P. 1
Politik Sebagai Panggilan

Politik Sebagai Panggilan

|Views: 26|Likes:
Published by Rio Seran
Sebuah Opini Tentang Pandangan Gereja Tentang Demokrasi
Sebuah Opini Tentang Pandangan Gereja Tentang Demokrasi

More info:

Published by: Rio Seran on Apr 13, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/27/2014

pdf

text

original

Politik Sebagai Panggilan (Pandangan Gereja Katolik tentang Demokrasi) Beberapa tahun lalu wacana politik di antara warga

beragama Kristen cukup diramaikan oleh terbitnya buku Sakramen Politik karya Eddy Kristiyanto, OFM. Di dalam buku pastor Eddy menunjukkan sejumlah argumentasi yang menggarisbawahi pentingnya politik dan peran para politisi dalam bingkai pemahaman orang Kristen. Politik demikian penting, sehingga disebut sebagai sakramen. Tentu bukan maksudnya untuk mensakralisasi politik dan membuatnya tidak tersentuh oleh keharusan diskusi, tetapi untuk mengangkat nilainya sebagai sarana penyelenggaraan kekuasaan demi kesejahteraan warga, melaluinya keselamatan yang dikehendaki Tuhan bagi manusia dapat dialami. Makna penting politik sebenarnya menjadi bagian dari ajaran Gereja Katolik. Gereja menyadari sepenuhnya arti penting demi perwujudan ideal sebuah masyarakat yang sejahtera dan manusia yang bebas. Sebab itu, Gereja mendorong semua orang yang memiliki minat terhadap politik untuk mempersiapkan diri bagi “panggilan sebagai politikus”, yang “berat namun mulia” ini. Sekaligus diingatkan, agar orang yang menjalankan panggilan ini adalah orang-orang yang memiliki integritas moral dan kebijaksanaan, orang-orang yang karena itu berani “menentang setiap bentuk ketidakadilan dan penindasan, melawan kesewenang-wenangan dan intoleransi terhadap orang atau kelompok lain”. Seorang politikus yang baik adalah “seorang yang adil dan jujur, yang membaktikan dirinya demi kepentingan seluruh masyarakat”. (Gaudium et Spes/GS 75) Dari seorang yang beriman Katolik, yang mewujudkan aktivitas politiknya di dalam sebuah partai politik, diharapkan kesediaan untuk membiarkan iman itu menjalankan ketiga perannya terhadap politik: sebagai sumber visi, motivator kegiatan politik dan instansi moral. Seorang politisi Katolik hendaknya merasa yakin bahwa berpolitik adalah sebuah panggilan. Dalam konteks dewasa ini, panggilan untuk berpolitik berarti panggilan untuk menjadi pejuang demokrasi. Setelah melewati pergumulan yang panjang, Gereja Katolik sampai pada sikap yang secara positif menerima demokrasi sebagai sistem politik yang perlu didukung. Ini ditegaskan di dalam Konsili Vatikan II (1962-

1965). Gereja memang mendorong perjuangan ke arah demokrasi, namun serentak mengingatkan bahwa penerapan sistem ini mesti disesuaikan dengan kondisi berbeda masing-masing wilayah. Karena sadar bahwa kesejahteraan hanya dapat diusahakan secara bersama-sama, maka Gereja mendorong semua orang yang berkehendak baik untuk melibatkan diri dalam mengupayakan kesejahteraan tersebut. Partisipasi ini adalah wujud dari demokrasi (GS 31 dan 75). Gereja sadar bahwa pluralitas partai politik dan paket-paket calon dalam setiap musim Pemilu adalah satu kenyataan wajar, sebab hal ini lahir dari makna demokrasi itu sendiri. Sebab itu, Gereja sama sekali tidak bertendensi untuk mengidentikkan diri dengan satu partai politik atau satu paket calon, atau mengarahkan umatnya untuk hanya terlibat di dalam satu partai politik dan pada waktu pemilu hanya memilih satu partai politik atau paket calon pemimpin (Catatan Ajaran pada Beberapa Pertanyaan berhubungan dengan Peranserta Umat Katolik di dalam Kehidupan Politik, 3). Secara lebih eksplisit dan luas paham Gereja Katolik tentang demokrasi tertuang dalam apa yang disebut sebagai ensiklik Centisimus Annus (CA) yang diterbitkan Paus Yohanes Paulus. Di dalam CA artikel 46 ditulis: “Gereja menghargai sistem demokrasi, karena membuka wewenang yang luas bagi warganegara untuk berperanserta dalam penentuan kebijakan-kebijakan politik, lagipula memberi peluang bagi rakyat bawahan untuk memilih para pemimpin, tetapi juga meminta pertanggungjawaban dari mereka, dan – bila itu memang sudah selayaknya – menggantikan mereka melalui cara-cara damai”. Dengan ini ditunjukkan keunggulan demokrasi sebagai sebuah mekanisme kekuasaan yang tidak hanya berdampak pada bidang politik tetapi pada seluruh bidang kehidupan. Pernyataan terakhir di atas menunjukkan pandangan Gereja Katolik terhadap pemilihan umum (Pemilu). Pemilu merupakan mekanisme yang memungkinkan rakyat memilih, meminta pertanggungjawaban dan dapat menurunkan para pemimpinnya secara damai. Sebab itu, kontribusi bagi sebuah proses Pemilu yang sungguh demokratis adalah sebuah praksis yang dituntut iman. Dalam konteks Gereja Indonesia, para Uskup Indonesia mengeluarkan sejumlah pernyataan dan seruan untuk mendukung demokrasi dan menumbuhkan sikap demokratis dalam Pemilu sebagai sebuah perwujudan dari tanggung jawab iman. Dalam Nota Pastoral KWI tahun 2003 yang berjudul Keadilan Bagi Semua disampaikan

pentingnya memperhatikan etika politik demi terealiasasinya kesejahteraan bersama. Sejalan dengan ajaran umum Gereja, para uskup menyebutkan beberapa prinsip etika politik. Prinsip-prinsip ini, karena sifatnya yang sangat umum, perlu diperjuangkan para politisi serentak menjadi kriteria bagi warga untuk menilai komitmen demokrasi seorang politisi. Pertama, hormat terhadap martabat manusia. “Martabat manusia Indonesia harus dihargai sepenuhnya dan tak boleh diperalat untuk tujuan apapun, termasuk tujuan politik” (17.1). Politisi yang mengadudombakan warga bukanlah politisi yang bertanggungjawab. Kedua, kebebasan. Yang dimaksudkan adalah “bebas dari segala bentuk ketidakadilan dan bebas untuk mengembangkan diri secara penuh” (17.2). Dalam alam demokrasi, warga mesti dijamin untuk menentukan pilihan tanpa tekanan dalam bentuk apapun. Ketiga, keadilan. Kesejahteraan membutuhkan kepastian hukum (17.3). Kepastian ini hanya dapat dijamin oleh politisi yang taat hukum, yang tidak menggunakan daya pikat uang atau daya tekan kekuasaan untuk menutupi kesalahannya. Keempat, solidaritas. “Untuk masyarakat di mana banyak orang mengalami perlakuan dan keadaan tidak adil, solider berarti berdiri pada pihak korban ketidakadilan, termasuk ketidakadilan struktural” (17.4). Apabila warga menjadi menjadi korban keputusan yang dihasilkan karena kolusi pengusaha dan penguasa pada tingkat di atas, seorang politisi yang bertanggung jawab mesti berani meninjau kembali keputusan seperti itu. Kelima, subsidiaritas. Ini berarti, “menghargai kemampuan setiap manusia, baik pribadi maupun kelompok untuk mengutamakan usahanya sendiri, sementara pihak yang lebih kuat siap membantu”. Politik yang demokratis membuka ruang bagi inisiatif dan tanggung jawab para warga. (17.5). Keenam, fairness. Politik yang demokratis adalah politik yang memungkinkan “dihormatinya pribadi dan nama baik lawan politik; dihargainya perbedaan wilayah privat dari wilayah publik; disadari dan dilaksanakannya kewajiban sebagai pemenang suatu kontes politik untuk memperjuangkan kepentingan dan kesejahteraan seluruh rakyat.” (17.6) Kemenangan bukan jalan untuk melakukan balas dendam politik. Politisi yang tampil dengan ancaman-ancaman untuk mereka yang tidak sejalan dengan dia bukanlah politisi yang dewasa dan pantas dipercayai.

Ketujuh, demokrasi. Demokrasi sebagai sistem “tidak hanya menyangkut hidup kenegaraan, melainkan juga hidup ekonomi, sosial dan kultural”. Semuanya mesti terarah kepada kesejahteraan dan keadilan para warga (18.7). Seorang politisi perlu memiliki konsep bagaimana membangun kesejahteraan warga, mengatasi kesenjangan dan memberikan rasa percaya diri. Kedelapan, tanggung jawab. “Bertanggungjawab berarti mempunyai komitmen penuh pengabdian dalam pelaksanaan tugas”. Yang penting diperhatikan adalah dua dimensi dari tanggungjawab, yakni tanggungjawab atas kekuasaan dan kepada rakyat (17.8). Orang yang angkuh tidak merasa perlu bertanggung jawab. Semua pernyataan ini menunjukkan bahwa Gereja mendukung demokrasi dan memberikan sejumlah rambu yang perlu diperhatikan di dalam berdemokrasi. Pernyataan positif ini adalah ungkapan dukungan bagi para politisi. Catatan Ajaran pada Beberapa Pertanyaan berhubungan dengan Peranserta Umat Katolik di dalam Kehidupan Politik dari Kongregasi untuk Ajaran Iman menulis: “Pelayanan kepada masyarakat dan kehidupan umum – merupakan kesempatan-kesempatan yang ditahbiskan oleh Penyelenggaraan Ilahi untuk secara bersinambung mengamalkan iman, pengharapan serta cinta kasih” (6). Menjadi politisi yang baik adalah satu jalan untuk membuat hidup sendiri dan hidup orang lain lebih bermakna dan bermartabat. Paul Budi Kleden, SVD Pos Kupang, 26 Januari 2013

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->