Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

DIKTAT KULIAH TL-3204

PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)

DISIAPKAN OLEH : PROF. ENRI DAMANHURI

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
EDISI SEMESTER II 2009/2010
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 1

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI 2 KATA PENGANTAR 3 BAGIAN I : PENDAHULUAN 1 Umum 4 2 Kasus kucing menari di Minamata 7 3 Kasus love canal (Amerika Serikat) 8 4 Kasus kabut dioxin si Seveso (Italia) 10 5 Kasus Kepone di Hopewell (Amerika Serikat) 11 6 Kasus laha Stringfellow di Kalifornia 12 BAGIAN II : PERATURAN DALAM PENGELOLAAN B3 1 Umum 13 2 Pengelolaan B3 dalam PP 74/2001 14 3 Karakterisasi B3 menurut PP74/2001 18 BAGIAN III : PERATURAN DALAM PENGELOLAAN LIMBAH B3 1 Umum 21 2 Pengelolaan limbah B3 dalam PP18/99 jo PP85/99 22 3 Konsep cradle-to-grave Amerika Serikat 30 BAGIAN IV : PELABELAN, PENYIMPANAN DAN PENGANGKUTAN 1 Umum 35 2 Dokumen 35 3 Simbol dan label 36 4 Pengemasan dan pewadahan 40 5 Penyimpanan dan pengumpulan 44 6 Pengangkutan 48 BAGIAN V : SIFAT DAN KARAKTERISTIK BAHAN KIMIA BERBAHAYA 1 Umum 50 2 Kelas kebakaran 51 3 Informasi tingkat bahaya 52 4 Dokumen material safety data sheets (MSDS) 5 Bahan kimia korosif 56 6 Bahan kimia yang reaktif pada air 60 7 Bahan kimia toksik 64 8 Senyawa pengoksidasi 71 9 Beberapa senyawa organik berbahaya 75 BAGIAN VI : LIMBAH RADIOAKTIF 1 Umum 81 2 Sifta-sifat radioaktivitas 81 3 Pengelolaan limbah radioaktif 85 BAGIAN VII LIMBAH MEDIS DAN RUMAH TANGGA 1 Limbah medis 94 2 Limbah berbahaya dari rumah tangga 99

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 2

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

KATA PENGANTAR

Diktat ini disusun untuk membantu mahasiswa yang mengambil mata kuliah TL3204 Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Kurikulum-2008 pada Program Sarjana Teknik Lingkungan FTSL ITB. Bahan kuliah ini merupakan penyesuaian dari Diktat Kuliah TL-352 Pengelolaan Limbah B3, yang mulai diperkenalkan pada Program Sarjana Teknik Lingkungan ITB Kurikulum 1993. Pada kurikulum-kurikulum sebelum 1993, materi ajar tentang limbah B3 secara terpisah tercakup dalam beberapa mata kuliah yang membahas masalah penanganan limbah. Sejak Kurikulum 2008, materi kuliah Pengelolaan Limbah B3 berganti nama menjadi Pengelolaan B3, yaitu mempertegas bahwa materi kuliah ini bukan hanya membahas limbah, tetapi juga bahan yang berbahaya. Diktat ini disusun dengan acuan 14 sesi pertemuan tatap muka dalam semester II di ITB, termasuk 3 sesi diskusi tugas di kelas. Beberapa bagian dari diktat ini membahas materi yang akan dibahas lebih rinci lagi dalam mata kuliah yang berada pada semester yang lebih tinggi, sehingga materi yang ada dalam diktat ini dapat dikatakan bersifat umum untuk memberikan gambaran secara utuh tentang Pengelolaan B3. Untuk penyusunan diktat ini digunakan beberapa rujukan literatur dari negara industri seperti tercantum dalam Daftar Pustaka. Beberapa rujukan yang sangat dominan dalam penyusunan diktat ini dicantumkan secara khusus pada setiap akhir Bagian. Walaupun diktat ini bertujuan untuk membantu mahasiswa yang mengambil mata kuliah TL-3204 pada Program Sarjana, namun bahan yang diberikan pada Diktat ini relevan untuk digunakan pula pada Program Magister, serta tidak tertutup kemungkinan bahwa diktat ini bisa bermanfaat pula bagi mereka yang berminat dengan masalah bahan dan limbah B-3, sebab sangat jarang sekali bahan ajar ini ditulis secara utuh dalam Bahasa Indonesia. Semoga bermanfat bagi kita semua. Bandung, Februari 2010 Prof. Enri Damanhuri Program Sarjana Teknik Lingkungan FTSP ITB

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 3

Senyawa-senyawa kimia sintetis inilah yang banyak dihasilkan oleh peradaban modern.Pergeseran jenis industri Sektor lain yang berpotensi dampak negatif pada lingkungan adalah kegiatan pertambangan .perminyakan. yaitu : . baik secara alamiah maupun sintetis. yang berkaitan dengan komposisi materi. menempatkan masalah bahan dan limbah berbahaya sebagai salah satu perhatian utama. lebih dari 85% hasil industri Indonesia berasal dari kegiatan industri yang berlokasi di Pulau Jawa. dan sepuluh kali lipat. Pasal 58 sampai Pasal 61 UU-32/2009 mengatur larangan membuang dan mengatur pengelolaan limbah dan B3. kegiatan medis dan kegiatan pertanian Undang-Undang No. Pada permulaan tahun 1970-an. Menurut World Bank ada 3 pola pertumbuhan industri yang perlu diperhatikan. Di empat kota saja (Jakarta.FTSL ITB Halaman 4 . Bandung dan Semarang) terdapat sekitar 36% dari total industri di Pulau Jawa. Dengan mengetahui komposisi dan memahami bagaimana perubahan terjadi.Kecepatan pertumbuhan sektor industri . terutama di daerah industrialisasi yang berkembang dengan cepat seperti di negara-negara ASEAN dan China. termasuk juga perubahan yang terjadi di dalamnya. dengan definisi sebagai bahan berbaya dan beracun. akibat dampaknya terhadap manusia dan lingkungan bila tidak dikelola secara baik. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (menggantikan UU No. dan Thailand diprakirakan telah meningkat menjadi sekitar empat. delapan. yang setara dengan sekitar 27% dari seluruh hasil industri Indonesia. Perkembangan industri disamping berdampak positif pada perkembangan ekonomi. Surabaya. regional dan lingkungan secara global. Selanjutnya Peraturan Pemerintah (PP) No. namun materi ini pulalah yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang berbahaya. manusia dapat mengontrol dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan manusia. Peraturanperaturan tentang masalah ini telah banyak dikeluarkan oleh Pemerintah. Pelepasan bahan berbahaya pada tahun 1990-an di Indonesia. khusunya sejak dekade terakhir ini. juga menimbulkan dampak negatif tidak hanya pada pusatpusat industri dan daerah sekitarnya tetapi juga pada tingkat nasional. Intensitas atau perbandingan antara limbah bahan berbahaya yang ditimbulkan dengan unit hasil industri secara mencolok juga meningkat. yang kemudian naik menjadi 60% pada tahun 1990. tetapi di Enri Damanhuri . Filipina. 74/2001 mengatur lebih lanjut tentang pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3). Sekitar 55% dari pusat-pusat industri di Pulau Jawa berlokasi di daerah perkotaan. terutama akibat perkembangan industri yang merupakan tulang punggung peningkatan perekonomian Indonesia. dan PP 18/99 juncto 85/99 mengatur lebih lanjut tentang pengelolaan limbah B3.Distribusi spasial yang belum merata . Kimia merupakan salah satu ilmu pengetahuan alam. 4/1982).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN I PENDAHULUAN 1 UMUM Penggunaan kimia dalam kebudayaan manusia sudah dimulai sejak zaman dahulu. Masalah limbah menjadi perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah Indonesia.

Industrialisasi yang cepat telah menciptakan sebuah peluang baru untuk mendistribusikan hasil-hasil pembangunan dengan lebih efektif di negara-negara tersebut. tetapi juga pada tingkat nasional. kegiatan enersi (seperti limbah radioaktif PLTN). terganggunya kesehataan masyarakat serta penurunan kualitas ekologi lingkungan. Setelah berakhirnya Perang Dunia II. Secara keseluruhan. Namun pengadaan dan pengoperasian sarana pengolah limbah ternyata masih dianggap memberatkan bagi sebagian industri. Keaneka ragaman jenis limbah akan tergantung pada aktivitas industri serta penghasil limbah lainnya. Namun sebagian besar jenis limbah yang dihasikan. padanan kata untuk Hazardous Waste yang digunakan di Indonesia adalah Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dan disingkat menjadi Limbah B3. regional dan lingkungan secara global. timbulan limbah berbahaya pada tahun 1984 diprakirakan sekitar 300 juta ton. industrialisasi juga menimbulkan dampak secara langsung. − Melalui perubahan intensitas pencemaran terhadap hasil industri. namun pula menimbulkan masalah toksisitas dari limbah tersebut. Di Amerika Serikat misalnya. kegiatan kesehatan (seperti limbah infectious dari rumah sakit) atau dari kegiatan rumah tangga (misalnya penggunaan batere merkuri). sehingga dapat mengurangi kemiskinan. Penanganan limbah merupakan suatu keharusan guna terjaganya kesehatan manusia serta lingkungan pada umumnya. Penemuan minyak (petroleum) pada pertengahan tahun 1880 menyebabkan meningkatnya produk kimia organik disertai limbahnya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 lapangan banyak mengalami hambatan. Tetapi jenis limbah ini berasal pula dari kegiatan lain. Enri Damanhuri . Walaupun demikian. misalnya pembuangan limbah berbahaya negara maju ke negara yang sedang berkembang. sektor industri telah mengakibatkan beban pencemaran : − Melalui peningkatan kuantitas cemaran dalam jangka waktu pendek dan menengah. sehingga biaya pengolahannya dapat ditekan. pemilihan jenis mesin dan sebagainya. Dampak negatif akibat limbah tersebut adalah kontaminasi sumber-sumber air. Tingginya jumlah limbah industri yang dihasilkan per unit hasil industri merupakan salah satu dari masalahmasalah utama yang ada. Sebelum krisis ekonomi 1997.FTSL ITB Halaman 5 . Manusia membutuhkan lebih banyak jenis produk baru yang akhirnya menghasilkan limbah yang spesifik. dalam jangka waktu panjang kuantitas cemaran mungkin menurun jika terjadi perubahan yang drastis dengan adanya industri yang lebih bersih lingkungan. negara-negara di wilayah Asia and Pasifik secara keseluruhan memperlihatkan pertumbuhan industri yang kuat bila dibandingkan dengan tempat-tempat lain di dunia. tidak hanya pada pusat-pusat industri dan daerah sekitarnya. Masyarakat industri menghasilkan produk mulai dari gasoline. pemilihan proses produksi. walaupun limbah tersebut berasal dari industri. Masalah penanganan limbah berbahaya ini juga merupakan obyek dagang yang tidak terpuji. industri memfokuskan dirinya pada produksi plastik dan pestisida. seperti dari aktivitas pertanian (misalnya penggunaan pestisida). Beberapa negara di wilayah ini malah menghasilkan limbah dalam jumlah yang tinggi. akan mempengaruhi karakter limbah yang tidak terlepas dari proses industri itu sendiri. biasanya berasal dari kegiatan industri. yaitu berubahnya jumlah pencemaran yang ditimbulkan per unit hasil industri. bahkan pertumbuhan industri negara-negara sedang berkembang di wilayah ini lebih menonjol. Revolusi industri dan penggunaan bahan kimia organik yang terus meningkat setelah perang dunia ke 2. bukan saja mengakibatkan kenaikan timbulan limbah secara dramatis. Sesuai dengan PP 18/99 juncto 85/99. naphta ke kerosene. atau jika kontribusi sektor industri itu sendiri menurun. Sebagian dari limbah industri tersebut berkatagori hazardous waste. Mulai dari penggunaan bahan baku. Limbah berkatagori non-hazardous tidak perlu ditangani seketat limbah hazardous.

New York. The US Office of Technology and Assessment memprakirakan bahwa biaya pemulihan semua tempat yang telah diidentifikasi di Amerika Serikat adalah sekitar US $ 500 milyard. pestisida. Surabaya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Pengelolaan limbah berbahaya telah menjadi perhatian Pemerintah Amerika Serikat semenjak penemuan tempat pengurugan limbah yang tidak memenuhi syarat di Love Canal. Pada waktu itu juga ditemukan sejumlah besar tempat-tempat yang terkontaminasi oleh limbah berbahaya di seluruh dunia. 70 % industri berlokasi di kawasan-kawasan perkotaan dan sekitarnya. Dilaporkan pula oleh Bank Dunia bahwa intensitas pencemaran dari limbah berbahaya ternyata cenderung meningkat sejak tahun 1970. pelarut. Sampai tahun 1994. Menurut analisa Bank Dunia (1994). Lebih dari 75 % diantaranya merupakan cemaran-cemaran logam yang bioakumulatif. yaitu industri proses akan tumbuh lebih lambat dibanding industri perakitan.000 ton pada tahun 1990 menjadi sekitar 1 juta ton pada tahun 2010. Ciliwung. cat dan zat warna. yaitu dari 70 % pada saat ini menjadi 60 % pada tahun 2020. dan Thailand diprakirakan telah meningkat masing-masing menjadi sekitar empat. Selama periode 1984-89. Bila strategi pengembangan industri tidak berubah seperti periode tersebut. Mengacu pada pengalaman negara industri seperti Amerika Serikat. dan sepuluh kali lipat. Biaya implementasi sebuah program pengontrolan dan penyediaan sarana sebetulnya akan lebih kecil dibandingkan dengan upaya pemulihan lahan yang tidak dikelola secara baik. peranan sektor industri akan berkontribusi besar dalam produksi limbah berbahaya. Di pulau Jawa khususnya. industri proses dinilai lebih intensif terhadap pencemaran. Secara keseluruhan. Kali Berantas dan Citarum. pelepasan bahan berbahaya ini di Indonesia. Kali Surabaya. Namun kontribusi sektor-sektor lain juga perlu pula mendapat perhatian terutama dari : − Kegiatan medikal dan laboratorium. dari tahun 1970 sampai 1990 limbah penduduk dan industri telah menurunkan kualitas air sungai di bagian hilir seperti Cisadane.FTSL ITB Halaman 6 . Filipina. yang ditandai dengan meningkatnya cemaran-cemaran toksik dan logam-logam bioakumulatif. yaitu sekitar 2/3 dari total cemaran di Indonesia. Timbulan logam-logam berat dari industri di wilayah Asia dan Pasifik telah dinilai melebihi nilai batas ambang yang aman. termasuk bertambahnya biaya dan resiko akibat pencemaran lingkungan. Bila industri yang terlibat dalam komoditi proses terus meningkat di masa datang. Bahan pencemar berbahaya dan beracun yang dihasilkan oleh industri adalah seperti logam berat. Menurut WHO telah terjadi 3 juta kasus keracunan pestisida Enri Damanhuri . Intensitas atau perbandingan antara limbah berbahaya yang ditimbulkan dengan unit hasil industri secara mencolok juga meningkat. dan zat kimia berbahaya lainnya. yang berpotensi menghasilkan limbah biosida. di Indonesia akan terjadi pergeseran komposisi industri secara sektoral. akan menambah beban bagi sumber daya alam. Dalam hal ini. terutama di daerah industrialisasi yang berkembang dengan cepat seperti di negara-negara ASEAN dan China. Departemen Kesehatan melaporkan sebanyak 1614 kasus keracunan. delapan. Kegiatan industri juga sangat berpotensi menghasilkan limbah berbahaya. Bandung dan Semarang. minyak. yang berpotensi menghasilkan limbah toksik dan infectious − Kegiatan pertanian dan agro-wisata. sianida. Pada daerah perkotaan di Indonesia seperti di Jakarta. Tingkat pencemaran pestisida dan pengaruhnya terhadap kesehatan di Indonesia sulit untuk diprakirakan. namun beban cemarannya secara absolut akan meningkat sekitar 10 kali. kontribusi pulau Jawa terhadap cemaran-cemaran toksik akan cenderung stabil. yang diprakirakan akan meningkat kurang dari 200. diantaranya terdapat 161 kasus (10%) yang menyebabkan kematian. kontribusi industri terhadap pencemaran akan menurun. dan 85 % diantaranya akan terkonsentrasi di daerah perkotaan.

hanya diketahui bahwa korban mengalami keracunan akibat memakan ikan yang berasal dari laut sekitar pabrik itu. dan terutama menyerang anak-anak. Mikroorganisme dalam air mengkonversi logam ini menjadi methylmercure. sehingga tidak menimbulkan masalah sosial pada awal pendiriannya. karena korban umumnya mengandung merkuri yang berlebihan pada Enri Damanhuri .000 kematian setiap tahunnya di seluruh dunia. Antara tahun 1953 . Jepang Selatan). merupakan logam warna putih-perak. dengan prakiraan 70 . Penduduk di sekitarnya adalah nelayan atau petani. yang dapat menyerang syaraf dan otak. Asosiasi industri kimia Jepang juga membantu Chisso dalam melacak masalah ini dengan melakukan penelitian-penelitian. Chisso kemudian mengeluarkan daftar bahan yang digunakan dalam pabriknya.100 tahun akan persistan di alam. Kasus ini lama kelamaan terungkap. Pada tahun 1714 Gabriel Fahrenheit menggunakan merkuri ini untuk termometer. Tahun 1952 timbul penyakit aneh pada kucing yang kadangkala berakhir dengan kematian. Beberapa diantaranya meninggal dunia. Tahun 1956 masyarakat sekitarnya mengadakan aksi menentang keberadaan Chisso. Pengalaman negara industri dengan masalah limbah B3 nya hendaknya memberikan masukan bagi pengambil keputusan atau fihak-fihak terkait di Indonesia untuk tidak menyebabkan kasus-kasus yang terjadi di negara industri tersebut terulang lagi di negara Indonesia. 2 KASUS PENYAKIT "KUCING MENARI" DI MINAMATA Pada tahun 1932. Kasus Minamata ini terkenal di dunia bila membicarakan masalah industri. Hampir semua kasus tadi (90-99%) terjadi di negara-negara yang sedang berkembang. contoh. Penelitian penyebab penyakit tersebut secara intensif dilakukan oleh pemerintah.00005 maka diprakirakan kasus kematian karena pestisida di Indonesia adalah sekitar 9000 per tahun. Dalam diktat ini. Sinyal pertama kasus ini datang pada tahun 1950. tanpa mengetahui penyebab masalah ini. Pencemaran mercuri tetap berlanjut. Chisso mempekerjakan penduduk setempat (sekitar 1/3 tenaga pekerjanya).FTSL ITB Halaman 7 . yang digunakan sebagai katalis dalam prosesnya. Chisso Chemical Corporation membuka pabrik pupuk kimia di Minamata (terletak di pulau Kyushu. yaitu sejumlah ikan mati tanpa diketahui sebabnya. tetapi tidak mendapatkan hasil memuaskan. Merkuri didapat di alam. yang terungkap setelah sekitar 600 ton merkuri. atau fihak-fihak lain pada umumnya akan pentingnya pengelolaan limbah B3 terutama bagi negara Indonesia yang diharapkan akan menjadi negara industri dalam masa mendatang. keberadaan peraturan perundang-undangannya ataupun kesiapan masyarakatnya. Tetapi Chisso paada awalnya belum dicurigai sebagai penyebab.1956 gejala yang dikenal sebagai "kucing menari" ditemui pula pada manusia. limbah dan kesehatan masyarakat. dan berada fasa cair pada suhu biasa. Chisso memberikan santunan pada korban dan yang meninggal. dibuang secara bertahap sekitar 45 tahun. Merkuri alamiah dapat dievakuasi oleh tubuh manusia secepatnya melalui urin. Berikut ini akan diberikan illustrasi berbagai kasus yang menyangkut bahan atau limbah B3 dari negara industri. Kasus penyakit ini juga terus berlanjut. dan biasanya digunakan sebagai katalis.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 akut dan 220. yang secara kenyataan telah lebih maju dari Indonesia baik dari segi keberadaan industrinya. khususnya Amerika Serikat guna memberikan gambaran kepada mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini pada khususnya. walaupun diketahui bahwa merkuri digunakan sebagai katalis proses dari pabrik tersebut. Dengan asumsi rata-rata kasus kematian karena pestisida seluruh dunia sebesar 0.contoh tentang masalah limbah B3 dan pengelolaannya diambil dari pengalaman negara industri. sedang mercuri organik bersifat biokumulasi. termasuk logam berat. tetapi tidak tercantum merkuri dalam daftar tersebut.

Sebagian dari lahan tersebut dijadikan taman bermain. Sering dijumpai anak-anak bergembira menemukan residu fosfor yang dapat menimbulkan bunga api bila dilemparkan ke permukaan yang berbatu. korban kasus ini menerima santunan yang dibebankan pada Chisso. sepanjang sekitar 7 mil. Love pada tahun 1892 merencanakan membuat sebuah kanal yang akan dapat menghubungkan bagian hulu dan hilir sungai Niagara. Sekolah kemudian dibangun berdampingan dengan daerah yang sebelumnya adalah pengurug limbah industri.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 tubuhnya. dengan sifat yang sangat tajam. dan menyisakan dua bagian yang tidak terhubungkan. maka industri menjadi berkembang pesat di daerah tersebut.FTSL ITB Halaman 8 . yang dapat menghanguskan akar pohon sekitarnya. Pengembangan penelitian menghasilkan alternatif pemanfaatan produk samping ini menjadi bahan organik berkhlor seperti plastik. yang terproduksi dalam jumlah besar. Belum seorangpun yang menyadari bahwa keuntungan dari pestisida seperti DDT. 8100 penduduk mengklaim hal ini. Segala upaya dicoba untuk Enri Damanhuri . Elektrolisa ini juga menghasilkan produk samping (by-product) yang tidak diinginkan yaitu khlor. Ketika kolam ini dibongkar. maka galiannya langsung terisi air tanah berwarna kuning. Direncanakan bahwa di sekitar kanal tersebut akan dibangun kawasan industri dan pemukiman untuk memanfaatkan tenaga listrik yang ada. tetapi hal ini dianggap alamiah. Fihak Hooker menjual sebagian kanal tersebut ke pengelola kota hanya seharga US $ 1. dan 1500 diantaranya yang diperiksa diketahui keracunan merkuri. Hooker Chemical and Plastic Corporation yang memproduksi bahan kimia di daerah tersebut mulai mengurug limbahnya pada bagian utara Love Canal yang belum terselesaikan. Tahun 1952 kanal tersebut ditutup oleh Hooker Chemical. Tahun 1976 sekitar 120 penduduk Minamata meninggal karena keracunan merkuri dan 800 orang menderita sakit. Produk kimia yang dihasilkan antara lain adalah natrium hidroksida. Sampai tahun 1947 dapat dikatakan daerah tersebut menjadi lahan pengurugan beragam jenis limbah terutama dari industri. William T. Pada saat itu fihak pemerintah dan industri belum mengetahui akibat samping dari produk ini. dihukum masing-masing 2 tahun dan 3 tahun penjara. Pada tahun 1930-an. Disamping itu. dan pemerintah menyatakan bahwa Chisso adalah penanggung jawab penyakit yang berjangkit di Minamata. Akhirnya pembuangan merkuri dihentikan dengan ditutupnya pabrik tersebut. Tahun 1959 sebuah keluarga lain mendapat masalah di lantai bawahnya (basement) dengan adanya lumpur hitam yang masuk ke dalamnya. 3 KASUS LOVE CANAL (AMERIKA SERIKAT) Dengan dibangunnya pembangkit listrik tenaga air di Niagara Falls pada tahun 1890. Pada suatu pagi di tahun 1974. masing-masing sepanjang seperempat mil. endrin atau dari bahan organik berklor lainnya seperti pelarut berkhlor akan mendatangkan masalah bagi lingkungan di kemudian hari. pestisida dan hasil industri antara lainnya. biru dan ungu. termasuk pula abu sisa pembakaran dari kota. Namun pembangunan kanal tersebut tidak dilanjutkan. Tahun 1953 fihak kotamadya meminta Hooker Chemical untuk menjual sebagian lahan kanal tersebut untuk pembangunan sekolah baru. Pembangunan dimulai tahun 1893. Pada tahun 1958 tiga anakanak mengalami luka bakar akibat terpapar dengan residu yang muncul ke permukaan. yang pada saat itu telah berumur 77 tahun dan 68 tahun. Bahkan Angkatan Darat Amerika Serikat juga mengurug sejumlah besar residu senjata biologis walaupun secara resmi fihak Pentagon menolak tuduhan tersebut. Tahun 1978. khususnya industri kimia. Seorang keluarga di dekat Love Canal melahirkan anak dengan cacat fisik dan mental. Niagara Falls menjadi pusat industri. 22 Maret 1979 dua pemimpin Chisso . satu keluarga mendapatkan kolam renang mereka menjadi lebih tinggi sekitar 60 cm. yang merupakan produk elektrolisa natrium khlorida.

mencegah kemungkinan pelindian di masa datang dan menutup kanal.000 ton limbah kimia. sehingga Pemerintahan Carter pada saat itu memerintahkan evakuasi sekitar 700 keluarga lagi. sejumlah limbah kimia mulai muncul di halaman beberapa rumah. Analisa lebih lanjut menemukan bahwa cemaran kimia dalam konsentrasi tinggi telah mencemari air tanah. induk perusahaan Hooker Chemical. sakit kepala. Namun akhirnya dicapai kesepakatan di pengadilan antara 1345 penduduk dengan Occidental Petroleum. senyawa-senyawa toksik berhalogen terdeteksi pada sistem penyaluran air buangan kota. dan yang sedang merencanakan membangun pusat kegiatan senilai US $ 17 juta. Disamping itu. Enri Damanhuri . Studi pada tahun 1980 mengemukakan adanya bukti kerusakan khromosom pada penduduk. Survai kesehatan juga dimulai dan dijumpai bahwa keguguran spontan ternyata 250 kali lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. Mulai tahun 1976. Pendapat ini tetap berlangsung sampai pemerintah negara bagian mulai ikut campur. diantaranya pembuatan drainase untuk mengalirkan lindi dan memompanya ke suatu tangki pengumpul untuk kemudian diolah sebelum dialirkan kembali pada sistem penyaluran air buangan kota. Hooker Chemical akhirnya mengeluarkan pernyataan bahwa sekitar 22. Berdasarkan pertemuan dengan penduduk setempat. Mereka menganggap bahwa masalah ini bukanlah suatu krisis yang besar. cepat lelah. Suatu recana perbaikan dan penyembuhan (remedial) mulai dirancang. agaknya mereka tidak ingin mengganggu kegiatan Hooker yang telah mempekerjakan sekitar 3000 penduduk setempat. walaupun pemerintah negara bagian mengajukan tuntutan denda pada Hooker Chemical sebesar US$ 635 juta. susah tidur dan diantaranya juga cacat mental. chloform dan trichloroethylene. Sebagian besar dari anggota keluarga ini secara rutin mengalami gangguan fisik seperti iritasi. tetapi pemerintah negara bagian menolak sampai adanya kejelasan kompensasi bagi penduduk. Sejumlah besar cairan hitam masuk memenuhi ruangan. Akhirnya mereka membuat lobang untuk mengetahui apa yang terdapat di balik tembok.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 menghentikannya. Akhirnya pada tahun 1977 fihak pemerintah kota mengakui adanya masalah ini. yang tetap digunakan oleh Pemerintahan Carter. Sampel darah yang diambil juga menunjukkan indikasi adanya kerusakan hati yang meningkat. dilakukan pengambilan sampel udara di beberapa basement rumah di daerah tersebut. Dengan bantuan USEPA. Hooker mengemukakan bahwa teknologi yang mereka gunakan adalah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Delapan bulan setelah kejadian kolam renang di atas. 237 keluarga akhirnya diungsikan. Keluhan mereka pada fihak pemerintah kota tidak ditanggapi. Namun dibutuhkan dana untuk melaksanakan kegiatan ini. diantaranya 200 ton trichlorophenol. maka diputuskan penutupan sekolah dan pengungsian anak-anak dan wanita yang sedang hamil yang tinggal berdekatan dengan kanal. Kegiatan remediasi tersebut dianggap terlalu lambat oleh penduduk sekitarnya. Peraturan pertama yang dikeluarkan oleh pemerintah negara bagian adalah menghentikan sama sekali pelindian yang tidak terkendali. Dari sudut teknik. namun tetap tidak ingin menentukan yang bertanggungjawab. termasuk diantaranya 11 jenis cemaran penyebab kanker seperti benzene. telah diurug di lahan-urug tersebut. Kelahiran cacat fisik dan mental juga sering dijumpai. masalah Love Canal mulai diketahui dan diperhatikan. Kanal tersebut juga ditutup setebal 2. Sejak saat itu. Mereka menginginkan kompensasi yang lebih dari itu.5 meter tanah kedap untuk menghindari masuknya air dari luar. Pemerintah negara bagian memerintahkan komisi kesehatan melakukan penelitian. dan memerintahkan memagari sekeliling lahan serta memberikan ventilasi pada basement yang tercemar. Hasilnya adalah bahwa udara di daerah tersebut mengandung bahan-bahan toksik yang berada di atas ambang threshold-limit value (TLV).FTSL ITB Halaman 9 .

3. Pengiriman ini bersifat rahasia.8-Tetrachlorodibenzo-p-dioxin (2. ketika reaktor akan dipanaskan dan terjadi retak pada katup pengamannya. ke Jerman Timur Enri Damanhuri . Daerah sekitarnya dibagi menjadi 2 area bahaya. Seveso terletak di Italia Utara.7.8-TCDD) dengan toksisitas akut. yaitu kasus transportasi dioxin antar negara. Hoffman-La Roche memilih Seveso sebagai lokasi pabriknya di Italia. 4 KASUS KABUT DIOXIN DI SEVESO (ITALIA) Salah satu kasus limbah berbahaya yang terkenal adalah peristiwa kabut dioxin di Seveso (Italia). Kasus tersebut ternyata tidak berhenti di sana. terutama dalam posisi lateral (2. Pekerjaan ini membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun. dan para peneliti baru sampai pada tahap awal dalam memahami efek toksisitas dioksin ini pada manusia. Area A penduduknya dievakuasi.trichlorophenol untuk disinfektan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Kasus Love Canal menyebabkan adanya perbaikan dan pengetatan peraturanperaturan yang berlaku di Amerika Serikat dalam menangani limbah B3. Daerah tersebut kemudian dijadikan taman.7. Ibuibu yang hamil dianjurkan untuk menggugurkan kandungannya. Informasi yang didapat menyatakan bahwa drum tersebut akan diangkut ke Inggeris untuk diinsinerasi.7.3.7. Pohon-pohon terkontaminasi ditebang.5.4. namun akhirnya beritanya tersebar di daratan Eropa dan menjadi pemberitaan hangat selama 9 bulan. didirikan di kota kecil Meda (dekat Seveso). Drum tersebut diangkut oleh dua perusahaan swasta ke tempat yang tidak dispesifikasi secara jelas.8) seperti 2. Tanah terkontaminasi dikupas sedalam rata-rata 5 cm. Atom chlor pada senyawa PCDD menghasilkan sampai 75 isomer dengan toksisitas yang sangat bervariasi.8-TCDD ini terhadap spesies binatang ternyata berbeda. Drum tersebut berlabel 'bahan hidrokarbon aromatis'. Ternyata penanggung jawab upaya pembersihan daerah Seveso tersebut mengirimkan 41 drum limbahnya untuk ditimbun di luar Italia. Daun-daun pohon di sekitarnya menjadi rontok. dan prianya dihawatirkan mengalami kerusakan pada fungsi genetiknya. dengan timbulnya suatu kasus yang cukup meggegerkan daratan Eropa Barat pada tahun 1981. karena ternyata bukan hanya lahan ini saja yang secara peraturan sebetulnya telah sesuai dengan yang berlaku. Penduduk di sekitarnya dievakuasi. yaitu dilapis bentonit dan lembaran polyethylene. dan tidak ditulis sebagai 'Dioxin'. Efek 2. Pada temperatur yang sesuai. dan dilarang menggunakan barang-barangnya. Dioxin adalah nama umum untuk grup polychlorinated dibenzodioxins (PCDD).7. Anak-anak dengan langsung menunjukkan gejala chloracne pada mukanya dan bagian lain di tubuhnya. terutama pada pabrik itu sendiri yang tercemar berat. Pembersihan daerah terkontaminasi merupakan usaha besar-besaran yang dilakukan. kosmetik dan herbisida.FTSL ITB Halaman 10 . binatang.3.binatang seperti terpanggang. Pabrik ini menghasilkan asap yang berbau. Akhir 1960-an.3. tetapi penduduknya rupanyanya sudah terbiasa. Pabrik tersebut dibangun dan dioperasikan oleh Industrie Chemiche Meda Societe Aromia (ICMESA). namun semuanya sebagai penimbul agen kanker (carcinogen). sedang asalnya ditulis dari Meda. Agaknya dioxin ini menimbulkan tumor yang berbeda untuk organ yang berbeda. bukan dari Seveso (tempat yang dikenal untuk kasus ini).8-TCDD. Kegiatan remediasi lahan yang terkontaminasi akhirnya menjadi salah satu program yang digalakkan di Amerika Serikat bagi lahan yang tercemar. Sekitar 1 Kg dioxin terbuang ke udara membentuk kabut melewati ribuan hektar sekitar bencana. Isomer yang sangat aktif dan mempunyai potensi toksisitas tinggi adalah yang mempunyai 4 sampai 6 atom chlor. industri farmasi Swiss. Landfilling dalam tanah dilakukan dalam 2 lubang dengan proteksi kuat. Pemerintah Italia akhirnya memutuskan penggunaan teknik insinerasi dan landfilling bagi komponen-komponen pabrik tersebut.3. Kecelakaan terjadi pada tanggal 10 Juli 1976. guna memproduksi 2. reaksi kimiawi yang terjadi menghasilkan 2.

2 minggu setelah produksi penuh. sedangkan konsentrasi tertinggi yang pernah diamati adalah 5 ppm. Tahun 1973 pembuatan kepone disubkontrakkan pada LSP sementara Allied tetap menangani polimer. Debu kepone menutup lantai sampai beberapa inch dan memenuhi udara dalam pabrik.20 ppm.000 pound pada tahun 1972. Yang dijumpai pada pabrik kepone tersebut ternyata lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya. dan disanalah dimulainya bencana kimiawi di USA. Allied memproduksi kepone di Hopewell. Penelitian selanjutnya mengungkapkan bahwa LSP melanggar aturan-aturan kesehatan dan keselamatan kerja yang berlaku. Ikan di dekat sungai James mengandung kepone 0. ternyata drum tersebut tersembunyi di suatu area pejagalan hewan di Perancis.600 ppb. baik Allied maupun LSP secara illegal membuang kepone ke sungai James yang bermuara di Chesapeake Bay. tanaman dan limbah kota Hopewell serta sungai.1 . ternyata LSP telah mengeluarkan efluen kepone sebesar 500 . Produksi tahunan meningkat dari 36.4 ppb.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 untuk ditimbun di lahan-urug industri dan ke Jerman Barat untuk dikubur dalam bekas tambang. Namun karena pasaran meningkat. limbah ini membunuh bakteri di sistem digester pengolah limbah. Pencemaran udara juga telah meluas ke sekitar pabrik itu. Pihak Hoffman-La Roche harus bertanggung jawab untuk itu. Pada tahun 1973 Allied Chemical mensubkontrakkan pembuatan pestisida pada Life Sciences Product (LSP) yang dikenal dengan nama kepone.72 ppm. Beberapa saat kemudian. Sembilan bulan kemudian setelah dilakukan pencarian yang melibatkan semua fihak di negara terkait. yaitu pada November 1985. Kepone dikembangkan oleh Allied sekitar tahun 1950-an. sedang pabrik kepone pada tahun 1975 ditutup.1 . secara periodik limbah dari LSP masuk ke sistem penyaluran air buangan dan pengolahan limbah kota. Allied juga memproduksi sendiri.600 ppm. dan dibawa ke Swiss.USA) memprolamirkan dirinya sebagai chemical capital of the south. EPA kemudian melakukan sampling air minum. Lumpur dari pengolah limbah mengandung kepone 200 . Dinas kesehatan setempat kemudian menginvestigasi industri kepone tersebut setelah salah seorang pekerja dinyatakan keracunan kepone. Kemudian dioxin tersebut baru diinsinerasi setelah 2. dijumpai masalah kesehatan diantara karyawannya. Sebetulnya buruh di sana sudah mengeluh terhadap kondisi ini tetapi manajemen LSP tidak memperhatikan hal ini. 5 KASUS KEPONE DI HOPEWELL (AMERIKA SERIKAT) Hopewell (Virginia . Berangkat dari pengalaman tersebut. Disamping itu. udara.FTSL ITB Halaman 11 .000 pound pada tahun 1965 menjadi 400. Dalam 2 bulan. dan harus mengeluarkannya dari Perancis. ternyata 40 % dari total partikulat adalah kepone. sebagai negara asal industri tersebut.5 tahun dikeluarkan dari Seveso. Pemerintah akhirnya memutuskan bahwa pabrik Enri Damanhuri . Darah yang diambil dari pekerja tersebut menunjukkan kandungan kepone antara 2 . Tetapi tidak satupun yang sampai.1960. Produksinya dikontrakkan pada Hooker Chemical antara 1950 . masyarakat Eropa sadar akan pentingnya peraturan yang ketat tentang pengelolaan limbah berbahaya. sedang sungai James sendiri mengandung kepone 0. Maret 1974. Tindakan berikutnya melibatkan US EPA (US Environmental Protection Agency). Masyarakat Ekonomi Eropa mencanangkan program kontrol bagaimana menangani dan mentransportasi limbah kimiawi yang berbahaya diantara anggotanya. Agustus 1975 LSP didenda US$ 16500. Lumpur dari pengolah limbah yang belum terolah secara baik langsung dibuang secara illegal ke lahan-urug. Di beberapa tempat. Kemudian 31 pekerja yang dirawat di Rumah Sakit. sedangkan standar yang berlaku adalah 100 ppb.

Casmalia Resources. namun ternyata lahan ini juga bocor dan akhirnya ditutup. − Menempatkan lapisan clay untuk mengisolasi. dengan program pengolahan in-situ terhadap air tanah yang tercemar. McGraw-Hill Book Co. Referensi Utama: o Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia – UNDP: Agenda 21 Indonesia. Lahan ini juga berlokasi di atas akuifer Chino Basin yang merupakan sumber air minum bagi sekitar 500.4 juta US$. Sekitar 15 juta US $ telah dihabiskan untuk program tersebut. Akhirnya Pemerintah memilih cara yang lebih murah. dengan menganggap bahwa pencemaran air tanah yang terjadi berasal dari limpasan air permukaan bukan dari lahan tersebut. Ternyata evaluasi berikutnya menyatakan bahwa lahan itu sebetulnya tidak cocok untuk limbah cair B3 dan terjadilah pencemaran air tanah. Studi geologi sebelumnya menyimpulkan bahwa lahan tersebut berada di atas bedrock yang kedap. tetapi dianggap belum dimonitor secara benar.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 itu untuk 'dilucuti'. misalnya 120 pedagang ikan yang merasa dirugikan karena mereka memperoleh ikannya dari sungai James yang tercemar.FTSL ITB Halaman 12 . dan 4 juta gallon (15140 m3) air tercemar dialirkan ke lahan-urug West Covina. dan masih dibutuhkan sekitar 65 juta US $ untuk mentuntaskan permasalahan. Selama itu sekitar 30 juta galon (113. Namun biaya yang ditanggung Allied untuk operasi tersebut akhirnya menjadi US $ 394000. Lahan-urug lain. Maret 1997 o LaGrega. juga menerima sekitar 70.000 penduduk. tetapi LSP tidak sanggup untuk operasi tersebut. Allied diminta untuk bertanggung jawab operasi detoksifikasi tersebut dengan rencana biaya sebesar US $ 175000. − Menetralisir tanah terkontaminasi dengan abu semen kiln. dan biaya yang ditanggung akhirnya membengkak berlipat ganda dengan adanya tuntutan dari orang yang merasa dirugikan. − Membangun sumur-sumur pemantauan. Sekitar 800. M. yaitu : − Meyingkirkan cairan terkontaminasi ke lahan yang lain.550 M3) limbah cair B3 telah ditimbun. 1994 o Wentz. McGraw-Hill Book.000 gal/hari (265 m3) dari Stringfellow.D. maka diprakirakan tidak akan terjadi pencemaran air tanah. : Hazardous waste management.A. C. Prakiraan biaya untuk menyingkirkan dan mengolah seluruh cairan dan tanah yang terkontaminasi pada tahun 1977 sekitar 3. Estimasi biaya pada tahun 1974 meningkat 4 kali lipat dengan cara tersebut. : Hazardous waste management. 1989 Enri Damanhuri . 6 KASUS LAHAN STRINGFELLOW DI KALIFORNIA (USA) Lahan Stringfellow di Glen Avon (Kalifornia-USA) telah digunakan untuk menimbun limbah cair B3 dari tahun 1956 sampai 1972. Interpretasi hasil analisis air tanah pada tahun 1972 ternyata juga salah.000 gallon (3028 m3) air tercemar dialirkan ke area di hilirnya. Hasil interpretasi yang salah juga dilakukan oleh sebuah konsultan lain pada tahun 1977. dan dengan membuat penghalang beton di hilirnya.

dan/atau menimbun B3 wajib melakukan pengelolaan B3. maka Indonesia telah merativikasi konvensi Stockholm melalui Undang-undang No.270/7/1985 tentang pengawasan pestisida Limbah radioaktif di Indonesia dikelola oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No.148/M/SK/4/1985 tentang pengamanan bahan beracun dan berbahaya di lingkungan industri − Keputusan Menteri Pertanian No. 19 tahun 2009 tentang Pengesahan Konvensi Stockholm tentang Bahan Pencemar Organik yang Persisten atau Stockholm Convention on Persistent Organic Pollutants (POPs). memanfaatkan. Semua yang berkaitan dengan ketenaga atoman pada dasarnya diatur oleh Undang-undang No. Bahan POPs ini akan dibahas lebih lanjut dalam Bagian 5 Diktat ini.724/Kpts/TP. Beberapa peraturan yang secara langsung akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas limbah B3 yang dihasilkan adalah peraturan-peraturan yang mengatur masalah bahan berbahaya. mengolah.536/Kpts/TP.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN II PERATURAN DALAM PENGELOLAAN B3 1 UMUM Pada dasarnya pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3) di Indonesia mengacu pada prinsip-prinsip dan pedoman pembangunan berkelanjutan yang telah dituangkan dalam Undang-Undang No.33 Tahun 1985 tentang Dewan Tenaga Atom dan Badan Tenaga Atom Nasional dan Keputusan Presiden No.453/Menkes/Per/XI/1983 tentang bahan berbahaya − Keputusan Menteri Perindustrian RI No. penyimpanan dan penggunaan pestisida − Peraturan Menteri Kesehatan No. dan/atau membahayakan lingkungan hidup. kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lain. 31 Tahun 1964 tentang Enri Damanhuri .FTSL ITB Halaman 13 . Secara spesifik pengelolaan B3 ini telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun. Selanjutnya UU-32/2009 menggariskan dalam Ps 58 (1) bahwa setiap orang yang memasukkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. menyimpan. energi. yaitu : − Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 2009 sebagai pengganti UU-23/1997 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. mengurangi. menghasilkan. 82 Tahun 1985 tentang Badan Tenaga Atom Nasional. serta mengelola timbunan bahan POPs yang berwawasan lingkungan. baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup. dan/atau komponen lain yang karena sifat. membuang. yang akan diuraikan lebih lanjut dalam Bagian ini. mengangkut. konsentrasi dan/atau jumlahnya. Pasal 1 (21) UU-32/2009 mendefinisikan bahan berbahaya dan beracun (disingkat B3) adalah zat. mengedarkan. Konvensi ini bertujuan untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan hidup dari bahan POPs dengan cara melarang.270/9/1984 tentang larangan penggunaan pestisida EDB − Keputusan Menteri Pertanian No.7/1973 tentang pengawasan atas peredaran. membatasi produksi dan penggunaan. Terkait dengan penggunaan bahan kimia organik berbahaya.

− Bab VI (pasal 24 sampai 27) : Penanggulangan Kecelakaan dan Keadaan Darurat. Sedangkan sasaran pengelolaan B3 adalah 'untuk mencegah dan atau mengurangi resiko dampak B3 terhadap lingkungan hidup. − Bab IV (pasal 21) : Komisi B3. kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya’ (pasal 1 angka 1). − Bab XI (pasal 38) : Sanksi Administrasi. dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup. Disamping aspek yang terkait dengan pencegahan terjadinya pencemaran lingkungan dan atau kerusakan lingkungan yang menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap fihak yang terkait. − Bab XIV (pasal 41 dan 42) : Ketentuan Peralihan. Pengertian pengelolaan B3 adalah 'kegiatan yang menghasilkan. terkait berbagai fihak yang merupakan mata rantai dalam pengelolaan B3. pasal-pasal berikutnya mengatur masalah kewajiban dan perizinan bagi mereka yang akan memproduksi (menghasilkan). baik secara langsung maupun tidak langsung. − Bab II (pasal 5) : Klasifikasi B3. kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya’ (pasal 2). − Bab IX (pasal 35 dan 36) : Keterbukaan Informasi dan Peran Masyarakat. maka aspek keselamatan dan kesehatan kerja serta penanggulangan kecelakaan dan keadaan darurat diatur dalam PP tersebut. menyimpan. kesehatan. Dalam kegiatan tersebut. mengedarkan. − Bab V (pasal 22 dan 23) : Keselamatan dan Kesehatan Kerja. − Bab VIII (pasal 32 sampai 34): Peningkatan Kesadaran Masyarakat. mendistribusikan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Ketentuan-ketentuan pokok tenaga atom. menyimpan. Selanjutnya beberapa peraturan lain di bawahnya antara lain: − Peraturan Pemerintah No. mengimpor. Setiap mata rantai tersebut memerlukan pengawasan dan pengaturan. Tidak semua pengelolaan bahan yang berbahaya diatur oleh PP tersebut. − Bab III (pasal 6 sampai 20) : Tata Laksana dan Pengelolaan B3. 12 Tahun 1975 tentang izin pemakaian zat radioaktif dan atau sumber radiasi − Peraturan Pemerintah No. Oleh karenanya. Bahan berbahaya yang tidak termasuk yang diatur adalah (pasal 3): Enri Damanhuri . antara lain karena telah diatur dalam PP lain. − Bab XIII (pasal 40) : Ketentuan Pidana. − Bab X (pasal 37) : Pembiayaan. atau telah diatur oleh instansi lain berdasarkan konvesi internasional seperti bahan radioaktif. menggunakan dan membuang bahan tersebut bilamana tidak dapat digunakan kembali. 11 Tahun 1975 tentang keselamatan kerja terhadap radiasi − Peraturan Pemerintah No. dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup. − Bab XII (pasal 39) : Ganti Kerugian. menggunakan dan atau membuang B3’ (pasal 1 angka 2). Kelima belas bab tersebut adalah : − Bab I (pasal 1 sampai 4) : Ketentuan Umum. 13 Tahun 1975 tentang pengangkutan zat radioaktif 2 PENGELOLAAN B3 DALAM PP 74/2001 PP74/2001 tentang pengelolaan berbahaya dan beracun terdiri dari 15 bab yang dibagi lagi menjadi 43 pasal. mengeksport.FTSL ITB Halaman 14 . mengangkut. − Bab XV (pasal 43) : Ketentuan Penutup. − Bab VII (pasal 28 sampai 31) : Pengawasan dan Pelaporan. Menurut PP 74/2001: ‘bahan berbahaya dan beracun yang selanjutnya disingkat dengan B3 adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya.

maka bahan tersebut termasuk B3. Chemical Abstract Sevice yang bersifat universal o Nama bahan kimia o Sinonim/nama dagang o Rumus molekul Berikut ini adalah beberapa contoh bahan kimia B3. yaitu (pasal 5): o Mudak meledak (explosisive) o Pengoksidasi (oxidizing) o Menyala: o sangat mudah sekali menyala (extremely flammable) o sangat mudah menyala (highly flammable) o mudah menyala (flammable) o Beracun: o amat sangat beracun (extremely toxic) o sangat beracun (highly toxic) o beracun (moderately toxic) o Bebahaya (harmful) o Korosif (coorosive) o Bersifat iritasi (irritant) o Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment) o Toksik yang bersifat kronis: o karsinogenik (carcinogenic) o teratogenik (teratogenic) o mutagenik (metagenic) Penjelasan lebih lanjut tentang kriteria kapan sebuah bahan dikelompokkan sebagai B3 akan dijelaskan dalam Butir 3. atau terbatas penggunaannya.Tabel 2 mencantumkan 45 bahan B3 yang dibatasi pengunaannya di Indonesia. semuanya organik-berhalogen. PP 74/2001) Dengan demikian.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 o o o o o o o o Bahan radioaktif Bahan peledak Hasil produksi tambang serta minyak gas dan gas bumi dan hasil olahannya Makanan dan minuman serta bahan tambahan makanan lainnya Perbekalan kesehatan rumah tangga dan kosmetika Bahan sediaan farmasi. PP 74/2001) o B3 yang terbatas dipergunakan (Lampiran II Tabel 2. psikotropika dan prekursor lainnya Bahan aditif lainnya Senjata kimia dan senjata biologi Untuk menentukan apakah sebuah bahan termasuk dalam kelompok B3. apakah diperbolehkan dipergunakan. yang terdapat dalam daftar Lampiran I dan Lampiran II PP 74/2001 tersebut (Tabel 1 sampai Tabel 3). Setiap bahan kimia dalam daftar tersebut. dan penggunaannya di Indonesia disesuaikan dengan kelompok tabel yang berlaku. 74 diantaranya dibatasi penggunaannya sampai tahun 2040. atau sama sekali dilarang dipergunakan. disertai keterangan: o No. dan Lampiran II .FTSL ITB Halaman 15 . narkotika. yaitu (pasal 5): o B3 yang dapat atau boleh dipergunakan di Indonesia (Lampiran I PP 74/2001) o B3 yang dilarang dipergunakan di Indonesia (Lampiran II Tabel 1. Enri Damanhuri . Lampiran I PP 74/2001 mencantumkan 209 buah bahan kimia yang tergolong B3 yang dapat digunakan di Indonesia.Tabel 1 mencantumkan 10 bahan B3 yang dilarang pengunaannya. maka PP tersebut mengklasifikasikan B3 dalam 8 kelompok. Reg. maka berdasarkan penggunaannya di lapangan. B3 dibagi menjadi 3 bagian. Untuk mempermudah menentukan B3 yang diatur dalam PP ini. Lampiran II . bilamana sebuah bahan sudah terdapat dalam lampiran tersebut.

Blausaure. Hydrocyanic acid. Triatomic oxygen Penta. Caustic soda. Formalin. 11) Tabel 2. Corrosive mercury chloride Sodium hydroxide. Veracur Hydrogen sulphide. Toxichlor. Oxybenzene Formadehyde solution. Rumus Molekul C12H8Cl6 C10H6Cl8 Enri Damanhuri . misalnya Badan Tenaga Atom Nasional untuk bahan radioaktif. Prussic acid Sulfuric Acid. Formol.FTSL ITB Halaman 16 . Aci-jel Phosphoric acid. Sulfurated hydrogen.2: B3 yang dilarang dalam Lampiran II – Tabel 1 PP 74/2001 No 1 2 No Reg Chemical Abstract Service 309-00-2 57-74-9 Nama Bahan Kimia Aldrin Chlordane Sinonim/Nama Dagang HHDN CD68. maka registrasinya harus diajukan kepada instansi yang bertanggung jawab. Hidroxybenzene. Velsicol 1068. Carbolic acid. Phenic acid. Santhophene 20 Zinc chloride. dalam hal ini Kementrian Lingkungan Hidup (pasal 6). Niran. Orthophosphoric acid Hydrochloric acid. Penchloraol. Demikian juga halnya unutk B3 yang diimport dari luar negeri. maka sebelum dipergunakan secara luas produsen tersebut harus mendaftarkan terlebih dahulu kepada yang berwenang. Oil of Vitriol Benzene. PCP. Hydrosulfuric acid Carbonic acid gas Amorphous Carbon monoxide Chlorine Chloroform. Cyclo hexatriene Phenol. maka fihak otorita negara yang akan memasukkan bahan tersebut ke Indonesia terlebih dahulu harus menyampaikan notifikasi kepada fihak yang bertanggung jawab di Indonesia (pasal 8). sehingga dengan mudah dilakukan pengawasan dan pencegahan terjadinya dampak B3 terhadap lingkungan. Butter zinc Lead Bromochloroethane Rumus Molekul NH3 CH3COOH H3PO4 HCl HCN H2SO4 C 6H 6 C6H5OH CH2O H 2S CO2 C CO Cl2 CHCl3 HgCl2 CH4 NaOH N2 NO2 O3 C6HCl5O AgNO3 ZnCl2 Pb - 105 7727-37-9 Nitrogen 106 10102-44-0 Nitrogen Dioksida 110 10028-15-6 Ozon 112 87-86-5 Pentaklorofenol 114 7761-88-8 Perak nitrat 122 7646-85-7 Seng Klorida 127 7439-92-1 Timbal (timah hitam) 209 CH2BrCl *) Muncul juga pada Lampiran II – Tabel 2 (no. maka bahan tersebut terlebih dahulu harus didaftarkan oleh importirnya untuk diregistrasi sebelum secara rutin diimport. Soda lye. Tabel 2. Anhidrous hydrochloric acid Hydrogen cyanide. Phenilic acid. Phenyl hydroxide. Corrosive sublimate. Bila bahan yang akan dimpor adalah termasuk dalam daftar B3 yang terbatas dipergunakan. Sedang bahan berbahaya lain yang tidak diatur dalam PP ini. Mercury perchloride. Morbicid.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Setiap produsen yang menghasilkan B3 baru yang termasuk diatur dalam PP ini. Sodium hydrate Nitrogen Nitrogen dioxide Ozone. Hydrogen chloride. Trichlorometthane Mercuric chloride. Mercury bichloride.1: Contoh B3 (dapat digunakan) dalam Lampiran I PP 74/2001 No 7 14 16 17 23 24 31 52 54 58 76 78 79 80 81 85 87 98 No Reg Chemical Abstract Service 7664-41-7 64-19-7 7664-38-2 7647-01-0 74-90-8 7664-93-9 71-43-2 108-95-2 50-00-0 7783-06-4 124-38-9 7440-44-0 630-08-0 7782-50-5 67-66-3 7487-97 74-82-8 1310-73-2 Nama Bahan Kimia Amoniak Asam Asetat Asam Posfat Asam Klorida Asam Sianida Asam Sulfat Benzena Fenol Formalin (larutan) Hidrogen Sulfida Karbon dioxide Karbon hitam Karbonmonoksida Klor Kloform Merkuri klorida Methane Natrium Hidroksida Sinonim/Nama Dagang Ammonia Acetic acid. Benzol. Bahan tersebut kemudian akan mendapat nomor registrasi sebagai alat kontrol terhadap peredaran B3 di Indonesia.

Alkyl merkuri . Halon. Genetron 12. Schering 36. Hydragyrum. Frigen 114. Fluorotrichloromethane.497. Penphene. Areton 11 Dichlorodifluoromethane. Gesarex. Penchloraol. Velsicol 104. Octalox Compound 268. Phenacide. Ethyl 4.5-T Chlordimeform (CDM) Chlorobenzilate Ethylene Dibromida (EDB) Lindane Senayawa merkuri.Aryl merkuri Pentaklorofenol* Mercury/Air raksa CFC-11 CFC-12 CFC-114 Halon-2402 Metil bromida Sinonim/Nama Dagang Esterone 245. Frigen 11. Dechlorane. ENT 16225.2bis(4-chlorophenil)acetate EDB. Santhophene 20 Liquid silver. Insecticide No. Motox. otoritas negara transit dan instansi yang bertanggung jawab di Indonesia terlebih dahulu. Chlorophenothane. termasuk: . Sym-dibromoethane Rumus Molekul C8H5Cl3O3 C10H13ClN2 C16H14Cl2O3 C12H4Br2 C6H6Cl6 - 11 21 26 27 29 43 45 87-86-5 7439-97-6 75-69-4 75-71-12 74-83-9 Penta.Anorganik merkuri . Belt. Acarabene. serta dari instansi yang berwenang. Hexachloropentadienedimer Hercules 3956: Polycholorcamphene. Campeclor. G23922. Necide Compound 497. Clophen. Mendrin. ENT 25719. Phenatox. Sebelum ada persetujuan dari otoritas negara tujuan ekspor dan otoritas negara transit. Ethyl 4. Areton 12.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 3 50-29-3 DDT 4 5 6 7 8 60-57-1 72-20-8 76-44-8 2385-85-5 8001-35-2 Dieldrin Endrin Heptachlor Mirex Toxaphene 9 10 118-74-1 1336-36-3 Hexachlorobenzene PCBs Octachlor. HEOD. Prosedur ini adalah sesuai dengan Konvensi Basel yang mengatur lintas batas bahan dan limbah B3 antar negara. Guesapon. Gesapon. Gesarol. ENT 17251. Fundal.4-hydroxy-2. Pyralene.4. Chlorophenamidine Compound 338.Alkyloxyalkyl merkuri . Arocloc. Fenclor. Freon 12. Synclor. Nendrin. Cryfluorane. Ciba-8514. p. Enri Damanhuri . Frigen 12. Chlorobiphenyls. Akar.p-DDT. Quicksilver Trichloromonofluoromethane. D-58.3: Contoh B3 (dibatasi) dalam Lampiran II – Tabel 2 PP 74/2001 No 1 2 4 6 9 10 No Reg Chemical Abstract Service 93-76-5 2425-98-3 510-15-6 106-93-4 58-89-9 Nama Bahan Kimia 2. PP ini mewajibkan eksportir B3 tersebut untuk menyampaikan notivikasi ke otoritas negara tujuan ekspor. Kenachlor. Altox. Santotherm C14H9Cl5 C12H8Cl6OH C12H8Cl6OH C10H5Cl7 C10Cl12 C10H10Cl8 C6Cl6 C12X X=H or Cl Tabel 2. Geniphene. Folbex. Hexadrin E3314. Heptamul C6-1283. Clofenotane. maka ekspor B3 tersebut belum boleh dilaksanakan. Dicophane. Corodane Dichlorodiphenyltrichloroethane.FTSL ITB Halaman 17 .4-dichlorobenzilate.268: Spanon. Prosedur yang sama diberlakukan bagi B3 yang akan dieksport ke luar negeri (pasal 7). Dowfume WW85. Phenochlor. Areton 114 Dibromotetrafluoroethane Bromomethane. Isotron 2 Dichlorotetrafluoroethane. Freon 114.2-dibromoethane. Ethylenebromide. Bunt-cure. PCP. Anticarie. Julins carbon chloride Polychlorinated Biphenyls. Embafume C6HCl5O Hg CCl3 CCl2F2 C2Cl2F2 C2Rbr2F4 CH3Br *) Muncul juga pada Lampiran I (no. Gulecton. Strobane-T. Bunt-no-more. Trioxone. 1. Freo 11. Agritan. Drinox. Chlorinatedcamphene. Toxakil Polychlorobenzene. 112) Jawaban boleh tidaknya barang tersebut masuk ke Indonesia harus diterima oleh otorita negara pengekspor dalam waktu paling lambat 30 hari sejak tanggal diterimanya notifikasi tersebut. Orthochlor. Monobromomethane. Weedone CDM.

dan juga pada kemasan bahan tersebut (pasal 14). maka kondisi awalnya adalah berstatus keadaan darurat (emergency). Informasi MSDS disamping harus tercantum pada produksi B3 (pasal 11). agar tidak terjadi kecelakaan akibat kesalahan dalam penyimpanan tersebut. PP 74/2001 mengatur juga masalah kesehatan dan keselamatan kerja bagi orang yang bekerja di bidang ini. Salah satu persyaratan kelengkapan pada tempat penyimpanan tersebut adalah sistem tanggap darurat dan prosedur penanganan B3 (pasal 19). dan pengedaran B3 (pasal 12). denganmaksud untuk mengetahui sedini mungkin terjadinya kontaminasi oleh zat/senyawa kimia B3 terhadap pekerja atau pengawas lokasi tersebut (pasal 23). dan o Tata-cara penanganan bila terjadi kecelakaan PP 74/2001 mengatur juga secara umum pengangkutan B3 (pasal 13). B3 kadaluwarsa adalah bahan yang karena kesalahan dalam penanganannya menyebabkan terjadinya perubahan komposisi dan atau karakteristik sehingga bahan tersebut tidak sesuai lagi dengan spesifikasinya. 3 KARAKTERISASI B3 MENURUT PP 74/2001 Penjelasan PP 74/2001 menguraikan secara singkat klasifikasi B3 sebagai berikut: a. Salah satu kehawatiran utama dalam penanganan B3 adalah kemungkinan terjadinya kecelakaan baik pada saat masih dalam penyimpanan maupun kecelakaan pada saat dalam pengangkutannya. penyimpanna B3 (pasal 18). Bila terjadi kecelakaan. Langkah darurat yang harus dilakukan adalah (pasal 25): o Mengamankan (mengisolasi) tempat terjadinya kecelakaan o Menanggulangi kecelakaan sesuai dengan prosedur standar penanggulangan kecelakaan o Melaporkan kecelakaan atau keadaan darurat tersebut kepada aparat Kota/Kabupaten setempat o Memberikan informasi. bantuan dan melakukan evakuasi masyarakat sekitar lokasi kejadian. Lembar MSDS paling tidak berisi: o Merek dagang o Rumus kimia B3 o Jenis B3 o Klasifikasi B3 o Teknik penyimpanan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Salah satu informasi penting yang selalu harus disertakan dalam produksi B3 adalah Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet .FTSL ITB Halaman 18 . pemberian label dan simbol (pasal 17). B3 yang dianggap kadaluwarsa. yang tidak dapat digunakan tidak boleh dibuang sembarangan. yang memerlukan penanggulangan cepat dan tepat (pasal 24). pengemasan B3 (pasal 15). juga harus muncul pada dokumen pengangkutan. tetapi harus dikelola sebagai limbah B3 (pasal 20). atau tidak memenuhi spesifikasi. penyimpanan. Sedang B3 yang tidak memenuhi spesifikasi adalah bahan yang dalam proses produksinya tidak sesuai dengan yang ditentukan. yang menjadi tanggung jawab bagi pengusaha. Lokasi dan konstruksi tempat penyimpanan B3 membutuhkan pengaturan tersendiri. Explosive (mudah meledak): adalah bahan yang pada suhu dan tekanan standar (25oC. 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat Enri Damanhuri . Kecelakaan B3 adalah lepasnya atau tumpahnya B3 ke lingkungan. Salah satu langkah yang wajib dilakukan adalah kewajiban uji kesehatan secara berkala bagi pekerja.MSDS). atau bekas kemasan. sekurang-kurangnya 1 kali dalam 1 tahun.

pada temperatur dan tekanan standar dengan mudah menyebabkan terjadinya kebakaran melalui gesekan.000 e. sedang 2. dan atau pH ≥ 12. Toxic (beracun): akan menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan. Corrosive (korosif): mempunyai sifat o Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit o Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja standar SAE-1020 dengan laju korosi lebih besar dari 6. Suatu bahan dinyatakan sebagai pengoksidasi apabila waktu pembakaran bahan tersebut sama atau lebih pendek dari waktu pembakaran senyawa standar. Sedang untuk bahan cair. atau sumber nyala lainnya. f. Enri Damanhuri . kulit atau mulut. senyawa standar yang digunakan adalah larutan asam nitrat. penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan. o Hghly flammable: padatan atau cairan yang memiliki titik nyala 0oC . dan apabila terus menerus kontak dengan kulit atau selaput lendir dapat menyebabkan peradangan h. d. Pengujian dapat pula dilakukan dengan Seta Closed-cup Flash Point Test. Tabel 2.000 5001 – 15. c. Harmful (berbahaya): padatan maupun cairan ataupun gas yang jika kontak atau melalui inhalasi (pernafasan) atau melalui oral dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan sampai tingkat tertentu.21oC. dan atau mempunyai titik nyala ≤ 60oC (140oF).4: Tingkat racun menurut PP 74/2001 Urutan 1 2 3 4 5 6 Kelompok Extremely toxic (amat sangat beracun) Highli toxic (sangat beracun) Moderately toxic (beracun) Slighly toxic (agak beracun) Practically non-toxic (praktis tidak beacun) Relatively harmless (realtif tidak berbahaya) LD50 (mg/kg) ≤1 1 – 50 51 – 500 501 – 5. g. atau bahan tersebut dapat merusak lingkungan. Dari hasil pengujian tersebut. dengan titik nyala di bawah 40oC. b. Irritant (bersifat iritasi): padatan maupun cairan yang bila terjadi kontak secara langsung.4-dinitrotoluena atau Dibenzoil-peroksida digunakan sebagai senyawa acuan. Oxidizing (pengoksidasi): pengujian bahan padat dilakukan denganemtode uji pembakaan menggunakan ammonium persulfat sebagai senyawa standar.FTSL ITB Halaman 19 . Flammable (mudah menyala): o Extremely flammable: padatan atau cairan yang memiliki titik nyala (flash point)di bawah 0oC dan titik didih lebih rendah atau sama dengan 35oC. Dangerous to the Environment (berbahaya bagi lingkungan): seperti merusak lapisan ozon (misalnya CFC).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 merusak lingkungan di sekitarnya. dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran terus menerus dalam 10 detik. maka bahan tersebut diklasifikasikan mudah meledak.35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55oC. o Bila padatan: bahan bukan cairan. o Flammable: o Bila cairan: bahan yang mengandung alkohol kurang dari 24%-volume. akan diperoleh nilai temperatur pemanasan. percikan api. akan menyala apabila terjadi kontak dengan api. Apabila nilai temperatur pemanasan suatu bahan lebih tinggi dari senyawa acuan.000 > 15. Pengujiannya dapat dilakukan dengan metode Closed-up test.5 untuk B3 bersifat basa. pada tekanan 760 mmHg. persisten di lingkungan (misalnya PCBs). o Mempunyai pH ≤ 2 untuk B3 bersifat asam. Tingkatan racun dikelompokkan seperti tabel berikut. Pengujiannya dapat dilakukan dengan menggunakan Diffrential Scanning Calorimetry (DSC) atau Differential Thermal Analysis (DTA).

19 tahun 2009: Pengesahan Konvensi Stockholm tentang Bahan Pencemar Organik yang Persisten Enri Damanhuri . Chronic toxic (toksik kronis): o Carcinogenic (karsinogen): sifat bahan penyebab sel kanker. 32 tahun 2009: Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Peraturan Pemerintah Nomor 74/2001: Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.FTSL ITB Halaman 20 . Referensi Utama: o o o Undang-Undang No. yaitu sel liar yang dapat merusak jaringan tubuh o Teratogenic: sifat bahan yang dapat mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan embrio o Mutagenic: sifat bahan yang dapat menyebabkan perubahan kromosom yang dapat merubah genetika. 26 November 2001 Undang-undang No.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 i.

gubernur.52 %) dan non B3 (97. 6. Lebih dari 90 % limbah yang berkatagori berbahaya. atau bupati/ walikota sesuai dengan kewenangannya. terutama karena sifat korosifitasnya. beracun (0. Walaupun limbah itu berasal dari kegiatan industri. Menteri. korosif (1. pengelolaannya mengikuti ketentuan pengelolaan limbah B3. Keputusan pemberian izin wajib diumumkan. dan tetap masih berlaku sebagai pengaturan lebih lanjut dari PP 18/99 jo PP 85/99.52 %). Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya.44 %) dan non B3 (77. atau bupati/walikota wajib mencantumkan persyaratan lingkungan hidup yang harus dipenuhi dan kewajiban yang harus dipatuhi pengelola limbah B3 dalam izin. Studi yang dilakukan oleh Dames & Moore untuk mengkaji kelayakan pusat pengolah limbah B3 di Cileungsi menghasilkan proyeksi total limbah berbahaya di daerah Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi (Jabotabek) pada tahun 1990 sebesar 1.90 %).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN III PERATURAN DALAM PENGELOLAAN LIMBAH B3 1 UMUM Survai di Amerika Serikat pada tahun 1981 mengungkapkan bahwa hampir 90 % dari limbah B3 yang dikelola berasal dari kegiatan industri dan 70 % diantaranya berasal dari industri kimia dan petroleum. pada dasarnya pengelolaan limbah B3 di Indonesia mengacu pada prinsip-prinsip dan pedoman pembangunan berkelanjutan yang telah dituangkan dalam peraturan perudang-undangan. korosif (8.54 %) − Karakteristik limbah padat industri adalah : mudah terbakar (0 %). Sebagaimana dibahas pada Bagian I.58 %) − Limbah B3 (cair dan padat) dari industri rata-rata di bawah 5 % dari total limbah industri yang dihasilkan. 3. Secara spesifik pengelolaan limbah B3 telah diatur lebih lanjut dalam: − Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (PP18/1999) − Peraturan Pemerintah No 85 tahun 1999 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah No. 2. survai limbah B3 yang berasal dari industri-industri di Otorita Batam menyimpulkan bahwa : − Karakteristik limbah cair industri adalah : mudah terbakar (11.FTSL ITB Halaman 21 . 18 tahun 1999 (PP85/1999) PP 18/99 jo PP 85/99 merupakan pengganti PP 19/94 jo PP12/95.50 %). pengelolaannya diserahkan kepada pihak lain. namun tidak semua berkatagori Limbah B3. Dalam hal B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 ayat (1) telah kedaluwarsa. Enri Damanhuri . beracun (2. 5. Selain itu. Dalam hal setiap orang tidak mampu melakukan sendiri pengelolaan limbah B3. khususnya Undangundang No.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 05/Bapedal/09/1995 yang merupakan pengaturan lebih lanjut PP19/1994 dan PP12/1995. 01/Bapedal/09/1995 sampai No. Peraturan-peraturan lain yang mengatur masalah limbah B3 adalah Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan dari No. gubernur.984. Pengelolaan limbah B3 wajib mendapat izin dari Menteri. Pasal 59 UU tersebut menggariskan bahwa: 1.626 ton (padat. merupakan limbah cair atau aquous liquid waste. cair dan gas). 4.

baik antar pula di Indonesia. Sebagai negara industri yang dapat dikatakan relatif paling maju. pasal 7. 349/Kp/XI/92 tentang pelarangan impor limbah B3 dan plastik • Keputusan Menteri Perdagangan RI No. limbah B3 yang dapat diimpor adalah skrap timah hitam (aki bekas). yaitu sebanyak 3 pasal. Dalam pasal I dijelaskan pasal-pasal dalam PP18/1999 yang mengalami perubahan. penyimpanan. 156/KP/VII/95. maka tidaklah berlebihan bila dalam diktat ini dibahas juga pengertian dan pengembangan peraturanperaturan yang berkaitan dengan limbah B3 di Amerika Serikat. Karakteristk dan Proses Penentuan Limbah B3: Pengertian pengelolaan limbah B3 adalah '.. Indonesia telah meratifikasi Konvensi Basel. rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi.156/Kp/VII/95 tentang prosedur impor limbah Disamping itu. Indonesia sangat potensial sebagai tempat pembuangan limbah berbahaya. Pasal I berisi pasal-pasal dalam PP 18/1999 yang mengalami perubahan. khususnya konsep cradle-to-grave yang menjadi rujukan dalam peraturan tentang limbah berbahaya di Indonesia. − Bab VIII (pasal 66): Ketentuan penutup. Sebagai negara kepulauan dengan perairannya yang terbuka. maupun limbah yang datang dari luar negeri. sampai jangka waktu terbatas. yang berupaya mengatur ekspor dan impor serta pembuangan limbah B3 secara tidak syah. Dapat dikatakan. − Bab VII (pasal 64 sampai 65): Ketentuan peralihan. Peraturan-peraturan yang langsung menangani lintas batas limbah adalah: • Keputusan Presiden RI No. yaitu: pasal 6. Timbulnya gerakan lingkungan tahun 1960-an.61/1993 tentang Pengesahan Convension on The Control of Transboundary Movements of Hazardous Wastes and Their Disposal. pengangkutan. 2 PENGELOLAAN LIMBAH B3 DALAM PP 18/1999 JUNCTO PP 85/1999 Hal yang Diatur: PP 18/1999 tentang pengelolaan limbah berbahaya dan beracun terdiri dari 8 bab yang dibagi lagi menjadi 42 pasal. Kedelapan bab tersebut adalah : − Bab I (pasal 1 sampai 5): Ketentuan umum. Sumber... Sedangkan tujuan pengelolaan tersebut Enri Damanhuri .155/Kp/VII/95 tentang barang yang diatur tata niaga impornya • Keputusan Menteri Perdagangan RI No.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Dalam hal masalah lintas batas limbah ini. − Bab V (pasal 40 sampai 61): Tata laksana.FTSL ITB Halaman 22 . pengumpulan. PP 18/1999 jo PP 85/1995 melarang impor limbah B3 kecuali dibutuhkan untuk penambahan kekurangan bahan baku sebagai bagian pelaksanaan daur-ulang limbah. − Bab II (pasal 6 sampai 8): Identifikasi limbah B3 − Bab III (pasal 9 sampai 26): Pelaku pengelolaan. − Bab VI (pasal 62 sampai 63): Sanksi. dan pasal 8. dan pasal II (Penutup). memaksa Kongres Amerika untuk memperhatikan masalah limbah industri ini lebih serius. Sedang PP 85/1999 yang merupakan perubahan dari PP 18/1999 hanya terdiri dari 2 (dua) pasal.. • Keputusan Menteri Perdagangan RI No. Dengan SK Menteri Perdagangan No. − Bab IV (pasal 27 sampai 39): Kegiatan pengelolaan . misalnya hanya dibuang ke lahan landfill yang belum dilapis secara kedap. pemanfaatan. pengolahan limbah dan penimbunan limbah B3' (pasal 1 angka 3). sampai tahun 1960-an pengelolaan limbah industri di Amerika Serikat masih belum memadai.

Bersiafat reaktif d. akan menimbulkan permasalahan. Sebelumnya PP 19/1994 mendefinisikan bahwa penghasil limbah B3 tidak hanya mereka yang bergerak dalam kegiatan yang bersifat komersial tetapi termasuk juga perorangan yang menyimpan limbahnya dalam lokasi kegiatannya sebelum limbah tersebut ditangani lebih lanjut sesuai dengan peraturan yang ada.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 adalah : '. Limbah B3 dari sumber spesifik (Lampiran I Tabel 2) c.FTSL ITB Halaman 23 .. seperti diatur dalam Ps 7(1). Tabel 2 (Sumber spesifik) dan Tabel 3 (limbah kimia kadaluarsa).. untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang sudah tercemar sehingga sesuai fungsinya kembali ' (pasal 2). maka identifikasi harus dilanjutkan dengan Langkah berikutnya • Langkah 2: melakukan uji karakteristik sebagaimana tercantum dalam Ps 7(3) PP85/99 seperti diuraikan berikut ini. Beracun e. Pengertian ‘orang’ yang sering muncul dalam PP18/99 seperti dijelaskan dalam Ps1(18) adalah orang perorangan. dengan daftar limbah (Lampiran 1 Tabel 1 dan 3) atau daftar kegiatan (Lampiran 1 Tabel 2) yang tercantum dalam PP85/99. yang hanya bisa dilaksanakan oleh sebuah usaha komersial.. dan atau kelompok orang dan atau badan hukum. serta kegiatan skala kecil tidak terkena peraturan ini. Sebuah limbah dinyatakan sebagai limbah B3. Ps 7(3) PP85/99 selanjutnya mendefinisikan uji karakteristik limbah B3 sebagai berikut: a. bahwa yang terkena definisi tersebut adalah badan usaha yang menghasilkan limbah B3. melalui beberapa langkah. Bila tidak terdapat dalam daftar tersebut. PP18/99 mendefisikan bahwa penghasil limbah B3 adalah orang yang usaha dan atau kegiatannya menghasilkan limbah B3 seperti di tegaskan dalam Ps1(5). maka secara formal limbah tersebut adalah limbah B3. bekas kemasan. tumpahan. Pasal 1 angka 2 mendefinisikan limbah berbahaya dan beracun (disingkat B3) adalah sebagai sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya yang dapat diidentifikasikan menurut sumber dan/atau uji karakteristik dan atau uji toksikologi (PP85/99 Ps 6). Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa. karena izin pengelolaan limbah B3 membutuhkan prosedur administrasi yang tidak sederhana. Bersifat korosif g. yaitu: • Langkah 1: mengidentifikasi limbah yang dihasilkan. Enri Damanhuri . Bila terdapat dalam daftar. Kemudian PP 12/1995 membatasi.. seperti ditegaskan dalam Ps9(6).. Mudah meledak b. Ps 7 (1) PP85/99 menyebutkan bahwa jenis limbah B3 menurut sumbernya meliputi: a. Menyebabkan infeksi f. Pengujian toksikologi untuk menentukan sifat akut dan atau kronik. Bila batasan penghasil limbah B3 diterapkan juga pada kelompok tersebut. yaitu Tabel 1 (Sumber tidak spesifik). karena pengaturannya akan ditetapkan kemudian oleh instansi yang bertanggungan jawab. seperti batere bekas. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik (Lampiran I Tabel 1) b. Mudah terbakar c. Limbah B3 yang dihasilkan oleh kegiatan rumah tangga. dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi (Lampiran I Tabel 3) Rincian dari masing-masing jenis kelompok tersebut terdapat pada Lampiran I PP85/99.

tinta. farmasi. kilang minyak dan gas bumi. • Merupakan limbah yang bertekanan yang mudah terbakar • Merupakan limbah pengoksidasi Limbah yang bersifat reaktif pada air adalah limbah-limbah dengan salah satu sifat: • Limbah yang pada keadaan normal tidak stabil dan dapat menyebabkan perubahan tanpa peledakan • Limbah yang dapat bereaksi hebat dengan air Enri Damanhuri . dan atau pada titik nyala ≤ 60oC (140oF). Limbah B3 dari sumber spesifik adalah limbah sisa proses suatu industri atau kegiatan yang secara spesifik dapat ditentukan berdasarkan kajian ilmiah. komponen elektronik-peralatan elektronik. PLTU yang mengunakan bahan bakar batu-bara. pengolahan batu-bara dengan pirolisis. allumunium thermal metallurgyallumunium chemical conversion coating. proses kloro-alkali. gas industri. semua jenis industri konstruksi (untuk limbah asbestos). peleburan timah hitan (Pb). pelarutan kerak. Terdapat 178 jenis bahan kimia yang termasuk kelompok limbah B3. cat. pencucian. pertambangan. pestisida. produk kertas. pengemasan. pengoperasian insinerator limbah. metal-plastic shaping. daur-ulang pelarut bekas. peleburan-pemurnian tembaga. fotografi. Jenis kegiatan yang termasuk kelompok sumber spesifik adalah industri atau kegiatan: pupuk. polimer. fotokopi. • Bukan berupa cairan yang pada temperatur dan tekanan standar dengan mudah menyebabkan terjadinya kebakaran melalui gesekan. resin adesif. bekas kemasan. dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran terus menerus. daurulang minyak pelumas bekas.FTSL ITB Halaman 24 . operasi penyempurnaan baja. laundry dan dry cleaning. peleburan-pengolahan besi dan baja. sabun deterjen-produk pembersih desinfektan-kosmetik. pengolahan lemak hewan/nabati dan derivatnya. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa. prosers logam non-ferro. 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan di sekitarnya (bandingkan dengan uraian pada PP74/2001) Limbah mudah terbakar adalah limbah-limbah yang memunyai salah satu sifat: • Berupa cairan yang mengandung alkohol kurang dari 24%-volume. IPAL industri. tumpahan. chemical-industrial cleaning. tekstil. metal hardening. Sumber limbah ini terbagi dalam 51 jenis kegiatan yang termasuk kelompok penghasil limbah B3.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Sumber limbah tidak spesifik adalah sumber limbah yang menghasilkan limbah yang pada umumnya bukan berasal dari proses utamanya. pengawetan kayu. Limbah mudah meledak adalah limbah yang pada suhu dan tekanan standar (25oC. batere sel kering. semua jenis industri yang menghasilkan dan menggunakan listrik (untuk limbah PCB). bengkel pemeliharaan kendaraan. manufaktur dan perakitan kendaraan-mesin. rumah sakit. laboratorium riset dan komersial. Terdapat 43 jenis limbah yang termasuk kelompok ini. tetapi berasal dari kegiatan pemeliharaan alat. gelas keramik/enamel. seal-gasket-packing. akan menyala apabila terjadi kontak dengan api. pencegahan korosi. batere sel basah. petrokimia. dan buanagn produk yang tidak memenuhi spesifikasi yang ditentukan atau tidak dapat dimanfaatkan lagi. percikan api. atau sumber nyala lainnya. penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan. electroplating dan galvanis. zat warna dan pigmen. penyamakan kulit. peleburan dan penyempurnaan seng. pada tekanan 760 mmHg. eksplorasi dan produksi minyak-gas-panas bumi.

yang merupakan simulasi terburuk kondisi landfill. bottom ash. sludge minyak. karbon aktif dan absorban bekas. dan atau pH ≥ 12. penghasil limbah masih tetap diharuskan melakukan uji toksisitas akut maupun kronis Limbah yang menyebabkan infeksi yaitu bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan dari tubuh manusia yang terkena infeksi. Simulasi transportasi pencemar ini. bila ambang batas TCLP tidak terlampaui.5 untuk B3 bersifat basa. atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan Limbah yang dengan mudah dapat meledak atau bereaksi pada suhu dan tekanan standar Limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepas atau menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi Limbah yang beracun adalah limbah yang mengandung pencemar yang bersifat racun bagi manusia dan lignkungan yang dapat menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan. yang merupakan batas ambang yang digunakan untuk indikasi B3. Indikator sifat racun yang digunakan adalah TCLP (Toxicity Characteristics Leaching Procedure). Limbah bersifat korosif adalah limbah yang mempunyai salah satu sifat o Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit o Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja standar SAE-1020 dengan laju korosi lebih besar dari 6. Asal limbahnya adalah fly ash. Pada dasarnya sebetulnya. limbah PCB Enri Damanhuri . Limbah ini berbahaya karena mengandung kuman penyakit seperti hepatitis dan kolera. Asal limbahnya adalah sludge minyak. yang ditularkan pada pekerja. dan kewenangan pengelolaannya dilakukan oleh Badan Tenaga Atom Nasional sesuai dengan UU no. Limbah yang Dapat Dikeluarkan dari Daftar Lampiran I: Menurut PP85/99. yang airnya digunakan secara rutin. gas dan panas bumi. filter bekas. karbon aktif bekas. limbah PCB • D223: PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara. seperti tercantum dalam lampiran II PP85/99. sulfida atau amoniak yang pada pH antara 2 dan 12. uap. uji TCLP adalah uji yang dikembangkan oleh US-EPA. 31 tahun 1994 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Tenaga Atom. cutting pemboran.5 dapat menghasilkan gas. Namun dalam versi Indonesia. limbah laboratorium.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 • • • • Limbah yang bila bercampur dengan air (termasuk uap air) menimbulkan ledakan. limbah dari laboratorium atau limbah lainnya yang terinfeksi kuman penyakit yang dapat menular.35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55oC. drilling mud bekas. yang menyebabkan terjadinya pencemaran pada air tanah. • D221: limbah dari kegiatan kilang minyak dan gas bumi. katalis bekas. menghasilkan gas. sludge dari IPAL. o Mempunyai pH ≤ 2 untuk B3 bersifat asam.FTSL ITB Halaman 25 . residu dasar tanki. daftar limbah yang dapat dikecualikan adalah seperti terdapat pada Lampiran I – Tabel 2. Pengelolaan limbah radioaktif tidak termasuk dalam peraturan ini (Ps 5 PP18/99). sludge dari IPAL. residu dasar tanki. pembersih jalan dan masyarakat lain di sekitar lokasi pembuangan limbah. dengan kode: • D220: limbah dari kegiatan eksplorasi dan produksi minyak. kulit dan mulut. menghasilkan batas aman yang memperhitungkan probabilitas terjadinya toksisitas kronik non-kanker maupun kanker. uap atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan Limbah sianida. Asal limbahnya adalah slop minyak.

Ps 9 (1) PP18/99 menegaskan bahwa setiap penanggung jawab usaha atau kegiatan yang menggunakan B3 atau menghasilkan limbah B3 wajib melakukan reduksi baik bahan maupun limbahnya. semua jenis limbah tersebut oleh yang berwenang dinyatakan sebagai limbah B3. Oleh karenanya. yaitu: • Uji karakteristik limbah B3 • Uji toksikologi • Hasil studi yang menyimpulkan bahwa limbah yang dihasilkan tidak menimbulkan pencemaran dan gangguan kesehatan terhadap manusia dan mahluk hidup lainnya. maka Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. baik dilakukan sendiri atau menggunakan jasa fihak lain.3) dari terbentuknya limbah oleh penghasil. Rangkaian mata rantai berikutnya adalah: − Pemanfaatan limbah oleh pemanfaat. − Pengumpulan limbah oleh pengumpul. terkait berbagai fihak yang merupakan mata rantai dalam pengelolaan limbah B3. artinya mengutamakan upaya reduksi di sumber. maka PP 18/99 jo PP85/99 mengarahkan penanganan limbah B3 yang lebih berbasiskan pada cleaner production. Aspek pengawasan dan sanksi juga diatur dalam kedua PP tersebut. Selanjutnya Ps 8 mengatur bahwa limbah B3 yang tercantum dalam Lampiran I Tabel 2 PP85/99 dapat dikeluarkan dari daftar setelah dapat dibuktikan bukan limbah B3 berdasarkan prosedur pembuktian secara ilmiah. PP tersebut mengatur masalah perizinan bagi mereka yang akan terlibat dalam bisnis kegiatan operasional tersebut. Bila kegiatan reduksi tersebut masih menghasilkan limbah. Badan yang mempunyai kewenangan untuk mengawasi pengelolaan limbah B3 tersebut di Indonesia adalah sebuah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. dan masih limbahnya dapat dimanfaatkan. Kegiatan dan Pelaku Pengelolaan: Berbeda dengan PP19/94 jo PP12/95. yang dikenal sebagai BAPEDAL. Ps 27 (1) PP tersebut mengarahkan bahwa reduksi limbah B3 dapat dilakukan melalui upaya: o Penyempurnaan penyimpanan bahan baku dalam proses house keeping. dan melakukan pengolahan. dan − Pengolahan dan penimbunan limbah oleh pengolah Dalam kegiatan tersebut. tanpa menunggu pembuktian terlebih dahulu. Dengan adanya kedua PP tersebut. dilarang membuang limbahnya secara langsung ke dalam media lingkungan hidup. kemudian upaya reduksi limbah (sebelum terbentuk) seperti diuraikan di atas. maka instansi yang bertanggung sepertinya berada pada Kementerian ini. o Substitusi bahan o Modivikasi proses o Serta upaya reduksi lainnya Secara teknis operasional. Dengan penyatuan institusi Bapedal dalam Kementerian Lingkungan Hidup. maka pengelolaan limbah B3 menurut PP 18/99 jo PP85/99 merupakan suatu rangkaian kegiatan (Ps 1.FTSL ITB Halaman 26 . dan/atau penimbunan bagi limbahnya. Sebelum dibubarkan beberapa tahun lalu. bertanggung jawab akan hal itu. − Pengangkutan limbah oleh pengangkut. Setiap mata rantai tersebut memerlukan pengawasan dan pengaturan. Enri Damanhuri . Namun pada kenyataannya di lapangan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Limbah tersebut di atas dapat dinyatakan sebagai limbah B3 setelah dilakukan uji karakteristik dan atau uji toksikologi. maka setiap penghasil limbah B3. tanpa kecuali. maka limbah B3 tersebut dapat dimanfaatkan.

Dengan demikian. baik pada saat limbah dihasilkan. penghasil limbah tidak harus menyerahkan limbahnya setiap saat kepada pengumpul atau pengangkut atau pengolah limbah. Informasi data tersebut akan digunakan untuk bahan inventarisasi serta bahan evaluasi guna pengembangan kebijakan pengelolaan limbah B3. dan limbah tersebut selanjutnya harus diserahkan kepada pemanfaat. Pengumpulan ini bersifat sementara. Ps13 dan Ps14). wajib mengolah limbahnya sesuai dengan teknologi yang ada. pemanfaat atau pengolah/penimbun limbah B3 Catatan tersebut wajib dilaporkan sekurang-kurangya sekali dalam enam bulan kepada instansi yang bertanggung jawab. sebagaimana diatur dalam Ps12 dan Ps15 PP18/99. Batas waktu bagi penghasil limbah.FTSL ITB Halaman 27 . dengan tembusan kepada instansi lain terkait. merupakan hal yang harus dilaksanakan. karakteristik. Disamping itu. maka penghasil limbah tersebut diperbolehkan menyerahkan penanganan limbahnya kepada pemanfaat limbah (Ps9-2) atau pengolah atau penimbun limbah B3 (Ps9-4) yang mempunyai kewenangan untuk itu. dan bila tidak mampu diolah di dalam negeri dapat diekspor ke negara yang mempunyai teknologi pengolahan yang sesuai (Ps9-3). Kewajiban penghasil limbah adalah mendata limbahnya secara baik. maka limbah boleh disimpan paling lama 90 hari sebelum diserahkan kepada rantai pengelola berikutnya. yang mencakup (Ps11-1): o Jenis. maka penghasil limbah dikenai kewajiban untuk mematuhi tata cara penyimpanan bagi limbah B3 (Ps29). Rantai berikutnya dalam pengelolaan ini adalah pengumpulan limbah (Ps12. pemberian symbol dan label untuk setiap kemasan yang digunakan yang menunjukkan karakteristik dan jenis limbah B3 tersebut (Ps28). jumlah dan waktu.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 tanpa pengolahan terlebih dahulu (Ps3). walaupun telah diserahkan penanganannya pada fihak lain. serta melaporkan setiap 6 bulan sekali kepada instansi yang berwenang. wajib disertai dokumen limbah B3 (Ps16). Ps18 dan Ps23). Sebagaimana pada penghasil limbah. Pengaturan lintas batas limbah B3 dari dan keluar Indonesia diatur dalam Ps53. serta Bupati/Walikota yang bersangkutan. penanganan limbah B3 dengan jalan pengenceran sehingga konsentrasinya menjadi turun tidak diperbolehkan dilakukan (Ps4). maupun pada saat limbah tersebut diserahkan kepada pengelola berikutnya o Nama pengangkut limbah B3 yang melaksanakan pengiriman kepada pengumpul. Bila limbah B3 yang dihasilkan kurang dari 50 kg/hari. Demikian juga upaya kegiatan pengumpulan dan pengangkutan limbah B3 menuju lokasi pemerosesan berikutnya. yang dikenal sebagai Small Quantity Generator (SQG). Namun penghasil limbah B3 tetap bertanggung jawab atas limbah yang diolah tersebut. Setiap kegiatan yang menghasilkan limbah B3. dengan syarat mendapat persetujuan instansi yang bertanggung jawab (Ps10). dapat diserahkan kepada fihak lain. karena kegiatan ini tidak akan menurunkan beban limbah yang dihasilkan. Bagi mereka yang tidak mampu untuk menangani limbahnya sesuai peraturan yang ada. Demikian pula pengolah limbah B3 dapat menyimpan limbah yang diterimanya maksimum 90 hari sebelum dilakukan pengolahan. Pengangkut limbah B3 wajib menyerahkan limbah B3 dan dokumennya kepada Enri Damanhuri . Setiap pengangkutan limbah B3 oleh pengangkut. PP ini juga mengatur penghasil limbah yang dikatagorikan sedikit menghasilkan limbah B3. Kewajiban untuk mendata limbah B3 yang dikelola. atau pengolah-penimbun limbah yang diakui oleh yang berwenang. Selama penyimpanan tersebut. maka penghasil limbah tersebut dapat menyimpan limbahnya lebih dari 90 hari. atau pemanfaat limbah atau pengolah/penimbun limbah untuk menyimpan limbahnya sebelum dikelola lebih lanjut tidak lebih dari 90 hari (Ps10.

Usaha ini membutuhkan izin terlebih dahulu dari Menteri yang mempunyai kewenangan di bidang perhubungan setelah mendapat pertimbangan dari Menteri Lingkungan Hidup. pengolahan limbah bersasaran untuk merubah karakteristik dan komposisi limbah tersebut agar menjadi tidak berbahaya lagi. alat angkut yang digunakan harus sesuai dengan peraturan tentang angkutan yang ada. maka dibutuhkan teknologi lain yang terbaik dan tersedia. pengolahan limbah bersasaran agar limbah tersebut dapat terdaur-ulang atau terdaurpakai. Berdasarkan uraian dalam Penjelasan atas PP 18/99. angkutan darat (UU 14/1992). yaitu : perkereta-apian (UU 13/1992). penerbangan (UU 15/1992) dan pelayaran (UU 21/1992). Dokumen tersebut dibuat dalam rangkap 7 apabila pengangkutan hanya satu kali. maka dibutuhkan dokumen 11 rangkap. Mekanisme Cradle-to-Grave: Dokumen limbah akan memegang peranan penting dalam pemantauan perjalanan limbah B3 dari penghasil sampai ke pengolah limbah. Dokumen tersebut antara lain berisi: o Nama dan alamat penghasil limbah atau pengumpul yang menyerahkan limbah o Tanggal peneyerahan limbah o Nama dan alamat pengangkut limbah o Tujuan pengangkutan o Jenis. limbah tersebut harus dilengkapi dokumen-dokumen yang berasal dari penghasil limbah maupun dari pengumpul limbah yang menjelaskan tentang limbah tersebut.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 pengumpul atau pemanfaat atau pengola atau penimbun yang ditunjuk oleh penghasil limbah B3 (Ps17).FTSL ITB Halaman 28 . − Lembar ke 3: disimpan oleh penghasil setelah ditandatangani oleh pengangkut − Lembar ke 4: setelah ditanda tangani oleh pengirim limbah. setelah ditandatangani pleh penerima limbah Enri Damanhuri . Disamping itu. dengan aturanaturan yang berlaku bagi pengangkut limbah B3. rincian distribusi dokumen limbah tersebut adalah sebagai berikut: − Lembar ke 1 (asli): disimpan pengangkut setelah ditandatangani oleh pengirim limbah − Lembar ke 2: setelah ditandatangai oleh pengangkut limbah. jumlah. pengolahan secara fisika. dan menyerahkan dokumen tersebut kepada pengolah limbah bila limbah tersebut telah sampai di tujuan. Bila teknologi tersebut tidak dapat diterapkan. stabilisasi dan solidifikas. Disamping itu. komposisi. kemudian dikirimkan kepada instansi yang bertanggung jawab oleh pengirim limbah. Apabila pengengkutan lebih dari satu kali (antar moda). Pada dasarnya. Proses tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi yang sesuai. Rantai pengeolaan yang paling akhir adalah penimbunan imbah B3 dalam sebuah landfill limbah B3 dengan system pelapis dasar. Sektor pengangkutan merupakan aktivitas yang beresiko tinggi. Penghasil limbahpun dapat bertindak sebagai pengangkut limbah. Rantai akhir dari sistem ini adalah pengolahan dan penyingkiran (disposal) limbah. dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan di jalan serta hal-hal lain yang tidak diinginkan. yang akan merupakan sarana permantauan yang serupa dengan konsep cradle-to-grave yang diterapkan di Amerika Serikat. kemudian oleh pengangkut diserahkan kepada penerima limbah − Lembar ke 5: dikirimkan oleh penerima kepada instansi yang bertanggung jawab setelah diterima oleh penerima limbah B3 − Lembar ke 6: dikirimkan oleh pengangkut kepada Bupati/Walikota yang bersangkutan dengan pengirim. Selama dalam perjalanannya. seperti secara termal. dan karakteristik limbah yang diserahkan. kimia dan biologi (Ps34).

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − Lembar ke 7: setelah ditandatangani oleh penerima. Untuk itu dibutuhkan izin operasi (Ps40).FTSL ITB Halaman 29 . yaitu : − dari Kepala instansi yang bertanggung jawab untuk kegiatan penyimpanan. − alat pencegahan pencemaran yang digunakan Yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan izin lokasi pengolahan adalah kepala kantor pertanahan kabupaten/kota (pasal 42) sesuai dengan rencana tata ruang berdasarkan rekomendasi Kepala instansi yang bertanggung jawab. pengumpulan. maka oleh pengangkut dikirimkan kepada pengirim limbah. Dalam bentuk skema. − tata letak sarana dan prasarana. − lokasi tempat kegiatan.1. − Lembar ke 8 sampai ke 11 dikirim oleh pengangkut kepada pengirim limbah setelah ditandatangani oleh pengangkut terdahulu dan diserahkan kepada pengangkut berikutnya (antar moda). hanya rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang telah disetujui oleh instansi berwenang yang diajukan kepada Instansi yang bertanggung jawab bersama persyaratan lainnya. untuk melengkapi perizinan kegiatan pengolahan limbah tersebut. disertai dokumen-dokumen yang biasa menyertainya. Disamping itu. dibutuhkan analisis dampak lingkungan terlebih dahulu. − nama dan alamat penanggung jawab. baik sebagai penyimpan. − spesifikasi alat pengolah limbah. maka analisis dampak lingkungannya dibuat teritegrasi dengan kegiatan utamanya dengan persyaratan yang berlaku. persyaratan lain untuk memperoleh izin tersebut adalah adanya informasi yang menyangkut tentang: − nama dan alamat yang jelas dari badan usaha tersebut. pengumpul. Untuk itu. pengangkut maupun sebagai pengolah limbah tersebut. mata rantai perjalanan limbah beserta dokumennya adalah seperti tercantum dalam Skema 3. − jumlah dan karakteristik limbah yang akan ditangani. Enri Damanhuri . Disamping mempunyai legalitas badan usaha. Dalam hal penghasil limbah bertindak pula sebagai pengolah limbah dan kegiatan tersebut dilakukan pada lokasi yang sama. setelah mendapat rekomendasi dari Kepala instansi yang bertanggung jawab. pemanfaat. dan pengolahan-penimbunan. pemanfataan. − dari Menteri Perhubungan untuk kegiatan pengangkutan limbah B3. − bahan baku dan proses yang akan digunakan. − bentuk kegiatan yang akan dilakukan. Skema 3.1 : Mata rantai perjalanan limbah beserta dokumennya Pengelolaan limbah B3 memungkin badan swasta untuk terlibat di dalamnya.

khususnya limbah industri. pengangkut dan atau pengolah limbah adalah membantu sepenuhnya aktivitas pengawasan yang dilakukan di daerah tanggung jawabnya. dan fihak pengelola diwajibkan untuk segera menaggulanginya. − Toxic Substances Control Act (TSCA .1980) dan Superfund Amendement and Reautorization Act (SARA Enri Damanhuri .1976) : pengaturan pengelolaan limbah berbahaya − Hazardous and Solid Waste Amandements Act (HSWA . maka limbah B3 dilarang masuk ke wilayah Indonesia.1976) : pengaturan penggunaan bahan kimia berbahaya yang baru dihasilkan.FTSL ITB Halaman 30 . Pengiriman limbah B3 ke luar Indonesia membutuhkan persetujuan tertulis dari pemerintah negara penerima dan izin tertulis dari pemerintah Indonesia. Beberapa peraturan-peraturan Federal yang berkaitan dengan masalah lingkungan. khususnya yang berkaitan dengan masalah pengelolaan limbah B3 antara lain adalah : − Atomic Energy Act (1954) : merupakan revisi Atomic Energy Act tahun 1946. Compensation and Liabilities Act (CERCLA . − Solid Waste Disposal Act (1965) dan Resource Recovery Act (1970) : pengaturan tentang pengolahan dan pendaur-ulangan buangan padat. dan biaya kegiatan tersebut dibebankan pada fihak pengelola. 3 KONSEP CRADLE-TO-GRAVE AMERIKA SERIKAT Sebagai negara industri. Dalam hal pengangkutan limbah B3 antara negara yang melalui wilayah Indonesia. Upaya ini merupakan kewajiban fihak pengelola untuk melaksanakannya. Kewajiban penghasil. Fungicide and Rodenticide Act (FIFRA-1972) : mengatur penyimpanan dan disposal pestisida. pengumpul. maka dibutuhkan pemberitahuan tertulis terlebih dahulu kepada pemerintah Republik Indonesia. − meminta keterangan tentang pelaksanaan pengelolaan limbah. Pengawasan pengelolaan limbah B3 yang dilakukan oleh Instansi yang bertanggung jawab meliputi pematauan penaatan persyaratan serta ketentuan teknis dan administratif oleh fihak-fihak yang mengelola limbah B3. Bila fihak pengelola tidak dapat menanggulanginya secara baik. − melakukan pemotretan untuk kelengkapan pengawan tersebut. Guna mencegah dijadikannya wilayah Indonesia sebagai tempat pembuangan limbah B3. Kontrol yang aktif dari masyarakatnya banyak menelorkan peraturan-peraturan guna mengatur masalah ini. Pemeriksaan kesehatan pekerja oleh instansi yang berwenang di bidang kesehatan tenaga kerja dilakukan secara berkala agar sejak dini dapat diketahui terjadinya kontaminasi oleh zat-zat berbahaya. maka fihak pengelola bertanggung jawab atas hal ini. Hal lain yang mendapat perhatian dalam kedua PP tersebut adalah kesehatan dan keselamatan pekerja yang terlibat dalam kegiatan pengelolaan ini serta tanggung jawab pengelola bila terjadi kecelakaan serta pencemaran. − Resource Conservation and Recovery Act (RCRA . − Federal Insecticide. yang mengatur permasalahan penggunaan energi nuklir. − mengambil contoh limbah untuk dianalisa di laboratorium.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 PP18/99 tersebut juga mengatur perpindahan lintas batas limbah B3 dari dan ke luar Indonesia (Ps53). maka Instansi yang bertanggung jawab akan melakukan upaya penanggulangan.1984) : tentang perlindungan terhadap air tanah dari limbah berbahaya − Comprehensive Environmental Response. Bila terjadi kecelakaan atau pencemaran atau kerusakan lingkungan akibat kegiatan tersebut. Pengawasan tersebut mempunyai kewenangan untuk: − memasuki area lokasi kegiatan. Amerika Serikat relatif banyak mengalami banyak masalah dengan limbah.

9999 %. khususnya limbah B3. agar tidak mengganggu terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Dalam pengelolaan limbah berbahaya. dikelola dengan baik. Namun uji coba pada hewan akhirnya menunjukkan bahwa PCB dapat menyebabkan kanker dan sebagainya. aditif untuk makanan. RCRA dalam hal ini menugaskan USEPA untuk melaksanakan aturan-aturan yang ada. versi RCRA yang paling penting adalah aturan-aturan yang termasuk dalam Subtitle-C dengan program utamanya adalah Cradle-to-grave . dan Enri Damanhuri . sehingga digunakan sebagai media transfer panas pada transformator dan kapasitor. Diperkirakan sekitar 77. HSWA (1980). DRE (Destruction and Removal Efficiency) yang dipersyaratkan paling tidak adalah sebesar 99. obat-obatan dan kosmetika. Melalui TSCA. senjata api/amunisi. transportasi. Direncanakan. bahan nuklir. Salah satu kasus yang dapat dijadikan contoh adalah penggunaan polychlorinated biphenyl (PCB). Solid Waste Disposal Act pada dasarnya mengatur tata cara disposal (penyingkiran) limbah kota dan industri. pengolahan. namun sejumlah besar alat listrik masih menggunakan bahan ini. Dalam peraturan tersebut.5 detik dengan 2 % kelebihan oksigen. yaitu : − Penghasil (generator). dicantumkan aturan-aturan administratif dan tehnis untuk tiga katagori pelaku utama. sampai penyingkiran/pemusnahan (disposal) limbah berbahaya. RCRA dianggap merupakan produk legislatif yang paling penting dalam pengaturan limbah B3. Dengan adanya peraturan tersebut maka tidak satupun bahan kimia yang boleh diimport atau dieksport tanpa kontrol dan persetujuan USEPA. disamping itu USEPA mempunyai kewenangan untuk mendapatkan informasi tentang bahan berbahaya ini di sumbernya (pabrik). PCB telah diproduksi di Amerika Serikat sejak tahun 1929. Toxic Substances Control Act (TSCA) memberi kewenangan pada USEPA untuk mengidentifikasi dan memantau bahan-bahan kimia berbahaya di lingkungan .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 1986) yaitu tentang pengaturan dan pendanaan bagi pembersihan site disposal berbahaya yang sudah tidak beroperasi. persyaratanpersyaratan mulai dari sumber (timbulan). penyimpanan. yang terdiri dari berbagai Subtitle. Berdasarkan hal ini keluarlah RCRA. maka yang sangat berkaitan erat dengan masalah limbah berbahaya adalah TSCA (1976). − Pengangkut (transporter). harus diuji dulu sebelum bahan tersebut diproduksi untuk dipasarkan. dan telah mengalami beberapa kali amandemen sejak dikeluarkannya pada tahun 1976. serta bagaimana mengurangi timbulan limbah tersebut. serta terkonsentrasi pada jaringan lemak. − Pollution Prevention Act (1990) : strategi penanganan pencemaran limbah dengan memberikan priporitas pada minimasi limbah Dari sekian banyak peraturan perundang-undangan tersebut di atas. Produk ini telah diatur oleh peraturan-peraturan sebelumnya.FTSL ITB Halaman 31 . Efek toksik dari bahan yang baru dihasilkan. RCRA (1976). Bahan-bahan kimia yang diproduksi sebelum TSCA juga terkena peraturan ini. pestisida. transformator tersebut akan ditarik dari peredaran oleh USEPA. CERCLA (1980) dan SARA (1986). Katagori produk yang tidak termasuk dalam kontrol TSCA adalah tembakau. dan merupakan bahan cair dengan sifat-sifat yang menguntungkan yaitu mempunyai stabilitas panas serta sifat-sifat transfer panas yang ideal. Perkembangan lebih lanjut ternyata dibutuhkan aturan-aturan lebih jauh agar limbah tersebut. makanan. yaitu dari mulai identifikasi limbah berbahaya. atau 1600 ± 100°C selama 1.000 transformator dengan PCB telah diproduksi. Proses pemusnahan yang paling cocok adalah dengan insinerasi pada temperatur 1200 ± 100°C selama 2 detik dengan 3% kelebihan oksigen di cerobong. produk PCB di Amerika Serikat telah dihentikan (1977).

EPA pada tahun 1980 lebih lanjut mendefinisikan Small Quantity Generator (SQG) sebagai penghasil limbah berbahaya kurang dari 1000 kg per bulan. yang memungkinkan untuk pemanfaatkan dan pelacakan limbah berbahaya tersebut dalam mata rantai pengelolaan. dan menyerahkan copy yang lain pada perusahaan TSD (Treatment. yaitu aturan-aturan pengangkutan bahan berbahaya dan beracun mulai dari pengemasan. Storage & Disposal) Enri Damanhuri . walaupun pengusaha tetap diwajibkan untuk menganalisis limbahnya. USEPA juga mengadopsi aturan-aturan yang telah lama digunakan oleh US Departement of Transportation (DOT).2 : Konsep cradle-to-grave Amerika Serikat − Setiap generator mengisi format standar dalam 6 kopi. penyimpan. Aturan RCRA selanjutnya dikodifikasi dalam Code of Federal Regulation (CFR) dengan sebutan Title 40 CFR.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − Pemilik/operator fasilitas pengolah(treatment). dan pada tahun 1984 plafon SQG ini diturunkan lagi menjadi 100 kg limbah B3 per bulan. Bila Generator skala kecil diharuskan mengikuti aturan tersebut. Dengan pengecualian ini. selama pengangkutan sampai di tujuan. USEPA menyadari akan sulit menerapkannya.FTSL ITB Halaman 32 . antara lain berisi : − Identifikasi limbah B3 − Penghasil limbah B3 − Pengangkut limbah B3 − Pemilik/operator fasilitas pengolah. sebagian besar jenis limbah dari SQG dikeluarkan dari Subtitle-C. penyimpan (storage) dan pemusnah/penyingkir (disposal) atau TSD.2 : Skema 3. − Generator menyimpan kopi-6 dan mengirim kopi-5 ke USEPA serta memberikan copy yang lain ke transporter − Transporter selanjutnya menyimpan kopi-4. Guna memungkinkan pelacakan dan pengelolaan sesuai dengan konsep Cradle-tograve. Oleh karenanya. Generator limbah B3 harus mendapatkan nomor identifikasi dari USEPA. Perusahaan kecil dibatasi kemampuan finansial dan kapasitasnya untuk melaksanakan aturan RCRA secara ketat. pembuang limbah B3 − Daur ulang limbah B3 − Land disposal limbah B3 − Izin fasilitas TSD Generator adalah penghasil (creator) limbah berbahaya yang harus menganalisis limbah padatnya sesuai aturan RCRA Subtitle-C. maka diciptakan mekanisme seperti Skema 3.

yang melibatkan 3 kegiatan fungsional. termasuk juga cara analisis limbah B3 dan sebagainya. ledakan. CERCLA diperkuat oleh SARA yang mengatur pengumpulan dana melalui pajak khusus untuk menjamin terlaksananya pembersihan lingkungan. Sebelum adanya Comprehensive Enviromental Respons. Dengan demikian. dan tidak menerima limbah dari generator yang tanpa nomor tersebut. kopi-2 ke USEPA dan TSD menyimpan kopi-3. − Storage (penyimpanan) : penyimpanan sementara limbah berbahaya sebelum diolah atau dimusnahkan atau didaur-ulang.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − TSD kemudian mengirimkan kopi-1 kembali ke generator. tidak terjangkau oleh EPA. terutama pada landfill limbah B3 yang tidak terkontrol. Oleh karenanya. maka EPA hanya mampu mengatur pengelolaan limbah berbahaya yang masih aktif dan baru ditutup. generator harus menghubungi transporter atau TSD untuk menentukan status dari limbah tersebut.FTSL ITB Halaman 33 . − Disposal (pemusnahan/penyingkiran) : penyimpanan limbah berbahaya dengan cara yang dianggap aman dengan penimbunan dalam tanah. EPA dan generator dapat melacak perjalanan limbah B3 tersebut dari penimbul atau generator (cradle) ke titik penyingkiran/pemusnahan final (grave). Bila usulan tersebut disetujui (bisa memakan waktu sampai 3 tahun). maka aktifitas tersebut dikomunikasikan pada masyarakat selama 45 hari. Sarana yang sudah ditutup sebelum peraturan ini keluar. Generator harus sudah menerima kopi-1 dalam kurun waktu 35 hari sejak limbah tersebut diterima oleh perusahaan pengangkut (transporter). Transporter harus menyimpan kopi-4 dari manifes selama 3 tahun setelah limbah tersebut diterima oleh TSD. yaitu : − Treatment (pengolahan) : setiap proses yang merubah karakteristik atau komposisi limbah berbahaya sehingga menjadi tidak berbahaya atau sedikit berbahaya. maka USEPA mempunyai kewenangan untuk bertindak terutama bila berkaitan dengan pengaruh limbah B3 terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. kalau tidak. Setiap manifes isian tersebut berisi antara lain : − Pernyataan bahwa generator telah menggunakan cara-cara terbaik guna mengurangi volume dan toksisitas limbah B3 nya. Karena DOT sudah lama menangani transportasi bahan berbahaya. Transporter merupakan masa rantai yang sangat penting dalam sistem ini. Pengusaha yang ingin berkecimpung dalam usaha ini harus memasukkan permohonan yang mencakup rancangan sarananya. atau setiap proses yang mampu melakukan pengurangan volume atau mampu memanfaatkan kembali limbah tersebut. Rantai akhir dari sistem ini adalah TSD. maka USEPA bekerja erat dengan DOT. kontaminasi terhadap rantai makanan atau pencemaran terhadap sumber-sumber air minum. Disamping itu generator harus melaporkan pada USEPA dengan menunjukkan tempat (lokasi) dimana limbah itu berada. Compensation and Liabilites Act (CERCLA). CERCLA adalah berfungsi menangani "dosa masa lalu". Salah satu isu penting terhadap lahan pengurugan (landfilling) yang tidak terkontrol secara baik adalah bagaimana mengidentifikasikan dan mengkuantifikasi resiko Enri Damanhuri . Dengan CERCLA. misalnya karena terjadinya kebocoran. − Pernyataan bahwa sarana TSD yang dipilih oleh generator adalah yang terbaik dalam meminimkan resiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Transporter harus memiliki nomor-identifikasi USEPA. Transporter harus mengangkut limbah tersebut sesuai dengan jumlah yang tercantum dalam manifes.

C.P. atau kegiatan-kegiatan stabilisasi sementara lainnya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Terdapat dua jenis tindakan dari USEPA.: Hazardous waste identification and classification manual. kegiatan ini bersifat program jangka pendek. serta proporsi beban dana yang dipikulkan pada masing-masing pelaku. yaitu : a) Penyingkiran (pengangkutan kembali) substansi berbahaya dan pembersihan segera bagian-bagian lahan. termasuk pula penentuan kontribusi penanggung jawab atas masalah ini. Van Nostrand Reinhold.T.FTSL ITB Halaman 34 . 1989 Enri Damanhuri . sampai pemecahan final yang permanen diterapkan pada lahan tersebut . Referensi Utama: − Peraturan Pemerintah Nomor 18/1999: Pengelolaan Limbah B3 − Peraturan Pemerintah Nomor 85/1999: Amandemen PP18/99 − Wagner.A. McGraw-Hill Book.: Hazardous waste management. yaitu generator. transporter. Dalam kegiatan yang bersifat jangka panjang ini. b) Kegiatan yang bersifat penyembuhan (remedial). pemilik/pengoperasi sarana TSD. yang merupakan pemecahan yang permanen dari masalah yang timbul. 1990 − Wentz.

Kepala Bapedal No. Dokumen ini dikenal pula sebagai shipping papers. maka dokumen tersebut dilengkapi dengan salinan penyerahan limbah tersebut dari penghasil limbah.02/Bapedal/09/1995: tentang Dokumen Limbah B3 c) Kep. PENYIMPANAN DAN PENGANGKUTAN 1 UMUM Untuk memberikan gambaran tentang aspek penyimpanan sampai pengangkutan bahan berbahaya.Kepala Bapedal No.01/Bapedal/09/1995: tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3 b) Kep. khususnya dalam menangani bahan kimia dan bahan bakar. yang antara lain terdiri dari: a) Bagian yang harus diisi oleh penghasil atau pengumpul limbah B3. antara lain berisi: − Nama dan alamat penghasil atau pengumpul limbah B3 yang menyerahkan limbah B3 − Nomor identifikasi (identification number) UN/NA − Kelompok kemasan (packing group). pengumpulan dan pengangkutan merupakan komponen-komponen teknik operasional pengelolaan limbah B3 seperti diatur dalam PP 19/1994 dan PP12/1995. yang kemudian diganti menjadi PP 18/99 dan PP 85/1999. Pengaturan teknis tentang aspek ini sejak tahun 1995 diatur dalam: a) Kep. harus dilengkapi dengan dokumen resmi. Dalam Diktat ini juga diuraikan tata-cara yang berlaku di Indonesia dalam menanangani limbah B3 yang berasal dari beberapa regulasi yang dikeluarkan sebelum PP 74/2001 dikeluarkan.FTSL ITB Halaman 35 . volume dan sebagainya) − Kelas 'bahaya' dari bahan itu (hazard class). khususnya dalam mengatur transportasi bahan berbahaya yang diatur dalam Hazardous Materials Transportation Act. − Kuantitas (berat. antara lain berisi: − Nama dan alamat pengolah atau pengumpul atau pemanfaat limbah B3 Enri Damanhuri . dengan format yang telah dibakukan dengan Keputusan Kepala Bapedal No. karena pengaturan B3 sudah dilaksanakan sejak lama. dan menjadi standar baku secara universal. maka aturan-aturan yang diberlakukan di USA. yang merupakan legalitas kegiatan pengelolaan sehingga dokumen ini akan merupakan sarana/alat pengawasan dalam konsep cradle-to-grave. dilengkapi tanggal. b) Bagian yang harus diisi oleh pengangkut limbah B3. Namun terlihat bahwa pengaturan limbah B3 terkesan lebih ketat dibandingkan pengaturan B3. Pada prinsipnya tidak ada perbedaan yang berarti dalam menyimpan dan mengangkut B3 atau limbah B3. − Tanggal penyerahan limbah − Tanda tangan pejabat penghasil atau pengumpul. antara lain berisi : − Nama dan alamat pengangkut limbah B3 − Tanggal pengangkutan limbah − Tanda tangan pejabat pengangkut limbah c) Bagian yang harus diisi oleh pengolah atau pengumpul atau pemanfaat limbah B3.Kepala Bapedal No. Menurut US Department of Transportation (USDOT).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN IV PELABELAN. untuk menyatakan bahwa limbahnya telah sesuai dengan keterangan yang ditulis serta telah dikemas sesuai peraturan yang berlaku Bila pengisi dokumen adalah pengumpul yang berbeda dengan penghasil. bahan berbahaya adalah setiap bahan yang dapat menimbulkan resiko terhadap kesehatan.05/Bapedal/09/1995: tentang Simbol dan Label Limbah B3 2 DOKUMEN Bahan-bahan berbahaya tersebut bila akan diangkut ke tempat lain. keselamatan dan harta benda bila diangkut. dapat digunakan.02/Bapedal/09/1995. Penyimpanan.

terbagi menjadi 3 divisi dengan nomor 4. Nomor identifikasi mempunyai kode UN (United Nation) atau NA (North America) diikuti oleh 4 digit angka. yang penggunaannya adalah dengan memfungsikan ledakannya. dilengkapi tanggal. Definisi eksplosif menurut USDOT adalah setiap senyawa kimia. b) Kelas-2: gas. secara cepat dapat mengidentifikasi sifat bahan berbahaya itu serta cara penanggulangannya.2: nonflammable compressed gas yaitu setiap bahan atau campuran yang dikemas pada tabung gas dengan tekanan dan tidak termasuk ke dalam divisi 2. Kriteria cairan yang mudah terbakar adalah setiap cairan dengan titik nyala (flash point) tidak lebih dari 60.3 sesuai dengan sifat-sifatnya. − Divisi 2. terbagi lagi menjadi 5 divisi dengan nomor 1. d) Kelas-4: padatan mudah terbakar atau berbahaya bila lembab.1 sampai 2. yang secara cepat akan dapat memberikan informasi bila terjadi kecelakaan. Diharapkan Tim yang bertanggungjawab dalam menangani kecelakaan. Simbol berbentuk bujur sangkar diputar 45 derajat sehingga membentuk belah ketupat.3 sesuai dengan sifatsifatnya. Pada keempat sisi belah ketupat tersebut dibuat garis sejajar yang menyambung sehingga membentuk bidang belah ketupat dalam ukuran 95 persen dari ukuran belah ketupat bahan. Simbol yang dipasang pada kemasan minimal berukuran 10 cm x 10 cm. maka United States . Warna garis yang membentuk belah ketupat dalam sama dengan warna simbol. campuran atau peralatan. atau dianggap toksik pada manusia dengan adanya pengujian pada binatang di laboratorium dengan harga LC50< 5000 ppm.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Tanda tangan pejabat pengolah.FTSL ITB Halaman 36 .1 dan 2.1: flammable gas (gas mudah terbakar) yaitu bahan berupa gas yang pada temperatur -20 °C dan tekanan 1 atmosfir akan terbakar bila bercampur dengan udara sekitar 13 % volume atau kurang − Divisi 2. Terdapat 9 klasifikasi bahan berbahaya menurut versi USDOT yaitu: a) Kelas-1: bahan yang mudah meledak (explosive). Simbol atau label tersebut pada dasarnya dibagi berdasarkan kelas ‘bahaya’ dari limbah yang akan diangkut. untuk menyatakan bahwa limbah yang diterima sesuai dengan keterangan dari penghasil dan akan diproses sesuai peraturan yang berlaku d. Apabila limbah yang diterima ternyata tidak sesuai dan tidak memenuhi syarat. Sedang label merupakan penandaan pelengkap yang berfungsi memberikan informasi dasar mengenai kondisi kualitatif dan kuantitatif dari suatu bahan yang dikemas. c) Kelas-3: cairan mudah terbakar (flammable).1 sampai 4. maka limbah tersebut dikembalikan lagi kepada penghasil.Department of Transportation (US-DOT) digunakan tanda-tanda dalam bentuk simbul dan label. Penghasil limbah B3 akan menerima kembali dokumen limbah B3 tersebut dari pengumpul atau pengolah selambatlambatnya 120 hari sejak limbah tersebut diangkut untuk dibawa ke pengumpul atau pengolah atau pemanfaat. 2 SIMBOL DAN LABEL Label Versi US-DOT: Guna keamanan dan memudahkan pengenalan secara cepat bahan berbahaya tersebut. terbagi menjadi 3 divisi dengan nomor 2.5 °C.5 sesuai dengan jenis akibat yang dapat ditimbulkan oleh eksplosif tersebut. yaitu : Enri Damanhuri .1 sampai 1. disertai keterangan: − Jenis limbah dan jumlahnya − Alasan penolakan − Tanda tangan pejabat pengolah atau pemanfaat dan tanggal pengembalian − Surat-surat dokumentasi pengangkutan tersebut ditempatkan di kendaraan angkut sedemikian rupa sehingga cepat didapat dan tidak tercampur dengan surat-surat lain. pengumpul atau pemanfaaat. sedangkan simbol pada kendaraan pengangkut tempat penyimpanan minimal 25 cm x 25 cm. pada bagian bawah simbol terdapat blok segilima dengan bagian atas mendatar dari sudut terlancip terhimpit dengan garis sudut bawah belah ketupat bagian dalam. yaitu: − Divisi 2.3: poisonous gas (gas beracun) yaitu bahan berupa gas yang pada temperatur 20 °C dengan tekanan 1 atmosfir akan merupakan bahan toksik pada manusia.

− Divisi 4. sedang peroksida organik adalah senyawa yang mengandung struktur . yaitu: − Bahan-bahan terlarang − Bahan-bahan eksplosif terlarang − Bahan-bahan dengan aturan lain. f) Kelas-6: bahan racun dan menular. Untuk menujukkan derajad bahaya maka digunakan angka: o Setiap kotak diberi warna: biru (bahaya terhadap kesehatan).O . bila belum mencantumkan label yang sesuai.O . e) Kelas-5: pengoksidasi dan peroksida organik. h) Kelas-8: bahan korosif. artinya mempunyai karakter yang dapat menyebabkan luka atau kerusakan pada paparan yang singkat walau dilakukan pengobatan. Bahaya terhadap kesehatan: o 0 = minimal. Kelompok lain-lain (kelas-9) adalah bahan yang yang dapat menyebabkan bahaya.002 microcurie per-gram. II atau III dengan warna merah. Bahan korosif (kelas-8). Radioactive yellow-II dan Radioactive yellow-III. atau bila dibakar akan menyala segera dan cepat. − Divisi 4. kuning (bahaya terhadap reaktivitas). permanganat. Plakat Radioactive yellow-II dan Radioactive yellow-III berwarna kuning di atas. g) Kelas-7: bahan radioaktif.2: spontaneously combustible materials yaitu bahan yang bila pada kondisi normal terjadi kecelakaan secara spontan akan menjadi panas akibat berkontak dengan udara misalnya bahan yang termasuk pyrophoric. maka label NFPA ini merupakan label yang perlu dipasang. dengan warna masing-masing kotak berbeda. mutagen atau teratogen pada binatang Enri Damanhuri . baik cair atau padat. tetapi belum termasuk dalam katagori kelas sebelumnya. dengan kode ORM (other regulated materials) ORM-D: komuditas konsumer seperti hair spray ORM-E: lain-lain yang diatur oleh USDOT − Label Versi NFPA: Disamping US-DOT. Plakat yang digunakan berlabelkan Radioactive white-I. peroksida organik. maka di Amerika Serikat the National Fire Protection Association (NFPA) mengembangkan pula label berwarna dengan kode. dan bahan menular baik berupa mikroorganisme atau toxin yang dapat mendatangkan penyakit pada manusia. Kelompok berikutnya adalah bahan beracun (di luar gas) yang diketahui toksik pada manusia. dan/atau tidak berbahaya bila digunakan secara hati-hati dan bertanggung jawab o 2 = moderat. Radioactive white-I dengan bahaya minimum. nitrat dan sebagainya yang dapat mengoksidasi materi organik.. terbagi menjadi 2 divisi. artinya artinya mempunyai karakter yang dapat menyebabkan bahaya bila paparan berlanjut. i) Kelas-9: lain-lain. yang bila pada kondisi normal terjadi kecelakaan akan menyebabkan terbentuknya api akibat gesekan dan sebagainya. dengan plakat warna putih dan simbol hitam. Radioactive Yellow-III adalah dengan bahaya maksimum. bukan peledak. dan/atau diketahui mempunyai efek karsinogen. untuk mengindikasikan bahaya bahan kimia terhadap kesehatan. flammabilitas.3: dangerous when wet materials yaitu bahan yang secara spontan menyala atau memberikan gas bila berkontak dengan air. Bahan radioaktif (termasuk kelas-7) menurut versi USDOT adalah setiap materi atau kombinasi materi yang secara spontan mengionisasi radiasi dengan aktivitas spesifik lebih besar dari 0. Label dibutuhkan dipasang pada seluruh bahan kimia yang ada di sebuah laboratorium. dan putih di bawah dengan simbol hitam. seperti obat bius dan sebagainya. terdapat bahan yang tidak termasuk dalam kelas tersebut (tertulis 'none'). Oksidator adalah bahan kimia seperti khlorat. terbagi menjadi 2 divisi.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Divisi 4. Disamping itu. dan reaktivitas.1: flammable solid yaitu bahan padat. dan mungkin menyebabkan luka atau kerusakan kecuali dilakukan pengobatan o 3 = serius. merah (fbahaya terhadap kebakaran). tetapi hanya berakibat minor bahkan tanpa perawatan.FTSL ITB Halaman 37 . Bentuk belah ketupat yang dibagi empat. sedang tulisan I. menurut versi USDOT didefinisikan sebagai bahan yang dapat menyebabkan kerusakan visibel ke materi yang kontak dengannya. artinya mempunyai karakter dapat menyebabkan iritasi. artinya tidak terdapat bahaya toksisitas o 1 = ringan. dan putih (bahaya khsusus) o Angka dan notasi yang terdapat pada masing-masing kotak adalah: a.

atau perlu terpapar pada temperatur tinggi agar kebakaran terjadi.4 C o 2 = moderat. bahan yang dapat meledak dan terdekomposisi secara keras pada temperatur dan tekanan normal.8 C tetapi lebih kecil dari 93. dan/atau bahan padat yang menghasilkan uap mudah o o terbakar. yang dapat menyebabkan kematian atau kerusakan dalam paparan yang sangat singkat.8 C o 4 = ekstrim. dan atau bahan yang dapat menghasilkan reaksi eksotermis dengan sendirinya bila berkontak dengan bahan tanpa atau adanya biasa biasa. dan/atau bahan yang akan berobah kompisisi kimianya dengan melepaskan enersi yang dikandungnya pada temperatur dan tekanan normal.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 4 = ekstrim.FTSL ITB Halaman 38 . dan dilakukan pengobatan b. dan/atau dapat membentuk ledakan yang terbakar dengan cepat di udara.4 C o 3 = serius. artinya bahan yang tidak stabil dan akan cepat berubah tetapi tidak menimbulkan ledakan. dan/atau mempunyai flash point di atas 37. dan/atau bahan yang sensitive terhadap perubahan kejutan mekanis atau panas pada temperatur dan tekanan normal. tidak menyebabkan flash point. atau terhadap kejutan mekanis pada temperatur tin gi. 4: jenis bahaya flammabilitas = extreme 4: jenis bahaya terhadap kesehatan = ekstrim 4: jenis bahaya terhadap reaktivitas = ekstrim W: jenis bahaya yang spesifik = reaktif terhadap air Enri Damanhuri . o 1 = ringan. dan/atau bahan yang bereaksi dengan sendirinya dengan air tanpa membutuhkan panas terlebih dahulu. dan/atau siap terbakar dengan sendirinya akibat kandungan oksigen di dalamnya. dan/atau bahan yang sensitive terhadap panas. dan/atau akan bereaksi dengan keras bila terdapat air.8 C c. o 2 = moderat. merupakan bahan yang mudah terbakar dengan flash point di bawah o 22. o 4 = ekstrim. atau dapat menyimpan panas sebelum terjadi kebakaran. dan tidak reaktif terhadap air. d. dan/atau o akan terbakar di udara terbuka bila terpapar pada 815. o 1 = ringan.5 C selama 5 menit. Bahaya terhadap timbulnya kebakaran: o 0 = minimal. o 3 = serius.5 C selama 5 menit. dan/atau o mempunyai flash point di bawah 93. artinya baru dapat terbakar bila dipanaskan terlebih dahulu. Bahaya spesial. artinya bahan mudah terbakar yang mempunyai karakter menghasilkan uap yang mudah terbakar dalam kondisi biasa. artinya tidak terbakar. tetapi di bawah 37.8 C. artinya bahan yang dapat meledak namun membutuhkan penyulut yang kuat agar eterjadi. Bahaya terhadap adanya air (reaktif terhadap air): o 0 = minimal. dan/atau akan menghasilkan ledakan bila bercampur dengan air. artinya bahan yang stabil yang menjadi tidak stabil bila terpapar pada temperatur tekanan tinggi. artinya bahan tidak mudah terbakar yang mempunyai karakter dapat terbakar bila terpapar panas terlebih dahulu. tidak terbakar di o udara bila terpapar pada 815. yaitu: o Reaktif terahadap air (dengan kode: W) o Bahan oksidator (dengan kode: Ox) o Bahan radioaktif (dengan kode tanda radioaktif) o Bahan racun (dengan kode tanda racun) o Contoh: No. artinya bahan yang stabil. dan/atau mempunyai flash point di atas o o 22. merupakan bahan yang sangat toksik.

Di sebelah bawah gambar simbol terdapt tulisan “REAKTIF” berwarna hitam. pada bagian tengah terdapat tulisan “INFEKSI” berwarna hitam. o Simbol klasifikasi limbah B3 korosif: belah ketupat terbagi pada garis horizontal menjadi dua bidang segitiga. Pada bagian tengah terdapat tulisan “MUDAH MELEDAK” berwarna hitam yang diapit oleh 2 garis sejajar berwarna hitam sehingga membentuk 2 buah bangun segitiga sama kaki pada bagian dalam belah ketupat. berdasarkan keputusan Kepala Bapedal No. yaitu simbol untuk cairan mudah terbakar dan padatan mudah terbakar: − simbol cairan mudah terbakar: bahan dasar merah. yaitu (Gambar 1): o Simbol klasifikasi limbah B3 mudah meledak : warna dasar oranye. bidang segitiga berwarna hitam. terdapat tulisan “KOROSIF” berwarna putih. yang terdapat ditepi antara sudut atas dan sudut kiri belah ketupat bagian dalam. dan dibawahnya terdapat blok segilima berwarna merah. Pada bagian tengah terdapat tulisan “PADATAN” dan dibawahnya terdapat tulisan “MUDAH TERBAKAR” berwarna hitam. o Simbol limbah B3 klasifikasi campuran: warna dasar bahan adalah putih dengan garis pembentuk belah ketupat bagian dalam berwarna hitam. o Simbol klasifikasi limbah B3 beracun: bahan dasar putih dengan blok segilima berwarna merah.05/Bapedal/09/1995 terdapat delapan jenis simbol. serta blok segilima berwarna merah. terdapat 3 jenis label yang berkaitan dengan sistem pengemasan limbah B3. dengan mencantumkan antara lain: nama dan alamat penghasil. dengan warna dasar kuning dan tulisan serta garis tepi berwarna hitam. Simbol berupa tengkorak manusia dengan tulang bersilang berwarna hitam. gambar simbol berupa tanda seru berwarna hitam terletak di sebelah bawah sudut atas garis belah ketupat bagian dalam. Gambar terletak di bawah sudut atas garis ketupat bagian dalam. o Simbol klasifikasi limbah B3 reaktif: bahan dasar berwarna kuning dengan blok segilima berwarna merah. Gambar simbol berupa lidah apai berwarna hitam yang menyala pada satu bidang berwarna hitam. Simbol berupa gambar berwarna hitam suatu materi limbah yang menunjukkan meledak. yaitu: o Label identitas limbah: berfungsi untuk memberikan informasi tentang asal usul limbah. pada bagian bawah. Pada bagian atas yang berwarna putih terdapat 2 gambar. Pada bagian tengah bawah terdapat tuliasan “CAMPURAN” berwarna hitam serta blok segilima berwarna merah. − simbol padatan mudah terbakar: dasar simbol terdiri dari warna merah dan putih yang berjajar vertikal berselingan. Pada sebelah bawah gambar terdapt tulisan “BERACUN” berwarna hitam. o Simbol klasifikasi limbah B3 yang mudah terbakar : terdapat 2 (dua) macam simbol untuk klasifikasi limbah yang mudah terbakar. gambar simbol berupa lidah api berwarna putih yang menyala pada suatu permukaan berwarna putih. dan disebelah kanan adalah gambar lengan yang terkena tetesan limbah korosif. jumlah dan Enri Damanhuri . Blok segilima berwarna putih. Pada bagian tengah terdapat tulisan “ CAIRAN. Blok segilima berwarna kebalikan dari warna dasar simbol. yaitu disebelah kiri adalah gambar tetesan limbah korosif yang merusak pelat bahan berwarna hitam. Simbol infeksi berwarna hitam terletak di sebelah bawah sustu atas garis belah ketupat bagian dalam. identitas limbah serta kuantifikasi limbah dalam suatu kemasan limbah B3.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Label Versi KepBapedal 05/09/1995: Di Indonesia.. dan tulisan “PERINGATAN !” dengan huruf yang lebih besar berwarna merahdiisi dengan huruf cetak dengan jelas terbaca dan tidak mudah terhapus serta dipasang pada setiap kemasan limbah B3 yang disimpan di tempat penyimpanan. o Simbol klasifikasi limbah B3 menimbulkan infeksi: warna dasar bahan adalah putih dengan garis pembentuk belah ketupat bagian dalam berwarna hitam.FTSL ITB Halaman 39 . Menurut peraturan yang digunakan di Indonesia. Simbol berupa lingkaran hitam dengan asap berwarna hitam mengarah ke atas yang terletak pada suatu permukaan garis berwarna hitam.” dan dibawahnya terdapat tulisan “MUDAH TERBAKAR” berwarna putih. Label identitas limbah berukuran minimum 15 cm x 20 cm atau lebih besar. Garis tepi simbol berwarna hitam.

FTSL ITB Halaman 40 . botol gelas dan sebagainya. baik yang telah diisi limbah B3. aturan tata cara serta konstruksi dan penggunaan kontainer untuk bahan berbahaya harus ketat. maupun kemasan yang akan digunakan untuk mengemas limbah B3. Kecelakaan akibat bahan berbahaya ini akan menimbulkan masalah serius bagi manusia. Alat pengemas dapat berupa: drum baja. Gambar terdapat dalam frame hitam. Enri Damanhuri . Menjamin keselamatan transportasi bahan berbahaya merupakan aktivitas yang kompleks. Label harus dipasang pada kemasan bekas pengemasan limbah B3 yang telah dikosongkan dan atau akan digunakan untuk mengemas limbah B3. Pengemasan yang baik mempunyai kriteria: − Bahan tersebut selama pengangkutan tidak terlepas ke luar − Keefektifannya tidak berkurang − Tidak terdapat kemungkinan pencampuran gas dan uap Terdapat 3 jenis kelompok pengemasan. Label dipasang dekat tutup kemasan dengan arah panah menunjukkan posisi penutup kemasan. Kecelakaan limpahan bahan berbahaya yang sering terjadi adalah karena kecelakaan lalu-lintas yang umumnya akibat kesalahan manusia dan atau alat/perlengkapan yang kurang sempurna. kotak kayu. Label identitas dipasang pada kemasan di sebelah atas simbol dan harus terlihat dengan jelas. Gambar 4. Label penunjuk tutup kemasan: berukuran minimal 7 x 15 cm2 dengan warna dasar putih dan warna gambar hitam. yaitu: − Kelompok I: derajat bahaya besar − Kelompok II: derajat bahaya sedang − Kelompok III: derajat bahaya kecil. hak milik dan lingkungan. Label untuk penandaan kemasan kosong : bentuk dasar label sama dengan bentuk dasar simbol dengan ukuran sisi minimal 10 x 10 cm2 dan tulisan “KOSONG” berwarna hitam ditengahnya. terdiri dari 2 (dua) buah anak panah mengarah ke atas yang berdiri sejajar di atas balok hitam.1: Simbol Limbah B3 versi KepBapedal 05/09/1995 3 PENGEMASAN DAN PEWADAHAN Pengemas B3: Pengemasan (packaging) juga diatur dan perlu dicantumkan dalam surat pengangkutan. Label harus terpasang kuat pada setiap kemasan limbah B3. Label terbuat dari bahan yang tidak mudah rusak karena goresan atau akibat terkena limbah dan bahan kimia lainnya. drum fiber.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 o o jenis limbah serta tanggal pengisian. Dengan demikian.

botol gelas dimasukkan dalam peti-peti fiberboard. Faktor kesalahan manusia pada pengemasan bahan berbahaya yang dikemas dalam kuantitas kecil relatif akan lebih tinggi. Pengumpul. Produk yang diproduksi dengan kuantitas kecil biasanya dikemas dalam kuantitas tersebut. sebelum dilakukan pengolahan dan atau penimbunan. No. untuk disimpan sementara di luar lokasi penghasil tetapi tidak sebagai pengumpul. Penghasil.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 USDOT menggariskan bahwa kontainer yang digunakan untuk mengangkut bahan berbahaya dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga bila terjadi kecelakaan pada kondisi transportasi yang normal. yang dapat menimbulkan reaksi spontan (kenaikan panas atau ledakan) sehingga mengurangi keefektifan pengemasan. Oleh karenanya bahan berbahaya harus ditempatkan dalam drum dan kontainer yang kompatibel atau sesuai. ketentuan tentang pengemasan dan pewadahan limbah B3 diatur dalam Kep. kaca. plastik. d. untuk disimpan sementara di dalam lokasi penghasil. pengemasan tersebut harus menjamin tidak terjadi reaksi kimiawi di dalamnya. dan bagaimana menggunakan ruang transportasi yang efisien. Beberapa temuan yang terdapat di USA adalah: − Ketidak tepatan dalam menayangkan label − Ketidak tepatan dalam mengelompokkan kontainer berbahaya − Kebocoran pada valve − Tidak tepat dalam mendeskripsikan bahan yang diangkut − Tidak tepat dalam pengisian shiping paper − Radiasi berlebihan di kabin truk. maka: − Tidak menimbulkan penyebaran bahan tersebut ke lingkungan sekitarnya − Keefektifan pengemasan tidak berkurang selama perjalanan − Tidak terjadi pencampuran gas atau uap dalam kemasan. Setiap penghasil/pengumpul limbah B3 harus dengan pasti mengetahui karakteristik bahaya dari setiap limbah B3 yang dihasilkan/dikumpulkan. maka kemasan kecil di USA hanya merupakan sebagian kecil yang digunakan untuk menangani bahan berbahaya yang diangkut. b. Bahan pengemasan yang digunakan adalah: fiberboard. Kombinasi container sering digunakan. c. Ketentuan dalam bagian ini berlaku bagi kegiatan pengemasan dan pewadahan limbah B3 di fasilitas: a. Apabila ada keragu-raguan dengan karakteristik limbahnya. misalnya botol. maka terhadap masing-masing limbah B3 hasil kegiatan perubahan tersebut harus dilakukan pengujian kembali terhadap karakteristiknya. unloading. Kemasan komposit seperti drum-drum dari plastik berlapis baja kadang digunakan. Apabila dalam perkembangannya terjadi perubahan kegiatan yang diperkirakan mengakibatkan berubahnya karakteristik limbah yang dihasilkan. untuk disimpan sebelum dikirim ke pengolah. Banyak terjadi bahwa drum yang digunakan adalah drum bekas (walaupun kompatibel) untuk itu perlu diperhatikan efek jangka panjang dari drum tersebut. maka harus dilakukan pengujian. Penghasil.FTSL ITB Halaman 41 . kayu. Kadangkala bahan berbahaya disimpan (diakumulasi) dalam drum atau kontainer. Pengemas dan Pewadah Limbah B3 Versi Kep No. maka pengujian dapat dilakukan sekurang-kurangnya satu kali.01/Bapedal/09/1995: Di Indonesia. Oleh karenanya kontainer yang digunakan dirancang untuk memudahkan loading. Kemasan dari satu jenis bahan juga banyak digunakan. Dibutuhkan inspeksi secara berkala. Bagi penghasil yang menghasilkan limbah B3 yang sama secara terus menerus. Hampir setengah bahan berbahaya kemasan kecil ini diangkut melalui jalan darat serta sebagian lagi melalui udara. Enri Damanhuri . misalnya pengemasan yang tidak betul dan sebagainya.01/Bapedal/09/1995. Pengolah. Rancangan kontainer yang digunakan harus terkait dengan sistem transportasi terutama dimensi dan beratnya. Drum yang biasa. fiberglass dan logam. seperti drum baja atau silinder untuk gas terkompres. biasanya korosif dan dapat menimbulkan masalah pada kesehatan manusia dan lingkungan. Ditinjau dari tonase. Drum baja 55 gallon (208 liter) merupakan kapasitas terbesar yang biasa digunakan.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Bentuk. atau SS440) dengan syarat bahan kemasan yang dipergunakan tersebut tidak bereaksi dengan limbah B3 yang disimpannya. 4 M atau 8 M . dan tumpahan limbah tersebut harus segera diangkat dan dibersihkan.2: Penyimpan limbah B3 cair (A) dan limbah sludge (B) Drum/tong atau bak kontainer yang telah berisi limbah B3 dan disimpan di tempat penyimpanan harus dilakukan pemeriksaan kondisi kemasan sekurang-kurangnya 1 (satu) minggu satu kali.FTSL ITB Halaman 42 . maka isi limbah B3 tersebut harus segera dipindahkan ke dalam drum/tong yang baru. SS316. Kemasan dapat terbuat dari bahan plastik (HPDE. Untuk mempermudah pengisian limbah ke dalam kemasan. Kemasan yang digunakan untuk pengemasan limbah dapat berupa drum/tong dengan volume 50 liter. PP atau PVC) atau bahan logam (teflon. Kemasan yang akan dikosongkan apabila akan digunakan kembali untuk mengemas limbah B3 lain dengan karakteristik yang sama. Kemasan bekas mengemas limbah B3 dapat digunakan kembali untuk mengemas limbah B3 yang mempunyai karakteristik sama (kompatibel) dengan limbah B3 sebelumnya. 100 liter atau 200 liter. pengaruh pemuaian. serta agar lebih aman. kemasan dirancang tahan akan kenaikan tekanan. Jika akan digunakan untuk mengemas limbah B3 yang tidak saling cocok. pembentukan gas dan kenaikan tekanan selama penyimpanan. ukuran dan bahan kemasan limbah B3 disesuaikan dengan karakteristik limbah B3 yang akan dikemasnya dengan mempertimbangkan segi kemanan dan kemudahan dalam penanganannya. Gambar 2 berikut adalah contoh drum pengemas limbah B3. Untuk limbah yang mudah meledak. Jika akan digunakan untuk menyimpan limbah B3 Enri Damanhuri . atau dapat pula berupa bak kontainer berpenutup dengan 3 3 3 kapasitas 2 M . Untuk limbah yang bereaksi sendiri sebaiknya tidak menyisakan ruang kosong dalam kemasan. SS304. Apabila diketahui ada kemasan yang mengalami kerusakan (karat atau bocor). baja karbon. Gambar 4. kemudian disimpan di tempat yang memenuhi persyaratan untuk penyimpanan limbah B3 serta mematuhi tata cara penyimpanannya. kemudian disimpan dalam kemasan limbah B3 terpisah. Kemasan tersebut selalu dalam keadaan tertutup rapat dan hanya dapat dibuka jika akan dilakukan penambahan atau pengambilan limbah dari dalamnya. atau dapat pula disimpan bersama-sama dengan limbah lain yang memiliki karakteristik yang sama atau saling cocok. Limbah yang disimpan dalam satu kemasan adalah limbah yang sama. harus disimpan di tempat penyimpanan limbah B3. Kemasan yang telah diisi atau terisi penuh dengan limbah B3 harus ditandai dengan simbol dan label yang sesuai dengan ketentuan mengenai penandaan pada kemasan limbah B3. limbah dapat terlebih dahulu dikemas dalam kantong kemasan yang tahan terhadap sifat limbah sebelum kemudian dikemas dalam kemasan tersebut. maka kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu sebelum dapat digunakan sebagai kemasan limbah B3 dengan memenuhi ketentuan butir 1 di atas. Pengisian limbah dalam satu kemasan harus mempertimbangkan karakteristik dan jenis limbah.

tangki wajib dilengkapi dengan penampung sekunder. terbuat dari bahan yang cocok dengan karakteristik limbah yang akan disimpan atau diolah. – Rencana penutupan sistem tangki setelah masa operasionalnya berakhir. maka harus dengan memperhitungkan dampak kegiatan di atasnya serta menerapkan rancang bangun atau kegiatan yang dapat melindungi sistem tangki terhadap potensi kerusakan. dirancang untuk dapat menampung dan mengangkat cairan-cairan yang berasal dari kebocoran. maka tangki harus terlebih dahulu dicuci bersih. Tidak digunakan untuk menyimpan limbah mudah menyala atau reaktif kecuali : – Limbah tersebut telah diolah atau dicampur terlebih dahulu sebelum/segera setelah ditempatkan di dalam tangki. Tangki dan sistem penunjangnya harus terbuat dari bahan yang saling cocok dengan karakteristik dan jenis limbah B3 yang dikemas/disimpannya. tanggul atau berdinding ganda. maka kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu dan disimpan dengan memasang “label KOSONG” sesuai dengan ketentuan penandaan kemasan limbah B3. dan aman terhadap korosi sehingga tangki tidak mudah rusak. Selama masa konstruksi berlangsung. Laporan tersebut sekurang-kurangnya meliputi: – Rancang bangun dan peralatan penunjang sistem tangki yang akan dipasang. – Jika sistem tangki dan atau peralatan penunjangnya terbuat dari logam dan kemungkinan dapat terkontak dengan air dan atau tanah. – Penampungan sekunder. Apabila tangki akan digunakan untuk menyimpan limbah sebelumnya. – Ditempatkan pada pondasi yang dapat mendukung ketahanan tangki terhadap tekanan dari atas dan bawah dan mampu mencegah kerusakan yang diakibatkan karena pengisian. Enri Damanhuri . Disamping itu. deteksi korosi atau lepasnya limbah dari tangki.FTSL ITB Halaman 43 . atau – Limbah disimpan atau diolah dengan suatu cara sehingga tercegah dari kondisi atau bahan yang menyebabkan munculnya sifat mudah menyala atau reaktif. Sebelum melakukan pemasangan tangki penyimpanan limbah B3. khususnya terhadap peralatan pengendalian luapan/tumpahan. Persyaratan penampungan sekunder tersebut adalah: – Dibuat atau dilapisi dengan bahan yang saling cocok dengan limbah yang disimpan serta memiliki ketebalan dan kekuatan memadai untuk mencegah kerusakan akibat pengaruh tekanan. Penampung sekunder dapat berupa pelapisan di bagian luar tangki. Jika tangki dirancang untuk dibangun di dalam tanah. pemilik atau operator harus mengajukan permohonan rekomendasi kepada Kepala Bapedal dengan melampirkan laporan hasil evaluasi terhadap rancang bangun dan sistem tangki yang akan dipasang untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan. monitoring dilakukan terhadap bahan konstruksi dan areal seputar sistem tangki termasuk struktur pengumpul sekunder untuk mendeteksi pengikisan atau tanda-tanda terlepasnya limbah misalnya bintik lembab. Bentuk wadah berupa tangki biasa digunakan dalam pengemasan limbah B3. Untuk mencegah terlepasnya limbah B3 ke lingkungan. sehingga olahan atau campuran limbah yang terbentuk tidak lagi berkarakteristik mudah menyala atau reaktif. maka harus dipastikan agar selama pemasangan tangki dan sistem penunjangnya telah diterapkan prosedur penanganan yang tepat untuk mencegah terjadinya kerusakan selama tahap konstruksi. – Karakteristik limbah B3 yang akan disimpan. logam dan kemungkinan harus mencakup pengukuran potensi korosi yang disebabkan oleh faktor lingkungan serta daya tahan bahan tangki terhadap korosi tersebut – Perhitungan umur operasional tangki. Sistem tangki harus ditunjang kekuatan rangka yang memadai. dan lepasnya limbah B3 dari sistem penampungan sekunder. Pemeriksaan rutin dilakukan sekurang-kurangnya 1 kali selama sistem tangki dioperasikan. kematian vegetasi. ceceran dan presipitasi. – Dilengkapi dengan sistem deteksi kebocoran yang dioperasikan 24 jam sehingga mampu mendeteksi kerusakan pada struktur tangki primer dan sekunder.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dengan karakteristik yang tidak saling sesuai dengan sebelumnya. Limbah-limbah yang tidak saling cocok tidak ditempatkan secara bersama-sama di dalam tangki. tekanan atau uplift.

Jika menggunakan lampu.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Bila sistem tangki atau sistem tangki pengumpul sekunder mengalami kebocoran atau gangguan yang menyebabkan limbah terlepas.01/Bapedal/09/1995 dibuat dengan sistem blok. 4 PENYIMPANAN DAN PENGUMPULAN Penyimpanan kemasan menurut Keputusan Bapedal No. maka harus segera melakukan: – Penghentian operasional sistem tangki dan mencegah aliran limbah. Jarak tumpukan kemasan tertinggi dan jarak blok kemasan terluar terhadap atap dan dinding bangunan penyimpanan tidak boleh kurang dari 1 m. maka harus dipergunakan rak (Gambar 4). Lantai bagian dalam dibuat melandai kearah bak penampungan dengan kemiringan maksimum 1%. Pada bagian luar bangunan. o Bak penampung harus kedap air dan mampu menampung cairan minimal 110% dan kapasitas maksimum volume tangki o Tangki harus diatur sedemikian rupa sehingga bila terguling akan terjadi di daerah tanggul dan tidak akan menimpa tangki lain. tidak bergelombang. o Pada bagian luar tempat penyimpanan diberi penandaan (simbol) sesuai dengan tata cara yang berlaku. o Dibuat tanpa plafon dan memiliki sistem ventilasi udara yang memadai untuk mencegah terjadinya akumulasi gas di dalam ruang penyimpanan. mencegah terjadinya perpindahan tumpahan ke tanah atau air permukaan. Jika tumpukan lebih dan 3 lapis atau kemasan terbuat dari plastik. Penyimpanan limbah cair dalam jumlah besar disarankan menggunakan tangki (Gambar 5) dengan ketentuan sebagai berikut: o Disekitar tangki harus dibuat tanggul dengan dilengkapi saluran pembuangan yang menuju bak penampung. – Memindahkan limbah B3 dari sistem tangki atau sistem penampungan sekunder – Mewadahi limbah yang terlepas ke lingkungan. Enri Damanhuri . Jika kemasan berupa drum logam (isi 200 liter). karakteristik dan jumlah limbah B3 yang dihasilkan/akan disimpan. maka tumpukan maksimum adalah 3 lapis dengan tiap lapis dialasi palet. tidak dalam satu blok. o Memiliki sistem penerangan (lampu/cahaya matahari) yang memadai untuk operasional atau inspeksi rutin. Setiap blok terdiri atas 2 (dua) x 2 (dua) kemasan (Gambar 3). maka lampu penerangan harus dipasang minimal 1 meter di atas kemasan. Lebar gang antar blok minimal 60 cm untuk memudahkan petugas melaluinya. dan tidak dalam bagian penyimpanan yang sama. kemiringan lantai diatur sedemikian rupa sehingga air hujan dapat mengalir menjauhi bangunan penyimpanan. – Membuat catatan dan laporan mengenai kecelakaan dan penanggulangan yang telah dilakukan. sakelar harus terpasang di sisi luar bangunan. Penumpukan kemasan harus mempertimbangkan kestabilan tumpukan kemasan. Persyaratan bangunan penyimpanan kemasan limbah B3 adalah (Gambar 6): o Memiliki rancang bangun dan luas ruang penyimpanan yang sesuai dengan jenis. o Lantai bangunan penyimpanan harus kedap air. serta memasang kasa atau bahan lain untuk mencegah masuknya burung atau binatang kecil lainnya ke dalam ruang penyimpanan. o Terlindung dari masuknya air hujan baik secara langsung maupun tidak langsung.FTSL ITB Halaman 44 . o Tangki harus terlindung dari penyinaran matahari dan masuknya air hujan secara langsung. dan setiap palet mengalasi 4 drum. sehingga dapat dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap setiap kemasan. Kemasan-kemasan berisi limbah B3 yang tidak saling cocok harus disimpan secara terpisah. Penempatan kemasan diatur agar tidak ada kemungkinan bagi limbah-limbah tersebut jika terguling/tumpah akan tercampur/masuk ke dalam bak penampungan bagian penyimpanan lain. kuat dan tidak retak. sedang lebar gang untuk lalu lintas kendaraan pengangkut (forklift) disesuaikan dengan kelayakan pengoperasiannya. Dengan demikian jika terdapat kerusakan kecelakaan dapat segera ditangani. serta mengangkat tumpahan yang terlanjur masuk ke tanah atau air permukaan. o Dilengkapi dengan sistem penangkal petir.

3: Pola penyimpanan kemasan drum Gambar 4.FTSL ITB Halaman 45 .4: Pola penyimpanan kemasan drum dalam rak Enri Damanhuri .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4.

pagar pengaman. o Antara bagian penyimpanan satu dengan lainnya dibuat tanggul atau tembok pemisah untuk menghindarkan tercampurnya atau masuknya tumpahan limbah ke bagian lainnya. peralatan komunikasi. pintu darurat. mempunyai beberapa persyaratan: o Terdiri dari beberapa bagian penyimpanan. o Setiap bagian penyimpanan harus mempunyai bak penampung tumpahan limbah dengan kapasitas yang memadai. atau limbahlimbah B3 yang saling cocok. pembangkit listrik cadangan. fasilitas pertolongan pertama.5: Tangki penyimpanan limbah B3 jumlah besar Gambar 4. gudang tempat penyimpanan peralatan dan perlengkapan. o Sistem dan ukuran saluran yang ada dibuat sebanding dengan kapasitas maksimum limbah B3 yang tersimpan sehingga cairan yang masuk ke dalamnya dapat mengalir dengan lancar ke tempat penampungan yang telah disediakan.6: Contoh tata letak penyimpanan limbah B3 Tempat penyimpanan yang digunakan untuk menyimpan lebih dari 1 karakteristik limbah B3.FTSL ITB Halaman 46 . dan alarm. o Sarana lain yang harus tersedia adalah: peralatan dan sistem pemadam kebakaran. dengan ketentuan bahwa setiap bagian penyimpanan hanya diperuntukkan menyimpan 1 karakteristik limbah B3.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4. Enri Damanhuri .

perdagangan. kawasan suaka o Seperti halnya fasilitas penyimpanan yang telah diuraikan di atas. Konstruksi lantai dan dinding dibuat lebih kuat dari konstruksi atap. o Untuk kestabilan struktur pada tembok penahan api dianjurkan digunakan tiang-tiang beton bertulang yang tidak ditembusi oleh kabel listrik. maka beberapa persyaratan adalah: o Luas tanah termasuk untuk bangunan penyimpanan dan fasilitas lainnya sekurangkurangnya 1 (satu) hektar. dan mudah hancur bila ada kebakaran. korosif dan beracun: o Konstruksi dinding dibuat mudah dilepas guna memudahkan pengamanan limbah dalam keadaan darurat. (b) 50 meter dari jalan lainnya. fasilitas pencucian peralatan. pelayanan kesehatan atau kegiatan sosial. (d) 300 meter dari perairan. berupa tembok beton bertulang (tebal minimum 15 cm) atau tembok bata merah (tebal minimum 23 cm) atau blok-blok (tidak berongga) tak bertulang (tebal minimum 30 cm). rumah sakit. persediaan air untuk pemadam api. memiliki atap pelindung dengan lantai yang kedap air o Tangki dan daerah tanggul serta bak penampungannya terlindung dari penyinaran matahari secara langsung serta terhindar dari masuknya air hujan langsung maupun tidak langsung Lokasi bangunan tempat penyimpanan kemasan drum/tong. o Suhu dalam ruangan harus tetap dalam kondisi normal. bangunan tempat penyimpanan bak kontainer dan bangunan tempat penyimpanan tangki: o Merupakan daerah bebas banjir. atau diupayakan aman dari kemungkinan terkena banjir. maka jarak minimum dengan bangunan lain adalah 20 meter. dinding dan lantai harus tahan terhadap korosi dan api. o Jika bangunan dibuat terpisah dengan bangunan lain. o Jarak terdekat yang diperkenankan adalah (a) 150 meter dari jalan utama atau jalan tol. Rancang bangun untuk penyimpanan limbah B3 mudah meledak: o Konstruksi bangunan dibuat tahan ledakan dan kedap air. fasilitas bongkar muat dan fasilitas lain seperti diuraikan di atas. o Beberapa fasilitas tambahan yang diperlukan adalah laboratorium analisa. o Struktur pendukung atap terdiri dari bahan yang tidak mudah menyala. o Lokasi harus cukup jauh dari fasilitas umum dan ekosistem tertentu. Desain bangunan sedemikian rupa sehingga cahaya matahari tidak langsung masuk ke ruang gudang. sumber air . o Konstruksi atap. Konstruksi atap dibuat ringan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Persyaratan bangunan penyimpanan limbah B3 mudah terbakar: o Jika bangunan berdampingan dengan gudang lain maka harus dibuat tembok pemisah tahan api. o Jarak minimum antara lokasi dengan fasilitas umum adalah 50 meter. Rancang bangun khusus untuk penyimpan limbah B3 reaktif. hidran pemadam api dan perlindungan terhadap hidran. maka fasilitas pengumpulan merupakan fasilitas khusus yang harus dilengkapi dengan berbagai sarana untuk penunjang dan tata ruang yang tepat sehingga kegiatan pengumpulan dapat berlangsung dengan baik dan aman bagi lingkungan (gambar 7). (c) 300 meter dari fasilitas umum seperti daerah pemukiman. sehingga bila terjadi ledakan yang sangat kuat akan mengarah ke atas dan tidak ke samping.FTSL ITB Halaman 47 . Enri Damanhuri . hutan lindung. Dalam hal limbah B3 dikumpulkan terlebih dahulu di sebuah tempat di luar lokasi penghasil limbah B3. o Menggunakan instalasi yang tidak menyebabkan ledakan/percikan listrik o Dilengkapi dengan: sistem pendeteksi dan pemadam kebakaran. o Area secara geologis merupakan daerah bebas banjir tahunan. sehingga asap dan panas akan mudah keluar. Persyaratan bangunan untuk penempatan tangki: o Tangki penyimpanan limbah B3 harus terletak di luar bangunan tempat penyimpanan limbah o Merupakan konstruksi tanpa dinding. (e) 300 meter dari daerah yang dilindungi seperti cagar alam. o Pintu darurat dibuat tidak pada tembok tahan api. garis pasang tertinggi laut.

Transportasi bahan berbahaya yang bervolume besar (bulky) dapat dilakukan melalui segala jenis angkutan. nikel atau stainless steel. laut. botle dan cask. intermodal portable tank. acuan-acuan teknik yang standar serta pengujian untuk itu. seperti melalui darat. Kapasitas tank car ini dibatasi 34. drum. dan biasanya terbuat dari baja atau campuran alumunium atau dapat pula dari bahan lain seperti titanium. Sekitar 80 % dari pengangkutan bahan berkapasitas besar menggunakan tank car yang mempunyai masa layan 30 . box. can. tank truck.000 pound (107 ton). tank car. darat (termasuk kereta api). Dalam hal ini Research and Special Programs Administration (RSPA) dari USDOT mengeluarkan dan bertanggungjawab untuk mengembangkan aturan-aturan. kereta api atau laut.7: Contoh tata ruang pengumpulan limbah B3 6 PENGANGKUTAN Di Amerika Serikat. Perbedaan utama dari rail tank car ini adalah ada Enri Damanhuri . Produk-produk berbahaya tersebut diangkut dengan berbagai container seperti : vessel.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4.000 jenis bahan berbahaya. Kapasitas yang digunakan di USA adalah antara 4000 sampai 12000 gallon (15 sampai 50 m3). Bahan-bahan ini diangkut melalui udara. Beban kendaraan biasanya dibatasi sampai 80.FTSL ITB Halaman 48 . cylinder. Cargo tank merupakan sarana yang biasa digunakan di darat.500 gallon (130 m3) dengan berat kotor 236.000 pound (36 ton). aturan-aturan yang dikeluarkan oleh DOT telah meliputi lebih dari 30.40 tahun. barrel.

karena dapat mencelakakan manusia atau lingkungan yang tidak terlibat langsung dengan kecelakaan. Tank-barges berkapasitas antara 300. cara ini adalah yang teraman. Lebih dari 90 % (berat) dalam transport laut ini terdiri dari produk petroleum dan minyak mentah.000 pound toluene diisocyanate (TDI) yang tergelincir dan menumpahkan sebagian isinya. Sekitar 66 % (berat) bahan yang diangkut di USA adalah bahan kimia (sebagian korosif) sedang 23 % merupakan produk minyak (bahan bakar). Peraturan-peraturan yang digunakan dalam transportasi hendaknya mengantisifasi kemungkinan timbulnya masalah ini. Sisanya adalah bahan kimia semacam asam sulfat. mengkontaminasi daerah sekitarnya serta baju 2 orang petugas. Respons terhadap bentuk kecelakaan itu harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan agar dapat menangani masalah yang timbul secara cepat dan tepat. walaupun bila terjadi kecelakaan maka limpahannya akan menyebar secara luas. Prentice Hall Building. Cara ini relatif memungkinkan pengangkutan dengan kapasitas yang besar. pemadam kebakaran dan sebagainya) akan tergantung pada apakah aparat tersebut terlatih untuk jenis kecelakaan itu. Pada saat truk dibalikkan. baik dari jumlah kecelakaan maupun banyaknya limpahan dalam satuan ton-mile. Container bulky melalui air yang terbesar adalah dengan tanker dan tank-barges. TDI yang melekat pada sepatu dan baju menguap dan terhiruplah gas toksik.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 yang menggunkan tekanan (untuk gas) dan tanpa tekanan (untuk cair). toluene dan sebagainya.000-600. Sebagai contoh adalah kecelakaan lalu-lintas yang terjadi di USA pada bulan Desember 1981 yang menimpa sebuah truk pembawa 40.Kepala Bapedal 05/Bapedal/09/1995: tentang Simbol dan Label Limbah B3 http://www. Penanganannya adalah truk tetap dipanaskan dan diisolasi agar TDI ini tetap dalam kondisi cair. TDI masuk de dalam sel jaringan. limpahan TDI ternyata terpapar pada tanah yang dingin.Bapedal 01/Bapedal/09/1995: tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3 Kep. Meyer: Chemistry of Hazardous Materials. maka respon aparat terkait (polisi. Hampir 90 % dari tank car ini terbuat dari baja. Aturan-aturan yang ada menyangkut kegiatan selama loading serta pelatihan bagi awak kapalnya. Setelah mereka kembali ke kendaraan yang hangat. demikian juga kegiatan penanganan korban akibat terpapar dengan bahan berbahaya akan tergantung apakah paramedis terkait telah mendapat pelatihan menangani korban semacam itu. Referensi Utama: o o o o o E. bahan berikutnya yang sering digunakan adalah alumunium. yang mencakup sekitar 91 %. Demikian juga peralatan tim harus sesuai dengan kebutuhan/jenis bahan atau limbah yang diangkut. dan dapat merusak paru. Bila terjadi kecelakaan lalu-lintas. Kemungkinan kecelakaan yang mungkin terjadi di sektor transportasi ini perlu mendapat perhatian. Kedua petugas tersebut mengalami gangguan pernafasan yang permanen dan tidak dapat lagi aktif bekerja.000 gallon (1135-2270 3 m ) sedang tanker berkapasitas sampai 10 kali lebih besar. pupuk. alkohol. benzene. Secara statistik.Kepala Bapedal 02/Bapedal/09/1995: tentang Dokumen Limbah B3 Kep.labelmaster. NaOH.com (1 Maret 2008) Enri Damanhuri .paru. mengiritasi mata.FTSL ITB Halaman 49 . 1989 Kep.

seperti karbon monoksida dan hidrogen sianida. gas hidrogen dan metan. yaitu : a. atau mekanisme lainnya. panas. Materi radioaktif : dicirikan dengan transformasi yang berlangsung dalam inti atom. baik yang terdapat di alam maupun yang dibuat oleh manusia. Contoh materi ini misalnya dinamit dan trinitrotoluene (TNT). namun materi ini pulalah yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang berbahaya.500 jenis digunakan sebagai bahan tambahan makanan. 40% berkaitan dengan petrokimia.000 jenis bahan kimia baru masuk ke perdagangan. Enri Damanhuri . biasanya karena adanya kejutan (shock). tekanan atau kegiatan oksidasi atau kegiatan lain seperti aktivitas mikrobiologis.46% dari nilai perdagangan dunia.000 jenis sebagai bahan aktif obat-obatan. Dengan mengetahui komposisi dan memahami bagaimana perubahan terjadi. Proses penggunaan bahan yang berbahaya dalam kegiatan sehari-hari. debu aluminum. akan menghasilkan limbah berbahaya.000 jenis diantaranya digunakan sehari-hari. cair. Materi yang spontan terbakar (spontaneously ignitable material) : padat atau cair yang dapat menyala secara spontan tanpa sumber nyala. f. dan 2. Penggunaan bahan-bahan kimia di dunia telah berkembang pesat. Senyawa-senyawa kimia sintetis inilah yang banyak dihasilkan oleh peradaban modern. Perdagangan bahan kimia dunia pada tahun 1991 mencapai nilai 1. misalnya pelarut (solvent) seperti benzene. terutama dari kegiatan industi khususnya penggunaan bahan kimia. Materi toksik : racun yang dalam dosis kecil dapat membunuh atau mengganggu kesehatan. ethanol.2 M US$. Secara konvensional. e. yang berkaitan dengan komposisi materi. misalnya karena perubahan panas. 50. b. Peledak (explosive) : materi kimia ini dapat meledak.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN V SIFAT DAN KARAKTERISTIK BAHAN KIMIA BERBAHAYA 1 UMUM Penggunaan kimia dalam kebudayaan manusia sudah dimulai sejak zaman dahulu. 1. yang sebagian besar merupakan bahan berbahaya. Contoh materi ini adalah amonium nitrat dan benzoyl peroksida. Bahan kimia yang telah digunakan dan diperdagangkan secara umum sekitar 63. Kimia merupakan salah satu ilmu pengetahuan alam. manusia dapat mengontrol dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan manusia. g. dan hampir setiap tahun 1. termasuk juga perubahan yang terjadi di dalamnya. Ini ditunjukkan oleh hampir 11 juta jenis bahan kimia telah diidentifikasi pada tahun 1995. Materi mudah terbakar (flammable material) : padat. Materi korosif : padat atau cair seperti asam kuat atau basa kuat. Pengoksidasi (oxidizer) : Materi yang menghasilkan oksigen.500 jenis merupakan bahan aktif pestisida. terdapat 7 kelas bahan berbahaya. c. d. baik dalam kondisi biasa atau bila terpapar dengan panas. baik secara alamiah maupun sintetis. Contoh materi ini misalnya fosfor putih. misalnya uranium heksafluorida. baru beberapa ratus jenis saja yang telah dievaluasi dampaknya tehadap kesehatan dan lingkungan. sekitar 4.atau gas yang menyala dengan mudah dan terbakar secara cepat bila dipaparkan pada sumber nyala.FTSL ITB Halaman 50 . yang dapat membakar dan merusak jaringan kulit bila berkontak dengannya. Dari sekian banyak bahan kimia tersebut. Pemakaian bahan kimia di Indonesia (1991) sekitar 0.000 jenis. uap.

akan memungkinkan bahan tepung tersebut secara spontan akan terbakar. Kadangkala secara tidak sengaja terjadi pencampuran antara 2 materi yang asalnya tidak berbahaya. atau o Panas akibat reaksi kimia yang terjadi akan dapat membakar bahan mudajh terbakar di sekitarnya. Interaksi bahan membentuk nyala atau bahan eksplosif: Bahan logam natrium akan dapat terbakar dengan sendirinya bila terdapat uap air yang berkontak dengannya. ethyl ether. Interaksi bahan membentuk panas: Bahan-bahan pengoksidasi adalah contoh bahan berbahaya yang siap bereaksi dengan bahan mudah terbakar. seperti kayu. karena reaksi yang terjadi akan menghasilkan gas hidrogen yang dapat terbakar tanpa adanya pemantik api. Pencampuran bahan berbahaya dapat menyebabkan: o Timbulnya bahan toksik o Timbulnya gas bakar yang dapat menimbulkan kebakaran atau ledakan. seperti dari stop-kontak. menghasilkan gas klorin yang sangat toksik melalui pernafasan. sikring. Jangan dipadamkan dengan air. biasanya direkomnedasikan untuk memadamkannya. menyebabkan terjadinya swa-kebakaran.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Materi tersebut kadangkala menjadi lebih berbahaya bila berada dalam kondisi tercampur dengan bahan lain. 2 KELAS KEBAKARAN Kebakaran biasanya dikaitkan dengan kecelakaan yang dipicu dari adanya bahan berbahaya. Tubuh manusia mentolerir konsentrasi bahan ini dengan konsentrasi tidak lebih dari 1 ppm di udara. aluminum. Bila api yang dipadamkan dilakukan dengan air. Bila larutan asam nitrat (oksidator) tercampur dengan tepung beras. Air dapat digunakan untuk memadamkan jenis kebakaran ini Kebakaran kelas B: berasal dari bakaran gas bakar (flammable gases) atau cairan yang mudah terbakar (flammable and combustible liquids). Kebakaran bahan ini akan meninggalkan bara api dan abu. seperti logam titanium. katon dan kertas. maka kebakaran akan tambah besar.FTSL ITB . Kebakaran jenis ini mudah dipadamkan oleh Halaman 51 o o o Enri Damanhuri . methanol. dan natrium. yaitu: o Kebakaran kelas A: berasal dari bakaran berbahan dasar sellulosa. bahan-bahan sejenis baik alamiah maupun sintetis lainnya termasuk plastik dan karet. dry chemical extinguisher. kerosen. kabel listrik. magnesium. seperti LPG. propane. Misalnya gudang penyimpan logam natrium terbakar. dan dapat dibagi menjadi 4 kelas. Kebakaran kelas D: berasal dari bakaran logam-logam yang mempunyai sifat reaktif yang spesifik terhadap air atau uap air. zirconium. hidrogen. Kebakaran kelas C: berasal dari bakaran bahan yang terjadi karena sirkuit tenaga listrik. karena dihasilkan gas hidrogen. motor dan generator. atau busa meruapakan bahan yang cocok untuk memadamkannya. Beberapa ilustrasi di bawah ini akan menggambarkan hal tersebut: Interaksi bahan membentuk bahan toksik: Bila kita mencampur larutan asam yang banyak digunakan secara komersial untuk menghilangkan karat atau untuk membersihkan wastavel atau WC dengan pemutih cucian atau disinfektan yang digunakan dalam kolam renang. Reaksi yang terjadi akan berlangsung secara spontan. Karbon dioksida atau dry chemical extinguisher. Karbon dioksida.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

baham spesifik sejenis graphite atau natrium kloroida (garam dapur). Sangat berbahaya bila dipadamkan dengan menggunakan air. 3 INFORMASI TINGKAT BAHAYA Tingkat bahaya suatu bahan berbahaya harus diinformasikan secara jelas kepada pemakai, khususnya dalam lingkungan kerja dimana bahan tersebut digunakan, melalui 2 jalan: o Penggunaan label dan bentuk peringatan lainnya: setiap produsen atau importir bahan kimia harus memastikan bahwa setiap kontainer atau pengemas produk B3nya telah diberi label, papan-nama, atau tanda-tanda peringatan lain yang sesuai dengan jenis bahaya yang dikandung bahan tersebut, nama dan alamta produsen, importir atau penanggung jawab lainnya. Label dapat menggunakan simbol, gambar atau kata-kata lainnya. Lihat contoh dalam Gambar 4.1 o Informasi tentang Material Safety Data Sheets (MSDS): merupakan bulletin yang bersifat teknis yang mengandung informasi mendetail tentang bahaya dari bahan tersebut. Di Amerika Serikat, melalui OSHA, mewajibkan setiap produsen untuk menyiapkan MSDS ini bagi setiap produknya. MSDS ini harus disertakan pada setiap sampel atau pengiriman ke sebuah tujuan untuk pertama kalinya.

Gambar 5.1: Contoh label untuk HCl Bila mengacu kepada Occupational Safety and Health Act (OSHA) yang berlaku di Amerika Serikat, maka: a. MSDS harus dirancang sangat komprehensif dalam bentuk informasi tertulis untuk seluruh karyawan b. Informasi minimum yang dibutuhkan adalah: o Identitas produk seperti tercantum dalam container atau pengemasnya o Nama umum dan nama kimia seluruh komponen yang mempunyai konsentrasi >1%, yang diketahui berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan, dan
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 52

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

mempunyai konsentrasi ≥ 0,1% bagi bahan yang diketahui sebgai penyebab kanker o Bahaya fisik dan kesehatan, termasuk tanda-tanda dan simptom-nya bila terpapar o Alur masuk ke tubuh manusia, kulit, pernafasan, makanan atau minuman o Batasan paparan yang diketahui o Apakah termasuk penyebab kanker atau berpotensi-kanker o Prosedur handling dan penggunaan yang aman, penanggulangan tumpahan atau kebocoran o Prosedur pertolongan pertama bila terjadi kecelakaan o Tanggal penyiapan bahan o Nama, alamat dan nomor telepon perusahaan, atau yang bertanggung jawab yang mendistribusikan MSDS c. Training yang bersifat regular adalah kegiatan yang dianggap kritis, yang berbentuk program komunikasi, yang menginformasikan apa yang tercantum dalam label maupun dalam MSDS suatu bahan berbahaya. Penanggung jawab kegiatan harus melatih pekerjanya dalam hal bagaimana mengenali bahan-bahan berbahaya yang dapat teremisi atau terpapar dalam ruangan dimana mereka bekerja, misalnya dalam bentiuk timbiulnya bau yang spesifik, dan sekaligus melatih bagaimana memproteksi dirinya akibat bahan berbahaya tersebut. 4 DOKUMEN MATERIAL SAFETY DATA SHEETS (MSDS) Berikut ini adalah contoh MSDS yang dikeluarkan oleh sebuah produsen bahan kimia di Amerika Serikat untuk produk HCl yang dihasilkan: Informasi Umum (muncul di setiap lembar MSDS)
o o o J.T. Baker Chemical Co. 222 Red School Lane, Phillipsburg, N.J. 08865, 24-Hour Emergency Telephone (201)859-2151, Chemtrec # (800) 424-9300, National Re4sponse Center # (800) 424-8802 H3880-02 Hydrochloric Acid Effective: 08/07/86 Issued: 10/19/87

Seksi I: Identifikasi Produk
o o o o o o o Nama produk: Hydrochloric acid Formula: HCl Formula Wt: 36, 46 Cas No: 7647-01-0 NIOSH/RTECS No: MW4025000 Sinonim Umum: Muriatic Acid; Chlorhydric Acid, Hydrochloride Kode produk: 9543, 9539, 9535, 9534, 9544, 9529, 9542, 4800, 9549, 9530, 9548, 9540, 5537, 9547, 9546, 9537, 5367

Precautionary Labelling: TM Baker SAF-T-DATA System: (dengan label kode gambar) o Kesehatan: Severe o Flammabilitas: None o Reactivitas: Moderate o Kontak: Severe o Laboratory protective equipment: goggles & shield, Lab coat & apron, vent hood, proper gloves o Precautionary label statements:

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 53

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

RACUN! BAHAYA! MENYEBABKAN LUKA BAKAR SERIUS MENJADI FATAL BILA TERTELAN ATAU TERHIRUP Jangan berkontak dengan mata, kulit, dan baju Jangan terhirup uapnya. Penyebab kerusakan pada sistem pernafasan (paru-paru), mata dan kulit. Simpan dalam container yang tertutup rapat. Buka dengan hati-hati. Gunakan ventilasi yang cukup. Cuci dengan cukup setelah penanganan. Bila terjadi tumpahan, netralisir dengan soda ash atau kapur dan tempatkan pada container kering.

Seksi II: Komponen Berbahaya
o o o o o o o o o o o o

Komponen: Hydrochloric Acid (23 Baume) %: 35-40 CAS No: 7647-01-0 Titik didih (boiling point): 110 C (230ºF) Tekanan uap (mmHg): N/A o o Titik leleh (melting point): -25 C (-13 F) Densitas uap (udara = 1): 1,3 Gravitasi spesifik (specific gravity H2O = 1): 1,19 Laju evaporasi (Butyl Acetate = 1): N/A Kelarutan (H2O): sempurna dalam seluruh proporsi % Volatil – volume: 100 Tampilan dan bau: jernih, tidak berwarna atau kuning muda, pungent, cairan berasap (fuming liuid)
o

o

Seksi III: Data Fisika

Seksi IV: Data Bahaya Kebakaran dan Ledakan
o o o o o Flash point: N/A NFPA 704M Rating: 3-0-0 Flammable limits: Upper – N/A % Lower – N/A % Media pemadam kebakaran: gunakan media pemadam kebakaran yang cocok untuk area sekitarnya Prosedur khusus pemadaman kebakaran: Anggota pemadam kebakaran harus m,engenakan perlengkapan perlindungan yang memadai, dengan perlengkapan pernafasan yang dioperasikan pada tekanan positif. Pindahkan kontainer dari lokasi kebakaran bila dapat dilakukan tanpa resiko. Gunakan air. Jangan masukkan air ke dalam kontainer. Bahaya kebakaran dan ledakan yang tidak biasa: dapat mengemisikan gas hidrogen bila berkontak dengan logam Gas toksik yang dihasilkan: hydrogen chlorida, gas hyrogen PEL dan TLV dalam daftar menandakan berada pada batas 3 Treshold Limit Value (TLV/TWA): 7 mg/m (5 ppm) 3 Permissible Exposure Limit (PEL) : 7 mg/m (5 ppm) Toksisitas : LD50 (oral-rabbit) (mg/kg) : 900 LD50 (ipr-mouse) (mg/kg) : 40 LD50 (inhl-rat-1H) (ppm) : 3124 Carcinogenicity NTP : No IARC : No Z List : No OSHA : No Pengaruh paparan yang berlebihan (overexposure) : Target organ : system pernafasan, mata, kulit Kondisi medis yang biasanya diperparah bila terpapar : tidak teridentifikasi Alur masuk: pencernaan, pernafasan, kontak kulitm kontak mata Darurat dan Pertolongan Pertama:

o o o o o o o

Sekis V: Data Bahaya Kesehatan

o o o o o

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 54

karbonat. oksida logam.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Seksi VI: Data Reaktivitas o o o o o o o o o o o o o o o o Stabilitas: stabil Bahaya polumerisasi: tidak akan terjadi Kondisi yang dihindari: panas dan kelembaban Tidak kompatibel: hampir semua logam.FTSL ITB Halaman 55 . murkuri sulfat. anhidrid asid. asam sulfat. Idsolasi dari bahan-bahan yang tidak kompatibel. alat bantu pernafasan disarankan untuk digunakan Perlindungan mata/kulit: Sarung tangan acid-resistant dan perlindungan muka (face shield). Simpan di area anti korosi. Di atas konsentrasi tersebut. kering dan tutup. basa kuat. alkali. propiolakton. dan pindahkan dari area tersebut Bilas area tumpahan dengan air R R J. solution o Kelas bahaya (hazard class): 8 o UN/NA: UN1789 o Labels: Corrosive Info terakhir MSDS contoh di atas: The information Publisher in this MSDS has been compiled from our experience and data presented in various technical publications. kalsium fosfida. vinil asetat. disarankan menggunakan masker chemical cartridge respirator dengan acid cartridge.T. tuang tumpahan dengan hati-hati ke dalam kontainer bersih. hidrogen. Enri Damanhuri . formaldehid. Dilarang disimpan berdekatan dengan bahan pengoksidasi TM Seksi VII: Prosedur Penanganan Tumpahan dan Disposal Seksi VIII: Perlengkapan Perlindungan o Seksi IX: Penyimpanan dan Penanganan o o Seksi X: Data transportasi dan Informasi Tambahan Domestik (DOT): o Nama pengapalan (proper shipping name): Hydrochloric acid o Kelas bahaya: bahan korosif (cair) o UN/NA: UN1789 o Label: Korosif o Kuantitas dilaporkan: 5000 Lbs Internasional (IMO) o Nama pengapalan (proper shipping name): Hydrochloric acid. Pada konsentrasi di sampai dengan 100 ppm. baju pelindung direkomendasi untuk digunakan SAF-T-DATA Storage Color Code: putih (korosif) Syarat khusus: Kontainer selalu tertutup rapat. asam klorosulfonik Produk dekomposisi: hidrogen klorida. It is the user’s responsibility to determine the suitability of this information for the adoption of necessary safety precautions. amine. klorin Gunakan alat masker pernafasan (self-contained breathing) dan baju pelindung Hentikan kebocoran bila dapat dilakukan tanpa resiko Berikan ventilasi pada area tersebut Netralisir tumpahan dengan abu soda atau kapur Dengan skop yang bersih. air. Baker Neutraorb atau Penetralisir asam Neutrasol “Low Na” disarankan untuk digunakan untuk penanganan tumpahan Prosedur disposal: kubur atau timbun atau singkirkan sesuai dengan peraturan yang berlaku EPA Hazardous Waste Number: D002 (Coorosive Waste) Ventilasi: gunakan exhaust ventilation umum atau lokal untuk memenuhi standar TLV Perlindungan pernafasan: Masker pernafasan dibutuhkan bila konsentrasi di udara kerja melebihi TLV yang disyaratkan. seragam. We reserve the right to revise Material Safety Data Sheets periodically as new information becomes available.

baik terhadap logam dan mineral.titik didih : 338 o C . Namun korosi sebetulnya tidak terbatas pada aktivitas oksigen terhadap sebuah logam. Bila asam sulfat bercampur dengan NaCl. . yang akan dibahas secara umum di bawah ini. asam nitrat. Bahan ini juga akan menimbulkan ledakan bila bercampur dengan asam lain. Baker makes no warranty or representation about the accuracy or completeness nor fitness for purpose of the information contained herein. natrium hidroksida.T. proses ini biasanya terjadi karena adanya oksigen di udara. Bila ini dilakukan terbalik. terjadinya bahan lain yang mudah terbakar atau terjadinya ledakan. yang disertai akibat samping seperti timbulnya gas toksik. asam fluorida. dan dapat menimbulkan ledakan bila dicampur dengan bahan tertentu. asam fosfat. sehingga dapat menghancurkan sama sekali kertas dan tekstil.bila diuji terhadap kelinci albino. dapat menimbulkan sifat toksik. COPYRIGHT 1987 J. Asam ini merupakan cairan yang tidak berwarna. Beberapa bahan yang termasuk dalam kelompok ini adalah asam sulfat. dan sangat reaktif. Reaksi dehidrasi ini sangat kuat. asam perkhlorit. Oleh karenanya US Department of Transportation (USDOT) mendefinisikan bahan korosif sebagai : cairan atau padatan yang dapat menimbulkan kerusakan yang terlihat pada jaringan kulit manusia bila berkontak. asam khlorida. Asam Sulfat (H2SO4) Bahan ini banyak digunakan di industri. akan menyebabkan terjadinya pendidihan lokal disertai percikan yang membahayakan.konsentrasinya dalam air : 98. yang menghasilkan oksida-oksida metalik.titik beku : 10 o C . atau cairan yang mempunyai laju korosi yang kuat terhadap baja alumunium dengan kriteria : .gravitasi spesifik : 1. nyala dan ledakan.25 mm per tahun terhadap baja atau alumunium standar pada temperatur pengujian 55 °C. Beberapa reaksi di bawah ini akan memperjelas mekanisme yang terjadi : Enri Damanhuri . Gula misalnya akan menjadi arang bila bercampur dengan asam ini. akan terbentuk uap HCl yang merupakan bahan toksik bagi pernafasan.FTSL ITB Halaman 56 . Selalu diperhatikan bahwa pengenceran dilakukan dengan penuangan secara perlahan pada air yang teraduk perlahan.T.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 J. dengan densitas sekitar 2 kali air. juga terhadap jaringan kulit. maka struktur jaringan di lokasi kontak mengalami kerusakan atau tidak dapat pulih setelah pemaparan 4 jam atau kurang.33 % .84 . seperti HclO4. 5 BAHAN KIMIA KOROSIF Biasanya pengertian korosi mengacu pada proses kimia yang mengakibatkan logam atau mineral dikonversi menjadi bahan yang berkarat. sehingga dianggap banyaknya konsumsi bahan ini di suatu negara dapat menggambarkan status ekonomi dari negara tersebut. Korosi dapat pula disebabkan karena perusakan oleh bahan kimia (seperti asam atau basa kuat). kalium hidroksida.bila sebuah cairan mempunyai laju korosi lebih besar dari 6. Bahaya lain dari bahan ini adalah kemampuannya bereaksi dengan bahan lain. Bentuk bahaya yang kedua dari bahan ini adalah sifatnya yang dapat mengekstrak air dari bahan yang berkontak dengannya. Beberapa sifat asam sulfat pekat adalah : . BAKER INC.sangat larut dalam air Asam ini akan membebaskan panas bila diencerkan (sekitar 20 kcal per mole).

menimbulkan ledakan dengan asam perkhlorit : 2HClO4 (l) ⇒ Cl2O7(g) + H7O(g) .5 x air dan merupakan oksidator kuat. Asam nitrat (pekat) direduksi menjadi nitrogen.70 % . senyawa-senyawa organik-bernitrat dan fiber sintetis. ClO2 bersifat toksik . digunakan misalnya dalam industri pupuk amonium-nitrat.FTSL ITB Halaman 57 . Beberapa sifat dari bahan ini pada kondisi pekat antara lain adalah : .menghasilkan gas racun dengan asam oksalit : H2C2O4(s) ⇒ H2O(g) + CO(g) + CO2(g) .titik beku : . Asam nitrat murni merupakan cairan yang tidak berwarna. namun sering dijumpai dengan warna kuning sampai merah-kecoklatan tergantung dari kandungan nitrogen dioksida yang terlarut. tergantung pada konsentrasi asam tersebut.titik didih : 86 o C .menghasilkan ledakan dan gas toksik dengan NaClO3: NaClO3(s) + H2SO4 (l) ⇒ NaHSO4 (s) + HclO3(l) 3 HClO3(l) ⇒ HClO4 + 2 ClO4 + H2O . misalnya pada reaksi di bawah ini : Cu(s) + 2 H2SO4 (pekat) ⇒ CuSO4 (l) + SO2 (g) + 2 H2O(l) Pb(s) + 3 H2SO4 (pekat) ⇒ Pb(HSO4) 2 (s) + SO2 (g) + 2 H2O(l) Di lingkungan kerja.menghasilkan gas-gas racun dengan NaBr.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 .sangat larut dalam air Asam ini dapat merusak logam karena sifatnya sebagai oksidator kuat. Asam ini dibutuhkan untuk menghasilkan bahan peledak nitrogliserin dan trinitrotoluene (TNT). Label bertuliskan 'korosif dan racun' dibutuhkan pada kontainer dan kendaraan yang mengangkutnya.reaksi exotermis dengan gula : C12H22O11(s) ⇒ 12 C(s) + 11 H2O(g) .42 o C .konsentrasi dalam air : 68 . NI dan NaCN atau NaSCN : 2 NaBr(s) + 2 H2SO4(l) ⇒ Br2 (g) + SO2 (g) + Na2SO4 (l) + 2 H2O(l) SO2 dan Br2 adalah gas toksik Bahan ini juga tergolongkan sebagai oksidator.menghasilkan produk yang mudah terbakar dengan ethyl alkohol : C2H5OH(l) ⇒ C2H4(g) + H2O(g) .5 . aturan di USA membatasi pemaparan maksimum terhadap manusia sebesar 1 mg/m3. sedang monoksida terbentuk bila asam nitrat encer yang digunakan. Asam Nitrat (HNO3) Asam nitrat merupakan cairan terpenting setelah H2SO4. atau nitrogen monoksida atau nitrogen dioksida atau dinitrogen monoksida atau ion amonium. seperti reaksi di bawah ini : 5 Zn(s) + 12 HNO3(l) ⇒ 5 Zn(NO3)2(l) + 6 H2O(l) + N2(g) 3 Zn(s) + 8 HNO3(l) ⇒ 3 Zn(NO3)2(l) + 4 H2O(l) + 2 NO(g) Zn(s) + 4 HNO3(l) ⇒ Zn(NO3)2(l) + 2 H2O(l) + 2 NO2(g) 4 Zn(s) + 10 HNO3(l) ⇒4 Zn(NO3)2(l) + 5 H2O(l) + N2O(g) 4 Zn(s) + 10 HNO3(l) ⇒4 Zn(NO3)2(l) + 3 H2O(l) + NH4NO3(g) Umumnya hanya satu reaksi yang terjadi.gravitasi spesifik : 1. Kerapatannya sekitar 1. Nitrogen dioksida dapat terbentuk bila asam nitrat pekat yang digunakan. terutama pada kondisi panas. Bila logam yang dijumpainya adalah berupa serbuk maka reaksi akan Enri Damanhuri .

Asam ini dapat menimbulkan swa-nyala bagi bahan sellulosa. Bahan ini bukan termasuk oksidator.FTSL ITB Halaman 58 . misalnya pada industri kimia dan elektroplating. Asam ini juga dapat merusak bahan non logam. Asam ini juga mengoksidasi senyawa-senyawa organik seperti aceton. bahkan sama sekali merusaknya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 disertai ledakan. ethyl alkohol. Asam ini juga akan mengkorosi jaringan tubuh bereaksi dengan protein membentuk xanthroproteic acid berwarna kuning. terutama bila bahan ini dalam bentuk serbuk.kelarutan dalam air : sangat larut Departemen Transportasi Amerika Serikat menentukan bahwa HClO4 dengan konsentrasi lebih kecil dari 50 % sebagai 'korosif'. Asam Perchlorit (HclO4) Bahan ini termasuk asam mineral yang penting dalam perindustrian.18 o C . dan korosi pada besi tidak terjadi bila konsentrasi asam nitrat lebih tinggi dari 70 %.85 °C . oksidator dan racun'.115 °C . walaupun termasuk dalam kelompok asam kuat.titik didih : .gravitasi spesifik : 1.titik beku : . Asam Khlorida (HCl) Asam ini merupakan bahan kimia yang termasuk penting dalam kegiatan industri.20 . merupakan oksidator kuat khususnya terhadap senyawa organik. Pengangkut dan kontainer yang digunakan mencantumkan label 'korosif. atau produk yang banyak digunakan di rumah tangga. Oksidasi logam alumunium pada temperatur kamar tidak dapat terjadi bila konsentrasi asam nitrat lebih tinggi dari 80 %. Label yang disyaratkat pada kontainer dan pengangkutannya adalah 'korosif dan racun'. terutama pada kondisi panas. Batas yang diperbolehkan di Amerika Serikat pada lingkungan kerja adalah 5 ppm.gravitasi spesifik : 1. Sifat-sifat asam khlorida pekat antara lain adalah : . Asam ini. membentuk asap. atau untuk menghasilkan senyawa yang mengandung khlor seperti karet sintetis. Kerapatan gasnya sekitar 1/5 lebih ringan dari udara. Beberapa sifat (asam pekat) dari bahan ini adalah : .konsentrasi dalam air : 72. Materi sellulosa (seperti kertas.konsentrasi dalam air : 36 .titik beku : . minyak. Klasifikasi bahaya dari bahan ini karena bersifat korosif dan toksik. Terhirupnya gas ini melalui pernafasan akan menyebakan degenerasi total sel pada bagian pernafasan. dan menyengat. Sedang logam khromium resistan terhadap asam ini. kayu) akan tebakar dengan sendirinya bila berkontak dengannya. misalnya pembersih WC. misalnya pada industri pelapisan logam. seperti karbon dan sulfur. sedang antara 50-72 % sebagai 'oksidator' dan pengangkutan HClO4 dengan konsentrasi lebih besar dari 72 % tidak Enri Damanhuri .70 .4 % .kelarutan dalam air : 85 g/100 g air. Bahan ini merupakan cairan yang tidak berwarna. dan kadangkala disertai ledakan dan merupakan sumber nyala. nitrobenzene.titik didih : 203 o C .38 % . Pemaparan maksimum yang diizinkan di Amerika Serikat adalah 2 ppm.

Disamping itu. Beberapa sifatnya dalam kondisi pekat adalah : . namun asam fosfat adalah yang paling umum digunakan dalam industri. Label yang dipersyaratkan adalah : 'korosif dan oksidator'.gravitasi spesifik :1 . larutan ini bereaksi dengan air secara keras.sangat larut dalam air. Asam fosfat tidak berwarna dan tidak berbau.83 o C . dan mengeluarkan panas. Asam Fluorida (HF) Penggunaan asam fluorida dalam industri adalah penting.FTSL ITB Halaman 59 . Aturan pengangkutan di Amerika Serikat adalah mensyaratkan label 'korosif dan toksik'. dapat mengkorosi bahan tetapi tidak sehebat asam-asam sebelumnya.sangat larut dalam air. namun bentuk yang anhydrous dikenal sangat tidak stabil. Asam perckhlorit adalah stabil. Reaksi yang terjadi adalah : CaSiO3(s) + 6 HF(pekat) ⇒ CaF2(s) + SiF4(g) + 3 H2O(l) Asam fluorida merupakan asam lemah. dan merupakan satu-satunya asam yang mengkorosi gelas.konsentrasi yang biasa dijumpai adalah : 48 . Asam ini dalam kondisi pekat lebih berbahaya bila kontak dengan kulit karena tidak mendatangkan sakit pada saat kontak. yang merupakan pupuk sintetis yang penting. Batas pemaparan yang diizinkan di ruang kerja adalah 1 mg/m3. misalnya dalam pembuatan chip dalam industri komputer.titik didih : 20 o C . maka botol kedua jenis asam ini tidak diperbolehkan diletakkan berdampingan. Natrium Hidroksida (NaOH) dan Kalium Hidroksida (KOH) Kelompok ini merupakan kelompok alkalin korosif yang paling penting dan dikenal sebagai caustic soda. larutan ini bersifat korosif pada bahan. Asam Fosfat (H3PO4) Unsur fosfor paling tidak mempunyai 8 jenis asam. seperti dalam industri pupuk.60 % . Campuran kalsium dihidrogen fosfat dan kalsium fosfat dikenal sebagai superfosfat.konsentrasi dalam air : 85 % . Beberapa sifat dari asam ini dalam keadaan pekat adalah : .titik beku : 42 o C .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 diperkenankan.titik beku : .gravitasi spesifik : 1.titik didih : 260 o C . namun beberapa jam kemudian terjadilah penetrasi dalam kulit. banyak digunakan di industri Enri Damanhuri . mampu bereaksi dengan silikon dioksida (pasir) dan gelas membentuk silikon tetrafluorida. Label untuk pengangkutan dan kontainer mencantumkan sebagai 'korosif'.69 . Cairan ini tidak berwarna. baik digunakan secara langsung atau dicampur dengan H2SO4. NaOH merupakan basa kuat. atau dalam industri perminyakan untuk menghasilkan bahan bakar beroktan tinggi. Karena asam sulfat dapat menghidrasi asam perkhlorit.

Kalium Hidroksida merupakan basa yang lebih kuat dibanding NaOH. bahan ini dapat mengkorosi gelas. Logam-logam Alkali Beberapa jenis logam ini adalah lithium. cesium. Tetapi proses hidrolisis ini tidak selalu menimbulkan bahaya. Logam-logam alkali ini merupakan kelompok logam yang paling reaktif. karena dapat : . . tembaga dan jaringan kulit dan melarutkan lemak. tetapi dengan bahaya yang lebih kecil.titik leleh : 315 o C . kertas. 6 BAHAN KIMIA YANG REAKTIF PADA AIR Air dapat bereaksi dengan bahan berbahaya membentuk suatu produk yang dapat terbakar dengan sendirinya.titik didih : 1390 o C . wadah yang digunakan sebaiknya bukan bahan gelas. Proses yang menyebabkan air mendekomposisi suatu materi dikenal sebagai hidrolisis.FTSL ITB Halaman 60 .13 . sabun dan sebagainya.titik leleh : 360 o C . terutama dalam kondisi lembab akan menghasilkan gas H2 dengan resiko kebakaran yang tidak dapat Enri Damanhuri . uap atau asap toksik. Dalam uraian berikut ini dijelaskan secara umum kelompok bahan yang termasuk dalam katagori reaktif dalam air. kalium. Pengangkutan bahan ini di Amerika Serikat mensyaratkan penulisan label sebagai 'korosif'. seperti H2O4 dan NaOH. Disamping itu dikenal pula bahan yang higroskopik. bila terjadi kontak yang lama. Bahan ini umumnya digunakan pada industri pupuk.bereaksi dengan air secara kuat.5 °C. dan dikenal sebagai basa yang korosif. sehingga bila bahan tersebut dibiarkan terbuka di udara lembab. Reaksi yang terjadi umumnya seperti halnya NaOH.04 . maka wadahnya lama kelamaan akan penuh. seng. rubidium dan francium. NaOH adalah berbentuk padat-putih. farmasi. Beberapa bahan dikenal pula sebagai piroforik. dapat mengkorosi logam seperti alumunium.kelarutan dalam air : 107 gr/100 gr air.menghasilkan gas. namun yang paling sering digunakan adalah lithium. Sifatsifat fisiknya antara lain : . natrium. Oleh karenanya. membentuk natrium silikat. Salah satu karakteristik B3 adalah sifat reaktifnya. fotografi. misalnya untuk menangani penyumbatan pipa plambing. Pada temperatur kamar. Batas pemaparan di ruang kerja adalah 2 mg/m3. Beberapa sifat penting dari bahan ini adalah : . dan dikenal dengan nama caustic potash. natrium dan kalium. menimbulkan ledakan. produk ini juga digunakan di rumah tangga.membentuk campuran yang eksplosif bila bercampur air.gravitasi spesifik : 2.titik didih : 1320 o C . toksik atau bersifat korosif. sabun.gravitasi spesifik : 2. yaitu bahan yang mampu untuk menyerap air di udara.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 seperti : petroleum. yaitu bahan yang dapat terbakar secara spontan bila berada dalam keadaan udara kering atau lembab atau pada temperatur < 54. tekstil.kelarutan dalam air : 42 gr/100 gr H2O. Bahan ini reaktif dengan air dan menghasilkan panas 10 kcal per mole sehingga dapat memicu kebakaran. .

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dipadamkan dengan air. farmasi. Faktor lain yang mempengaruhinya adalah ukuran partikel.534 179 1317 103. Logam ini juga lunak. tetapi biasanya dengan dry powder yang mengandung grafit. sedangkan logam alkali lainnya akan meleleh. Beberapa sifat dari lithium. maka bila bereaksi dengan air akan tetap sebagai padatan. keramik. dan merupakan logam alkali yang paling umum digunakan.2 4680 Natrium 0. logam ini adalah yang paling reaktif. Oleh karena titik didihnya lebih tinggi dari air. Dibandingkan dengan logam alkali yang lain. Natrium dapat menyala secara spontan dalam udara bertemperatur kamar. distribusi atau dispersi partikel. berasap ungu dan membentuk kalium oksida.7 760 14.FTSL ITB Halaman 61 .1. karena bersifat piroforik. Logam-logam lain Beberapa jenis logam lain yang mempunyai sifat reaktif terhadap air adalah magnesium.6 496 Lithium adalah logam yang lunak. Bahan ini antara lain digunakan dalam produksi logam titanium.5 833 27. natrium dan kalim adalah seperti terlihat dalam tabel 4. Logam ini termasuk logam yang ringan sehingga sering digunakan dalam industri pesawat terbang. Natrium adalah unsur keenam yang paling banyak dijumpai dalam tanah dan lautan. Bahan ini digunakan dalam industri porselen. maka resiko tersebut dapat dikurangi. sebagai bahan baku dalam pembuatan senyawa-senyawa yang mengandung natrium yang bersifat reaktif. mobil. TABEL 5. logam ini akan terbakar. Bila permukaan logam ini diselimuti oleh oksida. Magnesium merupakan unsur ke delapan yang terbanyak dijumpai di dalam tanah dan lautan.819 63. kelembaban dan jumlah oksigen yang terserap. berasap kuning dan membentuk natrium oksida sesuai dengan reaksi : 4 Na(s) + O2(g) ⇒ 2 Na2O(s) Kalium merupakan unsur ketujuh yang paling banyak dijumpai di dalam tanah dan lautan.972 97. agen pemutih. Bila bereaksi dengan air akan menghasilkan reaksi : 2 Li(s) + 2 H2O(l) ⇒ 2 LiOH(l) + H2(g) Reaksi berlangsung lambat bila dibandingkan dengan reaksi alkali yang lain. alumunium dan seng. Pengangkutan bahan ini membutuhkan label yang menyatakan sebagai 'berbahaya bila lembab'. sehingga tidak berbahaya dibandingkan logam alkali lainnya. Kelompok ini bila dalam bentuk bubuk akan secara spontan meledak sehingga dapat menimbulkan resiko kebakaran. seperti natrium peroksida.1 : Sifat fisika logam-logam alkali Kerapatan pada 20o C (g/ml) Titik leleh (° C) Titik didih (o C) Panas fusi (kcal/kg) Panas penguapan (kcal/kg) Lithium 0. titanium. atau untuk pembuatan bagian-bagian mesin dan Enri Damanhuri . Kemurnian dari logam kelompok ini akan menentukan resiko tersebut di atas. Bila terpapar dengan udara pada temperatur kamar. merupakan unsur padat yang paling ringan dan dapat mengapung pada produk minyak bumi. Sebagaian besar logam kalium digunakan untuk memproduksi logam campuran natrium-kalium sebagai penukar panas pada fluida. sebagai katalis dalam pembuatan karet sintetis.2 1005 Kalium 0.

industri. Adanya lapisan inilah yang menyebabkan alumunium dianggap sebagai logam yang tidak berbahaya. logam ini termasuk yang mempunyai kerapatan kecil dibandingkan logam lainnya. Asap dari magnesium oksida berbahaya bila terhisap karena bersifat reaktif terhadap lembab yang ada dalam saluran pernafasan dan membentuk magnesium hidroksida. Namun biaya untuk memproduksi logam ini adalah sangat tinggi sehingga membatasi penggunaannya. senyawa ini akan bereaksi secara keras membentuk ethane. Titanium merupakan elemen ke sepuluh yang paling banyak dijumpai di dalam tanah dan lautan. Senyawa ini biasanya digunakan sebagai katalis polimerisasi. Bahan ini dapat dibentuk sebagai lembaran yang tipis dan banyak digunakan dalam kegiatan industri maupun non. maka logam ini banyak digunakan dalam industri pesawat terbang. yang dapat membahayakan retina mata. dan merupakan unsur ketiga terbanyak di perut bumi dan lautan. maka bila serbuk alumunium diangkut maka dibutuhkan label sebagai 'berbahaya bila lembab'. Seng juga digunakan untuk melindungi besi dari korosi (galvanis). Namun dengan terbentuknya alumunium oksida yang berada di permukaan akan melindungi logam ini dari reaksi kimia. seperti reaksi : (C2H5)2Zn(l) + 7 O2(g) ⇒ ZnO(s) + 4 CO2 (g) + 5 H2O(g) Enri Damanhuri . Alumunium murni termasuk salah satu logam yang paling reaktif. dimethylcadmium Cd(CH3). seperti reaksi : 2 Mg(s) + O2(g) ⇒ 2 MgO(s) 3 Mg(s) + N2(g) ⇒ Mg3N2(s) Cahaya yang ditimbulkan oleh terbakarnya magnesium adalah putih terang. Campurannya dengan tembaga menghasilkan logam campuran yang dikenal sebagai kuningan. Seperti halnya magnesium. Diethylzinc adalah organometalik yang biasanya digunakan dalam sintesa beberapa senyawa organik. Seperti halnya magnesium. yang dapat menimbulkan luka pada paru-paru. Dalam air. karbon dioksida dan air. trimethylaluminum Al(CH3)3. Senyawa Organometalik Kelompok senyawa organometalik yang penting dalam industri adalah dalam bentuk atom-atom logam yang terikat secara langsung dengan atom-atom karbon.FTSL ITB Halaman 62 . Bila logam ini terbakar di udara. Seng termasuk yang sering digunakan dalam kegiatan non-industri. Pengangkutan bahan ini membutuhkan label yang bertuliskan 'berbahaya bila lembab'. dapat terbakar secara spontan di udara. terutama senyawa organometalik yang lain. tri(isobutyl) aluminum Al(C4H9)3. atau sebagai pigmen dalam pembuatan cat. Oleh karena kombinasi keras dan ringan ini. tetramethyltin Sn(CH3)4. Aluminum (alumunium) merupakan bahan yang paling populer diantara bahan-bahan sebelumnya. Senyawa ini bersifat piroforik. dan digunakan pula sebagai katalis dalam polimerisasi ethene.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 sebagainya. sedang sisanya akan membentuk magnesium nitrida. Tidak kurang dari 50 jenis senyawa organometalik tersedia secara komersial. membentuk seng oksida. Seperti halnya yang lain. Transportasi bubuk seng membutuhkan label 'berbahaya bila lembab'. umumnya mengandung satu sampai sepuluh atom karbon pada setiap molekulnya. hanya sekitar 75 % diantaranya yang bereaksi dengan oksigen untuk membentuk magnesium oksida. Logam ini tahan terhadap sifat korosi air laut sehingga banyak digunakan dalam pembuatan kapal laut. logam ini reaktif terhadap air dan berisiko terhadap terjadinya ledakan dan kebakaran. Logam ini sekeras baja tetapi 45 % lebih ringan. beberapa diantaranya adalah : diethylzinc (C2H5)2Zn. sehingga dekenal sebagai senyawa-senyawa organometalik. Alumunium lebih ringan dibanding titanium. tetraethyllead (C2H5)5Pb.

atau kadangkala boron. sangat toksik dan bila terbakar akan terbentuk oksida boron. sehingga sangat tidak dianjurkan untuk digunakan. lithium aluminium hidrida (LiAlH4). namun bila bereaksi dengan air. Disamping itu.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 (C2H5)2Zn(l) + 2H2O(l) ⇒ Zn(OH)2(s) + C2H6(g) Tata cara pengangkutan di Amerika Serikat mensyaratkan label 'bahan bakar spontan'. Satu. Senyawa ini relatif stabil. lithium atau natrium borohidrida. Borane (BH3)pada tekanan atmosfer adalah tidak stabil. Pemaparan maksimum Enri Damanhuri . akan dapat menyebabkan pembakaran spontan dan berasap hijau. Oleh karenanya. Paling tidak dikenal 14 jenis borane. Bila terjadi pembakaran. Hidrida-hidrida Metalik Kelompok hidrida-hidrida metalik yang paling banyak digunakan secara komersial adalah yang tersusun dari atom hidrogen. Diantara bahan organometalik yang mungkin paling terkenal adalah tetraethyllead yang digunakan dalam mengurangi ketuk (knock).satunya yang bukan termasuk piroforik. karena berada sebagai satuan molekular. Beberapa jenis hidrida metalik ini antara lain adalah lithium atau natrium hidrida (LiH). disertai dengan berat molekulnya yang rendah. diborane tergolong toksik. Hidrida-hidrida ini akan terdekomposisi menjadi boron dan hidrogen pada temperatur di atas 300 o C. seperti trimethylaluminum dan tri(isobutyl) aluminum. akan dihasilkan cemaran timbal di udara. transportasi bahan ini membutuhkan label bertuliskan 'racun'. umumnya tidak stabil pada temperatur kamar. hidrogen khlorida (HCl) dan sebagainya. dikenal sebagai senyawa aluminum alkyl. Kelompok organometalik yang juga penting dalam industri adalah senyawa. Contoh lain adalah hidrogen sulfida (H2S). aluminium tetrahidridoborate Al(BH4)3. menyebabkan diborane digunakan sebagai bahan bakar roket.075 mg/m3. terhisap atau kontak melalui kulit.FTSL ITB Halaman 63 . dan berubah menjadi diborane (B2H6). senyawa ini merupakan satu. merupakan senyawa yang reaktif terhadap air. atau logam alkali atau alumunium. Kelompok ini juga bereaksi secara hebat dengan bahan odsidator. serta tidak reaktif terhadap air. tetrahidridoaluminate (LiAlH4). methane (CH4). yang ditambahkan pada bahan bakar kendaraan bermotor. Seluruh senyawa kelompok ini merupakan senyawa yang piroforik. termasuk kelembaban udara. Senyawa ini biasanya digunakan dalam industri sebagai pereduksi. serta lithium dan natrium borohidrida sebagai 'berbahaya bila lembab. Departemen Transportasi Amerika Serikat mengatur secara khusus pengangkutan lithium dan natrium hidrida . amonia (NH3). Diborane ini termasuk gas yang mudah terbakar. Berbeda dengan senyawa organometalik yang lain.8 % (volume) di udara. akan menghasilkan gas H2 dan mudah terbakar. yang digunakan terutama untuk katalis polimerisasi. Borane Senyawa-senyawa hidrogen dengan satu atau lebih unsur non-metal dikenal sebagai hidrida-hidrida molekular. bereaksi secara keras dengan air dan sangat toksik. Dengan konsentrasi diborane sebesar 0. Molekular hidrida dari boron disebut borane. Molekular hidrida yang umum adalah air.satunya karakteristik bahaya yang menyertainya adalah sifat toksik dari cairan atau uapnya bila terhirup. Maksimum pemaparan di ruang kerja adalah 0.senyawa yang mengandung atom alumunium yang terikat pada atom karbon. Dengan sifat panas pembakarannya yang tinggi (527 kcal/mol).

gas iritan dan bila berbentuk larutan akan bersifat korosif. Sebagai contoh.1 ppm. dia dapat merusak jaringan di lokasi kontaknya (efek lokal) atau berpengaruh negatif dengan jalan lain. C4. akan terbentuk gas bakar fosfine. Barium peroksida disamping membutuhkan label 'oksidator'. Enri Damanhuri . diperlukan juga label 'racun'. yang paling penting adalah melalui : mulut. seperti kalsium karbida CaC2 yang digunakan dalam industri sebagai sumber acetylene dan pupuk kalsium cyanamida. namun dapat menimbulkan api. dan senyawa yang mengandung logam dengan ion-ion karbida dikenal sebagai karbida-karbida metalik. Fosfida dan Khlorida Metalik Senyawa-senyawa yang tersusun antara logam dengan ion peroksida (O2=) dikenal sebagai peroksida metalik. terutama natrium peroksida dan barium peroksida. Bila sebuah substansi bersifat toksik. Bila kalsium fosfida bereaksi dengan air.Bersifat akut : kerusakan yang terjadi biasanya akibat sejenis bahan dengan pemaparan singkat. Senyawa ini tergolong berbahaya. 7 BAHAN-BAHAN KIMIA TOKSIK Terdapat berbagai cara agar sebuah bahan/substansi masuk ke dalam tubuh manusia. Peroksida. seperti terhisapnya gas HCl beberapa detik yang akan menyebabkan kerusakan langsung pada paru-paru. Contoh fosfida metalik adalah kalsium fosfida. fosforus oksikhlorida (POCl3) yang bersifat korosif dan toksik. antimoni pentakhlorida (SbCl5) yang bersifat korosif. bisa saja keterpaparan ini terjadi secara berulang-ulang sampai menimbulkan kerusakan. Pengaruh racun dapat diklasifikasikan berdasarkan waktu yang dibutuhkan terjadinya penyakit atau gangguan. yang juga reaktif terhadap air. yaitu : . Transportasi bahan ini membutuhkan label 'gas beracun dan mudah terbakar'.atau C34. maka kalsium karbida harus dijaga agar tetap kering dan bebas dari lembab udara. Ion-ion karbon dalam bentuk C22-. Senyawa ini tidak terbakar. Hidrogen khlorida adalah toksik. Karbida. yang umumnya berbahaya karena bersifat sebagai oksidator disamping reaktif terhadap air. Bila kalsium karbida bereaksi dengan air. gas acetylene (C2H2) akan terbentuk sesuai dengan reaksi : CaC2 (s) + 2 H2O(l) ⇒ Ca(OH)2(s) + C2H2 (g) Gas acetylene inilah yang berfungsi sebagai bahan bakar pada saat digunakan dalam pengelasan. karena bereaksi secara keras dengan air.dikenal sebagai karbida. yang mengakibatkan efek sistemis.FTSL ITB Halaman 64 . boron trikhlorida (BCl3)menguap pada 18oC dan bersifat toksik. seperti reaksi di bawah ini : Ca3P2(s) + 6 H2O(l) ⇒ 3 Ca(OH)2(s) + 2 PH3(g) Gas fosfine juga bersifat toksik. Untuk menghindari bahaya kebakaran atau ledakan. kulit dan pernafasan. Senyawa-senyawa yang mengandung khlor dengan metalik dan atau non-metalik merupakan substansi yang reaktif terhadap air. Beberapa jenis senyawa ini adalah : alumunium khlorida (AlCl3) yang bersifat korosif.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dalam ruangan kerja adalah hanya 0. bila merkuri terserap oleh kulit maka akan dapat merusak ginjal atau pusat sistem syaraf. menghasilkan hidrogen khlorida. Peroksida metalik yang penting dalam industri adalah yang tersusun dari logam alkali dan alkali tanah.

0 5.Threshold limit value (TLV) : limit teratas dari sebuah konsentrasi toxin yang tidak menimbulkan pengaruh kesehatan pada manusia yang terpapar secara rutin.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 . biasanya dilakukan percobaan melalui binatang. Dalam toksikologi. . yaitu dengan EP-toxicity (extraction-procedure toxicity). misalnya benzene akan mengakibatkan aplastic anemia setelah sekitar 10 tahun sejak pertama kali terjadinya pemaparan.0 0.paru. hidrogen. untuk melihat pengaruh suatu substansi pada manusia. .0 1. USEPA menggunakan tolak ukur yang bersifat praktis. yaitu : .FTSL ITB Halaman 65 . yang dapat mematikan 50 % binatang percobaan. . . Untuk mengkuantifikasi toksisitas akut.Lethal dose-50 (LD50) : konsentrasi bahan. dalam satuan ppm (volume).. karbon monoksida. Oleh karenanya bila substansi tersebut menyebabkan kanker pada binatang dan belum terbukti pada manusia.limbah B-3 D004 D005 D006 D007 D008 D009 Cemaran Arsen Barium Kadmium Khromium Timah Merkuri Konsentrasi (mg/l) 5. . percobaan melalui binatang tidak selalu relevan karena faal manusia dan binatang tidak selalu sama. Konsentrasi maksimum tersebut adalah seperti terlihat dalam tabel 2. dan akan menjadi human carcinogen bila memang terbukti dapat menyebabkan kanker pada manusia. Sebuah substansi yang masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan dapat berakibat sebagai : .] No. misalnya nitrogen.2 : Konsentrasi maksimum bahan toksik dengan EP-toxicity [. misalnya timbulnya kanker liver angiosarcoma yang muncul beberapa tahun setelah menghirup vinyl khlorida.Irritant : substansi kimia yang melukai jaringan sistem pernafasan dan paru. TABEL 5.0 100. yang menyebabkan kematian binatang penelitian sebanyak 50 % . misalnya hidrogen khlorida yang merupakan bahan korosif.rata di ruang kerja yang dapat diterima oleh sebagian besar pekerja selama 40 jam per minggu atau 8 jam per hari tanpa menimbulkan gangguan.Lethal concentration-50 (LC50) : konsentrasi bahan. kemudian hasilnya di ekstrapolasi pada manusia. maka digunakan penelitian terhadap binatang percobaan.2 Enri Damanhuri .0 5.Immediately dangerous to life and health (IDLH) : merupakan konsentrasi maksimum suatu substansi yang memungkinkan manusia menghindar dalam 30 menit tanpa masalah pada kesehatannya. . dengan satuan ppm (gas) atau mg/m3 ( asap udara).Bersifat laten : suatu pengaruh atau keadaan sakit yang baru berkembang setelah masa inkubasi terlampaui.2. maka bahan tersebut dikenal sebagai suspect human carcinogen. yang mengatur beberapa cemaran logam toksik dan pestisida. dengan memberikan batasan konsentrasi maksimum cemaran yang diuji sesuai dengan protokol penelitian.Time weighted average threshold limit value (TWA-TLV) : konsentrasi rata. Untuk toksik yang bersifat kronis atau laten.Bersifat kronis : suatu pengaruh atau keadaan sakit yang muncul sedikit demi sedikit dalam waktu yang agak lama setelah pemaparan pertama.Asphyxiant : substansi kimia yang menyebabkan kehilangan kesadaran karena kurangnya oksigen dalam darah. dengan satuan mg bahan per kg berat binatang. Cara ini biasanya cocok untuk toksik yang bersifat akut.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

D010 D011 D012 D013 D014 D015 D016 D017

Selenium Perak Endrin Lindane Methoxychlor Toxaphene 2,4-D 2,4,5-TP Silvex

1,0 5,0 0,02 0,4 10,0 0,5 10,0 1,0

Catatan : 2,4-D = 2,4-dikchlorophenoxyacetic acid 2,4,5-TP Silvex = 2-(2,4,5-trichlorophenoxy)propionic acid

Bila cemaran tersebut mengandung konsentrasi lebih tinggi dari yang tertera dalam tabel, maka cemaran tersebut terkatagorikan sebagai toksik. Beberapa kelompok bahan kimia yang bersifat toksik antara lain adalah : - Oksida-oksida karbon : seperti CO dan CO2 - Hidrogen cyanida : HCN - Senyawa sulfur : H2S, SO2 - Oksida-oksida nitrogen seperti N2O, NO2, N2O4 - Amonia - Logam-logam berat seperti : arsen, timah (Pb) - Asbestos. - Pestisida organik. Oksida-oksida Karbon Bila bahan mengandung karbon terbakar, maka akan terbentuk gas karbon dioksida (CO2). Bila pembakaran tidak sempurna akan dihasilkan gas karbon monoksida (CO), yang tergolong gas berbahaya karena dapat menyebabkan kematian. Reaksi yang umum, misalnya dalam pembakaran gas methane, adalah: 2 CH4(g) + 3 O2(g) --- 2 CO(g) + 4 H2O(g) CH4(g) + O2(g) --- C(s) + 2 H2O(g) Kedua jenis oksida tersebut adalah tidak berwarna dan tidak berbau. Beberapa sifat gas karbon monoksida adalah: - titik didih - 191,6 oC - densitas cairan (pada titik didih) 795 g/L - densitas gas (pada titik didih) 4,3 g/L - densitas gas (pada 20 C) 1,25 g/L - densitas uap (udara = 1) 0,97 - panas pembakaran 67,64 kcal/mol - % batas bawah ledakan 12,5 - % batas atas ledakan 74 -rasio ekspansi cair ke gas 700 Sedang beberapa sifat gas karbon dioksida adalah : - titik beku (oC) - 56,55 oC - titik sublimasi (pada 1 atm) 78,5 oC - panas fusi 47,5 kcal/kg - panas sublimasi 36,2 kcal/kg - densitas padat (pada 1 atm) 1,56 g/ml - densitas gas (pada titik sublim) 2,8 g/L - densitas gas (pada 20 oC) 1,98 g/L - densitas uap (udara = 1) 1,529 - rasio ekspansi cair ke gas 790
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 66

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

Karbonmonoksida merupakan gas toksik, yang dapat terserap oleh darah melalui pernafasan. Pada saat manusia bernafas, oksigen akan terbawa oleh aliran darah oleh komponen dalam darah yang disebut hemoglobin (Hb). Bila Hb ini menyerap oksigen akan terbentuk oksihemoglobin (O2Hb), dengan reaksi seperti : Hb(l) + O2(g) --- O2Hb(l) Oksihemoglobin ini akan melepaskan oksigen pada jaringan atau organ lainnya. Bila karbonmonoksida terhirup, akan terbentuk karboksihemoglobin (COHb) : Hb(l) + CO(g) --- COHb(l) yang mempunyai afinitas kimia sebesar 300 kali lebih tinggi daripada pembentukan oksihemoglobin. Oksigen yang terikat dalam oksihemoglobin juga dapat dilepaskan sesuai dengan reaksi : O2Hb(l) + CO(g) --- COHb(l) + O2 Karboksihemoglobin ini relatif stabil dan menghalangi penyerapan oksigen oleh darah sehingga penderita mengalami anoxia, yaitu kekurangan oksigen dalam darah. Pada dasarnya tubuh manusia lebih toleran terhadap CO2, walaupun adanya CO2 akan mempertinggi laju pernafasan seseorang, sehingga pekerjaan terasa menjadi lebih berat. TLV di udara untuk karbon monoksida adalah 100 ppm, sedangkan untuk CO2 adalah 5000 ppm (0,5 %); lebih dari konsentrasi tersebut akan menimbulkan gangguan pernafasan. Kontainer atau silinder gas karbon monoksida membutuhkan label 'gas beracun' dan ' gas mudah terbakar', sedang untuk gas karbon dioksida tergolongkan sebagai 'gas tidak terbakar'. Hidrogen Sianida (HCN) Pada temperatur kamar, hidrogen sianida adalah merupakan gas yang tidak berwarna, dengan sifat-sifat antara lain : - titik beku (oC) : - 14 oC - titik didih (oC) : 26 oC o - kerapatan pada 20 C : 1,2 g/L - kerapatan uap (udara = 1) : 0,93 - % batas terendah ledakan :6 - % batas tertinggi ledakan : 41 - titik nyala cairan : - 18 oC Gas HCN larut dalam air membentuk asam hidrosianik. Hidrogen sianida anhidrous (cair) merupakan bentuk yang secara komersial sering dijumpai, merupakan bahan yang tidak stabil. HCN banyak digunakan dalam pembuatan plastik seperti polyacrylonitrile yang mengandung grup -CN. Bila jenis plastik ini dipanaskan, maka akan terdekomposisi secara termal dan terbentuklah gas racun HCN. Bahan racun ini mempengaruhi transportasi oksigen dalam darah, karena dapat mengganggu aktivitas enzim cyctochrome oxidase yang dibutuhkan untuk respirasi selluler dan pembentukan enersi. Bahan ini masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan atau kulit. Beberapa senyawa kimia dengan ion-ion metalik yang bergabung dengan ion- ion sianida, seperti natrium sianida, banyak digunakan dalam industri elektroplating. Seperti halnya gas sianida, bahan ini juga bersifat racun bila terserap oleh manusia. Bahan ini juga akan bereaksi dengan asam membentuk gas HCN : NaCN(s) + HCl(l) --- NaCl(l) + HCN(g) Beberapa besaran konsentrasi (dalam ppm) yang berkaitan dengan sifat toksikologi dari HCN adalah :
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 67

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

- batas bau : 0,2 - 5,0 - TLV : 10 - keluhan sakit kepala : 18 -36 - bertahan selama 1/2 jam tanpa kesulitan : 45 - 54 - kematian dalam 1 jam : 110 - 135 - kematian langsung : 280 Pengaturan pengangkutan dan pewadahan mensyaratkan label : racun' dan 'cairan mudah terbakar'. Senyawa Sulfur Senyawa yang mengandung unsur sulfur dijumpai pada batu bara, gas alam, minyak mentah, wool, rambut, polimer-polimer sintetis dan sebagainya (lihat sub bab 2.2). Bila bahan ini terpapar dengan panas atau bila terbakar akan membentuk gas hidrogen sulfida (H2S) atau SO2. Hidrogen sulfida secara komersial banyak dijumpai dalam bentuk cairan, biasanya digunakan dalam industri yang memproduksi senyawasenyawa mengandung sulfur. Bahan ini juga digunakan dalam industri metalurgi. Gas H2S merupakan gas yang tidak dijumpai akibat proses dekomposisi dari gas ini adalah : - titik didih - titik beku - densitas pada 20 o C - kerapatan uap (udara = 1) - persen batas bawah ledakan - persen batas atas ledakan - panas fusi - panas penguapan berwarna, berbau seperti telur busuk. Secara alami senyawa organik dalam kondisi anaerob. Sifat-sifat : - 60 o C : - 83 o C : 1,539 g/L : 1,2 : 4,3 : 46 : 0,568 kcal/mol : 4,463 kcal/mol

TLV dari gas H2S dibatasi hanya 10 ppm. Bila terus menerus menghirup udara yang mengandung gas ini, akan mengakibatkan pusing dan sakit kepala; bila terhirup dengan konsentrasi 600 ppm selama 30 menit akan berakibat fatal. Tetapi karena gas ini mempunyai bau khas, maka kehadirannya dapat diketahui sejak dini. Pengangkutan dan kontainer bahan ini membutuhkan label bertuliskan 'gan beracun' dan 'gas mudah terbakar'. Sulfur dioksida merupakan gas tidak berwarna, berbau menyengat seperti karet terbakar. Gas ini terbentuk bila senyawa mengandung sulfur terbakar, misalnya pada pembakaran gas H2S akan terjadi reaksi : 2 H2S(g) + 3 O2 (g) --- 2 H2(g) + 2 SO2(g) Gas ini akan muncul misalnya karena pembakaran minyak bumi atau batu bara, karena kedua jenis bahan bakar ini mengandung senyawa sulfur. Dalam emisinya di udara, gas ini secara lambat akan teroksidasi menjadi sulfur trioksida (kadang-kadang ditulis sebagai SOx) yang larut dalam lembab udara membentuk asam sulfat sebagai penyebab hujan asam, sesuai dengan reaksi : 2 SO2(g) + O2(g) --- 2 SO3(g) SO3(g) + H2O(g) --- H2SO4(l) Masalah lingkungan yang ditimbulkan pada zone industri adalah adanya kabut sulfur (sulfurous smog), yang terbentuk akibat kumulasi asam sulfat di udara. Beberapa sifat dari gas ini adalah :
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 68

maka N2O3 dan N2O5 yang tidak penting dalam industri. gas ini tergolong toksik dengan batas TLV 25 ppm. Oleh karenanya.densitas: 0. dihasilkan campuran eksplosif. Gas ini dapat berkombinasi dengan hemoglobin dalam darah.titik beku . dinitrogen trioksida (N2O3). dan 0. tidak berwarna dan berbau tajam.panas vaporasi : . Oksida Nitrogen (NOx) Terdapat enam oksida-oksida nitrogen.3 : 1.kerapatan uap (udara = 1): 0. Beberapa sifat dari gas ini adalah : .14 ppm selama periode 3 jam. fosfor dan karbon dapat terbakar dalam atmosfer N2O seperti halnya dalam atmosfer yang mengandung oksigen.titik beku: . Pada konsentrasi sebesar 10 ppm (volume) gas ini akan mengakibatkan iritasi pada mata.titik didih . sehingga sulfur. Label yang dibutuhkan dalam pengangkutannya adalah sebagai 'gas tidak terbakar' dan 'pengoksidasi'. Gas ini dalam pengangkutannya membutuhkan label bertuliskan 'gas racun'.swa-penyalaan: 651 o C . nitrogen dioksida (NO2).78 o C .10 o C : .panas difusi .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 .93 g/l : 2. Konsentrasi melebihi 500 ppm akan menyebabkan kematian seketika.76 o C : 2. membentuk metheglobin (NOHb). Standar kedua adalah konsentrasi tahunan sebesar 0. sehingga dapat menimbulkan methemoglobinemia dengan terhalangnya transportasi hemoglobin. seperti halnya karbon monoksida.5 ppm. nitrogen monoksida (NO). gas-gas ini juga toksik dan menyebabkan methemoglobinemia dengan batas TLV 5 ppm. Gas NO merupakan agen pengoksida yang baik. NO2 dan N2O4 merupakan agen pengoksida yang lebih baik dibanding N2O atau NO. Bahan ini merupakan agen pengoksidasi yang baik.96 kcal/mol Standar emisi yang dikeluarkan oleh USEPA adalah 0. yaitu dinitrogen monoksida (N2O).33 o C . Amonia (NH3) Amonia merupakan gas yang tak berwarna dan berbau menyengat. dinitrogen tetroksida (NO4) dan dinitrogen pentoksida (N2O5). Dengan adanya hidrogen atau amonia. Magnesium dan fosfor dapat terbakar dengan baik dalam atmosfer yang mengandung gas ini seperti halnya atmosfer yang mengandung oksigen. Pengangkutan gas ini membutuhkan label bertuliskan 'gas beracun' dan 'pengoksidasi'.FTSL ITB Halaman 69 .77 kcal/mol : 5. Diantara keenam oksida tersebut. banyak digunakan sebagai anestesi oleh dokter gigi.Kerapatan uap (udara =1) .batas bawah ledakan: 16 % .771 g/L . TLV dari SO2 adalah 5 ppm. Gas N2O merupakan gas tidak berwarna.596 .03 ppm selama periode 24 jam.titik didih: . Dalam ruang kerja.batas atas ledakan: 25 % Enri Damanhuri . sehingga digunakan sebagai agen pengoksida dalam roket.densitas pada 20 o C .

pada kondisi khusus asbestos dapat membahayakan kesehatan manusia termasuk timbulnya karena kanker. magnesium. kalsium dan besi. Namun disamping kegunaannya tersebut. misalnya bila terhisap oleh perokok. sehingga memudahkan pelacakan terjadinya kebocoran. yaitu dari iritasi ringan sampai rusaknya jaringan. perak. Pengangkutan cairan ini membutuhkan label 'korosif'. tidak terbakar dan digunakan sebagai penyekat panas. Gas amonia merupakan yang gas mudah terbakar. Pengangkutan amonia cair (anhydrous) membutuhkan label 'gas racun'. Bila logam ini terbawa oleh darah maka akan bersenyawa dengan sulfur yang berada pada fluida sellular tubuh.569). Dengan sifatnya yang lebih ringan dari udara (densitas uap = 0. thallium dan seng. apalagi bila dalam bentuk bubuk atau asap. yaitu amonium hidroksida (NH4OH). Mekanisme keracunan dari logam berat ini adalah tergantung dari jenisnya.ion metalik seperti natrium. Karena bahan ini sangat larut dalam air. yang tergantung pada lamanya pemaparan. Bahan ini juga menyebabkan mesothelioma pada paru-paru atau saluran pernafasan. selenium. maka air merupakan bahan yang efektif untuk penanggulangan masalah yang timbul. kadmiun. akan mengakibatkan kemungkinan terserang kanker 50 kali lebih besar dibanding orang yang tidak merokok. merkuri. Logam-logam Berat Toksik Yang dimaksud dengan logam berat dalam buku ini adalah setiap logam yang mempunyai berat atom lebih dari 50. bila bahan cairan ini tumpah akan terbentuk awan putih akibat kondensasi lembab udara.FTSL ITB Halaman 70 . Mata dan paruparu akan teritasi bila terpapar dengan bahan ini. bahan ini akan terkumpul menyebabkan asbestosis. oxygen. Amonia yang dilarutkan dalam air merupakan larutan yang sering dijumpai secara komersial. Enri Damanhuri . berillium. dan mempengaruhi kerja enzimatik dalam tubuh.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gas ini mudah dicairkan dan dikenal sebagai anhydrous ammonia. tetapi umumnya karena ion-ion logam ini mempunyai affinitas yang sangat besar dengan sulfur. nikel. Bila terserap dalam tubuh manusia. Bahan ini mempunyai titik leleh yang sangat tinggi. Walaupun tidak berwarna. Bila terhirup masuk ke dalam paru-paru. Debu asbes ini mempunyai efek sinergis. terutama bila asbestos hadir dalam bentuk debu asbes sehingga mudah terhisap melalui pernafasan atau mulut. Bila dicampur dengan magnesium oksida. asbestos sangat baik digunakan sebagai bahan tahan api yang banyak digunakan. timah. yang hanya dijumpai pada orang yang terpapar debu asbes. Limit pemaparan di ruang kerja adalah 50 ppm. Logam berat yang digolongkan toksik oleh USEPA adalah : antimon. namun dengan rentang yang kecil. Pemaparan yang berlebihan akan menyebabkan kebutaan dan rusaknya jaringan pernafasan. tembaga. Debu asbes ini sangat ringan dan dapat melayang di udara. serta limit bawahnya yang relatif besar (16 %). Gas ini berakibat seperti halnya alkali terhadap kulit manusia. hidrogen dan ion. arsen. Asbestos Absestos merupakan terminologi yang digunakan dalam ilmu mineral untuk berbagai fiber silikat yang tersusun dari silicon. maka akan masuk pada kerongkongan dan dapat memnyebabkan kanker pada pencernaan. khromium. bila terlepas di udara akan cepat terdispersi apalagi bila terdapat angin. Namun bila tidak terkumpul di paru-paru. maka bahaya kebakaran relatif kecil. beberapa logam berat akan merupakan racun.

paling tidak sebuah atom hidrogen dalam molekul hidrokarbon tersebut. yang berasal dari hidrokarbon dengan formula C12H14. Pestisida Organik Pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk membunuh insek. Pestisida carbamate merupakan turunan dari asam karbamik. seperti terjadinya kebakaran. dan sangat stabil serta persisten. pestisida organophosphorus. Enersi dari reaksi ini dapat disimpan. Pada insek. peledakan dinamit. Salah satu pestisida kelompok ini adalah Linuron. sehingga pembuatan dan penjualannya dilarang. melalui rantai makananlah bahan ini akan sampai pada manusia. seperti pada batere. Enzim ini secara rutin berfungsi mempengaruhi impuls syaraf. Hanya diketahui bahwa bahan ini merusak keseimbangan natrium dan kalium dalam sel-sel syaraf sehingga mempengaruhi impuls sel tersebut. seperti pembakaran bahan bakar. Didasarkan atas struktur molekulnya. Salah satu jenis kelompok ini yang terkenal adalah DDT. Namun ternyata bahan ini menimbulkan masalah kesehatan bagi manusia. Jenis organochlorine ini mempunyai efek biokumulasi terutama pada jaringan lemak. Kelompok pestisida ini juga bersifat toksik. yang terpenting adalah pestisida organochlorine. karena terbukti berbahaya bagi manusia. yang banyak digunakan selama perang dunia ke dua. antara lain untuk mengontrol penyakit tifus dan malaria yang ditularkan melalui insek. contohnya adalah Parathion dengan formula (C2H5)2PSOC6H4NO2. dikenal sebagai acetylcholinesterase (ACHE). beberapa diantaranya telah dilarang digunakan. maka enersi yang ada dapat digunakan untuk berbagai keperluan. khlorinasi air. pestisida ini mempunyai kemampuan untuk menghalangi kerja enzim. 8 SENYAWA PENGOKSIDASI Terjadinya reaksi oksidasi-reduksi (redoks) yang terkontrol sangat bermanfaat bagi manusia. Salah satu jenis pestisida ini adalah Carbyl yang merupakan insektisida. Pestisida organophosphorus merupakan turunan dari asam fosfat. Umumnya pestisida ini digunakan sebagai herbisida yang dapat menghalangi proses fotosintesis. Sebagai contoh adalah Aldrin dengan formula C12H8Cl6. Mekanisme bagaimana pestisida ini memepengaruhi aktivitas biologi belumlah banyak diketahui. Tetapi panas yang ditimbulkan dari reaksi redoks tersebut dapat terserap oleh bahan yang dapat terbakar yang berada di dekatnya. maka enersi yang terbentuk dapat menyebakan bahaya bagi manusia. yaitu dengan sebuah atom hidrogen (atau lebih) pada urea yang digantikan oleh atom-atom lain. pestisida karbamate dan pestisida urea. fungi. Fungsinya pada insek atau vertebrata adalah mempengaruhi kerja enzim cholinistrase.FTSL ITB Halaman 71 .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Kriteria yang diberlakukan di USA pada lingkungan kerja adalah dalam 1 cm3 udara tidak boleh terdapat lebih dari 10 fiber asbes yang lebih panjang dari 5 micrometer. Pestisida organochlorine merupakan turunan hidrokarbon kompleks. ledakan. Enri Damanhuri . Sebagian besar pestisida yang sekarang digunakan adalah merupakan senyawa-senyawa organik. Telah dihasilkan ribuan jenis pestisida. atau tanaman. digantikan oleh atom khlor. Beberapa jenis pestisida carbamate juga berfungsi sebagai fungisida atau herbisida. roden. Bila reaksi tidak terkontrol. Bila misalnya gas alam dibakar. Pestisida urea merupakan turunan dari urea. maka pestisida organik dapat dikelompokkan menjadi beberapa grup.

khrom. Enri Damanhuri . Kadangkala walapun agen pengoksidasi dijumpai dalam jumlah yang kecil. Bila berada pada konsentrasi yang pekat (lebih besar dari 30 %). Transportasi hidrogen peroiksida dengan konsentrasi sampai 20 % diberi label : 'oksidator'. Khlorit. Bila di atas konsentrasi tersebut diberi label : 'oksidator dan korosif'. tembaga. Bahan tersebut akan memasok oksigen pada saat terjadinya kebakaran walaupun udara di sekitarnya kekurangan oksigen. Hidrogen peroksida murni mempunyai penampilan yang mirip air. dengan konsentrasi sekitar 3 sampai 5 %.pembakaran bahan semacam sulfur dan sebagainya. Larutan dengan konsentrasi 8 % (massa) secara lambat akan terdekomposisi menjadi air dan oksigen setelah 9 bulan. namun dapat pula berfungsi sebagai reduktor lemah.FTSL ITB Halaman 72 . Bahan ini digunakan pula dalam penyediaan air bersih atau pengolahan air limbah sebagai desinfektan. baja. Khlorat dan Perkhlorat Bahan pengoksidasi yang juga banyak digunakan adalah natrium dan kalsium hipokhlorit. Sinar matahari akan bertindak sebagai katalisator. maka larutan ini aka terdegradasi secara cepat yang disertai timbulnya panas sehingga akan dapat teruapkan. yang merupakan komponen aktif sebagai pemutih maupun untuk pembersih peralatan saniter. larutan ini distabilkan dengan sejumlah kecil natrium pirofosfat. Hidrogen peroksida selain dapat bertindak sebagi oksidator kuat. Di lingkungan kerja batas pemaparan maksimum adalah 1 ppm. pada konsentrasi larutan lebih besar dari 30 % (volume) larutan ini korosif terhadap kulit. Dalam industri kimia. Larutan yang mengandung hidrogen peroksida lebih dari 50% (volume) dapat menyebabkan timbulnya api secara spontan dari bahan yang dapat terbakar. Beberapa logam seperti besi. mangan dapat bertindak sebagai katalis guna terjadinya dekomposisi. seng. timah. Bahan pengoksidasi yang mengandung oksigen dapat dikatakan tidak stabil waktu dipanaskan. Pada saat bertindak sebagai reduktor. seperti reaksi di bawah ini : 2 NaClO(l) + H2O(l) + CO2 --. Hidrogen Peroksida (H2O2) Hidrogen peroksida merupakan peroksida yang paling sering dijumpai. Hipokhlorit. biasanya digunakan sebagai pemutih pada pencucian pakaian karena kemampuannya bereaksi dengan karbon di udara akan memproduksi asam hipokhlor dan melepaskan oksigen. Hidrogen peroksida merupakan bahan yang relatif tidak stabil. tetapi mempunyai bau yang sedikit tajam. ada yang berada di bawah kemampuan oksigen. Ada oksidator yang mempunyai kemampuan lebih tinggi dibanding oksigen.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 sehingga bahan tersebut dapat terbakar dengan sendirinya. yang akan bertindak sebagai katalis guna memperlama proses dekomposisi. Beberapa agen pengoksidasi diuraikan di bawah ini secara umum. Untuk menghindari bahaya ledakan. Kemampuan agen pengoksidasi bervariasi.Na2CO3(l) + 2 HClO(l) 2 HClO(l) --. Bahan ini banyak digunakan dalam industri tekstil untuk pengelantang. oksigen selalu dibebaskan. tetapi sudah cukup untuk memungkinkan terjadinya swa.2 HCl(l) + O3(g) Oksigen yang dibebaskan dari dekomposisi fotokimia ini akan memucatkan pakaian. bahan ini digunakan untuk memproduksi bahan peroksida metalik dan organik. Hidrogen peroksida dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius. Hipokhlorit metal ini.

. Beberapa senyawa organik akan terbakar dengan sendirinya bila berkontak dengan bahan ini. Namun bahan ini relatif lebih stabil dibanding bahan. bahan ini diperoleh dalam konsentrasi larutan sampai 80%. Amonium sulfat merupakan pupuk yang paling sering digunakan dibanding senyawa amonium yang lain.senyawa-senyawa amonium yang merupakan agen-agen pengoksidasi dapat juga terdekomposisi membentuk amonia. Amonium nitrat berpotensi menimbulkan resiko ledakan. api dapat berkobar yang didukung oleh adanya N2O sebagai pengganti oksigen udara. digunakan terutama sebagai komponen serbuk mesiu. Walaupun demikian. yang berlangsung secara endotermis : NH4NO3(s) --.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Natrium khlorit merupakan agen pemucat/pemutih yang banyak digunakan dalam industri kertas dan tekstil. Beberapa senyawa dikenal mempunyai peranan sebagai katalis dalam menaikkan laju dekopmposisi amonium ini. Namun secara komersial. maka metal-metal perkhlorat digunakan untuk kebutuhan yang hampir bersamaan. Bila bereaksi dengan serbuk logam seperti alumunium. Bila temperatur di atas 212 oC. amonium nitrat akan terdekompiosisi membentuk dinitrogen oksida dan uap air yang berlangsung secara eksotermis : NH4NO3(g) --.senyawa-senyawa amonium yang bukan agen-agen pengoksidasi terdekomposisi membentuk amonium. maka ledakan tidak dapat dihindari. Dalam pengangkutannya. yaitu : . Senyawa-senyawa amonium merupakan senyawa yang sering dijumpai. bahan ini dianggap sebagai bahan pengoksidasi.N2O(g) + 2 H2O(g) Bila pada saat pengangkutan bahan ini berada pada kontainer yang tertutup rapat. oksigen dan oksida-oksida metalik dan non metalik. herbisida dan sebagainya. Bahan ini merupakan pengoksidasi yang sangat kuat. Seperti halnya metal khlorat. baik sebagai pupuk maupun sebagai komponen bahan peledak. amonium nitrat akan meleleh. sedangkan dalam kondisi sebagai larutan dianggap sebagai korosif. pengangkutan bahan ini pada kontainer pengangkutnya membutuhkan label : 'pengoksidasi'. tetapi lebih umum akan membentuk nitrogen. Secara komersial. Bila dipanaskan.FTSL ITB Halaman 73 . misalnya senyawa Enri Damanhuri . senyawa ini akan terdekomposisi dengan dua jalan. Pada temperatur 80o ke 93 o amonium nitrat terdekomposisi membentuk amonia dan asan nitrat. Pada saat ini bahaya kebakaran dan ledakan akan besar bila senyawa ini tetap berada pada kondisi temperatur tinggi. Natrium khlorat sangat sensitif misalnya bila bergesekan dan dapat menimbulkan terjadinya api dengan mudah. amonium nitrat dianggap sebagai yang paling penting diantara senyawa amonium yang lain. terutama yang berkaitan dengan penimbulan api dan ledakan. Metal khlorat yang sering digunakan adalah natrium khlorat atau kalium khlorat.bahan sebelumnya serta tidak menimbulkan reaksi yang prematur. Senyawa-senyawa Amonium Pada dasarnya semua senyawa yang mengandung ion amonium (NH4+) secara termal tidaklah stabil. misalnya amonium khlorida yang secara termal terdekomposisi pada temperatur kurang dari 167 o C membentuk amonia dan hidrogen khlorida. Transportsai bahan ini membutuhkan label: 'pengoksidasi'. akan menimbulkan ledakan.NH3(g) + HNO3 Pada temperatur sekitar 166 oC.

yang dikenal sebagai khromium oksikhlorida. Nitrit metalik dioksidasi menjadi nitrat metalik dan direduksi menjadi nitrogen monoksida. Biasanya asam ini dibuat dengan penambahan asam sulfat pekat pada larutan kalium dikhromat. khrom trioksida dan khromilkhlorida. Permanganat metalik yang paling terkenal adalah natrium dan kalium permanganat. Oksidator Mengandung Permanganat. Enri Damanhuri . walaupun pada kenyataannya yang paling bersifat toksik adalah yang berada pada tingkat oksidasi +6. Pada kondisi sebagai ion-ion metalik tidak berwarna. Namun natrium nitrit dengan kerja enzim tertentu akan membentuk senyawa nitrosamin. termasuk libah gas sebagai oksidator. Transportasinya membutuhkan label sebagai 'oksidator' atau sebagai 'bahan korosif'. Nitrit metalik dapat bertindak sebagai oksidator maupun reduktor. Asam ini berwarna merah yang digunakan untuk pembersihan permukaan logam atau gelas. Seluruh senyawa yang mengandung khrom oleh USEPA dikatagorikan sebagai toksik. Bila air diuapkan darinya. Demikian juga halnya natrium nitrat. Senyawa ini bersifat karsinogenik dan dapat merusak ginjal. Oksidator ini banyak digunakan dalam industri elektropalting khrom. terutama bila berada dalam larutan asam.FTSL ITB Halaman 74 . Asam-asam yang berkaitan dengan khromat dan dikhromat hanya ada pada kondisi larutan. tergantung pada kondisi oksidasinya. Larutan yang lebih terkonsentrasi kadang digunakan dalam pengolahan limbah. sulfur. yang banyak digunakan dalam industri makanan untuk mempertahankan warna. seperti kalium dikhromat (K2Cr2O4) merupakan oksidator yang kuat. Larutan kalium permanganat digunakan untuk pengobatan dermatitis yang berasal dari bakteri atau fungi.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 yang mengandung tembaga. suatu larutan merah yang terbentuk bila campuran asam khlorida dan asam sulfat ditambahkan pada larutan jenuk kalium dikhromat. Pengangkutan dan pewadahan bahan ini membutuhkan label : 'pengoksidasi'. misalnya dalam bentuk natrium nitrat dan natrium nitrit. yang dianggap berpotensi sebagai senyawa karsinogenik. sebagai khromat akan berwarna kuning dan sebagai dikhromat akan berwarna oranye. namun permanganat itu sendiri berwarna ungu. Nitrit dan Nitrat Permanganat metalik adalah senyawa yang mengandung mangan pada kondisi oksidasi +7 yang tidak berwarna. Pengaturan pengangkutannya membutuhkan label : 'oksidator'. maka yang tersisa adalah oksida khrom (VI) yang dikenal sebagai khromium trioksida. Nitrit dan nitrat metalik dengan kandungan nitrogen pada tingkat oksidasi masingmasing +3 dan +5 adalah oksidator yang termasuk penting. logam dikhromat. Senyawa sejenis adalah khromil khlorida (CrO2Cl2). dapat dikonversi oleh bakteri dalam perut untuk membentuk nitrit. atau khromium anhidrid atau asam khromik dengan formula (CrO3). pewarnaan dan percetakan. Penggunaan dalam industri adalah seperti halnya asam khromik. Dikhromat metalik. komponen bahan peledak dan sebagainya. Oksidator Mengandung Khrom Khrom pada tingkat oksidasi +6 terdapat dalam bentuk senyawa logam khromat.

vernis. Bila minyak bumi mentah dipanaskan pada temperatur tertentu. alkene dan alkine. Produk ini terdistilasi antara 35 o 90 o C.atom karbon yang ikatannya tidak selalu dalam satu rantai yang menerus. maka jumlah atom hidrogennya adalah 4. yaitu alkane. ginjal. Selanjutnya. pendingin. Enri Damanhuri . Butane dalam struktur pertama dikenal sebagai n-butane. tekstil dan sebagainya. Senyawa organik yang paling sederhana adalah hidrokarbon. Hidrokarbon Alifatik Hidrokarbon alifatik dibagi menjadi beberapa sub kelompok. pelarut pembersih. Senyawa organik ini dapat menguap dengan mudah dan uapnya mudah terbakar pada kondisi kamar.204 o C. bila n = 2. o Bensin (gasoline). maka campuran komponen-komponen tersebut tervolatilisasi sesuai titik didihnya masing-masing. Sumber utama hidrokarbon yang digunakan manusia adalah minyak bumi (petroleum). plastik. jantung. o Kerosene. adesif. maka mulai dari C4H10 dikenal dua jenis struktur molekul. yaitu : . C6H14 (hexane). yaitu hidrokarbon alifatik dan aromatik. dengan formula kimia CnH2n+2. karet dan aneka ragam fiber sintetis lainnya. C5H12 (pentane). yaitu CH4 dikenal methane. misalnya untuk bahan bakar. maka yang dimaksud adalah ethane C2H6 atau ditulis menurut struktur Lewis sebagai CH3CH3. Molekul-molekul dari senyawa-senyawa organik mempunyai pola yang sama. Seluruh molekul dari senyawa ini hanya tersusun oleh atom karbon dan hidrogen. resin. yaitu dengan satu atau lebih atom karbon yang terikat dengan atom-atom lain. Seterusnya dikenal: C3H8 (propane). gas senyawa-senyawa ini dapat meledak di udara. enam atau tujuh atom karbon. Bahaya yang kedua dari kelompok ini adalah karena dapat bersifat toksik pada manusia. . Distilasi fraksi minyak bumi ini lebih lanjut akan menghasilkan produk non.FTSL ITB Halaman 75 . sedang butane dalam struktur yang kedua dikenal sebagai isobutane. sistem syaraf dan beberapa diantaranya menjadi penyebab penyakit kanker. cat.bahan bakar. Dalam kaitannya dengan keselamatan. Bila jumlah atom karbon satu. Produk destilasi yang penting adalah : o Petroleum naphtha.atom karbon yang terikat satu sama lain dalam satu rantai yang menerus. maka karakteristik yang umumnya dijumpai dari senyawa ini adalah mudah terbakar dan bila terbakar. C7H16 (heptane). Titih didihnya adalah 38 o . C8H18 (oktane). Alkane adalah hidrokarbon yang ikatan atom karbonnya tunggal. merupakan campuran hidrokarbon yang lebih berat dari pada minyak bensin. Pada pembakaran sempurna. yaitu campuran hidrokarbon yang molekul-molekulnya terutama mempunyai lima. Senyawa ini pada temperatur kamar dapat berupa gas. sehingga dapat dipisahkan satu dengan yang lain. antara lain menyebabkan kerusakan pada hati. fiber.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 9 BEBERAPA SENYAWA ORGANIK BERBAHAYA Senyawa-senyawa organik merupakan bahan yang sangat banyak digunakan dalam kehidupan manusia modern. aerosol. Menurut struktur Lewis. yang mempunyai variasi atom karbon antara 3 sampai 60. yang dapat dibagi menjadi dua kelompok. akan terbentuk karbon dioksida dan uap air. C4H10 (butane). terutama sebagai bahan baku untuk produk-produk yang banyak digunakan dalam industri petrokimia. yaitu campuran hidrokarbon yang molekul-molekulnya terutama mempunyai lima sampai sembilan atom karbon. cair atau padat. misalnya sebagai bahan baku plastik.

Campuran uap benzene dan udara akan siap untuk terbakar. Hidrokarbon Aromatik Hidrokarbon aromatik adalah senyawa-senyawa yang mempunyai satu atau lebih bentuk cincin ikatan atom karbon. yang menyerupai benzene atau yang tidak menyerupai benzene. Disamping mudah terbakar. Senyawa yang paling sederhana dari kelompok ini adalah benzene dengan formula molekularnya C6H6. Pemaparan maksimum di ruang kerja adalah 10 ppm selama 8 jam. dengan kemungkinan tiga bentuk struktur isometris. Biasanya formula benzene dilambangkan oleh bentuk heksagon dengan cincin di dalamnya. Pada temperatur kamar. tidak berwarna. PAH yang penting adalah naftalene yang digunakan antara lain dalam industri fungisida. Senyawa ini dikenal pula sebagai sikloalkane karena atom karbon pertama dan terakhir terhubungkan satu sama lain dalam rantai yang menerus. toluene dan isomer-isomer xylene adalah jernih. maka senyawa baru tersebut dikenal sebagai toluene. kontainer benzene mempunyai label : 'cairan mudah terbakar'. dikenal sebagai alkene atau olefin. Seperti halnya alkene. Hidrokarbon dengan molekul-molekul yang mengandung satu atau lebih karbon yang terikat dengan ikatan ganda. Alkine yang paling sederhana adalah C2H2 yaitu ethyne atau acetylene. yang membedakan antara hidrokarbon alifatis dengan hidrokarbon aromatis adalah struktur molekularnya. Oleh karenanya. maka kelompok ini dikenal sebagai hidrokarbon tak jenuh. Karena setiap alkene kekurangan hidrogen relatif terhadap alkane. Enri Damanhuri . Alkene yang paling sederhana dikenal sebagai ethene atau ethylene dengan formula C2H4. Formula umum dari kelompok ini adalah CnH2n. meta-xylene disingkat m-xylene dan para-xylene disingkat p-xylene. Dua atom hidrogen dari benzene dapat pula digantikan oleh grup methil. tetapi tidak termasuk karsinogen. penyebab leukemia. Ketiga bentuk tersebut bernama : ortho-xylene disingkat o-xylene. menguap pada temperatur kamar. tidak larut dalam air serta mudah menguap. Oleh karenanya. Benzene adalah senyawa yang tidak larut dalam air. Disamping bersifat mudah terbakar. Uap cairan ini bila bercampur dengan udara akan mudah terbakar. Kelompok hidrokarbon aromatis dengan dua atau lebih cincin benzene dikenal sebagai polynuclear aromatic hydrocarbon (PAH). Benzene bersifat karsinogen pada manusia.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Alkane dikenal sebagai hidrokarbon jenuh. yang dikenal sebagai isomer dari xylene. oleh karenanya penyimpanan dan pengangkutannya membutuhkan label : 'cairan mudah terbakar'. Hidrokarbon yang mempunyai satu atau lebih ikatan karbon ke karbon rangkap tiga dikenal sebagai alkine. Pemaparan maksimum selama 8 jam kerja adalah 200 ppm untuk toluene dan 100 ppm untuk isomer-isomer xylene. Bila salah satu atom hidrogen dari benzene digantikan oleh grup methil (-CH3). Formula umum dari alkine adalah CnH2n-2.FTSL ITB Halaman 76 . maka alkine adalah termasuk hidrokarbon tak jenuh. berpasangan dengan atom-atom yang terikat dengan karbon tersebut. karena setiap ikatan elektron dari atom-atom karbon. PAH ini diaggap bersifat karsinogen. kelompok ini juga bersifat toksik bagi manusia karena mempengaruhi sistem syaraf pusat.

dan pada kondisi murni berbau ether. Satu bagian volume acetone dapat melarutkan 25 bagian acetylene pada tekanan 1 atm. senyawa baru : karbon tetrakhlorida atau tetrakhloromethane. tetapi bila terhirup akan menyebabkan sesak nafas. Methane merupakan gas alam. maka senyawa itu dikenal sebagai hidrokarbon berkhlor (chlorinated hydrocarbon).11. sedang pada tekanan 12 atm akan terlarutkan acetylene sebanyak 300 bagian volume. Panas pembakarannya adalah 213 kcal/mol. Bila seluruh atom karbon digantikan oleh atom-atom halogen. sehingga senyawa itu dikenal sebagai hidrokarbon berhalogen (halogenated hydrocarbon). Salah satu contoh dari kelompok ini adalah methane. Dari sudut industri. maka kelompok alkine yang paling sering digunakan adalah acetylene. titih nyala methane adalah . senyawa baru : khloroform atau trikhloromethane 4 atom diganti. Namun kelompok ini berkontribusi dalam pembentukan formasi ozone di atmosfer. Temperatur yang dicapai bila terbakar dengan udara akan mencapai 3300 o C. Walaupun demikian.188 o C. seperti ethane. Methane digolongkan sebagai gas non toksik. Gas ini banyak digunakan dalam industri metalurgi. yang terbentuk misalnya dari dekomposisi karbon organik. Umumnya mereka tidak berwarna. Oleh karenanya. maka terjadilah perubahan karakteristik. sedangkan khloromethane adalah di bawah 0 o C. maka senyawa baru tersebut bukan lagi kelompok bahan yang mudah terbakar. tidak berbau dan dijumpai dengan konsentrasi rendah. isobutene dan sebagainya. bila senyawa ini terpapar dengan Enri Damanhuri .7 . Gas alam ini dapat pula dicairkan. Terdapat empat kemungkinan penggantian atom hidrogen. Penggunaan gas alam sekarang makin banyak dijumpai. sedikit larut dalam air. LPG ini mengandung pula komponen lain dalam jumlah kecil. butane dan campurannya dikenal sebagai liquefied petroleum gas (LPG). Belum dijumpai pengaruh kelompok ini terhadap kesehatan. Bila yang menggantikan adalah khlor. terbentuk dari pengolahan gas alam.4 % volume. Sebagai contoh. ethene. Dengan substitusi tersebut. dapat meledak pada kondisi ditekan. sehingga sifat kimia dari gas alam pada prinsipnya adalah merupakan sifat kimia dari gas methane. yang dapat digantikan oleh atom khlorida. terutama untuk pengelasan/pengecoran. senyawa baru : methylene khlorida atau dikhloromethane 3 atom diganti. dengan rentang keterbakaran 10. Gas ini tidak berwarna.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Hidrokarbon Sederhana Beberapa hidrokarbon sederhana dijumpai sebagai cemaran melalui cerobong pembakaran sebuah industri atau dari kegiatan komersial lainnya. senyawa baru : methyl khlorida atau khloromethane 2 atom diganti. tidak berbau. Sebagai contoh penamaan adalah untuk senyawa yang berasal dari methane (CH4). Bentuk gas yang dicairkan dari propane. Hidrokarbon Berhalogen Senyawa-senyawa organik dapat pula diturunkan dengan mengganti satu atau lebih atom hidrogen dari hidrokarbon dengan sebuah atom halogen. dikenal sebagai liquefied natural gas (LNG).FTSL ITB Halaman 77 . gas yang tidak berwarna. propene. yaitu : 1 atom diganti. dan merupakan salah satu komponen utama dari gas alam. yang terdiri dari sebuah atom C dan empat buah atom H. isobutane.4 kcal/mol. Gas ini termasuk yang tidak stabil. butene. karena mempunyai panas pembakaran tinggi yaitu 312. biasanya gas ini dilarutkan dalam cairan seperti acetone.

kapasitor. resistan terhadap hampir seluruh bahan kimia. senyawa ini langsung tersebar dalam berbagai jaringan reseptor seperti hati. tidak bereaksi dengan asam. Namun residu hasil pembakaran akan berbahaya bila pembakarannya tidak sempurna karena membentuk dioxin. hati. Kelompok khusus dari senyawa hidrokarbon berhalogen adalah fluorokarbon (CFnClnx). Bila PCB masuk ke dalam tubuh. mata. beberapa diantaranya mempunyai titik didih sampai 267 °C tanpa mengalami dekomposisi. dengan simbol 2 heksagon bercincin. ginjal. misalnya efek racun dari khloroform pada sistem syaraf. Oleh karena itu DRE dari PCB ini disyaratkan 99. Senyawa ini bersifat inert. Terdapat berbagai struktur isomer dari PCB. misalnya dalam perlengkapan listrik seperti transformator. tetapi sifat-sifatnya hampir sama.9999 %.(g) . Ini terjadi karena pada tahun 1960 diketahui bahwa PCB ini ternyata merupakan penyebab berbagai masalah kesehatan yang serius : kanker. PCB banyak digunakan dalam industri-industri yang membutuhkan sifat-sifat tersebut.(g) + Cl. sehingga ikatan karbon ke khlor akan rapuh. Reaksi di bawah ini akan memperjelas masalah tersebut : CFnCln-x (g) --.5 mg/m3. Cara pengolahan PCB yang digunakan adalah dengan insinerasi.7 m3 PCB dengan konsentrasi 50 . impotensi sampai kematian. otot. ginjal dan jantung. atau pada sistem pemindah panas dan sistem hidrolis.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 panas. sehingga mengakibatkan terganggunya fungsi biologis yang normal dan mengakibatkan perubahan fungsi faal tubuh. . juga disebut sebagai khlorofluorokarbon atau khlorofluoromethane. Enri Damanhuri . dan dilepaskanlah atom khlor.FTSL ITB Halaman 78 . ClO (g) + O --.ClO. stabil bila dipapar pada temperatur tinggi. Konsentrasi maksimum di lingkungan kerja adalah 1. Di USA produksi PCB sejak tahun 1979 sangat dibatasi yaitu hanya untuk penggunaan yang sangat khusus. O3(g) + Cl (g) --. akan dihasilkan gas/uap yang berbahaya yaitu fosgene dan hidrogen khlorida. Bila terlepas akan bereaksi dengan lapisan ozon. iritasi pada gastrointestinal. Beberapa diantara hidrokarbon berhalogen ini teruapkan pada temperatur kamar. Senyawa ini mampu menyerap radiasi ultraviolet matahari.Cl (g) + O2(g) Masalah limbah yang paling banyak disorot dari kelompok ini adalah polychlorinated biphenyl (PCB). Insiden yang paling dramatis dalam masalah toksikologi adalah yang terjadi di Jepang pada tahun 1968. Sebagian besar PCB adalah merupakan cairan yang encer pada kondisi kamar.0 µg/m3 dengan TLV 0. dan merupakan bahan yang paling banyak diatur penggunaan dan penanganannya diantara bahan berbahaya yang lain. dan sebagainya dan tetap tersimpan dalam organ tersebut. tidak terbakar. Karbon tetrakhlorida misalnya. kerusakan organ tubuh. Sebuah transformator kadang mempunyai sampai 3. otak. Senyawa kelompok ini banyak digunakan dalam industri. Oleh karenanya.CFnCl3-x. menimpa lebih dari 1000 orang yang menkonsumsi beras terkontaminasi PCB akibat kebocoran pipa transfer panas dalam pemerosesan minyak. . disamping dapat mengganggu hati dan ginjal juga dicurigai sebagai penyebab kanker pada manusia. Nama komersial dari senyawa ini adalah freon.70 % .(g) + O2(g) . Atom khlor ini akan bereaksi dengan molekul ozon. yang digunakan sebagai pendingin atau aerosol. sehingga lapisan ozon sebagai pelindung bumi dari radiasi ultra violet matahari akan terganggu/rusak. kulit. tetapi keterpaparannya pada manusia dapat menimbulkan masalah kesehatan.

Fenol dikenal cepat menyerap uap air di udara sehingga sering dianggap sebagai cairan. yaitu sangat toksik pada manusia. Tetapi sifatnya yang racunlah yang mendatangkan masalah. misalnya methyl ethyl ether (methoxyethane). Aplikasi isomer-isomer kressol pada tikus menimbulkan tumor. Fenol pada kondisi padat adalah tak berwarna sampai putih kristal dan sering juga dijumpai berwarna gelap/merah bila terpapar cahaya. tetapi bisa saja tidak termasuk cairan yang berkatagori mudah terbakar.dikhlorofenoxyacetik dan 2. yang dapat dilihat sebagai hidroksil turunan benzene. karena resin-resin fenolis dan produk-produk farmasi lainnya terbuat darinya. Senyawa induk dari kelas alkohol ini juga bernama fenol atau hidroksibenzene. sebetulnya fenol tidak membahayakan. Fenol adalah termasuk grup alkohol aromatis. Mata. Salah satu grup fenol adalah kressol yang merupakan disinfektan dan berasal dari resin fenolik. Dalam masalah limbah. Disamping itu.senyawa fenolik yang diproduksi untuk beragam herbisida seperti asam 2.3. Dioxin juga dicurigai dapat menghilangkan pertahanan tubuh terhadap penyakit.FTSL ITB Halaman 79 . Pengangkutan senyawa ini membutuhkan label : 'cairan mudah terbakar'. Ether sederhana sangat volatil dan berbahaya karena mudah terbakar serta meledak. maka penyebarannya akan melalui rantai makanan. reproduktif dan kanker. Efek iritasi juga dapat terjadi pada mata dan kulit. Ether Ether adalah senyawa organik yang molekul-molekulnya mempunyai atom oksigen yang menjembatani 2 grup alkyl atau aryl (R-O-R'). Senyawa organik yang dewasa ini dianggap salah satu substansi yang paling toksik adalah 2. dan TLV = 19 mg/m3.5trikhlorofenol. Dilihat dari sifat keterbakaran. hidung dan kerongkongan dapat teriritasi. Efek toksikologis antara lain adalah terhadap sistem syaraf. Senyawa yang tergolong alkohol sederhana ini adalah mudah terbakar. Dua alkohol yang sering dijumpai di pasaran adalah metanol (methyl alkohol) dan ethanol (ethyl alkohol). dengan titik nyala 78 o C.4. dan merusak secara sistematis sistem syaraf. Tambah tinggi ether maka tambah tinggi titik nyalanya sehingga menjadi bahan bakar cair. Dioxin sangat stabil dan terdekomposisi hanya secara thermal pada temperatur didih sekitar 500 °C. ether juga berbahaya karena ada yang mengandung peroksida organik sehingga mudah meledak. dan larut dalam air. Pemaparan fenol di ruang kerja dibatasi 5 ppm (kontak dengan kulit). Toksisitas (LD50) bahan ini terhadap babi Guinea 3.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Alkohol Alkohol adalah senyawa organik turunan dari hidrokarbon dengan penggantian paling tidak sebuah atom hidrogen oleh grup hidroksil (-OH). atau secara singkat dikenal sebagai Dioxin atau TCDD. Oleh karenya. Enri Damanhuri . dan berakumulasi (biomagnifikasi) pada jaringan lemak. dengan TLV 22 mg/m3. pengangkutan senyawa ini membutuhkan label bertuliskan : 'racun'. Bila makanan terkontaminasi oleh bahan ini. yang paling sering dipersoalkan adalah fenol. misalnya dalam industri farmasi. Pemaparan pekerja pada isomer kressol adalah 5 ppm kontak dengan kulit.1 x 10-9. Dioxin merupakan produk samping dari pembuatan senyawa. Fenol merupakan produk industri kimia yang penting.4.8 tetrachlorodibenzo-p-dioxin.7.

FTSL ITB Halaman 80 .5o C. Prentice Hall Building. Bahan ini digunakan untuk mempengaruhi proses polimerisasi pada pembuatan plastik. hidung dan kerongkongan.atom hidrogen digantikan oleh satu atau lebih grup alkil atau aril. Bila terpapar dengan manusia. sehingga dikelompokkan sebagai cairan yang mudah terbakar. merupakan cairan jernih dengan bau spesifik. yang biasanya digunakan sebagai pelarut. Seperti halnya peroksoanorganik. 1989 Enri Damanhuri . Senyawa perokso-organik merupakan turunan dari hidrogen peroksida. senyawa ini menyebabkan iritasi ringan pada mata. yang terjadi bila asam-asam organik bereaksi dengan alkohol. Meyer: Chemistry of Hazardous Materials. Atom. maka perokso-organik ini mempunyai kemampuan sebagai oksidator. Salah satu jenis senyawa ini yang banyak digunakan dalam industri adalah ethyl asetat. Seluruh bahan dikutip dari: E. Pemaparan di ruang kerja dibatasi sampai 400 ppm.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Senyawa Organik Lain Senyawa organik dengan formula umum R-CO-OR' dikenal sebagai ester. Titik nyalanya adalah . karena mempunyai oksigen yang aktif pada strukr molekulnya.

namun baru mendapat perhatian manusia pada akhir abad yang lalu. namun tidak bermuatan. yang sepadan dengan jumlah netron dan proton.+ = 4.007595 = 2. Becquerel pada November 1896. dan terus berlanjut pengembangannya dengan perlombaan senjata nuklir sampai selesainya “perang dingin” antara negara-negara Barat dan negara-negara komunis di dunia. Struktur sebuah Atom : Inti-atom (nucleus) terdiri dari proton dan netron.033156 amu Massa inti-atom helium = 4.Perbedaan massa (mass defect) = 0. radiasi kosmis dari luar angkasa telah memborbardir planit biru kita ini.017966 amu ------------------.9979 x 109 cm/detik m = perbedaan massa (amu) -24 10 -5 Sehingga E = 0. sebuah inti-atom dicirikan oleh nomor massa (A). 14 3 maka densitas inti atom tersebut sangat tinggi. yang proporsional dengan muatan positif pada inti-atom (Ze).65985 x 10 x (2. Sejumlah besar materi radioaktif yang berumur sangat lama dihasilkan sebagai hasil samping yang tidak dapat dihindari. Dengan menggunakan persamaan Einstein. Oleh karenanya.FTSL ITB Halaman 81 . 2 SIFAT-SIFAT RADIOAKTIVITAS Sebuah atom terdiri dari sebuah inti (nucleus) bermuatan positif dan sejumlah planet-planet yang mengorbit pada intinya dan elektron. Dimulai dengan teridentifikasinya sinar-X oleh William C. dibutuhkan satu ikatan yang sangat kuat. Proton adalah partikel dasar dengan massa mendekati 1 dalam skala berat atom dan bermuatan + e. terutama akibat penggunaan pembangkit enersi bertenaga nuklir di seluruh dunia dengan segala permasalahannya terhadap lingkungan. dan kemudian ditemukannya radiasi dari radium oleh Antoine H. Karena massa atom terkonsentrasi dalam volume yang sangat kecil. dan nomor atom (Z). Namun keberadaan unsur-unsur radioaktif ini telah meningkat dengan dihasilkannya materi radioaktif artifisial oleh manusia untuk berbagai tujuan.015190 amu (atomic mass unit) Massa netron = 2 x 1. Netron juga merupakan partikel dasar dengan besaran mendekati 1 unit satuan atom.9979 x 10 ) erg = 4. yaitu sekitar 2 x 10 gram/cm .008983 = 2.030381 amu Perbedaan massa ini menghilang pada saat terjadinya fusi dua proton dan dua netron untuk 2 membentuk inti-atom helium.531 x 10 erg 4 Enri Damanhuri . Dalam hal ini: c = kecepatan cahaya=2. Simbol sebuah atom ditulis sebagai ZX . Röntgen pada Januari 1896.elektron yang bermuatan negatif yang mampu mengimbangi muatan positif dari inti atom. Kapasitas penghancur senjata nuklir telah dibuktikan dalam Perang Dunia II. yaitu muatan sebuah elektron sebesar -10 4.002775 amu ------------------. sebab bila tidak maka akibat adanya gaya tolakan elektrostatis antara proton-proton maka akan mengakibatkan mereka terpencar.8025 x 10 esu (electrostatic unit).030381 x 1. Intensitas radiasi tersebut relatif tidak tinggi dan radiasi tersebut dapat ditahan oleh atmosfer bumi. Selama berjuta tahun. Untuk mengikat sejumlah besar netron dan proton dalam ruang yang sangat kecil yang tersedia dalam sebuah inti-atom. Misalnya diambil masa 2He yang terdiri dari 2 proton dan 2 netron: Massa proton = 2 x 1. dimana X adalah simbol kimia yang biasa digunakan untuk unsur tersebut. yaitu E = mc maka sejumlah ekuivalensi enersi akan terbebaskan. dan sepadan dengan A jumlah proton dalam inti-atom. Bentuk enersi nuklir merupakan hal yang paling spektakular yang pernah ditemukan dan digunakan oleh peradaban manusia selama ini.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 BAGIAN VI LIMBAH RADIO AKTIF 1 UMUM Radioaktivitas sebetulnya bukanlah fenomena baru. thorium dan radium. Unsur-unsur radioaktif yang secara alamiah terdapat di bumi adalah uranium.

Sebuah atom adalah netral. inti atom sangatlah stabil. dan jumlah elektron serta susunannya merupakan kunci sifat-sifat kimiawi dari elemen tersebut. Hampir semua unsur terdapat di alam dalam bentuk campuran dari isotop-isotop seperti terlihat dalam Tabel 6. Kemudian ternyata bahwa fenomena tersebut berasal dari kegiatan pada inti-atom dan fenomena tersebut terjadi pada seluruh elemen dengan nomor atom lebih dari 83. Bisa saja dijumpai dua buah atom yang mempunyai nomor atom yang sama tetapi berbeda masanya. Rutherford kemudian menunjukkan bahwa radiasi tersebut terdiri dari tiga jenis radiasi yang berbeda.64 43 0. Radiasi ini terdiri dari emisi dua proton dan dua netron dari inti-atom.15 20Ca 46 0. tetapi mempunyai jumlah massa yang berbeda. Elektron-elektron ini terikat dalam orbitnya oleh gaya elektrostatis dengan jarak yang bervariasi terhadap inti-atom.76 0.0033 20Ca 48 0. dan biasanya cukup dituliskan sebagai U-235 dan U-238.65 50Sn 115 0. Di alam terdapat atom dengan 1 elektron (hidrogen) sampai 92 elektron (uranium) dan massanya bervariasi dari 1 (sebuah proton pada hidrogen) sampai 238 (92 proton dan 146 netron pada uranium).28 ----------------------------- Peluluhan Radioaktif : Pada kondisi normal. Isotop : Nomor atom dari sebuah unsur menentukan jumlah elektron dan merupakan identitas kimiawinya.98 1H 2 0. Bila sebuah inti-atom yang tidak stabil mengemisikan partikel alfa.635 0.34 50Sn 116 14. dengan massa 1/1840 proton (0.01 50 119 8. sehingga jumlah elektron harus mengimbangi nomor atom (jumlah proton dalam inti-atom).58 50Sn 120 32. secara artifisial dapat dihasilkan isotop-isotop yang tidak stabil yang dikenal sebagai radionuklisida (radionuclicide) dari unsur-unsur yang ada. Tabel 6. Jadi isotop adalah elemen yang mempunyai nomor atom yang sama. Atom tersebut disebut sebagai isotopis satu terhadap yang lain. Tahun 1986 Becquerel menemukan bahwa garam-garam uranium meng-emisikan sejenis radiasi yang menyebabkan pelat fotografis menjadi hitam. Sifat-sifat kimiawinya adalah identik. Sebagai contoh adalah sebuah atom hidrogen yang mempunyai sebuah proton dan sebuah elektron. dan menjadi isotop yang berbeda untuk elemen yang sama.98 50Sn U 235 92U 238 92U 92 234 0. Contoh lain adalah isotop uranium.1: Campuran isotop di alam ------------------------------Isotop Persentase ------------------------------1 99. Terdapat pula sebuah atom dengan inti-atom yang terdiri dari sebuah proton dan sebuah netron disertai sebuah electron. Radiasi α adalah merupakan partikulat dan setiap partikel alfa adalah sebuah inti helium yang 9 berkecepatan tinggi sampai mencapai 10 cm/detik.0058 0. dan sifat-sifat nuklirnya agak berbeda dari hidrogen biasa. tetapi sifat-sifat fisisnya yang tergantung pada masanya.00055 amu). seperti pada contoh peluluhan uranium ke thorium: Enri Damanhuri .71 50Sn 124 5. Atom terakhir ini merupakan sebuah isotop dari hidrogen.FTSL ITB Halaman 82 .715 99.1. Dengan demikian.04 0. yang dikenal kemudian sebagai radiasi α (alfa). akan berbeda. β (beta) dan γ (gamma).24 50Sn 117 7.365 99.20 O16 O17 18 8O 8 8 20 20 Ca40 96.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Elektron dapat dianggap sebagai partikel dengan muatan negatif e (4.95 50Sn 114 0.19 20Ca ------------------------------- -------------------------------Isotop Persentase -------------------------------112 0.02 1D 7 7 -10 N14 15 N 99.elektron terluar.57 50Sn 118 Sn 24. dijumpai dalam bentuk 92U dan 92U . maka nomor atomnya menurun 2 satuan sedang massa atomnya menurun 4 satuan.8025x10 esu). dan tidak mengalami perubahan sifat-sifat kimiawi karena hanya melibatkan elektron.97 50Sn 122 4. yang 235 238 mempunyai proton sebanyak 92. dikenal sebagai hidrogen berat atau deuterium.97 42 Ca 0. Sifat-sifat kimiawi dua buah isotop akan sama.

Radioaktivitas menjadi kajian yang menarik dalam masalah lingkungan karena dampak negatifnya terhadap organisme yang terpapar. Oleh karenanya. Dalam perjalanannya. Jumlah masa tidak berubah. dan hanya dapat dihentikan misalnya dengan lembar alumunium setebal 1 cm. namun massanya tetap.99 kecepatan cahaya. Ketika partikel α melalui suatu media. tetapi bila terhirup melalui pernafasan. misalnya digunakan sebagai pelacak (tracer) untuk membantu pengukuran aliran materi dalam lingkungan. dan konversi tersebut dapat dianggap sebagai perubahan sebuah netron menjadi sebuah proton. namun dapat bermanfaat. Fenomena ini dikenal sebagai pengionan (ionization).Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010  92Th +2α Dalam reaksi ini dikeluarkan partikel α (inti helium) dari inti-atom. sedang partikel β bisa mencapai beberapa cm. namun hasil peluluhan bisa saja menjadi lain. enersinya secara bertahap dilepaskan akibat interaksi dengan atom yang lain. namun juga harus mampu menahan kemungkinan radiasi dari hasil peluluhannya yang bisa saja lebih berbahaya. namun penetrasinya pada jaringan tubuh lebih dalam. Kulit manusia dapat menahan radiasi ini. Radiasi γ tidak mempunyai muatan atau masa. sifat kimiawi dari kedua unsur tersebut berbeda. Sinar β dan γ mempunyai kemapuan penetrasi yang lebih tinggi dibanding sinar α. dan bergerak dengan kecepatan cahaya. muatan positif menarik elektron. perlu memperhatikan sifat peluluhan itu sendiri. Radiasi γ adalah radiasi eletromagnetis dengan panjang gelombang sangat pendek. Rutherford et al menemukan bahwa intensitas radiasi mengalami peluluhan secara eksponensial terhadap waktu. Secara kimiawi. Sekali lagi. yaitu antara -3 -7 10 sampai 10 µm. Hal ini perlu mendapat perhatian pada saat penanganan limbahnya. Sebagai contoh adalah peluluhan strontium-90 menjadi yttrium : 90 90  39Y + β 38Sr Ionsasi yang terjadi pada partikel β frekuensinya lebih sedikit dibanding partikel α. sehingga sinar ini mempunyai kemampuan untuk mengionisasi dan dapat merusak jaringan hidup. Sebuah inti-atom dapat terurai dengan kehilangan partikel α atau β-nya. tetapi nomor atomnya meningkat satu satuan. Thorium yang dihasilkan dalam reaksi itu tidak stabil. sebab walaupun secara kimiawi asalnya tidak toksik atau tidak korosif. penyekatan harus dirancang bukan saja agar mampu menahan radiasi dari limbah asalnya. Penentuan rancangan penyimpanan atau penyingkiran limbah radioaktif. terutama dalam penyimpanan dan penyingkiran. Radiasi ini dipancarkan dari inti-atom yang tidak stabil sebagai transformasi spontan dari sebuah netron ke sebuah proton dan elektron. dan akan meluluh dengan mengeluarkan sinar β. yaitu: -Kt N = N0 dengan N = jumlah inti radioaktif setelah t waktu N0 = Jumlah inti awal t = waktu yang ditinjau K = konstanta peluluhan radioaktif 92U 238 234 4 Enri Damanhuri . yaitu: 234 234  91Pa + e 90Th Emisi sebuah muatan negatif dari inti-atom mengakibatkan muatan positif bertambah satu yaitu pada protactinium. Radiasi β dapat dianggap pula sebagai partikulat. menaikkan tingkat enersinya dan melepaskannya dari inti. Partikel α dapat menembus pada jaringan tubuh sampai 100 µm. yaitu sebuah elektron. Sinar γ dapat pula terbentuk akibat transformasi itu. dan setiap partikel β adalah sebuah elektron negatif yang berkecepatan tinggi sampai mencapai 0. dan membutuhkan beberapa cm timah untuk mengisolasinya. Massa partikel β diabaikan.FTSL ITB Halaman 83 . Sinar tersebut sangat sulit dihalangi. thorium yang dihasilkan berbeda dengan uranium karena sifat-sifat kimia ditentukan oleh nomor atomnya. Inti radium misalnya secara spontan akan terurai dengan melepaskan partikel α. maka partikel ini sangat berbahaya. Perbedaan jenis radiasi tersebut di atas terkait dengan peluluhan inti atom-atom radioaktif. Partikel α relatif massif dan mudah dihentikan.

1 hari 90Th 234 β 1. tetapi inti-atom memecah dalam dua fragmen dengan massa yang hampir sama.atom nitrogen di udara. Terbukalah pintu penelitian terhadap reaksi nuklir atau penelitian terhadap pembuatan isotop-isotop artifisial. Tidak terdapat pola yang jelas antara waktu-paruh isotop-isotop yang diamati dengan mekanisme peluluhannya.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Kemudian persamaan tersebut disederhanakan menjadi persamaan waktu-paruh t1/2. bila dimulai dengan sebuah isotop yang mempunyai waktu-paruh 1 tahun dan mempunyai berat 100 gram. Reaksi lain yang dapat terjadi adalah bila inti-atom yang berat menyerap sebuah netron. hal ini dikenal sebagai fisi nuklir. Namun banyak hasil rekasi yang bersifat tidak stabil. 17 Enri Damanhuri . artinya sebuah sumber dengan kekuatan 1 Bq akan mengemisikan satu 60 partikel per detik. Bila cara reaksi fisi yang terkontrol ini berlangsung.7 x 10 Ci. Peluluhannya 92U tidak dengan jalan mengemisikan partikel-partikel α atau β. manusia mulai mengamati pengaruh radiasi terhadap materi yang diradiasinya.17 menit 91U 234 α 2. Reaksi nuklir pertama yang terdeteksi adalah partikel alfa dari polonium yang dibuat agar terjadi reaksi dengan atom. Tabel 6.47 x 105 tahun 92U 230 4 α 8. yang merupakan laju desintegrasi inti-atom 1 gram radium. Oleh karena itu seluruh rantai peluluhan tersebut harus diperhitungkan dalam perancangan limbah radioaktif. Satuan Curie (Ci) adalah satuan dasar yang menyatakan besarnya peluluhan 10 sebuah sumber.FTSL ITB Halaman 84 .0 x 10 tahun 90Th 226 3 Ra α 1. dan persamaannya menjadi : t1/2 = ln2/k ≈ 0. sehingga memberikan reaksi : 14 4 17 + 2He  8O + proton 7N Dalam hal ini 8O adalah stabil. Waktu-paruh tersebut tidak dapat dirubah namun memainkan peranan yang penting dalam aktivitas penyimpanan dan penyingkirannya. tetapi waktuparuh dari nuklisida-nuklisida akan sangat bervariasi.7 x 10 per detik.51 x 109 tahun 92U 234 β 24.60 x 10 tahun 88 -------------------------------------------------Sebagai gambaran.693/k Waktu paruh sebetulnya tidak dapat dihitung tapi harus diukur secara eksperimental. yaitu waktu yang dibutuhkan agar inti tersebut luluh menjadi setengahnya. hasilnya akan dapat dipisahkan secara kimiawi dan merupakan sumber yang berlimpah bagi isotop-isotop artifisial. aktivitas tersebut -11 dinyatakan sebagai becquerel (Bq). yang dapat membingungkan pemakainya.2 : Contoh waktu-paruh -----------------------------------------------Isotop Radiasi Waktu-paruh ------------------------------------------------------------238 α 4. Waktu-paruh dari sebuah isotop adalah tetap. yaitu: 1 Bq = 2. yaitu N = 1/2 No. seperti yang banyak dilakukan dalam reaktor-reaktor nuklir. Dalam satuan SI. Isotop Artifisial: Dengan ditemukannya radioaktivitas alamiah. menjadi 25 gram setelah 2 tahun. Unit Satuan yang Digunakan: Banyak satuan yang digunakan dalam bidang radioaktivitas ini. Aktivitas sebuah sumber tidak 90 langsung mengidentifikaikan jumlah partikel yang teremisi. Satu Ci sebanding dengan desintegrasi sebanyak 3. Nilai waktu paruh tersebut bervariasi dari satu isotop ke isotop yang lain. Misalnya 38Sr meluluh dengan emisi sebuah partikel beta. Bila sebuah partikel seperti partikel alfa atau sebuah proton atau sebuah netron bertumbukan dengan inti-atom. dan luluh secara radioaktif. Tabel 6. Misalnya 236 236 menyerap sebuah netron menghasilkan isotop yang tidak stabil 92U (?). tetapi 27Co akan mengemisikan sebuah partikel beta dan dua sinar gamma.2 memberikan gambaran waktu-paruh dari enam isotop pertama yang terdapat pada ilustrasi sebelumnya. maka terbentuk isotop baru. maka akan tertinggal sebanyak 50 gram setelah 1 tahun.

5 mm untuk mengabsorbsi setiap partikel α. yang 3 merupakan kuantitas dari radiasi X atau γ yang menghasikan ion-ion. Tetapi hanya fraksi dari radiasi ini yang terlacak ke luar. maka jumlah partikel yang teremisikan per satuan waktu akan dapat dihitung. Dalam hal sebuah isotop menghasilkan produk yang tidak stabil. terdapat kesulitan. atau memindahkan dalam bentuk padat untuk kemudian dibuang/disingkirkan sambil menunggu luluh dengan sendirinya sesuai dengan waktu-paruhnya. Dalam satuan SI. Bagian yang tersuspensi akan mengendap. Enri Damanhuri . Pengukuran aktivitas sumber ternyata tidak menjelaskan tentang pengaruh radiasi yang teremisi terhadap sekitarnya. 3 PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF Pengolahan dan pembuangan (penyingkiran) limbah yang bersifat radioaktif merupakan masalah yang berat dalam abad nuklir ini. maka akan dihasilkan limbah radioaktif yang tambah banyak dan dapat menyebakan radiasi pengionan. Pengukuran ini dilakukan pertama kali dengan satuan röntgen (R). satu-satunya pemecahan yang tuntas adalah hanya dengan memanfaatkan waktu-paruh peluluhannya. ke dalam tanah yang dibangun khusus untuk itu. Sifat radioaktivitasnya akan menurun dengan sendirinya sesuai dengan waktu paruhnya. komponen radioaktif dalam limbah cair dikonversi menjadi limbah padat yang tetap bersifat radioaktif dan harus tetap ditangani. digunakan satuan gray (Gy) yang sepadan dengan penyerapan enersi 1 J/Kg. karena hanya bersifat mengurangi konsentrasinya. Dalam hal ini 1 C/Kg = 3876 R. biologis serta kimiawinya. maka intensitas totalnya persatuan waktu adalah merupakan penjumlahan. bila kekuatan sebuah sumber serta mekanisme peluluhannya diketahui.8 R per jam pada jarak 1 m dari sumber.FTSL ITB Halaman 85 . Bila limbah yang mengandung pencemar mengalir ke lautan atau ke sungai. atau sebesar 10 J/Kg. yang menyatakan ukuran ionisasi per kilogram. Dalam mengukur ionisasi selain gas. Untuk itu perlu adanya jaminan bahwa isotop-isotop yang aktif tidak berkontak dengan lingkungan sampai batas konsentrasi tertentu yang menyebabkan tidak timbulnya masalah. Beberapa cara memang banyak dikembangkan. bagian organiknya akan teroksidasi. Dikatakan telah menyerap radiasi sebesar 1 rad bila 1 gram materi -2 menyerap 100 erg enersi. misalnya ke lautan yang dalam. Cara yang diterapkan sekarang sebetulnya tidaklah tuntas. dengan perlindungan yang ketat agar sifat-sifat radioaktivitasnya tidak membahayakan lingkungan.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 jadi sumber tersebut yang mempunyai aktivitas 1 Bq mengemisikan tiga partikel sekaligus per detik. menghasilkan intensitas radiasi 0. Satuan baru (satuan SI) yang diusulkan adalah dengan satuan coulomb (C). Cara yang biasa dilakukan untuk menangani limbah padat adalah membuangnya atau menyingkirkannya. Cara yang banyak dilakukan untuk menangani limbah cair adalah penyimpanan atau pengkonsentrasian. Oleh karena itu digunakan satuan rad (radiaton absorbed doses). mulai limbah asal (limbah'orang tua'nya) sampai hasil luluhannya (limbah 'anak-anak'nya). karena beberapa diantaranya terserap oleh materi radioaktif itu sendiri. sedang bagian kimiawinya akan terencerkan. Satu rem adalah sepadan dengan penyerapan 100 erg enersi radiasi untuk satu gram jaringan tubuh. sejumlah pencemar yang terkandungnya akan terolah secara alamiah. Sampai saat ini praktis belum ditemukan teknologi atau tata cara baik secara kimiawi maupun biologis untuk menetralisisr sifat-sifat radioaktivitas. yaitu satuan pengukuran terhadap penyerapan enersi radiasi oleh jaringan tubuh manusia. Dengan satuan ini memungkinkan dosis radiasi dalam gas diukur langsung dengan alat elektronik tanpa harus menentukan terlebih dahulu enersi terabsorbsi. Satuan yang digunakan dalam kesehatan adalam satuan rem (radiation equivalent man). Pencemar radioaktif akan tereduksi dengan sendirinya dengan peluluhan alamiahnya. Sifat mencemari dari sebuah limbah akan ditentukan oleh karakteristik fisis. Dengan pengebangan teknologi dan ilmu nuklir serta penggunaan isotop-isotop radioaktif yang makin luas. atau 1 Gy = 100 rad. tetapi ini hanya memindahkan masalah. 1cm udara mengandung muatan 1 esu. Secara umum. misalnya bagaimana menyerap unsur berbahaya. Sebuah sumber sebesar 1 Ci dari radium yang dilindungi dengan sebuah kumparan platinum setebal 0.

2 berikut menggambarkan hasil fisi bila digunakan 1 ton uranium.atas kandungan radioaktifnya . tidak membutuhkan sedikit atau bahkan tidak dibutuhkan kontainer khusus. Sumber utama dari limbah jenis ini misalnya dari kegiatan kedokteran. Berikutnya bahwa tidak sulit menarik keyakinan bahwa setelah dibuang konsentrasi tidak mengalami penurunan akibat reaksi kimiawi ataupun biologis. Radiasi ini sebagian besar berasal dari sumber alamiah seperti sinar kosmis (102 mrem/tahun). pembuangan limbha cair ke saluran riolering adalah dianggap aman bila ratarata konsentrasi radioaktivitas dalam saluran tidak lebih dari 10 -4 µc/ml. Limbah ini dicirikan dengan kemampuan penetrasi radiasi yang tinggi. tetapi praktisnya sulit untuk direalisis. Karena tidak praktis untuk memprediksi kandungan radioaktif buangan padat. bila dapat menunjukkan bahawa tidak seorangpun menerima dosis lebih dari 10 milirem/minggu. diagnosa medikal dari sinar-X sekitar 72 mrem/tahun.3: Hasil fisi dari pembakaran 1 ton Uranium -------------------------------------------------------------------------------------Kelompok Kimiawi Elemen Kimiawi Berat (Kg) ------------------------------------------------------------------------------------Gas jarang Kripton dan xenon 128 Alkali berat Rubidium 15 Caesium 118 Alkali tanah Strontium 42 Barium 43 Ytrium 317 Elemen ke 4 Zirconium 125 Elemen ke 5 Niobium 5 Elemen ke 6 Molybdenum 92 Tellurium 16 Elemen ke 7 Technetium 29 Iodine 7 Logam jarang Ruthenium. laju penghasil panas yang tinggi dan waktu paruh radioaktif yang panjang. Oleh karenanya. penelitian kesehatan. Tabel 10. pembangkit tenaga nuklir komersial sebesar 0.atas sumbernya Pendapat pertama dan kedua secara prinsip lebih baik. maka terdapat dua jenis limbah radioaktif.3 milirem/minggu Ditinjau dari tingkat aktivitas radioaktivnya. tetapi tetap mempunyai potensi konsentrasi limbah berbahaya. cair atau gas yang dihasilkan selama pembuatan atau penggunaan substansi radioaktif. Tabel 6. namun tetap dianssumsi berbahaya sampai terdapat pembuktian. Limbah tingkat tinggi sangat sedikit mengandung radioaktivitas. yang lebih realistis adalah mendeteksinya berdasarkan sumbernya. laboratorium-laboratorium penelitian. Metoide pembuangan dianggap aman. secara berkala dibutuhkan pengeluaran bahan bakar ini. Dalam proses fisi. Pertimbangan genetika mengharuskan bahaw rata-rata dosis radiasi yang dietreima oelh manusia secara keseluruhan adalah 1. mengambil uraniumnya dan memisahkan plutonium yang juga terbentuk.limbah tingkat menengah/tinggi Limbah tingkat menengah/tinggi dihasilkan dari pemerosesan kembali bahan bakar nuklir yang mengandung seluruh produk fisi. Dalam banyak hal. uranium menghasilkan sekitar 30 radionuklisida. Termasuk di dalamnya adalah kelompok limbah yang sebetulnya tidak begitu berbahaya.limbah tingkat rendah .01 mrem/tahun. Oleh karenanya. Penyimpanan dan Pengkonsentrasian Limbah Cair : Limbah cair yang paling banyak dihasilkan agaknya berasal dari proses pembuatan bahan bakar nuklir. yaitu: .atas potensi bahayanya . yang terakumulasi guna menurunkan tenaga reaktor melalui absorpsi netron. yaitu : . Total keterpaparan radiasi di USA apada tahun 1980-an untuk segala sumber sekitar 182 mrem/tahun/orang. rhodium dan palladium 61 ----------------------------------------------------------------------------------- Enri Damanhuri . Definisi limbah radioaktif adalah buangan dalam bentuk padat.FTSL ITB Halaman 86 .Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Sumber-sumber Limbah Radioaktif : Definisi buangan/limbah radioaktif dapat didasarkan atas tiga pendekatan.

sehingga masalah timbulnya tekanan yang meninggi secara tiba. yaitu ion-ion dari limbah. Limbah cair biasanya dinetralkan dan disimpan dalam kontainer baja kualitas baik atau dalam beton bertulang. dapat digunakan terus sampai materi tersebut menjadi jenuh dan tidak dapat lagi berfungsi. Limbah yang akan diuapkan biasanya diletakkan pada kontainer baja yang divakumkan sampai mencapai volume yang belum memungkinkan terjadinya endapan. Penyimpanan limbah radioaktif dalam bentuk solidifikasi dengan glas dianggap aman dan efektif. penukaran akan terjadi bila kation pada media penukar mempunyai affinitas yang sama atau lebih kecil dari yang akan menggantikannya. sebab bila tidak. adalah kemungkinan terjadinya endapan. yaitu penukar kation dan penukar anion. Sarana pemonitor dini terhadap kemungkinan kebocoran sangat diperlukan. Pengolahan Limbah Cair: Seperti dibahas di muka. misalnya : Hg++ < Zr++++ < Li+ < H+ < Na+ < K+ < Rb+ < Cs+ < Ag+ < Mn++ < Mg++ < Cu++ < Ca++ < Sr++ < Al+++ Enri Damanhuri .FTSL ITB Halaman 87 . Media yang dikenal mempunyai kapasitas penukar ion yang tinggi adalah resin sintetis. Media ini relatif lebih stabil. sehinga membutuhkan penanganan dengan kontrol yang ketat. Akan terdapat dua jenis penukar ion. Jadi ion. Namun hal ini kurang memuaskan hasilnya karena panas yang dikeluarkan per satuan volume relatif rendah. Masalah yang timbul bila limbah tidak dipertahankan dalam kondisi asam. melaslukan pencampuran limbah cair terkonsentrasi dengan silika dan borax dalam larutan asan nitrat. agar masalah bocornya limbah ini dapat segera diketahui. maka usaha lain adalah mengkonsentrasikan limbah tersebut agar volumenya berkurang. Secara praktis. Larutan tersebut kemudian terevaporasi akibat panas yang terjadi. Beberapa radioisotop. Dibutuhkan kumparan pendingin agar panas yang dihasilkan akibat terjadinya peluluhan radioaktif dapat dikeluarkan. misalnya. Sumur-sumur pemantau juga diperlukan di sekitar kontainer yang ditanam dalam tanah. Alternatif lain adalah dengan regenerasi sesuai dengan ion yang terkandungnya. Limbah cair dengan sifat-sifat radioaktif mempunyai sifat yang secara spontan dapat mendidih dengan sendirinya karena adanya absorpsi enersi radiannya sendiri. Tetapi laju pelepasan panas tersebut tidaklah teratur. Dari proses ini akan dihasilkan cairan dengan konsentrasi yang sangat tinggi yang mengandung elemen radioaktif yang harus ditangani lebih lanjut. Proses penukar ion adalah proses yang sudah lama dikenal. Inggeris. misalnya dalam pembuangan atau penyingkiran akhir. namun yang mungkin adalah mengkonsentrasikan nuklisida-nuklisida tersebut dalam volume cairan yang relatif kecil. proses kimiawi atau biologis.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Elemen-elemen bahan bakar yang tidak teradiasi tetap mengandung bahaya radioaktif dengan tingkat aktivitas sekitar 10 sampai 15 curie/L. biasanya agitator udara atau sirkulasi cairan digunakan. Kapasitasnya akan tergantung pada afinitas relatifnya. maka kontainer baja perlu dilapis dengan bahan anti karat. sifat-sifat radioaktif tidak dapat dimusnahkan. yaitu dengan memanfaatkan media tertentu yang mempunyai sifat dapat menukarkan kation atau anionnya dengan kation dan anion lain dari limbah. Mengingat bahwa bila limbah cair yang disimpan dengan cara tersebut akan membutuhkan biaya besar. maka beberapa metode yang digunakan adalah dengan penukar ion. sehingga memudahkan dalam penanganan berikutnya. akan menyulitkan karena jenis limbahnya yang bersifat radioaktif. Media penukar ion tersebut kemudian dapat dianggap sebagai limbah padat dan membutuhkan penanganan khsusus dalam pembuangan akhir. Perlu pula adanya katup pelepas tekanan uap dan uap tersebut kemudian dikembalikan lagi ke kontainer tersebut. Disamping dengan cara penguapan. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam evaporator limbah jenis ini adalah agar sarana tersebut tidak membutuhkan perawatan yang terlalu rumit.ion radioaktif tersebut ditukar dengan ion-ion yang tidak aktif yang terdapat dalam media. Media penukar ion yang mengandung sejumlah ionion yang dapat ditukar tersebut. Sebetulnya dengan sifat dapat memanaskan dirinya sendiri akan memungkinkan proses swa-evaporasi.tiba perlu diperhatikan dalam rancangan penyimpanan. Dalam proses pendinginan. Guna mengurangi masalah ini. Bila limbah dipertahankan dalam kodisi asam. seperti rutheniumakan. yang tentu saja akan menaikkan biaya penyimpanan. misalnya dengan proses evaporasi. didapatkan limbah yang terbungkus secara solidifikasi. akan tervolatilisasi dengan sendirinya.

adalah partikel flok dan partikel tersuspensi tersebut harus diendapkan dan tidak terbawa ke dalam efluennya kembali. Salah satunya adalah radiocaesium. Beberapa jenis lempung. Dalam hal ini vermiculite mempunyai kemampuan untuk itu.koagulasi-pengendapan. terdapat kecendrungan bahwa kation multivalensi seperti yttrium. Radiostrontium merupakan isotop yang paling berbahaya sebagai penyebar emisi beta. ferro dan ferri sulfat. Unit-unit pengendap yang biasa digunakan dalam pengolahan limbah akan menghasilkan kinerja yang sama. silika aktif atau sodium fosfat juga dapat diterapkan dalam limbah radioaktif ini. Bila limbah dengan pH tinggi melalui media tersebut. Media alamiah lainnya adalah penggunaan vermiculite atau lignite. penambahan koagulan akan menyebabkan materi tersuspensi yang juga bersifat radioaktif. namun tetap dibutuhkan mekanisme lain agar sebanyak mungkin materi tersebut terpisah dari cairannya. Disamping itu. lignite atau resin sintetis terlebih dahulu. yaitu sebagai penukar anion dan penukar kation. bila yang akan ditangani adalah produk fisi yang tercampur. yaitu unit pengendap. Dengan demikian akan terjadi sekaligus penukaran kation dan penukaran anion. yaitu sekitar 30 tahun.7 meq/gram. Aruh searah dilalukan pada dua elektrode yang terendam. dan dapat memampatkan media penukar ion tersebut. yaitu dengan merangsang terjadinya partikel flok yang mudah mengendap. sehingga media menjadi lebih cepat jenuh. sehingga akan menambah efisiensi penyisihan secara keseluruhan. misalnya disingkirkan ke dalam tanah dan sebagainya. Pengolahan limbah radioaktif secara kimiawi diterapkan di banyak negara. Barium khlorida juga dapat digunakan untuk mengendapkan ion-ion sulfat dan tellurate. promethium dan ruthenium akan lebih mudah terserap sehingga dapat terkonsentrasi dalam lumpurnya. Koagulan akan menyerap ion-ion tertentu dari larutan dan membentuk partikel yang lebih besar. yang biasanya dipisahkan melalui vermiculite. setiap media yang digunakan dalam penukar ion harus mampu menyisihkan kedua jenis isotop tersebut. Dengan demikian. Walaupun dilakukan penaikan pH.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Salah satu kelemahan dari cara ini adalah bahwa media ini tidak dapat membedakan antara ion yang aktif atau ion yang tidak aktif. Cara lain aplikasi penukar ion adalah penggunaan electrolitis deionisasi. Keberhasilan pembentukan flok harus diikuti dengan unit operasi yang lain yang sangat menentukan. Beberapa jenis media alamiah juga mempunyai kemampuan untuk berfungsi sebagai penukar ion antara lain adalah tanah lempung (clay). Sasaran dari cara ini adalah bagaimana mengkonsentrasikan nuklisida. cerium. Langkah berikutnya. Dalam hal garam-garam besi yang digunakan. jenis radionuklisida yang akan dipisahkan. atau densitas buangan lumpurnya menjadi lebih tingi. maka pH yang lebih tinggi akan menghasilkan penyisihan yang lebih tinggi pula. Ion penukar dari media ini mayoritas adalah magnesium. Umumnya. akan lebih mudah mengendap sehingga efisiensi penyisihannya menjadi lebih tinggi. seperti telah dibahas di muka. karena merupakan unsur monovalensi. Alternatif lain adalah dengan penambahan lempung selama koagulasi. maka relatif sulit untuk dipisahkan dari larutannya. namun cara ini cocok untuk limbah yang mempunya kadar radioaktif rendah. Walapun telah dilakukan pembubuhan kimiawi secara flokulasi. Diantara katode tersebut diletakkan membran secara bersilangan. Dua jenis isotop yang paling penting untuk dijadikan acuan adalah radiostrontium dan radiocaesium. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan penambahan koagulan. walaupun kemampuan dekontaminasinya relatif tidak begitu besar. namun hal ini cenderung mengurangi sifat-sifat mengendap dari partikel tersebut. yang prinsipnya adalah identik dengan penyisihan air asin. Oleh karenanya. terutama montmorillonite mempunyai kapasitas penukar ion sampai 1 miliekuivaalen (meq) per gram. kemudian diikuti dengan pembubuhan ferri sulfat untuk menyisihkan kelebihan barium Enri Damanhuri . sedang caesium-137 mempunyai waktu paruh yang pajang. limbah lumpur yang terkonsentrasi tersebut dapat ditangani lebih lanjut. Media ini mempunyai kemampuan filtrasi yang baik dibandingkan montmorillonite dan kapasitas penukar ionnya sekitar 0. Pemilihan proses yang dilakukan adalah tergantung pada kinerja penyisihan yang diinginkan. Beberapa jenis flokulan yang biasa digunakan dalam teknologi pengolahan limbah seperti garam-garam aluminium.FTSL ITB Halaman 88 . namun media ini mempunyai sifat-sifat penyaringan yang buruk sehingga menyulitkan dalam operasionalnya. namun ada beberapa kation atau anion radioaktif yang membutuhkan penanganan khusus. maka Mg cenderung akan mengendap sebagai hidroksida. Disamping itu.

Salah satu nuklisida yang relatif suulit untuk ditangani adalah ruthenium. Dengan mengunakan filter vakum. Hal yang penting dalam proses pengendapan tersebut adalah bagaimana mendapatkan efluen yang sangat baik. Langkah berikutnya adalah penanganan lumpur yang berasal dari unit pengendap yang masih mengandung kadar air tinggi (di atas 90%). Unsur-unsur multivalensi seperti zirconium dan plutonium dapat direduksi dengan cara ini. seperti yang dilakukan di Perancis. seperti sitrat. sehingga penggunaan filtrasi sedapat mungkin dihindari. Lumpur kering yang dihasilkan kemudian di tangani sebagai halnya limbah padat radioaktif. bebas dari substansi toksik dalam konsentrasi tertentu sehingga dapat menghambat aktivitas Enri Damanhuri . Limbah tersebut mungkin mengandung agen-agen organik kompleks. Beberapa diantara jenis polimer tersebut mempunyai muatan negatif (anion). Limbah radioaktif yang akan dialirkan ke badan air. b. Penentuan analisis kimiawi dari elemen dalam organisme air dan air. Akumulasi radioaktif oleh organisme biasanya dinyatakan dengan faktor konsentrasi (FK). radioisotop tersebut akan cenderung berakumulasi pada tanaman air tersebut. atau bermuatan positif (kation) seperti polyvinyl pyridinium butyl bromide. Jadi bila badan air tersebut terkontaminasi dengan isotop radioaktif. Efluen cair dari limbah radioaktif yang kadar radioaktivitasnya dikatagorikan rendah. dan biasanya yang paling efisien dalah menggunakan polimer dengan berat molekul ting gi. sehingga sebelumnya perlu diolah secara biologis guna mencapai baku muru yang diinginkan. fenomena lain yang dapat terjadi secara alamiah adalah penyisihan elemenelemen radioaktif oleh adsorpsi permukaan. dan dapat disisihkan dengan penggunaan garam-garam perak atau penukar anion. Oleh karenanya dalam beberapa hal digunakan coagulant-aids. seperti senyawa sellulosa. pada suatu saat akan mengakumulasikan radioaktif ini sampai di atas batas yang diizinkan (biomagnifikasi). Fenomena ini juga dimanfaatkan dalam penyerapan elemen-elemen tertentu oleh tumbuhan air seperti eceng gondok guna mengurangi konsentrasi pencemar radioaktif berkadar rendah. yaitu: a. Pengolahan biologis juga dapat dipertimbangkan guna merangsang tumbuhnya mikroorganisme yang berfungsi sebagai adsorben biologis. sehinga menaikkan proses koagulasinya. Radioiodine biasanya hadir dalam kondisi anion.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 dan bertindak pula sebagai koagulan. Seperti telah dibahas di muka. Cara yang banyak dilakukan adalah pembekuan. Partikel yang dihasilkan berupa granular dan dapat terendapkan serta tersaring secara baik. akan mengidentifikasikan maksimum konsentrasi isotop radioaktif yang dapat terjadi dengan cara tersebut. Pengolahan secara biologis bagi limbah radioaktif yang dikatagorikan ringan biasanya didasarkan atas satu diantara tiga pertimbangan. yang akan mengganggu dalam pengolahan isotop radioaktif secara kimiawi. Secara umum pengolahan secara biologis ini akan berfungsi baik. mungkin mengadung komponenkomponen organik biodegradabel. yaitu polyelectrolite. dilirkan ke badan air dengan mengandalkan pengenceran dan dispersi.FTSL ITB Halaman 89 . seperti senyawa caustic-hydrolised polyacrylamide. Pengolahan secara biologis yang sengaja dibangun mempunyai prinsip identik dengan yang biasa digunakan dalam pengolahan limbah lain. Organisme tertentu di alam dalam hal ini dapat menimbun radioisotop dalam tubuhnya. Diketahui bahwa konsentrasi dari elemen-elemen yang biasa terdapat di alam seperti kalium. Dapat saja terjadi bahwa ikan yang berada dalam sungai yang menerima efluen limbah radioaktif cair dengan konsentrasi phosphorus-32 di bawah konsentrasi maksimum yang diizinkan untuk air minum. Sentrifugasi juga tidak memberikan pemecahan yang baik. Cara yang paling baik yang pernah dilakukan adalah dengan co-presipitasi dengan tembaga sulfida dalam suasana asam. akan dihasilkan cake lumpur tetapi masih mengandung air sampai sekitar 85 %. c. yaitu: (aktivitas per satuan berat organisme)/(aktivitas per satuan berat air) Disamping itu. anion atau dalam bentuk non-ion. Pengolahan dengan pembekuan ini akan mengkonsentrasikan elektrolit yang ada di sekitar partikel koloidnya. bila limbah yang akan diolah tidak bersifat asam atau alkalin. misalnya oleh mikroorganisme semacam bakteria dan algae bersel tunggal. kalsium atau strontium akan lebih tinggi terdapat di tumbuhan air dibandingkan air sekitarnya. lumpur kimiawi yang dihasilkan dari pengolahan tersebut sebagian besar akan bersifat koloidal dan tidak mengendap secara baik serta sulit difilter dalam proses penanganan lumpur. yang dapat hadir sebagai kation. polysaccharida.

hal esensial yang perlu diperhatikan adalah bagaimana agar organisme yang berfungsi tersebut tidak terpengaruh oleh radiasi. Beberapa pengolahan secara biologis yang telah diterapkan misalnya adalah kolamkolam oksidasi. maka perlindungan yang sangat ketat sangat dibutuhkan. maka dibutuhkan materi lain seperti timah atau beton baryte. Namun bila yang dikeluarkannya adalah radiasi beta atau gamma. misalnya dalam aktivitas pemantauan tingkat peluluhan yang telah terjadi. plastik atau aspal. Lumpur yang telah dikurangi kadar airnya dapat dibakar dalam sebuah insinerataor. filter perkolasi (trickling filter). Dosis radiasi yang dibutuhkan agar dapat membunuh 99 % populasi bakteria dalam limbah radioaktif dapat mencapai 100.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 biologis. Dalam proses biologis. sedang abunya ditangani seperti limbah padat. yang dapat dibangun lapis perlapis. misalnya dalam pasangan beton. Hal yang sudah pasti bahwa cara ini sama sekali Enri Damanhuri . Bunker beton tersebut biasanya dilapis lagi dengan logam. Cara lain adalah disingkirkan ke dalam tanah atau ke larutan seperti halnya penanganan limbah padat. penyimpanan dapat dilakukan dalam konstruksi batu bata saja. Menurut penelitian. setelah terlebih dahulu dilapis guna mencegah tersebarnya radioaktif tersebut seperti halnya pengelolaan limbah limbah padat. limbah tersebut dapat dipindahkan dengan mudah. Cara lain dengan memanfaatkan bekas sarana penambangan yang sudah tidak lagi berfungsi. atau dilakukan proses solidifikasi.000 rad. Mikroorganisme pada umumnya lebih resistan dibandingkan organisme yang lebih tinggi. lapisan 9 dengan aspal adalah cukup baik untuk menahan radiasi sampai 10 roentgen. khususnya bagi isotop dengan waktu-paruh lama. Proses anaerobik juga dapat digunakan untuk mengurangi komponen. Penyimpanan Limbah padat dan lumpur : Untuk limbah padat yang dikatagorikan menengah dan tinggi aktivitasnya. maupun secara vertikal. misalnya dalam bentuk parit-parit beton bertulang. maka penyimpanan yang bersifat permanen akan dibutuhkan. Sarana tersebut harus juga mempertimbangkan pekerjaan berat untuk operasi menaikkan dan menurunkan beban yang berat. filtrasi atau seperti pengolahan secara kimiawi untuk limbah radioaktif yaitu pembekuan. Pengaruh tersebut tidak terlihat secara nyata kecuali dalam tingkat aktivitas yang tinggi. Pengolahan lumpur yang dihasilkan adalah identik dengan pengolahan limbah lain. Penempatan secara vertikal baik untuk penyimpanan jangka panjang. Penyingkiran Limbah Padat dan Lumpur: Penanganan akhir dari limbah padat atau lumpur adalah dalam bentuk penyingkiran dalam tanah atau dalam lautan. Konstruksi kontainer atau bunker tersebut dapat terbuat dari beton bertulang setebal 2 meter. Misalnya tinja dari manusia yang mengandung iodine-131 atau phophorus-32 akibat kegiatan kelinis seseorang. Namun diperlukan perhatian agar beban sel yang diatas tidak akan langsung bertumpu pada sel limbah yang ada di bawahnya. Beton bertulang digunakan terutama karena alasan biaya. proses lumpur aktif dan saringan pasir lambat. Dengan cara demikian. Tinja tersebut membutuhkan waktu tunggu lebih dahulu sebelum bebas dibuang pada riolering kota yang dilengkapi dengan pengolah limbah secara terpusat. kolam-kolam atau saluran-saluran biologis yang ditamani tumbuhan air. Beton baryte dua kali lebih aman dari beton biasa.FTSL ITB Halaman 90 . dan limbah padat disimpan di sana sampai keaktifannya menjadi tidak membahayakan. supernatan tetap dialirkan kembali pada pengolahan limbah cairnya. namun penempatan secara horizontal cocok untuk penyimpanan jangka pendek. yang dapat berbentuk tabung-tabung yang dapat dimasukkan ke dalam bunker secara vertikal. sehingga praktis tidak terdapat bahaya radiasi. seperti pengeringan pada media berbutir. Dalam hal limbah aktif tersebut hanya menghasilkan radiasi alfa. Walaupun demikian.komponen materi organik yang dikandungnya dan dikonversi menjadi gas metan. penyingkiran dalam tanah dapat dilakukan dengan pembuatan lobang-lobang raksasa yang disiapkan dengan penuh kehati-hatian. Dalam hal limbah yang akan disimpan sangat aktif. Bangunan tersebut dapat terdiri dari beberapa sel. namun biayanya tiga kali lebih mahal. Dalam beberapa hal dibutuhkan penyimpanan yang bersifat sementara. Dalam hal ini perlu adanya kontrol bahwa supernatan yang dihasilkanya tidak mengeluarkan aktivitas radioaktif yang menganggu. Penggunaan bahan baja atau keramik dapat pula dipertimbangkan sebagai kontainer sebelum dimasukkan ke dalam bunker tersebut.

Sarana tersebut hendaknya memenuhi dua persyaratan. menunjukkan bahwa ternyata tidak terjadi bahaya radiasi di sekitarnya. Masalah pertama adalah waktu untuk menyimpan. Pengalaman yang diterapkan di Amerika. Ditinjau dari sifat kimiawi limbah tersebut akan terus berubah. baik berbentuk padat maupun cair. yaitu kurang dari beberapa milicurie dapat dicampur dan dibuang dengan limbah lain dan ditangani sebagai limbah berbahaya biasa. diperlukan perlakuan khusus agar sifat radioaktifnya tidak menyebar keluar. Cara lama yang masih diterapkan untuk limbah yang dianggap mempunyai keaktifan rendah.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 bukan bertujuan untuk mengurangi keaktifan limbah tersebut tetapi sekedar menyimpan menunggu selesainya waktu paruhnya. Pelaksanaan di lapangan ternyata lebh rumit terutama untuk jenis limbah menengah dan tinggi. sedang limbah radioaktif dengan katagori menengah dan tinggi harrus disimpan secara aman sampai aktivitasnya menurun sampai tingkat dengan katagori aktivitas rendah. Sebuah materi yang tahan pada limbah pada saat awal. Kekhawatiran lain adalah tersebarnya limbah tersebut akibat terjadinya retakan atau terjadinya ketidak homogenan media. yaitu dengan mengkapsulinya dengan bahan yang dikenal baik dapat menahan radiasi limbah tersebut. namun pula lingkungannya yang dapat dikatakan jauh dari homogen. sedangkan ruthenium-106 terdeteksi pada jarak 370 meter dalam jangka waktu yang sama. Jadi konsep umum peyingkiran limbah radioaktif ini adalah. tekstur. Analisis laboratorium menunjukkan bahwa radionuklisida yang mengalir dalam tanah tanpa menagalami absorpsi (tidak terserap dalam penukar ion tanah) adalah ruthenium. Sarana yang dibangun dikelilingi dengan sumur-sumur pemantau yang relatif banyak (bisa mencapai lebih dari 50 sumur) dalam jarak yang berbeda. Masalah kedua yang muncul adalah pemilihan jenis sarana penyimpan. Sarana tersebut oleh karenanya harus tetap dimonitor secara rutin. sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi arah aliran air. porositas dan sifat-sifat tanah lainnya terutama dikaitkan dengan transportasi dan penyebaran pencemar limbah berbahaya tersebut. Diperlukan studi yang sangat mendalam termasyuk studi tentang stratifikasi.FTSL ITB Halaman 91 . bahwa limbah dengan tingkat aktivitas rendah. yang bisa mencapai ratusan tahun. serta seberapa baik fungsi penukar ion tersebut. Ion nitrat dideteksi pada jarak 520 meter dari sumbernya setelah 8 tahun. maka hal ini perlu juga mendapat perhatian. Banyaknya limbah yang akan disingkirkan akan tergantung pada kapasitas penukar ion media tersebut. Hal ini merupakan pertanyaan yang sulit untuk terjawab di lapangan. materi radioaktif dapat saja dicampur dengan materi lain. yang pertama harus mampu menahan radiasi jangan sampai ke luar dan yang kedua tahan terhadap penggunaan jangka panjang. sehingga sifat-sifat material penyimpan harus memperhatikan hal ini. Penyimpanan dalam fase cair relatif lebih sulit dibandingakan Enri Damanhuri . Ion-ion nitrat merupakan ion yang bergerak relatif cepat. misalnya tahan terhadap korosi. Adanya sifat peluluhan radioaktif akan menyebabkan ketidakstabilan dari limbah yang dihasilkan kemudian serta media yang dilaluinya. Untuk itu sebelum disingkirkan. sampai aktivitasnya menjadi sedemikian rendah dan tidak menghadirkan bahaya radioaktif lagi bila disingkirkan dalam cara-cara biasa seperti dalam landfilling. Kontainer atau sarana penyimpan tersebut harus bertahan sesuai kondisinya semula. bagi limbah denga waktu paruh lama. Ruthenium-106 adalah satusatunya radionuklisida yang teridentifikasi dalam sumur pemantau. seperti lempung yang memounyai konsep identik dengan penukar ion. adalah menyingkirkannya dalam tanah yang sangat kedap dan dianggap mempunyai kemamppuan penukaran ion. Hal ini akan menjadi masalah dengan meningkatnya limbah tersebut akibat penggunaan dan pengembangan industri nuklir dewasa ini. Sulit memprediksi bahagiamana kestabilan sarana tersebut sampai ratusa tahun. termasuk dengan limbah lain terutama yang bersifat penukar ion. misalnya dari limbah radioaktif rumah sakit. karena terkait erat dengan pengetahuan rinci dan lengkap bukan saja sifat-sifat tanah. Oleh karena limbah radioaktif yang akan dingkirkan adalah masih berbentuk cairan. seperti lapisan timah dan sebagainya. Dalam metode disperasl. bisa saja menjadi terkorosi setelah limbah tersebut mengalami perubahan. Konsep penyingkiran limbah radioaktif ini bersasaran menyingkirkan limbah agar tidak akan mengganggu lingkungan sampai keaktifannya terluluhkan dengan sendirinya sampai tingkat yang diperbolehkan. sifat imbah yang disimpan akan berubah sesuia dengan perubahan waktu.

Oleh karenanya. Kontainer yang digunakan untuk menyingkirkan jenis limbah ini harus mempunyai kriteria: . namun pula terhadap benda-beda di sekitarnya: binatang. Pertama karena sifat cair akan lebih intik kontak dengan media sekitarnya. Oleh karenanya.tidak mudah rusak atau pecah sebelum dan setelah disingkirkan. bila terbukti pengencernya bukanlah limbah yang dikatagorikan aktif. Elemen-elemen radioaktif tersebut biasanya terkonsentrasi di tulang yang prakktis tidak dikonsumsi oleh manusia. seperti penguburan dalam tanah atau dalam bekas tambang. Pembungkusan terlebih dahulu limbah diperlukan sebelum disingkirkan ke dalam tanah terutama bagi limbah dengan katagopri tingkat keaktifannya tinggi. Pembungkusan dilakukan seperti dalam penyimpanan. yaitu dalam bentuk paking dalam kontainer baja atau pasangan beton. walaupun proses korosif berjalan lambat. misalnya karena kegiatan binatang seperti tikus dan sebagainya. perlu diperhatikan bahwa limbah tersebut harus aman di tempatnya dalam jangka waktu yang lama. dengan syarat bahwa aktivitas limbah yang akan dibakar tersebut tidak lebih dari 30 µCi per harinya. daerah sekitarnya kemungkinan akan menjadi steril untuk selamanya. dengan volume tidak lebih dari 0. Penyingkiran limbah ke dalam tanah hanya cocok bagi limbah dengan aktivitas rendah. Dalam jangka waktu tertentu. Limbah radioaktif yang langsung ditanam dalam tanah harus diulindungi terhadap kemungkinan muncul ke permukaan. ikan. maka tidak diperkenankan lebih dari 10 mCi selama 4 minggu secara terus menerus. seperti dari kegiatan rumah sakit. tanah. Masalah yang sangat diperhatikan kemungkinan terbawanya limbah tersebut akibat air eksternal.1 m3. Monitoring dibutuhkan bukan saja terhadap air tanah memalui sumur-sumur pemantau. Buangan padat dapat diinsinerasi. Cara lain yang digunakan adalah penyingkiran dalam bekas tambang. penelitian bila aktivitasnya adalah: a. persoialan yang dihasapi oleh limbah radioaktif dengan tingkat yang menengah dan tinggi adalah bagaimana memecahkan masalah tersebut. Buangan padat dapat disimpan/disingkirkan dalam landfill buangan berbahaya biasa bila ternyata seluruh komponen di dalamnya mempunyai aktivitas lebih kecil dari 1 µCi. Lubang-lubang tambang yang digunakan dipilih ketat yaitu yang tidak mempunyai hubunganb dengan daerah sekitarnya. Enri Damanhuri . Disamping itu. Untuk menjamin pengenceran yang cukup. Pembuangan ke lautan dalam dianggap salah satu penyingkiran yang paling aman bila dilakukan secara baik. dan total aktivitas untuk setiap pembebanan adalah lebih kecil dari 10 µCi. Limbah cair dapat dicampur dengan limbah sistem riolering perkotaan yang ada (menuju pengolahan limbah terpusat). serta masalah jangka panjang untuk mendapatkan area yang cukup dan cocok untuk itu.bebas dari ruang-ruang yang kosong sehingga limbah tidak mudah keluar bila terjadi kebocoran. Cara ini merupakan cara yang terakhir karena praktis tidak mungkin lagi diambil bila terjadi sesuatu. Kedalaman penananaman sedemikiaian rupa sehingga tidak mengganggu pertumbuhan di sekitarnya. maka batasan tersebut menjadi 2 mCi. c. 3 jenis cara penyingkiran untuk limbah radioaktif yang tergolong rendah. reptil.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 penyimpanan dalam fase padat.FTSL ITB Halaman 92 . Hal yang kedua. Dalam hal ini terdapat dua kemungkinan penanganan limbah sebelum disingkirkan. sehingga kemungkinan terjadinya korosi akan lebih besar. Salah satu masalah yang mungkin timbul adalah kemampuan ikan atau organisme laut lainnya dalam mengkonsentrasikan limbah radioaktif ini dalam fenomena biomagnifikasi. . daun. Dalam aplikasi di Inggeris. b. sedang abunya yang akan ditangani adalah sesuai dengan butir (a) di atas. sifat cair akan memungkinkan mengalir ke tempat lain akan lebih leluasa dibandingkan bagian padat bila terjadi kebocoran dalam kontainer. insek dan sebagainya. batasan yang digunakan adalah jumlah limbah yang ditanam maksimum nuklisida adalah adalah 100 mikrocurie/bulan bagi limbah dengan waktu-paruh lebih dari 1 tahun dan 1 milicurie/bulan untuk limbah dengan waktu-paruh kurang darui 1 tahun. Bila sistem tidak dihubungkan dengan riolering kota. yaitu limbah tersebut langsung dibuang/didingkirkan atau limbah tersebut 'dibungkus' terlebih dahulu. Cara ini menghilangkan keberatan-keberatan yang ada dengan cara lain. Solidifikasi akan merupakan salah satu jawaban dalam usaha-usaha menanggulangi hal ini.

1960 . Insinerasi limbah combustibel tidak diterapkan secara luas. Peralatan pencegahan pencemaran udara seperti filter. 1978 . 1991 Enri Damanhuri . maka tidaka akan timbul masalah radiasi. Wiley & Sons Inc.C. Porteus (Editor): Hazardous Waste Management Handbook. Addison-Wesley Publishing Company. scrubber. Nemerow: Industrial Water Pollution. Englewood Cliffs. Masters: Introduction to Environmental Engineering and Science. Referensi Utama: . kadangkala dilapis dengan lapisan beton sesuai dengan karakteri atau tingka keaktifan limbahnya. 1985 .J.A. presipitator elektrostatis.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 - mempunyai densitas paling tidak 1. Produk akhir yang dikeluarkan. Abu yabng terkumpulkan kemudian ditangai seperti halnya limbah padat radioaktif.2 gram/cm .Gilbert M. pengendap dan sebagainya. dapat digunakan untuk menangkap partikulat yang terbentuk. Suatu pengukuran yang dilakukan adalah bila rata. Butterworth. mempunyai betuk dan ukuran yang mudah untuk ditangani 3 Drum-drum baja merupakan kontainer yang paling sering digunakan. yaitu abu atau gas yang keluar dari cerobong akan tetap bersifat radioaktif. Collins (Editor): Radioactive Wastes. Masalah utama yang muncul adalah gas yang dikeluarkan yang dapat menyebar secara luas.rata tingkat radiasi di permukaan kontainer adalah tidak lebih dari 20 milirad per jam.FTSL ITB Halaman 93 . Prentice Hall.Nelson L.

maka dibutuhkan program kesehatan kerja yang mencakup: o Penggunaan bahan yang aman atau bahan yang lebih tidak berbahaya. Rumah sakit dengan aktifitasnya: o Rumah sakit umum o Rumah sakit khusus o Sanotarium o Aktifitas spesifik dalam sebuah rumah sakit misalnya : paediatric. Penggunaan insinerator untuk limbah rumah sakit kelompok biomedis banyak diterapkan. Bahan kimia dari institusi kesehatan akan merupakan sumber pencemaran yang potensial. dan bila mungkin dilakukan daur-ulang sehingga tidak masuk dalam penanganan limbah kota. Sebetulnya cara ini tidak disarankan karena akan mendatangkan masalah pada pengolah limbah kota. o Penggunaan analisis epidemiologis untuk menentukan apakah kelompok atau sub kelompok tertentu akan mengalami resiko berlebihan terhadap penyakit tertentu. mata dan telinga. orthopaedic. Jenis perawatan/aktivitas kesehatan yang dapat menghasilkan limbah adalah : a.FTSL ITB Halaman 94 . Namun penggunaan disinfektan harus diminimalkan bila terdapat alternatif lain. Disamping itu. o Penggunaan wadah dengan warna yang berbeda untuk setiap jenis limbah. terutama bila dilairkan melalui sistem rioreling. tetapi pengoperasian yang tidak baik akan mendatangkan masalah pencemaran udara. Pada dasarnya limbah yang dihasilkan harus dipisahkan atau dikonsentrasikan di institusi itu sendiri untuk memudahkan penggolongannya.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 BAGIAN VII LIMBAH MEDIS DAN RUMAH TANGGA 1 LIMBAH MEDIS Terdapat tiga katagori orang yang dapat terpapar dengan limbah berbahaya dari rumah sakit. sarung tangan). misalnya mereka yang terikat kontrak kerja seperti tukang cuci. Penggilingan limbah sisa makanan banyak diterapkan di negara undustri untuk kemudian dimasukkan dalam system saluran air (riolering) limbah kota. seperti resiko pencemaran udara. tukang sampah dan sebagainya o Pasien rawat jalan seperti yang sedang menjalani dialisis darah o Pengunjung Untuk mengurangi resiko kesehatan sehubungan dengan limbah rumah sakit ini. Klinik: o Ruang dokter dan perawat o Pusat dialysis o Pusat penanganan kecanduan alcohol o Pusat penanganan kecanduan obat bius o Klinik bersalin o Klinik thrombosis. Tinja dan urin dari pasien yang diisolasi karena penyakit menular perlu didisinfektan terlebih dahulu sebelum digabung dengan sistem riolering. o Penggunaan pewadahan tertutup untuk bahan-bahan yang bersifat volatil. Limbah yang bersifat umum atau limbah infectious yang telah ditangani secara baik dapat dibuang pada landfill kota dengan syarat-syarat khusus disertai pengawasannya. o Penggunaan alat pelindung (masker. yaitu: o Pasien dan personel dari rumah sakit o Personel yang memberikan pelayanan. o Penggunaan ventilasi yang baik sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan kerja. perhatian hendaknya diberikan pada kemungkinan pengaruh resiko tersebut terhadap masyarakat luar. terbakar. c. penyakit-penyakit pernafasan b. Asrama dan sejenis: Enri Damanhuri . oncolagy. rehabilitasi. air dan tanah. psychiatric. o Pemantauan rutin terutama terhadap aktivitas yang beresiko tinggi.

o Limbah farmasi. mutagenic. bangkai binatang. o Benda-benda tajam. Limbah dari pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dapat diklasifikasikan dalam beberapa katagori utama. termasuk untuk hewan maupun genetis.asam animo. o Limbah berpotensi menular (infectious). plasenta. penelitian. pathology. makanan binatang noninfectious. Sebagai gambaran. o Limbah kimiawi. kimiawi. dan dihasilkan dari analisis in-vitro terhadap jaringan tubuh dan cairan. Kegiatan-kegiatan penunjang: o Bank darah o Apotik o Pusat pelatihan medis o Ruang mayat o Ruang steril o Ruang cuci pakaian o Ruang teknis o Laboratorium : klinis. o Limbah patologis (jaringan tubuh). Seluruh jenis limbah ini dapat mengandung limbah berpotensi infeksi.24 Penelitian yang dilakukan di RSHS Bandung oleh Jurusan Teknik Lingkungan ITB (1993) memberikan angka rata-rata sebesar 2. bagian tubuh. misalnya obat-obatan cytotoxic. o Limbah radioaktif. reaktif terhadap air. darah dan cairan tubuh o Limbah radioaktif: dapat berfase padat. Kadangkala. pembersihan / pemeliharaan atau prosedur desinfeksi. yaitu (Kg/bed/hari): o Sepanyol : 1. o Limbah berpotensi menularkan penyakit (infectious): mengandung mikroorganisme patogen yang dilihat dari konsentrasi dan kuantitasnya bila terpapar dengan manusia akan dapat Enri Damanhuri . haemathology. cair maupun gas yang terkontaminasi dengan radionuklisida.0 o USA : 4.25 sampai 3. garam-garam organik lainnya. limbah dari cuci serta materi lain yang tidak membutuhkan penanganan spesial atau tidak membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan o Limbah patologis: terdiri dari jaringan-jaringan. teratogenic dan lain-lain). dilanjutkan dengan sifat-sifat spesifik seperti genotoxic (carcinogenic.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 o Perawat o Rumah jompo o Rumah sakit jiwa d. yaitu dapat ditinjau dari sudut: toksik. Diskripsi umum tentang katagori utama limbah rumah sakit adalah: o Limbah umum: sejenis limbah domestik. maupun dihasilkan dari prosedur therapetis o Limbah kimiawi: dapat berupa padatan.4 o Inggeris : 0.12 Kg/bed/hari. reaktif (eksplosif. o Kontainer dalam tekanan. di bawah ini diberikan beberapa angka [21]. yaitu: o Limbah umum. limbah residu insinerasi dapat dikagorikan sebagai limbah berbahaya bila insinerator sebuah rumah sakit tidak sesuai dengan kriteria.2 sampai 4.FTSL ITB Halaman 95 . cairan maupun gas misalnya berasal dari pekerjaan diagnostik atau penelitian. atau tidak dioperasikan sesuai dengan kriteria.1 sampai 5. limbah kimiawi yang tidak berbahaya adalah seperti gula. Pertimbangan terhadap limbah ini adalah seperti limbah berbahaya yang lain. asam. organ. dan shock sensitive). o Limbah citotoksik. korosif. atau analisis in-vivo terhadap organ tubuh dalam pelacakan atau lokalisasi tumor. Timbulan limbah dari kegiatan rumah sakit bervariasi dari satu institusi ke institusi sesuai dengan besarnya aktivitas. mudah terbakar (flammable). Limbah rumah sakit merupakan campuran yang heterogen sifat-sifatnya.2 sampai 6.3 o Belanda : 1. bahan pengemas.

stok hewan atau mikroorganisme. obat-obatan dan bahan kimiawi yang dikembalikan dari ruangan pasien isolasi. cairan tubuh. Katagori yang termasuk limbah ini antara lain jaringan dan stok dari agen-agen infeksi dari kegiatan laboratorium. bahan mikrobiologi atau bahan citotoksik Limbah farmasi (obat-obatan): produk-produk kefarmasian. organ. dari ruang bedah atau dari autopsi pasien yang mempunyai penyakit menular . filter. sedang bahan-bahan tajam yang terinfeksi diperlakukan sebagai limbah berbahaya.FTSL ITB Halaman 96 . pisau. kaca pecah. kuku. Untuk memudahkan pengenalan berbagai jenis limbah yang akan dibuang. Limbah darah dan cairan manusia atau bahan/peralatan yang terkontaminasi dengannya. bagian terkontaminasi dengan darah. digunakan pemisahan dengan kantong-kantong yang spesifik (biasanya dengan warna yang berbeda atau dengan pemberian label). penanganannya adalah identik dengan limbah kota yang lain. o Limbah-limbah benda tajam seperti jarum suntik. pacahan kaca dan sebagainya. Untuk limbah yang bersifat umum.15 % dari seluruh volume limbah kegiatan pelayanan kesehatan. o Limbah laboratorium mikrobiologi: jaringan tubuh. Dari sekian banyak jenis limbah klinis tersebut. Daur ulang sedapat mungkin diterapkan pada setiap kesempatan. Jenis dari limbah ini secara spesifik adalah: o Limbah human anatomical: jaringan tubuh manusia. syring. bulu. pengangkutan atau tindakan terapi citotoksik Kontainer di bawah tekanan: seperti yang digunakan untuk peragaan atau pengajaran. bangkai. gunting. Limbah yang harus dipisahkan dari yang lain adalah limbah patologis dan infektious. atau dari pasien yang diisolasi. Bahan-bahan tajam yang terinfeksi harus dibungkus secara baik serta tidak akan mencelakakan pekerja yang menangani dan dapat dibuang seperti limbah umum. vaksin.bahan tersebut. namun bisa pula dibuang ke landfill bila dilakukan pengumpulan terpisah dan pengaturan pembuangan o Kantong warna biru muda atau transparans strip biru tua : limbah yang harus masuk ke autoclave sebelum ditangani lebih lanjut. atau materi yang berkontak dengan pasien yang menjalani haemodialisis (tabung. daluwarsa atau terkontaminasi atau harus dibuang karena sudah tidak digunakan lagi Limbah citotoksik: bahan yang terkontaminasi atau mungkin terkontaminasi dengan obat citotoksik selama peracikan. Sasaran pengelolaan limbah rumah sakit adalah bagaimana menangani limbah berbahaya. Limbah yang telah dipisahkan dimasukkan kantong-kantong yang kuat (dari pengaruh luar ataupun dari limbahnya sendiri) dan tahan air atau dimasukkan dalam kontainer-kontainer Enri Damanhuri . Limbah ini biasanya hanya 10 . tabung yang mengandung gas dan aerosol yang dapat meledak bila diinsinerasi atau bila mengalami kerusakan karena kecelakaan (tertusuk dan sebagainya). Limbah darah yang tidak terinfeksi dapat dimasukkan ke dalam saluran limbah kota dan dibilas dengan air. menyingkirkan dan memusnahkannya seekonomis mungkin.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 o o o o menimbulkan penyakit. rambut dan muka o Limbah tubuh hewan: jaringan-jaringan tubuh . namun higienis dan tidak membahayakan lingkungan. Benda-benda ini mungkin terkontaminasi oleh darah. maka yang membutuhkan sangat perhatian khusus adalah limbah yang dapat menyebabkan penyakit menular (infectious waste) atau limbah biomedis. sarung tangan dan sebagainya) atau materi yang berkontak dengan binatang yang sedang diinokulasi dengan penyakit menular atau sedang menderita penyakit menular Benda-benda tajam yang biasa digunakan dalam kegiatan rumah sakit: jarum suntik. darah. Kontainer-kontainer dibawah tekanan (aerosol dan sebagainya) tidak boleh dimasukkan ke dalam insinerator. atau bahan atau peralatan laboratorium yang berkontak dengan bahan. atau telah tertumpah. serbet. Tidak termasuk dalam katagori ini adalah urin dan tinja. Limbah infectious beresiko tinggi perlu ditangani terlebih dahulu dalam autoclave sebelum menuju pengolahan selanjutnya atau sebelum disingkirkan di landfill. Beberapa contoh warna yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI adalah: o Kantong warna hitam: limbah sejenis rumah tangga biasa o Kantong warna kuning: semua jenis limbah yang harus masuk insinerator o Kantong warna kuning strip hitam: limbah yang sebaiknya ke insinerator. tetapi tidak termasuk gigi. bagian-bagian tubuh. gunting. gaun. dan sebagainya. tetapi tidak termasuk gigi. d. organ. gunting kuku dan sebagainya yang dapat menyebabkan orang tertusuk (luka) dan terjadi infeksi. sedang yang terinfeksi harus diperlakukan sebagai limbah berbahaya.

Bila digunakan kantong dan terlebih dahulu harus masuk autoclave. tetrahydrofuran. misalnya oleh Dinas Kebersihan setempat. namun cara ini tidak boleh digunakan untuk limbah patologis dan infectious. diatur seperti halnya aturanaturan yang berlaku pada limbah berbahaya lain. metal azide. Si. misalnya jenis kontainer.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 logam. gula dan sebagainya o kelompok kimia anorganik: bikarbonat (Na. Ca). Su dan Ti. Fe. bromida (Na. Ca). Mg. Karbonat (Na. Kontainer harus ditutup dengan baik sebelum diangkut. phosphor (merah dan putih). Na. iodida (Na. Mg. maka kantong-kantong itu harus bisa ditembus oleh uap sehingga sterilisasi dapat berlangsung sempurna. Li. transportasi limbah ini bisa menggunakan cara pneumatis dengan perpipaan. Alat angkutan atau sarana pembawa tersebut harus dicuci secara rutin dan hanya digunakan untuk membawa lim bah. sulfuryl chloride. vinylidene chloride. K). K. etylene glycol dimethyl ether (glyme). Mg. Bagi limbah kimiawi yang tergolong tidak berbahaya. As. Kantong-kantong yang digunakan dibedakan dengan warna yang seragam dan jelas. Limbah berbahaya dari rumah sakit yang akan diangkut. Di rumah sakit modern. o 12 bulan: acrylonitrile. tetrahydronaphtalene. vinyl chloride. Secara internal. methyl acethylene. sehingga tidak boleh dibuang melalui sistem riolering. asam-asam amino dan garamgaramnya. Mg. bahan kimia peroksida. dan Na. P. maka bila memungkinkan untuk didaur ulang. hidrida dari Al. sulfat (Na. chlorotrifluoroethylene. borat (Na. NH4). Mg. logam halida dari Al. harus tidak mengandung resiko terhadap kesehatan pengangkut tersebut. K. Limbah reaktif yang berasal dari rumah sakit adalah senyawa-senyawa seperti: o Shock sensitive: senyawa-senyawa diazo. Disamping warna yang seragam.K). NH4. thionyl chloride. Mobilitas dan transportasi limbah baik internal maupun eksternal hendaknya dipertimbangkan sebagai bagian menyeluruh dari sistem pengelolaaan dari institusi tersebut. asam citris dan garam-garamnya (Na. K. B. kantong tersebut diberi label atau simbol yang sesuai. K). Namun kontainer maupun kantong-kantong yang digunakan harus jelas tertulis atau tertandai sebagai limbah tidak berbahaya. reagen alkyl lithium. reagen Grignard. K.FTSL ITB Halaman 97 . phosphorus oxychloride. polynitroaromatic. dan diisi secukupnya agar dapat ditutup degan mudah dan rapat. dicyclopentadiene. K. Limbah radioaktif juga harus mempunyai tanda-tanda yang standar dan disimpan untuk menunggu masa aktifnya terlampaui sebelum dikatagorikan limbah biasa atau limbah berbahaya lainnya. Contoh limbah kimiawi yang tidak tergolong berbahaya adalah: o kelompok kimia organik: asetat (Ca. K. khlorida (Na. flourida (Ca). vinyl ether. phosphorus pentoxide. Aturan yang berlaku bagi limbah kimiawi dari rumah sakit ini adalah identik dengan penangan limbah kimiawi dari sumber industri. K.larutan boron trifluorida. o Bahan reaktif lain: asam nitrit diatas 70%. diethylene glycol dimethil ether (diglyme). Mg Ca. maka limbah ini dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam kontainer untuk ditangani seperti limbah biasa. nitro cellulose. isoprophyl ether. Seluruh bahan kimia peroksida di atas harus diberi tanggal begitu digunakan dan penyimpanannya (setelah dibuka) terbatas dengan lama penyimpanan maksimum: o 3 bulan: diethyl ether. Ca dan NH4). Limbah kimiawi berbahaya yang tidak dapat didaur-ulang segera dipisahkan sesuai dengan jenisnya dan pengolahannya. Ca). S. Mg. lactic dan garamgaramnya (Na. diacetylene. perchloric acid. larutan. Limbah yang akan diangkut ke luar. K). Ca. tanda-tanda dan tata caranya. o Water reactive: logam-logam alkali dan alkali tanah. garam-garam picrat. cyclohexane. sodium amide. butadiene. dioxane. Secara umum jenis pengolahan limbah rumah sakit adalah : Enri Damanhuri . Ca dan NH4). limbah biasanya diangkut dari titik penyimpanan awal manuju area penampungan atau menuju titik lokasi insinerator. asam picric. decahydronaphthalene. Sb. karena limbah jenis ini kadangkala toksik dan flammable. oksidaoksida (B. misalnya melalui sebuah insinerator. Ca). o 24 bulan: acetat. garam-garam perchlorat.

Limbah farmasi: obat-obatan yang tidak digunakan dikembalikan pada apotik. xylene. Enri Damanhuri . Limbah kimia: o Bagi limbah kimia yang tidak berbahaya. yaitu di bawah 1 megabecquerel (MBq) o Limbah radioaktif dari rumah sakit dapat dikatakan tidak mengandung bahaya yang signifikan bila ditangani secara baik o Penangan limbah dapat dilakukan di dalam area rumah sakit itu sendiri. sebelum dibakar dalam insinerator g. acetone dan alkohol lainnya yang dapat diredistilasi – Solven organik lainnya yang tidak toksik atau tidak mengeluarkan produk toksik bila dibakar dapat digunakan sebagai bahan bakar – Asam-asam khromik dapat digunakan untuk membersihkan peralatan gelas di laboratorium.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 a. manometer dan sebagainya dikumpulkan untuk didaur-ulang . limbah jenis ini dilarang untuk diinsinerasi karena akan menghasilkan gas toksik – Larutan-larutan pemerosesan dari radioaktif yang banyak mengandung silver dapat direklamasi secara elektrostatis – Batere-batere bekas dikumpulkan sesuai jenisnya untuk didaur-ulang seperti : merkuri. penanganannya adalah identik dengan limbah lainnya yang tidak termasuk katagori berbahaya o Konsep penanganan limbah kimia yang berbahaya adalah identik dengan penjelasan sebelumnya yang terdapat dalam diktat ini tentang limbah berbahaya o Beberapa kemungkinan daur-ulang limbah kimiawi berbahaya misalnya : – Solven semacam toluene. Benda-benda tajam: Dikemas dalam kemasan yang dapat melindungi petugas dari bahaya tertusuk. f. h. Limbah patologis: o Pengolahan yang dilakukan adalah dengan sterilisasi. sedangkan yang tidak dipakai lagi ditangani secara khusus misalnya diinsinerasi atau di landfilling atau dikembalikan ke pemasok. autoclave tidak dibutuhkan bila limbah tersebut telah diwadahi dan ditangani secara baik sebelum diinsinerasi. b. misalnya: disinfektan. baik secara on-site maupun off-site. c.FTSL ITB Halaman 98 . Limbah berpotensi menularkan penyakit (infectious): Memerlukan sterilisasi terlebih dahulu atau langsung ditangani pada insinerator . insinerasi dilanjutkan dengan landfilling o Insinerasi merupakan metode yang sangat dianjurkan. Kontainer-kontainer di bawah tekanan: di landfilling atau didaur-ulang. kantong-kantong yang digunakan untuk membungkus limbah juga harus diinsinerasi. o Solven yang tidak diredistilasi harus dipisahkan antara solven yang berhalogen dan nonhalogen. dan umumnya disimpan untuk menunggu waktu paruhnya telah habis. Limbah radioaktif: o Bahan radioaktif yang digunakan dalam kegiatan kesehatan/medis ini biasanya tergolong mempunyai daya radioaktivitas level rendah. sedang residunya yang mungkin mengandung logam-logam berbahaya dibuang ke landfill yang sesusai. oli dari trafo dan kapasitor atau dari mikroskop yang mengandung PCB dan sebagainya. sehingga perlu ditangani sesuai jenisnya e. dikemas dan diberi tanda serta dibakar pada insinerator. atau didaur-ulang untuk mendapatkan khromnya – Limbah logam . kadmium.halogen dapat dibakar pada on-site insinerator o Limbah cytotoxic dan obat-obatan genotoxic atau limbah yang terkontaminasi harus dipisahkan. solven berhalogen membutuhkan penanganan khusus dan solven non. untuk kemudian disingkirkan sebagai limbah non-radioaktif biasa d. Limbah umum: o Tidak diperlukan pengolahan khusus. limbah jenis ini tidak di autoclave karena disamping tidak mengurangi toksiknya juga dapat berbahaya bagi operator o Beberapa jenis limbah kimia berbahaya juga dihasilkan dari bagian pelayanan alat-alat kesehatan. insinerator tersebut harus dilengkapi dengan sarana pencegah pencemaran udara.merkuri dari termometer. dan dapat disatukan dengan limbah domestik o Seluruh makanan yang telah meninggalkan dapur pada prinsipnya adalah limbah bila tidak dikonsumsi dan sisa makanan dari bagian penyakit menular perlu di autoclave dulu sebelum dibuang ke landfill. nikel dan timbal o Insinerator merupakan sarana yang paling sering digunakan dalam menangani limbah jenis ini.

seperti tertera dalam Tabel 7. gas elpiji. tidak terlepas dari penggunaan bahan berbahaya.FTSL ITB Halaman 99 . Produk pembersih: − bubuk penggosok abrasif : korosif − pembersih mengandung senyawa amunium dan turunannya : korosif − pengelantang : toksik. seperti : parfum. semir. termasuk pula bekas pewadahannya seperti bekas cat. pembersih toilet.1 7. yaitu : − di dapur. penggunaan bahan berbahaya agaknya juga sulit dihindari. soda kaustik. Pada dasarnya bahan berbahaya tidak akan menimbulkan bahaya jika pemakaian. cat dan solven pengencer. − di garasi/taman. Survai yang dilakukan di Amerika Serikat menggambarkan porsi limbah pada sampah kota yang berasal dari bahan yang biasa digunakan di rumah di Amerika Serikat. kamfer. pembunuh kecoa − di kamar tidur. alkohol. obat-obatan. penyimpanan dan pengelolaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. tanung bekas pewangi ruangan. seperti kesulitan bernafas. Efek pada kesehatan manusia yang paling ringan umumnya akan terasa langsung karena bersifat akut. oli mobil. maka bahan tersebut akan menjadi limbah. kaporit atau desinfektan. aki bekas Di lingkungan pedesaan serta di lingkungan yang mungkin terlihat asri. khususnya di kota. perekat. seperti : cairan setelah mencukur. yang dampaknya disamping akan menghasilkan residu yang terbuang pada badan penerima alamiah. cairan pmbersih. spiritus / alkohol − di kamar mandi dan cuci. batere. kosmetik. seperti : korek api. asam cuka. korosif − pembersih saluran air : korosif − pengkilap mebel : mudah terbakar − pembersih kaca : Korosif (iritasi) − pembersih oven : korosif − semir sepatu : mudah terbakar − pengkilap logam (perak) : mudah terbakar Enri Damanhuri . misalnya tidak terpapar pada temperatur atau diletakkan agar tidak terjangkau oleh anak-anak. Tabel 7. seperti : pestisida dan insektisida. pupuk. Bahanbahan tersebut digunakan dalam hampir seluruh kegiatan di rumah tangga. Oleh karenanya. seperti adanya lapangan golf dan sebagainya menambah intesifnya penggunaan bahan biosida yang umumnya resistan dan bersifat biokumulasi serta mendatangkan dampak negatif dalam jangka panjang bagi manusia yang terpaparnya. obat-obatan.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 2 LIMBAH BERBAHAYA DARI RUMAH TANGGA Bahan sehari-hari yang digunakan di rumah tangga dewasa ini. hairspray.0 16. shampo anti ketombe.5 6. pembunuh nyamuk − di ruang keluarga. namun dapat pula masih tersisa pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari seperti dalam sayur mayur dan buah-buahan. minyak tanah. seperti penggunaan biosida dalam kegiatan pertanian. iritasi mata atau kulit. Bila bahan tersebut tidak lagi digunakan. kepala pusing. lamban. seperti : pembersih saluran air. air freshener.4 30. Pencampuran dua atau lebih dapat pula menimbulkan masalah.0 Contoh di bawah ini lebih lanjut menggambarkan karakteristik bahaya dari bahan yang biasa digunakan di rumah tangga tersebut di atas : a.1: Limbah berbahaya dari rumah tangga Komponen Penggunaan untuk pembersih Penggunaan untuk perawatan badan Produk untuk otomotif Cat dan sejenisnya Penggunaan rumah tangga lain Persen 40. Kegiatan agrowisata. yang kemungkinan besar tetap berkategori berbahaya.1 di bawah ini. pada kemasan bahan-bahan tersebut biasanya tertera aturan penyimpanan.

Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 − penghilang bintik noda : mudah terbakar − pembersih toilet dan lantai: korosif − pembersih karpet/kain : korosif. sisa tinta dari usaha percetakan/foto-kopi. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain adalah : Enri Damanhuri . Limbah ini akan masuk ke dalam sistim pengelolaan sampah kota.40 % sampah pemukiman yang dibuang ke lahan-urug kota termasuk kategori limbah B3. seperti dari usaha benatu (laundry dan dry cleaning). termasuk limbah patologis. seperti timbulnya : o Gas toksik: bila pembersih mengandung senyawa amonia bercampur dengan pengelantang mengandung khlor o Ledakan: bila tabung sisa bahan yang digunakan secara penyemprotan terbakar di bak sampah Hasil studi di Amerika Serikat oleh USEPA menyimpulkan bahwa 0. minyak tanah : mudah terbakar. Produk otomotif : − cairan anti beku : toksik − oli : mudah terbakar − aki mobil : korosif − bensin. yaitu minimasi dan daur ulang limbah. Perawatan badan: − shampo (anti ketombe) : toksik − penghilang cat kuku : toksik. akan menghasilkan ledakan yang membahayakan akibat tabung pewadah. atau terlepasanya logam-logam berat toksik akibat terpapar dengan temperatur tinggi − Terganggunya proses biodegradasi sistem pengolahan air limbah atau pengolahan di landfilling − Terganggunya produk kompos bila bila tidak dilakukan pemilahan terlebih dahulu Penanganan limbah berbahaya di rumah tangga sebetulnya mempunyai pendekatan yang sama dengan industri.FTSL ITB Halaman 100 . mudah terbakar − herbisida. mudah terbakar b. toksik − pelarut / tiner : mudah terbakar − baterei : korosif dan toksik − khlorin kolam renang : korosif dan toksik − biosida anti insek : toksik. toksik d. atau dari kegiatan industri lainnya. Di Amerika Serikat dikenal konsep small-quantity generator. dibolehkan membuang limbah jenis tersebut ke dalam sistem penyaluran limbah kota. tetapi dapat berasal dari kegiatan medis. mudah meledak Bahan tersebut dapat pula menimbulkan bahaya lain bila bercampur satu dengan yang lain. Di Indonesia agaknya bila didasarkan atas porsi limbah yang masuk ke landfill. limbah berkatagori sampah kota yang berbahaya dapat pula berasal dari kegiatan komersial atau perkantoran. Dengan aturan tersebut.35-0. pupuk : toksik − aerosol : mudah terbakar. Namun adanya bahan tersebut dalam sistem pengolahan limbah kota dapat menimbulkan terganggunya proses pengolahan yang ada. Selain berasal dari pemukiman penduduk. Di bebarapa negara bagian di Amerika Serikat. mudah terbakar − minyak wangi : mudah terbakar − kosmetika : toksik − obat-obatan : toksik c. oli bekas dari bengkel dan sebagainya. penghasil limbah misalnya dari rumah tangga dapat membuang limbahnya bersama sampah kota bila jumlah per bulannya tidak melebihi nilai tersebut. misalnya : − Bila dibakar dalam insinerator. Produk rumah tangga lain : − cat : mudah terbakar. yang membatasi jumlah limbah minimum perbulan yang terkena aturan pengelolaan limbah B3. nilai ini akan lebih tinggi mengingat bahwa yang masuk ke landfill bukan saja dari rumah tangga.

walapun dengan membeli lebih banyak diperoleh biaya persatuannya yang lebih murah Penggunaan produk yang biodegradabel atau terdaur-ulang Pemanfaatan kembali limbah yang terbentuk. ditukarkan dengan produk lain. baik untuk digunakan sendiri. dan apakah telah digunakan semestinya Pembelian yang sesuai kebutuhan. diberikan kepada yang membutuhkan. disertai pengetahuan tentang seberapa lama suatu produk habis digunakan. aturan penggunaan.FTSL ITB Halaman 101 . penyimpanan dan cara pembuangan limbah atau wadah bekasnya Penggunaan produk sesuai kebutuhan.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 − − − − − − Pemilihan produk yang disertai penjelasan lengkap tentang komponen bahan yang digunakan. atau mungkin saja masih bernilai untuk dijual Penanganan limbah atau wadah yang akan dibuang secara baik sesuai petunjuk yang diberikan Enri Damanhuri .

1990 Departemen Kesehatan RI . 1992 CH2M Hill International : Feasibility study . : Organo metallic compounds in the environment. Serpong 9 Januari 1996 Djajadiningrat.Garut. 1960 Cookson Jr. Publishing Co.Goethe Institut. : Radioactive wastes.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 DAFTAR PUSTAKA BAPEDAL : Perencanaan teknis sistem pengolahan air limbah industri penyamakan kulit skala kecil Sukaregang . 1984 Diouhy. : Chemical hazards at water and wastewater treatment plant. LAPI ITB. J.. 1995 Cousteau. Teknik Lingkungan ITB Dames & Moore : Laporan studi kelayakan PPL-B3 .Final report. : Policy for cleaner production . McGraw-Hill Kogakusha Ltd. : Evaluation of remedial action unit operations at hazardous waste disposal sites. E. Bandung June 15-16. : Bioremediation engineering.Jend PPM & PLP : Pedoman Sanitasi RS.Y. McGraw-Hill Book Co. Elsevier Sci. : Diktat kuliah pengelolaan limbah B3 TL-352 Edisi Semeter II 1993/1994.T.Cileungsi Jawa Barat. : Disposal of radioactive waste. 1984 Enri Damanhuri . R. PPLH ITB. Z.J. 2. C.waste wanagement paper no.T. February 1992 Center for Chemical Process Safety : Guidelines for hazard evaluation procedures. 1992 Dept. Lewis Publisher. of the Environment (UK) : Clinical waste . : Environmental protection. 1994 Ehrenfeld.R. 1993 BAPEDAL : Survey industri penyamakan kulit di Sukaregang . DTC ITB .Garut.International seminar on clean products and clean production technologies for sustainable industrial development. Longman Group Limited. E. 1992 Brunner.FTSL ITB Halaman 102 . 1994 Buzzi. Bass. Wiley & Sons Inc. : Almanach cousteau de l'environnement. J. July 1990 Chanlett. 1973 Collins. 1982 Direktorat Pengelolaan Limbah B3 BAPEDAL : Kebijaksanaan impor-ekspor limbah B3 dan non B3 .T. J. : Hazardous waste incineration. American Institute of Chemical Engineers. J. 1981 Craig.workshop implementasi konvensi Basel tentang impor & ekspor limbah scrap logam. S.A. Robert Laffont. 1992 CCME (Canada) : Guidelines for the management of biomedical waste in Canada CCME-EPCWM-42. Noyes Publications. J. McGraw-Hill Book Co.centralized hazardous waste and toxic waste treatment facility GKS region . P. 1986 Damanhuri.C.Dit.

Technique et documentation . M.Inc. H. Prentice Hall Inc. Metry. J. Kennedy. Indonesian waste minimization seminar.. (Editor in chief) : Standard handbook of hazardous waste treatment and disposal.. : Cleaner production and clean product. 1988 Gagnet.R. : Hazardous waste management. USAID background paper # 2. (Editor) : Toxic and hazardous wastes.M. : Land disposal of hazardous waste.K.S. 1991 Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup : Kemitraan nasional dalam pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan : Hasil rapat koordinasi nasional I pengelolaan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan t ahun 1994. Gateway Books. A. : 1995 Guide to industrial estates in Indonesia. Y. 1993 Institution of Civil Engineers : Design and practice guided . 1993 Gronow.A. : Hazardous waste minimization. 1994 LaGrega. 1995 Hanafia WS.contaminated land. 1990 Freeman. I.. : Hazardous and industrial waste treatment.N. 1995 Enri Damanhuri . M.P. Indonesian waste minimization seminar. Proceedings of the 17th Mid-atlantic industrial waste conference. Powell. International seminar on clean products and clean production technologies for sustainable industrial development. Bandung June 15-16.J.J. Semester II 1995/1996 Hirschorn. Jakarta 22-24 November 1994 Keating. : Dechets industriels. Vienna 1992 Jackman.. R. C. Kohpalindo. 1995 International Atomic Energy Agency : Radioactive waste management . USAID background paper # 1. : Hazardous waste treatment technologies. J.L. Technomic Publishing Co.M.D. H. A. Seminar penanganan limbah rumah sakit sebagai upaya mengurangi beban pencemaran lingkungan. Ann Arbor Science.J.Lavoisier. : Government and industry cooperative efforts promoting waste minimization. M. R. Thomas Telford.I. R..L.an IAEA source book. R. A. 1985 Kusnoputranto. Noyes Publications. McGraw-Hill Book Co. 1986 Mann.N.H. : Benefits from industrial application of waste minimization. S.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Freeman. 1982 Kugelman. A : Tenaga atom dan aspek keselamatan. McGraw-Hill Book Co. H. Bahan kuliah program pasca sarjana Teknik Lingkungan. A. Jakarta 14 September 1993 Kusumaatmadja.FTSL ITB Halaman 103 . McGraw-Hill Book Co. John Willey & Sons. 1988 Haas. 1994 Maes. DTC ITB Goethe Institut. M. Schofield. Vamos. : Hazardous waste processing technology. : Bumi lestari menuju abad 21. Jain. : Kualitas limbah rumah sakit dan dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan. 1994 Kiang..

1980 Nemerow.. H. J. 1975. Ann Arbor Science. E. Damanhuri.J.D.L. G. 1991 Meyer. ISBN 979-8456-00-9.. Noyes Data Co.waste stabilization and landfills. : Pengelolaan terpusat buangan B-3 dari industri kecil.UNESCO. Saidi. Robinson. Pergamon Press. G. Pajak.BPP Teknologi . 1982. Studi kasus industri kecil di ‘Gerbangkertasusila’ Jawa Timur. Pesticide Action Network (PAN) Indonesia. dan Gayatri (Penyunting) : Ingatlah bahaya pestisida . McGraw-Hill Ltd.J. Bandung1993 Rich..T. 1973 Ross.J.. Shuckrow. Touhill. BPP Teknologi. E. 1981 Otorita Batam : Rencana detail sistem pengelolaan sampah dan limbah industri di wilayah otorita pengembangan daerah industri pulau Batam. N. Lewis.H. 8. S. 1993/1994 Patterson. Z. G. John Wiley & Sons.W. V.P.bunga rampai : residu pestisida dan alternatifnya. Goethe Institut Jakarta . Van Nostrand Reinhold Co. Butterworths. E. 1978 Novotny. ANRED Moo-Young. PrenticeHall. G.FTSL ITB Halaman 104 . : Hazardous waste leachate management manual. A. 1982 Sittig. : Implikasi impor limbah di Indonesia . : Chemistry of hazardous materials..D. : Industrial water pollution. 1994 Secretariat d'etat a l'environnement et la qualite de la vie : Analyse et caracterisation des dechets industriels. A.W. : Hazardous waste management engineering. Guide pour l'elimination et la valorisation des dechets industriels. Englewood Cliffs. Noyes Data Co. C. : Waste containment systems . Prentice Hall Building. Addison-Wesley Publishing co. 1975 Porteous. A. : Waste treatment and utilization. 1979 Enri Damanhuri .. 1989 Ministere de l'evironnenment (France). Chesters. : Hazardous waste handbook. C. : Landfill disposal of hazardous wastes and sludges. Van Nostrand Reinhold Co.. Inc. second edition. 1984 Sewell.H. E. H. Proceeding seminar : Waste and sustainable development. : Industrial waste land disposal... : Environmental system engineering. 1994 Rachmawati.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Martin. M.M. Johnson. Jakarta Decembre 14-17. M. : Handbook of non-point pollution. L.J. 1992 Sharma. : Wastewater treatment technology. Prentice-Hall.Tantangan Masa Depan. Englewood Cliffs. : Introduction to environmental engineering and science. . Farquhar. Van Nostrand Reinhold Co. Inc. 1985 Riza V.P. R.G. Cahiers No. Proceedings seminar nasional pengelolaan lingkungan ITB . . 1987 Masters. : Environmental quality management.

Theisen. : Integrated solid waste management. Pesticide Action Network. John Wiley and Sons Inc.. fisrt phase : toxic and chemical and hazardous wastes. PT Prasadhana Pamunah Limbah Industri. 1990 Waxman.1 World Health Organization : Management of waste for hospitals. Van Nostrand Reinhold 1977 World Bank ... McGraw Hill Book. L. January 1990 USEPA : Treatment potential for 56 EPA listed hazardous chemicals in soils. 1994 Enri Damanhuri . : Hazardous waste site operations... H. EPA/600/6-88/001 Wagner. Linsley.17/1994/7 USEPA : Handbook of operation and maintenace of hospital medical waste incinerator.FTSL ITB Halaman 105 .P..Bunga rampai . 12083-IND Indonesia environment and development .L. G. WHO/EHE/94. Mott and K.. Economic and Social Commision for Asia .. 1993 United Nations Economic and Social Council : Review of sectoral clusters. Geneva. 1989 Wilson. D. Van Nostrand Reinhold..G..A.challengers for the future. T. C.the London Convention 1972. M. : Handbook of solid waste management. March 21. New York 1995 Anonymous: Pusat pengolahan limbah industri berbahaya dan beracun (PPLI-B3).. Vigil. McGraw-Hill Book. EPA/625/6-89/024.A. 1994 World Health Organization : Healthy and productive lives in harmony with nature. Snyder : Pesticide alert. G. K. 1996 Wentz. : Hazardous waste management. Ingatlah behaya pestisida .the Pasific. : Sea disposal of radioactive wastes .Report no. WHO Regional Office for Europe.Residu pestisida dan alternatifnya.. . E/CN. Report on a WHO meeting. Copenhage 1983 Anonymous: State of the Environment in Asia and the Pasific. IAEA Bulletin 2/1994 Tchobanoglous... : Hazardous waste identification and classification manual..F.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Sjöblom. S.

penyimpanan dan pengangkutan Dokumen pengangkutan. Konvesi Stockholm tentang pencemar organik yg persisten Minggu 3: Peraturan dalam pengelolaan limbah B3 Besaran limbah B3. penanganan limbah medis. toksik. oksidator-reduktor Minggu 7: Bahan kimia organik berbahaya Bahan kimia turunan hidrokarbon. bahan kimia industri. penggolongan limbah. pengelolaan limbah radioaktif (sumber. informasi tingkat bahaya. reaktif (pada air). peluluhan. karakteristik B3 versi undang-2. Love Canal.TL FTSL ITB Minggu 1: Pendahuluan Latar belakang.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 RENCANA KULIAH TL-3204 PENGELOLAAN B3 SEMESTER II . beberapa kasus dunia tentang B3/limbah B3 (Minamata. dokumen MSDS Minggu 6: Sifat-sifat berbahaya bahan kimia Bahan kimia korosif. produk yang tidak sengaja dihasilkan Minggu 8: Ujian Tengah Semester. ---. UU-74/2001. mekanisme cradle-to-grave Minggu 4: Pelabelan. api dan kelas dalam kebakaran. unit satuan. pengolahan. pengemasan-pewadahan.). penanganan Minggu 12 sampai Minggu 14: diskusi kelompok Tugas B Enri Damanhuri .FTSL ITB Halaman 106 . -----) Minggu 10: Idem minggu sebelumnya Minggu 11: Limbah berbahaya kegiatan medis dan rumah tangga Sumber limbah medis. Kabut dioxin Seveso) Minggu 2: Peraturan dalam pengelolaan B3 Penggunaan bahan kimia. limbah berbahaya dari rumah tangga. UU-32/2009 ttg LH. pengangkutan Minggu 5: Labeling dan MSDS Karakteristik umum kimia berbahaya. mudah terbakar. pestisida. simbol dan label. uraian lanjut tentang pengelolaan B3 versi PP 18/99 jo PP85/99. penyimpanan. Tugas A masuk Mingu 9: Bahan radio aktif dan limbahnya Sifat-sifat radioaktif (isotop.

Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 TUGAS A Mahasiswa diminta membuat paper yang membahas sebuah bahan berbahaya dari berbagai literatur atau dari website. Disertasi) yang ada di perpustakaan. atau dari karya ilmiah mahasiswa (Tugas Akhir. TUGAS B Merupakan tugas kelompok maksimum beranggotakan 10 orang. Bahasan-bahasan tersebut harus cukup komprehensif. khususnya yang biasa dijumpai sehari-hari. Tesis. bahan kimia di laboratorium. Naskah tertulis tersebut kemudian dibuatkan bahan presentasinya. oli bekas. lalu mengaitkan dengan kasus yang pernah terjadi baik di dalam negeri maupun di luar negeri yang muncul di masmedia. Referensi harus jelas dicantumkan. Bagian IV dan Bagian V. Enri Damanhuri . termasuk bagaimana seharusnya mengelola dan menghindari terjadinya permasalahan. dan sebagainya. seperti aki bekas. atau dari bahanbahan lainnya yang dapat mendukung ulasan-ulasan tersebut. untuk dipresentasikan dan didiskusikan di kelas.FTSL ITB Halaman 107 . khususnya dengan memasukkan ulasan-ulasan ataupun gagasangagasan yang didasarkan atas tulisan-tulisan seperti peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia atau di negara lain atau dari buku-buku referensi. misalnya Power Point. Referensi harus jelas tercantum. selengkap-lengkapnya seperti diuraikan dalam Bagian II. Mahasiswa diminta membuat paper yang membahas sebuah bahan atau limbah. atau dalam laporan-laporan yang bisa diperoleh di website.