Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

DIKTAT KULIAH TL-3204

PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)

DISIAPKAN OLEH : PROF. ENRI DAMANHURI

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
EDISI SEMESTER II 2009/2010
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 1

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI 2 KATA PENGANTAR 3 BAGIAN I : PENDAHULUAN 1 Umum 4 2 Kasus kucing menari di Minamata 7 3 Kasus love canal (Amerika Serikat) 8 4 Kasus kabut dioxin si Seveso (Italia) 10 5 Kasus Kepone di Hopewell (Amerika Serikat) 11 6 Kasus laha Stringfellow di Kalifornia 12 BAGIAN II : PERATURAN DALAM PENGELOLAAN B3 1 Umum 13 2 Pengelolaan B3 dalam PP 74/2001 14 3 Karakterisasi B3 menurut PP74/2001 18 BAGIAN III : PERATURAN DALAM PENGELOLAAN LIMBAH B3 1 Umum 21 2 Pengelolaan limbah B3 dalam PP18/99 jo PP85/99 22 3 Konsep cradle-to-grave Amerika Serikat 30 BAGIAN IV : PELABELAN, PENYIMPANAN DAN PENGANGKUTAN 1 Umum 35 2 Dokumen 35 3 Simbol dan label 36 4 Pengemasan dan pewadahan 40 5 Penyimpanan dan pengumpulan 44 6 Pengangkutan 48 BAGIAN V : SIFAT DAN KARAKTERISTIK BAHAN KIMIA BERBAHAYA 1 Umum 50 2 Kelas kebakaran 51 3 Informasi tingkat bahaya 52 4 Dokumen material safety data sheets (MSDS) 5 Bahan kimia korosif 56 6 Bahan kimia yang reaktif pada air 60 7 Bahan kimia toksik 64 8 Senyawa pengoksidasi 71 9 Beberapa senyawa organik berbahaya 75 BAGIAN VI : LIMBAH RADIOAKTIF 1 Umum 81 2 Sifta-sifat radioaktivitas 81 3 Pengelolaan limbah radioaktif 85 BAGIAN VII LIMBAH MEDIS DAN RUMAH TANGGA 1 Limbah medis 94 2 Limbah berbahaya dari rumah tangga 99

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 2

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

KATA PENGANTAR

Diktat ini disusun untuk membantu mahasiswa yang mengambil mata kuliah TL3204 Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Kurikulum-2008 pada Program Sarjana Teknik Lingkungan FTSL ITB. Bahan kuliah ini merupakan penyesuaian dari Diktat Kuliah TL-352 Pengelolaan Limbah B3, yang mulai diperkenalkan pada Program Sarjana Teknik Lingkungan ITB Kurikulum 1993. Pada kurikulum-kurikulum sebelum 1993, materi ajar tentang limbah B3 secara terpisah tercakup dalam beberapa mata kuliah yang membahas masalah penanganan limbah. Sejak Kurikulum 2008, materi kuliah Pengelolaan Limbah B3 berganti nama menjadi Pengelolaan B3, yaitu mempertegas bahwa materi kuliah ini bukan hanya membahas limbah, tetapi juga bahan yang berbahaya. Diktat ini disusun dengan acuan 14 sesi pertemuan tatap muka dalam semester II di ITB, termasuk 3 sesi diskusi tugas di kelas. Beberapa bagian dari diktat ini membahas materi yang akan dibahas lebih rinci lagi dalam mata kuliah yang berada pada semester yang lebih tinggi, sehingga materi yang ada dalam diktat ini dapat dikatakan bersifat umum untuk memberikan gambaran secara utuh tentang Pengelolaan B3. Untuk penyusunan diktat ini digunakan beberapa rujukan literatur dari negara industri seperti tercantum dalam Daftar Pustaka. Beberapa rujukan yang sangat dominan dalam penyusunan diktat ini dicantumkan secara khusus pada setiap akhir Bagian. Walaupun diktat ini bertujuan untuk membantu mahasiswa yang mengambil mata kuliah TL-3204 pada Program Sarjana, namun bahan yang diberikan pada Diktat ini relevan untuk digunakan pula pada Program Magister, serta tidak tertutup kemungkinan bahwa diktat ini bisa bermanfaat pula bagi mereka yang berminat dengan masalah bahan dan limbah B-3, sebab sangat jarang sekali bahan ajar ini ditulis secara utuh dalam Bahasa Indonesia. Semoga bermanfat bagi kita semua. Bandung, Februari 2010 Prof. Enri Damanhuri Program Sarjana Teknik Lingkungan FTSP ITB

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 3

khusunya sejak dekade terakhir ini. Sekitar 55% dari pusat-pusat industri di Pulau Jawa berlokasi di daerah perkotaan. Dengan mengetahui komposisi dan memahami bagaimana perubahan terjadi.Distribusi spasial yang belum merata . dan sepuluh kali lipat. Menurut World Bank ada 3 pola pertumbuhan industri yang perlu diperhatikan. Pasal 58 sampai Pasal 61 UU-32/2009 mengatur larangan membuang dan mengatur pengelolaan limbah dan B3. 74/2001 mengatur lebih lanjut tentang pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3). yang berkaitan dengan komposisi materi.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN I PENDAHULUAN 1 UMUM Penggunaan kimia dalam kebudayaan manusia sudah dimulai sejak zaman dahulu. manusia dapat mengontrol dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan manusia. Filipina. dan PP 18/99 juncto 85/99 mengatur lebih lanjut tentang pengelolaan limbah B3. yang kemudian naik menjadi 60% pada tahun 1990. namun materi ini pulalah yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang berbahaya. terutama di daerah industrialisasi yang berkembang dengan cepat seperti di negara-negara ASEAN dan China. juga menimbulkan dampak negatif tidak hanya pada pusatpusat industri dan daerah sekitarnya tetapi juga pada tingkat nasional. Pelepasan bahan berbahaya pada tahun 1990-an di Indonesia. baik secara alamiah maupun sintetis. Surabaya.perminyakan. kegiatan medis dan kegiatan pertanian Undang-Undang No. dengan definisi sebagai bahan berbaya dan beracun. terutama akibat perkembangan industri yang merupakan tulang punggung peningkatan perekonomian Indonesia. yang setara dengan sekitar 27% dari seluruh hasil industri Indonesia. regional dan lingkungan secara global.Kecepatan pertumbuhan sektor industri . tetapi di Enri Damanhuri . yaitu : . menempatkan masalah bahan dan limbah berbahaya sebagai salah satu perhatian utama. Di empat kota saja (Jakarta. 4/1982). Peraturanperaturan tentang masalah ini telah banyak dikeluarkan oleh Pemerintah. Pada permulaan tahun 1970-an. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (menggantikan UU No.Pergeseran jenis industri Sektor lain yang berpotensi dampak negatif pada lingkungan adalah kegiatan pertambangan . delapan. lebih dari 85% hasil industri Indonesia berasal dari kegiatan industri yang berlokasi di Pulau Jawa. Intensitas atau perbandingan antara limbah bahan berbahaya yang ditimbulkan dengan unit hasil industri secara mencolok juga meningkat. akibat dampaknya terhadap manusia dan lingkungan bila tidak dikelola secara baik. Perkembangan industri disamping berdampak positif pada perkembangan ekonomi. Senyawa-senyawa kimia sintetis inilah yang banyak dihasilkan oleh peradaban modern. Selanjutnya Peraturan Pemerintah (PP) No. dan Thailand diprakirakan telah meningkat menjadi sekitar empat. Kimia merupakan salah satu ilmu pengetahuan alam. Masalah limbah menjadi perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah Indonesia. termasuk juga perubahan yang terjadi di dalamnya.FTSL ITB Halaman 4 . Bandung dan Semarang) terdapat sekitar 36% dari total industri di Pulau Jawa.

bahkan pertumbuhan industri negara-negara sedang berkembang di wilayah ini lebih menonjol. Secara keseluruhan. pemilihan proses produksi. Mulai dari penggunaan bahan baku. Industrialisasi yang cepat telah menciptakan sebuah peluang baru untuk mendistribusikan hasil-hasil pembangunan dengan lebih efektif di negara-negara tersebut. walaupun limbah tersebut berasal dari industri. yaitu berubahnya jumlah pencemaran yang ditimbulkan per unit hasil industri. Namun pengadaan dan pengoperasian sarana pengolah limbah ternyata masih dianggap memberatkan bagi sebagian industri. bukan saja mengakibatkan kenaikan timbulan limbah secara dramatis. Penemuan minyak (petroleum) pada pertengahan tahun 1880 menyebabkan meningkatnya produk kimia organik disertai limbahnya. terganggunya kesehataan masyarakat serta penurunan kualitas ekologi lingkungan. Sesuai dengan PP 18/99 juncto 85/99. Limbah berkatagori non-hazardous tidak perlu ditangani seketat limbah hazardous. Dampak negatif akibat limbah tersebut adalah kontaminasi sumber-sumber air. Revolusi industri dan penggunaan bahan kimia organik yang terus meningkat setelah perang dunia ke 2. Sebelum krisis ekonomi 1997. timbulan limbah berbahaya pada tahun 1984 diprakirakan sekitar 300 juta ton. Manusia membutuhkan lebih banyak jenis produk baru yang akhirnya menghasilkan limbah yang spesifik. Setelah berakhirnya Perang Dunia II. tidak hanya pada pusat-pusat industri dan daerah sekitarnya. naphta ke kerosene. biasanya berasal dari kegiatan industri. Namun sebagian besar jenis limbah yang dihasikan. Enri Damanhuri . Masalah penanganan limbah berbahaya ini juga merupakan obyek dagang yang tidak terpuji. industri memfokuskan dirinya pada produksi plastik dan pestisida. Beberapa negara di wilayah ini malah menghasilkan limbah dalam jumlah yang tinggi. industrialisasi juga menimbulkan dampak secara langsung. namun pula menimbulkan masalah toksisitas dari limbah tersebut.FTSL ITB Halaman 5 . padanan kata untuk Hazardous Waste yang digunakan di Indonesia adalah Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dan disingkat menjadi Limbah B3. − Melalui perubahan intensitas pencemaran terhadap hasil industri. Masyarakat industri menghasilkan produk mulai dari gasoline. tetapi juga pada tingkat nasional. seperti dari aktivitas pertanian (misalnya penggunaan pestisida). kegiatan enersi (seperti limbah radioaktif PLTN). Sebagian dari limbah industri tersebut berkatagori hazardous waste. akan mempengaruhi karakter limbah yang tidak terlepas dari proses industri itu sendiri. kegiatan kesehatan (seperti limbah infectious dari rumah sakit) atau dari kegiatan rumah tangga (misalnya penggunaan batere merkuri). pemilihan jenis mesin dan sebagainya. Tetapi jenis limbah ini berasal pula dari kegiatan lain. sektor industri telah mengakibatkan beban pencemaran : − Melalui peningkatan kuantitas cemaran dalam jangka waktu pendek dan menengah. sehingga biaya pengolahannya dapat ditekan. misalnya pembuangan limbah berbahaya negara maju ke negara yang sedang berkembang. Penanganan limbah merupakan suatu keharusan guna terjaganya kesehatan manusia serta lingkungan pada umumnya. atau jika kontribusi sektor industri itu sendiri menurun. Walaupun demikian.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 lapangan banyak mengalami hambatan. Keaneka ragaman jenis limbah akan tergantung pada aktivitas industri serta penghasil limbah lainnya. Tingginya jumlah limbah industri yang dihasilkan per unit hasil industri merupakan salah satu dari masalahmasalah utama yang ada. Di Amerika Serikat misalnya. regional dan lingkungan secara global. negara-negara di wilayah Asia and Pasifik secara keseluruhan memperlihatkan pertumbuhan industri yang kuat bila dibandingkan dengan tempat-tempat lain di dunia. dalam jangka waktu panjang kuantitas cemaran mungkin menurun jika terjadi perubahan yang drastis dengan adanya industri yang lebih bersih lingkungan. sehingga dapat mengurangi kemiskinan.

Tingkat pencemaran pestisida dan pengaruhnya terhadap kesehatan di Indonesia sulit untuk diprakirakan. Secara keseluruhan. Departemen Kesehatan melaporkan sebanyak 1614 kasus keracunan. Dalam hal ini. sianida. Filipina. pelarut. dari tahun 1970 sampai 1990 limbah penduduk dan industri telah menurunkan kualitas air sungai di bagian hilir seperti Cisadane. di Indonesia akan terjadi pergeseran komposisi industri secara sektoral. Pada waktu itu juga ditemukan sejumlah besar tempat-tempat yang terkontaminasi oleh limbah berbahaya di seluruh dunia. Bandung dan Semarang.000 ton pada tahun 1990 menjadi sekitar 1 juta ton pada tahun 2010. yang berpotensi menghasilkan limbah biosida. Biaya implementasi sebuah program pengontrolan dan penyediaan sarana sebetulnya akan lebih kecil dibandingkan dengan upaya pemulihan lahan yang tidak dikelola secara baik. The US Office of Technology and Assessment memprakirakan bahwa biaya pemulihan semua tempat yang telah diidentifikasi di Amerika Serikat adalah sekitar US $ 500 milyard. Dilaporkan pula oleh Bank Dunia bahwa intensitas pencemaran dari limbah berbahaya ternyata cenderung meningkat sejak tahun 1970. Bila strategi pengembangan industri tidak berubah seperti periode tersebut. minyak. Ciliwung. industri proses dinilai lebih intensif terhadap pencemaran. kontribusi pulau Jawa terhadap cemaran-cemaran toksik akan cenderung stabil. peranan sektor industri akan berkontribusi besar dalam produksi limbah berbahaya. yaitu industri proses akan tumbuh lebih lambat dibanding industri perakitan. Kali Surabaya. pestisida. Surabaya. diantaranya terdapat 161 kasus (10%) yang menyebabkan kematian. pelepasan bahan berbahaya ini di Indonesia. akan menambah beban bagi sumber daya alam. Namun kontribusi sektor-sektor lain juga perlu pula mendapat perhatian terutama dari : − Kegiatan medikal dan laboratorium. New York. Bila industri yang terlibat dalam komoditi proses terus meningkat di masa datang. delapan. kontribusi industri terhadap pencemaran akan menurun. yang ditandai dengan meningkatnya cemaran-cemaran toksik dan logam-logam bioakumulatif.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Pengelolaan limbah berbahaya telah menjadi perhatian Pemerintah Amerika Serikat semenjak penemuan tempat pengurugan limbah yang tidak memenuhi syarat di Love Canal.FTSL ITB Halaman 6 . Timbulan logam-logam berat dari industri di wilayah Asia dan Pasifik telah dinilai melebihi nilai batas ambang yang aman. yaitu dari 70 % pada saat ini menjadi 60 % pada tahun 2020. Mengacu pada pengalaman negara industri seperti Amerika Serikat. Bahan pencemar berbahaya dan beracun yang dihasilkan oleh industri adalah seperti logam berat. termasuk bertambahnya biaya dan resiko akibat pencemaran lingkungan. Menurut WHO telah terjadi 3 juta kasus keracunan pestisida Enri Damanhuri . Kegiatan industri juga sangat berpotensi menghasilkan limbah berbahaya. terutama di daerah industrialisasi yang berkembang dengan cepat seperti di negara-negara ASEAN dan China. yang diprakirakan akan meningkat kurang dari 200. cat dan zat warna. namun beban cemarannya secara absolut akan meningkat sekitar 10 kali. Lebih dari 75 % diantaranya merupakan cemaran-cemaran logam yang bioakumulatif. dan Thailand diprakirakan telah meningkat masing-masing menjadi sekitar empat. dan sepuluh kali lipat. Menurut analisa Bank Dunia (1994). 70 % industri berlokasi di kawasan-kawasan perkotaan dan sekitarnya. yaitu sekitar 2/3 dari total cemaran di Indonesia. yang berpotensi menghasilkan limbah toksik dan infectious − Kegiatan pertanian dan agro-wisata. dan zat kimia berbahaya lainnya. Kali Berantas dan Citarum. Selama periode 1984-89. Di pulau Jawa khususnya. dan 85 % diantaranya akan terkonsentrasi di daerah perkotaan. Pada daerah perkotaan di Indonesia seperti di Jakarta. Intensitas atau perbandingan antara limbah berbahaya yang ditimbulkan dengan unit hasil industri secara mencolok juga meningkat. Sampai tahun 1994.

1956 gejala yang dikenal sebagai "kucing menari" ditemui pula pada manusia. karena korban umumnya mengandung merkuri yang berlebihan pada Enri Damanhuri . Tahun 1956 masyarakat sekitarnya mengadakan aksi menentang keberadaan Chisso. Beberapa diantaranya meninggal dunia. dengan prakiraan 70 . yang terungkap setelah sekitar 600 ton merkuri. walaupun diketahui bahwa merkuri digunakan sebagai katalis proses dari pabrik tersebut. Tetapi Chisso paada awalnya belum dicurigai sebagai penyebab. Dengan asumsi rata-rata kasus kematian karena pestisida seluruh dunia sebesar 0. yang digunakan sebagai katalis dalam prosesnya. dibuang secara bertahap sekitar 45 tahun. 2 KASUS PENYAKIT "KUCING MENARI" DI MINAMATA Pada tahun 1932. sedang mercuri organik bersifat biokumulasi. keberadaan peraturan perundang-undangannya ataupun kesiapan masyarakatnya. atau fihak-fihak lain pada umumnya akan pentingnya pengelolaan limbah B3 terutama bagi negara Indonesia yang diharapkan akan menjadi negara industri dalam masa mendatang. limbah dan kesehatan masyarakat. Chisso kemudian mengeluarkan daftar bahan yang digunakan dalam pabriknya. Pengalaman negara industri dengan masalah limbah B3 nya hendaknya memberikan masukan bagi pengambil keputusan atau fihak-fihak terkait di Indonesia untuk tidak menyebabkan kasus-kasus yang terjadi di negara industri tersebut terulang lagi di negara Indonesia. dan berada fasa cair pada suhu biasa. Chisso mempekerjakan penduduk setempat (sekitar 1/3 tenaga pekerjanya). Dalam diktat ini. Kasus Minamata ini terkenal di dunia bila membicarakan masalah industri. contoh. Merkuri didapat di alam. dan biasanya digunakan sebagai katalis. Antara tahun 1953 . merupakan logam warna putih-perak. tetapi tidak tercantum merkuri dalam daftar tersebut. Mikroorganisme dalam air mengkonversi logam ini menjadi methylmercure. dan terutama menyerang anak-anak. khususnya Amerika Serikat guna memberikan gambaran kepada mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini pada khususnya. Penelitian penyebab penyakit tersebut secara intensif dilakukan oleh pemerintah. Jepang Selatan). Pada tahun 1714 Gabriel Fahrenheit menggunakan merkuri ini untuk termometer. Penduduk di sekitarnya adalah nelayan atau petani. Chisso Chemical Corporation membuka pabrik pupuk kimia di Minamata (terletak di pulau Kyushu. termasuk logam berat. Kasus penyakit ini juga terus berlanjut. yang dapat menyerang syaraf dan otak. Asosiasi industri kimia Jepang juga membantu Chisso dalam melacak masalah ini dengan melakukan penelitian-penelitian. Merkuri alamiah dapat dievakuasi oleh tubuh manusia secepatnya melalui urin. hanya diketahui bahwa korban mengalami keracunan akibat memakan ikan yang berasal dari laut sekitar pabrik itu. yaitu sejumlah ikan mati tanpa diketahui sebabnya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 akut dan 220.00005 maka diprakirakan kasus kematian karena pestisida di Indonesia adalah sekitar 9000 per tahun. yang secara kenyataan telah lebih maju dari Indonesia baik dari segi keberadaan industrinya. tanpa mengetahui penyebab masalah ini.000 kematian setiap tahunnya di seluruh dunia.100 tahun akan persistan di alam.contoh tentang masalah limbah B3 dan pengelolaannya diambil dari pengalaman negara industri. Berikut ini akan diberikan illustrasi berbagai kasus yang menyangkut bahan atau limbah B3 dari negara industri. Chisso memberikan santunan pada korban dan yang meninggal. Tahun 1952 timbul penyakit aneh pada kucing yang kadangkala berakhir dengan kematian. tetapi tidak mendapatkan hasil memuaskan. Pencemaran mercuri tetap berlanjut. Sinyal pertama kasus ini datang pada tahun 1950. Hampir semua kasus tadi (90-99%) terjadi di negara-negara yang sedang berkembang.FTSL ITB Halaman 7 . sehingga tidak menimbulkan masalah sosial pada awal pendiriannya. Kasus ini lama kelamaan terungkap.

biru dan ungu. sepanjang sekitar 7 mil. Segala upaya dicoba untuk Enri Damanhuri . Disamping itu.FTSL ITB Halaman 8 . Niagara Falls menjadi pusat industri. Bahkan Angkatan Darat Amerika Serikat juga mengurug sejumlah besar residu senjata biologis walaupun secara resmi fihak Pentagon menolak tuduhan tersebut. khususnya industri kimia. dengan sifat yang sangat tajam. Pada saat itu fihak pemerintah dan industri belum mengetahui akibat samping dari produk ini. maka industri menjadi berkembang pesat di daerah tersebut. maka galiannya langsung terisi air tanah berwarna kuning. Tahun 1978. Seorang keluarga di dekat Love Canal melahirkan anak dengan cacat fisik dan mental. Pada tahun 1958 tiga anakanak mengalami luka bakar akibat terpapar dengan residu yang muncul ke permukaan. satu keluarga mendapatkan kolam renang mereka menjadi lebih tinggi sekitar 60 cm. yang dapat menghanguskan akar pohon sekitarnya. Elektrolisa ini juga menghasilkan produk samping (by-product) yang tidak diinginkan yaitu khlor. Akhirnya pembuangan merkuri dihentikan dengan ditutupnya pabrik tersebut. Belum seorangpun yang menyadari bahwa keuntungan dari pestisida seperti DDT. Sampai tahun 1947 dapat dikatakan daerah tersebut menjadi lahan pengurugan beragam jenis limbah terutama dari industri. Sebagian dari lahan tersebut dijadikan taman bermain. pestisida dan hasil industri antara lainnya. Tahun 1953 fihak kotamadya meminta Hooker Chemical untuk menjual sebagian lahan kanal tersebut untuk pembangunan sekolah baru. Direncanakan bahwa di sekitar kanal tersebut akan dibangun kawasan industri dan pemukiman untuk memanfaatkan tenaga listrik yang ada. tetapi hal ini dianggap alamiah. William T. Pengembangan penelitian menghasilkan alternatif pemanfaatan produk samping ini menjadi bahan organik berkhlor seperti plastik. Pada tahun 1930-an. Ketika kolam ini dibongkar. Tahun 1952 kanal tersebut ditutup oleh Hooker Chemical. dan 1500 diantaranya yang diperiksa diketahui keracunan merkuri. Sering dijumpai anak-anak bergembira menemukan residu fosfor yang dapat menimbulkan bunga api bila dilemparkan ke permukaan yang berbatu. 8100 penduduk mengklaim hal ini. Tahun 1976 sekitar 120 penduduk Minamata meninggal karena keracunan merkuri dan 800 orang menderita sakit. Produk kimia yang dihasilkan antara lain adalah natrium hidroksida. Fihak Hooker menjual sebagian kanal tersebut ke pengelola kota hanya seharga US $ 1. Namun pembangunan kanal tersebut tidak dilanjutkan. yang pada saat itu telah berumur 77 tahun dan 68 tahun. dan menyisakan dua bagian yang tidak terhubungkan. masing-masing sepanjang seperempat mil. Hooker Chemical and Plastic Corporation yang memproduksi bahan kimia di daerah tersebut mulai mengurug limbahnya pada bagian utara Love Canal yang belum terselesaikan. korban kasus ini menerima santunan yang dibebankan pada Chisso. yang terproduksi dalam jumlah besar. yang merupakan produk elektrolisa natrium khlorida. Sekolah kemudian dibangun berdampingan dengan daerah yang sebelumnya adalah pengurug limbah industri.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 tubuhnya. termasuk pula abu sisa pembakaran dari kota. 3 KASUS LOVE CANAL (AMERIKA SERIKAT) Dengan dibangunnya pembangkit listrik tenaga air di Niagara Falls pada tahun 1890. dihukum masing-masing 2 tahun dan 3 tahun penjara. endrin atau dari bahan organik berklor lainnya seperti pelarut berkhlor akan mendatangkan masalah bagi lingkungan di kemudian hari. Pembangunan dimulai tahun 1893. Love pada tahun 1892 merencanakan membuat sebuah kanal yang akan dapat menghubungkan bagian hulu dan hilir sungai Niagara. dan pemerintah menyatakan bahwa Chisso adalah penanggung jawab penyakit yang berjangkit di Minamata. Pada suatu pagi di tahun 1974. Tahun 1959 sebuah keluarga lain mendapat masalah di lantai bawahnya (basement) dengan adanya lumpur hitam yang masuk ke dalamnya. 22 Maret 1979 dua pemimpin Chisso .

Disamping itu. Mereka menganggap bahwa masalah ini bukanlah suatu krisis yang besar. sakit kepala. Kegiatan remediasi tersebut dianggap terlalu lambat oleh penduduk sekitarnya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 menghentikannya. Dengan bantuan USEPA. termasuk diantaranya 11 jenis cemaran penyebab kanker seperti benzene. masalah Love Canal mulai diketahui dan diperhatikan. Peraturan pertama yang dikeluarkan oleh pemerintah negara bagian adalah menghentikan sama sekali pelindian yang tidak terkendali. Akhirnya mereka membuat lobang untuk mengetahui apa yang terdapat di balik tembok. Studi pada tahun 1980 mengemukakan adanya bukti kerusakan khromosom pada penduduk. 237 keluarga akhirnya diungsikan. dan memerintahkan memagari sekeliling lahan serta memberikan ventilasi pada basement yang tercemar. diantaranya 200 ton trichlorophenol. Namun akhirnya dicapai kesepakatan di pengadilan antara 1345 penduduk dengan Occidental Petroleum. senyawa-senyawa toksik berhalogen terdeteksi pada sistem penyaluran air buangan kota. maka diputuskan penutupan sekolah dan pengungsian anak-anak dan wanita yang sedang hamil yang tinggal berdekatan dengan kanal. Namun dibutuhkan dana untuk melaksanakan kegiatan ini. Hooker Chemical akhirnya mengeluarkan pernyataan bahwa sekitar 22. Enri Damanhuri . Hasilnya adalah bahwa udara di daerah tersebut mengandung bahan-bahan toksik yang berada di atas ambang threshold-limit value (TLV). Keluhan mereka pada fihak pemerintah kota tidak ditanggapi. mencegah kemungkinan pelindian di masa datang dan menutup kanal. Delapan bulan setelah kejadian kolam renang di atas.FTSL ITB Halaman 9 . Kanal tersebut juga ditutup setebal 2. Sejumlah besar cairan hitam masuk memenuhi ruangan. Mulai tahun 1976. induk perusahaan Hooker Chemical. Hooker mengemukakan bahwa teknologi yang mereka gunakan adalah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pendapat ini tetap berlangsung sampai pemerintah negara bagian mulai ikut campur. agaknya mereka tidak ingin mengganggu kegiatan Hooker yang telah mempekerjakan sekitar 3000 penduduk setempat. yang tetap digunakan oleh Pemerintahan Carter. Sampel darah yang diambil juga menunjukkan indikasi adanya kerusakan hati yang meningkat. Kelahiran cacat fisik dan mental juga sering dijumpai. susah tidur dan diantaranya juga cacat mental. diantaranya pembuatan drainase untuk mengalirkan lindi dan memompanya ke suatu tangki pengumpul untuk kemudian diolah sebelum dialirkan kembali pada sistem penyaluran air buangan kota.5 meter tanah kedap untuk menghindari masuknya air dari luar. telah diurug di lahan-urug tersebut. namun tetap tidak ingin menentukan yang bertanggungjawab. Suatu recana perbaikan dan penyembuhan (remedial) mulai dirancang. Survai kesehatan juga dimulai dan dijumpai bahwa keguguran spontan ternyata 250 kali lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. Dari sudut teknik. chloform dan trichloroethylene. dan yang sedang merencanakan membangun pusat kegiatan senilai US $ 17 juta. dilakukan pengambilan sampel udara di beberapa basement rumah di daerah tersebut. sejumlah limbah kimia mulai muncul di halaman beberapa rumah. Akhirnya pada tahun 1977 fihak pemerintah kota mengakui adanya masalah ini. walaupun pemerintah negara bagian mengajukan tuntutan denda pada Hooker Chemical sebesar US$ 635 juta. sehingga Pemerintahan Carter pada saat itu memerintahkan evakuasi sekitar 700 keluarga lagi. cepat lelah. Sejak saat itu. Berdasarkan pertemuan dengan penduduk setempat.000 ton limbah kimia. Analisa lebih lanjut menemukan bahwa cemaran kimia dalam konsentrasi tinggi telah mencemari air tanah. Sebagian besar dari anggota keluarga ini secara rutin mengalami gangguan fisik seperti iritasi. Mereka menginginkan kompensasi yang lebih dari itu. tetapi pemerintah negara bagian menolak sampai adanya kejelasan kompensasi bagi penduduk. Pemerintah negara bagian memerintahkan komisi kesehatan melakukan penelitian.

tetapi penduduknya rupanyanya sudah terbiasa. Hoffman-La Roche memilih Seveso sebagai lokasi pabriknya di Italia. Kegiatan remediasi lahan yang terkontaminasi akhirnya menjadi salah satu program yang digalakkan di Amerika Serikat bagi lahan yang tercemar. Seveso terletak di Italia Utara.7. namun akhirnya beritanya tersebar di daratan Eropa dan menjadi pemberitaan hangat selama 9 bulan. Anak-anak dengan langsung menunjukkan gejala chloracne pada mukanya dan bagian lain di tubuhnya. karena ternyata bukan hanya lahan ini saja yang secara peraturan sebetulnya telah sesuai dengan yang berlaku. yaitu kasus transportasi dioxin antar negara.7.3.7. Tanah terkontaminasi dikupas sedalam rata-rata 5 cm. bukan dari Seveso (tempat yang dikenal untuk kasus ini). Atom chlor pada senyawa PCDD menghasilkan sampai 75 isomer dengan toksisitas yang sangat bervariasi. Penduduk di sekitarnya dievakuasi. industri farmasi Swiss. Pengiriman ini bersifat rahasia. Isomer yang sangat aktif dan mempunyai potensi toksisitas tinggi adalah yang mempunyai 4 sampai 6 atom chlor. 4 KASUS KABUT DIOXIN DI SEVESO (ITALIA) Salah satu kasus limbah berbahaya yang terkenal adalah peristiwa kabut dioxin di Seveso (Italia).7. Daerah tersebut kemudian dijadikan taman.8-Tetrachlorodibenzo-p-dioxin (2. Daun-daun pohon di sekitarnya menjadi rontok. Ibuibu yang hamil dianjurkan untuk menggugurkan kandungannya. sedang asalnya ditulis dari Meda. Pekerjaan ini membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun.8-TCDD. Drum tersebut berlabel 'bahan hidrokarbon aromatis'. Pemerintah Italia akhirnya memutuskan penggunaan teknik insinerasi dan landfilling bagi komponen-komponen pabrik tersebut. Daerah sekitarnya dibagi menjadi 2 area bahaya. dan tidak ditulis sebagai 'Dioxin'.trichlorophenol untuk disinfektan. ketika reaktor akan dipanaskan dan terjadi retak pada katup pengamannya. Pabrik ini menghasilkan asap yang berbau. dan prianya dihawatirkan mengalami kerusakan pada fungsi genetiknya. terutama dalam posisi lateral (2. dan dilarang menggunakan barang-barangnya. kosmetik dan herbisida. Kecelakaan terjadi pada tanggal 10 Juli 1976.binatang seperti terpanggang. Kasus tersebut ternyata tidak berhenti di sana. Drum tersebut diangkut oleh dua perusahaan swasta ke tempat yang tidak dispesifikasi secara jelas. binatang. Area A penduduknya dievakuasi. Efek 2. reaksi kimiawi yang terjadi menghasilkan 2. Akhir 1960-an. Landfilling dalam tanah dilakukan dalam 2 lubang dengan proteksi kuat.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Kasus Love Canal menyebabkan adanya perbaikan dan pengetatan peraturanperaturan yang berlaku di Amerika Serikat dalam menangani limbah B3.8-TCDD) dengan toksisitas akut. Ternyata penanggung jawab upaya pembersihan daerah Seveso tersebut mengirimkan 41 drum limbahnya untuk ditimbun di luar Italia.3.8-TCDD ini terhadap spesies binatang ternyata berbeda.5. Pembersihan daerah terkontaminasi merupakan usaha besar-besaran yang dilakukan. Pohon-pohon terkontaminasi ditebang.3.8) seperti 2. Dioxin adalah nama umum untuk grup polychlorinated dibenzodioxins (PCDD). Informasi yang didapat menyatakan bahwa drum tersebut akan diangkut ke Inggeris untuk diinsinerasi. ke Jerman Timur Enri Damanhuri . yaitu dilapis bentonit dan lembaran polyethylene. Pada temperatur yang sesuai. dengan timbulnya suatu kasus yang cukup meggegerkan daratan Eropa Barat pada tahun 1981.3.FTSL ITB Halaman 10 . Sekitar 1 Kg dioxin terbuang ke udara membentuk kabut melewati ribuan hektar sekitar bencana. guna memproduksi 2. didirikan di kota kecil Meda (dekat Seveso). terutama pada pabrik itu sendiri yang tercemar berat. namun semuanya sebagai penimbul agen kanker (carcinogen). dan para peneliti baru sampai pada tahap awal dalam memahami efek toksisitas dioksin ini pada manusia.3. Agaknya dioxin ini menimbulkan tumor yang berbeda untuk organ yang berbeda.4. Pabrik tersebut dibangun dan dioperasikan oleh Industrie Chemiche Meda Societe Aromia (ICMESA).7.

Lumpur dari pengolah limbah mengandung kepone 200 . Debu kepone menutup lantai sampai beberapa inch dan memenuhi udara dalam pabrik. Sembilan bulan kemudian setelah dilakukan pencarian yang melibatkan semua fihak di negara terkait. Produksinya dikontrakkan pada Hooker Chemical antara 1950 . Berangkat dari pengalaman tersebut.USA) memprolamirkan dirinya sebagai chemical capital of the south. limbah ini membunuh bakteri di sistem digester pengolah limbah. dan harus mengeluarkannya dari Perancis. Darah yang diambil dari pekerja tersebut menunjukkan kandungan kepone antara 2 . Beberapa saat kemudian. sedangkan konsentrasi tertinggi yang pernah diamati adalah 5 ppm. Ikan di dekat sungai James mengandung kepone 0. EPA kemudian melakukan sampling air minum. Di beberapa tempat. Pihak Hoffman-La Roche harus bertanggung jawab untuk itu. Allied juga memproduksi sendiri. sedangkan standar yang berlaku adalah 100 ppb. Namun karena pasaran meningkat. Pada tahun 1973 Allied Chemical mensubkontrakkan pembuatan pestisida pada Life Sciences Product (LSP) yang dikenal dengan nama kepone.600 ppb.4 ppb. Allied memproduksi kepone di Hopewell. dan dibawa ke Swiss. Produksi tahunan meningkat dari 36. ternyata 40 % dari total partikulat adalah kepone.000 pound pada tahun 1965 menjadi 400. Tindakan berikutnya melibatkan US EPA (US Environmental Protection Agency). Tetapi tidak satupun yang sampai. ternyata drum tersebut tersembunyi di suatu area pejagalan hewan di Perancis. Sebetulnya buruh di sana sudah mengeluh terhadap kondisi ini tetapi manajemen LSP tidak memperhatikan hal ini. Dinas kesehatan setempat kemudian menginvestigasi industri kepone tersebut setelah salah seorang pekerja dinyatakan keracunan kepone. tanaman dan limbah kota Hopewell serta sungai. Penelitian selanjutnya mengungkapkan bahwa LSP melanggar aturan-aturan kesehatan dan keselamatan kerja yang berlaku. Pencemaran udara juga telah meluas ke sekitar pabrik itu.20 ppm.000 pound pada tahun 1972. Disamping itu.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 untuk ditimbun di lahan-urug industri dan ke Jerman Barat untuk dikubur dalam bekas tambang. baik Allied maupun LSP secara illegal membuang kepone ke sungai James yang bermuara di Chesapeake Bay. sebagai negara asal industri tersebut.1 . Pemerintah akhirnya memutuskan bahwa pabrik Enri Damanhuri . secara periodik limbah dari LSP masuk ke sistem penyaluran air buangan dan pengolahan limbah kota. Agustus 1975 LSP didenda US$ 16500. Lumpur dari pengolah limbah yang belum terolah secara baik langsung dibuang secara illegal ke lahan-urug. Maret 1974.5 tahun dikeluarkan dari Seveso.600 ppm. Tahun 1973 pembuatan kepone disubkontrakkan pada LSP sementara Allied tetap menangani polimer.FTSL ITB Halaman 11 . sedang pabrik kepone pada tahun 1975 ditutup. Masyarakat Ekonomi Eropa mencanangkan program kontrol bagaimana menangani dan mentransportasi limbah kimiawi yang berbahaya diantara anggotanya. sedang sungai James sendiri mengandung kepone 0.1960. Kepone dikembangkan oleh Allied sekitar tahun 1950-an. 2 minggu setelah produksi penuh. ternyata LSP telah mengeluarkan efluen kepone sebesar 500 . Dalam 2 bulan.72 ppm. udara.1 . 5 KASUS KEPONE DI HOPEWELL (AMERIKA SERIKAT) Hopewell (Virginia . yaitu pada November 1985. dan disanalah dimulainya bencana kimiawi di USA. dijumpai masalah kesehatan diantara karyawannya. Yang dijumpai pada pabrik kepone tersebut ternyata lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya. Kemudian dioxin tersebut baru diinsinerasi setelah 2. masyarakat Eropa sadar akan pentingnya peraturan yang ketat tentang pengelolaan limbah berbahaya. Kemudian 31 pekerja yang dirawat di Rumah Sakit.

FTSL ITB Halaman 12 . dan biaya yang ditanggung akhirnya membengkak berlipat ganda dengan adanya tuntutan dari orang yang merasa dirugikan. Prakiraan biaya untuk menyingkirkan dan mengolah seluruh cairan dan tanah yang terkontaminasi pada tahun 1977 sekitar 3.D. yaitu : − Meyingkirkan cairan terkontaminasi ke lahan yang lain. Selama itu sekitar 30 juta galon (113. Referensi Utama: o Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia – UNDP: Agenda 21 Indonesia. dan masih dibutuhkan sekitar 65 juta US $ untuk mentuntaskan permasalahan. dengan menganggap bahwa pencemaran air tanah yang terjadi berasal dari limpasan air permukaan bukan dari lahan tersebut. namun ternyata lahan ini juga bocor dan akhirnya ditutup. M. dan 4 juta gallon (15140 m3) air tercemar dialirkan ke lahan-urug West Covina. : Hazardous waste management. Akhirnya Pemerintah memilih cara yang lebih murah. 1994 o Wentz. dengan program pengolahan in-situ terhadap air tanah yang tercemar.000 penduduk.000 gallon (3028 m3) air tercemar dialirkan ke area di hilirnya. misalnya 120 pedagang ikan yang merasa dirugikan karena mereka memperoleh ikannya dari sungai James yang tercemar. tetapi dianggap belum dimonitor secara benar. maka diprakirakan tidak akan terjadi pencemaran air tanah. Ternyata evaluasi berikutnya menyatakan bahwa lahan itu sebetulnya tidak cocok untuk limbah cair B3 dan terjadilah pencemaran air tanah. Casmalia Resources. tetapi LSP tidak sanggup untuk operasi tersebut. Maret 1997 o LaGrega. Studi geologi sebelumnya menyimpulkan bahwa lahan tersebut berada di atas bedrock yang kedap. C. McGraw-Hill Book. − Menetralisir tanah terkontaminasi dengan abu semen kiln. Interpretasi hasil analisis air tanah pada tahun 1972 ternyata juga salah. Lahan ini juga berlokasi di atas akuifer Chino Basin yang merupakan sumber air minum bagi sekitar 500.550 M3) limbah cair B3 telah ditimbun. : Hazardous waste management. Sekitar 800. juga menerima sekitar 70. Estimasi biaya pada tahun 1974 meningkat 4 kali lipat dengan cara tersebut. Hasil interpretasi yang salah juga dilakukan oleh sebuah konsultan lain pada tahun 1977.A. Namun biaya yang ditanggung Allied untuk operasi tersebut akhirnya menjadi US $ 394000. 6 KASUS LAHAN STRINGFELLOW DI KALIFORNIA (USA) Lahan Stringfellow di Glen Avon (Kalifornia-USA) telah digunakan untuk menimbun limbah cair B3 dari tahun 1956 sampai 1972. dan dengan membuat penghalang beton di hilirnya. Allied diminta untuk bertanggung jawab operasi detoksifikasi tersebut dengan rencana biaya sebesar US $ 175000. Sekitar 15 juta US $ telah dihabiskan untuk program tersebut. McGraw-Hill Book Co. − Membangun sumur-sumur pemantauan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 itu untuk 'dilucuti'. 1989 Enri Damanhuri . Lahan-urug lain.000 gal/hari (265 m3) dari Stringfellow.4 juta US$. − Menempatkan lapisan clay untuk mengisolasi.

19 tahun 2009 tentang Pengesahan Konvensi Stockholm tentang Bahan Pencemar Organik yang Persisten atau Stockholm Convention on Persistent Organic Pollutants (POPs). serta mengelola timbunan bahan POPs yang berwawasan lingkungan. mengangkut. mengolah.148/M/SK/4/1985 tentang pengamanan bahan beracun dan berbahaya di lingkungan industri − Keputusan Menteri Pertanian No. Bahan POPs ini akan dibahas lebih lanjut dalam Bagian 5 Diktat ini.33 Tahun 1985 tentang Dewan Tenaga Atom dan Badan Tenaga Atom Nasional dan Keputusan Presiden No.453/Menkes/Per/XI/1983 tentang bahan berbahaya − Keputusan Menteri Perindustrian RI No. energi. menghasilkan. Semua yang berkaitan dengan ketenaga atoman pada dasarnya diatur oleh Undang-undang No.FTSL ITB Halaman 13 . menyimpan.724/Kpts/TP. 31 Tahun 1964 tentang Enri Damanhuri .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN II PERATURAN DALAM PENGELOLAAN B3 1 UMUM Pada dasarnya pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3) di Indonesia mengacu pada prinsip-prinsip dan pedoman pembangunan berkelanjutan yang telah dituangkan dalam Undang-Undang No. Terkait dengan penggunaan bahan kimia organik berbahaya. Konvensi ini bertujuan untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan hidup dari bahan POPs dengan cara melarang. maka Indonesia telah merativikasi konvensi Stockholm melalui Undang-undang No.7/1973 tentang pengawasan atas peredaran. kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lain. yaitu : − Peraturan Pemerintah No. konsentrasi dan/atau jumlahnya. Pasal 1 (21) UU-32/2009 mendefinisikan bahan berbahaya dan beracun (disingkat B3) adalah zat. Secara spesifik pengelolaan B3 ini telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.270/9/1984 tentang larangan penggunaan pestisida EDB − Keputusan Menteri Pertanian No. membatasi produksi dan penggunaan. mengurangi. Selanjutnya UU-32/2009 menggariskan dalam Ps 58 (1) bahwa setiap orang yang memasukkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. mengedarkan. 82 Tahun 1985 tentang Badan Tenaga Atom Nasional.536/Kpts/TP. dan/atau komponen lain yang karena sifat.270/7/1985 tentang pengawasan pestisida Limbah radioaktif di Indonesia dikelola oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. memanfaatkan. yang akan diuraikan lebih lanjut dalam Bagian ini. membuang. Beberapa peraturan yang secara langsung akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas limbah B3 yang dihasilkan adalah peraturan-peraturan yang mengatur masalah bahan berbahaya. 32 tahun 2009 sebagai pengganti UU-23/1997 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. dan/atau menimbun B3 wajib melakukan pengelolaan B3. dan/atau membahayakan lingkungan hidup. baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup. penyimpanan dan penggunaan pestisida − Peraturan Menteri Kesehatan No.

dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup. 11 Tahun 1975 tentang keselamatan kerja terhadap radiasi − Peraturan Pemerintah No. − Bab VI (pasal 24 sampai 27) : Penanggulangan Kecelakaan dan Keadaan Darurat. maka aspek keselamatan dan kesehatan kerja serta penanggulangan kecelakaan dan keadaan darurat diatur dalam PP tersebut.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Ketentuan-ketentuan pokok tenaga atom. dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup. atau telah diatur oleh instansi lain berdasarkan konvesi internasional seperti bahan radioaktif. menyimpan.FTSL ITB Halaman 14 . − Bab IX (pasal 35 dan 36) : Keterbukaan Informasi dan Peran Masyarakat. baik secara langsung maupun tidak langsung. mendistribusikan. − Bab II (pasal 5) : Klasifikasi B3. menyimpan. mengangkut. Oleh karenanya. Selanjutnya beberapa peraturan lain di bawahnya antara lain: − Peraturan Pemerintah No. − Bab V (pasal 22 dan 23) : Keselamatan dan Kesehatan Kerja. − Bab VIII (pasal 32 sampai 34): Peningkatan Kesadaran Masyarakat. Bahan berbahaya yang tidak termasuk yang diatur adalah (pasal 3): Enri Damanhuri . Disamping aspek yang terkait dengan pencegahan terjadinya pencemaran lingkungan dan atau kerusakan lingkungan yang menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap fihak yang terkait. − Bab XII (pasal 39) : Ganti Kerugian. Sedangkan sasaran pengelolaan B3 adalah 'untuk mencegah dan atau mengurangi resiko dampak B3 terhadap lingkungan hidup. 13 Tahun 1975 tentang pengangkutan zat radioaktif 2 PENGELOLAAN B3 DALAM PP 74/2001 PP74/2001 tentang pengelolaan berbahaya dan beracun terdiri dari 15 bab yang dibagi lagi menjadi 43 pasal. − Bab XIII (pasal 40) : Ketentuan Pidana. − Bab III (pasal 6 sampai 20) : Tata Laksana dan Pengelolaan B3. mengimpor. − Bab IV (pasal 21) : Komisi B3. menggunakan dan atau membuang B3’ (pasal 1 angka 2). Dalam kegiatan tersebut. antara lain karena telah diatur dalam PP lain. kesehatan. kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya’ (pasal 2). Menurut PP 74/2001: ‘bahan berbahaya dan beracun yang selanjutnya disingkat dengan B3 adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya. Kelima belas bab tersebut adalah : − Bab I (pasal 1 sampai 4) : Ketentuan Umum. mengeksport. Pengertian pengelolaan B3 adalah 'kegiatan yang menghasilkan. Tidak semua pengelolaan bahan yang berbahaya diatur oleh PP tersebut. − Bab XI (pasal 38) : Sanksi Administrasi. 12 Tahun 1975 tentang izin pemakaian zat radioaktif dan atau sumber radiasi − Peraturan Pemerintah No. − Bab VII (pasal 28 sampai 31) : Pengawasan dan Pelaporan. Setiap mata rantai tersebut memerlukan pengawasan dan pengaturan. menggunakan dan membuang bahan tersebut bilamana tidak dapat digunakan kembali. mengedarkan. − Bab XIV (pasal 41 dan 42) : Ketentuan Peralihan. − Bab X (pasal 37) : Pembiayaan. pasal-pasal berikutnya mengatur masalah kewajiban dan perizinan bagi mereka yang akan memproduksi (menghasilkan). − Bab XV (pasal 43) : Ketentuan Penutup. kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya’ (pasal 1 angka 1). terkait berbagai fihak yang merupakan mata rantai dalam pengelolaan B3.

dan Lampiran II . yaitu (pasal 5): o B3 yang dapat atau boleh dipergunakan di Indonesia (Lampiran I PP 74/2001) o B3 yang dilarang dipergunakan di Indonesia (Lampiran II Tabel 1. dan penggunaannya di Indonesia disesuaikan dengan kelompok tabel yang berlaku. Chemical Abstract Sevice yang bersifat universal o Nama bahan kimia o Sinonim/nama dagang o Rumus molekul Berikut ini adalah beberapa contoh bahan kimia B3. yaitu (pasal 5): o Mudak meledak (explosisive) o Pengoksidasi (oxidizing) o Menyala: o sangat mudah sekali menyala (extremely flammable) o sangat mudah menyala (highly flammable) o mudah menyala (flammable) o Beracun: o amat sangat beracun (extremely toxic) o sangat beracun (highly toxic) o beracun (moderately toxic) o Bebahaya (harmful) o Korosif (coorosive) o Bersifat iritasi (irritant) o Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment) o Toksik yang bersifat kronis: o karsinogenik (carcinogenic) o teratogenik (teratogenic) o mutagenik (metagenic) Penjelasan lebih lanjut tentang kriteria kapan sebuah bahan dikelompokkan sebagai B3 akan dijelaskan dalam Butir 3. PP 74/2001) o B3 yang terbatas dipergunakan (Lampiran II Tabel 2. disertai keterangan: o No. Lampiran I PP 74/2001 mencantumkan 209 buah bahan kimia yang tergolong B3 yang dapat digunakan di Indonesia. yang terdapat dalam daftar Lampiran I dan Lampiran II PP 74/2001 tersebut (Tabel 1 sampai Tabel 3). Setiap bahan kimia dalam daftar tersebut. 74 diantaranya dibatasi penggunaannya sampai tahun 2040. atau sama sekali dilarang dipergunakan. maka PP tersebut mengklasifikasikan B3 dalam 8 kelompok. psikotropika dan prekursor lainnya Bahan aditif lainnya Senjata kimia dan senjata biologi Untuk menentukan apakah sebuah bahan termasuk dalam kelompok B3. narkotika. bilamana sebuah bahan sudah terdapat dalam lampiran tersebut.Tabel 2 mencantumkan 45 bahan B3 yang dibatasi pengunaannya di Indonesia. apakah diperbolehkan dipergunakan. maka bahan tersebut termasuk B3. Untuk mempermudah menentukan B3 yang diatur dalam PP ini. semuanya organik-berhalogen. B3 dibagi menjadi 3 bagian.Tabel 1 mencantumkan 10 bahan B3 yang dilarang pengunaannya. Reg.FTSL ITB Halaman 15 . Lampiran II .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 o o o o o o o o Bahan radioaktif Bahan peledak Hasil produksi tambang serta minyak gas dan gas bumi dan hasil olahannya Makanan dan minuman serta bahan tambahan makanan lainnya Perbekalan kesehatan rumah tangga dan kosmetika Bahan sediaan farmasi. Enri Damanhuri . atau terbatas penggunaannya. maka berdasarkan penggunaannya di lapangan. PP 74/2001) Dengan demikian.

Sulfurated hydrogen. Penchloraol. Butter zinc Lead Bromochloroethane Rumus Molekul NH3 CH3COOH H3PO4 HCl HCN H2SO4 C 6H 6 C6H5OH CH2O H 2S CO2 C CO Cl2 CHCl3 HgCl2 CH4 NaOH N2 NO2 O3 C6HCl5O AgNO3 ZnCl2 Pb - 105 7727-37-9 Nitrogen 106 10102-44-0 Nitrogen Dioksida 110 10028-15-6 Ozon 112 87-86-5 Pentaklorofenol 114 7761-88-8 Perak nitrat 122 7646-85-7 Seng Klorida 127 7439-92-1 Timbal (timah hitam) 209 CH2BrCl *) Muncul juga pada Lampiran II – Tabel 2 (no. Formalin. Caustic soda. Rumus Molekul C12H8Cl6 C10H6Cl8 Enri Damanhuri . Mercury bichloride. Orthophosphoric acid Hydrochloric acid. Carbolic acid. maka sebelum dipergunakan secara luas produsen tersebut harus mendaftarkan terlebih dahulu kepada yang berwenang.1: Contoh B3 (dapat digunakan) dalam Lampiran I PP 74/2001 No 7 14 16 17 23 24 31 52 54 58 76 78 79 80 81 85 87 98 No Reg Chemical Abstract Service 7664-41-7 64-19-7 7664-38-2 7647-01-0 74-90-8 7664-93-9 71-43-2 108-95-2 50-00-0 7783-06-4 124-38-9 7440-44-0 630-08-0 7782-50-5 67-66-3 7487-97 74-82-8 1310-73-2 Nama Bahan Kimia Amoniak Asam Asetat Asam Posfat Asam Klorida Asam Sianida Asam Sulfat Benzena Fenol Formalin (larutan) Hidrogen Sulfida Karbon dioxide Karbon hitam Karbonmonoksida Klor Kloform Merkuri klorida Methane Natrium Hidroksida Sinonim/Nama Dagang Ammonia Acetic acid. Hydrosulfuric acid Carbonic acid gas Amorphous Carbon monoxide Chlorine Chloroform. Morbicid. Oxybenzene Formadehyde solution. PCP. Hydrocyanic acid. Triatomic oxygen Penta. Corrosive sublimate. maka registrasinya harus diajukan kepada instansi yang bertanggung jawab. misalnya Badan Tenaga Atom Nasional untuk bahan radioaktif. Aci-jel Phosphoric acid. Tabel 2. Sodium hydrate Nitrogen Nitrogen dioxide Ozone. Hidroxybenzene. Niran. Formol. Anhidrous hydrochloric acid Hydrogen cyanide. Bila bahan yang akan dimpor adalah termasuk dalam daftar B3 yang terbatas dipergunakan. Toxichlor. Velsicol 1068. maka fihak otorita negara yang akan memasukkan bahan tersebut ke Indonesia terlebih dahulu harus menyampaikan notifikasi kepada fihak yang bertanggung jawab di Indonesia (pasal 8). Phenyl hydroxide. Santhophene 20 Zinc chloride. Blausaure. sehingga dengan mudah dilakukan pengawasan dan pencegahan terjadinya dampak B3 terhadap lingkungan. maka bahan tersebut terlebih dahulu harus didaftarkan oleh importirnya untuk diregistrasi sebelum secara rutin diimport. Phenic acid.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Setiap produsen yang menghasilkan B3 baru yang termasuk diatur dalam PP ini. Prussic acid Sulfuric Acid. Cyclo hexatriene Phenol. Demikian juga halnya unutk B3 yang diimport dari luar negeri. Hydrogen chloride. Sedang bahan berbahaya lain yang tidak diatur dalam PP ini. 11) Tabel 2. Bahan tersebut kemudian akan mendapat nomor registrasi sebagai alat kontrol terhadap peredaran B3 di Indonesia. Veracur Hydrogen sulphide.FTSL ITB Halaman 16 . Trichlorometthane Mercuric chloride. Corrosive mercury chloride Sodium hydroxide. Soda lye. Mercury perchloride. Phenilic acid.2: B3 yang dilarang dalam Lampiran II – Tabel 1 PP 74/2001 No 1 2 No Reg Chemical Abstract Service 309-00-2 57-74-9 Nama Bahan Kimia Aldrin Chlordane Sinonim/Nama Dagang HHDN CD68. dalam hal ini Kementrian Lingkungan Hidup (pasal 6). Benzol. Oil of Vitriol Benzene.

Quicksilver Trichloromonofluoromethane. Nendrin. Sym-dibromoethane Rumus Molekul C8H5Cl3O3 C10H13ClN2 C16H14Cl2O3 C12H4Br2 C6H6Cl6 - 11 21 26 27 29 43 45 87-86-5 7439-97-6 75-69-4 75-71-12 74-83-9 Penta.3: Contoh B3 (dibatasi) dalam Lampiran II – Tabel 2 PP 74/2001 No 1 2 4 6 9 10 No Reg Chemical Abstract Service 93-76-5 2425-98-3 510-15-6 106-93-4 58-89-9 Nama Bahan Kimia 2.2bis(4-chlorophenil)acetate EDB. Heptamul C6-1283. p.4-hydroxy-2. Folbex. Ciba-8514. Santotherm C14H9Cl5 C12H8Cl6OH C12H8Cl6OH C10H5Cl7 C10Cl12 C10H10Cl8 C6Cl6 C12X X=H or Cl Tabel 2. Gulecton. ENT 16225.Aryl merkuri Pentaklorofenol* Mercury/Air raksa CFC-11 CFC-12 CFC-114 Halon-2402 Metil bromida Sinonim/Nama Dagang Esterone 245. Halon. Freo 11.Anorganik merkuri . 1. Ethyl 4.Alkyl merkuri . Santhophene 20 Liquid silver. Chlorophenothane. Schering 36. Toxakil Polychlorobenzene. Frigen 12. Freon 114. Weedone CDM. Genetron 12. ENT 25719. PP ini mewajibkan eksportir B3 tersebut untuk menyampaikan notivikasi ke otoritas negara tujuan ekspor. Corodane Dichlorodiphenyltrichloroethane. Akar. Clophen. Chlorinatedcamphene.268: Spanon.2-dibromoethane. Freon 12. Bunt-cure.4-dichlorobenzilate. Guesapon. Dicophane. Hexadrin E3314.497. Hexachloropentadienedimer Hercules 3956: Polycholorcamphene. Acarabene. Penphene. Isotron 2 Dichlorotetrafluoroethane. Phenochlor. Agritan.5-T Chlordimeform (CDM) Chlorobenzilate Ethylene Dibromida (EDB) Lindane Senayawa merkuri. Pyralene. Strobane-T. Fundal. G23922. Campeclor. Belt. Dowfume WW85. Areton 11 Dichlorodifluoromethane. serta dari instansi yang berwenang.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 3 50-29-3 DDT 4 5 6 7 8 60-57-1 72-20-8 76-44-8 2385-85-5 8001-35-2 Dieldrin Endrin Heptachlor Mirex Toxaphene 9 10 118-74-1 1336-36-3 Hexachlorobenzene PCBs Octachlor. Gesarex. Fluorotrichloromethane.FTSL ITB Halaman 17 . Kenachlor. Geniphene. PCP. Gesarol. Clofenotane. Phenacide. Dechlorane. 112) Jawaban boleh tidaknya barang tersebut masuk ke Indonesia harus diterima oleh otorita negara pengekspor dalam waktu paling lambat 30 hari sejak tanggal diterimanya notifikasi tersebut.p-DDT. termasuk: . maka ekspor B3 tersebut belum boleh dilaksanakan. Altox. Frigen 11. Chlorobiphenyls. Prosedur ini adalah sesuai dengan Konvensi Basel yang mengatur lintas batas bahan dan limbah B3 antar negara. HEOD. Areton 12. Arocloc. Drinox. Motox. Gesapon. Fenclor. Chlorophenamidine Compound 338. Octalox Compound 268. Enri Damanhuri . Embafume C6HCl5O Hg CCl3 CCl2F2 C2Cl2F2 C2Rbr2F4 CH3Br *) Muncul juga pada Lampiran I (no. Ethyl 4. Ethylenebromide. D-58. Orthochlor. Necide Compound 497. Synclor. Cryfluorane.4. Hydragyrum. Sebelum ada persetujuan dari otoritas negara tujuan ekspor dan otoritas negara transit. Frigen 114. ENT 17251. Julins carbon chloride Polychlorinated Biphenyls. Trioxone. Insecticide No. Prosedur yang sama diberlakukan bagi B3 yang akan dieksport ke luar negeri (pasal 7). Areton 114 Dibromotetrafluoroethane Bromomethane. Bunt-no-more. Phenatox. Anticarie. Velsicol 104.Alkyloxyalkyl merkuri . otoritas negara transit dan instansi yang bertanggung jawab di Indonesia terlebih dahulu. Monobromomethane. Mendrin. Penchloraol.

penyimpanna B3 (pasal 18). Salah satu langkah yang wajib dilakukan adalah kewajiban uji kesehatan secara berkala bagi pekerja. B3 kadaluwarsa adalah bahan yang karena kesalahan dalam penanganannya menyebabkan terjadinya perubahan komposisi dan atau karakteristik sehingga bahan tersebut tidak sesuai lagi dengan spesifikasinya. yang memerlukan penanggulangan cepat dan tepat (pasal 24). pemberian label dan simbol (pasal 17). tetapi harus dikelola sebagai limbah B3 (pasal 20). dan juga pada kemasan bahan tersebut (pasal 14). agar tidak terjadi kecelakaan akibat kesalahan dalam penyimpanan tersebut. Lembar MSDS paling tidak berisi: o Merek dagang o Rumus kimia B3 o Jenis B3 o Klasifikasi B3 o Teknik penyimpanan. PP 74/2001 mengatur juga masalah kesehatan dan keselamatan kerja bagi orang yang bekerja di bidang ini. Lokasi dan konstruksi tempat penyimpanan B3 membutuhkan pengaturan tersendiri. Salah satu persyaratan kelengkapan pada tempat penyimpanan tersebut adalah sistem tanggap darurat dan prosedur penanganan B3 (pasal 19). B3 yang dianggap kadaluwarsa. juga harus muncul pada dokumen pengangkutan. 3 KARAKTERISASI B3 MENURUT PP 74/2001 Penjelasan PP 74/2001 menguraikan secara singkat klasifikasi B3 sebagai berikut: a.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Salah satu informasi penting yang selalu harus disertakan dalam produksi B3 adalah Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet . Langkah darurat yang harus dilakukan adalah (pasal 25): o Mengamankan (mengisolasi) tempat terjadinya kecelakaan o Menanggulangi kecelakaan sesuai dengan prosedur standar penanggulangan kecelakaan o Melaporkan kecelakaan atau keadaan darurat tersebut kepada aparat Kota/Kabupaten setempat o Memberikan informasi. bantuan dan melakukan evakuasi masyarakat sekitar lokasi kejadian. Kecelakaan B3 adalah lepasnya atau tumpahnya B3 ke lingkungan. Sedang B3 yang tidak memenuhi spesifikasi adalah bahan yang dalam proses produksinya tidak sesuai dengan yang ditentukan. Bila terjadi kecelakaan. atau bekas kemasan. dan pengedaran B3 (pasal 12). atau tidak memenuhi spesifikasi. penyimpanan. Salah satu kehawatiran utama dalam penanganan B3 adalah kemungkinan terjadinya kecelakaan baik pada saat masih dalam penyimpanan maupun kecelakaan pada saat dalam pengangkutannya. yang menjadi tanggung jawab bagi pengusaha. pengemasan B3 (pasal 15). dan o Tata-cara penanganan bila terjadi kecelakaan PP 74/2001 mengatur juga secara umum pengangkutan B3 (pasal 13). maka kondisi awalnya adalah berstatus keadaan darurat (emergency). Informasi MSDS disamping harus tercantum pada produksi B3 (pasal 11).MSDS). yang tidak dapat digunakan tidak boleh dibuang sembarangan. sekurang-kurangnya 1 kali dalam 1 tahun. 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat Enri Damanhuri .FTSL ITB Halaman 18 . denganmaksud untuk mengetahui sedini mungkin terjadinya kontaminasi oleh zat/senyawa kimia B3 terhadap pekerja atau pengawas lokasi tersebut (pasal 23). Explosive (mudah meledak): adalah bahan yang pada suhu dan tekanan standar (25oC.

g.21oC. akan menyala apabila terjadi kontak dengan api. Pengujiannya dapat dilakukan dengan metode Closed-up test.35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55oC. persisten di lingkungan (misalnya PCBs). c.5 untuk B3 bersifat basa. pada temperatur dan tekanan standar dengan mudah menyebabkan terjadinya kebakaran melalui gesekan. Tingkatan racun dikelompokkan seperti tabel berikut. pada tekanan 760 mmHg. dengan titik nyala di bawah 40oC. Harmful (berbahaya): padatan maupun cairan ataupun gas yang jika kontak atau melalui inhalasi (pernafasan) atau melalui oral dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan sampai tingkat tertentu.FTSL ITB Halaman 19 . akan diperoleh nilai temperatur pemanasan. d. Apabila nilai temperatur pemanasan suatu bahan lebih tinggi dari senyawa acuan. Dangerous to the Environment (berbahaya bagi lingkungan): seperti merusak lapisan ozon (misalnya CFC). Tabel 2. dan atau mempunyai titik nyala ≤ 60oC (140oF). o Flammable: o Bila cairan: bahan yang mengandung alkohol kurang dari 24%-volume. percikan api. f. Flammable (mudah menyala): o Extremely flammable: padatan atau cairan yang memiliki titik nyala (flash point)di bawah 0oC dan titik didih lebih rendah atau sama dengan 35oC. o Bila padatan: bahan bukan cairan.000 5001 – 15. Dari hasil pengujian tersebut.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 merusak lingkungan di sekitarnya. Toxic (beracun): akan menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan. senyawa standar yang digunakan adalah larutan asam nitrat. penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan. b. o Hghly flammable: padatan atau cairan yang memiliki titik nyala 0oC . Oxidizing (pengoksidasi): pengujian bahan padat dilakukan denganemtode uji pembakaan menggunakan ammonium persulfat sebagai senyawa standar. Pengujiannya dapat dilakukan dengan menggunakan Diffrential Scanning Calorimetry (DSC) atau Differential Thermal Analysis (DTA). o Mempunyai pH ≤ 2 untuk B3 bersifat asam. Enri Damanhuri .4-dinitrotoluena atau Dibenzoil-peroksida digunakan sebagai senyawa acuan. Irritant (bersifat iritasi): padatan maupun cairan yang bila terjadi kontak secara langsung. Suatu bahan dinyatakan sebagai pengoksidasi apabila waktu pembakaran bahan tersebut sama atau lebih pendek dari waktu pembakaran senyawa standar. dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran terus menerus dalam 10 detik. atau bahan tersebut dapat merusak lingkungan.000 > 15. atau sumber nyala lainnya. sedang 2. Pengujian dapat pula dilakukan dengan Seta Closed-cup Flash Point Test. Corrosive (korosif): mempunyai sifat o Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit o Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja standar SAE-1020 dengan laju korosi lebih besar dari 6. kulit atau mulut.000 e.4: Tingkat racun menurut PP 74/2001 Urutan 1 2 3 4 5 6 Kelompok Extremely toxic (amat sangat beracun) Highli toxic (sangat beracun) Moderately toxic (beracun) Slighly toxic (agak beracun) Practically non-toxic (praktis tidak beacun) Relatively harmless (realtif tidak berbahaya) LD50 (mg/kg) ≤1 1 – 50 51 – 500 501 – 5. dan atau pH ≥ 12. dan apabila terus menerus kontak dengan kulit atau selaput lendir dapat menyebabkan peradangan h. Sedang untuk bahan cair. maka bahan tersebut diklasifikasikan mudah meledak.

FTSL ITB Halaman 20 . Chronic toxic (toksik kronis): o Carcinogenic (karsinogen): sifat bahan penyebab sel kanker. yaitu sel liar yang dapat merusak jaringan tubuh o Teratogenic: sifat bahan yang dapat mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan embrio o Mutagenic: sifat bahan yang dapat menyebabkan perubahan kromosom yang dapat merubah genetika. 26 November 2001 Undang-undang No.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 i. 32 tahun 2009: Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Peraturan Pemerintah Nomor 74/2001: Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun. Referensi Utama: o o o Undang-Undang No. 19 tahun 2009: Pengesahan Konvensi Stockholm tentang Bahan Pencemar Organik yang Persisten Enri Damanhuri .

44 %) dan non B3 (77. Secara spesifik pengelolaan limbah B3 telah diatur lebih lanjut dalam: − Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (PP18/1999) − Peraturan Pemerintah No 85 tahun 1999 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah No.52 %). Studi yang dilakukan oleh Dames & Moore untuk mengkaji kelayakan pusat pengolah limbah B3 di Cileungsi menghasilkan proyeksi total limbah berbahaya di daerah Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi (Jabotabek) pada tahun 1990 sebesar 1. 2. atau bupati/walikota wajib mencantumkan persyaratan lingkungan hidup yang harus dipenuhi dan kewajiban yang harus dipatuhi pengelola limbah B3 dalam izin.FTSL ITB Halaman 21 . pada dasarnya pengelolaan limbah B3 di Indonesia mengacu pada prinsip-prinsip dan pedoman pembangunan berkelanjutan yang telah dituangkan dalam peraturan perudang-undangan. Dalam hal setiap orang tidak mampu melakukan sendiri pengelolaan limbah B3. Walaupun limbah itu berasal dari kegiatan industri. khususnya Undangundang No. 05/Bapedal/09/1995 yang merupakan pengaturan lebih lanjut PP19/1994 dan PP12/1995. 01/Bapedal/09/1995 sampai No. Pengelolaan limbah B3 wajib mendapat izin dari Menteri. Peraturan-peraturan lain yang mengatur masalah limbah B3 adalah Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan dari No. 6. beracun (0. beracun (2.90 %). Keputusan pemberian izin wajib diumumkan. gubernur. merupakan limbah cair atau aquous liquid waste. Dalam hal B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 ayat (1) telah kedaluwarsa. Menteri. survai limbah B3 yang berasal dari industri-industri di Otorita Batam menyimpulkan bahwa : − Karakteristik limbah cair industri adalah : mudah terbakar (11.50 %). Enri Damanhuri . cair dan gas).54 %) − Karakteristik limbah padat industri adalah : mudah terbakar (0 %). 4. Sebagaimana dibahas pada Bagian I. namun tidak semua berkatagori Limbah B3. Lebih dari 90 % limbah yang berkatagori berbahaya. Pasal 59 UU tersebut menggariskan bahwa: 1. korosif (1. atau bupati/ walikota sesuai dengan kewenangannya.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. gubernur. Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya. pengelolaannya mengikuti ketentuan pengelolaan limbah B3. dan tetap masih berlaku sebagai pengaturan lebih lanjut dari PP 18/99 jo PP 85/99. terutama karena sifat korosifitasnya. Selain itu. korosif (8.626 ton (padat.58 %) − Limbah B3 (cair dan padat) dari industri rata-rata di bawah 5 % dari total limbah industri yang dihasilkan.984. 5. 3.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN III PERATURAN DALAM PENGELOLAAN LIMBAH B3 1 UMUM Survai di Amerika Serikat pada tahun 1981 mengungkapkan bahwa hampir 90 % dari limbah B3 yang dikelola berasal dari kegiatan industri dan 70 % diantaranya berasal dari industri kimia dan petroleum. 18 tahun 1999 (PP85/1999) PP 18/99 jo PP 85/99 merupakan pengganti PP 19/94 jo PP12/95.52 %) dan non B3 (97. pengelolaannya diserahkan kepada pihak lain.

dan pasal 8. penyimpanan. PP 18/1999 jo PP 85/1995 melarang impor limbah B3 kecuali dibutuhkan untuk penambahan kekurangan bahan baku sebagai bagian pelaksanaan daur-ulang limbah. pemanfaatan. − Bab V (pasal 40 sampai 61): Tata laksana.. yaitu sebanyak 3 pasal. − Bab VI (pasal 62 sampai 63): Sanksi. rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi. khususnya konsep cradle-to-grave yang menjadi rujukan dalam peraturan tentang limbah berbahaya di Indonesia. pengolahan limbah dan penimbunan limbah B3' (pasal 1 angka 3). Timbulnya gerakan lingkungan tahun 1960-an. sampai jangka waktu terbatas. 349/Kp/XI/92 tentang pelarangan impor limbah B3 dan plastik • Keputusan Menteri Perdagangan RI No. − Bab VIII (pasal 66): Ketentuan penutup. 156/KP/VII/95. maka tidaklah berlebihan bila dalam diktat ini dibahas juga pengertian dan pengembangan peraturanperaturan yang berkaitan dengan limbah B3 di Amerika Serikat. Karakteristk dan Proses Penentuan Limbah B3: Pengertian pengelolaan limbah B3 adalah '. Pasal I berisi pasal-pasal dalam PP 18/1999 yang mengalami perubahan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Dalam hal masalah lintas batas limbah ini.61/1993 tentang Pengesahan Convension on The Control of Transboundary Movements of Hazardous Wastes and Their Disposal.156/Kp/VII/95 tentang prosedur impor limbah Disamping itu.. Indonesia sangat potensial sebagai tempat pembuangan limbah berbahaya. memaksa Kongres Amerika untuk memperhatikan masalah limbah industri ini lebih serius. Dengan SK Menteri Perdagangan No.FTSL ITB Halaman 22 . 2 PENGELOLAAN LIMBAH B3 DALAM PP 18/1999 JUNCTO PP 85/1999 Hal yang Diatur: PP 18/1999 tentang pengelolaan limbah berbahaya dan beracun terdiri dari 8 bab yang dibagi lagi menjadi 42 pasal. Sebagai negara kepulauan dengan perairannya yang terbuka. − Bab VII (pasal 64 sampai 65): Ketentuan peralihan. dan pasal II (Penutup).. maupun limbah yang datang dari luar negeri. yaitu: pasal 6. pengumpulan.155/Kp/VII/95 tentang barang yang diatur tata niaga impornya • Keputusan Menteri Perdagangan RI No. Sebagai negara industri yang dapat dikatakan relatif paling maju. pasal 7. sampai tahun 1960-an pengelolaan limbah industri di Amerika Serikat masih belum memadai. Peraturan-peraturan yang langsung menangani lintas batas limbah adalah: • Keputusan Presiden RI No. yang berupaya mengatur ekspor dan impor serta pembuangan limbah B3 secara tidak syah. Indonesia telah meratifikasi Konvensi Basel. Sedangkan tujuan pengelolaan tersebut Enri Damanhuri .. Sumber. misalnya hanya dibuang ke lahan landfill yang belum dilapis secara kedap. Sedang PP 85/1999 yang merupakan perubahan dari PP 18/1999 hanya terdiri dari 2 (dua) pasal. limbah B3 yang dapat diimpor adalah skrap timah hitam (aki bekas). pengangkutan. Kedelapan bab tersebut adalah : − Bab I (pasal 1 sampai 5): Ketentuan umum. − Bab II (pasal 6 sampai 8): Identifikasi limbah B3 − Bab III (pasal 9 sampai 26): Pelaku pengelolaan. Dapat dikatakan. • Keputusan Menteri Perdagangan RI No. baik antar pula di Indonesia. Dalam pasal I dijelaskan pasal-pasal dalam PP18/1999 yang mengalami perubahan. − Bab IV (pasal 27 sampai 39): Kegiatan pengelolaan .

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 adalah : '. Bersifat korosif g. tumpahan. maka identifikasi harus dilanjutkan dengan Langkah berikutnya • Langkah 2: melakukan uji karakteristik sebagaimana tercantum dalam Ps 7(3) PP85/99 seperti diuraikan berikut ini. dengan daftar limbah (Lampiran 1 Tabel 1 dan 3) atau daftar kegiatan (Lampiran 1 Tabel 2) yang tercantum dalam PP85/99. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa. seperti diatur dalam Ps 7(1). karena pengaturannya akan ditetapkan kemudian oleh instansi yang bertanggungan jawab. Bila terdapat dalam daftar. Bila batasan penghasil limbah B3 diterapkan juga pada kelompok tersebut.. Pengujian toksikologi untuk menentukan sifat akut dan atau kronik. seperti batere bekas. Ps 7(3) PP85/99 selanjutnya mendefinisikan uji karakteristik limbah B3 sebagai berikut: a. yaitu Tabel 1 (Sumber tidak spesifik). Bersiafat reaktif d. untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang sudah tercemar sehingga sesuai fungsinya kembali ' (pasal 2). dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi (Lampiran I Tabel 3) Rincian dari masing-masing jenis kelompok tersebut terdapat pada Lampiran I PP85/99. Ps 7 (1) PP85/99 menyebutkan bahwa jenis limbah B3 menurut sumbernya meliputi: a.. yang hanya bisa dilaksanakan oleh sebuah usaha komersial. Pengertian ‘orang’ yang sering muncul dalam PP18/99 seperti dijelaskan dalam Ps1(18) adalah orang perorangan. serta kegiatan skala kecil tidak terkena peraturan ini. seperti ditegaskan dalam Ps9(6). Tabel 2 (Sumber spesifik) dan Tabel 3 (limbah kimia kadaluarsa). Limbah B3 yang dihasilkan oleh kegiatan rumah tangga. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik (Lampiran I Tabel 1) b. Enri Damanhuri . Limbah B3 dari sumber spesifik (Lampiran I Tabel 2) c. Pasal 1 angka 2 mendefinisikan limbah berbahaya dan beracun (disingkat B3) adalah sebagai sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya yang dapat diidentifikasikan menurut sumber dan/atau uji karakteristik dan atau uji toksikologi (PP85/99 Ps 6). Mudah terbakar c. melalui beberapa langkah. Menyebabkan infeksi f. PP18/99 mendefisikan bahwa penghasil limbah B3 adalah orang yang usaha dan atau kegiatannya menghasilkan limbah B3 seperti di tegaskan dalam Ps1(5).. Kemudian PP 12/1995 membatasi. Bila tidak terdapat dalam daftar tersebut. akan menimbulkan permasalahan. bahwa yang terkena definisi tersebut adalah badan usaha yang menghasilkan limbah B3..FTSL ITB Halaman 23 . bekas kemasan. dan atau kelompok orang dan atau badan hukum. Sebuah limbah dinyatakan sebagai limbah B3. Mudah meledak b. maka secara formal limbah tersebut adalah limbah B3. Beracun e.. karena izin pengelolaan limbah B3 membutuhkan prosedur administrasi yang tidak sederhana. yaitu: • Langkah 1: mengidentifikasi limbah yang dihasilkan. Sebelumnya PP 19/1994 mendefinisikan bahwa penghasil limbah B3 tidak hanya mereka yang bergerak dalam kegiatan yang bersifat komersial tetapi termasuk juga perorangan yang menyimpan limbahnya dalam lokasi kegiatannya sebelum limbah tersebut ditangani lebih lanjut sesuai dengan peraturan yang ada.

PLTU yang mengunakan bahan bakar batu-bara. Jenis kegiatan yang termasuk kelompok sumber spesifik adalah industri atau kegiatan: pupuk. peleburan-pemurnian tembaga. pencegahan korosi. gelas keramik/enamel. tinta. penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan. cat. 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan di sekitarnya (bandingkan dengan uraian pada PP74/2001) Limbah mudah terbakar adalah limbah-limbah yang memunyai salah satu sifat: • Berupa cairan yang mengandung alkohol kurang dari 24%-volume. Terdapat 43 jenis limbah yang termasuk kelompok ini. batere sel kering. pengolahan batu-bara dengan pirolisis. sabun deterjen-produk pembersih desinfektan-kosmetik. • Bukan berupa cairan yang pada temperatur dan tekanan standar dengan mudah menyebabkan terjadinya kebakaran melalui gesekan. penyamakan kulit. fotografi. atau sumber nyala lainnya. daur-ulang pelarut bekas. manufaktur dan perakitan kendaraan-mesin. allumunium thermal metallurgyallumunium chemical conversion coating. zat warna dan pigmen. pestisida. daurulang minyak pelumas bekas. semua jenis industri konstruksi (untuk limbah asbestos). bengkel pemeliharaan kendaraan. dan buanagn produk yang tidak memenuhi spesifikasi yang ditentukan atau tidak dapat dimanfaatkan lagi. peleburan-pengolahan besi dan baja. Sumber limbah ini terbagi dalam 51 jenis kegiatan yang termasuk kelompok penghasil limbah B3. peleburan dan penyempurnaan seng. Limbah B3 dari sumber spesifik adalah limbah sisa proses suatu industri atau kegiatan yang secara spesifik dapat ditentukan berdasarkan kajian ilmiah. akan menyala apabila terjadi kontak dengan api. proses kloro-alkali. pertambangan. IPAL industri. pengoperasian insinerator limbah. komponen elektronik-peralatan elektronik. Limbah mudah meledak adalah limbah yang pada suhu dan tekanan standar (25oC. semua jenis industri yang menghasilkan dan menggunakan listrik (untuk limbah PCB). tekstil. farmasi. chemical-industrial cleaning.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Sumber limbah tidak spesifik adalah sumber limbah yang menghasilkan limbah yang pada umumnya bukan berasal dari proses utamanya. laundry dan dry cleaning. tumpahan. tetapi berasal dari kegiatan pemeliharaan alat. pelarutan kerak. batere sel basah. pencucian. seal-gasket-packing. laboratorium riset dan komersial.FTSL ITB Halaman 24 . dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran terus menerus. operasi penyempurnaan baja. pengolahan lemak hewan/nabati dan derivatnya. peleburan timah hitan (Pb). Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa. prosers logam non-ferro. pengawetan kayu. • Merupakan limbah yang bertekanan yang mudah terbakar • Merupakan limbah pengoksidasi Limbah yang bersifat reaktif pada air adalah limbah-limbah dengan salah satu sifat: • Limbah yang pada keadaan normal tidak stabil dan dapat menyebabkan perubahan tanpa peledakan • Limbah yang dapat bereaksi hebat dengan air Enri Damanhuri . resin adesif. electroplating dan galvanis. dan atau pada titik nyala ≤ 60oC (140oF). percikan api. Terdapat 178 jenis bahan kimia yang termasuk kelompok limbah B3. metal-plastic shaping. kilang minyak dan gas bumi. bekas kemasan. fotokopi. rumah sakit. eksplorasi dan produksi minyak-gas-panas bumi. pada tekanan 760 mmHg. gas industri. pengemasan. produk kertas. metal hardening. polimer. petrokimia.

• D221: limbah dari kegiatan kilang minyak dan gas bumi. bottom ash. katalis bekas. Limbah bersifat korosif adalah limbah yang mempunyai salah satu sifat o Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit o Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja standar SAE-1020 dengan laju korosi lebih besar dari 6. Asal limbahnya adalah slop minyak. Simulasi transportasi pencemar ini. uap atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan Limbah sianida. Pengelolaan limbah radioaktif tidak termasuk dalam peraturan ini (Ps 5 PP18/99).FTSL ITB Halaman 25 . drilling mud bekas. uji TCLP adalah uji yang dikembangkan oleh US-EPA. limbah dari laboratorium atau limbah lainnya yang terinfeksi kuman penyakit yang dapat menular.35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55oC. bila ambang batas TCLP tidak terlampaui. limbah PCB • D223: PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara. seperti tercantum dalam lampiran II PP85/99. karbon aktif bekas. limbah PCB Enri Damanhuri . Asal limbahnya adalah fly ash. penghasil limbah masih tetap diharuskan melakukan uji toksisitas akut maupun kronis Limbah yang menyebabkan infeksi yaitu bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan dari tubuh manusia yang terkena infeksi. filter bekas.5 dapat menghasilkan gas. yang merupakan batas ambang yang digunakan untuk indikasi B3. sulfida atau amoniak yang pada pH antara 2 dan 12. menghasilkan gas. residu dasar tanki. gas dan panas bumi. sludge dari IPAL. uap. Limbah yang Dapat Dikeluarkan dari Daftar Lampiran I: Menurut PP85/99. sludge minyak. residu dasar tanki. atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan Limbah yang dengan mudah dapat meledak atau bereaksi pada suhu dan tekanan standar Limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepas atau menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi Limbah yang beracun adalah limbah yang mengandung pencemar yang bersifat racun bagi manusia dan lignkungan yang dapat menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan. limbah laboratorium. dengan kode: • D220: limbah dari kegiatan eksplorasi dan produksi minyak.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 • • • • Limbah yang bila bercampur dengan air (termasuk uap air) menimbulkan ledakan. yang menyebabkan terjadinya pencemaran pada air tanah. Limbah ini berbahaya karena mengandung kuman penyakit seperti hepatitis dan kolera. daftar limbah yang dapat dikecualikan adalah seperti terdapat pada Lampiran I – Tabel 2. dan atau pH ≥ 12. menghasilkan batas aman yang memperhitungkan probabilitas terjadinya toksisitas kronik non-kanker maupun kanker. Asal limbahnya adalah sludge minyak.5 untuk B3 bersifat basa. yang airnya digunakan secara rutin. pembersih jalan dan masyarakat lain di sekitar lokasi pembuangan limbah. cutting pemboran. Pada dasarnya sebetulnya. yang ditularkan pada pekerja. yang merupakan simulasi terburuk kondisi landfill. Namun dalam versi Indonesia. 31 tahun 1994 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Tenaga Atom. sludge dari IPAL. karbon aktif dan absorban bekas. Indikator sifat racun yang digunakan adalah TCLP (Toxicity Characteristics Leaching Procedure). o Mempunyai pH ≤ 2 untuk B3 bersifat asam. dan kewenangan pengelolaannya dilakukan oleh Badan Tenaga Atom Nasional sesuai dengan UU no. kulit dan mulut.

Bila kegiatan reduksi tersebut masih menghasilkan limbah. baik dilakukan sendiri atau menggunakan jasa fihak lain. terkait berbagai fihak yang merupakan mata rantai dalam pengelolaan limbah B3. artinya mengutamakan upaya reduksi di sumber. Aspek pengawasan dan sanksi juga diatur dalam kedua PP tersebut. bertanggung jawab akan hal itu. maka pengelolaan limbah B3 menurut PP 18/99 jo PP85/99 merupakan suatu rangkaian kegiatan (Ps 1.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Limbah tersebut di atas dapat dinyatakan sebagai limbah B3 setelah dilakukan uji karakteristik dan atau uji toksikologi. PP tersebut mengatur masalah perizinan bagi mereka yang akan terlibat dalam bisnis kegiatan operasional tersebut.FTSL ITB Halaman 26 . yaitu: • Uji karakteristik limbah B3 • Uji toksikologi • Hasil studi yang menyimpulkan bahwa limbah yang dihasilkan tidak menimbulkan pencemaran dan gangguan kesehatan terhadap manusia dan mahluk hidup lainnya. Kegiatan dan Pelaku Pengelolaan: Berbeda dengan PP19/94 jo PP12/95. Dengan adanya kedua PP tersebut. dan/atau penimbunan bagi limbahnya. Badan yang mempunyai kewenangan untuk mengawasi pengelolaan limbah B3 tersebut di Indonesia adalah sebuah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. Oleh karenanya. dan − Pengolahan dan penimbunan limbah oleh pengolah Dalam kegiatan tersebut.3) dari terbentuknya limbah oleh penghasil. maka Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. tanpa kecuali. o Substitusi bahan o Modivikasi proses o Serta upaya reduksi lainnya Secara teknis operasional. Namun pada kenyataannya di lapangan. Enri Damanhuri . Ps 27 (1) PP tersebut mengarahkan bahwa reduksi limbah B3 dapat dilakukan melalui upaya: o Penyempurnaan penyimpanan bahan baku dalam proses house keeping. dan masih limbahnya dapat dimanfaatkan. dilarang membuang limbahnya secara langsung ke dalam media lingkungan hidup. Selanjutnya Ps 8 mengatur bahwa limbah B3 yang tercantum dalam Lampiran I Tabel 2 PP85/99 dapat dikeluarkan dari daftar setelah dapat dibuktikan bukan limbah B3 berdasarkan prosedur pembuktian secara ilmiah. maka setiap penghasil limbah B3. maka PP 18/99 jo PP85/99 mengarahkan penanganan limbah B3 yang lebih berbasiskan pada cleaner production. Ps 9 (1) PP18/99 menegaskan bahwa setiap penanggung jawab usaha atau kegiatan yang menggunakan B3 atau menghasilkan limbah B3 wajib melakukan reduksi baik bahan maupun limbahnya. − Pengangkutan limbah oleh pengangkut. maka limbah B3 tersebut dapat dimanfaatkan. tanpa menunggu pembuktian terlebih dahulu. Dengan penyatuan institusi Bapedal dalam Kementerian Lingkungan Hidup. semua jenis limbah tersebut oleh yang berwenang dinyatakan sebagai limbah B3. Sebelum dibubarkan beberapa tahun lalu. Rangkaian mata rantai berikutnya adalah: − Pemanfaatan limbah oleh pemanfaat. maka instansi yang bertanggung sepertinya berada pada Kementerian ini. dan melakukan pengolahan. kemudian upaya reduksi limbah (sebelum terbentuk) seperti diuraikan di atas. yang dikenal sebagai BAPEDAL. − Pengumpulan limbah oleh pengumpul. Setiap mata rantai tersebut memerlukan pengawasan dan pengaturan.

Pengaturan lintas batas limbah B3 dari dan keluar Indonesia diatur dalam Ps53. Kewajiban penghasil limbah adalah mendata limbahnya secara baik. serta Bupati/Walikota yang bersangkutan. Setiap pengangkutan limbah B3 oleh pengangkut. maka penghasil limbah tersebut diperbolehkan menyerahkan penanganan limbahnya kepada pemanfaat limbah (Ps9-2) atau pengolah atau penimbun limbah B3 (Ps9-4) yang mempunyai kewenangan untuk itu. dapat diserahkan kepada fihak lain. maupun pada saat limbah tersebut diserahkan kepada pengelola berikutnya o Nama pengangkut limbah B3 yang melaksanakan pengiriman kepada pengumpul.FTSL ITB Halaman 27 . penanganan limbah B3 dengan jalan pengenceran sehingga konsentrasinya menjadi turun tidak diperbolehkan dilakukan (Ps4). karakteristik. dengan tembusan kepada instansi lain terkait. Pengumpulan ini bersifat sementara. baik pada saat limbah dihasilkan. Bagi mereka yang tidak mampu untuk menangani limbahnya sesuai peraturan yang ada. wajib disertai dokumen limbah B3 (Ps16). Bila limbah B3 yang dihasilkan kurang dari 50 kg/hari. walaupun telah diserahkan penanganannya pada fihak lain. dan limbah tersebut selanjutnya harus diserahkan kepada pemanfaat. penghasil limbah tidak harus menyerahkan limbahnya setiap saat kepada pengumpul atau pengangkut atau pengolah limbah. pemanfaat atau pengolah/penimbun limbah B3 Catatan tersebut wajib dilaporkan sekurang-kurangya sekali dalam enam bulan kepada instansi yang bertanggung jawab. Selama penyimpanan tersebut. Demikian juga upaya kegiatan pengumpulan dan pengangkutan limbah B3 menuju lokasi pemerosesan berikutnya. merupakan hal yang harus dilaksanakan. Sebagaimana pada penghasil limbah. karena kegiatan ini tidak akan menurunkan beban limbah yang dihasilkan. Rantai berikutnya dalam pengelolaan ini adalah pengumpulan limbah (Ps12. Ps18 dan Ps23). atau pemanfaat limbah atau pengolah/penimbun limbah untuk menyimpan limbahnya sebelum dikelola lebih lanjut tidak lebih dari 90 hari (Ps10. yang mencakup (Ps11-1): o Jenis. Informasi data tersebut akan digunakan untuk bahan inventarisasi serta bahan evaluasi guna pengembangan kebijakan pengelolaan limbah B3. Namun penghasil limbah B3 tetap bertanggung jawab atas limbah yang diolah tersebut. PP ini juga mengatur penghasil limbah yang dikatagorikan sedikit menghasilkan limbah B3. Setiap kegiatan yang menghasilkan limbah B3. yang dikenal sebagai Small Quantity Generator (SQG). dengan syarat mendapat persetujuan instansi yang bertanggung jawab (Ps10). dan bila tidak mampu diolah di dalam negeri dapat diekspor ke negara yang mempunyai teknologi pengolahan yang sesuai (Ps9-3). maka limbah boleh disimpan paling lama 90 hari sebelum diserahkan kepada rantai pengelola berikutnya. Ps13 dan Ps14). wajib mengolah limbahnya sesuai dengan teknologi yang ada. atau pengolah-penimbun limbah yang diakui oleh yang berwenang. sebagaimana diatur dalam Ps12 dan Ps15 PP18/99. jumlah dan waktu.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 tanpa pengolahan terlebih dahulu (Ps3). maka penghasil limbah dikenai kewajiban untuk mematuhi tata cara penyimpanan bagi limbah B3 (Ps29). Demikian pula pengolah limbah B3 dapat menyimpan limbah yang diterimanya maksimum 90 hari sebelum dilakukan pengolahan. Dengan demikian. maka penghasil limbah tersebut dapat menyimpan limbahnya lebih dari 90 hari. Batas waktu bagi penghasil limbah. pemberian symbol dan label untuk setiap kemasan yang digunakan yang menunjukkan karakteristik dan jenis limbah B3 tersebut (Ps28). Pengangkut limbah B3 wajib menyerahkan limbah B3 dan dokumennya kepada Enri Damanhuri . Kewajiban untuk mendata limbah B3 yang dikelola. serta melaporkan setiap 6 bulan sekali kepada instansi yang berwenang. Disamping itu.

pengolahan limbah bersasaran untuk merubah karakteristik dan komposisi limbah tersebut agar menjadi tidak berbahaya lagi. Mekanisme Cradle-to-Grave: Dokumen limbah akan memegang peranan penting dalam pemantauan perjalanan limbah B3 dari penghasil sampai ke pengolah limbah. Dokumen tersebut antara lain berisi: o Nama dan alamat penghasil limbah atau pengumpul yang menyerahkan limbah o Tanggal peneyerahan limbah o Nama dan alamat pengangkut limbah o Tujuan pengangkutan o Jenis. Rantai pengeolaan yang paling akhir adalah penimbunan imbah B3 dalam sebuah landfill limbah B3 dengan system pelapis dasar. dan menyerahkan dokumen tersebut kepada pengolah limbah bila limbah tersebut telah sampai di tujuan. Penghasil limbahpun dapat bertindak sebagai pengangkut limbah. jumlah. dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan di jalan serta hal-hal lain yang tidak diinginkan. Dokumen tersebut dibuat dalam rangkap 7 apabila pengangkutan hanya satu kali. rincian distribusi dokumen limbah tersebut adalah sebagai berikut: − Lembar ke 1 (asli): disimpan pengangkut setelah ditandatangani oleh pengirim limbah − Lembar ke 2: setelah ditandatangai oleh pengangkut limbah. Berdasarkan uraian dalam Penjelasan atas PP 18/99. Rantai akhir dari sistem ini adalah pengolahan dan penyingkiran (disposal) limbah. kemudian oleh pengangkut diserahkan kepada penerima limbah − Lembar ke 5: dikirimkan oleh penerima kepada instansi yang bertanggung jawab setelah diterima oleh penerima limbah B3 − Lembar ke 6: dikirimkan oleh pengangkut kepada Bupati/Walikota yang bersangkutan dengan pengirim. stabilisasi dan solidifikas. Disamping itu. Pada dasarnya. Bila teknologi tersebut tidak dapat diterapkan.FTSL ITB Halaman 28 . Usaha ini membutuhkan izin terlebih dahulu dari Menteri yang mempunyai kewenangan di bidang perhubungan setelah mendapat pertimbangan dari Menteri Lingkungan Hidup. Proses tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi yang sesuai. seperti secara termal. pengolahan secara fisika. yang akan merupakan sarana permantauan yang serupa dengan konsep cradle-to-grave yang diterapkan di Amerika Serikat.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 pengumpul atau pemanfaat atau pengola atau penimbun yang ditunjuk oleh penghasil limbah B3 (Ps17). limbah tersebut harus dilengkapi dokumen-dokumen yang berasal dari penghasil limbah maupun dari pengumpul limbah yang menjelaskan tentang limbah tersebut. alat angkut yang digunakan harus sesuai dengan peraturan tentang angkutan yang ada. maka dibutuhkan dokumen 11 rangkap. kimia dan biologi (Ps34). dan karakteristik limbah yang diserahkan. Apabila pengengkutan lebih dari satu kali (antar moda). yaitu : perkereta-apian (UU 13/1992). Sektor pengangkutan merupakan aktivitas yang beresiko tinggi. komposisi. dengan aturanaturan yang berlaku bagi pengangkut limbah B3. maka dibutuhkan teknologi lain yang terbaik dan tersedia. Selama dalam perjalanannya. kemudian dikirimkan kepada instansi yang bertanggung jawab oleh pengirim limbah. setelah ditandatangani pleh penerima limbah Enri Damanhuri . Disamping itu. − Lembar ke 3: disimpan oleh penghasil setelah ditandatangani oleh pengangkut − Lembar ke 4: setelah ditanda tangani oleh pengirim limbah. pengolahan limbah bersasaran agar limbah tersebut dapat terdaur-ulang atau terdaurpakai. angkutan darat (UU 14/1992). penerbangan (UU 15/1992) dan pelayaran (UU 21/1992).

hanya rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang telah disetujui oleh instansi berwenang yang diajukan kepada Instansi yang bertanggung jawab bersama persyaratan lainnya. maka analisis dampak lingkungannya dibuat teritegrasi dengan kegiatan utamanya dengan persyaratan yang berlaku.1. Disamping itu. untuk melengkapi perizinan kegiatan pengolahan limbah tersebut. pengumpulan. pemanfataan. − nama dan alamat penanggung jawab. − lokasi tempat kegiatan. − tata letak sarana dan prasarana. − bentuk kegiatan yang akan dilakukan. pengumpul. − jumlah dan karakteristik limbah yang akan ditangani. Disamping mempunyai legalitas badan usaha. Dalam hal penghasil limbah bertindak pula sebagai pengolah limbah dan kegiatan tersebut dilakukan pada lokasi yang sama. disertai dokumen-dokumen yang biasa menyertainya. Skema 3. persyaratan lain untuk memperoleh izin tersebut adalah adanya informasi yang menyangkut tentang: − nama dan alamat yang jelas dari badan usaha tersebut. dan pengolahan-penimbunan. − bahan baku dan proses yang akan digunakan.1 : Mata rantai perjalanan limbah beserta dokumennya Pengelolaan limbah B3 memungkin badan swasta untuk terlibat di dalamnya. mata rantai perjalanan limbah beserta dokumennya adalah seperti tercantum dalam Skema 3. − Lembar ke 8 sampai ke 11 dikirim oleh pengangkut kepada pengirim limbah setelah ditandatangani oleh pengangkut terdahulu dan diserahkan kepada pengangkut berikutnya (antar moda).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − Lembar ke 7: setelah ditandatangani oleh penerima. − alat pencegahan pencemaran yang digunakan Yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan izin lokasi pengolahan adalah kepala kantor pertanahan kabupaten/kota (pasal 42) sesuai dengan rencana tata ruang berdasarkan rekomendasi Kepala instansi yang bertanggung jawab. − spesifikasi alat pengolah limbah.FTSL ITB Halaman 29 . Enri Damanhuri . pemanfaat. Untuk itu. Untuk itu dibutuhkan izin operasi (Ps40). pengangkut maupun sebagai pengolah limbah tersebut. setelah mendapat rekomendasi dari Kepala instansi yang bertanggung jawab. baik sebagai penyimpan. dibutuhkan analisis dampak lingkungan terlebih dahulu. yaitu : − dari Kepala instansi yang bertanggung jawab untuk kegiatan penyimpanan. maka oleh pengangkut dikirimkan kepada pengirim limbah. Dalam bentuk skema. − dari Menteri Perhubungan untuk kegiatan pengangkutan limbah B3.

1980) dan Superfund Amendement and Reautorization Act (SARA Enri Damanhuri . Kewajiban penghasil. − Solid Waste Disposal Act (1965) dan Resource Recovery Act (1970) : pengaturan tentang pengolahan dan pendaur-ulangan buangan padat. − mengambil contoh limbah untuk dianalisa di laboratorium. pengumpul.1976) : pengaturan penggunaan bahan kimia berbahaya yang baru dihasilkan. Kontrol yang aktif dari masyarakatnya banyak menelorkan peraturan-peraturan guna mengatur masalah ini. 3 KONSEP CRADLE-TO-GRAVE AMERIKA SERIKAT Sebagai negara industri. Beberapa peraturan-peraturan Federal yang berkaitan dengan masalah lingkungan. Dalam hal pengangkutan limbah B3 antara negara yang melalui wilayah Indonesia. Upaya ini merupakan kewajiban fihak pengelola untuk melaksanakannya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 PP18/99 tersebut juga mengatur perpindahan lintas batas limbah B3 dari dan ke luar Indonesia (Ps53). dan biaya kegiatan tersebut dibebankan pada fihak pengelola. maka limbah B3 dilarang masuk ke wilayah Indonesia. − Federal Insecticide. Fungicide and Rodenticide Act (FIFRA-1972) : mengatur penyimpanan dan disposal pestisida. pengangkut dan atau pengolah limbah adalah membantu sepenuhnya aktivitas pengawasan yang dilakukan di daerah tanggung jawabnya. maka Instansi yang bertanggung jawab akan melakukan upaya penanggulangan. Pengawasan tersebut mempunyai kewenangan untuk: − memasuki area lokasi kegiatan.1984) : tentang perlindungan terhadap air tanah dari limbah berbahaya − Comprehensive Environmental Response. Amerika Serikat relatif banyak mengalami banyak masalah dengan limbah. Bila terjadi kecelakaan atau pencemaran atau kerusakan lingkungan akibat kegiatan tersebut.1976) : pengaturan pengelolaan limbah berbahaya − Hazardous and Solid Waste Amandements Act (HSWA . Pemeriksaan kesehatan pekerja oleh instansi yang berwenang di bidang kesehatan tenaga kerja dilakukan secara berkala agar sejak dini dapat diketahui terjadinya kontaminasi oleh zat-zat berbahaya.FTSL ITB Halaman 30 . − meminta keterangan tentang pelaksanaan pengelolaan limbah. − Toxic Substances Control Act (TSCA . yang mengatur permasalahan penggunaan energi nuklir. dan fihak pengelola diwajibkan untuk segera menaggulanginya. Pengawasan pengelolaan limbah B3 yang dilakukan oleh Instansi yang bertanggung jawab meliputi pematauan penaatan persyaratan serta ketentuan teknis dan administratif oleh fihak-fihak yang mengelola limbah B3. − Resource Conservation and Recovery Act (RCRA . Pengiriman limbah B3 ke luar Indonesia membutuhkan persetujuan tertulis dari pemerintah negara penerima dan izin tertulis dari pemerintah Indonesia. maka dibutuhkan pemberitahuan tertulis terlebih dahulu kepada pemerintah Republik Indonesia. − melakukan pemotretan untuk kelengkapan pengawan tersebut. khususnya limbah industri. Compensation and Liabilities Act (CERCLA . khususnya yang berkaitan dengan masalah pengelolaan limbah B3 antara lain adalah : − Atomic Energy Act (1954) : merupakan revisi Atomic Energy Act tahun 1946. Guna mencegah dijadikannya wilayah Indonesia sebagai tempat pembuangan limbah B3. maka fihak pengelola bertanggung jawab atas hal ini. Hal lain yang mendapat perhatian dalam kedua PP tersebut adalah kesehatan dan keselamatan pekerja yang terlibat dalam kegiatan pengelolaan ini serta tanggung jawab pengelola bila terjadi kecelakaan serta pencemaran. Bila fihak pengelola tidak dapat menanggulanginya secara baik.

RCRA dalam hal ini menugaskan USEPA untuk melaksanakan aturan-aturan yang ada. transportasi. RCRA dianggap merupakan produk legislatif yang paling penting dalam pengaturan limbah B3. RCRA (1976). Dalam peraturan tersebut. PCB telah diproduksi di Amerika Serikat sejak tahun 1929. Melalui TSCA. Dengan adanya peraturan tersebut maka tidak satupun bahan kimia yang boleh diimport atau dieksport tanpa kontrol dan persetujuan USEPA. harus diuji dulu sebelum bahan tersebut diproduksi untuk dipasarkan. DRE (Destruction and Removal Efficiency) yang dipersyaratkan paling tidak adalah sebesar 99. dan telah mengalami beberapa kali amandemen sejak dikeluarkannya pada tahun 1976. maka yang sangat berkaitan erat dengan masalah limbah berbahaya adalah TSCA (1976). HSWA (1980). pestisida. persyaratanpersyaratan mulai dari sumber (timbulan). pengolahan. yaitu dari mulai identifikasi limbah berbahaya. serta bagaimana mengurangi timbulan limbah tersebut. Direncanakan. Efek toksik dari bahan yang baru dihasilkan. serta terkonsentrasi pada jaringan lemak. sehingga digunakan sebagai media transfer panas pada transformator dan kapasitor. − Pengangkut (transporter).FTSL ITB Halaman 31 . Katagori produk yang tidak termasuk dalam kontrol TSCA adalah tembakau. dicantumkan aturan-aturan administratif dan tehnis untuk tiga katagori pelaku utama. Dalam pengelolaan limbah berbahaya. Bahan-bahan kimia yang diproduksi sebelum TSCA juga terkena peraturan ini. Solid Waste Disposal Act pada dasarnya mengatur tata cara disposal (penyingkiran) limbah kota dan industri. sampai penyingkiran/pemusnahan (disposal) limbah berbahaya. Berdasarkan hal ini keluarlah RCRA. Proses pemusnahan yang paling cocok adalah dengan insinerasi pada temperatur 1200 ± 100°C selama 2 detik dengan 3% kelebihan oksigen di cerobong. disamping itu USEPA mempunyai kewenangan untuk mendapatkan informasi tentang bahan berbahaya ini di sumbernya (pabrik). dan merupakan bahan cair dengan sifat-sifat yang menguntungkan yaitu mempunyai stabilitas panas serta sifat-sifat transfer panas yang ideal. atau 1600 ± 100°C selama 1.5 detik dengan 2 % kelebihan oksigen. senjata api/amunisi. transformator tersebut akan ditarik dari peredaran oleh USEPA. makanan. bahan nuklir.9999 %. penyimpanan. yang terdiri dari berbagai Subtitle. − Pollution Prevention Act (1990) : strategi penanganan pencemaran limbah dengan memberikan priporitas pada minimasi limbah Dari sekian banyak peraturan perundang-undangan tersebut di atas. aditif untuk makanan. Produk ini telah diatur oleh peraturan-peraturan sebelumnya. dikelola dengan baik. Perkembangan lebih lanjut ternyata dibutuhkan aturan-aturan lebih jauh agar limbah tersebut. Namun uji coba pada hewan akhirnya menunjukkan bahwa PCB dapat menyebabkan kanker dan sebagainya. produk PCB di Amerika Serikat telah dihentikan (1977). yaitu : − Penghasil (generator). khususnya limbah B3. Diperkirakan sekitar 77. versi RCRA yang paling penting adalah aturan-aturan yang termasuk dalam Subtitle-C dengan program utamanya adalah Cradle-to-grave .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 1986) yaitu tentang pengaturan dan pendanaan bagi pembersihan site disposal berbahaya yang sudah tidak beroperasi. obat-obatan dan kosmetika. namun sejumlah besar alat listrik masih menggunakan bahan ini. CERCLA (1980) dan SARA (1986).000 transformator dengan PCB telah diproduksi. agar tidak mengganggu terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. dan Enri Damanhuri . Salah satu kasus yang dapat dijadikan contoh adalah penggunaan polychlorinated biphenyl (PCB). Toxic Substances Control Act (TSCA) memberi kewenangan pada USEPA untuk mengidentifikasi dan memantau bahan-bahan kimia berbahaya di lingkungan .

2 : Konsep cradle-to-grave Amerika Serikat − Setiap generator mengisi format standar dalam 6 kopi. penyimpan (storage) dan pemusnah/penyingkir (disposal) atau TSD. Oleh karenanya. dan menyerahkan copy yang lain pada perusahaan TSD (Treatment. dan pada tahun 1984 plafon SQG ini diturunkan lagi menjadi 100 kg limbah B3 per bulan.FTSL ITB Halaman 32 . Dengan pengecualian ini. Storage & Disposal) Enri Damanhuri . Guna memungkinkan pelacakan dan pengelolaan sesuai dengan konsep Cradle-tograve. EPA pada tahun 1980 lebih lanjut mendefinisikan Small Quantity Generator (SQG) sebagai penghasil limbah berbahaya kurang dari 1000 kg per bulan. − Generator menyimpan kopi-6 dan mengirim kopi-5 ke USEPA serta memberikan copy yang lain ke transporter − Transporter selanjutnya menyimpan kopi-4. penyimpan. yaitu aturan-aturan pengangkutan bahan berbahaya dan beracun mulai dari pengemasan. walaupun pengusaha tetap diwajibkan untuk menganalisis limbahnya. antara lain berisi : − Identifikasi limbah B3 − Penghasil limbah B3 − Pengangkut limbah B3 − Pemilik/operator fasilitas pengolah. Generator limbah B3 harus mendapatkan nomor identifikasi dari USEPA. USEPA juga mengadopsi aturan-aturan yang telah lama digunakan oleh US Departement of Transportation (DOT). sebagian besar jenis limbah dari SQG dikeluarkan dari Subtitle-C. USEPA menyadari akan sulit menerapkannya. Perusahaan kecil dibatasi kemampuan finansial dan kapasitasnya untuk melaksanakan aturan RCRA secara ketat.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − Pemilik/operator fasilitas pengolah(treatment).2 : Skema 3. Aturan RCRA selanjutnya dikodifikasi dalam Code of Federal Regulation (CFR) dengan sebutan Title 40 CFR. selama pengangkutan sampai di tujuan. Bila Generator skala kecil diharuskan mengikuti aturan tersebut. maka diciptakan mekanisme seperti Skema 3. yang memungkinkan untuk pemanfaatkan dan pelacakan limbah berbahaya tersebut dalam mata rantai pengelolaan. pembuang limbah B3 − Daur ulang limbah B3 − Land disposal limbah B3 − Izin fasilitas TSD Generator adalah penghasil (creator) limbah berbahaya yang harus menganalisis limbah padatnya sesuai aturan RCRA Subtitle-C.

yaitu : − Treatment (pengolahan) : setiap proses yang merubah karakteristik atau komposisi limbah berbahaya sehingga menjadi tidak berbahaya atau sedikit berbahaya. EPA dan generator dapat melacak perjalanan limbah B3 tersebut dari penimbul atau generator (cradle) ke titik penyingkiran/pemusnahan final (grave). Pengusaha yang ingin berkecimpung dalam usaha ini harus memasukkan permohonan yang mencakup rancangan sarananya. yang melibatkan 3 kegiatan fungsional. − Disposal (pemusnahan/penyingkiran) : penyimpanan limbah berbahaya dengan cara yang dianggap aman dengan penimbunan dalam tanah. kalau tidak. Salah satu isu penting terhadap lahan pengurugan (landfilling) yang tidak terkontrol secara baik adalah bagaimana mengidentifikasikan dan mengkuantifikasi resiko Enri Damanhuri . maka EPA hanya mampu mengatur pengelolaan limbah berbahaya yang masih aktif dan baru ditutup. ledakan. terutama pada landfill limbah B3 yang tidak terkontrol. Transporter harus mengangkut limbah tersebut sesuai dengan jumlah yang tercantum dalam manifes. Setiap manifes isian tersebut berisi antara lain : − Pernyataan bahwa generator telah menggunakan cara-cara terbaik guna mengurangi volume dan toksisitas limbah B3 nya. termasuk juga cara analisis limbah B3 dan sebagainya. maka USEPA bekerja erat dengan DOT. atau setiap proses yang mampu melakukan pengurangan volume atau mampu memanfaatkan kembali limbah tersebut. Disamping itu generator harus melaporkan pada USEPA dengan menunjukkan tempat (lokasi) dimana limbah itu berada. Oleh karenanya. CERCLA adalah berfungsi menangani "dosa masa lalu".FTSL ITB Halaman 33 . tidak terjangkau oleh EPA. generator harus menghubungi transporter atau TSD untuk menentukan status dari limbah tersebut. Bila usulan tersebut disetujui (bisa memakan waktu sampai 3 tahun). − Pernyataan bahwa sarana TSD yang dipilih oleh generator adalah yang terbaik dalam meminimkan resiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. misalnya karena terjadinya kebocoran. Dengan demikian. Compensation and Liabilites Act (CERCLA). Sebelum adanya Comprehensive Enviromental Respons. kontaminasi terhadap rantai makanan atau pencemaran terhadap sumber-sumber air minum. Transporter merupakan masa rantai yang sangat penting dalam sistem ini. dan tidak menerima limbah dari generator yang tanpa nomor tersebut. Dengan CERCLA. maka aktifitas tersebut dikomunikasikan pada masyarakat selama 45 hari. kopi-2 ke USEPA dan TSD menyimpan kopi-3. Sarana yang sudah ditutup sebelum peraturan ini keluar.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − TSD kemudian mengirimkan kopi-1 kembali ke generator. Rantai akhir dari sistem ini adalah TSD. − Storage (penyimpanan) : penyimpanan sementara limbah berbahaya sebelum diolah atau dimusnahkan atau didaur-ulang. Transporter harus menyimpan kopi-4 dari manifes selama 3 tahun setelah limbah tersebut diterima oleh TSD. maka USEPA mempunyai kewenangan untuk bertindak terutama bila berkaitan dengan pengaruh limbah B3 terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Karena DOT sudah lama menangani transportasi bahan berbahaya. Transporter harus memiliki nomor-identifikasi USEPA. Generator harus sudah menerima kopi-1 dalam kurun waktu 35 hari sejak limbah tersebut diterima oleh perusahaan pengangkut (transporter). CERCLA diperkuat oleh SARA yang mengatur pengumpulan dana melalui pajak khusus untuk menjamin terlaksananya pembersihan lingkungan.

FTSL ITB Halaman 34 . transporter. C. sampai pemecahan final yang permanen diterapkan pada lahan tersebut .: Hazardous waste management. pemilik/pengoperasi sarana TSD.A. 1989 Enri Damanhuri . yaitu : a) Penyingkiran (pengangkutan kembali) substansi berbahaya dan pembersihan segera bagian-bagian lahan.: Hazardous waste identification and classification manual. termasuk pula penentuan kontribusi penanggung jawab atas masalah ini. b) Kegiatan yang bersifat penyembuhan (remedial). kegiatan ini bersifat program jangka pendek.T. atau kegiatan-kegiatan stabilisasi sementara lainnya. Dalam kegiatan yang bersifat jangka panjang ini. yang merupakan pemecahan yang permanen dari masalah yang timbul.P. serta proporsi beban dana yang dipikulkan pada masing-masing pelaku. Terdapat dua jenis tindakan dari USEPA. Referensi Utama: − Peraturan Pemerintah Nomor 18/1999: Pengelolaan Limbah B3 − Peraturan Pemerintah Nomor 85/1999: Amandemen PP18/99 − Wagner. Van Nostrand Reinhold. 1990 − Wentz. yaitu generator.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. McGraw-Hill Book.

keselamatan dan harta benda bila diangkut. Pengaturan teknis tentang aspek ini sejak tahun 1995 diatur dalam: a) Kep. − Tanggal penyerahan limbah − Tanda tangan pejabat penghasil atau pengumpul. pengumpulan dan pengangkutan merupakan komponen-komponen teknik operasional pengelolaan limbah B3 seperti diatur dalam PP 19/1994 dan PP12/1995. yang merupakan legalitas kegiatan pengelolaan sehingga dokumen ini akan merupakan sarana/alat pengawasan dalam konsep cradle-to-grave. Penyimpanan.FTSL ITB Halaman 35 . dapat digunakan.Kepala Bapedal No. untuk menyatakan bahwa limbahnya telah sesuai dengan keterangan yang ditulis serta telah dikemas sesuai peraturan yang berlaku Bila pengisi dokumen adalah pengumpul yang berbeda dengan penghasil. antara lain berisi: − Nama dan alamat pengolah atau pengumpul atau pemanfaat limbah B3 Enri Damanhuri .Kepala Bapedal No.05/Bapedal/09/1995: tentang Simbol dan Label Limbah B3 2 DOKUMEN Bahan-bahan berbahaya tersebut bila akan diangkut ke tempat lain. dengan format yang telah dibakukan dengan Keputusan Kepala Bapedal No. Namun terlihat bahwa pengaturan limbah B3 terkesan lebih ketat dibandingkan pengaturan B3. maka dokumen tersebut dilengkapi dengan salinan penyerahan limbah tersebut dari penghasil limbah. b) Bagian yang harus diisi oleh pengangkut limbah B3. volume dan sebagainya) − Kelas 'bahaya' dari bahan itu (hazard class).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN IV PELABELAN. khususnya dalam mengatur transportasi bahan berbahaya yang diatur dalam Hazardous Materials Transportation Act.01/Bapedal/09/1995: tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3 b) Kep. Dokumen ini dikenal pula sebagai shipping papers. − Kuantitas (berat. karena pengaturan B3 sudah dilaksanakan sejak lama. harus dilengkapi dengan dokumen resmi. Menurut US Department of Transportation (USDOT). khususnya dalam menangani bahan kimia dan bahan bakar. bahan berbahaya adalah setiap bahan yang dapat menimbulkan resiko terhadap kesehatan.Kepala Bapedal No. yang kemudian diganti menjadi PP 18/99 dan PP 85/1999. PENYIMPANAN DAN PENGANGKUTAN 1 UMUM Untuk memberikan gambaran tentang aspek penyimpanan sampai pengangkutan bahan berbahaya. antara lain berisi: − Nama dan alamat penghasil atau pengumpul limbah B3 yang menyerahkan limbah B3 − Nomor identifikasi (identification number) UN/NA − Kelompok kemasan (packing group). dan menjadi standar baku secara universal. yang antara lain terdiri dari: a) Bagian yang harus diisi oleh penghasil atau pengumpul limbah B3. maka aturan-aturan yang diberlakukan di USA. dilengkapi tanggal. antara lain berisi : − Nama dan alamat pengangkut limbah B3 − Tanggal pengangkutan limbah − Tanda tangan pejabat pengangkut limbah c) Bagian yang harus diisi oleh pengolah atau pengumpul atau pemanfaat limbah B3.02/Bapedal/09/1995. Pada prinsipnya tidak ada perbedaan yang berarti dalam menyimpan dan mengangkut B3 atau limbah B3.02/Bapedal/09/1995: tentang Dokumen Limbah B3 c) Kep. Dalam Diktat ini juga diuraikan tata-cara yang berlaku di Indonesia dalam menanangani limbah B3 yang berasal dari beberapa regulasi yang dikeluarkan sebelum PP 74/2001 dikeluarkan.

pada bagian bawah simbol terdapat blok segilima dengan bagian atas mendatar dari sudut terlancip terhimpit dengan garis sudut bawah belah ketupat bagian dalam.FTSL ITB Halaman 36 .3 sesuai dengan sifatsifatnya. Nomor identifikasi mempunyai kode UN (United Nation) atau NA (North America) diikuti oleh 4 digit angka. untuk menyatakan bahwa limbah yang diterima sesuai dengan keterangan dari penghasil dan akan diproses sesuai peraturan yang berlaku d. b) Kelas-2: gas. maka limbah tersebut dikembalikan lagi kepada penghasil.1 sampai 4. yaitu : Enri Damanhuri .1 dan 2.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Tanda tangan pejabat pengolah. Diharapkan Tim yang bertanggungjawab dalam menangani kecelakaan. Simbol berbentuk bujur sangkar diputar 45 derajat sehingga membentuk belah ketupat. − Divisi 2. Sedang label merupakan penandaan pelengkap yang berfungsi memberikan informasi dasar mengenai kondisi kualitatif dan kuantitatif dari suatu bahan yang dikemas. campuran atau peralatan. Pada keempat sisi belah ketupat tersebut dibuat garis sejajar yang menyambung sehingga membentuk bidang belah ketupat dalam ukuran 95 persen dari ukuran belah ketupat bahan. maka United States . c) Kelas-3: cairan mudah terbakar (flammable).3 sesuai dengan sifat-sifatnya. pengumpul atau pemanfaaat.2: nonflammable compressed gas yaitu setiap bahan atau campuran yang dikemas pada tabung gas dengan tekanan dan tidak termasuk ke dalam divisi 2.3: poisonous gas (gas beracun) yaitu bahan berupa gas yang pada temperatur 20 °C dengan tekanan 1 atmosfir akan merupakan bahan toksik pada manusia.Department of Transportation (US-DOT) digunakan tanda-tanda dalam bentuk simbul dan label. atau dianggap toksik pada manusia dengan adanya pengujian pada binatang di laboratorium dengan harga LC50< 5000 ppm.1 sampai 2. 2 SIMBOL DAN LABEL Label Versi US-DOT: Guna keamanan dan memudahkan pengenalan secara cepat bahan berbahaya tersebut. yaitu: − Divisi 2. Kriteria cairan yang mudah terbakar adalah setiap cairan dengan titik nyala (flash point) tidak lebih dari 60. dilengkapi tanggal. terbagi menjadi 3 divisi dengan nomor 4. Simbol yang dipasang pada kemasan minimal berukuran 10 cm x 10 cm.5 °C.1 sampai 1. Terdapat 9 klasifikasi bahan berbahaya menurut versi USDOT yaitu: a) Kelas-1: bahan yang mudah meledak (explosive). Warna garis yang membentuk belah ketupat dalam sama dengan warna simbol. yang penggunaannya adalah dengan memfungsikan ledakannya. disertai keterangan: − Jenis limbah dan jumlahnya − Alasan penolakan − Tanda tangan pejabat pengolah atau pemanfaat dan tanggal pengembalian − Surat-surat dokumentasi pengangkutan tersebut ditempatkan di kendaraan angkut sedemikian rupa sehingga cepat didapat dan tidak tercampur dengan surat-surat lain. Definisi eksplosif menurut USDOT adalah setiap senyawa kimia. secara cepat dapat mengidentifikasi sifat bahan berbahaya itu serta cara penanggulangannya. d) Kelas-4: padatan mudah terbakar atau berbahaya bila lembab. Penghasil limbah B3 akan menerima kembali dokumen limbah B3 tersebut dari pengumpul atau pengolah selambatlambatnya 120 hari sejak limbah tersebut diangkut untuk dibawa ke pengumpul atau pengolah atau pemanfaat.1: flammable gas (gas mudah terbakar) yaitu bahan berupa gas yang pada temperatur -20 °C dan tekanan 1 atmosfir akan terbakar bila bercampur dengan udara sekitar 13 % volume atau kurang − Divisi 2. yang secara cepat akan dapat memberikan informasi bila terjadi kecelakaan. Apabila limbah yang diterima ternyata tidak sesuai dan tidak memenuhi syarat. Simbol atau label tersebut pada dasarnya dibagi berdasarkan kelas ‘bahaya’ dari limbah yang akan diangkut.5 sesuai dengan jenis akibat yang dapat ditimbulkan oleh eksplosif tersebut. terbagi menjadi 3 divisi dengan nomor 2. terbagi lagi menjadi 5 divisi dengan nomor 1. sedangkan simbol pada kendaraan pengangkut tempat penyimpanan minimal 25 cm x 25 cm.

dengan plakat warna putih dan simbol hitam. dan putih di bawah dengan simbol hitam. menurut versi USDOT didefinisikan sebagai bahan yang dapat menyebabkan kerusakan visibel ke materi yang kontak dengannya. Oksidator adalah bahan kimia seperti khlorat. terbagi menjadi 2 divisi. Plakat yang digunakan berlabelkan Radioactive white-I. Disamping itu. merah (fbahaya terhadap kebakaran). h) Kelas-8: bahan korosif. artinya mempunyai karakter yang dapat menyebabkan luka atau kerusakan pada paparan yang singkat walau dilakukan pengobatan. bukan peledak. flammabilitas.3: dangerous when wet materials yaitu bahan yang secara spontan menyala atau memberikan gas bila berkontak dengan air. Kelompok berikutnya adalah bahan beracun (di luar gas) yang diketahui toksik pada manusia. dan/atau tidak berbahaya bila digunakan secara hati-hati dan bertanggung jawab o 2 = moderat. mutagen atau teratogen pada binatang Enri Damanhuri . sedang tulisan I. dan reaktivitas. maka label NFPA ini merupakan label yang perlu dipasang. terbagi menjadi 2 divisi. baik cair atau padat. Label dibutuhkan dipasang pada seluruh bahan kimia yang ada di sebuah laboratorium. dan bahan menular baik berupa mikroorganisme atau toxin yang dapat mendatangkan penyakit pada manusia.002 microcurie per-gram. dengan warna masing-masing kotak berbeda. yang bila pada kondisi normal terjadi kecelakaan akan menyebabkan terbentuknya api akibat gesekan dan sebagainya.O . e) Kelas-5: pengoksidasi dan peroksida organik. Radioactive yellow-II dan Radioactive yellow-III.2: spontaneously combustible materials yaitu bahan yang bila pada kondisi normal terjadi kecelakaan secara spontan akan menjadi panas akibat berkontak dengan udara misalnya bahan yang termasuk pyrophoric. dan putih (bahaya khsusus) o Angka dan notasi yang terdapat pada masing-masing kotak adalah: a. dengan kode ORM (other regulated materials) ORM-D: komuditas konsumer seperti hair spray ORM-E: lain-lain yang diatur oleh USDOT − Label Versi NFPA: Disamping US-DOT. untuk mengindikasikan bahaya bahan kimia terhadap kesehatan. Untuk menujukkan derajad bahaya maka digunakan angka: o Setiap kotak diberi warna: biru (bahaya terhadap kesehatan).1: flammable solid yaitu bahan padat.O . dan mungkin menyebabkan luka atau kerusakan kecuali dilakukan pengobatan o 3 = serius. − Divisi 4. − Divisi 4. kuning (bahaya terhadap reaktivitas). bila belum mencantumkan label yang sesuai. dan/atau diketahui mempunyai efek karsinogen.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Divisi 4. Radioactive Yellow-III adalah dengan bahaya maksimum. tetapi hanya berakibat minor bahkan tanpa perawatan. g) Kelas-7: bahan radioaktif. artinya mempunyai karakter dapat menyebabkan iritasi. tetapi belum termasuk dalam katagori kelas sebelumnya. nitrat dan sebagainya yang dapat mengoksidasi materi organik. permanganat. Kelompok lain-lain (kelas-9) adalah bahan yang yang dapat menyebabkan bahaya. artinya tidak terdapat bahaya toksisitas o 1 = ringan. maka di Amerika Serikat the National Fire Protection Association (NFPA) mengembangkan pula label berwarna dengan kode. sedang peroksida organik adalah senyawa yang mengandung struktur . terdapat bahan yang tidak termasuk dalam kelas tersebut (tertulis 'none'). atau bila dibakar akan menyala segera dan cepat. Bentuk belah ketupat yang dibagi empat. f) Kelas-6: bahan racun dan menular. i) Kelas-9: lain-lain. Plakat Radioactive yellow-II dan Radioactive yellow-III berwarna kuning di atas. seperti obat bius dan sebagainya. peroksida organik. artinya artinya mempunyai karakter yang dapat menyebabkan bahaya bila paparan berlanjut. Bahan korosif (kelas-8). Bahaya terhadap kesehatan: o 0 = minimal. Radioactive white-I dengan bahaya minimum.. yaitu: − Bahan-bahan terlarang − Bahan-bahan eksplosif terlarang − Bahan-bahan dengan aturan lain. Bahan radioaktif (termasuk kelas-7) menurut versi USDOT adalah setiap materi atau kombinasi materi yang secara spontan mengionisasi radiasi dengan aktivitas spesifik lebih besar dari 0. II atau III dengan warna merah.FTSL ITB Halaman 37 .

5 C selama 5 menit. o 3 = serius. tidak menyebabkan flash point. Bahaya spesial. dan/atau dapat membentuk ledakan yang terbakar dengan cepat di udara. 4: jenis bahaya flammabilitas = extreme 4: jenis bahaya terhadap kesehatan = ekstrim 4: jenis bahaya terhadap reaktivitas = ekstrim W: jenis bahaya yang spesifik = reaktif terhadap air Enri Damanhuri . yaitu: o Reaktif terahadap air (dengan kode: W) o Bahan oksidator (dengan kode: Ox) o Bahan radioaktif (dengan kode tanda radioaktif) o Bahan racun (dengan kode tanda racun) o Contoh: No. bahan yang dapat meledak dan terdekomposisi secara keras pada temperatur dan tekanan normal. artinya bahan yang stabil. artinya bahan yang stabil yang menjadi tidak stabil bila terpapar pada temperatur tekanan tinggi. tetapi di bawah 37. dan/atau siap terbakar dengan sendirinya akibat kandungan oksigen di dalamnya. Bahaya terhadap adanya air (reaktif terhadap air): o 0 = minimal. d.4 C o 2 = moderat. dan/atau mempunyai flash point di atas 37. artinya bahan tidak mudah terbakar yang mempunyai karakter dapat terbakar bila terpapar panas terlebih dahulu. dan/atau bahan yang akan berobah kompisisi kimianya dengan melepaskan enersi yang dikandungnya pada temperatur dan tekanan normal. merupakan bahan yang mudah terbakar dengan flash point di bawah o 22. tidak terbakar di o udara bila terpapar pada 815. atau dapat menyimpan panas sebelum terjadi kebakaran. o 4 = ekstrim.FTSL ITB Halaman 38 . dan/atau o akan terbakar di udara terbuka bila terpapar pada 815. dan/atau bahan padat yang menghasilkan uap mudah o o terbakar. artinya bahan mudah terbakar yang mempunyai karakter menghasilkan uap yang mudah terbakar dalam kondisi biasa.8 C. dan tidak reaktif terhadap air. artinya bahan yang tidak stabil dan akan cepat berubah tetapi tidak menimbulkan ledakan. artinya baru dapat terbakar bila dipanaskan terlebih dahulu. o 1 = ringan. yang dapat menyebabkan kematian atau kerusakan dalam paparan yang sangat singkat.4 C o 3 = serius. dan/atau bahan yang bereaksi dengan sendirinya dengan air tanpa membutuhkan panas terlebih dahulu.8 C c. dan/atau mempunyai flash point di atas o o 22. dan/atau akan bereaksi dengan keras bila terdapat air. o 2 = moderat.8 C o 4 = ekstrim.8 C tetapi lebih kecil dari 93.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 4 = ekstrim. dan/atau bahan yang sensitive terhadap perubahan kejutan mekanis atau panas pada temperatur dan tekanan normal. dan atau bahan yang dapat menghasilkan reaksi eksotermis dengan sendirinya bila berkontak dengan bahan tanpa atau adanya biasa biasa. artinya bahan yang dapat meledak namun membutuhkan penyulut yang kuat agar eterjadi. dan/atau o mempunyai flash point di bawah 93. dan dilakukan pengobatan b. atau terhadap kejutan mekanis pada temperatur tin gi. Bahaya terhadap timbulnya kebakaran: o 0 = minimal. dan/atau bahan yang sensitive terhadap panas. dan/atau akan menghasilkan ledakan bila bercampur dengan air. merupakan bahan yang sangat toksik. artinya tidak terbakar. atau perlu terpapar pada temperatur tinggi agar kebakaran terjadi. o 1 = ringan.5 C selama 5 menit.

dan dibawahnya terdapat blok segilima berwarna merah. dengan mencantumkan antara lain: nama dan alamat penghasil. o Simbol klasifikasi limbah B3 yang mudah terbakar : terdapat 2 (dua) macam simbol untuk klasifikasi limbah yang mudah terbakar. o Simbol klasifikasi limbah B3 beracun: bahan dasar putih dengan blok segilima berwarna merah. Pada sebelah bawah gambar terdapt tulisan “BERACUN” berwarna hitam. Pada bagian tengah terdapat tulisan “ CAIRAN. gambar simbol berupa lidah api berwarna putih yang menyala pada suatu permukaan berwarna putih. Simbol berupa tengkorak manusia dengan tulang bersilang berwarna hitam.” dan dibawahnya terdapat tulisan “MUDAH TERBAKAR” berwarna putih. Simbol infeksi berwarna hitam terletak di sebelah bawah sustu atas garis belah ketupat bagian dalam. dengan warna dasar kuning dan tulisan serta garis tepi berwarna hitam. pada bagian tengah terdapat tulisan “INFEKSI” berwarna hitam. Blok segilima berwarna kebalikan dari warna dasar simbol. Pada bagian tengah terdapat tulisan “PADATAN” dan dibawahnya terdapat tulisan “MUDAH TERBAKAR” berwarna hitam. − simbol padatan mudah terbakar: dasar simbol terdiri dari warna merah dan putih yang berjajar vertikal berselingan. Blok segilima berwarna putih. o Simbol klasifikasi limbah B3 menimbulkan infeksi: warna dasar bahan adalah putih dengan garis pembentuk belah ketupat bagian dalam berwarna hitam. identitas limbah serta kuantifikasi limbah dalam suatu kemasan limbah B3. berdasarkan keputusan Kepala Bapedal No.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Label Versi KepBapedal 05/09/1995: Di Indonesia. Garis tepi simbol berwarna hitam. yaitu: o Label identitas limbah: berfungsi untuk memberikan informasi tentang asal usul limbah. terdapat tulisan “KOROSIF” berwarna putih. Simbol berupa gambar berwarna hitam suatu materi limbah yang menunjukkan meledak. Simbol berupa lingkaran hitam dengan asap berwarna hitam mengarah ke atas yang terletak pada suatu permukaan garis berwarna hitam. terdapat 3 jenis label yang berkaitan dengan sistem pengemasan limbah B3. jumlah dan Enri Damanhuri . o Simbol klasifikasi limbah B3 reaktif: bahan dasar berwarna kuning dengan blok segilima berwarna merah. yaitu disebelah kiri adalah gambar tetesan limbah korosif yang merusak pelat bahan berwarna hitam. Pada bagian tengah terdapat tulisan “MUDAH MELEDAK” berwarna hitam yang diapit oleh 2 garis sejajar berwarna hitam sehingga membentuk 2 buah bangun segitiga sama kaki pada bagian dalam belah ketupat. yang terdapat ditepi antara sudut atas dan sudut kiri belah ketupat bagian dalam. Pada bagian atas yang berwarna putih terdapat 2 gambar. Di sebelah bawah gambar simbol terdapt tulisan “REAKTIF” berwarna hitam. serta blok segilima berwarna merah. o Simbol limbah B3 klasifikasi campuran: warna dasar bahan adalah putih dengan garis pembentuk belah ketupat bagian dalam berwarna hitam. Label identitas limbah berukuran minimum 15 cm x 20 cm atau lebih besar. yaitu simbol untuk cairan mudah terbakar dan padatan mudah terbakar: − simbol cairan mudah terbakar: bahan dasar merah. gambar simbol berupa tanda seru berwarna hitam terletak di sebelah bawah sudut atas garis belah ketupat bagian dalam. bidang segitiga berwarna hitam. o Simbol klasifikasi limbah B3 korosif: belah ketupat terbagi pada garis horizontal menjadi dua bidang segitiga. Gambar simbol berupa lidah apai berwarna hitam yang menyala pada satu bidang berwarna hitam. Pada bagian tengah bawah terdapat tuliasan “CAMPURAN” berwarna hitam serta blok segilima berwarna merah. dan disebelah kanan adalah gambar lengan yang terkena tetesan limbah korosif.FTSL ITB Halaman 39 . pada bagian bawah. Gambar terletak di bawah sudut atas garis ketupat bagian dalam. dan tulisan “PERINGATAN !” dengan huruf yang lebih besar berwarna merahdiisi dengan huruf cetak dengan jelas terbaca dan tidak mudah terhapus serta dipasang pada setiap kemasan limbah B3 yang disimpan di tempat penyimpanan.05/Bapedal/09/1995 terdapat delapan jenis simbol. Menurut peraturan yang digunakan di Indonesia. yaitu (Gambar 1): o Simbol klasifikasi limbah B3 mudah meledak : warna dasar oranye..

Dengan demikian. Label untuk penandaan kemasan kosong : bentuk dasar label sama dengan bentuk dasar simbol dengan ukuran sisi minimal 10 x 10 cm2 dan tulisan “KOSONG” berwarna hitam ditengahnya. Enri Damanhuri . Pengemasan yang baik mempunyai kriteria: − Bahan tersebut selama pengangkutan tidak terlepas ke luar − Keefektifannya tidak berkurang − Tidak terdapat kemungkinan pencampuran gas dan uap Terdapat 3 jenis kelompok pengemasan. hak milik dan lingkungan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 o o jenis limbah serta tanggal pengisian.1: Simbol Limbah B3 versi KepBapedal 05/09/1995 3 PENGEMASAN DAN PEWADAHAN Pengemas B3: Pengemasan (packaging) juga diatur dan perlu dicantumkan dalam surat pengangkutan. Kecelakaan limpahan bahan berbahaya yang sering terjadi adalah karena kecelakaan lalu-lintas yang umumnya akibat kesalahan manusia dan atau alat/perlengkapan yang kurang sempurna. terdiri dari 2 (dua) buah anak panah mengarah ke atas yang berdiri sejajar di atas balok hitam.FTSL ITB Halaman 40 . Menjamin keselamatan transportasi bahan berbahaya merupakan aktivitas yang kompleks. aturan tata cara serta konstruksi dan penggunaan kontainer untuk bahan berbahaya harus ketat. Label terbuat dari bahan yang tidak mudah rusak karena goresan atau akibat terkena limbah dan bahan kimia lainnya. Label harus terpasang kuat pada setiap kemasan limbah B3. Kecelakaan akibat bahan berbahaya ini akan menimbulkan masalah serius bagi manusia. yaitu: − Kelompok I: derajat bahaya besar − Kelompok II: derajat bahaya sedang − Kelompok III: derajat bahaya kecil. Label dipasang dekat tutup kemasan dengan arah panah menunjukkan posisi penutup kemasan. Gambar terdapat dalam frame hitam. drum fiber. baik yang telah diisi limbah B3. maupun kemasan yang akan digunakan untuk mengemas limbah B3. Label identitas dipasang pada kemasan di sebelah atas simbol dan harus terlihat dengan jelas. kotak kayu. Label harus dipasang pada kemasan bekas pengemasan limbah B3 yang telah dikosongkan dan atau akan digunakan untuk mengemas limbah B3. botol gelas dan sebagainya. Alat pengemas dapat berupa: drum baja. Label penunjuk tutup kemasan: berukuran minimal 7 x 15 cm2 dengan warna dasar putih dan warna gambar hitam. Gambar 4.

Hampir setengah bahan berbahaya kemasan kecil ini diangkut melalui jalan darat serta sebagian lagi melalui udara. Oleh karenanya kontainer yang digunakan dirancang untuk memudahkan loading. unloading. Apabila ada keragu-raguan dengan karakteristik limbahnya. kaca. Kombinasi container sering digunakan. c. Drum baja 55 gallon (208 liter) merupakan kapasitas terbesar yang biasa digunakan. sebelum dilakukan pengolahan dan atau penimbunan. b. maka terhadap masing-masing limbah B3 hasil kegiatan perubahan tersebut harus dilakukan pengujian kembali terhadap karakteristiknya. Penghasil. Ketentuan dalam bagian ini berlaku bagi kegiatan pengemasan dan pewadahan limbah B3 di fasilitas: a. Ditinjau dari tonase. maka harus dilakukan pengujian. Banyak terjadi bahwa drum yang digunakan adalah drum bekas (walaupun kompatibel) untuk itu perlu diperhatikan efek jangka panjang dari drum tersebut. d. untuk disimpan sebelum dikirim ke pengolah.01/Bapedal/09/1995. Faktor kesalahan manusia pada pengemasan bahan berbahaya yang dikemas dalam kuantitas kecil relatif akan lebih tinggi. Bagi penghasil yang menghasilkan limbah B3 yang sama secara terus menerus. Apabila dalam perkembangannya terjadi perubahan kegiatan yang diperkirakan mengakibatkan berubahnya karakteristik limbah yang dihasilkan. pengemasan tersebut harus menjamin tidak terjadi reaksi kimiawi di dalamnya. Enri Damanhuri .FTSL ITB Halaman 41 . Rancangan kontainer yang digunakan harus terkait dengan sistem transportasi terutama dimensi dan beratnya. Dibutuhkan inspeksi secara berkala. Kadangkala bahan berbahaya disimpan (diakumulasi) dalam drum atau kontainer. fiberglass dan logam. kayu. No. Penghasil.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 USDOT menggariskan bahwa kontainer yang digunakan untuk mengangkut bahan berbahaya dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga bila terjadi kecelakaan pada kondisi transportasi yang normal. untuk disimpan sementara di luar lokasi penghasil tetapi tidak sebagai pengumpul. yang dapat menimbulkan reaksi spontan (kenaikan panas atau ledakan) sehingga mengurangi keefektifan pengemasan. Produk yang diproduksi dengan kuantitas kecil biasanya dikemas dalam kuantitas tersebut. ketentuan tentang pengemasan dan pewadahan limbah B3 diatur dalam Kep. misalnya pengemasan yang tidak betul dan sebagainya. Oleh karenanya bahan berbahaya harus ditempatkan dalam drum dan kontainer yang kompatibel atau sesuai. misalnya botol. maka kemasan kecil di USA hanya merupakan sebagian kecil yang digunakan untuk menangani bahan berbahaya yang diangkut. Pengolah. dan bagaimana menggunakan ruang transportasi yang efisien. seperti drum baja atau silinder untuk gas terkompres. plastik. Drum yang biasa. maka: − Tidak menimbulkan penyebaran bahan tersebut ke lingkungan sekitarnya − Keefektifan pengemasan tidak berkurang selama perjalanan − Tidak terjadi pencampuran gas atau uap dalam kemasan. biasanya korosif dan dapat menimbulkan masalah pada kesehatan manusia dan lingkungan. Setiap penghasil/pengumpul limbah B3 harus dengan pasti mengetahui karakteristik bahaya dari setiap limbah B3 yang dihasilkan/dikumpulkan. Kemasan dari satu jenis bahan juga banyak digunakan.botol gelas dimasukkan dalam peti-peti fiberboard. maka pengujian dapat dilakukan sekurang-kurangnya satu kali. Beberapa temuan yang terdapat di USA adalah: − Ketidak tepatan dalam menayangkan label − Ketidak tepatan dalam mengelompokkan kontainer berbahaya − Kebocoran pada valve − Tidak tepat dalam mendeskripsikan bahan yang diangkut − Tidak tepat dalam pengisian shiping paper − Radiasi berlebihan di kabin truk. Bahan pengemasan yang digunakan adalah: fiberboard. untuk disimpan sementara di dalam lokasi penghasil. Pengumpul. Kemasan komposit seperti drum-drum dari plastik berlapis baja kadang digunakan. Pengemas dan Pewadah Limbah B3 Versi Kep No.01/Bapedal/09/1995: Di Indonesia.

Jika akan digunakan untuk menyimpan limbah B3 Enri Damanhuri . ukuran dan bahan kemasan limbah B3 disesuaikan dengan karakteristik limbah B3 yang akan dikemasnya dengan mempertimbangkan segi kemanan dan kemudahan dalam penanganannya. maka kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu sebelum dapat digunakan sebagai kemasan limbah B3 dengan memenuhi ketentuan butir 1 di atas. SS304. pembentukan gas dan kenaikan tekanan selama penyimpanan. Kemasan bekas mengemas limbah B3 dapat digunakan kembali untuk mengemas limbah B3 yang mempunyai karakteristik sama (kompatibel) dengan limbah B3 sebelumnya. Kemasan tersebut selalu dalam keadaan tertutup rapat dan hanya dapat dibuka jika akan dilakukan penambahan atau pengambilan limbah dari dalamnya. Pengisian limbah dalam satu kemasan harus mempertimbangkan karakteristik dan jenis limbah. Limbah yang disimpan dalam satu kemasan adalah limbah yang sama.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Bentuk. Kemasan yang akan dikosongkan apabila akan digunakan kembali untuk mengemas limbah B3 lain dengan karakteristik yang sama. Untuk mempermudah pengisian limbah ke dalam kemasan. SS316. Apabila diketahui ada kemasan yang mengalami kerusakan (karat atau bocor). Jika akan digunakan untuk mengemas limbah B3 yang tidak saling cocok. atau dapat pula disimpan bersama-sama dengan limbah lain yang memiliki karakteristik yang sama atau saling cocok. harus disimpan di tempat penyimpanan limbah B3. limbah dapat terlebih dahulu dikemas dalam kantong kemasan yang tahan terhadap sifat limbah sebelum kemudian dikemas dalam kemasan tersebut.2: Penyimpan limbah B3 cair (A) dan limbah sludge (B) Drum/tong atau bak kontainer yang telah berisi limbah B3 dan disimpan di tempat penyimpanan harus dilakukan pemeriksaan kondisi kemasan sekurang-kurangnya 1 (satu) minggu satu kali. PP atau PVC) atau bahan logam (teflon. 100 liter atau 200 liter. kemudian disimpan di tempat yang memenuhi persyaratan untuk penyimpanan limbah B3 serta mematuhi tata cara penyimpanannya. Untuk limbah yang bereaksi sendiri sebaiknya tidak menyisakan ruang kosong dalam kemasan. dan tumpahan limbah tersebut harus segera diangkat dan dibersihkan. Gambar 2 berikut adalah contoh drum pengemas limbah B3. Kemasan dapat terbuat dari bahan plastik (HPDE. serta agar lebih aman. Untuk limbah yang mudah meledak. atau SS440) dengan syarat bahan kemasan yang dipergunakan tersebut tidak bereaksi dengan limbah B3 yang disimpannya. 4 M atau 8 M . pengaruh pemuaian. Kemasan yang telah diisi atau terisi penuh dengan limbah B3 harus ditandai dengan simbol dan label yang sesuai dengan ketentuan mengenai penandaan pada kemasan limbah B3. Gambar 4.FTSL ITB Halaman 42 . Kemasan yang digunakan untuk pengemasan limbah dapat berupa drum/tong dengan volume 50 liter. maka isi limbah B3 tersebut harus segera dipindahkan ke dalam drum/tong yang baru. kemasan dirancang tahan akan kenaikan tekanan. baja karbon. atau dapat pula berupa bak kontainer berpenutup dengan 3 3 3 kapasitas 2 M . kemudian disimpan dalam kemasan limbah B3 terpisah.

tekanan atau uplift. maka kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu dan disimpan dengan memasang “label KOSONG” sesuai dengan ketentuan penandaan kemasan limbah B3.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dengan karakteristik yang tidak saling sesuai dengan sebelumnya. Disamping itu. tangki wajib dilengkapi dengan penampung sekunder. Selama masa konstruksi berlangsung. Apabila tangki akan digunakan untuk menyimpan limbah sebelumnya. – Jika sistem tangki dan atau peralatan penunjangnya terbuat dari logam dan kemungkinan dapat terkontak dengan air dan atau tanah. maka tangki harus terlebih dahulu dicuci bersih. – Karakteristik limbah B3 yang akan disimpan. Persyaratan penampungan sekunder tersebut adalah: – Dibuat atau dilapisi dengan bahan yang saling cocok dengan limbah yang disimpan serta memiliki ketebalan dan kekuatan memadai untuk mencegah kerusakan akibat pengaruh tekanan. – Rencana penutupan sistem tangki setelah masa operasionalnya berakhir. dan lepasnya limbah B3 dari sistem penampungan sekunder. – Ditempatkan pada pondasi yang dapat mendukung ketahanan tangki terhadap tekanan dari atas dan bawah dan mampu mencegah kerusakan yang diakibatkan karena pengisian. Bentuk wadah berupa tangki biasa digunakan dalam pengemasan limbah B3. Sistem tangki harus ditunjang kekuatan rangka yang memadai. dan aman terhadap korosi sehingga tangki tidak mudah rusak. ceceran dan presipitasi. maka harus dengan memperhitungkan dampak kegiatan di atasnya serta menerapkan rancang bangun atau kegiatan yang dapat melindungi sistem tangki terhadap potensi kerusakan. – Dilengkapi dengan sistem deteksi kebocoran yang dioperasikan 24 jam sehingga mampu mendeteksi kerusakan pada struktur tangki primer dan sekunder. Jika tangki dirancang untuk dibangun di dalam tanah. Tidak digunakan untuk menyimpan limbah mudah menyala atau reaktif kecuali : – Limbah tersebut telah diolah atau dicampur terlebih dahulu sebelum/segera setelah ditempatkan di dalam tangki. kematian vegetasi. – Penampungan sekunder. atau – Limbah disimpan atau diolah dengan suatu cara sehingga tercegah dari kondisi atau bahan yang menyebabkan munculnya sifat mudah menyala atau reaktif. Untuk mencegah terlepasnya limbah B3 ke lingkungan. logam dan kemungkinan harus mencakup pengukuran potensi korosi yang disebabkan oleh faktor lingkungan serta daya tahan bahan tangki terhadap korosi tersebut – Perhitungan umur operasional tangki.FTSL ITB Halaman 43 . Enri Damanhuri . dirancang untuk dapat menampung dan mengangkat cairan-cairan yang berasal dari kebocoran. Laporan tersebut sekurang-kurangnya meliputi: – Rancang bangun dan peralatan penunjang sistem tangki yang akan dipasang. Tangki dan sistem penunjangnya harus terbuat dari bahan yang saling cocok dengan karakteristik dan jenis limbah B3 yang dikemas/disimpannya. Pemeriksaan rutin dilakukan sekurang-kurangnya 1 kali selama sistem tangki dioperasikan. maka harus dipastikan agar selama pemasangan tangki dan sistem penunjangnya telah diterapkan prosedur penanganan yang tepat untuk mencegah terjadinya kerusakan selama tahap konstruksi. sehingga olahan atau campuran limbah yang terbentuk tidak lagi berkarakteristik mudah menyala atau reaktif. khususnya terhadap peralatan pengendalian luapan/tumpahan. tanggul atau berdinding ganda. Penampung sekunder dapat berupa pelapisan di bagian luar tangki. pemilik atau operator harus mengajukan permohonan rekomendasi kepada Kepala Bapedal dengan melampirkan laporan hasil evaluasi terhadap rancang bangun dan sistem tangki yang akan dipasang untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan. deteksi korosi atau lepasnya limbah dari tangki. monitoring dilakukan terhadap bahan konstruksi dan areal seputar sistem tangki termasuk struktur pengumpul sekunder untuk mendeteksi pengikisan atau tanda-tanda terlepasnya limbah misalnya bintik lembab. Limbah-limbah yang tidak saling cocok tidak ditempatkan secara bersama-sama di dalam tangki. terbuat dari bahan yang cocok dengan karakteristik limbah yang akan disimpan atau diolah. Sebelum melakukan pemasangan tangki penyimpanan limbah B3.

dan setiap palet mengalasi 4 drum. o Dilengkapi dengan sistem penangkal petir. Jika tumpukan lebih dan 3 lapis atau kemasan terbuat dari plastik. maka tumpukan maksimum adalah 3 lapis dengan tiap lapis dialasi palet. Enri Damanhuri . Persyaratan bangunan penyimpanan kemasan limbah B3 adalah (Gambar 6): o Memiliki rancang bangun dan luas ruang penyimpanan yang sesuai dengan jenis. Setiap blok terdiri atas 2 (dua) x 2 (dua) kemasan (Gambar 3). o Terlindung dari masuknya air hujan baik secara langsung maupun tidak langsung. maka harus dipergunakan rak (Gambar 4). tidak dalam satu blok. Pada bagian luar bangunan. Kemasan-kemasan berisi limbah B3 yang tidak saling cocok harus disimpan secara terpisah. – Membuat catatan dan laporan mengenai kecelakaan dan penanggulangan yang telah dilakukan. Lantai bagian dalam dibuat melandai kearah bak penampungan dengan kemiringan maksimum 1%.FTSL ITB Halaman 44 . maka lampu penerangan harus dipasang minimal 1 meter di atas kemasan. Dengan demikian jika terdapat kerusakan kecelakaan dapat segera ditangani. karakteristik dan jumlah limbah B3 yang dihasilkan/akan disimpan. o Tangki harus terlindung dari penyinaran matahari dan masuknya air hujan secara langsung. Lebar gang antar blok minimal 60 cm untuk memudahkan petugas melaluinya. dan tidak dalam bagian penyimpanan yang sama. Penempatan kemasan diatur agar tidak ada kemungkinan bagi limbah-limbah tersebut jika terguling/tumpah akan tercampur/masuk ke dalam bak penampungan bagian penyimpanan lain. tidak bergelombang. o Pada bagian luar tempat penyimpanan diberi penandaan (simbol) sesuai dengan tata cara yang berlaku. o Dibuat tanpa plafon dan memiliki sistem ventilasi udara yang memadai untuk mencegah terjadinya akumulasi gas di dalam ruang penyimpanan. kemiringan lantai diatur sedemikian rupa sehingga air hujan dapat mengalir menjauhi bangunan penyimpanan. Penumpukan kemasan harus mempertimbangkan kestabilan tumpukan kemasan. mencegah terjadinya perpindahan tumpahan ke tanah atau air permukaan. Jika kemasan berupa drum logam (isi 200 liter).01/Bapedal/09/1995 dibuat dengan sistem blok. o Bak penampung harus kedap air dan mampu menampung cairan minimal 110% dan kapasitas maksimum volume tangki o Tangki harus diatur sedemikian rupa sehingga bila terguling akan terjadi di daerah tanggul dan tidak akan menimpa tangki lain. sedang lebar gang untuk lalu lintas kendaraan pengangkut (forklift) disesuaikan dengan kelayakan pengoperasiannya. o Memiliki sistem penerangan (lampu/cahaya matahari) yang memadai untuk operasional atau inspeksi rutin. – Memindahkan limbah B3 dari sistem tangki atau sistem penampungan sekunder – Mewadahi limbah yang terlepas ke lingkungan. Jarak tumpukan kemasan tertinggi dan jarak blok kemasan terluar terhadap atap dan dinding bangunan penyimpanan tidak boleh kurang dari 1 m. o Lantai bangunan penyimpanan harus kedap air.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Bila sistem tangki atau sistem tangki pengumpul sekunder mengalami kebocoran atau gangguan yang menyebabkan limbah terlepas. Penyimpanan limbah cair dalam jumlah besar disarankan menggunakan tangki (Gambar 5) dengan ketentuan sebagai berikut: o Disekitar tangki harus dibuat tanggul dengan dilengkapi saluran pembuangan yang menuju bak penampung. serta memasang kasa atau bahan lain untuk mencegah masuknya burung atau binatang kecil lainnya ke dalam ruang penyimpanan. sehingga dapat dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap setiap kemasan. serta mengangkat tumpahan yang terlanjur masuk ke tanah atau air permukaan. maka harus segera melakukan: – Penghentian operasional sistem tangki dan mencegah aliran limbah. sakelar harus terpasang di sisi luar bangunan. Jika menggunakan lampu. kuat dan tidak retak. 4 PENYIMPANAN DAN PENGUMPULAN Penyimpanan kemasan menurut Keputusan Bapedal No.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4.FTSL ITB Halaman 45 .4: Pola penyimpanan kemasan drum dalam rak Enri Damanhuri .3: Pola penyimpanan kemasan drum Gambar 4.

dan alarm.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4. Enri Damanhuri . gudang tempat penyimpanan peralatan dan perlengkapan. o Sarana lain yang harus tersedia adalah: peralatan dan sistem pemadam kebakaran. pagar pengaman. o Setiap bagian penyimpanan harus mempunyai bak penampung tumpahan limbah dengan kapasitas yang memadai. dengan ketentuan bahwa setiap bagian penyimpanan hanya diperuntukkan menyimpan 1 karakteristik limbah B3.FTSL ITB Halaman 46 . fasilitas pertolongan pertama.5: Tangki penyimpanan limbah B3 jumlah besar Gambar 4. mempunyai beberapa persyaratan: o Terdiri dari beberapa bagian penyimpanan. o Sistem dan ukuran saluran yang ada dibuat sebanding dengan kapasitas maksimum limbah B3 yang tersimpan sehingga cairan yang masuk ke dalamnya dapat mengalir dengan lancar ke tempat penampungan yang telah disediakan.6: Contoh tata letak penyimpanan limbah B3 Tempat penyimpanan yang digunakan untuk menyimpan lebih dari 1 karakteristik limbah B3. pintu darurat. peralatan komunikasi. o Antara bagian penyimpanan satu dengan lainnya dibuat tanggul atau tembok pemisah untuk menghindarkan tercampurnya atau masuknya tumpahan limbah ke bagian lainnya. pembangkit listrik cadangan. atau limbahlimbah B3 yang saling cocok.

memiliki atap pelindung dengan lantai yang kedap air o Tangki dan daerah tanggul serta bak penampungannya terlindung dari penyinaran matahari secara langsung serta terhindar dari masuknya air hujan langsung maupun tidak langsung Lokasi bangunan tempat penyimpanan kemasan drum/tong. o Jarak minimum antara lokasi dengan fasilitas umum adalah 50 meter. hidran pemadam api dan perlindungan terhadap hidran. Desain bangunan sedemikian rupa sehingga cahaya matahari tidak langsung masuk ke ruang gudang. maka jarak minimum dengan bangunan lain adalah 20 meter. o Struktur pendukung atap terdiri dari bahan yang tidak mudah menyala. maka beberapa persyaratan adalah: o Luas tanah termasuk untuk bangunan penyimpanan dan fasilitas lainnya sekurangkurangnya 1 (satu) hektar. Rancang bangun khusus untuk penyimpan limbah B3 reaktif. korosif dan beracun: o Konstruksi dinding dibuat mudah dilepas guna memudahkan pengamanan limbah dalam keadaan darurat. bangunan tempat penyimpanan bak kontainer dan bangunan tempat penyimpanan tangki: o Merupakan daerah bebas banjir. Persyaratan bangunan untuk penempatan tangki: o Tangki penyimpanan limbah B3 harus terletak di luar bangunan tempat penyimpanan limbah o Merupakan konstruksi tanpa dinding. maka fasilitas pengumpulan merupakan fasilitas khusus yang harus dilengkapi dengan berbagai sarana untuk penunjang dan tata ruang yang tepat sehingga kegiatan pengumpulan dapat berlangsung dengan baik dan aman bagi lingkungan (gambar 7). o Konstruksi atap. o Untuk kestabilan struktur pada tembok penahan api dianjurkan digunakan tiang-tiang beton bertulang yang tidak ditembusi oleh kabel listrik. Rancang bangun untuk penyimpanan limbah B3 mudah meledak: o Konstruksi bangunan dibuat tahan ledakan dan kedap air. o Pintu darurat dibuat tidak pada tembok tahan api. perdagangan. rumah sakit. o Suhu dalam ruangan harus tetap dalam kondisi normal.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Persyaratan bangunan penyimpanan limbah B3 mudah terbakar: o Jika bangunan berdampingan dengan gudang lain maka harus dibuat tembok pemisah tahan api. Konstruksi lantai dan dinding dibuat lebih kuat dari konstruksi atap. Konstruksi atap dibuat ringan. sehingga bila terjadi ledakan yang sangat kuat akan mengarah ke atas dan tidak ke samping. atau diupayakan aman dari kemungkinan terkena banjir. o Menggunakan instalasi yang tidak menyebabkan ledakan/percikan listrik o Dilengkapi dengan: sistem pendeteksi dan pemadam kebakaran. berupa tembok beton bertulang (tebal minimum 15 cm) atau tembok bata merah (tebal minimum 23 cm) atau blok-blok (tidak berongga) tak bertulang (tebal minimum 30 cm). o Jika bangunan dibuat terpisah dengan bangunan lain. o Area secara geologis merupakan daerah bebas banjir tahunan. o Jarak terdekat yang diperkenankan adalah (a) 150 meter dari jalan utama atau jalan tol. (b) 50 meter dari jalan lainnya. sehingga asap dan panas akan mudah keluar. (e) 300 meter dari daerah yang dilindungi seperti cagar alam. fasilitas bongkar muat dan fasilitas lain seperti diuraikan di atas.FTSL ITB Halaman 47 . pelayanan kesehatan atau kegiatan sosial. Dalam hal limbah B3 dikumpulkan terlebih dahulu di sebuah tempat di luar lokasi penghasil limbah B3. dan mudah hancur bila ada kebakaran. o Lokasi harus cukup jauh dari fasilitas umum dan ekosistem tertentu. Enri Damanhuri . sumber air . (c) 300 meter dari fasilitas umum seperti daerah pemukiman. (d) 300 meter dari perairan. persediaan air untuk pemadam api. o Beberapa fasilitas tambahan yang diperlukan adalah laboratorium analisa. dinding dan lantai harus tahan terhadap korosi dan api. fasilitas pencucian peralatan. hutan lindung. garis pasang tertinggi laut. kawasan suaka o Seperti halnya fasilitas penyimpanan yang telah diuraikan di atas.

Kapasitas tank car ini dibatasi 34. Produk-produk berbahaya tersebut diangkut dengan berbagai container seperti : vessel. tank car. Bahan-bahan ini diangkut melalui udara.000 jenis bahan berbahaya. acuan-acuan teknik yang standar serta pengujian untuk itu. intermodal portable tank.FTSL ITB Halaman 48 .500 gallon (130 m3) dengan berat kotor 236. tank truck.000 pound (107 ton). Cargo tank merupakan sarana yang biasa digunakan di darat. kereta api atau laut. botle dan cask. nikel atau stainless steel. dan biasanya terbuat dari baja atau campuran alumunium atau dapat pula dari bahan lain seperti titanium. darat (termasuk kereta api). Dalam hal ini Research and Special Programs Administration (RSPA) dari USDOT mengeluarkan dan bertanggungjawab untuk mengembangkan aturan-aturan.7: Contoh tata ruang pengumpulan limbah B3 6 PENGANGKUTAN Di Amerika Serikat. barrel.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4. seperti melalui darat.000 pound (36 ton). cylinder. can.40 tahun. Sekitar 80 % dari pengangkutan bahan berkapasitas besar menggunakan tank car yang mempunyai masa layan 30 . aturan-aturan yang dikeluarkan oleh DOT telah meliputi lebih dari 30. Beban kendaraan biasanya dibatasi sampai 80. box. Kapasitas yang digunakan di USA adalah antara 4000 sampai 12000 gallon (15 sampai 50 m3). laut. Perbedaan utama dari rail tank car ini adalah ada Enri Damanhuri . Transportasi bahan berbahaya yang bervolume besar (bulky) dapat dilakukan melalui segala jenis angkutan. drum.

dan dapat merusak paru. Kemungkinan kecelakaan yang mungkin terjadi di sektor transportasi ini perlu mendapat perhatian.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 yang menggunkan tekanan (untuk gas) dan tanpa tekanan (untuk cair). karena dapat mencelakakan manusia atau lingkungan yang tidak terlibat langsung dengan kecelakaan. NaOH. pupuk.labelmaster.com (1 Maret 2008) Enri Damanhuri . Pada saat truk dibalikkan.000-600. pemadam kebakaran dan sebagainya) akan tergantung pada apakah aparat tersebut terlatih untuk jenis kecelakaan itu. Meyer: Chemistry of Hazardous Materials. Sekitar 66 % (berat) bahan yang diangkut di USA adalah bahan kimia (sebagian korosif) sedang 23 % merupakan produk minyak (bahan bakar).Kepala Bapedal 05/Bapedal/09/1995: tentang Simbol dan Label Limbah B3 http://www.Kepala Bapedal 02/Bapedal/09/1995: tentang Dokumen Limbah B3 Kep. Prentice Hall Building. limpahan TDI ternyata terpapar pada tanah yang dingin. Lebih dari 90 % (berat) dalam transport laut ini terdiri dari produk petroleum dan minyak mentah. 1989 Kep. mengiritasi mata.Bapedal 01/Bapedal/09/1995: tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3 Kep. yang mencakup sekitar 91 %. Tank-barges berkapasitas antara 300. bahan berikutnya yang sering digunakan adalah alumunium. baik dari jumlah kecelakaan maupun banyaknya limpahan dalam satuan ton-mile. mengkontaminasi daerah sekitarnya serta baju 2 orang petugas. demikian juga kegiatan penanganan korban akibat terpapar dengan bahan berbahaya akan tergantung apakah paramedis terkait telah mendapat pelatihan menangani korban semacam itu. Respons terhadap bentuk kecelakaan itu harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan agar dapat menangani masalah yang timbul secara cepat dan tepat. Hampir 90 % dari tank car ini terbuat dari baja. Referensi Utama: o o o o o E. alkohol. Sisanya adalah bahan kimia semacam asam sulfat. maka respon aparat terkait (polisi. Penanganannya adalah truk tetap dipanaskan dan diisolasi agar TDI ini tetap dalam kondisi cair. Sebagai contoh adalah kecelakaan lalu-lintas yang terjadi di USA pada bulan Desember 1981 yang menimpa sebuah truk pembawa 40. Container bulky melalui air yang terbesar adalah dengan tanker dan tank-barges. walaupun bila terjadi kecelakaan maka limpahannya akan menyebar secara luas. benzene. Kedua petugas tersebut mengalami gangguan pernafasan yang permanen dan tidak dapat lagi aktif bekerja. TDI yang melekat pada sepatu dan baju menguap dan terhiruplah gas toksik.000 gallon (1135-2270 3 m ) sedang tanker berkapasitas sampai 10 kali lebih besar. toluene dan sebagainya. Setelah mereka kembali ke kendaraan yang hangat.paru. Bila terjadi kecelakaan lalu-lintas. Peraturan-peraturan yang digunakan dalam transportasi hendaknya mengantisifasi kemungkinan timbulnya masalah ini. cara ini adalah yang teraman.000 pound toluene diisocyanate (TDI) yang tergelincir dan menumpahkan sebagian isinya.FTSL ITB Halaman 49 . Demikian juga peralatan tim harus sesuai dengan kebutuhan/jenis bahan atau limbah yang diangkut. Secara statistik. TDI masuk de dalam sel jaringan. Cara ini relatif memungkinkan pengangkutan dengan kapasitas yang besar. Aturan-aturan yang ada menyangkut kegiatan selama loading serta pelatihan bagi awak kapalnya.

baik yang terdapat di alam maupun yang dibuat oleh manusia. Dengan mengetahui komposisi dan memahami bagaimana perubahan terjadi. 40% berkaitan dengan petrokimia. uap. Contoh materi ini misalnya fosfor putih. terdapat 7 kelas bahan berbahaya. Materi yang spontan terbakar (spontaneously ignitable material) : padat atau cair yang dapat menyala secara spontan tanpa sumber nyala. sekitar 4. Contoh materi ini adalah amonium nitrat dan benzoyl peroksida. yaitu : a. Pengoksidasi (oxidizer) : Materi yang menghasilkan oksigen. akan menghasilkan limbah berbahaya. Materi korosif : padat atau cair seperti asam kuat atau basa kuat. yang sebagian besar merupakan bahan berbahaya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN V SIFAT DAN KARAKTERISTIK BAHAN KIMIA BERBAHAYA 1 UMUM Penggunaan kimia dalam kebudayaan manusia sudah dimulai sejak zaman dahulu. Enri Damanhuri . Pemakaian bahan kimia di Indonesia (1991) sekitar 0. Materi radioaktif : dicirikan dengan transformasi yang berlangsung dalam inti atom. Materi mudah terbakar (flammable material) : padat. Senyawa-senyawa kimia sintetis inilah yang banyak dihasilkan oleh peradaban modern. baik dalam kondisi biasa atau bila terpapar dengan panas. ethanol. baru beberapa ratus jenis saja yang telah dievaluasi dampaknya tehadap kesehatan dan lingkungan. panas. termasuk juga perubahan yang terjadi di dalamnya. 1. f. seperti karbon monoksida dan hidrogen sianida.000 jenis sebagai bahan aktif obat-obatan. cair. dan 2. d. terutama dari kegiatan industi khususnya penggunaan bahan kimia. yang berkaitan dengan komposisi materi.atau gas yang menyala dengan mudah dan terbakar secara cepat bila dipaparkan pada sumber nyala. Dari sekian banyak bahan kimia tersebut. Materi toksik : racun yang dalam dosis kecil dapat membunuh atau mengganggu kesehatan. namun materi ini pulalah yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang berbahaya. debu aluminum. gas hidrogen dan metan. Ini ditunjukkan oleh hampir 11 juta jenis bahan kimia telah diidentifikasi pada tahun 1995. misalnya pelarut (solvent) seperti benzene. yang dapat membakar dan merusak jaringan kulit bila berkontak dengannya.500 jenis merupakan bahan aktif pestisida. manusia dapat mengontrol dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan manusia. Perdagangan bahan kimia dunia pada tahun 1991 mencapai nilai 1. e. b.46% dari nilai perdagangan dunia. biasanya karena adanya kejutan (shock).000 jenis bahan kimia baru masuk ke perdagangan. Proses penggunaan bahan yang berbahaya dalam kegiatan sehari-hari. atau mekanisme lainnya. Kimia merupakan salah satu ilmu pengetahuan alam. Penggunaan bahan-bahan kimia di dunia telah berkembang pesat. Bahan kimia yang telah digunakan dan diperdagangkan secara umum sekitar 63. misalnya uranium heksafluorida.2 M US$. Secara konvensional.000 jenis. misalnya karena perubahan panas. c. Peledak (explosive) : materi kimia ini dapat meledak.000 jenis diantaranya digunakan sehari-hari. tekanan atau kegiatan oksidasi atau kegiatan lain seperti aktivitas mikrobiologis.FTSL ITB Halaman 50 . 50. dan hampir setiap tahun 1. baik secara alamiah maupun sintetis. g.500 jenis digunakan sebagai bahan tambahan makanan. Contoh materi ini misalnya dinamit dan trinitrotoluene (TNT).

Reaksi yang terjadi akan berlangsung secara spontan. magnesium. zirconium. Tubuh manusia mentolerir konsentrasi bahan ini dengan konsentrasi tidak lebih dari 1 ppm di udara. aluminum. dry chemical extinguisher. karena dihasilkan gas hidrogen. motor dan generator. Kadangkala secara tidak sengaja terjadi pencampuran antara 2 materi yang asalnya tidak berbahaya. Karbon dioksida. bahan-bahan sejenis baik alamiah maupun sintetis lainnya termasuk plastik dan karet. Interaksi bahan membentuk nyala atau bahan eksplosif: Bahan logam natrium akan dapat terbakar dengan sendirinya bila terdapat uap air yang berkontak dengannya. Kebakaran jenis ini mudah dipadamkan oleh Halaman 51 o o o Enri Damanhuri . akan memungkinkan bahan tepung tersebut secara spontan akan terbakar. methanol. biasanya direkomnedasikan untuk memadamkannya. atau busa meruapakan bahan yang cocok untuk memadamkannya. seperti LPG. dan natrium. Misalnya gudang penyimpan logam natrium terbakar. 2 KELAS KEBAKARAN Kebakaran biasanya dikaitkan dengan kecelakaan yang dipicu dari adanya bahan berbahaya.FTSL ITB . Kebakaran bahan ini akan meninggalkan bara api dan abu. menghasilkan gas klorin yang sangat toksik melalui pernafasan. Kebakaran kelas D: berasal dari bakaran logam-logam yang mempunyai sifat reaktif yang spesifik terhadap air atau uap air. kabel listrik. seperti logam titanium. Beberapa ilustrasi di bawah ini akan menggambarkan hal tersebut: Interaksi bahan membentuk bahan toksik: Bila kita mencampur larutan asam yang banyak digunakan secara komersial untuk menghilangkan karat atau untuk membersihkan wastavel atau WC dengan pemutih cucian atau disinfektan yang digunakan dalam kolam renang. propane. Jangan dipadamkan dengan air. katon dan kertas. yaitu: o Kebakaran kelas A: berasal dari bakaran berbahan dasar sellulosa. Karbon dioksida atau dry chemical extinguisher. seperti kayu. kerosen. Kebakaran kelas C: berasal dari bakaran bahan yang terjadi karena sirkuit tenaga listrik. Pencampuran bahan berbahaya dapat menyebabkan: o Timbulnya bahan toksik o Timbulnya gas bakar yang dapat menimbulkan kebakaran atau ledakan. karena reaksi yang terjadi akan menghasilkan gas hidrogen yang dapat terbakar tanpa adanya pemantik api. Interaksi bahan membentuk panas: Bahan-bahan pengoksidasi adalah contoh bahan berbahaya yang siap bereaksi dengan bahan mudah terbakar. ethyl ether. maka kebakaran akan tambah besar.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Materi tersebut kadangkala menjadi lebih berbahaya bila berada dalam kondisi tercampur dengan bahan lain. dan dapat dibagi menjadi 4 kelas. hidrogen. atau o Panas akibat reaksi kimia yang terjadi akan dapat membakar bahan mudajh terbakar di sekitarnya. seperti dari stop-kontak. Bila api yang dipadamkan dilakukan dengan air. menyebabkan terjadinya swa-kebakaran. sikring. Air dapat digunakan untuk memadamkan jenis kebakaran ini Kebakaran kelas B: berasal dari bakaran gas bakar (flammable gases) atau cairan yang mudah terbakar (flammable and combustible liquids). Bila larutan asam nitrat (oksidator) tercampur dengan tepung beras.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

baham spesifik sejenis graphite atau natrium kloroida (garam dapur). Sangat berbahaya bila dipadamkan dengan menggunakan air. 3 INFORMASI TINGKAT BAHAYA Tingkat bahaya suatu bahan berbahaya harus diinformasikan secara jelas kepada pemakai, khususnya dalam lingkungan kerja dimana bahan tersebut digunakan, melalui 2 jalan: o Penggunaan label dan bentuk peringatan lainnya: setiap produsen atau importir bahan kimia harus memastikan bahwa setiap kontainer atau pengemas produk B3nya telah diberi label, papan-nama, atau tanda-tanda peringatan lain yang sesuai dengan jenis bahaya yang dikandung bahan tersebut, nama dan alamta produsen, importir atau penanggung jawab lainnya. Label dapat menggunakan simbol, gambar atau kata-kata lainnya. Lihat contoh dalam Gambar 4.1 o Informasi tentang Material Safety Data Sheets (MSDS): merupakan bulletin yang bersifat teknis yang mengandung informasi mendetail tentang bahaya dari bahan tersebut. Di Amerika Serikat, melalui OSHA, mewajibkan setiap produsen untuk menyiapkan MSDS ini bagi setiap produknya. MSDS ini harus disertakan pada setiap sampel atau pengiriman ke sebuah tujuan untuk pertama kalinya.

Gambar 5.1: Contoh label untuk HCl Bila mengacu kepada Occupational Safety and Health Act (OSHA) yang berlaku di Amerika Serikat, maka: a. MSDS harus dirancang sangat komprehensif dalam bentuk informasi tertulis untuk seluruh karyawan b. Informasi minimum yang dibutuhkan adalah: o Identitas produk seperti tercantum dalam container atau pengemasnya o Nama umum dan nama kimia seluruh komponen yang mempunyai konsentrasi >1%, yang diketahui berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan, dan
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 52

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

mempunyai konsentrasi ≥ 0,1% bagi bahan yang diketahui sebgai penyebab kanker o Bahaya fisik dan kesehatan, termasuk tanda-tanda dan simptom-nya bila terpapar o Alur masuk ke tubuh manusia, kulit, pernafasan, makanan atau minuman o Batasan paparan yang diketahui o Apakah termasuk penyebab kanker atau berpotensi-kanker o Prosedur handling dan penggunaan yang aman, penanggulangan tumpahan atau kebocoran o Prosedur pertolongan pertama bila terjadi kecelakaan o Tanggal penyiapan bahan o Nama, alamat dan nomor telepon perusahaan, atau yang bertanggung jawab yang mendistribusikan MSDS c. Training yang bersifat regular adalah kegiatan yang dianggap kritis, yang berbentuk program komunikasi, yang menginformasikan apa yang tercantum dalam label maupun dalam MSDS suatu bahan berbahaya. Penanggung jawab kegiatan harus melatih pekerjanya dalam hal bagaimana mengenali bahan-bahan berbahaya yang dapat teremisi atau terpapar dalam ruangan dimana mereka bekerja, misalnya dalam bentiuk timbiulnya bau yang spesifik, dan sekaligus melatih bagaimana memproteksi dirinya akibat bahan berbahaya tersebut. 4 DOKUMEN MATERIAL SAFETY DATA SHEETS (MSDS) Berikut ini adalah contoh MSDS yang dikeluarkan oleh sebuah produsen bahan kimia di Amerika Serikat untuk produk HCl yang dihasilkan: Informasi Umum (muncul di setiap lembar MSDS)
o o o J.T. Baker Chemical Co. 222 Red School Lane, Phillipsburg, N.J. 08865, 24-Hour Emergency Telephone (201)859-2151, Chemtrec # (800) 424-9300, National Re4sponse Center # (800) 424-8802 H3880-02 Hydrochloric Acid Effective: 08/07/86 Issued: 10/19/87

Seksi I: Identifikasi Produk
o o o o o o o Nama produk: Hydrochloric acid Formula: HCl Formula Wt: 36, 46 Cas No: 7647-01-0 NIOSH/RTECS No: MW4025000 Sinonim Umum: Muriatic Acid; Chlorhydric Acid, Hydrochloride Kode produk: 9543, 9539, 9535, 9534, 9544, 9529, 9542, 4800, 9549, 9530, 9548, 9540, 5537, 9547, 9546, 9537, 5367

Precautionary Labelling: TM Baker SAF-T-DATA System: (dengan label kode gambar) o Kesehatan: Severe o Flammabilitas: None o Reactivitas: Moderate o Kontak: Severe o Laboratory protective equipment: goggles & shield, Lab coat & apron, vent hood, proper gloves o Precautionary label statements:

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 53

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

RACUN! BAHAYA! MENYEBABKAN LUKA BAKAR SERIUS MENJADI FATAL BILA TERTELAN ATAU TERHIRUP Jangan berkontak dengan mata, kulit, dan baju Jangan terhirup uapnya. Penyebab kerusakan pada sistem pernafasan (paru-paru), mata dan kulit. Simpan dalam container yang tertutup rapat. Buka dengan hati-hati. Gunakan ventilasi yang cukup. Cuci dengan cukup setelah penanganan. Bila terjadi tumpahan, netralisir dengan soda ash atau kapur dan tempatkan pada container kering.

Seksi II: Komponen Berbahaya
o o o o o o o o o o o o

Komponen: Hydrochloric Acid (23 Baume) %: 35-40 CAS No: 7647-01-0 Titik didih (boiling point): 110 C (230ºF) Tekanan uap (mmHg): N/A o o Titik leleh (melting point): -25 C (-13 F) Densitas uap (udara = 1): 1,3 Gravitasi spesifik (specific gravity H2O = 1): 1,19 Laju evaporasi (Butyl Acetate = 1): N/A Kelarutan (H2O): sempurna dalam seluruh proporsi % Volatil – volume: 100 Tampilan dan bau: jernih, tidak berwarna atau kuning muda, pungent, cairan berasap (fuming liuid)
o

o

Seksi III: Data Fisika

Seksi IV: Data Bahaya Kebakaran dan Ledakan
o o o o o Flash point: N/A NFPA 704M Rating: 3-0-0 Flammable limits: Upper – N/A % Lower – N/A % Media pemadam kebakaran: gunakan media pemadam kebakaran yang cocok untuk area sekitarnya Prosedur khusus pemadaman kebakaran: Anggota pemadam kebakaran harus m,engenakan perlengkapan perlindungan yang memadai, dengan perlengkapan pernafasan yang dioperasikan pada tekanan positif. Pindahkan kontainer dari lokasi kebakaran bila dapat dilakukan tanpa resiko. Gunakan air. Jangan masukkan air ke dalam kontainer. Bahaya kebakaran dan ledakan yang tidak biasa: dapat mengemisikan gas hidrogen bila berkontak dengan logam Gas toksik yang dihasilkan: hydrogen chlorida, gas hyrogen PEL dan TLV dalam daftar menandakan berada pada batas 3 Treshold Limit Value (TLV/TWA): 7 mg/m (5 ppm) 3 Permissible Exposure Limit (PEL) : 7 mg/m (5 ppm) Toksisitas : LD50 (oral-rabbit) (mg/kg) : 900 LD50 (ipr-mouse) (mg/kg) : 40 LD50 (inhl-rat-1H) (ppm) : 3124 Carcinogenicity NTP : No IARC : No Z List : No OSHA : No Pengaruh paparan yang berlebihan (overexposure) : Target organ : system pernafasan, mata, kulit Kondisi medis yang biasanya diperparah bila terpapar : tidak teridentifikasi Alur masuk: pencernaan, pernafasan, kontak kulitm kontak mata Darurat dan Pertolongan Pertama:

o o o o o o o

Sekis V: Data Bahaya Kesehatan

o o o o o

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 54

asam klorosulfonik Produk dekomposisi: hidrogen klorida. amine. oksida logam. It is the user’s responsibility to determine the suitability of this information for the adoption of necessary safety precautions. karbonat.T. murkuri sulfat. disarankan menggunakan masker chemical cartridge respirator dengan acid cartridge. asam sulfat. baju pelindung direkomendasi untuk digunakan SAF-T-DATA Storage Color Code: putih (korosif) Syarat khusus: Kontainer selalu tertutup rapat. alkali. Simpan di area anti korosi. kering dan tutup.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Seksi VI: Data Reaktivitas o o o o o o o o o o o o o o o o Stabilitas: stabil Bahaya polumerisasi: tidak akan terjadi Kondisi yang dihindari: panas dan kelembaban Tidak kompatibel: hampir semua logam. Pada konsentrasi di sampai dengan 100 ppm. dan pindahkan dari area tersebut Bilas area tumpahan dengan air R R J. anhidrid asid. Di atas konsentrasi tersebut.FTSL ITB Halaman 55 . basa kuat. air. propiolakton. formaldehid. We reserve the right to revise Material Safety Data Sheets periodically as new information becomes available. seragam. alat bantu pernafasan disarankan untuk digunakan Perlindungan mata/kulit: Sarung tangan acid-resistant dan perlindungan muka (face shield). tuang tumpahan dengan hati-hati ke dalam kontainer bersih. klorin Gunakan alat masker pernafasan (self-contained breathing) dan baju pelindung Hentikan kebocoran bila dapat dilakukan tanpa resiko Berikan ventilasi pada area tersebut Netralisir tumpahan dengan abu soda atau kapur Dengan skop yang bersih. Baker Neutraorb atau Penetralisir asam Neutrasol “Low Na” disarankan untuk digunakan untuk penanganan tumpahan Prosedur disposal: kubur atau timbun atau singkirkan sesuai dengan peraturan yang berlaku EPA Hazardous Waste Number: D002 (Coorosive Waste) Ventilasi: gunakan exhaust ventilation umum atau lokal untuk memenuhi standar TLV Perlindungan pernafasan: Masker pernafasan dibutuhkan bila konsentrasi di udara kerja melebihi TLV yang disyaratkan. vinil asetat. kalsium fosfida. Enri Damanhuri . hidrogen. Idsolasi dari bahan-bahan yang tidak kompatibel. Dilarang disimpan berdekatan dengan bahan pengoksidasi TM Seksi VII: Prosedur Penanganan Tumpahan dan Disposal Seksi VIII: Perlengkapan Perlindungan o Seksi IX: Penyimpanan dan Penanganan o o Seksi X: Data transportasi dan Informasi Tambahan Domestik (DOT): o Nama pengapalan (proper shipping name): Hydrochloric acid o Kelas bahaya: bahan korosif (cair) o UN/NA: UN1789 o Label: Korosif o Kuantitas dilaporkan: 5000 Lbs Internasional (IMO) o Nama pengapalan (proper shipping name): Hydrochloric acid. solution o Kelas bahaya (hazard class): 8 o UN/NA: UN1789 o Labels: Corrosive Info terakhir MSDS contoh di atas: The information Publisher in this MSDS has been compiled from our experience and data presented in various technical publications.

terjadinya bahan lain yang mudah terbakar atau terjadinya ledakan. asam nitrat. asam perkhlorit. Asam Sulfat (H2SO4) Bahan ini banyak digunakan di industri.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 J. COPYRIGHT 1987 J. akan terbentuk uap HCl yang merupakan bahan toksik bagi pernafasan. yang akan dibahas secara umum di bawah ini. asam fluorida. Beberapa bahan yang termasuk dalam kelompok ini adalah asam sulfat. yang disertai akibat samping seperti timbulnya gas toksik. Bila ini dilakukan terbalik. dengan densitas sekitar 2 kali air.sangat larut dalam air Asam ini akan membebaskan panas bila diencerkan (sekitar 20 kcal per mole). atau cairan yang mempunyai laju korosi yang kuat terhadap baja alumunium dengan kriteria : .T. asam khlorida. Selalu diperhatikan bahwa pengenceran dilakukan dengan penuangan secara perlahan pada air yang teraduk perlahan. Korosi dapat pula disebabkan karena perusakan oleh bahan kimia (seperti asam atau basa kuat).konsentrasinya dalam air : 98. baik terhadap logam dan mineral. Asam ini merupakan cairan yang tidak berwarna.titik didih : 338 o C . Gula misalnya akan menjadi arang bila bercampur dengan asam ini. sehingga dianggap banyaknya konsumsi bahan ini di suatu negara dapat menggambarkan status ekonomi dari negara tersebut. yang menghasilkan oksida-oksida metalik.FTSL ITB Halaman 56 . natrium hidroksida. Bila asam sulfat bercampur dengan NaCl. dapat menimbulkan sifat toksik. dan dapat menimbulkan ledakan bila dicampur dengan bahan tertentu. Baker makes no warranty or representation about the accuracy or completeness nor fitness for purpose of the information contained herein. asam fosfat. Bahaya lain dari bahan ini adalah kemampuannya bereaksi dengan bahan lain. . Reaksi dehidrasi ini sangat kuat.gravitasi spesifik : 1. akan menyebabkan terjadinya pendidihan lokal disertai percikan yang membahayakan. Beberapa reaksi di bawah ini akan memperjelas mekanisme yang terjadi : Enri Damanhuri . nyala dan ledakan. dan sangat reaktif.bila sebuah cairan mempunyai laju korosi lebih besar dari 6. maka struktur jaringan di lokasi kontak mengalami kerusakan atau tidak dapat pulih setelah pemaparan 4 jam atau kurang. kalium hidroksida. Beberapa sifat asam sulfat pekat adalah : . Oleh karenanya US Department of Transportation (USDOT) mendefinisikan bahan korosif sebagai : cairan atau padatan yang dapat menimbulkan kerusakan yang terlihat pada jaringan kulit manusia bila berkontak. Namun korosi sebetulnya tidak terbatas pada aktivitas oksigen terhadap sebuah logam. Bahan ini juga akan menimbulkan ledakan bila bercampur dengan asam lain. proses ini biasanya terjadi karena adanya oksigen di udara. seperti HclO4. 5 BAHAN KIMIA KOROSIF Biasanya pengertian korosi mengacu pada proses kimia yang mengakibatkan logam atau mineral dikonversi menjadi bahan yang berkarat. BAKER INC.T. juga terhadap jaringan kulit.bila diuji terhadap kelinci albino.84 .33 % . sehingga dapat menghancurkan sama sekali kertas dan tekstil.titik beku : 10 o C .25 mm per tahun terhadap baja atau alumunium standar pada temperatur pengujian 55 °C. Bentuk bahaya yang kedua dari bahan ini adalah sifatnya yang dapat mengekstrak air dari bahan yang berkontak dengannya.

5 x air dan merupakan oksidator kuat.menghasilkan gas-gas racun dengan NaBr.konsentrasi dalam air : 68 . Beberapa sifat dari bahan ini pada kondisi pekat antara lain adalah : .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 . Bila logam yang dijumpainya adalah berupa serbuk maka reaksi akan Enri Damanhuri . Asam Nitrat (HNO3) Asam nitrat merupakan cairan terpenting setelah H2SO4. seperti reaksi di bawah ini : 5 Zn(s) + 12 HNO3(l) ⇒ 5 Zn(NO3)2(l) + 6 H2O(l) + N2(g) 3 Zn(s) + 8 HNO3(l) ⇒ 3 Zn(NO3)2(l) + 4 H2O(l) + 2 NO(g) Zn(s) + 4 HNO3(l) ⇒ Zn(NO3)2(l) + 2 H2O(l) + 2 NO2(g) 4 Zn(s) + 10 HNO3(l) ⇒4 Zn(NO3)2(l) + 5 H2O(l) + N2O(g) 4 Zn(s) + 10 HNO3(l) ⇒4 Zn(NO3)2(l) + 3 H2O(l) + NH4NO3(g) Umumnya hanya satu reaksi yang terjadi.menimbulkan ledakan dengan asam perkhlorit : 2HClO4 (l) ⇒ Cl2O7(g) + H7O(g) . namun sering dijumpai dengan warna kuning sampai merah-kecoklatan tergantung dari kandungan nitrogen dioksida yang terlarut.reaksi exotermis dengan gula : C12H22O11(s) ⇒ 12 C(s) + 11 H2O(g) . Asam ini dibutuhkan untuk menghasilkan bahan peledak nitrogliserin dan trinitrotoluene (TNT). digunakan misalnya dalam industri pupuk amonium-nitrat. tergantung pada konsentrasi asam tersebut.FTSL ITB Halaman 57 .titik didih : 86 o C . Kerapatannya sekitar 1. Asam nitrat (pekat) direduksi menjadi nitrogen.menghasilkan gas racun dengan asam oksalit : H2C2O4(s) ⇒ H2O(g) + CO(g) + CO2(g) . Label bertuliskan 'korosif dan racun' dibutuhkan pada kontainer dan kendaraan yang mengangkutnya. Asam nitrat murni merupakan cairan yang tidak berwarna.sangat larut dalam air Asam ini dapat merusak logam karena sifatnya sebagai oksidator kuat. misalnya pada reaksi di bawah ini : Cu(s) + 2 H2SO4 (pekat) ⇒ CuSO4 (l) + SO2 (g) + 2 H2O(l) Pb(s) + 3 H2SO4 (pekat) ⇒ Pb(HSO4) 2 (s) + SO2 (g) + 2 H2O(l) Di lingkungan kerja. ClO2 bersifat toksik . sedang monoksida terbentuk bila asam nitrat encer yang digunakan.menghasilkan produk yang mudah terbakar dengan ethyl alkohol : C2H5OH(l) ⇒ C2H4(g) + H2O(g) .5 . Nitrogen dioksida dapat terbentuk bila asam nitrat pekat yang digunakan. senyawa-senyawa organik-bernitrat dan fiber sintetis.titik beku : .70 % . aturan di USA membatasi pemaparan maksimum terhadap manusia sebesar 1 mg/m3. NI dan NaCN atau NaSCN : 2 NaBr(s) + 2 H2SO4(l) ⇒ Br2 (g) + SO2 (g) + Na2SO4 (l) + 2 H2O(l) SO2 dan Br2 adalah gas toksik Bahan ini juga tergolongkan sebagai oksidator.gravitasi spesifik : 1. terutama pada kondisi panas. atau nitrogen monoksida atau nitrogen dioksida atau dinitrogen monoksida atau ion amonium.menghasilkan ledakan dan gas toksik dengan NaClO3: NaClO3(s) + H2SO4 (l) ⇒ NaHSO4 (s) + HclO3(l) 3 HClO3(l) ⇒ HClO4 + 2 ClO4 + H2O .42 o C .

Materi sellulosa (seperti kertas.konsentrasi dalam air : 72. Batas yang diperbolehkan di Amerika Serikat pada lingkungan kerja adalah 5 ppm. Beberapa sifat (asam pekat) dari bahan ini adalah : . misalnya pada industri kimia dan elektroplating. Asam Khlorida (HCl) Asam ini merupakan bahan kimia yang termasuk penting dalam kegiatan industri.38 % .18 o C . atau produk yang banyak digunakan di rumah tangga. bahkan sama sekali merusaknya. Bahan ini merupakan cairan yang tidak berwarna.gravitasi spesifik : 1.kelarutan dalam air : sangat larut Departemen Transportasi Amerika Serikat menentukan bahwa HClO4 dengan konsentrasi lebih kecil dari 50 % sebagai 'korosif'. Asam Perchlorit (HclO4) Bahan ini termasuk asam mineral yang penting dalam perindustrian. sedang antara 50-72 % sebagai 'oksidator' dan pengangkutan HClO4 dengan konsentrasi lebih besar dari 72 % tidak Enri Damanhuri .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 disertai ledakan. membentuk asap. Klasifikasi bahaya dari bahan ini karena bersifat korosif dan toksik.titik beku : . Sedang logam khromium resistan terhadap asam ini. Asam ini. terutama bila bahan ini dalam bentuk serbuk.konsentrasi dalam air : 36 . Asam ini juga dapat merusak bahan non logam.115 °C . Pemaparan maksimum yang diizinkan di Amerika Serikat adalah 2 ppm.titik didih : . nitrobenzene. seperti karbon dan sulfur. oksidator dan racun'.85 °C . Pengangkut dan kontainer yang digunakan mencantumkan label 'korosif. dan menyengat. walaupun termasuk dalam kelompok asam kuat.kelarutan dalam air : 85 g/100 g air. Label yang disyaratkat pada kontainer dan pengangkutannya adalah 'korosif dan racun'.FTSL ITB Halaman 58 . Terhirupnya gas ini melalui pernafasan akan menyebakan degenerasi total sel pada bagian pernafasan. dan korosi pada besi tidak terjadi bila konsentrasi asam nitrat lebih tinggi dari 70 %. misalnya pada industri pelapisan logam. Asam ini juga mengoksidasi senyawa-senyawa organik seperti aceton. atau untuk menghasilkan senyawa yang mengandung khlor seperti karet sintetis.titik didih : 203 o C . Sifat-sifat asam khlorida pekat antara lain adalah : .gravitasi spesifik : 1.titik beku : . Kerapatan gasnya sekitar 1/5 lebih ringan dari udara. Oksidasi logam alumunium pada temperatur kamar tidak dapat terjadi bila konsentrasi asam nitrat lebih tinggi dari 80 %. kayu) akan tebakar dengan sendirinya bila berkontak dengannya.70 . merupakan oksidator kuat khususnya terhadap senyawa organik. dan kadangkala disertai ledakan dan merupakan sumber nyala. Asam ini dapat menimbulkan swa-nyala bagi bahan sellulosa. Bahan ini bukan termasuk oksidator.20 . Asam ini juga akan mengkorosi jaringan tubuh bereaksi dengan protein membentuk xanthroproteic acid berwarna kuning. minyak.4 % . ethyl alkohol. terutama pada kondisi panas. misalnya pembersih WC.

sangat larut dalam air.69 . Campuran kalsium dihidrogen fosfat dan kalsium fosfat dikenal sebagai superfosfat. namun asam fosfat adalah yang paling umum digunakan dalam industri. NaOH merupakan basa kuat.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 diperkenankan.titik beku : 42 o C . namun beberapa jam kemudian terjadilah penetrasi dalam kulit.gravitasi spesifik :1 . dan mengeluarkan panas. mampu bereaksi dengan silikon dioksida (pasir) dan gelas membentuk silikon tetrafluorida. Asam Fluorida (HF) Penggunaan asam fluorida dalam industri adalah penting. banyak digunakan di industri Enri Damanhuri . Reaksi yang terjadi adalah : CaSiO3(s) + 6 HF(pekat) ⇒ CaF2(s) + SiF4(g) + 3 H2O(l) Asam fluorida merupakan asam lemah. larutan ini bersifat korosif pada bahan.gravitasi spesifik : 1. seperti dalam industri pupuk. Asam perckhlorit adalah stabil. Asam Fosfat (H3PO4) Unsur fosfor paling tidak mempunyai 8 jenis asam. Label yang dipersyaratkan adalah : 'korosif dan oksidator'. baik digunakan secara langsung atau dicampur dengan H2SO4.titik didih : 260 o C . Label untuk pengangkutan dan kontainer mencantumkan sebagai 'korosif'. dapat mengkorosi bahan tetapi tidak sehebat asam-asam sebelumnya. yang merupakan pupuk sintetis yang penting. Natrium Hidroksida (NaOH) dan Kalium Hidroksida (KOH) Kelompok ini merupakan kelompok alkalin korosif yang paling penting dan dikenal sebagai caustic soda.sangat larut dalam air.konsentrasi dalam air : 85 % . Aturan pengangkutan di Amerika Serikat adalah mensyaratkan label 'korosif dan toksik'. Batas pemaparan yang diizinkan di ruang kerja adalah 1 mg/m3. Disamping itu. maka botol kedua jenis asam ini tidak diperbolehkan diletakkan berdampingan.titik beku : . Beberapa sifatnya dalam kondisi pekat adalah : . Asam ini dalam kondisi pekat lebih berbahaya bila kontak dengan kulit karena tidak mendatangkan sakit pada saat kontak.konsentrasi yang biasa dijumpai adalah : 48 . dan merupakan satu-satunya asam yang mengkorosi gelas. Karena asam sulfat dapat menghidrasi asam perkhlorit.83 o C . Asam fosfat tidak berwarna dan tidak berbau. misalnya dalam pembuatan chip dalam industri komputer.titik didih : 20 o C . atau dalam industri perminyakan untuk menghasilkan bahan bakar beroktan tinggi. namun bentuk yang anhydrous dikenal sangat tidak stabil. Beberapa sifat dari asam ini dalam keadaan pekat adalah : .FTSL ITB Halaman 59 .60 % . larutan ini bereaksi dengan air secara keras. Cairan ini tidak berwarna.

dapat mengkorosi logam seperti alumunium. Pengangkutan bahan ini di Amerika Serikat mensyaratkan penulisan label sebagai 'korosif'. kalium. wadah yang digunakan sebaiknya bukan bahan gelas.gravitasi spesifik : 2.membentuk campuran yang eksplosif bila bercampur air.13 . dan dikenal dengan nama caustic potash. Oleh karenanya. bila terjadi kontak yang lama. natrium. toksik atau bersifat korosif. . Logam-logam Alkali Beberapa jenis logam ini adalah lithium. terutama dalam kondisi lembab akan menghasilkan gas H2 dengan resiko kebakaran yang tidak dapat Enri Damanhuri . membentuk natrium silikat.FTSL ITB Halaman 60 . kertas. Pada temperatur kamar. namun yang paling sering digunakan adalah lithium. Beberapa sifat penting dari bahan ini adalah : . seperti H2O4 dan NaOH. Batas pemaparan di ruang kerja adalah 2 mg/m3. . fotografi. Tetapi proses hidrolisis ini tidak selalu menimbulkan bahaya.kelarutan dalam air : 42 gr/100 gr H2O. produk ini juga digunakan di rumah tangga. sabun. Proses yang menyebabkan air mendekomposisi suatu materi dikenal sebagai hidrolisis. NaOH adalah berbentuk padat-putih.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 seperti : petroleum. sehingga bila bahan tersebut dibiarkan terbuka di udara lembab.titik leleh : 315 o C .04 . 6 BAHAN KIMIA YANG REAKTIF PADA AIR Air dapat bereaksi dengan bahan berbahaya membentuk suatu produk yang dapat terbakar dengan sendirinya. misalnya untuk menangani penyumbatan pipa plambing. cesium. yaitu bahan yang dapat terbakar secara spontan bila berada dalam keadaan udara kering atau lembab atau pada temperatur < 54. tembaga dan jaringan kulit dan melarutkan lemak.5 °C. tetapi dengan bahaya yang lebih kecil. Beberapa bahan dikenal pula sebagai piroforik.titik didih : 1390 o C . yaitu bahan yang mampu untuk menyerap air di udara.titik leleh : 360 o C . dan dikenal sebagai basa yang korosif. karena dapat : . uap atau asap toksik. Logam-logam alkali ini merupakan kelompok logam yang paling reaktif.kelarutan dalam air : 107 gr/100 gr air. seng.bereaksi dengan air secara kuat. Bahan ini reaktif dengan air dan menghasilkan panas 10 kcal per mole sehingga dapat memicu kebakaran.menghasilkan gas. Dalam uraian berikut ini dijelaskan secara umum kelompok bahan yang termasuk dalam katagori reaktif dalam air. maka wadahnya lama kelamaan akan penuh. farmasi. Sifatsifat fisiknya antara lain : . sabun dan sebagainya. natrium dan kalium. Bahan ini umumnya digunakan pada industri pupuk. Disamping itu dikenal pula bahan yang higroskopik. menimbulkan ledakan.titik didih : 1320 o C . Kalium Hidroksida merupakan basa yang lebih kuat dibanding NaOH. Salah satu karakteristik B3 adalah sifat reaktifnya. bahan ini dapat mengkorosi gelas. rubidium dan francium. Reaksi yang terjadi umumnya seperti halnya NaOH. tekstil.gravitasi spesifik : 2.

534 179 1317 103. Bahan ini antara lain digunakan dalam produksi logam titanium. tetapi biasanya dengan dry powder yang mengandung grafit. TABEL 5. Natrium dapat menyala secara spontan dalam udara bertemperatur kamar. Sebagaian besar logam kalium digunakan untuk memproduksi logam campuran natrium-kalium sebagai penukar panas pada fluida. Pengangkutan bahan ini membutuhkan label yang menyatakan sebagai 'berbahaya bila lembab'. seperti natrium peroksida. berasap kuning dan membentuk natrium oksida sesuai dengan reaksi : 4 Na(s) + O2(g) ⇒ 2 Na2O(s) Kalium merupakan unsur ketujuh yang paling banyak dijumpai di dalam tanah dan lautan. maka bila bereaksi dengan air akan tetap sebagai padatan.972 97. Bahan ini digunakan dalam industri porselen.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dipadamkan dengan air. logam ini akan terbakar.819 63. sedangkan logam alkali lainnya akan meleleh. keramik. dan merupakan logam alkali yang paling umum digunakan. Natrium adalah unsur keenam yang paling banyak dijumpai dalam tanah dan lautan. farmasi. Logam-logam lain Beberapa jenis logam lain yang mempunyai sifat reaktif terhadap air adalah magnesium. distribusi atau dispersi partikel. sehingga tidak berbahaya dibandingkan logam alkali lainnya. Logam ini juga lunak. logam ini adalah yang paling reaktif. maka resiko tersebut dapat dikurangi. karena bersifat piroforik. Logam ini termasuk logam yang ringan sehingga sering digunakan dalam industri pesawat terbang. Kemurnian dari logam kelompok ini akan menentukan resiko tersebut di atas.1.5 833 27. Kelompok ini bila dalam bentuk bubuk akan secara spontan meledak sehingga dapat menimbulkan resiko kebakaran. Bila permukaan logam ini diselimuti oleh oksida. Bila terpapar dengan udara pada temperatur kamar. titanium. Beberapa sifat dari lithium. mobil. alumunium dan seng. natrium dan kalim adalah seperti terlihat dalam tabel 4. kelembaban dan jumlah oksigen yang terserap. agen pemutih.FTSL ITB Halaman 61 . Oleh karena titik didihnya lebih tinggi dari air. Magnesium merupakan unsur ke delapan yang terbanyak dijumpai di dalam tanah dan lautan.6 496 Lithium adalah logam yang lunak. sebagai katalis dalam pembuatan karet sintetis. Bila bereaksi dengan air akan menghasilkan reaksi : 2 Li(s) + 2 H2O(l) ⇒ 2 LiOH(l) + H2(g) Reaksi berlangsung lambat bila dibandingkan dengan reaksi alkali yang lain.2 1005 Kalium 0.1 : Sifat fisika logam-logam alkali Kerapatan pada 20o C (g/ml) Titik leleh (° C) Titik didih (o C) Panas fusi (kcal/kg) Panas penguapan (kcal/kg) Lithium 0.7 760 14. berasap ungu dan membentuk kalium oksida. Dibandingkan dengan logam alkali yang lain. Faktor lain yang mempengaruhinya adalah ukuran partikel. atau untuk pembuatan bagian-bagian mesin dan Enri Damanhuri .2 4680 Natrium 0. sebagai bahan baku dalam pembuatan senyawa-senyawa yang mengandung natrium yang bersifat reaktif. merupakan unsur padat yang paling ringan dan dapat mengapung pada produk minyak bumi.

dimethylcadmium Cd(CH3). Senyawa ini biasanya digunakan sebagai katalis polimerisasi. hanya sekitar 75 % diantaranya yang bereaksi dengan oksigen untuk membentuk magnesium oksida. senyawa ini akan bereaksi secara keras membentuk ethane. seperti reaksi : 2 Mg(s) + O2(g) ⇒ 2 MgO(s) 3 Mg(s) + N2(g) ⇒ Mg3N2(s) Cahaya yang ditimbulkan oleh terbakarnya magnesium adalah putih terang. Seperti halnya yang lain. Seperti halnya magnesium. Senyawa ini bersifat piroforik. seperti reaksi : (C2H5)2Zn(l) + 7 O2(g) ⇒ ZnO(s) + 4 CO2 (g) + 5 H2O(g) Enri Damanhuri . membentuk seng oksida. Tidak kurang dari 50 jenis senyawa organometalik tersedia secara komersial. sehingga dekenal sebagai senyawa-senyawa organometalik. Alumunium murni termasuk salah satu logam yang paling reaktif. yang dapat menimbulkan luka pada paru-paru. Adanya lapisan inilah yang menyebabkan alumunium dianggap sebagai logam yang tidak berbahaya. terutama senyawa organometalik yang lain. Diethylzinc adalah organometalik yang biasanya digunakan dalam sintesa beberapa senyawa organik. atau sebagai pigmen dalam pembuatan cat. logam ini termasuk yang mempunyai kerapatan kecil dibandingkan logam lainnya. Namun biaya untuk memproduksi logam ini adalah sangat tinggi sehingga membatasi penggunaannya. Seng termasuk yang sering digunakan dalam kegiatan non-industri. maka logam ini banyak digunakan dalam industri pesawat terbang. Transportasi bubuk seng membutuhkan label 'berbahaya bila lembab'.industri. Seng juga digunakan untuk melindungi besi dari korosi (galvanis). Seperti halnya magnesium. Asap dari magnesium oksida berbahaya bila terhisap karena bersifat reaktif terhadap lembab yang ada dalam saluran pernafasan dan membentuk magnesium hidroksida. dapat terbakar secara spontan di udara.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 sebagainya. Dalam air. logam ini reaktif terhadap air dan berisiko terhadap terjadinya ledakan dan kebakaran. Bila logam ini terbakar di udara. Pengangkutan bahan ini membutuhkan label yang bertuliskan 'berbahaya bila lembab'. sedang sisanya akan membentuk magnesium nitrida. Bahan ini dapat dibentuk sebagai lembaran yang tipis dan banyak digunakan dalam kegiatan industri maupun non. dan digunakan pula sebagai katalis dalam polimerisasi ethene. tetramethyltin Sn(CH3)4. dan merupakan unsur ketiga terbanyak di perut bumi dan lautan.FTSL ITB Halaman 62 . Oleh karena kombinasi keras dan ringan ini. trimethylaluminum Al(CH3)3. maka bila serbuk alumunium diangkut maka dibutuhkan label sebagai 'berbahaya bila lembab'. beberapa diantaranya adalah : diethylzinc (C2H5)2Zn. tetraethyllead (C2H5)5Pb. umumnya mengandung satu sampai sepuluh atom karbon pada setiap molekulnya. Aluminum (alumunium) merupakan bahan yang paling populer diantara bahan-bahan sebelumnya. Alumunium lebih ringan dibanding titanium. Senyawa Organometalik Kelompok senyawa organometalik yang penting dalam industri adalah dalam bentuk atom-atom logam yang terikat secara langsung dengan atom-atom karbon. Namun dengan terbentuknya alumunium oksida yang berada di permukaan akan melindungi logam ini dari reaksi kimia. karbon dioksida dan air. Campurannya dengan tembaga menghasilkan logam campuran yang dikenal sebagai kuningan. tri(isobutyl) aluminum Al(C4H9)3. Titanium merupakan elemen ke sepuluh yang paling banyak dijumpai di dalam tanah dan lautan. Logam ini sekeras baja tetapi 45 % lebih ringan. yang dapat membahayakan retina mata. Logam ini tahan terhadap sifat korosi air laut sehingga banyak digunakan dalam pembuatan kapal laut.

Hidrida-hidrida ini akan terdekomposisi menjadi boron dan hidrogen pada temperatur di atas 300 o C. Beberapa jenis hidrida metalik ini antara lain adalah lithium atau natrium hidrida (LiH).FTSL ITB Halaman 63 . yang ditambahkan pada bahan bakar kendaraan bermotor. akan dapat menyebabkan pembakaran spontan dan berasap hijau. Kelompok ini juga bereaksi secara hebat dengan bahan odsidator. hidrogen khlorida (HCl) dan sebagainya. Diantara bahan organometalik yang mungkin paling terkenal adalah tetraethyllead yang digunakan dalam mengurangi ketuk (knock). serta tidak reaktif terhadap air. Pemaparan maksimum Enri Damanhuri . namun bila bereaksi dengan air. atau logam alkali atau alumunium. Dengan konsentrasi diborane sebesar 0. akan menghasilkan gas H2 dan mudah terbakar.senyawa yang mengandung atom alumunium yang terikat pada atom karbon. merupakan senyawa yang reaktif terhadap air. Maksimum pemaparan di ruang kerja adalah 0. atau kadangkala boron. Diborane ini termasuk gas yang mudah terbakar. Dengan sifat panas pembakarannya yang tinggi (527 kcal/mol). Seluruh senyawa kelompok ini merupakan senyawa yang piroforik. dikenal sebagai senyawa aluminum alkyl. lithium atau natrium borohidrida. umumnya tidak stabil pada temperatur kamar. transportasi bahan ini membutuhkan label bertuliskan 'racun'. tetrahidridoaluminate (LiAlH4). Berbeda dengan senyawa organometalik yang lain. sehingga sangat tidak dianjurkan untuk digunakan.satunya yang bukan termasuk piroforik. akan dihasilkan cemaran timbal di udara. termasuk kelembaban udara. Senyawa ini relatif stabil. Molekular hidrida dari boron disebut borane. Kelompok organometalik yang juga penting dalam industri adalah senyawa. methane (CH4). senyawa ini merupakan satu. Molekular hidrida yang umum adalah air. bereaksi secara keras dengan air dan sangat toksik. karena berada sebagai satuan molekular. Bila terjadi pembakaran.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 (C2H5)2Zn(l) + 2H2O(l) ⇒ Zn(OH)2(s) + C2H6(g) Tata cara pengangkutan di Amerika Serikat mensyaratkan label 'bahan bakar spontan'. lithium aluminium hidrida (LiAlH4). yang digunakan terutama untuk katalis polimerisasi. diborane tergolong toksik. sangat toksik dan bila terbakar akan terbentuk oksida boron. serta lithium dan natrium borohidrida sebagai 'berbahaya bila lembab. disertai dengan berat molekulnya yang rendah. Oleh karenanya. Hidrida-hidrida Metalik Kelompok hidrida-hidrida metalik yang paling banyak digunakan secara komersial adalah yang tersusun dari atom hidrogen. Borane Senyawa-senyawa hidrogen dengan satu atau lebih unsur non-metal dikenal sebagai hidrida-hidrida molekular. Departemen Transportasi Amerika Serikat mengatur secara khusus pengangkutan lithium dan natrium hidrida .satunya karakteristik bahaya yang menyertainya adalah sifat toksik dari cairan atau uapnya bila terhirup.075 mg/m3. Contoh lain adalah hidrogen sulfida (H2S). Borane (BH3)pada tekanan atmosfer adalah tidak stabil. dan berubah menjadi diborane (B2H6). menyebabkan diborane digunakan sebagai bahan bakar roket.8 % (volume) di udara. seperti trimethylaluminum dan tri(isobutyl) aluminum. amonia (NH3). Senyawa ini biasanya digunakan dalam industri sebagai pereduksi. aluminium tetrahidridoborate Al(BH4)3. Disamping itu. Satu. Paling tidak dikenal 14 jenis borane. terhisap atau kontak melalui kulit.

Pengaruh racun dapat diklasifikasikan berdasarkan waktu yang dibutuhkan terjadinya penyakit atau gangguan. Transportasi bahan ini membutuhkan label 'gas beracun dan mudah terbakar'.1 ppm. yang mengakibatkan efek sistemis. Sebagai contoh. yang paling penting adalah melalui : mulut. akan terbentuk gas bakar fosfine. boron trikhlorida (BCl3)menguap pada 18oC dan bersifat toksik. Karbida. fosforus oksikhlorida (POCl3) yang bersifat korosif dan toksik. Untuk menghindari bahaya kebakaran atau ledakan. Peroksida. karena bereaksi secara keras dengan air. Bila kalsium karbida bereaksi dengan air.atau C34. C4. yang juga reaktif terhadap air. bila merkuri terserap oleh kulit maka akan dapat merusak ginjal atau pusat sistem syaraf. Senyawa-senyawa yang mengandung khlor dengan metalik dan atau non-metalik merupakan substansi yang reaktif terhadap air. Contoh fosfida metalik adalah kalsium fosfida. namun dapat menimbulkan api. diperlukan juga label 'racun'. yaitu : . maka kalsium karbida harus dijaga agar tetap kering dan bebas dari lembab udara. Bila kalsium fosfida bereaksi dengan air. kulit dan pernafasan. Enri Damanhuri . Senyawa ini tidak terbakar. Barium peroksida disamping membutuhkan label 'oksidator'. 7 BAHAN-BAHAN KIMIA TOKSIK Terdapat berbagai cara agar sebuah bahan/substansi masuk ke dalam tubuh manusia. gas iritan dan bila berbentuk larutan akan bersifat korosif.Bersifat akut : kerusakan yang terjadi biasanya akibat sejenis bahan dengan pemaparan singkat.dikenal sebagai karbida. gas acetylene (C2H2) akan terbentuk sesuai dengan reaksi : CaC2 (s) + 2 H2O(l) ⇒ Ca(OH)2(s) + C2H2 (g) Gas acetylene inilah yang berfungsi sebagai bahan bakar pada saat digunakan dalam pengelasan. seperti terhisapnya gas HCl beberapa detik yang akan menyebabkan kerusakan langsung pada paru-paru. dan senyawa yang mengandung logam dengan ion-ion karbida dikenal sebagai karbida-karbida metalik. bisa saja keterpaparan ini terjadi secara berulang-ulang sampai menimbulkan kerusakan. terutama natrium peroksida dan barium peroksida. Bila sebuah substansi bersifat toksik. Beberapa jenis senyawa ini adalah : alumunium khlorida (AlCl3) yang bersifat korosif. seperti kalsium karbida CaC2 yang digunakan dalam industri sebagai sumber acetylene dan pupuk kalsium cyanamida. Fosfida dan Khlorida Metalik Senyawa-senyawa yang tersusun antara logam dengan ion peroksida (O2=) dikenal sebagai peroksida metalik. yang umumnya berbahaya karena bersifat sebagai oksidator disamping reaktif terhadap air. Ion-ion karbon dalam bentuk C22-. antimoni pentakhlorida (SbCl5) yang bersifat korosif. Peroksida metalik yang penting dalam industri adalah yang tersusun dari logam alkali dan alkali tanah.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dalam ruangan kerja adalah hanya 0. seperti reaksi di bawah ini : Ca3P2(s) + 6 H2O(l) ⇒ 3 Ca(OH)2(s) + 2 PH3(g) Gas fosfine juga bersifat toksik.FTSL ITB Halaman 64 . dia dapat merusak jaringan di lokasi kontaknya (efek lokal) atau berpengaruh negatif dengan jalan lain. Hidrogen khlorida adalah toksik. Senyawa ini tergolong berbahaya. menghasilkan hidrogen khlorida.

yaitu : .rata di ruang kerja yang dapat diterima oleh sebagian besar pekerja selama 40 jam per minggu atau 8 jam per hari tanpa menimbulkan gangguan. hidrogen.Irritant : substansi kimia yang melukai jaringan sistem pernafasan dan paru.0 100. biasanya dilakukan percobaan melalui binatang. untuk melihat pengaruh suatu substansi pada manusia.0 5. Oleh karenanya bila substansi tersebut menyebabkan kanker pada binatang dan belum terbukti pada manusia.limbah B-3 D004 D005 D006 D007 D008 D009 Cemaran Arsen Barium Kadmium Khromium Timah Merkuri Konsentrasi (mg/l) 5.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 . maka digunakan penelitian terhadap binatang percobaan. TABEL 5. USEPA menggunakan tolak ukur yang bersifat praktis.0 0.2 Enri Damanhuri .Bersifat kronis : suatu pengaruh atau keadaan sakit yang muncul sedikit demi sedikit dalam waktu yang agak lama setelah pemaparan pertama. Cara ini biasanya cocok untuk toksik yang bersifat akut. kemudian hasilnya di ekstrapolasi pada manusia. karbon monoksida.] No. dengan memberikan batasan konsentrasi maksimum cemaran yang diuji sesuai dengan protokol penelitian. dengan satuan ppm (gas) atau mg/m3 ( asap udara). ..Threshold limit value (TLV) : limit teratas dari sebuah konsentrasi toxin yang tidak menimbulkan pengaruh kesehatan pada manusia yang terpapar secara rutin. Untuk mengkuantifikasi toksisitas akut. maka bahan tersebut dikenal sebagai suspect human carcinogen. yang mengatur beberapa cemaran logam toksik dan pestisida.paru. percobaan melalui binatang tidak selalu relevan karena faal manusia dan binatang tidak selalu sama. .Bersifat laten : suatu pengaruh atau keadaan sakit yang baru berkembang setelah masa inkubasi terlampaui. dengan satuan mg bahan per kg berat binatang. yang menyebabkan kematian binatang penelitian sebanyak 50 % .0 5. Konsentrasi maksimum tersebut adalah seperti terlihat dalam tabel 2.Immediately dangerous to life and health (IDLH) : merupakan konsentrasi maksimum suatu substansi yang memungkinkan manusia menghindar dalam 30 menit tanpa masalah pada kesehatannya.2.0 1. dalam satuan ppm (volume). . misalnya hidrogen khlorida yang merupakan bahan korosif. dan akan menjadi human carcinogen bila memang terbukti dapat menyebabkan kanker pada manusia. yang dapat mematikan 50 % binatang percobaan. misalnya benzene akan mengakibatkan aplastic anemia setelah sekitar 10 tahun sejak pertama kali terjadinya pemaparan. misalnya timbulnya kanker liver angiosarcoma yang muncul beberapa tahun setelah menghirup vinyl khlorida.Time weighted average threshold limit value (TWA-TLV) : konsentrasi rata. yaitu dengan EP-toxicity (extraction-procedure toxicity). . Untuk toksik yang bersifat kronis atau laten. .FTSL ITB Halaman 65 .Lethal concentration-50 (LC50) : konsentrasi bahan.2 : Konsentrasi maksimum bahan toksik dengan EP-toxicity [. Sebuah substansi yang masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan dapat berakibat sebagai : .Asphyxiant : substansi kimia yang menyebabkan kehilangan kesadaran karena kurangnya oksigen dalam darah. Dalam toksikologi. . misalnya nitrogen.Lethal dose-50 (LD50) : konsentrasi bahan.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

D010 D011 D012 D013 D014 D015 D016 D017

Selenium Perak Endrin Lindane Methoxychlor Toxaphene 2,4-D 2,4,5-TP Silvex

1,0 5,0 0,02 0,4 10,0 0,5 10,0 1,0

Catatan : 2,4-D = 2,4-dikchlorophenoxyacetic acid 2,4,5-TP Silvex = 2-(2,4,5-trichlorophenoxy)propionic acid

Bila cemaran tersebut mengandung konsentrasi lebih tinggi dari yang tertera dalam tabel, maka cemaran tersebut terkatagorikan sebagai toksik. Beberapa kelompok bahan kimia yang bersifat toksik antara lain adalah : - Oksida-oksida karbon : seperti CO dan CO2 - Hidrogen cyanida : HCN - Senyawa sulfur : H2S, SO2 - Oksida-oksida nitrogen seperti N2O, NO2, N2O4 - Amonia - Logam-logam berat seperti : arsen, timah (Pb) - Asbestos. - Pestisida organik. Oksida-oksida Karbon Bila bahan mengandung karbon terbakar, maka akan terbentuk gas karbon dioksida (CO2). Bila pembakaran tidak sempurna akan dihasilkan gas karbon monoksida (CO), yang tergolong gas berbahaya karena dapat menyebabkan kematian. Reaksi yang umum, misalnya dalam pembakaran gas methane, adalah: 2 CH4(g) + 3 O2(g) --- 2 CO(g) + 4 H2O(g) CH4(g) + O2(g) --- C(s) + 2 H2O(g) Kedua jenis oksida tersebut adalah tidak berwarna dan tidak berbau. Beberapa sifat gas karbon monoksida adalah: - titik didih - 191,6 oC - densitas cairan (pada titik didih) 795 g/L - densitas gas (pada titik didih) 4,3 g/L - densitas gas (pada 20 C) 1,25 g/L - densitas uap (udara = 1) 0,97 - panas pembakaran 67,64 kcal/mol - % batas bawah ledakan 12,5 - % batas atas ledakan 74 -rasio ekspansi cair ke gas 700 Sedang beberapa sifat gas karbon dioksida adalah : - titik beku (oC) - 56,55 oC - titik sublimasi (pada 1 atm) 78,5 oC - panas fusi 47,5 kcal/kg - panas sublimasi 36,2 kcal/kg - densitas padat (pada 1 atm) 1,56 g/ml - densitas gas (pada titik sublim) 2,8 g/L - densitas gas (pada 20 oC) 1,98 g/L - densitas uap (udara = 1) 1,529 - rasio ekspansi cair ke gas 790
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 66

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

Karbonmonoksida merupakan gas toksik, yang dapat terserap oleh darah melalui pernafasan. Pada saat manusia bernafas, oksigen akan terbawa oleh aliran darah oleh komponen dalam darah yang disebut hemoglobin (Hb). Bila Hb ini menyerap oksigen akan terbentuk oksihemoglobin (O2Hb), dengan reaksi seperti : Hb(l) + O2(g) --- O2Hb(l) Oksihemoglobin ini akan melepaskan oksigen pada jaringan atau organ lainnya. Bila karbonmonoksida terhirup, akan terbentuk karboksihemoglobin (COHb) : Hb(l) + CO(g) --- COHb(l) yang mempunyai afinitas kimia sebesar 300 kali lebih tinggi daripada pembentukan oksihemoglobin. Oksigen yang terikat dalam oksihemoglobin juga dapat dilepaskan sesuai dengan reaksi : O2Hb(l) + CO(g) --- COHb(l) + O2 Karboksihemoglobin ini relatif stabil dan menghalangi penyerapan oksigen oleh darah sehingga penderita mengalami anoxia, yaitu kekurangan oksigen dalam darah. Pada dasarnya tubuh manusia lebih toleran terhadap CO2, walaupun adanya CO2 akan mempertinggi laju pernafasan seseorang, sehingga pekerjaan terasa menjadi lebih berat. TLV di udara untuk karbon monoksida adalah 100 ppm, sedangkan untuk CO2 adalah 5000 ppm (0,5 %); lebih dari konsentrasi tersebut akan menimbulkan gangguan pernafasan. Kontainer atau silinder gas karbon monoksida membutuhkan label 'gas beracun' dan ' gas mudah terbakar', sedang untuk gas karbon dioksida tergolongkan sebagai 'gas tidak terbakar'. Hidrogen Sianida (HCN) Pada temperatur kamar, hidrogen sianida adalah merupakan gas yang tidak berwarna, dengan sifat-sifat antara lain : - titik beku (oC) : - 14 oC - titik didih (oC) : 26 oC o - kerapatan pada 20 C : 1,2 g/L - kerapatan uap (udara = 1) : 0,93 - % batas terendah ledakan :6 - % batas tertinggi ledakan : 41 - titik nyala cairan : - 18 oC Gas HCN larut dalam air membentuk asam hidrosianik. Hidrogen sianida anhidrous (cair) merupakan bentuk yang secara komersial sering dijumpai, merupakan bahan yang tidak stabil. HCN banyak digunakan dalam pembuatan plastik seperti polyacrylonitrile yang mengandung grup -CN. Bila jenis plastik ini dipanaskan, maka akan terdekomposisi secara termal dan terbentuklah gas racun HCN. Bahan racun ini mempengaruhi transportasi oksigen dalam darah, karena dapat mengganggu aktivitas enzim cyctochrome oxidase yang dibutuhkan untuk respirasi selluler dan pembentukan enersi. Bahan ini masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan atau kulit. Beberapa senyawa kimia dengan ion-ion metalik yang bergabung dengan ion- ion sianida, seperti natrium sianida, banyak digunakan dalam industri elektroplating. Seperti halnya gas sianida, bahan ini juga bersifat racun bila terserap oleh manusia. Bahan ini juga akan bereaksi dengan asam membentuk gas HCN : NaCN(s) + HCl(l) --- NaCl(l) + HCN(g) Beberapa besaran konsentrasi (dalam ppm) yang berkaitan dengan sifat toksikologi dari HCN adalah :
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 67

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

- batas bau : 0,2 - 5,0 - TLV : 10 - keluhan sakit kepala : 18 -36 - bertahan selama 1/2 jam tanpa kesulitan : 45 - 54 - kematian dalam 1 jam : 110 - 135 - kematian langsung : 280 Pengaturan pengangkutan dan pewadahan mensyaratkan label : racun' dan 'cairan mudah terbakar'. Senyawa Sulfur Senyawa yang mengandung unsur sulfur dijumpai pada batu bara, gas alam, minyak mentah, wool, rambut, polimer-polimer sintetis dan sebagainya (lihat sub bab 2.2). Bila bahan ini terpapar dengan panas atau bila terbakar akan membentuk gas hidrogen sulfida (H2S) atau SO2. Hidrogen sulfida secara komersial banyak dijumpai dalam bentuk cairan, biasanya digunakan dalam industri yang memproduksi senyawasenyawa mengandung sulfur. Bahan ini juga digunakan dalam industri metalurgi. Gas H2S merupakan gas yang tidak dijumpai akibat proses dekomposisi dari gas ini adalah : - titik didih - titik beku - densitas pada 20 o C - kerapatan uap (udara = 1) - persen batas bawah ledakan - persen batas atas ledakan - panas fusi - panas penguapan berwarna, berbau seperti telur busuk. Secara alami senyawa organik dalam kondisi anaerob. Sifat-sifat : - 60 o C : - 83 o C : 1,539 g/L : 1,2 : 4,3 : 46 : 0,568 kcal/mol : 4,463 kcal/mol

TLV dari gas H2S dibatasi hanya 10 ppm. Bila terus menerus menghirup udara yang mengandung gas ini, akan mengakibatkan pusing dan sakit kepala; bila terhirup dengan konsentrasi 600 ppm selama 30 menit akan berakibat fatal. Tetapi karena gas ini mempunyai bau khas, maka kehadirannya dapat diketahui sejak dini. Pengangkutan dan kontainer bahan ini membutuhkan label bertuliskan 'gan beracun' dan 'gas mudah terbakar'. Sulfur dioksida merupakan gas tidak berwarna, berbau menyengat seperti karet terbakar. Gas ini terbentuk bila senyawa mengandung sulfur terbakar, misalnya pada pembakaran gas H2S akan terjadi reaksi : 2 H2S(g) + 3 O2 (g) --- 2 H2(g) + 2 SO2(g) Gas ini akan muncul misalnya karena pembakaran minyak bumi atau batu bara, karena kedua jenis bahan bakar ini mengandung senyawa sulfur. Dalam emisinya di udara, gas ini secara lambat akan teroksidasi menjadi sulfur trioksida (kadang-kadang ditulis sebagai SOx) yang larut dalam lembab udara membentuk asam sulfat sebagai penyebab hujan asam, sesuai dengan reaksi : 2 SO2(g) + O2(g) --- 2 SO3(g) SO3(g) + H2O(g) --- H2SO4(l) Masalah lingkungan yang ditimbulkan pada zone industri adalah adanya kabut sulfur (sulfurous smog), yang terbentuk akibat kumulasi asam sulfat di udara. Beberapa sifat dari gas ini adalah :
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 68

batas atas ledakan: 25 % Enri Damanhuri . fosfor dan karbon dapat terbakar dalam atmosfer N2O seperti halnya dalam atmosfer yang mengandung oksigen.panas vaporasi : . NO2 dan N2O4 merupakan agen pengoksida yang lebih baik dibanding N2O atau NO.76 o C : 2. sehingga sulfur.titik beku: .titik beku .77 kcal/mol : 5. maka N2O3 dan N2O5 yang tidak penting dalam industri. tidak berwarna dan berbau tajam. sehingga dapat menimbulkan methemoglobinemia dengan terhalangnya transportasi hemoglobin.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 .78 o C . dihasilkan campuran eksplosif.FTSL ITB Halaman 69 . Magnesium dan fosfor dapat terbakar dengan baik dalam atmosfer yang mengandung gas ini seperti halnya atmosfer yang mengandung oksigen.densitas pada 20 o C . seperti halnya karbon monoksida.596 . Dalam ruang kerja. Pada konsentrasi sebesar 10 ppm (volume) gas ini akan mengakibatkan iritasi pada mata.5 ppm. sehingga digunakan sebagai agen pengoksida dalam roket. Oleh karenanya. dan 0.titik didih: . banyak digunakan sebagai anestesi oleh dokter gigi.96 kcal/mol Standar emisi yang dikeluarkan oleh USEPA adalah 0. TLV dari SO2 adalah 5 ppm. membentuk metheglobin (NOHb). Beberapa sifat dari gas ini adalah : . Gas ini dapat berkombinasi dengan hemoglobin dalam darah.Kerapatan uap (udara =1) .titik didih .swa-penyalaan: 651 o C . Oksida Nitrogen (NOx) Terdapat enam oksida-oksida nitrogen.panas difusi . dinitrogen tetroksida (NO4) dan dinitrogen pentoksida (N2O5). Label yang dibutuhkan dalam pengangkutannya adalah sebagai 'gas tidak terbakar' dan 'pengoksidasi'. gas-gas ini juga toksik dan menyebabkan methemoglobinemia dengan batas TLV 5 ppm. yaitu dinitrogen monoksida (N2O).03 ppm selama periode 24 jam.3 : 1. Pengangkutan gas ini membutuhkan label bertuliskan 'gas beracun' dan 'pengoksidasi'.kerapatan uap (udara = 1): 0.densitas: 0. Gas ini dalam pengangkutannya membutuhkan label bertuliskan 'gas racun'. Gas N2O merupakan gas tidak berwarna.14 ppm selama periode 3 jam. Amonia (NH3) Amonia merupakan gas yang tak berwarna dan berbau menyengat. nitrogen monoksida (NO). Bahan ini merupakan agen pengoksidasi yang baik. dinitrogen trioksida (N2O3).771 g/L . Konsentrasi melebihi 500 ppm akan menyebabkan kematian seketika.93 g/l : 2. Diantara keenam oksida tersebut. Standar kedua adalah konsentrasi tahunan sebesar 0.batas bawah ledakan: 16 % . nitrogen dioksida (NO2). Gas NO merupakan agen pengoksida yang baik. gas ini tergolong toksik dengan batas TLV 25 ppm. Dengan adanya hidrogen atau amonia.33 o C .10 o C : .

Gas ini berakibat seperti halnya alkali terhadap kulit manusia. Bahan ini mempunyai titik leleh yang sangat tinggi. Asbestos Absestos merupakan terminologi yang digunakan dalam ilmu mineral untuk berbagai fiber silikat yang tersusun dari silicon. Amonia yang dilarutkan dalam air merupakan larutan yang sering dijumpai secara komersial. bahan ini akan terkumpul menyebabkan asbestosis. arsen. Pengangkutan cairan ini membutuhkan label 'korosif'. Gas amonia merupakan yang gas mudah terbakar. nikel. Logam-logam Berat Toksik Yang dimaksud dengan logam berat dalam buku ini adalah setiap logam yang mempunyai berat atom lebih dari 50. Bila dicampur dengan magnesium oksida. Logam berat yang digolongkan toksik oleh USEPA adalah : antimon. Mekanisme keracunan dari logam berat ini adalah tergantung dari jenisnya.ion metalik seperti natrium. magnesium. dan mempengaruhi kerja enzimatik dalam tubuh. thallium dan seng. Dengan sifatnya yang lebih ringan dari udara (densitas uap = 0. Pemaparan yang berlebihan akan menyebabkan kebutaan dan rusaknya jaringan pernafasan. Bila logam ini terbawa oleh darah maka akan bersenyawa dengan sulfur yang berada pada fluida sellular tubuh. maka air merupakan bahan yang efektif untuk penanggulangan masalah yang timbul. timah. asbestos sangat baik digunakan sebagai bahan tahan api yang banyak digunakan. Namun bila tidak terkumpul di paru-paru. yang hanya dijumpai pada orang yang terpapar debu asbes. Karena bahan ini sangat larut dalam air. tetapi umumnya karena ion-ion logam ini mempunyai affinitas yang sangat besar dengan sulfur. yang tergantung pada lamanya pemaparan. yaitu dari iritasi ringan sampai rusaknya jaringan. selenium. Limit pemaparan di ruang kerja adalah 50 ppm. Enri Damanhuri .569). namun dengan rentang yang kecil. misalnya bila terhisap oleh perokok. maka akan masuk pada kerongkongan dan dapat memnyebabkan kanker pada pencernaan. Debu asbes ini sangat ringan dan dapat melayang di udara. Walaupun tidak berwarna. pada kondisi khusus asbestos dapat membahayakan kesehatan manusia termasuk timbulnya karena kanker. serta limit bawahnya yang relatif besar (16 %). Bahan ini juga menyebabkan mesothelioma pada paru-paru atau saluran pernafasan. yaitu amonium hidroksida (NH4OH). kadmiun. Mata dan paruparu akan teritasi bila terpapar dengan bahan ini. tembaga. kalsium dan besi. oxygen. sehingga memudahkan pelacakan terjadinya kebocoran. apalagi bila dalam bentuk bubuk atau asap. khromium. Bila terhirup masuk ke dalam paru-paru. terutama bila asbestos hadir dalam bentuk debu asbes sehingga mudah terhisap melalui pernafasan atau mulut. bila terlepas di udara akan cepat terdispersi apalagi bila terdapat angin. berillium. akan mengakibatkan kemungkinan terserang kanker 50 kali lebih besar dibanding orang yang tidak merokok. perak. beberapa logam berat akan merupakan racun.FTSL ITB Halaman 70 . tidak terbakar dan digunakan sebagai penyekat panas. Namun disamping kegunaannya tersebut. Debu asbes ini mempunyai efek sinergis. merkuri. hidrogen dan ion.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gas ini mudah dicairkan dan dikenal sebagai anhydrous ammonia. bila bahan cairan ini tumpah akan terbentuk awan putih akibat kondensasi lembab udara. maka bahaya kebakaran relatif kecil. Bila terserap dalam tubuh manusia. Pengangkutan amonia cair (anhydrous) membutuhkan label 'gas racun'.

Sebagai contoh adalah Aldrin dengan formula C12H8Cl6. Kelompok pestisida ini juga bersifat toksik. maka pestisida organik dapat dikelompokkan menjadi beberapa grup. ledakan. seperti pada batere. Jenis organochlorine ini mempunyai efek biokumulasi terutama pada jaringan lemak. yang terpenting adalah pestisida organochlorine. atau tanaman. antara lain untuk mengontrol penyakit tifus dan malaria yang ditularkan melalui insek. yang berasal dari hidrokarbon dengan formula C12H14. roden. Telah dihasilkan ribuan jenis pestisida. Didasarkan atas struktur molekulnya. khlorinasi air. Pestisida organophosphorus merupakan turunan dari asam fosfat. beberapa diantaranya telah dilarang digunakan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Kriteria yang diberlakukan di USA pada lingkungan kerja adalah dalam 1 cm3 udara tidak boleh terdapat lebih dari 10 fiber asbes yang lebih panjang dari 5 micrometer. maka enersi yang terbentuk dapat menyebakan bahaya bagi manusia. Beberapa jenis pestisida carbamate juga berfungsi sebagai fungisida atau herbisida. seperti pembakaran bahan bakar. pestisida organophosphorus. Mekanisme bagaimana pestisida ini memepengaruhi aktivitas biologi belumlah banyak diketahui. Pestisida carbamate merupakan turunan dari asam karbamik. karena terbukti berbahaya bagi manusia.FTSL ITB Halaman 71 . Umumnya pestisida ini digunakan sebagai herbisida yang dapat menghalangi proses fotosintesis. Enersi dari reaksi ini dapat disimpan. Bila misalnya gas alam dibakar. maka enersi yang ada dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Enzim ini secara rutin berfungsi mempengaruhi impuls syaraf. Salah satu pestisida kelompok ini adalah Linuron. peledakan dinamit. Namun ternyata bahan ini menimbulkan masalah kesehatan bagi manusia. 8 SENYAWA PENGOKSIDASI Terjadinya reaksi oksidasi-reduksi (redoks) yang terkontrol sangat bermanfaat bagi manusia. yang banyak digunakan selama perang dunia ke dua. sehingga pembuatan dan penjualannya dilarang. dikenal sebagai acetylcholinesterase (ACHE). Pestisida organochlorine merupakan turunan hidrokarbon kompleks. melalui rantai makananlah bahan ini akan sampai pada manusia. digantikan oleh atom khlor. paling tidak sebuah atom hidrogen dalam molekul hidrokarbon tersebut. dan sangat stabil serta persisten. Pada insek. Bila reaksi tidak terkontrol. Hanya diketahui bahwa bahan ini merusak keseimbangan natrium dan kalium dalam sel-sel syaraf sehingga mempengaruhi impuls sel tersebut. contohnya adalah Parathion dengan formula (C2H5)2PSOC6H4NO2. Salah satu jenis kelompok ini yang terkenal adalah DDT. Fungsinya pada insek atau vertebrata adalah mempengaruhi kerja enzim cholinistrase. Pestisida urea merupakan turunan dari urea. Sebagian besar pestisida yang sekarang digunakan adalah merupakan senyawa-senyawa organik. Pestisida Organik Pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk membunuh insek. Enri Damanhuri . fungi. pestisida ini mempunyai kemampuan untuk menghalangi kerja enzim. Salah satu jenis pestisida ini adalah Carbyl yang merupakan insektisida. seperti terjadinya kebakaran. yaitu dengan sebuah atom hidrogen (atau lebih) pada urea yang digantikan oleh atom-atom lain. Tetapi panas yang ditimbulkan dari reaksi redoks tersebut dapat terserap oleh bahan yang dapat terbakar yang berada di dekatnya. pestisida karbamate dan pestisida urea.

Pada saat bertindak sebagai reduktor. Transportasi hidrogen peroiksida dengan konsentrasi sampai 20 % diberi label : 'oksidator'. Bahan ini banyak digunakan dalam industri tekstil untuk pengelantang. Larutan dengan konsentrasi 8 % (massa) secara lambat akan terdekomposisi menjadi air dan oksigen setelah 9 bulan. Khlorat dan Perkhlorat Bahan pengoksidasi yang juga banyak digunakan adalah natrium dan kalsium hipokhlorit. Hidrogen peroksida merupakan bahan yang relatif tidak stabil. maka larutan ini aka terdegradasi secara cepat yang disertai timbulnya panas sehingga akan dapat teruapkan. Ada oksidator yang mempunyai kemampuan lebih tinggi dibanding oksigen. larutan ini distabilkan dengan sejumlah kecil natrium pirofosfat. Bila berada pada konsentrasi yang pekat (lebih besar dari 30 %). timah.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 sehingga bahan tersebut dapat terbakar dengan sendirinya. tetapi mempunyai bau yang sedikit tajam.pembakaran bahan semacam sulfur dan sebagainya. tetapi sudah cukup untuk memungkinkan terjadinya swa. Kadangkala walapun agen pengoksidasi dijumpai dalam jumlah yang kecil. Untuk menghindari bahaya ledakan. yang merupakan komponen aktif sebagai pemutih maupun untuk pembersih peralatan saniter. ada yang berada di bawah kemampuan oksigen. Bahan pengoksidasi yang mengandung oksigen dapat dikatakan tidak stabil waktu dipanaskan. Hidrogen peroksida murni mempunyai penampilan yang mirip air. seperti reaksi di bawah ini : 2 NaClO(l) + H2O(l) + CO2 --. Enri Damanhuri . pada konsentrasi larutan lebih besar dari 30 % (volume) larutan ini korosif terhadap kulit. Hidrogen peroksida selain dapat bertindak sebagi oksidator kuat. tembaga. Bila di atas konsentrasi tersebut diberi label : 'oksidator dan korosif'. Hidrogen Peroksida (H2O2) Hidrogen peroksida merupakan peroksida yang paling sering dijumpai.2 HCl(l) + O3(g) Oksigen yang dibebaskan dari dekomposisi fotokimia ini akan memucatkan pakaian. dengan konsentrasi sekitar 3 sampai 5 %. seng. Khlorit. Kemampuan agen pengoksidasi bervariasi. bahan ini digunakan untuk memproduksi bahan peroksida metalik dan organik. Bahan ini digunakan pula dalam penyediaan air bersih atau pengolahan air limbah sebagai desinfektan. Larutan yang mengandung hidrogen peroksida lebih dari 50% (volume) dapat menyebabkan timbulnya api secara spontan dari bahan yang dapat terbakar. namun dapat pula berfungsi sebagai reduktor lemah. Hipokhlorit metal ini. baja. Hidrogen peroksida dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius. yang akan bertindak sebagai katalis guna memperlama proses dekomposisi. Beberapa logam seperti besi. khrom. Beberapa agen pengoksidasi diuraikan di bawah ini secara umum. Di lingkungan kerja batas pemaparan maksimum adalah 1 ppm. oksigen selalu dibebaskan.FTSL ITB Halaman 72 . mangan dapat bertindak sebagai katalis guna terjadinya dekomposisi. biasanya digunakan sebagai pemutih pada pencucian pakaian karena kemampuannya bereaksi dengan karbon di udara akan memproduksi asam hipokhlor dan melepaskan oksigen. Bahan tersebut akan memasok oksigen pada saat terjadinya kebakaran walaupun udara di sekitarnya kekurangan oksigen. Hipokhlorit. Sinar matahari akan bertindak sebagai katalisator. Dalam industri kimia.Na2CO3(l) + 2 HClO(l) 2 HClO(l) --.

sedangkan dalam kondisi sebagai larutan dianggap sebagai korosif.bahan sebelumnya serta tidak menimbulkan reaksi yang prematur. Natrium khlorat sangat sensitif misalnya bila bergesekan dan dapat menimbulkan terjadinya api dengan mudah. misalnya senyawa Enri Damanhuri . yang berlangsung secara endotermis : NH4NO3(s) --. Metal khlorat yang sering digunakan adalah natrium khlorat atau kalium khlorat. Pada temperatur 80o ke 93 o amonium nitrat terdekomposisi membentuk amonia dan asan nitrat. oksigen dan oksida-oksida metalik dan non metalik. baik sebagai pupuk maupun sebagai komponen bahan peledak. misalnya amonium khlorida yang secara termal terdekomposisi pada temperatur kurang dari 167 o C membentuk amonia dan hidrogen khlorida. digunakan terutama sebagai komponen serbuk mesiu. Pada saat ini bahaya kebakaran dan ledakan akan besar bila senyawa ini tetap berada pada kondisi temperatur tinggi. akan menimbulkan ledakan.senyawa-senyawa amonium yang bukan agen-agen pengoksidasi terdekomposisi membentuk amonium. Senyawa-senyawa Amonium Pada dasarnya semua senyawa yang mengandung ion amonium (NH4+) secara termal tidaklah stabil. maka ledakan tidak dapat dihindari. yaitu : . .FTSL ITB Halaman 73 . Walaupun demikian. maka metal-metal perkhlorat digunakan untuk kebutuhan yang hampir bersamaan. amonium nitrat dianggap sebagai yang paling penting diantara senyawa amonium yang lain. Beberapa senyawa organik akan terbakar dengan sendirinya bila berkontak dengan bahan ini. amonium nitrat akan meleleh. Amonium nitrat berpotensi menimbulkan resiko ledakan. Amonium sulfat merupakan pupuk yang paling sering digunakan dibanding senyawa amonium yang lain. Bila bereaksi dengan serbuk logam seperti alumunium. tetapi lebih umum akan membentuk nitrogen.senyawa-senyawa amonium yang merupakan agen-agen pengoksidasi dapat juga terdekomposisi membentuk amonia. Transportsai bahan ini membutuhkan label: 'pengoksidasi'. Namun secara komersial. Dalam pengangkutannya. bahan ini diperoleh dalam konsentrasi larutan sampai 80%. bahan ini dianggap sebagai bahan pengoksidasi. Seperti halnya metal khlorat. amonium nitrat akan terdekompiosisi membentuk dinitrogen oksida dan uap air yang berlangsung secara eksotermis : NH4NO3(g) --. pengangkutan bahan ini pada kontainer pengangkutnya membutuhkan label : 'pengoksidasi'. senyawa ini akan terdekomposisi dengan dua jalan. Beberapa senyawa dikenal mempunyai peranan sebagai katalis dalam menaikkan laju dekopmposisi amonium ini.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Natrium khlorit merupakan agen pemucat/pemutih yang banyak digunakan dalam industri kertas dan tekstil. Senyawa-senyawa amonium merupakan senyawa yang sering dijumpai.NH3(g) + HNO3 Pada temperatur sekitar 166 oC. terutama yang berkaitan dengan penimbulan api dan ledakan. api dapat berkobar yang didukung oleh adanya N2O sebagai pengganti oksigen udara. Namun bahan ini relatif lebih stabil dibanding bahan. herbisida dan sebagainya.N2O(g) + 2 H2O(g) Bila pada saat pengangkutan bahan ini berada pada kontainer yang tertutup rapat. Bahan ini merupakan pengoksidasi yang sangat kuat. Bila dipanaskan. Secara komersial. Bila temperatur di atas 212 oC.

Nitrit dan nitrat metalik dengan kandungan nitrogen pada tingkat oksidasi masingmasing +3 dan +5 adalah oksidator yang termasuk penting. terutama bila berada dalam larutan asam. Larutan kalium permanganat digunakan untuk pengobatan dermatitis yang berasal dari bakteri atau fungi. komponen bahan peledak dan sebagainya. Enri Damanhuri . Seluruh senyawa yang mengandung khrom oleh USEPA dikatagorikan sebagai toksik. Asam ini berwarna merah yang digunakan untuk pembersihan permukaan logam atau gelas. khrom trioksida dan khromilkhlorida. Bila air diuapkan darinya. misalnya dalam bentuk natrium nitrat dan natrium nitrit. Dikhromat metalik. Nitrit metalik dioksidasi menjadi nitrat metalik dan direduksi menjadi nitrogen monoksida. sulfur. Nitrit dan Nitrat Permanganat metalik adalah senyawa yang mengandung mangan pada kondisi oksidasi +7 yang tidak berwarna. Oksidator ini banyak digunakan dalam industri elektropalting khrom. seperti kalium dikhromat (K2Cr2O4) merupakan oksidator yang kuat. Oksidator Mengandung Khrom Khrom pada tingkat oksidasi +6 terdapat dalam bentuk senyawa logam khromat. walaupun pada kenyataannya yang paling bersifat toksik adalah yang berada pada tingkat oksidasi +6. Senyawa ini bersifat karsinogenik dan dapat merusak ginjal.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 yang mengandung tembaga. Namun natrium nitrit dengan kerja enzim tertentu akan membentuk senyawa nitrosamin. suatu larutan merah yang terbentuk bila campuran asam khlorida dan asam sulfat ditambahkan pada larutan jenuk kalium dikhromat. dapat dikonversi oleh bakteri dalam perut untuk membentuk nitrit. atau khromium anhidrid atau asam khromik dengan formula (CrO3). Permanganat metalik yang paling terkenal adalah natrium dan kalium permanganat. Oksidator Mengandung Permanganat. Penggunaan dalam industri adalah seperti halnya asam khromik. Pengaturan pengangkutannya membutuhkan label : 'oksidator'. yang dianggap berpotensi sebagai senyawa karsinogenik. Larutan yang lebih terkonsentrasi kadang digunakan dalam pengolahan limbah. maka yang tersisa adalah oksida khrom (VI) yang dikenal sebagai khromium trioksida. Pada kondisi sebagai ion-ion metalik tidak berwarna.FTSL ITB Halaman 74 . Biasanya asam ini dibuat dengan penambahan asam sulfat pekat pada larutan kalium dikhromat. Senyawa sejenis adalah khromil khlorida (CrO2Cl2). logam dikhromat. Transportasinya membutuhkan label sebagai 'oksidator' atau sebagai 'bahan korosif'. yang dikenal sebagai khromium oksikhlorida. yang banyak digunakan dalam industri makanan untuk mempertahankan warna. sebagai khromat akan berwarna kuning dan sebagai dikhromat akan berwarna oranye. pewarnaan dan percetakan. tergantung pada kondisi oksidasinya. Nitrit metalik dapat bertindak sebagai oksidator maupun reduktor. Asam-asam yang berkaitan dengan khromat dan dikhromat hanya ada pada kondisi larutan. Pengangkutan dan pewadahan bahan ini membutuhkan label : 'pengoksidasi'. Demikian juga halnya natrium nitrat. termasuk libah gas sebagai oksidator. namun permanganat itu sendiri berwarna ungu.

aerosol. C5H12 (pentane). merupakan campuran hidrokarbon yang lebih berat dari pada minyak bensin. cat. Bahaya yang kedua dari kelompok ini adalah karena dapat bersifat toksik pada manusia. pendingin. Produk ini terdistilasi antara 35 o 90 o C. C7H16 (heptane). Seterusnya dikenal: C3H8 (propane). maka yang dimaksud adalah ethane C2H6 atau ditulis menurut struktur Lewis sebagai CH3CH3.bahan bakar. . o Kerosene. yaitu dengan satu atau lebih atom karbon yang terikat dengan atom-atom lain. vernis. Distilasi fraksi minyak bumi ini lebih lanjut akan menghasilkan produk non. Enri Damanhuri . terutama sebagai bahan baku untuk produk-produk yang banyak digunakan dalam industri petrokimia.204 o C. Menurut struktur Lewis. fiber. dengan formula kimia CnH2n+2. Senyawa organik yang paling sederhana adalah hidrokarbon. yaitu campuran hidrokarbon yang molekul-molekulnya terutama mempunyai lima.atom karbon yang ikatannya tidak selalu dalam satu rantai yang menerus. yaitu hidrokarbon alifatik dan aromatik. enam atau tujuh atom karbon. Bila minyak bumi mentah dipanaskan pada temperatur tertentu. ginjal. misalnya sebagai bahan baku plastik. yang mempunyai variasi atom karbon antara 3 sampai 60. cair atau padat. C8H18 (oktane). gas senyawa-senyawa ini dapat meledak di udara. sedang butane dalam struktur yang kedua dikenal sebagai isobutane. o Bensin (gasoline).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 9 BEBERAPA SENYAWA ORGANIK BERBAHAYA Senyawa-senyawa organik merupakan bahan yang sangat banyak digunakan dalam kehidupan manusia modern. Hidrokarbon Alifatik Hidrokarbon alifatik dibagi menjadi beberapa sub kelompok. Pada pembakaran sempurna. Senyawa organik ini dapat menguap dengan mudah dan uapnya mudah terbakar pada kondisi kamar. karet dan aneka ragam fiber sintetis lainnya. C4H10 (butane). C6H14 (hexane). Sumber utama hidrokarbon yang digunakan manusia adalah minyak bumi (petroleum). antara lain menyebabkan kerusakan pada hati. jantung. yaitu : . plastik. Alkane adalah hidrokarbon yang ikatan atom karbonnya tunggal. Butane dalam struktur pertama dikenal sebagai n-butane. bila n = 2. yang dapat dibagi menjadi dua kelompok. yaitu CH4 dikenal methane. maka mulai dari C4H10 dikenal dua jenis struktur molekul. akan terbentuk karbon dioksida dan uap air. maka jumlah atom hidrogennya adalah 4. Dalam kaitannya dengan keselamatan.FTSL ITB Halaman 75 . Produk destilasi yang penting adalah : o Petroleum naphtha. pelarut pembersih.atom karbon yang terikat satu sama lain dalam satu rantai yang menerus. Titih didihnya adalah 38 o . misalnya untuk bahan bakar. Selanjutnya. maka campuran komponen-komponen tersebut tervolatilisasi sesuai titik didihnya masing-masing. adesif. sistem syaraf dan beberapa diantaranya menjadi penyebab penyakit kanker. yaitu campuran hidrokarbon yang molekul-molekulnya terutama mempunyai lima sampai sembilan atom karbon. Senyawa ini pada temperatur kamar dapat berupa gas. maka karakteristik yang umumnya dijumpai dari senyawa ini adalah mudah terbakar dan bila terbakar. Bila jumlah atom karbon satu. Molekul-molekul dari senyawa-senyawa organik mempunyai pola yang sama. resin. sehingga dapat dipisahkan satu dengan yang lain. tekstil dan sebagainya. Seluruh molekul dari senyawa ini hanya tersusun oleh atom karbon dan hidrogen. alkene dan alkine. yaitu alkane.

tetapi tidak termasuk karsinogen.FTSL ITB Halaman 76 . Hidrokarbon Aromatik Hidrokarbon aromatik adalah senyawa-senyawa yang mempunyai satu atau lebih bentuk cincin ikatan atom karbon. karena setiap ikatan elektron dari atom-atom karbon. Ketiga bentuk tersebut bernama : ortho-xylene disingkat o-xylene. maka kelompok ini dikenal sebagai hidrokarbon tak jenuh. penyebab leukemia. Kelompok hidrokarbon aromatis dengan dua atau lebih cincin benzene dikenal sebagai polynuclear aromatic hydrocarbon (PAH). Senyawa yang paling sederhana dari kelompok ini adalah benzene dengan formula molekularnya C6H6. Uap cairan ini bila bercampur dengan udara akan mudah terbakar. tidak berwarna. Bila salah satu atom hidrogen dari benzene digantikan oleh grup methil (-CH3). Disamping mudah terbakar. PAH ini diaggap bersifat karsinogen. Formula umum dari kelompok ini adalah CnH2n. Hidrokarbon yang mempunyai satu atau lebih ikatan karbon ke karbon rangkap tiga dikenal sebagai alkine. Disamping bersifat mudah terbakar. Hidrokarbon dengan molekul-molekul yang mengandung satu atau lebih karbon yang terikat dengan ikatan ganda. tidak larut dalam air serta mudah menguap. kontainer benzene mempunyai label : 'cairan mudah terbakar'. Enri Damanhuri . PAH yang penting adalah naftalene yang digunakan antara lain dalam industri fungisida. yang menyerupai benzene atau yang tidak menyerupai benzene. Oleh karenanya. Karena setiap alkene kekurangan hidrogen relatif terhadap alkane. dengan kemungkinan tiga bentuk struktur isometris. kelompok ini juga bersifat toksik bagi manusia karena mempengaruhi sistem syaraf pusat. Pada temperatur kamar. Pemaparan maksimum di ruang kerja adalah 10 ppm selama 8 jam. toluene dan isomer-isomer xylene adalah jernih. Formula umum dari alkine adalah CnH2n-2. Benzene bersifat karsinogen pada manusia. Alkine yang paling sederhana adalah C2H2 yaitu ethyne atau acetylene. Biasanya formula benzene dilambangkan oleh bentuk heksagon dengan cincin di dalamnya. maka alkine adalah termasuk hidrokarbon tak jenuh. yang dikenal sebagai isomer dari xylene. Dua atom hidrogen dari benzene dapat pula digantikan oleh grup methil. Oleh karenanya. meta-xylene disingkat m-xylene dan para-xylene disingkat p-xylene. berpasangan dengan atom-atom yang terikat dengan karbon tersebut. Alkene yang paling sederhana dikenal sebagai ethene atau ethylene dengan formula C2H4. dikenal sebagai alkene atau olefin. maka senyawa baru tersebut dikenal sebagai toluene. oleh karenanya penyimpanan dan pengangkutannya membutuhkan label : 'cairan mudah terbakar'. Senyawa ini dikenal pula sebagai sikloalkane karena atom karbon pertama dan terakhir terhubungkan satu sama lain dalam rantai yang menerus. Pemaparan maksimum selama 8 jam kerja adalah 200 ppm untuk toluene dan 100 ppm untuk isomer-isomer xylene. Benzene adalah senyawa yang tidak larut dalam air. yang membedakan antara hidrokarbon alifatis dengan hidrokarbon aromatis adalah struktur molekularnya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Alkane dikenal sebagai hidrokarbon jenuh. Campuran uap benzene dan udara akan siap untuk terbakar. Seperti halnya alkene. menguap pada temperatur kamar.

Belum dijumpai pengaruh kelompok ini terhadap kesehatan.4 % volume. butene. maka kelompok alkine yang paling sering digunakan adalah acetylene. seperti ethane. Methane digolongkan sebagai gas non toksik. senyawa baru : methylene khlorida atau dikhloromethane 3 atom diganti. senyawa baru : karbon tetrakhlorida atau tetrakhloromethane. bila senyawa ini terpapar dengan Enri Damanhuri . tidak berbau dan dijumpai dengan konsentrasi rendah. karena mempunyai panas pembakaran tinggi yaitu 312. maka terjadilah perubahan karakteristik. Dengan substitusi tersebut. Terdapat empat kemungkinan penggantian atom hidrogen. Gas ini termasuk yang tidak stabil. Methane merupakan gas alam. LPG ini mengandung pula komponen lain dalam jumlah kecil. dan pada kondisi murni berbau ether. dapat meledak pada kondisi ditekan. Umumnya mereka tidak berwarna. yang dapat digantikan oleh atom khlorida. sedang pada tekanan 12 atm akan terlarutkan acetylene sebanyak 300 bagian volume. sedikit larut dalam air. tetapi bila terhirup akan menyebabkan sesak nafas. isobutene dan sebagainya.FTSL ITB Halaman 77 . Namun kelompok ini berkontribusi dalam pembentukan formasi ozone di atmosfer.188 o C. yaitu : 1 atom diganti. sehingga senyawa itu dikenal sebagai hidrokarbon berhalogen (halogenated hydrocarbon).4 kcal/mol.11. Panas pembakarannya adalah 213 kcal/mol. Gas ini tidak berwarna. sedangkan khloromethane adalah di bawah 0 o C. dikenal sebagai liquefied natural gas (LNG). maka senyawa itu dikenal sebagai hidrokarbon berkhlor (chlorinated hydrocarbon).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Hidrokarbon Sederhana Beberapa hidrokarbon sederhana dijumpai sebagai cemaran melalui cerobong pembakaran sebuah industri atau dari kegiatan komersial lainnya. Salah satu contoh dari kelompok ini adalah methane. Walaupun demikian. ethene.7 . isobutane. Temperatur yang dicapai bila terbakar dengan udara akan mencapai 3300 o C. Bentuk gas yang dicairkan dari propane. biasanya gas ini dilarutkan dalam cairan seperti acetone. dengan rentang keterbakaran 10. terutama untuk pengelasan/pengecoran. Sebagai contoh. Bila seluruh atom karbon digantikan oleh atom-atom halogen. Dari sudut industri. Gas ini banyak digunakan dalam industri metalurgi. yang terdiri dari sebuah atom C dan empat buah atom H. Penggunaan gas alam sekarang makin banyak dijumpai. yang terbentuk misalnya dari dekomposisi karbon organik. senyawa baru : khloroform atau trikhloromethane 4 atom diganti. Gas alam ini dapat pula dicairkan. propene. dan merupakan salah satu komponen utama dari gas alam. terbentuk dari pengolahan gas alam. sehingga sifat kimia dari gas alam pada prinsipnya adalah merupakan sifat kimia dari gas methane. titih nyala methane adalah . Oleh karenanya. Sebagai contoh penamaan adalah untuk senyawa yang berasal dari methane (CH4). senyawa baru : methyl khlorida atau khloromethane 2 atom diganti. Hidrokarbon Berhalogen Senyawa-senyawa organik dapat pula diturunkan dengan mengganti satu atau lebih atom hidrogen dari hidrokarbon dengan sebuah atom halogen. tidak berbau. gas yang tidak berwarna. Bila yang menggantikan adalah khlor. Satu bagian volume acetone dapat melarutkan 25 bagian acetylene pada tekanan 1 atm. butane dan campurannya dikenal sebagai liquefied petroleum gas (LPG). maka senyawa baru tersebut bukan lagi kelompok bahan yang mudah terbakar.

Enri Damanhuri . Bila terlepas akan bereaksi dengan lapisan ozon. tidak bereaksi dengan asam. hati. stabil bila dipapar pada temperatur tinggi.0 µg/m3 dengan TLV 0. Oleh karena itu DRE dari PCB ini disyaratkan 99. dan merupakan bahan yang paling banyak diatur penggunaan dan penanganannya diantara bahan berbahaya yang lain. misalnya efek racun dari khloroform pada sistem syaraf. mata. Atom khlor ini akan bereaksi dengan molekul ozon. Insiden yang paling dramatis dalam masalah toksikologi adalah yang terjadi di Jepang pada tahun 1968. resistan terhadap hampir seluruh bahan kimia. Senyawa kelompok ini banyak digunakan dalam industri.ClO. Bila PCB masuk ke dalam tubuh.(g) + O2(g) . Kelompok khusus dari senyawa hidrokarbon berhalogen adalah fluorokarbon (CFnClnx). . Terdapat berbagai struktur isomer dari PCB. sehingga mengakibatkan terganggunya fungsi biologis yang normal dan mengakibatkan perubahan fungsi faal tubuh. kerusakan organ tubuh.5 mg/m3. Konsentrasi maksimum di lingkungan kerja adalah 1.(g) + Cl. Senyawa ini bersifat inert.CFnCl3-x.Cl (g) + O2(g) Masalah limbah yang paling banyak disorot dari kelompok ini adalah polychlorinated biphenyl (PCB).7 m3 PCB dengan konsentrasi 50 . Senyawa ini mampu menyerap radiasi ultraviolet matahari. menimpa lebih dari 1000 orang yang menkonsumsi beras terkontaminasi PCB akibat kebocoran pipa transfer panas dalam pemerosesan minyak. impotensi sampai kematian. juga disebut sebagai khlorofluorokarbon atau khlorofluoromethane. otak. tetapi keterpaparannya pada manusia dapat menimbulkan masalah kesehatan. Sebagian besar PCB adalah merupakan cairan yang encer pada kondisi kamar. misalnya dalam perlengkapan listrik seperti transformator.9999 %. Karbon tetrakhlorida misalnya. O3(g) + Cl (g) --. Nama komersial dari senyawa ini adalah freon. tidak terbakar. Reaksi di bawah ini akan memperjelas masalah tersebut : CFnCln-x (g) --. dan sebagainya dan tetap tersimpan dalam organ tersebut. ClO (g) + O --. PCB banyak digunakan dalam industri-industri yang membutuhkan sifat-sifat tersebut.(g) . Di USA produksi PCB sejak tahun 1979 sangat dibatasi yaitu hanya untuk penggunaan yang sangat khusus. yang digunakan sebagai pendingin atau aerosol. Beberapa diantara hidrokarbon berhalogen ini teruapkan pada temperatur kamar. kulit. sehingga ikatan karbon ke khlor akan rapuh.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 panas. Cara pengolahan PCB yang digunakan adalah dengan insinerasi. otot. atau pada sistem pemindah panas dan sistem hidrolis. . ginjal dan jantung. Oleh karenanya. disamping dapat mengganggu hati dan ginjal juga dicurigai sebagai penyebab kanker pada manusia. Namun residu hasil pembakaran akan berbahaya bila pembakarannya tidak sempurna karena membentuk dioxin. Ini terjadi karena pada tahun 1960 diketahui bahwa PCB ini ternyata merupakan penyebab berbagai masalah kesehatan yang serius : kanker. akan dihasilkan gas/uap yang berbahaya yaitu fosgene dan hidrogen khlorida. dengan simbol 2 heksagon bercincin.FTSL ITB Halaman 78 . dan dilepaskanlah atom khlor.70 % . ginjal. beberapa diantaranya mempunyai titik didih sampai 267 °C tanpa mengalami dekomposisi. sehingga lapisan ozon sebagai pelindung bumi dari radiasi ultra violet matahari akan terganggu/rusak. kapasitor. Sebuah transformator kadang mempunyai sampai 3. tetapi sifat-sifatnya hampir sama. iritasi pada gastrointestinal. senyawa ini langsung tersebar dalam berbagai jaringan reseptor seperti hati.

Dioxin sangat stabil dan terdekomposisi hanya secara thermal pada temperatur didih sekitar 500 °C. Mata. dengan TLV 22 mg/m3. karena resin-resin fenolis dan produk-produk farmasi lainnya terbuat darinya. Salah satu grup fenol adalah kressol yang merupakan disinfektan dan berasal dari resin fenolik. misalnya methyl ethyl ether (methoxyethane). Senyawa yang tergolong alkohol sederhana ini adalah mudah terbakar. Fenol pada kondisi padat adalah tak berwarna sampai putih kristal dan sering juga dijumpai berwarna gelap/merah bila terpapar cahaya. Dilihat dari sifat keterbakaran.4. Ether sederhana sangat volatil dan berbahaya karena mudah terbakar serta meledak. Pemaparan pekerja pada isomer kressol adalah 5 ppm kontak dengan kulit. Bila makanan terkontaminasi oleh bahan ini. dan larut dalam air.dikhlorofenoxyacetik dan 2. Dua alkohol yang sering dijumpai di pasaran adalah metanol (methyl alkohol) dan ethanol (ethyl alkohol). Efek iritasi juga dapat terjadi pada mata dan kulit. Fenol merupakan produk industri kimia yang penting. Pengangkutan senyawa ini membutuhkan label : 'cairan mudah terbakar'. reproduktif dan kanker. maka penyebarannya akan melalui rantai makanan. dan TLV = 19 mg/m3. Fenol adalah termasuk grup alkohol aromatis.senyawa fenolik yang diproduksi untuk beragam herbisida seperti asam 2. hidung dan kerongkongan dapat teriritasi. Dioxin merupakan produk samping dari pembuatan senyawa.FTSL ITB Halaman 79 . Dioxin juga dicurigai dapat menghilangkan pertahanan tubuh terhadap penyakit. atau secara singkat dikenal sebagai Dioxin atau TCDD. Senyawa induk dari kelas alkohol ini juga bernama fenol atau hidroksibenzene. Dalam masalah limbah. Fenol dikenal cepat menyerap uap air di udara sehingga sering dianggap sebagai cairan. dan merusak secara sistematis sistem syaraf. dan berakumulasi (biomagnifikasi) pada jaringan lemak. sebetulnya fenol tidak membahayakan. yaitu sangat toksik pada manusia.1 x 10-9. Aplikasi isomer-isomer kressol pada tikus menimbulkan tumor. Tetapi sifatnya yang racunlah yang mendatangkan masalah.7. Senyawa organik yang dewasa ini dianggap salah satu substansi yang paling toksik adalah 2. Toksisitas (LD50) bahan ini terhadap babi Guinea 3. yang paling sering dipersoalkan adalah fenol. Enri Damanhuri .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Alkohol Alkohol adalah senyawa organik turunan dari hidrokarbon dengan penggantian paling tidak sebuah atom hidrogen oleh grup hidroksil (-OH). misalnya dalam industri farmasi. yang dapat dilihat sebagai hidroksil turunan benzene.8 tetrachlorodibenzo-p-dioxin. Pemaparan fenol di ruang kerja dibatasi 5 ppm (kontak dengan kulit). Efek toksikologis antara lain adalah terhadap sistem syaraf. Ether Ether adalah senyawa organik yang molekul-molekulnya mempunyai atom oksigen yang menjembatani 2 grup alkyl atau aryl (R-O-R'). dengan titik nyala 78 o C.3. pengangkutan senyawa ini membutuhkan label bertuliskan : 'racun'.5trikhlorofenol. ether juga berbahaya karena ada yang mengandung peroksida organik sehingga mudah meledak. Tambah tinggi ether maka tambah tinggi titik nyalanya sehingga menjadi bahan bakar cair. Oleh karenya. tetapi bisa saja tidak termasuk cairan yang berkatagori mudah terbakar.4. Disamping itu.

FTSL ITB Halaman 80 . yang terjadi bila asam-asam organik bereaksi dengan alkohol. karena mempunyai oksigen yang aktif pada strukr molekulnya. Titik nyalanya adalah . maka perokso-organik ini mempunyai kemampuan sebagai oksidator. sehingga dikelompokkan sebagai cairan yang mudah terbakar. Salah satu jenis senyawa ini yang banyak digunakan dalam industri adalah ethyl asetat. 1989 Enri Damanhuri . Bila terpapar dengan manusia.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Senyawa Organik Lain Senyawa organik dengan formula umum R-CO-OR' dikenal sebagai ester.atom hidrogen digantikan oleh satu atau lebih grup alkil atau aril. Pemaparan di ruang kerja dibatasi sampai 400 ppm. hidung dan kerongkongan. Meyer: Chemistry of Hazardous Materials. yang biasanya digunakan sebagai pelarut. Prentice Hall Building.5o C. Seluruh bahan dikutip dari: E. senyawa ini menyebabkan iritasi ringan pada mata. Atom. Senyawa perokso-organik merupakan turunan dari hidrogen peroksida. Seperti halnya peroksoanorganik. merupakan cairan jernih dengan bau spesifik. Bahan ini digunakan untuk mempengaruhi proses polimerisasi pada pembuatan plastik.

+ = 4. radiasi kosmis dari luar angkasa telah memborbardir planit biru kita ini. dimana X adalah simbol kimia yang biasa digunakan untuk unsur tersebut. Becquerel pada November 1896. yang proporsional dengan muatan positif pada inti-atom (Ze). Dimulai dengan teridentifikasinya sinar-X oleh William C.9979 x 109 cm/detik m = perbedaan massa (amu) -24 10 -5 Sehingga E = 0.FTSL ITB Halaman 81 .Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 BAGIAN VI LIMBAH RADIO AKTIF 1 UMUM Radioaktivitas sebetulnya bukanlah fenomena baru.elektron yang bermuatan negatif yang mampu mengimbangi muatan positif dari inti atom. yaitu muatan sebuah elektron sebesar -10 4. Proton adalah partikel dasar dengan massa mendekati 1 dalam skala berat atom dan bermuatan + e. yang sepadan dengan jumlah netron dan proton. namun baru mendapat perhatian manusia pada akhir abad yang lalu.030381 amu Perbedaan massa ini menghilang pada saat terjadinya fusi dua proton dan dua netron untuk 2 membentuk inti-atom helium. Dalam hal ini: c = kecepatan cahaya=2. dan kemudian ditemukannya radiasi dari radium oleh Antoine H. dan terus berlanjut pengembangannya dengan perlombaan senjata nuklir sampai selesainya “perang dingin” antara negara-negara Barat dan negara-negara komunis di dunia. dibutuhkan satu ikatan yang sangat kuat. Untuk mengikat sejumlah besar netron dan proton dalam ruang yang sangat kecil yang tersedia dalam sebuah inti-atom. sebab bila tidak maka akibat adanya gaya tolakan elektrostatis antara proton-proton maka akan mengakibatkan mereka terpencar. thorium dan radium. dan nomor atom (Z). Sejumlah besar materi radioaktif yang berumur sangat lama dihasilkan sebagai hasil samping yang tidak dapat dihindari. yaitu E = mc maka sejumlah ekuivalensi enersi akan terbebaskan. dan sepadan dengan A jumlah proton dalam inti-atom.Perbedaan massa (mass defect) = 0. Kapasitas penghancur senjata nuklir telah dibuktikan dalam Perang Dunia II. 14 3 maka densitas inti atom tersebut sangat tinggi.017966 amu ------------------.008983 = 2. Karena massa atom terkonsentrasi dalam volume yang sangat kecil. Bentuk enersi nuklir merupakan hal yang paling spektakular yang pernah ditemukan dan digunakan oleh peradaban manusia selama ini.65985 x 10 x (2. Oleh karenanya.015190 amu (atomic mass unit) Massa netron = 2 x 1.531 x 10 erg 4 Enri Damanhuri . namun tidak bermuatan. Intensitas radiasi tersebut relatif tidak tinggi dan radiasi tersebut dapat ditahan oleh atmosfer bumi. Unsur-unsur radioaktif yang secara alamiah terdapat di bumi adalah uranium.007595 = 2.033156 amu Massa inti-atom helium = 4. Dengan menggunakan persamaan Einstein. sebuah inti-atom dicirikan oleh nomor massa (A). 2 SIFAT-SIFAT RADIOAKTIVITAS Sebuah atom terdiri dari sebuah inti (nucleus) bermuatan positif dan sejumlah planet-planet yang mengorbit pada intinya dan elektron. Selama berjuta tahun.9979 x 10 ) erg = 4. Struktur sebuah Atom : Inti-atom (nucleus) terdiri dari proton dan netron. Simbol sebuah atom ditulis sebagai ZX . yaitu sekitar 2 x 10 gram/cm .002775 amu ------------------. terutama akibat penggunaan pembangkit enersi bertenaga nuklir di seluruh dunia dengan segala permasalahannya terhadap lingkungan.8025 x 10 esu (electrostatic unit). Misalnya diambil masa 2He yang terdiri dari 2 proton dan 2 netron: Massa proton = 2 x 1. Netron juga merupakan partikel dasar dengan besaran mendekati 1 unit satuan atom. Röntgen pada Januari 1896.030381 x 1. Namun keberadaan unsur-unsur radioaktif ini telah meningkat dengan dihasilkannya materi radioaktif artifisial oleh manusia untuk berbagai tujuan.

715 99. Atom terakhir ini merupakan sebuah isotop dari hidrogen. secara artifisial dapat dihasilkan isotop-isotop yang tidak stabil yang dikenal sebagai radionuklisida (radionuclicide) dari unsur-unsur yang ada.0058 0. Sebuah atom adalah netral.97 50Sn 122 4.0033 20Ca 48 0. Kemudian ternyata bahwa fenomena tersebut berasal dari kegiatan pada inti-atom dan fenomena tersebut terjadi pada seluruh elemen dengan nomor atom lebih dari 83. dan biasanya cukup dituliskan sebagai U-235 dan U-238.365 99.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Elektron dapat dianggap sebagai partikel dengan muatan negatif e (4. β (beta) dan γ (gamma). Contoh lain adalah isotop uranium.02 1D 7 7 -10 N14 15 N 99. Radiasi α adalah merupakan partikulat dan setiap partikel alfa adalah sebuah inti helium yang 9 berkecepatan tinggi sampai mencapai 10 cm/detik.04 0.34 50Sn 116 14. Elektron-elektron ini terikat dalam orbitnya oleh gaya elektrostatis dengan jarak yang bervariasi terhadap inti-atom. Bila sebuah inti-atom yang tidak stabil mengemisikan partikel alfa.58 50Sn 120 32.95 50Sn 114 0.8025x10 esu).FTSL ITB Halaman 82 . Hampir semua unsur terdapat di alam dalam bentuk campuran dari isotop-isotop seperti terlihat dalam Tabel 6.28 ----------------------------- Peluluhan Radioaktif : Pada kondisi normal. akan berbeda.elektron terluar.57 50Sn 118 Sn 24. yang 235 238 mempunyai proton sebanyak 92. Tabel 6.635 0.20 O16 O17 18 8O 8 8 20 20 Ca40 96. Sifat-sifat kimiawinya adalah identik. Sebagai contoh adalah sebuah atom hidrogen yang mempunyai sebuah proton dan sebuah elektron.01 50 119 8. Sifat-sifat kimiawi dua buah isotop akan sama. dan sifat-sifat nuklirnya agak berbeda dari hidrogen biasa. tetapi sifat-sifat fisisnya yang tergantung pada masanya.98 1H 2 0.98 50Sn U 235 92U 238 92U 92 234 0.76 0. dijumpai dalam bentuk 92U dan 92U . dan jumlah elektron serta susunannya merupakan kunci sifat-sifat kimiawi dari elemen tersebut.65 50Sn 115 0.71 50Sn 124 5. Isotop : Nomor atom dari sebuah unsur menentukan jumlah elektron dan merupakan identitas kimiawinya. Di alam terdapat atom dengan 1 elektron (hidrogen) sampai 92 elektron (uranium) dan massanya bervariasi dari 1 (sebuah proton pada hidrogen) sampai 238 (92 proton dan 146 netron pada uranium).1: Campuran isotop di alam ------------------------------Isotop Persentase ------------------------------1 99. Atom tersebut disebut sebagai isotopis satu terhadap yang lain. dan tidak mengalami perubahan sifat-sifat kimiawi karena hanya melibatkan elektron. Tahun 1986 Becquerel menemukan bahwa garam-garam uranium meng-emisikan sejenis radiasi yang menyebabkan pelat fotografis menjadi hitam. Jadi isotop adalah elemen yang mempunyai nomor atom yang sama. Rutherford kemudian menunjukkan bahwa radiasi tersebut terdiri dari tiga jenis radiasi yang berbeda. dengan massa 1/1840 proton (0.1. maka nomor atomnya menurun 2 satuan sedang massa atomnya menurun 4 satuan. tetapi mempunyai jumlah massa yang berbeda. seperti pada contoh peluluhan uranium ke thorium: Enri Damanhuri . Bisa saja dijumpai dua buah atom yang mempunyai nomor atom yang sama tetapi berbeda masanya. sehingga jumlah elektron harus mengimbangi nomor atom (jumlah proton dalam inti-atom).15 20Ca 46 0. inti atom sangatlah stabil.00055 amu). Radiasi ini terdiri dari emisi dua proton dan dua netron dari inti-atom.19 20Ca ------------------------------- -------------------------------Isotop Persentase -------------------------------112 0.24 50Sn 117 7. Dengan demikian.97 42 Ca 0. yang dikenal kemudian sebagai radiasi α (alfa). Terdapat pula sebuah atom dengan inti-atom yang terdiri dari sebuah proton dan sebuah netron disertai sebuah electron.64 43 0. dan menjadi isotop yang berbeda untuk elemen yang sama. dikenal sebagai hidrogen berat atau deuterium.

maka partikel ini sangat berbahaya. Radioaktivitas menjadi kajian yang menarik dalam masalah lingkungan karena dampak negatifnya terhadap organisme yang terpapar. Ketika partikel α melalui suatu media. Oleh karenanya. namun juga harus mampu menahan kemungkinan radiasi dari hasil peluluhannya yang bisa saja lebih berbahaya.99 kecepatan cahaya. yaitu: -Kt N = N0 dengan N = jumlah inti radioaktif setelah t waktu N0 = Jumlah inti awal t = waktu yang ditinjau K = konstanta peluluhan radioaktif 92U 238 234 4 Enri Damanhuri . Perbedaan jenis radiasi tersebut di atas terkait dengan peluluhan inti atom-atom radioaktif. yaitu: 234 234  91Pa + e 90Th Emisi sebuah muatan negatif dari inti-atom mengakibatkan muatan positif bertambah satu yaitu pada protactinium. Sinar γ dapat pula terbentuk akibat transformasi itu. yaitu antara -3 -7 10 sampai 10 µm. misalnya digunakan sebagai pelacak (tracer) untuk membantu pengukuran aliran materi dalam lingkungan. dan hanya dapat dihentikan misalnya dengan lembar alumunium setebal 1 cm. dan akan meluluh dengan mengeluarkan sinar β. sifat kimiawi dari kedua unsur tersebut berbeda.FTSL ITB Halaman 83 . sebab walaupun secara kimiawi asalnya tidak toksik atau tidak korosif. dan membutuhkan beberapa cm timah untuk mengisolasinya. Sinar tersebut sangat sulit dihalangi. sedang partikel β bisa mencapai beberapa cm. tetapi bila terhirup melalui pernafasan. penyekatan harus dirancang bukan saja agar mampu menahan radiasi dari limbah asalnya. namun massanya tetap. Sebuah inti-atom dapat terurai dengan kehilangan partikel α atau β-nya. Inti radium misalnya secara spontan akan terurai dengan melepaskan partikel α. Partikel α dapat menembus pada jaringan tubuh sampai 100 µm. Sekali lagi. yaitu sebuah elektron. Sebagai contoh adalah peluluhan strontium-90 menjadi yttrium : 90 90  39Y + β 38Sr Ionsasi yang terjadi pada partikel β frekuensinya lebih sedikit dibanding partikel α. Partikel α relatif massif dan mudah dihentikan. terutama dalam penyimpanan dan penyingkiran. perlu memperhatikan sifat peluluhan itu sendiri. Hal ini perlu mendapat perhatian pada saat penanganan limbahnya. Radiasi γ adalah radiasi eletromagnetis dengan panjang gelombang sangat pendek. Radiasi γ tidak mempunyai muatan atau masa. Thorium yang dihasilkan dalam reaksi itu tidak stabil. dan setiap partikel β adalah sebuah elektron negatif yang berkecepatan tinggi sampai mencapai 0. tetapi nomor atomnya meningkat satu satuan. namun dapat bermanfaat. Massa partikel β diabaikan. Penentuan rancangan penyimpanan atau penyingkiran limbah radioaktif. thorium yang dihasilkan berbeda dengan uranium karena sifat-sifat kimia ditentukan oleh nomor atomnya. namun hasil peluluhan bisa saja menjadi lain. Kulit manusia dapat menahan radiasi ini. Fenomena ini dikenal sebagai pengionan (ionization). Secara kimiawi. muatan positif menarik elektron. sehingga sinar ini mempunyai kemampuan untuk mengionisasi dan dapat merusak jaringan hidup. Sinar β dan γ mempunyai kemapuan penetrasi yang lebih tinggi dibanding sinar α. namun penetrasinya pada jaringan tubuh lebih dalam. Jumlah masa tidak berubah. Radiasi β dapat dianggap pula sebagai partikulat. Rutherford et al menemukan bahwa intensitas radiasi mengalami peluluhan secara eksponensial terhadap waktu. dan konversi tersebut dapat dianggap sebagai perubahan sebuah netron menjadi sebuah proton. menaikkan tingkat enersinya dan melepaskannya dari inti. enersinya secara bertahap dilepaskan akibat interaksi dengan atom yang lain. dan bergerak dengan kecepatan cahaya. Radiasi ini dipancarkan dari inti-atom yang tidak stabil sebagai transformasi spontan dari sebuah netron ke sebuah proton dan elektron. Dalam perjalanannya.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010  92Th +2α Dalam reaksi ini dikeluarkan partikel α (inti helium) dari inti-atom.

yang merupakan laju desintegrasi inti-atom 1 gram radium. yaitu N = 1/2 No. Dalam satuan SI. manusia mulai mengamati pengaruh radiasi terhadap materi yang diradiasinya. artinya sebuah sumber dengan kekuatan 1 Bq akan mengemisikan satu 60 partikel per detik.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Kemudian persamaan tersebut disederhanakan menjadi persamaan waktu-paruh t1/2.2 : Contoh waktu-paruh -----------------------------------------------Isotop Radiasi Waktu-paruh ------------------------------------------------------------238 α 4. tetapi 27Co akan mengemisikan sebuah partikel beta dan dua sinar gamma. 17 Enri Damanhuri . yaitu waktu yang dibutuhkan agar inti tersebut luluh menjadi setengahnya. seperti yang banyak dilakukan dalam reaktor-reaktor nuklir.FTSL ITB Halaman 84 . tetapi waktuparuh dari nuklisida-nuklisida akan sangat bervariasi. Reaksi lain yang dapat terjadi adalah bila inti-atom yang berat menyerap sebuah netron. tetapi inti-atom memecah dalam dua fragmen dengan massa yang hampir sama. hasilnya akan dapat dipisahkan secara kimiawi dan merupakan sumber yang berlimpah bagi isotop-isotop artifisial. Nilai waktu paruh tersebut bervariasi dari satu isotop ke isotop yang lain. maka akan tertinggal sebanyak 50 gram setelah 1 tahun.693/k Waktu paruh sebetulnya tidak dapat dihitung tapi harus diukur secara eksperimental.60 x 10 tahun 88 -------------------------------------------------Sebagai gambaran. maka terbentuk isotop baru. Namun banyak hasil rekasi yang bersifat tidak stabil. yang dapat membingungkan pemakainya.51 x 109 tahun 92U 234 β 24. Waktu-paruh tersebut tidak dapat dirubah namun memainkan peranan yang penting dalam aktivitas penyimpanan dan penyingkirannya.17 menit 91U 234 α 2. Peluluhannya 92U tidak dengan jalan mengemisikan partikel-partikel α atau β. bila dimulai dengan sebuah isotop yang mempunyai waktu-paruh 1 tahun dan mempunyai berat 100 gram. Reaksi nuklir pertama yang terdeteksi adalah partikel alfa dari polonium yang dibuat agar terjadi reaksi dengan atom.atom nitrogen di udara. sehingga memberikan reaksi : 14 4 17 + 2He  8O + proton 7N Dalam hal ini 8O adalah stabil. dan persamaannya menjadi : t1/2 = ln2/k ≈ 0. Satu Ci sebanding dengan desintegrasi sebanyak 3. Terbukalah pintu penelitian terhadap reaksi nuklir atau penelitian terhadap pembuatan isotop-isotop artifisial. Bila cara reaksi fisi yang terkontrol ini berlangsung. Tabel 6.47 x 105 tahun 92U 230 4 α 8. Waktu-paruh dari sebuah isotop adalah tetap.7 x 10 Ci. Aktivitas sebuah sumber tidak 90 langsung mengidentifikaikan jumlah partikel yang teremisi. menjadi 25 gram setelah 2 tahun. aktivitas tersebut -11 dinyatakan sebagai becquerel (Bq). Misalnya 38Sr meluluh dengan emisi sebuah partikel beta. dan luluh secara radioaktif. Oleh karena itu seluruh rantai peluluhan tersebut harus diperhitungkan dalam perancangan limbah radioaktif.7 x 10 per detik. Satuan Curie (Ci) adalah satuan dasar yang menyatakan besarnya peluluhan 10 sebuah sumber.1 hari 90Th 234 β 1.2 memberikan gambaran waktu-paruh dari enam isotop pertama yang terdapat pada ilustrasi sebelumnya. Unit Satuan yang Digunakan: Banyak satuan yang digunakan dalam bidang radioaktivitas ini. Isotop Artifisial: Dengan ditemukannya radioaktivitas alamiah. Bila sebuah partikel seperti partikel alfa atau sebuah proton atau sebuah netron bertumbukan dengan inti-atom. Tidak terdapat pola yang jelas antara waktu-paruh isotop-isotop yang diamati dengan mekanisme peluluhannya.0 x 10 tahun 90Th 226 3 Ra α 1. yaitu: 1 Bq = 2. hal ini dikenal sebagai fisi nuklir. Misalnya 236 236 menyerap sebuah netron menghasilkan isotop yang tidak stabil 92U (?). Tabel 6.

Satuan baru (satuan SI) yang diusulkan adalah dengan satuan coulomb (C).Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 jadi sumber tersebut yang mempunyai aktivitas 1 Bq mengemisikan tiga partikel sekaligus per detik. Satuan yang digunakan dalam kesehatan adalam satuan rem (radiation equivalent man). Satu rem adalah sepadan dengan penyerapan 100 erg enersi radiasi untuk satu gram jaringan tubuh. Sifat mencemari dari sebuah limbah akan ditentukan oleh karakteristik fisis. satu-satunya pemecahan yang tuntas adalah hanya dengan memanfaatkan waktu-paruh peluluhannya. atau memindahkan dalam bentuk padat untuk kemudian dibuang/disingkirkan sambil menunggu luluh dengan sendirinya sesuai dengan waktu-paruhnya. Pengukuran aktivitas sumber ternyata tidak menjelaskan tentang pengaruh radiasi yang teremisi terhadap sekitarnya. bila kekuatan sebuah sumber serta mekanisme peluluhannya diketahui. Dikatakan telah menyerap radiasi sebesar 1 rad bila 1 gram materi -2 menyerap 100 erg enersi. Sebuah sumber sebesar 1 Ci dari radium yang dilindungi dengan sebuah kumparan platinum setebal 0. Sifat radioaktivitasnya akan menurun dengan sendirinya sesuai dengan waktu paruhnya. Bila limbah yang mengandung pencemar mengalir ke lautan atau ke sungai. sejumlah pencemar yang terkandungnya akan terolah secara alamiah. yang menyatakan ukuran ionisasi per kilogram. misalnya bagaimana menyerap unsur berbahaya. tetapi ini hanya memindahkan masalah. Sampai saat ini praktis belum ditemukan teknologi atau tata cara baik secara kimiawi maupun biologis untuk menetralisisr sifat-sifat radioaktivitas. Pencemar radioaktif akan tereduksi dengan sendirinya dengan peluluhan alamiahnya. maka akan dihasilkan limbah radioaktif yang tambah banyak dan dapat menyebakan radiasi pengionan. Cara yang biasa dilakukan untuk menangani limbah padat adalah membuangnya atau menyingkirkannya. sedang bagian kimiawinya akan terencerkan. 1cm udara mengandung muatan 1 esu. ke dalam tanah yang dibangun khusus untuk itu. karena hanya bersifat mengurangi konsentrasinya. Dengan pengebangan teknologi dan ilmu nuklir serta penggunaan isotop-isotop radioaktif yang makin luas. Untuk itu perlu adanya jaminan bahwa isotop-isotop yang aktif tidak berkontak dengan lingkungan sampai batas konsentrasi tertentu yang menyebabkan tidak timbulnya masalah. Pengukuran ini dilakukan pertama kali dengan satuan röntgen (R). maka jumlah partikel yang teremisikan per satuan waktu akan dapat dihitung. yaitu satuan pengukuran terhadap penyerapan enersi radiasi oleh jaringan tubuh manusia. komponen radioaktif dalam limbah cair dikonversi menjadi limbah padat yang tetap bersifat radioaktif dan harus tetap ditangani. yang 3 merupakan kuantitas dari radiasi X atau γ yang menghasikan ion-ion. digunakan satuan gray (Gy) yang sepadan dengan penyerapan enersi 1 J/Kg. Tetapi hanya fraksi dari radiasi ini yang terlacak ke luar. dengan perlindungan yang ketat agar sifat-sifat radioaktivitasnya tidak membahayakan lingkungan. atau sebesar 10 J/Kg. Dengan satuan ini memungkinkan dosis radiasi dalam gas diukur langsung dengan alat elektronik tanpa harus menentukan terlebih dahulu enersi terabsorbsi.FTSL ITB Halaman 85 . 3 PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF Pengolahan dan pembuangan (penyingkiran) limbah yang bersifat radioaktif merupakan masalah yang berat dalam abad nuklir ini. Secara umum. Oleh karena itu digunakan satuan rad (radiaton absorbed doses). Dalam mengukur ionisasi selain gas. Dalam hal ini 1 C/Kg = 3876 R. Beberapa cara memang banyak dikembangkan. menghasilkan intensitas radiasi 0. biologis serta kimiawinya. Cara yang diterapkan sekarang sebetulnya tidaklah tuntas. terdapat kesulitan. Bagian yang tersuspensi akan mengendap. Enri Damanhuri . Cara yang banyak dilakukan untuk menangani limbah cair adalah penyimpanan atau pengkonsentrasian. mulai limbah asal (limbah'orang tua'nya) sampai hasil luluhannya (limbah 'anak-anak'nya). Dalam hal sebuah isotop menghasilkan produk yang tidak stabil. atau 1 Gy = 100 rad. misalnya ke lautan yang dalam.5 mm untuk mengabsorbsi setiap partikel α.8 R per jam pada jarak 1 m dari sumber. bagian organiknya akan teroksidasi. karena beberapa diantaranya terserap oleh materi radioaktif itu sendiri. maka intensitas totalnya persatuan waktu adalah merupakan penjumlahan. Dalam satuan SI.

atas sumbernya Pendapat pertama dan kedua secara prinsip lebih baik. Termasuk di dalamnya adalah kelompok limbah yang sebetulnya tidak begitu berbahaya. Sumber utama dari limbah jenis ini misalnya dari kegiatan kedokteran. Total keterpaparan radiasi di USA apada tahun 1980-an untuk segala sumber sekitar 182 mrem/tahun/orang. penelitian kesehatan. laboratorium-laboratorium penelitian.atas potensi bahayanya . Karena tidak praktis untuk memprediksi kandungan radioaktif buangan padat.3 milirem/minggu Ditinjau dari tingkat aktivitas radioaktivnya. Penyimpanan dan Pengkonsentrasian Limbah Cair : Limbah cair yang paling banyak dihasilkan agaknya berasal dari proses pembuatan bahan bakar nuklir.limbah tingkat menengah/tinggi Limbah tingkat menengah/tinggi dihasilkan dari pemerosesan kembali bahan bakar nuklir yang mengandung seluruh produk fisi. yaitu: . tidak membutuhkan sedikit atau bahkan tidak dibutuhkan kontainer khusus. Dalam banyak hal. yang terakumulasi guna menurunkan tenaga reaktor melalui absorpsi netron.FTSL ITB Halaman 86 .3: Hasil fisi dari pembakaran 1 ton Uranium -------------------------------------------------------------------------------------Kelompok Kimiawi Elemen Kimiawi Berat (Kg) ------------------------------------------------------------------------------------Gas jarang Kripton dan xenon 128 Alkali berat Rubidium 15 Caesium 118 Alkali tanah Strontium 42 Barium 43 Ytrium 317 Elemen ke 4 Zirconium 125 Elemen ke 5 Niobium 5 Elemen ke 6 Molybdenum 92 Tellurium 16 Elemen ke 7 Technetium 29 Iodine 7 Logam jarang Ruthenium. Oleh karenanya. rhodium dan palladium 61 ----------------------------------------------------------------------------------- Enri Damanhuri . Dalam proses fisi. Definisi limbah radioaktif adalah buangan dalam bentuk padat.01 mrem/tahun.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Sumber-sumber Limbah Radioaktif : Definisi buangan/limbah radioaktif dapat didasarkan atas tiga pendekatan. mengambil uraniumnya dan memisahkan plutonium yang juga terbentuk. maka terdapat dua jenis limbah radioaktif.2 berikut menggambarkan hasil fisi bila digunakan 1 ton uranium. tetapi tetap mempunyai potensi konsentrasi limbah berbahaya. bila dapat menunjukkan bahawa tidak seorangpun menerima dosis lebih dari 10 milirem/minggu. Limbah tingkat tinggi sangat sedikit mengandung radioaktivitas. laju penghasil panas yang tinggi dan waktu paruh radioaktif yang panjang. Oleh karenanya. secara berkala dibutuhkan pengeluaran bahan bakar ini. Tabel 10. uranium menghasilkan sekitar 30 radionuklisida. Tabel 6. diagnosa medikal dari sinar-X sekitar 72 mrem/tahun. Pertimbangan genetika mengharuskan bahaw rata-rata dosis radiasi yang dietreima oelh manusia secara keseluruhan adalah 1.limbah tingkat rendah . Radiasi ini sebagian besar berasal dari sumber alamiah seperti sinar kosmis (102 mrem/tahun). pembuangan limbha cair ke saluran riolering adalah dianggap aman bila ratarata konsentrasi radioaktivitas dalam saluran tidak lebih dari 10 -4 µc/ml. Metoide pembuangan dianggap aman. tetapi praktisnya sulit untuk direalisis. yaitu : . namun tetap dianssumsi berbahaya sampai terdapat pembuktian. Berikutnya bahwa tidak sulit menarik keyakinan bahwa setelah dibuang konsentrasi tidak mengalami penurunan akibat reaksi kimiawi ataupun biologis. pembangkit tenaga nuklir komersial sebesar 0. cair atau gas yang dihasilkan selama pembuatan atau penggunaan substansi radioaktif. yang lebih realistis adalah mendeteksinya berdasarkan sumbernya. Limbah ini dicirikan dengan kemampuan penetrasi radiasi yang tinggi.atas kandungan radioaktifnya .

sehingga masalah timbulnya tekanan yang meninggi secara tiba. Alternatif lain adalah dengan regenerasi sesuai dengan ion yang terkandungnya.FTSL ITB Halaman 87 . maka kontainer baja perlu dilapis dengan bahan anti karat. sehingga memudahkan dalam penanganan berikutnya. Disamping dengan cara penguapan. Proses penukar ion adalah proses yang sudah lama dikenal. yaitu penukar kation dan penukar anion. dapat digunakan terus sampai materi tersebut menjadi jenuh dan tidak dapat lagi berfungsi. Beberapa radioisotop. Mengingat bahwa bila limbah cair yang disimpan dengan cara tersebut akan membutuhkan biaya besar. yaitu dengan memanfaatkan media tertentu yang mempunyai sifat dapat menukarkan kation atau anionnya dengan kation dan anion lain dari limbah. Inggeris. Perlu pula adanya katup pelepas tekanan uap dan uap tersebut kemudian dikembalikan lagi ke kontainer tersebut.tiba perlu diperhatikan dalam rancangan penyimpanan. yang tentu saja akan menaikkan biaya penyimpanan. Limbah cair dengan sifat-sifat radioaktif mempunyai sifat yang secara spontan dapat mendidih dengan sendirinya karena adanya absorpsi enersi radiannya sendiri. melaslukan pencampuran limbah cair terkonsentrasi dengan silika dan borax dalam larutan asan nitrat. Media penukar ion tersebut kemudian dapat dianggap sebagai limbah padat dan membutuhkan penanganan khsusus dalam pembuangan akhir. didapatkan limbah yang terbungkus secara solidifikasi. Dibutuhkan kumparan pendingin agar panas yang dihasilkan akibat terjadinya peluluhan radioaktif dapat dikeluarkan. akan tervolatilisasi dengan sendirinya. adalah kemungkinan terjadinya endapan. Media penukar ion yang mengandung sejumlah ionion yang dapat ditukar tersebut.ion radioaktif tersebut ditukar dengan ion-ion yang tidak aktif yang terdapat dalam media. Tetapi laju pelepasan panas tersebut tidaklah teratur. sifat-sifat radioaktif tidak dapat dimusnahkan. Secara praktis. sehinga membutuhkan penanganan dengan kontrol yang ketat. maka usaha lain adalah mengkonsentrasikan limbah tersebut agar volumenya berkurang. Media ini relatif lebih stabil. misalnya. Pengolahan Limbah Cair: Seperti dibahas di muka. Masalah yang timbul bila limbah tidak dipertahankan dalam kondisi asam. misalnya dalam pembuangan atau penyingkiran akhir. Dalam proses pendinginan. Sebetulnya dengan sifat dapat memanaskan dirinya sendiri akan memungkinkan proses swa-evaporasi. Limbah yang akan diuapkan biasanya diletakkan pada kontainer baja yang divakumkan sampai mencapai volume yang belum memungkinkan terjadinya endapan. yaitu ion-ion dari limbah. sebab bila tidak. namun yang mungkin adalah mengkonsentrasikan nuklisida-nuklisida tersebut dalam volume cairan yang relatif kecil. Bila limbah dipertahankan dalam kodisi asam. Sarana pemonitor dini terhadap kemungkinan kebocoran sangat diperlukan. Limbah cair biasanya dinetralkan dan disimpan dalam kontainer baja kualitas baik atau dalam beton bertulang. Kapasitasnya akan tergantung pada afinitas relatifnya. seperti rutheniumakan. Namun hal ini kurang memuaskan hasilnya karena panas yang dikeluarkan per satuan volume relatif rendah. maka beberapa metode yang digunakan adalah dengan penukar ion. biasanya agitator udara atau sirkulasi cairan digunakan. Sumur-sumur pemantau juga diperlukan di sekitar kontainer yang ditanam dalam tanah.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Elemen-elemen bahan bakar yang tidak teradiasi tetap mengandung bahaya radioaktif dengan tingkat aktivitas sekitar 10 sampai 15 curie/L. proses kimiawi atau biologis. agar masalah bocornya limbah ini dapat segera diketahui. Dari proses ini akan dihasilkan cairan dengan konsentrasi yang sangat tinggi yang mengandung elemen radioaktif yang harus ditangani lebih lanjut. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam evaporator limbah jenis ini adalah agar sarana tersebut tidak membutuhkan perawatan yang terlalu rumit. Larutan tersebut kemudian terevaporasi akibat panas yang terjadi. Akan terdapat dua jenis penukar ion. Media yang dikenal mempunyai kapasitas penukar ion yang tinggi adalah resin sintetis. Guna mengurangi masalah ini. misalnya dengan proses evaporasi. penukaran akan terjadi bila kation pada media penukar mempunyai affinitas yang sama atau lebih kecil dari yang akan menggantikannya. akan menyulitkan karena jenis limbahnya yang bersifat radioaktif. misalnya : Hg++ < Zr++++ < Li+ < H+ < Na+ < K+ < Rb+ < Cs+ < Ag+ < Mn++ < Mg++ < Cu++ < Ca++ < Sr++ < Al+++ Enri Damanhuri . Penyimpanan limbah radioaktif dalam bentuk solidifikasi dengan glas dianggap aman dan efektif. Jadi ion.

Langkah berikutnya. sehingga akan menambah efisiensi penyisihan secara keseluruhan. Bila limbah dengan pH tinggi melalui media tersebut. akan lebih mudah mengendap sehingga efisiensi penyisihannya menjadi lebih tinggi.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Salah satu kelemahan dari cara ini adalah bahwa media ini tidak dapat membedakan antara ion yang aktif atau ion yang tidak aktif. walaupun kemampuan dekontaminasinya relatif tidak begitu besar. Oleh karenanya. namun hal ini cenderung mengurangi sifat-sifat mengendap dari partikel tersebut. Disamping itu. Dalam hal ini vermiculite mempunyai kemampuan untuk itu. Beberapa jenis lempung. bila yang akan ditangani adalah produk fisi yang tercampur. Walaupun dilakukan penaikan pH. maka pH yang lebih tinggi akan menghasilkan penyisihan yang lebih tinggi pula. adalah partikel flok dan partikel tersuspensi tersebut harus diendapkan dan tidak terbawa ke dalam efluennya kembali. Salah satunya adalah radiocaesium. promethium dan ruthenium akan lebih mudah terserap sehingga dapat terkonsentrasi dalam lumpurnya. namun tetap dibutuhkan mekanisme lain agar sebanyak mungkin materi tersebut terpisah dari cairannya. Dengan demikian. Pengolahan limbah radioaktif secara kimiawi diterapkan di banyak negara. sedang caesium-137 mempunyai waktu paruh yang pajang. namun cara ini cocok untuk limbah yang mempunya kadar radioaktif rendah. Media ini mempunyai kemampuan filtrasi yang baik dibandingkan montmorillonite dan kapasitas penukar ionnya sekitar 0. Cara lain aplikasi penukar ion adalah penggunaan electrolitis deionisasi. silika aktif atau sodium fosfat juga dapat diterapkan dalam limbah radioaktif ini. Disamping itu. Unit-unit pengendap yang biasa digunakan dalam pengolahan limbah akan menghasilkan kinerja yang sama. yang biasanya dipisahkan melalui vermiculite. maka Mg cenderung akan mengendap sebagai hidroksida. misalnya disingkirkan ke dalam tanah dan sebagainya. Koagulan akan menyerap ion-ion tertentu dari larutan dan membentuk partikel yang lebih besar.FTSL ITB Halaman 88 . yaitu dengan merangsang terjadinya partikel flok yang mudah mengendap. karena merupakan unsur monovalensi. yaitu unit pengendap. Dengan demikian akan terjadi sekaligus penukaran kation dan penukaran anion. Dua jenis isotop yang paling penting untuk dijadikan acuan adalah radiostrontium dan radiocaesium. penambahan koagulan akan menyebabkan materi tersuspensi yang juga bersifat radioaktif. Aruh searah dilalukan pada dua elektrode yang terendam. sehingga media menjadi lebih cepat jenuh. limbah lumpur yang terkonsentrasi tersebut dapat ditangani lebih lanjut. Beberapa jenis media alamiah juga mempunyai kemampuan untuk berfungsi sebagai penukar ion antara lain adalah tanah lempung (clay). Sasaran dari cara ini adalah bagaimana mengkonsentrasikan nuklisida. Diantara katode tersebut diletakkan membran secara bersilangan. cerium. atau densitas buangan lumpurnya menjadi lebih tingi. Umumnya. dan dapat memampatkan media penukar ion tersebut. yaitu sekitar 30 tahun.7 meq/gram. Alternatif lain adalah dengan penambahan lempung selama koagulasi. yang prinsipnya adalah identik dengan penyisihan air asin. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan penambahan koagulan. Dalam hal garam-garam besi yang digunakan. namun ada beberapa kation atau anion radioaktif yang membutuhkan penanganan khusus. Keberhasilan pembentukan flok harus diikuti dengan unit operasi yang lain yang sangat menentukan. ferro dan ferri sulfat. Walapun telah dilakukan pembubuhan kimiawi secara flokulasi.koagulasi-pengendapan. terutama montmorillonite mempunyai kapasitas penukar ion sampai 1 miliekuivaalen (meq) per gram. Beberapa jenis flokulan yang biasa digunakan dalam teknologi pengolahan limbah seperti garam-garam aluminium. setiap media yang digunakan dalam penukar ion harus mampu menyisihkan kedua jenis isotop tersebut. yaitu sebagai penukar anion dan penukar kation. lignite atau resin sintetis terlebih dahulu. terdapat kecendrungan bahwa kation multivalensi seperti yttrium. Barium khlorida juga dapat digunakan untuk mengendapkan ion-ion sulfat dan tellurate. Radiostrontium merupakan isotop yang paling berbahaya sebagai penyebar emisi beta. Media alamiah lainnya adalah penggunaan vermiculite atau lignite. maka relatif sulit untuk dipisahkan dari larutannya. namun media ini mempunyai sifat-sifat penyaringan yang buruk sehingga menyulitkan dalam operasionalnya. kemudian diikuti dengan pembubuhan ferri sulfat untuk menyisihkan kelebihan barium Enri Damanhuri . Pemilihan proses yang dilakukan adalah tergantung pada kinerja penyisihan yang diinginkan. jenis radionuklisida yang akan dipisahkan. seperti telah dibahas di muka. Ion penukar dari media ini mayoritas adalah magnesium.

misalnya oleh mikroorganisme semacam bakteria dan algae bersel tunggal. Pengolahan secara biologis yang sengaja dibangun mempunyai prinsip identik dengan yang biasa digunakan dalam pengolahan limbah lain. Oleh karenanya dalam beberapa hal digunakan coagulant-aids. yang dapat hadir sebagai kation. Akumulasi radioaktif oleh organisme biasanya dinyatakan dengan faktor konsentrasi (FK).FTSL ITB Halaman 89 . Lumpur kering yang dihasilkan kemudian di tangani sebagai halnya limbah padat radioaktif. seperti senyawa sellulosa. yaitu: a.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 dan bertindak pula sebagai koagulan. Pengolahan dengan pembekuan ini akan mengkonsentrasikan elektrolit yang ada di sekitar partikel koloidnya. Secara umum pengolahan secara biologis ini akan berfungsi baik. lumpur kimiawi yang dihasilkan dari pengolahan tersebut sebagian besar akan bersifat koloidal dan tidak mengendap secara baik serta sulit difilter dalam proses penanganan lumpur. radioisotop tersebut akan cenderung berakumulasi pada tanaman air tersebut. Limbah tersebut mungkin mengandung agen-agen organik kompleks. sehingga sebelumnya perlu diolah secara biologis guna mencapai baku muru yang diinginkan. Seperti telah dibahas di muka. pada suatu saat akan mengakumulasikan radioaktif ini sampai di atas batas yang diizinkan (biomagnifikasi). dan dapat disisihkan dengan penggunaan garam-garam perak atau penukar anion. c. Penentuan analisis kimiawi dari elemen dalam organisme air dan air. atau bermuatan positif (kation) seperti polyvinyl pyridinium butyl bromide. Unsur-unsur multivalensi seperti zirconium dan plutonium dapat direduksi dengan cara ini. Cara yang banyak dilakukan adalah pembekuan. seperti senyawa caustic-hydrolised polyacrylamide. Fenomena ini juga dimanfaatkan dalam penyerapan elemen-elemen tertentu oleh tumbuhan air seperti eceng gondok guna mengurangi konsentrasi pencemar radioaktif berkadar rendah. Langkah berikutnya adalah penanganan lumpur yang berasal dari unit pengendap yang masih mengandung kadar air tinggi (di atas 90%). kalsium atau strontium akan lebih tinggi terdapat di tumbuhan air dibandingkan air sekitarnya. dan biasanya yang paling efisien dalah menggunakan polimer dengan berat molekul ting gi. Hal yang penting dalam proses pengendapan tersebut adalah bagaimana mendapatkan efluen yang sangat baik. yaitu polyelectrolite. Jadi bila badan air tersebut terkontaminasi dengan isotop radioaktif. Pengolahan biologis juga dapat dipertimbangkan guna merangsang tumbuhnya mikroorganisme yang berfungsi sebagai adsorben biologis. Dengan mengunakan filter vakum. Salah satu nuklisida yang relatif suulit untuk ditangani adalah ruthenium. anion atau dalam bentuk non-ion. Efluen cair dari limbah radioaktif yang kadar radioaktivitasnya dikatagorikan rendah. yaitu: (aktivitas per satuan berat organisme)/(aktivitas per satuan berat air) Disamping itu. Partikel yang dihasilkan berupa granular dan dapat terendapkan serta tersaring secara baik. Organisme tertentu di alam dalam hal ini dapat menimbun radioisotop dalam tubuhnya. seperti yang dilakukan di Perancis. sehinga menaikkan proses koagulasinya. akan mengidentifikasikan maksimum konsentrasi isotop radioaktif yang dapat terjadi dengan cara tersebut. polysaccharida. fenomena lain yang dapat terjadi secara alamiah adalah penyisihan elemenelemen radioaktif oleh adsorpsi permukaan. Diketahui bahwa konsentrasi dari elemen-elemen yang biasa terdapat di alam seperti kalium. Cara yang paling baik yang pernah dilakukan adalah dengan co-presipitasi dengan tembaga sulfida dalam suasana asam. bebas dari substansi toksik dalam konsentrasi tertentu sehingga dapat menghambat aktivitas Enri Damanhuri . b. Dapat saja terjadi bahwa ikan yang berada dalam sungai yang menerima efluen limbah radioaktif cair dengan konsentrasi phosphorus-32 di bawah konsentrasi maksimum yang diizinkan untuk air minum. Beberapa diantara jenis polimer tersebut mempunyai muatan negatif (anion). sehingga penggunaan filtrasi sedapat mungkin dihindari. mungkin mengadung komponenkomponen organik biodegradabel. akan dihasilkan cake lumpur tetapi masih mengandung air sampai sekitar 85 %. bila limbah yang akan diolah tidak bersifat asam atau alkalin. Pengolahan secara biologis bagi limbah radioaktif yang dikatagorikan ringan biasanya didasarkan atas satu diantara tiga pertimbangan. Radioiodine biasanya hadir dalam kondisi anion. seperti sitrat. Sentrifugasi juga tidak memberikan pemecahan yang baik. yang akan mengganggu dalam pengolahan isotop radioaktif secara kimiawi. dilirkan ke badan air dengan mengandalkan pengenceran dan dispersi. Limbah radioaktif yang akan dialirkan ke badan air.

limbah tersebut dapat dipindahkan dengan mudah. yang dapat dibangun lapis perlapis. hal esensial yang perlu diperhatikan adalah bagaimana agar organisme yang berfungsi tersebut tidak terpengaruh oleh radiasi. Walaupun demikian. Konstruksi kontainer atau bunker tersebut dapat terbuat dari beton bertulang setebal 2 meter. filter perkolasi (trickling filter). misalnya dalam bentuk parit-parit beton bertulang. penyimpanan dapat dilakukan dalam konstruksi batu bata saja. Cara lain adalah disingkirkan ke dalam tanah atau ke larutan seperti halnya penanganan limbah padat. setelah terlebih dahulu dilapis guna mencegah tersebarnya radioaktif tersebut seperti halnya pengelolaan limbah limbah padat. Sarana tersebut harus juga mempertimbangkan pekerjaan berat untuk operasi menaikkan dan menurunkan beban yang berat. penyingkiran dalam tanah dapat dilakukan dengan pembuatan lobang-lobang raksasa yang disiapkan dengan penuh kehati-hatian. Menurut penelitian. misalnya dalam aktivitas pemantauan tingkat peluluhan yang telah terjadi. dan limbah padat disimpan di sana sampai keaktifannya menjadi tidak membahayakan. maka penyimpanan yang bersifat permanen akan dibutuhkan. maupun secara vertikal. maka perlindungan yang sangat ketat sangat dibutuhkan. maka dibutuhkan materi lain seperti timah atau beton baryte. lapisan 9 dengan aspal adalah cukup baik untuk menahan radiasi sampai 10 roentgen. Namun diperlukan perhatian agar beban sel yang diatas tidak akan langsung bertumpu pada sel limbah yang ada di bawahnya. Pengaruh tersebut tidak terlihat secara nyata kecuali dalam tingkat aktivitas yang tinggi. sedang abunya ditangani seperti limbah padat. misalnya dalam pasangan beton. Hal yang sudah pasti bahwa cara ini sama sekali Enri Damanhuri . plastik atau aspal. khususnya bagi isotop dengan waktu-paruh lama. Cara lain dengan memanfaatkan bekas sarana penambangan yang sudah tidak lagi berfungsi.FTSL ITB Halaman 90 . Misalnya tinja dari manusia yang mengandung iodine-131 atau phophorus-32 akibat kegiatan kelinis seseorang. namun biayanya tiga kali lebih mahal. Beton bertulang digunakan terutama karena alasan biaya. Bangunan tersebut dapat terdiri dari beberapa sel. Tinja tersebut membutuhkan waktu tunggu lebih dahulu sebelum bebas dibuang pada riolering kota yang dilengkapi dengan pengolah limbah secara terpusat. Dalam proses biologis. proses lumpur aktif dan saringan pasir lambat. namun penempatan secara horizontal cocok untuk penyimpanan jangka pendek. Dalam hal limbah aktif tersebut hanya menghasilkan radiasi alfa. sehingga praktis tidak terdapat bahaya radiasi. Lumpur yang telah dikurangi kadar airnya dapat dibakar dalam sebuah insinerataor. atau dilakukan proses solidifikasi. Penyimpanan Limbah padat dan lumpur : Untuk limbah padat yang dikatagorikan menengah dan tinggi aktivitasnya. Pengolahan lumpur yang dihasilkan adalah identik dengan pengolahan limbah lain. Mikroorganisme pada umumnya lebih resistan dibandingkan organisme yang lebih tinggi.komponen materi organik yang dikandungnya dan dikonversi menjadi gas metan. Proses anaerobik juga dapat digunakan untuk mengurangi komponen.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 biologis. Dengan cara demikian. Dalam hal ini perlu adanya kontrol bahwa supernatan yang dihasilkanya tidak mengeluarkan aktivitas radioaktif yang menganggu. Bunker beton tersebut biasanya dilapis lagi dengan logam. filtrasi atau seperti pengolahan secara kimiawi untuk limbah radioaktif yaitu pembekuan. Penggunaan bahan baja atau keramik dapat pula dipertimbangkan sebagai kontainer sebelum dimasukkan ke dalam bunker tersebut.000 rad. Dalam beberapa hal dibutuhkan penyimpanan yang bersifat sementara. supernatan tetap dialirkan kembali pada pengolahan limbah cairnya. Penyingkiran Limbah Padat dan Lumpur: Penanganan akhir dari limbah padat atau lumpur adalah dalam bentuk penyingkiran dalam tanah atau dalam lautan. yang dapat berbentuk tabung-tabung yang dapat dimasukkan ke dalam bunker secara vertikal. Namun bila yang dikeluarkannya adalah radiasi beta atau gamma. seperti pengeringan pada media berbutir. Penempatan secara vertikal baik untuk penyimpanan jangka panjang. Beton baryte dua kali lebih aman dari beton biasa. Dosis radiasi yang dibutuhkan agar dapat membunuh 99 % populasi bakteria dalam limbah radioaktif dapat mencapai 100. Beberapa pengolahan secara biologis yang telah diterapkan misalnya adalah kolamkolam oksidasi. Dalam hal limbah yang akan disimpan sangat aktif. kolam-kolam atau saluran-saluran biologis yang ditamani tumbuhan air.

Pelaksanaan di lapangan ternyata lebh rumit terutama untuk jenis limbah menengah dan tinggi. Ion-ion nitrat merupakan ion yang bergerak relatif cepat. Ditinjau dari sifat kimiawi limbah tersebut akan terus berubah. yaitu kurang dari beberapa milicurie dapat dicampur dan dibuang dengan limbah lain dan ditangani sebagai limbah berbahaya biasa. Sarana tersebut hendaknya memenuhi dua persyaratan. Masalah pertama adalah waktu untuk menyimpan. Hal ini merupakan pertanyaan yang sulit untuk terjawab di lapangan. Penyimpanan dalam fase cair relatif lebih sulit dibandingakan Enri Damanhuri . sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi arah aliran air. Dalam metode disperasl. termasuk dengan limbah lain terutama yang bersifat penukar ion. porositas dan sifat-sifat tanah lainnya terutama dikaitkan dengan transportasi dan penyebaran pencemar limbah berbahaya tersebut. misalnya dari limbah radioaktif rumah sakit. sampai aktivitasnya menjadi sedemikian rendah dan tidak menghadirkan bahaya radioaktif lagi bila disingkirkan dalam cara-cara biasa seperti dalam landfilling. bahwa limbah dengan tingkat aktivitas rendah. Konsep penyingkiran limbah radioaktif ini bersasaran menyingkirkan limbah agar tidak akan mengganggu lingkungan sampai keaktifannya terluluhkan dengan sendirinya sampai tingkat yang diperbolehkan. misalnya tahan terhadap korosi. bagi limbah denga waktu paruh lama. yang bisa mencapai ratusan tahun. yang pertama harus mampu menahan radiasi jangan sampai ke luar dan yang kedua tahan terhadap penggunaan jangka panjang. tekstur. Ruthenium-106 adalah satusatunya radionuklisida yang teridentifikasi dalam sumur pemantau. Untuk itu sebelum disingkirkan. Pengalaman yang diterapkan di Amerika. Kekhawatiran lain adalah tersebarnya limbah tersebut akibat terjadinya retakan atau terjadinya ketidak homogenan media. menunjukkan bahwa ternyata tidak terjadi bahaya radiasi di sekitarnya.FTSL ITB Halaman 91 . Sarana yang dibangun dikelilingi dengan sumur-sumur pemantau yang relatif banyak (bisa mencapai lebih dari 50 sumur) dalam jarak yang berbeda. sehingga sifat-sifat material penyimpan harus memperhatikan hal ini. Ion nitrat dideteksi pada jarak 520 meter dari sumbernya setelah 8 tahun. bisa saja menjadi terkorosi setelah limbah tersebut mengalami perubahan. serta seberapa baik fungsi penukar ion tersebut.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 bukan bertujuan untuk mengurangi keaktifan limbah tersebut tetapi sekedar menyimpan menunggu selesainya waktu paruhnya. Analisis laboratorium menunjukkan bahwa radionuklisida yang mengalir dalam tanah tanpa menagalami absorpsi (tidak terserap dalam penukar ion tanah) adalah ruthenium. Kontainer atau sarana penyimpan tersebut harus bertahan sesuai kondisinya semula. diperlukan perlakuan khusus agar sifat radioaktifnya tidak menyebar keluar. yaitu dengan mengkapsulinya dengan bahan yang dikenal baik dapat menahan radiasi limbah tersebut. Sebuah materi yang tahan pada limbah pada saat awal. seperti lapisan timah dan sebagainya. karena terkait erat dengan pengetahuan rinci dan lengkap bukan saja sifat-sifat tanah. Oleh karena limbah radioaktif yang akan dingkirkan adalah masih berbentuk cairan. Diperlukan studi yang sangat mendalam termasyuk studi tentang stratifikasi. Sulit memprediksi bahagiamana kestabilan sarana tersebut sampai ratusa tahun. materi radioaktif dapat saja dicampur dengan materi lain. sifat imbah yang disimpan akan berubah sesuia dengan perubahan waktu. Sarana tersebut oleh karenanya harus tetap dimonitor secara rutin. sedang limbah radioaktif dengan katagori menengah dan tinggi harrus disimpan secara aman sampai aktivitasnya menurun sampai tingkat dengan katagori aktivitas rendah. seperti lempung yang memounyai konsep identik dengan penukar ion. Jadi konsep umum peyingkiran limbah radioaktif ini adalah. Masalah kedua yang muncul adalah pemilihan jenis sarana penyimpan. namun pula lingkungannya yang dapat dikatakan jauh dari homogen. sedangkan ruthenium-106 terdeteksi pada jarak 370 meter dalam jangka waktu yang sama. baik berbentuk padat maupun cair. maka hal ini perlu juga mendapat perhatian. Banyaknya limbah yang akan disingkirkan akan tergantung pada kapasitas penukar ion media tersebut. Hal ini akan menjadi masalah dengan meningkatnya limbah tersebut akibat penggunaan dan pengembangan industri nuklir dewasa ini. Cara lama yang masih diterapkan untuk limbah yang dianggap mempunyai keaktifan rendah. adalah menyingkirkannya dalam tanah yang sangat kedap dan dianggap mempunyai kemamppuan penukaran ion. Adanya sifat peluluhan radioaktif akan menyebabkan ketidakstabilan dari limbah yang dihasilkan kemudian serta media yang dilaluinya.

penelitian bila aktivitasnya adalah: a.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 penyimpanan dalam fase padat. Cara lain yang digunakan adalah penyingkiran dalam bekas tambang. Untuk menjamin pengenceran yang cukup. Elemen-elemen radioaktif tersebut biasanya terkonsentrasi di tulang yang prakktis tidak dikonsumsi oleh manusia. seperti dari kegiatan rumah sakit. Dalam aplikasi di Inggeris.tidak mudah rusak atau pecah sebelum dan setelah disingkirkan. Pembungkusan dilakukan seperti dalam penyimpanan. sehingga kemungkinan terjadinya korosi akan lebih besar. daun. c. Dalam jangka waktu tertentu. Monitoring dibutuhkan bukan saja terhadap air tanah memalui sumur-sumur pemantau. 3 jenis cara penyingkiran untuk limbah radioaktif yang tergolong rendah. batasan yang digunakan adalah jumlah limbah yang ditanam maksimum nuklisida adalah adalah 100 mikrocurie/bulan bagi limbah dengan waktu-paruh lebih dari 1 tahun dan 1 milicurie/bulan untuk limbah dengan waktu-paruh kurang darui 1 tahun. namun pula terhadap benda-beda di sekitarnya: binatang. Dalam hal ini terdapat dua kemungkinan penanganan limbah sebelum disingkirkan. yaitu limbah tersebut langsung dibuang/didingkirkan atau limbah tersebut 'dibungkus' terlebih dahulu.bebas dari ruang-ruang yang kosong sehingga limbah tidak mudah keluar bila terjadi kebocoran. walaupun proses korosif berjalan lambat. sedang abunya yang akan ditangani adalah sesuai dengan butir (a) di atas. b. maka tidak diperkenankan lebih dari 10 mCi selama 4 minggu secara terus menerus. maka batasan tersebut menjadi 2 mCi. dengan volume tidak lebih dari 0. sifat cair akan memungkinkan mengalir ke tempat lain akan lebih leluasa dibandingkan bagian padat bila terjadi kebocoran dalam kontainer. dan total aktivitas untuk setiap pembebanan adalah lebih kecil dari 10 µCi. Pembungkusan terlebih dahulu limbah diperlukan sebelum disingkirkan ke dalam tanah terutama bagi limbah dengan katagopri tingkat keaktifannya tinggi. . Disamping itu. perlu diperhatikan bahwa limbah tersebut harus aman di tempatnya dalam jangka waktu yang lama. Limbah cair dapat dicampur dengan limbah sistem riolering perkotaan yang ada (menuju pengolahan limbah terpusat). seperti penguburan dalam tanah atau dalam bekas tambang. yaitu dalam bentuk paking dalam kontainer baja atau pasangan beton. Bila sistem tidak dihubungkan dengan riolering kota. misalnya karena kegiatan binatang seperti tikus dan sebagainya. Limbah radioaktif yang langsung ditanam dalam tanah harus diulindungi terhadap kemungkinan muncul ke permukaan. Oleh karenanya. bila terbukti pengencernya bukanlah limbah yang dikatagorikan aktif. Solidifikasi akan merupakan salah satu jawaban dalam usaha-usaha menanggulangi hal ini. Salah satu masalah yang mungkin timbul adalah kemampuan ikan atau organisme laut lainnya dalam mengkonsentrasikan limbah radioaktif ini dalam fenomena biomagnifikasi. Kontainer yang digunakan untuk menyingkirkan jenis limbah ini harus mempunyai kriteria: . Lubang-lubang tambang yang digunakan dipilih ketat yaitu yang tidak mempunyai hubunganb dengan daerah sekitarnya. Enri Damanhuri . serta masalah jangka panjang untuk mendapatkan area yang cukup dan cocok untuk itu. Oleh karenanya. Kedalaman penananaman sedemikiaian rupa sehingga tidak mengganggu pertumbuhan di sekitarnya. Penyingkiran limbah ke dalam tanah hanya cocok bagi limbah dengan aktivitas rendah.1 m3. reptil.FTSL ITB Halaman 92 . Pertama karena sifat cair akan lebih intik kontak dengan media sekitarnya. persoialan yang dihasapi oleh limbah radioaktif dengan tingkat yang menengah dan tinggi adalah bagaimana memecahkan masalah tersebut. Buangan padat dapat disimpan/disingkirkan dalam landfill buangan berbahaya biasa bila ternyata seluruh komponen di dalamnya mempunyai aktivitas lebih kecil dari 1 µCi. Cara ini merupakan cara yang terakhir karena praktis tidak mungkin lagi diambil bila terjadi sesuatu. Pembuangan ke lautan dalam dianggap salah satu penyingkiran yang paling aman bila dilakukan secara baik. insek dan sebagainya. ikan. Hal yang kedua. Buangan padat dapat diinsinerasi. tanah. Masalah yang sangat diperhatikan kemungkinan terbawanya limbah tersebut akibat air eksternal. dengan syarat bahwa aktivitas limbah yang akan dibakar tersebut tidak lebih dari 30 µCi per harinya. Cara ini menghilangkan keberatan-keberatan yang ada dengan cara lain. daerah sekitarnya kemungkinan akan menjadi steril untuk selamanya.

pengendap dan sebagainya. maka tidaka akan timbul masalah radiasi. 1978 . Nemerow: Industrial Water Pollution. Englewood Cliffs.2 gram/cm . Produk akhir yang dikeluarkan.FTSL ITB Halaman 93 . Collins (Editor): Radioactive Wastes. Peralatan pencegahan pencemaran udara seperti filter. Masalah utama yang muncul adalah gas yang dikeluarkan yang dapat menyebar secara luas. Prentice Hall. 1985 .A.J. presipitator elektrostatis.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 - mempunyai densitas paling tidak 1. Porteus (Editor): Hazardous Waste Management Handbook. 1960 . Wiley & Sons Inc. kadangkala dilapis dengan lapisan beton sesuai dengan karakteri atau tingka keaktifan limbahnya. mempunyai betuk dan ukuran yang mudah untuk ditangani 3 Drum-drum baja merupakan kontainer yang paling sering digunakan.C. Insinerasi limbah combustibel tidak diterapkan secara luas. Abu yabng terkumpulkan kemudian ditangai seperti halnya limbah padat radioaktif. Suatu pengukuran yang dilakukan adalah bila rata. 1991 Enri Damanhuri .Gilbert M. Addison-Wesley Publishing Company. yaitu abu atau gas yang keluar dari cerobong akan tetap bersifat radioaktif. scrubber. Butterworth.Nelson L. Referensi Utama: . Masters: Introduction to Environmental Engineering and Science.rata tingkat radiasi di permukaan kontainer adalah tidak lebih dari 20 milirad per jam. dapat digunakan untuk menangkap partikulat yang terbentuk.

Jenis perawatan/aktivitas kesehatan yang dapat menghasilkan limbah adalah : a. terutama bila dilairkan melalui sistem rioreling. Klinik: o Ruang dokter dan perawat o Pusat dialysis o Pusat penanganan kecanduan alcohol o Pusat penanganan kecanduan obat bius o Klinik bersalin o Klinik thrombosis. oncolagy. o Pemantauan rutin terutama terhadap aktivitas yang beresiko tinggi. dan bila mungkin dilakukan daur-ulang sehingga tidak masuk dalam penanganan limbah kota. o Penggunaan wadah dengan warna yang berbeda untuk setiap jenis limbah. penyakit-penyakit pernafasan b. tetapi pengoperasian yang tidak baik akan mendatangkan masalah pencemaran udara. o Penggunaan alat pelindung (masker. Disamping itu. misalnya mereka yang terikat kontrak kerja seperti tukang cuci. Sebetulnya cara ini tidak disarankan karena akan mendatangkan masalah pada pengolah limbah kota. Bahan kimia dari institusi kesehatan akan merupakan sumber pencemaran yang potensial. yaitu: o Pasien dan personel dari rumah sakit o Personel yang memberikan pelayanan.FTSL ITB Halaman 94 . o Penggunaan pewadahan tertutup untuk bahan-bahan yang bersifat volatil. Limbah yang bersifat umum atau limbah infectious yang telah ditangani secara baik dapat dibuang pada landfill kota dengan syarat-syarat khusus disertai pengawasannya. Rumah sakit dengan aktifitasnya: o Rumah sakit umum o Rumah sakit khusus o Sanotarium o Aktifitas spesifik dalam sebuah rumah sakit misalnya : paediatric. mata dan telinga. orthopaedic. psychiatric. o Penggunaan analisis epidemiologis untuk menentukan apakah kelompok atau sub kelompok tertentu akan mengalami resiko berlebihan terhadap penyakit tertentu. Tinja dan urin dari pasien yang diisolasi karena penyakit menular perlu didisinfektan terlebih dahulu sebelum digabung dengan sistem riolering. Asrama dan sejenis: Enri Damanhuri . Penggilingan limbah sisa makanan banyak diterapkan di negara undustri untuk kemudian dimasukkan dalam system saluran air (riolering) limbah kota. Namun penggunaan disinfektan harus diminimalkan bila terdapat alternatif lain. maka dibutuhkan program kesehatan kerja yang mencakup: o Penggunaan bahan yang aman atau bahan yang lebih tidak berbahaya. air dan tanah. c. terbakar. Pada dasarnya limbah yang dihasilkan harus dipisahkan atau dikonsentrasikan di institusi itu sendiri untuk memudahkan penggolongannya. tukang sampah dan sebagainya o Pasien rawat jalan seperti yang sedang menjalani dialisis darah o Pengunjung Untuk mengurangi resiko kesehatan sehubungan dengan limbah rumah sakit ini. Penggunaan insinerator untuk limbah rumah sakit kelompok biomedis banyak diterapkan.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 BAGIAN VII LIMBAH MEDIS DAN RUMAH TANGGA 1 LIMBAH MEDIS Terdapat tiga katagori orang yang dapat terpapar dengan limbah berbahaya dari rumah sakit. o Penggunaan ventilasi yang baik sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan kerja. perhatian hendaknya diberikan pada kemungkinan pengaruh resiko tersebut terhadap masyarakat luar. sarung tangan). rehabilitasi. seperti resiko pencemaran udara.

atau analisis in-vivo terhadap organ tubuh dalam pelacakan atau lokalisasi tumor. o Limbah citotoksik. o Limbah berpotensi menular (infectious). garam-garam organik lainnya. o Limbah radioaktif. Pertimbangan terhadap limbah ini adalah seperti limbah berbahaya yang lain. teratogenic dan lain-lain). o Benda-benda tajam.24 Penelitian yang dilakukan di RSHS Bandung oleh Jurusan Teknik Lingkungan ITB (1993) memberikan angka rata-rata sebesar 2. limbah kimiawi yang tidak berbahaya adalah seperti gula. yaitu dapat ditinjau dari sudut: toksik.12 Kg/bed/hari. misalnya obat-obatan cytotoxic. makanan binatang noninfectious. di bawah ini diberikan beberapa angka [21]. o Limbah patologis (jaringan tubuh). bagian tubuh. termasuk untuk hewan maupun genetis. haemathology.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 o Perawat o Rumah jompo o Rumah sakit jiwa d. Kegiatan-kegiatan penunjang: o Bank darah o Apotik o Pusat pelatihan medis o Ruang mayat o Ruang steril o Ruang cuci pakaian o Ruang teknis o Laboratorium : klinis. o Limbah farmasi. atau tidak dioperasikan sesuai dengan kriteria. dilanjutkan dengan sifat-sifat spesifik seperti genotoxic (carcinogenic. asam. pembersihan / pemeliharaan atau prosedur desinfeksi. limbah dari cuci serta materi lain yang tidak membutuhkan penanganan spesial atau tidak membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan o Limbah patologis: terdiri dari jaringan-jaringan. maupun dihasilkan dari prosedur therapetis o Limbah kimiawi: dapat berupa padatan. dan shock sensitive). Diskripsi umum tentang katagori utama limbah rumah sakit adalah: o Limbah umum: sejenis limbah domestik.2 sampai 4. bangkai binatang. pathology. Sebagai gambaran. yaitu (Kg/bed/hari): o Sepanyol : 1.FTSL ITB Halaman 95 . mutagenic. plasenta. korosif. yaitu: o Limbah umum.asam animo. darah dan cairan tubuh o Limbah radioaktif: dapat berfase padat. Kadangkala.4 o Inggeris : 0. cair maupun gas yang terkontaminasi dengan radionuklisida.0 o USA : 4. mudah terbakar (flammable).1 sampai 5. kimiawi. cairan maupun gas misalnya berasal dari pekerjaan diagnostik atau penelitian. o Limbah berpotensi menularkan penyakit (infectious): mengandung mikroorganisme patogen yang dilihat dari konsentrasi dan kuantitasnya bila terpapar dengan manusia akan dapat Enri Damanhuri .25 sampai 3. dan dihasilkan dari analisis in-vitro terhadap jaringan tubuh dan cairan. o Limbah kimiawi. penelitian. bahan pengemas. reaktif terhadap air.3 o Belanda : 1. Seluruh jenis limbah ini dapat mengandung limbah berpotensi infeksi. organ. Timbulan limbah dari kegiatan rumah sakit bervariasi dari satu institusi ke institusi sesuai dengan besarnya aktivitas. reaktif (eksplosif.2 sampai 6. Limbah rumah sakit merupakan campuran yang heterogen sifat-sifatnya. o Kontainer dalam tekanan. limbah residu insinerasi dapat dikagorikan sebagai limbah berbahaya bila insinerator sebuah rumah sakit tidak sesuai dengan kriteria. Limbah dari pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dapat diklasifikasikan dalam beberapa katagori utama.

Daur ulang sedapat mungkin diterapkan pada setiap kesempatan. Dari sekian banyak jenis limbah klinis tersebut. Limbah darah yang tidak terinfeksi dapat dimasukkan ke dalam saluran limbah kota dan dibilas dengan air. bahan mikrobiologi atau bahan citotoksik Limbah farmasi (obat-obatan): produk-produk kefarmasian. cairan tubuh. gaun. o Limbah-limbah benda tajam seperti jarum suntik. atau bahan atau peralatan laboratorium yang berkontak dengan bahan. sarung tangan dan sebagainya) atau materi yang berkontak dengan binatang yang sedang diinokulasi dengan penyakit menular atau sedang menderita penyakit menular Benda-benda tajam yang biasa digunakan dalam kegiatan rumah sakit: jarum suntik. Benda-benda ini mungkin terkontaminasi oleh darah. Limbah ini biasanya hanya 10 . bangkai. Bahan-bahan tajam yang terinfeksi harus dibungkus secara baik serta tidak akan mencelakakan pekerja yang menangani dan dapat dibuang seperti limbah umum. Beberapa contoh warna yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI adalah: o Kantong warna hitam: limbah sejenis rumah tangga biasa o Kantong warna kuning: semua jenis limbah yang harus masuk insinerator o Kantong warna kuning strip hitam: limbah yang sebaiknya ke insinerator. pisau. maka yang membutuhkan sangat perhatian khusus adalah limbah yang dapat menyebabkan penyakit menular (infectious waste) atau limbah biomedis. Untuk memudahkan pengenalan berbagai jenis limbah yang akan dibuang.bahan tersebut. dari ruang bedah atau dari autopsi pasien yang mempunyai penyakit menular . rambut dan muka o Limbah tubuh hewan: jaringan-jaringan tubuh . sedang yang terinfeksi harus diperlakukan sebagai limbah berbahaya. darah. tetapi tidak termasuk gigi. tabung yang mengandung gas dan aerosol yang dapat meledak bila diinsinerasi atau bila mengalami kerusakan karena kecelakaan (tertusuk dan sebagainya). stok hewan atau mikroorganisme. Limbah yang harus dipisahkan dari yang lain adalah limbah patologis dan infektious. obat-obatan dan bahan kimiawi yang dikembalikan dari ruangan pasien isolasi. atau dari pasien yang diisolasi. Jenis dari limbah ini secara spesifik adalah: o Limbah human anatomical: jaringan tubuh manusia. namun higienis dan tidak membahayakan lingkungan. Limbah darah dan cairan manusia atau bahan/peralatan yang terkontaminasi dengannya. kuku. menyingkirkan dan memusnahkannya seekonomis mungkin. bagian terkontaminasi dengan darah. bagian-bagian tubuh. serbet. penanganannya adalah identik dengan limbah kota yang lain. organ. daluwarsa atau terkontaminasi atau harus dibuang karena sudah tidak digunakan lagi Limbah citotoksik: bahan yang terkontaminasi atau mungkin terkontaminasi dengan obat citotoksik selama peracikan. gunting. gunting kuku dan sebagainya yang dapat menyebabkan orang tertusuk (luka) dan terjadi infeksi. o Limbah laboratorium mikrobiologi: jaringan tubuh. atau materi yang berkontak dengan pasien yang menjalani haemodialisis (tabung.FTSL ITB Halaman 96 . Sasaran pengelolaan limbah rumah sakit adalah bagaimana menangani limbah berbahaya.15 % dari seluruh volume limbah kegiatan pelayanan kesehatan. digunakan pemisahan dengan kantong-kantong yang spesifik (biasanya dengan warna yang berbeda atau dengan pemberian label). d. filter. pacahan kaca dan sebagainya. tetapi tidak termasuk gigi. organ. vaksin. Untuk limbah yang bersifat umum. dan sebagainya.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 o o o o menimbulkan penyakit. gunting. Katagori yang termasuk limbah ini antara lain jaringan dan stok dari agen-agen infeksi dari kegiatan laboratorium. Tidak termasuk dalam katagori ini adalah urin dan tinja. atau telah tertumpah. sedang bahan-bahan tajam yang terinfeksi diperlakukan sebagai limbah berbahaya. pengangkutan atau tindakan terapi citotoksik Kontainer di bawah tekanan: seperti yang digunakan untuk peragaan atau pengajaran. kaca pecah. syring. Limbah infectious beresiko tinggi perlu ditangani terlebih dahulu dalam autoclave sebelum menuju pengolahan selanjutnya atau sebelum disingkirkan di landfill. namun bisa pula dibuang ke landfill bila dilakukan pengumpulan terpisah dan pengaturan pembuangan o Kantong warna biru muda atau transparans strip biru tua : limbah yang harus masuk ke autoclave sebelum ditangani lebih lanjut. Limbah yang telah dipisahkan dimasukkan kantong-kantong yang kuat (dari pengaruh luar ataupun dari limbahnya sendiri) dan tahan air atau dimasukkan dalam kontainer-kontainer Enri Damanhuri . Kontainer-kontainer dibawah tekanan (aerosol dan sebagainya) tidak boleh dimasukkan ke dalam insinerator. bulu.

Sb. garam-garam perchlorat. karena limbah jenis ini kadangkala toksik dan flammable. kantong tersebut diberi label atau simbol yang sesuai. Ca. decahydronaphthalene. Disamping warna yang seragam. Fe. Ca). Mg Ca. vinylidene chloride. K). transportasi limbah ini bisa menggunakan cara pneumatis dengan perpipaan. Mobilitas dan transportasi limbah baik internal maupun eksternal hendaknya dipertimbangkan sebagai bagian menyeluruh dari sistem pengelolaaan dari institusi tersebut. cyclohexane. methyl acethylene. etylene glycol dimethyl ether (glyme). asam picric. Bagi limbah kimiawi yang tergolong tidak berbahaya. phosphorus oxychloride. Mg. tanda-tanda dan tata caranya. sulfuryl chloride. Si. reagen alkyl lithium. NH4). namun cara ini tidak boleh digunakan untuk limbah patologis dan infectious. dioxane. garam-garam picrat. Mg. lactic dan garamgaramnya (Na. chlorotrifluoroethylene. S. K). dicyclopentadiene. bromida (Na. butadiene. o Water reactive: logam-logam alkali dan alkali tanah. dan diisi secukupnya agar dapat ditutup degan mudah dan rapat. Secara internal. Limbah yang akan diangkut ke luar. Contoh limbah kimiawi yang tidak tergolong berbahaya adalah: o kelompok kimia organik: asetat (Ca. perchloric acid. As. Ca dan NH4). tetrahydrofuran. K. misalnya jenis kontainer. Mg. Limbah kimiawi berbahaya yang tidak dapat didaur-ulang segera dipisahkan sesuai dengan jenisnya dan pengolahannya. NH4. Li. Ca). misalnya oleh Dinas Kebersihan setempat. khlorida (Na. asam-asam amino dan garamgaramnya. tetrahydronaphtalene. Namun kontainer maupun kantong-kantong yang digunakan harus jelas tertulis atau tertandai sebagai limbah tidak berbahaya. phosphorus pentoxide. Limbah radioaktif juga harus mempunyai tanda-tanda yang standar dan disimpan untuk menunggu masa aktifnya terlampaui sebelum dikatagorikan limbah biasa atau limbah berbahaya lainnya. Limbah reaktif yang berasal dari rumah sakit adalah senyawa-senyawa seperti: o Shock sensitive: senyawa-senyawa diazo. o Bahan reaktif lain: asam nitrit diatas 70%. o 24 bulan: acetat. K. larutan. Mg. phosphor (merah dan putih). logam halida dari Al. diethylene glycol dimethil ether (diglyme). vinyl chloride. harus tidak mengandung resiko terhadap kesehatan pengangkut tersebut. K. Aturan yang berlaku bagi limbah kimiawi dari rumah sakit ini adalah identik dengan penangan limbah kimiawi dari sumber industri. maka limbah ini dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam kontainer untuk ditangani seperti limbah biasa. polynitroaromatic.larutan boron trifluorida. sulfat (Na. K. thionyl chloride. Seluruh bahan kimia peroksida di atas harus diberi tanggal begitu digunakan dan penyimpanannya (setelah dibuka) terbatas dengan lama penyimpanan maksimum: o 3 bulan: diethyl ether. Na. K. Bila digunakan kantong dan terlebih dahulu harus masuk autoclave. o 12 bulan: acrylonitrile. Ca). flourida (Ca). dan Na. Kontainer harus ditutup dengan baik sebelum diangkut. Di rumah sakit modern. Mg. diatur seperti halnya aturanaturan yang berlaku pada limbah berbahaya lain.K). asam citris dan garam-garamnya (Na. bahan kimia peroksida. sehingga tidak boleh dibuang melalui sistem riolering. borat (Na. misalnya melalui sebuah insinerator. K. Karbonat (Na. limbah biasanya diangkut dari titik penyimpanan awal manuju area penampungan atau menuju titik lokasi insinerator. B. metal azide. maka bila memungkinkan untuk didaur ulang. sodium amide. Ca dan NH4). Limbah berbahaya dari rumah sakit yang akan diangkut. Kantong-kantong yang digunakan dibedakan dengan warna yang seragam dan jelas. K. K). nitro cellulose. diacetylene. Alat angkutan atau sarana pembawa tersebut harus dicuci secara rutin dan hanya digunakan untuk membawa lim bah. gula dan sebagainya o kelompok kimia anorganik: bikarbonat (Na. P. isoprophyl ether. maka kantong-kantong itu harus bisa ditembus oleh uap sehingga sterilisasi dapat berlangsung sempurna. Su dan Ti. Ca). reagen Grignard. iodida (Na.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 logam. hidrida dari Al. Secara umum jenis pengolahan limbah rumah sakit adalah : Enri Damanhuri . vinyl ether. Mg. oksidaoksida (B.FTSL ITB Halaman 97 .

kantong-kantong yang digunakan untuk membungkus limbah juga harus diinsinerasi. Kontainer-kontainer di bawah tekanan: di landfilling atau didaur-ulang. manometer dan sebagainya dikumpulkan untuk didaur-ulang .FTSL ITB Halaman 98 . sedang residunya yang mungkin mengandung logam-logam berbahaya dibuang ke landfill yang sesusai.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 a. Limbah berpotensi menularkan penyakit (infectious): Memerlukan sterilisasi terlebih dahulu atau langsung ditangani pada insinerator . limbah jenis ini tidak di autoclave karena disamping tidak mengurangi toksiknya juga dapat berbahaya bagi operator o Beberapa jenis limbah kimia berbahaya juga dihasilkan dari bagian pelayanan alat-alat kesehatan.merkuri dari termometer. o Solven yang tidak diredistilasi harus dipisahkan antara solven yang berhalogen dan nonhalogen. dan dapat disatukan dengan limbah domestik o Seluruh makanan yang telah meninggalkan dapur pada prinsipnya adalah limbah bila tidak dikonsumsi dan sisa makanan dari bagian penyakit menular perlu di autoclave dulu sebelum dibuang ke landfill. Limbah farmasi: obat-obatan yang tidak digunakan dikembalikan pada apotik. f. Limbah patologis: o Pengolahan yang dilakukan adalah dengan sterilisasi. Limbah kimia: o Bagi limbah kimia yang tidak berbahaya. Enri Damanhuri . autoclave tidak dibutuhkan bila limbah tersebut telah diwadahi dan ditangani secara baik sebelum diinsinerasi. baik secara on-site maupun off-site. dan umumnya disimpan untuk menunggu waktu paruhnya telah habis. yaitu di bawah 1 megabecquerel (MBq) o Limbah radioaktif dari rumah sakit dapat dikatakan tidak mengandung bahaya yang signifikan bila ditangani secara baik o Penangan limbah dapat dilakukan di dalam area rumah sakit itu sendiri. misalnya: disinfektan. c. limbah jenis ini dilarang untuk diinsinerasi karena akan menghasilkan gas toksik – Larutan-larutan pemerosesan dari radioaktif yang banyak mengandung silver dapat direklamasi secara elektrostatis – Batere-batere bekas dikumpulkan sesuai jenisnya untuk didaur-ulang seperti : merkuri. h. Limbah umum: o Tidak diperlukan pengolahan khusus. xylene. untuk kemudian disingkirkan sebagai limbah non-radioaktif biasa d. sehingga perlu ditangani sesuai jenisnya e. Benda-benda tajam: Dikemas dalam kemasan yang dapat melindungi petugas dari bahaya tertusuk. b. kadmium. solven berhalogen membutuhkan penanganan khusus dan solven non. oli dari trafo dan kapasitor atau dari mikroskop yang mengandung PCB dan sebagainya. insinerator tersebut harus dilengkapi dengan sarana pencegah pencemaran udara. Limbah radioaktif: o Bahan radioaktif yang digunakan dalam kegiatan kesehatan/medis ini biasanya tergolong mempunyai daya radioaktivitas level rendah. nikel dan timbal o Insinerator merupakan sarana yang paling sering digunakan dalam menangani limbah jenis ini.halogen dapat dibakar pada on-site insinerator o Limbah cytotoxic dan obat-obatan genotoxic atau limbah yang terkontaminasi harus dipisahkan. dikemas dan diberi tanda serta dibakar pada insinerator. acetone dan alkohol lainnya yang dapat diredistilasi – Solven organik lainnya yang tidak toksik atau tidak mengeluarkan produk toksik bila dibakar dapat digunakan sebagai bahan bakar – Asam-asam khromik dapat digunakan untuk membersihkan peralatan gelas di laboratorium. sebelum dibakar dalam insinerator g. sedangkan yang tidak dipakai lagi ditangani secara khusus misalnya diinsinerasi atau di landfilling atau dikembalikan ke pemasok. atau didaur-ulang untuk mendapatkan khromnya – Limbah logam . insinerasi dilanjutkan dengan landfilling o Insinerasi merupakan metode yang sangat dianjurkan. penanganannya adalah identik dengan limbah lainnya yang tidak termasuk katagori berbahaya o Konsep penanganan limbah kimia yang berbahaya adalah identik dengan penjelasan sebelumnya yang terdapat dalam diktat ini tentang limbah berbahaya o Beberapa kemungkinan daur-ulang limbah kimiawi berbahaya misalnya : – Solven semacam toluene.

cairan pmbersih. kosmetik. pembersih toilet. obat-obatan. shampo anti ketombe. pada kemasan bahan-bahan tersebut biasanya tertera aturan penyimpanan. asam cuka. tidak terlepas dari penggunaan bahan berbahaya. − di garasi/taman. termasuk pula bekas pewadahannya seperti bekas cat. cat dan solven pengencer. seperti tertera dalam Tabel 7. Tabel 7. Oleh karenanya. Produk pembersih: − bubuk penggosok abrasif : korosif − pembersih mengandung senyawa amunium dan turunannya : korosif − pengelantang : toksik. soda kaustik. yaitu : − di dapur. misalnya tidak terpapar pada temperatur atau diletakkan agar tidak terjangkau oleh anak-anak. namun dapat pula masih tersisa pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari seperti dalam sayur mayur dan buah-buahan.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 2 LIMBAH BERBAHAYA DARI RUMAH TANGGA Bahan sehari-hari yang digunakan di rumah tangga dewasa ini. aki bekas Di lingkungan pedesaan serta di lingkungan yang mungkin terlihat asri. seperti : parfum. maka bahan tersebut akan menjadi limbah.5 6. air freshener. penyimpanan dan pengelolaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. minyak tanah. gas elpiji. spiritus / alkohol − di kamar mandi dan cuci. semir. perekat.FTSL ITB Halaman 99 . oli mobil. seperti : korek api. kamfer. penggunaan bahan berbahaya agaknya juga sulit dihindari.1 di bawah ini. seperti adanya lapangan golf dan sebagainya menambah intesifnya penggunaan bahan biosida yang umumnya resistan dan bersifat biokumulasi serta mendatangkan dampak negatif dalam jangka panjang bagi manusia yang terpaparnya. iritasi mata atau kulit. korosif − pembersih saluran air : korosif − pengkilap mebel : mudah terbakar − pembersih kaca : Korosif (iritasi) − pembersih oven : korosif − semir sepatu : mudah terbakar − pengkilap logam (perak) : mudah terbakar Enri Damanhuri . Pencampuran dua atau lebih dapat pula menimbulkan masalah. yang dampaknya disamping akan menghasilkan residu yang terbuang pada badan penerima alamiah. yang kemungkinan besar tetap berkategori berbahaya. Kegiatan agrowisata.0 16. seperti kesulitan bernafas.1 7. pembunuh nyamuk − di ruang keluarga. pembunuh kecoa − di kamar tidur. seperti : cairan setelah mencukur. hairspray. kepala pusing. seperti : pembersih saluran air. Survai yang dilakukan di Amerika Serikat menggambarkan porsi limbah pada sampah kota yang berasal dari bahan yang biasa digunakan di rumah di Amerika Serikat. obat-obatan. batere. khususnya di kota.1: Limbah berbahaya dari rumah tangga Komponen Penggunaan untuk pembersih Penggunaan untuk perawatan badan Produk untuk otomotif Cat dan sejenisnya Penggunaan rumah tangga lain Persen 40. Efek pada kesehatan manusia yang paling ringan umumnya akan terasa langsung karena bersifat akut. tanung bekas pewangi ruangan.4 30. alkohol. seperti : pestisida dan insektisida. pupuk. Pada dasarnya bahan berbahaya tidak akan menimbulkan bahaya jika pemakaian. Bahanbahan tersebut digunakan dalam hampir seluruh kegiatan di rumah tangga. lamban. kaporit atau desinfektan.0 Contoh di bawah ini lebih lanjut menggambarkan karakteristik bahaya dari bahan yang biasa digunakan di rumah tangga tersebut di atas : a. seperti penggunaan biosida dalam kegiatan pertanian. Bila bahan tersebut tidak lagi digunakan.

mudah meledak Bahan tersebut dapat pula menimbulkan bahaya lain bila bercampur satu dengan yang lain. toksik d.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 − penghilang bintik noda : mudah terbakar − pembersih toilet dan lantai: korosif − pembersih karpet/kain : korosif. seperti timbulnya : o Gas toksik: bila pembersih mengandung senyawa amonia bercampur dengan pengelantang mengandung khlor o Ledakan: bila tabung sisa bahan yang digunakan secara penyemprotan terbakar di bak sampah Hasil studi di Amerika Serikat oleh USEPA menyimpulkan bahwa 0. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain adalah : Enri Damanhuri . minyak tanah : mudah terbakar.35-0. misalnya : − Bila dibakar dalam insinerator. yang membatasi jumlah limbah minimum perbulan yang terkena aturan pengelolaan limbah B3. Namun adanya bahan tersebut dalam sistem pengolahan limbah kota dapat menimbulkan terganggunya proses pengolahan yang ada. atau dari kegiatan industri lainnya. Di Indonesia agaknya bila didasarkan atas porsi limbah yang masuk ke landfill. nilai ini akan lebih tinggi mengingat bahwa yang masuk ke landfill bukan saja dari rumah tangga. yaitu minimasi dan daur ulang limbah.40 % sampah pemukiman yang dibuang ke lahan-urug kota termasuk kategori limbah B3. Perawatan badan: − shampo (anti ketombe) : toksik − penghilang cat kuku : toksik. atau terlepasanya logam-logam berat toksik akibat terpapar dengan temperatur tinggi − Terganggunya proses biodegradasi sistem pengolahan air limbah atau pengolahan di landfilling − Terganggunya produk kompos bila bila tidak dilakukan pemilahan terlebih dahulu Penanganan limbah berbahaya di rumah tangga sebetulnya mempunyai pendekatan yang sama dengan industri. toksik − pelarut / tiner : mudah terbakar − baterei : korosif dan toksik − khlorin kolam renang : korosif dan toksik − biosida anti insek : toksik. mudah terbakar − herbisida. Limbah ini akan masuk ke dalam sistim pengelolaan sampah kota.FTSL ITB Halaman 100 . Selain berasal dari pemukiman penduduk. Produk otomotif : − cairan anti beku : toksik − oli : mudah terbakar − aki mobil : korosif − bensin. penghasil limbah misalnya dari rumah tangga dapat membuang limbahnya bersama sampah kota bila jumlah per bulannya tidak melebihi nilai tersebut. mudah terbakar b. tetapi dapat berasal dari kegiatan medis. mudah terbakar − minyak wangi : mudah terbakar − kosmetika : toksik − obat-obatan : toksik c. termasuk limbah patologis. Dengan aturan tersebut. oli bekas dari bengkel dan sebagainya. Di Amerika Serikat dikenal konsep small-quantity generator. seperti dari usaha benatu (laundry dan dry cleaning). limbah berkatagori sampah kota yang berbahaya dapat pula berasal dari kegiatan komersial atau perkantoran. dibolehkan membuang limbah jenis tersebut ke dalam sistem penyaluran limbah kota. sisa tinta dari usaha percetakan/foto-kopi. Produk rumah tangga lain : − cat : mudah terbakar. Di bebarapa negara bagian di Amerika Serikat. pupuk : toksik − aerosol : mudah terbakar. akan menghasilkan ledakan yang membahayakan akibat tabung pewadah.

baik untuk digunakan sendiri. ditukarkan dengan produk lain. walapun dengan membeli lebih banyak diperoleh biaya persatuannya yang lebih murah Penggunaan produk yang biodegradabel atau terdaur-ulang Pemanfaatan kembali limbah yang terbentuk. atau mungkin saja masih bernilai untuk dijual Penanganan limbah atau wadah yang akan dibuang secara baik sesuai petunjuk yang diberikan Enri Damanhuri . dan apakah telah digunakan semestinya Pembelian yang sesuai kebutuhan. aturan penggunaan.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 − − − − − − Pemilihan produk yang disertai penjelasan lengkap tentang komponen bahan yang digunakan. disertai pengetahuan tentang seberapa lama suatu produk habis digunakan. penyimpanan dan cara pembuangan limbah atau wadah bekasnya Penggunaan produk sesuai kebutuhan. diberikan kepada yang membutuhkan.FTSL ITB Halaman 101 .

T. 1984 Diouhy. P. 1960 Cookson Jr. E. 1994 Ehrenfeld. J. July 1990 Chanlett. Lewis Publisher.Y. 1986 Damanhuri. February 1992 Center for Chemical Process Safety : Guidelines for hazard evaluation procedures.A. 1973 Collins. DTC ITB . E. 2. Elsevier Sci. : Chemical hazards at water and wastewater treatment plant. : Policy for cleaner production .workshop implementasi konvensi Basel tentang impor & ekspor limbah scrap logam. McGraw-Hill Kogakusha Ltd. J.Final report. 1984 Enri Damanhuri . Wiley & Sons Inc.T. PPLH ITB.centralized hazardous waste and toxic waste treatment facility GKS region .. : Hazardous waste incineration.T. 1993 BAPEDAL : Survey industri penyamakan kulit di Sukaregang . J. 1992 CCME (Canada) : Guidelines for the management of biomedical waste in Canada CCME-EPCWM-42. : Organo metallic compounds in the environment.Garut. R.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 DAFTAR PUSTAKA BAPEDAL : Perencanaan teknis sistem pengolahan air limbah industri penyamakan kulit skala kecil Sukaregang . : Bioremediation engineering.R.C. Serpong 9 Januari 1996 Djajadiningrat. 1994 Buzzi. : Radioactive wastes.International seminar on clean products and clean production technologies for sustainable industrial development.waste wanagement paper no. Robert Laffont. : Almanach cousteau de l'environnement. : Diktat kuliah pengelolaan limbah B3 TL-352 Edisi Semeter II 1993/1994. 1992 Dept. : Disposal of radioactive waste. Bandung June 15-16.Cileungsi Jawa Barat. McGraw-Hill Book Co. Noyes Publications.Jend PPM & PLP : Pedoman Sanitasi RS.J. 1982 Direktorat Pengelolaan Limbah B3 BAPEDAL : Kebijaksanaan impor-ekspor limbah B3 dan non B3 . 1990 Departemen Kesehatan RI . of the Environment (UK) : Clinical waste . Longman Group Limited. C. S. Bass. 1995 Cousteau.Goethe Institut.FTSL ITB Halaman 102 . J.Dit. J. 1992 CH2M Hill International : Feasibility study . Publishing Co. : Environmental protection. 1981 Craig. 1992 Brunner. Z. McGraw-Hill Book Co. American Institute of Chemical Engineers. : Evaluation of remedial action unit operations at hazardous waste disposal sites. Teknik Lingkungan ITB Dames & Moore : Laporan studi kelayakan PPL-B3 .Garut. LAPI ITB.

John Willey & Sons. : Dechets industriels. R. 1994 LaGrega.an IAEA source book.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Freeman. 1982 Kugelman. Jakarta 14 September 1993 Kusumaatmadja. : Hazardous waste treatment technologies. Noyes Publications. 1993 Institution of Civil Engineers : Design and practice guided . A : Tenaga atom dan aspek keselamatan. J.H.J. : Hazardous waste minimization. 1994 Kiang. R. J. S. H. 1991 Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup : Kemitraan nasional dalam pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan : Hasil rapat koordinasi nasional I pengelolaan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan t ahun 1994. 1995 Enri Damanhuri .J. McGraw-Hill Book Co. McGraw-Hill Book Co. 1988 Gagnet. Indonesian waste minimization seminar. : Land disposal of hazardous waste. I. M. DTC ITB Goethe Institut. Vamos. : Government and industry cooperative efforts promoting waste minimization. : Hazardous waste processing technology. 1988 Haas. A.L. : Bumi lestari menuju abad 21. R. Bandung June 15-16.M. 1986 Mann..L.A.FTSL ITB Halaman 103 .P. Gateway Books. Proceedings of the 17th Mid-atlantic industrial waste conference. Powell. : Hazardous and industrial waste treatment. (Editor) : Toxic and hazardous wastes.. A. McGraw-Hill Book Co. Ann Arbor Science.S. Jakarta 22-24 November 1994 Keating.D. Vienna 1992 Jackman. M. : 1995 Guide to industrial estates in Indonesia. C. Semester II 1995/1996 Hirschorn. 1985 Kusnoputranto. R. Thomas Telford. M.I.K. Prentice Hall Inc. : Cleaner production and clean product. A. 1995 Hanafia WS. Kohpalindo. Seminar penanganan limbah rumah sakit sebagai upaya mengurangi beban pencemaran lingkungan.J.M. Technomic Publishing Co. 1993 Gronow. Bahan kuliah program pasca sarjana Teknik Lingkungan. M.. Technique et documentation .N. Kennedy. Jain.Inc.. 1995 International Atomic Energy Agency : Radioactive waste management . A.contaminated land. 1990 Freeman. : Benefits from industrial application of waste minimization. Y. Metry.Lavoisier.R. H. USAID background paper # 1. Indonesian waste minimization seminar.. (Editor in chief) : Standard handbook of hazardous waste treatment and disposal. : Hazardous waste management.N. 1994 Maes. International seminar on clean products and clean production technologies for sustainable industrial development. : Kualitas limbah rumah sakit dan dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan. H. Schofield.. USAID background paper # 2.

PrenticeHall.G.W. Z.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Martin. Chesters. : Wastewater treatment technology. Ann Arbor Science. 1982.H. 1978 Novotny. M. Van Nostrand Reinhold Co..J.L. second edition.Tantangan Masa Depan. : Implikasi impor limbah di Indonesia . Noyes Data Co. Proceeding seminar : Waste and sustainable development. : Industrial water pollution.J. 1982 Sittig. C. 1994 Secretariat d'etat a l'environnement et la qualite de la vie : Analyse et caracterisation des dechets industriels. V.J. McGraw-Hill Ltd. 1991 Meyer. Van Nostrand Reinhold Co. Pergamon Press. 1975. Proceedings seminar nasional pengelolaan lingkungan ITB . 1981 Otorita Batam : Rencana detail sistem pengelolaan sampah dan limbah industri di wilayah otorita pengembangan daerah industri pulau Batam. John Wiley & Sons. Noyes Data Co. Lewis. 1987 Masters.BPP Teknologi . Johnson.M. 1994 Rachmawati.. G. BPP Teknologi. 1992 Sharma. : Handbook of non-point pollution. A. Prentice-Hall. R.. Pesticide Action Network (PAN) Indonesia. Prentice Hall Building. Farquhar. 1989 Ministere de l'evironnenment (France). dan Gayatri (Penyunting) : Ingatlah bahaya pestisida .UNESCO. : Hazardous waste management engineering.P. A. Pajak. Englewood Cliffs. J. : Environmental quality management. G.. .FTSL ITB Halaman 104 . : Industrial waste land disposal.T. Guide pour l'elimination et la valorisation des dechets industriels. Inc. Robinson.H. : Introduction to environmental engineering and science. Goethe Institut Jakarta . : Hazardous waste handbook. ANRED Moo-Young. C. 1980 Nemerow. S. G.D. ISBN 979-8456-00-9. 1979 Enri Damanhuri . Studi kasus industri kecil di ‘Gerbangkertasusila’ Jawa Timur. : Environmental system engineering. G.D. Inc. E. : Hazardous waste leachate management manual. Saidi.waste stabilization and landfills. Englewood Cliffs. : Pengelolaan terpusat buangan B-3 dari industri kecil. 1973 Ross. : Waste treatment and utilization.. Bandung1993 Rich. Butterworths.bunga rampai : residu pestisida dan alternatifnya. 8. Van Nostrand Reinhold Co. Shuckrow. . H. Touhill. A.. 1985 Riza V. L. : Chemistry of hazardous materials. Jakarta Decembre 14-17. Cahiers No.W.P.. H. M. E. 1975 Porteous.. 1984 Sewell.J.. Addison-Wesley Publishing co. Damanhuri. E. E. 1993/1994 Patterson. : Landfill disposal of hazardous wastes and sludges. N. : Waste containment systems .

. WHO/EHE/94.. Copenhage 1983 Anonymous: State of the Environment in Asia and the Pasific. 1994 Enri Damanhuri . 12083-IND Indonesia environment and development .. Ingatlah behaya pestisida . Pesticide Action Network. EPA/625/6-89/024. 1993 United Nations Economic and Social Council : Review of sectoral clusters.Bunga rampai . John Wiley and Sons Inc.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Sjöblom. C.. .the London Convention 1972... M. : Hazardous waste management..Residu pestisida dan alternatifnya.F.. G. : Hazardous waste identification and classification manual. : Integrated solid waste management.A. : Sea disposal of radioactive wastes . EPA/600/6-88/001 Wagner. fisrt phase : toxic and chemical and hazardous wastes.FTSL ITB Halaman 105 .challengers for the future... Van Nostrand Reinhold 1977 World Bank .A. Van Nostrand Reinhold..1 World Health Organization : Management of waste for hospitals. 1994 World Health Organization : Healthy and productive lives in harmony with nature. Economic and Social Commision for Asia . T. Mott and K.P.17/1994/7 USEPA : Handbook of operation and maintenace of hospital medical waste incinerator.. Theisen. March 21. PT Prasadhana Pamunah Limbah Industri. Report on a WHO meeting.. Geneva. January 1990 USEPA : Treatment potential for 56 EPA listed hazardous chemicals in soils. 1989 Wilson. K. Vigil. IAEA Bulletin 2/1994 Tchobanoglous. Snyder : Pesticide alert. McGraw-Hill Book. 1990 Waxman. New York 1995 Anonymous: Pusat pengolahan limbah industri berbahaya dan beracun (PPLI-B3). Linsley.the Pasific. 1996 Wentz. H. G.. S. WHO Regional Office for Europe. L. : Handbook of solid waste management. D. McGraw Hill Book.Report no.G. E/CN. : Hazardous waste site operations.L..

pengolahan. pengelolaan limbah radioaktif (sumber. penyimpanan dan pengangkutan Dokumen pengangkutan. beberapa kasus dunia tentang B3/limbah B3 (Minamata.FTSL ITB Halaman 106 . reaktif (pada air). -----) Minggu 10: Idem minggu sebelumnya Minggu 11: Limbah berbahaya kegiatan medis dan rumah tangga Sumber limbah medis. UU-74/2001. Tugas A masuk Mingu 9: Bahan radio aktif dan limbahnya Sifat-sifat radioaktif (isotop. peluluhan. informasi tingkat bahaya.TL FTSL ITB Minggu 1: Pendahuluan Latar belakang. penggolongan limbah.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 RENCANA KULIAH TL-3204 PENGELOLAAN B3 SEMESTER II . toksik. limbah berbahaya dari rumah tangga. simbol dan label. penanganan limbah medis. Kabut dioxin Seveso) Minggu 2: Peraturan dalam pengelolaan B3 Penggunaan bahan kimia. api dan kelas dalam kebakaran. penanganan Minggu 12 sampai Minggu 14: diskusi kelompok Tugas B Enri Damanhuri . mudah terbakar. produk yang tidak sengaja dihasilkan Minggu 8: Ujian Tengah Semester. pengemasan-pewadahan.). mekanisme cradle-to-grave Minggu 4: Pelabelan. ---. karakteristik B3 versi undang-2. pestisida. oksidator-reduktor Minggu 7: Bahan kimia organik berbahaya Bahan kimia turunan hidrokarbon. uraian lanjut tentang pengelolaan B3 versi PP 18/99 jo PP85/99. bahan kimia industri. Konvesi Stockholm tentang pencemar organik yg persisten Minggu 3: Peraturan dalam pengelolaan limbah B3 Besaran limbah B3. unit satuan. pengangkutan Minggu 5: Labeling dan MSDS Karakteristik umum kimia berbahaya. UU-32/2009 ttg LH. penyimpanan. Love Canal. dokumen MSDS Minggu 6: Sifat-sifat berbahaya bahan kimia Bahan kimia korosif.

Bagian IV dan Bagian V. khususnya dengan memasukkan ulasan-ulasan ataupun gagasangagasan yang didasarkan atas tulisan-tulisan seperti peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia atau di negara lain atau dari buku-buku referensi. Referensi harus jelas dicantumkan. Mahasiswa diminta membuat paper yang membahas sebuah bahan atau limbah. Bahasan-bahasan tersebut harus cukup komprehensif. atau dalam laporan-laporan yang bisa diperoleh di website. oli bekas. khususnya yang biasa dijumpai sehari-hari. dan sebagainya. Tesis. untuk dipresentasikan dan didiskusikan di kelas. lalu mengaitkan dengan kasus yang pernah terjadi baik di dalam negeri maupun di luar negeri yang muncul di masmedia.FTSL ITB Halaman 107 . atau dari bahanbahan lainnya yang dapat mendukung ulasan-ulasan tersebut.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 TUGAS A Mahasiswa diminta membuat paper yang membahas sebuah bahan berbahaya dari berbagai literatur atau dari website. Referensi harus jelas tercantum. termasuk bagaimana seharusnya mengelola dan menghindari terjadinya permasalahan. bahan kimia di laboratorium. Disertasi) yang ada di perpustakaan. Enri Damanhuri . seperti aki bekas. TUGAS B Merupakan tugas kelompok maksimum beranggotakan 10 orang. Naskah tertulis tersebut kemudian dibuatkan bahan presentasinya. selengkap-lengkapnya seperti diuraikan dalam Bagian II. misalnya Power Point. atau dari karya ilmiah mahasiswa (Tugas Akhir.