P. 1
34825470 BSE SMP Kelas 8 Matematika Konsep Dan Aplikasinya Dewi Nuharini

34825470 BSE SMP Kelas 8 Matematika Konsep Dan Aplikasinya Dewi Nuharini

|Views: 81|Likes:
Published by Ahmad Roziqin

More info:

Published by: Ahmad Roziqin on Apr 13, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/24/2014

pdf

text

original

Sections

  • PENDAHULUAN
  • A.PENGERTIAN KOEFISIEN, VARIABEL, KONSTANTA, DAN SUKU
  • B.OPERASI HITUNG PADA BENTUK ALJABAR
  • C.PEMFAKTORAN BENTUK ALJABAR
  • D.OPERASI PADA PECAHAN BENTUK ALJABAR
  • A.RELASI
  • B.FUNGSI ATAU PEMETAAN
  • C.MENENTUKAN RUMUS FUNGSI JIKA NILAINYA DIKETAHUI
  • D.MENGHITUNG NILAI PERUBAHAN FUNGSI JIKA NILAI VARIABEL BERUBAH
  • E.GRAFIK FUNGSI/PEMETAAN
  • F.KORESPONDENSI SATU-SATU
  • A.PERSAMAAN GARIS (1)
  • B.GRADIEN
  • C.PERSAMAAN GARIS (2)
  • D.MENENTUKAN TITIK POTONG DUA GARIS
  • A.PERSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL
  • B.PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL
  • C.SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL
  • A.TEOREMA PYTHAGORAS
  • B.PENGGUNAAN TEOREMA PYTHAGORAS
  • A.LINGKARAN DAN BAGIAN-BAGIANNYA
  • B.KELILING DAN LUAS LINGKARAN
  • C.HUBUNGAN ANTARA SUDUT PUSAT, PANJANG BUSUR, DAN LUAS JURING
  • 1.Hubungan Sudut Pusat, Panjang Busur, dan Luas Ju-
  • D.SUDUT PUSAT DAN SUDUT KELILING LINGKARAN
  • E.SEGI EMPAT TALI BUSUR (PENGAYAAN)
  • F.SUDUT ANTARA DUA TALI BUSUR (PENGAYAAN)
  • A.MENGENAL SIFAT-SIFAT GARIS SINGGUNG LINGKARAN
  • B.MELUKIS DAN MENENTUKAN PANJANG GARIS SINGGUNG LINGKARAN
  • C.KEDUDUKAN DUA LINGKARAN
  • D.GARIS SINGGUNG PERSEKUTUAN DUA LINGKARAN
  • F.MELUKIS LINGKARAN DALAM DAN LINGKARAN LUAR SEGITIGA
  • A.MENGENAL BANGUN RUANG
  • B.MODEL KERANGKA SERTA JARING- JARING KUBUS DAN BALOK
  • C.LUAS PERMUKAAN SERTA VOLUME KUBUS DAN BALOK
  • A.BANGUN RUANG PRISMA DAN LIMAS
  • C.JARING-JARING PRISMA DAN LIMAS
  • D.LUAS PERMUKAAN PRISMA DAN LIMAS
  • E.VOLUME PRISMA DAN LIMAS
  • DAFTAR PUSTAKA
  • GLOSARIUM
  • KUNCI JAWABAN SOAL TERPILIH
  • DAFTAR SIMBOL

Pusat Perbukuan

Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang
Hak Cipta Buku ini dibeli oleh Departemen Pendidikan Nasional
dari Penerbit CV. Usaha Makmur
MATEMATIKA
KONSEP DAN APLIKASINYA
Untuk SMP/MTs Kelas VIII
Penulis : Dewi Nuharini
Tri Wahyuni
Editor : Indratno
Perancang Kulit : Risa Ardiyanto
Ilustrasi, Tata Letak : Risa Ardiyanto
Ukuran Buku : 17,6 x 25 cm
410
NUH NUHARINI, Dewi
m Matematika Konsep dan Aplikasinya: untuk SMP/MTs Kelas VIII/
oleh Dewi Nuharini dan Tri Wahyuni; editor Indratno. — Jakarta: Pusat
Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
viii, 252 hlm.: ilus.; 25 cm.
Bibliograf : hlm. 244
Indeks. hlm.
ISBN 979-462-999-5
1. Matematika-Studi dan Pengajaran I. Judul
II. Wahyuni, Tri III. Indratno
Diterbitkan oleh Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
Diperbanyak oleh ...
KATA SAMBUTAN
iii
Kata Sambutan
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia
Nya, Pemer intah, dal am h al ini, Depar temen Pendidikan N asional, p ada
tahun 200 8, tela h me mbeli hak cipta buku teks pelajar an ini dar i
penulis /penerbit unt uk disebar lu askan ke pada masy arakat melalui
situs internet (website) Jaringan Pendidikan Nasional.
Buku t eks p elajaran ini telah di nilai ol eh Ba dan Sta ndar Nasional
Pendidikan dan telah ditetapkan sebagai buku teks pelajaran yang memenuhi
syarat kelay akan u ntuk dig unakan dalam pr oses pembelajaran m elalui
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 34 Tahun 2008.
Kami menyampaikan penghargaan y ang seting gi-tingginya kepad a par a
penulis/penerbit yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada
Departemen P endidikan N asional u ntuk digunakan s ecara l uas o leh p ara
siswa dan guru di seluruh Indonesia.
Buku-buku teks pelajaran y ang tel ah dialihkan hak cipt anya k epada
Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (down load), digandakan,
dicetak, dialihmediakan, ata u di fotokopi oleh m asyarakat. Na mun, u ntuk
penggandaan yang bersifat komersial har ga penj ualannya har us memenuhi
ketentuan y ang diteta pkan ol eh P emerintah. Dihar apkan ba hwa buku t eks
pelajaran ini ak an lebi h mudah diakses sehingga siswa dan guru di selur uh
Indonesia m aupun sekolah I ndonesia y ang berada di luar negeri dapat
memanfaatkan sumber belajar ini.
Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada
para siswa kami ucapkan selamat belajar dan manfaatkanlah buku ini sebaik
baiknya. Kami menyadari bahwa buku i ni masih perlu ditingkatkan mutunya.
Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.
Jakarta, Juli 2008
Kepala Pusat Perbukuan
KATA PENGANTAR
Buku Matematika Konsep dan Aplikasinya 2 ini mem-
bantumu belajar matematika dan aplikasinya dalam kehidupan
sehari-hari. Buku ini disusun dengan menggunakan bahasa yang
mudah kamu pahami. Di dalam buku ini kamu akan menjumpai
soal-soal yang dapat melatih keterampilanmu. Dengan harapan,
kamu akan lebih tertarik dan suka belajar matematika.
Setiap awal bab di buku ini disajikan kover bab. Bagian ini
berisi ilustrasi dan deskripsi singkat yang menarik berkaitan dengan
materi bab yang bersangkutan. Selain itu, di awal bab juga disajikan
tujuan pembelajaran yang harus kamu capai dalam setiap bab.
Kata-kata kunci merupakan inti dari materi. Bacalah terlebih dahulu
kata-kata kuncinya sebelum kamu mempelajari isi materi.
Di dalam buku ini disajikan Tugas Mandiri yang akan
meningkatkan pemahaman kamu terhadap konsep yang telah kamu
pelajari. Diskusi akan mendorongmu untuk lebih bersemangat
dalam bekerja sama. Soal Tantangan akan memotivasi kamu
dalam memahami konsep. Pelangi Matematika akan menambah
pengetahuan dan wawasan kamu mengenai tokoh yang berjasa
besar pada konsep yang sedang dipelajari. Tips akan membantumu
memahami konsep yang sedang kamu pelajari. Di bagian akhir
setiap bab dilengkapi dengan soal-soal untuk mengevaluasi
kompetensi yang telah kamu capai setelah mempelajari satu bab.
Akhirnya, semoga buku ini bermanfaat dan jangan segan
untuk bertanya jika kamu menemui kesulitan. Selamat belajar,
semoga sukses.
Surakarta, Mei 2008
Penulis
iv
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Refleksi berisi umpan balik yang harus dilakukan
oleh siswa setelah mempelajari materi satu bab.
Bagian ini berisi soal-soal pilihan ganda dan soal-
soal esai sebagai bahan evaluasi untuk mengukur
tingkat pemahaman siswa setelah mempelajari
materi satu bab.
SAJIAN ISI BUKU
Uji kompetensi berisikan soal-soal latihan ber-
variasi yang disajikan setiap subbab.
Uji kompetensi dapat digunakan untuk menguji
pemahaman siswa berkaitan dengan isi materi.
Bagian ini berisi tugas yang bersifat individu.
Tugas mandiri memuat tugas observasi, inves-
tigasi, eksplorasi, atau inkuiri yang dapat memacu
siswa untuk berpikir kritis, kreatif, maupun
inovatif.
Tips berisi info atau keterangan yang dapat mem-
bantu siswa memahami materi yang sedang
dipelajari.
Pelangi matematika berisi tokoh-tokoh yang ber-
jasa besar pada konsep yang sedang dipelajari.
Bagian ini berisi tugas yang harus dikerjakan secara
berpasangan atau berkelompok. Diskusi memuat
tugas observasi, investigasi, eksplorasi, atau
inkuiri yang dapat memacu siswa untuk berpikir
kritis, kreatif, dan inovatif.
Soal tantangan berisikan suatu soal yang menantang
siswa untuk menguji kecerdasannya.
Bagian ini dapat memotivasi siswa dalam mema-
hami konsep materi secara total.
Rangkuman berisi ringkasan materi dalam satu bab.
Bagian ini disajikan di akhir setiap bab agar siswa
dapat mengingat kembali hal-hal penting yang telah
dipelajari.
v
Sajian Isi Buku
vi
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
KATA SAMBUTAN ................................................................................................. iii
KATA PENGANTAR ............................................................................................... iv
SAJIAN ISI BUKU .................................................................................................. v
DAFTAR I SI ............................................................................................................. vi
PENDAHULUAN ..................................................................................................... 1
BAB 1: FAKTORISASI SUKU ALJABAR
A. Pengertian Koefisien, Variabel, Konstanta, dan Suku ..................... 4
B. Operasi Hitung pada Bentuk Aljabar ................................................ 6
C. Pemfaktoran Bentuk Aljabar ............................................................. 15
D. Operasi pada Pecahan Bentuk Aljabar ............................................. 24
Evaluasi 1 .................................................................................................. 29
BAB 2: FUNGSI
A. Relasi ................................................................................................... 32
B. Fungsi atau Pemetaan ........................................................................ 36
C. Menentukan Rumus Fungsi Jika Nilainya Diketahui ....................... 44
D. Menghitung Nilai Perubahan Fungsi jika Nilai Variabel Berubah ... 46
E. Grafik Fungsi/Pemetaan..................................................................... 48
F. Korespondensi Satu-Satu ................................................................... 50
Evaluasi 2 .................................................................................................. 54
BAB 3: PERSAMAAN GARIS LURUS
A. Persamaan Garis (1) .......................................................................... 58
B. Gradien ................................................................................................ 65
C. Persamaan Garis (2) .......................................................................... 76
D. Menentukan Titik Potong Dua Garis ................................................. 86
E. Memecahkan Masalah yang Berkaitan dengan Konsep
Persamaan Garis Lurus...................................................................... 89
Evaluasi 3 .................................................................................................. 92
BAB 4: SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL
A. Persamaan Linear Satu Variabel ....................................................... 96
B. Persamaan Linear Dua Variabel ....................................................... 97
C. Sistem Persamaan Linear Dua Variabel ........................................... 101
D. Membuat Model Matematika dan Menyelesaikan Masalah Sehari-
hari yang Melibatkan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel ...... 108
E. Menyelesaikan Sistem Persamaan Nonlinear Dua Variabel dengan
Mengubah ke Bentuk Sistem Persamaan Linear Dua Variabel ..... 111
Evaluasi 4 .................................................................................................. 114
DAFTAR ISI
vii
Daftar Isi
BAB 5: TEOREMA PYTHAGORAS
A. Teorema Pythagoras .......................................................................... 118
B. Penggunaan Teorema Phytagoras ..................................................... 123
C. Menyelesaikan Masalah Sehari-hari dengan Menggunakan
Teorema Pythagoras .......................................................................... 132
Evaluasi 5 .................................................................................................. 134
BAB 6 : LINGKARAN
A. Lingkaran dan Bagian-Bagiannya ..................................................... 138
B. Keliling dan Luas Lingkaran .............................................................. 140
C. Hubungan antara Sudut Pusat, Panjang Busur, dan Luas Juring .... 149
D. Sudut Pusat dan Sudut Keliling Lingkaran........................................ 153
E. Segi Empat Tali Busur (Pengayaan) ................................................. 158
F. Sudut antara Dua Tali Busur (Pengayaan) ....................................... 162
Evaluasi 6 .................................................................................................. 167
BAB 7: GARIS SINGGUNG LINGKARAN
A. Mengenal Sifat-Sifat Garis Singgung Lingkaran .............................. 170
B. Melukis dan Menentukan Panjang Garis Singgung Lingkaran........ 172
C. Kedudukan Dua Lingkaran ................................................................ 177
D. Garis Singgung Persekutuan Dua Lingkaran .................................... 178
E. Menentukan Panjang Sabuk Lilitan Minimal yang Menghubungkan
Dua Lingkaran .................................................................................... 184
F. Melukis Lingkaran Dalam dan Lingkaran Luar Segitiga ................. 187
Evaluasi 7 .................................................................................................. 197
BAB 8: KUBUS DAN BALOK
A. Mengenal Bangun Ruang ................................................................... 200
B. Model Kerangka serta Jaring-Jaring Kubus dan Balok................... 209
C. Luas Permukaan serta Volume Kubus dan Balok............................ 213
Evaluasi 8 .................................................................................................. 221
BAB 9: BANGUN RUANG SISI DA TAR LIMAS DAN PRISMA TEGAK
A. Bangun Ruang Prisma dan Limas ..................................................... 224
B. Diagonal Bidang, Diagonal Ruang, serta Bidang Diagonal Prisma
dan Limas ............................................................................................ 227
C. Jaring-Jaring Prisma dan Limas ........................................................ 230
D. Luas Permukaan Prisma dan Limas ................................................. 232
E. Volume Prisma dan Limas ................................................................. 236
Evaluasi 9 .................................................................................................. 242
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................ 244
GLOSARIUM ........................................................................................................... 245
KUNCI JAWABAN SOAL TERPILIH ............................................................... 247
DAFTAR SIMBOL .................................................................................................. 250
INDEKS...................................................................................................................... 251
viii
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
1
Pendahuluan
PENDAHULUAN
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi
modern. Matematika mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu sehingga
memajukan daya pikir manusia. Mata pelajaran matematika diberikan kepada siswa
mulai dari sekolah dasar untuk membekali siswa dengan kemampuan bekerja sama.
Pembelajaran matematika di buku ini dimulai dengan pengenalan masalah yang
sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual,
siswa secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Sekolah
diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat
peraga, atau media lainnya untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran.
Buku Matematika Konsep dan Aplikasinya 2 ini diperuntukkan bagi siswa
kelas VIII SMP/MTs. Materi pembelajaran buku ini mengacu pada Standar Kompetensi
dan Kompetensi Dasar Matematika SMP/MTs tahun 2006. Kajian materi buku ini
meliputi dua aspek, yaitu aspek aljabar serta aspek geometri dan pengukuran .
Untuk memudahkan pembahasan, buku ini terbagi ke dalam sembilan bab sebagai
berikut.
Bab 1 Faktorisasi Suku Aljabar
Bab ini memuat materi mengenai operasi tambah, kurang, kali, bagi, dan
pangkat pada bentuk aljabar; cara menentukan faktor pada suku aljabar;
serta cara menguraikan bentuk aljabar ke dalam faktor-faktornya.
Bab 2 Fungsi
Bab ini berisi materi mengenai cara menyatakan masalah sehari-hari yang
berkaitan dengan relasi dan fungsi; menyatakan suatu fungsi dengan notasi;
menghitung nilai fungsi; menentukan bentuk fungsi jika nilai dan data fungsi
diketahui; cara menyusun tabel pasangan nilai peubah dengan nilai fungsi;
serta cara menggambar grafik fungsi pada koordinat Cartesius.
Bab 3 Persamaan Garis Lurus
Bab ini memuat materi mengenai pengertian gradien dan cara menentukan
gradien garis lurus dalam berbagai bentuk; cara menentukan persamaan
garis lurus yang melalui dua titik, atau melalui satu titik dengan gradien tertentu;
serta cara menggambar grafik garis lurus jika diketahui persamaannya.
Bab 4 Sistem Persamaan Linear Dua V ariabel
Bab ini berisi uraian materi mengenai perbedaan persamaan linear dua varia-
bel dan sistem persamaan linear dua variabel; mengenal sistem persamaan
linear dua variabel; menentukan penyelesaian sistem persamaan linear dua
variabel dengan berbagai cara; membuat model matematika dan
menyelesaikannya dari masalah sehari-hari yang berkaitan dengan sistem
persamaan linear dua variabel.
2
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Bab 5 Teorema Pythagoras
Bab ini memuat materi mengenai cara menemukan teorema Pythagoras;
menghitung panjang sisi segitiga siku-siku jika dua sisi lain diketahui; menghi-
tung perbandingan sisi-sisi segitiga siku-siku istimewa; dan menggunakan
teorema Pythagoras untuk menghitung panjang diagonal, atau sisi pada bangun
datar.
Bab 6 Lingkaran
Bab ini berisi materi mengenai bagian-bagian lingkaran; cara menemukan
nilai pi; menentukan serta menghitung keliling dan luas lingkaran; mengenal
hubungan antara sudut pusat dan sudut keliling jika menghadap busur yang
sama; menentukan besar sudut keliling jika menghadap diameter dan busur
yang sama; menentukan panjang busur, luas juring, dan luas tembereng;
serta menggunakan hubungan sudut pusat, panjang busur, dan luas juring
dalam pemecahan masalah. Pada bab ini disediakan pula materi pengayaan,
yaitu materi mengenai segi empat tali busur, meliputi pengertian dan sifat-
sifatnya; serta uraian materi mengenai sudut antara dua tali busur.
Bab 7 Garis Singgung Lingkaran
Bab ini memuat materi mengenai garis singgung lingkaran, meliputi sifat
garis singgung lingkaran; mengenali dan menentukan panjang garis singgung
persekutuan dalam dan persekutuan luar dua lingkaran; serta cara melukis
dan menentukan panjang jari-jari lingkaran dalam dan lingkaran luar segitiga.
Bab 8 Kubus dan Balok
Bab ini berisi uraian materi mengenai unsur-unsur kubus dan balok; jaring-
jaring kubus dan balok; menemukan rumus dan menghitung luas permukaan
kubus dan balok; serta menemukan rumus dan menghitung volume kubus
dan balok.
Bab 9 Bangun Ruang Sisi Datar Limas dan Prisma Tegak
Bab ini memuat materi mengenai unsur-unsur prisma dan limas; jaring-jaring
prisma dan limas; menemukan rumus dan menghitung luas permukaan prisma
dan limas; serta menemukan rumus dan menghitung volume prisma dan
limas.
Pernahkah kalian berbelanja di super-
market? Sebelum berbelanja, kalian pasti
memperkirakan barang apa saja yang akan
dibeli dan berapa jumlah uang yang harus
dibayar. Kalian dapat memperkirakan jumlah
uang yang harus dibayar jika kalian
mengetahui harga dan banyaknya barang
yang akan dibeli. Untuk menghitungnya,
kalian tentu memerlukan cara perkalian atau
menggunakan cara faktorisasi.
FAKTORISASI SUKU
ALJABAR
Tujuan pembelajaranmu pada bab ini adalah:
™ dapat menyelesaikan operasi tambah, kurang, kali, bagi, dan pangkat pada
bentuk aljabar;
™ dapat menentukan faktor suku aljabar;
™ dapat menguraikan bentuk aljabar ke dalam faktor-faktornya.
1
Kata-Kata Kunci:
™ penjumlahan bentuk aljabar ™ perpangkatan bentuk aljabar
™ pengurangan bentuk aljabar ™ faktor suku aljabar
™ perkalian bentuk aljabar ™ faktorisasi bentuk aljabar
™ pembagian bentuk aljabar
Sumber: Dok. Penerbit
4
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Tulislah setiap kalimat
berikut dengan menggu-
nakan variabel sebagai
pengganti bilangan yang
belum diketahui nilainya.
a. Jumlah dua bilangan
ganjil berurutan adalah
20.
b. Suatu bilangan jika
dikalikan 5 kemudian
dikurangi 3, hasilnya
adalah 12.
Penyelesaian:
a. Misalkan bilangan tersebut x dan x + 2, berarti
x + x + 2 = 20.
b. Misalkan bilangan tersebut x, berarti 5x – 3 = 12.
A. PENGERTIAN KOEFISIEN, V ARIABEL,
KONSTANTA, DAN SUKU
Di kelas VII kalian telah mempelajari mengenai bentuk-
bentuk aljabar. Coba kalian ingat kembali materi tersebut, agar
kalian dapat memahami bab ini dengan baik. Selain itu, kalian juga
harus menguasai materi tentang KPK dari dua bilangan atau lebih
dan sifat-sifat operasi hitung pada bilangan bulat. Perhatikan uraian
berikut.
Bonar dan Cut Mimi membeli alat-alat tulis di koperasi sekolah.
Mereka membeli 5 buku tulis, 2 pensil, dan 3 bolpoin. Jika buku
tulis dinyatakan dengan x, pensil dengan y, dan bolpoin dengan z
maka Bonar dan Cut Mimi membeli 5x + 2y + 3z.
Selanjutnya, bentuk-bentuk 5x + 2y + 3z, 2x
2
, 4xy
2
, 5x
2
– 1,
dan (x – 1) (x + 3) disebut bentuk-bentuk aljabar. Sebelum
mempelajari faktorisasi suku aljabar, marilah kita ingat kembali
istilah-istilah yang terdapat pada bentuk aljabar.
1. Variabel
Variabel adalah lambang pengganti suatu bilangan yang belum
diketahui nilainya dengan jelas. Variabel disebut juga peubah.
Variabel biasanya dilambangkan dengan huruf kecil a, b, c, ... z.
(Berpikir kritis)
Tentukan variabel
pada bentuk aljabar
berikut.
1. 2x – 4 = 0
2. –x
2
+ y + xy – 1 = 4
3. (3x – 1) (–x + 2) = 0
4. (a – b) (a + b) = 0
5
Faktorisasi Suku Aljabar
Tentukan konstanta pada
bentuk aljabar berikut.
a. 2x
2
+ 3xy + 7x – y – 8
b. 3 – 4x
2
– x
Penyelesaian:
a. Konstanta adalah suku yang tidak memuat variabel,
sehingga konstanta dari 2x
2
+ 3xy + 7x – y – 8
adalah –8.
b. Konstanta dari 3 – 4x
2
– x adalah 3.
3. Koefisien
Koefisien pada bentuk aljabar adalah faktor konstanta dari
suatu suku pada bentuk aljabar.
Tentukan koefisien x pada
bentuk aljabar berikut.
a. 5x
2
y + 3x
b. 2x
2
+ 6x – 3
Penyelesaian:
a. Koefisien x dari 5x
2
y + 3x adalah 3.
b. Koefisien x dari 2x
2
+ 6x – 3 adalah 6.
4. Suku
Suku adalah variabel beserta koefisiennya atau konstanta
pada bentuk aljabar yang dipisahkan oleh operasi jumlah atau selisih.
a. Suku satu adalah bentuk aljabar yang tidak dihubungkan oleh
operasi jumlah atau selisih.
Contoh: 3x, 4a
2
, –2ab, ...
b. Suku dua adalah bentuk aljabar yang dihubungkan oleh satu
operasi jumlah atau selisih.
Contoh: a
2
+ 2, x + 2y, 3x
2
– 5x, ...
c. Suku tiga adalah bentuk aljabar yang dihubungkan oleh dua
operasi jumlah atau selisih.
Contoh: 3x
2
+ 4x – 5, 2x + 2y – xy, ...
Bentuk aljabar yang mempunyai lebih dari dua suku disebut suku
banyak atau polinom.
Nanti, di tingkat yang lebih lanjut kalian akan mempelajari mengenai
suku banyak atau polinom.
2. Konstanta
Suku dari suatu bentuk aljabar yang berupa bilangan dan tidak
memuat variabel disebut konstanta.
(Berpikir kritis)
Sebuah segitiga pan-
jang alasnya sama de-
ngan setengah kali
tingginya. Tuliskan luas
dan keliling segitiga
tersebut dalam bentuk
aljabar.
6
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Tentukan koefisien-koefisien dari setiap
variabel pada bentuk aljabar berikut.
a. 2x
2
– 4y
b. a
2
+ 3ab – b
2
+ 1
c. 4x + 2xy + y
2
d. 2x – 3
e. p
3
– p
2
q + 4pq
2
– 5q
3
+ 5
2. Tentukan konstanta pada setiap bentuk
aljabar berikut.
a. 3x
2
– 4x – 5
b. xy – 2x + y + 1
c. 2x + 4
d. (x + 3)
2
e. 2 + x – 5x
2
3. Manakah dari bentuk-bentuk aljabar
berikut yang merupakan suku satu, suku
dua, dan suku tiga?
a. 3x + 2
b.
2 5
4x
x x
¸ ¸
-
(
¸ ,
dengan x
÷
0
c. x
2
– x
d. a
2
– b
2
+ (2a
2
– 4b + 1)
e. 1 + 2y + x + 5x
2
– 3xy
4. Termasuk suku berapakah bentuk aljabar
berikut ini?
a. 2 + 3x + ax
2
+ 5x
4
+ 6x
5
b. pqr – 1
c. (a + b) + (a – b) + (2a – b) + (a + 2b)
d. 2a × 3b + c (dengan c = ab)
e. 5p : q (dengan q =
1
p
dan p
÷
0)
5. Tulislah setiap kalimat berikut dengan
menggunakan variabel x.
a. Umur Made dan umur Putri berseli-
sih lima tahun dan berjumlah tiga belas
tahun.
b. Suatu bilangan jika dikalikan dua
kemudian ditambah tiga, dan
dikuadratkan menghasilkan bilangan
225.
c. Sepuluh kurangnya dari luas suatu
persegi adalah 111 cm
2
.
d. Sebuah pecahan jika penyebutnya
ditambah tiga dan pembilangnya
dikurangi empat sama dengan
1
7
-
.
e. Umur Mira tiga puluh tahun yang lalu
adalah
1
4
umurnya sekarang.
B. OPERASI HITUNG PADA BENTUK ALJABAR
1. Penjumlahan dan Pengurangan
Perhatikan uraian berikut ini.
Ujang memiliki 15 kelereng merah dan 9 kelereng putih. Jika
kelereng merah dinyatakan dengan x dan kelereng putih dinyatakan
dengan y maka banyaknya kelereng Ujang adalah 15x + 9y.
7
Faktorisasi Suku Aljabar
Selanjutnya, jika Ujang diberi kakaknya 7 kelereng merah dan 3
kelereng putih maka banyaknya kelereng Ujang sekarang adalah
22x + 12y. Hasil ini diperoleh dari (15x + 9y) + (7x + 3y).
Amatilah bentuk aljabar 3x
2
– 2x + 3y + x
2
+ 5x + 10. Suku-
suku 3x
2
dan x
2
disebut suku-suku sejenis, demikian juga suku-
suku –2x dan 5x. Adapun suku-suku –2x dan 3y merupakan suku-
suku tidak sejenis.
Suku-suku sejenis adalah suku yang memiliki variabel
dan pangkat dari masing-masing variabel yang sama.
Pemahaman mengenai suku-suku sejenis dan suku-suku tidak
sejenis sangat bermanfaat dalam menyelesaikan operasi
penjumlahan dan pengurangan dari bentuk aljabar. Operasi
penjumlahan dan pengurangan pada bentuk aljabar dapat
diselesaikan dengan memanfaatkan sifat komutatif, asosiatif, dan
distributif dengan memerhatikan suku-suku yang sejenis. Coba
kalian ingat kembali sifat-sifat yang berlaku pada penjumlahan dan
pengurangan bilangan bulat. Sifat-sifat tersebut berlaku pada
penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar.
1. Tentukan hasil penjum-
lahan 3x
2
– 2x + 5
dengan x
2
+ 4x – 3.
Penyelesaian:
(3x
2
– 2x + 5) + (x
2
+ 4x – 3)
= 3x
2
– 2x + 5 + x
2
+ 4x – 3
= 3x
2
+ x
2
– 2x + 4x + 5 – 3 ÷ kelompokkan suku-
suku sejenis
= (3 + 1)x
2
+ (–2 + 4)x + (5 – 3) ÷ sifat distributif
= 4x
2
+ 2x + 2
2. Tentukan hasil pengu-
rangan 4y
2
– 3y + 2
dari 2(5y
2
– 3).
Penyelesaian:
2(5y
2
– 3) – (4y
2
– 3y + 2)
= 10y
2
– 6 – 4y
2
+ 3y – 2
= (10 – 4)y
2
+ 3y + (–6 – 2)
= 6y
2
+ 3y – 8
(Berpikir kritis)
Coba ingat kembali
mengenai sifat
komutatif, asosiatif,
dan distributif pada
bilangan bulat.
Eksplorasilah
penggunaan sifat-sifat
tersebut pada bentuk
aljabar.
Diskusikan hal ini
dengan teman
sebangkumu.
8
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
1. Tentukan koefisien dari x dan y
2
pada
bentuk aljabar berikut.
a. 3x + 5y
2
– 4x + (–2y
2
) – 7
b. 2y
2
– x + 4 – y
2
+ 3x – 5
c. 6x – 4y
2
+ z – 2x + y
2
– 3z
d. 3(x – y
2
+ 2) – 5(2x + 3y
2
– 2)
2. Sederhanakan bentuk-bentuk aljabar
berikut.
a. (2x + 8) + (4x – 5 – 5y)
b. (3p + q) + (–2p – 5q + 7)
c. (3x
2
+ 2x – 1) + (x
2
– 5x + 6)
d. 2(x + 2y – xy) + 5(2x – 3y + 5xy)
3. Sederhanakan bentuk-bentuk aljabar
berikut.
a. (2x + 5) – (x – 3)
b. (x
2
+ 4x – 1) – (2x
2
+ 4x)
c. (y
2
– 3) – (4y
2
+ 5y + 6)
d. (5a – 6 + ab) – (a + 2ab – 1)
4. Sederhanakan bentuk-bentuk aljabar
berikut.
a. a
2
+ 2ab – 3b
2
– 7a
2
– 5ab
b. x
2
– x – 6 + 3x
2
– xy
c. 3p
3
– 2pq
2
+ p
2
q – 7p
3
+ 2p
2
q
d. –2(p
3
– 2pq + q
2
) + 3(p
3
+ 4pq –
q
2
)
2. Perkalian
a. Perkalian suatu b ilangan dengan bentuk aljabar
Coba kalian ingat kembali sifat distributif pada bilangan bulat.
Jika a, b, dan c bilangan bulat maka berlaku a(b + c) = ab + ac.
Sifat distributif ini dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan operasi
perkalian pada bentuk aljabar.
Perkalian suku dua (ax + b) dengan skalar/bilangan k
dinyatakan sebagai berikut.
k(ax + b) = kax + kb
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Jabarkan bentuk per-
kalian berikut.
a. 2(3x – y)
b. 8(–x
2
+ 3x)
Penyelesaian:
a. 2(3x – y) = 2 × 3x + 2 × (–y)
= 6x – 2y
b. 8(–x
2
+ 3x) = –8x
2
+ 24x
2. Selesaikan bentuk per-
kalian berikut.
a. 2(–6x)
Penyelesaian:
a. 2(–6x) = 2 × (–6) × x
= –12x
9
Faktorisasi Suku Aljabar
b.
1
12
3
a
¸ ¸
-
(
¸ ,
c. (–4x)(–2y)
d. (3a)(–3a)
b. Perkalian antara bentuk aljabar dan bentuk aljabar
Telah kalian pelajari bahwa perkalian antara bilangan skalar
k dengan suku dua (ax + b ) adalah k (ax + b) = kax + kb.
Dengan memanfaatkan sifat distributif pula, perkalian antara bentuk
aljabar suku dua (ax + b ) dengan suku dua (ax + d ) diperoleh
sebagai berikut.
(ax + b) (cx + d) = ax(cx + d) + b(cx + d)
= ax(cx) + ax (d) + b (cx) + bd
= acx
2
+ (ad + bc )x + bd
Sifat distributif dapat pula digunakan pada perkalian suku dua dan
suku tiga.
b.
1
12
3
a
¸ ¸
-
(
¸ ,
=
1
12
3
¸ ¸
× - ×
(
¸ ,
a
= –4a
c. (–4x)(–2y) = (–4) × (–2) × xy
= 8xy
d. (3a)(–3a) = 3 × (–3) × a
2
= –9a
2
Panjang sisi miring
sebuah segitiga siku-
siku adalah
(5x – 3) cm, sedang-
kan panjang sisi siku-
sikunya (3x + 3) cm
dan (4x – 8) cm.
Tentukan keliling dan
luas segitiga tersebut
dalam bentuk aljabar .
(ax + b) (cx
2
+ dx + e) = ax(cx
2
) + ax(dx) + ax(e) + b(cx
2
) + b(dx) + b(e)
= acx
3
+ adx
2
+ aex + bcx
2
+ bdx + be
= acx
3
+ (ad + bc)x
2
+ (ae + bd)x + be
Selanjutnya, kita akan membahas mengenai hasil perkalian
(ax + b ) (ax + b ), (ax + b)(ax – b ), (ax – b)(ax – b ), dan
(ax
2
+ bx + c)
2
. Pelajari uraian berikut ini.
a.
( ) ( )( )
( ) ( )
( ) ( ) ( )
2
2
2 2 2
2 2 2
2
ax b ax b ax b
ax ax b b ax b
ax ax ax b b ax b
a x abx abx b
a x abx b
- · - -
· - - -
· - - -
· - - -
· - -
b.
( )( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( ) ( )
2 2 2
2 2 2
ax b ax b ax ax b b ax b
ax ax ax b b ax b b
a x abx abx b
a x b
- - · - - -
· - - - - -
· - - -
· -
(Berpikir kritis)
Dengan memanfaat-
kan sifat distributif,
tentukan hasil perkali-
an dari bentuk aljabar
(ax
2
+ bx + c)
2
.
Diskusikan dengan
temanmu.
10
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
c.
( ) ( )( )
( ) ( )( )
( ) ( ) ( )( ) ( )( )
2
2 2 2
2 2 2
2
ax b ax b ax b
ax ax b b ax b
ax ax ax b b ax b b
a x abx abx b
a x abx b
- · - -
· - - - -
· - - - - - - -
· - - -
· - -
Tentukan hasil perkalian
bentuk aljabar berikut.
1. (x + 2) (x + 3)
2. (2x + 3) (x
2
+ 2x – 5)
Penyelesaian:
1. Cara (i) dengan sifat distributif
(x + 2) (x + 3) = x(x + 3) + 2(x + 3)
= x
2
+ 3x + 2x + 6
= x
2
+ 5x + 6
Cara (ii) dengan skema
(x + 2) (x + 3) = x
2
+ 3x + 2x + 6
= x
2
+ 5x + 6
Cara (iii) dengan peragaan mencari luas persegi panjang
dengan p = x + 3 dan l = x + 2 seperti ditunjukkan pada
Gambar 1.1.
(x + 2) (x + 3) = x
2
+ 3x + 2x + 6
= x
2
+ 5x + 6
2. Cara (i) dengan sifat distributif
(2x + 3) (x
2
+ 2x – 5)
= 2x(x
2
+ 2x – 5) + 3(x
2
+ 2x – 5)
= 2x
3
+ 4x
2
– 10x + 3x
2
+ 6x – 15
= 2x
3
+ 4x
2
+ 3x
2
– 10x + 6x – 15
= 2x
3
+ 7x
2
– 4x – 15
3
x
x
2
( + 2) ( + 3) x x
(a)
3
x
2
(b)
x 2
x 3
6
x
x
2
=
Gambar 1.1
(Berpikir kritis)
Dengan mengguna-
kan skema, coba ja-
barkan bentuk aljabar
(ax + by) (ax + by + z).
11
Faktorisasi Suku Aljabar
Cara (ii) dengan skema
(2x + 3) (x
2
+ 2x – 5)
= 2x
3
+ 4x
2
– 10x + 3x
2
+ 6x – 15
= 2x
3
+ 4x
2
+ 3x
2
– 10x + 6x – 15
= 2x
3
+ 7x
2
– 4x – 15
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Tentukan hasil perkalian bentuk aljabar
berikut.
a. 2(x + 4) e. 4a
2
(–a + 2b)
b. –3(a – 2b) f. 2xy(x – 4)
c. 5(3x + 2y) g. –p
2
(p
2
– 3p)
d. –2a(a + 4b) h.
1
2
(4x – 6y)
2. Jabarkan bentuk perkalian berikut de-
ngan menggunakan sifat distributif.
a. (2x – 3) (x + 5)
b. (3x – y) (x + y)
c. (5m – 1) (m + 4)
d. (2p + q) (p – 4q)
e. (a – 4) (2a + 3)
f. (a + 3b) (2a – 4b)
g. (–3 – p) (5 + p)
h. (5 + a) (7 – a)
3. Jabarkan bentuk perkalian berikut de-
ngan menggunakan skema, kemudian
sederhanakan.
a. (2x + 3) (x – 4)
b. (a + 3b) (a – 5b)
c. (5m – 1) (2m + 4)
d. (a – 3) (a
2
+ 4a + 5)
e. (x + y) (3x
2
+ xy + 2y
2
)
f. (3k – 5) (k
2
+ 2k – 6)
g. (a + ab + b) (a – b)
h. (x
2
+ 3x – 5) (x
2
– 2x – 1)
4. Tentukan hasil perkalian berikut.
a. ab(a + 2b – c)
b. 5xy(x – 3y + 5)
c. 2xy(x – 3y)
d. 5a(3ab – 2ac)
e. 3y(4xy – 4yz)
3. Perpangkatan Bentuk Aljabar
Coba kalian ingat kembali operasi perpangkatan pada bilangan
bulat. Operasi perpangkatan diartikan sebagai operasi perkalian
berulang dengan unsur yang sama. Untuk sebarang bilangan bulat
a, berlaku
...
n
sebanyak n kali
a a a a a · × × × ×

Sekarang kalian akan mempelajari operasi perpangkatan pada
bentuk aljabar.
12
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
(a + b)
1
= a + b
koefisien a dan b adalah 1 1
(a + b)
2
= (a + b) (a + b)
= a
2
+ ab + ab + b
2
= a
2
+ 2ab + b
2
koefisien a
2
, ab, dan b
2
adalah 1 2 1
(a + b)
3
= (a + b) (a + b)
2
= (a + b) (a
2
+ 2ab + b
2
)
= a
3
+ 2a
2
b + ab
2
+ a
2
b + 2ab
2
+ b
3
= a
3
+ 3a
2
b + 3ab
2
+ b
3
koefisien a
3
, a
2
b, ab
2
dan b
3
adalah 1 3 3 1
(a + b)
4
= (a + b)
2
(a + b)
2
= (a
2
+ 2ab + b
2
) (a
2
+ 2ab + b
2
)
= a
4
+ 2a
3
b + a
2
b
2
+ 2a
3
b + 4a
2
b
2
+ 2ab
3
+ a
2
b
2
+ 2ab
3
+ b
4
= a
4
+ 4a
3
b + 6a
2
b
2
+ 4ab
3
+ b
4
koefisien a
4
, a
3
b, a
2
b
2
, ab
3
, dan b
4
adalah 1 4 6 4 1
Pada perpangkatan bentuk aljabar suku satu, perlu diperhati-
kan perbedaan antara 3x
2
, (3x)
2
, –(3x)
2
, dan (–3x)
2
sebagai berikut.
a. 3x
2
= 3 × x × x
= 3x
2
b. (3x)
2
= (3x) × (3x)
= 9x
2
c. –(3x)
2
= –((3x) × (3x))
= –9x
2
d. (–3x)
2
= (–3x) × (–3x)
= 9x
2
Untuk menentukan perpangkatan pada bentuk aljabar suku
dua, perhatikan uraian berikut.
Demikian seterusnya untuk (a + b)
n
dengan n bilangan asli.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan koefisien-koefisien
(a + b)
n
membentuk barisan segitiga Pascal seperti berikut.
13
Faktorisasi Suku Aljabar
(a + b)
0
÷ 1
(a + b)
1
÷ 1 1
(a + b)
2
÷ 1 2 1
(a + b)
3
÷ 1 3 3 1
(a + b)
4
÷ 1 4 6 4 1
(a + b)
5
÷ 1 5 10 10 5 1
(a + b)
6
÷ 1 6 15 20 15 6 1
(a + b)
7
÷ ................
Pangkat dari a (unsur pertama) pada (a + b)
n
dimulai dari a
n
kemudian berkurang satu demi satu dan terakhir a
1
pada suku
ke-n. Sebaliknya, pangkat dari b (unsur kedua) dimulai dengan b
1
pada suku ke-2 lalu bertambah satu demi satu dan terakhir b
n
pada suku ke-(n + 1).
Perhatikan contoh berikut.
(a + b)
5
= a
5
+ 5a
4
b + 10a
3
b
2
+ 10a
2
b
3
+ 5ab
4
+ b
5
(a + b)
6
= a
6
+ 6a
5
b + 15a
4
b
2
+ 20a
3
b
3
+ 15a
2
b
4
+ 6ab
5
+ b
6
Tentukan hasil perpangkat-
an bentuk aljabar berikut.
a. (2x + 3)
4
b. (x + 4y)
3
Penyelesaian:
a. (2x + 3)
4
= 1(2x)
4
+ 4(2x)
3
(3) + 6(2x)
2
(3
2
) + 4(2x)
1
(3
3
) + 1(3
4
)
= 1(16x
4
) + 4(8x
3
)(3) + 6(4x
2
)(9) + 4(2x)(27) + 1(81)
= 16x
4
+ 96x
3
+ 216x
2
+ 216x + 81
b. (x + 4y)
3
= 1(x
3
) + 3(x
2
)(4y)
1
+ 3x (4y)
2
+ 1(4y)
3
= 1x
3
+ 3x
2
(4y) + 3x(16y
2
) + 1(64y
3
)
= x
3
+ 12x
2
y + 48xy
2
+ 64y
3
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Tentukan hasil perpangkatan bentuk
aljabar berikut.
a. (5a)
3
c. (–3x)
3
b. (2xy)
2
d. (4p
2
q)
2
(Berpikir kritis)
Berdasarkan konsep
segitiga Pascal, coba
jabarkan bentuk
aljabar (a + b)
n
untuk
7 s n s 10.
Bandingkan hasilnya
dengan teman
sebangkumu. Apakah
jawabanmu sudah
tepat?
14
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
e. (–5xy
3
)
4
g. –(3pq)
4
f. –(2abc)
3
h. a(ab
2
)
3
2. Jabarkan perpangkatan bentuk aljabar
berikut.
a. (x + 4)
3
e. (3m – 2n)
4
b. (a – 5)
4
f. (4a – 3b)
3
c. (2x + y)
3
g. (2y
2
+ y)
3
d. (3p + q)
4
h. (3a – 2)
5
3. Tentukan koefisien (a + b)
n
pada suku
yang diberikan.
a. Suku ke-3 pada (3a + 4)
4
.
b. Suku ke-2 pada (x + 3y)
3
.
c. Suku ke-2 pada (a – 2b)
4
.
d. Suku ke-4 pada (–2x + 5y)
5
.
e. Suku ke-5 pada (2m – 3)
5
.
4. Jabarkan bentuk aljabar berikut,
kemudian sederhanakan.
a. (2x – 1)
2
b. (3 + 5x)
2
c. (2x + y)
2
+ (x + 2y + 1)
d. (3x + 1)
2
– (3x – 1)
2
e. (3x + 2)
2
+ (2x + 1)(1 – 2x)
4. Pembagian
Kalian telah mempelajari penjumlahan, pengurangan,
perkalian, dan perpangkatan pada bentuk aljabar. Sekarang kalian
akan mempelajari pembagian pada bentuk aljabar.
Telah kalian pelajari bahwa jika suatu bilangan a dapat diubah
menjadi a = p × q dengan a, p, q bilangan bulat maka p dan q
disebut faktor-faktor dari a. Hal tersebut berlaku pula pada bentuk
aljabar.
Perhatikan uraian berikut.
2 2 2 2
3 2 3 2
2 2 · × × ×
· × ×
x yz x y z
x y z x y z
Pada bentuk aljabar di atas, 2, x
2
, y, dan z
2
adalah faktor-
faktor dari 2x
2
yz
2
, sedangkan x
3
, y
2
, dan z adalah faktor-faktor
dari bentuk aljabar x
3
y
2
z.
Faktor sekutu (faktor yang sama) dari 2x
2
yz
2
dan x
3
y
2
z adalah
x
2
, y, dan z, sehingga diperoleh
2
2 2
3 2
2
·
x yz
x yz
x y z
( )
2
2z
x yz
( )
2
·
xy
z
xy
Berdasarkan uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa jika
dua bentuk aljabar memiliki faktor sekutu yang sama maka hasil
bagi kedua bentuk aljabar tersebut dapat ditulis dalam bentuk yang
lebih sederhana. Dengan demikian, pada operasi pembagian bentuk
aljabar kalian harus menentukan terlebih dahulu faktor sekutu
kedua bentuk aljabar tersebut, kemudian baru dilakukan pembagian.
15
Faktorisasi Suku Aljabar
Sederhanakan bentuk
aljabar berikut.
1. 5xy : 2x
2. 6x
3
: 3x
2
3. 8a
2
b
3
: 2ab
4. (p
2
q × pq) : p
2
q
2
Penyelesaian:
1.
5 5 5
5 : 2
2 2 2
×
· · · ÷
×
xy y x
xy x y faktor sekutu x
x x
2.
3 2
3 2 2
2 2
6 3 2
6 : 3 2 3
3 3
x x x
x x x faktor sekutu x
x x
×
· · · ÷
3.
2 3 2
2 3
2
8 2 4
8 : 2
2 2
4 2
a b ab ab
a b ab
ab ab
ab faktor sekutu ab
×
· ·
· ÷
4. ( )
2 3 2
2 2 2
2 2 2 2
2 2
2 2
:
×
× · ·
×
· ·
p q pq p q
p q pq p q
p q p q
p q p
p
p q
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
Sederhanakan bentuk aljabar berikut.
1. 6xy : 2y
2. 10a
2
b
4
c
3
: 2abc
3. p
4
q
6
r
5
: pq
2
r
3
4. 6x
3
y
7
: 2xy : 3y
5. 18a
3
b
5
c
6
: 2ab
2
: 3a
2
c
2
C. PEMFAKTORAN BENTUK ALJABAR
Di kelas VII kalian telah mempelajari materi mengenai KPK
dan FPB. Pada materi tersebut kalian telah mempelajari cara
menentukan kelipatan dan faktor dari suatu bilangan. Coba ingat
kembali cara menentukan faktor dari suatu bilangan. Perhatikan
uraian berikut.
48 = 1 × 48
= 2
4
× 3
Bilangan 1, 2
4
, 3, dan 48 adalah faktor-faktor dari 48.
6. 20a
4
b
5
c
7
: (4a
2
b
2
c
3
: 2abc)
7. 21p
4
q
5
r
3
: (8p
2
qr
3
: 2pqr)
8. 3x
2
y × 2yz
2
: xyz
9. 30x
6
y
9
: (5x
4
y
2
× 2xy
3
)
10. 32x
4
yz
6
: 2xyz × 4xy
2
z
3
16
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Bilangan 2 dan 3 adalah faktor prima dari 48.
Jadi, bentuk perkalian 2
4
× 3 merupakan faktorisasi prima
dari 48.
Ingat kembali bahwa faktorisasi prima dari suatu bilangan
adalah perkalian faktor-faktor prima dari bilangan tersebut.
Di bagian depan telah kalian pelajari bahwa sifat distributif
a(x + y) dapat dinyatakan sebagai berikut.
ax ay a x y + = ( + )
bentuk
penjumlahan
bentuk
perkalian
dengan , , dan adalah
bilangan real.
a x y
Dari bentuk di atas, tampak bahwa bentuk penjumlahan dapat
dinyatakan sebagai bentuk perkalian jika suku-suku dalam bentuk
penjumlahan tersebut memiliki faktor yang sama. Dari bentuk
ax + ay = a(x + y), a dan (x + y) merupakan faktor-faktor dari
ax + ay.
Proses menyatakan bentuk penjumlahan menjadi suatu bentuk
perkalian faktor-faktornya disebut pemfaktoran atau faktorisasi.
Pemfaktoran atau faktorisasi bentuk aljabar adalah
menyatakan bentuk penjumlahan menjadi suatu bentuk perkalian
dari bentuk aljabar tersebut.
Sekarang, kalian akan mempelajari faktorisasi dari beberapa
bentuk aljabar. Perhatikan uraian berikut.
1. Bentuk ax + ay + az + ... dan ax + bx – cx
Bentuk aljabar yang terdiri atas dua suku atau lebih dan
memiliki faktor sekutu dapat difaktorkan dengan menggunakan
sifat distributif.
ax + ay + az + ... = a(x + y + z + ...)
ax + bx – cx = x(a + b – c)
Faktorkanlah bentuk-ben-
tuk aljabar berikut.
a. 2x + 2y
b. x
2
+ 3x
c. a
2
+ ab
d. pq
2
r
3
+ 2p
2
qr + 3pqr
Penyelesaian:
a. 2x + 2y memiliki faktor sekutu 2, sehingga
2x + 2y = 2(x + y).
b. x
2
+ 3x memiliki faktor sekutu x, sehingga
x
2
+ 3x = x(x + 3).
c. a
2
+ ab memiliki faktor sekutu a, sehingga
a
2
+ ab = a(a + b).
17
Faktorisasi Suku Aljabar
Faktorkanlah bentuk alja-
bar berikut.
a. x
2
– 4
b. a
2
– 9b
2
c. 4p
2
– 36
d. 9x
2
– 25y
2
Penyelesaian:
a. x
2
– 4 = x
2
– 2
2
= (x – 2) (x + 2)
b. a
2
– 9b
2
= a
2
– (3b)
2
= (a – 3b) (a + 3b)
c. 4p
2
– 36 = (2p)
2
– 6
2
= (2p – 6) (2p + 6)
d. 9x
2
– 25y
2
= (3x)
2
– (5y)
2
= (3x – 5y) (3x + 5y)
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
Faktorkanlah bentuk-bentuk aljabar berikut.
1. 3x – 3y 6. 3p
2
– 12 11. x
2
– 25 16. 64a
2
– 9
2. 2x + 6 7. ab + bc 12. 9m
2
– 16 17. 8a
2
– 2b
2
3. x
3
+ xy
2
8. 8pq + 24pqr 13. 1 – x
2
18. 25p
2
– 16q
2
4. ap
2
+ 2ap 9. x
4
– 3x
2
+ x 14. 49 – p
2
19. 36x
2
– 81y
2
5. 4x
2
y – 6xy
3
10. 15x
2
– 18xy + 9xz 15. 9x
2
– 16 20. 81p
2
– 100q
2
d. pq
2
r
3
+ 2p
2
qr + 3pqr memiliki faktor sekutu pqr,
sehingga
pq
2
r
3
+ 2p
2
qr + 3pqr = pqr(qr
2
+ 2p + 3).
2. Bentuk Selisih D ua Kuadrat x
2
– y
2
Bentuk aljabar yang terdiri atas dua suku dan merupakan
selisih dua kuadrat dapat dijabarkan sebagai berikut.
( )
( ) ( )
( ) ( )
( )( )
2 2 2 2
2 2
- · - - -
· - - -
· - - -
· - -
x y x xy xy y
x xy xy y
x x y y x y
x y x y
Dengan demikian, bentuk selisih dua kuadrat x
2
– y
2
dapat
dinyatakan sebagai berikut.
( )( )
2 2
- · - - x y x y x y
18
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
3. Bentuk x
2
+ 2 xy + y
2
dan x
2
– 2 xy + y
2
Untuk memfaktorkan bentuk aljabar x
2
+ 2xy + y
2
dan
x
2
– 2xy + y
2
perhatikan uraian berikut.
a.
( ) ( )
( ) ( )
( )( )
( )
2 2 2 2
2 2
2
2 - - · - - -
· - - -
· - - -
· - -
· -
x xy y x xy xy y
x xy xy y
x x y y x y
x y x y
x y
b.
( ) ( )
( ) ( )
( )( )
( )
2 2 2 2
2 2
2
2 - - · - - -
· - - -
· - - -
· - -
· -
x xy y x xy xy y
x xy xy y
x x y y x y
x y x y
x y
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut.
x
2
+ 2xy + y
2
= (x + y) (x + y) = (x + y)
2
x
2
– 2xy + y
2
= (x – y) (x – y) = (x – y)
2
Faktorkanlah bentuk-ben-
tuk berikut.
a. p
2
+ 2pq + q
2
b. x
2
– 4x + 4
Penyelesaian:
a.
( ) ( )
( ) ( )
( )( )
( )
2 2 2 2
2 2
2
2 - - · - - -
· - - -
· - - -
· - -
· -
p pq q p pq pq q
p pq pq q
p p q q p q
p q p q
p q
b.
( ) ( )
( ) ( )
( )( )
( )
2 2
2
2
4 4 2 2 4
2 2 4
2 2 2
2 2
2
- - · - - -
· - - -
· - - -
· - -
· -
x x x x x
x x x
x x x
x x
x
4. Bentuk ax
2
+ bx + c dengan a = 1
Pada pembahasan di depan telah kalian pelajari mengenai
perkalian antara suku dua dan suku dua sebagai berikut.
19
Faktorisasi Suku Aljabar
1. Faktorkanlah bentuk
aljabar berikut.
a. x
2
+ 4x + 3
b. x
2
– 13x + 12
Penyelesaian:
Langkah-langkah memfaktorkan bentuk aljabar x
2
+ bx + c
dengan c positif sebagai berikut.
– Pecah c menjadi perkalian faktor-faktornya.
– Tentukan pasangan bilangan yang berjumlah b.
a. x
2
+ 4x + 3 = (x + 1) (x + 3)
b. x
2
– 13x + 12 = (x – 1) (x – 12)
(x + 2) (x + 3) = x
2
+ 3x + 2x + 6
= x
2
+ 5x + 6 ........... (dihasilkan suku tiga)
Sebaliknya, bentuk suku tiga x
2
+ 5x + 6 apabila difaktorkan
menjadi
x
2
+ 5x + 6 = (x + 2) (x + 3)
È È
5 = 2 + 3 6 = 2 × 3 2 × 3 = 6
2 + 3 = 5
Perhatikan bahwa bentuk aljabar x
2
+ 5x + 6 memenuhi bentuk
x
2
+ bx + c.
Berdasarkan pengerjaan di atas, ternyata untuk memfaktor-
kan bentuk x
2
+ bx + c dilakukan dengan cara mencari dua bilangan
real yang hasil kalinya sama dengan c dan jumlahnya sama dengan
b.
Misalkan x
2
+ bx + c sama dengan (x + m) (x + n).
x
2
+ bx + c = (x + m) (x + n)
= x
2
+ mx + nx + mn
= x
2
+ (m + n)x + mn
x + bx + c = x + m + n x + mn
2 2
( )
x
2
+ bx + c = (x + m) (x + n) dengan m × n = c dan
m + n = b
3 Jumlah
1 3 4
12 Jumlah
1 12 13
2 6 8
3 4 7
20
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Penyelesaian:
Langkah-langkah memfaktorkan bentuk aljabar
x
2
+ bx + c untuk c negatif sebagai berikut.
– Pecah c menjadi perkalian faktor-faktornya.
– Tentukan pasangan bilangan yang selisihnya b.
– Bilangan yang bernilai lebih besar bertanda sama dengan
b, sedangkan bilangan yang bernilai lebih kecil bertanda
sebaliknya.
a. x
2
+ 4x – 12 = (x – 2) (x + 6)
b. x
2
– 15x – 16 = (x + 1) (x – 16)
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
Faktorkanlah bentuk-bentuk aljabar berikut.
1. x
2
– 6x + 8 6. m
2
+ 8m + 16 11. x
2
– 6x + 9 16. t
2
– 3t – 18
2. x
2
+ 9x + 20 7. p
2
– 8p + 12 12. x
2
– 2xy + y
2
17. b
2
– 2b – 8
3. x
2
+ 7x + 12 8. b
2
+ 6b + 9 13. a
2
– 2a – 15 18. p
2
+ 8p – 33
4. p
2
– 5p + 4 9. p
2
– 4p + 4 14. m
2
+ 2m + 1 19. n
2
+ 2n – 8
5. a
2
+ 8a + 12 10. x
2
– 8x + 16 15. a
2
+ 5a – 24 20. y
2
+ 3y – 40
12 Selisih
1 12 11
2 6 4
3 4 1
16 Selisih
1 16 15
2 8 6
4 4 0
5. Bentuk ax
2
+ bx + c dengan a
÷
1, a
÷
0
Kalian telah mempelajari perkalian antara suku dua dengan
suku dua menjadi bentuk penjumlahan seperti berikut.
(3x + 2) (4x + 3) = 12x
2
+ 9x + 8x + 6
= 12x
2
+ 17x + 6
Perhatikan bahwa (9 + 8) = 17 dan 9 × 8 = 12 × 6.
12 × 6 = 72
9 × 8 = 72
9 - 8 = 17
2. Faktorkanlah bentuk
aljabar berikut.
a. x
2
+ 4x – 12
b. x
2
– 15x – 16
21
Faktorisasi Suku Aljabar
Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa bentuk
ax
2
+ bx + c dengan a ÷ 1, a ÷ 0 dapat difaktorkan dengan cara
berikut.
ax
2
+ bx + c = ax
2
+ px + qx + c
dengan p × q = a × c
p + q = b
Selain dengan menggunakan sifat distributif, terdapat rumus
yang dapat digunakan untuk memfaktorkan bentuk aljabar ax
2
+
bx + c dengan a ÷ 1. Perhatikan uraian berikut.
Misalkan ax
2
+ bx + c =
1
a
(ax + m) (ax + n).
ax
2
+ bx + c
( )( )
- -
·
ax m ax n
a
( )
2 2 2
a ax bx c a x amx anx mn = - - · - - -
a x + abx + ac = a x + a m + n x + mn
2
( )
2 2 2
œ
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa m× n = a × c dan
m + n = b.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada dua cara
untuk memfaktorkan bentuk aljabar ax
2
+ bx + c dengan a
÷
1
sebagai berikut.
a. Menggunakan sifat distributif
ax
2
+ bx + c
=
ax
2
+ px + qx + c dengan
p
×
q
=
a
×
c dan
p + q
=
b
b. Menggunakan rumus
ax
2
+ bx + c =
1
a
(ax + m) (ax + n) dengan
m × n
=
a × c dan
m + n
=
b
22
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
ac = 45 Jumlah
1 45 46
3 15 18
5 9 14
Penyelesaian:
a. Memfaktorkan 3x
2
+ 14x + 15.
Langkah-langkah pemfaktoran ax
2
+ bx + c, a
÷
1
untuk c positif sebagai berikut.
– Jabarkan a × c menjadi perkalian faktor-faktornya.
– Tentukan pasangan bilangan yang berjumlah b.
3x
2
+ 14x + 15; a = 3; b = 14; c = 15
Cara 1
Dengan menggunakan sifat distributif
Dua bilangan yang hasil kalinya
ac = 3 × 15 = 45 dan jumlahnya 14
adalah 5 dan 9, sehingga
3x
2
+ 14x + 15 = 3x
2
+ 5x + 9x + 15
= x(3x + 5) + 3(3x + 5)
= (x + 3) (3x + 5)
Cara 2
Dengan menggunakan rumus
3x
2
+ 14x + 15 =
1
3
(3x + 5) (3x + 9)
=
( )( )
1
3 9 3 5
3
- - x x
= ( )( )
1
3 3 3 5
3
× - - x x
= (x + 3) (3x + 5)
Jadi, 3x
2
+ 14x + 15 = (x + 3) (x + 5).
b. Memfaktorkan 8x
2
+ 2x – 3.
Langkah-langkah pemfaktoran ax
2
+ bx + c, a
÷
1
dengan c negatif sebagai berikut.
– Jabarkan a × c menjadi perkalian faktor-faktornya.
– Tentukan pasangan bilangan yang selisihnya b.
– Bilangan yang bernilai lebih besar sama tandanya
dengan b, sedangkan bilangan yang bernilai lebih
kecil bertanda sebaliknya.
Faktorkanlah bentuk-ben-
tuk aljabar berikut.
a. 3x
2
+ 14x + 15
b. 8x
2
+ 2x – 3
23
Faktorisasi Suku Aljabar
Cara 1
Dengan menggunakan sifat distributif
Dua bilangan yang hasil kalinya ac
= 8 × 3 = 24 dan selisihnya 2 adalah
4 dan 6, sehingga
8x
2
+ 2x – 3
= 8x
2
– 4x + 6x – 3
= 4x(2x – 1) + 3(2x – 1)
= (4x + 3) (2x – 1)
Cara 2
Dengan menggunakan rumus
8x
2
+ 2x – 3 =
1
8
(8x – 4) (8x + 6)
=
( )( )
1 1
8 4 8 6
4 2
× - - x x
=
1
4
(8x – 4) ×
1
2
(8x + 6)
= ( ) ( )
1 1
4 2 1 2 4 3
4 2
× - × × - x x
= (2x – 1) (4x + 3)
Jadi, 8x
2
+ 2x – 3 = (2x – 1) (4x + 3).
ac = 24 Selisih
1 24 23
2 12 10
3 8 5
4 6 2
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
Faktorkanlah bentuk-bentuk aljabar berikut .
1. 2x
2
+ 7x + 3 8. 12m
2
– 8m + 1 15. 2y
2
+ 5y – 3
2. 3x
2
+ 18x + 5 9. 10a
2
– 43a + 12 16. 4x
2
– 7xy – 2y
2
3. 2x
2
+ 5x + 3 10. 12x
2
– 34x + 10 17. 6x
2
+ 5xy – 6y
2
4. 3y
2
+ 8y + 4 11. 3p
2
+ 7p – 6 18. 8a
2
+ 2ab – 15b
2
5. 5x
2
+ 13x + 6 12. 8a
2
+ 10a – 3 19. 1 + 3m – 18m
2
6. 3y
2
– 8y + 4 13. 6y
2
– 5y – 6 20. 15 – 7x – 2x
2
7. 8p
2
– 14p + 5 14. 5x
2
+ 23x – 10
24
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Selesaikan operasi penjum-
lahan atau pengurangan
berikut.
1.
2
4 3
3
9
-
-
-
x
x
2.
4 5
3 1
-
- - x x
Sederhanakan bentuk
aljabar
2
2
21 38 5
.
12 29 15
x x
x x
- -
- -
Penyelesaian:
1.
2
2
2
3( 3) 4 3 4
3 ( 3)( 3) ( 3)( 3)
9
4 3 9
9
3 5
9
x
x x x x x
x
x
x
x
x
-
- · -
- - - - -
-
- -
·
-
-
·
-
2.
2
2
4( 1) 5( 3) 4 5
3 1 ( 3)( 1)
4 4 5 15
2 3
19
2 3
- - -
- ·
- - - -
- - -
·
- -
- -
·
- -
x x
x x x x
x x
x x
x
x x
2. Perkalian dan Pembagian Pecahan Aljabar
Perkalian antara dua pecahan dapat dilakukan dengan
mengalikan antara pembilang dengan pembilang dan penyebut
dengan penyebut.
×
× · ·
×
a c a c ac
b d b d bd
Dengan cara yang sama, dapat ditentukan hasil perkalian
antara dua pecahan aljabar. Perhatikan contoh berikut.
D. OPERASI PADA PECAHAN BENTUK
ALJABAR
1. Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan Aljabar
Di kelas VII kalian telah mempelajari operasi penjumlahan
dan pengurangan pada pecahan aljabar dengan penyebut suku satu.
Sama seperti pada pecahan aljabar dengan penyebut suku satu,
pada pecahan aljabar dengan penyebut suku dua dan sama dapat
langsung dijumlah atau dikurangkan pembilangnya.
Adapun pada penjumlahan dan pengurangan pecahan aljabar
dengan penyebut berbeda dapat dilakukan dengan cara
menyamakan penyebutnya terlebih dahulu menjadi kelipatan
persekutuan terkecil (KPK) dari penyebut-penyebutnya.
-
- ·
a c ad bc
b d bd
atau
-
- ·
a c ad bc
b d bd
25
Faktorisasi Suku Aljabar
Selesaikan operasi perkali-
an berikut.
1.
2
25
5 2
-
×
- -
a a
a a
2.
2
3
5 1
-
×
-
x x x
x
Penyelesaian:
1.
2
2
( 5)( 5) 25
5 2 ( 5)( 2)
( 5)
2
5
2
- -
-
× ·
- - - -
-
·
-
-
·
-
a a a a a
a a a a
a a
a
a a
a
2.
2
2
( 1) 3
3
5 1 5( 1)
3
5
- - ×
× ·
- -
·
x x x x x
x
x x
x
Pembagian antara dua pecahan aljabar dilakukan dengan
mengubah bentuk pembagian menjadi bentuk perkalian dengan
cara mengalikan dengan kebalikan pecahan pembagi.
:
×
· × · ·
×
a d
a c a d ad
b d b c b c bc
Selesaikan pembagian pe-
cahan aljabar berikut.
1.
2
4
:
3 4
- m m m
2.
2 2
2
:
- - a b a b
a
a
Penyelesaian:
1.
2
2
4 4
:
3 4 3
4
4
3 ( 4)
4
3( 4)
-
· ×
-
·
-
·
-
m m m m
m m
m
m m
m
2.
2 2 2 2 2
2
2
2
:
( )( )
( )
( )
- - -
· ×
-
- -
·
-
· -
· -
a b a b a b a
a a a b
a
a b a b a
a a b
a b a
a ab
Misalkan
. · x
y
1
Tentukan hasil dari
1 1
. - -
¸ ¸
¸ ¸
(
(
¸ ,
¸ ,
x y
x y
26
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Sederhanakanlah.
a.
1 3
-
a ab
b.
2
3
4
3 4
-
-
- -
x
x
x x
c.
2 3
2 4
-
- - x x
d.
2
12 4
9
81
-
-
-
x
x
e.
1 2
5 3
-
- - x x
f.
2
3 1
5
25
-
-
-
y
y
g.
2
2
2
5
2 9 5
-
-
- -
x x
x
x x
h.
2
2 3
6 6 36
- -
- - -
x y xy
x x x
2. Sederhanakanlah.
a.
4
6 3 2
×
- -
x x
x y x y
b.
2 1
1 1 m m
×
- -
c.
3
2
6 12 36
18 12 18
-
×
-
x y xy
x y x y
d.
3 2
3
2
y
y y
y y
¸ ¸ ¸ ¸
- × - -
( (
-
¸ , ¸ ,
e.
2 2
2 2
2 5 6 4 4 1
4 2 2 1
x x x x
x x x
- - - -
×
- - -
3. Sederhanakan bentuk-bentuk berikut.
a.
2
4 3 4
:
4
x x x
x
- - -
b.
2 2
5
:
13 12 1
a ab
a a a - - -
c.
4 16
9 : 3 5
2 2
x
x x
¸ ¸ ¸ ¸
- - - -
( (
- -
¸ , ¸ ,
d.
2 2
1 :
x xy
x y
x y x y
¸ ¸ ¸ ¸
- - -
( (
- -
¸ , ¸ ,
e.
2 2
2 2
3 17 20 3 12 9
:
2 8 2 3 9
x x x x
x x x x
- - - -
- - - -
3. Menyederhanakan Pecahan Aljabar
Pecahan dikatakan sederhana jika pembilang dan penyebut
pecahan tersebut tidak lagi memiliki faktor persekutuan, kecuali 1.
Dengan kata lain, jika pembilang dan penyebut suatu pecahan
memiliki faktor yang sama kecuali 1 maka pecahan tersebut dapat
disederhanakan. Hal ini juga berlaku pada pecahan bentuk aljabar.
Menyederhanakan pecahan aljabar dapat dilakukan dengan
memfaktorkan pembilang dan penyebutnya terlebih dahulu, kemudi-
an dibagi dengan faktor sekutu dari pembilang dan penyebut
tersebut.
27
Faktorisasi Suku Aljabar
Sederhanakan pecahan-
pecahan aljabar berikut.
1.
2 2
3 2
4
a b ab
ab
-
2.
2
2
3 10
2 11 5
x x
x x
- -
- -
Penyelesaian:
1.
2 2
3 2 (3 2 )
4 4
3 2
4
a b ab ab a b
ab ab
a b
- -
·
-
·
2.
2
2
3 10 ( 2)( 5)
2 11 5 (2 1)( 5)
2
2 1
- - - -
·
- - - -
-
·
-
x x x x
x x x x
x
x
4. Menyederhanakan Pecahan Bersusun (Kompleks)
Pecahan bersusun (kompleks) adalah suatu pecahan yang
pembilang atau penyebutnya atau kedua-duanya masih memuat
pecahan. Untuk menyederhanakan pecahan bersusun, dilakukan
dengan cara mengalikan pembilang dan penyebutnya dengan KPK
dari penyebut pecahan pada pembilang dan penyebut pecahan pada
penyebut pecahan bersusun.
Sederhanakan pecahan-
pecahan berikut.
1.
1 1
1
a b
a
b
-
-
2.
2 2
y x
y x
x y
-
-
Penyelesaian:
1.
1 1
1 1
1
( 1)
b a
a b ab
ab
a
b b
a b b
ab ab
a b
a ab
-
-
·
-
-
-
· ×
-
-
·
-
2.
2 2
2 2 2 2
2 2
2 2
1
1
x y x y
y x xy
x y x y
x y
xy x y
xy
-
-
·
- -
-
· ×
-
·
28
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Sederhanakan pecahan-pecahan
berikut.
a.
( )
2
2
64 49
8 7
-
-
x
x
b.
( )
2 2 2
2
b a x
ax b
-
-
c.
2 2
12 6
6
pqr p qr
pqr
-
d.
2
2
5 6
6 8
- -
- -
x x
x x
e.
( ) ( )
2
2 2
1
1
x
xy x y
-
- - -
2. Sederhanakan pecahan bersusun ber-
ikut.
a.
1 1
1 1
x y
x y
-
-
b.
2
4
a
b
a
b
-
-
c.
2
2
4
3
2
x
x
x
-
-
-
d.
1
1
1
1
2 1
2
2 1
x
x
-
-
-
-
-
e.
1
x y x y
x y x y
x y
x y
- -
-
- -
-
-
-
1. Suku-suku sejenis adalah suku yang memiliki variabel dan
pangkat dari masing-masing variabel yang sama.
2. Operasi penjumlahan dan pengurangan pada bentuk aljabar
dapat diselesaikan dengan memanfaatkan sifat komutatif,
asosiatif, dan distributif dengan memerhatikan suku-suku yang
sejenis.
3. Pemfaktoran atau faktorisasi bentuk aljabar adalah menya-
takan bentuk penjumlahan menjadi suatu bentuk perkalian dari
bentuk aljabar tersebut.
4. Untuk menyederhanakan pecahan aljabar dapat dilakukan
dengan memfaktorkan pembilang dan penyebutnya terlebih
dahulu, kemudian dibagi dengan faktor sekutu dari pembilang
dan penyebut tersebut.
29
Faktorisasi Suku Aljabar
Setelah mempelajari bab ini, bagaimana pemahaman kalian
mengenai Faktorisasi Suku Aljabar ? Jika kalian sudah paham,
coba rangkum kembali materi tersebut dengan kata-katamu sendiri.
Jika ada materi yang belum kamu pahami, catat dan tanyakan
kepada gurumu. Catat pula manfaat apa saja yang dapat kalian
peroleh dari materi ini. Buatlah dalam sebuah laporan dan serahkan
kepada gurumu.
Kerjakan di buku tugasmu.
A. Pilihlah salah satu jawaban yang tepat.
1. Pada bentuk aljabar 2x
2
+ 3xy – y
2
terdapat ... variabel.
a. 1 c. 3
b. 2 d. 4
2. Suku dua terdapat pada bentuk aljabar
....
a. 2x
2
+ 4x – 2
b. 3x
2
– y
2
+ xy – 5
c. 4x
2
– y
2
d. 2x
2
3. Hasil pengurangan a
2
– 2a dari
2 – 3a
2
adalah ....
a. –4a + 2a + 2 c. 2a
2
+ 2a – 2
b. 4a
2
– 2a – 2 d. a
2
– 2a + 2
4. Hasil dari (x – y) (2x + 3y) adalah ....
a. 2x
2
– 5xy – 3y
2
c. x
2
– 5xy – y
2
b. 2x
2
+ xy – 3y
2
d. x
2
+ xy – y
2
5. Bentuk sederhana dari
2(x – 3y + xy) – 2xy + 3x adalah ....
a. 4x – xy – 3y c. 4x – 6y + xy
b. 5x – xy – 4y d. 5x – 6y
6. Diketahui A ABC siku-siku di C,
dengan AC = (x – 7) cm, BC = (x –
14) cm, dan AB = x cm. Panjang sisi
AC adalah ....
a. 21 cm c. 28 cm
b. 25 cm d. 35 cm
7.
5 2
2 5
x x
x x
- -
-
- -
= ....
a.
( )( )
2
2 3 9
2 5
x x
x x
- -
- -
c.
( )( )
2
2 6 29
2 5
x x
x x
- -
- -
b.
( )( )
2
2 6 29
2 5
x x
x x
- -
- -
d.
( )( )
2
2 6 29
2 5
x x
x x
- -
- -
8. Jika
( )( )
2
3 4 4
5 20
- -
- ·
- - - - -
x ax a
x x x x b x c
maka perbandingan (b – c) : a = ....
a. 1 : 3 c. 1 : 4
b. 1 : 2 d. 1 : 6
9. Bentuk sederhana dari
2
4 9
2 3
a
a
-
-
= ....
a. 4 – 6a c. 2 + 3a
b. 4 + 6a d. 2 – 3a
10. Bentuk sederhana dari
2
2
4 4 1
4 1
x x
x
- -
-
= ....
30
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
a.
2 1
2 1
x
x
-
-
c.
2
2
x
x
-
-
b.
2 1
2 1
x
x
-
-
d.
2
2
x
x
-
-
11. Bentuk sederhana dari
2
2
3 2
2 12
x x x
x x x
- - -
×
- - -
= ....
a.
1
4
x
x
-
-
c.
4
1
x
x
-
-
b.
4
1
x
x
-
-
d.
1
4
x
x
-
-
12. Bentuk aljabar 25a
2
– 16b
2
jika difak-
torkan hasilnya ....
a. (5a – b) (5a – b)
b. (a + 4b) (a – 4b)
c. (5a – 4b) (5a – 4b)
d. (5a – 4b) (5a + 4b)
13. Pemfaktoran x
2
– 19x – 20 adalah ....
a. (x – 4) (x + 5) c. (x + 1) (x – 20)
b. (x – 2) (x – 10) d. (x + 2) (x – 10)
14. Pemfaktoran dari 4x
2
+ 14x – 18
adalah ....
a. (4x – 3) (x + 6)
b. (2x – 3) (2x + 6)
c. (4x – 2) (x + 9)
d. (2x – 2) (2x + 9)
15. Luas sebuah persegi panjang adalah
(2x
2
+ 3x – 9) cm
2
dan panjang sisinya
(4x + 6) cm. Lebar persegi panjang
itu adalah ....
a. 2(x + 3) c.
1
4
(2x – 3)
b.
3
4
(x + 3) d.
1
2
(2x – 3)
B. Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Sederhanakanlah.
a.
( ) ( )
2 2 2 2
3 5 2 1 x xy x xy - - - -
b. (2x
2
y – xy
2
+ 3) – (x
2
y + 2xy
2
– 7)
c. (2p – 3) – (3p + 7) – (5p – 9) +
(p – 12)
d. –2(m + 3) – 4(2m – 2(m + 5) – 8)
e. 3(6a – (a + b)) + 3(–2(2a + 3b) +
4(a – b))
2. Jabarkan dan sederhanakanlah.
a. (3x – 2) (4x + 5)
b. (x + 8y) (2x – 3y)
c. (9p – 5q)
2
d. (8a – 3b) (8a + 3b)
e. (x + 5) (x
2
+ 6x – 4)
3. Faktorkanlah.
a. x
2
+ 6x – 16
b. 8x
2
– 2xy – 15y
2
c. p
2
– 16q
4
d. 9a
2
– 8a – 1
e. 49x
2
– 28x + 4
4. Sederhanakanlah.
a.
( )
2 2 2 2
2 2 x y x y
x y
- - -
-
b.
2
2
49
12 28
x
x x
-
- -
c.
( ) ( )
2
2 2
1
1
x
xy x y
-
- - -
d.
2 2
1 1
2 1 1 a a a
-
- - -
e.
1 1
a b
a b
b a
-
-
5. Diketahui suatu segitiga dengan alas
(x + 2) cm dan luasnya (x
2
– 4) cm
2
.
a. Tentukan tinggi segitiga dalam
variabel x.
b. Jika x = 3, tentukan ukuran
segitiga tersebut.
FUNGSI
Perhatikan sekelompok siswa yang
sedang menerima pelajaran di suatu kelas.
Setiap siswa menempati kursinya masing-
masing. Tidak mungkin seorang siswa
menempati lebih dari satu kursi. Demikian
pula tidak mungkin satu kursi ditempati oleh
lebih dari satu siswa.
Dengan demikian, ada keterkaitan
antara siswa dengan kursi yang ditempati.
Menurutmu, apakah hal ini termasuk fungsi?
Tujuan pembelajaranmu pada bab ini adalah:
™ dapat menjelaskan dengan kata-kata dan menyatakan masalah sehari-hari
yang berkaitan dengan relasi dan fungsi;
™ dapat menyatakan suatu fungsi dengan notasi;
™ dapat menghitung nilai fungsi;
™ dapat menentukan bentuk fungsi jika nilai dan data fungsi diketahui;
™ dapat menyusun tabel pasangan nilai peubah dengan nilai fungsi;
™ dapat menggambar grafik fungsi pada koordinat Cartesius.
2
Kata-Kata Kunci:
™ relasi
™ fungsi
™ grafik fungsi
Sumber: Dok. Penerbit
32
Matematika Konsep dan Aplikasinya 3
a. Sebutkan relasi-relasi yang mungkin
antara nama-nama pada silsilah
tersebut.
b. Siapakah ayah dari Lisa, Bowo, dan
Aji?
c. Tunjukkan relasi yang memenuhi
antara Aditya, Lina, dan Bowo.
d. Sebutkan cucu laki-laki Bapak Sitorus
dan Ibu Meri.
A. RELASI
Sebelum mempelajari materi pada bab ini, kalian harus
menguasai materi himpunan, anggota himpunan, dan himpunan
bagian dari suatu himpunan.
1. Pengertian Relasi
Agar kalian memahami pengertian relasi, perhatikan Gambar
2.1. di samping.
Gambar 2.1 menunjukkan suatu kumpulan anak yang terdiri
atas Tino, Ayu, Togar, dan Nia berada di sebuah toko alat tulis.
Mereka berencana membeli buku dan alat tulis.
Tino berencana membeli buku tulis dan pensil, Ayu membeli
penggaris dan penghapus, Togar membeli bolpoin, buku tulis, dan
tempat pensil, sedangkan Nia membeli pensil dan penggaris.
Perhatikan bahwa ada hubungan antara himpunan anak =
{Tino, Ayu, Togar, Nia} dengan himpunan alat tulis = {buku tulis,
pensil, penggaris, penghapus, bolpoin, tempat pensil}. Himpunan
anak dengan himpunan alat tulis dihubungkan oleh kata membeli.
Dalam hal ini, kata membeli merupakan relasi yang
menghubungkan himpunan anak dengan himpunan alat tulis.
Relasi dari himpunan A ke himpunan B adalah hubungan
yang memasangkan anggota-anggota himpunan A dengan
anggota-anggota himpunan B.
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Bagan berikut menunjukkan silsilah
keluarga Bapak Sitorus dan Ibu Meri.
Tanda panah menunjukkan hubungan
“mempunyai anak”.
(Menumbuhkan
kreativitas)
Bentuklah kelompok
terdiri atas 4 orang, 2
pria dan 2 wanita.
Kemudian buatlah
relasi yang meng-
hubungkan antara
anggota kelompokmu
dengan makanan yang
disukai.
Gambar 2.1
33
Fungsi
2. Diketahui A = {1, 2, 3, 4, 5} dan
B = {2, 4, 6, 8, 12}.
a. Jika dari A ke B dihubungkan relasi
“setengah dari”, tentukan himpunan
anggota A yang mempunyai kawan
di B.
b. Jika dari B ke A dihubungkan relasi
“kuadrat dari”, tentukan himpunan
anggota B yang mempunyai kawan
di A.
3. Diketahui A = {5, 6, 7, 8} dan
B = {25, 30, 35, 36, 49, 64}.
a. Buatlah dua relasi yang mungkin dari
A ke B.
b. Buatlah dua relasi yang mungkin dari
B ke A.
4. Diketahui P = {–2, –1, 0, 1, 2} dan
Q = {0, 1, 2, 3}.
a. Buatlah relasi dari P ke Q.
b. Buatlah relasi dari Q ke P.
2. Cara Menyajikan Suatu Relasi
Suatu relasi dapat dinyatakan dengan tiga cara, yaitu dengan
diagram panah, diagram Cartesius, dan himpunan pasangan
berurutan. Untuk memahami hal tersebut, perhatikan uraian berikut
ini.
Pengambilan data mengenai pelajaran yang disukai pada
empat siswa kelas VIII diperoleh seperti pada tabel berikut.
Tabel 2.1
Tabel 2.1 di atas dapat dinyatakan dengan diagram panah,
diagram Cartesius, dan himpunan pasangan berurutan seperti di
bawah ini.
Misalkan A = {Buyung, Doni, Vita, Putri}, B = {IPS, kesenian,
keterampilan, olahraga, matematika, IPA, bahasa Inggris}, dan
“pelajaran yang disukai” adalah relasi yang menghubungkan
himpunan A ke himpunan B.
a. Dengan diagram panah
Gambar 2.2 di bawah menunjukkan relasi pelajaran yang
disukai dari himpunan A ke himpunan B. Arah panah
menunjukkan anggota-anggota himpunan A yang berelasi
dengan anggota-anggota tertentu pada himpunan B.
Nama Siswa Pelajaran yang Disukai
Buyung IPS, Kesenian
Doni Keterampilan, Olahraga
Vita IPA
Putri Matematika, Bahasa Inggris
(Menumbuhkan
kreativitas)
Amatilah kejadian se-
hari-hari di lingkungan
sekitarmu. Berilah 5
contoh kejadian yang
merupakan relasi.
Ceritakan pengala-
manmu s ecara s ing-
kat di depan kelas.
34
Matematika Konsep dan Aplikasinya 3
A B
pelajaran yang disukai
Buyung
Doni
Vita
Putri
IPS
Kesenian
Keterampilan
Olahraga
Matematika
IPA
Bahasa Inggris
Gambar 2.2
b. Dengan diagram Cartesius
Relasi antara himpunan A dan B dapat dinyatakan
dengan diagram Cartesius. Anggota-anggota himpunan A
berada pada sumbu mendatar dan anggota-anggota himpunan
B berada pada sumbu tegak. Setiap pasangan anggota himpunan
A yang berelasi dengan anggota himpunan B dinyatakan
dengan titik atau noktah. Gambar 2.3 menunjukkan diagram
Cartesius dari relasi pelajaran yang disukai dari data pada tabel
2.1.
Gambar 2.3
c. Dengan himpunan pasangan berurutan
Himpunan pasangan berurutan dari data pada tabel 2.1
sebagai berikut.
{(Buyung, IPS), (Buyung, kesenian), (Doni, keterampilan),
(Doni, olahraga), (Vita, IPA), (Putri, matematika), (Putri, bahasa
Inggris)}.
(Menumbuhkan
kreativitas)
Bentuklah kelompok
yang terdiri atas 6
orang, 3 pria, dan 3
wanita. Tanyakan hobi
tiap anggota kelom-
pokmu. Lalu, sajikan
dalam diagram panah,
diagram Cartesius,
dan himpunan
pasangan berurutan.
B
u
y
u
n
g
D
o
n
i
V
i
t
a
P
u
t
r
i
Bahasa Inggris
IPA
IPS
Matematika
Olahraga
Keterampilan
Kesenian
A
B
35
Fungsi
Diketahui A = {1, 2, 3, 4,
5, 6}; B = {1, 2, 3, ..., 12};
dan relasi dari A ke B
adalah relasi “setengah
dari”. Nyatakan relasi
tersebut dalam bentuk
a. diagram panah;
b. diagram Cartesius;
c. himpunan pasangan
berurutan.
Penyelesaian:
a. Dengan diagram panah
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
1
2
3
4
5
6
x
x
x
x
x
x
A B
setengah dari
Gambar 2.4
b. Dengan diagram Cartesius
2 1 3 5 7
2
1
3
5
7
9
11
4
6
8
10
12
4 6 8
A
B
Gambar 2.5
c. Dengan himpunan pasangan berurutan
Misalkan relasi “setengah dari” dari himpunan A ke
himpunan B adalah R, maka R = {(1, 2), (2, 4), (3, 6),
(4, 8), (5, 10), (6, 12)}.
36
Matematika Konsep dan Aplikasinya 3
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Diketahui Sinta suka minum susu dan teh,
Ketut suka minum kopi, Ita suka minum
teh, dan Tio suka minum sprite. Nyatakan
relasi tersebut dalam bentuk
a. diagram panah;
b. diagram Cartesius;
c. himpunan pasangan berurutan.
2. Relasi dari himpunan A ke himpunan B
ditunjukkan pada diagram panah berikut.
Indonesia
Malaysia
Filipina
Jepang
India
Kuala lumpur
Manila
Jakarta
New Delhi
Tokyo
Singapura
Bangkok
A B
a. Nyatakan relasi yang mungkin dari
himpunan A ke himpunan B.
b. Nyatakan relasi dari A ke B dalam
bentuk diagram Cartesius.
c. Nyatakan relasi dari A ke B dalam
bentuk himpunan pasangan
berurutan.
3. Relasi dari A = {a, e, i, o, u} ke
B = {b, c, d, f, g, h} dinyatakan sebagai
R = {(a, b), (a, c), (e, f ), (i, d ), (o, g),
(o, h), (u, h)}.
Nyatakan relasi tersebut ke dalam ben-
tuk diagram panah dan diagram Car-
tesius.
4. Relasi dari himpunan P ke himpunan Q
disajikan dalam diagram Cartesius
berikut.
2 1 3 5
2
1
3
5
4
6
4 6
P
Q
Tentukan relasi yang memenuhi dari
diagram tersebut, kemudian nyatakan
dalam diagram panah dan himpunan
pasangan berurutan.
5. Buatlah relasi “akar dari” dari
himpunan P = {2, 3, 4, 5} ke himpunan
Q = {1, 2, 4, 9, 12, 16, 20, 25} dengan
a. diagram panah;
b. diagram Cartesius;
c. himpunan pasangan berurutan.
B. FUNGSI ATAU PEMETAAN
1. Pengertian Fungsi
Agar kalian memahami pengertian fungsi, perhatikan uraian
berikut.
Pengambilan data mengenai berat badan dari enam siswa
kelas VIII disajikan pada tabel berikut.
37
Fungsi
Tabel 2.2
Nama Siswa Berat Badan (kg)
Anik 35
Andre 34
Gita 30
Bayu 35
Asep 33
Dewi 32
x
x
x
x
x
x
30
31
32
33
34
35
A B
Anik
Andre
Gita
Bayu
Asep
Dewi
x
x
x
x
x
x
berat badan
Gambar 2.6
Gambar 2.6 merupakan diagram panah yang menunjukkan
relasi berat badan dari data pada Tabel 2.2.
Dari diagram panah pada Gambar 2.6 dapat diketahui hal-
hal sebagai berikut.
a. Setiap siswa memiliki berat badan.
Hal ini berarti setiap anggota A mempunyai kawan atau
pasangan dengan anggota B.
b. Setiap siswa memiliki tepat satu berat badan.
Hal ini berarti setiap anggota A mempunyai tepat satu kawan
atau pasangan dengan anggota B.
Berdasarkan uraian di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa
relasi dari himpunan A ke himpunan B adalah relasi khusus yang
memasangkan setiap anggota A dengan tepat satu anggota B. Relasi
yang demikian dinamakan fungsi (pemetaan) . Jadi, fungsi
(pemetaan) dari himpunan A ke himpunan B adalah relasi khusus
yang memasangkan setiap anggota A dengan tepat satu anggota
B.
Syarat suatu relasi merupakan pemetaan atau fungsi adalah
a. setiap anggota A mempunyai pasangan di B;
b. setiap anggota A dipasangkan dengan tepat satu anggota B.
(Menumbuhkan inovasi)
Bentuklah kelompok yang terdiri atas 2 orang, 1 pria, dan 1 wanita.
Cari dan amati kejadian-kejadian di li ngkungan sekitarmu.
Tulislah hal-hal yang t ermasuk fungsi sebanyak 4 buah.
Lalu sajikan hasil t emuanmu dalam diagram panah, diagram
Cartesius, dan himpunan pasangan berurutan. Tulislah dalam
sebuah laporan dan kumpulkan kepada gurumu.
38
Matematika Konsep dan Aplikasinya 3
A B
C
x x xy f x = ( )
Gambar 2.8
Di antara relasi yang
disajikan pada diagram
panah berikut manakah
yang merupakan fungsi?
Berilah alasannya.
p
q
r
1
2
3
4
A B
(i)
p
q
r
1
2
3
4
A B
(ii)
Gambar 2.7
Penyelesaian:
(i) Diagram panah pada (i) merupakan fungsi, karena
setiap anggota A mempunyai tepat satu pasangan di
B.
(ii) Diagram panah pada (ii) bukan fungsi, karena terdapat
anggota A yaitu p mempunyai empat pasangan di B
dan ada anggota A yaitu q dan r tidak mempunyai
pasangan di B.
2. Notasi dan Nilai Fungsi
Diagram di samping menggambarkan fungsi yang memetakan
x anggota himpunan A ke y anggota himpunan B. Notasi fungsinya
dapat ditulis sebagai berikut.
] : x 6 y atau ] : x 6 ](x)
dibaca: fungsi f memetakan x anggota A ke y anggota B
Himpunan A disebut domain (daerah asal).
Himpunan B disebut kodomain (daerah kawan).
Himpunan C c B yang memuat y disebut range (daerah hasil).
Dalam hal ini, y = f(x) disebut bayangan (peta) x oleh fungsi
f. Variabel x dapat diganti dengan sebarang anggota himpunan A
dan disebut variabel bebas. Adapun variabel y anggota himpunan
B yang merupakan bayangan x oleh fungsi f ditentukan (bergantung
pada) oleh aturan yang didefinisikan, dan disebut variabel
bergantung.
Misalkan bentuk fungsi f(x) = ax + b. Untuk menentukan
nilai fungsi untuk x tertentu, dengan cara mengganti (menyubstitusi)
nilai x pada bentuk fungsi f(x) = ax + b.
39
Fungsi
a. Perhatikan diagram pa-
nah pada Gambar 2.9.
Tentukan
(i) domain;
(ii) kodomain;
(iii) range;
(iv) bayangan dari 1, 2,
3, 4, dan 5 oleh
fungsi f.
a
b
c
d
e
1
2
3
4
5
A
B
f
Gambar 2.9
Penyelesaian:
(i) Domain = A = {1, 2, 3, 4, 5}
(ii) Kodomain = B = {a, b, c, d, e}
(iii) Range = {a, c, e}
(iv) Bayangan 1 oleh fungsi f adalah f(1) = a.
Bayangan 2 oleh fungsi f adalah f(2) = a.
Bayangan 3 oleh fungsi f adalah f(3) = c.
Bayangan 4 oleh fungsi f adalah f(4) = c.
Bayangan 5 oleh fungsi f adalah f(5) = e.
b. Diketahui fungsi f
didefinisikan sebagai
f(x) = 2x
2
– 3x + 1.
Tentukan nilai fungsi
f(x) untuk
(i) x = 2;
(ii) x = – 3.
Penyelesaian:
(i) Substitusi nilai x = 2 ke fungsi f(x) = 2x
2
– 3x + 1,
sehingga f(x) = 2x
2
– 3x + 1
f (2) = 2x
2
– 3 × 2 + 1
= 8 – 6 + 1 = 3
(ii) Substitusi nilai x = –3 ke fungsi f(x),
sehingga diperoleh f(x) = 2x
2
– 3x + 1
f (–3) = 2 × (–3)
2
– 3 × (–3) + 1
= 18 + 9 + 1
= 28
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Di antara diagram panah berikut,
manakah yang merupakan fungsi?
Berikan alasannya.
A B
(i)
1 5
2 6
3 7
A B
(ii)
2 6
3 9
5 10
40
Matematika Konsep dan Aplikasinya 3
4. Diketahui daerah asal suatu fungsi
P = {1, 3, 7, 8} ke himpunan bilangan
asli Q dengan relasi “setengah dari”.
a. Tulislah notasi fungsi untuk relasi ter-
sebut.
b. Tentukan rangenya.
c. Tentukan bayangan 3 oleh fungsi f.
5. Jika A = {1, 2, 3, 4, 5} dan B himpunan
bilangan bulat, relasi berikut ini manakah
yang merupakan pemetaan dari A ke B?
Berikan alasannya.
a. Kurang dari.
b. Faktor dari.
c. Akar kuadrat dari.
d. Dua kurangnya dari.
6. Diketahui fungsi f : x ÷ 4x – 1. Tentukan
nilai fungsi f untuk x = –5, –3, –1, 0, 2, 4,
dan 10.
7. Fungsi f didefinisikan sebagai
f(x) = –2x + 3.
a. Tentukan bayangan x = –1 oleh
fungsi tersebut.
b. Tentukan nilai x jika f(x) = 1.
2. Diketahui relasi dari himpunan P = {a,
b, c, d} ke himpunan Q = {e, f, g}
dengan ketentuan a ÷e, b ÷e, c ÷e,
dan c ÷ f. Apakah relasi tersebut
merupakan suatu fungsi? Mengapa?
Jelaskan jawabanmu.
3. Di antara relasi dalam himpunan pa-
sangan berurutan berikut, tentukan
manakah yang merupakan suatu fungsi
dari himpunan A = {a, b, c, d} ke
himpunan B = {1, 2, 3, 4}. Tentukan pula
daerah hasil masing-masing fungsi.
a. {(a, 1), (b, 1), (c, 1), (d, 1)}
b. {(a, 2), (b, 4), (c, 4)}
c. {(a, 1), (a, 2), (a, 3), (a, 4)}
d. {(a, 1), (b, 4), (c, 1), (d, 4)}
e. {(d, 1), (d, 2), (b, 2), (c, 3), (d, 4)}
A B
(iii)
1 1
3 3
5 6
A B
(iv)
2 6
3 8
4 12
3. Menyatakan Fungsi dalam Diagram Panah, Diagram
Cartesius, dan Himpunan Pasangan Berurutan
Kalian telah mempelajari bahwa suatu relasi dapat dinyatakan
dalam diagram panah, diagram Cartesius, dan himpunan pasangan
berurutan. Karena fungsi merupakan bentuk khusus dari relasi,
maka fungsi juga dapat dinyatakan dalam diagram panah, diagram
Cartesius, dan himpunan pasangan berurutan.
Misalkan A = {1, 3, 5} dan B = {–2, –1, 0, 1, 2, 3}. Jika fungsi
f: A ÷B ditentukan dengan f(x) = x – 2 maka
f(1) = 1 – 2 = –1
f(3) = 3 – 2 = 1
f(5) = 5 – 2 = 3
41
Fungsi
a. Diagram panah yang menggambarkan fungsi f tersebut sebagai
berikut.
A B
1
3
5
2
1
0
1
2
3
f
Gambar 2.10
b. Diagram Cartesius dari fungsi f sebagai berikut.
1
1
2
2
3
3 4 5 0
A
B
2
1
Gambar 2.11
c. Himpunan pasangan berurutan dari fungsi f tersebut adalah
{(1, –1), (3, 1), (5, 3)}. Perhatikan bahwa setiap anggota A
muncul tepat satu kali pada komponen pertama pada pasangan
berurutan.
4. Menentukan Banyaknya Pemetaan yang Mungkin dari
Dua Himpunan
Untuk menentukan banyaknya pemetaan yang mungkin dari
dua himpunan, perhatikan uraian berikut.
a. Jika A = {1} dan B = {a} maka n(A) = 1 dan n(B) = 1.
Satu-satunya pemetaan yang mungkin dari A ke B mempunyai
diagram panah seperti tampak pada Gambar 2.12.
b. Jika A = {1, 2} dan B = {a} maka n(A) = 2 dan n(B) = 1.
Pemetaan yang mungkin dari himpunan A ke B tampak seperti
diagram panah pada Gambar 2.13.
c. Jika A = {1} dan B = {a, b} maka n(A) = 1 dan n(B) = 2.
Banyaknya pemetaan yang mungkin dari A ke B ada dua, seperti
tampak pada diagram panah pada Gambar 2.14.
A B
1 a
Gambar 2.12
A B
1
2
a
Gambar 2.13
42
Matematika Konsep dan Aplikasinya 3
A B
1
a
b
A B
1
a
b
Gambar 2.14
d. Jika A = {1, 2, 3} dan B = {a} maka n(A) = 3 dan n(B) = 1.
Banyaknya pemetaan yang mungkin dari A ke B ada satu,
seperti tampak pada diagram panah pada Gambar 2.15.
e. Jika A = {1} dan B {a, b, c} maka n(A) = 1 dan n(B) = 3.
Banyaknya pemetaan yang mungkin dari A ke B ada tiga, seperti
tampak pada diagram panah berikut ini.
f. Jika A = {1, 2} dan B = {a, b} maka n(A) = 2 dan n(B) = 2.
Banyaknya pemetaan yang mungkin dari A ke B ada empat,
seperti tampak pada diagram panah pada Gambar 2.17.
Gambar 2.17
g. Jika A = {1, 2, 3} dan B= {a, b} maka n(A) = 3 dan n(B) = 2.
Banyaknya pemetaan yang mungkin dari A ke B ada 8, seperti
tampak pada diagram panah pada Gambar 2.18.
Gambar 2.18
A B
1
2
3
x
x
x
x
x
a
b
A B
1
2
3
x
x
x
x
x
a
b
A B
1
2
3
x
x
x
x
x
a
b
A B
1
2
3
x
x
x
x
x
a
b
A B
1
2
3
x
x
x
x
x
a
b
A B
1x
x
x
2
3
x
x
a
b
A A B B
1
2
3
x
x
x
1
2
3
x
x
x
x
x
a
b
x
x
a
b
A B
1
2
3
x
x
x
xa
Gambar 2.15
1 x
x
x
x
a
b
c
A B
1 x
x
x
x
a
b
c
A B
1 x
x
x
x
a
b
c
A B
Gambar 2.16
1
2
x
x
x
x
a
b
A B
1
2
x
x
x
x
a
b
A B
1
2
x
x
x
x
a
b
A B
1
2
x
x
x
x
a
b
A B
43
Fungsi
Dengan mengamati uraian tersebut, untuk menentukan
banyaknya pemetaan dari suatu himpunan A ke himpunan B dapat
dilihat pada tabel berikut.
Berdasarkan pengamatan pada tabel di atas, dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut.
Jika banyaknya anggota himpunan A adalah n(A) = a
dan banyaknya anggota himpunan B adalah n(B) = b maka
1. banyaknya pemetaan yang mungkin dari A ke B adalah
b
a
;
2. banyaknya pemetaan yang mungkin dari B ke A adalah
a
b
.
Banyaknya Anggota
Himpunan A Himpunan B
Banyaknya Pemetaan
yang Mungkin dari
A ke B
Banyaknya Pemetaan
yang Mungkin dari
B ke A
1 1 1 = 1
1
1 = 1
1
2 1 1 = 1
2
2 = 2
1
1 2 2 = 2
1
1 = 1
2
3 1 1 = 1
3
3 = 3
1
1 3 3 = 3
1
1 = 1
3
2 2 4 = 2
2
4 = 2
2
3 2 8 = 2
3
9 = 3
2
Jika A = {bilangan prima
kurang dari 5} dan
B = {huruf vokal}, hitung-
lah banyaknya pemetaan
a. dari A ke B;
b. dari B ke A, tanpa
menggambar diagram
panahnya.
Penyelesaian:
a. A = {2, 3}, n(A) = 2
B = {a, e, i, o, u}, n(B) = 5
Banyaknya pemetaan yang mungkin dari A ke B = b
a
= 5
2
= 25
b. Banyaknya pemetaan yang mungkin dari B ke A = a
b
= 2
5
= 32
44
Matematika Konsep dan Aplikasinya 3
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Diketahui P adalah himpunan bilangan
cacah kurang dari 6 dan Q adalah
himpunan bilangan real . Relasi dari P
ke Q ditentukan oleh f : x ÷ 3x – 5.
a. Apakah relasi itu merupakan suatu
pemetaan? Jelaskan.
b. Sebutkan daerah asalnya.
c. Sebutkan daerah kawannya.
d. Sebutkan daerah hasilnya.
e. Tentukan f(0), f(2), dan f(4).
f. Tentukan nilai x yang memenuhi
f(x) = 25.
2. Gambarlah diagram panah yang mungkin
dari himpunan A ke himpunan B dari
setiap pemetaan berikut.
a. A = {p, q}, B = {1, 2, 3}
b. A = {p, q, r}, B = {1, 2}
3. Jika A = {x|–2 < x < 2, x = B} dan
B = {x | x bilangan prima < 8}, tentukan
a. banyaknya pemetaan dari A ke B;
b. banyaknya pemetaan dari B ke A.
4. Suatu fungsi dari A ke B didefinisikan
sebagai f(x) = –2x + 7. Jika A = {x | –1
< x s 5} dan B adalah himpunan
bilangan bulat maka
a. tentukan f(x) untuk setiap x = A;
b. gambarlah fungsi f(x) dalam diagram
panah, diagram Cartesius, dan
himpunan pasangan berurutan.
C. MENENTUKAN RUMUS FUNGSI JIKA
NILAINYA DIKETAHUI
Pada pembahasan yang lalu kalian telah mempelajari cara
menentukan nilai fungsi jika rumus fungsinya diketahui. Sekarang,
kalian akan mempelajari kebalikan dari kasus tersebut, yaitu jika
nilai fungsinya diketahui.
Pada pembahasan ini bentuk fungsi yang kalian pelajari
hanyalah fungsi linear saja, yaitu f(x) = ax + b. Untuk bentuk
fungsi kuadrat dan pangkat tinggi akan kalian pelajari pada tingkat
yang lebih tinggi.
Misalkan fungsi f dinyatakan dengan f : x 6 ax + b, dengan
a dan b konstanta dan x variabel maka rumus fungsinya adalah
f(x) = ax + b. Jika nilai variabel x = m maka nilai f(m) = am + b.
Dengan demikian, kita dapat menentukan bentuk fungsi f jika
diketahui nilai-nilai fungsinya. Selanjutnya, nilai konstanta a dan b
ditentukan berdasarkan nilai-nilai fungsi yang diketahui.
Agar kalian mudah memahaminya pelajarilah contoh berikut.
Diketahui suatu fungsi
f(x) = ax + b, dengan
f(1) = 3 dan f(–2) = 9.
Tentukan bentuk
fungsi f(x).
45
Fungsi
Diketahui f fungsi linear
dengan f(0) = –5 dan
f(–2) = –9. Tentukan
bentuk fungsi f(x).
1. Diketahui suatu fungsi linear
f(x) = 2x + m. Tentukan bentuk fungsi
tersebut jika f(3) = 4.
2. Jika f(x) = ax + b, f(1) = 2, dan f(2) = 1
maka tentukan
a. bentuk fungsi f(x);
b. bentuk paling sederhana dari
f(x – 1);
c. bentuk paling sederhana dari
f(x) + f(x – 1).
3. Diketahui f(x) = ax +b. Tentukan bentuk
fungsi-fungsi berikut jika
a. f(1) = 3 dan f(2) = 5;
b. f(0) = –6 dan f(3) = –5;
c. f(2) = 3 dan f(4) = 4.
Penyelesaian:
Karena f fungsi linear, maka f(x) = ax + b.
Dengan demikian diperoleh
f(0) = –5
f(0) = a (0) + b = –5
0 + b = –5
b = –5
Untuk menentukan nilai a, perhatikan langkah berikut.
f(–2) = –9
f(–2) = a (–2) + b = –9
–2a – 5 = –9
–2a = –9 + 5
–2a = –4
a =
4
2
-
-
a = 2
Jadi, fungsi yang dimaksud adalah f(x) = ax + b = 2x – 5.
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
4. Diketahui f(x) = (x + a) + 3 dan f(2) = 7.
Tentukan
a. bentuk fungsi f(x);
b. nilai f(–1);
c. nilai f(–2) + f(–1);
d. bentuk fungsi f(2x – 5).
5. Diketahui dua buah fungsi, yaitu
f(x) = 2 –
2
a
x dan g(x) = 2 – (a – 3)x.
Jika f(x) = g(x), tentukan
a. nilai a;
b. bentuk fungsi f(x) dan g(x);
c. bentuk fungsi f(x) + g(x);
d. nilai f(–1), f(2), g(1), dan g(4)
46
Matematika Konsep dan Aplikasinya 3
Diketahui suatu fungsi
dinyatakan dengan
f : x ÷ x
2
– 1, untuk x
bilangan bulat.
a. Tentukan rumus
fungsi f(2x + 2) dan
nilai-nilainya unt uk
x = –2, –1, 0, 1, 2.
b. Tentukan rumus
fungsi f(x + a) untuk
suatu a bilangan
bulat dan tentukan
nilai perubahan
fungsi f(x + a) – f(x).
c. Jika x adalah varia-
bel pada himpun-
an bilangan real,
tentukan nilai per-
ubahan f ungsi
f(x) – f(x – a), untuk
suatu a bilangan
real.
D. MENGHITUNG NILAI PERUBAHAN FUNGSI
JIKA NILAI VARIABEL BERUBAH
Kalian telah mempelajari bahwa suatu fungsi f(x) mempunyai
variabel x dan untuk nilai variabel x tertentu, kita dapat menghitung
nilai fungsinya. Jika nilai variabel suatu fungsi berubah maka akan
menyebabkan perubahan pada nilai fungsinya.
Misalkan fungsi f ditentukan oleh f : x 6 5x + 3 dengan
domain {x/–1 s x s 3, x = bilangan bulat}. Nilai fungsi dari
variabel x adalah
f(–1) = 5(–1) + 3 = –2;
f(0) = 5(0) + 3 = 3;
f(1) = 5(1) + 3 = 8;
f(2) = 5(2) + 3 = 13;
f(3) = 5(3) + 3 = 18;
Jika variabel x diubah menjadi x + 3 maka kita harus
menentukan nilai dari fungsi f(x + 3). Untuk menentukan nilai
f(x + 3), terlebih dahulu kalian harus menentukan variabel baru,
yaitu (x + 3) sehingga diperoleh nilai-nilai variabel baru sebagai
berikut.
–1 + 3 = 2
0 + 3 = 3
1 + 3 = 4
2 + 3 = 5
3 + 3 = 6
Setelah kalian menentukan nilai-nilai variabel baru, yaitu
(x + 3) = 2, 3, 4, 5, 6, tentukan nilai-nilai f(x + 3) berdasarkan
pemetaan f : (x + 3) ÷ 5(x + 3) + 3.
Dengan demikian, diperoleh
f(2) = 5 (2) + 3 = 13;
f(3) = 5 (3) + 3 = 18;
f(4) = 5 (4) + 3 = 23;
f(5) = 5 (5) + 3 = 28;
f(6) = 5 (6) + 3 = 33;
Nilai perubahan fungsi dari f(x) menjadi f(x + 3) yaitu selisih
antara f(x) dan f(x + 3), dituliskan f(x + 3) – f(x).
47
Fungsi
Untuk menentukan nilai perubahan fungsi f(x) dapat
dinyatakan seperti tabel berikut.
Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa untuk semua nilai
x = domain, nilai perubahan fungsi f(x + 3) – f(x) = 15.
Cara lain untuk menentukan nilai perubahan fungsi sebagai
berikut.
Tentukan terlebih dahulu fungsi f(x + 3).
Diketahui f(x) = 5x + 3 maka
f (x + 3) = 5(x + 3) + 3
= 5x + 15 + 3
= 5x + 18
Nilai perubahan fungsi dari f(x) menjadi f(x + 3) adalah selisih
antara f(x) dan f(x + 3) sebagai berikut.
f(x + 3) – f(x) = (5x + 18) – (5x + 3)
= 5x + 18 – 5x – 3
= 15
x –1 0 1 2 3
f(x) = 5x + 3 –2 3 8 13 18
x + 3 2 3 4 5 6
f(x + 3) = 5(x + 3) + 3 13 18 23 28 33
f(x + 3) – f(x) 15 15 15 15 15
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Fungsi f didefinisikan sebagai
f(x) = 2x – 6.
a. Tentukan rumus fungsi yang paling
sederhana dari f(x + 1), f(2x – 1),
dan f(x
2
).
b. Tentukan rumus fungsi untuk
f(x – a) untuk suatu bilangan asli a
dan tentukan perubahan fungsi
f(x + a) – f(x).
2. Jika fungsi f dirumuskan dengan
f(x) = 4x + 3, untuk x bilangan real maka
tentukan rumus fungsi yang paling seder-
hana dari f(x – 3) dan f(x) – f(x – 3).
3. Diketahui fungsi f(x) = 2x untuk suatu x
bilangan real.
a. Apakah fungsi f(–x) = –f(x)?
b. Bagaimana dengan fungsi f(x) = x
2
?
Apakah f(–x) = –f (x)?
4. Jika f(x) = x + 1 untuk x bilangan ganjil,
apakah fungsi f(–(x + 2)) = f(–x –2)?
5. Jika f(x) = 4x – 5 untuk x bilangan real
maka tentukan nilai x yang memenuhi
persamaan f(x) = f(2x + 1).
48
Matematika Konsep dan Aplikasinya 3
E. GRAFIK FUNGSI/PEMETAAN
Suatu pemetaan atau fungsi dari himpunan A ke himpunan B
dapat dibuat grafik pemetaannya. Grafik suatu pemetaan (fungsi)
adalah bentuk diagram Cartesius dari suatu pemetaan (fungsi).
Gambarlah grafik fungsi
f : x 6 x + 3 dengan
domain
a. {x | 0 s x s 8, x =
bilangan bulat};
b. {x | 0 s x s 8, x =
bilangan real}.
Penyelesaian:
Untuk memudahkan menggambar grafik fungsi
f : x 6 x + 3, kita buat terlebih dahulu tabel yang
memenuhi fungsi tersebut, sehingga diperoleh koordinat
titik-titik yang memenuhi.
a.
Berdasarkan Gambar 2.19, tampak bahwa grafik fungsi
f : x 6 x + 3, dengan {x | 0
s
x
s
8, x = bilangan
bulat}, berupa titik-titik (noktah) saja.
x
y = x + 3
(x, y)
0
3
(0, 3)
1
4
(1, 4)
2
5
(2, 5)
3
6
(3, 6)
4
7
(4, 7)
5
8
(5, 8)
6
9
(6, 9)
7
10
(7, 10)
8
11
(8, 11)
2 1 3 5 7
2
1
3
5
7
9
11
4
6
8
10
12
4 6 8
X
Y
Gambar 2.19
49
Fungsi
b.
Pada Gambar 2.20 tampak grafik fungsi f : x 6 x + 3,
dengan {x | 0 s x s 8, x = bilangan real}. Titik-titik yang
ada dihubungkan hingga membentuk kurva/garis lurus.
Mengapa?
Gambar 2.20
Fungsi f pada himpunan bilangan real (R) yang ditentukan
oleh rumus f(x) = ax + b dengan a, b = R dan a ÷ 0 disebut
fungsi linear. Grafik fungsi linear berupa suatu garis lurus dengan
persamaan y = ax + b. Grafik fungsi linear akan kalian pelajari
pada bab selanjutnya.
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
2 1 3 5 7
2
1
3
5
7
9
11
4
6
8
10
12
4 6 8
X
Y
1. Di antara grafik berikut manakah yang
merupakan grafik fungsi dari f(x) jika
sumbu X adalah daerah asal?
a.
0
X
Y
b.
0
X
Y
50
Matematika Konsep dan Aplikasinya 3
c.
0
X
Y
d.
0
X
Y
e.
0
X
Y
2. Fungsi f(x) didefinisikan sebagai
f(x) = x
2
+ x dengan domain
A = {x | –2 s x s 2, x = R} ke
himpunan bilangan real R.
a. Gambarlah grafiknya pada bidang
Cartesius.
b. Berbentuk apakah grafik tersebut?
3. Diketahui fungsi f(x) didefinisikan
sebagai f(x) = 2x
2
– 1.
a. Gambar grafiknya pada bidang
Cartesius jika x adalah variabel pada
himpunan bilangan cacah.
Berbentuk apakah grafik tersebut?
b. Gambar grafiknya pada bidang
Cartesius jika x adalah variabel pada
himpunan bilangan real.
Berbentuk apakah grafik tersebut?
4. Fungsi f(x) dirumuskan dengan f(x) =
1
2
- x
dengan domain {x | 1 s x s 12;
x = C} ke himpunan bilangan cacah.
a. Buatlah tabel pasangan nilai x dan y
yang memenuhi fungsi tersebut.
b. Gambarlah grafiknya pada bidang
Cartesius.
5. Diketahui fungsi f : x ÷ 3x – 5 dengan
domain P = {x | 0 s x s 5, x = C} ke
himpunan bilangan real.
a. Gambarlah grafiknya pada bidang
Cartesius.
b. Berbentuk apakah grafik fungsi
tersebut?
F. KORESPONDENSI SATU-SATU
Agar kalian memahami pengertian korespondensi satu-satu,
perhatikan Gambar 2.21.
Perhatikan deretan rumah di suatu kompleks rumah (peru-
mahan). Setiap rumah memiliki nomor rumah tertentu yang berbeda
dengan nomor rumah yang lain.
Mungkinkah satu rumah memiliki dua nomor rumah? Atau
mungkinkah dua rumah memiliki nomor rumah yang sama? Tentu
saja jawabannya tidak. Keadaan sebuah rumah memiliki satu
nomor rumah atau satu nomor rumah dimiliki oleh sebuah rumah
dikatakan sebagai korespondensi satu-satu.
Sumber: Dok. Penerbit
Gambar 2.21
51
Fungsi
Contoh lain yang menggambarkan korespondensi satu-satu
sebagai berikut. Enam orang siswa bermain bola voli dengan nomor
punggung 301 – 306. Ternyata
Bonar bernomor punggung 301;
Asti bernomor punggung 302;
Reni bernomor punggung 303;
Asep bernomor punggung 304;
Buyung bernomor punggung 305;
Beta bernomor punggung 306.
Selanjutnya, jika kita misalkan A = {Bonar, Asti, Reni, Asep,
Buyung, Beta} dan B = {301, 302, 303, 304, 305, 306} maka
“bernomor punggung” adalah relasi dari A ke B.
Relasi “bernomor punggung” dari himpunan A ke himpunan
B pada kasus di atas dapat digambarkan dalam bentuk diagram
panah berikut.
Bonar 301
Asti
302
Reni 303
Asep
304
Buyung
Beta
305
306
A B
b
ernomor punggun
g
Gambar 2.22
Perhatikan bahwa setiap anggota A mempunyai tepat satu
kawan di B. Dengan demikian, relasi “bernomor punggung” dari
himpunan A ke himpunan B merupakan suatu pemetaan. Selan-
jutnya, amati bahwa setiap anggota B yang merupakan peta (ba-
yangan) dari anggota A dikawankan dengan tepat satu anggota A.
Pemetaan dua arah seperti contoh di atas disebut korespon-
densi s atu-satu atau perkawanan s atu-satu.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut.
Korespondensi satu-satu adalah fungsi yang memetakan
anggota dari himpunan A dan B, dimana semua anggota A
dan B dapat dipasangkan sedemikian sehingga setiap anggota
A berpasangan dengan tepat satu anggota B dan setiap
anggota B berpasangan dengan tepat satu anggota A. Jadi,
banyak anggota himpunan A dan B harus sama atau n(A) =
n(B).
(Menumbuhkan
kreativitas)
Tulislah k ejadian s e-
hari-hari di lingkungan
sekitarmu yang
merupakan contoh
korespondensi satu-
satu.
Ceritakan hasil temu-
anmu secara singkat
di depan kelas.
52
Matematika Konsep dan Aplikasinya 3
Jika kalian mengerjakannya dengan tepat maka kalian akan
menyimpulkan seperti berikut ini.
Jika n(A) = n(B) = n maka banyak korespondensi satu-
satu yang mungkin antara himpunan A dan B adalah
n! = n × (n – 1) × (n – 2) × ... × 3 × 2 × 1.
n! dibaca : n faktorial.
(Berpikir kritis)
Buatlah kelompok terdiri atas 4 orang, 2 pria dan 2 wanita.
Untuk menentukan banyaknya korespondensi satu-satu yang
mungkin antara himpunan A dan B, buatlah diagram-diagram panah
yang mungkin jika banyak anggota A dan B seperti pada tabel berikut.
Salin dan lengkapi tabel berikut. Kemudian, buatlah kesimpulannya.
2 2 2 = 2 × 1
3 3 6 = 3 × 2 × 1
4 4 24 = 4 × ... × ... × ...
5 5 ....
.... .... ....
n n ....
Banyak Anggota
Himpunan A =
n(A)
Banyak Anggota
Himpunan B =
n(B)
Banyak Korespondensi
Satu-Satu yang Mungkin
antara Himpunan A dan B
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Di antara diagram panah di bawah ini,
manakah yang menunjukkan korespon-
densi satu-satu?
A B
a
b
c
x
x
x
x
x
x
d
e
f
(i)
A B
a
b
c
x
x
x
x
x
x
x
d
e
f
g
(ii)
A B
a
c
x
x
x
x
d
f
(iii)
A B
a
b
c
d
x
x
x
x
x
x
x
x
d
e
f
g
(iv)
A B
b x xe
(v)
2. Jika P = {–2, –1, 0, 1, 2}, apakah fungsi
f : P ÷ P yang didefinisikan di bawah
ini merupakan korespondensi satu-satu?
a. f : x 6 –x
b. f : x 6 x
2
53
Fungsi
c. f(x) =
2
, untuk 2, 1, 0
1
, untuk 1, 2
x x
x
x
¦ · - -
¦
'
- ·
¦
'
d. f(x) = 2x
2
– 1
3. Diketahui R = {–3, –2, –1, 0, 1, 2, 3} dan
S = {bilangan cacah}.
Suatu pemetaan g : R ÷ S didefinisikan
sebagai berikut.
• g : x 6 x
2
+ 1, untuk x = –3, –2, –1
dan
• g : x 6 3x + 2, untuk x = 0, 1, 2, 3
a. Tentukan daerah hasil pemetaan itu.
b. Gambarlah diagram Cartesius peme-
taan itu.
c. Nyatakan pemetaan tersebut dalam
himpunan pasangan berurutan.
d. Apakah pemetaan tersebut termasuk
korespondensi satu-satu? Mengapa?
4. Di antara dua himpunan berikut ini mana-
kah yang dapat dibuat korespondensi satu-
satu?
a. A = {nama hari dalam seminggu}
B = {bilangan prima antara 1 dan 11}
b. P = {a, e, i, o, u}
Q = {lima kota besar di Pulau Jawa}
c. A = {nama bulan dalam setahun}
B = {nama hari dalam seminggu}
d. C = {bilangan genap kurang dari 10}
D = {bilangan prima kurang dari 10}
5. Berapa banyak korespondensi satu-
satu yang dapat dibuat dari himpunan
berikut?
a. A = {faktor dari 6} dan
B = {faktor dari 15}
b. K = {huruf vokal} dan
L = {bilangan cacah antara 0 dan
6}
1. Relasi dari himpunan A ke himpunan B adalah hubungan yang
memasangkan anggota-anggota himpunan A dengan anggota-
anggota himpunan B.
2. Suatu relasi dapat dinyatakan dengan tiga cara, yaitu dengan
diagram panah, diagram Cartesius, dan himpunan pasangan
berurutan.
3. Fungsi (pemetaan) dari himpunan A ke himpunan B adalah
relasi khusus yang memasangkan setiap anggota A dengan
tepat satu anggota B.
(Berpikir Kritis)
Coba cek j awaban soal no. 5 pada Uji Kompet ensi 8 dengan
menggunakan kalkulator. Tekanlah notasi x! di kalkulator.
Apakah hasilnya sama?
54
Matematika Konsep dan Aplikasinya 3
4. Jika x anggota A (domain) dan y anggota B (kodomain) maka
fungsi f yang memetakan x ke y dinotasikan dengan f : x 6 y,
dibaca fungsi f memetakan x ke y atau x dipetakan ke y oleh
fungsi f.
5. Jika banyaknya anggota himpunan A adalah n(A) = a dan
banyaknya anggota himpunan B adalah n(B) = b maka
a. banyaknya pemetaan yang mungkin dari A ke B adalah
b
a
;
b. banyaknya pemetaan yang mungkin dari B ke A adalah
a
b
.
6. Jika nilai variabel suatu fungsi berubah maka akan
menyebabkan perubahan pada nilai fungsinya.
7. Dua himpunan A dan B dikatakan berkorespondensi satu-satu
jika semua anggota A dan B dapat dipasangkan sedemikian
sehingga setiap anggota A berpasangan dengan tepat satu
anggota B dan setiap anggota B berpasangan dengan tepat
satu anggota A.
8. Jika n(A) = n(B) = n maka banyak korespondensi satu-satu
yang mungkin antara himpunan A dan B adalah
n! = n × (n – 1) × (n – 2) × ... × 3 × 2 × 1.
Setelah mempelajari bab ini, apakah kalian sudah paham
mengenai Fungsi? Jika kalian sudah paham, coba rangkum kembali
materi ini dengan kata-katamu sendiri. Bagian mana dari materi
ini yang belum kamu pahami? Catat dan tanyakan kepada temanmu
yang lebih tahu atau kepada gurumu. Kemukakan hal ini secara
singkat di depan kelas.
Kerjakan di buku tugasmu.
A. Pilihlah salah satu jawaban yang tepat.
1.
A B
x
x
x
x
x
x
(i)
1
2
3
x
y
z
A B
x
x
x
x
x
x
(ii)
1
2
3
x
y
z
A B
x
x
x
x
x
x
(iii)
1
2
3
x
y
z
A B
x
x
x
x
x
x
(iv)
1
2
3
x
y
z
55
Fungsi
A B
x
x
x
x
x
x
(v)
1
2
3
x
y
z
Dari diagram panah di atas yang
bukan merupakan pemetaan adalah
....
a. (i) dan (iii)
b. (ii) dan (iii)
c. (ii) dan (iv)
d. (iv) dan (v)
2. Himpunan pasangan berurutan yang
menunjukkan fungsi f : x ÷ 2x + 5
dari domain {1, 3, 5, 7} adalah ....
a. {(1, 7), (3, 11), (5, 15), (7, 19)}
b. {(1, 5), (3, 5), (5, 5), (7, 5)}
c. {(1, 2), (3, 7), (5, 9), (7, 11)}
d. {(7, 1), (11, 3), (15, 5), (19, 7)}
3. Pada pemetaan {(1, 6), (2, 5), (3, 7),
(4, 0), (5, 1)} domainnya adalah ....
a. {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7}
b. {1, 2, 3, 4, 5}
c. {1, 2, 3}
d. {0}
4. Jika f(x) = x
2
+ 4 maka 29 adalah ba-
yangan dari ....
a. 2 c. 5
b. 3 d. 6
5. Banyaknya pemetaan yang mungkin
dari himpunan A = {a, i} ke himpunan
A sendiri adalah ....
a. 2 c. 4
b. 3 d. 8
6.
A B
x
y
z
x
x
x
x
x
x
x
p
q
r
s
Di antara pernyataan berikut, yang ti-
dak benar adalah ....
a. domain = {x, y, z}
b. kodomain = {p, q, r, s}
c. r = B tidak mempunyai pasangan
di A
d. diagram tersebut menunjukkan ko-
respondensi satu-satu
7. Berikut ini yang merupakan korespon-
densi satu-satu adalah ....
a. {(a, 1), (b, 1), (c, 1)}
b. {(1, a), (2, c), (3, d)}
c. {(1, b), (2, c), (3, b)}
d. {(a, b), (c, d), (b, d)}
8. Grafik fungsi ditunjukkan oleh gambar
....
a.
0
X
Y
b.
0
X
Y
c.
0
X
Y
d.
0
X
Y
56
Matematika Konsep dan Aplikasinya 3
9. Pada fungsi linear f(x) = ax + b
dengan f(1) = 0 dan f(0) = –2, rumus
fungsi f(x) = ....
a. x – 4
b. 2x – 2
c. x + 3
d. 2x + 5
10. Jika f(x) = ax + b maka nilai
perubahan fungsi f(x) – f(x + 1) = ....
a. 0
b. 1
c. a
d. -a
B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan singkat dan tepat.
1. Diketahui P adalah himpunan bilangan
genap kurang dari 100 dan A adalah
himpunan bilangan asli. Relasi dari P
ke A ditentukan oleh f : x 6 x
2
.
a. Nyatakan relasi itu dengan himpun-
an pasangan berurutan.
b. Apakah relasi itu merupakan suatu
pemetaan? Jelaskan.
c. Sebutkan daerah asalnya.
d. Sebutkan daerah kawannya.
e. Sebutkan daerah hasilnya.
f. Tentukan nilai x yang memenuhi
f(x) = 64.
2. a. Buatlah relasi antara himpunan hari
Senin sampai dengan hari Sabtu ke
himpunan jadwal mata pelajaran di
kelasmu. Apakah relasi itu merupa-
kan pemetaan? Mengapa?
b. Buatlah relasi dari himpunan jadwal
mata pelajaran di kelasmu ke
himpunan hari Senin sampai dengan
Sabtu. Apakah relasi itu merupakan
pemetaan? Mengapa?
3. Diketahui
K = himpunan warna lampu lalu lintas.
L = himpunan titik sudut segitiga ABC.
a. Gambarlah diagram panah yang
menunjukkan korespondensi satu-
satu dari himpunan K ke L.
b. Berapa banyaknya korespondensi
satu-satu yang mungkin terjadi?
4. Diketahui fungsi f dinyatakan dengan
f : x 6 3x – 5, untuk x bilangan real.
a. Tentukan rumus fungsi yang paling
sederhana dari f(x + 2), f(2x – 1),
dan f(–x + 5).
b. Tentukan nilai a sehingga f(a + 2)
= f(2a – 1).
5. Diketahui f fungsi linear dengan
f(x) = ax + 1 dan f(6) = 4. Tentukan
a. bentuk fungsinya;
b. nilai f(–2);
c. nilai f(–2) + f(2);
d. bentuk fungsi f(2x –1).
PERSAMAAN
GARIS LURUS
Perhatikan gambar di samping. Gambar
tersebut menunjukkan penampang sebuah
derek yang dibangun pada tahun 1886 di
Dermaga Tilburi dekat London. Derek
tersebut terdiri dari pipa baja yang
dihubungkan dengan kabel sebagai kerekan.
Pipa baja bisa diibaratkan sebagai garis lurus.
Dapatkah kalian menentukan nilai
kemiringannya terhadap tanah mendatar?
Apakah nilai kemiringan tersebut dapat
dipandang sebagai gradien pada persamaan
garis lurus?
Tujuan pembelajaranmu pada bab ini adalah:
™ dapat mengenal pengertian dan menentukan gradien garis lurus dalam
berbagai bentuk;
™ dapat menentukan persamaan garis lurus yang melalui dua titik, melalui
satu titik dengan gradien tertentu;
™ dapat menggambar grafik garis lurus.
3
Kata-Kata Kunci:
™ gradien garis lurus
™ persamaan garis lurus
™ grafik garis lurus
Sumber: Jendela Iptek, 2001
58
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Pada pembahasan sebelumnya kalian telah mempelajari
secara singkat mengenai fungsi linear f(x) = ax + b dan grafiknya
pada bidang Cartesius. Grafik fungsi linear f(x) = ax + b berupa
garis lurus jika x anggota bilangan real. Sekarang akan kalian
pelajari secara lebih mendalam mengenai garis lurus, bagaimana
persamaannya, cara menggambar grafik, gradien, dan bentuk-
bentuk persamaan garis tersebut.
Agar kalian mudah mempelajarinya, kalian harus menguasai
materi sistem koordinat Cartesius, persamaan linear satu variabel,
dan kedudukan dua garis.
A. PERSAMAAN GARIS (1)
Sebelum kita membahas lebih mendalam mengenai
persamaan garis lurus, coba kalian ingat kembali pengertian
persamaan linear satu variabel.
Perhatikan garis lurus pada Gambar 3.2 berikut. Kemudian
salin dan lengkapilah tabel pasangan nilai x dan y dari titik-titik
yang terletak pada garis itu.
Gambar 3.2
Pada Gambar 3.2 hubungan nilai x dan nilai y yang terletak
pada garis lurus adalah y = –2x + 5. Coba kamu buat garis yang
lain dan tentukan hubungan nilai x dan nilai y. Secara umum,
hubungan nilai x dan nilai y yang terletak pada garis lurus dapat
ditulis px + qy = r dengan p, q, r , bilangan real dan p, q
÷
0.
Persamaan y = –2x + 5 disebut persamaan garis lurus atau sering
2 1
0
3 5
2
1
3
5
4
4 6
X
Y
1
2
3
1 2 3
x y
#
0
1
2
3
# #
Sumber: Ensiklopedi
Matematika d an
Peradaban Manusia, 2003
Gambar 3.1 Rene Descartes
Sistem koordinat
Cartesius pertama kali
diperkenalkan oleh
Rene Descartes
bersama rekannya Piere
de Fermet pada perte-
ngahan abad ke-17.
Sistem koordinat
Cartesius terdiri at as
garis mendatar, yaitu
sumbu X dan garis
tegak, yaitu sumbu Y.
Letak suatu titik pada
koordinat Cartesius
diwakili oleh pasangan
titik (x, y), dengan x
absis dan y ordinat.
3
2
P(2, 3)
Y
X
Pada gambar di atas,
tampak bahwa koordinat
titik P(2, 3) dengan absis
= 2 dan ordinat = 3.
59
Persamaan Garis Lurus
disebut persamaan garis, karena persamaan garis tersebut dapat
disajikan sebagai suatu garis lurus dengan x, y variabel pada
himpunan bilangan tertentu.
Persamaan dalam bentuk px + qy = r dengan p, q
÷
0 dapat
ditulis menjadi
· - -
p r
y x
q q
. Jika
-p
q
dinyatakan dengan m dan
r
q
dinyatakan dengan c maka persamaan garis tersebut dapat
dituliskan dalam bentuk sebagai berikut.
y = mx + c; dengan m, c adalah suatu konstanta
1. Menggambar Grafik Persamaan Garis Lurus
y = mx + c pada Bidang Cartesius
Telah kalian ketahui bahwa melalui dua buah titik dapat ditarik
tepat sebuah garis lurus. Dengan demikian, untuk menggambar
grafik garis lurus pada bidang Cartesius dapat dilakukan dengan
syarat minimal terdapat dua titik yang memenuhi garis tersebut,
kemudian menarik garis lurus yang melalui kedua titik itu.
Gambarlah grafik persa-
maan garis lurus
2x + 3y = 6 pada bidang
Cartesius, jika x, y variabel
pada himpunan bilangan
real.
Penyelesaian:
Langkah-langkah menggambar grafik persamaan garis
lurus y = mx + c, c ÷ 0 sebagai berikut.
– Tentukan dua pasangan titik yang memenuhi persamaan
garis tersebut dengan membuat tabel untuk mencari
koordinatnya.
– Gambar dua titik tersebut pada bidang Cartesius.
– Hubungkan dua titik tersebut, sehingga membentuk garis
lurus yang merupakan grafik persamaan yang dicari.
untuk x = 0 maka 2 × 0 + 3y = 6
0 + 3y = 6
3y = 6
y =
6
3
= 2 ÷ (x, y) = (0, 2).
(Berpikir kritis)
Perhatikan kembali
persamaan y = –2x +
5 pada Gambar 3.2.
a. Bandingkan
dengan bentuk
y = mx + c. Dapat-
kah kalian menen-
tukan nilai m dan
c?
b. Kemudian,
bandingkan
kembali dengan
bentuk
· - -
p r
y x
q q
.
Berapakah nilai p,
q, dan r?
c. Apa yang dapat
kalian simpulkan
dari jawaban a dan
b?
x 0 3
y 2 0
(x, y) (0, 2) (0, 3)
60
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
untuk y = 0 maka 2x + 3 × 0 = 6
2x + 0 = 6
2x = 6
x =
6
2
= 3 ÷ (x, y) = (3, 0).
1
2
0 4 3 2 1
X
Y
_
2
_
1
_
1
_
2
(3, 0)
(0, 2)
2 + 3 = 6 x y
_
3 5
_
3
3
Gambar 3.3
1. Di antara gambar-gambar berikut, mana-
kah yang menunjukkan garis dengan
persamaan
3
2
· y x
?
2
0 3
X
Y
(i)
0 2
X
Y
3
(ii)
61
Persamaan Garis Lurus
0
X
Y
_
2
3
(iii)
0 3
X
Y
3
(iv)
2. Salin dan lengkapilah tabel berikut sesuai
dengan persamaan garis yang diberikan.
Kemudian, gambarlah grafik persamaan
garis lurus tersebut pada bidang
Cartesius.
a. y = 5x
b.
1
1
3
· - y x
3. Gambarlah grafik persamaan garis lurus
berikut pada bidang Cartesius.
a. y = 4x – 1 d. y = 4
b. 2x – 3y = 12 e. x = –1
c. x = 2y – 2 f. y = x
4. a. Gambarlah grafik dari
y = 2x, y = 2x + 3, dan y = 2x – 2
pada satu bidang koordinat.
b. Adakah hubungan antara ketiga ga-
ris tersebut?
c. Bagaimanakah koefisien x pada keti-
ga garis tersebut?
d. Apa yang dapat kalian simpulkan?
5. Gambarlah grafik dari
1
2
· - y x
dan
y = 2x + 1 pada satu bidang koordinat.
a. Adakah hubungan antara ketiga
garis tersebut?
b. Bagaimanakah koefisien x pada
ketiga garis tersebut?
c. Apa yang dapat kalian simpulkan?
2. Menyatakan Persamaan Garis Jika Grafiknya
Diketahui
a. Persamaan garis y = mx
Untuk menyatakan persamaan garis dari gambar yang
diketahui maka kita harus mencari hubungan absis (x) dan
ordinat (y) yang dilalui garis tersebut.
x 0 ....
y .... 5
(x, y) (..., ...) (..., ...)
x 0 ....
y .... 0
(x, y) (..., ...) (..., ...)
62
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
2 1
1
3 5
2
1
3
4
4
6
X
Y
1 2
2
Gambar 3.4
Perhatikan Gambar 3.4. Misalkan bentuk persamaan
garis tersebut adalah y = mx + c dengan m dan c konstanta.
Karena titik (0, 0) dan (4, 2) terletak pada garis tersebut maka
diperoleh
y = mx + c
0 = m(0) + c atau c = 0, sehingga
2 = m(4) + 0 atau m =
1
2
.
Jadi, persamaan garis tersebut adalah y = mx + c atau
1
2
· y x
.
Persamaan garis yang melalui titik O(0, 0) dan titik
P(x
1
, y
1
) adalah
1
1
·
y
y x
x
. Jika
1
1
·
y
m
x
maka persamaan
garisnya adalah y = mx.
Tentukan persamaan garis
lurus pada gambar berikut.
Penyelesaian:
Garis l
1
melalui titik (0, 0) dan (4, 1), sehingga persamaan
garisnya adalah
1
1
1
4
· ·
y
y x x
x
. Adapun garis l
2
melalui
titik (0, 0) dan (–2, 2), sehingga persamaan garisnya adalah
1
1
2
2
· ·
-
y
y x x
x
atau y = –x.
2 1 3
2
1
3
4
X
Y
l
1
l
2
2
2
1
1
(4, 1)
( 2, 2)
Gambar 3.5
63
Persamaan Garis Lurus
b. Persamaan garis y = mx + c
Pada pembahasan sebelumnya, kalian telah mempe-
lajari bahwa persamaan garis yang melalui titik O(0, 0) dan
P(x
1
, y
1
) adalah
1
1
·
y
y x
x
.
Sekarang, perhatikan Gambar 3.6. Pada gambar
tersebut garis k melalui titik O(0, 0) dan titik A(4, 3), sehingga
persamaan garis k adalah y = mx atau
3
4
· y x
. Sekarang,
coba geserlah garis k sampai berimpit dengan garis l sehingga
(0, 0) ÷(0, 3) dan (4, 3) ÷ (4, 6). Garis l melalui titik B(0, 3)
dan C(4, 6) sejajar garis k.
2
2
1
1
1
3
3 4
5
2
1
3
5
4
6
4
X
Y
C(4, 6)
A(4, 3)
B(0, 3)
l
k
2
3
Gambar 3.6
Misalkan persamaan garis l adalah y = mx + c.
Karena garis l melalui titik (0,3) maka berlaku
3 = m (0) + c
3 = c atau c = 3
Karena garis l melalui titik (4, 6) maka berlaku
6 = m(4) + c
6 = 4m + 3
4m = 3
m =
3
4
Jadi, persamaan garis l yang sejajar dengan garis k adalah
y = mx + c atau
3
3
4
· - y x
.
64
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Dengan demikian, kita dapat menentukan persamaan suatu
garis l dengan memerhatikan berikut ini.
1. Titik potong garis l dengan sumbu Y.
2. Persamaan garis yang sejajar dengan garis l dan melalui
titik (0, 0).
Persamaan garis yang melalui titik (0, c) dan sejajar
garis y = mx adalah y = mx + c.
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Tentukan persamaan garis pada gambar
berikut.
1
2
0
3
4
4 3 2 1
X
Y
_
1
l
1
l
2
(i)
_
2 5
5
1
2
0
3
4
4 3 2 1
X
Y
_
1 l
4
l
3
5
_
1
(ii)
_
2
_
2 6
2. Gambarlah garis yang melalui titik
pangkal koordinat O(0, 0) dan titik-titik
berikut, kemudian tentukan persamaan
garisnya.
a. (3, 4) c. (–3, –5)
b. (–2, 5) d. (4, –3)
3. a. Diketahui titik A(–8, a) terletak pada
garis yang persamaannya
1
15
4
· - - y x
.
Tentukan nilai a.
b. Diketahui titik B(b, 5) terletak pada
garis yang persamaannya 4x – 3y +
7 = 0. Tentukan nilai b.
4. Gambarlah garis yang melalui titik-titik
berikut, kemudian tentukan persamaan
dari masing-masing garis tersebut.
a. P(0, 2) dan Q(2, 0)
b. R(0, 3) dan S(-4, 0)
c. K(0, 4) dan L(-1, 0)
65
Persamaan Garis Lurus
B. GRADIEN
Coba kalian perhatikan orang yang sedang naik tangga.
Dapatkah kalian menentukan nilai kemiringannya? Jika tangga
dianggap sebagai garis lurus maka nilai kemiringan tangga dapat
ditentukan dengan cara membandingkan tinggi tembok yang dapat
dicapai ujung tangga dengan jarak kaki tangga dari tembok. Nilai
kemiringan tangga tersebut disebut gradien. Pada pembahasan
ini kita akan membahas cara menentukan gradien dari suatu garis
lurus.
1. Gradien Suatu Garis yang Melalui Titik Pusat O(0, 0)
dan Titik ( x, y)
Agar kalian memahami pengertian dan cara menentukan
gradien suatu garis yang melalui titik O(0, 0) dan titik (x, y),
perhatikan Gambar 3.8.
Pada Gambar 3.8 tersebut tampak garis y =
1
2
x dengan titik
O(0, 0), A(2, 1), dan B(6, 3) terletak pada garis tersebut.
Bagaimanakah perbandingan antara komponen y dan komponen x
dari masing-masing ruas garis pada garis y =
1
2
x tersebut?
1
2
3
x
A
X
Y
y
A
A(2, 1)
B(6, 3)
y
B
C
A’
x
B
B’
y x =

2
1
4
O
Gambar 3.8
Perhatikan ruas garis OA pada segitiga OAA´.
A
A
AA 1
OA 2
´
· ·
´
y
x
Perhatikan ruas garis OB pada segitiga OBB´.
B
B
BB 3 1
OB 6 2
´
· · ·
´
y
x
Gambar 3.7
Sumber: Dok. Penerbit
66
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Perhatikan juga ruas garis AB pada segitiga ABC.
AB
AB
BC 3 1 2 1
AC 6 2 4 2
-
· · · ·
-
y
x
Dari uraian di atas ternyata perbandingan antara komponen
y dan komponen x pada masing-masing ruas garis menunjukkan
bilangan yang sama. Bilangan yang sama tersebut disebut gradien.
Jadi, gradien dari garis
1
2
· y x
adalah
1
2
. Bandingkan dengan
koefisien x pada persamaan garis y =
1
2
x. Apakah kalian
menyimpulkan berikut ini?
Gradien suatu garis adalah bilangan yang menyatakan
kecondongan suatu garis yang merupakan perbandingan
antara komponen y dan komponen x.
Besar gradien garis yang persamaannya y = mx adalah
besarnya koefisien x, sehingga dapat disimpulkan sebagai berikut.
Garis dengan persamaan y = mx memiliki gradien m.
Bagaimana cara menentukan gradien garis yang
persamaannya y = mx + c? Agar kalian mudah memahaminya,
perhatikan Gambar 3.9.
y x = 2 + 3
S(2, 7)
R(1, 5)
Q'
P'
P''
Y
X
1
1
2
2
3
3
4
4
5
5
6
7
0
Q( 1, 1)
3 2 1
P( 2, 1)
Gambar 3.9
Pada gambar tersebut tampak bahwa garis yang memiliki
persamaan y = 2x + 3 melalui titik-titik P(–2, –1), Q(–1, 1),
R(1, 5), dan S(2, 7).
Sekarang perhatikan perbandingan antara komponen y dan
komponen x dari beberapa ruas garis y = 2x + 3.
67
Persamaan Garis Lurus
Perhatikan ruas garis PQ pada segitiga PP Q ´ .
2
2
1
´
· · ·
´
p
p
y
QP
x PP
Perhatikan ruas garis QR pada segitiga QQ R ´ .
4
2
2
´
· · ·
´
Q
Q
y
RQ
x QQ
Perhatikan ruas garis PS pada segitiga
PP S ´´
.
8
2
4
´´
· · ·
´´
S
S
y
SP
x PP
Berdasarkan uraian di atas ternyata perbandingan antara
komponen y dan komponen x pada masing-masing ruas garis
menunjukkan bilangan yang selalu sama. Bilangan yang selalu sama
tersebut disebut gradien. Jadi, garis dengan persamaan y = 2x + 3
memiliki gradien 2.
Garis dengan persamaan y = mx + c memiliki gradien m.
Selanjutnya, bagaimana menentukan gradien garis yang
berbentuk ax + by = c?
Sebelumnya ubahlah bentuk ax + by = c ke bentuk y = mx + c
dengan cara seperti berikut.
= ax + by = c
= b y = –ax + c
y =
- -
a c
x
b b
!
koefisien x menunjukkan gradien
Gradien garis ax + by = c adalah . -
a
b
Gradien garis dengan persamaan ax + by = c adalah
-
a
b
.
(Berpikir kritis)
Kalian telah
mempelajari bahwa
gradien garis dengan
persamaan ax + by = c
adalah
-
a
b
.
a. Bagaimana jika
a = 0? Berapakah
gradiennya?
b. Bagaimana pula jika
b = 0? Berapakah
gradiennya?
Diskusikan dengan
temanmu. Ujilah jawab-
anmu dengan uraian
materi selanjutnya.
68
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Tentukan gradien dari per-
samaan garis berikut.
a. 2y = 5x – 1
b. 3x – 4y = 10
Penyelesaian:
a. Ubah persamaan garis 2y = 5x – 1 ke bentuk
y = mx + c.
y =
5
2
x –
1
2
m=
5
2
Atau dengan cara lain, ubah persamaan garis
2y = 5x – 1 ke bentuk ax + by = c.
2y = 5x – 1 = 5x – 1 = 2y
= 5x – 2y = 1
Gradien garis 5x – 2y = 1 adalah
5 5
.
2 2
¸ ¸
· - · - ·
(
-
¸ ,
a
m
b
b. 3x – 4y = 10
· -
a
m
b
=
3
4
¸ ¸
-
(
-
¸ ,
=
3
4
Jadi, gradien garis 3x – 4y = 10 adalah
3
.
4
· m
2. Gradien Garis yang Melalui Dua Titik ( x
1
, y
1
) dan
(x
2
, y
2
)
Kalian telah mempelajari bahwa gradien suatu garis adalah
perbandingan antara komponen y dan komponen x ruas garis yang
terletak pada garis tersebut.
69
Persamaan Garis Lurus
Perhatikan ruas garis AB pada Gambar 3.10.
Berdasarkan gambar tersebut tampak bahwa ruas garis AB
melalui titik A (x
1
, y
1
) dan B(x
2
, y
2
), sehingga perbandingan
komponen y dan komponen x ruas garis tersebut adalah
AB 2 1
AB
AB 2 1
.
- A
· · ·
- A
y y y y
m
x x x x
Dengan demikian, dapat disimpulkan sebagai berikut.
Gradien garis yang melalui titik (x
1
, y
1
) dan (x
2
, y
2
) adalah
2 1
2 1
y y y
m
x x x
- A
· ·
A -
.
Catatan:
Selisih antara dua bilangan x
1
dan x
2
dinotasikan dengan
Ax = x
2
– x
1
(A dibaca: delta).
Tentukan gradien garis
yang melalui titik
a. A(1, 2) dan B(3, 0);
b. C(–3, 1) dan
D(–2, –5).
Penyelesaian:
a. Gradien garis yang melalui titik A(1, 2) dan B(3, 0)
adalah
AB
B A
B A
0 2
3 1
2
1
2
y
m
x
y y
x x
A
·
A
-
·
-
-
·
-
-
· · -
(Berpikir kritis)
Apakah gradien garis
yang melalui titik
(x
1
, y
1
) dan (x
2
, y
2
)
dapat dirumuskan
sebagai
?
- A
· ·
A -
1 2
1 2
y y y
m
x x x
Apakah ada syarat
tertentu agar hal
tersebut berlaku?
Eksplorasilah hal ini
dengan mendiskusi-
kan bersama tema n
sebangkumu.
Hasilnya, kemukakan
secara singkat di
depan kelas.
0
X
Y
A
x
AB
( , ) x y
2 2
B
( , ) x y
1 1
y
AB
y
y
2
1
_
y
2
y
1
x x
2 1
_
x
2
x
1
Gambar 3.10
70
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
b. Gradien garis yang melalui titik C(–3, 1) dan D(–2, –5)
adalah
CD
D C
D C
5 1
2 ( 3)
6
1
6
y
m
x
y y
x x
A
·
A
-
·
-
- -
·
- - -
-
·
· -
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Gambarlah garis yang melalui titik
pangkal koordinat O(0, 0) dan titik
berikut pada bidang koordinat Cartesius.
Kemudian, tentukan gradien dari masing-
masing garis tersebut.
a. A(1, 7) d. D(3, –5)
b. B(5, 3) e. E(5, 0)
c. C(–2, 4) f. F(0, 3)
2. Perhatikan gambar berikut. Pada gambar
tersebut garis k melalui titik (0, 0) dan
(–5, –3), garis l melalui titik (0, 0) dan
(7, –6), serta garis m melalui titik (0, 0)
dan (3, 4). Tentukan gradien dari masing-
masing garis tersebut.
1
-1
-1
1
2
-2
-2
2
3
-3
-3
3
4
-4
-4
4
5
5
6
-6
-6 7 8
k
l
m
(
-
5
,
-
3
)
(7, -6)
(3, 4)
3. Tentukan gradien garis berikut.
a. y = x d. y =
1
2
x
b. y = –2x – 3 e. x + 2y – 1 = 0
c. y = 3x – 1 f. –3x + 5y = 0
4. Gambarlah garis yang melalui kedua titik
berikut pada bidang koordinat Cartesius.
a. A(1, 2) dan B(–2, 3)
b. C(7, 0) dan D(–1, 5)
c. E(1, 1) dan F(–3, –4)
d. G(5, 0) dan H(0, 4)
e. I(2, 0) dan J(0, –4)
Kemudian, tentukan gradien dari masing-
masing garis tersebut.
5. Diketahui persamaan garis y = mx + c.
Tentukan nilai m dan c jika garis tersebut
melalui titik
a. (2, 1) dan (–3, –1);
b. (2, 0) dan (0, –4);
c. (–4, 2) dan (3, –3);
d. (0, 2) dan (5, 0).
71
Persamaan Garis Lurus
3. Mengenal Gradien Garis T ertentu
a. Gradien garis yang sejajar sumbu X dan gradien garis
yang sejajar sumbu Y
Perhatikan Gambar 3.11. Jika garis OA kita putar searah
jarum jam sehingga berimpit dengan sumbu X maka diperoleh garis
OA
2
. Titik-titik yang terletak pada garis OA
2
memiliki ordinat 0,
sehingga gradien garis OA
2
2
2
komponen
OA
0
0
OA
·
· ·
y
Gradien garis yang sejajar sumbu X adalah nol.
X
Y
A
O
A
1
A
2
Gambar 3.11
Selanjutnya, kita akan menentukan gradien dari garis yang
sejajar sumbu Y. Perhatikan Gambar 3.12. Jika garis OB kita putar
berlawanan arah jarum jam sehingga berimpit dengan sumbu Y
maka diperoleh garis OB
2
. Titik-titik yang terletak pada garis OB
2
memiliki absis 0, sehingga
Gradien garis yang sejajar sumbu Y tidak didefinisikan.
(Berpikir kritis)
Diskusikan dengan
temanmu.
Segitiga PQR sama-
kaki dengan PQ = PR
= 3. Sisi PR terletak
pada sumbu X dan
PQ pada sumbu Y de-
ngan P terletak pada
titik pusat koordinat.
Tentukan
a. koordinat Q dan R;
b. gradien garis PQ,
dan PR;
c. persamaan garis
PQ dan PR.
B
2
B
B'
O
X
Y
Gambar 3.12
OB
2
2
OB
komponen
B
(tidak didefinisikan)
0
·
·
x
72
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
b. Gradien garis-garis yang saling sejajar
Perhatikan Gambar 3.13.
Pada gambar tersebut tampak pasangan ruas garis sejajar
AB//CD//EF dan ruas garis GH//IJ//KL. Bagaimanakah gradien
ruas garis yang saling sejajar tersebut?
0 1 2 3 4 5 6
_
1
_
2
_
3
1
2
3
4
5
6
X
Y
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
_
4 7
7
Gambar 3.13
Perhatikan uraian berikut ini.
-) Ruas garis AB melalui titik A(4, 0) dan B(6, 2), sehingga gradien
ruas garis AB adalah
B A
AB
B A
2 0
6 4
2
2
1.
y y
m
x x
-
·
-
-
·
-
·
·
-) Ruas garis CD melalui titik C(3, 2) dan D(5, 4), sehingga gradien
ruas garis CD adalah
D C
CD
D C
4 2 2
1.
5 3 2
y y
m
x x
-
·
-
-
· · ·
-
-) Ruas garis EF melalui titik E(1, 1) dan F(3, 3), sehingga gradien
ruas garis EF adalah
F E
EF
F E
3 1 2
1.
3 1 2
y y
m
x x
-
·
-
-
· · ·
-
73
Persamaan Garis Lurus
Berdasarkan uraian di atas tampak bahwa m
AB
= m
CD
= m
EF
= 1, dengan garis AB//CD//EF.
Sekarang kita akan mencari gradien dari garis GH, garis IJ,
dan garis KL.
-) Ruas garis GH melalui titik G(2, 3) dan H(0, 6), sehingga berlaku
H G
GH
H G
6 3 3
.
0 2 2
y y
m
x x
-
·
-
-
· · -
-
-) Ruas garis IJ melalui titik I(0, 3) dan J(–2, 6), sehingga berlaku
J I
IJ
J I
6 3 3
.
2 0 2
y y
m
x x
-
·
-
-
· · -
- -
-) Ruas garis KL melalui titik K(–1, 1) dan L(–3, 4), sehingga
berlaku
L K
KL
L K
4 1 3
.
3 ( 1) 2
y y
m
x x
-
·
-
-
· · -
- - -
Berdasarkan uraian tersebut, tampak bahwa m
GH
= m
IJ
=
m
KL
=
3
2
- , dengan garis GH//IJ//KL.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa garis-garis yang
sejajar memiliki gradien yang sama.
Jika garis y
1
= m
1
x + c sejajar dengan garis y
2
= m
2
x + c
maka gradien kedua garis tersebut sama, atau m
1
= m
2
.
Tentukan kedudukan garis
y = –2x + 5 dengan garis
berikut.
(i)
1
2
2
- · x y
(ii) 4x + 2y = 5
Penyelesaian:
Garis y = –2x + 5 berbentuk y = mx + c, sehingga gradien
garis tersebut adalah m
1
= –2.
(i) Ubahlah bentuk
1
2
2
- · x y
menjadi bentuk
· - y mx c .
74
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
1 1
2 2
2 2
4 2
- · = · -
= · -
x y y x
y x
Gradien dari persamaan garis y = 4 – 2x adalah
m
2
= –2.
Karena m
2
= m
1
= –2, maka garis y = 2x + 5 dan garis
1
2
2
- · x y saling sejajar.
(ii) Bentuk 4x + 2y = 5 jika diubah ke bentuk y = mx + c
sebagai berikut.
4 2 5 2 5 4
5
2
2
- · = · -
= · -
x y y x
y x
Gradien dari garis
5
2
2
· - y x
adalah m
2
= –2. Karena
m
2
= m
1
, maka garis y = 2x + 5 dan garis 4x + 2y = 5
saling sejajar.
c. Gradien garis y ang s aling t egak l urus
Untuk menentukan gradien garis yang saling tegak lurus
perhatikan Gambar 3.14. Dengan menggunakan busur derajat atau
penggaris siku-siku, dapatkah kalian menunjukkan hubungan antara
ruas garis AB dengan ruas garis CD? Bagaimana pula hubungan
antara ruas garis EF dengan ruas garis GH? Apakah kedua pasang
ruas garis tersebut saling tegak lurus? Jika kalian menggunakan
penggaris siku-siku dengan cermat, kalian akan memperoleh bahwa
ruas garis AB ± CD dan ruas garis EF ± GH.
0
_
1
_
2
1
2
3
4
1 2 3 4 5
X
Y
A
B
C
D
F
G
H
_
1
_
2
_
3
E
_
4
_
3
6
5
Gambar 3.14
75
Persamaan Garis Lurus
Sekarang akan kita selidiki gradien dari masing-masing ruas garis
tersebut.
-) Ruas garis AB melalui titik A(1, 1) dan B(4, 2), sehingga
AB
2 1 1
.
4 1 3
m
-
· ·
-
-) Ruas garis CD melalui titik C(3, 0) dan D(2, 3), sehingga
CD
3 0 3
3.
2 3 1
m
-
· · · -
- -
Perhatikan bahwa ( )
AB CD
1
3 1
3
× · × - · - m m
.
Dari Gambar 3.15 tampak bahwa garis AB ± CD dengan
m
AB
×
m
CD
= –1 ........................................................... (i)
Selanjutnya akan kita cari gradien dari ruas garis EF dan GH.
-) Ruas garis EF melalui titik E(–3, 3) dan F(2, –2), sehingga
EF
2 3 5
1.
2 ( 3) 5
m
- - -
· · · -
- -
-) Ruas garis GH melalui titik G(–3, 0) dan H(0, 3), sehingga
GH
3 0 3
1.
0 ( 3) 3
m
-
· · ·
- -
Perhatikan bahwa
EF GH
1 1 1 × · - × · - m m .
Dari Gambar 3.14 tampak bahwa garis EF ± GH dengan
m
EF
×
m
GH
= –1 ........................................................... (ii)
Berdasarkan (i) dan (ii) dapat dikatakan bahwa jika dua buah
garis saling tegak lurus maka hasil kali gradien kedua garis tersebut
adalah –1.
Hasil kali gradien dua garis yang saling tegak lurus adalah
–1.
Selidikilah apakah garis
yang melalui titik P(3, 1)
dan Q(9, 5) tegak lurus
dengan garis yang melalui
titik R(8, 0) dan S(4, 6).
Penyelesaian:
Gradien garis yang melalui titik P(3, 1) dan Q(9, 5) adalah
PQ
5 1 4 2
.
9 3 6 3
m
-
· · ·
-
(Menumbuhkan
inovasi)
Bentuklah kelompok
yang terdiri atas 4
orang, 2 pria dan 2
wanita. Diskusikan hal
berikut.
a. Diketahui persa-
maan garis ax +
by = c dan px + qy
= r saling sejajar .
Bagaimana hu-
bungan antara a
dan b dengan p
dan q?
b. Diketahui persa-
maan garis ax +
by = c dan px + qy
= r saling tegak
lurus. Bagaimana
hubungan antara a
dan b dengan p
dan q?
Dari jawaban a dan b,
buatlah kesimpulan-
nya.
76
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
1. Tentukan gradien dari garis-garis berikut.
a. x = 0 d. y = -4
b. x = 3 e. y = 0
c. x = -5 f. y = 6
2. Di antara persamaan garis berikut,
manakah yang sejajar dengan garis yang
melalui titik (0, 0) dan (–2, 1)?
a. y = 2x – 5 d. 2x – y = 3
b.
1
2
· - y x
e. 4x + y – 1 = 0
c. x + 2y = 1
3. Tentukan gradien garis y = mx + c, agar
a. sejajar dengan garis 2x – 3y = 10;
b. tegak lurus dengan garis 3x + 4y =
5.
4. Tentukan gradien garis yang melalui
kedua titik berikut. Adakah hubungan
sejajar atau tegak lurus di antaranya?
a. A(-1, 0) dan B(0, 2)
b. C(0, 3) dan D(2, 2)
c. E(1, -2) dan F(3, 2)
d. G(2, -3) dan H(-6, 1)
5. Diketahui sebuah garis melalui titik
A(3, 0) dan B(0, 2). Suatu garis lain
melalui titik O(0, 0) dan C(3, 3).
a. Dengan menentukan gradien
masing-masing garis, bagaimanakah
kedudukan dua garis tersebut?
b. Tentukan persamaan garis yang
melalui titik O dan C?
Gradien garis yang melalui titik R(8, 0) dan S(4, 6) adalah
RS
6 0 6 3
.
4 8 4 2
m
-
· · · -
- -
PQ RS
2 3
1
3 2
¸ ¸
× · × - · -
(
¸ ,
m m
Karena hasil kali gradien kedua garis adalah –1, sehingga
kedua garis tegak lurus.
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
C. PERSAMAAN GARIS (2)
Pada pembahasan yang lalu kalian telah mempelajari cara
menentukan persamaan garis y = mx dan y = mx + c jika grafiknya
diketahui. Pada bagian ini kalian akan mempelajari secara lebih
mendalam mengenai cara menentukan persamaan garis jika
grafiknya tidak diketahui. Pelajari uraian berikut ini.
77
Persamaan Garis Lurus
1. Persamaan Garis yang Melalui Sebuah Titik ( x
1
, y
1
)
dengan Gradien m
Misalkan suatu garis mempunyai gradien m dan melalui sebuah
titik (x
1
, y
1
). Bentuk persamaan garis tersebut adalah y = mx + c.
Untuk menentukan persamaan garis tersebut perhatikan langkah-
langkah berikut.
(a) Substitusi titik (x
1
, y
1
) ke persamaan y = mx + c.
y = mx + c
=y
1
= mx
1
+ c
=c = y
1
– mx
1
(b) Substitusi nilai c ke persamaan y = mx + c.
y = mx + c
= y = mx + y
1
– mx
1
=y – y
1
= mx – mx
1
y – y
1
= m(x – x
1
)
Persamaan garis yang melalui titik (x
1
, y
1
) dan bergradien m
adalah y – y
1
= m(x – x
1
).
Tentukan persamaan
garis yang melalui titik
(–3, 2) dan tegak lurus
dengan garis yang
melalui titik (1, 3) dan
(–1, 4). Gambarlah
kedua garis tersebut
pada satu bidang ko-
ordinat dan tentukan
koordinat t itik potong-
nya.
Tentukan persamaan garis
yang melalui titik (3, 5) dan
bergradien
1
2
.
Penyelesaian:
Persamaan garis yang melalui titik (x
1
, y
1
) dan bergradien
m adalah y – y
1
= m(x – x
1
). Oleh karena itu persamaan
garis yang melalui titik (3, 5) dan bergradien
1
2
sebagai
berikut.
( )
( )
1 1
1
5 3
2
1 3
5
2 2
1 7
atau
2 2
2 7
- · -
- · -
· - -
· -
· -
y y m x x
y x
y x
y x
y x
78
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
2. Persamaan Garis yang Melalui titik (x
1
, y
1
) dan Sejajar
dengan Garis y = mx + c
Perhatikan Gambar 3.15. Gambar tersebut menunjukkan garis
l dengan persamaan y = mx + c bergradien m dan garis g sejajar
dengan l. Karena garis g // l maka m
g
= m
l
= m.
0
X
Y
g
l
( , ) x y
1 1
y mx c = +
Gambar 3.15
Garis g melalui titik (x
1
, y
1
) dan bergradien m, sehingga
persamaan garisnya adalah y – y
1
= m(x – x
1
).
Persamaan garis yang melalui titik (x
1
, y
1
) dan sejajar garis
y = mx + c adalah y – y
1
= m(x – x
1
).
Tentukan persamaan garis
yang melalui titik (2, –3)
dan sejajar dengan garis
3x + 4y = 5.
Penyelesaian:
Gradien garis 3x + 4y = 5 adalah
1
3
4
· - m
. Karena garis
yang melalui titik (2, –3) sejajar dengan garis 3x + 4y = 5,
maka gradiennya =
2
3
4
· - m
.
Persamaan garis yang melalui titik (2, –3) dan bergradien
3
4
-
adalah
( )
( ) ( )
( )
1 1
3
3 2
4
3
3 2
4
- · -
= - - · - -
= - · - -
y y m x x
y x
y x
79
Persamaan Garis Lurus
3 3
3
4 2
3 3
atau
4 2
4 3 6
= · - - -
· - -
· - -
y x
y x
y x
3. Persamaan Garis yang Melalui ( x
1
, y
1
) dan Tegak Lurus
dengan Garis y = mx + c
Untuk menentukan persamaan garis g yang tegak lurus garis
l, perhatikan Gambar 3.16. Pada gambar tersebut tampak bahwa
garis l memiliki persamaan garis y = mx + c dan bergradien m.
Garis g ± l, sehingga m
g
× m
l
= –1 atau
1 1
. · - · -
g
l
m
m m
0
X
Y
g
l
( , ) x y
1 1
y mx c = +
Gambar 3.16
Karena garis g melalui titik (x
1
, y
1
) dan bergradien
1
-
m
, maka
persamaan garisnya adalah
( )
1 1
1
- · - - y y x x
m
.
Persamaan garis yang melalui titik (x
1
, y
1
) dan tegak lurus
dengan garis y = mx + c adalah ( )
1 1
1
- · - - y y x x
m
.
80
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Tentukan persamaan garis
yang melalui titik (–1, 3)
dan tegak lurus garis
2x – 3y = 6, kemudian
gambar grafiknya pada
bidang koordinat.
Penyelesaian:
Gradien garis 2x – 3y
=
6 adalah m
=
2 2
3 3
-
·
-
.
Persamaan garis yang melalui (–1, 3) dan tegak lurus garis
2x – 3y = 6 adalah
( )
( ) ( )
( )
1 1
1
1
3 1
2
3
3
3 1
2
3 3
3
2 2
3 3
atau 2 3 3
2 2
- · - -
- · - - -
- · - -
· - - -
· - - · - -
y y x x
m
y x
y x
y x
y x y x
Gambar grafiknya sebagai berikut.
0
X
Y
2
_
3 = 6 x y
_
1
_
2
_
1
1
2 3 4
_
2 1
2
3
4
(
_
1, 3)
_
3
_
3
5 6
_
4
_
4
5
6
3 3
2 2
· - - y x
Gambar 3.17
81
Persamaan Garis Lurus
4. Persamaan Garis yang Melalui Dua Titik Sebarang
(x
1
, y
1
) dan ( x
2
, y
2
)
Perhatikan Gambar 3.18.
1
2
0 4 3 2 1
X
Y
_
1
(5,
_
1)
(1, 2)
5
l
6 7 8
3
_
2
A
B
Gambar 3.18
Misalkan kalian akan menentukan persamaan garis yang
melalui titik A(1, 2) dan titik B(5, –1) seperti pada Gambar 3.18.
Coba kalian ingat kembali bentuk fungsi linear y = ax + b.
Misalkan persamaan garis l adalah y = ax + b. Untuk menentukan
persamaan garis l, perhatikan uraian berikut.
-) Substitusikan titik (1, 2) ke persamaan y = ax + b.
2 = a(1) + b
=
2 = a + b ............................................ (i)
Selanjutnya, substitusikan titik (5, –1) ke persamaan
y = ax + b.
–1 = a(5) + b
=
–1 = 5a + b ..................................... (ii)
Kemudian, eliminasi persamaan (i) dan (ii), sehingga diperoleh
2 = a + b
–1 = 5a + b
2 – (–1) = a – (5a)
3 = –4a
3
4
· - a
Untuk memperoleh nilai b substitusikan nilai
3
4
· - a ke
persamaan (i).
2 = a + b
3
2
4
¸ ¸
· - -
(
¸ ,
b
3 11
2
4 4
¸ ¸
· - - ·
(
¸ ,
b
82
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
3 11
4 4
4 3 11
· -
· - -
· - -
y ax b
y x
y x
Jadi, persamaan garis yang melalui titik A(1, 2) dan B(5, –1)
adalah
3 11
4 4
· - - y x atau 4y = –3x + 11.
Dari contoh di atas tampak bahwa persamaan garis yang
melalui dua titik dapat diselesaikan dengan substitusi ke fungsi li-
near y = ax + b.
Persamaan garis yang melalui dua titik dapat diselesaikan
dengan substitusi ke fungsi linear y = ax + b.
Selain dengan cara substitusi ke fungsi linear, untuk menentu-
kan persamaan garis yang melalui dua titik dapat diselesaikan
dengan cara seperti berikut.
Dari Gambar 3.18 diketahui garis l melalui titik A(1, 2) dan
B(5, –1). Gradien garis yang melalui titik A dan B adalah
2 1
AB
2 1
1 2
5 1
3
4
-
·
-
- -
·
-
· -
y y
m
x x
Persamaan garis l yang bergradien
3
4
· - m
dan melalui titik
A(1, 2) adalah
( )
( )
1 1
3
2 1
4
3 3
2
4 4
3 11
atau 4 3 11
4 4
- · -
- · - -
- · - -
· - - · - -
y y m x x
y x
y x
y x y x
Dengan memerhatikan bahwa gradien yang melalui titik
A(x
1
, y
1
) dan B(x
2
, y
2
) adalah
2 1
AB
2 1
y y
m
x x
-
·
-
maka persamaan garis yang melalui titik A dan B adalah
( )
2 1
1 1
2 1
.
y y
y y x x
x x
-
- · -
-
(Menumbuhkan
inovasi)
Bentuklah kelompok
yang terdiri atas 2
orang, 1 pria dan 1
wanita. Coba diskusi-
kan, bagaimanakah
persamaan garis yang
memotong sumbu Y di
titik (0, a) dan memo-
tong sumbu X di
(b, 0)?
Kalian dapat menggu-
nakan berbagai cara.
Bandingkan hasilnya.
Eksplorasilah, apakah
dapat dikatakan
bahwa persamaan
garis yang melalui titik
(0, a) dan ( b, 0) adalah
ax + by = ab?
Ujilah jawabanmu
dengan persamaan
tersebut.
83
Persamaan Garis Lurus
Persamaan garis yang melalui titik A(x
1
, y
1
) dan B(x
2
, y
2
)
adalah
( )
2 1
1 1
2 1
y y
y y x x
x x
-
- · -
-
atau dapat dituliskan
1 1
2 1 2 1
.
y y x x
y y x x
- -
·
- -
(Menumbuhkan
kreativitas)
Menurutmu, manakah
yang lebih mudah cara
menentukan persa-
maan garis yang me-
lalui dua titik sebarang
dengan substitusi ke
fungsi linear
y = ax + b, ataukah
dengan rumus seperti
di samping? Jelaskan
pendapatmu.
Tentukan persamaan garis
yang melalui titik (3, –5)
dan (–2, –3).
Penyelesaian:
Persamaan garis yang melalui titik (3, –5) dan (–2, –3)
sebagai berikut.
Cara 1
Dengan substitusi ke fungsi linear y = ax + b.
y = ax + b
–5 = a(3) + b
=
–5 = 3a + b
–3 = a(–2) + b
=
–3 = –2a + b
–5 – (–3) = 3a – (–2a)
–5 + 3 = 3a + 2a
–2 = 5a
2
5
-
= a
Substitusi nilai a ke persamaan
5 3
2
5 3
5
6
5
5
19
5
- · -
¸ ¸
- · - -
(
¸ ,
- · - -
· -
a b
b
b
b
Persamaan garis yang memenuhi
y = ax + b adalah
2 19
5 5
· - - y x
atau –5y = 2x + 19.
84
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Cara 2
Dengan menggunakan rumus.
Substitusi titik (3, –5) dan (–2, –3) ke
persamaan
( ) ( )
1 1
2 1 2 1
( 5) 3
3 ( 5) 2 3
5
3
2 5
5 5 2 3
5 25 2 6
5 2 6 25
5 2 19
2 19
atau
5 5
5 2 19
- -
·
- -
- - -
·
- - - - -
-
-
·
-
- - · -
- - · -
- · - -
- · -
· - -
- · -
y y x x
y y x x
y x
y
x
y x
y x
y x
y x
y x
y x
Jadi, persamaan garis yang melalui titik (3, –5) dan (–2, –3)
adalah
2 19
5 5
· - - y x
atau –5y = 2x + 19.
5. Menggambar Garis yang Melalui Titik ( x
1
, y
1
) dengan
Gradien m
Pada pembahasan yang lalu kalian telah mempelajari cara
menggambar grafik persamaan garis y = mx + c. Coba kalian
ingat kembali bagaimana cara menggambarnya. Sekarang, kalian
akan mempelajari cara menggambar garis yang belum diketahui
persamaannya. Dalam hal ini, garis yang melalui titik (x
1
, y
1
) dengan
gradien m. Agar kalian lebih mudah memahaminya, perhatikan
contoh berikut.
Gambarlah garis yang me-
lalui titik P(2, 0) dengan
gradien
1
2
- .
Penyelesaian:
Untuk menggambar garis yang melalui titik P(2, 0) dan
bergradien
1
2
-
langkah-langkahnya sebagai berikut.
– Gambar titik P(2, 0) pada bidang koordinat Cartesius.
85
Persamaan Garis Lurus
– Karena gradien adalah perbandingan antara komponen
y dan komponen x, maka m =
1
.
2
A
-
·
A
y
x
A y = –1, artinya ke bawah 1 satuan dari titik P(2, 0)
diteruskan dengan Ax = 2, artinya ke kanan 2 satuan,
sehingga diperoleh titik Q(4, –1).
– Hubungkan titik P dan titik Q.
Garis yang melalui titik P(2, 0) dan Q(4, –1) adalah
garis yang dimaksud.
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
0
X
Y
P
(
2
,
0
)
x = 2
y = 1
_
Q
_
1
_
2
1 2 3 4 5
1
2
_
3
3
6 7
Gambar 3.19
1. Tentukan persamaan garis yang melalui
titik
a. A(1, 3) dan bergradien 2;
b. C(7, 1) dan bergradien
1
5
;
c. D(3, 0) dan bergradien
1
2
-
;
d. E(–2, –3) dan bergradien –1.
Kemudian, gambarlah garis tersebut
pada bidang koordinat Cartesius. Berilah
nama untuk masing-masing garis
tersebut.
2. Tentukan persamaan garis yang melalui
titik
a. A(–2, 3) dan sejajar garis
y = –x – 5;
b. B(–4, 0) dan sejajar garis
2x + 3y = 1;
c. D(–3, 1) dan sejajar garis
x + 4y + 5 = 0;
d. E(2, 4) dan sejajar garis x = 3y + 3.
3. Tentukan persamaan garis yang melalui
titik-titik berikut.
a. A(3, –2) dan B(–1, 3)
b. Q(–5, 0) dan R(3, 4)
c. K(7, 3) dan L(–2, –1)
d. M(1, 1) dan N(–6, 4)
4. Diketahui suatu garis bergradien 5
melalui titik P(1, 0) dan Q(x, 5). Tentukan
nilai x.
86
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
5. Tentukan persamaan garis yang melalui
titik (2, 5) dan tegak lurus dengan garis
berikut.
a. 2x + y + 5 = 0
b.
1
6
2
· - - y x
c. 3x = –4y + 5
d.
3
4
2
- · y x
D. MENENTUKAN TI TIK POTONG DUA GARIS
Kalian telah mempelajari cara menentukan persamaan ga-
ris yang saling sejajar maupun tegak lurus. Dua garis yang sejajar
tidak akan pernah berpotongan di satu titik. Sebaliknya, dua garis
yang saling tegak lurus pasti berpotongan di satu titik. Dengan
tanpa menggambarnya terlebih dahulu, kalian dapat menentukan
titik potong dua garis yang tidak sejajar. Pelajari uraian berikut.
1. Kedudukan Dua Garis pada Bidang
Ada dua macam kedudukan dua garis pada bidang, yaitu
sejajar dan berpotongan.
Dua garis sejajar Dua garis berpotongan
Gambar 3.20
Dua garis sejajar tidak akan berpotongan di satu titik tertentu
meski diperpanjang sampai tak berhingga. Dengan demikian, dapat
dikatakan bahwa tidak ada titik potong antara dua garis yang sejajar.
2. Menentukan Koordinat Titik Potong Dua Garis
Perhatikan Gambar 3.21.
Y
X
0
k
l
Gambar 3.21
(Menumbuhkan
kreativitas)
Misalkan t erdapat t iga
buah garis g, h, dan k,
serta dua titik A dan B.
Garis g dengan persa-
maan (a + 1) x – 2y =
3 dan garis h dengan
persamaan x – ay = 0.
Titik A adalah titik
potong garis g dan h,
sedangkan garis k
adalah garis yang
melalui titik B(1, 5)
dan sejajar garis g.
Tentukan
a. gradien garis g, h,
dan k;
b. nilai a, jika g ± h;
c. koordinat titik A;
d. persamaan garis
k;
e. titik potong garis k
dan h.
Gambarlah ketiga
garis tersebut pada
bidang koordinat
Cartesius.
Hasilnya, kumpulkan
kepada gurumu.
87
Persamaan Garis Lurus
Pada Gambar 3.21 tampak bahwa garis k dan garis l tidak
saling sejajar. Telah kalian pelajari bahwa dua garis yang tidak
saling sejajar akan berpotongan di satu titik tertentu. Untuk
menentukan titik potong garis k dan l, perhatikan uraian berikut.
Misalkan garis k memiliki persamaan y
1
= m
1
x + c
1
;
garis l memiliki persamaan y
2
= m
2
x + c
2
;
Jika kedua garis ini berpotongan di titik P(x
o
, y
o
) maka berlaku
y
o
= m
1
x
o
+ c
1
y
o
= m
2
x
o
+ c
2
Dari kedua persamaan ini, diperoleh
( )
1 1 2 2
1 2 2 1
1 2 2 1
2 1
1 2
1 2
, 0
- · -
- · -
- · -
-
· - ÷
-
o o
o o
o
o
m x c m x c
m x m x c c
x m m c c
c c
x m m
m m
Selanjutnya, untuk memperoleh nilai y
o
, substitusikan nilai x
o
pada
salah satu persamaan garisnya.
Jika y
1
= m
1
x + c
1
dan y
2
= m
2
x + c
2
adalah persamaan dua
garis yang tidak saling sejajar maka titik potongnya dapat
dicari dengan menyelesaikan persamaan m
1
x + c
1
=
m
2
x + c
2
, kemudian menyubstitusikan nilai x ke salah satu
persamaan garis tersebut.
Tentukan koordinat titik
potong garis x + y = 3 dan
y = 2x – 1.
Penyelesaian:
x + y = 3 dan y = 2x – 1
Ubah terlebih dahulu persamaan garis x + y = 3 ke bentuk
y = mx + c.
x + y = 3 ÷ y = 3 – x
y = 3 – x ................................................ (i)
y = 2x – 1 .............................................. (ii)
Dari persamaan (i) dan (ii) diperoleh
3 2 1
2 1 3
3 4
4 4
3 3
- · -
- - · - -
- · -
-
· ·
-
x x
x x
x
x
88
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Selanjutnya, untuk menentukan nilai y substitusikan nilai
x ke persamaan (i).
3
4
3
3
5
3
· -
· -
·
y x
y
Jadi, titik potong garis x + y = 3 dan y = 2x – 1 adalah
4 5
, .
3 3
¸ ¸
(
¸ ,
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Tentukan titik potong kedua garis beri-
kut.
a. y = 3x – 1 dan y = x + 5
b. y = x + 1 dan y = –5x + 3
c. 2x – y – 5 = 0 dan x + 2y – 1 = 0
d. 3x + 5y = 2 dan 2x – 7y = 3
2. Tentukan persamaan garis yang melalui
titik (1, –3) dan titik potong garis y = 2x
dengan y = 5x – 4.
3. Tentukan persamaan garis yang melalui
titik potong garis 2x + 3y = 5 dan
x – 4y = 1 dengan gradien 2.
4. Tentukan persamaan garis yang tegak
lurus garis 2x + y = 1 dan melalui titik
potong garis x = 4y + 4 dengan y = 7.
5. Selidiki kedudukan kedua garis berikut
tanpa menggambar terlebih dahulu.
a. x + 2y = 7 dan y – 2x = –1
b. y = 2x – 5 dan y = 2x + 3
c. y = –3x dan
1
1
3
· - x y
d. 5x + 2y = 1 dan
1 1
0
5 2
- · x y
6. Diketahui ketiga garis 2x – y – 1 = 0,
4x – y – 5 = 0, dan ax – y – 7 = 0
berpotongan di satu titik. Tentukan
a. nilai a;
b. koordinat titik potong ketiga garis;
c. persamaan garis yang melalui titik O
dan titik potong tersebut.
7. Garis 2x – y = a dan x + by = 4 berpo-
tongan di titik (2, 1). Tentukan
a. nilai a dan b;
b. kedudukan kedua garis.
8. Diketahui garis 3x – ay = 4 tegak lurus
dengan garis 4x – (a – 1)y = 5. Tentukan
a. nilai a;
b. titik potong kedua garis;
c. persamaan garis yang melalui titik
O(0, 0) dan titik potong kedua garis
tersebut.
89
Persamaan Garis Lurus
E. MEMECAHKAN MASALAH Y ANG BER-
KAITAN DENGAN KONSEP PERSAMAAN
GARIS LURUS
Kalian telah mempelajari mengenai persamaan garis lurus.
Dengan konsep-konsep yang telah kalian peroleh, hal itu dapat
digunakan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan
persamaan garis lurus.
Diketahui garis 6x + py +
4 = 0 dan 3x – 2py – 5 = 0
saling tegak lurus. Tentu-
kan
a. nilai p;
b. persamaan garis yang
memenuhi.
Penyelesaian:
a. Gradien garis 6x + py + 4 = 0 adalah
1
6
· - m
p
.
Gradien garis 3x – 2py – 5 = 0 adalah
2
3
2
· m
p
.
Karena kedua garis saling tegak lurus, maka berlaku
m
1
×
m
2
= –1.
1 2
2
2
1
6 3
1
2
18 2
9
3
× · -
¸ ¸ ¸ ¸
- × · -
( (
¸ , ¸ ,
- · -
·
· ±
m m
p p
p
p
p
Jadi, nilai p yang memenuhi adalah p = 3 atau p = –3.
b. Persamaan garis yang memenuhi sebagai berikut.
Untuk p = 3, maka persamaan garisnya adalah
6x + 3y + 4 = 0 dan 3x – 6y – 5 = 0.
Untuk p = –3, maka persamaan garisnya adalah
6x – 3y + 4 = 0 dan 3x + 6y – 5 = 0.
(Berpikir kritis)
Bacalah buku-buku referensi yang berkaitan dengan konsep
persamaan garis lurus. Cobalah memecahkan masalah-masalah
yang berkaitan dengan persamaan garis lurus yang terdapat di buku
tersebut. Jika mengalami kesulitan, tanyakan pada gurumu agar
kalian lebih paham materi tersebut. Diskusikan hal ini dengan
temanmu. Susunlah hasilnya dalam b entuk laporan dan kumpulka n
kepada gurumu.
90
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Diketahui garis ax + 3y + 6 = 0 tegak
lurus dengan garis 3x – 2y – 2a
=
0.
Tentukan
a. nilai a;
b. titik potong kedua garis.
2. Tentukan nilai p agar persamaan garis
2x + py – 3 = 0 sejajar dengan garis
x – 3y + 2 = 0.
3. Diketahui segitiga ABC dengan A(3, 6),
B(3, 1), dan C(6, 1). Dengan mencari
gradien masing-masing garis yang
melalui sisi-sisi segitiga ABC, tunjukkan
bahwa segitiga ABC siku-siku di titik B.
4. Diketahui suatu persegi panjang ABCD
sisi-sisinya sejajar dengan sumbu koor-
dinat. Titik A(–2, –1) dan C(2, 1) adalah
titik sudut yang saling berhadapan.
Tentukan
a. koordinat titik B dan D;
b. gradien garis yang dilalui diagonal AC
dan BD;
c. persamaan garis yang dilalui diago-
nal AC dan BD.
5. Diketahui sebuah persegi PQRS dengan
R(2, 6) dan S(–4, 6). Titik P dan Q terle-
tak pada sumbu X. Dengan mencari per-
samaan garis yang melalui diagonal PR
dan QS, tunjukkan bahwa diagonal-dia-
gonal sebuah persegi saling tegak lurus.
1. Persamaan garis lurus dapat ditulis dalam bentuk y = mx + c
dengan m dan c suatu konstanta.
2. Langkah-langkah menggambar grafik persamaan y = mx atau
y = mx + c, c
÷
0 sebagai berikut.
– Tentukan dua titik yang memenuhi persamaan garis tersebut
dengan membuat tabel untuk mencari koordinatnya.
– Gambar dua titik tersebut pada bidang koordinat Cartesius.
– Hubungkan dua titik tersebut, sehingga membentuk garis
lurus yang merupakan grafik persamaan yang dicari.
3. Persamaan garis yang melalui titik O(0, 0) dan titik P(x
1
, y
1
)
adalah
1
1
·
y
y x
x
.
4. Persamaan garis yang melalui titik (0, c) dan sejajar garis
y = mx adalah y = mx + c.
5. Gradien suatu garis adalah bilangan yang menyatakan
kecondongan suatu garis yang merupakan perbandingan antara
komponen y dan komponen x.
91
Persamaan Garis Lurus
6. Garis dengan persamaan y = mx memiliki gradien m dan
melalui titik (0, 0).
7. Garis dengan persamaan y = mx + c memiliki gradien m dan
melalui titik (0, c).
8. Garis dengan persamaan ax + by + c = 0 memiliki gradien
-
a
b
.
9. Gradien garis yang melalui titik (x
1
, y
1
) dan (x
2
, y
2
) adalah
2 1 1 2
2 1 1 2
.
- - A
· · ·
A - -
y y y y y
m
x x x x x
10. Gradien garis yang sejajar sumbu X adalah nol.
11. Gradien garis yang sejajar sumbu Y tidak didefinisikan.
12. Garis-garis yang sejajar memiliki gradien yang sama.
13. Hasil kali gradien dua garis yang saling tegak lurus adalah –1
atau m
1
×
m
2
= –1.
14. Persamaan garis yang melalui titik (x
1
, y
1
) dan bergradien m
adalah y – y
1
= m(x – x
1
).
15. Persamaan garis yang melalui titik (x
1
, y
1
) dan sejajar garis
y = mx + c adalah y – y
1
= m(x – x
1
).
16. Persamaan garis yang melalui titik (x
1
, y
1
) dan tegak lurus
garis y = mx + c adalah ( )
1 1
1
- · - - y y x x
m
.
17. Persamaan garis yang melalui dua titik dapat diselesaikan
dengan substitusi ke fungsi linear y = ax + b.
18. Persamaan garis yang melalui titik A(x
1
, y
1
) dan B(x
2
, y
2
)
adalah
( )
2 1
1 1
2 1
-
- · -
-
y y
y y x x
x x
atau dapat dituliskan
1 1
2 1 2 1
- -
·
- -
y y x x
y y x x
.
19. Dua garis yang tidak saling sejajar akan berpotongan di satu
titik tertentu.
20. Jika y
1
dan y
2
adalah dua buah garis yang tidak saling sejajar
maka untuk menentukan titik potong dari dua garis tersebut
harus memenuhi y
1
= y
2
.
92
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Setelah mempelajari bab ini, apakah kalian sudah paham
mengenai Persamaan Garis Lurus ? Jika kalian sudah paham,
coba rangkum kembali materi ini dengan kata-katamu sendiri.
Bagian mana dari materi ini yang belum kamu pahami? Catat dan
tanyakan kepada temanmu yang lebih tahu atau kepada gurumu.
Buatlah dalam sebuah laporan singkat dan serahkan kepada
gurumu.
Kerjakan di buku tugasmu.
A. Pilihlah salah satu jawaban yang tepat.
1. Grafik persamaan garis y = 2x ditun-
jukkan oleh gambar ....
a.
0 1 2 3
1
2
X
Y
3
4
b.
0 1 2 3
1
2
X
Y
3
4
c.
0
_
2
_
1
1
2
X
Y
3
_
3
_
4
d.
0
_
2
_
1
1
2
X
Y
3
_
3
_
4
2. Jika gradien garis yang melalui titik
P(–2, 3a) dan Q(–1, a) adalah –3
maka nilai a = ....
a. –6
b. –4
c.
3
2
-
d.
3
2
3. Persamaan garis yang bergradien
1
3
-
dan melalui titik (1, 3) adalah ....
a. 3x – y + 10 = 0
b. 3x – y – 10 = 0
c. x + 3y + 10 = 0
d. x + 3y – 10 = 0
93
Persamaan Garis Lurus
4. Persamaan garis yang melalui titik
(0, 1) dan (1, 6) adalah ....
a. x + 5y = 5
b. x = 5y + 1
c. y = 5x – 5
d. 5x – y + 1 = 0
5. Diketahui garis dengan persamaan
berikut.
(i) 2y = 5x – 3
(ii) 5y = 2x + 15
(iii) 3x + 5y = 15
(iv) 10y – 4x = -11
Dari persamaan garis di atas, yang
sejajar dengan garis yang persamaan-
nya 2x – 5y + 15 = 0 adalah ....
a. (i) dan (iii)
b. (ii) dan (iv)
c. (ii) dan (iii)
d. (iii) dan (iv)
6. Diketahui suatu garis memiliki persa-
maan 2x – y – 3 = 0.
i. Gradiennya =
1
2
.
ii. Memotong sumbu X di titik
3
, 0
2
¸ ¸
(
¸ ,
.
iii. Memotong sumbu Y di titik (0, –3).
Dari pernyataan di atas, yang benar
adalah ....
a. hanya (i) dan (ii)
b. hanya (i) dan (iii)
c. hanya (ii) dan (iii)
d. (i), (ii), dan (iii)
7. Persamaan garis yang melalui titik
(2, –3) dan tegak lurus dengan garis
x + y = 10 adalah ....
a. y = x + 5
b. y = x – 5
c. y = –x + 5
d. y = –x – 5
8. Persamaan garis yang melalui titik
(–3, 4) dan sejajar dengan garis yang
melalui titik (0, 1) dan (1, 6) adalah ....
a. 2x – 5y = 11
b.
1
19
5
· - - y x
c. 5x – y – 19 = 0
d. y = 5x + 19
9. Y
X
0 6 3
3
8
Titik potong kedua garis pada gambar
di atas adalah ....
a.
9 5
3 , 1
19 19
¸ ¸
-
(
¸ ,
b.
5 1
3 , 1
12 12
¸ ¸
-
(
¸ ,
c.
9 5
3 , 3
19 19
¸ ¸
-
(
¸ ,
d.
9 5
3 , 1
19 19
¸ ¸
- -
(
¸ ,
10. Titik (a, b) merupakan titik potong
garis y = 3x – 8 dan x + y = 12. Nilai
dari a + b adalah ....
a. 3
b. 5
c. 10
d. 12
94
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
1. Tentukan nilai a dan b agar titik
a. (–3, a) terletak pada garis
2x – y + 3 = 0;
b. (2b, b + 2) terletak pada garis
2
1.
3 5
- ·
y x
2. Gambarlah garis-garis berikut pada
satu bidang koordinat. Kemudian,
tentukan gradien masing-masing garis
tersebut.
a.
1
3 6
2
- · x y
b.
3
5
4
· - - y x
c. 3x + 2y - 6 = 0
d.
1
1 2 3
2
- · x y
3. Tentukan persamaan garis k dan l
pada gambar berikut.
Y
X
0
(0, 5)
k
(a)
( 4, 0)
1 1
1
1
2 2
2
2
3 3
3
3
4 4
4
5
4
5
Y
X
0
(b)
l
1
1
2
2
3
3
4
4
5
( 5, 0)
1
1
2
2
3
3
4
4
5
5
6
(0, 6)
4. Tentukan persamaan garis yang
melalui titik A(1, 4) dan
a. titik B(–5, 7);
b. bergradien
1
;
2
c. sejajar dengan garis x + 3y = 1;
d. tegak lurus dengan garis
2x – 5y = 0.
5. Diketahui garis 4x – ay = 5 dan
3x + (a + 1)y = 10 saling tegak lurus.
Tentukan
a. nilai a;
b. titik potong kedua garis;
c. persamaan garis yang melalui titik
O(0, 0) dan titik potong kedua garis
tersebut.
B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan singkat dan tepat.
SISTEMPERSAMAAN
LINEAR DUA VARIABEL
Pernahkah kalian berbelanja di toko
buku? Pasti sudah pernah, bukan? Misalkan
suatu saat kamu membeli 3 buku tulis dan
2 pensil dengan tidak memerhatikan harga
masing-masing buku dan pensil tersebut
sehingga kamu harus membayar Rp4.750,00,
sedangkan adikmu membeli 2 buku tulis dan
1 pensil sehingga ia harus membayar
Rp3.000,00. Dapatkah kamu menentukan
harga masing-masing buku dan pensil
tersebut? Bagaimanakah kita dapat
memecahkan permasalahan ini? Dapatkah
kita selesaikan dengan sistem persamaan li-
near dua variabel?
Tujuan pembelajaranmu pada bab ini adalah:
™ dapat menyebutkan perbedaan persamaan linear dua variabel dan sistem
persamaan linear dua variabel;
™ dapat mengenal sistem persamaan linear dua variabel dalam berbagai bentuk
dan variabel;
™ dapat menentukan penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel dengan
substitusi dan eliminasi;
™ dapat membuat model matematika dari masalah sehari-hari yang berkaitan
dengan sistem persamaan linear dua variabel;
™ dapat menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan
sistem persamaan linear dua variabel dan penafsirannya.
4
Kata-Kata Kunci:
™ persamaan linear dua variabel
™ sistem persamaan linear dua variabel
™ penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel
™ model matematika
™ penyelesaian model matematika
Sumber: Dok. Penerbit
96
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Tentukan himpunan pe-
nyelesaian persamaan
berikut.
a. 3x + 1 = 4; x = B
(B himpunan bilangan
bulat)
b. 2y + 5 = –3y + 7;
x = Q
(Q himpunan bilangan
rasional)
Penyelesaian:
a. 3x + 1 = 4
3 1 1 4 1
3 3
1 1
3 3
3 3
1
= - - · -
= ·
= × · ×
= ·
x
x
x
x
Jadi, himpunan penyelesaiannya adalah {1}.
b. 2y + 5 = –3y + 7
2 5 5 3 7 5
2 3 2
2 3 3 3 2
5 2
1 1
5 2
5 5
= - - · - - -
= · - -
= - · - - -
= ·
= × · ×
y y
y y
y y y y
y
y
Sebelum mempelajari materi pada bab ini, kalian harus
menguasai terlebih dahulu mengenai persamaan linear satu variabel,
himpunan, sistem koordinat Cartesius, dan persamaan garis lurus.
A. PERSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL
Coba kalian ingat kembali mengenai persamaan linear satu
variabel yang telah kalian pelajari di kelas VII.
Perhatikan persamaan-persamaan berikut.
1. 2x + 5 = 3
2. 1 – 2y = 6
3. z + 1 = 2z
Variabel pada persamaan (1) adalah x, pada persamaan (2)
adalah y, dan pada persamaan (3) adalah z. Persamaan-persamaan
di atas adalah contoh bentuk persamaan linear satu variabel, karena
masing-masing persamaan memiliki satu variabel dan berpangkat
satu. Variabel x, y, dan z adalah variabel pada himpunan tertentu
yang ditentukan dari masing-masing persamaan tersebut.
Persamaan linear satu variabel dapat dinyatakan dalam
bentuk ax = b atau ax + b = c dengan a, b, dan c adalah
konstanta, a ÷ 0, dan x variabel pada suatu himpunan.
(Berpikir kritis)
Buatlah tabel pasang-
an nilai (x, y) yang me-
menuhi persamaan
garis y = 2x – 3 dan
3x – 4y = 7. Kemudian,
gambarlah kedua
persamaan t ersebut
dalam bidang koordi-
nat Cartesius.
Di manakah titik
potongnya? Lalu,
tentukan titik potong
kedua persamaan
tersebut tanpa meng-
gambar grafiknya.
Bandingkan hasilnya.
Apakah hasil yang
kalian peroleh sama?
97
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
2
5
= · y
Jadi, himpunan penyelesaiannya adalah
{ ¦
2
5
.
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
Tentukan himpunan penyelesaian dari
persamaan berikut jika variabelnya pada
himpunan bilangan bulat.
1. 3x + 2 = 8
2. 2(3x + 6) = 3(x – 2)
3. ( ) ( )
1 2
3 3 6 15
2 3
- - - · p p
4. 3x – 4 = x – 8
5. 5p – p = –16
6. ( )
2
2 3 6
3
- · x
7. r + 5 = 7
8.
2 3 5 4
4
2 4
- -
- ·
y y
9. 5x + 3 = 2x – 9
10.
2 3 5 6
4
2 4
- -
· -
x x
B. PERSAMAAN LINEAR DUA V ARIABEL
1. Pengertian Persamaan Linear Dua V ariabel
Coba kalian ingat kembali bahwa persamaan garis lurus pada
bidang Cartesius dapat dinyatakan dalam bentuk ax + by = c
dengan a, b, c konstanta real dengan a, b
÷
0, dan x, y adalah
variabel pada himpunan bilangan real.
Perhatikan persamaan-persamaan berikut.
a. x + 5 = y
b. 2a – b = 1
c. 3p + 9q = 4
Persamaan-persamaan di atas adalah contoh bentuk
persamaan linear dua variabel. Variabel pada persamaan x + 5 = y
adalah x dan y, variabel pada persamaan 2a – b = 1 adalah a dan
b. Adapun variabel pada persamaan 3p + 9q = 4 adalah p dan q.
Perhatikan bahwa pada setiap contoh persamaan di atas,
banyaknya variabel ada dua dan masing-masing berpangkat satu.
Persamaan linear dua variabel dapat dinyatakan dalam
bentuk ax + by = c dengan a, b, c
=
R, a, b
÷
0, dan x, y
suatu variabel.
(Menumbuhkan
kreativitas)
Bacalah buku-buku
referensi yang berkait-
an dengan materi
persamaan.
Pelajari mengenai
bentuk-bentuk persa-
maan.
Buatlah ulasan
mengenai bentuk-
bentuk persamaan.
Berikan contoh-contoh
yang mendukung.
Ceritakan hasilnya
secara singkat di
depan kelas.
98
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
2. Penyelesaian Persamaan Linear Dua V ariabel
Perhatikan persamaan x + y = 5. Persamaan x + y = 5 masih
merupakan kalimat terbuka, artinya belum mempunyai nilai
kebenaran. Jika nilai x kita ganti bilangan 1 maka nilai y yang
memenuhi adalah 4. Karena pasangan bilangan (1, 4) memenuhi
persamaan tersebut, maka persamaan x + y = 5 menjadi kalimat
yang benar. Dalam hal ini dikatakan bahwa (1, 4) merupakan salah
satu penyelesaian dari persamaan x + y = 5.
Apakah hanya (1, 4) yang merupakan penyelesaian x + y =
5? Untuk menentukan himpunan penyelesaian dari x + y = 5 dengan
x + y variabel pada himpunan bilangan cacah maka kita harus
mencari nilai x dan y yang memenuhi persamaan tersebut.
Untuk mencari nilai x dan y yang memenuhi persamaan
x + y = 5 akan lebih mudah dengan membuat tabel seperti berikut.
Jadi, himpunan penyelesaian dari persamaan x + y = 5 adalah
{(0, 5), (1, 4), (2, 3), (3, 2), (4, 1), (5, 0)}. Gambar grafik persamaan
x + y = 5 pada bidang Cartesius tampak seperti Gambar 4.1 berikut.
1
2
0 4 3 2 1
_
1
_
2
3
4
5
6
7
8
5
_
3
X
Y
_
4 6
9
Gambar 4.1
Jika x dan y variabel pada himpunan bilangan cacah maka
grafik penyelesaian persamaan x + y = 5 berupa noktah/titik-titik.
Adapun, jika x dan y variabel pada himpunan bilangan real maka
titik-titik tersebut dihubungkan sehingga membentuk garis lurus
seperti Gambar 4.2.
x 0 1 2 3 4 5
y 5 4 3 2 1 0
(x, y) (0, 5) (1, 4) (2, 3) (3, 2) (4, 1) (5, 0)
99
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
Jika kalian ambil pasangan bilangan (2, 1) dan disubstitusikan
pada persamaan x + y = 5 maka diperoleh 2 + 1 ÷ 5 (kalimat
salah). Karena pasangan bilangan (2, 1) tidak memenuhi persamaan
x + y = 5 maka bilangan (2, 1) disebut bukan penyelesaian
persamaan x + y = 5.
1
2
0 4 3 2 1
3
4
5
X
Y
6
5
6
Gambar 4.2
1. Gambarlah grafik him-
punan penyelesaian
persamaan x + 2y = 4
untuk x, y variabel pada
himpunan bilangan
cacah.
Penyelesaian:
Buatlah tabel untuk menentukan pasangan bilangan (x, y)
yang memenuhi persamaan x + 2y = 4.
1
2
0 4 3 2 1
3
5
X
Y
(0, 2)
(2, 1)
(4, 0)
6
4
Gambar 4.3
Jadi, himpunan penyelesaian dari persamaan x + 2y = 4
dengan x, y variabel pada himpunan bilangan cacah adalah
{(0, 2), (2, 1), (4, 0)}. Grafiknya seperti tampak pada
Gambar 4.3.
x 0 2 4
y 2 1 0
(x, y) (0, 2) (2, 1) (4, 0)
(Berpikir kritis)
Perhatikan pernyataan
berikut.
1. Jika x dan y bilang-
an cacah maka
grafik penyelesaian
persamaan ax + by
= c pada bidang
Cartesius berupa
noktah/titik.
2. Jika x dan y bilang-
an real maka grafik
penyelesaian per-
samaan ax + by = c
pada bidang Carte-
sius membentuk
garis lurus.
Tunjukkan alasan per-
bedaan kedua pernya-
taan di atas.
100
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Penyelesaian:
Untuk mempermudah dalam menggambar grafik
persamaan 2x – y = 4 dibuat tabel berikut.
Karena x, y variabel pada himpunan bilangan real, maka
grafik himpunan penyelesaiannya berbentuk garis lurus,
seperti tampak pada Gambar 4.4.
Semua titik-titik yang terletak pada garis tersebut merupa-
kan himpunan penyelesaian dari persamaan 2x – y = 4.
2. Gambarlah grafik
himpunan penyelesaian
persamaan 2x – y = 4
untuk x, y variabel pada
himpunan bilangan real. x 0 2
y –4 0
(x, y) (0, –4) (2, 0)
1
2
0 3 2 1
3
X
Y
_
1
_
2
_
1
_
2
_
3
_
4
_
5
_
6
_
7
_
8
_
9
_
3 4
4
Gambar 4.4
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Bandingkan persamaan-persamaan
berikut dengan bentuk persamaan
ax + by = c, kemudian tentukan nilai a,
b, dan c.
a. 3x + 2y = 0 c. x + 2y = 5
b. 2x – 5y = 3 d. 1
3 5
- ·
y x
2. Nyatakan persamaan berikut dalam
bentuk ax + by = c, kemudian tentukan
koefisien dari masing-masing variabel.
a. x = 2y – 5
b. x + 3y + 1 = 0
101
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
c. 3x – 1 = 2y
d.
1
2
2
· - y x
3. Tentukan himpunan penyelesaian persa-
maan berikut jika x, y variabel pada him-
punan bilangan cacah. Kemudian, gam-
bar grafik dari masing-masing persamaan
tersebut pada bidang koordinat Cartesius.
a. x + y = 3 c. x + 2y = 4
b. 2x + 3y = 6 d. 3x – y = 6
4. Tentukan persamaan dari grafik berikut
ini.
a.
Y
X
0
1 1
1
2
2
2
2
3
3
4
4
5
5
6
6
7
(0, 6)
(1, 5)
(2, 4)
(3, 3)
(4, 2)
(5, 1)
(6, 0)
1
3
b.
Y
X
0
1
1
2
2
3 4 5 6 7
1
2
1 2 3
3
4
5
6
5. Tentukan himpunan penyelesaian per-
samaan berikut jika x, y variabel pada
himpunan bilangan real. Kemudian,
gambarlah grafik dari masing-masing
persamaan tersebut pada bidang
Cartesius.
a. 2x + y = 6
b. 2x + 3y = 12
c.
1
2 0
2
- - · y x
d.
1 1 1
4 3 2
- · x y
C. SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA
VARIABEL
Kalian telah mempelajari penyelesaian dari sebuah
persamaan linear dua variabel. Bagaimana penyelesaian dari dua
buah persamaan linear dua variabel? Agar kalian lebih mudah
memahaminya, perhatikan ilustrasi berikut.
Dea membeli sebuah baju dan 2 buah kaos, ia harus membayar
Rp100.000,00. Adapun Butet membeli sebuah baju dan 3 buah
kaos, ia harus membayar Rp120.000,00. Dapatkah kalian
menentukan harga dari sebuah baju dan sebuah kaos?
Perhatikan bahwa selisih uang yang mereka bayarkan adalah
Rp20.000,00, sedangkan selisih banyaknya kaos yang mereka beli
adalah sebuah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa harga
sebuah kaos adalah Rp20.000,00.
102
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Dapatkah kalian menentukan harga dari sebuah baju?
Diskusikan hal ini dengan teman sebangkumu.
Misalkan x = harga 1 baju dan y = harga 1 kaos, maka ilustrasi
di atas dapat dituliskan sebagai berikut.
x + 2y = 100.000
x + 3y = 120.000
Kedua persamaan tersebut dikatakan membentuk sistem
persamaan l inear dua variabel .
Apabila terdapat dua persamaan linear dua variabel yang
berbentuk ax + by = c dan dx + ey = f atau biasa ditulis
- · ¦
'
- ·
'
ax by c
dx ey f maka dikatakan dua persamaan tersebut
membentuk sistem persamaan linear dua variabel. Penyelesai-
an sistem persamaan linear dua variabel tersebut adalah
pasangan bilangan (x, y) yang memenuhi kedua persamaan
tersebut.
Misalnya kalian akan menentukan penyelesaian dari
persamaan-persamaan 2x + y = 8 dan x – 2y = 4 dengan x, y
variabel pada himpunan bilangan real. Kalian dapat menentukan
penyelesaiannya dengan mencari nilai x dan y yang memenuhi
kedua persamaan tersebut. Untuk memudahkan kalian
menentukannya, buatlah tabel seperti berikut.
Dari tabel di atas tampak bahwa himpunan penyelesaian dari
persamaan 2x + y = 8 adalah {(0, 8), (4, 0), (1, 6)}, sedangkan
himpunan penyelesaian dari persamaan x – 2y = 4 adalah {(0, –2),
(4, 0), (6, 1)}. Dari dua himpunan penyelesaian tersebut, {(4, 0)}
adalah himpunan penyelesaian yang memenuhi sistem persamaan
2x + y = 8 dan x – 2y = 4. Adapun {(0, 8), (1, 6), (0, –2), (6, 1)}
dikatakan bukan penyelesaian dari sistem persamaan tersebut.
Jika dibuat grafik dalam sebuah bidang koordinat Cartesius,
titik (4, 0) merupakan titik potong persamaan 2x + y = 8 dan x – 2y
= 4, seperti tampak pada Gambar 4.5.
x y
0 8
4 0
1 6
2x + y = 8
x y
0 –2
4 0
6 1
x – 2y = 4
–2
103
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
Y
X
0
1
2
2
3
3
4
4
5
5
6
6
7
7
8
2 + = 8 x y
(0, 8)
(
4
,
0
)
1
2
(
0
,
2
)
1 2
x y 2 = 4
3 4 5
3
Gambar 4.5
Untuk menyelesaikan sistem persamaan linear dua variabel
dapat dilakukan dengan metode grafik, eliminasi, substitusi, dan
metode gabungan.
1. Metode Grafik
Pada metode grafik, himpunan penyelesaian dari sistem
persamaan linear dua variabel adalah koordinat titik potong dua
garis tersebut. Jika garis-garisnya tidak berpotongan di satu titik
tertentu maka himpunan penyelesaiannya adalah himpunan kosong.
Dengan metode grafik,
tentukan himpunan penye-
lesaian sistem persamaan
linear dua variabel
x + y = 5 dan x – y = 1 jika
x, y variabel pada himpun-
an bilangan real.
Penyelesaian:
Untuk memudahkan menggambar grafik dari x + y = 5
dan x – y = 1, buatlah tabel nilai x dan y yang memenuhi
kedua persamaan tersebut.
x 0 5
y 5 0
(x, y) (0, 5) (5, 0)
x + y = 5
x 0 1
y –1 0
(x, y) (0, –1) (1, 0)
x – y = 1
104
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
Tentukan himpunan penyelesaian sistem
persamaan berikut untuk x, y = R dengan
metode grafik.
1. x + y = 3 dan x – y = 2
2. 2x – y = 1 dan 3x + y = 4
3. 2x + y = 1 dan 2x – y = 2
4. x – y = 5 dan x + y = 2
5. 2x – 4y = 6 dan 2x – 2y = 4
6. x + 2y = 4 dan x = 3
7. 3x + y = 3 dan y = 3
8. y = x – 3 dan y = 2x
9. x + y = 4 dan 2x + 2y = 6
10. x – 3y = 3 dan 2x – 6y = 6
1
2
0
4 3 2 1
3
5
X
6
4
5
Y
_
1
x y
_
= 1
x
y
+
=
5
7
6
Gambar 4.6
Gambar 4.6 adalah grafik sistem persamaan dari x + y = 5
dan x – y = 1. Dari gambar tampak bahwa koordinat titik
potong kedua garis adalah (3, 2).
Jadi, himpunan penyelesaian dari sistem persamaan
x + y = 5 dan x – y = 1 adalah {(3, 2)}.
(Menumbuhkan inovasi)
Amatilah kembali grafik sistem persamaan dari no. 9 da n 10 pada
soal Uji Kompetensi 3. Bagaimana himpunan penyelesaian dari
sistem persamaan tersebut? Buatlah kesimpulannya.
105
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
2. Metode Eliminasi
Pada metode eliminasi, untuk menentukan himpunan
penyelesaian dari sistem persamaan linear dua variabel, caranya
adalah dengan menghilangkan (mengeliminasi) salah satu variabel
dari sistem persamaan tersebut. Jika variabelnya x dan y, untuk
menentukan variabel x kita harus mengeliminasi variabel y terlebih
dahulu, atau sebaliknya.
Perhatikan bahwa jika koefisien dari salah satu variabel sama
maka kita dapat mengeliminasi atau menghilangkan salah satu
variabel tersebut, untuk selanjutnya menentukan variabel yang lain.
Agar kalian lebih mudah memahaminya, perhatikan contoh berikut.
Dengan metode eliminasi,
tentukan himpunan penye-
lesaian sistem persamaan
2x + 3y = 6 dan x – y = 3.
Penyelesaian:
2x + 3y = 6 dan x – y = 3
Langkah I (eliminasi variabel y)
Untuk mengeliminasi variabel y, koefisien y harus sama,
sehingga persaman 2x + 3y = 6 dikalikan 1 dan persamaan
x – y = 3 dikalikan 3.
2 3 6
3
- ·
- ·
x y
x y
1
3
2 3 6
3 3 9
×
×
- ·
- ·
x y
x y
2 3 6 9
5 15
15
3
5
x x
x
x
- · -
·
· ·
Langkah II (eliminasi variabel x)
Seperti pada langkah I, untuk mengeliminasi variabel x,
koefisien x harus sama, sehingga persaman 2x + 3y = 6
dikalikan 1 dan persamaan x – y = 3 dikalikan 2.
2 3 6
3
- ·
- ·
x y
x y
1 2 3 6
2 2 2 6
×
×
= - ·
= - ·
x y
x y
3 ( 2 ) 6 6
3 2 0
5 0
0
0
5
- - · -
- ·
·
· ·
y y
y y
y
y
Jadi, himpunan penyelesaiannya adalah {(3, 0)}.

+
106
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
3. Metode Substitusi
Di bagian depan kalian telah mempelajari cara menentukan
himpunan penyelesaian dari sistem persamaan 2 3 6
3
- · ¦
'
- ·
'
x y
x y
dengan metode grafik dan eliminasi.
Sekarang kita akan mencoba menyelesaikan sistem persama-
an tersebut dengan metode substitusi. Perhatikan uraian berikut.
Persamaan x – y = 3 ekuivalen dengan x = y + 3. Dengan
menyubstitusi persamaan x = y + 3 ke persamaan 2x + 3y = 6
diperoleh sebagai berikut.
2x + 3y = 6
( ) 2 3 3 6
2 6 3 6
5 6 6
5 6 6 6 6
5 0
0
= - - ·
= - - ·
= - ·
= - - · -
= ·
= ·
y y
y y
y
y
y
y
Selanjutnya untuk memperoleh nilai x, substitusikan nilai y ke
persamaan x = y + 3, sehingga diperoleh
3
0 3
3
· -
= · -
= ·
x y
x
x
Jadi, himpunan penyelesaian dari sistem persamaan 2 3 6
3
- · ¦
'
- ·
'
x y
x y
adalah {(3, 0)}.
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
Tentukan himpunan penyelesaian sistem
persamaan berikut dengan menggunakan
metode eliminasi, jika x dan y variabel pada
himpunan bilangan real.
1. x + y = 1 dan x + 5y = 5
2. 3x + 2y = 12 dan 2x – y = 8
3. 2x + y = 5 dan 3x – 2y = 4
4. 3x + 2y = 12 dan 2x + 3y = 18
5. x + y = 12 dan 3x – y = 4
6. x + 2y = 4 dan 2x – y = 3
7. 2x – 4y = 10 dan x + 2y = 9
8. x + y = 6 dan –x + 3y = 2
9. x + 2y = 4 dan 2x + 4y = 5
10. 3x – y = 2 dan 6x – 2y = 4
(Menumbuhkan
inovasi)
Amatilah kembali
himpunan penyele-
saian dari soal no. 9
dan 10 p ada Uji Kom-
petensi 4.
Buatlah kesimpulan
dengan kata-katamu
sendiri.
107
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa untuk
menyelesaikan sistem persamaan linear dua variabel dengan
metode substitusi, terlebih dahulu kita nyatakan variabel yang satu
ke dalam variabel yang lain dari suatu persamaan, kemudian
menyubstitusikan (menggantikan) variabel itu dalam persamaan
yang lainnya.
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
5. x = y + 2 dan y = 2x – 5
6. y = –x dan 3x + y = 2
7. 2x + 3y = 0 dan x + y = 1
8. 2x + y + 5 = 2 dan 3y + 2x = –5
9. 4x + 3y = 6 dan 2x – y = 3
10. 2x + 4y = 6 dan 4x + 8y – 8 = 0
Tentukan himpunan penyelesaian dari sistem
persamaan berikut dengan metode substitusi
jika x, y variabel pada himpunan bilangan real.
1. 3x + y = 4 dan –x + 2y = 1
2. x + y = 5 dan y = x + 1
3. x + 5y = –5 dan x + y + 5 = 0
4. 2x – 3y = 11 dan 3x + y = 0
4. Metode Gabungan
Kalian telah mempelajari cara menentukan himpunan penyele-
saian dari sistem persamaan linear dua variabel dengan metode
grafik, eliminasi, dan substitusi. Sekarang kalian akan mempelajari
cara yang lain, yaitu dengan metode gabungan eliminasi dan
substitusi. Perhatikan contoh berikut.
Dengan metode gabungan,
tentukan himpunan penye-
lesaian dari sistem persa-
maan 2x – 5y = 2 dan
x + 5y = 6, jika x, y
=
R.
Penyelesaian:
Langkah pertama yaitu dengan metode eliminasi, diperoleh
2 5 2
5 6
- ·
- ·
x y
x y
1
2
×
×
2 5 2
2 10 12
= - ·
= - ·
x y
x y
15 10
10 2
15 3
- · -
-
· ·
-
y
y
108
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
D. MEMBUAT MODEL MA TEMATIKA DAN
MENYELESAIKAN MASALAH SEHARI-HARI
YANG MELIBATKAN SISTEM PERSAMAAN
LINEAR DUA VARIABEL
Beberapa permasalahan dalam kehidupan sehari-hari dapat
diselesaikan dengan perhitungan yang melibatkan sistem
persamaan linear dua variabel. Permasalahan sehari-hari tersebut
biasanya disajikan dalam bentuk soal cerita.
Langkah-langkah menyelesaikan soal cerita sebagai berikut.
1. Mengubah kalimat-kalimat pada soal cerita menjadi
beberapa kalimat matematika (model matematika), sehingga
membentuk sistem persamaan linear dua variabel.
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
Tentukan himpunan penyelesaian dari sistem
persamaan linear dua variabel berikut dengan
menggunakan metode gabungan, jika
x, y
=
R.
1. x + y = 7 dan x – y = 3
2. x + 2y – 1 = 0 dan y – x + 4 = 0
3. 3x + 2y = 6 dan 2x – y = 5
4. 2x + 5y = 8 dan x + 5y = 2
5. y = 2x – 5 dan y = x + 3
6. x = 2y – 3 dan y = 2x + 1
7. x + 2y = 3 dan x + y = 5
8. 2x – 3y = 3 dan y = 2x – 1
9. 5x - y = 3 dan 10x - 5y = 15
10. x + 4y = 8 dan 2x - y = 3
1. Dua bilangan cacah
berbeda 15 dan
jumlahnya 55.
Tentukan hasil kali
kedua bilangan
tersebut.
2. Lebar sebuah per-
segi panjang 2 cm
kurang dari panjang-
nya dan kelilingnya
16 cm. Tentukan
luas persegi pan-
jang tersebut.
Selanjutnya substitusikan nilai y ke persamaan x + 5y = 6,
sehingga diperoleh
5 6
2
5 6
3
10
6
3
10
6
3
2
2
3
- ·
¸ ¸
= - ·
(
¸ ,
= - ·
= · -
= ·
x y
x
x
x
x
Jadi, himpunan penyelesaian dari persamaan 2x – 5y = 2
dan x + 5y = 6 adalah
2 2
2 ,
3 3
¦ ¦
¸ ¸
' ` (
¸ ,
' '
109
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
Asep membeli 2 kg mang-
ga dan 1 kg apel dan ia
harus membayar
Rp15.000,00, sedangkan
Intan membeli 1 kg mangga
dan 2 kg apel dengan harga
Rp18.000,00. Berapakah
harga 5 kg mangga dan
3 kg apel?
Penyelesaian:
Misalkan harga 1 kg mangga = x
harga 1 kg apel = y
Kalimat matematika dari soal di samping adalah
2 15.000
2 18.000
- · ¦
'
- ·
'
x y
x y
Selanjutnya, selesaikan dengan menggunakan salah satu
metode penyelesaian, misalnya dengan metode gabungan.
Langkah I: Metode eliminasi
2 15.000 1
2 18.000 2
- · ×
- · ×
x y
x y
2 15.000
2 4 36.000
- ·
- ·
x y
x y
4 15.000 36.000
3 21.000
21.000
7.000
3
- · -
= - · -
-
= · ·
-
y y
y
y
Langkah II: Metode substitusi
Substitusi nilai y ke persamaan 2x + y = 15.000
2 15.000
2 7.000 15.000
2 15.000 7.000
2 8.000
8.000
4.000
2
- ·
- ·
= · -
= ·
= · ·
x y
x
x
x
x
Dengan demikian, harga 1 kg mangga adalah Rp4.000,00
dan harga 1 kg apel adalah Rp7.000,00.
Jadi, harga 5 kg mangga dan 3 kg apel adalah
5x + 2y = (5 × Rp4.000,00) + (3 × Rp7.000,00)
= Rp20.000,00 + Rp21.000,00
= Rp41.000,00
2. Menyelesaikan sistem persamaan linear dua variabel.
3. Menggunakan penyelesaian yang diperoleh untuk menja-
wab pertanyaan pada soal cerita.
110
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Jumlah panjang dan lebar suatu persegi
panjang adalah 32 cm, sedangkan
luasnya 240 cm
2
. Tentukan
a. panjang dan lebarnya;
b. kelilingnya;
c. panjang diagonal persegi panjang.
2. Selisih umur seorang ayah dan anak
perempuannya adalah 26 tahun,
sedangkan lima tahun yang lalu jumlah
umur keduanya 34 tahun. Hitunglah umur
ayah dan anak perempuannya dua tahun
yang akan datang.
3. Sebuah toko kelontong menjual dua jenis
beras sebanyak 50 kg. Harga 1 kg beras
jenis I adalah Rp6.000,00 dan jenis II
adalah Rp6.200,00/kg. Jika harga beras
seluruhnya Rp306.000,00 maka
a. susunlah sistem persamaan dalam x
dan y;
b. tentukan nilai x dan y;
c. tentukan jumlah harga 4 kg beras je-
nis I dan 7 kg beras jenis II.
4. Asti dan Anton bekerja pada sebuah
perusahaan sepatu. Asti dapat membuat
tiga pasang sepatu setiap jam dan Anton
dapat membuat empat pasang sepatu
setiap jam. Jumlah jam bekerja Asti dan
Anton 16 jam sehari, dengan banyak
sepatu yang dapat dibuat 55 pasang. Jika
banyaknya jam bekerja keduanya tidak
sama, tentukan lama bekerja Asti dan
Anton.
5. Dalam sebuah pertandingan sepak bola,
terjual karcis kelas I dan kelas II
sebanyak 500 lembar. Harga karcis kelas
I adalah Rp8.000,00, sedangkan harga
karcis kelas II adalah Rp6.000,00. Jika
hasil penjualan seluruh karcis adalah
Rp2.950.000,00, tentukan banyak karcis
masing-masing kelas I dan kelas II yang
terjual.
(Menumbuhkan inovasi)
Amatilah lingkungan di sekitarmu.
Buatlah sistem persamaan l inear dua variabel yang berkaitan
dengan masalah sehari-hari. Lalu selesaikan dengan metode
grafik, eliminasi, substitusi, dan metode gabungan. Bandingkan
hasilnya dan buatlah kesimpulannya.
111
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
(Berpikir kritis)
Selesaikan sistem
persamaan berikut.
a.
2 3
4
1 1
- ·
- - x y
dan
1 5
3
1 1
- ·
- - x y
b.
4 - · x y
dan
2 3 - · x y
E. MENYELESAIKAN SISTEM PERSAMAAN
NONLINEAR DUA V ARIABEL DENGAN
MENGUBAH KE BENTUK SISTEM
PERSAMAAN LINEAR DUA V ARIABEL
Perhatikan beberapa sistem persamaan berikut.
1) 6
3
- · ¦
'
- · -
'
x y
y x
3)
3 4
4 5
- ·
¦
'
- ·
'
a b
a b
2)
2 2
2 2
4
2 3 1
¦ - ·
¦
'
- ·
¦
'
x y
x y
4)
2 2
2 2
5 6
3 4
¦ - ·
¦
'
- - ·
¦
'
a b
a b
Di antara sistem persamaan di atas, dapatkah kalian mene-
mukan perbedaannya?
Perhatikan bahwa sistem persamaan nomor 1 dan 3
merupakan sistem persamaan linear dua variabel, karena
mempunyai dua variabel yang berpangkat satu. Adapun nomor 2
dan 4 merupakan sistem persamaan nonlinear dua variabel, karena
mempunyai dua variabel yang berpangkat dua atau tidak linear.
Sistem persamaan nonlinear dua variabel dapat diselesaikan
dengan cara mengubahnya terlebih dahulu ke bentuk linear.
Selesaikan sistem persa-
maan nonlinear dua varia-
bel berikut.
1 5
5 - ·
x y
dan
2 3
6 - ·
x y
Penyelesaian:
1 5
5 - ·
x y
dan
2 3
6 - ·
x y
Misalkan
1
· a
x
dan
1
, · b
y
sehingga bentuk sistem per-
samaan linear dua variabelnya adalah
1 5
5 5 5 - · = - · a b
x y
2 3
6 2 3 6 - · = - · a b
x y
Kemudian, selesaikan persamaan-persamaan tersebut
dengan penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel
sebagai berikut.
112
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
5 5 2
2 3 6 1
- · ×
- · ×
a b
a b
2 10 10
2 3 6
= - ·
= - ·
a b
a b
10 3 10 6
7 4
4
7
- · -
·
·
b b
b
b
Selanjutnya substitusi nilai b ke persamaan a + 5b = 5,
sehingga diperoleh
5 5
4
5 5
7
20
5
7
15
7
- ·
= - × ·
= - ·
= ·
a b
a
a
a
Setelah diperoleh nilai a dan b, kembalikan nilai a dan b ke
pemisalan semula.
1 1
1 15 1 4
7 7
7 7
15 4
· ·
= · = ·
= · = ·
a b
x y
x y
x y
Jadi, penyelesaian persamaan
1 5
5 - ·
x y
dan
2 3
6 - ·
x y
adalah
7
15
· x dan
7
4
· y
.
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
Tentukan penyelesaian dari sistem persamaan
berikut.
1. 2x
2
– 3 = –(1 + y)
2
dan x
2
+ (1 + y)
2
= 2
2.
2 3
12 - ·
x y
dan
3 1
7 - ·
x y
3. 4 - · x y dan 2 3 - · x y
4. 4 3 5 17 - - · x y dan
5 3 - - · x y
5.
1 3
1
3 3
- ·
- - x y
dan
3 1
1
3 3
- ·
- - x y

(Berpikir kritis)
Apakah setiap sistem
persamaan nonlinear
dua variabel dapat
diselesaikan?
Diskusikan hal ini
dengan temanmu.
Jelaskan jawabanmu.
113
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
1. Persamaan linear satu variabel dapat dinyatakan dalam bentuk
ax = b atau ax + b = c dengan a, b, dan c adalah konstanta,
a
÷
0, dan x variabel pada suatu himpunan.
2. Persamaan linear dua variabel dapat dinyatakan dalam bentuk
ax + by = c dengan a, b, c
=
R, a, b
÷
0, dan x, y suatu
variabel.
3. Grafik penyelesaian persamaan linear dua variabel berupa
noktah/titik dan garis lurus.
4. Apabila terdapat dua persamaan linear dua variabel yang
berbentuk ax + by = c dan dx + ey = f atau biasa ditulis
- · ¦
'
- ·
'
ax by c
dx ey f
maka dikatakan dua persamaan tersebut
membentuk sistem persamaan linear dua variabel.
5. Pasangan bilangan (x, y) yang memenuhi kedua persamaan di
atas disebut penyelesaian dari sistem persamaan linear dua
variabel.
6. Untuk menyelesaikan sistem persamaan linear dua variabel
dapat dilakukan dengan metode grafik, eliminasi, substitusi, dan
metode gabungan.
7. Untuk menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan sistem
persamaan linear dua variabel, terlebih dahulu ubahlah soal
cerita tersebut menjadi beberapa kalimat atau model
matematika, kemudian selesaikan sistem persamaan tersebut.
8. Sistem persamaan nonlinear dua variabel dapat diselesaikan
dengan cara mengubahnya terlebih dahulu ke bentuk sistem
persamaan linear dua variabel, yaitu dengan pemisalan sehingga
terbentuk variabel-variabel baru. Selanjutnya kembalikan pe-
nyelesaian variabel-variabel baru tersebut ke variabel semula.
Setelah mempelajari bab ini, bagaimana pemahaman kalian
mengenai Sistem Persamaan Linear Dua Variabel? Jika kalian
sudah paham, coba rangkum materi tersebut dengan kata-katamu
sendiri. Jika ada materi yang belum kamu pahami, catat dan
tanyakan kepada temanmu yang lebih tahu atau kepada gurumu.
Menurutmu, bagian manakah dari materi ini yang paling menarik?
Kemukakan pendapatmu. Buatlah dalam sebuah laporan dan
serahkan kepada gurumu.
114
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Kerjakan di buku tugasmu.
A. Pilihlah salah satu jawaban yang tepat.
1. Himpunan penyelesaian persamaan
2x + y = 10 untuk x, y = {bilangan
cacah} adalah ....
a. {(0, 10), (5, 0)}
b. {(1, 8), (2, 6), (3, 4), (4, 2)}
c. {(0, 10), (1, 8), (2, 6), (3, 4), (4, 2)}
d. {(0, 10), (1, 8), (2, 6), (3, 4), (4, 2),
(5, 0)}
2. Penyelesaian dari sistem persamaan
3p + 4q = –16 dan 2p – q = –18 untuk
p, q variabel pada himpunan bilangan
bulat adalah p dan q. Nilai p + q = ....
a. –4 c. –6
b. 6 d. 4
3. Grafik dari himpunan penyelesaian
2x + 3y = 12 untuk x, y = R adalah ....
a.
0
1 2 3
1
2
Y
X
b.
0 1 2 3
1
2
Y
X
3
4
4 5 6
c.
0 1 2
1
2
Y
X
3
d.
0 1 2 3
1
2
Y
X
3
4
5
6
4
4. Himpunan penyelesaian dari sistem
persamaan 4x + 7y = 5 dan
x + y = –1 adalah ....
a. {(–4, 3)} c. {(3, –4)}
b. {(4, –3)} d. {(–3, 4)}
5. Himpunan penyelesaian dari sistem
persamaan y = 2x + 1 dan 3x – 5y =
16 adalah ....
a. {(–3, 5)} c. {(5, 3)}
b. {(–3, –5)} d. {(–5, 3)}
6. Harga 7 ekor ayam dan 6 ekor itik ada-
lah Rp67.250,00, sedangkan harga 2
ekor ayam dan 3 ekor itik Rp25.000,00.
Harga seekor ayam adalah ....
a. Rp4.500,00 c. Rp6.750,00
b. Rp5.750,00 d. Rp7.500,00
7. Diketahui penyelesaian sistem persa-
maan 3x + 4y = 7 dan –2x + 3y = –16
adalah x dan y dengan x, y =
{bilangan bulat}. Nilai 2x – 7y = ....
a. –24 c. 4
b. –4 d. 24
115
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
8. Pada sebuah tempat parkir terdapat
84 kendaraan yang terdiri atas sepeda
motor dan mobil. Setelah dihitung jum-
lah roda seluruhnya ada 220 buah. Jika
tarif parkir untuk sepeda motor
Rp1.000,00 dan untuk mobil
Rp2.000,00, besar uang yang diterima
tukang parkir adalah ....
a. Rp91.000,00
b. Rp110.000,00
c. Rp156.000,00
d. Rp171.000,00
9. Himpunan penyelesaian dari sistem
persamaan
2 1
2
3 5
- -
- ·
x y x
dan
x + y = 2, jika x, y = R adalah ....
a.
31 3
,
14 14
¦ ¦
¸ ¸
-
' ` (
¸ ,
' '
c.
3 31
,
14 14
¦ ¦
¸ ¸
' ` (
¸ ,
' '
b.
3 31
,
14 14
¦ ¦
¸ ¸
-
' ` (
¸ ,
' '
d.
31 3
,
14 14
¦ ¦
¸ ¸
- -
' ` (
¸ ,
' '
10. Di antara sistem persamaan berikut
yang memiliki tak berhingga banyak
penyelesaian untuk x, y = R adalah
....
a. x + y = 2 dan x – y = 5
b. 2x – 3 = y dan x – 1 = 2y
c. x + y = 2 dan x + y = 3
d. 2x + y = 1 dan 6x + 3y = 3
11. Jumlah dua bilangan adalah 20. Bilang-
an yang satu adalah enam lebihnya
dari bilangan yang lain. Hasil kali kedua
bilangan tersebut adalah ....
a. 71 c. 80
b. 73 d. 91
12. Diketahui dua buah sudut saling berpe-
lurus. Besar sudut yang satu adalah
15
o
lebihnya dari sudut siku-siku.
Selisih kedua sudut tersebut adalah ....
a. 15
o
c. 30
o
b. 20
o
d. 45
o
13. Harga 2 baju dan 1 celana adalah
Rp140.000,00. Harga 3 baju dan 2
celana Rp235.000,00. Harga 4 baju
dan 5 celana adalah ....
a. Rp320.000,00
b. Rp430.000,00
c. Rp450.000,00
d. Rp520.000,00
14. Hasil kali penyelesaian dari sistem
persamaan
3 4
7 - ·
x y
dan
5 2
3 - ·
x y
adalah ....
a. –1 c. –10
b. 1 d. 10
15. Di antara sistem persamaan nonlinear
dua variabel berikut, persamaan yang
dapat diubah ke bentuk sistem
persamaan linear dua variabel adalah
....
a. x
2
– y = 3 dan 2x – y
2
= 1
b.
1
3
- · x y
dan
3 5 0 - · x y
c.
1
4
3
- ·
x
y
dan
1
5
7
- ·
y
x
d.
1 1
3
1
- ·
- x y
dan
1 1
15
1 3
- ·
- - x y
116
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
1. Tentukan himpunan penyelesaian
persamaan berikut jika x, y variabel
pada himpunan bilangan real.
a. 2x – 3y = 18
b.
2 1 1
3 2 2
- · x y
c. 5(2x – 3) = 2(x + 3)
d.
2 3 5 6
4
2 4
- -
- · -
x x
Kemudian gambarlah grafik dari
masing-masing persamaan tersebut.
2. Tentukan himpunan penyelesaian dari
sistem persamaan berikut, jika x, y
variabel pada himpunan bilangan real.
a. x + y = 2 dan 2x – y = 2
b. 3x – y + 5 = 0 dan
1 1 5
2 3 6
- · x y
c. 6x + 5y – 5 = 0 dan –2y = 5x + 4
d.
3 1 2 2 1
3 2 6
-
-
- ·
y x
dan
2 3 2 1
2
3 4 4
-
-
- ·
y x
3.
Dari grafik di atas, tentukan himpunan
penyelesaian sistem persamaan
berikut.
a. 2x – y = 3 dan 3x + 2y = 8
b. 3x + 2y = 8 dan –x + 3y = 4
c. –x + 3y = 4 dan –2x + 3y = 9
d. x + 3y = 6 dan 2x – y = 3
e. –2x + 3y = 9 dan x + 3y = 6
4. Tentukan penyelesaian dari sistem
persamaan berikut.
a.
3 2
1 - ·
x y
dan
1 1
3 - ·
x y
b. 2 4 - · x y dan 5 1 - · x y
c. x
2
– y
2
= 1 dan 2x
2
+ y
2
= 5
d.
1 1
6
2 1
- ·
- - x y
dan
2 1
4
2 2 2
- ·
- - x y
5. Jumlah umur ibu dan anaknya setahun
yang lalu adalah 48 tahun. Tiga tahun
kemudian umur ibu adalah 5 tahun
lebihnya dari dua kali umur anaknya.
Hitunglah umur ibu dan anak
sekarang.
Y
X
0
1
1
2
2
2
3
3
4
4
5
5
6
6
7
7
8
3 + 2 = 8 x y
x y + 3 = 6
1
3
4
1
2 = 3 x y
2 + 3 = 9 x y
x y + 3 = 4
2 3 4 5
B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan singkat dan tepat.
TEOREMA
PYTHAGORAS
Pernahkah kalian memerhatikan para
tukang kayu atau tukang bangunan? Dalam
bekerja, mereka banyak memanfaatkan
teorema Pythagoras. Coba perhatikan
kerangka sebuah rumah yang dibuat dari kayu.
Pada kerangka rumah tersebut sebagian
besar rusuk tegak lurus terhadap rusuk yang
lain. Sudut-sudut yang terbentuk pada rusuk
yang saling tegak lurus tersebut merupakan
sudut siku-siku. Dengan memanfaatkan
teorema Pythagoras, dapatkah kalian
menentukan panjang dari rusuk-rusuk yang
saling tegak lurus tersebut?
Tujuan pembelajaranmu pada bab ini adalah:
™ dapat menemukan teorema Pythagoras;
™ dapat menghitung panjang sisi segitiga siku-siku jika dua sisi lain diketahui;
™ dapat menghitung perbandingan sisi-sisi segitiga siku-siku istimewa;
™ dapat menghitung panjang diagonal pada bangun datar.
5
Kata-Kata Kunci:
™ teorema Pythagoras
™ tripel Pythagoras
™ segitiga siku-siku istimewa
Sumber: Indonesian He ritage, 2002
118
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Sebelum mempelajari materi pada bab ini, kalian harus
menguasai materi mengenai segitiga, segi empat, sudut, dan bilangan
kuadrat, serta akar kuadrat. Namun, sebelumnya mari kita ingat
kembali mengenai luas persegi dan luas segitiga siku-siku.
A. TEOREMA PYTHAGORAS
1. Luas Persegi dan Luas Segitiga Siku-Siku
Perhatikan Gambar 5.1.
Pada gambar tersebut tampak sebuah persegi ABCD yang
panjang sisinya s satuan panjang.
Luas persegi ABCD = sisi
×
sisi
L = s
×
s
L = s
2
satuan luas
Selanjutnya, perhatikan Gambar 5.2.
Pada gambar tersebut tampak sebuah persegi panjang PQRS
yang panjangnya p dan lebarnya l satuan. Diagonal QS membagi
persegi panjang PQRS menjadi dua buah segitiga siku-siku, yaitu
A PQS dan A QRS. Luas persegi panjang PQRS sama dengan
jumlah luas A PQS dan A QRS. Adapun luas A PQS sama dengan
luas A QRS, sehingga diperoleh
luas A PQS
luas QRS
1
luas persegi panjangPQRS
2
· A
· ×
Karena persegi panjang PQRS berukuran panjang p dan lebar
l, luas A PQS =
1
2
× × p l
atau
luas segitiga siku-siku =
1
alas tinggi
2
× ×
Luas persegi dan luas segitiga siku-siku sangat bermanfaat
dalam menemukan teorema Pythagoras.
2. Menemukan Teorema Pythagoras
Untuk menemukan teorema Pythagoras lakukan kegiatan
berikut. Ambillah dua potong kertas berbentuk persegi berukuran
(b + c) cm seperti tampak pada Gambar 5.3 (i) dan 5.3 (ii). Kita
akan menemukan hubungan antara besarnya a, b, dan c.
A B
C D
s
s
Gambar 5.1
Q
P
S R
p
l
Gambar 5.2
119
Teorema Pythagoras
Gambar 5.3 (i) menunjukkan persegi ABCD berukuran
(b + c) cm. Pada keempat sudutnya buatlah empat segitiga siku-
siku dengan panjang sisi siku-sikunya b cm dan c cm.
Dari Gambar 5.3 (i) tampak bahwa luas persegi ABCD sama
dengan luas persegi (luas daerah yang tidak diarsir) ditambah luas
empat segitiga siku-siku (luas daerah yang diarsir), sehingga
diperoleh
luas daerah yang diarsir = luas empat segitiga siku-siku
1
4
2
2
· × × ×
·
b c
bc
dan luas daerah yang tidak diarsir = luas persegi PQRS
= a × a = a
2
.
Lalu buatlah persegi EFGH berukuran (b + c) cm seperti
tampak pada gambar 5.3 (ii). Pada dua buah sudutnya buatlah
empat segitiga siku-siku sedemikian sehingga membentuk dua
persegi panjang berukuran (b × c) cm.
Dari Gambar 5.3 (ii) tampak bahwa luas persegi EFGH sama
dengan luas persegi (luas daerah yang tidak diarsir) ditambah luas
empat segitiga siku-siku (luas daerah yang diarsir), sehingga
diperoleh
luas daerah yang diarsir = luas dua persegi panjang
= 2 × b × c
= 2 bc
luas daerah yang tidak diarsir = luas persegi KMGN+ luas persegi
OFML
= (b × b) + (c × c)
= b
2
+ c
2
.
Dari Gambar 5.3 (i) dan 5.3 (ii) tampak bahwa ukuran persegi
ABCD = ukuran persegi EFGH, sehingga diperoleh
luas persegi ABCD = luas persegi EFGH
2bc + a
2
= 2bc + b
2
+ c
2
a
2
= b
2
+ c
2
.
Kesimpulan di atas jika digambarkan akan tampak seperti pada
Gambar 5.3 (iii).
Luas daerah persegi yang panjang sisinya adalah sisi miring
suatu segitiga siku-siku sama dengan jumlah luas daerah
persegi yang panjang sisinya adalah sisi siku-siku segitiga
tersebut.
D
A B
C
a
a
a
a
2
a
c
c
c
c
b
b
b
b P
R
Q
S
(i)
E F
G H
b
b
2
b
b
c
c
c
c
c
2
K L
M
N
O
(ii)
a
a
2
b
b
2
c
c
2
(iii)
Gambar 5.3
120
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Kesimpulan tersebut selanjutnya dikenal dengan teorema
Pythagoras. Teorema Pythagoras tersebut selanjutnya dapat
dirumuskan seperti berikut.
Untuk setiap segitiga siku-siku, berlaku kuadrat panjang sisi
miring sama dengan jumlah kuadrat panjang sisi siku-sikunya.
Jika ABC adalah segitiga siku-siku dengan a panjang sisi mi-
ring, sedangkan b dan c panjang sisi siku-sikunya maka berlaku
a
2
= b
2
+ c
2
.
Pernyataan di atas jika diubah ke bentuk pengurangan menjadi
b
2
= a
2
– c
2
atau
c
2
= a
2
– b
2
.
Nyatakan hubungan yang
berlaku mengenai sisi-sisi
segitiga pada gambar di
bawah ini.
a.
p
q
r
b.
l
k
m
Gambar 5.5
Penyelesaian:
Karena kedua segitiga di samping adalah segitiga siku-
siku, maka berlaku teorema Pythagoras, yaitu kuadrat
panjang sisi miring = jumlah kuadrat sisi siku-sikunya,
sehingga berlaku
a. q
2
= p
2
+ r
2
atau p
2
= q
2
– r
2
r
2
= q
2
– p
2
b. k
2
= l
2
+ m
2
atau l
2
= k
2
– m
2
m
2
= k
2
– l
2
A B
C
a
b
c
Gambar 5.4
(Berpikir kritis)
Bentuklah kelompok yang terdiri atas 2 orang, 1 pria dan 1 wanita.
Buatlah empat buah segitiga siku-siku dengan ukuran yang berbeda
pada kertas karton. Guntinglah segitiga-segitiga tersebut.
Ukurlah panjang sisi setiap segitiga tersebut. Lalu ujilah, apakah
panj ang si si seti ap segi ti ga tersebut memenuhi teorema
Pythagoras? Ceritakan pengalamanmu secara singkat di depan
kelas.
121
Teorema Pythagoras
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1.
A
B
C
(i)
a
b
c
A
B
C
(iii)
a
b
c
A
B
C
(ii)
a
b
c
A
B
C
(iv)
a
b
c
Berdasarkan gambar di atas salin dan
lengkapilah tabel berikut. Hubungan
apakah yang tampak pada kolom luas C
dan luas A + B?
2. Gunakan teorema Pythagoras untuk me-
nyatakan persamaan-persamaan yang
berlaku pada segitiga berikut.
a
b
c
e
f
d
(i) (ii)
h
i
g
k
j
l
(iii) (iv)
3. Ukurlah panjang sisi setiap segitiga siku-
siku pada soal no. 2 di atas. Cek, apakah
kuadrat panjang sisi miring = kuadrat
panjang kedua sisi siku-sikunya. Ujilah
jawabanmu dengan jawaban soal no. 2.
Gambar
Luas Daerah Persegi
A B C A + B
i
ii
iii
iv
3. Menggunakan Teorema Pythagoras untuk Menghitung
Panjang Salah Satu Sisi Segitiga Siku-Siku jika Kedua
Sisi Lain Diketahui
Dengan menggunakan teorema Pythagoras kita dapat
menghitung panjang salah satu sisi segitiga siku-siku jika panjang
kedua sisi lain diketahui.
122
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
3. Diketahui segitiga PQR siku-siku di P
dengan PQ = 12 cm dan QR = 13 cm.
a. Buatlah sketsa segitiga tersebut.
b. Tentukan panjang PR.
4. Panjang hipotenusa suatu segitiga siku-
siku adalah 15 cm, sedangkan panjang
sisi siku-sikunya 12 cm dan x cm.
Berapakah nilai x?
5.
A B
C
D
25 cm
9 cm
12 cm
Pada gambar di atas, diketahui panjang
AB = 12 cm, BC = 9 cm, dan CD = 25
cm. Tentukan panjang AD.
1. Gunakan teorema Pythagoras untuk
menghitung nilai x pada gambar berikut.
2. Hitunglah nilai y pada setiap segitiga
berikut.
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
Diketahui segitiga ABC
siku-siku di B dengan AB
= 6 cm dan BC = 8 cm.
Hitunglah panjang AC.
Penyelesaian:
Dengan menggunakan teorema Pythagoras berlaku
AC
2
= AB
2
+ BC
2
= 6
2
+ 8
2
= 36 + 64
= 100
AC = 100 10 ·
Jadi, panjang AC = 10 cm.
x
24
25
8
6
x
(c) (d)
x
12
9
x
10
26
(a) (b)
40
24
y
3,5
12,5
y
(c) (d)
y
y
8
3y
4y
20
(a) (b)
A
B C
6 cm
8 cm
Gambar 5.6
123
Teorema Pythagoras
B. PENGGUNAAN TEOREMA PYTHAGORAS
1. Kebalikan Teorema Pythagoras untuk Menentukan
Jenis Suatu Segitiga
Pada pembahasan yang lalu kalian telah mempelajari
mengenai teorema Pythagoras dan membuktikan kebenarannya.
Sekarang, kita akan membuktikan bahwa kebalikan teorema
Pythagoras juga berlaku. Perhatikan uraian berikut.
Perhatikan Gambar 5.7 (i). Misalkan A ABC dengan panjang
sisi-sisinya AB = c cm, BC = a cm, dan AC = b cm sehingga
berlaku b
2
= a
2
+ c
2
........................................................... (i).
Akan dibuktikan bahwa A ABC siku-siku di B.
A
B C
a
b
c
Q
R
P
a
c
q
(i) (ii)
Gambar 5.7
Pada Gambar 5.7 (ii), A PQR siku-siku di Q dengan panjang
PQ = c cm, QR = a cm, dan PR = q cm. Karena A PQR siku-
siku, maka berlaku q
2
= a
2
+ c
2
.......................................... (ii).
Berdasarkan persamaan (i) dan (ii) kita peroleh
b
2
= a
2
+ c
2
= q
2
atau b
2
= q
2
Karena b bernilai positif, maka b = q.
Jadi, A ABC dan A PQR memiliki sisi-sisi yang sama
panjang. Dengan mengimpitkan sisi-sisi yang bersesuaian dari kedua
segitiga, diperoleh sudut-sudut yang bersesuaian sama besar.
Dengan demikian, Z ABC = Z PQR = 90
o
. Jadi, A ABC adalah
segitiga siku-siku di B.
Kebalikan teorema Pythagoras menyatakan bahwa
untuk setiap segitiga jika jumlah kuadrat panjang dua sisi yang
saling tegak lurus sama dengan kuadrat panjang sisi miring
maka segitiga tersebut merupakan segitiga siku-siku.
Agar kalian mengetahui jenis segitiga yang lain, lakukan kegiatan
berikut.
Sumber: Ensiklopedi Ma-
tematika dan Peradaban
Manusia, 2003
Gambar 5.8
Pythagoras (± 582 –
500 SM) adalah
seorang tokoh yang
sangat berjasa di
bidang mat ematika.
Dengan penemuan-
nya, terutama yang
menyangkut segitiga
siku-siku, telah
membawa manfaat
yang besar di bidang
apapun. Untuk meng-
abadikan namanya
penemuannya terse-
but dikenal dengan
teorema Pythagoras.
124
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
KEGIATAN
Setelah melakukan kegiatan di atas, apakah kalian menyimpulkan
seperti berikut?
Pada suatu segitiga berlaku
a. jika kuadrat sisi miring = jumlah kuadrat sisi yang lain
maka segitiga tersebut siku-siku.
b. jika kuadrat sisi miring < jumlah kuadrat sisi yang lain
maka segitiga tersebut lancip.
c. jika kuadrat sisi miring > jumlah kuadrat sisi yang lain
maka segitiga tersebut tumpul.
a. Pada kertas berpetak, gambarlah segitiga dengan panjang sisi-
sisinya 15 satuan, 20 satuan, dan 25 satuan. Apakah segitiga
yang terbentuk adalah segitiga siku-siku? Bandingkan kuadrat
sisi miring dengan jumlah kuadrat sisi yang lain. Apa yang dapat
kalian simpulkan?
b. Pada kertas berpetak, gambarlah segitiga dengan panjang sisi-
sisinya 12 satuan, 14 satuan, dan 16 satuan. Apakah yang kalian
peroleh adalah segitiga lancip? Bandingkan kuadrat sisi miring
dengan jumlah kuadrat sisi yang lain. Apa yang dapat kalian
simpulkan?
c. Pada kertas berpetak, gambarlah segitiga dengan panjang sisi-
sisinya 15 satuan, 20 satuan, dan 28 satuan. Apakah segitiga
yang terbentuk adalah segitiga tumpul? Bandingkan kuadrat
sisi miring dengan jumlah kuadrat sisi yang lain. Apa yang dapat
kalian simpulkan?
Tentukan jenis segitiga
dengan panjang sisi-sisi
sebagai berikut.
a. 3 cm, 5 cm, 4 cm
b. 4 cm, 5 cm, 6 cm
c. 1 cm, 2 cm, 3 cm
Penyelesaian:
Misalkana = panjang sisi miring, sedangkan b dan c panjang
sisi yang lain, maka diperoleh
a. a = 5 cm, b = 3 cm, c = 4 cm
a
2
= 5
2
=25
b
2
+ c
2
= 3
2
+ 4
2
= 9 + 16 = 25
Karena 5
2
= 3
2
+ 4
2
, maka segitiga ini termasuk jenis
segitiga siku-siku.
b. a = 6 cm, b = 4 cm, c = 5 cm
a
2
= 6
2
= 36
b
2
+ c
2
= 4
2
+ 5
2
= 16 + 25 = 41
125
Teorema Pythagoras
Karena 6
2
< 4
2
+ 5
2
, maka segitiga ini termasuk jenis
segitiga lancip.
c. a = 3 cm, b = 1 cm, c = 2 cm
a
2
= 3
2
= 9
b
2
+ c
2
= 1
2
+ 2
2
= 1 + 4 = 5
Karena 3
2
> 1
2
+ 2
2
, maka segitiga ini termasuk jenis
segitiga tumpul.
2. Tripel Pythagoras
Perhatikan kelompok tiga bilangan berikut.
a. 3, 5, 6 d. 4, 5, 6
b. 6, 8, 10 e. 5, 12, 13
c. 6, 8, 12
Misalkan bilangan-bilangan di atas merupakan panjang sisi-
sisi suatu segitiga, dapatkah kalian menentukan manakah yang
termasuk jenis segitiga siku-siku?
a. 3, 5, 6
6
2
= 36
3
2
+ 5
2
= 9 + 25 = 34
Karena 6
2
> 3
2
+ 5
2
, maka segitiga ini bukan termasuk
segitiga siku-siku.
b. 6, 8, 10
10
2
= 100
6
2
+ 8
2
= 36 + 64 = 100
Karena 10
2
= 6
2
+ 8
2
, maka segitiga ini termasuk segitiga
siku-siku.
c. 6, 8, 12
12
2
= 144
6
2
+ 8
2
= 36 + 64 = 100
Karena 12
2
> 6
2
+ 8
2
, maka segitiga ini bukan termasuk
segitiga siku-siku.
d. 4, 5, 6
6
2
= 36
4
2
+ 5
2
= 16 + 25 = 41
Karena 6
2
< 4
2
+ 5
2
, maka segitiga ini bukan termasuk
segitiga siku-siku.
e. 5, 12, 13
13
2
= 169
5
2
+ 12
2
= 25 + 144 = 169
(Menumbuhkan
kreativitas)
Amati l ingkungan di
sekitarmu.
Temukan penggunaan
teorema Pythagoras
dalam kehidupan
sehari-hari. Ceritakan
temuanmu secara
singkat di depan
kelas.
(Berpikir kritis)
Amatilah benda-benda
di lingkungan
sekitarmu.
Sediakan 5 buah ben-
da yang permukaan-
nya mempunyai sudut
siku-siku. Ukurlah
panjang kedua sisi
siku-siku dan sisi
miring benda-benda
tersebut, sehingga
diperoleh kelompok
tiga bilangan.
Tunjukkan apakah
ketiga bilangan terse-
but merupakan tripel
Pythagoras. Ceritakan
hasilnya secara sing-
kat di depan kelas.
126
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Karena 13
2
= 5
2
+ 12
2
, maka segitiga ini termasuk jenis
segitiga siku-siku.
Dari uraian di atas tampak bahwa kelompok tiga bilangan
6, 8, 10 dan 5, 12, 13 merupakan sisi-sisi segitiga siku-siku, karena
memenuhi teorema Pythagoras.
Selanjutnya, kelompok tiga bilangan tersebut disebut tripel
Pythagoras.
Tripel Pythagoras adalah kelompok tiga bilangan bulat positif
yang memenuhi kuadrat bilangan terbesar sama dengan jumlah
kuadrat dua bilangan lainnya.
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
Jika tiga bilangan bu-
lat a, b, c merupakan
tripel Pythagoras
maka na, nb, dan nc
juga membentuk tripel
Pythagoras, dengan n
bilangan real.
Dapatkah kalian
membuktikan pernya-
taan tersebut?
1. Selidiki jenis segitiga dengan panjang sisi-
sisi berikut.
a. 5, 8, 10 e. 8, 15, 17
b. 7, 8, 9 f. 7, 24, 25
c. 9, 12, 15 g. 12, 16, 20
d. 13, 5, 12 h. 28, 45, 53
2. Di antara kelompok tiga bilangan berikut
ini, manakah yang membentuk tripel
Pythagoras?
a. 3, 4, 5 e. 8, 15, 17
b. 4, 5, 6 f. 12, 15, 19
c. 4, 7, 8 g. 11, 60, 62
d. 12, 16, 20 h. 33, 56, 65
3. Salin dan lengkapilah tabel berikut, se-
hingga menunjukkan kelompok bilangan
tripel Pythagoras, dengan a > b.
Apa yang dapat kalian simpulkan dari
tabel di atas?
4. Pada segitiga ABC diketahui AB =
10 cm, BC = 24 cm, dan AC = 26 cm.
a. Tunjukkan bahwa A ABC siku-siku.
b. Di titik manakah Z ABC siku-siku?
a
2 1 3 4 5 3, 4, 5
3 1
3 2
b a
2
– b
2
2ab a
2
+ b
2
Tripel
Pytha-
goras
a b a
2
– b
2
2ab a
2
+ b
2
Tripel
Pytha-
goras
4 1
4 2
4 3
5 1
5 2
5 3
5 4
127
Teorema Pythagoras
3. Perbandingan Sisi-Sisi pada Segitiga Siku-Siku dengan
Sudut Khusus
a. Sudut 30
0
dan 60
0
Perhatikan Gambar 5.9.
Segitiga ABC di samping adalah segitiga sama sisi dengan
AB = BC = AC = 2x cm dan Z A = Z B = Z C = 60
0
.
Karena CD tegak lurus AB, maka CD merupakan garis
tinggi sekaligus garis bagi Z C, sehingga
Z ACD = Z BCD = 30
o
.
Diketahui Z ADC = Z BDC = 90
o
.
Titik D adalah titik tengah AB, di mana AB = 2x cm,
sehingga panjang BD = x cm.
Perhatikan A CBD.
Dengan menggunakan teorema Pythagoras diperoleh
CD
2
= BC
2
– BD
2
CD =
2 2
BC BD -
=
2 2
(2 ) x x -
=
2 2
4x x -
=
2
3x = 3 x
Dengan demikian, diperoleh perbandingan
BD : CD : BC = : 3 : 2 x x x
= 1: 3 : 2.
Perbandingan tersebut dapat digunakan untuk
menyelesaikan soal yang berkaitan dengan segitiga siku-siku
khusus. Perhatikan contoh berikut.
5.
Q
P
R
S
4 cm
2 cm 8 cm
Perhatikan gambar di atas.
Pada A PQR diketahui PS = 2 cm,
QS = 8 cm, dan RS = 4 cm.
a. Hitunglah panjang PR dan QR.
b. Buktikan bahwa A PQR siku-siku di
titik R.
A B
C
D
30
o
60
o
30
o
2 cm x
Gambar 5.9
128
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Diketahui persegi panjang
ABCD dengan panjang di-
agonal AC = 10 cm dan
Z CAB = 30
o
. Tentukan
(i) panjang AB;
(ii) panjang BC;
(iii) luas ABCD;
(iv) keliling ABCD.
Penyelesaian:
Perbandingan sisi-sisi pada A ABC adalah
BC : AB : AC = 1 : 3 : 2, sehingga
(i) BC : AB : AC = 1 : 3 : 2
AB : AC = 3 : 2
AB : 10 = 3 : 2
2AB = 10 3
AB =
10 3
2
= 5 3 cm
(ii) BC : AC = 1 : 2
BC : 10 = 1 : 2
2BC = 10
BC =
10
2
= 5 cm
(iii) Luas ABCD
2
AB BC
5 3 5
25 3 cm
· ×
· ×
·
(iv) Keliling ABCD ( )
( )
( )
2 AB BC
2 5 3 5
10 3 1 cm
· ×
· -
· -
Gambar 5.10
A B
C D
1
0
c
m
30
o
b. Sudut 45
o
Perhatikan Gambar 5.11.
Segitiga ABC pada Gambar 5.11 adalah segitiga siku-siku
sama kaki. Sudut B siku-siku dengan panjang AB = BC =
x cm dan Z A = Z C = 45
o
.
A
B C x cm
45
o
45
o
Gambar 5.11
129
Teorema Pythagoras
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Tentukan nilai x dan y pada segitiga siku-
siku berikut.
y
x
4
60
o
y
8
x + 2
30
o
(a) (b)
x
y
5
60
o
(c) (d)
2. Tentukan besar sudut x dan y (dalam
derajat) pada segitiga siku-siku berikut.
(a) (b)
(c) (d)
3. Diketahui A PQR siku-siku di Q
dengan panjang PQ = QR = 25 cm.
Hitunglah keliling dan luas segitiga
PQR.
4. Pada persegi panjang ABCD,
diketahui AB = 30 cm dan Z CAB =
30
o
. Hitunglah
a. panjang AC dan BC;
b. keliling dan luas persegi panjang
ABCD.
5. Diketahui belah ketupat PQRS dengan
O titik potong diagonal PR dan QS.
Jika Z OPS = 30
0
dan PO = 10 3 cm
maka
a. sketsalah belah ketupat PQRS;
b. hitunglah panjang QO dan PQ;
c. hitung luas dan keliling belah ketu-
pat PQRS.
y
x
y
x
45
o
5 2
5 2
y
x
3 3
x
x
y
y
5
5 3
5 2
Dengan menggunakan teorema Pythagoras diperoleh
AC
2
= AB
2
+ BC
2
AC =
2 2
AB BC -
=
2 2
x x -
=
2
2x
=
2 x
Dengan demikian, diperoleh perbandingan
AB : BC : AC : : 2
1:1: 2.
x x x ·
·
130
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
4. Penggunaan Teorema Pythagoras pada Bangun Datar
dan Bangun Ruang
Selain dimanfaatkan pada segitiga siku-siku, teorema
Pythagoras juga dapat digunakan pada bangun datar dan bangun
ruang matematika yang lain untuk mencari panjang sisi-sisi yang
belum diketahui.
Perhatikan kubus ABCD.EFGH dengan panjang rusuk a cm
pada Gambar 5.12. Dapatkah kalian menyebutkan diagonal sisi
kubus ABCD.EFGH? Diagonal sisi adalah ruas garis yang
menghubungkan dua titik sudut yang berhadapan pada suatu bidang
datar. Diagonal sisi kubus tersebut antara lain AF , BD, CH, dan
DE . Misalkan kita akan menentukan panjang diagonal sisi BD.
Perhatikan persegi ABCD. BD adalah salah satu diagonal
sisi bidang ABCD. Sekarang, perhatikan A ABD. Karena A ABD
siku-siku di A, maka dengan menggunakan teorema Pythagoras
diperoleh
2
BD =
2
AD +
2
AB
= a
2
+ a
2
= 2a
2
BD
2
2
2 cm
a
a
·
·
Coba tentukan panjang diagonal sisi yang lain.
Apakah panjangnya selalu sama?
Selanjutnya, dapatkah kalian menyebutkan diagonal ruang
kubus ABCD.EFGH? Diagonal ruang adalah ruas garis yang
menghubungkan dua titik sudut yang berhadapan dalam suatu
bangun ruang.
Diagonal ruang kubus ABCD.EFGH antara lain HB dan
FD. Perhatikan A BDH siku-siku di titik D, maka untuk menentu-
kan panjang diagonal ruang HB dapat dicari dengan menggunakan
teorema Pythagoras.
( )
2 2 2
2
2
2 2
2
2
HB BD DH
2
2
3
HB 3 3 cm
a a
a a
a
a a
· -
· -
· -
·
· ·
A B
C
D
E
F
G H
a cm
a cm
a cm
Gambar 5.12
(Berpikir kritis)
Pada bangun ruang
balok dengan panjang
p cm, lebar l cm, dan
tinggi t cm, tentukan
panjang diagonal sisi
dan panjang diagonal
ruangnya.
131
Teorema Pythagoras
Diketahui kubus ABCD.
EFGH dengan panjang AB
= 15 cm. Hitunglah panjang
diagonal ruang AG .
Penyelesaian:
Gambar 5.13
A B
C
D
E
F
G H
15 cm
15 cm
15 cm
Perhatikan A ACG.
Karena A ACG siku-siku di
titik C, maka panjang diago-
nal ruang AG dapat dicari
dengan rumus berikut.
2 2 2
AG AC CG . · -
Panjang diagonal sisi AC adalah
2
AC
=
2 2
AB BC -
= 15
2
+ 15
2
= 225 + 225
= 450
AC
= 450 15 2 · cm.
Jadi, panjang diagonal ruang AG adalah
2 2 2
AG AC CG . · -
=
( )
2
15 2 + 15
2
= 450 + 225
= 675 = 15 3 cm.
Pada kubus ABCD.EFGH di samping,
diketahui panjang AB = 4 cm. Hitunglah
a. panjang AC dan AG ;
b. panjang CP ;
c. luas bidang diagonal ACGE.
A B
C
D
E
F
G H
P
(Berpikir kritis)
Perhatikan bangun
ruang-bangun ruang
lain selain kubus dan
balok.
Temukan pemanfaat-
an teorema Pytha-
goras pada masing-
masing bangun
tersebut. Hasilnya,
tulislah dalam bentuk
laporan dan kumpul-
kan kepada gurumu.
132
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. A
B C
D
20 cm
12 cm
60
o
Pada trapesium ABCD di atas, hitunglah
a. panjang AB dan CD;
b. luas trapesium.
2.
A
B
C
D
E
F
G
P
H
Pada kubus ABCD.EFGH di atas diketa-
hui panjang diagonal sisi BE = 48 cm.
Tentukan
a. panjang AB; c. panjang AP .
b. panjang HB;
3.
A B
C
D
E
F
G H
8 cm
6 cm
4 cm
Pada gambar di atas balok ABCD.EFGH
dengan sisi alas ABCD dan sisi atas
EFGH. Panjang rusuk AB = 8 cm,
BC = 6 cm, dan CG = 4 cm. Hitunglah
a. luas dan keliling bidang ACGE;
b. panjang diagonal ruang AG .
4.
P
Q
R S
T
O
12 cm
8 cm
U
Pada limas T.PQRS di atas, alas limas
berbentuk persegi dengan panjang sisi
8 cm, sedangkan panjang TO = 12 cm.
Hitunglah
a. panjang TU ;
b. keliling dan luas segitiga TQR.
5. Diketahui persegi ABCD pada bidang
koordinat dengan koordinat titik A (2, 1)
dan C (7, –4).
a. Sketsalah persegi ABCD tersebut
pada bidang koordinat.
b. Tentukan koordinat titik B dan D.
c. Tentukan panjang BC dan AC .
C. MENYELESAIKAN MASALAH SEHARI-
HARI DENGAN MENGGUNAKAN T EOREMA
PYTHAGORAS
Banyak permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang
disajikan dalam soal cerita dan dapat diselesaikan dengan menggu-
nakan teorema Pythagoras. Untuk memudahkan menyelesaikannya
diperlukan bantuan gambar (sketsa). Pelajari contoh berikut.
133
Teorema Pythagoras
Seorang anak menaikkan
layang-layang dengan
benang yang panjangnya
100 meter. Jarak anak di
tanah dengan titik yang
tepat berada di bawah
layang-layang adalah 60
meter. Hitunglah ketinggi-
an layang-layang.
Penyelesaian:
Tinggi layang-layang = BC
BC =
2 2
AC AB -
=
2 2
100 60 -
= 10.000 3600 -
=
6400
= 80 m
Jadi, tinggi layang-layang adalah 80 m.
A B
C
1
0
0
m
60 m
Gambar 5.14
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Sebuah kapal berlayar ke arah timur se-
jauh 150 km, kemudian ke arah selatan
sejauh 200 km. Hitung jarak kapal seka-
rang dari tempat semula.
2. Sebuah tangga yang panjangnya 12 m
bersandar pada tembok yang tingginya
8 m. Jika kaki tangga terletak 6 m dari
tembok maka hitunglah panjang bagian
tangga yang tersisa di atas tembok.
3. Seseorang menyeberangi sungai yang
lebarnya 30 meter. Jika ia terbawa arus
sejauh 16 meter, berapakah jarak yang
ia tempuh pada saat menyeberangi
sungai?
4. Dua buah tiang berdampingan berjarak
24 m. Jika tinggi tiang masing-masing
adalah 22 m dan 12 m, hitunglah panjang
kawat penghubung antara ujung tiang
tersebut.
5. Sebidang sawah berbentuk persegi pan-
jang berukuran (40
×
9) m. Sepanjang
keliling dan kedua diagonalnya akan di-
buat pagar dengan biaya Rp25.000,00
per meter. Hitunglah
a. panjang pagar;
b. biaya pembuatan pagar.
134
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
1. Luas persegi yang panjang sisinya s satuan panjang adalah s
2
satuan luas.
2. Luas segitiga siku-siku dengan panjang alas a dan tinggi t adalah
L =
1
2
× × a t
.
3. Untuk setiap segitiga siku-siku berlaku kuadrat panjang sisi
miring sama dengan jumlah kuadrat panjang sisi siku-sikunya.
4. Jika jumlah kuadrat panjang dua sisinya sama dengan kuadrat
panjang sisi miring maka segitiga tersebut merupakan segitiga
siku-siku.
5. Tripel Pythagoras adalah kelompok tiga bilangan bulat positif
yang memenuhi kuadrat bilangan terbesar sama dengan jumlah
kuadrat dua bilangan lainnya.
Setelah mempelajari bab ini, apakah kalian sudah paham
mengenai teorema Pythagoras? Jika kalian sudah paham, coba
rangkum kembali materi ini dengan kata-katamu sendiri. Jika ada
materi yang belum kamu pahami, catat dan tanyakan kepada
temanmu yang lebih tahu atau kepada gurumu. Tuliskan pula
manfaat apa saja yang dapat kamu peroleh dari bab ini.
Kerjakan di buku tugasmu.
A. Pilihlah salah satu jawaban yang tepat.
Pada segitiga ABC di samping berlaku
....
a. AB
2
= AC
2
+ BC
2
b. AB
2
= AC
2
– BC
2
c. AC
2
= AB
2
– BC
2
d. AC
2
= BC
2
– AB
2
1.
A
B
C
135
Teorema Pythagoras
2.
p
25
7
Nilai p pada segitiga di atas adalah
....
a. 12 c. 22
b. 15 d. 24
3. Diketahui sebuah segitiga siku-siku,
panjang hipotenusanya 3 10 cm dan
panjang salah satu sisinya 3 cm. Pan-
jang sisi siku-siku yang lain adalah ....
a. 7 cm c. 10 cm
b. 9 cm d. 15 cm
4. Suatu segitiga dengan panjang sisi 4
cm, 5 cm, dan
41
cm, termasuk jenis
segitiga ....
a. lancip c. siku-siku
b. sebarang d. tumpul
5. Pada sebuah segitiga ABC diketahui
sisi-sisinya adalah a, b, dan c. Dari
pernyataan berikut yang benar adalah
....
a. Jika b
2
= a
2
+ c
2
maka Z A = 90
o
.
b. Jika c
2
= b
2
– a
2
maka Z C = 90
o
.
c. Jika c
2
= a
2
– b
2
maka Z B = 90
o
.
d. Jika a
2
= b
2
+ c
2
maka Z A = 90
o
.
6. Diketahui himpunan panjang sisi-sisi
segitiga sebagai berikut.
(i) {3, 4, 6}
(ii) { ¦
3, 3,9
(iii) {6, 8, 9}
(iv) { ¦
5, 7, 40
Dari himpunan-himpunan di atas, yang
dapat membentuk segitiga siku-siku
adalah ....
a. (i) c. (iii)
b. (ii) d. (iv)
7.
A B
C
30
o
Pada A ABC di atas, jika besar
Z A = 30
o
dan panjang AB =
5 3
cm
maka panjang BC dan AC berturut-
turut adalah ....
a. 5 cm dan 10 cm
b. 3 cm dan 6 cm
c. 6 cm dan 12 cm
d. 10 cm dan 20 cm
8. Jika x, 61, 11 merupakan tripel Pytha-
goras dan 61 bilangan terbesar maka
nilai x adalah ....
a. 15 c. 45
b. 30 d. 60
9. Bilangan berikut yang bukan merupa-
kan tripel Pythagoras adalah ....
a. 3, 4, 5 c. 4, 6, 9
b. 12, 16, 20 d. 10, 24, 26
10. Panjang diagonal ruang kubus dengan
panjang rusuk 12 cm adalah ....
a. 13 cm c. 12 3 cm
b. 13,5 cm d. 12 5 cm
11. Diketahui segitiga-segitiga dengan
ukuran-ukuran sebagai berikut.
(i) 3 cm, 4 cm, 5 cm
(ii) 3 cm, 5 cm, 6 cm
(iii) 5 cm, 6 cm, 7 cm
(iv) 5 cm, 8 cm, 10 cm
Berdasarkan ukuran-ukuran tersebut
yang dapat membentuk segitiga
tumpul adalah ....
a. (i) dan (ii) c. (ii) dan (iii)
b. (i) dan (iii) d. (ii) dan (iv)
12. Panjang sisi siku-siku suatu segitiga
adalah 4x cm dan 3x cm. Jika panjang
sisi hipotenusanya 35 cm, keliling
segitiga tersebut adalah ....
136
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
a. 4,9 cm c. 8,5 cm
b. 6,9 cm d. 16,9 cm
15. Sebuah tangga yang panjangnya 6 cm
bersandar pada sebuah tiang listrik.
Jarak ujung bawah tangga terhadap
tiang listrik adalah 3 m. Tinggi tiang
listrik yang dapat dicapai tangga
adalah ....
a. 3,5 cm c.
27
cm
b. 18 cm d. 45 cm
a. 68 cm c. 84 cm
b. 72 cm d. 96 cm
13. Sebuah persegi panjang berukuran
panjang 24 cm dan panjang diagonal-
nya 30 cm. Luas persegi panjang
tersebut adalah ....
a. 216 cm
2
c. 432 cm
2
b. 360 cm
2
d. 720 cm
2
14. Segitiga ABC siku-siku sama kaki
dengan panjang AB = AC dan BC =
24 cm. Panjang AB adalah ....
B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan singkat dan tepat.
1. Pada gambar segitiga berikut hitunglah
nilai x.
x
3
6
x
8
4
(a) (b)
x
x
16
10 20
48
(c) (d)
2. Nyatakan segitiga-segitiga berikut,
lancip, siku-siku, atau tumpul. Jika
merupakan segitiga siku-siku, lancip,
atau tumpul, tentukan nama titik sudut
yang siku-siku, lancip, atau tumpul.
a. A ABC, AB = 16 cm, BC = 30
cm, dan AC = 34 cm.
b. A PQR, PQ = 12 cm, QR = 10
cm, dan PR = 8 cm.
c. A KLM, KL = 15 cm, LM = 12
cm, dan KM = 8 cm.
d. A DEF dengan koordinat titik
A(1, 1), B(5, 3), dan C(4, 8).
(Petunjuk: Terlebih dahulu hitunglah
panjang AB, AC, dan BC).
3.
A B
C D
Keliling belah ketupat ABCD di atas
adalah 60 cm dan panjang BD = 18
cm. Hitunglah panjang AC.
4.
R
P
T
Q
Pada limas T.PQR di atas, diketahui
panjang QR = 20 cm, PQ = 16 cm,
dan TR = 28 cm.
a. Hitunglah panjang PR dan PT.
b. Tunjukkan bahwa A TPQ siku-siku
di Q. Kemudian, hitunglah panjang
QT.
5. Sebuah kapal berlayar dari Pelabuhan
A ke arah selatan menuju Pelabuhan
B sejauh 250 km. Kemudian, dilanjut-
kan ke arah timur menuju Pelabuhan
C sejauh 300 km.
a. Buatlah sketsa dari keterangan di
atas.
b. Berapakah jarak dari Pelabuhan A
ke Pelabuhan D?
LINGKARAN
Sejak zaman Babilonia, manusia sudah
terkagum-kagum oleh bangun matematika
yang dinilai sebagai bentuk yang sempurna,
yaitu lingkaran. Kita semua pasti tidak asing
lagi dengan beragam lingkaran. Lingkaran
terjadi secara alami di alam semesta, mulai
dari riak air sampai lingkar cahaya bulan. Di
alam, lingkaran sering kali terbentuk apabila
permukaan datar dipengaruhi oleh suatu gaya
yang bekerja merata ke segala arah.
Misalnya, saat sebuah kelereng jatuh ke
dalam air dan menghasilkan gelombang yang
menyebar rata ke segala arah sebagai
serangkaian riak yang berbentuk lingkaran.
Tujuan pembelajaranmu pada bab ini adalah:
™ dapat menyebutkan unsur-unsur dan bagian-bagian lingkaran;
™ dapat menemukan nilai phi;
™ dapat menentukan rumus serta menghitung keliling dan luas lingkaran;
™ dapat mengenal hubungan sudut pusat dan sudut keliling jika menghadap
busur yang sama;
™ dapat menentukan besar sudut keliling jika menghadap diameter dan busur
yang sama;
™ dapat menentukan panjang busur, luas juring, dan luas tembereng;
™ dapat menggunakan hubungan sudut pusat, panjang busur, dan luas juring
dalam pemecahan masalah.
Sumber: Jendela Iptek, 2001
6
Kata-Kata Kunci:
™ unsur-unsur lingkaran
™ keliling dan luas lingkaran
™ sudut pusat dan sudut keliling
™ panjang busur, luas juring, dan luas tembereng
138
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
x
A
C
B
O
x
D
Gambar 6.2
Di tingkat sekolah dasar, kalian telah diperkenalkan dengan
bangun lingkaran. Coba kalian ingat kembali materi tersebut.
Agar kalian mudah memahami materi pada bab ini, kalian
harus menguasai mengenai sudut, segitiga, dan faktorisasi suku
aljabar.
A. LINGKARAN DAN BAGIAN-BAGIANNYA
1. Pengertian Lingkaran
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat benda-benda
yang permukaannya berbentuk lingkaran, seperti tampak pada
Gambar 6.1 berikut.
Gambar 6.1
Dari Gambar 6.1 di atas, apakah yang dapat kalian ceritakan
mengenai lingkaran? Dapatkah kalian menyebutkan unsur-unsur
lingkaran?
Agar kalian memahami pengertian lingkaran, perhatikan
Gambar 6.2 di samping.
Lingkaran adalah kurva tertutup sederhana yang merupakan
tempat kedudukan titik-titik yang berjarak sama terhadap suatu
titik tertentu. Jarak yang sama tersebut disebut jari-jari lingkaran
dan titik tertentu disebut pusat lingkaran.
Gambar 6.2 di samping menunjukkan titik A, B, C, dan D yang
terletak pada kurva tertutup sederhana sedemikian sehingga OA
= OB = OC = OD = jari-jari lingkaran (r). Titik O disebut pusat
lingkaran.
Selanjutnya, perhatikan Gambar 6.3 di samping.
Panjang garis lengkung yang tercetak tebal yang berbentuk
lingkaran tersebut disebut keliling lingkaran, sedangkan daerah
arsiran di dalamnya disebut bidang lingkaran atau luas
lingkaran.
x
Gambar 6.3
(Menumbuhkan
kreativitas)
Perhatikan lingkungan
di sekitarmu. Temukan
5 buah benda
berbentuk lingkaran.
Rabalah permukaan
benda-benda tersebut.
Menurutmu, unsur-
unsur apa sajakah
yang menyusun
sebuah lingkaran?
Ceritakan temuanmu
secara singkat di
depan kelas.
139
Lingkaran
2. Bagian-Bagian Lingkaran
Perhatikan Gambar 6.4 di samping agar kalian mudah memahami
mengenai unsur-unsur lingkaran.
– Titik O disebut titik pusat lingkaran.
– OA , OB, OC, dan OD disebut jari-jari lingkaran, yaitu garis
yang menghubungkan titik pusat lingkaran dan titik pada keliling
lingkaran.
– AB disebut garis tengah atau diameter, yaitu ruas garis yang
menghubungkan dua titik pada keliling lingkaran dan melalui
pusat lingkaran. Karena diameter AB = AO + OB, di mana
AO = OB = jari-jari (r) lingkaran, sehingga
diameter (d) = 2
×
jari-jari (r) atau d = 2r.
– AC disebut tali busur, yaitu ruas garis yang menghubungkan
dua titik pada keliling lingkaran.
– OE ± tali busur BD dan OF ± tali busur AC disebut
apotema, yaitu jarak terpendek antara tali busur dan pusat
lingkaran.
– Garis lengkung
p
AC,
p
BC, dan
p
AB disebut busur lingkaran,
yaitu bagian dari keliling lingkaran. Busur terbagi menjadi dua,
yaitu busur besar dan busur kecil (Gambar 6.5).
1. Busur kecil/pendek adalah busur AB yang panjangnya
kurang dari setengah keliling lingkaran.
2. Busur besar/panjang adalah busur AB yang lebih dari
setengah keliling lingkaran.
– Daerah yang dibatasi oleh dua jari-jari, OC dan OB serta
busur BC disebut juring atau sektor. Juring terbagi menjadi
dua, yaitu juring besar dan juring kecil (Gambar 6.6).
– Daerah yang dibatasi oleh tali busur AC dan busurnya disebut
tembereng. Gambar 6.7 menunjukkan bahwa terdapat
tembereng kecil dan tembereng besar.
x
A B
busur besar
busur kecil
Gambar 6.5
x
A
B
C
D
O
E
busur
tembereng
tali
busur
juring
apo-
tema
F
Gambar 6.4
Gambar 6.6
x
C
B
juring kecil
juring besar
O
Gambar 6.7
tembe-
reng
besar
tembe-
reng
kecil
A
C
(Menumbuhkan inovasi)
Sediakan sebuah j am weker. Anggaplah t itik pertemuan antara j a-
rum menit dan j arum detik sebagai t itik pusat l ingkaran.
Tunjukkan unsur-unsur lingkaran dengan menggunakan jam we-
ker tersebut. Ceritakan secara singkat di depan kelas.
140
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
x
A
B
C
D
E
O
F
x x x
(a) (b) (c)
x x
(d) (e)
1. Pada gambar di bawah ini sebutkan garis
yang merupakan
a. jari-jari,
b. garis tengah,
c. tali busur,
d. apotema.
2. Disebut apakah daerah arsiran yang di-
tunjukkan pada gambar berikut?
3. Sebutkan nama unsur-unsur lingkaran
yang ditunjukkan oleh nomor 1, 2, 3, 4,
dan 5 pada gambar di bawah ini.
x O
1
2
3
4
5
4. Benar atau salahkah pernyataan berikut?
a. Lingkaran adalah tempat kedudukan
titik-titik yang berjarak sama dari
suatu titik tertentu.
b. Jari-jari suatu lingkaran saling ber-
potongan di satu titik.
c. Garis tengah merupakan tali busur
yang terpanjang.
d. Tembereng adalah daerah yang diba-
tasi oleh dua jari-jari dan tali busur.
B. KELILING DAN LUAS LINGKARAN
Pernahkah kamu mengamati gerak sebuah roda sepeda?
Untuk mengetahui pengertian keliling lingkaran, coba kamu ambil
roda sebuah sepeda. Tandai pada bagian tepi lingkaran dengan
huruf A. Kemudian, gelindingkan roda tersebut dimulai dari titik A
kembali ke titik A lagi. Lintasan yang dilalui roda dari A sampai
kembali ke A lagi disebut satu putaran penuh atau satu keliling
lingkaran. Sebelum kita menghitung keliling lingkaran, kita akan
mencoba menemukan nilai r (pi).
1. Menemukan Pendekatan Nilai r rr rr (pi)
Lakukan kegiatan berikut ini, untuk menemukan pendekatan
nilai r (pi).
141
Lingkaran
Lingkaran Diameter Keliling
Keliling
Diameter
Berjari-jari 1 cm .... .... ....
Berjari-jari 1,5 cm .... .... ....
Berjari-jari 2 cm .... .... ....
Berjari-jari 2,5 cm .... .... ....
Berjari-jari 3 cm .... .... ....
KEGIATAN
a. Buatlah lingkaran dengan jari- jari 1 cm, 1,5 cm, 2 cm, 2,5 cm,
dan 3 cm.
b. Ukurlah diameter masing-masing lingkaran dengan
menggunakan penggaris.
c. Ukurlah keliling masing-masing lingkaran menggunakan
bantuan benang dengan cara menempelkan benang pada bagian
tepi lingkaran, dan kemudian panjang benang diukur
menggunakan penggaris.
d. Buatlah tabel seperti di bawah ini dan hasil pengukuran yang
telah kamu peroleh isikan pada tabel tersebut.
Coba bandingkan hasil yang kalian peroleh dengan hasil yang
diperoleh teman-temanmu. Apa yang dapat kalian simpulkan?
Apakah kamu mendapatkan nilai perbandingan antara keliling dan
diameter untuk setiap lingkaran adalah sama (tetap)?
Jika kegiatan tersebut kalian lakukan dengan cermat dan teliti
maka nilai
keliling
diameter
akan memberikan nilai yang mendekati 3,14.
Untuk selanjutnya, nilai
keliling
diameter
disebut sebagai konstanta r
(r dibaca: pi).
r ·
Keliling
Diameter
Coba tekan tombol r pada kalkulator. Apakah kalian
mendapatkan bilangan desimal tak berhingga dan tak berulang?
Bentuk desimal yang tak berhingga dan tak berulang bukan bilangan
pecahan. Oleh karena itu, r bukan bilangan pecahan, namun
bilangan irasional , yaitu bilangan yang tidak dapat dinyatakan
(Menumbuhkan
kreativitas)
Dengan adanya tek-
nologi komputer, nilai
r dapat dicari sampai
puluhan tempat
desimal.
Coba carilah nilai r
dengan menggunakan
komputer di sekolah-
mu. Mintalah petunjuk
gurumu.
Ceritakan pengala-
manmu s ecara s ing-
kat di depan kelas.
142
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
dalam bentuk pecahan biasa
a
b
. Bilangan irasional berupa desimal
tak berulang dan tak berhingga.
Menurut penelitian yang cermat ternyata nilai r = 3,14 1592 6535
8979324836 ...
Jadi, nilai r hanyalah suatu pendekatan.
Jika dalam suatu perhitungan hanya memerlukan ketelitian
sampai dua tempat desimal, pendekatan untuk r adalah 3, 14.
Coba bandingkan nilai r dengan pecahan
22
7
. Bilangan
pecahan
22
7
jika dinyatakan dalam pecahan desimal adalah
3,142857143. Jadi, bilangan
22
7
dapat dipakai sebagai pendekatan
untuk nilai r .
22
3,14 atau
7
r ·
2. Menghitung Keliling Lingkaran
Pada pembahasan di bagian depan diperoleh bahwa pada
setiap lingkaran nilai perbandingan
(K)
( )
keliling
diameter d
menunjukkan
bilangan yang sama atau tetap disebut r .
Karena
K
r ·
d
, sehingga didapat K = r d.
Karena panjang diameter adalah 2 × jari-jari atau d = 2r, maka
K = 2r r.
Jadi, didapat rumus keliling (K) lingkaran dengan diameter (d) atau
jari-jari (r) adalah
K r · d atau K 2r · r
Untuk memudahkan
dalam menyelesaikan
soal yang berkaitan
dengan jari-jari atau
diameter lingkaran,
gunakan

22
7
r ·
, jika jari-jari
atau diameternya
kelipatan 7;
– r = 3,14 jika jari-jari
atau diameternya
bukan kelipatan 7.
143
Lingkaran
Hitunglah keliling lingkaran
jika diketahui
a. diameter 14 cm;
b. jari-jari 35 cm.
Penyelesaian:
a. d = 14 cm sehingga K
22
14
7
44
r ·
· ×
·
d
Jadi, keliling lingkaran adalah 44 cm.
b. r = 35 cm sehingga K 2
22
2 35
7
220
r ·
· × ×
·
r
Jadi, keliling lingkaran = 220 cm.
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Sediakan mata uang logam Rp100,00,
Rp200,00, dan Rp500,00. Ukurlah
panjang diameter dan keliling mata uang
tersebut. Buatlah tabel seperti berikut dan
isikan hasil pengukuranmu pada tabel
tersebut.
Dari tabel tersebut, tentukan nilai r
sampai tiga tempat desimal.
2. Hitunglah keliling lingkaran jika diketahui
a. jari-jari 49 m; f. diameter 70 cm;
b. jari-jari 21 m; g. diameter 2,8 cm;
c. jari-jari 5 cm; h. diameter 15 m;
d. jari-jari 12 cm; i. diameter 50 m;
e. jari-jari 10,5 cm; j. diameter 2,4 cm;
3. Hitunglah panjang tali yang diperlukan
untuk melilitkan sebuah drum berjari-jari
3 cm sebanyak lima putaran.
4. Hitunglah keliling daerah yang diarsir
pada gambar berikut.
28 cm
1
4
c
m
10 cm
(i) (ii)
21 cm
2
1
c
m
10 cm
(iii) (iv)
Mata uang Diameter Keliling
Keliling
Diameter
Rp100,00 .... .... ....
Rp200,00 .... .... ....
Rp500,00 .... .... ....
144
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
5. Ali ke sekolah naik sepeda menempuh
jarak 706,5 m. Ternyata sebuah roda
sepedanya berputar 500 kali untuk
sampai ke sekolah.
a. Hitunglah panjang jari-jari roda.
b. Tentukan keliling roda itu.
Catatan: Gunakan kalkulator untuk membantumu mengerjakan
soal di atas.
3. Menghitung Luas Lingkaran
Untuk menemukan rumus luas lingkaran, lakukan kegiatan
dengan langkah-langkah berikut.
a. Buatlah lingkaran dengan jari-jari 10 cm.
b. Bagilah lingkaran tersebut menjadi dua bagian sama
besar dan arsir satu bagian.
c. Bagilah lingkaran tersebut menjadi 12 bagian sama
besar dengan cara membuat 12 juring sama besar
dengan sudut pusat 30
o
(Gambar 6.8 (i)).
d. Bagilah salah satu juring yang tidak diarsir menjadi dua
sama besar.
e. Gunting lingkaran beserta 12 juring tersebut.
f. Atur potongan-potongan juring dan susun setiap juring
sehingga membentuk gambar mirip persegi panjang,
seperti pada Gambar 6.8 (ii) di samping.
Berdasarkan Gambar 6.8 (ii), diskusikan dengan teman
sebangkumu untuk menemukan luas lingkaran. Hasilnya
bandingkan dengan uraian berikut.
(i)
Gambar 6.8
(ii)
Jika lingkaran dibagi menjadi juring-juring yang tak terhingga
banyaknya, kemudian juring-juring tersebut dipotong dan disusun
seperti Gambar 6.8 (ii) maka hasilnya akan mendekati bangun
persegi panjang.
Perhatikan bahwa bangun yang mendekati persegi panjang
tersebut panjangnya sama dengan setengah keliling lingkaran
( ) 3,14 10 cm 31, 4 cm × · dan lebarnya sama dengan jari-jari ling-
karan (10 cm). Jadi, luas lingkaran dengan panjang jari-jari 10 cm
= luas persegi panjang dengan p = 31,4 cm dan l = 10 cm.
= p × l
= 31,4 cm × 10 cm
= 314 cm
KEGIATAN
145
Lingkaran
Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa luas lingkaran
dengan jari-jari r sama dengan luas persegi panjang dengan panjang
rr dan lebar r, sehingga diperoleh
2
L
L
r
r
· ×
·
r r
r
Karena
1
2
· r d
, maka
2
2
2
1
L
2
1
4
1
L
4
r
r
r
¸ ¸
·
(
¸ ,
¸ ¸
·
(
¸ ,
·
d
d
d
Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa luas lingkaran L dengan jari-
jari r atau diameter d adalah
2
L r · r atau
2
1
L
4
r · d
Hitunglah luas lingkaran
jika
a. jari-jarinya 7 cm;
b. diameternya 20 cm.
Penyelesaian:
a. jari-jari = 7 cm, maka r = 7
2
L
22
7 7
7
154
r ·
· × ×
·
r
Jadi, luas lingkaran = 154 cm
2
.
b. diameter = 20 cm, maka d = 20
2
1
L
4
1
3,14 20 20
4
1
3,14 400
4
314
r ·
· × × ×
· × ×
·
d
Jadi, luas lingkaran = 314 cm
2
.
(Menumbuhkan
kreativitas)
Carilah 4 buah benda
di sekit armu yang
berbentuk lingkaran.
Ukurlah keliling
benda-benda tersebut
menggunakan be-
nang. Kemudian, lu-
ruskan benang terse-
but pada penggaris
untuk memperoleh
kelilingnya. Dengan
menggunakan rumus
keliling, hitunglah pan-
jang j ari-jari atau dia-
meternya.
Kemudian, hitunglah
luas setiap benda ter-
sebut. Gunakan kalku-
lator untuk membantu
pekerjaanmu.
146
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Hitunglah luas daerah lingkaran dengan
panjang jari-jari berikut ini.
a. 21 cm d. 70 m
b. 25 cm e. 3,5 m
c. 49 cm
2. Hitunglah luas daerah lingkaran dengan
diameter berikut ini.
a. 50 m d. 25 cm
b. 1,4 m e. 18 cm
c. 35 m
3. Tentukan luas daerah arsiran pada ba-
ngun berikut.
14 cm
10 cm
1
0
c
m
(a) (b)
10 cm
1
0
c
m
7 cm
14 cm
(c) (d)
4. Dua buah lingkaran berjari-jari 5 cm dan
15 cm. Hitunglah perbandingan
a. kedua kelilingnya;
b. selisih kelilingnya;
c. kedua luasnya;
d. selisih luasnya.
5. Di pusat sebuah kota rencananya akan
dibuat sebuah taman berbentuk lingkaran
dengan diameter 56 m. Di dalam taman
itu akan dibuat kolam berbentuk lingkaran
berdiameter 28 m. Jika di luar kolam
akan ditanami rumput dengan biaya
Rp6.000,00/m
2
, hitunglah seluruh biaya
yang harus dikeluarkan untuk menanam
rumput tersebut.
Sebuah satelit mempunyai kecepatan edar 7 .500 km/jam dan
mengorbit mengelilingi bumi selama 6 jam dalam satu putaran
penuh. Jika jari-jari bumi 6.400 km, tentukan
a. panjang lintasan satelit tersebut;
b. jarak satelit ke pusat bumi;
c. tinggi lintasan satelit dari permukaan bumi.
4. Menghitung Perubahan Luas dan Kelili ng Lingkaran
Jika Jari-Jari Berubah
Pada pembahasan yang lalu kalian telah mempelajari
mengenai luas dan keliling lingkaran, yaitu luas (L) =
2 2
1
4
r r · r d
dan keliling (K) = 2r r · r d . Apabila nilai r atau d kita ubah,
147
Lingkaran
maka besarnya keliling maupun luasnya juga mengalami perubahan.
Bagaimana besar perubahan itu? Perhatikan uraian berikut.
Misalkan lingkaran berjari-jari r
1
, diperbesar sehingga jari-
jarinya menjadi r
2
, dengan r
2
> r
1
. Jika luas lingkaran semula adalah
L
1
dan luas lingkaran setelah mengalami perubahan jari-jari adalah
L
2
maka selisih luas kedua lingkaran adalah
( )
( )( )
2 2
2 1 2 1
2 2
2 1
2 1 2 1
L L r r
r
r
- · -
· -
· - -
r r
r r
r r r r
Jika keliling lingkaran semula adalah K
1
dan keliling setelah
mengalami perubahan jari-jari adalah K
2
maka selisih keliling kedua
lingkaran adalah
( )
2 1 2 1
2 1
K K 2 2
2
r r
r
- · -
· -
r r
r r
Kalian juga dapat menghitung perbandingan luas dan keliling
lingkaran jika jari-jari berubah.
Perbandingan luas kedua lingkaran sebagai berikut.
L
2
: L
1
2 2
2 1
2 2
2 1
:
:
r r ·
·
r r
r r
Adapun perbandingan kelilingnya adalah
K
2
: K
1 2 1
2 1
2 : 2
:
r r ·
·
r r
r r
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa lingkaran yang berjari-
jari r
1
, setelah mengalami perubahan jari-jari menjadi r
2
dengan
r
2
> r
1
, maka selisih serta perbandingan luas dan kelilingnya sebagai
berikut.
L
2
– L
1
= ( )( )
2 1 2 1
r - - r r r r
K
2
– K
1
= ( )
2 1
2r - r r
L
2
: L
1
= r
2
2
: r
1
2
K
2
: K
1
= r
2
: r
1
(Menumbuhkan
inovasi)
Diskusikan dengan
teman sebangkumu.
Misalkan lingkaran
berjari-jari r
1
diperke-
cil sehingga jari-
jarinya menjadi r
2
dengan r
2
< r
1
.
Hitunglah selisih
serta perbandingan
luas dan keliling ke-
dua lingkaran terse-
but. Buatlah kesim-
pulannya. Kemukakan
hasilnya secara sing-
kat di depan kelas.
148
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Hitunglah selisih serta per-
bandingan luas dan keliling
lingkaran yang berjari-jari
2 cm dan 4 cm.
Penyelesaian:
Lingkaran berjari-jari 2 cm, maka r
1
= 2.
Lingkaran berjari-jari 4 cm, maka r
2
= 4.
-) Selisih luas
( )( )
( )( )
2 1
2 1 2 1
2
L L
4 2 4 2
2 6
12 cm
r
r
r
r
· -
· - -
· - -
· × ×
·
r r r r
-) Selisih keliling
( )
( )
2 1
2 1
K K
2
2 4 2
4 cm
r
r
r
· -
· -
· -
·
r r
-) Perbandingan luas
2 1
2 2
2 1
2 2
L : L
:
4 : 2
16: 4
4:1
·
·
·
·
·
r r
-) Perbandingan keliling
2 1
2 1
K : K
:
4: 2
2:1
·
·
·
·
r r
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Diketahui suatu lingkaran berjari-jari r
cm. Hitung selisih serta perbandingan
luas dan keliling lingkaran jika jari-jarinya
diubah menjadi
a. dua kalinya;
b. (r + 2) cm.
2. Diketahui jari-jari suatu lingkaran semula
7 cm. Hitunglah selisih dan perbandingan
luas lingkaran setelah jari-jarinya
a. diperbesar tiga kalinya;
b. diperkecil
1
2
kalinya.
149
Lingkaran
3. Perbandingan luas dua buah lingkaran
adalah 36 : 64. Hitunglah
a. perbandingan keliling kedua lingkaran;
b. selisih keliling kedua lingkaran;
c. perbandingan jari-jari kedua lingkaran;
d. selisih jari-jari kedua lingkaran.
4. Jari-jari dua buah lingkaran masing-
masing adalah a cm dan 3a cm. Jika
jumlah panjang jari-jari kedua lingkaran
itu 28 cm, tentukan
a. nilai a;
b. perbandingan luas dan kelilingnya;
c. selisih luas dan kelilingnya.
C. HUBUNGAN ANT ARA SUDUT PUSA T,
PANJANG BUSUR, DAN LUAS JURING
1. Hubungan Sudut Pusat, Panjang Busur , dan Luas Ju-
ring
Sudut pusat adalah sudut yang dibentuk oleh dua jari-jari
yang berpotongan pada pusat lingkaran. Pada Gambar 6.9 di
samping, Z AOB = o adalah sudut pusat lingkaran. Garis lengkung
AB disebut busur AB dan daerah arsiran OAB disebut juring OAB.
Pada pembahasan kali ini, kita akan mempelajari hubungan
antara sudut pusat, panjang busur, dan luas juring pada sebuah
lingkaran.
Untuk menentukan hubungan antara sudut pusat, panjang
busur, dan luas juring lakukan kegiatan berikut.
KEGIATAN
A
B
O
Gambar 6.9
1. Buatlah lingkaran dengan pusat di O berjari-jari 5 cm.
2. Pada lingkaran tersebut buatlah sudut pusat Z AOB
= 30
o
dan Z COD = 60
o
(Gambar 6.10 (i)).
3. Untuk menyelidiki hubungan antara sudut pusat dan
panjang busur, ukurlah
p
AB dan
p
CD dengan
menggunakan benang. Bagaimana hubungan panjang
p
AB dan
p
CD?
4. Untuk menyelidiki hubungan antara sudut pusat dan
luas juring, jiplaklah juring OAB dan potong sekeliling
juring OAB. Kemudian ukurlah juring OCD dengan
menggunakan juring OAB (Gambar 6.10 (ii) dan (iii)).
Apakah besar juring OCD dua kali besar juring OAB?
5. Tentukan besar perbandingan antara kedua sudut
pusat, panjang kedua busur, dan luas kedua juring.
Apakah menghasilkan perbandingan yang sama?
Gambar 6.10
C D
O
A B
O
30
o
60
o
A
B
C
D
O
30
o
60
o
(i)
(ii) (iii)
150
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Jika kegiatan ini kalian lakukan dengan teliti maka akan
diperoleh bahwa
p
q
panjangAB luas juring OAB besar AOB 1
.
besar COD luas juring OCD 2
panjang CD
Z
· · ·
Z
Panjang busur dan luas juring pada suatu lingkaran berbanding
lurus dengan besar sudut pusatnya.
Sekarang perhatikan Gambar 6.11 (i). Dari gambar tersebut
diperoleh
p
q
panjangAB luas juring OAB besar AOB
.
besar COD luas juring OCD
panjang CD
Z
· ·
Z
Sekarang, misalkan
Z
COD = satu putaran penuh = 360
o
maka
keliling lingkaran = 2rr, dan luas lingkaran = rr
2
dengan r jari-jari,
akan tampak seperti Gambar 6.11 (ii), sehingga diperoleh
o 2
AOB panjang AB luas juring OAB
2
360
r
r
Z
· ·
r
r
Dengan demikian, diperoleh rumus panjang busur AB, luas juring
AB, dan luas tembereng AB pada Gambar 6.11 adalah
panjang busur AB
2
360
o
r · ×
°
r
luas juring OAB
2
360
o
r · ×
°
r
luas tembereng AB = luas juring OAB – luas A AOB.
Perhatikan Gambar 6.12.
Diketahui panjang jari-jari
OA = 10 cm. Jika besar
Z AOB = 60
o
, hitunglah
a. panjang
p
AB
;
b. luas juring OAB;
c. luas tembereng AB.
Penyelesaian:
a.
p
AOB
Panjang AB 2
360
60
2 3,14 10
360
1
62,8
6
10, 47cm
r
Z
· ×
°
°
· × × ×
°
· ×
·
r
b.
2
2
AOB
luas juring OAB
360
60
3,14 10
360
r
Z
· ×
°
°
· × ×
°
r
A
B
O
Gambar 6.12
A
B
C
D
O
D
Gambar 6.11
(i)
(ii)
A
B
C/D
O
D
r
151
Lingkaran
2
1
314
6
52, 33cm
· ×
·
c. Karena besar Z AOB = 60
o
, maka A AOB sama sisi
dengan panjang sisi 10 cm, sehingga
( )
( )
1
keliling segitiga
2
1
2
1
10 10 10
2
1
30 15
2
· ×
· - -
· - -
· × ·
s
a b c
( )( )( )
( )( )( )
( )( )( )
2
luas AOB
15 15 10 15 10 15 10
15 5 5 5
1.875
43, 30cm
A · - - -
· - - -
·
·
·
s s a s b s c
luas tembereng AB = luas juring OAB – luas A AOB
= (52,33 – 43,30) cm
2
= 9,03 cm
2
.
2. Menyelesaikan Masalah yang Berkaitan dengan Hu-
bungan Sudut Pusat, Panjang Busur, dan Luas Juring
Hubungan antara sudut pusat, panjang busur, dan luas juring
dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan
dengan materi tersebut. Pelajari contoh berikut.
Perhatikan gambar berikut.
P
Q
R
O
45
o
Gambar 6.13
Penyelesaian:
a. Di depan telah dipelajari hubungan antara sudut pusat
dan panjang busur berikut.
p
p
besar POQ panjang PQ
, sehingga diperoleh
besar QOR
panjang QR
Z
·
Z
152
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Pada gambar di atas,
diketahui panjang busur
PQ = 16,5 cm, panjang
busur QR = 22 cm, dan
besar Z POQ = 45
o
.
a. Hitunglah besar
Z QOR.
b. Hitunglah panjang jari-
jari OP.
c. Tentukan luas juring
OPQ dan OQR.
o
o
o
o
o
45 16, 5
besar QOR 22
33
45
2
22
45 33
44
44 45
60
33
x
x
x
·
Z
= ·
= ·
×
= · ·
Jadi, besar Z QOR = 60
o
.
b.
p
o
o
o
besar QOR
Panjang QR = 2
360
60 22
22 2
360 7
1 22
22 2
6 7
22 6 7
21
2 22
r
r
r
r
r
Z
×
· × × ×
· × × ×
× ×
· ·
×
Jadi, panjang jari-jari OP = 21 cm.
c.
2
o
o
o
2
2
o
o
o
2
POQ
Luas juring OPQ =
360
45 22
21 21
360 7
173, 25 cm
QOR
Luas juring OQR =
360
60 22
21 21
360 7
231 cm
r
r
r
r
Z
×
· × × ×
·
Z
×
· × × ×
·
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Pada suatu lingkaran dengan pusat O
diketahui titik A, B, C, dan D pada keli-
ling lingkaran, sehingga Z AOB = 35
o
dan Z COD = 140
o
. Jika panjang
p
AB
=
14 cm, hitunglah panjang
p
CD
.
153
Lingkaran
6. Hitunglah luas tembereng pada gambar
berikut jika jari-jari lingkaran 14 cm.
a.
A
B
O
b.
60
O
C
D
O
7. Pada gambar di sam-
ping, panjang busur
PQ = 50 cm, panjang
busur QR = 75 cm,
dan besar ZPOQ =
45
o
. Hitunglah besar
ZQOR.
8. Pada gambar di sam-
ping, besar Z POQ
= 72
o
dan panjang
jari-jari OP = 20 cm.
Hitunglah
a. panjang busur besar PQ;
b. luas juring besar POQ.
2. Pada gambar di sam-
ping, luas juring OAB
= 50 cm
2
. Hitunglah
a. luas juring POQ;
b. jari-jari lingkaran;
c. luas lingkaran.
3. Panjang jari-jari sebuah lingkaran
diketahui 20 cm. Hitunglah
a. panjang busur di hadapan sudut 30
o
;
b. luas juring di hadapan sudut 45
o
.
4. Pada gambar di sam-
ping diketahui pan-
jang OP = 28 cm dan
p
PQ = 17,6 cm.
Hitung luas juring
POQ.
5. Hitunglah keliling dan luas bangun
yang diarsir pada gambar berikut.
45
O
A B
O
6
c
m
5
c
m
(a)
60
O
A B
O
2
0
c
m
(b)
C
O
P
Q
R
45
o
O P
Q
72
o
20 cm
Q
P
O
D. SUDUT PUSA T DAN SUDUT KELILING
LINGKARAN
1. Hubungan Sudut Pusat dan Sudut Keliling
Pada pembahasan yang lalu kalian telah mempelajari bahwa
sudut pusat dibentuk oleh dua jari-jari lingkaran yang berpotongan
di titik pusatnya. Adapun sudut keliling adalah sudut yang dibentuk
oleh dua tali busur yang berpotongan di satu titik pada keliling
lingkaran.
Pada Gambar 6.14 di samping, OA dan OB berpotongan di
O membentuk sudut pusat, yaitu Z AOB. Adapun tali busur AC
dan CB berpotongan di titik C membentuk sudut keliling Z ACB.
A
B
C
O
Gambar 6.14
75
O
60
O
A
B
O
P
Q
154
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Sudut pusat ZAOB dan sudut keliling ZACB menghadap busur
yang sama, yaitu
p
AB. Sekarang, kita akan mempelajari hubungan
antara sudut pusat dan sudut keliling yang menghadap busur yang
sama.
Perhatikan Gambar 6.15.
Lingkaran di samping berpusat di titik O dan mempunyai jari-jari
OA = OB = OC = OD = r.
Misalkan Z AOC = o dan Z COB = µ, maka Z AOB = o + µ.
Perhatikan A BOD.
Z BOD pelurus bagi Z BOC, sehingga Z BOD = 180
o
– µ .
A BOD segitiga sama kaki, karena OB = OD = r, sehingga
Z ODB = Z OBD =
o
180 BOD
2
- Z
.
Karena ZBOD = 180
o
– , µ maka diperoleh
o o
180 (180 ) 1
ODB OBD .
2 2
µ
µ
- -
Z · Z · ·
Sekarang perhatikan A AOD.
Z AOD pelurus bagi Z AOC, sehingga Z AOD = 180
o
– o.
A AOD adalah segitiga sama kaki, karena OA = OD = r, sehingga
( )
180 AOD
ODA OAD
2
180 180
2
1
2
o
o
° - Z
Z · Z ·
° - ° -
·
·
Dengan demikian, besar Z ADB
( )
ODA ODB
1 1
2 2
1
2
1
AOB atau
2
o µ
o µ
· Z - Z
· -
· -
· ×Z
besar Z AOB = 2 × besar Z ADB.
Karena Z AOB adalah sudut pusat dan Z ADB adalah sudut
keliling, di mana keduanya menghadap
p
AB , maka dapat
disimpulkan sebagai berikut.
Jika sudut pusat dan sudut keliling menghadap busur yang sama
maka besar sudut pusat = 2 × besar sudut keliling.
D
E
A
B
C
D
O
r
Gambar 6.15
155
Lingkaran
Pada lingkaran di atas, jika
Z ACO = 15
o
dan
ZBCO = 12
o
, hitung besar
Z AOB.
A
B
C
D
O
Gambar 6.17
A
B
C O
Gambar 6.16
Penyelesaian:
Z ACB merupakan sudut keliling dan Z AOB merupakan
sudut pusat, sehingga diperoleh
sudut keliling ACB = Z ACO + Z BCO
= 15
o
+ 12
o
= 27
o
sudut pusat AOB = 2 × sudut keliling ACB
= 2 × 27
o
= 54
o
2. Besar Sudut Keliling yang Menghadap Diameter
Lingkaran
Kalian telah mempelajari bahwa besar sudut pusat lingkaran
adalah dua kali besar sudut kelilingnya, jika menghadap busur yang
sama. Bagaimana besar sudut keliling yang menghadap diameter
lingkaran?
Perhatikan Gambar 6.17.
Sudut pusat AOB menghadap busur AB. Perhatikan bahwa sudut
keliling ACB dan sudut keliling ADB menghadap busur AB,
sehingga diperoleh
AOB 2 ACB
180 2 ACB
180
ACB 90
2
Z · ×Z
° · ×Z
°
Z · · °
atau
AOB 2 ADB
180 2 ADB
180
ADB 90
2
Z · ×Z
° · ×Z
°
Z · · °
Dari Gambar 6.16 tampak bahwa Z AOB adalah sudut lurus,
sehingga besar Z AOB = 180
o
.
Besar sudut keliling yang menghadap diameter lingkaran
besarnya 90
o
(sudut siku-siku).
156
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Diketahui ZABC = 65
o
dengan AB diameter
lingkaran. Hitunglah besar
ZCAB.
Penyelesaian:
Ruas garis AB adalah diameter lingkaran.
Karena ZACB adalah sudut keliling yang menghadap dia-
meter AB, maka besar ZACB = 90
o
.
Perhatikan bahwa A BCO adalah segitiga sama kaki,
karena OB = OC = r, sehingga Z BCO = Z CBO = 65
o
.
Dengan demikian diperoleh
ACO ACB BCO
90 65
25
Z · Z - Z
· ° - °
· °
Karena A AOC sama kaki (OA = OC = r), maka
ZCAO = ZACO = 25
o
.
3. Sudut-Sudut Keliling yang Menghadap Busur yang Sama
Untuk menentukan besar sudut keliling yang menghadap busur
yang sama, perhatikan Gambar 6.19 di samping.
Pada gambar tersebut ZAOB adalah sudut pusat yang menghadap
p
AB = o, sedangkan ZACB, ZADB, dan ZAEB adalah sudut
keliling yang menghadap
p
AB.
1 1
ACB AOB
2 2
o Z · ×Z ·
1 1
ADB AOB
2 2
o Z · ×Z ·
1 1
AEB AOB
2 2
o Z · ×Z ·
Jadi, besar ZACB = ZADB = ZAEB.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut.
Besar sudut-sudut keliling yang menghadap busur yang sama
adalah sama besar atau
1
2
×
sudut pusatnya.
65
O
A B
C
O
Gambar 6.18
D
A
B
C
D
E
O
Gambar 6.19
157
Lingkaran
Perhatikan Gambar 6.20.
Diketahui besar ZBAC =
50
o
dan ZCED = 60
o
.
Hitunglah besar ZBDC,
ZACD, dan ZABD.
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
Penyelesaian:
Dari Gambar 6.20 tampak bahwa Z BAC dan Z BDC
sudut keliling menghadap busur yang sama yaitu
p
BC,
sehingga besar Z BDC = Z BAC = 50
o
.
Perhatikan A CED.
Z ACD = 180
o
– (Z CED + Z CDE)
= 180
o
– (Z CED + Z CDB)
= 180
o
– (60
o
+ 50
o
)
= 70
o
Sudut ACD dan Z ABD adalah sudut keliling yang
menghadap busur yang sama yaitu
p
AD , sehingga besar
Z ABD = Z ACD = 70
o
.
1. Pada gambar berikut, hitunglah nilai x dan
y.
80
O
A
B
C
O
x
o
25
O
D
E
F
O
x
o
y
o
(a) (b)
x
o 35
o
y
o
(c)
2.
A
B
C
D
O
Pada gambar di atas diketahui besar
ZACD = 20
o
. Hitunglah besar
a. ZBOC;
b. ZAOC;
c. ZBOD.
6
0
O
50
O
A
B
C
D
E
O
Gambar 6.20
158
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
3.
A
B
O
C
Diketahui besar Z BCA = 25
o
dan
Z CBO = 15
o
. Hitunglah besar
a. Z AOB; c. Z ABC;
b. Z OAB; d. Z BAC.
4. Pada gambar di
samping PR adalah
diameter lingkaran.
Hitunglah
a. nilai x;
b. besar Z PRQ.
5.
55
O
A
C
D
O
Diketahui besar Z ADC = 55
o
. Hitunglah
besar
a. Z AOC;
b. sudut refleks AOC;
c. Z OAC dan ZACD.
6.
T
P
Q
R
O
S
Diketahui besar Z PQR = 48
o
dan
Z QRS = 101
o
. Hitunglah besar
a. Z PST; c. Z QTS.
b. Z QPR;
2x
O
x
O
P
Q R
O
E. SEGI EMPAT TALI BUSUR (PENGAYAAN)
1. Pengertian Segi Empat T ali Busur
Agar kalian memahami mengenai segi empat tali busur,
perhatikan Gambar 6.21. Pada gambar tersebut titik O adalah titik
pusat lingkaran dan titik A, B, C, serta D terletak pada keliling
lingkaran tersebut. Ruas garis AB, BC, CD, dan AD adalah tali-
tali busur lingkaran. Tali-tali busur tersebut membentuk segi empat
ABCD, dan selanjutnya disebut segi empat tali busur.
Segi empat tali busur adalah segi empat yang titik-titik sudutnya
terletak pada lingkaran.
2. Sifat-Sifat Segi Empat Tali Busur
Perhatikan Gambar 6.22.
Pada gambar tersebut tampak bahwa sudut-sudut yang berhadapan
pada segi empat tali busur ABCD adalah Z ABC dengan Z ADC
dan Z BAD dengan Z BCD.
A
B
C
O
D
Gambar 6.21
159
Lingkaran
Perhatikan sudut keliling ZABC dan ZADC.
( )
( )
1
ABC AOD DOC
2
1
ADC AOB BOC
2
Z · × Z - Z
Z · × Z - Z
Dengan demikian diperoleh
( )
( )
( )
1 1
ABC ADC AOD DOC
2 2
AOB BOC
1
AOD DOC AOB BOC
2
1
360
2
180
Z - Z · × Z - Z - ×
Z - Z
· × Z - Z - Z - Z
· × °
· °
Sekarang, perhatikan sudut keliling ZBAD dan ZBCD.
( )
( )
1
BAD BOC COD
2
1
BCD BOA AOD
2
Z · × Z - Z
Z · × Z - Z
Dengan demikian, diperoleh
( )
( )
( )
1 1
BAD BCD BOC COD
2 2
BOA AOD
1
BOC COD BOA AOD
2
1
360
2
180
Z - Z · × Z - Z - ×
Z - Z
· × Z - Z - Z - Z
· × °
· °
Jadi, Z ABC + Z ADC = 180
o
dan Z BAD + Z BCD = 180
o
.
Jumlah dua sudut yang saling berhadapan pada segi empat tali
busur adalah 180
o
.
Selanjutnya, perhatikan Gambar 6.23.
Pada gambar di samping,
p
QS adalah diameter lingkaran
sekaligus diagonal segi empat PQRS. Karena Z QPS dan Z QRS
adalah sudut keliling, maka besar Z QPS = Z QRS = 90
o
. Segi
empat PQRS selanjutnya disebut segi empat tali busur siku-siku.
A
D
C
O
B
Gambar 6.22
P
S
R
O
Q
Gambar 6.23
160
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Segi empat tali busur yang salah satu diagonalnya merupakan
diameter lingkaran disebut segi empat tali busur siku-siku.
Perhatikan Gambar 6.24.
Pada gambar tersebut, KM dan LN adalah diameter
lingkaran, Z KLM dan Z KNM adalah sudut keliling yang
menghadap diameter KM, sedangkan Z LKN dan Z LMN adalah
sudut keliling yang menghadap diameter LN .
Dengan demikian, Z KLM = Z KNM = Z LKN = Z LMN
= 90
o
. Karena keempat sudutnya siku-siku, akibatnya
KL// NM, KN// LM, KL
= NM, dan KN =
LM
, dengan KM
dan LN adalah diagonal-diagonal segi empat KLMN. Dengan
kata lain, segi empat KLMN adalah suatu persegi panjang.
Segi empat tali busur yang kedua diagonalnya merupakan di-
ameter lingkaran akan membentuk bangun persegi panjang.
Selanjutnya, bagaimanakah jika kedua diagonal segi empat
tali busur merupakan diameter lingkaran dan saling berpotongan
tegak lurus? Bangun apakah yang terbentuk? Apakah terbentuk
bangun persegi panjang? Agar kalian dapat menjawabnya,
perhatikan Gambar 6.25.
Pada Gambar 6.25, AC dan BD adalah diameter lingkaran
dengan AC BD ± . Karena Z ABC, Z BCD, Z CDA, dan
Z DAB adalah sudut-sudut keliling yang menghadap diameter,
besar Z ABC = Z BCD = Z CDA = Z DAB = 90
o
.
Sekarang, perhatikan A BOC.
Jika A BOC kita putar sejauh 90
o
berlawanan arah putaran
jarum jam dengan titik O sebagai titik putar maka diperoleh
OB OC, OC OD, dan BOC COD ÷ ÷ Z ÷Z
.
Dengan demikian, BC CD ÷ atau BC CD · .
Analog dengan cara di atas, dapat ditunjukkan bahwa
CD DA AB · · , sehingga BC CD DA AB · · · . Dengan kata
lain, segi empat ABCD adalah bangun persegi.
Segi empat tali busur yang kedua diagonalnya merupakan
diameter lingkaran yang saling berpotongan tegak lurus akan
membentuk bangun persegi.
N
M
L
O
K
Gambar 6.24
B C
D
O
A
Gambar 6.25
161
Lingkaran
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Perhatikan gambar di bawah.
ABCD adalah segi
empat tali busur de-
ngan Z ABC = 80
o
dan Z ADC = 100
o
.
Tentukan
a. besar Z BCD;
b. besar Z BAD.
2.
F
G
H
O
E
75
o
Perhatikan gambar di atas.
a. Jika Z EOF = 75
o
, tentukan besar
sudut yang lain.
b. Apakah jenis A FOG?
c. Bangun apakah EFGH?
3.
P
S
R
O
Q
35
o
Perhatikan gambar di atas.
Diketahui PR dan QS adalah diameter
lingkaran.
a. Jika Z OPS = 35
o
, tentukan besar
sudut yang lain.
b. Bangun apakah PQRS?
c. Sebutkan dua pasang segitiga pada
segi empat PQRS yang sama dan
sebangun.
O
A
B
D
C
4.
K
L
M
O
N
Dari gambar di atas, KLMN adalah segi
empat tali busur dengan diagonal KM
dan LN merupakan diameter lingkaran
yang saling berpotongan tegak lurus.
a. Tentukan besar semua sudut pada
segi empat KLMN.
b. Bangun apakah KLMN?
c. Jika panjang jari-jari lingkaran adalah
r, tentukan luas segi empat KLMN.
5.
C
D
A
O
B
F
E
G
H
Perhatikan gambar di atas.
Diketahui ABCD adalah segi empat tali
busur dengan Z DCG, Z ADH, Z BAE,
dan Z CBF adalah sudut luar segi empat
ABCD.
a. Buktikan bahwa besar Z DCG =
Z BAD.
b. Jika Z ABC = 80
o
, tentukan besar
sudut yang lain.
162
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
F. SUDUT ANTARA DUA TALI BUSUR
(PENGAYAAN)
Dua tali busur dari sebuah lingkaran dapat berpotongan di
dalam lingkaran atau berpotongan di luar lingkaran pada
perpanjangan kedua tali busur itu. Agar kalian lebih memahaminya,
perhatikan Gambar 6.26 berikut.
Pada Gambar 6.26 (a), tali busur AC dan BD berpotongan
di dalam lingkaran, sedangkan Gambar 6.26 (b) menunjukkan tali
busur DG dan EF berpotongan pada perpanjangan kedua tali
busur itu di luar lingkaran.
Pada bagian ini kita akan menentukan besar sudut antara
dua tali busur yang berpotongan di dalam atau di luar lingkaran.
1. Sudut Antara Dua Tali Busur Jika Berpotongan Di
Dalam Lingkaran
Perhatikan Gambar 6.27. Lingkaran dengan pusat di titik O
dengan titik E adalah titik potong antara tali busur AC dan BD.
Dari gambar tersebut tampak bahwa Z AEB, Z BEC, Z CED,
dan Z AED adalah sudut di dalam lingkaran yang dibentuk oleh
perpotongan antara tali busur AC dan BD.
Dari gambar tersebut diperoleh
a. Z BDC adalah sudut keliling yang menghadap busur BC,
sehingga
1
BDC= BOC;
2
Z ×Z
b. Z ACD adalah sudut keliling yang menghadap busur AD,
sehingga
1
ACD= AOD.
2
Z × Z
Perhatikan bahwa Z BEC adalah sudut luar A CDE, sehingga
o
o o
BEC = 180 CED
180 (180 CDE ECD)
CDE ECD
Z - Z
· - - Z - Z
· Z - Z
C
D
A
O
B
E
Gambar 6.27
C
D
A
O
B
E
F
G
D
O
E
H
Gambar 6.26
(a) (b)
163
Lingkaran
( )
BDC+ ACD
1 1
BOC AOD
2 2
1
BOC AOD
2
· Z Z
¸ ¸ ¸ ¸
· ×Z - ×Z
( (
¸ , ¸ ,
· × Z - Z
Analog dengan cara di atas, maka diperoleh
( )
( )
( )
1
AEB AOB COD
2
1
CED COD AOB
2
1
AED AOD BOC
2
Z · × Z - Z
Z · × Z - Z
Z · × Z - Z
Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut.
Besar sudut antara dua tali busur yang berpotongan di dalam
lingkaran sama dengan setengah dari jumlah sudut-sudut pusat
yang menghadap busur yang diapit oleh kaki-kaki sudut itu.
Gambar 6.28
Pada gambar di atas, dike-
tahui besar Z POQ = 60
o
dan besar Z ROS = 230
o
.
Tentukan besar Z PTQ.
Penyelesaian:
( )
( )
1
PTQ POQ ROS
2
1
60 130
2
95
Z · × Z - Z
· × ° - °
· °
Q
P
R
S
O
T
2. Sudut Antara Dua Tali Busur yang Berpotongan Di Luar
Lingkaran
Perhatikan Gambar 6.29 berikut.
Titik O adalah titik pusat lingkaran, sedangkan LK dan
MN adalah dua tali yang jika diperpanjang akan berpotongan
di titik P, di mana titik P di luar lingkaran, sehingga terbentuk
Z KPN.
164
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
N
K
L
O
M
P
Gambar 6.29
Gambar 6.30
Perhatikan Gambar 6.30 di
atas.
Diketahui besar Z AED =
25
o
dan besar Z BOC =
35
o
. Tentukan besar
Z AOD.
A B
C
D
E
O
Penyelesaian:
( )
( )
1
AED AOD BOC
2
1
25 AOD 35
2
50 AOD 35
AOD 85
Z · × Z - Z
° · × Z - °
° · Z - °
Z · °
Perhatikan bahwa Z KMN adalah sudut keliling yang
menghadap busur KN, sehingga
1
KMN= KON
2
Z ×Z
Sudut MKL adalah sudut keliling yang menghadap busur LM,
sehingga
1
MKL= MOL
2
Z ×Z
Sudut MKL adalah sudut luar A KPM, sehingga berlaku
Z MKL = Z KMN + Z KPN
atau
( )
KPN MKL KMN
1 1
MOL KON
2 2
1
MOL KON
2
Z · Z - Z
¸ ¸ ¸ ¸
· ×Z - ×Z
( (
¸ , ¸ ,
· × Z - Z
Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut.
Besar sudut antara dua tali busur yang berpotongan di luar
lingkaran sama dengan setengah dari selisih sudut-sudut
pusat yang menghadap busur yang diapit oleh kaki-kaki
sudut itu.
165
Lingkaran
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
D
A
C
O
B
3. Perhatikan gambar
di samping.
Jika besar Z POQ =
35
o
dan besar
Z ROS = 50
o
, tentu-
kan besar Z PTQ
dan Z QTR.
4.
Pada gambar di atas diketahui besar
Z NOM = 30
o
dan Z KQL = 60
o
.
Tentukan
a. besar Z KOL;
b. besar Z KPL.
P
Q
O
S
R
1. Perhatikan gambar
di samping.
Jika besar Z AOC =
65
o
dan Z BOD =
140
o
, tentukan
a. besar Z AEC;
b. besar Z BEC.
2.
D
G
O
E
F
H
Pada gambar di atas tali busur DE dan
GF berpotongan di titik H di luar
lingkaran. Diketahui besar Z DOG =
150
o
dan Z EOF = 40
o
.
Tentukan besar Z DHG.
O
K
N
L
M
Q
P
1. Perhatikan gambar di samping.
a. Titik O disebut pusat lingkaran.
b. OA , OB , OC , OD , dan OE disebut jari-jari lingkaran.
c. BD disebut garis tengah atau diameter, yaitu garis yang
menghubungkan dua titik pada keliling lingkaran dan melalui
pusat lingkaran.
d. AE disebut tali busur, yaitu garis yang menghubungkan
dua titik pada keliling lingkaran.
e. Garis lengkung AFE disebut busur kecil (pendek), yaitu bu-
sur yang panjangnya kurang dari setengah keliling lingkaran.
f. Garis lengkung ACE disebut busur besar (panjang), yaitu
busur yang panjangnya lebih dari setengah keliling lingkaran.
A
B
C
D
E
F
O
G
166
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
g. Daerah yang dibatasi oleh jari-jari OC dan OB serta busur
BC disebut sektor atau juring lingkaran.
h. Daerah yang dibatasi oleh tali busur AE dan busur AFE
disebut tembereng.
i. OG ± tali busur AE disebut apotema, yaitu jarak ter-
pendek antara tali busur dan pusat lingkaran.
2. Nilai r merupakan suatu pendekatan. Besar nilai r adalah
3,14 atau
22
7
.
3. Rumus keliling lingkaran (K) dengan diameter (d) dan jari-jari
(r) sebagai berikut.
K r · d atau K 2r · r
4. Rumus luas lingkaran (L) dengan diameter (d) dan jari-jari (r)
sebagai berikut.
2
L r · r atau
2
1
L
4
r · d
5. Dari gambar di samping berlaku sebagai berikut.
Besar sudut pusat AOB
Besar sudut satu putaran penuh
Panjang busur AB Luas juring OAB
Keliling lingkaran Luas lingkaran
· ·
6.
besar sudut pusat
Panjang busur 2 .
360
r · ×
°
r
2
besar sudut pusat
Luas juring .
360
r · ×
°
r
Luas tembereng = luas juring – luas segitiga.
Setelah mempelajari bab ini, apakah kalian sudah paham
mengenai Lingkaran? Jika kalian sudah paham, coba rangkum
kembali materi ini dengan kata-katamu sendiri. Jika ada materi
yang belum kamu pahami, tanyakan pada temanmu yang lebih
tahu atau kepada gurumu. Berikan contoh masalah dalam
kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan lingkaran, kemudian
selesaikanlah. Buatlah laporan dan kemukakan hal ini secara
singkat di depan kelas.
O
A
B
167
Lingkaran
Kerjakan di buku tugasmu.
A. Pilihlah salah satu jawaban yang tepat.
1. Apotema ditunjuk-
kan oleh garis ....
a. OA
b. AC
c. OE
d. BO
2. Suatu roda berdiameter 63 cm ber-
putar menempuh jarak 198 m. Roda
tersebut berputar sebanyak ....
a. 60 kali c. 100 kali
b. 75 kali d. 110 kali
3. Jika AB = 14 cm
maka luas daerah
arsiran pada gam-
bar di samping ada-
lah ....
a. 56 cm
2
c. 112 cm
2
b. 88 cm
2
d. 176 cm
2
4. Pada gambar di
samping besar
Z AOB = 120
o
dan
Z COD = 30
o
. Jika
panjang busur AB
= 44 cm maka pan-
jang busur CD ada-
lah ....
a. 5,5 cm c. 9 cm
b. 7 cm d. 11 cm
5.
A
B
O
5
c
m
C
Jika jari-jari lingkaran di atas 5 cm dan
panjang tali busur AB = 6 cm maka
panjang apotema OC adalah ....
a. 3 cm c. 4 cm
b. 3,5 cm d. 4,5 cm
6. Pada gambar di
samping, luas juring
OPQ = 19,25 cm
2
dan luas juring ORS
= 51,33 cm
2
. Jika
besar Z POQ =
45
o
maka besar
Z ROS adalah ....
a. 90
o
c. 135
o
b. 120
o
d. 150
o
7. Perhatikan gambar
di samping. Jika
besar Z AOB =
45
o
, panjang OB =
14 cm, dan OC =
CB, luas daerah
yang diarsir adalah
....
a. 55,57 cm
2
c. 57,57 cm
2
b. 55,77 cm
2
d. 57,75 cm
2
8.
20
o
70
o P
Q
R
S
O
Perhatikan gambar di atas.
PR
adalah garis tengah lingkaran
dengan titik pusat O. Jika Z RPQ =
70
o
dan Z PRS = 20
o
, besar Z PRQ
dan Z RPS berturut-turut adalah ....
a. 90
o
dan 20
o
c. 20
o
dan 70
o
b. 20
o
dan 90
o
d. 10
o
dan 80
o
A B
C D
A
B
C
E
D
O
30
o
120
o
A
B
C
D
45
o
A B
C D
O
1
4
c
m
45
o
S
P
Q
R
O
168
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
a. 17
o
c. 51
o
b. 34
o
d. 68
o
10. Suatu taman bunga berbentuk lingkar-
an dengan luas 1.386 m
2
. Di sekeliling
taman itu setiap 4 meter ditanami
pohon cemara. Banyak pohon cemara
yang dapat ditanam adalah ....
a. 22 buah c. 44 buah
b. 33 buah d. 55 buah
9.
p
2p
x
51
o
A
B
C
D
E
Jika Z ACD = 2p
o
, Z BDC = p
o
, dan
Z BEC = 51
o
, besar Z ABD = ....
B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan singkat dan tepat.
a. perbandingan luas lingkaran kecil
dan lingkaran besar;
b. selisih luas lingkaran kecil dan
lingkaran besar;
c. perbandingan keliling lingkaran
kecil dan lingkaran besar;
d. selisih keliling lingkaran kecil dan
lingkaran besar.
4.
30
o
Q
P
R
S
O
Perhatikan gambar di atas.
Jika besar Z PQR = Z PRQ maka
tentukan besar
a. ZQOR; d. ZRSO;
b. ZQPR; e. ZQRS.
c. ZROS;
5. Sebuah pesawat supersonik mempu-
nyai kecepatan 7.850 km/jam dan
beredar mengelilingi bumi dalam satu
putaran penuh selama 8 jam. Jika lin-
tasannya berbentuk lingkaran dan jari-
jari bumi adalah 6.400 km, tentukan
a. panjang lintasan pesawat tersebut;
b. jarak pesawat ke pusat bumi;
c. tinggi lintasan pesawat dari per-
mukaan bumi.
1. Tentukan keliling
dan luas daerah
yang diarsir pada
gambar di samping.
2.
A
B
C
D
O
Pada lingkaran di atas panjang
p
AB= 10 cm dan
p
BC = 25 cm.
Jika Z BDC = 27,5
o
, tentukan
a. besar Z AOB;
b. luas juring OAB;
c. luas juring OBC;
d. luas juring besar OAC.
3.
A B
C D E
Tiga buah lingkaran saling bersing-
gungan seperti tampak pada gambar
di atas. Jika AC = CD = DE = EB =
3 cm, tentukan
14 cm
28 cm
GARIS SINGGUNG
LINGKARAN
Pernahkah kalian memerhatikan sebuah
kerekan atau katrol? Gambar di samping
adalah alat pada abad ke-18 yang mempera-
gakan daya angkat sebuah kerekan yang
prinsip kerjanya menggunakan katrol. Pada
alat di samping terdapat beberapa katrol yang
masing-masing dihubungkan oleh tali.
Perhatikan bahwa masing-masing tali
menyinggung bagian dari katrol, yang bagian
bawahnya dihubungkan dengan sebuah
pemberat. Dapatkah kalian menentukan
panjang tali yang menyinggung tiap katrol
tersebut?
Tujuan pembelajaranmu pada bab ini adalah:
™ dapat menemukan sifat sudut yang dibentuk oleh garis singgung dan garis
yang melalui titik pusat;
™ dapat mengenali garis singgung persekutuan dalam dan persekutuan luar
dua lingkaran;
™ dapat menentukan panjang garis singgung persekutuan dalam dan
persekutuan luar dua lingkaran;
™ dapat melukis lingkaran dalam dan lingkaran luar segitiga.
7
Kata-Kata Kunci:
™ sifat garis singgung lingkaran
™ garis singgung persekutuan dalam
™ garis singgung persekutuan luar
™ lingkaran dalam segitiga
™ lingkaran luar segitiga
Sumber: Jendela Iptek, 2001
170
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Sebelum kalian mempelajari materi pada bab berikut, coba
kalian ingat kembali materi mengenai segitiga, garis-garis pada
segitiga, teorema Pythagoras, dan lingkaran. Materi tersebut akan
memudahkan kalian dalam mempelajari materi pada bab ini.
A. MENGENAL SIFAT-SIFAT GARIS SINGGUNG
LINGKARAN
1. Pengertian Garis Singgung Lingkaran
Untuk memahami pengertian garis singgung lingkaran,
perhatikan Gambar 7.1 di samping.
Lingkaran pusat di O dengan diameter AB tegak lurus dengan
diameter CD (garis k). Jika garis k digeser ke kanan sedikit demi
sedikit sejajar k maka
– pada posisi k
1
memotong lingkaran di dua titik (titik E dan F)
dengan k
1
± OB.
– pada posisi k
2
memotong lingkaran di dua titik (titik G dan H)
dengan k
2
± OB.
– pada posisi k
3
memotong lingkaran di satu titik, yaitu titik B
(menyinggung lingkaran di B).
Selanjutnya, garis k
3
disebut garis s inggung l ingkaran.
Sekarang perhatikan Gambar 7.2.
Jika garis k diputar dengan pusat perputaran titik A ke arah
busur AB´ yang lebih kecil dari busur AB maka kita peroleh
OAB´ A sama kaki. (Mengapa?)
( )
1
OAB OB A 180 AOB .
2
´ ´ ´ Z · Z · × ° - Z
Jika kita terus memutar garis k ke arah busur yang lebih
kecil dan lebih kecil lagi maka OAB OB A ´ ´ Z · Z akan makin besar
dan AOB´ Z makin kecil. Pada suatu saat garis k akan
menyinggung lingkaran di titik A dengan titik B´ berimpit dengan
titik A dan saat itu berlaku
( )
( )
1
OAB OB A 180 AOB
2
1
180 0
2
90
´ ´ ´ Z · Z · × ° - Z
· × °× °
· °
Hal ini menunjukkan bahwa jari-jari OA tegak lurus dengan
garis singgung k di titik A.
k
k
1
k
2
k
3
B
C
D
E
F
G
O
H
A
Gambar 7.1
A
O
B
k
B'
Gambar 7.2
171
Garis Singgung Lingkaran
Garis singgung lingkaran adalah garis yang memotong
suatu lingkaran di satu titik dan berpotongan tegak lurus dengan
jari-jari di titik singgungnya.
Perhatikan Gambar 7.3.
Pada Gambar 7.3 di samping tampak bahwa garis k tegak
lurus dengan jari-jari OA. Garis k adalah garis singgung
lingkaran di titik A, sedangkan A disebut titik singgung
lingkaran.
Karena garis k ± OA, hal ini berarti sudut yang dibentuk
kedua garis tersebut besarnya 90
o
. Dengan demikian secara umum
dapat dikatakan bahwa setiap sudut yang dibentuk oleh garis yang
melalui titik pusat dan garis singgung lingkaran besarnya 90
o
.
2. Melalui Suatu Titik pada Lingkaran Hanya Dapat Dibuat
Satu Garis Singgung pada Lingkaran Tersebut
Perhatikan Gambar 7.4.
A
B
C
D
E
O
k
1
k
2
g
l
1
l
2
A
1
A
2
Gambar 7.4
Pada Gambar 7.4 di atas, garis k
1
dan k
2
adalah garis singgung
lingkaran yang melalui titik A di luar lingkaran dan menyinggung
lingkaran di titik B dan C.
Apabila titik A digeser ke A
1
maka garis k
1
dan k
2
akan
bergeser sehingga menjadi garis l
1
dan l
2
yang menyinggung
lingkaran di titik D dan E.
Apabila titik A
1
digeser ke A
2
tepat pada keliling lingkaran
maka garis l
1
dan l
2
bergeser dan saling berimpit menjadi garis g.
Jadi, hanya terdapat satu garis singgung lingkaran yang melalui
suatu titik pada lingkaran. Apakah garis g ± OA
2
?
A
O
k
Gambar 7.3
(Menumbuhkan kreativitas)
Amati l ingkungan di se kitarmu. Carilah benda-benda yan g
menggunakan prinsip garis singgung lingkaran. Ceritakan hasil
temuanmu secara singkat di depan kelas.
172
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
B. MELUKIS DAN MENENTUKAN P ANJANG
GARIS SINGGUNG LINGKARAN
Untuk melukis garis singgung lingkaran melalui suatu titik pada
lingkaran dan di luar lingkaran, perhatikan uraian berikut ini.
1. Melukis Garis Singgung Melalui Suatu Titik pada
Lingkaran
Salinlah Gambar 7.5 di samping. Kemudian lukislah garis singgung
lingkaran yang melalui titik A pada lingkaran di samping.
Untuk melukis garis singgung lingkaran yang melalui titik A, langkah-
langkahnya sebagai berikut.
a. Lukis jari-jari OA dan perpanjangannya.
b. Lukis busur lingkaran berpusat di A sehingga memotong garis
OA dan perpanjangannya di titik B dan C.
c. Lukis busur lingkaran berpusat di titik B dan C sehingga saling
berpotongan di titik D dan E.
Hubungkan titik D dan E. Garis DE adalah garis singgung
lingkaran di titik A.
A B C
D
O
E
A B C
D
E
O
Gambar 7.8
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut.
Melalui sebuah titik pada lingkaran hanya dapat dibuat satu
garis singgung pada lingkaran tersebut.
A O
Gambar 7.5
A O
Gambar 7.6
A O B C
Gambar 7.7
173
Garis Singgung Lingkaran
2. Melukis Garis Singgung Melalui Suatu Titik di Luar
Lingkaran
Lukislah sebuah lingkaran dengan titik pusat di O dan titik A berada
di luar lingkaran. Lukislah garis singgung lingkaran yang melalui
titik A di luar lingkaran.
Langkah-langkah melukis garis singgung melalui suatu titik di luar
lingkaran sebagai berikut.
a. Lukislah lingkaran titik pusat di O dan titik A di luar lingkaran.
b. Hubungkan titik O dan A.
c. Lukis busur lingkaran dengan pusat di titik O dan titik A sehingga
saling berpotongan di titik B dan titik C.
d. Hubungkan BC sehingga memotong garis OA di titik D.
e. Lukis lingkaran berpusat di titik D dan berjari-jari OD = DA
sehingga memotong lingkaran pertama di dua titik. Namailah
dengan titik E dan F.
f. Hubungkan titik A dengan titik E dan titik A dengan titik F.
Garis AE dan EF merupakan dua garis singgung lingkaran
melalui t itik A di l uar l ingkaran.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut.
Melalui sebuah titik di luar lingkaran dapat dibuat dua garis
singgung pada lingkaran tersebut.
3. Menentukan Panjang Garis Singgung Lingkaran dari Satu
Titik di Luar Lingkaran
Pada pembahasan yang lalu kalian telah mempelajari
mengenai teorema Pythagoras. Untuk menentukan panjang garis
singgung lingkaran, kalian dapat memanfaatkan teorema ini.
A
B
C
D
O
Gambar 7.9
A O
A
B
C
O
O
A
A
B
C
D
E
F
O
A
B
C
D
E
F
O
(a) (b) (c)
(d) (e) (f)
174
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Perhatikan uraian berikut.
Pada Gambar 7.10 di samping, lingkaran berpusat di titik O
dengan jari-jari OB dan OB ± garis AB. Garis AB adalah garis
singgung lingkaran melalui titik A di luar lingkaran.
Perhatikan segitiga siku-siku ABO.
Dengan teorema Pythagoras berlaku
2 2 2
2 2 2
2 2
OB AB OA
AB OA OB
AB OA OB
- ·
· -
· -
Panjang garis singgung lingkaran (AB) =
2 2
OA OB - .
A
B
O
Gambar 7.10
Diketahui lingkaran berpu-
sat di titik O dengan jari-
jari OB = 5 cm. Garis AB
adalah garis singgung ling-
karan yang melalui titik A
di luar lingkaran. Jika jarak
OA = 13 cm maka
a. gambarlah sketsanya;
b. tentukan panjang garis
singgung AB.
Penyelesaian:
a. Sketsa
b.
2 2
2 2
AB OA OB
13 5
169 25
144 12
· -
· -
· -
· ·
Jadi, panjang garis singgung AB = 12 cm.
A
B
O
13 cm
5
c
m
4. Layang-Layang Garis Singgung
Perhatikan Gambar 7.11.
A
B
P O
Gambar 7.11
175
Garis Singgung Lingkaran
Pada gambar tersebut tampak bahwa garis PA dan PB adalah
garis singgung lingkaran yang berpusat di titik O. Dengan demikian
Z OAP = Z OBP dan AP = BP dengan garis AB merupakan tali
busur.
Perhatikan A OAB.
Pada A OAB, OA = OB = jari-jari, sehingga A OAB adalah
segitiga sama kaki.
Sekarang, perhatikan A ABP.
Pada A ABP, PA = PB = garis singgung, sehingga A ABP
adalah segitiga sama kaki.
Dengan demikian, segi empat OAPB terbentuk dari segitiga
sama kaki OAB dan segitiga sama kaki ABP dengan alas AB
yang saling berimpit. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa
segi empat OAPB merupakan layang-layang. Karena sisi layang-
layang OAPB terdiri dari jari-jari lingkaran dan garis singgung
lingkaran, maka segi empat OAPB disebut layang-layang garis
singgung.
a. Dua garis singgung lingkaran yang melalui titik di luar
lingkaran dan dua jari-jari yang melalui titik singgung dari
kedua garis singgung tersebut membentuk bangun layang-
layang.
b. Layang-layang yang terbentuk dari dua garis singgung
lingkaran dan dua jari-jari yang melalui titik singgung dari
kedua garis singgung tersebut disebut layang-layang garis
singgung.
Gambar 7.12
Perhatikan gambar di atas.
Dari titik P di luar lingkaran
yang berpusat di titik O
dibuat garis singgung PA
dan PB. Jika panjang OA
= 9 cm dan OP = 15 cm,
hitunglah
Penyelesaian:
Perhatikan A OAP.
a. A OAP siku-siku di titik A, sehingga
2 2 2
2 2
AP OP OA
15 9
225 81
144
AP 144 12 cm
· -
· -
· -
·
· ·
A
B
P
O
176
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
b. Luas A OAP
2
1
OA AP
2
1
9 12
2
54 cm
· × ×
· × ×
·
c. Luas layang-layang OAPB
2
2 luas OAP
2 54
108 cm
· × A
· ×
·
d. Luas layang-layang
1
OAPB OP AB
2
1
108 15 AB
2
108 2
AB
15
14, 4 cm
· × ×
· × ×
×
·
·
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
a. panjang AP;
b. luas A OAP;
c. luas layang-layang
OAPB;
d. panjang tali busur AB.
1.
p
l
k
n
m
Dari garis-garis k, l, m, n, dan p pada
gambar di atas, manakah yang
merupakan garis singgung lingkaran?
2. Lukislah pada kertas berpetak lingkaran
berpusat di titik O(0, 0) dengan jari-jari
5 satuan panjang. Selanjutnya lukislah
garis singgung lingkaran yang melalui titik
A(0, 5).
3. Lukislah pada kertas berpetak lingkaran
dengan pusat di titik P(3, 2) dan jari-jari
4 satuan panjang. Selanjutnya, lukislah
garis singgung lingkaran yang melalui titik
Q(–1, 2).
4. Berdasarkan keterangan pada gambar
berikut, hitunglah panjang setiap garis
singgung lingkarannya.
a.
Q
P
O 7 cm
5
c
m
b.
A
B
O 26 cm
1
0
c
m
c.
O P
Q
1
2
c
m
20 cm
177
Garis Singgung Lingkaran
5.
A
B
C
O
Pada gambar di atas, garis AB dan AC
adalah garis singgung lingkaran yang
melalui titik A. Jika OB = 10 cm dan
OA = 26 cm maka tentukan
a. panjang garis singgung AB;
b. luas layang-layang OBAC;
c. panjang tali busur BC.
C. KEDUDUKAN DUA LINGKARAN
Jika terdapat dua lingkaran masing-masing lingkaran L
1
berpusat di P dengan jari-jari R dan lingkaran L
2
berpusat di Q
dengan jari-jari r di mana R > r maka terdapat beberapa kedudukan
lingkaran sebagai berikut.
(i) L
2
terletak di dalam L
1
dengan P dan Q berimpit, sehingga
panjang PQ = 0. Dalam hal ini dikatakan L
2
terletak di dalam
L
1
dan konsentris (setitik pusat).
(ii) L
2
terletak di dalam L
1
dan PQ < r < R. Dalam hal ini
dikatakan L
2
terletak di dalam L
1
dan tidak konsentris.
(iii) L
2
terletak di dalam L
1
dan PQ = r =
1
2
R, sehingga L
1
dan
L
2
bersinggungan di dalam .
(iv) L
1
berpotongan dengan L
2
dan r < PQ < R.
(v) L
1
berpotongan dengan L
2
dan r < PQ < R + r.
(vi) L
1
terletak di luar L
2
dan PQ = R + r, sehingga L
1
dan L
2
bersinggungan di luar.
(vii) L
1
terletak di luar L
2
dan PQ > R + r, sehingga L
1
dan L
2
saling terpisah.
r
R
P,Q
PQ = 0
L
2
L
1
(i)
L
1
L
2
P Q
PQ < < r R
(ii)
P Q
L
1
L
2
r R < PQ <
P
Q
L
1
L
2
PQ > + R r
P Q
L
1
L
2
PQ = + R r
P Q
L
1 L
2
r R r < PQ < +
Gambar 7.13
L
1
L
2
Q
PQ = = r R
(iii)
1
2
P
(iv) (v) (vi) (vii)
178
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Pada beberapa kedudukan lingkaran seperti tersebut di atas,
dapat dibuat garis singgung persekutuan dua lingkaran. Garis
singgung persekutuan adalah garis yang menyinggung dua buah
lingkaran sekaligus.
Apakah untuk setiap dua lingkaran selalu dapat dibuat garis
singgung persekutuan? Perhatikan kemungkinan berikut.
(i) Pada Gambar 7.14 kedua lingkaran tidak mempunyai garis
singgung persekutuan.
(ii) Pada Gambar 7.15 kedua lingkaran mempunyai satu garis
singgung persekutuan.
(iii) Pada Gambar 7.16 kedua lingkaran mempunyai dua garis
singgung persekutuan.
(iv) Pada Gambar 7.17 kedua lingkaran mempunyai tiga garis
singgung persekutuan.
(v) Pada Gambar 7.19 kedua lingkaran mempunyai empat garis
singgung persekutuan.
D. GARIS SINGGUNG PERSEKUTUAN DUA
LINGKARAN
Pada bagian depan kalian telah mempelajari cara melukis
dan menentukan panjang garis singgung pada sebuah lingkaran.
Sekarang, kalian akan mempelajari cara melukis dan menentukan
panjang garis singgung pada dua buah lingkaran. Ada dua macam
garis singgung persekutuan dua lingkaran, yaitu garis singgung
persekutuan dalam dan garis singgung persekutuan luar. Agar kalian
dapat memahaminya pelajari uraian berikut ini.
Gambar 7.14 Gambar 7.15 Gambar 7.16
Gambar 7.17 Gambar 7.18
(Menumbuhkan
kreativitas)
Ambillah dua buah
koin yang berbeda
ukuran. Peragakanlah
kedudukan dua buah
lingkaran seperti pada
Gambar 7.10.
Ceritakan secara sing-
kat di depan kelas.
179
Garis Singgung Lingkaran
1. Melukis Garis S inggung Persekutuan Dalam Dua
Lingkaran
Langkah-langkah melukis garis singgung persekutuan dalam
dua lingkaran sebagai berikut.
(a) Lukis lingkaran L
1
berpusat di titik P dengan jari-jari R dan
lingkaran L
2
berpusat di titik Q dengan jari-jari r (R > r).
Selanjutnya, hubungkan titik P dan Q.
(b) Lukis busur lingkaran berpusat di titik P dan Q sehingga saling
berpotongan di titik R dan S.
(c) Hubungkan titik R dengan titik S sehingga memotong garis
PQ di titik T.
(d) Lukis busur lingkaran berpusat di titik T dan berjari-jari PT.
(e) Lukis busur lingkaran pusat di titik P, jari-jari R + r sehingga
memotong lingkaran berpusat titik T di titik U dan V.
(f) Hubungkan titik P dan U sehingga memotong lingkaran L
1
di
titik A. Hubungkan pula titik P dan V sehingga memotong
lingkaran L
1
di titik C.
(g) Lukis busur lingkaran pusat di titik A, jari-jari UQ sehingga
memotong lingkaran L
2
di titik B. Lukis pula busur lingkaran
pusat di titik C jari-jari VQ sehingga memotong lingkaran L
2
di
titik D.
(h) Hubungkan titik A dengan titik B dan titik C dengan titik D.
Garis AB dan CD merupakan garis singgung persekutuan
dalam lingkaran L
1
dan L
2
.
(b)
P
Q
S
R
(c)
P
Q
S
R
T
P R
r Q
(a)
(h)
P
R
Q
S
T
U
V
A
B C
D
(g)
P
Q
R
T
S
A
C
V
B
D
U
Gambar 7.19
(d)
S
P
R
T
Q
(e)
P
R
Q
S
T
V
U
(f)
P
Q
R
S
T
A
C
V
U
180
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
2. Panjang Garis Singgung Persekutuan Dalam Dua
Lingkaran
Untuk menentukan panjang garis singgung persekutuan dalam
dua lingkaran, kalian dapat memanfaatkan teorema Pythagoras.
P
Q
S
R
A
L
1
L
2
r
p
d
B
Gambar 7.20
Pada Gambar 7.20 di atas, dua buah lingkaran L
1
dan L
2
berpusat di P dan Q, berjari-jari R dan r.
Dari gambar tersebut diperoleh
jari-jari lingkaran yang berpusat di P = R;
jari-jari lingkaran yang berpusat di Q = r;
panjang garis singgung persekutuan dalam adalah AB = d;
jarak titik pusat kedua lingkaran adalah PQ = p.
Jika garis AB digeser sejajar ke atas sejauh BQ maka diperoleh
garis SQ.
Garis SQ sejajar AB, sehingga Z PSQ = Z PAB = 90
o
(sehadap).
Perhatikan segi empat ABQS.
Garis AB//SQ, AS//BQ, dan Z PSQ = Z PAB = 90
o
.
Jadi, segi empat ABQS merupakan persegi panjang dengan panjang
AB = d dan lebar BQ = r.
Perhatikan bahwa A PQS siku-siku di titik S. Dengan menggunakan
teorema Pythagoras diperoleh
( )
2 2 2
2 2
2
2
QS PQ PS
QS PQ PS
QS PQ
· -
· -
· - - R r
Karena panjang QS = AB, maka rumus panjang garis singgung
persekutuan dalam dua lingkaran (d) dengan jarak kedua titik pusat
p, jari-jari lingkaran besar R, dan jari-jari lingkaran kecil r adalah
( )
2
2
· - - d p R r
181
Garis Singgung Lingkaran
M N
A
B
15 cm
5
c
m
4
c
m
Gambar 7.21
Pada gambar di atas, pan-
jang jari-jari MA = 5 cm,
panjang jari-jari NB =
4 cm, dan panjang MN =
15 cm. Hitunglah panjang
garis singgung persekutuan
dalamnya.
3. Melukis Garis Singgung Persekutuan Luar Dua
Lingkaran
Langkah-langkah melukis garis singgung persekutuan luar dua
lingkaran sebagai berikut.
(a) Lukis lingkaran L
1
dengan pusat di P berjari-jari R dan lingkaran
L
2
pusat di Q berjari-jari r (R > r). Hubungkan titik P dan Q.
(b) Lukis busur lingkaran dengan pusat di P dan Q sehingga saling
berpotongan di titik R dan S.
(c) Hubungkan RS sehingga memotong PQ di titik T.
(d) Lukis busur lingkaran dengan pusat di T dan berjari-jari PT.
(e) Lukis busur lingkaran dengan pusat di P, berjari-jari R – r
sehingga memotong lingkaran berpusat T di U dan V.
(f) Hubungkan P dan U, perpanjang sehingga memotong lingkaran
L
1
di titik A. Hubungkan pula P dan V, perpanjang sehingga
memotong lingkaran L
1
di titik C.
(g) Lukis busur lingkaran dengan pusat di A, jari-jari UQ sehingga
memotong lingkaran L
2
di titik B. Lukis pula busur lingkaran
pusat di C, jari-jari VQ sehingga memotong lingkaran L
2
di
titik D.
(h) Hubungkan titik A dengan titik B dan titik C dengan titik D.
Garis AB dan CD merupakan garis singgung persekutuan
luar lingkaran L
1
dan L
2
.
Penyelesaian:
Diketahui MA = 5 cm, NB = 4 cm, dan MN = 15 cm.
Garis singgung persekutuan dalamnya adalah AB.
( )
( )
2
2
2
2
AB MN MA NB
15 5 4
225 81
144
12
· - -
· - -
· -
·
·
Jadi, panjang garis singgung persekutuan dalamnya adalah
12 cm.
P R
r Q
(a)
(b)
R
P
Q
S
182
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
4. Panjang Garis Singgung Persekutuan Luar Dua
Lingkaran
Kalian telah mempelajari cara melukis garis singgung persekutuan
luar dua lingkaran. Sekarang, kalian akan menentukan panjang
garis singgung persekutuan luar tersebut.
Perhatikan Gambar 7.23.
Dari gambar tersebut diperoleh
jari-jari lingkaran yang berpusat di P = R;
jari-jari lingkaran yang berpusat di Q = r;
panjang garis singgung persekutuan luar adalah AB = d;
jarak titik pusat kedua lingkaran adalah PQ = p.
Jika garis AB kita geser sejajar ke bawah sejauh BQ maka diperoleh
garis SQ.
Garis AB sejajar SQ, sehingga Z PSQ = Z PAB = 90
o
(sehadap).
Perhatikan segi empat ABQS.
Garis AB//SQ, AS//BQ, dan ZPSQ = ZPAB = 90
o
.
P
Q
R
S
T P Q
S
T
R
P Q
R
S
T
V
U
P Q
R
T
S
A
V
U
C
P
Q
R
S
T
U
V
A
B
C
D
P Q
R
S
T
U
V
A
B
C
D
(c) (d) (e)
(f) (g) (h)
Gambar 7.22
A
B
S
P
R
Q
p
r
d
L
2
L
1
Gambar 7.23
183
Garis Singgung Lingkaran
A PQS siku-siku di S, sehingga berlaku
2 2 2
2 2
2 2
QS =PQ PS
QS PQ PS
QS PQ ( )
-
· -
· - - R r
Karena QS = AB = d, maka rumus panjang garis singgung
persekutuan luar dua lingkaran (d) dengan jarak kedua titik pusat
p, jari-jari lingkaran besar R, dan jari-jari lingkaran kecil r adalah
( )
2
2
· - - d p R r
Panjang garis singgung
persekutuan luar dua ling-
karan adalah 12 cm. Jarak
kedua pusat lingkaran ter-
sebut 13 cm. Jika panjang
salah satu jari-jari lingkaran
1
3
2
cm, hitunglah panjang
jari-jari lingkaran yang lain.
Penyelesaian:
Panjang garis singgung persekutuan luar adalah 12 cm,
maka d = 12.
Jarak kedua pusat lingkaran adalah 13 cm, maka p = 13.
Panjang salah satu jari-jari lingkaran adalah 3,5 cm, sehingga
r = 3,5.
Panjang jari-jari lingkaran yang lain = R, sehingga
( )
( )
( )
( )
( )
2
2
2
2
2
2 2
2
2
12 13 3, 5
12 13 3, 5
144 169 3, 5
3, 5 25
3, 5 25
3, 5 5
5 3,5 8, 5 cm
· - -
· - -
· - -
· - -
- ·
- ·
- ·
· - ·
d p R r
R
R
R
R
R
R
R
184
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1.
Perhatikan gambar di atas.
Berdasarkan gambar tersebut, benar atau
salahkah pernyataan-pernyataan berikut?
a.
AB
sejajar
PQ
b.
AP PQ ±
c.
AB CD ·
d.
AB PQ ·
e. AP AB ± di titik A
2. Panjang jari-jari dua lingkaran masing-
masing adalah 12 cm dan 5 cm. Jarak
kedua titik pusatnya adalah 24 cm.
Hitunglah
a. panjang garis singgung persekutuan
dalam;
b. panjang garis singgung persekutuan
luarnya.
A
B
P
Q
C
D
3.
A
B
O P
C
D
Perhatikan gambar di atas.
Panjang jari-jari lingkaran yang berpusat
di O adalah 9 cm dan panjang jari-jari
lingkaran yang berpusat di P adalah 4 cm.
Jika panjang garis singgung persekutuan
luarnya 12 cm, tentukan
a. jarak kedua pusat lingkaran;
b. luas segi empat yang diarsir.
4. Panjang garis singgung persekutuan
dalam dua lingkaran adalah 24 cm dan
jarak kedua pusatnya adalah 26 cm. Jika
panjang salah satu jari-jari lingkaran 6 cm,
hitunglah panjang jari-jari lingkaran yang
lain.
5. Panjang jari-jari dua buah lingkaran yang
berpusat di O dan P masing-masing ada-
lah 8 cm dan 4 cm. Jarak kedua titik
pusatnya 20 cm.
a. Lukislah garis singgung persekutuan
dalamnya.
b. Hitunglah panjang garis singgung
persekutuan dalam tersebut.
E. MENENTUKAN PANJANG SABUK LILITAN
MINIMAL YANG MENGHUBUNGKAN DUA
LINGKARAN
Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai seorang
tukang bangunan mengikat beberapa pipa air untuk memudahkan
mengangkat. Mungkin juga beberapa tong minyak kosong
185
Garis Singgung Lingkaran
dikumpulkan menjadi satu untuk diisi kembali. Kali ini kalian akan
mempelajari cara menghitung panjang tali minimal yang dibutuhkan
untuk mengikat barang-barang tersebut agar memudahkan
pekerjaan.
Gambar 7.24 di atas me-
nunjukkan penampang tiga
buah pipa air berbentuk
lingkaran yang masing-
masing berjari-jari 7 cm
dan diikat menjadi satu.
Hitunglah panjang sabuk
lilitan minimal yang
diperlukan untuk mengikat
tiga pipa tersebut.
Gambar 7.24
Penyelesaian:
Hubungkan titik pusat ketiga lingkaran dan titik pusat
dengan tali yang melingkarinya, seperti pada Gambar 7.25,
sehingga diperoleh panjang DE = FG = HI = AB = AC =
BC = 2 × jari-jari = 14 cm.
Segitiga ABC sama sisi, sehingga
Z ABC = Z BAC = Z ACB = 60
o
;
Z CBF = Z ABE = 90
o
(siku-siku);
Z FBE = ZGCH = ZDAI = 360
o
– (60
o
+ 90
o
+ 90
o
) =
120
o
Ingat kembali materi pada bab sebelumnya mengenai ling-
karan, bahwa panjang busur lingkaran =
sudut pusat
keliling lingkaran
360
×
°
, sehingga diperoleh
panjang
p
EF = panjang
p
GH
= panjang
o
DI
120 22
2 7
360 7
1
44
3
44
cm
3
°
· × × ×
°
· ×
·
Panjang sabuk lilitan minimal
= DE + FG + HI + panjang
p
EF + panjang
p
GH
+ panjang
o
DI
A B
C
D E
F
G
7 7
H
I
Gambar 7.25
(Menumbuhkan
inovasi)
Amatilah lingkungan di
sekitarmu. Temukan
pemanfaatan sabuk
lilitan minimal pada
benda-benda di seki-
tarmu. Lalu, hitunglah
panjang sabuk lilitan
minimal yang diguna-
kan untuk mengikat
benda-benda tersebut.
Tulislah hasilnya
dalam bentuk laporan
dan serahkan kepada
gurumu.
186
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
( )
p
( )
3 panjang DE 3 panjang EF
44
3 14 3
3
42 44
86 cm
· × - ×
· × - ×
· -
·
1.
Gambar di atas adalah penampang tiga
buah pipa air yang berbentuk tabung
dengan diameter 14 cm. Berapakah
panjang tali minimal untuk mengikat tiga
buah pipa dengan susunan tersebut?
2. Dua buah kayu berpenampang lingkaran
diikat dengan tali yang panjangnya 144
cm. Jika jari-jarinya sama panjang maka
tentukan panjang jari-jari kedua kayu.
3.
Gambar di atas adalah penampang enam
buah drum yang berbentuk tabung
dengan jari-jari 24 cm. Hitunglah panjang
tali minimal yang diperlukan untuk
mengikat enam buah drum tersebut.
4.
Gambar di atas adalah penampang enam
buah kaleng yang berbentuk tabung
dengan jari-jari 10 cm. Hitunglah panjang
tali minimal yang diperlukan untuk
mengikat enam buah kaleng tersebut.
5.
Lima buah pipa air disusun seperti pada
gambar di atas. Hitunglah panjang tali
yang digunakan untuk melilitkan pipa-
pipa tersebut jika jari-jari pipa 3 cm.
(Menumbuhkan kreativitas)
Gambarlah dua buah l ingkaran berpusat di P dan Q, berjari-jari
8 cm dan 3 cm dengan j arak PQ = 13 cm. Lukislah garis singgung
persekutuan luar kedua lingkaran tersebut, kemudian tentukan
panjang garis singgung tersebut berdasarkan
a. pengukuran, b. perhitungan.
Berapa selisih hasil a dan b? Buatlah kesimpulannya.
187
Garis Singgung Lingkaran
F. MELUKIS LINGKARAN DALAM DAN
LINGKARAN LUAR SEGITIGA
1. Melukis Lingkaran Dalam Segitiga
Lingkaran dalam suatu segitiga adalah lingkaran yang
terletak di dalam segitiga dan menyinggung ketiga sisinya.
Titik pusat lingkaran dalam segitiga merupakan titik potong
ketiga garis bagi sudut suatu segitiga. Coba kalian ingat kembali
pengertian garis bagi suatu segitiga dan cara melukisnya.
Langkah-langkah melukis lingkaran dalam segitiga sebagai berikut.
(a) Lukis A ABC, kemudian lukis garis bagi ZABC.
(b) Lukis pula garis bagi ZCAB sehingga kedua garis bagi
berpotongan di titik P.
(c) Lukis garis PQ ± AB sehingga memotong garis AB di titik Q.
Lukis lingkaran berpusat di titik P dengan jari-jari PQ.
Lingkaran tersebut merupakan lingkaran dalam A ABC.
2. Menentukan Panjang Jari-jari Lingkaran Dalam Segitiga
Selanjutnya, mari kita temukan panjang jari-jari lingkaran
dalam segitiga. Namun, terlebih dahulu akan kita ingat kembali
rumus keliling dan luas segitiga.
Perhatikan A ABC pada Gambar 7.29.
Panjang sisi di hadapan Z A dinyatakan dengan a.
Panjang sisi di hadapan Z B dinyatakan dengan b.
Panjang sisi di hadapan Z C dinyatakan dengan c.
Keliling segitiga adalah jumlah seluruh panjang sisi segitiga.
A B
C
Gambar 7.26
x
A B
C
Q
P
Gambar 7.28
A B
C
P
Gambar 7.27
A B
C
a
b
c
Gambar 7.29
188
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Jika keliling A ABC dinyatakan dengan 2s maka
( )
K
2
1
2
a b c
s a b c
s a b c
· - -
· - -
· - -
Di kelas VII, kalian telah mempelajari rumus luas segitiga
yang diketahui panjang alas dan tingginya, yaitu
1
L = alas tinggi
2
1
=
2
a t
× ×
× ×
Kali ini, kita akan menentukan rumus luas segitiga yang
dinyatakan dengan keliling segitiga. Dalam hal ini, kita akan
menentukan rumus luas segitiga yang diketahui panjang ketiga
sisinya dengan memanfaatkan rumus
1
keliling segitiga
2
s ·
=
1
( ).
2
a b c - -
Sekarang, perhatikan A ABC pada Gambar 7.30.
Pada gambar tersebut, garis tinggi CD dinyatakan dengan t
C
dan panjang AD dinyatakan dengan x. Karena diketahui panjang
AB = c, maka panjang DB = c – x.
Perhatikan bahwa A ADC siku-siku di titik D, sehingga
diperoleh CD
2
= AC
2
– AD
2
t
C
2
= b
2
– x
2
......................................................... (i)
Sekarang, perhatikan A BDC pada Gambar 7.30.
A BDC siku-siku di titik D, sehingga diperoleh
BC
2
= CD
2
+ BD
2
a
2
= t
C
2
+ (c – x)
2
a
2
= b
2
– x
2
+ (c – x)
2
÷ t
C
2
= b
2
– x
2
a
2
= b
2
– x
2
+ c
2
– 2cx + x
2
a
2
= b
2
+ c
2
– 2cx
2cx = b
2
+ c
2
– a
2
x =
2 2 2
2
b c a
c
- -
........................................................ (ii)
Jadi, panjang AD = x =
2 2 2
2
b c a
c
- -
. Selanjutnya, dengan
memanfaatkan rumus tersebut, kita akan menentukan rumus garis
tinggi t
C
.
D
A B
C
a
b
c
c – x
t
C
x
Gambar 7.30
189
Garis Singgung Lingkaran
Berdasarkan persamaan (i) dan (ii) diperoleh
2
2 2
C
2
2 2 2
2
2 2 2 2 2 2
2 2
2 2 2 2 2 2
2 2 2 2 2 2
2 2
2
Ingat bahwa ( )( )
2 2
2 2 ( )
2 2
2 2 )
2 2
( )
2
t b x
b c a
b
c
b c a b c a
b b a b a b a b
c c
bc b c a bc b c a
c c
bc b c a bc b c a
c c
b c a
a
c
· -
¸ ¸ - -
· -
(
¸ ,
¸ ¸¸ ¸ - - - -
· - - ÷ - · - -
( (
¸ ,¸ ,
¸ ¸¸ ¸ - - - - - -
·
( (
¸ ,¸ ,
¸ ¸¸ ¸ - - - - - -
·
( (
¸ ,¸ ,
¸ ¸ - -
·
(
¸ ,
( )
( )( ) ( )( )
2 2 2
2 2 2 2
2
2
2
( 2 )
( ) ( )
2 2
( ) ( ) ( ) ( )
2 2
( )( )( )( )
4
( )( 2 )( 2 )( 2 )
4
2 (2 2 )(2 2 )(2 2 )
Ingat
4
b bc c
b c a a b c
c c
b c a b c a a b c a b c
c c
b c a b c a a b c a b c
c
a b c a b c a a b c c a b c b
c
s s a s c s b
c
- - -
¸ ¸¸ ¸ - - - -
·
( (
¸ ,¸ ,
¸ - - - - ¸¸ - - - - ¸
·
( (
¸ ,¸ ,
- - - - - - - -
·
- - - - - - - - - - -
·
- - -
· ÷
2
2
2
C
2
C
2
bahwa 2 .
2 2( ) 2( ) 2( )
4
16 ( )( )( )
4
4 ( )( )( )
4 ( )( )( )
2
( )( )( )
s a b c
s s a s c s b
c
s s a s c s b
c
s s a s b s c
t
c
s s a s b s c
t
c
s s a s b s c
c
· - -
× - × - × -
·
- - -
·
- - -
·
- - -
·
· - - -
Berdasarkan uraian di atas, diperoleh rumus garis tinggi t
C
adalah t
C
=
2
( )( )( ). s s a s b s c
c
- - -
190
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Dengan demikian, rumus luas A ABC adalah
C
1
L alas tinggi
2
1
= AB
2
1 2
( )( )( )
2
( )( )( )
t
c s s a s b s c
c
s s a s b s c
· × ×
× ×
· × × - - -
· - - -
Jadi, luas segitiga yang diketahui panjang ketiga sisinya
dapat ditentukan dengan rumus L ( )( )( ) s s a s b s c · - - -
dengan L = luas segitiga
s =
1
2
keliling segitiga; dan
a, b, c adalah panjang sisi-sisi segitiga.
Selanjutnya, rumus luas segitiga tersebut digunakan untuk
menentukan rumus panjang jari-jari lingkaran dalam dan lingkaran
luar segitiga. Pelajari uraian berikut.
Perhatikan Gambar 7.31.
Pada gambar tersebut lingkaran dengan pusat di titik O adalah
lingkaran dalam dari A ABC. Perhatikan bahwa A ABC terbentuk
dari A AOC, A AOB, dan A BOC.
Misalkan panjang sisi BC = a, AC = b, AB = c, jari-jari
lingkaran = OD = OE = OF = r, keliling A ABC = AB + BC + AC
= 2s, dan luas A ABC = L.
Dengan demikian,
( )
( )
( )
luas ABC luas AOC luas AOB luas BOC
1 1 1
L AC OE AB OF BC OD
2 2 2
1 1 1
= AC AB BC
2 2 2
1
AC AB BC
2
1
2
1
2
A · A - A - A
¸ ¸ ¸ ¸ ¸ ¸
· × × - × × - × ×
( ( (
¸ , ¸ , ¸ ,
¸ ¸ ¸ ¸ ¸ ¸
× × - × × - × ×
( ( (
¸ , ¸ , ¸ ,
· × - -
· × - -
· × - -
·
r r r
r
r b c a
r a b c
rs
A B
C
D
E
F
b
c
O
a
r
Gambar 7.31
191
Garis Singgung Lingkaran
( )( )( )
L
atau
·
- - -
·
r
s
s s a s b s c
r
s
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa rumus panjang jari-
jari lingkaran dalam segitiga adalah
( )( )( )
L
atau
s s a s b s c
r r
s s
- - -
· ·
dengan
r = panjang jari-jari lingkaran dalam segitiga
s =
1
2
keliling segitiga
L = luas segitiga
a, b, c adalah panjang sisi-sisi segitiga
A B
C
O
Gambar 7.32
Pada gambar di atas,
lingkaran yang berpusat di
O merupakan lingkaran
dalam A ABC. Jika pan-
jang AB = 3 cm, AC =
4 cm, dan A ABC siku-siku
di A, tentukan panjang jari-
jari lingkaran dalam
A ABC.
Penyelesaian:
AB = 3 cm, maka c = 3.
AC = 4 cm, maka b = 4.
2 2
2 2
BC AB AC
3 4
9 16
25 5
· -
· -
· -
· ·
Jadi, panjang BC = a = 5 cm.
( )
( )
1
2
1
5 4 3
2
1
12 6
2
s a b c · - -
· - -
· × ·
Karena A ABC siku-siku di titik A, maka luas A ABC
adalah
luas segitiga =
2
1
L AB AC
2
1
3 4 6 cm
2
· × ×
· × × ·
192
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Panjang jari-jari lingkaran dalam A ABC adalah
L
6
1cm
6
r
s
·
· ·
3. Melukis Lingkaran Luar Segitiga
Lingkaran luar segitiga adalah lingkaran yang terletak di
luar segitiga dan melalui ketiga titik sudut segitiga tersebut. Titik
pusat lingkaran luar segitiga adalah titik potong ketiga garis sumbu
sisi-sisi segitiga. Coba kalian ingat kembali pengertian garis sumbu
dan cara melukisnya.
Langkah-langkah melukis lingkaran luar segitiga sebagai berikut.
(a) Lukis A ABC, kemudian lukis garis sumbu sisi AB.
(b) Lukis pula garis sumbu sisi BC, sehingga kedua garis sumbu
saling berpotongan di titik P.
(c) Lukis lingkaran berpusat di P dengan jari-jari PB. Lingkaran
tersebut merupakan lingkaran luar A ABC.
A B
C
P
Gambar 7.35
A B
C
P
Gambar 7.34
A B
C
Gambar 7.33
193
Garis Singgung Lingkaran
4. Menentukan Panjang Jari-jari Lingkaran Luar Segitiga
Untuk menentukan panjang jari-jari lingkaran luar segitiga,
perhatikan Gambar 7.36. Pada gambar tersebut, lingkaran yang
berpusat di titik O adalah lingkaran luar A ABC.
Misalkan
OB = OC = OE = r;
BC = a, AC = b, AB = c;
luas A ABC = L.
Tariklah garis tinggi CD dan diameter CE.
Amatilah A ADC dan A EBC.
Z CAD = Z CEB (sudut keliling yang menghadap busur yang
sama) dan Z ADC = Z EBC (siku-siku). Akibatnya Z ACD =
Z ECB.
Hal itu menunjukkan bahwa A ADC sebangun dengan A EBC,
sehingga diperoleh perbandingan sebagai berikut.
AC CD
EC CB
AC CB
CD ...................................................................(i)
EC
AC CB
EC ...................................................................(ii)
CD
·
×
·
×
·
Di lain pihak, kita memperoleh
1
luas ABC AB CD
2
1
L AB CD
2
2L AB CD
2L
CD ...............................................................(iii)
AB
A · × ×
· × ×
· ×
·
Dengan menyubstitusikan persamaan (iii) ke persamaan (ii), kita
peroleh
AC CB
EC
2L
AB
AC CB AB
2 .............(karena EC 2 )
2L
atau
4L 4L
×
·
× ×
· · ·
× × × ×
· ·
r d r
b a c a b c
r r
A B
C
D
E
a
b
c
O
Gambar 7.36
194
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa rumus panjang jari-
jari lingkaran luar segitiga adalah
atau
4
4 ( )( )( )
· ·
- - -
abc abc
r r
L
s s a s b s c
dengan
r = jari-jari lingkaran luar A ABC
a, b, dan c = panjang sisi A ABC
L = luas A ABC
s =
1
2
keliling segitiga
Panjang sisi-sisi sebuah
segitiga adalah 13 cm,
14 cm, dan 15 cm.
Hitungah panjang jari-jari
lingkaran luar segitiga
tersebut.
Penyelesaian:
Misalkan a = 13, b = 14, dan c = 15.
( )
( )
1
2
1
13 14 15
2
1
42
2
21
· - -
· - -
· ×
·
s a b c
2
2 2 2 2
4 ( )( )( )
13 14 15
4 21(21 13)(21 14)(21 15)
13 14 15
4 21 8 7 6
13 14 15
4 7 3 2 2 7 2 3
13 14 15
4 7 3 2 2
13 14 15
4 7 3 2 2
8,125
·
- - -
× ×
·
- - -
× ×
·
× × ×
× ×
·
× × × × × ×
× ×
·
× × ×
× ×
·
× × × ×
·
abc
r
s s a s b s c
Jadi, panjang jari-jari lingkaran luar segitiga = 8,125 cm.
195
Garis Singgung Lingkaran
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. A
B C
r
O
Perhatikan gambar di atas.
Jika panjang AB = 8 cm, BC = 9 cm,
dan AC = 145 cm, tentukan
a. luas A ABC;
b. keliling A ABC;
c. panjang jari-jari lingkaran dalam
segitiga ABC.
2.
A B
C
Pada gambar di atas, diketahui panjang
AB = BC = AC = 9 cm. Tentukan
a. luas A ABC;
b. panjang jari-jari lingkaran luar
A ABC.
3. Panjang sisi miring suatu segitiga siku-
siku adalah 26 cm dan panjang salah satu
sisi siku-sikunya 10 cm. Tentukan
a. panjang jari-jari lingkaran dalam
segitiga;
b. panjang jari-jari lingkaran luar se-
gitiga.
4. Panjang sisi-sisi sebuah segitiga adalah
26 cm, 28 cm, dan 38 cm. Hitunglah
a. panjang jari-jari lingkaran dalam
segitiga;
b. panjang jari-jari lingkaran luar se-
gitiga.
5. Panjang sisi-sisi sebuah segitiga adalah
8 cm, 15 cm, dan 17 cm. Hitunglah
a. panjang jari-jari lingkaran dalam
segitiga;
b. panjang jari-jari lingkaran luar se-
gitiga.
1. Garis singgung lingkaran adalah garis yang memotong suatu
lingkaran di satu titik dan berpotongan tegak lurus dengan jari-
jari di titik singgungnya.
2. Melalui sebuah titik pada lingkaran hanya dapat dibuat satu
garis singgung pada lingkaran tersebut.
3. Melalui sebuah titik di luar lingkaran dapat dibuat dua garis
singgung pada lingkaran tersebut.
4. Dua garis singgung lingkaran yang melalui titik di luar lingkaran
dan dua jari-jari yang melalui titik singgung dari kedua garis
singgung tersebut membentuk bangun layang-layang.
196
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
5. Layang-layang yang terbentuk dari dua garis singgung lingkaran
dan dua jari-jari yang melalui titik singgung dari kedua garis
singgung tersebut disebut layang-layang garis singgung.
6. Panjang garis singgung persekutuan dalam dari dua lingkaran.
A
B
C
D
Q P
p
R
r
( )
2
2
AB CD · · - - p R r
7. Panjang garis singgung persekutuan luar dari dua lingkaran.
A
B
C
D
Q
P
R
( )
2
2
AD CB · · - - p R r
8. Panjang jari-jari lingkaran dalam segitiga adalah
( )( )( )
L
atau
- - -
· ·
s s a s b s c
r r
s s
dengan r = panjang jari-jari lingkaran dalam segitiga
s =
1
2
keliling segitiga
L = luas segitiga
a, b, c = panjang sisi-sisi segitiga
9. Panjang jari-jari lingkaran luar segitiga adalah
atau
4L
4 ( )( )( )
· ·
- - -
abc abc
r r
s s a s b s c
dengan r = panjang jari-jari lingkaran luar segitiga
a, b, c = panjang sisi-sisi segitiga
L = luas segitiga
s =
1
2
keliling segitiga
197
Garis Singgung Lingkaran
Setelah mempelajari bab ini, bagaimana pemahaman kalian
mengenai Garis Singgung Lingkaran? Jika kalian sudah paham,
coba rangkum kembali materi tersebut dengan kata-katamu sendiri.
Jika ada materi yang belum kamu pahami, catat dan tanyakan
kepada gurumu. Catat pula manfaat apa saja yang dapat kalian
peroleh dari materi ini. Buatlah dalam sebuah laporan dan serahkan
kepada gurumu.
Kerjakan di buku tugasmu.
A. Pilihlah salah satu jawaban yang tepat.
1. Panjang garis singgung lingkaran ber-
jari-jari 6 cm dari titik di luar lingkaran
yang berjarak 10 cm dari pusat
lingkaran adalah ....
a. 6,5 cm c. 7,5 cm
b. 7 cm d. 8 cm
2. Dari titik P di luar lingkaran yang ber-
pusat di O dibuat garis singgung PA.
Jika panjang jari-jari 20 cm dan jarak
AP = 21 cm maka panjang OP adalah
....
a. 23 cm c. 28 cm
b. 25 cm d. 29 cm
3. Dua lingkaran dengan pusat P dan Q,
berjari-jari 7 cm dan 5 cm. Jika jarak
PQ = 20 cm maka panjang garis sing-
gung persekutuan dalamnya adalah
....
a. 12 cm c. 16 cm
b. 15 cm d. 24 cm
4.
A
B
C
O
Pada gambar di atas AB dan AC
adalah garis singgung lingkaran titik A
di luar lingkaran. Jika panjang OC = x
cm, AC = y cm, dan OA = z cm panjang
BC = ....
a. cm
2
xy
c.
2
cm
xy
z
b. cm
xy
z
d.
2
cm
z
xy
Gambar di bawah ini untuk soal nomor
5–7.
A
B
O P
5. Diketahui PA dan PB adalah garis
singgung lingkaran. Jika panjang OA
= 6 cm, OP = 10 cm maka panjang
PA = ....
a. 11 cm c. 12 cm
b. 8 cm d. 9 cm
198
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
6. Luas layang-layang OAPB adalah ....
a. 46 cm
2
c. 48 cm
2
b. 45 cm
2
d. 50 cm
2
7. Panjang tali busur AB adalah ....
a. 6,9 cm c. 6,1 cm
b. 9,5 cm d. 9,6 cm
8.
7 cm
Perhatikan gambar di atas.
Panjang tali yang digunakan untuk
mengikat dua pipa air berjari-jari 7 cm
sebanyak lima kali lilitan adalah ....
a. 28 cm c. 62 cm
b. 44 cm d. 72 cm
9. Panjang sisi-sisi sebuah segitiga
adalah 8 cm, 15 cm, dan 17 cm.
Panjang jari-jari lingkaran dalamnya
adalah ....
a. 3 cm c. 5 cm
b. 4 cm d. 6 cm
10. Panjang sisi miring suatu segitiga siku-
siku adalah 35 cm dan panjang salah
satu sisi siku-sikunya adalah 21 cm.
Panjang jari-jari lingkaran luarnya
adalah ....
a. 15,5 cm c. 17,5 cm
b. 16,5 cm d. 18 cm
B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan singkat dan tepat.
1. Panjang jari-jari dua lingkaran adalah
7 cm dan 3 cm. Jika panjang garis sing-
gung persekutuan luarnya 15 cm maka
tentukan
a. jarak kedua pusat lingkaran;
b. panjang garis singgung persekutuan
dalamnya.
2.
A
B C D
E
F
Pada gambar di atas, kedua lingkaran
bersinggungan di luar dengan pusat di
titik B dan D. Jika AB = 5 cm dan DE
= 3 cm, hitunglah panjang
a. AE; c. EF.
b. CF;
3. Diketahui lingkaran L
1
berpusat di
O(0, 0), dengan jari-jari r
1
= 3 satuan
dan L
2
pusat di P(6, 6), berjari-jari r
2
= 2 satuan.
a. Gambarlah garis singgung perse-
kutuan dalam L
1
dan L
2
.
b. Hitunglah panjang garis singgung
persekutuan luar dua lingkaran
tersebut.
4. Diketahui empat tong minyak
berbentuk tabung diikat menjadi satu
untuk diisi kembali. Susunlah empat
tong tersebut agar panjang tali yang
digunakan untuk mengikatnya mini-
mal, kemudian hitung pula panjang-
nya, jika diameter tong 14 cm.
5.
A
B
C
D
E
O
Pada gambar di atas A ABC siku-siku
di A. Panjang AB = 28 cm dan AC =
21 cm. Hitunglah
a. panjang jari-jari OD;
b. panjang BD;
c. panjang OB;
d. luas A COE.
KUBUS DAN BALOK
Perhatikan benda-benda di sekitar kita.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering
memanfaatkan benda-benda seperti gambar
di samping, misalnya kipas angin, video cd,
dan kardus bekas mainan.
Berbentuk apakah benda-benda terse-
but? Dari benda-benda tersebut, manakah
yang berbentuk kubus? Mana pula benda
yang berbentuk balok? Dapatkah kalian
menunjukkan sisi, rusuk, dan titik sudutnya?
Tujuan pembelajaranmu pada bab ini adalah:
™ dapat menyebutkan unsur-unsur kubus dan balok;
™ dapat membuat jaring-jaring kubus dan balok;
™ dapat menemukan rumus dan menghitung luas permukaan kubus dan balok;
™ dapat menemukan rumus dan menghitung volume kubus dan balok.
8
Kata-Kata Kunci:
™ unsur-unsur kubus dan balok
™ jaring-jaring kubus dan balok
™ luas permukaan kubus dan balok
™ volume kubus dan balok
Sumber: Dok. Penerbit
200
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
(a) (b)
(c) (d)
(e) (f)
(g) (h)
(i)
Gambar 8.1
Sebelum kamu mempelajari materi pada bab ini, kalian harus
menguasai materi tentang bangun persegi dan persegi panjang, serta
kedudukan dua garis.
A. MENGENAL BANGUN RUANG
1. Mengenal Berbagai Macam Bangun Ruang
Perhatikan bangun-bangun ruang pada Gambar 8.1. Marilah
kita ingat kembali macam-macam bangun ruang yang telah kalian
kenal. Nama bangun-bangun ruang tersebut sebagai berikut.
a. Kubus f. Limas segi empat
b. Balok g. Limas segi lima
c. Prisma segitiga h. Kerucut
d. Tabung i. Bola
e. Limas segitiga
Pada bagian ini, kalian hanya akan membahas mengenai kubus
dan balok secara mendalam. Adapun bangun-bangun ruang yang
lain, akan kalian pelajari pada bagian selanjutnya.
2. Mengenal Sisi, Rusuk, dan Titik Sudut Kubus maupun
Balok
Amatilah bangun-bangun yang berbentuk kubus dan balok.
Permukaan kubus semuanya berbentuk persegi yang sama dan
sebangun. Coba kalian ingat kembali bangun persegi. Keempat
rusuk persegi sama panjang. Jika dikaitkan dengan bangun persegi
panjang, persegi merupakan bentuk khusus dari persegi panjang.
Karena permukaan kubus berbentuk persegi-persegi yang sama
dan sebangun dapat kita katakan bahwa kubus merupakan bentuk
khusus dari balok.
(Menumbuhkan
kreativitas)
Carilah benda-benda
di sekit armu yang
berbentuk kubus dan
balok. Amatilah
permukaan benda-
benda tersebut.
Ceritakan temuanmu
secara singkat di
depan kelas.
(Berpikir kritis)
Gambarlah sebuah
persegi dan persegi
panjang.
Sebutkan rusuk-rusuk
yang saling sejajar
pada bangun tersebut.
201
Kubus dan Balok
A B
C
D
E
F
G H
titik sudut
sisi
rusuk
(a)
Perhatikan Gambar 8.2 (a).
Kubus ABCD.EFGH dibatasi oleh bidang ABCD, ABFE,
BCGF, CDHG, ADHE, dan EFGH. Bidang-bidang tersebut disebut
sisi-sisi kubus ABCD.EFGH. Selanjutnya, AB, BC, CD, AD ,
EF , FG , GH , EH, AE , BF , CG, dan DH disebut rusuk-
rusuk kubus ABCD.EFGH. Coba kalian amati bahwa tiap sisi
kubus tersebut dibatasi oleh rusuk-rusuk.
Menurut kalian, apakah rusuk AB merupakan perpotongan bidang
ABCD dan ABFE?
Rusuk-rusuk AB , BC, CD, dan AD disebut rusuk alas,
sedangkan rusuk AE , BF , CG, dan DH disebut rusuk tegak.
Dapatkah kalian menyebutkan rusuk mana saja yang termasuk
rusuk atas?
Titik-titik A, B, C, D, E, F, G, dan H disebut titik sudut kubus
ABCD.EFGH. Menurutmu, apakah titik B merupakan perpotongan
antara rusuk AB, BC, dan BF ?
Coba kalian bandingkan dengan balok pada Gambar 8.2 (b).
Setiap daerah persegi pada kubus dan daerah persegi panjang pada
balok disebut bidang atau sisi. Perpotongan dua buah daerah persegi
pada kubus atau dua buah daerah persegi panjang pada balok
disebut rusuk. Adapun titik potong antara tiga buah rusuk disebut
titik s udut.
R
S
T
U
V W
P
Q
(b)
titik sudut
rusuk
sisi
Gambar 8.2
(Menumbuhkan inovasi)
Diskusikan dengan temanmu.
Amatilah kembali bangun-bangun ruang pada Gambar 8.1.
Hitunglah banyak sisi, rusuk, dan titi k sudut setiap b angun ruang
pada gambar i tu. Masukkan has ilnya pada tabe l seperti berikut.
(Berpikir kritis)
Perhatikan balok
PQRS.TUVW pada
Gambar 8.2 (b).
Tuliskan semua sisi,
rusuk, dan titik
sudutnya.
202
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
No.
Nama Bangun
Ruang
Banyak Sisi
Banyak
Rusuk
Banyak Titik
Sudut
1. Kubus
2. Balok
3. Prisma segitiga
4. Tabung
5. Limas s egitiga
6. Limas segi empat
7. Limas segilima
8. Kerucut
9. Bola
Pada bangun ruang di atas, kecuali tabung, kerucut, dan bola,
cermatilah adakah hubu ngan antara ban yak sisi, b anyak rusuk,
dan banyak titik sudutnya?
Apakah kalian menyimpulkan bahwa terdapat hubungan
antara banyak sisi, banyak rusuk, dan banyak titik sudut pada bangun
ruang di atas seperti berikut ini?
S + T = R + 2
dengan S = banyak sisi
T = banyak titik sudut
R = banyak rusuk
Rumus di atas dikenal dengan teorema Euler.
Coba cek kembali hasil pada tabel di atas dengan rumus tersebut.
Apakah rumus tersebut juga berlaku untuk tabung, kerucut, dan
bola? Mengapa demikian? Jelaskan jawabanmu.
3. Bangun dari Sisi Kubus dan Balok
Agar kalian paham mengenai bentuk bangun dari tiap sisi
balok, lakukan kegiatan berikut.
KEGIATAN
(a) (b)
Sumber: Ensiklopedi
Matematika d an
Peradaban Manusia ,
2003
Leonhard Euler (1707-
1783) adalah seorang
matematikawan yang
menyatakan bahwa
dalam sebarang s egi
banyak terdapat hu-
bungan antara banyak
sisi, banyak rusuk,
dan banyak titik sudut.
Teorema tersebut
dikenal dengan
teorema Euler.
Gambar 8.3
203
Kubus dan Balok
(a) Buatlah bangun seperti pada Gambar 8.3 (a) dengan
menggunakan kertas karton tebal.
(b) Guntinglah bangun tersebut menurut tepinya.
Dari hasil guntingan tersebut kalian akan memperoleh suatu
rangkaian tiga pasang daerah persegi panjang yang setiap
pasangnya kongruen.
(c) Lipatlah bangun tersebut pada garis putus-putus, hingga
terbentuk kotak seperti Gambar 8.2 (b). Bentuk kotak yang
kalian peroleh disebut balok.
Perhatikan bahwa tiga pasang daerah persegi panjang pada
Gambar 8.3 (a) menjadi tiga pasang sisi balok seperti pada Gambar
8.3 (b). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa suatu balok
mempunyai tiga pasang sisi berbentuk daerah persegi panjang yang
setiap pasangnya kongruen.
Adapun untuk memahami bentuk bangun dari tiap sisi kubus,
lakukan kegiatan seperti bangun balok di atas. Jiplaklah bangun
seperti Gambar 8.4 (a) dengan menggunakan kertas karton tebal.
Guntinglah menurut tepinya.
Hasil guntingan tersebut berbentuk rangkaian enam daerah
persegi yang saling kongruen.
Dengan melipat bangun tersebut pada garis putus-putus, akan
terbentuk bangun ruang seperti Gambar 8.4 (b). Bangun ruang
tersebut selanjutnya dinamakan kubus.
Perhatikan bahwa enam daerah persegi pada Gambar 8.4
(a) menjadi enam sisi kubus seperti pada Gambar 8.4 (b). Dari
uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa sebuah kubus memiliki
enam sisi berbentuk persegi yang kongruen.
(a) (b)
Gambar 8.4
204
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
A B
C D
Gambar 8.5
1. Lukislah sebuah kubus dan sebuah balok.
Dapatkah kalian menentukan sifat-sifat
kubus dan balok tersebut dipandang dari
sisi, rusuk, dan titik sudutnya?
2. Lukislah kubus KLMN.OPQR.
a. Berbentuk apakah bangun KLMN?
Berapakah luasnya?
b. Berbentuk apakah bangun LMQP?
Berapakah luasnya?
c. Menurutmu, bagaimana luas setiap
sisi pada suatu kubus?
3. Lukislah balok ABCD.EFGH.
a. Berbentuk apakah bangun ABCD,
BCGF, dan ABFE? Tentukan
luasnya.
b. Tentukan pula luas sisi-sisi balok yang
lain.
c. Apa yang dapat kalian simpulkan dari
jawaban a dan b?
4. Lukislah sebuah kubus dengan panjang
rusuk 4 cm. Berapakah jumlah panjang
rusuk kubus tersebut?
5. Sediakan sebuah kaleng bekas roti atau
susu. Amatilah kaleng tersebut. Bagai-
mana sisi kaleng tersebut? Berapakah
banyaknya rusuk kaleng tersebut?
4. Rusuk-Rusuk yang Sejajar pada Bangun Ruang
Pada sebuah bidang datar, dua garis dikatakan sejajar jika
kedua garis tersebut tidak berpotongan. Perhatikan Gambar 8.5.
Pada Gambar 8.5, ruas garis yang sejajar, yaitu AB sejajar dengan
DC, ditulis AB // DC. Adapun AD tidak sejajar dengan BC.
Mengapa?
Apakah pengertian garis sejajar pada bidang datar sama
dengan garis sejajar pada bangun ruang? Agar kalian dapat
menjawabnya, pelajari uraian berikut.
Perhatikan Gambar 8.6. Pada balok ABCD.EFGH tersebut,
pasangan ruas garis yang sejajar antara lain
a. AB dengan DC;
b. AE dengan BF;
c. EH dengan FG.
Adapun pasangan ruas garis yang tidak sejajar antara lain
a. AB dengan CG;
b. AE dengan DC;
c. BC dengan DH.
A B
C
D
E
F
G H
Gambar 8.6
205
Kubus dan Balok
Jika kita perhatikan pasangan AB dan CG maka ruas garis-
ruas garis tersebut tidak berpotongan meskipun diperpanjang di
kedua ujungnya. Demikian halnya pada pasangan AE dan DC
serta BC dan DH. Meskipun tidak berpotongan, namun garis-
garis tersebut termasuk garis-garis tidak sejajar. Berarti ada syarat
lain yang harus dipenuhi agar sepasang garis dikatakan sejajar
dalam suatu bangun ruang. AB dan DC serta garis AE dan BF
terletak pada satu bidang, yaitu bidang ABCD dan ABFE. Adapun
AB dan CG, AE dan DC, serta BC dan DH terletak pada
bidang yang berlainan.
Jika dua garis dalam suatu bangun ruang tidak berpotongan
terletak pada bidang yang berlainan maka kedua garis tersebut
dikatakan bersilangan.
Jadi, dapat disimpulkan sebagai berikut.
Dua garis dalam suatu bangun ruang dikatakan sejajar, jika
kedua garis itu tidak berpotongan dan terletak pada satu
bidang.
Sekarang, perhatikan kubus KLMN.OPQR pada Gambar 8.7.
Ruas garis yang sejajar pada kubus KLMN.OPQR adalah
a. KL// NM// OP// RQ;
b.
KN// LM// PQ// OR;
c. KO// LP// MQ// NR.
Coba kalian sebutkan ruas garis yang tidak sejajar pada kubus
KLMN.OPQR tersebut.
5. Mengenal Diagonal Bidang, Diagonal Ruang, dan Bidang
Diagonal
Perhatikan bidang TUVW pada Gambar 8.8. Ruas garis yang
menghubungkan titik sudut T dan V serta U dan W disebut diago-
nal bidang atau diagonal sisi. Dengan demikian, bidang TUVW
mempunyai dua diagonal bidang, yaitu TV dan UW. Jadi, setiap
bidang pada balo k me mpunyai dua diagonal bidang .
Dapatkah kalian menyebutkan diagonal bidang yang lainnya?
Berapa banyaknya diagonal bidang pada balok?
Diagonal bidang suatu balok adalah ruas garis yang meng-
hubungkan dua titik sudut yang berhadapan pada setiap bidang
atau sisi balok.
P
O
Q R
L K
M
N
Gambar 8.7
(Berpikir kritis)
Perhatikan kembali
balok ABCD.EFGH
pada Gambar 8.6.
Tuliskan semua ruas
garis yang sejajar
pada balok t ersebut.
Tuliskan pula semua
ruas garis yang tidak
sejajar.
R
P
Q
S
T
U
V W
Gambar 8.8
206
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Perhatikan kembali Gambar 8.8.
Hubungkan titik P dan V, Q dan W, R dan T, atau S dan U.
PV, QW, RT , dan SU disebut diagonal ruang. Diagonal-di-
agonal ruang tersebut akan berpotongan di satu titik.
Diagonal ruang pada balok adalah ruas garis yang meng-
hubungkan dua titik sudut yang berhadapan dalam suatu ruang.
Suatu balok memiliki empat buah diagonal ruang yang sama
panjang dan berpotongan pada satu titik.
Perhatikan balok PQRS.TUVW pada Gambar 8.9. Bidang
PRVT (Gambar 8.9(i)) dan PWVQ (Gambar 8.9(ii)) disebut
bidang diagonal .
P
Q
R
S
T
U
V W
S
P
Q
R
T
U
V W
(i) (ii)
Gambar 8.9
Bidang diagonal suatu balok adalah bidang yang dibatasi oleh
dua rusuk dan dua diagonal bidang suatu balok. Selain bidang PRVT
dan PWVQ, masih ada empat bidang diagonal yang lain. Dapatkah
kalian menyebutkan empat bidang diagonal itu?
Suatu balok memiliki enam bidang diagonal yang berbentuk
persegi panjang dan tiap pasangnya kongruen.
Berdasarkan uraian di atas, kita akan menyimpulkan
mengenai sifat-sifat kubus dan balok sebagai berikut.
Perhatikan Gambar 8.10.
Sifat-sifat kubus ABCD.EFGH sebagai berikut.
a. Memiliki 6 sisi (bidang) berbentuk persegi yang saling kongruen.
Sisi (bidang) tersebut adalah bidang ABCD, ABFE, BCGF,
CDHG, ADHE, dan EFGH.
b. Memiliki 12 rusuk yang sama panjang, yaitu AB, BC, CD,
AD , EF , FG , GH , EH, AE , BF , CG, dan DH.
Rusuk-rusuk AB, BC, CD, dan AD disebut rusuk alas,
sedangkan rusuk AE , BF, CG, dan DH disebut rusuk tegak.
(Menumbuhkan
kreativitas)
Lukislah kubus
ABCD.EFGH. Ada be-
rapakah diagonal bi-
dang, diagonal ruang,
dan bidang diago nal-
nya, sebutkan.
Berbentuk apakah
bidang diagonal pada
kubus tersebut?
F
E
G H
B A
C
D
Gambar 8.10
207
Kubus dan Balok
Rusuk-rusuk yang sejajar di antaranya AB //
DC
// EF //
HG
.
Rusuk-rusuk yang saling berpotongan di antaranya AB dengan
AE , BC dengan CG, dan EH dengan HD.
Rusuk-rusuk yang saling bersilangan di antaranya AB dengan
CG, AD dengan BF , dan BC dengan DH.
c. Memiliki 8 titik sudut, yaitu A, B, C, D, E, F, G, dan H.
d. Memiliki 12 diagonal bidang yang sama panjang, di antaranya
AC, BD, BG, dan CF .
e. Memiliki 4 diagonal ruang yang sama panjang dan berpotongan
di satu titik, yaitu AG , BH, CE , dan DF .
f. Memiliki 6 bidang diagonal berbentuk persegi panjang yang
saling kongruen, di antaranya bidang ACGE, BGHA, AFGD,
dan BEHC.
Sekarang perhatikan Gambar 8.11.
Sifat-sifat balok PQRS.TUVW sebagai berikut.
a. Memiliki 6 sisi (bidang) berbentuk persegi panjang yang tiap
pasangnya kongruen. Sisi (bidang) tersebut adalah bidang
PQRS, TUVW, QRVU, PSWT, PQUT, dan SRVW.
b. Memiliki 12 rusuk, dengan kelompok rusuk yang sama panjang
sebagai berikut.
(i) Rusuk PQ = SR = TU = WV.
(ii) Rusuk QR = UV = PS = TW.
(iii) Rusuk PT = QU = RV = SW.
c. Memiliki 8 titik sudut, yaitu titik P, Q, R, S, T, U, V, dan W.
d. Memiliki 12 diagonal bidang, di antaranya PU, QV , RW,
SV , dan TV .
e. Memiliki 4 diagonal ruang yang sama panjang dan berpotongan
di satu titik, yaitu diagonal PV, QW, RT , dan SU .
f. Memiliki 6 bidang diagonal yang berbentuk persegi panjang
dan tiap pasangnya kongruen. Keenam bidang diagonal tersebut
adalah PUVS, QTWR, PWVQ, RUTS, PRVT, dan QSWU.
R
P
Q
S
T
U
V W
Gambar 8.11
208
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
6. Melukis Kubus dan Balok
Gambar 8.12 menunjukkan cara melukis kubus dan balok
dilihat dari depan. Bagian yang tidak terlihat ditunjukkan dengan
garis putus-putus.
Untuk melukis kubus, perhatikan langkah-langkah berikut.
(a) Lukislah sisi kubus bagian depan dan bagian belakang yang
berbentuk persegi (persegi PQUT dan SRVW). Rusuk yang
tidak terlihat dari depan digambar putus-putus (rusuk SR dan
SW).
(b) Hubungkan rusuk-rusuk yang mengarah dari depan ke belakang
(rusuk PS , QR , UV , dan TW). Kubus PQRS.TUVW
terbentuk seperti Gambar 8.12 (b).
Cara melukis balok sama dengan cara melukis kubus, hanya
perbedaannya terletak pada bentuk sisinya, yaitu berbentuk persegi
panjang. Perhatikan cara melukis balok ABCD.EFGH pada Gambar
8.12 (c) dan (d).
P P
S
Q
R
T U
V W
(a)
S
Q
R
T
U
V
W
(b)
A B
D
E
C
F
G H
(c)
A B
D
E
C
F
G H
(d)
Gambar 8.12
Manakah pernyataan-pernyataan berikut
yang benar?
a. Rusuk IJ // LK // MN // PO.
b. Rusuk JN // KO // IM // LP .
c. Rusuk MN tidak sejajar dengan
LP .
d. Rusuk IL // JK // NO // MP .
1. Perhatikan gambar berikut.
P
J
K
L
M
N
O
I
(Berpikir kritis)
Selain yang disam-
paikan pada uraian
materi di samping,
apakah kalian mem-
punyai cara lain dalam
melukis k ubus dan
balok? Eksplorasilah
hal ini dengan men-
diskusikan bersama
temanmu. Ceritakan
pendapatmu secara
singkat di depan
kelas.
209
Kubus dan Balok
4. Pada bangun balok yang telah kalian lukis
(soal nomor 3), lukis diagonal ruangnya.
Ada berapa banyak diagonal ruang yang
dapat dilukis?
5. a. Lukislah sebuah kubus EFGH.IJKL
pada kertas berpetak dengan pan-
jang rusuk 6 satuan dan EFGH se-
bagai bidang alasnya.
b. Hitunglah jumlah panjang diagonal
bidang pada kubus tersebut.
c. Hitung pula jumlah panjang diagonal
ruang pada kubus tersebut.
2. Lukislah sebuah kubus KLMN.OPQR
pada kertas berpetak dengan panjang
rusuk 5 satuan.
a. Sebutkan pasangan ruas garis yang
sejajar.
b. Sebutkan pula tiga pasang ruas garis
yang bersilangan.
3. Lukislah sebuah balok ABCD.EFGH
pada kertas berpetak dengan ukuran
panjang 5 satuan, lebar 3 satuan, dan
tinggi 3 satuan.
a. Lukislah semua diagonal bidangnya.
b. Berapa banyak diagonal bidang yang
dapat dilukis?
B. MODEL KERANGKA SER TA JARING-
JARING KUBUS DAN BALOK
1. Model Kerangka Kubus dan Balok
Kalian dapat membuat model kerangka kubus dan balok dari
beberapa bahan, misalnya dari lidi dan lilin, atau dari kawat dan
patri (solder yang digunakan untuk menyambung dua batang logam).
Gambar 8.11 (a) menunjukkan sebuah kerangka balok yang
berukuran panjang = 6 cm, lebar = 3 cm, dan tinggi = 4 cm. Untuk
membuat kerangka balok tersebut, gunakan bahan-bahan yang
telah disebutkan di atas.
Misalnya, bahan yang digunakan adalah lidi dan lilin, maka
untuk membuat model kerangka balok seperti Gambar 8.11 (a)
diperlukan
a. 4 batang lidi berukuran 6 cm, yaitu 4 u 6 cm;
b. 4 batang lidi berukuran 4 cm, yaitu 4 u 4 cm;
c. 4 batang lidi berukuran 3 cm, yaitu 4 u 3 cm.
Jadi, jumlah panjang lidi yang diperlukan
= (4 u 6) cm + (4 u 4) cm + (4 u 3) cm
= 24 cm + 16 cm + 12 cm
= 52 cm
Jika sebuah balok berukuran panjang = p, lebar = l, dan
tinggi = t maka jumlah panjang rusuknya = 4p + 4l + 4t
= 4(p + l + t)
4

c
m
6 cm
3
c
m
(a)
(b)
4 cm
Gambar 8.11
210
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Sukma memiliki kawat sepanjang 156
cm. Ia ingin menggunakan kawat
tersebut untuk membuat kerangka kubus.
Berapa panjang rusuk kubus agar kawat
tidak bersisa?
2. Diketahui sebatang kawat mempunyai
panjang 236 cm. Kawat itu akan dibuat
model kerangka berbentuk kubus dan
balok. Jika ukuran balok tersebut (12 u
8 u 5) cm, tentukan panjang rusuk kubus.
3. Perhatikan gambar di bawah.
12 cm
5 cm
5 cm
6 cm
18 cm
Berapa panjang kawat yang diperlukan
untuk membuat model kerangka seperti
gambar di atas?
4. Hitunglah panjang kawat yang diperlukan
untuk membuat kotak kapur tulis berukur-
an (6 u 4 u 5) cm.
1. Panjang rusuk setiap
kubus adalah 12 cm.
Tentukan jumlah pan-
jang rusuk kubus
tersebut.
Penyelesaian:
Panjang setiap rusuk kubus = s = 12 cm.
Jumlah panjang rusuk kubus = 12s
= (12 u 12) cm
= 144 cm
2. Sebuah balok mempu-
nyai panjang 14 cm,
lebar 8 cm, dan tinggi
6 cm. Hitunglah jumlah
panjang rusuk balok
tersebut.
Penyelesaian:
Panjang (p) = 14 cm, lebar (l) = 8 cm, dan
tinggi (t) = 6 cm.
Jumlah panjang rusuk balok = 4(p + l + t)
= 4(14 + 8 + 6) cm
= 4 u 28 cm
= 112 cm
Untuk membuat model kerangka kubus, kita harus
memerhatikan bahwa panjang setiap rusuk kubus adalah sama,
dan banyaknya rusuk 12 buah. Oleh karena itu, untuk membuat
model kerangka kubus seperti pada Gambar 8.11 (b), jumlah panjang
lidi yang diperlukan = (12 u 4) cm
= 48 cm
Jika panjang rusuk sebuah kubus adalah s maka jumlah
panjang rusuknya = 12s.
211
Kubus dan Balok
5. Made akan membuat 15 buah kerangka
balok yang masing-masing berukuran
30 cm u 20 cm u 15 cm. Bahan yang
akan digunakan terbuat dari kawat yang
harganya Rp1.500/m.
a. Hitunglah jumlah panjang kawat
yang diperlukan untuk membuat
balok tersebut.
b. Hitunglah biaya yang diperlukan
untuk membeli bahan/kawat.
a. Buatlah model kubus dari karton dengan panjang rusuk
5 cm dan beri nama seperti pada Gambar 8.12 (a).
b. Guntinglah sepanjang rusuk EH, EF , HG , CG, FB,
EA, dan HD.
c. Buka/bentangkan kubus tersebut menurut rusuk-rusuk yang
telah digunting tadi, sehingga diperoleh bangun seperti
Gambar 8.12 (b).
Jika kalian telah melakukan kegiatan di atas, bangun yang
kalian peroleh disebut jaring-jaring kubus.
Jaring-jaring kubus adalah sebuah bangun datar yang jika
dilipat menurut ruas-ruas garis pada dua persegi yang
berdekatan akan membentuk bangun kubus.
Lakukan kegiatan yang sama seperti di atas untuk
memperoleh jaring-jaring balok seperti pada Gambar 8.13 (b).
2. Jaring-Jaring Kubus dan Balok
Agar kalian memahami mengenai jaring-jaring kubus dan
balok, lakukan kegiatan berikut.
KEGIATAN
A B
C
D
E
H
F
G
(a)
A B
C D
E
E
F
F
F
G G
G
H
H
(b)
Gambar 8.12
(Menumbuhkan
kreativitas)
Ada 11 bentuk jaring-
jaring kubus yang ber-
lainan. Buatlah model
kubus dengan
panjang r usuk 5 cm.
Coba kalian temukan
11 jaring-jaring dari
kubus yang telah
kalian buat.
K L
M N
O
O
O
P
P
Q
Q
R
R
R
(b)
K L
M
N
O
P
Q R
(a)
Gambar 8.13
212
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
1. Di antara gambar berikut, manakah yang
merupakan jaring-jaring kubus?
(a)
(b) (c)
(d) (e)
(f) (g)
2. Di antara gambar berikut, manakah yang
merupakan jaring-jaring balok?
(a) (b)
(c) (d)
3. Perhatikan jaring-jaring kubus pada
gambar di bawah.
1 2 3
6
4
5
Jika nomor 3 sebagai alas kubus, nomor
berapakah yang menjadi tutup kubus?
4. Buatlah model balok dengan panjang
6 cm, lebar 4 cm, dan tinggi 5 cm. Carilah
kemungkinan-kemungkinan jaring-jaring
balok yang berlainan yang dapat dibuat
dari balok tersebut. Ada berapakah ja-
ring-jaring balok yang dapat kalian buat?
Jaring-jaring balok adalah sebuah bangun datar yang jika dilipat
menurut ruas-ruas garis pada dua persegi panjang yang
berdekatan akan membentuk bangun balok.
Sebuah kubus atau balok memiliki lebih dari satu jaring-jaring
yang berbeda. Dapatkah kalian membuat kemungkinan lain jaring-
jaring dari kubus dan balok? Ujilah jawabanmu dengan melipat
kembali jaring-jaring tersebut.
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
213
Kubus dan Balok
C. LUAS PERMUKAAN SER TA VOLUME
KUBUS DAN BALOK
Pada bagian ini kalian akan mempelajari mengenai luas
permukaan dan volume kubus serta balok. Untuk menentukan-
nya, coba kalian ingat kembali bahwa sebuah kubus mempunyai
6 sisi yang berbentuk persegi. Adapun sebuah balok mempunyai
6 bidang atau sisi yang berbentuk persegi panjang.
1. Luas Permukaan Kubus dan Balok
Luas permukaan kubus dan balok adalah jumlah seluruh sisi
kubus atau balok. Gambar 8.14 menunjukkan sebuah kubus yang
panjang setiap rusuknya adalah s. Coba kalian ingat kembali bahwa
sebuah kubus memiliki 6 buah sisi yang setiap rusuknya sama
panjang. Pada Gambar 8.14, keenam sisi tersebut adalah sisi ABCD,
ABFE, BCGF, EFGH, CDHG, dan ADHE. Karena panjang setiap
rusuk kubus s, maka luas setiap sisi kubus = s
2
. Dengan demikian,
luas permukaan kubus = 6s
2
.
L = 6s
2
, dengan L = luas permukaan kubus
s = panjang rusuk kubus
Untuk menentukan luas permukaan balok, perhatikan Gambar
8.15. Balok pada Gambar 8.15 mempunyai tiga pasang sisi yang
tiap pasangnya sama dan sebangun, yaitu
(a) sisi ABCD sama dan sebangun dengan sisi EFGH;
(b) sisi ADHE sama dan sebangun dengan sisi BCGF;
(c) sisi ABFE sama dan sebangun dengan sisi DCGH.
Akibatnya diperoleh
luas permukaan ABCD = luas permukaan EFGH = p
u
l
luas permukaan ADHE = luas permukaan BCGF = l
u
t
luas permukaan ABFE = luas permukaan DCGH= p
u
t
Dengan demikian, luas permukaan balok sama dengan jumlah
ketiga pasang sisi yang saling kongruen pada balok tersebut. Luas
permukaan balok dirumuskan sebagai berikut.
L = 2(p u l) + 2(l u t) + 2(p u t)
= 2{(p u l) + (l u t) + (p u t)}
dengan L = luas permukaan balok
p = panjang balok
l = lebar balok
t = tinggi balok
A B
C
D
E
F
G H
s
s
s
Gambar 8.14
A B
C
D
E
F
G
H
p
l
t
Gambar 8.15
214
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Hitunglah luas permukaan kubus dengan
panjang setiap rusuknya sebagai berikut.
a. 4 cm c. 10 cm
b. 7 cm d. 12 cm
2. Sebuah benda berbentuk kubus luas
permukaannya 1.176 cm
2
. Berapa pan-
jang rusuk kubus itu?
3. Dua buah kubus masing-masing panjang
rusuknya 6 cm dan 10 cm. Hitunglah
perbandingan luas permukaan dua kubus
tersebut.
4. Hitunglah luas permukaan balok dengan
ukuran sebagai berikut.
a. 8 cm u 4 cm u 2 cm
b. 8 cm u 3 cm u 4 cm
c. 9 cm u 9 cm u 6 cm
d. 9 cm u 8 cm u 4 cm
5. Suatu balok memiliki luas permukaan
198 cm
2
. Jika lebar dan tinggi balok
masing-masing 6 cm dan 3 cm, tentukan
panjang balok tersebut.
6. Hitunglah perbandingan luas permukaan
dua buah balok yang berukuran
(6 u 5 u 4) cm dan (8 u 7 u 4) cm.
1. Sebuah kubus panjang
setiap rusuknya 8 cm.
Tentukan luas permu-
kaan kubus tersebut.
Penyelesaian:
Luas permukaan kubus = 6s
2
= 6 u 8
2
= 384 cm
2
Penyelesaian:
Balok berukuran (6 u 5 u 4) cm artinya panjang = 6 cm,
lebar = 5 cm, dan tinggi 4 cm.
Luas permukaan balok
= 2{(p u l) + (l u t) + (p u t)}
= 2{(6 u 5) + (5 u 4) + (6 u 4)}
= 2(30 + 20 + 24)
= 148 cm
2
2. Volume Kubus dan Balok
Untuk menentukan volume sebuah kubus perhatikan Gambar
8.16 (a). Gambar tersebut menunjukkan sebuah kubus satuan
dengan panjang rusuk 2 satuan panjang.
2. Sebuah balok berukur-
an (6 u 5 u 4) cm.
Tentukan luas permu-
kaan balok.
215
Kubus dan Balok
(a) (b)
Gambar 8.16
Volume kubus tersebut = panjang kubus satuan u lebar kubus
satuan u tinggi kubus satuan
= (2 u 2 u 2) satuan volume
= 2
3
satuan volume
= 8 satuan volume
Jadi, diperoleh rumus volume kubus (V) dengan panjang rusuk s
sebagai berikut.
V = rusuk u rusuk u rusuk
= s u s u s
= s
3
Selanjutnya perhatikan Gambar 8 16 (b).
Gambar 8.16 (b) menunjukkan sebuah balok satuan dengan
ukuran panjang = 4 satuan panjang, lebar = 2 satuan panjang, dan
tinggi = 2 satuan panjang.
Volume balok = panjang kubus satuan u lebar kubus satuan u
tinggi kubus satuan
= (4 u 2 u 2) satuan volume
= 16 satuan volume
Jadi, volume balok (V) dengan ukuran (p u l u t) dirumuskan
sebagai berikut.
V = panjang u lebar u tinggi
= p
u
l
u
t
(Menumbuhkan
kreativitas)
Amatilah benda-ben-
da di lingkungan
sekitarmu. Sediakan
benda-benda yang
berbentuk kubus dan
balok, masing-ma-
sing 3 buah. Ukurlah
panjang sisinya.
Kemudian, hitunglah
luas permukaan dan
volumenya. Tuliskan
hasilnya dalam
bentuk laporan dan
serahkan kepada
gurumu.
1. Sebuah kubus memiliki
panjang rusuk 5 cm.
Tentukan volume kubus
itu.
Penyelesaian:
Panjang rusuk kubus = 5 cm.
Volume kubus = s u s u s
= 5 u 5 u 5
= 125
Jadi, volume kubus itu adalah 125 cm
3
.
216
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
2. Volume sebuah balok
120 cm
3
. Jika panjang
balok 6 cm dan lebar
balok 5 cm, tentukan
tinggi balok tersebut.
Penyelesaian:
Misalkan panjang balok = p = 6 cm, lebar balok = l = 5 cm,
dan tinggi balok = t.
Volume balok = p u l u t
120 = 6 u 5 u t
120 = 30 u t
t = 4
Jadi, tinggi balok tersebut adalah 4 cm.
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Panjang semua rusuk kubus 240 dm. Hi-
tunglah volume kubus tersebut (dalam
cm).
2. Diketahui luas permukaan sebuah kotak
berbentuk kubus 96 cm
2
. Hitunglah volu-
me kotak tersebut.
3. Sebuah mainan berbentuk balok volume-
nya 140 cm
3
. Jika panjang mainan 7 cm
dan tinggi mainan 5 cm, tentukan lebar
mainan tersebut.
4. Perbandingan panjang, lebar, dan tinggi
sebuah balok adalah 5 : 4 : 3. Jika vo-
lume balok 1.620 cm
3
, tentukan ukuran
balok tersebut.
5. Sebuah kubus panjang rusuknya 5 cm,
sedangkan sebuah balok berukuran
(7 u 5 u 4) cm.
a. Tentukan volume kubus dan balok
tersebut.
b Tentukan perbandingan volume
keduanya.
3. Menentukan Luas Permukaan dan Volume Kubus serta
Balok jika Ukuran Rusuknya Berubah
Kalian telah mempelajari cara menentukan luas permukaan
maupun volume kubus dan balok. Bagaimana jika panjang rusuk-
rusuk kubus dan balok tersebut berubah? Apakah luas permukaan
dan volumenya ikut berubah? Untuk lebih jelasnya, pelajari uraian
berikut.
Dengan memerhatikan Gambar 8.17, kalian akan memperoleh
sebagai berikut.
(a) Luas permukaan kubus (a) adalah
L = 6s
2
= 6 u 3
2
= 6 u 9 = 54 cm
2
.
Volume kubus (a) adalah V = s
3
= 3
3
= 27 cm
3
.
(b) Luas permukaan kubus (b) adalah
L = 6s
2
= 6 u 6
2
= 6 u 36 = 216 cm
2
.
Volume kubus (b) adalah V = s
3
= 6
3
= 216 cm
3
.
3 cm
(a)
6 cm
(b)
217
Kubus dan Balok
(c) Luas permukaan kubus (c)
L = 6s
2
= 6 u 9
2
= 6 u 81 = 486 cm
2
.
Volume kubus (c) adalah V = s
3
= 9
3
= 729 cm
3
.
Sekarang kalian perhatikan panjang rusuk kubus pada Gambar
8.17 (a), (b), dan (c). Kalian akan memperoleh
(a) panjang rusuk kubus (b) = 2 u panjang rusuk kubus (a),
sehingga
luas permukaan kubus (b) = 6 u (panjang rusuk kubus (b))
2
= 6 u (2 u panjang rusuk kubus
(a))
2
= 6 u (2 u 3)
2
= 6 u 2
2
u 3
2
= 2
2
u 6 u 3
2
= 2
2
u 54
= 216 cm
2
dan volume kubus (b) = (panjang rusuk kubus (b))
3
= (2 u panjang rusuk kubus (a))
3
= (2 u 3)
3
= 2
3
u 3
3
= 2
3
u 27
= 216 cm
3
(b) panjang rusuk kubus (c) = 3 u panjang rusuk kubus (a),
sehingga
luas permukaan kubus (c) = 6 u (panjang rusuk kubus (c))
2
= 6 u (3 u panjang rusuk kubus
(a))
2
= 6 u (3 u 3)
2
= 6 u 3
2
u 3
2
= 3
2
u 6 u 3
2
= 3
2
u 54
= 486 cm
2
dan volume kubus (c) = (panjang rusuk kubus (c))
3
= (3 u panjang rusuk kubus (a))
3
= (3 u 3)
3
= 3
3
u 3
3
= 3
3
u 27
= 729 cm
3
9 cm
(c)
Gambar 8.17
Diketahui panjang
sebuah balok sama
dengan dua kali
lebarnya dan tinggi
balok setengah kali
lebarnya. Ukuran
balok tersebut diubah
sehingga panjangnya
menjadi tiga kali
semula dan lebarnya
menjadi dua kali
semula, sedangkan
tingginya tetap. Jika
luas seluruh permuka-
an balok semula 448
cm
2
, tentukan volume
balok setelah diperbe-
sar.
218
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut.
Jika panjang rusuk suatu kubus = s, luas permukaan = L, dan
volume = V, kemudian panjang rusuk kubus itu diperbesar atau
diperkecil k kali maka
(a) L
baru
= 6(ks u ks)
= 6k
2
s
2
= k
2
u 6s
2
= k
2
L
dengan L
baru
= luas permukaan kubus setelah diperbesar
atau diperkecil
L = luas permukaan kubus semula
(b) V
baru
= ks u ks u ks
= k
3
s
3
= k
3
V
dengan V
baru
= volume kubus setelah diperbesar atau
diperkecil
V = volume kubus semula
Dengan cara yang sama, kalian dapat menemukan luas
permukaan dan volume balok jika ukuran panjang, lebar, atau
tingginya diubah.
Suatu balok memiliki panjang = p, lebar = l, tinggi = t, luas
permukaan = L, dan volume = V. Balok itu kemudian diubah
ukurannya menjadi panjang = ap, lebar = bl, dan tinggi = ct dengan
a, b, c konstanta positif. Kalian akan memperoleh
(a)

baru
L 2
2
u u u
u u u
ap bl bl ct ap ct
ab p l bc l t ac p t
(b)

baru
V u u
u u

ap bl ct
abc p l t
abcV
Bagaimana jika a = b = c? Eksplorasilah hal tersebut. Apakah
kalian akan memperoleh kesimpulan seperti berikut ini?




baru
2
2
2
L
2
2
u u u
u u u
u u u
u u u u

ap bl bl ct ap ct
ab p l bc l t ac p t
a p l l t p t
a p l l t p l
a L
219
Kubus dan Balok

baru
3
V u u
u u

ap bl ct
abc p l t
a V
dengan L
baru
= luas permukaan balok setelah diubah ukurannya
V
baru
= volume balok setelah diubah ukurannya
L = luas permukaan balok semula
V = volume balok semula
Sebuah kubus panjang
rusuknya 8 cm, kemudian
rusuk tersebut diperkecil
sebesar
1
2
kali panjang
rusuk semula. Berapa vo-
lume kubus setelah diper-
kecil?
Penyelesaian:
V = s
3
= 8
3
= 512 cm
3
k =
1
2
V
baru
= k
3
× V
=
3
1
2
§ ·
¨ ¸
© ¹
× 512 cm
3
=
2
1
512 cm
8
u = 64 cm
2
Jadi, volume kubus setelah rusuknya diperkecil
1
2
kali
semula adalah 64 cm
3
.
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
3. Bonar akan membuat 10 tempat kapur
tulis berbentuk kubus dengan volume
1.331 cm
3
.
a. Tentukan panjang rusuk tempat
kapur tulis tersebut.
b. Tentukan volume totalnya.
4. Sebuah kubus memiliki volume 343 cm
3
.
Jika panjang rusuk kubus tersebut di-
perbesar menjadi 4 kali panjang rusuk se-
mula, tentukan volume kubus yang baru.
1. Volume sebuah kubus sama dengan vo-
lume balok yaitu 1.000 cm
3
. Diketahui
panjang balok dua kali panjang kubus dan
tinggi balok setengah kali lebar balok.
Tentukan luas seluruh permukaan balok.
2. Intan ingin membuat akuarium berben-
tuk balok dengan volume 9 dm
3
. Ia meng-
inginkan lebar akuarium tersebut 15 cm
dengan panjang dua kali lebarnya dan ke-
dalaman lima lebihnya dari ukuran lebar.
a. Tentukan ukuran akuarium tersebut.
b. Tentukan luas seluruh permukaan
akuarium.
220
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
5. Suatu balok memiliki panjang 5 cm, lebar
4 cm, dan volume 60 cm
3
. Ukuran balok
tersebut diperbesar sehingga panjangnya
tiga kali panjang semula, lebarnya dua
kali lebar semula, dan tingginya tetap.
a. Tentukan panjang, lebar, dan tinggi
balok.
b. Tentukan luas seluruh permukaan
balok.
c. Tentukan volume balok setelah
diperbesar.
Catatan:
* Dalam menentukan rusuk, luas permukaan, maupun volume kubus
dan balok, pastikan bahwa satuan ukuran-ukurannya telah sama.
* Perhatikan perbedaan pernyataan berikut.
– Panjang a dua lebihnya dari panjang b, artinya adalah a = 2 + b.
– Panjang a dua kali dari panjang b, artinya adalah a = 2b.
1. Kubus dan balok, masing-masing memiliki 6 sisi, 12 rusuk,
dan 8 titik sudut.
2. Suatu kubus memiliki 6 sisi berbentuk persegi yang kongruen.
3. Suatu balok mempunyai 3 pasang sisi berbentuk persegi
panjang yang setiap pasangnya kongruen.
4. Dua garis dalam suatu bangun ruang dikatakan sejajar, jika
kedua garis itu tidak berpotongan dan terletak pada satu
bidang.
5. Diagonal bidang suatu kubus atau balok adalah ruas garis
yang menghubungkan dua titik sudut yang berhadapan pada
setiap bidang kubus atau balok.
6. Diagonal ruang suatu kubus atau balok adalah ruas garis
yang menghubungkan dua titik sudut yang berhadapan dalam
suatu ruang.
7. Bidang diagonal suatu kubus atau balok adalah bidang yang
dibatasi dua rusuk dan dua diagonal bidang suatu kubus atau
balok.
8. Jika panjang rusuk suatu kubus a maka jumlah panjang
rusuknya = 12a.
9. Jika sebuah balok berukuran panjang = p, lebar = l, dan tinggi
= t maka jumlah panjang rusuknya = 4(p + l + t).
10. Luas permukaan kubus = 6s
2
.
Volume kubus = s
3
.
11. Luas permukaan balok = ^ `
2 u u u p l l t p t .
Volume balok = u u p l t .
221
Kubus dan Balok
1.
A B
C
D
E
F
G H
Pernyataan di bawah ini benar,
kecuali ....
a. AB // DC // EF // HG
b. AE // BF // CG // DH
c. AD // EH // BC // FG
d. AD // BC // BF // CG
2.
Jika rangkaian persegi panjang di atas
dilihat sepanjang garis putus-putus,
akan terbentuk bangun ....
a. kubus c. prisma
b. limas d. balok
Setelah mempelajari bab ini, coba rangkum kembali materi
Kubus dan Balok dengan kata-katamu sendiri. Jika ada materi
yang belum kamu pahami, catat dan tanyakan kepada gurumu.
Catat pula manfaat apa saja yang dapat kalian peroleh dari materi
ini. Buatlah dalam sebuah laporan dan serahkan kepada gurumu.
Kerjakan di buku tugasmu.
A. Pilihlah salah satu jawaban yang tepat.
3. Sebuah balok mempunyai luas permu-
kaan 376 cm
2
. Jika panjang balok
10 cm, lebar balok 6 cm, tinggi balok
adalah ....
a. 6 cm c. 8 cm
b. 7 cm d. 9 cm
4. Sebuah kubus panjang rusuknya 6 cm.
Luas permukaan kubus itu adalah ....
a. 36 cm
2
c. 432 cm
2
b. 216 cm
2
d. 1.296 cm
2
5. Pernyataan di bawah ini yang benar
adalah ....
a. Dua garis dalam ruang dikatakan
bersilangan jika kedua garis itu tidak
berpotongan dan terletak pada satu
bidang.
b. Sebuah balok memiliki enam diago-
nal ruang.
c. Sebuah balok memiliki enam bidang
diagonal yang berbentuk persegi
panjang dan sepasang-sepasang
kongruen.
d. Diagonal bidang balok adalah ruas
garis yang menghubungkan dua titik
sudut yang saling berhadapan dalam
ruang pada kotak.
222
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
6. Selisih panjang rusuk dua buah kubus
adalah 3 dm. Jika selisih luas sisi kubus
itu 234 dm
2
, selisih volume kedua
kubus adalah ....
a. 358 dm
3
c. 387 dm
3
b. 378 dm
3
d. 387,5 dm
3
7. Rusuk-rusuk balok yang bertemu
pada sebuah pojok balok berbanding
4 : 4 : 1. Jika volume balok 432 liter,
luas permukaan balok adalah ....
a. 423 dm
2
c. 452 dm
2
b. 432 dm
2
d. 464 dm
2
8. Selisih panjang rusuk dua buah kubus
adalah
1
2
m dan selisih volumenya
7
8
m
3
. Jika kubus besar disusun
menjadi kubus-kubus kecil yang
kongruen dengan panjang rusuk 10 cm,
banyaknya kubus-kubus kecil itu
adalah ....
a. 10 buah c. 500 buah
b. 100 buah d. 1.000 buah
9. Diketahui balok ABCD.EFGH dengan
AB = (x + 1) cm, BC = x cm, dan AC
= (x + 2) cm. Jika tinggi balok 2 cm,
volume balok adalah ....
a. 9 cm
3
c. 42 cm
3
b. 24 cm
3
d. 48 cm
3
10. Sebuah kubus memiliki rusuk sepan-
jang 6 cm. Rusuk itu diperpanjang
sebesar k kali panjang rusuk semula,
sehingga volumenya menjadi
1.728 cm
3
. Nilai k adalah ....
a. 2 c. 6
b. 4 d. 8
B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan singkat dan tepat.
4. Luas permukaan sebuah kubus adalah
294 cm
2
. Hitunglah
a. panjang diagonal bidangnya;
b. panjang diagonal ruangnya;
c. volume kubus.
5. Diketahui tempat air berukuran
panjang 60 cm, lebar 50 cm, dan tinggi
100 cm berisi air penuh. Air tersebut
akan dikurangi dengan cara melubangi
tempat tersebut, hingga air yang keluar
ditampung dalam tempat lain yang
berukuran (40 u 30 u 20) cm.
a. Tentukan volume penampungan air.
b. Tentukan tinggi permukaan air pada
tempat pertama setelah dikurangi.
1. Pada kertas berpetak, lukislah balok
PQRS.TUVW dengan panjang 4 sa-
tuan, lebar 2 satuan, dan tinggi 3 satu-
an.
a. Lukislah semua diagonal ruangnya.
b. Ada berapa banyak diagonal
bidangnya, sebutkan.
2. Hitunglah luas permukaan balok jika
diketahui
a. V = 24 cm
3
, p = 4 cm, dan l =
3 cm;
b. V = 315 cm
3
, p = 9 cm, dan
l = 7 cm.
3. Sebuah kubus panjang setiap
rusuknya 2 m. Kubus tersebut tersusun
dari kubus-kubus kecil dengan panjang
setiap rusuknya 20 cm.
a. Tentukan volume kubus besar dan
kubus kecil.
b. Berapa banyak kubus kecil hingga
tersusun kubus besar?
BANGUN RUANG SISI
DATAR LIMAS DAN
PRISMA TEGAK
Perhatikan atap dari sebuah rumah.
Bagaimanakah bentuk atap rumah?
Gambar di samping menunjukkan
bangunan Gedung Rektorat Universitas In-
donesia. Perhatikan bentuk atap dari tiap
bangunan di gedung tersebut. Manakah yang
berbentuk limas? Mana pulakah atap yang
berbentuk prisma? Bagaimana bentuk bidang
atau sisi dari tiap atap bangunan tersebut?
Agar kalian dapat memahaminya, pelajari
uraian materi berikut.
Tujuan pembelajaranmu pada bab ini adalah:
™ dapat menyebutkan unsur-unsur prisma dan limas;
™ dapat membuat jaring-jaring prisma tegak dan limas;
™ dapat menemukan rumus dan menghitung luas permukaan prisma dan limas;
™ dapat menemukan rumus dan menghitung volume prisma dan limas.
9
Kata-Kata Kunci:
™ unsur-unsur prisma dan limas
™ jaring-jaring prisma dan limas
™ luas permukaan prisma dan limas
™ volume prisma dan limas
Sumber: Indonesian Heritage , 2002
224
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
t = tinggi
t = tinggi
Pada bab sebelumnya, kalian telah mempelajari bangun ruang
kubus dan balok. Kalian juga telah diperkenalkan dengan bangun
ruang, seperti prisma, tabung, limas, kerucut, dan bola. Sekarang
kalian akan mempelajari secara lebih mendalam mengenai bangun
ruang limas dan prisma tegak.
Agar kalian dapat memahami materi ini dengan baik, coba
kalian ingat kembali mengenai segitiga, segi empat, teorema
Pythagoras, serta kubus dan balok.
A. BANGUN RUANG PRISMA DAN LIMAS
1. Prisma
Perhatikan Gambar 9.1. Gambar tersebut menunjukkan bebe-
rapa contoh bangun ruang prisma. Bangun-bangun ruang tersebut
mempunyai bidang alas dan bidang atas yang sejajar dan kongruen.
Sisi lainnya berupa sisi tegak berbentuk jajargenjang atau persegi
panjang yang tegak lurus ataupun tidak tegak lurus terhadap bidang
alas dan bidang atasnya. Bangun seperti itu dinamakan prisma.
Berdasarkan rusuk tegaknya, prisma dibedakan menjadi
dua, yaitu prisma tegak dan prisma miring. Prisma tegak adalah
prisma yang rusuk-rusuk tegaknya tegak lurus pada bidang atas
dan bidang alas. Prisma miring adalah prisma yang rusuk-rusuk
tegaknya tidak tegak lurus pada bidang atas dan bidang alas.
Gambar 9.1 (c) adalah salah satu contoh prisma miring. Prisma
miring disebut juga prisma condong.
Berdasarkan bentuk alasnya, terdapat prisma segitiga, prisma
segi empat, prisma segi lima, dan seterusnya. Jika alasnya berupa
segi n beraturan maka disebut prisma segi n beraturan.
Gambar 9.1 (a) disebut prisma tegak segi empat, Gambar
9.1 (b) disebut prisma tegak segitiga, dan Gambar 9.1 (c) disebut
prisma miring segi empat beraturan.
Setiap bangun ruang pasti memiliki tinggi atau kedalaman.
Apakah yang dimaksud tinggi prisma? Tinggi prisma adalah jarak
antara bidang alas dan bidang atas. Tinggi prisma ditunjukkan pada
Gambar 9.2.
Gambar 9.2
(Menumbuhkan
inovasi)
Sediakan kardus
bekas yang berbentuk
balok. Amatilah kardus
tersebut.
Ceritakan mengenai
sifat balok. Potonglah
kardus tersebut,
menurut salah satu
bidang diagonalnya.
Bangun apakah yang
terbentuk? Ceritakan
pengalamanmu
secara singkat di
depan kelas.
(a)
(b)
(c)
Gambar 9.1
225
Bangun Ruang Sisi Datar Limas dan
Prisma Tegak
Selanjutnya perhatikan Gambar 9.3. Gambar tersebut
menunjukkan prisma tegak segitiga ABC.DEF.
a. Titik A, B, C, D, E, dan F adalah titik sudut prisma.
b. A ABC adalah bidang atas prisma.
c. A DEF adalah bidang alas prisma.
d. Bidang ACFD, BCFE, dan ABED adalah sisi tegak prisma.
e. AD, CF , dan BE adalah rusuk-rusuk tegak prisma.
Bidang atas dan bidang alas prisma masing-masing tersusun
atas tiga buah rusuk.
Dapatkah kalian menyebutkan rusuk-rusuk tersebut?
Karena prisma ABC.DEF merupakan prisma tegak maka
tinggi prisma = panjang AD = panjang CF = panjang BE .
Kubus dan balok dapat dipandang sebagai prisma tegak, yaitu
prisma tegak segi empat. Setiap sisi kubus atau balok dapat
dianggap sebagai bidang alas atau bidang atas, dan rusuk yang
tegak lurus terhadap bidang alas dan bidang atas sebagai rusuk
tegaknya.
2. Limas
Gambar 9.4 adalah contoh bangun ruang limas. Limas adalah
bangun ruang yang alasnya berbentuk segi banyak (segitiga, segi
empat, atau segi lima) dan bidang sisi tegaknya berbentuk segitiga
yang berpotongan pada satu titik. Titik potong dari sisi-sisi tegak
limas disebut titik puncak limas.
Seperti halnya prisma, pada limas juga diberi nama
berdasarkan bentuk bidang alasnya. Jika alasnya berbentuk segitiga
maka limas tersebut dinamakan limas segitiga. Jika alas suatu limas
berbentuk segi lima beraturan maka limas tersebut dinamakan limas
segi lima beraturan.
Setelah mempelajari uraian di atas, dapatkah kalian
menyebutkan nama-nama limas pada Gambar 9.4?
Berdasarkan bentuk alas dan sisi-sisi tegaknya limas dapat
dibedakan menjadi limas segi n beraturan dan limas segi n sebarang.
Perhatikan Gambar 9.5 berikut ini.
A B
C
D
E
F
Gambar 9.3
(Berpikir kritis)
Diskusikan dengan te-
man sebangkumu.
Mengapa tabung da-
pat dipandang seba-
gai prisma dengan
bidang alas berbent uk
lingkaran? Berbentuk
apakah bidang sisi
tegaknya? Tunjukkan
dengan menggunakan
prisma segi banyak
beraturan.
(a) (b) (c) (d)
Gambar 9.4
226
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Sebuah limas pasti mempunyai puncak dan tinggi.
Jika kalian mengerjakan tugas di samping dengan benar maka
kalian akan memperoleh kesimpulan sebagai berikut.
a. Tinggi limas adalah jarak terpendek dari puncak limas ke sisi
alas.
b. Tinggi limas tegak lurus dengan titik potong sumbu simetri
bidang alas.
Perhatikan Gambar 9.6. Gambar tersebut adalah limas segi
empat T.ABCD dengan bidang alas ABCD. Dari gambar tersebut,
kita dapat memperoleh hal-hal berikut.
a. Titik A, B, C, dan D adalah titik sudut bidang alas limas dan
titik T adalah titik puncak limas.
b. TA, TB, TC , dan TDdisebut rusuk tegak limas. Jika limas
beraturan maka TA = TB = TC = TD.
c. A TAB, A TBC, A TCD, dan A TAD adalah sisi tegak limas.
Jika limas beraturan maka masing-masing sisi tegak berbentuk
segitiga sama kaki yang sama dan sebangun.
d. AB, BC, CD, dan AD adalah rusuk bidang alas limas. (Jika
limas beraturan maka AB = BC =CD= AD ).
e. TO adalah tinggi limas.
A B
O
C
D
T
Gambar 9.6
Limas segitiga
sebarang
Limas segi empat
sebarang
Limas segi lima
sebarang
(e) (f)
Gambar 9.5
(b) (c)
Limas segitiga
beraturan
Limas segi empat
beraturan
Limas segi
lima beraturan
(a)
(Berpikir kritis)
Dari Gambar 9.5 di
samping, tentukan
puncak dan tinggi dari
masing-masing li-
mas. Buatlah kesim-
pulan mengenai tinggi
limas.
227
Bangun Ruang Sisi Datar Limas dan
Prisma Tegak
Selanjutnya perhatikan Gambar 9.7.
Gambar 9.7 (a) menunjukkan bangun limas segi banyak
beraturan. Jika rusuk-rusuk pada bidang alasnya diperbanyak
secara terus-menerus maka akan diperoleh bentuk yang mendekati
kerucut (Gambar 9.7 (b)). Oleh karena itu, kerucut dapat dipandang
sebagai limas. Kerucut memiliki bidang alas berupa daerah
lingkaran dan bidang sisi tegaknya berupa bidang lengkung yang
disebut selimut kerucut.
Gambar 9.7
(a)
(b)
A
B
C
E
F
H
J
I
G
D
Gambar 9.8
B. DIAGONAL BIDANG, DIAGONAL RUANG,
SERTA BIDANG DIAGONAL PRISMA DAN
LIMAS
1. Diagonal Bidang, Diagonal Ruang, dan Bidang Diagonal
pada Prisma
Pada bab sebelumnya, kalian telah mempelajari diagonal
bidang, diagonal ruang, dan bidang diagonal bangun ruang kubus
dan balok. Pada bagian ini kalian akan mempelajari diagonal bidang,
diagonal ruang, dan bidang diagonal pada bangun ruang prisma
dan limas. Untuk menentukan diagonal bidang, diagonal ruang, dan
bidang diagonal prisma dan limas, pada prinsipnya sama seperti
saat kalian mempelajarinya pada bangun ruang kubus dan balok.
Perhatikan Gambar 9.8. Gambar tersebut menunjukkan
bangun prisma segi lima beraturan. Prisma segi lima beraturan
memiliki bidang alas, bidang atas, dan bidang sisi tegak. Diagonal
bidang alas prisma segi lima ABCDE.FGHIJ, pada gambar di
samping antara lain AC, AD, dan BD. Bidang diagonalnya,
antara lain ACHF, ADIF, dan ECHJ. Ruas garis AH, AI, dan EH
adalah contoh diagonal ruang prisma tersebut. Dapatkah kalian
menyebutkan diagonal bidang, bidang diagonal, dan diagonal ruang
lainnya? Diskusikan hal ini dengan teman sebangkumu.
Setelah memahami uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai
berikut.
a. Diagonal bidang alas adalah garis yang menghubungkan dua
titik sudut yang tidak bersebelahan pada bidang alas.
(Menumbuhkan kreativitas)
Amati lingkungan di se kitarmu.
Carilah benda-benda yang berbentuk prisma dan l imas. Cerita-
kan hasil temuanmu di depan kelas.
228
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
b. Bidang diagonal adalah bidang yang memuat diagonal bidang
alas dan diagonal bidang atas serta keduanya sejajar.
c. Diagonal ruang adalah garis yang menghubungkan titik sudut
pada alas dengan titik sudut pada bidang atas yang tidak terletak
pada sisi tegak yang sama.
Untuk mengetahui banyak diagonal bidang alas, diagonal
ruang, dan bidang diagonal prisma segi n, salin dan lengkapilah
tabel berikut. Lalu buatlah kesimpulannya.
Setelah melengkapi tabel di atas, apakah kalian mendapatkan
rumus sebagai berikut?
Banyak diagonal bidang alas prisma segi n=
( )
3
2
n n -
;
banyak bidang diagonal prisma segi n =
( )
3
2
n n -
;
banyak diagonal ruang prisma segi n = n(n – 3);
dengan n = banyaknya sisi suatu segi banyak.
2. Diagonal Bidang Alas, Diagonal Ruang, dan Bidang Di-
agonal pada Limas
Kalian telah memahami diagonal bidang, diagonal ruang, dan
bidang diagonal pada prisma. Sekarang kalian akan mempelajari
tiga unsur tersebut pada limas. Perhatikan Gambar 9.9.
Gambar 9.9 menunjukkan limas T.ABCDE dengan alas
berbentuk segi lima beraturan. Diagonal bidang alasnya adalah
AC, AD , BD, BE , dan CE , sedangkan bidang diagonalnya
adalah TAC, TAD, TBD, TBE, dan TCE. Apakah pada bangun
tersebut terdapat diagonal ruang? Mengapa demikian?
Prisma Segi n Diagonal Bidang Bidang Diagonal Diagonal Ruang
n = 3 ... ... ...
n = 4 ... ... ...
n = 5 ... ... ...
n = p ... ... ...
(Berpikir kritis)
Bentuklah kelompok
yang terdiri atas 4
orang, 2 pria dan 2
wanita. Diskusikan
hal berikut.
Apakah setiap limas
tegak beraturan segi
n, untuk n ± 4 pasti
memiliki diagonal
bidang alas, diagonal
ruang, dan bidang
diagonal?
T
D
B
C
A
E
Gambar 9.9
229
Bangun Ruang Sisi Datar Limas dan
Prisma Tegak
3. Banyak Sisi, Rusuk, dan T itik Sudut Prisma Tegak dan
Limas Beraturan
a. Prisma Tegak Beraturan
Perhatikan Gambar 9.10.
Gambar 9.10 menunjukkan bangun prisma tegak segi empat
PQRS.TUVW. Prisma PQRS.TUVW mempunyai dua
sisi (alas dan atas) yang sejajar dan kongruen, yaitu PQRS
dan TUVW. Selain itu, prisma PQRS.TUVW memiliki
empat sisi tegak yang kongruen, yaitu PQUT, SRVW,
QRVU, dan PSWT. Rusuk-rusuk sisi alasnya adalah PQ,
SR , PS, dan
QR
. Coba kalian sebutkan rusuk-rusuk sisi
atasnya. Rusuk-rusuk tegak pada prisma tersebut adalah
PT , QU , RV, dan SW. Titik-titik sudut prisma tersebut
ada 8, yaitu P, Q, R, S, T, U, V, dan W.
b. Limas Beraturan
Perhatikan Gambar 9.11. Gambar 9.11 menunjukkan
bangun limas segi empat beraturan T.ABCD. Limas
tersebut memiliki empat rusuk tegak, yaitu TA,
TB
,
TC
,
dan TD yang sama panjang. Rusuk-rusuk alasnya adalah
AB,
BC
,
CD
, dan AD . Rusuk-rusuk alas tersebut sama
panjang, karena alasnya berbentuk segi empat beraturan.
Bidang ABCD adalah alas limas T.ABCD. Limas T.ABCD
memiliki empat sisi tegak yang sama dan sebangun, yaitu
TAB, TBC, TAD, dan TCD. Titik-titik sudut limas T.ABCD
ada lima, coba kalian sebutkan. Apakah titik T merupakan
titik puncak limas T.ABCD?
P Q
R
S
T
U
V
W
Gambar 9.10
Secara umum dapat
dirumuskan bahwa
banyak sisi pada
limas segi n adalah
(n + 1) buah, sedang-
kan pada prisma segi
n adalah (n + 2) buah,
dengan n = banyak
sisi suatu segi
banyak.
A
B
C
D
T
Gambar 9.11
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Gambar di samping
menunjukkan prisma
segi empat ABCD.
EFGH.
a. Tentukan bidang alas dan bidang
atasnya. Apakah kedua bidang itu
kongruen? Buktikan.
b. Tentukan rusuk-rusuk tegaknya.
Apakah semua rusuk tegaknya sama
panjang?
c. Ada berapa titik sudutnya? Se-
butkan.
d. Tentukan tinggi prisma.
A B
D C
E
F
H
G
230
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
2. Gambar di samping
menunjukkan limas
segitiga beraturan
T.ABC.
a. Tentukan titik-titik sudut bidang alas
dan titik puncak limas.
b. Sebutkan bidang atau sisi tegak limas
tersebut. Berbentuk apakah masing-
masing bidang itu? Apakah semua sisi
tegaknya kongruen?
c. Sebutkan rusuk-rusuk alas limas.
d. Adakah diagonal bidang, diagonal
ruang, dan bidang diagonalnya?
3. Tentukan banyaknya diagonal bidang, di-
agonal ruang, dan bidang diagonal pada
bangun ruang berikut.
a. Prisma segi lima.
b. Prisma segi delapan.
A
B
T
C
c. Prisma segi sepuluh.
d. Limas segi lima beraturan.
e. Limas segi enam beraturan.
4. Perhatikan gambar
kubus ABCD.EFGH
di samping. Melalui
titik-titik sudutnya
ditarik garis diagonal
ruang, sehingga
terbentuk limas.
a. Berapa limas yang terbentuk dalam
kubus tersebut? Sebutkan.
b. Apakah limas-limas itu kongruen?
c. Berbentuk apakah alas setiap limas
itu?
d. Jika panjang rusuk kubus 8 cm,
tentukan tinggi limas.
5. Lukis limas segi lima beraturan
T.ABCDE. Dari gambar yang telah
kalian lukis, sebutkan
a. rusuk-rusuk yang sama panjang;
b. sisi-sisi yang sama dan sebangun;
c. jumlah diagonal sisi alasnya;
d. jumlah bidang diagonalnya.
A
B
C
D
T
E
F
G
H
C. JARING-JARING PRISMA DAN LIMAS
1. Jaring-Jaring Prisma
Buatlah bangun prisma seperti pada Gambar 9.12 dari kertas
karton. Guntinglah sepanjang rusuk-rusuk LO, OP , ON ,
KL
,
dan LM. Jika cara mengguntingmu tepat, kalian akan mendapatkan
bentuk seperti Gambar 9.13. Bentuk seperti itu disebut jaring-jaring
prisma.
P
N
O
K M
L
Gambar 9.12
P N
O
K M
L
O
L
O
L
Gambar 9.13
(Menumbuhkan
kreativitas)
Gambarlah j aring-ja-
ring prisma dan limas
yang lain, selain yang
telah kalian pelajari.
231
Bangun Ruang Sisi Datar Limas dan
Prisma Tegak
2. Jaring-Jaring Limas
Seperti halnya pada prisma, kalian juga dapat membuat jaring-
jaring limas. Buat bangun limas seperti Gambar 9.14 (a) dari kertas
karton. Guntinglah sepanjang rusuk TA, TB , TC , dan TD .
Kalian akan memperoleh bentuk seperti Gambar 9.14 (b). Bentuk
itulah yang disebut jaring-jaring limas.
Jadi, jaring-jaring prisma atau limas akan kalian dapatkan jika
kalian membuka atau membentangkan prisma atau limas tersebut.
3. Melukis Prisma Tegak dan Li mas Beraturan
Untuk melukis prisma tegak, perhatikan langkah-langkah
berikut.
(a) Lukis bidang alas prisma terlebih dahulu.
Jika bidang alasnya berbentuk segi n beraturan maka perhatikan
besar setiap sudut pusatnya. Selanjutnya, lukislah segi n
beraturan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
(i) Lukis suatu lingkaran yang berpusat di titik O dan jari-jari
r.
(ii) Bagi sudut pusat menjadi n bagian yang sama besar.
(iii) Lukis jari-jari lingkaran yang membatasi sudut pusat.
(iv) Hubungkan tali-tali busurnya, sehingga menghasilkan segi
n beraturan yang diminta.
(b) Lukis rusuk tegak prisma, tegak lurus bidang alas dan sama
panjang.
(c) Hubungkan rusuk atasnya, sehingga membentuk bidang atas
prisma, yang sejajar dan kongruen dengan bidang alas.
Cara melukis limas beraturan sama dengan cara melukis
prisma tegak beraturan, hanya perbedaannya terletak pada rusuk
tegaknya. Untuk melukis rusuk tegak limas, lukis terlebih dahulu
tinggi limas yang tegak lurus bidang alas dan berujung pada titik
puncak limas. Kemudian lukis rusuk tegaknya dengan menghubung-
kan titik sudut bidang alas dengan titik puncak limas.
A
B
C
D
T
(a)
Gambar 9.14
(Menumbuhkan
kreativitas)
Gambarlah prisma
tegak segi enam
ABCDEF.GHIJKL.
Gambar pula jaring-
jaring prisma
tersebut.
O
(a)
7
2
o
(b)
Prisma tegak segi lima
(c)
E
B
A
C
D
J
G
F
H
I
Gambar 9.15
T
(b)
T T
A
B
C D
T
232
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Gambar 9.15 dan 9.16 menunjukkan langkah-langkah melukis
prisma tegak segi lima dan limas segi lima beraturan.
Besar satu sudut pusat segi lima beraturan =
o
360
5
= 72
o
.
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
Limas segi lima beraturan
(a)
O
(b)
E
B
A
C
D
T
O
Gambar 9.16
Besar sudut segi banyak beraturan sebagai berikut.
Besar satu sudut segi banyak beraturan adalah
( ) - 1 ×180° n
n
Besar satu sudut pusat se gi banyak beraturan adalah
1
×360°
n
,
dengan n = banyak segi.
1. Buatlah prisma segitiga KLM.NOP dari
kertas karton. Jika kalian gunting sepan-
jang rusuk KN , KL , LM, OP , dan
NO maka akan kalian dapatkan sebuah
jaring-jaring prisma. Gambarlah jaring-
jaring prisma tersebut.
2. Gambarlah limas segi enam beraturan
beserta jaring-jaringnya.
3. Gambarlah prisma tegak ABCD.EFGH
dengan alas berbentuk jajargenjang,
panjang AB = 6 cm, AD = 3 cm, besar
ZA = 30
o
, dan tinggi = 4 cm. Kemudian
gambarlah jaring-jaring prisma tersebut.
4. Gambarlah prisma segi enam beraturan
beserta jaring-jaringnya.
5. Kerucut dapat dipandang sebagai limas
segi banyak beraturan. Dapatkah kalian
menentukan bidang diagonal, diagonal
ruang, dan jaring-jaringnya?
D. LUAS PERMUKAAN PRISMA DAN LIMAS
Luas permukaan bangun ruang adalah jumlah luas seluruh
permukaan bangun ruang tersebut. Untuk menentukan luas
permukaan bangun ruang, perhatikan bentuk dan banyak sisi bangun
ruang tersebut.
Pada bab sebelumnya, kalian telah mempelajari cara menen-
tukan luas permukaan kubus dan balok. Pada bagian ini kita akan
membahas bagaimana cara menemukan rumus dan menghitung
luas permukaan bangun ruang prisma dan limas.
233
Bangun Ruang Sisi Datar Limas dan
Prisma Tegak
1. Luas Permukaan Prisma
Gambar 9.17 (a) menunjukkan prisma tegak segitiga
ABC.DEF, sedangkan Gambar 9.17 (b) menunjukkan jaring-jaring
prisma tersebut. Kalian dapat menemukan rumus luas permukaan
prisma dari jaring-jaring prisma tersebut.
Luas permukaan prisma
= luas A DEF + luas A ABC + luas BADE + luas ACFD + luas
CBEF
= (2 × luas A ABC) + (AB × BE) + (AC × AD) + (CB × CF)
= (2 × luas A ABC) + [(AB + AC + CB) × AD]
= (2 × luas alas) + (keliling A ABC × tinggi)
= (2 × luas alas) + (keliling alas × tinggi)
Dengan demikian, secara umum rumus luas permukaan prisma
sebagai berikut.
Luas permukaan prisma = (2 × luas alas) + (keliling alas ×
tinggi)
(a)
D F
A
B
C
E
E
(b)
D
F
A
B
C B B
E
E
Gambar 9.17
Suatu prisma alasnya ber-
bentuk segitiga siku-siku
dengan panjang sisi 6 cm,
8 cm, dan 10 cm, serta
tinggi prisma 12 cm. Tanpa
menggambar terlebih
dahulu, tentukan luas
permukaan prisma.
Penyelesaian:
Luas permukaan prisma
= (2 × luas alas) + (keliling alas × tinggi)
=
( )
1
2 6 8 6 8 10 12
2
¸ ¸
× × × - - - × (
(
¸ ¸
¸ ,
= 48 + 288 = 336 cm
2
.
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Hitunglah luas permukaan dari masing-
masing prisma berikut.
(a)
(b)
22 cm
1
6
c
m
2
4
c
m
1
2

c
m
1
6

c
m
5

c
m
234
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
(c)
35 cm
12 cm
1
8
c
m
(d)
15 cm
6
c
m
8 cm
2. Sebuah prisma alasnya berbentuk segi-
tiga siku-siku dengan sisi miring 26 cm
dan salah satu sisi siku-sikunya 10 cm.
Jika luas permukaan prisma 960 cm
2
,
tentukan tinggi prisma.
3. Alas sebuah prisma berbentuk belah ke-
tupat dengan panjang diagonal masing-
masing 12 cm dan 16 cm. Jika tinggi
prisma 18 cm, hitunglah
a. panjang sisi belah ketupat;
b. luas alas prisma;
c. luas permukaan prisma.
4. Sebuah prisma alasnya berbentuk per-
segi panjang dengan luas alas 24 cm
2
.
Jika lebar persegi panjang 4 cm dan tinggi
prisma 10 cm, hitunglah luas permukaan
prisma.
5. Sebuah prisma memiliki alas berbentuk
trapesium sama kaki dengan panjang sisi-
sisi sejajarnya 8 cm dan 14 cm serta
panjang kaki trapesium 10 cm. Jika tinggi
prisma 4 cm, hitunglah luas permukaan
prisma.
2. Luas Permukaan Limas
Perhatikan Gambar 9.18. Gambar 9.18 (a) menunjukkan limas
segi empat T.ABCD dengan alas berbentuk persegi panjang.
Adapun Gambar 9.18 (b) menunjukkan jaring-jaring limas segi
empat tersebut.
Seperti menentukan luas permukaan prisma, kalian dapat me-
nentukan luas permukaan limas dengan mencari luas jaring-jaring
limas tersebut.
Luas permukaan limas
= luas persegi ABCD + luas A TAB + luas A TBC + luas
A TCD + luas A TAD
= luas alas + jumlah luas seluruh sisi tegak
Jadi, secara umum rumus luas permukaan limas sebagai
berikut.
Luas permukaan limas = luas alas + jumlah luas seluruh sisi
tegak
T
(b)
T T
T
A B
C
D
Gambar 9.18
A
B
C
D
T
(a)
235
Bangun Ruang Sisi Datar Limas dan
Prisma Tegak
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
Diketahui alas sebuah
limas T.ABCD berbentuk
persegi dengan panjang
rusuk 10 cm dan tinggi
limas 12 cm. Hitunglah
luas permukaan limas.
Penyelesaian:
Luas alas limas = luas persegi ABCD
= 10 × 10
= 100 cm
2
Panjang EF =
1
2
AB =
1
10 5 cm
2
× ·
.
Perhatikan bahwa A TEF siku-siku. Karena A TEF siku-
siku maka berlaku teorema Pythagoras, sehingga
TF
2
= TE
2
+ EF
2
= 12
2
+ 5
2
= 144 + 25
= 169
TF =
169
= 13 cm
Luas A TAB = luas A TBC = luas A TCD = luas A TAD
Luas A TBC =
1
BC TF
2
× ×
=
2
1
10 13 65 cm
2
× × ·
Luas permukaan limas
= luas persegi ABCD + (4 × luas A TAB)
= 100 + (4 × 65) cm
2
= 360 cm
2
1. Alas sebuah limas berbentuk persegi de-
ngan panjang sisinya 12 cm. Jika tinggi
segitiga pada sisi tegak 10 cm, hitunglah
a. tinggi limas;
b. luas permukaan limas.
2. Suatu limas segi empat beraturan sisi
tegaknya terdiri atas empat segitiga sa-
ma kaki yang kongruen. Diketahui luas
salah satu segitiga itu 135 cm
2
dan tinggi
segitiga dari puncak limas 15 cm. Hi-
tunglah luas permukaan limas.
T
C
F
B
A
E
D
Gambar 9.19
236
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
3. Suatu limas T.ABC,
alas dan salah satu
sisi tegaknya berben-
tuk segitiga siku-siku
seperti gambar di
samping. Tentukan
luas permukaan
limas tersebut.
4. Alas sebuah limas segi empat beraturan
berbentuk persegi. Jika tinggi segitiga 17
cm dan tinggi limas 15 cm, tentukan luas
permukaan limas.
5.
Sebuah bangun terdiri atas prisma dan
limas seperti pada gambar di atas. Jika
semua rusuk bangun tersebut masing-
masing panjangnya 8 cm, hitunglah luas
permukaan bangun tersebut.
6

c
m
8

c
m
8
c
m
A
B
C
T
8 cm
8 cm
8 cm
8 cm
E. VOLUME PRISMA DAN LIMAS
Pada bagian depan telah kalian pelajari mengenai luas per-
mukaan prisma dan limas. Selanjutnya, kalian akan mempelajari
tentang volume bangun ruang prisma dan limas.
1. Volume Prisma
Perhatikan Gambar 9.20 (a). Gambar tersebut menunjukkan
sebuah balok ABCD.EFGH. Kalian telah mengetahui bahwa balok
merupakan salah satu contoh prisma tegak. Kalian dapat
menemukan rumus volume prisma dengan cara membagi balok
ABCD. EFGH tersebut menjadi dua prisma yang ukurannya sama.
Jika balok ABCD.EFGH dipotong menurut bidang BDHF maka
akan diperoleh dua prisma segitiga yang kongruen seperti Gambar
9.20 (b) dan 9.20 (c).
Volume prisma ABD.EFH
=
1
2
×
volume balok ABCD.EFGH
(c)
H
F
G
A
B
C
D
E
(a)
H
G
F
D C
B
H
E F
A
D
B
(b)
Gambar 9.20
(Menumbuhkan
kreativitas)
Amatilah benda-
benda di lingkungan
sekitarmu. Sediakan
benda-benda yang
berbentuk prisma dan
limas, masing-
masing 3 buah.
Ukurlah panjang sisi
dan t inggi t iap benda
tersebut. Kemudian,
hitunglah luas permu-
kaan dan volumenya.
Tulislah hasilnya
dalam bentuk laporan
dan kumpulkan kepa-
da gurumu.
237
Bangun Ruang Sisi Datar Limas dan
Prisma Tegak
=
1
2
×
(AB × BC × FB)
=
1
2
×
luas ABCD × FB
= luas A ABD × tinggi
= luas alas × tinggi
Sekarang perhatikan Gambar 9.21. Gambar tersebut
menunjukkan prisma segi enam beraturan ABCDEF.GHIJKL.
Prisma tersebut dibagi menjadi 6 buah prisma yang sama dan
sebangun. Perhatikan prisma segitiga BCN.HIM. Prisma segi
enam beraturan ABCDEF.GHIJKL terdiri atas 6 buah prisma
BCN.HIM yang kongruen.
Dengan demikian volume prisma segi enam ABCDEF.GHIJKL
= 6 × volume prisma segitiga BCN.HIM
= 6 × luas A BCN × CI
= 6 × luas alas × tinggi
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk setiap
prisma berlaku rumus berikut.
Volume prisma = luas alas × tinggi
2. Volume Limas
Untuk menemukan volume limas, perhatikan Gambar
9.22 (a). Gambar 9.22 (a) menunjukkan kubus yang panjang
rusuknya 2a. Keempat diagonal ruangnya berpotongan di satu titik,
yaitu titik T, sehingga terbentuk enam buah limas yang kongruen
seperti Gambar 9.22 (b). Jika volume limas masing-masing adalah
V maka diperoleh hubungan berikut.
Volume limas =
1
volume kubus
6
×
=
1
6
× 2a × 2a × 2a
=
1
6
× (2a)
2
× 2a
=
1
3
× (2a)
2
× a =
1
3
× luas alas × tinggi
Jadi, dapat disimpulkan untuk setiap limas berlaku rumus berikut.
Volume limas =
1
3
× luas alas × tinggi
(Menumbuhkan
kreativitas)
Lihatlah prisma tegak
segi enam
ABCDEF.GHIJKL pada
Gambar 9.21.
Gambarlah j aring-ja-
ring prisma tersebut.
H
G J
K
C
L
I
E
A D
B
M
F
N
Gambar 9.21
2a
2a
2a
a
T
a
T
(b)
2a
2a
(a)
Gambar 9.22
238
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Sebuah prisma alasnya
berbentuk persegi panjang
dengan ukuran panjang
14 cm dan lebar 8 cm. Jika
tinggi prisma 16 cm,
hitunglah volume prisma.
Penyelesaian:
Luas alas = luas persegi panjang
= 14 × 8 × 1 cm
2
= 112 cm
2
Volume prisma = luas alas × tinggi
= 112 cm
2
× 16 cm = 1.792 cm
3
Jadi, volume prisma adalah 1.792 cm
3
.
3. Menentukan Volume Prisma Tegak dan Limas
Beraturan Jika Ukuran Rusuknya Berubah
Kalian telah mempelajari cara menentukan volume prisma
dan limas. Bagaimana jika panjang rusuk-rusuknya berubah?
Apakah volumenya juga ikut berubah? Untuk lebih jelasnya, pelajari
uraian berikut.
Perhatikan Gambar 9.23. Gambar tersebut menunjukkan tiga
buah prisma tegak segi empat beraturan dengan ukuran rusuk yang
berlainan. Dari gambar tersebut diperoleh
a) volume prisma (i) = luas alas × tinggi
= 2
2
× 3
= 12 cm
3
b) volume prisma (ii) = 4
2
× 6
= 96 cm
3
c) volume prisma (iii) = 6
2
× 9
= 324 cm
3
Sekarang bandingkan panjang rusuk alas prisma (i), (ii), dan
(iii). Kalian akan memperoleh
(i) panjang rusuk prisma (ii) = 2 × panjang rusuk prisma (i)
2 cm
3

c
m
4 cm 6 cm
6

c
m
9

c
m
(i) (ii) (iii)
Gambar 9.23
(Menumbuhkan
inovasi)
Diskusikan dengan
temanmu.
Ada dua prisma segi-
tiga siku-siku, yaitu
prisma A d an prisma
B. Tinggi kedua
prisma sama panjang.
Jika panjang sisi siku-
siku t erpendek prisma
A sama dengan tiga
kali panjang sisi siku-
siku t erpendek prisma
B, dan sisi siku-siku
yang l ain sama
panjang maka tentu-
kan perbandingan
volume prisma A dan
prisma B.
239
Bangun Ruang Sisi Datar Limas dan
Prisma Tegak
volume prisma (ii) = 2
3
× 12 cm
3
= 96 cm
3
= 2
3
× volume prisma (i)
(ii) panjang rusuk prisma (iii) = 3 × panjang rusuk prisma (i)
volume prisma (iii) = 3
3
× 12 cm
3
= 324 cm
3
= 3
3
× volume prisma (i)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut.
Jika panjang rusuk alas suatu prisma segi empat beraturan =
s, tinggi = t, dan volume = V, kemudian panjang rusuk alas dan
tingginya diperbesar atau diperkecil k kali maka
V
baru
3 2
3
3
luas alas
ks ks kt
k s t
k t
k V
· × ×
· × ×
· × ×
·
dengan
V
baru
= volume prisma segi empat beraturan setelah diperbesar
atau diperkecil
V = volume prisma segi empat beraturan semula
k = konstanta positif (perbesaran atau perkecilan)
Dengan cara yang sama, kalian dapat menentukan volume
limas beraturan jika ukuran rusuknya diubah.
Suatu limas segi empat beraturan memiliki panjang rusuk alas
= s dan tinggi = t. Kemudian ukuran limas diubah menjadi panjang
rusuk alas = ks dan tinggi = kt, dengan k konstanta.
Kalian akan memperoleh
• V =
1
3
× luas alas × tinggi
V =
1
3
× s
2
× t
• V
baru
=
1
3
× (ks)
2
× (kt)
= k
3
×
1
3
× s
2
× t
= k
3
V
Kalian dapat mencoba pada limas yang lain dengan syarat
alasnya harus beraturan. Kalian akan menyimpulkan bahwa
V
baru
= k
3
V.
(Menumbuhkan
inovasi)
Buatlah kelompok
terdiri atas 4 orang, 2
pria dan 2 wanita.
Diskusikan hal berikut.
Cobalah kasus di
samping pada prisma
segitiga beraturan,
prisma segilima
beraturan, dan prisma
segi enam beraturan.
Apakah kalian juga
menyimpulkan bahwa
volume prisma yang
baru = k
3
× volume
prisma semula, de-
ngan k = perbesaran/
perkecilan?
240
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
dengan
V
baru
= volume limas setelah panjang rusuk dan tingginya diubah
V = volume limas semula
k = konstanta positif (perbesaran atau perkecilan)
a. Sebuah prisma tegak
segi empat beraturan
panjang rusuk alasnya
9 cm dan tinggi 6 cm.
Kemudian rusuk dan
tingginya diperkecil se-
besar
1
3
kali panjang
rusuk dan tinggi semu-
la. Berapa volume
prisma itu sekarang?
Penyelesaian:
a. V = luas alas × t
= 9
2
× 6 = 486 cm
3
k =
1
3
V
baru
= k
3
× V
=
3
1
3
¸ ¸
(
¸ ,
× 486 cm
3
= 18 cm
3
Jadi, volume prisma setelah diperkecil adalah 18 cm
3
.
b. Sebuah limas alasnya
berbentuk segitiga siku-
siku dengan panjang
sisi siku-sikunya 6 cm
dan 8 cm, serta tinggi
12 cm.Kemudian,
panjang sisi alas
maupun tinggi limas
diperbesar dengan
faktor perbesaran 2.
Hitunglah volume limas
itu sekarang.
b. V
3
luas alas tinggi
1
= alassegitiga tinggi segitiga
2
1
6 8 12
2
24 12 288 cm
· ×
¸ ¸
× × ×
(
¸ ,
¸ ¸
· × × ×
(
¸ ,
· × ·
t
k = 2
V
baru
3
3
3
2 288
2.304 cm
k V ·
· ×
·
Kerjakan soal-soal berikut di buku tugasmu.
1. Sebuah prisma tegak memiliki volume
432 cm
3
. Alas prisma tersebut berbentuk
segitiga siku-siku yang panjang sisi siku-
sikunya 6 cm dan 8 cm. Hitung tinggi
prisma tersebut.
2. Gambar di samping
merupakan prisma
segi enam beraturan.
Hitunglah
a. luas alas prisma;
b. volume prisma.
8 cm
1
2

c
m
8

c
m
241
Bangun Ruang Sisi Datar Limas dan
Prisma Tegak
3. Sebuah lapangan berbentuk persegi
panjang dengan ukuran panjang 70 m dan
lebar 65 m. Lapangan tersebut digenangi
air setinggi 30 cm. Berapa liter air yang
menggenangi lapangan itu?
(1 liter = 1 dm
3
).
4. Sebuah limas T.ABCD alasnya berben-
tuk trapesium dengan AB // CD. Panjang
AB = 6 cm, CD = 8 cm, dan tinggi tra-
pesium 4 cm. Jika tinggi prisma 15 cm,
hitunglah
a. luas alas limas;
b. volume limas.
5. Perhatikan gambar di bawah ini.
Hitunglah
a. tinggi limas;
b. luas permukaan limas;
c. luas bidang diagonal TLN;
d. volume limas.
6 cm
4

c
m
T
M
L K
N
1
3

c
m
1. Nama prisma dan limas didasarkan pada bentuk bidang
alasnya.
2. Luas sisi prisma = (2 × luas alas) + (keliling alas × tinggi).
3. Luas sisi limas = luas alas + jumlah luas seluruh sisi tegak.
4. Volume prisma = luas alas × tinggi.
5. Volume limas =
1
3
× luas alas × tinggi
Setelah mempelajari bab ini, apakah kalian sudah paham
mengenai Bangun Ruang Sisi Datar Limas dan Prisma T egak?
Jika kalian sudah paham, coba rangkum kembali materi ini dengan
kata-katamu sendiri. Jika ada materi yang belum kamu pahami,
catat dan tanyakan kepada temanmu yang lebih tahu atau kepada
gurumu. Catat pula manfaat apa saja yang dapat kalian peroleh
dari materi ini. Buatlah dalam sebuah laporan dan serahkan kepada
gurumu.
242
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Kerjakan di buku tugasmu.
A. Pilihlah salah satu jawaban yang tepat.
1. Banyaknya titik sudut pada prisma
segitiga adalah ....
a. 6 buah c. 10 buah
b. 8 buah d. 12 buah
2. Banyaknya rusuk alas pada limas segi
empat adalah ....
a. 3 buah c. 7 buah
b. 4 buah d. 8 buah
3.
Perhatikan gambar prisma segi lima
beraturan di atas.
Pernyataan di bawah ini benar,
kecuali ....
a. rusuk-rusuk tegaknya adalah KP,
LQ, MR, NS, dan OT
b. bidang KLMNO kongruen dengan
bidang PQRST
c. bidang KMRP dan KNSP merupa-
kan bidang diagonal
d. diagonal bidang alasnya ada 4 buah
4. Gambar di samping
merupakan jaring-
jaring ....
a. limas segi lima beraturan
b. limas segi enam beraturan
c. prisma segi lima beraturan
d. prisma segi enam beraturan
5. Suatu prisma alasnya berbentuk segi-
tiga dengan panjang sisi 3 cm, 4 cm,
dan 5 cm. Jika tinggi prisma 15 cm,
volume prisma adalah ....
a. 90 cm
3
c. 250 cm
3
b. 200 cm
3
d. 300 cm
3
6. Diketahui luas permukaan prisma
tegak segi empat beraturan 864 cm
2
dan tinggi prisma 12 cm. Panjang sisi
alas prisma adalah ....
a. 8 cm c. 12 cm
b. 10 cm d. 14 cm
7. Diketahui suatu limas dengan alas ber-
bentuk persegi. Luas alas limas
144 cm
2
dan tinggi limas 8 cm. Luas
permukaan limas adalah ....
a. 204 cm
2
c. 484 cm
2
b. 384 cm
2
d. 1.152 cm
2
8. Diketahui volume suatu prisma
450 cm
3
. Alas prisma berbentuk
segitiga siku-siku dengan panjang sisi
5 cm, 13 cm, dan 12 cm. Tinggi prisma
adalah ....
a. 12 cm c. 14 cm
2
b. 13 cm d. 15 cm
9. Jika suatu limas luas alasnya 240 cm
2
dan tinggi 30 cm maka volume limas
adalah ....
a. 2.400 cm
3
c. 4840 cm
3
b. 4.400 cm
3
d. 7.200 cm
3
10. Suatu limas memiliki alas berbentuk
persegi panjang dengan ukuran
25 cm × 15 cm. Jika tinggi limas
7 cm, volume limas adalah ....
a. 262,5 cm
3
c. 870 cm
2
b. 484 cm
3
d. 875 cm
3
K L
M
O
N
P Q
R T
S
243
Bangun Ruang Sisi Datar Limas dan
Prisma Tegak
11. Diketahui prisma
tegak segitiga
ABC.DEF dengan
AB = 15 dm, BC =
12 dm, dan AC =
9 dm. Jika tinggi
prisma itu 2 dm,
volumenya adalah
....
a. 108 liter c. 540 liter
b. 216 liter d. 1.080 liter
12. Pada prisma tegak segi empat
ABCD.EFGH, sisi alas ABCD berupa
trapesium sama kaki dengan AB//CD,
AB = 10 cm, CD = 4 cm, dan AD =
5 cm. Jika luas semua sisi tegaknya
216 cm
2
maka volume prisma itu
adalah ....
a. 252 cm
3
c. 560 cm
3
b. 320 cm
3
d. 600 cm
3
13. Diketahui limas segi empat beraturan
T.ABCD, dengan AB = 8 cm dan luas
bidang TAB = 24 cm
2
. Volume limas
itu adalah ....
a. 94,3 cm
3
c. 95,4 cm
3
b. 94,5 cm
3
d. 96 cm
3
14. Alas sebuah prisma berbentuk belah
ketupat, dengan salah satu panjang
diagonalnya adalah 10 cm dan panjang
semua sisi tegaknya adalah 12 cm. Jika
volume prisma itu 600 cm
3
, luas sisi
prisma itu adalah ....
a. ( )
64 5 2 -
cm
2
b. ( )
72 15 2 -
cm
2
c. ( )
96 32 2 -
cm
2
d. ( )
100 240 2 -
cm
2
15. Sebuah prisma tegak segitiga luas
bidang alasnya 24 cm
2
dan luas bidang
sisi-sisinya adalah 150 cm
2
, 120 cm
2
,
dan 90 cm
2
. Volume prisma itu adalah
....
a. 90 cm
3
c. 220 cm
3
b. 120 cm
3
d. 360 cm
3
A B
C
D
E
F
B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan singkat dan tepat.
1. Gambarlah prisma segi enam
beraturan ABCDEF.GHIJKL.
Tentukan
a. rusuk-rusuk tegaknya;
b. semua diagonal bidang alas;
c. semua diagonal ruangnya.
2. Limas segi empat beraturan mem-
punyai luas alas 256 cm
2
. Jika tinggi
limas 6 cm, tentukan luas permukaan
limas tersebut.
3. Diketahui alas sebuah prisma berben-
tuk segitiga siku-siku dengan panjang
sisi siku-sikunya 8 cm dan 6 cm. Jika
tinggi prisma 18 cm, tentukan luas
permukaan prisma.
4. Suatu kolam renang mempunyai
ukuran panjang 40 m dan lebar 15 m.
Kedalaman air pada ujung yang pa-
ling dangkal 1,3 m dan ujung yang pa-
ling dalam 2,7 m. Berapa liter volume
air dalam kolam renang tersebut?
5. Suatu limas segi
lima beraturan
T.ABCDE tampak
seperti gambar di
samping.
Panjang AB =
16 cm, OA =
10 cm, dan tinggi
limas 20 cm.
Hitunglah
a. luas alas limas;
b. volume limas.
T
A
B
O
E
D
C
244
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
DAFTAR PUSTAKA
Baisuni, H.M. Hasyim. 1986. Kalkulus. Jakarta: Universitas Indonesia.
Friedberg, Stephen H, Arnold J. Insel, Lawrence E. Spence. 1997. Linear
Algebra Third Edition. Prentice-Hall International, Inc.
Hyatt, Herman R, Irving Drooyam, Charles C. Carico. 1979. Introduction
to Technical Mathematics A Calculator Appr oach. New York:
John Wiley & Sons.
Keedy, Mervin L, Marvin L. Bittinger. 1986. A Problem Solving Approach
to Intermediate Algebra Second Edition . Addison – Wesley Pub-
lishing Company.
Kerami, Djati dan Cormentyna Sitanggang. 2002. Kamus Matematika.
Jakarta: Balai Pustaka.
Lafferty, Peter. 2001. Jendela Iptek. Jakarta: Balai Pustaka.
Lipschutz, Seymour, Ph.D, Marc Lars Lipson Ph.D. Alih Bahasa Refina
Indriasari, S.T., M.Sc. 2006. Aljabar Linear Edisi Ketiga. Jakarta:
Erlangga.
Munir, Rinaldi, Ir. 2001. Matematika Diskrit. Bandung: CV. Informatika.
Negoro, ST. dan B. Harahap. 1999. Ensiklopedia Matemati ka. Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Rich, Barnett Alih Bahasa Irzam Harmein S.T. 2005. Geometri. Jakarta:
Erlangga.
Saleh, Samsubar. 2001. Statistik Induktif. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Spiegeel, M.R. 1990. Theory and Problem of College Algebra. McGraw-
Hill Publishing Company.
Supranto, J, M.A. 2000. Statistik: Teori dan Aplikasi . Jakarta: Erlangga.
Tim Penyusun. 2002. Ilmu Pengetahuan Populer . Grolier International,
Inc.
Tjahjono, Gunawan. 2002. Indonesian Heritage. Grolier International, Inc.
Wahyudin, DR. dan Drs. Sudrajat M.Pd. 2003. Ensiklopedi Matematika
dan Peradaban Manusia . Jakarta: CV. Tarity Samudra Berlian.
––––––––––––. 2003. Ensiklopedi Matematika untuk SL TP. Jakarta:
CV. Tarity Samudra Berlian.
245
Glosarium
absis : nilai x pada pasangan bilangan koordinat Cartesius
(x, y). Nilai x terletak pada sumbu X suatu bidang
koordinat Cartesius, 61, 71
bidang diagonal : bidang yang dibatasi oleh dua rusuk dan dua di-
agonal bidang suatu bangun ruang, 205, 206, 227
busur : garis lengkung yang merupakan bagian dari suatu
keliling lingkaran, 139, 140, 149, 154, 155, 156, 157
diagonal ruang : ruas garis yang menghubungkan dua titik sudut
yang berhadapan dalam suatu ruang, 130, 131, 132
diagonal sisi : ruas garis yang menghubungkan dua titik sudut
(bidang) yang berhadapan pada setiap bidang atau sisi, 130,
132, 205, 206, 227, 228
domain : anggota daerah asal pada suatu pemetaan (fungsi),
38, 39
eliminasi : suatu sistem untuk menentukan himpunan
penyelesaian persamaan/pertidaksamaan atau
sistem persamaan/pertidaksamaan dengan cara
mengeliminasi salah satu variabel, 104, 105, 107
faktor : suatu bilangan yang dapat membagi habis bilangan
lain, kecuali nol, 14, 15, 16, 26
faktorisasi : menyatakan suatu bentuk penjumlahan menjadi
bentuk perkalian, 16
faktor sekutu : faktor yang sama (sekutu) dari dua bilangan atau
lebih, 14, 15, 16, 26
fungsi linear : fungsi yang dapat dinyatakan sebagai
f(x) = ax + b, 44, 45, 49, 82, 83
garis bagi : garis yang membagi sebuah sudut segitiga menjadi
dua sama besar. Garis bagi sebuah segitiga
berpotongan di satu titik, 185
garis tinggi : garis yang ditarik dari sebuah sudut dalam segitiga
yang membagi sisi di hadapannya sama panjang,
189
gradien : kecondongan atau kemiringan suatu garis lurus.
Gradien dilambangkan dengan m, di mana
'

'
y
m
x
, 65, 66, 67, 68, 69, 70, 71, 72, 73
juring : disebut juga sektor, yaitu daerah yang dibatasi oleh
dua jari-jari dan satu busur pada lingkaran, 139
GLOSARIUM
246
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
kalimat terbuka : kalimat yang belum diketahui nilai kebenarannya
(benar atau salah), 98
kodomain : anggota daerah kawan pada suatu pemetaan
(fungsi), 38, 39
kongruen : disebut juga sama dan sebangun. Dua bangun
datar dikatakan kongruen apabila bentuk kedua
bangun itu sebangun dan sama besar, 213, 224
konsentris : dua buah lingkaran yang setitik pusat (pusatnya
sama), 177
koordinat : koordinat titik yang dinyatakan dengan pasangan
Cartesius titik (x, y), di mana x absis dan y ordinat. Absis
diwakili oleh titik-titik di sumbu X dan ordinat
diwakili oleh titik-titik di sumbu Y, 33, 34, 35, 36
ordinat : nilai y pada pasangan bilangan koordinat Cartesius
(x, y). Nilai y terletak pada sumbu Y suatu bidang
koordinat Cartesius, 61, 71
pecahan bersusun : suatu pecahan yang pembilang atau penyebutnya
(kompleks) atau kedua-duanya masih memuat pecahan, 27,
28
prisma miring : prisma yang rusuk-rusuk tegaknya tidak tegak lurus
terhadap bidang alas dan bidang atas. Prisma mi-
ring disebut juga prisma condong, 224
prisma tegak : prisma yang rusuk-rusuk tegaknya tegak lurus
terhadap bidang alas dan bidang atas, 224, 225
range : disebut juga daerah hasil, yaitu anggota dari daerah
kawan yang mempunyai kawan di daerah asal
suatu pemetaan (fungsi), 38, 39
segitiga l ancip : segitiga yang salah satu sudutnya adalah sudut
lancip, 124, 125
segitiga siku-siku : segitiga yang salah satu sudutnya adalah sudut siku-
siku, 118, 119, 120, 121, 122, 123, 124, 125, 126
segitiga tumpul : segitiga yang salah satu sudutnya adalah sudut
tumpul, 124, 125
substitusi : penggantian suatu variabel dengan nilai tertentu
untuk memperoleh penyelesaian suatu persamaan
atau pertidaksamaan, 38, 39, 77, 81, 87, 88, 106
sudut keliling : sudut yang titik sudutnya terletak pada lingkaran,
153, 154, 155, 156, 157, 159
sudut pusat : sudut yang titik sudutnya berupa titik pusat
lingkaran dan kaki-kakinya adalah jari-jari lingkaran
itu, 153, 154, 155, 156, 163, 164
247
Kunci
KUNCI JAWABAN SOAL TERPILIH
BAB 1
Uji Kompetensi 3
1. a. 2x + 8
c. 15x + 10y
e. –4a
3
+ 8a
2
b
g. –p
4
+ 3p
3
3. a. 2x
2
– 5x – 12
c. 10m
2
+ 18m – 4
d. 3x
3
+ 2y
3
+ 4x
2
y +
3xy
2
g. a
2
– b
2
+ a
2
b – ab
2
Uji Kompetensi 7
1. (x – 4) (x – 2)
3. (x + 4) (x + 3)
5. (a + 6) (a + 2)
7. (p – 6) (p – 2)
9. (p – 2) (p – 2)
11. (x – 3) (x – 3)
13. (a – 5) (a + 3)
15. (a + 8) (a – 3)
17. (b – 4) (b + 2)
19. (n + 4) (n – 2)
Evaluasi 1
A. 1. b 9. d
2. a 11. d
5. d 13. c
7. c 15. d
B. 1. a. 8x
2
+ xy
2
– 1
c. –5p – 13
e. 21a – 24b
3. a. (x + 8) ( x – 2)
c. (p – 4q
2
) (p + 4q
2
)
e. (7x – 2) (7x – 2)
5. a. (2x – 4) cm
b. a = 5 cm, t = 2 cm
BAB 2
Uji Kompetensi 3
1. (i) dan (iv)
3. a. {1}
d. {1, 4}
5. a, b, dan d
Uji Kompetensi 7
1. f(x) = 2x – 2
3. a. f(x) = 2x + 1
b. ( )
1
6
3
· - f x x
c. ( )
1
2
2
· - f x x
7. a. f(–1) = 5
b. x = 1
Evaluasi 2
A. 1. c 7. b
3. b 9. b
5. c
B. 1. a. {(2, 4), (4, 16),
(6, 36), (8, 64)}
c. {2, 4, 6, 8}
e. {4, 16, 36, 64}
3.
a. K L
merah
hijau
kuning
A
B
C
K L
merah
hijau
kuning
A
B
C
K L
merah
hijau
kuning
A
B
C
K L
merah
hijau
kuning
A
B
C
K L
merah
hijau
kuning
A
B
C
K L
merah
hijau
kuning
A
B
C
5. a. ( )
1
1
2
· - f x x
c. 2
BAB 3
Uji Kompetensi 4
1. a. tidak didefinisikan
c. tidak didefinisikan
e. 0
3. a.
2
3
· m
b.
4
3
· m
248
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
Uji Kompetensi 5
1. a. y = 2x + 1
c. x + 2y = 3
3. a. 5x + 4y = 7
b. 4x – 9y = 1
5. a.
1
4
2
· - y x
b. 4x – 3y + 7 = 0
Evaluasi 3
A. 1. b 7. b
3. d 9. a
5. b
B. 1. a. a = –3
b.
3
16
· b
3. a. 5x – 4y + 20 = 0
b. 6x + 5y + 30 = 0
5. a. a = 3 atau a = –4
b.
5
3
2
· ÷ · a y x
4
5
11
· - ÷
· -
a y
x
BAB 4
Uji Kompetensi 4
1. Hp = {(0, 1)}
3. Hp = {(2, 1)}
5. Hp = {(4, 8)}
7. Hp = {(7, 1)}
9. Hp = { }
Uji Kompetensi 8
1. x = ± 1 dan y = 0
3.
49 25
dan
9 9
· · x y
5. x = 1 dan y = 1
Evaluasi 4
A. 1. d 9. a
3. b 11. d
5. b 13. b
7. d 15. b
B. 1. a. Hp = {(0, –6),
(9, 0), (–3, –8),
(–2, –7,3), (–1, –6,
6), (3, –4)}
c. Hp =
{ ¦
21
8
3. a. Hp = {(2, 1)}
c. Hp =
1
5,
3
¦ ¦
¸ ¸
- -
' ` (
¸ ,
' '
e. Hp =
7
1,
3
¦ ¦
¸ ¸
-
' ` (
¸ ,
' '
5. umur ibu = 33 tahun
umur anak = 17 tahun
BAB 5
Uji Kompetensi 3
1. a. segitiga tumpul
c. segitiga siku-siku
e. segitiga siku-siku
g. segitiga siku-siku
5. a. PR = 2 5 cm
b. QR = 4 5 cm
Uji Kompetensi 5
1. a. AB =
8 3 cm
CD= 16 cm
b.
2
128 3 cm
3. a. L. ACGE = 40 cm
2
Keliling ACGE = 28 cm
b. AG = 2 29 cm
5. b. B(2, –4) dan D(7, 1)
c. BC = 5 satuan panjang
AC = 5 2 satuan
panjang
Evaluasi 5
A. 1. b 9. c
3. b 11. d
5. d 13. c
7. a 15. c
B. 1. a.
3 3 cm · x
c. x = 25,6 cm
3. 35 cm
5. b. 360,6 km
BAB 6
Uji Kompetensi 3
1. a. 1.386 cm
2
c. 7.546 cm
2
e. 38,5 m
2
3. a. 119 cm
2
c. 43 cm
2
5. Rp11.088.000,00
Uji Kompetensi 5
1.
p
CD 56 cm ·
3. a. 10,47 cm
b. 157 cm
2
5. a. K = 23,35 cm
L = 33,36 cm
2
7. 67,5
o
249
Kunci
Evaluasi 6
A. 1. c 7. d
3. c 9. b
5. c
B. 1. K = 44 cm
L = 308 cm
2
3. a. L
1
: L
2
= 1 : 4
c. K
1
: K
2
= 1 : 2
5. a. 62.800 km
c. 3.591 km
BAB 7
Uji Kompetensi 1
1. Garis k, l, dan p
5. a. 24 cm
c. 18,47
Uji Kompetensi 3
1. 100 cm
3. 438,72 cm
5. 48,84 cm
Evaluasi 7
A. 1. d 7. d
3. c 9. a
5. b
B. 1. a. 15,5 cm
b. 11 cm
3. b. 8,4 cm
5. a. 7 cm
c. 22,14 cm
BAB 8
Uji Kompetensi 3
1. 13 cm
3. 208 cm
5. a. 260 cm
b. Rp390.000,00
Uji Kompetensi 5
1. a. 96 cm
2
b. 600 cm
2
2. 9 : 25
3. 40,5 cm
Evaluasi 8
A. 1. d 9. c
3. b 11. d
5. d 13. d
7. b 15. d
B. 3. a. V
1
= 8 m
3
,
V
2
= 8.000 cm
3
b. 1.000 buah
5. a. 24.000 cm
3
b. 92 cm
BAB 9
Uji Kompetensi 3
1. a. 540 cm
2
c. 2.106 cm
2
3. a. 10 cm
c. 912 cm
2
5. 560 cm
2
Uji Kompetensi 5
1. 10 cm
3. 1.365.000 liter
5. a.
3 13 cm
b. 39 cm
2
Evaluasi 9
A. 1. d 7. b
3. c 9. b
5. c
B. 3. 480 cm
2
5. a. 240 cm
2
b. 1.600 cm
3
250
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
DAFTAR SIMBOL
Notasi Keterangan
+ Jumlah; tambah; menambah; positif, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15
– Kurang; mengurang; negatif, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 16
u
Kali; mengali, 6, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22
: Bagi; membagi; banding, 15, 25, 127, 129
( ) Kurung biasa, 4, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22
{ } Akolade; kurung kurawal; menyatakan himpunan, 32, 33, 34, 35, 36, 39,
40, 41, 42, 44
> Lebih dari, 124, 125, 147, 177, 179
< Kurang dari, 44, 124, 125, 177
d Kurang dari atau sama dengan, 46, 48, 50
= Sama dengan, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21
z
Tidak sama dengan, 20, 21, 22, 87, 96, 97, 99
a
2
a pangkat dua atau a kuadrat, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16
a
3
a pangkat tiga, 6, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 26, 43, 215, 216, 217,
238, 239
a
n
a pangkat n, 11, 43
Akar pangkat dua, 122, 127, 128, 129, 130, 131, 133
 Anggota dari; elemen dari, 96, 97
'
Segitiga, 118, 123, 151, 175, 187, 188, 190, 191, 192, 193, 194, 225, 226,
233
, Siku-siku, 139, 153, 160, 174, 175
œ Ekuivalen; jika dan hanya jika, 74, 77, 78, 79, 81, 83, 96, 97, 106, 107
o
Derajat, 123, 126, 127, 128, 144, 149, 150, 151, 152, 153, 154, 156, 157,
158, 159, 160, 161, 162, 163, 164, 165
AB
Ruas garis AB, 130, 131, 139, 160, 161, 184, 201, 204, 205, 206, 207, 208,
225
// Sejajar; garis sejajar, 72, 73, 78, 204, 205
A
Tegak lurus, garis tegak lurus, 74, 75, 79, 139, 171, 174, 184, 187
‘ Sudut, 123, 126, 127, 128, 129, 149, 150, 151, 152, 153, 154, 155, 156, 157
S Dibaca: pi, nilai pendekatan S = 3,14 atau
22
7
, 140, 141, 142, 143, 145,
146, 147, 148
o Pemetaan; fungsi; f : R oR dibaca = fungsi f memetakan dari R ke R,
38, 40, 44, 46, 48
n! n faktorial, 52
p
AB
Busur AB, 139, 149, 150, 151, 152, 153, 185, 186
251
Indeks Istilah
A
absis, 61
apotema, 139
B
busur, 139, 152, 155, 156, 162
D
diagonal bidang, 205, 227,
228
diagonal ruang, 205, 227, 228
diagram Cartesius, 33, 34,
35, 36, 40, 41, 70
diagram panah, 33, 35, 36,
37, 39, 40, 41, 42
diameter, 139, 141, 142, 145,
146, 155, 156, 159, 160
domain, 38, 39, 50
E
eliminasi, 103, 104, 105, 106
F
faktor sekutu, 14, 15, 16, 26
faktor, 14, 15, 19, 21, 22, 53
faktorisasi, 16, 138
fungsi (pemetaan), 36, 37,
38, 39, 40, 41, 42, 43, 44,
45, 46
G
garis bagi, 187
garis singgung lingkaran,
170, 171, 173, 174, 175
garis singgung persekutuan
dalam, 178, 179, 180
garis singgung persekutuan
luar, 181, 182, 183, 184
garis singgung persekutuan,
178
garis sumbu, 192
gradien, 65, 66, 67, 68, 69, 71,
72, 73, 74, 75, 76, 77, 78,
82
H
himpunan pasangan berurut-
an, 33, 34, 35, 36, 40, 41
J
jari-jari, 138, 139, 142, 144,
145, 146, 147, 148, 149,
152
jaring-jaring, 209, 230, 231,
233, 234
juring (sektor), 139, 144, 149
K
kalimat terbuka, 98
kodomain, 38, 39
koefisien, 5, 6, 8, 12, 14, 61
kongruen, 206, 235, 236, 237
konsentris, 177
konstanta, 5, 6, 59, 96
korespondensi satu-satu, 50,
51, 52, 53
L
layang-layang garis sing-
gung, 174, 175
lingkaran dalam segitiga,
187, 190, 191
lingkaran luar segitiga, 187,
190, 192, 193, 194
luas juring, 149, 150, 151
O
ordinat, 61
P
panjang busur, 149, 150, 151
pecahan bersusun (kom-
pleks), 27
pelurus, 154
persamaan linear dua varia-
bel, 97, 98
persamaan linear satu varia-
bel, 96
peta (bayangan), 38, 39, 40
Pythagoras, 123
R
range, 38, 39, 40
relasi, 32, 33, 36, 37, 40, 51
S
segi empat tali busur, 158,
159, 160, 161
sistem persamaan linear dua
variabel, 101, 102, 111
sistem persamaan nonlinear
dua variabel, 110
substitusi, 103, 106, 107
sudut keliling, 153, 154, 155,
156, 157, 159, 162, 164
sudut pusat, 149, 150, 153,
154, 155, 231, 232
suku, 5, 6, 7, 12, 13, 14, 20
T
tali busur, 139, 140, 162
tembereng, 139, 150
teorema Pythagoras, 118,
120, 121, 122, 123, 130,
132
tidak konsentris, 177
titik singgung lingkaran, 171
tripel Pythagoras, 125, 126
V
variabel, 4, 6, 38, 46, 58, 96,
97, 99, 100, 101, 102, 107
INDEKS ISTILAH
252
Matematika Konsep dan Aplikasinya 2
INDEKS PENGARANG
Barnett Rich, 139, 141, 142, 145, 150, 153, 154, 155, 156, 158,
159, 160, 163, 164, 171, 172, 175, 179, 180, 182, 183, 187,
191, 193, 194
Herman R. Hyatt, Irving Drooyan, Charles C. Carico, 96, 97,
102, 104, 106, 111
H.M. Hasyim Baisuni, 37, 38
Ir. Rinaldi Munir, 32, 33, 34
Mervin L. Keedy, Marvin L. Bittinger, 4, 5, 9, 10, 12,13, 16, 18,
19,21, 27, 46, 47, 59, 62, 64, 66, 67, 69, 71, 73, 75, 77, 78,
79, 83, 119, 120, 124, 126,
Murray R. Spiegeel, 24, 25, 141, 142, 145, 202, 205, 208, 209,
215, 226, 228, 232, 233, 234
Seymour Lipschutz Ph.D, Marc Lipson Ph.D, 37, 38, 41, 43, 48,
51, 52

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->