P. 1
B-8 Mencret Berkepanjangan

B-8 Mencret Berkepanjangan

|Views: 194|Likes:
Published by Pratiwii Ilyas
tugas kelompok blok cairan dan elektrolit
tugas kelompok blok cairan dan elektrolit

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Pratiwii Ilyas on Apr 13, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/31/2013

pdf

text

original

MENCRET BERKEPANJANGAN

Oleh : B -08 KETUA : Norman Yudha Mahendra (1102009206) SEKRETARIS : Trianggi Putri Husni(1102009286)

ANGGOTA : Eddy Wahyu (1102008339) Nopiyanti Handayani (1102009205) Opialeta Putri (1102009214) Topo Riansa (1102009285) Nike Angela Patrisia (1102009204) Pratiwi Ilyas(1102009215) Nurul Fitri Rizkya (1102009213) Tutut Nurjanah(1102009287)

UNIVERSITAS YARSI FAKULTAS KEDOKTERAN TAHUN PELAJARAN 2009-2010

TIU 1. Memahami tentang defisiensi imun 1.1 Definisi 1.2 Etiologi 1.3 Klasifikasi Defisiensi imun 1.4 Manisfestasi 1.5 Diagnosis 1.6 Pemeriksaan 1.7 Penatalaksanaan TIU 2 Mampu memahai infeksi virus HIV 2.1 Definisi 2.2 Struktur HIV 2.3 &2.4 Cara Transmisi dan patogenesis infeksi HIV 2.5 Manifestasi klinis infeksi HIV. 2.6 Diagnosis 2.7 Grafik dan komplikasi 2.8 Penatalaksanaan 2.9 .Epidemiologi 2.10 Pencegahan TIU 3 Mampu memahami dilema etik 3.1Kaidah Dasar Bioetik 3.2 Kaidah Dasar Bioetik Kedokteran 3.3 Undang- undang Kesehatan Mengenai Penyakit Menular TIU 4. Hukum dan etika islam terkait dengan penderita HIV AIDS 4.1 Etika islam terkait dengan penderita HIV AIDS

TIU 1. Memahami tentang defisiensi imun
1.1 Definisi
Gangguan yg dapat desiebabkan oleh kerusakan herrediter yg mempengaruhi perkembangan system imun atau dapat terjadi akibat efek sekunder/didapat dan penyakit lain. Dan penyakit akibat penurunan jumlah limfoid.

1.2 Etiologi
Penyebab defisiensi imun sangat beragam dan penelitian berbasis genetik berhasil mengidentifikasi lebih dari 100 jenis defisiensi imun primer dan pola menurunnya terkait pada X-linked recessive, resesif autosomal, atau dominan autosomal

1.3 Klasifikasi Defisiensi imun:
Terbagi menjadi 2, yaitu: Defisiensi imun nonspesifik dan defisiensi imun spesifik.

A. Defisiensi imun nonspesifik. 1. Defisiensi komplemen kongenital. Berhubungan dengan peningkatan insiden infeksi dan penyakit autoimun. Defisiensi komplemen juga dapat menimbulkan berbagai akibat seperti infeksi bakteri yang rekuren dan peningkatan sensitivitas terhadap penyakit autoimun.

a. Defisiensi komplemen kongenital. Biasanya menimbulkan infeksi yang berulang atau penyakit kompleks imun. i. Defisiensi inhibitor esterase C1. Defisiensi C1 INH berhubungan dengan angioedem herediter, penyakit yang ditandai dengan edema lokal sementara tetapi seringkali. ii. Defisiensi C2 dan C4. Dapat menimbulkan penyakit serupa LES, mungkin disebabkan kegagalan eliminasi kompleks imun yang komplemen dependent. iii. Defisiensi C3. Dapat menimbulkan reaksi berat yang fatal terutama yang berhubungan dengan infeksi mikroba piogenik. iv. Defisiensi C5. Defisiensi C5 menimbulkan kerentanan terhadap infeksi bakteri yang berhubungan dengan gangguan kemotaksis. v. Defisiensi C6, C7, dan C8. Meningkatkan kerentanan terhadap septikemi meningokok dan gonokok. Lisis melalui jalur komplemen merupakan mekanisme kontrol utama dalam imunisasi terhadap neseria.

b. Defisiensi komplemen fisiologik. Hanya ditemukan pada neonatus yang disebabkan kadar C3, C5, dan faktor B yang masih rendah. c. Defisiensi komplemen didapat. Disebabkan oleh depresi sintesis, misalnya pada sirosis hati dan malnutrisi protein/kalori. Pada anemia sel sabit ditemukan gangguan aktivasi komplemen yang meningkatkan resiko infeksi salmonela dan pneumokok. i. Defisiensi Clq,r,s Defisiensi Clq,r,s terjadi bersamaan dengan penyakit autoimun, terutama pada penderita LES. Penderita ini sangat rentan terhadap infeksi bakteri. Penyakit yang berhubungan dengan defisiensi C1 adalah edema angioneurotik herediter. ii. Defisiensi C4 Defisiensi C4 ditemukan pada beberapa penderita LES. iii. Defisiensi C2 Defisiensi C2 merupakan defisiensi komplemen yang paling sering terjadi. iv. Defisiensi C3 Penderita dengan defisiensi C3 menunjukan infeksi bakteri rekuren. v. Defisiensi C5-C8 Penderita ini menunjukan kerentanan yang meningkat terhadap infeksi terutama neseria. vi. Defisiensi C9 Defisiensi C9 sangat jarang ditemukan.

2. Defisiensi interferon dan lisozim. a. Defisiensi interferon kongenital. Dapat menimbulkan infeksi mononukleosis yang fatal. b. Defisiensi interferon dan lisozim didapat. Dapat ditemukan pada malnutrisi protein/kalori. 3. Defisiensi sel NK. a. Defisiensi kongenital Ditemukan pada penderita dengan osteoporosis (defek osteoklas dan monosit). Kadar IgG, IgA dan kekerapan autoantibodi biasanya meningkat.

b. Defisiensi didapat Dapat terjaid karena imuosupresi atau radiasi. 4. Defisiensi sistem fagosit Fagosit dapat menghancurkan mikroorganisme dengan atau tanpa bantuan komplemen. Defisiensi fagosit sering disertai dengan infeksi berulang. Kerentanan terhadap infeksi piogenik berhubungan langsung dengan jumlah neutrofil yang menurun. Defisiensi fagosit juga terjadi pada PMN. a. Defisiensi kuantitatif Neutropenia atau granulositopenia dapat disebabkan oleh penurunan produksi atau peningkatan destruksi. Penurunan produksi neutrofil dapat disebabkan oleh pemberian depresan sumsum tulang (kemoterapi pada kanker), leukemia, kondisi genetik yang menimbulkan defek dalam perkembangan semua sel progenitor dalam sumsum tulang termasuk prekursor mieloid (disgenesis retikular). Peningkatan destruksi neutrofil dapat merupakan fenomena autoimun akibat pemberian obat tertentu (kuinidin, oksasilin).contoh hipersplenisme dan asplenia. b. Defisiensi kualitatif Defisiensi kualitatif dapat mengenai fungsi fagosit seperti kemotaksis, menelan/ memakan dan membunuh mikroba intraselular. i. Chronic Granulomatosus Disease CGD adalah infeksi rekuren berbagai mikroba, baik negatif-Gram (escherichia, serratia, klebsiela) maupun positif-gram (stafilokok). Pada CGD ditemukan defek neutrofil dan ketidakmampuan membentuk peroksid hidrogen atau metabolit oksigen toksik lainnya. ii. Defsiensi Glucose-6-phosphate dehydrogenase Defisiensi G6PH adalah penyakit imunodefisiensi yang X-linked dengan gambaran klinis seperti CGD. Pada defisiensi ini, juga ditemukan anemia hemolitik. Penyakit ini diduga disebabkan oleh defisiensi generasi NADPH iii. Defisiensi mieloperoksidase Pada beberapa penderita dengan DMP ditemukan infeksi mikroba rekuren terutama K.albikans dan S.aureus. Peroksidase ditemukan dalam granul sitoplasma dan dilepas ke fagosom melalui proses degranulasi yang diikuti dengan fagositosis. Pada DMP proses tersebut terganggu sehingga kemampuan membunuh neutrofil terganggu. iv. Sindrom Chediak-Higashi Pada SCH ditenukan neutrofil dengan kemotaksis dan kemampuan membunuh yang abnormal dengan aktivitas sel NK dan kadar enzim lisosom menurun.

v. Sindom Job Sindrom job berupa pilek yang berulang (tidak terjadi inflamasi normal), abses stafilokok, eksim kronis dan otitis media. Kadar IgE serum sangat tinggi dan dapat ditemukan eosinofilia. vi. Sindrom leukosit malas (lazy leucocyte) Sindrom leukosit malas berupa kerentanan terhadap infeksi mikroba yang berat. Jumlah neutrofil menurun, respons kemotaksis (asal nama sindrom) dan respons inflamasi terganggu

vii. Defisiensi adhesi leukosit Merupakan penyakit imunodefisiensi yang ditandai dengan infeksi bakteri dan jamur rekuren dan gangguan penyembuhan luka.

1.4 Manisfestasi
 Manifestasi panyakit defisiensi imun :  Bayi atau penderita biasanya menderita infeksi bakteri berat yang menetap, berulang, atau manyebabkan komplikasi. Misalnya infeksi sinus, infeksi telinhga menahun dan bronchitis kronis yang biasanya terjadi setelah demam dan sakit tenggorokan.  Thrush (suatu infeksi jamur di mulut) disertai luka di mulut dan paradangan gusi, bisa merupakan pertanda awal dari adanya gangguan system kekebalan  Peradanga mata (konjungtivitis), rambut rontok, eksim yang berat, dan pelebaran kapiler di bawah kulit juga merupakan pertanda dari penyakit imunodefisiensi.  Infeksi pada saluran pencernaan bisa menyebabkan diare, pembentukan gas yang berlebihan dan penurunan berat badan

1.5 Diagnosis
A. Antibodi mikrobial dalam pemeriksaan defisiensi imun. Pemeriksaan antibodi mikrobial telah digunakan dalam diagnosis infeksi. Antibodi terhadap mikroba merupakan juga bagian penting dalam pemeriksaan defisiensi imun. Kemampuan untuk memproduksi antibodi merupakan cara paling sensitif untuk menemukan gangguan dalam produksi antibodi. Antibodi tersebut biasanya ditemukan dengan esai ELISA. B. Pemeriksaan in vitro

Tes in vitro dilakukan dengan uji fiksasi komplemen dan fungsi bakterisidal, reduksi NBT atau stimulasi produksi superoksida yang memberikan nilai enzim oksidatof yang berhubungan dengan fagositosis aktif dan aktivitas bakterisidal. C. Pemeriksaan penunjang Dalam penegakan diagnosis defisiensi imun, penting ditanyakan riwayat kesehatan pasien dan keluarganya, sejak masa kehamilan, persalinan dan morbiditas yang ditemukan sejak lahir secara detail. Riwayat pengobatan yang pernah didapat juga harus dicatat, disertai keterangan efek pengobatannya, apakah membaik, tetap atau memburuk. Bila pernah dirawat, operasi atau transfusi juga dicatat. Riwayat imunisasi dan kejadian efek simpangnya juga dicari. Defisiensi antibodi primer yang didapat lebih sering terjadi dibandingkan dengan yang diturunkan, dan 90% muncul setelah usia 10 tahun. Pada bentuk defisiensi antibodi kongenital, infeksi rekuren biasanya terjadi mulai usia 4 bulan sampai 2 tahun, karena IgG ibu yang ditransfer mempunyai proteksi pasif selama 3-4 bulan pertama. Beberapa defisiensi antibodi primer bersifat diturunkan melalui autosom resesif atau X-linked. Defisiensi imunoglobulin sekunder lebih sering terjadi dibandingkan dengan defek primer. Pemeriksaan fisik defisiensi antibodi jarang menunjukkan tanda fisik diagnostik, meskipun dapat menunjukkan infeksi berat sebelumnya, seperti ruptur membran timpani dan bronkiektasis. Tampilan klinis yang umum adalah gagal tumbuh. Pemeriksaan laboratorium penting untuk diagnosis. Pengukuran imunoglobulin serum dapat menunjukkan abnormalitas kuantitatif secara kasar. Imunoglobulin yang sama sekali tidak ada (agamaglobulinemia) jarang terjadi, bahkan pasien yang sakit berat pun masih mempunyai IgM dan IgG yang dapat dideteksi. Defek sintesis antibodi dapat melibatkan satu isotop imunoglobulin, seperti IgA atau grup isotop, seperti IgA dan IgG. Beberapa individu gagal memproduksi antibodi spesifik setelah imunisasi meskipun kadar imunoglobulin serum normal. Sel B yang bersirkulasi diidentifikasi dengan antibodi monoklonal terhadap antigen sel B. Pada darah normal, selsel tersebut sebanyak 5-15% dari populasi limfosit total. Sel B matur yang tidak ada pada individu dengan defisiensi antibodi membedakan infantile Xlinked agammaglobulinaemia dari penyebab lain defisiensi antibodi primer dengan kadar sel B normal atau rendah.

1.6 Pemeriksaan
A. Garis umum Pengobatan penderita dengan defisiensi imun antara lain adalah dengan menggunakan antibiotik/antiviral yang tepat, pemberian pooled human

immunoglobulin yang teratur. Transplantasi sumsum tulang dari donor dan resipien yang memiliki hubungan genetik yang cocok telah dilakukan dengan hasil yang baik pada beberapa kasus. Komplikasi yang dapat terjadi akibat transplantasi yaitu bila jaringan transplantasi menyerang sel penjamu-Graft Versus Host (GVH) reaction. B. Tujuan pengobatan Tujuannya adalah untuk mengurangi kejadian dan dampak infeksi seperti menjauhi subyek dengan penyakit menular, memantau penderita terhadap infeksi, menggunakan antibiotik/antiviral yang benar, imunisasi aktif atau pasif bila memungkinkan dam memperbaiki komponen sistem imun yang defektif dengan transfer pasif atau transplantasi. C. Pemberian globulin gama Globulin gama diberikan kepada penderita dengan defisiensi Ig tertentu (tidak pada defisiensi IgA) D. Pemberian sitokin Pemberian infus sitokin seperti IL-2, GM-CSF, M-CSF dan IFN-γ kepada subyek dengan penyakit tertentu. E. Transfusi Diberikan dalam bentuk neutrofil kepada subyek dengan defisiensi fagosit dan pemberian limfosit autologus yang sudah menjalani transfeksi dengan gen adenosin deaminase (ADA) untuk mengobati ACID. F. G. H. I. J. Transplantasi Obat antivirus Vaksinasi Terapi genetik Terapi potensial

1.7 Penatalaksanaan

Tatalaksana defisiensi antibodi Terapi pengganti imunoglobulin (immunoglobulin replacement therapy) merupakan keharusan pada anak dengan defek produksi antibodi. Preparat dapat berupa intravena atau subkutan. Terapi tergantung pada keparahan hipogamaglobulinemia dan komplikasi. Sebagian besar pasien dengan hipogamaglobulinemia memerlukan 400600 mg/kg/bulan imunoglobulin untuk mencegah infeksi atau mengurangi komplikasi, khususnya penyakit kronik pada paru dan usus. Imunoglobulin intravena (IVIG) merupakan pilihan terapi, diberikan dengan interval 2-3 minggu. Pemantauan

dilakukan terhadap imunoglobulin serum, setelah mencapai kadar yang stabil (setelah 6 bulan), dosis infus dipertahankan di atas batas normal. Tatalaksana defek imunitas seluler Tatalaksana pasien dengan defek berat imunitas seluler, termasuk SCID tidak hanya melibatkan terapi antimikrobial namun juga penggunaan profilaksis. Untuk mencegah infeksi maka bayi dirawat di area dengan tekanan udara positif. Pada pasien yang terbukti atau dicurigai defek sel T harus dihindari imunisasi dengan vaksin hidup atau tranfusi darah. Vaksin hidup dapat mengakibatkan infeksi diseminata, sedangkan tranfusi darah dapat menyebabkan penyakit graft-versus-host. Tandur (graft) sel imunokompeten yang masih hidup merupakan sarana satu-satunya untuk perbaikan respons imun. Transplantasi sumsum tulang merupakan pilihan terapi pada semua bentuk SCID. Terapi gen sedang dikembangkan dan diharapkan dapat mengatasi defek gen.

TIU 2 Mampu memahai infeksi virus HIV
2.1 Definisi
Definisi HIV HIV (human immunodeficiency virus) adalah sebuah retrovirus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia - terutama Sel T CD4+ dan makrofaga,komponen vital dari sistem kekebalan yubuh dan merusak fungsi mereka. Hiv penyebab dasar AIDS.

2.2 Struktur HIV
HIV mempunyai inti (nukleoid) berbentuk silindris dan eksentrik, mengandung 2 rangkaian genom RNA diploid, dengan masing-masing rangkaian memiliki enzim transkriptase reversi (RT), dan integrase. Selain itu di dalam inti juga terdapat enzim protease yang tidak melekat pada rangkaian RNA. Partikel yang membentuk inti silindris ini adalah protein kapsid (P24); yang menutupi komponen nukleoid tersebut sehingga membentuk struktur nukleokapsid. Protein matriks p17 merupakan bagian dalam sampul virus HIV. Bagian paling luar adalah lapisan membran fosfolipid yang berasal dari membran plasma sel pejamu. Pada membran permukaan virion terdapat tonjolan yang terdiri atas molekul glikoprotein (gp120) dengan bagian transmembran yang merupakan gp4l yang keduanya dibentuk oleh virus.

2.3 &2.4 Cara Transmisi dan patogenesis infeksi HIV
Penyakit HIV dimulai dengan infeksi akut yang tidak dapat diatasi sempurna oleh respons imun adaptif, dan berlanjut menjadi infeksi jaringan limfoid perifer yang kronik dan progresif. Perjalanan penyakit HIV dapat diikuti dengan memeriksa jumlah virus di plasma dan jumlah sel T CD4+ dalam darah. Infeksi primer HIV pada fetus dan neonatus terjadi pada situasi sistim imun imatur, sehingga penjelasan berikut merupakan ilustrasi patogenesis yang khas dapat diikuti pada orang dewasa. Infeksi primer terjadi bila virion HIV dalam darah, semen, atau cairan tubuh lainnya dari seseorang masuk ke dalam sel orang lain melalui fusi yang diperantarai oleh reseptor gp120 atau gp41. Tergantung dari tempat masuknya virus, sel T CD4+ dan monosit di darah, atau sel T CD4+ dan makrofag di jaringan mukosa merupakan sel yang pertama terkena. Sel dendrit di epitel tempat masuknya virus akan menangkap virus kemudian bermigrasi ke kelenjar getah bening. Sel dendrit mengekspresikan protein yang berperan dalam pengikatan envelope HIV, sehingga sel dendrit berperan besar dalam penyebaran HIV ke jaringan limfoid. Di jaringan limfoid, sel dendrit dapat menularkan HIV ke sel T CD4+ melalui kontak langsung antar sel. Beberapa hari setelah paparan pertama dengan HIV, replikasi virus dalam jumlah banyak dapat dideteksi di kelenjar getah bening. Replikasi ini menyebabkan viremia disertai dengan sindrom HIV akut (gejala dan tanda nonspesifik seperti infeksi virus

lainnya). Virus menyebar ke seluruh tubuh dan menginfeksi sel T subset CD4 atau T helper, makrofag, dan sel dendrit di jaringan limfoid perifer. Setelah penyebaran infeksi HIV, terjadi respons imun adaptif baik humoral maupun selular terhadap antigen virus. Respons imun dapat mengontrol sebagian dari infeksi dan produksi virus, yang menyebabkan berkurangnya viremia dalam 12 minggu setelah paparan pertama. Setelah infeksi akut, terjadilah fase kedua dimana kelenjar getah bening dan limpa menjadi tempat replikasi HIV dan destruksi sel. Pada tahap ini, sistem imun masih kompeten mengatasi infeksi mikroba oportunistik dan belum muncul manifestasi klinis infeksi HIV, sehingga fase ini disebut juga masa laten klinis (clinical latency period). Pada fase ini jumlah virus rendah dan sebagian besar sel T perifer tidak mengandung HIV. Kendati demikian, penghancuran sel T CD4+ dalam jaringan limfoid terus berlangsung dan jumlah sel T CD4+ yang bersirkulasi semakin berkurang. Lebih dari 90% sel T yang berjumlah 1012 terdapat dalam jaringan limfoid, dan HIV diperkirakan menghancurkan 1-2 x 109 sel T CD4+ per hari. Pada awal penyakit, tubuh dapat menggantikan sel T CD4+ yang hancur dengan yang baru. Namun setelah beberapa tahun, siklus infeksi virus, kematian sel T, dan infeksi baru berjalan terus sehingga akhirnya menyebabkan penurunan jumlah sel T CD4+ di jaringan limfoid dan sirkulasi. Pada fase kronik progresif, pasien rentan terhadap infeksi lain, dan respons imun terhadap infeksi tersebut akan menstimulasi produksi HIV dan destruksi jaringan limfoid. Transkripsi gen HIV dapat ditingkatkan oleh stimulus yang mengaktivasi sel T, seperti antigen dan sitokin. Sitokin (misalnya TNF) yang diproduksi sistem imun alamiah sebagai respons terhadap infeksi mikroba, sangat efektif untuk memacu produksi HIV. Jadi, pada saat sistem imun berusaha menghancurkan mikroba lain, terjadi pula kerusakan terhadap sistem imun oleh HIV. Penyakit HIV berjalan terus ke fase akhir dan letal yang disebut AIDS dimana terjadi destruksi seluruh jaringan limfoid perifer, jumlah sel T CD4+ dalam darah kurang dari 200 sel/mm3, dan viremia HIV meningkat drastis. Pasien AIDS menderita infeksi oportunistik, neoplasma, kaheksia (HIV wasting syndrome), gagal ginjal (nefropati HIV), dan degenerasi susunan saraf pusat (ensefalopati HIV). Respons imun terhadap HIV Pada pasien HIV terjadi respons imun humoral dan selular terhadap produk gen HIV. Respons awal terhadap infeksi HIV serupa dengan pada infeksi virus lainnya dan dapat menghancurkan sebagian besar virus di dalam darah dan sel T yang bersirkulasi. Kendati demikian, respons imun ini gagal untuk menghilangkan semua virus, dan selanjutnya infeksi HIV mengalahkan sistem imun pada sebagian besar individu. Terdapat 3 karakteristik respons imun terhadap HIV. Pertama, respons imun dapat berbahaya terhadap pejamu, misalnya dengan menstimulasi uptake virus yang teropsonisasi kepada sel yang tidak terinfeksi melalui endositosis yang diperantarai Fc reseptor atau melalui eradikasi sel T CD4+ yang mengekspresi antigen virus oleh sel T sitotoksik CD8+. Kedua, antibodi terhadap HIV merupakan petanda infeksi HIV yang digunakan secara luas untuk uji tapis tetapi sedikit yang memiliki efek netralisasi.

Ketiga, pembuatan vaksin HIV memerlukan pengetahuan tentang epitop virus yang paling mungkin menstimulasi imunitas protektif. Respons imun awal terhadap infeksi HIV mempunyai karakteristik ekspansi masif sel T sitotoksik CD8+ yang spesifik terhadap protein HIV. Respons antibodi terhadap berbagai antigen HIV dapat dideteksi dalam 6-9 minggu setelah infeksi, namun hanya sedikit bukti yang menunjukkan bahwa antibodi mempunyai efek yang bermanfaat untuk mengontrol infeksi. Molekul HIV yang menimbulkan respons antibodi terbesar adalah glikoprotein envelope, sehingga terdapat titer anti-gp120 dan anti-gp41 yang tinggi pada sebagian besar pasien HIV. Antibodi anti-envelope merupakan inhibitor yang buruk terhadap infektivitas virus atau efek sitopatik. Terdapat antibodi netralisasi dengan titer rendah pada pasien HIV. Antibodi netralisasi ini dapat menginaktivasi HIV in vitro. Terdapat pula antibodi yang memperantarai ADCC. Semua antibodi ini spesifik terhadap gp120. Belum ditemukan korelasi antara titer antibodi dengan keadaan klinis. Uji tapis standar untuk HIV menggunakan imunofluoresensi atau enzyme-linked immunoassay untuk mendeteksi antibodi anti-HIV pada serum. Setelah dilakukan uji tapis dengan hasil yang positif, sering dilanjutkan dengan Western blot atau radioimmunoassay untuk mendeteksi antibodi spesifik terhadap protein virus tertentu. Mekanisme penghindaran imun oleh HIV Kegagalan respons imun selular dan humoral untuk mengatasi infeksi HIV disebabkan berbagai faktor. Karena gangguan dalam hal jumlah dan fungsi sel T CD4+, respons imun tidak mampu mengeliminasi virus. Selain itu, HIV mempunyai berbagai cara utuk menghindari imunitas tubuh.

HIV mempunyai tingkat mutasi yang sangat tinggi sehingga HIV dapat menghindari deteksi oleh antibodi atau sel T yang terbentuk. Diperkirakan pada seseorang yang terinfeksi, mutasi titik (point mutation) pada genom virus dapat terjadi setiap hari. Satu area protein pada molekul gp120 yang disebut V3 loop mampu mengubah komponen antigeniknya, dan dapat bervariasi walaupun bahannya diambil dari individu yang sama pada waktu yang berbeda. Sel terinfeksi HIV dapat menghindari sel T sitotoksik dengan cara downregulation ekspresi molekul MHC kelas I. Protein HIV Nef menghambat ekspresi molekul MHC kelas I, khususnya HLA-A dan HLA-B, dengan cara meningkatkan internalisasi molekul-molekul tersebut. Infeksi HIV dapat menghambat imunitas selular. Sel TH2 yang spesifik untuk HIV dan mikroba lain dapat meningkat secara relatif terhadap sel TH1. Karena sitokin TH2 menghambat imunitas selular, hasil dari ketidakseimbangan ini adalah disregulasi (disebut juga deviasi imun) yang meningkatkan kerentanan pejamu terhadap infeksi mikroba intraselular, termasuk HIV itu sendiri.

2.5 Manifestasi klinis infeksi HIV.
Fase penyakit Penyakit HIV akut Masa laten klinis AIDS Manifestasi klinis Demam, sakit kepala, sakit tenggorokan dengan faringitis, limfadenopati generalisata, eritema Berkurangnya jumlah sel T CD4+ Infeksi oportunistik Protozoa (Pneumocystis carinii, Cryptosporidium) Bakteri (Toxoplasma, Mycobacterium avium, Nocardia, Salmonella) Jamur (Candida, Cryptococcus neoformans, Coccidioides immitis, Histoplasma capsulatum) Virus (cytomegalovirus, herpes simplex, varicella-zoster) Tumor Limfoma (termasuk limfoma sel B yang berhubungan dengan EBV) Sarkoma Kaposi Karsinoma servikal Ensefalopati Wasting syndrome

2.6 Diagnosis
Anak yang berumur kurang dari 18 bulan Diagnosis definitif laboratoris infeksi HIV pada anak yang berumur kurang dari 18 bulan hanya dapat ditegakkan melalui uji virologik. Hasil yang positif memastikan terdapat infeksi HIV. Tetapi bila akses untuk uji virologik ini terbatas, WHO menganjurkan untuk dilakukan pada usia 6-8 minggu, dimana bayi yang tertular in utero, maupun intra partum dapat tercakup. Uji virologik yang dilakukan pada usia 48 jam dapat mengidentifikasi bayi yang tertular in utero, tetapi sensitivitasnya masih sekitar 48%. Bila dilakukan pada usia 4 minggu maka sensitivitasnya naik menjadi 98%.

Satu hasil positif uji virologik pada usia berapa pun dianggap diagnostik pasti. Meskipun demikian tetap direkomendasikan untuk melakukan uji ulang pada sampel darah yang berbeda. Bila tidak mungkin dilakukan dua kali maka harus dipastikan kehandalan laboratorium penguji. Pada anak yang didiagnosis infeksi HIV hanya dengan satu kali pemeriksaan virologik yang positif, harus dilakukan uji antibodi anti HIV pada usia lebih dari 18 bulan.

Diagnosis infeksi HIV pada bayi yang mendapat ASI Bila seorang bayi yang terpapar infeksi HIV mendapat ASI, ia akan terus berisiko tertulari HIV selama masa pemberian ASI; karenanya uji virologik negatif pada bayi yang terus mendapat ASI tidak menyingkirkan kemungkinan infeksi HIV. Dianjurkan uji virologik dilakukan setelah bayi tidak lagi mendapat ASI selama minimal 6 minggu. Bila saat itu bayi sudah berumur 9-18 bulan saat pemberian ASI dihentikan, uji antibodi dapat dilakukan sebelum uji virologik, karena secara praktis uji antibodi jauh lebih murah. Bila hasil uji antibodi positif, maka pemeriksaan uji virologik diperlukan untuk mendiagnosis pasti, meskipun waktu yang pasti anak-anak membuat antibodi anti HIV pada yang terinfeksi post partum belum diketahui.

Bayi dan anak yang terpapar HIV dan memiliki gejala klinis Bila uji virologik tidak dapat dilakukan tetapi ada tempat yang mampu memeriksa, semua bayi kurang dari 12 bulan yang terpapar HIV dan menunjukkan gejala dan tanda infeksi HIV harus dirujuk untuk uji virologik. Hasil yang positif pada stadium apapun menunjukkan positif infeksi HIV.

Bayi dan anak yang terpapar HIV asimtomatik Pada usia 12 bulan, sebagian besar bayi yang terpapar HIV sudah tidak lagi memiliki antibodi maternal. Hasil uji antibodi yang positif pada usia ini dapat dianggap indikasi tertular (94.5% seroreversi pada usia 12 bulan; Spesifisitas 96%) dan harus diulang pada usia 18 bulan. Diagnosis infeksi HIV setelah ibu atau bayi mendapat Anti Retroviral (ARV) untuk program pencegahan (PMTCT=Prevention of Mother To Child Transmission)

Secara umum waktu pendeteksian tidak berbeda, assay DNA dapat mulai diperiksa pada usia 48 jam. Pemakaian ARV pada ibu dan bayinya untuk PMTCT tidak akan mempengaruhi hasilnya. DNA HIV akan tetap terdeteksi pada sel mononuklear darah tepi anak yang terinfeksi HIV dan sudah mendapat ARV meskipun hasil assay RNA HIVnya tidak terdeteksi. Sampai saat ini belum ada data pasti apakah sensitivitas RNA HIV atau assay antigen ICD p24 dipengaruhi oleh profilaksis ARV pada ibu dan bayi. WHO menyatakan bahwa pemeriksaan RNA tidak berbeda dengan DNA, dalam hal sensitivitas dan spesifisitas, pada bayi yang lahir mendapat ARV. Diagnosis infeksi bila ibu minum ARV Belum diketahui apakah pemakaian ARV pada ibu yang menyusui bayinya dapat mempengaruhi deteksi RNA HIV atau p24 pada bayi, meskipun sudah dibuktikan uji DNA HIV tidak terpengaruh. Anak yang berumur lebih dari 18 bulan Diagnosis definitif infeksi HIV pada anak yang berumur lebih dari 18 bulan (apakah paparannya diketahui atau tidak) dapat menggunakan uji antibodi, sesuai proses diagnosis pada orang dewasa. Konfirmasi hasil yang positif harus mengikuti algoritme standar nasional, paling tidak menggunakan reagen uji antibodi yang berbeda. Diagnosis klinis presumtif infeksi HIV Tidak ada algoritme diagnosis klinis tunggal yang terbukti sangat sensitif atau spesifik untuk mendiagnosis HIV. Akurasi diagnosis berdasarkan algoritme klinis jarang yang mencapai sensitifitas 70% dan bervariasi menurut umur; bahkan tidak dapat diandalkan unutk mendiagnosis infeksi HIV pada bayi yang berumur kurang dari 12 bulan. Uji antibodi anti HIV (dapat berupa rapid test) dan peningkatan akses untuk uji virologik dini dapat membantu dokter membuat algoritme diagnostik yang lebih baik. Dalam situasi sulit diperbolehkan menggunakan dasar klinis untuk memulai pengobatan ARV pada anak kurang dari 18 bulan dan terpapar HIV yang berada dalam kondisi sakit berat. Penegakan diagnosis berdasarkan gejala klinis yang dikombinasikan dengan pemeriksaan CD4 atau parameter lain saat ini belum terbukti sebagai alat diagnosis infeksi HIV.

Anak yang berumur kurang dari 18 bulan Untuk bayi dan anak berumur kurang dari 18 bulan yang berada di tempat dimana uji virologik tidak mungkin dilakukan, terdapat gejala yang sugestif infeksi HIV, diagnosis presumtif ineksi HIV secara klinis dapat dibuat. Diagnosis infeksi ini dapat menjadi dasar untuk menilai apakah diperlukan pemberian ARV segera.

Anak yang berumur lebih dari 18 bulan Pada anak yang berumur lebih dari 18 bulan dengan gejala dan tanda sugestif infeksi HIV, dapat digunakan pemeriksaan antibodi untuk menegakkan diagnosis. Diagnosis presumtif pada kondisi ini tidak dianjurkan karena pemeriksaan antibodi saja dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis. Beberapa kondisi seperti pneumonia pneumositis, kandidiasis esofagus, meningitis kriptokokus jarang terjadi pada anak yang tidak terinfeksi HIV. Karenanya kondisi klinis seperti ini menjadi faktor penentu untuk pemeriksaan antibodi anti HIV. Metode yang direkomendasikan untuk mendiagnosis infeksi HIV pada bayi dan anak Metode Rekomendasi Tingkat rekomendasi/bukti A(I)

Uji virologik( DNA, RNA, Untuk mendiagnosis infeksi ICD) pada bayi < 18 bulan ; uji inisial direkomendasi mulai umur 6-8 minggu Uji antibodi anti HIV Untuk mendiagnosis infeksi HIV pada ibu atau identifikasi paparan pada bayi Untuk mendiagnosis infeksi pada anak > 18 bulan Untuk mengidentifikasi infeksi HIV pada umur < 18 bulan dengan kemungkinan besar HIV positif*

A(I)

A(IV) * Anak kurang dari 18 bulan dengan hasil uji antibodi positif termasuk di antaranya adalah anak yang benar-benar terinfeksi, dan anak yang tidak terinfeksi tetapi masih membawa antibodi maternal.

2.7 Grafik dan komplikasi
Grafik hubungan antara jumlah HIV dan jumlah CD4 pada rata-rata infeksi HIV yang tidak ditangani.

Komplikasi Penyakit paru-paru utama Pneumonia pneumocystis Pneumonia pneumocystis (awalnya diketahui dengan nama pneumonia Pneumocystis carinii, dan masih disingkat sebagai PCP yang sekarang merupakan singkatan dari Pneumocystis pneumonia) jarang dijumpai pada orang yang sehat dan imunokompeten, tetapi umum dijumpai pada orang yang terinfeksi HIV. Penyakit ini disebabkan oleh fungi Pneumocystis jirovecii.

Tuberkulosis Tuberkulosis (TBC) merupakan infeksi unik di antara infeksi terkait HIV lainnya karena dapat ditularkan ke orang yang imunokompeten melalui rute respirasi, dapat muncul pada stadium awal HIV, dan dapat dicegah dengan terapi obat. Namun demikian, kekebalan terhadap berbagai obat adalah masalah serius pada penyakit ini. Pada stadium awal infeksi HIV (jumlah CD4 >300 sel per μL), TB muncul sebagai penyakit paru-paru. Pada infeksi HIV belakangan, TB sering muncul dengan penyakit ekstrapulmoner (sistemik). Gejala biasanya bersifat konstitusional dan tidak dibatasi pada satu tempat, sering menyerang sumsum tulang, tulang, saluran kemih dan saluran pencernaan, hati, nodus limfa regional, dan sistem saraf pusat. Selain itu, gejala yang muncul mungkin lebih berkaitan dengan tempat keterlibatan penyakit ekstrapulmoner. Penyakit saluran pencernaan utama Esofagitis Esofagitis adalah peradangan pada esofagus (tabung berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung). Pada individual yang terinfeksi HIV, hal ini terjadi karena infeksi jamur (kandidiasis) atau virus (herpes simpleks-1 atau sitomegalovirus). Diare kronik yang tidak dapat dijelaskan Diare kronik pada infeksi HIV terjadi akibat berbagai penyebab, termasuk infeksi bakteri (Salmonella, Shigella, Listeria, Kampilobakter, atau Escherichia coli) serta parasit yang umum dan infeksi oportunistik tidak umum seperti kriptosporidiosis, mikrosporidiosis, kolitis kompleks Mycobacterium avium dan sitomegalovirus (CMV). Pada beberapa kasus, diare adalah efek samping beberapa obat yang digunakan untuk menangani HIV, atau efek samping infeksi HIV, terutama selama infeksi HIV utama. Pada stadium akhir, diare diduga menunjukkan perubahan cara saluran usus menyerap nutrisi dan mungkin merupakan komponen penting pembuangan yang berhubungan dengan HIV. Penyakit saraf utama Toksoplasmosis Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bersel-satu disebut Toxoplasma gondii. Parasit ini biasanya menginfeksi otak dan menyebabkan toksoplasma ensefalitis, tetapi juga dapat menginfeksi dan menyebabkan penyakit pada mata dan paru-paru.

Leukoensefalopati multifokal progresif Leukoensefalopati multifokal progresif adalah penyakit demielinasi, yang merupakan penghancuran sedikit demi sedikit selubung mielin yang menutupi akson sel saraf sehingga merusak penghantaran impuls saraf. Hal ini disebabkan oleh virus yang disebut virus JC yang 70% populasinya terdapat dalam bentuk laten, menyebabkan penyakit hanya ketika sistem kekebalan sangat lemah, sebagaimana yang terjadi pada pasien AIDS. Penyakit ini berkembang cepat, biasanya menyebabkan kematian dalam waktu sebulan setelah diagnosis. Kompleks demensia AIDS Kompleks demensia AIDS adalah ensefalopati metabolik yang disebabkan oleh infeksi HIV dan didorong oleh aktivasi imun makrofag dan mikroglia otak yang terinfeksi HIV yang mengeluarkan neurotoksin. Kerusakan neurologis spesifik tampak sebagai ketidaknormalan kognitif, perilaku, dan motorik yang muncul bertahun-tahun setelah infeksi HIV dan berhubungan dengan rendahnya jumlah sel T + CD4 dan tingginya muatan virus pada plasma. Meningitis kriptokokal Meningitis kriptokokal adalah infeksi meninges (membran yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang) oleh jamur Cryptococcus neoformans. Hal ini dapat menyebabkan demam, sakit kepala, lelah, mual, dan muntah. Pasien juga mungkin mengalami sawan dan kebingungan, yang jika tidak ditangani dapat mematikan. Kanker yang berhubungan dengan HIV Pasien dengan infeksi HIV pada pokoknya meningkatkan insiden beberapa kanker. Hal ini terjadi karena infeksi dengan virus DNA onkogenik, terutama virus EpsteinBarr (EBV), virus herpes penyebab sarkoma Kaposi (KSHV) dan papilomavirus manusia (HPV). Sarkoma Kaposi gammaherpesvirinae, yaitu virus herpes manusia-8 yang juga disebut virus herpes sarkoma Kaposi (KSHV). Penyakit ini sering muncul di kulit dalam bentuk bintik keungu-unguan, tetapi dapat menyerang organ lain, terutama mulut, saluran pencernaan, dan paru-paru. Sarkoma Kaposi adalah tumor yang paling umum menyerang pasien yang terinfeksi HIV. Kemunculan tumor ini pada sejumlah pemuda homoseksual tahun 1981 adalah salah satu pertanda pertama wabah AIDS. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari subfamili

Limfoma Limfoma sel B tingkat tinggi seperti limfoma Burkitt (Burkitt's lymphoma), Burkitt'slike lymphoma, diffuse large B-cell lymphoma (DLBCL), dan limfoma sistem saraf pusat primer muncul lebih sering pada pasien yang terinfeksi HIV. Kanker ini seringkali mengakibatkan prognosis yang buruk. Pada beberapa kasus, limfoma ini merupakan tanda utama AIDS. Limfoma ini sebagian besar disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV) atau KSHV. Kanker leher rahim Kanker leher rahim pada wanita yang terkena HIV dianggap tanda utama AIDS. Kanker ini disebabkan oleh papilomavirus manusia (HPV). Tumor lainnya Pasien yang terinfeksi HIV juga dapat terkena tumor lainnya, seperti limfoma Hodgkin, karsinoma anal, dan karsinoma usus besar. Infeksi oportunistik lainnya Pasien AIDS biasanya menderita infeksi oportunistik dengan gejala tidak spesifik, terutama demam ringan dan kehilangan berat badan. Infeksi oportunistik ini termasuk infeksi Mycobacterium avium-intracellulare dan sitomegalovirus. Sitomegalovirus dapat menyebabkan kolitis, seperti yang dijelaskan di atas, dan retinitis sitomegalovirus dapat menyebabkan kebutaan. Penisiliosis yang disebabkan oleh Penicillium marneffei kini adalah infeksi oportunistik ketiga paling umum (setelah tuberkulosis dan kriptokokosis) pada orang yang positif HIV di daerah endemik Asia Tenggara. Stadium I: infeksi HIV asimtomatik dan tidak dikategorikan sebagai AIDS Stadium II: termasuk manifestasi membran mukosa kecil dan radang saluran pernafasan atas yang berulang Stadium III: termasuk diare kronik yang tidak dapat dijelaskan selama lebih dari sebulan, infeksi bakteri parah, dan tuberkulosis. Stadium IV: termasuk toksoplasmosis otak, kandidiasis esofagus, trakea, bronkus atau paru-paru, dan sarkoma kaposi. Semua penyakit ini adalah indikator AIDS.

2.8 Penatalaksanaan
Penggunaan obat antivirus seperti highly active antiretroviral therapy (HAART) dan persalinan berencana dengan seksio sesaria telah menurunkan angka transmisi perinatal mother to child trasmission (MTCT) penyakit ini dari 30% menjadi 20%. Manejemen antenatal, persalinan, dan perawatan pascasalin yang terkontrol dengan baik pada ibu hamil dengan HIV dapat mencegah transmisi perinatal. Kebijakan Pengendalian Penyakit HIV/AIDS Penyakit AIDS sampai saat ini masih merupakan penyakit dengan jumlah kasus yang masih tinggi dan menjadi epidemi selama 20 tahun. Menghadapi percepatan penambahan kasus baru HIV perlu dilakukan akselerasi program penanggulangan AIDS. Bersamaan dengan itu, akan dibangun sistem penanggulangan AIDS jangka panjang yang mencakup program pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan. Sistem harus bersifat komprehensif dan efektif yang jangkauannya diperluas sejak tahun 2007 sampai tahun 2010.

Secara umum Program Penanggulangan AIDS terdiri dari pengembangan kebijakan, program pencegahan, program perawatan, dukungan dan pengobatan, serta program mitigasi.

a. Pengembangan Kebijakan Implementasi program penanggulangan AIDS yang efektif memerlukan dukungan kebijakan, kejelasan strategi operasional dan panduan teknis. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mendukung implementasi program adalah sebagai berikut: 1) Penelaahan dan pengembangan kebijakan untuk mendukung beberapa intervensi pokok untuk penanggulangan AIDS, antara lain kebijakan pemakaian kondom 100%, kebijakan

penanganan penasun dan kebijakan yang menyangkut perawatan, dukungan dan pengobatan. 2) Fasilitasi untuk pengembangan kebijakan dan kesepakatan pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota dalam bentuk peraturan daerah untuk mendukung implementasi program penanggulangan AIDS. 3) Pengembangan stategi operasional untuk beberapa intervensi pokok, antara lain strategi operasional untuk program komunikasi dan intervensi perubahan perilaku, strategi operasional untuk program penjangkauan orang muda, strategi operasional penjangkauan di tempat kerja. 4) Penelaahan dan pengembangan panduan teknis untuk intervensi yang spesifik, antara lain panduan teknis untuk Voluntary Conseling and Testing(VCT), panduan teknis program penasun di penjara. 5) Pengembangan kebijakan dan strategi untuk meningkatkan pencapaian target Universal Akses 6) Pengembangan kebijakan dan strategi untuk meningkatkan pencapaian target MDG

b. Program Pencegahan 1) Program KIE untuk I. Peningkatan awareness di sektor layanan kesehatan untuk mengurangi stigma dan diskriminasi di kalangan petugas kesehatan II. Peningkatan awareness pada kelompok risiko tinggi dan rentan 2) Program VCT 3) Program pengamanan darah donor terhadap Hepatitis B, Hepatitis C dan HIV 4) Program Pencegahan Transmisi Seksual 5) Program Pencegahan Transmisi melalui jarum suntik

6) Program Pencegahan Penularan dari Ibu ke bayi 7) Program Pencegahan lainnya :

c. Program Perawatan, Dukungan dan Pengobatan 1) Laboratorium 2) Gizi 3) Paliatif 4) Perawatan Berbasis Rumah 5) Hotline Service 6) Dukungan kelompok 7) Terapi Infeksi Oportunistik 8) Terapi Anti Retroviral

d. Implementasi Program Berdasarkan adanya perbedaan tahapan situasi epidemi AIDS dan konsentrasi populasi risiko tinggi, maka terdapat 3 pola implementasi program, yaitu program komprehensif di 17 provinsi, implementasi program di Tanah Papua, dan implementasi program di provinsi lain. Penemuan & Tata Laksana Kasus Kasus HIV/AIDS di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Hingga September 2008, penderita AIDS yang dilaporkan berjumlah 13.958 orang. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (1997-2006) terjadi peningkatan kasus AIDS lebih dari 40 kali

2.9 .Epidemiologi
Epidemiologi HIV DAN AIDS di Dunia Menurut laporan terakhir dari UNAIDS tahun 2007, didapatkan data sebagai berikut : § Jumlah Odha 2007 § Total 33,2 Juta (30,6 &ndash; 36,1 Juta) § Dewasa

&ndash; 33,6 Juta) § Perempuan 15,4 Juta (13,9 &ndash; 16,6 Juta) § Anak <15 th 2,5 Juta (2,2 &ndash; Juta) Orang yang baru terinfeksi HIV 2007 § Total 2,5 Juta (1,8 &ndash; 4,1 Juta) § Dewasa (1,4 -3,6 Juta) § Anak <15 th 420.000 (350.000 &ndash; 540.000) Kematian akibat AIDS 2007 § Total

Juta (1,9 &ndash; 2,4 Juta) § Dewasa 1,7 Juta (1,6 &ndash; 2,1 Juta) § Anak <15 th 330.000 (310.000 380.000)

-Setiap hari di dunia orang muda terinfeksi HIV setiap 15 detik -Hampir 1.800 bayi per hari lahir telah terinfeksi Epidemiologi HIV DAN AIDS di Asia Selatan dan Asia Tenggara Jumlah Odha tahun 2007 § Total 4 Juta (3.3&ndash; 4,. Juta) (dewasa dan anak) § Dewasa Prevalensi 0,3% (0,2 &ndash; 0,4%) Orang yang baru terinfeksi 2007 § Total 350.000 (180.000 - 740.000) Kematian akibat AIDS 2007 § Total 270.000 (230.000 &ndash; 380.000)

Tantangan PMTCT di Asia

Negara Perkiraan bayi dengan HIV yang lahir/thn India 500,000 China 70,000 Myanmar 23,000 Thailand 18,000 Kamboja 9,000 Indonesia 3,000 Malaysia 1,700 Laos 800 Vietnam 600

Dari data-data di atas, maka negara Indonesia merupakan negara dengan jumlah bayi dengan HIV tinggi setiap tahunnya. Jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan pertambahan kasus HIV baru pada orang dewasa.

Epidemiologi HIV DAN AIDS Nasional Lebih 6,5 Juta perempuan di Indonesia menjadi populasi rawan tertular dan menularkan HIV.

-Lebih dari 24.000 perempuan usia subur di Indonesia telah terinfeksi HIV -Lebih dari 9.000 perempuan HIV+ hamil dalam setiap tahunnya di Indonesia dan -Lebih dari 30% diantaranya melahirkan bayi yang tertular bila tak ada PMTCT Siapakah yang termasuk dalam risiko tersebut di atas ?

-Pasangan muda dari pengguna Napza suntik yang tak menyadari telah tertular HIV -Istri atau pasangan seksual dari Odha pria -Penjaja seks yang hamil -Bayi atau balita dengan gangguan tumbuh kembang -Bayi atau balita dengan gizi buruk -Bayi atau balita dengan penyakit infeksi berulang

2.10 Pencegahan
Pengobatan suportif Nutrisi yg cukup Bekerja Pandangan hidup positif Dukungan psikologis Dukungan sosial

Pencegahan infeksi oprtunisktik Pengobatan antiretroviral Pencegahan NRTI NNRTI PI

-

Abstinens (tdk melakukan hubungan seksual) Seks aman

Bagi org terinfeksi : Seks aman Tidak mendonorkan darah Mencegah kehamilan Memberitahu mitra seksualnya sebelum dan sesudah diketahui terinfeksi

Untuk penyalahgunaan obat Menghentikan penggunaan suntikan secara bersama sama Mengikuti progam rehabilitasi

Untuk tenaga medis Menggunakan sarung tangan lateks pada setiap kontak dengan cairan tubuh Menggunakan jarum sekali pakai

TIU 3 Mampu memahami dilema etik
Dilema etik adalah keadaan tertentu dimana kaidah dasar dengan kaidah dasar lainnya dapat saling bertentangan, sehingga mengakibatkan kesulitan dalam membuat keputusan etik.

3.1Kaidah Dasar Bioetik
· Prinsip Otonomi, prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien, terutama

hak-hak otonomi pasien. · Prinsip Beneficence, prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang

ditujukan untuk kebaikan pasien. · Prinsip Non-Maleficence, prinsip moral yang melarang tindakan yang

memperburuk keadaan pasien.

·

Prinsip Justice, prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan

dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya. Kewajiban Umum Dokter · Pasal 7d, setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban

melindungi hidup makhluk insane. · Pasal 8, dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan

kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua spek pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif), baik fisik maupun psiko-sosial, serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar-benarnya. Kewajiban Dokter Terhadap Pasien · Pasal 10, setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan

segala ilmu dan keterampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien, ia wajib merujuk pasien kepada dokter yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut. (KODEKI dan Pedoman Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia IDI) Etika penanganan pasien menurut kodeki : Isi Kode Etik Kedokteran Indonesia KODE ETIK KEDOKTERAN INDONESIA KEWAJIBAN UMUM Pasal 1 
 Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter. Pasal 2 
 Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi yang tertinggi.

Pasal 3 Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi. Pasal 4
 Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri. Pasal 5 
 Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperoleh persetujuan pasien. Pasal 6 
 Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan halhal yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat. Pasal 7 
 Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri kebenarannya.

Pasal 7a 
 Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia. Pasal 7b 
 Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau

penggelapan, dalam menangani pasien Pasal 7c 
 Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien Pasal 7d 
 Setiap dokten harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. Pasal 8 
 Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif), baik fisik maupun psiko-sosial, serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar-benarnya. Pasal 9 
 Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang lainnya serta masyarakat, harus saling menghormati.

KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP PASIEN
 Pasal 10 
 Setiap dokten wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan ketrampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien,ia wajib menujuk pasien kepada dokten yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut.

Pasal 11 Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah lainnya.

Pasal 12 
 Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia. Pasal 13 
 Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya.

KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP TEMAN SEJAWAT
 Pasal 14 Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan. Pasal 15 
 Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dan teman sejawat, kecuali dengan persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.

KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP DIRI SENDIRI
 Pasal 16 Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik. Pasal 17 
 Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran/kesehatan.

3.2 Kaidah Dasar Bioetik Kedokteran
Kaidah dasar (prinsip) Etika / Bioetik adalah aksioma yang mempermudah penalaran etik. Prinsip-prinsip itu harus spesifik. Pada praktiknya, satu prinsip dapat dibersamakan dengan prinsip yang lain. Tetapi pada beberapa kasus, karena kondisi

berbeda, satu prinsip menjadi lebih penting dan sah untuk digunakan dengan mengorbankan prinsip yang lain. Keadaan terakhir disebut dengan prima facie. Konsil Kedokteran Indonesia, dengan mengadopsi prinsip etika kedokteran barat, menetapkan bahwa, praktik kedokteran Indonesia mengacu kepada 4 kaidah dasar moral (sering disebut kaidah dasar etika kedokteran atau bioetika), juga prima facie empat kaidah dasar etika dalam praktik kedokteran, dengan prima facie sebagai judge; penentu kaidah dasar mana yang dipilih ketika berada dalam konteks tertentu („ilat) yang relevan. a. Menghormati martabat manusia (respect for person/autonomy). Menghormati martabat manusia. Pertama, setiap individu (pasien) harus diperlakukan sebagai manusia yang memiliki otonomi (hak untuk menentukan nasib diri sendiri), dan kedua, setiap manusia yang otonominya berkurang atau hilang perlu mendapatkan perlindungan. · Pandangan Kant : otonomi kehendak = otonomi moral yakni : kebebasan bertindak, memutuskan (memilih) dan menentukan diri sendiri sesuai dengan kesadaran terbaik bagi dirinya yang ditentukan sendiri tanpa hambatan, paksaan atau campur-tangan pihak luar (heteronomi), suatu motivasi dari dalam berdasar prinsip rasional atau self-legislation dari manusia. · Pandangan J. Stuart Mill : otonomi tindakan/pemikiran = otonomi individu, yakni kemampuan melakukan pemikiran dan tindakan (merealisasikan keputusan dan kemampuan melaksanakannya), hak penentuan diri dari sisi pandang pribadi. · Menghendaki, menyetujui, membenarkan, mendukung, membela, membiarkan pasien demi dirinya sendiri = otonom (sebagai mahluk bermartabat).

· Didewa-dewakan di Anglo-American yang individualismenya tinggi. · Kaidah ikutannya ialah : Tell the truth, hormatilah hak privasi liyan, lindungi informasi konfidensial, mintalah consent untuk intervensi diri pasien; bila ditanya, bantulah membuat keputusan penting. · Erat terkait dengan doktrin informed-consent, kompetensi (termasuk untuk kepentingan peradilan), penggunaan teknologi baru, dampak yang dimaksudkan (intended) atau dampak tak laik-bayang (foreseen effects), letting die. b. Berbuat baik (beneficence). Selain menghormati martabat manusia, dokter juga harus mengusahakan agar pasien yang dirawatnya terjaga keadaan kesehatannya (patient welfare). Pengertian ”berbuat baik” diartikan bersikap ramah atau menolong, lebih dari sekedar memenuhi kewajiban. Tindakan berbuat baik (beneficence) • General beneficence : • • • melindungi & mempertahankan hak yang lain mencegah terjadi kerugian pada yang lain, menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain,

• Specific beneficence : • • menolong orang cacat, menyelamatkan orang dari bahaya. · Mengutamakan kepentingan pasien · Memandang pasien/keluarga/sesuatu tak hanya sejauh menguntungkan

dokter/rumah sakit/pihak lain · Maksimalisasi akibat baik (termasuk jumlahnya > akibat-buruk) · Menjamin nilai pokok : “apa saja yang ada, pantas (elok) kita bersikap baik terhadapnya” (apalagi ada yg hidup). c. Tidak berbuat yang merugikan (non-maleficence). Praktik Kedokteran haruslah memilih pengobatan yang paling kecil risikonya dan paling besar manfaatnya. Pernyataan kuno: first, do no harm, tetap berlaku dan harus diikuti. · Sisi komplementer beneficence dari sudut pandang pasien, seperti : · Tidak boleh berbuat jahat (evil) atau membuat derita (harm) pasien · Minimalisasi akibat buruk · Kewajiban dokter untuk menganut ini berdasarkan hal-hal : - Pasien dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko hilangnya sesuatu yang penting - Dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut - Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif - Manfaat bagi pasien > kerugian dokter (hanya mengalami risiko minimal). · Norma tunggal, isinya larangan. d. Keadilan (justice). Perbedaan kedudukan sosial, tingkat ekonomi, pandangan politik, agama dan faham kepercayaan, kebangsaan dan kewarganegaraan, status perkawinan, serta perbedaan jender tidak boleh dan tidak dapat mengubah sikap dokter terhadap pasiennya. Tidak ada pertimbangan lain selain kesehatan pasien yang menjadi perhatian utama dokter.

· Treat similar cases in a similar way = justice within morality. · Memberi perlakuan sama untuk setiap orang (keadilan sebagai fairness) yakni : a. Memberi sumbangan relatif sama terhadap kebahagiaan diukur dari kebutuhan mereka (kesamaan sumbangan sesuai kebutuhan pasien yang memerlukan/membahagiakannya) b. Menuntut pengorbanan relatif sama, diukur dengan kemampuan mereka (kesamaan beban sesuai dengan kemampuan pasien). • Tujuan : Menjamin nilai tak berhingga setiap pasien sebagai mahluk berakal budi (bermartabat), khususnya : yang-hak dan yang-baik · Jenis keadilan : a. Komparatif (perbandingan antar kebutuhan penerima) b. Distributif (membagi sumber) : kebajikan membagikan sumbersumber kenikmatan dan beban bersama, dengan cara rata/merata, sesuai keselarasan sifat dan tingkat perbedaan jasmani-rohani; secara material kepada : · Setiap orang andil yang sama · Setiap orang sesuai dengan kebutuhannya · Setiap orang sesuai upayanya. · Setiap orang sesuai kontribusinya · Setiap orang sesuai jasanya · Setiap orang sesuai bursa pasar bebas

c. Sosial : kebajikan melaksanakan dan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bersama : · Utilitarian : memaksimalkan kemanfaatan publik dengan strategi menekankan efisiensi social dan memaksimalkan nikmat/keuntungan bagi pasien. · Libertarian : menekankan hak kemerdekaan social – ekonomi (mementingkan prosedur adil > hasil substantif/materiil). · Komunitarian : mementingkan tradisi komunitas tertentu · Egalitarian : kesamaan akses terhadap nikmat dalam hidup yang dianggap bernilai oleh setiap individu rasional (sering menerapkan criteria material kebutuhan dan kesamaan). d. Hukum (umum) : · Tukar menukar : kebajikan memberikan / mengembalikan hakhak kepada yang berhak. · pembagian sesuai dengan hukum (pengaturan untuk kedamaian hidup bersama) mencapai kesejahteraan umum. Prima Facie : dalam kondisi atau konteks tertentu, seorang dokter harus melakukan pemilihan 1 kaidah dasar etik ter-”absah” sesuai konteksnya berdasarkan data atau situasi konkrit terabsah (dalam bahasa fiqh ‟ilat yang sesuai). Inilah yang disebut pemilihan berdasarkan asas prima facie. Norma dalam etika kedokteran (EK) : · Merupakan norma moral yang hirarkinya lebih tinggi dari norma hukum dan norma sopan santun (pergaulan)

· Fakta fundamental hidup bersusila : Etika mewajibkan dokter secara mutlak, namun sekaligus tidak memaksa. Jadi dokter tetap bebas,. Bisa menaati atau masa bodoh. Bila melanggar : insan kamil (kesadaran moral = suara hati)nya akan menegur sehingga timbul rasa bersalah, menyesal, tidak tenang.

3.3 Undang- undang Kesehatan Mengenai Penyakit Menular
Pemberantasan penyakit yang diatur dalam Undang-Undang kesehatan, dilaksanakan terhadap penyakit menular dan penyakit tidak menular. Pasal 30 Pemberantasan penyakit menular dilaksanakan dengan upaya penyuluhan, penyelidikan, pengebalan, menghilangkan sumber dan perantara penyakit, tindakan karantina, dan upaya lain yang diperlukan. Pasal 31 Pemberantasan penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah dan penyakit karantina dilaksanakan sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku. Dengan demikian pemahaman yang baik para dokter dan tenaga kesehatan lainnya tentang aspek hukum penyakit menular dapat membantu tidak saja dalam penanggulangan peningkatan dan penyebaran penyakit, tetapi juga menghindarkan para dokter dan tenaga kesehatan lainnya dari masalah hukum.

TIU 4. Hukum dan etika islam terkait dengan penderita HIV AIDS
PANDANGAN ISLAM TERHADAP HIV/AIDS Acquired Immune Deficiency Syndrome, secara harfiah (Acquired artinya didapat bukan keturunan, Immune artinya sistem kekebalan, Deficiency adalah kekurangan, dan Syndrome yakni kumpulan gejala penyakit). Terminologi AIDS  kumpulan gejala penyakit yang menyerang dan atau merusak system kekebalan tubuh manusia melalui HIV (Human Immune Virus). Orang yang terinfeksi HIV akan menjadi karier selama hidupnya, firman Allah s.w.t. yang berbunyi: “dan sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit kelaparan, ketakutan,…dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang sabar.” (Al-Baqarah:155) Allah swt berfirman dalam Al-Qur'an " Sesungguhnya Allah tidak berbuat dzalim kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat dzalim kepada diri mereka sendiri. (QS. Yunus: 44). Penyakit HIV-AIDS yang sangat ditakuti oleh masyarakat, bukanlah merupakan penyakit "Kutukan Tuhan" sebagaimana pandangan sebagaian masyarakat. Melainkan penyakit biasa sebagaimana penyakit-penyakit lainnya. Penyakit HIV-AIDS diatas lebih banyak di takuti oleh masyarakat karena hingga ditulisnya buku ini penyakit tersebut belum ada obatnya. Penyakit tersebut muncul dikarenakan perbuatan manusia yang melanggar terhadap syari'ah yang telah di tetapkan.

4.1 Etika islam terkait dengan penderita HIV AIDS
Perilaku Masyarakat dan Hubungannya dengan AIDS Berbagai data menjelaskan bahwa akselerasi jumlah penderita HIV/AIDs dikarenakan tingginya prevalensi penyakit kelamin atau IMS (Infeksi Menular Seksual) pada waria dan tuna susila. Penyakit kelamin mempermudah penularan HIV/AIDS. Berbagai riset menyatakan bahwa pengetahuan remaja yang minim tentang HIV/AIDS dan interpretasi yang salah tentang masalah seksual merupakan salah satu faktor penyebab timbulnya HIV/AIDS. Penyebab dan Penularannya Kemajuan iptek telah menimbulkan pola dan gaya hidup baru yang bersumber pada doctrine of permissiveness yang kemudian melahirkan permissive society, hal tersebut tercermin pada pola dan gaya hidup semisal; perdagangan seks, pengesahan perkawinan sesama jenis, pameran seks, pornografi, legalisasi aborsi tak bertanggung jawab, dan seterusnya. Allah s.w.t. berfirman: “maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan, kami pun membuka semua pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka

bergembira, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam terdiam berputus asa.” (Al-An‟am:44) HIV terutama terdapat di dalam darah, air mani, dan cairan vagina. Penularannya melalui: 1. hubungan seksual dengan pengidap HIV (homo atau heteroseksual) 2. transfusi darah yang mengadung HIV 3. alat suntik bekas pengidap HIV; tindik, tattoo, narkoba (IDU), injeksi, dan lainlain 4. dari ibu hamil kepada janinnya. Pencegahan
1. Secara Umum

Memberikan penyuluhan tentang HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi melalui ceramah agama, khotbah, pengajian, seminar, lokakarya, dan lain-lain. Firman Allah s.w.t.: “serulah manusia kepada jalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantulah pula dengan cara yang baik….” (An-Nahl:25)
2. Secara Khusus

Memperkenalkan metode A, B, C, dan D, yakni:  Abstain from sexà bagi remaja dan belum menikah  Be faithfulà setia terhadap pasangan  Condomà selalu menggunakan kondom  Don’t use a hypodermic needleà tidak menggunakan alat suntik bekas pengidap HIV/AIDS. Pengobatan Hadits Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan oleh Arba‟ah: “berobatlah hai hamba Allah, karena Allah tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali diturunkan pula obatnya, kecuali penyakit yang satu (pikun).” Islam memberikan tuntunan dalam pengobatan HIV/AIDS yakni secara fisik, psikis, dan social. :
a. secara fisik melalui medis dan sejenisnya hingga yang terbaru ARV (AntiRetroviral) b. secara psikis melalui kesabaran, taubat, taqarrub ilallah (dzikrullah), dan berdoa, c. secara social melalui penerimaan dan dukungan penuh masyarakat terutama keluarga.

Islam sangat tegas memberi batasan tentang HIV/AIDS. “Tidak ada musibah yang tak membawa hikmah didalamnya, termasuk penyakit AIDS,” . AIDS ini bisa menimpa siapa saja termasuk orang tak bersalah,” “Peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksanya”(Al-Anfal :25). Pendekatan Ruhiyah:
1. Jika seseorang tertular HIV/ AIDS akibat perzinaan atau pergaulan bebas seks luar nikah Pertama: Hendaklah bertaubat (taubat nasuha). Kedua : Hendaklah berjanji tidak berzina lagi sehingga tidak menularkan penyakit itu kepada orang lain.

Ketiga

: Hendaklah meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah dan memperbanyak berbuat baik.

2. Bagi penderita HIV/ AIDS pemakai jarum suntik yang tidak steril, transfusi darah atau hal lainnya yang bukan akibat perzinaan, hendaklah bertawakkal kepada Allah dan menyadari bahwa itu adalah musibah dan cobaan.
3. Bagi saudara-saudara yang terlanjur berzina dan belum terkena virus HIV, maka : Pertama : Hendaklah bertaubat dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut. Kedua : Hendaklah meningkatkan iman taqwa dan amal shaleh. 4. Bagi kita atau siapa saja yang belum terjerumus kedunia pergaulan seks diluar nikah : Pertama: Hendaklah terus menerus menjaga diri dan anggota keluarga dari hal-hal itu serta tidak terpengaruh. Kedua: Hendaklah meningkatkan ketaqwaan dan amal shaleh 5. Bagi kita atau siapa saja hendaklah aktif melakukan gerakan amar ma`ruf nahi mungkar sehingga tidak merajalela.

Menyikapi HIV/ AIDS : 1. Jauhi sikap hidup hedonisme dan permisifisme, yaitu pola hidup yang bebas nilai tanpa peduli dengan rambu-rambu dan peraturan Agama ataupun hukum yang berlaku secara nasional. 2. Hidup didunia ini sementara dan memperturutkan hawa nafsu angkara murka serta kenikmatan sesaat, kemudian menderita sepanjang hidup belum lagi masuk neraka, sebab didunia saja telah tersiksa. 3. Ingat Sabda Rasulullah SAW: “ Didiklah anak-anakmu, sebab mereka dilahirkan untuk hidup dalam suatu zaman yang berbeda dengan zamanmu” (HR. Bukhari) Cara Islam Mencegah Timbulnya Dan Penularan Penyakit Berbahaya Seperti HIV/ AIDS 1. Istinja`  membasuh kelamin dan dubur dengan air sesudah buang air kecil atau besar. 2. Khitan bagi laki-laki  mencegah kotoran pada penis, sebab kotoran yang menumpuk pada intil-intil merupakan lingkungan baik perkembangan mikroba. 3. Larangan bersenggama di waktu haid  darah keluar dari rahim adalah darah kotor penuh dengan mikroba yang dapat menyerang kandung kencing dan tidak baik untuk organ kemaluan perempuan. 4. Islam mengharamkan Zina  Islam adalah satu-satunya yang memberikan hukuman berat dan mencegah ketat terhadap perzinahan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->