P. 1
Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Bokondini Tolikara Papua 2032

Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Bokondini Tolikara Papua 2032

|Views: 561|Likes:
Laporan Pendahuluan Kegiatan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini ini disusun oleh Penyedia Jasa (Konsultan) sebagai tahap awal dalam rangkaian proses penyelesaian kegiatan studi/kajian teknis tersebut. Laporan Pendahuluan ini disusun berdasarkan Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang diterima; Diskusi Awal antara Tim Pelaksana dari Penyedia Jasa dengan Tim Teknis dari Pengguna Jasa; serta beberapa data dan informasi awal yang telah diinventarisasi oleh Konsultan.
Dalam Laporan Pendahuluan ini akan dijabarkan mengenai (1) pendahuluan yang merupakan gambaran umum pekerjaan; (2) berbagai hal substansial yang merupakan pemahaman konsultan terhadap substansi pekerjaan, termasuk pemahaman dan tanggapan terhadap KAK, serta pendalaman substansial (hipotesa awal); (3) pendekatan dan metodologi yang digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan; (4) berbagai hal yang bersifat teknis administratif, seperti rencana kerja, jadual pelaksanaan pekerjaan, penjabaran tenaga ahli dan personil, serta sistematika pelaporan serta (5) rencana survei yang akan dilaksanakan pada tahap selanjutnya.
Pada pekerjaan ini, Konsultan juga telah melakukan survei awal dan telah mendapatkan berbagai kondisi eksisting, permasalahan, dan konsep awal pengembangan kawasan perkotaan.
Melalui Laporan Pendahuluan ini, maka diharapkan Penyedia Jasa dan Pengguna Jasa dapat melakukan diskusi dan memperoleh kesepakatan bersama perkembangan pelaksanaan pekerjaan pada tahap awal ini, termasuk pemahaman terhadap substansi pekerjaan, efisiensi dan efektifitas pendekatan dan metodologi yang digunakan, komposisi tenaga ahli, serta kesiapan teknis lainnya. Dari diskusi dan kesepakatan yang diperoleh, selanjutnya diharapkan proses kajian substansial dapat dilaksanakan secara lebih terarah sesuai dengan sasaran yang diharapkan.
Akhirnya konsultan mengucapkan terima kasih atas segala saran, komentar dan masukan yang diberikan untuk penyempurnaan laporan ini. Besar harapan konsultan untuk dapat menghasilkan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini yang terbaik.
Laporan Pendahuluan Kegiatan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini ini disusun oleh Penyedia Jasa (Konsultan) sebagai tahap awal dalam rangkaian proses penyelesaian kegiatan studi/kajian teknis tersebut. Laporan Pendahuluan ini disusun berdasarkan Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang diterima; Diskusi Awal antara Tim Pelaksana dari Penyedia Jasa dengan Tim Teknis dari Pengguna Jasa; serta beberapa data dan informasi awal yang telah diinventarisasi oleh Konsultan.
Dalam Laporan Pendahuluan ini akan dijabarkan mengenai (1) pendahuluan yang merupakan gambaran umum pekerjaan; (2) berbagai hal substansial yang merupakan pemahaman konsultan terhadap substansi pekerjaan, termasuk pemahaman dan tanggapan terhadap KAK, serta pendalaman substansial (hipotesa awal); (3) pendekatan dan metodologi yang digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan; (4) berbagai hal yang bersifat teknis administratif, seperti rencana kerja, jadual pelaksanaan pekerjaan, penjabaran tenaga ahli dan personil, serta sistematika pelaporan serta (5) rencana survei yang akan dilaksanakan pada tahap selanjutnya.
Pada pekerjaan ini, Konsultan juga telah melakukan survei awal dan telah mendapatkan berbagai kondisi eksisting, permasalahan, dan konsep awal pengembangan kawasan perkotaan.
Melalui Laporan Pendahuluan ini, maka diharapkan Penyedia Jasa dan Pengguna Jasa dapat melakukan diskusi dan memperoleh kesepakatan bersama perkembangan pelaksanaan pekerjaan pada tahap awal ini, termasuk pemahaman terhadap substansi pekerjaan, efisiensi dan efektifitas pendekatan dan metodologi yang digunakan, komposisi tenaga ahli, serta kesiapan teknis lainnya. Dari diskusi dan kesepakatan yang diperoleh, selanjutnya diharapkan proses kajian substansial dapat dilaksanakan secara lebih terarah sesuai dengan sasaran yang diharapkan.
Akhirnya konsultan mengucapkan terima kasih atas segala saran, komentar dan masukan yang diberikan untuk penyempurnaan laporan ini. Besar harapan konsultan untuk dapat menghasilkan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini yang terbaik.

More info:

Published by: Tiar Pandapotan Purba on Apr 13, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/29/2014

pdf

text

original

Pemerintah Daerah Kabupaten Tolikara

Provinsi Papua
Rencana Detail
Tata Ruang
(RDTR)
Tahun Anggaran 2013
Laporan Pendahuluan
KAWASAN PERKOTAAN
BOKONDINI
KABUPATEN TOLIKARA
PROVINSI PAPUA
KEGIATAN PENYUSUNAN
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Kata Pengantar, Daftar isi, Daftar Tabel dan Daftar Gambar | i

KATA PENGANTAR

Laporan Pendahuluan Kegiatan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini ini disusun oleh Penyedia Jasa (Konsultan) sebagai
tahap awal dalam rangkaian proses penyelesaian kegiatan studi/kajian teknis
tersebut. Laporan Pendahuluan ini disusun berdasarkan Kerangka Acuan Kerja (KAK)
yang diterima; Diskusi Awal antara Tim Pelaksana dari Penyedia Jasa dengan Tim
Teknis dari Pengguna Jasa; serta beberapa data dan informasi awal yang telah
diinventarisasi oleh Konsultan.
Dalam Laporan Pendahuluan ini akan dijabarkan mengenai (1) pendahuluan yang
merupakan gambaran umum pekerjaan; (2) berbagai hal substansial yang merupakan
pemahaman konsultan terhadap substansi pekerjaan, termasuk pemahaman dan
tanggapan terhadap KAK, serta pendalaman substansial (hipotesa awal); (3)
pendekatan dan metodologi yang digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan; (4)
berbagai hal yang bersifat teknis administratif, seperti rencana kerja, jadual
pelaksanaan pekerjaan, penjabaran tenaga ahli dan personil, serta sistematika
pelaporan serta (5) rencana survei yang akan dilaksanakan pada tahap selanjutnya.
Pada pekerjaan ini, Konsultan juga telah melakukan survei awal dan telah
mendapatkan berbagai kondisi eksisting, permasalahan, dan konsep awal
pengembangan kawasan perkotaan.
Melalui Laporan Pendahuluan ini, maka diharapkan Penyedia Jasa dan Pengguna Jasa
dapat melakukan diskusi dan memperoleh kesepakatan bersama perkembangan
pelaksanaan pekerjaan pada tahap awal ini, termasuk pemahaman terhadap
substansi pekerjaan, efisiensi dan efektifitas pendekatan dan metodologi yang
digunakan, komposisi tenaga ahli, serta kesiapan teknis lainnya. Dari diskusi dan
kesepakatan yang diperoleh, selanjutnya diharapkan proses kajian substansial dapat
dilaksanakan secara lebih terarah sesuai dengan sasaran yang diharapkan.
Akhirnya konsultan mengucapkan terima kasih atas segala saran, komentar dan
masukan yang diberikan untuk penyempurnaan laporan ini. Besar harapan konsultan
untuk dapat menghasilkan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan
Bokondini yang terbaik.

Bokondini , 2013
PENYUSUN

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Kata Pengantar, Daftar isi, Daftar Tabel dan Daftar Gambar | ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................i
DAFTAR ISI .....................................................................................ii
DAFTAR TABEL .................................................................................ix
DAFTAR GAMBAR ..............................................................................xii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ........................................................................1
1.2. Maksud, Tujuan Dan Sasaran .......................................................2
1.2.1 Maksud dan Tujuan ..................................................................2
1.2.2 Sasaran.................................................................................3
1.3. Dasar Hukum ..........................................................................3
1.4. Ruang Lingkup ........................................................................5
1.4.1. Lingkup Kegiatan .....................................................................5
1.4.2. Lingkup Wilayah dan Kawasan Perencanaan.....................................8
1.5. Keluaran ...............................................................................9
1.6. Sistematika Pembahasan............................................................11

BAB 2 PEMAHAMAN TERHADAP PEKERJAAN
2.1. Pemahaman Terhadap Ruang Lingkup ............................................1
2.1.1. Pemahaman Terhadap Lingkup Kegiatan .........................................1
2.1.2. Pemahaman Terhadap Lingkup Wilayah dan Kawasan Perencanaan ........6
2.2. Pemahaman Terhadap Muatan RDTR Kawasan ..................................6
2.3. Pemahaman Terhadap Zoning Regulation .......................................22

BAB 3 TINJAUAN PERATURAN DAN KEBIJAKAN TERKAIT
3.1. Peraturan Perundangan Terkait Penataan Ruang ...............................1
3.1.1. Undang-Undang No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang .................1
3.1.2. Undang-Undang NO.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah .........4
3.1.3. Undang-Undang No.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
Antara Pemerinah Pusat dan Pemerintah Daerah ..............................5
3.1.3. Undang-Undang No.38 Tahun 2004 tentang Jalan ..............................6
3.1.4. Undang-Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup ....................................................................9
3.1.5. Undang-Undang No.1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Permukiman ...11
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Kata Pengantar, Daftar isi, Daftar Tabel dan Daftar Gambar | iii

3.1.6. Undang-Undang No.24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana .....12
3.1.7. PP No.10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta
Untuk Penataan Ruang Wilayah....................................................13
3.1.8. SNI No.1733-2000 tentang Tata Cara Perencanaan
Lingkungan Perumahan di Perkotaan .............................................14
3.2. Peraturan Perundangan Terkait Kehutanan .....................................15
3.2.1. Umum ..................................................................................15
3.2.2. Undang-Undang No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan .......................16
3.2.3. KEPMENHUT No.70/KPTS-II/2001 tentang Penetapan Kawasan
Hutan, Perubahan Status dan Fungsi Kawasan Hutan ..........................19
3.2.4. Badan Planologi Kehutanan (BAPLAN) dan Badan
Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) ..............................................21
3.2.5. Penetapan Kawasan Hutan .........................................................23
3.2.6. Mutasi Kawasan Hutan ..............................................................24
3.2.7. Perubahan Kawasan Hutan .........................................................27
3.3. Kebijakan Penataan Ruang .........................................................30
3.3.1. Arahan Pengembangan Menurut RTRW Nasional ................................30
3.3.2. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Tolikara ....................36
3.3.2.1 Struktur Ruang Kabupaten Tolikara ..............................................36
3.3.2.2 Pola Ruang Kabupaten Tolikara ...................................................53

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN
4.1. Gambaran Umum Kabupaten Tolikara ............................................2
4.1.1. Gambaran Umum Wilayah ..........................................................2
4.1.1.1. Pembentukan .......................................................................2
4.1.1.2. Letak Geografis Kabupaten Tolikara ............................................2
4.1.1.3. Kondisi Fisik Dasar .................................................................5
4.1.1.4. Rawan Bencana .....................................................................19
4.2. Gambaran Umum Kawasan Perkotaan Bokondini ...............................23
4.2.1. Kependudukan ........................................................................23
4.2.2. Sosial ...................................................................................24
4.2.2.1 Pendidikan ............................................................................24
4.2.2.2 Kesehatan ............................................................................25
4.2.2.3 Peribadatan ..........................................................................27
4.2.3. Sejarah dan Budaya ..................................................................30
4.2.3.1 Sejarah Distrik Bokondini ..........................................................30
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Kata Pengantar, Daftar isi, Daftar Tabel dan Daftar Gambar | iv

4.2.3.2 Sosial Budaya Bokondini ............................................................34
4.2.4. Peternakan dan Perkebunan .......................................................39
4.2.4.1 Perikanan .............................................................................40
4.2.4.2 Perkebunan ...........................................................................40
4.2.4.3 Tanaman Pangan ....................................................................41
4.2.5. Perindustrian, Pertambangan, Pariwisata dan Keuangan .....................47
4.2.6. Transportasi dan Komunikasi .......................................................48
4.3. Potensi Permasalahan Dan Arah Pengembangan ................................49

BAB 5 PENDEKATAN DAN METODOLOGI
5.1. Pendekatan Studi .......................................................................1
5.1.1. Pendekatan Perencanaan ...........................................................1
5.1.2. Pendekatan Kebijakan (Sinkronisasi Kebijakan) .................................3
5.1.3. Pendekatan Wilayah ..................................................................3
5.1.3.1. Pendekatan Pengembangan Wilayah ............................................4
5.1.3.2. Pendekatan Perencanaan Incremental-Strategis dan Strategis–Proaktif ..11
5.1.4. Pendekatan Pemenuhan Kebutuhan Dasar .......................................12
5.1.5. Pendekatan Pertumbuhan dan Perkembangan Ekonomi .......................13
5.1.6. Pendekatan Konservasi Lingkungan ................................................14
5.1.7. Pendekatan Sosial Budaya ...........................................................15
5.1.8. Pendekatan Kepariwisataan ........................................................15
5.1.9. Pendekatan Pelaku Pembangunan ................................................16
5.1.10. Pendekatan Partisipasi Masyarakat ...............................................17
5.1.11. Pendekatan Kelembagaan (Instansional) ........................................18
5.1.12. Pendekatan Mitigasi Bencana .....................................................19
5.1.13. Pendekatan Keberlanjutan ........................................................20
5.2. Proses Pelaksanaan Pekerjaan ........................................................21
5.2.1. Proses Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan ...................................21
5.2.2. Proses Penyusunan Zoning Regulation ............................................33
5.3. Metodologi Studi ........................................................................37
5.3.1. Metode Survei .........................................................................37
5.3.2. Metode Analisis .......................................................................39
5.3.2.1. Metode Analisis Kependudukan ..................................................39
5.3.2.2. Analisis Penggunaan Lahan .......................................................43
5.3.2.3. Analisis Kegiatan Kota .............................................................43
5.3.2.4. Analisis Transportasi ...............................................................47
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Kata Pengantar, Daftar isi, Daftar Tabel dan Daftar Gambar | v

5.3.2.5. Analisis Kesesuaian Lahan ........................................................50
5.3.2.6. Analisis Kekuatan dan Kelemahan Kawasan (SWOT) ..........................58
5.2.4.7. Analisis Biaya Dampak (ABIDA) ...................................................60
5.3.3. Metode Penyiapan Peta ..............................................................61
5.3.4. Metode Diskusi Kelompok Terarah (FGD) .........................................71

BAB 6 RENCANA KERJA DAN JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN
6.1. Rencana Kerja ........................................................................1
6.1.1. Tahap Pendahuluan ..................................................................1
6.1.2. Tahap Pengumpulan Data dan Fakta ..............................................2
6.1.3. Tahap Analisis ........................................................................2
6.1.4. Tahap Rencana .......................................................................3
6.1.5. Tahap Finalisasi ......................................................................4
6.2. Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan ....................................................4

BAB 7 ORGANISASI PELAKSANAAN PEKERJAAN
7.1. Hubungan Kerja Yang Terbentuk .....................................................1
7.2. Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan ...................................................2

BAB 8 GAGASAN DAN KONSEP PERENCANAAN
8.1. Konsep Pembangunan Yang Berkelanjutan ......................................1
8.2.1. Definisi dan Pengertian Pembangunan Berkelanjutan .........................1
8.2.2. Prinsip-Prinsip Pembangunan Berkelanjutan ....................................1
8.2.3. Lingkup dan Komponen Pembangunan Berkelanjutan .........................2
8.2.4. Pembangunan Berbasis Kelanjutan Ekologi ......................................4
8.2.5. Perencanaan Berbasis Bioregion ...................................................5
8.2.6. Konsep Ecocity........................................................................8
8.2.7. Konsep Kawasan Hemat Energi ....................................................15
8.2. KONSEP REVITALISASI KAWASAN WARISAN BUDAYA ............................22
8.2.1. Akar Masalah Penataan dan Revitalisasi ..........................................22
8.2.2. Penataan Kawasan Warisan Budaya ...............................................23
8.2.3. Konservasi Lingkungan Binaan .....................................................27
8.2.4. Teknis Penanganan Elemen Kawasan .............................................29
8.3. Konsep Perencanaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) ..............................35
8.3.1. Definisi dan Pengertian RTH .......................................................36
8.3.2. Fungsi dan Manfaat RTH ............................................................36
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Kata Pengantar, Daftar isi, Daftar Tabel dan Daftar Gambar | vi

8.3.3. Pola dan Struktur Fungsional RTH .................................................37
8.3.4. Elemen Fungsi RTH ..................................................................37
8.3.5. Teknis Perencanaan RTH............................................................38
8.3.6. Isu RTH .................................................................................39
8.4. Konsep Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH)........................................40
8.4.1. Definisi RTNH .........................................................................40
8.4.2. Fungsi RTNH ...........................................................................41
8.4.3. Manfaat RTNH ........................................................................42
8.4.4. Pendekatan Pemahaman RTNH ....................................................42
8.4.5. Tipologi RTNH ........................................................................44
8.5. Konsep Pengembangan Pertanian Melalui Agroforestri dan Agropolitan ...48
8.5.1. Sistem Agroforestri ..................................................................49
8.5.1.1 Ruang Lingkup Sistem Agroforestri ..............................................50
8.5.1.2 Jenis-jenis Sistem Agroforestri ...................................................52
8.5.1.3 Sistem Agroforest ...................................................................53
8.5.1.4 Keunggulan Sistem Agroforestri ..................................................54
8.5.1.5 Konsep Sistem Agribisnis ...........................................................57
8.5.2. Konsep Pembangunan Kawasan Agropolitan .....................................58
8.5.2.1 Kriteria Kawasan Agropolitan .....................................................59
8.5.2.2 Konsep Struktur Ruang Kawasan Agropolitan ...................................60
8.5.2.3 Komoditas Unggulan Kawasan .....................................................62
8.5.2.4 Konsep dan Strategi Pengembangan Kawasan Agropolitan
di Kawasan Perkotaan Bokondini ..................................................64
8.6. Konsep Grid City Bagi Pengembangan Kota Bokondini .........................68
8.7. Konsep Kampung Mandiri Di Perkotaan Bokondini ..............................69
8.8. Konsep Perencanaan Prasarana, Sarana, Dan Utilitas (PSU) ..................70
8.9. Konsep Perencanaan Berbasis Mitigasi Bencana ................................81
8.10. Konsep Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang ......................84
8.11. Konsep Produk Perencanaan Tata Ruang Yang Informatif, Sederhana
dan Interaktif .........................................................................86
8.11.1. Pemanfaatan Teknologi Elektronik ...............................................86
8.11.2. Interaksi Manusia Dengan Teknologi .............................................87
8.11.2. Elemen Multimedia Dalam Interaksi Manusia Dengan Teknologi ............88
8.11.3. Pemilihan Elemen Multimedia Dalam Penyampaian Informasi ...............88
8.11.4. Produk Penataan Ruang Berbasis Website ......................................89
8.11.5. Keuntungan Pemanfaatan Teknologi Terkait Pengembangan Wilayah .....91
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Kata Pengantar, Daftar isi, Daftar Tabel dan Daftar Gambar | vii

BAB 9 PROGRAM SURVEI
9.1. Penetapan Kebutuhan Data Dan Informasi .......................................1
9.2. KONDISI DATA YANG ADA ...........................................................3
9.3. METODE SURVEI ......................................................................3
9.2.1. Kegiatan Survei secara Primer .....................................................3
9.2.2. Kegiatan Survei secara Sekunder ..................................................3
9.3. Perangkat (Instrumen) Pelaksanaan Survei ......................................4
9.3.1. Peralatan (Hardware) Survei .......................................................4
9.3.2. Checklist Data dan Informasi ......................................................4
9.3.3. Form Surveyor ........................................................................5
9.3.4. Questionnaire untuk Wawancara ..................................................5
9.3.5. Form GPS ..............................................................................5



Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Kata Pengantar, Daftar isi, Daftar Tabel dan Daftar Gambar | viii

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Unit Pelaksana Teknis (Balai Pemantapan Kawasan Hutan
Wilayah Sampai Dengan XI) ...................................................22
Tabel 3.2 Penetapan Sistem Pusat Pelayanan Di Kabupaten Tolikara ..............37
Tabel 3. 3 Proyeksi Kebutuhan Listrik Di Kabupaten Tolikara Hingga
Tahun 2032 ......................................................................43
Tabel 3.4 Proyeksi Kebutuhan Air Minum Di Kabupaten Tolikara
Hingga Tahun 2032 .............................................................46
Tabel 3.5 Proyeksi Kebutuhan Penanganan Sampah Di Kabupaten
Tolikara Hingga Tahun 2032 ..................................................48
Tabel 3.6 Proyeksi Kebutuhan Penanganan Limbah Cair Kabupaten
Tolikara Hingga Tahun 2032 ..................................................49
Tabel 4.1 Nama Distrik-Distrik Di Kabupaten Tolikara ................................2
Tabel 4.2. Potensi Geologi Untuk Tiap Stratigrafi Di Kabupaten Tolikara ..........10
Tabel 4.3. Tutupan Lahan Kabupaten Tolikara .........................................15
Tabel 4.4. Status Kawasan Hutan Di Kabupaten Tolikara .............................19
Tabel 4.5 Jumlah Penduduk Di Kawasan Perkotaan Bokondini
Menurut DistrikTahun 2010 ....................................................23
Tabel 4.6 Jumlah Penduduk Dan Kepadatan Di Kawasan Perkotaan Bokondini
Menurut Distrik Tahun 2010 ...................................................23
Tabel 4.7 Jumlah Sarana Pendidikan Dasar (SD) Negeri Dan Swasta
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Menurut Distrik Tahun 2010 ..........24
Tabel 4.8 Jumlah Sarana Pendidikan Dasar, Murid Dan Guru
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Menurut Distrik Tahun 2010 ..........24
Tabel 4.9 Jumlah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Murid Dan Guru
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Menurut Distrik Tahun 2010 ..........25
Tabel 4.10 Jumlah Sekolah Menengah Umum, Murid Dan Guru
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Menurut Distrik Tahun 2010 ..........25
Tabel 4.11 Jumlah Puskesmas, Puskesmas Pembantu Dan Balai Pengobatan
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Menurut Distrik Tahun 2010 ..........26
Tabel 4.12 Jumlah Puskesmas KelilingDi Kawasan Perkotaan Bokondini
Menurut Distrik Tahun 2010 ...................................................27
Tabel 4.13 Jumlah Tenaga KesehatanDi Kawasan Perkotaan Bokondini
Menurut Distrik Tahun 2010 ...................................................27
Tabel 4.14 Populasi Ternak Besar Akhir Tahun Menurut Jenis Di
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Kata Pengantar, Daftar isi, Daftar Tabel dan Daftar Gambar | ix

Kawasan Perkotaan Bokondini Menurut Distrik Tahun 2010 .............39
Tabel 4.15 Jumlah Ternak Yang Dipotong Di Rumah Potong Hewan (RPH)
Dan Di Luar RPH Menurut Jenis Ternak Di Kawasan
Perkotaan Bokondini Tahun 2010 ............................................39
Tabel 4.16 Jumlah Populasi Ternak Akhir Tahun Menurut Jenis Unggas
dan Kelinci Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 ...............40
Tabel 4.17 Produksi Perikanan Darat Menurut Komoditi Di Kawasan
Perkotaan Bokondini Tahun 2010 (Kg).......................................40
Tabel 4.18 Luas Areal, Produksi Perkebunan KopiDi Kawasan Perkotaan
Bokondini Tahun 2010 ..........................................................41
Tabel 4.19 Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Bayam Dan Cabe
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 ..............................41
Tabel 4.20 Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Buncis Dan Wortel
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 ..............................41
Tabel 4.21 Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Daun Bawang Dan
Bawang Merah Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 ...........42
Tabel 4.22 Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Ketimun Dan
Kentang Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 ...................42
Tabel 4.23 Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Kubis Dan
Terong Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 ....................42
Tabel 4.24 Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Bawang Putih
Dan Ubi-Ubian LainDi Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 ......43
Tabel 4.25 Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Petsai/Sawi Dan
Tomat Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 .....................43
Tabel 4.26 Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Kacang Tanah Dan
Kedelai Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 ....................43
Tabel 4.27 Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Jagung Dan
Keladi Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 .....................43
Tabel 4.28 Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Ubi Kayu Dan
Ubi Jalar Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 ..................44
Tabel 4.29 Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Padi Sawah Dan
Padi Ladang Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 ..............44
Tabel 4.30 Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Kacang Hijau Dan
Kacang Panjang Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 .........45
Tabel 4.31 Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Kangkung Dan Markisa .
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 ..............................45
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Kata Pengantar, Daftar isi, Daftar Tabel dan Daftar Gambar | x

Tabel 4.32 Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Jeruk Manis Dan Nanas
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 ..............................45
Tabel 4.33 Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Pisang Dan Nangka
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 ..............................46
Tabel 4.35 Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Jambu Biji Dan Salak
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 ..............................46
Tabel 4.36 Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Adpokat Dan Mangga
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 ..............................46
Tabel 4.37 Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Pepaya Dan Labu Siam
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 ..............................47
Tabel 4.38 Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Rambutan
Dan Tanaman Obat Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 .....47
Tabel 4.39 Banyaknya Landasan Pesawat Terbang Menurut Jenis Status
Kepemilikan Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 ..............48
Tabel 4.41 Potensi/Masalah/Batasan dan Arah Pengembangan Di Kawasan
Perkotaan Bokondini ...........................................................49
Tabel 5.1 Keterlibatan Lintas Sektoral .................................................19
Tabel 5.2 Kriteria Fisik Lingkungan Kawasan Budidaya Dan Kawasan Lindung ....52
Tabel 5.3 Aturan Kelas Lereng Lapangan ...............................................54
Tabel 5.4 Aturan Kelas Jenis Tanah ......................................................54
Tabel 5.5 Aturan Kelas Intensitas Hujan ................................................54
Tabel 5.6 Matrik SWOT .....................................................................60
Tabel 6.1 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini ................................................5
Tabel 8.1 Elemen Bioregion ...............................................................6
Tabel 8.2 Partisipasi Swasta dan Masyarakat dalam Investasi .......................80
Tabel 8.3 Potensi Kontribusi Masyarakat dalam Penataan Ruang ...................84



Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Kata Pengantar, Daftar isi, Daftar Tabel dan Daftar Gambar | xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Contoh Peta Peraturan Zonasi ...............................................24
Gambar 3.1 Skematik Rencana Tata Ruang dalam UU No.26 Tahun 2007 ...........4
Gambar 3.2 Diagram Fungsi Pokok Hutan .................................................29
Gambar 3.3 Diagram Mutasi Kawaasn Hutan ............................................30
Gambar 3.4 Peta Struktur Ruang Kabupaten .............................................52
Gambar 3.5 Peta Pola Ruang Kabupaten Tolikara .......................................61
Gambar 4.1 Peta Delineasi Kawasan Perkotaan Bokondini ............................4
Gambar 4.2 Peta Ketinggian Kawasan Perkotaan Bokondini ...........................8
Gambar 4.3 Peta Kemiringan Lereng Kawasan Perkotaan Bokondini .................9
Gambar 4.4 Peta Jenis Tanah Kawasan Perkotaan Bokondini .........................11
Gambar 4.5 Peta Geologi Kabupaten Tolikara ...........................................12
Gambar 4.6 Peta Curah Hujan Kabupaten Tolikara .....................................14
Gambar 4.7 Peta Daerah Aliran Sungai Kawasan Perkotaan Bokondini ..............16
Gambar 4.8 Peta Hidrogeologi Kawasan Perkotaan Bokondini ........................17
Gambar 4.9 Peta Tutupan Lahan Kawasan Perkotaan Bokondini .....................18
Gambar 4.10 Peta Status Kawasan Hutan di Kawasan Perkotaan Bokondini ........21
Gambar 4.11 Peta Rawan Bencana.........................................................22
Gambar 4.12 Peta Sarana Pendidikan .....................................................26
Gambar 4.13 Peta Sarana Kesehatan ......................................................28
Gambar 4.14 Peta Sarana Peribadatan ....................................................29
Gambar 4.15 Pola Permukiman Suku Lani Di Kabupaten Tolikara ....................37
Gambar 4.16 Pola Pemikiman Usilimo Suku Dani di Kabupaten Jayawijaya ........37
Gambar 4.17 Peta Dokumentasi Kondisi Lapangan ......................................54
Gambar 5.1 Diagram Keterlibatan Pelaku Pembangunan Dalam
Penyusunan Rencana ........................................................18
Gambar 5.2 Proses Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Bokondini ..............32
Gambar 5.3 Proses Penyusunan Zoning Regulation....................................33
Gambar 5.4 Diagram Alur Analisis Kesesuaian Lahan .................................51
Gambar 5.5 Skema Proses Overlay (Tumpangtindih Peta) ...........................57
Gambar 5.6 Spefisikasi dari Satelit Ikonos ..............................................61
Gambar 5.7 Produk yang dihasilkan oleh Ikonos .......................................61
Gambar 5.8 Posisi Titik Dalam Sistem Koordinat Geosentrik
(Kartesian Dan Geodetik) ...................................................66
Gambar 5.9 Posisi Titik Dalam Sistem Koordinat Toposentrik .......................67
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Kata Pengantar, Daftar isi, Daftar Tabel dan Daftar Gambar | xii

Gambar 5.10 Contoh Penulisan Peta Berdasarkan PP.10/2000 .......................70
Gambar 5.11 Permodelan Dunia Nyata dalam Data Spasial GIS.......................71
Gambar 7.1 Struktur Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan Penyusunan Rencana
Detil Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini ..............3
Gambar 8.1 Skema Pembangunan Berkelanjutan........................................2
Gambar 8.2 Komponen Pembangunan Berkelanjutan
dan Ketatapemerintahan yang Baik ........................................3
Gambar 8.3 Skema Regenerative Environment ..........................................5
Gambar 8.4 Model Perumahan Hemat Energi di Inggris ................................16
Gambar 8.5 Visualisasi Jalur dan Parkir Sepeda Khusus ................................17
Gambar 8.6 Model Bangunan Ramah Lingkungan ........................................18
Gambar 8.7 Contoh Ruang Terbuka Hijau ................................................18
Gambar 8.8 Contoh Pembangkit Energi Surya............................................20
Gambar 8.9 Contoh Pembangkit Energi Air ...............................................20
Gambar 8.10 Contoh PLTA Mikrohidro di Desa Gama-Ketapang.......................22
Gambar 8.11 Preseden Proyek Revitalisasi Perkotaan ..................................23
Gambar 8.12 Preseden Konservasi Kota Tua Lijiang di Cina ...........................26
Gambar 8.13 Konsep RTH di Wilayah Perkotaan .........................................35
Gambar 8.14 Skema Implementasi RTH ...................................................40
Gambar 8.15 Contoh RTNH Plasa ...........................................................44
Gambar 8.16 Contoh RTNH Parkir ..........................................................45
Gambar 8.17 Contoh RTNH Olahraga ......................................................46
Gambar 8.18 Contoh RTNH Bermain .......................................................46
Gambar 8.19 Contoh RTNH Pembatas .....................................................47
Gambar 8.20 Contoh RTNH Koridor ........................................................47
Gambar 8.21 Skema Sistem Penggunaan Lahan Utama .................................49
Gambar 8.22 Hubungan Masukan dan Keluaran Dalam Sistem Agroforestri .........50
Gambar 8.23 Beberapa Praktek Sistem Agroforestri ....................................51
Gambar 8.24 Konsep Kawasan Agropolitan ...............................................59
Gambar 8.25 Konsep Pengembangan Sektor Pertanian di Perkotaan Bokondini ...64
Gambar 8.26 Konsep Pengembangan Grid City ..........................................69
Gambar 8.27 Konsep Pengembangan Kampung Mandiri ................................70
Gambar 8.26 Tahapan Mitigasi Bencana ..................................................81
Gambar 8.27 Diagram Alir Konsep Mitigasi Bencana ....................................82
Gambar 8.28 Perencanaan Mitigasi Bencana .............................................83
Gambar 8.29 Pemanfaatan Teknologi Elektronik ........................................86
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Kata Pengantar, Daftar isi, Daftar Tabel dan Daftar Gambar | xiii

Gambar 8.30 Manusia dan Penguasaan atas Teknologi .................................87
Gambar 8.31 Halaman Depan Website Tata Ruang......................................90
Gambar 8.32 Halaman Dalam Website Penataan Ruang ................................91


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 1 Pendahuluan | 1

1.1. LATAR BELAKANG
Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua merupakan kabupaten baru yang berusia 10 tahun
sejak dimekarkan dari Kabupaten Jayawijaya tahun 2002. Kabupaten ini terbentuk sesuai
dengan Undang–Undang nomor 26 tahun 2002 tentang pembentukan Kabupaten Sarmi,
Kabupaten Keerom, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten
Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen,
Kabupaten Kaimana, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat,
Kabupaten Teluk Bintuni, Dan Kabupaten Teluk Wondama Di Provinsi Papua.
Sesuai dengan amanat Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, bahwa
Pemerintah Daerah Kabupaten Tolikara mempunyai kewenangan untuk menyusun rencana
detail tata ruang didalam wilayahnya. Sesuai ketentuan Pasal 59 Peraturan Pemerintah
Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, setiap Rencana Tata
Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota harus menetapkan bagian dari wilayah
Kabupaten/Kota yang perlu disusun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Bagian dari
wilayah yang akan disusun RDTR tersebut merupakan kawasan perkotaan atau kawasan
strategis kabupaten/kota. Kawasan strategis Kabupaten/Kota dapat disusun RDTR apabila
merupakan: (i) kawasan yang mempunyai ciri perkotaan atau direncanakan menjadi
kawasan perkotaan; dan (ii) memenuhi kriteria lingkup wilayah perencanaan RDTR.
Salah satu kawasan yang memenuhi kriteria tersebut adalah Kawasan Perkotaan Bokondini
dengan luas wilayah kawasan perencanaan 6.352 hektar. Diharapkan dimasa mendatang
kawasan ini menjadi pusat perekonomian jasa dan perdagangan komoditas pertanian dan
perkebunan terpadu, pusat pelayanan transportasi udara militer dan komersial, pusat
pendidikan tinggi, penunjang pelayanan kesehatan terpadu dan penunjang pelayanan
pemerintahan satu atap. Disamping konsep pengembangan yang diharapkan dimasa depan
tersebut, isu utama dalam wilayah perencanaan adalah adanya permukiman tradisional
masyarakat Papua didalam kawasan lindung (konservasi/preservasi) yang dapat tumbuh
sehingga perlu diatur. Selain itu dengan terbatasnya kawasan budidaya sebesar 10%,
dibutuhkan konsep pembangunan kawasan perkotaan Bokondini yang berkelanjutan.
Pembangunan berkelanjutan yang dimaksud bertujuan untuk mendorong/merangsang
pertumbuhan dan kesejahteraan ekonomi, mengurangi degradasi kualitas sosial dan
pelestarian lingkungan hidup.
Saat ini dokumen RTRW Kabupaten Tolikara telah mendapat persetujuan substansi dari
Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN) dan diharapkan adanya koordinasi dan
konsolidasi antara pelaksana kegiatan RTRW dan RDTR agar konsep pengembangan dapat
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 1 Pendahuluan | 2

selaras, serasi, seimbang dan efisien. Sehingga RDTR Kawasan Perkotaan Bokondini
menjadi pedoman untuk pemanfaatan dan pengendalian ruang di kawasannya.

1.2. MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN
1.2.1 Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan pada pekerjaan RDTR Kawasan Perkotaan Bokondini antara
lain:
1. Menyiapkan perwujudan ruang, dalam rangka pelaksanaan program pembangunan
kawasan pusat pertumbuhan dan pengembangan perkotaan Bokondini sebagai Pusat
Perekonomian Jasa dan Perdagangan Komoditas Pertanian dan Perkebunan Terpadu,
Pusat Pelayanan Transportasi Udara Militer dan Komersial, Pusat Pendidikan Tinggi,
Penunjang Pelayanan Kesehatan Terpadu dan Penunjang Pelayanan Pemerintahan
Satu Atap;
2. Menjaga konsistensi pembangunan dan keserasian perkembangan kawasan strategis
perkotaan dengan RTRW Kabupaten;
3. Menciptakan keterkaitan antar kegiatan yang selaras, serasi dan efisien;
4. Menjaga konsistensi perwujudan ruang kawasan melalui pengendalian program-
program pembangunan kawasan;
5. Mewujudkan ruang kawasan yang indah, berwawasan lingkungan, efisien dalam
alokasi investasi, bersinergi dan dapat dijadikan acuan dalam penyusunan program
pembangunan;
6. Menentukan struktur dan pola pemanfaatan ruang kawasan berdasarkan kondisi fisik,
aspek administrasi pemerintahan, aspek ekonomi, aspek sosial kependudukan dan
aspek pengurangan resiko bencana;
7. Menyusun rencana peruntukan jenis dan besaran fasilitas (perumahan dan
permukiman, perdagangan, pemerintahan dan sebagainya) dan utilitas (jalan,
drainase, kelistrikan, telekomunikasi, limbah cair, persampahan);
8. Menyusun pedoman bagi instansi dalam penyusunan zonasi sebagai pedoman untuk
penyusunan rencana rinci tata ruang/rencana teknik ruang kawasan perkotaan atau
rencana tata bangunan dan lingkungan, dan pemberian perizinan kesesuaian
pemanfaatan bangunan dan peruntukan lahan; dan
9. Menyusun arahan, strategis dan skala prioritas program pembangunan serta waktu
dan tahapan pelaksanaan pengembangan kawasan.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 1 Pendahuluan | 3

1.2.2 Sasaran
Sasaran dari kegiatan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan
Bokondini Kabupaten Tolikara antara lain:
1) Tersajinya data dan informasi ruang kawasan yang akurat dan aktual;
2) Teridentifikasinya potensi dan permasalahan kawasan sebagai masukan dalam proses
penentuan arah struktur dan pola ruang kawasan;
3) Terwujudnya keterpaduan program pembangunan antar sub-kawasan dalam kawasan
perkotaan maupun antar kawasan dalam wilayah kabupaten;
4) Tersusunnya arahan pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan;
5) Tersusunnya pedoman bagi pemerintah daerah dalam penyusunan peraturan zonasi,
pemberian advice planning, pengaturan bangunan setempat dan lingkungannya
(RTBL) serta pemberian perizinan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang;
6) Terciptanya keselarasan, keserasian, keseimbangan antar lingkungan permukiman
dalam kawasan;
7) Terkendalinya pembangunan kawasan strategis dan fungsional kabupaten, baik yang
dilakukan pemerintah maupun masyarakat/swasta;
8) Terciptanya percepatan investasi masyarakat dan swasta di dalam kawasan; dan
9) Terkoordinasinya pembangunan kawasan antara pemerintah dan masyarakat/swasta.

1.3. DASAR HUKUM
Kegiatan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini
Kabupaten Tolikara ini didasarkan pada beberapa peraturan perundangan sebagai berikut:
A. Undang-undang:
1. Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan
Ekosistemnya;
2. Undang-Undang No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Pengganti Undang-Undang No.1 tahun 2004 yang telah ditetapkan
dengan Undang-Undang No.19 tahun 2004;
3. Undang-Undang No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air;
4. Undang-Undang No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-
undangan;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 1 Pendahuluan | 4

5. Undang-Undang No. 38 tahun 2004 tentang Jalan;
6. Undang-Undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana;
7. Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
8. Undang-Undang No. 30 tahun 2007 tentang Energi;
9. Undang-Undang No. 12 tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas UU No.32/2004
tentang Pemerintah Daerah;
10. Undang-Undang No. 17 tahun 2008 tentang Pelayaran;
11. Undang-Undang No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara;
12. Undang-Undang No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
13. Undang-Undang No. 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan;
14. Undang-Undang No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup;
15. Undang-Undang No. 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan;
16. Undang-Undang No. 45 tahun 2009 tentang Perubahan atas UU No.31/2004 tentang
Perikanan; dan
17. Undang-Undang No. 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.
B. Peraturan Pemerintah:
1. Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 2000 tentang Ketelitian Peta untuk Penataan
Ruang Wilayah;
2. Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan
antara Pemerintah; Pemerintahan Daerah Propinsi, dan Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota;
3. Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional;
4. Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 2010 tentang Perubahan Fungsi Kawasan Hutan;
5. Peraturan Pemerintah No. 11 tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan
Tanah Terlantar;
6. Peraturan Pemerintah No. 15 tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan
Ruang; dan
7. Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 2010 tentang Penggunaan Kawasan Hutan.
C. Peraturan Presidan dan Keputusan Presiden:
1. Keputusan Presiden No. 57 tahun 1989 tentang Kriteria Kawasan Budidaya;
2. Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung;
3. Keputusan Presiden No. 4 Tahun 2009 tentang Badan Koordinasi Penataan Ruang
Nasional; dan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 1 Pendahuluan | 5

4. Keputusan Presiden No. 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional.
D. Peraturan Menteri dan Keputusan Menteri:
1. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 28 tahun 2008 tentang Tata Cara Evaluasi
Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Daerah; dan
2. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 50 tahun 2009 tentang Pedoman Koordinasi
Penataan Ruang Daerah.

1.4. RUANG LINGKUP
1.4.1. Lingkup Kegiatan
Adapun ruang lingkup kegiatan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan
Bokondini, meliputi:
1. Menentukan dan menetapkan kawasan perencanaan Bokondini.
2. Pengumpulan dan pengolahan data:
a. Persiapan survei lapangan;
b. Persiapan peralatan dan perlengkapan survei lapangan;
c. Metode dan program survei lapangan; terdiri atas pengambilan data sekunder,
pengambilan data primer, dan identifikasi lapangan. Adapun muatan data dan
informasi yang harus didapatkan di lapangan adalah sebagai berikut:
1. Fisik dasar kawasan, meliputi informasi dan data: topografi, hidrologi,
geologi, klimatologi, oceanografi, dan tata guna lahan;
2. Kependudukan, meliputi jumlah dan persebaran penduduk menurut ukuran
keluarga, umur, agama, pendidikan, dan mata pencaharian;
3. Perekonomian; meliputi data investasi, perdagangan, jasa, industri,
pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, pendapatan daerah, dan
lain-lain;
4. Penggunaan lahan, menurut luas dan persebaran kegiatan yang diataranya
meliputi: permukiman, perdagangan dan jasa, industri, pariwisata,
pertambangan, pertanian dan kehutanan dan lain-lain; dan
5. Tata bangunan dan lingkungan, meliputi: intensitas bangunan (KDB, KLB,
KDH), bentuk bangunan, arsitektur bangunan, pemanfaatan bangunan,
bangunan khusus, wajah lingkungan, daya tarik lingkungan (node,
landmark, dll), garis sempadan (bangunan, sungai, danau, SUTT).
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 1 Pendahuluan | 6

6. Prasarana dan utilitas umum:
o Jaringan transportasi:
 Jaringan; jalan raya dan jalur penerbangan (KKOP);
 Fasilitas; (terminal dan bandara);
 Kelengkapan jalan; halte, parkir, dan jembatan penyeberangan;
dan
 Pola pergerakan (angkutan penumpang dan barang).
o Air minum (sistem jaringan, bangunan pengolah, hidran); mencakup
kondisi dan jaringan terpasang menurut pengguna, lokasi bangunan
dan hidran, kondisi air tanah dan sungai, debit terpasang;
o Sewarage; air limbah rumah tangga;
o Sanitasi (sistem jaringan, bak kontral, bangunan pengolah); jaringan
terpasang, prasarana penunjang dan kapasitas;
o Drainase; sistem jaringan makro dan mikro, dan kolam penampung;
o Jaringan listrik; sistem jaringan (SUTT, SUTM, SUTR), gardu (induk,
distribusi, tiang/beton), sambungan rumah (domistik, non domistik);
o Jaringan komunikasi; jaringan, rumah telepon, stasiun otamat,
jaringan terpasang (rumah tangga, non rumah tangga, umum);
o Gas; sistem jaringan, pabrik, jaringan terpasang (rumah tangga, non
rumah tangga); dan
o Pengolahan sampah; sistem penanganan (skala individual, skala
lingkungan, skala daerah), sistem pengadaan (masyarakat, pemerintah
daerah, swasta).
7. Identifikasi daerah rawan bencana, meliputi lokasi, sumber bencana,
besaran dampak, kondisi lingkungan fisik, kegiatan bangunan yang ada,
fasilitas dan jalur kendali yang telah ada.

d. Elaborasi
Kegiatan elaborasi adalah kegiatan yang meliputi: (i) elaborasi penduduk; dan
(ii) elaborasi kebutuhan sektoral. Kegiatan ini memperhitungkan kemampuan
lokasi perencanaan menampung penduduk dalam kawasan perencanaan.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 1 Pendahuluan | 7

3. Analisa kawasan perencanaan, meliputi:
a. Analisa struktur kawasan perencanaan, yang meliputi analisis penduduk,
analisis fungsi ruang, analisis sistem jaringan pergerakan;
b. Analisa peruntukan blok rencana, yang meliputi analisis pembagian blok,
analisis peruntukan lahan, analisis fasilitas lingkungan, analisis mitigasi
bencana;
c. Analisa prasarana transportasi, meliputi analisis angkutan jalan raya, angkutan
kereta api, angkutan air, angkutan udara;
d. Analisa utilitas umum, meliputi analisis air minum, drainase, air limbah,
persampahan, kelistrikan, telekomunikasi dan gas;
e. Analisa amplop ruang, meliputi analisis:
1. Intensitas pemanfaatan ruang terdiri atas (i) Koefisien Dasar Bangunan
(KDB), (ii) Koefisien Lantai Bangunan (KLB), (iii) Koefisein Dasar Hijau (KDH),
(iv) Koefisien Tapak Basement (KTB), (v) Koefisien Wilayah Terbangun
(KWT), (vi) Kepadatan Bangunan dan Penduduk; dan
2. Tata massa bangunan, meliputi (i) pertimbangn garis sempadan bangunan
(GSB), (ii) garis sempadan sungai (GSS) dan jarak bebas bangunan, (iii)
pertimbangan garis sempadan danau dan waduk, (iv) pertimbangan tinggi
bangunan, (v) pertimbangan selubung bangunan, (vi) pertimbangan tampilan
bangunan.
f. Analisa kelembagaan dan peran masyarakat, meliputi (i) identifikasi aspirasi
dan analisis permasalahan aspirasi masyarakat, (ii) analisis perilaku lingkungan,
(iii) analisis perilaku kelembagaan, (iv) analisis metoda dan sistem.
4. Perumusan konsep rencana dan ketentuan teknis rencana detail:
a. Konsep rencana, pengembangan struktur ruang kawasan, peruntukan lahan
blok-blok serta indikasi hierarki pelayanan;
b. Penyusunan produk rencana detail tata ruang;
c. Rencana struktur ruang kawasan, meliputi (i) rencana persebaran penduduk
yaitu jumlah dan kepadatan penduduk; (ii) struktur kawasan perencanaan yaitu
struktur fungsi dan peran kawasan; (iii) rencana blok kawasan; (iv) rencana
skala pelayanan; (v) rencana sistem jaringan yang meliputi jalan raya, fasilitas
jalan raya, jalan kereta api, angkutan air, angkutan udara; (vi) rencana sistem
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 1 Pendahuluan | 8

jaringan utilitas, meliputi jaringan air minum, listik, gas, drainase, air limbah,
persampahan;
d. Rencana peruntukan blok meliputi perumahan, perdagangan dan jasa, industri
dan perdagangan, pertambangan, pariwisata,
agropolitan/pertanian/agroforestry, ruang terbuka hijau, ruang terbuka non
hijau
e. Rencana penataan bangunan dan lingkungan (amplop ruang), meliputi tata
kualitas lingkungan, tata bangunan, arah garis sempadan;
f. Indikasi program pembangunan, meliputi lokasi, jumlah, waktu dan
pembiayaan terhadap (i) bangunan/jaringan/lingkungan baru yang akan
dibangun, (ii) bangunan/jaringan/lingkungan yang akan ditingkatkan, (iii)
bangunan/jaringan/lingkungan yang akan diperbaiki, (iv)
bangunan/jaringan/lingkungan yang akan diperbaharui, (v)
bangunan/jaringan/lingkungan yang akan dipugar, (vi)
bangunan/jaringan/lingkungan yang akan dilindungi.
5. Proses Pendampingan Legalisasi rencana detail tata ruang.
6. Pengendalian rencana detail, meliputi aturan zonasi, aturan insentif dan dis
insentif, perijinan dan pengendalian pemanfaatan ruang.
7. Kelembagaan dan peran serta aktif masyarakat, meliputi:
a. Peran kelembagaan; dan
b. Peran masyarakat.

1.4.2. Lingkup Wilayah dan Kawasan Perencanaan
Kawasan perencanaan merupakan bagian dari wilayah perencanaan yang diarahkan
menjadi kawasan perkotaan dan menjadi fokus penyusunan rencana hingga kedalaman
block plan. Kawasan perencanaan mencakup suatu kawasan atau beberapa kawasan dan di
dalamnya terbentuk fungsi-fungsi lingkungan tertentu yang saling terkait.
Lingkup kawasan perencanaan akan ditetapkan lebih detail pada tahap awal kajian dengan
disepakati dengan Tim Teknis dan stakeholders terkait. Adapun kriteria dari kawasan
perencanaan adalah:
1. Bagian wilayah kabupaten dengan batas administrasi;
2. Bagian wilayah kabupaten dengan tema/karakter kawasan tertentu;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 1 Pendahuluan | 9

3. Suatu kecamatan, dengan batas administrasinya; dan
4. Suatu bagian wilayah perencanaan yang mempunyai fungsi atau potensi
pengembangan fungsi perkotaan.

1.5. KELUARAN
Keluaran dari pekerjaan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan
Bokondini Kabupaten Tolikara, Papua adalah:
1. Dokumen Laporan Pendahuluan.
2. Dokumen Data Fakta dan Analisa (Antara).
3. Dokumen Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini
Kabupaten Tolikara, Papua.
4. Album peta (A3) dengan skala 1: 5.000.
5. Ringkasan Eksekutif Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Bokondini
Kabupaten Tolikara, Papua.
6. Rancangan peraturan daerah (RANPERDA).

Produk Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini, adalah sebagai
berikut:
1. Konsep pengembangan kawasan perkotaan;
2. Tujuan pengembangan kawasan fungsional perkotaan;
3. Rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang kawasan
a. Rencana Distribusi Penduduk Kawasan setiap blok peruntukan;
b. Rencana Struktur Pelayanan Kegiatan Kawasan, yang mencakup:
1.) Pelayanan perdagangan;
2.) Pelayanan pendidikan;
3.) Pelayanan kesehatan; dan
4.) Pelayanan rekreasi dan atau olah raga.
c. Rencana sistem jaringan transportasi kawasan; dan
d. Rencana sistem jaringan utilitas kawasan.
4. Rencana blok pemanfaatan ruang (block plan)
a. Kawasan Budidaya, meliputi:
1.) Kawasan perumahan dan permukiman;
2.) Kawasan perdagangan;
3.) Kawasan industri;
4.) Kawasan pendidikan;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 1 Pendahuluan | 10

5.) Kawasan kesehatan;
6.) Kawasan peribadatan;
7.) Kawasan rekreasi;
8.) Kawasan olahraga;
9.) Kawasan fasilitas sosial lainnya;
10.) Kawasan perkantoran pemerintah dan niaga;
11.) Kawasan terminal angkutan jalan raya;
12.) Kawasan pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan;
13.) Taman pemakaman umum, taman pemakaman pahlawan; dan
14.) Tempat pembuangan sampah akhir.
b. Kawasan Lindung, meliputi:
1.) Kawasan resapan air dan kawasan yang memberikan perlindungan bagi
kawasan bawahan lainnya;
2.) Sempadan sungai, sekitar danau dan waduk, sekitar mata air, dan kawasan
terbuka hijau kota termasuk jalur hijau;
3.) Cagar alam/pelestarian alam, dan suaka margasatwa;
4.) Taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam lainnya;
5.) Kawasan cagar budaya; dan
6.) Kawasan rawan letusan gunung berapi, rawan gempa, rawan tanah longsor,
rawan gelombang pasang dan rawan banjir.
5. Pedoman pelaksanaan pembangunan kawasan:
a. Arahan Kepadatan Bangunan setiap blok peruntukan;
b. Arahan Ketinggian Bangunan setiap blok peruntukan;
c. Arahan Perpetakan Bangunan setiap blok peruntukan;
d. Arahan Garis Sempadan setiap blok peruntukan;
e. Rencana Penanganan setiap blok peruntukan, mencakup:
1.) Bangunan/jaringan baru yang akan dibangun;
2.) Bangunan/jaringan yang akan ditingkatkan;
3.) Bangunan/jaringan yang akan diperbaiki;
4.) Bangunan/jaringan yang akan diperbaharui;
5.) Bangunan/jaringan yang akan dipugar; dan
6.) Bangunan/jaringan yang akan dilindungi.
f. Rencana Penanganan Prasarana dan Sarana setiap blok peruntukan
1.) Jaringan prasarana dan sarana baru yang akan dibangun;
2.) Jaringan prasarana dan sarana yang akan ditingkatkan;
3.) Jaringan prasarana dan sarana yang akan diperbaiki;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 1 Pendahuluan | 11

4.) Jaringan prasarana dan sarana yang akan diperbaharui;
5.) Jaringan prasarana dan sarana yang akan dipugar; dan
6.) Pedoman pengendalian pemanfaatan ruang.
g. Mekanisme advis planning perijinan sampai dengan pemberian ijin lokasi bagi
kegiatan perkotaan;
h. Mekanisme pemberian insentif dan disinsentif;
i. Mekanisme pemberian kompensasi;
j. Mekanisme pelaporan;
k. Mekanisme pemantauan;
l. Mekanisme evaluasi; dan
m. Mekanisme pengenaan sanksi.

1.6. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Laporan Pendahuluan ini disusun dalam 9 bab, yang dapat dijabarkan secara detail
sebagai berikut:
BAB 1 adalah PENDAHULUAN: mendeskripsikan latar belakang, maksud, tujuan dan
sasaran, ruang lingkup pekerjaan, jangka waktu pelaksanaan, keluaran, serta sistematika
pembahasan.
BAB 2 adalah PEMAHAMAN TERHADAP PEKERJAAN: mendeskripsikan pemahaman
terhadap pemahaman terhadap lingkup dan substansi pekerjaan.
BAB 3 adalah TINJAUAN PERATURAN DAN KEBIJAKAN TERKAIT: mendeskripsikan
berbagai peraturan perundangan yang mengatur penataan ruang, serta payung hukum dan
kebijakan perencanaan yang melandasi penyusunan Penyusunan Rencana Detail Tata
Ruang Kawasan Perkotaan Bokondini.
BAB 4 adalah GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN:
mendeskripsikan mengenai berbagai hal umum terkait dengan kondisi dan karakteristik
Wilayah dan Kawasan Perencanaan, yang mencakup batasan administratif, kondisi fisik
dasar, hidrologi dan drainase, guna lahan eksisting, kondisi sosial kependudukan, kondisi
perekonomian, kondisi prasarana dan sarana pendukung kegiatan perkotaan.
BAB 5 adalah PENDEKATAN DAN METODOLOGI: mendeskripsikan pendekatan dan
metodologi yang dilakukan untuk melaksanakan pekerjaan.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 1 Pendahuluan | 12

BAB 6 adalah RENCANA KERJA DAN JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN:
mendeskripsikan rencana kerja, yaitu tahapan kegiatan yang dilakukan untuk
menghasilkan keluaran pekerjaan beserta tabulasi jadwal pelaksanaan pekerjaan.
BAB 7 adalah ORGANISASI PELAKSANA PEKERJAAN: mendeskripsikan organisasi
pelaksanaan pekerjaan, yaitu diagram dan struktur organisasi serta mekanisme kerja baik
antara Pihak Konsultan dengan Pihak Pemberi Kerja maupun di dalam Pihak Konsultan.
BAB 8 adalah GAGASAN DAN KONSEP PERENCANAAN: mendeskripsikan gagasan/konsep
pengembangan wilayah yang akan dijadikan pengarah pengembangan fisik ruang dan
pengarah pembangunan prasarana dan sarana di wilayah pengembangan atau area
development dalam rangka pemenuhan basic need prasarana dasar hingga kepada
perkembangan sosial ekonomi wilayah atau development need yang didasarkan pada
pertumbuhan wilayah.
BAB 9 adalah PROGRAM SURVEI: mendeskripsikan berbagai persiapan survei yang akan
dilakukan secara sistematis dan terprogram, dengan berisikan penjabaran penetapan
kebutuhan data dan informasi; metode survei; proses survei; jadwal survei; checklist
kebutuhan data dan informasi; serta instrumen jajak pendapat (questionnaire).


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 1

2.1. PEMAHAMAN TERHADAP RUANG LINGKUP

2.1.1. Pemahaman Terhadap Lingkup Kegiatan
Berdasarkan pemahaman konsultan terhadap Kerangka Acuan Kerja (KAK), pada
dasarnya lingkup kegiatan dalam Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Bokondini
adalah:
1. Penentuan kawasan perencanaan.
Penentuan kawasan perencanaan merupakan kegiatan awal sebelum
dilakukan analisis dan penyusunan rencana. Maksud dari penentuan kawasan
perencanaan adalah untuk mengidentifikasi bagian mana pada wilayah
perencanaan, dalam hal ini Distrik Bokondini, Distrik Kaboneri dan sebagian
Distrik Bewani yang akan menjadi fokus pengembangan perkotaan.
Sebagaimana diketahui, bahwa mayoritas wilayah perencanaan merupakan
kawasan lindung, dan hanya sebagian kecil yang berpotensi sebagai kawasan
budidaya. Di antara luas potensi kawasan budidaya tersebut, terdapat bagian
yang kemudian diprioritaskan untuk dikembangkan sebagai kawasan
perkotaan. Kawasan inilah yang kemudian akan direncanakan secara
mendetail hingga blok perencanaan.
2. Identifikasi permasalahan pembangunan dan perwujudan ruang kawasan.
Merupakan upaya memahami isu-isu strategis pengembangan wilayah distrik
yang harus diperhatikan berkaitan dengan bidang ekonomi, sosial-budaya dan
lingkungan yang akan menjadi prioritas penanganan serta menjadi bahan
pertimbangan bagi penyusunan rencana detail tata ruang. Sasaran yang
hendak dicapai pada tahap ini adalah untuk membuat rumusan isu strategis di
wilayah distrik dilihat dari perspektif tata ruang wilayah kecamatan/distrik
berkaitan dengan ekonomi sosial budaya, lingkungan dan kerawanan bencana.
Masukan yang diperlukan berupa permasalahan pengembangan wilayah distrik
dan arahan kebijakan pembangunan Kabupaten/Kota pada wilayah distrik
yang direncanakan. Setidaknya identifikasi masalah dan perwujudan ruang
kawasan ditinjau terhadap faktor eksternal dan internal kawasan.
Faktor eksternal adalah faktor yang bersumber dari luar wilayah
perencanaan, namun mempengaruhi arah dan besaran pengembangan wilayah
perencanaan, seperti: Undang-Undang, kebijakan pembangunan nasional,
provinsi maupun kebijakan pembangunan Kabupaten/Kota yang meliputi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 2

kebijakan spasial Kabupaten/Kota yang tertuang dalam RTRW
Kabupaten/Kota, rencana strategis Kabupaten/Kota maupun kebijakan
sektor-sektor terkait yang berpengaruh terhadap pengembangan
kecamatan/distrik. Dari faktor-faktor ekternal ini selanjutnya dilakukan
analisis terhadap peluang dan ancaman faktor eksternal terhadap
perkembangan kawasan perencanaan.
Faktor Internal yaitu faktor yang bersumber dari dalam wilayah perencanaan,
dan mempengaruhi arah dan besaran pengembangan wilayah perencanaan,
seperti: faktor ekonomi sosial budaya; kondisi fisik dan lingkungan wilayah;
faktor daya serap dan daya tangkal sosial-budaya setempat terhadap suatu
perkembangan; serta kesiapan perangkat kelembagaan untuk berkembangnya
kawasan.
3. Perkiraan kebutuhan pelaksanaan pembangunan kawasan
Perkiraan kebutuhan pengembangan kawasan didasarkan pada hasil analisis
data dan fakta yang telah dikumpulkan. Hal ini merupakan bagian dari
analisis spasial untuk mengetahui kondisi unsur-unsur pembentuk ruang serat
hubungan sebab akibat terbentuknya kondisi ruang wilayah, baik analisis
terhadap kondisi sekarang maupun kecenderungan di masa depan.
Adapun muatan analisis ini adalah:
a. Analisis struktur kawasan
Mengidentifikasi arah perkembangan pembangunan kawasan, dengan
memperhatikan karakteristik dan daya-dukung fisik lingkungan serta
dikaitkan dengan tingkat kerawanan terhadap bencana, dan arahan
kebijakan pengembangan spasial di atasnya.
b. Analisis peruntukan blok
Analisis peruntukan blok kawasan melakukan kajian terhadap
peruntukan dan pola ruang yang ada, dan pergeseran serta permintaan
dikemudian waktu, berdasarkan pertimbangan distribusi penduduk,
tenaga kerja, aksesibilitas, nilai dan harga lahan, daya dukung lahan,
daya dukung lingkungan, daya dukung prasarana, dan nilai properti
lainnya.



Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 3


c. Analisis prasarana dan sarana lingkungan
Untuk mengatur kebutuhan distribusi, luas lahan dan ukuran fasilitas
sosial ekonomi, yang diatur dalam struktur zona dan blok dan sub blok
peruntukan.
d. Analisis utilitas lingkungan
Untuk mengidentifikasi kemungkinan dimensi, lokasi, pemanfaatan
ruang jalan sebagai jalur distribusi untuk jaringan utilitas, dengan
mempertimbangkan topografi, volume, debit, lokasi/lingkungan
perencanaan, tingkat pelayanan, dan sebagainya.
e. Analisis mitigasi bencana
Untuk meniliti dan mengkaji sumber bencana, lingkup atau luasan
dampak, dan kebutuhan pengendalian bencana, agar tercipta lingkungan
permukiman yang aman, nyaman, dan produktif.
f. Analisis transportasi
Untuk mengatur dan menentukan kebutuhan jaringan pergerakan dan
fasilitas penunjangnya, menurut struktur zona, blok dan sub blok
peruntukan, sehingga tercipta ruang yang lancar, aman, nyaman, dan
terpadu, berdasarkan pertimbangan distribusi penduduk, tenaga kerja,
daya dukung lahan, daya dukung lingkungan jalan, daya dukung
prasarana yang ada.
g. Analisis amplop ruang
Untuk mewujudkan keserasian dan keasrian lingkungan, dengan
menetapkan intensitas pemanfaatan lahan didalam kawasan (image
arsitektur, selubung bangunan, KDB, KLB, KDH, KDNH).
h. Analisis kelembagaan dan peran serta masyarakat
Dilakukan dengan mengkaji struktur kelembagaan yang ada, fungsi dan
peran lembaga, meknisme peran masyarakat, termasuk media serta
jaringan untuk keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan,
pemanfaatan, dan pengendalian serta pengawasan.
4. Perumusan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan.
Perumusan RDTR terdiri dari beberapa aspek penting, yaitu:
a. Konsep Rencana dan Ketentuan Teknis Rencana Detail
Konsep rencana disusun berdasarkan hasil analisis masalah dan potensi
kawasan, termasuk unit-unit lingkungannya, sehingga menghasilkan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 4

suatu hipotesa awal. Hipotesa awal dirumuskan berdasarkan
kemungkinan deviasi hasil prediksi, pengaruh ekonomi makro, kebijakan-
kebijakan pemerintah, dan ketidakpastian yang dianggap akan
mempengaruhi struktur dan peruntukan ruang dimasa mendatang.
Berdasarkan konsep rencana yang telah dirumuskan, maka disusun
Ketentuan Teknis Rencana Detail (Produk RDTR), yang terdiri dari:
1.) Rencana struktur ruang kawasan
Muatan struktur disusun menurut simpul dan sentra kegiatan dari
fungsi ruang, dan dirinci menurut blok-blok perencanaan.
2.) Rencana peruntukan blok
Muatan peruntukan blok dituangkan dalam bentuk rencana
peruntukan, dan dirinci menurut blok-blok perencanaan.
3.) Rencana penataan bangunan dan lingkungan (amplop ruang)
Penataan Bangunan dan Lingkungan atau dikenal istilah amplop
ruang, merupakan hasil analisis daya dukung lahan, daya tampung
ruang dan kekuatan investasi serta ekonomi setempat, memuat
gambaran dasar penataan pada lahan kawasan perencanaan yang
selanjutnya dijabarkan dalam pengaturan bangunan, pengaturan
antar bangunan, dan penataan lingkungan fungsional.
4.) Indikasi program pembangunan
Petunjuk yang memuat usulan program utama, lokasi, besaran,
waktu pelaksanaan, sumber dana, dan instansi pelaksana dalam
rangka mewujudkan ruang distrik yang sesuai dengan rencana tata
ruang yang dimaksud.
b. Pengendalian Rencana Detail
Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah kegiatan yang berkaitan
dengan pengawasan dan penertiban agar pemanfaatan ruang sesuai
dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Pengawasan
dimaksudkan untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan
fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana yang diselenggarakan dalam
bentuk pelaporan, pemantauan, dan evaluasi pemanfaatan ruang.
Penertiban pemanfaatan ruang adalah usaha untuk mengambil tindakan
agar pemafaatan ruang yang direncanakan dapat terwujud.
Komponen pengendalian pemanfaatan ruang dalam RDTR kawasan
adalah:
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 5

1.) Zonasi
Zona adalah kawasan dengan peruntukan khusus yang memiliki
potensi atau permasalahan yang mendesak untuk ditangani dalam
mewujudkan tujuan perencanaan dan pengembangan kawasan.
2.) Aturan insentif dan disinsentif
Ketentuan pemberian insentif dimaksudkan sebagai upaya untuk
memberikan imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan
dengan rencana tata ruang, baik yang dilakukan oleh masyarakat
maupun oleh pemerintah daerah, dan sebaliknya untuk pemberian
disinsentif.
3.) Perizinan dalam pemanfaatan ruang
Izin pemanfaatan ruang adalah izin yang dipersyaratkan dalam
kegiatan pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
c. Kelembagaan dan Peran Serta Aktif Masyarakat
Penyusunan RDTR kawasan haruslah bersifat partisipatif dan dinamis,
baik secara kelembagaan maupun melalui pelibatan masyarakat.
1.) Peran kelembagaan
Lembaga formal pemerintah yang terlibat dalam penataan ruang
adalah Pemerintah Daerah dalam rangka pengaturan, pembinaan,
pelaksanaan dan pengawasan penataan ruang, serta koordinasi
penyelenggaraan penataan ruang lintas sektor, lintas wilayah dan
lintas pemangku kepentingan. Pelaksanaan penyusunan RDTR
Kabupaten dilaksanakan oleh lembaga formal pemerintah kabupaten
dibawah koordinasi BAPPEDA Kota dan didukung oleh dinas/instansi
terkait
2.) Peran serta masyarakat
Peran serta masyarakat dalam penataan ruang dilakukan pada
setiap tahap penataan ruang
5. Penetapan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan (Legalisasi).
Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten perlu adanya suatu upaya penetapan
rencana tata ruang dalam bentuk PERDA, dengan mempersiapkan hal-hal
sebagai berikut:
a. Tim pengarah bersama-sama dengan Tim Pelaksana menyarikan bagian-
bagian esensial dari RDTR Kabupaten untuk menjadi materi RAPERDA;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 6

b. Tim Pengarah dibantu oleh bagian Hukum Kantor Sekretariat Daerah
Kabupaten menyusun konsep RAPERDA;
c. Tim Pengarah dibantu oleh Tim Pelaksana melakukan uji publik, melalui
sosialisasi kepada masyarakat yang terkena dampak, maupun kepada
investor;
d. RAPERDA RDTR diajukan kepada Gubernur untuk persetujuan, sebelum
diserahkan kepada DPRD;
e. DPRD melakukan uji materi RAPERDA RDTR, untuk disahkan sebagai
Rancangan Peraturan Daerah; dan
f. Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten yang bersangkutan ditetapkan
dengan persetujuan DPRD dalam bentuk Peraturan Daerah.

2.1.2. Pemahaman Terhadap Lingkup Wilayah dan Kawasan Perencanaan
Ruang lingkup wilayah perencanaan merupakan seluruh Kawasan Perkotaan
Bokondini, dimana lingkup tersebut meliputi seluruh ruang daratan (termasuk
gunung, hutan, dan lain-lain), ruang perairan (sungai) serta kawasan konsentrasi
perkotaan, yang berada di Distrik Bokondini, Distrik Kaboneri dan sebagian wilayah
Distrik Bewani.
Sementara itu lingkup dari kawasan perencanaan sendiri akan difokuskan pada
kawasan yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi Kawasan Perkotaan. Delineasi
dari kawasan perencanaan itu sendiri akan ditetapkan lebih detail pada tahap awal
kajian dengan disepakati dengan Tim Teknis dan stakeholders terkait.

2.2. PEMAHAMAN TERHADAP MUATAN RDTR KAWASAN
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) kawasan memuat tujuan pengembangan, rencana
fasilitas umum, rencana peruntukan blok, rencana penataan bangunan dan
lingkungan (amplop ruang), indkasi program pembangunan, pengendalian rencana
detail tata ruang.
1. Tujuan Pengembangan
Tujuan pengembangan kota dirumuskan sesuai dengan karakter kota yang
telah ditetapkan dalam perencanaan. Tujuan juga telah mempertimbangkan
urgensi permasalahan ruang kota yang harus segera disusun pengendalian
pelaksanaan pembangunannya.

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 7

2. Rencana Struktur Ruang
Materi pokok dari muatan rencana struktur ruang adalah:
a. Rencana persebaran penduduk
Muatan rencana persebaran penduduk harus memperhatikan sifat-
sifat ruang, yaitu: ketersediaan lahan, kondisi fisik, besaran kegiatan
ekonomi yang akan dikembangkan, serta pertumbuhan penduduk
yang direncanakan oleh rencana di atasnya.
Pengelompokan materi yang diatur:
Jumlah penduduk yang menunjukkan pertumbuhan dan
perkembangan penduduk sampai akhir, meliputi:
1) Tahun rencana, dan kepadatan penduduk diklasifikasikan
menurut tingkat kepadatan;
2) Jumlah penduduk diatur menurut struktur penduduk menurut
ukuran keluarga, umur, pendidikan, agama, dan mata
pencaharian;
3) Kepadatan penduduk dapat diklasifikasikan kedalam 3 (tiga)
kelas yaitu:
 Kepadatan tinggi;
 Kepadatan sedang; dan
 Kepadatan rendah.

b. Struktur Ruang
Muatan struktur disusun menurut simpul dan sentra kegiatan dari
fungsi ruang, dan dirinci menurut blok-blok perencanaan. Faktor
pembentuk utama struktur ruang perencanaan dapat berupa:
struktur zona perencanaan, struktur pelayanan kegiatan dan sistem
jaringan pergerakan, dan sistem utilitas. Struktur ruang perencanaan
merupakan jenjang fungsi dan peran ruang yang melekat pada
kawasan atau yang akan dicapai dalam pengembangan ruang
tersebut.
Pengelompokan materi yang diatur:
Pembagian struktur zona perencanaan dapat dipisahkan dalam pola
zona menurut kawasan fungsional, pertama yaitu pola pengembangan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 8

kawasan yang terkait dengan perlindungan setempat, dan kedua pola
pengembangan permukiman.
1) Struktur ruang perencanaan pada kawasan berciri perlindungan
setempat/konservasi/mitigasi bencana, adalah kawasan cagar
budaya, kawasan rawan bencana, kawasan daerah aliran sungai
dan lainnya.
 Zona utama: pemanfaatan lahan merupakan objek/kegiatan
utama dari fungsi ruang, yang harus dilindungi dan dibatasi
aktifitas diluar kegiatan utama (seperti zona konservasi,
rawan bencana);
 Zona pendukung: pemanfaatan lahan merupakan kegiatan
yang menunjang dan memperkuat sekaligus melindungi
fungsi kawasan (seperti zona pembangunan); dan
 Zona pelengkap: Pemanfaatan lahan merupakan kegiatan
yang melengkapi fungsi kawasan: permukiman dan
pelayanan skala yang lebih luas (seperti zona
pengembangan).
2) Struktur ruang perencanaan pada kawasan berciri permukiman,
adalah kawasan perumahan, perdagangan dan jasa, kawasan
industri, kawasan kota mandiri, dan lainnya.
 Zona utama: pemanfaatan lahan merupakan objek/kegiatan
utama dari fungsi kawasan, yang mempunyai intensitas
tinggi, dan kegiatan yang produktif dengan skala pelayanan
wilayah, kawasan atau lebih luas;
 Zona pendukung: pemanfaatan lahan merupakan kegiatan
transisi yang menunjang dan mempunyai intensitas sedang
sampai dengan tinggi, dan kegiatan bersifat campuran; dan
 Zona pelengkap: pemanfaatan lahan merupakan kegiatan
yang melengkapi fungsi kawasan utama dengan intensitas
rendah sampai sedang, yaitu kegiatan perumahan, rekreasi,
dan skala pelayanan kegiatan lokal atau lingkungan.
c. Rencana Blok
Kriteria pengaturan blok
1) Menggambarkan ukuran, fungsi serta karakter kegiatan manusia
dan atau kegiatan alam;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 9

2) Setiap blok memiliki kesamaan fungsi dan karakteristik yang
akan dibentuk;
3) Memiliki homogenitas pemanfaatan ruang dan kesamaan
karakteristik serta kemungkinan pengembangannya (unit
lingkungan);
4) Kebutuhan pemilahan dan strategi pengembangannya;
5) Secara fisik: mengikuti morfologi blok, pola (pattern) dan
ukuran blok, kemudahan implementasi dan prioritas strategi;
6) Pertimbangan lingkungan: keseimbangan dengan daya dukung
lingkungan, dan perwujudan sistem ekologi; dan
7) Tercipta peningkatan kualitas lingkungan kegiatan yang aman,
nyaman, sehat dan menarik, serta berwawasan ekologis (ruang
terbuka dan tata hijau).
d. Rencana Skala Pelayanan Kegiatan
Rencana Skala Pelayanan Kegiatan meliputi semua sistem kegiatan
primer, dan sistem kegiatan sekunder; sampai pada kegiatan lokal
dan lingkungan.
Pengelompokan materi yang diatur:
1) Kegiatan sentra primer, yaitu sebagai pusat kegiatan ekonomi
berskala regional, pusat kegiatan pemerintahan dan skala
sarana wilayah (daerah):
 Kegiatan perdagangan dan jasa:, terutama melayani
perdagangan besar meliputi grosir, pasar;
 Induk, supermall, pusat perdagangan barang eceran primer,
pergudangan, pusat perkantoran;
 Kegiatan pemerintahan: meliputi kantor Bupati dan
perkantoran pemerintah setingkat Bupati;
 Kegiatan fasilitas umum: masjid agung, taman kota,
terminal Kelas A, stasiun KA, bandara udara, pelabuhan
samudera, taman parkir, kantor pelayanan umum, Rumah
Sakit tipe A dan B, dan stadion; Kegiatan pendidikan:
perguruan tinggi, balai latihan dan penelitian; dan
 Perumahan, wisma susun, ruko, rukan.
2) Kegiatan sentra sekunder, yaitu sebagai pusat kegiatan
ekonomi, pusat pemerintahan dan sarana daerah skala sub
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 10

wilayah, dengan jangkauan pelayanan beberapa distrik. Corak
pelayanan mengarah kepada kegiatan perdagangan eceran,
kegiatan jasa pribadi dan jasa perdagangan:
 Kegiatan perdagangan dan jasa: terutama melayani
perdagangan eceran, barang-barang kebutuhan sekunder,
bengkel mobil, pusat onderdil kendaraan, dan lainnya;
 Kegiatan pemerintahan, meliputi kantor camat, dan
lembaga setingkat distrik;
 Kegiatan fasilitas umum: masjid distrik, taman lingkungan,
terminal Kelas B, taman parkir, kantor pelayanan umum, RS
pembantu tipe C, puskesmas, apotik, laboratorium,
lapangan bola;
 Kegiatan pendidikan: SLTA, SLTP, dan kursus; dan
 Perumahan: ruko, dan rukan.
3) Kegiatan sentra tersier/lokal, yaitu sebagai pusat kegiatan
ekonomi, pusat pemerintahan dan sarana daerah berskala
lingkungan, dengan jangkauan pelayanan
kelurahan/desa/kampung atau beberapa RW. Corak pelayanan
perdagangan eceran dan kegiatan pribadi:
 Kegiatan perdagangan dan jasa: terutama melayani
perdagangan eceran, sepert toko, warung dan lainnya;
 Kegiatan pemerintahan, meliputi kantor kelurahan atau
desa/kampung;
 Kegiatan fasilitas umum: masjid, taman lingkungan, balai
pengobatan, klinik, puskesmas pembantu, jalur hijau;
 Kegiatan pendidikan: sekolah dasar, taman kanak-kanak;
 Perumahan: tunggal dan deret.
e. Rencana Sistem Jaringan
Rencana sistem jaringan terdiri dari dua bagian besar, yaitu:
1) Rencana sistem jaringan pergerakan
Rencana sistem jaringan pergerakan meliputi materi yang
direncanakan dan materi yang diatur. Materi yang diatur
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 11

meliputi sistem jaringan primer dan sekunder, sedangkan
materi yang direncanakan adalah sistem jaringan lokal.
Pengelompokan materi yang diatur
 Jalan raya;
 Fasilitas jalan raya; dan
 Angkutan udara.
2) Rencana sistem jaringan utilitas
 Kegiatan penyediaan dan pengelolaan air minum;
 Prasarana drainase;
 Prasarana air limbah;
 Prasarana persampahan;
 Prasarana kelistrikan;
 Prasarana telekomunikasi; dan
 Prasarana gas
3. Rencana Fasilitas Umum
Rencana fasilitas umum yang dimaksud adalah upaya pemenuhan kebutuhan
fasilitas umum berdasarkan standar kebutuhan minimum dan daya jangkau
maksimal dalam pelayanan fasilitas umum sesuai kebutuhan dan fungsinya.
Komponen rencana:
a. Fasilitas sosial dan umum;
b. Fasilitas ekonomi;
c. Bangunan bersejarah;
d. Ruang Terbuka Hijau (RTH); dan
e. Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH).
4. Rencana Peruntukan Blok
a. Kegiatan Perumahan
Komponen rencana:
1) Tipe perumahan yang terdiri dari rumah renggang, rumah deret
dan rumah susun; dan
2) Klasifikasi perancangan kawasan perumahan, baik kawasan
perumahan perkotaan maupun kawasan perumahan perdesaan.

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 12

b. Kawasan Perdagangan dan Jasa
Komponen rencana:
1) Penjabaran peruntukan perkantoran meliputi perkantoran
pemerintah dan kantor swasta;
2) Penjabaran peruntukan lahan perdagangan dan jasa tunggal
meliputi perdagangan dan jasa tunggal kecil, perdagangan dan
jasa tunggal sedang dan perdagangan dan jasa tunggal besar;
3) Penjabaran keterpaduan lokasi antara usaha besar, sedang dan
kecil, atau pengaturan lokasi usaha modern dan tradisional,
termasuk didalamnya sektor informal;
4) Penjabaran usaha bagi sektor informal dapat dialokasikan
secara khusus seperti penggunaan lahan bersama antara sektor
informal dan sektor formal pada penggunaan ruang publik
dengan pengaturan waktu yaitu siang penggunaan publik sektor
formal dan dimalam hari penggunaan ruang untuk sektor
informal;
5) Penjabaran usaha kedalam daya dukung penduduk, daya dukung
ekonomi setempat, dan daya dukung lingkungan (termasuk
memiliki IPAL); dan
6) Penjabaran usaha perdagangan dan jasa kedalam pengaturan
tata bangunan dan lingkungan untuk menciptakan keserasian,
kenyamanan dan pembentukan karakter kawasan.
c. Kegiatan Industri dan Pergudangan
Komponen rencana:
1) Penjabaran peruntukan lahan industri meliputi industri kecil,
industri sedang dan industri besar;
2) Penjabaran peruntukan lahan pergudangan meliputi
pergudangan terbuka dan pergudangan tertutup;
3) Penjabaran kegiatan industri dan pergudangan sesuai, daya
dukung ekonomi (sumber alam, atau pasar), dan fasilitas
pendukung (aksesibilitas, air, tenaga kerja, perumahan,
pengolahan limbah); dan
4) Penjabaran kegiatan industri dan pergudangan sesuai dengan
standar baku lingkungan, keamanan, kenyamanan dengan
kegiatan sekitarnya.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 13

d. Kegiatan Pariwisata
Komponen rencana:
1) Pengembangan wisata di zona publik (untuk kegiatan wisata
umum);
2) Pengembangan wisata di zona semi publik (untuk kegiatan
wisata bagi masyarakat sekitar obyek wisata);
3) Pengembangan wisata di zona privat (untuk kegiatan wisata
yang dikelolah oleh pihak privat);
4) Pengembangan wisata di zona penyangga (untuk kegiatan
konservasi demi menjaga kawasan wisata agar tetap alami dan
tidak mengalami kerusakan); dan
5) Pengembangan wisata di zona perbatasan (untuk kegiatan
wisata yang di dalamnya terdapat obyek-obyek wisata yang
masuk dalam wilayah administrasi yang berbeda).
e. Ruang Terbuka Hijau
Komponen rencana:
1) Penjabaran peruntukan lahan ruang terbuka binaan meliputi
ruang terbuka olah raga dan rekreasi, ruang terbuka taman dan
ruang terbuka bermain (fasilitas);
2) Penjabaran peruntukan lahan ruang terbuka alami meliputi
ruang terbuka pertanian, ruang terbuka sempadan (pengaman)
dan ruang terbuka konservasi;
3) Penjabaran kebutuhan ruang terbuka hijau didasarkan pada
daya dukung penduduk, kerapatan bangunan, volume lalu
lintas/tingkat polusi, dampak penting, beserta coverage
areanya; dan
4) Penjabaran kebutuhan ruang terbuka hijau didasarkan pada
daya dukung penduduk, kerapatan bangunan, volume lalu
lintas/tingkat polusi, dan dampak penting.
f. Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH)
Komponen rencana:
1.) Pengaturan RTNH pada pekarangan bangunan; dan
2.) Pengaturan RTNH pada skala lingkungan.


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 14

5. Rencana Penataan Bangunan dan Lingkungan (Amplop Ruang).
a. Tata Kualitas Lingkungan
Komponen rencana:
1.) Keseimbangan kawasan dengan lingkungan sekitar;
2.) Keseimbangan dengan daya dukung lingkungan; dan
3.) Pelestarian ekologis.
b. Tata Bangunan
Komponen rencana:
1.) Pengaturan kavling dalam blok peruntukan;
2.) Pengaturan bangunan, yaitu perencanaan pengaturan massa
bangunan dalam blok peruntukan;
3.) Penetapan kepadatan kelompok bangunan dalam kawasan
perencanaan melalui pengaturan besaran berbagai elemen
intensitas pemanfaatan lahan yang ada (seperti KDB, KLB, dan
KDH), yang mendukung terciptanya berbagai karakter khas
dari berbagai blok atau sub blok; dan
4.) Pengaturan ketinggian dan elevasi lantai bangunan, yaitu
perencanaan pengaturan ketinggian dan elevasi bangunan,
baik pada skala bangunan tunggal maupun kelompok bangunan
pada lingkungan yang lebih makro.
c. Arahan Garis Sempadan
Komponen rencana:
1.) Pengaturan sempadan bangunan, yaitu garis maya pada
persil/tapak sebagai batas minimum diperkenankannya
didirikan bangunan, dihitung dari garis sempadan jalan/garis
sempadan pagar/batas persil; dan
2.) Pengaturan sempadan sungai, yaitu pengaturan Sempadan
Sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk
sungai buatan, kanal, saluran irigasi primer, yang mempunyai
manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi
sungai.
6. Indikasi Program Pembangunan
Indikasi program pembangunan disusun dengan kriteria:
a. Mendukung perwujudan struktur ruang dan rencana pola ruang;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 15

b. Mendukung program utama penataan ruang nasional, provinsi, dan
Kabupaten/Kota terkait;
c. Realistis, obyektif, terukur, dan dapat dilaksanakan dalam jangka
waktu perencanaan;
d. Konsisten dan berkesinambungan terhadap program yang disusun,
baik dalam jangka waktu tahunan maupun antar lima tahunan; dan
e. Sinkronisasi antar program harus terjaga dalam satu kerangka
program terpadu pengembangan wilayah kabupaten.
Indikasi program utama meliputi:
a. Usulan Program Utama
Usulan program utama adalah program-program utama
pengembangan wilayah kabupaten yang diindikasikan memiliki bobot
kepentingan utama atau diprioritaskan untuk mewujudkan struktur
ruang dan pola ruang kawasan sesuai tujuan penataan ruang
kawasan.
b. Lokasi
Lokasi adalah tempat dimana usulan program utama akan
dilaksanakan.
c. Besaran
Besaran adalah perkiraan jumlah satuan masing-masing usulan
program utama pengembangan wilayah akan dilaksanakan.
d. Sumber Pendanaan
Sumber pendanaan dapat berasal dari APBD kabupaten, APBD
provinsi, APBN, swasta dan/atau masyarakat.
e. Instansi Pelaksana
Instansi pelaksana adalah pelaksana program utama yang meliputi
pemerintah (sesuai dengan kewenangan masing-masing pemerintah),
swasata serta masyarakat.
f. Waktu dan Tahapan Pelaksanaan
Usulan program utama direncanakan dalam kurun waktu berakhirnya
RTRW Kabupaten/Kota terkait, sedangkan masing-masing program
mempunyai durasi pelaksanaan yang bervariasi sesuai kebutuhan.
Program utama 5 (lima) tahun pertama dapat dirinci ke dalam
program utama tahunan. Penyusunan indikasi program utama
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 16

disesuaikan dengan pentahapan jangka waktu 5 (lima) tahun dalam
RPJP Daerah Kabupaten/Kota terkait.
7. Pengendalian Rencana Detail Tata Ruang
a. Aturan Zonasi
Aturan zonasi merupakan ketentuan peruntukan ruang di setiap blok
dan sub blok kawasan. Rencana pengembangan blok dan sub blok
kawasan perencanaan akan ditentukan oleh klasifikasi kegiatannya,
yang dapat dipisahkan dalam tiga bagian, yaitu:
1.) Aturan wajib
Merupakan aturan yang disusun atas peraturan peruntukan ruang,
penataan bangunan serta lingkungan dalam blok perencanaan
secara mengikat sesuai dengan fungsi dan peran ruang yang telah
ditetapkan. Aturan ini bersifat mengikat dan wajib
ditaati/diikuti. Aturan wajib meliputi:
 Peruntukan ruang;
 Intensitas ruang;
 Kepadatan penduduk;
 Pemecahan blok dan sub blok;
 Kebutuhan sarana dan prasarana kawasan; dan
 Kualitas lingkungan.
2.) Aturan anjuran
Merupakan aturan yang disusun untuk melengkapi aturan wajib
yang telah disepakati bersama pemegang hak atas tanah, dan
pihak regulasi sehingga dapat ditaati atau diikuti. Aturan ini
meliputi:
 Kualitas lingkungan;
 Arahan bentuk, dimensi, gubahan dan perletakan dari suatu
bangunan atau komposisi bangunan;
 Sirkulasi kendaraan;
 Sirkulasi pejalan kaki;
 Pedestrian dan Pedagang Kaki Lima;
 Ruang terbuka hijau dengan fasilitas dan tidak berfasilitas;
 Utilitas bangunan dan lingkungan; dan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 17

 Wajah Arsitektur.
3.) Aturan khusus
Aturan khusus diberlakukan sebagai aturan tambahan pada
kawasan yang memerlukan penanganan khusus. Contoh aturan
kawasan khusus meliputi:
 Aturan untuk Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan
(KKOP);
 Aturan untuk kawasan cagar budaya; dan
 Aturan untuk kawasan rawan bencana.
4.) Kode zonasi
Ketentuan penamaan kode zonasi adalah sebagai berikut: setiap
zonasi diberi kode yang mencerminkan fungsi zonasi yang
dimaksud, yaitu:
 R (Perumahan)
 Zona Perumahan adalah peruntukkan tanah yang terdiri dari
kelompok rumah tinggal yang mewadahi perikehidupan dan
penghidupan masyarakat yang dilengkapi dengan fasilitasnya.
 K (Perdagangan dan Jasa)
 Zona perdagangan dan jasa adalah peruntukkan tanah yang
merupakan bagian dari kawasan budidaya difungsikan untuk
pengembangan kegiatan pelayanan pemerintahan, sarana
umum produksi dan distribusi, tempat bekerja, tempat
berusaha, tempat hiburan dan rekreasi.
 SU (Sarana Umum)
 Zona sarana umum adalah kelompok kegiatan yang berupa
sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana peribadatan,
sarana sosial, sarana olahraga dan rekreasi, sarana pelayanan
umum, sarana perbelanjaan/niaga, dan sarana transportasi
dengan skala pelayanan yang ditetapkan dalam rencana kota.
 IG (Industri dan Pergudangan)
 Zona Industri dan Pergudangan adalah peruntukkan tanah
yang difungsikan untuk pengembangan kegiatan yang
berhubungan dengan proses produksi dan tempat
penyimpanan bahan mentah dan barang hasil produksi.
 RT (Ruang Terbuka Hijau)
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 18

 Zona ruang terbuka hijau adalah pengembangan ruang
terbuka yang mempunyai makna historis, estetika, median
ruang, keseimbangan ekologis, sebagai fungsi penghubung
aktivitas-aktivitas kota yang berbeda dan tempat
bersosialisasi yang potensial dikembangkan. Salah satu
pengembangan ruang terbuka (open source) yang sangat
penting di daerah perkotaan adalah pengembangan ruang
terbuka hijau untuk meningkatkan mutu lingkungan hidup,
sarana pengaman lingkungan perkotaan, menciptakan
keserasian lingkungan alam dan lingkungan binaan.
Keberadaan ruang terbuka hijau di perkotaan ini difungsikan
sebagai perlindungan ekosistem, menciptakan K3, rekreasi,
pengaman lingkungan hidup, penelitian dan pendidikan,
perlindungan plasma nutfah, memperbaiki iklim mikro dan
pengatur tata air.
 KS (Khusus)
 Zona fungsi khusus adalah peruntukkan tanah yang
difungsikan untuk menampung kegiatan yang sifatnya khusus.
5.) Nomor Blok
Untuk memberikan kemudahan referensi (georeference), maka
blok peruntukan perlu diberi nomor blok. Untuk memudahkan
penomoran blok dan mengintegrasikannya dengan daerah
administrasi, maka nomor blok peruntukan dapat didasarkan
pada kode pos berdasarkan kelurahan/desa/kampung) atau kode
batas wilayah administrasi yang telah ada diikuti dengan 2 atau 3
digit nomor blok. Nomor blok dapat ditambahkan huruf bila blok
tersebut dipecah menjadi beberapa subblok.
Nomor blok = [kode pos/batas wilayah administrasi ]-[2 atau 3
digit angka].[huruf]
Contoh nomor blok berdasarkan wilayah administrasi:
Blok 07.01.001, ... Blok 07.01.001a... , dan seterusnya.
6.) Aturan Kegiatan dan Penggunaan Lahan
Aturan kegiatan dan penggunaan lahan pada suatu zonasi
penggunaan lahan dinyatakan dengan klasifikasi sebagai berikut:
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 19

 " |" = Pemanfaatan diizinkan
 Karena sifatnya sesuai dengan peruntukan tanah yang
direncanakan. Hal ini berarti tidak akan ada peninjauan atau
pembahasan atau tindakan lain dari pemerintah kabupaten
terhadap pemanfaatan tersebut.
 “ T " = Pemanfaatan diizinkan secara terbatas
 Pembatasan dilakukan melalui penentuan standar
pembangunan minimum, pembatasan pengoperasian, atau
peraturan tambahan lainnya yang berlaku di wilayah
kabupaten/yang bersangkutan
 " B " = Pemanfaatan memerlukan izin penggunaan bersyarat
 Izin ini sehubungan dengan usaha menanggulangi dampak
pembangunan di sekitarnya (menginternalisasi dampak);
dapat berupa AMDAL, RKL dan RPL.
 “-" = Pemanfaatan yang tidak diijinkan
 Karena sifatnya tidak sesuai dengan peruntukan lahan yang
direncanakan dan dapat menimbulkan dampak yang cukup
besar bagi lingkungan di sekitarnya.
7.) Penyusunan Peta Zonasi
Peta zonasi adalah peta yang berisi kode zonasi di atas blok dan
subblok yang telah didelineasikan sebelumnya dengan skala
1:5000 dan atau yang setara dengan RDTRK.
Pertimbangan penetapan kode zonasi di atas peta batas
blok/subblok yang di didasarkan pada:
 Kesamaan karakter blok peruntukan, berdasarkan pilihan:
Mempertahankan dominasi penggunaan lahan yang ada
(eksisting);
 Menetapkan fungsi baru sesuai dengan arahan fungsi pada
RTRW;
 Menetapkan karakter khusus kawasan yang diinginkan;
 Menetapkan tipologi lingkungan/kawasan yang diinginkan;
 Menetapkan jenis pemanfaatan ruang/lahan tertentu;
 Menetapkan batas ukuran tapak/persil maksimum/minimum;
 Menetapkan batas intensitas bangunan/bangun-bangunan
maksimum/minimum;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 20

 Mengembangkan jenis kegiatan tertentu;
 Menetapkan batas kepadatan penduduk/bangunan yang
diinginkan;
 Menetapkan penggunaan dan batas intensitas sesuai dengan
daya dukung prasarana (misalnya: jalan) yang tersedia;
 Kesesuaian dengan ketentuan khusus yang sudah ada (KKOP,
pelabuhan, terminal, dan lain-lain); dan
 Karakteristik lingkungan (batasan fisik) dan administrasi.
Bila suatu blok peruntukan akan ditetapkan menjadi beberapa
kode zonasi, maka blok peruntukan tersebut dapat dipecah
menjadi beberapa subblok peruntukan. Pembagian subblok
peruntukan dapat dilakukan berdasarkan pertimbangan:
 Kesamaan (homogenitas) karakteristik pemanfaatan
ruang/lahan;
 Batasan fisik seperti jalan, gang, sungai, brandgang atau
batas persil;
 Orientasi bangunan; dan
 Lapis bangunan.
Subblok peruntukan diberi nomor blok dengan memberikan
tambahan huruf (a, b, dan seterusnya) pada kode blok.
Contoh:
Blok 40132-023 dipecah menjadi Subblok 40132-023.a dan 40132-
023.b.
b. Aturan Insentif dan Disinsentif; dan
c. Perizinan dalam Pemanfaatan Ruang.

2. Kelembagaan
Sebagai langkah langkah koordinasi dalam penanganan penataan ruang,
pembinaan dan pengembangan kebijakan tata ruang wilayah dan lintas
sektor, sektor, koordinasi diselenggarakan dalam suatu badan koordinasi
daerah skala kabupaten seperti BKPRD (Badan Koordinasi Penataan Ruang
Daerah) sebagai lembaga fungsional yang berfungsi:
a. Mengkoordinasikan pelaksanaan Rencana Detail Tata Ruang Kota
secara terpadu sebagai dasar bagi penentuan perijinan dalam
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 21

penataan kawasan kota yang dijabarkan dalam program
pembangunan kawasan kota;
b. Merumuskan pelaksanaan dan mengkoordinasikan masalah-masalah
yang timbul dalam penyelenggaraan penataan ruang di kawasan kota,
dan memberikan arahan dan pemecahannya;
c. Mengkoordinasikan penyusunan peraturan perundang-undangan di
bidang penataan ruang;
d. Memaduserasikan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 terntang
Penataan Ruang dan penyusunan peraturan pelaksanaannya dengan
Undang Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
e. Memaduserasikan penatagunaan tanah dan penatagunaan sumber
daya alam lainnya dengan Rencana Detail Tata Ruang; dan
f. Melakukan pemantauan (monitoring) tersebut untuk penyempurnaan
rencana detail tata ruang kota.
3. Peran Serta Masyarakat
a. Bentuk Peran Serta Masyarakat dalam Pelaksanaan Penataan Ruang:
 Bantuan pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan
pelaksanaan Penataan Ruang;
 Penyelenggaraan kegiatan pembangunan berdasarkan rencana
tata ruang dan program pembangunan; dan
 Bantuan teknik dan pengolahan dalam pemanfaatan ruang; dan
 Kegiatan menjaga, memelihara dan meningkatkan kelestarian
fungsi lingkungan hidup.
b. Bentuk Peran Serta Masyarakat dalam Pengendalian Pemanfaatan
Ruang:
 Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang skala daerah, distrik
dan kawasan, termasuk pemberian informasi atau laporan
pelaksanaan pemanfaatan ruang kawasan dimaksud dan/atau
sumberdaya tanah, air, udara dan sumberdaya lainnya;
 Memberikan masukan/laporan tentang masalah yang berkaitan
dengan perubahan/penyimpangan pemanfaatan ruang dari
peraturan yang telah disepakati;
 Bantuan pemikiran atau pertimbangan berkenaan dengan
penertiban pemanfaatan ruang; dan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 22

 Mengajukan keberatan dan gugatan melalui instansi yang
berwenang menangani gugatan kepada pemilik, pengelola,
dan/atau pengguna atas penyelenggaraan peruntukan ruang,
bangunan dalam kawasan dan lingkungannya.

2.3. PEMAHAMAN TERHADAP ZONING REGULATION
Pada dasarnya istilah zoning regulation terdiri dari dua kata zoning dan regulation.
Zoning sendiri artinya adalah pembagian lingkungan kota ke dalam zona-zona dan
menetapkan pengendalian pemanfaatan ruang/memberlakukan ketentuan hukum
yang berbeda-beda, sementara regulation artinya adalah peraturan. Dengan
demikian zoning regulation artinya adalah ketentuan yang mengatur tentang
klasifikasi zona, pengaturan lebih lanjut mengenai pemanfaatan lahan dan prosedur
pelaksanaan pembangunan.
Peraturan zoning pertama kali diterapkan di Kota New York pada Tahun 1916 dengan
tujuan sebagai berikut:
1. Menentukan standar minimum sinar dan udara untuk jalan yang makin gelap
akibat banyak dan makin tingginya bangunan; dan
2. Memisahkan kegiatan yang dianggap tidak sesuai.
Pada perkembangan selanjutnya, zoning regulations ditujukan untuk beberapa hal
sebagai berikut:
1. Mengatur kegiatan yang boleh ada di suatu zona;
2. Menerapkan pemunduran bangunan di atas ketinggian tertentu agar sinar
matahari jatuh ke jalan dan trotoar dan sinar serta udara mencapai bagian
dalam bangunan; dan
3. Pembatasan besar bangunan di zona tertentu agar pusat kota menjadi
kawasan yang paling intensif pemanfaatan ruangnya.
Fungsi zoning regulation pada dasarnya adalah:
1. Sebagai instrumen pengendalian pembangunan. Peraturan zoning yang
lengkap akan memuat prosedur pelaksanaan pembangunan sampai ke tata
cara pengawasannya;
2. Sebagai pedoman penyusunan rencana operasional. Ketentuan zoning dapat
menjadi jembatan dalam penyusunan rencana tata ruang yang bersifat
operasional, karena memuat ketentuan-ketentuan tentang penjabaran
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 23

rencana yang bersifat makro ke dalam rencana yang bersifat sub makro
sampai pada rencana yang rinci; dan
3. Sebagai panduan teknis pengembangan/pemanfaatan lahan.
Zoning Regulation pada dasarnya terdiri dari dua bagian, yaitu:
1. Zoning Text
a. Berisi aturan-aturan (regulation);
b. Menjelaskan tentang tata guna lahan dan kawasan, permitted and
conditional uses, minimum lot requirements, standar
pengembangan, administrasi pengembangan zoning.
2. Zoning Map
a. Berisi pembagian blok peruntukan (zona), dengan ketentuan aturan
untuk tiap blok peruntukan tersebut;
b. Menggambarkan peta tata guna lahan dan lokasi tiap fungsi lahan dan
kawasan.

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 24

G
A
M
B
A
R

2
.
1
.

C
O
N
T
O
H

P
E
T
A

P
E
R
A
T
U
R
A
N

Z
O
N
A
S
I

S
u
m
b
e
r

:

B
a
n
t
e
k

P
e
n
y
u
s
u
n
a
n

K
e
t
e
n
t
u
a
n

P
e
m
a
n
f
a
a
t
a
n

R
u
a
n
g

(
Z
o
n
i
n
g

R
e
g
u
l
a
t
i
o
n
)


K
a
w
a
s
a
n

P
u
s
a
t

P
e
m
e
r
i
n
t
a
h
a
n

K
o
t
a

S
o
f
i
f
i

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 2 Pemahaman Terhadap Pekerjaan | 25


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 1

3.1. PERATURAN PERUNDANGAN TERKAIT PENATAAN RUANG
Peraturan perundangan yang terkait dengan penataan ruang pada dasarnya sangat
banyak, namun dalam uraian pada subbab ini akan ditinjau beberapa perundangan
yang dianggap sangat signifikan dalam penataan ruang. Perundangan yang ditinjau
terdiri dari Undang-undang (UU), Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Menteri
(PERMEN) dan Standar Nasional Indonesia (SNI).

3.1.1. UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang merupakan landasan penting bagi
dasar dan arahan dalam penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Bokondini terutama
yang berkaitan dengan istilah penataan ruang, asas penataan ruang, wewenang
pemerintah daerah kabupaten dalam penyelenggaraan dan pelaksanaan tata ruang,
produk tata ruang dan hirarkinya, serta batasan, skala dan cakupan penataan ruang
pada kawasan perkotaan.
Beberapa definisi terkait dengan penataan ruang yang tertuang dalam undang-undang
ini, yaitu pada Pasal 1 mengenai Ketentuan Umum adalah:
1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang
udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah,
tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan
memelihara kelangsungan hidupnya.
2. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
3. Penyelenggaraan penataan ruang adalah kegiatan yang meliputi
pengaturan, pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan penataan ruang.
4. Pelaksanaan penataan ruang adalah upaya pencapaian tujuan penataan
ruang melalui pelaksanaan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang,
dan pengendalian pemanfaatan ruang.
5. Perencanaan tata ruang adalah proses untuk menentukan struktur ruang
dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata
ruang.
6. Pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan
pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan
pelaksanaan program beserta pembiayaannya.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 2

7. Pengendalian pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib
tata ruang.
8. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap
unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek
administatif dan/atau aspek fungsional.
9. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung dan budidaya
10. Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungi utama
melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam
dan sumber daya buatan.
11. Kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama
untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam,
sumber daya manusia dan sumber daya buatan.
12. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan
pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman
perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan,
pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
13. Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau
mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh
tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.

Dalam kegiatan penataan ruang terdapat beberapa aspek yang penting untuk
diperhatikan. Pada Pasal 6 ayat 1 disebutkan bahwa penataan ruang diselenggarakan
dengan memperhatikan: (a) kondisi fisik wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang rentan terhadap bencana; (b) potensi sumber daya alam, sumber daya manusia,
dan sumber daya buatan, kondisi ekonomi, sosial, budaya, politik, hukum,
pertahanan keamanan, lingkungan hidup, serta ilmu pengetahuan dan teknologi
sebagai satu kesatuan; dan (c) geostrategi, geopolitik, dan geoekonomi.
Selanjutnya pada Pasal 14 dijelaskan bahwa perencanaan tata ruang dilakukan untuk
menghasilkan rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata ruang.
Rencana umum tata ruang berhierarki terdiri atas:
1. Rencana tata ruang wilayah nasional;
2. Rencana tata ruang wilayah provinsi; dan
3. Rencana tata ruang wilayah kabupaten dan rencana tata ruang wilayah
kota.

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 3

Sedangkan rencana rinci tata ruang terdiri atas:
1. Rencana tata ruang pulau/kepulauan dan rencana tata ruang kawasan
strategis Nasional;
2. Rencana tata ruang kawasan strategis Provinsi; dan
3. Rencana detail tata ruang Kabupaten/Kota dan rencana tata ruang
kawasan strategis Kabupaten/Kota.
Dari sisi muatan rencana tata ruang haruslah mencakup rencana struktur ruang dan
rencana pola ruang. Pada pasal 17 ayat 2 disebutkan rencana struktur ruang yang
dimaksud meliputi rencana sistem pusat permukiman dan rencana sistem jaringan
prasarana. Sedangkan pada ayat 3 disebutkan rencana pola ruang meliputi
peruntukan kawasan lindung dan kawasan budidaya yang mana peruntukan kawasan
lindung dan budidaya ini meliputi peruntukan ruang untuk kegiatan pelestarian
lingkungan, sosial, budaya, ekonomi, pertahanan dan keamanan.
Lebih jauh lagi dalam Pasal 41 dijelaskan bahwa penataan ruang di Kawasan
Perkotaan diselenggarakan pada Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian wilayah
kabupaten dan kawasan yang secara fungsional berciri perkotaan yang mencakup 2
(dua) atau lebih wilayah Kabupaten/Kota pada satu atau lebih wilayah Provinsi.
Terkait dengan penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Bokondini ini, maka
penyusunan RDTR tersebut merupakan bagian dari penataan ruang Kawasan
Perkotaan yang merupakan bagian wilayah kabupaten.
UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang juga tidak melupakan arti pentingnya
peran serta masyarakat dalam penataan ruang. UU yang disusun dalam masa
reformasi dengan semangat Good Governance ini mengisyaratkan bahwa
penyelenggaraan penataan ruang dilakukan oleh pemerintah dengan melibatkan
masyarakat. Peran serta masyarakat tersebut dapat dilakukan melalui:
1. Partisipasi dalam penyusunan rencana tata ruang;
2. Partisipasi dalam pemanfaatan ruang; dan
3. Partisipasi dalam pengendalian pemanfaatan ruang.







Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 4

Gambar 3.1 Skematik Rencana Tata Ruang dalam UU No.26 Tahun 2007
RENCANA UMUM TATA RUANG RENCANA RINCI TATA RUANG
RTR PULAU/KEPULAUAN
RTR KAWASAN STRATEGIS NASIONAL
RTR KAWASAN STRATEGIS PROVINSI
RTR KAWASAN STRATEGIS KABUPATEN
RDTR WILAYAH KABUPATEN
RTRW NASIONAL
RTRW PROVINSI
RTRW KABUPATEN
RTR KAWASAN PERKOTAAN DALAM
WILAYAH KABUPATEN
RTR BAGIAN WILAYAH KOTA
RTR KAWASAN STRATEGIS KOTA
RDTR WILAYAH KOTA
RTR KAWASAN METROPOLITAN
RTRW KOTA
W
I
L
A
Y
A
H
P
E
R
K
O
T
A
A
N

Sumber: UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Hasil Olahan Konsultan

3.1.2. UU NO.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
Wilayah Indonesia dibagi dalam daerah Provinsi, daerah kabupaten, dan daerah kota
yang otonom. Salah satu pengertian daerah otonom adalah daerah yang berwenang
mengatur dan mengurus kepentingannya sesuai dengan prakarsa berdasarkan aspirasi
masyarakat. UU No. 32/2004 yang merupakan revisi UU No. 22/1999 menjelaskan
atau mengatur penyelenggaraan pemerintah di daerah dalam rangka pelaksanaan
otonomi daerah. Dengan berlakunya undang-undang ini, pada dasarnya seluruh
kewenangan sudah berada pada daerah kabupaten dan daerah kota.
Kewenangan pemerintahan daerah berskala Kabupaten/Kota dalam undang–undang
ini dijelaskan (pasal 14 ayat 1) adalah meliputi:
1. Perencanaan dan pengendalian pembangunan;
2. Perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang;
3. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat;
4. Penyediaan sarana dan prasarana umum;
5. Penanganan bidang kesehatan;
6. Penanggulangan masalah sosial;
7. Pelayanan bidang ketenagakerjaan;
8. Fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 5

9. Pengendalian lingkungan hidup;
10. Pelayanan pertanahan;
11. Pelayanan kependudukan dan catatan sipil;
12. Pelayanan administrasi umum pemerintahan;
13. Pelayanan administrasi penanaman modal;
14. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya; dan
15. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-
undangan.

Termasuk didalamnya melakukan penggabungan beberapa daerah atau pemekaran
dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih (pasal 4 ayat 2). Kaitannya dengan
pengelolaan sumber daya di daerah, dalam undang-undang ini dijelaskan bahwa
pemerintah daerah bertanggungjawab memelihara kelestarian lingkungan dan
sumberdaya nasional yang tersedia di wilayahnya sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Adapun sumber daya yang termasuk sumber daya
nasional adalah sumber daya alam, sumber daya buatan, dan sumber daya manusia
yang tersedia di daerah.

3.1.3. UU No.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerinah Pusat dan Pemerintah Daerah
Dalam mendukung penyelenggaraan otonomi daerah melalui penyediaan sumber-
sumber pembiayaan berdasarkan desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas
pembantuan, maka perlu adanya aturan kebijakan yang mengatur sistem keuangan
yang didasarkan atas kewenangan, tugas, dan tanggungjawab yang jelas antar tingkat
pemerintah. Adapun tujuan pembentukan undang-undang ini adalah:
1. Memberdayakan dan meningkatkan kemampuan perekonomian daerah;
2. Menciptakan sistem pembiayaan daerah yang adil, proporsional, rasional,
transparan, partisipatif, bertanggungjawab, dan pasti;
3. Mewujudkan sistem perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan
daerah yang mencerminkan pembagian tugas kewenangan dan tanggung
jawab yang jelas antara pemerintah pusat dan daerah;
4. Menjadi acuan dalam alokasi penerimaan negara bagi daerah;
5. Mempertegas sistem pertanggungjawaban keuangan pemerintah daerah;
dan
6. Menjadi pedoman pokok tentang keuangan daerah.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 6

Seperti yang diungkapkan pada uraian di atas bahwa dalam sumber pembiayaan
penyelenggaraan di daerah dapat dibedakan berdasarkan desentralisasi,
dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan
desentralisasi terdapat sumber pembiayaan yang berupa dana perimbangan dalam
pembagian hasil yang bersumber dari pajak (PBB, BPHTB, PPh) dan dana bagi hasil
yang bersumber dari sumber daya alam (kehutanan, pertambangan umum, perikanan,
pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi dan pertambangan panas bumi).
Sumber ini perlu dicermati dan diharapkan sebagai sumber pembiayaan potensial
dalam upaya pengembangan di daerah. Proporsi perimbangan dana bagi hasil
tersebut adalah sebagai berikut:
Dana bagi hasil yang bersumber dari Pajak
1. Dalam penerimaan negara dari pajak bumi dan bangunan dibagi dengan
imbangan 10% untuk pemerintah pusat dan 90% untuk daerah; dan
2. Dalam penerimaan negara dari bea perolehan hak atas tanah dan bangunan
dibagi dengan imbangan 20% untuk pemerintah pusat dan 80% untuk daerah.
Dana Bagi hasil yang bersumber dari sumber daya alam
1. Dalam penerimaan negara dari sektor kehutanan dibagi dengan imbangan 20%
untuk pemerintah pusat dan 80% untuk daerah;
2. Dalam penerimaan negara dari sektor pertambangan umum dibagi dengan
imbangan 20% untuk pemerintah pusat dan 80% untuk daerah;
3. Dalam penerimaan negara dari sektor perikanan dibagi dengan imbangan 20%
untuk pemerintah pusat dan 80% untuk daerah;
4. Dalam penerimaan negara dari sektor pertambangan minyak bumi dibagi
dengan imbangan 69,5% untuk pemerintah pusat dan 15,5% untuk daerah;
5. Dalam penerimaan negara dari sektor pertambangan gas bumi dibagi dengan
imbangan 84,5% untuk pemerintah pusat dan 30,5% untuk daerah; dan
6. Dalam penerimaan negara dari sektor pertambangan panas bumi dibagi
dengan imbangan 20% untuk pemerintah pusat dan 80% untuk daerah.

3.1.3. UU No.38 Tahun 2004 tentang Jalan
Jalan sebagai salah satu prasarana transportasi merupakan unsur bagian dalam
perencanaan kawasan perkotaan. Sebagai bagian sistem transportasi, jalan
mempunyai peranan penting terutama dalam mendukung bidang ekonomi, sosial dan
budaya serta lingkungan dan dikembangkan melalui pendekatan pengembangan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 7

wilayah agar tercapai keseimbangan dan pemerataan pembangunan antar daerah
serta pembentukan struktur ruang.
Dalam undang-undang ini beberapa definisi berkaitan dengan jalan adalah:
1. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan,
termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi
lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah,
bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air kecuali
jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel;
2. Jalan umum adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum;
3. Jalan khusus adalah jalan yang dibangun oleh instansi, badan usaha,
perseorangan, atau kelompok masyarakat untuk kepentingan sendiri;
4. Jalan tol adalah jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan jalan
dan sebagai jalan nasional yang penggunanya diwajibkan membayar tol; dan
5. Sistem jaringan jalan adalah satu kesatuan ruas jalan yang saling
menghubungkan dan mengikat pusat-pusat pertumbuhan dengan wilayah yang
berada dalam pengaruh pelayanannya dalam satu hubungan hierarkis.
Dilihat dari pengelompokan jalan pada pasal 6 disebutkan jalan sesuai dengan
peruntukannya terdiri atas jalan umum dan jalan khusus. Dimana jalan umum
dikelompokkan menurut sistem, fungsi, status, dan kelas. Sedangkan jalan khusus
diperuntukkan bagi lalu lintas umum dalam rangka distribusi barang dan jasa yang
dibutuhkan
Selanjutnya pada pasal 7 dijelaskan sistem jaringan jalan terdiri atas sistem jaringan
jalan primer dan sistem jaringan jalan sekunder, di mana:
1. Sistem jaringan jalam primer merupakan sistem jaringan jalan dengan
peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua
wilayah di tingkat nasional, dengan menghubungkan semua simpul jasa
distribusi yang berwujud pusat-pusat kegiatan.
2. Sistem jaringan jalan sekunder merupakan sistem jaringan jalan dengan
peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di dalam
kawasan perkotaan.
Jalan umum menurut fungsinya dikelompokkan ke dalam jalan arteri, jalan kolektor,
jalan lokal, dan jalan lingkungan. Pada pasal 8 Undang-Undang ini disebutkan sebagai
berikut:
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 8

1. Jalan arteri merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama
dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah
jalan masuk secara berdaya guna.
2. Jalan kolektor merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan
pengumpul atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan
rata-rata sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi.
3. Jalan lokal merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan
setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan
jumlah jalan masuk tidak dibatasi.
4. Jalan lingkungan merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan
lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata
rendah.
5. Jalan umum menurut statusnya dikelompokkan ke dalam jalan nasional, jalan
provinsi, jalan kabupaten, jalan kota, dan jalan desa. Pada pasal 9 disebutkan
bahwa:
a. Jalan Nasional merupakan jalan arteri dan jalan kolektor dalam sistem
jaringan jalan primer yang menghubungkan antar ibukota Provinsi, dan
jalan strategis nasional serta jalan tol;
b. Jalan Provinsi merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan
primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota
Kabupaten/Kota, atau antar ibukota Kabupaten/Kota, dan jalan strategis
Provinsi;
c. Jalan Kabupaten merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan
primer yang tidak termasuk jalan nasional dan jalan provinsi, yang
menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan/distrik,
antar ibukota kecamatan/distrik, ibukota kabupaten dengan pusat
kegiatan lokal, antar pusat kegiatan lokal, serta jalan umum dalam sistem
jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten, dan jalan strategis
kabupaten;
d. Jalan Kota adalah jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yang
menghubugkan antar pusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat
pelayanan dengan persil, menghubungkan antar persil, serta
menghubungkan antar pusat permukiman yang berada di dalam kota; dan
e. Jalan Desa merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan
dan/atau antar permukiman di dalam desa, serta jalan lingkungan.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 9

Selanjutnya ditinjau dari bagian-bagian jalan, pada pasal 11 disebutkan bagian-
bagian jalan meliputi ruang manfaat jalan, ruang milik jalan dan ruang pengawasan
jalan. Adapun definisi dari bagian-bagian jalan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Ruang manfaat jalan meliputi badan jalan, saluran tepi jalan, dan ambang
pengamannya, dimana yang dimaksud badan jalan meliputi jalur lalu lintas,
dengan atau tanpa jalur pemisah dan bahu jalan, termasuk jalur pejalan kaki.
Ambang pengaman jalan terletak di bagian paling luar dari ruang manfaat
jalan, dan dimaksudkan untuk mengamankan bangunan jalan;
2. Ruang milik jalan meliputi ruang manfaat jalan dan sejalur tanah tertentu di
luar ruang manfaat jalan; dan
3. Ruang pengawasan jalan merupakan ruang tertentu di luar ruang milik jalan
yang ada di bawah pengawasan penyelenggara jalan.

3.1.4. UU No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
Kegiatan perencanaan kawasan perkotaan dipandang perlu melaksanakan
pengelolaan lingkungan hidup untuk melestarikan dan mengembangkan kemampuan
lingkungan hidup yang serasi, selaras, dan seimbang guna menunjang terlaksananya
pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup.
Pada pasal 1 undang-undang ini, dijelaskan definisi yang berkaitan dengan
pengelolaan lingkungan hidup, sebagai berikut:
1. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya,
keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang
mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta
makhluk lain;
2. Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan
fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan,
pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian
lingkungan hidup;
3. Pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup adalah
upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk
sumber daya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan,
kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan;
4. Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan
utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan,
stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 10

5. Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk
memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan;
6. Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk
mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain;
7. Pelestarian daya dukung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk
melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan
dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan, agar tetap
mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain;
8. Sumber daya adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya
manusia, sumber daya alam, baik hayati, maupun non hayati, dan sumber
daya buatan;
9. Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya
makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan
hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat
tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai
peruntukkannya;
10. Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang menimbulkan perubahan
langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang
mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang
pembangunan berkelanjutan;
11. Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam tak
terbaharui untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber
daya alam yang terbaharui untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya
dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta
keanekaragamannya;
12. Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan;
13. Dampak lingkungan hidup adalah pengaruh perubahan pada lingkungan hidup
yang diakibatkan oleh suatu usaha atau kegiatan; dan
14. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup adalah kajian mengenai dampak
besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada
lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
Adapun sasaran pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan yang tertera pada
pasal 4 undang-undang ini adalah:
1. Tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan
lingkungan hidup;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 11

2. Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki
sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup;
3. Terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan;
4. Tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup;
5. Terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana; dan
6. Terlindunginya Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha
dan/atau kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan pencemaran
dan/atau perusakan lingkungan hidup.
Dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup, masyarakat memegang peranan
penting. Oleh karena itu pada pasal 7 disebutkan bahwa masyarakat mempunyai
kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolaan
lingkungan hidup. Dalam pelaksanaan tersebut dapat dilakukan dengan cara:
1. Meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat, dan kemitraan;
2. Menumbuhkembangkan kemampuan dan kepeloporan masyarakat;
3. Menumbuhkan ketanggapsegeraan masyarakat untuk melakukan pengawasan
sosial;
4. Memberikan saran pendapat; dan
5. Menyampaikan informasi dan/atau menyampaikan laporan.

3.1.5. UU No.1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Permukiman
Perumahan dan permukiman merupakan salah satu elemen sektoral dalam
perencanaan ruang. Penyediaan perumahan dan permukiman dalam suatu wilayah
ataupun kawasan merupakan salah satu tanggung jawab pemerintah. Hingga saat ini,
UU No.1 Tahun 2011 merupakan rujukan utama dalam perencanaan dan pengadaan
perumahan dan permukiman baik di kawasan perdesaan maupun perkotaan.
Undang-undang ini memberikan uraian lengkap tentang perumahan dan permukiman.
Beberapa definisi terkait dengan kavling siap bangun (Kasiba) yang disebutkan pada
kebijakan ini adalah:
1. Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian
dan sarana pembinaan keluarga;
2. Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat
tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana
lingkungan;
3. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung,
baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 12

sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat
kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan;
4. Satuan Lingkungan Permukiman adalah kawasan perumahan dalam berbagai
bentuk dan ukuran dengan penataan tanah dan ruang, prasarana dan sarana
lingkungan yang terstruktur;
5. Prasarana Lingkungan adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan yang
memungkinkan lingkungan permukiman dapat berfungsi sebagaimana
mestinya;
6. Sarana Lingkungan adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk
penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya;
dan
7. Utilitas Umum adalah sarana penunjang untuk pelayanan lingkungan.
Selain definisi, yang berkaitan langsung dengan pengembangan kavling siap bangun
(Kasiba) terdapat pada Pasal 18 bahwa salah satu upaya pemenuhan permukiman
diwujudkan melalui pembangunan kawasan permukiman skala besar yang
terencana secara menyeluruh dan terpadu dengan pelaksanaan yang bertahap. Lebih
lanjut pada Pasal 19 dijelaskan bahwa Pemerintah Daerah menetapkan satu bagian
atau lebih dari kawasan permukiman menurut rencana tata ruang wilayah perkotaan
dan rencana tata ruang wilayah bukan perkotaan.

3.1.6. UU No.24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
Pemerintah bertanggung jawab melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia dengan tujuan untuk memberikan perlindungan terhadap
kehidupan dan penghidupan termasuk pelindungan atas bencana, dalam rangka
mewujudkan kesejahteraan umum yang berlandaskan Pancasila, sebagaimana
diamanatkan dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki kondisi geografis, geologis,
hidrologis, dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana, baik yang
disebabkan oleh faktor alam, faktor non alam maupun faktor manusia yang
menyebabkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta
benda, dan dampak psikologis yang dalam keadaan tertentu dapat menghambat
pembangunan nasional.
Terkait dengan penataan ruang, di dalam pasal 35 dijelaskan bahwa Penyelenggaraan
penanggulangan bencana dalam situasi tidak terjadi bencana meliputi:
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 13

1. Perencanaan penanggulangan bencana;
2. Pengurangan risiko bencana;
3. Pencegahan;
4. Pemaduan dalam perencanaan pembangunan;
5. Persyaratan analisis risiko bencana;
6. Pelaksanaan dan penegakan rencana tata ruang;
7. Pendidikan dan pelatihan; dan
8. Persyaratan standar teknis penanggulangan bencana.
Lebih jauh lagi dalam pasal 42 dijelaskan ayat 1 bahwa pelaksanaan dan penegakan
rencana tata ruang dilakukan untuk mengurangi risiko bencana yang mencakup
pemberlakuan peraturan tentang penataan ruang, standar keselamatan, dan
penerapan sanksi terhadap pelanggar, dan pasal 42 ayat 2 Pemerintah secara
berkala melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan tata ruang dan
pemenuhan standar keselamatan.

3.1.7. PP No.10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta untuk
Penataan Ruang Wilayah
Peta merupakan bagian yang tidak dapat terlepaskan dari penataan ruang, termasuk
dalam penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan. Seluruh elemen sektoral yang
direncanakan dalam Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Bokondini nantinya harus
dituangkan dalam peta, baik dalam tahapan analisis maupun tahapan rencana. Di
dalam pasal 1 Ketentuan Umum dijelaskan beberapa definisi penting yang sering
digunakan dalam penataan ruang, yaitu:
1. Peta adalah suatu gambaran dari unsur-unsur alam dan atau buatan manusia,
yang berada di atas maupun di bawah permukaan bumi yang digambarkan
pada suatu bidang datar dengan skala tertentu;
2. Skala peta adalah angka perbandingan antara jarak dua titik di atas peta
dengan jarak tersebut di muka bumi;
3. Ketelitian peta adalah ketepatan, kerincian dan kelengkapan data dan atau
informasi georeferensi dan tematik;
4. Peta dasar adalah peta yang menyajikan unsur-unsur alam dan atau buatan
manusia, yang berada di permukaan bumi, digambarkan pada suatu bidang
datar dengan skala, penomoran, proyeksi dan georeferensi tertentu;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 14

5. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap
unsur terkait padanya, yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan pada
aspek administratif dan atau aspek fungsional;
6. Peta wilayah adalah peta yang berdasarkan pada aspek administratif yang
diturunkan dari peta dasar;
7. Peta tematik wilayah adalah peta wilayah yang menyajikan data dan
informasi tematik;
8. Peta rencana tata ruang wilayah adalah peta wilayah yang menyajikan hasil
perencanaan tata ruang wilayah;
9. Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang bertanggung jawab di
bidang pemetaan; dan
10. Instansi yang mengadakan peta tematik wilayah adalah instansi baik di
tingkat pusat maupun daerah, yang tugas dan fungsinya mengadakan peta
tematik wilayah.
Terkait dengan penataan ruang, dijelaskan bahwa tingkat ketelitian peta untuk tiap
hirarki penataan ruang berbeda-beda (pasal 9). Dijelaskan dalam pasal tersebut
(pasal 9 ayat 1), Peta rencana tata ruang wilayah meliputi tingkat ketelitian peta
untuk:
1. Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;
2. Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah Provinsi;
3. Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah Kabupaten; dan
4. Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah Kota.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa Peta wilayah daerah kota berpedoman pada tingkat
ketelitian minimal berskala 1:50.000 (pasal 30) dan untuk wilayah daerah kota yang
sempit digunakan peta wilayah dengan tingkat ketelitian peta dengan skala 1:25.000
atau skala 1:10.000.

3.1.8. SNI No.1733-2000 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan
Perumahan di Perkotaan
SNI ini sering digunakan sebagai acuan dalam penghitungan kebutuhan prasarana dan
sarana dasar kegiatan perkotaan dalam penataan ruang, karena penataan ruang pada
dasarnya merupakan penataan pusat-pusat permukiman beserta segala prasarana dan
sarana yang mendukung terciptanya kegiatan pada pusat-pusat permukiman yang
ada.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 15

Dalam merencanakan kebutuhan lahan untuk sarana lingkungan, didasarkan pada
beberapa ketentuan khusus, yaitu:
1. Besaran standar ini direncanakan untuk kawasan dengan kepadatan penduduk
<200 jiwa/ha;
2. Untuk mengatasi kesulitan mendapatkan lahan, beberapa sarana dapat
dibangun secara bergabung dalam satu lokasi atau bangunan dengan tidak
mengurangi kualitas lingkungan secara menyeluruh; dan
3. Untuk kawasan yang berkepadatan >200 jiwa/ha, diberikan reduksi 15-30%
terhadap persyaratan kebutuhan lahan.
Perencanaan prasarana lingkungan, utilitas umum dan sarana lingkungan harus
direncanakan secara terpadu dengan memperhatikan keberadaan prasarana dan
sarana yang telah ada dengan tidak mengurangi kualitas dan kuantitas secara
menyeluruh.

3.2. PERATURAN PERUNDANGAN TERKAIT KEHUTANAN
3.2.1. Umum
Pemerintah saat ini lebih memprioritaskan upaya konservasi kawasan hutan guna
mewujudkan pelestarian dan perlindungan sumberdaya alam hutan, daripada
mengalihfungsikan kawasan hutan. Kebijakan pengalihfungsian kawasan hutan di
masa lalu dilakukan melalui kegiatan perubahan fungsi kawasan hutan dari fungsi
hutan konservasi dan atau hutan lindung menjadi hutan produksi untuk tujuan
pembangunan kehutanan (hutan alam, hutan tanaman) maupun non kehutanan
(pertambangan dan non kehutanan lainnya).
Dalam UU No. 41 tahun 1999 pasal 19, istilah alih fungsi dikenal sebagai perubahan
peruntukan dan fungsi kawasan hutan;
1. Perubahan peruntukan kawasan hutan, terjadi melalui proses tukar menukar
kawasan hutan dan pelepasan kawasan hutan;
2. Alih fungsi kawasan hutan, yang terjadi melalui perubahan peruntukan
kawasan hutan terfokus untuk mendukung kepentingan di luar kehutanan
(pertanian, perkebunan, transmigrasi, pengembangan wilayah, dan non
kehutanan lainnya). Alih fungsi kawasan hutan dapat pula melalui perubahan
fungsi hutan namun tidak mengurangi luas kawasan hutan, misalnya untuk
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 16

tujuan pembangunan kehutanan (konservasi kawasan hutan alam/tanaman,
hutan pendidikan/penelitian, dan sebagainya); dan
3. Alih fungsi kawasan hutan yang berimplikasi terhadap berkurangnya luas
kawasan hutan produksi adalah kegiatan pelepasan hutan. Kebijakan di masa
lalu, dalam upaya mendukung pembangunan di luar sektor kehutanan telah
ditetapkan Rencana Penatagunaan dan Pengukuhan Hutan (RPPH) yang
tertuang dalam TGHK (tahun 1980) bahwa kawasan hutan produksi yang dapat
dikonversi dialokasikan sebesar + 30 juta hektar.
UU No.41/99 tentang Kehutanan Pasal 19 ayat (1) secara tegas menyebutkan bahwa
untuk melakukan perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan harus didasarkan
atas penelitian terpadu yang secara operasional prosedurnya diatur melalui SK
MENHUT No. 70/KPTS-II/2000. Sedangkan pengkajiannya dilakukan oleh tim terpadu
sesuai SK MENHUT No. 1615/KPTS-VII/2001.
Dengan terbitnya UU No.41/99, kegiatan perubahan peruntukan dan fungsi kawasan
hutan tidak dengan mudah dilaksanakan mengingat di samping perubahan tersebut
didasarkan atas kriteria-kriteria sebagaimana tercantum dalam PP No. 47 tahun 1997,
PP No. 68 tahun 1998, KEPPRES No. 32 tahun 1992, Keputusan-keputusan
Menteri/SKB, juga perlu mendapat rekomendasi pemerintah provinsi dan kabupaten,
serta harus didasarkan atas pengkajian secara terpadu oleh tim terpadu tersebut.
Dan apabila berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis
diperlukan persetujuan legislatif (DPR/DPRD).

3.2.2. UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
Undang-undang mengenai kehutanan pada dasarnya mengatur mengenai
penyelenggaraan kehutanan di Indonesia. Hal yang melatarbelakangi keberadaan
undang-undang ini adalah bahwa hutan, sebagai salah satu penentu sistem penyangga
kehidupan dan sumber kemakmuran rakyat, cenderung menurun kondisinya, oleh
karena itu keberadaannya harus dipertahankan secara optimal, dijaga daya
dukungnya secara lestari, dan diurus dengan akhlak mulia, adil, arif, bijaksana,
terbuka, profesional, serta bertanggungjawab.
Dengan adanya undang-undang kehutanan, maka penyelenggaraan kehutanan
bertujuan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan
berkelanjutan dengan:
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 17

1. Menjamin keberadaan hutan dengan luasan yang cukup dan sebaran yang
proporsional;
2. Mengoptimalkan aneka fungsi hutan yang meliputi fungsi konservasi, fungsi
lindung, dan fungsi produksi untuk mencapai manfaat lingkungan, sosial,
budaya, dan ekonomi, yang seimbang dan lestari;
3. Meningkatkan daya dukung daerah aliran sungai;
4. Meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan kapasitas dan
keberdayaan masyarakat secara partisipatif, berkeadilan, dan berwawasan
lingkungan sehingga mampu menciptakan ketahanan sosial dan ekonomi
serta ketahanan terhadap akibat perubahan eksternal; dan
5. Menjamn distribusi manfaat yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Hutan mempunyai tiga fungsi, yaitu:
1. Fungsi konservasi
Hutan Konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang
mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa
serta ekosistemnya.
Hutan konservasi dapat dibagi menjadi:
a. Kawasan hutan suaka alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu,
yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan
keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya, yang juga
berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. Kawasan
hutan suaka alam dapat dibagi menjadi:
1.) Cagar Alam adalah Hutan Suaka Alam yang berhubungan dengan
keadaan alamnya yang khas termasuk alam hewani dan alam
nabati, perlu dilindungi untuk kepentingan ilmu pengetahuan
dan kebudayaan; dan
2.) Suaka Margasatwa adalah Hutan Suaka Alam yang ditetapkan
sebagai suatu tempat hidup margasatwa yang mempunyai nilai
khas bagi ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta merupakan
kekayaan dan kebanggaan nasional.
b. Kawasan hutan pelestarian alam adalah hutan dengan ciri khas
tertentu, yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem
penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 18

dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam
hayati dan ekosistemnya.
c. Taman buru adalah kawasan hutan yang ditetapkan sebagai tempat
wisata berburu.
2. Fungsi lindung
Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai
perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air,
mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan
memelihara kesuburan tanah.
3. Fungsi produksi
Hutan produksi kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi
hasil hutan.
Mengingat pentingnya keberadaan hutan, maka pengelolaan hutan dilakukan melalui
mekanisme pembentukan wilayah pengelolaan hutan menurut tingkatannya, yaitu:
1. Tingkat provinsi;
2. Kabupaten/Kota; dan
3. Unit pengelolaan.
Pembentukan wilayah pengelolaan hutan tingkat unit pengelolaan dilaksanakan
dengan mempertimbangkan karakteristik lahan, tipe hutan, fungsi hutan, kondisi
daerah aliran sungai, sosial budaya, ekonomi, kelembagaan masyarakat setempat
termasuk masyarakat hukum adat dan batas administrasi Pemerintahan.
Pembentukan unit pengelolaan hutan yang melampaui batas administrasi
Pemerintahan karena kondisi dan karakteristik serta tipe hutan, penetapannya diatur
secara khusus oleh Menteri.
Pemerintah menetapkan dan mempertahankan kecukupan luas kawasan hutan dan
penutupan hutan untuk setiap daerah aliran sungai dan atau pulau, guna optimalisasi
manfaat lingkungan, manfaat sosial, dan manfaat ekonomi masyarakat setempat.
Luas kawasan hutan yang harus dipertahankan minimal 30% (tiga puluh persen) dari
luas daerah aliran sungai dan atau pulau dengan sebaran yang proporsional.





Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 19

3.2.3. KEPMENHUT No.70/KPTS-II/2001 tentang Penetapan Kawasan
Hutan, Perubahan Status dan Fungsi Kawasan Hutan
A. Pengertian Terkait
1. Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi
sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan
alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan;
2. Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan
oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap;
3. Penetapan kawasan hutan adalah pemberian kepastian hukum mengenai
status, letak, batas dan luas suatu wilayah tertentu yang sudah ditunjuk
sebagai kawasan hutan menjadi kawasan hutan tetap dengan Keputusan
Menteri;
4. Perubahan fungsi kawasan hutan adalah merubah sebagian atau seluruh
fungsi hutan, dalam suatu kawasan hutan;
5. Perubahan status kawasan hutan adalah merubah status sebagian kawasan
hutan menjadi bukan kawasan hutan;
6. Relokasi fungsi kawasan hutan dengan kawasan Hutan Produksi yang dapat
di Konversi (HPK) adalah perubahan fungsi kawasan hutan tetap menjadi
HPK dan kawasan HPK menjadi kawasan hutan tetap. Kawasan hutan yang
direlokasi fungsi adalah kawasan hutan tetap dan HPK berdasarkan Peta
Penunjukan Kawasan Hutan (dan Perairan) yang ditetapkan oleh Menteri;
7. Kepentingan umum terbatas adalah kepentingan masyarakat antara lain
untuk keperluan jalan umum, saluran air, waduk, bendungan dan bangunan
pengairan lainnya, fasilitas pemakaman umum, fasilitas keselamatan umum,
yang tujuan penggunaannya tidak untuk mencari keuntungan;
8. Kepentingan umum komersial adalah kepentingan anggota masyarakat
antara lain untuk repeater telekomunikasi, stasiun pemancar radio, stasiun
relay televisi, instalasi air, listrik, yang tujuan penggunaannya untuk
mencari keuntungan; dan
9. Kepentingan strategis adalah kepentingan yang mempunyai pengaruh besar
bagi kemajuan perekonomian nasional dan kesejahteraan rakyat serta
diprioritaskan oleh pemerintah, antara lain untuk bangunan industri,
pelabuhan atau bandar udara.


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 20

B. Perubahan Status Kawasan Hutan
Pada dasarnya kawasan hutan yang.dapat dirubah statusnya adalah kawasan Hutan
Produksi yang dapat di-Konversi (HPK).
Dalam keadaan tertentu dapat dilakukan perubahan status kawasan hutan produksi
apabila memenuhi persyaratan:
1. Digunakan untuk kepentingan strategis;
2. Tidak berdampak negatif terhadap lingkungan yang didasarkan hasil
penelitian terpadu;
3. Tidak menimbulkan enclave atau tidak memotong kawasan hutan menjadi
bagian-bagian yang tidak layak untuk satu unit pengelolaan;
4. Hasil skoring berdasarkan kriteria dan standar penatagunaan kawasan hutan
mempunyai nilai kurang dari 125;
5. Tidak mengurangi kecukupan luas minimal kawasan hutan dalam wilayah
Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu 30% dari luas DAS;
6. Mendapat persetujuan dari DPRD Kabupaten/Kota dan atau DPRD Provinsi .
7. Apabila berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis
harus mendapat persetujuan DPR;
8. Pada wilayah Kabupaten/Kota atau provinsi yang mempunyai kawasan HPK
harus didahului dengan relokasi fungsi kawasan hutan dengan HPK; dan
9. Pada wilayah Kabupaten/Kota atau provinsi yang tidak mempunyai HPK
harus disediakan tanah pengganti yang "clear and clean" dengan ratio:
a. 1 : 1 untuk pembangunan kepentingan umum terbatas oleh
pemerintah;
b. 1 : 2 untuk pembangunan proyek strategis yang diprioritaskan
pemerintah;
c. 1 : 1 untuk penyelesaian okupasi atau enclave; dan
d. Minimal 1 : 3 untuk yang sifatnya komersial.
Perubahan status kawasan hutan ditetapkan dengan Keputusan Menteri dilampiri peta
dengan skala minimal 1 : 100.000. Perubahan status kawasan hutan dilakukan dengan
cara:
1. Pelepasan kawasan Hutan Produksi yang dapat di-Konversi (HPK); dan
2. Tukar menukar kawasan hutan.



Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 21

C. Perubahan Fungsi Kawasan Hutan
Perubahan fungsi kawasan hutan hanya dapat dilakukan apabila areal/kawasan yang
dirubah fungsi memenuhi kriteria dan standar penetapan fungsi hutannya. Fungsi
kawasan hutan yang akan dirubah fungsinya harus didasarkan atas Peta Penunjukan
Kawasan Hutan (dan Perairan) provinsi yang ditetapkan oleh Menteri. Perubahan
fungsi kawasan hutan didasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Tim
Terpadu.
Permohonan perubahan fungsi kawasan hutan diajukan kepada Menteri dilampiri:
1. Saran/pertimbangan teknis Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota atau provinsi
untuk yang lintas Kabupaten/Kota;
2. Rekomendasi Bupati/Walikota atau Gubernur untuk yang lintas
Kabupaten/Kota;
3. Persetujuan DPRD Kabupaten/Kota dan DPRD Provinsi untuk yang lintas
Kabupaten/Kota; dan
4. Peta skala minimal 1:100.000.
Atas permohonan tersebut, Eselon I terkait lingkup Kementerian Kehutanan
memberikan saran/pertimbangan teknis kepada Menteri. Berdasarkan
saran/pertimbangan teknis tersebut, Menteri menolak atau menyetujui permohonan
perubahan fungsi kawasan hutan.
Apabila permohonan disetujui, Badan Planologi menyiapkan konsep Keputusan
Menteri tentang perubahan fungsi kawasan hutan dilampiri peta dengan skala
minimal 1 : 100.000. Menteri menetapkan Keputusan tentang Perubahan Fungsi
Kawasan Hutan beserta peta lampiran.

3.2.4. Badan Planologi Kehutanan (BAPLAN) dan Badan Pemantapan
Kawasan Hutan (BPKH)
Dalam rangka mendukung pelaksanaan pembangunan kehutanan untuk mencapai
pelaksanaan pengelolaan hutan yang lestari dibutuhkan kemantapan prakondisi
pengelolaan hutan. Dalam lingkup Kementerian Kehutanan penanggung jawab
terwujudnya kemantapan prakondisi tersebut adalah Badan Planologi Kehutanan.
Dengan demikian Badan Planologi Kehutanan dapat dikatakan merupakan “supporting
agency” bagi pelaksanaan kegiatan pembangunan kehutanan yang akan dilakukan
oleh instansi-instansi lingkup Kementerian Kehutanan lainnya.

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 22

Kemantapan prakondisi pengelolaan hutan meliputi hal-hal antara lain :
1. Kemantapan status dan fungsi kawasan hutan;
2. Ketersediaan data dan informasi kehutanan yang lengkap dan up to date;
dan
3. Ketersediaan rencana-rencana kehutanan.
Tugas pokok Badan Planologi Kehutanan sesuai dengan Surat Peraturan Menteri
Kehutanan Nomor P.13/MENHUT-II/2005 tanggal 6 Mei 2005 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Kehutanan meliputi dua hal yaitu perencanaan makro dan
pemantapan kawasan hutan.
Sedangkan Tugas pokok Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 6188/KPTS-II/2002 tanggal 10 Juni 2002 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) adalah
melaksanakan pemantapan kawasan hutan, penilaian perubahan status dan fungsi
hutan serta penyajian data dan informasi sumberdaya hutan.

Tabel 3.1
Unit Pelaksana Teknis
(Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah I Sampai Dengan XI)
No Nama Lokasi Wilayah Kerja
1 Balai Pemantapan Kawasan
Hutan Wilayah I
Medan Provinsi: Nanggroe Aceh Darussalam,
Sumatera Utara, Riau dan Sumatera Barat.
2 Balai Pemantapan Kawasan
Hutan Wilayah II
Palembang Provinsi: Jambi, Sumatera Selatan,
Bangka-Belitung, Bengkulu dan Lampung
3 Balai Pemantapan Kawasan
Hutan Wilayah III
Pontianak Provinsi Kalimantan Barat.
4 Balai Pemantapan Kawasan
Hutan Wilayah IV
Samarinda Provinsi Kalimantan Timur
5 Balai Pemantapan Kawasan
Hutan Wilayah V
Banjarbaru Provinsi: Kalimantan Selatan dan
Kalimantan Tengah
6 Balai Pemantapan Kawasan
Hutan Wilayah VI
Manado Provinsi: Sulawesi Utara, Gorontalo dan
Sulawesi Tengah.
7 Balai Pemantapan Kawasan
Hutan Wilayah VII
Makassar Provinsi: Sulawesi Selatan dan Sulawsi
Tenggara.
8 Balai Pemantapan Kawasan
Hutan Wilayah VIII
Denpasar Provinsi: Bali, Nusa Tenggara Barat dan
Nusa Tenggara Timur.
9 Balai Pemantapan Kawasan
Hutan Wilayah IX
Ambon Provinsi: Maluku dan Maluku Utara.
10 Balai Pemantapan Kawasan
Hutan Wilayah X
Jayapura Provinsi Papua.
11 Balai Pemantapan Kawasan
Hutan Wilayah XI
Yogyakarta Provinsi: Banten, DKI. Jakarta, Jawa
Barat, Jawa Tengah, DI. Yogyakarta dan
Jawa Timur.
Sumber: SK MENHUT No.6188/KPTS-II/2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja BPKH.




Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 23

3.2.5. Penetapan Kawasan Hutan
A. Kriteria Penetapan Hutan Lindung
1. Kawasan hutan dengan faktor-faktor kelas lereng lapangan, kelas tanah dan
kelas kelas intensitas hujan setelah masing-masing dikalikan dengan angka
penimbang mempunyai total nilai (skor) 175 atau lebih besar;
2. Kawasan hutan yang mempunyai kelas lereng lapangan 40% atau lebih;
3. Kawasan hutan yang mempunyai ketinggian lapangan di atas permukaan laut
2.000 m atau lebih;
4. Menyimpang dari ketentuan butir 1 sampai dengan 3 di atas, kawasan hutan
perlu dibina dan dipertahankan sebagai hutan lindung apabila memenuhi
salah satu atau beberapa syarat sebagai berikut:
a. Tanah sangat peka terhadap erosi yaitu jenis tanah regosol, litosol,
organosol dan renzina dengan lereng lapangan lebih besar (>) 15%;
b. Merupakan jalur pengamanan aliran sungai/air, sekurang-kurangnya 100
meter di kiri dan kanan sungai/aliran air tersebut;
c. Merupakan pelindung mata air, sekurang-kurangnya dengan jari-jari 200
meter di sekeliling mata air tersebut; dan
d. Guna keperluan/kepentingan khusus, ditetapkan oleh Menteri sebagai
hutan lindung.

B. Kriteria Penetapan Hutan Produksi Terbatas dan Hutan Produksi Tetap.
1. Hutan Produksi Terbatas (HPT)
Kawasan Hutan dengan faktor-faktor kelas lereng lapangan, kelas tanah dan
kelas intensitas hujan setelah masing-masing dikalikan dengan angka
penimbang mempunyai total nilai (skor) 125-174.
2. Hutan Produksi Tetap (HP)
Kawasan hutan dengan faktor-faktor kelas lereng lapangan, kelas tanah dan
kelas intensitas hujan setelah masing-masing dikalikan dengan angka
penimbang mempunyai total nilai (skor) kurang dari 124.

C. Kriteria Cagar Alam
1. Kawasan yang ditunjuk mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan
satwa dan ekosisitem;
2. Mewakili formasi biota tertentu dan atau unit-unit penyusun;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 24

3. Mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan
tidak atau belum diganggu manusia;
4. Mempunyai luas dan bentuk tertentu agar menunjang pengelolaan efektif
dengan daerah penyangga yang cukup luas; dan
5. Mempunyai ciri khas dan dapat merupakan satu-satunya contoh di suatu
daerah serta keberadaannya memerlukan upaya konservasi.
D. Kriteria Suaka Margasatwa
1. Kawasan yang ditunjuk merupakan tempat hidup dan berkembangbiak dari
suatu jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasinya;
2. Memiliki keanekaragaman dan populasi satwa yang tinggi;
3. Merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu; dan
4. Mempunyai luas yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan.
E. Kriteria Hutan Wisata
1. Kawasan hutan yang ditunjuk memiliki keadaan yang menarik dan indah baik
secara alamiah maupun buatan manusia;
2. Memenuhi kebutuhan manusia akan rekreasi dan olah raga serta terletak
dekat pusat-pusat pemukiman penduduk;
3. Mengandung satwa buru yang dapat dikembang biakkan sehingga
memungkinkan perburuan secara teratur dengan mengutamakan segi
rekreasi, olah raga dan kelestarian satwa; dan
4. Mempunyai luas yang cukup dan lapangannya tidak membahayakan.

3.2.6. Mutasi Kawasan Hutan
Mutasi kawasan hutan adalah perubahan kawasan hutan akibat perubahan fungsi
kawasan hutan menjadi fungsi lainnya atau perubahan fungsi dalam fungsi pokok
kawasan hutan dan perubahan peruntukan kawasan hutan dari kawasan hutan
menjadi bukan kawasan hutan serta penunjukan parsial areal penggunaan lain
menjadi kawasan hutan.
Ruang lingkupnya meliputi :
1. Perubahan fungsi kawasan hutan;
2. Perubahan peruntukan kawasan hutan; dan
3. Penunjukan parsial areal penggunaan lain menjadi kawasan hutan.
Tujuan Perubahan Fungsi Kawasan Hutan adalah terwujudnya optimalisasi dan
manfaat fungsi kawasan hutan secara lestari dan berkesinambungan.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 25

Prosedur dan mekanisme perubahan fungsi kawasan hutan:
1. Permohonan diajukan kepada Menteri Kehutanan dengan dilampiri
persyaratan administrasi berupa rekomendasi Bupati/walikota, Gubernur dan
peta lokasi minimal skala 1 : 100.000;
2. Dilakukan pengkajian terpadu oleh Tim terpadu (KEMHUT, LIPI, KLH,
PEMPROV, PEMKAB dan Lembaga terkait lainnya) dengan mengacu Keputusan
Menteri Kehutanan No.1615/KPTS-VII/2001 jo.8637/KPTS-VII/2002;
3. Pengkajian oleh Tim Terpadu menghasilkan rekomendasi Tim Terpadu kepada
Menteri Kehutanan;
4. Badan Planologi Kehutanan menyampaikan hasil dan rekomendasi Tim
Terpadu kepada Menteri Kehutanan;
5. Menteri Kehutanan menolak atau menyetujui permohonan perubahan fungsi
kawasan hutan;
6. Apabila permohonan disetujui, Badan Planologi Kehutanan menyampaikan
rancangan (draft) Keputusan Perubahan Fungsi Kawasan Hutan beserta peta
lampirannya kepada Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan; dan
7. Menteri Kehutanan menetapkan keputusan tentang Perubahan fungsi kawasan
hutan.
Tahapan kegiatan perubahan fungsi kawasan hutan:
1. Permohonan diajukan kepada MENHUT dengan dilampiri saran pertimbangan
teknis Dishut Kabupatan/Kotamadya atau Provinsi, Rekomendasi
Bupati/Walikota atau Gubernur dan peta skala minimal 1 : 100.000;
2. Eselon I terkait memberikan pertimbangan teknis kepada menteri Kehutanan;
3. MENHUT menolak dan menyetujui permohonan perubahan fungsi kawasan
hutan;
4. Apabila disetujui, BAPLANHUT menyiapkan konsep kepada MENHUT dan
dilampiri peta dengan skala 1 : 100.000; dan
5. MENHUT menetapkan keputusan tentang perubahan fungsi kawasan hutan
beserta peta lampiran.




Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 26

Tahapan kegiatan perubahan peruntukan kawasan hutan:
1. Permohonan diajukan kepada Menteri Kehutanan dengan dilampiri
rekomendasi Gubernur atau Bupati/Walikota dan peta dengan skala minimal
1 : 100.000;
2. Eselon I terkait memberikan pertimbangan teknis kepada MENHUT apabila
areal yang dimohon bukan HPK maka harus dilengkapi dengan hasil penelitian
Tim terpadu;
3. Menteri menolak atau menyetujui permohonan pelepasan;
4. Perubahan yang disetujui ditindaklanjuti dengan penataan batas di lapangan
oleh Panitia Tata Batas;
5. Hasil Berita Acara Tata Batas dan Peta Tata Batas dilakukan penelaahan
hukum oleh Sekretariat Jenderal Kementerian Kehutanan dan telaahan teknis
oleh Eselon I terkait;
6. Badan Planologi Kehutanan menyiapkan konsep kepada Menteri Kehutanan;
dan
7. Menteri Kehutanan menetapkan perubahan peruntukan kawasan hutan dan
Keputusan penetapan batas kawasan hutan yang baru beserta peta
lampirannya.

Penanggung jawab kegiatan mutasi kawasan hutan melibatkan instansi kehutanan di
Pusat dan daerah (pemerintah daerah) dengan Tim terpadu/lembaga pemerintah
yang mempunyai kompetensi dan memiliki otoritas ilmiah (Scientific authority).
Khusus kegiatan perubahan peruntukan kawasan hutan yang berdampak penting
dan cakupan yang luas serta bernilai strategis, ditetapkan oleh pemerintah dengan
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
Peraturan yang mendasari kegiatan mutasi kawasan hutan adalah:
1. UU No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan;
2. Surat Keputusan MENHUT No. 70/KPTS-II/2001 Jo No. 48/MENHUT-VII/2004;
3. Surat Keputusan MENHUT No. 1615/KPTS-VII/2001 Jo. 8637/KPTS-VII/2002;
dan
4. SKB Menteri Pertambangan dan Menteri Kehutanan No. 126/MEN/1994 dan
No. 422/KPTS-II/1994.


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 27

3.2.7. Perubahan Kawasan Hutan
Terkait dengan perubahan kawasan hutan, terdapat beberapa hal yang harus
diperhatikan, yaitu:
1. Pengertian:
Perubahan kawasan hutan adalah suatu proses perubahan terhadap suatu
kawasan hutan tertentu menjadi bukan kawasan hutan atau menjadi
kawasan hutan dengan fungsi hutan lainnya.
2. Kegiatan Perubahan Kawasan Hutan
a. Perubahan status/peruntukan kawasan hutan.
Perubahan status/peruntukan kawasan hutan adalah merupakan
suatu proses perubahan kawasan hutan menjadi bukan kawasan
hutan, kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara:
1.) Pelepasan kawasan hutan pada hutan produksi yang dapat
dikonversi (HPK); dan
2.) Tukar menukar kawasan hutan dilakukan apabila di wilayah
yang bersangkutan tidak tersedia HPK dan hanya pada hutan
produksi.
b. Perubahan fungsi kawasan hutan
Perubahan fungsi kawasan hutan adalah suatu proses perubahan
fungsi kawasan hutan tertentu menjadi fungsi kawasan hutan
lainnya.
3. Perubahan status/peruntukan kawasan hutan (pelepasan kawasan
hutan):
a. Pelepasan Kawasan Hutan untuk Pembangunan Transmigrasi
Mekanisme:
1.) Prosedur pelepasan areal hutan untuk transmigrasi mengacu
pada SKB Menteri Transmigrasi dan PPH dan Menteri Kehutanan
Nomor SKB 126/MEN/1994 dan nomor 422/KPTS-II/1994.
2.) Diajukan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Provinsi (d/h Kakanwil Deptrans dan PPH) kepada Menteri
Kehutanan melalui Kepala Dinas Kehutanan Provinsi (d/h
Kakanwil Kemhut) dengan dilengkapi persyaratan administrasi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 28

berupa: rekomendasi Bupati dan atau Gubernur, studi rencana
teknis lokasi yang diusulkan, dan peta lokasi.
b. Pelepasan Kawasan Hutan untuk Pembangunan Pertanian.
Mekanisme:
1.) Pelepasan Kawasan Hutan untuk Pembangunan Pertanian
mengacu pada SKB MENHUT, Mentan dan BPN No. 364/KPTS-
II/1990, 519/KPTS/ JK.050/7/1990 tanggal 23-8-1990 tentang
Ketentuan Pelepasan Kawasan Hutan dan Pemberian HGU untuk
Pengembangan Usaha Pertanian;
2.) Permohonan disampaikan kepada MENHUT dengan dilampiri
data permohonan, peta kawasan hutan yang dimohon,
rekomendasi Disbun Tingkat I, pertimbangan teknis dari Instansi
Kehutanan, surat pernyataan tidak mengalihkan kepemilikan;
dan
3.) Pertimbangan Teknis dari Baplan, Ditjen BPK (apabila arealnya
termasuk HPH/HTI), dan Sekjen sebagai Ketua Tim
Pertimbangan, Persetujuan prinsip dari MENHUT, Penilaian oleh
instansi kehutanan dan perkebunan di Tingkat I.
4. Tukar Menukar Kawasan Hutan
Mekanisme:
a. Mengacu kepada SK MENHUT No. 292/KLPTS-II/1995 tanggal 12 Juni
1995 tentang Tukar Menukar Kawasan Hutan jo. SK Menteri
Kehutanan No. 70/KPTS-II/2001 tanggal 15 Maret 2001 jo SK MENHUT
No. 48/KPTS-II/2004 tanggal 23 Maret 2004;
b. Permohonan tukar menukar kawasan hutan yang diajukan kepada
MENHUT dilampiri peta dengan skala minimal 1 : 100.000,
rekomendasi Gubernur atau Bupati/Walikota, peta usulan tanah
pengganti;
c. Eselon I terkait lingkup Kementerian Kehutanan menyampaikan
saran/pertimbangan teknis, Penelitian Tim terpadu terhadap
kawasan hutan, atas dasar saran/pertimbangan teknis atau hasil
penelitian Tim terpadu, MENHUT memberikan penolakan atau
persetujuan, apabila permohonan disetujui dilakukan Clear dan
Clean, Pembuatan Berita Acara Tukar Menukar, Penunjukan Tanah
Pengganti sebagai Kawasan Hutan dengan Keputusan Menteri; dan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 29

d. Berdasarkan BATB dan Peta Tata Batas Kawasan Hutan yang telah
dilakukan penelaahan hukum dan teknis oleh eselon I terkait lingkup
Kementerian Kehutanan Badan Planologi menyiapkan konsep
Keputusan Menteri beserta lampiran skala minimal 1 : 100.000
tentang Pelepasan Kawasan Hutan, Penetapan Batas kawasan hutan
yang baru yang berbatasan dengan kawasan hutan yang dilepas dan
Penetapan Tanah Pengganti sebagai Kawasan Hutan.
5. Perubahan Fungsi Kawasan Hutan
Mekanisme:
a. Prosedur perubahan fungsi kawasan hutan mengacu pada Keputusan
Menteri Kehutanan Nomor 70/KPTS- II/2001 jo Nomor SK 48/MENHUT-
II/2004;
b. Diajukan oleh pemohon (Bupati/Gubernur) kepada Menteri
Kehutanan, dengan dilengkapi persyaratan administrasi berupa:
rekomendasi Bupati dan atau Gubernur, kajian potensi kawasan
hutan yang diusulkan, dan peta lokasi skala minimal 1:100.000; dan
c. Pengkajian oleh Tim Terpadu sesuai Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor 1615/KPTS-VII/2001.
Gambar 3.2 Diagram Fungsi Pokok Hutan

Sumber: UU No. 41/1999 tentang Kehutanan.


Fungsi Pokok Hutan
Hutan Konservasi Hutan Lindung Hutan Produksi
Kawasan Hutan
Suaka Alam
Kawasan Hutan
Pelestarian
Alam
Taman Buru
Cagar Alam
Suaka
Margasatwa
Penetapan oleh
Pemerintah
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 30

Gambar 3.3 Diagram Mutasi Kawasan Hutan

Sumber: KEPMENHUT No. 70/KPTS-II/2001 tentang Penetapan Kawasan Hutan, Perubahan Status dan
Fungsi Kawasan Hutan


3.3. KEBIJAKAN PENATAAN RUANG
3.3.1. Arahan Pengembangan Menurut RTRW Nasional
Melihat kondisi geografis dari Kabupaten Tolikara yang dibatasi oleh Kabupaten
Kabupaten Puncak (Distrik Ilu dan Distrik Fawi), Kabupaten Jayawijaya (Distrik
Gamelia, Distrik Tiom, Distrik Dipo, Distrik Kelila, Distrik Kobakma), dan Kabupaten
Sarmi (Distrik Dabra), maka pengembangan struktur ruang pada kabupaten
perbatasan tersebutlah yang sangat berpengaruh terhadap pengembangan Kabupaten
Tolikara.
Arahan pengembangan Provinsi Papua menurut RTRW Nasional ditinjau dari 2 aspek,
yaitu arahan struktur ruang dan arahan pola ruang.
A. Arahan Struktur Ruang
Struktur ruang nasional terhadap pengembangan Provinsi Papua yang perlu
diperhatikan dalam pengembangan Kabupaten Tolikara adalah:
1. Sistem Perkotaan Nasional
Berdasarkan arahan RTRWN, maka sistem Perkotaan Nasional di Provinsi
Papua adalah:
a. Pusat Kegiatan Nasional (PKN)
1.) Timika, dengan arahan peningkatan fungsi perkotaan; dan
2.) Jayapura, dengan arahan peningkatan fungsi perkotaan.
MUTASI KAWASAN HUTAN
Perubahan Fungsi
Kawasan Hutan
Perubahan Status/
Peruntukan Kawasan Hutan
(Pelepasan Kawasan
Hutan)
Penunjukan parsial
Areal Penggunaan
Lain (APL) menjadi
kawasan hutan
Hutan
Konservasi
dan/atau
Lindung
Hutan
Produksi
(HPT/
HPK)
Pelepasan
Kawasan
Hutan (HPK)
Tukar
Menukar
Kawasan
Hutan
APL
HL
HK
HP
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 31

b. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW)
1.) Biak, dengan arahan peningkatan fungsi perkotaan;
2.) Nabire, dengan arahan peningkatan fungsi perkotaan;
3.) Muting, dengan arahan pengembangan perkotaan baru;
4.) Bade, dengan arahan pengembangan perkotaan baru;
5.) Merauke, dengan arahan peningkatan fungsi perkotaan;
6.) Sarmi, dengan arahan pengembangan perkotaan baru;
7.) Arso, dengan arahan peningkatan fungsi perkotaan; dan
8.) Wamena, dengan arahan peningkatan fungsi perkotaan.
c. Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN)
1.) Jayapura, dengan arahan pengembangan/peningkatan fungsi
perkotaan;
2.) Tanah Merah, dengan arahan pengembangan/peningkatan fungsi
perkotaan; dan
3.) Merauke, dengan arahan pengembangan/peningkatan fungsi
perkotaan.
Jika melihat sistem perkotaan nasional di Provinsi Papua di atas, maka
sistem perkotaan yang berpengaruh terhadap pengembangan Kabupaten
Tolikara adalah:
a. Pusat Kegiatan Nasional (PKN) di Jayapura
Adapun arahan pengembangan PKN di Jayapura adalah:
1.) Pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan berskala
internasional dan nasional yang didukung dengan fasilitas dan
infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi
yang dilayaninya.
2.) Pengembangan fungsi kawasan perkotaan sebagai pusat
permukiman dengan tingkat intensitas pemanfaatan ruang
menengah hingga tinggi yang kecenderungan pengembangan
ruangnya ke arah vertikal.
b. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) di Wamena
Arahan pengembangan PKW di Wamena:
1.) Pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan berskala
provinsi yang didukung dengan fasilitas dan infrastruktur
perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang
dilayaninya; dan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 32

2.) Pengembangan fungsi kawasan perkotaan sebagai pusat
permukiman dengan tingkat intensitas pemanfaatan ruang
menengah yang kecenderungan pengembangan ruangnya ke arah
horizontal dikendalikan.
c. Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) di Jayapura
Arahan pengembangan PKSN di Jayapura:
1.) Pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan yang
berdaya saing, pertahanan, pusat promosi investasi dan
pemasaran, serta pintu gerbang internasional dengan fasilitas
kepabeanan, imigrasi, karantina, dan keamanan; dan
2.) Pemanfaatan untuk kegiatan kerja sama militer dengan negara
lain secara terbatas dengan memperhatikan kondisi fisik
lingkungan dan sosial budaya masyarakat.

2. Jaringan Transportasi Nasional
Arahan pengembangan transportasi nasional mencakup jaringan jalan
sebagai simpul transportasi darat kewenangan nasional dan bandar udara
sebagai simpul transportasi udara nasional.
Jaringan jalan kolektor primer K1 sebagai kewenangan nasional meliputi
ruas jalan:
a. Usilimu – Karubaga; dan
b. Karubaga – Illu.
Sedangkan arahan jaringan jalan kolektor primer K3 kewenangan provinsi
Papua meliputi rencana jaringan jalan Karubaga-Taiyeve (Hulu Sungai
Mamberamo).
Arahan bandar udara sebagai simpul transportasi udara nasional di Provinsi
Papua:
a. Bandara Sentani sebagai pusat penyebaran sekunder;
b. Bandara Mopah sebagai pusat penyebaran sekunder;
c. Bandara Wamena pusat penyebaran tersier;
d. Bandara Nabire pusat penyebaran tersier; dan
e. Bandara Timika pusat penyebaran tersier.
Jika melihat arahan jaringan jalan dan bandar udara sebagai simpul
transportasi nasional di Provinsi Papua di atas, maka pengembangan
jaringan jalan dan bandar udara yang berpengaruh terhadap pengembangan
Kabupaten Tolikara adalah:
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 33

a. Jaringan jalan strategis nasional yang dikembangkan untuk:
1.) Menjangkau dan melayani wilayah pelayanan; dan
2.) Memiliki fungsi sebagai simpul jaringan transportasi darat
nasional.
b. Bandara Sentani sebagai bandara penyebaran sekunder, yang
ditetapkan dengan kriteria:
1.) Merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan
PKN; dan
2.) Melayani penumpang dengan jumlah antara 1.000.000 (satu juta)
sampai dengan 5.000.000 (lima juta) orang per tahun.
c. Bandar Wamena sebagai bandara penyebaran tersier, yang
ditetapkan dengan kriteria:
1.) Merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan
PKN atau PKW terdekat; dan
2.) Melayani penumpang dengan jumlah antara 500.000 (lima ratus
ribu) sampai dengan 1.000.000 (satu juta) orang per tahun.
B. Arahan Pola Ruang
Pola ruang nasional terhadap pengembangan Provinsi Papua yang perlu diperhatikan
dalam pengembangan Kabupaten Tolikara adalah:
1. Kawasan Lindung Nasional
Jenis kawasan lindung nasional di Provinsi Papua adalah:
a. Suaka margasatwa Pulau Dolok, Jayawijaya, Mamberamo Foja,
Danau Bian, Anggromeos, Komolon;
b. Cagar alam Cycloops, Enarotali, Bupul;
c. Cagar alam laut Pegunungan Wayland;
d. Taman Nasional Lorentz, Wasur; dan
e. Taman Wisata alam Teluk Youtefa.
Peraturan zonasi untuk suaka margasatwa, suaka margasatwa laut, cagar
alam, dan cagar alam laut disusun dengan memperhatikan:
a. Pemanfaatan ruang untuk penelitian, pendidikan, dan wisata alam;
b. Ketentuan pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf a;
c. Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan
penelitian, pendidikan, dan wisata alam;
d. Ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain untuk kegiatan
penelitian, pendidikan, dan wisata alam; dan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 34

e. Ketentuan pelarangan terhadap penanaman flora dan pelepasan
satwa yang bukan merupakan flora dan satwa endemik kawasan.
Peraturan zonasi untuk taman nasional dan taman nasional laut disusun
dengan memperhatikan:
a. Pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam;
b. Pemanfaatan ruang kawasan untuk kegiatan budidaya hanya diizinkan
bagi penduduk asli di zona penyangga dengan luasan tetap, tidak
mengurangi fungsi lindung kawasan, dan di bawah pengawasan ketat;
c. Ketentuan pelarangan kegiatan budi daya di zona inti; dan
d. Ketentuan pelarangan kegiatan budi daya yang berpotensi
mengurangi tutupan vegetasi atau terumbu karang di zona
penyangga.
Peraturan zonasi untuk taman wisata alam dan taman wisata alam laut
disusun dengan memperhatikan:
a. Pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa mengubah bentang
alam;
b. Ketentuan pelarangan kegiatan selain pemanfaatan ruang untuk
wisata alam;
c. Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan
pemanfaatan ruang untuk wisata alam; dan
d. Ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain untuk menunjang
kegiatan pemanfaatan ruang untuk wisata alam.
2. Kawasan Budidaya yang memiliki nilai strategis nasional (Kawasan Andalan)
Jenis kawasan andalan di Provinsi Papua adalah:
a. Kawasan Timika (Tembagapura) dan sekitarnya dengan sekor
unggulan;
b. Kawasan Biak dengan sektor unggulan;
c. Kawasan Nabire dan Sekitarnya (Aran, Moswaren, dan Lagare) dengan
sektor unggulan;
d. Kawasan Merauke dan sekitarnya dengan sektor unggulan;
e. Kawasan Mamberamo – Lereh (Jayapura) dan sekitarnya;
f. Kawasan Wamena dan sekitarnya;
g. Kawasan Andalan Laut Teluk Cendrawasih-Biak dan sekitarnya; dan
h. Kawasan Andalan Laut Jayapura – Sarmi.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 35

Jika melihat arahan pola ruang budidaya yang memiliki nilai strategis
Nasional di Provinsi Papua di atas, maka pengembangan kawasan budidaya
nasional yang berpengaruh terhadap pengembangannya dengan peraturan
zonasi untuk masing-masing sektor unggulan sebagai berikut:
a. Kehutanan:
1.) Pembatasan pemanfaatan hasil hutan untuk menjaga kestabilan
neraca sumber daya kehutanan;
2.) Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan
pemanfaatan hasil hutan; dan
3.) Ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain untuk
menunjang kegiatan pemanfaatan hasil hutan.
b. Pertanian:
1.) Pemanfaatan ruang untuk permukiman petani dengan kepadatan
rendah; dan
2.) Ketentuan pelarangan alih fungsi lahan menjadi lahan budi daya
non pertanian kecuali untuk pembangunan sistem jaringan
prasarana utama.
c. Perikanan:
1.) Pemanfaatan ruang untuk kawasan pemijahan dan/atau kawasan
sabuk hijau; dan
2.) Pemanfaatan sumber daya perikanan agar tidak melebihi potensi
lestari.
d. Pertambangan:
1.) Pertambangan diarahkan kepada pertambangan rakyat;
2.) Pengaturan kawasan tambang dengan memperhatikan
keseimbangan antara biaya dan manfaat serta keseimbangan
antara risiko dan manfaat; dan
3.) Pengaturan bangunan lain disekitar instalasi dan peralatan
kegiatan pertambangan yang berpotensi menimbulkan bahaya
dengan memperhatikan kepentingan daerah.
e. Industri:
1.) Pemanfaatan ruang untuk kegiatan industri baik yang sesuai
dengan kemampuan penggunaan teknologi, potensi sumber daya
alam dan sumber daya manusia di wilayah sekitarnya; dan
2.) Pembatasan pembangunan perumahan baru sekitar kawasan
peruntukan industri.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 36

f. Pariwisata:
1.) Pemanfaatan potensi alam dan budaya masyarakat sesuai daya
dukung dan daya tampung lingkungan;
2.) Perlindungan terhadap situs peninggalan kebudayaan masa
lampau;
3.) Pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang
kegiatan pariwisata; dan
4.) Ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain untuk
menunjang kegiatan pariwisata.

3.3.2. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Tolikara
3.3.2.1 Struktur Ruang Kabupaten Tolikara
A. Sistem Pusat Kegiatan
Sesuai dengan konsep pengembangan tata ruang wilayah Kabupaten Tolikara, maka
strategi pengembangan adalah pemerataan pelayanan dan penjalaran fungsi - fungsi
pusat-pusat pelayanan. Oleh karena itu perlu pembentukan pusat - pusat yang
mampu memberikan pelayanan secara optimal ke seluruh wilayah. Rencana
pengembangan sistem pusat - pusat pelayanan (pusat kegiatan) di wilayah Kabupaten
Tolikara diarahkan untuk meningkatkan pembangunan dan pemerataan kesejahteraan
masyarakat. Hal ini menyangkut pemenuhan kebutuhan masyarakat termasuk dalam
penyediaan sarana dan prasarana utama penunjang yang pengadaannya dikelola
secara terpadu. Penerapan kebijaksanaan setiap sistem kegiatan pembangunan
berbeda - beda tergantung dari kebutuhan tiap - tiap wilayah.
Arahan pengembangan pusat kegiatan dilakukan melalui pengembangan pusat-pusat
permukiman baik pusat permukiman perkotaan maupun perdesaan untuk melayani
kegiatan ekonomi, pelayanan pemerintahan dan pelayanan jasa, bagi kawasan
permukiman maupun daerah sekitarnya. Pusat - pusat kegiatan ditujukan untuk
melayani perkembangan berbagai usaha atau kegiatan dan permukiman masyarakat
dalam wilayahnya dan wilayah sekitarnya.
Hirarki fungsional Wilayah Kabupaten Tolikara adalah:
1. Pusat Kegiatan Wilayah promosi (PKWp), yaitu pusat kegiatan lokal yang di
promosikan atau di rekomendasikan oleh provinsi dalam lima tahun kedepan
akan menjadi PKW, mengingat secara fungsi dan perannya kota tersebut telah
memiliki karakteristik pusat kegiatan wilayah;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 37

2. Pusat Kegiatan Lokal promosi (PKLp) yang berada di wilayah kabupaten,
merupakan PPK yang akan dipromosikan menjadi PKL dalam 5 tahun
mendatang;
3. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK), merupakan kawasan perkotaan yang berfungsi
melayani kegiatan skala distrik atau beberapa desa/kampung;
4. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL), merupakan pusat permukiman yang
berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa/kampung.
Sistem pusat kegiatan di dalam wilayah kabupaten harus mengadopsi kebijakan
pengembangan sistem kegiatan nasional yang dituangkan dalam RTRWN maupun
RTRW Pulau serta kebijakan penataan ruang provinsi yang dituangkan dalam RTRW
Provinsi Papua.
Berdasarkan arahan PP No.26/2008 tentang RTRW Nasional tidak ada pusat kegiatan
di Kabupaten Tolikara. Sementara dalam Draft PERDA RTRW Provinsi Papua tahun
2011-2031 telah terdapat arahan pengembangan Karubaga sebagai PKL. Namun
demikian, mengingat perkembangan Karubaga ke depan yang secara optimistik dapat
berlangsung dengan cepat, maka Karubaga akan dipromosikan menjadi PKWp.
Selanjutnya dengan mempertimbangkan keberadaan jangkauan pelayanan dari sistem
perkotaan serta karakteristik wilayahnya, maka telah dirumuskan PKL, PKLp, PPK dan
PPL dalam suatu FGD pada tanggal 9 Nopember 2012 di Hotel Tolikara, Karubaga,
Kabupaten Tolikara antar seluruh stakeholders terkait. Adapun susunan sistem
perkotaan di Kabupaten Tolikara adalah sebagai berikut.
Tabel 3.2
Penetapan Sistem Pusat Pelayanan Di Kabupaten Tolikara
No Nama Kota Hierarki Fungsi Utama
1 Karubaga di Distrik Karubaga PKL  Ibukota Kabupaten/Pusat pelayanan
pemerintahan Kabupaten
 Pintu primer transportasi udara kabupaten
 Pusat pelayanan pemerintahan distrik
 Pusat perdagangan dan jasa skala regional
 Pusat pelayanan kesehatan
 Pusat pariwisata
 Pusat agroforestri
 Pusat permukiman
2 Mamit di Distrik Kembu PKLp  Pusat penunjang pemerintahan kabupaten
 Pusat pelayanan pemerintahan distrik
 Pusat perdagangan dan jasa
 Pusat agroforestri
 Pusat pendidikan
 Pusat pelayanan kesehatan
 Pusat parwisiata
 Pusat permukiman
3 Dundu di Distrik Dundu PKLp  Pusat pelayanan pemerintahan distrik
 Pusat pengembangan pertanian
 Pusat pengembangan kebudayaan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 38

No Nama Kota Hierarki Fungsi Utama
 Pusat perkantoran
 Pusat budidaya kehutanan
 Pusat permukiman
4 Dow di Distrik Dow PKLp  Pusat pelayanan pemerintahan distrik
 Pusat pengembangan pertanian
 Pusat pengembangan kebudayaan
 Pusat perkantoran
 Pusat permukiman
 Pusat pariwisata
5 Taiyeve di Distrik Wari PKLp  Pusat pelayanan pemerintahan distrik
 Pusat pengembangan pertanian
 Pusat pengembangan kebudayaan
 Pusat perkantoran
 Pusat permukiman
6 Kanggime di Distrik Kanggime PKLp  Pusat pelayanan pemerintahan distrik
 Pusat pengembangan pertanian
 Pusat pengembangan kebudayaan
 Pusat perkantoran
 Pusat permukiman
7 Egiam di Distrik Egiam PKLp  Pusat pelayanan pemerintahan distrik
 Pusat pengembangan pertanian
 Pusat pengembangan kebudayaan
 Pusat perkantoran
 Pusat permukiman
8 Bokondini di Distrik Bokondini PKLp  Pusat pelayanan pemerintahan distrik
 Pusat pengembangan pertanian
 Pusat perkantoran
 Pusat permukiman
9 Dogobak di Distrik Kaboneri PKLp  Pusat pelayanan pemerintahan distrik
 Pusat pengembangan pertanian
 Pusat perkantoran
 Pusat permukiman
10 Poga di Distrik Poganeri PKLp  Pusat pelayanan pemerintahan distrik
 Pusat pengembangan pertanian
 Pusat perkantoran
 Pusat permukiman
11 Wina di Distrik PKLp  Pusat pelayanan pemerintahan distrik
 Pusat pengembangan pertanian
 Pusat perkantoran
 Pusat permukiman
12 Kaniro di Distrik Bokoneri,
Woniki di Distrik Woniki,
Nabunage di Distrik
Nabunage, Wunin di Distrik
Wunin, Gundagi di Distrik
Gundagi, Umagi di Distrik
Umagi, Goyage di Distrik
Goyage, dan Timori di Distrik
Timori.
PPK  Pusat pelayanan pemerintahan distrik
 Pusat permukiman
 Pusat komersial skala kampung
13 Panaga di Distrik Panaga,
Bilubaga di Distrik Bewani,
Nunggawi di Distrik
Nunggawi, Tinggom di Distrik
Gilobandu, Nuga di Distrik
Numba dan Kuari di Distrik
Kuari
PPL  Pusat permukiman
 Pusat komersial skala kampung
Sumber: RTRW Kabupaten Tolikara 2013-2033

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 39

Jika ditinjau dari sistem perwilayahannya, dan berdasarkan karakteristik
perkembangan wilayanya, maka Wilayah Kabupaten Tolikara dapat dibagi menjadi
beberapa Satuan Wilayah Pengembangan, yaitu:
1. Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) I dengan pusatnya di Karubaga;
2. Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) II dengan pusatnya di Bokondini;
3. Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) III dengan pusatnya di Mamit;
4. Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) IV dengan pusatnya di Kanggime;
5. Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) V dengan pusatnya di Poga;
6. Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) VI dengan pusatnya di Dogobak;
7. Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) VII dengan pusatnya di Egiam;
8. Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) VIII dengan pusatnya di Dundu;
9. Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) IX dengan pusatnya di Wina;
10. Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) X dengan pusatnya di Dow; dan
11. Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) XI dengan pusatnya di Taiyeve.
Perkampungan merupakan konsentrasi kegiatan penduduk yang berfungsi sebagai
pengembangan lahan permukiman kampung dan aktivitas penunjangnya. Berdasarkan
Tolikara Dalam Angka Tahun 2011, jumlah kampung di Kabupaten Tolikara sebanyak
545 kampung yang tersebar di 46 distrik.
Arahan pengembangan sistem pusat permukiman kampung didasarkan pada hasil
survei lapangan menggunakan Global Positioning System (GPS) ke kantor-kantor
kampung, kelurahan, distrik maupun kabupaten yang dapat dijangkau dan dari
sumber-sumber yang memiliki peta atau posisi pemukiman di Papua, dengan
kecenderungan:
1. Lokasi Kampung yang berkelompok akan tumbuh pesat yang akan mengarah
pada terbentuknya kawasan perkotaan dan berdampak pada tingginya
kebutuhan sarana dan prasarana, serta perubahan fungsi lahan,
2. Lokasi kampung yang tersebar akan memiliki pertumbuhan relatif lambat, akan
membentuk kawasan perdesaan yang berorientasi pada pengelolaan
sumberdaya alam,
3. Lokasi kampung yang berada di kawasan hutan akan mengalami pertumbuhan
lambat dan mengarah pada kawasan terpencil.
Secara spasial kegiatan perkampungan, diarahkan untuk dapat saling bersinergi
dan saling menunjang satu sama lain dalam pemenuhan kebutuhan
pembangunan masing-masing.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 40

Pusat permukiman kampung dikembangkan untuk memberikan dukungan terhadap
kawasan perkotaan dan memberikan hubungan sinergi antar kawasan. Dengan
demikian arahan pengembangan kawasan kampung diarahkan pada sistem kegiatan
berikut :
1. Permukiman kampung yang lokasinya tersebar;
2. Budidaya pertanian (tanaman pangan, tanaman keras, perkebunan, peternakan,
dan perikanan), sesuai dengan potensi kesesuaian lahan; dan
3. Kegiatan pada kawasan kampung harus memperhatikan ketentuan yang telah
ada mengenai kawasan lindung, suaka alam dan cagar budaya.

B. Rencana Jaringan Transportasi
1. Rencana Sistem Jaringan Transportasi Darat
Pengembangan sistem jaringan transportasi darat di Kabupaten Tolikara
meliputi rencana jaringan lalu lintas dan angkutan jalan, serta jaringan
angkutan sungai,
a. Rencana Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
a.1. Rencana Jaringan Jalan
Pengembangan jaringan jalan dalam wilayah Kabupaten Tolikara direncanakan
dengan mempertimbangkan potensi dan permasalahan pembangunan serta
keberadaan pusat-pusat kegiatan. Adapun rencana pembangunan jaringan
jalan di dalam Wilayah Kabupaten Tolikara adalah:
1. Jaringan jalan kolektor sekunder (K1) kewenangan nasional meliputi:
a. Ruas jalan Usilimu – Karubaga; dan
b. Ruas jalan Mulia – Illu – Karubaga.
2. Jaringan jalan kolektor sekunder (K3) kewenangan kabupaten meliputi:
a. Rencana jaringan jalan yang menghubungkan Karubaga – Dundu
b. Rencana jaringan jalan yang menghubungkan Karubaga – Dow;
c. Rencana jaringan jalan yang menghubungkan Karubaga – Taiyeve;
d. Rencana jaringan jalan yang menghubungkan Karubaga – Kanggime;
e. Rencana jaringan jalan yang menghubungkan Karubaga – Egiam;
f. Rencana jaringan jalan yang menghubungkan Karubaga –
Bokondini;
g. Rencana jaringan jalan yang menghubungkan Karubaga – Mamit;
h. Rencana jaringan jalan yang menghubungkan Karubaga – Poga; dan
i. Rencana jaringan jalan yang menghubungkan Karubaga – Wina.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 41

3. Jaringan jalan lokal (K4) kewenangan kabupaten meliputi:
a. Rencana jaringan jalan yang menghubungkan Kanggime – Nabunage –
Woniki;
b. Rencana jaringan jalan yang menghubungkan Dow – Taiyeve – Egiam;
c. Rencana jaringan jalan yang menghubungkan Bokondini – Kaniro;
dan
d. Rencana jaringan jalan yang menghubungkan Mamit – Timori –
Kanggime

a.2. Rencana Jaringan Prasarana Lalu Lintas
Dengan memperhatikan rencana struktur ruang yang telah dirumuskan dan
rencana pengembangan sistem jaringan jalan, maka rencana jaringan
prasarana lalu lintas yang akan dikembangkan di Kabupaten Tolikara adalah
rencana pengembangan Terminal angkutan penumpang:
1. Terminal Karubaga di Distrik Karubaga;
2. Terminal Mamit di Distrik Kembu;
3. Terminal Dundu di Distrik Dundu;
4. Terminal Dow di Distrik Dow;
5. Terminal Taiyeve di Distrik Wari;
6. Terminal Kanggime di Distrik Kanggime;
7. Terminal Egiam di Distrik Egiam;
8. Terminal Bokondini di Distrik Bokondini;
9. Terminal Poga di Distrik Poganeri; dan
10. Terminal Wina di Distrik Wina.

b. Rencana Jaringan Angkutan Sungai
Rencana jaringan angkutan sungai dapat dikembangkan secara terbatas di
beberapa distrik yang memiliki bentang sungai yang cukup besar. Terdapat
anak-anak sungai besar yang bermuara ke Sungai Mamberamo, yang sering
digunakan oleh masyarakat sebagai jalur pergerakan. Untuk mendukung
pengembangan jaringan angkutan Sungai, maka dikembangkan Dermaga
Sungai di Distrik Dow, Distrik Wari, Distrik Wina, Distrik Egiam dan Distrik
Dundu, sebagai simpul transportasi sungainya. Sementara alur pelayaran
sungai yang perlu ditata adalah alur pelayaran Dow – Wina – Gundagi – Dundu
dan alur pelayaran Dundu – Egiam – Wari.

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 42

2. Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Transportasi Udara
Sistem Jaringan Transportasi Udara di Kabupaten Tolikara, mencakup bandar
udara umum pengumpan pada Distrik Karubaga, Bokondini, dan Wari/Taiyeve
serta landasan pesawat terbang yang terdapat pada hampir seluruh Distrik di
Tolikara. Sedangkan ruang udara untuk penerbangan, yang terdiri atas ruang
udara di atas bandar udara yang dipergunakan langsung untuk kegiatan bandar
udara, ruang udara di sekitar bandar udara yang dipergunakan untuk operasi
penerbangan.
Bandara Karubaga di Distrik Karubaga, bandara Bokondini di Distrik
Bokondini, dan bandara Taiyeve di Distrik Wari sebagai bandara pengumpan
yang ada perlu dioptimalkan fungsinya, dengan menambah rute penerbangan
reguler serta intensitasnya. Untuk mendukung peningkatan fungsi tersebut
perlu juga adanya peningkatan sarana dan prasarana penunjang, seperti:
panjang landasan yang ditambah sehingga pesawat dapat take-off dan landing
dengan baik, pembangunan ruang tunggu penumpang yang nyaman.

C. Rencana Sistem Jaringan Energi dan Kelistrikan
Terkait dengan pengembangan jaringan energi, perlu diidentifikasi kebutuhan energi,
khususnya energi listrik, yang harus dipenuhi hingga tahun 2033 mendatang.
Kebutuhan listrik yang dimaksud terbagi dua, yaitu kebutuhan domestik dan non
domestik. Analisis Kebutuhan listrik domestik, dihitung menurut total kebutuhan
listrik menurut per orang. Oleh karena itu faktor jumlah penduduk, menurut
proyeksinya akan menentukan jumlah kebutuhan listrik domestik. Sementara
kebutuhan listrik non domestik yang dimaksud adalah listrik untuk aktifitas
perkantoran, bisnis, wisata dan pelabuhan.
Kebutuhan listrik di Kabupaten Tolikara dihitung dengan menggunakan beberapa
asumsi dan pendekatan yang digunakan untuk menghitung kebutuhan jaringan listrik
yaitu:
 Kebutuhan listrik minimal domestik: 100 Watt/jiwa,
 Kebutuhan listrik minimal lingkungan: 40% dari Rumah Tangga (RT).




Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 43

Tabel 3. 3
Proyeksi Kebutuhan Listrik Di Kabupaten Tolikara Hingga Tahun 2032
Tahun Jml Penduduk
Listrik
Domestik (Kw)
Listrik Non
Domestik (Kw)
Gardu
Induk
Gardu
Distribusi
2012
124.432 12.443 4.977
2
7
2016
147.141 14.714 5.886
7
2021
181.443 18.144 7.258
7
2026
237.138 23.714 9.486
7
2032
326.977 32.698 13.079
7
Sumber: RTRW Kabupaten Tolikara 2013-2033.

Dengan semakin tingginya akses Kabupaten Tolikara, di akhir tahun 2032 diharapkan
PLN sudah dapat memberikan pelayanan listrik kabel. Untuk itu rencana
pengembangan jaringan listrik untuk pemenuhan kebutuhan listrik di Kabupaten
Tolikara:
1. Pengembangan Pembangkit Listrik:
 Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Distrik Karubaga, Distrik
Bokondini dan Distrik Kembu;
 Rencana Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Distrik Wari dengan
memanfaatkan aliran Sungai Mamberamo;
 Rencana Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di Distrik Geya,
Distrik Kuari, Distrik Dundu, Distrik Panaga, Distrik Kubu, Distrik Wunin
dan Distrik Poganeri;
 Rencana Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di setiap distrik yang
mempunyai potensi energi surya yang memadai untuk pembangunan dan
tersebar di seluruh distrik; dan
 Rencana pengembangan energi listrik dari minyak nabati yang
dikembangkan di perkampungan yang jauh dari pusat distrik.
2. Pengembangan Jaringan Transmisi Tenaga Listrik:
 Rencana Gardu Induk di Distrik Karubaga;
 Rencana Gardu Distribusi di Distrik Dow, Distrik Wari, Distrik Kembu,
Distrik Kanggime, Distrik Karubaga, Distrik Bokondini, Distrik Wina,
Distrik Egiam dan Distrik Poganeri;
 Jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) yang menyalurkan listrik
dari pusat pembangkit ke gardu induk dan antar gardu induk;
 Jaringan Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) yang menyalurkan
listrik dari gardu induk ke gardu distribusi dan antar gardu distribusi;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 44

 Jaringan Saluran Udara Tegangan Rendah (SUTR) yang menyalurkan listrik
dari gardu distribusi ke sumber beban/konsumen di seluruh bagian
kawasan di tiap distrik.

D. Rencana Sistem Jaringan Telekomunikasi
Rencana pengembangan prasarana telekomunikasi diarahkan untuk memberikan
pelayanan komunikasi melalui jaringan telekomunikasi terestrial terdiri dari jaringan
mikro digital, serat optik, mikro analog, yang akan dikembangkan secara menerus.
Potensi permintaan jaringan telepon bersumber pada jumlah rumah tangga dan
jumlah peruntukan lainnya seperti industri, fasilitas umum, fasilitas sosial, sekolah,
jasa dan perdagangan, dan sektor lainnya.
Hingga saat ini pelayanan telekomunikasi baik seluler maupun kabel belum ada.
Pelayanan telekomunikasi hanya dapat diakses melalui sambungan satelit (telepon
satelit), maupun sambungan Radio SSB (Single Side Band). Mengingat pentingnya
kebutuhan telekomunikasi, maka ke depan pelayanan sambungan telekomunikasi
diarahkan melalui pelayanan sambungan telekomunikasi kabel dan seluler.
Kebutuhan jaringan telekomunikasi di Kabupaten Tolkiara dihitung dengan
menggunakan beberapa asumsi dan pendekatan yang digunakan untuk menghitung
kebutuhan jaringan listrik yaitu:
1. Telepon Kabel untuk Rumah Tangga: 1 unit/rumah;
2. Telepon Umum: 1 unit/250 jiwa Domestik;
3. Sambungan Telepon Otomat: 500-700 sambungan telepon/STO; dan
4. Jangkauan BTS = 8 Km

Berikut rencana pengembangan jaringan telekomunikasi untuk pemenuhan kebutuhan
sambungan telekomunikasi di Kabupaten Tolikara:
1. Pembangunan jaringan prasarana telekomunikasi nirkabel/seluler dengan
pendirian BTS-BTS untuk berbagai provider 5 tahun ke depan di seluruh distrik,
seefisien mungkin dengan menerapkan sistem penggunaan tower bersama;
2. Mengoptimalkan pemanfaatan sistem telekomunikasi satelit untuk komunikasi
antar kabupaten, distrik dan perkampungan;
3. Pembangunan prasarana telekomunikasi kabel dengan pendirian panel STO,
panel induk dan stasiun pemancar telekomunikasi di ibukota kabupaten dan
ibukota distrik hingga 20 tahun ke depan; dan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 45

4. Sejalan dengan pembangunan prasarana telekomunikasi kabel, maka dilakukan
pengembangan dan peningkatan jaringan telepon umum pada kawasan pusat-
pusat pelayanan umum, seperti pasar serta jalan-jalan utama di tiap-tiap pusat
pelayanan dan wilayah pengembangannya.

E. Sistem Jaringan Sumberdaya Air
Rencana Pengembangan sistem jaringan sumber daya air terdiri dari:
1. Wilayah Sungai; dan
2. Prasarana air baku untuk air minum
Rencana pengembangan sistem jaringan sumber daya air tersebut meliputi aspek
konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya
rusak air aspek konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan
pengendalian daya rusak air.
Pengembangan sistem Wilayah Sungai terdapat pada Wilayah Sungai (WS) Lintas
Negara Mamberamo – Tami – Apauvar yang terdiri dari:
1. DAS Baliem;
2. DAS Mamberamo Hilir;
3. DAS Tariku Hilir;
4. DAS Tariku Hulu;
5. DAS Taritatu Tengah; dan
6. DAS Taritatu Hilir
Sementara untuk prasarana air baku dan air minum dioptimalkan untuk
memanfaatkan air permukaan, air tanah dan air hujan.
F. Rencana Sistem Prasarana Pengelolaan Lingkungan
F.1 Rencana Sistem Jaringan Air Minum
Untuk menghitung kebutuhan air minum di Kabupaten Tolikara, digunakan
beberapa asumsi, yaitu:
1. Domestik:
a. Sambungan langsung = 60 liter/orang/hari,
b. Kran umum = 30 liter/orang/hari
2. Non Domestik: 20% dari kebutuhan air minum domestik selain air baku
industri.



Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 46

Tabel 3.4
Proyeksi Kebutuhan Air Minum Di Kabupaten Tolikara Hingga Tahun 2032
Tahun Jumlah Penduduk
Air Baku Air Minum
Domestik
Non Domestik
(Liter/Hari)
Sambungan
Langsung
(Liter/Hari)
Kran Umum
(Liter/Hari)
2012 293.987
7.465.920 3.732.960 746.592
2016 347.702
8.828.460 4.414.230 882.846
2021 428.849
10.886.580 5.443.290 1.088.658
2026 560.489
14.228.280 7.114.140 1.422.828
2032 732.537
19.618.620 9.809.310 1.961.862
Sumber: RTRW Kabupaten Tolikara 2013-2033

Dalam pemenuhan kebutuhan air minum di Kabupaten Tolikara, perlu disusun
skenario jangka pendek dan jangka panjang. Dalam skenario jangka pendek,
pemenuhan kebutuhan air minum bisa bersumber dari mata air, danau, dan aliran
sungai yang ada melalui sistem pengolahan sederhana. Sementara dalam jangka
panjang, pelayanan air minum diarahkan melalui sistem pengolahan skala besar,
melalui IPAM yang dikelola oleh PEMKAB maupun melalui PDAM.
Dalam pengolahan air minum sederhana terdapat beberapa elemen prasarana yang
harus dibangun, yaitu:
1. Penampungan air minum sederhana skala rumah tangga untuk menampung air
hujan;
2. Penampungan air minum sederhana skala kota, baik waduk penampungan air
hujan, ataupun waduk yang sumber airnya berasal dari sungai ataupun danau;
dan
3. Sistem distribusi non pipa melalui reservoir distribusi dan distribusi keliling
menggunakan gerobak air minum.
Dalam pengolahan air minum skala besar terdapat beberapa elemen prasarana yang
harus dibangun, yaitu:
1. Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) dengan memanfaatkan
sumber air dari sungai, mata air, danau, ataupun waduk penampung air hujan,
2. Sistem distribusi pipa melalui pipa induk (menghubungkan sumber air menuju
pipa sekunder), pipa sekunder (menghubungka pipa tersier menuju pipa
primer) dan tersier (menghubungkan pipa sambungan rumah menuju pipa
sekunder).

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 47

Mengacu pada hal tersebut, maka beberapa upaya yang perlu dilakukan dalam rangka
pengembangan jaringan air minum di Kabupaten Tolikara adalah:
1. Rencana penampungan air minum skala kawasan di seluruh distrik;
2. Rencana reservoir distribusi dan distribusi keliling di seluruh distrik;
3. Rencana Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) dan rencana perpipaan di
Distrik Karubaga, Distrik Kembu, Distrik Dundu, Distrik Dow, Distrik Wari,
Distrik Kanggime, Distrik Egiam, Distrik Bokondini, Distrik Kaboneri, Distrik
Poganeri dan Distrik Wina;
4. Rencana perpipaan skala kabupaten.

F.2 Rencana Sistem Penanganan Sampah
Penanganan terhadap sampah memerlukan perhatian yang cukup besar
mengingat jumlah sampah yang akan terus meningkat seiring dengan
bertambahnya jumlah penduduk kota, serta dampak yang ditimbulkannya apabila
tidak ditangani secara tepat terhadap kota itu sendiri. Selain pengangkutan dan
pengelolaan sampah, penyediaan dan lokasi pembuangan sampah merupakan
kebutuhan bagi wilayah kabupaten.
Kebutuhan pengananan sampah semakin hari semakin meningkat, seiring dengan
bertambahnya jumlah timbulan sampah domestik dan non domestik. Perhitungan
kebutuhan penanganan sampah di Kabupaten Tolikara dilakukan dengan
menggunakan beberapa asumsi:
1. Timbulan sampah domestik: 3 liter/orang/hari;
2. Jumlah kebutuhan arm roll truck: 1 arm roll truck/8 m
3
;
3. Jumlah kebutuhan transfer depo: 50 arm roll truck /transfer depo;
4. 1 TPS per distrik; dan
5. 1 TPA skala kabupaten.
Tabel 3.5
Proyeksi Kebutuhan Penanganan Sampah Di Kabupaten Tolikara
Hingga Tahun 2032
Tahun
Jml
Penduduk
Timbulan
Sampah
(Liter/Hari)
Timbulan
Sampah
(M
3
/Hari)
Arm
Roll
Truck
Transfer
Depo
2012 293.987
373.296 373,30 47
1
2016 347.702
441.423 441,42 55
2
2021 428.849
544.329 544,33 68
2
2026 560.489
711.414 711,41 89
2
2032 732.537
980.931 980,93 123
3
Sumber: RTRW Kabupaten Tolikara 2013-2033
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 48

Dengan kondisi sistem persampahan yang cukup memprihatinkan dan kebutuhan
penanganan sampah yang semakin meningkat, maka perlu adanya terobosan
penanganan sampah, yaitu:
1. Penanganan sampah langsung dari sumbernya, melalui 3R:
a. Reduce: mengurangi penggunaan barang-barang yang berpotensi menjadi
sampah, seperti plastik, kaleng, dan sebagainya,
b. Reuse: menggunakan kembali barang-barang bekas/sampah yang masih
layak digunakan,
c. Recycle: mendaur ulang sampah-sampah yang dapat didaur ulang.
2. Penanganan sampah di TPS (Tempat Pengumpulan Sampah) dan di TPAS
(Tempat Pengolahan Akhir Sampah) melalui kegiatan daur ulang,
pengkomposan, ataupun pengolahan sampah menjadi energi terbarukan
seperti pallete, ataupun gas bahan bakar.
Mengacu pada hal tersebut, maka beberapa upaya yang perlu dilakukan dalam rangka
pengembangan sistem persampahan di Kabupaten Tolikara adalah:
1. Pemilahan sampah dari rumah tangga dengan sistem tempat sampah yang
memisahkan antara sampah organik dan non organik;
2. Pembangunan tempat pengkomposan skala lingkungan di tiap kampung;
3. Penyediaan dump truck dan transfer depo untuk menampung sampah dari
rumah tangga;
4. Pembangunan TPS di tiap distrik; dan
5. Pembangunan TPA dengan konsep Controllded Landfill di Distrik Kembu.

F.3 Rencana Sistem Penanganan Limbah
Maksud dan tujuan mengolah limbah cair sendiri adalah memberikan pelayanan
pengolahan limbah cair sehingga aman untuk dibuang ke badan air penerima dan
juga untuk memperbaiki kualitas hidup dan lingkungan sejalan dengan
pertumbuhan dan pemgembangan kota baik prasarana maupun sarananya.
Pengertian limbah cair disini mencakup limbah domestik dan non domestik.
Pada dasarnya limbah cair domestik ada dua macam yaitu:
1. Limbah cair rumah tangga yang berasal dari kamar mandi, dapur, cuci pakaian
dan lain-lain yang mungkin mengandung mikro organisme pathogen (Grey
Water);
2. Limbah cair yang berasal dari WC, yang terdiri dari Tinja, Air kemih yang
terdiri dari 99,9% air dan 0,1% zat padat yang terdiri dari 70% zat organik
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 49

(Protein Karbohidrat dan lemak), 30%-an Organik terutama Pasir, garam -
garam dan logam (Black Water).
Saat ini timbulan limbah cair di Kabupaten Tolikara masih berupa limbah cair
domestik, karena aktivitas industri belum ada. Buangan limbah cair domestik
umumnya dibuang ke halaman rumah, baik di tanam dalam tanah, ataupun
dibuang ke sungai terdekat. Kondisi ini perlu segera penanganan yang serius,
melalui sistem pengolahan on site ataupun off- site.
Ke depan buangan limbah cair non domestik timbul karena adanya kegiatan
industri. Penanganan industri non domestik ini perlu dilakukan secara terpadu
dengan pengolahan limah cair domestik, melalui pembangunan IPAL dan IPLT
skala kabupaten.
Tabel 3.6
Proyeksi Kebutuhan Penanganan Limbah Cair Kabupaten Tolikara
Hingga Tahun 2032
Kampung
Jml
Penduduk
Tahun 2030
Limbah Cair Domestik
Limbah Cair
Non Domestik
(Liter/Hari)
Prasarana Pengolahan
Limbah Cair
BLACK
WATER
(LITER/HARI)
GREY WATER
(LITER/HARI)
IPAL
BAK PENANGKAP
LEMAK, DAN TANGKI
SEPTIK KOMUNAL
(TIAP 5 RUMAH)
2012 293.987
103.279 12.443.200 3.136.620
6
4.977
2016 347.702
122.127 14.714.100 3.709.057
6
5.886
2021 428.849
150.598 18.144.300 4.573.724
6
7.258
2026 560.489
196.825 23.713.800 5.977.656
6
9.486
2032 732.537 608.006 73.253.700 18.465.426 6
13.079
Sumber: RTRW Kabupaten Tolikara 2013-2033

Melihat kebutuhan penanganan limbah cair tersebut, maka beberapa upaya yang
perlu dilakukan dalam rangka pengembangan sistem penanganan limbah cair di
Kabupaten Tolikara adalah:
1. Pengambangan Sistem pembuangan limbah manusia yang dikelola secara
individual dan komunal (SANIMAS) untuk menangani limbah domestik hingga 5
tahun mendatang. Untuk pengelolaan limbah manusia secara individual setiap
rumah harus dilengkapi dengan tangki septik bidang resapan. Sedangkan bila
dilakukan secara komunal atau bersama adalah dengan membuat tangki septik
penyaluran air limbah dengan pelayanan untuk 5 rumah tangga atau 20 jiwa
kawasan-kawasan yang jauh dari pusat distrik),
2. Penyediaan prasarana penanganan limbah domestik skala distrik hingga 10
tahun mendatang, seperti:
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 50

a. Pembangunan IPLT di Distrik Dow, Distrik Wari, Distrik Karubaga, Distrik
Kanggime, Distrik Bokondini dan Distrik Kembu; dan
b. Penyediaan truk tinja untuk melayani kawasan pusat pertumbuhan.
3. Penyediaan prasarana penanganan limbah non domestik dan domestik skala
kabupaten hingga 20 tahun mendatang, seperti:
a. Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Distrik Dow, Distrik
Wari, Distrik Karubaga, Distrik Kanggime, Distrik Bokondini dan Distrik
Kembu; dan
b. Pembangunan sistem perpipaan untuk saluran limbah domestik yang
bermuara ke IPLT dan saluran limbah non domestik ke IPAL.

F.4 Sistem Jaringan Drainase
Kondisi sistem drainase di Kabupaten Tolikara, saat ini belum terlalu
menimbulkan permasalahan yang signifikan. Namun di masa mendatang sejalan
dengan perkembangan wilayah akibat pertumbuhan penduduk dan aktivitas
perekonomian maka banjir/genangan akan menjadi salah satu masalah utama.
Untuk itu perlu peningkatan kapasitas sistem drainase di pusat-pusat kegiatan,
dan terintegrasi dengan pembangunan jalan.
Rencana pengembangan sistem drainase di Kabupaten Tolikara dilakukan melalui
peningkatan kapasitas sistem drainase di pusat-pusat kegiatan. Dalam upaya
menunjang kualitas lingkungan tersebut maka perlu direncanakan sistem
drainase untuk menampung limbah buangan rumah tangga maupun fasilitas
lainnya.
Guna mendapat sistem drainase yang sesuai dan tepat maka diperlukan upaya-
upaya seperti:
1. Program normalisasi sungai yang memperlebar dan memperdalam alur sungai
untuk mengatasi penyempitan dan pendangkalan/penyumbatan di
hilir/muara sungai; dan
2. Meningkatkan upaya non - struktur seperti penyuluhan dan sosialisasi kepada
masyarakat untuk menjaga prasarana drainase, serta penegakan hukum
terhadap kegiatan yang merusak prasarana drainase dan menghambat upaya
pemeliharaan drainase.
Dalam upaya menunjang kualitas lingkungan yang terdapat di Kabupaten
Tolikara maka perlu direncanakan sistem drainase untuk menampung limbah
buangan rumah tangga maupun fasilitas lainnya. Drainase terdiri atas :
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 51

1. Saluran Primer (Sungai)
Untuk mengoptimalkan sistem drainase saluran primer (sungai) maka
dilakukan upaya-upaya normalisasi aliran sungai, terutama sungai-sungai
yang berada pada daerah permukiman penduduk.
2. Saluran Sekunder
Sedangkan untuk saluran sekunder adalah saluran-saluran pengumpul air
limbah sebelum dialirkan menuju ke Saluran Primer (Sungai).
3. Saluran Tersier
Saluran tersier adalah saluran yang berada pada daerah permukiman
penduduk.

F.5 Jalur Evakuasi Bencana
Kabupaten Tolikara masuk dalam kawasan rawan bencana alam dan bencana
geologi (gempa bumi). Untuk itu Kabupaten Tolikara menetapkan jalur evakuasi
bencana yang dikembangkan pada kawasan-kawasan rawan longsor, yaitu dengan
memanfaatkan jaringan jalan, jalur pejalan kaki dan drainase tertutup yang
mengarahkan evakuasi menjauhi lokasi bencana ke arah lokasi dan/atau
bangunan evakuasi yang telah ditentukan pada lokasi yang lebih datar, yaitu di
Distrik Karubaga, Distrik Bokondini, Distrik Kanggime, Distrik Kembu, Distrik
Dow, Distrik Wari dan Distrik Poganeri.


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 52

Gambar 3.4 Peta Struktur Ruang Kabupaten


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 53

3.3.2.2 Pola Ruang Kabupaten Tolikara
1. Rencana Pengembangan Kawasan Lindung
a. Kawasan lindung
Berdasarkan peta status kawas hutan, sebagaimana yang tertuang dalam SK
Menhut No.458 Tahun 2012, diidentifikasi bahwa luas hutan lindung di
Kabupaten Tolikara 279.953,76 Ha. Umumnya Hutan Lindung tersebar di
Distrik Wina, Distrik Gudagi, Distrik Dundu dan Distrik Egiam.

b. Kawasan suaka margasatwa
Kawasan lindung nasional lainnya di Kabupaten Tolikara adalah bagian dari
Kawasan Suaka Margasatwa Mamberamo Foja dengan luas 229.154,43 Ha yang
terdapat di Distrik Dow dan Distrik Wari Adapun kawasan suaka marga satwa
memiliki kriteria:
1) Merupakan tempat hidup dan perkembangbiakan dari suatu jenis satwa
yang perlu dilakukan upaya konservasinya;
2) Memiliki keanekaragaman satwa yang tinggi;
3) Merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu; atau
4) Memiliki luas yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan.

c. Kawasan yang memberi perlindungan kawasan di bawahnya
Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan di bawahnya yang terdapat
di Kabupaten Tolikara meliputi kawasan gambut sebagai bagian dari penyerap
karbon. Sebaran kawasan gambut di Distrik Wina, Distrik Gundagi dan Distrik
Dundu dengan luas 11.334,06 Ha.

d. Kawasan lindung geologi
Kawasan lindung geologi yang terdapat di Kabupaten Tolikara adalah kawasan
rawan bencana geologi berupa gempa bumi. Kawasan lindung geologi ini
terbagi ke dalam dua tingkat kerawanan, yaitu:
1) Tingkat kerawanan gempa bumi sangat tinggi berada di Distrik Wari dan
Distrik Dow; dan
2) Tingkat kerawanan gempa bumi tinggi berada di Distrik Wina, Distrik
Gudagi, Distrik Dundu, Distrik Umage, Distrik Panaga, Distrik Kembu,
Distrik Timori, Distrik Wunin, Distrik Numba, Distrik Kondaga, Distrik
Karubaga, Distrik Geya, Distrik Kuari, Distrik Goyage, Distrik Nabunage,
Distrik Kanggime, Distrik Woniki, Distrik Nunggawi, Distrik Gilombandu,
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 54

Distrik Kubu, Distrik Bokoneri, Distrik Bokondini, Distrik Bewani, Distrik
Kaboneri, dan Distrik Poganeri.

e. Kawasan perlindungan setempat
Kawasan perlindungan setempat di Kabupaten Tolikara terdiri dari Kawasan
Sempadan Sungai dan Sempadan Danau. Mengacu pada ketetapan sempadan
yang sudah ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008
tentang RTRWN bahwa lebar sempadan adalah sebagaiberikut :
1. Daratan sepanjang tepian sungai besar tidak bertanggul di luar kawasan
permukiman dengan lebar paling sedikit 100 (seratus) meter dari tepi
sungai; dan
2. Daratan sepanjang tepian anak sungai tidak bertanggul di luar kawasan
permukiman dengan lebar paling sedikit 50 (lima puluh) meter dari tepi
sungai.
Dengan demikian maka luas kawasan perlindungan setempat di Kabupaten
Tolikara adalah 5.464,79 Ha.
f. Kawasan Rawan Bencana
Kawasan rawan bencana yang terdapat di Kabupaten Tolikara adalah kawasan
rawan bencana tanah longsor. Kawasan rawan bencana ini terbagi ke dalam
dua rentang klasifikasi, yaitu:
1. Tingkat kerawanan longsor rendah sampai sedang berada di Distrik
Poganeri, Distrik Kubu, Distrik Bokoneri, Distrik Kaboneri, Distrik
Bokondini dan Distrik Bewani; dan
2. Tingkat kerawanan longsor sedang sampai tinggi berada di Distrik Wina,
Distrik Gudagi, Distrik Dundu, Distrik Egiam, Distrik Umage, Distrik
Panaga, Distrik Kembu, Distrik Timori, Distrik Wunin, Distrik Numba,
Distrik Kondaga, Distrik Karubaga, Distrik Geya, Distrik Nelawi, Distrik
Kuari, Distrik Nabunage, Distrik Goyage, Distrik Kanggime, Distrik Woniki,
Distrik Nunggawi dan Distrik Gilombandu
2. Rencana Pola Ruang Kawasan Budidaya
a. Kawasan Hutan Produksi
Kawasan hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
memproduksi hasil hutan. Berdasarkan peta status kawasan hutan,
sebagaimana yang tertuang dalam SK Menhut No.458 Tahun 2012,
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 55

diidentifikasi bahwa luas hutan produksi terbatas dan hutan produksi konversi
di Kabupaten Tolikara secara berturut-turut adalah 49.690,44 Ha dan
62.761,01 Ha.
Sebaran Kawasan Hutan Produksi Terbatas adalah di Distrik Dow dan Distrik
Wari sementara sebaran Kawasan Hutan Produksi yang dapat dikonversi
adalah di Distrik Bewani, Distrik Distrik Kaboneri, Distrik Bokoneri, Distrik
Wunin, Distrik Kondaga, Distrik Karubaga, Distrik Geya, Distrik Numba, Distrik
Nelawi, Distrik Kuari, Distrik Nabunage, Distrik Kanggime, Distrik Woniki,
Distrik Gilombandu, Distrik Nunggawi, Distrik Timori, Distrik Kembu, Distrik
Panaga dan Distrik Umage. Adapun komoditas hutan yang dapat dikembangkan
di Kabupaten Tolikara adalah Kayu Lawang dan Lebah Madu.
b. Kawasan Pertanian
1) Kawasan Pertanian Tanaman Pangan
Kawasan pertanian tanaman pangan adalah kawasan yang berfungsi
sebagai tempat pengusahaan tanaman padi atau tanaman pangan lainnya
guna menghasilkan bahan pangan, baik untuk kebutuhan sendiri maupun
untuk dijual.
Berdasarkan potensi lahan dan kondisi eksisting dari sistem pertanian
yang berkembang, maka pengembangan pertanian tanaman pangan di
Kabupaten Pegunungan Tolikara adalah pada komoditas ubi-ubian dan
keladi. Adapun kawasan pertanian tanaman pangan skala besar akan
diarahkan pada kawasan pertanian di Distrik Bokondini, Kanggime,
Goyage, Bokoneri, Wunin, Poganeri dan Geya, sementara dalam skala
kecil dikembangkan pada pekarangan rumah pendududk secara menyebar
di seluruh distrik.
Dengan demikian maka luas kawasan pertanian tanaman pangan di
Kabupaten Tolikara adalah 2.231,62 Ha.
2) Kawasan Pertanian Hortikultura
Ciri khas dari pertanian hortikultura ini adalah tanaman lahan kering yang
bernilai ekonomi tinggi (Tejoyuwono, 1989), seperti buah-buahan dan
sayur-sayuran. Komoditas pertanian hortikultura yang terdapat di
Kabupaten Tolikara adalah nenas, pisang, jeruk, markisa, nangka, kubis,
timun, bawan merah dan daun bawang. Pengembangan pertanian
hortikultura diarahkan di Distrik Karubaga, Bokondini, Nabunage dan
Woniki dengan luas 1.672,15 Ha.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 56

3) Kawasan Perkebunan
Sektor perkebunan selama ini mampu meningkatkan pertumbuhan
ekonomi wilayah Kabupaten Tolikara. Sub-sektor perkebunan terus
dikembangkan dengan melibatkan perkebunan rakyat dan perkebunan
skala besar. Luas kawasan peruntukan perkebunan hingga tahun 2031
adalah 108,18 Ha dan diarahkan di Distrik Bokondini dan Kanggime.
Beberapa tanaman yang perkebunan yang bersifat kerakyatan yaitu
perkebunan buah merah, sementara perkebunan skala menengah
diarahkan untuk tanaman kopi yang produktivitasnya cukup tinggi. Secara
signifikan pengembangan komoditas perkebunan ini diarahkan untuk
pengembangan kegiatan industri yang pada akhirnya bermuara pada
kebijakan ekonomi kerakyatan.
Pengembangan kawasan perkebunan harus tetap memperhatikan kondisi
kontur di Kabupaten Tolikara. Untuk itu perlu penerapan sistem usaha
tani konservasi. Adapun bentuk sistem usahatani konservasi adalah:
1. Sistem tanaman penutup pada perkebunan kopi.
Tanaman penutup berfungsi untuk menahan dan mengurangi daya
rusak butir-butir hujan dan aliran permukaan, sebagai sumber pupuk
organik dan untuk menghindari dilakukannya penyiangan intensif yang
dapat menyebabkan tergerusnya lapisan atas tanah.
2. Sistem penanaman strip rumput alami
Tanaman strip rumput merupakan teknik konservasi dengan cara
membiarkan sebagian tanah pada barisan/strip sejajar kontur (di
antara tanaman perkebunan) ditumbuhi rumput secara alami selebar
20-30 cm.
3. Sistem multistrata
Sistem multistrata merupakan konservasi tanah dengan cara
penanaman tanaman buah-buahan, kayu-kayuan, dan/atau tanaman
legum multiguna (multipurpose leguminous) di antara tanaman
perkebunan (tanaman utama), sehingga tercipta komunitas tanaman
dengan berbagai strata tajuk. Dengan kondisi yang demikian, hanya
sebagian kecil saja air hujan yang langsung menerpa permukaan
tanah.


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 57

4) Kawasan Peternakan
Kawasan peternakan yang dikembangkan di Kabupaten Tolikara adalah
kawasan budidaya ternak besar (sapi), ternak kecil (Kambing, Domba,
Babi, Kelinci), dan sentra peternakan unggas. Ternak sapi banyak
diusahakan di distrik Nabunange, Bokondini, kambing di distrik Karubaga,
Woniki dan Bokondini, sedangkan kuda hanya diusahakan di Karubaga.
Sementara itu, ternak babi diusahakan di semua distrik di Kabupaten
Tolikara.
Pengembangan kawasan peternakan dilakukan secara terpadu dengan
pengembangan kawasan pertanian, dan dikenal dengan istilah Crops-
Livestock Integrated System, di mana antara hewan ternak dan tanaman
dapat bersimbiosis. Salah satu contoh: hewan ternak ditempatkan dekat
kawasan pertanian/perkebunan dan dilepas secara bebas di kawasan
tersebut untuk mencari makan sendiri. Pada saat menggali tanaman untuk
mencari makan, babi ikut membantu menggemburkan dan menyuburkan
tanah dengan kotorannya. Babi berperan sebagai bulldozer (pig-dozer)
yang membongkar, untuk kemudian memupuk tanah.
c. Kawasan Pertambangan
Pengembangan Kawasan Peruntukan Pertambangan didasarkan pada potensi
tambang yang ada serta kegiatan tambang rakyat. Adapun potensi tambang
yang ada pada Wilayah Penambangan di Kabupaten Tolikara tersebut adalah
Emas yang terindikasi terdapat di Distrik Egiam serta potensi tambang Galian
C yang terdapat di Distrik Karubaga dan Distrik Kuari.
Namun perlu diingat bahwa pemanfaatan kawasan tambang perlu
memperhatikan keberadaan Hutan Lindung dan Kawasan Permukiman yang
ada di sekitarnya. Bilamana kegiatan penambangan dilakukan pada Kawasan
Hutan Lindung, maka penambangan dilakukan dengan model Underground
Mining, namun bila dilakukan pada kawasan budidaya, pembangunan
diarahkan untuk dilakukan di sekitar kawasan permukiman yang sudah
terbangun.
d. Kawasan Pariwisata
Kawasan pariwisata merupakan kawasan dengan peruntukan untuk
pengembangan aktifitas pariwisata baik wisata alam maupun wisata minat
khsusus yang potensial dikembangkan di Kabupaten Tolikara.

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 58

Kawasan wisata yang ada di Kabupaten Tolikara terdiri atas :
1. Potensi Wisata Alam terdapat Distrik Umagi, Distrik Gundagi, Distrik
Bokoneri, Distrik Kondaga, Distrik Timori, Distrik Panaga, yang umumnya
berupa air terjun dan danau di Distrik Geya.
2. Potensi Wisata Minat Khusus:
a) Wisata agro di distrik Bokondini, Kanggime, Kembu. Dalam wisata agro
ini, pengunjung bisa merasakan bagaimana melihat atau bahkan ikut
memetik buah merah (ciri khas papua), melihat proses penanaman dan
pembibitan tanaman, juga dilengkapi dengan sarana outbond;
b) Wisata MICE, merupakan wisata sambil melakukan kegiatan Meeting
(pertemuan), Invention (Pameran), Convention (Rapat) dan Exhibition
(eksebisi) dengan tujuan mempromosikan aktifitas pariwisatanya
sehingga dapat meningkatkan kerjasama yang meliputi kerjasama
perjalanan wisata, perdagangan, investasi di bidang pariwisata serta
kerjasama di bidang kebudayaan dan pendidikandi Distrik Karubaga;
dan
c) Potensi wisata petualangan alam (Natural Adventure Tourism) seperti
Forest Tracking, River Tracking, Hiking, Gantole, dan Canoing.
e. Kawasan Industri
Mengingat semakin terbatasnya luas lahan untuk kegiatan usaha pertanian
serta perlunya peningkatan SDM masyarakat, maka kegiatan industri yang
berbasis agro perlu didorong pertumbuhannya. Oleh karena itu industri
pengolahan hasil pertanian perlu mendapat prioritas utama dalam
pengembangan ekonomi kerakyatan. Industri Agro dapat dikembangkan pada
Kawasan Agroforestri yang melingkupi Distrik Bokondini, Kanggime, Kembu
dengan luas mencapai 45,44 Ha.
Selain industri agro, terdapat potensi industri rumah tangga, yang
memproduksi hasil seni kerajinan lokal, seperti noken dan hiasan lainnya.

f. Kawasan Permukiman
Berdasarkan tipologinya terdapat dua macam sifat perumahan, yaitu
perumahan perdesaan dan perumahan perkotaan. Di wilayah perkotaan dan
perdesaan perumahan dapat tumbuh secara alami, sedangkan pembangunan
perumahan secara terencana cenderung terjadi di perkotaan yang
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 59

dilaksanakan oleh pengembang, pola pengembangan perumahan di kawasan
pedesaan cenderung seporadis menyebar di seluruh wilayah desa. Sedangkan
pola pengembangan perumahan di wilayah perkotaan cenderung mengikuti
pertumbuhan jaringan infrstruktur. Luas peruntukan kawasan permukiman di
Kabupaten Tolikara baik itu permukiman perkotaan maupun permukiman
perdesaan adalah sebesar 4.672,57 Ha.
1. Rencana Kawasan Peruntukan Permukiman Perkotaan
Kawasan permukiman perkotaan di wilayah Kabupaten Tolikara
diarahkan pada setiap ibukota setiap distrik. Hampir seluruh kawasan-
kawasan permukiman tersebut masih perlu dibangun begitu juga
dengan sarana dan prasarana lingkungan permukimannya.
2. Rencana Kawasan Peruntukan Permukiman Perkampungan
Sebagian besar wilayah Kabupaten Tolikara memiliki karakteristik
sebagai wilayah perdesaan yang dikenal dengan sebutan kampung.
Akibat kondisi medan yang berat, permukiman pada kampung-kampung
tersebut tersebar secara berkelompok pada lokasi-lokasi yang
terpencar dan terpencil. Akibatnya masih banyak masyarakat yang
belum tersentuh kegiatan pembangunan dan pelayanan pemerintahan
yang selama ini lebih terkonsentrasi di pusat-pusat distrik. Untuk
rencana kawasan permukiman perkampungan di Kabupaten Tolikara
direncanakan di seluruh kampung yang ada di dalam distrik, yang
berjumlah 545 kampung.
Berdasarkan hasil proyeksi kebutuhan lahan permukiman, diidentifikasikan
bahwa hingga tahun 2032 nanti, hanya dibutuhkan lahan seluas 2.686 Ha.
Dengan demikian dari 4.672,57 Ha yang telah diperuntukkan untuk kawasan
permukiman, masih tersisa lahan 1.986,57 Ha yang bisa dijadikan untuk
cadangan lahan pembangunan permukiman selanjutnya (setelah masa
berlakunya RTRW Kabupaten Tolikara).
Terkait dengan peruntukan permukiman ini, terdapat hal yang harus
diperhatikan, yaitu menyangkut kerawanan longsor. Berdasarkan hasil analisis
geologi, pada dasarnya sebaran permukiman baik permukiman perkotaan
maupun perdesaan di Kabupaten Tolikara umumnya berada pada kawasan
rawan bencana longsor. Oleh karena itu diperlukan penanganan secara teknis
terkait konstruksi fisik bangunan perumahan. Terdapat beberapa hal-hal yang
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 60

harus dipertimbangkan dalam pembangunan fisik di kawasan rawan longsor,
yaitu:
1. Perlu diterapkan sistem perkuatan lereng untuk menambah gaya
penahan gerakan tanah pada lereng;
2. Meminimalkan pembebanan pada lereng, melalui penetapan jenis
bangunan dan kegiatan yang dilakukan;
3. Memperkecil kemiringan lereng; dan
4. Pembuatan konstruksi rumah panggung.
g. Kawasan Peruntukan Lainnya
Kawasan peruntukan lainnya adalah kawasan peruntukan pertahanan dan
keamanan. Kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan tersebut terdiri
dari:
1. Kawasan KODIM di Distrik Karubaga; dan
2. Kawasan POLRES di Distrik Karubaga.
Kawasan KORAMIL dan kawasan POLSEK yang tersebar di seluruh Distrik


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 3 Tinjauan Peraturan Dan Kebijakan Terkait | 61

Gambar 3.5 Peta Pola Ruang Kabupaten Tolikara


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 4 Gambaran Umum Wilayah dan Kawasan Perencanaan | 2

4.1. GAMBARAN UMUM KABUPATEN TOLIKARA
4.1.1. Gambaran Umum Wilayah
4.1.1.1 Pembentukan
Kabupaten Tolikara merupakan salah satu Daerah Otonom Baru, terbentuk sesuai dengan
Undang–Undang Nomor 26 tahun 2002 tentang pembentukan Kabupaten Sarmi, Kabupaten
Keerom, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Pegunungan
Bintang, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen, Kabupaten
Kaimana, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat, Kabupaten Teluk
Bintuni, dan Kabupaten Teluk Wondama di Provinsi Papua.
4.1.1.2. Letak Geografis Kabupaten Tolikara
Kabupaten Tolikara merupakan kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Jayawijaya
berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten
Sarmi, Kabupaten Keerom, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten
Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen,
Kabupaten Kaimana, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat,
Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Teluk Wondama di Provinsi Papua. Secara
geografis, Kabupaten Tolikara terletak antara garis koordinat 138° 00’57” - 138°54’32” BT
dan 2° 52’58” - 3° 51’2” LS.
Wilayah administrasi Kabupaten Tolikara terdiri dari 46 (empat puluh enam) distrik dengan
ibukota kabupatennya berkedudukan di Distrik Karubaga. Untuk lebih jelas nama distrik
yang ada di Kabupaten Tolikara dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.1.
Nama Distrik-Distrik Di Kabupaten Tolikara
No. Nama Distrik No. Nama Distrik No. Nama Distrik
1 Karubaga 17 Kaboneri 33 Danime
2 Bokondini 18 Bewani 34 Taginere
3 Kanggime 19 Nabunage 35 Yuneri
4 Kembu 20 Gilubandu 36 Wakuwo
5 Goyage 21 Air Garam 37 Telenggeme
6 Wunin 22 Geya 38 Lianogoma
7 Wina 23 Numba 39 Biuk
8 Umagi 24 Dow 40 Wenam
9 Panaga 25 Wari / Taiyeve 41 Aweku
10 Woniki 26 Dundu 42 Anawi
11 Poganeri 27 Gundage 43 Wugi
12 Kubu 28 Egiam 44 Gika
13 Kondaga 29 Timori 45 Bogonuk
14 Nelawi 30 Nunggawi 46 Yuko
15 Kuari 31 Kai
16 Bokoneri 32 Tagime
Sumber: Tolikara Dalam Angka, 2011
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 4 Gambaran Umum Wilayah dan Kawasan Perencanaan | 3

Hingga kini permasalahan batas wilayah menjadi masalah utama di Kabupaten
Tolikara, dan bisa menimbulkan konflik. Saat ini terdapat 4 sumber peta wilayah
Kabupaten Tolikara yang memiliki luasan berbeda, yaitu:
1. Peta Wilayah Kabupaten Tolikara seluas 14.564 Km2 yang berdasarkan UU
No.26 Tahun 2002 tentang tentang Pembentukan Kabupaten Sarmi, Kabupaten
Keerom, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten
Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten
Waropen, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi,
Kabupaten Asmat, Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Teluk Wondama di
Provinsi Papua;
2. Peta Wilayah Kabupaten Tolikara berdasarkan Draf PERDA RTRW Provinsi Papua
seluas lebih kurang 6.130 Km²;
3. Peta RBI dari Badan Informasi Geospasial Tahun 2011, seluas lebih kurang
4.364 Km²; dan
4. Peta Kehutanan dari KEMENHUT Tahun 2011, seluas lebih kurang 6.196,7 Km².
Ketiga peta tersebut memiliki luas yang berbeda-beda. Mengingat permasalahan
peta ini nantinya dapat berpotensi munculnya konflik, maka konsultan melakukan
ratifikasi dengan merujuk pada peta RBI Tahun 2011, peta administrasi berdasarkan
UU No.26 Tahun 2002, hasil survei, serta diskusi dengan para pemangku
kepentingan di Kabupaten Tolikara. Berdasarkan hasil ratifikasi di tahun 2012,
maka diperoleh Luas Wilayah Kabupaten Tolikara adalah 6.357,55 Km².
Sementara itu batas wilayah administrasi Kabupaten Tolikara ini, adalah:
a. Sebelah Utara : Kabupaten Mamberamo Raya
b. Sebelah Timur : Kabupaten Mamberamo Raya dan Mamberamo Tengah
c. Sebelah Selatan: Kabupaten Lanny Jaya dan Jayawijaya
d. Sebelah Barat : Kabupaten Puncak Jaya.
Pada kawasan Perkotaan Bokondini terdapat 3 distrik didalamnya antara lain Distrik
Bokondini, Distrik Kaboneri dan sebagian Distrik Bewani dengan luas kawasan
sekitar 63,52 km
2
. Adapun peta deliniasi kawasan Perkotaan Bokondini dapat
dilihat pada gambar 4.1

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 4 Gambaran Umum Wilayah dan Kawasan Perencanaan | 4

Gambar 4.1 Peta Delineasi Kawasan Perkotaan Bokondini
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 5

4.1.1.3. Kondisi Fisik Dasar
A. Kondisi Topografi dan Kemiringan Lereng
Ditinjau dari kondisi topografinya, Kabupaten Tolikara umumnya berada pada
wilayah yang berbukit-bukit sampai bergunung, berkisar antara 1000 mdpl
sampai dengan 3.300 mdpl. Namun terdapat juga sebagian kecil wilayah yang
berada pada dataran rendah dengan kondisi tanah rawa, yaitu pada bagian
selatan wilayah Kabupaten Tolikara, dengan ketinggian < 500 mdpl.
Ditinjau dari kemiringan lerengnya, maka umumnya wilayah Kabupaten Tolikara
berada pada kemiringan lereng >15%, bahkan sebagian kawasan pada bagian
tengah wilayah kabupaten, berada pada kemiringan lereng >30%.
Secara alami faktor ketinggian suatu wilayah diatas permukaan laut (dpl)
berpengaruh terhadap lingkungan fisik seperti suhu dan jenis flora dan fauna
yang mendiaminya dan faktor kemiringan lereng akan berdampak pada potensi
pengembangan penggunaan lahan.
Kondisi ketinggian dapat dilihat pada gambar 4.2 dan kondisi kemiringan
lerengnya pada gambar 4.3 untuk di deliniasi kawasan Perkotaan Bokondini.

B. Jenis Tanah
Tanah merupakan tubuh alam yang terbentuk sebagai hasil proses terhadap
faktor-faktor pembentuk tanah. Faktor pembentuk tanah yang dimaksud adalah
bahan induk, iklim, topografi, organisme dan waktu. Oleh karena faktor
pembentuk tanah tersebut mempengaruhi perkembangan tanah, maka tanah
(jenis tanah) bervariasi dari satu tempat ketempat lain, demikian juga
produktivitas dalam pemanfaatannya.
Berdasarkan jenis tanah yang ada di kawasan Perkotaan Bokondini terdiri atas 2
jenis, yaitu: Dominasi Dystrudepts dengan campuran Hapludults
1. Dominasi Dystrudepts, dengan campuran Udorthents;dan
2. Dominasi Haplustolls, dengan campuran Haplustepts.
Tanah dengan dominasi Dystrudepts dan Endoaquepts masuk ke dalam Ordo
Inseptisols. Tanah ini merupakan tanah yang belum matang, perkembangan
profilnya lemah dan masih banyak menyerupai bahan induknya. Penggunaannya
untuk pertanian dan non pertanian adalah beragam, daerah berlereng untuk
hutan dan untuk pertanian perlu didrainase jika drainase buruk. Jenis tanah
dengan dominasi Dystrudepts tersebar di Distrik Wina, Gudagi, Dundu, Umagi,
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 6

Panaga, Kembu, Timori dan Kaboneri. Sementara Jenis tanah dengan dominasi
Endoaquepts tersebar di Distrik Dow dan Wari.
Tanah dengan dominasi Hapludox masuk ke dalam Ordo Spodosols. Tanah yang
mempunyai horison spodik dan bahan albik pada 50 persen atau lebih dari setiap
pedon-nya. Horison spodik-nya memiliki ketebalan 10 cm atau lebih dengan
batas atas di dalam kurang dari 200 cm dan horison albik berada langsung di
atasnya. Spodosol merupakan tanah yang telah berkembang lanjut, biasanya
pada bahan induk pasir kuarsa, berdrainase tidak baik, struktur tanah lepas atau
masif, sangat miskin unsur hara, dan peka terhada perosi.Potensi tanah ini
tergolong rendah dan tidak digunakan untuk usaha pertanian. Penyebarannya di
daerah peralihan antara rawa gambut. Jenis tanah ini banyak ditemui di Distrik
Gudagi, Dundu dan Egiam.
Tanah dengan dominasi Hapludulst masuk ke dalam Ordo Ultisols. Tanah yang
mempunyai horison argilik atau kandik dan memiliki kejenuhan basa sebesar
kurang dari 35% pada kedalaman 125 cm atau lebih di bawah batas atas horison
argilik atau kandik. Tanah ini telah mengalami pelapukan lanjut dan terjadi
translokasi liat pada bahan induk yang umumnya terdiri dari bahan kaya
aluminium-silika dengan iklim basah. Sifat-sifat utamanya mencerminkan kondisi
telah mengalami pencucian intensif, diantaranya: miskin unsur hara N, P, dan K,
sangat masam sampai masam, miskin bahan organik, lapisan bawah kaya
aluminium (Al), dan peka terhadap erosi. Potensinya bervariasi dari rendah
sampai sedang dan biasanya digunakan untuk tanaman keras. Jenis tanah ini
tersebar di Distrik Egiam.
Tanah dengan dominasi Haplustolss masuk ke dalam Ordo Mollisols. Tanah ini
terbentuk dari adanya proses pembentukan tanah yang berwarna gelap karena
penambahan bahan organik. Akibat pelapukan bahan organik di dalam tanah
membentuk senyawa-senyawa yang stabil dan berwarna gelap. Warna gelap yang
terbentuk, dengan adanya aktivitas mikro organisme tanah maka terjadi
pencampuran bahan organik dan bahan mineral tanah sehingga terbentuk
kompleks mineral-organik yang berwarna kelam. Tanah ini merupakan tanah
yang subur dengan hanya sedikit pencucian sehingga kejenuhan basa tinggi.
Sebagian besar tanah ini digunakan untuk pertanian. Jenis tanah ini tersebar di
Distrik Gilombandu, Woniki, Kanggime, Nunggawi, Goyage, Nabunage, Kuari,
Geya, Kondaga, Numba, Kubu, Bokoneri, Bokondini, Bewani dan Kaboneri.
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 7

Tanah dengan dominasi Udorthents masuk ke dalam Ordo Entisols. Dari lima sub
ordo dalam kelompok entisol, tanah pertanian utamanya adalah Aquents (selalu
jenuh air dan drainase terhambat); fluvents (terbentuk dari endapan di dataran
banjir sungai); psamments (bertekstur pasir atau pasir berlempeng); orthents
(berpenampung dangkal dan berbatu di lereng yang curam). Aquents, kandungan
bahan organiknya sedang sampai tinggi di seluruh lapisan, reaksi tanahnya
masam sampai agak masam. Fluvents dan orthents reaksi tanahnya cenderung
masam sampai agak masam. Psamments, kandungan liatnya tinggi, reaksi
tanahnya sangat masam sampai masam, dan kandungan bahan organiknya sangat
rendah sampai rendah. Penggunaan tanah Aquents biasanya di gunakan untuk
persawahan. Fluvents digunakan untuk sawah pengairan dan tadah hujan selain
itu juga untuk tegalan dan pertanian pangan lahan kering. Psamments untuk
tegalan, kebun campuran, dan lahan pertanian kering. Orthents digunakan
sebagai ladang berpindah, daerah pengembalaan ternak, ditanami kayu-kayuan,
sebagian lagi untuk hutan pinus, semak dan hutan sekunder. Jenis tanah ini
tersebar di Distrik Poganeri dan Gilombadu.
Adapun untuk sebaran jenis tanah di kawasan Perkotaan Bokondini dapat dilihat
pada gambar 4.4.


LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 8

Gambar 4.2 Peta Ketinggian Kawasan Perkotaan Bokondini

LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 9

Gambar 4.3 Peta Kemiringan Lereng Kawasan Perkotaan Bokondini


LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 10

C. Jenis Geologi
Struktur Geologi Kabupaten Tolikara didominasi oleh struktur Malihan Darewo di
bagian tengah ke selatan, disusul oleh batuan Ultrafamik dan batuan terobosan
timepa pada bagian tengah ke utara. Potensi dari masing-masing struktur geologi
tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.2.
Potensi Geologi Untuk Tiap Stratigrafi Di Kabupaten Tolikara
Statigrafi Formasi Umur
Potensi
Air
tanah
Mineral Material Fondasi longsor













Sumber: Direktorat Geologi, 1990
Kondisi Geologi pada kawasan Perkotaan Bokondini dapat dilihat lebih jelas pada
gambar 4.5.




AIR TANAH MINERAL MATERIAL FONDASI LONGSOR
Alluvium: Kerikil, pasir, lumpur, lanau dan gambut Kuarter Sangat Baik Emas Pasir, Kerikil Dangkal/Dalam Liquifaksi
Endapan Terbiku: Konglomerat, Breksi dan Pasir Kuarter Sangat Baik Emas Pasir, Kerikil Dangkal/Dalam Stabil
Fanglomerat: Konglomerat Oligomilktik, batu pasi dan
batu lumpur
Kuarter Baik Emas Pasir, Kerikil Dangkal/Dalam Stabil
Ketidak Selarasan
Batuan Terobosan Timepa: Diorit, Granidorit dan Andesit Miosen Buruk Emas, Perak,
Platinum
Batu Dangkal Rendah
Ketidak Selarasan
Formasi Makats; Grewek, Batu lanau dan Batu lempung Miosen Buruk Mineral Industri Dangkal Rendah
Ketidak Selarasan
Batuan Gunung Api Auwewa: Lava Basal, Diabas dan
Andesit, Breksi, Tuf berselingan dengan Rijang, Napal,
Perlit dan Perlit, Tufaan
Eosen Buruk
Emas, Perak,
Platinum,
Mineral Industri
Batu Dangkal Rendah, Sedang
Ketidak Selarasan
Batuan Malihan Darewo: Batu sabak, Filit, Sekis kuarsa
mika, sekis klorit
Tersier Buruk Mineral Industri Dangkal Tinggi
Kelompok Kambelangan Tak Terpisahkan: Batu
lempung, Batu Sabak, sedikit sisipan Batu Lanau,
setempat Batu Gamping Lumpuran dan Batu Pasir
Jura Sedang Mineral Industri Dangkal Tinggi
Batuan Ultrafamik: Dunit, Sepentinit, Periodit, Piroksenit,
Harzburgit, Batuan Meta Basal, Spilit
Mesozoikum Buruk Nikel, Chromit,
Bijih Besi
Batu Dangkal Rendah, Sedang
POTENSI
STATIGRAFI FORMASI UMUR
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 11

Gambar 4.4 Peta Jenis Tanah Kawasan Perkotaan Bokondini

LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 12

Gambar 4.5 Peta Geologi Kabupaten Tolikara





LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 13

D. Curah Hujan
Intensitas curah hujan di Kabupaten Tolikara termasuk tinggi, di mana curah
hujan terkecil mencapai 2.421 mm/tahun dan yang terbesar mencapai 3.681
mm/tahun. Kawasan dengan intensitas curah hujan terendah terdapat di
kawasan pusat kabupaten di Distrik Karubaga dan hinterlandnya seperti Distrik
Wunin, Bewani, Kaboneri, Kubu, Nelawi, Numba, Kuari, Nabunage, Kanggime,
Goyage dan Geya. Sementara kawasan dengan intensitas curah hujan sedang
berada di Woniki, Nunggawi, Gilombandu, Timori, Kembu, Panaga dan Poganeri.
Kawasan dengan intensitas curah hujang tinggi berada di Distrik Dow, Wari,
Wina, Gundagi, Dundu, Umage, Egiam.
Kondisi curah hujan di kawasan Perkotaan Bokondini dapat dilihat pada gambar
4.6
E. Daerah Aliran Sungai
Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terdapat di Kabupaten Tolikara adalah DAS
Mamberamo. DAS tersebut bermuara di Wilayah Sungai (WS) Lintas Negara
Mamberamo – Tami – Apauvar.
Kondisi daerah aliran sungai di kawasan Perkotaan Bokondini dapat dilihat pada
gambar 4.7.
F. Hidrogeologi
Ditinjau dari hidrogeologinya, maka Kondisi Hidrogeologi Kabupaten Tolikara
umumnya adalah Daerah Air Tanah Langka. Hal ini menjelaskan bahwa tidak
cukup banyak kandungan air tanah di Kabupaten Tolikara, yang dapat
dimanfaatkan. Kondisi air tanah langka ini ditemui di bagian tengah ke selatan,
mencakup hampir seluruh distrik. Hanya dua distrik saja yang berada pada
akuifer sedang, yaitu Distrik Dow dan Wari, pada bagian utara wilayah Kabupaten
Tolikara, dan dekat dengan areal tanah rawa.
Kondisi Hidrogeologi di kawasan Perkotaan Bokondini dapat dilihat pada gambar
4.8


LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 14

Gambar 4.6 Peta Curah Hujan Kabupaten Tolikara




































LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 15

G. Tutupan Lahan
Tutupan lahan di Kabupaten Tolikara didominasi Hutan Primer yaitu mencapai
47,12% dari total luas lahan atau 299.594,03 Ha. Sedangkan penggunaan lahan
terkecil adalah semak belukar dengan luas 1.315,72 Ha. Berdasarkan peta
tutupan lahan tersebut, dapat diidentifikasi bahwa masih banyak lahan yang
belum terbangun di Kabupaten Tolikara.
Kondisi tutupan lahan di kawasan Perkotaan Bokondini dapat dilihat pada
gambar 4.9.
Tabel 4.3.
Tutupan Lahan Kabupaten Tolikara
Tutupan lahan Luas Persentase
Awan 26,88 0,004%
Hutan Primer 299.594,03 47,125%
Hutan Rawa Primer 205.115,92 32,264%
Hutan Rawa Sekunder 15.370,89 2,418%
Hutan Sekunder 21.224,18 3,339%
Permukiman 6.321,37 0,994%
Pertanian Lahan Kering + Semak 54.536,50 8,578%
Rawa 2.887,77 0,454%
Semak Belukar 1.315,72 0,207%
Semak Belukar Rawa 12.035,99 1,893%
Tanah Terbuka 3.898,79 0,613%
Tubuh Air 13.411,90 2,110%
Jumlah 635.739,94 100,000%
Sumber: Peta Tutupan Lahan Kabupaten BPKH X 2009 dan
Citra Satelit Geoeye2 Karubaga dan Bokondini 2012


LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 16

Gambar 4.7 Peta Daerah Aliran Sungai Kawasan Perkotaan Bokondini

LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 17

Gambar 4.8 Peta Hidrogeologi Kawasan Perkotaan Bokondini

LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 18

Gambar 4.9 Peta Tutupan Lahan Kawasan Perkotaan Bokondini




































LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 19

H. Status Kawasan Hutan
Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No.458 Tahun 2012, Kawasan Hutan di
Kabupaten Tolikara terbagi menjadi lima, yaitu Areal Penggunaan Lain, Hutan
Produksi Konversi, Hutan Produksi Terbatas, Suaka Marga Satwa Pegunungan
Foja, dan Hutan Lindung. Dari kelima klasifikasi kawasan hutan tersebut, hanya
Areal Penggunaan Lain yang nantinya dapat dikembangkan sebagai kawasan
permukiman dan area terbangun lainnya. Detail Luasan Kawasan menurut Status
Hutan di Kabupaten Tolikara dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.4.
Status Kawasan Hutan Di Kabupaten Tolikara
STATUS KAWASAN HUTAN LUAS (HA)
%
Arel Penggunaan Lain
11.360,63 1,79%
Hutan Produksi Konversi
62.761,01 9,87%
Hutan Produksi Terbatas
52.524,55 8,26%
Suaka Marga Satwa Pegunungan Foja
229.154,43 36,04%
Hutan Lindung
279.953,76 44,03%
Jumlah 635.754,39 100%
Sumber: SK Menhut No. 458 Tahun 2012

Status Kawasan Hutan di kawasan Perkotaan Bokondini dapat dilihat pada
gambar 4.10.

4.1.1.4. Rawan Bencana
Kawasan rawan bencana di Kabupaten Tolikara adalah gempa bumi dan kawasan
rawan longsor. Dimana untuk kawasan rawan longsor terbagi atas 2 tingkatan, terdiri
atas:
a. Tingkat kerawanan longsor rendah sampai sedang, meliputi:
1) Distrik Poganeri,
2) Distrik Kubu,
3) Distrik Bokoneri,
4) Distrik Kaboneri,
5) Distrik Bokondini; dan
6) Distrik Bewani.
b. Tingkat kerawanan longsor sedang sampai tinggi, meliputi
1) Distrik Wina;
2) Distrik Gudagi;
3) Distrik Dundu;
4) Distrik Egiam;
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 20

5) Distrik Umage;
6) Distrik Panaga;
7) Distrik Kembu;
8) Distrik Timori;
9) Distrik Wunin;
10) Distrik Numba;
11) Distrik Kondaga;
12) Distrik Karubaga;
13) Distrik Geya;
14) Distrik Nelawi;
15) Distrik Kuari;
16) Distrik Nabunage;
17) Distrik Goyage;
18) Distrik Kanggime;
19) Distrik Woniki;
20) Distrik Nunggawi; dan
21) Distrik Gilombandu.


LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 21

Gambar 4.10 Peta Status Kawasan Hutan di Kawasan Perkotaan Bokondini

LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 22

Gambar 4.11 Peta Rawan Bencana










LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 23

4.2. GAMBARAN UMUM KAWASAN PERKOTAAN BOKONDINI
Beberapa distrik yang termasuk dalam kegiatan Penyusunan Rencana Detail Tata
Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini yaitu Distrik Bokondini, Distrik Kaboneri,
dan sebagian Distrik Bewani.

4.2.1. Kependudukan
Jumlah penduduk di Kabupaten Tolikara sebesar 270.327 jiwa pada tahun 2010,
sedangkan pada kawasan perkotaan Bokondini adalah sebesar 13.566 jiwa menurut
jumlah penduduk pada Distrik Bokondini, Distrik Kaboneri dan sebagian wilayah
Distrik Bewani.
Tabel 4.5
Jumlah Penduduk Di Kawasan Perkotaan Bokondini Menurut Distrik
Tahun 2010
No Distrik
Banyaknya
Sex ratio
Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Bokondini 2.953 2.606 5.559 113,32
2 Bewani 2.431 2.059 4.490 118,07
3 Kaboneri 1.896 1.621 3.517 116,96
Kawasan Perkotaan Bokondini 7.280 6.286 13.566 115,81
Kabupaten Tolikara 149.843 120.844 270.327 124,00
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

Tingkat kepadatan di Kawasan Perkotaan Bokondini hanya sekitar 13% jiwa/km
2
dan
terhadap kepadatan penduduk yang ada di Kabupaten Tolikara sekitar 21,86%.
Tabel 4.6
Jumlah Penduduk Dan Kepadatan Di Kawasan Perkotaan Bokondini
Menurut Distrik Tahun 2010
No Distrik Luas (km
2
)
Jumlah
Penduduk
(Jiwa)
Kepadatan
(Jiwa/Km
2
)
1 Bokondini 445 5.559 12,49
2 Bewani 342 4.490 13,13
3 Kaboneri 297 3.517 11,84
Kawasan Perkotaan 1084 13.566 12,51
Kabupaten Tolikara 6.357,55 270.687 42,58
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011



LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 24

4.2.2. Sosial
4.2.2.1 Pendidikan

Jumlah sarana pendidikan di Kabupaten Tolikara tahun 2010 mencapai 88 unit, yang
terdiri dari 66 Sekolah Dasar (SD), 17 Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan 4
Sekolah Menengah Atas (SMA), dan 1 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Pada kawasan Perkotaan Bokondini, jumlah sarana pendidikan dasar (SD) sebanyak 7
unit, terbagi atas 6 sekolah dasar negeri dan 1 sekolah dasar swasta. Sedangkan
untuk sekolah lanjutan tingkat pertama terdapat 2 unit sekolah lanjut tingkat
pertama, 253 murid dan 7 orang guru. Dan jumlah sekolah menengah umum hanya
terdapat 1 unit sekolah menengah umum, 89 murid dan 10 orang guru. Untuk sekolah
menengah kejuruan hanya terdapat di Distrik Kuari terdiri 10 unit sekolah menengah
kejuruan dan 10 orang guru.
Kondisi sebaran sarana pendidikan di kawasan Perkotaan Bokondini dapat dilihat pada
gambar 4.11.
Tabel 4.7
Jumlah Sarana Pendidikan Dasar (SD) Negeri Dan Swasta
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Menurut Distrik Tahun 2010
No Distrik
Jumlah Sekolah Dasar
Jumlah
Negeri Swasta
1 Bokondini 2 1 3
2 Bewani 3 0 3
3 Kaboneri 1 0 1
Kawasan Perkotaan Bokondini 6 1 7
Kabupaten Tolikara 61 5 66
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

Tabel 4.8
Jumlah Sarana Pendidikan Dasar, Murid Dan Guru
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Menurut Distrik Tahun 2010
No Distrik
Jumlah
Sekolah
beroperasi
Murid Guru
1 Bokondini 3 598 12
2 Bewani 3 540 10
3 Kaboneri 1 217 3
Kawasan Perkotaan Bokondini 7 1.138 25
Kabupaten Tolikara 61 14.743 196
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011








LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 25

Tabel 4.9
Jumlah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Murid Dan Guru
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Menurut Distrik Tahun 2010
No Distrik
Jumlah
Sekolah Murid Guru
1 Bokondini 2 253 7
2 Bewani 0 0 0
3 Kaboneri 0 0 0
Kawasan Perkotaan Bokondini 2 253 7
Kabupaten Tolikara 18 2.535 50
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

Tabel 4.10
Jumlah Sekolah Menengah Umum, Murid Dan Guru
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Menurut Distrik Tahun 2010
No Distrik
Jumlah
Sekolah Murid Guru
1 Bokondini 1 89 10
2 Bewani 0 - -
3 Kaboneri 0 0 0
Kawasan Perkotaan Bokondini 1 89 10
Kabupaten Tolikara 4 687 27
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

4.2.2.2 Kesehatan
Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar suatu masyarakat. Oleh karena itu
pelayanan kesehatan yang memadai sangatlah diperlukan. Mengenai Pelayanan
Kesehatan, Tolikara hanya mengandalkan PUSKESMAS dan Balai Pengobatan
Pemerintah saja karena tidak terdapat rumah sakit.
Pada kawasan Perkotaan Bokondini hanya terdapat 1 Puskesmas, 2 Puskesmas
Pembantu dan 3 Balai Pengobatan Pemerintah. Guna melayani beberapa daerah yang
masih belum terjangkau tersedia juga Puskesmas Keliling roda dua 1 unit.
Disamping itu, kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan juga dipengaruhi oleh
banyaknya tenaga kesehatan yang tersedia. Di Tolikara, jumlah dokter yang tersedia
hanya orang yang terdiri dari 1 dokter spesialis, 16 dokter umum, dan 2 dokter gigi.
Untuk penolong kelahiran, di Tolikara juga terdapat 56 bidan.
Pada kawasan Perkotaan Bokondini untuk jumlah tenaga kesehatan yang ada yaitu 3
dokter umum, 1 dokter gigi dan 8 bidan.
Tabel 4.11
Jumlah Puskesmas, Puskesmas Pembantu Dan Balai Pengobatan
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Menurut Distrik Tahun 2010
No Distrik Puskesmas Puskesmas
Pembantu
Balai pengobatan
Pemerintah Swasta Gigi
1 Bokondini 1 0 1 0 0
2 Bewani 0 1 1 0 0
3 Kaboneri 0 1 1 0 0
Kawasan Perkotaan Bokondini 1 2 3 0 0
Kabupaten Tolikara 15 20 23 0 0
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 26

Gambar 4.11 Peta Sarana Pendidikan










LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 27

Tabel 4.12
Jumlah Puskesmas Keliling
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Menurut Distrik Tahun 2010
No Distrik
Puskesmas keliling Jumlah
Roda empat Roda dua
1 Bokondini 0 1 1
2 Bewani 0 0 0
3 Kaboneri 0 0 0
Kawasan Perkotaan Bokondini 0 1 1
Kabupaten Tolikara 2 5 7
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

Tabel 4.13
Jumlah Tenaga Kesehatan
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Menurut Distrik Tahun 2010
No Distrik
Tenaga kesehatan
Dokter
Spesialis
Dokter
Umum
Dokter
Gigi
Perawat
Gigi
Bidan
1 Bokondini 0 3 1 0 3
2 Bewani 0 0 0 0 4
3 Kaboneri 0 0 0 0 1
Kawasan Perkotaan Bokondini - 3 1 - 8
Kabupaten Tolikara 1 16 2 1 56
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011


4.2.2.3 Peribadatan
Sebagian besar masyarakat di kawasan Perkotaan Bokondini memeluk agama Kristen
dan sebagian kecil memeluk agama Islam. Dengan jumlah sarana peribadatan gereja
3 unit, 1 unit klasis dan 1 unit mesjid.
Adapun kondisi sebaran sarana peribadatan dapat dilihat pada gambar 4.14
Hal ini dapat ditemukan dengan banyaknya jumlah peribadatan yang tersebar di
kawasan Perkotaan Bokondini. Adapun untuk jelas kondisi sebaran sarana
peribadatan dapat dilihat pada gambar 4.14


















LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 28

Gambar 4.13 Peta Sarana Kesehatan

LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 29

Gambar 4.14 Peta Sarana Peribadatan

























































LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 30

4.2.3. Sejarah dan Budaya
4.2.3.1 Sejarah Distrik Bokondini
Secara etimologi, Bokondini bukanlah nama asli. Nama Bokondini terbentuk oleh
pengaruh logat bahasa dari penduduk yang bukan penduduk asli, atau pengaruh
penduduk pendatang. Nama asli untuk sebutan Bokondini adalah “Bogotini”, yang
terdiri atas 2 (dua) suku kata, yaitu Bogo dan Tini. Bogo diambil dari nama Sungai
Bogo, sedangkan Tini berarti suatu tempat datar/lembah. Jadi Bogotini (sekarang
Bokondini) berarti suatu tempat tanah datar atau sebuah lembah yang terletak di
tepi Sungai Bogo.Lembah Bogo atau Bokondini merupakan satu-satunya lembah tanah
datar yang dimiliki oleh penduduk di daerah Bokondini. Selain Lembah Bogo, terdapat
dua lembah lain, yaitu Lembah Wunin dan Lembah Abena. Namun kedua lembah ini
luasnya lebih kecil dibanding luas Lembah Bogo dan letaknya tidak di tengah wilayah
Bokondini.
Lembah Bogo ini terletak di tengah-tengah wilayah Bokondini, sehingga sangat
strategis dan dimungkinkan melakukan berbagai kegiatan kemasyarakatan di lembah
ini. Adapun beberapa kegiatan yang dapat dilakukan di atas tanah datar/lembah
Bogo ini dari zaman purbakala hingga sekarang antara lain:
a. Tempat perkemahan pertama nenek moyang penduduk Bokondini. Menurut
cerita turun-temurun, nenek moyang penduduk Bokondini dari Laut Arafura
masuk ke tanah Papua pegunungan Tengah melalui Sungai Digul tiba di
Lembah Balim, kemudian terakhir tiba di Lembah Bogo lalu berkemah dan
menetap di sana hingga turun-temurun;
b. Tempat dimulainya kebudayaan baru. Nenek moyang penduduk Bokondini,
yang tadinya bermata pencaharian sebagai nelayan di laut, setelah mereka
tiba di Lembah Bogo mereka harus mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan
baru, yaitu membuat kebun, membuat rumah/honai, membuat pagar, dan
sebagainya. Singkat kata, kebudayaan nenek moyang sebagai nelayan/pelaut,
setelah mereka tiba di Lembah Bogo, berubah menjadi penduduk
agraris/petani dan peternak;
c. Tempat pembagian hak ulayat/tanah adat. Dari Lembah Bokondinilah nenek
moyang penduduk Bokondini membagi-bagi tanah menurut suku dan marga.
Suku Gem mendapat bagian tanah/hak ulayat di sebelah Timurnya, suku Bok
mendapat bagian tanah/hak ulayat di sebelah Utaranya, sedangkan suku Lani
mendapat bagian tanah/hak ulayat di sebelah Barat, Selatan, dan Tengahnya;
d. Tempat perdagangan. Karena letak Lembah Bokondini yang sangat strategis
berada di tengah-tengah daerah Bokondini, maka secara otomatis tempat ini
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 31

menjadi tempat perdagangan/pasar. Penduduk dari arah Utara, Selatan,
Timur, Barat, dan Tengah dapat berkumpul melakukan tukar-menukar, jual-
beli hasil-hasil pertanian/peternakan, dan barang-barang berharga lainnya di
tempat ini;
e. Tempat digelarnya pesta rakyat/pesta adat. Pada saat tiba panen hasil
pertanian, seperti buah merah, jagung, kacang-kacangan, ubi, keladi, tebu,
dan lainnya serta pemotongan babi masal/pesta bakar batu juga selalu digelar
di tempat ini;
f. Tempat pelaksanaan ritual/penyembahan berhala. Lembah Bokondini sebagai
tempat perkemahan pertama nenek moyang penduduk Bokondini, sekaligus
tempat pemakaman nenek moyang tersebut, maka secara otomatis penduduk
Bokondini dari berbagai tempat datang melakukan ritual/sembahyang minta
berkat perlindungan kepada roh-roh nenek moyang di tempat ini. Dalam doa
kepada roh nenek moyang, mereka antara lain meminta: kesuburan tanah,
supaya tanaman tidak diserang hama, supaya peternakan tidak diserang
wabah penyakit, supaya penduduk tidak diserang wabah penyakit/tidak
diserang musuh, supaya mendapat jodoh, supaya melahirkan anak dengan
selamat; dan
g. Tempat digelarnya perang dan damai antarsuku/marga. Apabila terjadi
bentrokan/benturan antara suku/antara marga di wilayah Bokondini, yang
dipicu oleh berbagai faktor seperti pencurian hasil ternak, pencurian hasil
bumi, perzinahan/perkosaan perempuan, masalah tanah adat, dan
sebagainya, sehingga berakibat pecahnya perang suku, maka kegiatan perang
suku dilakukan di Lembah Bokondini dan setelah berakhir dan harus berdamai,
maka acara perdamaian pun dilakukan di tempat ini.

Pengaruh Luar ke Bokondini
Masuknya Misionaris di Bokondini (1956).
Pada Juni 1949, Robert Story, yang menjadi pimpinan dari Badan Zending Asia Pasifik
Christian Mission, yang berpusat di Kota Melborne, Australia, mendapat undangan
dari Pemerintah Belanda (Gubernur Van Werdenberg) dan Badan Zending Belanda
untuk memasuki daerah-daerah yang belum di-Injili di Papua. Di dalam daftar yang
diberikan, disebutkan antara lain daerah Lembah Balim, Lembah Bogo, dan Lembah
Toli (Zwart Valley). Pada September 1950, Robert Story bersama dengan Fred
Dawdson, berangkat dari Australia ke Papua Niuguni melalui Wewak dan selanjutnya
ke Sentani Jayapura Papua. Mereka tinggal di Yoka, di pinggir Danau Sentani. Setelah
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 32

beberapa waktu, tiba pula isteri Fred Dawdson, Margaret, untuk mendampinginya
sebagai misionaris dan tinggal di Genyem selama dua bulan sambil menjejaki
kemungkinan pos pekabaran Injil di sana dari Yoka. Dari Genyem berjalan kaki
selama sepuluh hari, melalui hutan yang lebat, dan membuka pos di Senggi. Genyem
akhirnya ditutup, tetapi Senggi menjadi pos pertama misi UFM Australia. Kemudian
tiba lagi tiga missionaries baru, yaitu Russell Bond, dan tunangannya Lillian Bryan,
Val Jones dari Australia Selatan, dan Jan Vedhuis dari Kanada.
Pada 20 dan 21 April 1954, Badan Zending C&MA mendarat di Sungai Balim, tepatnya
diMinimo. Pilot dari Pesawat C&MA tidak berani untuk mendarat di Danau Archbold,
meskipun 17 tahun sebelumnya telah pernah didarati pesawat dari rombongan
ekspedisi Belanda dengan mesin yang lebih besar. Badan Zending C&MA membuka
pangkalan Zending di Hetigima Wamena, dan dari pangkalan inilah, kemudian Badan
Zending Asia Pasifik Christian Mission mengadakan penjajakan ke pedalaman,
khususnys ke arah Danau Arschbold di kaki gunung Bokondini.
Pada 22 Januari 1955, rombongan (20 orang) misionaris UFM Australia berangkat dari
Senggo/Sentani menuju Lembah Balim (Hetigima) dengan menggunakan pesawat MAF
Amphibi Sealander, untuk selanjutnya menuju ke Danau Arschbold. Mereka berjalan
kaki dari Hetigima–Ibele-Gonam-Pramid–menyeberangi Sungai Balim di Manda lalu ke
Wollo-Ilugwa menempuh perjalanan selama 29 hari dan tiba di Arschbold kaki gunung
Bokondini pada 18 Februari 1955.
Selama satu tahun dua bulan, para misionaris berkemah sementara di pinggir Danau
Arschbold, yaitu pada 18 Februari 1955 sampai 29 April 1956. Pada 29 April 1956,
rombongan misionaris menuju sasaran/pangkalan yang dituju, yaitu Lembah Bogo
yang sekarang disebut Bokondini. Perjalanan ini ditempuh selama tiga hari (29 April
1956-1 Mei 1956). Akhirnya hasil doa dan pergumulan yang cukup panjang dan
melelahkan, tibalah rombongan misionaris di Bokondini, sebuah lembah dataran yang
menjadi incaran rombongan berdasarkan peta hasil survei pada tahun 1953.
Tercapailah cita-cita mereka untuk merebut Bokondini yang akan menjadi pangkalan
utama penginjilan di seluruh pegunungan Tengah Papua.
Walaupun penduduk di Bokondini saat itu berada pada zaman batu dan sering terjadi
perang antar suku/marga, namun mereka heran melihat orang berkulit putih yang
baru pertama kali mereka temui. Menjelang beberapa hari dalam suasana akrab
antara penduduk dan rombongan misionaris mengerjakan Lapangan Terbang Perintis
Bokondini secara ramai-ramai, hampir seluruh penduduk dari 7 distrik bahkan distrik
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 33

lain dari Kabupaten Mamberamo Tengah juga turut membantu. Sebagai imbalan,
tenaga kerja misionarir membayar berupa garam, kulit bia, parang, dan kampak.
Dalam waktu yang sama, beberapa rumah para misionaris telah dibangun dengan
bahan lkcal. Jadi rumah dan lapangan terbang itu selesai dalam tempo hanya tiga
minggu dan akhirnya pendaratan pesawat pertama dilakukan pada 5 Juni 1956 oleh
pilot Dave Steiger. Dengan demikian, terbukalah keterisolasian Bokondini terhadap
dunia luar. Bokondini dengan penduduknya dahulu berada dalam kurungan
pegunungan, dalam keadaan gelap, hidup dalam zaman batu, primitif, suka perang
suku, dikuasai oleh kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, namun dengan
terbukanya Lapangan Terbang Bokndini, maka terbuka jugalah untuk mengetahui dan
menerima segala sesuatu yang ada di luar Bokondini.
Sesungguhnya terbukanya lapangan terbang perintis Bokondini bukan hanya untuk
masyarakat Bokondini, namun untuk seluruh penduduk pegunungan Tengah, karena
sejumlah lapangan terbang perintis di pegunungan tengah dibuka melalui pangkalan
utama misionaris, yaituBokondini.
Masuknya Pemerintah Belanda di Bokondini (1957)
Walaupun bangsa dan rakyat Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya dari
penjajahan Pemerintah Belanda sejak tahun 1945, namun sampai tahun 1962
Pemerintah Belanda masih menguasai Tanah Papua, sehingga pembukaan isolasi
Bokondini dilakukan oleh Pemerintah Belanda setelah satu tahun misionaris merintis
Bokondini, yaitu tepatnya pada tahun 1957 Pemerintah Belanda masuk di Bokondini.
Jadi daerah Bokondini pernah diperintah oleh Pemerintah Belanda selama empat
tahun (1958- 1962), dan setelah penentuan pendapat rakyat (dikenal; Pepera) pada
1962 itu juga, barulah Pemerintah Belanda meninggalkan Tanah Papua. Selama
empat tahun Pemerintah Belanda menetapkan Bokondini sebagai daerah
administratif Distrik Bokondini yang dikepalai oleh seorang Bistir dengan daerah
kerjanya meliputi Bokondini, Kelila, Bolakme,Yalengga, Ilugwa, Wolo, Kobakma,
Taria, Wunin, Karubaga, Mamit, dan Kanggime.
Masuknya Pemerintah Indonesia di Bokondini (1962)
Walaupun dari Sabang sampai Merauke sejak 17 Agustus 1945 Indonesia telah
memaklumkan kemerdekaannya, namun bagi Provinsi Irian Barat dari tahun 1945
sampai tahun 1962 masih dijajah oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Sejak 1962, yaitu
setelah Pepera barulah Irian Barat benar-benar bebas dari penjajah. Nama kepala
wilayah waktu itu disebut Bistir atau Distrik, sekarang berubah menjadi KPS (Kepala
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 34

Pemerintah Setempat), kemudian berubah lagi menjadi Camat/Pamong Praja,
kemudian setelah otonomi khusus zamannya Presiden Gusdur berubah lagi menjadi
Distrik, sehingga sekarang disebut Distrik Bokondini.

4.2.3.2 Sosial Budaya Bokondini
Sosial mengandung arti sesuatu yang dibangun dan terjadi dalam sebuah situs
komunitas (Keith Yacobs). Budaya bisa dimaknakan sebagai daya dari budi yang
berupa cipta dan rasa. Sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta rasa, karsa, dan
rasa tersebut (Koentjaraningrat 1976:28).
Analisis sosial budaya adalah suatu usaha untuk memperoleh gambaran lengkap
mengenai situasi sosial dan budaya dengan menelaah kaitan sejarah dan struktur
sosial dalam masyarakat. Bila dikaitkan dengan penyusunan rencana tata ruang,
analisis sosial budaya merupakan analisis terhadap kondisi sosial budaya masyarakat
akibat adanya suatu pembangunan atau pun aktivitas kegiatan. Analisis sosial budaya
akan menilai kondisi sosial budaya yang mengalami perubahan atau pun tidak
mengalami perubahan akibat adanya suatu kegiatan dan atau proses pembangunan.
Analisis sosial budaya dapat diartikan sebagai kajian untuk mengenali struktur sosial
budaya serta prasarana dan sarana budaya; kajian ini dilakukan untuk mencapai
pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan
kesejahteraan masyarakat yang bersifat lahiriah, batiniah atau spiritual (DPU, 2011)

Status Kepemilikan Tanah
Ihwal status kepemilikan tanah, bagi masyarakat Distrik Bokondini, Kabupaten
Tolikara, khususnya, dan umumnya rakyat Provinsi Papua, tidak mengenal jual-beli
atau sewa-menyewa tanah. Dalam kepercayaan mereka, tanah adalah “milik Tuhan”.
Sebagaimana milik Tuhan –dan bukan milik manusia-, maka tanah tidak selayaknya
diperjualbelikan atau disewakan. Bila ada yang memperjual-belikan tanah milik
Tuhan, maka dia berdosa besar.
Berdasarkan hal itu, bila seseorang berminat hendak memanfaatkan tanah di
Bokondini, baik untuk tempat tinggal atau usaha, prosedurnya cukup menemui Ketua
Adat atau Lembaga Masyarakat Adat (LMA). LMA kemudian meminta pengelola tanah
untuk menyediakan tanah sesuai kebutuhan. Prosesnya tidak berbelit-belit, selama
tujuan pemohon tanah adalah demi kemajuan/kebaikan masyarakat Bokondini
sendiri.
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 35

Berdasarkan keterangan salah seorang “pengelola” tanah di Bokondini, bagi si
pemohon penggunaan tanah tidak dikenai biaya apa pun. Paling tidak, untuk ke
depannya si pemohon tanah tersebut bisa terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial di
masyarakat. Dalam kepedulian sosial, mereka diperkenankan memberikan sumbangan
bila ada warga masyarakat lainnya yang terkena musibah. Dalam pemikiran
masyarakat Bokondini, oleh siapa pun pemanfaatan tanah, lokasinya tidak akan
berpindah, tetap berada di Bokondini. Bila suatu ketika ada yang berniat pindah
kembali ke tempat lain, tanahnya tidak berpindah. Malahan bangunannya menjadi
aset masyarakat.

Pola Pemukiman Suku Lani
Masyarakat Lani di Papua, tidak mengenal konsep keluarga batih, yaitu bapak, ibu,
dan anak, tinggal dalam satu rumah. Mereka adalah masyarakat komunal. Jika rumah
dipandang sebagai suatu kesatuan fisik yang menampung aktivitas-aktivitas pribadi
para penghuninya, dalam masyarakat Dani unit rumah tersebut adalah sili.
Pada dasarnya sili/silimo merupakan kompleks tempat kediaman yang terdiri atas
beberapa unit bangunan (rumah/honai) beserta perangkat lainnya.
Suku Lani sering membangun rumah adat mereka sesuai dengan apa yang ada di
daerahnya pada masa lampau. Pada umumnya orang gunung di Provinsi Papua
memiliki rumah adat yang sering disebut Honai.
Istilah honai sendiri berasal dari dua kata, yakni “Hun” yang berarti pria dewasa dan
“Ai” yang berarti rumah. Dari klasifikasinya, terdapat dua jenis honai, yakni honai
bagi kaum laki-laki dan perempuan.
Bahan yang biasanya digunakan untuk membuat honai, yaitu kayu besi (oopir), kayu
buah besar, kayu batu yang paling besar, kayu buah sedang, jagat (mbore/pinde),
tali (kedle), alang-alang (wakngger), papan yang dikupas (oo nggege nggagalek),
papan las, dan lain-lain.
Orang Lani mempunyai tiga honai, yakni honai bagi kaum laki-laki, honai perempuan,
dan honai yang dikhususkan untuk memberi makan atau memelihara ternak seperti
babi (wam dabukla). Jadi tidak benar jika sejauh ini ada anggapan miring bahwa
masyarakat asli di Pegunungan Tengah Papua biasanya tidur bersama ternak babi di
dalam honai mereka, sebab ada honai yang dibangun khusus untuk memelihara babi.
Honai memang memiliki nilai filosofis yang mendalam, sebab pada rumah tradisional
inilah tempat generasi awal masyarakat pegunungan tengah Papua dilahirkan dan
dibesarkan. Honai juga menjadi tempat belajar mengenai arti kehidupan dan
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 36

hubungan timbal balik antara manusia dengan alam sekitar maupun dengan Sang
Pencipta. Jadi, keunikan honai patut dijaga agar tidak cepat tergerus perkembangan
zaman. Namun yang perlu diperhatikan, dalam rumah honai tradisional umumnya
tidak memiliki cerobong (saluran) pembuangan asap hasil pembakaran. Inilah
masalah terbesar penyebab gangguan kesehatan pernafasan pada masyarakat lokal
yang kini masih mempertahankan honai sebagai rumah tinggal.
Pemukiman suku Lani biasanya berupa satu unit kecil dari suatu kelompok klen. Satu
unit ini terdiri atas empat bentuk bangunan yang disesuaikan berdasarkan fungsinya.
Bentuk bangunan ini terdiri atas;
1. Rumah khusus bagi pria yang dinamakan kunume;
2. Rumah tinggal bagi wanita dinamakan ome; dan
3. Kandang babi sekaligus dapur disebut wam ome.

Kesatuan keluarga inti tidak tinggal bersama dalam satu rumah. Anak laki-laki
berusia maksimal 10 tahun masih tinggal bersama ibu dan saudara wanitanya.
Sedangkan anak laki-laki di atas 10 tahun harus tinggal bersama ayah dan saudara
laki-laki lainnya dalam honai laki laki.
Bentuk perkampungan mereka biasanya persegi panjang dengan dikelilingi pagar
setinggi 1-1,5 meter. Satu kampung (otinime) merupakan perkampungan kelompok.
Rumah laki-laki berada tepat di hadapan pintu masuk perkampungan. Tujuannya
untuk mengawasi keamanan atau mengamati gerak-gerik tamu yang mencurigakan.
Rumah perempuan selalu berada di sisi halaman rumah sebelah kiri. Sedangkan dapur
yang merangkap kandang babi terletak di belakang dengan pintu babi menghadap ke
luar pagar. Posisi ini dimaksudkan supaya babi piaraannya bisa bebas keluar masuk
hutan tanpa memasuki halaman perkampungan. Kebun petatas, buah merah, atau
pisang berada di pemukiman atau pagar halaman.
Rumah adat suku Lani (honai) berbentuk bulat dengan tinggi bangunan dua meter,
serta atapnya menyerupai payung setinggi dua meteran dari lingkaran atas
bangunan. Menurut pemahaman mereka, bentuk bulat utuh dalam keadaan tertutup
yang diwujudkan dalam bentuk rumah honai ini dimaksudkan sebagai simbol
hubungan satu kesatuan antara alam, lingkungan, masyarakat serta para leluhurnya.
Baik rumah pria maupun rumah wanita tidak ada sekat, yang ada hanya para buat
menyimpan kayu bakar tepat di atas tungku pembakaran. Tungku pembakaran pria
hanya sebagai penghangat, sedangkan tungku rumah wanita selain penghangat
sekaligus untuk memasak.
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 37

Gambar 4.15 Pola Permukiman Suku Lani Di Kabupaten Tolikara











Sumber: Hasil olah data penyusun,2012.

Pola pemukiman suku Lani di Tolikara dengan Suku Dani yang mendiami sebagian
Kabupaten Jayawijaya berbeda, baik letak maupun istilah penamaannya. Sebagai
gambaran, pemukiman Suku Dani dinamakan usilimo yang di dalamnya terdapat
honai laki laki (pilamo) dan sejumlah honai perempuan (ebeai) yang disesuaikan
dengan jumlah istri mereka. Dapur (hunila) berbentuk memanjang dan kandang babi
(dabula).
Gambar 4.16 Pola Pemikiman Usilimo Suku Dani di Kabupaten Jayawijaya















Sumber: Skripsi Dhany Septimawan Sutopo, “Peranan Kerabat Afinal di Dalam Lingkungan Kekerabatan
Patrilineal Pada Masyarakat Suku Bangsa Dani di Desa Wenabugaga Kecamatan Kurulu Kabupaten
Jayawijaya”, Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Uncen, jayapura 2011

Perkawinan di Bokondini
Lembaga Upacara Perkawinan
Konstruksi upacara perkawinan dalam masyarakat Lani memiliki beberapa fungsi,
yakni sebagai pendidikan, spiritual, keteraturan sosial, ekonomi, dan reproduksi.
Pada masyarakat Lani, termasuk di Bokondini, terdapat beberapa lembaga
penyelenggara upacara perkawinan, antara lain:

Kunume
(Honai Pria)

Wam
ome
Ome
(Honai
Wanita
Ebeai 1 Ebeai 2 Ebeai 3



Holakoma Silimo



Ongkutlu Leget
Dabula

Pilamo
Hunila
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 38

1. Perkawinan adat
Perkawinan adat dimaksudkan sebagai sarana untuk memaknai dan mewarisi nilai
identitas suku Lani. Biasanya, mas kawin berupa 5 ekor babi yang diberikan
mempelai pria sebagai tanda keseriusan dan kesanggupan sekaligus menunjukkan
kejantanannya. Artinya, berapa pun jumlah yang diminta pihak perempuan
sebagai harta mas kawin, dapat dibayar dengan tuntas. Mas kawin biasanya
diterima oleh saudara laki-laki dari mempelai perempuan sebagai pewaris harta
mas kawin. Oleh saudara pria itulah mas kawin kemudian dibagikan esok harinya.
2. Perkawinan Gereja
Biasanya yang melaksanakan pernikahan di gereja adalah kaum intelektual yang
sudah mengenyam pendidikan tinggi, dan para pekerja gereja. Kedua mempelai
dengan mengenakan pakaian resmi dikawinkan oleh pastor. Besarnya pembayaran
harta mas kawin ditetapkan oleh gereja melalui Konferensi Gereja Sinode Gereja
Injil di Indonesia (GIDI), yakni 5 ekor babi. Jumlah babi ini, empat ekor untuk
pihak perempuan dan satu ekor untuk dibagikan ke gereja.
3. Pola Perkawinan Pemerintah
Perkawinan Pemerintah dimaksudkan untuk memenuhi ketentuan hukum positif,
mendapat akta nikah dan akte anak dari Pencatatan Sipil.

Bentuk-Bentuk Perkawinan Suku Lani
Beberapa bentuk perkawinan di Suku Lani, antara lain:
a. Perkawinan monogami (akui ambir): Di zaman sekarang, terutama setelah
ajaran Injil masuk ke Tolikara dan Bokondini, perkawinan bentuk akui ambir
merupakan suatu keharusan sebagai tanda kesetiaan suami-istri;
b. Perkawinan poligami (akuwi abugwa): Poligami memiliki dua bentuk, yaitu
poligini dan poliandri. Poligini adalah seorang lelaki menikahi lebih dari satu
perempuan. Upacara ini dilangsungkan hanya secara adat. Poligini biasa
dilakukan oleh mereka yang memiliki harta berlebih atau seorang kepala
perang (wim anuak) yang menang dalam sebuah peperangan;
c. Perkawinan eksogami (amiya ambi): Awuluk Oweluk, yakni perkawinan
dengan saudara kandung sangat ditentang oleh Suku Lani. Suku Lani pun
melarang perkawinan dengan semua marga sejenis atau eksogami marga; dan
d. Perkawinan endogami: Perkawinan antaretnis, klan suku, kekerabatan dalam
lingkungan yang sama. Masyarakat Lani menggolongkan dua kelompok marga
besar, seperti Wenda dan Kogoya. Setiap klan dalam satu marga satu sama
lainnya tidak diperbolehkan melakukan ikatan perkawinan. Klan yang
termasuk marga Wenda antara lain Bogum, Liwiya, Yanengga, Enambe.
Sedangkan klan yang tergolong marga Kogoya adalah Tabuni, Wanimbo, Tabo,
Wandik.


LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 39

4.2.4. Peternakan dan Perkebunan
Peternakan di Tolikara di dominasi oleh peternakan babi. Babi tersebut kebanyakan
di pelihara oleh keluarga sebagai hewan peliharaan. Menurut data Dinas Peternakan
Kabupaten Tolikara, jumlah populasi ternak babi pada Tahun 2010 berjumlah 52.782
ekor. Selain itu, untuk ternak jenis unggas, didominasi oleh ternak ayam buras.
Berdasarkan data Dinas Peternakan Kabupaten Tolikara, terdapat ayam buras
sebanyak 44.781 ekor.
Pada kawasan Perkotaan Bokondini terdapat 57 sapi untuk populasi ternak besar,
sedangkan untuk populasi ternak kecil didominasi ternak babi hingga 6.266 ekor dan
25 ekor kambing.
Tabel 4.1
Populasi Ternak Besar Akhir Tahun Menurut Jenis
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Menurut Distrik Tahun 2010
No Distrik
Jenis Ternak
Sapi Sapi FH Kerbau Kuda
1 Bokondini 57 0 0 0
2 Bewani 0 0 0 0
3 Kaboneri 0 0 0 0
Kawasan Perkotaan Bokondini 57 0 0 0
Kabupaten Tolikara 373 0 0 5
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011


Tabel 4.15
Populasi Ternak Kecil Akhir Tahun Menurut Jenis
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Menurut Distrik Tahun 2010
No Distrik
Jenis Ternak
Kambing Domba Babi
1 Bokondini 25 0 2.779
2 Bewani 0 0 1.988
3 Kaboneri 0 0 1.499
Kawasan Perkotaan Bokondini 25 0 6.266
Kabupaten Tolikara 373 - 52.782
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

Tabel 4.16
Jumlah Ternak Yang Dipotong Di Rumah Potong Hewan (RPH) Dan Di Luar RPH
Menurut Jenis Ternak Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Di RPH Di luar RPH
Sapi Kambing Babi Sapi Kambing Babi
1 Bokondini 0 0 0 4 5 217
2 Bewani 0 0 0 0 0 21
3 Kaboneri 0 0 0 5 0 132
Kawasan Perkotaan Bokondini 0 0 0 4 5 370
Kabupaten Tolikara 0 0 0 34 19 5.722
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011





LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 40

Tabel 4.17
Jumlah Populasi Ternak Akhir Tahun Menurut Jenis Unggas dan Kelinci
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Jenis ternak
Ayam
Buras
Ayam
Ras Pedaging
Ayam Ras
Petelur
Itik Kelinci
1 Bokondini 822 0 0 19 764
2 Bewani 1.024 0 0 11 73
3 Kaboneri 109 0 0 0 838
Kawasan Perkotaan Bokondini 1.846 0 0 30 1.675
Kabupaten Tolikara 44.871 0 0 139 8.226
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011


4.2.4.1 Perikanan
Perikanan masih belum begitu berkembang di Tolikara. Sampai saat ini, perikanan di
Tolikara masih di dominasi oleh ikan Mujair. Karena Tolikara sebagian besar berada di
wilayah daratan (bukan pantai), maka tidak terdapat perikanan laut maupun tempat
pelelangan ikan.
Tabel 4.18
Produksi Perikanan Darat Menurut Komoditi
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010 (Kg)
No Distrik
Jenis ikan
Mas Mujair Nila Lele Udang
1 Bokondini 32 15 8 0 0
2 Bewani 5 5 0 0 0
3 Kaboneri 8 5 0 0 0
Kawasan Perkotaan Bokondini 45 25 8 0 0
Kabupaten Tolikara 420 200 121 80 10
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

4.2.4.2 Perkebunan
Perkebunan yang berkembang di Tolikara, berdasarkan Data Dinas Pertanian
Kabupaten Tolikara, adalah Kopi. Akan tetapi, sebagian besar dari perkebunan Kopi
ini hanya ditanam oleh masyarakat secara individu saja, bukan dimaksudkan untuk
perkebunan secara luas, dimana hanya ada beberapa tanaman kopi saja untuk tiap
rumah tangga yang menanam kopi.
Tabel 4.19
Luas Areal, Produksi Perkebunan Kopi
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik Luas areal (Ha) Produksi (Ton)
1 Bokondini 8,17 8,07
2 Bewani - -
3 Kaboneri 1,06 0,17
Kawasan Perkotaan Bokondini 9,23 8,24
Kabupaten Tolikara 26,48 14,5
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 41

4.2.4.3 Tanaman Pangan
Seperti kebanyakan wilayah di Papua, tanaman pangan yang banyak diusahakan oleh
masyarakat Tolikara di dominasi oleh kelas petatas (umbi–umbian), yaitu Ubi Jalar,
Keladi.
Berdasarkan Data Dinas Pertanian Kabupaten Tolikara, Produksi Ubi jalar pada Tahun
2010 adalah sebanyak 10.246 ton dengan luas panen sebesar 1.823 Ha. Sedangkan
Keladi produksinya 2.673 ton dengan luas panen sebesar 454 Ha.
Tabel 4.2
Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Bayam Dan Cabe
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Bayam Cabe
Luas
Panen (Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2
Hasil
(Ton/Ha)
Luas Panen
(Ha)
Produksi
(ton)
Rata
2
hasil
(ton/ha)
1 Bokondini 1,14 2,32 2,04 1,14 2,53 2,23
2 Bewani 0,94 1,88 2,00 0,94 3,06 3,25
3 Kaboneri 0,92 1,83 1,99 0,92 2,47 2,69
Kawasan Perkotaan Bokondini 3 6,03 6,03 3 8,06 8,17
Kabupaten Tolikara 24,93 62,3 2,5 25,17 68,4 2,72
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

Tabel 4.31
Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Buncis Dan Wortel
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Buncis Wortel
Luas
Panen (Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2
Hasil
(Ton/Ha)
Luas panen
(Ha)
Produksi
(ton)
Rata
2
hasil
(ton/ha)
1 Bokondini 1,35 4,74 3,51 1,35 5 3,71
2 Bewani 0,94 2,26 2,4 0,94 2,25 2,39
3 Kaboneri 0,92 2,22 2,41 0,92 3 3,26
Kawasan Perkotaan Bokondini 3,21 9,22 8,32 3,21 10,25 9,36
Kabupaten Tolikara 22,14 71,6 3,24 22,59 75,7 3,51
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

Tabel 4. 22
Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Daun Bawang Dan Bawang Merah
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Daun Bawang Bawang merah
Luas
Panen (Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2
Hasil
(Ton/Ha)
Luas Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2
Hasil
(Ton/Ha)
1 Bokondini 1,88 7,31 3,88 2,13 9,92 4,65
2 Bewani 1,56 3,13 2,01 1,77 3,17 1,8
3 Kaboneri 1,52 3,76 2,47 1,72 5,55 3,22
Kawasan Perkotaan Bokondini 4,96 14,2 8,36 5,62 18,64 9,67
Kabupaten Tolikara 28,8 133,87 4,64 33,78 140,2 4,15
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011








LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 42

Tabel 4.23
Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Ketimun Dan Kentang
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Ketimun Kentang
Luas
Panen (Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2
Hasil
(Ton/Ha)
Luas Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2
Hasil
(Ton/Ha)
1 Bokondini 3,2 20,68 6,46 2,13 13,75 6,45
2 Bewani 2,65 6,01 2,27 1,77 1,99 1,13
3 Kaboneri 2,59 5,42 2,09 1,72 1,93 1,12
Kawasan Perkotaan Bokondini 8,44 32,11 10,82 5,62 17,67 8,7
Kabupaten Tolikara 47,05 181,81 3,86 31,40 96,3 3,07
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

Tabel 4.4
Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Kubis Dan Terong
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Kubis Terong
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2
Hasil
(Ton/Ha)
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2
Hasil
(Ton/Ha)
1 Bokondini 4,26 14,54 3,41 2,84 8,38 2,95
2 Bewani 3,53 9,08 2,57 2,36 3,3 1,4
3 Kaboneri 3,45 8,48 2,46 2,3 2,51 1,09
Kawasan Perkotaan Bokondini 11,24 32,1 8,44 7,5 14,19 5,44
Kabupaten Tolikara 71,66 223,9 3,12 40,31 91,3 2,27
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

Tabel 4.25
Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Bawang Putih Dan Ubi-Ubian Lain
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Bawang Putih Ubi-Ubian Lain
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2
Hasil
(Ton/Ha)
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
RATA
2

Hasil
(Ton/Ha)
1 Bokondini 1,95 1,35 0,69 1,78 5,65 3,18
2 Bewani 1,62 1,23 0,76 1,47 1,79 1,21
3 Kaboneri 1,58 1,27 0,81 1,44 1,94 1,35
Kawasan Perkotaan Bokondini 5,15 3,85 2,26 4,69 9,38 5,74
Kabupaten Tolikara 29,53 57,6 1,95 29,43 94,6 3,21
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

Tabel 4.26
Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Petsai/Sawi Dan Tomat
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Petsai/Sawi Tomat
Luas
Panen
(ha)
Produksi
(ton)
Rata
2
hasil
(ton/ha)
Luas
panen
(ha)
Produksi
(ton)
Rata
2

hasil
(ton/ha)
1 Bokondini 1,78 5,44 3,06 1,78 4,82 2,72
2 Bewani 1,47 3,46 2,35 1,47 1,8 1,22
3 Kaboneri 1,44 2,17 1,51 1,44 1,90 1,32

Kawasan Perkotaan Bokondini 4,69 11,07 6,92 4,69 8,52 5,26

Kabupaten Tolikara 31,4 79,9 2,54 32,02 79 2,47
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 43

Tabel 4.27
Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Kacang Tanah Dan Kedelai
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Kacang tanah Kedelai
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2
Hasil
(Ton/Ha)
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2

Hasil
(Ton/Ha)
1 Bokondini 17,76 37,73 2,13 8,88 25,88 2,92
2 Bewani 14,72 27,5 1,87 7,36 11,45 1,56
3 Kaboneri 14,37 16,83 1,17 5,46 6,11 1,12
Kawasan Perkotaan Bokondini 46,85 82,06 5,17 21,7 43,44 5,6
Kabupaten Tolikara 364,39 974,5 2,67 136,09 285,8 2,1
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

Tabel 4.28
Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Jagung Dan Keladi
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Jagung Keladi
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2
Hasil
(Ton/Ha)
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2

Hasil
(Ton/Ha)
1 Bokondini 7,46 14,96 2,01 19,89 110,31 5,55
2 Bewani 6,77 13,07 1,93 16,49 76,76 4,66
3 Kaboneri 6,61 13,24 2 10,35 44,45 4,3

Kawasan Perkotaan Bokondini 20,84 41,27 5,94 46,73 231,52 14,51

Kabupaten Tolikara 120,44 283,20 2,35 454,43 2.673,5 5,88
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

Tabel 4.29
Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Ubi Kayu Dan Ubi Jalar
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Ubi kayu Ubi jalar
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2
hasil
(Ton/Ha)
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2

Hasil
(Ton/Ha)
1 Bokondini 30,18 205,65 6,81 33,25 596,85 6,72
2 Bewani 19,13 123,39 6,45 41,55 336,27 4,57
3 Kaboneri 11,5 51,52 4,48 61,06 345,6 4,81

Kawasan Perkotaan Bokondini 60,81 380,56 17,74 135,86 1.278,72 16,1

Kabupaten Tolikara 277,75 1.518,9 5,47 1.823,29 10.246,5 5,62
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011













LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 44

Tabel 4.5
Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Padi Sawah Dan Padi Ladang
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Padi sawah Padi Ladang
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2
Hasil
(Ton/Ha)
Luas
Panen
(ha)
Produksi
(ton)
Rata
2

hasil
(ton/ha)
1 Bokondini 0 0 0 2 2 1
2 Bewani 0 0 0 0 0 0
3 Kaboneri 0 0 0 0 0 0

Kawasan Perkotaan Bokondini 0 0 0 2 2 1

Kabupaten Tolikara 0 0 0 6 7,3 1,22
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

Tabel 4.31
Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Kacang Hijau Dan Kacang Panjang
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Kacang Hijau Kacang Panjang
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2
Hasil
(Ton/Ha)
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2

Hasil
(Ton/Ha)
1 Bokondini 0,36 1,24 3,5 0,46 3,24 2,28
2 Bewani 0,29 0,35 1,18 0 0 0
3 Kaboneri 0 0 0 0,47 1,01 0,88

Kawasan Perkotaan Bokondini 0,65 1,59 4,68 0,46 3,24 2,28

Kabupaten Tolikara 6,38 10,1 1,58 18,23 39,3 2,15
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

Tabel 4.32
Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Kangkung Dan Markisa
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Kangkung Markisa
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2
Hasil
(Ton/Ha)
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2

Hasil
(Ton/Ha)
1 Bokondini 1,07 1,85 1,74 3,55 8,87 2,5
2 Bewani 0 0 0 2,94 3 1,02
3 Kaboneri 0 0 0 2,87 7,73 2,69

Kawasan Perkotaan Bokondini 1,07 1,85 1,74 9,36 19,6 6,21

Kabupaten Tolikara 5,54 12,6 2,28 49,02 107,10 2,18
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011











LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 45

Tabel 4.6
Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Jeruk Manis Dan Nanas
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Jeruk Manis Nanas
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2
Hasil
(Ton/Ha)
Luas
panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2

Hasil
(Ton/Ha)
1 Bokondini 1,78 9,61 5,41 9,94 46,38 4,66
2 Bewani 1,18 3,41 2,9 0 0 0
3 Kaboneri 1,15 3,46 3,01 2,59 10,41 4,02

Kawasan Perkotaan Bokondini 4,11 16,48 11,32 12,53 56,79 8,68

Kabupaten Tolikara 30,19 138,6 4,59 37,2 182,2 4,9
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

Tabel 4.34
Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Pisang Dan Nangka
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Pisang Nangka
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2
Hasil
(Ton/Ha)
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(ton)
Rata
2

hasil
(ton/ha)
1 Bokondini 7,1 37,3 5,25 3,55 12,66 3,56
2 Bewani 2,65 10,8 4,11 2,65 5,31 2
3 Kaboneri 2,59 4,92 1,9 2,59 6,48 2,51

Kawasan Perkotaan Bokondini 12,34 53,02 11,26 8,79 24,45 8,07

Kabupaten Tolikara 52,22 284,7 4,81 46,2 143,2 3,09
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

Tabel 4.35
Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Jambu Biji Dan Salak
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Jambu biji Salak
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2
Hasil
(Ton/Ha)
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2

Hasil
(Ton/Ha)
1 Bokondini 1,07 1,31 1,23 0 0 0
2 Bewani 0,88 1,3 1,45 0 0 0
3 Kaboneri 0,86 1,44 1,67 0 0 0

Kawasan Perkotaan Bokondini 2,81 4,05 4,35 0 0 0

Kabupaten Tolikara 11,71 20,6 1,76 0 0 0
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

Tabel 4.36
Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Adpokat Dan Mangga
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Adpokat Mangga
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(ton)
Rata
2
Hasil
(Ton/Ha)
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2

Hasil
(Ton/Ha)
1 Bokondini 2,13 3,8 1,78 1,42 1,5 1,06
2 Bewani 1,77 2,02 1,15 2,65 2,97 1,12
3 Kaboneri 2,01 2 0,99 0 0 0

Kawasan Perkotaan Bokondini 5,91 7,82 3,92 4,07 4,47 2,18

Kabupaten Tolikara 41,25 60,6 1,46 31,94 43,6 1,36
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 46

Tabel 4.37
Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Pepaya Dan Labu Siam
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Pepaya Labu siam
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2
Hasil
(Ton/Ha)
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2

Hasil
(Ton/Ha)
1 Bokondini 1,42 3,19 2,25 2,13 12,38 5,81
2 Bewani 1,18 1,39 1,18 1,77 9,46 5,36
3 Kaboneri 0,57 0,67 1,17 2,01 10,89 5,41

Kawasan Perkotaan Bokondini 3,17 5,25 4,6 5,91 32,73 16,58

Kabupaten Tolikara 19,4 34,6 1,79 43,4 197,3 4,55
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

Tabel 4.7
Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Rambutan Dan Tanaman Obat
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Rambutan Tanaman obat
Luas
Panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2
hasil
(Ton/Ha)
Luas
panen
(Ha)
Produksi
(Ton)
Rata
2

Hasil
(Ton/Ha)
1 Bokondini 0 0 0 1,38 2,71 1,95
2 Bewani 0 0 0 0,88 1,31 1,49
3 Kaboneri 0 0 0 0,86 1,25 1,44

Kawasan Perkotaan Bokondini 0 0 0 3,12 5,27 4,88

Kabupaten Tolikara 0 0 0 30,5 49,9 1,64
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

4.2.5. Perindustrian, Pertambangan, Pariwisata dan Keuangan
Perindustrian merupakan sektor yang belum berkembang di Tolikara. Pada 2010,
perkembangan industri justru mengalami penurunan, karena tidak ada satu pun
industri yang masih bertahan. Sumber: BPS/Deperindagkop Kabupaten Tolikara,
2011
Pertambangan dan Energi juga merupakan sektor yang belum berkembang. Listrik,
sebagai komponen utama dalam pengembangan industri belum bisa dinikmati secara
optimal. Pada tahun 2010 PLTMH (Turbin Air) milik pemerintah kabupaten dengan
kapasitas pembangkit 27 KVA dan milik Mission Aviation Fellowship (MAF) dengan
kapasitas 27 KVA mengalami kerusakan. Hingga saat ini tidak ada perbaikan dan
terbengkalai. Dan masyarakat secara umum tidak dapat menikmati jaringan listrik.
Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat, kerusakan pada turbin (generator)
milik pemerintah disebabkan tidak adanya staf pengelola (teknisi) yang handal, selain
itu tidak adanya dukungan dari masyarakat untuk secara swadaya merawat dan
memelihara PLTMH tersebut. Sedangkan miliki MAF sebesar 27 KVA tersebut
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 47

mengalami kerusakan dynamo, dan belum dapat diperbaiki karena tidak adanya
bantuan dari pemerintah kabupaten dan tidak adanya dukungan dari masyarakat.
Namun berbeda di komplek klasis gereja, terdapat pembangkit listrik sebesar 17 KVA
untuk mendukung aktivitas sekolah OB Panggen, seminari, rumah dinas dan kantor
klasis.
Pariwisata di Tolikara masih belum berkembang. Berdasarkan data Dinas Pariwisata
Kabupaten Tolikara, tidak ada satu pun wisatawan yang datang. BPS/Tolikara Dalam
Angka 2011. Namun pada Distrik Bokondini dapat ditemukan potensi obyek wisata
pertanian (agrowisata), diharapkan para pelancong dapat menikmati keindahan alam
pertanian, sambil berbelanja hasil-hasil pertanian.
Di Tolikara hanya terdapat satu perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, yaitu
Bank Papua. Sampai sekarang, tidak ada lagi koperasi yang beroperasi di Tolikara.

4.2.6. Transportasi dan Komunikasi
Transportasi di Tolikara masih harus banyak terus dikembangkan. Sampai saat ini
akses jalan darat dari Tolikara menuju kota-kota pelabuhan masih belum ada. Akses
jalan yang ada baru sebatas antar kabupaten di pegunungan tengah seperti
kabupaten Jayawijaya.
Sedangkan untuk transportasi udara, di Tolikara mempunyai 12 landasan pesawat
tipe twin outer, yaitu 1 landasan pemerintah, 11 landasan Mission Aviation
Fellowship (MAF). Selain itu masih ada 2 landasan MAF lagi yang terdapat di
kecamatan Panaga dan Wunin, namun sekarang sudah rusak.
Pada kawasan perkotaan Bokondini hanya terdapat 1 landasan pesawat MAF di Distrik
Bokondini.
Tabel 4.39
Banyaknya Landasan Pesawat Terbang Menurut Jenis Status Kepemilikan
Di Kawasan Perkotaan Bokondini Tahun 2010
No Distrik
Pemerintah MAF
Jumlah
Baik Rusak Baik Rusak
1 Bokondini 0 0 1 0 1
2 Bewani 0 0 0 0 0
3 Kaboneri 0 0 0 0 0

Kawasan Perkotaan Bokondini 0 0 1 0 1

Kabupaten Tolikara 1 0 11 2 14
Sumber : Tolikara Dalam Angka Tahun 2011

LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 48

4.3. POTENSI PERMASALAHAN DAN ARAH PENGEMBANGAN
Beberapa potensi, permasalahan dan batasan yang ada di Kawasan Perkotaan
Bokondini beserta arah pengembangannya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.408
Potensi/Masalah/Batasan dan Arah Pengembangan Di Kawasan Perkotaan
Bokondini
No Potensi/masalah/batasan Arah pengembangan
A STRUKTUR RUANG
1 PRASARANA DAN SARANA JALAN,
JEMBATAN DAN DRAINASE

Ruas jalan di kawasan perkotaan sudah
ada
 Peningkatan (rehabilitasi) jalan di
dalam kawasan perkotaan.
 Peningkatan fasilitas jalan (trotoar,
drainase, lampu jalan kota dan
lingkungan, vegetasi) di dalam
kawasan permukiman, jasa,
pemerintah, pendidikan, kesehatan,
peribadatan.
Belum terhubung antara ruas jalan
kabupaten (lokal primer) antara Distrik
Bokondini-Distrik Bewani-Distrik Wunin-
Distrik Karubaga (jalan sisi utara)
Pembangunan jalan dari Distrik
Bokondini-Distrik bewani-Distrik Wunin-
Distrik Karubaga (sisi Utara).
Belum terhubung antara ruas jalan
kabupaten Distrik Bokondini-Kp.Mairini-
Distrik Bokoneri (Barat Daya)-Distrik
Karubaga dan Distrik Kubu
Pembangunan jalan kabupaten antara
Distrik Bokondini-Kp.Mairini-Distrik
Bokoneri (Barat Daya)-Distrik Karubaga
dan Distrik Kubu.
Pembangunan jaringan jalan strategis
nasional Ilu (Kab.Puncak)-Woniki-
Kanggime-Karubaga-Tagime-Kelila
(Kab.Mamberamo Tengah)-Bokondini
Mendukung dan mendorong
pembangunan jalan strategis nasional.
Belum tersedianya terminal penumpang
dan barang
 Pembangunan terminal tipe C
 Penyiapan trayek di dalam kawasan
perkotaan.
 Mendorong investasi dari masyarakat
dalam penyediaan transportasi lokal.
2 BANDARA
Rencana peningkatan bandara (MAF) yang
ada menjadi komersial dan pusat
pelabuhan udara militer (juga terdapat
dalam Sistem Transportasi
Nasional/SISTRANAS), dan atau mencari
lokasi potensi baru untuk bandara
komersial dan Pusat Pelabuhan Udara
Militer, untuk dapat mengurangi beban
Pelabuhan Udara Wamena dan
menjangkau pelayanan bagi kabupaten
lainnya seperti Kab. Mamberamo Tengah,
Mamberamo Raya dan Puncak Jaya
 Melakukan peningkatan panjang
runway landasan.
3 ENERGI/LISTRIK
 2 unit Pembangkit listrik (PLTMH)
yang tersedia dalam kondisi tidak
beroperasi.
 Peralatan dan Jaringan distribusi
listrik yang tersedia dalam kondisi
tidak terawat, sehingga berbahaya
 Penyediaan energi dari sumber
lainnya seperti energi matahari
(PLTS) dan energi mikro hidro
(PLTMH).
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 49

No Potensi/masalah/batasan Arah pengembangan
jika dialiri arus listrik
 Pembangkit listrik (PLTMH) yang
beroperasi adalah untuk kepentingan
swasta ( Klasis/MAF)
 Tersedia potensi tenaga Air / sungai
dan potensi bio massa yang berlimpah
sebagai sumber energy.
 Kondisi kota bokondini yang berbukit
dan tidak ditunjang infrastruktur jalan
yang baik mempersulit proses
pengadaan serta perawatan peralatan
pebangkit dan distribusi
 Penanganan maintenance peralatan
masih ditangani tidak baik, bahkan
cendrung tidak terawat, karena
ditangani oleh ahli yang “kurang”
kompeten
 Biaya penggunaan listrik yang gratis
diduga menjadi penyebab tidak
adanya anggaran perawatan.
 Potensi energi lain masih kurang
tereksplorasi dengan baik, serta
ketersediaan tenaga ahli untuk
kompeten minim, bahkan cendrung
tidak ada.
4 TELEKOMUNIKASI
Belum terdapat jaringan telekomunikasi  Pengembangan jaringan
telekomunikasi.
 Mendorong dan menyiapkan lokasi
jaringan telekomunikasi swasta.
5 AIR BERSIH
Berlimpahnya air baik dari sungai, mata
air dan air hujan
 Penyediaan tempat penampungan air
bersih di sumbernya.
 Penyediaan tempat penampungan air
bersih secara komunal/ kampung.
 Penyediaan jaringan perpipaan air
bersih di kawasan perkotaan.
 Pengembangan dan peningkatan
teknologi instalasi air bersih bagi
kawasan perkotaan.
 Mendorong peningkatan titik-titik
mata air bersih skala kampung.
 Mendorong seluruh bangunan yang
memiliki saluran penampungan air
hujan dan penampungannya.
6 JARINGAN AIR KOTOR, LIMBAH,
PERSAMPAHAN

Belum terdapat Jaringan air kotor dan
limbah
 Mendorong semua rumah/
pertokoan/ gereja/ bangunan sosial
dan umum memiliki saluran air kotor
dan air limbah (terpisah).
Belum terdapat jaringan persampahan  Mendorong semua rumah/
pertokoan/ gereja/ bangunan sosial
dan umum untuk memiliki tong
sampah.
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 50

No Potensi/masalah/batasan Arah pengembangan
 Menyiapkan tempat pembuangan
sampah akhir (TPA) dan
pengolahannya.
7 BENCANA DAN MITIGASI
Berada di kawasan rawan longsor
(landslide) dan gempa
 Melakukan zonasi kawasan rawan
bencana longsor dan gempa dan
pembuatan regulasi.
 Mengarahkan penggunaan teknologi
yang tepat dan aman dalam
pembangunan kawasan.
 Menetapkan kawasan-kawasan resiko
tinggi terhadap bencana tanpa
aktifitas pembangunan fisik.

B POLA RUANG
1 EMBRIO KOTA:
Awal Terbentuknya Kawasan Perkotaan
Bokondini dimulai sejak masuknya
misionaris melalui MAF (Mission Aviation
Fellowship)
 Peranan tokoh agama dalam
pembentukan ruang kawasan
perkotaan yang nyaman, asri dan
indah.
2 KAWASAN LINDUNG:
80% wilayah Kab. Tolikara merupakan
kawasan lindung (Hutan lindung dan
kawasan suaka margasatwa Foja) dan
Kawasan Perkotaan Bokondini berada
dalam wilayah Tolikara
 Menjaga kawasan lindung sebagai
kawasan strategis daya dukung
lingkungan hidup dalam skala
provinsi dan kabupaten.
 Menetapkan fungsi-fungsi di dalam
kawasan perkotaan melalui
peraturan zonasi.
3 KAWASAN STRATEGIS PROVINSI:
Merupakan bagian dari Kawasan Strategis
Ekonomi dalam RTRW Provinsi Papua yaitu
kawasan strategis pengelolaan kawasan
ekonomi rendah karbon
 Menguatkan dan mengarahkan
kegiatan ekonomi kawasan perkotaan
melalui perdagangan komoditas
pertanian dan perkebunan yang
berorientasi kepada:
1. Ketahanan pangan.
2. Ekspor (luar kawasan) melalui
industri pengolahan yang akhirnya
mampu menjadi kawasan
Agroforestry yang mantap.
4 PERMUKIMAN:
 Pola sebaran rumah yang tidak terpusat
(komunal) dan cenderung menyebar
 Beberapa rumah (komunal) berada
dalam kawasan lindung
 Peningkatan jaringan jalan antar
kampung yang nyaman, aman dan
dapat mengakses pusat pelayanan
(kesehatan, sosial, peribadatan,
pendidikan) di Distrik atau kawasan
gereja.
 Memberikan arahan/ rekomendasi
KDB/KLB bagi kawasan permukiman
yang berada dalam kawasan lindung
dan penetapan peraturan zonasi.
5 KAWASAN GEREJA/ KLASIS SKALA DISTRIK:
Kawasan gereja menjadi pusat komunitas
sosial, agama dan olahraga
 Penguatan dan peningkatan sarana
dan prasarana kawasan gereja
menjadi pusat komunitas sosial,
agama, pendidikan dan kesehatan.
 Mengarahkan pembentukan kampong
mandiri yang terintegrasi dengan
gedung/gereja klasis dimasing-
masing wilayah.
6 KAWASAN PERTANIAN/ PERKEBUNAN:
Kawasan lahan pertanian dan perkebunan
yang subur
 Menguatkan dan mengarahkan
kegiatan ekonomi kawasan perkotaan
ke Agropolitan.
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 51

No Potensi/masalah/batasan Arah pengembangan
 Meningkatkan produktifitas
komoditas berdasarkan musiim/
masa tanam.
 Mengarahkan dan mendorong
kawasan perkotaan menjadi kawasan
perkotaan Agroforestry yang ditata
dengan baik melalui RTBL.
7 KAWASAN HUTAN:
Kawasan hutan produksi yang memiliki
potensi kayu untuk pembangunan
 Menetapkan proses tebang pilih yang
benar sesuai dengan peraturan
kehutanan.
 Melakukan penanaman kembali
kepada kawasan-kawasan yang telah
dieksploitas/kritis tanpa penerapan
proses tebang pilih.
8 PETERNAKAN:
Kawasan peternakan belum terbentuk,
masih menyatu dengan permukiman/
tempat tinggal
 Mengarahkan pemisahan antara
tempat tinggal dengan ternak untuk
mendapatkan kualitas tempat tinggal
yang bersih dan sehat.
 Pengurangan penyakit ISPA di
kawasan perkotaan.
9 KAWASAN PENDIDIKAN:
Sudah terbentuk kawasan pendidikan,
namun tidak menyatu dalam satu
kesatuan kawasan khsusu pendidikan
 Peningkatan sarana dan prasarana
kawasan pendidikan.
 Menyiapkan pusat kawasan
pendidikan tinggi di Kawasan
Perkotaan Bokondini.
10 KAWASAN PERDAGANGAN dan JASA
Sudah terbentuk kawasan perdagangan
skala kecil di dalam kawasan perkotaan
seperti adanya pasar, toko/warung, dan
pangkalan kendaraan/angkutan barang
dan orang.
 Mendorong perwujudan Kawasan
Perkotaan Bokondini sebagai pusat
kegiatan industry kecil agroforestry
dan kegiatan jasa/ perdagangan
melalui penyusunan RTBL.
11 ELEMEN-ELEMEN KOTA:
Elemen kota seperti arsitektural,
landmark kota, langgam arsitektur sudah
terbentuk. Namun demikian untuk
melihatnya dapat dibagi dalam 2
kelompok.
 Pada kawasan klasis, banyak
dipengaruhi oleh model-model rumah
arsitektur luar (eropa). Ini ditandai
dengan model rumah panggung kayu,
adanya tungku kayu penghangat
ruangan, tempat penyimpanan kayu di
basement, cerobong asap tungku dan
lainnya. Elemen lainnya adalah
penataan didalam kawasan klasis
sangat memperhatikan materi dan
keberlangsungan alam. Ini terlihat
dari penggunaan materi bebatuan
untuk dijadikan sebagai tapak jalan
dan susunan bebetuan yang rapi
sebagai penanda dan sebagai tempat
untuk menanam buah-buahan nenas
dan bunga-bunga indah.
 Diluar kawasan klasis, terlihat
kekhasan elemen papua, seperti
penggunaan kayu, kulit kayu sebagai
pengikat, ilalang/jerami dalam
 Pembentukan landmark kota di pusat
kawasan perkotaan Bokondini seperti
tugu kota, serta elemen lainnya yang
mendukung.
 Mempertahankan elemen-elemen
didalam kawasan klasis (MAF).
 Mengintegrasi elemen-elemen
pembentuk kota yang baru dengan
elemen-elemen yang sudah ada.
LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 52

No Potensi/masalah/batasan Arah pengembangan
bangunan rumah (honai), batas
pekarangan, dll.
 Landmark kota. Di dalam kawasan
perkotaan Bokondini untuk landmark
kota belum terbentuk, namun jika
masuk ke kawasan klasis sudah
terdapat landmark berupa tugu salib
sebagai tanda (sejarah) masuknya injil
di Bokondini.
Sumber: Hasil Olahan, Konsultan 2012

LAPORAN PENDAHULUAN
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN KAWASAN PERENCANAAN | 53

Gambar 4.17 Peta Dokumentasi Kondisi Lapangan


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 1

5.1. PENDEKATAN STUDI
Pendekatan studi merupakan acuan yang digunakan sebagai pertimbangan dalam
melakukan proses kajian dalam pekerjaan ini. Pendekatan pekerjaan yang digunakan
dalam Kegiatan Penyusunan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan
Perkotaan Bokondini akan dijabarkan pada pembahasan pada sub bab berikut ini.

5.1.1. Pendekatan Perencanaan
Pendekatan perencanaan yang digunakan dalam Penyusunan Rencana Detail Tata
Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini adalah:
1. Pendekatan Eksploratif dalam Pengumpulan Data
Pendekatan eksploratif bercirikan pencarian yang berlangsung secara
menerus. Pendekatan ini akan digunakan baik dalam proses pengumpulan data
dan informasi maupun dalam proses analisa dan evaluasi guna perumusan
konsep penanganan.
a. Eksplorasi dalam Proses Pengumpulan Data dan Informasi
Pendekatan eksploratif digunakan mulai dari kegiatan inventarisasi
dan pengumpulan data awal, hingga eksplorasi data dan informasi di
lokasi studi yang dilakukan. Sifat pendekatan eksploratif yang
menerus akan memungkinkan terjadinya pembaharuan data dan
informasi berdasarkan hasil temuan terakhir. Informasi yang didapat
dengan pendekatan ini bisa bersifat situasional dan berdasarkan
pengalaman sumber.
b. Eksplorasi dalam Proses Analisa dan Evaluasi
Eksplorasi dalam proses analisa dan evaluasi dilakukan guna
mengelaborasi pokok permasalahan serta konsep-konsep penanganan
dan pengembangan kawasan pusat kota yang ada berikut dukungan
regulasi dan kebijakan. Eksplorasi perlu mengaitkan konsep-konsep
teoritis dengan kondisi dan karakteristik permasalahan melalui
pendalaman pemahaman terhadap lokasi pekerjaan.



Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 2

2. Pendekatan Studi Dokumenter dalam Identifikasi dan Kajian Materi
Pekerjaan
Model pendekatan studi dokumenter akan menginventarisasi dan
mengeksplorasi berbagai dokumen terkait dengan materi pekerjaan. Studi
dokumenter memiliki ciri pendekatan yang mengandalkan dokumen/data-data
sekunder seperti:
a. Peraturan perundangan-undangan dan dokumen kebijakan yang
terkait
b. Laporan perencanaan penataan kawasan perkotaan pada wilayah lain
(best practice)
c. Teori maupun konsep-konsep penataan kawasan perkotaan, termasuk
dalam aspek pendukungnya seperti kelembagaan, pengelolaan
kawasan, serta aspek pembiayaan.
3. Pendekatan Preskriptif dalam Perumusan Konsep Pengembangan Kawasan
Pendekatan preskriptif (prescriptive approach) merupakan jenis pendekatan
yang bersifat kualitatif dan dapat memberikan deskripsi analitis untuk
menghasilkan rekomendasi yang bermanfaat dalam mendukung suatu strategi
penanganan ataupun kebijakan. Pendekatan ini bertujuan untuk mengevaluasi
dan menilai suatu rencana alternatif kebijakan untuk kemudian mengeluarkan
rekomendasi yang tepat berkaitan dengan kemungkinan implementasi
kebijakan dan program-programnya di masa yang akan datang.
Implementasi mekanisme Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini sendiri merupakan penjabaran lebih lanjut dari
poin-poin pelaksanaan dan pencapaian sebagaimana tersebut di atas.
Agar konsepsi capaian-capaian dalam Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini dapat terwujud, maka digunakan
media-media penjabaran yang akan digunakan dalam jangka waktu
pelaksanaan pekerjaan dan disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan. Media-
media tersebut adalah:
a. Diskusi. Merupakan forum pertemuan yang dihadiri oleh anggota
focus group yang digunakan sebagai tempat konsultasi
b. Seminar. Merupakan forum yang bertujuan untuk mensosialisasikan
kemajuan pekerjaan di depan seluruh stakeholder di daerah
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 3

c. Kuesioner/Daftar Pertanyaan. Merupakan media tertulis yang
digunakan untuk memperoleh informasi lebih banyak dan mendalam,
terutama menyangkut aspirasi stakeholders yang ada.
d. Learning by doing process, merupakan proses belajar bersama yang
dilakukan oleh konsultan bersama pemerintah daerah. Proses ini
dilakukan pula melalui fasilitasi dan konsultasi yang dilakukan tenaga
ahli konsultan di lapangan kepada tim teknis daerah.
e. Kunjungan Lapangan. Merupakan kegiatan tinjauan dan mengunjungi
lokasi kegiatan penataan ruang di daerah untuk mendampingi
instansi-instansi Pemerintah Daerah dalam melakukan proses
penataan ruang.

5.1.2. Pendekatan Kebijakan (Sinkronisasi Kebijakan)
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini sebagai
suatu rencana penataan ruang yang merupakan dasar pembangunan akan sangat
terkait dengan berbagai kebijakan yang telah ada, baik yang bersifat nasional (UUD,
UU, PP, KEPPRES, PERMEN, KEPMEN), maupun bersifat lokal (PERDA Provinsi serta
Kabupaten/Kota, PERGUB, PERBUP/WAL). Sebagai suatu rencana pembangunan,
maka keluaran dari rumusan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan
Perkotaan Bokondini ini pada akhirnya pun akan dilegalisasi sebagai suatu dokumen
kebijakan. Oleh karena itu, dalam proses penyusunannya pendekatan kebijakan perlu
dilakukan untuk menghindari pertentangan kebijakan dan mampu melengkapi aturan
yang belum diatur dalam kebijakan terkait tersebut.

5.1.3. Pendekatan Wilayah
Pendekatan wilayah pada prinsipnya memandang wilayah sebagai satu kesatuan
sistem. Keselarasan unsur pembentuk wilayah yang meliputi sumber daya alam,
sumber daya buatan dan sumber daya manusia beserta kegiatannya yang meliputi
kegiatan ekonomi, politik, sosial-budaya dan pertahanan-keamanan, berinteraksi
membentuk wujud pembangunan perumahan dan permukiman wilayah, baik yang
direncanakan maupun tidak.
Mengingat wilayah adalah suatu sistem tempat manusia bermukim dan
mempertahankan kehidupannya, maka dalam penataan ruang yang paling utama
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 4

diwujudkan adalah meningkatkan kinerja atau kualitas ruang wilayah untuk
penyediaan produksi barang dan jasa yang cukup, permukiman yang sehat dan
kelestarian lingkungan hidup.
Berdasarkan pendekatan wilayah maka akan dirumuskan visi, misi dan program
penataan ruang dan arah pembangunan dalam wilayah, fungsi-fungsi kawasan
(permukiman, jasa/usaha, dan lain-lain), sistem pusat-pusat permukiman, serta
sistem prasarana wilayah (transportasi, pengairan, energi, listrik dan
telekomunikasi).

5.1.3.1. Pendekatan Pengembangan Wilayah
Pendekatan pengembangan wilayah meliputi:
1. Pendekatan Pertumbuhan Wilayah
Pendekatan pertumbuhan wilayah berakar dari teori ekonomi Neo Klasik
yang mengasumsikan bahwa pembangunan merupakan hasil pertumbuhan
ekonomi, dan perwujudan ruangnya merupakan konsep dari pertumbuhan
itu sendiri. Konsep ini disebut juga sebagai Growth Centre Concept (Misra,
1981). Hipotesis dasar dari konsep tersebut adalah bahwa pembangunan
dijalankan atas dasar kebutuhan pada saat ini dan dorongan-dorongan yang
bersifat inovasi. Hasil dari pembangunan pada sektor-sektor dan wilayah
strategis akan secara spontan „menetes” ke sektor-sektor dan wilayah-
wilayah lain yang masih tertinggal.
Dalam kerangka tata ruang, mekanisme penetesan tersebut bekerja
berdasarkan sistem pusat-pusat yang hierarkis. Sistem tersebut merupakan
kota-kota yang saling berinteraksi dalam ruang. Dalam hal ini, kota-kota
tersusun pada tingkatan yang berberda-beda berdasarkan potensi
ekonominya. Penetasan atau penjalaran secara hierarkis dari kota besar ke
kota kecil terjadi dengan cara:
a. Melalui ekspansi dari kegiatan-kegiatan yang ada ke wilayah-wilayah
pemasaran baru, yaitu dari pusat terbesar ke pusat-pusat yang lebih
kecil.
b. Pergesaran kegiatan yang memiliki tingkat upah rendah menuju ke
pusat yang relatif kecil, ini disebabkan tingkat upah di kota besar
cenderung meningkat.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 5

c. Dengan menawarkan pilihan lokasi yang lebih tepat bagi industri yang
berbeda kebutuhan pasar dan prasarananya.
d. Dengan dorongan inovasi dari wirausahawan yang dijalarkan ke
bawah melalui hierarki.
Pendekatan seperti ini membutuhkan pengambilan keputusan yang
tersentralisasi secara cepat dan efektif di pusat. Dengan demikian, surplus
yang dihasilkan di suatu sektor atau wilayah dapat dengan mudah ditransfer
ke sektor atau wilayah lain. Konsep pengembangan wilayah ini juga
berkeyakinan bahwa bila pertumbuhan ekonomi terjadi, maka
pendistribusian hasil-hasil pembangunan akan terjadi secara spontan.
Tetapi sesungguhnya alokasi agregat dari sumber daya di pusat malah
mengacu pada disintegrasi sumber daya pelengkap pada wilayah di
bawahnya.
Pengembangan wilayah berdasarkan teori ekonomi Neo Klasik dan
pendekatan pertumbuhan wilayah ini ternyata menyebabkan wilayah-
wilayah yang relatif maju semakin maju dan berkembang, sedangkan
wilayah-wilayah yang sudah tertinggal tetap berada pada lingkaran
kemiskinan yang tak berujung pangkal. Namun hal ini bukan berarti
pendekatan pertumbuhan wilayah ini harus ditinggalkan, tetapi akan lebih
baik hasilnya jika diselaraskan dengan pendekatan pemerataan tingkat
perkembangan antarwilayah maupun antarsektor.
2. Pendekatan Keseimbangan Tingkat Perkembangan Antarwilayah
Menurut Stohr (1981) pendekatan kemerataan tingkat perkembangan antar
wilayah merupakan pendekatan pengembangan wilayah yang menekankan
pada pemenuhan kebutuhan dasar seluruh penduduk yang diorganisasi
secara teritorial. Pendekatan ini muncul akibat kegagalan pendekatan
pertumbuhan wilayah. Kegagalan ini terjadi karena ternyata pertumbuhan
wilayah tidak dapat diserahkan begitu saja pada mekanisme pasar seperti
apa yang diungkapkan dalam teori ekonomi Neo Klasik, karena pada
kenyataannya mekanisme pasar tersebut tidak dapat menyelesaikan
persoalan-persoalan dalam pengembangan wilayah, seperti masalah
kemiskinan dan ketimpangan antarwilayah.
Anggapan bahwa hasil-hasil pembangunan dapat menetes dengan sendirinya
melalui sektor-sektor pembangunan (teori ekonomi neo klasik) ternyata
tidak sepenuhnya benar. Hasil-hasil pembangunan ternyata lebih
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 6

terkonsentrasi pada sekelompok kecil masyarakat yang terkait dengan
sektor andalan yang yang pada umumnya terdapat di kota-kota besar.
Akibatnya ketimpangan antargolongan, antarwilayah, dan antar desa dan
kota, menjadi semakin lebar; pengangguran dan setengah pengangguran
semakin luas, dan masalah kemiskinan tidak teratasi, bahkan semakin
meningkat (Sarosa, 1989: 2).
Dengan berkembangnya pendekatan pemerataan tingkat perkembangan
antarwilayah, maka wilayah-wilayah terbelakang diharapkan dapat
menyeimbangi perkembangan wilayah-wilayah di depannya.
3. Pendekatan Pemerataan Kesejahteraan
Menurut Adelman (1979), pada setiap tahapan pertumbuhan ekonomi hanya
orang-orang yang mempunyai akses ke faktor-faktor produksi paling utama
yang akan mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan ekonomi tersebut.
Agar hasil pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara lebih merata
diperlukan suatu pendekatan pemerataan ekonomi melalui redistribusi
faktor-faktor produksi dominan. Dengan demikian setiap orang akan
mendapatkan akses yang sama ke faktor-faktor produksi dominan sehingga
pemerataan ekonomi dapat tercapai.
Selain itu pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat menjadi
pertimbangan penting, baik itu menyangkut wilayah yang mempunyai
sumber daya alam potensial maupun wilayah yang mempunyai sumber daya
alam kurang potensial.
Faktor-faktor yang menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi wilayah dan
tingkat kesejahteraan masyarakat di wilayah agraris adalah kuantitas dan
kualitas sumber daya alam. Namun usaha pertumbuhan ekonomi pada
wilayah perkotaan atau wilayah yang struktur ekonominya telah cukup
berimbang antara sektor primer, sekunder, dan tersier, tidak lagi hanya
ditentukan oleh kualitas sumber daya alam, tapi lebih ditentukan oleh
tingkat aksesibilitas dan letak geografis, kelengkapan infrastruktur, dan
akumulasi kegiatan.
4. Pendekatan Ekonomi Makro
Sistem perekonomian dunia cenderung akan menuju pasar bebas, sehingga
batas pemasaran tidak lagi mengikuti wilayah administrasi suatu negara,
atau dengan kata lain batas pasar secara administrasi negara akan semakin
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 7

melemah. Ini berarti perlindungan pasar terhadap suatu jenis komoditi akan
sulit dilakukan. Dalam sistem perekonomian pasar bebas, sebenarnya
kompetisi lebih sehat, terbuka dan dinamis, sehingga kegiatan ekonomi
yang menghasilkan produk yang berkualitas, dengan proses yang efisien dan
efektif yang akan berkembang.
Dalam menghadapi era pasar bebas, kita tetap memprioritaskan proses
pembangunan pada laju pertumbuhan yang optimal yang diiringi dengan
pemerataan. Dalam kegiatan ekonomi pasar bebas, maka unit ekonomi yang
telah berkembang cenderung akan lebih pesat, sebaliknya yang belum
berkembang cenderung relatif lebih lambat. Hal ini perlu diimbangi dengan
suatu kebijaksanaan pembangunan (rekayasa proses pembangunan) yang
mampu menciptakan mekanisme pertumbuhan semua sektor kegiatan
secara berimbang sebagai upaya menuju arah pemerataan pembangunan.
Dalam skala makro, setiap negara berusaha menciptakan mekanisme
perekonomian yang mempunyai produktivitas tinggi dengan proses yang
efektif dan efisien. Untuk menghadapi era pasar bebas dan menarik
investasi asing yang mengalir dari negara maju ke negara berkembang,
maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Memperbaiki sistem birokrasi (debirokratisasi), sehingga
memudahkan dalam sistem administrasi dan perijinan, termasuk
dalam hal ini adalah penyederhanaan sistem perijinan, sistem
perpajakan, retribusi dan kelengkapan peraturan yang berkaitan
dengan usaha efisiensi kegiatan ekonomi;
b. Peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang lebih penting dalam
kebijaksanaan kependudukan adalah peningkatan kemampuan dan
keahlian untuk mengimbangi perkembangan teknologi, khususnya di
bidang industri;
c. Mengembangkan kemitraan antara pelaku pembangunan, yaitu antara
pemerintah, swasta, pengusaha kuat, pengusaha sedang dan
pengusaha kecil yang sejajar dan seimbang;
d. Menciptakan sistem perekonomian yang kompetitif, dengan cara
proses produksi yang efektif dan efisien, kualitas sumber daya yang
tinggi, penguasaan teknologi sedang-tinggi, sistem koleksi dan
distribusi barang yang efisien, dan mengembangkan komoditi yang
berorientasi pasar;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 8

e. Setiap proses produksi berwawasan lingkungan, mengingat
kepedulian terhadap lingkungan akan terus menjadi salah satu syarat
memasuki pasar dunia;
f. Menciptakan keseimbangan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi
dan pemerataan pertumbuhan antar wilayah dan antar sektor. Agar
perkembangan ekonomi dapat menyebar dan merata, maka
pembangunan infrastruktur yang menyebar, sistem insentif dan
disinsentif mutlak diperlukan;
g. Meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam kegiatan
pembangunan, tidak hanya pada sektor privat, tetapi pada sektor
publik, sehingga penyediaan infrastruktur pengembangan wilayah
dapat dilakukan oleh berbagai pihak.

5. Strategi Penutupan Wilayah Secara Selektif (Selective Regional Closure)
Friedmann dan Weaver (1979) dalam mendiskusikan fenomena yang sama,
menganggap bahwa distorsi desa kota merupakan hasil konflik yang telah
menjadi sifat antara teritorial dan fungsi dengan dominasi sejarah saat ini
di bawah sistem dunia yang di atur oleh perusahaan nasional. Ekonomi-
ekonomi wilayah diintegrasikan atau dikaitkan ke ekonomi dunia pada suatu
basis ketidakmerataan, mengarah ke polarisasi (Backwash) kegiatan-
kegiatan pembangunan dan kebocoran sumber daya wilayahnya yang vital
keluar ke kota-kota besar dan luar negeri.
Kebijaksanaan regional di bawah paradigma pembangunan yang baru, yang
ditujukan pada pengurangan kesenjangan melalui pembangunan wilayah
yang bertumpu pada kemampuan sendiri, meliputi suatu pengertian dan
penyelesaian masalah kebocoran dalam suatu konteks ruang. Masalah yang
penting adalah bagaimana transfer sumber daya desa–kota yang
menguntungkan dapat disalurkan untuk pertumbuhan dan pembangunan
perdesaan, dan bagaimana surplus pertanian dipertahankan di daerah
perdesaan, mencegahnya dari arus berlebihan ke kota-kota, untuk
ditanamkan lagi bagi pembangunan sendiri. Dalam hal ini, alternatif
kesempatan kerja dapat diciptakan, kemampuan daya beli lokal dapat
ditingkatkan, kemungkinan-kemungkinan untuk industrialisasi perdesaan
dapat ditingkatkan dan karenanya muncul aturan yang tepat untuk pusat-
pusat yang lebih rendah.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 9

Masalah kebocoran distribusi pendapatan dan struktur kelembagaan
ekonomi adalah elemen kritis dalam menentukan dampak pengeluaran
publik pada kelompok sasaran. Pengaruh redistribusi dari pertumbuhan atau
suatu pendekatan incremental, akan agak tipis/marginal. Pengeluaran
publik di daerah terbelakang dilayani sebagai suatu instrumen transfer
wilayah yang melalui multiplier efek yang dilokasikan secara menjanjikan
akan mengacu ke pergeseran positif dalam distribusi pendapatan
interregional dan juga ketidakmerataan intraregional. Bagaimanapun,
multiplier efek tidak dilokasikan, dan karena keterkaitan dengan wilayah
lain, transfer nilai surplus melalui beberapa mekanisme pasar yang
bervariasi dan lembaga eksploitasi sosial ke daerah-daerah yang lebih maju
dapat terjadi.
Dalam mencari alternatif pembangunan wilayah di bawah kondisi produksi
surplus dan meminimalkan kebocoran yang terjadi, diperlukan perlindungan
dari polarisasi wilayah bagi pembangunan wilayah-wilayah belakang.
Dengan cara umum, dapat digambarkan sebagai strategi penutupan wilayah
secara selektif.
6. Pendekatan Sektoral dan Spasial
Pengembangan wilayah dapat dilakukan dengan 2 (dua) pendekatan, yaitu
pendekatan sektoral dan pendekatan wilayah (spasial). Pendekatan sektoral
dalam perencanaan selalu dimulai dengan pertanyaan sektor apa yang perlu
dikembangkan untuk mencapai suatu tujuan. Pertanyaan tersebut dapat
dilanjutkan dengan: berapa banyak yang harus diproduksi, dengan cara dan
teknologi yang bagaimana, dan kapan produksi tersebut akan dimulai.
Setelah tahapan pada hirarki tersebut selesai baru muncul pertanyaan:
dimana aktivitas tiap sektor tersebut akan dijalankan. Dan pada akhirnya
menyangkut kebijakan, strategi dan langkah-langkah yang akan diambil di
dalam pelaksanaan pembangunan.
Sementara itu, pendekatan wilayah lebih menitikberatkan pada pertanyaan:
wilayah mana yang perlu mendapatkan prioritas untuk dikembangkan. Baru
kemudian di cari sektor-sektor apa yang sesuai dikembangkan di daerah
tersebut. Di dalam kenyataan, pendekatan wilayah diambil tidak dalam
kerangka totalitas namun untuk konteks hanya beberapa wilayah tertentu,
misalnya wilayah terbelakang, wilayah perbatasan, atau wilayah yang
diharapkan mempunyai posisi strategis secara ekonomi dan politik.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 10

Untuk Indonesia, yang diperlukan adalah gabungan antara dua pendekatan
diatas. Bukan sektoral atau wilayah. Tetapi keduanya berjalan bersama. Hal
ini tidak hanya dari segi konsep, namun juga dari segi pelaksanaan,
khususnya yang menyangkut koordinasi pembangunan daerah dalam
kerangka sistem pemeritahan yang ada. Arah tersebutlah yang perlu dituju
karena pada kenyataan selama ini ada kecenderungan yang berat sebelah.
Pendekatan sektoral kerap kali mendominasi proses perencanaan. Itulah
sebabnya sering ditemui otoritas dan kontrol dari departemen (yang
mencerminkan adanya sektor) lebih efektif dibandingkan dengan
pemerintah maupun instansi daerah.
Adanya pendekatan gabungan di dalam pembangunan daerah di Indonesia
terebut mulai nampak dalam dasawarsa terakhir, terlihat dengan adanya
beberapa kebijaksanaan pemerintah yang mengatur pembangunan dengan
pertimbangan keruangan/wilayah.
7. Pendekatan Rencana Komprehensif
Dalam perencanaan dikenal adanya 3 (tiga) pendekatan, yaitu perencanaan
menyeluruh, perencanaan terpilah, dan perencanaan terpilah menyeluruh.
Perencanaan menyeluruh (komprehensif) adalah pendekatan perencanaan
yang melibatkan seluruh aspek dari awal kajian hingga menghasilkan produk
akhir. Perencanaan terpilah hanya meninjau 1 aspek saja mulai dari awal
hingga produk akhir. Adapun perencanaan terpilah menyeluruh adalah
pendekatan perencanaan yang pada awalnya meninjau seluruh aspek,
namun kemudia dipilih satu aspek saja sehingga pada produk akhirnya juga
hanya berisi rencana 1 aspek tersebut.
Pendekatan Menyeluruh dan Terpadu merupakan pendekatan perencanaan
yang menyeluruh dan terpadu serta didasarkan pada potensi dan
permasalahan yang ada, baik dalam kawasan perencanaan maupun dalam
konstelasi regional. Menyeluruh memberi arti bahwa peninjauan
permasalahan ditinjau dan dikaji kepentingan yang lebih luas, baik antar
wilayah dengan daerah hinterland-nya. Terpadu mengartikan bahwa dalam
menyelesaikan permasalahan didasarkan kepada kerangka perencanaan
terpadu antar tiap-tiap sektor, di mana dalam perwujudannya dapat
berbentuk koordinasi dan sinkronisasi antar sektor

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 11

5.1.3.2. Pendekatan Perencanaan Incremental-Strategis dan Strategis–
Proaktif
Pemahaman mengenai Pendekatan Perencanaan Incremental-Strategis dan Strategis–
Proaktif adalah:
1. Pendekatan Incremental-Strategis
Suatu produk Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang „baik‟ harus
operasional, oleh karenanya maksud dan tujuan perencanaan yang
ditetapkan harus realistis, demikian pula dengan langkah-langkah kegiatan
yang ditetapkan untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut. Adapun yang
dimaksud dengan pendekatan perencanaan yang realistis adalah:
a. Mengenali secara nyata masalah-masalah pembangunan kota;
b. Mengenali secara nyata potensi yang dimiliki kota;
c. Mengenali secara nyata kendala yang dihadapi kota dalam proses
pembangunan;
d. Memahami tujuan pembangunan secara jelas dan nyata;
e. Mengenali aktor-aktor yang berperan dalam pembangunan kota;
f. Mengenali „aturan main‟ yang berlaku dalam proses pembangunan
kota.
Pendekatan yang digunakan dalam Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini adalah Pendekatan Incremental yang
lebih bersifat strategis. Adapun karakteristik pendekatan ini antara lain:
a. Berorientasi pada persoalan-persoalan nyata;
b. Bersifat jangka pendek dan menengah;
c. Terkonsentrasi pada beberapa hal, tetapi bersifat strategis;
d. Mempertimbangkan eksternalitas;
e. Langkah-langkah penyelesaian tidak bersifat final.
2. Pendekatan Strategis-Proaktif
Pendekatan strategis-proaktif merupakan bentuk kebalikan dari pendekatan
incremental-strategis. Adapun yang dimaksud rencana strategis – proaktif
adalah:
a. Rencana yang kurang menekankan pada penentuan maksud dan
tujuan pembangunan, tetapi cenderung menekankan pada proses
pengenalan dan penyelesaian masalah;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 12

b. Rencana yang melihat lingkup permasalahan secara internal maupun
eksternal;
c. Rencana yang menyadari bahwa perkiraan-perkiraan kondisi di masa
yang akan datang terdapat kemungkinan-kemungkinan munculnya
kecenderungan-kecenderungan baru, faktor-faktor ketidakpastian,
serta „kejutan-kejutan‟ lain yang terjadi diluar perkiraan;
d. Rencana yang lebih bersifat jangka pendek dan menengah;
e. Rencana yang berorientasi pada pelaksanaan (action);

3. Pencampuran Kedua Pendekatan dalam Pelaksanaan Pekerjaan.
Ketiga jenis pendekatan ini dapat digunakan dalam pekerjaan ini.
Perbedaan penggunaannya hanya terdapat pada kesesuaian sifat
pendekatan dengan karakteristik kegiatan yang sedang dilakukan.
Penjelasan singkatnya adalah sebagai berikut:
1. Dalam perumusan konsepsi dan penyusunan rencana struktur,
maka pendekatan incremental-strategis perlu dikedepankan untuk
dapat menghasilkan suatu konsepsi pengembangan yang sifatnya
cenderung „utopis‟.
2. Dalam penyusunan rencana pembangunan, program pentahapan,
dan aspek pendukung lainnya, perlu dikedepankan pendekatan
strategis-proaktif untuk dapat menghasilkan suatu produk
dokumen rencana yang realistis dan dapat diimplementasikan
sesuai tahapan pelaksanaannya.

5.1.4. Pendekatan Pemenuhan Kebutuhan Dasar
Kebutuhan dasar manusia dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) tingkatan, yaitu; (i)
Kebutuhan dasar kelangsungan hidup hayati, (ii) Kebutuhan dasar untuk kelangsungan
hidup yang manusiawi serta (iii) Kebutuhan dasar untuk memilih (Otto Sumarwoto:
Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan).
Pada tingkatan kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup hayati sangat
berhubungan dengan kebutuhan fisiologi dasar tubuh manusia seperti; makan dan
minum (pangan), istirahat dan latihan, keseimbangan kimia serta kesehatan. Pada
tingkatan kebutuhan untuk kelangsungan hidup yang manusiawi sangat berhubungan
dengan kebutuhan sosial kemasyarakatan seperti; pakaian (sandang), tempat tingggal
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 13

(papan), keamanan dan keselamatan, kreatif dan keindahan, penghargaan,
kepemilikan sosial dan aktualisasi diri. Pada kebutuhan dasar untuk memilih sangat
berhubungan dengan tingkat kemampuan sosial ekonomi manusia untuk memilih
segala sesuatu yang diinginkan.
Kebutuhan dasar manusia yang seperti dijelaskan diatas memiliki konsekuensi yang
berdimensi ke-ruang-an (spatial) yaitu peningkatan kebutuhan ruang dalam konteks
mikro maupun makro. Kebutuhan ruang secara makro akan tercermin pada tingkat
wilayah nasional, provinsi atau Kabupaten/Kota. Ruang wilayah kawasan adalah salah
satu sumber daya yang bersifat tetap dan terbatas, sedangkan kebutuhan
pemanfaatan ruang semakin bertambah dan meningkat. Maka perlunya pengaturan
pemanfaatan ruang yang dapat mengakomodir seluruh kebutuhan aktivitas manusia,
untuk menghindari terjadinya benturan kepentingan antar kegiatan pemakai ruang
lainnya.
Perencanaan pemanfaatan ruang pada dasarnya bertujuan untuk mewadahi segala
kebutuhan kegiatan masyarakat dalam prespektif perencanaan secara jangka panjang
20 tahun ke depan, agar tidak terjadi benturan kepentingan antar pengguna ruang.

5.1.5. Pendekatan Pertumbuhan dan Perkembangan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi sering didefenisikan sebagai pertumbuhan agregatif dari
sektor dalam perekonomian dengan melihat perubahan indikatornya. Sedangkan
perkembangan ekonomi lebih luas cakupannya dari sekedar pertumbuhan ekonomi.
Mengingat pada perkembangan ekonomi yang diamati tidak hanya perubahan
indikator agregatif sektor perekonomian, tetapi juga mengamati apakah terjadi
pergeseran struktur perekonomian.
Pada wilayah/daerah yang masih tradisional, umumnya struktur perekonomian sangat
didominasi oleh sektor primer. Perkembangan ekonomi suatu wilayah/daerah dapat
dilihat apabila terjadinya perubahan struktural sektor argraris/tradisional menuju
sektor industri/modern, dalam arti terjadi perubahan/penurunan dominasi
sektor/tradisional, di lain pihak terjadi perubahan/peningkatan dominasi sektor
sekunder, tersier.
Pertumbahan dan perkembangan ekonomi sebagai salah satu pendekatan
perencanaan pembangunan terbukti tidak selamanya sesuai untuk diterapkan.
Struktur perekonomian wilayah yang baik adalah terjadinya keseimbangan
pertumbuhan dan perkembangan ekonomi juga harus diimbangi oleh pemberdayaan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 14

ekonomi rakyat, sehingga diharapkan terjadi persaingan yang sehat antara para
pelaku ekonomi di suatu wilayah.
Pendekatan ekonomi akan dilakukan melalui 3 (tiga) langkah utama, yaitu:
1. Pertama, mengenali karakteristik kegiatan ekonomi saat ini dan potensi
sumber daya alam yang dapat menunjang kegiatan ekonomi wilayah di masa
datang. Dari sini, selanjutnya dapat dirumuskan sektor/sub sektor potensial
yang dapat dijadikan sektor/sub sektor unggulan di wilayah dikaitkan
dengan tujuan dan sasaran pertumbuhan ekonomi wilayah perencanaan,
serta sasaran pertumbuhan ekonomi regional/kewilayahan.
2. Kedua, mengenali faktor-faktor eksternal yang dapat dimanfaatkan sebagai
peluang untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan ekonomi wilayah. Faktor
eksternal tersebut tidak hanya dilihat dalam konteks antar wilayah dalam
skala regional, tetapi juga antara kawasan ekonomi dalam skala yang lebih
luas.
3. Ketiga, mengenali perkembangan globalisasi ekonomi (pasar bebas) yang
berlangsung dalam rangka AFTA dan APEC. Pemahaman terhadap
„milestone’ menuju pasar bebas akan memudahkan penyusunan lebih lanjut
skenario dan agenda pengembangan wilayah kota dalam merespon dan
mengantisipasi serta menyeleraskan kesiapan kota menghadapi fenomena
global tersebut.

5.1.6. Pendekatan Konservasi Lingkungan
Pendekatan ini dilakukan dengan memandang wilayah merupakan bagian satu
kesatuan ekosistem yang utuh dalam konteks yang lebih regional, dan memiliki sub-
sub ekosistemnya. Kawasan lindung yang terdapat di dalam suatu wilayah merupakan
kawasan dengan keaneka-ragaman hayati (biodiversity) yang sangat tinggi dan perlu
terus dilestarikan. Setiap kegiatan pembangunan yang akan mengubah ekosistem
wilayah perlu dilakukan secara lebih berhati-hati agar tidak menggangu daya dukung
ekosistem dan menurunnya/hilangnya keaneka-ragaman hayati.
Melalui pendekatan ini diharapkan setiap kegiatan penataan ruang justru akan
meningkatkan daya dukung wilayah. Untuk itu penetapan kawasan fungsional dan
intensitas kegiatannya dalam rencana sinkronisasi program pengembangan harus
memperhatikan dampak yang ditimbulkannya terhadap ekosistem wilayah dan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 15

penduduk sekitarnya, agar selaras dengan azas dan tujuan pembangunan yang
berkelanjutan (sustainable development).

5.1.7. Pendekatan Sosial Budaya
Pendekatan ini memandang wilayah sebagai satu kesatuan ruang sosial (social space)
dengan masyarakatnya yang beragam serta mempunyai budaya dan tata nilai (norm
and value) tersendiri. Masyarakat yang tinggal di kawasan di sekitar hutan masing-
masing memiliki ciri-ciri dan tata nilai tradisional yang unik. Dalam rangka penataan
ruang dan pembangunan wilayah kota corak ragam budaya dan tata nilai ini harus
ditempatkan sebagai satu variabel yang penting.
Nilai-nilai tradisional yang positif perlu diakomodir untuk merangsang peran serta
masyarakat yang lebih besar dalam pembangunan wilayahnya. Sedangkan nilai-nilai
pembangunan perlu diupayakan agar tidak berbenturan dengan nilai-nilai tradisional,
sehingga tidak menghalangi kinerja pengembangan kawasan. Oleh sebab itu, dalam
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini ini
perlu dan harus mencermati karakteristik budaya dan nilai-nilai tersebut.
Diharapkan melalui pendekatan ini akan dapat dihindari kemungkinan terjadinya
benturan sosial dan keterasingan kelompok masyarakat tertentu dari derap kegiatan
pembangunan, serta segregasi keruangan yang dapat berdampak negatif terhadap
kinerja pertumbuhan wilayah maupun pada perkembangan kehidupan masyarakat.

5.1.8. Pendekatan Kepariwisataan
Dalam lingkungan ekonomi dan politik sekarang, industri pariwisata atau tepatnya
segmen ekonomi maju ke depan merupakan kesempatan besar satu-satunya dalam
pertukaran ekonomi, budaya dan politik dunia. Pariwisata dalam arti seluas-luasnya
dapat lebih mendorong pengertian antar bangsa menuju perdamaian dunia. Selain itu
juga memerlukan kesempatan kerja, menghasilkan devisa dan meningkatkan taraf
kehidupan, lebih daripada kekuatan ekonomi lain yang diketahui. Berbeda dengan
industri MIGAS yang berdasar pada bahan bakar fosil, pariwisata tidak tegantung dari
sumber daya yang makin berkurang. Justru sebaliknya, agar pariwisata dapat
berkembang, maka harus berupaya untuk meningkatkan lingkungan dan memelihara
keseimbangan ekologis.
Dewasa ini, pembangunan diberbagai sektor tidak lagi hanya berorientasi pada faktor
fungsional semata, kualitas lingkungan dan bangunan yang lebih atraktif dan menarik
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 16

mulai menjadi pendekatan pengembangan. Kawasan-kawasan perkotaan dengan
kualitas lingkungan bangunan yang lebih atraktif dan menarik merupakan suatu
bentuk kepariwisataan pada suatu perkotaan. Dengan pendekatan seperti ini akan
memberikan implikasi yang positif terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat
dan peningkatan kualitas lingkungan perkotaan sebagai suatu lingkungan binaan.

5.1.9 . Pendekatan Pelaku Pembangunan
Metode pelaksanaan kegiatan yang akan dilaksanakan adalah dengan melibatkan
seluruh pelaku pembangunan (stakeholders) terkait pada setiap proses kegiatan
penyusunan rencana. Hal ini dirasakan perlu untuk menghasilkan Rencana Tata Ruang
yang merupakan kesepakatan dari semua pihak (stakeholders). Konsultan dalam hal
ini akan melibatkan secara aktif stakeholders yang ada, selain itu konsultan juga
memfasilitasi program-program pemerintah yang telah direncanakan. Konsultan
sendiri akan memberikan arahan-arahan teknis dalam rangka pencapaian tujuan dan
sasaran yang telah ditetapkan dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).
Dengan adanya pelibatan stakeholder dalam tahap penyusunan rencana, maka
diharapkan pemerintah daerah akan mudah menerapkan rencana tersebut. Dalam
tahap pemanfaatan rencana, stakeholders terlibat sebagai pemanfaat ruang yang
utama, yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat. Di samping sebagai pemanfaat
utama, terdapat pula stakeholders yang terlibat dalam proses pemanfaatan ruang itu
sendiri, yaitu para profesional dan decission maker. Untuk menjamin kelancaran
proses pemanfaatan ruang, maka diperlukan suatu forum komunikasi horisontal baik
antar profesional, antar decission maker dan antara profesional dan decission maker.
Fungsi dari forum komunikasi ini adalah untuk menjaga kesimambungan rencana tata
ruang yang telah disusun ke dalam pemanfaatannya.
Kemampuan pengendalian pemanfaatan ruang kabupaten sangat dipengaruhi oleh
kemampuan institusi pengendali pemanfaatan ruang untuk melakukan pelaporan,
permantauan, evaluasi, dan penertiban pemanfaatan ruang secara efektif. Untuk itu
perlu ditentukan peranan, kedudukan, dan tanggung jawab institusi pengendali
masing-masing peringkat kawasan perencanaan.
Adapun unsur yang harus dipenuhi oleh institusi pengendali adalah sebagai berikut:
1. Berkemampuan untuk mengkoordinasi, mengendalikan, dan melaksanakan
evaluasi atas usulan dan pelaksanaan pemanfaatan ruang yang dilakukan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 17

oleh berbagai peringkat dan jurisdiksi pemerintahan yang ada di, terutama
program dan proyek yang bersifat strategis dan berdampak regional.
2. Memiliki kewenangan dan sumber daya yang memadai untuk dapat
mengambil keputusan yang cepat dan efektif, terutama bila dihadapkan
pada kontroversi pemanfaatan ruang yang melibatkan berbagai pihak dan
konflik tata ruang horisontal maupun vertikal.
3. Mempunyai akses terhadap informasi atas program dan proyek strategis
berskala besar dan berdampak luas dan berkemampuan untuk mengolah
informasi serta mengevaluasi implikasinya pada Rencana Tata Ruang di
masing-masing peringkat kawasan perencanaan yang bersangkutan.
4. Institusi pengendali berkemampuan menjalankan peran mediator dan
fasilitator untuk menampung aspirasi semua stakeholders dalam
pembangunan kabupaten dan kawasan-kawasan di dalamnya sehingga dapat
dihasilkan keputusan yang seimbang dan dapat diterima oleh semua pihak.
5. Tugas dan tanggung jawab kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang
merupakan tugas utama dari pemerintah. Namun pada dasarnya seluruh
stakeholders pembangunan dapat dilibatkan dalam kegiatan ini dalam
bentuk pelaporan. Jenis pelaporan apapun yang dilakukan oleh seluruh
stakeholders yang apresiatif terhadap kualitas tata ruang, perlu
ditindaklanjuti dalam kegiatan pemantauan oleh pemerintah, khususnya
bagi pelaporan yang mengindikasikan adanya pembangunan yang tidak
sesuai dengan Rencana Tata Ruang yang ada.
6. Secara kelembagaan, pelaporan ini wajib dilakukan atau dikoordinasikan
oleh Pemerintah Kabupaten secara rutin dalam rangka pengendalian
pemanfaatan ruang dengan menyediakan pos pengaduan yang dapat dengan
mudah diakses oleh seluruh stakeholders.

5.1.10. Pendekatan Partisipasi Masyarakat
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini tidak
terlepas dari keterlibatan masyarakat sebagai pemanfaat ruang dan pelaksana
pembangunan serta sebagai pihak yang terkena dampak positif maupun negatif dari
pelaksanaan pembangunan itu sendiri. Oleh karena itu dalam penyusunan rencana ini
digunakan pendekatan partisipasi masyarakat (community approach) untuk
mengikutsertakan masyarakat di dalam proses penyusunan rencana tata ruang
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 18

melalui forum diskusi pelaku pembangunan. Konsultan dalam hal ini berusaha untuk
melibatkan secara aktif pelaku pembangunan yang ada dalam setiap tahapan
perencanaan. Pelibatan pelaku pembangunan dalam pekerjaan ini dapat digambarkan
dengan diagram seperti di bawah ini.

Gambar 5. 1 Diagram Keterlibatan Pelaku Pembangunan Dalam Penyusunan
Rencana















Sumber: Hasil Olahan Konsultan, 2012

Di dalam Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan
Bokondiniini masyarakat tidak hanya dilihat sebagai pelaku pembangunan
(stakeholders) tetapi juga sebagai pemilik dari pembangunan (shareholders).
Keterlibatan masyarakat sebagai shareholder dimaksudkan untuk mengurangi
ketergantungan wilayah terhadap investor dari luar wilayah, tetapi yang diharapkan
adalah kerjasama antara investor dengan masyarakat sebagai pemilik lahan di
wilayah tersebut. Dengan posisi sebagai shareholder diharapkan masyarakat akan
benar-benar memiliki pembangunan di wilayahnya, dapat bersaing dengan penduduk
pendatang, dan dengan demikian masyarakat lokal tidak tergusur dari wilayahnya.

5.1.11. Pendekatan Kelembagaan (Instansional)
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini sebagai
suatu dasar dan arahan pembangunan daerah, salah satu aspek penting yang diatur
adalah aspek kelembagaan. Keberhasilan pembangunan daerah tidak dapat
dilepaskan dari keberhasilan perencanaan kelembagaan yang efektif dan efisien.
Forum
Stakeholder
Survei
Analisis dan
Interpretasi
Penyusunan
materi teknis
Forum
stakeholder
Rencana
yang
disepakati
Indikasi
Program
Perangkat
Pengendalian
Pelaksanaan
Arahan
Pemerintah
Program
Pemerintah
Masyarakat
Konsultan
Pemerintah
Pelaku Keterlibatan Dalam Penyusunan Rencana
Pelaksanaan oleh
Pemerintah, Swasta,
Masyarakat
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 19

Pendekatan kelembagaan yang dimaksud adalah identifikasi instansi-instansi
kepemerintahan yang terkait dengan pembangunan daerah baik secara vertikal, yaitu
mengkaji kewenangan, peran dan tanggung jawab dari Pemerintah Pusat, Pemerintah
Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota; ataupun secara horisontal, yaitu mengkaji
kewenanganan, peran dan tanggung jawab instansi pemerintah daerah secara lintas
instansional.
Pada Tabel 5.1 diidentifikasi keterlibatan lintas sektor baik ditingkat nasional,
provinsi dan tingkat kabupaten. Tabel ini merupakan acuan dan tidak tertutup
kemungkinan terdapat tambahan instansi lagi sesuai dengan kebutuhan dari
pekerjaan ini.
Tabel 5.1 Keterlibatan Lintas Sektoral
No Level Instansi Terkait
1 Tingkat Pusat Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Departemen Dalam Negeri
Departemen Pekerjaan Umum
Departemen Perhubungan
Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral
Departemen Kehutanan
Departemen Transmigrasi dan Tenaga Kerja
Departemen Komunikasi dan Informasi
Sekretariat Negara
2 Tingkat Propinsi Bappeda Propinsi
Dinas Pekerjaan Umum Propinsi
Dinas teknis lainnya
3 Tingkat Kabupaten Bappeda Kabupaten
Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten
Dinas teknis lainnya
Sumber: Hasil Olahan Konsultan, 2012


5.1.12. Pendekatan Mitigasi Bencana
Pendekatan mitigasi bencana merupakan salah satu pendekatan baru yang digunakan
dalam pembangunan nasional, termasuk didalamnya pada bidang penataan ruang.
Pendekatan mitigasi bencana ini merupakan konsekuensi logis dari fakta bahwa
semakin sadarnya masyarakat untuk memasukkan unsur-unsur mitigasi bencana, guna
mengurangi resiko bencana bilamana hal itu terjadi. Dengan pendekatan mitigasi
bencana, maka dalam Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan
Perkotaan Bokondini, akan dipikirkan alokasi ruang untuk penyelematan diri dari
bencana atau dengan menyusun elemen dari refuge planning, seperti standarisasi
kualitas bangunan yang mampu mereduksi dampak bencana serta adanya alokasi
ruang untuk escape building dan escape hill.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 20

5.1.13. Pendekatan Keberlanjutan
Definisi dasar dari “pembangunan berkelanjutan” yang dikemukakan oleh komisi
Brundlandt adalah pembangunan untuk memenuhi keperluan hidup manusia kini
dengan tanpa mengabaikan keperluan hidup manusia masa datang. Pengertian awal
ini dikembangkan oleh UNEP menjadi "memperbaiki kualitas kehidupan manusia
dengan tetap memelihara kemampuan daya dukung sumberdaya alam dan lingkungan
hidup dari ekosistem yang menopangnya."
Suatu pendapat mengatakan bahwa pembangunan berkelanjutan merupakan
kemajuan yang dihasilkan dari interaksi aspek lingkungan hidup, dimensi ekonomi dan
aspek sosial politik sedemikian rupa masing-masing terhadap pola perubahan yang
terjadi pada kegiatan manusia (produksi, konsumsi, dan sebagainya) dapat menjamin
kehidupan manusia yang hidup pada masa kini dan masa mendatang dan disertai
akses pembangunan sosial ekonomi tanpa melampaui batas ambang lingkungan
(WCED, 1987). Perlu digarisbawahi bahwa pengertian keberlanjutan tidak dapat
didefinisikan secara mutlak maupun mengikuti pendekatan atau ukuran pemahaman
tertentu, demikian pula dengan keberlanjutan kebijakannya.
Untuk menjamin berkelanjutannya pembangunan ekonomi dan sosial budaya,
ekosistem terpadu (integrated ecosystem) yang menopangnya harus tetap terjaga
dengan baik. Karena itu aspek lingkungan perlu diinternalisasikan ke dalam
pembangunan ekonomi. Secara sosial, ekosistem ini harus terjaga hingga generasi
yang akan datang (inter-generasi) sebagai sumberdaya alam pendukungnya, terutama
menghadapi tantangan pertumbuhan penduduk tinggi yang memacu produksi dan
konsumsi. Sementara intra-generasi, pembangunan ekonomi tidak membuat
kesenjangan dalam masyarakat, terjadinya pemerataan dan kestabilan.
Pembangunan berkelanjutan memiliki tiga matra berikut ini:
1. Keberlanjutan pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan fakta bahwa
lingkungan hidup dan berbagai elemen di dalamnya memiliki keterkaitan
dan juga memiliki nilai ekonomi (dapat dinyatakan dengan nilai uang).
Pembangunan ekonomi berkelanjutan dapat mengelola lingkungan hidup
dan sumberdaya alam secara efektif dan efisien dengan yang berkeadilan
perimbangan modal masyarakat, pemerintah dan dunia usaha;
2. Keberlanjutan sosial budaya; pembangunan berkelanjutan berimplikasi
terhadap pembentukan nilai-nilai sosial budaya baru dan perubahan bagi
nilai-nilai sosial budaya yang telah ada, serta peranan pembangunan yang
berkelanjutan terhadap iklim politik serta stabilitasnya. Dalam hal ini juga
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 21

perlu keikutsertaan masyarakat dalam pembanguna ekonomi yang
berwawasan lingkungan serta mengurangi kesenjangan antar tingkat
kesejahteraan masyarakat;
3. Keberlanjutan kehidupan lingkungan (ekologi) manusia dan segala
eksistensinya. Sebagai penopang pembangunan ekonomi, lingkungan perlu
dipertahankan kualitasnya, karena itu harus dijaga keselarasan antara
lingkungan alam dan lingkungan buatan. Sebagai satu upaya
mempertahankan keberlanjutan, setiap kegiatan diminimasikan dampak
lingkungannya, diupayakan menggunakan sumberdaya alam yang dapat
diperbaharui, mengurangi limbah dan meningkatkan penggunaan teknologi
bersih.
Pembangunan berkelanjutan memiliki beberapa konsep yang menjadi landasan
berpikir dalam pengembangannya. Konsep tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Pembangunan pada hakikatnya merupakan pelaksanaan proses transformasi
sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya pendukung beserta
kombinasi ketiganya yang menghasilkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan
manusia yang sebesar-besarnya;
2. Hasil pembangunan dapat memenuhi kebutuhan generasi sekarang dengan
tidak mengabaikan pemenuhan kebutuhan bagi generasi mendatang
(orientasi masa kini dan masa mendatang);
3. Pemahaman yang baik, tentang implikasi dari masing-masing pelaksanaan
kegiatan pembangunan itu sendiri, baik positif maupun negatif, terhadap
elemen hidup dan tidak hidup dalam lingkungan yang terkena
pembangunan, merupakan suatu alat efektif yang berfungsi mengendalikan.
Penerapan nilai-nilai lingkungan hidup terutama nilai-nilai yang
menekankan tentang keselarasan dan keterkaitan yang terdapat antara
manusia dengan alam; berperan sebagai strategi utama;
4. Pengendalian keberlanjutan pemanfaatan ruang dalam pelaksanaan
pembangunan secara sinergis, merupakan suatu bentuk keberlanjutan.
5.2. PROSES PELAKSANAAN PEKERJAAN
5.2.1. Proses Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan
Proses Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini
terdiri atas tahapan kerja sebagai berikut ini, yaitu:
1. Persiapan Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Bokondini
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 22

a. Kegiatan Persiapan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan, meliputi:
1.) Persiapan awal pelaksanaan, meliputi: pemahaman
Kerangka Acuan Kerja (KAK) dan penyiapan Rencana
Anggaran Biaya (RAB);
2.) Kajian awal data sekunder, mencakup review RTRW
Kabupaten Tolikara, dan kajian kebijakan terkait lainnya;
3.) Persiapan teknis pelaksanaan yang meliputi:
- Penyimpulan data awal;
- Penyiapan metodologi pendekatan pelaksanaan
pekerjaan;
- Penyiapan rencana kerja rinci; dan
- Penyiapan perangkat survei (checklist data yang
dibutuhkan, panduan wawancara, kuesioner, panduan
observasi dan dokumentasi, dan lain-lain), serta
mobilisasi peralatan dan personil yang dibutuhkan;
- Perumusan konsep zoning regulation.
b. Hasil dari Pelaksanaan Kegiatan Persiapan
Hasil dari kegiatan pelaksanaan ini, meliputi:
1.) Gambaran umum kawasan perencanaan;
2.) Hasil kajian awal berupa kebijakan terkait di kawasan
perencanaan, isu strategis, potensi dan permasalahan awal
kawasan perencanaan, serta gagasan awal pengembangan
kawasan perencanaan;
3.) Metodologi pendekatan pelaksanaan pekerjaan yang akan
digunakan;
4.) Rencana kerja pelaksanaan penyusunan RDTR Kawasan
Perkotaan Bokondini ; dan
5.) Perangkatsurvei data primer dan data sekunder yang akan
digunakan pada saat proses pengumpulan data dan
informasi (survei).
2. Pengumpulan Data yang Dibutuhkan
a. Kegiatan Pengumpulan Data
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 23

Untuk keperluan pengenalan karakteristik tata ruang kawasan dan
penyusunan rencana tata ruang, dilakukan pengumpulan data primer
dan data sekunder. Pengumpulan data primer dapat meliputi:
1.) Penjaringan aspirasi masyarakat yang dapat dilaksanakan
melalui penyebaran angket, temu wicara, wawancara orang
per orang, dan lain sebagainya; dan
2.) Pengenalan kondisi fisik dan sosial ekonomi wilayah secara
langsung melalui kunjungan ke semua bagian wilayah
kabupaten.
Data sekunder yang harus dikumpulkan sekurang-kurangnya meliputi:
1.) Peta-peta, meliputi:
- Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) atau peta topografi
skala 1:25.000 sebagai peta dasar;
- Citra satelit untuk memperbaharui (update) peta dasar
dan membuat peta tutupan lahan;
- Peta batas wilayah administrasi;
- Peta batas kawasan hutan;
- Peta-peta masukan untuk analisis kebencanaan; dan
- Peta-peta masukan untuk identifikasi potensi sumber
daya alam.
2.) Data dan informasi, meliputi:
- Data tentang kependudukan;
- Data tentang sarana dan prasarana wilayah;
- Data tentang pertumbuhan ekonomi wilayah;
- Data tentang kemampuan keuangan pembangunan
daerah;
- Data dan informasi tentang kelembagaan pembangunan
daerah;
- Data dan informasi tentang kebijakan penataan ruang
terkait (RTRW Kabupaten Tolikara, RTRW Provinsi
Papua, RTR Pulau Papua, dan RTRW Nasional);
- Data dan informasi tentang kebijakan pembangunan
sektoral, terutama yang merupakan kebijakan
pemerintah pusat; dan
- Peraturan perundang-undangan terkait.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 24

Tingkat akurasi data, sumber penyedia data, kewenangan sumber
atau instansi penyedia data, tingkat kesalahan, variabel
ketidakpastian, serta variabel-variabel lainnya yang mungkin ada,
perlu diperhatikan dalam pengumpulan data. Data dalam bentuk
data statisitik dan peta, serta informasi yang dikumpulkan berupa
data tahunan (time series) minimal 5 tahun terakhir dengan
kedalaman data setingkat kelurahan/desa. Dengan data berdasarkan
kurun waktu yang diharapkan dapat memberikan gambaran
perubahan apa yang terjadi pada wilayah kabupaten.
b. Hasil Pelaksanaan Kegiatan Pengumpulan Data
Hasil kegiatan pengumpulan data akan menjadi bagian dari
dokumentasi Buku Data dan Analisis.
3. Penyusunan Fakta dan Analisis
a. Rumusan Tujuan dan Sasaran Pengembangan Distrik
Rumusan tujuan dan sasaran pengembangan wilayah perencanaan
diturunkan dari visi pembangunan wilayah Kabupaten/Kota dan
kebijakan-kebijakan strategis Kabupaten/Kota sebagai faktor
determinan yang mengarahkan pengembangan wilayah perencanaan
b. Identifikasi Rona Wilayah perencanaan
Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Bokondinidimulai
dengan melakukan identifikasi dan analisis faktor-faktor eksternal
dan internal yang diperkirakan mempengaruhi perkembangan distrik-
distrik yang ada di dalamnya.
1.) Faktor eksternal adalah faktor yang bersumber dari luar
wilayah perencanaan, namun mempengaruhi arah dan
besaran pengembangan wilayah perencanaan, seperti:
undang undang, kebijakan pembangunan nasional, propinsi
maupun kebijakan pembangunan Kabupaten/Kota yang
meliputi kebijakan spasial Kabupaten/Kota yang tertuang
dalam RTRW Kabupaten/Kota, rencana strategis
Kabupaten/Kota maupun kebijakan sektor-sektor terkait
yang berpengaruh terhadap pengembangan distrik . Dari
faktor-faktor ekternal ini selanjutnya dilakukan analisis
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 25

terhadap peluang dan ancaman faktor eksternal terhadap
perkembangan kawasan perencanaan.
2.) Faktor Internal yaitu faktor yang bersumber dari dalam
wilayah perencanaan, dan mempengaruhi arah dan besaran
pengembangan wilayah perencanaan, seperti: faktor
ekonomi sosial budaya; kondisi fisik dan lingkungan wilayah;
faktor daya serap dan daya tangkal sosial-budaya setempat
terhadap suatu perkembangan; serta kesiapan perangkat
kelembagaan untuk berkembangnya kawasan. Selain itu
juga perencanaan mikro di tingkat desa yang sudah
dilakukan maupun yang sudah diimplementasikan berkaitan
dengan proses rehabilitasi dan rekonstruksi kawasan pasca
bencana tsunami disampaikan di depan saja (secara umum).
Faktor-faktor internal dikelompokkan ke dalam analisis
potensi wilayah perencanaan sebagai kekuatan yang dimiliki
oleh kawasan untuk dikembangkan. Analisis permasalahan
kawasan sebagai kelemahan yang dimiliki oleh wilayah
perencanaan untuk dikurangi berdasarkan kekuatan yang
dipunyai kawasan.
c. Tinjauan Kebijakan Pembangunan Kota
1.) Tinjauan Rencana Strategis Pembangunan Kota
Merupakan rumusan arah pembangunan Kabupaten/Kota,
termasuk arahan bagi konsepsi pengembangan wilayah
perencanaan. Sasaran yang hendak dicapai pada tahap ini
adalah untuk memahami arah pembangunan
Kabupaten/Kota dan untuk mengetahui kebijaksanaan
dalam pembangunan kebupaten/kota. Berdasarkan sasaran
di atas, maka keluaran yang diharapkan adalah visi
pembangunan Kabupaten/Kota dan kebijaksanaan
pembangunan Kabupaten/Kota. Masukan yang diperlukan
berupa uraian atau penjelasan rencana strategis
pembangunan Kabupaten/Kota.


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 26

Langkah-langkah yang diperlukan adalah:
- Memahami garis besar arah pembangunan
Kabupaten/Kota untuk menemukenali visi dan
kebijaksanaan pembangunan wilayah perencanaan; dan
- Merumuskan visi dan kebijaksanaan pembangunan
tersebut dalam konteks pengembangan wilayah
perencanaan
2.) Tinjauan RTRW Kabupaten dan RDTR Kawasan terkait
Merupakan upaya menerapkan kebijakan yang ditetapkan
pada tingkat Kabupaten/Kota bagi wilayah perencanaan
sebagai dasar bagi perumusan tujuan dan sasaran
pengembangan wilayah perencanaan. Sasaran yang hendak
dicapai pada tahap ini adalah rumusan visi, misi, dan tujuan
pengembangan wilayah perencanaan dari perspektif tata
ruang wilayah Kabupaten/Kota. Berdasarkan sasaran di
atas, maka keluaran yang diharapkan adalah arah
pengembangan wilayah perencanaan yang telah ditetapkan
pada perencanaan pembangunan Kabupaten/Kota. Masukan
yang diperlukan berupa tujuan penetapan wilayah
perencanaan dan peran serta fungsi wilayah perencanaan
dalam perencanaan pembangunan kota.
Langkah-langkah yang diperlukan adalah:
- Menyusun inti sari tujuan penetapan wilayah
perencanaan dalam RTRW Kabupaten; dan
- Menganalisis fungsi dan peran wilayah
perencanaanlingkup kota yang ditetapkan dalam RTRW
Kabupaten
3.) Kajian Isu Strategis Pengembangan Wilayah perencanaan
Merupakan upaya memahami isu-isu strategis
pengembangan wilayah perencanaan yang harus
diperhatikan berkaitan dengan bidang ekonomi, sosial-
budaya dan lingkungan yang akan menjadi prioritas
penanganan serta menjadi bahan pertimbangan bagi
penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan perkotaan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 27

Bokondini. Sasaran yang hendak dicapai pada tahap ini
adalah untuk membuat rumusan isu strategis di wilayah
perencanaan dilihat dari perspektif tata ruang wilayah
perencanaan berkaitan dengan ekonomi sosial budaya,
lingkungan dan kerawanan bencana. Masukan yang
diperlukan berupa permasalahan pengembangan wilayah
perencanaan dan arahan kebijakan pembangunan
Kabupaten/Kota pada wilayah perencanaan yang
direncanakan.
Langkah-langkah yang diperlukan adalah:
- Menyusun inti sari tujuan permasalahan wilayah
perencanaan yang berkaitan dengan pengembangan
ekonomi, sosial budaya dan lingkungan; dan
- Menganalisis fungsi dan peran wilayah perencanaan
lingkup Kabupaten/Kota yang ditetapkan dalam RTRW
Kabupaten
4.) Tinjauan Kondisi Wilayah Perencanaan
Merupakan upaya untuk mendapatkan gambaran tentang
kondisi wilayah perencanaan baik yang berkaitan dengan
kondisi fisik dasar maupun kondisi sosial ekonomi dan
budaya masyarakatnya. Sasaran yang hendak dicapai pada
tahap ini adalah untuk mendapatkan gambaran yang jelas
mengenai kondisi kawasan perencanaan. Berdasarkan
sasaran di atas, maka keluaran yang diharapkan adalah
rumusan faktor-faktor yang harus diperhatikan terkait
dengan kondisi lingkungan, sosial budaya dan ekonomi di
wilayah perencanaan.
Masukan yang diperlukan untuk mencapai keluaran di atas
adalah: letak geografis, kondisi fisik dasar, kependudukan,
kondisi perekonomian, sarana dan prasarana transportasi,
perumahan dan sarana pelayanan umum, sistem utilitas
kota, ruang terbuka dan tata hijau


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 28

Langkah-langkah yang diperlukan adalah:
- Melakukan survei primer di lapangan maupun survei
sekunder dari data dan literatur yang menunjang
identifikasi kondisi wilayah perencanaan;
- Membuat pemerian tentang kondisi aspek aspek
ekonomi, sosial budaya dan lingkungan wilayah
perencanaan
5.) Penyusunan Analisis Pengembangan Kawasan
Analisis pengembangan wilayah perencanaan dilakukan
dengan memperhatikan faktor-faktor ekternal maupun
faktor-faktor internal. Analisis faktor eksternal merupakan
analisis perkembangan wilayah perencanaan akibat
pengaruh kondisi dan kebijakan Kabupaten/Kota ataupun
kebijakan regional lainnya. Analisis faktor internal
dilakukan untuk mengetahui kendala, peluang dan
tantangan pengembangan wilayah perencanaan.
Analisis tantangan yang dapat diciptakan dalam kerangka
pengembangan wilayah perencanaan akibat pengaruh
kondisi dan atau kebijakan pembangunan Kabupaten/Kota.
Berdasarkan sasaran tersebut, maka keluaran yang
diharapkan adalah berupa rumusan peluang pengembangan
wilayah perencanaan.
Masukan yang diperlukan berupa rumusan kebijakan
Kabupaten/Kota, kebijakan pengembangan regional lainnya,
dan rumusan sosial ekonomi dan budaya serta lingkungan di
wilayah perencanaan
Langkah-langkah yang diperlukan adalah:
- Melakukan analisis terhadap aspek-aspek:
kependudukan, pengaruh regional dan kebij.
pembangunan Kabupaten/Kota, hasil perencanaan dan
implementasi rencana desa, daya dukung lahan,
kerawanan terhadap bencana, sosial ekonomi, pola
ruang dan intensitas ruang, transportasi, perumahan dan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 29

fasilitas sosial budaya, pengembangan utilitas,
pengembangan ruang terbuka hijau;
- Membuat inti sari faktor eksternal yang berpengaruh
terhadap perkembangan wilayah perencanaan;
- Menyelaraskan tujuan dan sasaran pengembangan
wilayah perencanaan dengan kebijakan pembangunan
Kabupaten/Kota; dan
- Menentukan peluang yang dimiliki atau yang dapat
diciptakan oleh wilayah perencanaan berdasarkan
kondisi dan kebijakan faktor-faktor determinan yang
mempertimbangkan tujuan dan sasaran pengembangan
wilayah perencanaan.
4. Penyusunan Rencana
Tahap penyusunan rencana meliputi: perumusan potensi dan masalah serta
peluang dan tantangan pengembangan wilayah perencanaan, perumusan
strategi dan konsep pengembangan wilayah perencanaan, dan penyusunan
RDTR Kawasan Perkotaan.
a. Rumusan Potensi dan Masalah Pengembangan Wilayah perencanaan
Rumusan potensi dan masalah, tantangan dan peluang
pengembangan wilayah perencanaan merupakan inti sari hasil
identifikasi dan analisis aspek-aspek eksternal dan aspek internal
pengembangan wilayah perencanaan. Sasaran yang akan dicapai
adalah merumuskan aspek- aspek yang berpengaruh terhadap
penyusunan konsep dan strategi pengembangan wilayah
perencanaan. Berdasarkan sasaran tersebut, maka keluaran yang
diharapkan adalah berupa rumusan potensi dan masalah serta
peluang dan tantangan pengembangan wilayah perencanaan
berdasarkan pengaruh aspek internal dan eksternal. Masukan yang
diperlukan adalah hasil kajian fakta dan analisis.
Langkah-langkah yang diperlukan adalah:
1.) Membuat inti sari faktor eksternal yang berpengaruh
terhadap pengembangan bagi wilayah perencanaan; dan
2.) Menyusun dasar-dasar bagi pengembangan rencana detail
tata ruang kawasan perkotaan.

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 30

b. Penyusunan Konsep dan Strategi Pengembangan Wilayah perencanaan
Rumusan konsep rencana detail tata ruang kawasan perkotaan
merupakan tahapan untuk meletakkan dasar-dasar pengembangan
wilayah perencanaan berdasarkan hasil rumusan potensi dan
masalah, peluang dan tantangan pengembangan wilayah
perencanaan dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan dalam
pengembangan wilayah perencanaan. Sedangkan strategi merupakan
langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan
tersebut.
Sasaran yang hendak dicapai pada tahapan ini adalah tersusunnya
konsep dasar rencana detail tata ruang kawasan perkotaan
berdasarkan potensi, masalah, tantangan dan peluang yang
dipengaruhi oleh aspek ekternal dan internal. Selain itu, juga
tersusunnya strategi untuk mencapai konsep rencana detail tata
ruang kawasan perkotaan tersebut. Masukan yang diperlukan adalah
rumusan potensi dan masalah pengembangan wilayah perencanaan.
Langkah-langkah yang diperlukan adalah:
1.) Menyusun konsep rencana detail tata ruang kawasan
perkotaan;
2.) Menyusun konsep alokasi pengembangan sektor dalam
wilayah perencanaan berdasarkan hasil kajian terhadap
aspek-aspek: kependudukan, pengaruh regional dan
kebijakan pembangunan kota, hasil perencanaan dan
implementasi rencana desa daya dukung lahan, kerawanan
terhadap bencana, sosial ekonomi, pola ruang dan
intensitas ruang, transportasi, perumahan dan fasilitas
sosial budaya, pengembangan utilitas, dan pengembangan
ruang terbuka hijau;
3.) Membuat konsep pengembangan wilayah perencanaan
berdasarkan faktor eksternal yang berpengaruh terhadap
pengembangan bagi wilayah perencanaan
c. Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan
Rencana detail tata ruang kawasan perkotaan merupakan rencana
spasial wilayah perencanaan sebagai penjabaran RTRW Kabupaten
untuk dapat diimplementasikan dalam setiap kegiatan pembangunan.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 31

RDTR ini memuat rencana struktur ruang kawasan perkotaan, pola
ruang, rencana pengelolaan kawasan dan tahapan
pembangunan/indikasi program pembangunan wilayah perencanaan
dan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang.
d. Finalisasi Laporan
Kegiatan finalisasi laporan dan draf RAPERDA merupakan bagian akhir
dari kegiatan penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Bokondini,
dengan memfinalisasi materi teknis RDTR Kawasan Perkotaan
Bokondini, naskah RAPERDA berdasarkan masukan, sanggahan
masyarakat dan stakeholders lainnya terhadap Laporan Draf Akhir
(Data, Fakta dan Analisis Serta Konsep RDTR), yang disampaikan
dalam konsultasi publik dan ekspose internal di Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah, Kabupaten Tolikara.
LAPORAN PENDAHULUAN
PENYUSUNAN RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR)
KAWASAN PERKOTAAN BOKONDINI

BAB 5 PENDEKATAN DAN METODOLOGI | 32

Gambar 5. 2 Proses Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Bokondini

TAHAP PERSIAPAN
TAHAP PENGUMPULAN DATA
(SURVEI)
FAKTA DAN ANALISA RENCANA FINALISASI RENCANA
PERSIAPAN AWAL
- Pemahaman Terhadap KAK.
- Penyiapan Rencana Anggaran
Biaya (RAB)
KAJIAN AWAL DATA SEKUNDER
- Review RTRW Kabupaten
Tolikara
- Review Kebijakan, Peraturan,
Pedoman
PERSIAPAN TEKNIS
- Penyimpulan Data Awal
- Perumusan Metodologi
- Penyusunan Rencana Kerja
- Penyiapan Perangkat Survei
- Perumusan Konsep Zoning
Regulation
- PRIMER DAN SEKUNDER
- Peta Dasar
- Kebijakan Penataan Ruang dan
Kebijakan Sektor Lainnya
- Fisik Dasar Kawasan
- Kependudukan
- Perekonomian
- Penggunaan Lahan
- Tata Bangunan dan Lingkungan
- Prasarana dan Utilitas Umum
- Daerah Rawan Bencana
- Kelembagaan
ISU STRATEGIS
PENGEMBANGAN
WILAYAH PERENCANAAN
REVIEWKEBIJAKAN
ANALISIS PENGEMBANGAN
WILAYAH PERENCANAAN:
Kependudukan
Regional dan Kebijakan
Pembangunan Kota
Daya Dukung Lahan
Kerawanan Terhadap Bencana
Sosial, Budaya dan Ekonomi
Pola Ruang dan Intensitas Ruang
Transportasi
Perumahan dan Fasilitas Sosial
Pengembangan Utilitas
Pengembangan Ruang Terbuka
Hijau
IDENTIFIKASI RONA
WILAYAH
PERENCANAAN:
Letak geografi
Kondisi Fisik Dasar
Kependudukan
Perekonomian
Sarana dan Prasarana
Transportasi
Perumahan
Sistem Utilitas Kota
Ruang Terbuka hijau
R
E
N
C
A
N
A
D
E
T
A
IL
T
A
T
A
R
U
A
N
G
(
R
D
T
R
)

K
A
W
A
S
A
N
P
E
R
K
O
T
A
A
N
KONSEP DAN
STRATEGI
PENGEMBANGAN
KAWASAN
PERKOTAAN
RUMUSAN POTENSI
DAN MASALAH
PENGEMBANGAN
KAWASAN
PERKOTAAN
RENCANA DETAIL
TATA RUANG
KAWASAN
PERKOTAAN:
- Rencana Struktur
Ruang
- Rencana Pola
Ruang
- Rencana
Pengelolaan
Kawasan
Budidaya
- Rencana
Pengelolaan
Kawasan Lindung
- Tahapan
Pembangunan
dan Indikasi
Program
- Tujuan
Pengembangan
Kawasan
Perkotaan
- Rencana Struktur
Ruang Kawasan
Perkotaan
- Rencana Fasilitas
Umum
- Rencana
Peruntukan Blok
- Rencana Penataan
Bangunan dan
Lingkungan
- Indikasi Program
Pembangunan
- Pengendalian
Rencana Detail
Tata Ruang
P
E
N
G
E
N
D
A
L
IA
N
P
E
M
A
N
F
A
A
T
A
N

R
U
A
N
G
Identfikasi
kegiatan/aktifitas
dalam kawasan
Pengelompokan aktifitas
dan sub aktifitas
pemanfaatan ruang
Analisis keseuaian
aktifitas dengan
tata guna lahan
- Identifikasi perangkat
pengendalian
pemanfaatan ruang
- Identifikasi prosedur
pembangunan
- Identifikasi lembaga
pengendali
pemanfaatan ruang
ANALISIS MEKANISME ADVISE
PLANNING, PERIJINAN DAN
PENGAWASAN SERTA PENERTIBAN
PENGENDALIAN
PEMANFAATAN RUANG
KAWASAN
PERKOTAAN:
- Peraturan
Zonasi
- Peraturan
Pemanfaatan
Ruang
- Mekanisme
Perijinan,
Insentif,
Disinsentif
- Kelembagaan
LAPORAN PENDAHULUAN LAPORAN ANTARA LAPORAN DRAF AKHIR LAPORAN AKHIR
KICK OF
MEETING
1 Bulan 3 Bulan 2 Bulan 1 Bulan
Konsultasi
Publik/FGD
Konsultasi
Publik/FGD
Konsultasi
Publik/FGD
Sumber: Hasil Olahan Konsultan, 2012
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 33

5.2.2. Proses Penyusunan Zoning Regulation
Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang merupakan bagian yang tak terpisah dari
penataan ruang. Terdapat beberapa elemen pengendalian pemanfaatan ruang, yaitu
zoning regulation, mekanisme insentif dan disinsentif, dan mekanisme perizinan. Dari
beberapa elemen pengendalian tersebut, zoning regulation merupakan hal baru dalam
penyusunan RDTR kawasan perkotaan. Oleh karena itu, konsultan akan menguraikan secara
lebih detail mengenai proses penyusunan zoning regulation.
Gambar 5.3 Proses Penyusunan Zoning Regulation






















1. Penyusunan
Klasifikasi Zona
3. Penetapan
Delineasi Blok
Peruntukan
4. Penyusunan
Aturan Teknis
Zonasi
4.b.
Intensitas
Pemanfaatan
Ruang
4.c.
Tata Massa
Bangunan
4.d.
Prasarana
4e.
Aturan
Lain
4.f.
Aturan
Khusus
Jenis Aturan:
- Preskriptif
- Kinerja
Pendekatan:
- Issue of Concerns
- Scope of Isues
10. Penyusunan
Aturan
Administrasi
Zonasi
8. Penyusunan
Aturan
Pelaksanaan
6. Pilihan Teknik
Pengaturan
Zonasi
7. Penyusunan
Peta Zonasi
9. Penyusunan
Aturan
Dampak
5. Penyusunan
Standar
2. Penyusunan
Daftar Kegiatan
4.a.
Kegiatan dan
Penggunaan
Lahan
10. Peran Serta
Masyarakat
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 34

1. Penyusunan Klasifikasi Zonasi
Klasifikasi zonasi adalah jenis dan hirarki zona yang disusun berdasarkan kajian
teoritis, kajian perbandingan, maupun kajian empirik untuk digunakan di daerah
yang disusun Peraturan Zonasinya. Klasifikasi zonasi merupakan perampatan
(generalisasi) dari kegiatan atau penggunaan lahan yang mempunyai karakter
dan/atau dampak yang sejenis atau yang relatif sama.
2. Penyusunan Daftar Kegiatan
Daftar kegiatan adalah suatu daftar yang berisi rincian kegiatan yang ada,
mungkin ada, atau prospektif dikembangkan pada suatu zona yang ditetapkan.
3. Penetapan Delineasi Blok Peruntukan
Blok peruntukan adalah sebidang lahan yang dibatasi sekurang-kurangnya oleh
batasan fisik yang nyata (seperti jaringan jalan, sungai, selokan, saluran irigasi,
saluran udara tegangan (ekstra) tinggi, dan lain-lain), maupun yang belum nyata
(rencana jaringan jalan dan rencana jaringan prasarana lain yang sejenis sesuai
dengan rencana kota). Nomor blok peruntukan adalah nomor yang diberikan pada
setiap blok peruntukan
4. Penyusunan Peraturan Teknis Zonasi
Aturan teknis zonasi adalah aturan pada suatu zonasi yang berisi ketentuan
pemanfaatan ruang (kegiatan atau penggunaan laha, intensitas pemanfaatan
ruang, ketentuan tata massa bangunan, ketentuan prasarana minimum yang
harus disediakan, aturan lain yang dianggap penting, dan aturan khusus untuk
kegiatan tertentu
Pendekatan yang digunakan:
a. Aspek yang diperhatikan (issues of concern) adalah pokok perhatian atau
kriteria yang menjadi dasar penyusunan aturan. Contoh perhatian dalam
pengaturan adalah:
1.) Fungsional: menjamin kinerja yang tinggi dari fungsi tersebut;
2.) Kesehatan: menjamin tercapainya kualitas (standar minimum)
kesehatan yang ditetapkan; dan
3.) Pokok perhatian lainnya antara lain: keselamatan, keamanan,
kenyamanan, keindahan, dan hubungan aspek tersebut dengan
isu lainnya.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 35

b. Komponen yang diatur (scope of issues) adalah komponen yang diatur
berdasarkan pokok perhatian yang terkait. Contoh komponen yang harus
diatur adalah, KDB, KLB, kepadatan bangunan, jarak antar bangunan, dan
lain-lain
Aturan teknis zonasi terdiri dari:
a. Aturan kegiatan dan penggunaan lahan
Aturan kegiatan dan penggunaan lahan adalah aturan yang berisi kegiatan
yang diperbolehkan, diperbolehkan bersyarat, diperbolehkan terbatas
atau dilarang pada suatu zona.
b. Aturan Intensitas Pemanfaatan Ruang
Intensitas pemanfaatan ruang adalah besaran pembangunan yang
diperbolehkan berdasarkan batasan KDB, KLB, KDH atau kepadatan
penduduk.
c. Aturan tata massa bangunan
Tata massa bangunan adalah bentuk, besaran, peletakan, dan tampilan
bangunan pada suatu persil/tapak yang dikuasai.
d. Aturan prasarana minimum
Prasarana adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan yang memungkinkan
lingkungan permukiman dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
e. Aturan lain/tambahan
Aturan lain dapat ditambahkan pada setiap zonasi. Untuk beberapa
kegiatan yang diperbolehkan, misalnya:
1.) Kegiatan usaha yang diperbolehkan di zona hunian (usaha
rumahan, warung, salon, dokter praktek, dan lain-lain);
2.) Larangan penjualan produk, tapi penjualan jasa diperbolehkan;
3.) Batasan luas atau persentase (%) maksimum dari luas lantai
(misalnya: kegiatan tambahan -seperti salon, warung, fotokopi-
diperbolehkan dengan batas tidak melebihi 25% dari KDB);
4.) Aturan perubahan pemanfaatan ruang yang diperbolehkan.


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 36

f. Aturan khusus
Aturan yang diberlakukan secara khusus pada sub kawasan/koridor yang
terdapat dalam kawasan perencanaan.
Contoh aturan kawasan khusus meliputi:
1.) Aturan untuk Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP);
2.) Aturan untuk kawasan cagar budaya;
3.) Aturan untuk kawasan rawan bencana.
5. Penyusunan Standar
Standar adalah suatu spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan, disusun
berdasarkan konsensus semua pihak terkait, dengan memperhatikan syarat-
syarat kesehatan, keamanan, keselamatan, lingkungan, perkembangan IPTEK,
pengalaman, perkembangan masa kini dan mendatang untuk memperoleh
manfaat yang sebesar-besarnya.
6. Pilihan Teknis Pengaturan Zonasi
Teknik pengatura zonasi adalah berbagai varian dari zoning konvensional yang
dikembangkan untuk memberikan keluwesan penerapan aturan zonasi.
7. Penyusunan Peta Zonasi
Peta zonasi adalah peta yang berisi kode zonasi di atas blok dan subblok yang
telah didelineasikan sebelumnya dengan skala 1:5000 dan atau yang setara
dengan RDTRK.
8. Penyusunan Aturan Pelaksanaan
Materi aturan pelaksanaan terdiri dari:
a. Aturan mengenai vairansi yang berkaitan dengan keluwesan/ kelonggaran
aturan;
b. aturan insneitf dan disinsentif; dan
c. aturan mengenai perubahan pemanfaatan ruang.
9. Penyusunan Aturan Dampak
Tingkat gangguan akibat dampak perubahan pemanfaatan ruang terdiri paling
sedikit terdiri dari:
a. Intensitas gangguan tinggi;
b. Intensitas gangguan sedang;
c. Intensitas gangguan rendah; dan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 37

d. Tidak ada gangguan (gangguan diabaikan).
10. Peran Serta Masyarakat
Peran serta masyarakat dalam penyusunan Peraturan Zonasi mencakup:
a. Hak masyarakat;
b. Kewajiban masyarakat;
c. Kelompok peran serta masyarakat;
d. Tata cara peran serta masyarakat;
e. Waktu peran serta masyarakat; dan
f. Proses pemberdayaan masyarakat
11. Penyusunan Aturan Administrasi Zonasi
Penyusunan aturan administrasi zonasi yang dimaksud adalah menyusun draf
RAPERDA mengenai aturan zonasi.

5.3. METODOLOGI STUDI
5.3.1. Metode Survei
Pembahasan mengenai metode survei dalam Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini terdiri atas:
1. Pekerjaan Survei
Survei atau Survey Studies adalah bentuk riset yang memusatkan pada salah satu
atau beberapa aspek dari obyeknya. Oleh karena itu hasil dari suatu survei sering
dipergunakan untuk menyusun suatu perencanaan atau menyempurnakan
perencanaan yang sudah ada. Penggunaannya sebagai data perencanaan
dimungkinkan karena melalui survei untuk suatu obyek penelitian diungkapkan
secara menyeluruh. Obyek dari survei dapat terdiri dari lingkungan suatu
bangsa/negara, daerah, sebuah kota, sebuah desa, suatu sistem dan lain-lain.
Salah satu bentuk dari survei adalah Survei Pendapat Umum (Public Opinion
Survey) dan Survei Kemasyarakatan (Community Survey).
Survei ini penting tidak hanya sebagai ungkapan gambaran pendapat masyarakat,
namun juga penting bagi penentu kebijakan (policy maker) untuk mengetahui
pendapat umum (public opinion) berupa sikap dan beberapa kecenderungan lain
yang berlaku di dalam kelompok tertentu atau dalam masyarakat luas, terutama
mengenai kebijakan yang akan ditetapkan. Penelitian tentang pendapat umum
biasanya mempergunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data dari sejumlah
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 38

subyek yang dipilih secara teliti agar mewakili kelompok atau masyarakat luas
secara representatif.
Sedangkan untuk Survei Kemasyarakatan, seringkali disebut sebagai penelitian
sosial yang maksudnya untuk mengungkap aspek atau beberapa aspek tertentu
dalam kehidupan masyarakat. Melalui penelitian ini dikumpulkan data untuk
mengambil kesimpulan tentang pendapat, keinginan, kebutuhan, kondisi, dan
lain-lain di dalam masyarakat mengenai aspek yang diselidiki. Luas dan
kedalaman penelitian ini dipengaruhi oleh faktor keterbatasan waktu dan biaya,
keterbatasan kemapuan tenaga pelaksana dan tenaga ahli penganalisa serta
ketersediaan masyarakat untuk bekerjasama dan membantu dalam memberikan
data yang relevan. Salah satu obyek penelitian yang bisa di selidiki dengan survei
ini adalah situasi geografis dan situasi ekonomi yang banyak pengaruhnya
terhadap pola kehidupan masyarakat. Misalnya mempengaruhi sistem dan
pelaksanaan transportasi, komunikasi, administrasi pemerintahan, pelayanan
kesehatan dan pendidikan, rekreasi, keamanan dan ketentraman masyarakat dan
sebagainya.
2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi langsung dan
komunikasi langsung. Teknik observasi langsung adalah cara pengumpulan data
yang tampak pada obyek penelitian yang pelaksanaannya langsung pada tempat
dimana suatu peristiwa, keadaan atau situasi sedang terjadi. Pengamatannya
dapat menggunakan atau tanpa alat. Sedangkan teknik komunikasi langsung
adalah cara mengumpulkan data, dimana peneliti mengadakan kontak langsung
secara lisan atau tatap muka (face to face) dengan sumber data dalam situasi
yang sebenarnya.
Secara praktis, oleh karena keterbatasan teknis yang dimiliki, kuesioner dipilih
sebagai alat untuk mengumpulkan data. Kuesioner ini berisi tentang daftar
pertanyaan yang disampaikan kepada responden. Seperti yang telah diuraikan di
atas, oleh karena fokus dari penelitian ini pada obyeknya (materi penelitian)
berupa pendapat masyarakat tentang pembangunan, maka identitas responden
bukan merupakan hal yang penting untuk diketahui, namun asal responden
penting untuk diketahui karena identitas bukan obyek yang diteliti. Secara lebih
jauh kelompok asal masyarakat yang berlatar belakang sosio ekonomi yang
berbeda mempunyai korelasi yang erat dengan pandangan atau pendapatnya
terhadap pembangunan di masa depan. Adapun asumsi yang digunakan adalah
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 39

mereka yang berasal di daerah tertentu memiliki kepentingan langsung dan
memiliki kepentingan yang melekat dengan pembangunan di masa depan. Oleh
karena itu kuesioner yang disusun lebih berfokus kepada obyek yang ingin
diketahui (diteliti). Sehingga obyek penelitian ini banyak mengungkap faktor-
faktor yang (diduga) mempengaruhi preferensi seseorang terhadap pembangunan
di masa depan.

5.3.2. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam dalam Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini adalah: (i) analisis kependudukan, (ii) analisis
penggunaan lahan, (iii) analisis kegiatan kota, (iv) analisis transportasi, (v) analisis
kesesuaian lahan, (vi) analisis SWOT kawasan, (vii) analisis biaya dampak.

5.3.2.1. Metode Analisis Kependudukan
Penduduk merupakan faktor utama perencanaan, sehingga pengetahuan akan kegiatan dan
perkembangan penduduk merupakan bagian pokok dalam penyusunan rencana. Analisis
kependudukan merupakan faktor utama untuk mengetahui ciri perkembangan suatu
daerah, sehingga data penduduk masa lampau sampai tahun terakhir sangat diperlukan
dalam memproyeksikan keadaan pada masa mendatang. Salah satu yang penting dalam
analisis penduduk yaitu mengetahui jumlah penduduk di masa yang akan datang. Untuk
hal tersebut, dapat digunakan beberapa metoda atau model analisis, seperti:
1. Kurva polinomial garis lurus;
2. Kurva polinomial regresi;
3. Metoda bunga berganda;
4. Kurva Gompertz; dan
5. Kurva logistik.
Teknik atau metoda tersebut di atas memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing,
sehingga dalam penerapannya perlu dilakukan pemahaman terlebih dahulu terhadap
kondisi kependudukan pada kawasan perencanaan, seperti pola pertumbuhan yang terjadi
di masa lampau, ketersediaan data dan sebagainya. Hal ini untuk memperoleh hasil
proyeksi yang mendekati ketepatan dan menghindari kesulitan-kesulitan dalam proses
analisis.

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 40

Model analisis yang sering digunakan dalam melakukan analisis kependudukan adalah:
1. Model Kurva Polinomial
Pada Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan
Bokondini, perhitungan jumlah penduduk tahun tertentu pada masa yang akan
datang ditetapkan berdasarkan hasil proyeksi tahun-tahun sebelumnya hingga
tahun terakhir dengan mengikuti pola garis lurus mengikuti model persamaan:
( ) u
u
b P P
t t
+ =
+

( ) 1
1
1
÷
=
¿
÷
t
b
b
t
n

dimana:
b
P
P
t
t
u
u +

= penduduk daerah yang diselidiki pada tahun t + u
= penduduk daerah yang diselidiki pada tahun dasar t
= selisih tahun dari tahun t ke tahun t +u
= rata-rata tambahan jumlah penduduk tiap tahun pada masa lalu hingga
data tahun terakhir


2. Model Regresi
Untuk memperhalus perkiran, teknik yang berdasarkan data masa lampau dengan
penggambaran kurva polinomial akan dapat digambarkan sebagai suatu garis
regresi. Cara ini disebut metode selisih kuadrat terkecil (least square). Cara ini
dianggap penghalusan cara ekstrapolasi garis lurus diatas, karena garis regresi
memberikan penyimpangan minimum atas data penduduk masa lampau (dengan
menganggap ciri perkembangan penduduk masa lampau berlaku untuk masa
depan).
Teknik ini menggunakan persamaan matematis:
( ) X b a P
x t
+ =
+

P
t + x

X
a, b
= jumlah penduduk tahun (t + x)
= tambahan tahun terhitung dari tahun dasar
= tetapan yang diperoleh dari rumus berikut




Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 41

3. Model Bunga Berganda
Teknik ini menganggap perkembangan jumlah penduduk akan berganda dengan
sendirinya. Disini dianggap tambahan jumlah penduduk akan membawa
konsekuensi bertambahnya tambahan jumlah penduduk. Hal ini analog dengan
bunga berbunga. Oleh karenanya persamaan yang digunakan merupakan
persamaan bunga berganda, yaitu:
( )
u
u
r P P
t t
+ =
+
1

r = rata-rata persentase tambahan jumlah penduduk daerah yang diselidiki berdasarkan data
masa lampau
4. Kurva Gompertz
Kurva Gompertz mengikuti pola hiperbolik yang memiliki batas (asimtot) pada
kedua belah sisinya (atas dan bawah). Dasar pertimbangan model ini adalah
prinsip Gompertz, yaitu bahwa pertumbuhan penduduk di daerah yang sudah
maju adalah rendah yang diikuti oleh pertumbuhan yang cepat pada periode
berikutnya, namun lebih lanjut pada periode berikutnya lagi pertumbuhan
tersebut menurun apabila jumlah dan kepadatan penduduk mendekati maksimal.
Kurva Gompertz ini mempunyai persamaan umum:
( ) a b k P atau a k P
x
x t
b
x t
x
log log log + = - =
+ +

Model ini sering digunakan karena didalamnya mempertimbangkan faktor
perkembangan penduduk pada setiap periode waktu.
Adapun persamaan umum untuk mendapatkan tetapan Gompertz adalah:
¿ ¿
¿ ¿
÷
÷
=
2 1
3 2
log log
log log
Y Y
Y Y
b
n

( )
( )
2
2 1
1
1
log log log
÷
÷
÷ =
¿ ¿
n
b
b
Y Y a
|
|
.
|

\
|
÷
÷
÷ =
¿
1
log
1
1
log
1
log a
b
b
Y
n
k
n


atau
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 42

( ) ( )
|
|
|
.
|

\
|
÷ +
÷
=
¿ ¿ ¿
¿ ¿ ¿
1 3 2
1
2
2 3
log 2 log log
log log log
1
log
Y Y Y
Y Y Y
n
k
di mana:
n adalah sepertiga banyaknya data
5. Permodelan Interaksi antar Bagian Wilayah
Pendekatan analisis wilayah selain faktor kependudukan, adalah analisis terhadap
pola hubungan/interaksi antarwilayah maupun antar bagian wilayah yang satu
dengan lainnya. Anggapan dasar yang digunakan adalah melihat suatu daerah
sebagai suatu massa, sehingga hubungan antar daerah diasumsikan dengan
hubungan antar massa, yang mana massa tersebut memiliki daya tarik, sehingga
terjadi saling pengaruhi antar daerah.
Permodelan yang dapat digunakan dalam melakukan analisis terhadap pola
interaksi atau keterkaitan antardaerah atau antar bagian wilayah dengan wilayah
lainnya, adalah Model Gravitasi. Penerapan model ini ini dalam bidang analisis
perencanaan kota adalah dengan anggapan dasar bahwa faktor aglomerasi
penduduk, pemusatan kegiatan atau potensi sumber daya alam yang dimiliki,
mempunyai daya tarik yang dapat dianalogikan sebagai daya tarik menarik antara
2 (dua) kutub magnet.
Kelemahan penerapan model ini dalam analisis wilayah, terutama terletak pada
variabel yang digunakan sebagai alat ukur, dimana dalam fisika variabel yang
digunakan, yaitu molekul suatu zat mempunyai sifat yang homogen, namun tidak
demikian halnya dengan unsur pembentuk kota, misalnya penduduk. Namun
demikian, hal ini telah dikembangkan, yaitu dengan tidak hanya memasukan
variabel massa saja, tetapi juga gejala sosial sebagai faktor pembobot.
Persamaan umum model Gravitasi ini adalah:
P
P P
k T
j i
ij
-
=

dimana:

T
ij
= pergerakan penduduk sub-wilayah i ke sub-wilayah j
K = tetapan empiris (bobot)
P
i
= pergerakan penduduk sub wilayah I
P
j
= pergerakan penduduk yang berakhir di sub wilayah j
P = jumlah penduduk sub wilayah i
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 43

5.3.2.2. Analisis Penggunaan Lahan
Komponen intensitas penggunaan lahan di dalam suatu ruang perkotaan digunakan untuk
mengidentifikasi tingkat kepadatan atau intensitas suatu kawasan yang merupakan
indicator perlu tidaknya diadakan pengaturan-pengaturan bangunan seperti pengaturan
(Chiara, 1984):
1. Koefisien dasar bangunan (KDB);
2. Koefisien lantai bangunan (KLB);
3. Tinggi bangunan;
4. Open space ratio;
5. Recreation space ratio;
6. Livability space ratio.
Formula untuk menghitung KDB adalah:
KDB = Total luas lantai
Total luas lahan
Formula untuk mengetahui kondisi intensitas penggunaan lahan adalah:
301 , 0
log 903 , 1 KLB
IPL
+
=

IPL : Intensitas Penggunaan Lahan
KLB : Koefisien Lantai Bangunan
Bersama-sama KDB dapat ditentukan tinggi bangunan sebagai berikut:
Tinggi Bangunan = Total Luas Lantai x Tinggi Tiap Lantai
Luas Lantai Dasar

5.3.2.3. Analisis Kegiatan Kota
Analisa kegiatan kota bertujuan untuk mengetahui potensi perkembangan kegiatan kota
dan melihat potensi kondisi suatu kegiatan terhadap kegiatan lainnya sehingga dapat
membantu menghasilkan perkembangan kawasan perencanaan secara optimum.
1. Metode Location Quotient (LQ)
Model yang sering digunakan untuk melakukan analisis kegiatan pada suatu wilayah
antara lain dengan model analisis Location Quotient (LQ). Teknik ini merupakan
cara permulaan untuk mengetahui kemampuan suatu daerah dalam sektor kegiatan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 44

tertentu. Hasil akhir dari teknik ini masih merupakan kesimpulan sementara yang
masih harus dikaji kembali melalui teknik analisis yang lain sehingga dapat
menjawab apakah kesimpulan sementara tersebut terbukti kebenarannya atau
tidak. Namun demikian, dalam tahap awal sudah cukup memberikan gambaran
mengenai kemampuan daerah yang bersangkutan dalam sektor yang diamati.
Pada dasarnya teknik ini menyajikan perbandingan relatif antara kemampuan suatu
sektor di daerah yang diselidiki dengan kemampuan sektor yang sama pada daerah
yang lebih luas. Adapun variabel yang digunakan sebagai alat ukur untuk
menghasilkan koefisien dapat menggunakan satuan jumlah tenaga kerja pada
sektor tersebut, hasil produksi atau satuan lain yang dapat dijadikan kriteria.
Perbandingan relatif Model Location Quotient (LQ) ini dapat dinyatakan melalui
persamaan matematis berikut:
N
N
S
S
N
S
N
S
LQ
i
i
i
i
i
= =
dimana:
S
i
= jumlah buruh industri i di bagian wilayah yang diamati
S = jumlah total buruh industri di seluruh bagian wilayah
N
i
= jumlah buruh industri i di seluruh wilayah
N = jumlah total buruh di seluruh wilayah
Struktur perumusan LQ memberikan beberapa nilai sebagai berikut:
+ LQ > 1 : menyatakan sub wilayah yang diamati memiliki potensi
surplus
+ LQ < 1 : menunjukan sub wilayah yang bersangkutan memiliki
kecenderungan impor dari wilayah lain
+ LQ = 1 : menunjukan sub wilayah yang bersangkutan telah
mencukupi dalam kegiatan tertentu
2. Metoda Analisa Pergeseran (shift and share)
Berguna untuk melihat pertumbuhan/perkembangan dari suatu kegiatan tertentu
pada suatu daerah tertentu. Dapat pula ditujukan untuk melihat tingkat
perkembangan dan kedudukan suatu daerah dalam sistem wilayah yang lebih luas.

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 45

Metoda analisa pergeseran ini terdiri dari:
1) Total Shift
Rumusan dari Total Shift ini adalah sebagai berikut:
(ST) = Ejt - (Et/Eo)Ejo
dimana bila:
Nilai ST (+) = Upward Total Shift, aktivitas ekonomi tersebut berkembang
pesat.
Nilai ST (-) = Downward Total Shift, aktivitas ekonomi berkembang dengan
lambat.

2) Diferensial Shift
Rumusan dari Diferensial Shift ini adalah sebagai berikut:
SD = Eijt - (Eit/Eio) Eijo
dimana bila:
Nilai SD (+) = Aktivitas ekonomi daerah tersebut berkembang pesat, dan
memiliki akses yang baik terhadap lokasi pasar dan bahan baku.
Nilai SD (-) = Aktivitas ekonomi daerah tersebut berkembang dengan lambat

3) Proporsionality Shift
Rumusan Proporsionality Shift ini adalah sebagai berikut:
SP = ST - SD
dimana bila:
Nilai SP (+) berarti daerah tersebut berspesialisasi dalam aktivitas ekonomi
yang cepat pertumbuhannya. Nilai SP (-) berarti sebaliknya.

4) Model Analisa Share
Rumusan dari model analisa share ini adalah sebagai berikut:
N = Ejo (Et/Eo) - Ejo
dimana:
Ejo = Besaran aktivitas ekonomi di daerah j pada tahun dasar.
Et = Besaran aktivitas ekonomi Nasional atau sistem daerah yang ebih luas
pada tahun akhir
Eo = Besaran aktivitas ekonomi Nasional atau sistem daerah yang lebih luas
pada tahun dasar

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 46

3. Skoring
Digunakan untuk menilai tingkat pelayanan kota, sehingga dapat ditentukan
potensinya yang dapat menentukan fungsi kota yang bersangkutan. Rumus
digunakan adalah:
Bi = Pi x 1000
P
Dimana,
Bi = Bobot dari kegiatan
Pi = Jumlah aktivitas I di kota
P = Jumlah penduduk di kota
Jumlah aktivitas yang dimaksud biasanya berupa produksi maupun pelayanan sosial,
seperti hasil pertanian, fasilitas pendidikan, jumlah fasilitas kesehatan dan
sebagainya. Makin tinggi nilai Bi dapat diinterpretasikan bahwa kota atau kawasan
tersebut mempunyai tingkat pelayanan yang optimal/potensial.
4. Model Tingkat Kemampuan Pelayanan Fasilitas
Tingkat pelayanan fasilitas umum diukur dengan cara mengkaji kemampuan suatu
jenis fasilitas dalam melayani kebutuhan penduduknya. Dalam hal ini, fasilitas
umum yang memiliki tingkat pelayanan 100% mengandung arti bahwa fasilitas
tersebut memiliki kemampuan pelayanan yang sama dengan kebutuhan
penduduknya. Untuk mengetahui kelengkapan fasilitas umum suatu bagian
wilayah, dihitung tingkat pelayanannya dengan menggunakan rumus:
% 100 X
C
b d
TP
is
j ij
=

dimana:
TP = tingkat pelayanan fasilitas i di kawasan j
dij = jumlah fasilitas i di kawasan j
bij = jumlah penduduk di kawasan j
Cis = jumlah fasilitas i persatuan penduduk menurut standar penentuan
fasilitas untuk kawasan
Dengan perhitungan ini, dapat diketahui tingkat pelayanan setiap fasilitas, kecuali
untuk fasilitas peribadatan, dimana perbedaan terletak pada jumlah penduduk
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 47

pada kawasan yang diamati, yaitu bj diganti oleh jumlah penduduk menurut
agama.

5.3.2.4. Analisis Transportasi
Metoda yang dipakai dalam melakukan analisis transportasi adalah:
1. Metoda Aksesibilitas
Faktor kemudahan pencapaian baik dalam hubungan keterkaitan antar bagian
wilayah dalam kawasan perencanaan, ataupun antar komponen dalam bagian
wilayah, sangat menentukan intensitas interaksi antar bagian wilayah maupun
antar komponen pembentuk wilayah, serta struktur tata ruang yang direncanakan.
Metoda ini merupakan upaya untuk mengukur tingkat kemudahan pencapaian antar
kegiatan, atau untuk mengetahui seberapa mudah suatu tempat dapat dicapai dari
lokasi lainnya. Pada dasarnya model ini merupakan fungsi dari kualitas prasarana
penghubung unit kegiatan yang satu dengan lainnya per satuan jarak yang harus
ditempuh. Model persamaannya adalah sebagai berikut:
d
FKT
A =
dimana:
A = Nilai aksesibilitas
F = Fungsi jalan (arteri, kolektor, lokal)
T = Kondisi jalan (baik, sedang, buruk)
D = Jarak antara kedua unit kegiatan

Metoda lainnya, yaitu Indeks Aksesibilitas, yang memiliki persamaan:
( )
b
d
E
A
ij
j
ij
=

dimana:
A
ij
= Indeks aksesibilitas
E
j
= Ukuran aktifitas
d
ij
= Jarak tempuh (jarak geografi atau waktu tempuh)
b = Parameter
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 48

Langkah selanjutnya adalah menghitung potensi pengembangan, yaitu dengan cara
mengkalikan indeks aksesibilitas dengan luas kawasan yang mungkin untuk
dikembangkan, yaitu:
D
i
= A
i
* H
i
dimana:
D
i
= potensi pengembanga di kawasan i
A
i
= indeks aksesibilitas dari kawasan i
H
i
= luas kawasan yang mungkin dikembangkan di kawasan i

Potensi masing-masing kawasan dihitung dan dijumlahkan untuk memperoleh
potensi seluruh kawasan. Dari potensi keseluruhan ini, maka potensi relatif
masing-masing kawasan terhadap keseluruhan kawasan (wilayah) dapat diketahui,
atau secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:
i
i
r
iD
D
D =
dimana:
D
r
= potensi pengembangan (relatif)
D
i
= potensi pengembangan di kawasan i
iD
i
= jumlah seluruh potensi pengembangan
Selanjutnya untuk menentukan jumlah penduduk yang akan dialokasikan pada
masing-masing kawasan yang potensial adalah dengan cara mengkalikan hasil
proyeksi total penduduk untuk masa mendatang dengan Di, yang secara matematis
dapat dirumuskan:
i
i
total i
iD
D
x P P =
dimana:
Pi = jumlah penduduk yang dapat dialokasikan di kawasan I
Ptotal = jumlah penduduk seluruhnya
Di/iDi = potensi relatif kawasan i

Metoda lain yang cukup mudah penggunaannya yang hingga kini masih
dipergunakan adalah Metoda Perkiraan Kebutuhan. Pada model ini,digunakan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 49

standar-standar yang dapat digunakan untuk memperkirakan kebutuhan sarana dan
prasarana yang memiliki implikasi terhadap kebutuhan ruang. Beberapa standar
yang digunakan antara lain mengacu pada pedoman standar lingkungan
permukiman kota, pedoman standar pembangunan perumahan sederhana,
peraturan geometris jalan raya dan jembatan dan lain-lain.
2. Model Analisis Kapasitas (Capacity/C)
Kapasitas jalan adalah arus lalu-lintas maksimum yang dapat dipertahankan (tetap)
pada suatu bagian jalan dalam kondisi tertentu (misalnya: rencana geometrik,
lingkungan, komposisi lalu lintas dan sebagainya). Satuan yang digunakan biasanya
dinyatakan dalam kend/jam atau smp/jam. Kapasitas harian sebaiknya tidak
digunakan sebagai ukuran, karena akan bervariasi sesuai dengan faktor k.
Rumus perhitungannya, sebagai berikut:

C = C
O
x FC
W
x FC
SP
x FC
SF
(smp/jam)
Dimana,
C = kapasitas (smp/jam)
C
O
= kapasitas dasar (smp/jam)
FGC
W
= faktor penyesuaian akibat lebar jalur lalu lintas
FC
SP
= faktor penyesuaian akibat pemisahan arah
FC
SF
= faktor penyesuaian akibat hambatan samping

3. Model Analisis Derajat Kejenuhan (Degree of Saturation/DS)
Derajat kejenuhan adalah perbandingan dari arus lalu lintas terhadap kapasitas
jalan.
DS = Q / C
Dimana,
Q = arus lalu lintas
C = kapasitas

Derajat kejenuhan (DS) didefinisikan sebagai rasio arus terhadap kapasitas,
digunakan faktor utama dalam penentuan tingkat kinerja segmen jalan. Nilai DS
menunjukan apakah segmen jalan tersebut mempunyai masalah kapasitas atau
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 50

tidak. Karena kapasitas didefinisikan sebagai arus maksimum melalui suatu titik di
jalan yang dipertahankan per satuan jam pada kondisi tertentu.
Berdasarkan standar IHCM apabila:
a. DS < 0,8 kondisi stabil
b. DS 0,8 – 1,0 kondisi tidak stabil
c. DS > 1,0 kondisi kritis
Apabila dari hasil perhitungan, ITP (Indeks Tingkat Pelayanan) ada beberapa
kriteria/kelas tingkat pelayanan jalan yang dibagi menjadi ITP A hingga F dengan
uraian sebagai berikut:
a. ITP A:kondisi arus lalu lintasnya bebas satu kendaraan dengan kendaraan
lainnya, besarnya kecepatan sepenuhnya ditentukan oleh keinginan
pengemudi dan sesuai dengan batas kecepatan yang telah ditentukan;
b. ITP B:kondisi arus lalu lintas stabil, kecepatan operasi mulai dibatasi oleh
kendaraan lainnya dan mulai dirasakan hambatan oleh kendaraan di
sekitarnya;
c. ITP C:kondisi arus lalu lintas masih dalam stabil, kecepatan operasi mulai
dibatasi dan hambatan kendaraan lain semakin besar;
d. ITP D:kondisi arus lalu lintas mendekati tidak stabil, kecepatan operasi
menuurn relatif cepat akibat hambatan yang timbul dan kebebasan
bergerak relatif kecil;
e. ITP E:pada tingkat pelayanan ini arus lalu lintas berada dalam kendaraan
dipaksakan, kecepatan relatif rendah, arus lalu lintas sering terhenti
sehingga menimbulkan antrian kendaraan yang panjang;
f. ITP F:arus lalu lintas berada dalam keadaan dipaksakan, kecepatan relatif
rendah, arus lalu lintas sering terhenti sehingga menimbulkan antrian
kendaraan yang panjang.
5.3.2.5. Analisis Kesesuaian Lahan
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan analisis kesesuaian lahan adalah:
1. Kesesuaian Lahan
Bertujuanuntuk memahami kondisi dan daya dukung lingkungan dan memahami
tingkat pemanfaatan sumber daya. Pemahaman ini diperlukan untuk merumuskan
dan menempatkan zonasi ruang di kawasan perencanaan seperti kawasan lindung
dan kawasan budidaya, hutan lindung, dan hutan produksi. Sumber daya alam
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 51

utama yang akan dibahas dalam kajian ini adalah: sumber daya tanah, sumber daya
air, sumber daya udara, sumber daya hutan, dan sumber daya lainnya.
Analisis kesesuaian lahan bertujuan mengidentifikasi potensi pengembangan
berdasarkan kesesuaian tanah dan merekomendasikan peruntukannya bagi kawasan
budidaya dan kawasan lindung. Secara diagramatis alur analisis salah satu aspek
sumber daya tanah, yaitu analisis kesesuaian lahan seperti terlihat pada gambar
berikut ini.
Gambar 5.4 Diagram Alur Analisis Kesesuaian Lahan


































Sumber: Hasil Olahan Konsultan, 2012


Peta
Topografi

Peta
Tanah
Peta
Hidrologi
Pengumpulan data
(Studi Pustaka dan Survai
Lapangan)

Syarat
Tumbuh
Overlay

Unit
Evaluasi Lahan
Data Tanah, iklim,
dan hidrologi

Kawasan
Lindung

Kawasan Budidaya
Elaborasi:
Karakteristik
Lahan dan
Kualitas
Lahan
Evaluasi
Lahan
(Komparati
Peta
Kesesuaian
Sesuai Sesuai bersyarat Tidak sesuai
Elaborasi
kriteria
Kriteria
- Kawasan resapan air
- Sempadan pantai, sungai,
sekitar danau dan waduk,
sekitar mata air, dan kawasan
terbuka hijau kota
- Cagar alam/pelestarian alam,
dan suaka margasatwa;
- Taman hutan raya, dan taman
wisata alam lainnya;
- Kawasan cagar budaya;
- -Kawasan rawan bencana

- Permukiman;
- Perdagangan
- Industri
- Fasilitas Sosial
- Perkantoran
pemerintah dan niaga;
- Pertanian
- Perkebunan

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 52

Analisis evaluasi lahan dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat
kesesuaian, tingkat kemampuan, dan tingkat ketersediaan lahan untuk kawasan
lindung dan budidaya. Teknik analisis yang dipergunakan di dalam evaluasi lahan ini
adalah teknik skoring dan teknik overlay peta yang didasarkan kepada kriteria
penetapan kawasan lindung dan budidaya. Nilai akhir dari kesesuaian lahan
diperoleh dengan operasi matematis skoring dan overlay peta tersebut.
Kriteria penentuan kawasan budidaya dan non budidaya tersebut dilakukan
berdasarkan Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 tentang Penetapan Kawasan
Lindung, Penetapan Kriteria dan Pola Pengelolaan Kawasan Budidaya (BAPPENAS,
1995), FAO (1976) tentang Kerangka Kerja Evaluasi Kesesuaian Lahan, PPTA (1993)
Tabel 5.2
Kriteria Fisik Lingkungan Kawasan Budidaya Dan Kawasan Lindung
Kualitas/Karakteristik Lahan Kawasan Budidaya
Kawasan Lindung
(Salah Satu Sifat Atau Lebih)
Iklim (SchmidtdanFerguson,
1951)
A, B, C, D, E, F G, H
Ketinggian (m dpl) < 2000 > 2000
Bentuk wilayah Datar – Berbukit Bergunung
Kelerangan (%) < 40 > 40
Singkapan Batuan (%) < 50 > 50
Bahaya Banjir - > 1 x /th
Bahaya longsor/erosi Stabil Labil
Jenis Tanah (Soil Taxonomy,
1994)
Lainnya Sphagnofibrist, Tropofibrist,
Tropofolist, Halaquepts,
Natrabolls, Natraquoll,
Lithic,Natrustolls, Natraqualfs,
Natustalfs, Hyrdaquents,
Psamments
Sumber: Diolah dari Keppres No. 32 Tahun 1990 tentang penetapan kawasan lindung,
penetapan kriteria dan pola pengelolaan kawasan budidaya (BAPPENAS, 1995), FAO (1976)
tentang Kerangka Kerja Evaluasi Kesesuaian Lahan, PPTA (1993)

Dari Analisis dan Kriteria tersebut di atas, maka dapat dibangun model persyaratan
penggunaan lahan bagi jenis penggunaan lahan yang dipertimbangkan melalui
metoda pohon keputusan. Pohon keputusan ini terdiri dari seperangkat persyaratan
penggunaan lahan dengan masing-masing karakteristik-karakteristik pencirinya,
dimana satu sama lain (karakteristik pendiri) saling berpengaruh terhadap potensi
lahan bagi jenis penggunaan lahan yang dipertimbangkan, sehingga hasil akhir
pemanfaatan lahan dapat tertuang dalam rencana secara lebih akurat dan terukur.
Penilaian kelas kesesuaian lahan agregat (satuan lahan) secara umum ditentukan
berdasarkan faktor pembatas yang paling berat (maximumlimiting factors, FAO,
1976). Evaluasi dilakukan pada satuan lahan sesuai dengan ketersediaan data.
Masing-masing satuan lahan di wilayah studi terdiri dari campuran dua jenis tanah
atau lebih. Batasan antara dua jenis tanah atau lebih ini tidak dapat didelineasi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 53

pada peta yang digunakan, sehingga perlu dilakukan kajian survei pemetaan tanah
lebih lanjut pada tingkat kedetilan yang lebih tinggi. Jenis penggunaan lahan yang
dipertimbangkan berdasarkan pengelompokkan jenis komoditas yang mempunyai
kemiripan (similar land use requirements).
Stratifikasi hasil evaluasi lahan disesuaikan dengan kedalaman data yang tersedia
yaitu pada tingkat subkelas dengan disertai pencantuman faktor pembatas masing-
masing kelas:
a. Sesuai (S), bila lahan sesuai untuk penggunaan tertentu dengan pembatas
ringan dan dapat diusahakan secara berkelangsungan tanpa menimbulkan
kerusakan sumberdaya lahan;
b. Sesuai bersyarat (CS), bila lahan sesuai untuk penggunaan tertentu dengan
pembatas cukup berat, tetapi masih dapat diusahakan secara
berkelangsungan dengan masukan tinggi; dan
c. Tidak sesuai (N), bila lahan tidak sesuai untuk penggunaan tertentu
dengan pembatas berat dan tidak ada teknologi untuk mengatasinya,
sehingga kalau diusahan berpotensi besar mengalami kegagalan.
Kualitas lahan yang menjadi faktor pembatas kesesuaian diantaranya sebagai
berikut:
a. Hidrologi (h);
b. Tipe Iklim (i);
c. Elevasi (k);
d. Media perakaran (r);
e. Terrain (s);
f. Temperatur Udara (t);
g. Ketersediaan air (w); dan
h. Toksisitas (x).
Setiap faktor pembatas tersebut ditentukan oleh karakteristik-karakteristik penciri
masing-masing kualitas lahan dan signifikan menjadi pembatas dalam
pengembangan jenis penggunaan lahan yang dipertimbangkan.
2. Kriteria Kawasan Lindung
Penentuan kawasan lindung dilakukan berdasarkan kriteria sebagai berikut:
a. Kawasan yang berfungsi sebagai Kawasan Hutan Konservasi meliputi
Kawasan Suaka Alam dan Pelestarian Alam, telah ditetapkan lokasinya
sebagai Kawasan Lindung sesuai dengan:
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 54

1.) Keppres Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan
Lindung; dan
2.) PP Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional
b. Kawasanyang berfungsi sebagai hutan lindung, kriterianya ditentukan
sebagai berikut:
1.) Kawasan hutan dengan faktor-faktor kelas lereng, jenis tanah,
dan intensitas hujan setelah masing-masing dikalikan dengan
angka-angka penimbang mempunyai jumlah nilai (skor) 175 atau
lebih. Aturan penilaian kelas lereng, jenis tanah, dan intensitas
hujan tersebut ditentukan berdasarkan klasifikasi yang dapat
dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5.3
Aturan Kelas Lereng Lapangan
Kelas
Lereng
Kisaran Persen
Lereng
Keterangan Nilai
1 0 – 8 Datar 20
2 8 – 15 Landai 40
3 15 – 25 Agak Curam 60
4 25 – 40 Curam 80
5 > 40 Sangat Curam 100
Sumber: SK Menteri Pertanian Nomor 837/KPTS/Um/11/1980

Tabel 5.4
Aturan Kelas Jenis Tanah
Kelas
Tanah
Kelompok Jenis
Kepekaan Terhadap
Erosi
Nilai
1
Alluvial, Tanah Glei, Panasol, Hidromorf
Kelabu, Lateria Air Tanah
Tidak peka 15
2 Latosol Agak peka 30
3 Brown Forest Soil, Non Calcic Kurang peka 45
4 Andosol, Lateritic, Gromosol, Podsolik Peka 60
5 Regosol, Litosol, Organosol, Renzina Sangat peka 75
Sumber: SK Menteri Pertanian Nomor 837/KPTS/Um/11/1980


Tabel 5.5
Aturan Kelas Intensitas Hujan
Kelas Intensitas
Hujan
Kisaran Intensitas Hujan
(mm/hari hujan)
Keterangan Nilai
1 0 – 1,36 Sangat rendah 10
2 1,36 – 2,07 Rendah 20
3 2,07 – 2,77 Sedang 30
4 2,77 – 3,48 Tinggi 40
5 > 3,48 Sangat Tinggi 50
Sumber: SK Menteri Pertanian Nomor 837/KPTS/Um/11/1980


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 55

2.) Masing-masingpeta tematik (kelas lereng, jenis tanah, intensitas
hujan) ditentukan nilai skor per kawasan
3.) Dari masing-masing peta tematik dilakukan proses superimpose
untuk menentukan jumlah nilai skornya. Apabila jumlah nilai
skornya ( 175 maka kawasan tersebut masuk ke dalam kriteria
kawasan hutan lindung (belum melihat pemanfaatan
eksistingnya).
4.) Kawasan hutan yang mempunyai lereng lapangan > 40%, secara
mutlak dimasukkan ke dalam kritera kawasan yang berfungsi
sebagai hutan lindung.
5.) Kawasan yang mempunyai ketinggian di atas permukaan laut
2000 m atau lebih secara mutlak dimasukkan ke dalam kriteria
kawasan yang berfungsi sebagai hutan lindung.
6.) Kawasan lain diluar hutan konservasi dan hutan lindung yang
mampu berfungsi sebagai kawasan lindung, baik berupa kawasan
hutan maupun non hutan, ditentukan berdasarkan kawasan yang
mempunyai kriteria jumlah nilai skor (kelas lereng, jenis tanah,
intensitas tanah) lebih besar dari 125. Tata cara menentukan
jumlah nilai (skor) sama dengan penentuan kriteria kawasan yang
berfungsi sebagai hutan lindung.
Kawasan ini dapat terdiri dari kawasan perkebunan, kawasan hutan produksi
terbatas, hutan produksi, kawasan resapan air, kawasan rawan bencana, dan
sebagainya.
3. Analisis Ambang Batas
Adalah pendekatan untuk menentukan kebijaksanaan rencana tata ruang yang
didasarkan ambang batas daya dukung lingkungan. Pendekatan ini bertujuan untuk
menghasilkan kebijaksanaan pembangunan yang berwawasan lingkungan.
Pendekatan ambang batas terkait dengan Kesesuaian Ekologi dan Sumber Daya
Alam yang akan diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Daerah Banjir; Perencanaan dan pengolahan daerah-daerah yang rendah
pemanfaatan saluran-saluran alam secara optimal diharapkan mampu
mencegah kemungkinan bahaya banjir.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 56

b. Unit Visual dan Kapasitas Visual; Daerah yang berpotensi memiliki arah
view yang bagus Pemanfaatan daerah-daerah yang berpotensi ini
diperuntukkan untuk pariwisata, permukiman menengah ke atas.
c. Area dengan Visitas Tinggi; Kawasan yang memiliki visibilitas tinggi adalah
kawasan yang memungkinkan untuk terlihat dari berbagai sudut (sebagai
landmark kawasan) dapat difungsikan untuk zona magnet pusat kota.
d. Topografi; Dalam suatu perencanaan perlu diperhatikan bagaimana kondisi
topografi eksisting kawasan tersebut, juga guna lahan dan karakter
wilayahnya.
e. Potensi Angin; Potensi angin dalam perencanaan meliputi arah dan
kekuatan angin untuk mendapatkan udara yang sejuk dan mengurangi
kelembaban.
f. Binatang/Habitat; Mengidentifikasikan adanya habitat liar yang
membahayakan pengembangan area permukiman.
Selain hal-hal tersebut di atas juga perlu diperhatikan kesesuaian/kelayakan
kawasan itu sendiri. Untuk itu yang perlu dipertimbangkan adalah:
a. Keserasaian Penggunaan Energi. Upaya identifikasi kesesuaian fungsi
kawasan/wilayah dengan potensi alam yang dapat menghasilkan energi
yang baik berupa angin, aliran air sungai.
b. Kesesuaian untuk Preservasi. Identifikasi yang disesuaikan dengan konsep
dasar perencanaan kawasan dan kondisi kawasan yang memiliki potensi
untuk di preservasi baik yang buatan maupun alam.
c. Kesesuaian untuk Rekreasi. Pemanfaatan lahan kawasan yang sesuai
untuk dikembangkan sebagai area rekreasi yang mendukung pelayanan
fasilitas umum untuk penghuni sekitar maupun sebagai daya tarik wilayah
seperti danau/telaga, daerah sepanjang sungai, hutan, taman kota dan
bukit.
d. Kesesuaian untuk Hunian. Perencanaan kawasan sebagai daerah hunian,
dengan mempertimbangkan beberapa aspek perencanaan antara lain dari
segi aksesibilitas, kondisi topografi, kestrategisan lokasi, kondisi kontur
tanah, kebisingan dan potensi alam dan buatan.


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 57

4. Model Klasifikasi Lahan
Model klasifikasi lahan ini pada dasarnya mengelompokkan lahan berdasarkan
kriteria tertentu. Adapun kriteria yang digunakan yaitu kriteria yang dikeluarkan
oleh USDA (The United Stated of Agricultural) dimana mengelompokkan
kemampuan lahan dalam tingkat kelas lahan menurut kemiringan lereng, yang
hasilnya adalah kemampuan lahan khusus untuk pertanian. Penilaian kemiringan
lereng dilakukan dengan pengelompokkan dari besar sudut lereng, berdasarkan
rentang-rentang yang telah ditentukan. Pengelompokkan lahan ini menghasilkan 5
kelas lahan berdasarkan resiko kerusakan dan besarnya faktor penghambat
bertambah dengan semakin tingginya kelas.
5. Model Overlay (tumpangtindih Peta)
Metodologi ini dipergunakan untuk menganalisis kesesuaian lahan berdasarkan peta
kemiringan tanah, peta ketinggian, peta jenis tanah, peta hidrogeologi, peta curah
hujan dan peta kedalaman efektif tanah. Keseluruhan peta yang memuat informasi
goegrafis tersebut kemudian ditumpang tindihkan sehingga diperoleh informasi
yang lengkap mengenai kondisi lahan di kota/kabupaten setempat. Berdasarkan
kriteria yang ada, informasi yang sudah lengkap tersebut menjadi dasar dalam
pengklasifikasian lahan sesuai dengan peruntukannya.
Gambar 5.5 Skema Proses Overlay (Tumpangtindih Peta)
KETINGGIAN JENIS TANAH HIDROGEOLOGI CURAH HUJAN
KEDALAMAN
EFEKTIF TANAH
PROSES
OVERLAY
KESESUAIAN LAHAN
KRITERIA

Sumber: Hasil Olahan Konsultan, 2012








Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 58

5.3.2.6. Analisis Kekuatan dan Kelemahan Kawasan (SWOT)

Analisis SWOT (Strengthness, Weakness, Opportunities, Threatness), yaitu suatu analisis
yang bertujuan mengetahui potensi dan kendala yang dimiliki kawasan, sehubungan
dengan kegiatan pengembangan kawasan yang akan dilakukan di masa datang.
SWOT merupakan sebuah metode yang didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan
kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat
meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). Langkah pertama yang
dilakukan dalam menggunakan analisis SWOT adalah menelaah lingkup studi yang akan
dianalisis. Dengan kata lain harus diketahui tujuan dari studi tersebut, apakah bertujuan
untuk mendapatkan profit, untuk meningkatkan produksi dan penjualan atau suatu
organisasi didirikan dengan tujuan sebagai pelayanan publik. Dari pengetahuan tujuan
dapat ditentukan dua faktor yang harus dipertimbangkan dalam analisis SWOT. Dua faktor
tersebut adalah:
1. Faktor internal:
Faktor-faktor yang menentukan kinerja suatu organisasi/lembaga/perusahaan yang
sepenuhnya berada dalam kendali perusahaan. Faktor internal ini dapat
mengidentifikasikan kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses).
2. Faktor eksternal:
Faktor-faktor yang diluar kendali perusahaan tapi sangat mempengaruhi kinerja
suatu perusahaan. Faktor eksternal dapat mengidentifiaksi peluang (opportunities)
dan ancaman (threats).
Dalam penyusunan perencanaan strategis dengan menggunakan analisis SWOT dilakukan
beberapa langkah:
1. Langkah I
Faktor internal:
a. Identifikasi faktor-faktor yang memberi pengaruh positif disebut sebagai
kekuatan.
Kekuatan (Strengthness) yang dimiliki kawasan, yang dapat memacu dan
mendukung perkembangan kawasan, misalnya kebijaksanaan
pengembangan yang dimiliki, aspek lokasi yang strategis dan lain-lain;
b. Identifikasi faktor-faktor yang memberi pengaruh negatif disebut sebagai
kelemahan.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 59

Kelemahan (Weakness) yang ada, yang dapat menghambat pengembangan
kawasan, baik hambatan fisik kawasan maupun non fisik, misalnya
kemampuan sumberdaya manusia, instansi dan pendanaan pembangunan.
Dengan mengetahui kelemahan ini dapat ditentukan upaya
penanggulangan untuk mengatasi kelemahan tersebut;
Faktor eksternal:
a. Identifiaksi faktor-faktor yang menjadi peluang, yakni faktor yang
memberi pengaruh positif.
b. Peluang (Opportunities) yang dimiliki untuk melakukan pengembangan
kawasan, misalnya ruang terbuka yang masih luas untuk pengembangan
kawasan, minat swasta yang besar untuk membangun karena lokasi dinilai
strategis;
c. Identifikasi faktor-faktor yang menjadi ancaman, yakni faktor yang
memberi pengaruh negatif.
d. Ancaman (Threatness) yang dihadapi, misalnya kompetisi tidak sehat
dalam penanaman investasi, pembangunan suatu kegiatan baru yang dapat
mematikan kelangsungan kegiatan strategis yang telah ada.
2. Langkah II
Setelah semua informasi terkumpul yang berpengaruh terhadap kelangsungan studi,
tahap selanjutnya adalah memanfaatkan semua informasi tersebut ke dalam model
matrik SWOT. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan
ancaman eksternal yang dihadapi dapat disesuaikan dengan kekuatan dan
kelemahan yang dimilikinya.
Dengan demikian diharapkan dalam menganalisis kawasan perencanaan akan
diketahui dengan tepat masalah dan akar permasalahan yang ada, potensi dan
kekuatan yang dapat diberdayakan untuk pembangunan. Di samping itu dapat pula
ditentukan tujuan dan sasaran yang akan dicapai serta membuat metode
pemecahan masalah dan pencapaian tujuan dan sasaran.
Prosedur SWOT adalah sebagai berikut ini, yaitu:
a. Tentukan variabel-variabel yang mempengaruhi, misalnya aspek
kebijaksanaan dan arahan pada penyelanggaraan prasarana dan sarana
b. Pilah-pilah varibel tersebut ke dalam empat kelompok, yaitu kelompok
Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman. Pada proses ini sangat
dibutuhkan kejelian pengguna dalam mengklasifikasikan variabel tersebut
untuk disesuaikan dengan goals karena sebuah variabel dapat menjadi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 60

ancaman sekaligus sebagai peluang, tergantung dari cara pandang dan
tujuannya.
c. Setiap variabel yang dimasukkan sebagai Kekuatan diberikan label S1, S2,
S3, … dan seterusnya. Demikian juga dengan Kelemahan (label W),
Peluang (label O) dan Ancaman (label T)
d. Kemudian pengguna mencoba mengkombinasikan setiap label, misalnya S1
dengan T1 (kekuatan 1 dengan ancaman 1) dan kemudian secara kualitatif
dianalisis apa dampak dan pengaruhnya terhadap pencapaian. Demikian
juga untuk kombinasi variabel lainnya. Disinilah dibutuhkan kejelian
pengguna untuk mengkombinasikan setiap variabel, mengembangkannya
sesuai tujuan dan merumuskan hasilnya.
Kumpulan kesimpulan tersebut, kemudian dipilah sesuai prioritas dan besarnya
pengaruh, sehingga diperoleh rumusan kesimpulan sebagai masukan pegambilan
keputusan dan kebijakan seperti dalam berikut ini.

Tabel 5.6 Matrik SWOT
Potensi Permasalahan
S W
Peluang Pengembangan
O OS OW
Tantangan Pengembangan
T TS TW
Sumber: Hasil Olahan Konsultan, 2012


5.2.4.7. Analisis Biaya Dampak (ABIDA)
Selama ini rencana disusun tanpa memperhatikan kemampuan ekonomi suatu wilayah itu
sendiri sehingga pada tahap pelaksanaan akan membebani wilayah itu sendiri.
Pembangunan menjadi tidak nyaman untuk ditempati atau terlalu mahal dalam
perawatannya. Hal yang diperhatikan dalam pembangunan, termasuk bidang perumahan
dan permukiman adalah aspek fiskal akibat eksternalitas. Dengan ABIDA dapat diketahui
kelayakan fiskal dari perencanaan yang dilakukan terhadap suatu wilayah.



Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 61

5.3.3. Metode Penyiapan Peta
Untuk keperluan perencanaan akan membutuhkan peta dasar Kabupaten Tolikara berbasis
Citra Satelit. Penyediaan Citra Satelit tersebut diperoleh melalui wahana yang antara lain
Satelit IKONOS yang mengorbit pada ketinggian 681 km di atas permukaan bumi dan
mempunyai dua buah sensor yang dapat mencakup areal seluas 11 km dalam sekali
pemotretan. Dengan kecepatan rotasi mengelilingi bumi sebanyak 14 kali dalam waktu 24
jam, pemotretan akan dapat dilakukan dengan cepat dan akurat.
Gambar 5.6 Spesifikasi dari satelit Ikonos

Band Wavelength Region (µm)
Resolution
(m)
1 0.45-0.52 (blue) 4
2 0.52-0.60 (green) 4
3 0.63-0.69 (red) 4
4 0.76-0.90 (near-IR) 4
PAN 0.45-0.90 (PAN) 1

Data dari Ikonos dengan gelombangpanchromatic beresolusi 1 meter sangat berguna untuk
penyusunan rencana tata ruang kawasan.
Tabel 5.7 Produk yang Dihasilkan Oleh Ikonos
Product Type Format Projection Ellipsoid Datum Media
1 metre
panchromatic
GeoTIFF UTM WGS 84 CD-ROM
4 metre
multispectral
NITF 2.0 State Plane GRS 1980/NAD 83
8 mm tape
(Exabyte)
1 metre pan-
sharpened
ERDAS.lan Albers Conical Equal Area DAT
BIL Lambert Conformal Conic
BIP
Sun Raster *
* Not available for GEO product
Tahapan penyediaan peta adalah sebagai berikut ini, yaitu:
1. Penyiapan Data Citra Satelit
Berdasarkan kebutuhan kebutuhan data peta untuk pengerjaan Penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini dibutuhkan
ketelitian peta hingga skala 1:5.000.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 62

2. Teknik Pengolahan Citra Satelit (Image Proccessing)
Pengolahan citra satelit untuk mendapatkan data atau informasi mengenai
penggunaan lahan yang terbaru dan informasi yang lain seperti jaringan jalan, garis
serta lokasi-lokasi terumbu karang atau zonasi potensi yang dihasilkan dari citra
satelit dilaksanakan dalam beberapa tahap kegiatan yang meliputi:
3. Tahap Pra-Pemrosesan Citra (Image Pre-Processing)
Pada tahap pra-pemrosesan citra satelit ini dilakukan beberapa tahap kegiatan
yaitu:
a. Koreksi Radiometri
Koreksi radiometri dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas
visual citra sekaligus untuk memperbaiki nilai-nilai piksel yang tidak sesuai
dengan pantulan atau pancaran spektral obyek yang sebenarnya, sebagai
akibat dari gangguan atmosfer yang berupa hamburan dan serapan yang
menyebabkan perbedaan nilai kecerahan setiap piksel data satelit pada
beberapa saluran. Koreksi radiometri dilakukan dengan cara mengurang-
kan nilai bias suatu saluran terhadap keseluruhan nilai spektral saluran
yang bersangkutan.
b. Koreksi Geometri
Koreksi geometri dilakukan dengan tujuan untuk menghasilkan citra yang
lebih teliti dalam aspek planimetrik. Pada koreksi ini, sistem koordinat
atau proyeksi peta tertentu dijadikan rujukan, sehingga dihasilkan citra
yang mempunyai sistem koordinat dan skala yang seragam. Koreksi
geometri dilakukan dengan cara menyesuaikan posisi citra satelit dengan
posisi sesungguhnya di bumi dengan rujukan peta dasar yang berupa
kenampakan jalan dan sungai (kenampakan-kenampakan fisik alam yang
relatif tidak berubah) sebagai referensi. Kenampakan-kenampakan fisik
alam dan buatan manusia yang mudah dikenali dan relatif tidak berubah
antara lain percabangan-percabangan sungai dan jalan.
c. Klasifikasi
Klasifikasi yang dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang peng-
gunaan lahan adalah klasifikasi multispektral yang mengguna-kan satu
kriteria yaitu nilai spektral (nilai kecerahan) pada beberapa saluran sekali-
gus dengan didukung oleh data lapangan sehingga dapat menghasilkan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 63

peta tematik yang siap pakai. Dengan asumsi bahwa setiap obyek dimuka
bumi ini dapat dibedakan dengan obyek yang lain berdasarkan nilai
spektralnya, sehingga setiap obyek cenderung memberikan pola respon
spektral yang spesifik. Pengenalan pola spektral merupakan salah satu
bentuk pengenalan pola secara otomatik. Konsep peta penggunaan lahan
dapat disiapkan setelah proses klasifikasi ini berdasarkan klasifikasi
penutup lahan/penggunaan lahan yang telah dilakukan.
Pendekatan dalam memproses data citra, khususnya untuk mengekstraksi
kenampakan permukaan bumi adalah melalui head up digitasi dan
klasifikasi yang tidak terbimbing. Pada klasifikasi yang tidak disupervisi
membutuhkan in-put yang minimal dari analis karena citra diproses
dengan operasi numerical dengan mengelompokkan pixel yang mem-
punyai nilai spectral sama yang dipantulkan oleh kenampakan di bumi
melalui multispektral. Analis dengan menggunakan perangkat keras
komputer dan perangkat lunak pengolahan citra memungkinkan untuk
mengidentifikasi klas penutup lahan dengan nilai tengah dan co-variance
matrix.
Apabila data citra sudah di klasifikasi, analis akan meng-ekstrapolasi nilai
klas yang terpilih secara natural kedalam klas penutup lahan yang
diinginkan.
d. Penentuan Kelas Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan berkaitan dengan kegiatan manusia pada bidang lahan
tertentu. Informasi tentang kegiatan manusia pada lahan tidak selalu
dapat ditafsirkan secara langsung dari penutup lahannya. Oleh karena itu
informasi tambahan untuk melengkapi data penutup lahan yang diperoleh
dari kerja lapangan (field check) sangat diperlukan.
Klasifikasi penggunaan lahan yang digunakan mengacu pada klasifikasi
Kehutanan dengan modifikasi yaitu:
1.) Hutan pasang surut;
2.) Hutan lahan basah (termasuk rawa);
3.) Hutan lahan kering di bawah 1.000 m;
4.) Hutan sub pegunungan, di atas 1.000 – 2.000 m;
5.) Hutan pegunungan, di atas 2.000 m;
6.) Agroforestry dan hutan tanaman;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 64

7.) Lapangan bekas tebang habis;
8.) Semak belukar;
9.) Alang-alang, kering;
10.) Alang-alang, basah;
11.) Perkebunan;
12.) Pertanian;
13.) Lahan gundul;
14.) Air; dan
15.) Permukiman, kota.
4. Tahap Pemrosesan Citra (Image Processing)
Pemrosesan citra yang dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang penggunaan
lahan khususnya lahan hutan dan lahan non hutan adalah mengikuti kaidah standar
pengolahan citra satelit. yang menggunakan satu kriterium yaitu nilai spektral (nilai
kecerahan) dengan didukung oleh data lapangan sehingga dapat menghasilkan peta
thematik yang siap pakai.
Dengan asumsi bahwa setiap obyek di muka bumi ini dapat dibedakan dengan obyek
yang lain berdasarkan nilai spektral-nya, sehingga setiap obyek cenderung
memberikan pola respon spektral yang spesifik. Pengenalan pola spektral
merupakan salah-satu bentuk pengenalan pola secara otomatik. Konsep peta
penggunaan lahan dapat disiapkan setelah proses klasifikasi ini berdasarkan
klasifikasi penutup lahan/penggunaan lahan yang telah dilakukan.
5. Tahap Cek Lapangan (Field Check)
Cek lapangan dilakukan dengan tujuan untuk memeriksa obyek-obyek yang
meragukan (dari citra satelit) dan untuk membetulkan hasil interpretasi citra
satelit serta untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi di lapangan. Cek
lapangan ini dilakukan secara global yang mencakup sampel-sampel yang diambil
untuk semua wilayah (pilot project) yang terliput pada citra satelit.
6. Tahap Reklasifikasi
Setelah dilakukan cek lapangan terhadap obyek-obyek sampel (baik untuk obyek
yang meragukan dilihat dari citra satelit maupun untuk obyek-obyek yang telah
mengalami perubahan penggunaan lahan) kemudian dilakukan pemetaan
penggunaan lahan yang baru. Peta penggunaan lahan yang dihasilkan
mencerminkan penggunaan lahan eksisting (yang ada sekarang). Setelah selesai
dilakukan interpretasi penggunaan lahan citra digital Landsat 7 ETM+, kemudian
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 65

dilakukan tahap re-interpretasi, maka tahap selanjutnya adalah menyiapkan peta
penggunaan lahan.
7. Metoda Pengolahan Peta
Sejalan dengan meningkatnya kemampuan teknologi pengolahan data peta, saat ini
GPS (Global Positioning System) banyak digunakan dalam berbagai aplikasi.
Keunggulan sistem ini dapat dipergunakan hampir dalam segala cuaca, dapat
memberikan data posisi tiga dimensi yang teliti. Untuk memenuhi kebutuhan
perencanaan dalam hal ini kegiatan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini, beberapa metode pengolahan data peta berbasis
GPS sebagai berikut:
a. Posisi dan Sistem Koordinat
Posisi suatu titik dapat dinyatakan secara kuantitatifmaupun kualitatif.
Secara kuantitatif posisi suatu titik dinyatakan dengan koordinat, baik
dalam ruang satu, dua, tiga, maupun empat dimensi (1D, 2D, 3D, maupun
4D). Perlu dicatat di sini bahwa koordinat tidak hanya memberikan
deskripsi kuantitatif tentang posisi, tapi juga pergerakan (trayektori)
suatu titik seandainya titik yang bersangkutan bergerak. Untuk menjamin
adanya konsistensi dan standarisasi, perlu ada suatu sistem dalam
menyatakan koordinat. Sistem ini disebut sistemreferensi koordinat, atau
secara singkat sistem koordinat, dan realisasinya umum dinamakan
kerangka referensi koordinat.
b. Metode dalam Menentukan Sistem Referensi Koordinat
Sistem referensi koordinat adalah sistem (termasuk teori, konsep,
deskripsi fisis dan geometris, serta standar dan parameter) yang
digunakan dalam pendefinisian koordinat dari suatu atau beberapa titik
dalam ruang. Dalam bidang geodesi dan geomatika, posisi suatu titik
biasanya dinyatakan dengan koordinat (dua-dimensi atau tigadimensi)
yang mengacu pada suatu sistem koordinat tertentu. Sistem koordinat itu
sendiri didefinisikan dengan menspesfikasi tiga parameter berikut, yaitu:
1.) Lokasi titik nol dari sistem koordinat,
2.) Orientasi dari sumbu-sumbu koordinat, dan
3.) Besaran (kartesian, curvilinear) yang digunakan untuk
mendefiniskan posisi suatu titik dalam sistem koordinat tersebut.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 66

Setiap parameter dari sistem koordinat tersebut dapat dispesifikasikan
lebih lanjut, dan tergantung dari spesifikasi parameter yang digunakan
maka dikenal beberapa jenis sistem koordinat.
Dalam penentuan posisi suatu titik di permukaan bumi, titik nol dari
sistem koordinat yang digunakan dapat berlokasi di titik pusat massa bumi
(sistem koordinat geosentrik), maupun di salah satu titik di permukaan
bumi (sistem koordinat toposentrik). Kedua sistem koordinat diilustrasikan
pada berikut.
Gambar 5.8 Posisi Titik Dalam Sistem Koordinat Geosentrik (Kartesian Dan Geodetik)







Sistem koordinat geosentrik banyak digunakan oleh metode-metode
penentuan posisi ekstra-terestris yang menggunakan satelit dan benda-
benda langit lainnya, baik untuk menentukan posisi titik-titik di
permukaan Bumi maupun posisi satelit. Sedangkan sistem koordinat
toposentrik banyak digunakan oleh metode-metode penentuan posisi
terestris. Dilihat dari orientasi sumbunya, ada sistem koordinat yang
sumbu-sumbunya ikut berotasi dengan bumi (terikat bumi) dan ada yang
tidak (terikat langit). Sistem koordinat yang terikat bumi umumnya
digunakan untuk menyatakan posisi titik-titik yang berada di bumi, dan
sistem yang terikat langit umumnya digunakan untuk menyatakan posisi
titik dan obyek di angkasa, seperti satelit dan benda-benda langit.
Dilihat dari besaran koordinat yang digunakan, posisi suatu titik dalam
sistem koordinat ada yang dinyatakan dengan besaran-besaran jarak
seperti sistem koordinat Kartesian, dan ada yang dengan besaran-besaran
sudut dan jarak seperti sistem pada sistem koordinat ellipsoid atau
geodetik.

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 67

Gambar 5.9 Posisi Titik Dalam Sistem Koordinat Toposentrik







c. Model Desktop Cartography
Desktop cartography adalah poses penyajian peta digital menjadi sebuah
peta analog atau hard copy yang representatif dengan dilengkapi simbol-
simbol obyek topografi dan informasi tepi sebagaimana hasil proses
kartografi manual. Pada tahap desktop kartografi dilakukan dengan
bantuan media perangkat lunak yang mempunyai fasilitas desktop
publishing.
d. Metode Konversi Data
Dengan melakukan konversi data dari data format vektor GIS menjadi data
format vektor grafis. Perlu diperhatikan bahwa proses konversi tidak
selalu menjamin file hasil konversi bisa 100% sama dengan aslinya.
Kadang-kadang akan terjadi kesalahan (error) pada waktu proses konversi
tersebut berjalan, sehingga diperlukan suatu pengamatan dan perbaikan
pada file hasil dari konversi tersebut langsung pada monitornya.
e. Metode Penskalaan
Penskalaan dilakukan terhadap data peta hasil konversi, mengingat hasil
konversi belum menghasilkan skala yang tepat.
f. Metode Layer and Style Atributting serta Coloring Table
Layer, Style dan warna merupakan suatu cara dari software desktop
cartography (dalam hal ini software Illustrator) untuk membantu
melaksanakan proses konstruksi peta secara sistematika dan efisien, yang
ditampilkan melalui icon window. Masing-masing window dapat dibuat
item-item tertentu sesuai dengan keinginan dengan merujuk pada
spesifikasinya. Item-item pada window layer, style dan warna tersebut
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 68

dinamakan dengan atribut dan masing-masing mempunyai kegunaan dan
fungsi tertentu.
g. Metode Input Data ke dalam Atribut Layer dan Style
Data di dalam file DXF/Vektor grafik hasil digitasi pada umumnya sudah
diatur dengan menggunakan sistim pelayeranya tersendiri. Layer-layer ini
pada proses konversi oleh software desktop kartografi akan ikut diproses
dan langsung dimasukan dalam sistim layer file konversi dengan urutannya
sesuai dengan sebagaimana pembentukan dan penulisan teksnya didalam
file digitasi.
h. Model Editing Peta
Sesuai dengan namanya, pada prinsipnya proses ini menterjemahkan
detail data peta dalam bentuk simbolisasi sesuai kaidah-kaidah
kartografinya dengan mengacu pada spesifikasi.
i. Editing Teks
Editing terhadap teks menuntut suatu pekerjaan yang harus
memperhatikan kaidah-kaidah kartografi untuk penempatan posisi dan
ukuran teks yang benar.
j. Editing Simbol Titik
Pada umumnya ada dua cara editing terhadap simbol titik yaitu:
1.) Apabila telah dibuat pada saat digitasi, biasanya langsung diganti
simbolnya, yang dapat diambil dari simbol yang telah dibuatkan
terlebih dahulu dimaster legendanya,dan ditempatka pada posisi
yang sama, kemudian simbol lama dihapus.
2.) Apabila belum dibuatkan, maka diambil langsung juga dari
master legenda dan ditempatkan pada posisinya dengan bantuan
manuskrip peta.

k. Editing Simbol Garis
Proses editing garis membutuhkan suatu kejelian dan kecermatan, karena
unsur inilah yang paling banyak jumlah detailnya didalam peta seperti
garis kontur, sungai, batas administrasi dan lain-lain.


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 69

l. Editing Area/Warna
Suatu area didifinisikan sebagai luasan yang dibentuk atau dibatasi dengan
garis-garis yang tertutup (close area). Suatu area seringkali dibuat dengan
bantuan dari berbagai detail garis, seperti suatu area sawah dibentuk dari
garis deleniasi landuse, jalan dan sungai.
Dalam melaksanakan editing area dituntut untuk memahami batasan garis-
garis yang akan membentuk suatu area yang tertutup (close area). Pada
umumnya data awal yang belum dibentuk dalam peta/manuskrip maupun
digitalnya, suatu area akan disimbolkan dengan menggunakan kode teks.
Kendala yang sering terjadi adalah dalam mencari batasan-batasan
areanya. Oleh karena itu, unsur logika pengetahuan geografi untuk suatu
batasan area diperlukan untuk memanipulasi batasan garisnya atau
dibuatkan guide warnanya atau ploting peta hasil digitasi.
m. Model Checkplot
Proses checkplot dilakukan untuk mengatasi kesalahan-kesalahan dan
kekurangan-kekurangan pada peta hasil editing yang mungkin terjadi.
Pada dasarnya, proses koreksi dapat dilaksanakan langsung dimonitor,
namun suatu hal yang harus menjadi pegangan bahwa proses tersebut
mempunyai suatu kelemahan yang susah untuk dihindari, yaitu
keterbatasan luas sudut pandang penglihatan dimonitor. Keterbatasan ini
menjadi kendala apabila ingin melihat peta dalam bentuk satu kesatuan
yang utuh, agar dapat melihat komposisi peta secara keseluruhan.
n. Model Anotasi dan Pencetakan Draft
Anotasi dan pembuatan legenda dilakukan dengan memperhatikan
kaedah-kaedah pemetaan yang mengacu pada Peraturan Pemerintah No.
10 Tahun 2000 tentang Ketelitian Peta dalam Penataan Ruang. Anotasi
tersebut tidak hanya dituangkan secara baik dalam bentuk cetak saja,
namun juga dalam format file digital yangmenjadi keluarannya.





Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 70

Gambar 5.10 Contoh Penulisan Peta Berdasarkan PP.10/2000





Untuk meminimasi kesalahan muatan maupun kaedah pemetaannya, keterlibatan
Tim Teknis Departemen PU pada tahap ini akan sangat dibutuhkan, terutama dalam
melakukan supervisi pekerjaan, memberi masukan-masukan serta persetujuan
terhadap draft yang telah dikeluarkan. Karenanya, hasil pencetakan draft
selanjutnya akan didiskusikan dengan Tim Teknis dengan mengundang pula instansi
sektoral yang terkait dengan proses pemetaan tersebut.
8. Teknik Superimposed (Seive Map Analysis)
Analisis ini digunakan untuk menentukan daerah yang paling baik untuk
pengembangan kegiatan tertentu. Faktor penentunya adalah semua aspek fisik
lingkungan dari daerah perencanaan. Prinsipnya yang digunakan dalam analisis ini
adalah untuk memperoleh lahan yang sesuai dengan kebutuhan perencanaan
(kesesuaian lahan). Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah superimposed
(tumpang tindih) dari berbagai keadaan dari daerah perencanaan. Penilaian
dilakukan atas dasar metode pembobotan dari penilaian skor (weightingad scoring).
Pendekatan proses permodelan pekerjaan ini, salah satu tekniknya menggunakan
perangkat komputer melalui program GIS (Geographic Information System) atau
biasa dikenal dengan nama SIG (Sistem Informasi Geografis ). Substansi materi GIS
yang akan mengawali pekerjaan ini merupakan salah satu bentuk system informasi
yang mengelola data dan menghasilkan informasi yang beraspek spasial,
bergeoferensi dan berbasisi komputer dengan kemampuan memasukan, menyusun,
memanipulasi dan menganalisa data serta menampilkan sebagai suatu informasi.
Setiap feature (titik, garis dan polygon) disimpan dalam angka koordinat X, Y dan
untuk konsep layernya disimpan dalam bentuk coverage. Secara umum dijelaskan
sebagai berikut: Setiap layer pada GIS dalam bentuk coverage terdiri dari feature
geografi yang dihubungkan secara topologi dan berkaitan dengan data atribut,
sebagaimana dapat terlihat pada gambar berikut:



Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 71

Gambar 5.11 Permodelan Dunia Nyata dalam Data Spasial GIS















Sumber: Prawiranegara,M .2006. Aplikasi Analisis Sistem Informasi Geografis pada Penyusunan Tipologi
Kawasan dalam Penataan Ruang Kota(Studi Kasus: Kota Bandung). Tugas Akhir Prodi Perencanaan
Wilayah dan Kota ,SAPPK ITB


5.3.4. Metode Diskusi Kelompok Terarah (FGD)
Diskusi Kelompok Terarah atau Focus Group Disscussion (FGD) menjadi pilihan yang efektif
dalam pendekatan pemangku kepentingan pekerjaan ini karena memiliki kemampuan
untuk menggali topik/tema secara mendalam mengenai alasan, motivasi atau argumentasi
dari seseorang.
FGD secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu diskusi yang dilakukan secara
sistematis dan terarah atas suatu isu atau masalah tertentu. Meski sebuah diskusi, FGD
tidaklah sama dengan pembicaraan beberapa orang di kedai kopi. FGD bukan kumpul-
kumpul beberapa orang untuk membicarakan suatu hal. Meski terlihat sederhana,
menyelenggarakan suatu FGD butuh kemampuan dan keahlian. Ada prosedur dan standar
tertentu yang harus diikuti agar hasilnya benar dan sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai.
Metode ini sangat diperlukan guna menampung dan memperoleh aspirasi serta pendapat
pemangku kepentingan yang terkait dengan dalam Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini. FGDadalah salah satu metode penjaringan aspirasi
stakeholder yang cukup efektif dan relatif mudah dan tidak memerlukan biaya yang terlalu
tinggi untuk dilaksanakan. Berikut rambu-rambu dalam melaksanakan FGD:
1. Pokok-pokok bahasan, perlu dirancang dengan seksama agar pertemuan dapat
memperoleh hasil sesuai dengan apa yang diharapkan;

Dunia nyata
Integrasi informasi spasial dan
non-spasial (atribut)


Model data vektor:
 Titik, garis, poligon
 Hasil dari digitasi, vektorisasi

Model data raster:
 Pixels
 Foto udara, scanned image,
citra satelit
Layer data

Dunia nyata

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 72

2. Pemilihan peserta, utamanya individu-individu yang mewakili konsumen dan
masyarakat umum;
3. Harus dijaga agar terjadi komunikasi dua arah;
4. Moderator, harus menguasai materi dan mempunyai kepribadian yang kuat, netral
dan adil, sehingga semua peserta mempunyai kesempatan untuk bertanya dan
menggunakan pendapatnya, sehingga mampu mengarahkan jalannya diskusi;
5. Moderator hendaknya tidak memasukkan opini-opini pribadinya dalam merumuskan
simpulan hasil diskusi. Kelemahan metode ini ialah, tidak semua peserta
memahami materi yang dibahas dan mampu mengartikulasikan pendapatnya
dengan baik, serta sikap sementara peserta yang terlalu dominan dan ingin
menguasai pembicaraan, baik yang disebabkan oleh karakter, ketokohan atau
jabatan formalnya di pemerintahan atau lembaga-lembaga lainnya;
6. Metode FGD memerlukan TOR tertulis sebagai panduan pelaksanaan, yang
mencakup latar belakang dan tujuan, waktu dan tempat, para peserta, agenda
pertemuan dan anggaran biaya pelaksanaan; dan
7. Pelaksanaan FGD dianjurkan melibatkan jumlah peserta yang tidak lebih dari 20
orang atau idealnya 8-12 orang.
Langkah-langkah pelaksanaan FGD adalah sebagai berikut:
1. Fasilitator menyiapkan diri dengan pengetahuan tentang kondisi wilayah, minimal
dari data sekunder atau hasil pengkajian substansial, serta menentukan target FGD
yang hendak dicapai berkaitan dengan sinkronisasi program menurut peserta.
2. Fasilitator menciptakan suasana yang nyaman bagi semua peserta untuk berdiskusi,
bertegur sapa dan berkomunikasi dengan semua peserta.
3. Fasilitator atau moderator meminta kesepakatan dari peserta tentang topik yang
akan dibahas (karena topik termasuk hal yang sensitif).
4. Mederator meminta peserta untuk menceritakan tentang konsep acuan program
pengembangan Kabupaten Tolikara berbasis spasial dan memberikan kesemapatan
yang sama kepada semua peserta. Sebagai moderator, fasilitator mengatur
jalannya diskusi agar peserta tidak saling berebut bicara.
5. Selanjutnya, moderator mengklarifikasi dan merumuskan jawaban dari peserta.
6. Moderator memberikan pertanyaan kunci berikutnya dengan berdasarkan pada
jawaban peserta, bagaimana program prioritas berbasiskan spasial menurut
pendapat peserta.
7. Moderator mengklarifikasi dan merumuskan jawaban peserta.
8. Pertanyaan kunci selanjutnya, bagiamana kriteria prioritas menurut pendapat
peserta.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 5 Pendekatan dan Metodologi | 73

9. Moderator mengklarifikasi dan merumuskan jawaban peserta.
10. Moderator mengajukan pertanyaan kunci, dimana lokasi yang prioritas menurut
pendapat peserta.
11. Moderator mengklarifikasi dan merumuskan jawaban peserta.



Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 6 Rencana Kerja dan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan| 1

6.1. RENCANA KERJA
Rencana pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini diuraikan berdasarkan tahapan kerja yang diusulkan,
yaitu tahap pendahuluan, tahap pengumpulan data, tahap fakta dan analisis, tahap
rencana, dan tahap finalisasi.

6.1.1. Tahap Pendahuluan
Tahap persiapan merupakan awalan dari pelaksanaan kegiatan. Tahap ini berfokus
pada pemantapan rencana pelaksanaan kerja dan metoda pelaksanaan pekerjaan
yang riil akan dilaksanakan.
1. Kegiatan awal dari tahap pendahuluan dimulai dengan persiapan dasar yang
dilakukan adalah berupa penajaman output, lingkup, metodologi, jadwal
pekerjaan dan penyamaan persepsi dari tim konsultan. Kegiatan ini
dilaksanakan selama dua minggu, dari minggu pertama hingga minggu
kedua;
2. Pararel dengan kegiatan persiapan dasar, akan dilakukan pula Perumusan
Hipotesa melalui kajian literatur dan review UU 26/2007, PERPRES 54 tahun
2008, RTRW Kabupaten Tolikara, kajian kebijakan sektoral (industri,
infrastruktur) pada tingkat Kota. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua
minggu, dari minggu kedua hingga minggu ketiga;
3. Sementara itu tim peta berdasarkan arahan team leader melakukan
identifikasi sumber dan ketersediaan peta, untuk kemudian ditindaklanjuti
dengan penyiapan peta dasar dan peta orientasi. Kegiatan identifikasi
dimulai di awal pekerjaan hingga minggu kedua, sementara kegiatan
penyiapan peta dilakukan selama tiga minggu dari minggu kedua hingga
minggu keempat;
4. Pada minggu ketiga, di akhir tahap ini akan disusun desain survai
berdasarkan input dari hasil inventarisir kebutuhan data dan perumusan
hipotesa; dan
5. Berdasarkan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya, maka
dilakukan penyusunan Laporan Pendahuluan, seminar Laporan Pendahuluan
dan Konsultasi Publik melalui focus group discussion (FGD) terutama
berkaitan dengan deliniasi kawasan perkotaan yang akan dikembangkan.
Kegiatan ini dilaksanakan dari minggu ketiga hingga minggu keempat.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 6 Rencana Kerja dan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan| 2

6.1.2. Tahap Pengumpulan Data dan Fakta
Tahap pengumpulan data dan fakta merupakan lanjutan dari kegiatan pada tahap
pendahuluan, di mana berdasarkan hasil identifikasi ketersediaan data/peta serta
desain survei yang telah dilakukan sebelumnya, maka akan dilaksanakan
pengumpulan data dan fakta. Kegiatan pengumpulan data dan fakta dilakukan secara
bertahap, yaitu:
1. Tahap pelaksanaan pengumpulan data dan fakta
Pengumpulan data dan fakta dilakukan baik dengan survei sekunder
maupun survei instansional. Kegiatan pada tahap ini dilaksanakan selama
tiga minggu dari minggu kelima hingga minggu ketujuh
2. Tahap elaborasi data dan fakta
Elaborasi data dan fakta sangat penting dilakukan untuk memudahkan
kegiatan analisis nantinya. Setiap data dan fakta yang ada disusun ke dalam
tabel dan matrik. Beberapa data dasar yang saling terkait, dikompilasi
menjadi satu bagian. Kegiatan pada tahap ini dilaksanakan selama dua
minggu dari minggu ketujuh hingga minggu kedelapan

6.1.3. Tahap Analisis
Tahap berikutnya dalam pelaksanaan pekerjaan ini adalah tahap analisis. Tahap
analisis ini membutuhkan total waktu dua bulan, dengan beberapa bagian analsisi,
yaitu:
1. Review RTRW Kabupaten Tolikara
Kegiatan review dilakukan untuk mengidentifikasi perubahan kebijakan,
faktor eksternal dan internal kawasan serta simpangan pelaksanaan
penataan ruang pada Review RTRW Kabupaten Tolikara, yang berpengaruh
terhadap penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Bokondini. Kegiatan review
ini dilakukan dari minggu ketujuh hingga minggu kedelapan
2. Analisis, dan Pengolahan Data dan Fakta
Kegiatan analisis dan pengolahan data dan fakta dimulai dengan
mengidentifikasi kondisi eksisting kawasan rencana dan secara bertahap
menganalisis daya tampung dan daya dukung kawasan, struktur ruang,
peruntukan blok rencana, prasarana transportasi, fasilitas umum dan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 6 Rencana Kerja dan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan| 3

utilitas umum, amplop ruang dan membuat peta analisis. Kegiatan analisis
lanjutan ini dilakukan dari minggu kesembilan hingga minggu keduabelas.
Seluruh hasil analisis kemudian akan dibawa ke dalam Focuss Group
Discussion (FGD), untuk mendapatkan masukan-masukan dari masyarakat
terhadap hasil analisis sebagai bagian dari validasi hasil analisis.
3. Dari hasil pengumpulan data dan analisis yang disebut sebagai Laporan
Fakta Analisis, pada tahap akhirnya akan melakukan seminar Laporan Fakta
dan konsultasi publik melalui FGD terutama berkaitan dengan hasil
rancangan awal struktur dan pola ruang kawasan perkotaan Bokondini.
Kegiatan ini dilakukan sekitar minggu ketigabelas dan keempatbelas.

6.1.4. Tahap Rencana
Tahap rencana merupakan tahapan lanjutan dari kegiatan analisis data dan fakta.
Hasil analisis menjadi acuan dalam menyusun rencana. Tahap rencana terdiri dari
beberapa kegiatan yang dilakukan secara paralel.
1. Kegiatan awal dalam tahap rencana ini adalah merumuskan konsep
pengembangan yang akan dijadikan acuan dalam penyusunan rencana.
Kosep pengembangan yang disusun sebaiknya terdiri dari beberapa
alternatif dengan keunggulan dan kelemahan di masing-masing konsep. Dari
alternatif tersebut, maka dipilih alternatif konsep yang sesuai dengan
karakteristik kawasan dan hasil konsultasi publik yang dilakukan pada tahap
fakta dan anlisis. Perumusan konsep pengembangan dilakukan pada minggu
keempatbelas.
2. Setelah dipilih konsep pengembangan, maka dilakukan penyusunan rencana,
dengan menggunakan hasil analisis. Proses penyusunan rencana dimulai dari
rencana struktur ruang, pola ruang hingga ketentuan pengendalian
pemanfaatan ruang (termasuk di dalamnya aturan zonasi), serta
penyusunan legal drafting berupa Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda).
Penyusunan rencana ini dilakukan dari minggu keempatbelas hingga minggu
kelimabelas
3. Dari hasil seluruh rencana yang disebut sebagai Draf Laporan Akhir, pada
akhirnya kemudian dibawakan dalam Konsultasi Publik atau Focus Group
Discussion (FGD), untuk mendapatkan masukan-masukan dari masyarakat
terhadap hasil rencana, khususnya terkait dengan struktur ruang,
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 6 Rencana Kerja dan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan| 4

peruntukan blok dan aturan zonasi. FGD ini dapat dilakukan antara minggu
kelimabelas hingga minggu keenambelas.

6.1.5. Tahap Finalisasi
Tahap ini merupakan proses akhir dan penyempurnaan dari serangkaian kegiatan yang
telah dilaksanakan pada tahap-tahap sebelumnya. Fokus kegiatan pada tahap ini
adalah lebih pada penyempurnaan hasil-hasil yang telah disepakati pada pelaksanaan
seminar. Kegiatan pada tahap ini lebih banyak dilakukan di studio yaitu berupa
penyusunan materi final dari RDTR Kawasan, dan juga dilengkapi dengan Album Peta,
Ringkasan Eksekutif, CD data dan multi media. Rencananya tahap ini dilaksanakan
dari minggu keenambelas hingga minggu keduapuluhempat.

6.2. JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN
Berdasarkan lingkup kegiatan yang telah dijabarkan secara detail dan menyeluruh
pada bab terdahulu, pada bagian ini akan dijabarkan tahapan kegiatan secara berurut
dalam jadwal pelaksanaan pekerjaan sesuai jangka waktu pelaksanaan pekerjaan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawsan Perkotaan Bokondini dengan
yaitu 7 (tujuh) bulan kalender sebagaimana telah ditetapkan dalam Kerangka acuan
Kerja maupun Rapat Penjelasan Dokumen Penawaran. Secara rinci Jadwal
Pelaksanaan Pekerjaan dapat dilihat pada tabel 6.1. berikut ini.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 6 Rencana Kerja dan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan| 5

Tabel 6.1 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini
(Tabel excel)
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 6 Rencana Kerja dan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan| 6



Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 1

8.1. KONSEP PEMBANGUNAN YANG BERKELANJUTAN
Gambaran umum tentang pembangunan berkelanjutan yang dibahas adalah: (i)
definisi dan pengertian, (ii) prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan, dan (iii)
lingkup pembangunan berkelanjutan.

8.2.1. Definisi dan Pengertian Pembangunan Berkelanjutan
Istilah pembangunan berkelanjutan diperkenalkan dalam World Conservation
Strategy (Strategi Konservasi Dunia) yang diterbitkan oleh United Nations
Environment Programme (UNEP), International Union for Conservation of Nature and
Natural Resources (IUCN) dan World Wide Fund for Nature (WWF) pada 1980. Pada
1982, UNEP menyelenggarakan sidang istimewa memperingati 10 tahun gerakan
lingkungan dunia (1972-1982) di Nairobi, Kenya, sebagai reaksi ketidakpuasan alas
penanganan lingkungan selama ini.
Konsep Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development dipopulerkan
melalui laporan WCED berjudul “Our Common Future” (Hari Depan Kita Bersama)
yang diterbitkan pada 1987. Laporan itu mendefinisikan Pembangunan Berkelanjutan
sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi
kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Di dalam konsep tersebut terkandung dua gagasan penting, yaitu:
1. Gagasan kebutuhan, khususnya kebutuhan esensial, kaum miskin sedunia
yang harus diberi prioritas utama; dan
2. Gagasan keterbatasan, yang bersumber pada kondisi teknologi dan
organisasi sosial terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi
kebututuhan kini dan hari depan.

8.2.2. Prinsip-Prinsip Pembangunan Berkelanjutan
Tujuan pembangunan ekonomi dan sosial harus dituangkan dalam gagasan
keberlanjutan di semua negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Ada 4
(empat) syarat yang harus dipenuhi bagi suatu proses pembangunan berkelanjutan,
yaitu:
1. Menempatkan suatu kegiatan dan proyek pembangunan pada lokasi yang
secara ekologis, benar;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 2

2. Pemanfaatan sumberdaya terbarukan (renewable resources) tidak boleh
melebihi potensi lestarinya serta upaya mencari pengganti bagi sumberdaya
tak-terbarukan (non-renewable resources);
3. Pembuangan limbah industri maupun rumah tangga tidak boleh melebihi
kapasitas asimilasi pencemaran;
4. Perubahan fungsi ekologis tidak boleh melebihi kapasitas daya dukung
lingkungan (carrying capacity).

8.2.3. Lingkup dan Komponen Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan tidak saja berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan. Lebih
luas daripada itu, pembangunan berkelanjutan mencakup 3 (tiga) lingkup kebijakan,
yaitu:
1. Pembangunan ekonomi,
2. Pembangunan sosial
3. Perlindungan lingkungan.
Dokumen-dokumen PBB, terutama dokumen hasil World Summit 2005 menyebut
ketiga hal dimensi tersebut saling terkait dan merupakan pilar pendorong bagi
pembangunan berkelanjutan seperti yang tergambar pada skema berikut ini.
Gambar 8. 1 Skema Pembangunan Berkelanjutan








Sumber: www.wikipedia.com

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 3

Berdasar dari skema di atas, maka dalam Deklarasi Universal Keberagaman Budaya
(2001) lebih jauh menggali konsep pembangunan berkelanjutan dengan menyebutkan
bahwa:
1. Keragaman budaya penting bagi manusia sebagaimana pentingnya
keragaman hayati bagi alam;
2. Pembangunan tidak hanya dipahami sebagai pembangunan ekonomi, namun
juga sebagai alat untuk mencapai kepuasan intelektual, emosional, moral,
dan spiritual; dan
3. Keragaman budaya merupakan kebijakan keempat dari lingkup kebijakan
pembangunan berkelanjutan.
Pembangunan berkelanjutan bisa dijabarkan lagi dalam beberapa komponen yang
akan saling mendukung dengan good governance, yaitu:
1. Sumber daya manusia (human resources);
2. Sumber daya sosial (social resources);
3. Sumber daya alam (natural resources);
4. Sumber daya fisik (physical resources); dan
5. Sumber daya finansial (financial resources).
Gambar 8. 2 Komponen Pembangunan Berkelanjutan dan Ketatapemerintahan yang Baik











Sumber: Olahan Konsultan, 2012

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 4

8.2.4. Pembangunan Berbasis Kelanjutan Ekologi
Keberlanjutan Ekologi tidak bisa dilepaskan dengan pemahaman Pembangunan
Berkelanjutan (Keraf, 2002); di mana:
1. Pembangunan Berkelanjutan adalah suatu proses pembangunan yang
memfokuskan pada aspek pembangunan ekonomi sekaligus memberikan
perhatian secara proposional pada aspek pembangunan sosial dan aspek
lingkungan hidup; dan
2. Keberlanjutan Ekologi adalah suatu proses pembangunan yang memfokuskan
pada kelestarian lingkungan, dengan tetap menjamin kualitas kehidupan
ekonomi dan sosial budaya masyarakat.
Robert J. Kodoatie dan Roestam Sjarief (2005) menyatakan bahwa secara spesifik
keberlanjutan ekologi melihat ekologi menjadi bagian utama dari keseimbangan
pembangunan yang didukung oleh aspek sosial dan ekonomi. Kekayaan alam dapat
dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas kehidupan; namun di sisi lain, alam harus
dijaga keseimbangannya. Manusia tidak lagi terjebak dengan kata “pembangunan”
yang diartikan salah oleh pelaku pembangunan; di mana pemahaman pertumbuhan
ekonomi tidak lebih dari pertumbuhan produksi yang berakibat ekploitasi sumber
daya alam dengan dalih pertumbuhan ekonomi (atau produksi) tersebut.
Pembangunan tidak lagi dominan bermakna eksploitasi alam demi untuk pemenuhan
tuntutan pertumbuhan ekonomi semata, namun juga bersamaan dengan
pertumbuhan nilai-nilai ekologi dan sosial. Pada prinsipnya, apabila Pembangunan
Berkelanjutan dan Keberlanjutan Ekologi dapat dilaksanakan secara konsekuen, maka
kedua istilah tersebut mempunyai tujuan yang sama.
Salah satu bentuk keberlanjutan ekologi adalah: regenerative-environment yang
pada prinsipnya adalah membangun komunitas yang mendorong terjadinya pola aliran
siklus (cyclical flows) atas sumber daya, pusat konsumsi dan bahan-bahan buangan
agar tidak hanya mengurangi pencemaran dan kerusakan lingkungan tetapi
membangun relasi-keseimbangan antara manusia dengan lingkungan dengan cara:
1. Reduce (mengurangi) dapat berarti mengurangi jumlah sumber daya yang
digunakan dari bumi dan residu aktivitas yang dibuang ke bumi, sehingga
beban bumi dalam menetralkannya berkurang;
2. Reuse (mengolah kembali) berarti menggunakan kembali dari pada dibuang
dan menjadi beban bumi untuk mengelolanya; dan
3. Recycle (mendaur ulang) berarti mendaur ulang residu menjadi sesuatu
yang baru dan nilai manfaatnya bertambah.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 5

Pembuangan ke laut, tanah, dan udara menjadi pilihan terakhir setelah ketiga prinsip
tersebut diaplikasikan.
Skema sederhana mengenai regenerative-environment bisa terlihat pada gambar
berikut ini.
Gambar 8. 3 Skema Regenerative Environment

















Sumber: Studi Ecocity Calang-BRR, 2007


8.2.5. Perencanaan Berbasis Bioregion
Bioregion dipahami sebagai region, kawasan atau wilayah yang disusun atas satuan-
satuan ekologis. Dan Williams dan Chris Jackson (dalam Donald Watson, 2003)
menyatakan secara umum bahwa bioregion terbagi atas 3 (tiga) elemen atau satuan
ekologis seperti yang terlihat pada tabel berikut ini.


 





HUTAN BUKIT
AREA TRANSISI AREA TRANSISI
PANTAI WETLAND
HUNIAN LAHAN PRODUKSI
PENGOLAHAN
LIMBAH
PENGOLAHAN
LIMBAH
REDUCE
REUSE
RECLYCLE RECLYCLE
REUSE
REDUCE

 





PANTAI WETLAND HUNIAN LAHAN PRODUKSI HUTAN BUKIT
AREA TRANSISI
AREA TRANSISI
KONSERVASI HUTAN, BUKIT
DAN SUMBER MATA AIR
PENGELOLAAN KOTA
RAMAH LINGKUNGAN
KONSERVASI PANTAI
DAN WETLAND
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 6

Tabel 8.1 Elemen Bioregion
Elemen-Elemen Bioregion
Urban Agrikultural Natural
Residensial
Komersial
Industri:
 produksi
 pertambangan
Infrastruktur:
 transportasi (tanah, air,
udara)
 suplai dan utilitas air
 layanan dan
pengembangan
tampungan
 pengembangan energi
Politik, Legal dan Ekonomi:
 aturan zoning
 batasan lokal dan propinsi
Tanaman produksi:
 tanaman produksi
 top-soil
 irigasi
Stok-pangan:
 lahan
 pangan
Hutan
Hortikultur
Biomassa
Habitat Binatang:
 setempat (natives)
 eksotis
 rute migrasi
Habitat Tanaman:
 setempat (natives)
 eksotis
Fitur Air:
 wetland
 sungai dan danau
Fitur Tanah:
 gunung
 lembah
Sumber: Donald Watson, 2003


Donald Watson (2003) menyatakan bahwa bioregionalism atau perencanaan berbasis
bioregion merupakan pendekatan untuk merencanakan tempat-tempat dan
infrastruktur kota dalam konteks lingkungan dari region yang diperjelas dengan
bentukan tanah, vegetasi dan sumber air, keterkaitan dengan spesies, klimat dan
sumber daya yang ada. Konservasi sumber daya alami, pembuatan zona vegetasi dan
pemulihan buangan limbah merupakan strategi penting dalam perencanaan berbasis
bioregion yang mendorong keseimbangan kebutuhan manusia dengan daya dukung
dari lingkungan alami dan kultural. Daya dukung lingkungan (carrying capacity)
dipahami sebagai kemampuan alami dari lingkungan atau ekosistem untuk
melanjutkan kehidupan dan pertumbuhan. Daya dukung lingkungan tidak bisa
dilepaskan dengan aturan ekologi yang mengatur seluruh kehidupan spesies pada
habitatnya, yaitu: Hukum Homeostatik. Hukum Homeostatik menyatakan bahwa
jumlah spesies pada suatu habitat sangat tergantung pada daya dukung lingkungan
yang dimiliki. Bila jumlah spesies melebihi daya dukung lingkungan, maka secara
alami akan mengalami keseimbangan dalam bentuk penurunan jumlah.
Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
menjelaskan bahwa pemahaman mengenai daya dukung dukung lingkungan hidup dan
pelestariannya, serta daya tampung lingkungan hidup dan pelestariannya adalah
sebagai berikut:
1. Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk
mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 7

2. Pelestarian daya dukung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk
melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan
dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan, agar tetap
mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain;
3. Daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk
menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau
dimasukkan ke dalamnya; dan
4. Pelestarian daya tampung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk
melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi,
dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya;
Secara prinsip, pembangunan kota tidak bisa dilepaskan dengan konteks lingkungan
hidup atau sumber daya alami yang ada di sekitarnya. Perencanaan keruangan yang
mendorong terjadinya integrasi dari pembangunan kota dengan sumber daya alami
(Donald Watson, 2003) meliputi:
1. Perilaku alami dalam ekosistem (natural behavior within ecosystem).
Sebuah pemahaman dasar akan tata kelakuan natural dari suatu ekosistem
dibutuhkan sebelum merancang fasilitas-fasilitas yang berfungsi di
dalamnya, dibentuk oleh inventaris sumber daya yang ada sebelum
merancang suatu proyek;
2. Keterkaitan antar ekosistem (links between ecosystems). Terdapat
keterkaitan antar ekosistem yang mungkin saja terpisah secara geografis,
yaitu, antara hutan pegunungan dan kawasan sekitar sempadan sungai.
Perubahan dalam satu ekosistem dapat berakibat pada ekosistem yang lain;
3. Fragmentasi habitat (fragmentation of habitats). Baik disebabkan oleh
konstruksi suatu fasilitas tertentu atau karena keputusan tata guna lahan
atas suatu ekosistem, fragmentasi habitat menyebabkan hilangnya
keragaman biologis dan harus di minimalkan, dan di manapun yang
dimungkinkan, dikembalikan dengan pengaturan kembali preservasi dan
koridor lingkungan hidup;
4. Tuntutan manusia pada ekosistem (human demands on ecosystems).
Tuntutan manusia akan penggunaan suatu ekosistem bersifat kumulatif.
Usulan baru harus memperhitungkan penggunaan sumber-sumber daya
sebelumnya sehingga akibat dari aktivitas yang lalu, pembangunan yang
diusulkan, dan masa depan yang diantisipasi tidak melebihi kapabilitas
ekosistem. Besaran dan jenis dari pembangunan potensial apapun
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 8

sebaiknya ditentukan oleh kapabilitas dan ketahanan ekosistem dan bukan
oleh kapasitas fisik dari tapak;
5. Batasan perubahan yang dapat diterima (acceptable limits of change).
Perubahan dalam suatu sistem memang tidak dapat dihindari, namun
batasan-batasan dari perubahan lingkungan yang dapat diterima – sering
disebut kapasitas bawaan – harus ditetapkan sebelum pembangunan
dimulai. Perubahan yang dapat diterima tidak boleh mendekati batas
tertinggi dari kapasitas karena peristiwa yang tidak dapat diperkirakan
seperti kemarau/kekeringan dan badai dapat terjadi sampai melebihi batas
tersebut dan menyebabkan rusaknya seluruh sistem; dan
6. Monitoring ekosistem (ecosystem monitoring). Akibat-akibat dari sumber-
sumber daya di sekitar fasilitas pembangunan dan operasi harus dimonitor
dan dievaluasi secara rutin, dan diambil tindakan sesegera mungkin untuk
mengatasi persoalan.
Prinsip dasar dari perencanaan berbasis bioregion yang tercermin dalam “Valdez
Principles for Site Design”, yaitu:
1. Pengenalan atas konteks (regcognition of context);
2. Perlakukan lansekap secara saling ketergantungan dan saling berkaitan
(treatment of landscape as interdependent);
3. Integrasi lansekap setempat dalam pembangunan (integration of the native
landscape with development);
4. Promosi keberagaman hayati (promotion of biodiversity);
5. Penggunaan kembali area yang sudah rusak (reuse of already disturbed
areas);
6. Mendorong kebiasaan memperbaharui (making a habit of restoration).


8.2.6. Konsep Ecocity
Istilah ecocity berasal dari kata dasar ecology(-cal) dan city; atau kota yang
berwawasan lingkungan. Beberapa kalangan menyatakan bahwa istilah ecocity
berawal dari munculnya terminologi ecopolis dalam sebuah artikel ilmiah yang ditulis
oleh arsitek Paul F Downton pada tahun 1991; di mana polis di sini dipahami sebagai
a city state. Pada saat yang bersamaan dikenal pula istilah ecovillage yang menjadi
trend baru di banyak negara dengan salah satu pengusung pendekatan ecovillage
adalah Roger Gilman.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 9

Ecopolis, ecocity atau pun ecovillage mempunyai satu kesamaan yang mendasar;
yaitu menempatkan ekologi sebagai isu utama dari sebuah perubahan yang
berpengaruh pada kehidupan manusia yang lebih baik dan berkesinambungan.
Pemahaman ecology di sini adalah interaksi antara organisme hidup dengan
lingkungan (di mana tempat organisme itu berada). Perbedaan antara ecopolis,
ecocity dan ecovillage adalah pada skala-besaran keruangan dan manusianya; di
mana ecovillage berada pada cakupan desa atau kumpulan dari unit-unit hunian;
ecocity berada pada skala kota atau kumpulan dari desa-desa; sedang ecopolis adalah
kumpulan dari kota-kota. Kumpulan dari unit hunian, desa atau pun kota ini tidak
hanya sekedar saling berdekatan, tetapi mempunyai keterkaitan dan sinergitas untuk
membentuk tatanan kehidupan yang lebih tinggi dan lebih baik.
Terminologi ecocity sampai sejauh ini telah digunakan utamanya oleh gerakan yang
bertujuan untuk mewujudkan solusi baru masalah perkotaan yang konsisten sebagai
alternatif dari perkembangan yang berlangsung. Perintis yang menyebarluaskan
gagasan ecocity ialah Ecocity Builders di Amerika Serikat yang memberikan dedikasi
untuk membentuk kota dan desa untuk kesejahteraan manusia dan sistem natural
dalam jangka panjang dengan menyelenggarakan serangkaian Konferensi Ecocity
International. Ecocity Builders dan organisasi sejenis menggambarkan sebuah ecocity
melalui sejumlah prinsip-prinsip, seperti dalam Deklarasi Konferensi Ecocity V di
Shenzhen, Cina (Agustus 2002). Salah satu dari doktrin utama adalah membangun
kota untuk manusia dan bukan untuk mobil. Contoh lebih jauh, di Jerman, adalah
Forderverein Okostrat e.V. yaitu mencoba untuk menemukan tapak untuk ecocity di
luar Berlin.
Pendekatan proyek ecocity adalah sebuah langkah dengan cara menggabungkan teori
dan praktek, termasuk di antaranya perkembangan sebuah visi dan perencanaan
model permukiman yang nyata. Untuk proyek ini, sebuah ecocity didefiniskan sebagai
sebuah visi dari kota yang layak huni dan berkelanjutan untuk diterapkan dalam unit
permukiman yang lebih kecil, misalnya: model area sebagai contoh dari komunitas
secara keseluruhan. Dalam proyek ecocity, sebuah area kota didefinisikan sebagai
bagian dari sebuah kota dengan batas-batas fungsi dan ruang yang dapat
diidentifikasikan dan percampuran berbagai fungsi dalam skala yang kecil; di mana
area kota biasanya tersusun atas lebih dari satu area-permukiman.
Gagasan dasar dari ecocity merupakan suatu gagasan baru untuk meraih kehidupan
kota yang keberlanjutan. Ecocity adalah salah satu usaha untuk mengurangi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 10

kerusakan yang berkelanjutan akibat dari perubahan panas dan iklim global. Prinsip
dasar dari ecocity adalah kota direncanakan dan dibangun dengan:
1. Mempertahankan (dan bahkan meningkatkan) sumber daya alam sebagai
bagian elemen penting dan utama dari kota;
2. Mengurangi penggunaan material dan energi dalam daur-hidup kota yang
tercerminkan dalam perencanaan tata ruang; dan
3. Mempengaruhi perilaku komunitas untuk menjadikan lingkungan sebagai
bagian dari elemen kota; dan juga sebaliknya, menjadikan kota sebagai
bagian dari elemen lingkungan.
Roger Gilman (1991) menyatakan bahwa ecocity terbentuk dari kumpulan ecovillage
dalam cakupan komunitas yang berkelanjutan; di mana gagasan ecovillage yang lebih
menekankan keberlanjutan komunitas dari aspek sosial, ekonomi dan ekologi yang
ditujukan untuk populasi sekitar 50-150 orang penduduk; di mana besaran populasi
tersebut mengacu pada besaran maksimum jejaring sosial atau social network. Pada
besaran populasi sampai di atas 2.000 orang penduduk bisa dimungkinkan terbentuk
jejaring yang disebut sebagai ecomunicipalities atau sub-komunitas untuk
menciptakan model ecocity dengan jejaring sosial yang lebih besar.
Batasan ecovillage menurut Gilman (1991) tersusun atas beberapa prinsip dasar,
yaitu:
1. Menekankan pada skala-manusia. Skala manusia mengacu pada sebuah
ukuran di mana orang mampu mengenal dan dikenal oleh orang lain dalam
komunitas, dan di mana setiap anggota komunitas merasa dirinya mampu
untuk mempengaruhi arah gerak komunitas. Angka praktis yang dapat
diperhitungkan, dalam masyarakat industri modern dan dalam budaya yang
lain, bahwa batas maksimal dari kelompok tersebut sekitar 500 orang.
Dalam situasi yang sangat stabil dan terisolasi angka tersebut dapat menjadi
lebih tinggi, bisa mencapai 1.000 orang; sementara dalam situasi
masyarakat industri modern tertentu angka tersebut bisa menjadi lebih
rendah, bahkan bisa kurang dari 100 orang.
2. Permukiman dengan fasilitas penuh. Permukiman ini adalah permukiman di
mana fungsi utama dari kehidupan normal –hunian, penyediaan pangan,
manufaktur, hiburan, kehidupan sosial dan Perdagangan- dihadirkan secara
merata dan dalam proporsi yang seimbang. Hunian manusia yang paling
baru dalam dunia industri–urban, sub-urban dan pedesaan semuanya dibagi
berdasarkan fungsi: sejumlah area hunian, area perbelajaan, area industri
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 11

dan lain-lain. Distrik tersebut biasanya terlalu besar bagi skala-manusia,
bahkan di dalam satu area-fungsi sekali pun. Sebaliknya, ecovillage
merupakan mikrokosmos yang menyeluruh dari keseluruhan masyarakat. Hal
ini bukan berarti bahwa ecovillage harus memenuhi kebutuhannya sendiri
atau terisolasi dari komunitas di sekitarnya. Idealnya, sebuah ecovillage
akan memiliki banyak pekerjaan di dalamnya yang cukup bagi pekerja yang
tinggal di ecovillage; tapi beberapa penduduk akan pergi bekerja di luar
desa, dan beberapa pekerjaan di dalam desa akan dikerjakan oleh yang
tinggal di luar area. Terdapat pula banyak pelayanan spesifik yang jelas-
jelas tidak bisa ditempatkan di setiap ecovillage – rumah sakit, bandara dan
lain-lain. Namun dengan kerja sama antar desa, pada dasarnya institusi
sebesar apa pun dapat dijalankan dengan baik oleh kluster dan jejaring,
melalui masyarakat modern yang fungsional sebagai unit ecovillage.
3. Menekankan integrasi kegiatan manusia dalam lingkungan alami. Gagasan
ini membawa aspek ekologis ke dalam ecovillage. Salah satu aspek
terpenting dari gagasan ini adalah kesetaraan ideal antara manusia dengan
bentuk kehidupan yang lain, sehingga manusia tidak mencoba untuk
melakukan dominasi terhadap alam melainkan hidup di dalamnya. Prinsip
penting lainnya adalah penggunaan material secara siklis; dan bukan secara
linear (menggali, mengunakan sekali dan membuangnya) yang merupakan
karakterisitik masyarakat industri. Hal ini membawa ecovillage pada
penggunaan sumber-sumber energi yang dapat terbaharui (tenaga surya,
angin dan lain-lain) dari pada bahan bakar yang berasal dari dari fosil;
membuat kompos dari sampah organik yang akan mengembalikannya ke
tanah dari pada mengirimnya ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah berupa
landfill, incinerator atau pabrik pengolahan limbah; melakukan daur ulang
dari limbah; dan usaha untuk menghindari manusia dari bahan beracun dan
berbahaya.
4. Mendukung pembangunan kesehatan masyarakat. Prinsip ini memahami
bahwa ecovillage adalah komunitas masyarakat, dan pada intinya tanpa
kesehatan masyarakat yang mendasar, komunitas ini tidak bisa berjalan dan
berhasil. Pembangunan kesehatan masyarakat adalah melibatkan atau
menyertakan semua aspek hidup manusia dalam pembangunan yang
seimbang dan terintegrasi, yaitu: aspek fisik, emosi, mental dan spiritual.
Pembangunan kesehatan masyarakat harus ditunjukkan tidak hanya dalam
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 12

kehidupan individu, tetapi juga dalam kehidupan masyarakat secara
menyeluruh.
5. Dapat dilanjutkan terus menerus. Prinsip berkelanjutan ini mensyaratkan
kejujuran dari penghuni ecovillage. Tanpa ada kejujuran itu, akan menjadi
lebih mudah dalam waktu singkat untuk menciptakan komunitas berskala-
manusia yang kelihatannya terintegrasi dengan alam secara harmonis dan
memiliki fasilitas lengkap namun pada kenyataannya dengan tidak layak
mengakibatkan modal terakumulasi di elemen lain dari masyarakat; atau
bergantung pada aktivitas yang tidak berkelanjutan di tempat lain; atau
tidak menyertakan aspek kehidupan yang utama (misalnya masa kanak-
kanak atau masa tua). Prinsip keberlanjutan disertai dengan komitmen yang
sungguh-sungguh terhadap kejujuran dan non-eksploitasi – terhadap bagian
lain dari dunia saat ini, manusia dan alam, dan terhadap semua kehidupan
masa depan.
6. Komunitas yang berkelanjutan. Istilah yang lebih umum, ”komunitas yang
berkelanjutan” memasukkan ecovillage, tetapi juga menyertakan kluster
dan jejaring dari ecovillage, dan komunitas yang tidak berbasis geografis
(misalnya: bisnis) namun komponen-komponennya ber-skala manusia,
beragam, dan terintegrasi ke dalam lingkungan natural secara harmonis.
Dalam pengertian ini, ecovillage adalah sebuah tempat yang jelas, baik
sebagai desa pedesaan maupun sebagai area permukiman urban atau sub-
urban. Sebuah kota tidak bisa menjadi ecovillage, tapi kota yang terbentuk
dari kumpulan ecovillage dapat menjadi masyarakat yang berkelanjutan.
Pendekatan ecovillage dapat diterapkan pada tatanan perkotaan atau pun pedesaan
baik di negara maju atau pun berkembang. Penerapan pada tatanan perkotaan lebih
menekankan pemekaran area-area ekologi dengan keterkaitan minimum dari area
perdagangan. Ecovillage di daerah pedesaan biasanya didasarkan atas pertanian
organik, permaculture dan segala bentuk pendekatan yang mempromosikan aspek-
aspek ekosistem dan keberagaman sumber daya hayati. Pendekatan ecovillage
(Gilman, 1991) tersusun atas: (1) modal infrastruktur hijau; (2) kumpulan bangunan
yang otonom atau kluster perumahan; (3) energi yang terbaharui; (4) permaculture;
(5) co-housing; (6) keberlanjutan komunitas dalam pemenuhan kebutuhan dalam
lingkungannya.
Philine Gaffron, Gé Huismans dan Franz Skala (2005) konsep ecocity terbangun atas
konteks urban, struktur urban, transportasi, aliran energi dan material, serta aspek
sosial dan ekonomi dengan penjelasan sebagai berikut:
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 13

A. KONTEKS URBAN
Tujuan Ecocity dalam lingkup konteks urban secara keseluruhan yaitu:
a. Memaksimalkan penghargaan atas konteks natural dan antropogenik: lansekap, alam,
pertanian, urban-tissue, kearifan lokal, budaya, infrastruktur, campuran tata guna, ekonomi
lokal;
b. Memaksimalkan kebiasaan hidup yang baik dan rasa komunitas: kesehatan dan rekreasi,
identitas budaya; dan
c. Mengoptimalkan interaksi dengan pemerintah daerah dan aliran materi regional: air, energi dan
pangan.
Ecocity dalam lingkup konteks urban mempunyai tujuan khusus yang terkait dengan aspek
perencanaan Ecocity:
a. Lingkungan Natural (i) Menuju perlindungan lansekap di sekitar beserta elemen-elemen
alam di dalamnya;
(ii) membuat tata guna berkelanjutan dari lansekap di sekitar sebagai
sumber sosial dan ekonomi; dan
(iii) merencanakan menurut perencanaan yang sesuai dengan tatanan
iklim, topografi dan geologi.
b. Lingkungan Binaan (i) Menuju struktur kota yang polisentris, kompak dan berorientasi
sebagai persinggahan;
(ii) Mempertimbangkan konsentrasi dan desentralisasi untuk suplai dan
sistem pembuangan; dan
(iii) Mempromosikan tata guna penggunaan kembali dan revitalisasi
warisan budaya.

B. STRUKTUR URBAN
Tujuan Ecocity dalam lingkup struktur urban secara keseluruhan yaitu:
a. Meminimalkan permintaan atas tanah (khususnya untuk tapak lahan hijau): menghindari
ledakan pertumbuhan kota.
b. Meminimalkan materi primer dan penggunaan energi primer: struktur permukiman yang
menghemat energi, struktur permukiman yang menghemat material.
c. Meminimalkan permintaan atas transportasi: dengan mengoptimalkan percampuran tata guna.
d. Meminimalkan dampak buruk terhadap lingkungan natural dan kesejahteraan manusia.
e. Memaksimalkan kebiasaan hidup baik dan rasa komunitas: kenyamanan kota dan kelayakan
huni, percampuran tata guna, komunikasi dan kesempatan untuk kontak sosial, akses yang
aman dan bebas hambatan, estetika, keberagaman, jarak tempuh yang pendek, perkembangan
yang berjenjang, ruang yang layak untuk kerja dan tinggal.
Ecocity dalam lingkup struktur urban mempunyai tujuan khusus yang terkait dengan aspek
perencanaan Ecocity:
a. Permintaan lahan (i) Penggunaan kembali dari lahan dan struktur binaan untuk mengurangi
permintaan atas lahan dan bangunan baru;
(ii) Mengembangkan struktur dari kepadatan tinggi yang memenuhi syarat
b. Penggunaan lahan

(i) Mengorganisasikan keseimbangan dari tata guna hunian, pekerjaan dan
pendidikan serta fasilitas untuk pendistribusian, suplai dan rekreasi;
(ii) Menuju pada bentukan ideal dari struktur mix-use pada level bangunan,
blok atau area permukiman.
c. Ruang Publik (i) Menyediakan ruang-ruang publik yang menarik dan layak huni untuk
kehidupan sehari-hari;
(ii) Memperhitungkan kelayakan huni, keabsahan dan keterkaitan dari pola
ruang publik.
d. Lansekap atau
ruang-ruang hijau
(i) Mengintegrasikan unsur dan siklus alami dalam urban-tissue;
(ii) Menciptakan pola lansekap untuk kegunaan sosial yang tinggi
e. Kenyamanan kota (i) Menuju kenyamanan luar ruang yang tinggi untuk harian, musiman dan
tahunan;
(ii) Meminimalkan polusi suara dan udara
f. Bangunan (i) Memaksimalkan kenyamanan dalam ruang dan pemeliharaan sumber-
sumber melalui siklus hidup dari bangunan;
(ii) Perencanaan bangunan yang fleksibel, komunikatif dan aksesibel.

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 14


C. TRANSPORTASI
Tujuan Ecocity dalam lingkup transportasi secara keseluruhan yaitu:
a. Meminimalkan permintaan akan transportasi;
b. Meminimalkan konsumsi material primer dan energi primer;
c. Memenuhi kebutuhan dasar dan mewujudkan struktur untuk kepedulian manusia
mobilitas;
d. Memaksimalkan kebiasaan hidup baik dan rasa komunitas: aksesibilitas terhadap
penyediaan jasa, aksesibilitas bebas hambatan terhadap jaringan transportasi dan
sebagainya; dan
e. Meminimalkan dampak buruk dari lingkungan natural dan kesejahteraan manusia:
contohnya melalui emisi gas rumah kaca (lingkungan) dan melalui kebisingan atau
kecelakaan (kesehatan masyarakat).
Ecocity dalam lingkup transportasi mempunyai tujuan khusus yang terkait dengan aspek
perencanaan Ecocity:
a. Moda lambat
/transportasi publik
(i) Meminimalkan jarak (dalam ruang dan waktu) antar
kegiatan untuk mengurangi permintaan akan perjalanan;
(ii) Memberikan prioritas pada jalur pejalan kaki dan sepeda
sebagai jejaring utama untuk lalulintas internal dalam area
permukiman;
(iii) Memberikan prioritas terhadap transportasi publik sebagai
unsur penting dari sistem transportasi personal yang
berkelanjutan; dan
(iv) Menyediakan kepastian manajemen mobilitas untuk
mendukung pergantian atau perpindahan modal ke moda
yang cocok dengan wawasan lingkungan.
b. Perjalanan kendaran
pribadi
(i) Mengurangi volume dan kecepatan dari kendaraan pribadi;
dan
(ii) Mendukung pengurangan lalulintas kendaraan bermotor
melalui manajemen parkir.
c. Transportasi barang (i) Memfasilitasi logistik area permukiman dan konsep
pengirimannya untuk meminimalkan kebutuhan akan
membawa muatan barang dengan menggunakan mobil
pribadi;dan
(ii) Perencanaan bagi logistik konstruksi yang efisien.


D. ALIRAN ENERGI DAN MATERIAL
Tujuan Ecocity dalam lingkup aliran energi dan material secara keseluruhan yaitu:
a. Meminimalkan konsumsi material primer dan energi primer;
b. Meminimalkan dampak buruk dari lingkungan natural dan kesehatan masyarakat; dan
c. Memaksimalkan kebiasaan hidup baik dan rasa komunitas misalnya kualitas udara dalam
ruangan, kenyamanan dari sistem pemanasan dan ventilasi.
Ecocity dalam lingkup aliran energi dan material mempunyai tujuan khusus yang terkait
dengan aspek perencanaan Ecocity:
a. Energi (i) Mengoptimalkan efisiensi dalam struktur kota;
(ii) Meminimalkan permintaan energi dari bangunan;
(iii) Memaksimalkan efisiensi dalam penyediaan energi; dan
(iv) Memaksimalkan pembagian dari sumber energi yang dapat
diperbaharui.
b. Air (i) Meminimalkan konsumsi air primer; dan
(ii) Meminimalkan dampak buruk dari siklus alami air .
c. Limbah (i) Meminimalkan volume penambahan limbah dan
pembuangan akhir limbah.
d. material bangunan (i) Meminimalkan konsumsi material bangunan primer dan
memaksimalkan material yang dapat didaur ulang; dan
(ii) Memaksimalkan penggunaan material bangunan yang ramah
lingkungan dan sehat.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 15

E. SOSIAL DAN EKONOMI
Tujuan Ecocity dalam lingkup sosial dan ekonomi secara keseluruhan yaitu:
a. Pemenuhan kebutuhan dasar: pangan, papan, pendidikan, pelayanan kesehatan,
pekerjaan dan lain-lain;
b. Memaksimalkan kebiasaan hidup baik dan rasa komunitas: kepuasaan umum,
kenyamanan kota, percampuran sosial, desentralisasi, komunikasi berdasarkan pada
inklusi sosial serta kesetaraan lingkungan natural dan binaan;
c. Mewujudkan struktur untuk kepentingan manusia: untuk anak-anak, lansia, orang sakit
dan lain-lain yang berdasarkan pada kebijakan sosial dan kehidupan komunitas yang
berkembang baik;
d. Memaksimalkan kesadaran akan pembangunan yang berkelanjutan: bisnis dan publik;
e. Mewujudkan ekonomi lokal yang beragam, tahan krisis dan inovatif serta menguatkan
industri dan inovasi yang berkelanjutan;
f. Meminimalkan ongkos total daur hidup dengan memaksimalkan produktifitas
meminimalkan ongkos perawatan dan pengoperasian;
g. Meminimalkan dampak buruk lingkungan dan kesehatan masyarakat
Ecocity dalam lingkup sosial dan ekonomi mempunyai tujuan khusus yang terkait
dengan aspek perencanaan Ecocity:
a. Masalah sosial (i) Mempromosikan keberagaman dan integrasi sosial
(ii) Menyediakan infrastruktur sosial dan lainnya dengan
aksesibilitas yang baik
b. Ekonomi (i) Memaksimalkan minat terhadap bisnis dan usaha
(ii) Menggunakan sumber pekerja yang tersedia
c. Biaya (i) Meraih infrastruktur ekonomi berjangka panjang
(ii) Menawarkan perumahan, tempat kerja dan ruang untuk
penggunaan non-profit yang murah


8.2.7. Konsep Kawasan Hemat Energi
Kawasan sebagai kesatuan ekosistem atau kawasan ekologis tidak lagi
menggambarkan pertentangan di antara alam liar dan tempat peradaban, melainkan
memungkinkan suatu sintesis di antara lingkungan alam dan lingkungan buatan serta
segala mahluk hidup (flora, fauna, manusia) didalamnya.
Pada dasarnya terdapat beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam pengembangan
kawasan hemat energi, yaitu:
1. Pengembangan kota terpadu berskala besar.
Kota terpadu di sini adalah sebuah kota mandiri yang lengkap, dimana
pengembangan prasarana dan sarana dasar serta permukiman dilakukan
dalam sub-sub kawasan, sehingga dapat memangkas waktu dan energi yang
dikeluarkan dalam setiap perjalanan. Terdapat dua hal utama yang dapat
dicapai melalui pengembangan kota terpadu ini, yaitu hemat energi
penggunaan sumber daya listrik, komunikasi hemat energi dalam
transportasi regional.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 16

2. Pengembangan pola site plan atau master plan kawasan dengan penyediaan
fasilitas lingkungan yang mengurangi penggunaan kendaraan semaksimal
mungkin.
Gambar 8.4 Model Perumahan Hemat Energi di Inggris



















Sumber: Olahan Konsultan, 2012
Salah satu studi kasus adalah di Bogota. Untuk menghemat energi dan
mengurangi polusi udara kota, Enrique Penalosa - walikota Bogota tahun
1998-2001 - membangun jalur sepeda sepanjang 350 km. Ini merupakan
kota yang memiliki jalur sepeda terpanjang di Amerika Latin maupun di
kota-kota negara berkembang lainnya.
Jalur-jalur sepeda dan pedestrian itu dibuat sangat kompak, menerus, dan
terintegrasi serta akses yang sangat luas hingga menembus berbagai
kawasan pemukiman. Selain itu, pemerintah kota pun memanjakan para
pengguna sepeda dan pejalan kaki dengan berbagai regulasi keistimewaan
(privilage). Untuk mendukung ini, tak segan-segan walikota sendiri dan
pejabat pemerintahnya memiliki jadwal tertentu untuk bersepeda saat
pergi ke kantor. Oleh karenanya dalam waktu lima tahun, jumlah
pengendara sepeda meningkat drastis hingga mencapai 100% nya, yakni dari
8% pada tahun 1998 menjadi 16% pada 2003. Bahkan hingga tahun 2005 ini,
ditargetkan sekitar 30% penduduk Bogota akan menjadikan sepeda sebagai
salah satu moda transportasinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 17

pemerintah kotanya yang menyediakan fasilitas jalur sepeda yang aman dan
nyaman tersebut, seperti terlihat pada gambar berikut ini.
Gambar 8.5 Visualisasi Jalur dan Parkir Sepeda Khusus














Sumber: Hasil Olahan Konsultan, 2012


Untuk mensukseskan kebijakannya dapat dilakukan beberapa hal pertama
lakukan dengan cara konsep mengundang, yakni membuat jalur khusus
sepeda dan pedestrian beserta penyeberangannya yang aman dan nyaman.
Kedua, lakukan kampanye dan contoh nyata dari para pejabat, pada hari-
hari tertentu mereka juga bersepeda ke kantor seperti di Bogota tersebut.
Ketiga, buat undang-undang perlindungan, khususnya undang-undang
keistimewaan (privilege) bagi pengguna sepeda dan pejalan kaki. Sudah
semestinya pemihakan lebih diberikan kepada moda transportasi yang
hemat energi dan ramah lingkungan seperti ini. Keempat, buat aturan untuk
kelancaran, keamanan dan kenyamanannya. Khusus untuk pedagang kaki
lima (PKL) yang berpeluang mengambil tempat di jalur sepeda dan
pedestrian, perlu pendekatan tersendiri dalam penanganannya. Dan kelima,
lakukan ketegasan penegakan aturan, hukum dan Undang-Undang.
3. Pengadaan desain bangunan yang ramah lingkungan dan mengupayakan
penghematan energi semaksimal mungkin. Berikut adalah contoh design
bangunan yang hemat energi, dengan memanfaatkan energi matahari yang
masuk ke dalam ruangan melalui kaca di area corridor.




Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 18

Gambar 8.6 Model Bangunan Ramah Lingkungan

Sumber: Olahan Konsultan, 2012

4. Pola hijau perkotaan yang memaksimalkan penghijauan pada jalur median,
taman kota,taman lingkungan, atau tepi sungai guna mengeluarkan O2
cukup besar dari tanaman yang ada, guna meningkatkan produksi O2
sebanyak banyaknya guna mengurangi kadar CO2.
Gambar 8.7 Contoh Ruang Terbuka Hijau


















Sumber: Olahan Konsultan, 2012


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 19

5. Pembangunan sistem pengolahan air limbah bersih yang mendaur ulang 100
persen air buangan, baik keperluan sehari-hari (cuci tangan, piring,
kendaraan, atau bersuci diri) maupun air limbah (air buangan dari kamar
mandi, kloset air). Air daur ulang dapat digunakan untuk mencuci
kendaraan, membilas kloset, dan menyiram tanaman di taman, sehingga
tidak ada air yang terbuang. Bahkan di beberapa tempat saat ini sudah
dilakukan pula daur ulang air wudhu yang dapat digunakan kembali untuk
berwudhu).
6. Penanganan masalah sampah dengan membangun tempat proses pengolahan
dan pengelolaan sampah secara berkelanjutan dengan prinsip zero waste
material, melalui Program 3R (reduce, reuse, recycle). Seluruh penghuni
perumahan harus diberdayakan untuk mengurangi (reduce) pemakaian
bahan-bahan sulit terurai yang mampu menekan jumlah produksi sampah
rumah tangga hingga 50 persen. Sampah anorganik dipilah dan dipakai ulang
(reuse), yakni bahan-bahan seperti kertas, botol gelas, kayu, dan besi.
Sampah organik didaur ulang (recycle) sehingga dapat bernilai ekonomis
seperti menjadi pupuk organik untuk menyuburkan tanaman kebun dan
pepohonan di kawasan perumahan.
7. Pemanfaatan energi-energi alternatif
Kota ekologis memanfaatkan sejauh mungkin sumber energi terbarukan
(energi surya, angin, air dan geothermal) terutama untuk membangkitkan
listrik. Contoh pemanfaatan energi terbarukan adalah sebagai berikut:
a. Energi Surya
Energi surya dapat dimanfaatkan untuk energi radiasi (panas) dan
radiasi cahaya, sel surya (listrik).
b. Energi Air
Energi air dapat dimanfaatkan untuk penggilingan, penggergajian
atau sebagai penggerak mesin yang lain. Energi air secara tradisional
digunakan sebagai kincir air, selanjutnya untuk membangkitkan
listrik biasanya digunakan turbin.



Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 20

Gambar 8.8 Contoh Pembangkit Energi Surya











Gambar 8.9 Contoh Pembangkit Energi Air








Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Turbin_air

Energi mekanik (putaran) yang dihasilkan oleh turbin air akan
diteruskan ke generator melalui sebuah poros. adanya putaran dalam
medan magnet generator akan menyebabkan timbulnya listrik.
besarnya tergantung pada jumlah putaran dan kuat medan
penguatannya (Excitation).

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 21

Contoh pemanfaatan air sebagai pembangkit listrik di pedesaan dapat
dilihat di Desa Gema Kabupaten Ketapang yaitu PLTA Micro Hidro
alternatip sumber energi Air. Kegiatan pembangunan PLTA micro
hydro ini atas inisiatif dari masyarakat melalui wadah Badan
Keswadayaan Masyarakat (BKM) yang dibentuk oleh masyarakat
secara demokratis melalui pendampingan PNPM P2KP di Desa Gema
Kecamatan Simpang Dua. Dana kegiatan pembangunan PLTA micro
hydro ini bersumber dari dana BLM P2KP sebesar Rp.60.200.000 dari
data (Sistem Infomasi Manajemen) P2KP yang dikuncurkan kepada
masyarakat melalui BKM dan itupun adalah hanya merupakan dana
stimulan selebihnya adalah dana masyarakat atau swadaya
masyarakat dan ditambah bantuan dari dana APBD Kabupaten
Ketapang. Dan inilah salah keluaran dari proses pendampingan P2KP
kepada masyarakat yang dilakukan oleh fasilitator kelurahan atau
desa dalam rangka menumbuhkan kembali nilai-nilai baik melalui
gotong royong, kerjasama dan kemitraan antara pemerintah dan
masyarakat serta kelompok peduli sehingga menjadikan masyarakat
yang berdaya dan mandiri. Dan kapasitas atau debit air yang ada
setelah dilakukan analisa dan kajian oleh masyarakat sendiri melalui
proses pemetaan swadaya (PS) akan dapat menerangi seluruh rumah
warga dan fasilitas umum yang ada di desa Gema Kecamatan Simpang
Dua tersebut. Pengelolaan PLTA Micro hydro ini akan dilakukan oleh
masyarakat sendiri melalui BKM yang bekerjasama dengan
pemerintahan desa serta lembaga-lembaga yang ada di desa Gema.
Pada intinya masyarakat sangat terbantu dengan adanya PLTA micro
hydro ini walaupun sampai dengan hari ini baru dapat menerangi
fasilitas umum dan BKM telah melakukan pendataan kepada warga
yang akan mendaptar dan akan dilakukan penambahan generator
sehingga daya menjadi tinggi untuk dapat menerangi seluruh rumah
Desa Gema.





Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 22

Gambar 8.10 Contoh PLTA Mikrohidro di Desa Gama-Ketapang










Sumber : ketapang.go.id

c. Energi Geothermal
Energi geothermal memanfaatkan panas bumi untuk menghasilkan
uap yang dapat digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik. Perlu
diketahui bahwa pembangkit listrik dengan penggunaan panas (uap)
merupakan sistem yang kurang efisien (faktor efisiensi < 27%). Jika
bahan bakar yang digunakan merupakan energi terbarukan atau yang
selalu ada (tenaga surya, angin, air dan biomassa) hal ini tidak terlalu
memberatkan. Tetapi jika bahan bakar yang digunakan tidak
terbarukan (minyak bumi, gas dan batubara), hal ini tidak
berkesinambungan.

8.2. KONSEP REVITALISASI KAWASAN WARISAN BUDAYA
Pembahasan mengenai konsep revitalisasi kawasan warisan budaya meliputi: (i) akar
masalah penataan dan revotalisasi, (ii) penataan kawasan warisan budaya, (iii)
konservasi lingkungan binaan, (iv) teknis penanganan elemen kawasan.
8.2.1. Akar Masalah Penataan dan Revitalisasi
Kawasan strategis dan warisan budaya adalah merupakan salah satu isu pokok yang
perlu mendapat penanganan serius dalam pembangunan wilayah atau kawasan. Untuk
melaksanakannya dibutuhkan upaya penataan kawasan dan konservasi melalui

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 23

analisis dan pendekatan pembangunan kawasan perkotaan atau kawasan yang
terintegrasi. Berdasarkan riset kawasan warisan budaya di perkotaan dan pedesaan
yang pernah dilakukan/dapat disimpulkan adanya beberapa preposisi umum
mengenai logika sosial yang timbul dari dampak urbanisme dalam penataan dan
konservasi.
Gambar 8.11 Preseden Proyek Revitalisasi Perkotaan









Sumber: www.uc.edu
8.2.2. Penataan Kawasan Warisan Budaya
Dalam penataan kawasan warisan budaya terbangun maka kawasan tersebut harus
dikembangkan sehingga menjadi suatu kawasan yang vibrant dan viable untuk
kegiatan ekonomi, sosial, budaya dan pariwisata yang modern dalam rona
arsitektural dan kawasan warisan budaya, sehingga tercipta kawasan yang hidup.
Pendekatan yang harus dilakukan adalah :
1. Pengembangan Signifikasi Historis Konservasi
Dalam pengembangan signifikasi historis konservasi ini, program dan
komponen proyek yang dikembangkan, antara lain:
a. Menentukan dan mendefinisikan struktur ruang existing dari kawasan
warisan budaya dengan cara mengidentifikasi dan mendefinisikan
bentukannya, baik dari aspek sejarah maupun keberadaannya saat ini
sehingga dapat digunakan untuk merumuskan bentukan ruang yang
baru.














Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 24

b. Pelestarian dan pengembangan lingkungan inti (curtilage area) dan
akumulasi lingkungan warisan budaya yang ada.
c. Pelestarian terhadap bangunan dan ruang kuno yang
merupakan prioritas konservasi dan memiliki potensi historis.
d. Fungsi ulang untuk artefak kuno bersejarah sebagai penghargaan
historis dan atau adaptive re-used lewat penerapan fungsi-fungsi
yang compatible dengan citra kawasan.
e. Pengembangan jaringan wisata, arsitektur lingkungan, dan warisan
budaya.
f. Pengembangan museum, perpustakaan dan pusat-pusat informasi
lingkungan warisan budaya,
2. Pengembangan Signifikasi Budaya
Dalam pengembangan signifikasi budaya ini, program dan komponen proyek
yang dikembangkan antara lain:
a. Pengembangan museum.
b. Pengembangan komunitas seni dan budaya yang memiliki signifikasi
budaya khas.
c. Pelestarian dan pengembangan living culture dan fungsi-fungsi khas
yang masih ada, diantaranya adalah budaya khas, kesenian
tradisional, kerajinan tangan, souvenir, makanan tradisional, dan lain
sebagainya.
3. Pengembangan Infrastruktur Perkotaan dan Perdesaan
Dalam penataan kawasan warisan budaya perlu diikuti dengan penyediaan
infrastruktur perkotaan dan pedesaan yang memadai dan terintegrasi
dengan sistem kota, serta mampu mendukung dan memberdayakan potensi
lingkungan warisan budaya yang bersangkutan.
Program dan komponen proyek yang dikembangkan adalah:
a. Peningkatan aksesibilitas dart dan ke arah lingkungan lingkungan
warisan budaya serta peningkatan kualitas jalan yang ada;
b. Penanganan sanitasi dan drainase;
c. Penyediaan air bersih yang memadai;
d. Peningkatan sarana penerangan jalan umum, penerangan
pedestrian, penerangan taman atau ruang terbuka publik;
e. Penyediaan transfer station persampahan dan sistem penanganan
persampahan terkait;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 25

f. Penyediaan fasilitas listrik dan telepon;
g. Peningkatan kualitas Lansekap kota;
h. Penyediaan fasilitas transportasi publik yang murah dan
terdistribusi dengan baik.
4. Pengembangan Lingkungan Perumahan dan Lingkungan yang Sehat
Dalam pengembangan lingkungan perumahan dan lingkungan yang sehat
ini maka pembangunan infrastruktur perkotaan dan pedesaan
menjadi salah satu fokus utama. Adapun program dan komponen proyek
yang dikembangkan, antara lain:
a. Memfungsikan kembali bangunan-bangunan kuno atau adat yang
pernah digunakan sebagai salah satu ikon pemukiman;
b. Mengembangkan lingkungan untuk perumahan;
c. Perlindungan dan penciptaan lingkungan pedestrian dan ruang publik
yang manusiawi;
d. Perencanaan ruang terbuka publik sebagai unsur kenyamanan
lingkungan, lengkap dengan street furniture, vegetasi dan
penandaan; dan
e. Pengembangan potensi riverfront untuk wisata air dan
pemandangan.
5. Pengembangan Ekonomi
Dalam pengembangan ekonomi, nantinya perlu diperhatikan masalah
globalisasi, modernisasi, dan pengaruh urbanisasi, baik di kawasan
perkotaan maupun pedesaan.
Adapun secara umum, program dan komponen proyek yang
dikembangkan antara lain:
a. Penciptaan kesempatan pertumbuhan usaha baik bagi masyarakat
maupun investor (job creation/full employment);
b. Pemberdayaan masyarakat;
c. Pemberdayaan pasar (enabling the market);
d. Penguatan kemampuan ekonomi pemerintah kota;
e. Pengembangan properti dan bisnis; dan
f. Pengembangan minat investasi dan pengembangan usaha.
6. Pengembangan Aspek Legal
Dalam pengembangan aspek legal ini, hal-hal yang harus diatur antara lain:
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 26

a. Penetapan delineasi kawasan;
b. Pelestarian terhadap bentuk kota dan bangunan, pembangunan baru
dan lain sebagainya;
c. Hak dan kewajiban stakeholders; dan
d. Penghargaan dan sanksi harus diberikan kepada para
stakeholders penataan bangunan dan lingkungan dalam kawasan
warisan budaya tersebut.
7. Pengembangan Institusi
Program dan komponen proyek yang dikembangkan, antara lain:
a. Pemasaran properti dan investasi;
b. Pengembangan pariwisata;
c. Konservasi bangunan dan lingkungan;
d. Pengelolaan bangunan dan lingkungan;
e. Perizinan;
f. Pengaturan peraturan; dan
g. Pengarsipan dan penyusunan data base yang baik.
Gambar 8.12 Preseden Konservasi Kota Tua Lijiang di Cina










Sumber: www.images.businessweek.com


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 27

8.2.3. Konservasi Lingkungan Binaan
Konservasi adalah semua kegiatan perawatan suatu tempat (place) untuk
mempertahankan signifikasi budayanya. Termasuk di dalamnya adalah perawatan dan
keselarasan dengan keadaannya. Termasuk juga preservasi, restorasi, rekonstruksi
dan adaptasi atau kombinasi dari dua atau lebih.
Penanganan konservasi berdasar atas parameter konservasi lingkungan warisan
budaya terbangun dapat dibedakan menjadi:
1. Preservasi
Preservasi adalah upaya/tindakan pelestarian suatu tempat sama dengan
keadaan aslinya tanpa ada perubahan, termasuk upaya mencegah
kehancuran.
Prinsip-prinsip pokok yang harus dipahami, antara lain:
a. Pendekatan preservasi dilakukan bilamana lingkungan warisan budaya
tersebut memiliki bukti yang kuat akan adanya signifikasi
budaya yang spesifik atau tidak ada pendekatan lain yang sesuai.
b. Pendekatan preservasi dibatasi pada perlindungan, perawatan
seperlunya tanpa mendistorsi signifikasi budayanya.
2. Restorasi
Restorasi adalah upaya tindakan mengembalikan kondisi fisik bangunan
seperti semula dengan membuang elemen tambahan serta memasang
kembali elemen orisinil yang telah hilang tanpa menggunakan bahan baru.
Prinsip-prinsip pokok yang harus dipahami, antara lain:
a. Pendekatan restorasi digunakan bila tersedia bukti konkrit tentang
kondisi aslinya dan bahwa signifikasi budaya dari lingkungan warisan
budaya tersebut hanya bisa dikembalikan melalui pemasangan
kembali elemen orisinil tersebut.
b. Melalui restorasi harus dapat ditunjukkan aspek-aspek budaya yang
signifikan dari lingkungan warisan budaya tersebut. Dasarnya
adalah penghargaan akan semua peninggalan fisik, dokumen dan
bukti-bukti lain yang memperkuat dugaan tersebut.
c. Tindakan restorasi adalah pemasangan kembali komponen yang telah
dipindahkan.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 28

d. Bila lingkungan warisan budaya tersebut mewakili beberapa periode
yang berbeda maka setiap signifikasi budaya yang ada harus dihargai.
3. Rekonstruksi
Rekonstruksi adalah upaya/tindakan untuk mengembalikan suatu tempat
semirip mungkin dengan keadaan semula dengan menggunakan bahan baru
melalui suatu penelitian.
Prinsip-prinsip pokok yang harus dipahami, antara lain:
a. Pendekatan rekonstruksi dapat diterapkan bila lingkungan warisan
budaya tersebut menjadi tidak lengkap akibat rusak atau berubah
sehingga agar kelestariannya dapat terjaga maka seluruh signifikasi
budaya yang ada harus dipulihkan.
b. Batasan rekonstruksi hanya pada tindakan untuk melengkapi kesatuan
fabric dari lingkungan warisan budaya. Selain itu batasan juga
dilakukan terhadap rekonstruksi fabric, bentuk yang dapat dideteksi
secara fisik atau lewat dokumen.
4. Adaptasi
Adaptasi adalah upaya/tindakan merubah bangunan/tempat agar dapat
digunakan untuk fungsi baru yang lebih sesuai (kegunaan yang tidak
mengakibatkan perubahan drastis terhadap signifikasi budaya atau hanya
memerlukan sedikit dampak minimal).
Prinsip-prinsip pokok yang harus dipahami, antara lain:
a. Adaptasi dapat dilakukan bilamana konservasi lingkungan warisan
budaya tidak dapat dilakukan dan tersebut tidak melemahkan
substansi budaya yang signifikan.
b. Tindakan adaptasi dibatasi oleh pemanfaatan ruang yang esensial
yaitu compatible uses.
c. Keseluruhan signifikasi budaya lingkungan warisan budaya yang
terpaksa harus dipindahkan selama proses adaptasi harus tetap dijaga
sehingga dapat digunakan bila sewaktu-waktu dibutuhkan


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 29

8.2.4. Teknis Penanganan Elemen Kawasan
Teknis penangan elemen kawasan meliputi: (i) teknis penanganan elemen kawasan,
serta (ii) teknis penanganan fisik bangunan bersejarah.
A. Penanganan Kawasan Bersejarah
Kegiatan ini adalah sebagai pelengkap agar dapat memperkuat citra kawasan yang
memiliki nilai-nilai sejarah seperti:
1. Struktur Kawasan
Struktur kawasan yang memiliki hubungan dengan kawasan-kawasan lain di
perkotaan sesuai dengan Rencana Tata Ruang Kota (RTRK).
Prinsip dan pertimbangan penanganan adalah sebagai berikut:
a. Pembentukan kerangka (skeleton) yang memberi gambaran kerangka
atau struktur utama kawasan yang meliputi:
1.) Upaya menghubungkan elemen kawasan yang berada dalam
suatu sistem rancangan kota (urban design system)
2.) Upaya menciptakan aktifitas kawasan yang memiliki tema
sesuai dengan kondisi dan arah perkembangan kawasan.
b. Pola hubungan (framework) antara sub kawasan dengan kawasan
dan/atau terhadap kota, baik berupa koridor pedestrian maupun
jalur kendaraan.
2. Lansekap atau Vegetasi
Prinsip dan pertimbangan penanganan adalah sebagai berikut:
a. Penataan lansekap yang dapat memberi nilai tambah kawasan secara
estetis, visual, psikologis, sosial dan arkeologis;
b. Penataan lansekap memberi kesan ekologis dan historis yang unik dan
dapat beradaptasi dengan ruang-ruang yang sudah terbentuk;
c. Penataan lansekap dapat memperkuat struktur kawasan;
d. Penataan lansekap memnculkan elemen pembentuk dan penguat
figure ruang terbuka;
e. Pemilihan jenis tanaman yang dapat berfungsi sesuai dengan tujuan
penantaan lansekap, seperti tanaman pengarah, peneduh, penguat
struktur tanah, keindahan penutup tanah dan lain-lain;
f. Pohon dan/atau tanaman lain yang dianggap mempunyai nilai sejarah
harus dipelihara dan dipertahankan kehadirannya.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 30

3. Sistem Pergerakan
Prinsip dan pertimbangan penanganan adalah sebagai berikut:
a. Memaksimalkan sistem sirkulasi, moda dan lalu lintas; di mana
manajemen pengendalian lalu lintas bertujuan untuk optimalisasi,
efisiensi dan keselamatan pengguna prasarana jalan serta
aksesibilitas secara keseluruhan, di samping efisiensi penggunaan
sumber daya yang meliputi:
1.) Tata guna kawasan yang konsisten dengan keadaan aselinya
atau pertimbangan lain yang masih sejalan dengan pola
pengembangan kota;
2.) Memperkuat peran dan kedudukan subwilayah sesuai
fungsinya;
3.) Penyediaan sarana angkutan umum dan masa, serta ramah
lingkungan;
4.) Kapasitas kemampuan dan fungsi jalan; dan
5.) Tingkat intensitas dan keterkaitan dengan jalur transportasi
kota secara keseluruhan.
b. Sistem jalan, parkir, halte dan penyeberangan yang memadukan
fungsi kegiatan pergerakan kendaraan dan manusia dalam struktur
kawasan yang saling menunjang dan memberi manfaat.
Prinsip dan pertimbangan penanganan adalah sebagai berikut:
1.) Jalur jalan yang berfungsi sebagai tempat dan penghubung;
2.) Konsep rencana perparkiran berdasarkan pertimbangan
keterbatasan lahan, keteraturan, kemudahan pengawasan,
atau jenis kendaraan;
3.) Konsep rencana penempatan halte berdasarkan
pertibambangan seperti fungsi, bentuk dan arsitektur yang
dapat memperkuat karakter kawasan, kapasitas pemakai
dan lain-lain; dan
4.) Jalan penyeberangan –baik berupa jembatan ataupun zebra
cross- yang berdasarkan pertimbangan kemudahan
pencapaian keamanan atau kedisiplinan pemakai.
4. Street Furniture
Menempatkan elemen-elemen yang dapat befungsi secara fisik dan memberi
kesan yang menyatu dengan bangunan sekitarnya. Elemen-elemen yang
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 31

tergolong dalam street furniture adalah: lampu-lampu penerangan, tempat
sampah, papan reklame, pos polisi, halte atau shelter, boks telepon, bis
surat dan lain-lain.
Prinsip dan pertimbangan penanganan adalah sebagai berikut:
a. Harus dapat menjadi daya tarik kawasan;
b. Berfungsi sebagai wadah pendukung kegiatan;
c. Memperkuat citra kawasan;
d. Sedapatnya mendorong dan mendukung pertumbuhan serta
perkembangan aktivitas lainnya dalam kawasan warisan budaya;
e. Sedapatnya bermanfaat sebagai perangkat terselenggaranya
ketertiban kawasan;
f. Sedapatnya menjadi pendukung solusi rekayasa terhadap
permasalahan lalu lintas perkotaan (urban traffic system); dan
g. Sedapatnya mendukung eksistensi dan karakteristik kawasan.

B. Penanganan Fisik Bangunan Bersejarah
Beberapa macam pertimbangan dan kemungkinan dalam pelaksanaan revitalisasi dan
konservasi adalah:
1. Pemeliharaan Karakter Bangunan.
Pemeliharaan karakter bangunan merupakan usaha untuk melindungi
bangunan bersejarah secara berkelanjutan.
Prinsip dan pertimbangan penanganan adalah sebagai berikut:
a. Perlindungan dan pemeliharaan struktur, tapak dan lingkungan
sekitar bangunan dan kawasan bersejarah selama proses pemugaran
agar seluruh hasil karya seni yang unik dan berkualitas tinggi dapat
tetap terjaga karakternya;
b. Perlindungan dan pemeliharaan ruang luar dan semua benda-benda
dalam bangunan dan kawasan tersebut;
c. Apabila bangunan tersebut beralih fungsi, maka kualitas dan
keaselian ruang dalam atau interior harus tetap terjaga;
d. Perubahan dalam periode tertentu yang merupakan salah satu bukti
sejarah dan perkembangan bangunan, struktur, tapak dan lingkungan
yang harus diperhatikan karena memiliki arti penting bagi bentuk dan
gaya arsitektur bangunan, baik sebagian maupun keseluruhan; dan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 32

e. Perubahan yang saling menumpuk yang terjadi pada periode tertentu
atau menggambarkan periode yang berbeda-beda tetapi tidak terlalu
penting bagi perkembangan bangunan, struktur, tapak dan
lingkungannya harus dihindari.

2. Pencegahan Penurunan Kualitas Bangunan
Pencegahan penurunan kualitas bangunan dapat dilakukan beberapa lagkah
penting, antara lain: selama pemugaran berlangsung harus diantisipasi
adanya kemungkinan perembesan air ke dalam struktur bangunan.
3. Restorasi
Restorasi atau pemugaran adalah kegiatan revitalisasi dan konservasi nilai-
nilai estetika yang bersejarah dari bangunan dan kawasan yang sudah ada.
Pelaksanaan restorasi harus memperhatikan keaslian bahan dan harus
mengacu pada dokumen bangunan yang asli.
Prinsip dan pertimbangan penanganan adalah sebagai berikut:
a. Restorasi adalah pekerjaan yang membutuhkan keaselian khusus
sehingga dilaksanakan dengan menggunakan pengetahuan dan teknik
ilmiah;
b. Pekerjaan restorasi harus dihentikan apabila terdapat keraguan
terhadap bentuk aseli bangunan. Apabila tidak terdapat arsip,
dokumen atau catatan mengenai karakter asli dari bangunan dan
kawasan bersejarah atau lingkungan sekitarnya, maka pelaksanaan
pemugaran dilakukan berdasarkan catatan awal yang ada;
c. Penggantian elemen bangunan yang rusak atau hilang harus
berdasarkan pada bukti atau catatan sejarah yang ada. Reproduksi
dilakukan jika terdapat dokumentasi yang baik dan layak dipakai atau
elemen arsitektur yang terdapat pada bangunan lain pada peride
yang sama;
d. Apabila catatan tersebut tidak ada, elemen yang hilang tadi harus
diganti dengan elemen baru yang ditandai dan dibedakan dari elemen
asli, dan penggantian harus disesuaikan secara harmonis dengan
keseluruhan bangunan;
e. Pemindahan patung, lukisan atau hiasan yang telah menjadi satu
kesatuan dengan bangunan hanya dilakukan untuk menjaga keutuhan
dari patung, lukisan atau hiasan tertentu;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 33

f. Pembangunan baru, pembongkaran atau modifikasi yang berpengaruh
pada hubungan massa, tekstur dan warna harus dihindari. Setiap
bangunan baru harus didesain sebagai satu kesatuan estetika dan
arsitektur;
g. Penambahan atau pekerjaan tambahan dan peeluasan atau
pembangunan baru dalam lingkungan dapat dilakukan apabila tidak
mengubah elemen penting bangunan, lingkungan tradisional,
komposisi dan hubungan dengan lingkungan sekeliling;
h. Desain penambahan dan perluasan harus sesuai dengan ukuran, skala,
bahan dan karakter bangunan konservasi;
i. Penambahan dan penggantian terhadap bangunan atau strukur
dilakukan dengan melihat kemunginan dihilangkannya bentuk-bentuk
baru tersebut di masa mendatang tanpa merusak bentuk aseli dan
kesatuan dengan struktur yang ada;
j. Pekerjaan perluasan tidak menekankan pada kesatuan gaya arsitektur
tetapi pada kesinambungan sejarah. Pekerjaan tidak mengacu pada
dasar sejarah yang dimiliki bangunan dana kawasan konservasi tetapi
hanya dilakukan untuk menciptakan bentuk-bentuk masa lalu harus
dihindari;
k. Jika perluasan dilakukan untuk melengkapi desain aseli, maka
keutuhan gaya arsitektur harus diperhatikan. Perluasan yang tidak
melengkapi desain aseli harus memperhatikan kualitas ruang
lingkungan sekitar, jarak antar bangunan (set back), massa,
ketinggian bangunan, perluasan bangunan dan tapak yang
berdekatan;
l. Ketinggian perluasan bangunan baru tidak lebih dari ketinggian
bangunan konservasi atau bangunan asli; dan
m. Setiap perluasan bangunan harus tetap berkaitan dengan fungsi
utama bangunan konservasi.

4. Rehabilitasi
Rehabilitasi adalah proses pengembalian bangunan atau kawasan kepada
kegunaannya semula melalui perbaikan dan perubahan, yang memungkinkan
diberlakukannya fungsi baru yang efisien dan sekaligus memelihara serta
melestarikan elemen bangunan dan kawasan yang penting dari nilai sejarah,
arsitektur dan budaya.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 34

Prinsip dan pertimbangan penanganan adalah sebagai berikut:
a. Cara terbaik untuk melakukan preservasi dan konservasi bangunan
adalah tetap menggunakan sesuai fungsi awalnya, karena perubahan
struktur yang harus dilakukan menjadi sedikit.
b. Apabila hal di atas tidak mungkin dilakukan, penggunaan bangunan
diadaptasikan agar perubahan dilakukan sesedikit mungkin. Fungsi
baru harus konsisten dengan kesatuan struktural,
5. Reproduksi
Reproduksi adalah usaha melakukan replikasi atau membentuk kembali
bagian bangunan yang hilang dengan menggunakan material yang lama
ataupun baru.
Prinsip dan pertimbangan penanganan adalah sebagai berikut:
a. Reproduksi hanya dilakukan pada elemen dekoratif dan artefak yang
hilang dengan tujuan untuk menjaga keharmonisan estetika
bangunan.
b. Pembangunan ulang bangunan berstruktur kayu secara keseluruhan
dimungkinkan apabila diperlukan.
6. Rekonstruksi
Rekonstruksi adalah proses membangun kembali bagian atau keseluruhan
bangunan atau kawasan sesuai dengan bentuk asli atau bentuk awal dengan
menggunakan material baru ataupun lama.
Prinsip dan pertimbangan penanganan adalah sebagai berikut:
a. Menghindari rekonstruksi keseluruhan bangunan.
b. Rekonstruksi sebagian bangunan adalah usaha terakhir yang dapat
dilakukan atau apabila dalam kondisi sangat diperlukan untuk
menjaga keutuhan dan keseluruhan bangunan





Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 35

8.3. KONSEP PERENCANAAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH)
Gambaran skematik mengenai konsep Ruang Terbuka Hijau (RTH) terlihat pada
gambar berikut ini.
Gambar 8.13 Konsep RTH di Wilayah Perkotaan
























Sumber: IPB, 2005
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 36

8.3.1. Definisi dan Pengertian RTH
Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open
spaces) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi
(endemik, introduksi) guna mendukung manfaat langsung dan/atau tidak langsung
yang dihasilkan oleh RTH dalam kota tersebut yaitu keamanan, kenyamanan,
kesejahteraan, dan keindahan wilayah perkotaan tersebut.
Berdasarkan bobot kealamiannya, bentuk RTH dapat diklasifikasi menjadi:
1. Bentuk RTH alami (habitat liar/alami, kawasan lindung); dan
2. Bentuk RTH non alami atau RTH binaan (pertanian kota, pertamanan kota,
lapangan olah raga, pemakaman.
Berdasarkan sifat dan karakter ekologisnya diklasi-fikasi menjadi:
1. Bentuk RTH kawasan (areal, non linear); dan
2. Bentuk RTH jalur (koridor, linear).
Berdasarkan penggunaan lahan atau kawasan fungsionalnya diklasifikasi menjadi:
1. RTH kawasan Perdagangan;
2. RTH kawasan perindustrian;
3. RTH kawasan permukiman;
4. RTH kawasan pertanian;
5. RTH kawasan-kawasan khusus, seperti pemakaman, HANKAM, olah raga,
alamiah.
Status kepemilikan RTH diklasifikasikan menjadi:
1. RTH publik, yaitu RTH yang berlokasi pada lahan-lahan publik atau lahan
yang dimiliki oleh pemerintah (pusat, daerah); dan
2. RTH privat atau non publik, yaitu RTH yang berlokasi pada lahan-lahan milik
privat

8.3.2. Fungsi dan Manfaat RTH
Ruang Terbuka Hijau (RTH) -baik RTH publik maupun RTH privat- memiliki fungsi
utama (intrinsik) yaitu fungsi ekologis, dan fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu fungsi
arsitektural, sosial, dan fungsi ekonomi. Dalam suatu wilayah perkotaan empat fungsi
utama ini dapat dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan, kepentingan, dan
keberlanjutan kota.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 37

RTH berfungsi ekologis, yang menjamin keberlanjutan suatu wilayah kota secara
fisik, harus merupakan satu bentuk RTH yang berlokasi, berukuran, dan berbentuk
pasti dalam suatu wilayah kota, seperti RTH untuk perlindungan sumberdaya
penyangga kehidupan manusia dan untuk membangun jejaring habitat hidupan liar.
RTH untuk fungsi-fungsi lainnya (sosial, ekonomi, arsitektural) merupakan RTH
pendukung dan penambah nilai kualitas lingkungan dan budaya kota tersebut,
sehingga dapat berlokasi dan berbentuk sesuai dengan kebutuhan dan
kepentingannya, seperti untuk keindahan, rekreasi, dan pendukung arsitektur kota.
Manfaat RTH berdasarkan fungsinya dibagi atas manfaat langsung (dalam pengertian
cepat dan bersifat tangible) seperti mendapatkan bahan-bahan untuk dijual (kayu,
daun, bunga), kenyamanan fisik (teduh, segar), keinginan dan manfaat tidak langsung
(berjangka panjang dan bersifat intangible) seperti perlindungan tata air dan
konservasi hayati atau keanekaragaman hayati.
8.3.3. Pola dan Struktur Fungsional RTH
Pola RTH kota merupakan struktur RTH yang ditentukan oleh hubungan fungsional
(ekologis, sosial, ekonomi, arsitektural) antar komponen pembentuknya. Pola RTH
terdiri dari:
1. RTH struktural. RTH struktural merupakan pola RTH yang dibangun oleh
hubungan fungsi-onal antar komponen pembentuknya yang mempunyai pola
hierarki plano-logis yang bersifat antroposentris. RTH tipe ini didominasi
oleh fungsi-fungsi non ekologis dengan struktur RTH binaan yang
berhierarkhi. Contohnya adalah struktur RTH berdasarkan fungsi sosial
dalam melayani kebutuhan rekreasi luar ruang (outdoor recreation)
penduduk perkotaan seperti yang diperlihatkan dalam urutan hierakial
sistem pertamanan kota (urban park system) yang dimulai dari taman
perumahan, taman lingkungan, taman kecamatan, taman kota, taman
regional, dan seterusnya).
2. RTH non struktural. RTH non struktural merupakan pola RTH yang dibangun
oleh hubungan fungsional antar komponen pem-bentuknya yang umumnya
tidak mengikuti pola hierarki planologis karena bersifat ekosentris. RTH tipe
ini memiliki fungsi ekologis yang sangat dominan dengan struktur RTH alami
yang tidak berhirarki. Contohnya adalah struktur RTH yang dibentuk oleh
konfigurasi ekologis bentang alam perkotaan tersebut, seperti RTH kawasan
lindung, RTH perbukitan yang terjal, RTH sempadan sungai, RTH sempadan
danau.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 38

Untuk suatu wilayah perkotaan, maka pola RTH kota tersebut dapat dibangun dengan
mengintegrasikan dua pola RTH ini berdasarkan bobot tertinggi pada kerawanan
ekologis kota (tipologi alamiah kota: kota lembah, kota pegunungan, kota pulau, dan
lain-lain) sehingga dihasilkan suatu pola RTH struktural.

8.3.4. Elemen Fungsi RTH
RTH dibangun dari kumpulan tumbuhan dan tanaman atau vegetasi yang telah
diseleksi dan disesuaikan dengan lokasi serta rencana dan rancangan
peruntukkannya. Lokasi yang berbeda (seperti pusat kota, kawasan industri,
sempadan badan-badan air, dan lain-lain) akan memiliki permasalahan yang juga
berbeda yang selanjutnya berkonsekuensi pada rencana dan rancangan RTH yang
berbeda.
Untuk keberhasilan rancangan, penanaman dan kelestariannya maka sifat dan ciri
serta kriteria (a) arsitektural dan (b) hortikultural tanaman dan vegetasi penyusun
RTH harus menjadi bahan pertimbangan dalam men-seleksi jenis-jenis yang akan
ditanam.
Persyaratan umum tanaman untuk ditanam di wilayah perkotaan:
1. Disenangi dan tidak berbahaya bagi warga kota;
2. Mampu tumbuh pada lingkungan yang marjinal (tanah tidak subur, udara
dan air yang tercemar);
3. Tahan terhadap gangguan fisik (vandalisme);
4. Perakaran dalam sehingga tidak mudah tumbang;
5. Tidak gugur daun, cepat tumbuh, bernilai hias dan arsitektural;
6. Dapat menghasilkan O2 dan meningkatkan kualitas lingkungan kota;
7. Bibit/benih mudah didapatkan dengan harga yang murah/terjangkau oleh
masyarakat;
8. Prioritas menggunakan vegetasi endemik/lokal; dan
9. Keanekaragaman hayati.
Jenis tanaman endemik atau jenis tanaman lokal yang memiliki keunggulan tertentu
(ekologis, sosial budaya, ekonomi, arsitektural) dalam wilayah kota tersebut menjadi
bahan tanaman utama penciri RTH kota tersebut, yang selanjutnya akan
dikembangkan guna mempertahankan keanekaragaman hayati wilayahnya dan juga
nasional.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 39

8.3.5. Teknis Perencanaan RTH
Dalam rencana pembangunan dan pengembangan RTH yang fungsional suatu wilayah
perkotaan, ada 4 (empat) hal utama yang harus diperhatikan yaitu:
1. Luas RTH minimum yang diperlukan dalam suatu wilayah perkotaan di-
tentukan secara komposit oleh tiga komponen berikut ini, yaitu:
a. Kapasitas atau daya dukung alami wilayah;
b. Kebutuhan per kapita (kenyamanan, kesehatan, dan bentuk pela-
yanan lainnya); dan
c. Arah dan tujuan pembangunan kota. RTH berluas minimum
merupakan RTH berfungsi ekologis yang ber-lokasi, berukuran, dan
berbentuk pasti, yang melingkup RTH publik dan RTH privat. Dalam
suatu wilayah perkotaan maka RTH publik harus berukuran sama atau
lebih luas dari RTH luas minimal, dan RTH privat merupakan RTH
pendukung dan penambah nilai rasio terutama dalam meningkatkan
nilai dan kualitas lingkungan dan kultural kota.
2. Lokasi lahan kota yang potensial dan tersedia untuk RTH;
3. Struktur dan pola RTH yang akan dikembangkan (bentuk, konfigurasi, dan
distribusi); dan
4. Seleksi tanaman sesuai kepentingan dan tujuan pembangunan kota.

8.3.6. Isu RTH
Tiga isu utama dari ketersediaan dan kelestarian RTH adalah sebagai berikut:
1. Dampak negatif dari suboptimalisasi RTH dimana RTH kota tersebut tidak
memenuhi persyaratan jumlah dan kualitas (RTH tidak tersedia, RTH tidak
fungsional, fragmentasi lahan yang menurunkan kapasitas lahan dan selan-
jutnya menurunkan kapasitas lingkungan, alih guna dan fungsi lahan) terjadi
terutama dalam bentuk/kejadian:
a. Menurunkan kenyamanan kota: penurunan kapasitas dan daya
dukung wilayah (pencemaran meningkat, ketersediaan air tanah
menurun, suhu kota meningkat dan lain-lain).
b. Menurunkan keamanan kota;
c. Menurunkan keindahan alami kota (natural amenities) dan artifak
alami sejarah yang bernilai kultural tinggi; dan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 40

d. Menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat (menurunnya
kesehatan masyarakat secara fisik dan psikis).
2. Lemahnya lembaga pengelola RTH
a. Belum terdapatnya aturan hukum dan perundangan yang tepat;
b. Belum optimalnya penegakan aturan main pengelolaan RTH;
c. Belum jelasnya bentuk kelembagaan pengelola RTH; dan
d. Belum terdapatnya tata kerja pengelolaan RTH yang jelas.
3. Lemahnya peran stakeholders
a. Lemahnya persepsi masyarakat; dan
b. Lemahnya pengertian masyarakat dan pemerintah.
4. Keterbatasan lahan kota untuk peruntukan RTH
Belum optimalnya pemanfaatan lahan terbuka yang ada di kota untuk RTH
fungsional.
Gambar 8.14 Skema Implementasi RTH

















Sumber: IPB, 2005

8.4. KONSEP RUANG TERBUKA NON HIJAU (RTNH)
Pembahasan mengenai konsep perencanaan Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH) terdiri
atas: (i) definisi RTNH, (ii) fungsi RTNH, (iii) manfaat RTNH, (iv) pendekatan
pemahan RTNH, serta (v) tipologi RTNH.
8.4.1. Definisi RTNH
Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH) dipahami sebagai ruang yang secara fisik bukan
berbentuk bangunan gedung dan tidak dominan ditumbuhi tanaman ataupun
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 41

permukaan berpori, dapat berupa perkerasan, badan air ataupun kondisi tertentu
lainnya (misalnya badan lumpur, pasir, gurun, cadas, kapur, dan lain sebagainya).
Secara definitif, Ruang Terbuka Non Hijau selanjutnya dapat dibagi menjadi Ruang
Terbuka Perkerasan (paved), Ruang Terbuka Biru (badan air) serta Ruang Terbuka
Kondisi Tertentu Lainnya.
8.4.2. Fungsi RTNH
Fungsi utama atau intrinsik RTNH adalah fungsi Sosial Budaya, dimana antara lain
dapat berperan sebagai:
1. Wadah aktifitas Sosial Budaya masyarakat dalam wilayah kota/kawasan
perkotaan terbagi dan terencana dengan baik;
2. pengungkapan ekspresi budaya/kultur lokal;
3. merupakan media komunikasi warga kota;
4. tempat olahraga dan rekreasi; dan
5. wadah dan objek pendidikan, penelitian, dan pelatihan dalam mempelajari
alam.
Fungsi tambahan atau ekstrinsik RTNH adalah dalam fungsinya secara:
1. Ekologis
a. RTNH mampu menciptakan suatu sistem sirkulasi udara dan air dalam
skala lingkungan, kawasan dan kota secara alami berlangsung lancar
(sebagai suatu ruang terbuka);
b. RTNH berkontribusi dalam penyerapan air hujan (dengan bantuan
utilisasi dan jenis bahan penutup tanah), sehingga mampu ikut
membantu mengatasi permasalahan banjir dan kekeringan.
2. Ekonomis
a. RTNH memiliki nilai jual dari lahan yang tersedia, misalnya sarana
parkir, sarana olahraga, sarana bermain, dan lain sebagainya;
b. RTNH secara fungsional dapat dimanfaatkan untuk mengakomodasi
kegiatan sektor informal sebagai bentuk pemberdayaan usaha kecil.
3. Arsitektural
a. RTNH meningkatkan kenyamanan, memperindah lingkungan kota baik
dari skala mikro: halaman rumah, lingkungan permukimam, maupun
makro: lansekap kota secara keseluruhan;
b. RTNH dapat menstimulasi kreativitas dan produktivitas warga kota;
c. RTNH menjadi salah satu pembentuk faktor keindahan arsitektural;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 42

d. RTNH mampu menciptakan suasana serasi dan seimbang antara area
terbangun dan tidak terbangun.
4. Darurat
a. RTNH seperti diamanahkan oleh arahan mitigasi bencana alam harus
memiliki fungsi juga sebagai jalur evakuasi penyelamatan pada saat
bencana alam;
b. RTNH secara fungsional dapat disediakan sebagai lokasi
penyelamatan berupa ruang terbuka perkerasan yang merupakan
tempat berkumpulnya massa (assembly point) pada saat bencana.

8.4.3. Manfaat RTNH
Manfaat Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH) terbagi menjadi:
1. Manfaat RTNH secara Langsung
Manfaat RTNH secara Langsung merupakan manfaat yang dalam jangka
pendek atau secara langsung dapat dirasakan, seperti:
a. Berlangsungnya aktivitas masyarakat, seperti misalnya: kegiatan
olahraga, kegiatan rekreasi, kegiatan parkir, dan lain-lain;
b. Keindahan dan kenyamanan, seperti misalnya: penyediaan plasa,
monumen, landmark, dan lain sebagainya; dan
c. Keuntungan ekonomis, seperti misalnya: retribusi parkir, sewa
lapangan olahraga, dan lain sebagainya.
2. Manfaat RTNH secara Tidak Langsung
Manfaat RTNH secara tidak langsung merupakan manfaat yang baru dapat
dirasakan dalam jangka waktu yang panjang, seperti:
a. mereduksi permasalahan dan konflik sosial;
b. meningkatkan produktivitas masyarakat;
c. pelestarian lingkungan; dan
d. meningkatkan nilai ekonomis lahan di sekitarnya
8.4.4. Pendekatan Pemahaman RTNH
Pendekatan pemahaman mengenai RTNH terbagi menjadi:
1. RTNH berdasarkan Struktur dan Pola Ruang
RTNH berdasarkan struktur dan pola ruang dapat dijelaskan sebagai berikut:
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 43

a. Secara Hirarkis
Secara hirarkis merupakan pengelompokan RTNH berdasarkan
perannya pada suatu tingkatan administratif. Hal ini terkait dengan
suatu struktur ruang yang terkait dengan struktur pelayanan suatu
wilayah berdasarkan pendekatan administratif. RTNH secara hirarkis
dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1.) RTNH skala Kabupaten/Kota;
2.) RTNH skala Kecamatan;
3.) RTNH skala Kelurahan;
4.) RTNH skala Lingkungan RW; dan
5.) RTNH skala Lingkungan RT.
b. Secara Fungsional
Secara fungsional merupakan pengelompokan RTNH berdasarkan
perannya sebagai penunjang dari suatu fungsi bangunan tertentu. Hal
ini terkait dengan suatu pola ruang yang terkait dengan penggunaan
ruang yang secara detail digambarkan dalam fungsi bangunan. RTNH
secara fungsional dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1.) RTNH pada Lingkungan Bangunan Hunian;
2.) RTNH pada Lingkungan Bangunan Komersial;
3.) RTNH pada Lingkungan Bangunan Sosial Budaya;
4.) RTNH pada Lingkungan Bangunan Pendidikan;
5.) RTNH pada Lingkungan Bangunan Olahraga;
6.) RTNH pada Lingkungan Bangunan Kesehatan;
7.) RTNH pada Lingkungan Bangunan Transportasi;
8.) RTNH pada Lingkungan Bangunan Industri; dan
9.) RTNH pada Lingkungan Bangunan Instalasi.
c. Secara Linier
Secara linier merupakan pengelompokan RTNH berdasarkan perannya
sebagai penunjang dari jaringan aksesibilitas suatu wilayah. RTNH
yang diatur di sini bukan merupakan jalan atau jalur pejalan kaki,
tetapi berbagai bentuk RTNH yang disediakan sebagai penunjang
aksesibilitas pada jaringan jalan skala tertentu. RTNH secara linier
dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1.) RTNH pada Jalan Bebas Hambatan;
2.) RTNH pada Jalan Arteri;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 44

3.) RTNH pada Jalan Kolektor;
4.) RTNH pada Jalan Lokal;
5.) RTNH pada Jalan Lingkungan.
2. RTNH berdasarkan Kepemilikan
Berdasarkan kepemilikannya, RTNH dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
a. RTNH Publik yaitu RTNH yang dimiliki dan dikelola oleh
Pemerintah/PEMDA;
b. RTNH Privat yaitu RTNH yang dimiliki dan dikelola oleh
Swasta/Masyarakat

8.4.5. Tipologi RTNH
Tipologi RTNH merupakan penjelasan mengenai tipe-tipe RTNH yang dapat
dirumuskan dari berbagai pendekatan pemahaman RTNH yang telah dijabarkan pada
sub-bab sebelumnya.
Tipe-tipe RTNH yang dirumuskan berikut ini dapat mewakili berbagai RTNH
perkerasan (paved) yang ada, yaitu:
1. Plasa
Plasa merupakan suatu bentuk ruang terbuka non hijau sebagai suatu
pelataran tempat berkumpulnya massa (assembly point) dengan berbagai
jenis kegiatan seperti sosialisasi, duduk-duduk, aktivitas massa, dan lain-
lain. Contoh RTNH tipe plasa dapat dilihat pada gambar berikut ini
Gambar 8.15 Contoh RTNH Plasa












Sumber: Pedoman RTNH, 2009
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 45

2. Parkir
Parkir merupakan suatu bentuk ruang terbuka non hijau sebagai suatu
pelataran dengan fungsi utama meletakkan kendaraan bermotor seperti
mobil atau motor; serta kendaraan lainnya seperti sepeda. Lahan parkir
dikenal sebagai salah satu bentuk RTNH yang memiliki fungsi ekonomis. Hal
ini dikarenakan manfaatnya yang secara langsung dapat memberikan
keuntungan ekonomis atau fungsinya dalam menunjang berbagai kegiatan
ekonomis yang berlangsung. Kedudukan lahan parkir menjadi bagian yang
tidak terpisahkan dari suatu sistem pergerakan suatu kawasan perkotaan.
Pada kawasan perkotaan, dimana berbagai kegiatan ekonomis terjadi
dengan intensitas yang relatif tinggi, namun di sisi lain lahan yang tersedia
terbatas dengan nilai lahan yang tinggi, mengakibatkan keberadaan lahan
parkir sangat dibutuhkan. Seringkali oleh berbagai keterbatasan yang ada,
keberadaan lahan parkir yang memadai menjadi sangat langka. Dalam
banyak kasus kekurangan lahan parkir menimbulkan berbagai permasalahan,
mulai dari terganggunya aktivitas manusia pada suatu fungsi bangunan
tertentu sampai pada timbulnya kemacetan yang parah.
Mengingat sangat pentingnya keberadaan lahan parkir dalam suatu kawasan
perkotaan, oleh karena itu lahan parkir menjadi satu aspek dari kajian
RTNH yang perlu diatur penyediaannya. Dalam pedoman penyediaan dan
pemanfaatan RTNH ini akan dijabarkan secara khusus mengenai arahan
penyediaan lahan parkir sesuai dengan standar kebutuhannya, baik dalam
pendekatan skala lingkungan maupun dalam pendekatan fungsi bangunan
pada bab selanjutnya.
Contoh RTNH tipe parkir dapat dilihat pada gambar sebagai berikut ini.
Gambar 8.16 Contoh RTNH Parkir







Sumber: Pedoman RTNH, 2009
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 46

3. Lapangan Olahraga
Lapangan olahraga merupakan suatu bentuk ruang terbuka non hijau
sebagai suatu pelataran dengan fungsi utama tempat dilangsungkannya
kegiatan olahraga.
Contoh RTNH tipe lapangan olahraga dapat dilihat pada gambar sebagai
berikut ini.
Gambar 8.17 Contoh RTNH Olahraga






Sumber: Pedoman RTNH, 2009
4. Tempat Bermain dan Rekreasi
Tempat bermain dan rekreasi merupakan suatu bentuk ruang terbuka non
hijau sebagai suatu pelataran dengan berbagai kelengkapan tertentu untuk
mewadahi kegiatan utama bermain atau rekreasi masyarakat.
Contoh RTNH tipe tempat bermain dan rekreasi dapat dilihat pada gambar
berikut ini.
Gambar 8.18 Contoh RTNH Bermain







Sumber: Pedoman RTNH, 2009
5. Pembatas (Buffer)
Pembatas (buffer) merupakan suatu bentuk ruang terbuka non hijau sebagai
suatu jalur dengan fungsi utama sebagai pembatas yang menegaskan
peralihan antara suatu fungsi dengan fungsi lainnya.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 47

Contoh RTNH tipe pembatas dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Gambar 8.19 Contoh RTNH Pembatas






Sumber: Pedoman RTNH, 2009
6. Koridor
Koridor merupakan suatu bentuk ruang terbuka non hijau sebagai jalur
dengan fungsi utama sebagai sarana aksesibilitas pejalan kaki yang bukan
merupakan trotoar (jalur pejalan kaki yang berada di sisi jalan). Koridor
yaitu ruang terbuka non hijau yang terbentuk di antara dua bangunan atau
gedung, dimana dimanfaatkan sebagai ruang sirkulasi atau aktivitas
tertentu.
Contoh RTNH tipe koridor dapat dilihat pada gambar sebagai berikut ini.
Gambar 8.20 Contoh RTNH Koridor























Sumber: Pedoman RTNH, 2009



Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 48

8.5. KONSEP PENGEMBANGAN PERTANIAN MELALUI AGROFORESTRI
DAN AGROPOLITAN
Hampir lebih dari 80% penggunaan lahan di Kabupaten Tolikara berupa hutan primer
dan sekunder. Untuk itu, penyusunan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) dan
aturan dibawahnya, seperti Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) skala Kota dan Distrik
harus memperhatikan kondisi tersebut. Kesalahan dalam mengelola hutan akan
memberikan dampak yang sangat besar terhadap kondisi sosial, ekonomi, maupun
lingkungan. Saat ini pengelolaan hutan di Indonesia mempunyai dasar hukum yang
kuat dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Kehutanan tentang Hutan
Kemasyarakatan, yaitu:
 Pengelolaan hutan diubah dari sistem hutan berbasis produksi kayu (timber
management) menjadi berbasis sumber daya hutan yang berkelanjutan
(resources based management);
 Pemberian hak penguasaan hutan yang awalnya lebih ditujukan kepada usaha
skala besar, beralih pada usaha berbasis masyarakat (community based forest
management);
 Orientasi kelestarian hutan yang ditekankan pada aspek ekonomi (produksi
kayu) saja, diubah pada upaya mengakomodir kelestarian fungsi sosial,
ekonomi, dan lingkungan;
 Pengelolaan hutan yang semula sentralistis menuju desentralistis,
memberikan kesempatan kepada daerah untuk mengelola hutan secara
demokratis, partisipatif, dan terbuka; dan
 Era produksi, yang mengutamakan hasil kayu akan dikurangi secara bertahap
(soft landing process), menuju era rehabilitasi dan konservasi untuk
pemulihan kualitas lingkungan yang lestari.
Konversi atau alih-guna lahan hutan menjadi lahan pertanian akan menimbulkan
beberapa dampak negatif, diantaranya bahaya banjir, erosi dan peningkatan laju air
permukaan (surface run-off), kekeringan, penurunan kesuburan tanah, terganggunya
fungsi tanah dan tata air, kepunahan flora dan fauna, bahkan perubahan lingkungan
global. Akibat dampak tersebut akan bertambah berat dari waktu ke waktu sejalan
dengan meningkatnya luas areal hutan yang dialih-gunakan menjadi lahan usaha lain.
Agroforestri adalah salah satu sistem pemanfaatan dan pengelolaan lahan yang dapat
ditawarkan untuk mengatasi masalah yang timbul akibat adanya alih-guna lahan
tersebut dan sekaligus akan mampu mengatasi masalah pangan. Secara skematis
sistem penggunaan lahan seperti pada Gambar berikut.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 49

Gambar 8.21 Skema Sistem Penggunaan Lahan Utama

















8.5.1. Sistem Agroforestri
Sistem agroforestri adalah istilah kolektif untuk sistem-sistem dan teknologi-
teknologi penggunaan lahan, yang secara terencana dilaksanakan pada satu unit
lahan dengan mengkombinasikan tumbuhan berkayu (pohon, perdu, palem, bambu
dll.) dengan tanaman pertanian dan/atau hewan (ternak) dan/atau ikan, yang
dilakukan pada waktu yang bersamaan atau bergiliran sehingga terbentuk interaksi
ekologis dan ekonomis antar berbagai komponen yang ada (Lundgren dan Raintree,
1982). Pengertian agroforestri menitikberatkan pada dua karakter pokok yang umum
dipakai pada seluruh bentuk agroforestri yang membedakan dengan sistem
penggunaan lahan lainnya, yaitu : 1) adanya pengkombinasian yang
terencana/disengaja dalam satu bidang lahan antara tumbuhan berkayu
(pepohonan), tanaman pertanian dan/atau ternak/hewan baik secara bersamaan
(pembagian ruang) ataupun bergiliran (bergantian waktu), 2) ada interaksi ekologis
dan/atau ekonomis yang nyata/jelas, baik positif dan/atau negatif antara komponen-
komponen sistem yang berkayu maupun tidak berkayu.
Lundgren dan Raintree, (1982) selanjutnya menyatakan terdapat beberapa ciri
penting sistem agroforestri adalah:
1. Sistem agroforestri biasanya tersusun dari dua jenis tanaman atau lebih
(tanaman dan/atau hewan), paling tidak satu di antaranya tumbuhan berkayu;
2. Siklus sistem agroforestri selalu lebih dari satu tahun;
Sistem Penggunaan Lahan
Hutan Alami
Hutan Buatan Pertanian
Hutan Tanaman Industri
(HTI)
Agroforestri Sederhana
Agroforestri Komplek/
Agroforest
Perkebunan Agroforestri
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 50

3. Ada interaksi (ekonomi dan ekologi) antara tanaman berkayu dengan tanaman
tidak berkayu;
4. Selalu memiliki dua macam produk atau lebih (multi product), misalnya pakan
ternak, kayu bakar, buah-buahan, obat-obatan;
5. Minimal mempunyai satu fungsi pelayanan jasa (service function), misalnya
pelindung angin, penaung, penyubur tanah, peneduh sehingga dijadikan pusat
berkumpulnya keluarga/masyarakat; dan
6. Untuk sistem pertanian masukan rendah di daerah tropis, agroforestri
tergantung pada penggunaan dan manipulasi biomasa tanaman terutama
dengan mengoptimalkan penggunaan sisa panen.
Sistem agroforestri yang paling sederhanapun secara biologis (struktur dan fungsi)
maupun ekonomis jauh lebih kompleks dibandingkan sistem budidaya monokultur.
Hubungan masukan dan keluaran dalam sistem agroforestri disajikan pada gambar
berikut.
Gambar 8. 22 Hubungan Masukan dan Keluaran Dalam Sistem Agroforestri













8.5.1.1 Ruang Lingkup Sistem Agroforestri
Pada dasarnya sistem agroforestri terdiri atas tiga komponen pokok yaitu kehutanan,
pertanian dan peternakan, di mana masing-masing komponen sebenarnya dapat
berdiri sendiri-sendiri sebagai satu bentuk sistem penggunaan lahan. Namun sistem-
sistem tersebut pada umumnya ditujukan pada produksi satu komoditas spesifik atau
kelompok produk yang serupa. Penggabungan/ kombinasi dari tiga komponen
tersebut menghasilkan beberapa kemungkinan bentuk kombinasi sebagai berikut :
1. Agrisilvikultur : kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan, perdu,
palem, bamboo dan sebagainya dengan komponen pertanian;
Masukan :
 Jaminan penguasaan
lahan
 Tenaga kerja
 Ketrampilan pengelolaan
 Bibit pohon, ternak,
ikan

Keluaran :
 Produksi pohon, tanaman
semusim, ternak, ikan
 Layanan lingkungan
 Kualitas hidup
Dukungan kebijakan, dll
Produksi rata-rata, variasi
produksi, harga pasar, resiko
pendapatan bagi petani


SISTEM
AGROFORESTRI
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 51

2. Agropastura : kombinasi antara komponen atau kegiatan pertanian dengan
komponen peternakan;
3. Silvopastura : kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan dengan
peternakan; dan
4. Agrosilvopastura : kombinasi antara komponen atau kegiatan pertanian dengan
kehutanan dan peternakan/hewan
Dari keempat kombinasi tersebut, yang termasuk dalam sistem agroforestri adalah
Agrisilvikutur, Silvopastura dan Agrosilvopastura. Sementara Agropastura tidak
dimasukkan sebagai agroforestri, karena komponen kehutanan atau pepohonan tidak
dijumpai dalam kombinasi. Beberapa praktek sistem agroforestri dapat dilihat pada
Gambar 8.23.
Di samping ketiga kombinasi tersebut, Nair (1987) menambah sistem-sistem lainnya
yang dapat dikategorikan sebagai sistem agroforestri. Beberapa contoh yang
menggambarkan sistem lebih spesifik yaitu:
Silvofishery : Kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan dengan
perikanan.
Apiculture : Budidaya lebah atau serangga yang dilakukan dalam kegiatan atau
komponen kehutanan.
Gambar 8.23 Beberapa Praktek Sistem Agroforestri

Kombinasi antara pohon, sayuran, tanaman
pangan dan buah-buahan
Kombinasi antara pohon kelapa, pisang, nenas

Kombinasi antara pohon dan tanaman kopi
(sistem multistrata)
Kombinasi antara pohon, rumput dan sapi


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 52

8.5.1.2 Jenis-jenis Sistem Agroforestri
Menurut De Foresta dan Michon (1997), sistem agroforestri dapat dikelompokkan
menjadi dua sistem, yaitu:
1. Sistem Agroforestri Sederhana
Sistem agroforestri sederhana adalah suatu sistem pertanian, dimana
pepohonan ditanam secara tumpangsari dengan satu atau lebih jenis tanaman
semusim. Pepohonan bisa ditanam sebagai pagar mengelilingi petak lahan
tanaman pangan, secara acak dalam petak lahan, atau dengan pola lain,
misalnya berbaris dalam larikan sehingga membentuk lorong/pagar.
Jenis-jenis pohon yang ditanam sangat beragam, bisa yang bernilai ekonomi
tinggi (kelapa, karet, cengkeh, kopi, kakao, nangka, melinjo, petai, jati,
mahoni) atau bernilai ekonomi rendah (dadap, lamtoro, kaliandra). Jenis
tanaman semusim biasanya berkisar pada tanaman pangan (padi gogo, jagung,
kedelai, kacang-kacangan, ubikayu), sayuran, rerumputan atau jenis-jenis
tanaman lainnya.
Dalam perkembangannya, sistem agroforestri sederhana ini juga merupakan
campuran dari beberapa jenis pepohonan tanpa adanya tanaman semusim.
Misalnya kebun kopi biasanya disisipi dengan tanaman dadap (Erythrina) atau
gamal (Gliricidia) sebagai tanaman naungan dan penyubur tanah.
Bentuk sistem agroforestri sederhana ini juga bisa dijumpai pada sistem
pertanian tradisional. Pada daerah yang kurang padat penduduknya, bentuk
ini timbul sebagai salah satu upaya petani dalam mengintensifkan penggunaan
lahan karena adanya kendala alam, misalnya tanah rawa. Sebagai contoh,
kelapa ditanam secara tumpangsari dengan padi sawah di tanah rawa.
Perpaduan pohon dengan tanaman semusim ini juga banyak ditemui di daerah
berpenduduk padat, seperti pohon-pohon randu yang ditanam pada
pematang- pematang sawah, kelapa atau siwalan dengan tembakau, tanah-
tanah yang dangkal dan berbatu ditanami jagung dan ubikayu di antara gamal
(Gliricidia sepium).
2. Sistem Agroforestri Kompleks
Sistem agroforestri kompleks adalah suatu sistem pertanian menetap yang
melibatkan banyak jenis pepohonan (berbasis pohon), baik sengaja ditanam
maupun yang tumbuh secara alami pada sebidang lahan yang dikelola
mengikuti pola tanam dan ekosistem yang menyerupai hutan. Di dalam sistem
ini, selain terdapat beraneka jenis pohon, juga tanaman perdu, tanaman
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 53

memanjat (liana), tanaman musiman dan rerumputan dalam jumlah banyak.
Sebagai penciri utama dari sistem agroforestri kompleks ini adalah
kenampakan fisik dan dinamika di dalamnya yang mirip dengan ekosistem
hutan alam baik hutan primer maupun hutan sekunder, oleh karena itu sistem
ini dapat pula disebut sebagai agroforest (ICRAF, 1996).
Berdasarkan jaraknya terhadap tempat tinggal, sistem agroforestri kompleks
ini dibedakan menjadi dua, yaitu kebun atau pekarangan berbasis pohon
(home garden) yang letaknya di sekitar tempat tinggal dan „agroforest‟, yang
biasanya disebut „hutan‟ yang letaknya jauh dari tempat tinggal (De Foresta,
2000).

8.5.1.3 Sistem Agroforest
Sistem agroforest biasanya dibentuk pada lahan bekas hutan alam atau semak
belukar yang diawali dengan penebangan dan pembakaran semua tumbuhan.
Pembukaan lahan biasanya dilakukan pada musim kemarau. Pada awal musim
penghujan, lahan ditanami padi gogo yang disisipi tanaman semusim lainnya (jagung,
cabe) untuk satu-dua kali panen. Setelah dua kali panen tanaman semusim,
intensifikasi penggunaan lahan ditingkatkan dengan menanam pepohonan misalnya
karet, damar atau tanaman keras lainnya. Pada periode awal ini, terdapat perpaduan
sementara antara tanaman semusim dengan pepohonan.
Pada saat pohon sudah dewasa, petani masih bebas memadukan bermacam- macam
tanaman tahunan lain yang bermanfaat dari segi ekonomi dan budaya, misalnya
penyisipan pohon durian atau duku, sedangkan tanaman semusim sudah tidak ada
lagi. Tumbuhan asli asal hutan yang bermanfaat bagi petani tetap dibiarkan kembali
tumbuh secara alami dan dipelihara di antara tanaman utama, misalnya pulai, kayu
laban, kemenyan dan sebagainya. Pemaduan terus berlangsung pada keseluruhan
masa keberadaan agroforest. Tebang pilih akan dilakukan bila tanaman pokok mulai
terganggu atau bila pohon terlalu tua sehingga tidak produktif lagi.
Ditinjau dari letaknya, agroforest biasanya berada di pinggiran hutan (forest margin)
atau berada di tengah-tengah antara sistem pertanian dan hutan. Berdasarkan uraian
di atas, semua sistem agroforest memiliki ciri utama yaitu tidak adanya produksi
bahan makanan pokok. Namun sebagian besar kebutuhan petani yang lain tersedia
pada sistem ini, misalnya makanan tambahan (buah-buahan), hasil perkebunan,
persediaan bahan bangunan dan cadangan pendapatan tunai yang lain.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 54

Bentuk, fungsi, dan perkembangan sistem agroforest dipengaruhi oleh berbagai
faktor ekologis dan sosial (FAO dan IIRR, 1995), antara lain:
1. Sifat dan ketersediaan sumber daya di hutan,
2. Arah dan besarnya tekanan manusia terhadap sumber daya hutan,
3. Organisasi dan dinamika usaha tani yang dilaksanakan,
4. Sifat dan kekuatan aturan sosial dan adat istiadat setempat,
5. Tekanan penduduk dan ekonomi,
6. Sifat hubungan antara masyarakat setempat dengan „dunia luar‟,
7. Perilaku ekologis dari unsur-unsur pembentuk agroforest,
8. Stabilitas struktur agroforest, dan
9. Cara-cara pelestarian yang dilakukan.
Dibandingkan sistem agroforestri sederhana, struktur dan penampilan fisik
agroforest yang mirip dengan hutan alam merupakan suatu keunggulan dari
sudut pandang pelestarian lingkungan. Pada kedua sistem agroforestri
tersebut, sumber daya air dan tanah dilindungi dan dimanfaatkan. Kelebihan
agroforest terletak pada pelestarian sebagian besar keanekaragaman flora
dan fauna asal hutan alam (Bompard, 1985; Michon, 1987; Seibert, 1988;
Michon, 1990).

8.5.1.4 Keunggulan Sistem Agroforestri
Sistem agroforestri memiliki beberapa keunggulan yaitu dari aspek
ekologi/lingkungan, ekonomi, sosial-budaya dan politik.
1. Keunggulan ekologi/lingkungan, sistem agroforestri memiliki stabilitas ekologi
yang tinggi, karena agroforestri memiliki:
 Multi-jenis, artinya memiliki keanekaragaman hayati yang lebih banyak atau
memiliki rantai makanan/energi yang lebih lengkap. Konversi hutan alami
menjadi lahan pertanian mendorong penurunan keanekaragaman hayati
secara drastis;
 Multi-strata tajuk dapat menciptakan iklim mikro serta konservasi tanah dan
air yang lebih baik. Selain itu, dengan adanya kombinasi pohon dan tanaman
semusim dapat mengurangi serangan hama dan penyakit. Kesinambungan
vegetasi pada lahan, sehingga tidak pernah terjadi keterbukaan permukaan
tanah secara ekstrim yang dapat merusak keseimbangan ekologinya; dan
 Penggunaan bentang lahan secara efisien. Pada suatu lahan, kemungkinan
terdapat 'relung' (niches) yang beragam tergantung pada kesuburan tanah,
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 55

kemiringan lereng, kerentanan terhadap erosi, ketersediaan air dan
sebagainya. Pada sistem monokultur, keragaman „niches‟ ini seringkali
diabaikan, bahkan cenderung ditiadakan. Dalam sistem agroforestri, petani
memiliki banyak pilihan untuk menyesuaikan tanaman apa yang akan ditanam
pada suatu „niches‟, dan bukan „mengkoreksi‟ untuk memanfaatkan ‟niches‟
tersebut, yang seringkali justru memboroskan biaya dan tenaga.

2. Keunggulan ekonomi , yakni memberi kesejahteraan kepada petani relatif lebih
tinggi dan berkesinambungan, karena sistem agroforestri memiliki:
 Tanaman yang ditanam lebih beragam, yang biasanya dipilih jenis-jenis
tanaman yang mempunyai nilai komersial dengan potensi pasar yang besar.
Keragaman atau diversifikasi jenis hasil ini akan meningkatkan ketahanan
terhadap resiko kegagalan dan fluktuasi harga serta jumlah permintaan pasar.
Dengan demikian akan diperoleh jenis hasil yang beragam dan
berkesinambungan, sehingga akan menjamin pendapatan petani lebih merata
sepanjang tahun; dan
 Kebutuhan investasi yang relatif rendah, atau mungkin dapat dilakukan secara
bertahap.

3. Keunggulan sosial budaya yaitu keunggulan sistem agroforestri yang
berhubungan dengan kesesuaian (adoptibility) yang tinggi dengan kondisi
pengetahuan, ketrampilan dan sikap budaya masyarakat petani. Hal ini karena
sistem agroforestri memiliki:
 Teknologi yang fleksibel, dapat dilaksanakan mulai dari sangat intensif untuk
masyarakat yang sudah maju, sampai kurang intensif untuk masyarakat yang
masih tradisional dan subsisten;
 Kebutuhan input, proses pengelolaan sampai jenis hasil agroforestri umumnya
sudah sangat dikenal dan biasa dipergunakan oleh masyarakat setempat;
 Filosofi budidaya yang efisien, yakni memperoleh hasil yang relatif besar
dengan biaya atau pengorbanan yang relatif kecil.

4. Keunggulan politis yaitu sistem agroforestri dapat memenuhi hasrat politik
masyarakat luas dan kepentingan bangsa secara keseluruhan, yakni:
 Agroforestri dapat dan sangat cocok dilakukan oleh masyarakat luas, adanya
pemerataan kesempatan usaha, serta menciptakan struktur supply yang lebih
kompetitif;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 56

 Dapat meredakan ketegangan atau konflik politik, yang selama ini terus
memanas akibat ketimpangan peran antar golongan dan ketidakadilan
ekonomi;
 Kepercayaan yang diberikan masyarakat akan direspon dengan „rasa memiliki‟
dan menjaga sumber daya hutan/lahan yang memberi manfaat nyata kepada
mereka.
Tujuan sistem agroforestri diharapkan dapat dicapai dengan cara mengoptimalkan
interaksi positif antara berbagai komponen penyusunnya (pohon, produksi tanaman
pertanian, ternak/hewan) atau interaksi antara komponen-komponen tersebut
dengan lingkungannya. Dalam kaitan ini ada beberapa keunggulan agroforestri
dibandingkan sistem penggunaan lahan lainnya, yaitu dalam hal:
1. Produktivitas (Productivity): Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa produk
total sistem campuran dalam agroforestri jauh lebih tinggi dibandingkan pada
monokultur. Hal tersebut disebabkan bukan saja keluaran (output) dari satu
bidang lahan yang beragam, akan tetapi juga dapat merata sepanjang tahun.
Adanya tanaman campuran memberikan keuntungan, karena kegagalan satu
komponen/jenis tanaman akan dapat ditutup oleh keberhasilan
komponen/jenis tanaman lainnya.
2. Diversitas (Diversity): Adanya pengkombinasian dua komponen atau lebih
daripada sistem agroforestri menghasilkan diversitas yang tinggi, baik
menyangkut produk maupun jasa. Dengan demikian dari segi ekonomi dapat
mengurangi risiko kerugian akibat fluktuasi harga pasar. Sedangkan dari segi
ekologi dapat menghindarkan kegagalan fatal pemanen sebagaimana dapat
terjadi pada budidaya tunggal (monokultur).
3. Kemandirian (Self-regulation): Diversifikasi yang tinggi dalam agroforestri
diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, dan petani kecil
dan sekaligus melepaskannya dari ketergantungan terhadap produk- produk
luar. Kemandirian sistem untuk berfungsi akan lebih baik dalam arti tidak
memerlukan banyak input dari luar (a.l. pupuk, pestisida), dengan diversitas
yang lebih tinggi daripada sistem monokultur.
4. Stabilitas (Stability): Praktek agroforestri yang memiliki diversitas dan
produktivitas yang optimal mampu memberikan hasil yang seimbang
sepanjang pengusahaan lahan, sehingga dapat menjamin stabilitas (dan
kesinambungan) pendapatan petani.

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 57

8.5.1.5 Konsep Sistem Agribisnis
Salah satu implementasi dari pembangunan pertanian secara nasional dirumuskan
dalam Program Pengembangan Sistem Agribisnis. Pembangunan sistem agribisnis
merupakan totalitas atau kesatuan kerja agribisnis yang terdiri atas : subsistem
agribisnis hulu, subsistem usaha tani (on-farm), subsistem pengolahan hasil (off-
farm), subsistem pemasaran dan subsistem penunjang.
Dengan demikian pembangunan sistem agribisnis mencakup 5 subsistem, yaitu : 1)
Subsistem Agribisnis Hulu (up-stream agribusiness) yaitu industri yang menghasilkan
barang-barang modal bagi pertanian berupa industri perbenihan/ pembibitan
tanaman dan hewan, industri agrokimia (pupuk, pestisida, obat/vaksin hewan) dan
industri agro-otomotif (mesin dan peralatan pertanian) serta industri pendukungnya,
2) Subsistem Usaha Tani (on-farm agribusiness) yaitu kegiatan yang menggunakan
barang-barang modal dan sumberdaya alam untuk menghasilkan komoditas pertanian
primer, yaitu usaha tani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan dan
perikanan, 3) Subsistem Pengolahan Hasil (off-farm agribusiness) yaitu industri yang
mengolah komoditas pertanian primer (agroindustri) menadi produk olahan antara
(intermediate products) maupun produk akhir (finished products), termasuk
didalamnya industri makanan, industri minuman, industri serat alam (karet, pulp,
playwood, benang kapas/ sutera, barang kulit dll), industri biofarma dan industri
agrowisata, 4) Subsistem Pemasaran Hasil yaitu kegiatan-kegiatan untuk
memperlancar pemasaran komoditas pertanian, baik segar maupun olahan baik di
dalam maupun ekspor ke luar negeri, termasuk didalamnya adalah kegiatan distribusi
untuk memperlancar arus komoditas dari sentra produksi ke sentra konsumsi,
informasi pasar, promosi serta intelijen pasar (market intelligence), 5) Subsistem
Jasa Penunjang yaitu kegiatan yang menyediakan jasa dari subsistem agribisnis hulu,
usaha tani dan hilir, termasuk dalam subsistem ini adalah penelitian dan
pengembangan, perkreditan dan asuransi, transportasi, pendidikan, pelatihan dan
penyuluhan, sistem informasi dan dukungan kebijaksanaan pemerintah
(mikroekonomi, makroekonomi dan tata ruang)
Operasionalisasi pembangunan sistem agribisnis dilaksanakan melalui pengembangan
kawasan dan pusat-pusat pertumbuhan berbasis pada komoditas unggulan di masing-
masing kawasan dengan mempertimbangkan kondisi fisik, agroekosistem dan
permintaan masyarakat yang sesuai dengan kondisi sosial-ekonomi dan pasar.
Pembangunan kawasan dan pusat-pusat pertumbuhan mencakup kawasan agribisnis
komersial dan kawasan produksi pangan. Rencana pembangunan tersebut harus
menjadi bagian integral dari pembangunan daerah (sesuai dengan tata ruang daerah).
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 58

Pusat-pusat pertumbuhan dan kawasan agribisnis direncanakan guna merangsang
tumbuhnya investasi masyarakat dan swasta terutama pengusaha local. Peran
pemerintah lebih diarahkan kepada penumbuhan usaha bisnis masyarakat dan
penyediaan fasilitas infrastruktur dan kelembagaan agribisnis yang diperlukan.
Pembangunan kawasan agribisnis berbasis komoditas unggulan terutama diarahkan
kepada pemantapan dan peningkatan produksi komoditas yang ada di kawasan
tersebut.

8.5.2. Konsep Pembangunan Kawasan Agropolitan
Pembangunan kawasan agropolitan merupakan salah satu upaya mempercepat
pembangunan perdesaan dan pertanian, dimana kota sebagai pusat kawasan dengan
ketersediaan sumberdayanya, tumbuh dan berkembang dengan mengakses, melayani,
mendorong dan menghela usaha agribisnis di desa-desa kawasan (hinterland) dan
desa-desa sekitarnya. Kawasan agropolitan terdiri atas kota pertanian dan desa-desa
sentra produksi yang ada disekitarnya dengan batasan yang tidak ditentukan oleh
batas administratif pemerintah, namun lebih ditentukan oleh skala ekonomi kawasan.
Pengembangan kawasan agropolitan adalah pembangunan ekonomi berbasis
pertanian yang dilaksanakan dengan mensinergiskan berbagai potensi yang ada untuk
mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis dalam suatu kesisteman yang
utuh menyeluruh, yang berdaya saing, berbasis kerakyatan, berkelanjutan dan
terdesentralisasi yang digerakkan oleh masyarakat dan difasilitas pemerintah. Ciri-
ciri dari konsep kawasan agropolitan ini meliputi:
a) merupakan sebuah skala geografi yang kecil;
b) memiliki kemandirian (self-sufficiency dan self-reliance) tingkat tinggi
didalam perencanaan dan pengambilan keputusan, yang didasarkan kepada
tindakan partisipasi dan koperatif di tingkatan lokal;
c) diversifikasi tenaga kerja perdesaan yang meliputi, baik kegiatan pertanian
maupun non-pertanian;
d) merupakan fungsi-fungsi perindustrian perdesaan dan agroindustri yang
memiliki keterkaitan dengan struktur ekonomi dan sumberdaya lokal dan;
e) penilaian dan pemanfaatan teknologi-teknologi dan sumberdaya lokal.

Model pembangunan kawasan agropolitan berbasis pada sektor pertanian dengan
mengembangkan secara terpadu kedua subsistim dalam pertanian, yaitu keterpaduan
subsistim agrobisnis dan agroindustri. Dalam pengembangan kawasan agropolitan,
maka potensi dan keterpaduan tersebut harus didukung oleh potensi sumberdaya
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 59

kawasan, diantaranya: potensi sumberdaya manusia, kelembagaan (permodalan,
pemasaran, saprodi, petani), sarana dan prasarana, serta pasar. Konsep
implementasi kawasan agropolitan seperti disajikan pada gambar berikut.
Gambar 8.24 Konsep Kawasan Agropolitan


Menurut pemikiran Friedmann (1975), konsep agropolitan terdiri atas distrik-distrik
agropolitan dan distrik agropolitan didefinisikan sebagai kawasan pertanian pedesaan
yang memiliki kepadatan penduduk rata-rata 200 jiwa per km2. Efisiensi usaha tani
akan terjadi apabila dilaksanakan one district one commodity. Dalam distrik
agropolitan ini akan dijumpai kota-kota tani yang berpenduduk 10.000 – 25.000 jiwa.


8.5.2.1 Kriteria Kawasan Agropolitan
Pada dasarnya kawasan Agropolitan harus memenuhi kriteria sebagai berikut: (1)
mempunyai skala ekonomi yang besar, sehingga produktif untuk dikembangkan; (2)
mempunyai keterkaitan ke depan dan ke belakang; (3) memiliki dampak spasial yang
besar dalam mendorong pengembangan wilayah yang berbasis pertanian sebagai
sumber bahan baku; (4) memiliki produk-produk unggulan yang mempunyai pasar
yang jelas dan prospektif; (5) memenuhi prinsip-prinsip efisiensi ekonomi untuk
menghasilkan output yang maksimal.
Sementara itu, agroindustri adalah kegiatan industri yang memanfaatkan hasil
pertanian sebagai bahan baku, merancang dan menyediakan peralatan serta jasa
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 60

untuk kegiatan tersebut, sehingga menjadi produk jadi dan siap untuk dikonsumsi,
atau produk antara dan siap untuk proses lebih lanjut. Pengembangan agroindustri
diperlukan agar tercipta keterkaitan yang erat antara sektor pertanian dan sektor
industri, sehingga proses transformasi struktur perekonomian berjalan dengan baik
dan efisien dari dominasi pertanian menjadi dominasi industri.
Struktur perekonomian seimbang yang terwujud akan memiliki ciri-ciri sebagai
berikut, yaitu : (1) kontribusi sektor pertanian dalam pembentukan pendapatan
daerah secara relatif menurun, sedangkan sektor-sektor diluar sektor pertanian
mengalami kenaikan terutama untuk sektor industri; (2) penyerapan tenaga kerja
secara relatif menurun sedangkan sektor-sektor diluar sektor pertanian mengalami
kenaikan; (3) sektor pertanian mampu menyediakan bahan pangan untuk kebutuhan
industri; dan ; (5) produktifitas tenaga kerja disektor pertanian relatif sama besarnya
dengan produktifitas tenaga kerja di luar sektor pertanian.

8.5.2.2 Konsep Struktur Ruang Kawasan Agropolitan
Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengimplementasikan konsep
agropolitan secara spasial adalah mengintegrasikan antara desa dan kota sebagai
keterkaitan ekonomi yang saling membutuhkan dan bersifat interdependensi.
Keterkaitan dan interdependensi menurut Mike Douglass (1998) menempatkan fungsi
kota sebagai pusat transportasi dan perdagangan pertanian, sedangkan fungsi desa
sebagai produksi pertanian. Desa dan kota merupakan satu kesatuaan muatan
fungsional wilayah yang harus saling bersinergi dan melengkapi (komplementer).
Menurut Antonius Tarigan (2003) pendekatan keterkaitan desa-kota dalam
pembangunan wilayah perdesaan juga dapat menaikkan nilai tukar produk/jasa
masyarakat perdesaan melalui : (1) upaya memindahkan proses produksi dari kota ke
desa untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk/jasa yang dihasilkan
oleh masyarakat perdesaan melalui bantuan modal, sarana produksi dan pelatihan;
(2) memperpendek jalur produksi, distribusi, dan pemasaran produk/jasa masyarakat
untuk mengurangi biaya ekonomi tinggi melalui pembentukan satuan partisipatif bagi
pengembangan produk/jasa secara spesifik; (3) memberikan akses yang lebih besar
bagi masyarakat perdesaan terhadap faktor-faktor produksi barang/jasa seperti
modal, bahan baku, teknologi, sarana dan prasarana.
Pembangunan agropolitan yang terintegrasi bertujuan untuk menghasilkan sistem
ruang terencana yang berperan didalam melayani dan menghubungkan berbagai
aktivitas sosial dan ekonomi dari manusianya. Sistem ruang ini membentuk
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 61

keterkaitan antar lokasi-lokasi secara berhirarki (berjenjang) berupa struktur ruang
agropolitan. Menurut ESCAP (1979), jenjang pusat-pusat yang melayani wilayah
pembangunan pertanian terdiri dari kota regional (regional city), kota distrik
(district town), dan kota lokal (local town). Masing-masing pusat ini memiliki fungsi
yang didasarkan kepada kemampuan melayani sejumlah ukuran penduduk. Apabila
dikaitkan dengan konsep secondary cities pemikiran Rondinelli, maka kota kedua
tersebut adalah kota distrik. Rondinelli dan Ruddle (ESCAP, 1979) mengemukakan
bahwa kota distrik merupakan saluran utama didalam memenuhi kebutuhan dasar
barang dan jasa penduduk (petani) sebagai pengganti dari hasil-hasil pertanian yang
mereka jual. Dalam konsep agropolitan, kota kedua ini dapat dianggap sebagai lokasi
pusat-pusat pelayanan pertanian dan perdesaan atau pusat agropolitan. Pusat
agropolitan bersama dengan unit-unit pengembangan (setingkat kecamatan)
membentuk satu kawasan agropolitan, dimana masing-masing memiliki fungsi sebagai
berikut :
1) Pusat agropolitan, berfungsi sebagai:
a. Pusat pedagangan dan transportasi
b. Penyedia jasa pendukung pertanian
c. Pasar konsumen produk non-pertanian
d. Pusat industri pertanian (agro-based industry)
e. Penyedia pekerjaan non pertanian
f. Pusat agropolitan dan hinterland nya terkait dengan sistem permukiman
nasional, propinsi, dan kabupaten
2) Unit-unit kawasan pengembangan, berfungsi sebagai
a. Pusat produksi pertanian
b. Intensifikasi pertanian
c. Pusat pendapatan perdesaan dari permintaan untuk barang-barang dan jasa
non pertanian
d. Produksi tanaman siap jual dan diversifikasi pertanian

Model pengembangan wilayah dengan pendekatan agropolitan ini didasarkan oleh
keterkaitan antara variabel-variabel kinerja pembangunan ekonomi daerah dengan
variabel-variabel kinerja sistem agropolitan (seperti: variabel-variabel SDA, SDM,
infrastruktur dan fasilitas publik, aktifitas ekonomi, penganggaran belanja dan
pengendalian ruang). Pengembangan wilayah melalui sistim agropolitan diwujudkan
dalam pembangunan infrastruktur dan berbagai sarana pendukung kegiatan
agroindustri dan agrobisnis. Berbagai infrastruktur yang tersedia dimaksudkan untuk
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 62

lebih memperlancar aktivitas perekonomian dari subsistem penyediaan input sarana
produksi, usaha tani, pengolahan, pemasaran produk. Apabila langkah-langkah
tersebut dapat dicapai, maka akan terbentuk kota di daerah perdesaan dengan
sarana dan prasarana permukiman setara kota dengan kegiatan pertanian sebagai
kekuatan penggerak perekonomian perdesaan.
Strukur Kawasan agropolitan dapat dikategorikan atas Orde Pertama (Kota Tani
Utama), Orde Kedua (Pusat Distrik Agropolitan atau Pusat Pertumbuhan), dan Orde
Ketiga (Pusat Satuan Kawasan Pertanian). Jarak antara Kota Tani Utama dengan
pusat pertumbuhan yang sudah berkembang berkisar antara 35–60 km yang
disesuaikan dengan kondisi geografis wilayah dan antar kota tani (orde 2 dan orde 3)
yang berada dalam satu distrik agropolitan, berjarak antara 15–35 km. Setiap orde
kota berfungsi sebagai simpul jasa koleksi dan distribusi dengan skalanya masing-
masing, berjenjang (hierarkis), merupakan pusat pelayanan permukiman dan antar
simpul dihubungkan oleh jaringan transportasi yang sesuai.
Batas suatu Kawasan Agropolitan tidak terpaku oleh batas administrasi pemerintah
(Desa/Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/Kota), tetapi lebih fleksibel dengan
menyesuaikan economic of scale dan economic of scope. Oleh karena itu, penetapan
Kawasan Agropolitan hendaknya dirancang secara lokal dengan memperhatikan
realitas perkembangan kegiatan pertanian/ agribisnis di daerah tersebut.

8.5.2.3 Komoditas Unggulan Kawasan
Menurut Handewi Rachman (2003) komoditas unggulan adalah komoditas andalan
yang memiliki posisi strategis untuk dikembangkan di suatu wilayah. Posisi strategis
ini didasarkan pada pertimbangan teknis (kondisi tanah dan iklim), sosial ekonomi
dan kelembagaan. Penentuan ini penting dengan pertimbangan bahwa ketersediaan
dan kemampuan sumberdaya (alam, modal dan manusia) untuk menghasilkan dan
memasarkan semua komoditas yang dapat diproduksi di suatu wilayah secara
simultan relatif terbatas. Sementara itu, pada era pasar bebas seperti saat ini, baik
ditingkat pasar lokal, nasional maupun global hanya komoditas yang diusahakan
secara efisien dari sisi teknologi dan sosial ekonomi serta mempunyai keunggulan
komparatif dan kompetitif yang akan mampu bersaing secara berkelanjutan dengan
komoditas yang sama dari wilayah lain.
Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa komoditas unggulan adalah komoditas yang
layak diusahakan karena memberikan keuntungan kepada petani baik secara biofisik,
sosial dan ekonomi. Komoditas tertentu dikatakan layak secara biofisik jika
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 63

komoditas tersebut diusahakan sesuai dengan zona agroekologi, layak secara sosial
jika komoditas tersebut memberi peluang berusaha, bisa dilakukan dan diterima
oleh masyarakat setempat sehingga berdampak pada penyerapan tenaga kerja.
Sedangkan layak secara ekonomi artinya komoditas tersebut memberi keuntungan.
Salah satu metode yang digunakan untuk menentukan komoditas unggulan adalah
dengan metode Location Quotient (LQ) yang merupakan suatu pendekatan tidak
langsung untuk mengetahui apakah suatu sektor merupakan sektor basis atau non
basis. Metode LQ ini merupakan perbandingan antara pangsa relatif produksi
komoditas „i‟ pada tingkat provinsi terhadap total produksi di provinsi tersebut
dengan pangsa relatif produksi komoditas „i‟ pada tingkat nasional terhadap total
produksi di tingkat nasional. Jika ingin dijabarkan sampai etingkat kabupaten
berarti komoditas „i‟ pada tingkat kabupaten dibandingkan dengan total produksi di
kabupaten tersebut kemudian dibandingkan lagi dengan produksi komoditas „i‟ pada
tingkat provinsi terhadap total produksi di tingkat provinsi, demikian seterusnya
untuk tingkat kecamatan terhadap kabupaten/ kota.
Produksi dijadikan indikator utama dalam perhitungan LQ, karena produksi suatu
komoditas adalah resultan akhir dari semua proses sistem budidaya. Jika produksi
suatu komoditas tinggi dan cenderung meningkat setiap tahun, maka diasumsikan
bahwa komoditas tersebut sangat diminati oleh masyarakat, sehingga berdampak
pada peningkatan pendapatan petani secara nyata. Minat yang tinggi terhadap suatu
komoditas ini tentunya akan diikuti dengan perawatan yang lebih baik dibanding
komoditas lain yang produksinya lebih rendah.
Secara matematis perhitungan LQ dapat diformulasikan sebagai berikut :



pi = Produksi komoditas „i‟ pada tingkat kabupaten atau kota atau kecamatan;
pt = Produksi total kelompok komoditas pada tingkat kabupaten, kecamatan;
Pi = Produksi komoditas „i‟ pada tingkat provinsi, kabupaten/kota
Pt = Produksi total kelompok komoditas pada tingkat provinsi , kabupaten/kota

Kriteria :
LQ > 1 : Sektor basis artinya komoditas i disuatu wilayah memiliki keunggulan
komparatif
Vi / Vt
LQ =
Pi / Pt
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 64

LQ = 1 : Sektor non basis, artinya komoditas i disuatu wilayah tidak memiliki
keunggulan, produksinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan
wilayah sendiri
LQ < 1 : Sektor non basis, artinya komoditas i disuatu wilayah tidak dapat
memenuhi kebutuhan sendiri sehingga perlu pasokan dari luar
Penjelasan : Semakin tinggi nilai LQ sektor disuatu wilayah, semakin tinggi potensi
keunggulan sektor tersebut.

8.5.2.4 Konsep dan Strategi Pengembangan Kawasan Agropolitan di
Kawasan Perkotaan Bokondini
Berdasarkan kondisi eksisting dan biofisik lingkungan di kawasan perencanaan
Perkotaan Bokondini dan sesuai arahan rencana tata ruang, maka konsep dan
strategi pengembangan sektor pertanian diarahkan pada sistem agroforestri guna
mewujudkan kemandirian komunitas lokal ( pangan, sosial, ekonomi dan budaya)
melalui pengembangan kawasan agropolitan yang didukung oleh komoditas unggulan
dan sistem agribisnis seperti ditunjukkan pada gambar berikut.
Gambar 8.25 Konsep Pengembangan Sektor Pertanian di Perkotaan Bokondini


















Sumber: Olahan Konsultan, 2012

Penjelasan :
A. Penunang Sistem Agroforestri
Beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan terhadap keberhasilan
penerapan sistem agroforestri :
1. Pengelolaan sistem agroforestri
Kawasan
Agropolitan
Perkotaan
Bokondini
Sistem
Agroforestri
Komoditas
Unggulan
Sistem
Agribisnis
• Pengelolaan
Sistem
Agroforestri
• Bibit Unggul
• Lokasi Cocok &
Pemasaran
• Pelayanan
Lingkungan
• Kebijakan
Pemerintah
Kemandirian
Komunitas
Lokal
(pangan,
sosial,
ekonomi &
budaya)
Konsumsi dan
Pemasaran Hasil
Pertanian,
Peternakan dan
Perikanan




Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 65

Sistem agroforestri terdiri dari banyak komponen antara lain pohon, tanaman
semusim, hewan dan sebagainya, sehingga sistem tersebut cukup kompleks.
Pada sistem ini akan terbentuk interaksi antara pohon-tanah-tanaman
semusim dan setiap jenis komponen akan menimbulkan berbagai pengaruh
negatif maupun positif terhadap komponen yang lain. Kegagalan dalam usaha
agroforestri-nya karena masih kurang tingkat pemahaman terhadap interaksi
tersebut. Oleh karena perlu penelitian biofisik agroforestri guna
meningkatkan pemahaman proses yang terjadi dalam interaksi antara pohon,
tanah dan tanaman semusim.
2. Penyediaan bibit unggul/ berkualitas tinggi
Usaha agroforestri tidak jarang mengalami kegagalan, karena pertumbuhan
pohon yang tidak baik sebagai akibat rendahnya mutu bibit yang dipilih. Untuk
meningkatkan keterampilan masyarakat dalam penyediaan bibit, maka
masyarakat perlu dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan dalam
pemilihan bibit.
3. Pemilihan lokasi yang cocok dan pemasaran
Pemilihan lokasi yang tepat untuk jenis komoditas tertentu merupakan salah
satu kunci keberhasilan usaha agroforestri. Pola sebaran pepohonan pada
skala bentang lahan merupakan informasi yang sangat berharga bagi
masyarakat untuk mengembangkan usaha agroforestri-nya. Di samping itu,
informasi pasar untuk produk pohon (kayu bangunan, buah-buahan, sayuran
dan rempah) akan banyak membantu petani dalam mengatur strategi
pengelolaan lahannya.
4. Pengukuran tingkat pelayanan lingkungan agroforestri
Usaha agroforestri memberikan pelayanan lingkungan antara lain
mempertahankan fungsi daerah aliran sungai (DAS), penyerapan CO2 di
atmosfer dan mempertahankan keanekaragaman hayati.
5. Kebijakan Pemerintah
Beberapa hal yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan agroforestri
antara lain yang berhubungan dengan:
• Jaminan penguasaan lahan (land tenure); dan
• Pengadaan “pasar hijau” bagi produk yang ramah lingkungan dan pemberian
„insentif‟ bagi petani yang melaksanakannya.



Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 66

B. Sistem Agroforestri
Sistem agroforestri diharapkan dapat membantu mengoptimalkan hasil suatu
bentuk penggunaan lahan secara berkelanjutan guna menjamin dan memperbaiki
kebutuhan hidup masyarakat. Sistem berkelanjutan ini dicirikan antara lain oleh
tidak adanya penurunan produksi tanaman dari waktu ke waktu dan tidak adanya
pencemaran lingkungan. Kondisi tersebut merupakan wujud dari adanya
konservasi sumber daya alam yang optimal oleh sistem penggunaan lahan yang
diadopsi. Di samping itu agroforestri diharapkan dapat meningkatkan daya dukung
ekologi manusia, khususnya di daerah pedesaan. Secara rinci manfaat usaha
agroforestri dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Menjamin dan memperbaiki kebutuhan bahan pangan:
 Meningkatkan persediaan pangan baik tahunan atau tiap-tiap
musim; perbaikan kualitas nutrisi, pemasaran, dan proses-proses
dalam agroindustri.
 Diversifikasi produk dan pengurangan risiko gagal panen.
 Keterjaminan bahan pangan secara berkesinambungan.
2. Memperbaiki penyediaan energi lokal, khususnya produksi kayu bakar:
Suplai yang lebih baik untuk memasak dan pemanasan rumah
(catatan: yang terakhir ini terutama di daerah pegunungan atau berhawa
dingin)
3. Meningkatkan, memperbaiki secara kualitatif dan diversifikasi produksi
bahan mentah kehutanan maupun pertanian:
 Pemanfaatan berbagai jenis pohon dan perdu, khususnya untuk
produk-produk yang dapat menggantikan ketergantungan dari luar
(misal: zat pewarna, serat, obat-obatan, zat perekat, dll.) atau yang
mungkin dijual untuk memperoleh pendapatan tunai.
 Diversifikasi produk.
4. Memperbaiki kualitas hidup daerah pedesaan, khususnya pada daerah
dengan persyaratan hidup yang sulit di mana masyarakat miskin banyak
dijumpai:
 Mengusahakan peningkatan pendapatan, ketersediaan pekerjaan
yang menarik.
 Mempertahankan orang-orang muda di pedesaan, struktur keluarga
yang tradisional, pemukiman, pengaturan pemilikan lahan.
 Memelihara nilai-nilai budaya.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 67

5. Memelihara dan bila mungkin memperbaiki kemampuan produksi dan jasa
lingkungan setempat:
 Mencegah terjadinya erosi tanah, degradasi lingkungan.
 Perlindungan keanekaragaman hayati.
 Perbaikan tanah melalui fungsi „pompa‟ pohon dan perdu, mulsa dan
perdu.
 Shelterbelt, pohon pelindung (shade trees), windbrake, pagar hidup
(life fence).
 Pengelolaan sumber air secara lebih baik.
C. Kawasan Agropolitan
Kawasan agropolitan merupakan salah satu upaya mempercepat pembangunan
perdesaan dan pertanian, dimana kota sebagai pusat kawasan dengan
ketersediaan sumberdayanya, tumbuh dan berkembang dengan mengakses,
melayani, mendorong dan menghela usaha pertanian di desa-desa kawasan
(hinterland) dan desa-desa sekitarnya.
Melalui perwujudan kawasan agropolitan akan ditentukan pola dan struktur
ruang kawasan untuk kegiatan pertanian, peternakan dan perikanan. Untuk
mendukung kawasan diperlukan prasarana dan sarana pendukung (PSD) dan
transportasi, baik di kawasan pusat pertumbuhan/ kota kecil (regional) berupa
pusat perdagangan saprodi, tempat pembibitan, pengolahan hasil (agroindustri),
pusat perdagangan hasil dan produk pangan, dan sebagainya maupun prasarana
dan sarana di kawasan produksi (hinterland).

D. Sistem Agribisnis
Pendekatan pembangunan kawasan agropolitan didekati dengan sistem
agribisnis agar mampu menampung kegiatan usaha tani secara terpadu dan
komprehensif, mulai dari kegiatan penyediaan sarana produksi (bibit, pupuk,
pestisida dan alat mesin pertanian), kegiatan budidaya, kegiatan pasca panen
dan pengolahan hasil serta kegiatan distribusi dan pemasaran. Dengan
demikian, kegiatan usaha tani dapat efisien dan mempunyai daya saing.

E. Komoditas Unggulan
Komoditas unggulan dicirikan diantaranya oleh produksi yang tinggi, kesesuaian
terhadap biofisik dan lingkungan setempat dan mempunyai daya saing di
pasaran. Komoditas unggulan akan menjadi prioritas pengembangan, meskipun
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 68

komoditas yang lain juga diusahakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
setempat.

F. Produksi, Konsumsi dan Pemasaran Hasil
Hasil usaha pertanian, peternakan dan perikanan diprioritaskan untuk memenuhi
kebutuhan konsumsi penduduk setempat, selanjutnya sisa produksi di pasarkan
ke luar kawasan sebagai pendapatan masyarakat setempat dan pada akhirnya
akan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
G. Kemandirian Komunitas Lokal (pangan, social, ekonomi dan budaya)
Hasil pertanian, peternakan dan perikanan yang mampu mencukupi konsumsi
pangan masyarakat setempat, sehingga tidak memerlukan bahan pangan dari
luar kawasan. Dengan demikian akan mewujudkan kemandirian komunitas/
masyarakat lokal dalam hal pangan, sosial, ekonomi dan budaya.

8.6. KONSEP GRID CITY BAGI PENGEMBANGAN KOTA BOKONDINI
Kota Bokondini berdasarkan struktur ruangnya dibentuk oleh pola jaringan jalan
eksisting dan adanya Bandar udara perintis. Ada 3 jaringan jalan pembentuk ruang
kota. Ruas jalan yang pertama merupakan jalan kolektor sekunder yang direncanakan
akan disambungkan ke Distrik Wunin, sedangkan 2 ruas lainnya adalah jalan didalam
kota. Jaringan jalan ini membentuk pola kawasan dalam kotak-kotak yang tidak
sama, namun menciptakan kawasan dalam bentuk grid.
Diharapkan pengembangan kawasan perkotaan di Bokondini mengikuti pola eksisting
yang ada dengan menyiapkan jaringan jalan baru yang membentuk kawasan-kawasan
permukiman baru, kawasan perdagangan & jasa, kawasan perkantoran pemerintahan
distrik, kawasan pendidikan, dan lainnya yang mendukung keseluruhan kegiatan di
Kota.
Konsep grid city banyak diadopsi oleh berbagai kota di dunia. Konsep ini merupakan
konsep kota yang efisien dan efektif terutama dalam pembiayaan pembangunan
jaringan jalannya. Namun, tidak serta merta konsep ini dapat langsung diadopsi di
Bokondini. Diharapkan penyiapan jaringan jalan di dalam kawasan perkotaan
membentuk pola grid yang tertata baik dan tidak sporadis. Untuk itu disiapkan
rancangan awal jaringan jalan di dalam kawasan perkotaan yang terencana.


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 69

Gambar 8.26 Konsep Pengembangan Grid City

Beberapa konsep grid city di Kota-Kota
Dunia. Sumber: www. wikipedia.com

Konsep Grid City di London, Kota Milton
Keynes
Sumber: www.wikipedia.com

Grid City Bokondini, 2012 (Hasil Olahan Konsultan, 2012)

8.7. KONSEP KAMPUNG MANDIRI DI PERKOTAAN BOKONDINI
Memperhatikan kondisi topografi kawasan perkotaan Bokondini yang terdiri atas
lembah dan pegunungan, diharapkan kantong-kantong kampong yang didalamnya
terdapat honai-honai tempat masyarakat tinggal dan bermata pencaharian
(pertanian, perkebunan, peternakan). Melalui konsep kampung mandiri terjadi
interaksi antar kampong dengan pusat kegiatan kampong yang disebut dengan
Kampung Mandiri. Kampung mandiri adalah pusat kegiatan beberapa kampong yang
dilayani oleh komplek klasis (berupa sarana sosial/keagamaan, olah raga, kesehatan,
dan pendidikan). Berdasarkan pengamatan di lapangan, telah terbentuk embrio
adanya kampung mandiri. Dimana 1 kawasan klasis melayani beberapa kampong,
dimana 1 kampung tersebut dapat terdiri atas 5-10 honai.
Kedepan diharapkan konsep ini dapat dikembangkan dan ditingkatkan sarana dan
prasarananya. Dikembangkan adalah dijadikan sebagai contoh bagi kawasan distrik
lainnya. Ditingkatkan dalam artinya adanya peranan pemerintah dalam meningkatkan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 70

kualitas dan kuantitas prasarana dan sarana didalam kawasan, menuju ke kawasan
dan interaksi antar kampong mandiri.
Gambar 8.27 Konsep Pengembangan Kampung Mandiri




Diharapkan konsep ini dapat dikembangkan sehingga kemandirian kampong dapat
terjaga. Selain itu dukungan masyarakat juga diharapkan dalam pengembangan
konsep ini, terutama berkaitan dengan pengadaan infrastruktur jalan perkampungan
yang memenuhi kebutuhan kampong. Semisal lebar jalan kampong dapat dilalui oleh
kendaraan roda empat dan roda dua (3 M), dengan dilengkapi oleh saluran drainase di
kiri dan kanan jalan. Saluran drainase ini menjadi penting untuk menjaga kestabilan
jalan.

8.8. KONSEP PERENCANAAN PRASARANA, SARANA, DAN UTILITAS (PSU)
Konsep penyelenggaraan prasarana sarana dan utilitas dapat terpadu dengan langkah-
langkah penanganan secara preventif dan kuratif seperti yang akan diuraikan di
bawah ini.


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 71

1. Penanganan Keterpaduan PSU Kawasan Secara Preventif
Penanganan Keterpaduan PSU secara preventif dimaksudkan sebagai upaya
untuk menyiapkan perumahan melalui penyediaan layanan PSU yang
memadai sehingga dapat mencegah timbulnya permasalahan prasarana
sarana dan utilitas di kawasan perumahan yang akan dibangun pada
kawasan skala besar dan kawasan khusus, sehingga akan tercipta lingkungan
kawasan perumahan yang layak huni. Penanganan Keterpaduan PSU
kawasan secara preventif diselenggarakan, dengan ketentuan sebagai
berikut:
a. Penanganan PSU di kawasan perumahan yang baru;
b. Upaya keterpaduan preventif dilaksanakan seluruh pemangku
kepentingan yang akan membuka kawasan perumahan baru, baik
berskala besar maupun kawasan khusus, dengan fasilitasi pemerintah
kabupaten/kota untuk menghindari permasalahan ketidakterpaduan
PSU pada saat penghunian dan perkembangannya di masa yang akan
datang;
c. Keterpaduan secara preventif ini dilakukan secara berkelanjutan
mulai sejak saat penentuan lokasi, perencanaan, pelaksanaan,
pemeliharaan, pengelolaan, dan pengendalian;
d. Penanganan keterpaduan PSU kawasan ini juga dilaksanakan dengan
memperhatikan kawasan di sekitarnya;
e. Penanganan keterpaduan PSU kawasan mengacu pada RTRWK, RP4D,
Rencana Rinci Tata Ruang, Rencana Induk Sistem (masterplan)
Keterpaduan kawasan dan kebijakan strategi pemerintah, serta
koordinasi antar instansi terkait.
2. Penanganan Keterpaduan PSU Kawasan Secara Kuratif
Penanganan keterpaduan PSU kawasan perumahan secara kuratif,
dimaksudkan sebagai upaya untuk membantu memecahkan permasalahan
prasarana sarana dan utilitas, pada kawasan perumahan yang sudah
terbangun, sehingga akan terwujud lingkungan kawasan perumahan yang
sehat, dan berwawasan lingkungan. Penanganan Keterpaduan PSU kawasan
secara kuratif pada kawasan yang telah terbangun, dengan ketentuan
antara lain:
a. Keterpaduan PSU secara kuratif ini adalah upaya peningkatan
kawasan perumahan dan permukiman yang meliputi pemugaran,
perbaikan dan peremajaan serta mitigasi bencana;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 72

b. Kriteria penanganan kuratif adalah penanganan permasalahan di
kawasan perumahan yang sudah terbangun;
c. Keterpaduan PSU secara kuratif dilaksanakan oleh:
1.) Pemerintah Kabupaten/Kota, yang mengkoordinasikan
keterpaduan pembangunan PSU;
2.) Pihak lain yang terlibat dalam keterpaduan PSU untuk
bersama memecahkan permasalahan adalah instansi
Pemerintah Kabupaten/ Kota, pihak swasta (pengembang),
pihak masyarakat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah
Pusat;
3.) Jika permasalahan ketidakterpaduan PSU, tidak mampu
diselesaikan ditingkat pemerintah kabupaten/ kota, maka
dapat diselesaikan ditingkat propinsi atau tingkat pusat;
4.) Bantuan pemecahan permasalahan PSU yang terjadi di
kawasan perumahan, oleh pemerintah propinsi maupun
pemerintah pusat dapat berupa fasilitasi ataupun
pemberian bantuan stimulan PSU.
Pada penanganan keterpaduan PSU secara kuratif, dengan langkah-langkah
kegiatan sebagai berikut:
a. Dalam rangka penanganan kuratif, yang paling penting adalah
identifikasi permasalahan;
b. Identifikasi permasalahan atau peta masalah, dilakukan melalui
diskusi keterpaduan PSU dengan pemangku kepentingan di
pemerintah kabupaten/kota. Diskusi bisa difasilitasi oleh pemerintah
pusat maupun pemerintah propinsi;
c. Dari peta masalah, selanjutnya disusun rencana tindak (action plan),
berisi: permasalahan, peta pelaku dan pembagian tanggung jawab,
skenario penataan kawasan dan jadwal kegiatan, skema pembiayaan,
perencanaan teknis, penganggaran, dan peningkatan kapasitas
kelembagaan, rencana pelaksanaan dan pengelolaan yang diproses
dan disepakati oleh pelaku;
d. Dari identifikasi permasalahan, dapat dikeluarkan konsep
penyelesaiannya, konsep ini dilaksanakan mengikuti seperti pada
penanganan secara preventif, tergantung dari kondisi permasalahan.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 73

Dalam penyelenggaraan keterpaduan Prasarana, Sarana dan Utilitas (PSU) kawasan
perumahan, maka standar teknis yang digunakan yaitu Standar Nasional Indonesia
(SNI) dan pedoman teknis yang meliputi:
1. Prasarana Jalan.
Pokok-pokok penting untuk prasarana jalan adalah sebagai berikut:
a. Salah satu prasarana penting yang harus disediakan secara baik dan
terpadu adalah prasarana jalan, khususnya jalan di kawasan
perumahan yang juga merupakan bagian penting dari suatu kota
dalam Sistem Jaringan Jalan Sekunder.
b. Jaringan jalan di kawasan perumahan menurut fungsinya adalah jalan
lokal dan jalan lingkungan dalam system jaringan jalan sekunder.
c. Jaringan jalan pada kawasan perumahan dibagi ke dalam 5 bagian
yaitu: jalan lokal sekunder I, jalan lokal sekunder II, jalan lokal
sekunder III, jalan lingkungan I, dan jalan lingkungan II.
d. Wewenang penyelenggaraan jalan pada kawasan perumahan ini
adalah Pemerintah Kabupaten/Kota yang dilaksanakan oleh
Bupati/Walikota, karena sistem jaringan jalan tersebut merupakan
bagian dalam sistem jaringan jalan sekunder. Dalam hal pemerintah
kabupaten/kota belum mampu membiayai pembangunan jalan yang
menjadi tanggung jawabnya secara keseluruhan, maka pemerintah
kabupaten/kota dapat minta bantuan Kantor MENPERA, berupa
stimulan melalui program pengembangan kawasan siap bangun dan
lingkungan siap bangun serta kawasan khusus.
e. Di dalam standar teknis penanganan jalan kawasan perumahan
dijelaskan bagaimana cara membangun jalan-jalan tersebut,
prototipe konstruksi jalan, parameter perencanaan, perencanaan
dimensi minimal ideal jalan kawasan, termasuk saluran drainase yang
berfungsi untuk mengeringkan jalan.
f. Standar teknis bidang ini antara lain adalah: SNI 03-2853-1995, SNI
03-2446-1991, SNI 03.6967-2003
2. Prasarana Drainase.
Pokok-pokok penting untuk prasarana drainase adalah sebagai berikut:
a. Dalam pembangunan kawasan perumahan aspek yang paling penting
adalah tersedianya prasarana drainase kawasan yang mampu
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 74

menjamin kawasan tersebut tidak tergenang air pada waktu musim
hujan.
b. Saluran drainase kawasan perumahan harus terintegrasi dengan
sistem drainase di luar kawasan atau sistem drainase perkotaan
perdesaan. Maksudnya adalah bahwa saluran drainase kawasan
perumahan dialirkan ke luar kawasan pada saluran induk yang akan
mengalirkan air ke sungai atau danau.
c. Di samping itu untuk kepentingan kawasan perumahan yang lebih luas
dalam upaya mengurangi genangan air, khususnya di daerah bekas
rawa-rawa perlu disediakan kolam retensi yang berfungsi menyimpan
dan meresapkan air ke dalam tanah. Pembuatan kolam retensi dan
sumur resapan dapat dilihat pada standar teknis yang ada.
d. Di dalam standar teknis penyediaan prasarana drainase, di samping
dijelaskan persyaratan umum dan teknis, secara rinci dijelaskan cara
pengumpulan data, analisis kerusakan dan kerugian akibat banjir,
analisis konservasi, pengembangan sistem drainase, dan
pengembangan kelembagaan.
e. Standar teknis bidang ini antara lain adalah: SNI 06-2409-2002 dan
SNI 03-2453-2002.
3. Prasarana Air Minum
Pokok-pokok penting untuk prasarana air minum adalah sebagai berikut:
a. Setiap kawasan perumahan harus dilengkapi dengan sarana air minum
yang memenuhi kebutuhan minimal bagi penghuni sesuai dengan
kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah daerah.
b. Layanan air minum dalam kawasan dapat diberikan oleh PDAM atau
badan pengelola air minum kawasan, swasta atau dapat pula
menyediakan sendiri atau komunal melalui sumur gali atau pantek
yang sesuai persyaratan teknis yang berlaku.
c. Penanganan air minum di kawasan perumahan meliputi:
1.) Pengendalian kualitas air melalui proses pemeriksaan
periodik sesuai ketentuan teknis yang berlaku.
2.) Pembuatan sumur dalam, untuk keperluan persil (cluster).
Diperlukan pengelolaan, pembagian tugas dan kewajiban
oleh unit pengelola. Lokasi bisa saja di dekat komplek
perumahan atau di luar komplek perumahan.
Pengembangan dari sistem ini terjadi dengan cara pengelola
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 75

kawasan menyediakan instalasi pengolahan air minum
dengan dilengkapi booster pump, sehingga warga tinggal
memanfaatkannya.
3.) Penyambungan pipa air minum ke jaringan pipa air minum
skala perkotaan yang ada.
d. Perhitungan volume air minum minimal untuk kebutuhan rumah
tangga adalah 60 liter/orang/ hari.
e. Standar teknis bidang ini antara lain adalah: AB-K/RE-RT/TC/026/98
dan ABK/OP/ST/004/98
4. Prasarana Pengelolaan Air Limbah
Pokok-pokok penting untuk prasarana pengelolaan air limbah adalah sebagai
berikut:
a. Penjelasan umum, meliputi pengertian penanganan air limbah, hal-
hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan sistem pengolahan air
limbah, dan bagaimana penanganan air limbah dengan menggunakan
sisten jaringan (perpipaan);
b. Persyaratan teknis meliputi langkah pengembangan, sistem
setempat, sistem terpusat, dan pembagian tugas dan wewenang dan
keterkaitannya dengan sistem perkotaan;
c. Pemilihan sistem penanganan air limbah, perencanaan sistem air
limbah setempat, dan perencanaan sistem pengolahan air limbah
terpusat;
d. Keterpaduan dalam pengembangan dan pengelolaan;
e. Standar teknis bidang ini antara lain adalah: SNI 03-2398-2002, PTT-
19-2000-C dan PTS-09-2000-C
5. Prasarana Pengelolaan Persampahan
Pokok-pokok penting untuk prasarana pengelolaan sampah adalah sebagai
berikut:
a. Kawasan perumahan yang sehat dan bersih adalah kawasan
perumahan yang dilengkapi dengan sistem pengelolaan sampah yang
memadai, yaitu sistem pengelolaan yang aman, nyaman dan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
b. Standar teknis pengelolaan persampahan berisi tentang:
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 76

1.) Ketentuan umum yang terdiri dari persyaratan umum,
persyaratan teknis dan pembagian tugas dan wewenang
pembangunan dan pengelolaan sistem persampahan.
2.) Pengelolaan sampah pada kawasan perumahan, meliputi
penentuan timbulan dan densitas dan komposisi sampah,
prediksi beban timbulan sampah, pengelolaan sampah
tingkat kawasan, dan teknik operasional pengelolaan
sampah pada kawasan perumahan. Standar teknis bidang ini
antara lain adalah: SNI 19-3964-1994 dan SNI 03-3242-1994
dan SNI 19-3983-1995
3.) Pengelolaan persampahan mandiri termasuk pembuatan
komposter komunal untuk kebutuhan kawasan perumahan.
4.) Pembuangan sisa pengolahan sampah pada tempat
pemrosesan akhir (TPA). Standar teknis bidang ini antara
lain adalah: PTS 06-2000-C dan PTS 07-2000-C.
6. Prasarana Jaringan Telekomunikasi
Secara umum, Kabupaten Tolikara mengandalkan sarana telekomunikasi
nirkabel (wireless) sebagai alat komunikasi penduduk. Berdasarkan data
yang ada, di tahun 2010 keberadaan Base Transceiver Station (BTS) di
Kabupaten Tolikara hanya ada di 5 desa dari total 507 desa. Coverage sinyal
dari 5 BTS tersebut bisa ditangkap dengan kuat di 91 desa namun lemah di
49 desa. Adapun ketersediaan sarana komunikasi lainnya di Kabupaten
Tolikara adalah 2 telepon umum koin/kartu, 2 wartel, dan 1 pos keliling.
Telkomsel merupakan satu-satunya operator telepon seluler yang ada di
Kabupaten Tolikara. Sinyal paling kuat didapati di ibukota Kabupaten
Tolikara, yaitu distrik Karubaga, sedangkan di beberapa distrik seperti
Gilubandu, Geya, Nabunage, Nelawi, Kembu, Kubu, Konda, Numba, dan
Timori juga terdapat sinyal Telkomsel namun masih lemah. Untuk distrik-
distrik yang lain sampai sekarang masih belum terdapat sinyal Telkomsel.
Ke depan sesuai dengan konsep pengembangan kampung mandiri di tiap
distrik kabupaten Tolikara, sistem telekomunikasi wireless memang perlu
lebih dikembangkan dan dirancang dengan lebih komprehensif. Meskipun
demikian, komunikasi konvensional lewat kabel seperti yang dilakukan oleh
PT Telkom tetap dimungkinkan, sekalipun akan membutuhkan biaya yang
lebih mahal dalam investasinya dibandingkan sistem wireless.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 77

Sebagai gambaran skenario komunikasi wireless untuk kampung mandiri
tersebut, bisa diajukan 2 alternatif:
1. Menghubungkan seluruh kampung mandiri tersebut dengan BTS yang
saling LOS (Line of Sight).
2. Membangun sebuah BTS untuk melayani sebuah kampung mandiri di
mana kebutuhan komunikasi suara dan data bisa dilayani oleh BTS ini.
Untuk memilih salah satu dari kedua alternatif tersebut perlu dilakukan
pengkajian lebih jauh dengan melihat topografi wilayah di mana BTS
tersebut akan dibangun. Jika memang memungkinkan untuk membangun
BTS di atas bukit yang struktur tanahnya labil, maka alternatif pertama bisa
diambil. Namun jika tidak, maka akan dilakukan alternatif yang kedua.
7. Prasarana Jaringan Listrik
Energi dan listrik dibutuhkan untuk mendukung seluruh sektor kehidupan,
mulai dari pendidikan, kesehatan, pemerintahan dan lain lain. Untuk
pemenuhan kebutuhan tersebut, maka pemanfaatan potensi lokal harus
dijadikan prioritas dalam pengembangan wilayah. Secara umum
pengembangan sektor energi dan listrik dapat dibagi menjadi 2 mekanisme,
yaitu secara sentralisasi (terpusat) dan desentralisasi (terdistribusi).
Pengembangan sektor energi dan listrik secara terpusat dilakukan oleh
pemerintah pusat, melalui PT. PLN persero dan PT. Pertamina, dimana
proses pembangkitan/ pemrosesan energi dilakukan di suatu daerah dan
produknya disebarkan dengan mekanisme tertentu. Energi dalam bentuk
BBM diproduksi di kilang minyak tertentu dan didistribusikan melalui sarana
transportasi, lalu disalurkan melalui SPBU yang tersebar di seluruh
Indonesia. Sedangkan untuk energi listrik diproduksi di pembangkit yang
ada, umumnya PLTU, PLTD dan PLTA, dan didistribusikan melalui jaringan
transmisi tegangan tinggi dan jaringan distribusi tegangan menengah
sebelum di salurkan ke masyarakat pengguna.
Sedangkan pengembangan secara terdistribusi umumnya dilakukan oleh
pemerintah daerah, masyarakat dan swasta dengan memanfaatkan potensi
energi lokal. Untuk kebutuhan penerangan, masyarakat sudah menggunakan
minyak nabati sebagai bahan bakar. Bahan bakar ini merupakan produksi
masyarakat sekitar. Sedangkan listrik dapat dibangkitkan melalui
pembangkit berkapasitas kecil sampai dengan menengah, seperti PLTS dan
PLTMH untuk kebutuhan sendiri atau komunitas. Sistem ini dikenal dengan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 78

sistem off grid/ mandiri. Sistem pengembangan energi ini cocok
dikembangkan untuk daerah terpencil. Untuk Kota Bokondini yang terletak
diarea pegunungan dan terpencil, konsep pengembangan energi yang
mandiri harus diutamakan, karena secara ekonomis lebih murah dan dapat
direalisasikan secara cepat.
Sedangkan situasi kondisi kelistrikan Kota Bokondini adalah terdapat 2
pembangkit PLTMH yang sudah tidak beroperasi, bahkan rusak dikarenakan
tidak ada perawatan yang baik. Sedangkan jaringan distribusi yang
digunakan adalah 3 phase 4 kawat dengan voltase antar phasenya 380 volt
dan voltase phase ke netral adalah 220 Volt. Kondisi jaringan distribusi
tidak lebih baik dibandingkan dengan kondisi pembangkit, bahkan cendrung
harus diganti. Selain 2 pembangkit PLTMH yang ada, terdapat juga PLTMH
yang dimiliki swasta, hanya saja penggunaan energinya hanya untuk
kepentingan sendiri.
Untuk kebutuhan BBM sebagai bahan bakar kendaraan, rumah tangga, dll
disuplai semuanya dari Wamena dengan waktu tempuh 3 jam perjalanan
darat. Sedangkan di Kota Bokondini tidak terdapat SPBU untuk suplai BBM
sehingga harga BBM menjadi mahal. Harga BBM yang mahal ini diduga
menjadi kendala dominan untuk proses transportasi barang dan jasa,
termasuk produk pertanian yang menjadi andalan kota Bokondini.
Untuk kebutuhan energi dan listrik, kota bokondini mempunyai potensi yang
dapat dikembangkan secara mandiri, sehingga kota bokondini dapat
menjadi kota mandiri. Potensi sungai yang dapat digunakan sebagai
pembangkit energi listrik, sedangkan potensi hasil pertanian dapat
digunakan untuk menghasilkan bioenergi sebagai pendamping / pengganti
kebutuhan BBM. Hal ini dapat dilakukan jika SDM kota bokondini sudah
mempunyai kompetensi untuk hal tersebut.
8. Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Pokok-pokok penting untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah sebagai
berikut:
a. Kawasan perumahan perlu menyediakan ruang terbuka hijau yang
bermanfaat untuk menjaga kualitas dan keseimbangan lingkungan di
sekitar kawasan.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 79

b. Ruang terbuka hijau, bermanfaat tidak langsung seperti perlindungan
tata air, dan konservasi hayati atau keaneka-ragaman hayati; dan
bermanfaat langsung seperti kenyamanan fisik (seperti: teduh atau
segar) dan mendapatkan bahan untuk dijual (seperti: kayu, daun atau
bunga), tempat wisata (seperti: bermain) serta bangunan umum yang
bersifat terbatas (seperti: WC Umum, pos polisi, lampu taman atau
gardu listrik).
c. Persyaratan ruang terbuka hijau didasarkan luas wilayah dan
berdasarkan jumlah penduduk.
d. Untuk persyaratan luas wilayah, ditentukan bahwa ruang terbuka
hijau publik (milik pemerintah dan terbuka untuk umum) dan privat
(perorangan) paling sedikit 10 (sepuluh) persen dari seluruh luas
wilayah kawasan perumahan, atau mengacu pada peraturan
perundang-undandangan yang berlaku.
e. Untuk persyaratan jumlah penduduk, ditentukan luas per kapita
dalam m2. Misalnya jumlah penduduk 250 jiwa sampai dengan
480.000 jiwa, diperlukan RTH sebesar 1 m2 sampai dengan 0,3 m2
per kapita.
f. Bentuk tipologi ruang terbuka hijau berupa ruang terbuka hijau
taman lingkungan dan taman kota, jalur hijau, jalur hijau sempadan
sungai, jalur hijau sempadan rel kereta api, jalur hijau tegangan
tinggi, RTH pemakaman dan RTH pekarangan.
g. Kriteria penyediaan ruang terbuka hijau adalah pemilihan vegetasi,
ketentuan penanaman dan pemeliharaan ruang terbuka hijau.
h. Ruang terbuka hijau perlu dilakukan pengelolaan secara rutin oleh
Pemerintah Daerah, dalam pengelolaan RTH ini diperlukan peran
serta masyarakat, swasta dan organisasi non pemerintah.
i. Standar teknis bidang RTH antara lain adalah: 009/T/BT/1995
Dalam penyelenggaraan kegiatan investasi pembangunan PSU kawasan perumahan,
maka partisipasi modal masyarakat dan swasta sangat dibutuhkan. Partisipasi perlu
dipertimbangkan dengan alasan sebagai berikut: (i) terbatasnya dana dan teknologi
(ii) pergeseran tanggung jawab dari pemerintah kepada swasta dan masyarakat (iii)
Motivasi swasta dan masyarakat mendorong lembaga menjadi lebih efisien,
transparan dan kompetitif (iv) kondisi capacity building swasta dan masyarakat.
Kriteria yang digunakan dalam rangka menunjang keberhasilan partisipasi swasta dan
masyarakat adalah: (i) untuk kepentingan masyarakat berpenghasilan rendah (ii)
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 80

masalah lingkungan sesuai standar global (iii) iklim investasi yang kondusif,
kredibilitas pemerintah, komitmen, stabilitas politik dan kesiapan lembaga pengelola
(iv) kelayakan investasi yang memadai dan terjamin.
Tingkat keterlibatan swasta dalam pembangunan PSU bervariasi, yaitu (i) untuk
penyediaan pembiayaan, dan (ii) kombinasi pembiayaan serta operasionalisasi. Pihak–
pihak yang dapat ikut berpartisipasi dalam pembangunan Prasarana, Sarana dan
Utilitas (PSU) dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 8.2 Partisipasi Swasta dan Masyarakat dalam Investasi
No Pelaku Peranan investasi Imbal Hasil (Reward)
1. PLN atau swasta Pembiayaan pembangunan
jaringan listrik
Hak rekening listrik
2. PDAM atau swasta Pembiayan pembangunan
jaringan air minum
Hak rekening air minum
3. PT TELKOM atau
swasta
Pembiayaan pembangunan
jaringan telekomunikasi
Hak rekening
telekomunikasi
4. Pengembang Harga material atau upah
yang murah
Hak sebagai pengembang
pembangunan kawasan
5. Badan pengelola
sampah atau air
limbah
Harga atau biaya yang murah Hak sebagai lembaga
pengelola sampah atau
air limbah
6. Bank Penjamin pembayaran kredit Hak eksklusif sebagai
bank dalam investasi
7. Masyarakat Membeli unit rumah Hak untuk memperoleh
skim pembayaran
Sumber: PERMEN No. 34 /PERMEN/M/2006
Dalam penyelenggaraan keterpaduan PSU perlu dilakukan pembinaan Sumber Daya
Manusia (SDM) aparat, pemangku kepentingan, serta masyarakat untuk peningkatan
penyelenggaraan dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Pemerintah memfasilitasi penyelenggarakan pembinaan dalam bidang
keterpaduan Prasarana, Sarana dan Utilitas (PSU) kawasan perumahan dan
permukiman yang dilaksanakan oleh pemangku kepentingan sesuai dengan
kepentingan dan kompetensinya.
2. Dalam fungsinya sebagai fasilitator, pemerintah dapat melakukan:
3. fasilitasi penyelesaian masalah yang timbul baik dalam kawasan maupun
antar kawasan perumahan dan permukiman.
4. Memberikan bantuan teknis, pembinaan teknis dan pendampingan teknis.
5. sosialisasi produk pengaturan bidang keterpaduan PSU kawasan.
6. Memberikan bantuan stimulan PSU dalam mendorong percepatan
pembangunan kawasan perumahan dan permukiman.

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 81

8.9. KONSEP PERENCANAAN BERBASIS MITIGASI BENCANA
Pada dewasa ini konsep pembangunan yang sesuaiadalah yang bersifat proaktif,
yaitu: mencegah (prevent), memperbaiki (mitigate) dan mengurangi atau
memperkecil (reduce) dari kerugian-kerugian dan dampak lingkungan yang terjadi
akibat adanya potensi bencana.
Langkah-langkah tersebut dituangkan dalam penataan ruang melalui pengelolaan
ruang yang tanggap terhadap bencana, yang selanjutnya dapat sebagai dasar dalam
tahapan rekonstruksi dan rehabilitasi pasca terjadinya bencana.
Program pengelolaan ruang berupa kesiapan dalam menghadapi resiko bencana,
dengan dikembangkannya perencanaan spasial untuk mendorong pemanfaatan ruang
(pemanfaatan lahan) yang lebih tepat, berdasarkan pada hasil studi/kajian tentang
karakteristik tipe bencana, frekuensi terjadinya bencana, tingkat keparahan akibat
bencana dan lokasi (zonasi) terjadinya bencana. Dalam hal bencana gempa bumi,
gunung api, tsunami dan banjir dilengkapi dengan data historis tentang kejadiannya.
Secara menyeluruh upaya mitigasi bencana alam dapat dilakukan dengan upaya
struktur (fisik) dan upaya non struktur (non fisik). Untuk lebih jelasnya mengenai
upaya mitigasi bencana alam secara menyeluruh untuk mengurangi besarnya kerugian
akibat bencana dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Gambar 8.28 Tahapan Mitigasi Bencana





















Sumber: Departemen Pekerjaan Umum, 2007
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 82

Pengelolaan kawasan dari bahaya bencana alam pada dasarnya tidak terlepas dari
berbagai faktor dan aspek yang mempengaruhinya, baik politik, ekonomi, maupun
sosial budaya. Oleh karena itu dalam upaya pemanfaatan ruang kawasan rawan
bencana haruslah mempertimbangan aspek-aspek tersebut. Secara rinci mengenai
diagram alir konsep mitigasi bencana dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Gambar 8.29 Diagram Alir Konsep Mitigasi Bencana














Sumber: Departemen Pekerjaan Umum, 2007


Usaha mitigasi bencana yang direncanakan didasarkan kepada tinjauan berbagai
tingkatan wilayah yaitu pada lingkup nasional yang diarahkan berdasarkan rencana
tata ruang nasional; pada lingkup daerah provinsi yang secara lebih spesifik
berdasarkan ancaman bencana dalam lingkup provinsi serta pada lingkup daerah
kabupaten dan daerah kota.
Pokok-pokok penting dalam pengembangan wilayah dan kota yang tanggap terhadap
bencana adalah:
1. Pencegahan. Pembatasan wilayah yang dapat dibangun untuk mendirikan
bangunan. Dalam usaha pencegahan ini juga dilakukan pembatasan
perkembangan penggunaan lahan pada wilayah wilayah yang rentan
kemungkinan bencana alam seperti wilayah yang rawan banjir, rentan
kelongsoran, rentan gempa bumi dan tsunami, wilayah wilayah sesar ,
maupun dari bagian wilayah yang sudah atau sedang dieksploitasi seperti
wilayah pasca penambangan terutama batu bara, wilayah penambangan
mineral atau bahan bangunan (galian C), tanah garapan atau pembukaan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 83

lahan pada wilayah lereng,pengembangan wilayah penyanggah (buffer area)
pada industri pencemar.
2. Penyiapan suatu struktur bangunan yang tingkat keamanannya tinggi.
Desain struktur bangunan dengan tingkat keamanan yang tinggi misalnya
bangunan yang dipertinggi dengan dukungan tiang tiang pada wilayah banjir
atau konstruksi khusus yang anti gempa (anchored building construction).
Dalam hubungan ini juga termasuk perancangan lokasi tapak dan struktur
konstruksi bangunan yang sesuai dengan sifat lingkungan fisik seperti lokasi
pada jarak aman, orientasi perletakan bangunan dari gejala bencana alam,
konstruksi pondasi dan bangunan tahan terhadap suatu bentuk bencana
alam tertentu (gempa bumi, longsor, banjir, badai, amblesan).
3. Pembatasan pemanfaatan dan penggunaan lahan. Untuk jenis penggunaan
lahan seperti perumahan, industri, pusat perdagangan, pertanian harus
diatur dalam usaha menghadapi bencana pada wilayah yang bersangkutan.
Demikian pula pemanfaatan lahan misalnya kepadatan penduduk,
kepadatan bangunan harus diatur dengan peraturan di dalam menghadapi
potensi bencana di suatu wilayah tertentu, pembatasan kepadatan
penggunaan lahan dengan pembatasan KDB, KLB, ketinggian bangunan.
Gambaran mengenai perencanaan mitigasi bencana bisa terlihat pada gambar berikut
ini.
Gambar 8.30 Perencanaan Mitigasi Bencana









Sumber: Departemen Pekerjaan Umum, 2007

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 84

8.10. KONSEP PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG
Pengertian peran serta masyarakat menurut Peraturan Pemerintah No. 69 tahun
1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara Peran
Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang lebih diarahkan untuk peran serta bebas,
dan belum pada peran serta spontan yang penekanannya pada berbagai kegiatan
masyarakat, yang timbul atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat,
untuk berminat dan bergerak dalam penyelenggaraan penataan ruang. Bentuk peran
serta masyarakat yang diindikasikan dalam Peraturan Pemerintah No.69 tahun 1996
adalah sebagai berikut:
1. Pemberian masukan dalam penentuan arah pengembangan;
2. Pengidentifikasian berbagai potensi dan masalah bangunan;
3. Pemberian masukan dallam perumusan rencana tata ruang;
4. Pemberian informasi, saran, pertimbangan, atau pendapat dalam
penyusunan strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang;
5. Pengajuan keberatan terhadap rancangan rencana;
6. Kerjasama dalam penelitian dan pengembangan;
7. Bantuan tenaga ahli;
8. Bantuan dana
Peranserta masyarakat tersebut terkait erat dengan hirarki serta tahapan dari
penataan ruang yang dilakukan. Matriks berikut ini mengemukakan perbandingan
kemungkinan serta potensi kontribusi peranserta masyarakat di dalam proses
penataan ruang

Tabel 8.3 Potensi Kontribusi Masyarakat dalam Penataan Ruang
Tahap Penataan
Ruang
Kegiatan
HIRARKI RENCANA
Nas. Prop. Kab/Kota Kawasan
Perencanaan Proses Teknis merencana
  + +
Penetapan rencana -  + +
Pengesahan rencana
- - - 
Pemanfaatan Penyuluhan dan sosialisasi rencana
-  + +
Penyusunan program
  + +
Penyusunan peraturan pelaksanaan
rencana dan perangkat insentif dan disinsentif
-  + +
Penyusunan dan pengusulan proyek
 + + +
Pelaksanaan program dan proyek
 + + +
Pengendalian Perijinan rencana pembangunan - -  +
Pengawasan
-  + +
Penertiban
- - - 
Peninjauan kembali rencana
  + +
Keterangan potensi kontribusi masyarakat :
 = sedang + = tinggi - = rendah
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 85

Proses penataan ruang sampai saat ini masih lebih bersifat top down, dimana peran
pemerintah masih sangat dominan. Pada perencanaan level makro seperti RTRW
Provinsi, RTRW Kabupaten/Kota, maka mekanisme top down ini dirasakan masih
memungkinkan, mengingat substansi dari rencana tersebut lebih pada strategi serta
arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang. Namun untuk rencana pada level mikro
seperti Rencana Detail, Rencana Teknik, perlu dilakukan proses bottom up mengingat
interaksi dan aspirasi dari masyarakat akan lebih diperlukan.
Oleh karenanya, siapa yang harus terlibat secara lebih aktif dalam tahap selanjutnya,
serta siapa yang harus ikut dalam kerja sama dalam penelitian dan pengembangan,
bantuan tenaga ahli, dan bantuan dana, ditentukan bersama-sama dengan
masyarakat sejak awal proses.
Aspek-aspek teknis yang perlu diperhatikan dalam pelibatan masyarakat dalam
perencanaan tata ruang adalah:
1. Beberapa pertanyaan yang harus dijawab sehubungan dengan peran serta
masyarakat :
a. Siapa yang harus dilibatkan dan berperan aktif?
b. Kapan masyarakat harus mulai terlibat?
c. Bagaimana bentuk pelaksanaan peranserta masyarakat ?
2. Bentuk penyelenggaraan peran serta masyarakat :
a. Diskusi kelompok kecil;
b. Rapat umum;
c. Konferensi;
d. Lokakarya bagi kelompok-kelompok kecil;
e. Seminar.
3. Beberapa bentuk peran serta yang bersifat perorangan misalnya adalah:
a. Wawancara;
b. Pendapat tertulis atau verbal;
c. Jalur khusus telepon;
d. Survey kuesioner;
e. Bentuk lain antara lain: observasi, pameran, membuka kantor
informasi di lapangan, dan penggunaan media massa.
4. Pengelompokkan bentuk peranserta masyarakat dalam kelompok lebih
besar:
a. Publicity (dalam rangka membangun dukungan masyarakat);
b. Public education (dalam rangka diseminasi informasi);
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 86

c. Public interaction (dalam rangka membangun komunikasi dua arah);
d. Public Partnership (dalam rangka mengamankan saran dan konsen).

8.11. KONSEP PRODUK PERENCANAAN TATA RUANG YANG INFORMATIF,
SEDERHANA DAN INTERAKTIF
Produk rencana tata ruang, sejauh ini masih belum memasyarakat secara nyata.
Selain karena bentuk fisik laporan yang berupa buku dalam format yang cukup tebal,
dari segi penulisannya pun sertingkali masyarakat awam kurang dapat memahami
makna serta kandungan dari rencana tata ruang tersebut. Agar output Rencana
Teknik Ruang Kawasan Industri Copong dapat dipahami dengan mudah oleh
masyarakat awam, penyajian materi rencana rinci perlu dilakukan secara informatif,
sederhana dan interaktif. Dengan memanfaatkan teknologi elektronik melalui
teknologi multi media, sebuah produk rencana tata ruang dapat dikemas sedemikian
rupa sehingga memudahkan penggunaan dari produk tersebut. Bagian berikut akan
memapaparkan beberapa prinsip serta teknik dari teknologi multi media ini.
Gambar 8.31 Pemanfaatan Teknologi Elektronik






Sumber: Hasil Olahan Konsultan, 2012

8.11.1. Pemanfaatan Teknologi Elektronik
Teknologi elektronik telah mulai menular ke dalam perkembangan seni visual. Ia akan
menjadi aliran baru yang mampu memberi perubahan dan transformasi kepada
pengucapan berkarya. Sekarang ini komputer, mampu memperkaya gaya pengucapan
berkarya. Melalui keterpaduan seni dan teknologi terkini bisa diaplikasikan terhadap
berbagai disiplin ilmu yang mampu memberi pilihan kepada generasi mendatang.
Tranformasi ini bisa jadi hal yang utama dalam dunia pendidikan dan pengajaran.
Tidak dapat dinafikan generasi sekarang dan akan datang telah dan terus mengacu
kepada perkembangan teknologi dunia.

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 87

Manusia tidak pernah berhenti pada satu keadaan. Begitu juga perkembangan
pemikiran, ide, aliran dan falsafah. Terciptanya sesuatu yang baru sekarang ini
bukanlah bermula dari tiada tetapi ia sebenarnya diberi pembaharuan yang lebih
maju dan berteknologi. Di zaman sekarang tenaga elektrik menjadi keperluan utama
manusia dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengerakkan perkakas elektronik sekaligus
menjadi tenaga yang menghidupkan zaman teknologi. Rata-rata manusia mengaitkan
teknologi dengan elektonik. Jadi ini adalah hakikat teknologi sekarang.

8.11.2. Interaksi Manusia Dengan Teknologi
Fungsi dan peran komputer dewasa ini maupun di masa-masa yang akan datang
melebihi bayangan kita pada umumnya. Sekarang pun orang mulai terbiasa dengan
istilah multimedia. Secara harfiah kata multimedia yang terdiri dari kata multi yang
artinya lebih dari satu dan media yang biasanya mengacu pada medium tertentu,
mempunyai arti lebih dari satu medium. Oleh karena itu, interaksi yang semakin
tinggi tingkat ketergantungannya, maka multimedia ini dikaitkan dengan bagaimana
kelima indra dasar ini sangat erat berhubungan maupun bersentuhan dengan
informasi, baik itu dalam elemen teks, audio (suara), grafik (gambar), animasi
(gerakan), dan video.
Gambar 8.32 Manusia dan Penguasaan atas Teknologi







Sumber: Departemen PU, 2007

8.11.2. Elemen Multimedia Dalam Interaksi Manusia Dengan Teknologi
Bentuk teks adalah elemen paling awal dan sederhana dalam multimedia, yang
biasanya mengacu pada kata, kalimat, alinea, atau segala sesuatu yang tertulis atau
ditayangkan. Selain teks, elemen multimedia lainnya yang sekarang mengalami

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 88

kemajuan sangat pesat adalah audio. Audio dalam era multimedia sekarang ini bisa
muncul dalam bentuk suara manusia, irama instrumen musik, efek suara digital, atau
bentuk suara lainnya yang digunakan untuk memperluas pengertian informasi yang
disajikan kepada kita. Audio juga merupakan elemen pertama yang muncul dalam
teknologi komunikasi informasi, seperti suara "biip" yang ke luar dari pengeras suara
kecil pada awal komputer PC untuk memberitahukan penggunanya adanya kerusakan
tertentu pada komputer. Bandingkan audio yang sekarang berkembang sampai pada
tingkatan mendekati realitas dengan berbagai efek suara mulai dari Dolby Digital
sampai THX.
Elemen grafik juga menjadi bagian yang penting dalam perkembangan teknologi
komunikasi informasi, yang ditampilkan sebagai sebuah ilustrasi yang jelas dan tegas
dalam mempresentasikan informasi. Teknologi berwarna dalam komputer PC
kemudian dimulai dengan teknologi 16 warna, kemudian diikuti dengan 256 warna,
dan akhirnya sampai sekarang ketika game komputer menampilkan warna-warna
"seindah asli"-nya. Dengan teknologi warna 32 bit (yang bisa mencapai 4.294.967.296
jenis warna), penyajian komunikasi informasi sekarang ini mampu memicu
antusiasme untuk menyerap sebanyak-banyaknya. Penggunaan PowerPoint buatan
Microsoft dewasa ini adalah sebuah contoh konkret perkembangan grafik.

8.11.3. Pemilihan Elemen Multimedia Dalam Penyampaian Informasi
Dalam dunia nyata, pengkayaan multimedia ini dimungkinkan karena keterlibatan
berbagai ahli seperti para insinyur yang menangani aspek perangkat keras pada
elemen multimedia, para ilmuwan komputer maupun para ahli teknologi informasi
yang membuat berbagai perangkat lunak, serta keterlibatan para animator dan
ilustrator yang menciptakan berbagai jenis presentasi multimedia dalam bentuk
grafik, animasi, dan video. Banyak aspek kehidupan yang akan berkembang, bukan
saja bagaimana multimedia memperkaya diri kita dengan ragam informasi yang
diserap, tapi di sisi lain juga mampu memperbaiki kehidupan ke taraf yang lebih baik
dibanding sebelumnya.

8.11.4. Produk Penataan Ruang Berbasis Website
Tujuan utama penataan ruang pada suatu wilayah atau kawasan adalah sebagai
arahan pembangunan. Dalam proses penataan ruang dihasilkan materi teknis yang
berisi data, fakta dan analisa, serta rencana pengembangan wilayah dan indikasi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 89

program pengembangan, yang merupakan informasi-informasi yang bersifat strategis.
Dalam pelaksanaannya pembangunan wilayah yang didasari oleh penataan ruang
membutuhkan investasi yang tidak sedikit dan tidak dapat hanya dilakukan oleh
Pemerintah saja, sehingga dibutuhkan investasi dari berbagai sumber baik di dalam
maupun luar negeri.
Pada wilayah yang telah berkembang, investasi dari sektor swasta relative lebih
dominan dibandingkan pemerintah. Untuk menarik investor swasta, pemerintah perlu
menyediakan informasi yang dibutuhkan terkait rencana pembangunan yang akan
dilakukan dan peluang apa saja yang dapat diambil oleh investor swasta. Oleh karena
itu, dibutuhkan sarana informasi yang mampu memberikan gambaran komprehensif
perencanaan pembangunan yang pada prinsipnya terdapat pada produk penataan
ruang.
Penyajian produk hasil penataan ruang berbasis website merupakan salah satu bentuk
penyebaran informasi rencana pembangunan dengan cakupan dunia (global), biaya
relatif murah, dan waktu paling cepat (real time). Diharapkan dengan produk
penataan ruang berbasis website ini, investor dapat mengetahui rencana
pembangunan pada suatu wilayah, mampu melihat peluang keterlibatan dan tertarik
berpartisipasi di dalamnya.
Website merupakan suatu sistem informasi (Information System) yang mutakhir
dengan menggunakan media komputer dan menjadikan jaringan internet sebagai
basis utama yang bersifat mendunia (world wide web/www). Saat ini sarana
informasi dengan website melalui jaringan internet sangat marak digunakan sebagai
suatu pilihan diseminasi informasi yang paling cepat (real time), paling luas
(mendunia) dan paling murah apabila dibandingkan dengan sarana informasi lainnya.
Dewasa ini, website merupakan sebuah sarana eksistensi diri maupun sarana
diseminasi informasi. Dalam berbagai aspek, promosi eksistensi diri maupun
diseminasi informasi yang dilakukan secara global akan memberikan banyak
keuntungan dan kemudahan.
Tujuan dari pemanfaatan sarana website antara lain:
1. Untuk menyatakan eksistensi diri (acknowledgement) kegiatan yang
dijalankan;
2. Untuk mendokumentasikan berbagai kegiatan yang akan, sedang dan telah
dilakukan dalam suatu bentuk pengarsipan elektronik file (softcopy),
sehingga pada dibutuhkan suatu arsip mudah ditelusuri keberadaannya;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 90

3. Untuk mendiseminasikan data dan informasi yang dimiliki sebanyak-
banyaknya dan seluas-luasnya (umumnya merupakan tujuan sosial walaupun
dapat juga bersifat komersial);
4. Untuk mewadahi kebutuhan transaksi secara cepat tanpa mengenal batasan
jarak dan waktu sesuai dengan kebutuhan aktivitasnya; dan
5. Untuk mewadahi kebutuhan berkomunikasi dengan user secara cepat tanpa
mengenal batasan jarak dan waktu sesuai dengan kebutuhan aktivitasnya.
Berdasarkan tujuan tersebut di atas, maka fungsi dari website dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Website sebagai sarana promosi eksistensi diri (etalase);
2. Website sebagai sarana dokumentasi atau pengarsipan (filing system);
3. Website sebagai sarana diseminasi data dan informasi (data bank);
4. Website sebagai sarana transaksi, seperti halnya sebuah toko (merchant);
dan
5. Website sebagai sarana komunikasi yang bersifat interaktif (forum).
Contoh Aplikasi Penataan Ruang Berbasis Website bisa terlihat pada gambar berikut
ini.
Gambar 8.33 Halaman Depan Website Tata Ruang



















Sumber: Hasil Olahan Konsultan, 2012



Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 91

Gambar 8.34 Halaman Dalam Website Penataan Ruang




















Sumber: Hasil Olahan Konsultan, 2012

8.11.5. Keuntungan Pemanfaatan Teknologi Terkait Pengembangan
Wilayah
Keuntungan pemanfaatan teknologi informasi dalam pengembangan wilayah sangat
besar. Hasil penataan ruang berisi berbagai muatan teknis seperti: profil wilayah
atau kawasan, data dan fakta, analisis sektoral dan spasial, rencana pembangunan
serta indikasi program investasi yang akan dilaksanakan pemerintah daerah dalam
kurun waktu tertentu. Berbagai muatan teknis tersebut menjadi informasi yang
sangat strategis untuk didiseminasikan seluas-luasnya dalam rangka pembangunan di
daerah. Pembuatan produk penataan ruang berbasis website memiliki berbagai
keuntungan, seperti:
1. Menjadi etalase eksistensi suatu daarah secara global, termasuk didalamnya
adalah:
a. Memperkenalkan profil wilayah;
b. Memberikan gambaran mengenai data dan fakta wilayah;
c. Memberikan gambaran analisis pengembangan wilayah baik secara
sektoral maupun keruangan;
d. Memberikan gambaran mengenai rencana pengembangan wilayah;
dan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 8 Gagasan dan Konsep Perencanaan | 92

e. Memberikan gambaran rencana investasi yang akan dilakukan.
2. Menjadi bentuk nyata transparansi informasi dalam bentuk penyebaran
informasi strategis seluas-luasnya untuk berbagai keperluan oleh
pemerintah;
3. Menjadi sarana dokumentasi atau pengarsipan yang bersifat tahan lama
(long lasting) dalam bentuk soft copy; dan
4. Menjadi bank data yang hasil perencanaan penataan ruang yang telah
dilakukan sehingga memberikan kontribusi terhadap pengayaan khasanah
data dan informasi di dunia maya.


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 7 Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan| 1

7.1. HUBUNGAN KERJA YANG TERBENTUK
Hubungan kerja yang terjalin dalam pelaksanaan pekerjaan ini dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Pengguna Jasa
Pengguna Jasa merupakan pihak yang merupakan pemberi pekerjaan dan
menerima layanan jasa. Pihak pengguna jasa dapat dijabarkan sebagai
berikut:
a. Instansi Pengguna Jasa, yaitu Satuan Kerja Pemerintah Daerah
(SKPD), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPDA)
Kabupaten Tolikara;
b. Pejabat Pembuat Komitmen, yaitu wakil dari pihak pengguna jasa
yang menanda-tangani kontrak kerjasama dengan penyedia jasa.
Dalam hal ini Pejabat Pembuat Komitmen yaitu: PPK Penyusunan
RDTR Kawasan Perkotaan Bokondini, Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah, Penanaman Modal dan Statistik Kabupaten
Tolikara; dan
c. Tim Teknis, yaitu wakil dari pihak pengguna jasa yang dibentuk
untuk memberikan arahan teknis dan substansial, serta
mengendalikan arah pekerjaan.
2. Penyedia Jasa
Penyedia Jasa merupakan pihak yang merupakan penerima pekerjaan dan
memberikan layanan jasa. Pihak penyedia jasa dapat dijabarkan sebagai:
a. Instansi Penyedia Jasa, yaitu konsultan berbadan hukum, Konsultan
pelaksana.
b. Penerima Komitmen, yaitu wakil dari pihak Penyedia Jasa yang
menanda-tangani kontrak kerjasama dengan pengguna jasa. Dalam
hal ini Penerima Komitmen adalah Direktur Utama Konsultan
pelaksana.
c. Tim Tenaga Ahli, yaitu wakil dari pihak penyedia jasa yang dibentuk
untuk melaksanakan pekerjaan secara teknis dan substansial, sesuai
dengan arahan Tim Teknis Pengguna Jasa.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 7 Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan| 2

7.2. ORGANISASI PELAKSANAAN PEKERJAAN
Secara Skematis, organisasi pelaksanaan pekerjaan termasuk hubungan penugasan,
tanggung jawab dan koordinasi dapat digambarkan seperti pada diagram di bawah
ini:












































Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 7 Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan| 3

Gambar 7. 1
Struktur Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan Penyusunan Rencana Detil Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini
TENAGA AHLI :

1. CO TEAM LEADER/AHLI ARSITEKTUR/PLANOLOGI
2. TENAGA AHLI PLANOLOGI/KAWASAN PERMUKIMAN DAN
PERUMAHAN
3. TENAGA AHLI FASUM DAN FASOS
4. TENAGA AHLI PRASARANA WILAYAH JALAN DAN DRAINASE
5. TENAGA AHLI PRASARANA SUMBER DAYA AIR DAN IRIGASI
6. TENAGA AHLI PRASARANA WILAYAH TELEKOMUNIKASI
7. TENAGA AHLI PRASARANA WILAYAH ENERGI DAN
KELISTRIKAN
8. AHLI PRASARANA KAWASAN/PERSAMPAHAN
9. AHLI PRASARANA KAWASAN/AIR BERSIH DAN AIR MINUM
SERTA PERPIPAAN
10. AHLI PRASARANA KAWASAN/SANITASI
11. TENAGA AHLI EKONOMI PEMBANGUNAN
12. TENAGA AHLI PERTANIAN/AGRONOMI
13. TENAGA AHLI PEMETAAN/GIS
14. TENAGA AHLI ARSITEKTUR KAWASAN
15. TENAGA AHLI TRANSPORTASI UDARA
16. TENAGA AHLI TRANSPORTASI DARAT
17. TENAGA AHLI TRANSPORTASI SUNGAI
18. TENAGA AHLI KEHUTANAN
19. TENAGA AHLI PERKEBUNAN
20. TENAGA AHLI GEOLOGI TATA LINGKUNGAN
21. TENAGA AHLI SIPIL PERTANAHAN
22. TENAGA AHLI SOSIAL BUDAYA
23. TENAGA AHLI PARIWISATA
24. TENAGA AHLI MITIGASI BENCANA
25. TENAGA AHLI HUKUM DAN KELEMBAGAAN

PEMERINTAH KABUPATEN TOLIKARA
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
(BAPPEDA)
KONTROL ADMINISTRASI
PENGAWAS KEGIATAN
PELAKSANA
KEGIATAN
KONTROL TEKNIS
TIM TEKNIS
DIREKTUR PERUSAHAAN
KONSULTAN PELAKSANA
TEAM LEADER/
AHLI PERENCANAAN WILAYAH
T
e
a
m

P
e
l
a
k
s
a
n
a

K
e
g
i
a
t
a
n

TENAGA PENDUKUNG:
OPERATOR KOMPUTER, TENAGA ADMINISTRASI DAN PESURUH
TENAGA ASISTEN:
ASS. AHLI PEMETAAN/GIS, ASS. AHLI TRANSPORTASI, ASS. AHLI
TEKNIK LINGKUNGAN, ASS. AHLI SOSIAL BUDAYA, ASS. AHLI
PARIWISATA
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 7 Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan| 4


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 9 Program Survei| 1

9.1. PENETAPAN KEBUTUHAN DATA DAN INFORMASI
Survei dilakukan untuk mendapatkan berbagai data dan informasi dari berbagai
sumber yang akan menjadi bahan analisis dan kajian dalam Kegiatan Penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini. Berbagai data dan
informasi yang diidentifikasi dibutuhkan antara lain:
1. Data Dan Informasi Terkait Struktur Dan Pola Pemanfaatan Ruang Kawasan
a. Distribusi Penduduk Kawasan Perkotaan Bokondini Eksisting, yang
meliputi:
1.) Jumlah Penduduk dan distribusinya dalam kawasan; dan
2.) Kepadatan Penduduk dan distribusinya dalam kawasan.
b. Struktur Kegiatan Kawasan Kawasan Perkotaan Bokondini Eksisting,
yang meliputi:
(a.) Perdagangan sesuai dengan skala pelayanannya;
(b.) Pendidikan sesuai dengan tingkatannya;
(c.) Pelayanan kesehatan dengan skala pelayanannya; dan
(d.) Pelayanan rekreasi dan atau olah raga.
c. Sistem Jaringan Pergerakan Kawasan Perkotaan Bokondini Eksisting,
yang meliputi:
(a.) Angkutan jalan darat; dan
(b.) Transportasi udara
d. Sistem Jaringan Utilitas Kawasan Perkotaan Bokondini Eksisting, yang
meliputi:
(a.) Sistem saluran telepon;
(b.) Sistem jaringan listrik;
(c.) Sistem jaringan gas;
(d.) Sistem penyediaan air bersih;
(e.) Sistem pembuangan air hujan;
(f.) Sistem pembuangan air limbah; dan
(g.) Sistem persampahan.
2. Data dan Informasi Terkait Blok Pemanfaatan Ruang (Block Plan)
a. Kawasan Lindung Eksisting di Kawasan Perkotaan Bokondini , yang
meliputi:
(a.) Kawasan perlindungan setempat, yaitu pada kawasan sekitar
sungai;
(b.) Kawasan suaka alam yaitu pada kawasan hutan bakau;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 9 Program Survei| 2

(c.) Kawasan cagar budaya yaitu pada kawasan pelestarian situs dan
budaya.
b. Kawasan Budidaya Eksisting di Kawasan Perkotaan Bokondini , yang
meliputi:
(a.) Perumahan dan Permukiman yang dirinci menurut ketinggian
bangunan jenis pengguna, pengelompokan berdasarkan besaran
perpetakan;
(b.) Perdagangan, yang dirinci menurut jenis dan bentuk bangunannya,
antara lain pasar, pertokoan mal, dan lainnya;
(c.) Industri, yang dirinci menurut jenisnya;
(d.) Pendidikan, yang diterima menurut Tingkatan pelayanan mulai dari
pendidikan tinggi, SLTA, SLTP, SD. dan TK;
(e.) Kesehatan, yang dirinci menurut Tingkat pelayanan mulai dari RS
Umum kelas A, B, C, D; puskesmas, puskesmas pembantu;
(f.) Peribadatan, yang dirinci menurut (jenisnya mulai dari mesjid.
gereja, klenteng, pura, vihara;
(g.) Rekreasi, yang dirinci menurut jenisnya, antara lain, taman
bermain, taman rekreasi, taman lingkungan, taman kota dan lainnya;
(h.) Olahraga, yang dirinci menurut tingkat pelayanannya antara lain
stadion, gelanggang, dan lainnya;
(i.) Fasilitas sosial lainnya, yang dirinci menurut jenis seperti panti
asuhan, panti werda, dan lainnya;
(j.) Perkantoran pemerintah dan niaga, yang dirinci menurut
mutasinya;
(k.) Terminal angkutan jalan raya baik untuk penumpang atau barang,
Bandar udara, dan sarana transportasi lainnya;
(l.) Kawasan pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan,
perikanan;
(m.) Taman pemakaman umum, taman pemakaman pahlawan;
(n.) Tempat pembuangan sampah akhir.

3. Data dan Informasi Terkait Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kabupaten
Tolikara Khususnya Untuk Wilayah Kawasan Perkotaan Bokondini
1.) Mekanisme advise planning perizinan sampai dengan pemberian izin
lokasi bagi kegiatan perkotaan;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 9 Program Survei| 3

2.) Mekanisme pemberian insentif dan disinsentif bagi kawasan yang
dilarang pengembangannya dan kawasan yang dibatasi pengembangannya;
3.) Mekanisme pemberian kompensasi berupa mekanisme penggantian yang
diberikan kepada masyarakat pemegang hak atas tanah, hak pengelolaan
sumber daya alam seperti hutan, tambang, bahan galian, kawasan lindung;
4.) Mekanisme pelaporan;
5.) Mekanisme pemantauan;
6.) Mekanisme evaluasi;
7.) Mekanisme pengenaan sanksi.

9.2. KONDISI DATA YANG ADA
Hingga saat Laporan Pendahuluan ini disusun, konsultan telah melakukan
pengumpulan data awal, khususnya mengenai data sekunder terkait pengembangan
Kabuapten Tolikara pada umumnya, dan pengembangan Distrik Bokondini pada
khususnya. Berdasarkan pemahaman konsultan, setidaknya 60% data sekunder yang
dibutuhkan telah didapatkan konsultan. Rekap ketersediaan data sekunder dapat
dilihat pada Lampiran 1.

9.3. METODE SURVEI
9.2.1. Kegiatan Survei secara Primer
Kegiatan Survei secara Primer dilakukan dengan mendatangi seluruh lokasi yang telah
ditetapkan untuk melakukan:
a. Pengamatan dan Perekaman Visual;
b. Pengukuran secara Langsung;
c. Wawancara dengan Pihak Terkait.

9.2.2. Kegiatan Survei secara Sekunder
Kegiatan Survei secara Sekunder dilakukan dengan melakukan inventarisir data dan
informasi dari berbagai instansi terkait di Kabupaten Tolikara, seperti:
a. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penanaman Modal dan Statistik
Kabupaten Tolikara;
b. Dinas PU dan Perhubungan Kabupaten Tolikara;
c. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tolikara;
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 9 Program Survei| 4

d. Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Tolikara;
e. Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Tolikara;
f. Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Tolikara;
g. Sekretariat Daerah (SETDA) Kabupaten Tolikara;
h. Kantor-Kantor Distrik di Kawasan Perkotaan Bokondini .

9.3. PERANGKAT (INSTRUMEN) PELAKSANAAN SURVEI
9.3.1. Peralatan (Hardware) Survei
Berbagai kebutuhan peralatan (hardware) yang dibutuhkan dalam rangka pelaksanaan
survei data dan informasi antara lain:
a. Perangkat Acuan
1.) Peta Acuan Wilayah Kabupaten Tolikara
2.) Peta Acuan Wilayah Kawasan Perkotaan Bokondini
3.) Peta Acuan Foto Udara Eksisting Kawasan Perkotaan Bokondini
b. Perangkat Perekaman
1.) Kamera Handycam;
2.) Kamera Digital;
3.) Recorder Digital.
c. Perangkat Pengamatan
1.) Peralatan Sketsa/Gambar;
2.) Paper Holder A4/Folio.
d. Perangkat Pengukuran
1.) Digitizer;
2.) Teodolit Total Station;
3.) Teodolit Digital;
4.) Pita Ukur;
5.) Auto Level,
e. Perangkat Penyimpanan
1.) Laptop Computer;
2.) Flashdisk.

9.3.2. Checklist Data dan Informasi
Checklist Data dan Informasi merupakan perangkat survei yang digunakan sebagai
alat untuk mengontrol perolehan data dan informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Bab 9 Program Survei| 5

studi ini, baik yang diperoleh secara primer maupun secara sekunder. Checklist data
dan Informasi lengkap yang dibutuhkan dalam penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan
Bokondini dapat dilihat pada Lampiran 2.

9.3.3. Form Surveyor
Pada saat surveyor melakukan survei, maka surveyor akan diberikan form isian untuk
mencatat perjalanan surveyor. Isian form ini penting untuk mengidentifikasi akses
menuju lokasi survei dilengkapi dengan foto-foto perjalanan survei. Form Surveyor
dapat diliha pada Lampiran 3.

9.3.4. Questionnaire untuk Wawancara
Sedangkan Questionnaire merupakan perangkat survei yang digunakan sebagai alat
untuk memandu kegiatan wawancara dengan berbagai pihak terkait dalam rangka
memperoleh data dan informasi secara langsung pada sumber-sumber yang telah
ditentukan. Form questionnaire dapat dilihat pada Lampiran 4.

9.3.5. Form GPS
Form GPS ini diberikan kepada surveyor, untuk mencatat titik-titik koordinat
prasarana, sarana dan utilitas yang disurvei menggunakan GPS. Form questionnaire
dapat dilihat pada Lampiran 5.

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Lampiran 1 | 1

LAMPIRAN 1
Kondisi Ketersediaan Data Sekunder
No. Nama Data
Sumber
Data
Kondisi Saat Ini
Keterangan Sudah
didapat
Belum
didapat
Belum
Tersedia
1. UU No.26 Tahun
2007 dan UU
No.27 Tahun
2007
buku,
internet

2. PP No.26 Tahun
2008
buku,
internet

3. Pedoman
Penyusunan
RDTR
Kabupaten
buku,
internet

4. Rencana
Program
Investasi Jangka
Menengah
(RPIJM) Cipta
Karya
Cipta Karya
PU dan
PEMKAB

harus
dilengkapi
5. SNI dan NSPK
terkait lainnya
buku,
internet

6. RENSTRA dan
RENJA Sektoral
PEMKAB

harus
dilengkapi
6. RTRW
Kabupaten
Tolikara
PEMKAB

harus
dilengkapi
7. Kab. Tolikara
Dalam Angka
PEMKAB

harus
dilengkapi
8. Produk
Perencanaan
Kabupaten
lainnya
PEMKAB

harus
dilengkapi

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Lampiran 2 | 1

LAMPIRAN 2

Checklist kebutuhan data penyusunan
RDTR Kawasan Perkotaan Bokondini
No Sektor Jenis Detil Sumber

1 Penggunaan Lahan
1 Lahan pertanian 1. Sebaran lokasi lahan
pertanian
2. Luas lahan pertanian

(lahan pertanian untuk tiap
jenis pengairannya: irigasi
teknis, tadah hujan)
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas Pertanian
(data dan peta)
3. BPS Kab. Tolikara
4. Distrik (data dan
peta)
5. Pemetaan dan
Survei Lapangan
2 Lahan Perkebunan 1. Sebaran lokasi
perkebunan
berdasarkan jenis
komoditas
2. Luas lahan perkebunan
berdasarkan jenis
komoditas
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas Perkebunan
/ Pertanian (data
dan peta)
3. Distrik (data dan
peta)
4. BPS Kab. Tolikara
5. Pemetaan dan
Survei Lapangan
3 Lahan Perumahan dan
Permukiman
1. Sebaran lokasi
permukiman
2. Luas lahan perkim
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas Perumahan
dan Permukiman
(data dan peta)
3. Distrik (data dan
peta)
4. BPS Kab. Tolikara
5. Pemetaan dan
Survei Lapangan
4 Lahan Wet Land 1. Sebaran lokasi wet land
2. Luas lahan wet land
3. Penggunaan lahan wet
land
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Pemetaan dan
Survei Lapangan
5 Lahan Hutan 1. Sebaran lokasi hutan
konservasi
2. Luas lahan hutan
konservasi
3. Sebaran lokasi hutan
lindung
4. Luas lahan hutan
lindung
5. Sebaran lokasi hutan
produksi
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas Kehutanan
(data dan peta)
3. Departemen
Kehutanan (data
dan peta)
4. Dinas Kehutanan
(data dan peta)
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Lampiran 2 | 2

No Sektor Jenis Detil Sumber
6. Luas lahan hutan
produksi
Provinsi
5. BPS Kab. Tolikara
6. Pemetaan dan
Survei Lapangan
6 Lahan Perladangan 1. Sebaran lokasi ladang
berdasarkan jenis
tanaman
2. Luas lahan ladang
berdasarkan masing-
masing jenis tanaman
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas Pertanian
(data dan peta)
3. BPS Kab. Tolikara
4. Distrik (data dan
eta)
5. Pemetaan dan
Survei Lapangan
7 Lahan Perikanan 1. Sebaran lokasi sebaran
lokasi tambak/kolam
ikan
2. Luas lahan
tambak/kolam ikan
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas Perikanan
(data dan
3. peta)
4. BPS Kab. Tolikara
5. Pemetaan dan
Survei Lapangan
8 Lahan Kawasan
Perkotaan
1. Lokasi kawasan
perkotaan
2. Luas lahan kawasan
perkotaan
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas Tata Kota
(data dan peta)
3. Pemetaan dan
Survei Lapangan
9 Lahan Industri 1. Sebaran lokasi industri
berdasarkan jenisnya
2. Luas lahan industri
berdasarkan jenisnya
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas
Perindustrian
(data dan peta)
3. BPS Kab. Tolikara
4. Pemetaan dan
Survei Lapangan
10 Lahan Kawasan Pantai 1. Lokasi kawasan pantai
/ pesisir
2. Luas kawasan pantai
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas Tata Kota
(data dan peta)
3. Dinas PU (data
dan peta)
4. Pemetaan dan
Survei Lapangan
11 Pertambangan 1. Sebaran lokasi daerah
pertambangan
2. Luas masing-masing
penggunaan lahan
pertambangan
1. Departemen
ESDM (data dan
peta)
2. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Lampiran 2 | 3

No Sektor Jenis Detil Sumber
3. Dinas
Pertambangan
(data dan peta)
4. BPS Kab. Tolikara
5. Pemetaan dan
Survei Lapangan
12 Lahan yang Rusak
Akibat Gempa
1. Sebaran lokasi lahan
yang rusak berdasarkan
tingkat kerusakan
2. Luas tiap lahan yang
rusak akibat bencana
berdasarkan tingkat
kerusakan
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas Tata Kota
(data dan peta)
3. Dinas PU (data
dan peta)
4. Pemetaan dan
Survei Lapangan
13 Lahan Perdesaan 1. Sebaran lokasi kawasan
perdesaan
2. Luas masing-masing
kawasan perdesaan
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas Tata Kota
(data dan peta)
3. Pemetaan dan
Survei Lapangan
14 Lahan Gambut
(jika ada)
1. Sebaran lokasi lahan
gambut
2. Luas masing-masing
lahan gambut
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas Pertanian
(data dan peta)
3. Dinas Tata Kota
(data dan peta)
4. Pemetaan dan
Survei Lapangan
15 Pelabuhan 1. Sebaran lokasi
pelabuhan
2. Luas masing-masing
pelabuhan
3. Kelas dan Fungsi
pelayanan kegiatan
pelabuhan
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas
Perhubungan
(data dan peta)
3. Dinas Tata Kota
(data dan peta)
4. Dinas PU (data
dan peta)
5. Dinas
Perhubungan
(data dan peta)
6. Pemetaan dan
Survei Lapangan
16 Lahan Perdagangan dan
Jasa
1. Sebaran lokasi fasilitas
Perdagangan dan jasa
berdasarkan jenis
(warung, pertokoan,
pasar, bank, dan lain-
lain)
2. Jumlah fasilitas
Perdagangan dan jasa
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas Tata Kota
(data dan peta)
3. Dinas Pasar (data
dan peta)
4. BPS
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Lampiran 2 | 4

No Sektor Jenis Detil Sumber
berdasarkan jenis 5. Pemetaan dan
Survei Lapangan
17 Penggunaan Lahan
Lainnya
1. Sebaran lokasi
2. Luas masing-masing
penggunaan lahan
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. BPS Kab. Tolikara
3. Pemetaan dan
Survei Lapangan
2 Hidrologi
1 Sungai 1. Lokasi aliran sungai
2. Nama sungai
3. Lebar sungai
4. Fungsi atau
penggunaan oleh
masyarakat
disekitarnya
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas PU
Pengairan (data
dan peta)
3. Pemetaan dan
Survei Lapangan
2 Air Tanah 1. Data potensi air tanah
2. Kualitas air tanah
1. Peta Hidrologi
2. Peta Hidrogeologi
3 Danau/Situ 1. Sebaran lokasi
danau/situ
2. Luas masing-masing
danau/situ
3. Fungsi masing-masing
danau/situ (sebagai
mata air atau muara
sungai)
4. Fungsi atau
penggunaan oleh
masyarakat
disekitarnya
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas PU
Pengairan (data
dan peta)
3. Pemetaan dan
Survei Lapangan
4 Mata Air 1. Sebaran lokasi mata air
2. Luas masing-masing
mata air
3. Fungsi atau
penggunaan oleh
masyarakat
disekitarnya
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas PU
Pengairan (data
dan peta)
3. Pemetaan dan
Survei Lapangan
3 Kependudukan dan Demografi
1 Kependudukan 1. Jumlah penduduk tiap
desa (time series 5
tahun)
2. Kepadatan penduduk
tiap desa (time series 5
tahun)
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara
2. BPS
3. Dinas
Kependudukan
2 Demografi 1. Penduduk menurut
umur tiap desa (time
series 5 tahun)
2. Penduduk menurut
pekerjaan tiap desa
(time series 5 tahun)
3. Penduduk menurut
tingkat pendidikan tiap
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara
2. BPS
3. Dinas
Kependudukan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Lampiran 2 | 5

No Sektor Jenis Detil Sumber
desa (time series 5
tahun)
4. Tingkat kelahiran dan
kematian penduduk
tiap desa (time series 5
tahun)
5. Tingkat migrasi
penduduk tiap desa
(time series 5 tahun)
6. Tingkat kesejahteraan
penduduk tiap desa
(time series 5 tahun)
4 Budaya
1 Herritage 1. Lokasi sebaran situs-
situs bersejarah dan
nama
2. Kondisi situs-situs
bersejarah dan nama
3. Usaha pengelolaan
situs-situs bersejarah
baik oleh masyarakat
ataupun oleh
pemerintah
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas Pariwisata
(data dan peta)
3. BPS
4. Masyarakat Lokal
(data dan peta
dengan in depth
interview)
5. Pemetaan dan
Survei Lapangan
2 Kesenian 1. Sebaran lokasi
kegiatan-kegiatan
kesenian kebudayaan
lokal
2. Kondisi lokasi kegiatan
kesenian dan
pencapaiannya
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas Pariwisata
(data dan peta)
3. BPS
4. Masyarakat Lokal
(data dan peta
dengan in depth
interview)
5. Pemetaan dan
Survei Lapangan
3 Institusi Lokal 1. Perkembangan Institusi
Lokal
2. Peran dan fungsi
Institusi Lokal dalam
kehidupan
bermasyarakat
3. Peran dan fungsi
Institusi Lokal dalam
pengelolaan lingkungan
4. Peran dan fungsi
Institusi Lokal dalam
melaksanakan
pembangunan
1. Masyarakat Lokal
(data dan peta
dengan in depth
interview)
2. Pemetaan dan
Survei Lapangan
4 Adat Istiadat 1. Peraturan adat yang
mengatur kehidupan
bermasyarakat
2. Peraturan adat yang
mengatur pengelolaan
1. Masyarakat Lokal
(data dan peta
dengan in depth
interview)
2. Pemetaan dan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Lampiran 2 | 6

No Sektor Jenis Detil Sumber
lingkungan
3. Peraturan adat yang
mengatur pelaksanaan
pembangunan
Survei Lapangan
5 Kegiatan Pemerintahan
1 Wilayah Administrasi 1. Wilayah administrasi
per desa
2. Batas wilayah
administrasi per desa
3. Luas wilayah per desa
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. BPS
3. Distrik (data dan
peta)
2 Struktur Organisasi 1. Struktur Organisasi
Pemerintahan Kab.
Tolikara
2. SKPD / Dinas-dinas
yang ada
3. Tugas Pokok dan Fungsi
(TUPOKSI) SKPD /
Dinas-dinas yang ada
1. Sekretariat
Daerah Kab.
Tolikara
2. Biro Organisasi
dan Tata Laksana
Kab. Tolikara
(Ortala)
6 Perumahan dan Permukiman
1 Perumahan 1. Sebaran perumahan
tiap desa
2. Jumlah rumah tiap
desa
3. Kondisi perumahan tiap
desa
4. Jumlah penghuni (jiwa)
pada tiap rumah di tiap
desa
5. Luas lahan tiap rumah
di tiap desa

(jika perumahan
terpisah/berbentuk
cluster-cluster maka data
di atas dicari berdasarkan
cluster pada tiap desa)
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas Perumahan
dan Permukiman
(data dan peta)
3. Dinas Tata Kota
(data dan peta)
4. BPS
5. Pemetaan dan
Survei Lapangan
2 Permukiman 1. Sebaran daerah
permukiman
2. Luas masing-masing
daerah permukiman
3. Jumlah rumah yang ada
pada tiap daerah
permukiman
4. Jumlah penduduk
penghuni masing-
masing daerah
permukiman (KK dan
jiwa)
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas Perumahan
dan Permukiman
(data dan peta)
3. Dinas Tata Kota
(data dan peta)
4. BPS
5. Pemetaan dan
Survei Lapangan
7 Perekonomian
1 Pertanian 1. Produksi pertanian dan
masa panen menurut
jenis pengairan
2. Data kelompok petani
(jumlah dan masing-
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data)
2. Dinas Pertanian
(data)
3. BPS Kab. Tolikara
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Lampiran 2 | 7

No Sektor Jenis Detil Sumber
masing anggotanya)
dan KUD pada tiap desa
3. Sistem dan daerah
pemasaran

2 Perkebunan 1. Produksi perkebunan
dan masa panen
menurut jenis
komoditas
2. Data kelompok petani
(jumlah dan masing-
masing anggotanya)
dan KUD pada tiap desa
3. Sistem dan daerah
pemasaran
4. Industri yang terkait
dengan hasil
perkebunan
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data)
2. Dinas Perkebunan
/ Pertanian
(data)
3. BPS Kab. Tolikara

3 Perikanan 1. Sebaran daerah
perikanan menurut
jenis komoditas
2. Luas lahan perikanan
menurut jenis
komoditas
3. Produksi perikanan dan
masa panen menurut
jenis komoditas
4. Data kelompok petani
(jumlah dan masing-
masing anggotanya)
dan KUD pada tiap desa
5. Sistem dan daerah
pemasaran
6. Industri yang terkait
dengan hasil perikanan
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data)
2. Dinas Perikanan
(data)
3. BPS Kab. Tolikara

4 Peternakan 1. Sebaran daerah
peternakan menurut
jenis komoditas
2. Luas lahan peternakan
menurut jenis
komoditas
3. Produksi peternakan
menurut jenis
komoditas
4. Data kelompok petani
peternak (jumlah dan
masing-masing
anggotanya) dan KUD
pada tiap desa
5. Sistem dan daerah
pemasaran
6. Industri yang terkait
dengan hasil
peternakan
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data)
2. Dinas Peternakan
(data)
3. BPS Kab. Tolikara

5 Kelautan 1. Potensi kelautan yang
ada
1. Departemen
Kelautan dan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Lampiran 2 | 8

No Sektor Jenis Detil Sumber
2. Kapasitas produksi
potensi kelautan
Perikanan (data
dan peta potensi
tangkapan ikan)
2. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data)
3. Dinas Perikanan
(data)
4. Pengelola
Tempat
Pelelangan Ikan
(data)
5. BPS Kab. Tolikara
6 Kehutanan 1. Jenis hutan
2. Potensi kehutanan yang
ada
3. Kapasitas produksi
potensi kehutanan
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data)
2. Dinas Kehutanan
(data)
3. BPS Kab. Tolikara
7 Pariwisata 1. Potensi pariwisata
(wisata alam dan
budaya) yang ada
2. Lokasi daerah wisata
3. Kondisi daerah wisata
4. Pencapaian ke daerah
wisata (aksesibilitas
dan kelengkapan
sarana dan prasarana)
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data)
2. Dinas Pariwisata
(data)
3. BPS Kab. Tolikara

8 Industri 1. Jenis industri yang ada
dan berkembang
2. Skala produksi dan nilai
produksi masing-masing
jenis industri
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data)
2. Dinas
Perindustrian
(data)
3. BPS Kab. Tolikara
9 Perdagangan dan Jasa 1. Jenis kegiatan
Perdagangan dan jasa
(pertokoan, warung,
bank, pasar, terminal,
pelabuhan, pasar
ikan/tempat
pelelangan ikan, dan
lain-lain)
2. Titik lokasi sebaran
kegiatan Perdagangan
dan jasa
3. Skala pelayanan
kegiatan Perdagangan
dan jasa (skala
regional, kota/kab,
lokal/lingkungan)
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data)
2. Dinas
Perdagangan
(data)
3. Dinas Pasar
(data)
4. Pengelola
Tempat
Pelelangan Ikan
(data)
5. BPS Kab. Tolikara

10 Pertambangan 1. Sebaran lokasi
pertambangan
2. Luas daerah konvensi
pertambangan
3. Jenis / golongan
kegiatan pertambangan
1. Departemen
ESDM (data)
2. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data)
3. Dinas
Pertambangan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Lampiran 2 | 9

No Sektor Jenis Detil Sumber
4. Potensi pertambangan (data)
4. BPS Kab. Tolikara
11 Data Pertumbuhan
Ekonomi Wilayah dan
Penerimaan Pendapatan
1. Data PDRB Kab.
Tolikara
2. Data PAD Kab. Tolikara
3. Perkembangan produksi
setiap sektor ekonomi
dan kontribusi terhadap
PAD
4. Perkembangan nilai
investasi tiap sektor
(PMA dan PMDN)
5. Sumber-sumber
penerimaan daerah
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara
2. Dinas
Pendapatan
Daerah
(Dispenda)
3. BPS
8 Prasarana Wilayah
1 Jaringan Jalan 1. Jaringan jalan
berdasarkan kelas dan
fungsinya
2. Nama jalan
3. Panjang masing-masing
jalan
4. Lebar masing-masing
jalan
5. Kondisi masing-masing
jalan
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas PU (data
dan peta)
3. Pemetaan dan
Survei Lapangan
2 Jembatan 1. Sebaran lokasi
jembatan
2. Panjang jembatan
3. Lebar jembatan
4. Kondisi jembatan
5. Kemampuan pelayanan
jembatan (kendaraan
berat, kendaraan
ringan, kendaraan roda
dua, dan lain-lain)
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas PU (data
dan peta)
3. Pemetaan dan
Survei Lapangan
3 Sarana Transportasi 1. Titik lokasi dan kondisi
terminal, pelabuhan,
bandara (berdasarkan
kelas dan skala
pelayanan)
2. Jenis, skala pelayanan
dan jumlah angkutan
umum
3. Route operasi masing-
masing angkutan umum
4. Peta orientasi
pergerakan barang dan
penumpang melalui
transportasi darat, laut
dan udara
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas
Perhubungan
(data dan peta)
3. Pemetaan dan
Survei Lapangan
9 Sarana Wilayah
1 Fasilitas Pendidikan 1. Sebaran lokasi fasilitas
pendidikan berdasarkan
tingkat (TK, SD, SMP,
SMU, MI, MTs, MAliyah,
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas Pendidikan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Lampiran 2 | 10

No Sektor Jenis Detil Sumber
dan lain-lain)
2. Jumlah fasilitas
pendidikan berdasarkan
tingkat
3. Kondisi fasilitas
pendidikan berdasarkan
tingkat
4. Pencapaian
berdasarkan tingkat
(aksesibilitas, sarana
dan prasarana)
(data dan peta)
3. BPS
4. Pemetaan dan
Survei Lapangan
2 Fasilitas Kesehatan 1. Sebaran lokasi fasilitas
kesehatan berdasarkan
jenis
2. Jumlah fasilitas
kesehatan berdasarkan
jenis
3. Kondisi fasilitas
kesehatan berdasarkan
jenis
4. Pencapaian fasilitas
kesehatan berdasarkan
jenis (aksesibilitas,
sarana dan prasarana)
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas Kesehatan
(data dan peta)
3. BPS
4. Pemetaan dan
Survei Lapangan
3 Fasilitas Peribadatan 1. Sebaran lokasi fasilitas
peribadatan
berdasarkan jenis
2. Jumlah fasilitas
peribadatan
berdasarkan jenis
3. Kondisi fasilitas
peribadatan
berdasarkan jenis
4. Pencapaian fasilitas
peribadatan
berdasarkan jenis
(aksesibilitas, sarana
dan prasarana)
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. BPS
3. Pemetaan dan
Survei Lapangan
4 Fasilitas Olah Raga 1. Sebaran lokasi fasilitas
olah raga berdasarkan
jenis
2. Jumlah fasilitas olah
raga berdasarkan jenis
3. Kondisi fasilitas olah
raga berdasarkan jenis
4. Pencapaian fasilitas
olah raga berdasarkan
jenis (aksesibilitas,
sarana dan prasarana)
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. BPS
3. Pemetaan dan
Survei Lapangan
5 Fasilitas Perdagangan
dan Jasa
1. Sebaran lokasi fasilitas
Perdagangan dan jasa
berdasarkan jenis
(warung, pertokoan,
pasar, bank, losmen,
hotel dan lain-lain)
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas Tata Kota
(data dan peta)
3. Dinas Pasar (data
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Lampiran 2 | 11

No Sektor Jenis Detil Sumber
2. Jumlah fasilitas
Perdagangan dan jasa
berdasarkan jenis
3. Kondisi fasilitas
Perdagangan dan jasa
berdasarkan jenis
4. Pencapaian fasilitas
Perdagangan dan jasa
berdasarkan jenis
(aksesibilitas, sarana
dan prasarana)
dan peta)
4. BPS
5. Pemetaan dan
Survei Lapangan
6 Fasilitas Kesenian dan
Budaya
1. Sebaran lokasi fasilitas
kesenian dan budaya
berdasarkan jenis
(balai pertemuan,
gedung pertunjukan,
dan lain-lain)
2. Jumlah fasilitas
kesenian dan budaya
berdasarkan jenis
3. Kondisi fasilitas
kesenian dan budaya
berdasarkan jenis
4. Pencapaian fasilitas
kesenian dan budaya
berdasarkan jenis
(aksesibilitas, sarana
dan prasarana)
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. BPS
3. Pemetaan dan
Survei Lapangan
10 Jaringan Utilitas
1 Air Bersih 1. Peta jaringan air bersih
eksisting
2. Kondisi jaringan air
bersih
3. Kapasitas pelayanan air
bersih
4. Pengelolaan air bersih
5. (air bersih yang
disediakan PDAM)
6. Sumber air bersih yang
digunakan (PDAM, mata
air, sungai, danau, dan
lain-lain)
7. Peta lokasi masing-
masing jenis
penggunaan sumber air
bersih
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. BPS
3. PDAM (data dan
peta)
4. Pemetaan dan
Survei Lapangan
2 Air Limbah 1. Peta jaringan air
limbah eksisting
(rumah tangga dan
industri)
2. Kondisi jaringan air
limbah
3. Jenis pengelolaan air
limbah oleh tiap
penduduk yang tidak
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Bapedalda (data
dan peta)
3. Pemetaan dan
Survei Lapangan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Lampiran 2 | 12

No Sektor Jenis Detil Sumber
memiliki jaringan air
limbah (dibuang ke
kolam, sungai, dan
lain-lain)
3 Jaringan Energi 1. Peta jaringan listrik
eksisting
2. Kondisi jaringan listrik
3. Kapasitas pelayanan
listrik
4. Jangkauan pelayanan
listrik
5. Titik lokasi gardu listrik
berdasarkan daya
6. Sumber energi lain
yang digunakan
(minyak tanah, diesel,
gas dan lain-lain)
7. Peta lokasi masing-
masing jenis
penggunaan sumber
energi
1. Bapepeda Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. PLN (data dan
peta)
3. BPS
4. Pemetaan dan
Survei Lapangan
4 Jaringan Drainase 1. Peta jaringan drainase
jalan dan lingkungan
eksisting
2. Kondisi jaringan
drainase jalan dan
lingkungan
3. Kapasitas jaringan
drainase jalan dan
lingkungan
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas PU (data
dan peta)
3. Pemetaan dan
Survei Lapangan
5 Jaringan
Telekomunikasi
1. Peta jaringan
telekomunikasi
eksisting
2. Kondisi jaringan
telekomunikasi
3. Jangkauan pelayanan
telekomunikasi
4. Titik lokasi gardu
otomat telepon
5. Jumlah dan sebaran
fasilitas telekomunikasi
(telepon umum,
wartel, dan lain-lain)
6. Titik lokasi menara
telekomunikasi (misal:
menara telkomsel, dan
lain-lain)
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. PT TELKOM (data
dan peta)
3. BPS
4. Pemetaan dan
Survei Lapangan
6 Persampahan 1. Lokasi, kapasitas dan
kondisi TPA,TPS,
pembuangan komunal
dan bangunan
pengolahan sampah
2. Jumlah dan kapasitas
alat angkut sampah
3. Pola sirkulasi
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara (data
dan peta)
2. Dinas Kebersihan
(data dan peta)
3. BPS
4. Pemetaan dan
Survei Lapangan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Lampiran 2 | 13

No Sektor Jenis Detil Sumber
pembuangan sampah
4. Jenis pengelolaan
sampah oleh
masyarakat (ditimbun,
dibakar, dibuang ke
sungai, dikumpulkan di
TPS, dan lain-lain)
5. Jumlah produksi
sampah menurut jenis
kegiatan usaha
6. Peta sebaran jenis
pengelolaan sampah
oleh masyarakat
7. Titik lokasi sebaran
Tempat Pembuangan
Sementara (TPS) dan
Tempat Pembuangan
Akhir (TPA)
11 Dokumen Rencana dan Kebijakan
1 RTRW Prov. Papua Dokumen RTRW Prov. Papua
(hard copy atau Soft copy)
BAPPEDA Prov. Papua
2 RDTR Kawasan
Perkotaan di sekitar
Kelila
Dokumen RTRW Kab.
Tolikara (hard copy atau
Soft copy)
BAPPEDA Kab. Tolikara
3 Perencanaan dan
Kegiatan Pembangunan
yang terkait dengan
Kawasan Perkotaan
Kelila, Kab. Tolikara
dan kawasan lain yang
terkait atau
berhubungan
1. RDTR Kawasan
Perkotaan di sekitar
Kelila
2. Perencanaan
Pelabuhan Samudera
3. Perencanaan Air Bersih
4. Perencanaan Jaringan
Jalan

Bersama data nama
instansi atau lembaga
pelaku kegiatan di atas
1. BAPPEDA Prov.
Papua
2. BAPPEDA Kab.
Tolikara
3. Dinas
Perhubungan
4. Dinas Tata Kota
5. Dinas PU
4 Kebijakan
Pembangunan Daerah
1. Peraturan Daerah
(PERDA) Kebijakan
pemerintah kab. terkait
otda dan perimbangan
keuangan di tiap aspek
2. Peraturan Daerah
(PERDA) Kebijakan
pemerintah kota ttg
pemb. Kawasan
(PROPEDA, RENSTRA,
dan lain-lain)
1. BAPPEDA Kab.
Tolikara
2. Biro Hukum Kab.
Tolikara

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Lampiran 1 | 1

LAMPIRAN 3

FORM UNTUK SURVEYOR
RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN BOKONDINI
DI KABUPATEN TOLIKARA

Nama Surveyor :
Hari/tanggal :
Lokasi/Kecamatan :

1. Jelaskan rute perjalanan dan berapa lama waktu tempuh dari ___________
ke ?
waktu pejalanan







2. Kendaraan apa saja yang anda digunakan selama perjalanan, bagaimana kondisinya
dan berapa ongkosnya?
a. Kendaraan: Kondisi: Ongkos:
b. Kendaraan: Kondisi: Ongkos:
c. Kendaraan: Kondisi: Ongkos:
d. Kendaraan: Kondisi: Ongkos:
e. Kendaraan: Kondisi: Ongkos:

Kode foto untuk jenis dan kondisi kendaraan yang digunakan:







Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Lampiran 1 | 2

3. Apakah kendaraan yang anda gunakan tersebut juga digunakan untuk membawa
barang?
Ya Tidak

Jika jawaban anda adalah “ya”, maka barang apa saja yang dibawa oleh
kendaraan tersebut? Sebutkan.







Kode foto untuk gambaran barang yag dibawa oleh kendaraan yang anda gunakan:







4. Jika anda menggunakan jalur transportasi darat, maka bagaimana kondisi jalan
yang anda lalui?
0-25% baik 50-75% baik
25-50% baik 75-100% baik

Kode foto untuk kondisi jalan yang anda lalui;








Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Lampiran 1 | 3

5. Jika anda menggunakan jalur transportasi darat, maka bagaimana kondisi
jembatan yang anda lalui?
0-25% baik 50-75% baik
25-50% baik 75-100% baik

Kode foto untuk kondisi jembatan yang anda lalui;







6. Jika anda menggunakan jalur transportasi laut, berapa jumlah keberangkatan
angkutan laut per hari/minggu/bulan*? ( * pilih salah satu). Sebutkan.





7. Jika anda melewati terminal dalam perjalanan anda, ada di mana terminal itu
berada dan bagaimana kondisi terminal tersebut?
a. Lokasi Terminal: Kondisi:
b. Lokasi Terminal: Kondisi:
c. Lokasi Terminal: Kondisi:
Kode foto untuk kondisi terminal yang anda lalui:









Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Lampiran 1 | 4

8. Jika anda melewati pelabuhan dalam perjalanan anda, ada di mana pelabuhan itu
berada dan bagaimana kondisi pelabuhan tersebut?
a. Lokasi pelabuhan: Kondisi:
b. Lokasi pelabuhan: Kondisi:
c. Lokasi pelabuhan: Kondisi:
Kode foto untuk kondisi pelabuhan yang anda lalui:





Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini


Lampiran 4 | 1

LAMPIRAN 4

LEMBAR KUESIONER
RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN BOKONDINI
DI KABUPATEN TOLIKARA

Untuk mendapatkan Rencana Tata Ruang yang sesuai dengan visi dan misi dari
Kabupaten Tolikara, serta memperhatikan pembangunan yang terpadu dan
berkelanjutan maka diperlukan penjaringan aspirasi serta pengumpulan data dan
informasi dari stakeholders yang di lingkupi Kawasan Perkotaan Bokondini .
Penjaringan aspirasi ini sesuai dengan amanat pada Undang-Undang No. 26 Tahun
2007 tentang Penataan Ruang pada bahwa penyusunan Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) Kawasan Perkotaan harus memperhatikan antara lain: (a) upaya pemerataan
pembangunan dan pertumbuhan ekonomi provinsi, (b) keselarasan aspirasi
pembangunan provinsi, (c) daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, serta
(d) rencana pembangunan jangka panjang daerah.
Lembar kuesioner ini merupakan alat untuk menjembatani aspirasi masyarakat ke
dalam proses penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Bokondini . Sasaran dari proses
penjaringan aspirasi ini adalah stakeholders yang ada di masing-masing kabupaten,
yaitu: Camat, MUSPIKA, Kepala Desa serta tokoh masyarakat setempat.
Jawaban pada kuesioner ini akan menjadi salah satu pertimbangan dalam penyusunan
RDTR Kawasan Perkotaan Bokondini . Jawaban pada kuesioner ini akan dijaga
kerahasiaannya dan tidak akan diekspos atau disampaikan ke publik.

















Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini


Lampiran 4 | 2

Berikut ini ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab dengan membubuhkan tanda
 pada jawaban yang yang bapak pilih, atau dengan mengisi kolom kosong yang
telah disediakan. Apabila kolom jawaban yang tersedia tidak mencukupi, maka
jawaban boleh ditulis pada halaman di balik kertas kuesioner.

1. Data Pribadi dari pengisi kuesioner:
a. Nama :
b. Nomer Telp/HP :
c. Kabupaten :
d. Jabatan :
Bupati
MUSPIDA
Camat Sebutkan nama Kecamatan
MUSPIKA Sebutkan nama Kabupaten
Tokoh Masyarakat

2. Apa visi dan misi dari kabupaten yang bapak pimpin?
Visi :
Misi : 1.
2.
3.

3. Pusat kabupaten yang bapak pimpin berada di desa mana? Sebutkan.

4. Sebutkan batas-batas administratif dari kabupaten yang bapak pimpin.
a. Utara :
b. Timur :
c. Selatan:
d. Barat :

5. Apa mata pencaharian utama penduduk di kabupaten Yang bapak pimpin?
(Jawaban bisa lebih dari satu pilihan)
Petani Nelayan
Peladang Pedagang
Perambah hutan Lain-lain:
Peternak

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini


Lampiran 4 | 3

6. Apakah mayoritas penduduk di Kabupaten yang bapak pimpin merupakan penduduk
asli Bokondini ?
100-75% penduduk aseli 50-25% penduduk aseli
75-50% penduduk aseli 25-0% penduduk aseli

7. Tradisi, adat istiadat atau kesenian apa yang masih berkembang di kabupaten yang
bapak pimpin? Sebutkan.


8. Di mana lokasi tradisi, adat istiadat atau kesenian di atas dipergelarkan? (Jawaban
bisa lebih dari satu pilihan)
Lapangan Balai desa atau adat
Halaman masjid atau gereja Tepi pantai
Gedung pertemuan Lain-lain:

9. Berapa distrik yang ada di kabupaten yang bapak pimpin?






10.Desa apa saja yang dianggap sebagai desa tertinggal di Kabupaten yang bapak
pimpin? (Sebutkan nama kabupaten tersebut)
a. Nama Desa 1:
b. Nama Desa 2:
c. Nama Desa 3:

11. Desa apa saja yang dianggap sebagai desa maju di Kabupaten yang bapak
pimpin? (Sebutkan nama kabupaten tersebut)
a. Nama Desa 1:
b. Nama Desa 2:
c. Nama Desa 3:

12. Apakah ketersediaan pangan di kabupaten yang bapak pimpin sudah mencukupi?
Sudah mencukupi Belum mencukupi
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini


Lampiran 4 | 4

13. Distrik mana yang menjadi penyedia utama kebutuhan pangan bagi masyarakat di
kabupaten yang bapak pimpin? Sebutkan.

14. Hasil bumi apa yang berkembang di kabupaten yang bapak pimpin? (Jawaban bisa
lebih dari satu pilihan)
Tanaman pangan Peternakan
Hortikultura (sayur dan buah) Perikanan
Perkebunan Lain-lain:
Kehutanan

15. Apakah ada industri pengolahan atas hasil bumi yang disebutkan pada butir (15)
di atas?
Tidak ada industri pengolahan
Ada industri pengolahan
Sebutkan:

16. Apakah hasil bumi di atas dipasarkan ke kabupaten atau wilayah lain?
Ya Tidak

a. Jika jawaban bapak adalah “Ya”, maka hasil bumi unggulan kabupaten yang
bapak pimpin tersebut dijual ke mana? Sebutkan.

b. Jika jawaban bapak adalah “Ya”, maka hasil bumi kabupaten yang bapak
pimpin tersebut dipasarkan ke kabupaten atau wilayah lain dengan
menggunakan transportasi apa? (Jawaban bisa lebih dari satu pilihan)
Transportasi darat Transportasi udara
Transportasi sungai

17. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memasarkan ke tempat tersebut?
Kurang dari 1 jam 3-5 jam
1-3 jam Lain-lain:

18. Fasilitas perhubungan apa yang ada di kabupaten yang bapak pimpin sekarang ini?
(Jawaban bisa lebih dari satu pilihan)
Pelabuhan Udara Pelabuhan Udara
Penyeberangan sungai
Terminal
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini


Lampiran 4 | 5

19. Apakah prasarana dan sarana perhubungan yang ada bisa mendukung pemasaran
hasil bumi unggulan di kabupaten yang bapak pimpin?
Mendukung Tidak mendukung

20. Fasilitas ekonomi apa yang ada di kabupaten yang bapak pimpin sekarang ini dan
berapa jumlahnya? (Jawaban bisa lebih dari satu pilihan)
Bank Koperasi
Pasar Pusat kerajinan
Tempat Pelelangan Ikan Lain-lain:

21. Apakah fasilitas ekonomi yang ada di kabupaten yang bapak pimpin tersebut
sudah dapat melayani kebutuhan masyarakat di kabupaten yang bapak pimpin?
Ya Tidak

22. Fasilitas ekonomi apa yang sebaiknya dikembangkan pada kabupaten yang bapak
pimpin di masa mendatang? (Jawaban bisa lebih dari satu pilihan)
Bank Koperasi
Pasar Pusat kerajinan
Tempat Pelelangan Ikan Lain-lain:

23. Fasilitas pendidikan apa yang ada di kabupaten yang bapak pimpin dan berapa
jumlahnya? (Jawaban bisa lebih dari satu pilihan)
TK SMA dan yang sederajat
SD dan yang sederajat Perguruan Tinggi
SMP dan yang sederajat Lain-lain:

24. Apakah fasilitas pendidikan yang ada di kabupaten yang bapak pimpin tersebut
sudah dapat melayani kebutuhan masyarakat di kabupaten yang bapak pimpin?
Ya Tidak

25. Fasilitas pendidikan apa yang sebaiknya dikembangkan pada kabupaten yang
bapak pimpin ? (Jawaban bisa lebih dari satu pilihan)
TK SMA dan/atau yang sederajat
SD dan/atau yang sederajat Perguruan Tinggi
SMP dan/atau yang sederajat Lain-lain:


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini


Lampiran 4 | 6

26. Fasilitas kesehatan apa yang ada di kabupaten yang bapak pimpin dan berapa
jumlahnya? (Jawaban bisa lebih dari satu pilihan)
Rumah Sakit PUSKESMAS Pembantu
PUSKESMAS POSYANDU
POLINDES Lain-lain :

27. Apakah fasilitas kesehatan yang ada di kabupaten yang bapak pimpin tersebut
sudah dapat melayani kebutuhan masyarakat di kabupaten yang bapak pimpin?
Ya Tidak

28. Fasilitas kesehatan apa yang sebaiknya dikembangkan pada kabupaten yang bapak
pimpin? (Jawaban bisa lebih dari satu pilihan)
Rumah Sakit Poliklinik Pembantu
PUSKEMAS POSYANDU
POLINDES Lain-lain:

29. Fasilitas olah raga apa yang ada di k yang bapak pimpin dan berapa jumlahnya?
(Jawaban bisa lebih dari satu pilihan)
Gedung Olah Raga Lapangan Voli
Lapangan Sepakbola Lain-lain:
Lapangan bulutangkis

30. Apakah fasilitas olah raga yang ada di kabupaten yang bapak pimpin tersebut
sudah dapat melayani kebutuhan masyarakat di kabupaten yang bapak pimpin?
Ya Tidak

31. Fasilitas olah raga apa yang sebaiknya dikembangkan pada kabupaten yang bapak
pimpin? (Jawaban bisa lebih dari satu pilihan)
Gedung Olah Raga Lapangan Voli
Lapangan Sepakbola Lain-lain:
Lapangan bulutangkis
32. Fasilitas budaya apa yang ada di kabupaten yang bapak pimpin dan berapa
jumlahnya? (Jawaban bisa lebih dari satu pilihan)
Gedung Pertemuan Alun-alun
Sanggar Kesenian Lain-lain:
Rumah Adat

Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini


Lampiran 4 | 7

34. Apakah fasilitas budaya yang ada di kabupaten yang bapak pimpin tersebut
sudah dapat melayani kebutuhan masyarakat di kabupaten yang bapak pimpin?
Ya Tidak

35. Fasilitas budaya apa yang sebaiknya dikembangkan pada kabupaten yang bapak
pimpin? (Jawaban bisa lebih dari satu pilihan)
Gedung Pertemuan Alun-alun
Sanggar Kesenian Lain-lain:
Rumah Adat

36. Fasilitas peribadatan apa yang ada di kabupaten yang bapak pimpin dan berapa
jumlahnya? (Jawaban bisa lebih dari satu pilihan)
Masjid Pura
Gereja Lain-lain:
Wihara

37. Apakah fasilitas peribadatan yang ada di kabupaten yang bapak pimpin tersebut
sudah dapat melayani kebutuhan masyarakat di kabupaten yang bapak pimpin?
Ya Tidak

38. Fasilitas peribadatan apa yang sebaiknya dikembangkan pada kabupaten yang
bapak pimpin? (Jawaban bisa lebih dari satu pilihan)
Masjid Pura
Gereja Lain-lain:
Wihara

39. Apakah ada fasilitas pemakaman umum di kabupaten yang bapak pimpin dan
berapa jumlahnya?
Ada Tidak ada

40. Apakah fasilitas pemakaman umum yang ada di kabupaten yang bapak pimpin
tersebut sudah dapat melayani kebutuhan masyarakat di kabupaten yang bapak
pimpin?
Ya Tidak



Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini


Lampiran 4 | 8

41. Apakah fasilitas pemakaman umum sebaiknya dikembangkan pada kabupaten
yang bapak pimpin? (Berapa jumlahnya?)
Ya Tidak
42. Air minum yang dikonsumsi masyarakat di kabupaten yang bapak pimpin
bersumber dari mana? (Jawaban bisa lebih dari satu pilihan)
PDAM Air sungai
Air tanah Lain-lain:
Mata air

43. Apakah sumber air minum yang ada di kabupaten yang bapak pimpin tersebut
sudah dapat melayani kebutuhan masyarakat di kabupaten yang bapak pimpin?
Ya Tidak

44. Apakah jaringan air minum sebaiknya dikembangkan pada kabupaten yang bapak
pimpin di masa mendatang?
Ya Tidak

45. Apakah kabupaten yang bapak pimpin sudah dilayani listrik?
Ya Tidak

46. Apakah pelayanan listrik tersebut sudah memenuhi kebutuhan masyarakat di
kabupaten yang bapak pimpin?
Ya Tidak

47. Apakah pelayanan listrik tersebut sebaiknya dikembangkan di kabupaten yang
bapak pimpin di masa mendatang?
Ya Tidak

48. Apakah ada fasilitas pengolahan air limbah atau air kotor di kabupaten yang
bapak pimpin?
Ya Tidak

49. Apakah fasilitas pengolahan air limbah atau air kotor tersebut sudah memenuhi
kebutuhan masyarakat di kabupaten yang bapak pimpin?
Ya Tidak


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini


Lampiran 4 | 9

50. Apakah fasilitas pengolahan air limbah atau air kotor sebaiknya dikembangkan di
kabupaten yang bapak pimpin di masa mendatang?
Ya Tidak

51. Selama ini masyarakat di Kabupaten yang bapak pimpin membuang sampah di
mana? (Jawaban bisa lebih dari satu pilihan).
Tempat sampah Sungai
Lubang tanah Lain-lain:
Sembarang tempat

52. Sampah yang ada di kabupaten yang bapak pimpin dikumpulkan ke mana?
(Jawaban bisa lebih dari satu pilihan).
TPS Lokasi di desa:
TPA Lokasi di desa:
Tidak ada

53. Apakah ada fasilitas pengolahan sampah di kabupaten yang bapak pimpin?
Ya Tidak

54. Apakah fasilitas pembuangan dan pengolahan sampah sudah memenuhi kebutuhan
masyarakat di kabupaten yang bapak pimpin?
Ya Tidak

55. Apakah fasilitas pembuangan dan pengolahan sampah sebaiknya dikembangkan di
kabupaten yang bapak pimpin di masa mendatang?
Ya Tidak

56. Apakah di kabupaten yang bapak pimpin mempunyai jaringan drainase?
Ya Tidak

57. Apakah jaringan drainase yang ada sudah memenuhi kebutuhan masyarakat di
kabupaten yang bapak pimpin?
Ya Tidak

58. Apakah jaringan drainase sebaiknya dikembangkan di kabupaten yang bapak
pimpin di masa mendatang?
Ya Tidak
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini


Lampiran 4 | 10

59. Apakah di kabupaten yang bapak pimpin mempunyai jaringan irigasi?
Ya Tidak

60. Apakah jaringan irigasi yang ada sudah memenuhi kebutuhan masyarakat di
kabupaten yang bapak pimpin?
Ya Tidak

Jika jawaban bapak adalah “Tidak”, maka desa yang tidak terairi oleh jaringan
irigasi yang ada adalah? Sebutkan.


61. Apakah jaringan irigasi sebaiknya dikembangkan di kabupaten yang bapak pimpin
di masa mendatang?
Ya Tidak

Jika jawaban bapak adalah “ya”, maka desa mana saja yang prioritas
mendapatkan pengairan dari jaringan irigasi? Sebutkan.

62. Apakah di kabupaten yang bapak pimpin terdapat prasarana telekomunikasi?
Ya Tidak

63. Apakah prasarana telekomunikasi yang ada sudah memenuhi kebutuhan
masyarakat di kabupaten yang bapak pimpin?
Ya Tidak

64. Apakah prasarana telekomunikasi sebaiknya dikembangkan di kabupaten yang
bapak pimpin di masa mendatang?
Ya Tidak

65. Apakah jaringan jalan yang ada di kabupaten sudah menjangkau desa-desa yang
ada?
Ya Tidak

66. Bagaimana kondisi jaringan jalan tersebut?
Baik Rusak


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini


Lampiran 4 | 11

67. Apakah di kabupaten yang bapak pimpin mempunyai prasarana jembatan?
Ya Tidak

68. Bagaimana kondisi prasarana jembatan tersebut?
Baik Rusak

69. Sumber daya alam apa yang ada di desa yang bapak pimpin? (Jawaban bisa lebih
dari satu pilihan)
Sungai Sumber air panas
Air Terjun Lain-lain:

a. Jika bapak memilih jawaban “sungai”, apakah sungai tesebut mempunyai
aliran yang kencang? Jelaskan.


b. Jika bapak memilih jawaban “sungai”, di bulan apakah sungai tersebut kering?
Sebutkan.


c. Jika bapak memilih jawaban “sungai”, di bulan apakah sungai tersebut
meluap atau banjir?


d. Jika bapak memilih jawaban “air terjun”, apakah air terjun tesebut
mempunyai aliran yang kencang? Jelaskan.


e. Jika bapak memilih jawaban “air terjun”, di bulan apakah air terjun tersebut
kering? Sebutkan.


f. Jika bapak memilih jawaban “air terjun”, di bulan apakah air terjun tersebut
meluap atau banjir?




Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini


Lampiran 4 | 12

g. Jika bapak memilih jawaban “sumber air panas”, di bulan apakah sumber air
panas tersebut kering?


70. Obyek wisata atau rekreasi apa yang ada di kabupaten yang bapak pimpin?
Sebutkan.



71. Apakah fasilitas pada obyek wisata atau rekreasi tersebut sudah cukup memadai?
Memadai Tidak Memadai

72. Apakah ada wisatawan dari luar kabupaten yang mengunjungi obyek wisata yang
ada di kabupaten yang bapak pimpin?
Ada Tidak
Jika jawaban bapak adalah “Ada”, maka wisatawan tersebut berasal dari mana?
(Jawaban bisa lebih dari satu pilihan).
Dari Kabupaten di sekitarnya Wisatawan Nusantara
Dari luar Provinsi Papua Wisatawan Mancanegara



73. Fasilitas pendukung apa saja bagi wisatawan yang ada obyek wisata atau rekreasi
tersebut? (Jawaban bisa lebih dari satu pilihan).
Tempat penginapan Tempat penukaran uang
Tempat makan Tempat informasi wisata
Tempat menjual kerajinan Terminal

74. Pada bulan apa saja obyek wisata tersebut ramai dikunjungi? Sebutkan.


75. Pada bulan apa saja obyek wisata tersebut sepi dikunjungi? Sebutkan.




Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini


Lampiran 4 | 13

76. Lembaga kemasyarakatan apa yang ada di kabupaten yang bapak pimpin?
(Jawaban bisa lebih dari satu pilihan)
PKK Kelompok Perambah Hutan
Karang Taruna Kelompok Pekebun
Kelompok Petani Kelompok Pedagang
Kelompok Nelayan Lain-lain:

77. Apakah lembaga kemasyarakatan tersebut masih aktif sampai sekarang? (Jawaban
bisa lebih dari satu pilihan)
a. PKK Ya Tidak
b. Karang Taruna Ya Tidak
c. Kelompok Petani Ya Tidak
d. Kelompok Nelayan Ya Tidak
e. Kelompok Perambah Hutan Ya Tidak
f. Kelompok Pekebun Ya Tidak
g. Kelompok Pedagang Ya Tidak

78. Apakah dalam struktur oganisasi kabupaten dan/atau desa ada bagian yang
khusus mengurusi sektor pertanian (yang mencakup: tanaman pangan,
hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan)?
Ada Tidak

Jika jawaban bapak adalah “ada”, apakah bagian pertanian tersebut masih
berfungsi?
Ya Tidak

79. Bencana apa saja yang setiap tahun terjadi di kabupaten yang bapak pimpin?
(Jawaban bisa lebih dari satu pilihan)
Banjir Gempa
Tanah longsor Tsunami
Kekeringan Gunung meletus
Kebakaran hutan Lain-lain:

80. Desa mana saja yang paling parah dilanda bencana tersebut? Sebutkan.



Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini


Lampiran 4 | 14

81. Apakah ada penanganan bencana dari Pemerintah Daerah Kabupaten dan/atau
Provinsi atas bencana yang menimpa kabupaten yang bapak pimpin selama ini?
Ada Tidak

82. Apakah ada usaha untuk menyelesaikan permasalahan bencana di kabupaten yang
bapak pimpin?
Ada Tidak
Jika jawaban bapak adalah “Ada”, maka seperti apa bentuk penyelesaian
permasalahan bencana tersebut? Jelaskan.


83. Apakah di kabupaten yang bapak pimpin mempunyai data -seperti Monograf
Kabupaten- yang terbaru?
Ya Tidak

Jika jawaban bapak adalah “ya”, apakah data tersebut bisa diakses untuk
kepentingan perencanaan dan pembangunan Kabupaten Tolikara ?
Ya Tidak


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Perkotaan Bokondini

Lampiran 5 | 1
LAMPIRAN 5


FORM SURVEY GPS
RDTR KAWASAN PERKOTAAN BOKONDINI


SEKTOR : PRASARANA/SARANA/UTILITAS KAWASAN

Nama :
Alamat :
No. Kontak :


No
Poin
Nama Derajat Menit Detik N Derajat Menit Detik E Elevation Kondisi Lebar/
Luas
Foto Jenis Keterangan














Mid 1 Mid 2 Mid 3 Mid 4 Mid 5 Mid 6 Mid 7 Mid 8 Mid 9 Mid 10 Mid 11 Mid 12 Mid 13 Mid 14
I PERSIAPAN
I.1 Persiapan Awal
a. Koordinasi Awal Internal Tim
b. Pemahaman KAK
c. Penyiapan Anggaran Biaya
d. Penyusunan Metode dan Rencana Kerja
I.2 Persiapan Teknis
a. Identifikasi Data Awal yang Tersedia
b. Pemahaman awal wilayah perencanaan
c. Pemantapan Metode dan Rencana Kerja
d. Mobilisasi Peralatan dan Personil
e.Penyiapan Perangkat Survei dan Perjalanan Dinas
f. Identifikasi Kebutuhan Peta Dasar
II SURVEI
II.1 Survei Pendahuluan
a. Pembelian Peta Dasar
b. Pengumpulan Data Sekunder di Pusat
b.1. Data Sekunder terkait Kewilayahan Kabupaten Tolikara melalui internet
b.2. Kebijakan Skala Nasional terkait Rencana Tata Ruang
b.3. Kebijakan Skala Nasional terkait Rencana Pembangunan
b.4. Kebijakan Skala Nasioanal terkait Rencana Sektoral
c. Pengumpulan Data Sekunder di Provinsi
c.1. Kebijakan Skala Provinsi terkait Rencana Tata Ruang
c.2. Kebijakan Skala Provinsi terkait Rencana Pembangunan
c.3. Kebijakan Skala Provinsi terkait Rencana Sektoral
II.2 Survei Lanjutan
a. Pengumpulan Data Sekunder di Kabupaten dan Kawasan Perencanaan
a.1. Kebijakan Skala Kabupaten terkait Rencana Tata Ruang
a.2. Kebijakan Skala Kabupaten terkait Rencana Pembangunan & Sektor
a.3. Kebijakan Skala Kabupaten terkait Wilayah Kawasan Perencanaan
a.4. Data/informasi terkait Kondisi Fisiografis
a.5. Data/informasi terkait Kondisi Kependudukan & Sosial Budaya
a.6. Data/informasi terkait Kawasan dan Bangunan (kualitas, intensitas bangunan, tata bangunan)
a.7. Data/informasi terkait Ekonomi dan Keuangan
a.8. Data/informasi terkait Ketersediaan Sarana dan Prasarana
a.9. Data/informasi terkait Penguasaan, Penggunaan dan Pemanfaatan Lahan
a.10. Data/informasi terkait peta dasar rupabumi dan peta tematik yang dibutuhkan penguasaan lahan,
penggunaan lahan, peruntukan ruang, pada skala 1:5000
a.11. Data/informasi terkait kelembagaan
b. Pengumpulan Data Primer di Kawasan Perkotaan
b.1. Pengambilan Batas Wilayah Kawasan Perkotaan
Bulan 7
Kegiatan Penyelesaian Pekerjaan No
Tabel 6.1 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan Bokondini
Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 Bulan 5 Bulan 6
b.2. Ground Check Jalan dan Kondisi Bangunan Eksisting
III ANALISIS
III.1 Analisis Tahap Awal
a. Review terhadap Rencana Tata Ruang yang sudah ada
b. Review terhadap Rencana Pembangunan yang sudah ada
c. Analisis Intra-regional
III.2 Analisis Tahap Lanjutan
a. Fisik/Rona Kawasan
a.1. Analisis Fisik Dasar
a.2. Analisis Kemampuan dan Kesesuaian Lahan
a.3. Analisis Kebencanaan
b. Analisis wilayah yang lebih luas
b.1. Fungsi dan peran BWP
b.2. Pola ruang BWP
c. Analsis Sumber Daya Alam dan Fisik atau Lingkungan BWP
c.1. Sumber daya air
c.2. Sumber daya tanah
c.3. Topografi dan kelerengan
c.4. Geologi Lingkungan
c.5. Klimatologi
c.6. Sumber daya alam (zona lindung)
c.7. Sumber Daya Alam dan Fisik wilayah lainnya (zona budidaya)
d. Analisis Sosial Budaya
d.1. Elemen Elemen Kota (Urban heritage, langgam arsitektur, landmark kota)
d.2. Modal sosial dan budaya
e. Analisis Kependudukan
e.1. Proyeksi perubahan penduduk, struktur dan karakteristik
e.2. Potensi dan kualitas penduduk, mobilisasi, tingkat pelayanan dan penyediaan kebutuhan sektoral (sarana dan
prasarana maupun utilitas minimum)
e.3. Penyebaran dan perpindahan penduduk
f. Analisis Ekonomi dan Sektor Unggulan
f.1. Keterkaitan ekonomi skala kota, regional, nasional, internasional
f.2. Struktur ekonomi, pola sebaran pertumbuhan ekonomi, potensi dan peluang dan permasalahan wilayah kota
g. Analisis Sumber Daya Buatan
g.1. Kebutuhan Sarana
g.2. Kebutuhan prasarana
h. Analisis Penataan Kawasan dan Bangunan
h.1. Jenis dan kapasitas fungsi/kegiatan kawasan
h.2. Kualitas bangunan dari aspek keselamatan
h.3. Intensitas pemanfaatan ruang, tata massa bangunan, tindakan penanganan kawasan, penanganan bangunan
i. Analisis Kelembagaan
i.1. Struktur organisasi dan tata laksana pemerintahan
i.2. Sumber daya manusia, sarana da prasarana kerja, produk produk pengaturan
i.3. Organisasi non-pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat.
j. Pembiayaan pembangunan
j.1. Pendapatan asli daerah
j.2. Pendanaan oleh pemerintah
j.3. Pendanaan dari pemerintah provinsi
j.4. Investasi swasta dan masyarakat
j.5. Bantuan dan pinjaman luar negeri, sumber lainnya
IV PENYUSUNAN DRAF RENCANA & RAPERDA
IV.1. Penyusunan Rencana
a. Penyusunan Tujuan, Kebijakan, dan Strategi penataan ruang BWP serta Kawasan Perkotaan;
b. Penyusunan Rencana struktur ruang wilayah perencanaan;
c. Penyusunan Rencana pola ruang wilayah perencanaan;
d. Penyusunan Penetapan kawasan prioritas;
e. Penyusunan Arahan pemanfaatan ruang; dan
f. Penyusunan Arahan pengendalian pemanfaatan ruang
g. Penyusunan zoning regulation (zoning map, zoning text)
IV.2. Penyusunan RAPERDA
a. Penyusunan Kerangka PERDA
b. Perumusan Legal Format / Bahasa Hukum dari Materi RDTR
c. Penyusunan Lampiran RAPERDA
V FGD & FORUM KOORDINASI
V.1. FGD 1
V.2. FGD 2
V.3. FGD 3
V.4 Sidang BKPRD
V.5 Sidang BKPRN
VI PELAPORAN
IV.1 Laporan 1 (Pendahuluan)
IV.2 Laporan 2 (Antara)
IV.3 Laporan 3 (Draf Final)
IV.4 Album Peta A3 (1:5000)
IV.5 Eksekutif Summary
VII PENYEMPURNAAN DAN PENYERAHAN LAPORAN FINAL
VII.1 Penyempurnaan Analisis
a. Fisik/Rona Kawasan
b. Analisis wilayah yang lebih luas
c. Analsis Sumber Daya Alam dan Fisik atau Lingkungan BWP
d. Analisis Sosial Budaya
e. Analisis Kependudukan
f. Analisis Ekonomi dan Sektor Unggulan
g. Analisis Sumber Daya Buatan
h. Analisis Penataan Kawasan dan Bangunan
i. Analisis Kelembagaan
j. Pembiayaan pembangunan
VII.2. Penyempurnaan Rencana
a. Penyusunan Tujuan, Kebijakan, dan Strategi penataan ruang wilayah perencanaan;
b. Penyusunan Rencana struktur ruang wilayah perencanaan;
c. Penyusunan Rencana pola ruang wilayah perencanaan;
d. Penyusunan Penetapan kawasan prioritas;
e. Penyusunan Arahan pemanfaatan ruang; dan
f. Penyusunan Arahan pengendalian pemanfaatan ruang
g. Penyusunan Penyusunan zoning regulation (zoning map, zoning text)
VII.3. Penyempurnaan RAPERDA
a. Penyempurnaan Batang Tubuh
b. Penyempurnaan Penjelasan
c. Penyempurnaan Lampiran RAPERDA
VII.4. Penyusunan dan Penyerahan Laporan Final

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->