P. 1
Laporan Pendahuluan Bph

Laporan Pendahuluan Bph

|Views: 712|Likes:
LP BPH
LP BPH

More info:

Published by: Faishal Bagas Pamungkas on Apr 13, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/09/2014

pdf

text

original

LAPORAN PENDAHULUAN BENIGNA PROSTATE HYPERPLASI (BPH

)

A. Pengertian 1. Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah penyakit yang disebabkan oleh penuaan. Price&Wilson (2005) 2. Hiperplasia prostat jinak adalah pembesaran kelenjar prostat nonkanker, (Corwin, 2000) 3. BPH adalah suatu keadaan dimana prostat mengalami pembesaran memanjang keatas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan cara menutupi orifisium uretra. (Smeltzer dan Bare, 2002) 4. Hiperplasi prostat adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat (secara umum pada pria > 50 tahun) yang menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretra dan pembiasan aliran urinarius. (Doenges, 1999) 5. Menurut Doenges (1999) dan Engram (1998) untuk mengatasi BPH, tindakan infasif medikal yang sering digunakan oleh Rumah Sakit adalah prostatektomy, yaitu tindakan pembedahan bagian prostat (sebagian/seluruh) yang memotong uretra bertujuan untuk memperbaiki aliran urin dan menghilangkan retensi urinaria akut. Kesimpulan BPH (benign prostatic hyperplasia) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh faktor penuaan, dimana prostat mengalami pembesaran memanjang keatas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan cara menutupi orifisium bagian uretra. prostate Prostatektomy merupakan tindakan pembedahan

(sebagian/seluruh) yang memotong uretra, bertujuan untuk memeperbaiki aliran urin dan menghilangkan retensi urinaria akut. B. Etiologi Menurut Purnomo (2000), hingga sekarang belum diketahui secara pasti penyebab prostat hiperplasi, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasi prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar

zona sentral. Menurut Mc Neal (1976) yang dikutip dan bukunya Purnomo (2000). menerangkan bahwa terjadi proliferasi abnormal sel stem sehingga menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel kelenjar prostat menjadi berlebihan. menyebutkan bahwa pada usia . Peranan dari growth factor (faktor pertumbuhan) sebagai pemicu pertumbuhan stroma kelenjar prostat 3. Sjamsuhidajat (2005). membagi kelenjar prostat dalam beberapa zona.dehidrotestosteron (DHT) dan proses penuaan. Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasi prostat adalah : 1. Teori kedua adalah teori Reawekering (Neal. C. gangguan keseimbangan hormon atau faktor pencetus lain. 1995). Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen pada usia lanjut 2. sel baru biasanya tumbuh dari sel stem. 2000). antara lain zona perifer. (Kahardjo. zona transisional. Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang mati 4. Teori sel stem. Teori lain adalah teori keseimbangan hormonal yang menyebutkan bahwa dengan bertambahnya umur menyebabkan terjadinya produksi testosteron dan terjadinya konversi testosteron menjadi estrogen. zona fibromuskuler anterior dan periuretra (Purnomo. dan membungkus uretra posterior. Oleh karena suatu sebab seperti faktor usia. sehingga terjadi hiperplasi kelenjar periuretral. Maka sel stem dapat berproliferasi dengan cepat. 1978) menyebutkan bahwa jaringan kembali seperti perkembangan pada masa tingkat embriologi sehingga jaringan periuretral dapat tumbuh lebih cepat dari jaringan sekitarnya. Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa ± 20 gram. Pada umumnya dikemukakan beberapa teori : Teori Sel Stem. Patofisiologi Kelenjar prostat adalah salah satu organ genetalia pria yang terletak di sebelah inferior buli-buli.

miksi terputus. pancaran lemah. rasa belum puas setelah miksi. Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau pembesaran prostat akan merangsang kandung kemih. sedang trigonum. menetes pada akhir miksi. sehingga sering berkontraksi walaupun belum penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitas . Secara garis besar. Tonjolan mukosa yang kecil dinamakan sakula sedangkan yang besar disebut divertikel. Pada tahap awal setelah terjadinya pembesaran prostat akan terjadi resistensi yang bertambah pada leher vesika dan daerah prostat. maka efek terjadinya perubahan pada traktus urinarius juga terjadi perlahan-lahan. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi dengan cukup lama dan kuat sehingga kontraksi terputus-putus (mengganggu permulaan miksi).lanjut akan terjadi perubahan keseimbangan testosteron estrogen karena produksi testosteron menurun dan terjadi konversi tertosteron menjadi estrogen pada jaringan adipose di perifer. Penonjolan serat detrusor ke dalam kandung kemih dengan sistoskopi akan terlihat seperti balok yang disebut trahekulasi (buli-buli balok). yang di dalam sel-sel kelenjar prostat hormon ini akan diubah menjadi dehidrotestosteron sel-sel kelenjar (DHT) prostat dengan untuk bantuan enzim protein alfa reduktase. Fase penebalan detrusor ini disebut Fase kompensasi otot dinding kandung kemih. terjadi Dehidrotestosteron inilah yang secara langsung memacu m-RNA di dalam mensintesis sehingga pertumbuhan kelenjar prostat. Perubahan patofisiologi yang disebabkan pembesaran prostat sebenarnya disebabkan oleh kombinasi resistensi uretra daerah prostat. Mukosa dapat menerobos keluar diantara serat aetrisor.Pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu obstruksi dan iritasi. Oleh karena pembesaran prostat terjadi perlahan. detrusor dipersarafi oleh sistem parasimpatis. Apabila keadaan berlanjut maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin. Purnomo (2000) menjelaskan bahwa pertumbuhan kelenjar ini sangat tergantung pada hormon testosteron. leher vesika dan prostat oleh sistem simpatis. tonus trigonum dan leher vesika dan kekuatan kontraksi detrusor. Kemudian detrusor akan mencoba mengatasi keadaan ini dengan jalan kontraksi lebih kuat dan detrusor menjadi lebih tebal.

rasa tidak puas sehabis miksi. Keluhan iritasi dan hematuria. dan nyeri pada saat miksi (disuria) (Mansjoer. yang dapat menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluks menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi dengan cukup lama dan kuat sehingga mengakibatkan: pancaran miksi melemah. Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik mengakibatkan penderita harus mengejan pada miksi yang menyebabkan peningkatan tekanan intraabdomen yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid. perasaan ingin miksi yang mendesak (urgensi). maka suatu saat vesiko urinaria tidak mampu lagi menampung urin.otot detrusor (frekuensi miksi meningkat. terbangun untuk miksi pada malam hari (nokturia). nokturia. Retensi kronik menyebabkan refluks vesiko ureter dan dilatasi. stasis urin dalam vesika urinaria menjadikan media pertumbuhan mikroorganisme. Gejala iritasi. sehingga tekanan intravesikel lebih tinggi dari tekanan sfingter dan obstruksi sehingga terjadi inkontinensia paradox (overflow incontinence). Stasis urin dalam vesiko urinaria akan membentuk batu endapan yang menambal. terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau pembesaran prostat akan merangsang kandung kemih. Manifestasi Klinis Gambaran klinis pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu obstruksi dan iritasi. ureter dan ginjal. dan waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensio urin dan inkontinen karena overflow. kalau mau miksi harus menunggu lama (hesitancy). sehingga sering berkontraksi walaupun belum penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitas otot detrusor dengan tanda dan gejala antara lain: sering miksi (frekwensi). miksi sulit ditahan/urgency. 2000) . harus mengejan (straining) kencing terputus-putus (intermittency). Selain itu. disuria). 2005) D. Karena produksi urin terus terjadi. maka ginjal akan rusak dan terjadi gagal ginjal.

Rectal Gradding Dilakukan pada waktu vesika urinaria kosong : a. Grade 1 c. Grade 0 b. . Stadium IV Retensi urine total. anyang-anyangan. : Penonjolan prostate 2-3 cm ke dalam rektum. Ada rasa tidak enak BAK atau disuria dan menjadi nokturia. Stadium II Ada retensi urine tetapi kandung kemih mampu mengeluarkan urine walaupun tidak sampai habis. 3. : Penonjolan prostate 3-4 cm ke dalam rektum. dribbing (urine terus menerus setelah berkemih). masih tersisa kira-kira 60-150 cc.Derajat berat BPH menurut Sjamsuhidajat (2005) dibedakan menjadi 4 stadium : 1. : Penonjolan prostate 1-2 cm ke dalam rektum. nokturia. Grade 3 : Penonjolan prostate 0-1 cm ke dalam rektum. 2. urine menetes secara periodik (over flow inkontinen). retensi urine akut. aliran urine tak lancar. Menurut Brunner and Suddarth (2002) menyebutkan bahwa : Manifestasi dari BPH adalah peningkatan frekuensi penuh. dorongan ingin berkemih. volume urine yang turun dan harus mengejan saat berkemih. Stadium I Ada obstruktif tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan urine sampai habis. 4. Stadium III Setiap BAK urine tersisa kira-kira 150 cc. buli-buli penuh pasien tampak kesakitan. Grade 2 d. Adapun pemeriksaan kelenjar prostat melalui pemeriksaan di bawah ini : 1. abdomen tegang.

Normal b. Grade 4 : Penonjolan prostate 4-5 cm ke dalam rektum. Grade II d. a. Pathway . disuruh kencing dahulu kemudian dipasang kateter. Clinical Gradding Banyaknya sisa urine diukur tiap pagi hari setelah bangun tidur.e. E. Grade III : Tidak ada sisa : sisa 0-50 cc : sisa 50-150 cc : sisa > 150 cc e. Grade IV : pasien sama sekali tidak bisa kencing. Grade I c. 2.

Komplikasi 1. Perdarahan .F.

Pemeriksaan Uroflowmetri Salah satu gejala dari BPH adalah melemahnya pancaran urin. hernia. Pemeriksaan Penunjang 1. . Batu kandung kemih 4.2. Hydronefrosis G. serum elektrolit dan kadar gula digunakan untuk memperoleh data dasar keadaan umum klien. b. prolaps rectum akibat mengedan 8. Retensi urine 5. Epididimitis 7. Flow rate maksimal < 10 ml / dtk = obstruktif. 2. faal ginjal. c. Haemorhoid. Pemeriksaan Laboratorium a. PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting diperiksa sebagai kewaspadaan adanya keganasan. Pemeriksaan darah lengkap. Flow rate maksimal 10 – 15 ml / dtk = border line. Secara obyektif pancaran urin dapat diperiksa dengan uroflowmeter dengan penilaian : a. Pemeriksaan urin lengkap dan kultur. Infeksi saluran kemih disebabkan karena catheterisasi 9. c. Inkotinensia 3. b. Impotensi 6. Flow rate maksimal > 15 ml / dtk = non obstruktif.

transuretral dan supra pubik. Pemeriksaan Panendoskop : untuk buli – buli.Scan dan MRI Computed Tomography Scanning (CT-Scan) dapat memberikan gambaran adanya pembesaran prostat. 4. BOF (Buik Overzich ) :Untuk melihat adanya batu dan metastase pada tulang. digunakan untuk memeriksa konsistensi. 5. Pemeriksaan CT. Pemeriksaan dapat dilakukan secara transrektal. 6.3. IVP (Pyelografi Intravena) Digunakan untuk melihat fungsi ekskresi ginjal dan adanya hidronefrosis. b. c. Selain itu sistoscopi dapat juga memberi keterangan mengenai besar prostat dengan mengukur panjang urethra pars prostatica dan melihat penonjolan prostat ke dalam urethra. USG (Ultrasonografi). namun pameriksaan ini jarang dilakukan karena mahal biayanya. Pemeriksaan Imaging dan Rontgenologik a. volume dan besar prostat juga keadaan buli – buli termasuk residual urin. pemeriksaan ini dapat memberi gambaran kemungkinan tumor di dalam kandung kemih atau sumber perdarahan dari atas apabila darah datang dari muara ureter atau batu radiolusen di dalam vesica. sedangkan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat memberikan gambaran prostat pada bidang transversal maupun sagital pada berbagai bidang irisan. Pemeriksaan sistografi Dilakukan apabila pada anamnesis ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan urine ditemukan mikrohematuria. mengetahui keadaan uretra dan .

Pembedahan Indikasi pembedahan pada BPH adalah : a. Serenoa repens. Obat yang digunakan dari: phitoterapi gelombang alfa blocker dan golongan supresor androgen. e. c. Klien yang mengalami retensi urin akut atau pernah retensi urin akut. dan berat tanpa disertai penyulit. Flowmetri menunjukkan pola obstruktif. . Penatalaksanaan Modalitas terapi BPH adalah : 1. dll).H. Medikamentosa Terapi ini diindikasikan pada BPH dengan keluhan ringan. TURP (Trans Uretral Resection Prostatectomy) Yaitu pengangkatan sebagian atau keseluruhan kelenjar prostat melalui sitoskopi atau resektoskop yang dimasukkan malalui uretra. b. d. 3. Observasi Yaitu pengawasan berkala pada klien setiap 3 – 6 bulan kemudian setiap tahun tergantung keadaan klien 2. berasal (misalnya: Hipoxis rosperi. sedang. Klien dengan penyulit. Klien dengan residual urin > 100 ml. Pembedahan dapat dilakukan dengan : a. Terapi medikamentosa tidak berhasil.

e. 4. Trans Uretral Ballon Dilatation (TUBD) . Terapi Invasif Minimal a. Trans Uretral Ultrasound Guided Laser Induced Prostatectomy (TULIP) c. Trans Uretral Mikrowave Thermotherapy (TUMT) Yaitu pemasangan prostat dengan gelombang mikro yang disalurkan ke kelenjar prostat melalui antena yang dipasang melalui /pada ujung kateter. Prostatektomi retropubis Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi pada abdomen bagian bawah melalui fosa prostat anterior tanpa memasuki kandung kemih. Prostatektomi Peritoneal Yaitu pengangkatan kelenjar prostat radikal melalui sebuah insisi diantara skrotum dan rektum. vesikula seminalis dan jaringan yang berdekatan melalui sebuah insisi pada abdomen bagian bawah. Prostatektomi retropubis radikal Yaitu pengangkatan kelenjar prostat termasuk kapsula. c. uretra dianastomosiskan ke leher kandung kemih pada kanker prostat. Prostatektomi Suprapubis Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi yang dibuat pada kandung kemih. b. d.b.

I. hematuria. Eliminasi Gejala : Penurunan kekuatan/dorongan aliaran urin. ragu-ragu berkemih. Pengkajian Fokus a.000 5) Ultrasonografi transrektal dan suprapubic untuk mengetahui ukuran prostat. panggul. 3) BUN / Kreatinin: Meningkat pada gangguan ginjal 4) SDP : Lebih dari 11. Diagnosa Keperawatan . tetes. Nyeri/ kenyamanan Gejala c. Sirkulasi d.PH 7 atau lebih. nokturia. Tanda : Massa padat dibawah abdomen bawah (Distensi Kandung kemih.Colly. terang ( berdarah ). 2.coklat gelap. Pemeriksaan Diagnostik 1) Urinalisa 2) Kultur urin : Warna kuning. b. Psikososial : Nyeri suprapubis. Asuhan Keperawatan 1. Proteus. disuria. E.merah gelap atau : Ada staphylococcus Aureus. nyeri tekan kandung kemih ). gangguan Seksualitas e. Pseudomonas.punggung bawah : Peninggian tekanan darah : Ekspresi takut akibat inkontinensia.

antara lain : a. Hasil yang diharapkan : Pasien menunjukan : Peningkatan pola BAK Tidak teraba distensi abdomen Menunjukan residu setelah berkemih kurang dari 50 ml. obstruksi mekanik. distensi kandung kemih dan residu urin lebih . ketidakmampuan mengosongkan dari 50 cc. inkontinensia/menetes. ketidakmampuan kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat. 4) Anjurkan pasien untuk mengintake cairan 3000 ml/hari ( 10 – 15 gelas perhari.d. pembesaran prostat. dekompensasi otot detrusor.Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan Benigna Prostate Hyperplasi (BPH). 2) Awasi dan catat waktu. yaitu teraba adanya masa pada daerah abdomen bawah. Rasional : Peningkatan intake cairan dapat mempertahankan perfusi ke ginjal dan kandung kemih dari pertumbuh bakteri kandung kemih dengan lengkap. jumlah setiap berkemih. perhatikan penurunan haluaran urin. Rasional : Untuk mengetahui kemampuan ginjal untuk berfungsi secara normal 3) Palpasi area supra pubik. keragu-raguan. Rasional : Meminimalkan terjadinya retensi urin yang berlebihan pada kandung kemih. Data pendukung : Frekuensi. Rasional : Retensi urin dapat diketahui dengan palpasi daerah suprapubik. Retensi Urin ( Akut/kronik ) b. Intervensi/tindakan: 1) Dorong pasien untuk berkemih tiap 2 – 4 jam atau bila pasien tibatiba merasa untuk berkemih. tidak adanya tetesan/kelebihan aliran.

terapi radiasi.d. Nyeri Akut b. iritasi mukosa . 8) Kolaborasi pemberian antispasmodik misalnya oksibutinin klorida (Ditropan). perubahan mental. gelisah.ukur intake dan output cairan setiap hari. infeksi urinaria. kolik ginjal. 9) Memberiakan antibiotik Rasional : Untuk melawan infeksi.penyempitan ureter.5) Observasi tanda-tanda vital setiap jam. 7) Tindakan kateterisasi menggunakan Kateter coude Rasional : Mengurangi dan mencegah retensi urin. Rasional : Untuk meningkatkan relaksasi otot. respon otonomik. 11) Lakukan hipertermi transuretral ( pemanasan bagian sentral prostat dengan memasukan elemen pemanas melalui uretra) Rasional : Mengecilkan prostat ( 1 . Rasional : Menghilangkan spasme kandung kemih sehubungan dengan iritasi kateter. Rasional : untuk mengalirkan urin selama episode akut dengan azotemia. Data Pendukung : Keluhan nyeri. distensi kandung kemih.2 kali/ minggu ) b. menurunkan edema dan merangsang untuk berkemih. dapat berlanjut pada terjadinya gagal ginjal total. 6) Lakukan kompres hangat atau rendam duduk. Kriteria evaluasi / hasil yang diharapkan : Pasien akan : Memberitahukan nyeri hilang/ terkontrol Tampak rileks . meringis. misalnya sistostomy. 10) Siapkan untuk drainase urin. Kateter Coude diperlukan karena ujungnya lengkung sehingga memudahkan masuknya selang melalui uretra prostat. Rasional : Kehilangan fungsi ginjal menyebabkan penurunan eliminasi cairan dan akumulasi sisa toksik . perubahan tonus otot.Awasi terjadinya hipertensi. edema perifer.Timbang berat badan setiap hari.

Intervensi : 1) Kaji dan catat kualitas. Gunakan skala nyeri (0-10) 0 (tidak ada nyeri) 10 (nyeri yang paling hebat). Rasional : Diuresis dapat meneyababkan kekurangan volume cairan. Intervensi / rencana tindakan : 1) Monitor pengeluaran urin tiap jam. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan b. 2) Jelaskan penyebab rasa sakit dan cara menguranginya 3) Kolaborasi terapi dengan pemberian Analgesik sesuai program. karena natrium tidak cukup diabsorbsi dalam tubulus ginjal. 5) Berikan cairan IV . Endokrin. kandung kemih yang terlalu distensi secara kronis . adanya tanda-tanda dan gejala-gejala membuat diagnosa aktual ). 4) Ajarkan teknik mengatasi rasa nyeri : napas dalam untuk menurunkan stress dan membantu rilaks otot yang tegang 5) Kompres es pada daerah yang sakit untuk mengurangi nyeri 6) Ciptakan lingkungan yang tenang c. tekanan darah. evaluasi pengisian kapiler dan membran mukosa oral Rasional : untuk mendeteksi terjadinya hipovolemik. memudahkan homeostasis sirkulasi. lokasi dan durasi nyeri. ketidakseimbangan elektrolit ( disfungsi ginjal ) Data pendukung : (Tidak dapat diterapkan . 3) Motivasi pasien untuk meningkatkan intake cairan peroral Rasional : untuk mengimbangi cairan yang keluar akibat diuresis 4) Berikan posisi semi fowler kepala pasien Rasional : Menurunkan kerja jantung. dan membran mukosa lembab. pengisian kapiler baik.- Istirahat dengan tenang.d. pasca obstruksi diuresis dari drainase cepat. Hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi : Pasien akan mempertahankan hidrasi yang adekuat yang dibuktikan dengan tanda-tanda vital dalam batas normal. 2) Monitor tanda-tanda vital : nadi.

Intervensi : 1) Selalu bersama – sama dengan pasien bina hubungan saling percaya Rasional : Menunjukan perhatian dan keinginan untuk membantu 2) Berikan informasi tentang tanda / prosedur dan tes khusus seperti pemasangan kateter. tidak mengenal sumber informasi Data pendukung : Pasien sering bertanya tentang penyakit. iritasi pada kandung kemih. .Rasional : Menggantikan cairan yang hilang. urin berdarah. tanda dan gejala penyakit.d kurang terpapar terhadap informasi.d perubahan status kesehatan : kemungkinan prosedur/ malignansi Data pendukung : Perut tegang Hasil yang diharapkan : Rasa takut dan tegang berkurang. pasien tampak rileks.etiologi. sehingga dapat mengurangi rasa takut dan kecemasan 3) Anjurkan kepada pasien untuk mengungkapkan perasaannya kepada orang terdekat Rasional : mengurangi kecemasan e. Rasional : Meningkatkan pemahaman pasien tentang tujuan dari apa yang dilakukan. Hasil yang diharapkan / Kriteria evaluasi : Pasien akan memahami tentang proses penyakit Pasien akan dapat mengidentifikasi tentang tanda dan gejala proses penyakit Pasien akan berpartisipasi dalam program pengobatan. pasien tidak melakukan intervensi sesuai instruksi. Ketakutan / ansietas b. prognosis dan kebutuhan pengobatan b. d. Tindakan/Intervensi : Pendidikan Kesehatan 1) Berikan informasi tentang penyakit : pengertian. 2) Berikan informasi kepada pasien bahwa penyakit ini tidak ditularkan secara seksual atau melalui hubungan seksual. Kurang pengetahuan tentang kondisi.

. 5) Anjurkan kepada pasien untuk melakukan kunjungan ulang selama 6 bulan sampai 1 tahun. alkohol. 4) Berikan latihan berkemih kepada pasien post pemasangan kateter. mengemudikan dalam waktu yang lama. kopi. karena dapat menyebabkan iritasi dan meningkatkan produksi urin sehingga terjadi distensi otot bladder.3) Anjurkan pasien untuk menghindari makanan berbumbu.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->