Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme

2012

LAPORAN AKHIR TIM

NASKAH AKADEMIK RANCANGAN UNDANG-UNDANG
TENTANG

PEMBERANTASAN PENDANAAN TERORISME

Disusun oleh Tim, Di Ketuai oleh :

DR. Yunus Husein, SH.,LL.M

Pusat Perencanaan Pembangunan Hukum Nasional

BADAN PEMBINAAN HUKUM NASIONAL KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA RI
Jakarta, 2012

Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM RI, Tahun 2012

Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT, karena Rahmat-Nya bahwa Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme (RUU PPTPPT) ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme (RUU PPTPPT) ini disusun oleh suatu Tim yang terdiri dari para anggota yang mewakili beberapa kepentingan yang berkaitan dengan pendanaan terorisme seperti Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Kepolisian, Bank Indonesia, Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan serta Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum (BPHN) dan Hak Asasi Manusia RI. Naskah Akademik ini telah disusun dan diawali dengan penelitian yang dilakukan oleh PPATK mengenai perlunya pengaturan di bidang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme. Penelitian tersebut dilengkapi, disempurnakan dan dikembangkan dalam proses penyusunan naskah akademik yang responsif dan aspiratif. Naskah Akademik ini merupakan penjelasan teoritis dan

empiris mengenai maksud dan tujuan pembentukan UU PPTPPT. Keberadaan Naskah Akademik dalam sebuah undang-undang merupakan keharusan menurut UndangUndang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Tim telah bekerja keras dan berusaha secara maksimal untuk menghasilkan Naskah Akademik RUU PPTPPT yang komprehensif dan reliable. Penyusunan Naskah Akedemik RUU PPTPPT juga ini telah mengakomodir masukan dari para pihak melalui kegiatan yang diselenggarakan dalam diskusi publik, forum group discussion (fgd) yang melibatkan pakar, akademisi, praktisi dan instansi terkait, serta diskusi dalam Rapat Tim Penyusun. Tim Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Kepala BPHN yang telah mempercayakan Tim untuk menyusun Naskah Akademik RUU PPTPPT dan juga kepada Prof. Dr. Barda Nawawi Arief dan Prof. Hikmahanto Yuwana, PhD, yang telah meluangkan waktu tenaga, dan pikiran menjadi nara sumber, serta berbagai pihak yang telah membantu penyusunan Naskah Akademik ini.

ii

Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Tim Penyusun berharap Naskah Akademik ini dapat dipedomani dalam pembahasan dan pengesahan RUU PPTPPT yang saat ini sedang dibahas oleh DPR dan Pemerintah.

Jakarta, Oktober

2012,

Ketua Tim Penyusun NA RUU PPTPPT.

Dr. Yunus Husein, SH.,LL.M

iii

................................................................................................................................................... KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS A....... Tujuan dan Kegunaan Penyusunan Naskah Akademik .. 61 47 BAB III.......... B...................... Kondisi Hukum yangada ............. Landasan Filosofis.................................................................................. Harmonisasi Secara Vertikal dan Horizontal ........................... ................................................ serta permasahan yang dihadapi masyarakat........ C......... Landasan Yuridis........................................................................................................................ kondisi yang ada... B.................................... 1 5 6 6 D........................................................................... 9 B............ BAB II............................................Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .. Identifikasi Masalah ............................. DAFTAR ISI ........... Kajian terhadap Asas/prinsip yang terkait dengan penyusunan norma 42 C..................................... D......... LANDASAN FILOSOFIS............................. Keterkaitan dengan peraturan perundang-undangan lain .................................... D........................................................................................... terhadap aspek kehidupan masyarakat dan dampaknya terhadap keuangan negara... Kajian terhadap praktik penyelenggaraan.................................................................. SOSIOLOGIS DAN YURIDIS A............... Landasan Sosiologis.......................................... Kajian Teoritis ..... 70 70 72 iv ........................ C......... Metode .................................................... B............................................... Kajian terhadap implikasi penerapan sistem baru yang akan diatur dalam UU.................................................. 64 67 68 69 BAB IV........................... C.... Latar Belakang................................. EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT A.............. ii iv BAB I PENDAHULUAN A....................... Status Peraturan Perundang-undangan yang ada .............................

.............Rekomendasi.Kerjasama………………………………………………………………………… .................. dan …………………………………………………………… Ketentuan Peralihan……………………………………………………………….............Daftar Terduga Teroris dan Organ Teroris Yang Dikeluarkan oleh Pemerintah ……………………………………………………............. BAB VI... . Penuntutan dan Pemeriksaan di Sidang Pengadilan)………………………………………………………….. 92 92 DAFTAR PUSTAKA ..................... Materi Muatan yang diatur…………………………………………………….......... Ketentuan Sanksi........Pemblokiran dan Cara Penanganannya…………………………… ........ Arah dan Jangkauan Pengaturan .....Ruang Lingkup………………………………………………………………… . .. II.............................. B.........M.... Hikmahanto Yuwono.......... PENUTUP A.................. 4....Perlindungan Hukum………………………………………………………..... Barda Nawawi Arief.................... Memuat Pengertian dan Frase…………………................... ............ Penjelasan RUU PPTPPT III...... Sasaran Yang Akan diwujudkan.Pencegahan dan Pengawasan Kepatutan…………………………. JANGKAUAN.........Kesimpulan .......... Power Point Prof.................Pemblokiran Serta Merta Berdasarkan Publikasi InterNasional…………………………………………………………………………............................Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme BAB V.. SH...... Ketentuan Umum.Ph.... v ..... 2... RUU tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme....... 1..Pemblokiran Secara Serta Merta (Freezing Without Delay) .............. ............... Ruang Lingkup Materi Muatan...... 94 Lampiran: I........... 75 79 80 81 81 82 84 85 85 86 88 89 90 90 90 3...LL..... Makalah dan Power Point Prof....D.... .. .... SH IV.......DR.......... B..... ARAH PENGATURAN DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN A.................Hukum Acara (Penyidikan....................

Meluasnya aksi teror yang didukung oleh pendanaan yang bersifat lintas negara mengakibatkan pemberantasannya membutuhkan kerja sama internasional. menanggulangi. perdamaian abadi. dan keadilan sosial. dan dinamis. Dalam rangka mencegah.Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 2012 BAB I PENDAHULUAN A. 1999). berwenang untuk membuat perjanjian dengan negara lain. Pemerintah Republik Indonesia telah mengundangkan Undang-Undang Nomor 37 Tahun Penjelasan atas UU No. Tahun 2012 . perlu ditingkatkan pencegahan terhadap suatu hal yang mengganggu stabilitas nasional. 6 Tahun 2006 tentang Pengesahan Internastional Convention the Suppression of the Financing of Terrorisme. Masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia saat ini sedang dihadapkan pada keadaan yang sangat mengkhawatirkan akibat maraknya aksi teror. 1999 (Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme. dan sehubungan dengan politik luar negeri yang bebas aktif. Latar Belakang Cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum. dan memberantas tindak pidana terorisme.1 Untuk mencapai cita-cita tersebut dan menjaga kelangsungan pembangunan nasional dalam suasana aman. Sesuai dengan ketentuan Pasal 11 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Presiden Republik Indonesia dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Pemerintah Republik Indonesia telah mengundangkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi Undang-Undang serta Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. baik dalam lingkungan nasional maupun internasional. 1 Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM RI. tenteram.

ternyata tidak cukup maksimal untuk mencegah dan memberantas tindak pidana terorisme. upaya penanggulangan tindak pidana terorisme dinyakini tidak akan optimal tanpa adanya pencegahan dan pemberantasan terhadap pendanaan terorisme. Dengan adanya landasan hukum tersebut. baik bilateral maupun multilateral. Upaya pemberantasan dalam hal ini tindak pidana terorisme yang dilakukan pemerintah telah cukup memuaskan. 1999 (Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme. 1999). Sehubungan dengan hal tersebut dan sesuai dengan komitmen Pemerintah dan Rakyat Indonesia untuk senantiasa aktif mengambil bagian dalam setiap upaya pemberantasan segala bentuk tindak pidana. dan internasional. Pemerintah Republik Indonesia dapat membuat perjanjian. Upaya pemberantasan tindak pidana terorisme dengan cara konvensional (follow the suspect) yakni dengan menghukum para pelaku teror. baik yang bersifat nasional maupun transnasional. dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme. terutama tindak pidana terorisme. terutama hak yang paling dasar. Pertimbangan Indonesia untuk menjadi Pihak pada International Convention for the Suppression the Financing of Terrorism. penanggulangan. yaitu hak hidup. Oleh karena itu. regional. Unsur pendanaan merupakan faktor utama dalam setiap aksi terorisme sehingga upaya penanggulangan tindak pidana terorisme diyakini tidak akan berhasil seperti yang diharapkan tanpa pemberantasan pendanaannya. bangsa Indonesia bertekad untuk memberantas tindak pidana pendanaan terorisme melalui kerja sama bilateral. Upaya lain yang perlu dilakukan untuk mencegah dan memberantas tindak pidana terorisme adalah dengan menerapkan pendekatan follow the money yang melibatkan PPATK.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 1999 tentang Hubungan Luar Negeri dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. dan aparat penegak hukum guna mendekteksi adanya suatu aliran dana yang digunakan atau patut diduga 2 . khususnya yang berkaitan dengan pencegahan. Namun upaya pemerintah tersebut hanya terbatas pada upaya penangkapan pelaku dan kurang memberikan perhatian terhadap unsur pendanaan yang merupakan faktor utama dalam setiap aksi teror. Terorisme merupakan kejahatan luar biasa dan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia. Penyedia Jasa Keuangan.

1999 (International Convention for The Suppression of The Financing of Terrorism. Pada prinsipnya undang-undang ratifikasi atas suatu konvensi belum sepenuhnya dapat dilaksanakan (in-operative) atau memerlukan pengaturan lebih lanjut. juga dipicu oleh adanya 9 Rekomendasi FATF. 1999. Khusus atau ini Nine Special Recommendation yang dikeluarkan Rekomendasi merupakan rekomendasi khusus yang digunakan sebagai standar internasional untuk 3 .Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme digunakan untuk pendanaan kegiatan terorisme. Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pendanaan terorisme belum mengatur pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme secara memadai dan komprehensif. RUU tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme merupakan upaya untuk menindaklanjuti ratifikasi Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme. 6 Tahun 2006. 1999) dengan Undang-undang No. Upaya penyelarasan tersebut dilakukan melalui penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme. maka Indonesia juga wajib untuk membuat atau menyelaraskan peraturan perundangundangan terkait pendanaan terorisme sehingga sejalan dengan ketentuanketentuan yang diatur dalam konvensi tersebut. Pemutusan mata rantai pendanaan terorisme tersebut tentunya membutuhkan landasan hukum yang jelas agar dapat dilaksanakan secara benar dan dapat pula dipertanggungjawabkan secara hukum. karena suatu kegiatan terorisme tidak mungkin dapat dilakukan tanpa adanya pelaku teror yang berperan sebagai penyandang dana untuk kegiatan terorisme tersebut. Perlunya pengaturan tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme dalam sebuah perundang-undangan tersendiri. Dalam hal RUU mengenai Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme ini telah disahkan. akan berlaku sebagai hukum (positif) nasional Indonesia. Dengan telah diratifikasinya Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengesahan International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism. yang secara yuridis formal sejajar kedudukannya dengan undang-undang nasional lainnya.

3 2 4 . Undang-Undang ini diharapkan akan mengatur secara komprehensif mengenai asas. kriminalisasi tindak pindana pendanaan terorisme dan tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana pendanaan terorisme. maka diperlukan Undang-Undang tersendiri yang mengatur mengenai Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme. (ii) memutus alur pendanaan terorisme sekaligus mencegah terjadinya kembali serangan atau aksi-aksi terorisme di seluruh tanah air. mekanisme pemblokiran. yang mengatur tentang tindak pidana pendanaan terorisme.3 Sasaran utama tersebut. terciptanya penegakan hukum dan ketertiban yang konsisten dan berkesinambungan. antara lain untuk: (1) mengatasi celah-celah yang ada dalam peraturan yang berkaitan dengan tindak pidana pendanaan terorisme sehingga menjamin kepastian hukum dan ketertiban dalam masyarakat. kemudian FATF mengeluarkan pedoman tambahan untuk memerangi pendanaan terorisme yang kemudian dikenal dengan 8 Rekomendasi Khusus. penyidikan. dan keamanan dan ketertiban nasional.2 Pengaturan tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme disusun dengan tujuan. penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan. Rekomendasi tersebut dikeluarkan FATF pada tahun 1991 dan dimuat dalam laporan yang berisikan 40 Rekomendasi yang memberikan panduan yang komprehensif untuk memerangi tindak pidana pencucian uang. serta banyaknya kelemahan yang dimiliki oleh beberapa peraturan yang telah ada. dan (iii) menunjukkan Pada dasarnya Pengaturan tentang Pemberantasan Pendanaan Terorisme ini dimaksudkan untuk membentuk suatu aturan hukum yang baku dan lengkap mengenai Pemberantasan Pendanaan Terorisme sebagai salah satu cara untuk mewujudkan tujuan nasional. Dengan adanya Nine Special Recommendation FATF. Dipicu oleh adanya peristiwa pemboman gedung WTC di AS yang terjadi pada tanggal 11 September 2001. serta kerjasama baik nasional maupun internasional dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme. (2) mengetahui dan mengatur prosedur dan mekanisme yang jelas dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana terorisme melalui pendekatan follow the money namun tidak menghambat kegiatan pengelola jasa keuangan. Dalam perkembangannya 9 rekomendasi khusus ini telah dilebur dalam 14 rekomendasi FATF. dan disempurnakan pada tahun 2004 menjadi 9 Rekomendasi Khusus. adalah (i) ikut memelihara dan menjaga stabilitas ekonomi. sosial budaya. dan (3) memenuhi Rekomendasi Financial Action Task Force on Money Laundering (FATF) khususnya Nine Special Recommendations.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme menghalangi akses bagi para teroris dan pendukungnya memasuki sistem keuangan. pelaporan dan pengawasan kepatuhan.

Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran tersebut. 5 . Bagaimana pengaturan pendanaan atas terorisme perorangan dan penyediaan harta kekayaan untuk organisasi terorisme. Apakah tindak pidana pendanaan terorisme dikaitkan dengan adanya aksi terorisme tertentu?. Bagaimanakah pengaturan pemidanaan untuk setiap orang yang merencanakan dan/atau menggerakkan orang lain untuk melakukan aksi terorisme.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme komitmen Indonesia yang kuat dan serius dalam pencegahan dan pemberantasan pendanaan terorisme. maka diharapkan upaya pemberantasan pendanaan terorisme di Indonesia menjadi semakin efektif dan efisien. maka permasalahan pokok dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme ini adalah sebagai berikut: 1. B. Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sesuai dengan tugas dan fungsinya dalam pembinaan hukum membentuk tim untuk menyusunan Naskah Akademik RUU tentang Pemberantasan Pendanaan Terorisme dengan melakukan pengkajian dan mempelajari pengaturan serta pengalaman negara lain dalam menangani permasalahan tindak pidana pendanaan terorisme. 2. Dengan adanya Naskah Akademik Rancangan Undang-undang ini nantinya. 4. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian dan latar belakang diatas. atau berkonstribusi dalam pelaksanaan anti terorisme yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan tujuan untuk membantu kelancaran aksi terorisme. Bagaimanakah bentuk pelanggaran bagi setiap orang yang menyediakan dana untuk seseorang atau badan hukum yang terdapat dalam daftar teroris. Bagaimana upaya dalam rangka memutus rantai pendanaan terorisme dan mitigasinya 5. 3. khususnya dalam menjerat para pelaku terorisme yang hendak melakukan aksinya di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

landasan dan prinsip yang digunakan serta pemikiran tentang norma-normanya. Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah Akademik Tujuan Naskah Akademik RUU ini adalah untuk menyusun Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Pemberantasan Pendanaan Terorisme. Dengan memakai konsep perbandingan kita dapat mengetahui apa kelebihan dan kekurangan FIU negara lain dibandingkan dengan eksistensi PPATK.W.5 Penyusunan Naskah Akademik RUU ini juga didukung oleh studi perbandingan hukum6 dengan mengambil bahan hukum sekunder yang tidak hanya dari bahan pustaka Yuridis normatif artinya penelitian mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan. Dalam hal ini. hal. 6 5 4 6 .. 6-8. pengukuran (kuantitatif). Methodology and Meaning”. Janesick. Lihar Valerie J. hal. 1984). yaitu berupa naskah ilmiah yang memuat gagasan tentang perlunya materi-materi hukum yang bersangkutan diatur dengan segala aspek yang terkait. 2006). (New York: W.. It lokks at the langer picture. keputusan pengadilan dan norma-norma yang berlaku dan mengikat masyarakat atau juga menyangkut kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Dalam ilmu pengetahuan terdapat tiga konsep pokok yaitu klasifikasi. Metode yuridis normatif 4 yang bersifat kualitatif. (ed). Lebih jauh lagi. Sedangkan kegunaan penyusunan Naskah Akademik RUU ini adalah merupakan masukan dan pemikiran dalam penyusunan Rancangan UndangUndang tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme dan/atau sebagai acuan atau referensi penyusunan dan pembahasan RUU tersebut. 1994). konsep perbandingan berperan sebagai perantara antara konsep klasifikasi dan pengukuran. Sistem dan Mekanisme Penanganan Tindak Pidana Pencucian Uang di Negara Lain (Laporan Pelaksanaan Tugas 2003-2006). American Law. 212. Metode Metode yang digunakan dalam penyusunan Naskah Akademik RUU.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme C. (Jakarta: PPATK. Yunus Husein. Lincoln. iii. “The Dance of Qualitative Research Design. Janesick. dilengkapi dengan referensi yang memuat konsepsi. adalah : 1. (California: Sage Publication. the whole picture and begin with asearch for understanding of the whole”. Denzin and Yvonne S. hal. Inc. “Qualitative design is holistic. Lihat Lawrence M. “Kata Pengantar” dalam Tim Penyusun. Methapor. D. Perbedaan ketiga konsep tersebut hanya terletak pada cakupan informasi yang tersedia atas suatu objek atau fenomena apapun yang sedang diamati. dengan cara “menggali” pengalaman pemikiran yang berkembang mengenai sistem dan mekanisme penanganan TPPU di negara lain itu kita bisa memahami mengapa dan bagaimana FIU negara lain lebih maju dan efektif jika dibandingkan dengan FIU kita. Handbook of Qualitative Research. yang disajikan dalam bab-bab yang dapat merupakan sistematika suatu rancangan undang-undang. dalam Norman K. dan perbandingan. Friedman. Di antara ketiga konsep dimaksud. konsep perbandingan (komparatif) adalah konsep yang lebih efektif memberikan informasi karena komparatif memiliki atau terikat oleh suatu struktur hubungan logis yang relatif kompleks dan rumit. Menurut Valerie J. Norton & Co.

d) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. q) Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 1425. i) International Convention for the Suppression of Terrorist Bombing. 1997. b) Undang-Undang RI Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengesahan International Convention For The Suppression Of The Financing Of Terrorism. l) FATF 40+9 recommendations. 7 . 1373. h) International Convention for The Suppression of The Financing of Terrorism. 1997. 1333. o) Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 1999. 1999. yaitu antara lain: a) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. e) Undang-Undang RI Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pengesahan Treaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters. 2000. g) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. n) Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1267. tetapi juga bahan-bahan hukum primer seperti peraturan perundang-undangan nasional dan ketentuan-ketentuan internasional yang berlaku dan terkait dengan tindak pidana pendanaan terorisme. 2004. c) Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Pengesahan International Convention for the Suppression of Terrorist Bombing. j) United Nations Convention Against Transnational Organized Crime. 2000. k) Treaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters. f) Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Transnational Organized Crime. p) Resolusi Dewan Keamanan PBB No.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Indonesia maupun asing. 2004. m) Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1372.

cc) Combating the Financing of People Smuggling and other Measure Act (Australia). 1970. ee) Freezing of Terrorist Asset (Australia) ff) Charter of the United Nations Act 1945. x) Convention for the Suppression of Unlawful Acts at Airports Serving International Civil Aviation. 1988. 1979. z) Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Maritime Navigation. akademisi. forum komunikasi dan penelitian lapangan untuk mendapatkan data faktor nonhukum yang terkait terhadap peraturan perundang-undangan yang diteliti. u) Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation. aa) Protocol for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of /Fixed Platforms located on the Continental Shelf. 1973. praktisi. 1988. penguasa. bb) Anti Money Laundering and Counter-Terrorism Financing Act 2006 (Australia). v) Convention on the Prevention and Punishment of Crimes against Internationally Protected Persons. 1988/1989. supplementary to the Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation. pengurus organisasi dan lain sebagainya sebagai narasumber melalui penyelenggaraan forum dialog. including Diplomatic Agents. y) Protocol for the Suppression of Unlawful Acts of Violence at Airports Serving International Civil Aviation 1988. s) Resolusi Dewan Keamanan PBB No. Metode empiris atau sosio-legal adalah penelitian yang diawali dengan penelitian normatif (menelaah) peraturan perundang-undangan. 2. dd) KUHP Australia.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme r) Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 1971. t) Convention for the Suppression of Unlawful Seizure of Aircraft. w) International Convention against the Taking of Hostages. yang dilanjutkan dengan melibatkan ahli/pakar dari kalangan teroritisi. 1988. 1904. 8 .

5. sekalipun di dalamnya terkandung salah satu dari kesepuluh karakteristik pidana” Bassiouni lebih lanjut menjelaskan kesepuluh karakteristik yang dimaksudkan. 2. menjatuhi hukuman atau pidananya). prevent. prosecute. hal. 6. menuntut. 7 Romli Atmasasmita. 3. Criminalization of the proscribed conduct (kriminalisasi atas tindakantindakan tertentu). 9 . mencegah. “Pengantar Hukum Pidana Internasional” (Bandung Refika Aditama. Duty or right to punish the proscribed conduct (kewajiban atau hak untuk memidana tindakan tertentu). 4. Explicit recognition of proscribed conduct as constituting an international crime or a crime under international law (pengakuan secara eksplisit atas tindakan-tindakan yang dipandang sebagai kejahatan berdasarkan hukum internasional). Duty or right to extradite (kewajiban atau hak untuk mengekstradisi). sebagai berikut: 1. Duty or right to prosecute (kewajiban atau hak untuk menuntut). 37. Implicit recognition of the penal nature of the act by establishing a duty to prohibit. 2003).Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme BAB II KAJIAN TOERITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS A. punish or the like (pengakuan secara implisit atas sifat-sifat pidana dari tindakan-tindakan tertentu dengan menetapkan suatu kewajiban untuk menghukum. Kajian Teoritis Pendanaan Terorisme Dalam Perspektif Hukum Pidana Internasional Defenisi tentang tindak pidana internasional atau kejahatan internasional (international crimes) menurut Bassiouni7 sebagai berikut: “Tindak pidana internasional adalah setiap tindakan yang telah ditetapkan di dalam konvensi-konvensi multilateral dan yang telah diratifikasi oleh negaranegara peserta.

Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 7. Duty or right to cooperate in prosecution, punishment, including judicial assistance in penal proceeding (kewajiban atau hak untuk bekerjasama di dalam proses pemidanaan). 8. Establishment of a criminal jurisdiction basis (penetapan suatu dasar-dasar yurisdiksi kriminil). 9. Reference to the establishment of an international court (referensi pembentukan suatu pengadilan internasional). 10. Elimination of the defense of superiors orders (penghapusan alasan-alasan perintah atasan). Dilihat dari perkembangan dan asal-usul tindak pidana internasional ini, maka eksistensi tindak pidana internasional dapat dibedakan dalam: 1. Tindak pidana internasional yang berasal dari kebiasaan yang berkembang di dalam praktik hukum internasional. 2. Tindak pidana internasional yang berasal dari konvensi-konvensi internasional. 3. Tindak pidana internasional yang lahir dari sejarah perkembangan konvensi mengenai hak asasi manusia. Berdasarkan internasionalisasi kejahatan dan karakterisktik kejahatan internasional, dalam konteks hukum kejahatan internasional, kejahatan internasional memiliki hirarki atau tingkatan. Sampai dengan tahun 2003 atas dasar 281 konvensi internasional sejak tahun 1812, ada 28 kategori kejahatan internasional, yaitu8: 1. Aggression. 2. Genocide. 3. Crimes against humanity. 4. War crimes. 5. Unlawful possession or use or emplacement of weapons. 6. Theft of nuclear materials. 7. Mercenaries. 8. Apartheid. 9. Slavery and slave-related practices. 10. Torture and other forms of cruel, inhuman, or degrading treatment.
8

Eddy O.S. Hiariej, “Pengantar Hukum Pidana Internasional” (Jakarta Airlangga, 2009), hal.55.

10

Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 11. Unlawful human experimentation. 12. Piracy. 13. Aircraft hijacking and unlawful acts against international air safety. 14. Unlawful acts against the safety of maritime navigation and the safety of platforms on high seas. 15. Threat and use of force against internationally protected persons. 16. Crimes against United Nations and associated personnel. 17. Taking of civilian hostages. 18. Unlawful use of the mail. 19. Attacks with explosives. 20. Financing of terrorism. 21. Unlawful traffic in drugs and related drug offenses. 22. Organized crime. 23. Destruction and/or theft of national treasures. 24. Unlawful acts against certain internationally protected elements of the environment. 25. International traffic in obsence materials. 26. Falsification and counterfeiting. 27. Unlawful interference with submarine cables. 28. Bribery of foreign public officials. Berdasarkan 28 kategori kejahatan internasional tersebut, M. Cherif Bassiouni9 membagi tingkatan kejahatan interasional menjadi tiga. Pertama, kejahatan internasional yang disebut sebagai international crimes adalah bagian dari jus cogens10. Tipikal dan karakter dari international crimes berkaitan dengan perdamaian dan keamanan manusia serta nilai-nilai kemanusiaan yang fundamental. Terdapat sebelas kejahatan yang menempati hirarki teratas sebagai international crime, yakni: 1. 2. 3.
9

Aggression. Genocide. Crimes against humanity.

Romli Atmasasmita, Op. Cit, hal. 35 Jus Cogens adalah hukum pemaksa yang tertinggi dan harus ditaati oleh bangsa-bangsa beradab di dunia sebagai prinsip dasar umum dalam hukum internasional yang berkaitan dengan moral. Lihat, Eddy O.S. Hiariej, Op. Cit., hal 50.
10

11

Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 4. 5. 6. 7. 8. 9. War crimes Unlawful possession or use or emplacement of weapons. Theft of nuclear materials. Mercenaries. Apartheid. Slavery and slave-related practices.

10. Torture and other forms of cruel, inhuman, or degrading treatment. 11. Unlawful human experimentation. Kedua, kejahatan internasional yang disebut sebagai international delicts. Tipikal dan karakter international delicts berkaitan dengan kepentingan internasional yang dilindungi meliputi lebih dari satu negara atau korban dan kerugian yang timbul berasal dari satu negara. Ada tiga belas kejahatan internasional yang termasuk dalam international delicts, yaitu: 1. 2. Piracy. Aircraft hijacking and unlawful acts against international air safety.

3. Unlawful acts against the safety of maritime navigation and safety of platforms on the high seas. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Threat and use of force against internationally protected person. Crimes against United Nations and associated personnel. Taking of civilian hostages. Unlawful use of the mail. Attacks with explosive. Financing of terrorism.

10. Unlawful traffic in drugs and related drug offenses. 11. Organized crime 12. Destruction and/or theht of national treasures. 13. Unlawful acts against certain internationally protected elements of the environment. Ketiga, kejahatan internasional yang disebut dengan istilah international infraction. Dalam hukum pidana internasional secara normatif, international infraction tidak termasuk dalam kategori international crime dan international delicts. Kejahatan yang tercakup dalam international Infraction hanya ada empat, yaitu: 12

4.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 1. Bribery of foreign public official. Dalam Pasal 20 Statuta Roma seperti tertuang dalam salah satu azas Hukum Kejahatan Internasional (Azas Ne bis In) menyebutkan dalam ayat (1). Jangkauan pemahaman Kejahatan Internasional bukan saja termasuk membantu pendanaan teroris melainkan juga genocide. Unlawful interference with submarine cable. Ayat ini sering kita sebut dengan menganut azas praduga tak bersalah. Kemudian dalam ayat (2) bahwa ”Seseorang tidak boleh dituntut dua kali di pengadilan atas Perkara yang sama” (Principle of Double Joepardy). Jadi memang tidak tertutup kemungkinan adanya “amanat” intenasional untuk menjaring seseorang atau pentolan organisasi teroris. tetap saja orang-oang yang tertangkap karena terlibat atau dituduh terlibat makar nasional atau Intensional harus tetap menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah. melanggar HAM dan sebagainya. 2. harus dianggap TIDAK BERSALAH sampai dibuktikan kesalahannya menurut hukum dan pengadilan yang terbuka. apapun dalil dan landasan hukumnya. Jika mengacu kepada Pasal 11 ayat (1) Deklarasi HAM PBB. Hanya saja karena berkaitan dengan masalah teroris kita batasi 13 . 3. bahwa “Tidak seorang pun diadili di depan mahkamah berkenan dengan perbuatan yang merupakan kejahatan dimana orang tersebut telah dinyatakan bersalah atau dibebaskan oleh Mahkamah”. Kejahatan terkait pendanaan terorisme tersebut merupakan persoalan yang sedang marak dan terjadi di negara ini. Kondisi ini berkaitan dengan adanya penangkapan-penangkapan teroris atau orang-orang yang dituduh Teroris akhir-akhir ini. karena masalah ini masuk dalam dalam katagori (Pendanaan Terorisme) Hukum Pidana Internasional. Falsification and counterfeiting. Walaupun demikian. berbunyi: Setiap orang yang dituntut karena diduga melakukan suatu tindak pidana. ada satu hal yang musti diperhatikan oleh Pemerintah khususnya POLRI adalah. International traffic in obsence materials. dimana ia memperoleh semua jaminan ynag diperlukan untuk pembelaannya”.

Indonesia sudah merespons secara positif gagasan yang berkembang dalam masyarakat internasional bahwa terorisme dan pendanaan terorisme merupakan tindak pidana. merencanakan atau melakukan terorisme. Belum adanya administrasi kependudukan yang tertib.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme dalam hal ini teroris yang berkaitan dengan pendanaannya. Memutus Mata Rantai Pendanaan Terorisme Pentingnya perang melawan pendanaan teroris telah tumbuh seiring dengan maraknya aksi-aksi terorisme di seluruh dunia.12 Karena kesulitan yang berkepanjangan atau kegagalan dalam merumuskan definisi terorisme dalam berbagai konferensi internasional. maka cara yang ditempuh adalah mengatur terlebih dahulu aspekaspek tertentu dari terorisme dalam berbagai perjanjian internasional secara Kriminalisasi atas perbuatan pendanaan terorisme ini sangat mendesak dijadikan sebagai predicate crime dari tindak pidana pencucian uang. Penerapan prinsip mengenal nasabah (Know Your Customer) juga belum sepenuhnya dilakukan. seperti halnya dikenal di beberapa negara. Pengaturan terorisme sebelumnya sudah diakomodasi dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003.11 Meskipun tindakantindakan yang digunakan untuk mencegah pendanaan teroris banyak persamaannya dengan yang digunakan untuk pemberantasan pencucian uang. 12 11 14 . Rohani Abdul Rahim dari Universitas Kebangsaan Malaysia mengemukakan bahwa "Terorime merupakan sebuah tantangan global yang dihadapi pembuat kebijakan di setiap negara dan langkah yang bisa dilakukan adalah dengan memaksimalkan kerjasama internasional dan mendukung kepentingan keamanan nasional”. kurangnya penegakan hukum. Pembuatan identitas palsu yang mudah dilakukan pun ikut mempersulit upaya deteksi dan penyelidikan kegiatan pendanaan terorisme. Dalam UU TPPU tersebut disebutkan bahwa terorisme sebagai salah satu kejahatan masal dari money laundering sehingga uang yang berasal dari aktifitas organisasi teroris dapat dikejar dan dituntut dengan UU TPPU. Datin Paduka Dr. Namun persoalannya. selanjutnya dengan Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantaan Tindak Pidana Pencucian Uang (UU TPPU). Pada intinya pendanaan teroris. Dengan demikian. Sangat beralasan jika pendanaan terorisme diklasifikasikan sebagai tindak pidana. Lihat “Seminar Internasional: Pencegahan Terorisme Perlu Kerjasama Semua Negara”. maupun kurangnya kesadaran nasabah. namun perlu diingat. 23 Juni 2011. seperti belum adanya kartu identitas tunggal (uniform single ID) bagi setiap orang. sumber pendanaan teroris dapat diperoleh secara halal maupun secara tidak halal. menjadi landasan hukum utama dalam menangani berbagai aksi terorisme di Indonesia. Lahirnya Undang-Undang (UU) Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi UU. ternyata masuk dalam katagori kejahatan internasional. adalah penyediaan dukungan keuangan untuk terorisme baik bagi yang mendukung. Dalam hal ini. antara lain Amerika Serikat dengan Social Security Number. bahwa pendanaan teroris dapat pula berasal dari sumber yang halal. Prasetya Online. pemberantasan pendanaan terorisme bukan hal yang gampang. Apa yang dimaksud dengan terorisme itu sendiri sampai saat ini belum berhasil disepakati. baik karena alasan persaingan antar individu industri. sedangkan sumber uang yang terkena pencucian senantiasa merupakan hasil tindak pidana semata.

diakses tanggal 12 Desember 2011. dan menghukum kegiatan pencucian uang internasional dan anti-pendanaan terorisme. AS semakin serius dalam usahanya mencegah pendanaan teroris dengan mengeluarkan the USA’s Antiterrorism and Effective Death Penalty Act (AEDPA) of 1996. dan menghalangi kegiatan terorisme di AS. International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism. Berdasarkan Pasal 2 Konvensi SFT. 14 13 15 . menyediakan perangkat yang sesuai dan diperlukan untuk menangkap/menahan.htm.14 Pemerintah Republik Indonesia sendiri baru ikut menandatangani Konvensi SFT tersebut pada tanggal 24 September 2001. tindakan. Namun setelah peristiwa tanggal 11 September 200113. Undang-Undang tersebut mampu mengkriminalkan warga negara AS yang terbukti menyediakan dana atau dukungan material terhadap kelompok yang oleh Sekretariat Negara AS dianggap sebagai Organisasi Teroris Internasional. seperti masalah pendanaan terorisme dengan dikeluarkannya Konvensi Internasional tentang Pemberantasan Pendanaan Terorisme. antara lain. 1999. “Memerangi Pendanaan Terorisme”. Undang-Undang tersebut dimaksudkan untuk memperkokoh dan menyatukan masyarakat/rakyat AS dengan cara. Dengan Undang-Undang tersebut. pendanaan terorisme terjadi apabila seseorang dengan cara apapun. yaitu International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism. dan upaya untuk meredam. Lihat: Rijanto. Undang-Undang Anti Pencucian Uang Amerika tersebut melarang setiap orang untuk melakukan transaksi keuangan yang melibatkan hasil yang diperoleh dari specified unlawful activity. 1999 (selanjutnya disebut Konvensi SFT) pada mulanya hanya diratifikasi oleh beberapa negara. bahwa tindakan teroris adalah suatu tindakan yang merupakan: Combating Terrorism Financing atau perang terhadap pendanaan terorisme sebenarnya bukan dimulai setelah terjadinya peristiwa pemboman 9/11 di Amerika Serikat (AS). memerangi.com/kompas-cetak/0309/29/opini/586741. Embrio AEDPA of 1996 berawal dari Money Laundering Control Act 1986 yang merupakan Undang-Undang pertama di dunia yang menentukan money laundering (pencucian uang) sebagai kejahatan.kompas. Perang melawan pendanaan terrisme telah dilakukan selama bertahun-tahun oleh AS dan Inggris. semua negara anggota PBB dihimbau untuk meratifikasi konvensi tersebut (sebagaimana tertuang dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1372 (2001). AS ingin meningkatkan pelaksanaan aturan-aturan yang digariskan dan mengefektifkan perangkat investigasinya serta hal-hal yang terkait. yang kemudian mengaturnya dalam "USA Patriot Act" Tahun 2001. Bahkan AEDPA ini juga mengatur pembekuan aset organisasi teroris dan penolakan visa kepada anggota atau pemimpin organisasi teroris. http://www. baik secara langsung maupun tidak langsung. baik di AS maupun di negara-negara lain di seluruh dunia. Masalah terorisme tampaknya merupakan hal yang sulit dilupakan AS (pemerintah dan masyarakatnya). untuk menjalankan suatu tindakan teroris. menyediakan atau mengumpulkan dana dengan tujuan agar dana tersebut digunakan atau dengan sadar mengetahui bahwa dana tersebut akan digunakan baik seluruhnya atau pun sebagian daripadanya. Selengkapnya Pasal 2 Konvensi SFT tersebut menyatakan. secara tidak sah dan dengan sengaja. Bagi AS sendiri. dan karena itu sejak tragedi 11 September 2001 tersebut AS dengan serta-merta mengambil berbagai langkah. mencegah.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme sektoral.

tambahan atas Konvensi Penindasan terhadap Tindakan yang Melawan Hukum terhadap Keselamatan Penerbangan Sipil (Convention for the Suppression of Unlawful Acts at Airports Serving International Civil Aviation.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme (i) pelanggaran dalam pencakupan dari. 1979). 1973). salah satu perjanjian intrenasional berikut ini. including Diplomatic Agents. Konvensi International memerangi Pengambilan Sandera (International Convention against the Taking of Hostages. Protokol untuk Penindasan terhadap Tindakan Melawan Hukum Di Bandara yang melayani Penerbangan Sipil Intenasional (Protocol for the Suppression of Unlawful Acts of Violence at Airports Serving International Civil Aviation 1988). dan didefinisikan dalam. termasuk Agen-Agen Diplomat (Convention on the Prevention and Punishment of Crimes against Internationally Protected Persons. 1988). Konvensi Pencegahan dan Hukuman terhadap Tindak Pidana terhadap Orang-Orang yang Dilindungi Secara Internasional. 1970). yaitu: Konvensi Penindasan terhadap Pengambilan Alih yang Tidak Sah atas Pesawat Terbang (Convention for the Suppression of Unlawful Seizure of Aircraft. Konvensi Penindasan Tindakan yang Melawan Hukum dengan Kekerasan di Bandara yang Melayani Penerbangan Sipil Internasional. supplementary to the Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation. Konvensi Penindasan Tindakan yang Melawan Hukum terhadap Keselamatan Penerbangan Sipil (Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation. Protokol Penindasan terhadap Tindakan Melawan Hukum terhadap Keselamatan Kebijakan yang telah Ditetapkan yang terletak di Wilayah Kontinental (Protocol for the Suppression of Unlawful Acts 16 . Konvensi Penindasan terhadap Tindakan Melawan Hukum terhadap Keselamatan Navigasi Maritim (Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Maritime Navigation. 1971). 1988).

apabila tujuan tindakan demikian. 1988). proses ekstradisi dan “mutual legal assistance”. atau terhadap setiap orang lainnya yang tidak mengambil peran aktif dalam permusuhan-permusahan dalam suatu keadaan perselisihan bersenjata. 17 . 2. dalam sifat dan konteksnya. bahwa tindak kejahatan dalam Konvensi ini termasuk sebagai “extraditable offences”. Konvensi SFT secara garis besar juga mengatur tentang berbagai kewajiban negara pihak seperti untuk: 1. 1997). dan Konvensi Internasional Penindasan terhadap Pemboman Teroris (International Convention for the Suppression of Terrorist Bombings. rasial. Secara tegas Konvensi SFT menyatakan. 4. mengambil langkah-langkah yang layak sesuai dengan legislasi nasional masing-masing vis-à-vis identifikasi. (ii) setiap tindakan lainnya yang dimaksudkan untuk mengakibatkan kematian atau cedera badan berat terhadap seorang sipil. pembekuan atau penyitaan “any funds used or allocated for” tindak kejahatan yang diatur dalam Pasal 2 .Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme against the Safety of /Fixed Platforms located on the Continental Shelf. mengadili “alleged offender”. deteksi. 3. dan 5. apabila negara tersebut tidak mengekstradisikannya. agama atau “other similar nature” . philosophi. menentukan tindak kejahatan menurut Konvensi ini sebagai “criminal offences” dan sanksinya dalam perundang-undangan nasional masingmasing. ethnis. mengambil langkah-langkah yang diperlukan yang bertujuan untuk tidak membenarkan tindak kejahatan yang diatur Konvensi 1999 berdasarkan alasan-alasan politik. atau memaksakan suatu Pemerintahan atau organisasi internasional untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan suatu tindakan. melaksanakan kerjasama internasional baik dalam rangka investigasi. adalah untuk mengintimidasi suatu komunitas penduduk. ideologi.

setiap orang yang dengan sengaja menyediakan atau mengumpulkan dana dengan tujuan akan digunakan atau patut diketahuinya akan digunakan sebagian atau seluruhnya untuk melakukan tindak pidana terorisme”. atau teroris perseorangan. UU TPPU menyatakan. juga telah menjangkau pendanaan terorisme. organisasi teroris. jo Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. ada 18 18 . Bahkan Undang-Undang Terorisme mengatur secara lebih luas dan lebih rinci atau tidak hanya sebatas pada 9 (sembilan) perjanjian internasional yang merupakan lampiran atau annex dari Konvensi SFT.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Kewajiban-kewajiban sebagaimana tersebut diatas. 3. Undang-Undang Terorisme telah diatur berbagai tindak kejahatan yang juga dikatagorikan sebagai tindak pidana terorisme dan diancam dengan pidana yang sama (purely terrorism). bahwa “Harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga akan digunakan dan/atau digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk kegiatan terorisme. 2. disamakan sebagai hasil tindak pidana”. sebagian besar telah diakomodir dalam peraturan perundang-undangan nasional atau dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia seperti antara lain: 1. Ketentuan ini sejalan dengan Pasal 6 Konvensi SFT yang meminta Negara Pihak untuk mengambil langkahlangkah yang diperlukan untuk tidak membenarkan tindak kejahatan yang diatur Konvensi SFT. Kriminalisasi pendanaan terorisme yang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU) Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sebagaimana telah disahkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 (selanjutnya disebut Undang-Undang Terorisme). bahwa “Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun. Menurut Undang-Undang Terorisme tersebut. Undang-Undang Terorisme tersebut menyatakan. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 25 Tahun 2003 (selanjutnya disebut UU TPPU).

4. atau hakim berwenang memerintahkan kepada bank dan lembaga jasa keuangan untuk melakukan pemblokiran terhadap harta kekayaan setiap orang yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana terorisme dan/atau tindak pidana yang berkaitan dengan terorisme. dengan sengaja dan melawan hukum melakukan perbuatan kekerasan terhadap seseorang di dalam pesawat udara dalam penerbangan. dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan. atau hakim berwenang untuk meminta keterangan dari bank dan lembaga jasa keuangan mengenai harta kekayaan setiap orang yang diketahui atau patut diduga melakukan tindak pidana terorisme. dan lain sebagainya. maka penyidik. membuat tidak dapat dipakai atau merusak bangunan untuk pengamanan lalu lintas udara atau menggagalkan usaha untuk pengamanan bangunan tersebut. mengambil. penuntut umum. merampas atau mempertahankan perampasan atau menguasai pesawat udara dalam penerbangan. penuntut umum.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme (delapan belas) tindak kejahatan yang juga dikatagorikan sebagai tindak pidana terorisme antara lain: menghancurkan. atau memasang tanda atau alat yang keliru. penuntut umum. Undang-Undang Terorisme serta UU TPPU cukup sejalan dengan ketentuan Konvensi SFT. dalam pesawat udara dengan perbuatan yang melawan hukum. atau hakim berwenang memerintahkan kepada Pihak Pelapor untuk melakukan pemblokiran terhadap Harta Kekayaan setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada 19 . Pada intinya pasal-pasal dalam kedua UndangUndang tersebut menyatakan: penyidik. penyidik. jika perbuatan itu dapat membahayakan keselamatan pesawat udara tersebut. untuk kepentingan pemeriksaan dalam perkara tindak pidana terorisme. atau menggagalkan bekerjanya tanda atau alat tersebut. atau memindahkan tanda atau alat untuk pengamanan penerbangan. merusak.

berdasarkan daftar yang dikeluarkan oleh Jaksa Agung. 5. mulai tahun 2008 hingga 2010 PPATK menemukan sebanyak 128 transaksi keuangan yang diduga terkait dengan pendanaan kegiatan terorisme di sejumlah wilayah Indonesia. sebagai pelaksanaan dari Resolusi Dewan Keamanan PBB No. atau berdasarkan daftar yang dikeluarkan oleh Menteri Luar Negeri.go. maka PJK melaporkan kepada PPATK sebagai Terkait dengan daftar teroris. yakni berdasarkan putusan pengadilan. maka BI mengedarkan daftar konsolidasi yang dikeluarkan oleh PBB (UN Consolidated list) secara berkala setiap 6 (enam) bulan sekali.ppatk. Sebanyak 35 transaksi keuangan yang mencurigakan telah dilaporkan kepada penegak hukum (Harian Waspada. 15 20 . Dengan telah disahkannya RUU tentang Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana. PPATK telah membangun suatu hiper-link pada situs PPATK (http://www. Sebagai gambaran. SydneyAustrala.id) yang tersambung ke daftar konsolidasi yang dikeluarkan oleh PBB tersebut. Hal ini telah sejalan dengan Pasal 12 Konvensi SFT. 1267 dan 1373. Selain itu. bahwa tindak pidana terorisme yang diatur dalam Perpu ini dikecualikan dari tindak pidana politik. Dengan demikian. Perpu Terorisme dengan tegas menyatakan. Dalam rangka membantu PJK mendeteksi transaksi keuangan para teroris. yang menghambat proses ekstradisi. tindak pidana yang berkaitan dengan tindak pidana politik. 6. 29 Desember 2010).15 Sehingga PJK dapat melakukan verifikasi untuk memastikan adanya kemiripan atau kesamaaan nama nasabahnya dengan nama-nama dalam daftar tersebut. Terkait dengan masalah ekstradisi. Dalam hal ditemukan kemiripan atau kesamaan nama. atau terdakwa yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana. tersangka. tindak pidana terorisme termasuk pendanaan terorisme merupakan “extraditable offences”. tindak pidana dengan motif politik. Lihat “Laporan Pelaksanaan Counter Financing of Terrorism Study Tour”. Australia memilki 3 (tiga) sumber. dan tindak pidana dengan tujuan politik. 25-29 September 2011.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme penyidik. maka akan semakin melengkapi perundang-undangan yang menjadi dasar dan pedoman bagi pelaksanaan kerjasama internasional di bidang hukum dalam perkara pidana (international legal cooperation in criminal matters) yang meliputi ekstradisi dan MLA.

400 ribu hingga Rp. Untuk itu telah dikeluarkan Keputusan Kepala PPATK Nomor : KEP-13/1. CDD merupakan langkah identifikasi. http://www. Adanya potensi penyalahgunaan produk dan layanan jasa keuangan (bank dan non bank) untuk menyembunyikan atau menyamarkan dana-dana yang ditujukan untuk kegiatan terorisme. dan pemutakhiran informasi nasabah yang dilakukan oleh pedagang valas untuk memastikan bahwa transaksi tersebut sesuai dengan profil nasabah. Sebagaimana diketahui. Lihat: “Dana Teroris Ditransfer dari Bank Besar”.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme laporan transaksi keuangan mencurigakan. 21 . FATF juga telah mengeluarkan Rekomendasi-rekomendasi Khusus untuk Pendanaan Teroris (The Financial Action Task Force Special Recomendations 16 on Terrorist Financing). sebagaimana yang ditentukan dalam Konvensi SFT. juga mereka yang melakukan pengendalian melalui badan hukum atau perjanjian). pencocokan. mengendalikan transaksi nasabah dan memberikan kuasa atas terjadinya suatu transaksi. Aturan tersebut dituangkan dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 12/3/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencuciaan Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Pada Pedagang Valuta Asing Bukan Bank. PPATK terus melakukan koordinasi dan kerjasama dengan Bank Indonesia untuk menelisik aliran dana yang diduga terkait dengan aksi terorisme. Semua transaksi dilakukan oleh orang dalam negeri. Ratifikasi atau pengesahan Konvensi SFT sangat terkait dengan rekomendasi khusus Financial Action Task Force on Money Laundering (FATF). 5 juta setiap kali transaksi.2/PPATK/02/08 tentang Pedoman Identifikasi Transaksi Keuangan Terkait Pendanaan Terorisme Bagi Penyedia Jasa Keuangan. Rekomendasi tersebut Aliran dana ke para teroris ternyata sudah berlangsung lama.hariansumutpos. CDD dilakukan melalui beberapa prosedur. ratifikasi atau pengesahan Konvensi SFT menjadi sangat penting dalam rangka memperkokoh pembangunan rezim anti pencucian uang di Indonesia. disamping kewajiban PJK untuk memblokir rekening nasabahnya tersebut. Mereka yang diduga teroris tersebut biasanya melakukan penarikan dana antara Rp.02.16 Dengan telah diakomodasinya kewajiban-kewajiban Negara Pihak. Kerjasama tersebut merupakan upaya mengoptimalkan tugas masingmasing dalam rangka pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme.com/arsip/?p=36576. Dalam hal ini. hingga bulan Maret 2010 sudah ditemukan 97 aliran dana ke teroris. Aturan ini berlaku efektif pada 1 Maret 2010. maka ratifikasi atau pengesahan Konvensi SFT oleh Pemerintah dan DPR lebih bersifat mengukuhkan atau mempertegas komitmen Pemerintah Indonesia untuk memberantas tindak pidana pendanaan terorisme. bahwa dalam rangka memerangi pendanaan teroris. Bank Indonesia juga mewajibkan pedagang valas melakukan CDD jika si pedagang valas meragukan kebenaran infromasi yang disampaikan oleh nasabah. Transaksi dilakukan melalui beberapa bank besar di Indonesia sejak tahun 2003. Sebelumnya. Pedagang valas juga harus mendapatkan informasi bahwa nasabah yang melakukan transaksi valas tersebut bertindak untuk diri sendiri atau untuk atau atas nama beneficial owner. Dalam PBI ditegaskan bahwa istilah know your customer (KYC) principles menjadi customer due dilligence (CDD). PPATK mencatat. Namun demikian. diakses tanggal 10 Desember 2011. yakni meminta dan mencocokkan informasi nasabah dengan dokumen pendukung yang memuat informasi nasabah. Langkah CDD oleh pedagang valas bukan bank ini wajib dilakukan ketika melakukan transaksi dengan nasabah atau beneficial owner (Beneficial owner adalah setiap orang yang memiliki dana. maka Penyedia Jasa Keuangan (PJK) perlu melakukan identifikasi terhadap transaksi keuangan yang terkait dengan pendanaan terorisme serta melaporkannya sebagai transaksi keuangan yang mencurigakan kepada PPATK. BI juga sudah mengeluarkan peraturan terkait pencegahan tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme.

Rekomendasi ini diluncurkan pada bulan Oktober 2001. Ratifikasi berarti bahwa semua negara harus mengambil langkah-langkah legislatif atau eksekutif untuk mensahkan konvensi. Resolusi 1372 (2001) Perserikatan Bangsa Bangsa dan Rekomendasi Khusus FATF memanggil semua negara anggota untuk menjadi pihak dalam Konvensi SFT. Adapun substansi dari 9 Rekomendasi Khusus (special recommendations) FATF tersebut adalah sebagai berikut: I. Pemidanaan pendanaan terorisme terjadi apabila “seseorang dengan cara 22 . Pendanaan terorisme merupakan suatu pelanggaran pidana yang terpisah. tindakan teroris dan organisasi teroris. setiap negara seharusnya segera mengambil langkahlangkah untuk secara keseluruhan meratifikasi dan melaksanakan Konvensi SFT. Tujuannya adalah untuk menghalangi akses bagi para teroris dan pendukungnya untuk masuk ke sistem keuangan internasional. II. Dengan demikian. Semua negara terikat dengan persyaratan dan ketentuan dalam konvensi yang telah ditandatangani dan diratifikasinya. Dengan demikian semua negara yang telah meratifikasi Konvensi SFT memiliki kewajiban hukum untuk mengikutsertakan perjanjianperjanjian internasional tersebut kedalam legislasi dalam negerinya. Meminta semua negara untuk memidanakan pendanaan teroris. yang mencakup beberapa masalah tertentu secara sangat rinci dibandingkan dengan Konvensi SFT dan Resolusi 1373 (2001) dari Dewan Keamanan tersebut Perserikatan telah Bangsa Bangsa. yang Rekomendasi-rekomendasi menjadi standar disepakati secara universal. Rekomendasi Khusus FATF mengenai pendanaan terorisme tersebut merupakan reaksi langsung terhadap kejadian tanggal 11 September 2001.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme merupakan standar internasional yang baru. sementara pelaksanaan berarti bahwa semua negara harus mengadopsi kebijakan dan mengambil tindakan untuk memastikan berdasarkan pelaksanaan sistem yang efektif atas Konvensi SFT hukum nasional masing-masing negara tersebut. Meminta semua negara untuk meratifikasi Konvensi SFT untuk melaksanakan Resolusi PBB yang terkait pendanaan teroris.

III. atau yang digunakan dalam. baik secara keseluruhan atau secara sebagian. Adapun yang menjadi dasar mempidanakan pendanaan teroris adalah Konvensi SFT. termasuk tindakan yang memperbolehkan badan berwenang untuk mengambil alih dan menyita harta yang merupakan hasil dari. tindakan teroris atau organisasi teroris.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme apapun. IV. maka sasaran lainnya adalah untuk menekankan semua negara untuk mengikut-sertakan semua pelanggaran pendanaan teroris sebagai pelanggaran predikat kejahatan (predicate offence) untuk pencucian uang. Mengingat hubungan yang dekat antara terorisme internasional dan inter alia pencucian uang. secara melawan hukum dan dengan sengaja. ini merupakan kenyataan adanya penyediaan atau pengumpulan dana. Mewajibkan semua lembaga keuangan untuk segera melaporkan transaksi-transaksi yang mencurigakan kepada badan berwenang. menyediakan atau mengumpulkan dana dengan tujuan agar dana tersebut digunakan atau dengan pengetahuan bahwa dana tersebut akan digunakan. atau bertujuan atau dialokasikan untuk penggunaan dalam pendanaan terorisme. Dua unsur merupakan kunci di sini: (1) Unsur mental: tindakan harus dilaksanakan secara sadar dan sengaja. baik secara langsung maupun secara tidak langsung. (2) Unsur materi: secara luas.” Negara harus dapat menghentikan atau menahan dana atau instrumen pembawanya yang dicurigai terkait dengan pendanaan teroris atau pencucian uang. untuk melaksanakan” suatu tindakan teroris oleh sebuah organisasi teroris atau perorangan. atau dengan pengetahuan akan penggunaan ilegal dana tersebut. apabila mereka “mencurigai atau mempunyai dasar yang cukup 23 . Rekomendasi ini dikembangkan dengan sasaran agar semua negara memiliki kapasitas hukum untuk mengadili dan memberlakukan sanksi pidana terhadap semua orang yang mendanai terorisme. Mengharuskan semua negara untuk “mengadopsi dan melaksanakan tindakan-tindakan.

Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme memadai untuk mencurigai bahwa dana yang berhubungan atau terkait dengan.18. Rekomendasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua negara menjalankan persyaratan AML/CFT terhadap semua bentuk sistem pengiriman uang dan nilai. Meminta semua negara untuk memastikan bahwa semua jasa transmisi uang dan nilai adalah berdasarkan standar internasional khusus FATF. pemberlakuan hukum perdata dan penyelidikan administratif sehubungan dengan pendanaan terorisme. V.d dan 2. VII. sedangan resolusi 1373 (2001) Dewan Keamanan PBB mencakup hal tersebut dalam tingkat yang lebih luas (paragraf 2. Pengalaman menunjukkan bahwa semua sistem pengiriman uang memang telah digunakan untuk mendanai operasional para teroris.f). Rekomendasi Khusus VII FATF mewajibkan semua negara untuk mengambil berbagai tindakan tertentu untuk memastikan bahwa perantara keuangan: (1) memiliki informasi yang tepat dan bermanfaat mengenai 24 . Konvensi SFT (pasal-pasal 10.” Sebagai suatu pra-syarat atas kewajiban melaporkan semua transaksi mencurigakan. semua lembaga keuangan diharuskan melaksanakan kewajiban uji tuntas nasabah atau (Pasal 18 Konvensi SFT). bahwa “setiap negara harus memberikan kepada negara lain bantuan sebesar mungkin sehubungan dengan penyelidikan dan cara kerja mengenai kriminil. tindakan teroris atau oleh organisasi teroris. VI. Menyatakan. 2.12-15. Meminta semua negara untuk mengaplikasikan sebuah standar khusus mengenai pengiriman uang secara telegrafis/elektronis yang tidak secara langsung dicerminkan dalam teks Konvensi SFT dan resolusi Dewan Keamanan. tindakan teroris dan organisasi teroris.” — Kerjasama internasional dalam memerangi pendanaan terorisme sangat diperlukan untuk keberhasilan dalam perang melawan terorisme pada tingkat-tingkat global and nasional. baik yang formal maupun yang informal.c. atau akan digunakan untuk terorisme.3) telah menetapkan seperangkat norma yang komprehensif untuk kerjasama internasional.11.

dapat badan atau lembaga tersebut digunakan sebagai tabir untuk mengumpulkan dana bagi para teroris serta organisasinya. Meskipun bersumber dari usaha-usaha yang terlihat sah. Meminta semua negara untuk memusatkan perhatian pada risiko pelanggaran atau penyalahgunaan oleh organisasi para teroris dan pendana teroris terhadap badan atau lembaga yang secara sah didirikan berdasarkan hukum nasional. Terkait dengan tindakan membawa uang tunai atau nilai setaranya melintasi perbatasan nasional. nomor rekening) termasuk dalam pengiriman dana secara elektronis atau pesan yang terkait padanya. ( 2) menyimpan informasi pengirim dengan pengiriman dana tersebut atau pesan yang terkait padanya melalui rantai pembayaran. semua negara ditentukan untuk memantau transportasi uang tunai atau instrumen jual-beli atas nama. akan tetapi mereka juga perlu agar dapat 25 . Untuk alasan-alasan inilah semua negara harus memastikan bahwa hukum mengenai pendanaan teroris mencakup pula dana yang diperoleh dari sumber-sumber yang sah dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mencegah pendanaan sejenis itu. Sebagaimana telah dijelaskan dimuka bahwa pendanaan bagi terorisme dapat berasal dari sumber yang sah. (3) meningkatkan penelitian terhadap pengiriman dana secara elektronis yang tidak mengikut sertakan informasi mengenai si pengirim dan harus berjaga-jaga terhadap kemungkinan adanya transaki yang mencurigakan. alamat. Bank koresponden merupakan bagian dari rantai tersebut. IX. Dengan demikian tujuannya adalah untuk mencegah orang-orang sektor hukum diperalat sebagai tameng atau sebagai cara untuk mendanai kegiatannya.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme pengirim/originator (nama. VIII. baik oleh perorangan atau melalui pos atau angkutan. Ini berarti bahwa negara tidak hanya memerlukan sebuah sistem untuk menyatakan atau mengungkapkan transportasi uang tunai atau nilai setaranya melintasi perbatasan. Berdasarkan Rekomendasi ini.

(b) terbatasnya penggunaan undang-undang yang ada untuk mengidentifikasi dan menginvestigasi tindak pidana pendanaan terorisme. memberikan bantuan teknis serta training-training yang dibutuhkan oleh negara-negara di dalam rangka penguatan sistem Anti Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme. (b) berdasarkan Resolusi 1267. Implementasi Standar Internasional Di kawasan Asia-Pasifik. APG juga melakukan penelitian terhadap tipologi-tipologi yang terkait dengan TPPU dan Pendanaan Terorisme. terlihat keterkaitan antara Konvensi SFT dengan Rekomendasi Rekomendasi Khusus FATF. (c) Jemaah Islamiyah (JI) yang masih ditengarai menjadi ancaman teroris di Indonesia. sebagai salah seorang reviewer untuk Indonesia dalam proses ME (Mutual Evaluation) Tahun 2008. Secara keseluruhan. pendekatan yang dilakukan dalam rangka pencegahan dan pemberantasan Pendanaan Terorisme adalah pendekatan “follow the Menurut David Shannon.17 Pada hakikatnya.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme mendeteksi operasi-operasi demikian apabila terdapat kecurigaan adanya kegiatan pidana. 25-29 September 2011. Bahkan Rekomendasi Khusus I FATF secara eksplisit telah menyatakan. Diharapkan dengan telah disahkannya Konvensi SFT oleh Pemerintah dan DPR. Dari uraian diatas. tantang yang dihadapi Indonesia dalam memenuhi standar internasional di bidang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme khususnya 9 Special Recommendation of FATF. antara lain: (a) terdapatnya berbagai organisasi teroris yang sangat aktif yang mengumpulkan dana dan melakukan aktivitas terorisme di Indonesia dan di sejumlah jurisdiksi di Asia Tenggara. dan (c) belum dipenuhinya secara keseluruhan sebagaimana ditentukan dalam UN Terrorist Financing Convention yang meliputi aktivitas mengumpulkan dana untuk kegiatan teroris perorangan maupun organisasi teroris. adalah: (a) kondisi geografis Indonesia yang sangat luas yang dapat menjadi kesulitan di dalam menyelidiki kegiatan terorisme. (d) sejumlah orang yang telah ditangkap maupun dihukum sebagai pelaku teroris. Adapun kerentanan lain yang dihadapi oleh Indonesia. 17 26 . hanya ada 2 kali dakwaan atas pendanaan terorisme. akan menjadi bahan pertimbangan bagi FATF dalam menilai kepatuhan Indonesia terhadap standar internasional di bidang pencegahan dan pemberantasan TPPU yang dikenal dengan FATF 40+9 recommendations. Sydney-Australa. Lihat: “Laporan Pelaksanaan Counter Financing of Terrorism Study Tour”. APG merupakan salah satu lembaga yang dibentuk guna melakukan penilaian atas kepatuhan negara-negara anggota dalam menerapkan standar international terkait upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dan Pendanaan Terorisme seperti penerapan FATF 40 Recommendation + 9 Special Recommendation. Indonesia masih menjadi negara teresiko dalam pelaksanaan pendanaan terorisme. bahwa semua negara diminta untuk meratifikasi Konvensi SFT. sejumlah nama dan pihak masih teridentifikasi berafiliasi dengan Al Qaeda dan Taliban.

seperti kantor pajak. Jakarta. diakses 26 Desember 2011. Wakil Kepala PPATK Agus Santoso menyampaikan bahwa ada sekitar 21. 8 Kementerian dan 2 Lembaga Negara menangani NPO dan banyak ditemukan kasus penyalahgunaan NPO/LSM yang menerima dana hibah dalam rangka pencucian uang dan juga pendanaan terorisme serta penipuan. 18 27 .net/index. Lihat: ykai. Key tools yang dipakai dalam strategi pemberantasan Pendanaan Terorisme haruslah ditujukan bagi: Detection. Prevention (termasuk melakukan upaya perlawanan atas radikalisasi teroris. yang membutuhkan adanya kerjasama internasional untuk pencegahan dan pemberantasannya. Kerjasama internasional yang perlu dikuatkan tersebut antara lain kerjasama antar Financial Intellegence Units (FIUs). yang meliputi: penetapan mekanisme pencegahan yang efektif. tanggal 28-29 November 2011 di Hotel Alila. dan untuk itu mereka juga harus memperluas keikutsertaan mereka di dalam pencegahan dan pemberantasan pendanaan terorisme tersebut.php?option=com_content&view=article&id=857:upaya-pencegahan-danpemberantasan-tppu-dan-pendanaan-terorisme&catid=117:terkini&Itemid=136. Disruption. dan Response. koordinasi-koordinasi kebijakan antar lembaga instrument-instrumen penegakan yang memadai sasaran yang ditujukan dengan jelas untuk mencegah dan memberantas pendanaan terorisme. lembaga-lembaga pengawas dan pengatur Pada Workshop “Menuju Organisasi Nirlaba (Non Profit Organization) yang mempunyai tata kelola yang baik dalam upaya pencegahan dan pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan Pendanaan Terorisme”.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme money”. dan juga kemampuan khusus di dalam investigasi pelaku pendanaan terorisme. perlu pula dikuatkan mekanisme kerjasama internasional karena mengingat sifat dan hakikat pendanaan terorisme mengikuti hakikat keberadaannya yang transnasional. tanggal 2 Desember 2011.net. Pecenongan. Pencegahan dan pemberantasan Pendanaan Terorisme membutuhkan respon dari multi-agensi. lembaga negara yang memiliki kewenangan untuk mengatur mengenai yayasan-yayasan sosial18.000 NPO yang terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM di Indonesia dan ada 10 lembaga Pemerintah. atau lembaga charity lainnya. yang menyakini bahwa uang dan segala bentuk property yang dimiliki oleh individual terrorist maupun terrorist group adalah merupakan jantungnya kegiatan pendanaan terorisme itu. http://www. peranan dan kesadaran dari lembaga-lembaga yang masih belum dapat merasakan bahwa keterlibatan lembaga mereka sangat penting. dll). Selain itu.ykai.

bahwa berdasarkan kriteria penting yang ada di dalam SR II. yang dilakukan di tempat yang sama maupun di tempat yang berbeda dari penanggung jawab di bidang keuangan terorisnya.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme mengenai charity. Kepabeanan. dan tidak harus dihubungkan dengan kegiatan terorisme tertentu. Kegiatan untuk pendanaan terorisme baik yang dilakukan oleh organisasi teroris maupun teroris perorangan. maupun yang dapat digunakan sebagai bukti adanya keterlibatan orang secara pribadi ataupun group dalam pendanaan terorisme tersebut. Selain itu. untuk semua tujuan. maka elemen-elemen yang terkandung dalam SR II lebih luas. Pada hakikatnya perbuatan yang harus dikriminalisasikan sebagai tindak pidana pendanaan terorisme adalah meliputi tindakan menyediakan atau mengumpulkan dana yang dimaksudkan untuk digunakan oleh organisasi teroris atau teroris perorangan. baik yang informal. penyertaan. antara lain. regulator sektor finansial (Bank Sentral). Kriminalisasi pendanaan terorisme ditentukan dalam SR II dan SR III dari 9 Special Recommendation of FATF. seperti percobaan. yang sengaja disediakan untuk digunakan oleh organisasi teroris atau teroris perseorangan untuk tujuan apapun. 1. meliputi perbuatan untuk menyediakan atau mengumpulkan dana. Jika dibandingkan dengan konvensi. pengaturan mengenai pendanaan terorisme belum seluruhnya meliputi pendanaan 28 . Dana-dana tersebut yang walaupun pada kenyataannya tidak jadi digunakan untuk melakukan terorisme. Tantangan-tantangan yang dihadapi dalam implementasi. Komunitas internasional telah menyetujui standar-standar yang harus dipedomani dalam rangka penguatan rezim Counter Financing of Terrorism meliputi bidang-bidang pertukaran informasi. bersifat intellegence. Oleh karena itu. Kepolisian. Pengadilan. kriminalisasi harus pula meliputi perbuatan-perbuatan pidana lainnya. dll. ruang lingkup pendanaan terorisme harus diperluas sehingga menjadi sebagai berikut: Dana-dana (termasuk di dalamnya semua property) yang digunakan untuk pendanaan terorisme diperoleh dari sumber-sumber yang sah (legitimate) maupun yang haram (illegitimate). konspirasi.

ataupun konspirasi atas tindak pidana terorisme. dll. Boleh dikatakan bahwa hanya sedikit negara yang telah benar-benar memiliki keinginan dan kemampuan untuk mengimplementasikan sistem-sistem yang telah memenuhi standard dalam rezim pencegahan dan pemberantasan pendanaan terorisme. Kegagalan dari pihak yang berwenang untuk menentukan kebijakan nasional yang memiliki visi holistik dan memenuhi standard yang telah ditentukan oleh FATF maupun oleh UN. Pada hakikatnya kriminalisasi atas tindak pidana Pendanaan terorisme harus berdiri sendiri. organisasi terorisme dan individual terorisme. percobaan. 29 . Kegiatan Pendanaan yang dilakukan untuk tindak pidana lainnya hanya dapat diterapkan pada perbuatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan untuk mengintimidasi atau memaksa masyarakat ataupun pemerintahan manapun. Terkait dengan standar internasional untuk pembekuan dana/aset. kelompok. Untuk proses penuntutan harus pula dapat dibuktikan bahwa tindak pidana yang dilakukan ditujukan untuk tujuan khusus tertentu. termasuk di dalamnya adalah orang atau organisasi.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme terorisme untuk kegiatan terorisme. Tantangannya adalah bahwa banyak anggapan bahwa pendanaan terorisme itu dikriminalisasikan semata-mata sebagai suatu bentuk dukungan pada kegiatan terorisme seperti perbantuan. Tidak semua treaty tentang kejahatan-kejahatan sebagaimana ada dalam lampiran konvensi telah mencakup mengenai kegiatan pendanaan terorisme. 1267. SR III mengharuskan negara-negara untuk melakukan pembekuan dana ataupun aset lainnya dari orang-orang yang telah ditentukan oleh UNSC Resolution No. yaitu Al Qaeda dan Taliban. perusahaan maupun asosiasi-asosiasi lainnya yang berafiliasi dengan Al Qaeda dan Taliban tersebut. tidak sama dengan tindak pidana terorisme. seperti untuk melakukan intimidasi pada suatu pemerintah tertentu. permufakatan. Negara-negara yang belum menjadi peserta dalam suatu treaty dapat melakukan kriminalisasi atas kegiatan pendanaan terorisme. Masih sulitnya untuk melakukan pembekuan atas aset teroris di berbagai jurisdiksi.

Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Nama-nama tersebut dikirimkan kepada delegasi Dewan Keamanan PBB dan kemudian diedarkan kembali kepada negara-negara yang berwenang. misalnya LTTE di Malaysia. penyitaan aset-aset teroris dalam proses penyidikan kasus terorisme maupun dalam proses lainnya dalam kasus pendanaan terorisme. maka pada pelaksanaan rezim extraordinary ini menghendaki 2 (dua) hal. Menerima permohonan negara lain atas diterapkannya Resolusi 1373 dalam rangka tindakan pembekuan asetnya. pembekuan. Dalam hubungan ini. Resolusi ini tidak diperuntukkan bagi Taliban atau Al Qaeda. setiap negara juga diwajibkan untuk memiliki hukum dan prosedur untuk: Melakukan pembekuan dana dan aset lainnya dari teroris maupun pihakpihak lain yang berafiliasi dengan prinsip without delay and without prior notice to targets. jika sesuai. Mengkonfirmasi mengenai permohonan oleh negara tersebut apakah yang menjadi landasan pengajuannya. dan tidak termasuk nama-nama yang sudah masuk dalam daftar teroris yang dikeluarkan oleh UN. Mensyaratkan kemungkinan tetap dilakukannya pembekuan atas aset sekalipun tiada penuntutan. dll. Sebagai response atas Resolusi 1267 dan 1373. yaitu: a. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah dilakukannya pemindahan aset oleh mereka yang akan mengakibatkan sulitnya pelacakan dan pembekuan aset. 30 . Pembekuan dana atau aset lainnya dari Orang yang telah ditentukan oleh PBB sebagai teroris menurut masing-masing Pemerintah negara. Melakukan tindakan untuk membekukan aset untuk merespon permintaan tersebut. berdasarkan Resolution Number 1373. Diaturnya prosedur pelacakan. apakah berdasarkan pada alasan yang reasonable atau memiliki dasar hukum yang tepat untuk dimintakannya tindakan pembekuan tersebut. dilakukan tanpa ditunda dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada orang yang diduga melakukan pendanaan terorisme tersebut. Prosedur pembekuan aset-aset untuk kelompok tersebut haruslah “without delay and without prior notice to targets”.

secara langsung maupun tidak langsung. maka diwajibkan bagi negara-negara untuk dapat menerapkan mekanisme komunikasi kepada sektor keuangan maupun pihak-pihak lainnya terkait dengan prosedur freezing. maka untuk menciptakan proses freezing yang efektif. mengingat proses freezing menjadi hal penting dalam konteks pendanaan terorisme. yang memberikan pendanaan untuk kegiatan terorisme pada teroris ataupun organisasi teroris. 31 . dan harus dilaksanakan dengan sifatnya yang urgen. III. sebagai teroris. Lingkup penerapan Resolusi 1267 dan 1373 pada hakikatnya menghendaki adanya perluasan makna pelaksanaan freezing atau pembekuan yaitu terhadap dana ataupun aset lainnya: yang seluruhnya atau yang secara bersama-sama dimiliki atau dikuasai. oleh orang-orang yang telah ditetapkan. Harus menyertakan keterlibatan institusi keuangan secara langsung di dalam melaksanakan kewajibannya. dan menerapkan sanksi bagi pihak-pihak yang non compliance secara tepat. Berdasarkan c. Terkait dengan SR III. 5 Resolusi 1267 dan 1373. yang memberikan pendanaan untuk kegiatan terorisme pada teroris ataupun organisasi terorisme. Berdasarkan c.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme b. Kewajiban ini harus dilaksanakan dengan efektif. serta orang-orang yang memegang aset untuk melakukan pembekuan without undue delay. peraturan dan kebijakan. III. negara-negara harus membuat pedoman yang jelas bagi institusi-institusi keuangan dan pihak-pihak lain atau badan hukum yang mungkin menguasai dana-dana atau aset-aset yang menjadi target pembekuan. dan yang dihasilkan atau didapatkan dari dana atau aset lainnya yang dimiliki atau dikontrol secara langsung ataupun tidak langsung oleh orang-orang yang telah ditetapkan sebagai teroris. Dapat melingkupi proses administratif dan juga proses peradilan. maka seharusnya terdapat sistem monitoring yang memadai untuk memantau kepatuhan dari pihak-pihak di bawah rezim freezing terhadap ketentuan hukum yang relevan. dengan maksud adalah: Untuk tetap menjaga dana tetap dibekukan selama proses pembuktian ataupun prses investigasi terhadap tindak pidana pendanaan terorismenya berjalan.6 Resolusi 1267 dan 1373.

dan berapa lama porses tersebut dilakukan?.III. Permintaan dilakukannya unfreezing atas dana-dana atau aset dari orang yang dimintakan delisting tersebut (c. biaya-biaya yang telah dikeluarkan lainnya. III. ada pula kewajiban dari pihak berwenang untuk mengakses dana atau aset yang dibekukan untuk menentukan biaya-biaya dan pembayaran atas berbagai tipe tambahan biaya. Permintaan untuk unfreezing atas dana-dana atau aset dari orang atau badan hukum lainnya yang terkena imbas dari mekanisme pembekuan.III. Pihak-pihak atau perusahaan yang dana atau asetnya telah dibekukan tersebut diperbolehkan melakukan CHALLENGE kepada pengadilan atas tindakan pembekuan yang telah dilakukan. Setiap negara hendaknya selalu melakukan refleksi atas rezim anti pendanaan terorisme.7). maupun untuk beberapa kasus pendanaan terorisme lainnya? Seberapa banyak aset maupun dana yang telah dibekukan. adalah bahwasanya negara-negara harus mengimplementasikan pula prosedur pemberitahuan kepada publik untuk: Permintaan untuk melakukan delisting (c. Ada kewajiban without undue delay. Jika tidak ada aset yang dibekukan. misalnya beberapa kasus yang telah diverifikasi karena adanya kesalahan identitas atau terjadi kekeliruan (c. dengan melakukan secara efektif hal-hal sebagai berikut: Apakah dana-dana dan aset teroris telah mampu diidentifikasi? Apakah sudah diambil tindakan untuk melakukan pembekuan atas pihakpihak yang ditentukan dalam Resolusi 1267. mengapa tidak ada? Prosedur apakah yang diambil oleh negara untuk memperoleh informasi dari sektor privat lainnya? Ketentuan mengenai penundaan transaksi dan pembekuan aset harus memenuhi syarat sebagaimana ditentukan di dalam SR maupun Resolusi. yaitu harus tanpa menggunakan limit waktu. 32 .8).III. Menurut c.7).Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Mekanisme lain yang seharusnya diterapkan pula berdasarkan Resolusi 1267 dan 1373. maka harus berkontempelasi. seperti biaya hipotek. maupun 1373.9 Resolusi 1267 sejalan dengan Resolusi 1425.

lembaga keuangan bukan bank. intelijen keuangan yang kuat. Untuk proses penyitaan juga harus memenuhi kewajiban without delay. penegakan hukum. 19 33 . melakukan pengumpulan dana dengan itikad tidak baik. pengawasan sektor keuangan.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Kewajiban lainnya yang harus dilakukan setelah pembekuan aset adalah dilakukannya tindakan oleh Pengadilan dan kemudian pengadilan yang akan menetapkan penyitaan. dan sistem pembayaran alternatif19. sistem perdagangan internasional. menggunakan data dan identitas yang tidak jelas dalam proses pengiriman dan penerimaan uang melalui sistem pembayaran alternatif. Untuk mewujudkan peraturan perundang-undangan yang efektif di bidang anti pencucian uang dan pendanaan terorisme maka diperlukan komitmen politik. pemerintah umumnya tidak memiliki data dan kontrol yang jelas mengenai pelaku usaha di bidang sistem pembayaran alternatif. Sebagai perbandingan di Australia terdapat beberapa peraturan perundang-undangan pendanaan terorisme: 1) Anti Money Laundering and Counter-Terrorism Financing Act 2006 Peningkatan pengawasan terhadap aktivitas perbankan. dan kerjasama internasional. Pergerakan arus pendanaan terorisme selama ini umumnya dapat melalui sektor keuangan formal (Bank. yakni pendanaan operasi terorisme khusus dan pendanaan terhadap organisasi lintas batas negara yang melakukan pembangunan infrastruktur dan/atau penyebarluasan ideologi terorisme. sumbangan-sumbangan melalui organisasi sosial/amal. dimana teroris seringkali menyalahgunakan hasil sumbangan/amal untuk kegiatan teroris. termasuk pengawasan terhadap aktivitas profesiprofesi yang rentan terkait pendanaan terorisme dan pencucian uang. peraturan perundang-undangan yang proporsional. pergerakan uang tunai secara fisik. Pembiayaan Organisasi dan Operasi Teroris Pada dasarnya ada 2 (dua) aspek penting yang perlu diperhatikan dalam hal pendanaan terorisme. Hal tersebut terjadi umumnya karena belum adanya aturan yang baik sebagaimana aturan mengenai perbankan. sektor keuangan lainnya. melakukan penyusupan terhadap kepengurusan organisasi sosial amal tersebut. serta penyedia jasa keuangan lainnya). dll.

pelaporan yang baik.7 (1)]. setiap orang yang dengan sengaja menerima dana dari atau menyediakan dana untuk organisasi teroris.6 (1)].6 (2)]. baik secara langsung maupun tidak langsung. 34 .Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme seperti lawyers. pedagang logam mulia. diancam dengan maksimum pidana 15 tahun [Pasal 102. 3) KUHP Australia Kriminalisasi terhadap: setiap orang yang dengan sengaja menerima dana dari atau menyediakan dana untuk organisasi teroris. sedangkan orang tersebut karena kelalaiannya tidak mengetahui bahwa organisasi tersebut adalah organisasi teroris. serta programprogram lainnya yang mendukung implementasi regulasi tersebut dalam praktek. 2) Combating the Financing of People Smuggling and other Measures Act Telah disetujui oleh Parlemen Australia pada bulan Juni 2011 sebagai amandemen dari Undang-Undang Anti-Money Laundering/ Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme. baik secara langsung maupun tidak langsung dan orang tersebut mengetahui bahwa organisasi tersebut adalah organisasi teroris. Undang-Undang ini memuat ketentuan yang berorientasi untuk mengurangi resiko pengiriman uang melalui penyelenggara transfer dana yang bertujuan untuk pembiayaan kegiatan terorisme and beberapa kejahatan serius lainnya. Kewajiban-kewajiban terorisme: prinsip pokok dalam regulasi anti pendanaan mekanisme kepatuhan konsumen/nasabah. dan sebagainya. diancam dengan maksimum pidana 25 tahun [Pasal 102. setiap orang yang dengan sengaja memberikan dukungan atau menyediakan sumber bagi organisasi teroris dan orang tersebut mengetahui bahwa organisasi tersebut adalah organisasi teroris diancam dengan maksimum pidana 25 tahun [Pasal 102. agen real-estate. akuntan. pengumpulan dan pengolahan data yang akurat.

Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme setiap orang yang dengan sengaja memberikan dukungan atau menyediakan sumber bagi organisasi teroris meskipun orang tersebut karena kelalaiannya tidak mengetahui bahwa organisasi tersebut adalah organisasi teroris diancam dengan maksimum pidana 15 tahun [Pasal 102. Sumber hukum lainnya: Charter of the United Nations Act 194520.1 dan Pasal 103. setiap orang yang dengan sengaja atau kelalaiannya menyediakan dan/atau mengumpulkan dana. dan UNSC Resolutions No. atau melalui seseorang/organisasi terorisme dengan tujuan memfasilitiasi atau terkait dengan kegiatan terorisme diancam dengan pidana penjara maksimum seumur hidup (Pasal 103. penghasutan.7 (2)]. konspirasi untuk kegiatan pendanaan terorisme. 1267 dan No. kegiatan pendanaan terorisme merupakan salah satu tindak pidana asal dari tindak pidana pencucian uang. Freezing of Terrorist Asset. Charter of the United Nations Act 1945 melakukan kontrol pada pemberian/integritas izin. Ketentuan dalam KUHP ini dapat berlaku bagi setiap orang dan korporasi (termasuk organisasi nirlaba). Kewajiban dan panduan Hukum bagi organisasi Nirlaba di Australia: Mewujudkan upaya-upaya yang rasional untuk menjamin agar dana tersebut tidak di transfer kepada organisasi teroris. pembantuan. serta tidak mensyaratkan bahwa dana tersebut harus secara nyata atau dengan percobaan telah digunakan untuk kegiatan terorisme. dan (b) ijin yang diperoleh dengan menggunakan informasi palsu atau menyesatkan akan dibatalkan ab initio (bagian 13A dan 22B).2) . 20 35 . termasuk aplikasi ijin (bagian 28). dan ketentuan mengeni penundaan dan penyitaan aset dalam KUHAP Australia 2002 dapat digunakan oleh para Jaksa dalam melakukan penuntutan. baik secara langsung/tidak langsung untuk. 1373 Hal-hal penting lain yaitu: pertanggungjawaban pidana yang diperluas hingga mencakup percobaan. atas nama. yang mengatur bahwa: (a) adalah tindak pidana memberikan informasi palsu atau menyesatkan sehubungan dengan Peraturan.

Pasal 25 mengatur bahwa Anggota (PBB) secara hukum terikat untuk menerima dan melaksanakan keputusan Dewan Keamanan. Kerjasama Internasional dapat dilakukan melalui MLA. didakwa sebagai ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional. kerja sama antar intelijen keuangan (the Egmont Group). Sedangkan sanksi keuangan yang diberikan oleh DK PBB terkait RES1267. standar internasional FATF. OP8 (c) .Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Mematuhi kewajiban-kewajiban hukum. 36 . dan untuk memutuskan tindakan yang akan diambil dalam rangka memelihara atau memulihkan perdamaian dan keamanan internasional. dan International Cooperation Review Group (ICRG). RES 1904: mengecam Al-Qaeda. yang dimiliki atau dikendalikan oleh orang atau badan dimaksud. Adapun beberapa Resolusi PBB yang Terkait Terorisme sebagai berikut: RES 1267/1333: berkaitan kegagalan Pemerintah Taliban dalam menyangkal memberikan perlindungan dan pelatihan teroris internasional serta bekerja sama dengan upaya untuk membawa teroris ke pengadilan. RES 1373: setiap tindakan terorisme internasional merupakan ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional. kelompok. OP4 (b) dan RES1333. Usamah bin Laden. Memahami dan mengantisipasi resiko penyalahgunaan oleh kelompok teroris. khususnya prinsip due diligence dan update terhadap daftar kelompok teroris. sekarang RES1988 / 1989) RES1373. Taliban dan individu lainnya. usaha dan badan/entitas terkait dengan mereka karena tindakan kriminal dan terorisme. Ekstradisi. Selanjutnya. OP1 (c) dan (d) adalah: Membekukan/memblokir tanpa penundaan dana. segala aset keuangan lain dan sumber daya ekonomi (yang berada di wilayah mereka). Dalam hal ini sanksi berupa tindakan yang tidak melibatkan penggunaan kekuatan bersenjata (Pasal 41). Pembekuan Aset Teroris Pasal 39 Piagam PBB telah mengatur tindakan terhadap setiap ancaman atau pelanggaran terhadap perdamaian.

Berdasarkan RES 1373. Dana beku atau aset lainnya tetap menjadi milik orang tersebut atau badan yang mereka selenggarakan pada waktu pemblokiran. konversi. 37 . pelepasan atau pergerakan dana atau aset lainnya. kelompok. Al-Qaeda. maka terminologi yang dipergunakan oleh PBB adalah sebagai berikut : Memblokir adalah: melarang transfer. properti dari setiap jenis. b. RES 1267 / 1333 (sekarang RES1988): a. Berkaitan dengan sanksi tersebut. Taliban. Dana: aset keuangan lainnya dan sumber daya ekonomi: keuangan aset. karena berdasaran RES 1373 terdapat alasan untuk mencurigai atau percaya terhadap penetapan orang atau badan dalam OP1 (c) RES1373. 2. Beberapa orang atau badan yang telah diidentifikasi dikenakan sanksi keuangan berdasarkan resolusi adalah: 1. usaha dan entitas terkait. bergerak atau tidak bergerak. Orang atau badan yang diidentifikasi sebagai subjek sanksi keuangan adalah: orang yang melakukan atau mencoba untuk melakukan tindakan teroris atau berpartisipasi atau memfasilitasi tindakan teroris. RES 1267 / 1333 (sekarang RES1989): a. aset keuangan atau sumber daya ekonomi oleh warga negara mereka. badan/entitas yang dimiliki atau dikendalikan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh orang-orang tersebut. apakah berwujud atau tidak berwujud. Tanpa penundaan: dalam hitungan jam berdasarkan penetapan DK PBB (RES 1267). orang dan badan yang bertindak atas nama atau dalam kendali orang atau badan tersebut. Individu. atau oleh orang atau badan dalam wilayah mereka.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Memastikan pencegahan penyediaan dana. atau untuk kepentingan orang atau badan dimaksud. sebagaimana dimaksud dalam daftar yang dibuat berdasarkan RES1267.

dalam yurisdiksinya wajib melakukan pemblokiran atas aset Orang/badan yang masuk dalam daftar tersebut. sebagaimana dimaksud dalam daftar yang dibuat berdasarkan RES1989. Diharapkan masing-masing negara anggota menunjuk institusi/otoritas dan memiliki prosedur dalam mengidentifikasi orang atau badan serta memasukkannya dalam daftar (domestic list). Penyusunan strategi komunikasi diperlukan dalam rangka memastikan publikasi kepada masyarakat. usaha dan entitas terkait. Penyusunan daftar tersebut harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: dilakukan sendiri atau atas permintaan pemerintah asing. persyaratan kepatuhan. 4. kelompok. didasarkan pada “alasan/dasar" standar pembuktian. Daftar tersebut ditetapkan dalam keputusan eksekutif atau yudikatif. Pemblokiran dan larangan berurusan dengan aset orang yang masuk dalam daftar (pasca penetapan resolusi). 5. individu.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme b. 2. 38 . Melakukan review secara periodikal atas penetapan tersebut berdasarkan masukan negara anggota. berkenaan dengan: sanksi dan penerapan hukumnya. sebagai berikut: 1. tidak bersyarat atas adanya proses pidana. 3. 6. mengirimkan nama-nama Al Qaeda/Taliban rekan untuk Komite 1267. DK PBB telah memberikan pedoman terkait pelaksanaan resolusi dimaksud. Pemblokiran aset tersebut bersifat "tanpa penundaan". Memberikan kesempatan bagi orang/badan yang ditetapkan dalam daftar untuk mengajukan permohonan peninjauan ulang kepada otoritas berdasarkan bukti-bukti. Memungkinkan delisting/unfreezing terhadap orang/badan dan asetnya yang tidak lagi masuk dalam daftar. Setiap Orang. bukan hanya lembaga keuangan. diterapkan tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada orang/badan yang ditetapkan tersebut.

meskipun merupakan rezim pengaturan yang berbeda dengan tindak pidana pencucian uang. Dalam pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme. contact person/help desk. setiap negara juga wajib mengadopsi dan menerapkan langkah-langkah. yaitu 22 39 . termasuk dalam perundang-undangan nasionalnya. Di samping itu.22 Sehubungan dengan hal tersebut maka 21 Special Recommendation III FATF terdiri dari dua kewajiban.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme komprehensif penetapan orang/badan dalam daftar. Pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme. yang akan memungkinkan pihak yang berwenang untuk merampas dan menyita harta yang merupakan hasil dari. rekomendasi-rekomendasi FATF yang perlu diadopsi antara lain. Dalam pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme. sebagai Negara Anggota FATF seyogiyanya menjalankan secara komprehensif rekomendasi-rekomendasi FATF. mereka yang membiayai terorisme dan organisasi teroris sesuai dengan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berkaitan dengan pencegahan dan pemberantasan pendanaan terorisme. atau digunakan dalam. tindakan teroris atau organisasi teroris. namun selalu memiliki keterkaitan yang sejalan dengan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme. Perampasan dan Penyitaan Aset Teroris Sejalan dengan semangat pemberantasan terorisme secara global. baik dalam pemberantasan Money Laundering maupun dalam pendanaan terorisme. pendanaan terorisme. atau dimaksudkan atau dialokasikan untuk digunakan dalam. Pemerintah Australia juga memiliki dasar yang berasal dari hukum nasional Australia. yaitu: (a) menerapkan langkahlangkah yang sesuai dengan resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB terkait perampasan dana teroris atau aset lainnya tanpa penundaan. Special Recommendation III FATF21 merekomendasikan bahwa setiap Negara wajib menerapkan langkah-langkah untuk membekukan dana tanpa penundaan (freeze without delay) atau aset teroris lainnya. Special Recommendation III mengenai Terrorist Financing. dan (b) mengambil langkah-langkah yang memungkinkan untuk merebut atau merampas dana teroris atau aset lainnya atas dasar perintah atau mekanisme yang dikeluarkan oleh otoritas yang berwenang atau pengadilan. Recommendation 3 FATF dan Recommendation 38 FATF mengenai Anti-Money Laundering. penetapan keputusan.

yang paling memungkinkan dalam pemberian bantuan dalam kaitannya dengan tindak pidana. hasil dari pencucian uang atau tindak pidana asal. dan proses yang berkaitan dengan pendanaan terorisme. Division 400. Australia memiliki pendekatan yang sangat tegas dalam hal tindak pidana pencucian uang. dan (e) melakukan pengambalian kepada negara yang meminta proses mutual assistence. Pengembalian dalam lingkup 23 40 . Dalam kaitannya dalam pelaksanaan Mutual Legal Assistance (MLA) dengan negara lain.23 Commonwealth Criminal Code dan Proceeds of Crime Act 2002. Australia dan Indonesia telah memiliki dasar hukum melalui Treaty Between Australia and the Republic of Indonesia on Mutual Assistance in Criminal Matters yang ditandatangani tanggal 27 Oktober 1995.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme dalam pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme perlu diperhatikan juga Recommendation 3 FATF dan Recommendation 38 FATF dalam pemberantasan tindak pidana pencucian uang. transfer atau penghilangan harta tersebut. dan investigasi administratif. dan (b) mereka yang terkait dengan instrumen kejahatan (dana yang digunakan untuk melakukan kegiatan ilegal). baik hartanya maupun pelakunya. melaksanakan langkah-langkah sementara. menyita dan menyita properti dicuci. penegakan hukum sipil. pertanyaan. melacak dan mengevaluasi harta kekayaan yang akan dirampas. Commonwealth Criminal Code berisi tindak pidana pencucian uang utama di Australia. sarana-sarana yang digunakan dalam atau dimaksudkan untuk digunakan dalam tindak pidana. (c) melakukan penahanan aset. seperti pembekuan dan menyita. untuk mencegah transaksi. Sebagai contoh bentuk kerjasama antar negara. Saat ini ada 19 pelanggaran yang berbeda dari pencucian uang yang tersedia di bawah Commonwealth Criminal Code. Recommendation 3 FATF menyebutkan bahwa tindakan yang dilakukan Pemerintah tersebut harus termasuk kewenangan untuk mengidentifikasi. dan dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis. yaitu: (a) mereka yang terkait dengan hasil kejahatan (dana yang dihasilkan oleh aktivitas ilegal). (b) melakukan lokalisasi aset. (d) melakukan perampasan aset. Lihat “Laporan Pelaksanaan Counter Financing of Terrorism Study Tour”. Sistem hukum Australia tersebut memungkinkan adopsi langsung dari hukum internasional seperti rekomendasi-rekomendasi PBB dan rekomendasi-rekomendasi FATF. membekukan. Recommendation 38 FATF menyebutkan bahwa setiap negara wajib memiliki kewenangan untuk mengambil tindakan cepat dalam menanggapi permintaan oleh negara-negara lain untuk mengidentifikasi. Sydney-Australa. 25-29 September 2011. Divisi 400 tersebut dimasukkan ke dalam Commonwealth Criminal Code melalui Proceeds of Crime Act 2002 pada Januari 2003. tindakan teroris dan organisasi teroris. Setiap Negara juga memiliki pengaturan untuk mengkoordinasi proses penyitaan dan perampasan aset teroris. Mutual Assistance tersebut meliputi proses: (a) membuat daftar orang yang diduga terkait dalam pendanaan teroris berdasarkan daftar PBB. Kerja sama internasional dilakukan atas dasar mekanisme perjanjian atau pengaturan lainnya untuk melakukan bantuan hukum timbal balik atau pertukaran informasi (termasuk agency to agency channels).

memberikan. atau Teroris. pengawasan kegiatan pengiriman uang melalui sistem transfer atau pengiriman uang melalui sistem lainnya. Penyelenggara Transfer Dana (PTD) harus mendapatkan ijin dari Bank Indonesia. yaitu setiap orang yang menyediakan jasa di bidang keuangan atau jasa lainnya yang terkait dengan keuangan baik secara formal maupun nonformal. Dalam hal ini. Pendanaan Terorisme banyak dilakukan dengan menggunakan transaksi keuangan yang dilakukan melalui penyedia jasa keuangan (PJK). Sydney-Australa. Pelaksanaan ekstradisi antara kedua negara tunduk kepada perjanjian dan prosedur yang berlaku di setiap negara tersebut. PJK merupakan PTD karena menyelenggarakan kegiatan transfer dana. Organisasi Teroris. Terminologi “formal” atau “nonformal” dapat diartikan sebagai PJK berbentuk badan hukum (formal) atau perorangan/tidak berbadan hukum (nonformal) Sementara itu. Australia dan Indonesia memiliki Perjanjian Ekstradisi antara Republik Indonesia dan Australia. Dalam hal ini upaya pencegahan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme dilakukan melalui: a. Untuk melindungi kepentingan masyarakat. 41 . 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana telah mengatur bahwa dalam melakukan kegiatan usahanya. atau meminjamkan dana baik langsung maupun tidak langsung digunakan atau yang diketahui akan digunakan untuk terorisme. UU No.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Monitoring Oleh Penyedia Jasa Keuangan Pendanaan Terorisme adalah segala perbuatan dalam rangka menyediakan. Pada prinsipnya. 25-29 September 2011. b. penerapan prinsip mengenali Pengguna Jasa Keuangan. dan c. namun ada juga dalam batasan-batasan tersebut dapat diberlakukan berdasarkan kebijakan. pelaporan dan pengawasan kepatuhan Pengguna Jasa Keuangan. Sehingga dalam hal tertentu terdapat batasan-batasan yang menyebabkan ekstradisi tidak dapat diberikan. PTD yang menyelenggarakan kegiatan transfer dana tanpa ijin. Lihat “Laporan Pelaksanaan Counter Financing of Terrorism Study Tour”. PJK harus melaporkan transaksi keuangan mencurigakan terkait pendanaan terorisme kepada PPATK. pengertian Orang dapat pula meliputi perseorangan dan korporasi (badan hukum atau tidak berbadan hukum). a. akan dikenai ancaman hukuman pidana (PTD ilegal). mengumpulkan. sehingga harus memiliki ijin (formal). pengawasan pengumpulan dan penerimaan sumbangan. yaitu terkait: pengembalian pelaku tindak pidana dilakukan melalui proses ekstradisi yang berlaku berdasarkan perjanjian.

Fungsi Al-Manhaj Al Hirakiy Li Iqomatid-Dien adalah sebagai penjabaran dari Ushulul– Manhaj Al-Harakiy Li Iqomatid-Dien dan sebagai pedoman dasar dalam penyusunan Al-Manhaj Al-Amaliy. Institute of Southest Asian Studios. Al-Manhaj Al Hirakiy Li Iqomatid-Dien atau pedoman gerakan menegakkan agama mengandung pengertian sebagai pedoman mengenai langkah-langkah sistematis yang wajib ditempuh dalam rangka menegakkan Dien. 25 Pedoman Umum Perjuangan Al-Jama’ah Al-Islamiyah (PUPJI) yang isinya antara lain : a.25 Arabinda Acharya. sebagaimana dikemukakan oleh Arabinda Acharya24 berasal dari sumbangan (donations). atau b. Ushulul–Manhaj Al-Harakiy Li Iqomatid-Dien ini berfungsi sebagai pedoman pokok yang menjadi dasar dalam penyusunan Al-Manhaj Al Hirakiy Li Iqomatid-Dien. b. hal. pemanfaatan uang dari yayasan amal agama Islam. transaksi yang patut diduga menggunakan dana yang terkait atau berhubungan dengan atau akan digunakan untuk tindak pidana terorisme. Editor Daljit Singh. Al-Manhaj Al-Amaliy atau pedoman operasional mengandung pengertian sebagai pedoman umum operasi. Sumbangan (donasi) untuk terorisme diberikan dalam bentuk yang berbeda-beda dan yang diberikan secara sukarela atau diperoleh melalui unsur paksaan. keuntungan dari pendapatan bisnis yang sah dan berasal dari kejahatan. Terorist Financing in Southest Asia dalam Terrorism in South and Southest Asia in The Coming Accade. Menegakkan Ad-Dien yang dimaksud adalah menegakkan Daulah Islamiyyah atau Negara Islam dan selanjutnya menegakkan Khilafah Islamiyyah atau pemerintahan Islam. c. Pada umumnya uang tersebut dikumpulkan anggota-anggota kelompok sebagai suatu kewajiban dari anggota. Seperti halnya yang diatur dalam PUPJI (Pedoman Umum Perjuangan Al–Jamaah Al–Islamiyah) sebagai Piagam Anggaran Dasar Jemaah Islamiyah yang menuntut anggota-anggotanya berpartisipasi pada organisasi. transaksi yang melibatkan Setiap Orang yang berdasarkan publikasi pemerintah atau organisasi internasional dikategorikan sebagai teroris atau organisasi teroris. Singapore. 2009. Kajian Terhadap Asas/Prinsip Yang Terkait Dengan Penyusunan Norma Pendanaan teroris adalah merupakan bagian dari persoalan kejahatan global yang sudah ada sejak lama dan terkait erat dengan dana-dana ilegal yang bergerak menyeberang lintas batas antar negara. 24 42 . 96 104 . Sumber pendanaan teroris di Asia Tenggara. B. Ushulul–Manhaj Al-Harakiy Li Iqomatid-Dien atau pokok-pokok pedoman gerakan menegakkan agama yang berisi prinsip-prinsip dalam memahami Ad-Dien sebagai landasan langkah-langkah sistematis yang wajib ditempuh dalam rangka menegakkan Ad-Dien.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme a.

Tajnid atau rekrut kemiliteran. Pengelola dana zakat menginvestasikan dalam bentuk bermacammacam sumbangan atau subsidi pada organisasi-organisasi amal. Dengan cara ini sumbangan amal dapat dilibatkan untuk mendukung kegiatan kelompok-kelompok teroris. Bisnis ini meliputi perusahaan konstruksi. Pendidikan dan Pelatihan. bahwa jama’ah bernama Al-Jama’ah Al-Islamiyah yang merupakan Jama’atun minal-Muslimin yaitu sebuah Jama’ah yang anggotanya terdiri dari sebagian kaum muslimin. d. Majelis Syuro atau Dewan Pertimbangan. jasa pengiriman uang dan bahkan sekolah-sekolah. Untuk melaksanakan Ushulul–Manhaj Al-Harakiy Li Iqomatid-Dien. Bisnis wirausaha tingkat menengah adalah sesuatu yang ideal. mengadakan hubungan dengan pihak lain yang dipandang membawa kemashlahatan jama’ah dan menunjuk pejabat sementara apabila berhalangan dalam menjalankan tugasnya. bukan hanya menghasilkan pendapatan. anggota majelis fatwa dan anggota majelis hisbah. mustabdil dan pembantunya tanpa menjelaskan alasan dibolehkannya jihad Qital (berperang). agen perjalanan (travel agencies). Majelis Fatwa atau Dewan Penasehat dan Majelis Hisbah atau Dewan Pengawas. yang dalam melaksanakan tugasnya Amir dibantu oleh majelis – majelis Qiyadah atau Dewan Kepemimpinan. Al-Manhaj Al Hirakiy Li Iqomatid-Dien. Amir membela dan melindungi anggota. anggota majelis qiyadah markaziyah. mengutip infaq dari anggota jama’ah yang baik yang bersifat rutin maupun incidental. Tamwil atau pendanaan dan Jihad Musallah atau jihad dengan senjata. Jihad Musallah diartikan sebagai Qital yakni perperang untuk melawan musuh Allah dan Rasul-Nya antara penguasa kafir. Amir menyelenggarakan musyawarah majelis-majelis tingkat markas. Al-Manhaj Al-Amaliy dan Nidhom Asasi antara lain dengan Tandzim Siri atau organisasi rahasia. murtad. Uang tersebut diselewengkan oleh pegawai atau pengurus lainnya. zindiq. dengan sasaran perjuangan mewujudkan tegaknya Daulah Islamiyah sebagai basis menuju wujudnya kembali Khilafah Alaa Minhajin Nubuwwah atau pemerintahan berdasarkan ajaran Nabi dengan menempuh jalan antara lain jihad fii sabilillah. Uang zakat tersebut dapat disalahgunakan tanpa sepengetahuan penyumbang. Tugas dan wewenang Amir antara lain menerima mubaya’ah atau pembai’atan anggota.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Sumber dana terorisme juga dilakukan dengan penyalahgunaan yayasan amal yaitu menyelewengkan uang yang dikumpulkan melalui zakat dengan dalih untuk ijtihad. memberi sanksi anggota jama’ah yang melanggar peraturan jama’ah. yang antara lain mengatur Jama’ah. jasa pengiriman (courier service). Amir juga mempunyai wewenang untuk menentukan dan mengesahkan keputusan musyawarah. bukan seluruh kaum muslimin di dunia. Dalam hal ini penyumbang zakat menganggap bahwa uang itu dizakatkan sebagai kewajiban keagamaan yang digunakan untuk tujuan utama beribadah. tetapi juga menjadi kedok transaksi keuangan untuk menghindari pelacakan. Majelis Qiyadah Manthiqih atau Dewan Pimpinan Wilayah dan Majelis Qiyadah Wakalah atau Dewan Pimpinan Tingkat Perwakilan. Nidhom Asasi atau aturan dasar atau anggaran dasar. Jama’ah dipimpin oleh seorang Amir atau pemimpin. Sumber dana juga dapat diperoleh kelompok teroris dengan membangun usaha mereka sendiri melalui perdagangan dan perputaran uang. pemberi zakat atau bahkan tidak diketahui oleh anggota pengelola/pengurus dan staf organisasi itu sendiri. Majelis Qiyadah terdiri dari Majelis Qiyadah Markaziah atau Dewan Pimpinan Pusat. musyrik. (Disalin dari Surat Dakwaan Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan tertanggal 12 Oktober 2004 dalam perkara terdakwa Abu Bakar Ba’asyir alias Abdus Somad alias Abu Bakar Ba’asyirbin Abud Ba’asyir) 43 . Pembinaan At-To’ah atau ketaatan / loyalitas. Amir mengangkat dan memberhentikan anggota majelis syuro.

Senin. taman kanak-kanak dan yatim piatu. (2) Asas adanya toleransi (tenggang-rasa) terhadap perbuatan tersebut penilaian atas terjadinya kerugian. 101. Kelompok teroris juga menggunakan sekolah-sekolah swasta untuk mendukung pendanaan dalam aktifitas mereka. loc. Modus operandi pendanaan terorisme sebagaimana digambarkan diatas adalah merupakan salah satu bentuk perbuatan yang akan dikriminalisasikan 27 dalam Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Pendanaan Terorisme. Arabinda Acharya menyebut nama Zubair seorang warga negara Malaysia. perlu diperhatikan apakah kepentingan hukum yang terlanggar oleh perbuatan tersebut masih dapat dilindungi dengan cara lain . Kriminalisasi menurut Mardjono Reksodiputro mengandung pengertian : primair untuk menyatakan sebagai tindak pidana perbuatan dalam abstracto dan secundair untuk memberi label pelanggar hukum pidana pada orang dalam concreto (sekedar catatan sementara tentang Kriminalisasi. Politik Kriminal dan AsasAsasnya (Makalah disampaikan pada FGD-PPATK. Salah satu tujuannya disini adalah untuk menghasilkan pendapatan atau untuk mencampurkan hasil pencucian uang seolah-olah berasal dari usaha yang sah. suatu sekolah Islam di Cambodia 26. Menurut Mardjono Reksodiputro28 untuk menguji suatu kriminalisasi primair (rumusan tindak pidana) perlu diperhatikan sejumlah asas. hukum pidana hanyalah ultimum remedium) . (3) Asas subsidiaritas (sebelum perbuatan dinyatakan sebagai tindak pidana. Arabinda Acharya. menjadi anggota Al Qaeda. Beberapa sekolah yang sudah mapan juga membayar orang-orang upahan untuk operasi teroris. Zubair bertanggung jawab untuk operasi dari Om-Al-Qura Foundation.cit.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Seringkali kelompok teroris itu sendiri yang akan mengambil tindakan menyebarkan uang untuk memulai suatu bisnis yang sah. membangun aktifitas kelompok melalui jaringan sekolah perawat. berkaitan erat dengan ada atau tidak adanya toleransi . hal. 5 Januari 2008) 28 (ibid) 27 26 44 . toleransi didasarkan pada penghormatan atas kebebasan dan tanggung jawab individu) . adapun kerugian ini dapat mempunyai aspek moral (moralitas individu – kelompok – kolektifitas). tetapi selalu harus merupakan “public issue”. yaitu : (1) Asas bahwa kerugian yang digambarkan oleh perbuatan tersebut harus masuk akal.

(6) Asas penggunaannya secara praktis. yayasan keagamaan ternyata telah disalahgunakan orang lain untuk membantu pendanaan terorisme. Aspek moral dapat digambarkan dari kerugian mereka yang secara ikhlas menyumbang atas dasar kewajiban agama yang disalurkan melalui badanbadan keagamaan seperti badan zakat. Resolusi juga meminta kepada semua negara untuk menjadikannya suatu kejahatan untuk setiap perbuatan yang dengan sengaja memberi atau mengumpulkan dengan cara apapun baik langsung atau tidak langsung dengan maksud bahwa dana tersebut akan digunakan untuk melaksanakan tindakan-tindakan teroris. dan dengan reaksi atau pidana yang diberikan) . Masyarakat tidak dapat lagi mentolerir 45 . Perumusan tindak pidana pendanaan terorisme dapat dipandang telah memenuhi asas-asas kebijakan kriminal tersebut diatas. (2) Memenuhi asas toleransi (tenggang-rasa) dalam arti bahwa akibat perbuatan pendanaan dapat mengakibatkan tindakan terorisme yang menimbulkan kerugian sangat besar bagi masyarakat berupa korbanharta benda maupun korban manusia. Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 1373 (2001) tertanggal 28 September 2001 telah memutuskan agar semua negara mencegah dan menindas pendanaan tindakan–tindakan teroris. Upaya menghentikan pendanaan terorisme bukan saja menjadi issu domestik tetapi juga sudah menjadi issu global. (5) Asas legalitas. apabila a sampai dengan d telah dipertimbangkan. yang merupakan sendi utama hukum pidana . dan efektifitasnya berkaitan dengan kemungkinan penegakannya serta dampaknya pada prevensi umum (practical use and effectivity).Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme (4) Asas proporsionalitas (harus ada keseimbangan antara kerugian yang digambarkan dengan batas-batas yang diberikan oleh asas toleransi. tercakup dan pula jelas hubungannya dengan asas kesalahan. masih perlu dilihat apakah perbuatan tersebut dapat dirumuskan dengan baik hingga kepentingan hukum yang akan dilindungi. yaitu : (1) Sifat kerugian yang ditimbulkan perbuatan pendanaan terorisme dapat menimbulkan kerugian baik dari aspek moral maupun public issue.

Gramedia Pustaka. namun langsung bekerja begitu “ancaman” terhadap kepentingan hukum yang hendakdilindungi muncul29 ancaman bahaya dalam Jan Remmelink. hal. Hukum Pidana. selain dengan menggunakan hukum pidana sebagai ultimum remedium. dukungan publik yang kuat baik nasional maupun internasional terhadap pemberantasan terorisme melalui penghentian pendanaan. Terorisme tidak akan dilakukan tanpa dana. Alternatif usaha lain memberantas pendanaan terorisme dipandang tidak akan memadai. Hukum pidana tidak menunggu munculnya akibat perbuatan (kerugian). (3) Asas subsidiaritas telah terpenuhi mengingat tidak ada cara lain untuk melindungi kepentingan hukum masyarakat. berhubung analisa biaya dan hasil. 62. tetapi hukum pidana dapat dikatakan melakukan upaya preventif. (4) Asas proporsionalitas sebagai persyaratan kebijakan kriminal dapat digambarkan dengan adanya keseimbangan antara kerugian menurut batas – batas asas toleransi dengan reaksi atau pidana yang akan diberikan. diterjemahkan oleh Pascal Moeljono. Oleh karena sifat tindak pidana ini adalah tindak pidana yang kemungkinan menimbulkan ancaman bahaya. Jakarta. LLM. 29 46 .Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme perbuatan pendanaan terorisme yang menimbulkan kerugian luar biasa bagi masyarakat. Ancaman sanksi pidana merupakan sarana yang efektif untuk menekan kerugian yang ditimbulkan oleh perbuatan pendanaan teroris. dan asas lex stricta (aturan itu harus ditafsirkan secara sempit dan tidak digunakan analogi). Komentar atas Pasal-pasal terpenting dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia. asas lex certa (perumusan jelas dan tidak multi tafsir). (5) Asas legalitas akan terpenuhi melalui perumusan undang-undang yang jelas. terjadinya pelanggaran atas kepentingan hukum tidak ditunggu. 2003. (6) Asas penggunaannya secara praktis dan efektif dalam penerapannya akan dapat dipenuhi manakala waktu merumuskan tindak pidana sudah memiliki prediksi dalam praktik penegakan hukumnya. konkrit sejalan dengan asas lex sricpta (dirumuskan sebagai aturan hukum pidana tertulis). SH. Tindak pidana pendanaan terorisme merupakan tindak pidana yang mendahului terjadinya tindak pidana terorisme.

Sebaliknya yang kedua. Katagori tindak pidana tersebut berkembang menjadi pemilahan antara delik formal dan delik materiil. Jan Remmelink menunjuk adanya dua cara yaitu delik yang menimbulkan bahaya abstrak. maka tindak pidana pendanaan terorisme pada dasarnya adalah merupakan suatu perbuatan yang merujuk pada kelakuan yaitu melakukan suatu perbuatan dengan segala cara. masih belum tentu terjadi akan timbul. Dengan demikian perumusan tindak pidana pendanaan terorisme. Tentang akibat perbuatan. yaitu ia juga dapat merumuskan suatu perbuatan sebagai tindak pidana. Kajian Terhadap Praktik Penyelenggaraan. berupa terorisme sebagai kepentingan hukum yang dilanggar. Kondisi Yang Ada. tanpa merumuskan lebih terperinci kepentingan-kepentingan hukum seperti apa yang rentan terhadap resiko tersebut. Dalam melakukan suatu aksi teror dibutuhkan dana dalam jumlah besar. apabila tindakan tersebut “in concreto” telah menimbulkan bahaya yang dirumuskan dalam undang-undang. sedangkan delik yang menimbulkan bahaya konkret melarang suatu tindakan dan munculnya akibat yang menimbulkan bahaya bagi kepentingan-kepentingan hukum tertentu.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme perumusan tindak pidana. C. Serta Permasalahan Yang Dihadapi Masyarakat Pendanaan terorisme merupakan “urat nadi” dari terjadinya suatu kegiatan terorisme. suatu cara merumuskan suatu perbuatan tertentu sebagai tindak pidana berdasarkan pengalaman. langsung atau tidak langsung. Delik yang menimbulkan bahaya abstrak hanya melarang suatu perilaku. delik yang menimbulkan bahaya konret. 47 . secara melawan hukum dan sengaja menyediakan atau mengumpulkan dana dengan maksud akan digunakan melakukan terorisme. lebih tepat dirumuskan sebagai “delik formal”. Berdasarkan kenyataan ini upaya pencegahan dan pemberantasan pendanaan terorisme dianggap sebagai upaya terkini untuk memberantas kegiatan terorisme itu sendiri. perbuatan tertentu sangat mudah berujung pada pelanggaran kepentingan kepentingan hukum. Mencermati cara perumusan tindak pidana sebagaimana tersebut diatas.

Pengaturan ini dianggap telah melanggar hak asasi dari pelaku tindak pidana. Selain itu. Perpu ini sendiri baru dikeluarkan setelah terjadinya pemboman pada 12 Oktober 200 di Sari Club dan Paddy’s Club. 8-9. baik untuk senjata maupun sarana komunikasi. Sehingga. Ketentuan pendanaan terorisme ini diatur secara bersamaan dengan kegiatan terorisme dalam undang-undang tersebut. Kelompok-kelompok teroris yang sudah sangat terorganisir mengguunakan peralatan-peralatan yang lebih canggih. 1 tahun 2002 guna mengisi kekosongan hukum (rechsvacuum) tentang penindakan kejahatan terorisme. Perdebatan yang juga terjadi atas terbitnya Perpu ini adalah perihal penangkapan 7x24 jam hingga laporan intelijen yang digunakan sebagai alat bukti. Indonesia telah mengkriminalisasi kegiatan terorisme dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. ibid. Pemerintah menerbitkan Perpu No.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Teorisme memerlukan dana untuk mendapatkan senjata dan bahanbahan peledak yang belakangan ini banyak digunakan. Kontroversi yang timbul dari mulai sifat retrokatif atau berlaku surut hingga Perpu ini dapat diterapkan terhadap aksi pemboman di Bali. 15 Tahun 2003 telah ditetapkan menjadi Undang-Undang. hal. Dalam ketentuan yang mengatur pendanaan terorisme hanya melarang tindakan-tindakan untuk memberikan bantuan dana bagi kegiatan 30 Sidik. Kuta Bali. Dibutuhkan adanya tempat untuk menampung para teroris sehingga mereka dapat hidup dan memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. 1 Tahun 2002 yang berdasarkan UU No. apabila setiap negara dapat memotong aliran dana bagi para teroris maka tindakan terorisme dapat dicegah.30 Penerbitan Perpu ini sejak awal telah banyak mengundang kontroversi dari berbagai pihak dan kalangan. Namun undang-undang ini tidak secara tegas menggunakan istilah pendanaan terorisme atau bahkan memberikan pengertian apa itu pendanaan terorisme. Semua kegiatan dan kebutuhan diatas membutuhkan dana yang dapat dibilang tidak sedikit. agar tenaga-tenaga dapat terlatih untuk menjalankan aksinya mereka perlu membuat pelatihan. 48 . pemerintah Indonesia telah mengatur pendanaan terorisme.

Diaturnya terorisme dalam undang-undang ini adalah untuk meng-cover apabila kemudian diundangkannya UU tentang Tindak Pidana Terorisme. Setelah adanya perubahan dan penambahan UU Tindak Pidana Pencucian Uang (UU TPPU). 5 49 . dalam perkembangannya ternyata ketentuan pendanaan terorisme diatur dalam Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang. sulit dideteksi apa. 25 tahun 2003 yang merubah dan menambah UU No. bank wajib memelihara database daftar teroris yang diterima dari Bank Indonesia setiap 6 (enam) bulan sekali berdasarkan data yang dipublikasikan oleh PBB. dimana dan siapa yang menjadi sasaran berikutnya. yaitu Undang-Undang No.31 Namun dari awal dan perkembangnya terorisme didapai satu hal yang tidak akan erubah bahwa kegiatan atau aksi teror pastilah membutuhkan dana. bagaimana. Kewajiban Pelaporan dan Pelaksanaan Monitoring 1. UU No. Pasal 2 ayat (1) huruf n UU No. Namun. 25 Tahun 2003 barulah pendanaan terorisme diatur dalam UU Tindak Pidana Pencucian Uang. Hingga saat ini belum ada undang-undang yang khusus membahas perihal pendanaan terorisme. Uang. 31 Ibid. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencuian Uang. Selain itu. Oleh karena itu perkembangan kedepan atau permasalahannya tentu saja semakin kompleks kepentingan dan didukung oleh berbagai peralatan yang semakin canggih. 15 tahun 2002 telah memasukkan tindak pidana terorisme sebagai salah satu bentuk kejahatan asal pada pencucian uang.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme terorisme yang disamakan dengan kegiatan pendanaan terorisme atau Financing of Terrorism. Penerapan Program Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) Bagi Bank Umum Dalam rangka mencegah digunakannya bank sebagai media pendanaan teroris. 15 Tahun 2002 ini diundangkan sebelum adanya undang-undang tentang tindak pidana terorisme. hal. Aksi-aksi teror yang ada sekarang ini jauh lebih berbahaya dari aksi teror yang dikenal sebelumnya. Namun. yaitu dengan dikerluarkannya UU No.

shtml). Dalam hal terdapat kemiripan nama nasabah dengan nama yang tercantum dalam databse Daftar teroris. b. c. bank wajib menyelenggarakan pelatihan mengenai upaya pencegahan pendanaan terorisme kepada seluruh karyawan khususnya bagi karyawan yang berhadapan langsung dengan nasabah.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Informasi mengenai Daftar teroris antara lain dapat diperoleh melalui website PBB (http://www. Memastikan secara berkala terdapat atau tidasknya nama-nama nasabah bank yang memiliki kesamaan atau kemiripan dengan nama yang tercantum dalam database tersebut.org/sc/committees/1267/consolist. bank wajib menatausahakan dokumen yang terkait dengan data nasabah atau WIC dengan jangka waktu 5 (lima) tahun. dan INTERPOL. Kegiatan pemantauan yang wajib dilakukan bank terkait dengan database Daftar teroris yang dimiliki adalah: a. Sehubungan dengan hal tersebut.un. melaksankan tugas pengawasan pelaksanaan program pencegahan pendanaan terorisme. 50 . sehingga bank dapat secara aktif mengkinikan Daftar Teroris tanpa harus menunggu daftar yang dikirim Indonesia. bank wajib melaporkannya dalam Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan kepada PPATK. Dalam hal terdaspat kesamaan nama nasabah dan kesamaan informasi lainnya dengan nama yang tercantum daslam database Daftar Teroris. Untuk membantu pihak yang berwenang melakukan penyidikan terhadap dasna-dana yang diindikasikan terkait dengan pendanaan terorisme. dan dokumen keuangan dengan jangka waktu sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Dokumen Perusahaan. dan pihak berwenang seperti informasi dari PPATK. atau melakukan pelaporan LTKM kepada PPATK. bank wajib memastikan kesesuaian identitas nasabah tersbeut dengan informasi lain yang terkait. Sebagai upaya efektivitas pelaksanaan pemantauan terhadap database Daftar teroris diperlukan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dan kemampuan yang memadai khususnya yang terkait kegiatan pendanaan terorisme.

Informasi AUSTRAC digunakan oleh pihak terkait dimaksud dalam penyelidikan berbagai tindak pidana seperti pencucian uang. Penerapan Program Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) Bagi Bank di Australia32 Lembaga yang memiliki kewenangan dalam melakukan pengaturan dan monitoring pelaksanaan dan pemenuhan kepatuhan pihak pelapor terhadap ketentuan anti pencucian uang dan pendanaan terorisme di Australia adalah AUSTRAC. Secara umum pendekatan yang dilakukan berdasarkan FTR Act 1988 adalah “prescriptive”. Presentasi disampaikan oleh Ms. penipuan/fraud. AUSTRAC didirikan pada tahun 1989 berdasarkan the Financial Transaction Reports Act 1988 (FTR Act). menganalisis dan menyediakan atau menyampaikan informasi kepada pihak terkait yang berwenang di dalam negeri (partner agencies) maupun di luar negeri (international counterparts). AUSTRAC memiliki 6 kantor yang terdiri dari 1 kantor pusat di New South Wales dan 5 kantor regional di 5 state yang berbeda (Victoria. WA. obat terlarang. Qld. ACT. Selanjutnya berdasarkan anti-Money Laundering/Counter Terrorism Financing atau yang dikenal dengan AML/CFT Act 2006. AUSTRAC memiliki peran ganda yaitu: • sebagai regulator dalam mengatur dan mengawasi pelaksanaan dan pemenuhan kepatuhan pihak pelapor terhadap ketentuan anti pencucian uang dan pendanaan terorisme di Australia (the AML/CTF Act and FTR Act).Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 2. Keberadaan AUSTRAC dalam AML/CFT Act 2006 tercantum dalam bagian 209. dan • sebagai lembaga di bidang intelijen keuangan /financial intelligence unit AUSTRAC menerima. pendekatan dilakukan berdasarkan “riskbased”. AUSTRAC merupakan Financial Intelligence Unit (FIU) yang bertipe Administratif dan merupakan menjadi bagian dari Australian Government Attorney-Generals Department. dan SA). Gavin Raper dari Australian Transaction Reports and Analysis Centre (AUSTRAC). Suzanne Robinson dan Mr. 32 51 . penyelundupan. dan kejahatan serius lainnya.

dan International Fund Transfer Instruction (IFTI) serta Cross Border Movement (CBM). pembawa uang tunai/ cash carriers. Pihak-pihak yang diatur dan diawasi oleh AUSTRAC terdiri dari pihak pelapor yang melakukan kegiatan salah satu dari 71 designated services. SUSTR/SMR bisa diminta secara on line oleh pihak terkait dan dapat disampaikan sebagai bagian dari suatu laporan keuangan intelijen. AUSTRAC menyampaikan informasi kepada pihak terkait sesuai dengan AML CFT Act 2006 section 126. revenue collection. pihak-pihak kewajiban pelaporan kepada AUSTRAC yakni: lembaga keuangan (financial institutions). Berkenaan dengan domestic dan international coordination diketahui pada saat ini yang menjadi domestic partner agencies AUSTRAC meliputi law enforcement. money order. travel cek atau store value card Penerimaan taruhan dan atau pembayaran kepada pemenang taruhan (accepting bets and/or paying winnings) Berdasarkan FTR Act dan AML/CFT Act. yang meliputi: Provision of an account Pemberian pinjaman (Making a loan) Leasing dan penyewaan (Some leasing and hire purchase agreement) Penerbitan kartu debit. penyelenggara undian/TAB/bookmakers. perjudian/casinos. social justice. Dalam kondisi tertentu SUSTR/SMR dapat yang memiliki 52 .Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Jenis laporan yang diterima AUSTRAC dari pihak pelapor sesuai AML/CFT Act terdiri dari Suspicious Matter Reports (SMR). regulatory. penyedia jasa pengiriman uang (money transfer remmitters). Pihak terkait yang menerima SUSTR/SMR dapat menggunakan / tidak menggunakan informasi tersebut. Threshold Transaction Report (TTR). Sedangkan jumlah FIU yang telah menandatangi MOU dengan AUSTRAC sebanyak 59 FIU. national security. pedagang valuta asing (bureau de changes) pedagang emas dan permata (bullion sellers).

Struktur organisasi AUTRAC mengalami 3 (tiga) kali perubahan sejak diundangkannya AML/CFT tahun 2006 yaitu pada tanggal 30 Juni 2006. TTR dan IFTI). Hal ini agar data yang nantinya diberikan Austrac ke LEA juga bisa berkualitas terutama tidak terdapatnya kesalahan data KYC yang dilakukan oleh pihak pelapor. SUSTR/SMR tidak dapat dipergunakan sebagai barang bukti dalam proses pengadilan. Pendekatan pengawasan pihak pelapor juga mengalami evolusi dari sebelumnya hanya menekankan pada risiko pihak pelapor (sebagaimana ditentukan oleh program CREST) menjadi “Compliance Behavior Based Supervision”. Tekanan pengawasan adalah pada desk-review (off site supervision) walaupun terhadap pihak pelapor tertentu dilakukan assessment secara khusus secara on-site. Seluruh major reporter adalah pihak pelapor yang telah diawasi oleh regulator lain (APRA/ASIC). Tujuan assessment pihak pelapor pada major reporters lebih ditekankan pada kualitas laporan yang telah diberikan ke Austrac. Prosedur assessment dimulai dengan preliminary research. Jangka waktu assessment terhadap satu pihak pelapor berkisar antara 3-4 bulan (beberapa pihak pelapor dapat di-assess pada waktu bersamaan).Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme disampaikan kepada beberapa pihak terkait. Penyelenggaran pada dasarnya terbagi menjadi dua yaitu major reporters (yang jumlahnya hanya sekitar 10 pihak pelapor) dan other reporters. 53 . Fokus compliance memang lebih ditekankan pada major reporters karena walaupun jumlahnya hanya 10 namun dari sisi pelaporan (SMR. ke-15 pihak pelapor tersebut menyumbang 70% dari laporan yang diterima oleh Austrac. fungsi compliance hanya merupakan bagian dari Regulatory Compliance. (yang jumlahnya sekitar 17. Untuk itu prosedur pengawasan major reporters berbeda dengan pihak pelapor lainnya. Namun saat ini compliance dalam struktur organisasi merupakan satu dari dua fungsi besar Austrac selain intellegence.000 yang dibagi pengawasannya terbagi ke dalam beberapa region). tanggal 30 Juni 2007 dan April 2010. Sebelum berlakunya AML/CTF Act 2006. Artinya pola-pola pelaporan dari pihak pelapor dianalisa sedemikian rupa untuk menentukan perlunya audit atau education-visit terhadap pihak pelapor.

Memungkinkan identifikasi risiko tinggi. memiliki beberapa kantor yang mengembangkan kebijakan dan strategi AML/CFT. Apabila pihak pelapor tidak kooperatif dan tidak bisa ditangani lagi oleh bagian compliance maka kasusnya akan dilimpahkan ke bagian enforcement untuk dipertimbangkan diberikan sanksi. AUSTRAC menggunakan system yang digunakan untuk memprioritisasi laporan mencurigakan yang diterima yaitu “BUSINESS RULES ENGINE” (BRE). Kerangka Insitusional Dalam Pemberantasan Pendanaan Terorisme di Amerika Serikat A. dan laporan menarik lainnya. U. asking for more information. Low. SMRs/SUSTRs disaring oleh: • • Business Rules Engine Senior Analyst/manager Pembagian prioritas laporan terdiri dari : Very High. very Low 3. Mengidentifikasi laporan yang berisiko rendah yang tidak perlu dilakukan evaluasi/analisis oleh analis.1. Moderate. High. nilai dolar yang tinggi. Department of the Treasury (Treasury). antara lain: 54 . audit visit. Penerusan laporan ke partner agencies secara otomatis. Hal-hal terkait benefit dari BRE antara lain sebagai berikut: Memungkinkan pengguna/user untuk menulis aturan-aturan yang terkait dengan atribut-atribut tertentu dalam laporan. Bagian enforcement di AUSTRAC terpisah dari bagian compliance (lihat bagan).S. reporting dan terakhir follow-up. Penerapan Program Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) Bagi Bank di Amerika 3.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme talk to organization. Apabila kasus dilimpahkan ke bagian enforcement maka bagian compliance mengirimkan surat resmi ke pihak pelapor bahwa kasusnya sudah dilimpahkan ke bagian enforcement. Dalam rangka prioritisasi terdapat beberapa hal antara lain: SMRs/SUSTRs dimasukkan ke dalam daftar urutan pekerjaan yang harus dilakukan (work queue).

juga kebiajakan dan program lain untuk memeragi kejahatan keuangan. TFI juga bertanggung jawab untuk hal sbb: (1) pengembangan dan pengimplemntasian strategi terorisme pemerintah baik US untuk memberantas pendanaan (2) domestik maupun internasional. 2. dan (5) mengawasi dan menyediakan pedoman kebijakan untuk implementasi dan administrasi dari program dan peraturan mengenai sanksi ekonomi negara. TFI bertanggung jawab terhadap pengawasan arah kebijakan dan integrasi the Office of Foreign Assets Control (OFAC) dan Treasury Executive Office for Asset Forfeiture (TEOAF). (4) mewakili US dalam badan/lembaga internasional yang mendedikasikan diri untuk memerangi pendanaan terorisme. Office of Terrorist Financing and Financial Crime (TFFC): TFFC is responsible for the policy and strategy functions within TFI concerning money laundering. dan kejahatan keuangan lain.S. and other financial crimes. pengembangan dan pengimplementasian the National Money Laundering Strategy.S. terrorist financing. delegation to the FATF and FATF-style regional bodies (FSRBs). including heading the U.S. Department of Justice (DOJ): The DOJ adalah badan pemerintah utama yang bertanggung jawab untuk mengawasi 55 . 3. U. TFFC represents the U. at relevant international bodies. Office of Terrorism and Financial Intelligence (TFI): TFI dan bagian organisasinya (termasuk the Office of Terrorist Financing and Financial Crime dan the Office of Intelligence and Analysis). dan pengawasan terhadap FinCEN. termasuk pengawasan kepada sektor swasta. (3) bekerja sama dengan FinCEN untuk mengembangkan dan mengimplementasikan kebijakan dan peraturan pemerintah US dalam mendukung BSA dan USA PATRIOT Act.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 1. pencucian uang. TFFC works closely with Treasury’s Office of International Affairs and Office of Domestic Finance in the formulation of AML/CFT policy and strategies.

Law Enforcement Agencies 1. Firearms and Explosives (ATF). AFMLS mengelola secara terpusat program perampasan aset DOJ dan menjamin maksimalnya potensi penegakan hukum.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme penyidikan dan penuntutan pencucian uang dan pendanaan terorisme di tingkat federal. Asset Forfeiture and Money Laundering Section. Immigration and Customs Enforcement (ICE): ICE bertanggung jawab untuk melindungi US 56 . C. Criminal Division (AFMLS): The AFMLS adalah divisi kriminal dibawah DOJ untuk pelaksanaan perampasan aset dan penegakan hukum AML. terbagi dalam 40 organisasi terpisah. Personil State Department berpartisipasi aktif dalam misi diplomatik multi-agency diplomatic terkait AML/CFT. 4. State Department/Departemen Luar Negeri The State Department mewakili pemerintah US dalam beberapa institusi multilateral. 3. FBI terlibat dalam multi agency Joint Terrorism Task Forces (JTTF) yang bertanggung jawab untuk penyidikan terorisme dan pendanaan terorisme. the Drug Enforcement Administration (DEA) and the Bureau of Alcohol. antara lain: the FBI. Tobacco.S. termasuk the UN 1267 Sanctions and CounterTerrorism Committees. dan the U. termasuk mengkoordinasikan dan mereview pengajuan legistatif dan kebijakan yang berdampak pada program perampasan aset dan lembaga penegakan hukum pencucian uang. B. FBI mempromosikan penyidikan dan penuntutan pencucian uang dalam keseluruhan penyidikan kwjahatan-kejahatan tersebut diatas. Department of Homeland Security. . Federal Bureau of Investigation (FBI): FBI adalah lembaga utama yang bertanggung jawab untuk menyidik kejahatan federal. Sebagai tambahan. 2. Selain itu. dan the FATF. Drug Enforcement Administration (DEA): The DEA bertanggung jawab untuk penyidikan perdagangan obat-obat terlarang. Marshals Services (USMS). DOJ dipimpin oleh Jaksa Agung.

khususnya yang secara langsung maupun tidak langsung meningkatkan kepatuhan terhadap perpajakan. (2) 1 8U S C2 3 3 9 B – me n y e d i a k a nd u k u n g a n ma t e r i a l a t a us u mb e r d a y a u n t u k d e s i g n a t e d F T O s . pendanaan terorisme. Customer and Border Protection (CBP): CBP adalah lembaga perbatasan terpadu negara.2. 3. Postal Inspection Service: The U. Target IRS-CI adalah penyidikan highprofile money laundering.000 kendaraan perposan. Postal Inspection Service dibebankan untuk menjaga lebih dari 200 milyar surat per tahun and melindungi lebih dari 700. di dan antara pelabuhan masuk resmi. melarang. Department of Homeland Security. 6.000 pekerja perposan. 5. dan melindungi lintas batas negara. CBP bekerja sama dengan ICE untuk melakukan penyitaan baik uang tunai dan instrumen pembayaran moneter.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme dan warga negaranya dengan menghalangi. a n d (3) ( C )1 8U S C2 3 3 9 C ( a ) me n y e d i a k a nd a n me n g u mp u l k a nd a n a t e r o r i s 57 . mengawasi. dan kejahatan perpajakan. and milyaran dolar aset perposan. 38. Federal laws: Ada 4 (empat) tindak pidana federal terkait pendanaan teroris dan organisasi teroris (1) 2339A–penyediaan dukungan 1 8 U S C ma t e r i a l u n t u k me l a k u k a n t i n d a k p i d a n a t e r t e n t u .S.000 fasilitas perposan. 200. 4.S. U. yang bertugas untuk mengelola. Kriminalisasi Pendanaan terorisama (Criminalization of Terrorist Financing) a. Internal Revenue Service Criminal Investigation (IRS-CI): The IRS-CI menegakkan UU pencucian uang. dan menyidik ancaman ML/TF yang timbul dari perpindahan orang dan barang ke dalam dan ke luar wilayah US.

y a n gh a r u sp e r t a ma me mb u k t i k a nb a h w at e r d a k w a me l a k u k a nh a l y a n gd i l a r a n gd a l a m s a l a hs a t ud a r i 9i n t e r n a t i o n a l t r e a t i e s d a ns e l a n j u t n y a me mb u k t i k a nb a h w a b a g i a nd a r i t r e a t y t e l a h d i i mp l e me n t a s i k a n o l e h U . E f e k t i f i t a s tindak pidana pendanaan terorisme T h eU . b . 3 . T e r r o r i s t a c t d i d e f i n i s i k a n d e n g a n me r u j u k / me n g a c u p a d a s e r a n g k a i a n t r e a t i e s y a n g d i i mp l e me n t a s i k a n o l e h t h e U . 2 )L e b i h p e n t i n g l a g i . 58 . s e b a g a i ma n a h a k i md a nj u r i h a r u s d i p a n d uu n t u kme ma h a mi r a n t a i l e g i s l a s i y a n g k o mp l e k s d i s e b a b k a n me r u j u k p a d a l e g i s l a s i l a i n t e r s e b u t . j a k s a p e n u n t u t u mu mt e l a h me n g k o n f i r ma s i b a h w a h a l t e r s e b u tme n a mb a hk e s u l i t a nd a l a mp e n u n t u t a n . d a n2 3 3 9 C ) . c. S . 3 )B a h k a nk e t e n t u a np e n d a n a a nt e r o r i s mey a n gt e r b a r ud a nt e r j e l a s ( 2 3 3 9 C ) t i d a k s e p e n u h n y a ma n d i r i d e n g a ne l e me nk u n c i t e r r o r i s t a c t .me n y e d i a k a nd o k u me ny a n g me n u n j u k k a nb a h w a1 2 6 i n d i v i d ut e l a hd i t u n t u t d e n g a np i d a n a p e n d a n a a nt e r o r i s me ( c o n t o h : 1 8U S C2 3 3 9 A . D a r i 1 2 6y a n gd i t u n t u t t e r s e b u t .T i d a ka d a i n f o r ma s i y a n g t e r s e d i a me n g e n a i a p a k a hn e g a r a b a g i a nl a i nme mi l i k i p e r a t u r a n me n g e n a i p e n d a n a a n t e r o r i s me . P r o s e c u t o r s . K e b u t u h a nu n t u kr u j u k a ns i l a n gk e p a d a l e g i s l a s i l a i nme n y e b a b k a nk e s u l i t a nu n t u kme ma h a mi e l e me nt i n d a k p i d a n a p e n d a n a a n t e r o r i s me . S .S t a t e l a w s : S e t i d a k n y a2 n e g a r ab a g i a nt e l a h me mb e r l a k u k a nt i n d a kp i d a n a p e n d a n a a nt e r o r i s me d i A r i z o n a d a nN e wY o r k . S . 3 .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me (4) 1 8U S C2 3 3 9 C ( c ) me n g a b u r k a na t a u me n y a ma r k a n ma t e r i a l b a i ku n t u kme n d u k u n gF T O sa t a ud a n ay a n gd i g u n a k a na t a u a k a n d i g u n a k a n u n t u k k e g i a t a n t e r o r i s . 5 4i n d i v i d ut e l a hme n g a k ub e r s a l a ha t a ud i h u k u mk a r e n at e r b u k t i b a i k me l a n g g a r 1 8 U S C 2 3 3 9 Aa t a u p u n 2 3 3 9 B . 2 3 3 9 B . “ t e r r o r i s t a c t i v i t y ”d a n“ f o r e i g nt e r r o r i s to r g a n i z a t i o n ”d i d e f i n i s i k a nd e n g a n me r u j u kp a d al e g i s l a s i l a i n . C a t a t a n ME RA me r i k a S e r i k a t : 1 )K e s u l i t a n u t a ma d e n g a nk e t e n t u a nU S me n g e n a i p e n d a n a a nt e r o r i s me a d a l a h“ t i d a kma n d i r i ” . K a t ak u n c i s e p e r t i “ t e r r o r i s t a c t ” .

P e n u n j u k a n / p e n a r g e t a ni n i h a n y a b e r l a k uu n t u ko r g a n i s a s i t e r o r i s . o rS u p p o r t T e r r o r i s m” ( E O1 3 2 2 4 )y a n gd i k e l u a r k a no l e hU . S .E O 1 3 2 2 4 me l a r a n g s e t i a po r a n g U S a t a ue n t i t a s u n t u k me l a k u k a nt r a n s a k s i d a n b e r h u b u n g a n d e n g a ni n d i v i d u d a ne n t i t a s y a n g d i mi l i k i a t a ud i k o n t r o l o l e h .o r g a n i s a s it e r o r i s . s e b a g a i ma n as a n k s i 59 parte t a n p a . s e b a g a i r e s p o na t a ss e r a n g a nt e r o r i sp a d at a n g g a l 1 1 S e p t e mb e r 2 0 0 1 . a t a us e c a r ama t e r i a l me mb a n t ua t a ume n d u k u n g . 4 . T h r e a t e nt oC o mmi t .O F A Cb e r f u n g s i s e b a g a i p e n g a d mi n i s t r a s i d a np e l a k s a n as a n k s i E O 1 3 2 2 4t e r h a d a pt e r o r i sd a no r g a n i s a s i t e r o r i s .E O1 3 2 2 4 . u n t u k me n g i mp l e me n t a s i k a nk e w e n a n g a nP r e s i d e n u n t u k me mb e r a n t a s t e r o r i s .d a n j a r i n g a n p e n d u k u n gt e r o r i s . a t a uh a l l a i ny a n gd i h u b u n g k a nd e n g a nS D G T s .P e n u n n j u k a n / p e n a r g e t a n d i l a k u k a n ex me mb e r i t a h u k a n k e p a d a p i h a k y a n g t e r l i b a t / t e r k a i t . d .s e c a r a t e k n o l o g i . P e mb e k u a n D a n a Y a n g D i g u n a k a n U n t u k P e n d a n a a n T e r o r i s me a . P r e s i d e n tp a d at a n g g a l 2 3 S e p t e mb e r 2 0 0 1 . D a f t a r F T Od i a d mi n i s t r a t i k a n o l e h S t a t e D e p a r t me n t / K e me n t e r i a n L u a r N e g e r i . b .D a f t a r O F A C ( y a n g d i a d mi n i s t r a s i k a n o l e h T r e a s u r y ) j u g a me ma s u k k a nF T O sy a n gd i s e b u tb e r d a s a r k a nB a g i a n2 1 9U U I mmi g r a t i o na n dN a t i o n a l i t yA c t d a nB a g i a n3 0 2U UA n t i t e r r o r i s m a n dE f f e c t i v eD e a t hP e n a l t y( A E D P A ) .s e c a r ak e u a n g a n . T h eE x e c u t i v eO r d e rj u g ame mb l o k i rs e mu a p r o p e r t i d a nb u n g a t e r k a i t p r o p e r t i d a r i o r a n g y a n g d i t u n j u k / d i t a r g e t d i U S . c . o r a n g o r a n gy a n gd i d a f t a r d a l a mt h eE x e c u t i v eO r d e ra t a ud i t u n j u k / d i t a r g e t ( d e s i g n a t e d ) o l e h S e c r e t a r i e so f t h eT r e a s u r yd a nn e g a r ab a g i a nb e r d a s a r k a nd e f i n i s i t h eE x e c u t i v eO r d e r . d e n g a nb e r k o n s u l t a s i p a d a D O J d a nt h eD H S .s e c a r as i s t e ma t i sd a ns t r a t e g i s .b e r t i n d a ku n t u kd a na t a sn a ma . y a n gt e l a hd i a ma n d e me n . “ B l o c k i n gP r o p e r t ya n dP r o h i b i t i n gT r a n s a c t i o n sw i t h P e r s o n sWh oC o mmi t .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me 3 . me mb e r i k a nw e w e n a n gk e p a d a S e c r e t a r i e s o f t h e T r e a s u r ya n dS t a t e .U S me n g i mp l e me n t a s i k a n k e w a j i b a n t e r k a i ts a n k s ik e u a n g a n b e r d a s a r k a n U n i t e d N a t i o n s S e c u r i t y C o u n c i l R e s o l u t i o n S / R E S / 1 2 6 7 ( 1 9 9 9 ) d a nS / R E S / 1 3 7 3 ( 2 0 0 1 ) me l a l u i E x e c u t i v eO r d e r ( E O )1 3 2 2 4 .

d a n i n d i v i d u s e r t a e n t i t a s t e r k a i t . (2) Me l a r a n go r a n gU Su n t u k me mi l i k ih u b u n g a nd e n g a np i h a k p i h a k y a n g d i t u n j u k / d i t a r g e t t e r s e b u t . a t a ud i s e t o r k a ns e h u b u n g a nd e n g a n t r a n s a k s i d i ma n a e n t i t a s y a n g d i b l o k i r me mi l i k i k e p e n t i n g a n . g . S e k a l id a n ad i b l o k i r .y a n g d i s e b u tS D G T . me r e k ah a n y ad a p a td i l e p a s k a nh a n y ao l e ho t o r i s a s i s p e s i f i kd a r i T r e a s u r y .S e t i a pi n s t i t u s ik e u a n g a nU Sy a n g me n g e n t a h u i me n g e n a i k e p e mi l i k a no r p e n g u a s a a nd a n ao l e hS D G Ta t a ua g e n n y a . d a n t h e T a l i b a n ) . T i n d a k a ni n i d a p a t me n y e b a b k a n k e ma t i a nme n y e l u r u hp a d a e n t i t a s t e r s e b u t d a np e n e mp a t a np r o p e r t i n of i n a n c i a ld a l a m p e n y i mp a n a np e r ma n e n . U mu mn y a . U s a ma b i n L a d e n . t a p i j u g a t e r ma s u kp i h a k p i h a ky a n gd i t a r g e t / d i t u n j u k U N1 2 6 7C o mmi t t e ed a nb e r h u b u n g a nd e n g a nA l Q a i d a . d a n o r a n g y a n g t e r l i b a t d a l a ms e n j a t a p r o l i f e r a s i .T a r g e t E O1 3 2 2 4b u k a nh a n y a A l Q a i d a d a nT a l i b a n . 4 3 8o r a n gt e l a hd i t u n j u k / d i t a r g e t 60 . (3) Me mi n t ao r a n gU Su n t u kme mb l o k i ra s e ty a n gb e r h u b u n g a n d e n g a np i h a ky a n gd i t u n j u k / d i t a r g e t d a nme l a p o r k a nk e g i a t a n t e r s e b u t k e p a d a O F A C .P e n e g a kh u k u mO F A Cd a p a tme l a y a n i p e r mi n t a a nb l o k i rt e r h a d a p o r a n g y a n g d i t u n j u k / d i t a r g e t d i U S . t e t a p i t e r ma s u k g r o u pt e r o r i s s e p e r t i H a ma s . t h eR e a l I R A . t h eF A R C . f .E O1 3 2 2 4 me me b e r i k a n w e w e n a n g k e p a d a p e me r i n t a h u n t u k : (1) Me n g i d e n t i f i k a s i d a nme n u n j u k / me n t a r g e t t e r o r i s d a ns t r u k t u r p e n d u k u n gy a n gb e r h u b u n g a nd e n g a no r g a n i s a s i t e r o r i s( t d a k t e r b a t a s . p e n g e d a ro b a t o b a tt e r l a r a n gi n t e r n a s i o n a l . y a n g d i k i r i mk a nk e a t a u me l a l u i e n t i t a sy a n gd i b l o k i r . e . l e mb a g a k e u a n g a nd i U S h a r u s me mb l o k i r a t a ume mb e k u k a nd a n ay a n gd i s e t o r k a no l e ha t a u a t a s n a ma i n d i v i d ua t a ue n t i t a s y a n g d i b l o k i r . S a mp a i b u l a nJ u l i 2 0 0 5 . H i z b a l l a h .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me e k o n o mi d a n p e r d a g a n g a n U S t e r h a d a p n e g a r a a s i n g y g d i t u n j u k / d i t a r g e t . h a r u s me l a p o r k a nk e p a d a O F A C . h .P e n u n j u k a n / p e n t a r g e t a ni n i me j a d i k a np e r b u a t a n me l a w a nh u k u m b a g i o r a n gy a n ga d ad i U Sa t a us u b j e ky a n gt u n d u kp a d ay u r i s d i k s i a p a b i l ab e r h u b u n g a nd e n g a no r a n gy a n gd i t u n j u k / d i t a r g e t .

T i d a ks e mu ao r a n ga t a ue n t i t a sy a n gd i t u n j u k / d i t a r g e t b e r d a s a r k a n S / R E S / 1 2 6 7 ( 1 9 9 9 )d a nS / R E S / 1 3 7 3 ( 2 0 0 1 )d i t e r i mao l e hU Su n t u k d i ma s u k k a nd a l a mE O1 3 2 2 4 . p r o p e r t iy a n gd i b l o k i rt i d a kd a p a t d i a l i h k a n . t e r ma s u k c a b a n gl u a rn e g e r i .k a r e n ak e k h a w a t i r a n me n i mb u l k a n e f e k k o n t r a p r o d u k t i fk a r e n a k e b i n g u n g a n d a n k e t i d a k p a s t i a nd a l a md a f t a r t e r s e b u t b i s ame n y e b a b k a nb l o k i r y a n g t i d a k a d i l .b a i kl a n g s u n g ma u p u nt i d a kl a n g s u n g . d i b a y a r . d i t a r i k . k e p e n t i n g a nd a l a ms e g a l a b e n t u k .T i d a n k a nme mb l o k i r s e s u a i d e n g a nE O1 3 2 2 4b e r l a k uu n t u ks e mu a p r o p e r t i d a n“ b u n g a / k e p e n t i n g a nd a l a mp r o p e r t i ” y a n g ma s u kk e U S a t a ua k a nma s u kk e U S . 3 0 6 ) . h a mp i r 3 3 0 o r a n g d i t a r g e t / d i t u n j u k b a i k s e c a r a b i l a t e r a l ma u p u n me l a l u i U N . j . a t a uy a n gs e t e l a hma s u kk eU Sme j a d i mi l i k a t a ud i b a w a hk e k u a s a a n wa r g aU S . D e f i n i s y a n g l u a s d a r i “ b u n g a / k e p e n t i n g a nd a l a m p r o p e r t i ” d a p a t me mp e n g a r u h i s e b a g i a n b e s a r p r o d u kd a nj a s ay a n gd i s e d i a k a no l e hi s n t i t u s i k e u a n g a ny a n g b e r l o k a s id iU Sa t a ud i s e l e n g g a r a k a nb e r d a s a r k a nh u k u m U S .I s t i l a h“ “ b u n g a / k e p e n t i n g a n d a l a m p r o p e r t i ”a r t i n y as e t i a pb u n g a .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me s e j a kp e r mu l a a np r o g r a mt e r o r i s meb e r d a s a r k a nE O1 3 2 2 4 . a t a ud i t a n g a n i t a n p a p e r s e t u j u a n l b i h d u l u d a r i O F A C . h a n y a1o r a n gd a r i 1 4 3n a ma T a l i b a nd i t e mp a t k a nd a l a m d a f t a rO F A C . S e b a g a i k o n s e k u e n s i n y a . d i e k s p o r . Kajian Terhadap Implikasi Penerapan Sistem Baru yang akan Diatur Dalam UU terhadap Aspek Kehidupan Masyarakat dan Dampaknya terhadap Keuangan Negara § Me n g a t u r t e n t a n g b e n t u kp e l a n g g a r a nb a g i s e t i a po r a n gy a n g ” me n y e d i a k a n d a n a ” u n t u k s e s e o r a n g a t a ub a d a nh u k u my a n g t e r d a p a t d a l a md a f t a r t e r o r i s me n u r u t R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B B1 2 6 7 . i . D . k a r e n aU Sme mp e r t i mb a n g k a nb a h w a t i d a kt e r d a p a t i d e n t i f i k a s i d a ni n f o r ma s i y a n gc u k u pu n t u kme mb u a t p e n d a f t a r a n / l i s t i n g n a ma n a ma t e r s e b u t s e c a r a o p e r a s i o n a l k o n s t r u k t i f .s e b a g i a na t a u k e s e l u r u h a n n y a ( C F R 5 9 4 . 61 .

L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me § Me n g a t u r a np e mi d a n a a nu n t u ks e t i a po r a n gy a n gme r e n c a n a k a nd a n / a t a u me n g g e r a k k a n o r a n g l a i n u n t u k me l a k u k a n a k s it e r o r i s me . § Me n g a t u r a n s e c a r a t e g a s a g a r p i h a k y a n g b e r w e n a n g d a p a t me mp e r t i mb a n g k a nu n t u kme n g a d o p s i s e b u a hp e n d e k a t a nd i ma n as e l u r u h d a k w a a nt e n t a n gt i n d a kp i d a n ap e mb i a y a a nt e r o r i s mei n ih a r u sb e r u p a d a k w a a nk u mu l a t i f y a n gme me r l u k a ns a t up u t u s a nk h u s u su n t u kt i n d a k p i d a n a p e n d a n a a n t e r o r i s me . § Me n g a t u r a np e n g u mp u l a nd a np e n y e d i a a nh a r t ak e k a y a a nb a i ks e c a r a l a n g s u n g d a n t i d a k l a n g s u n g . k a r e n ab a g i I n d o n e s i a . § Me n c a n t u mk a nu n s u r” a l a s a ny a n gk u a t u n t u kme y a k i n i a t a uu n s u r u n s u r l a i n ” y a n ga k a nme n d u k u n gp e mb u k t i a nb e r d a s a r k a nk e j a d i a ny a n gf a k t u a l d a n o b j e k t i f . § Me n j a t u h a nh u k u ma nh a r u se f e k t i f . t e r ma s u k h u k u ma nd e n d a b a g i s u b j e kh u k u mp e r o r a n g a nd a nh u k u ma na d mi n i s t r a t i f y a n g e f e k t i f b a g i k o r p o r a s i . § Me n s y a r a t k a nb a h w at i n d a kp i d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s meh a r u sd i k a i t k a n d e n g a n a d a n y a a k s i t e r o r i s me t e r t e n t u . I n d o n e s i a s e l a mai n i me n g a n d a l k a np r o s e sp e n y e l i d i k a nd a nl a n g k a h l a n g k a hy a n g d i a t u r d a l a mK U H A Pu n t u kme mb e k u k a na s e t e n t i t a s e n t i t a s y a n gt e r d a f t a r d a l a mD a f t a rt e r o r i ss e b a g a i ma n aconsolidated list United Nations Security Council Resolution ( U N S C R ) 1 2 6 7 . t e r d a f t a rs e b a g a i 62 . § Me n g a t u r t e n t a n g t a n g g u n g j a w a bk o r p o r a s i . p r o p o r s i o n a l d a np r e v e n t i f . H a l i n ih a r u s h a r u s d i p a s t i k a n u n t u k me n c e g a h k e t i mp a n g a n t e r k a i td e n g a n k e t e n t a u n me n g e n a i t a n g g u n g j a w a b p i d a n a k o r p o r a s i d a p a t d i a t a s i .a t a u b e r k o n t r i b u s id a l a m p e l a k s a n a a na n t it e r o r i s me y a n gd i l a k u k a no l e h s e k e l o mp o ko r a n gd e n g a n t u j u a n u n t u k me mb a n t u k e l a n c a r a n a k s i t e r o r i s me . § Me n g a t u r a nu n t u kp e n d a n a a na t a s t e r o r i s p e r o r a n g a nd a np e n y e d i a a nh a r t a k e k a y a a n u n t u k o r g a n i s a s i t e r o r i s . § I n d o n e s i ab e l u m me mi l i k ih u k u m a t a up r o s e d u ry a n ge f e k t i fu n t u k me mb e k u k a na s e t a s e tt e r o r i sl a i n n y ad a r ip i h a k p i h a ky a n g me mb i a y a i t e r o r i s med a no r g a n i s a s i o r g a n i s a s it e r o r i s” t a n p ap e n u n d a a nd a nt a n p a p e mb e r i t a h u a n ”s e b e l u mn y as e p e r t i y a n gd i p e r s y a r a t k a nF A T F .

D e n g a nd e mi k i a nt i d a ka d a k e w e n a n g a nu n t u kme n y i t ah a r t ak e k a y a a nh a n y aa t a sd a s a rb a h w ah a r t a k e k a y a a nt e r s e b u t me r u p a k a nh a kmi l i kd a r i s e b u a he n t i t a s a t a uk e l o mp o k t e r o r i s . § T i d a k me mb e n t u kl e mb a g ab a r u me l a i n k a n me n d u k u n gl e b i he f e k t i f t e r h a d a p l e mb a g a y a n g k e b e r a d a a n n y a s u d a h d i a k u i s e l a ma i n i . U UT i n d a kP i d a n a T e r o r s i me . K e c i l k e mu n g k i n a nu n t u k d a p a tme n e r a p k a nk e t e n t u a ni n iu n t u kh a r t ak e k a y a a ns e s e o r a n gy a n g mu n g k i n t e l a h me l a k u k a na k s i t e r o r i s me . d i l u a r k o n t e k s t i n d a k p i d a n a t e r o r i s me t e r t e n t u . s e b e l u mp e r i n t a h p e mb e k u a n d a p a t d i k e l u a r k a n . § Me n g a t u rS y a r a tp e mb u k t i a nu n s u r” d i k e t a h u i a t a ud i d u g ak e r a sd e n g a n a l a s a ny a n gc u k u p ” y a n gd i a t u r d a l a mP a s a l 2 9U UP e mb e r a n t a s a nT i n d a k P i d a n aT e r o r i s mei n i t e r l a l ut i n g g i u n t u kd i p e n u h ik e t i k as e d a n gd a l a m p r o s e s me n g u mp u l k a n i n f o r ma s i me n g e n a ik a s u s k a s u s p e mb i a y a a n t e r o r i s me i n i . P a s a l 3 8 4 9j u g a t i d a k me mb e r i k a n k u a s au n t u kme n y i t ah a r t ak e k a y a a nt a n p ad i d a h u l u i a d a n y ak e c u r i g a a n b a h w as u a t ut i n d a kp i d a n at e l a ht e r j a d i . a t a ud a l a mp r o s e s me n j u a l b a r a n g c u r i a nt e r s e b u t . § Me n g a t u ra d ak e j e l a s a nb a g i P o l r i u n t u kme n g g u n a k a nd a s a rh u k u ma p a ( a p a k a hme n g g u n a k a nK U H A P . 63 .K e k u a s a a nu mu m u n t u k me n y i t a s e p e r t i y a n gd i a t u rd a l a mP a s a l 3 8 4 9K U H P me n g a t u rb a h w ap e n y i t a a n h a n y ad i b a t a s i p a d ab a r a n g b a r a n gy a n gd i d u g ame r u p a k a nb a r a n gc u r i a n .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me t e r o r i sb e l u md a p a t d i j a d i k a nd a s a ru n t u kd i l a k u k a n n y ap e mb e k u a na t a u p e mb l o k i r a n( freezing without delay) . a t a uU UT P P U ) d a l a m me me r i n t a h k a np e mb l o k i r a na k u nb a n ks e t i a po r a n ga t a uk o r p o r a s i y a n g d i d u g a t e r k a i t d e n g a n a k s i t e r o r i s me .

d a l a mr a n g k a me n y u s u nn a s k a h a k a d e mi kt e n t a n gp e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me . r e g i o n a l ma u p u ni n t e r n a s i o n a l . U p a y ap e mb e r a n t a s a nt e r o r i s meo l e hn e g a r a n e g a r a d i d u n i a . a g a rp e r u mu s a n u n d a n g u n d a n gy a n ga k a nd i s u s u ni n i t i d a ks a l i n gt u mp a n gt i n d i ha t a us a l i n g b e r t e n t a n g a n s a t u d e n g a n y a n g l a i n .1 9 9 9y a n gs u d a h me n j a d ih u k u m n a s i o n a lme l a l u ir a t i f i k a s io l e hU n d a n g–U n d a n gN o mo r6 t a h u n2 0 0 6 . d a p a t d i l i h a t u r g e n s i u n t u ks e g e r ad i b e n t u k n y ap e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a ny a n g s e c a r ak o mp r e h e n s i f me n g a t u rt e n t a n gp e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me . y a k n iu n d a n g u n d a n gt e n t a n g p e mb e r a n t a s a nt e r o r i s me d i n i l a i b e l u ms e c a r a k o mp r e h e n s i f me n g a t u r t e n t a n g 64 . B e r k a i t a n d e n g a n h a l h a l t e r s e b u t d i a t a s .1 9 9 9 s a mp a is a a ts e k a r a n gi n i . ma ut i d a kma ud a n t i d a kd a p a td i l e p a s k a nu n t u k me n g g u n a k a nr u j u k a nK o n v e n s iI n t e r n a s i o n a l P e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a nT e r o r i s me . Kondisi Hukum Yang Ada K o n v e n s ii n t e r n a s i o n a lP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me . s e r t aU n d a n g–U n d a n gN o mo r1t a h u n2 0 0 6t e n t a n gB a n t u a nT i mb a l B a l i k D a l a m Ma s a l a hP i d a n ap e r l ud i p e r h a t i k a ns e b a g a ir u j u k a n .p e r ma s a l a h a n t e r o r i s me d a nk h u s u s n y ap e n d a n a a nt e r o r i s me t e l a hb e r k e mb a n gs e ma k i n k o mp l e k ss e i r i n gd e n g nt r e n dt e r o r i s mey a n gt e r j a d i d a l a mt i n g k a t n a s i o n a l . u n d a n g u n d a n gy a n gt e r k a i t s e p e r t i P e r p uN o mo r 1t a h u n2 0 0 2j o U n d a n gU n d a n gN o mo r 1 5t a h u n2 0 0 3d a nU n d a n gU n d a n gN o mo r 8t a h u n 2 0 1 0t e n t a n gP e n c e g a h a nd a nP e mb e r a n t a s a nT i n d a kP i d a n aP e n c u c i a nU a n g . me me r l u k a n s i n k r o n i s a s id a n h a r mo n i s a s id i a n t a r a b e r b a g a i p e r u n d a n g u n d a n g a n y a n g t e r k a i t . D i s a mp i n g . K e b i j a k a nk r i mi n a l i s a s i me l a l u i p e mb e n t u k a nu n d a n g u n d a n g . s e l a ma l e b i h1 1( s e b e l a s )t a h u n . H u k u m n a s i o n a ly a n gs e l a ma i n id i g u n a k a n . S e b a g a i ma n at e l a hd i k e mu k a k a nd a l a ml a t a rb e l a k a n gd ia t a s .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me BAB III EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT A . t e r n y a t a j u g a me mu n c u l k a nk e g i a t a nt e r o r i s me d e n g a ns t r a t e g i d a nt a k t i ky a n gb a r u .

7. B e l u ma d ap e n g a t u r a nt e n t a n gb e n t u kp e l a n g g a r a nb a g i s e t i a po r a n g y a n g” me n y e d i a k a nd a n a ”u n t u ks e s e o r a n ga t a ub a d a nh u k u m y a n g t e r d a p a t d a l a md a f t a rt e r o r i sme n u r u t R e s o l u s i D e w a nK e a ma n a nP B B 1 2 6 7 . 3. b a i kb e r u p a s e k e l o mp o ko r a n g . 8. B e l u ma d ap e n g a t u r a nu n t u kp e n d a n a a na t a st e r o r i sp e r o r a n g a nd a n p e n y e d i a a n h a r t a k e k a y a a n u n t u k o r g a n i s a s i t e r o r i s . 6. p r o p o r s i o n a l d a np r e v e n t i f . 5. B e l u ma d ap e n g a t u r a ns e c a r at e g a sa g a rp i h a ky a n gb e r w e n a n gd a p a t me mp e r t i mb a n g k a nu n t u k me n g a d o p s is e b u a hp e n d e k a t a nd i ma n a s e l u r u hd a k w a a nt e n t a n gt i n d a kp i d a n a p e mb i a y a a nt e r o r i s me i n i h a r u s 65 . a t a ub e r k o n t r i b u s i d a l a mp e l a k s a n a a na n t i t e r o r i s mey a n g d i l a k u k a no l e hs e k e l o mp o ko r a n gd e n g a nt u j u a nu n t u k me mb a n t u k e l a n c a r a n a k s i t e r o r i s me . Ma s i hme n s y a r a t k a nb a h w at i n d a kp i d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s meh a r u s d i k a i t k a n d e n g a n a d a n y a a k s i t e r o r i s me t e r t e n t u . B e l u m a d ap e n g a t u r a nu n t u kp e n g u mp u l a nd a np e n y e d i a a nh a r t a k e k a y a a n b a i k s e c a r a l a n g s u n g d a n t i d a k l a n g s u n g . P e n j a t u h a nh u k u ma nh a r u s e f e k t i f . D a l a mK U H Pt i d a kd i k e n a l t a n g g u n gj a w a bp i d a n au n t u ks u b j e kh u k u m j a ma k . k o r p o r a s i ma u p u nn o nk o r p o r a s i . 4. 9. P e mb e r a n t a s a nt e r o r i s meme mb a t a s i u n s u rp e n g e t a h u a nd e n g a nu n s u r ” d e n g a ns e n g a j a ”s a j an a mu nt i d a kme n c a n t u mk a nu n s u r” a l a s a ny a n g k u a tu n t u k me y a k i n ia t a uu n s u r u n s u rl a i n ”y a n ga k a n me n d u k u n g p e mb u k t i a n b e r d a s a r k a n k e j a d i a n y a n g f a k t u a l d a n o b j e k t i f . t e r ma s u k h u k u ma n d e n d a b a g is u b j e k h u k u m p e r o r a n g a n d a n h u k u ma n a d mi n i s t r a t i f y a n g e f e k t i f b a g i k o r p o r a s i . s e d a n g k a nd a l a mU Ut e n t a n gP e mb e r a n t a s a nT i n d a kP i d a n aT e r o r i s me d i a t u r t e n t a n g t a n g g u n g j a w a bk o r p o r a s i .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me p e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me d a nma s i hme mi l i k i b a n y a k k e k u r a n g a nd i a n t a r a n y a : 1. 2. H a l i n ih a r u s h a r u s d i p a s t i k a n u n t u k me n c e g a hk e t i mp a n g a nt e r k a i td e n g a nk e t e n t a u n me n g e n a i t a n g g u n g j a w a b p i d a n a k o r p o r a s i d a p a t d i a t a s i . B e l u m a d a p e n g a t u r a n p e mi d a n a a n u n t u k s e t i a p o r a n g y a n g me r e n c a n a k a nd a n / a t a ume n g g e r a k k a no r a n g l a i nu n t u k me l a k u k a na k s i t e r o r i s me .

10. 66 . D e n g a nd e mi k i a nt i d a ka d ak e w e n a n g a nu n t u kme n y i t a h a r t ak e k a y a a nh a n y aa t a sd a s a rb a h w ah a r t ak e k a y a a nt e r s e b u t me r u p a k a nh a kmi l i kd a r i s e b u a he n t i t a sa t a uk e l o mp o kt e r o r i s . K e k u a s a a nu mu mu n t u kme n y i t as e p e r t i y a n gd i a t u r d a l a mP a s a l 3 8 4 9 K U H P me n g a t u rb a h w ap e n y i t a a nh a n y ad i b a t a s i p a d ab a r a n g b a r a n g y a n g d i d u g a me r u p a k a n b a r a n g c u r i a n . s e b e l u mp e r i n t a h p e mb e k u a n d a p a t d i k e l u a r k a n . S y a r a tp e mb u k t i a nu n s u r” d i k e t a h u i a t a ud i d u g ak e r a sd e n g a na l a s a n y a n g c u k u p ” y a n g d i a t u r d a l a mP e mb e r a n t a s a nT i n d a kP i d a n a T e r o r i s me i n it e r l a l u t i n g g iu n t u k d i p e n u h ik e t i k a s e d a n g d a l a m p r o s e s me n g u mp u l k a ni n f o r ma s i me n g e n a i k a s u s k a s u sp e mb i a y a a nt e r o r i s me i n i . I n d o n e s i as e l a mai n i me n g a n d a l k a np r o s e sp e n y e l i d i k a nd a nl a n g k a h l a n g k a hy a n gd i a t u rd a l a mK U H A Pu n t u k me mb e k u k a na s e te n t i t a s e n t i t a s y a n g t e r d a f t a r d a l a mD a f t a r t e r o r i s s e b a g a i ma n a consolidated list United Nations Security Council Resolution ( U N S C R )1 2 6 7 . K e c i l k e mu n g k i n a nu n t u kd a p a t me n e r a p k a nk e t e n t u a n i n i u n t u kh a r t a k e k a y a a ns e s e o r a n gy a n gmu n g k i nt e l a hme l a k u k a na k s i t e r o r i s me . a t a u d a l a mp r o s e s me n j u a l b a r a n g c u r i a nt e r s e b u t . k a r e n ab a g i I n d o n e s i a . d i l u a r k o n t e k s t i n d a k p i d a n a t e r o r i s me t e r t e n t u . B e l u ma d ak e j e l a s a nb a g iP o l r iu n t u k me n g g u n a k a nd a s a rh u k u ma p a ( a p a k a hme n g g u n a k a nK U H A P .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me b e r u p a d a k w a a nk u mu l a t i f y a n g me me r l u k a ns a t up u t u s a nk h u s u s u n t u k t i n d a k p i d a n a p e n d a n a a n t e r o r i s me . U UT i n d a kP i d a n aT e r o r s i me . a t a uU UT P P U ) d a l a m me me r i n t a h k a np e mb l o k i r a na k u nb a n k s e t i a po r a n g a t a uk o r p o r a s i y a n g d i d u g a t e r k a i t d e n g a n a k s i t e r o r i s me . t e r d a f t a rs e b a g a i t e r o r i sb e l u md a p a t d i j a d i k a nd a s a ru n t u k d i l a k u k a n n y ap e mb e k u a na t a up e mb l o k i r a n( freezing without delay) . I n d o n e s i ab e l u m me mi l i k ih u k u m a t a up r o s e d u ry a n ge f e k t i fu n t u k me mb e k u k a na s e t a s e t t e r o r i s l a i n n y a d a r i p i h a k p i h a ky a n gme mb i a y a i t e r o r i s me d a no r g a n i s a s i o r g a n i s a s i t e r o r i s ” t a n p a p e n u n d a a nd a nt a n p a p e mb e r i t a h u a n ” s e b e l u mn y a s e p e r t iy a n g d i p e r s y a r a t k a n F A T F . 11. P a s a l 3 8 4 9j u g a t i d a k me mb e r i k a nk u a s a u n t u k me n y i t a h a r t a k e k a y a a nt a n p a d i d a h u l u i a d a n y a k e c u r i g a a nb a h w a s u a t ut i n d a kp i d a n a t e l a ht e r j a d i .

20. 4. 1970. 17. U n d a n g U n d a n gN o mo r1 5T a h u n2 0 0 3t e n t a n gP e n e t a p a nP e r a t u r a n P e me r i n t a hP e n g g a n t iU n d a n g U n d a n gN o mo r1 T a h u n2 0 0 2T e n t a n g P e mb e r a n t a s a n T i n d a k P i d a n a T e r o r i s me . International Convention for the Suppression of Terrorist Bombing. 1971. U n d a n g U n d a n gR I N o mo r 1 5T a h u n2 0 0 8t e n t a n gP e n g e s a h a nTreaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters. R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o . 14. Convention on the Prevention and Punishment of Crimes against Internationally Protected Persons. 2004. R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o . U n d a n g U n d a n g R I N o mo r 6T a h u n2 0 0 6t e n t a n g P e n g e s a h a n International Convention For The Suppression Of The Financing Of Terrorism. 1 3 3 3 . 9. Convention for the Suppression of Unlawful Seizure of Aircraft. 11. 10. 1 9 9 7 . U n d a n g U n d a n g R IN o mo r 5 T a h u n 2 0 0 6 T e n t a n g P e n g e s a h a n International Convention for the Suppression of Terrorist Bombing. 12. 1 9 8 8 / 1 9 8 9 .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me B . R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o mo r 1 2 6 7 . 15. Keterkaitan dengan Peraturan Perundang-undangan lain. 1999. 1999. 13. 1. Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation. 6. 1 3 7 3 . 7. U n d a n g U n d a n g N o mo r 8 T a h u n 2 0 1 0 t e n t a n g P e n c e g a h a n d a n P e mb e r a n t a s a n T i n d a k P i d a n a P e n c u c i a n U a n g . R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o mo r 1 3 7 2 . 2000. R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o . 1973. U n d a n g U n d a n gR IN o mo r5 T a h u n2 0 0 9t e n t a n gP e n g e s a h a n United Nations Convention Against Transnational Organized Crime. Treaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters. 5. FATF 40+9 recommendations. including Diplomatic Agents. 21. 3. 18. 1 9 0 4 . International Convention for The Suppression of The Financing of Terrorism. 1 4 2 5 . 67 . 16. 19. R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o . 2. 8. R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o . 2004. United Nations Convention Against Transnational Organized Crime. 2000. 1997.

C. 29. 1988. U n d a n g U n d a n gR I N o mo r 1 5T a h u n2 0 0 8t e n t a n gP e n g e s a h a nTreaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters. 2. U n d a n g U n d a n g D a s a r N e g a r a R e p u b l i k I n d o n e s i a 1 9 4 5 .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me 22. 23. 1. 1979. 1988. 1999. 31. 30. U n d a n g U n d a n gR IN o mo r5 T a h u n2 0 0 9t e n t a n gP e n g e s a h a n United Nations Convention Against Transnational Organized Crime. 2000. U n d a n g U n d a n gN o mo r1 5T a h u n2 0 0 3t e n t a n gP e n e t a p a nP e r a t u r a n P e me r i n t a hP e n g g a n t iU n d a n g U n d a n gN o mo r1 T a h u n2 0 0 2T e n t a n g P e mb e r a n t a s a n T i n d a k P i d a n a T e r o r i s me . 3. Anti Money Laundering and Counter-Terrorism Financing Act 2006 (Australia). supplementary to the Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation. International Convention against the Taking of Hostages. 28. Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Maritime Navigation. 25. 1988. Harmonisasi Secara Vertikal Dan Horizontal. 4. 1 9 9 7 . Protocol for the Suppression of Unlawful Acts of Violence at Airports Serving International Civil Aviation 1988. 2004. 5. 6. U n d a n g U n d a n g R I N o mo r 6T a h u n2 0 0 6t e n t a n g P e n g e s a h a n International Convention For The Suppression Of The Financing Of Terrorism. 68 . Combating the Financing of People Smuggling and other Measure Act (Australia). 26. 24. Convention for the Suppression of Unlawful Acts at Airports Serving International Civil Aviation. 27. KUHP Australia. Protocol for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of /Fixed Platforms located on the Continental Shelf. U n d a n g U n d a n g R IN o mo r 5 T a h u n 2 0 0 6 T e n t a n g P e n g e s a h a n International Convention for the Suppression of Terrorist Bombing. Freezing of Terrorist Asset (Australia) Charter of the United Nations Act 1945.

d i p e r i k s ad a nd i p u t u sb e r d a s a r k a nk e t e n t u a nd a l a m P e r a t u r a n P e me r i n t a hP e n g g a n t i U n d a n g U n d a n gN o mo r1T a h u n2 0 0 2t e n t a n gT i n d a k P i d a n aT e r o r i s me( L e mb a r a nN e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i aT a h u n2 0 0 2N o mo r 1 0 6 . Status Peraturan Perundang-undangan yang ada. P a s a l 1 3 h u r u f a . D. 69 . U n d a n g U n d a n g N o mo r 8 T a h u n 2 0 1 0 t e n t a n g P e n c e g a h a n d a n P e mb e r a n t a s a n T i n d a k P i d a n a P e n c u c i a n U a n g . T a mb a h a nL e mb a r a nN e g a r a R e p u b l i kI n d o n e s i a N o mo r 4 2 8 4 ) y a n gd i l a k u k a ns e b e l u mb e r l a k u n y aU n d a n g U n d a n gi n i . d a nP a s a l 1 4P e r a t u r a nP e me r i n t a hP e n g g a n t i U n d a n g U n d a n g N o mo r 1 T a h u n2 0 0 2t e n t a n gT i n d a kP i d a n aT e r o r i s me( L e mb a r a nN e g a r aR e p u b l i k I n d o n e s i aT a h u n2 0 0 2N o mo r1 0 6 . T i n d a kP i d a n aT e r o r i s met e r k a i t d e n g a np e l a n g g a r a nP a s a l 1 1 . termasuk Peraturan Perundang-undangan yang dicabut dan dinyatakan tidak berlaku serta Peraturan Perundang-undangan yang masih tetap berlaku karena tidak bertentangan dengan Undang-Undang yang baru.T a mb a h a nL e mb a r a nN e g a r aR e p u b l i k I n d o n e s i a N o mo r 4 2 8 4 ) . T a mb a h a nL e mb a r a nN e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i aN o mo r 4 2 3 2 ) y a n gt e l a h d i t e t a p k a nme n j a d i U n d a n g U n d a n gd e n g a nU n d a n g U n d a n gN o mo r1 5T a h u n 2 0 0 3t e n t a n gP e n e t a p a nP e r a t u r a nP e me r i n t a hP e n g g a n t iU n d a n g U n d a n g N o mo r1 T a h u n2 0 0 2 me n j a d iU n d a n g U n d a n g( L e mb a r a nN e g a r aR e p u b l i k I n d o n e s i aT a h u n2 0 0 3N o mo r4 5 .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me 7. T a mb a h a nL e mb a r a nN e g a r aR e p u b l i k I n d o n e s i a N o mo r 4 2 3 2 ) s e b a g a i ma n a t e l a hd i t e t a p k a nme n j a d i U n d a n g U n d a n g N o mo r1 5T a h u n2 0 0 3t e n t a n gP e n e t a p a nP e r a t u r a nP e me r i n t a hP e n g g a n t i U n d a n g U n d a n gN o mo r1 T a h u n2 0 0 2 me n j a d iU n d a n g U n d a n g( L e mb a r a n N e g a r a R e p u b l i k I n d o n e s i a T a h u n2 0 0 3N o mo r 4 5 .

Landasan Filosofis D a s a r f i l o s o f i s a d a l a hp a n d a n g a nh i d u pb a n g s a I n d o n e s i a d a l a mb e r b a n g s a d a nb e r n e g a r a . Landasan Sosiologis Ma s y a r a k a t I n d o n e s i a d a nma s y a r a k a t d u n i a s a a t i n i s e d a n gd i h a d a p k a n p a d ak e a d a a ny a n gs a n g a tme n g k h a w a t i r k a na k i b a tma r a k n y aa k s it e r o r .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me BAB IV LANDASAN FILOSOFIS. ma k a mu t l a k d i p e r l u k a np e n e g a k a nh u k u md a nk e t e r t i b a ns e c a r a k o n s i s t e nd a n b e r k e s i n a mb u n g a n . B. k e t e r t i b a n .p e me r i n t a hw a j i b me me l i h a r ad a n me n e g a k k a nk e d a u l a t a nd a nme l i n d u n g i s e g e n a pw a r g an e g a r a n y ad a r i s e t i a p a n c a ma na t a ut i n d a k a nd e s t r u k t i fb a i kd a r id a l a mn e g e r i ma u p u nd a r i l u a r n e g e r i . SOSIOLOGIS DAN YURIDIS A. R a n g k a i a np e r i s t i w ap e mb o ma ny a n gt e r j a d id iw i l a y a hN e g a r aR e p u b l i k 70 . U n t u k me n c a p a it u j u a nt e r s e b u t . P e n j a b a r a nn i l a i n i l a i P a n c a s i l a d i d a l a mh u k u m me n c e r mi n k a ns u a t uk e a d i l a n .R u mu s a nP a n c a s i l ay a n gt e r d a p a td id a l a m P e mb u k a a n( preambule)U n d a n g U n d a n gD a s a rN e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i a t a h u n1 9 4 5( U U D1 9 4 5 )t e r d i r i d a r i e mp a te l i n e a . A l i n e ak e e mp a tme mu a t r u mu s a nt u j u a nn e g a r a I n d o n e s i a a d a l a hme l i n d u n g i s e g e n a pb a n g s a I n d o n e s i a d a ns e l u r u ht u mp a hd a r a hI n d o n e s i a . p e r d a ma i a nd u n i as e r t ame r u g i k a n k e s e j a h t e r a a n ma s y a r a k a ts e h i n g g ap e r l ud i l a k u k a np e mb e r a n t a s a ns e c a r a t e r e n c a n ad a nb e r k e s i n a mb u n g a ns e h i n g g ah a ka s a s io r a n gb a n y a kd a p a t d i l i n d u n g i d a n d i j u n j u n g t i n g g i . T e r o r i s meme r u p a k a nk e j a h a t a nt e r h a d a pk e ma n u s i a a nd a np e r a d a b a n s e r t ame r u p a k a ns a l a hs a t ua n c a ma ns e r i u s t e r h a d a pk e d a u l a t a ns e t i a pn e g a r a k a r e n at e r o r i s mes u d a hme r u p a k a nk e j a h a t a ny a n gb e r s i f a t i n t e r n a s i o n a l y a n g me n i mb u l k a nb a h a y at e r h a d a pk e a ma n a n . p e r d a ma i a na b a d i d a nk e a d i l a ns o s i a l . y a i t uP a n c a s i l a . d a nk e s e j a h t e r a a ny a n gd i i n g i n k a n o l e h ma s y a r a k a tI n d o n e s i a .me ma j u k a nk e s e j a h t e r a a nu mu m. me n c e r d a s k a nk e h i d u p a nb a n g s ad a ni k u t s e r t ad a l a m me me l i h a r ak e t e r t i b a n d u n i ay a n gb e r d a s a r k a nk e me r d e k a a n .

U p a y al a i ny a n gp e r l ud i l a k u k a nu n t u k me n c e g a hd a n me mb e r a n t a st i n d a k p i d a n a t e r o r i s me a d a l a h d e n g a nme n g g u n a k a ns i s t e md a nme k a n i s me follow the money d e n g a nme l i b a t k a np e n y e d i aj a s ak e u a n g a n . me n i mb u l k a n k e t a k u t a n ma s y a r a k a ts e c a r al u a s . A d a p u n k e g i a t a nt e r o r i s me i n i p a d a k e n y a t a a n n y a s u d a hme mi l i k i j a r i n g a ny a n gk u a t b a i kd i d a l a m ma u p u nd i l u a r n e g e r i . A p a b i l ama t ar a n t a i p e n d a n a a ni n g i n d i p u t u sma k as e mu an e g a r ah a r u sme n g a mb i l t i n d a k a nb e r d a s a r k a nh u k u m b e r u p ap e mb e k u a n . S e b a g a i ma n a h a l n y a p e mb a n g u n a nr e z i m a n t ip e n c u c i a nu a n g . a p a r a t p e n e g a kh u k u m. p o l i t i k .p e n y i t a a nd a np e r a mp a s a na s e ty a n gt e r k a i td e n g a n t e r o r i s me . Me l a l u i me k a n i s mefollow the money d e n g a nme n e l u s u r i a l i r a nd a n ame l a l u i t r a n s a k s i k e u a n g a nme r u p a k a nc a r a y a n g p a l i n g mu d a hu n t u k me n d e t e k s i d a n a y a n g a k a nd i g u n a k a na t a ud i d u g a a k a nd i g u n a k a nu n t u k k e g i a t a nt e r o r i s me d a n p e l a k ut e r o r y a n gb e r p e r a ns e b a g a i p e n y a n d a n gd a n a . 71 . d a nk e r u g i a nh a r t ab e n d a . e k o n o mi .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me I n d o n e s i ay a n gmu l a i t e r j a d i s e j a ka k h i rt a h u n1 9 9 0 a nt e l a hme n g a k i b a t k a n h i l a n g n y a n y a w a t a n p a me ma n d a n g k o r b a n .p r i n s i pu t a ma d a l a m me me r a n g it e r o r i s me a d a l a h b a g a i ma n ame mu t u sma t ar a n t a i p e n d a n a a nu n t u kme n g u r a n g i k e ma mp u a n t e r o r i sd a l a m me l a k u k a nt i n d a k a n n y a . d a n k e r j as a ma i n t e r n a s i o n a lu n t u k me n d e t e k s ia d a n y as u a t ua l i r a nd a n ay a n g d i g u n a k a na t a ud i d u g ad i g u n a k a nu n t u kp e n d a n a a nk e g i a t a nt e r o r i s m. s e h i n g g a d a p a t s e s e g e r a mu n g k i nd i l a k u k a nt i n d a k a nh u k u mp e n c e g a h a nt e r h a d a pu p a y ap e n g g u n a a n d a n a t e r s e b u t o l e hp a r a p e l a k ut e r o r . U p a y a p e mb e r a n t a s a n t i n d a kp i d a n at e r o r i s med e n g a nc a r ak o n v e n s i o n a l ( follow the suspect)y a k n i d e n g a n me n g h u k u mp a r ap e l a k ut e r o ri n i t e r n y a t ab u k a ns a t u s a t u n y ac a r a u n t u kme n c e g a hd a n me mb e r a n t a st i d a kp i d a n at e r o r i s mes e c a r ama k s i ma l . Me l u a s n y a a k s i t e r o r y a n g d i d u k u n g o l e hp e n d a n a a ny a n g b e r s i f a t l i n t a s n e g a r a me n g a k i b a t k a n p e mb e r a n t a s a n n y a me mb u t u h k a n k e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a l d a l a mp e mb e n t u k a ns u a t ua t u r a nI n t e r n a s i o n a l y a n gme n j a d i r u j u k a nb e r s a ma . s e h i n g g a me n i mb u l k a n d a mp a ky a n gl u a s t e r h a d a pk e h i d u p a ns o s i a l . k a r e n a s u a t uk e g i a t a nt e r o r i s met i d a kmu n g k i nd a p a t d i l a k u k a nt a n p aa d a n y ap e l a k u t e r o ry a n gb e r p e r a ns e b a g a ip e n y a n d a n gd a n au n t u kk e g i a t a nt e r o r i s me t e r s e b u t . d a nh u b u n g a n i n t e r n a s i o a n l .

s e d a n g k a np e n d a n a a nt e r o r i s me d a p a t me l i b a t k a nh a s i l k e j a h a t a nd e n g a nh a s i l u s a h ay a n gs a hy a n gd i g u n a k a nu n t u k t u j u a np e n d a n a a nk e g i a t a nt e r o r i s me .U n t u ka l a s a n a l a s a ni n i l a hs e mu an e g a r ah a r u sme ma s t i k a n b a h w ad e f i n i s i h u k u m me n g e n a i p e n d a n a a nt e r o r i s me n c a k u pp u l ad a n ay a n g d i p e r o l e hd a r i s u mb e r s u mb e r y a n gs a hd a nme n g a mb i l l a n g k a h l a n g k a hy a n g d i p e r l u k a n g u n a me n c e g a h p e n d a n a a n s e j e n i s i t u . k a r e n a p e n y a n d a n gd a n a j u g a a d a l a hp e l a k u d a r i t i n d a k p i d a n a t e r o r i s me .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me H a l y a n gme n j a d i p e r b e d a a np a d ap r a k t i kp e n c u c i a nu a n gd e n g a np e n d a n a a n t e r o r i s mea d a l a hp a d ap e n c u c i a nu a n gs e c a r ak h u s u sme l i b a t k a np e n g a l i h a n h a s i lk e j a h a t a ny a n gs i g n i f i k a nk ed a l a m t r a n s a k s il e g a l me l a l u iu p a y a p e n y e mb i n y i a na t a up e n y a ma r a n . U n s u r p e n d a n a a nme r u p a k a ns a l a hs a t uf a k t o r u t a mad a l a ms e t i a pa k s i t e r o r i s mes e h i n g g au p a y ap e n a n g g u l a n g a nt i n d a kp i d a n at e r o r i s med i y a k i n i t i d a ko p t i ma lt a n p ad i i k u t id e n g a nu p a y ap e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a n t e r h a d a p p e n d a n a a n t e r o r i s me . D e n g a nd e mi k i a nk r i mi n a l i s a s ip e n d a n a a nt e r o r i s me s e b a g a is u a t ut i n d a k p i d a n a s a a t i n i mu l t a kd i p e r l u k a n . P e me r i n t a hI n d o n e s i a 72 . n a mu nd a p a t s a j a d i g u n a k a ns e b a g a i t a b i ru n t u k me n g u mp u l k a nd a n ab a g ip a r at e r o r i ss e r t a o r g a n i s a s i n y a . C. 6T a h u n2 0 0 6 . b a i k l a n g s u n g ma u p u n t i d a k l a n g s u n g . me s k i p u nu s a h a u s a h ay a n gd i j a l a n k a na d a l a hs a h . D e n g a nt e l a hd i r a t i f i k a s i n y aK o n v e n s iI n t e r n a s i o n a lP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a nT e r o r i s meme n j a d i U UN o . me n c e r d a s k a nk e h i d u p a nb a n g s ad a ni k u tme l a k s a n a k a nk e t e r t i b a n d u n i ay a n gb e r d a s a r k a nk e me r d e k a a n . Landasan Yuridis K e t e n t u a nd a l a m p e mb u k a a nU n d a n g U n d a n gD a s a rN e g a r aR e p u b l i k I n d o n e s i a T a h u n1 9 4 5 . S e t i a po r a n gy a n gb e r h u b u n g a nd e n g a n h u k u m. p e r d a ma i a na b a d i d a nk e a d i l a ns o s i a l ma k ap e r l ud i l a k u k a nt i n d a k a nt e g a st e r h a d a ps e g a l ab e n t u ka n c a ma ny a n g me n g g a n g g ur a s aa ma nw a r g an e g a r ad a n me n g g a n g g uk e d a u l a t a nn e g a r a t e r ma s u ka n c a ma nt i n d a kp i d a n at e r o r i s me d a na k t i f i t a sy a n g me n d u k u n g t e r j a d i n y a a k s i t e r o r i s me . N e g a r a I n d o n e s i a me l i n d u n g i s e g e n a pb a n g s a I n d o n e s i a d a ns e l u r u ht u mp a hd a r a hI n d o e n s i ad a nu n t u k me ma j u k a nk e s e j a h t e r a a n u mu m.

1999 ( K o n v e n s i I n t e r n a s i o n a l P e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a n T e r o r i s me . B a h k a nU n d a n g U n d a n gN o mo r1 5T a h u n2 0 0 3 t e n t a n gP e n e t a p a nP e r a t u r a nP e me r i n t a hP e n g g a n t i U n d a n g U n d a n gN o mo r 1 T a h u n2 0 0 2t e n t a n g P e mb e r a n t a s a nT i n d a kP i d a n a T e r o r i s me Me n j a d i U n d a n g U n d a n gy a n gt e l a h me n g k r i mi n a l i s a s ip e n d a n a a nt e r o r i s me s e b a g a it i n d a k p i d a n at e r n y a t ama s i hme n y i s a k a n“ loopholes” s e h i n g g ap e n g a t u r a n n y ab e l u m me n j a mi nk e p a s t i a nh u k u md a nk e t e r t i b a nh u k u md a l a m ma s y a r a k a t . D a l a m u p a y ame n c e g a hd a nme mb e r a n t a st i n d a kp i d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s me . R a t i f i k a s ii n ime n u n j u k k a nk o mi t me nI n d o n e s i ad a l a m p e mb e r a n t a s a n p e n d a n a a n t e r o r i s me . t e r ma s u k me r a t i f i k a s i1 2K o n v e n s iI n t e r n a s i o n a l me n g e n a it e r o r i s me . ma k a p e r l ua d a n y ak e p a s t i a nh u k u md a np e n e g a k a nh u k u my a n gb e r k e a d i l a ny a n g h a r u s d i l a k s a n a k a n s e c a r a k o n s i s t e n d a n b e r k e l a n j u t a n .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me b e r k e w a j i b a nu n t u k me mb u a ta t a u me n y e l a r a s k a np e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a nt e r k a i tp e r d a n a a nt e r o r i s me s e h i n g g as e j a l a nd e n g a nk e t e n t u a n k e t e n t u a n y a n g d i a t u r d i d a l a mk o n v e n s i . K o n v e n s i i n i j u g a 73 . 1 9 9 9 ) b e r d a s a r k a nU n d a n g U n d a n g N o mo r 6T a h u n2 0 0 6 . K e t e n t u a ny a n ga d ab e r k a i t a nd e n g a np e n d a n a a nt e r o r i s me b e l u m me n g a t u rt e n t a n gp e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a nt i n d a kp i d a n ap e n d a n a a n t e r o r i s me s e c a r a me ma d a i d a n k o mp r e h e n s i f . U p a y a me ma s u k a nt i n d a kp i d a n at e r o r i s me s e b a g a is a l a hs a t ut i n d a k p i d a n aa s a l( predicate crime)d a l a mU UT P P Ut e r n y a t ama s i hb e l u md a p a t d i i mp l e me n t a s i k a ns e c a r ae f e k t i fd a l a m me n c e g a hd a n me mb e r a n t a st i n d a k p i d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s me . S a l a hs a t u k e w a j i b a ns e s u a i P a s a l 2K o n v e n s i P B B me n g e n a i P e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a n T e r o r i s me a d a l a h p e n e r a p a n k e w a j i b a n b a g il e mb a g ak e u a n g a n u n t u k me l a p o r k a nt r a n s a k s iy a n g me n c u r i g a k a nk e p a d ai n s t a n s ib e r w e n a n gs e r t a b e k e r j as a mau n t u ks a l i n gt u k a r me n u k a r i n f o r ma s i d a l a mr a n g k ap e n c e g a h a n d a n p e mb e r a n t a s a n a l i r a n d a n a u n t u k t i n d a k p i d a n a t e r o r i s me . R a t i f i k a s i K o n v e n s i me r u p a k a np e me n u h a nk e w a j i b a nI n d o n e s i as e b a g a i a n g g o t aP B Bt e r h a d a pR e s o l u s i D e w a nK e ma n a nP B BN o mo r1 3 7 3 . P e n y u s u n a nR U Ut e n t a n g P e n c e g a h a nd a n P e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a nT e r o r i s meme n j a d is e ma k i ns t r a t e g id a nr e l e v a n d e n g a nd i r a t i f i k a s i n y a International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism. R e s o l u s i t e r s e b u t me mi n t a s e t i a p n e g a r a a n g g o t a u n t u k me n g a mb i ll a n g k a h p e mb e r a n t a s a nt e r o r i s me .

L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me me w a j i b k a n s e t i a p n e g a r a p i h a k ( state party) u n t u k me n g a t u r p e n g i d e n t i f i k a s i a n . 74 . p e n d e t e k s i a n . d a np e mb e k u a nd a n ay a n gd i g u n a k a nu n t u k me mb i a y a i t i n d a k p i d a n a t e r o r i s me .

D a l a mk e g i a t a nt e r o r i s me .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me BAB V JANGKAUAN. aksi terorisme dalam negeri praktis didanai secara swadaya oleh para teroris dengan dibantu simpatisan mereka. Saat ini para teroris cenderung menggunakan identitas orang terdekatnya yang dianggapnya aman. Standar operasionalnya. d a n as a n g a td i b u t u h k a nu n t u kme mp r o mo s i k a ni d e o l o g i . detiknews. me mb e l i 3 5O p e r s e n j a t a a n . Bank sering segan untuk mengkroscek identitas nasabah yang akan membuka rekening. DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN A. Pengamat terorisme Wawan Purwanto mengatakan bahwa aksi terorisme di Indonesia tidak lagi disokong dana dari Timur Tengah. 3 September2009. melainkan juga memanfaatkan teknologi perbankan seperti phone banking dan lain-lain. Rekening salurannya bisa milik sopir atau bahkan pembantu.com. Identitas teroris saat akan melakukan transaksi keuangan bisa dipastikan palsu. khususnya dari kelompok Al-Qaidah. dan bank kerap terkecoh. me mb i a y a i a n g g o t a t e r o r i sd a nk e l u a r g a n y a . P a r a p e l a k ut e r o r i s me s u d a hp a s t i t i d a k a k a np e r n a hb e r h a s i l me l a k u k a n a k s i n y a t a n p a a d a n y a b e r b a g a i b e n t u k f a s i l i t a s d a ni n s t r u me n p e d u k u n g l a i n n y a . detikBandung. me n d a n a i p e r j a l a n a nd a np e n g i n a p a n . bank wajib meminta informasi sedetil-detilnya dari si nasabah. 35 34 33 75 . Sasaran Yang Akan diwujudkan. Bank sebagai tempat penyaluran dana dinilai lalai dalam menganalisa identitas nasabah. ARAH PENGATURAN. karena yang dipakai adalah identitas pinjaman yang seringkali fiktif. l e hs e b a b i t u . Sejak Bom Bali I pada 2002. 3 3h T e r j a d i n y ap e r i s t i w ap e mb o ma nd i B a l i p a d at a h u n2 0 0 2 i n g g ap e mb o ma n h o t e l J W Ma r r i o t p a d a t a h u n2 0 0 9me r u p a k a nb u k t i k u a t b a h w a t i n d a kp i d a n a t e r o r i s me me r u p a k a ns u a t ua n c a ma nn y a t a y a n gd a p a t me r o n g r o n gk e d a u l a t a n b a n g s ad a nn e g a r a . d a n u n t u k me r a n c a n g d a nme l a k s a n a k a no p e r a s i . Modusnya lebih rapi. 4 Mei 2011. bahwa kematian Usamah Bin Ladin tidak akan menggoyang keberadaan kelompok teroris yang ada di dalam negeri. Lihat: ”Kapolri: Pendanaan Teroris Gunakan Jasa Phone Banking”. Aliran Dana Terorisme Terus Mengalir di Bank”. Harusnya bank curiga kalau penghasilan naik tiba-tiba dengan angka yang drastis. 23 Maret 2010. s e h i n g g aa k t i f i t a st e r o r i s med a ni n s t r u me np e n d u k u n g n y a 3 4 t e l a h me n d a p a t p e r h a t i a n k h u s u s d a r i p e me r i n t a h I n d o n e s i a . d i ma n as a l a hs a t u n y aa d a l a hd u k u n g a np e n d a n a a n . sebelum melakukan hubungan dengan nasabah. Tempo Interaktif. maraknya kasus terorisme di Indonesia disinyalir karena sokongan dana yang terus mengalir. Menurut Pimpinan Direktorat Perizinan dan Pengaturan Perbankan BI Zainal Abidin. padahal pekerjaan tetap. Lihat: ”Karena Lalai. me r e k r u t d a n me l a t i h a n g g o t a b a r u . me ma l s u k a n i d e n t i t a s d a n d o k u me n . Arah dan Jangkauan Pengaturan D iI n d o n e s i at i n d a kp i d a n at e r o r i s me me r u p a k a ni s up e n t i n gy a n g me n d a p a t k a np e r h a t i a np e n u hd a r i s e mu a l a p i s a nma s y a r a k a t d a nP e me r i n t a h . Lihat: “Pendanaan teroris Indonesia Tak Lagi dari Al-Qaidah”. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyaad Mbai mengatakan. Sementara Kapolri Bambang Hendarso Danuri mengungkapkan bahwa pola penyaluran dana kelompok teroris bukan hanya melalui cara tradisional seperti menggunakan kurir (Hawala).

S e l a i ni t u . ma u p u n 3 6 y a n g me l a k u k a n a k s i t e r o r i s me . Seperti gerakan Negara Islam Indonesia (NII) yang merekrut anggota baru.L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me d u k u n g a nd a l a mb e n t u ku a n ga t a ud a n ame r u p a k a ns a l a hs a t uf a k t o rp e n t i n g d a l a ma k s i t e r o r i s me . P e n t i n g n y ap e r a n gme l a w a np e n d a n a a nt e r o r i s med i d a s a r k a nk e p a d a k e n y a t a a nb a h w ap e n d a n a a nt e r o r i s me me n d u k u n gu s a h ap e r e k r u t a nd a n p e mb e r i a nmo t i v a s i me l a l u i i n s e n t i f k e u a n g a ns e r t ama mp ume n j a g ak e k u a t a n mo r a l d a n mo t i v a s i d e n g a nk e b e r h a s i l a np e r e n c a n a a nd a np e l a k s a n a a na k s i t e r o r n y a .s u mb e rd a n a t e r o r i s me d a p a tp u l ab e r a s a ld a r is u mb e ry a n gh a l a la t a ul e g a ls e h i n g g a me mp e r s u l i tp e n e l u s u r a nd a np e mb u k t i a na l i r a nd a n at e r o r i s me . Soalnya. t e r o r i s j u g a ma s i hme me r l u k a ni n f r a s t r u k t u r s i s t e mk e u a n g a n u n t u k me mo b i l i s a s id a n me n y a l u r k a n d a n a n y a . 4 Mei 2011. setelah diselidiki dan diusut polisi. pelaku teror domestik tidak lagi mengandalkan dana dari Timur Tengah. Pendanaan tidak semata-mata dari Al-Qaidah. terutama aparat keamanan dan intelijen. mencuci otak mereka. b a i k b a g i y a n g me mf a s i l i t a s i . harus juga mencermati kegiatan-kegiatan yang berpotensi dijadikan sumber pendanaan kelompok teroris. P e ma l s u a n i d e n t i t a sj u g amu d a hd i l a k u k a nk a r e n as e ma k i nme n j a mu r n y ae-business d a n k e mu d a h a nt r a n s a k s ik e u a n g a nv i ai n t e r n e td ie r ag l o b a l i s a s ii n is e ma k i n me mp e r s u l i t p e n e g a k h u k u mu n t u k me l a c a k a l i r a n d a n a t e r o r i s . Lihat: “Pendanaan teroris Indonesia Tak Lagi dari Al-Qaidah”. terutama dengan memberikan informasi dan intelejen keuangan penelusuran dana.A d a p u n y a n g me mb u a t p e n d a n a a nt e r o r i s meme n j a d i s a n g a t b e r b a h a y ad i b a n d i n g k a nb e n t u kk r i mi n a l l a i n n y a d i k a r e n a k a ns t r a t e g i me r e k a d a l a m me n g g u n a k a no r g a n i s a s i a ma l a t a u n i r l a b as e b a g a i s u mb e rp e n d a n a a nd a nk e ma mp u a n n y ame n g i n f i l t r a s i s i s t e m k e u a n g a nn e g a r a n e g a r a mi s k i nd a nb e r k e mb a n g . Tempo Interaktif. me r e n c a n a k a n . Pemerintah Indonesia. N a mu n . Prasetya Online. Lihat “Seminar Internasional: Pencegahan terorisme Perlu Kerjasama Semua Negara”. 36 76 . Kepala PPATK Yunus Husein mengemukakan bahwa PPTAK memiliki peran penting dalam pencegahan dan pemberantasan pendanaan terorisme. Penelusuran aliran dana dimulai dari identifikasi kegiatan pendanaan untuk terorisme setelah menuju kepada tokoh-tokoh penting dalam terorisme selanjutnya adalah mengidentifikasi lokasi pelaku dan aksi teroris tersebut. 23 Juni 2011. Penelusuran dana bisa dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri. Namun. Contoh lain adalah sejumlah aksi perampokan terhadap bank dan toko emas yang terjadi beberapa bulan lalu. s e h i n g g au p a y ap e n a n g g u l a n g a nt e r o r i s meh a r u sp u l a d i i k u t id e n g a nu p a y ap e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a nt e r h a d a pp e n d a n a a n t e r o r i s me . perampokan itu dilakukan untuk menggalang dana guna melakukan aksi teror. dengan alasan fa'i. P a d ai n t i n y ap e n d a n a a n t e r o r i s me a d a l a h p e n y e d i a a n d u k u n g a n k e u a n g a n u n t u k t e r o r i s me . dan menarik infak dari mereka sebagai sumber pendanaan. khususnya dari kelompok Al-Qaidah pimpinan Usamah.

Seaport.R e k o me n d a s ii n i me r u p a k a n r e k o me n d a s ik h u s u sy a n gd i g u n a k a ns e b a g a is t a n d a ri n t e r n a s i o n a lu n t u k me n g h a l a n g ia k s e sb a g ip a r at e r o r i sd a np e n d u k u n g n y a me ma s u k is i s t e m k e u a n g a n . Terrorist Financing Typology Report . bahwa kunci keberhasilan Pemerintah di negara manapun untuk melemahkan dan menghancurkan jaringan teroris hanya satu. E f e k t i f i t a s p i h a k b e r w e n a n g d a l a m me n d e t e k s id a n me n y e l i d i k ia k t i f i t a st e r o r i sd a p a t d i t i n g k a t k a ns e c a r as i g n i f i k a nk e t i k ai n t e l i j e nk o n t r a t e r o r i s med a ni n f o r ma s i 3 7 f i n a n s i a l d i g u n a k a n s e c a r a b e r s a ma a n . Menurut John Tanujaya. dan (3) transfer uang lewat sistim Hawala.ap-southeast1. 2008.amazonaws.com. Land port) tetapi yang mereka utamakan adalah pengawasan money traffic.D e n g a na d a n y ak o n v e n s ii n t e r n a s i o n a ly a n gt e l a hd i r a t i f i k a s i Lihat FATF. Yang mereka lakukan adalah menghentikan: (1) praktik pencucian uang. diakses tanggal 12 Desember 2011.P e mu t u s a nt e r h a d a p ma t ar a n t a ip e n d a n a a n t e r o r i s me me n g h a r u s l a n a d a n y ap e r l i n d u n g a n s i s t e mi kt e r h a d a p s i s t e m k e u a n g a nd a np e r b a n k a nd a r ip e r b u a t a np i d a n a . “Hentikan Pendanaan Jaringan Teroris di Indonesia Sekarang!”. http://ec2-175-41-177-36.L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me S a l a h s a t u u p a y a y a n g d a p a t d i l a k u k a no l e ha p a r a t p e n e g a k h u k u mu n t u k me n c e g a hd a nme mb e r a n t a s t i n d a kp i d a n at e r o r i s mey a n gt e r j a d i d i I n d o n e s i a d a p a t d i l a k u k a nd e n g a nme mu t u sa l i r a np e n d a n a a nk e p a d ap e l a k ut e r o r i s me .compute. s e b e n a r n y aj u g ad i p i c uo l e h a d a n y a Nine Special Recommendation F A T F . Pemerintah di negara-segara tersebut melakukan monitor money traffic. P e mu t u s a n ma t a r a n t a ip e n d a n a a n t e r o r i s me t e r s e b u tt e n t u n y a me mb u t u h k a nl a n d a s a nh u k u my a n g j e l a s a g a r d a p a t d i l a k s a n a k a ns e c a r a b e n a r d a n d a p a tp u l a d i p e r t a n g g u n g j a w a b k a n s e c a r a h u k u m. Jadi bukan hanya mereka melakukan pengamanan di perbatasan (Airport. yaitu menghentikan money line. Lihat: John Tanujaya.ma k a I n d o n e s i a j u g a w a j i b u n t u k me mb u a t a t a ume n y e l a r a s k a np e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a nt e r k a i tp e n d a n a a nt e r o r i s me s e h i n g g as e j a l a nd e n g a nk e t e n t u a n k e t e n t u a n y a n g d i a t u r d a l a mk o n v e n s i t e r s e b u t . (2) transfer uang lewat yayasan no profit. London dan Spain.me n g i n g a ts e n s i t i f n y a i n f o r ma s i y a n gd i i n f o r ma s i k a no l e hi n t e l i j e nk o n t r a t e r o r i s me . 1999. D e n g a n me mu t u sa l i r a nd a n aa k a n me n c i p t a k a nl i n g k u n g a ny a n gt i d a k b e r s a h a b a tb a g it e r o r i s me . D e n g a n t e l a h d i r a t i f i k a s i n y aK o n v e n s iI n t e r n a s i o n a lP e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a nT e r o r i s me me l a l u i U n d a n g U n d a n g N o mo r 6T a h u n2 0 0 6t e n t a n g P e n g e s a h a nInternational Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism.s e r t a me mb a t a s ik e ma mp u a n t e r o r i su n t u k me l a n c a r k a na k s ib r u t a l n y a . P e r l u n y ap e n g a t u r a nt e n t a n gP e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a nT e r o r i s mek e d a l a m s e b u a hp e r u n d a n g u n d a n g a nt e r s e n d i r i . Semenjak terjadinya serangan di New York City. 37 77 .

s e r t ak e r j a s a ma b a i kn a s o n a lma u p u n i n t e r n a s i o n a l d a l a mp e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a nt i n d a kp i d a n ap e n d a n a a n 3 8 t e r o r i s me . d a n( 3 ) me me n u h i R e k o me n d a s i Financial Action Task Force on Money Laundering ( F A T F ) k h u s u s n y a Nine Special Recommendations. ma k ad i p e r l u k a n U n d a n g U n d a n gt e r s e n d i r i y a n gme n g a t u r me n g e n a i T i n d a kP i d a n aP e n d a n a a n T e r o r i s me . U n d a n g U n d a n gi n i me n g a t u rs e c a r ak o mp r e h e n s i f me n g e n a i a s a s .p e l a p o r a n d a n p e n g a w a s a nk e p a t u h a n . y a n gme n g a t u rt e n t a n gt i n d a kp i d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s me .( 2 ) me n g e t a h u id a n me n g a t u rp r o s e d u rd a n me k a n i s me y a n gj e l a su p a y ap e n c e g a h a n d a n p e mb e r a n t a s a nt i n d a kp i d a n at e r o r i s meme l a l u i p e n d e k a t a nfollow the money n a mu nt i d a k me n g h a mb a t k e g i a t a np e n g e l o l a j a s a k e u a n g a n . Pada dasarnya Pengaturan tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme ini dimaksudkan untuk membentuk suatu aturan hukum yang baku dan lengkap mengenai Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme sebagai salah satu cara untuk mewujudkan tujuan nasional. p e n u n t u t a nd a n p e me r i k s a a nd is i d a n gp e n g a d i l a n . me k a n i s mep e mb l o k i r a n . S a s a r a ny a n ga k a nd i w u j u d k a na d a l a h( i ) i k u t me me l i h a r ad a nme n j a g a s t a b i l i t a se k o n o mi . terciptanya penegakan hukum dan ketertiban yang konsisten dan berkesinambungan. Ibid. s o s i a l b u d a y a .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me ( International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism. s e r t a b a n y a k n y ak e l e ma h a ny a n gd i mi l i k i o l e hb e b e r a p ap e r a t u r a ny a n gt e l a ha d a . k r i mi n a l i s a s i t i n d a kp i n d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s med a nt i n d a kp i d a n al a i ny a n g b e r k a i t a n d e n g a n t i n d a k p i d a n a p e n d a n a a n t e r o r i s me . Ma k aa r a h p e n g a t u r a n P e mb e r a n t a s a n T i n d a kP i d a n aP e n d a n a a n T e r o r i s mea d a l a hu n t u k : ( 1 ) me n g a t a s i c e l a h c e l a hy a n ga d ad a l a mp e r a t u r a n y a n gb e r k a i t a nd e n g a nt i n d a kp i d a n a p e n d a n a a nt e r o r i s me s e h i n g g a me n j a mi n k e p a s t i a nh u k u m d a nk e t e r t i b a nd a l a m ma s y a r a k a t . p e n y i d i k a n . ( i i ) me mu t u sa l u rp e n d a n a a nt e r o r i s mes e k a l i g u sme n c e g a ht e r j a d i n y ak e mb a l i s e r a n g a na t a ua k s i a k s i t e r o r i s med i s e l u r u ht a n a ha i r . 38 78 . d a nk e a ma n a nd a nk e t e r t i b a nn a s i o n a l . 1999) d a l a ma t u r a nh u k u mI n d o n e s i ad a nNine Special Recommendation F A T F . d a n( i i i ) me n u n j u k k a n k o mi t me n I n d o n e s i a y a n g k u a t d a n s e r i u s d a l a m p e n c e g a h a n d a n p e mb e r a n t a s a n p e n d a n a a n t e r o r i s me .

L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me B. me ma j u k a nk e s e j a h t e r a a nu mu m.D e n g a nt e l a hd i r a t i f i k a s i n y a International Convention for The Suppression of The Financing of Terrorism.B e r d a s a r k a n b e b e r a p a p e r t i mb a n g a ni t u l a hs e h i n g g ap e r l u me mb e n t u kU n d a n g U n d a n gt e n t a n g P e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me . s e h i n g g au p a y ap e n a n g g u l a n g a nt i n d a kp i d a n at e r o r i s med i y a k i n i t i d a k a k a no p t i ma lt a n p ad i i k u t id e n g a nu p a y ap e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a n t e r h a d a pp e n d a n a a nt e r o r i s me .ma k aP e me r i n t a hI n d o n e s i a b e r k e w a j i b a nu n t u k me mb u a ta t a u me n y e l a r a s k a np e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a nt e r k a i tp e r d a n a a nt e r o r i s me s e h i n g g as e j a l a nd e n g a nk e t e n t u a n k e t e n t u a ny a n gd i a t u rd id a l a mk o n v e n s it e r s e b u t . H a li t up e r l ud i l a k u k a n me n g i n g a t k e t e n t u a ny a n ga d ab e r k a i t a nd e n g a np e n d a n a a nt e r o r i s meb e l u m me n g a t u ru p a y ap e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a nt i n d a kp i d a n ap e n d a n a a n t e r o r i s me s e c a r a me ma d a id a n k o mp r e h e n s i f . p e r d a ma i a na b a d i d a nk e a d i l a ns o s i a l . D a l a m a k s it e r o r i s me . 1999)d e n g a n U n d a n g U n d a n gR IN o mo r6 T a h u n2 0 0 6 . me n c e r d a s k a nk e h i d u p a nb a n g s ad a ni k u t me l a k s a n a k a nk e t e r t i b a nd u n i ab e r d a s a r k a nk e me r d e k a a n . t e r h a d a ps e g a l ab e n t u ka n c a ma ny a n g me n g g a n g g ur a s aa ma nw a r g an e g a r ad a n me n g g a n g g uk e d a u l a t a nn e g a r a . O l e hs e b a bi t u . d i ma n a n e g a r a w a j i bme l i n d u n g i s e g e n a pb a n g s a d a ns e l u r u ht u mp a hd a r a hI n d o n e s i a . Me n g i n g a t P a s a l 5a y a t ( 1 )d a nP a s a l 2 0U n d a n g U n d a n gD a s a rN e g a r a R e p u b l i kI n d o n e s i aT a h u n1 9 4 5 . u n s u rp e n d a n a a n me r u p a k a ns a l a hs a t uf a k t o r u t a ma . p e r l u d i l a k u k a n t i n d a k a n t e g a s .P e r a t u r a nP e me r i n t a hP e n g g a n t iU n d a n g U n d a n gR IN o mo r1 T a h u n2 0 0 2t e n t a n gP e mb e r a n t a s a nT i n d a kP i d a n a T e r o r i s me .s e b a g a i ma n at e l a hd i t e t a p k a n me n j a d iU n d a n g U n d a n gd e n g a n U n d a n g U n d a n gR IN o mo r1 5T a h u n2 0 0 3t e n t a n gP e n e t a p a nP e r a t u r a n P e me r i n t a hP e n g g a n t iU n d a n g U n d a n gR IN o mo r1 T a h u n2 0 0 2 me n j a d i U n d a n g U n d a n g . t e r ma s u ka n c a ma nt i n d a kp i d a n at e r o r i s me d a na k t i f i t a sy a n g me n d u k u n g t e r j a d i n y a a k s i t e r o r i s me . Ruang Lingkup Materi Muatan P e n g a t u r a nt e n t a n g P e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a nT e r o r i s me d i s u s u nd e n g a n me mp e r t i mb a n g k a nk e t e n t u a ny a n ga d ad a l a mP e mb u k a a nU U D1 9 4 5 .d a nU n d a n g U n d a n gR IN o mo r6 T a h u n2 0 0 6t e n t a n g P e n g e s a h a nInternational Convention For The Suppression Of The Financing Of 79 .

L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me Terrorism, 1999; ma k a d e n g a nP e r s e t u j u a nB e r s a ma a n t a r a D P Rd a nP r e s i d e nR I me mu t u s k a n u n t u k me n e t a p k a n U n d a n g U n d a n gt e n t a n gP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me .

1 .

Ketentuan Umum: Memuat Pengertian Istilah dan Frase P e n g a t u r a n t e n t a n gP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me i n id a l a m k e t e n t u a nu mu ma k a nd i r u mu s k a ns e p e r t i:( 1 )P e n d a n a a nT e r o r i s me ;( 2 ) T i n d a kP i d a n aT e r o r i s me ; ( 3 )S e t i a pO r a n g ; ( 4 )K o r p o r a s i ; ( 5 )T r a n s a k s i ; ( 6 ) T r a n s a k s iK e u a n g a n Me n c u r i g a k a nT e r k a i tP e n d a n a a nT e r o r i s me ;( 7 )H a r t a K e k a y a a n ; ( 8 )D a n a ; ( 9 )P e mb l o k i r a nS e me n t a r a ; ( 1 0 )P u s a tP e l a p o r a nd a n A n a l i s i s T r a n s a k s i K e u a n g a ny a n gs e l a n j u t n y ad i s i n g k a t P P A T K ; ( 1 1 ) P e n y e d i a J a s aK e u a n g a ny a n gs e l a n j u t n y ad i s i n g k a t P J K ; ( 1 2 ) P e n g g u n aJ a s aK e u a n g a n ; ( 1 3 )L e mb a g aP e n g a w a sd a nP e n g a t u ry a n gs e l a n j u t n y ad i s i n g k a tL P P ; ( 1 4 ) P e r s o n i l P e n g e n d a l i K o r p o r a s i ; d a n ( 1 5 ) D o k u me n . T i n d a kp i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s med a p a t t e r j a d i k a r e n ad i s e b a b k a no l e h p e r b u a t a n ma n u s i aa t a up u nk o r p o r a s i ( b a d a nh u k u m) . D a l a mh a l i n i , y a n g d i ma k s u dd e n g a nt i n d a kp i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s mea d a l a h“ S e t i a pO r a n g y a n g d e n g a n s e n g a j a me n y e d i a k a n , me n g u mp u l k a n , me mb e r i k a n ,a t a u me mi n j a mk a nD a n ab a i kl a n g s u n g ma u p u nt i d a kl a n g s u n g , d e n g a n ma k s u d d i g u n a k a n s e l u r u h n y a a t a u s e b a g i a n u n t u k me l a k u k a n T i n d a k P i d a n a T e r o r i s me . A p a b i l aT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me d i l a k u k a no l e hK o r p o r a s i , ma k a t u n t u t a nd a np e n j a t u h a np i d a n a d i k e n a k a nt e r h a d a pK o r p o r a s i , p e n g u r u s , d a n / a t a uP e r s o n i lP e n g e n d a l iK o r p o r a s i .K h u s u su n t u kk o r p o r a s i ,p i d a n a d i j a t u h k a nt e r h a d a p n y aa p a b i l aT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me :( a ) d i l a k u k a na t a ud i p e r i n t a h k a no l e hP e r s o n i l P e n g e n d a l i K o r p o r a s i ; ( b ) d i l a k u k a n d a l a mr a n g k ap e me n u h a nma k s u dd a nt u j u a nK o r p o r a s i ; ( c ) d i l a k u k a ns e s u a i d e n g a nt u g a sd a nf u n g s ip e l a k ua t a up e mb e r ip e r i n t a h ; a t a u( d )d i l a k u k a n d e n g a n ma k s u d me mb e r i k a n ma n f a a t b a g i K o r p o r a s i . S e l a i ny a n g d i k e mu k a k a nd i a t a s , t e r d a p a t p u l a s e j u ml a ht i n d a kp i d a n a l a i n y a n gb e r k a i t a nd e n g a nT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me . Pertama, P e j a b a t a t a up e g a w a i P P A T K , p e n y i d i k , p e n u n t u t u mu m, h a k i m, a t a uS e t i a pO r a n gy a n g me mp e r o l e hd o k u me na t a uk e t e r a n g a nb e r k a i t a nd e n g a nT r a n s a k s i K e u a n g a n Me n c u r i g a k a n T e r k a i tP e n d a n a a n T e r o r i s me d a l a m r a n g k ap e l a k s a n a a n 80

L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me t u g a s n y a ,w a j i b me r a h a s i a k a nD o k u me na t a uk e t e r a n g a nt e r s e b u t .Kedua, P e j a b a ta t a up e g a w a i P P A T K , p e n y i d i k , p e n u n t u tu mu m, h a k i m, a t a uS e t i a p O r a n gy a n g me l a n g g a rk e t e n t u a ns e b a g a i ma n ad i ma k s u d , d i p i d a n ad e n g a n
3 9 Ketiga, p i d a n ap e n j a r ap a l i n gl a ma 4 ( e mp a t )t a h u n . D i r e k s i ,k o mi s a r i s ,

p e n g u r u s , a t a up e g a w a iP e n y e d i aJ a s aK e u a n g a nd i l a r a n g me mb e r i t a h u k a n k e p a d aP e n g g u n aJ a s aK e u a n g a na t a up i h a kl a i n , b a i ks e c a r al a n g s u n gma u p u n t i d a kl a n g s u n g , d a nd e n g a nc a r a a p a p u n , me n g e n a i l a p o r a nT r a n s a k s i K e u a n g a n Me n c u r i g a k a nT e r k a i tP e n d a n a a nT e r o r i s mey a n gs e d a n gd i s u s u na t a ut e l a h d i s a mp a i k a n k e p a d a P P A T K . T e t a p i , k e t e n t u a nme n g e n a i l a r a n g a ns e b a g a i ma n ad i ma k s u dt i d a kb e r l a k u u n t u kp e mb e r i a ni n f o r ma s i k e p a d aL e mb a g aP e n g a w a sd a nP e n g a t u r . U n t u k L e mb a g aP e n g a w a sd a nP e n g a t u r( L P P ) ,b a i ks e c a r al a n g s u n ga t a ut i d a k l a n g s u n g , d e n g a nc a r aa p a p u n , d i l a r a n g me mb e r i t a h u k a nl a p o r a nT r a n s a k s i K e u a n g a nMe n c u r i g a k a nT e r k a i t P e n d a n a a nT e r o r i s mek e p a d aP e n g g u n aJ a s a K e u a n g a n y a n g t e l a h d i l a p o r k a n k e p a d a P P A T K .

2.

Materi Yang Akan Diatur Ruang Lingkup P e n g a t u r a nt e n t a n gt e n t a n gP e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a nT e r o r i s me i n i b e r l a k ut e r h a d a ps e t i a po r a n g ,d a n a( fund) ,n e g a r al a i n ,t i n d a kp i d a n a p e n d a n a a n t e r o r i s me t e r k a i t d e n g a n t i n d a k p i d a n a t e r o r i s me . B a h w aU n d a n g U n d a n gA n t i P e n d a n a a nT e r o r i s mei n i b e r l a k ut e r h a d a p : ( a )S e t i a pO r a n gy a n gme l a k u k a na t a ub e r ma k s u d me l a k u k a nt i n d a kp i d a n a P e n d a n a a nT e r o r i s med i w i l a y a hn e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i ad a n / a t a ud i l u a r w i l a y a hn e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i a ; d a n / a t a u( b )D a n ay a n gt e r k a i td e n g a n P e n d a n a a nT e r o r i s med i w i l a y a hn e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i ad a n / a t a ud i l u a r w i l a y a hn e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i a . S e l a i ni t uU n d a n g u n d a n gi n i j u g ab e r l a k u t e r h a d a pt i n d a kp i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me y a n gt e r j a d id i l u a rw i l a y a h I n d o n e s i a a p a b i l a : ( a ) d i l a k u k a no l e h w a r g a n e g a r a I n d o n e s i a ; ( b ) t e r k a i t d e n g a n T i n d a kP i d a n aT e r o r i s met e r h a d a pw a r g an e g a r aI n d o n e s i a ; ( c ) t e r k a i t d e n g a n

Namun, ketentuan sebagaimana dimaksud tersebut tidak berlaku terhadap Pejabat atau pegawai PPATK, penyidik, penuntut umum, hakim, atau setiap orang apabila dilakukan dalam rangka memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

39

81

L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me T i n d a kP i d a n aT e r o r i s met e r h a d a pf a s i l i t a sp e me r i n t a hI n d o n e s i at e r ma s u k p e r w a k i l a nI n d o n e s i aa t a ut e mp a t k e d i a ma np e j a b a t d i p l o ma t i ka t a uk o n s u l e r d a r i I n d o n e s i a ; ( d )t e r k a i td e n g a nT i n d a kP i d a n aT e r o r i s mey a n gd i l a k u k a n s e b a g a iu p a y au n t u k me ma k s ap e me r i n t a hI n d o n e s i ame l a k u k a na t a ut i d a k me l a k u k a ns u a t ut i n d a k a n ;( e )t e r k a i td e n g a nT i n d a kP i d a n aT e r o r i s me t e r h a d a pp e s a w a t u d a r ay a n gd i o p e r a s i k a no l e hn e g a r aI n d o n e s i a ; ( f )t e r k a i t d e n g a nT i n d a kP i d a n aT e r o r i s me d ia t a sk a p a ly a n gb e r b e n d e r an e g a r a I n d o n e s i aa t a up e s a w a tu d a r ay a n gt e r d a f t a rb e r d a s a r k a nu n d a n g u n d a n g I n d o n e s i a p a d a s a a t t i n d a kp i d a n a i t ud i l a k u k a n ; a t a u( g ) d i l a k u k a no l e hS e t i a p O r a n gy a n gt i d a kme mi l i k i k e w a r g a n e g a r a a nd a nb e r t e mp a t t i n g g a l d i w i l a y a h n e g a r a R e p u b l i k I n d o n e s i a .

Pencegahan dan Pengawasan Kepatuhan U p a y a p e n c e g a h a n T i n d a k P i d a n a P e n d a n a a nT e r o r i s me d i l a k u k a nme l a l u i : p e n e r a p a n p r i n s i p me n g e n a l iP e n g g u n aJ a s aK e u a n g a n ,p e l a p o r a n d a n p e n g a w a s a n k e p a t u h a n P e n g g u n aJ a s aK e u a n g a n ,p e n g a w a s a n k e g i a t a n p e n g i r i ma nu a n gme l a l u i s i s t e mt r a n s f e r a t a up e n g i r i ma nu a n gme l a l u i s i s t e m l a i n n y a ; s e r t ap e n g a w a s a np e n g u mp u l a nd a np e n e r i ma a ns u mb a n g a n . D a l a m p e n e r a p a nP e n e r a p a nP r i n s i p Me n g e n a l iP e n g g u n aJ a s aK e u a n g a n , L e mb a g a P e n g a w a sd a nP e n g a t u r( L P P ) me n e t a p k a nk e t e n t u a np r i n s i p me n g e n a l i P e n g g u n a J a s a K e u a n g a nt e r ma s u k P e n g g u n a J a s a K e u a n g a ny a n g t e r k a i t T i n d a k P i d a n a P e n d a n a a n T e r o r i s me .P e n g a t u r a n me n g e n a ik e t e n t u a n p r i n s i p me n g e n a l i P e n g g u n a J a s a K e u a n g a ns e b a g a i ma n a d i ma k s u dd a p a t d i a t u r s e c a r a t e r s e n d i r i a t a ub e r s a mad e n g a nk e t e n t u a nme n g e n a i t i n d a kp i d a n ap e n c u c i a n u a n g . D a l a mh a l i n i , P J Kw a j i bme n e r a p k a np r i n s i pme n g e n a l i P e n g g u n aJ a s a K e u a n g a n y a n g d i t e t a p k a n o l e h s e t i a p L P Ps e b a g a i ma n a d i ma k s u d . D a l a mh a l p e n g a w a s a ny a n g d i l a k u k a nt e r h a d a pk e g i a t a np e n g i r i ma nu a n g me l a l u i s i s t e mt r a n s f e r , P J Ky a n g me l a k u k a nT r a n s a k s i p e n g i r i ma nu a n g me l a l u i s i s t e mt r a n s f e r w a j i bme mb e r i k a ni d e n t i t a s d a ni n f o r ma s i y a n g b e n a r me n g e n a i p e n g i r i ma s a l , a l a ma t p e n g i r i ma s a l , p e n e r i ma , j u ml a hu a n g , j e n i sma t au a n g , t a n g g a l p e n g i r i ma nu a n g , s u mb e rd a n ad a ni n f o r ma s i l a i ny a n gb e r d a s a r k a n k e t e n t u a n p e r a t u r a n p e r u n d a n g u n d a n g a n w a j i b d i b e r i k a n k e p a d a P J K . I n f o r ma s i s e b a g a i ma n a d i ma k s u d d i s a mp a i k a no l e h P J Kd e n g a n me n g i s i f o r mu l i r 82

S e d a n g k a n u n t u k p e n g a w a s a nk e g i a t a np e n g i r i ma nu a n g me l a l u is i s t e m l a i n n y a . ma u p u n d i a n c a md e n g a n h u k u ma n p i d a n a s e b a g a i ma n a d i a t u r d a l a mU UT r a n s f e r D a n a . U n t u kk e p e n t i n g a np e r l i n d u n g a n ma s y a r a k a td a np e n c e g a h a nt i n d a k p i d a n a p e n d a n a a nt e r o r i s me s e r t a me mu t u s r a n t a i p e n d a n a a nd a l a mk e j a h a t a n t e r o r i s me .P J Kw a j i b me mp e r o l e h i z i n d a r i d a n / a t a ut e r d a f t a r p a d a L e mb a g a P e n g a wa s d a nP e n g a t u r . d a nd i w a j i b k a np u l a me n y a mp a i k a nl a p o r a nt e r t u l i s me n g e n a i p e n y e l e n g g a r a a n 4 0 k e g i a t a n p e n g i r i ma n u a n g k e p a d a L P P . t a n g g a l p e n g i r i ma nu a n g .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me y a n gd i s e d i a k a no l e hP J Kd e n g a nme l a mp i r k a nd o k u me np e n d u k u n g . d a p a t d i k e n a i d e n g a na n c a ma nh u k u ma ns e b a g a i ma n ad i a t u rd a l a mU Ui n i . P T D y a n g t i d a k me mi l i k i i j i nd a nt e r b u k t i t e r l i b a t d a l a mp e n d a n a a nt e r o r i s me . A p a b i l a P e n g g u n a J a s a K e u a n g a n t i d a k me mb e r i k a n i n f o r ma s i y a n g d i mi n t a s e b a g a i ma n a d i ma k s u d . j u ml a hu a n g . B a g ip e l a k uy a n gd i d u g at e r l i b a td a l a m p e n d a n a a nt e r o r i s me y a n g d i l a k u k a nd e n g a nt r a n s a k s i k e u a n g a nme l a l u i P J Ky a n gb e r b a d a nh u k u ma t a u t i d a k b e r b a d a n h u k u md i k e n a i a n c a ma nh u k u ma ns e b a g a i ma n a d i a t u r d a l a mU U i n i . 40 83 . s u mb e rd a n ad a ni n f o r ma s il a i ny a n gb e r d a s a r k a nk e t e n t u a np e r a t u r a n p e r u n d a n g u n d a n g a nw a j i bd i mi n t ao l e hP J K . B a g ip e l a k uy a n gd i d u g at e r l i b a td a l a m p e n d a n a a nt e r o r i s me y a n g d i l a k u k a nd e n g a nt r a n s a k s i k e u a n g a nme l a l u i P J Ky a n g t i d a kb e r i j i nt e t a pd a p a t d i k e n a i a n c a ma n h u k u ma ns e b a g a i ma n a d i a t u r d a l a mU Ui n i . P J Kp e n g i r i mw a j i b me n y i mp a ns e mu a i n f o r ma s i y a n g d i p e r l u k a nu n t u kme n g e n a l i s e mu a p e n g i r i m a s a l d a np e n e r i mak i r i ma np a l i n gs i n g k a t5 ( l i ma )t a h u ns e j a kb e r a k h i r n y a T r a n s a k s ip e n g i r i ma n u a n g me l a l u is i s t e m t r a n s f e r . j e n i s ma t a u a n g . Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyampaian laporan penyelenggaraan kegiatan pengiriman uang dan tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam Peraturan masing-masing LPP. S e me n t a r a i t u . U n t u ki t u . l i n g k u pp e n g a t u r a nd a l a mU Ui n i me l i p u t i p u l a p e l a k s a n a a nt r a n s a k s i k e u a n g a n y a n g d i l a k u k a n me l a l u i P J Kf o r ma l ma u p u n P J Kn o n f o r ma l .ma k aP e n y e d i aJ a s aK e u a n g a nw a j i b me n o l a kp e n g i r i ma nu a n g me l a l u i s i s t e mt r a n s f e r t e r s e b u t . S e h u b u n g a nd e n g a np e n g a w a s a ni n i . p e n e r i ma . P J Kd i w a j i b k a nme mi n t ai n f o r ma s i y a n gl e n g k a pk e p a d aP e n g g u n aJ a s aK e u a n g a nme n g e n a i p e n g i r i ma s a l . a l a ma t p e n g i r i ma s a l .

S e t i a pO r a n gd a p a t me n g a j u k a nk e b e r a t a nt e r h a d a p p e l a k s a n a a n P e mb l o k i r a n . D a l a mw a k t u 3 0( t i g a p u l u h ) h a r i s e j a k d i u mu mk a n : ( a ) t e r d a p a t p i h a ky a n g k e b e r a t a n . p e n y i d i k . ma k ap e n g a d i l a n me mu t u s k a nD a n at e r s e b u td i r a mp a s u n t u k n e g a r a a t a u d i mu s n a h k a n . ma k a p e n g a d i l a nn e g e r i me l a k u k a np e me r i k s a a ng u n ame mu t u s k a nD a n at e r s e b u t d i k e mb a l i k a nk e p a d ay a n gb e r h a ka t a ud i r a mp a su n t u kn e g a r a .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me Pemblokiran dan Cara Penanganannya P e mb l o k i r a nd i l a k u k a nt e r h a d a pD a n ad a nh a r t ak e k a y a a ny a n gs e c a r a l a n g s u n g a t a ut i d a k l a n g s u n g .h a r u sd i l a k u k a n p e n c a b u t a np e l a k s a n a a nP e mb l o k i r a no l e hP J Ka t a up i h a ky a n g me l a k u k a n P e mb l o k i r a nb e r d a s a r k a np e r mi n t a a nP P A T Ka t a up e r i n t a hd a r ip e n y i d i k . P e mb l o k i r a nd i l a k u k a no l e hP P A T K . p a t u t d i d u g a d i g u n a k a na t a ua k a nd i g u n a k a nb a i k s e l u r u h a t a u s e b a g i a n u n t u k T i n d a k P i d a n a T e r o r i s me . p e n u n t u t u mu m. Me n g e n a i k e b e r a t a n .a t a uh a k i m. P P A T Ka t a up e n y i d i k me n y e r a h k a np e n a n g a n a nD a n ay a n g d i k e t a h u i a t a up a t u t d i d u g a t e r k a i t T i n d a k P i d a n a T e r o r i s me k e p a d a p e n g a d i l a nn e g e r i . p e n y i d i k . p e n u n t u tu mu m.p i h a ky a n g me n g a j u k a n k e b e r a t a n d a p a t me n g a j u k a n k e p e n g a d i l a n . p e n u n t u t u mu m. P e mb l o k i r a nd i l a k u k a nd a l a mw a k t up a l i n gl a ma9 0 ( s e mb i l a np u l u h )h a r i . p e n u n t u t u mu m. P e n g a j u a nk e b e r a t a nd i l a k u k a nd a l a mw a k t up a l i n gl a ma7( t u j u h ) h a r i s e j a k d i k e t a h u i n y aP e mb l o k i r a n . a t a uh a k i m d a l a m w a k t up a l i n gl a ma 1 ( s a t u )h a r ik e r j as e j a kt a n g g a l p e l a k s a n a a nP e mb l o k i r a n .D a l a m h a lk e b e r a t a nd i t e r i ma .D a l a m h a lk e b e r a t a nd i t o l a k . a t a uh a k i m d e n g a n me mi n t aa t a u me me r i n t a h k a nP J Ka t a up i h a kb e r w e n a n gu n t u k me l a k u k a nP e mb l o k i r a n .P e n g a j u a n k e b e r a t a n t e r h a d a p p e l a k s a n a a n P e mb l o k i r a n d i s a mp a i k a n k e p a d a P P A T K . 84 . d a n / a t a u( b ) t i d a ka d ak e b e r a t a n . P J Ka t a up i h a ky a n gb e r w e n a n gy a n gme l a k s a n a k a n p e r i n t a hP e mb l o k i r a nt i d a kd a p a t d i t u n t u t b a i ks e c a r ap e r d a t ama u p u np i d a n a d a l a mp e l a k s a n a a nP e mb l o k i r a nb e r d a s a r k a nk e t e n t u a nd a l a mU n d a n g U n d a n g i n i . D a l a m h a lt i d a ka d ao r a n gd a n / a t a up i h a kk e t i g ay a n g me n g a j u k a n k e b e r a t a nd a l a mw a k t u9 0( s e mb i l a np u l u h )h a r i s e j a kt a n g g a l P e mb l o k i r a n . P J Ka t a up i h a ky a n gb e r w e n a n gw a j i b me n y e r a h k a n b e r i t a a c a r a p e l a k s a n a a n P e mb l o k i r a n k e p a d a P P A T K . k e c u a l i t e r d a p a t u n s u r p e n y a l a h g u n a a n w e w e n a n g . a t a u h a k i m. p e n y i d i k .

p e n y i d i k .p e n u k a r a n . d a ni n s t a n s i y a n gb e r w e n a n gd i ma n aD a n ay a n gd i b l o k i r t e t a pme n j a d i mi l i kT e r o r i s a t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s y a n g me mi l i k i k e p e n t i n g a nt e r h a d a pD a n a y a n gd i b l o k i r d a nd a p a t t e r u s d i k e l o l a o l e hP e n y e d i a J a s a K e u a n g a na t a up i h a k l a i ny a n gd i t e t a p k a no l e hT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s i T e r o r i ss e b e l u md i l a k u k a n p e mb l o k i r a n .K e b e r a t a nt e r h a d a pd a f t a ry a n gd i k e l u a r k a no l e ho r g a n i s a s i i n t e r n a s i o n a l d i s a mp a i k a nk e p a d a o r g a n i s a s i i n t e r n a s i o n a l me l a l u i Me n t e r i L u a r N e g e r i .p e r p i n d a h a n / p e r g e r a k a nD a n ay a n gd i l a k u k a no l e hP J K .D a n a y a n g s e c a r a l a n g s u n g a t a ut i d a k l a n g s u n g . p a t u t d i d u g a d i g u n a k a na t a u a k a nd i g u n a k a nb a i ks e l u r u ha t a us e b a g i a nu n t u kt i n d a kp i d a n at e r o r i s me . a t a u b . p e n u n t u t u mu m. Pemblokiran Serta Merta Berdasarkan Publikasi Internasional T e r h a d a pd a f t a rT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s i T e r o r i sy a n gd i k e l u a r k a no l e h D e w a nK e a ma n a nP B B .D a n ay a n gt e r k a i td e n g a nT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s iT e r o r i ss e b a g a i ma n a t e r c a n t u md a l a mp u b l i k a s i y a n gd i k e l u a r k a no l e ho r g a n i s a s i i n t e r n a s i o n a l d a n / a t a u p e me r i n t a h . 85 . P P A T K .p e n e mp a t a n / p e mb a g i a n . h a k i m. p e r l ud i a t u r me k a n i s me u n t u kp e mb l o k i r a ns e r t a me r t a t e r h a d a pd a n aa t a ua s e ty a n gd i mi l i k i a t a ud i k u a s a i o l e ho r a n ga t a ue n t i t a s n a ma n y ay a n gt e r c a n t u md a l a m D a f t a r T e r o r i s a t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s . P e mb l o k i r a n S e r t a me r t a d i l a k u k a n t e r h a d a p : a .D e n g a nd e mi k i a ns e t i a pO r a n gd a p a t me n g a j u k a nk e b e r a t a n t e r h a d a pd a f t a r T e r o r i s d a nO r g a n i s a s i T e r o r i s y a n g d i k e l u a r k a no l e ho r g a n i s a s i i n t e r n a s i o n a l . S e l a n j u t n y at e r h a d a p t i n d a k a n p e mb l o k i r a n t e r s e b u td i a t u r me k a n i s me k e b e r a t a n . p e n g u b a h a n b e n t u k . U p a y a t e r h a d a pp e mb l o k i r a ns e r t a me r t ai n ime r u p a k a nb a g i a np e n t i n gd a l a m p e l a k s a n a a n R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B B1 2 6 7 .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me Pemblokiran Secara Serta Merta (Freezing without delay) P e mb l o k i r a nS e r t a me r t aa d a l a ht i n d a k a n me n c e g a hp e n t r a n s f e r a n . Me n t e r i L u a rN e g e r i me n e r u s k a nk e b e r a t a nt e r s e b u tk e p a d aD e w a n K e a ma n a n P e r s e r i k a t a n B a n g s a B a n g s a .

o b a t o b a t a nd a np e r a w a t a nme d i s . P e r mo h o n a np e n g e c u a l i a nd i s a mp a i k a nk e p a d ad a nd i p u t u s k a no l e hK e p a l a P P A T Ka t a u p e j a b a t y a n g b e r w e n a n g s e s u a i t i n g k a t p e me r i k s a a n p e r k a r a . K e p a l aK e p o l i s i a nR e p u b l i kI n d o n e s i a me n y a mp a i k a nd a f t a rt e r d u g a T e r o r i sa t a uO r g a n i s a s iT e r o r i ss e r t as e t i a pp e r u b a h a n n y ak e p a d ai n s t a n s i 86 . p a j a k . K e p a l a K e p o l i s i a nR e p u b l i kI n d o n e s i as e g e r a me n c a n t u mk a ni d e n t i t a so r a n ga t a u K o r p o r a s ik ed a l a m D a f t a rt e r d u g aT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s iT e r o r i s . d o k u me n d a n / a t a uI n f o r ma s i y a n gd i a j u k a nd a p a t d i j a d i k a nd a s a r u n t u kme n c a n t u mk a n i d e n t i t a s o r a n g a t a uK o r p o r a s i k e d a l a mD a f t a r t e r d u g a T e r o r i s a t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s . a t a u b i a y a a d mi n i s t r a s i r u t i n p e me l i h a r a a n D a n a y a n g d i b l o k i r . K e p a l aK e p o l i s i a nR e p u b l i kI n d o n e s i ame mb e r i t a h u k a ns e c a r at e r t u l i s k e p a d ao r a n ga t a uK o r p o r a s i d a l a mw a k t up a l i n gl a mb a t 3 0( t i g ap u l u h ) h a r i k e r j a .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me P e mb l o k i r a nS e r t a me r t ad a p a td i k e c u a l i k a nu n t u kt u j u a np e me n u h a n k e b u t u h a np o k o kT e r o r i sb e s e r t ak e l u a r g a .t e r ma s u kp e mb a y a r a nu n t u k ma k a n a n . S e t e l a hme mp e r o l e hp e n e t a p a nK e t u aP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t aP u s a t . K e t u a a t a u Wa k i l K e t u a P e n g a d i l a n N e g e r i J a k a r t a P u s a t h a r u s s e g e r a me me r i k s a d a nme n e t a p k a np e r mo h o n a nt e r s e b u t d a l a mw a k t up a l i n g l a ma 3 0( t i g a p u l u h ) h a r i k e r j a s e j a k d i t e r i ma n y a p e r mo h o n a nA p a b i l a d a l a mp e me r i k s a a n . P e r mo h o n a np e n g e c u a l i a nd i s a mp a i k a no l e ho r a n gp e r s e o r a n g a na t a u p i h a k y a n g me mi l i k ih u b u n g a n l a n g s u n gd e n g a n D a n a y a n g d i b l o k i r . p r e mi a s u r a n s i d a nb i a y a p e l a y a n a np u b l i k . s e w aa t a uh i p o t i k . Daftar Terduga Teroris dan Organisasi Teroris Yang Dikeluarkan Oleh Pemerintah. p e mb a y a r a nb i a y ap r o f e s i o n a l y a n gw a j a r d a np e n g g a n t i a nb i a y a y a n g d i k e l u a r k a nt e r k a i t d e n g a np e n y e d i a a nj a s a h u k u m. ma k aK e t u aa t a uWa k i l K e t u aP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t aP u s a t s e g e r a me n e t a p k a n i d e n t i t a s o r a n ga t a uk o r p o r a s i t e r s e b u t s e b a g a i o r g a n i s a s i t e r r o r i s . D a f t a r t e r d u g aT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s iT e r o r i sd i k e l u a r k a no l e hK e p a l aK e p o l i s i a n N e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i ab e r d a s a r k a np e n e t a p a nP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t a P u s a t . K e p a l aK e p o l i s i a nR e p u b l i kI n d o n e s i ame n g a j u k a np e r mo h o n a nk e p a d a P e n g a d i l a nN e g e r iJ a k a r t aP u s a tu n t u k me n e t a p k a np e n c a n t u ma ni d e n t i t a s o r a n ga t a uK o r p o r a s i k ed a l a mD a f t a r t e r d u g aT e r o r i s a t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s .

( b )t e r d a p a tp e n e t a p a nP e n g a d i l a nN e g e r iJ a k a r t aP u s a t .K e p a l aK e p o l i s i a nN e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i as e g e r a me mi n t ai n s t a n s i p e me r i n t a ht e r k a i ta t a uP J Ky a n gme l a k u k a nP e mb l o k i r a n u n t u kme n c a b u t P e mb l o k i r a ny a n gd i t u a n g k a nd a l a mb e r i t aa c a r ap e n c a b u t a n P e mb l o k i r a n . O r a n ga t a uK o r p o r a s i d a p a t me n g a j u k a nk e b e r a t a nt e r h a d a pp e l a k s a n a a n P e mb l o k i r a nk e p a d aK e p a l aK e p o l i s i a nN e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i a . D a l a mh a l k e b e r a t a nd i t e r i ma .I n s t a n s i p e me r i n t a ht e r k a i t a t a uP J Kw a j i bme l a k u k a nP e mb l o k i r a ns e c a r as e r t ame r t a t e r h a d a ps e mu aH a r t aK e k a y a a nd a nD a n ay a n gd i mi l i k i a t a ud i k u a s a i b a i k s e c a r a l a n g s u n g ma u p u nt i d a kl a n g s u n g o l e ho r a n ga t a uK o r p o r a s i b e r d a s a r k a n d a f t a rt e r d u g aT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s iT e r o r i sy a n gt e l a hd i k e l u a r k a no l e h K e p a l a K e p o l i s i a n N e g a r a R e p u b l i k I n d o n e s i a b e r d a s a r k a n p e n e t a p a n P e n g a d i l a n N e g e r i J a k a r t a P u s a t .P e r p a n j a n g a nd a p a t d i b e r i k a np a l i n gb a n y a k2( d u a ) k a l i ma s i n g ma s i n gt i d a kme l a mp a u i 1( s a t u ) t a h u n . A p a b i l a p e n c a n t u ma ni d e n t i t a s o r a n g a t a uK o r p o r a s i d a l a md a f t a r t e r d u g a T e r o r i sa t a uO r g a n i s a s iT e r o r i st e l a h me l a mp a u i1 ( s a t u )t a h u n . I d e n t i t a s o r a n ga t a uK o r p o r a s i d i h a p u s k a no l e hK e p a l a K e p o l i s i a nN e g a r a R e p u b l i kI n d o n e s i ad a r i d a f t a r t e r d u g aT e r o r i s a t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s k a r e n a : ( a )t e l a h me l a mp a u i1 ( s a t u )t a h u nt e r h i t u n gs e j a kt a n g g a lp e n c a n t u ma n i d e n t i t a st e r s e b u to l e hK e p a l aK e p o l i s i a nN e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i a .( c ) t e r d a p a t p e n e t a p a nP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t a P u s a t . d a n / a t a u( d ) a l a s a nd e mi h u k u m.K e p a l a K e p o l i s i a n N e g a r a R e p u b l i k I n d o n e s i a d a p a t me n g a j u k a n p e r mo h o n a n p e r p a n j a n g a nk e p a d aP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t aP u s a t .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me p e me r i n t a ht e r k a i td a nL P Pu n t u ks e l a n j u t n y ad i s a mp a i k a nk e p a d aP J K . b a i k s e c a r al a n g s u n gma u p u nt i d a kl a n g s u n go l e ho r a n ga t a uK o r p o r a s i . P e n y a mp a i a nd a f t a rd i s e r t a ip e r mi n t a a nP e mb l o k i r a ns e c a r as e r t a me r t a t e r h a d a ps e l u r u hH a r t aK e k a y a a nd a nD a n ay a n gd i mi l i k i a t a ud i k u a s a i . S e t i a pO r a n ga t a uK o r p o r a s id a p a t me n g a j u k a nk e b e r a t a nt e r h a d a p p e n c a n t u ma ni d e n t i t a s n y a d a l a md a f t a r t e r d u g a T e r o r i s a t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s k e p a d aP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t aP u s a t u n t u kme mp e r o l e hp e n e t a p a nt e n t a n g 87 . k e c u a l i p e n c a n t u ma nt e r s e b u t d i p e r p a n j a n gb e r d a s a r k a np e n e t a p a nP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t aP u s a t .

p e n u n t u t u mu m.( b )t e r s a n g k a . A l a tb u k t iy a n gs a hd a l a m p e mb u k t i a nT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a n T e r o r i s mei a l a h : ( a )a l a tb u k t is e b a g a i ma n ad i ma k s u dd a l a mH u k u mA c a r a P i d a n a . d i t e r i ma .( b )a l a tb u k t il a i nb e r u p ai n f o r ma s iy a n gd i u c a p k a n . P e r mo h o n a n h a r u s d i s e r t a i a l a s a n y a n g me mp e r k u a t p e r mo h o n a n . Penuntan dan Pemeriksaan di Sidang Pengadilan) U n d a n g u n d a n g t e n t a n gP e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me s e b a i k n y a j u g a me mu a tk e t e n t u a n me n g e n a iH u k u m A c a r aa t a uk e g i a t a np e y i d i k a n p e n u n t u t a nd a np e me r i k s a n a a nd i s i d a n gp e n g a d i l a nt e r h a d a pp e r k a r a p e r k a r a p e d a n a a n t e r o r i s me .d a np e me r i k s a a nd is i d a n gp e n g a d i l a ns e r t a p e l a k s a n a a np u t u s a ny a n gt e l a hme mp e r o l e hk e k u a t a nh u k u mt e t a pt e r h a d a p t i n d a kp i d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s me d i l a k u k a ns e s u a id e n g a nk e t e n t u a n p e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a n .d i k i r i mk a n . P e l a k s a n a a nP e mb l o k i r a nd a p a t d i k e c u a l i k a nt e r h a d a ps e b a g i a nd a r i H a r t a K e k a y a a n d a n D a n au n t u k p e me n u h a n k e b u t u h a n p o k o k . a t a uh a k i mb e r w e n a n gu n t u kme mi n t ak e t e r a n g a n d a r iP e n y e d i aJ a s aK e u a n g a n me n g e n a iD a n ad a r i :( a )o r a n gy a n gt e l a h d i l a p o r k a no l e hP P A T Kk e p a d ap e n y i d i k . p e n u n t u t u mu m. t i n d a k a n p e mb l o k i r a n . Hukum Acara (Penyidikan.L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me p e n g h a p u s a ni d e n t i t a s n y ad a r i d a f t a rt e r d u g aT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s . a t a ud i s i mp a ns e c a r ae l e k t r o n i kd e n g a na l a to p t i ka t a ua l a ty a n g 88 . a t a uh a k i m t i d a kb e r l a k uk e t e n t u a nu n d a n g u n d a n gy a n gme n g a t u r me n g e n a i r a h a s i a b a n k d a n k e r a h a s i a a n T r a n s a k s i k e u a n g a n l a i n n y a .P e r mo h o n a n p e n g e c u a l i a n d i s a mp a i k a n o l e ho r a n g a t a uK o r p o r a s i y a n g me mi l i k i k e p e n t i n g a n l a n g s u n g d e n g a n H a r t a K e k a y a a n d a n D a n a y a n g d i b l o k i r . P e n y i d i k a n .a t a u( c )t e r d a k w a . a n t a r al a i np e n g a t u r a n me n g e n a i p e r mi n t a a nk e t e r a n g a nd a r i p e n y e d i aj a s ak e u a n g a ny a n gme n g e s a mp i n g k a nd a r i k e t e n t u a nr a h a s i ab a n k b a n k . p e n y i d i k .p e n u n t u t a n .S e d a n g k a nu n t u k k e p e n t i n g a np e me r i k s a a nd a l a mp e r k a r aT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me . t e r h a d a pp e n y i d i k . p e n g a t u r a n me n g e n a ia l a tb u k t iy a n gd i p e r l u a s( d i t e r i ma a l a tb u k t i e l e k t r o n i k ) . D a l a m me mi n t ak e t e r a n g a n . Ma t e r i mu a t a nme n g e n a i H u k u mA c a r a y a n g d i a t u r d a p a t b e r s i f a t k h u s u s a t a us p e s i a l i s . d a n l a i n l a i n .k e c u a l id i t e n t u k a nl a i n .

P e me r i k s a a n P e r k a r a T i n d a k P i d a n a P e n d a n a a n T e r o r i s me d a n P e me r i k s a a nP e r k a r a P e r d a t a a t a s P e n g a j u a nK e b e r a t a nP e mu a t a nD a l a mD a f t a r T e r d u g a T e r o r i s d a n O r g a n i s a s i T e r o r i s Y a n g D i k e l u a r k a n O l e h P e me r i n t a h .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me s e r u p ao p t i k .b a n t u a nh u k u m t i mb a lb a l i kd a l a m ma s a l a hp i d a n a . N e g a r aa t a uy u r i s d i k s ia s i n gd a p a tme n y a mp a i k a np e r mi n t a a nk e p a d a P e me r i n t a hI n d o n e s i au n t u k me l a k u k a nP e mb l o k i r a na t a sD a n ad a nh a r t a k e k a y a a ny a n gd i d u g ab e r a d aa t a ub e r a d ad iI n d o n e s i a mi l i ko r a n ga t a u K o r p o r a s i y a n gi d e n t i t a s n y at e r c a n t u md a l a md a f t a rT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s y a n g d i k e l u a r k a n o l e h n e g a r a a t a u y u r i s d i k s i a s i n g .y a n g d i a j u k a n me l a l u i P e n g a d i l a n N e g e r i . P e me r i n t a hd a p a t me l a k u k a nk e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a l y a n gme l i p u t i e k s t r a d i s i .P P A T K . 89 .P e me r i k s a a nd is i d a n g p e n g a d i l a nt e r h a d a pT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me d a p a td i l a k u k a n me l a l u i a l a t k o mu n i k a s i a u d i ov i s u a l y a n gd i s e s u a i k a nd e n g a nk e b u t u h a nd a n k o n d i s i y a n g d i h a d a p i . D a l a m h a li n ip e me r i k s a a np e r k a r at e r h a d a pd u g a a nt i n d a kp i d a n a p e n d a n a a nt e r o r i s me y a n gd i t u d u h k a nk e p a d ay b sd a p a td i l a k u k a ns e c a r a s i mu l t a n d e n g a n p e me r i k s a a n p e r d a t a a t a s p e n g a j u a n k e b e r a t a n t e r s e b u t .d a n / a t a u k e r j a s a mal a i n n y as e s u a i k e t e n t u a ny a n gb e r l a k u . i n s t a n s ip e n e g a kh u k u m.( P a s a l3 6 ) . D a l a m r a n g k a me n c e g a hd a n me mb e r a n t a sT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a n T e r o r i s me . b a i kd i l a k u k a nb e r d a s a r k a n p e r j a n j i a n a t a u p r i n s i p r e s i p r o s i t a s . Kerja Sama D a l a m me n c e g a hd a nme mb e r a n t a s T i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me .d a n / a t a u( c )D o k u me n .R U U me n g a t u r me n g e n a i p e n g a j u a nk e b e r a t a ny a n g d i l a k u k a no l e ht e r d u g a t e r o r i s a t a uo r g a n i s a s i t e r o r i s y a n g ma s u kd a l a m d a f t a rP u b l i k a s iP e me r i n t a ht e r k a i th a lt e r s e b u t .d a nl e mb a g al a i ny a n gt e r k a i td e n g a n p e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a nT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me . b a i k d a l a ml i n g k u p n a s i o n a l ma u p u n i n t e r n a s i o n a l . Me me n u h ia z a sp r a d u g at a k b e r s a l a h . d a p a t me l a k u k a n k e r j a s a ma .

d e n g a nme n g a k o mo d i r p e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a nt e r k a i t . P J K .P J K w a j i b me n y a mp a i k a nl a p o r a nT r a n s a k s i K e u a n g a nMe n c u r i g a k a nT e r k a i t P e n d a n a a nT e r o r i s mek e p a d aP P A T Kp a l i n g l a ma3( t i g a )h a r i k e r j as e t e l a hP J K me n g e t a h u i a d a n y aT r a n s a k s i K e u a n g a n Me n c u r i g a k a nT e r k a i t P e n d a n a a nT e r o r i s me t e r s e b u t .D a l a m h a lL P P me n e mu k a na d a n y aT r a n s a k s iK e u a n g a n Me n c u r i g a k a nT e r k a i tP e n d a n a a nT e r o r i s me y a n gt i d a kd i l a p o r k a no l e h P e n y e d i a J a s a K e u a n g a n k e p a d a P P A T K . 0 0( s a t u mi l i a rr u p i a h ) . 3 . a l a m r a n g k a p e n g a w a s a nk e p a t u h a nP J Ka t a sk e w a j i b a np e l a p o r a nT r a n s a k s iK e u a n g a n Me n c u r i g a k a nT e r k a i tP e n d a n a a nT e r o r i s med i l a k u k a no l e hP P A T Kd a nL P P y a n gb e r w e n a n g . 4. d a np e g a w a i n y a t i d a k d a p a t d i t u n t u t . 0 0 0 . dan D a l a m h a lP e l a p o r a n . P J Ky a n gd e n g a ns e n g a j a me l a n g g a rk e t e n t u a ns e b a g a i ma n ad i ma k s u dd i k e n a k a nd e n d aa d mi n i s t r a t i f p a l i n gb a n y a kR p 1 . Ketentuan sanksi. K e c u a l i t e r d a p a t u n s u r p e n y a l a h g u n a a nw e w e n a n g . 0 0 0 . 41 90 .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me Perlindungan Hukum K e c u a l i t e r d a p a t u n s u r p e n y a l a h g u n a a nw e w e n a n g . p e j a b a t .P e n g e n a a ns a n k s i 4 1 D a d mi n i s t r a t i fs e b a g a i ma n ad i ma k s u dd i l a k u k a no l e hL P P . P J Kd a nS e t i a pO r a n g y a n gb e r w e n a n gme l a k u k a nP e mb l o k i r a nS e r t a me r t at i d a kd a p a t d i t u n t u t b a i k s e c a r ap e r d a t ama u p u np i d a n ad a l a mp e l a k s a n a a np e mb l o k i r a nb e r d a s a r k a n k e t e n t u a n d a l a mU n d a n g U n d a n g i n i . 0 0 0 . Ketentun Peralihan B a bt e n t a n g k e t e n t u a np e r a l i h a ni n i d i t e t a p k a nu n t u k me n g a n t i s i p a s i t e r j a d i n y a k e k o s o n g a nh u k u md a l a mp e n c e g a h a np e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me . L P P t e r h a d a p P J Ks e g e r a me n y a mp a i k a n t e mu a nt e r s e b u tk e p a d aP P A T K . a g a r d a p a t l e b i h Penerimaan hasil denda administratif sebagaimana dimaksud dinyatakan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak atau penerimaan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. b a i ks e c a r a p e r d a t a ma u p u np i d a n a a t a s p e l a k s a n a a nk e w a j i b a n p e l a p o r a n T r a n s a k s i K e u a n g a n Me n c u r i g a k a n T e r k a i t P e n d a n a a n T e r o r i s me . P e l a k s a n a a nk e w a j i b a np e l a p o r a nT r a n s a k s i K e u a n g a nMe n c u r i g a k a nT e r k a i t P e n d a n a a nT e r o r i s meo l e hP J Kd i k e c u a l i k a n d a r i k e t e n t u a nk e r a h a s i a a ny a n gb e r l a k ub a g i P J Ky a n gb e r s a n g k u t a n .

L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me e f e k t i fd a l a m p e n a n g a n a np e n d a n a a nt e r o r i s me y a n gb e l u m d i a t u rd a l a m p e r u n d a n g u n d a n g a n s e b e l u mn y a . 91 .

d a n L e mb a g a P e ma s y a r a k a t a n . K e p a b e a n a n . 2 . s e h i n g g a me mb u t u h k a n a d a n y a k e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a lu n t u kp e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a n n y a . P e n g a d i l a n . K e p o l i s i a n .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me BAB VI PENUTUP A. Me k a n i s me k e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a ld i p e r k u a t me n g i n g a ts i f a td a n h a k i k a tp e n d a n a a nt e r o r i s mey a n g me n g i k u t ih a k i k a tk e b e r a d a a n n y a y a n g t r a n s n a s i o n a l . d a n p e r a mp a s a n a s e tt e r o r i s . B. b a i k y a n g t e l a hd i t e n t u k a n o l e hP B B . p e n e g a k a nh u k u m. S e b a g a i p e r a n g k a t p e n d u k u n g p e l a k s a n a a n p e n g a t u r a n t e n t a n g p e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me . P a d a h a k i k a t n y a p e mb e r a n t a s a nt e r o r i s me me me r l u k a ns e b u a hl a n d a s a n h u k u my a n gk u a t d a nt e p a t . 3 . r e g u l a t o rs e k t o rf i n a n s i a l( B a n kS e n t r a l ) .s e r t a k e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a ld a l a m p e mb e r a n t a s a n p e n d a n a a n t e r o r i s me . p e n y i t a a n . p e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a ny a n gp r o p o r s i o n a l . Rekomendasi 1. 4 . y a n gme l i p u t i p e mb e k u a n .p e r l u me n y e l a r a s k a nd e n g a n p e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a nt e r k a i t a n t a r al a i nk e t e n t u a nme n g e n a i 92 . U n t u k d a p a t me w u j u d k a np e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a ny a n g e f e k t i f d i b i d a n ga n t ip e n d a n a a nt e r o r i s mema k ad i p e r l u k a nk o mi t me np o l i t i k . d a n k e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a l .l e mb a g a l e mb a g ap e n g a w a sd a n p e n g a t u rme n g e n a icharity. i n t e l i j e nd i b i d a n g k e u a n g a ny a n gk u a t . o p e r a s i d a n p e n d a n a a n t e r o r i s me . p e n g a w a s a ns e k t o rk e u a n g a n . K e b i j a k a nn a s i o n a l d i b i d a n g p e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me h a r u s me mi l i k i v i s i h o l i s t i k d a nme me n u h i s t a n d a r d . K e j a k s a a n .K e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a ly a n gd i k u a t k a nt e r s e b u ta n t a r al a i nk e r j a s a ma a n t a r Financial Intellegence Units ( F I U s ) . F A T Fma u p u nl e mb a g ad a no r g a n i s a s i i n t e r n a s i o n a l l a i ny a n g k o mp e t e nd i b i d a n gp e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a no r g a n i s a s i . Kesimpulan 1 .

me n g i n g a tu p a y ap e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me d iI n d o n e s i a d i h a r a p k a ns e ma k i ne f e k t i f d a ne f i s i e n . 93 . k h u s u s n y ad a l a m me n j e r a t p a r a p e l a k u t e r o r i s me y a n g h e n d a k me l a k u k a n a k s i n y a d i w i l a y a h N K R I .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me t i n d a kp i d a n ap e n c u c i a nu a n gs e r t ap e r a t u r a ny a n gd i k e l u a r k a no l e h ma s i n g ma s i n g l e mb a g a p e n g a w a s d a n p e n g a t u r . 2.

94 . R o n a l d . h t ml . J a n e& We i s s . i d / k e g i a t a n u mu m/ 1 1 0 8 s o s i a l i s a s i r u u t e n t a n g p e n c e g a h a n d a n p e mb e r a n t a s a n t i n d a k p i d a n a p e n d a n a a n t e r o r i s me . Z a i n a l . d j p p . d i a k s e s t a n g g a l 1 0D e s e mb e r 2 0 1 1 . C a l i f o r n i a : S a g e P u b l i c a t i o n . I n d i a n a U n i v e r s i t y P r e s s . N e wY o r k : W. 8 Mb e r a n t a s t e r o r i s ” . 1 9 8 4 . t a n g g a l 3 0 A g u s t u s 2 0 1 1 . Harian Sumut Pos. . Me t h a p o r . 2 0 0 3 .com. 2 0 0 9 . d a l a mN o r ma nK . D w o r k i n . T h o ma s G e o r g e . t a n g g a l 4 Me i 2 0 1 1 . H u s e i n . J a k a r t a : P P A T K . H a r i a n Wa s p a d a . D a n u r i . 2 0 0 8 . “ P e n g a n t a r H u k u mP i d a n a I n t e r n a s i o n a l ” B a n d u n g R e f i k a A d i t a ma . 2 0 0 4 . L i n c o l n . ” K a p o l r i : P e n d a n a a nT e r o r i s G u n a k a nJ a s a P h o n e B a n k i n g ” .A n s y a a d . I n c . W. . A t ma s a s mi t a . . H i a r i e j . O . Mb a i . h a r i a n s u mu t p o s . Terrorist Financing Typology Report. C . h t t p : / / w w w . E d d y . “ T h e D a n c e o f Q u a l i t a t i v e R e s e a r c hD e s i g n . R o ml i . h t t p : / / w w w . 1 9 9 4 . American Law. Handbook of Qualitative Research. “ S o s i a l i s a s i R a n c a n g a nU n d a n g U n d a n g t e n t a n g P e n c e g a h a nd a nP e mb e r a n t a s a n T i n d a k P i d a n a P e n d a n a a n T e r o r i s me ” .H u s e i n . 2 0 0 6 . A l i r a nD a n aT e r o r i s meT e r u sMe n g a l i rd i B a n k ” . detik Bandung. . “ P e n g a n t a r H u k u mP i d a n a I n t e r n a s i o n a l ” J a k a r t a A i r l a n g g a . B o u l d e n . g o . F r i e d ma n .“ K a t aP e n g a n t a r ”d a l a m T i m P e n y u s u n . “ D a n a T e r o r i s D i t r a n s f e r d a r i B a n k B e s a r ” . ( E d i t o r ) “ T e r r o r i s mA n dT h eU NB e f o r ea n d A f t e r S e p t e mb e r 1 1 . t a n g g a l 3 S e p t e mb e r 2 0 0 9 . U n i t e d S t a t e s o f A me r i c a . F A T F .Tempo Interaktif.L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me PUSTAKA A b i d i n . L a w r e n c e M. d e p k u mh a m. Sistem dan Mekanisme Penanganan Tindak Pidana Pencucian Uang di Negara Lain (Laporan Pelaksanaan Tugas 2003-2006). 1 9 7 3 . B a mb a n g H e n d a r s o . d i a k s e s t a n g g a l 1 2 D e s e mb e r 2 0 1 1 . ” K a r e n aL a l a i . J a n e s i c k . Me t h o d o l o g y a n dMe a n i n g ” . D i r e k t o r a t J e n d e r a l P e r a t u r a nP e r u n d a n g u n d a n g a nK e me n t e r i a nH u k u md a nH A MR I . ( e d ) . N o r t o n &C o . c o m/ a r s i p / ? p = 3 6 5 7 6 . Legal Research. detiknews. D a e d a l u s : S p r i n g . V a l e r i e J . ” D i a n g g a r k a n R p 2 5 . D e n z i na n dY v o n n e S .“ P e n d a n a a nt e r o r i sI n d o n e s i aT a kL a g id a r iA l Q a i d a h ” . t a n g g a l 2 3 Ma r e t 2 0 1 0 .

Pengantar Penelitian Hukum.L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me P r a s e t y a O n l i n e . T i mP e n y u s u n . ykai. G r a me d i a P u s t a k a J a k a r t a . h t t p : / / e c 2 1 7 5 4 1 1 7 7 3 6 . “ L a p o r a nP e l a k s a n a a n Counter Financing of Terrorism Study Tour” . d i a k s e s t a n g g a l 1 2 d e s e mb e r 2 0 1 1 . “ S e mi n a r I n t e r n a s i o n a l : P e n c e g a h a nt e r o r i s me P e r l uK e r j a s a ma S e mu a N e g a r a ” .h t t p : / / w w w .net.“ Me me r a n g iP e n d a n a a n T e r o r i s me ” . y k a i .t a n g g a l2 D e s e mb e r2 0 1 1 . h t t p : / / w w w . J a n . T a n u j a y a . 2 5 2 9 S e p t e mb e r 2 0 1 1 . . t a n g g a l 1 2 D e s e mb e r 2 0 1 1 . Tempo Interaktif. a ma z o n a w s . K o me n t a ra t a sP a s a l p a s a lT e r p e n t i n gd a r iK i t a b U n d a n g U n d a n gH u k u mP i d a n aB e l a n d ad a nP a d a n a n n y ad a l a mK i t a bU n d a n g U n d a n gH u k u mP i d a n aI n d o n e s i a .“ H e n t i k a nP e n d a n a a nJ a r i n g a nT e r o r i sd iI n d o n e s i aS e k a r a n g ! ” . 2 0 0 3 . h t m.p h p ? o p t i o n = c o m_ c o n t e n t & v i e w = a r t i c l e & i d = 8 5 7 : u p a y a p e n c e g a h a n d a n p e mb e r a n t a s a n t p p u d a n p e n d a n a a n t e r o r i s me & c a t i d = 1 1 7 : t e r k i n i & I t e mi d = 1 3 6 .“ P e n d a n a a nt e r o r i sI n d o n e s i aT a kL a g i d a r i A l Q a i d a h ” . Wa w a n . d i a k s e s 95 . J a k a r t a: U I P r e s s . 1 9 8 6 . d i t e r j e ma h k a no l e hP a s c a l Mo e l j o n o . C e t a k a nK e t i g a . n e t / i n d e x . S o e k a n t o . P u r w a n t o . d i a k s e s 2 6 D e s e mb e r 2 0 1 1 . R e mme l i n k . S H . c o mp u t e . S o e r j o n o . a p s o u t h e a s t 1 . c o m/ k o mp a s c e t a k / 0 3 0 9 / 2 9 / o p i n i / 5 8 6 7 4 1 . k o mp a s .J o h n . “ H u k u mP i d a n a . L L . S y d n e y A u s t r a l a . M. R i j a n t o . c o m. t a n g g a l 2 3 J u n i 2 0 1 1 . t a n g g a l 4 Me i 2 0 1 1 .

. S H . M. ( D i s k u s i P u b l i k d i H o t e l S o f y a n B e t a w i J a k a r t a ) . B A R D AN A WA WI A R I E F . P O WE RP O I N TP R O F . D . MA K A L A HD A NP O WE RP O I N TP R O F .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me LAMPIRAN I . . P E N J E L A S A NR U UP P T P P T I I I . L L . P h . S H ( D i s k u s i P u b l i k d i H o t e l P a n d a n a r a n S e ma r a n g J a w a T e n g a h ) I V . H I K MA H A N T OY U WO N O . R U UT E N T A N GP E N C E G A H A ND A NP E MB E R A N T A S A NT I N D A KP I D A N A P E N D A N A A NT E R O R I S ME I I . 96 . D R .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful