yang dapat menular. seperti tercantum dalam lampiran II PP85/99. dan atau pH ≥ 12.

Rangkaian mata rantai berikutnya adalah: − Pemanfaatan limbah oleh pemanfaat. maka limbah B3 tersebut dapat dimanfaatkan. Aspek pengawasan dan sanksi juga diatur dalam kedua PP tersebut. Setiap mata rantai tersebut memerlukan pengawasan dan pengaturan. Namun pada kenyataannya di lapangan. bertanggung jawab akan hal itu. Badan yang mempunyai kewenangan untuk mengawasi pengelolaan limbah B3 tersebut di Indonesia adalah sebuah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. PP tersebut mengatur masalah perizinan bagi mereka yang akan terlibat dalam bisnis kegiatan operasional tersebut. Selanjutnya Ps 8 mengatur bahwa limbah B3 yang tercantum dalam Lampiran I Tabel 2 PP85/99 dapat dikeluarkan dari daftar setelah dapat dibuktikan bukan limbah B3 berdasarkan prosedur pembuktian secara ilmiah. − Pengangkutan limbah oleh pengangkut. maka pengelolaan limbah B3 menurut PP 18/99 jo PP85/99 merupakan suatu rangkaian kegiatan (Ps 1. maka Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. o Substitusi bahan o Modivikasi proses o Serta upaya reduksi lainnya Secara teknis operasional. Dengan penyatuan institusi Bapedal dalam Kementerian Lingkungan Hidup. maka PP 18/99 jo PP85/99 mengarahkan penanganan limbah B3 yang lebih berbasiskan pada cleaner production. yaitu: • Uji karakteristik limbah B3 • Uji toksikologi • Hasil studi yang menyimpulkan bahwa limbah yang dihasilkan tidak menimbulkan pencemaran dan gangguan kesehatan terhadap manusia dan mahluk hidup lainnya.3) dari terbentuknya limbah oleh penghasil. dan melakukan pengolahan. − Pengumpulan limbah oleh pengumpul. dilarang membuang limbahnya secara langsung ke dalam media lingkungan hidup.FTSL ITB Halaman 26 . maka setiap penghasil limbah B3. tanpa kecuali. Dengan adanya kedua PP tersebut. dan masih limbahnya dapat dimanfaatkan. yang dikenal sebagai BAPEDAL. Oleh karenanya. kemudian upaya reduksi limbah (sebelum terbentuk) seperti diuraikan di atas. Ps 9 (1) PP18/99 menegaskan bahwa setiap penanggung jawab usaha atau kegiatan yang menggunakan B3 atau menghasilkan limbah B3 wajib melakukan reduksi baik bahan maupun limbahnya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Limbah tersebut di atas dapat dinyatakan sebagai limbah B3 setelah dilakukan uji karakteristik dan atau uji toksikologi. baik dilakukan sendiri atau menggunakan jasa fihak lain. maka instansi yang bertanggung sepertinya berada pada Kementerian ini. Bila kegiatan reduksi tersebut masih menghasilkan limbah. terkait berbagai fihak yang merupakan mata rantai dalam pengelolaan limbah B3. artinya mengutamakan upaya reduksi di sumber. Enri Damanhuri . Sebelum dibubarkan beberapa tahun lalu. dan − Pengolahan dan penimbunan limbah oleh pengolah Dalam kegiatan tersebut. semua jenis limbah tersebut oleh yang berwenang dinyatakan sebagai limbah B3. Kegiatan dan Pelaku Pengelolaan: Berbeda dengan PP19/94 jo PP12/95. tanpa menunggu pembuktian terlebih dahulu. Ps 27 (1) PP tersebut mengarahkan bahwa reduksi limbah B3 dapat dilakukan melalui upaya: o Penyempurnaan penyimpanan bahan baku dalam proses house keeping. dan/atau penimbunan bagi limbahnya.

Batas waktu bagi penghasil limbah. atau pemanfaat limbah atau pengolah/penimbun limbah untuk menyimpan limbahnya sebelum dikelola lebih lanjut tidak lebih dari 90 hari (Ps10. dengan syarat mendapat persetujuan instansi yang bertanggung jawab (Ps10). dengan tembusan kepada instansi lain terkait. Bila limbah B3 yang dihasilkan kurang dari 50 kg/hari. yang mencakup (Ps11-1): o Jenis. sebagaimana diatur dalam Ps12 dan Ps15 PP18/99. jumlah dan waktu. baik pada saat limbah dihasilkan. serta Bupati/Walikota yang bersangkutan. wajib mengolah limbahnya sesuai dengan teknologi yang ada. dan bila tidak mampu diolah di dalam negeri dapat diekspor ke negara yang mempunyai teknologi pengolahan yang sesuai (Ps9-3). Demikian pula pengolah limbah B3 dapat menyimpan limbah yang diterimanya maksimum 90 hari sebelum dilakukan pengolahan. Pengaturan lintas batas limbah B3 dari dan keluar Indonesia diatur dalam Ps53. penghasil limbah tidak harus menyerahkan limbahnya setiap saat kepada pengumpul atau pengangkut atau pengolah limbah. Selama penyimpanan tersebut. penanganan limbah B3 dengan jalan pengenceran sehingga konsentrasinya menjadi turun tidak diperbolehkan dilakukan (Ps4).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 tanpa pengolahan terlebih dahulu (Ps3). Kewajiban untuk mendata limbah B3 yang dikelola. wajib disertai dokumen limbah B3 (Ps16). Ps13 dan Ps14). maka penghasil limbah tersebut dapat menyimpan limbahnya lebih dari 90 hari. yang dikenal sebagai Small Quantity Generator (SQG). Bagi mereka yang tidak mampu untuk menangani limbahnya sesuai peraturan yang ada. Sebagaimana pada penghasil limbah. pemberian symbol dan label untuk setiap kemasan yang digunakan yang menunjukkan karakteristik dan jenis limbah B3 tersebut (Ps28). Rantai berikutnya dalam pengelolaan ini adalah pengumpulan limbah (Ps12. serta melaporkan setiap 6 bulan sekali kepada instansi yang berwenang. Setiap pengangkutan limbah B3 oleh pengangkut. maka penghasil limbah dikenai kewajiban untuk mematuhi tata cara penyimpanan bagi limbah B3 (Ps29). pemanfaat atau pengolah/penimbun limbah B3 Catatan tersebut wajib dilaporkan sekurang-kurangya sekali dalam enam bulan kepada instansi yang bertanggung jawab. maupun pada saat limbah tersebut diserahkan kepada pengelola berikutnya o Nama pengangkut limbah B3 yang melaksanakan pengiriman kepada pengumpul. Dengan demikian. walaupun telah diserahkan penanganannya pada fihak lain. dapat diserahkan kepada fihak lain. merupakan hal yang harus dilaksanakan. Pengumpulan ini bersifat sementara. Informasi data tersebut akan digunakan untuk bahan inventarisasi serta bahan evaluasi guna pengembangan kebijakan pengelolaan limbah B3. maka limbah boleh disimpan paling lama 90 hari sebelum diserahkan kepada rantai pengelola berikutnya. Kewajiban penghasil limbah adalah mendata limbahnya secara baik. maka penghasil limbah tersebut diperbolehkan menyerahkan penanganan limbahnya kepada pemanfaat limbah (Ps9-2) atau pengolah atau penimbun limbah B3 (Ps9-4) yang mempunyai kewenangan untuk itu. dan limbah tersebut selanjutnya harus diserahkan kepada pemanfaat. Namun penghasil limbah B3 tetap bertanggung jawab atas limbah yang diolah tersebut. PP ini juga mengatur penghasil limbah yang dikatagorikan sedikit menghasilkan limbah B3. karena kegiatan ini tidak akan menurunkan beban limbah yang dihasilkan. Demikian juga upaya kegiatan pengumpulan dan pengangkutan limbah B3 menuju lokasi pemerosesan berikutnya.FTSL ITB Halaman 27 . Setiap kegiatan yang menghasilkan limbah B3. Pengangkut limbah B3 wajib menyerahkan limbah B3 dan dokumennya kepada Enri Damanhuri . Disamping itu. atau pengolah-penimbun limbah yang diakui oleh yang berwenang. Ps18 dan Ps23). karakteristik.

dan karakteristik limbah yang diserahkan. dan menyerahkan dokumen tersebut kepada pengolah limbah bila limbah tersebut telah sampai di tujuan. pengolahan limbah bersasaran untuk merubah karakteristik dan komposisi limbah tersebut agar menjadi tidak berbahaya lagi. dengan aturanaturan yang berlaku bagi pengangkut limbah B3.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 pengumpul atau pemanfaat atau pengola atau penimbun yang ditunjuk oleh penghasil limbah B3 (Ps17). limbah tersebut harus dilengkapi dokumen-dokumen yang berasal dari penghasil limbah maupun dari pengumpul limbah yang menjelaskan tentang limbah tersebut. Proses tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi yang sesuai. komposisi. yaitu : perkereta-apian (UU 13/1992). pengolahan secara fisika.FTSL ITB Halaman 28 . yang akan merupakan sarana permantauan yang serupa dengan konsep cradle-to-grave yang diterapkan di Amerika Serikat. pengolahan limbah bersasaran agar limbah tersebut dapat terdaur-ulang atau terdaurpakai. Rantai akhir dari sistem ini adalah pengolahan dan penyingkiran (disposal) limbah. setelah ditandatangani pleh penerima limbah Enri Damanhuri . − Lembar ke 3: disimpan oleh penghasil setelah ditandatangani oleh pengangkut − Lembar ke 4: setelah ditanda tangani oleh pengirim limbah. Selama dalam perjalanannya. kemudian dikirimkan kepada instansi yang bertanggung jawab oleh pengirim limbah. Berdasarkan uraian dalam Penjelasan atas PP 18/99. kemudian oleh pengangkut diserahkan kepada penerima limbah − Lembar ke 5: dikirimkan oleh penerima kepada instansi yang bertanggung jawab setelah diterima oleh penerima limbah B3 − Lembar ke 6: dikirimkan oleh pengangkut kepada Bupati/Walikota yang bersangkutan dengan pengirim. angkutan darat (UU 14/1992). penerbangan (UU 15/1992) dan pelayaran (UU 21/1992). Pada dasarnya. Disamping itu. dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan di jalan serta hal-hal lain yang tidak diinginkan. alat angkut yang digunakan harus sesuai dengan peraturan tentang angkutan yang ada. Usaha ini membutuhkan izin terlebih dahulu dari Menteri yang mempunyai kewenangan di bidang perhubungan setelah mendapat pertimbangan dari Menteri Lingkungan Hidup. kimia dan biologi (Ps34). Disamping itu. Dokumen tersebut antara lain berisi: o Nama dan alamat penghasil limbah atau pengumpul yang menyerahkan limbah o Tanggal peneyerahan limbah o Nama dan alamat pengangkut limbah o Tujuan pengangkutan o Jenis. Bila teknologi tersebut tidak dapat diterapkan. Apabila pengengkutan lebih dari satu kali (antar moda). maka dibutuhkan teknologi lain yang terbaik dan tersedia. stabilisasi dan solidifikas. Rantai pengeolaan yang paling akhir adalah penimbunan imbah B3 dalam sebuah landfill limbah B3 dengan system pelapis dasar. Dokumen tersebut dibuat dalam rangkap 7 apabila pengangkutan hanya satu kali. maka dibutuhkan dokumen 11 rangkap. Sektor pengangkutan merupakan aktivitas yang beresiko tinggi. rincian distribusi dokumen limbah tersebut adalah sebagai berikut: − Lembar ke 1 (asli): disimpan pengangkut setelah ditandatangani oleh pengirim limbah − Lembar ke 2: setelah ditandatangai oleh pengangkut limbah. Penghasil limbahpun dapat bertindak sebagai pengangkut limbah. jumlah. Mekanisme Cradle-to-Grave: Dokumen limbah akan memegang peranan penting dalam pemantauan perjalanan limbah B3 dari penghasil sampai ke pengolah limbah. seperti secara termal.

Dalam hal penghasil limbah bertindak pula sebagai pengolah limbah dan kegiatan tersebut dilakukan pada lokasi yang sama. Untuk itu. hanya rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang telah disetujui oleh instansi berwenang yang diajukan kepada Instansi yang bertanggung jawab bersama persyaratan lainnya. disertai dokumen-dokumen yang biasa menyertainya.1 : Mata rantai perjalanan limbah beserta dokumennya Pengelolaan limbah B3 memungkin badan swasta untuk terlibat di dalamnya. maka analisis dampak lingkungannya dibuat teritegrasi dengan kegiatan utamanya dengan persyaratan yang berlaku. dan pengolahan-penimbunan. Enri Damanhuri . Disamping mempunyai legalitas badan usaha. Skema 3. pengumpulan. − Lembar ke 8 sampai ke 11 dikirim oleh pengangkut kepada pengirim limbah setelah ditandatangani oleh pengangkut terdahulu dan diserahkan kepada pengangkut berikutnya (antar moda). untuk melengkapi perizinan kegiatan pengolahan limbah tersebut. Disamping itu. dibutuhkan analisis dampak lingkungan terlebih dahulu. − tata letak sarana dan prasarana. pemanfaat.FTSL ITB Halaman 29 . persyaratan lain untuk memperoleh izin tersebut adalah adanya informasi yang menyangkut tentang: − nama dan alamat yang jelas dari badan usaha tersebut. − dari Menteri Perhubungan untuk kegiatan pengangkutan limbah B3. − bahan baku dan proses yang akan digunakan. − lokasi tempat kegiatan. − nama dan alamat penanggung jawab. baik sebagai penyimpan. Untuk itu dibutuhkan izin operasi (Ps40). setelah mendapat rekomendasi dari Kepala instansi yang bertanggung jawab. − bentuk kegiatan yang akan dilakukan. − jumlah dan karakteristik limbah yang akan ditangani. pengumpul. pemanfataan. Dalam bentuk skema. − spesifikasi alat pengolah limbah. mata rantai perjalanan limbah beserta dokumennya adalah seperti tercantum dalam Skema 3. maka oleh pengangkut dikirimkan kepada pengirim limbah. pengangkut maupun sebagai pengolah limbah tersebut. − alat pencegahan pencemaran yang digunakan Yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan izin lokasi pengolahan adalah kepala kantor pertanahan kabupaten/kota (pasal 42) sesuai dengan rencana tata ruang berdasarkan rekomendasi Kepala instansi yang bertanggung jawab.1. yaitu : − dari Kepala instansi yang bertanggung jawab untuk kegiatan penyimpanan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − Lembar ke 7: setelah ditandatangani oleh penerima.

1976) : pengaturan pengelolaan limbah berbahaya − Hazardous and Solid Waste Amandements Act (HSWA . Compensation and Liabilities Act (CERCLA . − melakukan pemotretan untuk kelengkapan pengawan tersebut. Beberapa peraturan-peraturan Federal yang berkaitan dengan masalah lingkungan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 PP18/99 tersebut juga mengatur perpindahan lintas batas limbah B3 dari dan ke luar Indonesia (Ps53). maka dibutuhkan pemberitahuan tertulis terlebih dahulu kepada pemerintah Republik Indonesia. pengangkut dan atau pengolah limbah adalah membantu sepenuhnya aktivitas pengawasan yang dilakukan di daerah tanggung jawabnya.FTSL ITB Halaman 30 . Kewajiban penghasil. maka Instansi yang bertanggung jawab akan melakukan upaya penanggulangan.1976) : pengaturan penggunaan bahan kimia berbahaya yang baru dihasilkan.1984) : tentang perlindungan terhadap air tanah dari limbah berbahaya − Comprehensive Environmental Response. Amerika Serikat relatif banyak mengalami banyak masalah dengan limbah. Guna mencegah dijadikannya wilayah Indonesia sebagai tempat pembuangan limbah B3. Pengawasan tersebut mempunyai kewenangan untuk: − memasuki area lokasi kegiatan. − Resource Conservation and Recovery Act (RCRA . Pengiriman limbah B3 ke luar Indonesia membutuhkan persetujuan tertulis dari pemerintah negara penerima dan izin tertulis dari pemerintah Indonesia. − Toxic Substances Control Act (TSCA . maka limbah B3 dilarang masuk ke wilayah Indonesia. Kontrol yang aktif dari masyarakatnya banyak menelorkan peraturan-peraturan guna mengatur masalah ini. Dalam hal pengangkutan limbah B3 antara negara yang melalui wilayah Indonesia. yang mengatur permasalahan penggunaan energi nuklir. 3 KONSEP CRADLE-TO-GRAVE AMERIKA SERIKAT Sebagai negara industri. − mengambil contoh limbah untuk dianalisa di laboratorium. khususnya yang berkaitan dengan masalah pengelolaan limbah B3 antara lain adalah : − Atomic Energy Act (1954) : merupakan revisi Atomic Energy Act tahun 1946. − meminta keterangan tentang pelaksanaan pengelolaan limbah. Pemeriksaan kesehatan pekerja oleh instansi yang berwenang di bidang kesehatan tenaga kerja dilakukan secara berkala agar sejak dini dapat diketahui terjadinya kontaminasi oleh zat-zat berbahaya. − Federal Insecticide. Bila terjadi kecelakaan atau pencemaran atau kerusakan lingkungan akibat kegiatan tersebut. Fungicide and Rodenticide Act (FIFRA-1972) : mengatur penyimpanan dan disposal pestisida. Upaya ini merupakan kewajiban fihak pengelola untuk melaksanakannya.1980) dan Superfund Amendement and Reautorization Act (SARA Enri Damanhuri . pengumpul. maka fihak pengelola bertanggung jawab atas hal ini. − Solid Waste Disposal Act (1965) dan Resource Recovery Act (1970) : pengaturan tentang pengolahan dan pendaur-ulangan buangan padat. khususnya limbah industri. Bila fihak pengelola tidak dapat menanggulanginya secara baik. dan fihak pengelola diwajibkan untuk segera menaggulanginya. Pengawasan pengelolaan limbah B3 yang dilakukan oleh Instansi yang bertanggung jawab meliputi pematauan penaatan persyaratan serta ketentuan teknis dan administratif oleh fihak-fihak yang mengelola limbah B3. dan biaya kegiatan tersebut dibebankan pada fihak pengelola. Hal lain yang mendapat perhatian dalam kedua PP tersebut adalah kesehatan dan keselamatan pekerja yang terlibat dalam kegiatan pengelolaan ini serta tanggung jawab pengelola bila terjadi kecelakaan serta pencemaran.

pengolahan. versi RCRA yang paling penting adalah aturan-aturan yang termasuk dalam Subtitle-C dengan program utamanya adalah Cradle-to-grave .FTSL ITB Halaman 31 . Solid Waste Disposal Act pada dasarnya mengatur tata cara disposal (penyingkiran) limbah kota dan industri. RCRA dalam hal ini menugaskan USEPA untuk melaksanakan aturan-aturan yang ada. yaitu : − Penghasil (generator). − Pengangkut (transporter). Melalui TSCA. obat-obatan dan kosmetika. harus diuji dulu sebelum bahan tersebut diproduksi untuk dipasarkan. disamping itu USEPA mempunyai kewenangan untuk mendapatkan informasi tentang bahan berbahaya ini di sumbernya (pabrik). Produk ini telah diatur oleh peraturan-peraturan sebelumnya.000 transformator dengan PCB telah diproduksi. pestisida. Namun uji coba pada hewan akhirnya menunjukkan bahwa PCB dapat menyebabkan kanker dan sebagainya. HSWA (1980). aditif untuk makanan. CERCLA (1980) dan SARA (1986). Efek toksik dari bahan yang baru dihasilkan. Dengan adanya peraturan tersebut maka tidak satupun bahan kimia yang boleh diimport atau dieksport tanpa kontrol dan persetujuan USEPA. sampai penyingkiran/pemusnahan (disposal) limbah berbahaya. dan merupakan bahan cair dengan sifat-sifat yang menguntungkan yaitu mempunyai stabilitas panas serta sifat-sifat transfer panas yang ideal. dan telah mengalami beberapa kali amandemen sejak dikeluarkannya pada tahun 1976. transportasi. produk PCB di Amerika Serikat telah dihentikan (1977). transformator tersebut akan ditarik dari peredaran oleh USEPA. Diperkirakan sekitar 77. agar tidak mengganggu terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Direncanakan. DRE (Destruction and Removal Efficiency) yang dipersyaratkan paling tidak adalah sebesar 99. khususnya limbah B3. namun sejumlah besar alat listrik masih menggunakan bahan ini.5 detik dengan 2 % kelebihan oksigen. serta terkonsentrasi pada jaringan lemak. RCRA dianggap merupakan produk legislatif yang paling penting dalam pengaturan limbah B3. yang terdiri dari berbagai Subtitle. penyimpanan. Bahan-bahan kimia yang diproduksi sebelum TSCA juga terkena peraturan ini. dan Enri Damanhuri . Dalam pengelolaan limbah berbahaya. senjata api/amunisi. Proses pemusnahan yang paling cocok adalah dengan insinerasi pada temperatur 1200 ± 100°C selama 2 detik dengan 3% kelebihan oksigen di cerobong. atau 1600 ± 100°C selama 1. serta bagaimana mengurangi timbulan limbah tersebut. Toxic Substances Control Act (TSCA) memberi kewenangan pada USEPA untuk mengidentifikasi dan memantau bahan-bahan kimia berbahaya di lingkungan . dicantumkan aturan-aturan administratif dan tehnis untuk tiga katagori pelaku utama. Salah satu kasus yang dapat dijadikan contoh adalah penggunaan polychlorinated biphenyl (PCB).9999 %. PCB telah diproduksi di Amerika Serikat sejak tahun 1929. persyaratanpersyaratan mulai dari sumber (timbulan). RCRA (1976). makanan. Perkembangan lebih lanjut ternyata dibutuhkan aturan-aturan lebih jauh agar limbah tersebut. Berdasarkan hal ini keluarlah RCRA. − Pollution Prevention Act (1990) : strategi penanganan pencemaran limbah dengan memberikan priporitas pada minimasi limbah Dari sekian banyak peraturan perundang-undangan tersebut di atas. bahan nuklir. yaitu dari mulai identifikasi limbah berbahaya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 1986) yaitu tentang pengaturan dan pendanaan bagi pembersihan site disposal berbahaya yang sudah tidak beroperasi. dikelola dengan baik. sehingga digunakan sebagai media transfer panas pada transformator dan kapasitor. Katagori produk yang tidak termasuk dalam kontrol TSCA adalah tembakau. Dalam peraturan tersebut. maka yang sangat berkaitan erat dengan masalah limbah berbahaya adalah TSCA (1976).

sebagian besar jenis limbah dari SQG dikeluarkan dari Subtitle-C. penyimpan.2 : Skema 3. dan menyerahkan copy yang lain pada perusahaan TSD (Treatment.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − Pemilik/operator fasilitas pengolah(treatment). Bila Generator skala kecil diharuskan mengikuti aturan tersebut. maka diciptakan mekanisme seperti Skema 3.FTSL ITB Halaman 32 . antara lain berisi : − Identifikasi limbah B3 − Penghasil limbah B3 − Pengangkut limbah B3 − Pemilik/operator fasilitas pengolah. Aturan RCRA selanjutnya dikodifikasi dalam Code of Federal Regulation (CFR) dengan sebutan Title 40 CFR. Guna memungkinkan pelacakan dan pengelolaan sesuai dengan konsep Cradle-tograve. pembuang limbah B3 − Daur ulang limbah B3 − Land disposal limbah B3 − Izin fasilitas TSD Generator adalah penghasil (creator) limbah berbahaya yang harus menganalisis limbah padatnya sesuai aturan RCRA Subtitle-C. Perusahaan kecil dibatasi kemampuan finansial dan kapasitasnya untuk melaksanakan aturan RCRA secara ketat. USEPA juga mengadopsi aturan-aturan yang telah lama digunakan oleh US Departement of Transportation (DOT). USEPA menyadari akan sulit menerapkannya. EPA pada tahun 1980 lebih lanjut mendefinisikan Small Quantity Generator (SQG) sebagai penghasil limbah berbahaya kurang dari 1000 kg per bulan. Generator limbah B3 harus mendapatkan nomor identifikasi dari USEPA. Storage & Disposal) Enri Damanhuri .2 : Konsep cradle-to-grave Amerika Serikat − Setiap generator mengisi format standar dalam 6 kopi. Dengan pengecualian ini. − Generator menyimpan kopi-6 dan mengirim kopi-5 ke USEPA serta memberikan copy yang lain ke transporter − Transporter selanjutnya menyimpan kopi-4. yang memungkinkan untuk pemanfaatkan dan pelacakan limbah berbahaya tersebut dalam mata rantai pengelolaan. yaitu aturan-aturan pengangkutan bahan berbahaya dan beracun mulai dari pengemasan. walaupun pengusaha tetap diwajibkan untuk menganalisis limbahnya. dan pada tahun 1984 plafon SQG ini diturunkan lagi menjadi 100 kg limbah B3 per bulan. penyimpan (storage) dan pemusnah/penyingkir (disposal) atau TSD. selama pengangkutan sampai di tujuan. Oleh karenanya.

ledakan. − Disposal (pemusnahan/penyingkiran) : penyimpanan limbah berbahaya dengan cara yang dianggap aman dengan penimbunan dalam tanah. Transporter harus mengangkut limbah tersebut sesuai dengan jumlah yang tercantum dalam manifes. maka USEPA bekerja erat dengan DOT.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − TSD kemudian mengirimkan kopi-1 kembali ke generator. misalnya karena terjadinya kebocoran.FTSL ITB Halaman 33 . Transporter harus menyimpan kopi-4 dari manifes selama 3 tahun setelah limbah tersebut diterima oleh TSD. Dengan CERCLA. tidak terjangkau oleh EPA. EPA dan generator dapat melacak perjalanan limbah B3 tersebut dari penimbul atau generator (cradle) ke titik penyingkiran/pemusnahan final (grave). Transporter merupakan masa rantai yang sangat penting dalam sistem ini. kalau tidak. Dengan demikian. Oleh karenanya. maka aktifitas tersebut dikomunikasikan pada masyarakat selama 45 hari. Generator harus sudah menerima kopi-1 dalam kurun waktu 35 hari sejak limbah tersebut diterima oleh perusahaan pengangkut (transporter). Pengusaha yang ingin berkecimpung dalam usaha ini harus memasukkan permohonan yang mencakup rancangan sarananya. − Storage (penyimpanan) : penyimpanan sementara limbah berbahaya sebelum diolah atau dimusnahkan atau didaur-ulang. yaitu : − Treatment (pengolahan) : setiap proses yang merubah karakteristik atau komposisi limbah berbahaya sehingga menjadi tidak berbahaya atau sedikit berbahaya. dan tidak menerima limbah dari generator yang tanpa nomor tersebut. maka EPA hanya mampu mengatur pengelolaan limbah berbahaya yang masih aktif dan baru ditutup. terutama pada landfill limbah B3 yang tidak terkontrol. maka USEPA mempunyai kewenangan untuk bertindak terutama bila berkaitan dengan pengaruh limbah B3 terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. atau setiap proses yang mampu melakukan pengurangan volume atau mampu memanfaatkan kembali limbah tersebut. Karena DOT sudah lama menangani transportasi bahan berbahaya. Bila usulan tersebut disetujui (bisa memakan waktu sampai 3 tahun). Compensation and Liabilites Act (CERCLA). yang melibatkan 3 kegiatan fungsional. Rantai akhir dari sistem ini adalah TSD. kontaminasi terhadap rantai makanan atau pencemaran terhadap sumber-sumber air minum. Salah satu isu penting terhadap lahan pengurugan (landfilling) yang tidak terkontrol secara baik adalah bagaimana mengidentifikasikan dan mengkuantifikasi resiko Enri Damanhuri . Transporter harus memiliki nomor-identifikasi USEPA. CERCLA diperkuat oleh SARA yang mengatur pengumpulan dana melalui pajak khusus untuk menjamin terlaksananya pembersihan lingkungan. Setiap manifes isian tersebut berisi antara lain : − Pernyataan bahwa generator telah menggunakan cara-cara terbaik guna mengurangi volume dan toksisitas limbah B3 nya. Sarana yang sudah ditutup sebelum peraturan ini keluar. generator harus menghubungi transporter atau TSD untuk menentukan status dari limbah tersebut. Disamping itu generator harus melaporkan pada USEPA dengan menunjukkan tempat (lokasi) dimana limbah itu berada. − Pernyataan bahwa sarana TSD yang dipilih oleh generator adalah yang terbaik dalam meminimkan resiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Sebelum adanya Comprehensive Enviromental Respons. kopi-2 ke USEPA dan TSD menyimpan kopi-3. CERCLA adalah berfungsi menangani "dosa masa lalu". termasuk juga cara analisis limbah B3 dan sebagainya.

Van Nostrand Reinhold.T. 1989 Enri Damanhuri . transporter.A. sampai pemecahan final yang permanen diterapkan pada lahan tersebut . C. b) Kegiatan yang bersifat penyembuhan (remedial). 1990 − Wentz. Referensi Utama: − Peraturan Pemerintah Nomor 18/1999: Pengelolaan Limbah B3 − Peraturan Pemerintah Nomor 85/1999: Amandemen PP18/99 − Wagner. yaitu generator. yaitu : a) Penyingkiran (pengangkutan kembali) substansi berbahaya dan pembersihan segera bagian-bagian lahan.FTSL ITB Halaman 34 . Terdapat dua jenis tindakan dari USEPA. yang merupakan pemecahan yang permanen dari masalah yang timbul.P. Dalam kegiatan yang bersifat jangka panjang ini.: Hazardous waste management. atau kegiatan-kegiatan stabilisasi sementara lainnya.: Hazardous waste identification and classification manual. serta proporsi beban dana yang dipikulkan pada masing-masing pelaku. McGraw-Hill Book. kegiatan ini bersifat program jangka pendek. termasuk pula penentuan kontribusi penanggung jawab atas masalah ini.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. pemilik/pengoperasi sarana TSD.

05/Bapedal/09/1995: tentang Simbol dan Label Limbah B3 2 DOKUMEN Bahan-bahan berbahaya tersebut bila akan diangkut ke tempat lain.02/Bapedal/09/1995: tentang Dokumen Limbah B3 c) Kep. bahan berbahaya adalah setiap bahan yang dapat menimbulkan resiko terhadap kesehatan. antara lain berisi : − Nama dan alamat pengangkut limbah B3 − Tanggal pengangkutan limbah − Tanda tangan pejabat pengangkut limbah c) Bagian yang harus diisi oleh pengolah atau pengumpul atau pemanfaat limbah B3. keselamatan dan harta benda bila diangkut. PENYIMPANAN DAN PENGANGKUTAN 1 UMUM Untuk memberikan gambaran tentang aspek penyimpanan sampai pengangkutan bahan berbahaya.Kepala Bapedal No. Penyimpanan. yang kemudian diganti menjadi PP 18/99 dan PP 85/1999.02/Bapedal/09/1995. maka dokumen tersebut dilengkapi dengan salinan penyerahan limbah tersebut dari penghasil limbah.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN IV PELABELAN. dengan format yang telah dibakukan dengan Keputusan Kepala Bapedal No. dapat digunakan. antara lain berisi: − Nama dan alamat pengolah atau pengumpul atau pemanfaat limbah B3 Enri Damanhuri . Dalam Diktat ini juga diuraikan tata-cara yang berlaku di Indonesia dalam menanangani limbah B3 yang berasal dari beberapa regulasi yang dikeluarkan sebelum PP 74/2001 dikeluarkan. − Kuantitas (berat. b) Bagian yang harus diisi oleh pengangkut limbah B3. yang merupakan legalitas kegiatan pengelolaan sehingga dokumen ini akan merupakan sarana/alat pengawasan dalam konsep cradle-to-grave.Kepala Bapedal No.01/Bapedal/09/1995: tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3 b) Kep. pengumpulan dan pengangkutan merupakan komponen-komponen teknik operasional pengelolaan limbah B3 seperti diatur dalam PP 19/1994 dan PP12/1995. antara lain berisi: − Nama dan alamat penghasil atau pengumpul limbah B3 yang menyerahkan limbah B3 − Nomor identifikasi (identification number) UN/NA − Kelompok kemasan (packing group). khususnya dalam menangani bahan kimia dan bahan bakar.FTSL ITB Halaman 35 . maka aturan-aturan yang diberlakukan di USA. Dokumen ini dikenal pula sebagai shipping papers. yang antara lain terdiri dari: a) Bagian yang harus diisi oleh penghasil atau pengumpul limbah B3. Menurut US Department of Transportation (USDOT). volume dan sebagainya) − Kelas 'bahaya' dari bahan itu (hazard class). khususnya dalam mengatur transportasi bahan berbahaya yang diatur dalam Hazardous Materials Transportation Act. untuk menyatakan bahwa limbahnya telah sesuai dengan keterangan yang ditulis serta telah dikemas sesuai peraturan yang berlaku Bila pengisi dokumen adalah pengumpul yang berbeda dengan penghasil. karena pengaturan B3 sudah dilaksanakan sejak lama. dilengkapi tanggal. Pengaturan teknis tentang aspek ini sejak tahun 1995 diatur dalam: a) Kep.Kepala Bapedal No. dan menjadi standar baku secara universal. Pada prinsipnya tidak ada perbedaan yang berarti dalam menyimpan dan mengangkut B3 atau limbah B3. harus dilengkapi dengan dokumen resmi. − Tanggal penyerahan limbah − Tanda tangan pejabat penghasil atau pengumpul. Namun terlihat bahwa pengaturan limbah B3 terkesan lebih ketat dibandingkan pengaturan B3.

pada bagian bawah simbol terdapat blok segilima dengan bagian atas mendatar dari sudut terlancip terhimpit dengan garis sudut bawah belah ketupat bagian dalam. d) Kelas-4: padatan mudah terbakar atau berbahaya bila lembab.1 sampai 2.5 °C.1: flammable gas (gas mudah terbakar) yaitu bahan berupa gas yang pada temperatur -20 °C dan tekanan 1 atmosfir akan terbakar bila bercampur dengan udara sekitar 13 % volume atau kurang − Divisi 2. yaitu : Enri Damanhuri . Pada keempat sisi belah ketupat tersebut dibuat garis sejajar yang menyambung sehingga membentuk bidang belah ketupat dalam ukuran 95 persen dari ukuran belah ketupat bahan. pengumpul atau pemanfaaat. yang secara cepat akan dapat memberikan informasi bila terjadi kecelakaan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Tanda tangan pejabat pengolah. − Divisi 2. maka United States .1 sampai 1. maka limbah tersebut dikembalikan lagi kepada penghasil. Warna garis yang membentuk belah ketupat dalam sama dengan warna simbol. Apabila limbah yang diterima ternyata tidak sesuai dan tidak memenuhi syarat.3 sesuai dengan sifatsifatnya.5 sesuai dengan jenis akibat yang dapat ditimbulkan oleh eksplosif tersebut.1 sampai 4.1 dan 2.Department of Transportation (US-DOT) digunakan tanda-tanda dalam bentuk simbul dan label. Simbol berbentuk bujur sangkar diputar 45 derajat sehingga membentuk belah ketupat. atau dianggap toksik pada manusia dengan adanya pengujian pada binatang di laboratorium dengan harga LC50< 5000 ppm. terbagi menjadi 3 divisi dengan nomor 4. untuk menyatakan bahwa limbah yang diterima sesuai dengan keterangan dari penghasil dan akan diproses sesuai peraturan yang berlaku d. Sedang label merupakan penandaan pelengkap yang berfungsi memberikan informasi dasar mengenai kondisi kualitatif dan kuantitatif dari suatu bahan yang dikemas. dilengkapi tanggal. sedangkan simbol pada kendaraan pengangkut tempat penyimpanan minimal 25 cm x 25 cm. Definisi eksplosif menurut USDOT adalah setiap senyawa kimia. yang penggunaannya adalah dengan memfungsikan ledakannya. secara cepat dapat mengidentifikasi sifat bahan berbahaya itu serta cara penanggulangannya. Penghasil limbah B3 akan menerima kembali dokumen limbah B3 tersebut dari pengumpul atau pengolah selambatlambatnya 120 hari sejak limbah tersebut diangkut untuk dibawa ke pengumpul atau pengolah atau pemanfaat. 2 SIMBOL DAN LABEL Label Versi US-DOT: Guna keamanan dan memudahkan pengenalan secara cepat bahan berbahaya tersebut. terbagi lagi menjadi 5 divisi dengan nomor 1. c) Kelas-3: cairan mudah terbakar (flammable). campuran atau peralatan. Simbol atau label tersebut pada dasarnya dibagi berdasarkan kelas ‘bahaya’ dari limbah yang akan diangkut.FTSL ITB Halaman 36 . b) Kelas-2: gas. Diharapkan Tim yang bertanggungjawab dalam menangani kecelakaan. Kriteria cairan yang mudah terbakar adalah setiap cairan dengan titik nyala (flash point) tidak lebih dari 60. Simbol yang dipasang pada kemasan minimal berukuran 10 cm x 10 cm. Terdapat 9 klasifikasi bahan berbahaya menurut versi USDOT yaitu: a) Kelas-1: bahan yang mudah meledak (explosive).2: nonflammable compressed gas yaitu setiap bahan atau campuran yang dikemas pada tabung gas dengan tekanan dan tidak termasuk ke dalam divisi 2. Nomor identifikasi mempunyai kode UN (United Nation) atau NA (North America) diikuti oleh 4 digit angka. yaitu: − Divisi 2.3: poisonous gas (gas beracun) yaitu bahan berupa gas yang pada temperatur 20 °C dengan tekanan 1 atmosfir akan merupakan bahan toksik pada manusia. terbagi menjadi 3 divisi dengan nomor 2.3 sesuai dengan sifat-sifatnya. disertai keterangan: − Jenis limbah dan jumlahnya − Alasan penolakan − Tanda tangan pejabat pengolah atau pemanfaat dan tanggal pengembalian − Surat-surat dokumentasi pengangkutan tersebut ditempatkan di kendaraan angkut sedemikian rupa sehingga cepat didapat dan tidak tercampur dengan surat-surat lain.

menurut versi USDOT didefinisikan sebagai bahan yang dapat menyebabkan kerusakan visibel ke materi yang kontak dengannya. g) Kelas-7: bahan radioaktif. dan/atau diketahui mempunyai efek karsinogen. Radioactive Yellow-III adalah dengan bahaya maksimum. artinya mempunyai karakter yang dapat menyebabkan luka atau kerusakan pada paparan yang singkat walau dilakukan pengobatan. − Divisi 4. dan bahan menular baik berupa mikroorganisme atau toxin yang dapat mendatangkan penyakit pada manusia. flammabilitas. Plakat yang digunakan berlabelkan Radioactive white-I. yaitu: − Bahan-bahan terlarang − Bahan-bahan eksplosif terlarang − Bahan-bahan dengan aturan lain. Bentuk belah ketupat yang dibagi empat. bila belum mencantumkan label yang sesuai. merah (fbahaya terhadap kebakaran). Bahan korosif (kelas-8). dan/atau tidak berbahaya bila digunakan secara hati-hati dan bertanggung jawab o 2 = moderat.2: spontaneously combustible materials yaitu bahan yang bila pada kondisi normal terjadi kecelakaan secara spontan akan menjadi panas akibat berkontak dengan udara misalnya bahan yang termasuk pyrophoric. yang bila pada kondisi normal terjadi kecelakaan akan menyebabkan terbentuknya api akibat gesekan dan sebagainya. maka label NFPA ini merupakan label yang perlu dipasang. Oksidator adalah bahan kimia seperti khlorat. bukan peledak. nitrat dan sebagainya yang dapat mengoksidasi materi organik. e) Kelas-5: pengoksidasi dan peroksida organik. sedang peroksida organik adalah senyawa yang mengandung struktur . Radioactive yellow-II dan Radioactive yellow-III. sedang tulisan I.1: flammable solid yaitu bahan padat. f) Kelas-6: bahan racun dan menular. Kelompok lain-lain (kelas-9) adalah bahan yang yang dapat menyebabkan bahaya. untuk mengindikasikan bahaya bahan kimia terhadap kesehatan.3: dangerous when wet materials yaitu bahan yang secara spontan menyala atau memberikan gas bila berkontak dengan air. terdapat bahan yang tidak termasuk dalam kelas tersebut (tertulis 'none').O . maka di Amerika Serikat the National Fire Protection Association (NFPA) mengembangkan pula label berwarna dengan kode. dan reaktivitas. Disamping itu. dan putih di bawah dengan simbol hitam.O . seperti obat bius dan sebagainya. baik cair atau padat. artinya artinya mempunyai karakter yang dapat menyebabkan bahaya bila paparan berlanjut. Bahan radioaktif (termasuk kelas-7) menurut versi USDOT adalah setiap materi atau kombinasi materi yang secara spontan mengionisasi radiasi dengan aktivitas spesifik lebih besar dari 0. h) Kelas-8: bahan korosif. artinya tidak terdapat bahaya toksisitas o 1 = ringan. dengan kode ORM (other regulated materials) ORM-D: komuditas konsumer seperti hair spray ORM-E: lain-lain yang diatur oleh USDOT − Label Versi NFPA: Disamping US-DOT. artinya mempunyai karakter dapat menyebabkan iritasi. peroksida organik. Label dibutuhkan dipasang pada seluruh bahan kimia yang ada di sebuah laboratorium. dengan warna masing-masing kotak berbeda. i) Kelas-9: lain-lain.002 microcurie per-gram. dengan plakat warna putih dan simbol hitam.FTSL ITB Halaman 37 . − Divisi 4. Untuk menujukkan derajad bahaya maka digunakan angka: o Setiap kotak diberi warna: biru (bahaya terhadap kesehatan). dan putih (bahaya khsusus) o Angka dan notasi yang terdapat pada masing-masing kotak adalah: a. permanganat.. atau bila dibakar akan menyala segera dan cepat. kuning (bahaya terhadap reaktivitas).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Divisi 4. tetapi belum termasuk dalam katagori kelas sebelumnya. Kelompok berikutnya adalah bahan beracun (di luar gas) yang diketahui toksik pada manusia. Bahaya terhadap kesehatan: o 0 = minimal. tetapi hanya berakibat minor bahkan tanpa perawatan. terbagi menjadi 2 divisi. Plakat Radioactive yellow-II dan Radioactive yellow-III berwarna kuning di atas. Radioactive white-I dengan bahaya minimum. mutagen atau teratogen pada binatang Enri Damanhuri . II atau III dengan warna merah. dan mungkin menyebabkan luka atau kerusakan kecuali dilakukan pengobatan o 3 = serius. terbagi menjadi 2 divisi.

o 4 = ekstrim. dan/atau bahan yang sensitive terhadap perubahan kejutan mekanis atau panas pada temperatur dan tekanan normal. atau terhadap kejutan mekanis pada temperatur tin gi. tidak menyebabkan flash point. atau perlu terpapar pada temperatur tinggi agar kebakaran terjadi. dan/atau dapat membentuk ledakan yang terbakar dengan cepat di udara.8 C c. dan/atau bahan padat yang menghasilkan uap mudah o o terbakar. dan/atau bahan yang akan berobah kompisisi kimianya dengan melepaskan enersi yang dikandungnya pada temperatur dan tekanan normal. dan/atau akan bereaksi dengan keras bila terdapat air. dan/atau akan menghasilkan ledakan bila bercampur dengan air. dan/atau o mempunyai flash point di bawah 93. artinya bahan tidak mudah terbakar yang mempunyai karakter dapat terbakar bila terpapar panas terlebih dahulu. dan/atau siap terbakar dengan sendirinya akibat kandungan oksigen di dalamnya. artinya bahan yang tidak stabil dan akan cepat berubah tetapi tidak menimbulkan ledakan. o 1 = ringan. artinya baru dapat terbakar bila dipanaskan terlebih dahulu. yang dapat menyebabkan kematian atau kerusakan dalam paparan yang sangat singkat. o 3 = serius. dan/atau o akan terbakar di udara terbuka bila terpapar pada 815.5 C selama 5 menit. artinya bahan yang stabil yang menjadi tidak stabil bila terpapar pada temperatur tekanan tinggi. merupakan bahan yang sangat toksik. o 2 = moderat. Bahaya spesial. Bahaya terhadap timbulnya kebakaran: o 0 = minimal. artinya tidak terbakar. artinya bahan mudah terbakar yang mempunyai karakter menghasilkan uap yang mudah terbakar dalam kondisi biasa.4 C o 2 = moderat. atau dapat menyimpan panas sebelum terjadi kebakaran. tidak terbakar di o udara bila terpapar pada 815.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 4 = ekstrim. dan/atau bahan yang sensitive terhadap panas.8 C. 4: jenis bahaya flammabilitas = extreme 4: jenis bahaya terhadap kesehatan = ekstrim 4: jenis bahaya terhadap reaktivitas = ekstrim W: jenis bahaya yang spesifik = reaktif terhadap air Enri Damanhuri . dan/atau bahan yang bereaksi dengan sendirinya dengan air tanpa membutuhkan panas terlebih dahulu. artinya bahan yang stabil. dan dilakukan pengobatan b. bahan yang dapat meledak dan terdekomposisi secara keras pada temperatur dan tekanan normal.8 C tetapi lebih kecil dari 93. tetapi di bawah 37. Bahaya terhadap adanya air (reaktif terhadap air): o 0 = minimal.4 C o 3 = serius.FTSL ITB Halaman 38 . dan atau bahan yang dapat menghasilkan reaksi eksotermis dengan sendirinya bila berkontak dengan bahan tanpa atau adanya biasa biasa. merupakan bahan yang mudah terbakar dengan flash point di bawah o 22. dan/atau mempunyai flash point di atas o o 22. artinya bahan yang dapat meledak namun membutuhkan penyulut yang kuat agar eterjadi. o 1 = ringan. dan/atau mempunyai flash point di atas 37.8 C o 4 = ekstrim. yaitu: o Reaktif terahadap air (dengan kode: W) o Bahan oksidator (dengan kode: Ox) o Bahan radioaktif (dengan kode tanda radioaktif) o Bahan racun (dengan kode tanda racun) o Contoh: No. d. dan tidak reaktif terhadap air.5 C selama 5 menit.

dengan mencantumkan antara lain: nama dan alamat penghasil. Simbol berupa tengkorak manusia dengan tulang bersilang berwarna hitam. Blok segilima berwarna kebalikan dari warna dasar simbol. o Simbol klasifikasi limbah B3 yang mudah terbakar : terdapat 2 (dua) macam simbol untuk klasifikasi limbah yang mudah terbakar. yaitu simbol untuk cairan mudah terbakar dan padatan mudah terbakar: − simbol cairan mudah terbakar: bahan dasar merah. Simbol berupa gambar berwarna hitam suatu materi limbah yang menunjukkan meledak. Blok segilima berwarna putih. Label identitas limbah berukuran minimum 15 cm x 20 cm atau lebih besar.” dan dibawahnya terdapat tulisan “MUDAH TERBAKAR” berwarna putih. berdasarkan keputusan Kepala Bapedal No. o Simbol limbah B3 klasifikasi campuran: warna dasar bahan adalah putih dengan garis pembentuk belah ketupat bagian dalam berwarna hitam. dan tulisan “PERINGATAN !” dengan huruf yang lebih besar berwarna merahdiisi dengan huruf cetak dengan jelas terbaca dan tidak mudah terhapus serta dipasang pada setiap kemasan limbah B3 yang disimpan di tempat penyimpanan. o Simbol klasifikasi limbah B3 korosif: belah ketupat terbagi pada garis horizontal menjadi dua bidang segitiga. jumlah dan Enri Damanhuri . terdapat tulisan “KOROSIF” berwarna putih. Menurut peraturan yang digunakan di Indonesia. pada bagian tengah terdapat tulisan “INFEKSI” berwarna hitam. dan dibawahnya terdapat blok segilima berwarna merah. bidang segitiga berwarna hitam. yaitu (Gambar 1): o Simbol klasifikasi limbah B3 mudah meledak : warna dasar oranye. Pada sebelah bawah gambar terdapt tulisan “BERACUN” berwarna hitam. yaitu disebelah kiri adalah gambar tetesan limbah korosif yang merusak pelat bahan berwarna hitam. o Simbol klasifikasi limbah B3 beracun: bahan dasar putih dengan blok segilima berwarna merah. Pada bagian tengah bawah terdapat tuliasan “CAMPURAN” berwarna hitam serta blok segilima berwarna merah. Gambar terletak di bawah sudut atas garis ketupat bagian dalam. yaitu: o Label identitas limbah: berfungsi untuk memberikan informasi tentang asal usul limbah.FTSL ITB Halaman 39 . Pada bagian tengah terdapat tulisan “ CAIRAN. o Simbol klasifikasi limbah B3 menimbulkan infeksi: warna dasar bahan adalah putih dengan garis pembentuk belah ketupat bagian dalam berwarna hitam.05/Bapedal/09/1995 terdapat delapan jenis simbol. dengan warna dasar kuning dan tulisan serta garis tepi berwarna hitam. Gambar simbol berupa lidah apai berwarna hitam yang menyala pada satu bidang berwarna hitam. − simbol padatan mudah terbakar: dasar simbol terdiri dari warna merah dan putih yang berjajar vertikal berselingan. Pada bagian tengah terdapat tulisan “PADATAN” dan dibawahnya terdapat tulisan “MUDAH TERBAKAR” berwarna hitam. Simbol berupa lingkaran hitam dengan asap berwarna hitam mengarah ke atas yang terletak pada suatu permukaan garis berwarna hitam. serta blok segilima berwarna merah. pada bagian bawah. yang terdapat ditepi antara sudut atas dan sudut kiri belah ketupat bagian dalam.. Pada bagian atas yang berwarna putih terdapat 2 gambar.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Label Versi KepBapedal 05/09/1995: Di Indonesia. gambar simbol berupa tanda seru berwarna hitam terletak di sebelah bawah sudut atas garis belah ketupat bagian dalam. Pada bagian tengah terdapat tulisan “MUDAH MELEDAK” berwarna hitam yang diapit oleh 2 garis sejajar berwarna hitam sehingga membentuk 2 buah bangun segitiga sama kaki pada bagian dalam belah ketupat. Garis tepi simbol berwarna hitam. Di sebelah bawah gambar simbol terdapt tulisan “REAKTIF” berwarna hitam. dan disebelah kanan adalah gambar lengan yang terkena tetesan limbah korosif. o Simbol klasifikasi limbah B3 reaktif: bahan dasar berwarna kuning dengan blok segilima berwarna merah. identitas limbah serta kuantifikasi limbah dalam suatu kemasan limbah B3. Simbol infeksi berwarna hitam terletak di sebelah bawah sustu atas garis belah ketupat bagian dalam. terdapat 3 jenis label yang berkaitan dengan sistem pengemasan limbah B3. gambar simbol berupa lidah api berwarna putih yang menyala pada suatu permukaan berwarna putih.

terdiri dari 2 (dua) buah anak panah mengarah ke atas yang berdiri sejajar di atas balok hitam. Label dipasang dekat tutup kemasan dengan arah panah menunjukkan posisi penutup kemasan. aturan tata cara serta konstruksi dan penggunaan kontainer untuk bahan berbahaya harus ketat. Dengan demikian. Label harus terpasang kuat pada setiap kemasan limbah B3. Label harus dipasang pada kemasan bekas pengemasan limbah B3 yang telah dikosongkan dan atau akan digunakan untuk mengemas limbah B3.FTSL ITB Halaman 40 . Label terbuat dari bahan yang tidak mudah rusak karena goresan atau akibat terkena limbah dan bahan kimia lainnya. Label identitas dipasang pada kemasan di sebelah atas simbol dan harus terlihat dengan jelas. baik yang telah diisi limbah B3. hak milik dan lingkungan. Gambar 4. Kecelakaan akibat bahan berbahaya ini akan menimbulkan masalah serius bagi manusia. maupun kemasan yang akan digunakan untuk mengemas limbah B3. Label untuk penandaan kemasan kosong : bentuk dasar label sama dengan bentuk dasar simbol dengan ukuran sisi minimal 10 x 10 cm2 dan tulisan “KOSONG” berwarna hitam ditengahnya. drum fiber. yaitu: − Kelompok I: derajat bahaya besar − Kelompok II: derajat bahaya sedang − Kelompok III: derajat bahaya kecil. Kecelakaan limpahan bahan berbahaya yang sering terjadi adalah karena kecelakaan lalu-lintas yang umumnya akibat kesalahan manusia dan atau alat/perlengkapan yang kurang sempurna.1: Simbol Limbah B3 versi KepBapedal 05/09/1995 3 PENGEMASAN DAN PEWADAHAN Pengemas B3: Pengemasan (packaging) juga diatur dan perlu dicantumkan dalam surat pengangkutan. botol gelas dan sebagainya. Gambar terdapat dalam frame hitam. Alat pengemas dapat berupa: drum baja. Enri Damanhuri . kotak kayu. Pengemasan yang baik mempunyai kriteria: − Bahan tersebut selama pengangkutan tidak terlepas ke luar − Keefektifannya tidak berkurang − Tidak terdapat kemungkinan pencampuran gas dan uap Terdapat 3 jenis kelompok pengemasan. Label penunjuk tutup kemasan: berukuran minimal 7 x 15 cm2 dengan warna dasar putih dan warna gambar hitam. Menjamin keselamatan transportasi bahan berbahaya merupakan aktivitas yang kompleks.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 o o jenis limbah serta tanggal pengisian.

ketentuan tentang pengemasan dan pewadahan limbah B3 diatur dalam Kep. fiberglass dan logam. Apabila dalam perkembangannya terjadi perubahan kegiatan yang diperkirakan mengakibatkan berubahnya karakteristik limbah yang dihasilkan. misalnya pengemasan yang tidak betul dan sebagainya. Pengemas dan Pewadah Limbah B3 Versi Kep No. unloading. Banyak terjadi bahwa drum yang digunakan adalah drum bekas (walaupun kompatibel) untuk itu perlu diperhatikan efek jangka panjang dari drum tersebut. Kemasan dari satu jenis bahan juga banyak digunakan. Produk yang diproduksi dengan kuantitas kecil biasanya dikemas dalam kuantitas tersebut.botol gelas dimasukkan dalam peti-peti fiberboard. Ketentuan dalam bagian ini berlaku bagi kegiatan pengemasan dan pewadahan limbah B3 di fasilitas: a. Enri Damanhuri . c. maka kemasan kecil di USA hanya merupakan sebagian kecil yang digunakan untuk menangani bahan berbahaya yang diangkut. maka terhadap masing-masing limbah B3 hasil kegiatan perubahan tersebut harus dilakukan pengujian kembali terhadap karakteristiknya. Penghasil. Faktor kesalahan manusia pada pengemasan bahan berbahaya yang dikemas dalam kuantitas kecil relatif akan lebih tinggi. Kemasan komposit seperti drum-drum dari plastik berlapis baja kadang digunakan. Apabila ada keragu-raguan dengan karakteristik limbahnya.01/Bapedal/09/1995: Di Indonesia. d. maka pengujian dapat dilakukan sekurang-kurangnya satu kali. Rancangan kontainer yang digunakan harus terkait dengan sistem transportasi terutama dimensi dan beratnya. Kombinasi container sering digunakan. Hampir setengah bahan berbahaya kemasan kecil ini diangkut melalui jalan darat serta sebagian lagi melalui udara. maka harus dilakukan pengujian. untuk disimpan sebelum dikirim ke pengolah. sebelum dilakukan pengolahan dan atau penimbunan. untuk disimpan sementara di dalam lokasi penghasil. biasanya korosif dan dapat menimbulkan masalah pada kesehatan manusia dan lingkungan.01/Bapedal/09/1995. yang dapat menimbulkan reaksi spontan (kenaikan panas atau ledakan) sehingga mengurangi keefektifan pengemasan. Oleh karenanya bahan berbahaya harus ditempatkan dalam drum dan kontainer yang kompatibel atau sesuai. untuk disimpan sementara di luar lokasi penghasil tetapi tidak sebagai pengumpul. Dibutuhkan inspeksi secara berkala. b. plastik. Ditinjau dari tonase. Oleh karenanya kontainer yang digunakan dirancang untuk memudahkan loading. Bahan pengemasan yang digunakan adalah: fiberboard.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 USDOT menggariskan bahwa kontainer yang digunakan untuk mengangkut bahan berbahaya dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga bila terjadi kecelakaan pada kondisi transportasi yang normal. misalnya botol. dan bagaimana menggunakan ruang transportasi yang efisien. Kadangkala bahan berbahaya disimpan (diakumulasi) dalam drum atau kontainer. kaca. Bagi penghasil yang menghasilkan limbah B3 yang sama secara terus menerus. Drum baja 55 gallon (208 liter) merupakan kapasitas terbesar yang biasa digunakan.FTSL ITB Halaman 41 . Pengolah. Setiap penghasil/pengumpul limbah B3 harus dengan pasti mengetahui karakteristik bahaya dari setiap limbah B3 yang dihasilkan/dikumpulkan. Beberapa temuan yang terdapat di USA adalah: − Ketidak tepatan dalam menayangkan label − Ketidak tepatan dalam mengelompokkan kontainer berbahaya − Kebocoran pada valve − Tidak tepat dalam mendeskripsikan bahan yang diangkut − Tidak tepat dalam pengisian shiping paper − Radiasi berlebihan di kabin truk. seperti drum baja atau silinder untuk gas terkompres. kayu. maka: − Tidak menimbulkan penyebaran bahan tersebut ke lingkungan sekitarnya − Keefektifan pengemasan tidak berkurang selama perjalanan − Tidak terjadi pencampuran gas atau uap dalam kemasan. pengemasan tersebut harus menjamin tidak terjadi reaksi kimiawi di dalamnya. No. Drum yang biasa. Pengumpul. Penghasil.

limbah dapat terlebih dahulu dikemas dalam kantong kemasan yang tahan terhadap sifat limbah sebelum kemudian dikemas dalam kemasan tersebut. maka kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu sebelum dapat digunakan sebagai kemasan limbah B3 dengan memenuhi ketentuan butir 1 di atas. baja karbon. Untuk limbah yang mudah meledak. Kemasan dapat terbuat dari bahan plastik (HPDE. Pengisian limbah dalam satu kemasan harus mempertimbangkan karakteristik dan jenis limbah. ukuran dan bahan kemasan limbah B3 disesuaikan dengan karakteristik limbah B3 yang akan dikemasnya dengan mempertimbangkan segi kemanan dan kemudahan dalam penanganannya. SS304. harus disimpan di tempat penyimpanan limbah B3. pembentukan gas dan kenaikan tekanan selama penyimpanan. Limbah yang disimpan dalam satu kemasan adalah limbah yang sama. atau SS440) dengan syarat bahan kemasan yang dipergunakan tersebut tidak bereaksi dengan limbah B3 yang disimpannya. serta agar lebih aman. atau dapat pula disimpan bersama-sama dengan limbah lain yang memiliki karakteristik yang sama atau saling cocok. Kemasan tersebut selalu dalam keadaan tertutup rapat dan hanya dapat dibuka jika akan dilakukan penambahan atau pengambilan limbah dari dalamnya. kemudian disimpan di tempat yang memenuhi persyaratan untuk penyimpanan limbah B3 serta mematuhi tata cara penyimpanannya. dan tumpahan limbah tersebut harus segera diangkat dan dibersihkan. Jika akan digunakan untuk menyimpan limbah B3 Enri Damanhuri . atau dapat pula berupa bak kontainer berpenutup dengan 3 3 3 kapasitas 2 M . pengaruh pemuaian. kemasan dirancang tahan akan kenaikan tekanan. Untuk mempermudah pengisian limbah ke dalam kemasan. 4 M atau 8 M . Apabila diketahui ada kemasan yang mengalami kerusakan (karat atau bocor). Untuk limbah yang bereaksi sendiri sebaiknya tidak menyisakan ruang kosong dalam kemasan. Gambar 4.FTSL ITB Halaman 42 .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Bentuk. 100 liter atau 200 liter. Kemasan yang akan dikosongkan apabila akan digunakan kembali untuk mengemas limbah B3 lain dengan karakteristik yang sama. Kemasan yang digunakan untuk pengemasan limbah dapat berupa drum/tong dengan volume 50 liter. Kemasan yang telah diisi atau terisi penuh dengan limbah B3 harus ditandai dengan simbol dan label yang sesuai dengan ketentuan mengenai penandaan pada kemasan limbah B3. maka isi limbah B3 tersebut harus segera dipindahkan ke dalam drum/tong yang baru. Jika akan digunakan untuk mengemas limbah B3 yang tidak saling cocok. PP atau PVC) atau bahan logam (teflon. Kemasan bekas mengemas limbah B3 dapat digunakan kembali untuk mengemas limbah B3 yang mempunyai karakteristik sama (kompatibel) dengan limbah B3 sebelumnya. kemudian disimpan dalam kemasan limbah B3 terpisah. SS316.2: Penyimpan limbah B3 cair (A) dan limbah sludge (B) Drum/tong atau bak kontainer yang telah berisi limbah B3 dan disimpan di tempat penyimpanan harus dilakukan pemeriksaan kondisi kemasan sekurang-kurangnya 1 (satu) minggu satu kali. Gambar 2 berikut adalah contoh drum pengemas limbah B3.

Apabila tangki akan digunakan untuk menyimpan limbah sebelumnya. deteksi korosi atau lepasnya limbah dari tangki. Limbah-limbah yang tidak saling cocok tidak ditempatkan secara bersama-sama di dalam tangki.FTSL ITB Halaman 43 . – Ditempatkan pada pondasi yang dapat mendukung ketahanan tangki terhadap tekanan dari atas dan bawah dan mampu mencegah kerusakan yang diakibatkan karena pengisian. – Jika sistem tangki dan atau peralatan penunjangnya terbuat dari logam dan kemungkinan dapat terkontak dengan air dan atau tanah.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dengan karakteristik yang tidak saling sesuai dengan sebelumnya. tangki wajib dilengkapi dengan penampung sekunder. dan lepasnya limbah B3 dari sistem penampungan sekunder. Untuk mencegah terlepasnya limbah B3 ke lingkungan. tanggul atau berdinding ganda. monitoring dilakukan terhadap bahan konstruksi dan areal seputar sistem tangki termasuk struktur pengumpul sekunder untuk mendeteksi pengikisan atau tanda-tanda terlepasnya limbah misalnya bintik lembab. terbuat dari bahan yang cocok dengan karakteristik limbah yang akan disimpan atau diolah. ceceran dan presipitasi. – Penampungan sekunder. khususnya terhadap peralatan pengendalian luapan/tumpahan. – Karakteristik limbah B3 yang akan disimpan. atau – Limbah disimpan atau diolah dengan suatu cara sehingga tercegah dari kondisi atau bahan yang menyebabkan munculnya sifat mudah menyala atau reaktif. tekanan atau uplift. maka harus dipastikan agar selama pemasangan tangki dan sistem penunjangnya telah diterapkan prosedur penanganan yang tepat untuk mencegah terjadinya kerusakan selama tahap konstruksi. dan aman terhadap korosi sehingga tangki tidak mudah rusak. Bentuk wadah berupa tangki biasa digunakan dalam pengemasan limbah B3. dirancang untuk dapat menampung dan mengangkat cairan-cairan yang berasal dari kebocoran. Penampung sekunder dapat berupa pelapisan di bagian luar tangki. Disamping itu. Sistem tangki harus ditunjang kekuatan rangka yang memadai. Jika tangki dirancang untuk dibangun di dalam tanah. Pemeriksaan rutin dilakukan sekurang-kurangnya 1 kali selama sistem tangki dioperasikan. Persyaratan penampungan sekunder tersebut adalah: – Dibuat atau dilapisi dengan bahan yang saling cocok dengan limbah yang disimpan serta memiliki ketebalan dan kekuatan memadai untuk mencegah kerusakan akibat pengaruh tekanan. – Rencana penutupan sistem tangki setelah masa operasionalnya berakhir. sehingga olahan atau campuran limbah yang terbentuk tidak lagi berkarakteristik mudah menyala atau reaktif. maka tangki harus terlebih dahulu dicuci bersih. – Dilengkapi dengan sistem deteksi kebocoran yang dioperasikan 24 jam sehingga mampu mendeteksi kerusakan pada struktur tangki primer dan sekunder. maka kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu dan disimpan dengan memasang “label KOSONG” sesuai dengan ketentuan penandaan kemasan limbah B3. Laporan tersebut sekurang-kurangnya meliputi: – Rancang bangun dan peralatan penunjang sistem tangki yang akan dipasang. maka harus dengan memperhitungkan dampak kegiatan di atasnya serta menerapkan rancang bangun atau kegiatan yang dapat melindungi sistem tangki terhadap potensi kerusakan. Enri Damanhuri . pemilik atau operator harus mengajukan permohonan rekomendasi kepada Kepala Bapedal dengan melampirkan laporan hasil evaluasi terhadap rancang bangun dan sistem tangki yang akan dipasang untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan. Tangki dan sistem penunjangnya harus terbuat dari bahan yang saling cocok dengan karakteristik dan jenis limbah B3 yang dikemas/disimpannya. Selama masa konstruksi berlangsung. Tidak digunakan untuk menyimpan limbah mudah menyala atau reaktif kecuali : – Limbah tersebut telah diolah atau dicampur terlebih dahulu sebelum/segera setelah ditempatkan di dalam tangki. Sebelum melakukan pemasangan tangki penyimpanan limbah B3. kematian vegetasi. logam dan kemungkinan harus mencakup pengukuran potensi korosi yang disebabkan oleh faktor lingkungan serta daya tahan bahan tangki terhadap korosi tersebut – Perhitungan umur operasional tangki.

Enri Damanhuri . o Memiliki sistem penerangan (lampu/cahaya matahari) yang memadai untuk operasional atau inspeksi rutin. – Memindahkan limbah B3 dari sistem tangki atau sistem penampungan sekunder – Mewadahi limbah yang terlepas ke lingkungan. Jika menggunakan lampu. maka tumpukan maksimum adalah 3 lapis dengan tiap lapis dialasi palet. mencegah terjadinya perpindahan tumpahan ke tanah atau air permukaan. maka harus dipergunakan rak (Gambar 4). Lebar gang antar blok minimal 60 cm untuk memudahkan petugas melaluinya. sehingga dapat dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap setiap kemasan. maka lampu penerangan harus dipasang minimal 1 meter di atas kemasan. Jika kemasan berupa drum logam (isi 200 liter). o Dibuat tanpa plafon dan memiliki sistem ventilasi udara yang memadai untuk mencegah terjadinya akumulasi gas di dalam ruang penyimpanan. sakelar harus terpasang di sisi luar bangunan. Kemasan-kemasan berisi limbah B3 yang tidak saling cocok harus disimpan secara terpisah. dan setiap palet mengalasi 4 drum. karakteristik dan jumlah limbah B3 yang dihasilkan/akan disimpan. o Dilengkapi dengan sistem penangkal petir. serta memasang kasa atau bahan lain untuk mencegah masuknya burung atau binatang kecil lainnya ke dalam ruang penyimpanan. Penyimpanan limbah cair dalam jumlah besar disarankan menggunakan tangki (Gambar 5) dengan ketentuan sebagai berikut: o Disekitar tangki harus dibuat tanggul dengan dilengkapi saluran pembuangan yang menuju bak penampung. Lantai bagian dalam dibuat melandai kearah bak penampungan dengan kemiringan maksimum 1%. Persyaratan bangunan penyimpanan kemasan limbah B3 adalah (Gambar 6): o Memiliki rancang bangun dan luas ruang penyimpanan yang sesuai dengan jenis. kuat dan tidak retak. o Tangki harus terlindung dari penyinaran matahari dan masuknya air hujan secara langsung. Jarak tumpukan kemasan tertinggi dan jarak blok kemasan terluar terhadap atap dan dinding bangunan penyimpanan tidak boleh kurang dari 1 m. sedang lebar gang untuk lalu lintas kendaraan pengangkut (forklift) disesuaikan dengan kelayakan pengoperasiannya. Pada bagian luar bangunan. tidak dalam satu blok. Dengan demikian jika terdapat kerusakan kecelakaan dapat segera ditangani. dan tidak dalam bagian penyimpanan yang sama. o Lantai bangunan penyimpanan harus kedap air. 4 PENYIMPANAN DAN PENGUMPULAN Penyimpanan kemasan menurut Keputusan Bapedal No. kemiringan lantai diatur sedemikian rupa sehingga air hujan dapat mengalir menjauhi bangunan penyimpanan. Penempatan kemasan diatur agar tidak ada kemungkinan bagi limbah-limbah tersebut jika terguling/tumpah akan tercampur/masuk ke dalam bak penampungan bagian penyimpanan lain. Jika tumpukan lebih dan 3 lapis atau kemasan terbuat dari plastik. o Bak penampung harus kedap air dan mampu menampung cairan minimal 110% dan kapasitas maksimum volume tangki o Tangki harus diatur sedemikian rupa sehingga bila terguling akan terjadi di daerah tanggul dan tidak akan menimpa tangki lain.01/Bapedal/09/1995 dibuat dengan sistem blok. Setiap blok terdiri atas 2 (dua) x 2 (dua) kemasan (Gambar 3).FTSL ITB Halaman 44 . Penumpukan kemasan harus mempertimbangkan kestabilan tumpukan kemasan. tidak bergelombang.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Bila sistem tangki atau sistem tangki pengumpul sekunder mengalami kebocoran atau gangguan yang menyebabkan limbah terlepas. o Terlindung dari masuknya air hujan baik secara langsung maupun tidak langsung. serta mengangkat tumpahan yang terlanjur masuk ke tanah atau air permukaan. o Pada bagian luar tempat penyimpanan diberi penandaan (simbol) sesuai dengan tata cara yang berlaku. maka harus segera melakukan: – Penghentian operasional sistem tangki dan mencegah aliran limbah. – Membuat catatan dan laporan mengenai kecelakaan dan penanggulangan yang telah dilakukan.

4: Pola penyimpanan kemasan drum dalam rak Enri Damanhuri .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4.3: Pola penyimpanan kemasan drum Gambar 4.FTSL ITB Halaman 45 .

dengan ketentuan bahwa setiap bagian penyimpanan hanya diperuntukkan menyimpan 1 karakteristik limbah B3. peralatan komunikasi. pagar pengaman. gudang tempat penyimpanan peralatan dan perlengkapan.6: Contoh tata letak penyimpanan limbah B3 Tempat penyimpanan yang digunakan untuk menyimpan lebih dari 1 karakteristik limbah B3.FTSL ITB Halaman 46 . o Sarana lain yang harus tersedia adalah: peralatan dan sistem pemadam kebakaran. dan alarm. o Setiap bagian penyimpanan harus mempunyai bak penampung tumpahan limbah dengan kapasitas yang memadai. atau limbahlimbah B3 yang saling cocok. mempunyai beberapa persyaratan: o Terdiri dari beberapa bagian penyimpanan. Enri Damanhuri .5: Tangki penyimpanan limbah B3 jumlah besar Gambar 4. pintu darurat. fasilitas pertolongan pertama. o Antara bagian penyimpanan satu dengan lainnya dibuat tanggul atau tembok pemisah untuk menghindarkan tercampurnya atau masuknya tumpahan limbah ke bagian lainnya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4. o Sistem dan ukuran saluran yang ada dibuat sebanding dengan kapasitas maksimum limbah B3 yang tersimpan sehingga cairan yang masuk ke dalamnya dapat mengalir dengan lancar ke tempat penampungan yang telah disediakan. pembangkit listrik cadangan.

perdagangan. o Lokasi harus cukup jauh dari fasilitas umum dan ekosistem tertentu. sumber air .FTSL ITB Halaman 47 . memiliki atap pelindung dengan lantai yang kedap air o Tangki dan daerah tanggul serta bak penampungannya terlindung dari penyinaran matahari secara langsung serta terhindar dari masuknya air hujan langsung maupun tidak langsung Lokasi bangunan tempat penyimpanan kemasan drum/tong. dinding dan lantai harus tahan terhadap korosi dan api. fasilitas bongkar muat dan fasilitas lain seperti diuraikan di atas. o Menggunakan instalasi yang tidak menyebabkan ledakan/percikan listrik o Dilengkapi dengan: sistem pendeteksi dan pemadam kebakaran. persediaan air untuk pemadam api. (c) 300 meter dari fasilitas umum seperti daerah pemukiman. kawasan suaka o Seperti halnya fasilitas penyimpanan yang telah diuraikan di atas. Rancang bangun khusus untuk penyimpan limbah B3 reaktif. Konstruksi atap dibuat ringan. maka jarak minimum dengan bangunan lain adalah 20 meter. maka fasilitas pengumpulan merupakan fasilitas khusus yang harus dilengkapi dengan berbagai sarana untuk penunjang dan tata ruang yang tepat sehingga kegiatan pengumpulan dapat berlangsung dengan baik dan aman bagi lingkungan (gambar 7). o Area secara geologis merupakan daerah bebas banjir tahunan. o Pintu darurat dibuat tidak pada tembok tahan api. o Jarak terdekat yang diperkenankan adalah (a) 150 meter dari jalan utama atau jalan tol. (e) 300 meter dari daerah yang dilindungi seperti cagar alam. (b) 50 meter dari jalan lainnya. pelayanan kesehatan atau kegiatan sosial. hutan lindung. maka beberapa persyaratan adalah: o Luas tanah termasuk untuk bangunan penyimpanan dan fasilitas lainnya sekurangkurangnya 1 (satu) hektar. Persyaratan bangunan untuk penempatan tangki: o Tangki penyimpanan limbah B3 harus terletak di luar bangunan tempat penyimpanan limbah o Merupakan konstruksi tanpa dinding. sehingga bila terjadi ledakan yang sangat kuat akan mengarah ke atas dan tidak ke samping. Rancang bangun untuk penyimpanan limbah B3 mudah meledak: o Konstruksi bangunan dibuat tahan ledakan dan kedap air. hidran pemadam api dan perlindungan terhadap hidran. o Untuk kestabilan struktur pada tembok penahan api dianjurkan digunakan tiang-tiang beton bertulang yang tidak ditembusi oleh kabel listrik. sehingga asap dan panas akan mudah keluar. atau diupayakan aman dari kemungkinan terkena banjir. garis pasang tertinggi laut. Dalam hal limbah B3 dikumpulkan terlebih dahulu di sebuah tempat di luar lokasi penghasil limbah B3.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Persyaratan bangunan penyimpanan limbah B3 mudah terbakar: o Jika bangunan berdampingan dengan gudang lain maka harus dibuat tembok pemisah tahan api. korosif dan beracun: o Konstruksi dinding dibuat mudah dilepas guna memudahkan pengamanan limbah dalam keadaan darurat. fasilitas pencucian peralatan. o Beberapa fasilitas tambahan yang diperlukan adalah laboratorium analisa. o Struktur pendukung atap terdiri dari bahan yang tidak mudah menyala. berupa tembok beton bertulang (tebal minimum 15 cm) atau tembok bata merah (tebal minimum 23 cm) atau blok-blok (tidak berongga) tak bertulang (tebal minimum 30 cm). o Jika bangunan dibuat terpisah dengan bangunan lain. dan mudah hancur bila ada kebakaran. Konstruksi lantai dan dinding dibuat lebih kuat dari konstruksi atap. o Suhu dalam ruangan harus tetap dalam kondisi normal. Enri Damanhuri . o Konstruksi atap. Desain bangunan sedemikian rupa sehingga cahaya matahari tidak langsung masuk ke ruang gudang. (d) 300 meter dari perairan. bangunan tempat penyimpanan bak kontainer dan bangunan tempat penyimpanan tangki: o Merupakan daerah bebas banjir. o Jarak minimum antara lokasi dengan fasilitas umum adalah 50 meter. rumah sakit.

Produk-produk berbahaya tersebut diangkut dengan berbagai container seperti : vessel. botle dan cask.500 gallon (130 m3) dengan berat kotor 236. darat (termasuk kereta api). Kapasitas yang digunakan di USA adalah antara 4000 sampai 12000 gallon (15 sampai 50 m3). tank car. drum. tank truck. nikel atau stainless steel. Kapasitas tank car ini dibatasi 34.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4. aturan-aturan yang dikeluarkan oleh DOT telah meliputi lebih dari 30. intermodal portable tank. box.000 pound (107 ton). Perbedaan utama dari rail tank car ini adalah ada Enri Damanhuri . barrel. Sekitar 80 % dari pengangkutan bahan berkapasitas besar menggunakan tank car yang mempunyai masa layan 30 . can.7: Contoh tata ruang pengumpulan limbah B3 6 PENGANGKUTAN Di Amerika Serikat.FTSL ITB Halaman 48 . seperti melalui darat.000 jenis bahan berbahaya.000 pound (36 ton). laut. Beban kendaraan biasanya dibatasi sampai 80. Dalam hal ini Research and Special Programs Administration (RSPA) dari USDOT mengeluarkan dan bertanggungjawab untuk mengembangkan aturan-aturan. Transportasi bahan berbahaya yang bervolume besar (bulky) dapat dilakukan melalui segala jenis angkutan. dan biasanya terbuat dari baja atau campuran alumunium atau dapat pula dari bahan lain seperti titanium. cylinder. Bahan-bahan ini diangkut melalui udara. acuan-acuan teknik yang standar serta pengujian untuk itu. Cargo tank merupakan sarana yang biasa digunakan di darat. kereta api atau laut.40 tahun.

Lebih dari 90 % (berat) dalam transport laut ini terdiri dari produk petroleum dan minyak mentah.Bapedal 01/Bapedal/09/1995: tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3 Kep. Secara statistik. TDI yang melekat pada sepatu dan baju menguap dan terhiruplah gas toksik.labelmaster. karena dapat mencelakakan manusia atau lingkungan yang tidak terlibat langsung dengan kecelakaan. Respons terhadap bentuk kecelakaan itu harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan agar dapat menangani masalah yang timbul secara cepat dan tepat. Peraturan-peraturan yang digunakan dalam transportasi hendaknya mengantisifasi kemungkinan timbulnya masalah ini. Setelah mereka kembali ke kendaraan yang hangat. mengiritasi mata. demikian juga kegiatan penanganan korban akibat terpapar dengan bahan berbahaya akan tergantung apakah paramedis terkait telah mendapat pelatihan menangani korban semacam itu. pemadam kebakaran dan sebagainya) akan tergantung pada apakah aparat tersebut terlatih untuk jenis kecelakaan itu. Meyer: Chemistry of Hazardous Materials. NaOH. walaupun bila terjadi kecelakaan maka limpahannya akan menyebar secara luas. dan dapat merusak paru.000 gallon (1135-2270 3 m ) sedang tanker berkapasitas sampai 10 kali lebih besar. Penanganannya adalah truk tetap dipanaskan dan diisolasi agar TDI ini tetap dalam kondisi cair. Bila terjadi kecelakaan lalu-lintas. Kemungkinan kecelakaan yang mungkin terjadi di sektor transportasi ini perlu mendapat perhatian. bahan berikutnya yang sering digunakan adalah alumunium.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 yang menggunkan tekanan (untuk gas) dan tanpa tekanan (untuk cair). baik dari jumlah kecelakaan maupun banyaknya limpahan dalam satuan ton-mile.FTSL ITB Halaman 49 . Demikian juga peralatan tim harus sesuai dengan kebutuhan/jenis bahan atau limbah yang diangkut. TDI masuk de dalam sel jaringan. Sekitar 66 % (berat) bahan yang diangkut di USA adalah bahan kimia (sebagian korosif) sedang 23 % merupakan produk minyak (bahan bakar).000-600. mengkontaminasi daerah sekitarnya serta baju 2 orang petugas.paru. Tank-barges berkapasitas antara 300. Prentice Hall Building. toluene dan sebagainya. alkohol. Cara ini relatif memungkinkan pengangkutan dengan kapasitas yang besar. Sisanya adalah bahan kimia semacam asam sulfat. 1989 Kep. limpahan TDI ternyata terpapar pada tanah yang dingin. pupuk.000 pound toluene diisocyanate (TDI) yang tergelincir dan menumpahkan sebagian isinya. Kedua petugas tersebut mengalami gangguan pernafasan yang permanen dan tidak dapat lagi aktif bekerja.Kepala Bapedal 05/Bapedal/09/1995: tentang Simbol dan Label Limbah B3 http://www. maka respon aparat terkait (polisi.com (1 Maret 2008) Enri Damanhuri . benzene. Aturan-aturan yang ada menyangkut kegiatan selama loading serta pelatihan bagi awak kapalnya. yang mencakup sekitar 91 %. Referensi Utama: o o o o o E. Pada saat truk dibalikkan. Container bulky melalui air yang terbesar adalah dengan tanker dan tank-barges. Sebagai contoh adalah kecelakaan lalu-lintas yang terjadi di USA pada bulan Desember 1981 yang menimpa sebuah truk pembawa 40. cara ini adalah yang teraman.Kepala Bapedal 02/Bapedal/09/1995: tentang Dokumen Limbah B3 Kep. Hampir 90 % dari tank car ini terbuat dari baja.

Contoh materi ini misalnya dinamit dan trinitrotoluene (TNT). Pemakaian bahan kimia di Indonesia (1991) sekitar 0. seperti karbon monoksida dan hidrogen sianida. Materi radioaktif : dicirikan dengan transformasi yang berlangsung dalam inti atom. dan 2. d. terdapat 7 kelas bahan berbahaya. panas. Materi mudah terbakar (flammable material) : padat. atau mekanisme lainnya. f.46% dari nilai perdagangan dunia. baik dalam kondisi biasa atau bila terpapar dengan panas. namun materi ini pulalah yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang berbahaya. 40% berkaitan dengan petrokimia. baru beberapa ratus jenis saja yang telah dievaluasi dampaknya tehadap kesehatan dan lingkungan. g. manusia dapat mengontrol dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan manusia.FTSL ITB Halaman 50 . baik yang terdapat di alam maupun yang dibuat oleh manusia. Enri Damanhuri . Penggunaan bahan-bahan kimia di dunia telah berkembang pesat.atau gas yang menyala dengan mudah dan terbakar secara cepat bila dipaparkan pada sumber nyala. c. 1. yang dapat membakar dan merusak jaringan kulit bila berkontak dengannya. Materi korosif : padat atau cair seperti asam kuat atau basa kuat. Proses penggunaan bahan yang berbahaya dalam kegiatan sehari-hari. misalnya karena perubahan panas. dan hampir setiap tahun 1. terutama dari kegiatan industi khususnya penggunaan bahan kimia. tekanan atau kegiatan oksidasi atau kegiatan lain seperti aktivitas mikrobiologis. cair. e. Materi toksik : racun yang dalam dosis kecil dapat membunuh atau mengganggu kesehatan. Perdagangan bahan kimia dunia pada tahun 1991 mencapai nilai 1. baik secara alamiah maupun sintetis. yang sebagian besar merupakan bahan berbahaya. b. Secara konvensional.000 jenis diantaranya digunakan sehari-hari. uap.000 jenis sebagai bahan aktif obat-obatan. Contoh materi ini misalnya fosfor putih. 50. Pengoksidasi (oxidizer) : Materi yang menghasilkan oksigen. yang berkaitan dengan komposisi materi.500 jenis digunakan sebagai bahan tambahan makanan. Kimia merupakan salah satu ilmu pengetahuan alam. Dengan mengetahui komposisi dan memahami bagaimana perubahan terjadi. sekitar 4. Materi yang spontan terbakar (spontaneously ignitable material) : padat atau cair yang dapat menyala secara spontan tanpa sumber nyala. debu aluminum. misalnya pelarut (solvent) seperti benzene. Bahan kimia yang telah digunakan dan diperdagangkan secara umum sekitar 63.500 jenis merupakan bahan aktif pestisida. ethanol. gas hidrogen dan metan. yaitu : a. Senyawa-senyawa kimia sintetis inilah yang banyak dihasilkan oleh peradaban modern.000 jenis bahan kimia baru masuk ke perdagangan. Peledak (explosive) : materi kimia ini dapat meledak. misalnya uranium heksafluorida. Ini ditunjukkan oleh hampir 11 juta jenis bahan kimia telah diidentifikasi pada tahun 1995. akan menghasilkan limbah berbahaya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN V SIFAT DAN KARAKTERISTIK BAHAN KIMIA BERBAHAYA 1 UMUM Penggunaan kimia dalam kebudayaan manusia sudah dimulai sejak zaman dahulu. termasuk juga perubahan yang terjadi di dalamnya.000 jenis. Contoh materi ini adalah amonium nitrat dan benzoyl peroksida. Dari sekian banyak bahan kimia tersebut.2 M US$. biasanya karena adanya kejutan (shock).

Misalnya gudang penyimpan logam natrium terbakar. Jangan dipadamkan dengan air. 2 KELAS KEBAKARAN Kebakaran biasanya dikaitkan dengan kecelakaan yang dipicu dari adanya bahan berbahaya. aluminum. motor dan generator. seperti kayu. Air dapat digunakan untuk memadamkan jenis kebakaran ini Kebakaran kelas B: berasal dari bakaran gas bakar (flammable gases) atau cairan yang mudah terbakar (flammable and combustible liquids). ethyl ether. menghasilkan gas klorin yang sangat toksik melalui pernafasan. zirconium. Interaksi bahan membentuk panas: Bahan-bahan pengoksidasi adalah contoh bahan berbahaya yang siap bereaksi dengan bahan mudah terbakar. Bila api yang dipadamkan dilakukan dengan air. karena reaksi yang terjadi akan menghasilkan gas hidrogen yang dapat terbakar tanpa adanya pemantik api. Kebakaran kelas D: berasal dari bakaran logam-logam yang mempunyai sifat reaktif yang spesifik terhadap air atau uap air. Kebakaran jenis ini mudah dipadamkan oleh Halaman 51 o o o Enri Damanhuri . kabel listrik. atau o Panas akibat reaksi kimia yang terjadi akan dapat membakar bahan mudajh terbakar di sekitarnya.FTSL ITB . magnesium. karena dihasilkan gas hidrogen. seperti logam titanium. Kebakaran bahan ini akan meninggalkan bara api dan abu. methanol. sikring. Pencampuran bahan berbahaya dapat menyebabkan: o Timbulnya bahan toksik o Timbulnya gas bakar yang dapat menimbulkan kebakaran atau ledakan. Karbon dioksida atau dry chemical extinguisher. Interaksi bahan membentuk nyala atau bahan eksplosif: Bahan logam natrium akan dapat terbakar dengan sendirinya bila terdapat uap air yang berkontak dengannya. atau busa meruapakan bahan yang cocok untuk memadamkannya. hidrogen. dan dapat dibagi menjadi 4 kelas. Beberapa ilustrasi di bawah ini akan menggambarkan hal tersebut: Interaksi bahan membentuk bahan toksik: Bila kita mencampur larutan asam yang banyak digunakan secara komersial untuk menghilangkan karat atau untuk membersihkan wastavel atau WC dengan pemutih cucian atau disinfektan yang digunakan dalam kolam renang. yaitu: o Kebakaran kelas A: berasal dari bakaran berbahan dasar sellulosa. Kebakaran kelas C: berasal dari bakaran bahan yang terjadi karena sirkuit tenaga listrik. Kadangkala secara tidak sengaja terjadi pencampuran antara 2 materi yang asalnya tidak berbahaya. Bila larutan asam nitrat (oksidator) tercampur dengan tepung beras. bahan-bahan sejenis baik alamiah maupun sintetis lainnya termasuk plastik dan karet. Tubuh manusia mentolerir konsentrasi bahan ini dengan konsentrasi tidak lebih dari 1 ppm di udara. seperti dari stop-kontak. akan memungkinkan bahan tepung tersebut secara spontan akan terbakar. maka kebakaran akan tambah besar. seperti LPG. katon dan kertas. Karbon dioksida. biasanya direkomnedasikan untuk memadamkannya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Materi tersebut kadangkala menjadi lebih berbahaya bila berada dalam kondisi tercampur dengan bahan lain. dry chemical extinguisher. dan natrium. menyebabkan terjadinya swa-kebakaran. propane. Reaksi yang terjadi akan berlangsung secara spontan. kerosen.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

baham spesifik sejenis graphite atau natrium kloroida (garam dapur). Sangat berbahaya bila dipadamkan dengan menggunakan air. 3 INFORMASI TINGKAT BAHAYA Tingkat bahaya suatu bahan berbahaya harus diinformasikan secara jelas kepada pemakai, khususnya dalam lingkungan kerja dimana bahan tersebut digunakan, melalui 2 jalan: o Penggunaan label dan bentuk peringatan lainnya: setiap produsen atau importir bahan kimia harus memastikan bahwa setiap kontainer atau pengemas produk B3nya telah diberi label, papan-nama, atau tanda-tanda peringatan lain yang sesuai dengan jenis bahaya yang dikandung bahan tersebut, nama dan alamta produsen, importir atau penanggung jawab lainnya. Label dapat menggunakan simbol, gambar atau kata-kata lainnya. Lihat contoh dalam Gambar 4.1 o Informasi tentang Material Safety Data Sheets (MSDS): merupakan bulletin yang bersifat teknis yang mengandung informasi mendetail tentang bahaya dari bahan tersebut. Di Amerika Serikat, melalui OSHA, mewajibkan setiap produsen untuk menyiapkan MSDS ini bagi setiap produknya. MSDS ini harus disertakan pada setiap sampel atau pengiriman ke sebuah tujuan untuk pertama kalinya.

Gambar 5.1: Contoh label untuk HCl Bila mengacu kepada Occupational Safety and Health Act (OSHA) yang berlaku di Amerika Serikat, maka: a. MSDS harus dirancang sangat komprehensif dalam bentuk informasi tertulis untuk seluruh karyawan b. Informasi minimum yang dibutuhkan adalah: o Identitas produk seperti tercantum dalam container atau pengemasnya o Nama umum dan nama kimia seluruh komponen yang mempunyai konsentrasi >1%, yang diketahui berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan, dan
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 52

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

mempunyai konsentrasi ≥ 0,1% bagi bahan yang diketahui sebgai penyebab kanker o Bahaya fisik dan kesehatan, termasuk tanda-tanda dan simptom-nya bila terpapar o Alur masuk ke tubuh manusia, kulit, pernafasan, makanan atau minuman o Batasan paparan yang diketahui o Apakah termasuk penyebab kanker atau berpotensi-kanker o Prosedur handling dan penggunaan yang aman, penanggulangan tumpahan atau kebocoran o Prosedur pertolongan pertama bila terjadi kecelakaan o Tanggal penyiapan bahan o Nama, alamat dan nomor telepon perusahaan, atau yang bertanggung jawab yang mendistribusikan MSDS c. Training yang bersifat regular adalah kegiatan yang dianggap kritis, yang berbentuk program komunikasi, yang menginformasikan apa yang tercantum dalam label maupun dalam MSDS suatu bahan berbahaya. Penanggung jawab kegiatan harus melatih pekerjanya dalam hal bagaimana mengenali bahan-bahan berbahaya yang dapat teremisi atau terpapar dalam ruangan dimana mereka bekerja, misalnya dalam bentiuk timbiulnya bau yang spesifik, dan sekaligus melatih bagaimana memproteksi dirinya akibat bahan berbahaya tersebut. 4 DOKUMEN MATERIAL SAFETY DATA SHEETS (MSDS) Berikut ini adalah contoh MSDS yang dikeluarkan oleh sebuah produsen bahan kimia di Amerika Serikat untuk produk HCl yang dihasilkan: Informasi Umum (muncul di setiap lembar MSDS)
o o o J.T. Baker Chemical Co. 222 Red School Lane, Phillipsburg, N.J. 08865, 24-Hour Emergency Telephone (201)859-2151, Chemtrec # (800) 424-9300, National Re4sponse Center # (800) 424-8802 H3880-02 Hydrochloric Acid Effective: 08/07/86 Issued: 10/19/87

Seksi I: Identifikasi Produk
o o o o o o o Nama produk: Hydrochloric acid Formula: HCl Formula Wt: 36, 46 Cas No: 7647-01-0 NIOSH/RTECS No: MW4025000 Sinonim Umum: Muriatic Acid; Chlorhydric Acid, Hydrochloride Kode produk: 9543, 9539, 9535, 9534, 9544, 9529, 9542, 4800, 9549, 9530, 9548, 9540, 5537, 9547, 9546, 9537, 5367

Precautionary Labelling: TM Baker SAF-T-DATA System: (dengan label kode gambar) o Kesehatan: Severe o Flammabilitas: None o Reactivitas: Moderate o Kontak: Severe o Laboratory protective equipment: goggles & shield, Lab coat & apron, vent hood, proper gloves o Precautionary label statements:

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 53

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

RACUN! BAHAYA! MENYEBABKAN LUKA BAKAR SERIUS MENJADI FATAL BILA TERTELAN ATAU TERHIRUP Jangan berkontak dengan mata, kulit, dan baju Jangan terhirup uapnya. Penyebab kerusakan pada sistem pernafasan (paru-paru), mata dan kulit. Simpan dalam container yang tertutup rapat. Buka dengan hati-hati. Gunakan ventilasi yang cukup. Cuci dengan cukup setelah penanganan. Bila terjadi tumpahan, netralisir dengan soda ash atau kapur dan tempatkan pada container kering.

Seksi II: Komponen Berbahaya
o o o o o o o o o o o o

Komponen: Hydrochloric Acid (23 Baume) %: 35-40 CAS No: 7647-01-0 Titik didih (boiling point): 110 C (230ºF) Tekanan uap (mmHg): N/A o o Titik leleh (melting point): -25 C (-13 F) Densitas uap (udara = 1): 1,3 Gravitasi spesifik (specific gravity H2O = 1): 1,19 Laju evaporasi (Butyl Acetate = 1): N/A Kelarutan (H2O): sempurna dalam seluruh proporsi % Volatil – volume: 100 Tampilan dan bau: jernih, tidak berwarna atau kuning muda, pungent, cairan berasap (fuming liuid)
o

o

Seksi III: Data Fisika

Seksi IV: Data Bahaya Kebakaran dan Ledakan
o o o o o Flash point: N/A NFPA 704M Rating: 3-0-0 Flammable limits: Upper – N/A % Lower – N/A % Media pemadam kebakaran: gunakan media pemadam kebakaran yang cocok untuk area sekitarnya Prosedur khusus pemadaman kebakaran: Anggota pemadam kebakaran harus m,engenakan perlengkapan perlindungan yang memadai, dengan perlengkapan pernafasan yang dioperasikan pada tekanan positif. Pindahkan kontainer dari lokasi kebakaran bila dapat dilakukan tanpa resiko. Gunakan air. Jangan masukkan air ke dalam kontainer. Bahaya kebakaran dan ledakan yang tidak biasa: dapat mengemisikan gas hidrogen bila berkontak dengan logam Gas toksik yang dihasilkan: hydrogen chlorida, gas hyrogen PEL dan TLV dalam daftar menandakan berada pada batas 3 Treshold Limit Value (TLV/TWA): 7 mg/m (5 ppm) 3 Permissible Exposure Limit (PEL) : 7 mg/m (5 ppm) Toksisitas : LD50 (oral-rabbit) (mg/kg) : 900 LD50 (ipr-mouse) (mg/kg) : 40 LD50 (inhl-rat-1H) (ppm) : 3124 Carcinogenicity NTP : No IARC : No Z List : No OSHA : No Pengaruh paparan yang berlebihan (overexposure) : Target organ : system pernafasan, mata, kulit Kondisi medis yang biasanya diperparah bila terpapar : tidak teridentifikasi Alur masuk: pencernaan, pernafasan, kontak kulitm kontak mata Darurat dan Pertolongan Pertama:

o o o o o o o

Sekis V: Data Bahaya Kesehatan

o o o o o

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 54

It is the user’s responsibility to determine the suitability of this information for the adoption of necessary safety precautions. hidrogen. formaldehid. asam klorosulfonik Produk dekomposisi: hidrogen klorida.T. Simpan di area anti korosi. asam sulfat. disarankan menggunakan masker chemical cartridge respirator dengan acid cartridge. Di atas konsentrasi tersebut. amine. baju pelindung direkomendasi untuk digunakan SAF-T-DATA Storage Color Code: putih (korosif) Syarat khusus: Kontainer selalu tertutup rapat. Dilarang disimpan berdekatan dengan bahan pengoksidasi TM Seksi VII: Prosedur Penanganan Tumpahan dan Disposal Seksi VIII: Perlengkapan Perlindungan o Seksi IX: Penyimpanan dan Penanganan o o Seksi X: Data transportasi dan Informasi Tambahan Domestik (DOT): o Nama pengapalan (proper shipping name): Hydrochloric acid o Kelas bahaya: bahan korosif (cair) o UN/NA: UN1789 o Label: Korosif o Kuantitas dilaporkan: 5000 Lbs Internasional (IMO) o Nama pengapalan (proper shipping name): Hydrochloric acid. alkali. Idsolasi dari bahan-bahan yang tidak kompatibel. kering dan tutup. alat bantu pernafasan disarankan untuk digunakan Perlindungan mata/kulit: Sarung tangan acid-resistant dan perlindungan muka (face shield). air. propiolakton. tuang tumpahan dengan hati-hati ke dalam kontainer bersih. klorin Gunakan alat masker pernafasan (self-contained breathing) dan baju pelindung Hentikan kebocoran bila dapat dilakukan tanpa resiko Berikan ventilasi pada area tersebut Netralisir tumpahan dengan abu soda atau kapur Dengan skop yang bersih. dan pindahkan dari area tersebut Bilas area tumpahan dengan air R R J. Baker Neutraorb atau Penetralisir asam Neutrasol “Low Na” disarankan untuk digunakan untuk penanganan tumpahan Prosedur disposal: kubur atau timbun atau singkirkan sesuai dengan peraturan yang berlaku EPA Hazardous Waste Number: D002 (Coorosive Waste) Ventilasi: gunakan exhaust ventilation umum atau lokal untuk memenuhi standar TLV Perlindungan pernafasan: Masker pernafasan dibutuhkan bila konsentrasi di udara kerja melebihi TLV yang disyaratkan. karbonat.FTSL ITB Halaman 55 .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Seksi VI: Data Reaktivitas o o o o o o o o o o o o o o o o Stabilitas: stabil Bahaya polumerisasi: tidak akan terjadi Kondisi yang dihindari: panas dan kelembaban Tidak kompatibel: hampir semua logam. basa kuat. solution o Kelas bahaya (hazard class): 8 o UN/NA: UN1789 o Labels: Corrosive Info terakhir MSDS contoh di atas: The information Publisher in this MSDS has been compiled from our experience and data presented in various technical publications. murkuri sulfat. Enri Damanhuri . vinil asetat. Pada konsentrasi di sampai dengan 100 ppm. oksida logam. anhidrid asid. seragam. We reserve the right to revise Material Safety Data Sheets periodically as new information becomes available. kalsium fosfida.

natrium hidroksida.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 J. akan menyebabkan terjadinya pendidihan lokal disertai percikan yang membahayakan. seperti HclO4. terjadinya bahan lain yang mudah terbakar atau terjadinya ledakan. yang menghasilkan oksida-oksida metalik. nyala dan ledakan. Oleh karenanya US Department of Transportation (USDOT) mendefinisikan bahan korosif sebagai : cairan atau padatan yang dapat menimbulkan kerusakan yang terlihat pada jaringan kulit manusia bila berkontak.gravitasi spesifik : 1.titik didih : 338 o C .bila sebuah cairan mempunyai laju korosi lebih besar dari 6.T. juga terhadap jaringan kulit. dapat menimbulkan sifat toksik.84 . sehingga dapat menghancurkan sama sekali kertas dan tekstil. Namun korosi sebetulnya tidak terbatas pada aktivitas oksigen terhadap sebuah logam. Bahan ini juga akan menimbulkan ledakan bila bercampur dengan asam lain. asam fosfat. Selalu diperhatikan bahwa pengenceran dilakukan dengan penuangan secara perlahan pada air yang teraduk perlahan. Asam Sulfat (H2SO4) Bahan ini banyak digunakan di industri. Korosi dapat pula disebabkan karena perusakan oleh bahan kimia (seperti asam atau basa kuat). sehingga dianggap banyaknya konsumsi bahan ini di suatu negara dapat menggambarkan status ekonomi dari negara tersebut. Beberapa bahan yang termasuk dalam kelompok ini adalah asam sulfat.sangat larut dalam air Asam ini akan membebaskan panas bila diencerkan (sekitar 20 kcal per mole). akan terbentuk uap HCl yang merupakan bahan toksik bagi pernafasan. Bila asam sulfat bercampur dengan NaCl. Beberapa reaksi di bawah ini akan memperjelas mekanisme yang terjadi : Enri Damanhuri . dan sangat reaktif. yang akan dibahas secara umum di bawah ini. BAKER INC. Baker makes no warranty or representation about the accuracy or completeness nor fitness for purpose of the information contained herein.bila diuji terhadap kelinci albino. COPYRIGHT 1987 J. Bahaya lain dari bahan ini adalah kemampuannya bereaksi dengan bahan lain.25 mm per tahun terhadap baja atau alumunium standar pada temperatur pengujian 55 °C. proses ini biasanya terjadi karena adanya oksigen di udara.titik beku : 10 o C . baik terhadap logam dan mineral. . asam nitrat. Reaksi dehidrasi ini sangat kuat.FTSL ITB Halaman 56 . dengan densitas sekitar 2 kali air. asam khlorida. asam fluorida. Bentuk bahaya yang kedua dari bahan ini adalah sifatnya yang dapat mengekstrak air dari bahan yang berkontak dengannya.T. Asam ini merupakan cairan yang tidak berwarna. atau cairan yang mempunyai laju korosi yang kuat terhadap baja alumunium dengan kriteria : . Beberapa sifat asam sulfat pekat adalah : . kalium hidroksida. yang disertai akibat samping seperti timbulnya gas toksik. asam perkhlorit. 5 BAHAN KIMIA KOROSIF Biasanya pengertian korosi mengacu pada proses kimia yang mengakibatkan logam atau mineral dikonversi menjadi bahan yang berkarat. Bila ini dilakukan terbalik. maka struktur jaringan di lokasi kontak mengalami kerusakan atau tidak dapat pulih setelah pemaparan 4 jam atau kurang. Gula misalnya akan menjadi arang bila bercampur dengan asam ini.33 % .konsentrasinya dalam air : 98. dan dapat menimbulkan ledakan bila dicampur dengan bahan tertentu.

FTSL ITB Halaman 57 .menghasilkan gas racun dengan asam oksalit : H2C2O4(s) ⇒ H2O(g) + CO(g) + CO2(g) . tergantung pada konsentrasi asam tersebut. NI dan NaCN atau NaSCN : 2 NaBr(s) + 2 H2SO4(l) ⇒ Br2 (g) + SO2 (g) + Na2SO4 (l) + 2 H2O(l) SO2 dan Br2 adalah gas toksik Bahan ini juga tergolongkan sebagai oksidator. sedang monoksida terbentuk bila asam nitrat encer yang digunakan. Asam ini dibutuhkan untuk menghasilkan bahan peledak nitrogliserin dan trinitrotoluene (TNT). ClO2 bersifat toksik .menghasilkan gas-gas racun dengan NaBr. Label bertuliskan 'korosif dan racun' dibutuhkan pada kontainer dan kendaraan yang mengangkutnya. Bila logam yang dijumpainya adalah berupa serbuk maka reaksi akan Enri Damanhuri . Asam nitrat (pekat) direduksi menjadi nitrogen. Kerapatannya sekitar 1. Asam Nitrat (HNO3) Asam nitrat merupakan cairan terpenting setelah H2SO4.70 % .5 x air dan merupakan oksidator kuat.reaksi exotermis dengan gula : C12H22O11(s) ⇒ 12 C(s) + 11 H2O(g) .titik beku : . senyawa-senyawa organik-bernitrat dan fiber sintetis.menghasilkan produk yang mudah terbakar dengan ethyl alkohol : C2H5OH(l) ⇒ C2H4(g) + H2O(g) .menghasilkan ledakan dan gas toksik dengan NaClO3: NaClO3(s) + H2SO4 (l) ⇒ NaHSO4 (s) + HclO3(l) 3 HClO3(l) ⇒ HClO4 + 2 ClO4 + H2O .sangat larut dalam air Asam ini dapat merusak logam karena sifatnya sebagai oksidator kuat.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 .konsentrasi dalam air : 68 . Beberapa sifat dari bahan ini pada kondisi pekat antara lain adalah : . seperti reaksi di bawah ini : 5 Zn(s) + 12 HNO3(l) ⇒ 5 Zn(NO3)2(l) + 6 H2O(l) + N2(g) 3 Zn(s) + 8 HNO3(l) ⇒ 3 Zn(NO3)2(l) + 4 H2O(l) + 2 NO(g) Zn(s) + 4 HNO3(l) ⇒ Zn(NO3)2(l) + 2 H2O(l) + 2 NO2(g) 4 Zn(s) + 10 HNO3(l) ⇒4 Zn(NO3)2(l) + 5 H2O(l) + N2O(g) 4 Zn(s) + 10 HNO3(l) ⇒4 Zn(NO3)2(l) + 3 H2O(l) + NH4NO3(g) Umumnya hanya satu reaksi yang terjadi. Nitrogen dioksida dapat terbentuk bila asam nitrat pekat yang digunakan. terutama pada kondisi panas. aturan di USA membatasi pemaparan maksimum terhadap manusia sebesar 1 mg/m3.menimbulkan ledakan dengan asam perkhlorit : 2HClO4 (l) ⇒ Cl2O7(g) + H7O(g) . digunakan misalnya dalam industri pupuk amonium-nitrat. atau nitrogen monoksida atau nitrogen dioksida atau dinitrogen monoksida atau ion amonium.titik didih : 86 o C . namun sering dijumpai dengan warna kuning sampai merah-kecoklatan tergantung dari kandungan nitrogen dioksida yang terlarut.5 . misalnya pada reaksi di bawah ini : Cu(s) + 2 H2SO4 (pekat) ⇒ CuSO4 (l) + SO2 (g) + 2 H2O(l) Pb(s) + 3 H2SO4 (pekat) ⇒ Pb(HSO4) 2 (s) + SO2 (g) + 2 H2O(l) Di lingkungan kerja.42 o C . Asam nitrat murni merupakan cairan yang tidak berwarna.gravitasi spesifik : 1.

titik didih : 203 o C .gravitasi spesifik : 1.titik didih : .gravitasi spesifik : 1. minyak. Batas yang diperbolehkan di Amerika Serikat pada lingkungan kerja adalah 5 ppm.70 . Oksidasi logam alumunium pada temperatur kamar tidak dapat terjadi bila konsentrasi asam nitrat lebih tinggi dari 80 %. membentuk asap. Asam ini juga akan mengkorosi jaringan tubuh bereaksi dengan protein membentuk xanthroproteic acid berwarna kuning. Pengangkut dan kontainer yang digunakan mencantumkan label 'korosif. Kerapatan gasnya sekitar 1/5 lebih ringan dari udara. Asam ini dapat menimbulkan swa-nyala bagi bahan sellulosa. terutama bila bahan ini dalam bentuk serbuk. Bahan ini bukan termasuk oksidator. misalnya pembersih WC.38 % . Materi sellulosa (seperti kertas. Asam ini juga mengoksidasi senyawa-senyawa organik seperti aceton. nitrobenzene.titik beku : . dan menyengat. dan korosi pada besi tidak terjadi bila konsentrasi asam nitrat lebih tinggi dari 70 %. Label yang disyaratkat pada kontainer dan pengangkutannya adalah 'korosif dan racun'. seperti karbon dan sulfur.konsentrasi dalam air : 36 . merupakan oksidator kuat khususnya terhadap senyawa organik. bahkan sama sekali merusaknya. dan kadangkala disertai ledakan dan merupakan sumber nyala. Terhirupnya gas ini melalui pernafasan akan menyebakan degenerasi total sel pada bagian pernafasan.kelarutan dalam air : sangat larut Departemen Transportasi Amerika Serikat menentukan bahwa HClO4 dengan konsentrasi lebih kecil dari 50 % sebagai 'korosif'.115 °C . Klasifikasi bahaya dari bahan ini karena bersifat korosif dan toksik. atau untuk menghasilkan senyawa yang mengandung khlor seperti karet sintetis.konsentrasi dalam air : 72. ethyl alkohol. terutama pada kondisi panas.FTSL ITB Halaman 58 . oksidator dan racun'. Pemaparan maksimum yang diizinkan di Amerika Serikat adalah 2 ppm. misalnya pada industri kimia dan elektroplating. misalnya pada industri pelapisan logam. Bahan ini merupakan cairan yang tidak berwarna.20 .18 o C .4 % . Asam Khlorida (HCl) Asam ini merupakan bahan kimia yang termasuk penting dalam kegiatan industri. Asam ini. Sifat-sifat asam khlorida pekat antara lain adalah : . Sedang logam khromium resistan terhadap asam ini. sedang antara 50-72 % sebagai 'oksidator' dan pengangkutan HClO4 dengan konsentrasi lebih besar dari 72 % tidak Enri Damanhuri .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 disertai ledakan. kayu) akan tebakar dengan sendirinya bila berkontak dengannya. atau produk yang banyak digunakan di rumah tangga. walaupun termasuk dalam kelompok asam kuat.kelarutan dalam air : 85 g/100 g air.titik beku : . Asam Perchlorit (HclO4) Bahan ini termasuk asam mineral yang penting dalam perindustrian. Asam ini juga dapat merusak bahan non logam.85 °C . Beberapa sifat (asam pekat) dari bahan ini adalah : .

sangat larut dalam air.gravitasi spesifik : 1. NaOH merupakan basa kuat. mampu bereaksi dengan silikon dioksida (pasir) dan gelas membentuk silikon tetrafluorida. seperti dalam industri pupuk.titik beku : 42 o C . Beberapa sifatnya dalam kondisi pekat adalah : .83 o C . Reaksi yang terjadi adalah : CaSiO3(s) + 6 HF(pekat) ⇒ CaF2(s) + SiF4(g) + 3 H2O(l) Asam fluorida merupakan asam lemah.konsentrasi yang biasa dijumpai adalah : 48 . Campuran kalsium dihidrogen fosfat dan kalsium fosfat dikenal sebagai superfosfat.titik beku : . larutan ini bereaksi dengan air secara keras.titik didih : 260 o C . yang merupakan pupuk sintetis yang penting.60 % .FTSL ITB Halaman 59 . maka botol kedua jenis asam ini tidak diperbolehkan diletakkan berdampingan. Asam Fosfat (H3PO4) Unsur fosfor paling tidak mempunyai 8 jenis asam. Natrium Hidroksida (NaOH) dan Kalium Hidroksida (KOH) Kelompok ini merupakan kelompok alkalin korosif yang paling penting dan dikenal sebagai caustic soda.titik didih : 20 o C . namun bentuk yang anhydrous dikenal sangat tidak stabil. namun beberapa jam kemudian terjadilah penetrasi dalam kulit. larutan ini bersifat korosif pada bahan. Asam Fluorida (HF) Penggunaan asam fluorida dalam industri adalah penting. dan merupakan satu-satunya asam yang mengkorosi gelas. Asam ini dalam kondisi pekat lebih berbahaya bila kontak dengan kulit karena tidak mendatangkan sakit pada saat kontak. misalnya dalam pembuatan chip dalam industri komputer. Label yang dipersyaratkan adalah : 'korosif dan oksidator'.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 diperkenankan. Aturan pengangkutan di Amerika Serikat adalah mensyaratkan label 'korosif dan toksik'.gravitasi spesifik :1 . namun asam fosfat adalah yang paling umum digunakan dalam industri.sangat larut dalam air. Karena asam sulfat dapat menghidrasi asam perkhlorit. banyak digunakan di industri Enri Damanhuri . Asam perckhlorit adalah stabil. Batas pemaparan yang diizinkan di ruang kerja adalah 1 mg/m3.konsentrasi dalam air : 85 % . atau dalam industri perminyakan untuk menghasilkan bahan bakar beroktan tinggi. Cairan ini tidak berwarna.69 . Label untuk pengangkutan dan kontainer mencantumkan sebagai 'korosif'. Asam fosfat tidak berwarna dan tidak berbau. Beberapa sifat dari asam ini dalam keadaan pekat adalah : . dan mengeluarkan panas. dapat mengkorosi bahan tetapi tidak sehebat asam-asam sebelumnya. baik digunakan secara langsung atau dicampur dengan H2SO4. Disamping itu.

Logam-logam Alkali Beberapa jenis logam ini adalah lithium. 6 BAHAN KIMIA YANG REAKTIF PADA AIR Air dapat bereaksi dengan bahan berbahaya membentuk suatu produk yang dapat terbakar dengan sendirinya. dan dikenal dengan nama caustic potash. uap atau asap toksik. kalium. terutama dalam kondisi lembab akan menghasilkan gas H2 dengan resiko kebakaran yang tidak dapat Enri Damanhuri . .bereaksi dengan air secara kuat. misalnya untuk menangani penyumbatan pipa plambing.5 °C. Proses yang menyebabkan air mendekomposisi suatu materi dikenal sebagai hidrolisis. sabun. menimbulkan ledakan. membentuk natrium silikat.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 seperti : petroleum. kertas. natrium.gravitasi spesifik : 2. Tetapi proses hidrolisis ini tidak selalu menimbulkan bahaya. namun yang paling sering digunakan adalah lithium. Beberapa sifat penting dari bahan ini adalah : . tembaga dan jaringan kulit dan melarutkan lemak. NaOH adalah berbentuk padat-putih. bahan ini dapat mengkorosi gelas. . tetapi dengan bahaya yang lebih kecil.membentuk campuran yang eksplosif bila bercampur air. rubidium dan francium. yaitu bahan yang mampu untuk menyerap air di udara.kelarutan dalam air : 42 gr/100 gr H2O. Disamping itu dikenal pula bahan yang higroskopik. toksik atau bersifat korosif. bila terjadi kontak yang lama.menghasilkan gas. karena dapat : . fotografi. Sifatsifat fisiknya antara lain : . sabun dan sebagainya. maka wadahnya lama kelamaan akan penuh. Bahan ini reaktif dengan air dan menghasilkan panas 10 kcal per mole sehingga dapat memicu kebakaran. dapat mengkorosi logam seperti alumunium. produk ini juga digunakan di rumah tangga. seng. Oleh karenanya.kelarutan dalam air : 107 gr/100 gr air. Salah satu karakteristik B3 adalah sifat reaktifnya. natrium dan kalium. farmasi.titik leleh : 360 o C . seperti H2O4 dan NaOH.titik leleh : 315 o C . tekstil. Pengangkutan bahan ini di Amerika Serikat mensyaratkan penulisan label sebagai 'korosif'. Bahan ini umumnya digunakan pada industri pupuk. Beberapa bahan dikenal pula sebagai piroforik. Reaksi yang terjadi umumnya seperti halnya NaOH. wadah yang digunakan sebaiknya bukan bahan gelas.FTSL ITB Halaman 60 .titik didih : 1320 o C . Logam-logam alkali ini merupakan kelompok logam yang paling reaktif.gravitasi spesifik : 2. Kalium Hidroksida merupakan basa yang lebih kuat dibanding NaOH.13 . Batas pemaparan di ruang kerja adalah 2 mg/m3. Dalam uraian berikut ini dijelaskan secara umum kelompok bahan yang termasuk dalam katagori reaktif dalam air.04 . Pada temperatur kamar.titik didih : 1390 o C . dan dikenal sebagai basa yang korosif. cesium. sehingga bila bahan tersebut dibiarkan terbuka di udara lembab. yaitu bahan yang dapat terbakar secara spontan bila berada dalam keadaan udara kering atau lembab atau pada temperatur < 54.

maka resiko tersebut dapat dikurangi. maka bila bereaksi dengan air akan tetap sebagai padatan. Kelompok ini bila dalam bentuk bubuk akan secara spontan meledak sehingga dapat menimbulkan resiko kebakaran. agen pemutih. karena bersifat piroforik. Logam ini termasuk logam yang ringan sehingga sering digunakan dalam industri pesawat terbang. Natrium dapat menyala secara spontan dalam udara bertemperatur kamar. Bahan ini digunakan dalam industri porselen. dan merupakan logam alkali yang paling umum digunakan.819 63. mobil. tetapi biasanya dengan dry powder yang mengandung grafit.1 : Sifat fisika logam-logam alkali Kerapatan pada 20o C (g/ml) Titik leleh (° C) Titik didih (o C) Panas fusi (kcal/kg) Panas penguapan (kcal/kg) Lithium 0. Bila permukaan logam ini diselimuti oleh oksida. Dibandingkan dengan logam alkali yang lain.2 1005 Kalium 0. sehingga tidak berbahaya dibandingkan logam alkali lainnya. alumunium dan seng. Faktor lain yang mempengaruhinya adalah ukuran partikel. Logam ini juga lunak.FTSL ITB Halaman 61 . logam ini akan terbakar.534 179 1317 103. logam ini adalah yang paling reaktif. sedangkan logam alkali lainnya akan meleleh. berasap kuning dan membentuk natrium oksida sesuai dengan reaksi : 4 Na(s) + O2(g) ⇒ 2 Na2O(s) Kalium merupakan unsur ketujuh yang paling banyak dijumpai di dalam tanah dan lautan. Bahan ini antara lain digunakan dalam produksi logam titanium.5 833 27. Magnesium merupakan unsur ke delapan yang terbanyak dijumpai di dalam tanah dan lautan. sebagai bahan baku dalam pembuatan senyawa-senyawa yang mengandung natrium yang bersifat reaktif. merupakan unsur padat yang paling ringan dan dapat mengapung pada produk minyak bumi. Beberapa sifat dari lithium. keramik. Bila bereaksi dengan air akan menghasilkan reaksi : 2 Li(s) + 2 H2O(l) ⇒ 2 LiOH(l) + H2(g) Reaksi berlangsung lambat bila dibandingkan dengan reaksi alkali yang lain. titanium. sebagai katalis dalam pembuatan karet sintetis.1. seperti natrium peroksida.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dipadamkan dengan air. Kemurnian dari logam kelompok ini akan menentukan resiko tersebut di atas.7 760 14.2 4680 Natrium 0. Oleh karena titik didihnya lebih tinggi dari air.6 496 Lithium adalah logam yang lunak. natrium dan kalim adalah seperti terlihat dalam tabel 4.972 97. TABEL 5. Logam-logam lain Beberapa jenis logam lain yang mempunyai sifat reaktif terhadap air adalah magnesium. Natrium adalah unsur keenam yang paling banyak dijumpai dalam tanah dan lautan. Sebagaian besar logam kalium digunakan untuk memproduksi logam campuran natrium-kalium sebagai penukar panas pada fluida. farmasi. Bila terpapar dengan udara pada temperatur kamar. distribusi atau dispersi partikel. atau untuk pembuatan bagian-bagian mesin dan Enri Damanhuri . berasap ungu dan membentuk kalium oksida. kelembaban dan jumlah oksigen yang terserap. Pengangkutan bahan ini membutuhkan label yang menyatakan sebagai 'berbahaya bila lembab'.

tetramethyltin Sn(CH3)4. senyawa ini akan bereaksi secara keras membentuk ethane. seperti reaksi : (C2H5)2Zn(l) + 7 O2(g) ⇒ ZnO(s) + 4 CO2 (g) + 5 H2O(g) Enri Damanhuri . seperti reaksi : 2 Mg(s) + O2(g) ⇒ 2 MgO(s) 3 Mg(s) + N2(g) ⇒ Mg3N2(s) Cahaya yang ditimbulkan oleh terbakarnya magnesium adalah putih terang. dimethylcadmium Cd(CH3). tri(isobutyl) aluminum Al(C4H9)3. Asap dari magnesium oksida berbahaya bila terhisap karena bersifat reaktif terhadap lembab yang ada dalam saluran pernafasan dan membentuk magnesium hidroksida. logam ini reaktif terhadap air dan berisiko terhadap terjadinya ledakan dan kebakaran. Tidak kurang dari 50 jenis senyawa organometalik tersedia secara komersial. Seperti halnya magnesium. Aluminum (alumunium) merupakan bahan yang paling populer diantara bahan-bahan sebelumnya. Namun dengan terbentuknya alumunium oksida yang berada di permukaan akan melindungi logam ini dari reaksi kimia. karbon dioksida dan air. Pengangkutan bahan ini membutuhkan label yang bertuliskan 'berbahaya bila lembab'. Alumunium lebih ringan dibanding titanium. Seperti halnya magnesium. Senyawa ini bersifat piroforik. umumnya mengandung satu sampai sepuluh atom karbon pada setiap molekulnya. Adanya lapisan inilah yang menyebabkan alumunium dianggap sebagai logam yang tidak berbahaya. Seperti halnya yang lain. Campurannya dengan tembaga menghasilkan logam campuran yang dikenal sebagai kuningan. Bahan ini dapat dibentuk sebagai lembaran yang tipis dan banyak digunakan dalam kegiatan industri maupun non. Oleh karena kombinasi keras dan ringan ini. Seng juga digunakan untuk melindungi besi dari korosi (galvanis). sehingga dekenal sebagai senyawa-senyawa organometalik. dapat terbakar secara spontan di udara. Senyawa ini biasanya digunakan sebagai katalis polimerisasi. tetraethyllead (C2H5)5Pb. Bila logam ini terbakar di udara.FTSL ITB Halaman 62 . Logam ini tahan terhadap sifat korosi air laut sehingga banyak digunakan dalam pembuatan kapal laut. maka logam ini banyak digunakan dalam industri pesawat terbang. Namun biaya untuk memproduksi logam ini adalah sangat tinggi sehingga membatasi penggunaannya. dan digunakan pula sebagai katalis dalam polimerisasi ethene. dan merupakan unsur ketiga terbanyak di perut bumi dan lautan. logam ini termasuk yang mempunyai kerapatan kecil dibandingkan logam lainnya. maka bila serbuk alumunium diangkut maka dibutuhkan label sebagai 'berbahaya bila lembab'. terutama senyawa organometalik yang lain. Alumunium murni termasuk salah satu logam yang paling reaktif. hanya sekitar 75 % diantaranya yang bereaksi dengan oksigen untuk membentuk magnesium oksida. membentuk seng oksida. sedang sisanya akan membentuk magnesium nitrida.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 sebagainya. Transportasi bubuk seng membutuhkan label 'berbahaya bila lembab'. Seng termasuk yang sering digunakan dalam kegiatan non-industri. Logam ini sekeras baja tetapi 45 % lebih ringan. Titanium merupakan elemen ke sepuluh yang paling banyak dijumpai di dalam tanah dan lautan. atau sebagai pigmen dalam pembuatan cat. Senyawa Organometalik Kelompok senyawa organometalik yang penting dalam industri adalah dalam bentuk atom-atom logam yang terikat secara langsung dengan atom-atom karbon. yang dapat membahayakan retina mata. Dalam air.industri. trimethylaluminum Al(CH3)3. Diethylzinc adalah organometalik yang biasanya digunakan dalam sintesa beberapa senyawa organik. beberapa diantaranya adalah : diethylzinc (C2H5)2Zn. yang dapat menimbulkan luka pada paru-paru.

akan menghasilkan gas H2 dan mudah terbakar. Beberapa jenis hidrida metalik ini antara lain adalah lithium atau natrium hidrida (LiH). Molekular hidrida dari boron disebut borane. hidrogen khlorida (HCl) dan sebagainya. Dengan sifat panas pembakarannya yang tinggi (527 kcal/mol). menyebabkan diborane digunakan sebagai bahan bakar roket. umumnya tidak stabil pada temperatur kamar. terhisap atau kontak melalui kulit. transportasi bahan ini membutuhkan label bertuliskan 'racun'. Berbeda dengan senyawa organometalik yang lain. atau kadangkala boron. Hidrida-hidrida Metalik Kelompok hidrida-hidrida metalik yang paling banyak digunakan secara komersial adalah yang tersusun dari atom hidrogen.8 % (volume) di udara. karena berada sebagai satuan molekular. Borane (BH3)pada tekanan atmosfer adalah tidak stabil. Molekular hidrida yang umum adalah air. bereaksi secara keras dengan air dan sangat toksik. Kelompok ini juga bereaksi secara hebat dengan bahan odsidator. atau logam alkali atau alumunium. lithium aluminium hidrida (LiAlH4). sangat toksik dan bila terbakar akan terbentuk oksida boron. Hidrida-hidrida ini akan terdekomposisi menjadi boron dan hidrogen pada temperatur di atas 300 o C. dikenal sebagai senyawa aluminum alkyl. dan berubah menjadi diborane (B2H6). Senyawa ini relatif stabil.senyawa yang mengandung atom alumunium yang terikat pada atom karbon. merupakan senyawa yang reaktif terhadap air. termasuk kelembaban udara. akan dapat menyebabkan pembakaran spontan dan berasap hijau. Diantara bahan organometalik yang mungkin paling terkenal adalah tetraethyllead yang digunakan dalam mengurangi ketuk (knock).satunya yang bukan termasuk piroforik. lithium atau natrium borohidrida. Paling tidak dikenal 14 jenis borane. Senyawa ini biasanya digunakan dalam industri sebagai pereduksi. Pemaparan maksimum Enri Damanhuri .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 (C2H5)2Zn(l) + 2H2O(l) ⇒ Zn(OH)2(s) + C2H6(g) Tata cara pengangkutan di Amerika Serikat mensyaratkan label 'bahan bakar spontan'. namun bila bereaksi dengan air.FTSL ITB Halaman 63 . Contoh lain adalah hidrogen sulfida (H2S).satunya karakteristik bahaya yang menyertainya adalah sifat toksik dari cairan atau uapnya bila terhirup.075 mg/m3. Oleh karenanya. sehingga sangat tidak dianjurkan untuk digunakan. diborane tergolong toksik. Dengan konsentrasi diborane sebesar 0. Satu. serta lithium dan natrium borohidrida sebagai 'berbahaya bila lembab. akan dihasilkan cemaran timbal di udara. methane (CH4). disertai dengan berat molekulnya yang rendah. senyawa ini merupakan satu. tetrahidridoaluminate (LiAlH4). Seluruh senyawa kelompok ini merupakan senyawa yang piroforik. Kelompok organometalik yang juga penting dalam industri adalah senyawa. Maksimum pemaparan di ruang kerja adalah 0. Bila terjadi pembakaran. Departemen Transportasi Amerika Serikat mengatur secara khusus pengangkutan lithium dan natrium hidrida . Borane Senyawa-senyawa hidrogen dengan satu atau lebih unsur non-metal dikenal sebagai hidrida-hidrida molekular. yang digunakan terutama untuk katalis polimerisasi. yang ditambahkan pada bahan bakar kendaraan bermotor. Diborane ini termasuk gas yang mudah terbakar. aluminium tetrahidridoborate Al(BH4)3. seperti trimethylaluminum dan tri(isobutyl) aluminum. serta tidak reaktif terhadap air. Disamping itu. amonia (NH3).

Karbida. antimoni pentakhlorida (SbCl5) yang bersifat korosif. maka kalsium karbida harus dijaga agar tetap kering dan bebas dari lembab udara. seperti terhisapnya gas HCl beberapa detik yang akan menyebabkan kerusakan langsung pada paru-paru.FTSL ITB Halaman 64 . fosforus oksikhlorida (POCl3) yang bersifat korosif dan toksik. yang umumnya berbahaya karena bersifat sebagai oksidator disamping reaktif terhadap air. menghasilkan hidrogen khlorida. Enri Damanhuri . C4. dia dapat merusak jaringan di lokasi kontaknya (efek lokal) atau berpengaruh negatif dengan jalan lain. Contoh fosfida metalik adalah kalsium fosfida. Bila sebuah substansi bersifat toksik. Pengaruh racun dapat diklasifikasikan berdasarkan waktu yang dibutuhkan terjadinya penyakit atau gangguan. Senyawa-senyawa yang mengandung khlor dengan metalik dan atau non-metalik merupakan substansi yang reaktif terhadap air. Sebagai contoh. Bila kalsium karbida bereaksi dengan air. yang paling penting adalah melalui : mulut. namun dapat menimbulkan api. bisa saja keterpaparan ini terjadi secara berulang-ulang sampai menimbulkan kerusakan. Ion-ion karbon dalam bentuk C22-. kulit dan pernafasan. gas iritan dan bila berbentuk larutan akan bersifat korosif. gas acetylene (C2H2) akan terbentuk sesuai dengan reaksi : CaC2 (s) + 2 H2O(l) ⇒ Ca(OH)2(s) + C2H2 (g) Gas acetylene inilah yang berfungsi sebagai bahan bakar pada saat digunakan dalam pengelasan. bila merkuri terserap oleh kulit maka akan dapat merusak ginjal atau pusat sistem syaraf. seperti reaksi di bawah ini : Ca3P2(s) + 6 H2O(l) ⇒ 3 Ca(OH)2(s) + 2 PH3(g) Gas fosfine juga bersifat toksik. yang mengakibatkan efek sistemis. boron trikhlorida (BCl3)menguap pada 18oC dan bersifat toksik.atau C34. seperti kalsium karbida CaC2 yang digunakan dalam industri sebagai sumber acetylene dan pupuk kalsium cyanamida. Barium peroksida disamping membutuhkan label 'oksidator'. Hidrogen khlorida adalah toksik. yaitu : .dikenal sebagai karbida.1 ppm. Fosfida dan Khlorida Metalik Senyawa-senyawa yang tersusun antara logam dengan ion peroksida (O2=) dikenal sebagai peroksida metalik. 7 BAHAN-BAHAN KIMIA TOKSIK Terdapat berbagai cara agar sebuah bahan/substansi masuk ke dalam tubuh manusia.Bersifat akut : kerusakan yang terjadi biasanya akibat sejenis bahan dengan pemaparan singkat. yang juga reaktif terhadap air.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dalam ruangan kerja adalah hanya 0. akan terbentuk gas bakar fosfine. dan senyawa yang mengandung logam dengan ion-ion karbida dikenal sebagai karbida-karbida metalik. diperlukan juga label 'racun'. Bila kalsium fosfida bereaksi dengan air. Peroksida metalik yang penting dalam industri adalah yang tersusun dari logam alkali dan alkali tanah. Beberapa jenis senyawa ini adalah : alumunium khlorida (AlCl3) yang bersifat korosif. Senyawa ini tergolong berbahaya. Peroksida. Senyawa ini tidak terbakar. karena bereaksi secara keras dengan air. Transportasi bahan ini membutuhkan label 'gas beracun dan mudah terbakar'. Untuk menghindari bahaya kebakaran atau ledakan. terutama natrium peroksida dan barium peroksida.

FTSL ITB Halaman 65 . karbon monoksida.] No. . dan akan menjadi human carcinogen bila memang terbukti dapat menyebabkan kanker pada manusia. dengan satuan ppm (gas) atau mg/m3 ( asap udara).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 .Threshold limit value (TLV) : limit teratas dari sebuah konsentrasi toxin yang tidak menimbulkan pengaruh kesehatan pada manusia yang terpapar secara rutin. Dalam toksikologi.0 100. .Immediately dangerous to life and health (IDLH) : merupakan konsentrasi maksimum suatu substansi yang memungkinkan manusia menghindar dalam 30 menit tanpa masalah pada kesehatannya. yang menyebabkan kematian binatang penelitian sebanyak 50 % . misalnya hidrogen khlorida yang merupakan bahan korosif. yaitu dengan EP-toxicity (extraction-procedure toxicity). TABEL 5.0 5. . percobaan melalui binatang tidak selalu relevan karena faal manusia dan binatang tidak selalu sama. Sebuah substansi yang masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan dapat berakibat sebagai : . maka bahan tersebut dikenal sebagai suspect human carcinogen.paru. dalam satuan ppm (volume).Asphyxiant : substansi kimia yang menyebabkan kehilangan kesadaran karena kurangnya oksigen dalam darah. Untuk toksik yang bersifat kronis atau laten. Untuk mengkuantifikasi toksisitas akut. . Oleh karenanya bila substansi tersebut menyebabkan kanker pada binatang dan belum terbukti pada manusia. misalnya nitrogen. maka digunakan penelitian terhadap binatang percobaan.Time weighted average threshold limit value (TWA-TLV) : konsentrasi rata.0 1.Lethal concentration-50 (LC50) : konsentrasi bahan. kemudian hasilnya di ekstrapolasi pada manusia. hidrogen.0 0.Bersifat kronis : suatu pengaruh atau keadaan sakit yang muncul sedikit demi sedikit dalam waktu yang agak lama setelah pemaparan pertama. Konsentrasi maksimum tersebut adalah seperti terlihat dalam tabel 2.. misalnya timbulnya kanker liver angiosarcoma yang muncul beberapa tahun setelah menghirup vinyl khlorida.2 : Konsentrasi maksimum bahan toksik dengan EP-toxicity [.rata di ruang kerja yang dapat diterima oleh sebagian besar pekerja selama 40 jam per minggu atau 8 jam per hari tanpa menimbulkan gangguan. misalnya benzene akan mengakibatkan aplastic anemia setelah sekitar 10 tahun sejak pertama kali terjadinya pemaparan.2 Enri Damanhuri . dengan satuan mg bahan per kg berat binatang. USEPA menggunakan tolak ukur yang bersifat praktis.2.0 5. Cara ini biasanya cocok untuk toksik yang bersifat akut.limbah B-3 D004 D005 D006 D007 D008 D009 Cemaran Arsen Barium Kadmium Khromium Timah Merkuri Konsentrasi (mg/l) 5.Bersifat laten : suatu pengaruh atau keadaan sakit yang baru berkembang setelah masa inkubasi terlampaui. yang dapat mematikan 50 % binatang percobaan. yaitu : . . biasanya dilakukan percobaan melalui binatang. dengan memberikan batasan konsentrasi maksimum cemaran yang diuji sesuai dengan protokol penelitian.Lethal dose-50 (LD50) : konsentrasi bahan.Irritant : substansi kimia yang melukai jaringan sistem pernafasan dan paru. . yang mengatur beberapa cemaran logam toksik dan pestisida. untuk melihat pengaruh suatu substansi pada manusia.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

D010 D011 D012 D013 D014 D015 D016 D017

Selenium Perak Endrin Lindane Methoxychlor Toxaphene 2,4-D 2,4,5-TP Silvex

1,0 5,0 0,02 0,4 10,0 0,5 10,0 1,0

Catatan : 2,4-D = 2,4-dikchlorophenoxyacetic acid 2,4,5-TP Silvex = 2-(2,4,5-trichlorophenoxy)propionic acid

Bila cemaran tersebut mengandung konsentrasi lebih tinggi dari yang tertera dalam tabel, maka cemaran tersebut terkatagorikan sebagai toksik. Beberapa kelompok bahan kimia yang bersifat toksik antara lain adalah : - Oksida-oksida karbon : seperti CO dan CO2 - Hidrogen cyanida : HCN - Senyawa sulfur : H2S, SO2 - Oksida-oksida nitrogen seperti N2O, NO2, N2O4 - Amonia - Logam-logam berat seperti : arsen, timah (Pb) - Asbestos. - Pestisida organik. Oksida-oksida Karbon Bila bahan mengandung karbon terbakar, maka akan terbentuk gas karbon dioksida (CO2). Bila pembakaran tidak sempurna akan dihasilkan gas karbon monoksida (CO), yang tergolong gas berbahaya karena dapat menyebabkan kematian. Reaksi yang umum, misalnya dalam pembakaran gas methane, adalah: 2 CH4(g) + 3 O2(g) --- 2 CO(g) + 4 H2O(g) CH4(g) + O2(g) --- C(s) + 2 H2O(g) Kedua jenis oksida tersebut adalah tidak berwarna dan tidak berbau. Beberapa sifat gas karbon monoksida adalah: - titik didih - 191,6 oC - densitas cairan (pada titik didih) 795 g/L - densitas gas (pada titik didih) 4,3 g/L - densitas gas (pada 20 C) 1,25 g/L - densitas uap (udara = 1) 0,97 - panas pembakaran 67,64 kcal/mol - % batas bawah ledakan 12,5 - % batas atas ledakan 74 -rasio ekspansi cair ke gas 700 Sedang beberapa sifat gas karbon dioksida adalah : - titik beku (oC) - 56,55 oC - titik sublimasi (pada 1 atm) 78,5 oC - panas fusi 47,5 kcal/kg - panas sublimasi 36,2 kcal/kg - densitas padat (pada 1 atm) 1,56 g/ml - densitas gas (pada titik sublim) 2,8 g/L - densitas gas (pada 20 oC) 1,98 g/L - densitas uap (udara = 1) 1,529 - rasio ekspansi cair ke gas 790
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 66

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

Karbonmonoksida merupakan gas toksik, yang dapat terserap oleh darah melalui pernafasan. Pada saat manusia bernafas, oksigen akan terbawa oleh aliran darah oleh komponen dalam darah yang disebut hemoglobin (Hb). Bila Hb ini menyerap oksigen akan terbentuk oksihemoglobin (O2Hb), dengan reaksi seperti : Hb(l) + O2(g) --- O2Hb(l) Oksihemoglobin ini akan melepaskan oksigen pada jaringan atau organ lainnya. Bila karbonmonoksida terhirup, akan terbentuk karboksihemoglobin (COHb) : Hb(l) + CO(g) --- COHb(l) yang mempunyai afinitas kimia sebesar 300 kali lebih tinggi daripada pembentukan oksihemoglobin. Oksigen yang terikat dalam oksihemoglobin juga dapat dilepaskan sesuai dengan reaksi : O2Hb(l) + CO(g) --- COHb(l) + O2 Karboksihemoglobin ini relatif stabil dan menghalangi penyerapan oksigen oleh darah sehingga penderita mengalami anoxia, yaitu kekurangan oksigen dalam darah. Pada dasarnya tubuh manusia lebih toleran terhadap CO2, walaupun adanya CO2 akan mempertinggi laju pernafasan seseorang, sehingga pekerjaan terasa menjadi lebih berat. TLV di udara untuk karbon monoksida adalah 100 ppm, sedangkan untuk CO2 adalah 5000 ppm (0,5 %); lebih dari konsentrasi tersebut akan menimbulkan gangguan pernafasan. Kontainer atau silinder gas karbon monoksida membutuhkan label 'gas beracun' dan ' gas mudah terbakar', sedang untuk gas karbon dioksida tergolongkan sebagai 'gas tidak terbakar'. Hidrogen Sianida (HCN) Pada temperatur kamar, hidrogen sianida adalah merupakan gas yang tidak berwarna, dengan sifat-sifat antara lain : - titik beku (oC) : - 14 oC - titik didih (oC) : 26 oC o - kerapatan pada 20 C : 1,2 g/L - kerapatan uap (udara = 1) : 0,93 - % batas terendah ledakan :6 - % batas tertinggi ledakan : 41 - titik nyala cairan : - 18 oC Gas HCN larut dalam air membentuk asam hidrosianik. Hidrogen sianida anhidrous (cair) merupakan bentuk yang secara komersial sering dijumpai, merupakan bahan yang tidak stabil. HCN banyak digunakan dalam pembuatan plastik seperti polyacrylonitrile yang mengandung grup -CN. Bila jenis plastik ini dipanaskan, maka akan terdekomposisi secara termal dan terbentuklah gas racun HCN. Bahan racun ini mempengaruhi transportasi oksigen dalam darah, karena dapat mengganggu aktivitas enzim cyctochrome oxidase yang dibutuhkan untuk respirasi selluler dan pembentukan enersi. Bahan ini masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan atau kulit. Beberapa senyawa kimia dengan ion-ion metalik yang bergabung dengan ion- ion sianida, seperti natrium sianida, banyak digunakan dalam industri elektroplating. Seperti halnya gas sianida, bahan ini juga bersifat racun bila terserap oleh manusia. Bahan ini juga akan bereaksi dengan asam membentuk gas HCN : NaCN(s) + HCl(l) --- NaCl(l) + HCN(g) Beberapa besaran konsentrasi (dalam ppm) yang berkaitan dengan sifat toksikologi dari HCN adalah :
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 67

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

- batas bau : 0,2 - 5,0 - TLV : 10 - keluhan sakit kepala : 18 -36 - bertahan selama 1/2 jam tanpa kesulitan : 45 - 54 - kematian dalam 1 jam : 110 - 135 - kematian langsung : 280 Pengaturan pengangkutan dan pewadahan mensyaratkan label : racun' dan 'cairan mudah terbakar'. Senyawa Sulfur Senyawa yang mengandung unsur sulfur dijumpai pada batu bara, gas alam, minyak mentah, wool, rambut, polimer-polimer sintetis dan sebagainya (lihat sub bab 2.2). Bila bahan ini terpapar dengan panas atau bila terbakar akan membentuk gas hidrogen sulfida (H2S) atau SO2. Hidrogen sulfida secara komersial banyak dijumpai dalam bentuk cairan, biasanya digunakan dalam industri yang memproduksi senyawasenyawa mengandung sulfur. Bahan ini juga digunakan dalam industri metalurgi. Gas H2S merupakan gas yang tidak dijumpai akibat proses dekomposisi dari gas ini adalah : - titik didih - titik beku - densitas pada 20 o C - kerapatan uap (udara = 1) - persen batas bawah ledakan - persen batas atas ledakan - panas fusi - panas penguapan berwarna, berbau seperti telur busuk. Secara alami senyawa organik dalam kondisi anaerob. Sifat-sifat : - 60 o C : - 83 o C : 1,539 g/L : 1,2 : 4,3 : 46 : 0,568 kcal/mol : 4,463 kcal/mol

TLV dari gas H2S dibatasi hanya 10 ppm. Bila terus menerus menghirup udara yang mengandung gas ini, akan mengakibatkan pusing dan sakit kepala; bila terhirup dengan konsentrasi 600 ppm selama 30 menit akan berakibat fatal. Tetapi karena gas ini mempunyai bau khas, maka kehadirannya dapat diketahui sejak dini. Pengangkutan dan kontainer bahan ini membutuhkan label bertuliskan 'gan beracun' dan 'gas mudah terbakar'. Sulfur dioksida merupakan gas tidak berwarna, berbau menyengat seperti karet terbakar. Gas ini terbentuk bila senyawa mengandung sulfur terbakar, misalnya pada pembakaran gas H2S akan terjadi reaksi : 2 H2S(g) + 3 O2 (g) --- 2 H2(g) + 2 SO2(g) Gas ini akan muncul misalnya karena pembakaran minyak bumi atau batu bara, karena kedua jenis bahan bakar ini mengandung senyawa sulfur. Dalam emisinya di udara, gas ini secara lambat akan teroksidasi menjadi sulfur trioksida (kadang-kadang ditulis sebagai SOx) yang larut dalam lembab udara membentuk asam sulfat sebagai penyebab hujan asam, sesuai dengan reaksi : 2 SO2(g) + O2(g) --- 2 SO3(g) SO3(g) + H2O(g) --- H2SO4(l) Masalah lingkungan yang ditimbulkan pada zone industri adalah adanya kabut sulfur (sulfurous smog), yang terbentuk akibat kumulasi asam sulfat di udara. Beberapa sifat dari gas ini adalah :
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 68

Dalam ruang kerja.densitas pada 20 o C . Oksida Nitrogen (NOx) Terdapat enam oksida-oksida nitrogen. gas ini tergolong toksik dengan batas TLV 25 ppm. dan 0.titik beku: .densitas: 0. Oleh karenanya.14 ppm selama periode 3 jam. seperti halnya karbon monoksida. Magnesium dan fosfor dapat terbakar dengan baik dalam atmosfer yang mengandung gas ini seperti halnya atmosfer yang mengandung oksigen. membentuk metheglobin (NOHb).10 o C : .titik beku . Beberapa sifat dari gas ini adalah : .96 kcal/mol Standar emisi yang dikeluarkan oleh USEPA adalah 0. nitrogen monoksida (NO).titik didih . tidak berwarna dan berbau tajam.78 o C .771 g/L . Amonia (NH3) Amonia merupakan gas yang tak berwarna dan berbau menyengat.titik didih: . gas-gas ini juga toksik dan menyebabkan methemoglobinemia dengan batas TLV 5 ppm. Diantara keenam oksida tersebut.panas vaporasi : . Konsentrasi melebihi 500 ppm akan menyebabkan kematian seketika. TLV dari SO2 adalah 5 ppm.panas difusi . Pada konsentrasi sebesar 10 ppm (volume) gas ini akan mengakibatkan iritasi pada mata. Dengan adanya hidrogen atau amonia.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 .swa-penyalaan: 651 o C . fosfor dan karbon dapat terbakar dalam atmosfer N2O seperti halnya dalam atmosfer yang mengandung oksigen.kerapatan uap (udara = 1): 0. Pengangkutan gas ini membutuhkan label bertuliskan 'gas beracun' dan 'pengoksidasi'. Label yang dibutuhkan dalam pengangkutannya adalah sebagai 'gas tidak terbakar' dan 'pengoksidasi'.03 ppm selama periode 24 jam.batas atas ledakan: 25 % Enri Damanhuri .batas bawah ledakan: 16 % . dihasilkan campuran eksplosif. Gas NO merupakan agen pengoksida yang baik. banyak digunakan sebagai anestesi oleh dokter gigi.76 o C : 2. Gas N2O merupakan gas tidak berwarna. sehingga sulfur.FTSL ITB Halaman 69 . NO2 dan N2O4 merupakan agen pengoksida yang lebih baik dibanding N2O atau NO.33 o C . yaitu dinitrogen monoksida (N2O). Bahan ini merupakan agen pengoksidasi yang baik. sehingga dapat menimbulkan methemoglobinemia dengan terhalangnya transportasi hemoglobin.Kerapatan uap (udara =1) . Gas ini dalam pengangkutannya membutuhkan label bertuliskan 'gas racun'.5 ppm.3 : 1. sehingga digunakan sebagai agen pengoksida dalam roket. maka N2O3 dan N2O5 yang tidak penting dalam industri.77 kcal/mol : 5.596 .93 g/l : 2. Gas ini dapat berkombinasi dengan hemoglobin dalam darah. dinitrogen trioksida (N2O3). Standar kedua adalah konsentrasi tahunan sebesar 0. dinitrogen tetroksida (NO4) dan dinitrogen pentoksida (N2O5). nitrogen dioksida (NO2).

kadmiun.FTSL ITB Halaman 70 . yaitu amonium hidroksida (NH4OH). maka akan masuk pada kerongkongan dan dapat memnyebabkan kanker pada pencernaan. yaitu dari iritasi ringan sampai rusaknya jaringan. Bila terhirup masuk ke dalam paru-paru. Pengangkutan amonia cair (anhydrous) membutuhkan label 'gas racun'. Limit pemaparan di ruang kerja adalah 50 ppm. tembaga. tidak terbakar dan digunakan sebagai penyekat panas. akan mengakibatkan kemungkinan terserang kanker 50 kali lebih besar dibanding orang yang tidak merokok. maka bahaya kebakaran relatif kecil. Debu asbes ini sangat ringan dan dapat melayang di udara. Karena bahan ini sangat larut dalam air. merkuri. oxygen. maka air merupakan bahan yang efektif untuk penanggulangan masalah yang timbul. bila terlepas di udara akan cepat terdispersi apalagi bila terdapat angin. Dengan sifatnya yang lebih ringan dari udara (densitas uap = 0. sehingga memudahkan pelacakan terjadinya kebocoran. Pemaparan yang berlebihan akan menyebabkan kebutaan dan rusaknya jaringan pernafasan. Bahan ini juga menyebabkan mesothelioma pada paru-paru atau saluran pernafasan. dan mempengaruhi kerja enzimatik dalam tubuh. apalagi bila dalam bentuk bubuk atau asap. khromium.569). Debu asbes ini mempunyai efek sinergis. Enri Damanhuri . perak. berillium.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gas ini mudah dicairkan dan dikenal sebagai anhydrous ammonia. selenium. namun dengan rentang yang kecil. magnesium. Mata dan paruparu akan teritasi bila terpapar dengan bahan ini. terutama bila asbestos hadir dalam bentuk debu asbes sehingga mudah terhisap melalui pernafasan atau mulut. beberapa logam berat akan merupakan racun. Namun disamping kegunaannya tersebut. Bila dicampur dengan magnesium oksida. bila bahan cairan ini tumpah akan terbentuk awan putih akibat kondensasi lembab udara. hidrogen dan ion. arsen. Amonia yang dilarutkan dalam air merupakan larutan yang sering dijumpai secara komersial.ion metalik seperti natrium. thallium dan seng. serta limit bawahnya yang relatif besar (16 %). Mekanisme keracunan dari logam berat ini adalah tergantung dari jenisnya. Namun bila tidak terkumpul di paru-paru. yang tergantung pada lamanya pemaparan. nikel. Bila logam ini terbawa oleh darah maka akan bersenyawa dengan sulfur yang berada pada fluida sellular tubuh. kalsium dan besi. Bahan ini mempunyai titik leleh yang sangat tinggi. Logam-logam Berat Toksik Yang dimaksud dengan logam berat dalam buku ini adalah setiap logam yang mempunyai berat atom lebih dari 50. asbestos sangat baik digunakan sebagai bahan tahan api yang banyak digunakan. tetapi umumnya karena ion-ion logam ini mempunyai affinitas yang sangat besar dengan sulfur. Walaupun tidak berwarna. timah. Gas ini berakibat seperti halnya alkali terhadap kulit manusia. Asbestos Absestos merupakan terminologi yang digunakan dalam ilmu mineral untuk berbagai fiber silikat yang tersusun dari silicon. misalnya bila terhisap oleh perokok. Gas amonia merupakan yang gas mudah terbakar. Pengangkutan cairan ini membutuhkan label 'korosif'. Bila terserap dalam tubuh manusia. Logam berat yang digolongkan toksik oleh USEPA adalah : antimon. yang hanya dijumpai pada orang yang terpapar debu asbes. bahan ini akan terkumpul menyebabkan asbestosis. pada kondisi khusus asbestos dapat membahayakan kesehatan manusia termasuk timbulnya karena kanker.

pestisida karbamate dan pestisida urea. roden. ledakan. Pada insek. Kelompok pestisida ini juga bersifat toksik. seperti pada batere. dan sangat stabil serta persisten. Pestisida carbamate merupakan turunan dari asam karbamik. Salah satu jenis pestisida ini adalah Carbyl yang merupakan insektisida. yang berasal dari hidrokarbon dengan formula C12H14. fungi. Namun ternyata bahan ini menimbulkan masalah kesehatan bagi manusia. pestisida ini mempunyai kemampuan untuk menghalangi kerja enzim. sehingga pembuatan dan penjualannya dilarang. contohnya adalah Parathion dengan formula (C2H5)2PSOC6H4NO2. paling tidak sebuah atom hidrogen dalam molekul hidrokarbon tersebut.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Kriteria yang diberlakukan di USA pada lingkungan kerja adalah dalam 1 cm3 udara tidak boleh terdapat lebih dari 10 fiber asbes yang lebih panjang dari 5 micrometer. 8 SENYAWA PENGOKSIDASI Terjadinya reaksi oksidasi-reduksi (redoks) yang terkontrol sangat bermanfaat bagi manusia. yaitu dengan sebuah atom hidrogen (atau lebih) pada urea yang digantikan oleh atom-atom lain. digantikan oleh atom khlor. Pestisida organochlorine merupakan turunan hidrokarbon kompleks. Salah satu pestisida kelompok ini adalah Linuron. Salah satu jenis kelompok ini yang terkenal adalah DDT. Beberapa jenis pestisida carbamate juga berfungsi sebagai fungisida atau herbisida. Fungsinya pada insek atau vertebrata adalah mempengaruhi kerja enzim cholinistrase. yang terpenting adalah pestisida organochlorine. Bila reaksi tidak terkontrol. Mekanisme bagaimana pestisida ini memepengaruhi aktivitas biologi belumlah banyak diketahui. Jenis organochlorine ini mempunyai efek biokumulasi terutama pada jaringan lemak. pestisida organophosphorus. Enri Damanhuri . antara lain untuk mengontrol penyakit tifus dan malaria yang ditularkan melalui insek. peledakan dinamit. maka pestisida organik dapat dikelompokkan menjadi beberapa grup. khlorinasi air. beberapa diantaranya telah dilarang digunakan.FTSL ITB Halaman 71 . maka enersi yang terbentuk dapat menyebakan bahaya bagi manusia. melalui rantai makananlah bahan ini akan sampai pada manusia. Pestisida Organik Pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk membunuh insek. maka enersi yang ada dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Umumnya pestisida ini digunakan sebagai herbisida yang dapat menghalangi proses fotosintesis. atau tanaman. Pestisida urea merupakan turunan dari urea. Telah dihasilkan ribuan jenis pestisida. Didasarkan atas struktur molekulnya. seperti terjadinya kebakaran. Sebagian besar pestisida yang sekarang digunakan adalah merupakan senyawa-senyawa organik. Tetapi panas yang ditimbulkan dari reaksi redoks tersebut dapat terserap oleh bahan yang dapat terbakar yang berada di dekatnya. seperti pembakaran bahan bakar. Bila misalnya gas alam dibakar. Hanya diketahui bahwa bahan ini merusak keseimbangan natrium dan kalium dalam sel-sel syaraf sehingga mempengaruhi impuls sel tersebut. Enersi dari reaksi ini dapat disimpan. Sebagai contoh adalah Aldrin dengan formula C12H8Cl6. dikenal sebagai acetylcholinesterase (ACHE). Pestisida organophosphorus merupakan turunan dari asam fosfat. Enzim ini secara rutin berfungsi mempengaruhi impuls syaraf. yang banyak digunakan selama perang dunia ke dua. karena terbukti berbahaya bagi manusia.

Khlorat dan Perkhlorat Bahan pengoksidasi yang juga banyak digunakan adalah natrium dan kalsium hipokhlorit.Na2CO3(l) + 2 HClO(l) 2 HClO(l) --. Kadangkala walapun agen pengoksidasi dijumpai dalam jumlah yang kecil. bahan ini digunakan untuk memproduksi bahan peroksida metalik dan organik. Hidrogen peroksida merupakan bahan yang relatif tidak stabil. Pada saat bertindak sebagai reduktor. Dalam industri kimia. Bila di atas konsentrasi tersebut diberi label : 'oksidator dan korosif'. Bila berada pada konsentrasi yang pekat (lebih besar dari 30 %). tembaga. Beberapa logam seperti besi.pembakaran bahan semacam sulfur dan sebagainya. Enri Damanhuri . dengan konsentrasi sekitar 3 sampai 5 %. Hidrogen peroksida dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius. seng. Ada oksidator yang mempunyai kemampuan lebih tinggi dibanding oksigen. Hipokhlorit metal ini. mangan dapat bertindak sebagai katalis guna terjadinya dekomposisi. Transportasi hidrogen peroiksida dengan konsentrasi sampai 20 % diberi label : 'oksidator'.2 HCl(l) + O3(g) Oksigen yang dibebaskan dari dekomposisi fotokimia ini akan memucatkan pakaian. ada yang berada di bawah kemampuan oksigen. Sinar matahari akan bertindak sebagai katalisator. Hidrogen peroksida murni mempunyai penampilan yang mirip air. Bahan ini banyak digunakan dalam industri tekstil untuk pengelantang. Larutan yang mengandung hidrogen peroksida lebih dari 50% (volume) dapat menyebabkan timbulnya api secara spontan dari bahan yang dapat terbakar. yang merupakan komponen aktif sebagai pemutih maupun untuk pembersih peralatan saniter. biasanya digunakan sebagai pemutih pada pencucian pakaian karena kemampuannya bereaksi dengan karbon di udara akan memproduksi asam hipokhlor dan melepaskan oksigen. Hidrogen Peroksida (H2O2) Hidrogen peroksida merupakan peroksida yang paling sering dijumpai. Larutan dengan konsentrasi 8 % (massa) secara lambat akan terdekomposisi menjadi air dan oksigen setelah 9 bulan. yang akan bertindak sebagai katalis guna memperlama proses dekomposisi. Khlorit. Di lingkungan kerja batas pemaparan maksimum adalah 1 ppm. oksigen selalu dibebaskan. seperti reaksi di bawah ini : 2 NaClO(l) + H2O(l) + CO2 --. pada konsentrasi larutan lebih besar dari 30 % (volume) larutan ini korosif terhadap kulit. namun dapat pula berfungsi sebagai reduktor lemah. Kemampuan agen pengoksidasi bervariasi. khrom.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 sehingga bahan tersebut dapat terbakar dengan sendirinya. Untuk menghindari bahaya ledakan. timah. Bahan pengoksidasi yang mengandung oksigen dapat dikatakan tidak stabil waktu dipanaskan. Bahan ini digunakan pula dalam penyediaan air bersih atau pengolahan air limbah sebagai desinfektan. baja. maka larutan ini aka terdegradasi secara cepat yang disertai timbulnya panas sehingga akan dapat teruapkan.FTSL ITB Halaman 72 . Bahan tersebut akan memasok oksigen pada saat terjadinya kebakaran walaupun udara di sekitarnya kekurangan oksigen. larutan ini distabilkan dengan sejumlah kecil natrium pirofosfat. tetapi mempunyai bau yang sedikit tajam. Hidrogen peroksida selain dapat bertindak sebagi oksidator kuat. tetapi sudah cukup untuk memungkinkan terjadinya swa. Hipokhlorit. Beberapa agen pengoksidasi diuraikan di bawah ini secara umum.

tetapi lebih umum akan membentuk nitrogen. Amonium sulfat merupakan pupuk yang paling sering digunakan dibanding senyawa amonium yang lain. yaitu : . Seperti halnya metal khlorat. Transportsai bahan ini membutuhkan label: 'pengoksidasi'. Natrium khlorat sangat sensitif misalnya bila bergesekan dan dapat menimbulkan terjadinya api dengan mudah. Namun secara komersial. pengangkutan bahan ini pada kontainer pengangkutnya membutuhkan label : 'pengoksidasi'. . Metal khlorat yang sering digunakan adalah natrium khlorat atau kalium khlorat. maka metal-metal perkhlorat digunakan untuk kebutuhan yang hampir bersamaan. digunakan terutama sebagai komponen serbuk mesiu. misalnya amonium khlorida yang secara termal terdekomposisi pada temperatur kurang dari 167 o C membentuk amonia dan hidrogen khlorida.senyawa-senyawa amonium yang merupakan agen-agen pengoksidasi dapat juga terdekomposisi membentuk amonia. baik sebagai pupuk maupun sebagai komponen bahan peledak. Pada saat ini bahaya kebakaran dan ledakan akan besar bila senyawa ini tetap berada pada kondisi temperatur tinggi. Bila dipanaskan.senyawa-senyawa amonium yang bukan agen-agen pengoksidasi terdekomposisi membentuk amonium. senyawa ini akan terdekomposisi dengan dua jalan.FTSL ITB Halaman 73 . Bila temperatur di atas 212 oC.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Natrium khlorit merupakan agen pemucat/pemutih yang banyak digunakan dalam industri kertas dan tekstil. Walaupun demikian. Senyawa-senyawa amonium merupakan senyawa yang sering dijumpai. amonium nitrat dianggap sebagai yang paling penting diantara senyawa amonium yang lain. amonium nitrat akan meleleh.bahan sebelumnya serta tidak menimbulkan reaksi yang prematur.NH3(g) + HNO3 Pada temperatur sekitar 166 oC. Secara komersial. misalnya senyawa Enri Damanhuri . terutama yang berkaitan dengan penimbulan api dan ledakan. Bila bereaksi dengan serbuk logam seperti alumunium. amonium nitrat akan terdekompiosisi membentuk dinitrogen oksida dan uap air yang berlangsung secara eksotermis : NH4NO3(g) --. Pada temperatur 80o ke 93 o amonium nitrat terdekomposisi membentuk amonia dan asan nitrat. akan menimbulkan ledakan. bahan ini diperoleh dalam konsentrasi larutan sampai 80%. bahan ini dianggap sebagai bahan pengoksidasi. sedangkan dalam kondisi sebagai larutan dianggap sebagai korosif. maka ledakan tidak dapat dihindari. oksigen dan oksida-oksida metalik dan non metalik. herbisida dan sebagainya. Bahan ini merupakan pengoksidasi yang sangat kuat. Senyawa-senyawa Amonium Pada dasarnya semua senyawa yang mengandung ion amonium (NH4+) secara termal tidaklah stabil. Beberapa senyawa organik akan terbakar dengan sendirinya bila berkontak dengan bahan ini. Namun bahan ini relatif lebih stabil dibanding bahan.N2O(g) + 2 H2O(g) Bila pada saat pengangkutan bahan ini berada pada kontainer yang tertutup rapat. Amonium nitrat berpotensi menimbulkan resiko ledakan. yang berlangsung secara endotermis : NH4NO3(s) --. Beberapa senyawa dikenal mempunyai peranan sebagai katalis dalam menaikkan laju dekopmposisi amonium ini. Dalam pengangkutannya. api dapat berkobar yang didukung oleh adanya N2O sebagai pengganti oksigen udara.

Pengangkutan dan pewadahan bahan ini membutuhkan label : 'pengoksidasi'. yang banyak digunakan dalam industri makanan untuk mempertahankan warna. yang dikenal sebagai khromium oksikhlorida. komponen bahan peledak dan sebagainya. Larutan yang lebih terkonsentrasi kadang digunakan dalam pengolahan limbah. pewarnaan dan percetakan. Biasanya asam ini dibuat dengan penambahan asam sulfat pekat pada larutan kalium dikhromat. Namun natrium nitrit dengan kerja enzim tertentu akan membentuk senyawa nitrosamin. Oksidator Mengandung Permanganat. Nitrit dan Nitrat Permanganat metalik adalah senyawa yang mengandung mangan pada kondisi oksidasi +7 yang tidak berwarna. Asam-asam yang berkaitan dengan khromat dan dikhromat hanya ada pada kondisi larutan. Transportasinya membutuhkan label sebagai 'oksidator' atau sebagai 'bahan korosif'. Oksidator Mengandung Khrom Khrom pada tingkat oksidasi +6 terdapat dalam bentuk senyawa logam khromat. logam dikhromat.FTSL ITB Halaman 74 . Permanganat metalik yang paling terkenal adalah natrium dan kalium permanganat. dapat dikonversi oleh bakteri dalam perut untuk membentuk nitrit. Larutan kalium permanganat digunakan untuk pengobatan dermatitis yang berasal dari bakteri atau fungi. maka yang tersisa adalah oksida khrom (VI) yang dikenal sebagai khromium trioksida. Bila air diuapkan darinya. Pada kondisi sebagai ion-ion metalik tidak berwarna. Pengaturan pengangkutannya membutuhkan label : 'oksidator'. Senyawa sejenis adalah khromil khlorida (CrO2Cl2). Seluruh senyawa yang mengandung khrom oleh USEPA dikatagorikan sebagai toksik. seperti kalium dikhromat (K2Cr2O4) merupakan oksidator yang kuat. Nitrit metalik dioksidasi menjadi nitrat metalik dan direduksi menjadi nitrogen monoksida. Asam ini berwarna merah yang digunakan untuk pembersihan permukaan logam atau gelas. terutama bila berada dalam larutan asam. walaupun pada kenyataannya yang paling bersifat toksik adalah yang berada pada tingkat oksidasi +6. Demikian juga halnya natrium nitrat. Penggunaan dalam industri adalah seperti halnya asam khromik. sebagai khromat akan berwarna kuning dan sebagai dikhromat akan berwarna oranye. yang dianggap berpotensi sebagai senyawa karsinogenik. namun permanganat itu sendiri berwarna ungu.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 yang mengandung tembaga. Nitrit dan nitrat metalik dengan kandungan nitrogen pada tingkat oksidasi masingmasing +3 dan +5 adalah oksidator yang termasuk penting. khrom trioksida dan khromilkhlorida. Dikhromat metalik. sulfur. suatu larutan merah yang terbentuk bila campuran asam khlorida dan asam sulfat ditambahkan pada larutan jenuk kalium dikhromat. termasuk libah gas sebagai oksidator. Oksidator ini banyak digunakan dalam industri elektropalting khrom. Senyawa ini bersifat karsinogenik dan dapat merusak ginjal. tergantung pada kondisi oksidasinya. misalnya dalam bentuk natrium nitrat dan natrium nitrit. Nitrit metalik dapat bertindak sebagai oksidator maupun reduktor. atau khromium anhidrid atau asam khromik dengan formula (CrO3). Enri Damanhuri .

Bila minyak bumi mentah dipanaskan pada temperatur tertentu. sedang butane dalam struktur yang kedua dikenal sebagai isobutane. pendingin. misalnya untuk bahan bakar. o Kerosene. bila n = 2. sistem syaraf dan beberapa diantaranya menjadi penyebab penyakit kanker. Butane dalam struktur pertama dikenal sebagai n-butane. Senyawa organik ini dapat menguap dengan mudah dan uapnya mudah terbakar pada kondisi kamar. Produk destilasi yang penting adalah : o Petroleum naphtha. Senyawa ini pada temperatur kamar dapat berupa gas. maka yang dimaksud adalah ethane C2H6 atau ditulis menurut struktur Lewis sebagai CH3CH3.atom karbon yang ikatannya tidak selalu dalam satu rantai yang menerus. pelarut pembersih. C5H12 (pentane). aerosol. maka karakteristik yang umumnya dijumpai dari senyawa ini adalah mudah terbakar dan bila terbakar. Menurut struktur Lewis. alkene dan alkine. C6H14 (hexane). Pada pembakaran sempurna. Sumber utama hidrokarbon yang digunakan manusia adalah minyak bumi (petroleum). dengan formula kimia CnH2n+2. yaitu campuran hidrokarbon yang molekul-molekulnya terutama mempunyai lima. plastik. akan terbentuk karbon dioksida dan uap air. o Bensin (gasoline). cat. C4H10 (butane). jantung. merupakan campuran hidrokarbon yang lebih berat dari pada minyak bensin. Seterusnya dikenal: C3H8 (propane). Dalam kaitannya dengan keselamatan. misalnya sebagai bahan baku plastik. antara lain menyebabkan kerusakan pada hati. cair atau padat.atom karbon yang terikat satu sama lain dalam satu rantai yang menerus. Enri Damanhuri . . yaitu : . tekstil dan sebagainya. Titih didihnya adalah 38 o . vernis. ginjal. terutama sebagai bahan baku untuk produk-produk yang banyak digunakan dalam industri petrokimia. Selanjutnya. yaitu dengan satu atau lebih atom karbon yang terikat dengan atom-atom lain. Seluruh molekul dari senyawa ini hanya tersusun oleh atom karbon dan hidrogen. yang dapat dibagi menjadi dua kelompok. C8H18 (oktane). maka mulai dari C4H10 dikenal dua jenis struktur molekul.FTSL ITB Halaman 75 . Bahaya yang kedua dari kelompok ini adalah karena dapat bersifat toksik pada manusia.bahan bakar. adesif. yaitu alkane. yaitu CH4 dikenal methane. Distilasi fraksi minyak bumi ini lebih lanjut akan menghasilkan produk non. Molekul-molekul dari senyawa-senyawa organik mempunyai pola yang sama. resin. karet dan aneka ragam fiber sintetis lainnya. Senyawa organik yang paling sederhana adalah hidrokarbon.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 9 BEBERAPA SENYAWA ORGANIK BERBAHAYA Senyawa-senyawa organik merupakan bahan yang sangat banyak digunakan dalam kehidupan manusia modern.204 o C. yang mempunyai variasi atom karbon antara 3 sampai 60. maka jumlah atom hidrogennya adalah 4. Hidrokarbon Alifatik Hidrokarbon alifatik dibagi menjadi beberapa sub kelompok. fiber. yaitu campuran hidrokarbon yang molekul-molekulnya terutama mempunyai lima sampai sembilan atom karbon. Produk ini terdistilasi antara 35 o 90 o C. yaitu hidrokarbon alifatik dan aromatik. Bila jumlah atom karbon satu. enam atau tujuh atom karbon. Alkane adalah hidrokarbon yang ikatan atom karbonnya tunggal. C7H16 (heptane). maka campuran komponen-komponen tersebut tervolatilisasi sesuai titik didihnya masing-masing. sehingga dapat dipisahkan satu dengan yang lain. gas senyawa-senyawa ini dapat meledak di udara.

Oleh karenanya. Senyawa yang paling sederhana dari kelompok ini adalah benzene dengan formula molekularnya C6H6. oleh karenanya penyimpanan dan pengangkutannya membutuhkan label : 'cairan mudah terbakar'. maka alkine adalah termasuk hidrokarbon tak jenuh. PAH ini diaggap bersifat karsinogen. Enri Damanhuri . Senyawa ini dikenal pula sebagai sikloalkane karena atom karbon pertama dan terakhir terhubungkan satu sama lain dalam rantai yang menerus. menguap pada temperatur kamar. Kelompok hidrokarbon aromatis dengan dua atau lebih cincin benzene dikenal sebagai polynuclear aromatic hydrocarbon (PAH). tetapi tidak termasuk karsinogen. Alkene yang paling sederhana dikenal sebagai ethene atau ethylene dengan formula C2H4. yang menyerupai benzene atau yang tidak menyerupai benzene. Biasanya formula benzene dilambangkan oleh bentuk heksagon dengan cincin di dalamnya. dengan kemungkinan tiga bentuk struktur isometris. Hidrokarbon Aromatik Hidrokarbon aromatik adalah senyawa-senyawa yang mempunyai satu atau lebih bentuk cincin ikatan atom karbon. Benzene bersifat karsinogen pada manusia. maka senyawa baru tersebut dikenal sebagai toluene. Pemaparan maksimum di ruang kerja adalah 10 ppm selama 8 jam. Hidrokarbon dengan molekul-molekul yang mengandung satu atau lebih karbon yang terikat dengan ikatan ganda. PAH yang penting adalah naftalene yang digunakan antara lain dalam industri fungisida. Disamping bersifat mudah terbakar. tidak berwarna. Pemaparan maksimum selama 8 jam kerja adalah 200 ppm untuk toluene dan 100 ppm untuk isomer-isomer xylene. Pada temperatur kamar. Alkine yang paling sederhana adalah C2H2 yaitu ethyne atau acetylene.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Alkane dikenal sebagai hidrokarbon jenuh. penyebab leukemia. Disamping mudah terbakar. yang dikenal sebagai isomer dari xylene. Bila salah satu atom hidrogen dari benzene digantikan oleh grup methil (-CH3). Benzene adalah senyawa yang tidak larut dalam air. maka kelompok ini dikenal sebagai hidrokarbon tak jenuh. dikenal sebagai alkene atau olefin. Ketiga bentuk tersebut bernama : ortho-xylene disingkat o-xylene. Hidrokarbon yang mempunyai satu atau lebih ikatan karbon ke karbon rangkap tiga dikenal sebagai alkine. Dua atom hidrogen dari benzene dapat pula digantikan oleh grup methil. toluene dan isomer-isomer xylene adalah jernih. kelompok ini juga bersifat toksik bagi manusia karena mempengaruhi sistem syaraf pusat.FTSL ITB Halaman 76 . yang membedakan antara hidrokarbon alifatis dengan hidrokarbon aromatis adalah struktur molekularnya. meta-xylene disingkat m-xylene dan para-xylene disingkat p-xylene. Formula umum dari kelompok ini adalah CnH2n. Uap cairan ini bila bercampur dengan udara akan mudah terbakar. tidak larut dalam air serta mudah menguap. berpasangan dengan atom-atom yang terikat dengan karbon tersebut. Seperti halnya alkene. Campuran uap benzene dan udara akan siap untuk terbakar. karena setiap ikatan elektron dari atom-atom karbon. kontainer benzene mempunyai label : 'cairan mudah terbakar'. Oleh karenanya. Formula umum dari alkine adalah CnH2n-2. Karena setiap alkene kekurangan hidrogen relatif terhadap alkane.

sehingga sifat kimia dari gas alam pada prinsipnya adalah merupakan sifat kimia dari gas methane. Dengan substitusi tersebut. gas yang tidak berwarna. maka senyawa itu dikenal sebagai hidrokarbon berkhlor (chlorinated hydrocarbon). dan merupakan salah satu komponen utama dari gas alam. Namun kelompok ini berkontribusi dalam pembentukan formasi ozone di atmosfer. terbentuk dari pengolahan gas alam. maka senyawa baru tersebut bukan lagi kelompok bahan yang mudah terbakar. sedang pada tekanan 12 atm akan terlarutkan acetylene sebanyak 300 bagian volume. Gas alam ini dapat pula dicairkan. tetapi bila terhirup akan menyebabkan sesak nafas. maka terjadilah perubahan karakteristik.4 % volume. Terdapat empat kemungkinan penggantian atom hidrogen.FTSL ITB Halaman 77 . Dari sudut industri. dan pada kondisi murni berbau ether. LPG ini mengandung pula komponen lain dalam jumlah kecil. tidak berbau. Walaupun demikian. titih nyala methane adalah .11. Hidrokarbon Berhalogen Senyawa-senyawa organik dapat pula diturunkan dengan mengganti satu atau lebih atom hidrogen dari hidrokarbon dengan sebuah atom halogen. maka kelompok alkine yang paling sering digunakan adalah acetylene. Gas ini termasuk yang tidak stabil. yang terdiri dari sebuah atom C dan empat buah atom H. senyawa baru : khloroform atau trikhloromethane 4 atom diganti. Sebagai contoh. Penggunaan gas alam sekarang makin banyak dijumpai.4 kcal/mol. tidak berbau dan dijumpai dengan konsentrasi rendah. dikenal sebagai liquefied natural gas (LNG). yaitu : 1 atom diganti. sedikit larut dalam air. Temperatur yang dicapai bila terbakar dengan udara akan mencapai 3300 o C. Bila yang menggantikan adalah khlor. karena mempunyai panas pembakaran tinggi yaitu 312. dengan rentang keterbakaran 10. dapat meledak pada kondisi ditekan. seperti ethane. terutama untuk pengelasan/pengecoran. Bila seluruh atom karbon digantikan oleh atom-atom halogen. senyawa baru : karbon tetrakhlorida atau tetrakhloromethane. sedangkan khloromethane adalah di bawah 0 o C. Gas ini banyak digunakan dalam industri metalurgi. Methane merupakan gas alam. Bentuk gas yang dicairkan dari propane. Umumnya mereka tidak berwarna.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Hidrokarbon Sederhana Beberapa hidrokarbon sederhana dijumpai sebagai cemaran melalui cerobong pembakaran sebuah industri atau dari kegiatan komersial lainnya. Methane digolongkan sebagai gas non toksik. isobutane. Oleh karenanya. butene. yang terbentuk misalnya dari dekomposisi karbon organik. Sebagai contoh penamaan adalah untuk senyawa yang berasal dari methane (CH4). senyawa baru : methylene khlorida atau dikhloromethane 3 atom diganti. sehingga senyawa itu dikenal sebagai hidrokarbon berhalogen (halogenated hydrocarbon). Salah satu contoh dari kelompok ini adalah methane. biasanya gas ini dilarutkan dalam cairan seperti acetone. Satu bagian volume acetone dapat melarutkan 25 bagian acetylene pada tekanan 1 atm. Gas ini tidak berwarna.7 . Belum dijumpai pengaruh kelompok ini terhadap kesehatan.188 o C. senyawa baru : methyl khlorida atau khloromethane 2 atom diganti. bila senyawa ini terpapar dengan Enri Damanhuri . Panas pembakarannya adalah 213 kcal/mol. butane dan campurannya dikenal sebagai liquefied petroleum gas (LPG). ethene. yang dapat digantikan oleh atom khlorida. isobutene dan sebagainya. propene.

stabil bila dipapar pada temperatur tinggi. ClO (g) + O --. Cara pengolahan PCB yang digunakan adalah dengan insinerasi. Di USA produksi PCB sejak tahun 1979 sangat dibatasi yaitu hanya untuk penggunaan yang sangat khusus. Bila terlepas akan bereaksi dengan lapisan ozon. Konsentrasi maksimum di lingkungan kerja adalah 1. ginjal. impotensi sampai kematian. misalnya efek racun dari khloroform pada sistem syaraf. sehingga ikatan karbon ke khlor akan rapuh. . Oleh karena itu DRE dari PCB ini disyaratkan 99. Atom khlor ini akan bereaksi dengan molekul ozon.ClO.5 mg/m3. Senyawa ini bersifat inert. . misalnya dalam perlengkapan listrik seperti transformator.(g) . Oleh karenanya. Karbon tetrakhlorida misalnya. dan sebagainya dan tetap tersimpan dalam organ tersebut. dan dilepaskanlah atom khlor.(g) + Cl. sehingga lapisan ozon sebagai pelindung bumi dari radiasi ultra violet matahari akan terganggu/rusak. kerusakan organ tubuh. yang digunakan sebagai pendingin atau aerosol. kapasitor. Nama komersial dari senyawa ini adalah freon. ginjal dan jantung. Insiden yang paling dramatis dalam masalah toksikologi adalah yang terjadi di Jepang pada tahun 1968. otot.70 % . tidak terbakar. Senyawa ini mampu menyerap radiasi ultraviolet matahari.(g) + O2(g) .CFnCl3-x. Ini terjadi karena pada tahun 1960 diketahui bahwa PCB ini ternyata merupakan penyebab berbagai masalah kesehatan yang serius : kanker. iritasi pada gastrointestinal. atau pada sistem pemindah panas dan sistem hidrolis.7 m3 PCB dengan konsentrasi 50 . Terdapat berbagai struktur isomer dari PCB. Enri Damanhuri .Cl (g) + O2(g) Masalah limbah yang paling banyak disorot dari kelompok ini adalah polychlorinated biphenyl (PCB). Sebagian besar PCB adalah merupakan cairan yang encer pada kondisi kamar. dengan simbol 2 heksagon bercincin. tidak bereaksi dengan asam. beberapa diantaranya mempunyai titik didih sampai 267 °C tanpa mengalami dekomposisi. PCB banyak digunakan dalam industri-industri yang membutuhkan sifat-sifat tersebut. Beberapa diantara hidrokarbon berhalogen ini teruapkan pada temperatur kamar. otak.0 µg/m3 dengan TLV 0. senyawa ini langsung tersebar dalam berbagai jaringan reseptor seperti hati.9999 %. Bila PCB masuk ke dalam tubuh.FTSL ITB Halaman 78 . mata.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 panas. dan merupakan bahan yang paling banyak diatur penggunaan dan penanganannya diantara bahan berbahaya yang lain. tetapi keterpaparannya pada manusia dapat menimbulkan masalah kesehatan. juga disebut sebagai khlorofluorokarbon atau khlorofluoromethane. Senyawa kelompok ini banyak digunakan dalam industri. akan dihasilkan gas/uap yang berbahaya yaitu fosgene dan hidrogen khlorida. Kelompok khusus dari senyawa hidrokarbon berhalogen adalah fluorokarbon (CFnClnx). disamping dapat mengganggu hati dan ginjal juga dicurigai sebagai penyebab kanker pada manusia. hati. Namun residu hasil pembakaran akan berbahaya bila pembakarannya tidak sempurna karena membentuk dioxin. O3(g) + Cl (g) --. Reaksi di bawah ini akan memperjelas masalah tersebut : CFnCln-x (g) --. Sebuah transformator kadang mempunyai sampai 3. kulit. resistan terhadap hampir seluruh bahan kimia. menimpa lebih dari 1000 orang yang menkonsumsi beras terkontaminasi PCB akibat kebocoran pipa transfer panas dalam pemerosesan minyak. sehingga mengakibatkan terganggunya fungsi biologis yang normal dan mengakibatkan perubahan fungsi faal tubuh. tetapi sifat-sifatnya hampir sama.

yang dapat dilihat sebagai hidroksil turunan benzene.4.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Alkohol Alkohol adalah senyawa organik turunan dari hidrokarbon dengan penggantian paling tidak sebuah atom hidrogen oleh grup hidroksil (-OH). pengangkutan senyawa ini membutuhkan label bertuliskan : 'racun'. Disamping itu.4. Senyawa yang tergolong alkohol sederhana ini adalah mudah terbakar. Tetapi sifatnya yang racunlah yang mendatangkan masalah. Mata. Oleh karenya. dan berakumulasi (biomagnifikasi) pada jaringan lemak.senyawa fenolik yang diproduksi untuk beragam herbisida seperti asam 2. Senyawa induk dari kelas alkohol ini juga bernama fenol atau hidroksibenzene. tetapi bisa saja tidak termasuk cairan yang berkatagori mudah terbakar.1 x 10-9. misalnya dalam industri farmasi. Aplikasi isomer-isomer kressol pada tikus menimbulkan tumor. Bila makanan terkontaminasi oleh bahan ini. misalnya methyl ethyl ether (methoxyethane). sebetulnya fenol tidak membahayakan.8 tetrachlorodibenzo-p-dioxin. Dalam masalah limbah. dan merusak secara sistematis sistem syaraf. reproduktif dan kanker. dan larut dalam air. dan TLV = 19 mg/m3. Ether Ether adalah senyawa organik yang molekul-molekulnya mempunyai atom oksigen yang menjembatani 2 grup alkyl atau aryl (R-O-R').FTSL ITB Halaman 79 . Dua alkohol yang sering dijumpai di pasaran adalah metanol (methyl alkohol) dan ethanol (ethyl alkohol). hidung dan kerongkongan dapat teriritasi. Dilihat dari sifat keterbakaran. Toksisitas (LD50) bahan ini terhadap babi Guinea 3. yaitu sangat toksik pada manusia. ether juga berbahaya karena ada yang mengandung peroksida organik sehingga mudah meledak. Senyawa organik yang dewasa ini dianggap salah satu substansi yang paling toksik adalah 2. Pemaparan fenol di ruang kerja dibatasi 5 ppm (kontak dengan kulit). Efek iritasi juga dapat terjadi pada mata dan kulit. Dioxin juga dicurigai dapat menghilangkan pertahanan tubuh terhadap penyakit. Salah satu grup fenol adalah kressol yang merupakan disinfektan dan berasal dari resin fenolik. Tambah tinggi ether maka tambah tinggi titik nyalanya sehingga menjadi bahan bakar cair. Enri Damanhuri .3. Ether sederhana sangat volatil dan berbahaya karena mudah terbakar serta meledak. karena resin-resin fenolis dan produk-produk farmasi lainnya terbuat darinya. dengan titik nyala 78 o C.7. Pemaparan pekerja pada isomer kressol adalah 5 ppm kontak dengan kulit. dengan TLV 22 mg/m3.dikhlorofenoxyacetik dan 2. yang paling sering dipersoalkan adalah fenol. Dioxin merupakan produk samping dari pembuatan senyawa. Dioxin sangat stabil dan terdekomposisi hanya secara thermal pada temperatur didih sekitar 500 °C. Efek toksikologis antara lain adalah terhadap sistem syaraf. maka penyebarannya akan melalui rantai makanan. atau secara singkat dikenal sebagai Dioxin atau TCDD. Fenol adalah termasuk grup alkohol aromatis. Fenol merupakan produk industri kimia yang penting. Fenol pada kondisi padat adalah tak berwarna sampai putih kristal dan sering juga dijumpai berwarna gelap/merah bila terpapar cahaya. Pengangkutan senyawa ini membutuhkan label : 'cairan mudah terbakar'. Fenol dikenal cepat menyerap uap air di udara sehingga sering dianggap sebagai cairan.5trikhlorofenol.

Senyawa perokso-organik merupakan turunan dari hidrogen peroksida. Salah satu jenis senyawa ini yang banyak digunakan dalam industri adalah ethyl asetat.FTSL ITB Halaman 80 . Prentice Hall Building. Seluruh bahan dikutip dari: E. sehingga dikelompokkan sebagai cairan yang mudah terbakar. Bahan ini digunakan untuk mempengaruhi proses polimerisasi pada pembuatan plastik.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Senyawa Organik Lain Senyawa organik dengan formula umum R-CO-OR' dikenal sebagai ester. yang terjadi bila asam-asam organik bereaksi dengan alkohol. hidung dan kerongkongan. senyawa ini menyebabkan iritasi ringan pada mata. Bila terpapar dengan manusia. yang biasanya digunakan sebagai pelarut. Meyer: Chemistry of Hazardous Materials.atom hidrogen digantikan oleh satu atau lebih grup alkil atau aril. Pemaparan di ruang kerja dibatasi sampai 400 ppm. Atom. 1989 Enri Damanhuri . Titik nyalanya adalah . merupakan cairan jernih dengan bau spesifik. Seperti halnya peroksoanorganik.5o C. maka perokso-organik ini mempunyai kemampuan sebagai oksidator. karena mempunyai oksigen yang aktif pada strukr molekulnya.

Dalam hal ini: c = kecepatan cahaya=2. radiasi kosmis dari luar angkasa telah memborbardir planit biru kita ini.007595 = 2. yaitu sekitar 2 x 10 gram/cm . Misalnya diambil masa 2He yang terdiri dari 2 proton dan 2 netron: Massa proton = 2 x 1.Perbedaan massa (mass defect) = 0. Dimulai dengan teridentifikasinya sinar-X oleh William C. Namun keberadaan unsur-unsur radioaktif ini telah meningkat dengan dihasilkannya materi radioaktif artifisial oleh manusia untuk berbagai tujuan. sebuah inti-atom dicirikan oleh nomor massa (A). Kapasitas penghancur senjata nuklir telah dibuktikan dalam Perang Dunia II. dan nomor atom (Z). Sejumlah besar materi radioaktif yang berumur sangat lama dihasilkan sebagai hasil samping yang tidak dapat dihindari.9979 x 109 cm/detik m = perbedaan massa (amu) -24 10 -5 Sehingga E = 0. Unsur-unsur radioaktif yang secara alamiah terdapat di bumi adalah uranium.531 x 10 erg 4 Enri Damanhuri . Bentuk enersi nuklir merupakan hal yang paling spektakular yang pernah ditemukan dan digunakan oleh peradaban manusia selama ini. Proton adalah partikel dasar dengan massa mendekati 1 dalam skala berat atom dan bermuatan + e. Röntgen pada Januari 1896. Karena massa atom terkonsentrasi dalam volume yang sangat kecil.015190 amu (atomic mass unit) Massa netron = 2 x 1. yang proporsional dengan muatan positif pada inti-atom (Ze). Intensitas radiasi tersebut relatif tidak tinggi dan radiasi tersebut dapat ditahan oleh atmosfer bumi. sebab bila tidak maka akibat adanya gaya tolakan elektrostatis antara proton-proton maka akan mengakibatkan mereka terpencar. dan kemudian ditemukannya radiasi dari radium oleh Antoine H.002775 amu ------------------. dibutuhkan satu ikatan yang sangat kuat. yang sepadan dengan jumlah netron dan proton.elektron yang bermuatan negatif yang mampu mengimbangi muatan positif dari inti atom. Struktur sebuah Atom : Inti-atom (nucleus) terdiri dari proton dan netron.FTSL ITB Halaman 81 .008983 = 2. yaitu E = mc maka sejumlah ekuivalensi enersi akan terbebaskan.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 BAGIAN VI LIMBAH RADIO AKTIF 1 UMUM Radioaktivitas sebetulnya bukanlah fenomena baru. Selama berjuta tahun. Simbol sebuah atom ditulis sebagai ZX . 2 SIFAT-SIFAT RADIOAKTIVITAS Sebuah atom terdiri dari sebuah inti (nucleus) bermuatan positif dan sejumlah planet-planet yang mengorbit pada intinya dan elektron. 14 3 maka densitas inti atom tersebut sangat tinggi. terutama akibat penggunaan pembangkit enersi bertenaga nuklir di seluruh dunia dengan segala permasalahannya terhadap lingkungan.+ = 4.030381 amu Perbedaan massa ini menghilang pada saat terjadinya fusi dua proton dan dua netron untuk 2 membentuk inti-atom helium. dan sepadan dengan A jumlah proton dalam inti-atom. dimana X adalah simbol kimia yang biasa digunakan untuk unsur tersebut. yaitu muatan sebuah elektron sebesar -10 4.8025 x 10 esu (electrostatic unit). namun tidak bermuatan.017966 amu ------------------. Untuk mengikat sejumlah besar netron dan proton dalam ruang yang sangat kecil yang tersedia dalam sebuah inti-atom.65985 x 10 x (2. Netron juga merupakan partikel dasar dengan besaran mendekati 1 unit satuan atom. Dengan menggunakan persamaan Einstein. namun baru mendapat perhatian manusia pada akhir abad yang lalu. Becquerel pada November 1896.9979 x 10 ) erg = 4.030381 x 1.033156 amu Massa inti-atom helium = 4. Oleh karenanya. thorium dan radium. dan terus berlanjut pengembangannya dengan perlombaan senjata nuklir sampai selesainya “perang dingin” antara negara-negara Barat dan negara-negara komunis di dunia.

seperti pada contoh peluluhan uranium ke thorium: Enri Damanhuri .elektron terluar. dan tidak mengalami perubahan sifat-sifat kimiawi karena hanya melibatkan elektron. Contoh lain adalah isotop uranium. Tahun 1986 Becquerel menemukan bahwa garam-garam uranium meng-emisikan sejenis radiasi yang menyebabkan pelat fotografis menjadi hitam.34 50Sn 116 14.98 1H 2 0.8025x10 esu). secara artifisial dapat dihasilkan isotop-isotop yang tidak stabil yang dikenal sebagai radionuklisida (radionuclicide) dari unsur-unsur yang ada. Bisa saja dijumpai dua buah atom yang mempunyai nomor atom yang sama tetapi berbeda masanya.95 50Sn 114 0.FTSL ITB Halaman 82 .715 99. Kemudian ternyata bahwa fenomena tersebut berasal dari kegiatan pada inti-atom dan fenomena tersebut terjadi pada seluruh elemen dengan nomor atom lebih dari 83. tetapi sifat-sifat fisisnya yang tergantung pada masanya. Rutherford kemudian menunjukkan bahwa radiasi tersebut terdiri dari tiga jenis radiasi yang berbeda.00055 amu). Jadi isotop adalah elemen yang mempunyai nomor atom yang sama. Radiasi ini terdiri dari emisi dua proton dan dua netron dari inti-atom.635 0. dikenal sebagai hidrogen berat atau deuterium.0058 0.20 O16 O17 18 8O 8 8 20 20 Ca40 96. maka nomor atomnya menurun 2 satuan sedang massa atomnya menurun 4 satuan.1: Campuran isotop di alam ------------------------------Isotop Persentase ------------------------------1 99. inti atom sangatlah stabil.97 42 Ca 0. Sebagai contoh adalah sebuah atom hidrogen yang mempunyai sebuah proton dan sebuah elektron.64 43 0. Sifat-sifat kimiawinya adalah identik. dan jumlah elektron serta susunannya merupakan kunci sifat-sifat kimiawi dari elemen tersebut.24 50Sn 117 7. Di alam terdapat atom dengan 1 elektron (hidrogen) sampai 92 elektron (uranium) dan massanya bervariasi dari 1 (sebuah proton pada hidrogen) sampai 238 (92 proton dan 146 netron pada uranium). β (beta) dan γ (gamma).02 1D 7 7 -10 N14 15 N 99. yang dikenal kemudian sebagai radiasi α (alfa). dan menjadi isotop yang berbeda untuk elemen yang sama. sehingga jumlah elektron harus mengimbangi nomor atom (jumlah proton dalam inti-atom).19 20Ca ------------------------------- -------------------------------Isotop Persentase -------------------------------112 0. dan biasanya cukup dituliskan sebagai U-235 dan U-238.58 50Sn 120 32. Sebuah atom adalah netral. Elektron-elektron ini terikat dalam orbitnya oleh gaya elektrostatis dengan jarak yang bervariasi terhadap inti-atom. tetapi mempunyai jumlah massa yang berbeda.57 50Sn 118 Sn 24. Atom tersebut disebut sebagai isotopis satu terhadap yang lain.76 0. dan sifat-sifat nuklirnya agak berbeda dari hidrogen biasa. yang 235 238 mempunyai proton sebanyak 92.65 50Sn 115 0.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Elektron dapat dianggap sebagai partikel dengan muatan negatif e (4.97 50Sn 122 4. Isotop : Nomor atom dari sebuah unsur menentukan jumlah elektron dan merupakan identitas kimiawinya. Sifat-sifat kimiawi dua buah isotop akan sama. Tabel 6. Bila sebuah inti-atom yang tidak stabil mengemisikan partikel alfa. Atom terakhir ini merupakan sebuah isotop dari hidrogen. Radiasi α adalah merupakan partikulat dan setiap partikel alfa adalah sebuah inti helium yang 9 berkecepatan tinggi sampai mencapai 10 cm/detik.1.04 0.98 50Sn U 235 92U 238 92U 92 234 0.71 50Sn 124 5. dijumpai dalam bentuk 92U dan 92U . akan berbeda.01 50 119 8.0033 20Ca 48 0. dengan massa 1/1840 proton (0.15 20Ca 46 0. Hampir semua unsur terdapat di alam dalam bentuk campuran dari isotop-isotop seperti terlihat dalam Tabel 6.28 ----------------------------- Peluluhan Radioaktif : Pada kondisi normal. Dengan demikian.365 99. Terdapat pula sebuah atom dengan inti-atom yang terdiri dari sebuah proton dan sebuah netron disertai sebuah electron.

Thorium yang dihasilkan dalam reaksi itu tidak stabil. namun hasil peluluhan bisa saja menjadi lain. penyekatan harus dirancang bukan saja agar mampu menahan radiasi dari limbah asalnya. yaitu antara -3 -7 10 sampai 10 µm. thorium yang dihasilkan berbeda dengan uranium karena sifat-sifat kimia ditentukan oleh nomor atomnya. yaitu sebuah elektron.99 kecepatan cahaya. Fenomena ini dikenal sebagai pengionan (ionization). menaikkan tingkat enersinya dan melepaskannya dari inti. Kulit manusia dapat menahan radiasi ini. Ketika partikel α melalui suatu media. dan konversi tersebut dapat dianggap sebagai perubahan sebuah netron menjadi sebuah proton. maka partikel ini sangat berbahaya. sebab walaupun secara kimiawi asalnya tidak toksik atau tidak korosif. Sinar γ dapat pula terbentuk akibat transformasi itu. Sekali lagi. Inti radium misalnya secara spontan akan terurai dengan melepaskan partikel α. Rutherford et al menemukan bahwa intensitas radiasi mengalami peluluhan secara eksponensial terhadap waktu. namun penetrasinya pada jaringan tubuh lebih dalam. Dalam perjalanannya. Radiasi γ adalah radiasi eletromagnetis dengan panjang gelombang sangat pendek. Radiasi β dapat dianggap pula sebagai partikulat. dan setiap partikel β adalah sebuah elektron negatif yang berkecepatan tinggi sampai mencapai 0. yaitu: 234 234  91Pa + e 90Th Emisi sebuah muatan negatif dari inti-atom mengakibatkan muatan positif bertambah satu yaitu pada protactinium.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010  92Th +2α Dalam reaksi ini dikeluarkan partikel α (inti helium) dari inti-atom. namun massanya tetap. Sinar tersebut sangat sulit dihalangi. Partikel α dapat menembus pada jaringan tubuh sampai 100 µm. misalnya digunakan sebagai pelacak (tracer) untuk membantu pengukuran aliran materi dalam lingkungan. yaitu: -Kt N = N0 dengan N = jumlah inti radioaktif setelah t waktu N0 = Jumlah inti awal t = waktu yang ditinjau K = konstanta peluluhan radioaktif 92U 238 234 4 Enri Damanhuri . Radioaktivitas menjadi kajian yang menarik dalam masalah lingkungan karena dampak negatifnya terhadap organisme yang terpapar. dan membutuhkan beberapa cm timah untuk mengisolasinya. Sinar β dan γ mempunyai kemapuan penetrasi yang lebih tinggi dibanding sinar α. perlu memperhatikan sifat peluluhan itu sendiri. Radiasi γ tidak mempunyai muatan atau masa. muatan positif menarik elektron. Sebuah inti-atom dapat terurai dengan kehilangan partikel α atau β-nya. Penentuan rancangan penyimpanan atau penyingkiran limbah radioaktif.FTSL ITB Halaman 83 . sedang partikel β bisa mencapai beberapa cm. Jumlah masa tidak berubah. Oleh karenanya. dan bergerak dengan kecepatan cahaya. tetapi bila terhirup melalui pernafasan. Radiasi ini dipancarkan dari inti-atom yang tidak stabil sebagai transformasi spontan dari sebuah netron ke sebuah proton dan elektron. dan hanya dapat dihentikan misalnya dengan lembar alumunium setebal 1 cm. Sebagai contoh adalah peluluhan strontium-90 menjadi yttrium : 90 90  39Y + β 38Sr Ionsasi yang terjadi pada partikel β frekuensinya lebih sedikit dibanding partikel α. Massa partikel β diabaikan. namun juga harus mampu menahan kemungkinan radiasi dari hasil peluluhannya yang bisa saja lebih berbahaya. namun dapat bermanfaat. dan akan meluluh dengan mengeluarkan sinar β. sifat kimiawi dari kedua unsur tersebut berbeda. Partikel α relatif massif dan mudah dihentikan. enersinya secara bertahap dilepaskan akibat interaksi dengan atom yang lain. Secara kimiawi. tetapi nomor atomnya meningkat satu satuan. sehingga sinar ini mempunyai kemampuan untuk mengionisasi dan dapat merusak jaringan hidup. Perbedaan jenis radiasi tersebut di atas terkait dengan peluluhan inti atom-atom radioaktif. terutama dalam penyimpanan dan penyingkiran. Hal ini perlu mendapat perhatian pada saat penanganan limbahnya.

Tidak terdapat pola yang jelas antara waktu-paruh isotop-isotop yang diamati dengan mekanisme peluluhannya. tetapi inti-atom memecah dalam dua fragmen dengan massa yang hampir sama. Peluluhannya 92U tidak dengan jalan mengemisikan partikel-partikel α atau β. Waktu-paruh dari sebuah isotop adalah tetap. Dalam satuan SI.7 x 10 per detik.17 menit 91U 234 α 2.2 : Contoh waktu-paruh -----------------------------------------------Isotop Radiasi Waktu-paruh ------------------------------------------------------------238 α 4. Satuan Curie (Ci) adalah satuan dasar yang menyatakan besarnya peluluhan 10 sebuah sumber. 17 Enri Damanhuri .60 x 10 tahun 88 -------------------------------------------------Sebagai gambaran. maka akan tertinggal sebanyak 50 gram setelah 1 tahun. yaitu waktu yang dibutuhkan agar inti tersebut luluh menjadi setengahnya.51 x 109 tahun 92U 234 β 24. Unit Satuan yang Digunakan: Banyak satuan yang digunakan dalam bidang radioaktivitas ini. Nilai waktu paruh tersebut bervariasi dari satu isotop ke isotop yang lain. hal ini dikenal sebagai fisi nuklir. manusia mulai mengamati pengaruh radiasi terhadap materi yang diradiasinya. Tabel 6. artinya sebuah sumber dengan kekuatan 1 Bq akan mengemisikan satu 60 partikel per detik. yaitu: 1 Bq = 2.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Kemudian persamaan tersebut disederhanakan menjadi persamaan waktu-paruh t1/2. bila dimulai dengan sebuah isotop yang mempunyai waktu-paruh 1 tahun dan mempunyai berat 100 gram. dan luluh secara radioaktif. Bila cara reaksi fisi yang terkontrol ini berlangsung. aktivitas tersebut -11 dinyatakan sebagai becquerel (Bq). Waktu-paruh tersebut tidak dapat dirubah namun memainkan peranan yang penting dalam aktivitas penyimpanan dan penyingkirannya.2 memberikan gambaran waktu-paruh dari enam isotop pertama yang terdapat pada ilustrasi sebelumnya. hasilnya akan dapat dipisahkan secara kimiawi dan merupakan sumber yang berlimpah bagi isotop-isotop artifisial. maka terbentuk isotop baru.0 x 10 tahun 90Th 226 3 Ra α 1. Terbukalah pintu penelitian terhadap reaksi nuklir atau penelitian terhadap pembuatan isotop-isotop artifisial.FTSL ITB Halaman 84 . Reaksi lain yang dapat terjadi adalah bila inti-atom yang berat menyerap sebuah netron.693/k Waktu paruh sebetulnya tidak dapat dihitung tapi harus diukur secara eksperimental. Namun banyak hasil rekasi yang bersifat tidak stabil. seperti yang banyak dilakukan dalam reaktor-reaktor nuklir. tetapi 27Co akan mengemisikan sebuah partikel beta dan dua sinar gamma.7 x 10 Ci. Reaksi nuklir pertama yang terdeteksi adalah partikel alfa dari polonium yang dibuat agar terjadi reaksi dengan atom.1 hari 90Th 234 β 1. Tabel 6. Satu Ci sebanding dengan desintegrasi sebanyak 3. dan persamaannya menjadi : t1/2 = ln2/k ≈ 0.atom nitrogen di udara. menjadi 25 gram setelah 2 tahun. Bila sebuah partikel seperti partikel alfa atau sebuah proton atau sebuah netron bertumbukan dengan inti-atom.47 x 105 tahun 92U 230 4 α 8. Isotop Artifisial: Dengan ditemukannya radioaktivitas alamiah. yang dapat membingungkan pemakainya. Oleh karena itu seluruh rantai peluluhan tersebut harus diperhitungkan dalam perancangan limbah radioaktif. tetapi waktuparuh dari nuklisida-nuklisida akan sangat bervariasi. yaitu N = 1/2 No. Misalnya 38Sr meluluh dengan emisi sebuah partikel beta. yang merupakan laju desintegrasi inti-atom 1 gram radium. Misalnya 236 236 menyerap sebuah netron menghasilkan isotop yang tidak stabil 92U (?). sehingga memberikan reaksi : 14 4 17 + 2He  8O + proton 7N Dalam hal ini 8O adalah stabil. Aktivitas sebuah sumber tidak 90 langsung mengidentifikaikan jumlah partikel yang teremisi.

FTSL ITB Halaman 85 . Dalam satuan SI. sejumlah pencemar yang terkandungnya akan terolah secara alamiah. karena beberapa diantaranya terserap oleh materi radioaktif itu sendiri. komponen radioaktif dalam limbah cair dikonversi menjadi limbah padat yang tetap bersifat radioaktif dan harus tetap ditangani. Enri Damanhuri . yang menyatakan ukuran ionisasi per kilogram.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 jadi sumber tersebut yang mempunyai aktivitas 1 Bq mengemisikan tiga partikel sekaligus per detik. atau sebesar 10 J/Kg. Cara yang biasa dilakukan untuk menangani limbah padat adalah membuangnya atau menyingkirkannya. Dalam hal ini 1 C/Kg = 3876 R. Satuan baru (satuan SI) yang diusulkan adalah dengan satuan coulomb (C). maka jumlah partikel yang teremisikan per satuan waktu akan dapat dihitung. misalnya ke lautan yang dalam. Sampai saat ini praktis belum ditemukan teknologi atau tata cara baik secara kimiawi maupun biologis untuk menetralisisr sifat-sifat radioaktivitas. Secara umum. Dalam mengukur ionisasi selain gas. yaitu satuan pengukuran terhadap penyerapan enersi radiasi oleh jaringan tubuh manusia. bila kekuatan sebuah sumber serta mekanisme peluluhannya diketahui. Oleh karena itu digunakan satuan rad (radiaton absorbed doses). yang 3 merupakan kuantitas dari radiasi X atau γ yang menghasikan ion-ion. sedang bagian kimiawinya akan terencerkan. Bagian yang tersuspensi akan mengendap. Dengan pengebangan teknologi dan ilmu nuklir serta penggunaan isotop-isotop radioaktif yang makin luas. Pencemar radioaktif akan tereduksi dengan sendirinya dengan peluluhan alamiahnya. Dengan satuan ini memungkinkan dosis radiasi dalam gas diukur langsung dengan alat elektronik tanpa harus menentukan terlebih dahulu enersi terabsorbsi. atau 1 Gy = 100 rad. bagian organiknya akan teroksidasi. terdapat kesulitan. dengan perlindungan yang ketat agar sifat-sifat radioaktivitasnya tidak membahayakan lingkungan. digunakan satuan gray (Gy) yang sepadan dengan penyerapan enersi 1 J/Kg. Sifat mencemari dari sebuah limbah akan ditentukan oleh karakteristik fisis. menghasilkan intensitas radiasi 0. Dalam hal sebuah isotop menghasilkan produk yang tidak stabil. Satuan yang digunakan dalam kesehatan adalam satuan rem (radiation equivalent man). Bila limbah yang mengandung pencemar mengalir ke lautan atau ke sungai. Cara yang banyak dilakukan untuk menangani limbah cair adalah penyimpanan atau pengkonsentrasian. biologis serta kimiawinya. Pengukuran aktivitas sumber ternyata tidak menjelaskan tentang pengaruh radiasi yang teremisi terhadap sekitarnya. Beberapa cara memang banyak dikembangkan. Sebuah sumber sebesar 1 Ci dari radium yang dilindungi dengan sebuah kumparan platinum setebal 0. Satu rem adalah sepadan dengan penyerapan 100 erg enersi radiasi untuk satu gram jaringan tubuh. 1cm udara mengandung muatan 1 esu. atau memindahkan dalam bentuk padat untuk kemudian dibuang/disingkirkan sambil menunggu luluh dengan sendirinya sesuai dengan waktu-paruhnya. maka akan dihasilkan limbah radioaktif yang tambah banyak dan dapat menyebakan radiasi pengionan. misalnya bagaimana menyerap unsur berbahaya. Sifat radioaktivitasnya akan menurun dengan sendirinya sesuai dengan waktu paruhnya. 3 PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF Pengolahan dan pembuangan (penyingkiran) limbah yang bersifat radioaktif merupakan masalah yang berat dalam abad nuklir ini. Dikatakan telah menyerap radiasi sebesar 1 rad bila 1 gram materi -2 menyerap 100 erg enersi.8 R per jam pada jarak 1 m dari sumber. karena hanya bersifat mengurangi konsentrasinya. satu-satunya pemecahan yang tuntas adalah hanya dengan memanfaatkan waktu-paruh peluluhannya. Tetapi hanya fraksi dari radiasi ini yang terlacak ke luar. mulai limbah asal (limbah'orang tua'nya) sampai hasil luluhannya (limbah 'anak-anak'nya). maka intensitas totalnya persatuan waktu adalah merupakan penjumlahan. Cara yang diterapkan sekarang sebetulnya tidaklah tuntas. Untuk itu perlu adanya jaminan bahwa isotop-isotop yang aktif tidak berkontak dengan lingkungan sampai batas konsentrasi tertentu yang menyebabkan tidak timbulnya masalah. Pengukuran ini dilakukan pertama kali dengan satuan röntgen (R). tetapi ini hanya memindahkan masalah. ke dalam tanah yang dibangun khusus untuk itu.5 mm untuk mengabsorbsi setiap partikel α.

laboratorium-laboratorium penelitian. Definisi limbah radioaktif adalah buangan dalam bentuk padat. uranium menghasilkan sekitar 30 radionuklisida.2 berikut menggambarkan hasil fisi bila digunakan 1 ton uranium. bila dapat menunjukkan bahawa tidak seorangpun menerima dosis lebih dari 10 milirem/minggu.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Sumber-sumber Limbah Radioaktif : Definisi buangan/limbah radioaktif dapat didasarkan atas tiga pendekatan.FTSL ITB Halaman 86 . mengambil uraniumnya dan memisahkan plutonium yang juga terbentuk. Tabel 10. Dalam banyak hal. cair atau gas yang dihasilkan selama pembuatan atau penggunaan substansi radioaktif. Termasuk di dalamnya adalah kelompok limbah yang sebetulnya tidak begitu berbahaya. Dalam proses fisi. Total keterpaparan radiasi di USA apada tahun 1980-an untuk segala sumber sekitar 182 mrem/tahun/orang.limbah tingkat menengah/tinggi Limbah tingkat menengah/tinggi dihasilkan dari pemerosesan kembali bahan bakar nuklir yang mengandung seluruh produk fisi. rhodium dan palladium 61 ----------------------------------------------------------------------------------- Enri Damanhuri . namun tetap dianssumsi berbahaya sampai terdapat pembuktian.01 mrem/tahun. Berikutnya bahwa tidak sulit menarik keyakinan bahwa setelah dibuang konsentrasi tidak mengalami penurunan akibat reaksi kimiawi ataupun biologis. Oleh karenanya. tetapi praktisnya sulit untuk direalisis. Karena tidak praktis untuk memprediksi kandungan radioaktif buangan padat. diagnosa medikal dari sinar-X sekitar 72 mrem/tahun. Tabel 6. yaitu: . yang terakumulasi guna menurunkan tenaga reaktor melalui absorpsi netron. Limbah tingkat tinggi sangat sedikit mengandung radioaktivitas. Penyimpanan dan Pengkonsentrasian Limbah Cair : Limbah cair yang paling banyak dihasilkan agaknya berasal dari proses pembuatan bahan bakar nuklir.3 milirem/minggu Ditinjau dari tingkat aktivitas radioaktivnya.3: Hasil fisi dari pembakaran 1 ton Uranium -------------------------------------------------------------------------------------Kelompok Kimiawi Elemen Kimiawi Berat (Kg) ------------------------------------------------------------------------------------Gas jarang Kripton dan xenon 128 Alkali berat Rubidium 15 Caesium 118 Alkali tanah Strontium 42 Barium 43 Ytrium 317 Elemen ke 4 Zirconium 125 Elemen ke 5 Niobium 5 Elemen ke 6 Molybdenum 92 Tellurium 16 Elemen ke 7 Technetium 29 Iodine 7 Logam jarang Ruthenium. yang lebih realistis adalah mendeteksinya berdasarkan sumbernya. Sumber utama dari limbah jenis ini misalnya dari kegiatan kedokteran. Radiasi ini sebagian besar berasal dari sumber alamiah seperti sinar kosmis (102 mrem/tahun). Pertimbangan genetika mengharuskan bahaw rata-rata dosis radiasi yang dietreima oelh manusia secara keseluruhan adalah 1. tidak membutuhkan sedikit atau bahkan tidak dibutuhkan kontainer khusus. Limbah ini dicirikan dengan kemampuan penetrasi radiasi yang tinggi. maka terdapat dua jenis limbah radioaktif. yaitu : . laju penghasil panas yang tinggi dan waktu paruh radioaktif yang panjang.atas sumbernya Pendapat pertama dan kedua secara prinsip lebih baik. pembuangan limbha cair ke saluran riolering adalah dianggap aman bila ratarata konsentrasi radioaktivitas dalam saluran tidak lebih dari 10 -4 µc/ml.atas potensi bahayanya . tetapi tetap mempunyai potensi konsentrasi limbah berbahaya.atas kandungan radioaktifnya . penelitian kesehatan.limbah tingkat rendah . Metoide pembuangan dianggap aman. Oleh karenanya. secara berkala dibutuhkan pengeluaran bahan bakar ini. pembangkit tenaga nuklir komersial sebesar 0.

sehingga masalah timbulnya tekanan yang meninggi secara tiba. Perlu pula adanya katup pelepas tekanan uap dan uap tersebut kemudian dikembalikan lagi ke kontainer tersebut. Tetapi laju pelepasan panas tersebut tidaklah teratur. Limbah cair biasanya dinetralkan dan disimpan dalam kontainer baja kualitas baik atau dalam beton bertulang. Sarana pemonitor dini terhadap kemungkinan kebocoran sangat diperlukan.ion radioaktif tersebut ditukar dengan ion-ion yang tidak aktif yang terdapat dalam media. Masalah yang timbul bila limbah tidak dipertahankan dalam kondisi asam. Pengolahan Limbah Cair: Seperti dibahas di muka. Larutan tersebut kemudian terevaporasi akibat panas yang terjadi. Kapasitasnya akan tergantung pada afinitas relatifnya. maka kontainer baja perlu dilapis dengan bahan anti karat. Media penukar ion yang mengandung sejumlah ionion yang dapat ditukar tersebut. Penyimpanan limbah radioaktif dalam bentuk solidifikasi dengan glas dianggap aman dan efektif. Mengingat bahwa bila limbah cair yang disimpan dengan cara tersebut akan membutuhkan biaya besar. Bila limbah dipertahankan dalam kodisi asam. misalnya. Media penukar ion tersebut kemudian dapat dianggap sebagai limbah padat dan membutuhkan penanganan khsusus dalam pembuangan akhir. misalnya dengan proses evaporasi. yaitu ion-ion dari limbah. yaitu penukar kation dan penukar anion. Proses penukar ion adalah proses yang sudah lama dikenal. adalah kemungkinan terjadinya endapan. melaslukan pencampuran limbah cair terkonsentrasi dengan silika dan borax dalam larutan asan nitrat. misalnya dalam pembuangan atau penyingkiran akhir. penukaran akan terjadi bila kation pada media penukar mempunyai affinitas yang sama atau lebih kecil dari yang akan menggantikannya. Limbah yang akan diuapkan biasanya diletakkan pada kontainer baja yang divakumkan sampai mencapai volume yang belum memungkinkan terjadinya endapan. Guna mengurangi masalah ini. yang tentu saja akan menaikkan biaya penyimpanan. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam evaporator limbah jenis ini adalah agar sarana tersebut tidak membutuhkan perawatan yang terlalu rumit. Dari proses ini akan dihasilkan cairan dengan konsentrasi yang sangat tinggi yang mengandung elemen radioaktif yang harus ditangani lebih lanjut. sehinga membutuhkan penanganan dengan kontrol yang ketat. Secara praktis. Sumur-sumur pemantau juga diperlukan di sekitar kontainer yang ditanam dalam tanah. sifat-sifat radioaktif tidak dapat dimusnahkan. Sebetulnya dengan sifat dapat memanaskan dirinya sendiri akan memungkinkan proses swa-evaporasi. Media yang dikenal mempunyai kapasitas penukar ion yang tinggi adalah resin sintetis. Inggeris. misalnya : Hg++ < Zr++++ < Li+ < H+ < Na+ < K+ < Rb+ < Cs+ < Ag+ < Mn++ < Mg++ < Cu++ < Ca++ < Sr++ < Al+++ Enri Damanhuri . Alternatif lain adalah dengan regenerasi sesuai dengan ion yang terkandungnya. Namun hal ini kurang memuaskan hasilnya karena panas yang dikeluarkan per satuan volume relatif rendah.FTSL ITB Halaman 87 . sebab bila tidak. Beberapa radioisotop. Media ini relatif lebih stabil. biasanya agitator udara atau sirkulasi cairan digunakan. sehingga memudahkan dalam penanganan berikutnya. agar masalah bocornya limbah ini dapat segera diketahui. Limbah cair dengan sifat-sifat radioaktif mempunyai sifat yang secara spontan dapat mendidih dengan sendirinya karena adanya absorpsi enersi radiannya sendiri. maka beberapa metode yang digunakan adalah dengan penukar ion. yaitu dengan memanfaatkan media tertentu yang mempunyai sifat dapat menukarkan kation atau anionnya dengan kation dan anion lain dari limbah. Disamping dengan cara penguapan. didapatkan limbah yang terbungkus secara solidifikasi. seperti rutheniumakan. Jadi ion. proses kimiawi atau biologis. namun yang mungkin adalah mengkonsentrasikan nuklisida-nuklisida tersebut dalam volume cairan yang relatif kecil.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Elemen-elemen bahan bakar yang tidak teradiasi tetap mengandung bahaya radioaktif dengan tingkat aktivitas sekitar 10 sampai 15 curie/L. Akan terdapat dua jenis penukar ion. akan tervolatilisasi dengan sendirinya. Dalam proses pendinginan.tiba perlu diperhatikan dalam rancangan penyimpanan. maka usaha lain adalah mengkonsentrasikan limbah tersebut agar volumenya berkurang. dapat digunakan terus sampai materi tersebut menjadi jenuh dan tidak dapat lagi berfungsi. Dibutuhkan kumparan pendingin agar panas yang dihasilkan akibat terjadinya peluluhan radioaktif dapat dikeluarkan. akan menyulitkan karena jenis limbahnya yang bersifat radioaktif.

cerium. namun ada beberapa kation atau anion radioaktif yang membutuhkan penanganan khusus. ferro dan ferri sulfat. Oleh karenanya. Cara lain aplikasi penukar ion adalah penggunaan electrolitis deionisasi. Unit-unit pengendap yang biasa digunakan dalam pengolahan limbah akan menghasilkan kinerja yang sama.FTSL ITB Halaman 88 . namun hal ini cenderung mengurangi sifat-sifat mengendap dari partikel tersebut. Pengolahan limbah radioaktif secara kimiawi diterapkan di banyak negara. bila yang akan ditangani adalah produk fisi yang tercampur. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan penambahan koagulan. Dalam hal ini vermiculite mempunyai kemampuan untuk itu. Beberapa jenis lempung. maka pH yang lebih tinggi akan menghasilkan penyisihan yang lebih tinggi pula. Disamping itu.7 meq/gram. silika aktif atau sodium fosfat juga dapat diterapkan dalam limbah radioaktif ini. terdapat kecendrungan bahwa kation multivalensi seperti yttrium. Dengan demikian. namun cara ini cocok untuk limbah yang mempunya kadar radioaktif rendah. kemudian diikuti dengan pembubuhan ferri sulfat untuk menyisihkan kelebihan barium Enri Damanhuri . Diantara katode tersebut diletakkan membran secara bersilangan. maka relatif sulit untuk dipisahkan dari larutannya. Pemilihan proses yang dilakukan adalah tergantung pada kinerja penyisihan yang diinginkan. adalah partikel flok dan partikel tersuspensi tersebut harus diendapkan dan tidak terbawa ke dalam efluennya kembali. terutama montmorillonite mempunyai kapasitas penukar ion sampai 1 miliekuivaalen (meq) per gram. Dua jenis isotop yang paling penting untuk dijadikan acuan adalah radiostrontium dan radiocaesium. Walapun telah dilakukan pembubuhan kimiawi secara flokulasi. sehingga media menjadi lebih cepat jenuh. Dalam hal garam-garam besi yang digunakan. yaitu sekitar 30 tahun. Barium khlorida juga dapat digunakan untuk mengendapkan ion-ion sulfat dan tellurate. lignite atau resin sintetis terlebih dahulu. Media alamiah lainnya adalah penggunaan vermiculite atau lignite. Sasaran dari cara ini adalah bagaimana mengkonsentrasikan nuklisida. Disamping itu. maka Mg cenderung akan mengendap sebagai hidroksida. Umumnya. atau densitas buangan lumpurnya menjadi lebih tingi. Dengan demikian akan terjadi sekaligus penukaran kation dan penukaran anion. yang biasanya dipisahkan melalui vermiculite. Keberhasilan pembentukan flok harus diikuti dengan unit operasi yang lain yang sangat menentukan. yaitu unit pengendap. yaitu dengan merangsang terjadinya partikel flok yang mudah mengendap.koagulasi-pengendapan. Media ini mempunyai kemampuan filtrasi yang baik dibandingkan montmorillonite dan kapasitas penukar ionnya sekitar 0. sedang caesium-137 mempunyai waktu paruh yang pajang. Langkah berikutnya. karena merupakan unsur monovalensi. penambahan koagulan akan menyebabkan materi tersuspensi yang juga bersifat radioaktif. walaupun kemampuan dekontaminasinya relatif tidak begitu besar. Bila limbah dengan pH tinggi melalui media tersebut.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Salah satu kelemahan dari cara ini adalah bahwa media ini tidak dapat membedakan antara ion yang aktif atau ion yang tidak aktif. Beberapa jenis media alamiah juga mempunyai kemampuan untuk berfungsi sebagai penukar ion antara lain adalah tanah lempung (clay). yang prinsipnya adalah identik dengan penyisihan air asin. yaitu sebagai penukar anion dan penukar kation. namun media ini mempunyai sifat-sifat penyaringan yang buruk sehingga menyulitkan dalam operasionalnya. misalnya disingkirkan ke dalam tanah dan sebagainya. dan dapat memampatkan media penukar ion tersebut. sehingga akan menambah efisiensi penyisihan secara keseluruhan. Walaupun dilakukan penaikan pH. setiap media yang digunakan dalam penukar ion harus mampu menyisihkan kedua jenis isotop tersebut. jenis radionuklisida yang akan dipisahkan. Ion penukar dari media ini mayoritas adalah magnesium. Beberapa jenis flokulan yang biasa digunakan dalam teknologi pengolahan limbah seperti garam-garam aluminium. Alternatif lain adalah dengan penambahan lempung selama koagulasi. namun tetap dibutuhkan mekanisme lain agar sebanyak mungkin materi tersebut terpisah dari cairannya. Salah satunya adalah radiocaesium. Koagulan akan menyerap ion-ion tertentu dari larutan dan membentuk partikel yang lebih besar. limbah lumpur yang terkonsentrasi tersebut dapat ditangani lebih lanjut. akan lebih mudah mengendap sehingga efisiensi penyisihannya menjadi lebih tinggi. Radiostrontium merupakan isotop yang paling berbahaya sebagai penyebar emisi beta. Aruh searah dilalukan pada dua elektrode yang terendam. promethium dan ruthenium akan lebih mudah terserap sehingga dapat terkonsentrasi dalam lumpurnya. seperti telah dibahas di muka.

radioisotop tersebut akan cenderung berakumulasi pada tanaman air tersebut. Partikel yang dihasilkan berupa granular dan dapat terendapkan serta tersaring secara baik.FTSL ITB Halaman 89 . sehingga sebelumnya perlu diolah secara biologis guna mencapai baku muru yang diinginkan. polysaccharida. Diketahui bahwa konsentrasi dari elemen-elemen yang biasa terdapat di alam seperti kalium. Sentrifugasi juga tidak memberikan pemecahan yang baik. Unsur-unsur multivalensi seperti zirconium dan plutonium dapat direduksi dengan cara ini. yaitu: a. Seperti telah dibahas di muka. Dengan mengunakan filter vakum. sehinga menaikkan proses koagulasinya. dan biasanya yang paling efisien dalah menggunakan polimer dengan berat molekul ting gi. Limbah tersebut mungkin mengandung agen-agen organik kompleks. yang dapat hadir sebagai kation. akan dihasilkan cake lumpur tetapi masih mengandung air sampai sekitar 85 %. seperti senyawa sellulosa. dan dapat disisihkan dengan penggunaan garam-garam perak atau penukar anion. kalsium atau strontium akan lebih tinggi terdapat di tumbuhan air dibandingkan air sekitarnya. Langkah berikutnya adalah penanganan lumpur yang berasal dari unit pengendap yang masih mengandung kadar air tinggi (di atas 90%). Secara umum pengolahan secara biologis ini akan berfungsi baik. anion atau dalam bentuk non-ion. lumpur kimiawi yang dihasilkan dari pengolahan tersebut sebagian besar akan bersifat koloidal dan tidak mengendap secara baik serta sulit difilter dalam proses penanganan lumpur. bebas dari substansi toksik dalam konsentrasi tertentu sehingga dapat menghambat aktivitas Enri Damanhuri . Cara yang paling baik yang pernah dilakukan adalah dengan co-presipitasi dengan tembaga sulfida dalam suasana asam. Cara yang banyak dilakukan adalah pembekuan.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 dan bertindak pula sebagai koagulan. akan mengidentifikasikan maksimum konsentrasi isotop radioaktif yang dapat terjadi dengan cara tersebut. Fenomena ini juga dimanfaatkan dalam penyerapan elemen-elemen tertentu oleh tumbuhan air seperti eceng gondok guna mengurangi konsentrasi pencemar radioaktif berkadar rendah. dilirkan ke badan air dengan mengandalkan pengenceran dan dispersi. Radioiodine biasanya hadir dalam kondisi anion. yaitu: (aktivitas per satuan berat organisme)/(aktivitas per satuan berat air) Disamping itu. yang akan mengganggu dalam pengolahan isotop radioaktif secara kimiawi. Dapat saja terjadi bahwa ikan yang berada dalam sungai yang menerima efluen limbah radioaktif cair dengan konsentrasi phosphorus-32 di bawah konsentrasi maksimum yang diizinkan untuk air minum. fenomena lain yang dapat terjadi secara alamiah adalah penyisihan elemenelemen radioaktif oleh adsorpsi permukaan. Efluen cair dari limbah radioaktif yang kadar radioaktivitasnya dikatagorikan rendah. seperti yang dilakukan di Perancis. Beberapa diantara jenis polimer tersebut mempunyai muatan negatif (anion). Hal yang penting dalam proses pengendapan tersebut adalah bagaimana mendapatkan efluen yang sangat baik. yaitu polyelectrolite. seperti senyawa caustic-hydrolised polyacrylamide. pada suatu saat akan mengakumulasikan radioaktif ini sampai di atas batas yang diizinkan (biomagnifikasi). Lumpur kering yang dihasilkan kemudian di tangani sebagai halnya limbah padat radioaktif. Pengolahan dengan pembekuan ini akan mengkonsentrasikan elektrolit yang ada di sekitar partikel koloidnya. Pengolahan biologis juga dapat dipertimbangkan guna merangsang tumbuhnya mikroorganisme yang berfungsi sebagai adsorben biologis. bila limbah yang akan diolah tidak bersifat asam atau alkalin. b. c. Penentuan analisis kimiawi dari elemen dalam organisme air dan air. atau bermuatan positif (kation) seperti polyvinyl pyridinium butyl bromide. misalnya oleh mikroorganisme semacam bakteria dan algae bersel tunggal. Oleh karenanya dalam beberapa hal digunakan coagulant-aids. Jadi bila badan air tersebut terkontaminasi dengan isotop radioaktif. seperti sitrat. Limbah radioaktif yang akan dialirkan ke badan air. Pengolahan secara biologis bagi limbah radioaktif yang dikatagorikan ringan biasanya didasarkan atas satu diantara tiga pertimbangan. sehingga penggunaan filtrasi sedapat mungkin dihindari. mungkin mengadung komponenkomponen organik biodegradabel. Salah satu nuklisida yang relatif suulit untuk ditangani adalah ruthenium. Akumulasi radioaktif oleh organisme biasanya dinyatakan dengan faktor konsentrasi (FK). Organisme tertentu di alam dalam hal ini dapat menimbun radioisotop dalam tubuhnya. Pengolahan secara biologis yang sengaja dibangun mempunyai prinsip identik dengan yang biasa digunakan dalam pengolahan limbah lain.

proses lumpur aktif dan saringan pasir lambat. filtrasi atau seperti pengolahan secara kimiawi untuk limbah radioaktif yaitu pembekuan. Mikroorganisme pada umumnya lebih resistan dibandingkan organisme yang lebih tinggi. Pengolahan lumpur yang dihasilkan adalah identik dengan pengolahan limbah lain. Beton baryte dua kali lebih aman dari beton biasa. yang dapat berbentuk tabung-tabung yang dapat dimasukkan ke dalam bunker secara vertikal. Namun bila yang dikeluarkannya adalah radiasi beta atau gamma. kolam-kolam atau saluran-saluran biologis yang ditamani tumbuhan air. namun biayanya tiga kali lebih mahal.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 biologis. Tinja tersebut membutuhkan waktu tunggu lebih dahulu sebelum bebas dibuang pada riolering kota yang dilengkapi dengan pengolah limbah secara terpusat. Proses anaerobik juga dapat digunakan untuk mengurangi komponen. dan limbah padat disimpan di sana sampai keaktifannya menjadi tidak membahayakan. Sarana tersebut harus juga mempertimbangkan pekerjaan berat untuk operasi menaikkan dan menurunkan beban yang berat. limbah tersebut dapat dipindahkan dengan mudah. Penyingkiran Limbah Padat dan Lumpur: Penanganan akhir dari limbah padat atau lumpur adalah dalam bentuk penyingkiran dalam tanah atau dalam lautan. Pengaruh tersebut tidak terlihat secara nyata kecuali dalam tingkat aktivitas yang tinggi. namun penempatan secara horizontal cocok untuk penyimpanan jangka pendek. supernatan tetap dialirkan kembali pada pengolahan limbah cairnya. Dengan cara demikian.FTSL ITB Halaman 90 . khususnya bagi isotop dengan waktu-paruh lama. misalnya dalam pasangan beton. penyingkiran dalam tanah dapat dilakukan dengan pembuatan lobang-lobang raksasa yang disiapkan dengan penuh kehati-hatian. Dalam hal limbah aktif tersebut hanya menghasilkan radiasi alfa. Dalam proses biologis. sehingga praktis tidak terdapat bahaya radiasi. lapisan 9 dengan aspal adalah cukup baik untuk menahan radiasi sampai 10 roentgen. Dosis radiasi yang dibutuhkan agar dapat membunuh 99 % populasi bakteria dalam limbah radioaktif dapat mencapai 100. setelah terlebih dahulu dilapis guna mencegah tersebarnya radioaktif tersebut seperti halnya pengelolaan limbah limbah padat. maka penyimpanan yang bersifat permanen akan dibutuhkan. maka dibutuhkan materi lain seperti timah atau beton baryte. Cara lain dengan memanfaatkan bekas sarana penambangan yang sudah tidak lagi berfungsi. maupun secara vertikal. Dalam beberapa hal dibutuhkan penyimpanan yang bersifat sementara. Penempatan secara vertikal baik untuk penyimpanan jangka panjang. filter perkolasi (trickling filter). Hal yang sudah pasti bahwa cara ini sama sekali Enri Damanhuri . Konstruksi kontainer atau bunker tersebut dapat terbuat dari beton bertulang setebal 2 meter. yang dapat dibangun lapis perlapis. Cara lain adalah disingkirkan ke dalam tanah atau ke larutan seperti halnya penanganan limbah padat. Beton bertulang digunakan terutama karena alasan biaya. misalnya dalam bentuk parit-parit beton bertulang. Dalam hal limbah yang akan disimpan sangat aktif. maka perlindungan yang sangat ketat sangat dibutuhkan. Walaupun demikian. Penyimpanan Limbah padat dan lumpur : Untuk limbah padat yang dikatagorikan menengah dan tinggi aktivitasnya. Dalam hal ini perlu adanya kontrol bahwa supernatan yang dihasilkanya tidak mengeluarkan aktivitas radioaktif yang menganggu. plastik atau aspal. hal esensial yang perlu diperhatikan adalah bagaimana agar organisme yang berfungsi tersebut tidak terpengaruh oleh radiasi. Namun diperlukan perhatian agar beban sel yang diatas tidak akan langsung bertumpu pada sel limbah yang ada di bawahnya. Lumpur yang telah dikurangi kadar airnya dapat dibakar dalam sebuah insinerataor. Misalnya tinja dari manusia yang mengandung iodine-131 atau phophorus-32 akibat kegiatan kelinis seseorang. penyimpanan dapat dilakukan dalam konstruksi batu bata saja.komponen materi organik yang dikandungnya dan dikonversi menjadi gas metan. Menurut penelitian. Beberapa pengolahan secara biologis yang telah diterapkan misalnya adalah kolamkolam oksidasi. atau dilakukan proses solidifikasi. misalnya dalam aktivitas pemantauan tingkat peluluhan yang telah terjadi. seperti pengeringan pada media berbutir. sedang abunya ditangani seperti limbah padat.000 rad. Bangunan tersebut dapat terdiri dari beberapa sel. Bunker beton tersebut biasanya dilapis lagi dengan logam. Penggunaan bahan baja atau keramik dapat pula dipertimbangkan sebagai kontainer sebelum dimasukkan ke dalam bunker tersebut.

seperti lempung yang memounyai konsep identik dengan penukar ion. yaitu dengan mengkapsulinya dengan bahan yang dikenal baik dapat menahan radiasi limbah tersebut. maka hal ini perlu juga mendapat perhatian. porositas dan sifat-sifat tanah lainnya terutama dikaitkan dengan transportasi dan penyebaran pencemar limbah berbahaya tersebut. Diperlukan studi yang sangat mendalam termasyuk studi tentang stratifikasi. Konsep penyingkiran limbah radioaktif ini bersasaran menyingkirkan limbah agar tidak akan mengganggu lingkungan sampai keaktifannya terluluhkan dengan sendirinya sampai tingkat yang diperbolehkan. sifat imbah yang disimpan akan berubah sesuia dengan perubahan waktu. Analisis laboratorium menunjukkan bahwa radionuklisida yang mengalir dalam tanah tanpa menagalami absorpsi (tidak terserap dalam penukar ion tanah) adalah ruthenium. Penyimpanan dalam fase cair relatif lebih sulit dibandingakan Enri Damanhuri . Jadi konsep umum peyingkiran limbah radioaktif ini adalah. Sulit memprediksi bahagiamana kestabilan sarana tersebut sampai ratusa tahun. bahwa limbah dengan tingkat aktivitas rendah. sehingga sifat-sifat material penyimpan harus memperhatikan hal ini. Banyaknya limbah yang akan disingkirkan akan tergantung pada kapasitas penukar ion media tersebut. namun pula lingkungannya yang dapat dikatakan jauh dari homogen. bagi limbah denga waktu paruh lama. sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi arah aliran air. diperlukan perlakuan khusus agar sifat radioaktifnya tidak menyebar keluar. Ion nitrat dideteksi pada jarak 520 meter dari sumbernya setelah 8 tahun. Masalah kedua yang muncul adalah pemilihan jenis sarana penyimpan. seperti lapisan timah dan sebagainya. Sebuah materi yang tahan pada limbah pada saat awal.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 bukan bertujuan untuk mengurangi keaktifan limbah tersebut tetapi sekedar menyimpan menunggu selesainya waktu paruhnya. adalah menyingkirkannya dalam tanah yang sangat kedap dan dianggap mempunyai kemamppuan penukaran ion. Sarana yang dibangun dikelilingi dengan sumur-sumur pemantau yang relatif banyak (bisa mencapai lebih dari 50 sumur) dalam jarak yang berbeda. serta seberapa baik fungsi penukar ion tersebut. Hal ini akan menjadi masalah dengan meningkatnya limbah tersebut akibat penggunaan dan pengembangan industri nuklir dewasa ini. Ruthenium-106 adalah satusatunya radionuklisida yang teridentifikasi dalam sumur pemantau. Sarana tersebut oleh karenanya harus tetap dimonitor secara rutin. Ditinjau dari sifat kimiawi limbah tersebut akan terus berubah. yang bisa mencapai ratusan tahun. Dalam metode disperasl. Sarana tersebut hendaknya memenuhi dua persyaratan. misalnya dari limbah radioaktif rumah sakit. sedang limbah radioaktif dengan katagori menengah dan tinggi harrus disimpan secara aman sampai aktivitasnya menurun sampai tingkat dengan katagori aktivitas rendah. menunjukkan bahwa ternyata tidak terjadi bahaya radiasi di sekitarnya. bisa saja menjadi terkorosi setelah limbah tersebut mengalami perubahan. Oleh karena limbah radioaktif yang akan dingkirkan adalah masih berbentuk cairan. karena terkait erat dengan pengetahuan rinci dan lengkap bukan saja sifat-sifat tanah. termasuk dengan limbah lain terutama yang bersifat penukar ion. yang pertama harus mampu menahan radiasi jangan sampai ke luar dan yang kedua tahan terhadap penggunaan jangka panjang. Pengalaman yang diterapkan di Amerika. Adanya sifat peluluhan radioaktif akan menyebabkan ketidakstabilan dari limbah yang dihasilkan kemudian serta media yang dilaluinya. sedangkan ruthenium-106 terdeteksi pada jarak 370 meter dalam jangka waktu yang sama. Hal ini merupakan pertanyaan yang sulit untuk terjawab di lapangan. Masalah pertama adalah waktu untuk menyimpan. Cara lama yang masih diterapkan untuk limbah yang dianggap mempunyai keaktifan rendah. Kontainer atau sarana penyimpan tersebut harus bertahan sesuai kondisinya semula. tekstur. yaitu kurang dari beberapa milicurie dapat dicampur dan dibuang dengan limbah lain dan ditangani sebagai limbah berbahaya biasa.FTSL ITB Halaman 91 . Ion-ion nitrat merupakan ion yang bergerak relatif cepat. Pelaksanaan di lapangan ternyata lebh rumit terutama untuk jenis limbah menengah dan tinggi. materi radioaktif dapat saja dicampur dengan materi lain. baik berbentuk padat maupun cair. Kekhawatiran lain adalah tersebarnya limbah tersebut akibat terjadinya retakan atau terjadinya ketidak homogenan media. misalnya tahan terhadap korosi. Untuk itu sebelum disingkirkan. sampai aktivitasnya menjadi sedemikian rendah dan tidak menghadirkan bahaya radioaktif lagi bila disingkirkan dalam cara-cara biasa seperti dalam landfilling.

tidak mudah rusak atau pecah sebelum dan setelah disingkirkan. b. Oleh karenanya. Limbah radioaktif yang langsung ditanam dalam tanah harus diulindungi terhadap kemungkinan muncul ke permukaan. Buangan padat dapat diinsinerasi. daerah sekitarnya kemungkinan akan menjadi steril untuk selamanya. Pembungkusan dilakukan seperti dalam penyimpanan. penelitian bila aktivitasnya adalah: a. yaitu dalam bentuk paking dalam kontainer baja atau pasangan beton. perlu diperhatikan bahwa limbah tersebut harus aman di tempatnya dalam jangka waktu yang lama. Pembuangan ke lautan dalam dianggap salah satu penyingkiran yang paling aman bila dilakukan secara baik. insek dan sebagainya. Buangan padat dapat disimpan/disingkirkan dalam landfill buangan berbahaya biasa bila ternyata seluruh komponen di dalamnya mempunyai aktivitas lebih kecil dari 1 µCi. sedang abunya yang akan ditangani adalah sesuai dengan butir (a) di atas. Kontainer yang digunakan untuk menyingkirkan jenis limbah ini harus mempunyai kriteria: . Monitoring dibutuhkan bukan saja terhadap air tanah memalui sumur-sumur pemantau. Salah satu masalah yang mungkin timbul adalah kemampuan ikan atau organisme laut lainnya dalam mengkonsentrasikan limbah radioaktif ini dalam fenomena biomagnifikasi. Kedalaman penananaman sedemikiaian rupa sehingga tidak mengganggu pertumbuhan di sekitarnya. dengan syarat bahwa aktivitas limbah yang akan dibakar tersebut tidak lebih dari 30 µCi per harinya. Hal yang kedua. Limbah cair dapat dicampur dengan limbah sistem riolering perkotaan yang ada (menuju pengolahan limbah terpusat). seperti penguburan dalam tanah atau dalam bekas tambang. dan total aktivitas untuk setiap pembebanan adalah lebih kecil dari 10 µCi. serta masalah jangka panjang untuk mendapatkan area yang cukup dan cocok untuk itu. yaitu limbah tersebut langsung dibuang/didingkirkan atau limbah tersebut 'dibungkus' terlebih dahulu. 3 jenis cara penyingkiran untuk limbah radioaktif yang tergolong rendah. c. Cara ini menghilangkan keberatan-keberatan yang ada dengan cara lain. Disamping itu. reptil.FTSL ITB Halaman 92 .1 m3. Pertama karena sifat cair akan lebih intik kontak dengan media sekitarnya. seperti dari kegiatan rumah sakit. Oleh karenanya. Elemen-elemen radioaktif tersebut biasanya terkonsentrasi di tulang yang prakktis tidak dikonsumsi oleh manusia. namun pula terhadap benda-beda di sekitarnya: binatang. Cara lain yang digunakan adalah penyingkiran dalam bekas tambang. Dalam aplikasi di Inggeris. misalnya karena kegiatan binatang seperti tikus dan sebagainya. . Dalam jangka waktu tertentu. maka batasan tersebut menjadi 2 mCi. tanah.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 penyimpanan dalam fase padat. Pembungkusan terlebih dahulu limbah diperlukan sebelum disingkirkan ke dalam tanah terutama bagi limbah dengan katagopri tingkat keaktifannya tinggi. maka tidak diperkenankan lebih dari 10 mCi selama 4 minggu secara terus menerus. Lubang-lubang tambang yang digunakan dipilih ketat yaitu yang tidak mempunyai hubunganb dengan daerah sekitarnya. batasan yang digunakan adalah jumlah limbah yang ditanam maksimum nuklisida adalah adalah 100 mikrocurie/bulan bagi limbah dengan waktu-paruh lebih dari 1 tahun dan 1 milicurie/bulan untuk limbah dengan waktu-paruh kurang darui 1 tahun. bila terbukti pengencernya bukanlah limbah yang dikatagorikan aktif. Untuk menjamin pengenceran yang cukup. Masalah yang sangat diperhatikan kemungkinan terbawanya limbah tersebut akibat air eksternal. Penyingkiran limbah ke dalam tanah hanya cocok bagi limbah dengan aktivitas rendah. Dalam hal ini terdapat dua kemungkinan penanganan limbah sebelum disingkirkan. Bila sistem tidak dihubungkan dengan riolering kota. dengan volume tidak lebih dari 0. sehingga kemungkinan terjadinya korosi akan lebih besar.bebas dari ruang-ruang yang kosong sehingga limbah tidak mudah keluar bila terjadi kebocoran. sifat cair akan memungkinkan mengalir ke tempat lain akan lebih leluasa dibandingkan bagian padat bila terjadi kebocoran dalam kontainer. Enri Damanhuri . Solidifikasi akan merupakan salah satu jawaban dalam usaha-usaha menanggulangi hal ini. walaupun proses korosif berjalan lambat. persoialan yang dihasapi oleh limbah radioaktif dengan tingkat yang menengah dan tinggi adalah bagaimana memecahkan masalah tersebut. Cara ini merupakan cara yang terakhir karena praktis tidak mungkin lagi diambil bila terjadi sesuatu. ikan. daun.

rata tingkat radiasi di permukaan kontainer adalah tidak lebih dari 20 milirad per jam.C. mempunyai betuk dan ukuran yang mudah untuk ditangani 3 Drum-drum baja merupakan kontainer yang paling sering digunakan.Nelson L. Masalah utama yang muncul adalah gas yang dikeluarkan yang dapat menyebar secara luas. maka tidaka akan timbul masalah radiasi.Gilbert M.2 gram/cm . yaitu abu atau gas yang keluar dari cerobong akan tetap bersifat radioaktif.A. 1991 Enri Damanhuri . Addison-Wesley Publishing Company. Referensi Utama: . pengendap dan sebagainya. Produk akhir yang dikeluarkan. dapat digunakan untuk menangkap partikulat yang terbentuk. Masters: Introduction to Environmental Engineering and Science. kadangkala dilapis dengan lapisan beton sesuai dengan karakteri atau tingka keaktifan limbahnya.J. presipitator elektrostatis. 1960 . Insinerasi limbah combustibel tidak diterapkan secara luas. Wiley & Sons Inc. 1978 . Porteus (Editor): Hazardous Waste Management Handbook. Peralatan pencegahan pencemaran udara seperti filter. Englewood Cliffs. Nemerow: Industrial Water Pollution. scrubber.FTSL ITB Halaman 93 . Butterworth. Abu yabng terkumpulkan kemudian ditangai seperti halnya limbah padat radioaktif. Prentice Hall. 1985 .Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 - mempunyai densitas paling tidak 1. Suatu pengukuran yang dilakukan adalah bila rata. Collins (Editor): Radioactive Wastes.

oncolagy. mata dan telinga. maka dibutuhkan program kesehatan kerja yang mencakup: o Penggunaan bahan yang aman atau bahan yang lebih tidak berbahaya. misalnya mereka yang terikat kontrak kerja seperti tukang cuci. c. o Penggunaan wadah dengan warna yang berbeda untuk setiap jenis limbah. tukang sampah dan sebagainya o Pasien rawat jalan seperti yang sedang menjalani dialisis darah o Pengunjung Untuk mengurangi resiko kesehatan sehubungan dengan limbah rumah sakit ini. rehabilitasi. sarung tangan). air dan tanah. penyakit-penyakit pernafasan b. Disamping itu. Limbah yang bersifat umum atau limbah infectious yang telah ditangani secara baik dapat dibuang pada landfill kota dengan syarat-syarat khusus disertai pengawasannya. Penggilingan limbah sisa makanan banyak diterapkan di negara undustri untuk kemudian dimasukkan dalam system saluran air (riolering) limbah kota.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 BAGIAN VII LIMBAH MEDIS DAN RUMAH TANGGA 1 LIMBAH MEDIS Terdapat tiga katagori orang yang dapat terpapar dengan limbah berbahaya dari rumah sakit. orthopaedic. terbakar. Rumah sakit dengan aktifitasnya: o Rumah sakit umum o Rumah sakit khusus o Sanotarium o Aktifitas spesifik dalam sebuah rumah sakit misalnya : paediatric. Pada dasarnya limbah yang dihasilkan harus dipisahkan atau dikonsentrasikan di institusi itu sendiri untuk memudahkan penggolongannya. tetapi pengoperasian yang tidak baik akan mendatangkan masalah pencemaran udara. o Penggunaan pewadahan tertutup untuk bahan-bahan yang bersifat volatil.FTSL ITB Halaman 94 . Sebetulnya cara ini tidak disarankan karena akan mendatangkan masalah pada pengolah limbah kota. Asrama dan sejenis: Enri Damanhuri . o Pemantauan rutin terutama terhadap aktivitas yang beresiko tinggi. o Penggunaan alat pelindung (masker. Penggunaan insinerator untuk limbah rumah sakit kelompok biomedis banyak diterapkan. terutama bila dilairkan melalui sistem rioreling. Klinik: o Ruang dokter dan perawat o Pusat dialysis o Pusat penanganan kecanduan alcohol o Pusat penanganan kecanduan obat bius o Klinik bersalin o Klinik thrombosis. o Penggunaan ventilasi yang baik sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan kerja. o Penggunaan analisis epidemiologis untuk menentukan apakah kelompok atau sub kelompok tertentu akan mengalami resiko berlebihan terhadap penyakit tertentu. Bahan kimia dari institusi kesehatan akan merupakan sumber pencemaran yang potensial. yaitu: o Pasien dan personel dari rumah sakit o Personel yang memberikan pelayanan. dan bila mungkin dilakukan daur-ulang sehingga tidak masuk dalam penanganan limbah kota. psychiatric. perhatian hendaknya diberikan pada kemungkinan pengaruh resiko tersebut terhadap masyarakat luar. Tinja dan urin dari pasien yang diisolasi karena penyakit menular perlu didisinfektan terlebih dahulu sebelum digabung dengan sistem riolering. seperti resiko pencemaran udara. Jenis perawatan/aktivitas kesehatan yang dapat menghasilkan limbah adalah : a. Namun penggunaan disinfektan harus diminimalkan bila terdapat alternatif lain.

1 sampai 5. penelitian. misalnya obat-obatan cytotoxic. atau analisis in-vivo terhadap organ tubuh dalam pelacakan atau lokalisasi tumor. cair maupun gas yang terkontaminasi dengan radionuklisida. di bawah ini diberikan beberapa angka [21]. o Limbah berpotensi menularkan penyakit (infectious): mengandung mikroorganisme patogen yang dilihat dari konsentrasi dan kuantitasnya bila terpapar dengan manusia akan dapat Enri Damanhuri . limbah kimiawi yang tidak berbahaya adalah seperti gula. termasuk untuk hewan maupun genetis. atau tidak dioperasikan sesuai dengan kriteria.25 sampai 3. o Limbah farmasi. yaitu dapat ditinjau dari sudut: toksik. haemathology.0 o USA : 4. mudah terbakar (flammable). teratogenic dan lain-lain). Timbulan limbah dari kegiatan rumah sakit bervariasi dari satu institusi ke institusi sesuai dengan besarnya aktivitas. limbah dari cuci serta materi lain yang tidak membutuhkan penanganan spesial atau tidak membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan o Limbah patologis: terdiri dari jaringan-jaringan. dan shock sensitive). o Limbah citotoksik. korosif. plasenta.2 sampai 6. Kadangkala. bagian tubuh. o Kontainer dalam tekanan. o Limbah berpotensi menular (infectious).4 o Inggeris : 0. limbah residu insinerasi dapat dikagorikan sebagai limbah berbahaya bila insinerator sebuah rumah sakit tidak sesuai dengan kriteria.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 o Perawat o Rumah jompo o Rumah sakit jiwa d. darah dan cairan tubuh o Limbah radioaktif: dapat berfase padat. o Benda-benda tajam. Limbah rumah sakit merupakan campuran yang heterogen sifat-sifatnya.12 Kg/bed/hari. cairan maupun gas misalnya berasal dari pekerjaan diagnostik atau penelitian. pembersihan / pemeliharaan atau prosedur desinfeksi.3 o Belanda : 1. o Limbah kimiawi. reaktif terhadap air. makanan binatang noninfectious.FTSL ITB Halaman 95 . garam-garam organik lainnya. bahan pengemas. bangkai binatang. o Limbah patologis (jaringan tubuh). o Limbah radioaktif. pathology. yaitu: o Limbah umum. kimiawi. Seluruh jenis limbah ini dapat mengandung limbah berpotensi infeksi. Pertimbangan terhadap limbah ini adalah seperti limbah berbahaya yang lain. asam. dilanjutkan dengan sifat-sifat spesifik seperti genotoxic (carcinogenic. reaktif (eksplosif. Kegiatan-kegiatan penunjang: o Bank darah o Apotik o Pusat pelatihan medis o Ruang mayat o Ruang steril o Ruang cuci pakaian o Ruang teknis o Laboratorium : klinis.asam animo. Diskripsi umum tentang katagori utama limbah rumah sakit adalah: o Limbah umum: sejenis limbah domestik. maupun dihasilkan dari prosedur therapetis o Limbah kimiawi: dapat berupa padatan. mutagenic. organ. dan dihasilkan dari analisis in-vitro terhadap jaringan tubuh dan cairan. yaitu (Kg/bed/hari): o Sepanyol : 1.24 Penelitian yang dilakukan di RSHS Bandung oleh Jurusan Teknik Lingkungan ITB (1993) memberikan angka rata-rata sebesar 2.2 sampai 4. Sebagai gambaran. Limbah dari pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dapat diklasifikasikan dalam beberapa katagori utama.

Katagori yang termasuk limbah ini antara lain jaringan dan stok dari agen-agen infeksi dari kegiatan laboratorium. tetapi tidak termasuk gigi. sedang yang terinfeksi harus diperlakukan sebagai limbah berbahaya. rambut dan muka o Limbah tubuh hewan: jaringan-jaringan tubuh .FTSL ITB Halaman 96 . atau telah tertumpah. Limbah infectious beresiko tinggi perlu ditangani terlebih dahulu dalam autoclave sebelum menuju pengolahan selanjutnya atau sebelum disingkirkan di landfill. Limbah ini biasanya hanya 10 . atau dari pasien yang diisolasi. kuku. menyingkirkan dan memusnahkannya seekonomis mungkin. Untuk limbah yang bersifat umum. gunting kuku dan sebagainya yang dapat menyebabkan orang tertusuk (luka) dan terjadi infeksi. gaun. sarung tangan dan sebagainya) atau materi yang berkontak dengan binatang yang sedang diinokulasi dengan penyakit menular atau sedang menderita penyakit menular Benda-benda tajam yang biasa digunakan dalam kegiatan rumah sakit: jarum suntik. daluwarsa atau terkontaminasi atau harus dibuang karena sudah tidak digunakan lagi Limbah citotoksik: bahan yang terkontaminasi atau mungkin terkontaminasi dengan obat citotoksik selama peracikan.15 % dari seluruh volume limbah kegiatan pelayanan kesehatan. filter. Bahan-bahan tajam yang terinfeksi harus dibungkus secara baik serta tidak akan mencelakakan pekerja yang menangani dan dapat dibuang seperti limbah umum. vaksin. maka yang membutuhkan sangat perhatian khusus adalah limbah yang dapat menyebabkan penyakit menular (infectious waste) atau limbah biomedis. Untuk memudahkan pengenalan berbagai jenis limbah yang akan dibuang. pisau. Sasaran pengelolaan limbah rumah sakit adalah bagaimana menangani limbah berbahaya. tetapi tidak termasuk gigi. Jenis dari limbah ini secara spesifik adalah: o Limbah human anatomical: jaringan tubuh manusia. gunting. Limbah yang telah dipisahkan dimasukkan kantong-kantong yang kuat (dari pengaruh luar ataupun dari limbahnya sendiri) dan tahan air atau dimasukkan dalam kontainer-kontainer Enri Damanhuri . pacahan kaca dan sebagainya. bangkai. bahan mikrobiologi atau bahan citotoksik Limbah farmasi (obat-obatan): produk-produk kefarmasian. tabung yang mengandung gas dan aerosol yang dapat meledak bila diinsinerasi atau bila mengalami kerusakan karena kecelakaan (tertusuk dan sebagainya). Limbah darah yang tidak terinfeksi dapat dimasukkan ke dalam saluran limbah kota dan dibilas dengan air. Daur ulang sedapat mungkin diterapkan pada setiap kesempatan. Benda-benda ini mungkin terkontaminasi oleh darah. namun higienis dan tidak membahayakan lingkungan. bagian terkontaminasi dengan darah. Beberapa contoh warna yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI adalah: o Kantong warna hitam: limbah sejenis rumah tangga biasa o Kantong warna kuning: semua jenis limbah yang harus masuk insinerator o Kantong warna kuning strip hitam: limbah yang sebaiknya ke insinerator. kaca pecah. bulu. atau materi yang berkontak dengan pasien yang menjalani haemodialisis (tabung. Kontainer-kontainer dibawah tekanan (aerosol dan sebagainya) tidak boleh dimasukkan ke dalam insinerator. syring. Tidak termasuk dalam katagori ini adalah urin dan tinja. dan sebagainya. obat-obatan dan bahan kimiawi yang dikembalikan dari ruangan pasien isolasi. pengangkutan atau tindakan terapi citotoksik Kontainer di bawah tekanan: seperti yang digunakan untuk peragaan atau pengajaran.bahan tersebut. penanganannya adalah identik dengan limbah kota yang lain. Limbah darah dan cairan manusia atau bahan/peralatan yang terkontaminasi dengannya. dari ruang bedah atau dari autopsi pasien yang mempunyai penyakit menular . o Limbah-limbah benda tajam seperti jarum suntik. bagian-bagian tubuh. Limbah yang harus dipisahkan dari yang lain adalah limbah patologis dan infektious. serbet. cairan tubuh. d. sedang bahan-bahan tajam yang terinfeksi diperlakukan sebagai limbah berbahaya. gunting. atau bahan atau peralatan laboratorium yang berkontak dengan bahan. darah. namun bisa pula dibuang ke landfill bila dilakukan pengumpulan terpisah dan pengaturan pembuangan o Kantong warna biru muda atau transparans strip biru tua : limbah yang harus masuk ke autoclave sebelum ditangani lebih lanjut. Dari sekian banyak jenis limbah klinis tersebut. digunakan pemisahan dengan kantong-kantong yang spesifik (biasanya dengan warna yang berbeda atau dengan pemberian label). o Limbah laboratorium mikrobiologi: jaringan tubuh. organ. stok hewan atau mikroorganisme. organ.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 o o o o menimbulkan penyakit.

P. Limbah yang akan diangkut ke luar. polynitroaromatic. nitro cellulose. phosphor (merah dan putih). Namun kontainer maupun kantong-kantong yang digunakan harus jelas tertulis atau tertandai sebagai limbah tidak berbahaya. larutan. Mg. vinyl ether. Sb. phosphorus pentoxide. asam-asam amino dan garamgaramnya. Di rumah sakit modern. o Bahan reaktif lain: asam nitrit diatas 70%. diethylene glycol dimethil ether (diglyme). flourida (Ca). butadiene. Contoh limbah kimiawi yang tidak tergolong berbahaya adalah: o kelompok kimia organik: asetat (Ca. o 12 bulan: acrylonitrile. thionyl chloride. garam-garam perchlorat.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 logam.larutan boron trifluorida. asam picric. K. Ca). reagen alkyl lithium. dan Na. lactic dan garamgaramnya (Na. B. borat (Na. maka kantong-kantong itu harus bisa ditembus oleh uap sehingga sterilisasi dapat berlangsung sempurna. Ca dan NH4). K). dicyclopentadiene. K). Alat angkutan atau sarana pembawa tersebut harus dicuci secara rutin dan hanya digunakan untuk membawa lim bah. chlorotrifluoroethylene. misalnya oleh Dinas Kebersihan setempat. methyl acethylene. Ca). bromida (Na. harus tidak mengandung resiko terhadap kesehatan pengangkut tersebut. Secara umum jenis pengolahan limbah rumah sakit adalah : Enri Damanhuri . hidrida dari Al. limbah biasanya diangkut dari titik penyimpanan awal manuju area penampungan atau menuju titik lokasi insinerator. Bila digunakan kantong dan terlebih dahulu harus masuk autoclave. kantong tersebut diberi label atau simbol yang sesuai. Mg. Limbah radioaktif juga harus mempunyai tanda-tanda yang standar dan disimpan untuk menunggu masa aktifnya terlampaui sebelum dikatagorikan limbah biasa atau limbah berbahaya lainnya. vinylidene chloride. cyclohexane. vinyl chloride. oksidaoksida (B. Limbah reaktif yang berasal dari rumah sakit adalah senyawa-senyawa seperti: o Shock sensitive: senyawa-senyawa diazo. K. tetrahydronaphtalene. namun cara ini tidak boleh digunakan untuk limbah patologis dan infectious. diatur seperti halnya aturanaturan yang berlaku pada limbah berbahaya lain. Kontainer harus ditutup dengan baik sebelum diangkut. Limbah berbahaya dari rumah sakit yang akan diangkut. maka bila memungkinkan untuk didaur ulang. Disamping warna yang seragam. NH4). Bagi limbah kimiawi yang tergolong tidak berbahaya. o 24 bulan: acetat. Si. sulfuryl chloride. K. Seluruh bahan kimia peroksida di atas harus diberi tanggal begitu digunakan dan penyimpanannya (setelah dibuka) terbatas dengan lama penyimpanan maksimum: o 3 bulan: diethyl ether. dan diisi secukupnya agar dapat ditutup degan mudah dan rapat. Mg. sodium amide. maka limbah ini dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam kontainer untuk ditangani seperti limbah biasa. dioxane. Secara internal. NH4. o Water reactive: logam-logam alkali dan alkali tanah. gula dan sebagainya o kelompok kimia anorganik: bikarbonat (Na. tanda-tanda dan tata caranya. Mg. khlorida (Na. Karbonat (Na. tetrahydrofuran. phosphorus oxychloride.K). decahydronaphthalene. asam citris dan garam-garamnya (Na. metal azide. Ca). As. iodida (Na. Mobilitas dan transportasi limbah baik internal maupun eksternal hendaknya dipertimbangkan sebagai bagian menyeluruh dari sistem pengelolaaan dari institusi tersebut. Li. sehingga tidak boleh dibuang melalui sistem riolering. K. reagen Grignard. Mg Ca. Ca dan NH4). Na. perchloric acid. Mg. S. Aturan yang berlaku bagi limbah kimiawi dari rumah sakit ini adalah identik dengan penangan limbah kimiawi dari sumber industri. Kantong-kantong yang digunakan dibedakan dengan warna yang seragam dan jelas. Fe. Ca). garam-garam picrat. K. Mg. K. Su dan Ti. karena limbah jenis ini kadangkala toksik dan flammable. isoprophyl ether. Limbah kimiawi berbahaya yang tidak dapat didaur-ulang segera dipisahkan sesuai dengan jenisnya dan pengolahannya. bahan kimia peroksida. sulfat (Na. misalnya melalui sebuah insinerator. diacetylene. misalnya jenis kontainer. logam halida dari Al. transportasi limbah ini bisa menggunakan cara pneumatis dengan perpipaan. K). K.FTSL ITB Halaman 97 . Ca. etylene glycol dimethyl ether (glyme).

sedangkan yang tidak dipakai lagi ditangani secara khusus misalnya diinsinerasi atau di landfilling atau dikembalikan ke pemasok. atau didaur-ulang untuk mendapatkan khromnya – Limbah logam . sehingga perlu ditangani sesuai jenisnya e. oli dari trafo dan kapasitor atau dari mikroskop yang mengandung PCB dan sebagainya. kantong-kantong yang digunakan untuk membungkus limbah juga harus diinsinerasi.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 a. Limbah berpotensi menularkan penyakit (infectious): Memerlukan sterilisasi terlebih dahulu atau langsung ditangani pada insinerator . insinerasi dilanjutkan dengan landfilling o Insinerasi merupakan metode yang sangat dianjurkan.merkuri dari termometer. Limbah farmasi: obat-obatan yang tidak digunakan dikembalikan pada apotik. misalnya: disinfektan. b. acetone dan alkohol lainnya yang dapat diredistilasi – Solven organik lainnya yang tidak toksik atau tidak mengeluarkan produk toksik bila dibakar dapat digunakan sebagai bahan bakar – Asam-asam khromik dapat digunakan untuk membersihkan peralatan gelas di laboratorium. o Solven yang tidak diredistilasi harus dipisahkan antara solven yang berhalogen dan nonhalogen. kadmium. Kontainer-kontainer di bawah tekanan: di landfilling atau didaur-ulang. sebelum dibakar dalam insinerator g. dan umumnya disimpan untuk menunggu waktu paruhnya telah habis. solven berhalogen membutuhkan penanganan khusus dan solven non. penanganannya adalah identik dengan limbah lainnya yang tidak termasuk katagori berbahaya o Konsep penanganan limbah kimia yang berbahaya adalah identik dengan penjelasan sebelumnya yang terdapat dalam diktat ini tentang limbah berbahaya o Beberapa kemungkinan daur-ulang limbah kimiawi berbahaya misalnya : – Solven semacam toluene. Limbah kimia: o Bagi limbah kimia yang tidak berbahaya. baik secara on-site maupun off-site. Limbah patologis: o Pengolahan yang dilakukan adalah dengan sterilisasi. yaitu di bawah 1 megabecquerel (MBq) o Limbah radioaktif dari rumah sakit dapat dikatakan tidak mengandung bahaya yang signifikan bila ditangani secara baik o Penangan limbah dapat dilakukan di dalam area rumah sakit itu sendiri. Benda-benda tajam: Dikemas dalam kemasan yang dapat melindungi petugas dari bahaya tertusuk. nikel dan timbal o Insinerator merupakan sarana yang paling sering digunakan dalam menangani limbah jenis ini. dan dapat disatukan dengan limbah domestik o Seluruh makanan yang telah meninggalkan dapur pada prinsipnya adalah limbah bila tidak dikonsumsi dan sisa makanan dari bagian penyakit menular perlu di autoclave dulu sebelum dibuang ke landfill. limbah jenis ini dilarang untuk diinsinerasi karena akan menghasilkan gas toksik – Larutan-larutan pemerosesan dari radioaktif yang banyak mengandung silver dapat direklamasi secara elektrostatis – Batere-batere bekas dikumpulkan sesuai jenisnya untuk didaur-ulang seperti : merkuri. insinerator tersebut harus dilengkapi dengan sarana pencegah pencemaran udara.halogen dapat dibakar pada on-site insinerator o Limbah cytotoxic dan obat-obatan genotoxic atau limbah yang terkontaminasi harus dipisahkan. manometer dan sebagainya dikumpulkan untuk didaur-ulang . sedang residunya yang mungkin mengandung logam-logam berbahaya dibuang ke landfill yang sesusai. Limbah radioaktif: o Bahan radioaktif yang digunakan dalam kegiatan kesehatan/medis ini biasanya tergolong mempunyai daya radioaktivitas level rendah. xylene. limbah jenis ini tidak di autoclave karena disamping tidak mengurangi toksiknya juga dapat berbahaya bagi operator o Beberapa jenis limbah kimia berbahaya juga dihasilkan dari bagian pelayanan alat-alat kesehatan. dikemas dan diberi tanda serta dibakar pada insinerator. untuk kemudian disingkirkan sebagai limbah non-radioaktif biasa d.FTSL ITB Halaman 98 . h. c. Enri Damanhuri . Limbah umum: o Tidak diperlukan pengolahan khusus. f. autoclave tidak dibutuhkan bila limbah tersebut telah diwadahi dan ditangani secara baik sebelum diinsinerasi.

pembunuh kecoa − di kamar tidur. soda kaustik.1 7. cat dan solven pengencer. seperti adanya lapangan golf dan sebagainya menambah intesifnya penggunaan bahan biosida yang umumnya resistan dan bersifat biokumulasi serta mendatangkan dampak negatif dalam jangka panjang bagi manusia yang terpaparnya. oli mobil. yang dampaknya disamping akan menghasilkan residu yang terbuang pada badan penerima alamiah. Survai yang dilakukan di Amerika Serikat menggambarkan porsi limbah pada sampah kota yang berasal dari bahan yang biasa digunakan di rumah di Amerika Serikat. seperti : pembersih saluran air. korosif − pembersih saluran air : korosif − pengkilap mebel : mudah terbakar − pembersih kaca : Korosif (iritasi) − pembersih oven : korosif − semir sepatu : mudah terbakar − pengkilap logam (perak) : mudah terbakar Enri Damanhuri . Efek pada kesehatan manusia yang paling ringan umumnya akan terasa langsung karena bersifat akut. asam cuka. batere. obat-obatan. tidak terlepas dari penggunaan bahan berbahaya.0 16. termasuk pula bekas pewadahannya seperti bekas cat. gas elpiji. air freshener. Pencampuran dua atau lebih dapat pula menimbulkan masalah. perekat. semir. seperti : parfum.FTSL ITB Halaman 99 . Produk pembersih: − bubuk penggosok abrasif : korosif − pembersih mengandung senyawa amunium dan turunannya : korosif − pengelantang : toksik.0 Contoh di bawah ini lebih lanjut menggambarkan karakteristik bahaya dari bahan yang biasa digunakan di rumah tangga tersebut di atas : a. kosmetik. yaitu : − di dapur. kamfer. seperti tertera dalam Tabel 7. Tabel 7. misalnya tidak terpapar pada temperatur atau diletakkan agar tidak terjangkau oleh anak-anak. pembunuh nyamuk − di ruang keluarga. Bila bahan tersebut tidak lagi digunakan. Oleh karenanya. lamban. seperti penggunaan biosida dalam kegiatan pertanian. Kegiatan agrowisata. seperti kesulitan bernafas. pupuk. minyak tanah. aki bekas Di lingkungan pedesaan serta di lingkungan yang mungkin terlihat asri. Bahanbahan tersebut digunakan dalam hampir seluruh kegiatan di rumah tangga.1 di bawah ini. − di garasi/taman. obat-obatan. namun dapat pula masih tersisa pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari seperti dalam sayur mayur dan buah-buahan. cairan pmbersih. pada kemasan bahan-bahan tersebut biasanya tertera aturan penyimpanan.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 2 LIMBAH BERBAHAYA DARI RUMAH TANGGA Bahan sehari-hari yang digunakan di rumah tangga dewasa ini. Pada dasarnya bahan berbahaya tidak akan menimbulkan bahaya jika pemakaian. pembersih toilet. kaporit atau desinfektan. iritasi mata atau kulit. shampo anti ketombe.5 6. spiritus / alkohol − di kamar mandi dan cuci. hairspray.4 30. kepala pusing. yang kemungkinan besar tetap berkategori berbahaya. penggunaan bahan berbahaya agaknya juga sulit dihindari. alkohol. maka bahan tersebut akan menjadi limbah. penyimpanan dan pengelolaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. khususnya di kota. seperti : cairan setelah mencukur.1: Limbah berbahaya dari rumah tangga Komponen Penggunaan untuk pembersih Penggunaan untuk perawatan badan Produk untuk otomotif Cat dan sejenisnya Penggunaan rumah tangga lain Persen 40. seperti : korek api. tanung bekas pewangi ruangan. seperti : pestisida dan insektisida.

dibolehkan membuang limbah jenis tersebut ke dalam sistem penyaluran limbah kota. toksik − pelarut / tiner : mudah terbakar − baterei : korosif dan toksik − khlorin kolam renang : korosif dan toksik − biosida anti insek : toksik. limbah berkatagori sampah kota yang berbahaya dapat pula berasal dari kegiatan komersial atau perkantoran. Namun adanya bahan tersebut dalam sistem pengolahan limbah kota dapat menimbulkan terganggunya proses pengolahan yang ada. Produk otomotif : − cairan anti beku : toksik − oli : mudah terbakar − aki mobil : korosif − bensin. Di bebarapa negara bagian di Amerika Serikat. Perawatan badan: − shampo (anti ketombe) : toksik − penghilang cat kuku : toksik. yaitu minimasi dan daur ulang limbah. Di Indonesia agaknya bila didasarkan atas porsi limbah yang masuk ke landfill. seperti timbulnya : o Gas toksik: bila pembersih mengandung senyawa amonia bercampur dengan pengelantang mengandung khlor o Ledakan: bila tabung sisa bahan yang digunakan secara penyemprotan terbakar di bak sampah Hasil studi di Amerika Serikat oleh USEPA menyimpulkan bahwa 0. termasuk limbah patologis. Di Amerika Serikat dikenal konsep small-quantity generator. mudah meledak Bahan tersebut dapat pula menimbulkan bahaya lain bila bercampur satu dengan yang lain. mudah terbakar b.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 − penghilang bintik noda : mudah terbakar − pembersih toilet dan lantai: korosif − pembersih karpet/kain : korosif. tetapi dapat berasal dari kegiatan medis. mudah terbakar − herbisida. yang membatasi jumlah limbah minimum perbulan yang terkena aturan pengelolaan limbah B3.40 % sampah pemukiman yang dibuang ke lahan-urug kota termasuk kategori limbah B3. minyak tanah : mudah terbakar. Produk rumah tangga lain : − cat : mudah terbakar. misalnya : − Bila dibakar dalam insinerator.35-0. sisa tinta dari usaha percetakan/foto-kopi. seperti dari usaha benatu (laundry dan dry cleaning). Limbah ini akan masuk ke dalam sistim pengelolaan sampah kota. atau terlepasanya logam-logam berat toksik akibat terpapar dengan temperatur tinggi − Terganggunya proses biodegradasi sistem pengolahan air limbah atau pengolahan di landfilling − Terganggunya produk kompos bila bila tidak dilakukan pemilahan terlebih dahulu Penanganan limbah berbahaya di rumah tangga sebetulnya mempunyai pendekatan yang sama dengan industri. oli bekas dari bengkel dan sebagainya. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain adalah : Enri Damanhuri . toksik d. mudah terbakar − minyak wangi : mudah terbakar − kosmetika : toksik − obat-obatan : toksik c. penghasil limbah misalnya dari rumah tangga dapat membuang limbahnya bersama sampah kota bila jumlah per bulannya tidak melebihi nilai tersebut. nilai ini akan lebih tinggi mengingat bahwa yang masuk ke landfill bukan saja dari rumah tangga. akan menghasilkan ledakan yang membahayakan akibat tabung pewadah. pupuk : toksik − aerosol : mudah terbakar. atau dari kegiatan industri lainnya. Selain berasal dari pemukiman penduduk. Dengan aturan tersebut.FTSL ITB Halaman 100 .

disertai pengetahuan tentang seberapa lama suatu produk habis digunakan. diberikan kepada yang membutuhkan. aturan penggunaan. ditukarkan dengan produk lain. baik untuk digunakan sendiri.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 − − − − − − Pemilihan produk yang disertai penjelasan lengkap tentang komponen bahan yang digunakan. dan apakah telah digunakan semestinya Pembelian yang sesuai kebutuhan.FTSL ITB Halaman 101 . penyimpanan dan cara pembuangan limbah atau wadah bekasnya Penggunaan produk sesuai kebutuhan. atau mungkin saja masih bernilai untuk dijual Penanganan limbah atau wadah yang akan dibuang secara baik sesuai petunjuk yang diberikan Enri Damanhuri . walapun dengan membeli lebih banyak diperoleh biaya persatuannya yang lebih murah Penggunaan produk yang biodegradabel atau terdaur-ulang Pemanfaatan kembali limbah yang terbentuk.

1993 BAPEDAL : Survey industri penyamakan kulit di Sukaregang . 1992 CCME (Canada) : Guidelines for the management of biomedical waste in Canada CCME-EPCWM-42. Serpong 9 Januari 1996 Djajadiningrat. 1992 CH2M Hill International : Feasibility study . Z. 1994 Buzzi. : Disposal of radioactive waste. Lewis Publisher. Robert Laffont.R. P.T. : Diktat kuliah pengelolaan limbah B3 TL-352 Edisi Semeter II 1993/1994. C. February 1992 Center for Chemical Process Safety : Guidelines for hazard evaluation procedures. : Bioremediation engineering..T. Longman Group Limited.FTSL ITB Halaman 102 . : Environmental protection.waste wanagement paper no. Bandung June 15-16. : Evaluation of remedial action unit operations at hazardous waste disposal sites. 1981 Craig.Final report. 1960 Cookson Jr. 1995 Cousteau. E. J.C.Cileungsi Jawa Barat. LAPI ITB.workshop implementasi konvensi Basel tentang impor & ekspor limbah scrap logam. 1984 Enri Damanhuri . : Chemical hazards at water and wastewater treatment plant.Goethe Institut. Noyes Publications. 1984 Diouhy.Y. McGraw-Hill Kogakusha Ltd.Dit. : Policy for cleaner production . Bass.A. 1992 Dept. : Radioactive wastes. E. DTC ITB . July 1990 Chanlett. 2.Jend PPM & PLP : Pedoman Sanitasi RS. Elsevier Sci.International seminar on clean products and clean production technologies for sustainable industrial development.Garut. 1992 Brunner. McGraw-Hill Book Co. Publishing Co. 1990 Departemen Kesehatan RI . 1994 Ehrenfeld. PPLH ITB. : Hazardous waste incineration. 1973 Collins.J. J. of the Environment (UK) : Clinical waste .centralized hazardous waste and toxic waste treatment facility GKS region .Garut.T. Wiley & Sons Inc. : Organo metallic compounds in the environment. J. McGraw-Hill Book Co. S. : Almanach cousteau de l'environnement. American Institute of Chemical Engineers. 1982 Direktorat Pengelolaan Limbah B3 BAPEDAL : Kebijaksanaan impor-ekspor limbah B3 dan non B3 . R. J. Teknik Lingkungan ITB Dames & Moore : Laporan studi kelayakan PPL-B3 .Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 DAFTAR PUSTAKA BAPEDAL : Perencanaan teknis sistem pengolahan air limbah industri penyamakan kulit skala kecil Sukaregang . J. 1986 Damanhuri.

A.. 1988 Gagnet. I.J. 1994 Maes. Thomas Telford. Jakarta 14 September 1993 Kusumaatmadja.M. 1986 Mann. 1990 Freeman. Metry. 1995 International Atomic Energy Agency : Radioactive waste management . H. 1991 Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup : Kemitraan nasional dalam pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan : Hasil rapat koordinasi nasional I pengelolaan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan t ahun 1994. Technique et documentation . Y. John Willey & Sons. : Bumi lestari menuju abad 21. (Editor in chief) : Standard handbook of hazardous waste treatment and disposal. Vamos. Jain. Ann Arbor Science. 1994 LaGrega.Lavoisier. : Hazardous waste processing technology.H.I.M. 1988 Haas. : Benefits from industrial application of waste minimization. 1993 Institution of Civil Engineers : Design and practice guided . M.Inc. International seminar on clean products and clean production technologies for sustainable industrial development. : Dechets industriels. A.P.R. : Cleaner production and clean product.contaminated land. J. A. Prentice Hall Inc.K. DTC ITB Goethe Institut. R. : Government and industry cooperative efforts promoting waste minimization. R. A. McGraw-Hill Book Co.S.an IAEA source book. H. : Kualitas limbah rumah sakit dan dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan.. USAID background paper # 1. C. Kennedy. : Land disposal of hazardous waste.J. M.N. M.N. 1995 Enri Damanhuri . McGraw-Hill Book Co.FTSL ITB Halaman 103 ... R.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Freeman. : Hazardous waste minimization. 1994 Kiang. Proceedings of the 17th Mid-atlantic industrial waste conference. S.. : Hazardous and industrial waste treatment. Bahan kuliah program pasca sarjana Teknik Lingkungan. USAID background paper # 2. Kohpalindo. R. Vienna 1992 Jackman. : Hazardous waste management. (Editor) : Toxic and hazardous wastes. Seminar penanganan limbah rumah sakit sebagai upaya mengurangi beban pencemaran lingkungan. H.J. Jakarta 22-24 November 1994 Keating. Powell. 1995 Hanafia WS. 1993 Gronow.L.D. M. Indonesian waste minimization seminar.L. : Hazardous waste treatment technologies. Technomic Publishing Co. Semester II 1995/1996 Hirschorn. Noyes Publications. Schofield. J. Indonesian waste minimization seminar.. 1985 Kusnoputranto. 1982 Kugelman. Gateway Books. A : Tenaga atom dan aspek keselamatan.A. McGraw-Hill Book Co. : 1995 Guide to industrial estates in Indonesia. Bandung June 15-16.

: Waste treatment and utilization. Inc. : Implikasi impor limbah di Indonesia . Goethe Institut Jakarta .UNESCO. H. 1985 Riza V.bunga rampai : residu pestisida dan alternatifnya. 1973 Ross. 1989 Ministere de l'evironnenment (France). C. Proceedings seminar nasional pengelolaan lingkungan ITB . Van Nostrand Reinhold Co. : Handbook of non-point pollution. John Wiley & Sons. dan Gayatri (Penyunting) : Ingatlah bahaya pestisida . E. G.. Noyes Data Co. . Noyes Data Co.. : Landfill disposal of hazardous wastes and sludges.D. Chesters. 1994 Rachmawati. Lewis.D. 1991 Meyer. G. : Hazardous waste management engineering. : Industrial waste land disposal. : Industrial water pollution.W.J.W. 1993/1994 Patterson. : Environmental quality management. Prentice Hall Building. : Hazardous waste handbook. Johnson. 1980 Nemerow.. G. Jakarta Decembre 14-17. Van Nostrand Reinhold Co. Butterworths.waste stabilization and landfills. BPP Teknologi.G. : Wastewater treatment technology. Englewood Cliffs. 1978 Novotny. 1982 Sittig. 1979 Enri Damanhuri . Shuckrow.J. : Waste containment systems . E. Saidi.. Proceeding seminar : Waste and sustainable development.. M. Ann Arbor Science.L. J.M.H.P. Englewood Cliffs.Tantangan Masa Depan. McGraw-Hill Ltd.. Cahiers No. : Introduction to environmental engineering and science. E. Guide pour l'elimination et la valorisation des dechets industriels. A. Touhill. Damanhuri. Studi kasus industri kecil di ‘Gerbangkertasusila’ Jawa Timur.P. : Hazardous waste leachate management manual. R.. Van Nostrand Reinhold Co.J. : Chemistry of hazardous materials. H.BPP Teknologi . N. S. Pajak. 1981 Otorita Batam : Rencana detail sistem pengelolaan sampah dan limbah industri di wilayah otorita pengembangan daerah industri pulau Batam. ANRED Moo-Young. PrenticeHall. A. Bandung1993 Rich. A. V. L. 1982.FTSL ITB Halaman 104 . Robinson.. 1987 Masters. C.T. Z. M. 1975 Porteous. Inc. Farquhar. Pesticide Action Network (PAN) Indonesia. Pergamon Press.H.J. second edition. 1992 Sharma. : Environmental system engineering. 1975.. 1984 Sewell. ISBN 979-8456-00-9. G. E. Prentice-Hall. 8. Addison-Wesley Publishing co. 1994 Secretariat d'etat a l'environnement et la qualite de la vie : Analyse et caracterisation des dechets industriels. : Pengelolaan terpusat buangan B-3 dari industri kecil.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Martin. .

John Wiley and Sons Inc.challengers for the future.. Mott and K. Vigil. : Integrated solid waste management. 1994 Enri Damanhuri .L.Residu pestisida dan alternatifnya. fisrt phase : toxic and chemical and hazardous wastes. : Handbook of solid waste management. IAEA Bulletin 2/1994 Tchobanoglous. McGraw-Hill Book.. March 21.. H. Copenhage 1983 Anonymous: State of the Environment in Asia and the Pasific. Economic and Social Commision for Asia . 1994 World Health Organization : Healthy and productive lives in harmony with nature.. L.. 1996 Wentz. 1990 Waxman. C. Pesticide Action Network. : Sea disposal of radioactive wastes .. G. S. Geneva. New York 1995 Anonymous: Pusat pengolahan limbah industri berbahaya dan beracun (PPLI-B3).. PT Prasadhana Pamunah Limbah Industri. G. Van Nostrand Reinhold 1977 World Bank . : Hazardous waste identification and classification manual. : Hazardous waste management. 12083-IND Indonesia environment and development ..A. Snyder : Pesticide alert. Van Nostrand Reinhold. WHO/EHE/94. Linsley. M..A.P. 1989 Wilson... E/CN. D. EPA/600/6-88/001 Wagner. WHO Regional Office for Europe. . McGraw Hill Book. : Hazardous waste site operations.G.Bunga rampai .1 World Health Organization : Management of waste for hospitals. T.the Pasific. 1993 United Nations Economic and Social Council : Review of sectoral clusters.Report no. K. Ingatlah behaya pestisida .. Theisen..the London Convention 1972.F.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Sjöblom. January 1990 USEPA : Treatment potential for 56 EPA listed hazardous chemicals in soils.FTSL ITB Halaman 105 .. EPA/625/6-89/024..17/1994/7 USEPA : Handbook of operation and maintenace of hospital medical waste incinerator. Report on a WHO meeting.

beberapa kasus dunia tentang B3/limbah B3 (Minamata. Love Canal. peluluhan. penyimpanan dan pengangkutan Dokumen pengangkutan. dokumen MSDS Minggu 6: Sifat-sifat berbahaya bahan kimia Bahan kimia korosif. api dan kelas dalam kebakaran. UU-32/2009 ttg LH. Kabut dioxin Seveso) Minggu 2: Peraturan dalam pengelolaan B3 Penggunaan bahan kimia. penanganan Minggu 12 sampai Minggu 14: diskusi kelompok Tugas B Enri Damanhuri . bahan kimia industri. pengangkutan Minggu 5: Labeling dan MSDS Karakteristik umum kimia berbahaya. produk yang tidak sengaja dihasilkan Minggu 8: Ujian Tengah Semester. toksik. Konvesi Stockholm tentang pencemar organik yg persisten Minggu 3: Peraturan dalam pengelolaan limbah B3 Besaran limbah B3. penanganan limbah medis.TL FTSL ITB Minggu 1: Pendahuluan Latar belakang. pestisida.). pengolahan. reaktif (pada air). mekanisme cradle-to-grave Minggu 4: Pelabelan. ---.FTSL ITB Halaman 106 . informasi tingkat bahaya. mudah terbakar. Tugas A masuk Mingu 9: Bahan radio aktif dan limbahnya Sifat-sifat radioaktif (isotop. pengemasan-pewadahan. UU-74/2001. penyimpanan. penggolongan limbah. simbol dan label. pengelolaan limbah radioaktif (sumber. -----) Minggu 10: Idem minggu sebelumnya Minggu 11: Limbah berbahaya kegiatan medis dan rumah tangga Sumber limbah medis. uraian lanjut tentang pengelolaan B3 versi PP 18/99 jo PP85/99. karakteristik B3 versi undang-2. limbah berbahaya dari rumah tangga. oksidator-reduktor Minggu 7: Bahan kimia organik berbahaya Bahan kimia turunan hidrokarbon.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 RENCANA KULIAH TL-3204 PENGELOLAAN B3 SEMESTER II . unit satuan.

termasuk bagaimana seharusnya mengelola dan menghindari terjadinya permasalahan. Mahasiswa diminta membuat paper yang membahas sebuah bahan atau limbah. Enri Damanhuri . atau dalam laporan-laporan yang bisa diperoleh di website.FTSL ITB Halaman 107 . selengkap-lengkapnya seperti diuraikan dalam Bagian II. untuk dipresentasikan dan didiskusikan di kelas. khususnya yang biasa dijumpai sehari-hari. oli bekas. TUGAS B Merupakan tugas kelompok maksimum beranggotakan 10 orang. misalnya Power Point. lalu mengaitkan dengan kasus yang pernah terjadi baik di dalam negeri maupun di luar negeri yang muncul di masmedia. Referensi harus jelas tercantum. khususnya dengan memasukkan ulasan-ulasan ataupun gagasangagasan yang didasarkan atas tulisan-tulisan seperti peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia atau di negara lain atau dari buku-buku referensi. dan sebagainya. Naskah tertulis tersebut kemudian dibuatkan bahan presentasinya. Bagian IV dan Bagian V. Referensi harus jelas dicantumkan. Bahasan-bahasan tersebut harus cukup komprehensif.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 TUGAS A Mahasiswa diminta membuat paper yang membahas sebuah bahan berbahaya dari berbagai literatur atau dari website. Disertasi) yang ada di perpustakaan. atau dari karya ilmiah mahasiswa (Tugas Akhir. bahan kimia di laboratorium. atau dari bahanbahan lainnya yang dapat mendukung ulasan-ulasan tersebut. seperti aki bekas. Tesis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful