P. 1
Common Cold

Common Cold

|Views: 586|Likes:

More info:

Published by: Harevcuutyiezz Cndyiez Zzaenxzeunx on Apr 13, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/21/2014

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA

)
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) · Common Cold · Sinusitis · Rhinitis · Faringitis · Tonsilitis/adenoiditis Common cold Pengertian Adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan gejala-gejala infeksi saluran napas atas. Etiologi Pikornavirus, koronavirus, miksovirus, paravirus, adenoviris dan rhinovirus Manifestasi Klnik Kongesti nasal, sakit tenggorok, bersin-bersin, malaise, demam, menggigil, dan sering sakit kepala serta sakit otot, kadang-kadang ada batuk. Gejala berlangsung 5 – 14 hari Terapi Medik · Pemberian cairan yang adekuat · Istirahat · Pencegahan menggigil · Dekongestan nasal aqueous · Vitamin C · Ekspectoran sesuai kebutuhan · Kumur air garam hangat dapat mengurangi nyeri tenggorok · Aspirin/asetaminofen Intervensi Keperawatan Pendidikan Pasien · Mencuci tangan –> mencegah penyebaran organisme · Menggunkan kertas tissue sekali pakai dan membuangnya dengan baik · Menutup mulut ketika batuk · Menghindri kerumunan orang banyak
http://akperkaltara.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=262:asuhankeperawatan-pada-klien-dengan-infeksi-saluran-pernafasan-atas-ispa&catid=3:askep&Itemid=18

Yang umum dingin (rhinopharyngitis virus akut, coryza akut, infeksi virus saluran pernapasan bagian atas, atau flu) adalah penyakit, menular infeksi virus dari sistem pernapasan atas, terutama disebabkan oleh rhinovirus, (picornavirus) atau korona. Ini adalah penyakit menular yang paling umum pada manusia, tidak ada obat dikenal, tetapi sangat jarang fatal. Secara kolektif, pilek, influenza, dan infeksi lain dengan gejala serupa termasuk dalam diagnosis penyakit seperti influenza. Seringkali, influenza dan flu umum adalah keliru untuk satu sama lain, bahkan oleh petugas kesehatan profesional, tetapi sebagian besar perawatan rumah yang direkomendasikan (banyak minum cairan hangat, menjaga hangat, dll) adalah sama jika tidak sama. Gejala-gejala influenza sering termasuk demam dan lebih berat daripada udara dingin.

Common Cold Gejala
Gejala yang umum adalah batuk, sakit tenggorokan, pilek, hidung tersumbat, dan bersin, kadang-kadang disertai dengan 'mata merah', nyeri otot, kelelahan, malaise, sakit kepala, kelemahan otot, menggigil tak terkendali, kehilangan nafsu makan, dan kelelahan ekstrim jarang. Demam lebih sering merupakan gejala influenza, virus lain atas infeksi saluran pernapasan (URTI) yang gejalanya luas tumpang tindih dengan dingin, tapi lebih parah. Gejala mungkin lebih parah pada bayi dan anak-anak (karena sistem kekebalan tubuh mereka tidak sepenuhnya berkembang) serta orang tua (karena sistem kekebalan tubuh mereka sering menjadi lemah). Mereka yang menderita pilek sering melaporkan sensasi chilliness meskipun dingin tidak umumnya disertai dengan demam, menggigil dan meskipun umumnya berhubungan dengan demam, sensasi mungkin tidak selalu disebabkan oleh demam yang sebenarnya. Sekitar 3050% dari pilek disebabkan oleh rhinovirus.

Vitamin D
Sebuah studi 2009 menemukan bahwa tingkat serum darah rendah vitamin D dikaitkan dengan tingkat peningkatan flu biasa. Sebuah uji coba terkontrol secara acak menemukan bahwa 104 wanita pasca-menopause Afrika Amerika tinggal di New York yang diberikan vitamin D tiga kali lebih mungkin melaporkan gejala pilek dan flu dari 104 kontrol plasebo. Sebuah dosis rendah (800 IU / hari) tidak hanya mengurangi kejadian dilaporkan, itu menghapuskan musiman pilek dan flu yang dilaporkan. Dosis yang lebih tinggi (2000 IU / hari), diberikan selama tahun terakhir sidang, hampir dibasmi semua laporan dari pilek atau flu.

Paparan cuaca dingin
Sebuah kepercayaan kuno masih umum hari ini mengklaim bahwa dingin dapat "ditangkap" oleh paparan yang terlalu lama untuk cuaca dingin seperti hujan atau musim dingin, yang mana penyakit mendapat namanya. Meskipun pilek umum adalah musiman, dengan lebih terjadi selama musim dingin, percobaan sejauh ini gagal untuk menghasilkan bukti bahwa paparan jangka pendek untuk cuaca dingin atau langsung dingin kerentanan meningkat terhadap infeksi, menyiratkan bahwa variasi musiman adalah bukan karena perubahan

perilaku seperti waktu yang dihabiskan di dalam ruangan meningkat pada jarak dekat dengan orang lain. Sehubungan dengan penyebab dingin-seperti gejala'''', peneliti di Common Cold Centre di Cardiff University Studi ini mengukur dilaporkan sendiri subyek 'gejala flu, dan keyakinan mereka memiliki dingin, tapi bukan apakah infeksi pernafasan yang sebenarnya dikembangkan. Ditemukan bahwa sejumlah signifikan lebih besar dari mereka subyek dingin dikembangkan gejala flu 4 atau 5 hari setelah dingin tersebut. Ini menyimpulkan bahwa timbulnya gejala umum''dingin''dapat disebabkan oleh dingin akut kaki. Beberapa penjelasan yang mungkin diusulkan untuk gejala, seperti plasebo, atau penyempitan pembuluh darah dari bagian hidung yang mungkin mengakibatkan kekebalan berkurang, namun "penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan hubungan antara generasi gejala untuk setiap infeksi saluran pernapasan." Kemungkinan lain yang masih dieksplorasi melibatkan peran yang protein dari sistem komplemen bermain dalam pencegahan infeksi yang berkelanjutan. Penurunan suhu dapat menyebabkan penurunan permeabilitas jaringan dan, sebagai hasilnya, dapat mengakibatkan kebocoran plasma berkurang. Di antara banyak protein tersuspensi dalam plasma melengkapi protein (misalnya C3) yang berfungsi untuk menonaktifkan, menghancurkan, atau tag untuk kehancuran asing partikulat (dalam hal ini capsids virus). Jadi, paparan berkelanjutan untuk dingin dapat menghambat efektivitas sistem komplemen dan memungkinkan virus kesempatan yang lebih baik mendirikan keadaan infeksi. ICAM-1, reseptor yang mengikat rhinovirus untuk menginfeksi sel, diketahui meningkat dalam jumlah dan kesiapan dalam menanggapi iritasi, termasuk debu dan serbuk sari. Bahwa iklim dingin dalam kombinasi dengan berbagai tingkat kelembaban dapat bertindak sebagai "iritasi" yang serupa perlu diselidiki.
http://www.news-medical.net/health/What-is-the-Common-Cold-%28Indonesian%29.aspx

Mengenal Common Cold atau Selesma
Commond cold atau selesma adalah penyakit infeksi catarrhal dari saluran pernafasan bagian atas yang mempunyai ciri-ciri coryza, bersin, lakrimasi, iritasi nasofaring, menggigil dan malaise yang berlangsung selama 2-7 hari. Commond cold dikenal juga sebagai selesma, pilek biasa, nasopharyngitis, acute viral rhinopharyngitis, atau acute coryza. Atau sering juga disebut dengan istilah yang salah sebagai flu, karena gejalanya yang mirip. Commond cold merupakan rhinitis akut yang disebabkan oleh virus "selesma". Rhinitis berarti "iritasi hidung" dan adalah derivative dari rhino, berarti "hidung". Selaput lendir pada hidung yang terkena iritasi atau radang akan memproduksi lebih banyak lendir dan mengembang, sehingga hidung menjadi tersumbat dan pernafasan jadi sulit. Demam jarang terjadi pada anak-anak usia lebih dari 3 tahun dan juga jarang pada orang dewasa. Tidak ada kematian yang dilaporkan, tetapi commond cold banyak menyebabkan tingkat ketidakhadiran yang tinggi, baik di sekolah maupun di tempat kerja. Penyakit ini bisa disertai dengan laringitis, trakeitis atau bronkitis dan bisa terjadi komplikasi yang serius serta sinusitis dan otitis media. Jumlah sel darah putih biasanya normal dan flora bakteri pada saluran pernafasan biasanya dalam batas normal jika tidak terjadi komplikasi. Dalam suatu penelitian dan dari hasil pemeriksaan laboratorium dengan kultur sel atau kultur organ dari sekret hidung ditemukan virus pada 20-35% kasus. Dengan melihat gambaran epidemiologis dan gambaran klinis serta manifestasi lain yang khas dari commond cold akan mempermudah untuk membedakan penyakit ini dengan penyakit yang mirip yang disebabkan oleh racun, alergi, rangsangan fisik atau psikologis. Penyebab infeksi selesma Rhinovirus, dikenal ada lebih dari 100 serotipe, adalah penyebab commond cold pada orang dewasa; sekitar 20-40% kasus commond cold disebabkan virus ini, terutama pada musim gugur. Sedangkan Coronavirus, seperti 229E, OC43 dan B814 merupakan penyebab sekitar 10-15% dari commond cold dan influenza sebagai penyebab sekitar 10- 15% dari commond cold pada orang dewasa; virus ini menonjol pada musim dingin dan awal musim semi, pada saat prevalensi rhinovirus rendah. Virus saluran pernafasan lain juga diketahui dapat menyebabkan commond cold pada orang dewasa. Pada bayi dan anak-anak, virus parainfluenza, respiratory syncytial viruses (RSV), influenza, adenovirus, enterovirus tertentu dan coronavirus menyebabkan penyakit seperti commond cold. Hampir setengah dari commond cold belum diketahui etiologinya. Perbedaan selesma dengan influenza Memang antara commond cold atau selesma dan flu itu mirip sekali, yaitu bahwa mereka mempengaruhi saluran pernafasan dan memiliki gejala yang mirip, yaitu tenggorokan sakit, hidung tersumbat atau pun meler, batuk, dll. Namun secara umum, gejala selesma jauh lebih ringan daripada gejala flu. Gejala flu (influenza) bisa meliputi demam tinggi, menggigil, badan pegal-pegal, dan kelelahan. Selesma dan flu disebabkan oleh virus yang berbeda. Jika selesma disebabkan oleh virus selesma (cold virus atau rhinovirus), influenza disebabkan oleh virus Haemophylus influenzae yang memiliki berbagai type, yaitu type A, B, dan C

Berikut perbedaan antara selesma dan flu dilihat dari gejalanya, antara lain: Commond cold / Selesma:
         

Demam: jarang Sakit kepala : jarang Nyeri dan pegal : ringan Lemah : jarang/lemah Terbaring di tempat tidur : jarang Pilek : sering Bersin-bersin : biasa Tenggorokan sakit : biasa Batuk : kadang-kadang, ringan-sedang Komplikasi yang bisa terjadi : Sinus atau infeksi telinga

Flu / Influenza:
         

Demam : tiba-tiba, seringkali demam tinggi, berakhir dalam 3-4 hari Sakit kepala : sering Nyeri dan pegal : biasa terjadi, dan sering sangat sakit Lemah : sedang sampai berat, bisa sampai satu bulan Terbaring di tempat tidur : sering, bisa sampai 5-10 hari Pilek : kadang-kadang Bersin-bersin : kadang-kadang Tenggorokan sakit : kadang-kadang Batuk : Biasa, bisa menjadi parah Komplikasi yang bisa terjadi : pneumonia, gagal ginjal, gagal hati, dapat mengancam jiwa.

Distribusi penyakit selesma Tersebar di seluruh dunia, baik bersifat endemis maupun muncul sebagai KLB. Di daerah beriklim sedang, insidensi penyakit ini meningkat di musim gugur, musim dingin dan musim semi; di daerah tropis, insidensi penyakit tinggi pada musim hujan. Sebagian besar orang, kecuali mereka yang tinggal di daerah dengan jumlah penduduk sedikit dan terisolasi, bisa terserang satu hingga 6 kali setiap tahunnya. Insidensi penyakit tinggi pada anak-anak di bawah 5 tahun dan akan menurun secara bertahap sesuai dengan bertambahnya umur. Cara penularan selesma Reservoir penyakit commond cold atau selesma adalah manusia. Cara penularan diduga melalui kontak langsung atau melalui droplet; yang lebih penting lagi; penularan tidak langsung dapat terjadi melalui tangan dan barang-barang yang baru saja terkontaminasi oleh kotoran hidung dan mulut dari orang yang terinfeksi. Rhinovirus, RSV dan kemungkinan virus-virus lainnya ditularkan melalui tangan yang

terkontaminasi dan membawa virus ini ke membran mukosa mata dan hidung. Masa inkubasi selesma Antara 12 jam sampai dengan 5 hari, biasanya rata-rata 48 jam bervariasi sesuai dengan penyebab penyakit. Masa penularan selesma Sukarelawan yang dipajan dengan sekret hidung penderita, 24 jam sebelum onset dan 5 hari sesudah onset akan menderita sakit. Kerentanan dan kekebalan selesma Setiap orang rentan terhadap penyakit ini. Infeksi tanpa gejala dan infeksi yang abortive sering terjadi, frekuensi orang sehat yang menjadi carrier tidak diketahui dengan jelas tetapi jarang ada carrier untuk jenis virus tertentu, misalnya seperti rhinovirus. Berulangnya serangan penyakit kemungkinan besar karena berkembang biak dan meningkatnya jumlah virus, namun bisa juga karena imunitas homolog yang terbentuk terhadap serotipe yang berbeda dari virus yang sama bertahan dalam waktu yang pendek atau karena sebab lain. Cara-cara pencegahan selesma Virus penyebab selesma atau comond cold sangat mudah menyebar, baik melalui kontak langsung maupun lewat udara atau cairan tubuh. Untuk menghindarkan diri dari penyakit commond cold ini, secara umum yang perlu diperhatikan dan dilakukan setiap harinya, antara lain:

        

Jagalah kebersihan perorangan seperti sering mencuci tangan, menutup mulut ketika batuk dan bersin, dan membuang ludah / dahak dari mulut dan ingus hidung dengan cara yang bersih dan tidak sembarangan. Bila memungkinkan, hindari jangan sampai berjejal di satu ruangan, misalnya ruang keluarga, atau tempat tidur. Ruangan harus memiliki ventilasi yang cukup lega. Hindari merokok di rumah, apalagi dimana ada banyak anak-anak. Berpola hidup sehat, tidak merokok, minum alkohol, stress, istirahat cukup, dll. Berolah raga secara teratur. Mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan. Bila akan menyentuh/menggendong bayi, cucilah tangan dahulu. Makan makanan yang bersih, higienis, sehat, gizi-nutrisi seimbang. Idealnya 4 sehat 5 sempurna. Memperhatikan dan menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan. Memperbanyak makan buah dan sayuran, menghindari makanan/minuman yang terlalu panas, pedas, asin, masam/ kecut, dan semua jenis gorengan (jajanan pasar) yang digoreng dengan minyak curah. Konsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum anda memutuskan untuk menggunakan obat-obatan, jamu, jamur, herbal, atau suplemen untuk mengatasi comond cold.

Gunakan masker jika sedang ada wabah.

http://www.smallcrab.com/kesehatan/867-mengenal-common-cold-atau-selesma

A. DEFINISI PENYAKIT Menurut Corwin (2001), infeksi saluran pernafasan akut adalah infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme termasuk common cold, faringitis, radang tenggorokan, dan laringitis. ISPA adalah infeksi saluran pernafasan yang dapat berlangsung sampai 14 hari, dimana secara klinis suatu tanda dan gejala akut akibat infeksi yang terjadi di setiap bagian saluran pernafasan atau struktur yang berhubungan dengan saluran pernafasan yang berlangsung tidak lebih dari 14 hari.DepKes RI (1998). ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung sampai gelembung paru, beserta organorgan disekitarnya seperti : sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru.

(http://www.facebook.com/notes/keluarga-sehat-klinikita/ispa-penyakit-yang-sering-muncul/119661940543)

B. ETIOLOGI Infeksi saluran pernafasan akut merupakan kelompok penyakit yang komplek dan heterogen, yang disebabkan oleh berbagai etiologi.Kebanyakan infeksi saluran pernafasan akut disebabkan oleh virus dan mikroplasma. Etiologi ISPA terdiri dari 300 lebih jenis bakteri, virus,dan jamur. Bakteri penyebab ISPA misalnya: Streptokokus Hemolitikus, Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofilus Influenza, Bordetella Pertusis, dan Korinebakterium Diffteria (Achmadi dkk., 2004). Bakteri tersebut, di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung. Biasanya bakteri ini menyerang anak-anak yang kekebalan tubuhnya lemah misalnya saat perubahan musim panas ke musim hujan (PD PERSI, 2002). Untuk golongan virus penyebab ISPA antara lain golongan miksovirus (termasuk di dalamnya virus para-influensa, virus influensa, dan virus campak), dan adenovirus. Virus para-influensa merupakan penyebab terbesar dari sindroma batuk rejan, bronkiolitis dan penyakit demam saluran nafas bagian atas.Untuk virus influensa bukan penyebab terbesar terjadinya terjadinya sindroma

saluran pernafasan kecuali hanya epidemi-epidemi saja.Pada bayi dan anak-anak, virus-virus influenza merupakan penyebab terjadinya lebih banyak penyakit saluran nafas bagian atas daripada saluran nafas bagian bawah. (Siregar dan Maulany, 95). C. PATOFISIOLOGI Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus dengan tubuh.Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan menyebabkan silia yang terdapat pada permukaan saluran nafas bergerak ke atas mendorong virus ke arah faring atau dengan suatu tangkapan refleks spasmus oleh laring.Jika refleks tersebut gagal maka virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa saluran pernafasan (Kending dan Chernick, 1983). Iritasi virus pada kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya batuk kering (Jeliffe, 1974).Kerusakan stuktur lapisan dinding saluran pernafasan menyebabkan kenaikan aktifitas kelenjar mukus yang banyak terdapat pada dinding saluran nafas, sehingga terjadi pengeluaran cairan mukosa yang melebihi noramal.Rangsangan cairan yang berlebihan tersebut menimbulkan gejala batuk (Kending and Chernick, 1983).Sehingga pada tahap awal gejala ISPA yang paling menonjol adalah batuk. Adanya infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi sekunder bakteri.Akibat infeksi virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme mukosiliaris yang merupakan mekanisme perlindungan pada saluran pernafasan terhadap infeksi bakteri sehingga memudahkan bakteri-bakteri patogen yang terdapat pada saluran pernafasan atas seperti streptococcus pneumonia, haemophylus influenza dan staphylococcus menyerang mukosa yang rusak tersebut (Kending dan Chernick, 1983). Infeksi sekunder bakteri ini menyebabkan sekresi mukus bertambah banyak dan dapat menyumbat saluran nafas sehingga timbul sesak nafas dan juga menyebabkan batuk yang produktif.Invasi bakteri ini dipermudah dengan adanya fakor-faktor seperti kedinginan dan malnutrisi.Suatu laporan penelitian menyebutkan bahwa dengan adanya suatu serangan infeksi virus pada saluran nafas dapat menimbulkan gangguan gizi akut pada bayi dan anak (Tyrell, 1980). Virus yang menyerang saluran nafas atas dapat menyebar ke tempat-tempat yang lain dalam tubuh, sehingga dapat menyebabkan kejang, demam, dan juga bisa menyebar ke saluran nafas bawah (Tyrell, 1980). Dampak infeksi sekunder bakteripun bisa menyerang saluran nafas bawah, sehingga bakteri-bakteri yang biasanya hanya ditemukan dalam saluran pernafasan atas, sesudah terjadinya infeksi virus, dapat menginfeksi paru-paru sehingga menyebabkan pneumonia bakteri (Shann, 1985).

Penanganan penyakit saluran pernafasan pada anak harus diperhatikan aspek imunologis saluran nafas terutama dalam hal bahwa sistem imun di saluran nafas yang sebagian besar terdiri dari mukosa, tidak sama dengan sistem imun sistemik pada umumnya. Sistem imun saluran nafas yang terdiri dari folikel dan jaringan limfoid yang tersebar, merupakan ciri khas system imun mukosa. Ciri khas berikutnya adalah bahwa IgA memegang peranan pada saluran nafas atas sedangkan IgG pada saluran nafas bawah.Diketahui pula bahwa sekretori IgA (sIgA) sangat berperan dalam mempertahankan integritas mukosa saluran nafas (Siregar, 1994).

Dari uraian di atas, perjalanan klinis penyakit ISPA ini dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu: a. Tahap prepatogenesis, penyebab telah ada tetapi penderita belum menunjukkan reaksi apa-apa. b. Tahap inkubasi, virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya memang sudah rendah. c. Tahap dini penyakit, dimulai dari munculnya gejala penyakit.Timbul gejala demam dan batuk. d. Tahap lanjut penyakit, dibagi menjadi empat, yaitu dapat sembuh sempurna, sembuh dengan ateletaksis, menjadi kronis dan dapat meninggal akibat pneumonia.

D. TANDA DAN GEJALA I. Tanda-tanda ISPA Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang ringan.Dalam perjalanan penyakit mungkin gejala-gejala menjadi lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh dalam keadaan kegagalan pernapasan dan mungkin meninggal.Bila sudah dalam kegagalan pernapasan maka dibutuhkan penatalaksanaan yang lebih rumit, meskipun demikian mortalitas masih tinggi, maka perlu diusahakan agar yang ringan tidak menjadi lebih berat dan yang sudah berat cepat-cepat ditolong dengan tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan pernapasan.

Tanda-tanda bahaya dapat dilihat berdasarkan tanda-tanda klinis dan tanda-tanda laboratoris.

Tanda-tanda klinis :  Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea, napas tak teratur (apnea), retraksi dinding thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara napas lemah atau hilang, grunting expiratoir dan wheezing.  Pada sistem cardial adalah: tachycardia, bradycardiam, hypertensi, hypotensi dan cardiac arrest.  Pada sistem cerebral adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung, papil bendung, kejang dan coma.  Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak.

Tanda-tanda laboratoris :  Hypoxemia,  Hypercapnia dan  Acydosis (Metabolik dan atau Respiratorik).

Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun adalah: tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor dan gizi buruk, sedangkan tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan adalah: kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun ampai kurang dari setengah volume yang biasa diminumnya), kejang, kesadaran menurun, stridor, Wheezing, demam dan dingin.

II. Gejala ISPA  Gejala dari ISPA Ringan Seseorang dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut : a. Batuk

b. Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misalnya pada waktu berbicara atau menangis) c. Pilek, yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung d. Panas atau demam, suhu badan lebih dari 37oC

 Gejala dari ISPA Sedang Seseorang dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut : a. Pernafasan cepat (fast breating) sesuai umur yaitu : untuk kelompok umur kurang dari 2 bulan frekuensi nafas 60 kali per menit atau lebih dan kelompok umur 2 bulan - <5 tahun : frekuensi nafas 50 kali atau lebih untuk umur 2 – <12 bulan dan 40 kali per menit atau lebih pada umur 12 bulan – <5 tahun. b. Suhu lebih dari 390C (diukur dengan termometer) c. Tenggorokan berwarna merah d. Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak e. Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga f. Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur)

 Gejala dari ISPA Berat Seseorang dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejal-gejala ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut : a. Bibir atau kulit membiru b. Anak tidak sadar atau kesadaran menurun c. Pernafasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampak gelisah d. Sela iga tertarik kedalam pada waktu bernafas

e. Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba f. Tenggorokan berwarna merah

E.

KOMPLIKASI Penyakit ini sebenarnya merupakan self limited disease, yang sembuh sendiri 5-6 hari jika tidak terjadi invasi kuman lainnya.Komplikasi yang dapat terjadi adalah sinusitis paranasal, penutupan tuba eusthacii dan penyebaran infeksi.

a. Sinusitis paranasal Komplikasi ini hanya terjadi pada anak besar karena pada bayi dan anak kecil sinus paranasal belum tumbuh.Gejala umum tampak lebih besar, nyeri kepala bertambah, rasa nyeri dan nyeri tekan biasanya didaerah sinus frontalis dan maksilaris.Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan foto rontgen dan transiluminasi pada anak besar. Proses sinusitis sering menjadi kronik dengan gejala malaise, cepat lelah dan sukar berkonsentrasi (pada anak besar). Kadang-kadang disertai sumbatan hidung, nyeri kepala hilang timbul, bersin yang terus menerus disertai secret purulen dapat unilateral ataupun bilateral.Bila didapatkan pernafasan mulut yang menetap dan rangsang faring yang menetap tanpa sebab yang jelas perlu yang dipikirkan terjadinya komplikasi sinusitis.Sinusitis paranasal ini dapat diobati dengan memberikan antibiotik.

b. Penutupan tuba eusthachii Tuba eusthachii yang buntu memberi gejala tuli dan infeksi dapat menembus langsung kedaerah telinga tengah dan menyebabkan otitis media akut (OMA).Gejala OMA pada anak kecil dan bayi dapat disertai suhu badan yang tinggi (hiperpireksia) kadang menyebabkan kejang demam. Anak sangat gelisah, terlihat nyeri bila kepala digoyangkan atau memegang telinganya yang nyeri (pada bayi juga dapat diketahui dengan menekan telinganya dan biasanya bayi akan menangis keras). Kadang-kadang hanya ditemui gejala demam, gelisah, juga disertai muntah atau diare.Karena bayi yang menderita batuk pilek sering menderita infeksi pada telinga tengah sehingga menyebabkan terjadinya OMA dan sering menyebabkan kejang demam, maka bayi perlu dikonsul kebagian THT.Biasanya bayi dilakukan parsentesis jika setelah 48-72 jam diberikan antibiotika

keadaan tidak membaik.Parasentesis (penusukan selaput telinga) dimaksudkan mencegah membran timpani pecah sendiri dan terjadi otitis media perforata (OMP).

Faktor-faktor OMP yang sering dijumpai pada bayi dan anak adalah : a) Tuba eustachii pendek, lebar dan lurus hingga merintangi penyaluran sekret. b) Posisi bayi anak yang selalu terlentang selalu memudahkan perembesan infeksi juga merintangi penyaluran sekret. c) Hipertrofi kelenjar limfoid nasofaring akibat infeksi telinga tengah walau jarang dapat berlanjut menjadi mastoiditis atau ke syaraf pusat (meningitis).

c. Penyebaran infeksi Penjalaran infeksi sekunder dari nasofaring kearah bawah seperti laryngitis, trakeitis, bronkiis dan bronkopneumonia.Selain itu dapat pula terjadi komplikasi jauh, misalnya terjadi meningitis purulenta.

F.

PENGKAJIAN FOKUS Menurut Whaley and Wong ( 2000 ), fokus pengkajian dari ISPA sebagai berikut : 1. Keluhan utama ( demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan ) 2. Riwayat penyakit seseorang ( kondisi klien saat diperiksa ) 3. Riwayat penyakit dahulu ( apakah klien pernah mengalami penyakit seperti yang dialaminya sekarang ). 4. Riwayat penyakit keluarga ( adakah anggota keluarga yang pernah mengalami sakit seperti penyakit klien ). 5. Riwayat sosial ( lingkungan tempat tinggal klien ).

a.

Inspeksi

1. Membran mukosa hidung – faring tampak kemerahan 2. Tansil tampak kemerahan dan edema 3. Tampak baluk tidak produktif. 4. Tidak ada jaringan parat pada leher. 5. Tidak tampak penggunaan otot-otot pernapasan tambahan 6. Pernapasan cuping hidung b. Palpasi 1. Adanya demam 2. Teraba adanya pembesaran kelenjarlimfe pada daerah leher / nyeri tekan pada nodus limfe servikalis. 3. Tidak teraba adanya pembesaran ke;enjar limfoid. c. Perkusi Suara paru normal ( resonansi ). d. Auskaltasi Suara napas vasikuler / tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru

G.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

 Tanggal  HB  LED  Hematokrit  Trombosit  MCV  MCH

 MCHC  DiffCount  Urien PH  Ureum  Kreatinin  SGOT  SGPT  Na  Kalium  Cl  AGD  PCO2  Radiologi  ECG (http://ot-indo.blogspot.com/2010/07/askep-ispa.html) H. PENATALAKSANAAN MEDIS ( TERMASUK INTERVENSI FARMAKOLOGIS ) Pengobatan pada ISPA  Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik melalui jalur infus , di beri oksigen dan sebagainya.  Pneumonia: diberi obat antibiotik melaui mulut. Pilihan obatnya Kotrimoksasol, jika terjadi alergi / tidak cocok dapat diberikan Amoksilin, Penisilin, Ampisilin

Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan di rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan. Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol.Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah disertai pembesaran kelenjar getah bening dileher, dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi antibiotik selama 10 hari.

Untuk perawatan ISPA dirumah ada beberapa hal yang perlu dikerjakan seorang ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita ISPA.

 Mengatasi panas (demam) Untuk anak usia 2 bulan samapi 5 tahun demam diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).

 Mengatasi batuk Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh , diberikan tiga kali sehari.

 Pemberian makanan Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah.Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan.

 Pemberian minuman

Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak, kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita.

 Lain-lain Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam.Jika pilek, bersihkan hidung yang berguna untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah.Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang berventilasi cukup dan tidak berasap.Apabila selama perawatan dirumah keadaan anak memburuk maka dianjurkan untuk membawa kedokter atau petugas kesehatan.Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, selain tindakan diatas usahakan agar obat yang diperoleh tersebut diberikan dengan benar selama 5 hari penuh.Dan untuk penderita yang mendapatkan antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari anak dibawa kembali kepetugas kesehatan untuk pemeriksaan ulang.

. Rencana Keperawatan Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Keperawatan ( NOC ) ( NIC) Intervensi

1.

Peningkatan suhu tubuh

 Suhu tubuh normal berkisar antara 36 1. – Observasi tanda – tanda vital 37, 5 ‘ C  Pasien mengatakan tidak demam.
2.

Anjurkan

pada

klien/keluarga

u

melakukan kompres dingin ( air biasa) kepala / axial. 3.

Anjurkan klien untuk menggunakan pa

yang tipis dan yang dapat menyerap ke seperti terbuat dari katun. 4. Atur sirkulasi udara
5.

Anjurkan klien untuk minum banyak ± 2 2500 ml/hr.

6.

Anjurkan klien istirahat ditempat tidur s fase febris penyakit.

7. Kolaborasi dengan dokter

 Dalam pemberian therapy, obat antimicro  Antipiretika.

1. Kaji kebiasaan diet, input-output dan tim BB setiap hari

2. .Berikan makan pporsi kecil tapi serin dalam keadaan hangat

3. Beriakan oral sering, buang secret be

wadah husus untuk sekali pakai dan tis ciptakan lingkungan beersih

Klien

dapat

mencapai

BB

yang menyenamgkan. 4. Tingkatkan tirai baring.

direncanakan mengarah kepada BB normal
2.

Ketidakseimbangan kurang dari

anoreksia

nutrisi 5. Kolaborasi  klien dapat mentoleransi diet yang kebutuhan b.d  Konsul ahli gizi untuk memberikan diet s dianjurkan.  Tidak menunujukan tanda malnutrisi. kebutuhan klien.

2.3 COMMON COLD
I. DEFINISI

Common Cold adalah infeksi primer di nasofaring dan hidung yang sering. Dijumpai pada bayi dan anak. Dibedakan istilah nasofaring akut untuk anak dan common cold untuk orang dewasa oleh karena manifestasi klinis penyakit ini pada orang dewasa dan anak berlainan. Pada anak infeksi lebih luas , mencakup daerah sinus paranasal, telinga tengah disamping nasofaring, disertai demam yang tinggi. Pada orang dewasa infeksi mencakup daerah terbatas dan biasanya tidak disertai demam yang tinggi.

II. ETIOLOGI

Penyebab penyakit ini virus. Masa menular penyakit ini beberapa jam sebelum gejala timbul sampai 1-2 hari sesudah hilangnya gejala. Komplikasi timbul akibat infasi bakteri pathogen biasanya pneumococcus, Streptococcus, dan pada anak kecil H. influenza dan Staphylococcus. Masa tunas 1-2 hari.

III. FAKTOR PREDISPOSISI

Kelelahan, gizi buruk, anemia dan kedinginan. Walaupun umur bukan faktor yang menentukan daya rentan, namun infeksi sekunder purulen lebih banyak dijumpai pada anak kecil. Penyakit ini sering diderita pada waktu pergantian musim.

IV. PATOLOGIS ANATOMIS

Submukosa hidung edematous disertai faso dilatasi pembuluh darah. Terdapat infiltasi leukosit mula-mula sel mononukleus, kemudian poliformononukleus. Sel epitel supevisial banyak yang lepas. Regenerasi sel epitel baru terjadi setelah lewat stadium akut.

V. GEJALA KLINIS

Berupa gejala nasofaringitis, batuk sedikit dan kadang-kadang bersin. Dari hidung keluar sekret cair dan jernih yang dapat kental purulen bila terjadi infeksi sekunder oleh coccus. Secret ini sangat merangsang anak kecil. Sumbatan hidung (kongesti) menyebabkan anak bernafas melalui mulut dan anak menjadi gelisah. Pada anak yang lebih besar kadang-kadang didapat rasa nyeri pada otot, pusing dan anoreksia. Sumbatan hidung atau kongesti disertai selaput lender tenggorokan yang kering menambah rasa nyeri.

VI. KOMPLIKASI

1. Sinusitis paranasal Gejala umum lebih berat, nyeri kepala bertambah, rasa nyeri dan tekan biasanya di daerah sinus frontalis dan maksilaris. Proses sinusitis sering menjadi kronis dengan gejala malaise, cepat lelah dan sukar berkonsentrasi pada anak besar. Kadang-kadang disertai dengan sumbatan hidung dan nyeri kepala yang hilang timbul, bersin yang terus-menerus disertai skret purulen dapat unilateral maupun bilateral. Komplikasi sinus harus dipikirkan apabila di dapat pernapasan melalui mulut menetap dan rangsang faring yang menetap tanpa sebab yang tetap. Pengobatan dengan antibiotika.

2.

Dapat terjadi penutupan tuba Eustachii dengan gejala tuli atau infeksi menembus lansung kedaerah telingah tengah yang menyebabkan otitis media akut (OMA). Gejala OMA pada anak kecil dan bayi dapat disertai suhu badab yang mendadak tinggi (hiperpireksia), kadangkadang menyebabkan demam dan disertai gejala muntah dan diare.

3.

Penyebaran infeksi nasofaring kebawah dapat menyebabkan saluran nafas bagian bawah seperti laryngitis, trakeitis, bronchitis dan broncopneumonia.

VII.

PENGOBATAN

Hanya sistomatik, yaitu diberikan ekspetoran untuk mengatasi batuk . Sedativum untuk menenangkan dan antipiretikum untuk menurunkan panas penderita. Obstruksi hidung pada bayi sangat sukar diobati. Pengisapan lender dari hidung dengan berbagai alat tidak efektif dan biasanya berbahaya. Cara terbaik penyaluran secret ialah dengan mengusahakan posisis bayi dalam “prone position”. Pada anak besar dapat diberikan tetes hidung larutan efedrin

1%. Bila ada infeksi sekunder hendaknya diberikan antibiotika. Batuk yang produktif (pada bronchitis dan trakeitis) merupakan kontra indikasi pemberian antitusif (misalnya kodein) karena terjadi depresi pusat batuk dan pusat muntah, mudah terjadi penumpukan secret sehingga dapat terjadi bronkoopneu
Common Cold Berupa gejala nasofaringitis, batuk sedikit dan kadang-kadang bersin. Dari hidung keluar sekret cair dan jernih yang dapat kental purulen bila terjadi infeksi sekunder oleh coccus. Secret ini sangat merangsang anak kecil. Sumbatan hidung (kongesti) menyebabkan anak bernafas melalui mulut dan anak menjadi gelisah. Pada anak yang lebih besar kadang-kadang didapat rasa nyeri pada otot, pusing dan anoreksia. Sumbatan hidung atau kongesti disertai selaput lender tenggorokan yang kering menambah rasa nyeri. http://alnissya-icha.blogspot.com/2011/04/tbcbronkoopneucommon-cold.html

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->