PT-PLA C3.

2-2007

PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN TATA AIR MIKRO (TAM)

DIREKTORAT PENGELOLAAN AIR DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR DEPARTEMEN PERTANIAN 2007

KATA PENGANTAR Dalam pemanfaatan lahan rawa kendala yang ditemui antara lain tingkat produktivitas rendah yang diakibatkan oleh adanya zat-zat / senyawa beracun (pirit) karena drainase yang buruk. Salah satu teknologi untuk mengatasi hal ini adalah dengan pengaturan tata air tingkat usahatani, yang lebih dikenal dengan teknologi ”Tata Air Mikro" (TAM). Untuk memberikan petunjuk secara teknis kepada daerah di dalam pelaksanaannya, maka Pedoman Teknis ini perlu dijabarkan dalam bentuk buku petunjuk pelaksanaan untuk Dinas Pertanian Propinsi dan buku petunjuk teknis untuk Dinas Pertanian Kabupaten dalam rangka arahan dan acuan pengembangan lahan rawa di daerah. Kami menyadari bahwa buku Pedoman Teknis ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca akan sangat kami hargai. Akhirnya kami berharap semoga buku ini dapat bermanfaat. Jakarta, Januari 2007 Direktur Pengelolaan Air,

Dr. Ir. S. Gatot Irianto NIP. 080 085 357

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN I. PENDAHULUAN A. B. C. II. Latar Belakang Tujuan dan Sasaran Istilah 1 1 4 5 10 10 10 14 19 19 19 21 21 21 21 22

PELAKSANAAN A. B. C. D. E. F. Lokasi Survey, Investigasi dan Desain Konstruksi Partisipasi Pengawasan Pembiayaan

III.

INDIKATOR KINERJA A. B. C. D. Keluaran (Output) Hasil (Outcome) Manfaat (Benefit) Dampak (Impact)

D.IV. Monitoring Evaluasi Perkembangan Laporan Akhir Realisasi Pelaksanaan Kegiatan Fisik dan Keuangan 23 23 24 24 25 . C. B. MONITORING DAN EVALUASI A.

Peningkatan laju jumlah dengan pertumbuhan penduduk 1. teknologi dan finansial.47 % per tahun terbukti belum proporsional dengan pertumbuhan produksi padi dekade 5 tahun terakhir hanya 0.I. Kompetisi air antara sektor domistik. Jawa. Beberapa kendala yang dihadapi dalam peningkatan produksi pangan antara lain: (1) keterbatasan penyediaan air akibat kompetisi antar sektor (2) penyusutan lahan produktif akibat alih fungsi (3) terjadinya pelandaian produksi akibat levelling off (4) degradasi lingkungan dan (5) deteorisasi infrastruktur irigasi sehingga menyebabkan stagnasi produktivitas di P. Lahan yang tersedia cenderung marginal dengan berbagai kendala. Latar Belakang Tantangan tanaman pangan khususnya padi dihadapkan pada kendala ketersediaan lahan dan air.69 %. munisipal dan industri dengan sektor pertanian seringkali diakhiri dengan sektor pertanian sebagai korbannya akibat keterbatasan akses birokrasi. . PENDAHULUAN A. demikian kebutuhan halnya dengan pangan kualitas airnya.

kinerja sehingga lahan rawa dengan dapat sentuhan teknologi. dan lahan kering. Pandangan para pakar yang menggolongkan lahan rawa sebagai sumber daya yang . namun belum proporsional dibandingkan dengan investasi lahan rawa dan lahan kering terutama ditinjau dari segi infrastrukturnya. Indeks Pertanaman (IP) lahan rawa masih relatif sangat maka rendah. namun apabila digarap dengan teknologi yang sesuai kinerja lahan rawa dapat sejajar dengan lahan pertanian lainnya. Meskipun disadari sepenuhnya bahwa. luas tanam. Tingkat produktivitas. lahan rawa bukanlah lahan yang terbaik untuk usaha pertanian dibandingkan lahan pertanian lainnya. dioptimalkan. Investasi pemerintah pada lahan rawa meskipun relatif besar. Investasi pemerintah di lahan rawa sudah cukup besar dalam penempatan sejumlah transmigran dengan tingkat kehidupan dan kesejahteraan yang belum memadai perlu didukung dengan upaya nyata pendayagunaan lahan rawa di tingkat usaha tani.Lahan rawa saat ini merupakan alternatif pilihan dalam perluasan areal baru dan optimasi sistem produksi pertanian yang sangat potensial setelah lahan sawah irigasi.

Berdasarkan lahan rawa ilustrasi bukanlah tersebut.100 Ha (7 Propinsi) serta TA. 2002 seluas 4. Pada tahun 2006 Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air telah mengembangkan TAM seluas 43. 2005 seluas 26.705 Ha di 11 Propinsi. maka Direktorat Bina Pertanian (BSP) melaksanakan kegiatan pengembangan Tata Air Mikro (TAM).300 Ha (14 propinsi). 2003 seluas 9. merencanakan pengembangan TAM seluas 22.500 Ha (3 Propinsi) dan TA. .772 Ha (16 propinsi) dan selanjutnya pada tahun 2007. Berdasarkan Jenderal pertimbangan Sarana tersebut.889 hektar di 13 propinsi. dengan kunci utama pengelolaan sistim pengairan. pemanfaatan pekerjaan mudah. 29 Kabupaten yang merupakan kelanjutan dari pengembangan TAM TA. Pada TA. 2004 telah dikembangkan TAM seluas 21.kurang sesuai. mulai dari sistim Tata Air Makro sampai dengan Tata Air Mikro di petakan. (less favorable) atau sumber daya yang rapuh (vulnerable) merupakan tantangan bagi kita semua untuk membuktikan maka sebaliknya. karena tantangannya sungguh berat.

Membangun rasa memiliki petani terhadap jaringan irigasi yang sudah dibangun. Membuka lapangan kerja di pedesaan melalui partisipasi masyarakat penerima bantuan dalam kegiatan padat karya. Tujuan Kegiatan Pengembangan Tata Air Mikro (TAM) di lahan rawa bertujuan sebagai berikut : a. Meningkatkan Penambahan Perluasan Indeks Areal Tanam melalui dan Pertanaman (IP) Penambahan Baku Lahan (PLB) dan produktivitas lahan. b.B. 2. c. Meningkatnya Perluasan Areal Tanam (PAT) melalui Penambahan Indeks Pertanaman (IP) dan Penambahan Baku Lahan (PBL). . Tujuan dan Sasaran 1. Sasaran Sasaran yang akan dicapai dengan dilaksanakannya program ini antara lain : a.

Menguatnya ketahanan pangan nasional melalui pemanfaatan lahan-lahan rawa dengan tingkat produksi optimal yang berkesinambungan.. C. Meningkatan produksi pangan terutama padi. c. Apabila faktor-faktor lain yang mempengaruhi sistem produksi pertanian cukup kondusif. b. d. Tersedianya lapangan kerja di pedesaan melalui partisipasi masyarakat. Terciptanya rasa memiliki petani terhadap jaringan irigasi yang sudah dibangun. Istilah Beberapa istilah yang dipergunakan dalam buku pedoman ini mempunyai pengertian sebagai berikut : . maka pengembangan TAM ini diharapkan dapat : a.b. khususnya di 13 propinsi pengembangan yang diharapkan dapat mendukung / menyangga kebutuhan pangan nasional. Meningkatnya produktivitas lahan. melalui perbaikan tata air.

Padat Karya Pertanian adalah suatu kegiatan padat karya yang melibatkan atau mempekerjakan petani. Lahan Rawa Lebak adalah : Lahan rawa yang tergenang air hujan dalam kurun waktu relative lama. Indeks adalah: Pertanaman/IP Suatu ukuran (Croping Intensity) lahan atau pemanfaatan frekuensi tanam dalam luasan tertentu dalam kurun waktu satu tahun. . Gorong-Gorong adalah : Bangunan fisik yang dibangun memotong jalan / galengan yang berfungsi untuk penyaluran air. tetapi masuk dalam lokasi pengembangan. buruh tani atau warga perdesaan miskin lainnya pada kegiatan pembangunan infrastruktur pengelolaan lahan dan air untuk tujuan produktif di sektor pertanian. Lahan Rawa Pasang Surut adalah : Lahan rawa yang dipengaruhi oleh pasang naik dan pasang surut air laut secara nyata.Enclove adalah : Keadaan sebidang lahan yang karena satu dan lain hal tidak termasuk dalam pengembangan TAM.

. Produktivitas adalah : Tingkat hasil / produksi yang didapatkan penanaman. Rehabilitasi adalah : Perbaikan infrastruktur yang sudah pernah ada yang karena sesuatu dan lain hal keadaannya kurang berfungsi. Saluran Cacing adalah : saluran menyilang dan membujur di petakan sawah Saluran Keliling Petakan adalah : saluran air yang dibuat mengelilingi petakan sawah dalam luasan per hektar tanam dalam satu kali maximum 1 ha. Pintu Air adalah : Bangunan fisik yang dapat mengatur keluar masuk air pasang / surut sesuai dengan kebutuhan tanaman yang diusahakan.Peta Kepemilikan Lahan adalah : gambaran situasi dalam SID yang mencantumkan luas lahan dan nama pemilik yang terkena kegiatan TAM. Saluran Kwarter adalah : saluran air yang menghubungkan sub tersier ke saluran keliling.

mempermudah. transparan. menyempurnakan kegiatan fisik TAM. perhitungan RAB yang akan dilaksanakan pembangunannya. Swakelola adalah : Pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan. Tata Air Makro adalah : Penguasaan air di tingkat kawasan / areal reklamasi yang bertujuan mengelola . spesifikasi infrastruktur. diskusi mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan. yang dapat dilaksanakan oleh pengguna barang/jasa. Sosialisasi adalah : Pemberitahuan sesuatu rencana kegiatan dalam hal ini TAM kepada semua pihak terkait secara runut. kelompok masyarakat dan LSM. instansi pemerintah. dalam bentuk urun rembuk.Saluran Sub Tersier adalah : saluran air yang menghubungkan tersier ke kwarter. dikerjakan dan diawasi sendiri. Stimulan adalah : Bantuan dalam bentuk rangsangan pengadaan bahan dan alat untuk mempercepat. Survey Investigasi Desain (SID) adalah : Penentuan / penetapan lokasi dan jenis.

saluran intersepsi dan kawasan tampung hujan. mengatur tinggi muka air melalui pengaturan pintu air dan menjaga kualitas air. mencegah / mengurangi pertumbuhan gulma dan kadar zat beracun. sekunder.berfungsinya jaringan drainase irigasi seperti navigasi. Tata Air Mikro (TAM) adalah : Pengaturan atau penguasaan air di tingkat usaha tani yang berfungsi untuk mencukupi kebutuhan evaporasi tanaman. dan sepadan sungai atau laut. tersier. . kawasan retarder.

dan Desain (pengukuran. . lokasi (b).II. Survey Investigasi (CP/CL) Kegiatan ini dilaksanakan untuk mendapatkan calon lokasi pengembangan tata air mikro (TAM) yang memerlukan perbaikan atau rehabilitasi/peningkatan. PELAKSANAAN Beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian didalam pelaksanaan pengembangan tata air mikro (TAM). Lokasi Kegiatan pengembangan tata air mikro (TAM) dilaksanakan pada lokasi yang memerlukan pengaturan tata air mikro di daerah irigasi rawa pasang surut atau rawa non pasang surut (lebak). adalah : (a). pengawasan dan (f). Pembiayaan. partisipasi petani (e). B. Investigasi dan Desain Kegiatan Survey. Investigasi dan Desain (SID) dilaksanakan meliputi Survey Investigasi (CP/CL). Kontruksi (d). A. Survey. penggambaran dan penyusunan RAB) untuk mendapatkan lokasi pengembangan Tata Air Mikro (TAM). SID. (c).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan: 1. khusus untuk tipologi lahan rawa pasang surut. Syarat Calon Lokasi (CL) Lokasi yang dinyatakan layak untuk diikutkan dalam program pengembangan TAM adalah lokasi yang memenuhi persyaratan sebagai berikut : Sistem Tata Air Makro (saluran primer dan sekunder) berfungsi dengan baik. apabila kegiatan ini dilakukan dengan sistem padat karya. Sistem Tata Air Makro (saluran primer dan sekunder) tidak harus ada. khusus untuk tipologi lahan rawa non pasang surut (lebak). Lokasi pengembangan adalah rawa pasang surut atau non pasang surut/lebak yang telah dikembangkan oleh Departemen Pekerjaan . Pelaksanaan kegiatan SI (CP/CL) ini dilakukan secara swakelola oleh petugas Dinas Pertanian.- Demikian juga untuk mengidentifikasi calon petani yang akan mengerjakan pelaksanaan kegiatan.

Transportasi dari dan ke lokasi relatif lancar. Lokasi terletak pada satu hamparan blok tersier. Syarat Calon Petani (CP) . Usulan calon lokasi dilengkapi dengan peta DASIRA (Daerah Irigasi Rawa) yang diterbitkan oleh Dinas Pengairan setempat. dan atau pemilik penggarap dengan standard kepemilikan maksimum 2 ha/ KK.Umum atau merupakan lokasi yang telah dikembangkan oleh desa/dusun. dan tidak ada enclove. Potensi untuk dapat ditingkatkan menjadi 200 %. Lokasi yang diusulkan tidak terkena banjir yang dapat mengancam keberhasilan pertanaman. Lokasi harus didelinasi dengan menunjukan posisi koordinatnya (LU/LS – BT/BB) 2. Di lokasi pilihan tersedia petani penggarap.

Petani yang dinyatakan layak untuk diikutkan dalam petani berikut : Para petani calon pemanfaat telah tergabung dalam kelompok tani/Perkumpulan Petani program yang pengembangan TAM adalah sebagai memenuhi persyaratan Pemakai Air (P3A). sesuai . Mempunyai keyakinan bahwa TAM bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas dan indeks pertanaman. Sanggup menanam varietas unggul rekomendasi BPTP setempat. Sanggup mengusahakan lahan minimal 2X tanam dalam 1 tahun. Para petani/kelompok tani/P3A bersedia berpartisipasi atau memberikan sharing dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Membutuhkan dan mau membangun serta memelihara TAM.

-

Tidak

selalu

mengharapkan

bantuan

pemerintah, bersedia memberikan kontribusi / partisipasi dalam pengembangan TAM. Desain (rancangan teknis) Rancangan teknis atau desain sederhana

dilaksanakan setelah CPCL ditetapkan. Rancangan teknis ini meliputi pengukuran dan penggambaran rencana pengembangan Tata Air Mikro. Rancangan atau desain sederhana dapat

dilaksanakan secara swakelola (sesuai ketentuan yang berlaku). Hasil rancangan/desain sederhana ini berupa sket lokasi, gambar rancangan teknis sederhana kegiatan rehabilitasi, perkiraan kebutuhan bahan, peralatan dan biaya. C. Konstruksi Kegiatan pengembangan tata air mikro (TAM) yang akan dilaksanakan pada lahan rawa pasang surut dan non pasang surut (lebak) antara lain meliputi :

1.

Normalisasi dan peningkatan saluran-saluran tersier, sub tersier dan kuarter yang telah mengalami kerusakan atau sedimentasi. Memperdalam dan memperlebar saluran yang mengalami pendangkalan/ penyempitan sebagai akibat sedimentasi Memperbaiki saluran yang bocor Mengembalikan bentuk dan dimensi saluran

seperti kondisi semula (reshaping) Memperkuat dan menstabilkan tanggul saluran, dengan cara pemlesteran (lining), pengisian pasir dalam karung untuk membentengi tanggul. 2. Membuat atau melengkapi saluran sub tersier, kuarter, sub kuarter dan melining saluran. Menggali saluran dan memanfaatkan tanah hasil galian Memperdalam dan memperlebar saluran yang mengalami pendangkalan/ penyempitan sebagai akibat sedimentasi

-

Mengembalikan

bentuk

dan

dimensi

saluran

seperti kondisi semula (reshaping) Memperbaiki saluran yang bocor. Memperkuat dan menstabilkan tanggul saluran, dengan cara pemlesteran (lining), pengisian pasir dalam karung untuk membentengi tanggul. 3. 4. 5. Membuat saluran sudetan (drainase). Membuat tanggul keliling yang dilengkapi pintu-pintu air. Membuat bangunan bagi, pintu air (stoplog), goronggorong dan siphon. Pintu air dibangun untuk menghubungkan air dari saluran tersier ke sub tersier/kwarter, dan dari sub tersier/kwarter ke petakan sawah. Jumlah dan spesifikasinya disesuaikan dengan keadaan lokasi. Bahan pintu diusahakan dari bahan fiber glass yang cukup tahan terhadap air masam dan berkadar garam tinggi, yang sudah banyak beredar di pasaran.

Dalam membangun gorong-gorong dan pintu air dimungkinkan digabung agar dapat menghemat biaya.Pintu air tersebut diletakkan pada dudukan yang permanen dan kuat (dicor/di semen). 7. Kegiatan ini dilaksanakan dengan cara swakelola. dengan cara sebagai berikut: . Menggunakan bahan yang mudah didapat. murah dan tahan lama. Membuat area water retensi (area penyimpanan air) terutama pada lebak pematang dan lebak tengahan. 6. antara lain pipa pralon (PVC). Pemasangan pompa-pompa air yang berfungsi untuk mengeluarkan air lebih di musim hujan dan memasukkan air suplesi di musim kemarau. Sistem pengelolaan air ini dikenal dengan sistem “Polder”. sehingga pada musim kemarau airnya dapat dimanfaatkan. Gorong-gorong dibangun untuk menghubungkan saluran tersier ke sub tersier / kwarter. bis beton.

pasir. Biaya Belanja Lembaga Sosial Lainnya tersebut diiberikan kepada Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). setelah P3A tersebut menyerahkan proposal kegiatan yang akan dilaksanakan kepada Dinas Pertanian Kabupaten. Dalam proposal harus memuat rencana kerja yang akan dilakukan beserta sumber biayanya. Camat. Sumber biaya tersebut disamping berasal dari pemerintah juga dari sharing/ partisipasi petani/ P3A. P3A .- Untuk komponen biaya Belanja Uang Honor Tidak Tetap agar digunakan untuk membiayai tenaga kerja pada kegiatan konstruksi dengan pola padat karya. Pemberian biaya kepada P3A dilakukan dengan cara ditransfer melalui Bank yang telah ditunjuk ke rekening P3A. plat besi. dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten yang bersangkutan. - Untuk komponen biaya Belanja Lembaga Sosial Lainnya agar digunakan untuk pengadaan bahan-bahan maupun peralatan yang dibutuhkan untuk keperluan konstruksi misalnya semen. besi beton. Proposal tersebut harus mendapatkan persetujuan dari Kepala Desa. Setelah menerima biaya. pintu air. alat ukur debit. dsb sesuai dengan kebutuhan.

E. Komponen biaya untuk kegiatan ini terdiri dari: Kegiatan SID (survey investigasi desain) sebesar 10 % untuk jenis belanja: belanja jasa lainnya. Pembiayaan Biaya yang tersedia untuk melaksanakan kegiatan ini berasal dari DIPA TA. D. F.berkewajiban melakukan konstruksi sesuai dengan yang telah diusulkan dalam proposal. bahan bangunan. Pengawasan Untuk menjamin agar pelaksanaan pekerjaan konstruksi dapat sesuai dengan yang telah direncanakan diperlukan pengawasan yang ketat. Partisipasi tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk tenaga kerja. 2007 Satker Dinas Pertanian masing-masing Kabupaten. dana dan sebagainya. Partisipasi Kelompok tani/P3A diwajibkan untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini sejak dari proses perencanaan sampai dengan pelaksanaan. konstruksi sebesar 90 % yang meliputi: belanja uang honor tidak .

Sedangkan untuk rincian biaya CPCL. pembinaan. sosialisasi. . monitoring dan evaluasi dibiayai dari dana pendamping/sharing yang berasal dari APBD I atau APBD II.tetap 35 % dan belanja lembaga sosial lainnya sebesar 55 %.

B. Hasil (Outcome) Berfungsinya jaringan tata air mikro (TAM) untuk mendukung pengembangan pertanian.589 Ha (13 Propinsi). .III. Meningkatnya rasa memiliki petani terhadap jaringan irigasi yang sudah dibangun / direhab. Keluaran (Output) Terbangunnya jaringan TAM. dan dampak. manfaat. hasil. sesuai target yaitu seluas 22. INDIKATOR KINERJA Indikator kinerja dari kegiatan ini meliputi: keluaran. C. Uraian rinci dari indikator kinerja disajikan sebagai berikut : A. Manfaat (Benefit) Meningkatnya luas areal tanam akibat penambahan Indeks Pertanaman dan Penambahan Baku Lahan.

Dampak (Impact) Meningkatnya pendapatan petani di lokasi pengembangan tata air mikro (TAM).- Meningkatnya produktivitas akibat Peningkatan Mutu Intensifikasi. Namun demikian hendaknya indikator ini dijadikan patokan dalam melakukan penilaian terhadap hasil kinerja. . yang berjalan secara proses dan membutuhkan waktu. Disadari sepenuhnya bahwa pencapaian indikator kinerja ini merupakan sistim yang saling terkait yang ditentukan oleh banyak faktor penentu lainnya. sehingga seluruh proses kegiatan harus mengacu pada sasaran indikator tersebut. D.

Monitoring dititik beratkan pada pelaksanaan rehab/penggalian saluran tersier. pintu air dengan menggunakan Form Laporan Perkembangan Kegiatan Pengembangan TAM TA. sub tersier.q Direktur Pengelolaan Air (PA) via Fax. 2007. Monitoring tersebut dilakukan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Hasil Monitoring dilaporkan ke Dinas Pertanian Propinsi. MONITORING DAN EVALUASI A. dengan tembusan ke Dirjen PLA c. 2007 pada lampiran 2. JUT.IV. Monitoring Monitoring dilakukan terhadap pelaksanaan pengembangan TAM TA. kwarter. Nomor : 021 – 7823975. Dinas Pertanian Propinsi menyampaikan rekapitulasi hasil monitoring Kabupaten ke Dirjen PLA c. saluran cacing. saluran keliling. gorong-gorong.q Direktur .

C. Evaluasi Evaluasi dilakukan terhadap pelaksanaan pengembangan TAM TA. TA. 2007. 2006 dan TA. 2007. 2002.Pengelolaan Air (PA) setiap 3 bulan sekali (Juli. TA. Oktober. TA. 2003. Evaluasi tersebut dilakukan pada akhir TA. TA. mulai dari tingkat propinsi sampai tingkat nasional. 2005. Selanjutnya hasil monitoring dan evaluasi dibahas dalam Workshop secara berjenjang. Januari) B. 2004. Perkembangan Realisasi Pelaksanaan Kegiatan Fisik dan Keuangan Dalam melakukan penilaian/ pembobotan kemajuan pelaksanaan pekerjaan fisik dan keuangan yaitu dengan melihat Jadwal Pelaksanaan Kegiatan TAM (lampiran 1) dan mengacu pada tabel dibawah ini : .

4. - Sosialisasi Penyampaian Proposal Persetujuan Proposal SID Persiapan CPCL Pengukuran & Penggambaran Penyusunan RAB Konstruksi Persiapan Transfer dana ke rekening kelompok Pelaksanaan Padat Karya 5 15 55 70 6. 3.Tabel Tahapan Kegiatan dan Pembobotan Pelaksanaan Kegiatan Fisik dan Keuangan No. 7. 5. Komponen/Tahapan Kegiatan Bobot Realisasi Fisik (%) 0 0 0 10 Bobot Realisasi Keuangan (%) 0 0 0 10 1. Pengawasan Monitoring & Evaluasi Pelaporan 0 0 0 35 0 0 0 . 8. 2.

Taman Margasatwa No.q Direktur Pengelolaan Air dengan alamat : Direktorat Pengelolaan Air Jl. sedang dalam pelaksanaan. dan setelah pekerjaan selesai 100% Kerangka Pelaporan (out line) dari laporan akhir tersebut seperti pada lampiran 3.D. baik dari segi fisik maupun keuangan.Jakarta Selatan 12550. Laporan Akhir Setelah pelaksanaan pengembangan TAM selesai. . 3 Ragunan. Agar lebih informatif dan komunikatif. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten selaku penanggung jawab kegiatan di tingkat Kabupaten wajib menyiapkan dan menyampaikan laporan akhir pelaksanaan program pengembangan TAM. Laporan akhir tersebut disampaikan kepada Kepala Dinas Pertanian Propinsi dan Dirjen Pengelolaan Lahan dan Air c. Pasar Minggu . Laporan Akhir dilengkapi dengan foto-foto dokumentasi pada kondisi awal pekerjaan.

2007 No.Persiapan .Lampiran 1 JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN PENGEMBANGAN TATA AIR MIKRO TA.Transfer Dana Ke Rekening Kelompok . Kegiatan Bulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 Sosialisasi Penyampaian Proposal Persetujuan Proposal SID .Pelaksanaan Padat Karya 6 7 8 Pengawasan Monitorng dan evaluasi Penyusunan Laporan .Desain (Rancangan Teknis Sederhana) 5 Kontruksi .Survey Investigasi (CP/CL) .

Kec. 5. 8.CPCL .Penyusunan RAB Konstruksi . 7. Komponen/Tahapan Kegiatan Sosialisasi Penyampaian Proposal Persetujuan Proposal SID . .Pengukuran & Penggambaran . 3.Pelaksanaan Padat Karya Pengawasan Monitoring & Evaluasi Pelaporan Bobot Realisasi Fisik (%) Sudah/Belum Sudah/Belum Sudah/Belum 10 Bobot Realisasi Keuangan (%) Sudah/Belum Sudah/Belum Sudah/Belum 10 1. Desa : : : LU/LS.Transfer dana ke rekening kelompok . 4.Persiapan . 5 15 70 Sudah/Belum Sudah/Belum Sudah/Belum 55 35 Sudah/Belum Sudah/Belum Sudah/Belum 6. 2007 Propinsi : Kab. BT/BB Koordinat : No.Persiapan . 2.Lampiran 2 Form Laporan Bulanan Perkembangan Kegiatan Pengembangan TAM TA.

PELAKSANAAN A. D. V. C. III. B. E.Lampiran 3 OUTLINE LAPORAN AKHIR I. VI. PENDAHULUAN A. HASIL MANFAAT DAMPAK KESIMPULAN DAN SARAN . IV. Latar Belakang Tujuan dan Sasaran Masukan Lokasi Tahap Pelaksanaan Permasalahan Pemecahan Masalah II. B.

Untuk memperoleh data primer dan sekunder dari lokasi lahan pengembangan dilakukan TAM. Pengisian kuisioner dapat dilakukan melalui wawancara dengan petani dan observasi langsung dilapangan. Metodologi Penyiapan kuisioner Survei investegasi desain (SID) dilaksanakan setelah dilakukan survei inventarisasi. dengan maka survei investigasi metode menggunakan (Penyelidikan Rural Rapid Appraisal Pedesaan Secara Cepat). Oleh karena itu perlu disiapkan kuisioner yang ringkas tetapi jelas untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Kuisioner yang dibuat berisikan data-data sebagai berikut: . Survey Investigasi Desain (SID) 1. sehingga calon lokasi pengembangan sudah dipilih.Lampiran 4 KETENTUAN TEKNIS A.

IP. tekstur. Keadaan umum lahan calon lokasi pengembangan TAM Tata letak lokasi. produktivitas) air tanah. Keadaan jalan dan jembatan Iklim Tipe luapan (petak) Prasarana usahatani (jalan usahatani. lahan terlantar .a. P3A. dan kelompok tani) Potensi lahan usahatani (luas. kedalaman pirit. KUD. kedalaman (lahan tidur) Kelembagaan pertanian (BPP. ketebalan gambut. air pasang/pasang surut jembatan. yang didelineasi dengan menunjukkan posisi koordinatnya (LS/LU. jenis tanaman. PPL. BB/BT). pola tanam. jalan dan gorong-gorong) Keadaan tanah/ tipologi lahan. pH tanah.

000 d.Sosial ekonomi (pemasaran hasil. b. sebagai sehingga dasar bisa pelaksanaan . peta-peta yang perlu disiapkan dalam membuat desain tata air mikro adalah: a. Peta situasi lokasi skala 1 : 5000 dan 1 : 10. maka yang perlu disiapkan adalah peta rancangan teknis sederhana.000. namun semua dimensinya digunakan terukur. angkatan kerja ) Penyiapan peta dan gambar Bila dana yang tersedia mencukupi. Peta skema jaringan reklamasi rawa. Peta dasar teknis diatas kertas millimeter dengan skala 1 : 2. Peta rancangan (desain) pembuatan/ rehabilitasi tata air mikro skala 1 : 2000 Bila dana untuk kegiatan ini tidak tersedia. kependudukan. c. status pemilikan lahan. harga.

Ahli pertanian dari bidang keahlian sosial ekonomi. tanah dan agronomi serta ahli hama penyakit tanaman. Personil Bila dananya memungkinkan.konstruksi maupun penyusunan rencana anggaran biaya (RAB). Jumlah tenaga yang dibutuhkan sangat relatif tergantung dari luas lahan yang akan disurvei. Surveyor (tenaga teknis) STM/SPMA. Bidang keahlian yang harus diikutsertakan dalam tim adalah : a. c. Ahli pengairan/irigasi berpendidikan sarjana teknik sipil/pengairan b. . tetapi minimal setiap satu orang tenaga ahli di dampingi satu orang tenaga teknis. personil tenaga yang perlu disediakan dalam pelaksanaan survei inventarisasi adalah tenaga-tenaga yang telah berpengalaman bekerja di lahan rawa.

c. Wawancara umumnya dilakukan untuk memperoleh data sosial yang meliputi: a. . Pelaksanaan Survei Pelaksanaan survei untuk memperoleh data primer dilakukan dengan metode wawancara dengan petani atau masyarakat setempat dan observasi langsung fisik lapangan. Fasilitas penunjang ekonomi pertanian. yaitu termasuk kondisi dan peranan kelembagaan. dan peranan PPL. d. b. yaitu menyangkut luas areal persawahan pola tanam. produktivitas dan intensitas pertanaman (IP). Kondisi usahatani secara umum. Tenaga kerja keluarga petani.2. pemasaran dan tingkat harga di petani. seperti: lembaga penyediaan sarana produksi (saprodi). Nama pemilik lahan dan penggarapnya.

d. Keadaan tanah. Kedalaman lapisan pirit. meliputi dimensi dan kondisinya. g. Data curah hujan. Keadaan jalan dan jembatan (perhubungan dan transportasi). Topografi/hidrotopografi. Jenis vegetasi yang tumbuh dilapangan. dan fasilitas lainnya). tekstur. Pengukuran ketinggian/ elevasi lahan dan tinggi luapan maksimum perlu untuk menentukan tipe luapan air pasang. Data-data sekunder perlu diambil adalah: a. dan pengelolaan tanah. e. pH tanah dan air. kedalam air tanah. temperatur dan hari hujan . b. c. Kondisi jaringan tata air makro (meliputi ketersediaan pintu-pintu air. meliputi data-data jenis tanah. Ketersediaan jalan usahatani. f.Pengamatan langsung terhadap kondisi fisik lapangan adalah meliputi: a. ketebalan gambut.

kadar Al.b. e. Untuk sifat fisik yang diamati adalah tekstur. Keadaan agroklimat seperti tipe agroklimat. C/N ratio. Sifat kimia antara lain pH. kadar N. Data ini diperlukan dalam penentuan pola tanam dan penataan lahan usahatani. kadar besi. d. Jenis dan sifat-sifat tanah baik fisik maupun sifat kimianya. 3. c. Data kependudukan Data potensi desa dan kecamatan Daftar harga satuan dan bahan upah setempat Data laporan kegiatan terdahulu (bila ada) Informasi kegiatan fisik yang dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Umum (P2DR) termasuk keadaan jaringan tata air. kadar bahan organik. basa-basa. kadar hara makro P dan K. dan kadar pirit. . Data iklim dapat diperoleh dari Dinas Pertanian atau instansi yang terkait. Investigasi karakteristik lahan Karakteristik lahan yang diperlukan adalah : a. f. b.

Kemasaman tanah pada tipologi ini agak masam (pH > 4). Selain itu perlu diambil contoh tanah komposit. yaitu: Lahan potensial. Pada lahan rawa pasang surut secara umum dapat dibedakan 4 tipologi lahan. Kadar P dan K potensial biasanya sedang sampai . Kadalaman pirit perlu dicatat untuk menentukan jenis tanah (tipologi lahan). potensial-1 Dapat bila menjadi kedalaman pirit > 100 cm dan potensial-2 bila kedalaman pirit antara 51 – 60 cm. yaitu terdiri dari tanah aluvial yang tidak mempunyai lapisan pirit (FeS2) sampai kedalaman dibedakan 50 cm dari lahan permukaan. Pada tanah mineral perlu dilakukan pengecekan keberadaan pirit dengan menggunakan larutan peroksida (H2O2).struktur dan konsistensi. Untuk mengetahui karakteristik tanah tersebut dilakukan melalui pengamatan profil tanah dan pengambilan contoh tanah dari masing-masing kedalaman untuk dianalisis dilaboratorium. untuk mengetahui kesuburan tanah pada lahan yang disurvei.

5. kadar Al dan sulfat tinggi. bila piritnya belum teroksidasi disebut lahan sulfat masam potensial dan bila piritnya sudah teroksidasi maka disebut lahan sulfat masam aktual. P tersedia rendah. Sedangkan sulfat masam aktual pH umumnya < 3. yaitu lapisan pirit (FeS2) berada pada kedalaman 0 – 50 cm. kandungan Al rendah dan C-organik tinggi (3 – 5%). yaitu gambut dangkal bila ketebalan gambut antara 50 – 100 cm. Aldd dan kadar sulfat rendah. Lahan gambut.tinggi. Lahan sulfat masam. Menurut kematangannya gambut dibedakan kedalaman fibrik. . dan gambut sangat dalam bila ketebalan gambut > 300 cm. Bila dilapangan diketemukan laham gambut maka desain TAM akan berbeda dengan tanah mineral. hemist dan saprist. Lahan sulfat masam potensial dicirikan oleh pH tanah masih 4 atau lebih. gambut sedang bila ketebalan 100 – 200 cm. Puslittanak (1997) membedakan kedalaman beberapa macam lahan gambut.

Contoh air perlu diambil dari saluran air di lahan usaha (sawah) dan ditempat sumber air. 4. Di Indonesia tidak diketemukan lahan salin. Kadar garam sangat penting karena mempengaruhi pertumbuhan tanaman khususnya padi sawah. Penggunaan Theodolite untuk mengukur ketinggian lahan perlu dilakukan dan alat pengukur ketinggian air pasang juga diperlukan untuk mengetahui karakteristik . Kualitas air.- Lahan salin. Hidrotopografi Data hidrotopografi lahan diperlukan untuk mengetahui tipe luapan dari air pasang yang terjadi dilahan itu. Kualitas air yang dapat diukur adalah pH air dan kadar garam. kalau ada umumnya hanya bersifat sementara pada musim kemarau akibat intrusi air laut ke lahan pertanian yang biasanya lebih dari 3 bulan dalam satu tahun. Lahan salin adalah bila pada lahan tersebut mengandung kadar Na 8 – 15%. Analisis air dan tanah harus dilakukan pada laboratorium yang sudah terakreditasi (diakui kualitas hasilnya).

dan jembatan penyebrangan.air dilahan yang disurvei. Bila ternyata tidak terjadi air pasang maka daerah survei dapat diduga sebagai tipe luapan C/D. Kondisi lahan usahatani Yang penting diketahui dari kondisi lahan petani adalah. produktivitas dan intensitas pertanaman (IP) dan infra struktur yang ada seperti kondisi jalan usahatani. Selanjutnya untuk membedakan tipe luapan C dan D dapat diukur kedalaman air tanah. pola tanam. 5. Vegetasi liar yang tumbuh dilahan juga perlu diamati seperti purun dan tumbuhan . sedangkan bila lebih rendah maka diklasifikasikan tipe luapan B. Dengan menginterpretasi data ketinggian lahan dan data tinggi pasang surut air maka dapat ditentukan tipe luapan pada daerah tersebut. luas pemilikan dan nama pemiliknya. Bila kedalaman air tanah terletak diatas 50 cm dari permukaan tanah maka termasuk tipe luapan C dan bila kedalaman air tanah < dari 50 cm dari permukaan tanah maka termasuk tipe luapan D. Bila rata-rata tinggi air pasang terbesar (maksimum) lebih tinggi dari ketinggian lahan maka dapat diklasifikasikan lahan tersebut termasuk tipe luapan A.

maka dianjurkan pola pemanfaatan lahan bisa dilakukan dengan system surjan. Biasanya vegetasi yang tumbuh akan mencerminkan tipologi lahan atau jenis tanahnya. seperti hortikultura dan buah-buahan. Tipe luapan A. sedangkan tipe luapan B. Desain Tata Air Mikro 1. Model usahatani yang ada saat itu perlu diamati termasuk komoditas yang diusahakan. Dalam melakukan penataan lahan perlu diperhatikan hubungan antara tipologi lahan. Sistem Surjan adalah salah satu contoh usaha penataan lahan untuk melakukan diversifikasi tanaman . B. maka penataan lahan sebaiknya untuk sawah yang berpirit akan lebih stabil tidak mengalami oksidasi dan tanaman padi akan tumbuh dengan baik.semak belukar lainnya. Penataan Lahan Penataan lahan perlu dilakukan agar lahan dapat sesuai dengan kebutuhan tanaman yang akan dikembangkan. type luapan dan pola pemanfaatannya. Purun biasa tumbuh pada tanah sulfat masam yang bongkor dan harendong (Meleuluca sp) cenderung banyak ditemukan pada tanah gambut.

Untuk tanah gambut.dilahan rawa. Bila pada tanah gambut lapisan dibawahnya berpasir atau pasir kuarsa dan atau lapisan mengandung pirit maka tanah gambut tersebut jangan disurjan atau dibuat sawah. System surjan baik dilakukan di tipe luapan B. buah-buahan. Tipologi Lahan Kode SMP-1 Tipologi Aluvial bersulfida dangkal SMP-2 Aluvial bersulfida dalam Sawa h Sawah/ surjan Sawah/ surjan Sawah/ tegalan /kebun h A Sawa B Sawah Tipe luapan air C Sawah D . Penataan dan pola pemanfaatan lahan yang dianjurkan pada setiap tipologi lahan dan tipe luapan air di pasang surut. Tabel 1. sayuran. dan perkebunan. Untuk memudahkan klasifikasi pemanfaatan lahan rawa. di bawah ini diberikan tabel tentang penataan dan pola pemanfaatan lahan berdasarkan tipologi lahan dan tipe luapan air pasang surut. tekstur lapisan tanah dibawahnya sangat menentukan dalam pemanfaatan lahannya. tetapi sebaiknya gambut dipertahankan untuk tanaman padi gogo dan palawija.

Desain Sistem Pengairan/drainase Saluran tersier Pengelolaan air tingkat tersier ditujukan untuk mengatur saluran tersier agar berfungsi : - memasukkan air irigasi mengatur tinggi muka air di saluran dan secara tidak langsung di petakan lahan .SMP3/A SMA-1 Aluvial bersulfida sangat dalam Aluvial bersulfat 1 - Sawah/ surjan Sawah/ tegalan/ kebun Sawah/ surjan Sawah/ surjan Sawah/ kebun Sawah/ tegalan Tegalan /Kebun Sawah /tegalan /kebun Sawah/ tegalan /kebun Tegalan /Kebun Tegalan/ Kebun - Sawah/ surjan SMA-2 Aluvial bersulfat 2 - Sawah/ surjan SMA-3 HSM Alluvial bersulfat 3 Aluvial bersulfida dangkal bergambut - Sawah G-1 G-2 G-3 Gambut dangkal Gambut sedang Gambut dalam - Sawah - Sawah/ tegalan Kebun/ kebun Kebun/ kebun Tegalan/ Kebun Kehutana n Konserva si Sumber : Widjaja-Adhi (1995) 2.

Hal yang perlu mendapat perhatian dalam pemilihan sistim tata air mikro adalah sinkronisasi antara tata air makro dan tata air mikro. Sistem pengelolaan air di tingkat tersier dan mikro tergantung kepada tipe luapan air pasang. Sketsa system tata air aliran satu arah pada tipe luapan A/B dan tipe luapan C/D dapat dilihat pada . Sistem aliran satu arah Pada system aliran satu arah. Pada saluran irigasi pintu klep membuka ke arah dalam sedang pada saluran drainase pintu klep membuka ke arah luar sehingga pencucian lahan dapat berlangsung dengan efektif.- mengatur kualitas air dengan membuang bahan beracun yang terbentuk di petakan lahan serta mencegah masuknya air asin ke petakan lahan. Penataan air pada tingkat ini dapat dilakukan dengan 2 sistem yaitu sistim aliran satu arah (one-way flow system) dan sistim aliran dua arah (two-way flow system). saluran irigasi dan saluran drainase dibuat secara terpisah. Pintu klep dipasang berlawanan arah.

pada pintu-pintu perlu dipasang over flow/ stoplog.gambar 1 dan 2. pada dua saluran ini dipasang pintu-pintu. . Sistem aliran dua arah Pada sistim air dua arah. Untu menjaga agar tidak terjadi over drain. Oleh karena saluran berfungsi sebagai saluran irigasi dan saluran drainase. saluran tersier yang dibuat berfungsi sebagai saluran irigasi dan drainase.

Jaringan Tata Air Sistem Saluran Satu Arah pada tipe A/B S a lu ra n S e k u n d e r P e n g e lu a ra n A' .Saluran Primer/Jalur A Flapgate (inlet) Flapgate (outlet) Flapgate (inlet) S a lu ra n S e k u n d e r Saluran tersier Pemasukan A A' Saluran kuarter pengeluaran Flapgate (outlet) Saluran Tersier Pengeluaran Gambar 1.

Saluran Primer/Jalur A Stoplog Stoplog Stoplog Saluran Keliling S a lu ra n S e k u n d e r P e n g e lu a ra n Saluran tersier Pemasukan S a lu ra n S e k u n d e r Saluran Cacing Saluran Saluarn Dangkal Intensif Saluran kuarter pengeluaran Stoplog Saluran Tersier Pengeluaran A' Gambar 2. Jaringan Tata Air Sistem Tabat untuk Tipe Luapan C dan D .

Usaha pencucian ini akan berjalan baik apabila terdapat cukup air segar. Semakin tinggi tingkat masalah keracunan. Oleh Karena itu. baik dari hujan maupun dari air pasang.3. a. sedangkan di dalam petakan lahan dibuat saluran cacing dengan interval 3 – 12 meter dan disekeliling petakan lahan tergantung pada kondisi lahannya. Saluran Kuarter dan Drainase Sistem pengelolaan tata air mikro mencakup pengaturan dan pengelolaan tata air di saluran kuarter dan petakan lahan yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan sekaligus memperlancar pencucian bahan beracun. semakin rapat pula jarak antar saluran cacing tersebut. air di petakan lahan perlu diganti setiap dua minggu pada saat pasang besar. Bentuk dan Ukuran Saluran Gambar yang harus disiapkan adalah saluran . Saluran kuarter biasanya dibuat di setiap batas pemilikan lahan.

25 cm = 0.25 meter . gorong-gorong dan jembatan penyeberangan bila ada.25 cm pintu airRancangan saluran Gambar 3.30 meter = 0.drainase dan rancangan bangunan pelengkap seperti: jalan.30 cm = 0.40 meter Lebar bawah = 0. Penampang melintang saluran kemalir - Rancangan saluran keliling Lebar atas Tinggi = 0. Rancangan kemalir/cacing Lebar atas Lebar bawah Tinggi = 0.

Gambar 4. Penampang melintang saluran sub tersier .60 meter = 0.80 meter Gambar 5.80 meter = 0. Penampang melintang saluran keliling - Rancangan saluran sub tersier Lebar atas Lebar bawah Tinggi = 0.

60 meter = 0.50 meter Lebar bawah = 0.60 meter = 0.60 meter Lebar bawah = 0.- Rancangan Saluran kuarter o Lahan Potensial Lebar atas Tinggi = 0.40 meter Gambar 6. Penampang melintang saluran kuarter pada lahan potensial o Lahan Sulfat masam Lebar atas Tinggi = 0.40 meter .

Penampang melintang saluran kolektor .Gambar 7. Penampang melintang saluran kuarter di lahan sulfat masam - Rancangan Saluran kolektor Lebar atas Lebar bawah Tinggi = 0.60 meter = 0.60 meter Gambar 8.80 meter = 0.

untuk saluran kuarter dibuat pintu stoplog sudah yang ketinggiannya bisa diatur menurut kebutuhan. sedangkan untuk saluran kuarter dengan pintu flapgate. 4. Pintu flapgate dan stoplog banyak dikembangkan oleh Departemen Pekerjaan Umum dan sekarang ada pintu stoplog yang dibuat dari fiber. Kriteria Model Desain TAM Rencana yang akan diterapkan dalam pembinaan/ pengembangan model pembuatan TAM disusun berdasarkan kriteria berikut : . Rancangan pintu air Tersier dan Sekunder Pintu air untuk saluran tersier sebaiknya dibuat kombinasi antara flapgate dan stoplog terutama untuk daerah yang bertipe luapan A/B.b. Untuk tipe luapan C/D pada saluran tersier sebaiknya dibuat pintu stoplog. jangan dengan pintu ulir seperti dilakukan di daerah irigasi.

Jarak antara 2 saluran tersier tidak lebih dari 200 m. Ujung saluran tersier dalam kondisi buntu. untuk keperluan ini maka pembuatan pintu air perlu diletakkan dekat pemukiman. b. Operasi pintu sorong harus rutin. Operasi ditujukan untuk suplai (memasukkan air) pada air pasang. pengaturan air di ujung saluran tersier adalah sangat penting). Ditinjau dari tipologi lahan pada daerah rawa pasang surut. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam menjangkau lokasi pintu tersebut. penerapan pengembangan model . dan apabila ada pintu di SPD maka aliran satu arah dari SDU ke SPD).a. Aliran satu arah di saluran tersier direkomendasikan untuk penggelontoran air asam (bisa satu arah dari SPD ke SDU kalau tidak ada pintu sekunder. kalau lebih dari 200 m perlu dibuat saluran sub-tersier pada bagian tengahnya (efek kuarter tidak lebih 100 m). e. d. c. maka harus dihubungkan dengan saluran sekunder yang terdekat (dalam kondisi buntu.

Jika pada lahan tipe luapan A/B belum ada pintu. Jika ada pintu pintu air di saluran sekunder maka gorongsaluran tersier dapat gorong pada dibuka atau dipasang stoplog. dibedakan : 1) Lahan dengan luapan A/B Untuk tanaman padi pada musim hujan dan pada musim kemarau. harus dibantu dengan pompanisasi khususnya pada tipe luapan B. Apabila sudah ada saluran sub tersier. Apabila tidak ada pintu air di saluran sekunder (SPD) maka saluran tersier perlu dibuat pintu sorong pada saluran penghubungnya. .pembangunan jaringan TAM. maka perlu dibuat gorong-gorong terbuka (tanpa pintu). maka dibiarkan terbuka tanpa ada pintu (one-way flow system) untuk keperluan drainase dan suplai.

Bila dihubungkan dengan saluran . Pengembangan model di lahan dengan tipe luapan C/D ini dimaksudkan untuk meningkatkan potensi drainase untuk keperluan penanaman palawija di musim kemarau. 2) Lahan dengan tipe luapan C/D Lahan ini dapat digunakan untuk penanaman padi pada musim hujan dan palawija pada musim kemarau. sub tersier dihubungkan dengan sekunder SDU perlu dibuat gorong-gorong (dengan pipa) yang dilengkapi dengan stoplog. Untuk itu.- Bila saluran tersier dihubungkan dengan sekunder (SDU) maka hanya dibuat gorong-gorong (dengan pipa) untuk keperluan aliran satu arah dari SPD ke SDU. Perlu dipertimbangkan antara kebutuhan untuk pencucian tanah dari racun yang ada dan penggenangan air untuk penanaman padi pada musim hujan .

Bila saluran sudah ada pintu maka hanya perbaikan saja. Bila ada pintu air di saluran sekunder (SPD) maka pada penghubung hanya dibuat pintu gorong-gorong saja. Saluran kuarter dapat dibuat pada batas kepemilikan lahan saja. Bila tidak ada pintu air di saluran sekunder (SPD). Pada saluran sekunder (SDU) pada saluran penghubung (pada tersier) dibuat goronggorong dengan pipa dan stoplog. Jika saluran tersier sudah dihubungkan dengan SPD maka tidak perlu dibuat pintu air atau hanya perbaikan pintu yang ada. atau perbaikan yang sudah ada di tersier. tetapi jika terdapat lapisan pirit (pada sub-soil) atau untuk tanaman palawija maka saluran kuarter dapat dibuat lebih intensif dengan jarak 50 m untuk keperluan pencucian sulfat masam atau untuk .SPD hanya perlu gorong-gorong. maka pada saluran tersier perlu dibuat pintu sorong di ujung saluran penghubung.

Khususnya untuk pekerjaan timbunan. 5. bahan timbunan adalah tanah asli setempat yang tidak tercampur dengan unsur yang lainnya.drainase pada penanaman palawija. tidak ada penghalang baik berupa semak atau hal lainnya sehingga dipastikan dapat langsung mengerjakan pekerjaan galian atau timbunan. maksudnya sepanjang jalur rencana saluran kondisinya terbuka. di posisi jalur saluran dilakukan pembersihan lapangan terlebih dahulu sehingga diperoleh ruang kerja yang leluasa untuk melaksanakan pekerjaan galian dan timbunan. Pembersihan Lapangan Untuk memperlancar pekerjaan galian maupun timbunan tanah. . Pelaksanaan Pekerjaan Jaringan Tata Air Mikro a. Pekerjaan pembersihan lapangan ini dapat tidak dilakukan selama kondisi lapangannya mendukung. Demikian juga untuk saluran keliling dan kemalir yang posisinya ada di dalam lahan usahatani tidak memerlukan pembersihan lapangan.

Baik tinggi timbunan maupun . dipasang patok ajir yang menunjukkan ujung kiri/ kanan dari lebar atas/ bawah saluran dan pematang/ tanggul dan dipasang papan bouwplank untuk menunjukkan ketinggian timbunan. untuk mendapatkan kelurusan arah saluran maka berdasarkan patok-patok bantu pada pekerjaan uitzet. Pemasangan patok Ajir/Bouwplank Khususnya untuk saluran sub tersier. untuk mencapai kestabilan lereng/ talud saluran yang dibuat baru maka setelah pembentukan saluran dan dioperasikan nantinya akan mengalami pengendapan sehingga kedalaman galian saluran juga harus dilebihkan antara 5 – 10 cm dari kedalaman rencana. ukurannya harus dilebihkan antara 5 – 10 cm dari tinggi rencana. Karena tanah asli bahan timbunan akan mengalami penyusutan maka untuk ketinggian. kolektor dan kuarter.b. Demikian pula dengan kedalaman galian saluran. Baik patok ajir maupun papan bouwplank di pasang pada jalur rencana saluran per 25 m.

maka untuk mendapatkan kelurusan saluran.kedalaman galian diukur dari permukaan tanah asli. Berpatokan kepada garis bantu tersebut pekerjaan galian dapat dilakukan dan untuk mendapatkan bentuk dan kedalaman galian. d. dibuat dari bahan kayu ukuran 3/5 rangka bouwplank berbentuk penampang dengan saluran (segi untuk empat/trapezium) tingginya sudah catatan ditambahkan. diantara 2 patok ajir (yang berjarak 25 m) yang menunjukkan ujung kiri/ kanan lebar atas saluran ditarik garis bantu (bisa berupa tali plastik). Pekerjaan Galian Setelah patok dan papan bouwplank terpasang berjarak 25 m antara satu dengan yang lainnya. Biasanya untuk keperluan timbunan tanggul/ pematang menggunakan bahan hasil galian (dengan memperhatikan faktor susut tanah ± 20 %) sehingga tanah hasil galian diletakkan pada kedua sisi galian dengan memperhatikan jarak . c.

f. Pekerjaan Timbunan Pembentukan timbunan tanggul/ pematang dapat memanfaatkan bahan hasil galian. . akan tetapi jika tidak mencukupi maka bahan timbunan diambil dari galian di sisi sebelah luar rencana saluran. Untuk mendapatkan bentuk timbunan yang diinginkan. Pekerjaan Perapihan Pekerjaan perapihan dilakukan selama masa kontrak kerja sampai masa pemeliharaan selesai. Untuk mendapatkan tinggi timbunan yang diinginkan ditarik garis bantu dari antara 2 patok ajir (yang berjarak 25 m) yang menunjukkan ujung kiri/ kanan lebar atas timbunan yang diinginkan ditarik garis bantu dari antara 2 patok ajir ( yang berjarak 25 m ) yang menunjukkan ujung kiri/ kanan lebar bawah timbunan tanggul/ pematang. dapat juga dilakukan dengan membuat rangka bouwplank dari bahan kayu ukuran 3/5 berbentuk penampang timbunan tanggul/pematang (segi empat/trapesium). e.sempadan saluran secara merata.

Sarana pendukung tersebut terdiri dari : 1. misalnya pada waktu pekerjaan galian dilakukan ternyata peletakan tanah timbunannya belum membentuk seperti yang ditentukan. g. Jalan Usaha Tani Konstruksi jalan usaha tani berupa timbunan tanah yang dipadatkan dengan ukuran . jaringan Tata Air Mikro memerlukan sarana penunjang yang secara langsung/ tidak langsung mempengaruhi fungsi Tata Air Mikro dalam satu kawasan/hamparan lahan usahatani. ada longsoran di lereng/ talud galian maupun timbunan.Maksud perapihan disini adalah untuk galian yang mempertahankan maupun ukuran penampang dengan timbunan sesuai ditentukan. Untuk dapat memberikan fungsi yang optimal. karena kering maka terjadi retakanretakan di timbunan tanggul/ pematang maka harus dilakukan galian pembentukan atau kembali timbunan penampang tanggul/pematang.

Sebagai bangunan pelengkap jalan usahatani adalah jembatan yang dapat berupa konstruksi kayu atau pasangan batu/beton.tertentu yang sudah ditetapkan dalam perencanaan (desain). pasangan beton. Bangunan air Jenis bangunan air yang diperlukan untuk melengkapi jaringan TAM adalah : Pintu Sorong. 2. . Untuk memperkokoh konstruksi. konstruksi kayu. Pintu Stoplog. dapat juga di kedua sisi jalan usaha tani dibuat konstruksi siring (dinding penahan) dari kayu. pasangan batu bata. Pintu Klep dan Gorong-gorong Secara garis besar pekerjaan sarana penunjang ini meliputi pekerjaan tanah (galian dan timbunan dan pemadatan).

Kerusakan bangunan air di lahan rawa lebih besar dibandingkan dengan dilahan sawah irigasi. antara lain perbaikan longsor tepi dan tanggul saluran. Pemeliharaan Jaringan Drainase Jaringan drainse perlu dipelihara. endapan lumpur. Pemeliharaan Jaringan Tata Air Mikro a. agar . (2) tumbuhnya vegetasi rawa. Pemeliharaan saluran harus dilakukan secara rutin. Beberapa factor yang menyebabkan kerusakan pada jaringan drainase adalah : (1) adanya erosi. Pemeliharaan insidentil mencakup kegiatan-kegiatan yang sebelumnya tidak diperkirakan atau ditaksir kuantitasnya. dan (3) akibat terjadinya banjir. menyangkut pembersihan pemeliharaan dari kotoran. Pemeliharaan bangunan rutin air. dan perbaikan yang lebih tinggi pada masa yang akan datang. pintu pemotongan rumput dan perbaikan tanggul saluran.C. (1) sarana dan prasarana hidrolik yang telah dibangun tetap berfungsi sehingga dapat (2) untuk bermanfaat mengurangi secara biaya berkelanjutan. dan perbaikan .

seperti kerusakan akibat bencana alam.saluran yang rusak. Pemeliharaan adalah : yang harus dilakukan . Pembersihan saluran meliputi pengangkatan kotoran atau rumput ditengah saluran. Pemeliharaan saluran Tersier Pemeliharaan saluran tersier meliputi kegiatan sebagai berikut : 1. Pemotongan rumput pada lereng dan tanggul saluran 2. b. Pembentukan dan perapihan tanggul saluran tersier. 3. Hal ini dilakukan bila terjadi kerusakan tanggul akibat retakan/longsoran.Selain memelihara saluran tersier bangunan yang ada di saluran seperti pintu air yang dipelihara. banjir. Sedangkan pemeliharaan darurat adalah pemeliharaan terhadap kerusakan yang sifatnya mendadak sehingga diperlukan perbaikan segera. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan bersamaan dengan pemotongan rumput ditepi saluran.

Penimbunan dan pemadatan timbunan pada bangunan tersier. Selanjutnya pengecetan. c. Pembersihan rutin sekat blok dan papan duga. d. .a. pelumasan dan pembersihan pintu ayun dan sponeng. Penambahan cerucuk gelam pada sayap bangunan tersier untuk menahan benturan langsung pada bagian sayap dan memperkokoh bangunan tersier. b. Penanaman rumput pada lereng bangunan yang berfungsi sebagai pengaman lereng dari erosi/ longsor.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful