P. 1
4_Pengembangan Kurikulum

4_Pengembangan Kurikulum

|Views: 133|Likes:
Published by likha_ika

More info:

Published by: likha_ika on Apr 13, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/28/2014

pdf

text

original

MENGAPA KURIKULUM HARUS SELALU DIPERBAHARUI ATAU DIKEMBANGKAN?

Latar Belakang

Standar Nasional Pendidikan
Undang-undang No. 20/2003 tentang Sisdiknas
(Pasal 35, 36, 37, 42, 43, 59, 60, dan 61 )

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (17 Bab, 97 Pasal) • Standar Nasional Pendidikan (Pasal 35) • Kurikulum (Pasal 36,37) • Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Pasal 42,43)

Pengertian Pengembangan Kurikulum :

All Processes and activity necessary to maintain and improve a curriculum system including leadership by persons occupying such positions as superintendent, principal, and curriculum Finch & Crunkilton (1984 : 11) derector

Possible Shared and Unique Aspects of Instructional Development and Curriculum Development

Finch & Crunkilton (1984 : 11)

KETENTUAN UMUM PENGEMBANGAN KURIKULUM
Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah dibawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan propinsi untuk pendidikan menengah UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab X, Pasal 38 ayat (2)

KTSP
merupakan salah satu bentuk realisasi kebijakan desentralisasi di bidang pendidikan agar kurikulum benarbenar sesuai dengan kebutuhan pengembangan potensi peserta didik di sekoloh dengan mempertimbangkan kepentingan lokal, nasional dan tuntutan global dengan semangat MBS.

PENGEMBANGAN KURIKULUM
KTSP sebagai bentuk otonomi sekolah mengubah paradigma sebagai “curriculum user" menjadi "curriculum developer".  Guru mampu keluar dari kultur kerja konvensional menjadi kultur kerja yang kontemporer yang dinamis.  Guru mampu memainkan peran sebagai "agent of change" 

(1) Kurikulum tingkat satuan pendidikan dikembangkan sesuai dengan  satuan pendidikan,  potensi/karakteristik daerah,  sosial budaya masyarakat setempat dan  peserta didik. (2) Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan  kerangka dasar kurikulum dan  standar kompetensi lulusan.
( Pasal 17 PP Nomor 19 Tahun 2005)

◦ Pasal 36 ayat (1), Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. ◦ Pasal 36 ayat (2), Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversivikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik.

Pasal 37 ayat (1) Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat:
◦ ◦ ◦ ◦ ◦ ◦ ◦ ◦ ◦ ◦ Pendidikan agama Pendidikan kewarganegaraan Bahasa Matematika IPA IPS Seni dan budaya Pendidikan jasmani dan olahraga Keterampilan/kejuruan, dan Muatan lokal

PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM
1.

2. 3. 4. 5. 6. 7.

Berpusat pada potensi,perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Beragam dan terpadu Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,teknologi dan seni. Relevan dengan kebutuhan kehidupan Menyeluruh dan berkesinambungan Belajar sepanjang hayat Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.

Prinsip Pengembangan 1. Prinsip relevansi; secara internal bahwa kurikulum memiliki Kurikulum relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan,

2.

3.

4.

5.

strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebut memiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis). Prinsip fleksibilitas; dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik. Prinsip kontinuitas; yakni adanya kesinambungan dalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalamanpengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan. Prinsip efisiensi; yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai. Prinsip efektivitas; yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Model Pengembangan Kurikulum • Academic Model / Theoretical Model :
Model akademik memanfaatkan logika ilmiah sebagai basis dalam penetapan kurikulum. • Experiential Model : berorientasi pada ”learned centered and activity-oriented” person and process oriented. Model ini cocok untuk pengembangan individu/guru • Pragmatic Model : memandang perencanaan kurikulum selalu dikaitkan dengan konteks lokal/ daerah. Kondisi sosial –politik mendominasi kegiatan perencanaan kurikulum, dimana proses perencanaan kurikulum harus disesuaikan dengan kondisi lokal tidak boleh keluar dari ”school setting”. Model ini cocok relevan untuk diterapkan dalam konteks pelatihan bisnis atau industri • Technical Model : dalam model ini pembelajaran dipandang sebagai suatu ”sistem”. ”Sistem” dapat dipahami terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan. Sebuah sistem akan efektif dan efisien apabila dikontrol dengan manajemen yang bagus. Dalam model ini, komponen-komponen seperti analisis kebutuhan, perumusan tujuan yang spesifik, pemilihan materi, metode, dan penetapan evaluasi merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Model ini cocok diterapkan untuk proses belajar mengajar dalam

EMPAT PILAR PEMBELAJARAN
UNESCO membentuk suatu komisi internasional yang disebut The International Commission on Education for the Twenty-first Century (Komisi Internasional mengenai Pendidikan Abad ke 21) yang dipimpin oleh Jacques Delors (1996), komisi ini merekomendasikan dalam laporannya agar proses pembelajaran di seluruh dunia hendaknya diselenggarakan berdasarkan empat pilar, yaitu : a. learning to know (Belajar untuk mengetahui siapa dirinya) b. lerning to do (belajar untuk melakukan sendiri) c. learning to be (belajar untuk sosok yang dinginkan dengan kompetensi yang dimilikinya) d.learning to live together (belajar untuk bekerja sama)

Mengembangkan Kurikulum
Menganalisis SK –KD pada spektrum  Penyusunan peta pencapaian kompetensi  Penyusunan struktur kurikulum  Analisis jam pembelajaran  Penyusunan analisis kedalaman materi  Penyusunan silabus  Penyusunan RPP, dll.

SEKIAN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->