Bruner menyatakan belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru

diluar informasi yang diberikan kepada dirinya.

Pendirian yang terkenal yang dikemukakan oleh J. Bruner ialah, bahwa setiap mata pelajaran dapat diajarakan dengan efektif dalam bentuk yang jujur secara intelektual kepada setiap anak dalam setiap tingkat perkembangannya. Pendiriannya ini didasarkan sebagian besar atas penelitian Jean Piaget tentang perkembangan intelektual anak. Berhubungan dengan hal itu, antara lain: 1. Perkembangan intelektual anak Menurut penelitian J. Piaget, perkembangan intelektual anak dapat dibagi menjadi tiga taraf. 1. Fase pra-operasional, sampai usia 5-6 tahun, masa pra sekolah, jadi tidak berkenaan dengan anak sekolah. Pada taraf ini ia belum dapat mengadakan perbedaan yang tegas antara perasaan dan motif pribadinya dengan realitas dunia luar. Karena itu ia belum dapat memahami dasar matematikan dan fisika yang fundamental, bahwa suatu jumlah tidak berunah bila bentuknya berubah. Pada taraf ini kemungkinan untuk menyampaikan konsep-konsep tertentu kepada anak sangat terbatas. 2. 2. Fase operasi kongkrit, pada taraf ke-2 ini operasi itu “internalized”, artinya dalam menghadapi suatu masalah ia tidak perlu memecahkannya dengan percobaan dan perbuatan yang nyata; ia telah dapat melakukannya dalam pikirannya. Namun pada taraf operai kongkrit ini ia hanya dapat memecahkan masalah yang langsung dihadapinya secara nyata. Ia belum mampu memecahkan masalah yang tidak dihadapinya secara nyata atau kongkrit atau yang belum pernah dialami sebelumnya. 3. 3. Fase operasi formal, pada taraf ini anak itu telah sanggup beroperasi berdasarkan kemungkinan hipotesis dan tidak lagi dibatasi oleh apa yang berlangsung dihadapinya sebelumnya.[1] 4. Tahap-tahap dalam proses belajar mengajar Menurut Bruner, dalam prosses belajar siswa menempuh tiga tahap, yaitu: 1. Tahap informasi (tahap penerimaan materi) Dalam tahap ini, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari. 1. Tahap transformasi (tahap pengubahan materi) Dalam tahap ini, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrakatau konseptual. 1. Tahap evaluasi

DASAR TEORI BELAJAR BRUNER Sebagai guru kelas di sekolah dasar di suatu sekolah. (2) proses mentransformasikan informasi yang diterima dan (3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. mempunyai peran dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Pendidikan yang benar adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Misalnya. kemudian pada tahap-tahap yang lebih tinggi (sesuai dengan kemampuan siswa) konsep ini diajarkan dalam bentuk yang abstrak dengan menggunakan notasi yang lebih umum dipakai dalam matematika. Artinya.Informasi yang diterima dianalisis. Untuk menanamkan pengertian 3 diberikan 3 contoh himpunan mangga. Kurikulum spiral J. mendengarkan penjelasan guru mengenai materi yang diajarkan atau mendengarkan audiovisual dan lainlain. Pendekatan spiral dalam belajar mengajar matematika adalah menanamkan konsep dan dimulai dengan benda kongkrit secara intuitif.[3] Ada tiga proses kognitif yang terjadi dalam belajar. . Bersumber dari : http://www. S. pendidikan hendaknya melihat jauh ke depan dan memikirkan apa yang akan dihadapi peserta didik di masa yang akan datang. seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana informasi yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala atau masalah yang dihadapi. Tiga mangga sama dengan 3 mangga. Keterlibatan ini menjadikan pembelajaran matematika sekolah begitu penting bagi Anda. Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis. Karena matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern.Proses transformasi pengetahuan merupakan suatu proses bagaimana kita memperlakukan pengetahuan yang sudah diterima agar sesuai dengan kebutuhan.html#ixzz2IF5d4uZ6 Follow us: @aby_farhan on Twitter PENDAHULUAN Dalam kehidupan masyarakat yang selalu berubah. Contoh himpunan tiga buah mangga.abyfarhan.Perolehan informasi baru dapat terjadi melalui kegiatan membaca. Anda akan selalu terkait dan terlibat dalam pembelajaran matematika sekolah.Dalam tahap evaluasi. Bruner dalam belajar matematika menekankan pendekatan dengan bentuk spiral.com/2011/12/teori-belajar-matematika-menurutbruner. jika ingin menunjukkan angka 3 (tiga) supaya menunjukkan sebuah himpunan dengan tiga anggotanya.[2] 1. idealnya pendidikan tidak hanya berorientasi pada jangka pendek. yaitu (1) prose perolehan informasi baru. Penggunaan konsep Bruner dimulai dari cara intuitif keanalisis dari eksplorasi kepenguasaan. tetapi sudah seharusnya merupakan proses yang mengantisipasi dan membekali untuk jangka panjang. diproses atau diubah menjadi konsep yang lebih abstrak agar suatu saat dapat dimanfaatkan.

1991:205). Pembelajaran merupakan sub-set khusus pendidikan.1977.195). Pembelajaran matematika harus memberikan peluang kepada siswa untuk berusaha dan mencari pengalaman tentang matematika Dalam batasan pengertian pembelajaran yang dilakukan di sekolah. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia kata pembelajaran adalah kata benda yang diartikan sebagai ”proses. Suatu pengertian yang hampir sama dikemukakan oleh Corey bahwa pem-belajaran adalah ” suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu. kritis. siswa sebagai pelaksanaan kegiatan belajar. Oleh karena itu pada hakikatnya pembelajaran matematika adalah proses yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana lingkungan memungkinkan seseorang (sipelajar) melaksanakan kegiatan belajar matematika. Dari pengertian tersebut jelas kiranya bahwa unsur pokok dalam pembelajaran matematika adalah guru sebagai salah satu perancang proses.analitis.1991:205). Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh. Untuk menguasai dan mencipta teknologi dan kemampuan berpikir logis. pembelajaran matematika dimaksudkan sebagai proses yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana lingkungan (kelas/sekolah) yang memungkinkan kegiatan siswa belajar matematika sekolah. . berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman”(Depdikbud). Secara umum Gagne dan Briggs melukiskan pembelajaran sebagai ”upaya orang yang tujuannya adalah membantu orang belajar” (Gredler. dan kreatif di masa depan. proses yang sengaja dirancang selanjutnya disebut proses pembelajaran. mengelola. dan kompetitif. menjadikan orang atau makluk hidup belajar” (Depdikbud). Kata ini berasal dari kata kerja belajar yang berarti ”berusaha untuk memperoleh kepandaian atau ilmu. sistematis. dan proses tersebut berpusat pada guru mengajar matematika. sistematis. Dari keempat pengertian pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berpusat pada kegiatan siswa belajar dan bukan berpusat pada kegiatan guru mengajar. serta kemampuan bekerjasama. dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah. tidak pasti. analitis.(Miarso dan kawan-kawan. cara. secara lebih terinci Gange mendefinisikan pembelajaran sebagai ”seperangkat acara peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung terjadinya beberapa proses belajar yang sifatnya internal” (Gredler. maka diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini dan pembelajaran yang membuat siswa belajar dan menjadi bermakna. kritis. dan kreatif.

tabel. tetapi meluas pada bidang psikomotor dan efektif. diagram. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah. perhatian. Memahami konsep matematika. dan tepat. khusus di Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidiyah (MI) agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. akurat. KONSEP TEORI BELAJAR BRUNER Bruner yang memiliki nama lengkap Jerome S. serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Adapun tujuan matematika sekolah.Bruner seorang ahli psikologi (1915) dari Universitas Harvard. 1. Pembelajaran matematika diarahkan untuk pembentukan kepribadian dan pembentukan kemampuan berpikir yang bersandar pada hakikat matematika. telah mempelopori aliran psikologi kognitif yang memberi dorongan agar pendidikan memberikan perhatian pada pentingnya pengembangan berfikir. atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat. 2. menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh 4. menyusun bukti. menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma. yang bermuara pada kemampuan menggunakan matematika sebagai bahasa dan alat dalam menyelesaikan masalah-msalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Oleh karenanya hasil-hasil pembelajaran matematika menampak kemampuan berpikir yang matematis dalam diri siswa. melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi. ini berarti hakikat matematika merupakan unsur utama dalam pembelajaran matematika. efisien. Tujuan umum dan khusus yang ada di kurikulum SD/MI. secara luwes. merupakan pelajaran matematika di sekolah. B.dan matematika sekolah sebagai objek yang dipelajari dalam hal ini sebagai salah satu bidang studi dalam pelajaran. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol. dalam pemecahan masalah. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan. yaitu memiliki rasa ingin tahu. merancang model matematika. 5. Bruner banyak memberikan pandangan mengenai perkembangan kognitif manusia. Hasil lain yang tidak dapat diabaikan adalah terbentuknya kepribadian yang baik dan kokoh. dan minat dalam mempelajari matematika. jelas memberikan gambaran belajar tidak hanya di bidang kognitif saja. menyimpan pengetahuan dan . 3. Amerika Serikat. bagaimana manusia belajar atau memperoleh pengetahuan. atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.

(2) proses mentransformasikan informasi yang diterima dan (3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. Bruner. pemikir dan pencipta informasi. atau media lainnya. melalui teorinya itu. yaitu (1) proses perolehan informasi baru. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran. Siswa harus dapat menemukan keteraturan dengan cara mengotak-atik bahan-bahan yang berhubungan dengan keteraturan intuitif yang sudah dimiliki siswa. peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Dalam setiap kesempatan. Dengan mengajukan masalah kontekstual. Ini menunjukkan bahwa materi yang mempunyai suatu pola atau struktur tertentu akan lebih mudah dipahami dan diingat anak. pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Ada tiga proses kognitif yang terjadi dalam belajar. Melalui alat peraga yang ditelitinya itu.1990:48) belajar matematika adalah belajar mengenai konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari. mengungkapkan bahwa dalam proses belajar anak sebaiknya diberi kesempatan memanipulasi benda-benda atau alat peraga yang dirancang secara khusus dan dapat diotak-atik oleh siswa dalam memahami suatu konsep matematika. sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer. Bruner menyatakan belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru di luar informasi yang diberikan kepada dirinya. alat peraga. Menurut Bruner (dalam Hudoyo. mendengarkan penjelasan guru mengenai materi yang diajarkan atau mendengarkan audiovisual dan lain-lain. diproses atau diubah menjadi konsep yang lebih abstrak agar suatu saat dapat dimanfaatkan. Dengan demikian siswa dalam belajar. serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur matematika itu. Perolehan informasi baru dapat terjadi melalui kegiatan membaca. haruslah terlibat aktif mentalnya agar dapat mengenal konsep dan struktur yang tercakup dalam bahan yang sedang dibicarakan. Sedangkan proses transformasi pengetahuan merupakan suatu proses bagaimana kita memperlakukan pengetahuan yang sudah diterima agar sesuai dengan kebutuhan. Informasi yang diterima dianalisis.menstransformasi pengetahuan. anak akan melihat langsung bagaimana keteraturan dan pola struktur yang . anak akan memahami materi yang harus dikuasainya itu. Informasi ini mungkin bersifat penghalusan dari informasi sebelumnya yang telah dimiliki. Dasar pemikiran teorinya memandang bahwa manusia sebagai pemeroses.

terdapat dalam benda yang sedang diperhatikannya itu. model ikonik dan model tahap simbolik. 2. Keteraturan tersebut kemudian oleh anak dihubungkan dengan intuitif yang telah melekat pada dirinya. (c) pentingnya nilai berfikir induktif. . Dengan demikian agar pembelajaran dapat mengembangkan keterampilan intelektual anak dalam mempelajari sesuatu pengetahuan (misalnya suatu konsep matematika). pada penyajian ini anak tanpa menggunakan imajinasinya atau kata-kata. Bila dikaji ketiga model penyajian yang dikenal dengan teori Belajar Bruner. gambar. Peran guru dalam penyelenggaraan pelajaran tersebut. Bahasa menjadi lebih penting sebagai suatu media berpikir. (b) pentingnya belajar aktif suapaya seorang dapat menemukan sendiri konsep-konsep sebagai dasar untuk memahami dengan benar. dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Tahap ikonik. yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan itu direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imaginery). atau diagram. Proses internalisasi akan terjadi secara sungguh-sungguh (yang berarti proses belajar terjadi secara optimal) jika pengetahuan yang dipelajari itu dipelajari dalam tiga model tahapan yaitu model tahap enaktif. Ia akan memahami sesuatu dari berbuat atau melakukan sesuatu. Pada tahap ini anak belajar sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan itu dipelajari secara aktif. Model Tahap Enaktif Dalam tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan anak secara langsung terlibat dalam memanipulasi (mengotak-atik) objek. yang menggambarkan kegiatan kongkret atau situasi kongkret yang terdapat pada tahap enaktif tersebut di atas (butir a). Kemudian seseorang mencapai masa transisi dan menggunakan penyajian ikonik yang didasarkan pada pengindraan kepenyajian simbolik yang didasarkan pada berpikir abstrak. Anak tidak langsung mema nipulasi objek seperti yang dilakukan siswa dalam tahap enaktif. (a) perlu memahami sturktur mata pelajaran. berhubungan dengan mental yang merupakan gambaran dari objek-objek yang dimanipulasinya. maka materi pelajaran perlu disajikan dengan memperhatikan tahap perkembangan kognitif/ pengetahuan anak agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) orang tersebut. dengan menggunakan benda-benda konkret atau menggunakan situasi yang nyata. Model Tahap Ikonik Dalam tahap ini kegiatan penyajian dilakukan berdasarkan pada pikiran inter-nal dimana pengetahuan disajikan melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik yang dilakukan anak.

kata-kata. Bantu siswa untuk melihat adanya hubungan antara konsep-konsep. maupun lambanglambang abstrak yang lain. marilah kita terlebih dahulu bagaimana langkah-langkah penerapan dapat dilakukan yaitu: 1. baik simbol-simbol verbal (misalnya huruf-huruf. yaitu simbol-simbol arbiter yang dipakai berdasarkan kesepakatan orang-orang dalam bidang yang bersangkutan. Sajikan contoh dan bukan contoh dari konsep-konsep yang anda ajarkan. Misalnya berikan pertanyaan kepada siswa seperti berikut ini ” apakah nama bentuk ubin yang sering digunakan untuk menutupi lantai rumah? Berapa cm ukuran ubin-ubin yang dapat digunakan? . segi lima atau lingkaran. dalam mempelajari penjumlahan dua bilangan cacah. pembelajaran akan terjadi secara optimal jika mula-mula siswa mempelajari hal itu dengan menggunakan bendabenda konkret (misalnya menggabungkan 3 kelereng dengan 2 kelereng.3. siswa melakukan penjumlahan kedua bilangan itu dengan menggunakan lambang-lambang bialngan. 2. Misal : untuk contoh mau mengajarkan bentuk bangun datar segiempat. Anak tidak lagi terikat dengan objek-objek seperti pada tahap sebelumnya. Model Tahap Simbolis Dalam tahap ini bahasa adalah pola dasar simbolik. dengan menggunakan gambar atau diagram tersebut/ tahap yang kedua ikonik. pembelajaran direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak (abstract symbols). lambang-lambang matematika. sedang-kan bukan contoh adalah berikan bangun datar segitiga. Sebagai contoh. Pada tahap simbolik ini. yaitu : 3 + 2 = 5. Kemudian. dan kemudian menghitung banyaknya kelereng semuanya ini merupakan tahap enaktif). Anak pada tahap ini sudah mampu menggunakan notasi tanpa ketergantungan terhadap objek riil. anak memanipulasi simbul-simbul atau lambang-lambang objek tertentu. Pada tahap berikutnya yaitu tahap simbolis. Aplikasi Teori Belajar Bruner dalam Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar  Langkah Penerapan Teori Belajar Bruner Sebelum kita mengimplementasikan teori belajar Bruner dalam pembelajaran matematika. kegiatan belajar dilanjutkan dengan menggunakan gambar atau diagram yang mewakili 3 kelereng dan 2 kelereng yang digabungkan tersebut (dan kemudian dihitung banyaknya kelereng semuanya. siswa bisa melakukan penjumlahan itu dengan menggunakan pembayangan visual (visual imagenary) dari kelereng tersebut. kalimat-kalimat). C.

3. Dengan demikian setiap orang mempunyai model atau kekhususan dalam dirinya untuk mengelompokkan hal-hal tertentu atau membangun suatu hubungan antara hal yang telah diketahuinya. Jangan dikomentari dahulu jawaban siswa. Misalnya Jelaskan ciri-ciri/ sifat-sifat dari bangun Ubin tersebut? 4. Guru menanyakan berapa bagian dari kertas tersebut yang yang diterima oleh keempat siswa tersebut. gunakan pertanyaan yang dapat memandu siswa untuk berpikir dan mencari jawaban yang sebenarnya.3. sehingga terlihat jelas pembagian dari kertas tersebut. Model Tahap Enaktif Guru memperlihatkan bagian pecahan dari selembar kertas. Berikan satu pertanyaan dan biarkan biarkan siswa untuk mencari jawabannya sendiri. 2003) Teori belajar Bruner ini didasarkan pada dua asumsi. bahwa : Perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif. Ajak dan beri semangat siswa untuk memberikan pendapat berdasarkan intuisinya. Dengan model ini seseorang dapat menyusun hipotesis untuk memasukkan pengetahuan baru kedalam struktur yang telah dimiliki. kemudian satu anak membagi menjadi dua bagian kertas yang sama besarnya sehingga setiap anak mendapat ½ bagian dari ¼ bagian dari keempat siswa tersebut. dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Orang mengkonstruksikan pengetahuannya dengan cara menghubungkan hal-hal yang mempunyai kemiripan dihubungkan menjadi suatu struktur yang memberi arti. (Anita dalam Panen. Dari awal kertas utuh kemudian di potong menjadi 4 bagian yang sama besar dan kemudian dari ¼ bagian tersebut di bagi menjadi 2 bagian yang sama besarnya. Bila dikaji ketiga model penyajian yang dikenal dengan teori Belajar Bruner. Model Tahap Ikonik Pada tahap ini guru menggambarkan potongan kertas tersebut. 2. Model Tahap Simbolis . artinya pengetahuan akan diperoleh siswa apa bila yang bersangkutan berinteraksi secara aktif dengan lingkungannya. missal selembar kertas akan dibagikan kepada 4 orang anak maka setiap anak mendapatkan ¼ bagian dari kertas tersebut. sehingga memperluas struktur yang telah dimilikinya atau mengembangkan struktur baru.

yaitu dengan cara pada gambar kertas dan potongan-potongan tersebut guru menuliskan lambang bilangan di bawah gambar potongan kertas tersebut. .Guru menuliskan lambang bilangan dari permasalahan yang dihadapi siswa tersebut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful