Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

DIKTAT KULIAH TL-3204

PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)

DISIAPKAN OLEH : PROF. ENRI DAMANHURI

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
EDISI SEMESTER II 2009/2010
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 1

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI 2 KATA PENGANTAR 3 BAGIAN I : PENDAHULUAN 1 Umum 4 2 Kasus kucing menari di Minamata 7 3 Kasus love canal (Amerika Serikat) 8 4 Kasus kabut dioxin si Seveso (Italia) 10 5 Kasus Kepone di Hopewell (Amerika Serikat) 11 6 Kasus laha Stringfellow di Kalifornia 12 BAGIAN II : PERATURAN DALAM PENGELOLAAN B3 1 Umum 13 2 Pengelolaan B3 dalam PP 74/2001 14 3 Karakterisasi B3 menurut PP74/2001 18 BAGIAN III : PERATURAN DALAM PENGELOLAAN LIMBAH B3 1 Umum 21 2 Pengelolaan limbah B3 dalam PP18/99 jo PP85/99 22 3 Konsep cradle-to-grave Amerika Serikat 30 BAGIAN IV : PELABELAN, PENYIMPANAN DAN PENGANGKUTAN 1 Umum 35 2 Dokumen 35 3 Simbol dan label 36 4 Pengemasan dan pewadahan 40 5 Penyimpanan dan pengumpulan 44 6 Pengangkutan 48 BAGIAN V : SIFAT DAN KARAKTERISTIK BAHAN KIMIA BERBAHAYA 1 Umum 50 2 Kelas kebakaran 51 3 Informasi tingkat bahaya 52 4 Dokumen material safety data sheets (MSDS) 5 Bahan kimia korosif 56 6 Bahan kimia yang reaktif pada air 60 7 Bahan kimia toksik 64 8 Senyawa pengoksidasi 71 9 Beberapa senyawa organik berbahaya 75 BAGIAN VI : LIMBAH RADIOAKTIF 1 Umum 81 2 Sifta-sifat radioaktivitas 81 3 Pengelolaan limbah radioaktif 85 BAGIAN VII LIMBAH MEDIS DAN RUMAH TANGGA 1 Limbah medis 94 2 Limbah berbahaya dari rumah tangga 99

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 2

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

KATA PENGANTAR

Diktat ini disusun untuk membantu mahasiswa yang mengambil mata kuliah TL3204 Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Kurikulum-2008 pada Program Sarjana Teknik Lingkungan FTSL ITB. Bahan kuliah ini merupakan penyesuaian dari Diktat Kuliah TL-352 Pengelolaan Limbah B3, yang mulai diperkenalkan pada Program Sarjana Teknik Lingkungan ITB Kurikulum 1993. Pada kurikulum-kurikulum sebelum 1993, materi ajar tentang limbah B3 secara terpisah tercakup dalam beberapa mata kuliah yang membahas masalah penanganan limbah. Sejak Kurikulum 2008, materi kuliah Pengelolaan Limbah B3 berganti nama menjadi Pengelolaan B3, yaitu mempertegas bahwa materi kuliah ini bukan hanya membahas limbah, tetapi juga bahan yang berbahaya. Diktat ini disusun dengan acuan 14 sesi pertemuan tatap muka dalam semester II di ITB, termasuk 3 sesi diskusi tugas di kelas. Beberapa bagian dari diktat ini membahas materi yang akan dibahas lebih rinci lagi dalam mata kuliah yang berada pada semester yang lebih tinggi, sehingga materi yang ada dalam diktat ini dapat dikatakan bersifat umum untuk memberikan gambaran secara utuh tentang Pengelolaan B3. Untuk penyusunan diktat ini digunakan beberapa rujukan literatur dari negara industri seperti tercantum dalam Daftar Pustaka. Beberapa rujukan yang sangat dominan dalam penyusunan diktat ini dicantumkan secara khusus pada setiap akhir Bagian. Walaupun diktat ini bertujuan untuk membantu mahasiswa yang mengambil mata kuliah TL-3204 pada Program Sarjana, namun bahan yang diberikan pada Diktat ini relevan untuk digunakan pula pada Program Magister, serta tidak tertutup kemungkinan bahwa diktat ini bisa bermanfaat pula bagi mereka yang berminat dengan masalah bahan dan limbah B-3, sebab sangat jarang sekali bahan ajar ini ditulis secara utuh dalam Bahasa Indonesia. Semoga bermanfat bagi kita semua. Bandung, Februari 2010 Prof. Enri Damanhuri Program Sarjana Teknik Lingkungan FTSP ITB

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 3

delapan. Peraturanperaturan tentang masalah ini telah banyak dikeluarkan oleh Pemerintah. Kimia merupakan salah satu ilmu pengetahuan alam. Pasal 58 sampai Pasal 61 UU-32/2009 mengatur larangan membuang dan mengatur pengelolaan limbah dan B3. menempatkan masalah bahan dan limbah berbahaya sebagai salah satu perhatian utama. yang kemudian naik menjadi 60% pada tahun 1990. lebih dari 85% hasil industri Indonesia berasal dari kegiatan industri yang berlokasi di Pulau Jawa. juga menimbulkan dampak negatif tidak hanya pada pusatpusat industri dan daerah sekitarnya tetapi juga pada tingkat nasional. kegiatan medis dan kegiatan pertanian Undang-Undang No. Filipina. 4/1982). yang berkaitan dengan komposisi materi. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (menggantikan UU No. Senyawa-senyawa kimia sintetis inilah yang banyak dihasilkan oleh peradaban modern.Pergeseran jenis industri Sektor lain yang berpotensi dampak negatif pada lingkungan adalah kegiatan pertambangan . dan sepuluh kali lipat. Masalah limbah menjadi perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah Indonesia. terutama di daerah industrialisasi yang berkembang dengan cepat seperti di negara-negara ASEAN dan China. khusunya sejak dekade terakhir ini.FTSL ITB Halaman 4 . Bandung dan Semarang) terdapat sekitar 36% dari total industri di Pulau Jawa.Distribusi spasial yang belum merata . terutama akibat perkembangan industri yang merupakan tulang punggung peningkatan perekonomian Indonesia. dengan definisi sebagai bahan berbaya dan beracun. Perkembangan industri disamping berdampak positif pada perkembangan ekonomi. manusia dapat mengontrol dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan manusia. tetapi di Enri Damanhuri . Sekitar 55% dari pusat-pusat industri di Pulau Jawa berlokasi di daerah perkotaan. Selanjutnya Peraturan Pemerintah (PP) No. Dengan mengetahui komposisi dan memahami bagaimana perubahan terjadi. Surabaya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN I PENDAHULUAN 1 UMUM Penggunaan kimia dalam kebudayaan manusia sudah dimulai sejak zaman dahulu. dan Thailand diprakirakan telah meningkat menjadi sekitar empat. akibat dampaknya terhadap manusia dan lingkungan bila tidak dikelola secara baik. termasuk juga perubahan yang terjadi di dalamnya. baik secara alamiah maupun sintetis.Kecepatan pertumbuhan sektor industri . Di empat kota saja (Jakarta. namun materi ini pulalah yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang berbahaya. Intensitas atau perbandingan antara limbah bahan berbahaya yang ditimbulkan dengan unit hasil industri secara mencolok juga meningkat. Pelepasan bahan berbahaya pada tahun 1990-an di Indonesia. yang setara dengan sekitar 27% dari seluruh hasil industri Indonesia. 74/2001 mengatur lebih lanjut tentang pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3). regional dan lingkungan secara global. Menurut World Bank ada 3 pola pertumbuhan industri yang perlu diperhatikan. Pada permulaan tahun 1970-an.perminyakan. dan PP 18/99 juncto 85/99 mengatur lebih lanjut tentang pengelolaan limbah B3. yaitu : .

atau jika kontribusi sektor industri itu sendiri menurun. pemilihan jenis mesin dan sebagainya. bahkan pertumbuhan industri negara-negara sedang berkembang di wilayah ini lebih menonjol. misalnya pembuangan limbah berbahaya negara maju ke negara yang sedang berkembang. sehingga biaya pengolahannya dapat ditekan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 lapangan banyak mengalami hambatan. akan mempengaruhi karakter limbah yang tidak terlepas dari proses industri itu sendiri. Masalah penanganan limbah berbahaya ini juga merupakan obyek dagang yang tidak terpuji. Sebagian dari limbah industri tersebut berkatagori hazardous waste. kegiatan kesehatan (seperti limbah infectious dari rumah sakit) atau dari kegiatan rumah tangga (misalnya penggunaan batere merkuri). Tingginya jumlah limbah industri yang dihasilkan per unit hasil industri merupakan salah satu dari masalahmasalah utama yang ada. Namun pengadaan dan pengoperasian sarana pengolah limbah ternyata masih dianggap memberatkan bagi sebagian industri. Walaupun demikian. naphta ke kerosene. kegiatan enersi (seperti limbah radioaktif PLTN). Namun sebagian besar jenis limbah yang dihasikan. Masyarakat industri menghasilkan produk mulai dari gasoline. padanan kata untuk Hazardous Waste yang digunakan di Indonesia adalah Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dan disingkat menjadi Limbah B3. seperti dari aktivitas pertanian (misalnya penggunaan pestisida). yaitu berubahnya jumlah pencemaran yang ditimbulkan per unit hasil industri. biasanya berasal dari kegiatan industri. industri memfokuskan dirinya pada produksi plastik dan pestisida. tidak hanya pada pusat-pusat industri dan daerah sekitarnya. Secara keseluruhan. Limbah berkatagori non-hazardous tidak perlu ditangani seketat limbah hazardous. timbulan limbah berbahaya pada tahun 1984 diprakirakan sekitar 300 juta ton. Setelah berakhirnya Perang Dunia II. bukan saja mengakibatkan kenaikan timbulan limbah secara dramatis. sektor industri telah mengakibatkan beban pencemaran : − Melalui peningkatan kuantitas cemaran dalam jangka waktu pendek dan menengah. pemilihan proses produksi. Tetapi jenis limbah ini berasal pula dari kegiatan lain.FTSL ITB Halaman 5 . sehingga dapat mengurangi kemiskinan. tetapi juga pada tingkat nasional. terganggunya kesehataan masyarakat serta penurunan kualitas ekologi lingkungan. Penanganan limbah merupakan suatu keharusan guna terjaganya kesehatan manusia serta lingkungan pada umumnya. Penemuan minyak (petroleum) pada pertengahan tahun 1880 menyebabkan meningkatnya produk kimia organik disertai limbahnya. Mulai dari penggunaan bahan baku. Keaneka ragaman jenis limbah akan tergantung pada aktivitas industri serta penghasil limbah lainnya. Di Amerika Serikat misalnya. Industrialisasi yang cepat telah menciptakan sebuah peluang baru untuk mendistribusikan hasil-hasil pembangunan dengan lebih efektif di negara-negara tersebut. Dampak negatif akibat limbah tersebut adalah kontaminasi sumber-sumber air. regional dan lingkungan secara global. industrialisasi juga menimbulkan dampak secara langsung. Revolusi industri dan penggunaan bahan kimia organik yang terus meningkat setelah perang dunia ke 2. − Melalui perubahan intensitas pencemaran terhadap hasil industri. Sebelum krisis ekonomi 1997. Beberapa negara di wilayah ini malah menghasilkan limbah dalam jumlah yang tinggi. dalam jangka waktu panjang kuantitas cemaran mungkin menurun jika terjadi perubahan yang drastis dengan adanya industri yang lebih bersih lingkungan. Sesuai dengan PP 18/99 juncto 85/99. Manusia membutuhkan lebih banyak jenis produk baru yang akhirnya menghasilkan limbah yang spesifik. Enri Damanhuri . namun pula menimbulkan masalah toksisitas dari limbah tersebut. walaupun limbah tersebut berasal dari industri. negara-negara di wilayah Asia and Pasifik secara keseluruhan memperlihatkan pertumbuhan industri yang kuat bila dibandingkan dengan tempat-tempat lain di dunia.

cat dan zat warna. Dalam hal ini.000 ton pada tahun 1990 menjadi sekitar 1 juta ton pada tahun 2010. Bahan pencemar berbahaya dan beracun yang dihasilkan oleh industri adalah seperti logam berat. Bandung dan Semarang. namun beban cemarannya secara absolut akan meningkat sekitar 10 kali. yang ditandai dengan meningkatnya cemaran-cemaran toksik dan logam-logam bioakumulatif. yaitu industri proses akan tumbuh lebih lambat dibanding industri perakitan. Filipina. Timbulan logam-logam berat dari industri di wilayah Asia dan Pasifik telah dinilai melebihi nilai batas ambang yang aman. Di pulau Jawa khususnya. 70 % industri berlokasi di kawasan-kawasan perkotaan dan sekitarnya. Bila industri yang terlibat dalam komoditi proses terus meningkat di masa datang. delapan. Selama periode 1984-89. The US Office of Technology and Assessment memprakirakan bahwa biaya pemulihan semua tempat yang telah diidentifikasi di Amerika Serikat adalah sekitar US $ 500 milyard. yaitu dari 70 % pada saat ini menjadi 60 % pada tahun 2020. yang berpotensi menghasilkan limbah biosida. termasuk bertambahnya biaya dan resiko akibat pencemaran lingkungan. diantaranya terdapat 161 kasus (10%) yang menyebabkan kematian. akan menambah beban bagi sumber daya alam.FTSL ITB Halaman 6 . pestisida. Intensitas atau perbandingan antara limbah berbahaya yang ditimbulkan dengan unit hasil industri secara mencolok juga meningkat. Departemen Kesehatan melaporkan sebanyak 1614 kasus keracunan. Menurut analisa Bank Dunia (1994). pelepasan bahan berbahaya ini di Indonesia. Mengacu pada pengalaman negara industri seperti Amerika Serikat. Namun kontribusi sektor-sektor lain juga perlu pula mendapat perhatian terutama dari : − Kegiatan medikal dan laboratorium. Bila strategi pengembangan industri tidak berubah seperti periode tersebut.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Pengelolaan limbah berbahaya telah menjadi perhatian Pemerintah Amerika Serikat semenjak penemuan tempat pengurugan limbah yang tidak memenuhi syarat di Love Canal. Tingkat pencemaran pestisida dan pengaruhnya terhadap kesehatan di Indonesia sulit untuk diprakirakan. sianida. dan 85 % diantaranya akan terkonsentrasi di daerah perkotaan. peranan sektor industri akan berkontribusi besar dalam produksi limbah berbahaya. Biaya implementasi sebuah program pengontrolan dan penyediaan sarana sebetulnya akan lebih kecil dibandingkan dengan upaya pemulihan lahan yang tidak dikelola secara baik. Ciliwung. Lebih dari 75 % diantaranya merupakan cemaran-cemaran logam yang bioakumulatif. Menurut WHO telah terjadi 3 juta kasus keracunan pestisida Enri Damanhuri . Sampai tahun 1994. terutama di daerah industrialisasi yang berkembang dengan cepat seperti di negara-negara ASEAN dan China. dari tahun 1970 sampai 1990 limbah penduduk dan industri telah menurunkan kualitas air sungai di bagian hilir seperti Cisadane. Pada waktu itu juga ditemukan sejumlah besar tempat-tempat yang terkontaminasi oleh limbah berbahaya di seluruh dunia. Surabaya. Kegiatan industri juga sangat berpotensi menghasilkan limbah berbahaya. minyak. yaitu sekitar 2/3 dari total cemaran di Indonesia. Dilaporkan pula oleh Bank Dunia bahwa intensitas pencemaran dari limbah berbahaya ternyata cenderung meningkat sejak tahun 1970. pelarut. kontribusi industri terhadap pencemaran akan menurun. Kali Berantas dan Citarum. di Indonesia akan terjadi pergeseran komposisi industri secara sektoral. industri proses dinilai lebih intensif terhadap pencemaran. yang berpotensi menghasilkan limbah toksik dan infectious − Kegiatan pertanian dan agro-wisata. Secara keseluruhan. dan zat kimia berbahaya lainnya. dan Thailand diprakirakan telah meningkat masing-masing menjadi sekitar empat. dan sepuluh kali lipat. yang diprakirakan akan meningkat kurang dari 200. Kali Surabaya. kontribusi pulau Jawa terhadap cemaran-cemaran toksik akan cenderung stabil. New York. Pada daerah perkotaan di Indonesia seperti di Jakarta.

Tetapi Chisso paada awalnya belum dicurigai sebagai penyebab. tetapi tidak mendapatkan hasil memuaskan. hanya diketahui bahwa korban mengalami keracunan akibat memakan ikan yang berasal dari laut sekitar pabrik itu.1956 gejala yang dikenal sebagai "kucing menari" ditemui pula pada manusia. Chisso Chemical Corporation membuka pabrik pupuk kimia di Minamata (terletak di pulau Kyushu. yang dapat menyerang syaraf dan otak. Tahun 1952 timbul penyakit aneh pada kucing yang kadangkala berakhir dengan kematian. Chisso mempekerjakan penduduk setempat (sekitar 1/3 tenaga pekerjanya). termasuk logam berat.00005 maka diprakirakan kasus kematian karena pestisida di Indonesia adalah sekitar 9000 per tahun. Kasus ini lama kelamaan terungkap. dan biasanya digunakan sebagai katalis. Jepang Selatan). Kasus Minamata ini terkenal di dunia bila membicarakan masalah industri. walaupun diketahui bahwa merkuri digunakan sebagai katalis proses dari pabrik tersebut. Penduduk di sekitarnya adalah nelayan atau petani. yaitu sejumlah ikan mati tanpa diketahui sebabnya. keberadaan peraturan perundang-undangannya ataupun kesiapan masyarakatnya. karena korban umumnya mengandung merkuri yang berlebihan pada Enri Damanhuri .contoh tentang masalah limbah B3 dan pengelolaannya diambil dari pengalaman negara industri. tanpa mengetahui penyebab masalah ini. yang digunakan sebagai katalis dalam prosesnya.FTSL ITB Halaman 7 . tetapi tidak tercantum merkuri dalam daftar tersebut. Hampir semua kasus tadi (90-99%) terjadi di negara-negara yang sedang berkembang. Dalam diktat ini. Pencemaran mercuri tetap berlanjut. Kasus penyakit ini juga terus berlanjut. Pengalaman negara industri dengan masalah limbah B3 nya hendaknya memberikan masukan bagi pengambil keputusan atau fihak-fihak terkait di Indonesia untuk tidak menyebabkan kasus-kasus yang terjadi di negara industri tersebut terulang lagi di negara Indonesia. yang terungkap setelah sekitar 600 ton merkuri. Pada tahun 1714 Gabriel Fahrenheit menggunakan merkuri ini untuk termometer. dibuang secara bertahap sekitar 45 tahun. yang secara kenyataan telah lebih maju dari Indonesia baik dari segi keberadaan industrinya. dan terutama menyerang anak-anak. dengan prakiraan 70 . Asosiasi industri kimia Jepang juga membantu Chisso dalam melacak masalah ini dengan melakukan penelitian-penelitian. atau fihak-fihak lain pada umumnya akan pentingnya pengelolaan limbah B3 terutama bagi negara Indonesia yang diharapkan akan menjadi negara industri dalam masa mendatang. Mikroorganisme dalam air mengkonversi logam ini menjadi methylmercure. 2 KASUS PENYAKIT "KUCING MENARI" DI MINAMATA Pada tahun 1932. Dengan asumsi rata-rata kasus kematian karena pestisida seluruh dunia sebesar 0. Berikut ini akan diberikan illustrasi berbagai kasus yang menyangkut bahan atau limbah B3 dari negara industri. Chisso memberikan santunan pada korban dan yang meninggal. dan berada fasa cair pada suhu biasa. Tahun 1956 masyarakat sekitarnya mengadakan aksi menentang keberadaan Chisso. khususnya Amerika Serikat guna memberikan gambaran kepada mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini pada khususnya. contoh.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 akut dan 220.000 kematian setiap tahunnya di seluruh dunia. Merkuri didapat di alam. limbah dan kesehatan masyarakat. Sinyal pertama kasus ini datang pada tahun 1950.100 tahun akan persistan di alam. Beberapa diantaranya meninggal dunia. Penelitian penyebab penyakit tersebut secara intensif dilakukan oleh pemerintah. sedang mercuri organik bersifat biokumulasi. Antara tahun 1953 . Merkuri alamiah dapat dievakuasi oleh tubuh manusia secepatnya melalui urin. merupakan logam warna putih-perak. sehingga tidak menimbulkan masalah sosial pada awal pendiriannya. Chisso kemudian mengeluarkan daftar bahan yang digunakan dalam pabriknya.

dan pemerintah menyatakan bahwa Chisso adalah penanggung jawab penyakit yang berjangkit di Minamata. Hooker Chemical and Plastic Corporation yang memproduksi bahan kimia di daerah tersebut mulai mengurug limbahnya pada bagian utara Love Canal yang belum terselesaikan. maka galiannya langsung terisi air tanah berwarna kuning. Segala upaya dicoba untuk Enri Damanhuri . Pada suatu pagi di tahun 1974. tetapi hal ini dianggap alamiah. Pada tahun 1958 tiga anakanak mengalami luka bakar akibat terpapar dengan residu yang muncul ke permukaan. Tahun 1952 kanal tersebut ditutup oleh Hooker Chemical. Seorang keluarga di dekat Love Canal melahirkan anak dengan cacat fisik dan mental. pestisida dan hasil industri antara lainnya. Sebagian dari lahan tersebut dijadikan taman bermain. Fihak Hooker menjual sebagian kanal tersebut ke pengelola kota hanya seharga US $ 1. Bahkan Angkatan Darat Amerika Serikat juga mengurug sejumlah besar residu senjata biologis walaupun secara resmi fihak Pentagon menolak tuduhan tersebut. 22 Maret 1979 dua pemimpin Chisso . termasuk pula abu sisa pembakaran dari kota. 8100 penduduk mengklaim hal ini. Disamping itu. Sampai tahun 1947 dapat dikatakan daerah tersebut menjadi lahan pengurugan beragam jenis limbah terutama dari industri. Pembangunan dimulai tahun 1893. Sekolah kemudian dibangun berdampingan dengan daerah yang sebelumnya adalah pengurug limbah industri. yang pada saat itu telah berumur 77 tahun dan 68 tahun. endrin atau dari bahan organik berklor lainnya seperti pelarut berkhlor akan mendatangkan masalah bagi lingkungan di kemudian hari. yang terproduksi dalam jumlah besar. 3 KASUS LOVE CANAL (AMERIKA SERIKAT) Dengan dibangunnya pembangkit listrik tenaga air di Niagara Falls pada tahun 1890. Sering dijumpai anak-anak bergembira menemukan residu fosfor yang dapat menimbulkan bunga api bila dilemparkan ke permukaan yang berbatu. masing-masing sepanjang seperempat mil. Produk kimia yang dihasilkan antara lain adalah natrium hidroksida. Tahun 1978. dengan sifat yang sangat tajam.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 tubuhnya. Belum seorangpun yang menyadari bahwa keuntungan dari pestisida seperti DDT. Pengembangan penelitian menghasilkan alternatif pemanfaatan produk samping ini menjadi bahan organik berkhlor seperti plastik. yang merupakan produk elektrolisa natrium khlorida. dan menyisakan dua bagian yang tidak terhubungkan. khususnya industri kimia. Niagara Falls menjadi pusat industri. William T. Pada tahun 1930-an. dihukum masing-masing 2 tahun dan 3 tahun penjara. biru dan ungu. yang dapat menghanguskan akar pohon sekitarnya. Ketika kolam ini dibongkar. korban kasus ini menerima santunan yang dibebankan pada Chisso. Direncanakan bahwa di sekitar kanal tersebut akan dibangun kawasan industri dan pemukiman untuk memanfaatkan tenaga listrik yang ada. Tahun 1953 fihak kotamadya meminta Hooker Chemical untuk menjual sebagian lahan kanal tersebut untuk pembangunan sekolah baru. Tahun 1976 sekitar 120 penduduk Minamata meninggal karena keracunan merkuri dan 800 orang menderita sakit. maka industri menjadi berkembang pesat di daerah tersebut. Namun pembangunan kanal tersebut tidak dilanjutkan. Tahun 1959 sebuah keluarga lain mendapat masalah di lantai bawahnya (basement) dengan adanya lumpur hitam yang masuk ke dalamnya. Elektrolisa ini juga menghasilkan produk samping (by-product) yang tidak diinginkan yaitu khlor. satu keluarga mendapatkan kolam renang mereka menjadi lebih tinggi sekitar 60 cm. dan 1500 diantaranya yang diperiksa diketahui keracunan merkuri. Pada saat itu fihak pemerintah dan industri belum mengetahui akibat samping dari produk ini. sepanjang sekitar 7 mil.FTSL ITB Halaman 8 . Akhirnya pembuangan merkuri dihentikan dengan ditutupnya pabrik tersebut. Love pada tahun 1892 merencanakan membuat sebuah kanal yang akan dapat menghubungkan bagian hulu dan hilir sungai Niagara.

masalah Love Canal mulai diketahui dan diperhatikan. Hooker mengemukakan bahwa teknologi yang mereka gunakan adalah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pendapat ini tetap berlangsung sampai pemerintah negara bagian mulai ikut campur. Hasilnya adalah bahwa udara di daerah tersebut mengandung bahan-bahan toksik yang berada di atas ambang threshold-limit value (TLV). Namun dibutuhkan dana untuk melaksanakan kegiatan ini. Keluhan mereka pada fihak pemerintah kota tidak ditanggapi. sehingga Pemerintahan Carter pada saat itu memerintahkan evakuasi sekitar 700 keluarga lagi.000 ton limbah kimia. Mulai tahun 1976. telah diurug di lahan-urug tersebut. mencegah kemungkinan pelindian di masa datang dan menutup kanal. Dari sudut teknik. Sejumlah besar cairan hitam masuk memenuhi ruangan. diantaranya pembuatan drainase untuk mengalirkan lindi dan memompanya ke suatu tangki pengumpul untuk kemudian diolah sebelum dialirkan kembali pada sistem penyaluran air buangan kota. Kegiatan remediasi tersebut dianggap terlalu lambat oleh penduduk sekitarnya. chloform dan trichloroethylene. yang tetap digunakan oleh Pemerintahan Carter. Sebagian besar dari anggota keluarga ini secara rutin mengalami gangguan fisik seperti iritasi. Akhirnya mereka membuat lobang untuk mengetahui apa yang terdapat di balik tembok. Namun akhirnya dicapai kesepakatan di pengadilan antara 1345 penduduk dengan Occidental Petroleum. Sejak saat itu. tetapi pemerintah negara bagian menolak sampai adanya kejelasan kompensasi bagi penduduk. Pemerintah negara bagian memerintahkan komisi kesehatan melakukan penelitian. Berdasarkan pertemuan dengan penduduk setempat.FTSL ITB Halaman 9 . dan memerintahkan memagari sekeliling lahan serta memberikan ventilasi pada basement yang tercemar. Akhirnya pada tahun 1977 fihak pemerintah kota mengakui adanya masalah ini. Enri Damanhuri . Mereka menginginkan kompensasi yang lebih dari itu. cepat lelah. termasuk diantaranya 11 jenis cemaran penyebab kanker seperti benzene. susah tidur dan diantaranya juga cacat mental. sakit kepala. Peraturan pertama yang dikeluarkan oleh pemerintah negara bagian adalah menghentikan sama sekali pelindian yang tidak terkendali. namun tetap tidak ingin menentukan yang bertanggungjawab. Dengan bantuan USEPA. senyawa-senyawa toksik berhalogen terdeteksi pada sistem penyaluran air buangan kota. Hooker Chemical akhirnya mengeluarkan pernyataan bahwa sekitar 22. Suatu recana perbaikan dan penyembuhan (remedial) mulai dirancang. Kanal tersebut juga ditutup setebal 2. Survai kesehatan juga dimulai dan dijumpai bahwa keguguran spontan ternyata 250 kali lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. maka diputuskan penutupan sekolah dan pengungsian anak-anak dan wanita yang sedang hamil yang tinggal berdekatan dengan kanal. Kelahiran cacat fisik dan mental juga sering dijumpai. induk perusahaan Hooker Chemical.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 menghentikannya. Delapan bulan setelah kejadian kolam renang di atas. Analisa lebih lanjut menemukan bahwa cemaran kimia dalam konsentrasi tinggi telah mencemari air tanah. Disamping itu. walaupun pemerintah negara bagian mengajukan tuntutan denda pada Hooker Chemical sebesar US$ 635 juta. 237 keluarga akhirnya diungsikan. dan yang sedang merencanakan membangun pusat kegiatan senilai US $ 17 juta. agaknya mereka tidak ingin mengganggu kegiatan Hooker yang telah mempekerjakan sekitar 3000 penduduk setempat. dilakukan pengambilan sampel udara di beberapa basement rumah di daerah tersebut.5 meter tanah kedap untuk menghindari masuknya air dari luar. Sampel darah yang diambil juga menunjukkan indikasi adanya kerusakan hati yang meningkat. Mereka menganggap bahwa masalah ini bukanlah suatu krisis yang besar. diantaranya 200 ton trichlorophenol. sejumlah limbah kimia mulai muncul di halaman beberapa rumah. Studi pada tahun 1980 mengemukakan adanya bukti kerusakan khromosom pada penduduk.

karena ternyata bukan hanya lahan ini saja yang secara peraturan sebetulnya telah sesuai dengan yang berlaku. yaitu kasus transportasi dioxin antar negara. Area A penduduknya dievakuasi. Atom chlor pada senyawa PCDD menghasilkan sampai 75 isomer dengan toksisitas yang sangat bervariasi.3. Sekitar 1 Kg dioxin terbuang ke udara membentuk kabut melewati ribuan hektar sekitar bencana. 4 KASUS KABUT DIOXIN DI SEVESO (ITALIA) Salah satu kasus limbah berbahaya yang terkenal adalah peristiwa kabut dioxin di Seveso (Italia). yaitu dilapis bentonit dan lembaran polyethylene.3.7.4. Ternyata penanggung jawab upaya pembersihan daerah Seveso tersebut mengirimkan 41 drum limbahnya untuk ditimbun di luar Italia.FTSL ITB Halaman 10 .trichlorophenol untuk disinfektan. Pembersihan daerah terkontaminasi merupakan usaha besar-besaran yang dilakukan. Daerah tersebut kemudian dijadikan taman.binatang seperti terpanggang. dan tidak ditulis sebagai 'Dioxin'. Efek 2. Pengiriman ini bersifat rahasia. dan dilarang menggunakan barang-barangnya. tetapi penduduknya rupanyanya sudah terbiasa.8-TCDD. Kecelakaan terjadi pada tanggal 10 Juli 1976.5. didirikan di kota kecil Meda (dekat Seveso). namun akhirnya beritanya tersebar di daratan Eropa dan menjadi pemberitaan hangat selama 9 bulan. Tanah terkontaminasi dikupas sedalam rata-rata 5 cm. Seveso terletak di Italia Utara. Agaknya dioxin ini menimbulkan tumor yang berbeda untuk organ yang berbeda. Pada temperatur yang sesuai. ke Jerman Timur Enri Damanhuri . Landfilling dalam tanah dilakukan dalam 2 lubang dengan proteksi kuat. Pabrik tersebut dibangun dan dioperasikan oleh Industrie Chemiche Meda Societe Aromia (ICMESA).7. industri farmasi Swiss. Penduduk di sekitarnya dievakuasi. dan para peneliti baru sampai pada tahap awal dalam memahami efek toksisitas dioksin ini pada manusia. Hoffman-La Roche memilih Seveso sebagai lokasi pabriknya di Italia.8-Tetrachlorodibenzo-p-dioxin (2. bukan dari Seveso (tempat yang dikenal untuk kasus ini). Drum tersebut berlabel 'bahan hidrokarbon aromatis'. Drum tersebut diangkut oleh dua perusahaan swasta ke tempat yang tidak dispesifikasi secara jelas. Pekerjaan ini membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun. Anak-anak dengan langsung menunjukkan gejala chloracne pada mukanya dan bagian lain di tubuhnya. Pohon-pohon terkontaminasi ditebang. Dioxin adalah nama umum untuk grup polychlorinated dibenzodioxins (PCDD). sedang asalnya ditulis dari Meda.7.7. guna memproduksi 2. Kegiatan remediasi lahan yang terkontaminasi akhirnya menjadi salah satu program yang digalakkan di Amerika Serikat bagi lahan yang tercemar. terutama dalam posisi lateral (2.3. binatang. Kasus tersebut ternyata tidak berhenti di sana. Informasi yang didapat menyatakan bahwa drum tersebut akan diangkut ke Inggeris untuk diinsinerasi. Ibuibu yang hamil dianjurkan untuk menggugurkan kandungannya. dengan timbulnya suatu kasus yang cukup meggegerkan daratan Eropa Barat pada tahun 1981. Pemerintah Italia akhirnya memutuskan penggunaan teknik insinerasi dan landfilling bagi komponen-komponen pabrik tersebut. Pabrik ini menghasilkan asap yang berbau.3. namun semuanya sebagai penimbul agen kanker (carcinogen). Akhir 1960-an.7. Isomer yang sangat aktif dan mempunyai potensi toksisitas tinggi adalah yang mempunyai 4 sampai 6 atom chlor. dan prianya dihawatirkan mengalami kerusakan pada fungsi genetiknya. Daerah sekitarnya dibagi menjadi 2 area bahaya.3.8-TCDD ini terhadap spesies binatang ternyata berbeda. Daun-daun pohon di sekitarnya menjadi rontok.8-TCDD) dengan toksisitas akut.8) seperti 2. ketika reaktor akan dipanaskan dan terjadi retak pada katup pengamannya. terutama pada pabrik itu sendiri yang tercemar berat. kosmetik dan herbisida. reaksi kimiawi yang terjadi menghasilkan 2.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Kasus Love Canal menyebabkan adanya perbaikan dan pengetatan peraturanperaturan yang berlaku di Amerika Serikat dalam menangani limbah B3.

dan disanalah dimulainya bencana kimiawi di USA. Tindakan berikutnya melibatkan US EPA (US Environmental Protection Agency). Agustus 1975 LSP didenda US$ 16500. Darah yang diambil dari pekerja tersebut menunjukkan kandungan kepone antara 2 .1960. Di beberapa tempat. sedang pabrik kepone pada tahun 1975 ditutup.600 ppm.5 tahun dikeluarkan dari Seveso. masyarakat Eropa sadar akan pentingnya peraturan yang ketat tentang pengelolaan limbah berbahaya. Allied memproduksi kepone di Hopewell. Namun karena pasaran meningkat. Disamping itu.1 . ternyata 40 % dari total partikulat adalah kepone. Sebetulnya buruh di sana sudah mengeluh terhadap kondisi ini tetapi manajemen LSP tidak memperhatikan hal ini.1 . secara periodik limbah dari LSP masuk ke sistem penyaluran air buangan dan pengolahan limbah kota. Kepone dikembangkan oleh Allied sekitar tahun 1950-an.72 ppm. Tetapi tidak satupun yang sampai. dan harus mengeluarkannya dari Perancis. Pihak Hoffman-La Roche harus bertanggung jawab untuk itu. yaitu pada November 1985.600 ppb.20 ppm. sedangkan standar yang berlaku adalah 100 ppb. Lumpur dari pengolah limbah mengandung kepone 200 . sebagai negara asal industri tersebut. Tahun 1973 pembuatan kepone disubkontrakkan pada LSP sementara Allied tetap menangani polimer. limbah ini membunuh bakteri di sistem digester pengolah limbah. Beberapa saat kemudian. 2 minggu setelah produksi penuh. Pada tahun 1973 Allied Chemical mensubkontrakkan pembuatan pestisida pada Life Sciences Product (LSP) yang dikenal dengan nama kepone. Debu kepone menutup lantai sampai beberapa inch dan memenuhi udara dalam pabrik. Ikan di dekat sungai James mengandung kepone 0. Dalam 2 bulan.000 pound pada tahun 1972.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 untuk ditimbun di lahan-urug industri dan ke Jerman Barat untuk dikubur dalam bekas tambang. sedangkan konsentrasi tertinggi yang pernah diamati adalah 5 ppm. tanaman dan limbah kota Hopewell serta sungai. Pencemaran udara juga telah meluas ke sekitar pabrik itu. dan dibawa ke Swiss. Kemudian 31 pekerja yang dirawat di Rumah Sakit. Maret 1974. Yang dijumpai pada pabrik kepone tersebut ternyata lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya.000 pound pada tahun 1965 menjadi 400. Penelitian selanjutnya mengungkapkan bahwa LSP melanggar aturan-aturan kesehatan dan keselamatan kerja yang berlaku. Berangkat dari pengalaman tersebut. dijumpai masalah kesehatan diantara karyawannya. Allied juga memproduksi sendiri. Dinas kesehatan setempat kemudian menginvestigasi industri kepone tersebut setelah salah seorang pekerja dinyatakan keracunan kepone. Lumpur dari pengolah limbah yang belum terolah secara baik langsung dibuang secara illegal ke lahan-urug.FTSL ITB Halaman 11 . sedang sungai James sendiri mengandung kepone 0. ternyata LSP telah mengeluarkan efluen kepone sebesar 500 . udara. EPA kemudian melakukan sampling air minum. ternyata drum tersebut tersembunyi di suatu area pejagalan hewan di Perancis. Produksinya dikontrakkan pada Hooker Chemical antara 1950 .USA) memprolamirkan dirinya sebagai chemical capital of the south. Kemudian dioxin tersebut baru diinsinerasi setelah 2. Produksi tahunan meningkat dari 36. 5 KASUS KEPONE DI HOPEWELL (AMERIKA SERIKAT) Hopewell (Virginia . Pemerintah akhirnya memutuskan bahwa pabrik Enri Damanhuri . baik Allied maupun LSP secara illegal membuang kepone ke sungai James yang bermuara di Chesapeake Bay. Masyarakat Ekonomi Eropa mencanangkan program kontrol bagaimana menangani dan mentransportasi limbah kimiawi yang berbahaya diantara anggotanya.4 ppb. Sembilan bulan kemudian setelah dilakukan pencarian yang melibatkan semua fihak di negara terkait.

namun ternyata lahan ini juga bocor dan akhirnya ditutup. Selama itu sekitar 30 juta galon (113. dan masih dibutuhkan sekitar 65 juta US $ untuk mentuntaskan permasalahan. : Hazardous waste management. Sekitar 800. Lahan-urug lain. McGraw-Hill Book Co.FTSL ITB Halaman 12 .4 juta US$. tetapi dianggap belum dimonitor secara benar.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 itu untuk 'dilucuti'. Namun biaya yang ditanggung Allied untuk operasi tersebut akhirnya menjadi US $ 394000. M. : Hazardous waste management. Allied diminta untuk bertanggung jawab operasi detoksifikasi tersebut dengan rencana biaya sebesar US $ 175000. juga menerima sekitar 70. misalnya 120 pedagang ikan yang merasa dirugikan karena mereka memperoleh ikannya dari sungai James yang tercemar. Studi geologi sebelumnya menyimpulkan bahwa lahan tersebut berada di atas bedrock yang kedap. Hasil interpretasi yang salah juga dilakukan oleh sebuah konsultan lain pada tahun 1977.000 gal/hari (265 m3) dari Stringfellow. − Membangun sumur-sumur pemantauan. dengan menganggap bahwa pencemaran air tanah yang terjadi berasal dari limpasan air permukaan bukan dari lahan tersebut. Referensi Utama: o Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia – UNDP: Agenda 21 Indonesia. maka diprakirakan tidak akan terjadi pencemaran air tanah. 1989 Enri Damanhuri . dan 4 juta gallon (15140 m3) air tercemar dialirkan ke lahan-urug West Covina. C.A. dan dengan membuat penghalang beton di hilirnya. McGraw-Hill Book.D. Casmalia Resources. 6 KASUS LAHAN STRINGFELLOW DI KALIFORNIA (USA) Lahan Stringfellow di Glen Avon (Kalifornia-USA) telah digunakan untuk menimbun limbah cair B3 dari tahun 1956 sampai 1972. Sekitar 15 juta US $ telah dihabiskan untuk program tersebut.000 penduduk. − Menempatkan lapisan clay untuk mengisolasi.550 M3) limbah cair B3 telah ditimbun. Prakiraan biaya untuk menyingkirkan dan mengolah seluruh cairan dan tanah yang terkontaminasi pada tahun 1977 sekitar 3. Maret 1997 o LaGrega. − Menetralisir tanah terkontaminasi dengan abu semen kiln. Ternyata evaluasi berikutnya menyatakan bahwa lahan itu sebetulnya tidak cocok untuk limbah cair B3 dan terjadilah pencemaran air tanah. yaitu : − Meyingkirkan cairan terkontaminasi ke lahan yang lain. dengan program pengolahan in-situ terhadap air tanah yang tercemar. Interpretasi hasil analisis air tanah pada tahun 1972 ternyata juga salah. dan biaya yang ditanggung akhirnya membengkak berlipat ganda dengan adanya tuntutan dari orang yang merasa dirugikan.000 gallon (3028 m3) air tercemar dialirkan ke area di hilirnya. Estimasi biaya pada tahun 1974 meningkat 4 kali lipat dengan cara tersebut. tetapi LSP tidak sanggup untuk operasi tersebut. 1994 o Wentz. Lahan ini juga berlokasi di atas akuifer Chino Basin yang merupakan sumber air minum bagi sekitar 500. Akhirnya Pemerintah memilih cara yang lebih murah.

Beberapa peraturan yang secara langsung akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas limbah B3 yang dihasilkan adalah peraturan-peraturan yang mengatur masalah bahan berbahaya. Secara spesifik pengelolaan B3 ini telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.148/M/SK/4/1985 tentang pengamanan bahan beracun dan berbahaya di lingkungan industri − Keputusan Menteri Pertanian No. energi. Semua yang berkaitan dengan ketenaga atoman pada dasarnya diatur oleh Undang-undang No.FTSL ITB Halaman 13 . Bahan POPs ini akan dibahas lebih lanjut dalam Bagian 5 Diktat ini. yaitu : − Peraturan Pemerintah No. mengangkut. 82 Tahun 1985 tentang Badan Tenaga Atom Nasional.270/7/1985 tentang pengawasan pestisida Limbah radioaktif di Indonesia dikelola oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. mengedarkan. baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup. menyimpan.724/Kpts/TP. penyimpanan dan penggunaan pestisida − Peraturan Menteri Kesehatan No.33 Tahun 1985 tentang Dewan Tenaga Atom dan Badan Tenaga Atom Nasional dan Keputusan Presiden No. maka Indonesia telah merativikasi konvensi Stockholm melalui Undang-undang No. Konvensi ini bertujuan untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan hidup dari bahan POPs dengan cara melarang. dan/atau membahayakan lingkungan hidup. Terkait dengan penggunaan bahan kimia organik berbahaya. dan/atau komponen lain yang karena sifat. membuang.536/Kpts/TP. menghasilkan. serta mengelola timbunan bahan POPs yang berwawasan lingkungan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN II PERATURAN DALAM PENGELOLAAN B3 1 UMUM Pada dasarnya pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3) di Indonesia mengacu pada prinsip-prinsip dan pedoman pembangunan berkelanjutan yang telah dituangkan dalam Undang-Undang No. 31 Tahun 1964 tentang Enri Damanhuri . Selanjutnya UU-32/2009 menggariskan dalam Ps 58 (1) bahwa setiap orang yang memasukkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lain. dan/atau menimbun B3 wajib melakukan pengelolaan B3.7/1973 tentang pengawasan atas peredaran. konsentrasi dan/atau jumlahnya. memanfaatkan. 19 tahun 2009 tentang Pengesahan Konvensi Stockholm tentang Bahan Pencemar Organik yang Persisten atau Stockholm Convention on Persistent Organic Pollutants (POPs).270/9/1984 tentang larangan penggunaan pestisida EDB − Keputusan Menteri Pertanian No. mengolah. Pasal 1 (21) UU-32/2009 mendefinisikan bahan berbahaya dan beracun (disingkat B3) adalah zat. 32 tahun 2009 sebagai pengganti UU-23/1997 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. yang akan diuraikan lebih lanjut dalam Bagian ini. mengurangi.453/Menkes/Per/XI/1983 tentang bahan berbahaya − Keputusan Menteri Perindustrian RI No. membatasi produksi dan penggunaan.

− Bab XV (pasal 43) : Ketentuan Penutup. Menurut PP 74/2001: ‘bahan berbahaya dan beracun yang selanjutnya disingkat dengan B3 adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya. Pengertian pengelolaan B3 adalah 'kegiatan yang menghasilkan. − Bab X (pasal 37) : Pembiayaan. dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup. atau telah diatur oleh instansi lain berdasarkan konvesi internasional seperti bahan radioaktif. − Bab XIII (pasal 40) : Ketentuan Pidana. Setiap mata rantai tersebut memerlukan pengawasan dan pengaturan. Dalam kegiatan tersebut. maka aspek keselamatan dan kesehatan kerja serta penanggulangan kecelakaan dan keadaan darurat diatur dalam PP tersebut. antara lain karena telah diatur dalam PP lain. 12 Tahun 1975 tentang izin pemakaian zat radioaktif dan atau sumber radiasi − Peraturan Pemerintah No. menggunakan dan atau membuang B3’ (pasal 1 angka 2). menyimpan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Ketentuan-ketentuan pokok tenaga atom. mengimpor. − Bab XIV (pasal 41 dan 42) : Ketentuan Peralihan. mengeksport. Bahan berbahaya yang tidak termasuk yang diatur adalah (pasal 3): Enri Damanhuri . Selanjutnya beberapa peraturan lain di bawahnya antara lain: − Peraturan Pemerintah No. mengedarkan. terkait berbagai fihak yang merupakan mata rantai dalam pengelolaan B3. kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya’ (pasal 2). mendistribusikan. Kelima belas bab tersebut adalah : − Bab I (pasal 1 sampai 4) : Ketentuan Umum. − Bab V (pasal 22 dan 23) : Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Disamping aspek yang terkait dengan pencegahan terjadinya pencemaran lingkungan dan atau kerusakan lingkungan yang menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap fihak yang terkait. Sedangkan sasaran pengelolaan B3 adalah 'untuk mencegah dan atau mengurangi resiko dampak B3 terhadap lingkungan hidup. baik secara langsung maupun tidak langsung. − Bab III (pasal 6 sampai 20) : Tata Laksana dan Pengelolaan B3. mengangkut. Oleh karenanya. − Bab VIII (pasal 32 sampai 34): Peningkatan Kesadaran Masyarakat. − Bab XII (pasal 39) : Ganti Kerugian. kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya’ (pasal 1 angka 1). 13 Tahun 1975 tentang pengangkutan zat radioaktif 2 PENGELOLAAN B3 DALAM PP 74/2001 PP74/2001 tentang pengelolaan berbahaya dan beracun terdiri dari 15 bab yang dibagi lagi menjadi 43 pasal. − Bab VII (pasal 28 sampai 31) : Pengawasan dan Pelaporan. dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup. Tidak semua pengelolaan bahan yang berbahaya diatur oleh PP tersebut. − Bab IX (pasal 35 dan 36) : Keterbukaan Informasi dan Peran Masyarakat. − Bab XI (pasal 38) : Sanksi Administrasi. menggunakan dan membuang bahan tersebut bilamana tidak dapat digunakan kembali. − Bab II (pasal 5) : Klasifikasi B3. pasal-pasal berikutnya mengatur masalah kewajiban dan perizinan bagi mereka yang akan memproduksi (menghasilkan). 11 Tahun 1975 tentang keselamatan kerja terhadap radiasi − Peraturan Pemerintah No. menyimpan.FTSL ITB Halaman 14 . kesehatan. − Bab IV (pasal 21) : Komisi B3. − Bab VI (pasal 24 sampai 27) : Penanggulangan Kecelakaan dan Keadaan Darurat.

Lampiran II . 74 diantaranya dibatasi penggunaannya sampai tahun 2040. Lampiran I PP 74/2001 mencantumkan 209 buah bahan kimia yang tergolong B3 yang dapat digunakan di Indonesia. Reg. PP 74/2001) Dengan demikian.FTSL ITB Halaman 15 . maka berdasarkan penggunaannya di lapangan. Enri Damanhuri . semuanya organik-berhalogen. maka PP tersebut mengklasifikasikan B3 dalam 8 kelompok. B3 dibagi menjadi 3 bagian. yaitu (pasal 5): o Mudak meledak (explosisive) o Pengoksidasi (oxidizing) o Menyala: o sangat mudah sekali menyala (extremely flammable) o sangat mudah menyala (highly flammable) o mudah menyala (flammable) o Beracun: o amat sangat beracun (extremely toxic) o sangat beracun (highly toxic) o beracun (moderately toxic) o Bebahaya (harmful) o Korosif (coorosive) o Bersifat iritasi (irritant) o Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment) o Toksik yang bersifat kronis: o karsinogenik (carcinogenic) o teratogenik (teratogenic) o mutagenik (metagenic) Penjelasan lebih lanjut tentang kriteria kapan sebuah bahan dikelompokkan sebagai B3 akan dijelaskan dalam Butir 3. yaitu (pasal 5): o B3 yang dapat atau boleh dipergunakan di Indonesia (Lampiran I PP 74/2001) o B3 yang dilarang dipergunakan di Indonesia (Lampiran II Tabel 1. narkotika. atau terbatas penggunaannya. atau sama sekali dilarang dipergunakan. apakah diperbolehkan dipergunakan. yang terdapat dalam daftar Lampiran I dan Lampiran II PP 74/2001 tersebut (Tabel 1 sampai Tabel 3). dan penggunaannya di Indonesia disesuaikan dengan kelompok tabel yang berlaku. Untuk mempermudah menentukan B3 yang diatur dalam PP ini. PP 74/2001) o B3 yang terbatas dipergunakan (Lampiran II Tabel 2. dan Lampiran II . Chemical Abstract Sevice yang bersifat universal o Nama bahan kimia o Sinonim/nama dagang o Rumus molekul Berikut ini adalah beberapa contoh bahan kimia B3. maka bahan tersebut termasuk B3.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 o o o o o o o o Bahan radioaktif Bahan peledak Hasil produksi tambang serta minyak gas dan gas bumi dan hasil olahannya Makanan dan minuman serta bahan tambahan makanan lainnya Perbekalan kesehatan rumah tangga dan kosmetika Bahan sediaan farmasi. Setiap bahan kimia dalam daftar tersebut.Tabel 1 mencantumkan 10 bahan B3 yang dilarang pengunaannya. disertai keterangan: o No. bilamana sebuah bahan sudah terdapat dalam lampiran tersebut. psikotropika dan prekursor lainnya Bahan aditif lainnya Senjata kimia dan senjata biologi Untuk menentukan apakah sebuah bahan termasuk dalam kelompok B3.Tabel 2 mencantumkan 45 bahan B3 yang dibatasi pengunaannya di Indonesia.

Cyclo hexatriene Phenol. Phenic acid. Sedang bahan berbahaya lain yang tidak diatur dalam PP ini. Corrosive sublimate. Bila bahan yang akan dimpor adalah termasuk dalam daftar B3 yang terbatas dipergunakan. Penchloraol. Anhidrous hydrochloric acid Hydrogen cyanide. Demikian juga halnya unutk B3 yang diimport dari luar negeri. Triatomic oxygen Penta. Veracur Hydrogen sulphide. Formalin. Caustic soda. Corrosive mercury chloride Sodium hydroxide. Mercury bichloride.2: B3 yang dilarang dalam Lampiran II – Tabel 1 PP 74/2001 No 1 2 No Reg Chemical Abstract Service 309-00-2 57-74-9 Nama Bahan Kimia Aldrin Chlordane Sinonim/Nama Dagang HHDN CD68. maka bahan tersebut terlebih dahulu harus didaftarkan oleh importirnya untuk diregistrasi sebelum secara rutin diimport. Morbicid. dalam hal ini Kementrian Lingkungan Hidup (pasal 6). Carbolic acid. Santhophene 20 Zinc chloride. Bahan tersebut kemudian akan mendapat nomor registrasi sebagai alat kontrol terhadap peredaran B3 di Indonesia. Rumus Molekul C12H8Cl6 C10H6Cl8 Enri Damanhuri . Aci-jel Phosphoric acid. Phenilic acid. 11) Tabel 2. maka sebelum dipergunakan secara luas produsen tersebut harus mendaftarkan terlebih dahulu kepada yang berwenang. PCP.1: Contoh B3 (dapat digunakan) dalam Lampiran I PP 74/2001 No 7 14 16 17 23 24 31 52 54 58 76 78 79 80 81 85 87 98 No Reg Chemical Abstract Service 7664-41-7 64-19-7 7664-38-2 7647-01-0 74-90-8 7664-93-9 71-43-2 108-95-2 50-00-0 7783-06-4 124-38-9 7440-44-0 630-08-0 7782-50-5 67-66-3 7487-97 74-82-8 1310-73-2 Nama Bahan Kimia Amoniak Asam Asetat Asam Posfat Asam Klorida Asam Sianida Asam Sulfat Benzena Fenol Formalin (larutan) Hidrogen Sulfida Karbon dioxide Karbon hitam Karbonmonoksida Klor Kloform Merkuri klorida Methane Natrium Hidroksida Sinonim/Nama Dagang Ammonia Acetic acid. Prussic acid Sulfuric Acid. Oil of Vitriol Benzene.FTSL ITB Halaman 16 . Velsicol 1068. Hydrosulfuric acid Carbonic acid gas Amorphous Carbon monoxide Chlorine Chloroform. Toxichlor. Butter zinc Lead Bromochloroethane Rumus Molekul NH3 CH3COOH H3PO4 HCl HCN H2SO4 C 6H 6 C6H5OH CH2O H 2S CO2 C CO Cl2 CHCl3 HgCl2 CH4 NaOH N2 NO2 O3 C6HCl5O AgNO3 ZnCl2 Pb - 105 7727-37-9 Nitrogen 106 10102-44-0 Nitrogen Dioksida 110 10028-15-6 Ozon 112 87-86-5 Pentaklorofenol 114 7761-88-8 Perak nitrat 122 7646-85-7 Seng Klorida 127 7439-92-1 Timbal (timah hitam) 209 CH2BrCl *) Muncul juga pada Lampiran II – Tabel 2 (no. Oxybenzene Formadehyde solution. maka registrasinya harus diajukan kepada instansi yang bertanggung jawab. Phenyl hydroxide. Mercury perchloride. Niran.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Setiap produsen yang menghasilkan B3 baru yang termasuk diatur dalam PP ini. Hidroxybenzene. Orthophosphoric acid Hydrochloric acid. maka fihak otorita negara yang akan memasukkan bahan tersebut ke Indonesia terlebih dahulu harus menyampaikan notifikasi kepada fihak yang bertanggung jawab di Indonesia (pasal 8). Blausaure. Sodium hydrate Nitrogen Nitrogen dioxide Ozone. sehingga dengan mudah dilakukan pengawasan dan pencegahan terjadinya dampak B3 terhadap lingkungan. Trichlorometthane Mercuric chloride. Hydrogen chloride. Formol. Soda lye. Benzol. Hydrocyanic acid. Sulfurated hydrogen. Tabel 2. misalnya Badan Tenaga Atom Nasional untuk bahan radioaktif.

Chlorobiphenyls. Santotherm C14H9Cl5 C12H8Cl6OH C12H8Cl6OH C10H5Cl7 C10Cl12 C10H10Cl8 C6Cl6 C12X X=H or Cl Tabel 2.5-T Chlordimeform (CDM) Chlorobenzilate Ethylene Dibromida (EDB) Lindane Senayawa merkuri.268: Spanon. ENT 25719. Chlorophenothane.2-dibromoethane. Bunt-cure.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 3 50-29-3 DDT 4 5 6 7 8 60-57-1 72-20-8 76-44-8 2385-85-5 8001-35-2 Dieldrin Endrin Heptachlor Mirex Toxaphene 9 10 118-74-1 1336-36-3 Hexachlorobenzene PCBs Octachlor. Enri Damanhuri . Hexachloropentadienedimer Hercules 3956: Polycholorcamphene.4-hydroxy-2. Arocloc. G23922. Frigen 11. Frigen 114. Penphene. Julins carbon chloride Polychlorinated Biphenyls. Kenachlor.Anorganik merkuri .3: Contoh B3 (dibatasi) dalam Lampiran II – Tabel 2 PP 74/2001 No 1 2 4 6 9 10 No Reg Chemical Abstract Service 93-76-5 2425-98-3 510-15-6 106-93-4 58-89-9 Nama Bahan Kimia 2. Pyralene. Belt. Schering 36. Areton 114 Dibromotetrafluoroethane Bromomethane.2bis(4-chlorophenil)acetate EDB. Quicksilver Trichloromonofluoromethane. D-58. Gulecton. maka ekspor B3 tersebut belum boleh dilaksanakan. Orthochlor. Campeclor. Cryfluorane. Geniphene. PP ini mewajibkan eksportir B3 tersebut untuk menyampaikan notivikasi ke otoritas negara tujuan ekspor. Dicophane. Embafume C6HCl5O Hg CCl3 CCl2F2 C2Cl2F2 C2Rbr2F4 CH3Br *) Muncul juga pada Lampiran I (no. Corodane Dichlorodiphenyltrichloroethane. Ciba-8514. Sebelum ada persetujuan dari otoritas negara tujuan ekspor dan otoritas negara transit. Gesarol. Hydragyrum. Isotron 2 Dichlorotetrafluoroethane. otoritas negara transit dan instansi yang bertanggung jawab di Indonesia terlebih dahulu. Gesapon. Weedone CDM. Prosedur ini adalah sesuai dengan Konvensi Basel yang mengatur lintas batas bahan dan limbah B3 antar negara. Clofenotane.497. Hexadrin E3314. Clophen. Phenacide. Heptamul C6-1283. Bunt-no-more. Sym-dibromoethane Rumus Molekul C8H5Cl3O3 C10H13ClN2 C16H14Cl2O3 C12H4Br2 C6H6Cl6 - 11 21 26 27 29 43 45 87-86-5 7439-97-6 75-69-4 75-71-12 74-83-9 Penta. Fluorotrichloromethane. ENT 17251. Insecticide No.FTSL ITB Halaman 17 . Phenatox.4-dichlorobenzilate. Ethylenebromide. p. Freon 114. Chlorinatedcamphene. Genetron 12. Necide Compound 497. Santhophene 20 Liquid silver. Anticarie. Ethyl 4. Frigen 12. Octalox Compound 268. Ethyl 4.Aryl merkuri Pentaklorofenol* Mercury/Air raksa CFC-11 CFC-12 CFC-114 Halon-2402 Metil bromida Sinonim/Nama Dagang Esterone 245. Phenochlor. Altox. Chlorophenamidine Compound 338. PCP.4. Akar. Agritan. Velsicol 104. Prosedur yang sama diberlakukan bagi B3 yang akan dieksport ke luar negeri (pasal 7).p-DDT. Strobane-T. Fenclor. Acarabene.Alkyloxyalkyl merkuri . Dowfume WW85. Synclor. Motox. Folbex. Halon. Dechlorane. Areton 12. Mendrin. Trioxone. serta dari instansi yang berwenang. ENT 16225. Monobromomethane. termasuk: . Freo 11. 112) Jawaban boleh tidaknya barang tersebut masuk ke Indonesia harus diterima oleh otorita negara pengekspor dalam waktu paling lambat 30 hari sejak tanggal diterimanya notifikasi tersebut. HEOD. Guesapon. Fundal. 1.Alkyl merkuri . Nendrin. Drinox. Toxakil Polychlorobenzene. Areton 11 Dichlorodifluoromethane. Penchloraol. Freon 12. Gesarex.

Salah satu kehawatiran utama dalam penanganan B3 adalah kemungkinan terjadinya kecelakaan baik pada saat masih dalam penyimpanan maupun kecelakaan pada saat dalam pengangkutannya. Explosive (mudah meledak): adalah bahan yang pada suhu dan tekanan standar (25oC. 3 KARAKTERISASI B3 MENURUT PP 74/2001 Penjelasan PP 74/2001 menguraikan secara singkat klasifikasi B3 sebagai berikut: a.FTSL ITB Halaman 18 . Sedang B3 yang tidak memenuhi spesifikasi adalah bahan yang dalam proses produksinya tidak sesuai dengan yang ditentukan. penyimpanna B3 (pasal 18). maka kondisi awalnya adalah berstatus keadaan darurat (emergency). Bila terjadi kecelakaan. Lembar MSDS paling tidak berisi: o Merek dagang o Rumus kimia B3 o Jenis B3 o Klasifikasi B3 o Teknik penyimpanan. bantuan dan melakukan evakuasi masyarakat sekitar lokasi kejadian. Salah satu persyaratan kelengkapan pada tempat penyimpanan tersebut adalah sistem tanggap darurat dan prosedur penanganan B3 (pasal 19). PP 74/2001 mengatur juga masalah kesehatan dan keselamatan kerja bagi orang yang bekerja di bidang ini. atau tidak memenuhi spesifikasi. dan pengedaran B3 (pasal 12). yang menjadi tanggung jawab bagi pengusaha. 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat Enri Damanhuri . Informasi MSDS disamping harus tercantum pada produksi B3 (pasal 11). dan o Tata-cara penanganan bila terjadi kecelakaan PP 74/2001 mengatur juga secara umum pengangkutan B3 (pasal 13). Kecelakaan B3 adalah lepasnya atau tumpahnya B3 ke lingkungan. agar tidak terjadi kecelakaan akibat kesalahan dalam penyimpanan tersebut. pemberian label dan simbol (pasal 17). denganmaksud untuk mengetahui sedini mungkin terjadinya kontaminasi oleh zat/senyawa kimia B3 terhadap pekerja atau pengawas lokasi tersebut (pasal 23).MSDS). yang memerlukan penanggulangan cepat dan tepat (pasal 24). B3 kadaluwarsa adalah bahan yang karena kesalahan dalam penanganannya menyebabkan terjadinya perubahan komposisi dan atau karakteristik sehingga bahan tersebut tidak sesuai lagi dengan spesifikasinya. sekurang-kurangnya 1 kali dalam 1 tahun. pengemasan B3 (pasal 15). juga harus muncul pada dokumen pengangkutan. B3 yang dianggap kadaluwarsa. Salah satu langkah yang wajib dilakukan adalah kewajiban uji kesehatan secara berkala bagi pekerja. yang tidak dapat digunakan tidak boleh dibuang sembarangan. Langkah darurat yang harus dilakukan adalah (pasal 25): o Mengamankan (mengisolasi) tempat terjadinya kecelakaan o Menanggulangi kecelakaan sesuai dengan prosedur standar penanggulangan kecelakaan o Melaporkan kecelakaan atau keadaan darurat tersebut kepada aparat Kota/Kabupaten setempat o Memberikan informasi. Lokasi dan konstruksi tempat penyimpanan B3 membutuhkan pengaturan tersendiri. tetapi harus dikelola sebagai limbah B3 (pasal 20). penyimpanan. dan juga pada kemasan bahan tersebut (pasal 14). atau bekas kemasan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Salah satu informasi penting yang selalu harus disertakan dalam produksi B3 adalah Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet .

akan diperoleh nilai temperatur pemanasan. Flammable (mudah menyala): o Extremely flammable: padatan atau cairan yang memiliki titik nyala (flash point)di bawah 0oC dan titik didih lebih rendah atau sama dengan 35oC. sedang 2.FTSL ITB Halaman 19 . d. Pengujiannya dapat dilakukan dengan menggunakan Diffrential Scanning Calorimetry (DSC) atau Differential Thermal Analysis (DTA). o Bila padatan: bahan bukan cairan. o Hghly flammable: padatan atau cairan yang memiliki titik nyala 0oC . persisten di lingkungan (misalnya PCBs). Oxidizing (pengoksidasi): pengujian bahan padat dilakukan denganemtode uji pembakaan menggunakan ammonium persulfat sebagai senyawa standar. Suatu bahan dinyatakan sebagai pengoksidasi apabila waktu pembakaran bahan tersebut sama atau lebih pendek dari waktu pembakaran senyawa standar. Dangerous to the Environment (berbahaya bagi lingkungan): seperti merusak lapisan ozon (misalnya CFC). dengan titik nyala di bawah 40oC.000 > 15. Dari hasil pengujian tersebut. g. pada temperatur dan tekanan standar dengan mudah menyebabkan terjadinya kebakaran melalui gesekan. pada tekanan 760 mmHg. Toxic (beracun): akan menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan.4-dinitrotoluena atau Dibenzoil-peroksida digunakan sebagai senyawa acuan. Irritant (bersifat iritasi): padatan maupun cairan yang bila terjadi kontak secara langsung.21oC. percikan api. dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran terus menerus dalam 10 detik. f.000 5001 – 15. Harmful (berbahaya): padatan maupun cairan ataupun gas yang jika kontak atau melalui inhalasi (pernafasan) atau melalui oral dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan sampai tingkat tertentu. dan apabila terus menerus kontak dengan kulit atau selaput lendir dapat menyebabkan peradangan h. o Mempunyai pH ≤ 2 untuk B3 bersifat asam. b. akan menyala apabila terjadi kontak dengan api. Apabila nilai temperatur pemanasan suatu bahan lebih tinggi dari senyawa acuan. Pengujiannya dapat dilakukan dengan metode Closed-up test.000 e. penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan. Corrosive (korosif): mempunyai sifat o Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit o Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja standar SAE-1020 dengan laju korosi lebih besar dari 6. senyawa standar yang digunakan adalah larutan asam nitrat.35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55oC.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 merusak lingkungan di sekitarnya. Tabel 2. Pengujian dapat pula dilakukan dengan Seta Closed-cup Flash Point Test. dan atau mempunyai titik nyala ≤ 60oC (140oF). dan atau pH ≥ 12. Tingkatan racun dikelompokkan seperti tabel berikut. Enri Damanhuri . maka bahan tersebut diklasifikasikan mudah meledak.5 untuk B3 bersifat basa. atau bahan tersebut dapat merusak lingkungan. o Flammable: o Bila cairan: bahan yang mengandung alkohol kurang dari 24%-volume.4: Tingkat racun menurut PP 74/2001 Urutan 1 2 3 4 5 6 Kelompok Extremely toxic (amat sangat beracun) Highli toxic (sangat beracun) Moderately toxic (beracun) Slighly toxic (agak beracun) Practically non-toxic (praktis tidak beacun) Relatively harmless (realtif tidak berbahaya) LD50 (mg/kg) ≤1 1 – 50 51 – 500 501 – 5. c. Sedang untuk bahan cair. atau sumber nyala lainnya. kulit atau mulut.

Referensi Utama: o o o Undang-Undang No.FTSL ITB Halaman 20 . 19 tahun 2009: Pengesahan Konvensi Stockholm tentang Bahan Pencemar Organik yang Persisten Enri Damanhuri .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 i. yaitu sel liar yang dapat merusak jaringan tubuh o Teratogenic: sifat bahan yang dapat mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan embrio o Mutagenic: sifat bahan yang dapat menyebabkan perubahan kromosom yang dapat merubah genetika. 32 tahun 2009: Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Peraturan Pemerintah Nomor 74/2001: Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun. 26 November 2001 Undang-undang No. Chronic toxic (toksik kronis): o Carcinogenic (karsinogen): sifat bahan penyebab sel kanker.

5. 3. gubernur.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.626 ton (padat.52 %) dan non B3 (97. pada dasarnya pengelolaan limbah B3 di Indonesia mengacu pada prinsip-prinsip dan pedoman pembangunan berkelanjutan yang telah dituangkan dalam peraturan perudang-undangan. beracun (2. Studi yang dilakukan oleh Dames & Moore untuk mengkaji kelayakan pusat pengolah limbah B3 di Cileungsi menghasilkan proyeksi total limbah berbahaya di daerah Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi (Jabotabek) pada tahun 1990 sebesar 1. korosif (8. khususnya Undangundang No. survai limbah B3 yang berasal dari industri-industri di Otorita Batam menyimpulkan bahwa : − Karakteristik limbah cair industri adalah : mudah terbakar (11.90 %). 05/Bapedal/09/1995 yang merupakan pengaturan lebih lanjut PP19/1994 dan PP12/1995. Keputusan pemberian izin wajib diumumkan. terutama karena sifat korosifitasnya. 01/Bapedal/09/1995 sampai No. atau bupati/ walikota sesuai dengan kewenangannya.52 %). pengelolaannya mengikuti ketentuan pengelolaan limbah B3.50 %). korosif (1. 6. gubernur. merupakan limbah cair atau aquous liquid waste. Sebagaimana dibahas pada Bagian I. Enri Damanhuri . Dalam hal B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 ayat (1) telah kedaluwarsa.FTSL ITB Halaman 21 . atau bupati/walikota wajib mencantumkan persyaratan lingkungan hidup yang harus dipenuhi dan kewajiban yang harus dipatuhi pengelola limbah B3 dalam izin.984. Pengelolaan limbah B3 wajib mendapat izin dari Menteri.44 %) dan non B3 (77. Walaupun limbah itu berasal dari kegiatan industri.58 %) − Limbah B3 (cair dan padat) dari industri rata-rata di bawah 5 % dari total limbah industri yang dihasilkan. Pasal 59 UU tersebut menggariskan bahwa: 1. 2.54 %) − Karakteristik limbah padat industri adalah : mudah terbakar (0 %). 4. Dalam hal setiap orang tidak mampu melakukan sendiri pengelolaan limbah B3. Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya. 18 tahun 1999 (PP85/1999) PP 18/99 jo PP 85/99 merupakan pengganti PP 19/94 jo PP12/95. beracun (0. Peraturan-peraturan lain yang mengatur masalah limbah B3 adalah Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan dari No. cair dan gas). pengelolaannya diserahkan kepada pihak lain. namun tidak semua berkatagori Limbah B3. dan tetap masih berlaku sebagai pengaturan lebih lanjut dari PP 18/99 jo PP 85/99. Menteri. Lebih dari 90 % limbah yang berkatagori berbahaya. Selain itu. Secara spesifik pengelolaan limbah B3 telah diatur lebih lanjut dalam: − Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (PP18/1999) − Peraturan Pemerintah No 85 tahun 1999 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah No.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN III PERATURAN DALAM PENGELOLAAN LIMBAH B3 1 UMUM Survai di Amerika Serikat pada tahun 1981 mengungkapkan bahwa hampir 90 % dari limbah B3 yang dikelola berasal dari kegiatan industri dan 70 % diantaranya berasal dari industri kimia dan petroleum.

− Bab II (pasal 6 sampai 8): Identifikasi limbah B3 − Bab III (pasal 9 sampai 26): Pelaku pengelolaan. yaitu sebanyak 3 pasal. penyimpanan. limbah B3 yang dapat diimpor adalah skrap timah hitam (aki bekas). Sebagai negara kepulauan dengan perairannya yang terbuka. sampai jangka waktu terbatas. sampai tahun 1960-an pengelolaan limbah industri di Amerika Serikat masih belum memadai.. baik antar pula di Indonesia. pemanfaatan. Sedangkan tujuan pengelolaan tersebut Enri Damanhuri . Sumber. − Bab VIII (pasal 66): Ketentuan penutup. maka tidaklah berlebihan bila dalam diktat ini dibahas juga pengertian dan pengembangan peraturanperaturan yang berkaitan dengan limbah B3 di Amerika Serikat. − Bab V (pasal 40 sampai 61): Tata laksana. • Keputusan Menteri Perdagangan RI No. Pasal I berisi pasal-pasal dalam PP 18/1999 yang mengalami perubahan. Peraturan-peraturan yang langsung menangani lintas batas limbah adalah: • Keputusan Presiden RI No. yang berupaya mengatur ekspor dan impor serta pembuangan limbah B3 secara tidak syah. Dapat dikatakan. Karakteristk dan Proses Penentuan Limbah B3: Pengertian pengelolaan limbah B3 adalah '.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Dalam hal masalah lintas batas limbah ini.. 2 PENGELOLAAN LIMBAH B3 DALAM PP 18/1999 JUNCTO PP 85/1999 Hal yang Diatur: PP 18/1999 tentang pengelolaan limbah berbahaya dan beracun terdiri dari 8 bab yang dibagi lagi menjadi 42 pasal. khususnya konsep cradle-to-grave yang menjadi rujukan dalam peraturan tentang limbah berbahaya di Indonesia. pengumpulan. Indonesia sangat potensial sebagai tempat pembuangan limbah berbahaya. yaitu: pasal 6. Dalam pasal I dijelaskan pasal-pasal dalam PP18/1999 yang mengalami perubahan.156/Kp/VII/95 tentang prosedur impor limbah Disamping itu. 349/Kp/XI/92 tentang pelarangan impor limbah B3 dan plastik • Keputusan Menteri Perdagangan RI No. 156/KP/VII/95. Sedang PP 85/1999 yang merupakan perubahan dari PP 18/1999 hanya terdiri dari 2 (dua) pasal. Sebagai negara industri yang dapat dikatakan relatif paling maju. pasal 7. Timbulnya gerakan lingkungan tahun 1960-an. dan pasal 8. Indonesia telah meratifikasi Konvensi Basel. Dengan SK Menteri Perdagangan No.. Kedelapan bab tersebut adalah : − Bab I (pasal 1 sampai 5): Ketentuan umum.. memaksa Kongres Amerika untuk memperhatikan masalah limbah industri ini lebih serius. pengolahan limbah dan penimbunan limbah B3' (pasal 1 angka 3).155/Kp/VII/95 tentang barang yang diatur tata niaga impornya • Keputusan Menteri Perdagangan RI No. dan pasal II (Penutup). misalnya hanya dibuang ke lahan landfill yang belum dilapis secara kedap. pengangkutan. − Bab VII (pasal 64 sampai 65): Ketentuan peralihan.61/1993 tentang Pengesahan Convension on The Control of Transboundary Movements of Hazardous Wastes and Their Disposal. rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi. PP 18/1999 jo PP 85/1995 melarang impor limbah B3 kecuali dibutuhkan untuk penambahan kekurangan bahan baku sebagai bagian pelaksanaan daur-ulang limbah. maupun limbah yang datang dari luar negeri. − Bab VI (pasal 62 sampai 63): Sanksi. − Bab IV (pasal 27 sampai 39): Kegiatan pengelolaan .FTSL ITB Halaman 22 .

serta kegiatan skala kecil tidak terkena peraturan ini. Limbah B3 dari sumber spesifik (Lampiran I Tabel 2) c. seperti ditegaskan dalam Ps9(6). Bersiafat reaktif d. Ps 7(3) PP85/99 selanjutnya mendefinisikan uji karakteristik limbah B3 sebagai berikut: a. Mudah terbakar c.. yaitu Tabel 1 (Sumber tidak spesifik).. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik (Lampiran I Tabel 1) b. dan atau kelompok orang dan atau badan hukum. Menyebabkan infeksi f. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa. Bila tidak terdapat dalam daftar tersebut. untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang sudah tercemar sehingga sesuai fungsinya kembali ' (pasal 2). maka secara formal limbah tersebut adalah limbah B3. Pasal 1 angka 2 mendefinisikan limbah berbahaya dan beracun (disingkat B3) adalah sebagai sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya yang dapat diidentifikasikan menurut sumber dan/atau uji karakteristik dan atau uji toksikologi (PP85/99 Ps 6). Ps 7 (1) PP85/99 menyebutkan bahwa jenis limbah B3 menurut sumbernya meliputi: a.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 adalah : '.. bahwa yang terkena definisi tersebut adalah badan usaha yang menghasilkan limbah B3. tumpahan. Pengertian ‘orang’ yang sering muncul dalam PP18/99 seperti dijelaskan dalam Ps1(18) adalah orang perorangan. seperti diatur dalam Ps 7(1). Tabel 2 (Sumber spesifik) dan Tabel 3 (limbah kimia kadaluarsa). akan menimbulkan permasalahan. yang hanya bisa dilaksanakan oleh sebuah usaha komersial. karena pengaturannya akan ditetapkan kemudian oleh instansi yang bertanggungan jawab. PP18/99 mendefisikan bahwa penghasil limbah B3 adalah orang yang usaha dan atau kegiatannya menghasilkan limbah B3 seperti di tegaskan dalam Ps1(5). Sebelumnya PP 19/1994 mendefinisikan bahwa penghasil limbah B3 tidak hanya mereka yang bergerak dalam kegiatan yang bersifat komersial tetapi termasuk juga perorangan yang menyimpan limbahnya dalam lokasi kegiatannya sebelum limbah tersebut ditangani lebih lanjut sesuai dengan peraturan yang ada. dengan daftar limbah (Lampiran 1 Tabel 1 dan 3) atau daftar kegiatan (Lampiran 1 Tabel 2) yang tercantum dalam PP85/99. Beracun e. dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi (Lampiran I Tabel 3) Rincian dari masing-masing jenis kelompok tersebut terdapat pada Lampiran I PP85/99. Bersifat korosif g. melalui beberapa langkah. maka identifikasi harus dilanjutkan dengan Langkah berikutnya • Langkah 2: melakukan uji karakteristik sebagaimana tercantum dalam Ps 7(3) PP85/99 seperti diuraikan berikut ini. Bila terdapat dalam daftar. Bila batasan penghasil limbah B3 diterapkan juga pada kelompok tersebut. Pengujian toksikologi untuk menentukan sifat akut dan atau kronik. Kemudian PP 12/1995 membatasi. yaitu: • Langkah 1: mengidentifikasi limbah yang dihasilkan..FTSL ITB Halaman 23 . Sebuah limbah dinyatakan sebagai limbah B3.. bekas kemasan. Mudah meledak b. karena izin pengelolaan limbah B3 membutuhkan prosedur administrasi yang tidak sederhana. Enri Damanhuri . seperti batere bekas. Limbah B3 yang dihasilkan oleh kegiatan rumah tangga.

penyamakan kulit. kilang minyak dan gas bumi. dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran terus menerus. fotografi. proses kloro-alkali. pencucian. atau sumber nyala lainnya. penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan. resin adesif. pengemasan. • Bukan berupa cairan yang pada temperatur dan tekanan standar dengan mudah menyebabkan terjadinya kebakaran melalui gesekan. 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan di sekitarnya (bandingkan dengan uraian pada PP74/2001) Limbah mudah terbakar adalah limbah-limbah yang memunyai salah satu sifat: • Berupa cairan yang mengandung alkohol kurang dari 24%-volume. Limbah B3 dari sumber spesifik adalah limbah sisa proses suatu industri atau kegiatan yang secara spesifik dapat ditentukan berdasarkan kajian ilmiah. gas industri. produk kertas. komponen elektronik-peralatan elektronik. pengolahan batu-bara dengan pirolisis. tinta. cat. bengkel pemeliharaan kendaraan. zat warna dan pigmen. daur-ulang pelarut bekas. PLTU yang mengunakan bahan bakar batu-bara. percikan api. dan buanagn produk yang tidak memenuhi spesifikasi yang ditentukan atau tidak dapat dimanfaatkan lagi. prosers logam non-ferro. tetapi berasal dari kegiatan pemeliharaan alat. laundry dan dry cleaning. farmasi. Terdapat 43 jenis limbah yang termasuk kelompok ini.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Sumber limbah tidak spesifik adalah sumber limbah yang menghasilkan limbah yang pada umumnya bukan berasal dari proses utamanya. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa. pelarutan kerak. pengolahan lemak hewan/nabati dan derivatnya. peleburan dan penyempurnaan seng. tumpahan. manufaktur dan perakitan kendaraan-mesin. Sumber limbah ini terbagi dalam 51 jenis kegiatan yang termasuk kelompok penghasil limbah B3. sabun deterjen-produk pembersih desinfektan-kosmetik. batere sel basah. pengawetan kayu. fotokopi. pengoperasian insinerator limbah. electroplating dan galvanis. operasi penyempurnaan baja. tekstil. metal hardening. • Merupakan limbah yang bertekanan yang mudah terbakar • Merupakan limbah pengoksidasi Limbah yang bersifat reaktif pada air adalah limbah-limbah dengan salah satu sifat: • Limbah yang pada keadaan normal tidak stabil dan dapat menyebabkan perubahan tanpa peledakan • Limbah yang dapat bereaksi hebat dengan air Enri Damanhuri . polimer. dan atau pada titik nyala ≤ 60oC (140oF). Limbah mudah meledak adalah limbah yang pada suhu dan tekanan standar (25oC. seal-gasket-packing. eksplorasi dan produksi minyak-gas-panas bumi. rumah sakit. peleburan timah hitan (Pb).FTSL ITB Halaman 24 . pada tekanan 760 mmHg. bekas kemasan. Jenis kegiatan yang termasuk kelompok sumber spesifik adalah industri atau kegiatan: pupuk. semua jenis industri konstruksi (untuk limbah asbestos). batere sel kering. semua jenis industri yang menghasilkan dan menggunakan listrik (untuk limbah PCB). pencegahan korosi. allumunium thermal metallurgyallumunium chemical conversion coating. akan menyala apabila terjadi kontak dengan api. pestisida. peleburan-pemurnian tembaga. peleburan-pengolahan besi dan baja. petrokimia. chemical-industrial cleaning. laboratorium riset dan komersial. gelas keramik/enamel. pertambangan. IPAL industri. metal-plastic shaping. daurulang minyak pelumas bekas. Terdapat 178 jenis bahan kimia yang termasuk kelompok limbah B3.

Limbah yang Dapat Dikeluarkan dari Daftar Lampiran I: Menurut PP85/99. 31 tahun 1994 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Tenaga Atom. gas dan panas bumi. sludge dari IPAL. uji TCLP adalah uji yang dikembangkan oleh US-EPA. penghasil limbah masih tetap diharuskan melakukan uji toksisitas akut maupun kronis Limbah yang menyebabkan infeksi yaitu bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan dari tubuh manusia yang terkena infeksi. karbon aktif dan absorban bekas. katalis bekas. yang menyebabkan terjadinya pencemaran pada air tanah. Namun dalam versi Indonesia. • D221: limbah dari kegiatan kilang minyak dan gas bumi. dan kewenangan pengelolaannya dilakukan oleh Badan Tenaga Atom Nasional sesuai dengan UU no. residu dasar tanki. bila ambang batas TCLP tidak terlampaui. bottom ash. residu dasar tanki. daftar limbah yang dapat dikecualikan adalah seperti terdapat pada Lampiran I – Tabel 2. yang ditularkan pada pekerja. Simulasi transportasi pencemar ini. Asal limbahnya adalah sludge minyak. limbah laboratorium. limbah dari laboratorium atau limbah lainnya yang terinfeksi kuman penyakit yang dapat menular. dan atau pH ≥ 12.FTSL ITB Halaman 25 . pembersih jalan dan masyarakat lain di sekitar lokasi pembuangan limbah. Pengelolaan limbah radioaktif tidak termasuk dalam peraturan ini (Ps 5 PP18/99). Limbah ini berbahaya karena mengandung kuman penyakit seperti hepatitis dan kolera. sludge minyak. menghasilkan gas. sludge dari IPAL. uap atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan Limbah sianida.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 • • • • Limbah yang bila bercampur dengan air (termasuk uap air) menimbulkan ledakan. filter bekas. yang merupakan batas ambang yang digunakan untuk indikasi B3. yang airnya digunakan secara rutin. limbah PCB Enri Damanhuri . seperti tercantum dalam lampiran II PP85/99. drilling mud bekas. Limbah bersifat korosif adalah limbah yang mempunyai salah satu sifat o Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit o Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja standar SAE-1020 dengan laju korosi lebih besar dari 6. menghasilkan batas aman yang memperhitungkan probabilitas terjadinya toksisitas kronik non-kanker maupun kanker. o Mempunyai pH ≤ 2 untuk B3 bersifat asam.5 dapat menghasilkan gas. dengan kode: • D220: limbah dari kegiatan eksplorasi dan produksi minyak. karbon aktif bekas. sulfida atau amoniak yang pada pH antara 2 dan 12. yang merupakan simulasi terburuk kondisi landfill. atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan Limbah yang dengan mudah dapat meledak atau bereaksi pada suhu dan tekanan standar Limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepas atau menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi Limbah yang beracun adalah limbah yang mengandung pencemar yang bersifat racun bagi manusia dan lignkungan yang dapat menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan. Asal limbahnya adalah slop minyak. Indikator sifat racun yang digunakan adalah TCLP (Toxicity Characteristics Leaching Procedure). Asal limbahnya adalah fly ash. kulit dan mulut.5 untuk B3 bersifat basa. uap. cutting pemboran. limbah PCB • D223: PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara.35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55oC. Pada dasarnya sebetulnya.

artinya mengutamakan upaya reduksi di sumber. Dengan penyatuan institusi Bapedal dalam Kementerian Lingkungan Hidup. maka limbah B3 tersebut dapat dimanfaatkan. dan/atau penimbunan bagi limbahnya. o Substitusi bahan o Modivikasi proses o Serta upaya reduksi lainnya Secara teknis operasional. maka instansi yang bertanggung sepertinya berada pada Kementerian ini. PP tersebut mengatur masalah perizinan bagi mereka yang akan terlibat dalam bisnis kegiatan operasional tersebut. Ps 9 (1) PP18/99 menegaskan bahwa setiap penanggung jawab usaha atau kegiatan yang menggunakan B3 atau menghasilkan limbah B3 wajib melakukan reduksi baik bahan maupun limbahnya. − Pengangkutan limbah oleh pengangkut. bertanggung jawab akan hal itu.3) dari terbentuknya limbah oleh penghasil. Badan yang mempunyai kewenangan untuk mengawasi pengelolaan limbah B3 tersebut di Indonesia adalah sebuah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. dan − Pengolahan dan penimbunan limbah oleh pengolah Dalam kegiatan tersebut. Dengan adanya kedua PP tersebut. Setiap mata rantai tersebut memerlukan pengawasan dan pengaturan. − Pengumpulan limbah oleh pengumpul. terkait berbagai fihak yang merupakan mata rantai dalam pengelolaan limbah B3. maka pengelolaan limbah B3 menurut PP 18/99 jo PP85/99 merupakan suatu rangkaian kegiatan (Ps 1. baik dilakukan sendiri atau menggunakan jasa fihak lain. Kegiatan dan Pelaku Pengelolaan: Berbeda dengan PP19/94 jo PP12/95. Rangkaian mata rantai berikutnya adalah: − Pemanfaatan limbah oleh pemanfaat. Sebelum dibubarkan beberapa tahun lalu. Enri Damanhuri . Aspek pengawasan dan sanksi juga diatur dalam kedua PP tersebut. Oleh karenanya.FTSL ITB Halaman 26 . dilarang membuang limbahnya secara langsung ke dalam media lingkungan hidup. Namun pada kenyataannya di lapangan. maka setiap penghasil limbah B3. maka PP 18/99 jo PP85/99 mengarahkan penanganan limbah B3 yang lebih berbasiskan pada cleaner production. semua jenis limbah tersebut oleh yang berwenang dinyatakan sebagai limbah B3.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Limbah tersebut di atas dapat dinyatakan sebagai limbah B3 setelah dilakukan uji karakteristik dan atau uji toksikologi. Bila kegiatan reduksi tersebut masih menghasilkan limbah. tanpa kecuali. kemudian upaya reduksi limbah (sebelum terbentuk) seperti diuraikan di atas. tanpa menunggu pembuktian terlebih dahulu. yang dikenal sebagai BAPEDAL. maka Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Ps 27 (1) PP tersebut mengarahkan bahwa reduksi limbah B3 dapat dilakukan melalui upaya: o Penyempurnaan penyimpanan bahan baku dalam proses house keeping. dan masih limbahnya dapat dimanfaatkan. Selanjutnya Ps 8 mengatur bahwa limbah B3 yang tercantum dalam Lampiran I Tabel 2 PP85/99 dapat dikeluarkan dari daftar setelah dapat dibuktikan bukan limbah B3 berdasarkan prosedur pembuktian secara ilmiah. yaitu: • Uji karakteristik limbah B3 • Uji toksikologi • Hasil studi yang menyimpulkan bahwa limbah yang dihasilkan tidak menimbulkan pencemaran dan gangguan kesehatan terhadap manusia dan mahluk hidup lainnya. dan melakukan pengolahan.

dengan tembusan kepada instansi lain terkait. Demikian pula pengolah limbah B3 dapat menyimpan limbah yang diterimanya maksimum 90 hari sebelum dilakukan pengolahan. dapat diserahkan kepada fihak lain. Namun penghasil limbah B3 tetap bertanggung jawab atas limbah yang diolah tersebut. Batas waktu bagi penghasil limbah. jumlah dan waktu. dengan syarat mendapat persetujuan instansi yang bertanggung jawab (Ps10). serta Bupati/Walikota yang bersangkutan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 tanpa pengolahan terlebih dahulu (Ps3). yang mencakup (Ps11-1): o Jenis. Bila limbah B3 yang dihasilkan kurang dari 50 kg/hari. atau pemanfaat limbah atau pengolah/penimbun limbah untuk menyimpan limbahnya sebelum dikelola lebih lanjut tidak lebih dari 90 hari (Ps10. penghasil limbah tidak harus menyerahkan limbahnya setiap saat kepada pengumpul atau pengangkut atau pengolah limbah. baik pada saat limbah dihasilkan. Pengangkut limbah B3 wajib menyerahkan limbah B3 dan dokumennya kepada Enri Damanhuri . Kewajiban untuk mendata limbah B3 yang dikelola. maka limbah boleh disimpan paling lama 90 hari sebelum diserahkan kepada rantai pengelola berikutnya. Ps18 dan Ps23). merupakan hal yang harus dilaksanakan. Setiap pengangkutan limbah B3 oleh pengangkut.FTSL ITB Halaman 27 . karakteristik. PP ini juga mengatur penghasil limbah yang dikatagorikan sedikit menghasilkan limbah B3. yang dikenal sebagai Small Quantity Generator (SQG). Informasi data tersebut akan digunakan untuk bahan inventarisasi serta bahan evaluasi guna pengembangan kebijakan pengelolaan limbah B3. Disamping itu. Sebagaimana pada penghasil limbah. Bagi mereka yang tidak mampu untuk menangani limbahnya sesuai peraturan yang ada. Rantai berikutnya dalam pengelolaan ini adalah pengumpulan limbah (Ps12. dan bila tidak mampu diolah di dalam negeri dapat diekspor ke negara yang mempunyai teknologi pengolahan yang sesuai (Ps9-3). pemanfaat atau pengolah/penimbun limbah B3 Catatan tersebut wajib dilaporkan sekurang-kurangya sekali dalam enam bulan kepada instansi yang bertanggung jawab. pemberian symbol dan label untuk setiap kemasan yang digunakan yang menunjukkan karakteristik dan jenis limbah B3 tersebut (Ps28). Selama penyimpanan tersebut. Kewajiban penghasil limbah adalah mendata limbahnya secara baik. Setiap kegiatan yang menghasilkan limbah B3. serta melaporkan setiap 6 bulan sekali kepada instansi yang berwenang. sebagaimana diatur dalam Ps12 dan Ps15 PP18/99. maupun pada saat limbah tersebut diserahkan kepada pengelola berikutnya o Nama pengangkut limbah B3 yang melaksanakan pengiriman kepada pengumpul. Ps13 dan Ps14). maka penghasil limbah tersebut dapat menyimpan limbahnya lebih dari 90 hari. dan limbah tersebut selanjutnya harus diserahkan kepada pemanfaat. walaupun telah diserahkan penanganannya pada fihak lain. wajib disertai dokumen limbah B3 (Ps16). wajib mengolah limbahnya sesuai dengan teknologi yang ada. maka penghasil limbah dikenai kewajiban untuk mematuhi tata cara penyimpanan bagi limbah B3 (Ps29). karena kegiatan ini tidak akan menurunkan beban limbah yang dihasilkan. penanganan limbah B3 dengan jalan pengenceran sehingga konsentrasinya menjadi turun tidak diperbolehkan dilakukan (Ps4). Demikian juga upaya kegiatan pengumpulan dan pengangkutan limbah B3 menuju lokasi pemerosesan berikutnya. maka penghasil limbah tersebut diperbolehkan menyerahkan penanganan limbahnya kepada pemanfaat limbah (Ps9-2) atau pengolah atau penimbun limbah B3 (Ps9-4) yang mempunyai kewenangan untuk itu. Pengumpulan ini bersifat sementara. Pengaturan lintas batas limbah B3 dari dan keluar Indonesia diatur dalam Ps53. atau pengolah-penimbun limbah yang diakui oleh yang berwenang. Dengan demikian.

angkutan darat (UU 14/1992). dan menyerahkan dokumen tersebut kepada pengolah limbah bila limbah tersebut telah sampai di tujuan. maka dibutuhkan dokumen 11 rangkap. Penghasil limbahpun dapat bertindak sebagai pengangkut limbah. Dokumen tersebut antara lain berisi: o Nama dan alamat penghasil limbah atau pengumpul yang menyerahkan limbah o Tanggal peneyerahan limbah o Nama dan alamat pengangkut limbah o Tujuan pengangkutan o Jenis. limbah tersebut harus dilengkapi dokumen-dokumen yang berasal dari penghasil limbah maupun dari pengumpul limbah yang menjelaskan tentang limbah tersebut. dan karakteristik limbah yang diserahkan. Apabila pengengkutan lebih dari satu kali (antar moda). yang akan merupakan sarana permantauan yang serupa dengan konsep cradle-to-grave yang diterapkan di Amerika Serikat. dengan aturanaturan yang berlaku bagi pengangkut limbah B3. Disamping itu. Mekanisme Cradle-to-Grave: Dokumen limbah akan memegang peranan penting dalam pemantauan perjalanan limbah B3 dari penghasil sampai ke pengolah limbah. yaitu : perkereta-apian (UU 13/1992). pengolahan limbah bersasaran agar limbah tersebut dapat terdaur-ulang atau terdaurpakai. stabilisasi dan solidifikas. − Lembar ke 3: disimpan oleh penghasil setelah ditandatangani oleh pengangkut − Lembar ke 4: setelah ditanda tangani oleh pengirim limbah. Sektor pengangkutan merupakan aktivitas yang beresiko tinggi. pengolahan secara fisika. setelah ditandatangani pleh penerima limbah Enri Damanhuri . dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan di jalan serta hal-hal lain yang tidak diinginkan. Bila teknologi tersebut tidak dapat diterapkan. rincian distribusi dokumen limbah tersebut adalah sebagai berikut: − Lembar ke 1 (asli): disimpan pengangkut setelah ditandatangani oleh pengirim limbah − Lembar ke 2: setelah ditandatangai oleh pengangkut limbah. kemudian dikirimkan kepada instansi yang bertanggung jawab oleh pengirim limbah.FTSL ITB Halaman 28 . maka dibutuhkan teknologi lain yang terbaik dan tersedia. penerbangan (UU 15/1992) dan pelayaran (UU 21/1992). Usaha ini membutuhkan izin terlebih dahulu dari Menteri yang mempunyai kewenangan di bidang perhubungan setelah mendapat pertimbangan dari Menteri Lingkungan Hidup. kimia dan biologi (Ps34). kemudian oleh pengangkut diserahkan kepada penerima limbah − Lembar ke 5: dikirimkan oleh penerima kepada instansi yang bertanggung jawab setelah diterima oleh penerima limbah B3 − Lembar ke 6: dikirimkan oleh pengangkut kepada Bupati/Walikota yang bersangkutan dengan pengirim.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 pengumpul atau pemanfaat atau pengola atau penimbun yang ditunjuk oleh penghasil limbah B3 (Ps17). Rantai pengeolaan yang paling akhir adalah penimbunan imbah B3 dalam sebuah landfill limbah B3 dengan system pelapis dasar. komposisi. pengolahan limbah bersasaran untuk merubah karakteristik dan komposisi limbah tersebut agar menjadi tidak berbahaya lagi. Pada dasarnya. Rantai akhir dari sistem ini adalah pengolahan dan penyingkiran (disposal) limbah. jumlah. Disamping itu. Berdasarkan uraian dalam Penjelasan atas PP 18/99. Proses tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi yang sesuai. alat angkut yang digunakan harus sesuai dengan peraturan tentang angkutan yang ada. seperti secara termal. Dokumen tersebut dibuat dalam rangkap 7 apabila pengangkutan hanya satu kali. Selama dalam perjalanannya.

pemanfaat. Skema 3. disertai dokumen-dokumen yang biasa menyertainya. Disamping itu. − bahan baku dan proses yang akan digunakan. − nama dan alamat penanggung jawab. − tata letak sarana dan prasarana. Dalam bentuk skema.FTSL ITB Halaman 29 . untuk melengkapi perizinan kegiatan pengolahan limbah tersebut. Dalam hal penghasil limbah bertindak pula sebagai pengolah limbah dan kegiatan tersebut dilakukan pada lokasi yang sama. dibutuhkan analisis dampak lingkungan terlebih dahulu. − alat pencegahan pencemaran yang digunakan Yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan izin lokasi pengolahan adalah kepala kantor pertanahan kabupaten/kota (pasal 42) sesuai dengan rencana tata ruang berdasarkan rekomendasi Kepala instansi yang bertanggung jawab. pemanfataan. pengumpul. − dari Menteri Perhubungan untuk kegiatan pengangkutan limbah B3. setelah mendapat rekomendasi dari Kepala instansi yang bertanggung jawab. Disamping mempunyai legalitas badan usaha.1 : Mata rantai perjalanan limbah beserta dokumennya Pengelolaan limbah B3 memungkin badan swasta untuk terlibat di dalamnya. maka analisis dampak lingkungannya dibuat teritegrasi dengan kegiatan utamanya dengan persyaratan yang berlaku. maka oleh pengangkut dikirimkan kepada pengirim limbah.1. hanya rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang telah disetujui oleh instansi berwenang yang diajukan kepada Instansi yang bertanggung jawab bersama persyaratan lainnya. Enri Damanhuri . pengumpulan. − Lembar ke 8 sampai ke 11 dikirim oleh pengangkut kepada pengirim limbah setelah ditandatangani oleh pengangkut terdahulu dan diserahkan kepada pengangkut berikutnya (antar moda). persyaratan lain untuk memperoleh izin tersebut adalah adanya informasi yang menyangkut tentang: − nama dan alamat yang jelas dari badan usaha tersebut. baik sebagai penyimpan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − Lembar ke 7: setelah ditandatangani oleh penerima. mata rantai perjalanan limbah beserta dokumennya adalah seperti tercantum dalam Skema 3. dan pengolahan-penimbunan. Untuk itu. yaitu : − dari Kepala instansi yang bertanggung jawab untuk kegiatan penyimpanan. − lokasi tempat kegiatan. − jumlah dan karakteristik limbah yang akan ditangani. − bentuk kegiatan yang akan dilakukan. pengangkut maupun sebagai pengolah limbah tersebut. Untuk itu dibutuhkan izin operasi (Ps40). − spesifikasi alat pengolah limbah.

− Toxic Substances Control Act (TSCA . Kontrol yang aktif dari masyarakatnya banyak menelorkan peraturan-peraturan guna mengatur masalah ini. Pengawasan pengelolaan limbah B3 yang dilakukan oleh Instansi yang bertanggung jawab meliputi pematauan penaatan persyaratan serta ketentuan teknis dan administratif oleh fihak-fihak yang mengelola limbah B3.1976) : pengaturan pengelolaan limbah berbahaya − Hazardous and Solid Waste Amandements Act (HSWA .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 PP18/99 tersebut juga mengatur perpindahan lintas batas limbah B3 dari dan ke luar Indonesia (Ps53). − meminta keterangan tentang pelaksanaan pengelolaan limbah. − melakukan pemotretan untuk kelengkapan pengawan tersebut. dan fihak pengelola diwajibkan untuk segera menaggulanginya.1976) : pengaturan penggunaan bahan kimia berbahaya yang baru dihasilkan. Kewajiban penghasil. 3 KONSEP CRADLE-TO-GRAVE AMERIKA SERIKAT Sebagai negara industri. pengumpul. maka fihak pengelola bertanggung jawab atas hal ini. pengangkut dan atau pengolah limbah adalah membantu sepenuhnya aktivitas pengawasan yang dilakukan di daerah tanggung jawabnya. Hal lain yang mendapat perhatian dalam kedua PP tersebut adalah kesehatan dan keselamatan pekerja yang terlibat dalam kegiatan pengelolaan ini serta tanggung jawab pengelola bila terjadi kecelakaan serta pencemaran. maka dibutuhkan pemberitahuan tertulis terlebih dahulu kepada pemerintah Republik Indonesia. Bila fihak pengelola tidak dapat menanggulanginya secara baik. maka Instansi yang bertanggung jawab akan melakukan upaya penanggulangan. yang mengatur permasalahan penggunaan energi nuklir.FTSL ITB Halaman 30 . − mengambil contoh limbah untuk dianalisa di laboratorium. Pengiriman limbah B3 ke luar Indonesia membutuhkan persetujuan tertulis dari pemerintah negara penerima dan izin tertulis dari pemerintah Indonesia. − Solid Waste Disposal Act (1965) dan Resource Recovery Act (1970) : pengaturan tentang pengolahan dan pendaur-ulangan buangan padat.1984) : tentang perlindungan terhadap air tanah dari limbah berbahaya − Comprehensive Environmental Response.1980) dan Superfund Amendement and Reautorization Act (SARA Enri Damanhuri . Dalam hal pengangkutan limbah B3 antara negara yang melalui wilayah Indonesia. Fungicide and Rodenticide Act (FIFRA-1972) : mengatur penyimpanan dan disposal pestisida. Pengawasan tersebut mempunyai kewenangan untuk: − memasuki area lokasi kegiatan. − Resource Conservation and Recovery Act (RCRA . − Federal Insecticide. khususnya limbah industri. Bila terjadi kecelakaan atau pencemaran atau kerusakan lingkungan akibat kegiatan tersebut. khususnya yang berkaitan dengan masalah pengelolaan limbah B3 antara lain adalah : − Atomic Energy Act (1954) : merupakan revisi Atomic Energy Act tahun 1946. Upaya ini merupakan kewajiban fihak pengelola untuk melaksanakannya. Beberapa peraturan-peraturan Federal yang berkaitan dengan masalah lingkungan. dan biaya kegiatan tersebut dibebankan pada fihak pengelola. Amerika Serikat relatif banyak mengalami banyak masalah dengan limbah. Pemeriksaan kesehatan pekerja oleh instansi yang berwenang di bidang kesehatan tenaga kerja dilakukan secara berkala agar sejak dini dapat diketahui terjadinya kontaminasi oleh zat-zat berbahaya. Guna mencegah dijadikannya wilayah Indonesia sebagai tempat pembuangan limbah B3. maka limbah B3 dilarang masuk ke wilayah Indonesia. Compensation and Liabilities Act (CERCLA .

sampai penyingkiran/pemusnahan (disposal) limbah berbahaya. transformator tersebut akan ditarik dari peredaran oleh USEPA. CERCLA (1980) dan SARA (1986). Berdasarkan hal ini keluarlah RCRA.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 1986) yaitu tentang pengaturan dan pendanaan bagi pembersihan site disposal berbahaya yang sudah tidak beroperasi. RCRA dianggap merupakan produk legislatif yang paling penting dalam pengaturan limbah B3. namun sejumlah besar alat listrik masih menggunakan bahan ini. dan telah mengalami beberapa kali amandemen sejak dikeluarkannya pada tahun 1976. Toxic Substances Control Act (TSCA) memberi kewenangan pada USEPA untuk mengidentifikasi dan memantau bahan-bahan kimia berbahaya di lingkungan . pestisida. senjata api/amunisi. transportasi. khususnya limbah B3. Produk ini telah diatur oleh peraturan-peraturan sebelumnya. dan Enri Damanhuri . Dalam peraturan tersebut. yang terdiri dari berbagai Subtitle.000 transformator dengan PCB telah diproduksi. pengolahan. Dalam pengelolaan limbah berbahaya. Bahan-bahan kimia yang diproduksi sebelum TSCA juga terkena peraturan ini. dicantumkan aturan-aturan administratif dan tehnis untuk tiga katagori pelaku utama. HSWA (1980). Melalui TSCA. Proses pemusnahan yang paling cocok adalah dengan insinerasi pada temperatur 1200 ± 100°C selama 2 detik dengan 3% kelebihan oksigen di cerobong. yaitu : − Penghasil (generator). yaitu dari mulai identifikasi limbah berbahaya. disamping itu USEPA mempunyai kewenangan untuk mendapatkan informasi tentang bahan berbahaya ini di sumbernya (pabrik). serta terkonsentrasi pada jaringan lemak. atau 1600 ± 100°C selama 1. harus diuji dulu sebelum bahan tersebut diproduksi untuk dipasarkan. versi RCRA yang paling penting adalah aturan-aturan yang termasuk dalam Subtitle-C dengan program utamanya adalah Cradle-to-grave .9999 %. Diperkirakan sekitar 77. − Pollution Prevention Act (1990) : strategi penanganan pencemaran limbah dengan memberikan priporitas pada minimasi limbah Dari sekian banyak peraturan perundang-undangan tersebut di atas. Solid Waste Disposal Act pada dasarnya mengatur tata cara disposal (penyingkiran) limbah kota dan industri. RCRA (1976). Katagori produk yang tidak termasuk dalam kontrol TSCA adalah tembakau. produk PCB di Amerika Serikat telah dihentikan (1977). penyimpanan.FTSL ITB Halaman 31 . aditif untuk makanan. Salah satu kasus yang dapat dijadikan contoh adalah penggunaan polychlorinated biphenyl (PCB). Namun uji coba pada hewan akhirnya menunjukkan bahwa PCB dapat menyebabkan kanker dan sebagainya. Dengan adanya peraturan tersebut maka tidak satupun bahan kimia yang boleh diimport atau dieksport tanpa kontrol dan persetujuan USEPA. PCB telah diproduksi di Amerika Serikat sejak tahun 1929. obat-obatan dan kosmetika. dikelola dengan baik. DRE (Destruction and Removal Efficiency) yang dipersyaratkan paling tidak adalah sebesar 99. maka yang sangat berkaitan erat dengan masalah limbah berbahaya adalah TSCA (1976). serta bagaimana mengurangi timbulan limbah tersebut. dan merupakan bahan cair dengan sifat-sifat yang menguntungkan yaitu mempunyai stabilitas panas serta sifat-sifat transfer panas yang ideal. sehingga digunakan sebagai media transfer panas pada transformator dan kapasitor. − Pengangkut (transporter).5 detik dengan 2 % kelebihan oksigen. makanan. Perkembangan lebih lanjut ternyata dibutuhkan aturan-aturan lebih jauh agar limbah tersebut. agar tidak mengganggu terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. bahan nuklir. Direncanakan. Efek toksik dari bahan yang baru dihasilkan. persyaratanpersyaratan mulai dari sumber (timbulan). RCRA dalam hal ini menugaskan USEPA untuk melaksanakan aturan-aturan yang ada.

USEPA juga mengadopsi aturan-aturan yang telah lama digunakan oleh US Departement of Transportation (DOT).FTSL ITB Halaman 32 . walaupun pengusaha tetap diwajibkan untuk menganalisis limbahnya. yang memungkinkan untuk pemanfaatkan dan pelacakan limbah berbahaya tersebut dalam mata rantai pengelolaan. sebagian besar jenis limbah dari SQG dikeluarkan dari Subtitle-C. dan menyerahkan copy yang lain pada perusahaan TSD (Treatment. Perusahaan kecil dibatasi kemampuan finansial dan kapasitasnya untuk melaksanakan aturan RCRA secara ketat. antara lain berisi : − Identifikasi limbah B3 − Penghasil limbah B3 − Pengangkut limbah B3 − Pemilik/operator fasilitas pengolah. − Generator menyimpan kopi-6 dan mengirim kopi-5 ke USEPA serta memberikan copy yang lain ke transporter − Transporter selanjutnya menyimpan kopi-4. penyimpan. penyimpan (storage) dan pemusnah/penyingkir (disposal) atau TSD. Dengan pengecualian ini. selama pengangkutan sampai di tujuan. Aturan RCRA selanjutnya dikodifikasi dalam Code of Federal Regulation (CFR) dengan sebutan Title 40 CFR. Oleh karenanya. USEPA menyadari akan sulit menerapkannya. Generator limbah B3 harus mendapatkan nomor identifikasi dari USEPA.2 : Konsep cradle-to-grave Amerika Serikat − Setiap generator mengisi format standar dalam 6 kopi. Guna memungkinkan pelacakan dan pengelolaan sesuai dengan konsep Cradle-tograve. Storage & Disposal) Enri Damanhuri . yaitu aturan-aturan pengangkutan bahan berbahaya dan beracun mulai dari pengemasan.2 : Skema 3. dan pada tahun 1984 plafon SQG ini diturunkan lagi menjadi 100 kg limbah B3 per bulan. Bila Generator skala kecil diharuskan mengikuti aturan tersebut. pembuang limbah B3 − Daur ulang limbah B3 − Land disposal limbah B3 − Izin fasilitas TSD Generator adalah penghasil (creator) limbah berbahaya yang harus menganalisis limbah padatnya sesuai aturan RCRA Subtitle-C. EPA pada tahun 1980 lebih lanjut mendefinisikan Small Quantity Generator (SQG) sebagai penghasil limbah berbahaya kurang dari 1000 kg per bulan. maka diciptakan mekanisme seperti Skema 3.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − Pemilik/operator fasilitas pengolah(treatment).

Disamping itu generator harus melaporkan pada USEPA dengan menunjukkan tempat (lokasi) dimana limbah itu berada. maka USEPA bekerja erat dengan DOT. maka aktifitas tersebut dikomunikasikan pada masyarakat selama 45 hari. Pengusaha yang ingin berkecimpung dalam usaha ini harus memasukkan permohonan yang mencakup rancangan sarananya. Karena DOT sudah lama menangani transportasi bahan berbahaya. CERCLA diperkuat oleh SARA yang mengatur pengumpulan dana melalui pajak khusus untuk menjamin terlaksananya pembersihan lingkungan. maka EPA hanya mampu mengatur pengelolaan limbah berbahaya yang masih aktif dan baru ditutup. EPA dan generator dapat melacak perjalanan limbah B3 tersebut dari penimbul atau generator (cradle) ke titik penyingkiran/pemusnahan final (grave). − Disposal (pemusnahan/penyingkiran) : penyimpanan limbah berbahaya dengan cara yang dianggap aman dengan penimbunan dalam tanah. termasuk juga cara analisis limbah B3 dan sebagainya. Bila usulan tersebut disetujui (bisa memakan waktu sampai 3 tahun). Dengan demikian. Oleh karenanya. tidak terjangkau oleh EPA. kontaminasi terhadap rantai makanan atau pencemaran terhadap sumber-sumber air minum. Transporter merupakan masa rantai yang sangat penting dalam sistem ini. Transporter harus mengangkut limbah tersebut sesuai dengan jumlah yang tercantum dalam manifes. yaitu : − Treatment (pengolahan) : setiap proses yang merubah karakteristik atau komposisi limbah berbahaya sehingga menjadi tidak berbahaya atau sedikit berbahaya. misalnya karena terjadinya kebocoran. generator harus menghubungi transporter atau TSD untuk menentukan status dari limbah tersebut. Compensation and Liabilites Act (CERCLA). kopi-2 ke USEPA dan TSD menyimpan kopi-3.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 − TSD kemudian mengirimkan kopi-1 kembali ke generator. Rantai akhir dari sistem ini adalah TSD. − Pernyataan bahwa sarana TSD yang dipilih oleh generator adalah yang terbaik dalam meminimkan resiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Dengan CERCLA. Setiap manifes isian tersebut berisi antara lain : − Pernyataan bahwa generator telah menggunakan cara-cara terbaik guna mengurangi volume dan toksisitas limbah B3 nya. Sarana yang sudah ditutup sebelum peraturan ini keluar. atau setiap proses yang mampu melakukan pengurangan volume atau mampu memanfaatkan kembali limbah tersebut. ledakan. Sebelum adanya Comprehensive Enviromental Respons. maka USEPA mempunyai kewenangan untuk bertindak terutama bila berkaitan dengan pengaruh limbah B3 terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. terutama pada landfill limbah B3 yang tidak terkontrol. Transporter harus menyimpan kopi-4 dari manifes selama 3 tahun setelah limbah tersebut diterima oleh TSD. − Storage (penyimpanan) : penyimpanan sementara limbah berbahaya sebelum diolah atau dimusnahkan atau didaur-ulang. Transporter harus memiliki nomor-identifikasi USEPA. CERCLA adalah berfungsi menangani "dosa masa lalu". yang melibatkan 3 kegiatan fungsional. Salah satu isu penting terhadap lahan pengurugan (landfilling) yang tidak terkontrol secara baik adalah bagaimana mengidentifikasikan dan mengkuantifikasi resiko Enri Damanhuri .FTSL ITB Halaman 33 . kalau tidak. Generator harus sudah menerima kopi-1 dalam kurun waktu 35 hari sejak limbah tersebut diterima oleh perusahaan pengangkut (transporter). dan tidak menerima limbah dari generator yang tanpa nomor tersebut.

Van Nostrand Reinhold. sampai pemecahan final yang permanen diterapkan pada lahan tersebut . serta proporsi beban dana yang dipikulkan pada masing-masing pelaku. transporter. Referensi Utama: − Peraturan Pemerintah Nomor 18/1999: Pengelolaan Limbah B3 − Peraturan Pemerintah Nomor 85/1999: Amandemen PP18/99 − Wagner.P.: Hazardous waste identification and classification manual.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. termasuk pula penentuan kontribusi penanggung jawab atas masalah ini. b) Kegiatan yang bersifat penyembuhan (remedial). yang merupakan pemecahan yang permanen dari masalah yang timbul.A.FTSL ITB Halaman 34 . pemilik/pengoperasi sarana TSD. 1990 − Wentz. Terdapat dua jenis tindakan dari USEPA. yaitu : a) Penyingkiran (pengangkutan kembali) substansi berbahaya dan pembersihan segera bagian-bagian lahan. yaitu generator. atau kegiatan-kegiatan stabilisasi sementara lainnya.: Hazardous waste management. 1989 Enri Damanhuri . McGraw-Hill Book.T. Dalam kegiatan yang bersifat jangka panjang ini. kegiatan ini bersifat program jangka pendek. C.

yang merupakan legalitas kegiatan pengelolaan sehingga dokumen ini akan merupakan sarana/alat pengawasan dalam konsep cradle-to-grave. pengumpulan dan pengangkutan merupakan komponen-komponen teknik operasional pengelolaan limbah B3 seperti diatur dalam PP 19/1994 dan PP12/1995. PENYIMPANAN DAN PENGANGKUTAN 1 UMUM Untuk memberikan gambaran tentang aspek penyimpanan sampai pengangkutan bahan berbahaya. maka aturan-aturan yang diberlakukan di USA.01/Bapedal/09/1995: tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3 b) Kep. dengan format yang telah dibakukan dengan Keputusan Kepala Bapedal No. dan menjadi standar baku secara universal. bahan berbahaya adalah setiap bahan yang dapat menimbulkan resiko terhadap kesehatan. Menurut US Department of Transportation (USDOT). volume dan sebagainya) − Kelas 'bahaya' dari bahan itu (hazard class). − Kuantitas (berat. karena pengaturan B3 sudah dilaksanakan sejak lama. Dokumen ini dikenal pula sebagai shipping papers. Dalam Diktat ini juga diuraikan tata-cara yang berlaku di Indonesia dalam menanangani limbah B3 yang berasal dari beberapa regulasi yang dikeluarkan sebelum PP 74/2001 dikeluarkan. dapat digunakan. − Tanggal penyerahan limbah − Tanda tangan pejabat penghasil atau pengumpul. antara lain berisi : − Nama dan alamat pengangkut limbah B3 − Tanggal pengangkutan limbah − Tanda tangan pejabat pengangkut limbah c) Bagian yang harus diisi oleh pengolah atau pengumpul atau pemanfaat limbah B3. harus dilengkapi dengan dokumen resmi. untuk menyatakan bahwa limbahnya telah sesuai dengan keterangan yang ditulis serta telah dikemas sesuai peraturan yang berlaku Bila pengisi dokumen adalah pengumpul yang berbeda dengan penghasil.FTSL ITB Halaman 35 . keselamatan dan harta benda bila diangkut. yang kemudian diganti menjadi PP 18/99 dan PP 85/1999. antara lain berisi: − Nama dan alamat penghasil atau pengumpul limbah B3 yang menyerahkan limbah B3 − Nomor identifikasi (identification number) UN/NA − Kelompok kemasan (packing group). yang antara lain terdiri dari: a) Bagian yang harus diisi oleh penghasil atau pengumpul limbah B3. khususnya dalam mengatur transportasi bahan berbahaya yang diatur dalam Hazardous Materials Transportation Act. khususnya dalam menangani bahan kimia dan bahan bakar.02/Bapedal/09/1995: tentang Dokumen Limbah B3 c) Kep. maka dokumen tersebut dilengkapi dengan salinan penyerahan limbah tersebut dari penghasil limbah. Penyimpanan. antara lain berisi: − Nama dan alamat pengolah atau pengumpul atau pemanfaat limbah B3 Enri Damanhuri .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN IV PELABELAN. b) Bagian yang harus diisi oleh pengangkut limbah B3. Pengaturan teknis tentang aspek ini sejak tahun 1995 diatur dalam: a) Kep.02/Bapedal/09/1995.Kepala Bapedal No. Namun terlihat bahwa pengaturan limbah B3 terkesan lebih ketat dibandingkan pengaturan B3. dilengkapi tanggal.05/Bapedal/09/1995: tentang Simbol dan Label Limbah B3 2 DOKUMEN Bahan-bahan berbahaya tersebut bila akan diangkut ke tempat lain.Kepala Bapedal No.Kepala Bapedal No. Pada prinsipnya tidak ada perbedaan yang berarti dalam menyimpan dan mengangkut B3 atau limbah B3.

c) Kelas-3: cairan mudah terbakar (flammable).5 °C. Simbol berbentuk bujur sangkar diputar 45 derajat sehingga membentuk belah ketupat. yang secara cepat akan dapat memberikan informasi bila terjadi kecelakaan. Warna garis yang membentuk belah ketupat dalam sama dengan warna simbol. untuk menyatakan bahwa limbah yang diterima sesuai dengan keterangan dari penghasil dan akan diproses sesuai peraturan yang berlaku d.1 sampai 4.2: nonflammable compressed gas yaitu setiap bahan atau campuran yang dikemas pada tabung gas dengan tekanan dan tidak termasuk ke dalam divisi 2. campuran atau peralatan. pengumpul atau pemanfaaat. Terdapat 9 klasifikasi bahan berbahaya menurut versi USDOT yaitu: a) Kelas-1: bahan yang mudah meledak (explosive). Definisi eksplosif menurut USDOT adalah setiap senyawa kimia. dilengkapi tanggal. Sedang label merupakan penandaan pelengkap yang berfungsi memberikan informasi dasar mengenai kondisi kualitatif dan kuantitatif dari suatu bahan yang dikemas. secara cepat dapat mengidentifikasi sifat bahan berbahaya itu serta cara penanggulangannya.1 dan 2. Simbol atau label tersebut pada dasarnya dibagi berdasarkan kelas ‘bahaya’ dari limbah yang akan diangkut. yaitu : Enri Damanhuri . Kriteria cairan yang mudah terbakar adalah setiap cairan dengan titik nyala (flash point) tidak lebih dari 60. maka United States . Penghasil limbah B3 akan menerima kembali dokumen limbah B3 tersebut dari pengumpul atau pengolah selambatlambatnya 120 hari sejak limbah tersebut diangkut untuk dibawa ke pengumpul atau pengolah atau pemanfaat. Diharapkan Tim yang bertanggungjawab dalam menangani kecelakaan. Simbol yang dipasang pada kemasan minimal berukuran 10 cm x 10 cm. 2 SIMBOL DAN LABEL Label Versi US-DOT: Guna keamanan dan memudahkan pengenalan secara cepat bahan berbahaya tersebut.1 sampai 2. yaitu: − Divisi 2. sedangkan simbol pada kendaraan pengangkut tempat penyimpanan minimal 25 cm x 25 cm. Nomor identifikasi mempunyai kode UN (United Nation) atau NA (North America) diikuti oleh 4 digit angka. disertai keterangan: − Jenis limbah dan jumlahnya − Alasan penolakan − Tanda tangan pejabat pengolah atau pemanfaat dan tanggal pengembalian − Surat-surat dokumentasi pengangkutan tersebut ditempatkan di kendaraan angkut sedemikian rupa sehingga cepat didapat dan tidak tercampur dengan surat-surat lain. pada bagian bawah simbol terdapat blok segilima dengan bagian atas mendatar dari sudut terlancip terhimpit dengan garis sudut bawah belah ketupat bagian dalam. yang penggunaannya adalah dengan memfungsikan ledakannya.1 sampai 1.3 sesuai dengan sifatsifatnya.5 sesuai dengan jenis akibat yang dapat ditimbulkan oleh eksplosif tersebut. b) Kelas-2: gas.1: flammable gas (gas mudah terbakar) yaitu bahan berupa gas yang pada temperatur -20 °C dan tekanan 1 atmosfir akan terbakar bila bercampur dengan udara sekitar 13 % volume atau kurang − Divisi 2. Apabila limbah yang diterima ternyata tidak sesuai dan tidak memenuhi syarat.3 sesuai dengan sifat-sifatnya.Department of Transportation (US-DOT) digunakan tanda-tanda dalam bentuk simbul dan label. d) Kelas-4: padatan mudah terbakar atau berbahaya bila lembab. terbagi menjadi 3 divisi dengan nomor 4. Pada keempat sisi belah ketupat tersebut dibuat garis sejajar yang menyambung sehingga membentuk bidang belah ketupat dalam ukuran 95 persen dari ukuran belah ketupat bahan.3: poisonous gas (gas beracun) yaitu bahan berupa gas yang pada temperatur 20 °C dengan tekanan 1 atmosfir akan merupakan bahan toksik pada manusia. − Divisi 2. maka limbah tersebut dikembalikan lagi kepada penghasil. terbagi lagi menjadi 5 divisi dengan nomor 1.FTSL ITB Halaman 36 .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Tanda tangan pejabat pengolah. atau dianggap toksik pada manusia dengan adanya pengujian pada binatang di laboratorium dengan harga LC50< 5000 ppm. terbagi menjadi 3 divisi dengan nomor 2.

kuning (bahaya terhadap reaktivitas). II atau III dengan warna merah. dan/atau diketahui mempunyai efek karsinogen. terbagi menjadi 2 divisi.002 microcurie per-gram. Plakat yang digunakan berlabelkan Radioactive white-I. tetapi hanya berakibat minor bahkan tanpa perawatan. f) Kelas-6: bahan racun dan menular.3: dangerous when wet materials yaitu bahan yang secara spontan menyala atau memberikan gas bila berkontak dengan air. Bentuk belah ketupat yang dibagi empat. tetapi belum termasuk dalam katagori kelas sebelumnya. maka label NFPA ini merupakan label yang perlu dipasang. terdapat bahan yang tidak termasuk dalam kelas tersebut (tertulis 'none'). atau bila dibakar akan menyala segera dan cepat. yang bila pada kondisi normal terjadi kecelakaan akan menyebabkan terbentuknya api akibat gesekan dan sebagainya. Bahan korosif (kelas-8). dan putih di bawah dengan simbol hitam. terbagi menjadi 2 divisi. dan putih (bahaya khsusus) o Angka dan notasi yang terdapat pada masing-masing kotak adalah: a. e) Kelas-5: pengoksidasi dan peroksida organik.1: flammable solid yaitu bahan padat. dan mungkin menyebabkan luka atau kerusakan kecuali dilakukan pengobatan o 3 = serius. artinya mempunyai karakter yang dapat menyebabkan luka atau kerusakan pada paparan yang singkat walau dilakukan pengobatan. g) Kelas-7: bahan radioaktif. Label dibutuhkan dipasang pada seluruh bahan kimia yang ada di sebuah laboratorium. sedang tulisan I. Bahan radioaktif (termasuk kelas-7) menurut versi USDOT adalah setiap materi atau kombinasi materi yang secara spontan mengionisasi radiasi dengan aktivitas spesifik lebih besar dari 0. bukan peledak. dengan plakat warna putih dan simbol hitam. bila belum mencantumkan label yang sesuai. mutagen atau teratogen pada binatang Enri Damanhuri . yaitu: − Bahan-bahan terlarang − Bahan-bahan eksplosif terlarang − Bahan-bahan dengan aturan lain. Radioactive white-I dengan bahaya minimum. Plakat Radioactive yellow-II dan Radioactive yellow-III berwarna kuning di atas. Bahaya terhadap kesehatan: o 0 = minimal. Oksidator adalah bahan kimia seperti khlorat. Kelompok berikutnya adalah bahan beracun (di luar gas) yang diketahui toksik pada manusia. dan bahan menular baik berupa mikroorganisme atau toxin yang dapat mendatangkan penyakit pada manusia. artinya mempunyai karakter dapat menyebabkan iritasi. − Divisi 4. − Divisi 4. h) Kelas-8: bahan korosif.. sedang peroksida organik adalah senyawa yang mengandung struktur . Kelompok lain-lain (kelas-9) adalah bahan yang yang dapat menyebabkan bahaya. baik cair atau padat. Radioactive yellow-II dan Radioactive yellow-III. artinya artinya mempunyai karakter yang dapat menyebabkan bahaya bila paparan berlanjut. artinya tidak terdapat bahaya toksisitas o 1 = ringan.O . dan reaktivitas. Radioactive Yellow-III adalah dengan bahaya maksimum. flammabilitas. menurut versi USDOT didefinisikan sebagai bahan yang dapat menyebabkan kerusakan visibel ke materi yang kontak dengannya. peroksida organik. dengan kode ORM (other regulated materials) ORM-D: komuditas konsumer seperti hair spray ORM-E: lain-lain yang diatur oleh USDOT − Label Versi NFPA: Disamping US-DOT.FTSL ITB Halaman 37 . dengan warna masing-masing kotak berbeda. Disamping itu. merah (fbahaya terhadap kebakaran). nitrat dan sebagainya yang dapat mengoksidasi materi organik.O . maka di Amerika Serikat the National Fire Protection Association (NFPA) mengembangkan pula label berwarna dengan kode. dan/atau tidak berbahaya bila digunakan secara hati-hati dan bertanggung jawab o 2 = moderat.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Divisi 4.2: spontaneously combustible materials yaitu bahan yang bila pada kondisi normal terjadi kecelakaan secara spontan akan menjadi panas akibat berkontak dengan udara misalnya bahan yang termasuk pyrophoric. permanganat. seperti obat bius dan sebagainya. i) Kelas-9: lain-lain. untuk mengindikasikan bahaya bahan kimia terhadap kesehatan. Untuk menujukkan derajad bahaya maka digunakan angka: o Setiap kotak diberi warna: biru (bahaya terhadap kesehatan).

dan tidak reaktif terhadap air. dan atau bahan yang dapat menghasilkan reaksi eksotermis dengan sendirinya bila berkontak dengan bahan tanpa atau adanya biasa biasa. artinya bahan yang stabil yang menjadi tidak stabil bila terpapar pada temperatur tekanan tinggi. dan/atau bahan yang bereaksi dengan sendirinya dengan air tanpa membutuhkan panas terlebih dahulu.8 C c. 4: jenis bahaya flammabilitas = extreme 4: jenis bahaya terhadap kesehatan = ekstrim 4: jenis bahaya terhadap reaktivitas = ekstrim W: jenis bahaya yang spesifik = reaktif terhadap air Enri Damanhuri . o 4 = ekstrim. dan dilakukan pengobatan b. dan/atau bahan padat yang menghasilkan uap mudah o o terbakar. dan/atau o mempunyai flash point di bawah 93.5 C selama 5 menit.FTSL ITB Halaman 38 .8 C. yang dapat menyebabkan kematian atau kerusakan dalam paparan yang sangat singkat. tetapi di bawah 37.5 C selama 5 menit. Bahaya terhadap timbulnya kebakaran: o 0 = minimal. artinya bahan mudah terbakar yang mempunyai karakter menghasilkan uap yang mudah terbakar dalam kondisi biasa. artinya bahan yang stabil. tidak menyebabkan flash point. dan/atau bahan yang sensitive terhadap perubahan kejutan mekanis atau panas pada temperatur dan tekanan normal.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 4 = ekstrim. Bahaya terhadap adanya air (reaktif terhadap air): o 0 = minimal. dan/atau mempunyai flash point di atas o o 22.8 C o 4 = ekstrim. atau perlu terpapar pada temperatur tinggi agar kebakaran terjadi. merupakan bahan yang sangat toksik. artinya bahan yang dapat meledak namun membutuhkan penyulut yang kuat agar eterjadi. dan/atau bahan yang akan berobah kompisisi kimianya dengan melepaskan enersi yang dikandungnya pada temperatur dan tekanan normal. o 3 = serius.4 C o 2 = moderat. tidak terbakar di o udara bila terpapar pada 815. dan/atau akan bereaksi dengan keras bila terdapat air. d. dan/atau bahan yang sensitive terhadap panas. artinya tidak terbakar. artinya bahan yang tidak stabil dan akan cepat berubah tetapi tidak menimbulkan ledakan.8 C tetapi lebih kecil dari 93. bahan yang dapat meledak dan terdekomposisi secara keras pada temperatur dan tekanan normal. artinya bahan tidak mudah terbakar yang mempunyai karakter dapat terbakar bila terpapar panas terlebih dahulu. artinya baru dapat terbakar bila dipanaskan terlebih dahulu. atau dapat menyimpan panas sebelum terjadi kebakaran. merupakan bahan yang mudah terbakar dengan flash point di bawah o 22. o 2 = moderat. o 1 = ringan. dan/atau o akan terbakar di udara terbuka bila terpapar pada 815. dan/atau mempunyai flash point di atas 37. Bahaya spesial. dan/atau dapat membentuk ledakan yang terbakar dengan cepat di udara. o 1 = ringan. atau terhadap kejutan mekanis pada temperatur tin gi. yaitu: o Reaktif terahadap air (dengan kode: W) o Bahan oksidator (dengan kode: Ox) o Bahan radioaktif (dengan kode tanda radioaktif) o Bahan racun (dengan kode tanda racun) o Contoh: No.4 C o 3 = serius. dan/atau akan menghasilkan ledakan bila bercampur dengan air. dan/atau siap terbakar dengan sendirinya akibat kandungan oksigen di dalamnya.

Blok segilima berwarna putih.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Label Versi KepBapedal 05/09/1995: Di Indonesia. dan dibawahnya terdapat blok segilima berwarna merah. pada bagian bawah.” dan dibawahnya terdapat tulisan “MUDAH TERBAKAR” berwarna putih. dengan warna dasar kuning dan tulisan serta garis tepi berwarna hitam.. jumlah dan Enri Damanhuri . pada bagian tengah terdapat tulisan “INFEKSI” berwarna hitam. Gambar simbol berupa lidah apai berwarna hitam yang menyala pada satu bidang berwarna hitam. Label identitas limbah berukuran minimum 15 cm x 20 cm atau lebih besar. − simbol padatan mudah terbakar: dasar simbol terdiri dari warna merah dan putih yang berjajar vertikal berselingan. terdapat 3 jenis label yang berkaitan dengan sistem pengemasan limbah B3. o Simbol limbah B3 klasifikasi campuran: warna dasar bahan adalah putih dengan garis pembentuk belah ketupat bagian dalam berwarna hitam. yaitu (Gambar 1): o Simbol klasifikasi limbah B3 mudah meledak : warna dasar oranye. dengan mencantumkan antara lain: nama dan alamat penghasil.05/Bapedal/09/1995 terdapat delapan jenis simbol. Simbol infeksi berwarna hitam terletak di sebelah bawah sustu atas garis belah ketupat bagian dalam. dan disebelah kanan adalah gambar lengan yang terkena tetesan limbah korosif. Pada bagian tengah bawah terdapat tuliasan “CAMPURAN” berwarna hitam serta blok segilima berwarna merah. Pada bagian tengah terdapat tulisan “MUDAH MELEDAK” berwarna hitam yang diapit oleh 2 garis sejajar berwarna hitam sehingga membentuk 2 buah bangun segitiga sama kaki pada bagian dalam belah ketupat. identitas limbah serta kuantifikasi limbah dalam suatu kemasan limbah B3. o Simbol klasifikasi limbah B3 reaktif: bahan dasar berwarna kuning dengan blok segilima berwarna merah. berdasarkan keputusan Kepala Bapedal No. serta blok segilima berwarna merah. yang terdapat ditepi antara sudut atas dan sudut kiri belah ketupat bagian dalam. o Simbol klasifikasi limbah B3 korosif: belah ketupat terbagi pada garis horizontal menjadi dua bidang segitiga. o Simbol klasifikasi limbah B3 yang mudah terbakar : terdapat 2 (dua) macam simbol untuk klasifikasi limbah yang mudah terbakar. Garis tepi simbol berwarna hitam.FTSL ITB Halaman 39 . o Simbol klasifikasi limbah B3 beracun: bahan dasar putih dengan blok segilima berwarna merah. Blok segilima berwarna kebalikan dari warna dasar simbol. bidang segitiga berwarna hitam. Pada bagian tengah terdapat tulisan “PADATAN” dan dibawahnya terdapat tulisan “MUDAH TERBAKAR” berwarna hitam. yaitu disebelah kiri adalah gambar tetesan limbah korosif yang merusak pelat bahan berwarna hitam. Menurut peraturan yang digunakan di Indonesia. Gambar terletak di bawah sudut atas garis ketupat bagian dalam. Pada bagian tengah terdapat tulisan “ CAIRAN. gambar simbol berupa lidah api berwarna putih yang menyala pada suatu permukaan berwarna putih. Simbol berupa gambar berwarna hitam suatu materi limbah yang menunjukkan meledak. o Simbol klasifikasi limbah B3 menimbulkan infeksi: warna dasar bahan adalah putih dengan garis pembentuk belah ketupat bagian dalam berwarna hitam. Di sebelah bawah gambar simbol terdapt tulisan “REAKTIF” berwarna hitam. Simbol berupa lingkaran hitam dengan asap berwarna hitam mengarah ke atas yang terletak pada suatu permukaan garis berwarna hitam. gambar simbol berupa tanda seru berwarna hitam terletak di sebelah bawah sudut atas garis belah ketupat bagian dalam. yaitu simbol untuk cairan mudah terbakar dan padatan mudah terbakar: − simbol cairan mudah terbakar: bahan dasar merah. Pada bagian atas yang berwarna putih terdapat 2 gambar. yaitu: o Label identitas limbah: berfungsi untuk memberikan informasi tentang asal usul limbah. dan tulisan “PERINGATAN !” dengan huruf yang lebih besar berwarna merahdiisi dengan huruf cetak dengan jelas terbaca dan tidak mudah terhapus serta dipasang pada setiap kemasan limbah B3 yang disimpan di tempat penyimpanan. Simbol berupa tengkorak manusia dengan tulang bersilang berwarna hitam. Pada sebelah bawah gambar terdapt tulisan “BERACUN” berwarna hitam. terdapat tulisan “KOROSIF” berwarna putih.

aturan tata cara serta konstruksi dan penggunaan kontainer untuk bahan berbahaya harus ketat. Label harus dipasang pada kemasan bekas pengemasan limbah B3 yang telah dikosongkan dan atau akan digunakan untuk mengemas limbah B3. baik yang telah diisi limbah B3. Pengemasan yang baik mempunyai kriteria: − Bahan tersebut selama pengangkutan tidak terlepas ke luar − Keefektifannya tidak berkurang − Tidak terdapat kemungkinan pencampuran gas dan uap Terdapat 3 jenis kelompok pengemasan. Label terbuat dari bahan yang tidak mudah rusak karena goresan atau akibat terkena limbah dan bahan kimia lainnya.1: Simbol Limbah B3 versi KepBapedal 05/09/1995 3 PENGEMASAN DAN PEWADAHAN Pengemas B3: Pengemasan (packaging) juga diatur dan perlu dicantumkan dalam surat pengangkutan. Label untuk penandaan kemasan kosong : bentuk dasar label sama dengan bentuk dasar simbol dengan ukuran sisi minimal 10 x 10 cm2 dan tulisan “KOSONG” berwarna hitam ditengahnya. Dengan demikian. Label harus terpasang kuat pada setiap kemasan limbah B3. Gambar terdapat dalam frame hitam. Label dipasang dekat tutup kemasan dengan arah panah menunjukkan posisi penutup kemasan.FTSL ITB Halaman 40 . Enri Damanhuri . maupun kemasan yang akan digunakan untuk mengemas limbah B3. Label identitas dipasang pada kemasan di sebelah atas simbol dan harus terlihat dengan jelas.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 o o jenis limbah serta tanggal pengisian. Kecelakaan akibat bahan berbahaya ini akan menimbulkan masalah serius bagi manusia. yaitu: − Kelompok I: derajat bahaya besar − Kelompok II: derajat bahaya sedang − Kelompok III: derajat bahaya kecil. drum fiber. terdiri dari 2 (dua) buah anak panah mengarah ke atas yang berdiri sejajar di atas balok hitam. hak milik dan lingkungan. Menjamin keselamatan transportasi bahan berbahaya merupakan aktivitas yang kompleks. Gambar 4. Kecelakaan limpahan bahan berbahaya yang sering terjadi adalah karena kecelakaan lalu-lintas yang umumnya akibat kesalahan manusia dan atau alat/perlengkapan yang kurang sempurna. Alat pengemas dapat berupa: drum baja. kotak kayu. botol gelas dan sebagainya. Label penunjuk tutup kemasan: berukuran minimal 7 x 15 cm2 dengan warna dasar putih dan warna gambar hitam.

Kemasan dari satu jenis bahan juga banyak digunakan. Ditinjau dari tonase.FTSL ITB Halaman 41 . d. untuk disimpan sebelum dikirim ke pengolah. kayu. fiberglass dan logam. Hampir setengah bahan berbahaya kemasan kecil ini diangkut melalui jalan darat serta sebagian lagi melalui udara. Penghasil. Kombinasi container sering digunakan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 USDOT menggariskan bahwa kontainer yang digunakan untuk mengangkut bahan berbahaya dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga bila terjadi kecelakaan pada kondisi transportasi yang normal. misalnya botol.botol gelas dimasukkan dalam peti-peti fiberboard. Drum yang biasa. Apabila dalam perkembangannya terjadi perubahan kegiatan yang diperkirakan mengakibatkan berubahnya karakteristik limbah yang dihasilkan. biasanya korosif dan dapat menimbulkan masalah pada kesehatan manusia dan lingkungan. Drum baja 55 gallon (208 liter) merupakan kapasitas terbesar yang biasa digunakan. Faktor kesalahan manusia pada pengemasan bahan berbahaya yang dikemas dalam kuantitas kecil relatif akan lebih tinggi.01/Bapedal/09/1995: Di Indonesia. Beberapa temuan yang terdapat di USA adalah: − Ketidak tepatan dalam menayangkan label − Ketidak tepatan dalam mengelompokkan kontainer berbahaya − Kebocoran pada valve − Tidak tepat dalam mendeskripsikan bahan yang diangkut − Tidak tepat dalam pengisian shiping paper − Radiasi berlebihan di kabin truk. c. Banyak terjadi bahwa drum yang digunakan adalah drum bekas (walaupun kompatibel) untuk itu perlu diperhatikan efek jangka panjang dari drum tersebut.01/Bapedal/09/1995. No. unloading. Ketentuan dalam bagian ini berlaku bagi kegiatan pengemasan dan pewadahan limbah B3 di fasilitas: a. Pengolah. seperti drum baja atau silinder untuk gas terkompres. maka harus dilakukan pengujian. Penghasil. Kemasan komposit seperti drum-drum dari plastik berlapis baja kadang digunakan. Rancangan kontainer yang digunakan harus terkait dengan sistem transportasi terutama dimensi dan beratnya. misalnya pengemasan yang tidak betul dan sebagainya. Bahan pengemasan yang digunakan adalah: fiberboard. yang dapat menimbulkan reaksi spontan (kenaikan panas atau ledakan) sehingga mengurangi keefektifan pengemasan. maka terhadap masing-masing limbah B3 hasil kegiatan perubahan tersebut harus dilakukan pengujian kembali terhadap karakteristiknya. ketentuan tentang pengemasan dan pewadahan limbah B3 diatur dalam Kep. maka kemasan kecil di USA hanya merupakan sebagian kecil yang digunakan untuk menangani bahan berbahaya yang diangkut. untuk disimpan sementara di luar lokasi penghasil tetapi tidak sebagai pengumpul. sebelum dilakukan pengolahan dan atau penimbunan. Dibutuhkan inspeksi secara berkala. Bagi penghasil yang menghasilkan limbah B3 yang sama secara terus menerus. Oleh karenanya bahan berbahaya harus ditempatkan dalam drum dan kontainer yang kompatibel atau sesuai. untuk disimpan sementara di dalam lokasi penghasil. pengemasan tersebut harus menjamin tidak terjadi reaksi kimiawi di dalamnya. kaca. Oleh karenanya kontainer yang digunakan dirancang untuk memudahkan loading. Produk yang diproduksi dengan kuantitas kecil biasanya dikemas dalam kuantitas tersebut. b. maka: − Tidak menimbulkan penyebaran bahan tersebut ke lingkungan sekitarnya − Keefektifan pengemasan tidak berkurang selama perjalanan − Tidak terjadi pencampuran gas atau uap dalam kemasan. Pengemas dan Pewadah Limbah B3 Versi Kep No. dan bagaimana menggunakan ruang transportasi yang efisien. Kadangkala bahan berbahaya disimpan (diakumulasi) dalam drum atau kontainer. Apabila ada keragu-raguan dengan karakteristik limbahnya. Enri Damanhuri . Pengumpul. Setiap penghasil/pengumpul limbah B3 harus dengan pasti mengetahui karakteristik bahaya dari setiap limbah B3 yang dihasilkan/dikumpulkan. maka pengujian dapat dilakukan sekurang-kurangnya satu kali. plastik.

Kemasan bekas mengemas limbah B3 dapat digunakan kembali untuk mengemas limbah B3 yang mempunyai karakteristik sama (kompatibel) dengan limbah B3 sebelumnya. harus disimpan di tempat penyimpanan limbah B3. SS304. kemudian disimpan di tempat yang memenuhi persyaratan untuk penyimpanan limbah B3 serta mematuhi tata cara penyimpanannya. pembentukan gas dan kenaikan tekanan selama penyimpanan. Jika akan digunakan untuk mengemas limbah B3 yang tidak saling cocok. kemasan dirancang tahan akan kenaikan tekanan. Untuk mempermudah pengisian limbah ke dalam kemasan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Bentuk. Gambar 4. Pengisian limbah dalam satu kemasan harus mempertimbangkan karakteristik dan jenis limbah. Kemasan yang telah diisi atau terisi penuh dengan limbah B3 harus ditandai dengan simbol dan label yang sesuai dengan ketentuan mengenai penandaan pada kemasan limbah B3. maka kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu sebelum dapat digunakan sebagai kemasan limbah B3 dengan memenuhi ketentuan butir 1 di atas.2: Penyimpan limbah B3 cair (A) dan limbah sludge (B) Drum/tong atau bak kontainer yang telah berisi limbah B3 dan disimpan di tempat penyimpanan harus dilakukan pemeriksaan kondisi kemasan sekurang-kurangnya 1 (satu) minggu satu kali. Kemasan yang akan dikosongkan apabila akan digunakan kembali untuk mengemas limbah B3 lain dengan karakteristik yang sama. atau dapat pula disimpan bersama-sama dengan limbah lain yang memiliki karakteristik yang sama atau saling cocok. Kemasan tersebut selalu dalam keadaan tertutup rapat dan hanya dapat dibuka jika akan dilakukan penambahan atau pengambilan limbah dari dalamnya. PP atau PVC) atau bahan logam (teflon. dan tumpahan limbah tersebut harus segera diangkat dan dibersihkan. Untuk limbah yang bereaksi sendiri sebaiknya tidak menyisakan ruang kosong dalam kemasan. baja karbon. 4 M atau 8 M . Limbah yang disimpan dalam satu kemasan adalah limbah yang sama. serta agar lebih aman. Untuk limbah yang mudah meledak. Jika akan digunakan untuk menyimpan limbah B3 Enri Damanhuri . pengaruh pemuaian.FTSL ITB Halaman 42 . atau dapat pula berupa bak kontainer berpenutup dengan 3 3 3 kapasitas 2 M . atau SS440) dengan syarat bahan kemasan yang dipergunakan tersebut tidak bereaksi dengan limbah B3 yang disimpannya. Apabila diketahui ada kemasan yang mengalami kerusakan (karat atau bocor). limbah dapat terlebih dahulu dikemas dalam kantong kemasan yang tahan terhadap sifat limbah sebelum kemudian dikemas dalam kemasan tersebut. SS316. ukuran dan bahan kemasan limbah B3 disesuaikan dengan karakteristik limbah B3 yang akan dikemasnya dengan mempertimbangkan segi kemanan dan kemudahan dalam penanganannya. Kemasan dapat terbuat dari bahan plastik (HPDE. Kemasan yang digunakan untuk pengemasan limbah dapat berupa drum/tong dengan volume 50 liter. maka isi limbah B3 tersebut harus segera dipindahkan ke dalam drum/tong yang baru. kemudian disimpan dalam kemasan limbah B3 terpisah. 100 liter atau 200 liter. Gambar 2 berikut adalah contoh drum pengemas limbah B3.

logam dan kemungkinan harus mencakup pengukuran potensi korosi yang disebabkan oleh faktor lingkungan serta daya tahan bahan tangki terhadap korosi tersebut – Perhitungan umur operasional tangki. Pemeriksaan rutin dilakukan sekurang-kurangnya 1 kali selama sistem tangki dioperasikan. Tangki dan sistem penunjangnya harus terbuat dari bahan yang saling cocok dengan karakteristik dan jenis limbah B3 yang dikemas/disimpannya. Tidak digunakan untuk menyimpan limbah mudah menyala atau reaktif kecuali : – Limbah tersebut telah diolah atau dicampur terlebih dahulu sebelum/segera setelah ditempatkan di dalam tangki. maka harus dengan memperhitungkan dampak kegiatan di atasnya serta menerapkan rancang bangun atau kegiatan yang dapat melindungi sistem tangki terhadap potensi kerusakan. – Ditempatkan pada pondasi yang dapat mendukung ketahanan tangki terhadap tekanan dari atas dan bawah dan mampu mencegah kerusakan yang diakibatkan karena pengisian. ceceran dan presipitasi. sehingga olahan atau campuran limbah yang terbentuk tidak lagi berkarakteristik mudah menyala atau reaktif. tanggul atau berdinding ganda. – Penampungan sekunder. khususnya terhadap peralatan pengendalian luapan/tumpahan. deteksi korosi atau lepasnya limbah dari tangki. maka harus dipastikan agar selama pemasangan tangki dan sistem penunjangnya telah diterapkan prosedur penanganan yang tepat untuk mencegah terjadinya kerusakan selama tahap konstruksi. Bentuk wadah berupa tangki biasa digunakan dalam pengemasan limbah B3. Apabila tangki akan digunakan untuk menyimpan limbah sebelumnya. maka tangki harus terlebih dahulu dicuci bersih. monitoring dilakukan terhadap bahan konstruksi dan areal seputar sistem tangki termasuk struktur pengumpul sekunder untuk mendeteksi pengikisan atau tanda-tanda terlepasnya limbah misalnya bintik lembab. – Karakteristik limbah B3 yang akan disimpan.FTSL ITB Halaman 43 . – Rencana penutupan sistem tangki setelah masa operasionalnya berakhir. Selama masa konstruksi berlangsung.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dengan karakteristik yang tidak saling sesuai dengan sebelumnya. atau – Limbah disimpan atau diolah dengan suatu cara sehingga tercegah dari kondisi atau bahan yang menyebabkan munculnya sifat mudah menyala atau reaktif. Sebelum melakukan pemasangan tangki penyimpanan limbah B3. tekanan atau uplift. – Jika sistem tangki dan atau peralatan penunjangnya terbuat dari logam dan kemungkinan dapat terkontak dengan air dan atau tanah. terbuat dari bahan yang cocok dengan karakteristik limbah yang akan disimpan atau diolah. Persyaratan penampungan sekunder tersebut adalah: – Dibuat atau dilapisi dengan bahan yang saling cocok dengan limbah yang disimpan serta memiliki ketebalan dan kekuatan memadai untuk mencegah kerusakan akibat pengaruh tekanan. dirancang untuk dapat menampung dan mengangkat cairan-cairan yang berasal dari kebocoran. dan lepasnya limbah B3 dari sistem penampungan sekunder. Disamping itu. tangki wajib dilengkapi dengan penampung sekunder. kematian vegetasi. Jika tangki dirancang untuk dibangun di dalam tanah. Enri Damanhuri . Limbah-limbah yang tidak saling cocok tidak ditempatkan secara bersama-sama di dalam tangki. Laporan tersebut sekurang-kurangnya meliputi: – Rancang bangun dan peralatan penunjang sistem tangki yang akan dipasang. pemilik atau operator harus mengajukan permohonan rekomendasi kepada Kepala Bapedal dengan melampirkan laporan hasil evaluasi terhadap rancang bangun dan sistem tangki yang akan dipasang untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan. maka kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu dan disimpan dengan memasang “label KOSONG” sesuai dengan ketentuan penandaan kemasan limbah B3. Untuk mencegah terlepasnya limbah B3 ke lingkungan. – Dilengkapi dengan sistem deteksi kebocoran yang dioperasikan 24 jam sehingga mampu mendeteksi kerusakan pada struktur tangki primer dan sekunder. Sistem tangki harus ditunjang kekuatan rangka yang memadai. Penampung sekunder dapat berupa pelapisan di bagian luar tangki. dan aman terhadap korosi sehingga tangki tidak mudah rusak.

01/Bapedal/09/1995 dibuat dengan sistem blok. Setiap blok terdiri atas 2 (dua) x 2 (dua) kemasan (Gambar 3). serta mengangkat tumpahan yang terlanjur masuk ke tanah atau air permukaan. Jika tumpukan lebih dan 3 lapis atau kemasan terbuat dari plastik. Pada bagian luar bangunan. sehingga dapat dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap setiap kemasan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Bila sistem tangki atau sistem tangki pengumpul sekunder mengalami kebocoran atau gangguan yang menyebabkan limbah terlepas. serta memasang kasa atau bahan lain untuk mencegah masuknya burung atau binatang kecil lainnya ke dalam ruang penyimpanan. maka lampu penerangan harus dipasang minimal 1 meter di atas kemasan. mencegah terjadinya perpindahan tumpahan ke tanah atau air permukaan. Lantai bagian dalam dibuat melandai kearah bak penampungan dengan kemiringan maksimum 1%. kuat dan tidak retak. Penumpukan kemasan harus mempertimbangkan kestabilan tumpukan kemasan. Lebar gang antar blok minimal 60 cm untuk memudahkan petugas melaluinya. – Memindahkan limbah B3 dari sistem tangki atau sistem penampungan sekunder – Mewadahi limbah yang terlepas ke lingkungan. o Pada bagian luar tempat penyimpanan diberi penandaan (simbol) sesuai dengan tata cara yang berlaku. sakelar harus terpasang di sisi luar bangunan. o Tangki harus terlindung dari penyinaran matahari dan masuknya air hujan secara langsung. o Dibuat tanpa plafon dan memiliki sistem ventilasi udara yang memadai untuk mencegah terjadinya akumulasi gas di dalam ruang penyimpanan. Penempatan kemasan diatur agar tidak ada kemungkinan bagi limbah-limbah tersebut jika terguling/tumpah akan tercampur/masuk ke dalam bak penampungan bagian penyimpanan lain. maka tumpukan maksimum adalah 3 lapis dengan tiap lapis dialasi palet. o Bak penampung harus kedap air dan mampu menampung cairan minimal 110% dan kapasitas maksimum volume tangki o Tangki harus diatur sedemikian rupa sehingga bila terguling akan terjadi di daerah tanggul dan tidak akan menimpa tangki lain. dan tidak dalam bagian penyimpanan yang sama. Jika menggunakan lampu. tidak dalam satu blok. Jarak tumpukan kemasan tertinggi dan jarak blok kemasan terluar terhadap atap dan dinding bangunan penyimpanan tidak boleh kurang dari 1 m. 4 PENYIMPANAN DAN PENGUMPULAN Penyimpanan kemasan menurut Keputusan Bapedal No. Dengan demikian jika terdapat kerusakan kecelakaan dapat segera ditangani. o Dilengkapi dengan sistem penangkal petir. Enri Damanhuri . Penyimpanan limbah cair dalam jumlah besar disarankan menggunakan tangki (Gambar 5) dengan ketentuan sebagai berikut: o Disekitar tangki harus dibuat tanggul dengan dilengkapi saluran pembuangan yang menuju bak penampung. o Lantai bangunan penyimpanan harus kedap air. Kemasan-kemasan berisi limbah B3 yang tidak saling cocok harus disimpan secara terpisah. maka harus dipergunakan rak (Gambar 4). kemiringan lantai diatur sedemikian rupa sehingga air hujan dapat mengalir menjauhi bangunan penyimpanan.FTSL ITB Halaman 44 . tidak bergelombang. Jika kemasan berupa drum logam (isi 200 liter). maka harus segera melakukan: – Penghentian operasional sistem tangki dan mencegah aliran limbah. o Terlindung dari masuknya air hujan baik secara langsung maupun tidak langsung. – Membuat catatan dan laporan mengenai kecelakaan dan penanggulangan yang telah dilakukan. karakteristik dan jumlah limbah B3 yang dihasilkan/akan disimpan. o Memiliki sistem penerangan (lampu/cahaya matahari) yang memadai untuk operasional atau inspeksi rutin. Persyaratan bangunan penyimpanan kemasan limbah B3 adalah (Gambar 6): o Memiliki rancang bangun dan luas ruang penyimpanan yang sesuai dengan jenis. dan setiap palet mengalasi 4 drum. sedang lebar gang untuk lalu lintas kendaraan pengangkut (forklift) disesuaikan dengan kelayakan pengoperasiannya.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4.4: Pola penyimpanan kemasan drum dalam rak Enri Damanhuri .3: Pola penyimpanan kemasan drum Gambar 4.FTSL ITB Halaman 45 .

dengan ketentuan bahwa setiap bagian penyimpanan hanya diperuntukkan menyimpan 1 karakteristik limbah B3.FTSL ITB Halaman 46 .5: Tangki penyimpanan limbah B3 jumlah besar Gambar 4. peralatan komunikasi. Enri Damanhuri . dan alarm.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4. mempunyai beberapa persyaratan: o Terdiri dari beberapa bagian penyimpanan. gudang tempat penyimpanan peralatan dan perlengkapan. pembangkit listrik cadangan. o Sistem dan ukuran saluran yang ada dibuat sebanding dengan kapasitas maksimum limbah B3 yang tersimpan sehingga cairan yang masuk ke dalamnya dapat mengalir dengan lancar ke tempat penampungan yang telah disediakan. pagar pengaman. o Setiap bagian penyimpanan harus mempunyai bak penampung tumpahan limbah dengan kapasitas yang memadai.6: Contoh tata letak penyimpanan limbah B3 Tempat penyimpanan yang digunakan untuk menyimpan lebih dari 1 karakteristik limbah B3. fasilitas pertolongan pertama. o Sarana lain yang harus tersedia adalah: peralatan dan sistem pemadam kebakaran. pintu darurat. o Antara bagian penyimpanan satu dengan lainnya dibuat tanggul atau tembok pemisah untuk menghindarkan tercampurnya atau masuknya tumpahan limbah ke bagian lainnya. atau limbahlimbah B3 yang saling cocok.

o Untuk kestabilan struktur pada tembok penahan api dianjurkan digunakan tiang-tiang beton bertulang yang tidak ditembusi oleh kabel listrik. maka jarak minimum dengan bangunan lain adalah 20 meter. bangunan tempat penyimpanan bak kontainer dan bangunan tempat penyimpanan tangki: o Merupakan daerah bebas banjir. maka fasilitas pengumpulan merupakan fasilitas khusus yang harus dilengkapi dengan berbagai sarana untuk penunjang dan tata ruang yang tepat sehingga kegiatan pengumpulan dapat berlangsung dengan baik dan aman bagi lingkungan (gambar 7). o Jarak terdekat yang diperkenankan adalah (a) 150 meter dari jalan utama atau jalan tol. o Struktur pendukung atap terdiri dari bahan yang tidak mudah menyala. atau diupayakan aman dari kemungkinan terkena banjir. sehingga asap dan panas akan mudah keluar. o Jarak minimum antara lokasi dengan fasilitas umum adalah 50 meter. perdagangan. maka beberapa persyaratan adalah: o Luas tanah termasuk untuk bangunan penyimpanan dan fasilitas lainnya sekurangkurangnya 1 (satu) hektar. berupa tembok beton bertulang (tebal minimum 15 cm) atau tembok bata merah (tebal minimum 23 cm) atau blok-blok (tidak berongga) tak bertulang (tebal minimum 30 cm). fasilitas pencucian peralatan.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Persyaratan bangunan penyimpanan limbah B3 mudah terbakar: o Jika bangunan berdampingan dengan gudang lain maka harus dibuat tembok pemisah tahan api. (c) 300 meter dari fasilitas umum seperti daerah pemukiman. (b) 50 meter dari jalan lainnya. kawasan suaka o Seperti halnya fasilitas penyimpanan yang telah diuraikan di atas. memiliki atap pelindung dengan lantai yang kedap air o Tangki dan daerah tanggul serta bak penampungannya terlindung dari penyinaran matahari secara langsung serta terhindar dari masuknya air hujan langsung maupun tidak langsung Lokasi bangunan tempat penyimpanan kemasan drum/tong. Konstruksi lantai dan dinding dibuat lebih kuat dari konstruksi atap. garis pasang tertinggi laut. sumber air . o Konstruksi atap. o Menggunakan instalasi yang tidak menyebabkan ledakan/percikan listrik o Dilengkapi dengan: sistem pendeteksi dan pemadam kebakaran. Konstruksi atap dibuat ringan. persediaan air untuk pemadam api. Dalam hal limbah B3 dikumpulkan terlebih dahulu di sebuah tempat di luar lokasi penghasil limbah B3. o Beberapa fasilitas tambahan yang diperlukan adalah laboratorium analisa. Enri Damanhuri . o Area secara geologis merupakan daerah bebas banjir tahunan. fasilitas bongkar muat dan fasilitas lain seperti diuraikan di atas. rumah sakit. Rancang bangun untuk penyimpanan limbah B3 mudah meledak: o Konstruksi bangunan dibuat tahan ledakan dan kedap air. o Jika bangunan dibuat terpisah dengan bangunan lain. (d) 300 meter dari perairan. o Pintu darurat dibuat tidak pada tembok tahan api. hutan lindung. dan mudah hancur bila ada kebakaran. Persyaratan bangunan untuk penempatan tangki: o Tangki penyimpanan limbah B3 harus terletak di luar bangunan tempat penyimpanan limbah o Merupakan konstruksi tanpa dinding. pelayanan kesehatan atau kegiatan sosial. hidran pemadam api dan perlindungan terhadap hidran.FTSL ITB Halaman 47 . Desain bangunan sedemikian rupa sehingga cahaya matahari tidak langsung masuk ke ruang gudang. dinding dan lantai harus tahan terhadap korosi dan api. o Suhu dalam ruangan harus tetap dalam kondisi normal. sehingga bila terjadi ledakan yang sangat kuat akan mengarah ke atas dan tidak ke samping. Rancang bangun khusus untuk penyimpan limbah B3 reaktif. (e) 300 meter dari daerah yang dilindungi seperti cagar alam. korosif dan beracun: o Konstruksi dinding dibuat mudah dilepas guna memudahkan pengamanan limbah dalam keadaan darurat. o Lokasi harus cukup jauh dari fasilitas umum dan ekosistem tertentu.

Transportasi bahan berbahaya yang bervolume besar (bulky) dapat dilakukan melalui segala jenis angkutan. laut. tank car. Cargo tank merupakan sarana yang biasa digunakan di darat. Dalam hal ini Research and Special Programs Administration (RSPA) dari USDOT mengeluarkan dan bertanggungjawab untuk mengembangkan aturan-aturan. drum. box. Produk-produk berbahaya tersebut diangkut dengan berbagai container seperti : vessel. Kapasitas tank car ini dibatasi 34.500 gallon (130 m3) dengan berat kotor 236. kereta api atau laut. aturan-aturan yang dikeluarkan oleh DOT telah meliputi lebih dari 30. botle dan cask. darat (termasuk kereta api). tank truck. intermodal portable tank.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gambar 4. Bahan-bahan ini diangkut melalui udara. Sekitar 80 % dari pengangkutan bahan berkapasitas besar menggunakan tank car yang mempunyai masa layan 30 .000 pound (36 ton). cylinder. nikel atau stainless steel.000 jenis bahan berbahaya.7: Contoh tata ruang pengumpulan limbah B3 6 PENGANGKUTAN Di Amerika Serikat. Kapasitas yang digunakan di USA adalah antara 4000 sampai 12000 gallon (15 sampai 50 m3). seperti melalui darat. acuan-acuan teknik yang standar serta pengujian untuk itu.40 tahun.FTSL ITB Halaman 48 . barrel. dan biasanya terbuat dari baja atau campuran alumunium atau dapat pula dari bahan lain seperti titanium.000 pound (107 ton). can. Beban kendaraan biasanya dibatasi sampai 80. Perbedaan utama dari rail tank car ini adalah ada Enri Damanhuri .

1989 Kep. Secara statistik.paru. pemadam kebakaran dan sebagainya) akan tergantung pada apakah aparat tersebut terlatih untuk jenis kecelakaan itu. Prentice Hall Building.Bapedal 01/Bapedal/09/1995: tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3 Kep. Demikian juga peralatan tim harus sesuai dengan kebutuhan/jenis bahan atau limbah yang diangkut. bahan berikutnya yang sering digunakan adalah alumunium. toluene dan sebagainya. Sekitar 66 % (berat) bahan yang diangkut di USA adalah bahan kimia (sebagian korosif) sedang 23 % merupakan produk minyak (bahan bakar). dan dapat merusak paru. baik dari jumlah kecelakaan maupun banyaknya limpahan dalam satuan ton-mile. Container bulky melalui air yang terbesar adalah dengan tanker dan tank-barges. Respons terhadap bentuk kecelakaan itu harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan agar dapat menangani masalah yang timbul secara cepat dan tepat.000 pound toluene diisocyanate (TDI) yang tergelincir dan menumpahkan sebagian isinya.FTSL ITB Halaman 49 . yang mencakup sekitar 91 %. Pada saat truk dibalikkan. Setelah mereka kembali ke kendaraan yang hangat. cara ini adalah yang teraman. demikian juga kegiatan penanganan korban akibat terpapar dengan bahan berbahaya akan tergantung apakah paramedis terkait telah mendapat pelatihan menangani korban semacam itu. maka respon aparat terkait (polisi.000-600. TDI masuk de dalam sel jaringan. Bila terjadi kecelakaan lalu-lintas. mengiritasi mata. Referensi Utama: o o o o o E. mengkontaminasi daerah sekitarnya serta baju 2 orang petugas.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 yang menggunkan tekanan (untuk gas) dan tanpa tekanan (untuk cair). pupuk. Sebagai contoh adalah kecelakaan lalu-lintas yang terjadi di USA pada bulan Desember 1981 yang menimpa sebuah truk pembawa 40. Aturan-aturan yang ada menyangkut kegiatan selama loading serta pelatihan bagi awak kapalnya. karena dapat mencelakakan manusia atau lingkungan yang tidak terlibat langsung dengan kecelakaan. Kedua petugas tersebut mengalami gangguan pernafasan yang permanen dan tidak dapat lagi aktif bekerja.com (1 Maret 2008) Enri Damanhuri . Peraturan-peraturan yang digunakan dalam transportasi hendaknya mengantisifasi kemungkinan timbulnya masalah ini. Cara ini relatif memungkinkan pengangkutan dengan kapasitas yang besar. limpahan TDI ternyata terpapar pada tanah yang dingin.Kepala Bapedal 05/Bapedal/09/1995: tentang Simbol dan Label Limbah B3 http://www. alkohol. Meyer: Chemistry of Hazardous Materials. Sisanya adalah bahan kimia semacam asam sulfat.labelmaster. Hampir 90 % dari tank car ini terbuat dari baja. Kemungkinan kecelakaan yang mungkin terjadi di sektor transportasi ini perlu mendapat perhatian. Lebih dari 90 % (berat) dalam transport laut ini terdiri dari produk petroleum dan minyak mentah. TDI yang melekat pada sepatu dan baju menguap dan terhiruplah gas toksik. NaOH.000 gallon (1135-2270 3 m ) sedang tanker berkapasitas sampai 10 kali lebih besar.Kepala Bapedal 02/Bapedal/09/1995: tentang Dokumen Limbah B3 Kep. Tank-barges berkapasitas antara 300. walaupun bila terjadi kecelakaan maka limpahannya akan menyebar secara luas. Penanganannya adalah truk tetap dipanaskan dan diisolasi agar TDI ini tetap dalam kondisi cair. benzene.

baik yang terdapat di alam maupun yang dibuat oleh manusia. manusia dapat mengontrol dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan manusia. Peledak (explosive) : materi kimia ini dapat meledak. Materi mudah terbakar (flammable material) : padat. Materi toksik : racun yang dalam dosis kecil dapat membunuh atau mengganggu kesehatan. Dengan mengetahui komposisi dan memahami bagaimana perubahan terjadi. baru beberapa ratus jenis saja yang telah dievaluasi dampaknya tehadap kesehatan dan lingkungan. Pengoksidasi (oxidizer) : Materi yang menghasilkan oksigen. b. Senyawa-senyawa kimia sintetis inilah yang banyak dihasilkan oleh peradaban modern. seperti karbon monoksida dan hidrogen sianida. Penggunaan bahan-bahan kimia di dunia telah berkembang pesat.500 jenis merupakan bahan aktif pestisida.2 M US$. Enri Damanhuri . Bahan kimia yang telah digunakan dan diperdagangkan secara umum sekitar 63. dan hampir setiap tahun 1. yang berkaitan dengan komposisi materi. terutama dari kegiatan industi khususnya penggunaan bahan kimia.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 BAGIAN V SIFAT DAN KARAKTERISTIK BAHAN KIMIA BERBAHAYA 1 UMUM Penggunaan kimia dalam kebudayaan manusia sudah dimulai sejak zaman dahulu. tekanan atau kegiatan oksidasi atau kegiatan lain seperti aktivitas mikrobiologis. dan 2.000 jenis diantaranya digunakan sehari-hari.000 jenis bahan kimia baru masuk ke perdagangan. misalnya karena perubahan panas. yang sebagian besar merupakan bahan berbahaya. akan menghasilkan limbah berbahaya. misalnya pelarut (solvent) seperti benzene. e. Materi yang spontan terbakar (spontaneously ignitable material) : padat atau cair yang dapat menyala secara spontan tanpa sumber nyala. termasuk juga perubahan yang terjadi di dalamnya. yang dapat membakar dan merusak jaringan kulit bila berkontak dengannya. f. Secara konvensional. ethanol. Dari sekian banyak bahan kimia tersebut.000 jenis. sekitar 4. debu aluminum. Kimia merupakan salah satu ilmu pengetahuan alam. Perdagangan bahan kimia dunia pada tahun 1991 mencapai nilai 1.FTSL ITB Halaman 50 . 40% berkaitan dengan petrokimia.atau gas yang menyala dengan mudah dan terbakar secara cepat bila dipaparkan pada sumber nyala. Materi korosif : padat atau cair seperti asam kuat atau basa kuat.000 jenis sebagai bahan aktif obat-obatan.500 jenis digunakan sebagai bahan tambahan makanan. c. d. Contoh materi ini misalnya fosfor putih.46% dari nilai perdagangan dunia. baik dalam kondisi biasa atau bila terpapar dengan panas. g. Pemakaian bahan kimia di Indonesia (1991) sekitar 0. gas hidrogen dan metan. namun materi ini pulalah yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang berbahaya. biasanya karena adanya kejutan (shock). panas. Proses penggunaan bahan yang berbahaya dalam kegiatan sehari-hari. atau mekanisme lainnya. Materi radioaktif : dicirikan dengan transformasi yang berlangsung dalam inti atom. uap. Contoh materi ini misalnya dinamit dan trinitrotoluene (TNT). yaitu : a. cair. 1. 50. Ini ditunjukkan oleh hampir 11 juta jenis bahan kimia telah diidentifikasi pada tahun 1995. misalnya uranium heksafluorida. baik secara alamiah maupun sintetis. terdapat 7 kelas bahan berbahaya. Contoh materi ini adalah amonium nitrat dan benzoyl peroksida.

seperti kayu. Kebakaran jenis ini mudah dipadamkan oleh Halaman 51 o o o Enri Damanhuri .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Materi tersebut kadangkala menjadi lebih berbahaya bila berada dalam kondisi tercampur dengan bahan lain. Bila api yang dipadamkan dilakukan dengan air. kabel listrik. maka kebakaran akan tambah besar. methanol. Kebakaran kelas C: berasal dari bakaran bahan yang terjadi karena sirkuit tenaga listrik. karena reaksi yang terjadi akan menghasilkan gas hidrogen yang dapat terbakar tanpa adanya pemantik api. Kebakaran bahan ini akan meninggalkan bara api dan abu. katon dan kertas. yaitu: o Kebakaran kelas A: berasal dari bakaran berbahan dasar sellulosa. seperti logam titanium. hidrogen. Air dapat digunakan untuk memadamkan jenis kebakaran ini Kebakaran kelas B: berasal dari bakaran gas bakar (flammable gases) atau cairan yang mudah terbakar (flammable and combustible liquids). Beberapa ilustrasi di bawah ini akan menggambarkan hal tersebut: Interaksi bahan membentuk bahan toksik: Bila kita mencampur larutan asam yang banyak digunakan secara komersial untuk menghilangkan karat atau untuk membersihkan wastavel atau WC dengan pemutih cucian atau disinfektan yang digunakan dalam kolam renang. kerosen. ethyl ether. sikring. Bila larutan asam nitrat (oksidator) tercampur dengan tepung beras. Interaksi bahan membentuk panas: Bahan-bahan pengoksidasi adalah contoh bahan berbahaya yang siap bereaksi dengan bahan mudah terbakar. Jangan dipadamkan dengan air. bahan-bahan sejenis baik alamiah maupun sintetis lainnya termasuk plastik dan karet. seperti LPG. motor dan generator. Tubuh manusia mentolerir konsentrasi bahan ini dengan konsentrasi tidak lebih dari 1 ppm di udara. Interaksi bahan membentuk nyala atau bahan eksplosif: Bahan logam natrium akan dapat terbakar dengan sendirinya bila terdapat uap air yang berkontak dengannya. biasanya direkomnedasikan untuk memadamkannya. magnesium. zirconium. Kebakaran kelas D: berasal dari bakaran logam-logam yang mempunyai sifat reaktif yang spesifik terhadap air atau uap air. atau busa meruapakan bahan yang cocok untuk memadamkannya. dan natrium. Pencampuran bahan berbahaya dapat menyebabkan: o Timbulnya bahan toksik o Timbulnya gas bakar yang dapat menimbulkan kebakaran atau ledakan. aluminum. seperti dari stop-kontak. dry chemical extinguisher. 2 KELAS KEBAKARAN Kebakaran biasanya dikaitkan dengan kecelakaan yang dipicu dari adanya bahan berbahaya. atau o Panas akibat reaksi kimia yang terjadi akan dapat membakar bahan mudajh terbakar di sekitarnya. menyebabkan terjadinya swa-kebakaran. Kadangkala secara tidak sengaja terjadi pencampuran antara 2 materi yang asalnya tidak berbahaya. karena dihasilkan gas hidrogen. Misalnya gudang penyimpan logam natrium terbakar. Karbon dioksida.FTSL ITB . Reaksi yang terjadi akan berlangsung secara spontan. menghasilkan gas klorin yang sangat toksik melalui pernafasan. dan dapat dibagi menjadi 4 kelas. propane. Karbon dioksida atau dry chemical extinguisher. akan memungkinkan bahan tepung tersebut secara spontan akan terbakar.

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

baham spesifik sejenis graphite atau natrium kloroida (garam dapur). Sangat berbahaya bila dipadamkan dengan menggunakan air. 3 INFORMASI TINGKAT BAHAYA Tingkat bahaya suatu bahan berbahaya harus diinformasikan secara jelas kepada pemakai, khususnya dalam lingkungan kerja dimana bahan tersebut digunakan, melalui 2 jalan: o Penggunaan label dan bentuk peringatan lainnya: setiap produsen atau importir bahan kimia harus memastikan bahwa setiap kontainer atau pengemas produk B3nya telah diberi label, papan-nama, atau tanda-tanda peringatan lain yang sesuai dengan jenis bahaya yang dikandung bahan tersebut, nama dan alamta produsen, importir atau penanggung jawab lainnya. Label dapat menggunakan simbol, gambar atau kata-kata lainnya. Lihat contoh dalam Gambar 4.1 o Informasi tentang Material Safety Data Sheets (MSDS): merupakan bulletin yang bersifat teknis yang mengandung informasi mendetail tentang bahaya dari bahan tersebut. Di Amerika Serikat, melalui OSHA, mewajibkan setiap produsen untuk menyiapkan MSDS ini bagi setiap produknya. MSDS ini harus disertakan pada setiap sampel atau pengiriman ke sebuah tujuan untuk pertama kalinya.

Gambar 5.1: Contoh label untuk HCl Bila mengacu kepada Occupational Safety and Health Act (OSHA) yang berlaku di Amerika Serikat, maka: a. MSDS harus dirancang sangat komprehensif dalam bentuk informasi tertulis untuk seluruh karyawan b. Informasi minimum yang dibutuhkan adalah: o Identitas produk seperti tercantum dalam container atau pengemasnya o Nama umum dan nama kimia seluruh komponen yang mempunyai konsentrasi >1%, yang diketahui berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan, dan
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 52

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

mempunyai konsentrasi ≥ 0,1% bagi bahan yang diketahui sebgai penyebab kanker o Bahaya fisik dan kesehatan, termasuk tanda-tanda dan simptom-nya bila terpapar o Alur masuk ke tubuh manusia, kulit, pernafasan, makanan atau minuman o Batasan paparan yang diketahui o Apakah termasuk penyebab kanker atau berpotensi-kanker o Prosedur handling dan penggunaan yang aman, penanggulangan tumpahan atau kebocoran o Prosedur pertolongan pertama bila terjadi kecelakaan o Tanggal penyiapan bahan o Nama, alamat dan nomor telepon perusahaan, atau yang bertanggung jawab yang mendistribusikan MSDS c. Training yang bersifat regular adalah kegiatan yang dianggap kritis, yang berbentuk program komunikasi, yang menginformasikan apa yang tercantum dalam label maupun dalam MSDS suatu bahan berbahaya. Penanggung jawab kegiatan harus melatih pekerjanya dalam hal bagaimana mengenali bahan-bahan berbahaya yang dapat teremisi atau terpapar dalam ruangan dimana mereka bekerja, misalnya dalam bentiuk timbiulnya bau yang spesifik, dan sekaligus melatih bagaimana memproteksi dirinya akibat bahan berbahaya tersebut. 4 DOKUMEN MATERIAL SAFETY DATA SHEETS (MSDS) Berikut ini adalah contoh MSDS yang dikeluarkan oleh sebuah produsen bahan kimia di Amerika Serikat untuk produk HCl yang dihasilkan: Informasi Umum (muncul di setiap lembar MSDS)
o o o J.T. Baker Chemical Co. 222 Red School Lane, Phillipsburg, N.J. 08865, 24-Hour Emergency Telephone (201)859-2151, Chemtrec # (800) 424-9300, National Re4sponse Center # (800) 424-8802 H3880-02 Hydrochloric Acid Effective: 08/07/86 Issued: 10/19/87

Seksi I: Identifikasi Produk
o o o o o o o Nama produk: Hydrochloric acid Formula: HCl Formula Wt: 36, 46 Cas No: 7647-01-0 NIOSH/RTECS No: MW4025000 Sinonim Umum: Muriatic Acid; Chlorhydric Acid, Hydrochloride Kode produk: 9543, 9539, 9535, 9534, 9544, 9529, 9542, 4800, 9549, 9530, 9548, 9540, 5537, 9547, 9546, 9537, 5367

Precautionary Labelling: TM Baker SAF-T-DATA System: (dengan label kode gambar) o Kesehatan: Severe o Flammabilitas: None o Reactivitas: Moderate o Kontak: Severe o Laboratory protective equipment: goggles & shield, Lab coat & apron, vent hood, proper gloves o Precautionary label statements:

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 53

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

RACUN! BAHAYA! MENYEBABKAN LUKA BAKAR SERIUS MENJADI FATAL BILA TERTELAN ATAU TERHIRUP Jangan berkontak dengan mata, kulit, dan baju Jangan terhirup uapnya. Penyebab kerusakan pada sistem pernafasan (paru-paru), mata dan kulit. Simpan dalam container yang tertutup rapat. Buka dengan hati-hati. Gunakan ventilasi yang cukup. Cuci dengan cukup setelah penanganan. Bila terjadi tumpahan, netralisir dengan soda ash atau kapur dan tempatkan pada container kering.

Seksi II: Komponen Berbahaya
o o o o o o o o o o o o

Komponen: Hydrochloric Acid (23 Baume) %: 35-40 CAS No: 7647-01-0 Titik didih (boiling point): 110 C (230ºF) Tekanan uap (mmHg): N/A o o Titik leleh (melting point): -25 C (-13 F) Densitas uap (udara = 1): 1,3 Gravitasi spesifik (specific gravity H2O = 1): 1,19 Laju evaporasi (Butyl Acetate = 1): N/A Kelarutan (H2O): sempurna dalam seluruh proporsi % Volatil – volume: 100 Tampilan dan bau: jernih, tidak berwarna atau kuning muda, pungent, cairan berasap (fuming liuid)
o

o

Seksi III: Data Fisika

Seksi IV: Data Bahaya Kebakaran dan Ledakan
o o o o o Flash point: N/A NFPA 704M Rating: 3-0-0 Flammable limits: Upper – N/A % Lower – N/A % Media pemadam kebakaran: gunakan media pemadam kebakaran yang cocok untuk area sekitarnya Prosedur khusus pemadaman kebakaran: Anggota pemadam kebakaran harus m,engenakan perlengkapan perlindungan yang memadai, dengan perlengkapan pernafasan yang dioperasikan pada tekanan positif. Pindahkan kontainer dari lokasi kebakaran bila dapat dilakukan tanpa resiko. Gunakan air. Jangan masukkan air ke dalam kontainer. Bahaya kebakaran dan ledakan yang tidak biasa: dapat mengemisikan gas hidrogen bila berkontak dengan logam Gas toksik yang dihasilkan: hydrogen chlorida, gas hyrogen PEL dan TLV dalam daftar menandakan berada pada batas 3 Treshold Limit Value (TLV/TWA): 7 mg/m (5 ppm) 3 Permissible Exposure Limit (PEL) : 7 mg/m (5 ppm) Toksisitas : LD50 (oral-rabbit) (mg/kg) : 900 LD50 (ipr-mouse) (mg/kg) : 40 LD50 (inhl-rat-1H) (ppm) : 3124 Carcinogenicity NTP : No IARC : No Z List : No OSHA : No Pengaruh paparan yang berlebihan (overexposure) : Target organ : system pernafasan, mata, kulit Kondisi medis yang biasanya diperparah bila terpapar : tidak teridentifikasi Alur masuk: pencernaan, pernafasan, kontak kulitm kontak mata Darurat dan Pertolongan Pertama:

o o o o o o o

Sekis V: Data Bahaya Kesehatan

o o o o o

Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 54

We reserve the right to revise Material Safety Data Sheets periodically as new information becomes available. dan pindahkan dari area tersebut Bilas area tumpahan dengan air R R J. baju pelindung direkomendasi untuk digunakan SAF-T-DATA Storage Color Code: putih (korosif) Syarat khusus: Kontainer selalu tertutup rapat. Idsolasi dari bahan-bahan yang tidak kompatibel. Simpan di area anti korosi. basa kuat. Pada konsentrasi di sampai dengan 100 ppm.FTSL ITB Halaman 55 . propiolakton. Enri Damanhuri . alkali. Baker Neutraorb atau Penetralisir asam Neutrasol “Low Na” disarankan untuk digunakan untuk penanganan tumpahan Prosedur disposal: kubur atau timbun atau singkirkan sesuai dengan peraturan yang berlaku EPA Hazardous Waste Number: D002 (Coorosive Waste) Ventilasi: gunakan exhaust ventilation umum atau lokal untuk memenuhi standar TLV Perlindungan pernafasan: Masker pernafasan dibutuhkan bila konsentrasi di udara kerja melebihi TLV yang disyaratkan. tuang tumpahan dengan hati-hati ke dalam kontainer bersih. It is the user’s responsibility to determine the suitability of this information for the adoption of necessary safety precautions. oksida logam. kalsium fosfida.T. alat bantu pernafasan disarankan untuk digunakan Perlindungan mata/kulit: Sarung tangan acid-resistant dan perlindungan muka (face shield). solution o Kelas bahaya (hazard class): 8 o UN/NA: UN1789 o Labels: Corrosive Info terakhir MSDS contoh di atas: The information Publisher in this MSDS has been compiled from our experience and data presented in various technical publications.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Seksi VI: Data Reaktivitas o o o o o o o o o o o o o o o o Stabilitas: stabil Bahaya polumerisasi: tidak akan terjadi Kondisi yang dihindari: panas dan kelembaban Tidak kompatibel: hampir semua logam. Di atas konsentrasi tersebut. vinil asetat. formaldehid. asam klorosulfonik Produk dekomposisi: hidrogen klorida. Dilarang disimpan berdekatan dengan bahan pengoksidasi TM Seksi VII: Prosedur Penanganan Tumpahan dan Disposal Seksi VIII: Perlengkapan Perlindungan o Seksi IX: Penyimpanan dan Penanganan o o Seksi X: Data transportasi dan Informasi Tambahan Domestik (DOT): o Nama pengapalan (proper shipping name): Hydrochloric acid o Kelas bahaya: bahan korosif (cair) o UN/NA: UN1789 o Label: Korosif o Kuantitas dilaporkan: 5000 Lbs Internasional (IMO) o Nama pengapalan (proper shipping name): Hydrochloric acid. asam sulfat. anhidrid asid. klorin Gunakan alat masker pernafasan (self-contained breathing) dan baju pelindung Hentikan kebocoran bila dapat dilakukan tanpa resiko Berikan ventilasi pada area tersebut Netralisir tumpahan dengan abu soda atau kapur Dengan skop yang bersih. air. karbonat. amine. disarankan menggunakan masker chemical cartridge respirator dengan acid cartridge. murkuri sulfat. seragam. hidrogen. kering dan tutup.

Oleh karenanya US Department of Transportation (USDOT) mendefinisikan bahan korosif sebagai : cairan atau padatan yang dapat menimbulkan kerusakan yang terlihat pada jaringan kulit manusia bila berkontak. Selalu diperhatikan bahwa pengenceran dilakukan dengan penuangan secara perlahan pada air yang teraduk perlahan. yang menghasilkan oksida-oksida metalik. asam fluorida. Beberapa bahan yang termasuk dalam kelompok ini adalah asam sulfat. sehingga dianggap banyaknya konsumsi bahan ini di suatu negara dapat menggambarkan status ekonomi dari negara tersebut. atau cairan yang mempunyai laju korosi yang kuat terhadap baja alumunium dengan kriteria : .titik didih : 338 o C .bila diuji terhadap kelinci albino.FTSL ITB Halaman 56 . dan dapat menimbulkan ledakan bila dicampur dengan bahan tertentu. . COPYRIGHT 1987 J. dengan densitas sekitar 2 kali air.gravitasi spesifik : 1. yang disertai akibat samping seperti timbulnya gas toksik. natrium hidroksida. juga terhadap jaringan kulit.33 % . Asam ini merupakan cairan yang tidak berwarna. nyala dan ledakan. akan terbentuk uap HCl yang merupakan bahan toksik bagi pernafasan. Bahaya lain dari bahan ini adalah kemampuannya bereaksi dengan bahan lain.84 .titik beku : 10 o C .25 mm per tahun terhadap baja atau alumunium standar pada temperatur pengujian 55 °C. dan sangat reaktif. terjadinya bahan lain yang mudah terbakar atau terjadinya ledakan. Bila asam sulfat bercampur dengan NaCl. Beberapa sifat asam sulfat pekat adalah : .T. Bentuk bahaya yang kedua dari bahan ini adalah sifatnya yang dapat mengekstrak air dari bahan yang berkontak dengannya. maka struktur jaringan di lokasi kontak mengalami kerusakan atau tidak dapat pulih setelah pemaparan 4 jam atau kurang. Baker makes no warranty or representation about the accuracy or completeness nor fitness for purpose of the information contained herein. seperti HclO4. baik terhadap logam dan mineral.sangat larut dalam air Asam ini akan membebaskan panas bila diencerkan (sekitar 20 kcal per mole). Korosi dapat pula disebabkan karena perusakan oleh bahan kimia (seperti asam atau basa kuat). Reaksi dehidrasi ini sangat kuat. kalium hidroksida. Namun korosi sebetulnya tidak terbatas pada aktivitas oksigen terhadap sebuah logam.konsentrasinya dalam air : 98. Asam Sulfat (H2SO4) Bahan ini banyak digunakan di industri. Beberapa reaksi di bawah ini akan memperjelas mekanisme yang terjadi : Enri Damanhuri . sehingga dapat menghancurkan sama sekali kertas dan tekstil. proses ini biasanya terjadi karena adanya oksigen di udara.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 J. Gula misalnya akan menjadi arang bila bercampur dengan asam ini.T. asam fosfat. Bahan ini juga akan menimbulkan ledakan bila bercampur dengan asam lain. asam khlorida. asam perkhlorit. asam nitrat. Bila ini dilakukan terbalik. dapat menimbulkan sifat toksik. yang akan dibahas secara umum di bawah ini. BAKER INC.bila sebuah cairan mempunyai laju korosi lebih besar dari 6. 5 BAHAN KIMIA KOROSIF Biasanya pengertian korosi mengacu pada proses kimia yang mengakibatkan logam atau mineral dikonversi menjadi bahan yang berkarat. akan menyebabkan terjadinya pendidihan lokal disertai percikan yang membahayakan.

menghasilkan gas-gas racun dengan NaBr. ClO2 bersifat toksik . Nitrogen dioksida dapat terbentuk bila asam nitrat pekat yang digunakan.menimbulkan ledakan dengan asam perkhlorit : 2HClO4 (l) ⇒ Cl2O7(g) + H7O(g) .titik beku : . aturan di USA membatasi pemaparan maksimum terhadap manusia sebesar 1 mg/m3. Beberapa sifat dari bahan ini pada kondisi pekat antara lain adalah : . Kerapatannya sekitar 1.70 % . Bila logam yang dijumpainya adalah berupa serbuk maka reaksi akan Enri Damanhuri . atau nitrogen monoksida atau nitrogen dioksida atau dinitrogen monoksida atau ion amonium. NI dan NaCN atau NaSCN : 2 NaBr(s) + 2 H2SO4(l) ⇒ Br2 (g) + SO2 (g) + Na2SO4 (l) + 2 H2O(l) SO2 dan Br2 adalah gas toksik Bahan ini juga tergolongkan sebagai oksidator. tergantung pada konsentrasi asam tersebut.5 .FTSL ITB Halaman 57 .gravitasi spesifik : 1. Asam nitrat (pekat) direduksi menjadi nitrogen. terutama pada kondisi panas. misalnya pada reaksi di bawah ini : Cu(s) + 2 H2SO4 (pekat) ⇒ CuSO4 (l) + SO2 (g) + 2 H2O(l) Pb(s) + 3 H2SO4 (pekat) ⇒ Pb(HSO4) 2 (s) + SO2 (g) + 2 H2O(l) Di lingkungan kerja. Asam Nitrat (HNO3) Asam nitrat merupakan cairan terpenting setelah H2SO4.42 o C .menghasilkan produk yang mudah terbakar dengan ethyl alkohol : C2H5OH(l) ⇒ C2H4(g) + H2O(g) . senyawa-senyawa organik-bernitrat dan fiber sintetis. seperti reaksi di bawah ini : 5 Zn(s) + 12 HNO3(l) ⇒ 5 Zn(NO3)2(l) + 6 H2O(l) + N2(g) 3 Zn(s) + 8 HNO3(l) ⇒ 3 Zn(NO3)2(l) + 4 H2O(l) + 2 NO(g) Zn(s) + 4 HNO3(l) ⇒ Zn(NO3)2(l) + 2 H2O(l) + 2 NO2(g) 4 Zn(s) + 10 HNO3(l) ⇒4 Zn(NO3)2(l) + 5 H2O(l) + N2O(g) 4 Zn(s) + 10 HNO3(l) ⇒4 Zn(NO3)2(l) + 3 H2O(l) + NH4NO3(g) Umumnya hanya satu reaksi yang terjadi. Asam nitrat murni merupakan cairan yang tidak berwarna.menghasilkan ledakan dan gas toksik dengan NaClO3: NaClO3(s) + H2SO4 (l) ⇒ NaHSO4 (s) + HclO3(l) 3 HClO3(l) ⇒ HClO4 + 2 ClO4 + H2O .titik didih : 86 o C . sedang monoksida terbentuk bila asam nitrat encer yang digunakan. namun sering dijumpai dengan warna kuning sampai merah-kecoklatan tergantung dari kandungan nitrogen dioksida yang terlarut.konsentrasi dalam air : 68 . digunakan misalnya dalam industri pupuk amonium-nitrat. Asam ini dibutuhkan untuk menghasilkan bahan peledak nitrogliserin dan trinitrotoluene (TNT).reaksi exotermis dengan gula : C12H22O11(s) ⇒ 12 C(s) + 11 H2O(g) . Label bertuliskan 'korosif dan racun' dibutuhkan pada kontainer dan kendaraan yang mengangkutnya.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 .5 x air dan merupakan oksidator kuat.menghasilkan gas racun dengan asam oksalit : H2C2O4(s) ⇒ H2O(g) + CO(g) + CO2(g) .sangat larut dalam air Asam ini dapat merusak logam karena sifatnya sebagai oksidator kuat.

dan menyengat. Asam ini. atau produk yang banyak digunakan di rumah tangga.konsentrasi dalam air : 36 . sedang antara 50-72 % sebagai 'oksidator' dan pengangkutan HClO4 dengan konsentrasi lebih besar dari 72 % tidak Enri Damanhuri .titik beku : .18 o C .FTSL ITB Halaman 58 . terutama bila bahan ini dalam bentuk serbuk. bahkan sama sekali merusaknya. Sedang logam khromium resistan terhadap asam ini.38 % . Sifat-sifat asam khlorida pekat antara lain adalah : . Bahan ini merupakan cairan yang tidak berwarna. Pengangkut dan kontainer yang digunakan mencantumkan label 'korosif. dan kadangkala disertai ledakan dan merupakan sumber nyala.titik didih : . membentuk asap.titik beku : . Asam Perchlorit (HclO4) Bahan ini termasuk asam mineral yang penting dalam perindustrian. merupakan oksidator kuat khususnya terhadap senyawa organik.gravitasi spesifik : 1.kelarutan dalam air : sangat larut Departemen Transportasi Amerika Serikat menentukan bahwa HClO4 dengan konsentrasi lebih kecil dari 50 % sebagai 'korosif'. Beberapa sifat (asam pekat) dari bahan ini adalah : . terutama pada kondisi panas. atau untuk menghasilkan senyawa yang mengandung khlor seperti karet sintetis. Asam Khlorida (HCl) Asam ini merupakan bahan kimia yang termasuk penting dalam kegiatan industri. Asam ini juga akan mengkorosi jaringan tubuh bereaksi dengan protein membentuk xanthroproteic acid berwarna kuning.konsentrasi dalam air : 72.20 . seperti karbon dan sulfur.4 % .85 °C . kayu) akan tebakar dengan sendirinya bila berkontak dengannya. Materi sellulosa (seperti kertas. Batas yang diperbolehkan di Amerika Serikat pada lingkungan kerja adalah 5 ppm.kelarutan dalam air : 85 g/100 g air. Pemaparan maksimum yang diizinkan di Amerika Serikat adalah 2 ppm.70 . Kerapatan gasnya sekitar 1/5 lebih ringan dari udara. Asam ini juga dapat merusak bahan non logam.gravitasi spesifik : 1. Klasifikasi bahaya dari bahan ini karena bersifat korosif dan toksik. Bahan ini bukan termasuk oksidator. dan korosi pada besi tidak terjadi bila konsentrasi asam nitrat lebih tinggi dari 70 %. walaupun termasuk dalam kelompok asam kuat. minyak. Label yang disyaratkat pada kontainer dan pengangkutannya adalah 'korosif dan racun'. Oksidasi logam alumunium pada temperatur kamar tidak dapat terjadi bila konsentrasi asam nitrat lebih tinggi dari 80 %. ethyl alkohol.titik didih : 203 o C . Asam ini juga mengoksidasi senyawa-senyawa organik seperti aceton.115 °C . nitrobenzene. Terhirupnya gas ini melalui pernafasan akan menyebakan degenerasi total sel pada bagian pernafasan. misalnya pada industri kimia dan elektroplating.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 disertai ledakan. Asam ini dapat menimbulkan swa-nyala bagi bahan sellulosa. misalnya pembersih WC. oksidator dan racun'. misalnya pada industri pelapisan logam.

sangat larut dalam air. namun bentuk yang anhydrous dikenal sangat tidak stabil. larutan ini bersifat korosif pada bahan. Label untuk pengangkutan dan kontainer mencantumkan sebagai 'korosif'. Reaksi yang terjadi adalah : CaSiO3(s) + 6 HF(pekat) ⇒ CaF2(s) + SiF4(g) + 3 H2O(l) Asam fluorida merupakan asam lemah. seperti dalam industri pupuk. Aturan pengangkutan di Amerika Serikat adalah mensyaratkan label 'korosif dan toksik'.60 % . banyak digunakan di industri Enri Damanhuri . Asam Fluorida (HF) Penggunaan asam fluorida dalam industri adalah penting.konsentrasi yang biasa dijumpai adalah : 48 . Asam ini dalam kondisi pekat lebih berbahaya bila kontak dengan kulit karena tidak mendatangkan sakit pada saat kontak.gravitasi spesifik : 1. Beberapa sifat dari asam ini dalam keadaan pekat adalah : . mampu bereaksi dengan silikon dioksida (pasir) dan gelas membentuk silikon tetrafluorida. baik digunakan secara langsung atau dicampur dengan H2SO4. maka botol kedua jenis asam ini tidak diperbolehkan diletakkan berdampingan. NaOH merupakan basa kuat. Karena asam sulfat dapat menghidrasi asam perkhlorit. dapat mengkorosi bahan tetapi tidak sehebat asam-asam sebelumnya. Beberapa sifatnya dalam kondisi pekat adalah : . Campuran kalsium dihidrogen fosfat dan kalsium fosfat dikenal sebagai superfosfat. Label yang dipersyaratkan adalah : 'korosif dan oksidator'.83 o C .gravitasi spesifik :1 .69 .konsentrasi dalam air : 85 % .titik beku : . Cairan ini tidak berwarna. dan merupakan satu-satunya asam yang mengkorosi gelas.FTSL ITB Halaman 59 .titik didih : 260 o C .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 diperkenankan.sangat larut dalam air. larutan ini bereaksi dengan air secara keras. Asam perckhlorit adalah stabil. Asam Fosfat (H3PO4) Unsur fosfor paling tidak mempunyai 8 jenis asam. namun beberapa jam kemudian terjadilah penetrasi dalam kulit. Natrium Hidroksida (NaOH) dan Kalium Hidroksida (KOH) Kelompok ini merupakan kelompok alkalin korosif yang paling penting dan dikenal sebagai caustic soda. atau dalam industri perminyakan untuk menghasilkan bahan bakar beroktan tinggi. yang merupakan pupuk sintetis yang penting. Asam fosfat tidak berwarna dan tidak berbau. misalnya dalam pembuatan chip dalam industri komputer. dan mengeluarkan panas.titik didih : 20 o C .titik beku : 42 o C . Disamping itu. Batas pemaparan yang diizinkan di ruang kerja adalah 1 mg/m3. namun asam fosfat adalah yang paling umum digunakan dalam industri.

namun yang paling sering digunakan adalah lithium. Beberapa sifat penting dari bahan ini adalah : .menghasilkan gas. seng.FTSL ITB Halaman 60 . membentuk natrium silikat. maka wadahnya lama kelamaan akan penuh.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 seperti : petroleum. Kalium Hidroksida merupakan basa yang lebih kuat dibanding NaOH. wadah yang digunakan sebaiknya bukan bahan gelas. yaitu bahan yang mampu untuk menyerap air di udara. sabun. karena dapat : . tembaga dan jaringan kulit dan melarutkan lemak. sabun dan sebagainya. fotografi. Proses yang menyebabkan air mendekomposisi suatu materi dikenal sebagai hidrolisis.gravitasi spesifik : 2. Salah satu karakteristik B3 adalah sifat reaktifnya. tetapi dengan bahaya yang lebih kecil. natrium dan kalium. dan dikenal sebagai basa yang korosif.titik didih : 1320 o C . Dalam uraian berikut ini dijelaskan secara umum kelompok bahan yang termasuk dalam katagori reaktif dalam air.membentuk campuran yang eksplosif bila bercampur air. . . Beberapa bahan dikenal pula sebagai piroforik. natrium. kalium. rubidium dan francium. toksik atau bersifat korosif.titik leleh : 315 o C .04 . terutama dalam kondisi lembab akan menghasilkan gas H2 dengan resiko kebakaran yang tidak dapat Enri Damanhuri . bila terjadi kontak yang lama. Oleh karenanya. dapat mengkorosi logam seperti alumunium. kertas. Disamping itu dikenal pula bahan yang higroskopik. dan dikenal dengan nama caustic potash.13 . 6 BAHAN KIMIA YANG REAKTIF PADA AIR Air dapat bereaksi dengan bahan berbahaya membentuk suatu produk yang dapat terbakar dengan sendirinya. Pada temperatur kamar. Logam-logam Alkali Beberapa jenis logam ini adalah lithium. Bahan ini umumnya digunakan pada industri pupuk.kelarutan dalam air : 107 gr/100 gr air. cesium. produk ini juga digunakan di rumah tangga. sehingga bila bahan tersebut dibiarkan terbuka di udara lembab. Pengangkutan bahan ini di Amerika Serikat mensyaratkan penulisan label sebagai 'korosif'. seperti H2O4 dan NaOH. Batas pemaparan di ruang kerja adalah 2 mg/m3.titik leleh : 360 o C . menimbulkan ledakan.kelarutan dalam air : 42 gr/100 gr H2O. Bahan ini reaktif dengan air dan menghasilkan panas 10 kcal per mole sehingga dapat memicu kebakaran.5 °C. Sifatsifat fisiknya antara lain : .titik didih : 1390 o C . farmasi. Logam-logam alkali ini merupakan kelompok logam yang paling reaktif. bahan ini dapat mengkorosi gelas. tekstil. uap atau asap toksik.gravitasi spesifik : 2. Reaksi yang terjadi umumnya seperti halnya NaOH. yaitu bahan yang dapat terbakar secara spontan bila berada dalam keadaan udara kering atau lembab atau pada temperatur < 54.bereaksi dengan air secara kuat. misalnya untuk menangani penyumbatan pipa plambing. NaOH adalah berbentuk padat-putih. Tetapi proses hidrolisis ini tidak selalu menimbulkan bahaya.

berasap ungu dan membentuk kalium oksida. sedangkan logam alkali lainnya akan meleleh. merupakan unsur padat yang paling ringan dan dapat mengapung pada produk minyak bumi.FTSL ITB Halaman 61 . TABEL 5. natrium dan kalim adalah seperti terlihat dalam tabel 4. Faktor lain yang mempengaruhinya adalah ukuran partikel. tetapi biasanya dengan dry powder yang mengandung grafit. Kemurnian dari logam kelompok ini akan menentukan resiko tersebut di atas. alumunium dan seng. sebagai katalis dalam pembuatan karet sintetis.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dipadamkan dengan air. maka bila bereaksi dengan air akan tetap sebagai padatan. atau untuk pembuatan bagian-bagian mesin dan Enri Damanhuri . Logam-logam lain Beberapa jenis logam lain yang mempunyai sifat reaktif terhadap air adalah magnesium. Sebagaian besar logam kalium digunakan untuk memproduksi logam campuran natrium-kalium sebagai penukar panas pada fluida. farmasi.6 496 Lithium adalah logam yang lunak. Logam ini juga lunak.819 63. Bahan ini antara lain digunakan dalam produksi logam titanium. Bila permukaan logam ini diselimuti oleh oksida. karena bersifat piroforik. Kelompok ini bila dalam bentuk bubuk akan secara spontan meledak sehingga dapat menimbulkan resiko kebakaran. Dibandingkan dengan logam alkali yang lain. Bila terpapar dengan udara pada temperatur kamar. Magnesium merupakan unsur ke delapan yang terbanyak dijumpai di dalam tanah dan lautan. Bahan ini digunakan dalam industri porselen. Oleh karena titik didihnya lebih tinggi dari air. Natrium dapat menyala secara spontan dalam udara bertemperatur kamar. sebagai bahan baku dalam pembuatan senyawa-senyawa yang mengandung natrium yang bersifat reaktif.1.1 : Sifat fisika logam-logam alkali Kerapatan pada 20o C (g/ml) Titik leleh (° C) Titik didih (o C) Panas fusi (kcal/kg) Panas penguapan (kcal/kg) Lithium 0.534 179 1317 103. logam ini akan terbakar.7 760 14. Pengangkutan bahan ini membutuhkan label yang menyatakan sebagai 'berbahaya bila lembab'. kelembaban dan jumlah oksigen yang terserap. maka resiko tersebut dapat dikurangi. Bila bereaksi dengan air akan menghasilkan reaksi : 2 Li(s) + 2 H2O(l) ⇒ 2 LiOH(l) + H2(g) Reaksi berlangsung lambat bila dibandingkan dengan reaksi alkali yang lain. dan merupakan logam alkali yang paling umum digunakan.2 4680 Natrium 0. titanium. agen pemutih. Logam ini termasuk logam yang ringan sehingga sering digunakan dalam industri pesawat terbang. sehingga tidak berbahaya dibandingkan logam alkali lainnya. keramik. seperti natrium peroksida. Beberapa sifat dari lithium.5 833 27.972 97. logam ini adalah yang paling reaktif.2 1005 Kalium 0. mobil. distribusi atau dispersi partikel. Natrium adalah unsur keenam yang paling banyak dijumpai dalam tanah dan lautan. berasap kuning dan membentuk natrium oksida sesuai dengan reaksi : 4 Na(s) + O2(g) ⇒ 2 Na2O(s) Kalium merupakan unsur ketujuh yang paling banyak dijumpai di dalam tanah dan lautan.

hanya sekitar 75 % diantaranya yang bereaksi dengan oksigen untuk membentuk magnesium oksida. sehingga dekenal sebagai senyawa-senyawa organometalik. Seperti halnya magnesium. Alumunium lebih ringan dibanding titanium. Namun dengan terbentuknya alumunium oksida yang berada di permukaan akan melindungi logam ini dari reaksi kimia. Seperti halnya magnesium.FTSL ITB Halaman 62 . dan merupakan unsur ketiga terbanyak di perut bumi dan lautan. beberapa diantaranya adalah : diethylzinc (C2H5)2Zn. membentuk seng oksida. seperti reaksi : 2 Mg(s) + O2(g) ⇒ 2 MgO(s) 3 Mg(s) + N2(g) ⇒ Mg3N2(s) Cahaya yang ditimbulkan oleh terbakarnya magnesium adalah putih terang. tri(isobutyl) aluminum Al(C4H9)3. dimethylcadmium Cd(CH3). Campurannya dengan tembaga menghasilkan logam campuran yang dikenal sebagai kuningan. tetraethyllead (C2H5)5Pb. Bila logam ini terbakar di udara.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 sebagainya. Transportasi bubuk seng membutuhkan label 'berbahaya bila lembab'. Adanya lapisan inilah yang menyebabkan alumunium dianggap sebagai logam yang tidak berbahaya. sedang sisanya akan membentuk magnesium nitrida. terutama senyawa organometalik yang lain. dan digunakan pula sebagai katalis dalam polimerisasi ethene. Asap dari magnesium oksida berbahaya bila terhisap karena bersifat reaktif terhadap lembab yang ada dalam saluran pernafasan dan membentuk magnesium hidroksida. karbon dioksida dan air. maka bila serbuk alumunium diangkut maka dibutuhkan label sebagai 'berbahaya bila lembab'. Senyawa ini biasanya digunakan sebagai katalis polimerisasi. dapat terbakar secara spontan di udara. umumnya mengandung satu sampai sepuluh atom karbon pada setiap molekulnya. Pengangkutan bahan ini membutuhkan label yang bertuliskan 'berbahaya bila lembab'. Titanium merupakan elemen ke sepuluh yang paling banyak dijumpai di dalam tanah dan lautan. logam ini reaktif terhadap air dan berisiko terhadap terjadinya ledakan dan kebakaran. tetramethyltin Sn(CH3)4. Tidak kurang dari 50 jenis senyawa organometalik tersedia secara komersial. logam ini termasuk yang mempunyai kerapatan kecil dibandingkan logam lainnya.industri. Dalam air. Seng termasuk yang sering digunakan dalam kegiatan non-industri. Senyawa Organometalik Kelompok senyawa organometalik yang penting dalam industri adalah dalam bentuk atom-atom logam yang terikat secara langsung dengan atom-atom karbon. Seperti halnya yang lain. Senyawa ini bersifat piroforik. atau sebagai pigmen dalam pembuatan cat. Aluminum (alumunium) merupakan bahan yang paling populer diantara bahan-bahan sebelumnya. Bahan ini dapat dibentuk sebagai lembaran yang tipis dan banyak digunakan dalam kegiatan industri maupun non. yang dapat membahayakan retina mata. maka logam ini banyak digunakan dalam industri pesawat terbang. Logam ini sekeras baja tetapi 45 % lebih ringan. Oleh karena kombinasi keras dan ringan ini. yang dapat menimbulkan luka pada paru-paru. senyawa ini akan bereaksi secara keras membentuk ethane. Alumunium murni termasuk salah satu logam yang paling reaktif. Logam ini tahan terhadap sifat korosi air laut sehingga banyak digunakan dalam pembuatan kapal laut. seperti reaksi : (C2H5)2Zn(l) + 7 O2(g) ⇒ ZnO(s) + 4 CO2 (g) + 5 H2O(g) Enri Damanhuri . Namun biaya untuk memproduksi logam ini adalah sangat tinggi sehingga membatasi penggunaannya. Diethylzinc adalah organometalik yang biasanya digunakan dalam sintesa beberapa senyawa organik. Seng juga digunakan untuk melindungi besi dari korosi (galvanis). trimethylaluminum Al(CH3)3.

terhisap atau kontak melalui kulit. Senyawa ini relatif stabil. Seluruh senyawa kelompok ini merupakan senyawa yang piroforik. diborane tergolong toksik. lithium atau natrium borohidrida. merupakan senyawa yang reaktif terhadap air. Oleh karenanya. Borane Senyawa-senyawa hidrogen dengan satu atau lebih unsur non-metal dikenal sebagai hidrida-hidrida molekular. sehingga sangat tidak dianjurkan untuk digunakan. bereaksi secara keras dengan air dan sangat toksik. akan menghasilkan gas H2 dan mudah terbakar. atau logam alkali atau alumunium.FTSL ITB Halaman 63 . seperti trimethylaluminum dan tri(isobutyl) aluminum. methane (CH4). termasuk kelembaban udara. umumnya tidak stabil pada temperatur kamar. Borane (BH3)pada tekanan atmosfer adalah tidak stabil.senyawa yang mengandung atom alumunium yang terikat pada atom karbon.satunya yang bukan termasuk piroforik. lithium aluminium hidrida (LiAlH4). akan dapat menyebabkan pembakaran spontan dan berasap hijau. Molekular hidrida yang umum adalah air. Maksimum pemaparan di ruang kerja adalah 0. dan berubah menjadi diborane (B2H6). Departemen Transportasi Amerika Serikat mengatur secara khusus pengangkutan lithium dan natrium hidrida . Disamping itu. yang ditambahkan pada bahan bakar kendaraan bermotor. Senyawa ini biasanya digunakan dalam industri sebagai pereduksi. Hidrida-hidrida ini akan terdekomposisi menjadi boron dan hidrogen pada temperatur di atas 300 o C. yang digunakan terutama untuk katalis polimerisasi.satunya karakteristik bahaya yang menyertainya adalah sifat toksik dari cairan atau uapnya bila terhirup. Pemaparan maksimum Enri Damanhuri . karena berada sebagai satuan molekular. Contoh lain adalah hidrogen sulfida (H2S). Paling tidak dikenal 14 jenis borane. Bila terjadi pembakaran. sangat toksik dan bila terbakar akan terbentuk oksida boron. Diborane ini termasuk gas yang mudah terbakar. atau kadangkala boron. serta lithium dan natrium borohidrida sebagai 'berbahaya bila lembab. aluminium tetrahidridoborate Al(BH4)3.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 (C2H5)2Zn(l) + 2H2O(l) ⇒ Zn(OH)2(s) + C2H6(g) Tata cara pengangkutan di Amerika Serikat mensyaratkan label 'bahan bakar spontan'.8 % (volume) di udara. Satu. Dengan sifat panas pembakarannya yang tinggi (527 kcal/mol). namun bila bereaksi dengan air. Beberapa jenis hidrida metalik ini antara lain adalah lithium atau natrium hidrida (LiH). amonia (NH3). Kelompok ini juga bereaksi secara hebat dengan bahan odsidator. Molekular hidrida dari boron disebut borane. Diantara bahan organometalik yang mungkin paling terkenal adalah tetraethyllead yang digunakan dalam mengurangi ketuk (knock). dikenal sebagai senyawa aluminum alkyl. senyawa ini merupakan satu. Berbeda dengan senyawa organometalik yang lain. akan dihasilkan cemaran timbal di udara. Dengan konsentrasi diborane sebesar 0. Hidrida-hidrida Metalik Kelompok hidrida-hidrida metalik yang paling banyak digunakan secara komersial adalah yang tersusun dari atom hidrogen. serta tidak reaktif terhadap air. hidrogen khlorida (HCl) dan sebagainya. menyebabkan diborane digunakan sebagai bahan bakar roket.075 mg/m3. transportasi bahan ini membutuhkan label bertuliskan 'racun'. tetrahidridoaluminate (LiAlH4). Kelompok organometalik yang juga penting dalam industri adalah senyawa. disertai dengan berat molekulnya yang rendah.

antimoni pentakhlorida (SbCl5) yang bersifat korosif.dikenal sebagai karbida. gas acetylene (C2H2) akan terbentuk sesuai dengan reaksi : CaC2 (s) + 2 H2O(l) ⇒ Ca(OH)2(s) + C2H2 (g) Gas acetylene inilah yang berfungsi sebagai bahan bakar pada saat digunakan dalam pengelasan. maka kalsium karbida harus dijaga agar tetap kering dan bebas dari lembab udara. diperlukan juga label 'racun'. yaitu : .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 dalam ruangan kerja adalah hanya 0. yang mengakibatkan efek sistemis. Senyawa-senyawa yang mengandung khlor dengan metalik dan atau non-metalik merupakan substansi yang reaktif terhadap air. Untuk menghindari bahaya kebakaran atau ledakan. C4. Contoh fosfida metalik adalah kalsium fosfida. yang umumnya berbahaya karena bersifat sebagai oksidator disamping reaktif terhadap air. Karbida. yang paling penting adalah melalui : mulut. Senyawa ini tergolong berbahaya. yang juga reaktif terhadap air. seperti kalsium karbida CaC2 yang digunakan dalam industri sebagai sumber acetylene dan pupuk kalsium cyanamida. boron trikhlorida (BCl3)menguap pada 18oC dan bersifat toksik. Fosfida dan Khlorida Metalik Senyawa-senyawa yang tersusun antara logam dengan ion peroksida (O2=) dikenal sebagai peroksida metalik. Sebagai contoh. Ion-ion karbon dalam bentuk C22-. kulit dan pernafasan. Bila kalsium karbida bereaksi dengan air. seperti reaksi di bawah ini : Ca3P2(s) + 6 H2O(l) ⇒ 3 Ca(OH)2(s) + 2 PH3(g) Gas fosfine juga bersifat toksik.1 ppm. namun dapat menimbulkan api. dan senyawa yang mengandung logam dengan ion-ion karbida dikenal sebagai karbida-karbida metalik. Senyawa ini tidak terbakar. Bila sebuah substansi bersifat toksik. Enri Damanhuri . Peroksida. bisa saja keterpaparan ini terjadi secara berulang-ulang sampai menimbulkan kerusakan. 7 BAHAN-BAHAN KIMIA TOKSIK Terdapat berbagai cara agar sebuah bahan/substansi masuk ke dalam tubuh manusia. bila merkuri terserap oleh kulit maka akan dapat merusak ginjal atau pusat sistem syaraf.FTSL ITB Halaman 64 . dia dapat merusak jaringan di lokasi kontaknya (efek lokal) atau berpengaruh negatif dengan jalan lain. karena bereaksi secara keras dengan air.Bersifat akut : kerusakan yang terjadi biasanya akibat sejenis bahan dengan pemaparan singkat. Hidrogen khlorida adalah toksik. fosforus oksikhlorida (POCl3) yang bersifat korosif dan toksik. akan terbentuk gas bakar fosfine. menghasilkan hidrogen khlorida. Bila kalsium fosfida bereaksi dengan air. seperti terhisapnya gas HCl beberapa detik yang akan menyebabkan kerusakan langsung pada paru-paru.atau C34. Peroksida metalik yang penting dalam industri adalah yang tersusun dari logam alkali dan alkali tanah. Beberapa jenis senyawa ini adalah : alumunium khlorida (AlCl3) yang bersifat korosif. Transportasi bahan ini membutuhkan label 'gas beracun dan mudah terbakar'. gas iritan dan bila berbentuk larutan akan bersifat korosif. Barium peroksida disamping membutuhkan label 'oksidator'. terutama natrium peroksida dan barium peroksida. Pengaruh racun dapat diklasifikasikan berdasarkan waktu yang dibutuhkan terjadinya penyakit atau gangguan.

yaitu : .] No.. TABEL 5. dengan satuan mg bahan per kg berat binatang. maka digunakan penelitian terhadap binatang percobaan. dengan satuan ppm (gas) atau mg/m3 ( asap udara).Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 . misalnya timbulnya kanker liver angiosarcoma yang muncul beberapa tahun setelah menghirup vinyl khlorida.Irritant : substansi kimia yang melukai jaringan sistem pernafasan dan paru. yaitu dengan EP-toxicity (extraction-procedure toxicity). dengan memberikan batasan konsentrasi maksimum cemaran yang diuji sesuai dengan protokol penelitian. percobaan melalui binatang tidak selalu relevan karena faal manusia dan binatang tidak selalu sama. Cara ini biasanya cocok untuk toksik yang bersifat akut. untuk melihat pengaruh suatu substansi pada manusia. Oleh karenanya bila substansi tersebut menyebabkan kanker pada binatang dan belum terbukti pada manusia.FTSL ITB Halaman 65 . Konsentrasi maksimum tersebut adalah seperti terlihat dalam tabel 2.0 1. .0 0.paru. Untuk toksik yang bersifat kronis atau laten. .Lethal concentration-50 (LC50) : konsentrasi bahan. kemudian hasilnya di ekstrapolasi pada manusia. karbon monoksida. biasanya dilakukan percobaan melalui binatang. misalnya nitrogen. yang dapat mematikan 50 % binatang percobaan. Dalam toksikologi.0 5.Lethal dose-50 (LD50) : konsentrasi bahan.Immediately dangerous to life and health (IDLH) : merupakan konsentrasi maksimum suatu substansi yang memungkinkan manusia menghindar dalam 30 menit tanpa masalah pada kesehatannya.limbah B-3 D004 D005 D006 D007 D008 D009 Cemaran Arsen Barium Kadmium Khromium Timah Merkuri Konsentrasi (mg/l) 5. yang menyebabkan kematian binatang penelitian sebanyak 50 % . USEPA menggunakan tolak ukur yang bersifat praktis.Threshold limit value (TLV) : limit teratas dari sebuah konsentrasi toxin yang tidak menimbulkan pengaruh kesehatan pada manusia yang terpapar secara rutin.0 100.2. maka bahan tersebut dikenal sebagai suspect human carcinogen. . misalnya benzene akan mengakibatkan aplastic anemia setelah sekitar 10 tahun sejak pertama kali terjadinya pemaparan. Untuk mengkuantifikasi toksisitas akut. . hidrogen.rata di ruang kerja yang dapat diterima oleh sebagian besar pekerja selama 40 jam per minggu atau 8 jam per hari tanpa menimbulkan gangguan.2 Enri Damanhuri .Bersifat kronis : suatu pengaruh atau keadaan sakit yang muncul sedikit demi sedikit dalam waktu yang agak lama setelah pemaparan pertama. dalam satuan ppm (volume).Asphyxiant : substansi kimia yang menyebabkan kehilangan kesadaran karena kurangnya oksigen dalam darah. misalnya hidrogen khlorida yang merupakan bahan korosif.0 5. .2 : Konsentrasi maksimum bahan toksik dengan EP-toxicity [.Time weighted average threshold limit value (TWA-TLV) : konsentrasi rata. .Bersifat laten : suatu pengaruh atau keadaan sakit yang baru berkembang setelah masa inkubasi terlampaui. yang mengatur beberapa cemaran logam toksik dan pestisida. dan akan menjadi human carcinogen bila memang terbukti dapat menyebabkan kanker pada manusia. Sebuah substansi yang masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan dapat berakibat sebagai : .

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

D010 D011 D012 D013 D014 D015 D016 D017

Selenium Perak Endrin Lindane Methoxychlor Toxaphene 2,4-D 2,4,5-TP Silvex

1,0 5,0 0,02 0,4 10,0 0,5 10,0 1,0

Catatan : 2,4-D = 2,4-dikchlorophenoxyacetic acid 2,4,5-TP Silvex = 2-(2,4,5-trichlorophenoxy)propionic acid

Bila cemaran tersebut mengandung konsentrasi lebih tinggi dari yang tertera dalam tabel, maka cemaran tersebut terkatagorikan sebagai toksik. Beberapa kelompok bahan kimia yang bersifat toksik antara lain adalah : - Oksida-oksida karbon : seperti CO dan CO2 - Hidrogen cyanida : HCN - Senyawa sulfur : H2S, SO2 - Oksida-oksida nitrogen seperti N2O, NO2, N2O4 - Amonia - Logam-logam berat seperti : arsen, timah (Pb) - Asbestos. - Pestisida organik. Oksida-oksida Karbon Bila bahan mengandung karbon terbakar, maka akan terbentuk gas karbon dioksida (CO2). Bila pembakaran tidak sempurna akan dihasilkan gas karbon monoksida (CO), yang tergolong gas berbahaya karena dapat menyebabkan kematian. Reaksi yang umum, misalnya dalam pembakaran gas methane, adalah: 2 CH4(g) + 3 O2(g) --- 2 CO(g) + 4 H2O(g) CH4(g) + O2(g) --- C(s) + 2 H2O(g) Kedua jenis oksida tersebut adalah tidak berwarna dan tidak berbau. Beberapa sifat gas karbon monoksida adalah: - titik didih - 191,6 oC - densitas cairan (pada titik didih) 795 g/L - densitas gas (pada titik didih) 4,3 g/L - densitas gas (pada 20 C) 1,25 g/L - densitas uap (udara = 1) 0,97 - panas pembakaran 67,64 kcal/mol - % batas bawah ledakan 12,5 - % batas atas ledakan 74 -rasio ekspansi cair ke gas 700 Sedang beberapa sifat gas karbon dioksida adalah : - titik beku (oC) - 56,55 oC - titik sublimasi (pada 1 atm) 78,5 oC - panas fusi 47,5 kcal/kg - panas sublimasi 36,2 kcal/kg - densitas padat (pada 1 atm) 1,56 g/ml - densitas gas (pada titik sublim) 2,8 g/L - densitas gas (pada 20 oC) 1,98 g/L - densitas uap (udara = 1) 1,529 - rasio ekspansi cair ke gas 790
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 66

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

Karbonmonoksida merupakan gas toksik, yang dapat terserap oleh darah melalui pernafasan. Pada saat manusia bernafas, oksigen akan terbawa oleh aliran darah oleh komponen dalam darah yang disebut hemoglobin (Hb). Bila Hb ini menyerap oksigen akan terbentuk oksihemoglobin (O2Hb), dengan reaksi seperti : Hb(l) + O2(g) --- O2Hb(l) Oksihemoglobin ini akan melepaskan oksigen pada jaringan atau organ lainnya. Bila karbonmonoksida terhirup, akan terbentuk karboksihemoglobin (COHb) : Hb(l) + CO(g) --- COHb(l) yang mempunyai afinitas kimia sebesar 300 kali lebih tinggi daripada pembentukan oksihemoglobin. Oksigen yang terikat dalam oksihemoglobin juga dapat dilepaskan sesuai dengan reaksi : O2Hb(l) + CO(g) --- COHb(l) + O2 Karboksihemoglobin ini relatif stabil dan menghalangi penyerapan oksigen oleh darah sehingga penderita mengalami anoxia, yaitu kekurangan oksigen dalam darah. Pada dasarnya tubuh manusia lebih toleran terhadap CO2, walaupun adanya CO2 akan mempertinggi laju pernafasan seseorang, sehingga pekerjaan terasa menjadi lebih berat. TLV di udara untuk karbon monoksida adalah 100 ppm, sedangkan untuk CO2 adalah 5000 ppm (0,5 %); lebih dari konsentrasi tersebut akan menimbulkan gangguan pernafasan. Kontainer atau silinder gas karbon monoksida membutuhkan label 'gas beracun' dan ' gas mudah terbakar', sedang untuk gas karbon dioksida tergolongkan sebagai 'gas tidak terbakar'. Hidrogen Sianida (HCN) Pada temperatur kamar, hidrogen sianida adalah merupakan gas yang tidak berwarna, dengan sifat-sifat antara lain : - titik beku (oC) : - 14 oC - titik didih (oC) : 26 oC o - kerapatan pada 20 C : 1,2 g/L - kerapatan uap (udara = 1) : 0,93 - % batas terendah ledakan :6 - % batas tertinggi ledakan : 41 - titik nyala cairan : - 18 oC Gas HCN larut dalam air membentuk asam hidrosianik. Hidrogen sianida anhidrous (cair) merupakan bentuk yang secara komersial sering dijumpai, merupakan bahan yang tidak stabil. HCN banyak digunakan dalam pembuatan plastik seperti polyacrylonitrile yang mengandung grup -CN. Bila jenis plastik ini dipanaskan, maka akan terdekomposisi secara termal dan terbentuklah gas racun HCN. Bahan racun ini mempengaruhi transportasi oksigen dalam darah, karena dapat mengganggu aktivitas enzim cyctochrome oxidase yang dibutuhkan untuk respirasi selluler dan pembentukan enersi. Bahan ini masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan atau kulit. Beberapa senyawa kimia dengan ion-ion metalik yang bergabung dengan ion- ion sianida, seperti natrium sianida, banyak digunakan dalam industri elektroplating. Seperti halnya gas sianida, bahan ini juga bersifat racun bila terserap oleh manusia. Bahan ini juga akan bereaksi dengan asam membentuk gas HCN : NaCN(s) + HCl(l) --- NaCl(l) + HCN(g) Beberapa besaran konsentrasi (dalam ppm) yang berkaitan dengan sifat toksikologi dari HCN adalah :
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 67

Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010

- batas bau : 0,2 - 5,0 - TLV : 10 - keluhan sakit kepala : 18 -36 - bertahan selama 1/2 jam tanpa kesulitan : 45 - 54 - kematian dalam 1 jam : 110 - 135 - kematian langsung : 280 Pengaturan pengangkutan dan pewadahan mensyaratkan label : racun' dan 'cairan mudah terbakar'. Senyawa Sulfur Senyawa yang mengandung unsur sulfur dijumpai pada batu bara, gas alam, minyak mentah, wool, rambut, polimer-polimer sintetis dan sebagainya (lihat sub bab 2.2). Bila bahan ini terpapar dengan panas atau bila terbakar akan membentuk gas hidrogen sulfida (H2S) atau SO2. Hidrogen sulfida secara komersial banyak dijumpai dalam bentuk cairan, biasanya digunakan dalam industri yang memproduksi senyawasenyawa mengandung sulfur. Bahan ini juga digunakan dalam industri metalurgi. Gas H2S merupakan gas yang tidak dijumpai akibat proses dekomposisi dari gas ini adalah : - titik didih - titik beku - densitas pada 20 o C - kerapatan uap (udara = 1) - persen batas bawah ledakan - persen batas atas ledakan - panas fusi - panas penguapan berwarna, berbau seperti telur busuk. Secara alami senyawa organik dalam kondisi anaerob. Sifat-sifat : - 60 o C : - 83 o C : 1,539 g/L : 1,2 : 4,3 : 46 : 0,568 kcal/mol : 4,463 kcal/mol

TLV dari gas H2S dibatasi hanya 10 ppm. Bila terus menerus menghirup udara yang mengandung gas ini, akan mengakibatkan pusing dan sakit kepala; bila terhirup dengan konsentrasi 600 ppm selama 30 menit akan berakibat fatal. Tetapi karena gas ini mempunyai bau khas, maka kehadirannya dapat diketahui sejak dini. Pengangkutan dan kontainer bahan ini membutuhkan label bertuliskan 'gan beracun' dan 'gas mudah terbakar'. Sulfur dioksida merupakan gas tidak berwarna, berbau menyengat seperti karet terbakar. Gas ini terbentuk bila senyawa mengandung sulfur terbakar, misalnya pada pembakaran gas H2S akan terjadi reaksi : 2 H2S(g) + 3 O2 (g) --- 2 H2(g) + 2 SO2(g) Gas ini akan muncul misalnya karena pembakaran minyak bumi atau batu bara, karena kedua jenis bahan bakar ini mengandung senyawa sulfur. Dalam emisinya di udara, gas ini secara lambat akan teroksidasi menjadi sulfur trioksida (kadang-kadang ditulis sebagai SOx) yang larut dalam lembab udara membentuk asam sulfat sebagai penyebab hujan asam, sesuai dengan reaksi : 2 SO2(g) + O2(g) --- 2 SO3(g) SO3(g) + H2O(g) --- H2SO4(l) Masalah lingkungan yang ditimbulkan pada zone industri adalah adanya kabut sulfur (sulfurous smog), yang terbentuk akibat kumulasi asam sulfat di udara. Beberapa sifat dari gas ini adalah :
Enri Damanhuri - FTSL ITB

Halaman 68

nitrogen monoksida (NO). TLV dari SO2 adalah 5 ppm. Pengangkutan gas ini membutuhkan label bertuliskan 'gas beracun' dan 'pengoksidasi'.14 ppm selama periode 3 jam.96 kcal/mol Standar emisi yang dikeluarkan oleh USEPA adalah 0. gas-gas ini juga toksik dan menyebabkan methemoglobinemia dengan batas TLV 5 ppm.03 ppm selama periode 24 jam. gas ini tergolong toksik dengan batas TLV 25 ppm. Dalam ruang kerja. Gas ini dapat berkombinasi dengan hemoglobin dalam darah.panas difusi .93 g/l : 2. Gas NO merupakan agen pengoksida yang baik.titik didih . Amonia (NH3) Amonia merupakan gas yang tak berwarna dan berbau menyengat.Kerapatan uap (udara =1) . Konsentrasi melebihi 500 ppm akan menyebabkan kematian seketika.densitas: 0. fosfor dan karbon dapat terbakar dalam atmosfer N2O seperti halnya dalam atmosfer yang mengandung oksigen.titik beku: .76 o C : 2. Bahan ini merupakan agen pengoksidasi yang baik. dinitrogen trioksida (N2O3). dan 0. Beberapa sifat dari gas ini adalah : . dihasilkan campuran eksplosif. sehingga dapat menimbulkan methemoglobinemia dengan terhalangnya transportasi hemoglobin. Gas ini dalam pengangkutannya membutuhkan label bertuliskan 'gas racun'.titik beku .panas vaporasi : .596 . Magnesium dan fosfor dapat terbakar dengan baik dalam atmosfer yang mengandung gas ini seperti halnya atmosfer yang mengandung oksigen.771 g/L . tidak berwarna dan berbau tajam. seperti halnya karbon monoksida. NO2 dan N2O4 merupakan agen pengoksida yang lebih baik dibanding N2O atau NO.densitas pada 20 o C .10 o C : .batas bawah ledakan: 16 % .77 kcal/mol : 5. Dengan adanya hidrogen atau amonia.kerapatan uap (udara = 1): 0. Pada konsentrasi sebesar 10 ppm (volume) gas ini akan mengakibatkan iritasi pada mata. Gas N2O merupakan gas tidak berwarna. dinitrogen tetroksida (NO4) dan dinitrogen pentoksida (N2O5). Diantara keenam oksida tersebut.swa-penyalaan: 651 o C . Label yang dibutuhkan dalam pengangkutannya adalah sebagai 'gas tidak terbakar' dan 'pengoksidasi'. membentuk metheglobin (NOHb).5 ppm.titik didih: . Oleh karenanya. banyak digunakan sebagai anestesi oleh dokter gigi. sehingga sulfur.FTSL ITB Halaman 69 .33 o C .3 : 1.batas atas ledakan: 25 % Enri Damanhuri . Standar kedua adalah konsentrasi tahunan sebesar 0. sehingga digunakan sebagai agen pengoksida dalam roket. Oksida Nitrogen (NOx) Terdapat enam oksida-oksida nitrogen. yaitu dinitrogen monoksida (N2O). nitrogen dioksida (NO2). maka N2O3 dan N2O5 yang tidak penting dalam industri.78 o C .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 .

tembaga. tetapi umumnya karena ion-ion logam ini mempunyai affinitas yang sangat besar dengan sulfur. magnesium. hidrogen dan ion. Karena bahan ini sangat larut dalam air.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Gas ini mudah dicairkan dan dikenal sebagai anhydrous ammonia. Walaupun tidak berwarna. kadmiun. merkuri. Mata dan paruparu akan teritasi bila terpapar dengan bahan ini. Enri Damanhuri . apalagi bila dalam bentuk bubuk atau asap. selenium. Gas ini berakibat seperti halnya alkali terhadap kulit manusia. thallium dan seng. Debu asbes ini sangat ringan dan dapat melayang di udara. Bahan ini mempunyai titik leleh yang sangat tinggi. yang hanya dijumpai pada orang yang terpapar debu asbes. Logam berat yang digolongkan toksik oleh USEPA adalah : antimon. Asbestos Absestos merupakan terminologi yang digunakan dalam ilmu mineral untuk berbagai fiber silikat yang tersusun dari silicon. Bahan ini juga menyebabkan mesothelioma pada paru-paru atau saluran pernafasan.569). tidak terbakar dan digunakan sebagai penyekat panas. pada kondisi khusus asbestos dapat membahayakan kesehatan manusia termasuk timbulnya karena kanker. akan mengakibatkan kemungkinan terserang kanker 50 kali lebih besar dibanding orang yang tidak merokok. yang tergantung pada lamanya pemaparan. Bila logam ini terbawa oleh darah maka akan bersenyawa dengan sulfur yang berada pada fluida sellular tubuh. beberapa logam berat akan merupakan racun. nikel. namun dengan rentang yang kecil. perak. Namun disamping kegunaannya tersebut.ion metalik seperti natrium. berillium. Mekanisme keracunan dari logam berat ini adalah tergantung dari jenisnya. yaitu amonium hidroksida (NH4OH). Bila dicampur dengan magnesium oksida. bahan ini akan terkumpul menyebabkan asbestosis. Amonia yang dilarutkan dalam air merupakan larutan yang sering dijumpai secara komersial. Bila terserap dalam tubuh manusia. Pengangkutan amonia cair (anhydrous) membutuhkan label 'gas racun'. Gas amonia merupakan yang gas mudah terbakar. Logam-logam Berat Toksik Yang dimaksud dengan logam berat dalam buku ini adalah setiap logam yang mempunyai berat atom lebih dari 50. Pengangkutan cairan ini membutuhkan label 'korosif'. sehingga memudahkan pelacakan terjadinya kebocoran. khromium. arsen. maka bahaya kebakaran relatif kecil. timah. Limit pemaparan di ruang kerja adalah 50 ppm. dan mempengaruhi kerja enzimatik dalam tubuh. yaitu dari iritasi ringan sampai rusaknya jaringan. bila bahan cairan ini tumpah akan terbentuk awan putih akibat kondensasi lembab udara. oxygen. Namun bila tidak terkumpul di paru-paru. terutama bila asbestos hadir dalam bentuk debu asbes sehingga mudah terhisap melalui pernafasan atau mulut. Debu asbes ini mempunyai efek sinergis. bila terlepas di udara akan cepat terdispersi apalagi bila terdapat angin. asbestos sangat baik digunakan sebagai bahan tahan api yang banyak digunakan. misalnya bila terhisap oleh perokok. serta limit bawahnya yang relatif besar (16 %). Bila terhirup masuk ke dalam paru-paru. Dengan sifatnya yang lebih ringan dari udara (densitas uap = 0.FTSL ITB Halaman 70 . maka air merupakan bahan yang efektif untuk penanggulangan masalah yang timbul. Pemaparan yang berlebihan akan menyebabkan kebutaan dan rusaknya jaringan pernafasan. kalsium dan besi. maka akan masuk pada kerongkongan dan dapat memnyebabkan kanker pada pencernaan.

Jenis organochlorine ini mempunyai efek biokumulasi terutama pada jaringan lemak. Pada insek. Bila reaksi tidak terkontrol. maka enersi yang ada dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Enzim ini secara rutin berfungsi mempengaruhi impuls syaraf. seperti pada batere. pestisida ini mempunyai kemampuan untuk menghalangi kerja enzim. seperti pembakaran bahan bakar. Salah satu jenis pestisida ini adalah Carbyl yang merupakan insektisida. 8 SENYAWA PENGOKSIDASI Terjadinya reaksi oksidasi-reduksi (redoks) yang terkontrol sangat bermanfaat bagi manusia. Hanya diketahui bahwa bahan ini merusak keseimbangan natrium dan kalium dalam sel-sel syaraf sehingga mempengaruhi impuls sel tersebut. Pestisida organochlorine merupakan turunan hidrokarbon kompleks. yang banyak digunakan selama perang dunia ke dua. Kelompok pestisida ini juga bersifat toksik. atau tanaman. peledakan dinamit. Sebagai contoh adalah Aldrin dengan formula C12H8Cl6. Umumnya pestisida ini digunakan sebagai herbisida yang dapat menghalangi proses fotosintesis. Salah satu jenis kelompok ini yang terkenal adalah DDT. yang berasal dari hidrokarbon dengan formula C12H14. khlorinasi air. ledakan. Pestisida urea merupakan turunan dari urea. Salah satu pestisida kelompok ini adalah Linuron. sehingga pembuatan dan penjualannya dilarang. Pestisida organophosphorus merupakan turunan dari asam fosfat. dikenal sebagai acetylcholinesterase (ACHE). beberapa diantaranya telah dilarang digunakan. paling tidak sebuah atom hidrogen dalam molekul hidrokarbon tersebut. Telah dihasilkan ribuan jenis pestisida. yaitu dengan sebuah atom hidrogen (atau lebih) pada urea yang digantikan oleh atom-atom lain. roden. yang terpenting adalah pestisida organochlorine. dan sangat stabil serta persisten. Fungsinya pada insek atau vertebrata adalah mempengaruhi kerja enzim cholinistrase. Enersi dari reaksi ini dapat disimpan. Beberapa jenis pestisida carbamate juga berfungsi sebagai fungisida atau herbisida. fungi. Sebagian besar pestisida yang sekarang digunakan adalah merupakan senyawa-senyawa organik. maka pestisida organik dapat dikelompokkan menjadi beberapa grup. contohnya adalah Parathion dengan formula (C2H5)2PSOC6H4NO2. antara lain untuk mengontrol penyakit tifus dan malaria yang ditularkan melalui insek. Enri Damanhuri .FTSL ITB Halaman 71 . pestisida karbamate dan pestisida urea. Bila misalnya gas alam dibakar. pestisida organophosphorus. karena terbukti berbahaya bagi manusia.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Kriteria yang diberlakukan di USA pada lingkungan kerja adalah dalam 1 cm3 udara tidak boleh terdapat lebih dari 10 fiber asbes yang lebih panjang dari 5 micrometer. Pestisida Organik Pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk membunuh insek. seperti terjadinya kebakaran. maka enersi yang terbentuk dapat menyebakan bahaya bagi manusia. Tetapi panas yang ditimbulkan dari reaksi redoks tersebut dapat terserap oleh bahan yang dapat terbakar yang berada di dekatnya. Didasarkan atas struktur molekulnya. Mekanisme bagaimana pestisida ini memepengaruhi aktivitas biologi belumlah banyak diketahui. digantikan oleh atom khlor. Namun ternyata bahan ini menimbulkan masalah kesehatan bagi manusia. Pestisida carbamate merupakan turunan dari asam karbamik. melalui rantai makananlah bahan ini akan sampai pada manusia.

Kadangkala walapun agen pengoksidasi dijumpai dalam jumlah yang kecil. Sinar matahari akan bertindak sebagai katalisator. tetapi sudah cukup untuk memungkinkan terjadinya swa. Di lingkungan kerja batas pemaparan maksimum adalah 1 ppm. Hidrogen peroksida murni mempunyai penampilan yang mirip air. Khlorat dan Perkhlorat Bahan pengoksidasi yang juga banyak digunakan adalah natrium dan kalsium hipokhlorit. Larutan yang mengandung hidrogen peroksida lebih dari 50% (volume) dapat menyebabkan timbulnya api secara spontan dari bahan yang dapat terbakar. Bahan ini banyak digunakan dalam industri tekstil untuk pengelantang. Bila di atas konsentrasi tersebut diberi label : 'oksidator dan korosif'. pada konsentrasi larutan lebih besar dari 30 % (volume) larutan ini korosif terhadap kulit. Beberapa agen pengoksidasi diuraikan di bawah ini secara umum. Hidrogen peroksida dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius. dengan konsentrasi sekitar 3 sampai 5 %. Dalam industri kimia. Hipokhlorit metal ini.2 HCl(l) + O3(g) Oksigen yang dibebaskan dari dekomposisi fotokimia ini akan memucatkan pakaian.FTSL ITB Halaman 72 .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 sehingga bahan tersebut dapat terbakar dengan sendirinya. khrom. Transportasi hidrogen peroiksida dengan konsentrasi sampai 20 % diberi label : 'oksidator'. Larutan dengan konsentrasi 8 % (massa) secara lambat akan terdekomposisi menjadi air dan oksigen setelah 9 bulan. maka larutan ini aka terdegradasi secara cepat yang disertai timbulnya panas sehingga akan dapat teruapkan. Pada saat bertindak sebagai reduktor. timah. mangan dapat bertindak sebagai katalis guna terjadinya dekomposisi. baja.Na2CO3(l) + 2 HClO(l) 2 HClO(l) --. Enri Damanhuri . namun dapat pula berfungsi sebagai reduktor lemah.pembakaran bahan semacam sulfur dan sebagainya. Bila berada pada konsentrasi yang pekat (lebih besar dari 30 %). Bahan ini digunakan pula dalam penyediaan air bersih atau pengolahan air limbah sebagai desinfektan. Hidrogen peroksida merupakan bahan yang relatif tidak stabil. biasanya digunakan sebagai pemutih pada pencucian pakaian karena kemampuannya bereaksi dengan karbon di udara akan memproduksi asam hipokhlor dan melepaskan oksigen. ada yang berada di bawah kemampuan oksigen. bahan ini digunakan untuk memproduksi bahan peroksida metalik dan organik. Kemampuan agen pengoksidasi bervariasi. Untuk menghindari bahaya ledakan. Khlorit. Hidrogen Peroksida (H2O2) Hidrogen peroksida merupakan peroksida yang paling sering dijumpai. tetapi mempunyai bau yang sedikit tajam. larutan ini distabilkan dengan sejumlah kecil natrium pirofosfat. Hipokhlorit. Hidrogen peroksida selain dapat bertindak sebagi oksidator kuat. seperti reaksi di bawah ini : 2 NaClO(l) + H2O(l) + CO2 --. Bahan tersebut akan memasok oksigen pada saat terjadinya kebakaran walaupun udara di sekitarnya kekurangan oksigen. oksigen selalu dibebaskan. Beberapa logam seperti besi. tembaga. yang merupakan komponen aktif sebagai pemutih maupun untuk pembersih peralatan saniter. Ada oksidator yang mempunyai kemampuan lebih tinggi dibanding oksigen. Bahan pengoksidasi yang mengandung oksigen dapat dikatakan tidak stabil waktu dipanaskan. yang akan bertindak sebagai katalis guna memperlama proses dekomposisi. seng.

Namun bahan ini relatif lebih stabil dibanding bahan. Seperti halnya metal khlorat. yaitu : . Bila bereaksi dengan serbuk logam seperti alumunium. bahan ini dianggap sebagai bahan pengoksidasi. akan menimbulkan ledakan. Dalam pengangkutannya. digunakan terutama sebagai komponen serbuk mesiu. tetapi lebih umum akan membentuk nitrogen. baik sebagai pupuk maupun sebagai komponen bahan peledak. senyawa ini akan terdekomposisi dengan dua jalan.bahan sebelumnya serta tidak menimbulkan reaksi yang prematur.NH3(g) + HNO3 Pada temperatur sekitar 166 oC. maka metal-metal perkhlorat digunakan untuk kebutuhan yang hampir bersamaan. herbisida dan sebagainya. Natrium khlorat sangat sensitif misalnya bila bergesekan dan dapat menimbulkan terjadinya api dengan mudah.senyawa-senyawa amonium yang merupakan agen-agen pengoksidasi dapat juga terdekomposisi membentuk amonia. Amonium nitrat berpotensi menimbulkan resiko ledakan. Senyawa-senyawa amonium merupakan senyawa yang sering dijumpai. maka ledakan tidak dapat dihindari. Senyawa-senyawa Amonium Pada dasarnya semua senyawa yang mengandung ion amonium (NH4+) secara termal tidaklah stabil. Bila temperatur di atas 212 oC. sedangkan dalam kondisi sebagai larutan dianggap sebagai korosif. oksigen dan oksida-oksida metalik dan non metalik.N2O(g) + 2 H2O(g) Bila pada saat pengangkutan bahan ini berada pada kontainer yang tertutup rapat. Beberapa senyawa organik akan terbakar dengan sendirinya bila berkontak dengan bahan ini. misalnya senyawa Enri Damanhuri . Namun secara komersial. Pada saat ini bahaya kebakaran dan ledakan akan besar bila senyawa ini tetap berada pada kondisi temperatur tinggi. yang berlangsung secara endotermis : NH4NO3(s) --. . terutama yang berkaitan dengan penimbulan api dan ledakan. Metal khlorat yang sering digunakan adalah natrium khlorat atau kalium khlorat.senyawa-senyawa amonium yang bukan agen-agen pengoksidasi terdekomposisi membentuk amonium. Transportsai bahan ini membutuhkan label: 'pengoksidasi'. pengangkutan bahan ini pada kontainer pengangkutnya membutuhkan label : 'pengoksidasi'. amonium nitrat dianggap sebagai yang paling penting diantara senyawa amonium yang lain. api dapat berkobar yang didukung oleh adanya N2O sebagai pengganti oksigen udara. amonium nitrat akan meleleh. Secara komersial. Amonium sulfat merupakan pupuk yang paling sering digunakan dibanding senyawa amonium yang lain. amonium nitrat akan terdekompiosisi membentuk dinitrogen oksida dan uap air yang berlangsung secara eksotermis : NH4NO3(g) --.FTSL ITB Halaman 73 . Pada temperatur 80o ke 93 o amonium nitrat terdekomposisi membentuk amonia dan asan nitrat. misalnya amonium khlorida yang secara termal terdekomposisi pada temperatur kurang dari 167 o C membentuk amonia dan hidrogen khlorida. Bahan ini merupakan pengoksidasi yang sangat kuat. bahan ini diperoleh dalam konsentrasi larutan sampai 80%.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Natrium khlorit merupakan agen pemucat/pemutih yang banyak digunakan dalam industri kertas dan tekstil. Bila dipanaskan. Walaupun demikian. Beberapa senyawa dikenal mempunyai peranan sebagai katalis dalam menaikkan laju dekopmposisi amonium ini.

komponen bahan peledak dan sebagainya. atau khromium anhidrid atau asam khromik dengan formula (CrO3). walaupun pada kenyataannya yang paling bersifat toksik adalah yang berada pada tingkat oksidasi +6. logam dikhromat. Penggunaan dalam industri adalah seperti halnya asam khromik. Larutan yang lebih terkonsentrasi kadang digunakan dalam pengolahan limbah. Demikian juga halnya natrium nitrat. Senyawa sejenis adalah khromil khlorida (CrO2Cl2). Nitrit dan Nitrat Permanganat metalik adalah senyawa yang mengandung mangan pada kondisi oksidasi +7 yang tidak berwarna. misalnya dalam bentuk natrium nitrat dan natrium nitrit. Biasanya asam ini dibuat dengan penambahan asam sulfat pekat pada larutan kalium dikhromat. Asam-asam yang berkaitan dengan khromat dan dikhromat hanya ada pada kondisi larutan. Oksidator Mengandung Khrom Khrom pada tingkat oksidasi +6 terdapat dalam bentuk senyawa logam khromat. namun permanganat itu sendiri berwarna ungu. Nitrit metalik dioksidasi menjadi nitrat metalik dan direduksi menjadi nitrogen monoksida. Oksidator Mengandung Permanganat.FTSL ITB Halaman 74 . dapat dikonversi oleh bakteri dalam perut untuk membentuk nitrit. Permanganat metalik yang paling terkenal adalah natrium dan kalium permanganat. Pengangkutan dan pewadahan bahan ini membutuhkan label : 'pengoksidasi'. Pengaturan pengangkutannya membutuhkan label : 'oksidator'. Senyawa ini bersifat karsinogenik dan dapat merusak ginjal. Dikhromat metalik. Namun natrium nitrit dengan kerja enzim tertentu akan membentuk senyawa nitrosamin.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 yang mengandung tembaga. maka yang tersisa adalah oksida khrom (VI) yang dikenal sebagai khromium trioksida. Oksidator ini banyak digunakan dalam industri elektropalting khrom. terutama bila berada dalam larutan asam. Seluruh senyawa yang mengandung khrom oleh USEPA dikatagorikan sebagai toksik. Nitrit metalik dapat bertindak sebagai oksidator maupun reduktor. yang banyak digunakan dalam industri makanan untuk mempertahankan warna. Asam ini berwarna merah yang digunakan untuk pembersihan permukaan logam atau gelas. Enri Damanhuri . sebagai khromat akan berwarna kuning dan sebagai dikhromat akan berwarna oranye. pewarnaan dan percetakan. Bila air diuapkan darinya. tergantung pada kondisi oksidasinya. khrom trioksida dan khromilkhlorida. yang dianggap berpotensi sebagai senyawa karsinogenik. yang dikenal sebagai khromium oksikhlorida. termasuk libah gas sebagai oksidator. Transportasinya membutuhkan label sebagai 'oksidator' atau sebagai 'bahan korosif'. Nitrit dan nitrat metalik dengan kandungan nitrogen pada tingkat oksidasi masingmasing +3 dan +5 adalah oksidator yang termasuk penting. sulfur. Pada kondisi sebagai ion-ion metalik tidak berwarna. Larutan kalium permanganat digunakan untuk pengobatan dermatitis yang berasal dari bakteri atau fungi. suatu larutan merah yang terbentuk bila campuran asam khlorida dan asam sulfat ditambahkan pada larutan jenuk kalium dikhromat. seperti kalium dikhromat (K2Cr2O4) merupakan oksidator yang kuat.

Menurut struktur Lewis. Bahaya yang kedua dari kelompok ini adalah karena dapat bersifat toksik pada manusia. resin. o Kerosene. Molekul-molekul dari senyawa-senyawa organik mempunyai pola yang sama. Senyawa ini pada temperatur kamar dapat berupa gas. Senyawa organik yang paling sederhana adalah hidrokarbon. pelarut pembersih. maka yang dimaksud adalah ethane C2H6 atau ditulis menurut struktur Lewis sebagai CH3CH3. yang mempunyai variasi atom karbon antara 3 sampai 60. Bila jumlah atom karbon satu. antara lain menyebabkan kerusakan pada hati. maka campuran komponen-komponen tersebut tervolatilisasi sesuai titik didihnya masing-masing. yaitu campuran hidrokarbon yang molekul-molekulnya terutama mempunyai lima sampai sembilan atom karbon. alkene dan alkine. aerosol. C6H14 (hexane). o Bensin (gasoline).bahan bakar. dengan formula kimia CnH2n+2. sistem syaraf dan beberapa diantaranya menjadi penyebab penyakit kanker. C5H12 (pentane).FTSL ITB Halaman 75 . Senyawa organik ini dapat menguap dengan mudah dan uapnya mudah terbakar pada kondisi kamar. jantung. yaitu CH4 dikenal methane. bila n = 2. misalnya untuk bahan bakar.204 o C. C7H16 (heptane). Selanjutnya. yaitu alkane. gas senyawa-senyawa ini dapat meledak di udara. cat. tekstil dan sebagainya. maka jumlah atom hidrogennya adalah 4. Distilasi fraksi minyak bumi ini lebih lanjut akan menghasilkan produk non. Alkane adalah hidrokarbon yang ikatan atom karbonnya tunggal. pendingin. yang dapat dibagi menjadi dua kelompok. Produk destilasi yang penting adalah : o Petroleum naphtha. ginjal. cair atau padat. merupakan campuran hidrokarbon yang lebih berat dari pada minyak bensin. enam atau tujuh atom karbon. yaitu hidrokarbon alifatik dan aromatik. Produk ini terdistilasi antara 35 o 90 o C. maka karakteristik yang umumnya dijumpai dari senyawa ini adalah mudah terbakar dan bila terbakar. yaitu dengan satu atau lebih atom karbon yang terikat dengan atom-atom lain. . Seterusnya dikenal: C3H8 (propane). terutama sebagai bahan baku untuk produk-produk yang banyak digunakan dalam industri petrokimia. Bila minyak bumi mentah dipanaskan pada temperatur tertentu.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 9 BEBERAPA SENYAWA ORGANIK BERBAHAYA Senyawa-senyawa organik merupakan bahan yang sangat banyak digunakan dalam kehidupan manusia modern. yaitu : .atom karbon yang terikat satu sama lain dalam satu rantai yang menerus. maka mulai dari C4H10 dikenal dua jenis struktur molekul. adesif. Seluruh molekul dari senyawa ini hanya tersusun oleh atom karbon dan hidrogen. sedang butane dalam struktur yang kedua dikenal sebagai isobutane. karet dan aneka ragam fiber sintetis lainnya.atom karbon yang ikatannya tidak selalu dalam satu rantai yang menerus. Butane dalam struktur pertama dikenal sebagai n-butane. Enri Damanhuri . Pada pembakaran sempurna. akan terbentuk karbon dioksida dan uap air. yaitu campuran hidrokarbon yang molekul-molekulnya terutama mempunyai lima. Sumber utama hidrokarbon yang digunakan manusia adalah minyak bumi (petroleum). C4H10 (butane). Hidrokarbon Alifatik Hidrokarbon alifatik dibagi menjadi beberapa sub kelompok. Dalam kaitannya dengan keselamatan. misalnya sebagai bahan baku plastik. fiber. vernis. plastik. sehingga dapat dipisahkan satu dengan yang lain. C8H18 (oktane). Titih didihnya adalah 38 o .

meta-xylene disingkat m-xylene dan para-xylene disingkat p-xylene. maka alkine adalah termasuk hidrokarbon tak jenuh. Alkine yang paling sederhana adalah C2H2 yaitu ethyne atau acetylene.FTSL ITB Halaman 76 . Oleh karenanya. PAH ini diaggap bersifat karsinogen. Ketiga bentuk tersebut bernama : ortho-xylene disingkat o-xylene. Pemaparan maksimum di ruang kerja adalah 10 ppm selama 8 jam. kontainer benzene mempunyai label : 'cairan mudah terbakar'. Senyawa ini dikenal pula sebagai sikloalkane karena atom karbon pertama dan terakhir terhubungkan satu sama lain dalam rantai yang menerus. kelompok ini juga bersifat toksik bagi manusia karena mempengaruhi sistem syaraf pusat. tidak berwarna. Dua atom hidrogen dari benzene dapat pula digantikan oleh grup methil. Karena setiap alkene kekurangan hidrogen relatif terhadap alkane. Oleh karenanya. Disamping mudah terbakar. Biasanya formula benzene dilambangkan oleh bentuk heksagon dengan cincin di dalamnya. Pemaparan maksimum selama 8 jam kerja adalah 200 ppm untuk toluene dan 100 ppm untuk isomer-isomer xylene. PAH yang penting adalah naftalene yang digunakan antara lain dalam industri fungisida. Benzene bersifat karsinogen pada manusia. Senyawa yang paling sederhana dari kelompok ini adalah benzene dengan formula molekularnya C6H6. toluene dan isomer-isomer xylene adalah jernih. menguap pada temperatur kamar. Hidrokarbon yang mempunyai satu atau lebih ikatan karbon ke karbon rangkap tiga dikenal sebagai alkine. Benzene adalah senyawa yang tidak larut dalam air. Disamping bersifat mudah terbakar. Seperti halnya alkene. Uap cairan ini bila bercampur dengan udara akan mudah terbakar. Enri Damanhuri .Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Alkane dikenal sebagai hidrokarbon jenuh. Bila salah satu atom hidrogen dari benzene digantikan oleh grup methil (-CH3). tetapi tidak termasuk karsinogen. Hidrokarbon Aromatik Hidrokarbon aromatik adalah senyawa-senyawa yang mempunyai satu atau lebih bentuk cincin ikatan atom karbon. Campuran uap benzene dan udara akan siap untuk terbakar. Kelompok hidrokarbon aromatis dengan dua atau lebih cincin benzene dikenal sebagai polynuclear aromatic hydrocarbon (PAH). Hidrokarbon dengan molekul-molekul yang mengandung satu atau lebih karbon yang terikat dengan ikatan ganda. dengan kemungkinan tiga bentuk struktur isometris. penyebab leukemia. Pada temperatur kamar. oleh karenanya penyimpanan dan pengangkutannya membutuhkan label : 'cairan mudah terbakar'. yang menyerupai benzene atau yang tidak menyerupai benzene. karena setiap ikatan elektron dari atom-atom karbon. Alkene yang paling sederhana dikenal sebagai ethene atau ethylene dengan formula C2H4. dikenal sebagai alkene atau olefin. maka senyawa baru tersebut dikenal sebagai toluene. berpasangan dengan atom-atom yang terikat dengan karbon tersebut. maka kelompok ini dikenal sebagai hidrokarbon tak jenuh. tidak larut dalam air serta mudah menguap. Formula umum dari kelompok ini adalah CnH2n. yang dikenal sebagai isomer dari xylene. Formula umum dari alkine adalah CnH2n-2. yang membedakan antara hidrokarbon alifatis dengan hidrokarbon aromatis adalah struktur molekularnya.

terbentuk dari pengolahan gas alam. maka terjadilah perubahan karakteristik. gas yang tidak berwarna. Temperatur yang dicapai bila terbakar dengan udara akan mencapai 3300 o C.11. dengan rentang keterbakaran 10. yaitu : 1 atom diganti. Bila seluruh atom karbon digantikan oleh atom-atom halogen. Sebagai contoh penamaan adalah untuk senyawa yang berasal dari methane (CH4). terutama untuk pengelasan/pengecoran. Hidrokarbon Berhalogen Senyawa-senyawa organik dapat pula diturunkan dengan mengganti satu atau lebih atom hidrogen dari hidrokarbon dengan sebuah atom halogen. maka senyawa itu dikenal sebagai hidrokarbon berkhlor (chlorinated hydrocarbon). tidak berbau. senyawa baru : methylene khlorida atau dikhloromethane 3 atom diganti. senyawa baru : khloroform atau trikhloromethane 4 atom diganti. Methane merupakan gas alam.4 kcal/mol. bila senyawa ini terpapar dengan Enri Damanhuri .FTSL ITB Halaman 77 . propene. isobutane. LPG ini mengandung pula komponen lain dalam jumlah kecil.188 o C. Belum dijumpai pengaruh kelompok ini terhadap kesehatan. butane dan campurannya dikenal sebagai liquefied petroleum gas (LPG). senyawa baru : methyl khlorida atau khloromethane 2 atom diganti. Penggunaan gas alam sekarang makin banyak dijumpai. senyawa baru : karbon tetrakhlorida atau tetrakhloromethane. Umumnya mereka tidak berwarna. maka kelompok alkine yang paling sering digunakan adalah acetylene. maka senyawa baru tersebut bukan lagi kelompok bahan yang mudah terbakar. titih nyala methane adalah . ethene. dan merupakan salah satu komponen utama dari gas alam. sedang pada tekanan 12 atm akan terlarutkan acetylene sebanyak 300 bagian volume. dan pada kondisi murni berbau ether. Gas alam ini dapat pula dicairkan. Namun kelompok ini berkontribusi dalam pembentukan formasi ozone di atmosfer.7 . tetapi bila terhirup akan menyebabkan sesak nafas.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Hidrokarbon Sederhana Beberapa hidrokarbon sederhana dijumpai sebagai cemaran melalui cerobong pembakaran sebuah industri atau dari kegiatan komersial lainnya.4 % volume. Dengan substitusi tersebut. Oleh karenanya. dapat meledak pada kondisi ditekan. yang dapat digantikan oleh atom khlorida. yang terbentuk misalnya dari dekomposisi karbon organik. seperti ethane. Bila yang menggantikan adalah khlor. Terdapat empat kemungkinan penggantian atom hidrogen. biasanya gas ini dilarutkan dalam cairan seperti acetone. Satu bagian volume acetone dapat melarutkan 25 bagian acetylene pada tekanan 1 atm. Salah satu contoh dari kelompok ini adalah methane. Gas ini banyak digunakan dalam industri metalurgi. karena mempunyai panas pembakaran tinggi yaitu 312. Sebagai contoh. sedikit larut dalam air. Walaupun demikian. Gas ini tidak berwarna. Bentuk gas yang dicairkan dari propane. tidak berbau dan dijumpai dengan konsentrasi rendah. sehingga sifat kimia dari gas alam pada prinsipnya adalah merupakan sifat kimia dari gas methane. Panas pembakarannya adalah 213 kcal/mol. butene. isobutene dan sebagainya. Gas ini termasuk yang tidak stabil. sehingga senyawa itu dikenal sebagai hidrokarbon berhalogen (halogenated hydrocarbon). yang terdiri dari sebuah atom C dan empat buah atom H. Dari sudut industri. Methane digolongkan sebagai gas non toksik. dikenal sebagai liquefied natural gas (LNG). sedangkan khloromethane adalah di bawah 0 o C.

akan dihasilkan gas/uap yang berbahaya yaitu fosgene dan hidrogen khlorida. Senyawa kelompok ini banyak digunakan dalam industri. Karbon tetrakhlorida misalnya.CFnCl3-x. dan merupakan bahan yang paling banyak diatur penggunaan dan penanganannya diantara bahan berbahaya yang lain. impotensi sampai kematian.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 panas. Insiden yang paling dramatis dalam masalah toksikologi adalah yang terjadi di Jepang pada tahun 1968. sehingga mengakibatkan terganggunya fungsi biologis yang normal dan mengakibatkan perubahan fungsi faal tubuh. tidak bereaksi dengan asam. Oleh karenanya. Konsentrasi maksimum di lingkungan kerja adalah 1. Cara pengolahan PCB yang digunakan adalah dengan insinerasi. misalnya dalam perlengkapan listrik seperti transformator.5 mg/m3. iritasi pada gastrointestinal. hati. disamping dapat mengganggu hati dan ginjal juga dicurigai sebagai penyebab kanker pada manusia. .(g) + O2(g) . mata. menimpa lebih dari 1000 orang yang menkonsumsi beras terkontaminasi PCB akibat kebocoran pipa transfer panas dalam pemerosesan minyak. tetapi keterpaparannya pada manusia dapat menimbulkan masalah kesehatan. Atom khlor ini akan bereaksi dengan molekul ozon. misalnya efek racun dari khloroform pada sistem syaraf. Namun residu hasil pembakaran akan berbahaya bila pembakarannya tidak sempurna karena membentuk dioxin. Enri Damanhuri . Kelompok khusus dari senyawa hidrokarbon berhalogen adalah fluorokarbon (CFnClnx). dengan simbol 2 heksagon bercincin. Reaksi di bawah ini akan memperjelas masalah tersebut : CFnCln-x (g) --. resistan terhadap hampir seluruh bahan kimia.Cl (g) + O2(g) Masalah limbah yang paling banyak disorot dari kelompok ini adalah polychlorinated biphenyl (PCB). yang digunakan sebagai pendingin atau aerosol. tetapi sifat-sifatnya hampir sama. juga disebut sebagai khlorofluorokarbon atau khlorofluoromethane.70 % .(g) + Cl. Senyawa ini bersifat inert. Beberapa diantara hidrokarbon berhalogen ini teruapkan pada temperatur kamar.9999 %.ClO. Bila terlepas akan bereaksi dengan lapisan ozon. ginjal dan jantung.7 m3 PCB dengan konsentrasi 50 . otak. stabil bila dipapar pada temperatur tinggi. otot. Terdapat berbagai struktur isomer dari PCB. Sebuah transformator kadang mempunyai sampai 3. Senyawa ini mampu menyerap radiasi ultraviolet matahari. Ini terjadi karena pada tahun 1960 diketahui bahwa PCB ini ternyata merupakan penyebab berbagai masalah kesehatan yang serius : kanker. kulit. Bila PCB masuk ke dalam tubuh. PCB banyak digunakan dalam industri-industri yang membutuhkan sifat-sifat tersebut. ClO (g) + O --. sehingga lapisan ozon sebagai pelindung bumi dari radiasi ultra violet matahari akan terganggu/rusak. ginjal.0 µg/m3 dengan TLV 0. dan sebagainya dan tetap tersimpan dalam organ tersebut. dan dilepaskanlah atom khlor. Sebagian besar PCB adalah merupakan cairan yang encer pada kondisi kamar. senyawa ini langsung tersebar dalam berbagai jaringan reseptor seperti hati.FTSL ITB Halaman 78 . Di USA produksi PCB sejak tahun 1979 sangat dibatasi yaitu hanya untuk penggunaan yang sangat khusus. tidak terbakar. kapasitor. atau pada sistem pemindah panas dan sistem hidrolis.(g) . . kerusakan organ tubuh. beberapa diantaranya mempunyai titik didih sampai 267 °C tanpa mengalami dekomposisi. Nama komersial dari senyawa ini adalah freon. O3(g) + Cl (g) --. Oleh karena itu DRE dari PCB ini disyaratkan 99. sehingga ikatan karbon ke khlor akan rapuh.

Dilihat dari sifat keterbakaran. misalnya dalam industri farmasi. Mata. Tambah tinggi ether maka tambah tinggi titik nyalanya sehingga menjadi bahan bakar cair. dengan titik nyala 78 o C. Efek iritasi juga dapat terjadi pada mata dan kulit. Dalam masalah limbah.3. Pemaparan fenol di ruang kerja dibatasi 5 ppm (kontak dengan kulit). sebetulnya fenol tidak membahayakan. Pengangkutan senyawa ini membutuhkan label : 'cairan mudah terbakar'. karena resin-resin fenolis dan produk-produk farmasi lainnya terbuat darinya. Aplikasi isomer-isomer kressol pada tikus menimbulkan tumor.4. Toksisitas (LD50) bahan ini terhadap babi Guinea 3.senyawa fenolik yang diproduksi untuk beragam herbisida seperti asam 2. reproduktif dan kanker. Dua alkohol yang sering dijumpai di pasaran adalah metanol (methyl alkohol) dan ethanol (ethyl alkohol). Oleh karenya. Dioxin juga dicurigai dapat menghilangkan pertahanan tubuh terhadap penyakit.4. Dioxin sangat stabil dan terdekomposisi hanya secara thermal pada temperatur didih sekitar 500 °C. Senyawa organik yang dewasa ini dianggap salah satu substansi yang paling toksik adalah 2. hidung dan kerongkongan dapat teriritasi. yang paling sering dipersoalkan adalah fenol. Senyawa induk dari kelas alkohol ini juga bernama fenol atau hidroksibenzene. tetapi bisa saja tidak termasuk cairan yang berkatagori mudah terbakar. yaitu sangat toksik pada manusia.5trikhlorofenol. dan larut dalam air. Bila makanan terkontaminasi oleh bahan ini. Tetapi sifatnya yang racunlah yang mendatangkan masalah. Senyawa yang tergolong alkohol sederhana ini adalah mudah terbakar. Dioxin merupakan produk samping dari pembuatan senyawa. dan TLV = 19 mg/m3. yang dapat dilihat sebagai hidroksil turunan benzene. dengan TLV 22 mg/m3. Fenol pada kondisi padat adalah tak berwarna sampai putih kristal dan sering juga dijumpai berwarna gelap/merah bila terpapar cahaya.1 x 10-9. Ether sederhana sangat volatil dan berbahaya karena mudah terbakar serta meledak. Disamping itu. Ether Ether adalah senyawa organik yang molekul-molekulnya mempunyai atom oksigen yang menjembatani 2 grup alkyl atau aryl (R-O-R'). Enri Damanhuri . ether juga berbahaya karena ada yang mengandung peroksida organik sehingga mudah meledak.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Alkohol Alkohol adalah senyawa organik turunan dari hidrokarbon dengan penggantian paling tidak sebuah atom hidrogen oleh grup hidroksil (-OH). atau secara singkat dikenal sebagai Dioxin atau TCDD. dan merusak secara sistematis sistem syaraf.FTSL ITB Halaman 79 .dikhlorofenoxyacetik dan 2. Fenol adalah termasuk grup alkohol aromatis.7. maka penyebarannya akan melalui rantai makanan. dan berakumulasi (biomagnifikasi) pada jaringan lemak.8 tetrachlorodibenzo-p-dioxin. pengangkutan senyawa ini membutuhkan label bertuliskan : 'racun'. Efek toksikologis antara lain adalah terhadap sistem syaraf. misalnya methyl ethyl ether (methoxyethane). Salah satu grup fenol adalah kressol yang merupakan disinfektan dan berasal dari resin fenolik. Pemaparan pekerja pada isomer kressol adalah 5 ppm kontak dengan kulit. Fenol merupakan produk industri kimia yang penting. Fenol dikenal cepat menyerap uap air di udara sehingga sering dianggap sebagai cairan.

maka perokso-organik ini mempunyai kemampuan sebagai oksidator.FTSL ITB Halaman 80 . karena mempunyai oksigen yang aktif pada strukr molekulnya. Meyer: Chemistry of Hazardous Materials. 1989 Enri Damanhuri . Prentice Hall Building. hidung dan kerongkongan. merupakan cairan jernih dengan bau spesifik.Diktat Pengelolaan B3 – Versi 2010 Senyawa Organik Lain Senyawa organik dengan formula umum R-CO-OR' dikenal sebagai ester. Titik nyalanya adalah . Salah satu jenis senyawa ini yang banyak digunakan dalam industri adalah ethyl asetat. Seluruh bahan dikutip dari: E. Bila terpapar dengan manusia. Senyawa perokso-organik merupakan turunan dari hidrogen peroksida. yang terjadi bila asam-asam organik bereaksi dengan alkohol.atom hidrogen digantikan oleh satu atau lebih grup alkil atau aril. sehingga dikelompokkan sebagai cairan yang mudah terbakar.5o C. Seperti halnya peroksoanorganik. senyawa ini menyebabkan iritasi ringan pada mata. Bahan ini digunakan untuk mempengaruhi proses polimerisasi pada pembuatan plastik. yang biasanya digunakan sebagai pelarut. Atom. Pemaparan di ruang kerja dibatasi sampai 400 ppm.

Becquerel pada November 1896. Karena massa atom terkonsentrasi dalam volume yang sangat kecil. yaitu sekitar 2 x 10 gram/cm . thorium dan radium. Dengan menggunakan persamaan Einstein.008983 = 2. dan terus berlanjut pengembangannya dengan perlombaan senjata nuklir sampai selesainya “perang dingin” antara negara-negara Barat dan negara-negara komunis di dunia.9979 x 109 cm/detik m = perbedaan massa (amu) -24 10 -5 Sehingga E = 0. Unsur-unsur radioaktif yang secara alamiah terdapat di bumi adalah uranium. sebuah inti-atom dicirikan oleh nomor massa (A). Bentuk enersi nuklir merupakan hal yang paling spektakular yang pernah ditemukan dan digunakan oleh peradaban manusia selama ini. sebab bila tidak maka akibat adanya gaya tolakan elektrostatis antara proton-proton maka akan mengakibatkan mereka terpencar.+ = 4. Dalam hal ini: c = kecepatan cahaya=2. Dimulai dengan teridentifikasinya sinar-X oleh William C. Sejumlah besar materi radioaktif yang berumur sangat lama dihasilkan sebagai hasil samping yang tidak dapat dihindari. Kapasitas penghancur senjata nuklir telah dibuktikan dalam Perang Dunia II. Netron juga merupakan partikel dasar dengan besaran mendekati 1 unit satuan atom.033156 amu Massa inti-atom helium = 4. Proton adalah partikel dasar dengan massa mendekati 1 dalam skala berat atom dan bermuatan + e. namun tidak bermuatan.030381 amu Perbedaan massa ini menghilang pada saat terjadinya fusi dua proton dan dua netron untuk 2 membentuk inti-atom helium.Perbedaan massa (mass defect) = 0.elektron yang bermuatan negatif yang mampu mengimbangi muatan positif dari inti atom. Oleh karenanya. dan nomor atom (Z).002775 amu ------------------.8025 x 10 esu (electrostatic unit).9979 x 10 ) erg = 4.007595 = 2.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 BAGIAN VI LIMBAH RADIO AKTIF 1 UMUM Radioaktivitas sebetulnya bukanlah fenomena baru.531 x 10 erg 4 Enri Damanhuri . Intensitas radiasi tersebut relatif tidak tinggi dan radiasi tersebut dapat ditahan oleh atmosfer bumi. Struktur sebuah Atom : Inti-atom (nucleus) terdiri dari proton dan netron. terutama akibat penggunaan pembangkit enersi bertenaga nuklir di seluruh dunia dengan segala permasalahannya terhadap lingkungan. dibutuhkan satu ikatan yang sangat kuat.FTSL ITB Halaman 81 .030381 x 1.015190 amu (atomic mass unit) Massa netron = 2 x 1. Untuk mengikat sejumlah besar netron dan proton dalam ruang yang sangat kecil yang tersedia dalam sebuah inti-atom. Röntgen pada Januari 1896. Simbol sebuah atom ditulis sebagai ZX . dan kemudian ditemukannya radiasi dari radium oleh Antoine H. Selama berjuta tahun.017966 amu ------------------. radiasi kosmis dari luar angkasa telah memborbardir planit biru kita ini. yaitu E = mc maka sejumlah ekuivalensi enersi akan terbebaskan. 14 3 maka densitas inti atom tersebut sangat tinggi. yang proporsional dengan muatan positif pada inti-atom (Ze). yang sepadan dengan jumlah netron dan proton.65985 x 10 x (2. dimana X adalah simbol kimia yang biasa digunakan untuk unsur tersebut. Misalnya diambil masa 2He yang terdiri dari 2 proton dan 2 netron: Massa proton = 2 x 1. namun baru mendapat perhatian manusia pada akhir abad yang lalu. Namun keberadaan unsur-unsur radioaktif ini telah meningkat dengan dihasilkannya materi radioaktif artifisial oleh manusia untuk berbagai tujuan. 2 SIFAT-SIFAT RADIOAKTIVITAS Sebuah atom terdiri dari sebuah inti (nucleus) bermuatan positif dan sejumlah planet-planet yang mengorbit pada intinya dan elektron. dan sepadan dengan A jumlah proton dalam inti-atom. yaitu muatan sebuah elektron sebesar -10 4.

dan sifat-sifat nuklirnya agak berbeda dari hidrogen biasa. Sifat-sifat kimiawinya adalah identik.95 50Sn 114 0. dijumpai dalam bentuk 92U dan 92U .97 42 Ca 0. dengan massa 1/1840 proton (0. Dengan demikian.1. Tahun 1986 Becquerel menemukan bahwa garam-garam uranium meng-emisikan sejenis radiasi yang menyebabkan pelat fotografis menjadi hitam. Kemudian ternyata bahwa fenomena tersebut berasal dari kegiatan pada inti-atom dan fenomena tersebut terjadi pada seluruh elemen dengan nomor atom lebih dari 83.19 20Ca ------------------------------- -------------------------------Isotop Persentase -------------------------------112 0.FTSL ITB Halaman 82 .34 50Sn 116 14.00055 amu). yang dikenal kemudian sebagai radiasi α (alfa).71 50Sn 124 5. Sebagai contoh adalah sebuah atom hidrogen yang mempunyai sebuah proton dan sebuah elektron. Contoh lain adalah isotop uranium. Di alam terdapat atom dengan 1 elektron (hidrogen) sampai 92 elektron (uranium) dan massanya bervariasi dari 1 (sebuah proton pada hidrogen) sampai 238 (92 proton dan 146 netron pada uranium). β (beta) dan γ (gamma). sehingga jumlah elektron harus mengimbangi nomor atom (jumlah proton dalam inti-atom).97 50Sn 122 4. Bila sebuah inti-atom yang tidak stabil mengemisikan partikel alfa. Jadi isotop adalah elemen yang mempunyai nomor atom yang sama. Sebuah atom adalah netral.98 50Sn U 235 92U 238 92U 92 234 0. Isotop : Nomor atom dari sebuah unsur menentukan jumlah elektron dan merupakan identitas kimiawinya.0033 20Ca 48 0.1: Campuran isotop di alam ------------------------------Isotop Persentase ------------------------------1 99. dan biasanya cukup dituliskan sebagai U-235 dan U-238.98 1H 2 0.65 50Sn 115 0. Sifat-sifat kimiawi dua buah isotop akan sama. akan berbeda. Radiasi α adalah merupakan partikulat dan setiap partikel alfa adalah sebuah inti helium yang 9 berkecepatan tinggi sampai mencapai 10 cm/detik. Bisa saja dijumpai dua buah atom yang mempunyai nomor atom yang sama tetapi berbeda masanya.365 99. Atom tersebut disebut sebagai isotopis satu terhadap yang lain.0058 0.24 50Sn 117 7. dan jumlah elektron serta susunannya merupakan kunci sifat-sifat kimiawi dari elemen tersebut. dikenal sebagai hidrogen berat atau deuterium. inti atom sangatlah stabil.28 ----------------------------- Peluluhan Radioaktif : Pada kondisi normal. yang 235 238 mempunyai proton sebanyak 92.elektron terluar.64 43 0.02 1D 7 7 -10 N14 15 N 99.15 20Ca 46 0. seperti pada contoh peluluhan uranium ke thorium: Enri Damanhuri . secara artifisial dapat dihasilkan isotop-isotop yang tidak stabil yang dikenal sebagai radionuklisida (radionuclicide) dari unsur-unsur yang ada.635 0. maka nomor atomnya menurun 2 satuan sedang massa atomnya menurun 4 satuan.76 0.715 99. tetapi mempunyai jumlah massa yang berbeda. tetapi sifat-sifat fisisnya yang tergantung pada masanya. Radiasi ini terdiri dari emisi dua proton dan dua netron dari inti-atom.01 50 119 8. Elektron-elektron ini terikat dalam orbitnya oleh gaya elektrostatis dengan jarak yang bervariasi terhadap inti-atom. Atom terakhir ini merupakan sebuah isotop dari hidrogen. Tabel 6.57 50Sn 118 Sn 24. Hampir semua unsur terdapat di alam dalam bentuk campuran dari isotop-isotop seperti terlihat dalam Tabel 6. Terdapat pula sebuah atom dengan inti-atom yang terdiri dari sebuah proton dan sebuah netron disertai sebuah electron.04 0. dan tidak mengalami perubahan sifat-sifat kimiawi karena hanya melibatkan elektron.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Elektron dapat dianggap sebagai partikel dengan muatan negatif e (4. Rutherford kemudian menunjukkan bahwa radiasi tersebut terdiri dari tiga jenis radiasi yang berbeda.58 50Sn 120 32.20 O16 O17 18 8O 8 8 20 20 Ca40 96. dan menjadi isotop yang berbeda untuk elemen yang sama.8025x10 esu).

dan membutuhkan beberapa cm timah untuk mengisolasinya. Sinar β dan γ mempunyai kemapuan penetrasi yang lebih tinggi dibanding sinar α. sifat kimiawi dari kedua unsur tersebut berbeda. Sekali lagi. Radiasi ini dipancarkan dari inti-atom yang tidak stabil sebagai transformasi spontan dari sebuah netron ke sebuah proton dan elektron.99 kecepatan cahaya. Penentuan rancangan penyimpanan atau penyingkiran limbah radioaktif. Thorium yang dihasilkan dalam reaksi itu tidak stabil. perlu memperhatikan sifat peluluhan itu sendiri. Radioaktivitas menjadi kajian yang menarik dalam masalah lingkungan karena dampak negatifnya terhadap organisme yang terpapar. tetapi bila terhirup melalui pernafasan. yaitu: -Kt N = N0 dengan N = jumlah inti radioaktif setelah t waktu N0 = Jumlah inti awal t = waktu yang ditinjau K = konstanta peluluhan radioaktif 92U 238 234 4 Enri Damanhuri . menaikkan tingkat enersinya dan melepaskannya dari inti. Massa partikel β diabaikan. Partikel α dapat menembus pada jaringan tubuh sampai 100 µm. muatan positif menarik elektron. Dalam perjalanannya. dan setiap partikel β adalah sebuah elektron negatif yang berkecepatan tinggi sampai mencapai 0. Secara kimiawi. sebab walaupun secara kimiawi asalnya tidak toksik atau tidak korosif. Radiasi β dapat dianggap pula sebagai partikulat. yaitu: 234 234  91Pa + e 90Th Emisi sebuah muatan negatif dari inti-atom mengakibatkan muatan positif bertambah satu yaitu pada protactinium. maka partikel ini sangat berbahaya. yaitu sebuah elektron. dan bergerak dengan kecepatan cahaya. Sinar tersebut sangat sulit dihalangi. tetapi nomor atomnya meningkat satu satuan. dan konversi tersebut dapat dianggap sebagai perubahan sebuah netron menjadi sebuah proton. namun massanya tetap. sedang partikel β bisa mencapai beberapa cm. Oleh karenanya. Radiasi γ tidak mempunyai muatan atau masa. Ketika partikel α melalui suatu media.FTSL ITB Halaman 83 . Kulit manusia dapat menahan radiasi ini. Radiasi γ adalah radiasi eletromagnetis dengan panjang gelombang sangat pendek. Fenomena ini dikenal sebagai pengionan (ionization). terutama dalam penyimpanan dan penyingkiran. Sebuah inti-atom dapat terurai dengan kehilangan partikel α atau β-nya. sehingga sinar ini mempunyai kemampuan untuk mengionisasi dan dapat merusak jaringan hidup. Hal ini perlu mendapat perhatian pada saat penanganan limbahnya. enersinya secara bertahap dilepaskan akibat interaksi dengan atom yang lain. Partikel α relatif massif dan mudah dihentikan. penyekatan harus dirancang bukan saja agar mampu menahan radiasi dari limbah asalnya. Inti radium misalnya secara spontan akan terurai dengan melepaskan partikel α. Sebagai contoh adalah peluluhan strontium-90 menjadi yttrium : 90 90  39Y + β 38Sr Ionsasi yang terjadi pada partikel β frekuensinya lebih sedikit dibanding partikel α. dan akan meluluh dengan mengeluarkan sinar β. dan hanya dapat dihentikan misalnya dengan lembar alumunium setebal 1 cm. Sinar γ dapat pula terbentuk akibat transformasi itu. misalnya digunakan sebagai pelacak (tracer) untuk membantu pengukuran aliran materi dalam lingkungan. namun hasil peluluhan bisa saja menjadi lain.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010  92Th +2α Dalam reaksi ini dikeluarkan partikel α (inti helium) dari inti-atom. namun juga harus mampu menahan kemungkinan radiasi dari hasil peluluhannya yang bisa saja lebih berbahaya. thorium yang dihasilkan berbeda dengan uranium karena sifat-sifat kimia ditentukan oleh nomor atomnya. Perbedaan jenis radiasi tersebut di atas terkait dengan peluluhan inti atom-atom radioaktif. Jumlah masa tidak berubah. yaitu antara -3 -7 10 sampai 10 µm. Rutherford et al menemukan bahwa intensitas radiasi mengalami peluluhan secara eksponensial terhadap waktu. namun dapat bermanfaat. namun penetrasinya pada jaringan tubuh lebih dalam.

47 x 105 tahun 92U 230 4 α 8. Peluluhannya 92U tidak dengan jalan mengemisikan partikel-partikel α atau β. maka akan tertinggal sebanyak 50 gram setelah 1 tahun. Reaksi lain yang dapat terjadi adalah bila inti-atom yang berat menyerap sebuah netron.1 hari 90Th 234 β 1.2 : Contoh waktu-paruh -----------------------------------------------Isotop Radiasi Waktu-paruh ------------------------------------------------------------238 α 4. 17 Enri Damanhuri .7 x 10 per detik. Satuan Curie (Ci) adalah satuan dasar yang menyatakan besarnya peluluhan 10 sebuah sumber. artinya sebuah sumber dengan kekuatan 1 Bq akan mengemisikan satu 60 partikel per detik. bila dimulai dengan sebuah isotop yang mempunyai waktu-paruh 1 tahun dan mempunyai berat 100 gram. Misalnya 236 236 menyerap sebuah netron menghasilkan isotop yang tidak stabil 92U (?). Isotop Artifisial: Dengan ditemukannya radioaktivitas alamiah. Dalam satuan SI. Tabel 6.FTSL ITB Halaman 84 . dan persamaannya menjadi : t1/2 = ln2/k ≈ 0. yaitu: 1 Bq = 2. Waktu-paruh tersebut tidak dapat dirubah namun memainkan peranan yang penting dalam aktivitas penyimpanan dan penyingkirannya. Unit Satuan yang Digunakan: Banyak satuan yang digunakan dalam bidang radioaktivitas ini. Aktivitas sebuah sumber tidak 90 langsung mengidentifikaikan jumlah partikel yang teremisi.60 x 10 tahun 88 -------------------------------------------------Sebagai gambaran. manusia mulai mengamati pengaruh radiasi terhadap materi yang diradiasinya. Tidak terdapat pola yang jelas antara waktu-paruh isotop-isotop yang diamati dengan mekanisme peluluhannya. maka terbentuk isotop baru. Reaksi nuklir pertama yang terdeteksi adalah partikel alfa dari polonium yang dibuat agar terjadi reaksi dengan atom. menjadi 25 gram setelah 2 tahun. hasilnya akan dapat dipisahkan secara kimiawi dan merupakan sumber yang berlimpah bagi isotop-isotop artifisial. Tabel 6. Terbukalah pintu penelitian terhadap reaksi nuklir atau penelitian terhadap pembuatan isotop-isotop artifisial. aktivitas tersebut -11 dinyatakan sebagai becquerel (Bq). yaitu waktu yang dibutuhkan agar inti tersebut luluh menjadi setengahnya. Oleh karena itu seluruh rantai peluluhan tersebut harus diperhitungkan dalam perancangan limbah radioaktif.2 memberikan gambaran waktu-paruh dari enam isotop pertama yang terdapat pada ilustrasi sebelumnya. yang dapat membingungkan pemakainya. dan luluh secara radioaktif. Misalnya 38Sr meluluh dengan emisi sebuah partikel beta. yang merupakan laju desintegrasi inti-atom 1 gram radium.0 x 10 tahun 90Th 226 3 Ra α 1.51 x 109 tahun 92U 234 β 24. tetapi 27Co akan mengemisikan sebuah partikel beta dan dua sinar gamma. tetapi inti-atom memecah dalam dua fragmen dengan massa yang hampir sama. Namun banyak hasil rekasi yang bersifat tidak stabil. Satu Ci sebanding dengan desintegrasi sebanyak 3. hal ini dikenal sebagai fisi nuklir. Nilai waktu paruh tersebut bervariasi dari satu isotop ke isotop yang lain. yaitu N = 1/2 No. Waktu-paruh dari sebuah isotop adalah tetap. seperti yang banyak dilakukan dalam reaktor-reaktor nuklir. sehingga memberikan reaksi : 14 4 17 + 2He  8O + proton 7N Dalam hal ini 8O adalah stabil. Bila cara reaksi fisi yang terkontrol ini berlangsung. Bila sebuah partikel seperti partikel alfa atau sebuah proton atau sebuah netron bertumbukan dengan inti-atom.atom nitrogen di udara. tetapi waktuparuh dari nuklisida-nuklisida akan sangat bervariasi.17 menit 91U 234 α 2.693/k Waktu paruh sebetulnya tidak dapat dihitung tapi harus diukur secara eksperimental.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Kemudian persamaan tersebut disederhanakan menjadi persamaan waktu-paruh t1/2.7 x 10 Ci.

Satu rem adalah sepadan dengan penyerapan 100 erg enersi radiasi untuk satu gram jaringan tubuh. Bagian yang tersuspensi akan mengendap. digunakan satuan gray (Gy) yang sepadan dengan penyerapan enersi 1 J/Kg. Cara yang biasa dilakukan untuk menangani limbah padat adalah membuangnya atau menyingkirkannya. Sifat radioaktivitasnya akan menurun dengan sendirinya sesuai dengan waktu paruhnya. Dengan satuan ini memungkinkan dosis radiasi dalam gas diukur langsung dengan alat elektronik tanpa harus menentukan terlebih dahulu enersi terabsorbsi. Satuan baru (satuan SI) yang diusulkan adalah dengan satuan coulomb (C). Untuk itu perlu adanya jaminan bahwa isotop-isotop yang aktif tidak berkontak dengan lingkungan sampai batas konsentrasi tertentu yang menyebabkan tidak timbulnya masalah. Enri Damanhuri . Satuan yang digunakan dalam kesehatan adalam satuan rem (radiation equivalent man). komponen radioaktif dalam limbah cair dikonversi menjadi limbah padat yang tetap bersifat radioaktif dan harus tetap ditangani.FTSL ITB Halaman 85 . Cara yang banyak dilakukan untuk menangani limbah cair adalah penyimpanan atau pengkonsentrasian. sejumlah pencemar yang terkandungnya akan terolah secara alamiah. Sampai saat ini praktis belum ditemukan teknologi atau tata cara baik secara kimiawi maupun biologis untuk menetralisisr sifat-sifat radioaktivitas. misalnya bagaimana menyerap unsur berbahaya. atau memindahkan dalam bentuk padat untuk kemudian dibuang/disingkirkan sambil menunggu luluh dengan sendirinya sesuai dengan waktu-paruhnya. yaitu satuan pengukuran terhadap penyerapan enersi radiasi oleh jaringan tubuh manusia. maka jumlah partikel yang teremisikan per satuan waktu akan dapat dihitung. Sebuah sumber sebesar 1 Ci dari radium yang dilindungi dengan sebuah kumparan platinum setebal 0. menghasilkan intensitas radiasi 0. sedang bagian kimiawinya akan terencerkan. atau 1 Gy = 100 rad. yang menyatakan ukuran ionisasi per kilogram. Dalam hal sebuah isotop menghasilkan produk yang tidak stabil. Pengukuran ini dilakukan pertama kali dengan satuan röntgen (R). Dalam satuan SI. Tetapi hanya fraksi dari radiasi ini yang terlacak ke luar. bila kekuatan sebuah sumber serta mekanisme peluluhannya diketahui.5 mm untuk mengabsorbsi setiap partikel α. misalnya ke lautan yang dalam. Oleh karena itu digunakan satuan rad (radiaton absorbed doses). Bila limbah yang mengandung pencemar mengalir ke lautan atau ke sungai. maka akan dihasilkan limbah radioaktif yang tambah banyak dan dapat menyebakan radiasi pengionan. Dengan pengebangan teknologi dan ilmu nuklir serta penggunaan isotop-isotop radioaktif yang makin luas. atau sebesar 10 J/Kg. yang 3 merupakan kuantitas dari radiasi X atau γ yang menghasikan ion-ion.8 R per jam pada jarak 1 m dari sumber. Pencemar radioaktif akan tereduksi dengan sendirinya dengan peluluhan alamiahnya. ke dalam tanah yang dibangun khusus untuk itu. Dalam hal ini 1 C/Kg = 3876 R. tetapi ini hanya memindahkan masalah. Dikatakan telah menyerap radiasi sebesar 1 rad bila 1 gram materi -2 menyerap 100 erg enersi. Secara umum. Beberapa cara memang banyak dikembangkan. maka intensitas totalnya persatuan waktu adalah merupakan penjumlahan. biologis serta kimiawinya. bagian organiknya akan teroksidasi. mulai limbah asal (limbah'orang tua'nya) sampai hasil luluhannya (limbah 'anak-anak'nya). Sifat mencemari dari sebuah limbah akan ditentukan oleh karakteristik fisis. Cara yang diterapkan sekarang sebetulnya tidaklah tuntas. Pengukuran aktivitas sumber ternyata tidak menjelaskan tentang pengaruh radiasi yang teremisi terhadap sekitarnya. karena beberapa diantaranya terserap oleh materi radioaktif itu sendiri. terdapat kesulitan. dengan perlindungan yang ketat agar sifat-sifat radioaktivitasnya tidak membahayakan lingkungan. satu-satunya pemecahan yang tuntas adalah hanya dengan memanfaatkan waktu-paruh peluluhannya.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 jadi sumber tersebut yang mempunyai aktivitas 1 Bq mengemisikan tiga partikel sekaligus per detik. 3 PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF Pengolahan dan pembuangan (penyingkiran) limbah yang bersifat radioaktif merupakan masalah yang berat dalam abad nuklir ini. 1cm udara mengandung muatan 1 esu. karena hanya bersifat mengurangi konsentrasinya. Dalam mengukur ionisasi selain gas.

maka terdapat dua jenis limbah radioaktif. secara berkala dibutuhkan pengeluaran bahan bakar ini. rhodium dan palladium 61 ----------------------------------------------------------------------------------- Enri Damanhuri . Pertimbangan genetika mengharuskan bahaw rata-rata dosis radiasi yang dietreima oelh manusia secara keseluruhan adalah 1. Radiasi ini sebagian besar berasal dari sumber alamiah seperti sinar kosmis (102 mrem/tahun). Penyimpanan dan Pengkonsentrasian Limbah Cair : Limbah cair yang paling banyak dihasilkan agaknya berasal dari proses pembuatan bahan bakar nuklir. Definisi limbah radioaktif adalah buangan dalam bentuk padat. bila dapat menunjukkan bahawa tidak seorangpun menerima dosis lebih dari 10 milirem/minggu. Karena tidak praktis untuk memprediksi kandungan radioaktif buangan padat. mengambil uraniumnya dan memisahkan plutonium yang juga terbentuk.atas kandungan radioaktifnya . yaitu : . yaitu: . Limbah ini dicirikan dengan kemampuan penetrasi radiasi yang tinggi.3: Hasil fisi dari pembakaran 1 ton Uranium -------------------------------------------------------------------------------------Kelompok Kimiawi Elemen Kimiawi Berat (Kg) ------------------------------------------------------------------------------------Gas jarang Kripton dan xenon 128 Alkali berat Rubidium 15 Caesium 118 Alkali tanah Strontium 42 Barium 43 Ytrium 317 Elemen ke 4 Zirconium 125 Elemen ke 5 Niobium 5 Elemen ke 6 Molybdenum 92 Tellurium 16 Elemen ke 7 Technetium 29 Iodine 7 Logam jarang Ruthenium. laboratorium-laboratorium penelitian.atas potensi bahayanya .limbah tingkat rendah . yang terakumulasi guna menurunkan tenaga reaktor melalui absorpsi netron. Tabel 10. pembuangan limbha cair ke saluran riolering adalah dianggap aman bila ratarata konsentrasi radioaktivitas dalam saluran tidak lebih dari 10 -4 µc/ml. pembangkit tenaga nuklir komersial sebesar 0. tidak membutuhkan sedikit atau bahkan tidak dibutuhkan kontainer khusus. Tabel 6. diagnosa medikal dari sinar-X sekitar 72 mrem/tahun.3 milirem/minggu Ditinjau dari tingkat aktivitas radioaktivnya. tetapi tetap mempunyai potensi konsentrasi limbah berbahaya. cair atau gas yang dihasilkan selama pembuatan atau penggunaan substansi radioaktif. Total keterpaparan radiasi di USA apada tahun 1980-an untuk segala sumber sekitar 182 mrem/tahun/orang.2 berikut menggambarkan hasil fisi bila digunakan 1 ton uranium. penelitian kesehatan. Dalam banyak hal.limbah tingkat menengah/tinggi Limbah tingkat menengah/tinggi dihasilkan dari pemerosesan kembali bahan bakar nuklir yang mengandung seluruh produk fisi. Berikutnya bahwa tidak sulit menarik keyakinan bahwa setelah dibuang konsentrasi tidak mengalami penurunan akibat reaksi kimiawi ataupun biologis. Sumber utama dari limbah jenis ini misalnya dari kegiatan kedokteran. laju penghasil panas yang tinggi dan waktu paruh radioaktif yang panjang. Dalam proses fisi.atas sumbernya Pendapat pertama dan kedua secara prinsip lebih baik. Termasuk di dalamnya adalah kelompok limbah yang sebetulnya tidak begitu berbahaya. tetapi praktisnya sulit untuk direalisis. Metoide pembuangan dianggap aman. yang lebih realistis adalah mendeteksinya berdasarkan sumbernya. uranium menghasilkan sekitar 30 radionuklisida.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Sumber-sumber Limbah Radioaktif : Definisi buangan/limbah radioaktif dapat didasarkan atas tiga pendekatan. Oleh karenanya.01 mrem/tahun.FTSL ITB Halaman 86 . namun tetap dianssumsi berbahaya sampai terdapat pembuktian. Oleh karenanya. Limbah tingkat tinggi sangat sedikit mengandung radioaktivitas.

didapatkan limbah yang terbungkus secara solidifikasi. sebab bila tidak. Guna mengurangi masalah ini.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Elemen-elemen bahan bakar yang tidak teradiasi tetap mengandung bahaya radioaktif dengan tingkat aktivitas sekitar 10 sampai 15 curie/L. Media ini relatif lebih stabil. maka kontainer baja perlu dilapis dengan bahan anti karat. Larutan tersebut kemudian terevaporasi akibat panas yang terjadi. sehingga memudahkan dalam penanganan berikutnya. maka beberapa metode yang digunakan adalah dengan penukar ion. Namun hal ini kurang memuaskan hasilnya karena panas yang dikeluarkan per satuan volume relatif rendah. Limbah cair biasanya dinetralkan dan disimpan dalam kontainer baja kualitas baik atau dalam beton bertulang. penukaran akan terjadi bila kation pada media penukar mempunyai affinitas yang sama atau lebih kecil dari yang akan menggantikannya. Sebetulnya dengan sifat dapat memanaskan dirinya sendiri akan memungkinkan proses swa-evaporasi.FTSL ITB Halaman 87 . namun yang mungkin adalah mengkonsentrasikan nuklisida-nuklisida tersebut dalam volume cairan yang relatif kecil. Dalam proses pendinginan. biasanya agitator udara atau sirkulasi cairan digunakan. Dari proses ini akan dihasilkan cairan dengan konsentrasi yang sangat tinggi yang mengandung elemen radioaktif yang harus ditangani lebih lanjut. Beberapa radioisotop. Jadi ion. misalnya dengan proses evaporasi. yaitu dengan memanfaatkan media tertentu yang mempunyai sifat dapat menukarkan kation atau anionnya dengan kation dan anion lain dari limbah. Media penukar ion yang mengandung sejumlah ionion yang dapat ditukar tersebut. Mengingat bahwa bila limbah cair yang disimpan dengan cara tersebut akan membutuhkan biaya besar. Dibutuhkan kumparan pendingin agar panas yang dihasilkan akibat terjadinya peluluhan radioaktif dapat dikeluarkan. Limbah yang akan diuapkan biasanya diletakkan pada kontainer baja yang divakumkan sampai mencapai volume yang belum memungkinkan terjadinya endapan. adalah kemungkinan terjadinya endapan. yaitu ion-ion dari limbah. maka usaha lain adalah mengkonsentrasikan limbah tersebut agar volumenya berkurang. sehingga masalah timbulnya tekanan yang meninggi secara tiba. Sarana pemonitor dini terhadap kemungkinan kebocoran sangat diperlukan. Sumur-sumur pemantau juga diperlukan di sekitar kontainer yang ditanam dalam tanah. sifat-sifat radioaktif tidak dapat dimusnahkan. Kapasitasnya akan tergantung pada afinitas relatifnya. Bila limbah dipertahankan dalam kodisi asam. melaslukan pencampuran limbah cair terkonsentrasi dengan silika dan borax dalam larutan asan nitrat. seperti rutheniumakan. Inggeris. Media penukar ion tersebut kemudian dapat dianggap sebagai limbah padat dan membutuhkan penanganan khsusus dalam pembuangan akhir. Tetapi laju pelepasan panas tersebut tidaklah teratur.ion radioaktif tersebut ditukar dengan ion-ion yang tidak aktif yang terdapat dalam media. misalnya. akan tervolatilisasi dengan sendirinya. agar masalah bocornya limbah ini dapat segera diketahui. yang tentu saja akan menaikkan biaya penyimpanan.tiba perlu diperhatikan dalam rancangan penyimpanan. Perlu pula adanya katup pelepas tekanan uap dan uap tersebut kemudian dikembalikan lagi ke kontainer tersebut. proses kimiawi atau biologis. misalnya : Hg++ < Zr++++ < Li+ < H+ < Na+ < K+ < Rb+ < Cs+ < Ag+ < Mn++ < Mg++ < Cu++ < Ca++ < Sr++ < Al+++ Enri Damanhuri . Media yang dikenal mempunyai kapasitas penukar ion yang tinggi adalah resin sintetis. Alternatif lain adalah dengan regenerasi sesuai dengan ion yang terkandungnya. akan menyulitkan karena jenis limbahnya yang bersifat radioaktif. Penyimpanan limbah radioaktif dalam bentuk solidifikasi dengan glas dianggap aman dan efektif. Proses penukar ion adalah proses yang sudah lama dikenal. dapat digunakan terus sampai materi tersebut menjadi jenuh dan tidak dapat lagi berfungsi. Masalah yang timbul bila limbah tidak dipertahankan dalam kondisi asam. misalnya dalam pembuangan atau penyingkiran akhir. Secara praktis. Limbah cair dengan sifat-sifat radioaktif mempunyai sifat yang secara spontan dapat mendidih dengan sendirinya karena adanya absorpsi enersi radiannya sendiri. Akan terdapat dua jenis penukar ion. sehinga membutuhkan penanganan dengan kontrol yang ketat. Pengolahan Limbah Cair: Seperti dibahas di muka. yaitu penukar kation dan penukar anion. Disamping dengan cara penguapan. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam evaporator limbah jenis ini adalah agar sarana tersebut tidak membutuhkan perawatan yang terlalu rumit.

yaitu sekitar 30 tahun. Dua jenis isotop yang paling penting untuk dijadikan acuan adalah radiostrontium dan radiocaesium. Alternatif lain adalah dengan penambahan lempung selama koagulasi. Koagulan akan menyerap ion-ion tertentu dari larutan dan membentuk partikel yang lebih besar. Unit-unit pengendap yang biasa digunakan dalam pengolahan limbah akan menghasilkan kinerja yang sama. Radiostrontium merupakan isotop yang paling berbahaya sebagai penyebar emisi beta. sehingga media menjadi lebih cepat jenuh. Salah satunya adalah radiocaesium. dan dapat memampatkan media penukar ion tersebut. Beberapa jenis media alamiah juga mempunyai kemampuan untuk berfungsi sebagai penukar ion antara lain adalah tanah lempung (clay). Media alamiah lainnya adalah penggunaan vermiculite atau lignite. Pemilihan proses yang dilakukan adalah tergantung pada kinerja penyisihan yang diinginkan. Dalam hal ini vermiculite mempunyai kemampuan untuk itu. namun media ini mempunyai sifat-sifat penyaringan yang buruk sehingga menyulitkan dalam operasionalnya.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Salah satu kelemahan dari cara ini adalah bahwa media ini tidak dapat membedakan antara ion yang aktif atau ion yang tidak aktif. limbah lumpur yang terkonsentrasi tersebut dapat ditangani lebih lanjut. maka Mg cenderung akan mengendap sebagai hidroksida. cerium. Barium khlorida juga dapat digunakan untuk mengendapkan ion-ion sulfat dan tellurate. akan lebih mudah mengendap sehingga efisiensi penyisihannya menjadi lebih tinggi. promethium dan ruthenium akan lebih mudah terserap sehingga dapat terkonsentrasi dalam lumpurnya. Media ini mempunyai kemampuan filtrasi yang baik dibandingkan montmorillonite dan kapasitas penukar ionnya sekitar 0. Pengolahan limbah radioaktif secara kimiawi diterapkan di banyak negara. yang biasanya dipisahkan melalui vermiculite. walaupun kemampuan dekontaminasinya relatif tidak begitu besar.koagulasi-pengendapan. penambahan koagulan akan menyebabkan materi tersuspensi yang juga bersifat radioaktif. namun tetap dibutuhkan mekanisme lain agar sebanyak mungkin materi tersebut terpisah dari cairannya. Beberapa jenis flokulan yang biasa digunakan dalam teknologi pengolahan limbah seperti garam-garam aluminium. yang prinsipnya adalah identik dengan penyisihan air asin. Dalam hal garam-garam besi yang digunakan. lignite atau resin sintetis terlebih dahulu. Umumnya. Langkah berikutnya. Oleh karenanya. Aruh searah dilalukan pada dua elektrode yang terendam. Dengan demikian akan terjadi sekaligus penukaran kation dan penukaran anion. sedang caesium-137 mempunyai waktu paruh yang pajang. yaitu dengan merangsang terjadinya partikel flok yang mudah mengendap. namun hal ini cenderung mengurangi sifat-sifat mengendap dari partikel tersebut. terutama montmorillonite mempunyai kapasitas penukar ion sampai 1 miliekuivaalen (meq) per gram. Cara lain aplikasi penukar ion adalah penggunaan electrolitis deionisasi. namun ada beberapa kation atau anion radioaktif yang membutuhkan penanganan khusus. seperti telah dibahas di muka. maka relatif sulit untuk dipisahkan dari larutannya. jenis radionuklisida yang akan dipisahkan. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan penambahan koagulan. kemudian diikuti dengan pembubuhan ferri sulfat untuk menyisihkan kelebihan barium Enri Damanhuri . maka pH yang lebih tinggi akan menghasilkan penyisihan yang lebih tinggi pula. ferro dan ferri sulfat. Diantara katode tersebut diletakkan membran secara bersilangan. setiap media yang digunakan dalam penukar ion harus mampu menyisihkan kedua jenis isotop tersebut. karena merupakan unsur monovalensi. yaitu unit pengendap. Bila limbah dengan pH tinggi melalui media tersebut. Disamping itu. misalnya disingkirkan ke dalam tanah dan sebagainya. Walapun telah dilakukan pembubuhan kimiawi secara flokulasi. silika aktif atau sodium fosfat juga dapat diterapkan dalam limbah radioaktif ini. Beberapa jenis lempung. namun cara ini cocok untuk limbah yang mempunya kadar radioaktif rendah. terdapat kecendrungan bahwa kation multivalensi seperti yttrium. bila yang akan ditangani adalah produk fisi yang tercampur. Sasaran dari cara ini adalah bagaimana mengkonsentrasikan nuklisida. Walaupun dilakukan penaikan pH. Dengan demikian. sehingga akan menambah efisiensi penyisihan secara keseluruhan. Disamping itu.7 meq/gram. adalah partikel flok dan partikel tersuspensi tersebut harus diendapkan dan tidak terbawa ke dalam efluennya kembali. yaitu sebagai penukar anion dan penukar kation. atau densitas buangan lumpurnya menjadi lebih tingi.FTSL ITB Halaman 88 . Ion penukar dari media ini mayoritas adalah magnesium. Keberhasilan pembentukan flok harus diikuti dengan unit operasi yang lain yang sangat menentukan.

seperti sitrat. dan dapat disisihkan dengan penggunaan garam-garam perak atau penukar anion. anion atau dalam bentuk non-ion. Oleh karenanya dalam beberapa hal digunakan coagulant-aids. fenomena lain yang dapat terjadi secara alamiah adalah penyisihan elemenelemen radioaktif oleh adsorpsi permukaan. b. dan biasanya yang paling efisien dalah menggunakan polimer dengan berat molekul ting gi. Hal yang penting dalam proses pengendapan tersebut adalah bagaimana mendapatkan efluen yang sangat baik. Dapat saja terjadi bahwa ikan yang berada dalam sungai yang menerima efluen limbah radioaktif cair dengan konsentrasi phosphorus-32 di bawah konsentrasi maksimum yang diizinkan untuk air minum. sehingga penggunaan filtrasi sedapat mungkin dihindari. sehinga menaikkan proses koagulasinya. Secara umum pengolahan secara biologis ini akan berfungsi baik. polysaccharida. seperti senyawa sellulosa. Seperti telah dibahas di muka. Salah satu nuklisida yang relatif suulit untuk ditangani adalah ruthenium. Penentuan analisis kimiawi dari elemen dalam organisme air dan air. seperti yang dilakukan di Perancis. yang akan mengganggu dalam pengolahan isotop radioaktif secara kimiawi. mungkin mengadung komponenkomponen organik biodegradabel. Jadi bila badan air tersebut terkontaminasi dengan isotop radioaktif. Limbah radioaktif yang akan dialirkan ke badan air. Partikel yang dihasilkan berupa granular dan dapat terendapkan serta tersaring secara baik. Cara yang banyak dilakukan adalah pembekuan. Pengolahan dengan pembekuan ini akan mengkonsentrasikan elektrolit yang ada di sekitar partikel koloidnya. sehingga sebelumnya perlu diolah secara biologis guna mencapai baku muru yang diinginkan. Langkah berikutnya adalah penanganan lumpur yang berasal dari unit pengendap yang masih mengandung kadar air tinggi (di atas 90%). Fenomena ini juga dimanfaatkan dalam penyerapan elemen-elemen tertentu oleh tumbuhan air seperti eceng gondok guna mengurangi konsentrasi pencemar radioaktif berkadar rendah. akan mengidentifikasikan maksimum konsentrasi isotop radioaktif yang dapat terjadi dengan cara tersebut. kalsium atau strontium akan lebih tinggi terdapat di tumbuhan air dibandingkan air sekitarnya. dilirkan ke badan air dengan mengandalkan pengenceran dan dispersi. lumpur kimiawi yang dihasilkan dari pengolahan tersebut sebagian besar akan bersifat koloidal dan tidak mengendap secara baik serta sulit difilter dalam proses penanganan lumpur. akan dihasilkan cake lumpur tetapi masih mengandung air sampai sekitar 85 %. Cara yang paling baik yang pernah dilakukan adalah dengan co-presipitasi dengan tembaga sulfida dalam suasana asam. yaitu: (aktivitas per satuan berat organisme)/(aktivitas per satuan berat air) Disamping itu. Beberapa diantara jenis polimer tersebut mempunyai muatan negatif (anion). Organisme tertentu di alam dalam hal ini dapat menimbun radioisotop dalam tubuhnya. Pengolahan secara biologis yang sengaja dibangun mempunyai prinsip identik dengan yang biasa digunakan dalam pengolahan limbah lain. Pengolahan secara biologis bagi limbah radioaktif yang dikatagorikan ringan biasanya didasarkan atas satu diantara tiga pertimbangan. radioisotop tersebut akan cenderung berakumulasi pada tanaman air tersebut. c. bila limbah yang akan diolah tidak bersifat asam atau alkalin.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 dan bertindak pula sebagai koagulan. Efluen cair dari limbah radioaktif yang kadar radioaktivitasnya dikatagorikan rendah. Radioiodine biasanya hadir dalam kondisi anion. Lumpur kering yang dihasilkan kemudian di tangani sebagai halnya limbah padat radioaktif. Pengolahan biologis juga dapat dipertimbangkan guna merangsang tumbuhnya mikroorganisme yang berfungsi sebagai adsorben biologis. pada suatu saat akan mengakumulasikan radioaktif ini sampai di atas batas yang diizinkan (biomagnifikasi). Limbah tersebut mungkin mengandung agen-agen organik kompleks. yaitu polyelectrolite. misalnya oleh mikroorganisme semacam bakteria dan algae bersel tunggal. seperti senyawa caustic-hydrolised polyacrylamide. Sentrifugasi juga tidak memberikan pemecahan yang baik. Diketahui bahwa konsentrasi dari elemen-elemen yang biasa terdapat di alam seperti kalium. Unsur-unsur multivalensi seperti zirconium dan plutonium dapat direduksi dengan cara ini. Akumulasi radioaktif oleh organisme biasanya dinyatakan dengan faktor konsentrasi (FK).FTSL ITB Halaman 89 . yaitu: a. yang dapat hadir sebagai kation. bebas dari substansi toksik dalam konsentrasi tertentu sehingga dapat menghambat aktivitas Enri Damanhuri . Dengan mengunakan filter vakum. atau bermuatan positif (kation) seperti polyvinyl pyridinium butyl bromide.

Beton baryte dua kali lebih aman dari beton biasa. misalnya dalam pasangan beton. yang dapat dibangun lapis perlapis. Pengolahan lumpur yang dihasilkan adalah identik dengan pengolahan limbah lain. Dalam hal ini perlu adanya kontrol bahwa supernatan yang dihasilkanya tidak mengeluarkan aktivitas radioaktif yang menganggu. Bunker beton tersebut biasanya dilapis lagi dengan logam. sedang abunya ditangani seperti limbah padat. Beton bertulang digunakan terutama karena alasan biaya. Hal yang sudah pasti bahwa cara ini sama sekali Enri Damanhuri .000 rad. Beberapa pengolahan secara biologis yang telah diterapkan misalnya adalah kolamkolam oksidasi. Dosis radiasi yang dibutuhkan agar dapat membunuh 99 % populasi bakteria dalam limbah radioaktif dapat mencapai 100. Menurut penelitian. Sarana tersebut harus juga mempertimbangkan pekerjaan berat untuk operasi menaikkan dan menurunkan beban yang berat. sehingga praktis tidak terdapat bahaya radiasi. penyingkiran dalam tanah dapat dilakukan dengan pembuatan lobang-lobang raksasa yang disiapkan dengan penuh kehati-hatian. hal esensial yang perlu diperhatikan adalah bagaimana agar organisme yang berfungsi tersebut tidak terpengaruh oleh radiasi. Dalam proses biologis. Tinja tersebut membutuhkan waktu tunggu lebih dahulu sebelum bebas dibuang pada riolering kota yang dilengkapi dengan pengolah limbah secara terpusat. Penyingkiran Limbah Padat dan Lumpur: Penanganan akhir dari limbah padat atau lumpur adalah dalam bentuk penyingkiran dalam tanah atau dalam lautan. Lumpur yang telah dikurangi kadar airnya dapat dibakar dalam sebuah insinerataor. seperti pengeringan pada media berbutir. maka perlindungan yang sangat ketat sangat dibutuhkan. penyimpanan dapat dilakukan dalam konstruksi batu bata saja. Dengan cara demikian. proses lumpur aktif dan saringan pasir lambat. Dalam beberapa hal dibutuhkan penyimpanan yang bersifat sementara. filter perkolasi (trickling filter). Konstruksi kontainer atau bunker tersebut dapat terbuat dari beton bertulang setebal 2 meter. Cara lain adalah disingkirkan ke dalam tanah atau ke larutan seperti halnya penanganan limbah padat. lapisan 9 dengan aspal adalah cukup baik untuk menahan radiasi sampai 10 roentgen.FTSL ITB Halaman 90 . Mikroorganisme pada umumnya lebih resistan dibandingkan organisme yang lebih tinggi. Namun diperlukan perhatian agar beban sel yang diatas tidak akan langsung bertumpu pada sel limbah yang ada di bawahnya. Dalam hal limbah yang akan disimpan sangat aktif. setelah terlebih dahulu dilapis guna mencegah tersebarnya radioaktif tersebut seperti halnya pengelolaan limbah limbah padat. Namun bila yang dikeluarkannya adalah radiasi beta atau gamma. Penggunaan bahan baja atau keramik dapat pula dipertimbangkan sebagai kontainer sebelum dimasukkan ke dalam bunker tersebut. maka penyimpanan yang bersifat permanen akan dibutuhkan. kolam-kolam atau saluran-saluran biologis yang ditamani tumbuhan air. plastik atau aspal. misalnya dalam bentuk parit-parit beton bertulang. khususnya bagi isotop dengan waktu-paruh lama. yang dapat berbentuk tabung-tabung yang dapat dimasukkan ke dalam bunker secara vertikal. maka dibutuhkan materi lain seperti timah atau beton baryte. dan limbah padat disimpan di sana sampai keaktifannya menjadi tidak membahayakan. atau dilakukan proses solidifikasi. misalnya dalam aktivitas pemantauan tingkat peluluhan yang telah terjadi. maupun secara vertikal.komponen materi organik yang dikandungnya dan dikonversi menjadi gas metan. Pengaruh tersebut tidak terlihat secara nyata kecuali dalam tingkat aktivitas yang tinggi. Dalam hal limbah aktif tersebut hanya menghasilkan radiasi alfa. limbah tersebut dapat dipindahkan dengan mudah. Cara lain dengan memanfaatkan bekas sarana penambangan yang sudah tidak lagi berfungsi. Bangunan tersebut dapat terdiri dari beberapa sel. Walaupun demikian. namun penempatan secara horizontal cocok untuk penyimpanan jangka pendek. Penyimpanan Limbah padat dan lumpur : Untuk limbah padat yang dikatagorikan menengah dan tinggi aktivitasnya. namun biayanya tiga kali lebih mahal. filtrasi atau seperti pengolahan secara kimiawi untuk limbah radioaktif yaitu pembekuan. Proses anaerobik juga dapat digunakan untuk mengurangi komponen. Misalnya tinja dari manusia yang mengandung iodine-131 atau phophorus-32 akibat kegiatan kelinis seseorang.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 biologis. Penempatan secara vertikal baik untuk penyimpanan jangka panjang. supernatan tetap dialirkan kembali pada pengolahan limbah cairnya.

menunjukkan bahwa ternyata tidak terjadi bahaya radiasi di sekitarnya. Konsep penyingkiran limbah radioaktif ini bersasaran menyingkirkan limbah agar tidak akan mengganggu lingkungan sampai keaktifannya terluluhkan dengan sendirinya sampai tingkat yang diperbolehkan. Penyimpanan dalam fase cair relatif lebih sulit dibandingakan Enri Damanhuri . Dalam metode disperasl. Sulit memprediksi bahagiamana kestabilan sarana tersebut sampai ratusa tahun. sedang limbah radioaktif dengan katagori menengah dan tinggi harrus disimpan secara aman sampai aktivitasnya menurun sampai tingkat dengan katagori aktivitas rendah. Pelaksanaan di lapangan ternyata lebh rumit terutama untuk jenis limbah menengah dan tinggi. Untuk itu sebelum disingkirkan. Analisis laboratorium menunjukkan bahwa radionuklisida yang mengalir dalam tanah tanpa menagalami absorpsi (tidak terserap dalam penukar ion tanah) adalah ruthenium. Kontainer atau sarana penyimpan tersebut harus bertahan sesuai kondisinya semula. sampai aktivitasnya menjadi sedemikian rendah dan tidak menghadirkan bahaya radioaktif lagi bila disingkirkan dalam cara-cara biasa seperti dalam landfilling. bisa saja menjadi terkorosi setelah limbah tersebut mengalami perubahan.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 bukan bertujuan untuk mengurangi keaktifan limbah tersebut tetapi sekedar menyimpan menunggu selesainya waktu paruhnya. tekstur. Banyaknya limbah yang akan disingkirkan akan tergantung pada kapasitas penukar ion media tersebut.FTSL ITB Halaman 91 . Sarana yang dibangun dikelilingi dengan sumur-sumur pemantau yang relatif banyak (bisa mencapai lebih dari 50 sumur) dalam jarak yang berbeda. Masalah pertama adalah waktu untuk menyimpan. Ion-ion nitrat merupakan ion yang bergerak relatif cepat. sifat imbah yang disimpan akan berubah sesuia dengan perubahan waktu. misalnya dari limbah radioaktif rumah sakit. Kekhawatiran lain adalah tersebarnya limbah tersebut akibat terjadinya retakan atau terjadinya ketidak homogenan media. adalah menyingkirkannya dalam tanah yang sangat kedap dan dianggap mempunyai kemamppuan penukaran ion. sedangkan ruthenium-106 terdeteksi pada jarak 370 meter dalam jangka waktu yang sama. Sebuah materi yang tahan pada limbah pada saat awal. karena terkait erat dengan pengetahuan rinci dan lengkap bukan saja sifat-sifat tanah. Ion nitrat dideteksi pada jarak 520 meter dari sumbernya setelah 8 tahun. baik berbentuk padat maupun cair. seperti lempung yang memounyai konsep identik dengan penukar ion. sehingga sifat-sifat material penyimpan harus memperhatikan hal ini. Hal ini akan menjadi masalah dengan meningkatnya limbah tersebut akibat penggunaan dan pengembangan industri nuklir dewasa ini. maka hal ini perlu juga mendapat perhatian. yaitu dengan mengkapsulinya dengan bahan yang dikenal baik dapat menahan radiasi limbah tersebut. porositas dan sifat-sifat tanah lainnya terutama dikaitkan dengan transportasi dan penyebaran pencemar limbah berbahaya tersebut. serta seberapa baik fungsi penukar ion tersebut. Sarana tersebut oleh karenanya harus tetap dimonitor secara rutin. materi radioaktif dapat saja dicampur dengan materi lain. yaitu kurang dari beberapa milicurie dapat dicampur dan dibuang dengan limbah lain dan ditangani sebagai limbah berbahaya biasa. termasuk dengan limbah lain terutama yang bersifat penukar ion. Ditinjau dari sifat kimiawi limbah tersebut akan terus berubah. Masalah kedua yang muncul adalah pemilihan jenis sarana penyimpan. Jadi konsep umum peyingkiran limbah radioaktif ini adalah. Adanya sifat peluluhan radioaktif akan menyebabkan ketidakstabilan dari limbah yang dihasilkan kemudian serta media yang dilaluinya. Sarana tersebut hendaknya memenuhi dua persyaratan. Pengalaman yang diterapkan di Amerika. bagi limbah denga waktu paruh lama. Oleh karena limbah radioaktif yang akan dingkirkan adalah masih berbentuk cairan. misalnya tahan terhadap korosi. Cara lama yang masih diterapkan untuk limbah yang dianggap mempunyai keaktifan rendah. seperti lapisan timah dan sebagainya. Diperlukan studi yang sangat mendalam termasyuk studi tentang stratifikasi. bahwa limbah dengan tingkat aktivitas rendah. diperlukan perlakuan khusus agar sifat radioaktifnya tidak menyebar keluar. namun pula lingkungannya yang dapat dikatakan jauh dari homogen. sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi arah aliran air. Ruthenium-106 adalah satusatunya radionuklisida yang teridentifikasi dalam sumur pemantau. Hal ini merupakan pertanyaan yang sulit untuk terjawab di lapangan. yang pertama harus mampu menahan radiasi jangan sampai ke luar dan yang kedua tahan terhadap penggunaan jangka panjang. yang bisa mencapai ratusan tahun.

c.FTSL ITB Halaman 92 . yaitu dalam bentuk paking dalam kontainer baja atau pasangan beton. Enri Damanhuri . Cara ini menghilangkan keberatan-keberatan yang ada dengan cara lain. persoialan yang dihasapi oleh limbah radioaktif dengan tingkat yang menengah dan tinggi adalah bagaimana memecahkan masalah tersebut. serta masalah jangka panjang untuk mendapatkan area yang cukup dan cocok untuk itu. dengan volume tidak lebih dari 0.bebas dari ruang-ruang yang kosong sehingga limbah tidak mudah keluar bila terjadi kebocoran. sifat cair akan memungkinkan mengalir ke tempat lain akan lebih leluasa dibandingkan bagian padat bila terjadi kebocoran dalam kontainer.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 penyimpanan dalam fase padat. Solidifikasi akan merupakan salah satu jawaban dalam usaha-usaha menanggulangi hal ini. Masalah yang sangat diperhatikan kemungkinan terbawanya limbah tersebut akibat air eksternal. batasan yang digunakan adalah jumlah limbah yang ditanam maksimum nuklisida adalah adalah 100 mikrocurie/bulan bagi limbah dengan waktu-paruh lebih dari 1 tahun dan 1 milicurie/bulan untuk limbah dengan waktu-paruh kurang darui 1 tahun. Monitoring dibutuhkan bukan saja terhadap air tanah memalui sumur-sumur pemantau. Elemen-elemen radioaktif tersebut biasanya terkonsentrasi di tulang yang prakktis tidak dikonsumsi oleh manusia. namun pula terhadap benda-beda di sekitarnya: binatang. b. Dalam hal ini terdapat dua kemungkinan penanganan limbah sebelum disingkirkan.1 m3. Buangan padat dapat diinsinerasi. Oleh karenanya. maka batasan tersebut menjadi 2 mCi. Oleh karenanya. seperti penguburan dalam tanah atau dalam bekas tambang. 3 jenis cara penyingkiran untuk limbah radioaktif yang tergolong rendah. . Disamping itu. Limbah cair dapat dicampur dengan limbah sistem riolering perkotaan yang ada (menuju pengolahan limbah terpusat). Untuk menjamin pengenceran yang cukup. Limbah radioaktif yang langsung ditanam dalam tanah harus diulindungi terhadap kemungkinan muncul ke permukaan. Kontainer yang digunakan untuk menyingkirkan jenis limbah ini harus mempunyai kriteria: .tidak mudah rusak atau pecah sebelum dan setelah disingkirkan. walaupun proses korosif berjalan lambat. dengan syarat bahwa aktivitas limbah yang akan dibakar tersebut tidak lebih dari 30 µCi per harinya. penelitian bila aktivitasnya adalah: a. seperti dari kegiatan rumah sakit. dan total aktivitas untuk setiap pembebanan adalah lebih kecil dari 10 µCi. Dalam jangka waktu tertentu. Pembuangan ke lautan dalam dianggap salah satu penyingkiran yang paling aman bila dilakukan secara baik. Cara lain yang digunakan adalah penyingkiran dalam bekas tambang. yaitu limbah tersebut langsung dibuang/didingkirkan atau limbah tersebut 'dibungkus' terlebih dahulu. ikan. misalnya karena kegiatan binatang seperti tikus dan sebagainya. sedang abunya yang akan ditangani adalah sesuai dengan butir (a) di atas. perlu diperhatikan bahwa limbah tersebut harus aman di tempatnya dalam jangka waktu yang lama. sehingga kemungkinan terjadinya korosi akan lebih besar. Pertama karena sifat cair akan lebih intik kontak dengan media sekitarnya. daun. Pembungkusan dilakukan seperti dalam penyimpanan. Cara ini merupakan cara yang terakhir karena praktis tidak mungkin lagi diambil bila terjadi sesuatu. insek dan sebagainya. reptil. Penyingkiran limbah ke dalam tanah hanya cocok bagi limbah dengan aktivitas rendah. Lubang-lubang tambang yang digunakan dipilih ketat yaitu yang tidak mempunyai hubunganb dengan daerah sekitarnya. Kedalaman penananaman sedemikiaian rupa sehingga tidak mengganggu pertumbuhan di sekitarnya. daerah sekitarnya kemungkinan akan menjadi steril untuk selamanya. Dalam aplikasi di Inggeris. Salah satu masalah yang mungkin timbul adalah kemampuan ikan atau organisme laut lainnya dalam mengkonsentrasikan limbah radioaktif ini dalam fenomena biomagnifikasi. Pembungkusan terlebih dahulu limbah diperlukan sebelum disingkirkan ke dalam tanah terutama bagi limbah dengan katagopri tingkat keaktifannya tinggi. Buangan padat dapat disimpan/disingkirkan dalam landfill buangan berbahaya biasa bila ternyata seluruh komponen di dalamnya mempunyai aktivitas lebih kecil dari 1 µCi. tanah. Bila sistem tidak dihubungkan dengan riolering kota. maka tidak diperkenankan lebih dari 10 mCi selama 4 minggu secara terus menerus. Hal yang kedua. bila terbukti pengencernya bukanlah limbah yang dikatagorikan aktif.

Produk akhir yang dikeluarkan. Wiley & Sons Inc. Abu yabng terkumpulkan kemudian ditangai seperti halnya limbah padat radioaktif.C. Suatu pengukuran yang dilakukan adalah bila rata. Insinerasi limbah combustibel tidak diterapkan secara luas. Butterworth.A. 1985 . maka tidaka akan timbul masalah radiasi. Addison-Wesley Publishing Company. pengendap dan sebagainya. 1960 . 1978 . dapat digunakan untuk menangkap partikulat yang terbentuk. presipitator elektrostatis. Englewood Cliffs. Nemerow: Industrial Water Pollution. Collins (Editor): Radioactive Wastes. Referensi Utama: . Masters: Introduction to Environmental Engineering and Science. mempunyai betuk dan ukuran yang mudah untuk ditangani 3 Drum-drum baja merupakan kontainer yang paling sering digunakan. Prentice Hall. Peralatan pencegahan pencemaran udara seperti filter.2 gram/cm .Nelson L.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 - mempunyai densitas paling tidak 1.Gilbert M. kadangkala dilapis dengan lapisan beton sesuai dengan karakteri atau tingka keaktifan limbahnya.rata tingkat radiasi di permukaan kontainer adalah tidak lebih dari 20 milirad per jam.FTSL ITB Halaman 93 . yaitu abu atau gas yang keluar dari cerobong akan tetap bersifat radioaktif. Masalah utama yang muncul adalah gas yang dikeluarkan yang dapat menyebar secara luas. Porteus (Editor): Hazardous Waste Management Handbook.J. 1991 Enri Damanhuri . scrubber.

air dan tanah. Namun penggunaan disinfektan harus diminimalkan bila terdapat alternatif lain. psychiatric. Klinik: o Ruang dokter dan perawat o Pusat dialysis o Pusat penanganan kecanduan alcohol o Pusat penanganan kecanduan obat bius o Klinik bersalin o Klinik thrombosis. perhatian hendaknya diberikan pada kemungkinan pengaruh resiko tersebut terhadap masyarakat luar. o Penggunaan alat pelindung (masker. Bahan kimia dari institusi kesehatan akan merupakan sumber pencemaran yang potensial. o Penggunaan wadah dengan warna yang berbeda untuk setiap jenis limbah. seperti resiko pencemaran udara. Sebetulnya cara ini tidak disarankan karena akan mendatangkan masalah pada pengolah limbah kota. Penggunaan insinerator untuk limbah rumah sakit kelompok biomedis banyak diterapkan. terutama bila dilairkan melalui sistem rioreling. Rumah sakit dengan aktifitasnya: o Rumah sakit umum o Rumah sakit khusus o Sanotarium o Aktifitas spesifik dalam sebuah rumah sakit misalnya : paediatric. Penggilingan limbah sisa makanan banyak diterapkan di negara undustri untuk kemudian dimasukkan dalam system saluran air (riolering) limbah kota. o Pemantauan rutin terutama terhadap aktivitas yang beresiko tinggi. orthopaedic. misalnya mereka yang terikat kontrak kerja seperti tukang cuci. rehabilitasi. Asrama dan sejenis: Enri Damanhuri . terbakar. Pada dasarnya limbah yang dihasilkan harus dipisahkan atau dikonsentrasikan di institusi itu sendiri untuk memudahkan penggolongannya.FTSL ITB Halaman 94 . mata dan telinga. maka dibutuhkan program kesehatan kerja yang mencakup: o Penggunaan bahan yang aman atau bahan yang lebih tidak berbahaya. Disamping itu. tetapi pengoperasian yang tidak baik akan mendatangkan masalah pencemaran udara. Tinja dan urin dari pasien yang diisolasi karena penyakit menular perlu didisinfektan terlebih dahulu sebelum digabung dengan sistem riolering.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 BAGIAN VII LIMBAH MEDIS DAN RUMAH TANGGA 1 LIMBAH MEDIS Terdapat tiga katagori orang yang dapat terpapar dengan limbah berbahaya dari rumah sakit. o Penggunaan analisis epidemiologis untuk menentukan apakah kelompok atau sub kelompok tertentu akan mengalami resiko berlebihan terhadap penyakit tertentu. o Penggunaan pewadahan tertutup untuk bahan-bahan yang bersifat volatil. sarung tangan). oncolagy. Jenis perawatan/aktivitas kesehatan yang dapat menghasilkan limbah adalah : a. yaitu: o Pasien dan personel dari rumah sakit o Personel yang memberikan pelayanan. penyakit-penyakit pernafasan b. o Penggunaan ventilasi yang baik sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan kerja. Limbah yang bersifat umum atau limbah infectious yang telah ditangani secara baik dapat dibuang pada landfill kota dengan syarat-syarat khusus disertai pengawasannya. tukang sampah dan sebagainya o Pasien rawat jalan seperti yang sedang menjalani dialisis darah o Pengunjung Untuk mengurangi resiko kesehatan sehubungan dengan limbah rumah sakit ini. c. dan bila mungkin dilakukan daur-ulang sehingga tidak masuk dalam penanganan limbah kota.

korosif. misalnya obat-obatan cytotoxic. pathology. reaktif (eksplosif. Sebagai gambaran. kimiawi. o Limbah kimiawi. dan shock sensitive). atau tidak dioperasikan sesuai dengan kriteria. Limbah rumah sakit merupakan campuran yang heterogen sifat-sifatnya.FTSL ITB Halaman 95 . bagian tubuh.1 sampai 5. limbah kimiawi yang tidak berbahaya adalah seperti gula. o Limbah farmasi. limbah residu insinerasi dapat dikagorikan sebagai limbah berbahaya bila insinerator sebuah rumah sakit tidak sesuai dengan kriteria. darah dan cairan tubuh o Limbah radioaktif: dapat berfase padat. yaitu dapat ditinjau dari sudut: toksik.3 o Belanda : 1. atau analisis in-vivo terhadap organ tubuh dalam pelacakan atau lokalisasi tumor. garam-garam organik lainnya.0 o USA : 4. bahan pengemas. Seluruh jenis limbah ini dapat mengandung limbah berpotensi infeksi. organ. yaitu: o Limbah umum. Limbah dari pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dapat diklasifikasikan dalam beberapa katagori utama. pembersihan / pemeliharaan atau prosedur desinfeksi.2 sampai 4.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 o Perawat o Rumah jompo o Rumah sakit jiwa d. limbah dari cuci serta materi lain yang tidak membutuhkan penanganan spesial atau tidak membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan o Limbah patologis: terdiri dari jaringan-jaringan. Pertimbangan terhadap limbah ini adalah seperti limbah berbahaya yang lain. o Limbah radioaktif. o Benda-benda tajam. cairan maupun gas misalnya berasal dari pekerjaan diagnostik atau penelitian. haemathology. yaitu (Kg/bed/hari): o Sepanyol : 1. mudah terbakar (flammable).25 sampai 3. plasenta. Kegiatan-kegiatan penunjang: o Bank darah o Apotik o Pusat pelatihan medis o Ruang mayat o Ruang steril o Ruang cuci pakaian o Ruang teknis o Laboratorium : klinis.4 o Inggeris : 0. maupun dihasilkan dari prosedur therapetis o Limbah kimiawi: dapat berupa padatan.2 sampai 6. asam. Kadangkala. dan dihasilkan dari analisis in-vitro terhadap jaringan tubuh dan cairan. o Limbah berpotensi menularkan penyakit (infectious): mengandung mikroorganisme patogen yang dilihat dari konsentrasi dan kuantitasnya bila terpapar dengan manusia akan dapat Enri Damanhuri .asam animo. Timbulan limbah dari kegiatan rumah sakit bervariasi dari satu institusi ke institusi sesuai dengan besarnya aktivitas. o Limbah patologis (jaringan tubuh). cair maupun gas yang terkontaminasi dengan radionuklisida. termasuk untuk hewan maupun genetis. reaktif terhadap air. Diskripsi umum tentang katagori utama limbah rumah sakit adalah: o Limbah umum: sejenis limbah domestik. o Kontainer dalam tekanan. o Limbah berpotensi menular (infectious). makanan binatang noninfectious. dilanjutkan dengan sifat-sifat spesifik seperti genotoxic (carcinogenic. mutagenic. bangkai binatang.24 Penelitian yang dilakukan di RSHS Bandung oleh Jurusan Teknik Lingkungan ITB (1993) memberikan angka rata-rata sebesar 2. teratogenic dan lain-lain). o Limbah citotoksik. penelitian. di bawah ini diberikan beberapa angka [21].12 Kg/bed/hari.

15 % dari seluruh volume limbah kegiatan pelayanan kesehatan. atau materi yang berkontak dengan pasien yang menjalani haemodialisis (tabung. dari ruang bedah atau dari autopsi pasien yang mempunyai penyakit menular . tabung yang mengandung gas dan aerosol yang dapat meledak bila diinsinerasi atau bila mengalami kerusakan karena kecelakaan (tertusuk dan sebagainya). filter. Daur ulang sedapat mungkin diterapkan pada setiap kesempatan. Bahan-bahan tajam yang terinfeksi harus dibungkus secara baik serta tidak akan mencelakakan pekerja yang menangani dan dapat dibuang seperti limbah umum. Limbah yang harus dipisahkan dari yang lain adalah limbah patologis dan infektious. menyingkirkan dan memusnahkannya seekonomis mungkin. bangkai. atau bahan atau peralatan laboratorium yang berkontak dengan bahan. Jenis dari limbah ini secara spesifik adalah: o Limbah human anatomical: jaringan tubuh manusia. namun higienis dan tidak membahayakan lingkungan. daluwarsa atau terkontaminasi atau harus dibuang karena sudah tidak digunakan lagi Limbah citotoksik: bahan yang terkontaminasi atau mungkin terkontaminasi dengan obat citotoksik selama peracikan. Limbah darah dan cairan manusia atau bahan/peralatan yang terkontaminasi dengannya. o Limbah laboratorium mikrobiologi: jaringan tubuh. cairan tubuh. kuku.bahan tersebut. gunting. Dari sekian banyak jenis limbah klinis tersebut. vaksin. rambut dan muka o Limbah tubuh hewan: jaringan-jaringan tubuh . Untuk limbah yang bersifat umum. serbet. digunakan pemisahan dengan kantong-kantong yang spesifik (biasanya dengan warna yang berbeda atau dengan pemberian label). kaca pecah. tetapi tidak termasuk gigi. Beberapa contoh warna yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI adalah: o Kantong warna hitam: limbah sejenis rumah tangga biasa o Kantong warna kuning: semua jenis limbah yang harus masuk insinerator o Kantong warna kuning strip hitam: limbah yang sebaiknya ke insinerator.FTSL ITB Halaman 96 . Limbah ini biasanya hanya 10 . Untuk memudahkan pengenalan berbagai jenis limbah yang akan dibuang. organ. gunting kuku dan sebagainya yang dapat menyebabkan orang tertusuk (luka) dan terjadi infeksi. maka yang membutuhkan sangat perhatian khusus adalah limbah yang dapat menyebabkan penyakit menular (infectious waste) atau limbah biomedis. d. penanganannya adalah identik dengan limbah kota yang lain. bagian terkontaminasi dengan darah. atau dari pasien yang diisolasi. pisau. sedang bahan-bahan tajam yang terinfeksi diperlakukan sebagai limbah berbahaya. namun bisa pula dibuang ke landfill bila dilakukan pengumpulan terpisah dan pengaturan pembuangan o Kantong warna biru muda atau transparans strip biru tua : limbah yang harus masuk ke autoclave sebelum ditangani lebih lanjut. sarung tangan dan sebagainya) atau materi yang berkontak dengan binatang yang sedang diinokulasi dengan penyakit menular atau sedang menderita penyakit menular Benda-benda tajam yang biasa digunakan dalam kegiatan rumah sakit: jarum suntik. Benda-benda ini mungkin terkontaminasi oleh darah. obat-obatan dan bahan kimiawi yang dikembalikan dari ruangan pasien isolasi. pengangkutan atau tindakan terapi citotoksik Kontainer di bawah tekanan: seperti yang digunakan untuk peragaan atau pengajaran. Kontainer-kontainer dibawah tekanan (aerosol dan sebagainya) tidak boleh dimasukkan ke dalam insinerator. Katagori yang termasuk limbah ini antara lain jaringan dan stok dari agen-agen infeksi dari kegiatan laboratorium. bahan mikrobiologi atau bahan citotoksik Limbah farmasi (obat-obatan): produk-produk kefarmasian. Limbah infectious beresiko tinggi perlu ditangani terlebih dahulu dalam autoclave sebelum menuju pengolahan selanjutnya atau sebelum disingkirkan di landfill. Limbah darah yang tidak terinfeksi dapat dimasukkan ke dalam saluran limbah kota dan dibilas dengan air. bagian-bagian tubuh. Sasaran pengelolaan limbah rumah sakit adalah bagaimana menangani limbah berbahaya. stok hewan atau mikroorganisme. pacahan kaca dan sebagainya. syring. dan sebagainya. sedang yang terinfeksi harus diperlakukan sebagai limbah berbahaya. darah. o Limbah-limbah benda tajam seperti jarum suntik.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 o o o o menimbulkan penyakit. bulu. tetapi tidak termasuk gigi. Tidak termasuk dalam katagori ini adalah urin dan tinja. atau telah tertumpah. gaun. organ. gunting. Limbah yang telah dipisahkan dimasukkan kantong-kantong yang kuat (dari pengaruh luar ataupun dari limbahnya sendiri) dan tahan air atau dimasukkan dalam kontainer-kontainer Enri Damanhuri .

nitro cellulose. K. diatur seperti halnya aturanaturan yang berlaku pada limbah berbahaya lain. reagen Grignard. phosphorus oxychloride. hidrida dari Al. B. K).K). o Water reactive: logam-logam alkali dan alkali tanah. K). perchloric acid. sodium amide. flourida (Ca). isoprophyl ether. dioxane. Ca dan NH4). Mg. Su dan Ti. tetrahydrofuran. Secara internal. bromida (Na. As. oksidaoksida (B. Kontainer harus ditutup dengan baik sebelum diangkut. limbah biasanya diangkut dari titik penyimpanan awal manuju area penampungan atau menuju titik lokasi insinerator. Li. sulfat (Na. chlorotrifluoroethylene. Mg. Mg. K. K. metal azide. K. garam-garam perchlorat. Ca). Mg. asam citris dan garam-garamnya (Na.FTSL ITB Halaman 97 . Di rumah sakit modern. maka bila memungkinkan untuk didaur ulang. o 12 bulan: acrylonitrile. cyclohexane. Namun kontainer maupun kantong-kantong yang digunakan harus jelas tertulis atau tertandai sebagai limbah tidak berbahaya. lactic dan garamgaramnya (Na. Bagi limbah kimiawi yang tergolong tidak berbahaya. vinyl ether. misalnya melalui sebuah insinerator. S. karena limbah jenis ini kadangkala toksik dan flammable. namun cara ini tidak boleh digunakan untuk limbah patologis dan infectious. Limbah reaktif yang berasal dari rumah sakit adalah senyawa-senyawa seperti: o Shock sensitive: senyawa-senyawa diazo. K). Na. Seluruh bahan kimia peroksida di atas harus diberi tanggal begitu digunakan dan penyimpanannya (setelah dibuka) terbatas dengan lama penyimpanan maksimum: o 3 bulan: diethyl ether. misalnya jenis kontainer. Alat angkutan atau sarana pembawa tersebut harus dicuci secara rutin dan hanya digunakan untuk membawa lim bah. dicyclopentadiene. Mg. K. garam-garam picrat. diethylene glycol dimethil ether (diglyme). Kantong-kantong yang digunakan dibedakan dengan warna yang seragam dan jelas. khlorida (Na. maka limbah ini dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam kontainer untuk ditangani seperti limbah biasa. butadiene. Mg. asam picric.larutan boron trifluorida. Limbah berbahaya dari rumah sakit yang akan diangkut. NH4). phosphor (merah dan putih). tetrahydronaphtalene. Limbah kimiawi berbahaya yang tidak dapat didaur-ulang segera dipisahkan sesuai dengan jenisnya dan pengolahannya. K. sulfuryl chloride.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 logam. Fe. Limbah yang akan diangkut ke luar. maka kantong-kantong itu harus bisa ditembus oleh uap sehingga sterilisasi dapat berlangsung sempurna. Si. Ca. reagen alkyl lithium. o Bahan reaktif lain: asam nitrit diatas 70%. polynitroaromatic. kantong tersebut diberi label atau simbol yang sesuai. NH4. transportasi limbah ini bisa menggunakan cara pneumatis dengan perpipaan. Mg Ca. vinylidene chloride. thionyl chloride. etylene glycol dimethyl ether (glyme). Disamping warna yang seragam. Limbah radioaktif juga harus mempunyai tanda-tanda yang standar dan disimpan untuk menunggu masa aktifnya terlampaui sebelum dikatagorikan limbah biasa atau limbah berbahaya lainnya. methyl acethylene. larutan. Contoh limbah kimiawi yang tidak tergolong berbahaya adalah: o kelompok kimia organik: asetat (Ca. Ca). phosphorus pentoxide. iodida (Na. o 24 bulan: acetat. diacetylene. K. asam-asam amino dan garamgaramnya. vinyl chloride. Ca). Sb. Ca dan NH4). logam halida dari Al. sehingga tidak boleh dibuang melalui sistem riolering. Ca). gula dan sebagainya o kelompok kimia anorganik: bikarbonat (Na. decahydronaphthalene. borat (Na. misalnya oleh Dinas Kebersihan setempat. harus tidak mengandung resiko terhadap kesehatan pengangkut tersebut. bahan kimia peroksida. dan diisi secukupnya agar dapat ditutup degan mudah dan rapat. Aturan yang berlaku bagi limbah kimiawi dari rumah sakit ini adalah identik dengan penangan limbah kimiawi dari sumber industri. Karbonat (Na. Mobilitas dan transportasi limbah baik internal maupun eksternal hendaknya dipertimbangkan sebagai bagian menyeluruh dari sistem pengelolaaan dari institusi tersebut. dan Na. P. tanda-tanda dan tata caranya. Secara umum jenis pengolahan limbah rumah sakit adalah : Enri Damanhuri . Bila digunakan kantong dan terlebih dahulu harus masuk autoclave.

Kontainer-kontainer di bawah tekanan: di landfilling atau didaur-ulang. sehingga perlu ditangani sesuai jenisnya e. oli dari trafo dan kapasitor atau dari mikroskop yang mengandung PCB dan sebagainya.FTSL ITB Halaman 98 . limbah jenis ini dilarang untuk diinsinerasi karena akan menghasilkan gas toksik – Larutan-larutan pemerosesan dari radioaktif yang banyak mengandung silver dapat direklamasi secara elektrostatis – Batere-batere bekas dikumpulkan sesuai jenisnya untuk didaur-ulang seperti : merkuri. autoclave tidak dibutuhkan bila limbah tersebut telah diwadahi dan ditangani secara baik sebelum diinsinerasi. h. sedang residunya yang mungkin mengandung logam-logam berbahaya dibuang ke landfill yang sesusai. misalnya: disinfektan. dan umumnya disimpan untuk menunggu waktu paruhnya telah habis. kantong-kantong yang digunakan untuk membungkus limbah juga harus diinsinerasi. Limbah radioaktif: o Bahan radioaktif yang digunakan dalam kegiatan kesehatan/medis ini biasanya tergolong mempunyai daya radioaktivitas level rendah. penanganannya adalah identik dengan limbah lainnya yang tidak termasuk katagori berbahaya o Konsep penanganan limbah kimia yang berbahaya adalah identik dengan penjelasan sebelumnya yang terdapat dalam diktat ini tentang limbah berbahaya o Beberapa kemungkinan daur-ulang limbah kimiawi berbahaya misalnya : – Solven semacam toluene.merkuri dari termometer. sedangkan yang tidak dipakai lagi ditangani secara khusus misalnya diinsinerasi atau di landfilling atau dikembalikan ke pemasok. manometer dan sebagainya dikumpulkan untuk didaur-ulang . Limbah kimia: o Bagi limbah kimia yang tidak berbahaya. untuk kemudian disingkirkan sebagai limbah non-radioaktif biasa d. Limbah umum: o Tidak diperlukan pengolahan khusus. c. Enri Damanhuri .Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 a. xylene. limbah jenis ini tidak di autoclave karena disamping tidak mengurangi toksiknya juga dapat berbahaya bagi operator o Beberapa jenis limbah kimia berbahaya juga dihasilkan dari bagian pelayanan alat-alat kesehatan. dan dapat disatukan dengan limbah domestik o Seluruh makanan yang telah meninggalkan dapur pada prinsipnya adalah limbah bila tidak dikonsumsi dan sisa makanan dari bagian penyakit menular perlu di autoclave dulu sebelum dibuang ke landfill. Limbah farmasi: obat-obatan yang tidak digunakan dikembalikan pada apotik. atau didaur-ulang untuk mendapatkan khromnya – Limbah logam . insinerator tersebut harus dilengkapi dengan sarana pencegah pencemaran udara. nikel dan timbal o Insinerator merupakan sarana yang paling sering digunakan dalam menangani limbah jenis ini. b. sebelum dibakar dalam insinerator g. Benda-benda tajam: Dikemas dalam kemasan yang dapat melindungi petugas dari bahaya tertusuk.halogen dapat dibakar pada on-site insinerator o Limbah cytotoxic dan obat-obatan genotoxic atau limbah yang terkontaminasi harus dipisahkan. dikemas dan diberi tanda serta dibakar pada insinerator. insinerasi dilanjutkan dengan landfilling o Insinerasi merupakan metode yang sangat dianjurkan. kadmium. yaitu di bawah 1 megabecquerel (MBq) o Limbah radioaktif dari rumah sakit dapat dikatakan tidak mengandung bahaya yang signifikan bila ditangani secara baik o Penangan limbah dapat dilakukan di dalam area rumah sakit itu sendiri. baik secara on-site maupun off-site. o Solven yang tidak diredistilasi harus dipisahkan antara solven yang berhalogen dan nonhalogen. acetone dan alkohol lainnya yang dapat diredistilasi – Solven organik lainnya yang tidak toksik atau tidak mengeluarkan produk toksik bila dibakar dapat digunakan sebagai bahan bakar – Asam-asam khromik dapat digunakan untuk membersihkan peralatan gelas di laboratorium. Limbah berpotensi menularkan penyakit (infectious): Memerlukan sterilisasi terlebih dahulu atau langsung ditangani pada insinerator . f. Limbah patologis: o Pengolahan yang dilakukan adalah dengan sterilisasi. solven berhalogen membutuhkan penanganan khusus dan solven non.

shampo anti ketombe. batere. seperti : korek api. seperti penggunaan biosida dalam kegiatan pertanian. Bila bahan tersebut tidak lagi digunakan. kosmetik. seperti : pestisida dan insektisida. yang dampaknya disamping akan menghasilkan residu yang terbuang pada badan penerima alamiah. korosif − pembersih saluran air : korosif − pengkilap mebel : mudah terbakar − pembersih kaca : Korosif (iritasi) − pembersih oven : korosif − semir sepatu : mudah terbakar − pengkilap logam (perak) : mudah terbakar Enri Damanhuri . hairspray. spiritus / alkohol − di kamar mandi dan cuci. seperti tertera dalam Tabel 7. asam cuka. soda kaustik. gas elpiji. Pada dasarnya bahan berbahaya tidak akan menimbulkan bahaya jika pemakaian. air freshener. aki bekas Di lingkungan pedesaan serta di lingkungan yang mungkin terlihat asri.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 2 LIMBAH BERBAHAYA DARI RUMAH TANGGA Bahan sehari-hari yang digunakan di rumah tangga dewasa ini. kaporit atau desinfektan. pembunuh kecoa − di kamar tidur.1: Limbah berbahaya dari rumah tangga Komponen Penggunaan untuk pembersih Penggunaan untuk perawatan badan Produk untuk otomotif Cat dan sejenisnya Penggunaan rumah tangga lain Persen 40. oli mobil. yang kemungkinan besar tetap berkategori berbahaya. Survai yang dilakukan di Amerika Serikat menggambarkan porsi limbah pada sampah kota yang berasal dari bahan yang biasa digunakan di rumah di Amerika Serikat. iritasi mata atau kulit. seperti kesulitan bernafas.0 16. kamfer. lamban. Bahanbahan tersebut digunakan dalam hampir seluruh kegiatan di rumah tangga. Produk pembersih: − bubuk penggosok abrasif : korosif − pembersih mengandung senyawa amunium dan turunannya : korosif − pengelantang : toksik. pupuk. pembersih toilet. alkohol. Kegiatan agrowisata. seperti : parfum. perekat. misalnya tidak terpapar pada temperatur atau diletakkan agar tidak terjangkau oleh anak-anak. cairan pmbersih.FTSL ITB Halaman 99 . seperti : cairan setelah mencukur. pembunuh nyamuk − di ruang keluarga.1 7. penyimpanan dan pengelolaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. yaitu : − di dapur.1 di bawah ini. maka bahan tersebut akan menjadi limbah.0 Contoh di bawah ini lebih lanjut menggambarkan karakteristik bahaya dari bahan yang biasa digunakan di rumah tangga tersebut di atas : a.4 30. minyak tanah. obat-obatan. tanung bekas pewangi ruangan. Tabel 7. pada kemasan bahan-bahan tersebut biasanya tertera aturan penyimpanan. Efek pada kesehatan manusia yang paling ringan umumnya akan terasa langsung karena bersifat akut. seperti adanya lapangan golf dan sebagainya menambah intesifnya penggunaan bahan biosida yang umumnya resistan dan bersifat biokumulasi serta mendatangkan dampak negatif dalam jangka panjang bagi manusia yang terpaparnya. tidak terlepas dari penggunaan bahan berbahaya. semir. khususnya di kota. termasuk pula bekas pewadahannya seperti bekas cat. namun dapat pula masih tersisa pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari seperti dalam sayur mayur dan buah-buahan. Pencampuran dua atau lebih dapat pula menimbulkan masalah. − di garasi/taman. kepala pusing. cat dan solven pengencer. seperti : pembersih saluran air.5 6. Oleh karenanya. obat-obatan. penggunaan bahan berbahaya agaknya juga sulit dihindari.

oli bekas dari bengkel dan sebagainya. yaitu minimasi dan daur ulang limbah. penghasil limbah misalnya dari rumah tangga dapat membuang limbahnya bersama sampah kota bila jumlah per bulannya tidak melebihi nilai tersebut.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 − penghilang bintik noda : mudah terbakar − pembersih toilet dan lantai: korosif − pembersih karpet/kain : korosif. termasuk limbah patologis. akan menghasilkan ledakan yang membahayakan akibat tabung pewadah. Dengan aturan tersebut. tetapi dapat berasal dari kegiatan medis. seperti dari usaha benatu (laundry dan dry cleaning). sisa tinta dari usaha percetakan/foto-kopi. Perawatan badan: − shampo (anti ketombe) : toksik − penghilang cat kuku : toksik. pupuk : toksik − aerosol : mudah terbakar. mudah terbakar b. minyak tanah : mudah terbakar. toksik d. atau terlepasanya logam-logam berat toksik akibat terpapar dengan temperatur tinggi − Terganggunya proses biodegradasi sistem pengolahan air limbah atau pengolahan di landfilling − Terganggunya produk kompos bila bila tidak dilakukan pemilahan terlebih dahulu Penanganan limbah berbahaya di rumah tangga sebetulnya mempunyai pendekatan yang sama dengan industri. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain adalah : Enri Damanhuri . limbah berkatagori sampah kota yang berbahaya dapat pula berasal dari kegiatan komersial atau perkantoran. Selain berasal dari pemukiman penduduk. Namun adanya bahan tersebut dalam sistem pengolahan limbah kota dapat menimbulkan terganggunya proses pengolahan yang ada. Di Indonesia agaknya bila didasarkan atas porsi limbah yang masuk ke landfill. dibolehkan membuang limbah jenis tersebut ke dalam sistem penyaluran limbah kota. mudah terbakar − minyak wangi : mudah terbakar − kosmetika : toksik − obat-obatan : toksik c. toksik − pelarut / tiner : mudah terbakar − baterei : korosif dan toksik − khlorin kolam renang : korosif dan toksik − biosida anti insek : toksik. Di Amerika Serikat dikenal konsep small-quantity generator. Produk otomotif : − cairan anti beku : toksik − oli : mudah terbakar − aki mobil : korosif − bensin. Limbah ini akan masuk ke dalam sistim pengelolaan sampah kota. nilai ini akan lebih tinggi mengingat bahwa yang masuk ke landfill bukan saja dari rumah tangga.35-0. yang membatasi jumlah limbah minimum perbulan yang terkena aturan pengelolaan limbah B3. mudah meledak Bahan tersebut dapat pula menimbulkan bahaya lain bila bercampur satu dengan yang lain.40 % sampah pemukiman yang dibuang ke lahan-urug kota termasuk kategori limbah B3. Di bebarapa negara bagian di Amerika Serikat. misalnya : − Bila dibakar dalam insinerator. atau dari kegiatan industri lainnya. mudah terbakar − herbisida.FTSL ITB Halaman 100 . seperti timbulnya : o Gas toksik: bila pembersih mengandung senyawa amonia bercampur dengan pengelantang mengandung khlor o Ledakan: bila tabung sisa bahan yang digunakan secara penyemprotan terbakar di bak sampah Hasil studi di Amerika Serikat oleh USEPA menyimpulkan bahwa 0. Produk rumah tangga lain : − cat : mudah terbakar.

penyimpanan dan cara pembuangan limbah atau wadah bekasnya Penggunaan produk sesuai kebutuhan. ditukarkan dengan produk lain. diberikan kepada yang membutuhkan. dan apakah telah digunakan semestinya Pembelian yang sesuai kebutuhan.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 − − − − − − Pemilihan produk yang disertai penjelasan lengkap tentang komponen bahan yang digunakan. aturan penggunaan. disertai pengetahuan tentang seberapa lama suatu produk habis digunakan.FTSL ITB Halaman 101 . atau mungkin saja masih bernilai untuk dijual Penanganan limbah atau wadah yang akan dibuang secara baik sesuai petunjuk yang diberikan Enri Damanhuri . walapun dengan membeli lebih banyak diperoleh biaya persatuannya yang lebih murah Penggunaan produk yang biodegradabel atau terdaur-ulang Pemanfaatan kembali limbah yang terbentuk. baik untuk digunakan sendiri.

waste wanagement paper no. 1960 Cookson Jr.A. J.C. J. Bass. E.T. Noyes Publications. LAPI ITB. : Policy for cleaner production . 1982 Direktorat Pengelolaan Limbah B3 BAPEDAL : Kebijaksanaan impor-ekspor limbah B3 dan non B3 . 1984 Diouhy.International seminar on clean products and clean production technologies for sustainable industrial development. of the Environment (UK) : Clinical waste . : Disposal of radioactive waste. : Environmental protection. Serpong 9 Januari 1996 Djajadiningrat. 1992 CCME (Canada) : Guidelines for the management of biomedical waste in Canada CCME-EPCWM-42. Robert Laffont. J. : Evaluation of remedial action unit operations at hazardous waste disposal sites. 1995 Cousteau. February 1992 Center for Chemical Process Safety : Guidelines for hazard evaluation procedures. 1986 Damanhuri. Publishing Co. Bandung June 15-16. 1990 Departemen Kesehatan RI . J.Y. 2. : Chemical hazards at water and wastewater treatment plant. 1994 Buzzi. C.centralized hazardous waste and toxic waste treatment facility GKS region .Cileungsi Jawa Barat. Wiley & Sons Inc. J.T. 1992 Dept. Z.Garut. Elsevier Sci. P.R.J.Garut. 1984 Enri Damanhuri . S. 1993 BAPEDAL : Survey industri penyamakan kulit di Sukaregang . McGraw-Hill Book Co. McGraw-Hill Book Co. : Diktat kuliah pengelolaan limbah B3 TL-352 Edisi Semeter II 1993/1994.Goethe Institut. : Bioremediation engineering. E. R. Lewis Publisher. : Radioactive wastes.T. Longman Group Limited. 1992 CH2M Hill International : Feasibility study .Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 DAFTAR PUSTAKA BAPEDAL : Perencanaan teknis sistem pengolahan air limbah industri penyamakan kulit skala kecil Sukaregang .Jend PPM & PLP : Pedoman Sanitasi RS.FTSL ITB Halaman 102 . PPLH ITB. : Hazardous waste incineration. 1973 Collins.workshop implementasi konvensi Basel tentang impor & ekspor limbah scrap logam.Dit.. 1992 Brunner. McGraw-Hill Kogakusha Ltd. : Almanach cousteau de l'environnement. July 1990 Chanlett. Teknik Lingkungan ITB Dames & Moore : Laporan studi kelayakan PPL-B3 . 1981 Craig.Final report. : Organo metallic compounds in the environment. DTC ITB . 1994 Ehrenfeld. American Institute of Chemical Engineers.

J. Jain.an IAEA source book. R. Thomas Telford. A. 1993 Institution of Civil Engineers : Design and practice guided .. 1988 Gagnet.L. : Hazardous waste treatment technologies. R. 1982 Kugelman.I. Schofield. M. I. USAID background paper # 1. Vienna 1992 Jackman. : Cleaner production and clean product. M.M. Seminar penanganan limbah rumah sakit sebagai upaya mengurangi beban pencemaran lingkungan. 1986 Mann. 1990 Freeman. Noyes Publications.A. Vamos. M. R. Metry.M. H. Gateway Books.J. 1991 Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup : Kemitraan nasional dalam pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan : Hasil rapat koordinasi nasional I pengelolaan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan t ahun 1994.K. M. Bahan kuliah program pasca sarjana Teknik Lingkungan.N. (Editor in chief) : Standard handbook of hazardous waste treatment and disposal. Prentice Hall Inc.. 1995 Hanafia WS.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Freeman. : Benefits from industrial application of waste minimization. Semester II 1995/1996 Hirschorn. McGraw-Hill Book Co. McGraw-Hill Book Co. 1988 Haas.. Indonesian waste minimization seminar.L.R. : 1995 Guide to industrial estates in Indonesia.S. H. 1995 Enri Damanhuri ..N. USAID background paper # 2. Jakarta 22-24 November 1994 Keating. Indonesian waste minimization seminar. : Hazardous waste management. : Bumi lestari menuju abad 21. John Willey & Sons. McGraw-Hill Book Co.Inc. A.. 1994 Kiang. Kennedy. (Editor) : Toxic and hazardous wastes. 1994 LaGrega. : Hazardous and industrial waste treatment. 1985 Kusnoputranto. R. 1993 Gronow.P. A. C. : Government and industry cooperative efforts promoting waste minimization. H. DTC ITB Goethe Institut. Technomic Publishing Co. A. Bandung June 15-16. : Hazardous waste minimization.H.. J. Proceedings of the 17th Mid-atlantic industrial waste conference. International seminar on clean products and clean production technologies for sustainable industrial development. Ann Arbor Science.FTSL ITB Halaman 103 .contaminated land.D. Technique et documentation . Jakarta 14 September 1993 Kusumaatmadja. Y. : Kualitas limbah rumah sakit dan dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan. A : Tenaga atom dan aspek keselamatan.Lavoisier.J. : Dechets industriels. : Land disposal of hazardous waste. S. Kohpalindo. : Hazardous waste processing technology. J. Powell. 1995 International Atomic Energy Agency : Radioactive waste management . 1994 Maes.

1984 Sewell. 1980 Nemerow. Butterworths..H. Addison-Wesley Publishing co. Pajak. dan Gayatri (Penyunting) : Ingatlah bahaya pestisida . C. E.Tantangan Masa Depan.D. : Hazardous waste handbook. : Pengelolaan terpusat buangan B-3 dari industri kecil. : Industrial water pollution.P. . second edition. H..J. 1975.H. 1994 Rachmawati. 1987 Masters. : Hazardous waste leachate management manual. 1981 Otorita Batam : Rencana detail sistem pengelolaan sampah dan limbah industri di wilayah otorita pengembangan daerah industri pulau Batam. 1982 Sittig.. Saidi.J. ANRED Moo-Young. Noyes Data Co. 1978 Novotny. Pergamon Press. Proceedings seminar nasional pengelolaan lingkungan ITB .bunga rampai : residu pestisida dan alternatifnya. Lewis. 8. L.BPP Teknologi .M.D.. : Introduction to environmental engineering and science. J.G. Studi kasus industri kecil di ‘Gerbangkertasusila’ Jawa Timur. V. : Hazardous waste management engineering..FTSL ITB Halaman 104 . H.W. Damanhuri. Touhill. Pesticide Action Network (PAN) Indonesia. : Environmental quality management. Cahiers No. E. 1994 Secretariat d'etat a l'environnement et la qualite de la vie : Analyse et caracterisation des dechets industriels. A. G. Z.J. 1992 Sharma. M. A. Proceeding seminar : Waste and sustainable development. 1975 Porteous. Noyes Data Co. Van Nostrand Reinhold Co. Van Nostrand Reinhold Co. E. N. John Wiley & Sons. 1991 Meyer. . Robinson.waste stabilization and landfills.UNESCO. : Chemistry of hazardous materials. : Implikasi impor limbah di Indonesia . 1982. BPP Teknologi.L... R. : Environmental system engineering.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Martin. E. G. 1973 Ross. S.J. 1979 Enri Damanhuri . A. : Waste treatment and utilization. Prentice Hall Building. Johnson. Inc. PrenticeHall. Englewood Cliffs. Van Nostrand Reinhold Co. ISBN 979-8456-00-9. 1985 Riza V. M.T. Chesters. 1989 Ministere de l'evironnenment (France).. Inc.P. Jakarta Decembre 14-17. Prentice-Hall. McGraw-Hill Ltd. Shuckrow. Goethe Institut Jakarta . : Industrial waste land disposal. : Landfill disposal of hazardous wastes and sludges. Englewood Cliffs. : Waste containment systems . G.. 1993/1994 Patterson. Bandung1993 Rich. : Handbook of non-point pollution. Ann Arbor Science. Farquhar. C.W. Guide pour l'elimination et la valorisation des dechets industriels. G. : Wastewater treatment technology.

F... : Hazardous waste site operations. 1996 Wentz.FTSL ITB Halaman 105 . : Hazardous waste management. Copenhage 1983 Anonymous: State of the Environment in Asia and the Pasific. 1994 World Health Organization : Healthy and productive lives in harmony with nature. EPA/600/6-88/001 Wagner. Snyder : Pesticide alert.. Vigil. WHO/EHE/94. IAEA Bulletin 2/1994 Tchobanoglous.Report no. 12083-IND Indonesia environment and development .. 1990 Waxman. Van Nostrand Reinhold. 1993 United Nations Economic and Social Council : Review of sectoral clusters. New York 1995 Anonymous: Pusat pengolahan limbah industri berbahaya dan beracun (PPLI-B3).A. E/CN. L.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 Sjöblom. M. January 1990 USEPA : Treatment potential for 56 EPA listed hazardous chemicals in soils. March 21. K. S. Report on a WHO meeting.. Ingatlah behaya pestisida .. Geneva. Linsley.1 World Health Organization : Management of waste for hospitals.L. T... John Wiley and Sons Inc. : Handbook of solid waste management.challengers for the future..17/1994/7 USEPA : Handbook of operation and maintenace of hospital medical waste incinerator.G. G. Van Nostrand Reinhold 1977 World Bank . 1994 Enri Damanhuri .. fisrt phase : toxic and chemical and hazardous wastes. 1989 Wilson. Economic and Social Commision for Asia .. : Hazardous waste identification and classification manual.. C.A. Pesticide Action Network.the Pasific. Mott and K.. : Sea disposal of radioactive wastes . EPA/625/6-89/024. : Integrated solid waste management. PT Prasadhana Pamunah Limbah Industri. Theisen.the London Convention 1972. WHO Regional Office for Europe. D. G. H.. McGraw-Hill Book.Residu pestisida dan alternatifnya..Bunga rampai . . McGraw Hill Book.P.

Love Canal. -----) Minggu 10: Idem minggu sebelumnya Minggu 11: Limbah berbahaya kegiatan medis dan rumah tangga Sumber limbah medis. unit satuan. simbol dan label. bahan kimia industri. penyimpanan dan pengangkutan Dokumen pengangkutan. dokumen MSDS Minggu 6: Sifat-sifat berbahaya bahan kimia Bahan kimia korosif. karakteristik B3 versi undang-2. beberapa kasus dunia tentang B3/limbah B3 (Minamata. pengemasan-pewadahan. Tugas A masuk Mingu 9: Bahan radio aktif dan limbahnya Sifat-sifat radioaktif (isotop. penyimpanan.). Konvesi Stockholm tentang pencemar organik yg persisten Minggu 3: Peraturan dalam pengelolaan limbah B3 Besaran limbah B3. pengangkutan Minggu 5: Labeling dan MSDS Karakteristik umum kimia berbahaya. limbah berbahaya dari rumah tangga. oksidator-reduktor Minggu 7: Bahan kimia organik berbahaya Bahan kimia turunan hidrokarbon. penanganan Minggu 12 sampai Minggu 14: diskusi kelompok Tugas B Enri Damanhuri . reaktif (pada air). mudah terbakar. peluluhan. penggolongan limbah. ---. Kabut dioxin Seveso) Minggu 2: Peraturan dalam pengelolaan B3 Penggunaan bahan kimia. uraian lanjut tentang pengelolaan B3 versi PP 18/99 jo PP85/99. produk yang tidak sengaja dihasilkan Minggu 8: Ujian Tengah Semester. informasi tingkat bahaya. pengelolaan limbah radioaktif (sumber. pengolahan. UU-32/2009 ttg LH. penanganan limbah medis.FTSL ITB Halaman 106 . UU-74/2001.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 RENCANA KULIAH TL-3204 PENGELOLAAN B3 SEMESTER II . pestisida. toksik.TL FTSL ITB Minggu 1: Pendahuluan Latar belakang. api dan kelas dalam kebakaran. mekanisme cradle-to-grave Minggu 4: Pelabelan.

bahan kimia di laboratorium. Mahasiswa diminta membuat paper yang membahas sebuah bahan atau limbah. atau dari bahanbahan lainnya yang dapat mendukung ulasan-ulasan tersebut. Enri Damanhuri . selengkap-lengkapnya seperti diuraikan dalam Bagian II. Bahasan-bahasan tersebut harus cukup komprehensif. oli bekas. dan sebagainya. Referensi harus jelas dicantumkan. Naskah tertulis tersebut kemudian dibuatkan bahan presentasinya.Diktat Pengeloaan B3 – Versi 2010 TUGAS A Mahasiswa diminta membuat paper yang membahas sebuah bahan berbahaya dari berbagai literatur atau dari website. Referensi harus jelas tercantum. Disertasi) yang ada di perpustakaan.FTSL ITB Halaman 107 . khususnya dengan memasukkan ulasan-ulasan ataupun gagasangagasan yang didasarkan atas tulisan-tulisan seperti peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia atau di negara lain atau dari buku-buku referensi. khususnya yang biasa dijumpai sehari-hari. TUGAS B Merupakan tugas kelompok maksimum beranggotakan 10 orang. untuk dipresentasikan dan didiskusikan di kelas. misalnya Power Point. Tesis. Bagian IV dan Bagian V. atau dalam laporan-laporan yang bisa diperoleh di website. atau dari karya ilmiah mahasiswa (Tugas Akhir. lalu mengaitkan dengan kasus yang pernah terjadi baik di dalam negeri maupun di luar negeri yang muncul di masmedia. termasuk bagaimana seharusnya mengelola dan menghindari terjadinya permasalahan. seperti aki bekas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful