Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme

2012

LAPORAN AKHIR TIM

NASKAH AKADEMIK RANCANGAN UNDANG-UNDANG
TENTANG

PEMBERANTASAN PENDANAAN TERORISME

Disusun oleh Tim, Di Ketuai oleh :

DR. Yunus Husein, SH.,LL.M

Pusat Perencanaan Pembangunan Hukum Nasional

BADAN PEMBINAAN HUKUM NASIONAL KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA RI
Jakarta, 2012

Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM RI, Tahun 2012

Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT, karena Rahmat-Nya bahwa Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme (RUU PPTPPT) ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme (RUU PPTPPT) ini disusun oleh suatu Tim yang terdiri dari para anggota yang mewakili beberapa kepentingan yang berkaitan dengan pendanaan terorisme seperti Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Kepolisian, Bank Indonesia, Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan serta Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum (BPHN) dan Hak Asasi Manusia RI. Naskah Akademik ini telah disusun dan diawali dengan penelitian yang dilakukan oleh PPATK mengenai perlunya pengaturan di bidang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme. Penelitian tersebut dilengkapi, disempurnakan dan dikembangkan dalam proses penyusunan naskah akademik yang responsif dan aspiratif. Naskah Akademik ini merupakan penjelasan teoritis dan

empiris mengenai maksud dan tujuan pembentukan UU PPTPPT. Keberadaan Naskah Akademik dalam sebuah undang-undang merupakan keharusan menurut UndangUndang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Tim telah bekerja keras dan berusaha secara maksimal untuk menghasilkan Naskah Akademik RUU PPTPPT yang komprehensif dan reliable. Penyusunan Naskah Akedemik RUU PPTPPT juga ini telah mengakomodir masukan dari para pihak melalui kegiatan yang diselenggarakan dalam diskusi publik, forum group discussion (fgd) yang melibatkan pakar, akademisi, praktisi dan instansi terkait, serta diskusi dalam Rapat Tim Penyusun. Tim Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Kepala BPHN yang telah mempercayakan Tim untuk menyusun Naskah Akademik RUU PPTPPT dan juga kepada Prof. Dr. Barda Nawawi Arief dan Prof. Hikmahanto Yuwana, PhD, yang telah meluangkan waktu tenaga, dan pikiran menjadi nara sumber, serta berbagai pihak yang telah membantu penyusunan Naskah Akademik ini.

ii

Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Tim Penyusun berharap Naskah Akademik ini dapat dipedomani dalam pembahasan dan pengesahan RUU PPTPPT yang saat ini sedang dibahas oleh DPR dan Pemerintah.

Jakarta, Oktober

2012,

Ketua Tim Penyusun NA RUU PPTPPT.

Dr. Yunus Husein, SH.,LL.M

iii

.. C................................. Landasan Sosiologis........... Keterkaitan dengan peraturan perundang-undangan lain .................................................................................................................................................................. LANDASAN FILOSOFIS..................................... EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT A...................... DAFTAR ISI ........................................... Kajian terhadap Asas/prinsip yang terkait dengan penyusunan norma 42 C............................................ Harmonisasi Secara Vertikal dan Horizontal .............................................................................. D.................................... Kajian terhadap praktik penyelenggaraan............... terhadap aspek kehidupan masyarakat dan dampaknya terhadap keuangan negara.......... 1 5 6 6 D..................... B..................................................................... serta permasahan yang dihadapi masyarakat.................... Status Peraturan Perundang-undangan yang ada ............................ ii iv BAB I PENDAHULUAN A........ C..... Landasan Yuridis.................................. ............... kondisi yang ada.................. 70 70 72 iv ............ 64 67 68 69 BAB IV........... B..........Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ................................................... Landasan Filosofis............................ Kajian terhadap implikasi penerapan sistem baru yang akan diatur dalam UU..................... Identifikasi Masalah ......... D........ B........................................................................................................ 61 47 BAB III....................................................................................... Kajian Teoritis ................................................................................ C...... Latar Belakang...................... Metode .............. Kondisi Hukum yangada ....................................................... KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS A................... BAB II................................................................................ SOSIOLOGIS DAN YURIDIS A................. 9 B...... Tujuan dan Kegunaan Penyusunan Naskah Akademik .

.. JANGKAUAN..... dan …………………………………………………………… Ketentuan Peralihan………………………………………………………………........ RUU tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme........... ARAH PENGATURAN DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN A.... ...........D............ 2...Kerjasama………………………………………………………………………… ......................... II. ............Ruang Lingkup………………………………………………………………… ..... BAB VI...Daftar Terduga Teroris dan Organ Teroris Yang Dikeluarkan oleh Pemerintah …………………………………………………….... 94 Lampiran: I.... Penjelasan RUU PPTPPT III............ B... Ketentuan Sanksi............. 75 79 80 81 81 82 84 85 85 86 88 89 90 90 90 3...Ph..... Makalah dan Power Point Prof. PENUTUP A............................. ... 1............................... Ruang Lingkup Materi Muatan....... Power Point Prof.... SH IV..............Pemblokiran Secara Serta Merta (Freezing Without Delay) .... B. . Arah dan Jangkauan Pengaturan ...... v ..................Kesimpulan . Memuat Pengertian dan Frase…………………................ Sasaran Yang Akan diwujudkan. 4.................. Barda Nawawi Arief...... Penuntutan dan Pemeriksaan di Sidang Pengadilan)………………………………………………………….Pemblokiran dan Cara Penanganannya…………………………… ... .................. 92 92 DAFTAR PUSTAKA .M.......Pencegahan dan Pengawasan Kepatutan…………………………............ Hikmahanto Yuwono......Pemblokiran Serta Merta Berdasarkan Publikasi InterNasional…………………………………………………………………………................. Ketentuan Umum.. Materi Muatan yang diatur…………………………………………………….... ..........LL................DR..Hukum Acara (Penyidikan....................Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme BAB V.. SH.....................Perlindungan Hukum………………………………………………………................Rekomendasi..............

Dalam rangka mencegah. dan dinamis. Masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia saat ini sedang dihadapkan pada keadaan yang sangat mengkhawatirkan akibat maraknya aksi teror. Sesuai dengan ketentuan Pasal 11 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Tahun 2012 . Meluasnya aksi teror yang didukung oleh pendanaan yang bersifat lintas negara mengakibatkan pemberantasannya membutuhkan kerja sama internasional. dan keadilan sosial. perdamaian abadi. menanggulangi. dan memberantas tindak pidana terorisme. perlu ditingkatkan pencegahan terhadap suatu hal yang mengganggu stabilitas nasional. Pemerintah Republik Indonesia telah mengundangkan Undang-Undang Nomor 37 Tahun Penjelasan atas UU No. Presiden Republik Indonesia dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 2012 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum. 6 Tahun 2006 tentang Pengesahan Internastional Convention the Suppression of the Financing of Terrorisme. Pemerintah Republik Indonesia telah mengundangkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi Undang-Undang serta Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. 1999).1 Untuk mencapai cita-cita tersebut dan menjaga kelangsungan pembangunan nasional dalam suasana aman. baik dalam lingkungan nasional maupun internasional. tenteram. berwenang untuk membuat perjanjian dengan negara lain. 1999 (Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme. 1 Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM RI. dan sehubungan dengan politik luar negeri yang bebas aktif.

terutama tindak pidana terorisme.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 1999 tentang Hubungan Luar Negeri dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Dengan adanya landasan hukum tersebut. Namun upaya pemerintah tersebut hanya terbatas pada upaya penangkapan pelaku dan kurang memberikan perhatian terhadap unsur pendanaan yang merupakan faktor utama dalam setiap aksi teror. Oleh karena itu. ternyata tidak cukup maksimal untuk mencegah dan memberantas tindak pidana terorisme. regional. 1999 (Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme. 1999). Pertimbangan Indonesia untuk menjadi Pihak pada International Convention for the Suppression the Financing of Terrorism. terutama hak yang paling dasar. upaya penanggulangan tindak pidana terorisme dinyakini tidak akan optimal tanpa adanya pencegahan dan pemberantasan terhadap pendanaan terorisme. Unsur pendanaan merupakan faktor utama dalam setiap aksi terorisme sehingga upaya penanggulangan tindak pidana terorisme diyakini tidak akan berhasil seperti yang diharapkan tanpa pemberantasan pendanaannya. baik yang bersifat nasional maupun transnasional. Upaya pemberantasan tindak pidana terorisme dengan cara konvensional (follow the suspect) yakni dengan menghukum para pelaku teror. Terorisme merupakan kejahatan luar biasa dan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia. dan aparat penegak hukum guna mendekteksi adanya suatu aliran dana yang digunakan atau patut diduga 2 . Penyedia Jasa Keuangan. dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme. khususnya yang berkaitan dengan pencegahan. baik bilateral maupun multilateral. penanggulangan. Upaya pemberantasan dalam hal ini tindak pidana terorisme yang dilakukan pemerintah telah cukup memuaskan. Pemerintah Republik Indonesia dapat membuat perjanjian. yaitu hak hidup. dan internasional. Sehubungan dengan hal tersebut dan sesuai dengan komitmen Pemerintah dan Rakyat Indonesia untuk senantiasa aktif mengambil bagian dalam setiap upaya pemberantasan segala bentuk tindak pidana. Upaya lain yang perlu dilakukan untuk mencegah dan memberantas tindak pidana terorisme adalah dengan menerapkan pendekatan follow the money yang melibatkan PPATK. bangsa Indonesia bertekad untuk memberantas tindak pidana pendanaan terorisme melalui kerja sama bilateral.

1999 (International Convention for The Suppression of The Financing of Terrorism. Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pendanaan terorisme belum mengatur pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme secara memadai dan komprehensif. Perlunya pengaturan tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme dalam sebuah perundang-undangan tersendiri. Khusus atau ini Nine Special Recommendation yang dikeluarkan Rekomendasi merupakan rekomendasi khusus yang digunakan sebagai standar internasional untuk 3 . Dalam hal RUU mengenai Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme ini telah disahkan. 1999. akan berlaku sebagai hukum (positif) nasional Indonesia. 6 Tahun 2006. karena suatu kegiatan terorisme tidak mungkin dapat dilakukan tanpa adanya pelaku teror yang berperan sebagai penyandang dana untuk kegiatan terorisme tersebut. yang secara yuridis formal sejajar kedudukannya dengan undang-undang nasional lainnya. Upaya penyelarasan tersebut dilakukan melalui penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme. juga dipicu oleh adanya 9 Rekomendasi FATF.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme digunakan untuk pendanaan kegiatan terorisme. RUU tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme merupakan upaya untuk menindaklanjuti ratifikasi Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme. Dengan telah diratifikasinya Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengesahan International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism. 1999) dengan Undang-undang No. maka Indonesia juga wajib untuk membuat atau menyelaraskan peraturan perundangundangan terkait pendanaan terorisme sehingga sejalan dengan ketentuanketentuan yang diatur dalam konvensi tersebut. Pada prinsipnya undang-undang ratifikasi atas suatu konvensi belum sepenuhnya dapat dilaksanakan (in-operative) atau memerlukan pengaturan lebih lanjut. Pemutusan mata rantai pendanaan terorisme tersebut tentunya membutuhkan landasan hukum yang jelas agar dapat dilaksanakan secara benar dan dapat pula dipertanggungjawabkan secara hukum.

Dengan adanya Nine Special Recommendation FATF. Dipicu oleh adanya peristiwa pemboman gedung WTC di AS yang terjadi pada tanggal 11 September 2001. dan (iii) menunjukkan Pada dasarnya Pengaturan tentang Pemberantasan Pendanaan Terorisme ini dimaksudkan untuk membentuk suatu aturan hukum yang baku dan lengkap mengenai Pemberantasan Pendanaan Terorisme sebagai salah satu cara untuk mewujudkan tujuan nasional. serta kerjasama baik nasional maupun internasional dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme.2 Pengaturan tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme disusun dengan tujuan. kemudian FATF mengeluarkan pedoman tambahan untuk memerangi pendanaan terorisme yang kemudian dikenal dengan 8 Rekomendasi Khusus. Dalam perkembangannya 9 rekomendasi khusus ini telah dilebur dalam 14 rekomendasi FATF. penyidikan. pelaporan dan pengawasan kepatuhan. dan keamanan dan ketertiban nasional. maka diperlukan Undang-Undang tersendiri yang mengatur mengenai Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme. antara lain untuk: (1) mengatasi celah-celah yang ada dalam peraturan yang berkaitan dengan tindak pidana pendanaan terorisme sehingga menjamin kepastian hukum dan ketertiban dalam masyarakat. kriminalisasi tindak pindana pendanaan terorisme dan tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana pendanaan terorisme. serta banyaknya kelemahan yang dimiliki oleh beberapa peraturan yang telah ada. dan (3) memenuhi Rekomendasi Financial Action Task Force on Money Laundering (FATF) khususnya Nine Special Recommendations. sosial budaya. dan disempurnakan pada tahun 2004 menjadi 9 Rekomendasi Khusus. adalah (i) ikut memelihara dan menjaga stabilitas ekonomi.3 Sasaran utama tersebut. yang mengatur tentang tindak pidana pendanaan terorisme. (ii) memutus alur pendanaan terorisme sekaligus mencegah terjadinya kembali serangan atau aksi-aksi terorisme di seluruh tanah air. 3 2 4 .Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme menghalangi akses bagi para teroris dan pendukungnya memasuki sistem keuangan. mekanisme pemblokiran. penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan. terciptanya penegakan hukum dan ketertiban yang konsisten dan berkesinambungan. (2) mengetahui dan mengatur prosedur dan mekanisme yang jelas dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana terorisme melalui pendekatan follow the money namun tidak menghambat kegiatan pengelola jasa keuangan. Undang-Undang ini diharapkan akan mengatur secara komprehensif mengenai asas. Rekomendasi tersebut dikeluarkan FATF pada tahun 1991 dan dimuat dalam laporan yang berisikan 40 Rekomendasi yang memberikan panduan yang komprehensif untuk memerangi tindak pidana pencucian uang.

maka permasalahan pokok dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah bentuk pelanggaran bagi setiap orang yang menyediakan dana untuk seseorang atau badan hukum yang terdapat dalam daftar teroris. atau berkonstribusi dalam pelaksanaan anti terorisme yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan tujuan untuk membantu kelancaran aksi terorisme. 2. Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sesuai dengan tugas dan fungsinya dalam pembinaan hukum membentuk tim untuk menyusunan Naskah Akademik RUU tentang Pemberantasan Pendanaan Terorisme dengan melakukan pengkajian dan mempelajari pengaturan serta pengalaman negara lain dalam menangani permasalahan tindak pidana pendanaan terorisme. khususnya dalam menjerat para pelaku terorisme yang hendak melakukan aksinya di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian dan latar belakang diatas. Bagaimana upaya dalam rangka memutus rantai pendanaan terorisme dan mitigasinya 5. Apakah tindak pidana pendanaan terorisme dikaitkan dengan adanya aksi terorisme tertentu?. Dengan adanya Naskah Akademik Rancangan Undang-undang ini nantinya. 3. Bagaimanakah pengaturan pemidanaan untuk setiap orang yang merencanakan dan/atau menggerakkan orang lain untuk melakukan aksi terorisme. maka diharapkan upaya pemberantasan pendanaan terorisme di Indonesia menjadi semakin efektif dan efisien.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme komitmen Indonesia yang kuat dan serius dalam pencegahan dan pemberantasan pendanaan terorisme. 5 . Bagaimana pengaturan pendanaan atas terorisme perorangan dan penyediaan harta kekayaan untuk organisasi terorisme. 4. B. Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran tersebut.

iii. (ed). dan perbandingan. Di antara ketiga konsep dimaksud. 6-8. Norton & Co. “Qualitative design is holistic. Dalam ilmu pengetahuan terdapat tiga konsep pokok yaitu klasifikasi.5 Penyusunan Naskah Akademik RUU ini juga didukung oleh studi perbandingan hukum6 dengan mengambil bahan hukum sekunder yang tidak hanya dari bahan pustaka Yuridis normatif artinya penelitian mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan. hal. Lincoln. pengukuran (kuantitatif). the whole picture and begin with asearch for understanding of the whole”. Methodology and Meaning”. Metode Metode yang digunakan dalam penyusunan Naskah Akademik RUU. Friedman. Yunus Husein. konsep perbandingan (komparatif) adalah konsep yang lebih efektif memberikan informasi karena komparatif memiliki atau terikat oleh suatu struktur hubungan logis yang relatif kompleks dan rumit. 2006).. Metode yuridis normatif 4 yang bersifat kualitatif. Lihat Lawrence M.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme C. Handbook of Qualitative Research. (New York: W. Janesick. Sistem dan Mekanisme Penanganan Tindak Pidana Pencucian Uang di Negara Lain (Laporan Pelaksanaan Tugas 2003-2006). Janesick. Sedangkan kegunaan penyusunan Naskah Akademik RUU ini adalah merupakan masukan dan pemikiran dalam penyusunan Rancangan UndangUndang tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme dan/atau sebagai acuan atau referensi penyusunan dan pembahasan RUU tersebut. keputusan pengadilan dan norma-norma yang berlaku dan mengikat masyarakat atau juga menyangkut kebiasaan yang berlaku di masyarakat. hal. D. yaitu berupa naskah ilmiah yang memuat gagasan tentang perlunya materi-materi hukum yang bersangkutan diatur dengan segala aspek yang terkait. hal. 212. Methapor. Menurut Valerie J. Inc. landasan dan prinsip yang digunakan serta pemikiran tentang norma-normanya. Dengan memakai konsep perbandingan kita dapat mengetahui apa kelebihan dan kekurangan FIU negara lain dibandingkan dengan eksistensi PPATK. Perbedaan ketiga konsep tersebut hanya terletak pada cakupan informasi yang tersedia atas suatu objek atau fenomena apapun yang sedang diamati. Lihar Valerie J. dalam Norman K. konsep perbandingan berperan sebagai perantara antara konsep klasifikasi dan pengukuran. Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah Akademik Tujuan Naskah Akademik RUU ini adalah untuk menyusun Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Pemberantasan Pendanaan Terorisme. American Law.W. adalah : 1. (California: Sage Publication. yang disajikan dalam bab-bab yang dapat merupakan sistematika suatu rancangan undang-undang. 6 5 4 6 . Dalam hal ini. “The Dance of Qualitative Research Design. 1984). It lokks at the langer picture. Lebih jauh lagi. (Jakarta: PPATK. 1994). “Kata Pengantar” dalam Tim Penyusun. dilengkapi dengan referensi yang memuat konsepsi. Denzin and Yvonne S.. dengan cara “menggali” pengalaman pemikiran yang berkembang mengenai sistem dan mekanisme penanganan TPPU di negara lain itu kita bisa memahami mengapa dan bagaimana FIU negara lain lebih maju dan efektif jika dibandingkan dengan FIU kita.

p) Resolusi Dewan Keamanan PBB No. f) Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Transnational Organized Crime. q) Resolusi Dewan Keamanan PBB No. h) International Convention for The Suppression of The Financing of Terrorism. e) Undang-Undang RI Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pengesahan Treaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters. 2000. 2000. 1425. 1997. i) International Convention for the Suppression of Terrorist Bombing. j) United Nations Convention Against Transnational Organized Crime. c) Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Pengesahan International Convention for the Suppression of Terrorist Bombing.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Indonesia maupun asing. m) Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1372. 1999. o) Resolusi Dewan Keamanan PBB No. tetapi juga bahan-bahan hukum primer seperti peraturan perundang-undangan nasional dan ketentuan-ketentuan internasional yang berlaku dan terkait dengan tindak pidana pendanaan terorisme. g) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. n) Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1267. d) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. yaitu antara lain: a) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. 1997. 2004. 7 . 1333. k) Treaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters. 2004. 1999. l) FATF 40+9 recommendations. b) Undang-Undang RI Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengesahan International Convention For The Suppression Of The Financing Of Terrorism. 1373.

t) Convention for the Suppression of Unlawful Seizure of Aircraft. ee) Freezing of Terrorist Asset (Australia) ff) Charter of the United Nations Act 1945. 1973. 1988. 1988/1989. akademisi. 1971. 8 . pengurus organisasi dan lain sebagainya sebagai narasumber melalui penyelenggaraan forum dialog. dd) KUHP Australia. 1904. x) Convention for the Suppression of Unlawful Acts at Airports Serving International Civil Aviation. cc) Combating the Financing of People Smuggling and other Measure Act (Australia). penguasa. s) Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 2. forum komunikasi dan penelitian lapangan untuk mendapatkan data faktor nonhukum yang terkait terhadap peraturan perundang-undangan yang diteliti. praktisi. supplementary to the Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation. 1988. 1970. v) Convention on the Prevention and Punishment of Crimes against Internationally Protected Persons. aa) Protocol for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of /Fixed Platforms located on the Continental Shelf. w) International Convention against the Taking of Hostages. 1988. yang dilanjutkan dengan melibatkan ahli/pakar dari kalangan teroritisi. bb) Anti Money Laundering and Counter-Terrorism Financing Act 2006 (Australia). Metode empiris atau sosio-legal adalah penelitian yang diawali dengan penelitian normatif (menelaah) peraturan perundang-undangan. y) Protocol for the Suppression of Unlawful Acts of Violence at Airports Serving International Civil Aviation 1988. 1979. including Diplomatic Agents. z) Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Maritime Navigation.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme r) Resolusi Dewan Keamanan PBB No. u) Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation.

sebagai berikut: 1. menjatuhi hukuman atau pidananya). prosecute. Implicit recognition of the penal nature of the act by establishing a duty to prohibit. 5. 4. punish or the like (pengakuan secara implisit atas sifat-sifat pidana dari tindakan-tindakan tertentu dengan menetapkan suatu kewajiban untuk menghukum. hal. Duty or right to extradite (kewajiban atau hak untuk mengekstradisi). menuntut. 3. 37.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme BAB II KAJIAN TOERITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS A. 2003). prevent. Duty or right to punish the proscribed conduct (kewajiban atau hak untuk memidana tindakan tertentu). 6. 2. Duty or right to prosecute (kewajiban atau hak untuk menuntut). Criminalization of the proscribed conduct (kriminalisasi atas tindakantindakan tertentu). 7 Romli Atmasasmita. “Pengantar Hukum Pidana Internasional” (Bandung Refika Aditama. Kajian Teoritis Pendanaan Terorisme Dalam Perspektif Hukum Pidana Internasional Defenisi tentang tindak pidana internasional atau kejahatan internasional (international crimes) menurut Bassiouni7 sebagai berikut: “Tindak pidana internasional adalah setiap tindakan yang telah ditetapkan di dalam konvensi-konvensi multilateral dan yang telah diratifikasi oleh negaranegara peserta. 9 . Explicit recognition of proscribed conduct as constituting an international crime or a crime under international law (pengakuan secara eksplisit atas tindakan-tindakan yang dipandang sebagai kejahatan berdasarkan hukum internasional). sekalipun di dalamnya terkandung salah satu dari kesepuluh karakteristik pidana” Bassiouni lebih lanjut menjelaskan kesepuluh karakteristik yang dimaksudkan. mencegah.

Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 7. Duty or right to cooperate in prosecution, punishment, including judicial assistance in penal proceeding (kewajiban atau hak untuk bekerjasama di dalam proses pemidanaan). 8. Establishment of a criminal jurisdiction basis (penetapan suatu dasar-dasar yurisdiksi kriminil). 9. Reference to the establishment of an international court (referensi pembentukan suatu pengadilan internasional). 10. Elimination of the defense of superiors orders (penghapusan alasan-alasan perintah atasan). Dilihat dari perkembangan dan asal-usul tindak pidana internasional ini, maka eksistensi tindak pidana internasional dapat dibedakan dalam: 1. Tindak pidana internasional yang berasal dari kebiasaan yang berkembang di dalam praktik hukum internasional. 2. Tindak pidana internasional yang berasal dari konvensi-konvensi internasional. 3. Tindak pidana internasional yang lahir dari sejarah perkembangan konvensi mengenai hak asasi manusia. Berdasarkan internasionalisasi kejahatan dan karakterisktik kejahatan internasional, dalam konteks hukum kejahatan internasional, kejahatan internasional memiliki hirarki atau tingkatan. Sampai dengan tahun 2003 atas dasar 281 konvensi internasional sejak tahun 1812, ada 28 kategori kejahatan internasional, yaitu8: 1. Aggression. 2. Genocide. 3. Crimes against humanity. 4. War crimes. 5. Unlawful possession or use or emplacement of weapons. 6. Theft of nuclear materials. 7. Mercenaries. 8. Apartheid. 9. Slavery and slave-related practices. 10. Torture and other forms of cruel, inhuman, or degrading treatment.
8

Eddy O.S. Hiariej, “Pengantar Hukum Pidana Internasional” (Jakarta Airlangga, 2009), hal.55.

10

Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 11. Unlawful human experimentation. 12. Piracy. 13. Aircraft hijacking and unlawful acts against international air safety. 14. Unlawful acts against the safety of maritime navigation and the safety of platforms on high seas. 15. Threat and use of force against internationally protected persons. 16. Crimes against United Nations and associated personnel. 17. Taking of civilian hostages. 18. Unlawful use of the mail. 19. Attacks with explosives. 20. Financing of terrorism. 21. Unlawful traffic in drugs and related drug offenses. 22. Organized crime. 23. Destruction and/or theft of national treasures. 24. Unlawful acts against certain internationally protected elements of the environment. 25. International traffic in obsence materials. 26. Falsification and counterfeiting. 27. Unlawful interference with submarine cables. 28. Bribery of foreign public officials. Berdasarkan 28 kategori kejahatan internasional tersebut, M. Cherif Bassiouni9 membagi tingkatan kejahatan interasional menjadi tiga. Pertama, kejahatan internasional yang disebut sebagai international crimes adalah bagian dari jus cogens10. Tipikal dan karakter dari international crimes berkaitan dengan perdamaian dan keamanan manusia serta nilai-nilai kemanusiaan yang fundamental. Terdapat sebelas kejahatan yang menempati hirarki teratas sebagai international crime, yakni: 1. 2. 3.
9

Aggression. Genocide. Crimes against humanity.

Romli Atmasasmita, Op. Cit, hal. 35 Jus Cogens adalah hukum pemaksa yang tertinggi dan harus ditaati oleh bangsa-bangsa beradab di dunia sebagai prinsip dasar umum dalam hukum internasional yang berkaitan dengan moral. Lihat, Eddy O.S. Hiariej, Op. Cit., hal 50.
10

11

Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 4. 5. 6. 7. 8. 9. War crimes Unlawful possession or use or emplacement of weapons. Theft of nuclear materials. Mercenaries. Apartheid. Slavery and slave-related practices.

10. Torture and other forms of cruel, inhuman, or degrading treatment. 11. Unlawful human experimentation. Kedua, kejahatan internasional yang disebut sebagai international delicts. Tipikal dan karakter international delicts berkaitan dengan kepentingan internasional yang dilindungi meliputi lebih dari satu negara atau korban dan kerugian yang timbul berasal dari satu negara. Ada tiga belas kejahatan internasional yang termasuk dalam international delicts, yaitu: 1. 2. Piracy. Aircraft hijacking and unlawful acts against international air safety.

3. Unlawful acts against the safety of maritime navigation and safety of platforms on the high seas. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Threat and use of force against internationally protected person. Crimes against United Nations and associated personnel. Taking of civilian hostages. Unlawful use of the mail. Attacks with explosive. Financing of terrorism.

10. Unlawful traffic in drugs and related drug offenses. 11. Organized crime 12. Destruction and/or theht of national treasures. 13. Unlawful acts against certain internationally protected elements of the environment. Ketiga, kejahatan internasional yang disebut dengan istilah international infraction. Dalam hukum pidana internasional secara normatif, international infraction tidak termasuk dalam kategori international crime dan international delicts. Kejahatan yang tercakup dalam international Infraction hanya ada empat, yaitu: 12

Ayat ini sering kita sebut dengan menganut azas praduga tak bersalah. Jadi memang tidak tertutup kemungkinan adanya “amanat” intenasional untuk menjaring seseorang atau pentolan organisasi teroris. Kemudian dalam ayat (2) bahwa ”Seseorang tidak boleh dituntut dua kali di pengadilan atas Perkara yang sama” (Principle of Double Joepardy). Jika mengacu kepada Pasal 11 ayat (1) Deklarasi HAM PBB. Jangkauan pemahaman Kejahatan Internasional bukan saja termasuk membantu pendanaan teroris melainkan juga genocide. tetap saja orang-oang yang tertangkap karena terlibat atau dituduh terlibat makar nasional atau Intensional harus tetap menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah. melanggar HAM dan sebagainya. ada satu hal yang musti diperhatikan oleh Pemerintah khususnya POLRI adalah. Kondisi ini berkaitan dengan adanya penangkapan-penangkapan teroris atau orang-orang yang dituduh Teroris akhir-akhir ini. International traffic in obsence materials. bahwa “Tidak seorang pun diadili di depan mahkamah berkenan dengan perbuatan yang merupakan kejahatan dimana orang tersebut telah dinyatakan bersalah atau dibebaskan oleh Mahkamah”. 4. harus dianggap TIDAK BERSALAH sampai dibuktikan kesalahannya menurut hukum dan pengadilan yang terbuka. Kejahatan terkait pendanaan terorisme tersebut merupakan persoalan yang sedang marak dan terjadi di negara ini. Bribery of foreign public official. karena masalah ini masuk dalam dalam katagori (Pendanaan Terorisme) Hukum Pidana Internasional. Unlawful interference with submarine cable. dimana ia memperoleh semua jaminan ynag diperlukan untuk pembelaannya”.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 1. berbunyi: Setiap orang yang dituntut karena diduga melakukan suatu tindak pidana. 2. 3. Walaupun demikian. Dalam Pasal 20 Statuta Roma seperti tertuang dalam salah satu azas Hukum Kejahatan Internasional (Azas Ne bis In) menyebutkan dalam ayat (1). apapun dalil dan landasan hukumnya. Falsification and counterfeiting. Hanya saja karena berkaitan dengan masalah teroris kita batasi 13 .

pemberantasan pendanaan terorisme bukan hal yang gampang. baik karena alasan persaingan antar individu industri. Memutus Mata Rantai Pendanaan Terorisme Pentingnya perang melawan pendanaan teroris telah tumbuh seiring dengan maraknya aksi-aksi terorisme di seluruh dunia. Sangat beralasan jika pendanaan terorisme diklasifikasikan sebagai tindak pidana. namun perlu diingat. merencanakan atau melakukan terorisme. Dalam UU TPPU tersebut disebutkan bahwa terorisme sebagai salah satu kejahatan masal dari money laundering sehingga uang yang berasal dari aktifitas organisasi teroris dapat dikejar dan dituntut dengan UU TPPU.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme dalam hal ini teroris yang berkaitan dengan pendanaannya. Indonesia sudah merespons secara positif gagasan yang berkembang dalam masyarakat internasional bahwa terorisme dan pendanaan terorisme merupakan tindak pidana. Pada intinya pendanaan teroris. Pengaturan terorisme sebelumnya sudah diakomodasi dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003. Pembuatan identitas palsu yang mudah dilakukan pun ikut mempersulit upaya deteksi dan penyelidikan kegiatan pendanaan terorisme. Lihat “Seminar Internasional: Pencegahan Terorisme Perlu Kerjasama Semua Negara”. Dalam hal ini. seperti belum adanya kartu identitas tunggal (uniform single ID) bagi setiap orang. Belum adanya administrasi kependudukan yang tertib. Datin Paduka Dr. selanjutnya dengan Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantaan Tindak Pidana Pencucian Uang (UU TPPU). 12 11 14 . Rohani Abdul Rahim dari Universitas Kebangsaan Malaysia mengemukakan bahwa "Terorime merupakan sebuah tantangan global yang dihadapi pembuat kebijakan di setiap negara dan langkah yang bisa dilakukan adalah dengan memaksimalkan kerjasama internasional dan mendukung kepentingan keamanan nasional”. ternyata masuk dalam katagori kejahatan internasional. kurangnya penegakan hukum. bahwa pendanaan teroris dapat pula berasal dari sumber yang halal. seperti halnya dikenal di beberapa negara. Prasetya Online. Lahirnya Undang-Undang (UU) Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi UU. Apa yang dimaksud dengan terorisme itu sendiri sampai saat ini belum berhasil disepakati. Dengan demikian. adalah penyediaan dukungan keuangan untuk terorisme baik bagi yang mendukung. 23 Juni 2011. Penerapan prinsip mengenal nasabah (Know Your Customer) juga belum sepenuhnya dilakukan. maupun kurangnya kesadaran nasabah. Namun persoalannya. maka cara yang ditempuh adalah mengatur terlebih dahulu aspekaspek tertentu dari terorisme dalam berbagai perjanjian internasional secara Kriminalisasi atas perbuatan pendanaan terorisme ini sangat mendesak dijadikan sebagai predicate crime dari tindak pidana pencucian uang.12 Karena kesulitan yang berkepanjangan atau kegagalan dalam merumuskan definisi terorisme dalam berbagai konferensi internasional.11 Meskipun tindakantindakan yang digunakan untuk mencegah pendanaan teroris banyak persamaannya dengan yang digunakan untuk pemberantasan pencucian uang. antara lain Amerika Serikat dengan Social Security Number. sedangkan sumber uang yang terkena pencucian senantiasa merupakan hasil tindak pidana semata. menjadi landasan hukum utama dalam menangani berbagai aksi terorisme di Indonesia. sumber pendanaan teroris dapat diperoleh secara halal maupun secara tidak halal.

Berdasarkan Pasal 2 Konvensi SFT. semua negara anggota PBB dihimbau untuk meratifikasi konvensi tersebut (sebagaimana tertuang dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1372 (2001). pendanaan terorisme terjadi apabila seseorang dengan cara apapun. untuk menjalankan suatu tindakan teroris. Embrio AEDPA of 1996 berawal dari Money Laundering Control Act 1986 yang merupakan Undang-Undang pertama di dunia yang menentukan money laundering (pencucian uang) sebagai kejahatan. Undang-Undang Anti Pencucian Uang Amerika tersebut melarang setiap orang untuk melakukan transaksi keuangan yang melibatkan hasil yang diperoleh dari specified unlawful activity. bahwa tindakan teroris adalah suatu tindakan yang merupakan: Combating Terrorism Financing atau perang terhadap pendanaan terorisme sebenarnya bukan dimulai setelah terjadinya peristiwa pemboman 9/11 di Amerika Serikat (AS). dan menghukum kegiatan pencucian uang internasional dan anti-pendanaan terorisme. 14 13 15 . Lihat: Rijanto. Perang melawan pendanaan terrisme telah dilakukan selama bertahun-tahun oleh AS dan Inggris. Selengkapnya Pasal 2 Konvensi SFT tersebut menyatakan. Bahkan AEDPA ini juga mengatur pembekuan aset organisasi teroris dan penolakan visa kepada anggota atau pemimpin organisasi teroris.kompas. seperti masalah pendanaan terorisme dengan dikeluarkannya Konvensi Internasional tentang Pemberantasan Pendanaan Terorisme. dan karena itu sejak tragedi 11 September 2001 tersebut AS dengan serta-merta mengambil berbagai langkah.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme sektoral. Undang-Undang tersebut mampu mengkriminalkan warga negara AS yang terbukti menyediakan dana atau dukungan material terhadap kelompok yang oleh Sekretariat Negara AS dianggap sebagai Organisasi Teroris Internasional. menyediakan perangkat yang sesuai dan diperlukan untuk menangkap/menahan. Bagi AS sendiri. “Memerangi Pendanaan Terorisme”.com/kompas-cetak/0309/29/opini/586741. diakses tanggal 12 Desember 2011. secara tidak sah dan dengan sengaja.14 Pemerintah Republik Indonesia sendiri baru ikut menandatangani Konvensi SFT tersebut pada tanggal 24 September 2001. baik di AS maupun di negara-negara lain di seluruh dunia.htm. AS semakin serius dalam usahanya mencegah pendanaan teroris dengan mengeluarkan the USA’s Antiterrorism and Effective Death Penalty Act (AEDPA) of 1996. http://www. menyediakan atau mengumpulkan dana dengan tujuan agar dana tersebut digunakan atau dengan sadar mengetahui bahwa dana tersebut akan digunakan baik seluruhnya atau pun sebagian daripadanya. yaitu International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism. Undang-Undang tersebut dimaksudkan untuk memperkokoh dan menyatukan masyarakat/rakyat AS dengan cara. dan upaya untuk meredam. dan menghalangi kegiatan terorisme di AS. baik secara langsung maupun tidak langsung. mencegah. antara lain. 1999. memerangi. tindakan. International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism. 1999 (selanjutnya disebut Konvensi SFT) pada mulanya hanya diratifikasi oleh beberapa negara. yang kemudian mengaturnya dalam "USA Patriot Act" Tahun 2001. Dengan Undang-Undang tersebut. AS ingin meningkatkan pelaksanaan aturan-aturan yang digariskan dan mengefektifkan perangkat investigasinya serta hal-hal yang terkait. Masalah terorisme tampaknya merupakan hal yang sulit dilupakan AS (pemerintah dan masyarakatnya). Namun setelah peristiwa tanggal 11 September 200113.

Konvensi Pencegahan dan Hukuman terhadap Tindak Pidana terhadap Orang-Orang yang Dilindungi Secara Internasional. 1988). Konvensi Penindasan terhadap Tindakan Melawan Hukum terhadap Keselamatan Navigasi Maritim (Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Maritime Navigation. Protokol Penindasan terhadap Tindakan Melawan Hukum terhadap Keselamatan Kebijakan yang telah Ditetapkan yang terletak di Wilayah Kontinental (Protocol for the Suppression of Unlawful Acts 16 . Konvensi Penindasan Tindakan yang Melawan Hukum dengan Kekerasan di Bandara yang Melayani Penerbangan Sipil Internasional. 1970). Konvensi International memerangi Pengambilan Sandera (International Convention against the Taking of Hostages. 1979). termasuk Agen-Agen Diplomat (Convention on the Prevention and Punishment of Crimes against Internationally Protected Persons.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme (i) pelanggaran dalam pencakupan dari. yaitu: Konvensi Penindasan terhadap Pengambilan Alih yang Tidak Sah atas Pesawat Terbang (Convention for the Suppression of Unlawful Seizure of Aircraft. tambahan atas Konvensi Penindasan terhadap Tindakan yang Melawan Hukum terhadap Keselamatan Penerbangan Sipil (Convention for the Suppression of Unlawful Acts at Airports Serving International Civil Aviation. including Diplomatic Agents. dan didefinisikan dalam. Konvensi Penindasan Tindakan yang Melawan Hukum terhadap Keselamatan Penerbangan Sipil (Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation. supplementary to the Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation. 1971). 1973). Protokol untuk Penindasan terhadap Tindakan Melawan Hukum Di Bandara yang melayani Penerbangan Sipil Intenasional (Protocol for the Suppression of Unlawful Acts of Violence at Airports Serving International Civil Aviation 1988). 1988). salah satu perjanjian intrenasional berikut ini.

bahwa tindak kejahatan dalam Konvensi ini termasuk sebagai “extraditable offences”. 2. apabila negara tersebut tidak mengekstradisikannya. adalah untuk mengintimidasi suatu komunitas penduduk. 4. 1988). rasial. apabila tujuan tindakan demikian.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme against the Safety of /Fixed Platforms located on the Continental Shelf. mengadili “alleged offender”. proses ekstradisi dan “mutual legal assistance”. atau memaksakan suatu Pemerintahan atau organisasi internasional untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan suatu tindakan. agama atau “other similar nature” . ideologi. pembekuan atau penyitaan “any funds used or allocated for” tindak kejahatan yang diatur dalam Pasal 2 . mengambil langkah-langkah yang layak sesuai dengan legislasi nasional masing-masing vis-à-vis identifikasi. deteksi. 1997). dan Konvensi Internasional Penindasan terhadap Pemboman Teroris (International Convention for the Suppression of Terrorist Bombings. mengambil langkah-langkah yang diperlukan yang bertujuan untuk tidak membenarkan tindak kejahatan yang diatur Konvensi 1999 berdasarkan alasan-alasan politik. ethnis. (ii) setiap tindakan lainnya yang dimaksudkan untuk mengakibatkan kematian atau cedera badan berat terhadap seorang sipil. Secara tegas Konvensi SFT menyatakan. dalam sifat dan konteksnya. menentukan tindak kejahatan menurut Konvensi ini sebagai “criminal offences” dan sanksinya dalam perundang-undangan nasional masingmasing. Konvensi SFT secara garis besar juga mengatur tentang berbagai kewajiban negara pihak seperti untuk: 1. atau terhadap setiap orang lainnya yang tidak mengambil peran aktif dalam permusuhan-permusahan dalam suatu keadaan perselisihan bersenjata. philosophi. 17 . melaksanakan kerjasama internasional baik dalam rangka investigasi. 3. dan 5.

bahwa “Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun. Undang-Undang Terorisme telah diatur berbagai tindak kejahatan yang juga dikatagorikan sebagai tindak pidana terorisme dan diancam dengan pidana yang sama (purely terrorism). atau teroris perseorangan. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 25 Tahun 2003 (selanjutnya disebut UU TPPU). organisasi teroris. Ketentuan ini sejalan dengan Pasal 6 Konvensi SFT yang meminta Negara Pihak untuk mengambil langkahlangkah yang diperlukan untuk tidak membenarkan tindak kejahatan yang diatur Konvensi SFT. bahwa “Harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga akan digunakan dan/atau digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk kegiatan terorisme. UU TPPU menyatakan. setiap orang yang dengan sengaja menyediakan atau mengumpulkan dana dengan tujuan akan digunakan atau patut diketahuinya akan digunakan sebagian atau seluruhnya untuk melakukan tindak pidana terorisme”. 3. Kriminalisasi pendanaan terorisme yang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU) Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sebagaimana telah disahkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 (selanjutnya disebut Undang-Undang Terorisme). ada 18 18 . Menurut Undang-Undang Terorisme tersebut. juga telah menjangkau pendanaan terorisme. Undang-Undang Terorisme tersebut menyatakan. jo Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. disamakan sebagai hasil tindak pidana”. 2. sebagian besar telah diakomodir dalam peraturan perundang-undangan nasional atau dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia seperti antara lain: 1.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Kewajiban-kewajiban sebagaimana tersebut diatas. Bahkan Undang-Undang Terorisme mengatur secara lebih luas dan lebih rinci atau tidak hanya sebatas pada 9 (sembilan) perjanjian internasional yang merupakan lampiran atau annex dari Konvensi SFT.

dan lain sebagainya. penuntut umum. membuat tidak dapat dipakai atau merusak bangunan untuk pengamanan lalu lintas udara atau menggagalkan usaha untuk pengamanan bangunan tersebut. atau memindahkan tanda atau alat untuk pengamanan penerbangan. merampas atau mempertahankan perampasan atau menguasai pesawat udara dalam penerbangan. Undang-Undang Terorisme serta UU TPPU cukup sejalan dengan ketentuan Konvensi SFT. atau menggagalkan bekerjanya tanda atau alat tersebut. penyidik. merusak. penuntut umum. atau hakim berwenang memerintahkan kepada bank dan lembaga jasa keuangan untuk melakukan pemblokiran terhadap harta kekayaan setiap orang yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana terorisme dan/atau tindak pidana yang berkaitan dengan terorisme.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme (delapan belas) tindak kejahatan yang juga dikatagorikan sebagai tindak pidana terorisme antara lain: menghancurkan. dalam pesawat udara dengan perbuatan yang melawan hukum. mengambil. Pada intinya pasal-pasal dalam kedua UndangUndang tersebut menyatakan: penyidik. atau memasang tanda atau alat yang keliru. maka penyidik. atau hakim berwenang untuk meminta keterangan dari bank dan lembaga jasa keuangan mengenai harta kekayaan setiap orang yang diketahui atau patut diduga melakukan tindak pidana terorisme. dengan sengaja dan melawan hukum melakukan perbuatan kekerasan terhadap seseorang di dalam pesawat udara dalam penerbangan. untuk kepentingan pemeriksaan dalam perkara tindak pidana terorisme. jika perbuatan itu dapat membahayakan keselamatan pesawat udara tersebut. penuntut umum. dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan. 4. atau hakim berwenang memerintahkan kepada Pihak Pelapor untuk melakukan pemblokiran terhadap Harta Kekayaan setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada 19 .

Dengan demikian. Dalam hal ditemukan kemiripan atau kesamaan nama. 5. berdasarkan daftar yang dikeluarkan oleh Jaksa Agung. tindak pidana yang berkaitan dengan tindak pidana politik. bahwa tindak pidana terorisme yang diatur dalam Perpu ini dikecualikan dari tindak pidana politik. mulai tahun 2008 hingga 2010 PPATK menemukan sebanyak 128 transaksi keuangan yang diduga terkait dengan pendanaan kegiatan terorisme di sejumlah wilayah Indonesia. tersangka. Lihat “Laporan Pelaksanaan Counter Financing of Terrorism Study Tour”. yakni berdasarkan putusan pengadilan. PPATK telah membangun suatu hiper-link pada situs PPATK (http://www. Dengan telah disahkannya RUU tentang Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana. atau berdasarkan daftar yang dikeluarkan oleh Menteri Luar Negeri. Australia memilki 3 (tiga) sumber. Selain itu. atau terdakwa yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana. dan tindak pidana dengan tujuan politik. Sebagai gambaran.go. maka PJK melaporkan kepada PPATK sebagai Terkait dengan daftar teroris. Terkait dengan masalah ekstradisi. 6. Dalam rangka membantu PJK mendeteksi transaksi keuangan para teroris. yang menghambat proses ekstradisi. 25-29 September 2011.15 Sehingga PJK dapat melakukan verifikasi untuk memastikan adanya kemiripan atau kesamaaan nama nasabahnya dengan nama-nama dalam daftar tersebut. SydneyAustrala. tindak pidana terorisme termasuk pendanaan terorisme merupakan “extraditable offences”. maka BI mengedarkan daftar konsolidasi yang dikeluarkan oleh PBB (UN Consolidated list) secara berkala setiap 6 (enam) bulan sekali. Sebanyak 35 transaksi keuangan yang mencurigakan telah dilaporkan kepada penegak hukum (Harian Waspada. tindak pidana dengan motif politik. 29 Desember 2010).Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme penyidik. Hal ini telah sejalan dengan Pasal 12 Konvensi SFT. maka akan semakin melengkapi perundang-undangan yang menjadi dasar dan pedoman bagi pelaksanaan kerjasama internasional di bidang hukum dalam perkara pidana (international legal cooperation in criminal matters) yang meliputi ekstradisi dan MLA. sebagai pelaksanaan dari Resolusi Dewan Keamanan PBB No.id) yang tersambung ke daftar konsolidasi yang dikeluarkan oleh PBB tersebut. 15 20 . Perpu Terorisme dengan tegas menyatakan.ppatk. 1267 dan 1373.

Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme laporan transaksi keuangan mencurigakan. Dalam PBI ditegaskan bahwa istilah know your customer (KYC) principles menjadi customer due dilligence (CDD). Namun demikian.2/PPATK/02/08 tentang Pedoman Identifikasi Transaksi Keuangan Terkait Pendanaan Terorisme Bagi Penyedia Jasa Keuangan. Ratifikasi atau pengesahan Konvensi SFT sangat terkait dengan rekomendasi khusus Financial Action Task Force on Money Laundering (FATF).02.16 Dengan telah diakomodasinya kewajiban-kewajiban Negara Pihak.hariansumutpos. sebagaimana yang ditentukan dalam Konvensi SFT. Dalam hal ini. CDD merupakan langkah identifikasi. Sebagaimana diketahui. Untuk itu telah dikeluarkan Keputusan Kepala PPATK Nomor : KEP-13/1. maka ratifikasi atau pengesahan Konvensi SFT oleh Pemerintah dan DPR lebih bersifat mengukuhkan atau mempertegas komitmen Pemerintah Indonesia untuk memberantas tindak pidana pendanaan terorisme. bahwa dalam rangka memerangi pendanaan teroris. juga mereka yang melakukan pengendalian melalui badan hukum atau perjanjian).com/arsip/?p=36576. BI juga sudah mengeluarkan peraturan terkait pencegahan tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme. yakni meminta dan mencocokkan informasi nasabah dengan dokumen pendukung yang memuat informasi nasabah. PPATK mencatat. Adanya potensi penyalahgunaan produk dan layanan jasa keuangan (bank dan non bank) untuk menyembunyikan atau menyamarkan dana-dana yang ditujukan untuk kegiatan terorisme. ratifikasi atau pengesahan Konvensi SFT menjadi sangat penting dalam rangka memperkokoh pembangunan rezim anti pencucian uang di Indonesia. Pedagang valas juga harus mendapatkan informasi bahwa nasabah yang melakukan transaksi valas tersebut bertindak untuk diri sendiri atau untuk atau atas nama beneficial owner. 21 . disamping kewajiban PJK untuk memblokir rekening nasabahnya tersebut. FATF juga telah mengeluarkan Rekomendasi-rekomendasi Khusus untuk Pendanaan Teroris (The Financial Action Task Force Special Recomendations 16 on Terrorist Financing). hingga bulan Maret 2010 sudah ditemukan 97 aliran dana ke teroris. Lihat: “Dana Teroris Ditransfer dari Bank Besar”. dan pemutakhiran informasi nasabah yang dilakukan oleh pedagang valas untuk memastikan bahwa transaksi tersebut sesuai dengan profil nasabah. Langkah CDD oleh pedagang valas bukan bank ini wajib dilakukan ketika melakukan transaksi dengan nasabah atau beneficial owner (Beneficial owner adalah setiap orang yang memiliki dana. maka Penyedia Jasa Keuangan (PJK) perlu melakukan identifikasi terhadap transaksi keuangan yang terkait dengan pendanaan terorisme serta melaporkannya sebagai transaksi keuangan yang mencurigakan kepada PPATK. Transaksi dilakukan melalui beberapa bank besar di Indonesia sejak tahun 2003. 400 ribu hingga Rp. Mereka yang diduga teroris tersebut biasanya melakukan penarikan dana antara Rp. Rekomendasi tersebut Aliran dana ke para teroris ternyata sudah berlangsung lama. diakses tanggal 10 Desember 2011. Aturan ini berlaku efektif pada 1 Maret 2010. Kerjasama tersebut merupakan upaya mengoptimalkan tugas masingmasing dalam rangka pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme. pencocokan. Aturan tersebut dituangkan dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 12/3/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencuciaan Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Pada Pedagang Valuta Asing Bukan Bank. Sebelumnya. Bank Indonesia juga mewajibkan pedagang valas melakukan CDD jika si pedagang valas meragukan kebenaran infromasi yang disampaikan oleh nasabah. Semua transaksi dilakukan oleh orang dalam negeri. mengendalikan transaksi nasabah dan memberikan kuasa atas terjadinya suatu transaksi. http://www. CDD dilakukan melalui beberapa prosedur. PPATK terus melakukan koordinasi dan kerjasama dengan Bank Indonesia untuk menelisik aliran dana yang diduga terkait dengan aksi terorisme. 5 juta setiap kali transaksi.

Semua negara terikat dengan persyaratan dan ketentuan dalam konvensi yang telah ditandatangani dan diratifikasinya. Pemidanaan pendanaan terorisme terjadi apabila “seseorang dengan cara 22 . sementara pelaksanaan berarti bahwa semua negara harus mengadopsi kebijakan dan mengambil tindakan untuk memastikan berdasarkan pelaksanaan sistem yang efektif atas Konvensi SFT hukum nasional masing-masing negara tersebut. Meminta semua negara untuk meratifikasi Konvensi SFT untuk melaksanakan Resolusi PBB yang terkait pendanaan teroris.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme merupakan standar internasional yang baru. yang mencakup beberapa masalah tertentu secara sangat rinci dibandingkan dengan Konvensi SFT dan Resolusi 1373 (2001) dari Dewan Keamanan tersebut Perserikatan telah Bangsa Bangsa. Dengan demikian. yang Rekomendasi-rekomendasi menjadi standar disepakati secara universal. tindakan teroris dan organisasi teroris. Tujuannya adalah untuk menghalangi akses bagi para teroris dan pendukungnya untuk masuk ke sistem keuangan internasional. Meminta semua negara untuk memidanakan pendanaan teroris. setiap negara seharusnya segera mengambil langkahlangkah untuk secara keseluruhan meratifikasi dan melaksanakan Konvensi SFT. Rekomendasi Khusus FATF mengenai pendanaan terorisme tersebut merupakan reaksi langsung terhadap kejadian tanggal 11 September 2001. Dengan demikian semua negara yang telah meratifikasi Konvensi SFT memiliki kewajiban hukum untuk mengikutsertakan perjanjianperjanjian internasional tersebut kedalam legislasi dalam negerinya. Ratifikasi berarti bahwa semua negara harus mengambil langkah-langkah legislatif atau eksekutif untuk mensahkan konvensi. II. Resolusi 1372 (2001) Perserikatan Bangsa Bangsa dan Rekomendasi Khusus FATF memanggil semua negara anggota untuk menjadi pihak dalam Konvensi SFT. Pendanaan terorisme merupakan suatu pelanggaran pidana yang terpisah. Rekomendasi ini diluncurkan pada bulan Oktober 2001. Adapun substansi dari 9 Rekomendasi Khusus (special recommendations) FATF tersebut adalah sebagai berikut: I.

baik secara langsung maupun secara tidak langsung. apabila mereka “mencurigai atau mempunyai dasar yang cukup 23 . III. Mewajibkan semua lembaga keuangan untuk segera melaporkan transaksi-transaksi yang mencurigakan kepada badan berwenang. atau bertujuan atau dialokasikan untuk penggunaan dalam pendanaan terorisme. termasuk tindakan yang memperbolehkan badan berwenang untuk mengambil alih dan menyita harta yang merupakan hasil dari. atau yang digunakan dalam.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme apapun. atau dengan pengetahuan akan penggunaan ilegal dana tersebut.” Negara harus dapat menghentikan atau menahan dana atau instrumen pembawanya yang dicurigai terkait dengan pendanaan teroris atau pencucian uang. Adapun yang menjadi dasar mempidanakan pendanaan teroris adalah Konvensi SFT. menyediakan atau mengumpulkan dana dengan tujuan agar dana tersebut digunakan atau dengan pengetahuan bahwa dana tersebut akan digunakan. maka sasaran lainnya adalah untuk menekankan semua negara untuk mengikut-sertakan semua pelanggaran pendanaan teroris sebagai pelanggaran predikat kejahatan (predicate offence) untuk pencucian uang. Rekomendasi ini dikembangkan dengan sasaran agar semua negara memiliki kapasitas hukum untuk mengadili dan memberlakukan sanksi pidana terhadap semua orang yang mendanai terorisme. baik secara keseluruhan atau secara sebagian. IV. ini merupakan kenyataan adanya penyediaan atau pengumpulan dana. Dua unsur merupakan kunci di sini: (1) Unsur mental: tindakan harus dilaksanakan secara sadar dan sengaja. secara melawan hukum dan dengan sengaja. tindakan teroris atau organisasi teroris. (2) Unsur materi: secara luas. untuk melaksanakan” suatu tindakan teroris oleh sebuah organisasi teroris atau perorangan. Mengingat hubungan yang dekat antara terorisme internasional dan inter alia pencucian uang. Mengharuskan semua negara untuk “mengadopsi dan melaksanakan tindakan-tindakan.

Rekomendasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua negara menjalankan persyaratan AML/CFT terhadap semua bentuk sistem pengiriman uang dan nilai. Konvensi SFT (pasal-pasal 10.” — Kerjasama internasional dalam memerangi pendanaan terorisme sangat diperlukan untuk keberhasilan dalam perang melawan terorisme pada tingkat-tingkat global and nasional.c. atau akan digunakan untuk terorisme.18.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme memadai untuk mencurigai bahwa dana yang berhubungan atau terkait dengan. VI. Meminta semua negara untuk mengaplikasikan sebuah standar khusus mengenai pengiriman uang secara telegrafis/elektronis yang tidak secara langsung dicerminkan dalam teks Konvensi SFT dan resolusi Dewan Keamanan. Meminta semua negara untuk memastikan bahwa semua jasa transmisi uang dan nilai adalah berdasarkan standar internasional khusus FATF.3) telah menetapkan seperangkat norma yang komprehensif untuk kerjasama internasional. VII. V. Menyatakan.” Sebagai suatu pra-syarat atas kewajiban melaporkan semua transaksi mencurigakan. bahwa “setiap negara harus memberikan kepada negara lain bantuan sebesar mungkin sehubungan dengan penyelidikan dan cara kerja mengenai kriminil.f). baik yang formal maupun yang informal. tindakan teroris dan organisasi teroris. Pengalaman menunjukkan bahwa semua sistem pengiriman uang memang telah digunakan untuk mendanai operasional para teroris. sedangan resolusi 1373 (2001) Dewan Keamanan PBB mencakup hal tersebut dalam tingkat yang lebih luas (paragraf 2. 2. tindakan teroris atau oleh organisasi teroris.11. Rekomendasi Khusus VII FATF mewajibkan semua negara untuk mengambil berbagai tindakan tertentu untuk memastikan bahwa perantara keuangan: (1) memiliki informasi yang tepat dan bermanfaat mengenai 24 . semua lembaga keuangan diharuskan melaksanakan kewajiban uji tuntas nasabah atau (Pasal 18 Konvensi SFT). pemberlakuan hukum perdata dan penyelidikan administratif sehubungan dengan pendanaan terorisme.12-15.d dan 2.

Sebagaimana telah dijelaskan dimuka bahwa pendanaan bagi terorisme dapat berasal dari sumber yang sah. alamat. Bank koresponden merupakan bagian dari rantai tersebut. nomor rekening) termasuk dalam pengiriman dana secara elektronis atau pesan yang terkait padanya. Meminta semua negara untuk memusatkan perhatian pada risiko pelanggaran atau penyalahgunaan oleh organisasi para teroris dan pendana teroris terhadap badan atau lembaga yang secara sah didirikan berdasarkan hukum nasional. Meskipun bersumber dari usaha-usaha yang terlihat sah. ( 2) menyimpan informasi pengirim dengan pengiriman dana tersebut atau pesan yang terkait padanya melalui rantai pembayaran. akan tetapi mereka juga perlu agar dapat 25 . semua negara ditentukan untuk memantau transportasi uang tunai atau instrumen jual-beli atas nama. dapat badan atau lembaga tersebut digunakan sebagai tabir untuk mengumpulkan dana bagi para teroris serta organisasinya. IX. Ini berarti bahwa negara tidak hanya memerlukan sebuah sistem untuk menyatakan atau mengungkapkan transportasi uang tunai atau nilai setaranya melintasi perbatasan.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme pengirim/originator (nama. Dengan demikian tujuannya adalah untuk mencegah orang-orang sektor hukum diperalat sebagai tameng atau sebagai cara untuk mendanai kegiatannya. baik oleh perorangan atau melalui pos atau angkutan. Terkait dengan tindakan membawa uang tunai atau nilai setaranya melintasi perbatasan nasional. Berdasarkan Rekomendasi ini. VIII. Untuk alasan-alasan inilah semua negara harus memastikan bahwa hukum mengenai pendanaan teroris mencakup pula dana yang diperoleh dari sumber-sumber yang sah dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mencegah pendanaan sejenis itu. (3) meningkatkan penelitian terhadap pengiriman dana secara elektronis yang tidak mengikut sertakan informasi mengenai si pengirim dan harus berjaga-jaga terhadap kemungkinan adanya transaki yang mencurigakan.

Sydney-Australa. Implementasi Standar Internasional Di kawasan Asia-Pasifik. bahwa semua negara diminta untuk meratifikasi Konvensi SFT. Diharapkan dengan telah disahkannya Konvensi SFT oleh Pemerintah dan DPR.17 Pada hakikatnya. terlihat keterkaitan antara Konvensi SFT dengan Rekomendasi Rekomendasi Khusus FATF. APG juga melakukan penelitian terhadap tipologi-tipologi yang terkait dengan TPPU dan Pendanaan Terorisme. Adapun kerentanan lain yang dihadapi oleh Indonesia. akan menjadi bahan pertimbangan bagi FATF dalam menilai kepatuhan Indonesia terhadap standar internasional di bidang pencegahan dan pemberantasan TPPU yang dikenal dengan FATF 40+9 recommendations. hanya ada 2 kali dakwaan atas pendanaan terorisme. memberikan bantuan teknis serta training-training yang dibutuhkan oleh negara-negara di dalam rangka penguatan sistem Anti Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme. dan (c) belum dipenuhinya secara keseluruhan sebagaimana ditentukan dalam UN Terrorist Financing Convention yang meliputi aktivitas mengumpulkan dana untuk kegiatan teroris perorangan maupun organisasi teroris. Secara keseluruhan. 25-29 September 2011. (d) sejumlah orang yang telah ditangkap maupun dihukum sebagai pelaku teroris. Dari uraian diatas. APG merupakan salah satu lembaga yang dibentuk guna melakukan penilaian atas kepatuhan negara-negara anggota dalam menerapkan standar international terkait upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dan Pendanaan Terorisme seperti penerapan FATF 40 Recommendation + 9 Special Recommendation. sebagai salah seorang reviewer untuk Indonesia dalam proses ME (Mutual Evaluation) Tahun 2008. (b) berdasarkan Resolusi 1267. tantang yang dihadapi Indonesia dalam memenuhi standar internasional di bidang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme khususnya 9 Special Recommendation of FATF. sejumlah nama dan pihak masih teridentifikasi berafiliasi dengan Al Qaeda dan Taliban. Bahkan Rekomendasi Khusus I FATF secara eksplisit telah menyatakan. antara lain: (a) terdapatnya berbagai organisasi teroris yang sangat aktif yang mengumpulkan dana dan melakukan aktivitas terorisme di Indonesia dan di sejumlah jurisdiksi di Asia Tenggara. adalah: (a) kondisi geografis Indonesia yang sangat luas yang dapat menjadi kesulitan di dalam menyelidiki kegiatan terorisme.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme mendeteksi operasi-operasi demikian apabila terdapat kecurigaan adanya kegiatan pidana. pendekatan yang dilakukan dalam rangka pencegahan dan pemberantasan Pendanaan Terorisme adalah pendekatan “follow the Menurut David Shannon. (b) terbatasnya penggunaan undang-undang yang ada untuk mengidentifikasi dan menginvestigasi tindak pidana pendanaan terorisme. 17 26 . Lihat: “Laporan Pelaksanaan Counter Financing of Terrorism Study Tour”. (c) Jemaah Islamiyah (JI) yang masih ditengarai menjadi ancaman teroris di Indonesia. Indonesia masih menjadi negara teresiko dalam pelaksanaan pendanaan terorisme.

koordinasi-koordinasi kebijakan antar lembaga instrument-instrumen penegakan yang memadai sasaran yang ditujukan dengan jelas untuk mencegah dan memberantas pendanaan terorisme. lembaga negara yang memiliki kewenangan untuk mengatur mengenai yayasan-yayasan sosial18. Key tools yang dipakai dalam strategi pemberantasan Pendanaan Terorisme haruslah ditujukan bagi: Detection. tanggal 28-29 November 2011 di Hotel Alila.net/index. atau lembaga charity lainnya. yang meliputi: penetapan mekanisme pencegahan yang efektif. Prevention (termasuk melakukan upaya perlawanan atas radikalisasi teroris. dan juga kemampuan khusus di dalam investigasi pelaku pendanaan terorisme. Wakil Kepala PPATK Agus Santoso menyampaikan bahwa ada sekitar 21. perlu pula dikuatkan mekanisme kerjasama internasional karena mengingat sifat dan hakikat pendanaan terorisme mengikuti hakikat keberadaannya yang transnasional. yang menyakini bahwa uang dan segala bentuk property yang dimiliki oleh individual terrorist maupun terrorist group adalah merupakan jantungnya kegiatan pendanaan terorisme itu. dan Response. seperti kantor pajak.000 NPO yang terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM di Indonesia dan ada 10 lembaga Pemerintah. diakses 26 Desember 2011. Lihat: ykai. 8 Kementerian dan 2 Lembaga Negara menangani NPO dan banyak ditemukan kasus penyalahgunaan NPO/LSM yang menerima dana hibah dalam rangka pencucian uang dan juga pendanaan terorisme serta penipuan.php?option=com_content&view=article&id=857:upaya-pencegahan-danpemberantasan-tppu-dan-pendanaan-terorisme&catid=117:terkini&Itemid=136. dan untuk itu mereka juga harus memperluas keikutsertaan mereka di dalam pencegahan dan pemberantasan pendanaan terorisme tersebut. peranan dan kesadaran dari lembaga-lembaga yang masih belum dapat merasakan bahwa keterlibatan lembaga mereka sangat penting. Disruption. tanggal 2 Desember 2011. http://www.net. Jakarta. dll). Pencegahan dan pemberantasan Pendanaan Terorisme membutuhkan respon dari multi-agensi. yang membutuhkan adanya kerjasama internasional untuk pencegahan dan pemberantasannya.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme money”. Pecenongan. 18 27 . Selain itu. lembaga-lembaga pengawas dan pengatur Pada Workshop “Menuju Organisasi Nirlaba (Non Profit Organization) yang mempunyai tata kelola yang baik dalam upaya pencegahan dan pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan Pendanaan Terorisme”.ykai. Kerjasama internasional yang perlu dikuatkan tersebut antara lain kerjasama antar Financial Intellegence Units (FIUs).

Selain itu. Kriminalisasi pendanaan terorisme ditentukan dalam SR II dan SR III dari 9 Special Recommendation of FATF. untuk semua tujuan. dll. Tantangan-tantangan yang dihadapi dalam implementasi. regulator sektor finansial (Bank Sentral). Pengadilan. Kepolisian. Pada hakikatnya perbuatan yang harus dikriminalisasikan sebagai tindak pidana pendanaan terorisme adalah meliputi tindakan menyediakan atau mengumpulkan dana yang dimaksudkan untuk digunakan oleh organisasi teroris atau teroris perorangan. Dana-dana tersebut yang walaupun pada kenyataannya tidak jadi digunakan untuk melakukan terorisme. bersifat intellegence. Oleh karena itu. antara lain. yang dilakukan di tempat yang sama maupun di tempat yang berbeda dari penanggung jawab di bidang keuangan terorisnya. Jika dibandingkan dengan konvensi. Kegiatan untuk pendanaan terorisme baik yang dilakukan oleh organisasi teroris maupun teroris perorangan. konspirasi. kriminalisasi harus pula meliputi perbuatan-perbuatan pidana lainnya. dan tidak harus dihubungkan dengan kegiatan terorisme tertentu. 1.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme mengenai charity. pengaturan mengenai pendanaan terorisme belum seluruhnya meliputi pendanaan 28 . penyertaan. bahwa berdasarkan kriteria penting yang ada di dalam SR II. seperti percobaan. maupun yang dapat digunakan sebagai bukti adanya keterlibatan orang secara pribadi ataupun group dalam pendanaan terorisme tersebut. Kepabeanan. ruang lingkup pendanaan terorisme harus diperluas sehingga menjadi sebagai berikut: Dana-dana (termasuk di dalamnya semua property) yang digunakan untuk pendanaan terorisme diperoleh dari sumber-sumber yang sah (legitimate) maupun yang haram (illegitimate). maka elemen-elemen yang terkandung dalam SR II lebih luas. Komunitas internasional telah menyetujui standar-standar yang harus dipedomani dalam rangka penguatan rezim Counter Financing of Terrorism meliputi bidang-bidang pertukaran informasi. baik yang informal. yang sengaja disediakan untuk digunakan oleh organisasi teroris atau teroris perseorangan untuk tujuan apapun. meliputi perbuatan untuk menyediakan atau mengumpulkan dana.

Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme terorisme untuk kegiatan terorisme. perusahaan maupun asosiasi-asosiasi lainnya yang berafiliasi dengan Al Qaeda dan Taliban tersebut. Boleh dikatakan bahwa hanya sedikit negara yang telah benar-benar memiliki keinginan dan kemampuan untuk mengimplementasikan sistem-sistem yang telah memenuhi standard dalam rezim pencegahan dan pemberantasan pendanaan terorisme. percobaan. permufakatan. Negara-negara yang belum menjadi peserta dalam suatu treaty dapat melakukan kriminalisasi atas kegiatan pendanaan terorisme. yaitu Al Qaeda dan Taliban. tidak sama dengan tindak pidana terorisme. Pada hakikatnya kriminalisasi atas tindak pidana Pendanaan terorisme harus berdiri sendiri. kelompok. termasuk di dalamnya adalah orang atau organisasi. Kegiatan Pendanaan yang dilakukan untuk tindak pidana lainnya hanya dapat diterapkan pada perbuatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan untuk mengintimidasi atau memaksa masyarakat ataupun pemerintahan manapun. seperti untuk melakukan intimidasi pada suatu pemerintah tertentu. 1267. Kegagalan dari pihak yang berwenang untuk menentukan kebijakan nasional yang memiliki visi holistik dan memenuhi standard yang telah ditentukan oleh FATF maupun oleh UN. dll. Tantangannya adalah bahwa banyak anggapan bahwa pendanaan terorisme itu dikriminalisasikan semata-mata sebagai suatu bentuk dukungan pada kegiatan terorisme seperti perbantuan. SR III mengharuskan negara-negara untuk melakukan pembekuan dana ataupun aset lainnya dari orang-orang yang telah ditentukan oleh UNSC Resolution No. Terkait dengan standar internasional untuk pembekuan dana/aset. Untuk proses penuntutan harus pula dapat dibuktikan bahwa tindak pidana yang dilakukan ditujukan untuk tujuan khusus tertentu. 29 . ataupun konspirasi atas tindak pidana terorisme. organisasi terorisme dan individual terorisme. Masih sulitnya untuk melakukan pembekuan atas aset teroris di berbagai jurisdiksi. Tidak semua treaty tentang kejahatan-kejahatan sebagaimana ada dalam lampiran konvensi telah mencakup mengenai kegiatan pendanaan terorisme.

berdasarkan Resolution Number 1373.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Nama-nama tersebut dikirimkan kepada delegasi Dewan Keamanan PBB dan kemudian diedarkan kembali kepada negara-negara yang berwenang. Mensyaratkan kemungkinan tetap dilakukannya pembekuan atas aset sekalipun tiada penuntutan. Dalam hubungan ini. dll. misalnya LTTE di Malaysia. Diaturnya prosedur pelacakan. dilakukan tanpa ditunda dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada orang yang diduga melakukan pendanaan terorisme tersebut. Pembekuan dana atau aset lainnya dari Orang yang telah ditentukan oleh PBB sebagai teroris menurut masing-masing Pemerintah negara. maka pada pelaksanaan rezim extraordinary ini menghendaki 2 (dua) hal. penyitaan aset-aset teroris dalam proses penyidikan kasus terorisme maupun dalam proses lainnya dalam kasus pendanaan terorisme. Menerima permohonan negara lain atas diterapkannya Resolusi 1373 dalam rangka tindakan pembekuan asetnya. Sebagai response atas Resolusi 1267 dan 1373. pembekuan. Resolusi ini tidak diperuntukkan bagi Taliban atau Al Qaeda. Melakukan tindakan untuk membekukan aset untuk merespon permintaan tersebut. 30 . Mengkonfirmasi mengenai permohonan oleh negara tersebut apakah yang menjadi landasan pengajuannya. Prosedur pembekuan aset-aset untuk kelompok tersebut haruslah “without delay and without prior notice to targets”. jika sesuai. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah dilakukannya pemindahan aset oleh mereka yang akan mengakibatkan sulitnya pelacakan dan pembekuan aset. apakah berdasarkan pada alasan yang reasonable atau memiliki dasar hukum yang tepat untuk dimintakannya tindakan pembekuan tersebut. yaitu: a. setiap negara juga diwajibkan untuk memiliki hukum dan prosedur untuk: Melakukan pembekuan dana dan aset lainnya dari teroris maupun pihakpihak lain yang berafiliasi dengan prinsip without delay and without prior notice to targets. dan tidak termasuk nama-nama yang sudah masuk dalam daftar teroris yang dikeluarkan oleh UN.

negara-negara harus membuat pedoman yang jelas bagi institusi-institusi keuangan dan pihak-pihak lain atau badan hukum yang mungkin menguasai dana-dana atau aset-aset yang menjadi target pembekuan. oleh orang-orang yang telah ditetapkan. serta orang-orang yang memegang aset untuk melakukan pembekuan without undue delay. sebagai teroris. dengan maksud adalah: Untuk tetap menjaga dana tetap dibekukan selama proses pembuktian ataupun prses investigasi terhadap tindak pidana pendanaan terorismenya berjalan. dan harus dilaksanakan dengan sifatnya yang urgen. Berdasarkan c. Dapat melingkupi proses administratif dan juga proses peradilan. maka seharusnya terdapat sistem monitoring yang memadai untuk memantau kepatuhan dari pihak-pihak di bawah rezim freezing terhadap ketentuan hukum yang relevan. 5 Resolusi 1267 dan 1373. III. Berdasarkan c. dan menerapkan sanksi bagi pihak-pihak yang non compliance secara tepat. peraturan dan kebijakan. Kewajiban ini harus dilaksanakan dengan efektif. III. secara langsung maupun tidak langsung. maka untuk menciptakan proses freezing yang efektif. mengingat proses freezing menjadi hal penting dalam konteks pendanaan terorisme. maka diwajibkan bagi negara-negara untuk dapat menerapkan mekanisme komunikasi kepada sektor keuangan maupun pihak-pihak lainnya terkait dengan prosedur freezing. yang memberikan pendanaan untuk kegiatan terorisme pada teroris ataupun organisasi teroris.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme b. 31 .6 Resolusi 1267 dan 1373. dan yang dihasilkan atau didapatkan dari dana atau aset lainnya yang dimiliki atau dikontrol secara langsung ataupun tidak langsung oleh orang-orang yang telah ditetapkan sebagai teroris. Harus menyertakan keterlibatan institusi keuangan secara langsung di dalam melaksanakan kewajibannya. yang memberikan pendanaan untuk kegiatan terorisme pada teroris ataupun organisasi terorisme. Terkait dengan SR III. Lingkup penerapan Resolusi 1267 dan 1373 pada hakikatnya menghendaki adanya perluasan makna pelaksanaan freezing atau pembekuan yaitu terhadap dana ataupun aset lainnya: yang seluruhnya atau yang secara bersama-sama dimiliki atau dikuasai.

Pihak-pihak atau perusahaan yang dana atau asetnya telah dibekukan tersebut diperbolehkan melakukan CHALLENGE kepada pengadilan atas tindakan pembekuan yang telah dilakukan.7). Permintaan dilakukannya unfreezing atas dana-dana atau aset dari orang yang dimintakan delisting tersebut (c. mengapa tidak ada? Prosedur apakah yang diambil oleh negara untuk memperoleh informasi dari sektor privat lainnya? Ketentuan mengenai penundaan transaksi dan pembekuan aset harus memenuhi syarat sebagaimana ditentukan di dalam SR maupun Resolusi. Permintaan untuk unfreezing atas dana-dana atau aset dari orang atau badan hukum lainnya yang terkena imbas dari mekanisme pembekuan. maupun untuk beberapa kasus pendanaan terorisme lainnya? Seberapa banyak aset maupun dana yang telah dibekukan.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Mekanisme lain yang seharusnya diterapkan pula berdasarkan Resolusi 1267 dan 1373. III. seperti biaya hipotek. Jika tidak ada aset yang dibekukan. Menurut c. dan berapa lama porses tersebut dilakukan?.8). adalah bahwasanya negara-negara harus mengimplementasikan pula prosedur pemberitahuan kepada publik untuk: Permintaan untuk melakukan delisting (c. dengan melakukan secara efektif hal-hal sebagai berikut: Apakah dana-dana dan aset teroris telah mampu diidentifikasi? Apakah sudah diambil tindakan untuk melakukan pembekuan atas pihakpihak yang ditentukan dalam Resolusi 1267. yaitu harus tanpa menggunakan limit waktu.7). maupun 1373. misalnya beberapa kasus yang telah diverifikasi karena adanya kesalahan identitas atau terjadi kekeliruan (c.III. ada pula kewajiban dari pihak berwenang untuk mengakses dana atau aset yang dibekukan untuk menentukan biaya-biaya dan pembayaran atas berbagai tipe tambahan biaya. Setiap negara hendaknya selalu melakukan refleksi atas rezim anti pendanaan terorisme. 32 .III.9 Resolusi 1267 sejalan dengan Resolusi 1425. biaya-biaya yang telah dikeluarkan lainnya. maka harus berkontempelasi. Ada kewajiban without undue delay.III.

sistem perdagangan internasional. intelijen keuangan yang kuat. termasuk pengawasan terhadap aktivitas profesiprofesi yang rentan terkait pendanaan terorisme dan pencucian uang. sumbangan-sumbangan melalui organisasi sosial/amal. pemerintah umumnya tidak memiliki data dan kontrol yang jelas mengenai pelaku usaha di bidang sistem pembayaran alternatif. Sebagai perbandingan di Australia terdapat beberapa peraturan perundang-undangan pendanaan terorisme: 1) Anti Money Laundering and Counter-Terrorism Financing Act 2006 Peningkatan pengawasan terhadap aktivitas perbankan. penegakan hukum. dan kerjasama internasional. melakukan pengumpulan dana dengan itikad tidak baik. peraturan perundang-undangan yang proporsional. dimana teroris seringkali menyalahgunakan hasil sumbangan/amal untuk kegiatan teroris. pergerakan uang tunai secara fisik. Untuk mewujudkan peraturan perundang-undangan yang efektif di bidang anti pencucian uang dan pendanaan terorisme maka diperlukan komitmen politik. 19 33 . Pergerakan arus pendanaan terorisme selama ini umumnya dapat melalui sektor keuangan formal (Bank. pengawasan sektor keuangan. dll. yakni pendanaan operasi terorisme khusus dan pendanaan terhadap organisasi lintas batas negara yang melakukan pembangunan infrastruktur dan/atau penyebarluasan ideologi terorisme. Untuk proses penyitaan juga harus memenuhi kewajiban without delay.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Kewajiban lainnya yang harus dilakukan setelah pembekuan aset adalah dilakukannya tindakan oleh Pengadilan dan kemudian pengadilan yang akan menetapkan penyitaan. Pembiayaan Organisasi dan Operasi Teroris Pada dasarnya ada 2 (dua) aspek penting yang perlu diperhatikan dalam hal pendanaan terorisme. sektor keuangan lainnya. lembaga keuangan bukan bank. melakukan penyusupan terhadap kepengurusan organisasi sosial amal tersebut. serta penyedia jasa keuangan lainnya). dan sistem pembayaran alternatif19. Hal tersebut terjadi umumnya karena belum adanya aturan yang baik sebagaimana aturan mengenai perbankan. menggunakan data dan identitas yang tidak jelas dalam proses pengiriman dan penerimaan uang melalui sistem pembayaran alternatif.

dan sebagainya. baik secara langsung maupun tidak langsung. pelaporan yang baik. 2) Combating the Financing of People Smuggling and other Measures Act Telah disetujui oleh Parlemen Australia pada bulan Juni 2011 sebagai amandemen dari Undang-Undang Anti-Money Laundering/ Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme.6 (1)]. akuntan.6 (2)]. agen real-estate.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme seperti lawyers. diancam dengan maksimum pidana 25 tahun [Pasal 102. setiap orang yang dengan sengaja menerima dana dari atau menyediakan dana untuk organisasi teroris. setiap orang yang dengan sengaja memberikan dukungan atau menyediakan sumber bagi organisasi teroris dan orang tersebut mengetahui bahwa organisasi tersebut adalah organisasi teroris diancam dengan maksimum pidana 25 tahun [Pasal 102. 34 .7 (1)]. diancam dengan maksimum pidana 15 tahun [Pasal 102. Undang-Undang ini memuat ketentuan yang berorientasi untuk mengurangi resiko pengiriman uang melalui penyelenggara transfer dana yang bertujuan untuk pembiayaan kegiatan terorisme and beberapa kejahatan serius lainnya. pedagang logam mulia. sedangkan orang tersebut karena kelalaiannya tidak mengetahui bahwa organisasi tersebut adalah organisasi teroris. serta programprogram lainnya yang mendukung implementasi regulasi tersebut dalam praktek. Kewajiban-kewajiban terorisme: prinsip pokok dalam regulasi anti pendanaan mekanisme kepatuhan konsumen/nasabah. 3) KUHP Australia Kriminalisasi terhadap: setiap orang yang dengan sengaja menerima dana dari atau menyediakan dana untuk organisasi teroris. pengumpulan dan pengolahan data yang akurat. baik secara langsung maupun tidak langsung dan orang tersebut mengetahui bahwa organisasi tersebut adalah organisasi teroris.

1 dan Pasal 103. atau melalui seseorang/organisasi terorisme dengan tujuan memfasilitiasi atau terkait dengan kegiatan terorisme diancam dengan pidana penjara maksimum seumur hidup (Pasal 103. Kewajiban dan panduan Hukum bagi organisasi Nirlaba di Australia: Mewujudkan upaya-upaya yang rasional untuk menjamin agar dana tersebut tidak di transfer kepada organisasi teroris. serta tidak mensyaratkan bahwa dana tersebut harus secara nyata atau dengan percobaan telah digunakan untuk kegiatan terorisme. dan (b) ijin yang diperoleh dengan menggunakan informasi palsu atau menyesatkan akan dibatalkan ab initio (bagian 13A dan 22B).Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme setiap orang yang dengan sengaja memberikan dukungan atau menyediakan sumber bagi organisasi teroris meskipun orang tersebut karena kelalaiannya tidak mengetahui bahwa organisasi tersebut adalah organisasi teroris diancam dengan maksimum pidana 15 tahun [Pasal 102. setiap orang yang dengan sengaja atau kelalaiannya menyediakan dan/atau mengumpulkan dana.2) . dan UNSC Resolutions No. 1267 dan No. 20 35 . pembantuan. dan ketentuan mengeni penundaan dan penyitaan aset dalam KUHAP Australia 2002 dapat digunakan oleh para Jaksa dalam melakukan penuntutan. Charter of the United Nations Act 1945 melakukan kontrol pada pemberian/integritas izin. termasuk aplikasi ijin (bagian 28). Sumber hukum lainnya: Charter of the United Nations Act 194520. kegiatan pendanaan terorisme merupakan salah satu tindak pidana asal dari tindak pidana pencucian uang. atas nama.7 (2)]. konspirasi untuk kegiatan pendanaan terorisme. Freezing of Terrorist Asset. baik secara langsung/tidak langsung untuk. Ketentuan dalam KUHP ini dapat berlaku bagi setiap orang dan korporasi (termasuk organisasi nirlaba). yang mengatur bahwa: (a) adalah tindak pidana memberikan informasi palsu atau menyesatkan sehubungan dengan Peraturan. penghasutan. 1373 Hal-hal penting lain yaitu: pertanggungjawaban pidana yang diperluas hingga mencakup percobaan.

dan International Cooperation Review Group (ICRG). Sedangkan sanksi keuangan yang diberikan oleh DK PBB terkait RES1267. kerja sama antar intelijen keuangan (the Egmont Group). OP1 (c) dan (d) adalah: Membekukan/memblokir tanpa penundaan dana. kelompok. Dalam hal ini sanksi berupa tindakan yang tidak melibatkan penggunaan kekuatan bersenjata (Pasal 41). Adapun beberapa Resolusi PBB yang Terkait Terorisme sebagai berikut: RES 1267/1333: berkaitan kegagalan Pemerintah Taliban dalam menyangkal memberikan perlindungan dan pelatihan teroris internasional serta bekerja sama dengan upaya untuk membawa teroris ke pengadilan. yang dimiliki atau dikendalikan oleh orang atau badan dimaksud. 36 . OP4 (b) dan RES1333. didakwa sebagai ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional. usaha dan badan/entitas terkait dengan mereka karena tindakan kriminal dan terorisme. dan untuk memutuskan tindakan yang akan diambil dalam rangka memelihara atau memulihkan perdamaian dan keamanan internasional. Ekstradisi.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Mematuhi kewajiban-kewajiban hukum. RES 1904: mengecam Al-Qaeda. Pembekuan Aset Teroris Pasal 39 Piagam PBB telah mengatur tindakan terhadap setiap ancaman atau pelanggaran terhadap perdamaian. standar internasional FATF. khususnya prinsip due diligence dan update terhadap daftar kelompok teroris. Taliban dan individu lainnya. Selanjutnya. Pasal 25 mengatur bahwa Anggota (PBB) secara hukum terikat untuk menerima dan melaksanakan keputusan Dewan Keamanan. Kerjasama Internasional dapat dilakukan melalui MLA. RES 1373: setiap tindakan terorisme internasional merupakan ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional. Usamah bin Laden. sekarang RES1988 / 1989) RES1373. Memahami dan mengantisipasi resiko penyalahgunaan oleh kelompok teroris. OP8 (c) . segala aset keuangan lain dan sumber daya ekonomi (yang berada di wilayah mereka).

konversi. kelompok. Individu. Dana: aset keuangan lainnya dan sumber daya ekonomi: keuangan aset. 37 . RES 1267 / 1333 (sekarang RES1989): a. Taliban. badan/entitas yang dimiliki atau dikendalikan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh orang-orang tersebut. Al-Qaeda. usaha dan entitas terkait. Dana beku atau aset lainnya tetap menjadi milik orang tersebut atau badan yang mereka selenggarakan pada waktu pemblokiran. atau oleh orang atau badan dalam wilayah mereka. maka terminologi yang dipergunakan oleh PBB adalah sebagai berikut : Memblokir adalah: melarang transfer. apakah berwujud atau tidak berwujud. atau untuk kepentingan orang atau badan dimaksud. Berdasarkan RES 1373. karena berdasaran RES 1373 terdapat alasan untuk mencurigai atau percaya terhadap penetapan orang atau badan dalam OP1 (c) RES1373. properti dari setiap jenis. bergerak atau tidak bergerak.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Memastikan pencegahan penyediaan dana. pelepasan atau pergerakan dana atau aset lainnya. Beberapa orang atau badan yang telah diidentifikasi dikenakan sanksi keuangan berdasarkan resolusi adalah: 1. sebagaimana dimaksud dalam daftar yang dibuat berdasarkan RES1267. Berkaitan dengan sanksi tersebut. b. aset keuangan atau sumber daya ekonomi oleh warga negara mereka. Tanpa penundaan: dalam hitungan jam berdasarkan penetapan DK PBB (RES 1267). RES 1267 / 1333 (sekarang RES1988): a. 2. orang dan badan yang bertindak atas nama atau dalam kendali orang atau badan tersebut. Orang atau badan yang diidentifikasi sebagai subjek sanksi keuangan adalah: orang yang melakukan atau mencoba untuk melakukan tindakan teroris atau berpartisipasi atau memfasilitasi tindakan teroris.

berkenaan dengan: sanksi dan penerapan hukumnya.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme b. 5. kelompok. diterapkan tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada orang/badan yang ditetapkan tersebut. bukan hanya lembaga keuangan. usaha dan entitas terkait. 6. dalam yurisdiksinya wajib melakukan pemblokiran atas aset Orang/badan yang masuk dalam daftar tersebut. mengirimkan nama-nama Al Qaeda/Taliban rekan untuk Komite 1267. Setiap Orang. persyaratan kepatuhan. 2. Melakukan review secara periodikal atas penetapan tersebut berdasarkan masukan negara anggota. tidak bersyarat atas adanya proses pidana. individu. Pemblokiran aset tersebut bersifat "tanpa penundaan". Memungkinkan delisting/unfreezing terhadap orang/badan dan asetnya yang tidak lagi masuk dalam daftar. sebagai berikut: 1. sebagaimana dimaksud dalam daftar yang dibuat berdasarkan RES1989. Pemblokiran dan larangan berurusan dengan aset orang yang masuk dalam daftar (pasca penetapan resolusi). didasarkan pada “alasan/dasar" standar pembuktian. 4. Penyusunan strategi komunikasi diperlukan dalam rangka memastikan publikasi kepada masyarakat. Penyusunan daftar tersebut harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: dilakukan sendiri atau atas permintaan pemerintah asing. Memberikan kesempatan bagi orang/badan yang ditetapkan dalam daftar untuk mengajukan permohonan peninjauan ulang kepada otoritas berdasarkan bukti-bukti. Daftar tersebut ditetapkan dalam keputusan eksekutif atau yudikatif. DK PBB telah memberikan pedoman terkait pelaksanaan resolusi dimaksud. 3. Diharapkan masing-masing negara anggota menunjuk institusi/otoritas dan memiliki prosedur dalam mengidentifikasi orang atau badan serta memasukkannya dalam daftar (domestic list). 38 .

termasuk dalam perundang-undangan nasionalnya. Recommendation 3 FATF dan Recommendation 38 FATF mengenai Anti-Money Laundering.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme komprehensif penetapan orang/badan dalam daftar. tindakan teroris atau organisasi teroris. yaitu: (a) menerapkan langkahlangkah yang sesuai dengan resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB terkait perampasan dana teroris atau aset lainnya tanpa penundaan. baik dalam pemberantasan Money Laundering maupun dalam pendanaan terorisme. Special Recommendation III mengenai Terrorist Financing. Pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme. Dalam pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme. sebagai Negara Anggota FATF seyogiyanya menjalankan secara komprehensif rekomendasi-rekomendasi FATF. meskipun merupakan rezim pengaturan yang berbeda dengan tindak pidana pencucian uang. Di samping itu. mereka yang membiayai terorisme dan organisasi teroris sesuai dengan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berkaitan dengan pencegahan dan pemberantasan pendanaan terorisme.22 Sehubungan dengan hal tersebut maka 21 Special Recommendation III FATF terdiri dari dua kewajiban. setiap negara juga wajib mengadopsi dan menerapkan langkah-langkah. Perampasan dan Penyitaan Aset Teroris Sejalan dengan semangat pemberantasan terorisme secara global. dan (b) mengambil langkah-langkah yang memungkinkan untuk merebut atau merampas dana teroris atau aset lainnya atas dasar perintah atau mekanisme yang dikeluarkan oleh otoritas yang berwenang atau pengadilan. atau digunakan dalam. Pemerintah Australia juga memiliki dasar yang berasal dari hukum nasional Australia. Dalam pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme. yaitu 22 39 . atau dimaksudkan atau dialokasikan untuk digunakan dalam. yang akan memungkinkan pihak yang berwenang untuk merampas dan menyita harta yang merupakan hasil dari. Special Recommendation III FATF21 merekomendasikan bahwa setiap Negara wajib menerapkan langkah-langkah untuk membekukan dana tanpa penundaan (freeze without delay) atau aset teroris lainnya. pendanaan terorisme. penetapan keputusan. rekomendasi-rekomendasi FATF yang perlu diadopsi antara lain. contact person/help desk. namun selalu memiliki keterkaitan yang sejalan dengan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme.

dan (e) melakukan pengambalian kepada negara yang meminta proses mutual assistence. transfer atau penghilangan harta tersebut. Lihat “Laporan Pelaksanaan Counter Financing of Terrorism Study Tour”. melacak dan mengevaluasi harta kekayaan yang akan dirampas. (d) melakukan perampasan aset. melaksanakan langkah-langkah sementara. sarana-sarana yang digunakan dalam atau dimaksudkan untuk digunakan dalam tindak pidana. Sebagai contoh bentuk kerjasama antar negara. Commonwealth Criminal Code berisi tindak pidana pencucian uang utama di Australia. Australia memiliki pendekatan yang sangat tegas dalam hal tindak pidana pencucian uang. yang paling memungkinkan dalam pemberian bantuan dalam kaitannya dengan tindak pidana. Divisi 400 tersebut dimasukkan ke dalam Commonwealth Criminal Code melalui Proceeds of Crime Act 2002 pada Januari 2003.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme dalam pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme perlu diperhatikan juga Recommendation 3 FATF dan Recommendation 38 FATF dalam pemberantasan tindak pidana pencucian uang. (c) melakukan penahanan aset. Recommendation 38 FATF menyebutkan bahwa setiap negara wajib memiliki kewenangan untuk mengambil tindakan cepat dalam menanggapi permintaan oleh negara-negara lain untuk mengidentifikasi. pertanyaan. 25-29 September 2011. hasil dari pencucian uang atau tindak pidana asal. seperti pembekuan dan menyita. Pengembalian dalam lingkup 23 40 . dan (b) mereka yang terkait dengan instrumen kejahatan (dana yang digunakan untuk melakukan kegiatan ilegal). yaitu: (a) mereka yang terkait dengan hasil kejahatan (dana yang dihasilkan oleh aktivitas ilegal). Sydney-Australa.23 Commonwealth Criminal Code dan Proceeds of Crime Act 2002. Sistem hukum Australia tersebut memungkinkan adopsi langsung dari hukum internasional seperti rekomendasi-rekomendasi PBB dan rekomendasi-rekomendasi FATF. penegakan hukum sipil. Australia dan Indonesia telah memiliki dasar hukum melalui Treaty Between Australia and the Republic of Indonesia on Mutual Assistance in Criminal Matters yang ditandatangani tanggal 27 Oktober 1995. Dalam kaitannya dalam pelaksanaan Mutual Legal Assistance (MLA) dengan negara lain. untuk mencegah transaksi. (b) melakukan lokalisasi aset. menyita dan menyita properti dicuci. dan investigasi administratif. Recommendation 3 FATF menyebutkan bahwa tindakan yang dilakukan Pemerintah tersebut harus termasuk kewenangan untuk mengidentifikasi. dan dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis. tindakan teroris dan organisasi teroris. Kerja sama internasional dilakukan atas dasar mekanisme perjanjian atau pengaturan lainnya untuk melakukan bantuan hukum timbal balik atau pertukaran informasi (termasuk agency to agency channels). Division 400. membekukan. baik hartanya maupun pelakunya. Mutual Assistance tersebut meliputi proses: (a) membuat daftar orang yang diduga terkait dalam pendanaan teroris berdasarkan daftar PBB. Setiap Negara juga memiliki pengaturan untuk mengkoordinasi proses penyitaan dan perampasan aset teroris. dan proses yang berkaitan dengan pendanaan terorisme. Saat ini ada 19 pelanggaran yang berbeda dari pencucian uang yang tersedia di bawah Commonwealth Criminal Code.

pelaporan dan pengawasan kepatuhan Pengguna Jasa Keuangan. PJK harus melaporkan transaksi keuangan mencurigakan terkait pendanaan terorisme kepada PPATK. a. 25-29 September 2011. 41 . Lihat “Laporan Pelaksanaan Counter Financing of Terrorism Study Tour”. Sydney-Australa. pengertian Orang dapat pula meliputi perseorangan dan korporasi (badan hukum atau tidak berbadan hukum). Dalam hal ini. mengumpulkan. dan c. Organisasi Teroris. UU No. 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana telah mengatur bahwa dalam melakukan kegiatan usahanya. yaitu terkait: pengembalian pelaku tindak pidana dilakukan melalui proses ekstradisi yang berlaku berdasarkan perjanjian. Pelaksanaan ekstradisi antara kedua negara tunduk kepada perjanjian dan prosedur yang berlaku di setiap negara tersebut. Pendanaan Terorisme banyak dilakukan dengan menggunakan transaksi keuangan yang dilakukan melalui penyedia jasa keuangan (PJK). Penyelenggara Transfer Dana (PTD) harus mendapatkan ijin dari Bank Indonesia. akan dikenai ancaman hukuman pidana (PTD ilegal). Australia dan Indonesia memiliki Perjanjian Ekstradisi antara Republik Indonesia dan Australia. pengawasan pengumpulan dan penerimaan sumbangan. Terminologi “formal” atau “nonformal” dapat diartikan sebagai PJK berbentuk badan hukum (formal) atau perorangan/tidak berbadan hukum (nonformal) Sementara itu. sehingga harus memiliki ijin (formal). atau meminjamkan dana baik langsung maupun tidak langsung digunakan atau yang diketahui akan digunakan untuk terorisme. pengawasan kegiatan pengiriman uang melalui sistem transfer atau pengiriman uang melalui sistem lainnya. Sehingga dalam hal tertentu terdapat batasan-batasan yang menyebabkan ekstradisi tidak dapat diberikan.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Monitoring Oleh Penyedia Jasa Keuangan Pendanaan Terorisme adalah segala perbuatan dalam rangka menyediakan. penerapan prinsip mengenali Pengguna Jasa Keuangan. memberikan. PTD yang menyelenggarakan kegiatan transfer dana tanpa ijin. yaitu setiap orang yang menyediakan jasa di bidang keuangan atau jasa lainnya yang terkait dengan keuangan baik secara formal maupun nonformal. PJK merupakan PTD karena menyelenggarakan kegiatan transfer dana. Untuk melindungi kepentingan masyarakat. atau Teroris. b. Pada prinsipnya. Dalam hal ini upaya pencegahan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme dilakukan melalui: a. namun ada juga dalam batasan-batasan tersebut dapat diberlakukan berdasarkan kebijakan.

Seperti halnya yang diatur dalam PUPJI (Pedoman Umum Perjuangan Al–Jamaah Al–Islamiyah) sebagai Piagam Anggaran Dasar Jemaah Islamiyah yang menuntut anggota-anggotanya berpartisipasi pada organisasi. Terorist Financing in Southest Asia dalam Terrorism in South and Southest Asia in The Coming Accade.25 Arabinda Acharya. b. pemanfaatan uang dari yayasan amal agama Islam. 2009. Sumber pendanaan teroris di Asia Tenggara. Ushulul–Manhaj Al-Harakiy Li Iqomatid-Dien atau pokok-pokok pedoman gerakan menegakkan agama yang berisi prinsip-prinsip dalam memahami Ad-Dien sebagai landasan langkah-langkah sistematis yang wajib ditempuh dalam rangka menegakkan Ad-Dien. sebagaimana dikemukakan oleh Arabinda Acharya24 berasal dari sumbangan (donations). Al-Manhaj Al-Amaliy atau pedoman operasional mengandung pengertian sebagai pedoman umum operasi. Kajian Terhadap Asas/Prinsip Yang Terkait Dengan Penyusunan Norma Pendanaan teroris adalah merupakan bagian dari persoalan kejahatan global yang sudah ada sejak lama dan terkait erat dengan dana-dana ilegal yang bergerak menyeberang lintas batas antar negara. 24 42 . 25 Pedoman Umum Perjuangan Al-Jama’ah Al-Islamiyah (PUPJI) yang isinya antara lain : a. c. keuntungan dari pendapatan bisnis yang sah dan berasal dari kejahatan. Institute of Southest Asian Studios. Ushulul–Manhaj Al-Harakiy Li Iqomatid-Dien ini berfungsi sebagai pedoman pokok yang menjadi dasar dalam penyusunan Al-Manhaj Al Hirakiy Li Iqomatid-Dien. transaksi yang melibatkan Setiap Orang yang berdasarkan publikasi pemerintah atau organisasi internasional dikategorikan sebagai teroris atau organisasi teroris. 96 104 . B. Editor Daljit Singh. Pada umumnya uang tersebut dikumpulkan anggota-anggota kelompok sebagai suatu kewajiban dari anggota. Sumbangan (donasi) untuk terorisme diberikan dalam bentuk yang berbeda-beda dan yang diberikan secara sukarela atau diperoleh melalui unsur paksaan. hal. Al-Manhaj Al Hirakiy Li Iqomatid-Dien atau pedoman gerakan menegakkan agama mengandung pengertian sebagai pedoman mengenai langkah-langkah sistematis yang wajib ditempuh dalam rangka menegakkan Dien. Fungsi Al-Manhaj Al Hirakiy Li Iqomatid-Dien adalah sebagai penjabaran dari Ushulul– Manhaj Al-Harakiy Li Iqomatid-Dien dan sebagai pedoman dasar dalam penyusunan Al-Manhaj Al-Amaliy.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme a. transaksi yang patut diduga menggunakan dana yang terkait atau berhubungan dengan atau akan digunakan untuk tindak pidana terorisme. Menegakkan Ad-Dien yang dimaksud adalah menegakkan Daulah Islamiyyah atau Negara Islam dan selanjutnya menegakkan Khilafah Islamiyyah atau pemerintahan Islam. atau b. Singapore.

bukan hanya menghasilkan pendapatan. Amir mengangkat dan memberhentikan anggota majelis syuro. Majelis Fatwa atau Dewan Penasehat dan Majelis Hisbah atau Dewan Pengawas. mustabdil dan pembantunya tanpa menjelaskan alasan dibolehkannya jihad Qital (berperang). Al-Manhaj Al-Amaliy dan Nidhom Asasi antara lain dengan Tandzim Siri atau organisasi rahasia. jasa pengiriman (courier service). Jama’ah dipimpin oleh seorang Amir atau pemimpin. Dalam hal ini penyumbang zakat menganggap bahwa uang itu dizakatkan sebagai kewajiban keagamaan yang digunakan untuk tujuan utama beribadah. Uang zakat tersebut dapat disalahgunakan tanpa sepengetahuan penyumbang. Majelis Qiyadah terdiri dari Majelis Qiyadah Markaziah atau Dewan Pimpinan Pusat. memberi sanksi anggota jama’ah yang melanggar peraturan jama’ah. Nidhom Asasi atau aturan dasar atau anggaran dasar. Jihad Musallah diartikan sebagai Qital yakni perperang untuk melawan musuh Allah dan Rasul-Nya antara penguasa kafir. dengan sasaran perjuangan mewujudkan tegaknya Daulah Islamiyah sebagai basis menuju wujudnya kembali Khilafah Alaa Minhajin Nubuwwah atau pemerintahan berdasarkan ajaran Nabi dengan menempuh jalan antara lain jihad fii sabilillah. Bisnis ini meliputi perusahaan konstruksi. Amir menyelenggarakan musyawarah majelis-majelis tingkat markas. musyrik. (Disalin dari Surat Dakwaan Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan tertanggal 12 Oktober 2004 dalam perkara terdakwa Abu Bakar Ba’asyir alias Abdus Somad alias Abu Bakar Ba’asyirbin Abud Ba’asyir) 43 . yang antara lain mengatur Jama’ah. Pendidikan dan Pelatihan. Amir juga mempunyai wewenang untuk menentukan dan mengesahkan keputusan musyawarah. murtad. Bisnis wirausaha tingkat menengah adalah sesuatu yang ideal. anggota majelis qiyadah markaziyah. mengadakan hubungan dengan pihak lain yang dipandang membawa kemashlahatan jama’ah dan menunjuk pejabat sementara apabila berhalangan dalam menjalankan tugasnya. tetapi juga menjadi kedok transaksi keuangan untuk menghindari pelacakan. Tamwil atau pendanaan dan Jihad Musallah atau jihad dengan senjata. anggota majelis fatwa dan anggota majelis hisbah. Dengan cara ini sumbangan amal dapat dilibatkan untuk mendukung kegiatan kelompok-kelompok teroris. Untuk melaksanakan Ushulul–Manhaj Al-Harakiy Li Iqomatid-Dien. bahwa jama’ah bernama Al-Jama’ah Al-Islamiyah yang merupakan Jama’atun minal-Muslimin yaitu sebuah Jama’ah yang anggotanya terdiri dari sebagian kaum muslimin. d. yang dalam melaksanakan tugasnya Amir dibantu oleh majelis – majelis Qiyadah atau Dewan Kepemimpinan. Sumber dana juga dapat diperoleh kelompok teroris dengan membangun usaha mereka sendiri melalui perdagangan dan perputaran uang. Majelis Syuro atau Dewan Pertimbangan. Majelis Qiyadah Manthiqih atau Dewan Pimpinan Wilayah dan Majelis Qiyadah Wakalah atau Dewan Pimpinan Tingkat Perwakilan. Tugas dan wewenang Amir antara lain menerima mubaya’ah atau pembai’atan anggota. mengutip infaq dari anggota jama’ah yang baik yang bersifat rutin maupun incidental. Tajnid atau rekrut kemiliteran. Pengelola dana zakat menginvestasikan dalam bentuk bermacammacam sumbangan atau subsidi pada organisasi-organisasi amal. bukan seluruh kaum muslimin di dunia.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Sumber dana terorisme juga dilakukan dengan penyalahgunaan yayasan amal yaitu menyelewengkan uang yang dikumpulkan melalui zakat dengan dalih untuk ijtihad. agen perjalanan (travel agencies). Al-Manhaj Al Hirakiy Li Iqomatid-Dien. jasa pengiriman uang dan bahkan sekolah-sekolah. Amir membela dan melindungi anggota. zindiq. Pembinaan At-To’ah atau ketaatan / loyalitas. Uang tersebut diselewengkan oleh pegawai atau pengurus lainnya. pemberi zakat atau bahkan tidak diketahui oleh anggota pengelola/pengurus dan staf organisasi itu sendiri.

cit. Kriminalisasi menurut Mardjono Reksodiputro mengandung pengertian : primair untuk menyatakan sebagai tindak pidana perbuatan dalam abstracto dan secundair untuk memberi label pelanggar hukum pidana pada orang dalam concreto (sekedar catatan sementara tentang Kriminalisasi. Menurut Mardjono Reksodiputro28 untuk menguji suatu kriminalisasi primair (rumusan tindak pidana) perlu diperhatikan sejumlah asas. berkaitan erat dengan ada atau tidak adanya toleransi . Zubair bertanggung jawab untuk operasi dari Om-Al-Qura Foundation. 5 Januari 2008) 28 (ibid) 27 26 44 . Kelompok teroris juga menggunakan sekolah-sekolah swasta untuk mendukung pendanaan dalam aktifitas mereka. (3) Asas subsidiaritas (sebelum perbuatan dinyatakan sebagai tindak pidana. hal. (2) Asas adanya toleransi (tenggang-rasa) terhadap perbuatan tersebut penilaian atas terjadinya kerugian. Beberapa sekolah yang sudah mapan juga membayar orang-orang upahan untuk operasi teroris. Senin. loc. suatu sekolah Islam di Cambodia 26. Salah satu tujuannya disini adalah untuk menghasilkan pendapatan atau untuk mencampurkan hasil pencucian uang seolah-olah berasal dari usaha yang sah. adapun kerugian ini dapat mempunyai aspek moral (moralitas individu – kelompok – kolektifitas). Arabinda Acharya menyebut nama Zubair seorang warga negara Malaysia. menjadi anggota Al Qaeda.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Seringkali kelompok teroris itu sendiri yang akan mengambil tindakan menyebarkan uang untuk memulai suatu bisnis yang sah. Modus operandi pendanaan terorisme sebagaimana digambarkan diatas adalah merupakan salah satu bentuk perbuatan yang akan dikriminalisasikan 27 dalam Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Pendanaan Terorisme. 101. membangun aktifitas kelompok melalui jaringan sekolah perawat. perlu diperhatikan apakah kepentingan hukum yang terlanggar oleh perbuatan tersebut masih dapat dilindungi dengan cara lain . toleransi didasarkan pada penghormatan atas kebebasan dan tanggung jawab individu) . hukum pidana hanyalah ultimum remedium) . tetapi selalu harus merupakan “public issue”. taman kanak-kanak dan yatim piatu. Politik Kriminal dan AsasAsasnya (Makalah disampaikan pada FGD-PPATK. Arabinda Acharya. yaitu : (1) Asas bahwa kerugian yang digambarkan oleh perbuatan tersebut harus masuk akal.

dan dengan reaksi atau pidana yang diberikan) . apabila a sampai dengan d telah dipertimbangkan. (5) Asas legalitas. Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 1373 (2001) tertanggal 28 September 2001 telah memutuskan agar semua negara mencegah dan menindas pendanaan tindakan–tindakan teroris. Perumusan tindak pidana pendanaan terorisme dapat dipandang telah memenuhi asas-asas kebijakan kriminal tersebut diatas. (6) Asas penggunaannya secara praktis. (2) Memenuhi asas toleransi (tenggang-rasa) dalam arti bahwa akibat perbuatan pendanaan dapat mengakibatkan tindakan terorisme yang menimbulkan kerugian sangat besar bagi masyarakat berupa korbanharta benda maupun korban manusia. yaitu : (1) Sifat kerugian yang ditimbulkan perbuatan pendanaan terorisme dapat menimbulkan kerugian baik dari aspek moral maupun public issue. Upaya menghentikan pendanaan terorisme bukan saja menjadi issu domestik tetapi juga sudah menjadi issu global. Masyarakat tidak dapat lagi mentolerir 45 . yang merupakan sendi utama hukum pidana . Aspek moral dapat digambarkan dari kerugian mereka yang secara ikhlas menyumbang atas dasar kewajiban agama yang disalurkan melalui badanbadan keagamaan seperti badan zakat. Resolusi juga meminta kepada semua negara untuk menjadikannya suatu kejahatan untuk setiap perbuatan yang dengan sengaja memberi atau mengumpulkan dengan cara apapun baik langsung atau tidak langsung dengan maksud bahwa dana tersebut akan digunakan untuk melaksanakan tindakan-tindakan teroris. tercakup dan pula jelas hubungannya dengan asas kesalahan. masih perlu dilihat apakah perbuatan tersebut dapat dirumuskan dengan baik hingga kepentingan hukum yang akan dilindungi. dan efektifitasnya berkaitan dengan kemungkinan penegakannya serta dampaknya pada prevensi umum (practical use and effectivity). yayasan keagamaan ternyata telah disalahgunakan orang lain untuk membantu pendanaan terorisme.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme (4) Asas proporsionalitas (harus ada keseimbangan antara kerugian yang digambarkan dengan batas-batas yang diberikan oleh asas toleransi.

tetapi hukum pidana dapat dikatakan melakukan upaya preventif.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme perbuatan pendanaan terorisme yang menimbulkan kerugian luar biasa bagi masyarakat. diterjemahkan oleh Pascal Moeljono. 62. Jakarta. berhubung analisa biaya dan hasil. Komentar atas Pasal-pasal terpenting dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia. (6) Asas penggunaannya secara praktis dan efektif dalam penerapannya akan dapat dipenuhi manakala waktu merumuskan tindak pidana sudah memiliki prediksi dalam praktik penegakan hukumnya. namun langsung bekerja begitu “ancaman” terhadap kepentingan hukum yang hendakdilindungi muncul29 ancaman bahaya dalam Jan Remmelink. Oleh karena sifat tindak pidana ini adalah tindak pidana yang kemungkinan menimbulkan ancaman bahaya. konkrit sejalan dengan asas lex sricpta (dirumuskan sebagai aturan hukum pidana tertulis). asas lex certa (perumusan jelas dan tidak multi tafsir). selain dengan menggunakan hukum pidana sebagai ultimum remedium. LLM. terjadinya pelanggaran atas kepentingan hukum tidak ditunggu. dukungan publik yang kuat baik nasional maupun internasional terhadap pemberantasan terorisme melalui penghentian pendanaan. Hukum pidana tidak menunggu munculnya akibat perbuatan (kerugian). Terorisme tidak akan dilakukan tanpa dana. SH. (3) Asas subsidiaritas telah terpenuhi mengingat tidak ada cara lain untuk melindungi kepentingan hukum masyarakat. Alternatif usaha lain memberantas pendanaan terorisme dipandang tidak akan memadai. 2003. Ancaman sanksi pidana merupakan sarana yang efektif untuk menekan kerugian yang ditimbulkan oleh perbuatan pendanaan teroris. Tindak pidana pendanaan terorisme merupakan tindak pidana yang mendahului terjadinya tindak pidana terorisme. dan asas lex stricta (aturan itu harus ditafsirkan secara sempit dan tidak digunakan analogi). Gramedia Pustaka. hal. (4) Asas proporsionalitas sebagai persyaratan kebijakan kriminal dapat digambarkan dengan adanya keseimbangan antara kerugian menurut batas – batas asas toleransi dengan reaksi atau pidana yang akan diberikan. 29 46 . Hukum Pidana. (5) Asas legalitas akan terpenuhi melalui perumusan undang-undang yang jelas.

delik yang menimbulkan bahaya konret. Serta Permasalahan Yang Dihadapi Masyarakat Pendanaan terorisme merupakan “urat nadi” dari terjadinya suatu kegiatan terorisme. tanpa merumuskan lebih terperinci kepentingan-kepentingan hukum seperti apa yang rentan terhadap resiko tersebut. Kajian Terhadap Praktik Penyelenggaraan. maka tindak pidana pendanaan terorisme pada dasarnya adalah merupakan suatu perbuatan yang merujuk pada kelakuan yaitu melakukan suatu perbuatan dengan segala cara. masih belum tentu terjadi akan timbul. Tentang akibat perbuatan. Mencermati cara perumusan tindak pidana sebagaimana tersebut diatas. lebih tepat dirumuskan sebagai “delik formal”. Dengan demikian perumusan tindak pidana pendanaan terorisme. secara melawan hukum dan sengaja menyediakan atau mengumpulkan dana dengan maksud akan digunakan melakukan terorisme. yaitu ia juga dapat merumuskan suatu perbuatan sebagai tindak pidana.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme perumusan tindak pidana. Dalam melakukan suatu aksi teror dibutuhkan dana dalam jumlah besar. apabila tindakan tersebut “in concreto” telah menimbulkan bahaya yang dirumuskan dalam undang-undang. Kondisi Yang Ada. langsung atau tidak langsung. Berdasarkan kenyataan ini upaya pencegahan dan pemberantasan pendanaan terorisme dianggap sebagai upaya terkini untuk memberantas kegiatan terorisme itu sendiri. 47 . sedangkan delik yang menimbulkan bahaya konkret melarang suatu tindakan dan munculnya akibat yang menimbulkan bahaya bagi kepentingan-kepentingan hukum tertentu. Jan Remmelink menunjuk adanya dua cara yaitu delik yang menimbulkan bahaya abstrak. berupa terorisme sebagai kepentingan hukum yang dilanggar. Sebaliknya yang kedua. Delik yang menimbulkan bahaya abstrak hanya melarang suatu perilaku. suatu cara merumuskan suatu perbuatan tertentu sebagai tindak pidana berdasarkan pengalaman. Katagori tindak pidana tersebut berkembang menjadi pemilahan antara delik formal dan delik materiil. C. perbuatan tertentu sangat mudah berujung pada pelanggaran kepentingan kepentingan hukum.

Pengaturan ini dianggap telah melanggar hak asasi dari pelaku tindak pidana. Sehingga. 15 Tahun 2003 telah ditetapkan menjadi Undang-Undang. Kelompok-kelompok teroris yang sudah sangat terorganisir mengguunakan peralatan-peralatan yang lebih canggih. Ketentuan pendanaan terorisme ini diatur secara bersamaan dengan kegiatan terorisme dalam undang-undang tersebut.30 Penerbitan Perpu ini sejak awal telah banyak mengundang kontroversi dari berbagai pihak dan kalangan. baik untuk senjata maupun sarana komunikasi. Kontroversi yang timbul dari mulai sifat retrokatif atau berlaku surut hingga Perpu ini dapat diterapkan terhadap aksi pemboman di Bali. Perdebatan yang juga terjadi atas terbitnya Perpu ini adalah perihal penangkapan 7x24 jam hingga laporan intelijen yang digunakan sebagai alat bukti. Semua kegiatan dan kebutuhan diatas membutuhkan dana yang dapat dibilang tidak sedikit. ibid.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Teorisme memerlukan dana untuk mendapatkan senjata dan bahanbahan peledak yang belakangan ini banyak digunakan. agar tenaga-tenaga dapat terlatih untuk menjalankan aksinya mereka perlu membuat pelatihan. Namun undang-undang ini tidak secara tegas menggunakan istilah pendanaan terorisme atau bahkan memberikan pengertian apa itu pendanaan terorisme. 8-9. pemerintah Indonesia telah mengatur pendanaan terorisme. Indonesia telah mengkriminalisasi kegiatan terorisme dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. Dalam ketentuan yang mengatur pendanaan terorisme hanya melarang tindakan-tindakan untuk memberikan bantuan dana bagi kegiatan 30 Sidik. 1 tahun 2002 guna mengisi kekosongan hukum (rechsvacuum) tentang penindakan kejahatan terorisme. Dibutuhkan adanya tempat untuk menampung para teroris sehingga mereka dapat hidup dan memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Kuta Bali. Dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. hal. apabila setiap negara dapat memotong aliran dana bagi para teroris maka tindakan terorisme dapat dicegah. Pemerintah menerbitkan Perpu No. 48 . Perpu ini sendiri baru dikeluarkan setelah terjadinya pemboman pada 12 Oktober 200 di Sari Club dan Paddy’s Club. Selain itu. 1 Tahun 2002 yang berdasarkan UU No.

Namun. Aksi-aksi teror yang ada sekarang ini jauh lebih berbahaya dari aksi teror yang dikenal sebelumnya. Namun. Uang. 5 49 . dalam perkembangannya ternyata ketentuan pendanaan terorisme diatur dalam Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang. yaitu dengan dikerluarkannya UU No. Oleh karena itu perkembangan kedepan atau permasalahannya tentu saja semakin kompleks kepentingan dan didukung oleh berbagai peralatan yang semakin canggih. hal. Diaturnya terorisme dalam undang-undang ini adalah untuk meng-cover apabila kemudian diundangkannya UU tentang Tindak Pidana Terorisme. Setelah adanya perubahan dan penambahan UU Tindak Pidana Pencucian Uang (UU TPPU). Hingga saat ini belum ada undang-undang yang khusus membahas perihal pendanaan terorisme.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme terorisme yang disamakan dengan kegiatan pendanaan terorisme atau Financing of Terrorism. 25 tahun 2003 yang merubah dan menambah UU No. bagaimana. yaitu Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencuian Uang. Penerapan Program Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) Bagi Bank Umum Dalam rangka mencegah digunakannya bank sebagai media pendanaan teroris.31 Namun dari awal dan perkembangnya terorisme didapai satu hal yang tidak akan erubah bahwa kegiatan atau aksi teror pastilah membutuhkan dana. 31 Ibid. Selain itu. 15 tahun 2002 telah memasukkan tindak pidana terorisme sebagai salah satu bentuk kejahatan asal pada pencucian uang. 15 Tahun 2002 ini diundangkan sebelum adanya undang-undang tentang tindak pidana terorisme. sulit dideteksi apa. 25 Tahun 2003 barulah pendanaan terorisme diatur dalam UU Tindak Pidana Pencucian Uang. bank wajib memelihara database daftar teroris yang diterima dari Bank Indonesia setiap 6 (enam) bulan sekali berdasarkan data yang dipublikasikan oleh PBB. UU No. dimana dan siapa yang menjadi sasaran berikutnya. Pasal 2 ayat (1) huruf n UU No. Kewajiban Pelaporan dan Pelaksanaan Monitoring 1.

shtml).Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Informasi mengenai Daftar teroris antara lain dapat diperoleh melalui website PBB (http://www. Dalam hal terdapat kemiripan nama nasabah dengan nama yang tercantum dalam databse Daftar teroris. melaksankan tugas pengawasan pelaksanaan program pencegahan pendanaan terorisme. b.org/sc/committees/1267/consolist. sehingga bank dapat secara aktif mengkinikan Daftar Teroris tanpa harus menunggu daftar yang dikirim Indonesia. Untuk membantu pihak yang berwenang melakukan penyidikan terhadap dasna-dana yang diindikasikan terkait dengan pendanaan terorisme. dan INTERPOL. atau melakukan pelaporan LTKM kepada PPATK. Memastikan secara berkala terdapat atau tidasknya nama-nama nasabah bank yang memiliki kesamaan atau kemiripan dengan nama yang tercantum dalam database tersebut. bank wajib menatausahakan dokumen yang terkait dengan data nasabah atau WIC dengan jangka waktu 5 (lima) tahun. dan pihak berwenang seperti informasi dari PPATK. Sehubungan dengan hal tersebut. 50 . Kegiatan pemantauan yang wajib dilakukan bank terkait dengan database Daftar teroris yang dimiliki adalah: a. bank wajib menyelenggarakan pelatihan mengenai upaya pencegahan pendanaan terorisme kepada seluruh karyawan khususnya bagi karyawan yang berhadapan langsung dengan nasabah. Dalam hal terdaspat kesamaan nama nasabah dan kesamaan informasi lainnya dengan nama yang tercantum daslam database Daftar Teroris. bank wajib memastikan kesesuaian identitas nasabah tersbeut dengan informasi lain yang terkait. c. Sebagai upaya efektivitas pelaksanaan pemantauan terhadap database Daftar teroris diperlukan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dan kemampuan yang memadai khususnya yang terkait kegiatan pendanaan terorisme.un. bank wajib melaporkannya dalam Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan kepada PPATK. dan dokumen keuangan dengan jangka waktu sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Dokumen Perusahaan.

pendekatan dilakukan berdasarkan “riskbased”. Presentasi disampaikan oleh Ms. Informasi AUSTRAC digunakan oleh pihak terkait dimaksud dalam penyelidikan berbagai tindak pidana seperti pencucian uang. AUSTRAC merupakan Financial Intelligence Unit (FIU) yang bertipe Administratif dan merupakan menjadi bagian dari Australian Government Attorney-Generals Department. WA. Selanjutnya berdasarkan anti-Money Laundering/Counter Terrorism Financing atau yang dikenal dengan AML/CFT Act 2006. Secara umum pendekatan yang dilakukan berdasarkan FTR Act 1988 adalah “prescriptive”. penipuan/fraud. dan • sebagai lembaga di bidang intelijen keuangan /financial intelligence unit AUSTRAC menerima. AUSTRAC memiliki peran ganda yaitu: • sebagai regulator dalam mengatur dan mengawasi pelaksanaan dan pemenuhan kepatuhan pihak pelapor terhadap ketentuan anti pencucian uang dan pendanaan terorisme di Australia (the AML/CTF Act and FTR Act). obat terlarang. penyelundupan. AUSTRAC memiliki 6 kantor yang terdiri dari 1 kantor pusat di New South Wales dan 5 kantor regional di 5 state yang berbeda (Victoria. dan SA). Suzanne Robinson dan Mr. menganalisis dan menyediakan atau menyampaikan informasi kepada pihak terkait yang berwenang di dalam negeri (partner agencies) maupun di luar negeri (international counterparts). Penerapan Program Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) Bagi Bank di Australia32 Lembaga yang memiliki kewenangan dalam melakukan pengaturan dan monitoring pelaksanaan dan pemenuhan kepatuhan pihak pelapor terhadap ketentuan anti pencucian uang dan pendanaan terorisme di Australia adalah AUSTRAC. AUSTRAC didirikan pada tahun 1989 berdasarkan the Financial Transaction Reports Act 1988 (FTR Act). 32 51 . ACT.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 2. Keberadaan AUSTRAC dalam AML/CFT Act 2006 tercantum dalam bagian 209. Qld. dan kejahatan serius lainnya. Gavin Raper dari Australian Transaction Reports and Analysis Centre (AUSTRAC).

Berkenaan dengan domestic dan international coordination diketahui pada saat ini yang menjadi domestic partner agencies AUSTRAC meliputi law enforcement. pedagang valuta asing (bureau de changes) pedagang emas dan permata (bullion sellers). penyedia jasa pengiriman uang (money transfer remmitters). SUSTR/SMR bisa diminta secara on line oleh pihak terkait dan dapat disampaikan sebagai bagian dari suatu laporan keuangan intelijen. Pihak terkait yang menerima SUSTR/SMR dapat menggunakan / tidak menggunakan informasi tersebut. AUSTRAC menyampaikan informasi kepada pihak terkait sesuai dengan AML CFT Act 2006 section 126. national security.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Jenis laporan yang diterima AUSTRAC dari pihak pelapor sesuai AML/CFT Act terdiri dari Suspicious Matter Reports (SMR). Threshold Transaction Report (TTR). revenue collection. perjudian/casinos. penyelenggara undian/TAB/bookmakers. Dalam kondisi tertentu SUSTR/SMR dapat yang memiliki 52 . travel cek atau store value card Penerimaan taruhan dan atau pembayaran kepada pemenang taruhan (accepting bets and/or paying winnings) Berdasarkan FTR Act dan AML/CFT Act. social justice. pihak-pihak kewajiban pelaporan kepada AUSTRAC yakni: lembaga keuangan (financial institutions). pembawa uang tunai/ cash carriers. regulatory. dan International Fund Transfer Instruction (IFTI) serta Cross Border Movement (CBM). Pihak-pihak yang diatur dan diawasi oleh AUSTRAC terdiri dari pihak pelapor yang melakukan kegiatan salah satu dari 71 designated services. yang meliputi: Provision of an account Pemberian pinjaman (Making a loan) Leasing dan penyewaan (Some leasing and hire purchase agreement) Penerbitan kartu debit. money order. Sedangkan jumlah FIU yang telah menandatangi MOU dengan AUSTRAC sebanyak 59 FIU.

fungsi compliance hanya merupakan bagian dari Regulatory Compliance. SUSTR/SMR tidak dapat dipergunakan sebagai barang bukti dalam proses pengadilan. Tujuan assessment pihak pelapor pada major reporters lebih ditekankan pada kualitas laporan yang telah diberikan ke Austrac. Prosedur assessment dimulai dengan preliminary research. ke-15 pihak pelapor tersebut menyumbang 70% dari laporan yang diterima oleh Austrac. Hal ini agar data yang nantinya diberikan Austrac ke LEA juga bisa berkualitas terutama tidak terdapatnya kesalahan data KYC yang dilakukan oleh pihak pelapor. (yang jumlahnya sekitar 17. Struktur organisasi AUTRAC mengalami 3 (tiga) kali perubahan sejak diundangkannya AML/CFT tahun 2006 yaitu pada tanggal 30 Juni 2006. Jangka waktu assessment terhadap satu pihak pelapor berkisar antara 3-4 bulan (beberapa pihak pelapor dapat di-assess pada waktu bersamaan). Sebelum berlakunya AML/CTF Act 2006.000 yang dibagi pengawasannya terbagi ke dalam beberapa region). Artinya pola-pola pelaporan dari pihak pelapor dianalisa sedemikian rupa untuk menentukan perlunya audit atau education-visit terhadap pihak pelapor. Penyelenggaran pada dasarnya terbagi menjadi dua yaitu major reporters (yang jumlahnya hanya sekitar 10 pihak pelapor) dan other reporters. Fokus compliance memang lebih ditekankan pada major reporters karena walaupun jumlahnya hanya 10 namun dari sisi pelaporan (SMR. Pendekatan pengawasan pihak pelapor juga mengalami evolusi dari sebelumnya hanya menekankan pada risiko pihak pelapor (sebagaimana ditentukan oleh program CREST) menjadi “Compliance Behavior Based Supervision”. 53 . Untuk itu prosedur pengawasan major reporters berbeda dengan pihak pelapor lainnya. tanggal 30 Juni 2007 dan April 2010. Seluruh major reporter adalah pihak pelapor yang telah diawasi oleh regulator lain (APRA/ASIC).Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme disampaikan kepada beberapa pihak terkait. TTR dan IFTI). Namun saat ini compliance dalam struktur organisasi merupakan satu dari dua fungsi besar Austrac selain intellegence. Tekanan pengawasan adalah pada desk-review (off site supervision) walaupun terhadap pihak pelapor tertentu dilakukan assessment secara khusus secara on-site.

Penerusan laporan ke partner agencies secara otomatis. Apabila kasus dilimpahkan ke bagian enforcement maka bagian compliance mengirimkan surat resmi ke pihak pelapor bahwa kasusnya sudah dilimpahkan ke bagian enforcement. AUSTRAC menggunakan system yang digunakan untuk memprioritisasi laporan mencurigakan yang diterima yaitu “BUSINESS RULES ENGINE” (BRE). asking for more information. Mengidentifikasi laporan yang berisiko rendah yang tidak perlu dilakukan evaluasi/analisis oleh analis. nilai dolar yang tinggi. Moderate. Dalam rangka prioritisasi terdapat beberapa hal antara lain: SMRs/SUSTRs dimasukkan ke dalam daftar urutan pekerjaan yang harus dilakukan (work queue). very Low 3. memiliki beberapa kantor yang mengembangkan kebijakan dan strategi AML/CFT.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme talk to organization. dan laporan menarik lainnya. Kerangka Insitusional Dalam Pemberantasan Pendanaan Terorisme di Amerika Serikat A. Penerapan Program Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) Bagi Bank di Amerika 3. Bagian enforcement di AUSTRAC terpisah dari bagian compliance (lihat bagan). Hal-hal terkait benefit dari BRE antara lain sebagai berikut: Memungkinkan pengguna/user untuk menulis aturan-aturan yang terkait dengan atribut-atribut tertentu dalam laporan. audit visit.S. Apabila pihak pelapor tidak kooperatif dan tidak bisa ditangani lagi oleh bagian compliance maka kasusnya akan dilimpahkan ke bagian enforcement untuk dipertimbangkan diberikan sanksi. Memungkinkan identifikasi risiko tinggi. Low. Department of the Treasury (Treasury). SMRs/SUSTRs disaring oleh: • • Business Rules Engine Senior Analyst/manager Pembagian prioritas laporan terdiri dari : Very High. reporting dan terakhir follow-up. U.1. High. antara lain: 54 .

TFFC works closely with Treasury’s Office of International Affairs and Office of Domestic Finance in the formulation of AML/CFT policy and strategies. dan pengawasan terhadap FinCEN. delegation to the FATF and FATF-style regional bodies (FSRBs). (4) mewakili US dalam badan/lembaga internasional yang mendedikasikan diri untuk memerangi pendanaan terorisme. and other financial crimes. dan (5) mengawasi dan menyediakan pedoman kebijakan untuk implementasi dan administrasi dari program dan peraturan mengenai sanksi ekonomi negara. termasuk pengawasan kepada sektor swasta. pengembangan dan pengimplementasian the National Money Laundering Strategy. terrorist financing. 2. TFFC represents the U. U.S. pencucian uang. juga kebiajakan dan program lain untuk memeragi kejahatan keuangan.S. TFI juga bertanggung jawab untuk hal sbb: (1) pengembangan dan pengimplemntasian strategi terorisme pemerintah baik US untuk memberantas pendanaan (2) domestik maupun internasional. including heading the U. TFI bertanggung jawab terhadap pengawasan arah kebijakan dan integrasi the Office of Foreign Assets Control (OFAC) dan Treasury Executive Office for Asset Forfeiture (TEOAF). Office of Terrorism and Financial Intelligence (TFI): TFI dan bagian organisasinya (termasuk the Office of Terrorist Financing and Financial Crime dan the Office of Intelligence and Analysis). Department of Justice (DOJ): The DOJ adalah badan pemerintah utama yang bertanggung jawab untuk mengawasi 55 .S. dan kejahatan keuangan lain. 3. (3) bekerja sama dengan FinCEN untuk mengembangkan dan mengimplementasikan kebijakan dan peraturan pemerintah US dalam mendukung BSA dan USA PATRIOT Act.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 1. at relevant international bodies. Office of Terrorist Financing and Financial Crime (TFFC): TFFC is responsible for the policy and strategy functions within TFI concerning money laundering.

FBI mempromosikan penyidikan dan penuntutan pencucian uang dalam keseluruhan penyidikan kwjahatan-kejahatan tersebut diatas. Selain itu. B. State Department/Departemen Luar Negeri The State Department mewakili pemerintah US dalam beberapa institusi multilateral. Asset Forfeiture and Money Laundering Section. dan the FATF. Department of Homeland Security. 4. the Drug Enforcement Administration (DEA) and the Bureau of Alcohol. terbagi dalam 40 organisasi terpisah. termasuk the UN 1267 Sanctions and CounterTerrorism Committees. . Sebagai tambahan. dan the U. Personil State Department berpartisipasi aktif dalam misi diplomatik multi-agency diplomatic terkait AML/CFT. DOJ dipimpin oleh Jaksa Agung. Tobacco. Criminal Division (AFMLS): The AFMLS adalah divisi kriminal dibawah DOJ untuk pelaksanaan perampasan aset dan penegakan hukum AML. Federal Bureau of Investigation (FBI): FBI adalah lembaga utama yang bertanggung jawab untuk menyidik kejahatan federal. antara lain: the FBI. Law Enforcement Agencies 1. C. 2. Marshals Services (USMS). termasuk mengkoordinasikan dan mereview pengajuan legistatif dan kebijakan yang berdampak pada program perampasan aset dan lembaga penegakan hukum pencucian uang. FBI terlibat dalam multi agency Joint Terrorism Task Forces (JTTF) yang bertanggung jawab untuk penyidikan terorisme dan pendanaan terorisme. AFMLS mengelola secara terpusat program perampasan aset DOJ dan menjamin maksimalnya potensi penegakan hukum.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme penyidikan dan penuntutan pencucian uang dan pendanaan terorisme di tingkat federal. Immigration and Customs Enforcement (ICE): ICE bertanggung jawab untuk melindungi US 56 . 3. Firearms and Explosives (ATF).S. Drug Enforcement Administration (DEA): The DEA bertanggung jawab untuk penyidikan perdagangan obat-obat terlarang.

Customer and Border Protection (CBP): CBP adalah lembaga perbatasan terpadu negara. 5. dan melindungi lintas batas negara. di dan antara pelabuhan masuk resmi. melarang.000 fasilitas perposan. Postal Inspection Service: The U. Postal Inspection Service dibebankan untuk menjaga lebih dari 200 milyar surat per tahun and melindungi lebih dari 700. Department of Homeland Security. 6. 3. Internal Revenue Service Criminal Investigation (IRS-CI): The IRS-CI menegakkan UU pencucian uang. dan menyidik ancaman ML/TF yang timbul dari perpindahan orang dan barang ke dalam dan ke luar wilayah US.000 kendaraan perposan. Federal laws: Ada 4 (empat) tindak pidana federal terkait pendanaan teroris dan organisasi teroris (1) 2339A–penyediaan dukungan 1 8 U S C ma t e r i a l u n t u k me l a k u k a n t i n d a k p i d a n a t e r t e n t u . mengawasi. yang bertugas untuk mengelola.S. a n d (3) ( C )1 8U S C2 3 3 9 C ( a ) me n y e d i a k a nd a n me n g u mp u l k a nd a n a t e r o r i s 57 . 38. Target IRS-CI adalah penyidikan highprofile money laundering. U. CBP bekerja sama dengan ICE untuk melakukan penyitaan baik uang tunai dan instrumen pembayaran moneter. 4.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme dan warga negaranya dengan menghalangi. (2) 1 8U S C2 3 3 9 B – me n y e d i a k a nd u k u n g a n ma t e r i a l a t a us u mb e r d a y a u n t u k d e s i g n a t e d F T O s . dan kejahatan perpajakan. khususnya yang secara langsung maupun tidak langsung meningkatkan kepatuhan terhadap perpajakan. Kriminalisasi Pendanaan terorisama (Criminalization of Terrorist Financing) a. pendanaan terorisme.000 pekerja perposan.2. 200.S. and milyaran dolar aset perposan.

me n y e d i a k a nd o k u me ny a n g me n u n j u k k a nb a h w a1 2 6 i n d i v i d ut e l a hd i t u n t u t d e n g a np i d a n a p e n d a n a a nt e r o r i s me ( c o n t o h : 1 8U S C2 3 3 9 A . “ t e r r o r i s t a c t i v i t y ”d a n“ f o r e i g nt e r r o r i s to r g a n i z a t i o n ”d i d e f i n i s i k a nd e n g a n me r u j u kp a d al e g i s l a s i l a i n .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me (4) 1 8U S C2 3 3 9 C ( c ) me n g a b u r k a na t a u me n y a ma r k a n ma t e r i a l b a i ku n t u kme n d u k u n gF T O sa t a ud a n ay a n gd i g u n a k a na t a u a k a n d i g u n a k a n u n t u k k e g i a t a n t e r o r i s . c. T e r r o r i s t a c t d i d e f i n i s i k a n d e n g a n me r u j u k / me n g a c u p a d a s e r a n g k a i a n t r e a t i e s y a n g d i i mp l e me n t a s i k a n o l e h t h e U . b .y a n gh a r u sp e r t a ma me mb u k t i k a nb a h w at e r d a k w a me l a k u k a nh a l y a n gd i l a r a n gd a l a m s a l a hs a t ud a r i 9i n t e r n a t i o n a l t r e a t i e s d a ns e l a n j u t n y a me mb u k t i k a nb a h w a b a g i a nd a r i t r e a t y t e l a h d i i mp l e me n t a s i k a n o l e h U . E f e k t i f i t a s tindak pidana pendanaan terorisme T h eU . 2 )L e b i h p e n t i n g l a g i . 2 3 3 9 B . C a t a t a n ME RA me r i k a S e r i k a t : 1 )K e s u l i t a n u t a ma d e n g a nk e t e n t u a nU S me n g e n a i p e n d a n a a nt e r o r i s me a d a l a h“ t i d a kma n d i r i ” . 3 )B a h k a nk e t e n t u a np e n d a n a a nt e r o r i s mey a n gt e r b a r ud a nt e r j e l a s ( 2 3 3 9 C ) t i d a k s e p e n u h n y a ma n d i r i d e n g a ne l e me nk u n c i t e r r o r i s t a c t . d a n2 3 3 9 C ) . 5 4i n d i v i d ut e l a hme n g a k ub e r s a l a ha t a ud i h u k u mk a r e n at e r b u k t i b a i k me l a n g g a r 1 8 U S C 2 3 3 9 Aa t a u p u n 2 3 3 9 B . 3 . D a r i 1 2 6y a n gd i t u n t u t t e r s e b u t . 3 . j a k s a p e n u n t u t u mu mt e l a h me n g k o n f i r ma s i b a h w a h a l t e r s e b u tme n a mb a hk e s u l i t a nd a l a mp e n u n t u t a n .T i d a ka d a i n f o r ma s i y a n g t e r s e d i a me n g e n a i a p a k a hn e g a r a b a g i a nl a i nme mi l i k i p e r a t u r a n me n g e n a i p e n d a n a a n t e r o r i s me . 58 . s e b a g a i ma n a h a k i md a nj u r i h a r u s d i p a n d uu n t u kme ma h a mi r a n t a i l e g i s l a s i y a n g k o mp l e k s d i s e b a b k a n me r u j u k p a d a l e g i s l a s i l a i n t e r s e b u t . S . S . K e b u t u h a nu n t u kr u j u k a ns i l a n gk e p a d a l e g i s l a s i l a i nme n y e b a b k a nk e s u l i t a nu n t u kme ma h a mi e l e me nt i n d a k p i d a n a p e n d a n a a n t e r o r i s me . P r o s e c u t o r s . K a t ak u n c i s e p e r t i “ t e r r o r i s t a c t ” . S .S t a t e l a w s : S e t i d a k n y a2 n e g a r ab a g i a nt e l a h me mb e r l a k u k a nt i n d a kp i d a n a p e n d a n a a nt e r o r i s me d i A r i z o n a d a nN e wY o r k .

c .U S me n g i mp l e me n t a s i k a n k e w a j i b a n t e r k a i ts a n k s ik e u a n g a n b e r d a s a r k a n U n i t e d N a t i o n s S e c u r i t y C o u n c i l R e s o l u t i o n S / R E S / 1 2 6 7 ( 1 9 9 9 ) d a nS / R E S / 1 3 7 3 ( 2 0 0 1 ) me l a l u i E x e c u t i v eO r d e r ( E O )1 3 2 2 4 .O F A Cb e r f u n g s i s e b a g a i p e n g a d mi n i s t r a s i d a np e l a k s a n as a n k s i E O 1 3 2 2 4t e r h a d a pt e r o r i sd a no r g a n i s a s i t e r o r i s . b .E O 1 3 2 2 4 me l a r a n g s e t i a po r a n g U S a t a ue n t i t a s u n t u k me l a k u k a nt r a n s a k s i d a n b e r h u b u n g a n d e n g a ni n d i v i d u d a ne n t i t a s y a n g d i mi l i k i a t a ud i k o n t r o l o l e h . “ B l o c k i n gP r o p e r t ya n dP r o h i b i t i n gT r a n s a c t i o n sw i t h P e r s o n sWh oC o mmi t . T h r e a t e nt oC o mmi t .E O1 3 2 2 4 . 4 .s e c a r as i s t e ma t i sd a ns t r a t e g i s . s e b a g a i ma n as a n k s i 59 parte t a n p a . P e n u n j u k a n / p e n a r g e t a ni n i h a n y a b e r l a k uu n t u ko r g a n i s a s i t e r o r i s . d e n g a nb e r k o n s u l t a s i p a d a D O J d a nt h eD H S .b e r t i n d a ku n t u kd a na t a sn a ma . u n t u k me n g i mp l e me n t a s i k a nk e w e n a n g a nP r e s i d e n u n t u k me mb e r a n t a s t e r o r i s . me mb e r i k a nw e w e n a n gk e p a d a S e c r e t a r i e s o f t h e T r e a s u r ya n dS t a t e . s e b a g a i r e s p o na t a ss e r a n g a nt e r o r i sp a d at a n g g a l 1 1 S e p t e mb e r 2 0 0 1 .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me 3 . o r a n g o r a n gy a n gd i d a f t a r d a l a mt h eE x e c u t i v eO r d e ra t a ud i t u n j u k / d i t a r g e t ( d e s i g n a t e d ) o l e h S e c r e t a r i e so f t h eT r e a s u r yd a nn e g a r ab a g i a nb e r d a s a r k a nd e f i n i s i t h eE x e c u t i v eO r d e r .s e c a r ak e u a n g a n . P e mb e k u a n D a n a Y a n g D i g u n a k a n U n t u k P e n d a n a a n T e r o r i s me a . S . y a n gt e l a hd i a ma n d e me n . D a f t a r F T Od i a d mi n i s t r a t i k a n o l e h S t a t e D e p a r t me n t / K e me n t e r i a n L u a r N e g e r i .s e c a r a t e k n o l o g i . P r e s i d e n tp a d at a n g g a l 2 3 S e p t e mb e r 2 0 0 1 .d a n j a r i n g a n p e n d u k u n gt e r o r i s . T h eE x e c u t i v eO r d e rj u g ame mb l o k i rs e mu a p r o p e r t i d a nb u n g a t e r k a i t p r o p e r t i d a r i o r a n g y a n g d i t u n j u k / d i t a r g e t d i U S .o r g a n i s a s it e r o r i s . a t a us e c a r ama t e r i a l me mb a n t ua t a ume n d u k u n g .P e n u n n j u k a n / p e n a r g e t a n d i l a k u k a n ex me mb e r i t a h u k a n k e p a d a p i h a k y a n g t e r l i b a t / t e r k a i t . o rS u p p o r t T e r r o r i s m” ( E O1 3 2 2 4 )y a n gd i k e l u a r k a no l e hU .D a f t a r O F A C ( y a n g d i a d mi n i s t r a s i k a n o l e h T r e a s u r y ) j u g a me ma s u k k a nF T O sy a n gd i s e b u tb e r d a s a r k a nB a g i a n2 1 9U U I mmi g r a t i o na n dN a t i o n a l i t yA c t d a nB a g i a n3 0 2U UA n t i t e r r o r i s m a n dE f f e c t i v eD e a t hP e n a l t y( A E D P A ) . d . a t a uh a l l a i ny a n gd i h u b u n g k a nd e n g a nS D G T s .

d a n i n d i v i d u s e r t a e n t i t a s t e r k a i t .S e t i a pi n s t i t u s ik e u a n g a nU Sy a n g me n g e n t a h u i me n g e n a i k e p e mi l i k a no r p e n g u a s a a nd a n ao l e hS D G Ta t a ua g e n n y a .T a r g e t E O1 3 2 2 4b u k a nh a n y a A l Q a i d a d a nT a l i b a n . me r e k ah a n y ad a p a td i l e p a s k a nh a n y ao l e ho t o r i s a s i s p e s i f i kd a r i T r e a s u r y . U s a ma b i n L a d e n . t h eF A R C . H i z b a l l a h .P e n u n j u k a n / p e n t a r g e t a ni n i me j a d i k a np e r b u a t a n me l a w a nh u k u m b a g i o r a n gy a n ga d ad i U Sa t a us u b j e ky a n gt u n d u kp a d ay u r i s d i k s i a p a b i l ab e r h u b u n g a nd e n g a no r a n gy a n gd i t u n j u k / d i t a r g e t . a t a ud i s e t o r k a ns e h u b u n g a nd e n g a n t r a n s a k s i d i ma n a e n t i t a s y a n g d i b l o k i r me mi l i k i k e p e n t i n g a n . e . h a r u s me l a p o r k a nk e p a d a O F A C . g . U mu mn y a .E O1 3 2 2 4 me me b e r i k a n w e w e n a n g k e p a d a p e me r i n t a h u n t u k : (1) Me n g i d e n t i f i k a s i d a nme n u n j u k / me n t a r g e t t e r o r i s d a ns t r u k t u r p e n d u k u n gy a n gb e r h u b u n g a nd e n g a no r g a n i s a s i t e r o r i s( t d a k t e r b a t a s . S a mp a i b u l a nJ u l i 2 0 0 5 . t e t a p i t e r ma s u k g r o u pt e r o r i s s e p e r t i H a ma s . y a n g d i k i r i mk a nk e a t a u me l a l u i e n t i t a sy a n gd i b l o k i r .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me e k o n o mi d a n p e r d a g a n g a n U S t e r h a d a p n e g a r a a s i n g y g d i t u n j u k / d i t a r g e t .P e n e g a kh u k u mO F A Cd a p a tme l a y a n i p e r mi n t a a nb l o k i rt e r h a d a p o r a n g y a n g d i t u n j u k / d i t a r g e t d i U S . f . T i n d a k a ni n i d a p a t me n y e b a b k a n k e ma t i a nme n y e l u r u hp a d a e n t i t a s t e r s e b u t d a np e n e mp a t a np r o p e r t i n of i n a n c i a ld a l a m p e n y i mp a n a np e r ma n e n . t a p i j u g a t e r ma s u kp i h a k p i h a ky a n gd i t a r g e t / d i t u n j u k U N1 2 6 7C o mmi t t e ed a nb e r h u b u n g a nd e n g a nA l Q a i d a . p e n g e d a ro b a t o b a tt e r l a r a n gi n t e r n a s i o n a l . d a n t h e T a l i b a n ) . S e k a l id a n ad i b l o k i r . d a n o r a n g y a n g t e r l i b a t d a l a ms e n j a t a p r o l i f e r a s i . h .y a n g d i s e b u tS D G T . 4 3 8o r a n gt e l a hd i t u n j u k / d i t a r g e t 60 . t h eR e a l I R A . l e mb a g a k e u a n g a nd i U S h a r u s me mb l o k i r a t a ume mb e k u k a nd a n ay a n gd i s e t o r k a no l e ha t a u a t a s n a ma i n d i v i d ua t a ue n t i t a s y a n g d i b l o k i r . (3) Me mi n t ao r a n gU Su n t u kme mb l o k i ra s e ty a n gb e r h u b u n g a n d e n g a np i h a ky a n gd i t u n j u k / d i t a r g e t d a nme l a p o r k a nk e g i a t a n t e r s e b u t k e p a d a O F A C . (2) Me l a r a n go r a n gU Su n t u k me mi l i k ih u b u n g a nd e n g a np i h a k p i h a k y a n g d i t u n j u k / d i t a r g e t t e r s e b u t .

T i d a n k a nme mb l o k i r s e s u a i d e n g a nE O1 3 2 2 4b e r l a k uu n t u ks e mu a p r o p e r t i d a n“ b u n g a / k e p e n t i n g a nd a l a mp r o p e r t i ” y a n g ma s u kk e U S a t a ua k a nma s u kk e U S . j . 61 . S e b a g a i k o n s e k u e n s i n y a . k a r e n aU Sme mp e r t i mb a n g k a nb a h w a t i d a kt e r d a p a t i d e n t i f i k a s i d a ni n f o r ma s i y a n gc u k u pu n t u kme mb u a t p e n d a f t a r a n / l i s t i n g n a ma n a ma t e r s e b u t s e c a r a o p e r a s i o n a l k o n s t r u k t i f .I s t i l a h“ “ b u n g a / k e p e n t i n g a n d a l a m p r o p e r t i ”a r t i n y as e t i a pb u n g a . h a n y a1o r a n gd a r i 1 4 3n a ma T a l i b a nd i t e mp a t k a nd a l a m d a f t a rO F A C . i . D e f i n i s y a n g l u a s d a r i “ b u n g a / k e p e n t i n g a nd a l a m p r o p e r t i ” d a p a t me mp e n g a r u h i s e b a g i a n b e s a r p r o d u kd a nj a s ay a n gd i s e d i a k a no l e hi s n t i t u s i k e u a n g a ny a n g b e r l o k a s id iU Sa t a ud i s e l e n g g a r a k a nb e r d a s a r k a nh u k u m U S .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me s e j a kp e r mu l a a np r o g r a mt e r o r i s meb e r d a s a r k a nE O1 3 2 2 4 .b a i kl a n g s u n g ma u p u nt i d a kl a n g s u n g .k a r e n ak e k h a w a t i r a n me n i mb u l k a n e f e k k o n t r a p r o d u k t i fk a r e n a k e b i n g u n g a n d a n k e t i d a k p a s t i a nd a l a md a f t a r t e r s e b u t b i s ame n y e b a b k a nb l o k i r y a n g t i d a k a d i l . d i b a y a r . D . 3 0 6 ) . k e p e n t i n g a nd a l a ms e g a l a b e n t u k . d i e k s p o r . a t a ud i t a n g a n i t a n p a p e r s e t u j u a n l b i h d u l u d a r i O F A C .T i d a ks e mu ao r a n ga t a ue n t i t a sy a n gd i t u n j u k / d i t a r g e t b e r d a s a r k a n S / R E S / 1 2 6 7 ( 1 9 9 9 )d a nS / R E S / 1 3 7 3 ( 2 0 0 1 )d i t e r i mao l e hU Su n t u k d i ma s u k k a nd a l a mE O1 3 2 2 4 . p r o p e r t iy a n gd i b l o k i rt i d a kd a p a t d i a l i h k a n . d i t a r i k . h a mp i r 3 3 0 o r a n g d i t a r g e t / d i t u n j u k b a i k s e c a r a b i l a t e r a l ma u p u n me l a l u i U N .s e b a g i a na t a u k e s e l u r u h a n n y a ( C F R 5 9 4 . t e r ma s u k c a b a n gl u a rn e g e r i . a t a uy a n gs e t e l a hma s u kk eU Sme j a d i mi l i k a t a ud i b a w a hk e k u a s a a n wa r g aU S . Kajian Terhadap Implikasi Penerapan Sistem Baru yang akan Diatur Dalam UU terhadap Aspek Kehidupan Masyarakat dan Dampaknya terhadap Keuangan Negara § Me n g a t u r t e n t a n g b e n t u kp e l a n g g a r a nb a g i s e t i a po r a n gy a n g ” me n y e d i a k a n d a n a ” u n t u k s e s e o r a n g a t a ub a d a nh u k u my a n g t e r d a p a t d a l a md a f t a r t e r o r i s me n u r u t R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B B1 2 6 7 .

§ I n d o n e s i ab e l u m me mi l i k ih u k u m a t a up r o s e d u ry a n ge f e k t i fu n t u k me mb e k u k a na s e t a s e tt e r o r i sl a i n n y ad a r ip i h a k p i h a ky a n g me mb i a y a i t e r o r i s med a no r g a n i s a s i o r g a n i s a s it e r o r i s” t a n p ap e n u n d a a nd a nt a n p a p e mb e r i t a h u a n ”s e b e l u mn y as e p e r t i y a n gd i p e r s y a r a t k a nF A T F . § Me n s y a r a t k a nb a h w at i n d a kp i d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s meh a r u sd i k a i t k a n d e n g a n a d a n y a a k s i t e r o r i s me t e r t e n t u . I n d o n e s i a s e l a mai n i me n g a n d a l k a np r o s e sp e n y e l i d i k a nd a nl a n g k a h l a n g k a hy a n g d i a t u r d a l a mK U H A Pu n t u kme mb e k u k a na s e t e n t i t a s e n t i t a s y a n gt e r d a f t a r d a l a mD a f t a rt e r o r i ss e b a g a i ma n aconsolidated list United Nations Security Council Resolution ( U N S C R ) 1 2 6 7 . § Me n g a t u r a n s e c a r a t e g a s a g a r p i h a k y a n g b e r w e n a n g d a p a t me mp e r t i mb a n g k a nu n t u kme n g a d o p s i s e b u a hp e n d e k a t a nd i ma n as e l u r u h d a k w a a nt e n t a n gt i n d a kp i d a n ap e mb i a y a a nt e r o r i s mei n ih a r u sb e r u p a d a k w a a nk u mu l a t i f y a n gme me r l u k a ns a t up u t u s a nk h u s u su n t u kt i n d a k p i d a n a p e n d a n a a n t e r o r i s me . § Me n g a t u r a nu n t u kp e n d a n a a na t a s t e r o r i s p e r o r a n g a nd a np e n y e d i a a nh a r t a k e k a y a a n u n t u k o r g a n i s a s i t e r o r i s . § Me n c a n t u mk a nu n s u r” a l a s a ny a n gk u a t u n t u kme y a k i n i a t a uu n s u r u n s u r l a i n ” y a n ga k a nme n d u k u n gp e mb u k t i a nb e r d a s a r k a nk e j a d i a ny a n gf a k t u a l d a n o b j e k t i f . k a r e n ab a g i I n d o n e s i a . t e r ma s u k h u k u ma nd e n d a b a g i s u b j e kh u k u mp e r o r a n g a nd a nh u k u ma na d mi n i s t r a t i f y a n g e f e k t i f b a g i k o r p o r a s i . H a l i n ih a r u s h a r u s d i p a s t i k a n u n t u k me n c e g a h k e t i mp a n g a n t e r k a i td e n g a n k e t e n t a u n me n g e n a i t a n g g u n g j a w a b p i d a n a k o r p o r a s i d a p a t d i a t a s i . § Me n g a t u r t e n t a n g t a n g g u n g j a w a bk o r p o r a s i . p r o p o r s i o n a l d a np r e v e n t i f . t e r d a f t a rs e b a g a i 62 . § Me n g a t u r a np e n g u mp u l a nd a np e n y e d i a a nh a r t ak e k a y a a nb a i ks e c a r a l a n g s u n g d a n t i d a k l a n g s u n g . § Me n j a t u h a nh u k u ma nh a r u se f e k t i f .a t a u b e r k o n t r i b u s id a l a m p e l a k s a n a a na n t it e r o r i s me y a n gd i l a k u k a no l e h s e k e l o mp o ko r a n gd e n g a n t u j u a n u n t u k me mb a n t u k e l a n c a r a n a k s i t e r o r i s me .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me § Me n g a t u r a np e mi d a n a a nu n t u ks e t i a po r a n gy a n gme r e n c a n a k a nd a n / a t a u me n g g e r a k k a n o r a n g l a i n u n t u k me l a k u k a n a k s it e r o r i s me .

K e c i l k e mu n g k i n a nu n t u k d a p a tme n e r a p k a nk e t e n t u a ni n iu n t u kh a r t ak e k a y a a ns e s e o r a n gy a n g mu n g k i n t e l a h me l a k u k a na k s i t e r o r i s me . a t a ud a l a mp r o s e s me n j u a l b a r a n g c u r i a nt e r s e b u t . U UT i n d a kP i d a n a T e r o r s i me .D e n g a nd e mi k i a nt i d a ka d a k e w e n a n g a nu n t u kme n y i t ah a r t ak e k a y a a nh a n y aa t a sd a s a rb a h w ah a r t a k e k a y a a nt e r s e b u t me r u p a k a nh a kmi l i kd a r i s e b u a he n t i t a s a t a uk e l o mp o k t e r o r i s .K e k u a s a a nu mu m u n t u k me n y i t a s e p e r t i y a n gd i a t u rd a l a mP a s a l 3 8 4 9K U H P me n g a t u rb a h w ap e n y i t a a n h a n y ad i b a t a s i p a d ab a r a n g b a r a n gy a n gd i d u g ame r u p a k a nb a r a n gc u r i a n . a t a uU UT P P U ) d a l a m me me r i n t a h k a np e mb l o k i r a na k u nb a n ks e t i a po r a n ga t a uk o r p o r a s i y a n g d i d u g a t e r k a i t d e n g a n a k s i t e r o r i s me .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me t e r o r i sb e l u md a p a t d i j a d i k a nd a s a ru n t u kd i l a k u k a n n y ap e mb e k u a na t a u p e mb l o k i r a n( freezing without delay) . 63 . d i l u a r k o n t e k s t i n d a k p i d a n a t e r o r i s me t e r t e n t u . § Me n g a t u ra d ak e j e l a s a nb a g i P o l r i u n t u kme n g g u n a k a nd a s a rh u k u ma p a ( a p a k a hme n g g u n a k a nK U H A P . § T i d a k me mb e n t u kl e mb a g ab a r u me l a i n k a n me n d u k u n gl e b i he f e k t i f t e r h a d a p l e mb a g a y a n g k e b e r a d a a n n y a s u d a h d i a k u i s e l a ma i n i . P a s a l 3 8 4 9j u g a t i d a k me mb e r i k a n k u a s au n t u kme n y i t ah a r t ak e k a y a a nt a n p ad i d a h u l u i a d a n y ak e c u r i g a a n b a h w as u a t ut i n d a kp i d a n at e l a ht e r j a d i . s e b e l u mp e r i n t a h p e mb e k u a n d a p a t d i k e l u a r k a n . § Me n g a t u rS y a r a tp e mb u k t i a nu n s u r” d i k e t a h u i a t a ud i d u g ak e r a sd e n g a n a l a s a ny a n gc u k u p ” y a n gd i a t u r d a l a mP a s a l 2 9U UP e mb e r a n t a s a nT i n d a k P i d a n aT e r o r i s mei n i t e r l a l ut i n g g i u n t u kd i p e n u h ik e t i k as e d a n gd a l a m p r o s e s me n g u mp u l k a n i n f o r ma s i me n g e n a ik a s u s k a s u s p e mb i a y a a n t e r o r i s me i n i .

D i s a mp i n g .p e r ma s a l a h a n t e r o r i s me d a nk h u s u s n y ap e n d a n a a nt e r o r i s me t e l a hb e r k e mb a n gs e ma k i n k o mp l e k ss e i r i n gd e n g nt r e n dt e r o r i s mey a n gt e r j a d i d a l a mt i n g k a t n a s i o n a l . t e r n y a t a j u g a me mu n c u l k a nk e g i a t a nt e r o r i s me d e n g a ns t r a t e g i d a nt a k t i ky a n gb a r u . S e b a g a i ma n at e l a hd i k e mu k a k a nd a l a ml a t a rb e l a k a n gd ia t a s . ma ut i d a kma ud a n t i d a kd a p a td i l e p a s k a nu n t u k me n g g u n a k a nr u j u k a nK o n v e n s iI n t e r n a s i o n a l P e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a nT e r o r i s me . y a k n iu n d a n g u n d a n gt e n t a n g p e mb e r a n t a s a nt e r o r i s me d i n i l a i b e l u ms e c a r a k o mp r e h e n s i f me n g a t u r t e n t a n g 64 . s e r t aU n d a n g–U n d a n gN o mo r1t a h u n2 0 0 6t e n t a n gB a n t u a nT i mb a l B a l i k D a l a m Ma s a l a hP i d a n ap e r l ud i p e r h a t i k a ns e b a g a ir u j u k a n . d a l a mr a n g k a me n y u s u nn a s k a h a k a d e mi kt e n t a n gp e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me . d a p a t d i l i h a t u r g e n s i u n t u ks e g e r ad i b e n t u k n y ap e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a ny a n g s e c a r ak o mp r e h e n s i f me n g a t u rt e n t a n gp e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me . B e r k a i t a n d e n g a n h a l h a l t e r s e b u t d i a t a s . u n d a n g u n d a n gy a n gt e r k a i t s e p e r t i P e r p uN o mo r 1t a h u n2 0 0 2j o U n d a n gU n d a n gN o mo r 1 5t a h u n2 0 0 3d a nU n d a n gU n d a n gN o mo r 8t a h u n 2 0 1 0t e n t a n gP e n c e g a h a nd a nP e mb e r a n t a s a nT i n d a kP i d a n aP e n c u c i a nU a n g .1 9 9 9 s a mp a is a a ts e k a r a n gi n i .1 9 9 9y a n gs u d a h me n j a d ih u k u m n a s i o n a lme l a l u ir a t i f i k a s io l e hU n d a n g–U n d a n gN o mo r6 t a h u n2 0 0 6 . U p a y ap e mb e r a n t a s a nt e r o r i s meo l e hn e g a r a n e g a r a d i d u n i a . me me r l u k a n s i n k r o n i s a s id a n h a r mo n i s a s id i a n t a r a b e r b a g a i p e r u n d a n g u n d a n g a n y a n g t e r k a i t .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me BAB III EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT A . a g a rp e r u mu s a n u n d a n g u n d a n gy a n ga k a nd i s u s u ni n i t i d a ks a l i n gt u mp a n gt i n d i ha t a us a l i n g b e r t e n t a n g a n s a t u d e n g a n y a n g l a i n . r e g i o n a l ma u p u ni n t e r n a s i o n a l . H u k u m n a s i o n a ly a n gs e l a ma i n id i g u n a k a n . K e b i j a k a nk r i mi n a l i s a s i me l a l u i p e mb e n t u k a nu n d a n g u n d a n g . Kondisi Hukum Yang Ada K o n v e n s ii n t e r n a s i o n a lP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me . s e l a ma l e b i h1 1( s e b e l a s )t a h u n .

P e mb e r a n t a s a nt e r o r i s meme mb a t a s i u n s u rp e n g e t a h u a nd e n g a nu n s u r ” d e n g a ns e n g a j a ”s a j an a mu nt i d a kme n c a n t u mk a nu n s u r” a l a s a ny a n g k u a tu n t u k me y a k i n ia t a uu n s u r u n s u rl a i n ”y a n ga k a n me n d u k u n g p e mb u k t i a n b e r d a s a r k a n k e j a d i a n y a n g f a k t u a l d a n o b j e k t i f . 2. s e d a n g k a nd a l a mU Ut e n t a n gP e mb e r a n t a s a nT i n d a kP i d a n aT e r o r i s me d i a t u r t e n t a n g t a n g g u n g j a w a bk o r p o r a s i . 5.L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me p e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me d a nma s i hme mi l i k i b a n y a k k e k u r a n g a nd i a n t a r a n y a : 1. b a i kb e r u p a s e k e l o mp o ko r a n g . Ma s i hme n s y a r a t k a nb a h w at i n d a kp i d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s meh a r u s d i k a i t k a n d e n g a n a d a n y a a k s i t e r o r i s me t e r t e n t u . H a l i n ih a r u s h a r u s d i p a s t i k a n u n t u k me n c e g a hk e t i mp a n g a nt e r k a i td e n g a nk e t e n t a u n me n g e n a i t a n g g u n g j a w a b p i d a n a k o r p o r a s i d a p a t d i a t a s i . B e l u ma d ap e n g a t u r a nu n t u kp e n d a n a a na t a st e r o r i sp e r o r a n g a nd a n p e n y e d i a a n h a r t a k e k a y a a n u n t u k o r g a n i s a s i t e r o r i s . B e l u ma d ap e n g a t u r a nt e n t a n gb e n t u kp e l a n g g a r a nb a g i s e t i a po r a n g y a n g” me n y e d i a k a nd a n a ”u n t u ks e s e o r a n ga t a ub a d a nh u k u m y a n g t e r d a p a t d a l a md a f t a rt e r o r i sme n u r u t R e s o l u s i D e w a nK e a ma n a nP B B 1 2 6 7 . D a l a mK U H Pt i d a kd i k e n a l t a n g g u n gj a w a bp i d a n au n t u ks u b j e kh u k u m j a ma k . 6. 4. 3. k o r p o r a s i ma u p u nn o nk o r p o r a s i . P e n j a t u h a nh u k u ma nh a r u s e f e k t i f . B e l u m a d ap e n g a t u r a nu n t u kp e n g u mp u l a nd a np e n y e d i a a nh a r t a k e k a y a a n b a i k s e c a r a l a n g s u n g d a n t i d a k l a n g s u n g . a t a ub e r k o n t r i b u s i d a l a mp e l a k s a n a a na n t i t e r o r i s mey a n g d i l a k u k a no l e hs e k e l o mp o ko r a n gd e n g a nt u j u a nu n t u k me mb a n t u k e l a n c a r a n a k s i t e r o r i s me . 7. 8. t e r ma s u k h u k u ma n d e n d a b a g is u b j e k h u k u m p e r o r a n g a n d a n h u k u ma n a d mi n i s t r a t i f y a n g e f e k t i f b a g i k o r p o r a s i . 9. p r o p o r s i o n a l d a np r e v e n t i f . B e l u ma d ap e n g a t u r a ns e c a r at e g a sa g a rp i h a ky a n gb e r w e n a n gd a p a t me mp e r t i mb a n g k a nu n t u k me n g a d o p s is e b u a hp e n d e k a t a nd i ma n a s e l u r u hd a k w a a nt e n t a n gt i n d a kp i d a n a p e mb i a y a a nt e r o r i s me i n i h a r u s 65 . B e l u m a d a p e n g a t u r a n p e mi d a n a a n u n t u k s e t i a p o r a n g y a n g me r e n c a n a k a nd a n / a t a ume n g g e r a k k a no r a n g l a i nu n t u k me l a k u k a na k s i t e r o r i s me .

U UT i n d a kP i d a n aT e r o r s i me . K e k u a s a a nu mu mu n t u kme n y i t as e p e r t i y a n gd i a t u r d a l a mP a s a l 3 8 4 9 K U H P me n g a t u rb a h w ap e n y i t a a nh a n y ad i b a t a s i p a d ab a r a n g b a r a n g y a n g d i d u g a me r u p a k a n b a r a n g c u r i a n . I n d o n e s i ab e l u m me mi l i k ih u k u m a t a up r o s e d u ry a n ge f e k t i fu n t u k me mb e k u k a na s e t a s e t t e r o r i s l a i n n y a d a r i p i h a k p i h a ky a n gme mb i a y a i t e r o r i s me d a no r g a n i s a s i o r g a n i s a s i t e r o r i s ” t a n p a p e n u n d a a nd a nt a n p a p e mb e r i t a h u a n ” s e b e l u mn y a s e p e r t iy a n g d i p e r s y a r a t k a n F A T F .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me b e r u p a d a k w a a nk u mu l a t i f y a n g me me r l u k a ns a t up u t u s a nk h u s u s u n t u k t i n d a k p i d a n a p e n d a n a a n t e r o r i s me . 10. P a s a l 3 8 4 9j u g a t i d a k me mb e r i k a nk u a s a u n t u k me n y i t a h a r t a k e k a y a a nt a n p a d i d a h u l u i a d a n y a k e c u r i g a a nb a h w a s u a t ut i n d a kp i d a n a t e l a ht e r j a d i . a t a uU UT P P U ) d a l a m me me r i n t a h k a np e mb l o k i r a na k u nb a n k s e t i a po r a n g a t a uk o r p o r a s i y a n g d i d u g a t e r k a i t d e n g a n a k s i t e r o r i s me . K e c i l k e mu n g k i n a nu n t u kd a p a t me n e r a p k a nk e t e n t u a n i n i u n t u kh a r t a k e k a y a a ns e s e o r a n gy a n gmu n g k i nt e l a hme l a k u k a na k s i t e r o r i s me . d i l u a r k o n t e k s t i n d a k p i d a n a t e r o r i s me t e r t e n t u . 66 . k a r e n ab a g i I n d o n e s i a . D e n g a nd e mi k i a nt i d a ka d ak e w e n a n g a nu n t u kme n y i t a h a r t ak e k a y a a nh a n y aa t a sd a s a rb a h w ah a r t ak e k a y a a nt e r s e b u t me r u p a k a nh a kmi l i kd a r i s e b u a he n t i t a sa t a uk e l o mp o kt e r o r i s . s e b e l u mp e r i n t a h p e mb e k u a n d a p a t d i k e l u a r k a n . S y a r a tp e mb u k t i a nu n s u r” d i k e t a h u i a t a ud i d u g ak e r a sd e n g a na l a s a n y a n g c u k u p ” y a n g d i a t u r d a l a mP e mb e r a n t a s a nT i n d a kP i d a n a T e r o r i s me i n it e r l a l u t i n g g iu n t u k d i p e n u h ik e t i k a s e d a n g d a l a m p r o s e s me n g u mp u l k a ni n f o r ma s i me n g e n a i k a s u s k a s u sp e mb i a y a a nt e r o r i s me i n i . a t a u d a l a mp r o s e s me n j u a l b a r a n g c u r i a nt e r s e b u t . t e r d a f t a rs e b a g a i t e r o r i sb e l u md a p a t d i j a d i k a nd a s a ru n t u k d i l a k u k a n n y ap e mb e k u a na t a up e mb l o k i r a n( freezing without delay) . B e l u ma d ak e j e l a s a nb a g iP o l r iu n t u k me n g g u n a k a nd a s a rh u k u ma p a ( a p a k a hme n g g u n a k a nK U H A P . 11. I n d o n e s i as e l a mai n i me n g a n d a l k a np r o s e sp e n y e l i d i k a nd a nl a n g k a h l a n g k a hy a n gd i a t u rd a l a mK U H A Pu n t u k me mb e k u k a na s e te n t i t a s e n t i t a s y a n g t e r d a f t a r d a l a mD a f t a r t e r o r i s s e b a g a i ma n a consolidated list United Nations Security Council Resolution ( U N S C R )1 2 6 7 .

R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o . R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o . 2000. 13. 67 . 1. 18. 1997. 1970. 19. 4. 11. Treaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters. U n d a n g U n d a n g R IN o mo r 5 T a h u n 2 0 0 6 T e n t a n g P e n g e s a h a n International Convention for the Suppression of Terrorist Bombing. 7. U n d a n g U n d a n gR IN o mo r5 T a h u n2 0 0 9t e n t a n gP e n g e s a h a n United Nations Convention Against Transnational Organized Crime. 16. 17. FATF 40+9 recommendations. Convention for the Suppression of Unlawful Seizure of Aircraft. U n d a n g U n d a n g R I N o mo r 6T a h u n2 0 0 6t e n t a n g P e n g e s a h a n International Convention For The Suppression Of The Financing Of Terrorism. 1 4 2 5 . International Convention for the Suppression of Terrorist Bombing. R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o . 1 3 3 3 . 2000. 1 9 9 7 . 1 9 0 4 . Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation. R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o . 3. R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o mo r 1 2 6 7 . 1 3 7 3 . 10. 1973. 2. 14. 5. U n d a n g U n d a n gR I N o mo r 1 5T a h u n2 0 0 8t e n t a n gP e n g e s a h a nTreaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters. R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o . including Diplomatic Agents. Keterkaitan dengan Peraturan Perundang-undangan lain. U n d a n g U n d a n gN o mo r1 5T a h u n2 0 0 3t e n t a n gP e n e t a p a nP e r a t u r a n P e me r i n t a hP e n g g a n t iU n d a n g U n d a n gN o mo r1 T a h u n2 0 0 2T e n t a n g P e mb e r a n t a s a n T i n d a k P i d a n a T e r o r i s me . U n d a n g U n d a n g N o mo r 8 T a h u n 2 0 1 0 t e n t a n g P e n c e g a h a n d a n P e mb e r a n t a s a n T i n d a k P i d a n a P e n c u c i a n U a n g .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me B . 1999. Convention on the Prevention and Punishment of Crimes against Internationally Protected Persons. 2004. 8. 21. International Convention for The Suppression of The Financing of Terrorism. 1 9 8 8 / 1 9 8 9 . 6. 15. 12. R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o mo r 1 3 7 2 . 2004. 1971. 1999. 9. 20. United Nations Convention Against Transnational Organized Crime.

International Convention against the Taking of Hostages. Anti Money Laundering and Counter-Terrorism Financing Act 2006 (Australia). U n d a n g U n d a n gR IN o mo r5 T a h u n2 0 0 9t e n t a n gP e n g e s a h a n United Nations Convention Against Transnational Organized Crime. 31. Protocol for the Suppression of Unlawful Acts of Violence at Airports Serving International Civil Aviation 1988. 2000. 1999. Harmonisasi Secara Vertikal Dan Horizontal. Protocol for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of /Fixed Platforms located on the Continental Shelf. U n d a n g U n d a n g R IN o mo r 5 T a h u n 2 0 0 6 T e n t a n g P e n g e s a h a n International Convention for the Suppression of Terrorist Bombing. 5. 29. U n d a n g U n d a n g R I N o mo r 6T a h u n2 0 0 6t e n t a n g P e n g e s a h a n International Convention For The Suppression Of The Financing Of Terrorism. 1988. U n d a n g U n d a n gN o mo r1 5T a h u n2 0 0 3t e n t a n gP e n e t a p a nP e r a t u r a n P e me r i n t a hP e n g g a n t iU n d a n g U n d a n gN o mo r1 T a h u n2 0 0 2T e n t a n g P e mb e r a n t a s a n T i n d a k P i d a n a T e r o r i s me . 4. Freezing of Terrorist Asset (Australia) Charter of the United Nations Act 1945. Convention for the Suppression of Unlawful Acts at Airports Serving International Civil Aviation. U n d a n g U n d a n gR I N o mo r 1 5T a h u n2 0 0 8t e n t a n gP e n g e s a h a nTreaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters. 1988. 6. 3.L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me 22. 1988. 23. 1979. 1. U n d a n g U n d a n g D a s a r N e g a r a R e p u b l i k I n d o n e s i a 1 9 4 5 . 1 9 9 7 . Combating the Financing of People Smuggling and other Measure Act (Australia). 68 . 30. 27. 26. supplementary to the Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation. 24. 2. 28. C. 25. 2004. Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Maritime Navigation. KUHP Australia.

D. U n d a n g U n d a n g N o mo r 8 T a h u n 2 0 1 0 t e n t a n g P e n c e g a h a n d a n P e mb e r a n t a s a n T i n d a k P i d a n a P e n c u c i a n U a n g . Status Peraturan Perundang-undangan yang ada.L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me 7. d i p e r i k s ad a nd i p u t u sb e r d a s a r k a nk e t e n t u a nd a l a m P e r a t u r a n P e me r i n t a hP e n g g a n t i U n d a n g U n d a n gN o mo r1T a h u n2 0 0 2t e n t a n gT i n d a k P i d a n aT e r o r i s me( L e mb a r a nN e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i aT a h u n2 0 0 2N o mo r 1 0 6 . T a mb a h a nL e mb a r a nN e g a r a R e p u b l i kI n d o n e s i a N o mo r 4 2 8 4 ) y a n gd i l a k u k a ns e b e l u mb e r l a k u n y aU n d a n g U n d a n gi n i . T a mb a h a nL e mb a r a nN e g a r aR e p u b l i k I n d o n e s i a N o mo r 4 2 3 2 ) s e b a g a i ma n a t e l a hd i t e t a p k a nme n j a d i U n d a n g U n d a n g N o mo r1 5T a h u n2 0 0 3t e n t a n gP e n e t a p a nP e r a t u r a nP e me r i n t a hP e n g g a n t i U n d a n g U n d a n gN o mo r1 T a h u n2 0 0 2 me n j a d iU n d a n g U n d a n g( L e mb a r a n N e g a r a R e p u b l i k I n d o n e s i a T a h u n2 0 0 3N o mo r 4 5 .T a mb a h a nL e mb a r a nN e g a r aR e p u b l i k I n d o n e s i a N o mo r 4 2 8 4 ) . termasuk Peraturan Perundang-undangan yang dicabut dan dinyatakan tidak berlaku serta Peraturan Perundang-undangan yang masih tetap berlaku karena tidak bertentangan dengan Undang-Undang yang baru. T i n d a kP i d a n aT e r o r i s met e r k a i t d e n g a np e l a n g g a r a nP a s a l 1 1 . P a s a l 1 3 h u r u f a . T a mb a h a nL e mb a r a nN e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i aN o mo r 4 2 3 2 ) y a n gt e l a h d i t e t a p k a nme n j a d i U n d a n g U n d a n gd e n g a nU n d a n g U n d a n gN o mo r1 5T a h u n 2 0 0 3t e n t a n gP e n e t a p a nP e r a t u r a nP e me r i n t a hP e n g g a n t iU n d a n g U n d a n g N o mo r1 T a h u n2 0 0 2 me n j a d iU n d a n g U n d a n g( L e mb a r a nN e g a r aR e p u b l i k I n d o n e s i aT a h u n2 0 0 3N o mo r4 5 . 69 . d a nP a s a l 1 4P e r a t u r a nP e me r i n t a hP e n g g a n t i U n d a n g U n d a n g N o mo r 1 T a h u n2 0 0 2t e n t a n gT i n d a kP i d a n aT e r o r i s me( L e mb a r a nN e g a r aR e p u b l i k I n d o n e s i aT a h u n2 0 0 2N o mo r1 0 6 .

p e r d a ma i a nd u n i as e r t ame r u g i k a n k e s e j a h t e r a a n ma s y a r a k a ts e h i n g g ap e r l ud i l a k u k a np e mb e r a n t a s a ns e c a r a t e r e n c a n ad a nb e r k e s i n a mb u n g a ns e h i n g g ah a ka s a s io r a n gb a n y a kd a p a t d i l i n d u n g i d a n d i j u n j u n g t i n g g i .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me BAB IV LANDASAN FILOSOFIS. P e n j a b a r a nn i l a i n i l a i P a n c a s i l a d i d a l a mh u k u m me n c e r mi n k a ns u a t uk e a d i l a n . p e r d a ma i a na b a d i d a nk e a d i l a ns o s i a l . d a nk e s e j a h t e r a a ny a n gd i i n g i n k a n o l e h ma s y a r a k a tI n d o n e s i a .me ma j u k a nk e s e j a h t e r a a nu mu m. Landasan Sosiologis Ma s y a r a k a t I n d o n e s i a d a nma s y a r a k a t d u n i a s a a t i n i s e d a n gd i h a d a p k a n p a d ak e a d a a ny a n gs a n g a tme n g k h a w a t i r k a na k i b a tma r a k n y aa k s it e r o r . R a n g k a i a np e r i s t i w ap e mb o ma ny a n gt e r j a d id iw i l a y a hN e g a r aR e p u b l i k 70 .p e me r i n t a hw a j i b me me l i h a r ad a n me n e g a k k a nk e d a u l a t a nd a nme l i n d u n g i s e g e n a pw a r g an e g a r a n y ad a r i s e t i a p a n c a ma na t a ut i n d a k a nd e s t r u k t i fb a i kd a r id a l a mn e g e r i ma u p u nd a r i l u a r n e g e r i .R u mu s a nP a n c a s i l ay a n gt e r d a p a td id a l a m P e mb u k a a n( preambule)U n d a n g U n d a n gD a s a rN e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i a t a h u n1 9 4 5( U U D1 9 4 5 )t e r d i r i d a r i e mp a te l i n e a . ma k a mu t l a k d i p e r l u k a np e n e g a k a nh u k u md a nk e t e r t i b a ns e c a r a k o n s i s t e nd a n b e r k e s i n a mb u n g a n . T e r o r i s meme r u p a k a nk e j a h a t a nt e r h a d a pk e ma n u s i a a nd a np e r a d a b a n s e r t ame r u p a k a ns a l a hs a t ua n c a ma ns e r i u s t e r h a d a pk e d a u l a t a ns e t i a pn e g a r a k a r e n at e r o r i s mes u d a hme r u p a k a nk e j a h a t a ny a n gb e r s i f a t i n t e r n a s i o n a l y a n g me n i mb u l k a nb a h a y at e r h a d a pk e a ma n a n . k e t e r t i b a n . A l i n e ak e e mp a tme mu a t r u mu s a nt u j u a nn e g a r a I n d o n e s i a a d a l a hme l i n d u n g i s e g e n a pb a n g s a I n d o n e s i a d a ns e l u r u ht u mp a hd a r a hI n d o n e s i a . SOSIOLOGIS DAN YURIDIS A. B. me n c e r d a s k a nk e h i d u p a nb a n g s ad a ni k u t s e r t ad a l a m me me l i h a r ak e t e r t i b a n d u n i ay a n gb e r d a s a r k a nk e me r d e k a a n . Landasan Filosofis D a s a r f i l o s o f i s a d a l a hp a n d a n g a nh i d u pb a n g s a I n d o n e s i a d a l a mb e r b a n g s a d a nb e r n e g a r a . U n t u k me n c a p a it u j u a nt e r s e b u t . y a i t uP a n c a s i l a .

a p a r a t p e n e g a kh u k u m.p e n y i t a a nd a np e r a mp a s a na s e ty a n gt e r k a i td e n g a n t e r o r i s me . d a nh u b u n g a n i n t e r n a s i o a n l . s e h i n g g a me n i mb u l k a n d a mp a ky a n gl u a s t e r h a d a pk e h i d u p a ns o s i a l . k a r e n a s u a t uk e g i a t a nt e r o r i s met i d a kmu n g k i nd a p a t d i l a k u k a nt a n p aa d a n y ap e l a k u t e r o ry a n gb e r p e r a ns e b a g a ip e n y a n d a n gd a n au n t u kk e g i a t a nt e r o r i s me t e r s e b u t . 71 .p r i n s i pu t a ma d a l a m me me r a n g it e r o r i s me a d a l a h b a g a i ma n ame mu t u sma t ar a n t a i p e n d a n a a nu n t u kme n g u r a n g i k e ma mp u a n t e r o r i sd a l a m me l a k u k a nt i n d a k a n n y a . Me l a l u i me k a n i s mefollow the money d e n g a nme n e l u s u r i a l i r a nd a n ame l a l u i t r a n s a k s i k e u a n g a nme r u p a k a nc a r a y a n g p a l i n g mu d a hu n t u k me n d e t e k s i d a n a y a n g a k a nd i g u n a k a na t a ud i d u g a a k a nd i g u n a k a nu n t u k k e g i a t a nt e r o r i s me d a n p e l a k ut e r o r y a n gb e r p e r a ns e b a g a i p e n y a n d a n gd a n a . Me l u a s n y a a k s i t e r o r y a n g d i d u k u n g o l e hp e n d a n a a ny a n g b e r s i f a t l i n t a s n e g a r a me n g a k i b a t k a n p e mb e r a n t a s a n n y a me mb u t u h k a n k e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a l d a l a mp e mb e n t u k a ns u a t ua t u r a nI n t e r n a s i o n a l y a n gme n j a d i r u j u k a nb e r s a ma . me n i mb u l k a n k e t a k u t a n ma s y a r a k a ts e c a r al u a s . p o l i t i k . e k o n o mi . d a nk e r u g i a nh a r t ab e n d a . s e h i n g g a d a p a t s e s e g e r a mu n g k i nd i l a k u k a nt i n d a k a nh u k u mp e n c e g a h a nt e r h a d a pu p a y ap e n g g u n a a n d a n a t e r s e b u t o l e hp a r a p e l a k ut e r o r . S e b a g a i ma n a h a l n y a p e mb a n g u n a nr e z i m a n t ip e n c u c i a nu a n g . U p a y al a i ny a n gp e r l ud i l a k u k a nu n t u k me n c e g a hd a n me mb e r a n t a st i n d a k p i d a n a t e r o r i s me a d a l a h d e n g a nme n g g u n a k a ns i s t e md a nme k a n i s me follow the money d e n g a nme l i b a t k a np e n y e d i aj a s ak e u a n g a n .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me I n d o n e s i ay a n gmu l a i t e r j a d i s e j a ka k h i rt a h u n1 9 9 0 a nt e l a hme n g a k i b a t k a n h i l a n g n y a n y a w a t a n p a me ma n d a n g k o r b a n . A d a p u n k e g i a t a nt e r o r i s me i n i p a d a k e n y a t a a n n y a s u d a hme mi l i k i j a r i n g a ny a n gk u a t b a i kd i d a l a m ma u p u nd i l u a r n e g e r i . d a n k e r j as a ma i n t e r n a s i o n a lu n t u k me n d e t e k s ia d a n y as u a t ua l i r a nd a n ay a n g d i g u n a k a na t a ud i d u g ad i g u n a k a nu n t u kp e n d a n a a nk e g i a t a nt e r o r i s m. U p a y a p e mb e r a n t a s a n t i n d a kp i d a n at e r o r i s med e n g a nc a r ak o n v e n s i o n a l ( follow the suspect)y a k n i d e n g a n me n g h u k u mp a r ap e l a k ut e r o ri n i t e r n y a t ab u k a ns a t u s a t u n y ac a r a u n t u kme n c e g a hd a n me mb e r a n t a st i d a kp i d a n at e r o r i s mes e c a r ama k s i ma l . A p a b i l ama t ar a n t a i p e n d a n a a ni n g i n d i p u t u sma k as e mu an e g a r ah a r u sme n g a mb i l t i n d a k a nb e r d a s a r k a nh u k u m b e r u p ap e mb e k u a n .

P e me r i n t a hI n d o n e s i a 72 .U n t u ka l a s a n a l a s a ni n i l a hs e mu an e g a r ah a r u sme ma s t i k a n b a h w ad e f i n i s i h u k u m me n g e n a i p e n d a n a a nt e r o r i s me n c a k u pp u l ad a n ay a n g d i p e r o l e hd a r i s u mb e r s u mb e r y a n gs a hd a nme n g a mb i l l a n g k a h l a n g k a hy a n g d i p e r l u k a n g u n a me n c e g a h p e n d a n a a n s e j e n i s i t u .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me H a l y a n gme n j a d i p e r b e d a a np a d ap r a k t i kp e n c u c i a nu a n gd e n g a np e n d a n a a n t e r o r i s mea d a l a hp a d ap e n c u c i a nu a n gs e c a r ak h u s u sme l i b a t k a np e n g a l i h a n h a s i lk e j a h a t a ny a n gs i g n i f i k a nk ed a l a m t r a n s a k s il e g a l me l a l u iu p a y a p e n y e mb i n y i a na t a up e n y a ma r a n . D e n g a nt e l a hd i r a t i f i k a s i n y aK o n v e n s iI n t e r n a s i o n a lP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a nT e r o r i s meme n j a d i U UN o . C. Landasan Yuridis K e t e n t u a nd a l a m p e mb u k a a nU n d a n g U n d a n gD a s a rN e g a r aR e p u b l i k I n d o n e s i a T a h u n1 9 4 5 . b a i k l a n g s u n g ma u p u n t i d a k l a n g s u n g . me n c e r d a s k a nk e h i d u p a nb a n g s ad a ni k u tme l a k s a n a k a nk e t e r t i b a n d u n i ay a n gb e r d a s a r k a nk e me r d e k a a n . me s k i p u nu s a h a u s a h ay a n gd i j a l a n k a na d a l a hs a h . D e n g a nd e mi k i a nk r i mi n a l i s a s ip e n d a n a a nt e r o r i s me s e b a g a is u a t ut i n d a k p i d a n a s a a t i n i mu l t a kd i p e r l u k a n . N e g a r a I n d o n e s i a me l i n d u n g i s e g e n a pb a n g s a I n d o n e s i a d a ns e l u r u ht u mp a hd a r a hI n d o e n s i ad a nu n t u k me ma j u k a nk e s e j a h t e r a a n u mu m. S e t i a po r a n gy a n gb e r h u b u n g a nd e n g a n h u k u m. 6T a h u n2 0 0 6 . n a mu nd a p a t s a j a d i g u n a k a ns e b a g a i t a b i ru n t u k me n g u mp u l k a nd a n ab a g ip a r at e r o r i ss e r t a o r g a n i s a s i n y a . p e r d a ma i a na b a d i d a nk e a d i l a ns o s i a l ma k ap e r l ud i l a k u k a nt i n d a k a nt e g a st e r h a d a ps e g a l ab e n t u ka n c a ma ny a n g me n g g a n g g ur a s aa ma nw a r g an e g a r ad a n me n g g a n g g uk e d a u l a t a nn e g a r a t e r ma s u ka n c a ma nt i n d a kp i d a n at e r o r i s me d a na k t i f i t a sy a n g me n d u k u n g t e r j a d i n y a a k s i t e r o r i s me . U n s u r p e n d a n a a nme r u p a k a ns a l a hs a t uf a k t o r u t a mad a l a ms e t i a pa k s i t e r o r i s mes e h i n g g au p a y ap e n a n g g u l a n g a nt i n d a kp i d a n at e r o r i s med i y a k i n i t i d a ko p t i ma lt a n p ad i i k u t id e n g a nu p a y ap e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a n t e r h a d a p p e n d a n a a n t e r o r i s me . k a r e n a p e n y a n d a n gd a n a j u g a a d a l a hp e l a k u d a r i t i n d a k p i d a n a t e r o r i s me .s e d a n g k a np e n d a n a a nt e r o r i s me d a p a t me l i b a t k a nh a s i l k e j a h a t a nd e n g a nh a s i l u s a h ay a n gs a hy a n gd i g u n a k a nu n t u k t u j u a np e n d a n a a nk e g i a t a nt e r o r i s me .

B a h k a nU n d a n g U n d a n gN o mo r1 5T a h u n2 0 0 3 t e n t a n gP e n e t a p a nP e r a t u r a nP e me r i n t a hP e n g g a n t i U n d a n g U n d a n gN o mo r 1 T a h u n2 0 0 2t e n t a n g P e mb e r a n t a s a nT i n d a kP i d a n a T e r o r i s me Me n j a d i U n d a n g U n d a n gy a n gt e l a h me n g k r i mi n a l i s a s ip e n d a n a a nt e r o r i s me s e b a g a it i n d a k p i d a n at e r n y a t ama s i hme n y i s a k a n“ loopholes” s e h i n g g ap e n g a t u r a n n y ab e l u m me n j a mi nk e p a s t i a nh u k u md a nk e t e r t i b a nh u k u md a l a m ma s y a r a k a t . K e t e n t u a ny a n ga d ab e r k a i t a nd e n g a np e n d a n a a nt e r o r i s me b e l u m me n g a t u rt e n t a n gp e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a nt i n d a kp i d a n ap e n d a n a a n t e r o r i s me s e c a r a me ma d a i d a n k o mp r e h e n s i f . U p a y a me ma s u k a nt i n d a kp i d a n at e r o r i s me s e b a g a is a l a hs a t ut i n d a k p i d a n aa s a l( predicate crime)d a l a mU UT P P Ut e r n y a t ama s i hb e l u md a p a t d i i mp l e me n t a s i k a ns e c a r ae f e k t i fd a l a m me n c e g a hd a n me mb e r a n t a st i n d a k p i d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s me .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me b e r k e w a j i b a nu n t u k me mb u a ta t a u me n y e l a r a s k a np e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a nt e r k a i tp e r d a n a a nt e r o r i s me s e h i n g g as e j a l a nd e n g a nk e t e n t u a n k e t e n t u a n y a n g d i a t u r d i d a l a mk o n v e n s i . ma k a p e r l ua d a n y ak e p a s t i a nh u k u md a np e n e g a k a nh u k u my a n gb e r k e a d i l a ny a n g h a r u s d i l a k s a n a k a n s e c a r a k o n s i s t e n d a n b e r k e l a n j u t a n . t e r ma s u k me r a t i f i k a s i1 2K o n v e n s iI n t e r n a s i o n a l me n g e n a it e r o r i s me . 1 9 9 9 ) b e r d a s a r k a nU n d a n g U n d a n g N o mo r 6T a h u n2 0 0 6 . R a t i f i k a s ii n ime n u n j u k k a nk o mi t me nI n d o n e s i ad a l a m p e mb e r a n t a s a n p e n d a n a a n t e r o r i s me . S a l a hs a t u k e w a j i b a ns e s u a i P a s a l 2K o n v e n s i P B B me n g e n a i P e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a n T e r o r i s me a d a l a h p e n e r a p a n k e w a j i b a n b a g il e mb a g ak e u a n g a n u n t u k me l a p o r k a nt r a n s a k s iy a n g me n c u r i g a k a nk e p a d ai n s t a n s ib e r w e n a n gs e r t a b e k e r j as a mau n t u ks a l i n gt u k a r me n u k a r i n f o r ma s i d a l a mr a n g k ap e n c e g a h a n d a n p e mb e r a n t a s a n a l i r a n d a n a u n t u k t i n d a k p i d a n a t e r o r i s me . R e s o l u s i t e r s e b u t me mi n t a s e t i a p n e g a r a a n g g o t a u n t u k me n g a mb i ll a n g k a h p e mb e r a n t a s a nt e r o r i s me . P e n y u s u n a nR U Ut e n t a n g P e n c e g a h a nd a n P e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a nT e r o r i s meme n j a d is e ma k i ns t r a t e g id a nr e l e v a n d e n g a nd i r a t i f i k a s i n y a International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism. K o n v e n s i i n i j u g a 73 . 1999 ( K o n v e n s i I n t e r n a s i o n a l P e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a n T e r o r i s me . R a t i f i k a s i K o n v e n s i me r u p a k a np e me n u h a nk e w a j i b a nI n d o n e s i as e b a g a i a n g g o t aP B Bt e r h a d a pR e s o l u s i D e w a nK e ma n a nP B BN o mo r1 3 7 3 . D a l a m u p a y ame n c e g a hd a nme mb e r a n t a st i n d a kp i d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s me .

74 . p e n d e t e k s i a n . d a np e mb e k u a nd a n ay a n gd i g u n a k a nu n t u k me mb i a y a i t i n d a k p i d a n a t e r o r i s me .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me me w a j i b k a n s e t i a p n e g a r a p i h a k ( state party) u n t u k me n g a t u r p e n g i d e n t i f i k a s i a n .

d i ma n as a l a hs a t u n y aa d a l a hd u k u n g a np e n d a n a a n . Tempo Interaktif. s e h i n g g aa k t i f i t a st e r o r i s med a ni n s t r u me np e n d u k u n g n y a 3 4 t e l a h me n d a p a t p e r h a t i a n k h u s u s d a r i p e me r i n t a h I n d o n e s i a .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me BAB V JANGKAUAN. me n d a n a i p e r j a l a n a nd a np e n g i n a p a n . Pengamat terorisme Wawan Purwanto mengatakan bahwa aksi terorisme di Indonesia tidak lagi disokong dana dari Timur Tengah. detikBandung. Lihat: ”Karena Lalai. Rekening salurannya bisa milik sopir atau bahkan pembantu.com. Menurut Pimpinan Direktorat Perizinan dan Pengaturan Perbankan BI Zainal Abidin. D a l a mk e g i a t a nt e r o r i s me . melainkan juga memanfaatkan teknologi perbankan seperti phone banking dan lain-lain. 23 Maret 2010. sebelum melakukan hubungan dengan nasabah. 35 34 33 75 . Lihat: “Pendanaan teroris Indonesia Tak Lagi dari Al-Qaidah”. karena yang dipakai adalah identitas pinjaman yang seringkali fiktif. Standar operasionalnya. Bank sering segan untuk mengkroscek identitas nasabah yang akan membuka rekening. ARAH PENGATURAN. Harusnya bank curiga kalau penghasilan naik tiba-tiba dengan angka yang drastis. d a n u n t u k me r a n c a n g d a nme l a k s a n a k a no p e r a s i . 3 September2009. 3 3h T e r j a d i n y ap e r i s t i w ap e mb o ma nd i B a l i p a d at a h u n2 0 0 2 i n g g ap e mb o ma n h o t e l J W Ma r r i o t p a d a t a h u n2 0 0 9me r u p a k a nb u k t i k u a t b a h w a t i n d a kp i d a n a t e r o r i s me me r u p a k a ns u a t ua n c a ma nn y a t a y a n gd a p a t me r o n g r o n gk e d a u l a t a n b a n g s ad a nn e g a r a . maraknya kasus terorisme di Indonesia disinyalir karena sokongan dana yang terus mengalir. P a r a p e l a k ut e r o r i s me s u d a hp a s t i t i d a k a k a np e r n a hb e r h a s i l me l a k u k a n a k s i n y a t a n p a a d a n y a b e r b a g a i b e n t u k f a s i l i t a s d a ni n s t r u me n p e d u k u n g l a i n n y a . l e hs e b a b i t u . Bank sebagai tempat penyaluran dana dinilai lalai dalam menganalisa identitas nasabah. padahal pekerjaan tetap. Saat ini para teroris cenderung menggunakan identitas orang terdekatnya yang dianggapnya aman. bahwa kematian Usamah Bin Ladin tidak akan menggoyang keberadaan kelompok teroris yang ada di dalam negeri. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyaad Mbai mengatakan. DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN A. khususnya dari kelompok Al-Qaidah. Arah dan Jangkauan Pengaturan D iI n d o n e s i at i n d a kp i d a n at e r o r i s me me r u p a k a ni s up e n t i n gy a n g me n d a p a t k a np e r h a t i a np e n u hd a r i s e mu a l a p i s a nma s y a r a k a t d a nP e me r i n t a h . me r e k r u t d a n me l a t i h a n g g o t a b a r u . d a n as a n g a td i b u t u h k a nu n t u kme mp r o mo s i k a ni d e o l o g i . me mb i a y a i a n g g o t a t e r o r i sd a nk e l u a r g a n y a . me ma l s u k a n i d e n t i t a s d a n d o k u me n . Lihat: ”Kapolri: Pendanaan Teroris Gunakan Jasa Phone Banking”. dan bank kerap terkecoh. me mb e l i 3 5O p e r s e n j a t a a n . Sasaran Yang Akan diwujudkan. aksi terorisme dalam negeri praktis didanai secara swadaya oleh para teroris dengan dibantu simpatisan mereka. Sejak Bom Bali I pada 2002. Modusnya lebih rapi. Sementara Kapolri Bambang Hendarso Danuri mengungkapkan bahwa pola penyaluran dana kelompok teroris bukan hanya melalui cara tradisional seperti menggunakan kurir (Hawala). detiknews. Identitas teroris saat akan melakukan transaksi keuangan bisa dipastikan palsu. Aliran Dana Terorisme Terus Mengalir di Bank”. 4 Mei 2011. bank wajib meminta informasi sedetil-detilnya dari si nasabah.

harus juga mencermati kegiatan-kegiatan yang berpotensi dijadikan sumber pendanaan kelompok teroris. Tempo Interaktif. mencuci otak mereka. khususnya dari kelompok Al-Qaidah pimpinan Usamah. Kepala PPATK Yunus Husein mengemukakan bahwa PPTAK memiliki peran penting dalam pencegahan dan pemberantasan pendanaan terorisme.s u mb e rd a n a t e r o r i s me d a p a tp u l ab e r a s a ld a r is u mb e ry a n gh a l a la t a ul e g a ls e h i n g g a me mp e r s u l i tp e n e l u s u r a nd a np e mb u k t i a na l i r a nd a n at e r o r i s me . Pendanaan tidak semata-mata dari Al-Qaidah. Soalnya. Penelusuran aliran dana dimulai dari identifikasi kegiatan pendanaan untuk terorisme setelah menuju kepada tokoh-tokoh penting dalam terorisme selanjutnya adalah mengidentifikasi lokasi pelaku dan aksi teroris tersebut. Prasetya Online. S e l a i ni t u . terutama dengan memberikan informasi dan intelejen keuangan penelusuran dana.A d a p u n y a n g me mb u a t p e n d a n a a nt e r o r i s meme n j a d i s a n g a t b e r b a h a y ad i b a n d i n g k a nb e n t u kk r i mi n a l l a i n n y a d i k a r e n a k a ns t r a t e g i me r e k a d a l a m me n g g u n a k a no r g a n i s a s i a ma l a t a u n i r l a b as e b a g a i s u mb e rp e n d a n a a nd a nk e ma mp u a n n y ame n g i n f i l t r a s i s i s t e m k e u a n g a nn e g a r a n e g a r a mi s k i nd a nb e r k e mb a n g . Lihat: “Pendanaan teroris Indonesia Tak Lagi dari Al-Qaidah”. dengan alasan fa'i. s e h i n g g au p a y ap e n a n g g u l a n g a nt e r o r i s meh a r u sp u l a d i i k u t id e n g a nu p a y ap e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a nt e r h a d a pp e n d a n a a n t e r o r i s me . P e ma l s u a n i d e n t i t a sj u g amu d a hd i l a k u k a nk a r e n as e ma k i nme n j a mu r n y ae-business d a n k e mu d a h a nt r a n s a k s ik e u a n g a nv i ai n t e r n e td ie r ag l o b a l i s a s ii n is e ma k i n me mp e r s u l i t p e n e g a k h u k u mu n t u k me l a c a k a l i r a n d a n a t e r o r i s . Contoh lain adalah sejumlah aksi perampokan terhadap bank dan toko emas yang terjadi beberapa bulan lalu. Pemerintah Indonesia. me r e n c a n a k a n . P e n t i n g n y ap e r a n gme l a w a np e n d a n a a nt e r o r i s med i d a s a r k a nk e p a d a k e n y a t a a nb a h w ap e n d a n a a nt e r o r i s me me n d u k u n gu s a h ap e r e k r u t a nd a n p e mb e r i a nmo t i v a s i me l a l u i i n s e n t i f k e u a n g a ns e r t ama mp ume n j a g ak e k u a t a n mo r a l d a n mo t i v a s i d e n g a nk e b e r h a s i l a np e r e n c a n a a nd a np e l a k s a n a a na k s i t e r o r n y a . 4 Mei 2011. P a d ai n t i n y ap e n d a n a a n t e r o r i s me a d a l a h p e n y e d i a a n d u k u n g a n k e u a n g a n u n t u k t e r o r i s me . 23 Juni 2011. perampokan itu dilakukan untuk menggalang dana guna melakukan aksi teror. Penelusuran dana bisa dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri. terutama aparat keamanan dan intelijen. b a i k b a g i y a n g me mf a s i l i t a s i . ma u p u n 3 6 y a n g me l a k u k a n a k s i t e r o r i s me . pelaku teror domestik tidak lagi mengandalkan dana dari Timur Tengah. t e r o r i s j u g a ma s i hme me r l u k a ni n f r a s t r u k t u r s i s t e mk e u a n g a n u n t u k me mo b i l i s a s id a n me n y a l u r k a n d a n a n y a . setelah diselidiki dan diusut polisi. Lihat “Seminar Internasional: Pencegahan terorisme Perlu Kerjasama Semua Negara”. N a mu n . 36 76 . dan menarik infak dari mereka sebagai sumber pendanaan. Namun.L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me d u k u n g a nd a l a mb e n t u ku a n ga t a ud a n ame r u p a k a ns a l a hs a t uf a k t o rp e n t i n g d a l a ma k s i t e r o r i s me . Seperti gerakan Negara Islam Indonesia (NII) yang merekrut anggota baru.

Terrorist Financing Typology Report .ap-southeast1. Land port) tetapi yang mereka utamakan adalah pengawasan money traffic.ma k a I n d o n e s i a j u g a w a j i b u n t u k me mb u a t a t a ume n y e l a r a s k a np e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a nt e r k a i tp e n d a n a a nt e r o r i s me s e h i n g g as e j a l a nd e n g a nk e t e n t u a n k e t e n t u a n y a n g d i a t u r d a l a mk o n v e n s i t e r s e b u t . London dan Spain.L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me S a l a h s a t u u p a y a y a n g d a p a t d i l a k u k a no l e ha p a r a t p e n e g a k h u k u mu n t u k me n c e g a hd a nme mb e r a n t a s t i n d a kp i d a n at e r o r i s mey a n gt e r j a d i d i I n d o n e s i a d a p a t d i l a k u k a nd e n g a nme mu t u sa l i r a np e n d a n a a nk e p a d ap e l a k ut e r o r i s me . yaitu menghentikan money line.amazonaws. P e mu t u s a n ma t a r a n t a ip e n d a n a a n t e r o r i s me t e r s e b u tt e n t u n y a me mb u t u h k a nl a n d a s a nh u k u my a n g j e l a s a g a r d a p a t d i l a k s a n a k a ns e c a r a b e n a r d a n d a p a tp u l a d i p e r t a n g g u n g j a w a b k a n s e c a r a h u k u m. Semenjak terjadinya serangan di New York City. s e b e n a r n y aj u g ad i p i c uo l e h a d a n y a Nine Special Recommendation F A T F . Lihat: John Tanujaya. dan (3) transfer uang lewat sistim Hawala. Yang mereka lakukan adalah menghentikan: (1) praktik pencucian uang. E f e k t i f i t a s p i h a k b e r w e n a n g d a l a m me n d e t e k s id a n me n y e l i d i k ia k t i f i t a st e r o r i sd a p a t d i t i n g k a t k a ns e c a r as i g n i f i k a nk e t i k ai n t e l i j e nk o n t r a t e r o r i s med a ni n f o r ma s i 3 7 f i n a n s i a l d i g u n a k a n s e c a r a b e r s a ma a n . P e r l u n y ap e n g a t u r a nt e n t a n gP e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a nT e r o r i s mek e d a l a m s e b u a hp e r u n d a n g u n d a n g a nt e r s e n d i r i . http://ec2-175-41-177-36. “Hentikan Pendanaan Jaringan Teroris di Indonesia Sekarang!”.R e k o me n d a s ii n i me r u p a k a n r e k o me n d a s ik h u s u sy a n gd i g u n a k a ns e b a g a is t a n d a ri n t e r n a s i o n a lu n t u k me n g h a l a n g ia k s e sb a g ip a r at e r o r i sd a np e n d u k u n g n y a me ma s u k is i s t e m k e u a n g a n .s e r t a me mb a t a s ik e ma mp u a n t e r o r i su n t u k me l a n c a r k a na k s ib r u t a l n y a .P e mu t u s a nt e r h a d a p ma t ar a n t a ip e n d a n a a n t e r o r i s me me n g h a r u s l a n a d a n y ap e r l i n d u n g a n s i s t e mi kt e r h a d a p s i s t e m k e u a n g a nd a np e r b a n k a nd a r ip e r b u a t a np i d a n a . 2008. Seaport. D e n g a n me mu t u sa l i r a nd a n aa k a n me n c i p t a k a nl i n g k u n g a ny a n gt i d a k b e r s a h a b a tb a g it e r o r i s me . bahwa kunci keberhasilan Pemerintah di negara manapun untuk melemahkan dan menghancurkan jaringan teroris hanya satu.com. diakses tanggal 12 Desember 2011. Jadi bukan hanya mereka melakukan pengamanan di perbatasan (Airport. Pemerintah di negara-segara tersebut melakukan monitor money traffic. 1999. (2) transfer uang lewat yayasan no profit.me n g i n g a ts e n s i t i f n y a i n f o r ma s i y a n gd i i n f o r ma s i k a no l e hi n t e l i j e nk o n t r a t e r o r i s me .D e n g a na d a n y ak o n v e n s ii n t e r n a s i o n a ly a n gt e l a hd i r a t i f i k a s i Lihat FATF. D e n g a n t e l a h d i r a t i f i k a s i n y aK o n v e n s iI n t e r n a s i o n a lP e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a nT e r o r i s me me l a l u i U n d a n g U n d a n g N o mo r 6T a h u n2 0 0 6t e n t a n g P e n g e s a h a nInternational Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism. Menurut John Tanujaya.compute. 37 77 .

( 2 ) me n g e t a h u id a n me n g a t u rp r o s e d u rd a n me k a n i s me y a n gj e l a su p a y ap e n c e g a h a n d a n p e mb e r a n t a s a nt i n d a kp i d a n at e r o r i s meme l a l u i p e n d e k a t a nfollow the money n a mu nt i d a k me n g h a mb a t k e g i a t a np e n g e l o l a j a s a k e u a n g a n . p e n u n t u t a nd a n p e me r i k s a a nd is i d a n gp e n g a d i l a n . me k a n i s mep e mb l o k i r a n . Pada dasarnya Pengaturan tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme ini dimaksudkan untuk membentuk suatu aturan hukum yang baku dan lengkap mengenai Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme sebagai salah satu cara untuk mewujudkan tujuan nasional. U n d a n g U n d a n gi n i me n g a t u rs e c a r ak o mp r e h e n s i f me n g e n a i a s a s . 38 78 . d a nk e a ma n a nd a nk e t e r t i b a nn a s i o n a l . Ma k aa r a h p e n g a t u r a n P e mb e r a n t a s a n T i n d a kP i d a n aP e n d a n a a n T e r o r i s mea d a l a hu n t u k : ( 1 ) me n g a t a s i c e l a h c e l a hy a n ga d ad a l a mp e r a t u r a n y a n gb e r k a i t a nd e n g a nt i n d a kp i d a n a p e n d a n a a nt e r o r i s me s e h i n g g a me n j a mi n k e p a s t i a nh u k u m d a nk e t e r t i b a nd a l a m ma s y a r a k a t . d a n( 3 ) me me n u h i R e k o me n d a s i Financial Action Task Force on Money Laundering ( F A T F ) k h u s u s n y a Nine Special Recommendations. ( i i ) me mu t u sa l u rp e n d a n a a nt e r o r i s mes e k a l i g u sme n c e g a ht e r j a d i n y ak e mb a l i s e r a n g a na t a ua k s i a k s i t e r o r i s med i s e l u r u ht a n a ha i r . s o s i a l b u d a y a . Ibid. ma k ad i p e r l u k a n U n d a n g U n d a n gt e r s e n d i r i y a n gme n g a t u r me n g e n a i T i n d a kP i d a n aP e n d a n a a n T e r o r i s me . s e r t a b a n y a k n y ak e l e ma h a ny a n gd i mi l i k i o l e hb e b e r a p ap e r a t u r a ny a n gt e l a ha d a .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me ( International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism. p e n y i d i k a n . d a n( i i i ) me n u n j u k k a n k o mi t me n I n d o n e s i a y a n g k u a t d a n s e r i u s d a l a m p e n c e g a h a n d a n p e mb e r a n t a s a n p e n d a n a a n t e r o r i s me .s e r t ak e r j a s a ma b a i kn a s o n a lma u p u n i n t e r n a s i o n a l d a l a mp e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a nt i n d a kp i d a n ap e n d a n a a n 3 8 t e r o r i s me . terciptanya penegakan hukum dan ketertiban yang konsisten dan berkesinambungan. y a n gme n g a t u rt e n t a n gt i n d a kp i d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s me . 1999) d a l a ma t u r a nh u k u mI n d o n e s i ad a nNine Special Recommendation F A T F . k r i mi n a l i s a s i t i n d a kp i n d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s med a nt i n d a kp i d a n al a i ny a n g b e r k a i t a n d e n g a n t i n d a k p i d a n a p e n d a n a a n t e r o r i s me . S a s a r a ny a n ga k a nd i w u j u d k a na d a l a h( i ) i k u t me me l i h a r ad a nme n j a g a s t a b i l i t a se k o n o mi .p e l a p o r a n d a n p e n g a w a s a nk e p a t u h a n .

d i ma n a n e g a r a w a j i bme l i n d u n g i s e g e n a pb a n g s a d a ns e l u r u ht u mp a hd a r a hI n d o n e s i a . p e r d a ma i a na b a d i d a nk e a d i l a ns o s i a l . 1999)d e n g a n U n d a n g U n d a n gR IN o mo r6 T a h u n2 0 0 6 . H a li t up e r l ud i l a k u k a n me n g i n g a t k e t e n t u a ny a n ga d ab e r k a i t a nd e n g a np e n d a n a a nt e r o r i s meb e l u m me n g a t u ru p a y ap e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a nt i n d a kp i d a n ap e n d a n a a n t e r o r i s me s e c a r a me ma d a id a n k o mp r e h e n s i f . me ma j u k a nk e s e j a h t e r a a nu mu m. Ruang Lingkup Materi Muatan P e n g a t u r a nt e n t a n g P e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a nT e r o r i s me d i s u s u nd e n g a n me mp e r t i mb a n g k a nk e t e n t u a ny a n ga d ad a l a mP e mb u k a a nU U D1 9 4 5 .ma k aP e me r i n t a hI n d o n e s i a b e r k e w a j i b a nu n t u k me mb u a ta t a u me n y e l a r a s k a np e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a nt e r k a i tp e r d a n a a nt e r o r i s me s e h i n g g as e j a l a nd e n g a nk e t e n t u a n k e t e n t u a ny a n gd i a t u rd id a l a mk o n v e n s it e r s e b u t . s e h i n g g au p a y ap e n a n g g u l a n g a nt i n d a kp i d a n at e r o r i s med i y a k i n i t i d a k a k a no p t i ma lt a n p ad i i k u t id e n g a nu p a y ap e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a n t e r h a d a pp e n d a n a a nt e r o r i s me . D a l a m a k s it e r o r i s me . me n c e r d a s k a nk e h i d u p a nb a n g s ad a ni k u t me l a k s a n a k a nk e t e r t i b a nd u n i ab e r d a s a r k a nk e me r d e k a a n .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me B. Me n g i n g a t P a s a l 5a y a t ( 1 )d a nP a s a l 2 0U n d a n g U n d a n gD a s a rN e g a r a R e p u b l i kI n d o n e s i aT a h u n1 9 4 5 . t e r ma s u ka n c a ma nt i n d a kp i d a n at e r o r i s me d a na k t i f i t a sy a n g me n d u k u n g t e r j a d i n y a a k s i t e r o r i s me . p e r l u d i l a k u k a n t i n d a k a n t e g a s . O l e hs e b a bi t u .d a nU n d a n g U n d a n gR IN o mo r6 T a h u n2 0 0 6t e n t a n g P e n g e s a h a nInternational Convention For The Suppression Of The Financing Of 79 .s e b a g a i ma n at e l a hd i t e t a p k a n me n j a d iU n d a n g U n d a n gd e n g a n U n d a n g U n d a n gR IN o mo r1 5T a h u n2 0 0 3t e n t a n gP e n e t a p a nP e r a t u r a n P e me r i n t a hP e n g g a n t iU n d a n g U n d a n gR IN o mo r1 T a h u n2 0 0 2 me n j a d i U n d a n g U n d a n g . t e r h a d a ps e g a l ab e n t u ka n c a ma ny a n g me n g g a n g g ur a s aa ma nw a r g an e g a r ad a n me n g g a n g g uk e d a u l a t a nn e g a r a .B e r d a s a r k a n b e b e r a p a p e r t i mb a n g a ni t u l a hs e h i n g g ap e r l u me mb e n t u kU n d a n g U n d a n gt e n t a n g P e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me .D e n g a nt e l a hd i r a t i f i k a s i n y a International Convention for The Suppression of The Financing of Terrorism. u n s u rp e n d a n a a n me r u p a k a ns a l a hs a t uf a k t o r u t a ma .P e r a t u r a nP e me r i n t a hP e n g g a n t iU n d a n g U n d a n gR IN o mo r1 T a h u n2 0 0 2t e n t a n gP e mb e r a n t a s a nT i n d a kP i d a n a T e r o r i s me .

L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me Terrorism, 1999; ma k a d e n g a nP e r s e t u j u a nB e r s a ma a n t a r a D P Rd a nP r e s i d e nR I me mu t u s k a n u n t u k me n e t a p k a n U n d a n g U n d a n gt e n t a n gP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me .

1 .

Ketentuan Umum: Memuat Pengertian Istilah dan Frase P e n g a t u r a n t e n t a n gP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me i n id a l a m k e t e n t u a nu mu ma k a nd i r u mu s k a ns e p e r t i:( 1 )P e n d a n a a nT e r o r i s me ;( 2 ) T i n d a kP i d a n aT e r o r i s me ; ( 3 )S e t i a pO r a n g ; ( 4 )K o r p o r a s i ; ( 5 )T r a n s a k s i ; ( 6 ) T r a n s a k s iK e u a n g a n Me n c u r i g a k a nT e r k a i tP e n d a n a a nT e r o r i s me ;( 7 )H a r t a K e k a y a a n ; ( 8 )D a n a ; ( 9 )P e mb l o k i r a nS e me n t a r a ; ( 1 0 )P u s a tP e l a p o r a nd a n A n a l i s i s T r a n s a k s i K e u a n g a ny a n gs e l a n j u t n y ad i s i n g k a t P P A T K ; ( 1 1 ) P e n y e d i a J a s aK e u a n g a ny a n gs e l a n j u t n y ad i s i n g k a t P J K ; ( 1 2 ) P e n g g u n aJ a s aK e u a n g a n ; ( 1 3 )L e mb a g aP e n g a w a sd a nP e n g a t u ry a n gs e l a n j u t n y ad i s i n g k a tL P P ; ( 1 4 ) P e r s o n i l P e n g e n d a l i K o r p o r a s i ; d a n ( 1 5 ) D o k u me n . T i n d a kp i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s med a p a t t e r j a d i k a r e n ad i s e b a b k a no l e h p e r b u a t a n ma n u s i aa t a up u nk o r p o r a s i ( b a d a nh u k u m) . D a l a mh a l i n i , y a n g d i ma k s u dd e n g a nt i n d a kp i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s mea d a l a h“ S e t i a pO r a n g y a n g d e n g a n s e n g a j a me n y e d i a k a n , me n g u mp u l k a n , me mb e r i k a n ,a t a u me mi n j a mk a nD a n ab a i kl a n g s u n g ma u p u nt i d a kl a n g s u n g , d e n g a n ma k s u d d i g u n a k a n s e l u r u h n y a a t a u s e b a g i a n u n t u k me l a k u k a n T i n d a k P i d a n a T e r o r i s me . A p a b i l aT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me d i l a k u k a no l e hK o r p o r a s i , ma k a t u n t u t a nd a np e n j a t u h a np i d a n a d i k e n a k a nt e r h a d a pK o r p o r a s i , p e n g u r u s , d a n / a t a uP e r s o n i lP e n g e n d a l iK o r p o r a s i .K h u s u su n t u kk o r p o r a s i ,p i d a n a d i j a t u h k a nt e r h a d a p n y aa p a b i l aT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me :( a ) d i l a k u k a na t a ud i p e r i n t a h k a no l e hP e r s o n i l P e n g e n d a l i K o r p o r a s i ; ( b ) d i l a k u k a n d a l a mr a n g k ap e me n u h a nma k s u dd a nt u j u a nK o r p o r a s i ; ( c ) d i l a k u k a ns e s u a i d e n g a nt u g a sd a nf u n g s ip e l a k ua t a up e mb e r ip e r i n t a h ; a t a u( d )d i l a k u k a n d e n g a n ma k s u d me mb e r i k a n ma n f a a t b a g i K o r p o r a s i . S e l a i ny a n g d i k e mu k a k a nd i a t a s , t e r d a p a t p u l a s e j u ml a ht i n d a kp i d a n a l a i n y a n gb e r k a i t a nd e n g a nT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me . Pertama, P e j a b a t a t a up e g a w a i P P A T K , p e n y i d i k , p e n u n t u t u mu m, h a k i m, a t a uS e t i a pO r a n gy a n g me mp e r o l e hd o k u me na t a uk e t e r a n g a nb e r k a i t a nd e n g a nT r a n s a k s i K e u a n g a n Me n c u r i g a k a n T e r k a i tP e n d a n a a n T e r o r i s me d a l a m r a n g k ap e l a k s a n a a n 80

L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me t u g a s n y a ,w a j i b me r a h a s i a k a nD o k u me na t a uk e t e r a n g a nt e r s e b u t .Kedua, P e j a b a ta t a up e g a w a i P P A T K , p e n y i d i k , p e n u n t u tu mu m, h a k i m, a t a uS e t i a p O r a n gy a n g me l a n g g a rk e t e n t u a ns e b a g a i ma n ad i ma k s u d , d i p i d a n ad e n g a n
3 9 Ketiga, p i d a n ap e n j a r ap a l i n gl a ma 4 ( e mp a t )t a h u n . D i r e k s i ,k o mi s a r i s ,

p e n g u r u s , a t a up e g a w a iP e n y e d i aJ a s aK e u a n g a nd i l a r a n g me mb e r i t a h u k a n k e p a d aP e n g g u n aJ a s aK e u a n g a na t a up i h a kl a i n , b a i ks e c a r al a n g s u n gma u p u n t i d a kl a n g s u n g , d a nd e n g a nc a r a a p a p u n , me n g e n a i l a p o r a nT r a n s a k s i K e u a n g a n Me n c u r i g a k a nT e r k a i tP e n d a n a a nT e r o r i s mey a n gs e d a n gd i s u s u na t a ut e l a h d i s a mp a i k a n k e p a d a P P A T K . T e t a p i , k e t e n t u a nme n g e n a i l a r a n g a ns e b a g a i ma n ad i ma k s u dt i d a kb e r l a k u u n t u kp e mb e r i a ni n f o r ma s i k e p a d aL e mb a g aP e n g a w a sd a nP e n g a t u r . U n t u k L e mb a g aP e n g a w a sd a nP e n g a t u r( L P P ) ,b a i ks e c a r al a n g s u n ga t a ut i d a k l a n g s u n g , d e n g a nc a r aa p a p u n , d i l a r a n g me mb e r i t a h u k a nl a p o r a nT r a n s a k s i K e u a n g a nMe n c u r i g a k a nT e r k a i t P e n d a n a a nT e r o r i s mek e p a d aP e n g g u n aJ a s a K e u a n g a n y a n g t e l a h d i l a p o r k a n k e p a d a P P A T K .

2.

Materi Yang Akan Diatur Ruang Lingkup P e n g a t u r a nt e n t a n gt e n t a n gP e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a nT e r o r i s me i n i b e r l a k ut e r h a d a ps e t i a po r a n g ,d a n a( fund) ,n e g a r al a i n ,t i n d a kp i d a n a p e n d a n a a n t e r o r i s me t e r k a i t d e n g a n t i n d a k p i d a n a t e r o r i s me . B a h w aU n d a n g U n d a n gA n t i P e n d a n a a nT e r o r i s mei n i b e r l a k ut e r h a d a p : ( a )S e t i a pO r a n gy a n gme l a k u k a na t a ub e r ma k s u d me l a k u k a nt i n d a kp i d a n a P e n d a n a a nT e r o r i s med i w i l a y a hn e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i ad a n / a t a ud i l u a r w i l a y a hn e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i a ; d a n / a t a u( b )D a n ay a n gt e r k a i td e n g a n P e n d a n a a nT e r o r i s med i w i l a y a hn e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i ad a n / a t a ud i l u a r w i l a y a hn e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i a . S e l a i ni t uU n d a n g u n d a n gi n i j u g ab e r l a k u t e r h a d a pt i n d a kp i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me y a n gt e r j a d id i l u a rw i l a y a h I n d o n e s i a a p a b i l a : ( a ) d i l a k u k a no l e h w a r g a n e g a r a I n d o n e s i a ; ( b ) t e r k a i t d e n g a n T i n d a kP i d a n aT e r o r i s met e r h a d a pw a r g an e g a r aI n d o n e s i a ; ( c ) t e r k a i t d e n g a n

Namun, ketentuan sebagaimana dimaksud tersebut tidak berlaku terhadap Pejabat atau pegawai PPATK, penyidik, penuntut umum, hakim, atau setiap orang apabila dilakukan dalam rangka memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

39

81

L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me T i n d a kP i d a n aT e r o r i s met e r h a d a pf a s i l i t a sp e me r i n t a hI n d o n e s i at e r ma s u k p e r w a k i l a nI n d o n e s i aa t a ut e mp a t k e d i a ma np e j a b a t d i p l o ma t i ka t a uk o n s u l e r d a r i I n d o n e s i a ; ( d )t e r k a i td e n g a nT i n d a kP i d a n aT e r o r i s mey a n gd i l a k u k a n s e b a g a iu p a y au n t u k me ma k s ap e me r i n t a hI n d o n e s i ame l a k u k a na t a ut i d a k me l a k u k a ns u a t ut i n d a k a n ;( e )t e r k a i td e n g a nT i n d a kP i d a n aT e r o r i s me t e r h a d a pp e s a w a t u d a r ay a n gd i o p e r a s i k a no l e hn e g a r aI n d o n e s i a ; ( f )t e r k a i t d e n g a nT i n d a kP i d a n aT e r o r i s me d ia t a sk a p a ly a n gb e r b e n d e r an e g a r a I n d o n e s i aa t a up e s a w a tu d a r ay a n gt e r d a f t a rb e r d a s a r k a nu n d a n g u n d a n g I n d o n e s i a p a d a s a a t t i n d a kp i d a n a i t ud i l a k u k a n ; a t a u( g ) d i l a k u k a no l e hS e t i a p O r a n gy a n gt i d a kme mi l i k i k e w a r g a n e g a r a a nd a nb e r t e mp a t t i n g g a l d i w i l a y a h n e g a r a R e p u b l i k I n d o n e s i a .

Pencegahan dan Pengawasan Kepatuhan U p a y a p e n c e g a h a n T i n d a k P i d a n a P e n d a n a a nT e r o r i s me d i l a k u k a nme l a l u i : p e n e r a p a n p r i n s i p me n g e n a l iP e n g g u n aJ a s aK e u a n g a n ,p e l a p o r a n d a n p e n g a w a s a n k e p a t u h a n P e n g g u n aJ a s aK e u a n g a n ,p e n g a w a s a n k e g i a t a n p e n g i r i ma nu a n gme l a l u i s i s t e mt r a n s f e r a t a up e n g i r i ma nu a n gme l a l u i s i s t e m l a i n n y a ; s e r t ap e n g a w a s a np e n g u mp u l a nd a np e n e r i ma a ns u mb a n g a n . D a l a m p e n e r a p a nP e n e r a p a nP r i n s i p Me n g e n a l iP e n g g u n aJ a s aK e u a n g a n , L e mb a g a P e n g a w a sd a nP e n g a t u r( L P P ) me n e t a p k a nk e t e n t u a np r i n s i p me n g e n a l i P e n g g u n a J a s a K e u a n g a nt e r ma s u k P e n g g u n a J a s a K e u a n g a ny a n g t e r k a i t T i n d a k P i d a n a P e n d a n a a n T e r o r i s me .P e n g a t u r a n me n g e n a ik e t e n t u a n p r i n s i p me n g e n a l i P e n g g u n a J a s a K e u a n g a ns e b a g a i ma n a d i ma k s u dd a p a t d i a t u r s e c a r a t e r s e n d i r i a t a ub e r s a mad e n g a nk e t e n t u a nme n g e n a i t i n d a kp i d a n ap e n c u c i a n u a n g . D a l a mh a l i n i , P J Kw a j i bme n e r a p k a np r i n s i pme n g e n a l i P e n g g u n aJ a s a K e u a n g a n y a n g d i t e t a p k a n o l e h s e t i a p L P Ps e b a g a i ma n a d i ma k s u d . D a l a mh a l p e n g a w a s a ny a n g d i l a k u k a nt e r h a d a pk e g i a t a np e n g i r i ma nu a n g me l a l u i s i s t e mt r a n s f e r , P J Ky a n g me l a k u k a nT r a n s a k s i p e n g i r i ma nu a n g me l a l u i s i s t e mt r a n s f e r w a j i bme mb e r i k a ni d e n t i t a s d a ni n f o r ma s i y a n g b e n a r me n g e n a i p e n g i r i ma s a l , a l a ma t p e n g i r i ma s a l , p e n e r i ma , j u ml a hu a n g , j e n i sma t au a n g , t a n g g a l p e n g i r i ma nu a n g , s u mb e rd a n ad a ni n f o r ma s i l a i ny a n gb e r d a s a r k a n k e t e n t u a n p e r a t u r a n p e r u n d a n g u n d a n g a n w a j i b d i b e r i k a n k e p a d a P J K . I n f o r ma s i s e b a g a i ma n a d i ma k s u d d i s a mp a i k a no l e h P J Kd e n g a n me n g i s i f o r mu l i r 82

B a g ip e l a k uy a n gd i d u g at e r l i b a td a l a m p e n d a n a a nt e r o r i s me y a n g d i l a k u k a nd e n g a nt r a n s a k s i k e u a n g a nme l a l u i P J Ky a n gb e r b a d a nh u k u ma t a u t i d a k b e r b a d a n h u k u md i k e n a i a n c a ma nh u k u ma ns e b a g a i ma n a d i a t u r d a l a mU U i n i . s u mb e rd a n ad a ni n f o r ma s il a i ny a n gb e r d a s a r k a nk e t e n t u a np e r a t u r a n p e r u n d a n g u n d a n g a nw a j i bd i mi n t ao l e hP J K .P J Kw a j i b me mp e r o l e h i z i n d a r i d a n / a t a ut e r d a f t a r p a d a L e mb a g a P e n g a wa s d a nP e n g a t u r . p e n e r i ma . 40 83 . S e me n t a r a i t u . P J Kp e n g i r i mw a j i b me n y i mp a ns e mu a i n f o r ma s i y a n g d i p e r l u k a nu n t u kme n g e n a l i s e mu a p e n g i r i m a s a l d a np e n e r i mak i r i ma np a l i n gs i n g k a t5 ( l i ma )t a h u ns e j a kb e r a k h i r n y a T r a n s a k s ip e n g i r i ma n u a n g me l a l u is i s t e m t r a n s f e r . U n t u ki t u . Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyampaian laporan penyelenggaraan kegiatan pengiriman uang dan tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam Peraturan masing-masing LPP. ma u p u n d i a n c a md e n g a n h u k u ma n p i d a n a s e b a g a i ma n a d i a t u r d a l a mU UT r a n s f e r D a n a .ma k aP e n y e d i aJ a s aK e u a n g a nw a j i b me n o l a kp e n g i r i ma nu a n g me l a l u i s i s t e mt r a n s f e r t e r s e b u t . j e n i s ma t a u a n g . d a p a t d i k e n a i d e n g a na n c a ma nh u k u ma ns e b a g a i ma n ad i a t u rd a l a mU Ui n i . P J Kd i w a j i b k a nme mi n t ai n f o r ma s i y a n gl e n g k a pk e p a d aP e n g g u n aJ a s aK e u a n g a nme n g e n a i p e n g i r i ma s a l . S e h u b u n g a nd e n g a np e n g a w a s a ni n i . B a g ip e l a k uy a n gd i d u g at e r l i b a td a l a m p e n d a n a a nt e r o r i s me y a n g d i l a k u k a nd e n g a nt r a n s a k s i k e u a n g a nme l a l u i P J Ky a n g t i d a kb e r i j i nt e t a pd a p a t d i k e n a i a n c a ma n h u k u ma ns e b a g a i ma n a d i a t u r d a l a mU Ui n i . d a nd i w a j i b k a np u l a me n y a mp a i k a nl a p o r a nt e r t u l i s me n g e n a i p e n y e l e n g g a r a a n 4 0 k e g i a t a n p e n g i r i ma n u a n g k e p a d a L P P . U n t u kk e p e n t i n g a np e r l i n d u n g a n ma s y a r a k a td a np e n c e g a h a nt i n d a k p i d a n a p e n d a n a a nt e r o r i s me s e r t a me mu t u s r a n t a i p e n d a n a a nd a l a mk e j a h a t a n t e r o r i s me . A p a b i l a P e n g g u n a J a s a K e u a n g a n t i d a k me mb e r i k a n i n f o r ma s i y a n g d i mi n t a s e b a g a i ma n a d i ma k s u d . l i n g k u pp e n g a t u r a nd a l a mU Ui n i me l i p u t i p u l a p e l a k s a n a a nt r a n s a k s i k e u a n g a n y a n g d i l a k u k a n me l a l u i P J Kf o r ma l ma u p u n P J Kn o n f o r ma l . P T D y a n g t i d a k me mi l i k i i j i nd a nt e r b u k t i t e r l i b a t d a l a mp e n d a n a a nt e r o r i s me .S e d a n g k a n u n t u k p e n g a w a s a nk e g i a t a np e n g i r i ma nu a n g me l a l u is i s t e m l a i n n y a .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me y a n gd i s e d i a k a no l e hP J Kd e n g a nme l a mp i r k a nd o k u me np e n d u k u n g . t a n g g a l p e n g i r i ma nu a n g . j u ml a hu a n g . a l a ma t p e n g i r i ma s a l .

p e n y i d i k . p e n y i d i k . p e n u n t u t u mu m.a t a uh a k i m. a t a uh a k i m d a l a m w a k t up a l i n gl a ma 1 ( s a t u )h a r ik e r j as e j a kt a n g g a l p e l a k s a n a a nP e mb l o k i r a n .h a r u sd i l a k u k a n p e n c a b u t a np e l a k s a n a a nP e mb l o k i r a no l e hP J Ka t a up i h a ky a n g me l a k u k a n P e mb l o k i r a nb e r d a s a r k a np e r mi n t a a nP P A T Ka t a up e r i n t a hd a r ip e n y i d i k . d a n / a t a u( b ) t i d a ka d ak e b e r a t a n . k e c u a l i t e r d a p a t u n s u r p e n y a l a h g u n a a n w e w e n a n g . p e n y i d i k . D a l a m h a lt i d a ka d ao r a n gd a n / a t a up i h a kk e t i g ay a n g me n g a j u k a n k e b e r a t a nd a l a mw a k t u9 0( s e mb i l a np u l u h )h a r i s e j a kt a n g g a l P e mb l o k i r a n . S e t i a pO r a n gd a p a t me n g a j u k a nk e b e r a t a nt e r h a d a p p e l a k s a n a a n P e mb l o k i r a n . P e mb l o k i r a nd i l a k u k a no l e hP P A T K . Me n g e n a i k e b e r a t a n . p a t u t d i d u g a d i g u n a k a na t a ua k a nd i g u n a k a nb a i k s e l u r u h a t a u s e b a g i a n u n t u k T i n d a k P i d a n a T e r o r i s me . P e n g a j u a nk e b e r a t a nd i l a k u k a nd a l a mw a k t up a l i n gl a ma7( t u j u h ) h a r i s e j a k d i k e t a h u i n y aP e mb l o k i r a n . ma k ap e n g a d i l a n me mu t u s k a nD a n at e r s e b u td i r a mp a s u n t u k n e g a r a a t a u d i mu s n a h k a n . P J Ka t a up i h a ky a n gb e r w e n a n gy a n gme l a k s a n a k a n p e r i n t a hP e mb l o k i r a nt i d a kd a p a t d i t u n t u t b a i ks e c a r ap e r d a t ama u p u np i d a n a d a l a mp e l a k s a n a a nP e mb l o k i r a nb e r d a s a r k a nk e t e n t u a nd a l a mU n d a n g U n d a n g i n i . a t a uh a k i m d e n g a n me mi n t aa t a u me me r i n t a h k a nP J Ka t a up i h a kb e r w e n a n gu n t u k me l a k u k a nP e mb l o k i r a n . ma k a p e n g a d i l a nn e g e r i me l a k u k a np e me r i k s a a ng u n ame mu t u s k a nD a n at e r s e b u t d i k e mb a l i k a nk e p a d ay a n gb e r h a ka t a ud i r a mp a su n t u kn e g a r a . D a l a mw a k t u 3 0( t i g a p u l u h ) h a r i s e j a k d i u mu mk a n : ( a ) t e r d a p a t p i h a ky a n g k e b e r a t a n .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me Pemblokiran dan Cara Penanganannya P e mb l o k i r a nd i l a k u k a nt e r h a d a pD a n ad a nh a r t ak e k a y a a ny a n gs e c a r a l a n g s u n g a t a ut i d a k l a n g s u n g . P J Ka t a up i h a ky a n gb e r w e n a n gw a j i b me n y e r a h k a n b e r i t a a c a r a p e l a k s a n a a n P e mb l o k i r a n k e p a d a P P A T K . 84 .P e n g a j u a n k e b e r a t a n t e r h a d a p p e l a k s a n a a n P e mb l o k i r a n d i s a mp a i k a n k e p a d a P P A T K . a t a u h a k i m.D a l a m h a lk e b e r a t a nd i t o l a k .D a l a m h a lk e b e r a t a nd i t e r i ma . p e n u n t u t u mu m. p e n u n t u tu mu m. p e n u n t u t u mu m. P P A T Ka t a up e n y i d i k me n y e r a h k a np e n a n g a n a nD a n ay a n g d i k e t a h u i a t a up a t u t d i d u g a t e r k a i t T i n d a k P i d a n a T e r o r i s me k e p a d a p e n g a d i l a nn e g e r i . P e mb l o k i r a nd i l a k u k a nd a l a mw a k t up a l i n gl a ma9 0 ( s e mb i l a np u l u h )h a r i .p i h a ky a n g me n g a j u k a n k e b e r a t a n d a p a t me n g a j u k a n k e p e n g a d i l a n .

L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me Pemblokiran Secara Serta Merta (Freezing without delay) P e mb l o k i r a nS e r t a me r t aa d a l a ht i n d a k a n me n c e g a hp e n t r a n s f e r a n . 85 . Pemblokiran Serta Merta Berdasarkan Publikasi Internasional T e r h a d a pd a f t a rT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s i T e r o r i sy a n gd i k e l u a r k a no l e h D e w a nK e a ma n a nP B B . p e r l ud i a t u r me k a n i s me u n t u kp e mb l o k i r a ns e r t a me r t a t e r h a d a pd a n aa t a ua s e ty a n gd i mi l i k i a t a ud i k u a s a i o l e ho r a n ga t a ue n t i t a s n a ma n y ay a n gt e r c a n t u md a l a m D a f t a r T e r o r i s a t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s .D a n ay a n gt e r k a i td e n g a nT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s iT e r o r i ss e b a g a i ma n a t e r c a n t u md a l a mp u b l i k a s i y a n gd i k e l u a r k a no l e ho r g a n i s a s i i n t e r n a s i o n a l d a n / a t a u p e me r i n t a h . p a t u t d i d u g a d i g u n a k a na t a u a k a nd i g u n a k a nb a i ks e l u r u ha t a us e b a g i a nu n t u kt i n d a kp i d a n at e r o r i s me . p e n u n t u t u mu m.D e n g a nd e mi k i a ns e t i a pO r a n gd a p a t me n g a j u k a nk e b e r a t a n t e r h a d a pd a f t a r T e r o r i s d a nO r g a n i s a s i T e r o r i s y a n g d i k e l u a r k a no l e ho r g a n i s a s i i n t e r n a s i o n a l . P P A T K .p e n e mp a t a n / p e mb a g i a n . Me n t e r i L u a rN e g e r i me n e r u s k a nk e b e r a t a nt e r s e b u tk e p a d aD e w a n K e a ma n a n P e r s e r i k a t a n B a n g s a B a n g s a .D a n a y a n g s e c a r a l a n g s u n g a t a ut i d a k l a n g s u n g . U p a y a t e r h a d a pp e mb l o k i r a ns e r t a me r t ai n ime r u p a k a nb a g i a np e n t i n gd a l a m p e l a k s a n a a n R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B B1 2 6 7 . d a ni n s t a n s i y a n gb e r w e n a n gd i ma n aD a n ay a n gd i b l o k i r t e t a pme n j a d i mi l i kT e r o r i s a t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s y a n g me mi l i k i k e p e n t i n g a nt e r h a d a pD a n a y a n gd i b l o k i r d a nd a p a t t e r u s d i k e l o l a o l e hP e n y e d i a J a s a K e u a n g a na t a up i h a k l a i ny a n gd i t e t a p k a no l e hT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s i T e r o r i ss e b e l u md i l a k u k a n p e mb l o k i r a n .K e b e r a t a nt e r h a d a pd a f t a ry a n gd i k e l u a r k a no l e ho r g a n i s a s i i n t e r n a s i o n a l d i s a mp a i k a nk e p a d a o r g a n i s a s i i n t e r n a s i o n a l me l a l u i Me n t e r i L u a r N e g e r i .p e r p i n d a h a n / p e r g e r a k a nD a n ay a n gd i l a k u k a no l e hP J K . S e l a n j u t n y at e r h a d a p t i n d a k a n p e mb l o k i r a n t e r s e b u td i a t u r me k a n i s me k e b e r a t a n . h a k i m.p e n u k a r a n . P e mb l o k i r a n S e r t a me r t a d i l a k u k a n t e r h a d a p : a . p e n y i d i k . a t a u b . p e n g u b a h a n b e n t u k .

S e t e l a hme mp e r o l e hp e n e t a p a nK e t u aP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t aP u s a t . K e p a l aK e p o l i s i a nR e p u b l i kI n d o n e s i ame mb e r i t a h u k a ns e c a r at e r t u l i s k e p a d ao r a n ga t a uK o r p o r a s i d a l a mw a k t up a l i n gl a mb a t 3 0( t i g ap u l u h ) h a r i k e r j a . o b a t o b a t a nd a np e r a w a t a nme d i s . p r e mi a s u r a n s i d a nb i a y a p e l a y a n a np u b l i k . p a j a k .t e r ma s u kp e mb a y a r a nu n t u k ma k a n a n . D a f t a r t e r d u g aT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s iT e r o r i sd i k e l u a r k a no l e hK e p a l aK e p o l i s i a n N e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i ab e r d a s a r k a np e n e t a p a nP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t a P u s a t . K e p a l aK e p o l i s i a nR e p u b l i kI n d o n e s i a me n y a mp a i k a nd a f t a rt e r d u g a T e r o r i sa t a uO r g a n i s a s iT e r o r i ss e r t as e t i a pp e r u b a h a n n y ak e p a d ai n s t a n s i 86 . s e w aa t a uh i p o t i k . K e p a l aK e p o l i s i a nR e p u b l i kI n d o n e s i ame n g a j u k a np e r mo h o n a nk e p a d a P e n g a d i l a nN e g e r iJ a k a r t aP u s a tu n t u k me n e t a p k a np e n c a n t u ma ni d e n t i t a s o r a n ga t a uK o r p o r a s i k ed a l a mD a f t a r t e r d u g aT e r o r i s a t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s . ma k aK e t u aa t a uWa k i l K e t u aP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t aP u s a t s e g e r a me n e t a p k a n i d e n t i t a s o r a n ga t a uk o r p o r a s i t e r s e b u t s e b a g a i o r g a n i s a s i t e r r o r i s . p e mb a y a r a nb i a y ap r o f e s i o n a l y a n gw a j a r d a np e n g g a n t i a nb i a y a y a n g d i k e l u a r k a nt e r k a i t d e n g a np e n y e d i a a nj a s a h u k u m.L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me P e mb l o k i r a nS e r t a me r t ad a p a td i k e c u a l i k a nu n t u kt u j u a np e me n u h a n k e b u t u h a np o k o kT e r o r i sb e s e r t ak e l u a r g a . Daftar Terduga Teroris dan Organisasi Teroris Yang Dikeluarkan Oleh Pemerintah. d o k u me n d a n / a t a uI n f o r ma s i y a n gd i a j u k a nd a p a t d i j a d i k a nd a s a r u n t u kme n c a n t u mk a n i d e n t i t a s o r a n g a t a uK o r p o r a s i k e d a l a mD a f t a r t e r d u g a T e r o r i s a t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s . a t a u b i a y a a d mi n i s t r a s i r u t i n p e me l i h a r a a n D a n a y a n g d i b l o k i r . K e p a l a K e p o l i s i a nR e p u b l i kI n d o n e s i as e g e r a me n c a n t u mk a ni d e n t i t a so r a n ga t a u K o r p o r a s ik ed a l a m D a f t a rt e r d u g aT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s iT e r o r i s . K e t u a a t a u Wa k i l K e t u a P e n g a d i l a n N e g e r i J a k a r t a P u s a t h a r u s s e g e r a me me r i k s a d a nme n e t a p k a np e r mo h o n a nt e r s e b u t d a l a mw a k t up a l i n g l a ma 3 0( t i g a p u l u h ) h a r i k e r j a s e j a k d i t e r i ma n y a p e r mo h o n a nA p a b i l a d a l a mp e me r i k s a a n . P e r mo h o n a np e n g e c u a l i a nd i s a mp a i k a nk e p a d ad a nd i p u t u s k a no l e hK e p a l a P P A T Ka t a u p e j a b a t y a n g b e r w e n a n g s e s u a i t i n g k a t p e me r i k s a a n p e r k a r a . P e r mo h o n a np e n g e c u a l i a nd i s a mp a i k a no l e ho r a n gp e r s e o r a n g a na t a u p i h a k y a n g me mi l i k ih u b u n g a n l a n g s u n gd e n g a n D a n a y a n g d i b l o k i r .

P e n y a mp a i a nd a f t a rd i s e r t a ip e r mi n t a a nP e mb l o k i r a ns e c a r as e r t a me r t a t e r h a d a ps e l u r u hH a r t aK e k a y a a nd a nD a n ay a n gd i mi l i k i a t a ud i k u a s a i . D a l a mh a l k e b e r a t a nd i t e r i ma . b a i k s e c a r al a n g s u n gma u p u nt i d a kl a n g s u n go l e ho r a n ga t a uK o r p o r a s i . d a n / a t a u( d ) a l a s a nd e mi h u k u m. k e c u a l i p e n c a n t u ma nt e r s e b u t d i p e r p a n j a n gb e r d a s a r k a np e n e t a p a nP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t aP u s a t .K e p a l aK e p o l i s i a nN e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i as e g e r a me mi n t ai n s t a n s i p e me r i n t a ht e r k a i ta t a uP J Ky a n gme l a k u k a nP e mb l o k i r a n u n t u kme n c a b u t P e mb l o k i r a ny a n gd i t u a n g k a nd a l a mb e r i t aa c a r ap e n c a b u t a n P e mb l o k i r a n . S e t i a pO r a n ga t a uK o r p o r a s id a p a t me n g a j u k a nk e b e r a t a nt e r h a d a p p e n c a n t u ma ni d e n t i t a s n y a d a l a md a f t a r t e r d u g a T e r o r i s a t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s k e p a d aP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t aP u s a t u n t u kme mp e r o l e hp e n e t a p a nt e n t a n g 87 . A p a b i l a p e n c a n t u ma ni d e n t i t a s o r a n g a t a uK o r p o r a s i d a l a md a f t a r t e r d u g a T e r o r i sa t a uO r g a n i s a s iT e r o r i st e l a h me l a mp a u i1 ( s a t u )t a h u n .P e r p a n j a n g a nd a p a t d i b e r i k a np a l i n gb a n y a k2( d u a ) k a l i ma s i n g ma s i n gt i d a kme l a mp a u i 1( s a t u ) t a h u n .( c ) t e r d a p a t p e n e t a p a nP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t a P u s a t . I d e n t i t a s o r a n ga t a uK o r p o r a s i d i h a p u s k a no l e hK e p a l a K e p o l i s i a nN e g a r a R e p u b l i kI n d o n e s i ad a r i d a f t a r t e r d u g aT e r o r i s a t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s k a r e n a : ( a )t e l a h me l a mp a u i1 ( s a t u )t a h u nt e r h i t u n gs e j a kt a n g g a lp e n c a n t u ma n i d e n t i t a st e r s e b u to l e hK e p a l aK e p o l i s i a nN e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i a .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me p e me r i n t a ht e r k a i td a nL P Pu n t u ks e l a n j u t n y ad i s a mp a i k a nk e p a d aP J K .I n s t a n s i p e me r i n t a ht e r k a i t a t a uP J Kw a j i bme l a k u k a nP e mb l o k i r a ns e c a r as e r t ame r t a t e r h a d a ps e mu aH a r t aK e k a y a a nd a nD a n ay a n gd i mi l i k i a t a ud i k u a s a i b a i k s e c a r a l a n g s u n g ma u p u nt i d a kl a n g s u n g o l e ho r a n ga t a uK o r p o r a s i b e r d a s a r k a n d a f t a rt e r d u g aT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s iT e r o r i sy a n gt e l a hd i k e l u a r k a no l e h K e p a l a K e p o l i s i a n N e g a r a R e p u b l i k I n d o n e s i a b e r d a s a r k a n p e n e t a p a n P e n g a d i l a n N e g e r i J a k a r t a P u s a t . ( b )t e r d a p a tp e n e t a p a nP e n g a d i l a nN e g e r iJ a k a r t aP u s a t . O r a n ga t a uK o r p o r a s i d a p a t me n g a j u k a nk e b e r a t a nt e r h a d a pp e l a k s a n a a n P e mb l o k i r a nk e p a d aK e p a l aK e p o l i s i a nN e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i a .K e p a l a K e p o l i s i a n N e g a r a R e p u b l i k I n d o n e s i a d a p a t me n g a j u k a n p e r mo h o n a n p e r p a n j a n g a nk e p a d aP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t aP u s a t .

Hukum Acara (Penyidikan.a t a u( c )t e r d a k w a . P e r mo h o n a n h a r u s d i s e r t a i a l a s a n y a n g me mp e r k u a t p e r mo h o n a n . Penuntan dan Pemeriksaan di Sidang Pengadilan) U n d a n g u n d a n g t e n t a n gP e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me s e b a i k n y a j u g a me mu a tk e t e n t u a n me n g e n a iH u k u m A c a r aa t a uk e g i a t a np e y i d i k a n p e n u n t u t a nd a np e me r i k s a n a a nd i s i d a n gp e n g a d i l a nt e r h a d a pp e r k a r a p e r k a r a p e d a n a a n t e r o r i s me . d i t e r i ma . p e n g a t u r a n me n g e n a ia l a tb u k t iy a n gd i p e r l u a s( d i t e r i ma a l a tb u k t i e l e k t r o n i k ) . a t a uh a k i mb e r w e n a n gu n t u kme mi n t ak e t e r a n g a n d a r iP e n y e d i aJ a s aK e u a n g a n me n g e n a iD a n ad a r i :( a )o r a n gy a n gt e l a h d i l a p o r k a no l e hP P A T Kk e p a d ap e n y i d i k .p e n u n t u t a n . t e r h a d a pp e n y i d i k . a t a uh a k i m t i d a kb e r l a k uk e t e n t u a nu n d a n g u n d a n gy a n gme n g a t u r me n g e n a i r a h a s i a b a n k d a n k e r a h a s i a a n T r a n s a k s i k e u a n g a n l a i n n y a . Ma t e r i mu a t a nme n g e n a i H u k u mA c a r a y a n g d i a t u r d a p a t b e r s i f a t k h u s u s a t a us p e s i a l i s .P e r mo h o n a n p e n g e c u a l i a n d i s a mp a i k a n o l e ho r a n g a t a uK o r p o r a s i y a n g me mi l i k i k e p e n t i n g a n l a n g s u n g d e n g a n H a r t a K e k a y a a n d a n D a n a y a n g d i b l o k i r . a n t a r al a i np e n g a t u r a n me n g e n a i p e r mi n t a a nk e t e r a n g a nd a r i p e n y e d i aj a s ak e u a n g a ny a n gme n g e s a mp i n g k a nd a r i k e t e n t u a nr a h a s i ab a n k b a n k . P e n y i d i k a n .d i k i r i mk a n . p e n u n t u t u mu m.k e c u a l id i t e n t u k a nl a i n . A l a tb u k t iy a n gs a hd a l a m p e mb u k t i a nT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a n T e r o r i s mei a l a h : ( a )a l a tb u k t is e b a g a i ma n ad i ma k s u dd a l a mH u k u mA c a r a P i d a n a .( b )t e r s a n g k a . p e n u n t u t u mu m.L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me p e n g h a p u s a ni d e n t i t a s n y ad a r i d a f t a rt e r d u g aT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s .S e d a n g k a nu n t u k k e p e n t i n g a np e me r i k s a a nd a l a mp e r k a r aT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me .( b )a l a tb u k t il a i nb e r u p ai n f o r ma s iy a n gd i u c a p k a n .d a np e me r i k s a a nd is i d a n gp e n g a d i l a ns e r t a p e l a k s a n a a np u t u s a ny a n gt e l a hme mp e r o l e hk e k u a t a nh u k u mt e t a pt e r h a d a p t i n d a kp i d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s me d i l a k u k a ns e s u a id e n g a nk e t e n t u a n p e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a n . d a n l a i n l a i n . a t a ud i s i mp a ns e c a r ae l e k t r o n i kd e n g a na l a to p t i ka t a ua l a ty a n g 88 . p e n y i d i k . t i n d a k a n p e mb l o k i r a n . D a l a m me mi n t ak e t e r a n g a n . P e l a k s a n a a nP e mb l o k i r a nd a p a t d i k e c u a l i k a nt e r h a d a ps e b a g i a nd a r i H a r t a K e k a y a a n d a n D a n au n t u k p e me n u h a n k e b u t u h a n p o k o k .

Kerja Sama D a l a m me n c e g a hd a nme mb e r a n t a s T i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me .R U U me n g a t u r me n g e n a i p e n g a j u a nk e b e r a t a ny a n g d i l a k u k a no l e ht e r d u g a t e r o r i s a t a uo r g a n i s a s i t e r o r i s y a n g ma s u kd a l a m d a f t a rP u b l i k a s iP e me r i n t a ht e r k a i th a lt e r s e b u t .( P a s a l3 6 ) .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me s e r u p ao p t i k .d a nl e mb a g al a i ny a n gt e r k a i td e n g a n p e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a nT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me . Me me n u h ia z a sp r a d u g at a k b e r s a l a h .P e me r i k s a a nd is i d a n g p e n g a d i l a nt e r h a d a pT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me d a p a td i l a k u k a n me l a l u i a l a t k o mu n i k a s i a u d i ov i s u a l y a n gd i s e s u a i k a nd e n g a nk e b u t u h a nd a n k o n d i s i y a n g d i h a d a p i . D a l a m r a n g k a me n c e g a hd a n me mb e r a n t a sT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a n T e r o r i s me .d a n / a t a u( c )D o k u me n .b a n t u a nh u k u m t i mb a lb a l i kd a l a m ma s a l a hp i d a n a . 89 . i n s t a n s ip e n e g a kh u k u m. d a p a t me l a k u k a n k e r j a s a ma .P P A T K . D a l a m h a li n ip e me r i k s a a np e r k a r at e r h a d a pd u g a a nt i n d a kp i d a n a p e n d a n a a nt e r o r i s me y a n gd i t u d u h k a nk e p a d ay b sd a p a td i l a k u k a ns e c a r a s i mu l t a n d e n g a n p e me r i k s a a n p e r d a t a a t a s p e n g a j u a n k e b e r a t a n t e r s e b u t . b a i k d a l a ml i n g k u p n a s i o n a l ma u p u n i n t e r n a s i o n a l . N e g a r aa t a uy u r i s d i k s ia s i n gd a p a tme n y a mp a i k a np e r mi n t a a nk e p a d a P e me r i n t a hI n d o n e s i au n t u k me l a k u k a nP e mb l o k i r a na t a sD a n ad a nh a r t a k e k a y a a ny a n gd i d u g ab e r a d aa t a ub e r a d ad iI n d o n e s i a mi l i ko r a n ga t a u K o r p o r a s i y a n gi d e n t i t a s n y at e r c a n t u md a l a md a f t a rT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s y a n g d i k e l u a r k a n o l e h n e g a r a a t a u y u r i s d i k s i a s i n g . b a i kd i l a k u k a nb e r d a s a r k a n p e r j a n j i a n a t a u p r i n s i p r e s i p r o s i t a s . P e me r i k s a a n P e r k a r a T i n d a k P i d a n a P e n d a n a a n T e r o r i s me d a n P e me r i k s a a nP e r k a r a P e r d a t a a t a s P e n g a j u a nK e b e r a t a nP e mu a t a nD a l a mD a f t a r T e r d u g a T e r o r i s d a n O r g a n i s a s i T e r o r i s Y a n g D i k e l u a r k a n O l e h P e me r i n t a h . P e me r i n t a hd a p a t me l a k u k a nk e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a l y a n gme l i p u t i e k s t r a d i s i .d a n / a t a u k e r j a s a mal a i n n y as e s u a i k e t e n t u a ny a n gb e r l a k u .y a n g d i a j u k a n me l a l u i P e n g a d i l a n N e g e r i .

P J K . Ketentun Peralihan B a bt e n t a n g k e t e n t u a np e r a l i h a ni n i d i t e t a p k a nu n t u k me n g a n t i s i p a s i t e r j a d i n y a k e k o s o n g a nh u k u md a l a mp e n c e g a h a np e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me . Ketentuan sanksi. dan D a l a m h a lP e l a p o r a n .D a l a m h a lL P P me n e mu k a na d a n y aT r a n s a k s iK e u a n g a n Me n c u r i g a k a nT e r k a i tP e n d a n a a nT e r o r i s me y a n gt i d a kd i l a p o r k a no l e h P e n y e d i a J a s a K e u a n g a n k e p a d a P P A T K . P J Ky a n gd e n g a ns e n g a j a me l a n g g a rk e t e n t u a ns e b a g a i ma n ad i ma k s u dd i k e n a k a nd e n d aa d mi n i s t r a t i f p a l i n gb a n y a kR p 1 . 41 90 . b a i ks e c a r a p e r d a t a ma u p u np i d a n a a t a s p e l a k s a n a a nk e w a j i b a n p e l a p o r a n T r a n s a k s i K e u a n g a n Me n c u r i g a k a n T e r k a i t P e n d a n a a n T e r o r i s me . K e c u a l i t e r d a p a t u n s u r p e n y a l a h g u n a a nw e w e n a n g . L P P t e r h a d a p P J Ks e g e r a me n y a mp a i k a n t e mu a nt e r s e b u tk e p a d aP P A T K .P J K w a j i b me n y a mp a i k a nl a p o r a nT r a n s a k s i K e u a n g a nMe n c u r i g a k a nT e r k a i t P e n d a n a a nT e r o r i s mek e p a d aP P A T Kp a l i n g l a ma3( t i g a )h a r i k e r j as e t e l a hP J K me n g e t a h u i a d a n y aT r a n s a k s i K e u a n g a n Me n c u r i g a k a nT e r k a i t P e n d a n a a nT e r o r i s me t e r s e b u t . d a np e g a w a i n y a t i d a k d a p a t d i t u n t u t . 0 0 0 . d e n g a nme n g a k o mo d i r p e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a nt e r k a i t . a g a r d a p a t l e b i h Penerimaan hasil denda administratif sebagaimana dimaksud dinyatakan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak atau penerimaan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 3 . a l a m r a n g k a p e n g a w a s a nk e p a t u h a nP J Ka t a sk e w a j i b a np e l a p o r a nT r a n s a k s iK e u a n g a n Me n c u r i g a k a nT e r k a i tP e n d a n a a nT e r o r i s med i l a k u k a no l e hP P A T Kd a nL P P y a n gb e r w e n a n g .P e n g e n a a ns a n k s i 4 1 D a d mi n i s t r a t i fs e b a g a i ma n ad i ma k s u dd i l a k u k a no l e hL P P . 0 0 0 . P J Kd a nS e t i a pO r a n g y a n gb e r w e n a n gme l a k u k a nP e mb l o k i r a nS e r t a me r t at i d a kd a p a t d i t u n t u t b a i k s e c a r ap e r d a t ama u p u np i d a n ad a l a mp e l a k s a n a a np e mb l o k i r a nb e r d a s a r k a n k e t e n t u a n d a l a mU n d a n g U n d a n g i n i . 0 0( s a t u mi l i a rr u p i a h ) . P e l a k s a n a a nk e w a j i b a np e l a p o r a nT r a n s a k s i K e u a n g a nMe n c u r i g a k a nT e r k a i t P e n d a n a a nT e r o r i s meo l e hP J Kd i k e c u a l i k a n d a r i k e t e n t u a nk e r a h a s i a a ny a n gb e r l a k ub a g i P J Ky a n gb e r s a n g k u t a n . p e j a b a t . 4. 0 0 0 .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me Perlindungan Hukum K e c u a l i t e r d a p a t u n s u r p e n y a l a h g u n a a nw e w e n a n g .

91 .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me e f e k t i fd a l a m p e n a n g a n a np e n d a n a a nt e r o r i s me y a n gb e l u m d i a t u rd a l a m p e r u n d a n g u n d a n g a n s e b e l u mn y a .

K e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a ly a n gd i k u a t k a nt e r s e b u ta n t a r al a i nk e r j a s a ma a n t a r Financial Intellegence Units ( F I U s ) . p e n y i t a a n . 2 . S e b a g a i p e r a n g k a t p e n d u k u n g p e l a k s a n a a n p e n g a t u r a n t e n t a n g p e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me . 3 . o p e r a s i d a n p e n d a n a a n t e r o r i s me . i n t e l i j e nd i b i d a n g k e u a n g a ny a n gk u a t . d a n L e mb a g a P e ma s y a r a k a t a n . K e p o l i s i a n . p e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a ny a n gp r o p o r s i o n a l . p e n e g a k a nh u k u m. r e g u l a t o rs e k t o rf i n a n s i a l( B a n kS e n t r a l ) . K e p a b e a n a n . K e b i j a k a nn a s i o n a l d i b i d a n g p e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me h a r u s me mi l i k i v i s i h o l i s t i k d a nme me n u h i s t a n d a r d .l e mb a g a l e mb a g ap e n g a w a sd a n p e n g a t u rme n g e n a icharity. P a d a h a k i k a t n y a p e mb e r a n t a s a nt e r o r i s me me me r l u k a ns e b u a hl a n d a s a n h u k u my a n gk u a t d a nt e p a t . y a n gme l i p u t i p e mb e k u a n . d a n p e r a mp a s a n a s e tt e r o r i s . U n t u k d a p a t me w u j u d k a np e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a ny a n g e f e k t i f d i b i d a n ga n t ip e n d a n a a nt e r o r i s mema k ad i p e r l u k a nk o mi t me np o l i t i k . Rekomendasi 1. F A T Fma u p u nl e mb a g ad a no r g a n i s a s i i n t e r n a s i o n a l l a i ny a n g k o mp e t e nd i b i d a n gp e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a no r g a n i s a s i . Me k a n i s me k e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a ld i p e r k u a t me n g i n g a ts i f a td a n h a k i k a tp e n d a n a a nt e r o r i s mey a n g me n g i k u t ih a k i k a tk e b e r a d a a n n y a y a n g t r a n s n a s i o n a l .s e r t a k e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a ld a l a m p e mb e r a n t a s a n p e n d a n a a n t e r o r i s me . b a i k y a n g t e l a hd i t e n t u k a n o l e hP B B . Kesimpulan 1 . p e n g a w a s a ns e k t o rk e u a n g a n . P e n g a d i l a n .p e r l u me n y e l a r a s k a nd e n g a n p e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a nt e r k a i t a n t a r al a i nk e t e n t u a nme n g e n a i 92 .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me BAB VI PENUTUP A. d a n k e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a l . B. 4 . s e h i n g g a me mb u t u h k a n a d a n y a k e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a lu n t u kp e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a n n y a . K e j a k s a a n .

L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me t i n d a kp i d a n ap e n c u c i a nu a n gs e r t ap e r a t u r a ny a n gd i k e l u a r k a no l e h ma s i n g ma s i n g l e mb a g a p e n g a w a s d a n p e n g a t u r . 2. 93 . me n g i n g a tu p a y ap e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me d iI n d o n e s i a d i h a r a p k a ns e ma k i ne f e k t i f d a ne f i s i e n . k h u s u s n y ad a l a m me n j e r a t p a r a p e l a k u t e r o r i s me y a n g h e n d a k me l a k u k a n a k s i n y a d i w i l a y a h N K R I .

Mb a i . ( E d i t o r ) “ T e r r o r i s mA n dT h eU NB e f o r ea n d A f t e r S e p t e mb e r 1 1 . D i r e k t o r a t J e n d e r a l P e r a t u r a nP e r u n d a n g u n d a n g a nK e me n t e r i a nH u k u md a nH A MR I . J a k a r t a : P P A T K . H a r i a n Wa s p a d a . “ D a n a T e r o r i s D i t r a n s f e r d a r i B a n k B e s a r ” . J a n e s i c k . A l i r a nD a n aT e r o r i s meT e r u sMe n g a l i rd i B a n k ” . “ P e n g a n t a r H u k u mP i d a n a I n t e r n a s i o n a l ” B a n d u n g R e f i k a A d i t a ma . C . W. 2 0 0 3 . Z a i n a l . D a e d a l u s : S p r i n g . . t a n g g a l 3 S e p t e mb e r 2 0 0 9 . d i a k s e s t a n g g a l 1 0D e s e mb e r 2 0 1 1 . 2 0 0 9 . d e p k u mh a m. D a n u r i . t a n g g a l 4 Me i 2 0 1 1 . Legal Research. V a l e r i e J . c o m/ a r s i p / ? p = 3 6 5 7 6 . d a l a mN o r ma nK . Terrorist Financing Typology Report. d j p p . i d / k e g i a t a n u mu m/ 1 1 0 8 s o s i a l i s a s i r u u t e n t a n g p e n c e g a h a n d a n p e mb e r a n t a s a n t i n d a k p i d a n a p e n d a n a a n t e r o r i s me . t a n g g a l 2 3 Ma r e t 2 0 1 0 . I n d i a n a U n i v e r s i t y P r e s s . R o ml i . . “ S o s i a l i s a s i R a n c a n g a nU n d a n g U n d a n g t e n t a n g P e n c e g a h a nd a nP e mb e r a n t a s a n T i n d a k P i d a n a P e n d a n a a n T e r o r i s me ” . h t t p : / / w w w .Tempo Interaktif. 8 Mb e r a n t a s t e r o r i s ” . .H u s e i n . L a w r e n c e M. I n c . ” K a r e n aL a l a i .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me PUSTAKA A b i d i n . d i a k s e s t a n g g a l 1 2 D e s e mb e r 2 0 1 1 . g o . ” K a p o l r i : P e n d a n a a nT e r o r i s G u n a k a nJ a s a P h o n e B a n k i n g ” . detiknews. “ T h e D a n c e o f Q u a l i t a t i v e R e s e a r c hD e s i g n . D e n z i na n dY v o n n e S . R o n a l d . Handbook of Qualitative Research. B a mb a n g H e n d a r s o . Me t h a p o r . F A T F . 1 9 8 4 .A n s y a a d . 2 0 0 6 . . t a n g g a l 3 0 A g u s t u s 2 0 1 1 . O . E d d y . American Law. h a r i a n s u mu t p o s . 2 0 0 4 . B o u l d e n . N e wY o r k : W. U n i t e d S t a t e s o f A me r i c a . L i n c o l n . h t t p : / / w w w . Sistem dan Mekanisme Penanganan Tindak Pidana Pencucian Uang di Negara Lain (Laporan Pelaksanaan Tugas 2003-2006). D w o r k i n . H i a r i e j . 2 0 0 8 . detik Bandung.“ P e n d a n a a nt e r o r i sI n d o n e s i aT a kL a g id a r iA l Q a i d a h ” . J a n e& We i s s . T h o ma s G e o r g e . Harian Sumut Pos. ” D i a n g g a r k a n R p 2 5 .“ K a t aP e n g a n t a r ”d a l a m T i m P e n y u s u n . ( e d ) . N o r t o n &C o .com. h t ml . H u s e i n . F r i e d ma n . Me t h o d o l o g y a n dMe a n i n g ” . C a l i f o r n i a : S a g e P u b l i c a t i o n . 1 9 7 3 . 1 9 9 4 . 94 . “ P e n g a n t a r H u k u mP i d a n a I n t e r n a s i o n a l ” J a k a r t a A i r l a n g g a . A t ma s a s mi t a .

d i a k s e s 2 6 D e s e mb e r 2 0 1 1 .net. L L . 2 5 2 9 S e p t e mb e r 2 0 1 1 . S o e r j o n o . d i a k s e s t a n g g a l 1 2 d e s e mb e r 2 0 1 1 . ykai. a ma z o n a w s . Wa w a n .“ H e n t i k a nP e n d a n a a nJ a r i n g a nT e r o r i sd iI n d o n e s i aS e k a r a n g ! ” . d i t e r j e ma h k a no l e hP a s c a l Mo e l j o n o . c o mp u t e . . n e t / i n d e x . a p s o u t h e a s t 1 . S y d n e y A u s t r a l a . S o e k a n t o . J a n . h t t p : / / w w w . 2 0 0 3 . “ H u k u mP i d a n a . Pengantar Penelitian Hukum. Tempo Interaktif. c o m. “ S e mi n a r I n t e r n a s i o n a l : P e n c e g a h a nt e r o r i s me P e r l uK e r j a s a ma S e mu a N e g a r a ” . M. R i j a n t o . K o me n t a ra t a sP a s a l p a s a lT e r p e n t i n gd a r iK i t a b U n d a n g U n d a n gH u k u mP i d a n aB e l a n d ad a nP a d a n a n n y ad a l a mK i t a bU n d a n g U n d a n gH u k u mP i d a n aI n d o n e s i a .“ P e n d a n a a nt e r o r i sI n d o n e s i aT a kL a g i d a r i A l Q a i d a h ” . S H . t a n g g a l 2 3 J u n i 2 0 1 1 . t a n g g a l 4 Me i 2 0 1 1 . T a n u j a y a . J a k a r t a: U I P r e s s . k o mp a s . T i mP e n y u s u n .p h p ? o p t i o n = c o m_ c o n t e n t & v i e w = a r t i c l e & i d = 8 5 7 : u p a y a p e n c e g a h a n d a n p e mb e r a n t a s a n t p p u d a n p e n d a n a a n t e r o r i s me & c a t i d = 1 1 7 : t e r k i n i & I t e mi d = 1 3 6 . G r a me d i a P u s t a k a J a k a r t a . “ L a p o r a nP e l a k s a n a a n Counter Financing of Terrorism Study Tour” . C e t a k a nK e t i g a .J o h n .t a n g g a l2 D e s e mb e r2 0 1 1 . t a n g g a l 1 2 D e s e mb e r 2 0 1 1 .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me P r a s e t y a O n l i n e .h t t p : / / w w w . d i a k s e s 95 . h t t p : / / e c 2 1 7 5 4 1 1 7 7 3 6 .“ Me me r a n g iP e n d a n a a n T e r o r i s me ” . R e mme l i n k . h t m. 1 9 8 6 . c o m/ k o mp a s c e t a k / 0 3 0 9 / 2 9 / o p i n i / 5 8 6 7 4 1 . y k a i . P u r w a n t o .

B A R D AN A WA WI A R I E F . . . 96 . MA K A L A HD A NP O WE RP O I N TP R O F . L L . S H ( D i s k u s i P u b l i k d i H o t e l P a n d a n a r a n S e ma r a n g J a w a T e n g a h ) I V . R U UT E N T A N GP E N C E G A H A ND A NP E MB E R A N T A S A NT I N D A KP I D A N A P E N D A N A A NT E R O R I S ME I I . D R . P h . P E N J E L A S A NR U UP P T P P T I I I . S H . P O WE RP O I N TP R O F . ( D i s k u s i P u b l i k d i H o t e l S o f y a n B e t a w i J a k a r t a ) . M. D .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me LAMPIRAN I . H I K MA H A N T OY U WO N O .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful