P. 1
na_2012_-_6(1)

na_2012_-_6(1)

|Views: 85|Likes:
Published by ratmawan

More info:

Published by: ratmawan on Apr 14, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/30/2013

pdf

text

original

Sections

  • A. Latar Belakang
  • B. Identifikasi Masalah
  • C. Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah Akademik
  • A. Kajian Teoritis
  • B. Kajian Terhadap Asas/Prinsip Yang Terkait Dengan Penyusunan Norma
  • A. Kondisi Hukum Yang Ada
  • B. Keterkaitan dengan Peraturan Perundang-undangan lain;
  • C. Harmonisasi Secara Vertikal Dan Horizontal;
  • A. Landasan Filosofis
  • B. Landasan Sosiologis
  • C. Landasan Yuridis
  • A. Sasaran Yang Akan diwujudkan, Arah dan Jangkauan Pengaturan
  • B. Ruang Lingkup Materi Muatan
  • Pencegahan dan Pengawasan Kepatuhan
  • Pemblokiran dan Cara Penanganannya
  • Pemblokiran Secara Serta Merta (Freezing without delay)
  • Perlindungan Hukum
  • 3. Ketentuan sanksi; dan

Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme

2012

LAPORAN AKHIR TIM

NASKAH AKADEMIK RANCANGAN UNDANG-UNDANG
TENTANG

PEMBERANTASAN PENDANAAN TERORISME

Disusun oleh Tim, Di Ketuai oleh :

DR. Yunus Husein, SH.,LL.M

Pusat Perencanaan Pembangunan Hukum Nasional

BADAN PEMBINAAN HUKUM NASIONAL KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA RI
Jakarta, 2012

Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM RI, Tahun 2012

Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT, karena Rahmat-Nya bahwa Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme (RUU PPTPPT) ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme (RUU PPTPPT) ini disusun oleh suatu Tim yang terdiri dari para anggota yang mewakili beberapa kepentingan yang berkaitan dengan pendanaan terorisme seperti Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Kepolisian, Bank Indonesia, Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan serta Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum (BPHN) dan Hak Asasi Manusia RI. Naskah Akademik ini telah disusun dan diawali dengan penelitian yang dilakukan oleh PPATK mengenai perlunya pengaturan di bidang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme. Penelitian tersebut dilengkapi, disempurnakan dan dikembangkan dalam proses penyusunan naskah akademik yang responsif dan aspiratif. Naskah Akademik ini merupakan penjelasan teoritis dan

empiris mengenai maksud dan tujuan pembentukan UU PPTPPT. Keberadaan Naskah Akademik dalam sebuah undang-undang merupakan keharusan menurut UndangUndang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Tim telah bekerja keras dan berusaha secara maksimal untuk menghasilkan Naskah Akademik RUU PPTPPT yang komprehensif dan reliable. Penyusunan Naskah Akedemik RUU PPTPPT juga ini telah mengakomodir masukan dari para pihak melalui kegiatan yang diselenggarakan dalam diskusi publik, forum group discussion (fgd) yang melibatkan pakar, akademisi, praktisi dan instansi terkait, serta diskusi dalam Rapat Tim Penyusun. Tim Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Kepala BPHN yang telah mempercayakan Tim untuk menyusun Naskah Akademik RUU PPTPPT dan juga kepada Prof. Dr. Barda Nawawi Arief dan Prof. Hikmahanto Yuwana, PhD, yang telah meluangkan waktu tenaga, dan pikiran menjadi nara sumber, serta berbagai pihak yang telah membantu penyusunan Naskah Akademik ini.

ii

Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Tim Penyusun berharap Naskah Akademik ini dapat dipedomani dalam pembahasan dan pengesahan RUU PPTPPT yang saat ini sedang dibahas oleh DPR dan Pemerintah.

Jakarta, Oktober

2012,

Ketua Tim Penyusun NA RUU PPTPPT.

Dr. Yunus Husein, SH.,LL.M

iii

..................................... Identifikasi Masalah .............. C... serta permasahan yang dihadapi masyarakat................... 9 B.................... B.......... LANDASAN FILOSOFIS......................... B........... D................................ ii iv BAB I PENDAHULUAN A................................................. C.............. 1 5 6 6 D......................................................................... ......................... Kajian terhadap praktik penyelenggaraan........................................................ EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT A.... Kondisi Hukum yangada ....... 64 67 68 69 BAB IV...................................................................................... Tujuan dan Kegunaan Penyusunan Naskah Akademik .................................................. Harmonisasi Secara Vertikal dan Horizontal ....... BAB II.... Keterkaitan dengan peraturan perundang-undangan lain ....... C......... terhadap aspek kehidupan masyarakat dan dampaknya terhadap keuangan negara.. Landasan Yuridis..................................................................................... Landasan Filosofis........ Latar Belakang..................................................................................................................................... 61 47 BAB III........................ kondisi yang ada.............................................................................................. 70 70 72 iv .................... Metode ..............Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .......................................................... SOSIOLOGIS DAN YURIDIS A............................ D.......... DAFTAR ISI ................................................................................................. KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS A................................ B... Kajian terhadap implikasi penerapan sistem baru yang akan diatur dalam UU.............................................. Kajian terhadap Asas/prinsip yang terkait dengan penyusunan norma 42 C.. Status Peraturan Perundang-undangan yang ada ......................... Landasan Sosiologis......................................... Kajian Teoritis ....................................................................

................ SH IV....... dan …………………………………………………………… Ketentuan Peralihan………………………………………………………………... Arah dan Jangkauan Pengaturan ........Pemblokiran Secara Serta Merta (Freezing Without Delay) ......... Ketentuan Umum......... B............... BAB VI......D.... ............... JANGKAUAN................. B............... Sasaran Yang Akan diwujudkan....... 75 79 80 81 81 82 84 85 85 86 88 89 90 90 90 3... ........ II......M..... Penjelasan RUU PPTPPT III.... 1....LL........ Makalah dan Power Point Prof......... .......Pencegahan dan Pengawasan Kepatutan…………………………...... Ruang Lingkup Materi Muatan..Kesimpulan ... PENUTUP A.................................. Materi Muatan yang diatur…………………………………………………….......... 4...........Pemblokiran dan Cara Penanganannya…………………………… .....Kerjasama………………………………………………………………………… . ...... Power Point Prof.Ph.................. ............................... Hikmahanto Yuwono.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme BAB V....................Perlindungan Hukum………………………………………………………..Pemblokiran Serta Merta Berdasarkan Publikasi InterNasional…………………………………………………………………………......................... SH.DR.Daftar Terduga Teroris dan Organ Teroris Yang Dikeluarkan oleh Pemerintah ……………………………………………………......Hukum Acara (Penyidikan...... 94 Lampiran: I......Ruang Lingkup………………………………………………………………… ... ARAH PENGATURAN DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN A......Rekomendasi........ .. Ketentuan Sanksi.. 92 92 DAFTAR PUSTAKA ......... Memuat Pengertian dan Frase…………………...... 2............ Barda Nawawi Arief............... Penuntutan dan Pemeriksaan di Sidang Pengadilan)…………………………………………………………...................... v .......... RUU tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme...

dan memberantas tindak pidana terorisme. Pemerintah Republik Indonesia telah mengundangkan Undang-Undang Nomor 37 Tahun Penjelasan atas UU No. Meluasnya aksi teror yang didukung oleh pendanaan yang bersifat lintas negara mengakibatkan pemberantasannya membutuhkan kerja sama internasional. menanggulangi. Masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia saat ini sedang dihadapkan pada keadaan yang sangat mengkhawatirkan akibat maraknya aksi teror. perlu ditingkatkan pencegahan terhadap suatu hal yang mengganggu stabilitas nasional. perdamaian abadi. Dalam rangka mencegah. Latar Belakang Cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum. berwenang untuk membuat perjanjian dengan negara lain. Sesuai dengan ketentuan Pasal 11 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Tahun 2012 . 1 Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM RI. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. tenteram. Pemerintah Republik Indonesia telah mengundangkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi Undang-Undang serta Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. dan dinamis.1 Untuk mencapai cita-cita tersebut dan menjaga kelangsungan pembangunan nasional dalam suasana aman. 1999 (Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme. 1999). baik dalam lingkungan nasional maupun internasional. Presiden Republik Indonesia dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. 6 Tahun 2006 tentang Pengesahan Internastional Convention the Suppression of the Financing of Terrorisme. dan keadilan sosial. dan sehubungan dengan politik luar negeri yang bebas aktif.Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 2012 BAB I PENDAHULUAN A.

Upaya pemberantasan tindak pidana terorisme dengan cara konvensional (follow the suspect) yakni dengan menghukum para pelaku teror. Namun upaya pemerintah tersebut hanya terbatas pada upaya penangkapan pelaku dan kurang memberikan perhatian terhadap unsur pendanaan yang merupakan faktor utama dalam setiap aksi teror. bangsa Indonesia bertekad untuk memberantas tindak pidana pendanaan terorisme melalui kerja sama bilateral. 1999 (Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme. Dengan adanya landasan hukum tersebut.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 1999 tentang Hubungan Luar Negeri dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Pertimbangan Indonesia untuk menjadi Pihak pada International Convention for the Suppression the Financing of Terrorism. Upaya pemberantasan dalam hal ini tindak pidana terorisme yang dilakukan pemerintah telah cukup memuaskan. Sehubungan dengan hal tersebut dan sesuai dengan komitmen Pemerintah dan Rakyat Indonesia untuk senantiasa aktif mengambil bagian dalam setiap upaya pemberantasan segala bentuk tindak pidana. dan aparat penegak hukum guna mendekteksi adanya suatu aliran dana yang digunakan atau patut diduga 2 . upaya penanggulangan tindak pidana terorisme dinyakini tidak akan optimal tanpa adanya pencegahan dan pemberantasan terhadap pendanaan terorisme. Pemerintah Republik Indonesia dapat membuat perjanjian. terutama tindak pidana terorisme. baik yang bersifat nasional maupun transnasional. Penyedia Jasa Keuangan. Unsur pendanaan merupakan faktor utama dalam setiap aksi terorisme sehingga upaya penanggulangan tindak pidana terorisme diyakini tidak akan berhasil seperti yang diharapkan tanpa pemberantasan pendanaannya. baik bilateral maupun multilateral. Terorisme merupakan kejahatan luar biasa dan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia. yaitu hak hidup. dan internasional. Upaya lain yang perlu dilakukan untuk mencegah dan memberantas tindak pidana terorisme adalah dengan menerapkan pendekatan follow the money yang melibatkan PPATK. dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme. 1999). penanggulangan. khususnya yang berkaitan dengan pencegahan. Oleh karena itu. ternyata tidak cukup maksimal untuk mencegah dan memberantas tindak pidana terorisme. terutama hak yang paling dasar. regional.

RUU tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme merupakan upaya untuk menindaklanjuti ratifikasi Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme. Pada prinsipnya undang-undang ratifikasi atas suatu konvensi belum sepenuhnya dapat dilaksanakan (in-operative) atau memerlukan pengaturan lebih lanjut. Pemutusan mata rantai pendanaan terorisme tersebut tentunya membutuhkan landasan hukum yang jelas agar dapat dilaksanakan secara benar dan dapat pula dipertanggungjawabkan secara hukum. Upaya penyelarasan tersebut dilakukan melalui penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme. akan berlaku sebagai hukum (positif) nasional Indonesia. karena suatu kegiatan terorisme tidak mungkin dapat dilakukan tanpa adanya pelaku teror yang berperan sebagai penyandang dana untuk kegiatan terorisme tersebut. 1999 (International Convention for The Suppression of The Financing of Terrorism. Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pendanaan terorisme belum mengatur pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme secara memadai dan komprehensif. maka Indonesia juga wajib untuk membuat atau menyelaraskan peraturan perundangundangan terkait pendanaan terorisme sehingga sejalan dengan ketentuanketentuan yang diatur dalam konvensi tersebut. yang secara yuridis formal sejajar kedudukannya dengan undang-undang nasional lainnya. Dalam hal RUU mengenai Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme ini telah disahkan. juga dipicu oleh adanya 9 Rekomendasi FATF. 6 Tahun 2006. Perlunya pengaturan tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme dalam sebuah perundang-undangan tersendiri.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme digunakan untuk pendanaan kegiatan terorisme. Dengan telah diratifikasinya Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengesahan International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism. Khusus atau ini Nine Special Recommendation yang dikeluarkan Rekomendasi merupakan rekomendasi khusus yang digunakan sebagai standar internasional untuk 3 . 1999) dengan Undang-undang No. 1999.

yang mengatur tentang tindak pidana pendanaan terorisme. Dengan adanya Nine Special Recommendation FATF. (2) mengetahui dan mengatur prosedur dan mekanisme yang jelas dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana terorisme melalui pendekatan follow the money namun tidak menghambat kegiatan pengelola jasa keuangan. maka diperlukan Undang-Undang tersendiri yang mengatur mengenai Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme. sosial budaya. Rekomendasi tersebut dikeluarkan FATF pada tahun 1991 dan dimuat dalam laporan yang berisikan 40 Rekomendasi yang memberikan panduan yang komprehensif untuk memerangi tindak pidana pencucian uang. dan (iii) menunjukkan Pada dasarnya Pengaturan tentang Pemberantasan Pendanaan Terorisme ini dimaksudkan untuk membentuk suatu aturan hukum yang baku dan lengkap mengenai Pemberantasan Pendanaan Terorisme sebagai salah satu cara untuk mewujudkan tujuan nasional. antara lain untuk: (1) mengatasi celah-celah yang ada dalam peraturan yang berkaitan dengan tindak pidana pendanaan terorisme sehingga menjamin kepastian hukum dan ketertiban dalam masyarakat. (ii) memutus alur pendanaan terorisme sekaligus mencegah terjadinya kembali serangan atau aksi-aksi terorisme di seluruh tanah air. dan disempurnakan pada tahun 2004 menjadi 9 Rekomendasi Khusus. pelaporan dan pengawasan kepatuhan. serta kerjasama baik nasional maupun internasional dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme. adalah (i) ikut memelihara dan menjaga stabilitas ekonomi. Undang-Undang ini diharapkan akan mengatur secara komprehensif mengenai asas. dan keamanan dan ketertiban nasional. terciptanya penegakan hukum dan ketertiban yang konsisten dan berkesinambungan. Dipicu oleh adanya peristiwa pemboman gedung WTC di AS yang terjadi pada tanggal 11 September 2001.2 Pengaturan tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme disusun dengan tujuan. kemudian FATF mengeluarkan pedoman tambahan untuk memerangi pendanaan terorisme yang kemudian dikenal dengan 8 Rekomendasi Khusus. kriminalisasi tindak pindana pendanaan terorisme dan tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana pendanaan terorisme. penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan. serta banyaknya kelemahan yang dimiliki oleh beberapa peraturan yang telah ada. mekanisme pemblokiran.3 Sasaran utama tersebut. penyidikan. 3 2 4 . dan (3) memenuhi Rekomendasi Financial Action Task Force on Money Laundering (FATF) khususnya Nine Special Recommendations. Dalam perkembangannya 9 rekomendasi khusus ini telah dilebur dalam 14 rekomendasi FATF.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme menghalangi akses bagi para teroris dan pendukungnya memasuki sistem keuangan.

Apakah tindak pidana pendanaan terorisme dikaitkan dengan adanya aksi terorisme tertentu?. Bagaimanakah bentuk pelanggaran bagi setiap orang yang menyediakan dana untuk seseorang atau badan hukum yang terdapat dalam daftar teroris. Bagaimana upaya dalam rangka memutus rantai pendanaan terorisme dan mitigasinya 5. B. 4. Bagaimana pengaturan pendanaan atas terorisme perorangan dan penyediaan harta kekayaan untuk organisasi terorisme. 3. Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran tersebut. Dengan adanya Naskah Akademik Rancangan Undang-undang ini nantinya. atau berkonstribusi dalam pelaksanaan anti terorisme yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan tujuan untuk membantu kelancaran aksi terorisme. 5 . Bagaimanakah pengaturan pemidanaan untuk setiap orang yang merencanakan dan/atau menggerakkan orang lain untuk melakukan aksi terorisme.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme komitmen Indonesia yang kuat dan serius dalam pencegahan dan pemberantasan pendanaan terorisme. maka permasalahan pokok dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme ini adalah sebagai berikut: 1. maka diharapkan upaya pemberantasan pendanaan terorisme di Indonesia menjadi semakin efektif dan efisien. 2. Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sesuai dengan tugas dan fungsinya dalam pembinaan hukum membentuk tim untuk menyusunan Naskah Akademik RUU tentang Pemberantasan Pendanaan Terorisme dengan melakukan pengkajian dan mempelajari pengaturan serta pengalaman negara lain dalam menangani permasalahan tindak pidana pendanaan terorisme. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian dan latar belakang diatas. khususnya dalam menjerat para pelaku terorisme yang hendak melakukan aksinya di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Janesick. the whole picture and begin with asearch for understanding of the whole”. hal. 6-8. yang disajikan dalam bab-bab yang dapat merupakan sistematika suatu rancangan undang-undang. Norton & Co. (New York: W. adalah : 1. Menurut Valerie J. Dengan memakai konsep perbandingan kita dapat mengetahui apa kelebihan dan kekurangan FIU negara lain dibandingkan dengan eksistensi PPATK. American Law. Denzin and Yvonne S. Dalam ilmu pengetahuan terdapat tiga konsep pokok yaitu klasifikasi. “The Dance of Qualitative Research Design. Friedman. Lebih jauh lagi. Perbedaan ketiga konsep tersebut hanya terletak pada cakupan informasi yang tersedia atas suatu objek atau fenomena apapun yang sedang diamati. konsep perbandingan (komparatif) adalah konsep yang lebih efektif memberikan informasi karena komparatif memiliki atau terikat oleh suatu struktur hubungan logis yang relatif kompleks dan rumit. dalam Norman K. Metode yuridis normatif 4 yang bersifat kualitatif. “Qualitative design is holistic. 1994). 212. 1984). Janesick. Handbook of Qualitative Research. Sistem dan Mekanisme Penanganan Tindak Pidana Pencucian Uang di Negara Lain (Laporan Pelaksanaan Tugas 2003-2006). (ed). 2006). D. Lincoln.W. Lihat Lawrence M. Methapor. Sedangkan kegunaan penyusunan Naskah Akademik RUU ini adalah merupakan masukan dan pemikiran dalam penyusunan Rancangan UndangUndang tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme dan/atau sebagai acuan atau referensi penyusunan dan pembahasan RUU tersebut. yaitu berupa naskah ilmiah yang memuat gagasan tentang perlunya materi-materi hukum yang bersangkutan diatur dengan segala aspek yang terkait. hal. Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah Akademik Tujuan Naskah Akademik RUU ini adalah untuk menyusun Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Pemberantasan Pendanaan Terorisme. (California: Sage Publication. It lokks at the langer picture. Di antara ketiga konsep dimaksud.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme C. keputusan pengadilan dan norma-norma yang berlaku dan mengikat masyarakat atau juga menyangkut kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Methodology and Meaning”. pengukuran (kuantitatif). Metode Metode yang digunakan dalam penyusunan Naskah Akademik RUU... Inc. dengan cara “menggali” pengalaman pemikiran yang berkembang mengenai sistem dan mekanisme penanganan TPPU di negara lain itu kita bisa memahami mengapa dan bagaimana FIU negara lain lebih maju dan efektif jika dibandingkan dengan FIU kita. Yunus Husein. konsep perbandingan berperan sebagai perantara antara konsep klasifikasi dan pengukuran. dilengkapi dengan referensi yang memuat konsepsi. iii. Lihar Valerie J. “Kata Pengantar” dalam Tim Penyusun. Dalam hal ini.5 Penyusunan Naskah Akademik RUU ini juga didukung oleh studi perbandingan hukum6 dengan mengambil bahan hukum sekunder yang tidak hanya dari bahan pustaka Yuridis normatif artinya penelitian mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan. 6 5 4 6 . dan perbandingan. hal. (Jakarta: PPATK. landasan dan prinsip yang digunakan serta pemikiran tentang norma-normanya.

p) Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 2004. b) Undang-Undang RI Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengesahan International Convention For The Suppression Of The Financing Of Terrorism. j) United Nations Convention Against Transnational Organized Crime. g) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1999. h) International Convention for The Suppression of The Financing of Terrorism. 2004. tetapi juga bahan-bahan hukum primer seperti peraturan perundang-undangan nasional dan ketentuan-ketentuan internasional yang berlaku dan terkait dengan tindak pidana pendanaan terorisme. 1999. 1997. f) Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Transnational Organized Crime. 2000. e) Undang-Undang RI Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pengesahan Treaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters. i) International Convention for the Suppression of Terrorist Bombing. n) Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1267. q) Resolusi Dewan Keamanan PBB No. d) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. 1333. o) Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 1997. l) FATF 40+9 recommendations. k) Treaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters. 1425. 1373. c) Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Pengesahan International Convention for the Suppression of Terrorist Bombing. 2000. 7 . yaitu antara lain: a) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Indonesia maupun asing. m) Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1372.

dd) KUHP Australia. 1971. cc) Combating the Financing of People Smuggling and other Measure Act (Australia). w) International Convention against the Taking of Hostages. t) Convention for the Suppression of Unlawful Seizure of Aircraft. 1973. z) Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Maritime Navigation. 1979. ee) Freezing of Terrorist Asset (Australia) ff) Charter of the United Nations Act 1945. x) Convention for the Suppression of Unlawful Acts at Airports Serving International Civil Aviation. 1970. praktisi. supplementary to the Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation. 1988. akademisi. s) Resolusi Dewan Keamanan PBB No. penguasa. 1988. pengurus organisasi dan lain sebagainya sebagai narasumber melalui penyelenggaraan forum dialog. bb) Anti Money Laundering and Counter-Terrorism Financing Act 2006 (Australia). 1988/1989.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme r) Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 8 . 1904. u) Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation. aa) Protocol for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of /Fixed Platforms located on the Continental Shelf. 1988. forum komunikasi dan penelitian lapangan untuk mendapatkan data faktor nonhukum yang terkait terhadap peraturan perundang-undangan yang diteliti. v) Convention on the Prevention and Punishment of Crimes against Internationally Protected Persons. Metode empiris atau sosio-legal adalah penelitian yang diawali dengan penelitian normatif (menelaah) peraturan perundang-undangan. y) Protocol for the Suppression of Unlawful Acts of Violence at Airports Serving International Civil Aviation 1988. including Diplomatic Agents. 2. yang dilanjutkan dengan melibatkan ahli/pakar dari kalangan teroritisi.

2003). Criminalization of the proscribed conduct (kriminalisasi atas tindakantindakan tertentu). 7 Romli Atmasasmita. 3. hal. 2. mencegah. sebagai berikut: 1. Implicit recognition of the penal nature of the act by establishing a duty to prohibit. sekalipun di dalamnya terkandung salah satu dari kesepuluh karakteristik pidana” Bassiouni lebih lanjut menjelaskan kesepuluh karakteristik yang dimaksudkan. 37. 5. “Pengantar Hukum Pidana Internasional” (Bandung Refika Aditama. menjatuhi hukuman atau pidananya). Explicit recognition of proscribed conduct as constituting an international crime or a crime under international law (pengakuan secara eksplisit atas tindakan-tindakan yang dipandang sebagai kejahatan berdasarkan hukum internasional). menuntut. punish or the like (pengakuan secara implisit atas sifat-sifat pidana dari tindakan-tindakan tertentu dengan menetapkan suatu kewajiban untuk menghukum. 9 . 4. Duty or right to prosecute (kewajiban atau hak untuk menuntut). Duty or right to punish the proscribed conduct (kewajiban atau hak untuk memidana tindakan tertentu). prosecute. Duty or right to extradite (kewajiban atau hak untuk mengekstradisi). prevent. 6. Kajian Teoritis Pendanaan Terorisme Dalam Perspektif Hukum Pidana Internasional Defenisi tentang tindak pidana internasional atau kejahatan internasional (international crimes) menurut Bassiouni7 sebagai berikut: “Tindak pidana internasional adalah setiap tindakan yang telah ditetapkan di dalam konvensi-konvensi multilateral dan yang telah diratifikasi oleh negaranegara peserta.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme BAB II KAJIAN TOERITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS A.

Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 7. Duty or right to cooperate in prosecution, punishment, including judicial assistance in penal proceeding (kewajiban atau hak untuk bekerjasama di dalam proses pemidanaan). 8. Establishment of a criminal jurisdiction basis (penetapan suatu dasar-dasar yurisdiksi kriminil). 9. Reference to the establishment of an international court (referensi pembentukan suatu pengadilan internasional). 10. Elimination of the defense of superiors orders (penghapusan alasan-alasan perintah atasan). Dilihat dari perkembangan dan asal-usul tindak pidana internasional ini, maka eksistensi tindak pidana internasional dapat dibedakan dalam: 1. Tindak pidana internasional yang berasal dari kebiasaan yang berkembang di dalam praktik hukum internasional. 2. Tindak pidana internasional yang berasal dari konvensi-konvensi internasional. 3. Tindak pidana internasional yang lahir dari sejarah perkembangan konvensi mengenai hak asasi manusia. Berdasarkan internasionalisasi kejahatan dan karakterisktik kejahatan internasional, dalam konteks hukum kejahatan internasional, kejahatan internasional memiliki hirarki atau tingkatan. Sampai dengan tahun 2003 atas dasar 281 konvensi internasional sejak tahun 1812, ada 28 kategori kejahatan internasional, yaitu8: 1. Aggression. 2. Genocide. 3. Crimes against humanity. 4. War crimes. 5. Unlawful possession or use or emplacement of weapons. 6. Theft of nuclear materials. 7. Mercenaries. 8. Apartheid. 9. Slavery and slave-related practices. 10. Torture and other forms of cruel, inhuman, or degrading treatment.
8

Eddy O.S. Hiariej, “Pengantar Hukum Pidana Internasional” (Jakarta Airlangga, 2009), hal.55.

10

Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 11. Unlawful human experimentation. 12. Piracy. 13. Aircraft hijacking and unlawful acts against international air safety. 14. Unlawful acts against the safety of maritime navigation and the safety of platforms on high seas. 15. Threat and use of force against internationally protected persons. 16. Crimes against United Nations and associated personnel. 17. Taking of civilian hostages. 18. Unlawful use of the mail. 19. Attacks with explosives. 20. Financing of terrorism. 21. Unlawful traffic in drugs and related drug offenses. 22. Organized crime. 23. Destruction and/or theft of national treasures. 24. Unlawful acts against certain internationally protected elements of the environment. 25. International traffic in obsence materials. 26. Falsification and counterfeiting. 27. Unlawful interference with submarine cables. 28. Bribery of foreign public officials. Berdasarkan 28 kategori kejahatan internasional tersebut, M. Cherif Bassiouni9 membagi tingkatan kejahatan interasional menjadi tiga. Pertama, kejahatan internasional yang disebut sebagai international crimes adalah bagian dari jus cogens10. Tipikal dan karakter dari international crimes berkaitan dengan perdamaian dan keamanan manusia serta nilai-nilai kemanusiaan yang fundamental. Terdapat sebelas kejahatan yang menempati hirarki teratas sebagai international crime, yakni: 1. 2. 3.
9

Aggression. Genocide. Crimes against humanity.

Romli Atmasasmita, Op. Cit, hal. 35 Jus Cogens adalah hukum pemaksa yang tertinggi dan harus ditaati oleh bangsa-bangsa beradab di dunia sebagai prinsip dasar umum dalam hukum internasional yang berkaitan dengan moral. Lihat, Eddy O.S. Hiariej, Op. Cit., hal 50.
10

11

Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 4. 5. 6. 7. 8. 9. War crimes Unlawful possession or use or emplacement of weapons. Theft of nuclear materials. Mercenaries. Apartheid. Slavery and slave-related practices.

10. Torture and other forms of cruel, inhuman, or degrading treatment. 11. Unlawful human experimentation. Kedua, kejahatan internasional yang disebut sebagai international delicts. Tipikal dan karakter international delicts berkaitan dengan kepentingan internasional yang dilindungi meliputi lebih dari satu negara atau korban dan kerugian yang timbul berasal dari satu negara. Ada tiga belas kejahatan internasional yang termasuk dalam international delicts, yaitu: 1. 2. Piracy. Aircraft hijacking and unlawful acts against international air safety.

3. Unlawful acts against the safety of maritime navigation and safety of platforms on the high seas. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Threat and use of force against internationally protected person. Crimes against United Nations and associated personnel. Taking of civilian hostages. Unlawful use of the mail. Attacks with explosive. Financing of terrorism.

10. Unlawful traffic in drugs and related drug offenses. 11. Organized crime 12. Destruction and/or theht of national treasures. 13. Unlawful acts against certain internationally protected elements of the environment. Ketiga, kejahatan internasional yang disebut dengan istilah international infraction. Dalam hukum pidana internasional secara normatif, international infraction tidak termasuk dalam kategori international crime dan international delicts. Kejahatan yang tercakup dalam international Infraction hanya ada empat, yaitu: 12

Falsification and counterfeiting. 4. 2. melanggar HAM dan sebagainya. Kondisi ini berkaitan dengan adanya penangkapan-penangkapan teroris atau orang-orang yang dituduh Teroris akhir-akhir ini. Unlawful interference with submarine cable. karena masalah ini masuk dalam dalam katagori (Pendanaan Terorisme) Hukum Pidana Internasional. Jadi memang tidak tertutup kemungkinan adanya “amanat” intenasional untuk menjaring seseorang atau pentolan organisasi teroris. Walaupun demikian. ada satu hal yang musti diperhatikan oleh Pemerintah khususnya POLRI adalah. harus dianggap TIDAK BERSALAH sampai dibuktikan kesalahannya menurut hukum dan pengadilan yang terbuka. Dalam Pasal 20 Statuta Roma seperti tertuang dalam salah satu azas Hukum Kejahatan Internasional (Azas Ne bis In) menyebutkan dalam ayat (1).Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 1. berbunyi: Setiap orang yang dituntut karena diduga melakukan suatu tindak pidana. Kejahatan terkait pendanaan terorisme tersebut merupakan persoalan yang sedang marak dan terjadi di negara ini. Jika mengacu kepada Pasal 11 ayat (1) Deklarasi HAM PBB. Bribery of foreign public official. 3. apapun dalil dan landasan hukumnya. Hanya saja karena berkaitan dengan masalah teroris kita batasi 13 . Kemudian dalam ayat (2) bahwa ”Seseorang tidak boleh dituntut dua kali di pengadilan atas Perkara yang sama” (Principle of Double Joepardy). tetap saja orang-oang yang tertangkap karena terlibat atau dituduh terlibat makar nasional atau Intensional harus tetap menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah. Jangkauan pemahaman Kejahatan Internasional bukan saja termasuk membantu pendanaan teroris melainkan juga genocide. bahwa “Tidak seorang pun diadili di depan mahkamah berkenan dengan perbuatan yang merupakan kejahatan dimana orang tersebut telah dinyatakan bersalah atau dibebaskan oleh Mahkamah”. Ayat ini sering kita sebut dengan menganut azas praduga tak bersalah. International traffic in obsence materials. dimana ia memperoleh semua jaminan ynag diperlukan untuk pembelaannya”.

Namun persoalannya. Dengan demikian. seperti belum adanya kartu identitas tunggal (uniform single ID) bagi setiap orang. Dalam UU TPPU tersebut disebutkan bahwa terorisme sebagai salah satu kejahatan masal dari money laundering sehingga uang yang berasal dari aktifitas organisasi teroris dapat dikejar dan dituntut dengan UU TPPU.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme dalam hal ini teroris yang berkaitan dengan pendanaannya. baik karena alasan persaingan antar individu industri. Lihat “Seminar Internasional: Pencegahan Terorisme Perlu Kerjasama Semua Negara”. Pengaturan terorisme sebelumnya sudah diakomodasi dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003. maka cara yang ditempuh adalah mengatur terlebih dahulu aspekaspek tertentu dari terorisme dalam berbagai perjanjian internasional secara Kriminalisasi atas perbuatan pendanaan terorisme ini sangat mendesak dijadikan sebagai predicate crime dari tindak pidana pencucian uang. Datin Paduka Dr. Rohani Abdul Rahim dari Universitas Kebangsaan Malaysia mengemukakan bahwa "Terorime merupakan sebuah tantangan global yang dihadapi pembuat kebijakan di setiap negara dan langkah yang bisa dilakukan adalah dengan memaksimalkan kerjasama internasional dan mendukung kepentingan keamanan nasional”. merencanakan atau melakukan terorisme. Pada intinya pendanaan teroris.11 Meskipun tindakantindakan yang digunakan untuk mencegah pendanaan teroris banyak persamaannya dengan yang digunakan untuk pemberantasan pencucian uang. Lahirnya Undang-Undang (UU) Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi UU. selanjutnya dengan Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantaan Tindak Pidana Pencucian Uang (UU TPPU). antara lain Amerika Serikat dengan Social Security Number. namun perlu diingat. kurangnya penegakan hukum. Indonesia sudah merespons secara positif gagasan yang berkembang dalam masyarakat internasional bahwa terorisme dan pendanaan terorisme merupakan tindak pidana. 12 11 14 . Belum adanya administrasi kependudukan yang tertib. Prasetya Online. Sangat beralasan jika pendanaan terorisme diklasifikasikan sebagai tindak pidana.12 Karena kesulitan yang berkepanjangan atau kegagalan dalam merumuskan definisi terorisme dalam berbagai konferensi internasional. sumber pendanaan teroris dapat diperoleh secara halal maupun secara tidak halal. Penerapan prinsip mengenal nasabah (Know Your Customer) juga belum sepenuhnya dilakukan. Pembuatan identitas palsu yang mudah dilakukan pun ikut mempersulit upaya deteksi dan penyelidikan kegiatan pendanaan terorisme. maupun kurangnya kesadaran nasabah. sedangkan sumber uang yang terkena pencucian senantiasa merupakan hasil tindak pidana semata. adalah penyediaan dukungan keuangan untuk terorisme baik bagi yang mendukung. Memutus Mata Rantai Pendanaan Terorisme Pentingnya perang melawan pendanaan teroris telah tumbuh seiring dengan maraknya aksi-aksi terorisme di seluruh dunia. seperti halnya dikenal di beberapa negara. bahwa pendanaan teroris dapat pula berasal dari sumber yang halal. menjadi landasan hukum utama dalam menangani berbagai aksi terorisme di Indonesia. pemberantasan pendanaan terorisme bukan hal yang gampang. Dalam hal ini. Apa yang dimaksud dengan terorisme itu sendiri sampai saat ini belum berhasil disepakati. 23 Juni 2011. ternyata masuk dalam katagori kejahatan internasional.

dan karena itu sejak tragedi 11 September 2001 tersebut AS dengan serta-merta mengambil berbagai langkah. memerangi. Undang-Undang tersebut mampu mengkriminalkan warga negara AS yang terbukti menyediakan dana atau dukungan material terhadap kelompok yang oleh Sekretariat Negara AS dianggap sebagai Organisasi Teroris Internasional.htm. seperti masalah pendanaan terorisme dengan dikeluarkannya Konvensi Internasional tentang Pemberantasan Pendanaan Terorisme. Selengkapnya Pasal 2 Konvensi SFT tersebut menyatakan. diakses tanggal 12 Desember 2011. 14 13 15 . pendanaan terorisme terjadi apabila seseorang dengan cara apapun. 1999 (selanjutnya disebut Konvensi SFT) pada mulanya hanya diratifikasi oleh beberapa negara. untuk menjalankan suatu tindakan teroris. AS semakin serius dalam usahanya mencegah pendanaan teroris dengan mengeluarkan the USA’s Antiterrorism and Effective Death Penalty Act (AEDPA) of 1996. AS ingin meningkatkan pelaksanaan aturan-aturan yang digariskan dan mengefektifkan perangkat investigasinya serta hal-hal yang terkait. Masalah terorisme tampaknya merupakan hal yang sulit dilupakan AS (pemerintah dan masyarakatnya).com/kompas-cetak/0309/29/opini/586741. dan menghukum kegiatan pencucian uang internasional dan anti-pendanaan terorisme. 1999.kompas. baik secara langsung maupun tidak langsung. Undang-Undang tersebut dimaksudkan untuk memperkokoh dan menyatukan masyarakat/rakyat AS dengan cara. Berdasarkan Pasal 2 Konvensi SFT. yaitu International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme sektoral. antara lain. secara tidak sah dan dengan sengaja. mencegah. menyediakan atau mengumpulkan dana dengan tujuan agar dana tersebut digunakan atau dengan sadar mengetahui bahwa dana tersebut akan digunakan baik seluruhnya atau pun sebagian daripadanya. http://www. Namun setelah peristiwa tanggal 11 September 200113. Lihat: Rijanto.14 Pemerintah Republik Indonesia sendiri baru ikut menandatangani Konvensi SFT tersebut pada tanggal 24 September 2001. Bagi AS sendiri. tindakan. semua negara anggota PBB dihimbau untuk meratifikasi konvensi tersebut (sebagaimana tertuang dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1372 (2001). Undang-Undang Anti Pencucian Uang Amerika tersebut melarang setiap orang untuk melakukan transaksi keuangan yang melibatkan hasil yang diperoleh dari specified unlawful activity. baik di AS maupun di negara-negara lain di seluruh dunia. “Memerangi Pendanaan Terorisme”. Bahkan AEDPA ini juga mengatur pembekuan aset organisasi teroris dan penolakan visa kepada anggota atau pemimpin organisasi teroris. Embrio AEDPA of 1996 berawal dari Money Laundering Control Act 1986 yang merupakan Undang-Undang pertama di dunia yang menentukan money laundering (pencucian uang) sebagai kejahatan. menyediakan perangkat yang sesuai dan diperlukan untuk menangkap/menahan. International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism. bahwa tindakan teroris adalah suatu tindakan yang merupakan: Combating Terrorism Financing atau perang terhadap pendanaan terorisme sebenarnya bukan dimulai setelah terjadinya peristiwa pemboman 9/11 di Amerika Serikat (AS). Dengan Undang-Undang tersebut. Perang melawan pendanaan terrisme telah dilakukan selama bertahun-tahun oleh AS dan Inggris. dan upaya untuk meredam. yang kemudian mengaturnya dalam "USA Patriot Act" Tahun 2001. dan menghalangi kegiatan terorisme di AS.

salah satu perjanjian intrenasional berikut ini.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme (i) pelanggaran dalam pencakupan dari. 1988). dan didefinisikan dalam. Konvensi Penindasan Tindakan yang Melawan Hukum dengan Kekerasan di Bandara yang Melayani Penerbangan Sipil Internasional. termasuk Agen-Agen Diplomat (Convention on the Prevention and Punishment of Crimes against Internationally Protected Persons. tambahan atas Konvensi Penindasan terhadap Tindakan yang Melawan Hukum terhadap Keselamatan Penerbangan Sipil (Convention for the Suppression of Unlawful Acts at Airports Serving International Civil Aviation. 1973). Konvensi Penindasan Tindakan yang Melawan Hukum terhadap Keselamatan Penerbangan Sipil (Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation. 1970). Protokol Penindasan terhadap Tindakan Melawan Hukum terhadap Keselamatan Kebijakan yang telah Ditetapkan yang terletak di Wilayah Kontinental (Protocol for the Suppression of Unlawful Acts 16 . yaitu: Konvensi Penindasan terhadap Pengambilan Alih yang Tidak Sah atas Pesawat Terbang (Convention for the Suppression of Unlawful Seizure of Aircraft. Konvensi Pencegahan dan Hukuman terhadap Tindak Pidana terhadap Orang-Orang yang Dilindungi Secara Internasional. Protokol untuk Penindasan terhadap Tindakan Melawan Hukum Di Bandara yang melayani Penerbangan Sipil Intenasional (Protocol for the Suppression of Unlawful Acts of Violence at Airports Serving International Civil Aviation 1988). 1979). including Diplomatic Agents. 1988). 1971). supplementary to the Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation. Konvensi Penindasan terhadap Tindakan Melawan Hukum terhadap Keselamatan Navigasi Maritim (Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Maritime Navigation. Konvensi International memerangi Pengambilan Sandera (International Convention against the Taking of Hostages.

dalam sifat dan konteksnya. 3. 4. mengambil langkah-langkah yang diperlukan yang bertujuan untuk tidak membenarkan tindak kejahatan yang diatur Konvensi 1999 berdasarkan alasan-alasan politik. mengambil langkah-langkah yang layak sesuai dengan legislasi nasional masing-masing vis-à-vis identifikasi. atau terhadap setiap orang lainnya yang tidak mengambil peran aktif dalam permusuhan-permusahan dalam suatu keadaan perselisihan bersenjata. Secara tegas Konvensi SFT menyatakan. agama atau “other similar nature” . philosophi. ethnis. proses ekstradisi dan “mutual legal assistance”. menentukan tindak kejahatan menurut Konvensi ini sebagai “criminal offences” dan sanksinya dalam perundang-undangan nasional masingmasing. 1988). (ii) setiap tindakan lainnya yang dimaksudkan untuk mengakibatkan kematian atau cedera badan berat terhadap seorang sipil. pembekuan atau penyitaan “any funds used or allocated for” tindak kejahatan yang diatur dalam Pasal 2 . 1997). adalah untuk mengintimidasi suatu komunitas penduduk. mengadili “alleged offender”. melaksanakan kerjasama internasional baik dalam rangka investigasi. apabila tujuan tindakan demikian. dan 5. 2. 17 . atau memaksakan suatu Pemerintahan atau organisasi internasional untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan suatu tindakan. apabila negara tersebut tidak mengekstradisikannya. bahwa tindak kejahatan dalam Konvensi ini termasuk sebagai “extraditable offences”. deteksi. Konvensi SFT secara garis besar juga mengatur tentang berbagai kewajiban negara pihak seperti untuk: 1.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme against the Safety of /Fixed Platforms located on the Continental Shelf. rasial. dan Konvensi Internasional Penindasan terhadap Pemboman Teroris (International Convention for the Suppression of Terrorist Bombings. ideologi.

ada 18 18 . jo Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. bahwa “Harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga akan digunakan dan/atau digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk kegiatan terorisme. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 25 Tahun 2003 (selanjutnya disebut UU TPPU). organisasi teroris.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Kewajiban-kewajiban sebagaimana tersebut diatas. Bahkan Undang-Undang Terorisme mengatur secara lebih luas dan lebih rinci atau tidak hanya sebatas pada 9 (sembilan) perjanjian internasional yang merupakan lampiran atau annex dari Konvensi SFT. Menurut Undang-Undang Terorisme tersebut. sebagian besar telah diakomodir dalam peraturan perundang-undangan nasional atau dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia seperti antara lain: 1. bahwa “Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun. setiap orang yang dengan sengaja menyediakan atau mengumpulkan dana dengan tujuan akan digunakan atau patut diketahuinya akan digunakan sebagian atau seluruhnya untuk melakukan tindak pidana terorisme”. Undang-Undang Terorisme tersebut menyatakan. disamakan sebagai hasil tindak pidana”. UU TPPU menyatakan. Kriminalisasi pendanaan terorisme yang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU) Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sebagaimana telah disahkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 (selanjutnya disebut Undang-Undang Terorisme). Ketentuan ini sejalan dengan Pasal 6 Konvensi SFT yang meminta Negara Pihak untuk mengambil langkahlangkah yang diperlukan untuk tidak membenarkan tindak kejahatan yang diatur Konvensi SFT. juga telah menjangkau pendanaan terorisme. atau teroris perseorangan. Undang-Undang Terorisme telah diatur berbagai tindak kejahatan yang juga dikatagorikan sebagai tindak pidana terorisme dan diancam dengan pidana yang sama (purely terrorism). 2. 3.

dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan. dengan sengaja dan melawan hukum melakukan perbuatan kekerasan terhadap seseorang di dalam pesawat udara dalam penerbangan. dan lain sebagainya. membuat tidak dapat dipakai atau merusak bangunan untuk pengamanan lalu lintas udara atau menggagalkan usaha untuk pengamanan bangunan tersebut. jika perbuatan itu dapat membahayakan keselamatan pesawat udara tersebut. penuntut umum. atau hakim berwenang memerintahkan kepada Pihak Pelapor untuk melakukan pemblokiran terhadap Harta Kekayaan setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada 19 . atau memasang tanda atau alat yang keliru. maka penyidik. atau menggagalkan bekerjanya tanda atau alat tersebut. atau memindahkan tanda atau alat untuk pengamanan penerbangan. merampas atau mempertahankan perampasan atau menguasai pesawat udara dalam penerbangan. penuntut umum. merusak. Undang-Undang Terorisme serta UU TPPU cukup sejalan dengan ketentuan Konvensi SFT. atau hakim berwenang memerintahkan kepada bank dan lembaga jasa keuangan untuk melakukan pemblokiran terhadap harta kekayaan setiap orang yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana terorisme dan/atau tindak pidana yang berkaitan dengan terorisme. atau hakim berwenang untuk meminta keterangan dari bank dan lembaga jasa keuangan mengenai harta kekayaan setiap orang yang diketahui atau patut diduga melakukan tindak pidana terorisme. 4. penuntut umum. penyidik. dalam pesawat udara dengan perbuatan yang melawan hukum. Pada intinya pasal-pasal dalam kedua UndangUndang tersebut menyatakan: penyidik.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme (delapan belas) tindak kejahatan yang juga dikatagorikan sebagai tindak pidana terorisme antara lain: menghancurkan. mengambil. untuk kepentingan pemeriksaan dalam perkara tindak pidana terorisme.

maka BI mengedarkan daftar konsolidasi yang dikeluarkan oleh PBB (UN Consolidated list) secara berkala setiap 6 (enam) bulan sekali. dan tindak pidana dengan tujuan politik. bahwa tindak pidana terorisme yang diatur dalam Perpu ini dikecualikan dari tindak pidana politik. tindak pidana dengan motif politik. Sebagai gambaran. Dengan telah disahkannya RUU tentang Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana.ppatk. Dalam hal ditemukan kemiripan atau kesamaan nama. Perpu Terorisme dengan tegas menyatakan. yang menghambat proses ekstradisi. Dengan demikian. 29 Desember 2010). 6. Hal ini telah sejalan dengan Pasal 12 Konvensi SFT. tindak pidana yang berkaitan dengan tindak pidana politik. 15 20 . mulai tahun 2008 hingga 2010 PPATK menemukan sebanyak 128 transaksi keuangan yang diduga terkait dengan pendanaan kegiatan terorisme di sejumlah wilayah Indonesia. 25-29 September 2011. berdasarkan daftar yang dikeluarkan oleh Jaksa Agung. maka akan semakin melengkapi perundang-undangan yang menjadi dasar dan pedoman bagi pelaksanaan kerjasama internasional di bidang hukum dalam perkara pidana (international legal cooperation in criminal matters) yang meliputi ekstradisi dan MLA. tersangka. tindak pidana terorisme termasuk pendanaan terorisme merupakan “extraditable offences”.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme penyidik. PPATK telah membangun suatu hiper-link pada situs PPATK (http://www.15 Sehingga PJK dapat melakukan verifikasi untuk memastikan adanya kemiripan atau kesamaaan nama nasabahnya dengan nama-nama dalam daftar tersebut. 5. SydneyAustrala.id) yang tersambung ke daftar konsolidasi yang dikeluarkan oleh PBB tersebut. Dalam rangka membantu PJK mendeteksi transaksi keuangan para teroris.go. maka PJK melaporkan kepada PPATK sebagai Terkait dengan daftar teroris. atau terdakwa yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana. Selain itu. Australia memilki 3 (tiga) sumber. atau berdasarkan daftar yang dikeluarkan oleh Menteri Luar Negeri. sebagai pelaksanaan dari Resolusi Dewan Keamanan PBB No. Lihat “Laporan Pelaksanaan Counter Financing of Terrorism Study Tour”. Sebanyak 35 transaksi keuangan yang mencurigakan telah dilaporkan kepada penegak hukum (Harian Waspada. 1267 dan 1373. yakni berdasarkan putusan pengadilan. Terkait dengan masalah ekstradisi.

PPATK mencatat. disamping kewajiban PJK untuk memblokir rekening nasabahnya tersebut. Dalam hal ini. ratifikasi atau pengesahan Konvensi SFT menjadi sangat penting dalam rangka memperkokoh pembangunan rezim anti pencucian uang di Indonesia.02. Sebelumnya. Mereka yang diduga teroris tersebut biasanya melakukan penarikan dana antara Rp. Kerjasama tersebut merupakan upaya mengoptimalkan tugas masingmasing dalam rangka pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme. bahwa dalam rangka memerangi pendanaan teroris. CDD dilakukan melalui beberapa prosedur. Sebagaimana diketahui. CDD merupakan langkah identifikasi. Rekomendasi tersebut Aliran dana ke para teroris ternyata sudah berlangsung lama. sebagaimana yang ditentukan dalam Konvensi SFT.16 Dengan telah diakomodasinya kewajiban-kewajiban Negara Pihak. 5 juta setiap kali transaksi. Pedagang valas juga harus mendapatkan informasi bahwa nasabah yang melakukan transaksi valas tersebut bertindak untuk diri sendiri atau untuk atau atas nama beneficial owner. Aturan tersebut dituangkan dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 12/3/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencuciaan Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Pada Pedagang Valuta Asing Bukan Bank. maka ratifikasi atau pengesahan Konvensi SFT oleh Pemerintah dan DPR lebih bersifat mengukuhkan atau mempertegas komitmen Pemerintah Indonesia untuk memberantas tindak pidana pendanaan terorisme. Adanya potensi penyalahgunaan produk dan layanan jasa keuangan (bank dan non bank) untuk menyembunyikan atau menyamarkan dana-dana yang ditujukan untuk kegiatan terorisme. Transaksi dilakukan melalui beberapa bank besar di Indonesia sejak tahun 2003. mengendalikan transaksi nasabah dan memberikan kuasa atas terjadinya suatu transaksi.2/PPATK/02/08 tentang Pedoman Identifikasi Transaksi Keuangan Terkait Pendanaan Terorisme Bagi Penyedia Jasa Keuangan. juga mereka yang melakukan pengendalian melalui badan hukum atau perjanjian). PPATK terus melakukan koordinasi dan kerjasama dengan Bank Indonesia untuk menelisik aliran dana yang diduga terkait dengan aksi terorisme. Langkah CDD oleh pedagang valas bukan bank ini wajib dilakukan ketika melakukan transaksi dengan nasabah atau beneficial owner (Beneficial owner adalah setiap orang yang memiliki dana. Lihat: “Dana Teroris Ditransfer dari Bank Besar”. 21 . http://www. pencocokan. maka Penyedia Jasa Keuangan (PJK) perlu melakukan identifikasi terhadap transaksi keuangan yang terkait dengan pendanaan terorisme serta melaporkannya sebagai transaksi keuangan yang mencurigakan kepada PPATK. hingga bulan Maret 2010 sudah ditemukan 97 aliran dana ke teroris. BI juga sudah mengeluarkan peraturan terkait pencegahan tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme. Namun demikian. Semua transaksi dilakukan oleh orang dalam negeri. Bank Indonesia juga mewajibkan pedagang valas melakukan CDD jika si pedagang valas meragukan kebenaran infromasi yang disampaikan oleh nasabah. 400 ribu hingga Rp. yakni meminta dan mencocokkan informasi nasabah dengan dokumen pendukung yang memuat informasi nasabah.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme laporan transaksi keuangan mencurigakan. Aturan ini berlaku efektif pada 1 Maret 2010.com/arsip/?p=36576.hariansumutpos. Dalam PBI ditegaskan bahwa istilah know your customer (KYC) principles menjadi customer due dilligence (CDD). diakses tanggal 10 Desember 2011. Ratifikasi atau pengesahan Konvensi SFT sangat terkait dengan rekomendasi khusus Financial Action Task Force on Money Laundering (FATF). dan pemutakhiran informasi nasabah yang dilakukan oleh pedagang valas untuk memastikan bahwa transaksi tersebut sesuai dengan profil nasabah. FATF juga telah mengeluarkan Rekomendasi-rekomendasi Khusus untuk Pendanaan Teroris (The Financial Action Task Force Special Recomendations 16 on Terrorist Financing). Untuk itu telah dikeluarkan Keputusan Kepala PPATK Nomor : KEP-13/1.

Pemidanaan pendanaan terorisme terjadi apabila “seseorang dengan cara 22 . yang Rekomendasi-rekomendasi menjadi standar disepakati secara universal. Meminta semua negara untuk meratifikasi Konvensi SFT untuk melaksanakan Resolusi PBB yang terkait pendanaan teroris. II. Ratifikasi berarti bahwa semua negara harus mengambil langkah-langkah legislatif atau eksekutif untuk mensahkan konvensi.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme merupakan standar internasional yang baru. Rekomendasi ini diluncurkan pada bulan Oktober 2001. yang mencakup beberapa masalah tertentu secara sangat rinci dibandingkan dengan Konvensi SFT dan Resolusi 1373 (2001) dari Dewan Keamanan tersebut Perserikatan telah Bangsa Bangsa. Semua negara terikat dengan persyaratan dan ketentuan dalam konvensi yang telah ditandatangani dan diratifikasinya. Adapun substansi dari 9 Rekomendasi Khusus (special recommendations) FATF tersebut adalah sebagai berikut: I. tindakan teroris dan organisasi teroris. Rekomendasi Khusus FATF mengenai pendanaan terorisme tersebut merupakan reaksi langsung terhadap kejadian tanggal 11 September 2001. Dengan demikian. Dengan demikian semua negara yang telah meratifikasi Konvensi SFT memiliki kewajiban hukum untuk mengikutsertakan perjanjianperjanjian internasional tersebut kedalam legislasi dalam negerinya. Tujuannya adalah untuk menghalangi akses bagi para teroris dan pendukungnya untuk masuk ke sistem keuangan internasional. setiap negara seharusnya segera mengambil langkahlangkah untuk secara keseluruhan meratifikasi dan melaksanakan Konvensi SFT. Meminta semua negara untuk memidanakan pendanaan teroris. Resolusi 1372 (2001) Perserikatan Bangsa Bangsa dan Rekomendasi Khusus FATF memanggil semua negara anggota untuk menjadi pihak dalam Konvensi SFT. Pendanaan terorisme merupakan suatu pelanggaran pidana yang terpisah. sementara pelaksanaan berarti bahwa semua negara harus mengadopsi kebijakan dan mengambil tindakan untuk memastikan berdasarkan pelaksanaan sistem yang efektif atas Konvensi SFT hukum nasional masing-masing negara tersebut.

” Negara harus dapat menghentikan atau menahan dana atau instrumen pembawanya yang dicurigai terkait dengan pendanaan teroris atau pencucian uang. apabila mereka “mencurigai atau mempunyai dasar yang cukup 23 . Mewajibkan semua lembaga keuangan untuk segera melaporkan transaksi-transaksi yang mencurigakan kepada badan berwenang. Mengharuskan semua negara untuk “mengadopsi dan melaksanakan tindakan-tindakan. Dua unsur merupakan kunci di sini: (1) Unsur mental: tindakan harus dilaksanakan secara sadar dan sengaja. atau bertujuan atau dialokasikan untuk penggunaan dalam pendanaan terorisme. (2) Unsur materi: secara luas. Rekomendasi ini dikembangkan dengan sasaran agar semua negara memiliki kapasitas hukum untuk mengadili dan memberlakukan sanksi pidana terhadap semua orang yang mendanai terorisme. Adapun yang menjadi dasar mempidanakan pendanaan teroris adalah Konvensi SFT. III.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme apapun. IV. atau dengan pengetahuan akan penggunaan ilegal dana tersebut. atau yang digunakan dalam. maka sasaran lainnya adalah untuk menekankan semua negara untuk mengikut-sertakan semua pelanggaran pendanaan teroris sebagai pelanggaran predikat kejahatan (predicate offence) untuk pencucian uang. ini merupakan kenyataan adanya penyediaan atau pengumpulan dana. untuk melaksanakan” suatu tindakan teroris oleh sebuah organisasi teroris atau perorangan. tindakan teroris atau organisasi teroris. menyediakan atau mengumpulkan dana dengan tujuan agar dana tersebut digunakan atau dengan pengetahuan bahwa dana tersebut akan digunakan. baik secara langsung maupun secara tidak langsung. termasuk tindakan yang memperbolehkan badan berwenang untuk mengambil alih dan menyita harta yang merupakan hasil dari. baik secara keseluruhan atau secara sebagian. secara melawan hukum dan dengan sengaja. Mengingat hubungan yang dekat antara terorisme internasional dan inter alia pencucian uang.

11. VII. sedangan resolusi 1373 (2001) Dewan Keamanan PBB mencakup hal tersebut dalam tingkat yang lebih luas (paragraf 2. Meminta semua negara untuk mengaplikasikan sebuah standar khusus mengenai pengiriman uang secara telegrafis/elektronis yang tidak secara langsung dicerminkan dalam teks Konvensi SFT dan resolusi Dewan Keamanan. tindakan teroris dan organisasi teroris. Pengalaman menunjukkan bahwa semua sistem pengiriman uang memang telah digunakan untuk mendanai operasional para teroris. tindakan teroris atau oleh organisasi teroris.d dan 2. Rekomendasi Khusus VII FATF mewajibkan semua negara untuk mengambil berbagai tindakan tertentu untuk memastikan bahwa perantara keuangan: (1) memiliki informasi yang tepat dan bermanfaat mengenai 24 . Rekomendasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua negara menjalankan persyaratan AML/CFT terhadap semua bentuk sistem pengiriman uang dan nilai. semua lembaga keuangan diharuskan melaksanakan kewajiban uji tuntas nasabah atau (Pasal 18 Konvensi SFT).” Sebagai suatu pra-syarat atas kewajiban melaporkan semua transaksi mencurigakan.c.12-15. bahwa “setiap negara harus memberikan kepada negara lain bantuan sebesar mungkin sehubungan dengan penyelidikan dan cara kerja mengenai kriminil.f). Konvensi SFT (pasal-pasal 10.” — Kerjasama internasional dalam memerangi pendanaan terorisme sangat diperlukan untuk keberhasilan dalam perang melawan terorisme pada tingkat-tingkat global and nasional. 2. baik yang formal maupun yang informal.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme memadai untuk mencurigai bahwa dana yang berhubungan atau terkait dengan. V. pemberlakuan hukum perdata dan penyelidikan administratif sehubungan dengan pendanaan terorisme.18. Meminta semua negara untuk memastikan bahwa semua jasa transmisi uang dan nilai adalah berdasarkan standar internasional khusus FATF. atau akan digunakan untuk terorisme. Menyatakan. VI.3) telah menetapkan seperangkat norma yang komprehensif untuk kerjasama internasional.

akan tetapi mereka juga perlu agar dapat 25 . Bank koresponden merupakan bagian dari rantai tersebut. IX. semua negara ditentukan untuk memantau transportasi uang tunai atau instrumen jual-beli atas nama. nomor rekening) termasuk dalam pengiriman dana secara elektronis atau pesan yang terkait padanya. Meminta semua negara untuk memusatkan perhatian pada risiko pelanggaran atau penyalahgunaan oleh organisasi para teroris dan pendana teroris terhadap badan atau lembaga yang secara sah didirikan berdasarkan hukum nasional. Ini berarti bahwa negara tidak hanya memerlukan sebuah sistem untuk menyatakan atau mengungkapkan transportasi uang tunai atau nilai setaranya melintasi perbatasan. Dengan demikian tujuannya adalah untuk mencegah orang-orang sektor hukum diperalat sebagai tameng atau sebagai cara untuk mendanai kegiatannya. Meskipun bersumber dari usaha-usaha yang terlihat sah. alamat. Sebagaimana telah dijelaskan dimuka bahwa pendanaan bagi terorisme dapat berasal dari sumber yang sah. Berdasarkan Rekomendasi ini. Untuk alasan-alasan inilah semua negara harus memastikan bahwa hukum mengenai pendanaan teroris mencakup pula dana yang diperoleh dari sumber-sumber yang sah dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mencegah pendanaan sejenis itu. baik oleh perorangan atau melalui pos atau angkutan. dapat badan atau lembaga tersebut digunakan sebagai tabir untuk mengumpulkan dana bagi para teroris serta organisasinya. Terkait dengan tindakan membawa uang tunai atau nilai setaranya melintasi perbatasan nasional. (3) meningkatkan penelitian terhadap pengiriman dana secara elektronis yang tidak mengikut sertakan informasi mengenai si pengirim dan harus berjaga-jaga terhadap kemungkinan adanya transaki yang mencurigakan.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme pengirim/originator (nama. VIII. ( 2) menyimpan informasi pengirim dengan pengiriman dana tersebut atau pesan yang terkait padanya melalui rantai pembayaran.

Bahkan Rekomendasi Khusus I FATF secara eksplisit telah menyatakan. bahwa semua negara diminta untuk meratifikasi Konvensi SFT. dan (c) belum dipenuhinya secara keseluruhan sebagaimana ditentukan dalam UN Terrorist Financing Convention yang meliputi aktivitas mengumpulkan dana untuk kegiatan teroris perorangan maupun organisasi teroris. hanya ada 2 kali dakwaan atas pendanaan terorisme. Indonesia masih menjadi negara teresiko dalam pelaksanaan pendanaan terorisme. Adapun kerentanan lain yang dihadapi oleh Indonesia. Secara keseluruhan. memberikan bantuan teknis serta training-training yang dibutuhkan oleh negara-negara di dalam rangka penguatan sistem Anti Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme mendeteksi operasi-operasi demikian apabila terdapat kecurigaan adanya kegiatan pidana. Dari uraian diatas. akan menjadi bahan pertimbangan bagi FATF dalam menilai kepatuhan Indonesia terhadap standar internasional di bidang pencegahan dan pemberantasan TPPU yang dikenal dengan FATF 40+9 recommendations.17 Pada hakikatnya. (d) sejumlah orang yang telah ditangkap maupun dihukum sebagai pelaku teroris. Diharapkan dengan telah disahkannya Konvensi SFT oleh Pemerintah dan DPR. (b) berdasarkan Resolusi 1267. sebagai salah seorang reviewer untuk Indonesia dalam proses ME (Mutual Evaluation) Tahun 2008. 17 26 . (c) Jemaah Islamiyah (JI) yang masih ditengarai menjadi ancaman teroris di Indonesia. Implementasi Standar Internasional Di kawasan Asia-Pasifik. Sydney-Australa. adalah: (a) kondisi geografis Indonesia yang sangat luas yang dapat menjadi kesulitan di dalam menyelidiki kegiatan terorisme. sejumlah nama dan pihak masih teridentifikasi berafiliasi dengan Al Qaeda dan Taliban. 25-29 September 2011. pendekatan yang dilakukan dalam rangka pencegahan dan pemberantasan Pendanaan Terorisme adalah pendekatan “follow the Menurut David Shannon. APG juga melakukan penelitian terhadap tipologi-tipologi yang terkait dengan TPPU dan Pendanaan Terorisme. APG merupakan salah satu lembaga yang dibentuk guna melakukan penilaian atas kepatuhan negara-negara anggota dalam menerapkan standar international terkait upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dan Pendanaan Terorisme seperti penerapan FATF 40 Recommendation + 9 Special Recommendation. Lihat: “Laporan Pelaksanaan Counter Financing of Terrorism Study Tour”. (b) terbatasnya penggunaan undang-undang yang ada untuk mengidentifikasi dan menginvestigasi tindak pidana pendanaan terorisme. terlihat keterkaitan antara Konvensi SFT dengan Rekomendasi Rekomendasi Khusus FATF. antara lain: (a) terdapatnya berbagai organisasi teroris yang sangat aktif yang mengumpulkan dana dan melakukan aktivitas terorisme di Indonesia dan di sejumlah jurisdiksi di Asia Tenggara. tantang yang dihadapi Indonesia dalam memenuhi standar internasional di bidang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme khususnya 9 Special Recommendation of FATF.

seperti kantor pajak. 18 27 . Prevention (termasuk melakukan upaya perlawanan atas radikalisasi teroris. Selain itu. tanggal 2 Desember 2011. dan juga kemampuan khusus di dalam investigasi pelaku pendanaan terorisme. http://www. Key tools yang dipakai dalam strategi pemberantasan Pendanaan Terorisme haruslah ditujukan bagi: Detection. dan Response. atau lembaga charity lainnya.ykai. dll). yang membutuhkan adanya kerjasama internasional untuk pencegahan dan pemberantasannya. peranan dan kesadaran dari lembaga-lembaga yang masih belum dapat merasakan bahwa keterlibatan lembaga mereka sangat penting. perlu pula dikuatkan mekanisme kerjasama internasional karena mengingat sifat dan hakikat pendanaan terorisme mengikuti hakikat keberadaannya yang transnasional. Pecenongan. Wakil Kepala PPATK Agus Santoso menyampaikan bahwa ada sekitar 21.000 NPO yang terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM di Indonesia dan ada 10 lembaga Pemerintah. lembaga-lembaga pengawas dan pengatur Pada Workshop “Menuju Organisasi Nirlaba (Non Profit Organization) yang mempunyai tata kelola yang baik dalam upaya pencegahan dan pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan Pendanaan Terorisme”. diakses 26 Desember 2011. koordinasi-koordinasi kebijakan antar lembaga instrument-instrumen penegakan yang memadai sasaran yang ditujukan dengan jelas untuk mencegah dan memberantas pendanaan terorisme. yang meliputi: penetapan mekanisme pencegahan yang efektif.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme money”.net/index. lembaga negara yang memiliki kewenangan untuk mengatur mengenai yayasan-yayasan sosial18. yang menyakini bahwa uang dan segala bentuk property yang dimiliki oleh individual terrorist maupun terrorist group adalah merupakan jantungnya kegiatan pendanaan terorisme itu.net. tanggal 28-29 November 2011 di Hotel Alila. Lihat: ykai.php?option=com_content&view=article&id=857:upaya-pencegahan-danpemberantasan-tppu-dan-pendanaan-terorisme&catid=117:terkini&Itemid=136. 8 Kementerian dan 2 Lembaga Negara menangani NPO dan banyak ditemukan kasus penyalahgunaan NPO/LSM yang menerima dana hibah dalam rangka pencucian uang dan juga pendanaan terorisme serta penipuan. Disruption. Kerjasama internasional yang perlu dikuatkan tersebut antara lain kerjasama antar Financial Intellegence Units (FIUs). Pencegahan dan pemberantasan Pendanaan Terorisme membutuhkan respon dari multi-agensi. Jakarta. dan untuk itu mereka juga harus memperluas keikutsertaan mereka di dalam pencegahan dan pemberantasan pendanaan terorisme tersebut.

Kepolisian. kriminalisasi harus pula meliputi perbuatan-perbuatan pidana lainnya. regulator sektor finansial (Bank Sentral). yang dilakukan di tempat yang sama maupun di tempat yang berbeda dari penanggung jawab di bidang keuangan terorisnya. Selain itu. Oleh karena itu. Tantangan-tantangan yang dihadapi dalam implementasi. maka elemen-elemen yang terkandung dalam SR II lebih luas. bahwa berdasarkan kriteria penting yang ada di dalam SR II. ruang lingkup pendanaan terorisme harus diperluas sehingga menjadi sebagai berikut: Dana-dana (termasuk di dalamnya semua property) yang digunakan untuk pendanaan terorisme diperoleh dari sumber-sumber yang sah (legitimate) maupun yang haram (illegitimate). antara lain. Dana-dana tersebut yang walaupun pada kenyataannya tidak jadi digunakan untuk melakukan terorisme. Kriminalisasi pendanaan terorisme ditentukan dalam SR II dan SR III dari 9 Special Recommendation of FATF. pengaturan mengenai pendanaan terorisme belum seluruhnya meliputi pendanaan 28 . meliputi perbuatan untuk menyediakan atau mengumpulkan dana. dll. Pada hakikatnya perbuatan yang harus dikriminalisasikan sebagai tindak pidana pendanaan terorisme adalah meliputi tindakan menyediakan atau mengumpulkan dana yang dimaksudkan untuk digunakan oleh organisasi teroris atau teroris perorangan. 1. penyertaan. maupun yang dapat digunakan sebagai bukti adanya keterlibatan orang secara pribadi ataupun group dalam pendanaan terorisme tersebut.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme mengenai charity. yang sengaja disediakan untuk digunakan oleh organisasi teroris atau teroris perseorangan untuk tujuan apapun. Kepabeanan. dan tidak harus dihubungkan dengan kegiatan terorisme tertentu. Kegiatan untuk pendanaan terorisme baik yang dilakukan oleh organisasi teroris maupun teroris perorangan. Pengadilan. untuk semua tujuan. Jika dibandingkan dengan konvensi. baik yang informal. konspirasi. bersifat intellegence. Komunitas internasional telah menyetujui standar-standar yang harus dipedomani dalam rangka penguatan rezim Counter Financing of Terrorism meliputi bidang-bidang pertukaran informasi. seperti percobaan.

Tantangannya adalah bahwa banyak anggapan bahwa pendanaan terorisme itu dikriminalisasikan semata-mata sebagai suatu bentuk dukungan pada kegiatan terorisme seperti perbantuan.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme terorisme untuk kegiatan terorisme. SR III mengharuskan negara-negara untuk melakukan pembekuan dana ataupun aset lainnya dari orang-orang yang telah ditentukan oleh UNSC Resolution No. tidak sama dengan tindak pidana terorisme. 29 . yaitu Al Qaeda dan Taliban. termasuk di dalamnya adalah orang atau organisasi. Kegagalan dari pihak yang berwenang untuk menentukan kebijakan nasional yang memiliki visi holistik dan memenuhi standard yang telah ditentukan oleh FATF maupun oleh UN. ataupun konspirasi atas tindak pidana terorisme. Untuk proses penuntutan harus pula dapat dibuktikan bahwa tindak pidana yang dilakukan ditujukan untuk tujuan khusus tertentu. seperti untuk melakukan intimidasi pada suatu pemerintah tertentu. Terkait dengan standar internasional untuk pembekuan dana/aset. dll. organisasi terorisme dan individual terorisme. kelompok. percobaan. Pada hakikatnya kriminalisasi atas tindak pidana Pendanaan terorisme harus berdiri sendiri. perusahaan maupun asosiasi-asosiasi lainnya yang berafiliasi dengan Al Qaeda dan Taliban tersebut. Boleh dikatakan bahwa hanya sedikit negara yang telah benar-benar memiliki keinginan dan kemampuan untuk mengimplementasikan sistem-sistem yang telah memenuhi standard dalam rezim pencegahan dan pemberantasan pendanaan terorisme. Negara-negara yang belum menjadi peserta dalam suatu treaty dapat melakukan kriminalisasi atas kegiatan pendanaan terorisme. Masih sulitnya untuk melakukan pembekuan atas aset teroris di berbagai jurisdiksi. permufakatan. Kegiatan Pendanaan yang dilakukan untuk tindak pidana lainnya hanya dapat diterapkan pada perbuatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan untuk mengintimidasi atau memaksa masyarakat ataupun pemerintahan manapun. Tidak semua treaty tentang kejahatan-kejahatan sebagaimana ada dalam lampiran konvensi telah mencakup mengenai kegiatan pendanaan terorisme. 1267.

jika sesuai. dll. Mensyaratkan kemungkinan tetap dilakukannya pembekuan atas aset sekalipun tiada penuntutan. dan tidak termasuk nama-nama yang sudah masuk dalam daftar teroris yang dikeluarkan oleh UN. maka pada pelaksanaan rezim extraordinary ini menghendaki 2 (dua) hal. apakah berdasarkan pada alasan yang reasonable atau memiliki dasar hukum yang tepat untuk dimintakannya tindakan pembekuan tersebut. Prosedur pembekuan aset-aset untuk kelompok tersebut haruslah “without delay and without prior notice to targets”. setiap negara juga diwajibkan untuk memiliki hukum dan prosedur untuk: Melakukan pembekuan dana dan aset lainnya dari teroris maupun pihakpihak lain yang berafiliasi dengan prinsip without delay and without prior notice to targets. penyitaan aset-aset teroris dalam proses penyidikan kasus terorisme maupun dalam proses lainnya dalam kasus pendanaan terorisme. pembekuan. Melakukan tindakan untuk membekukan aset untuk merespon permintaan tersebut. Dalam hubungan ini. Pembekuan dana atau aset lainnya dari Orang yang telah ditentukan oleh PBB sebagai teroris menurut masing-masing Pemerintah negara. misalnya LTTE di Malaysia. yaitu: a. berdasarkan Resolution Number 1373. 30 .Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Nama-nama tersebut dikirimkan kepada delegasi Dewan Keamanan PBB dan kemudian diedarkan kembali kepada negara-negara yang berwenang. Menerima permohonan negara lain atas diterapkannya Resolusi 1373 dalam rangka tindakan pembekuan asetnya. Resolusi ini tidak diperuntukkan bagi Taliban atau Al Qaeda. dilakukan tanpa ditunda dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada orang yang diduga melakukan pendanaan terorisme tersebut. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah dilakukannya pemindahan aset oleh mereka yang akan mengakibatkan sulitnya pelacakan dan pembekuan aset. Mengkonfirmasi mengenai permohonan oleh negara tersebut apakah yang menjadi landasan pengajuannya. Diaturnya prosedur pelacakan. Sebagai response atas Resolusi 1267 dan 1373.

III. Berdasarkan c. sebagai teroris. Kewajiban ini harus dilaksanakan dengan efektif. oleh orang-orang yang telah ditetapkan. Harus menyertakan keterlibatan institusi keuangan secara langsung di dalam melaksanakan kewajibannya. yang memberikan pendanaan untuk kegiatan terorisme pada teroris ataupun organisasi teroris. III. dan yang dihasilkan atau didapatkan dari dana atau aset lainnya yang dimiliki atau dikontrol secara langsung ataupun tidak langsung oleh orang-orang yang telah ditetapkan sebagai teroris. secara langsung maupun tidak langsung. 5 Resolusi 1267 dan 1373. peraturan dan kebijakan. Lingkup penerapan Resolusi 1267 dan 1373 pada hakikatnya menghendaki adanya perluasan makna pelaksanaan freezing atau pembekuan yaitu terhadap dana ataupun aset lainnya: yang seluruhnya atau yang secara bersama-sama dimiliki atau dikuasai. maka seharusnya terdapat sistem monitoring yang memadai untuk memantau kepatuhan dari pihak-pihak di bawah rezim freezing terhadap ketentuan hukum yang relevan. Berdasarkan c. mengingat proses freezing menjadi hal penting dalam konteks pendanaan terorisme. negara-negara harus membuat pedoman yang jelas bagi institusi-institusi keuangan dan pihak-pihak lain atau badan hukum yang mungkin menguasai dana-dana atau aset-aset yang menjadi target pembekuan.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme b. maka diwajibkan bagi negara-negara untuk dapat menerapkan mekanisme komunikasi kepada sektor keuangan maupun pihak-pihak lainnya terkait dengan prosedur freezing. Terkait dengan SR III. dan menerapkan sanksi bagi pihak-pihak yang non compliance secara tepat. 31 . dan harus dilaksanakan dengan sifatnya yang urgen. serta orang-orang yang memegang aset untuk melakukan pembekuan without undue delay. maka untuk menciptakan proses freezing yang efektif. dengan maksud adalah: Untuk tetap menjaga dana tetap dibekukan selama proses pembuktian ataupun prses investigasi terhadap tindak pidana pendanaan terorismenya berjalan. Dapat melingkupi proses administratif dan juga proses peradilan. yang memberikan pendanaan untuk kegiatan terorisme pada teroris ataupun organisasi terorisme.6 Resolusi 1267 dan 1373.

32 .8). dengan melakukan secara efektif hal-hal sebagai berikut: Apakah dana-dana dan aset teroris telah mampu diidentifikasi? Apakah sudah diambil tindakan untuk melakukan pembekuan atas pihakpihak yang ditentukan dalam Resolusi 1267. maupun untuk beberapa kasus pendanaan terorisme lainnya? Seberapa banyak aset maupun dana yang telah dibekukan.7). dan berapa lama porses tersebut dilakukan?. seperti biaya hipotek.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Mekanisme lain yang seharusnya diterapkan pula berdasarkan Resolusi 1267 dan 1373. ada pula kewajiban dari pihak berwenang untuk mengakses dana atau aset yang dibekukan untuk menentukan biaya-biaya dan pembayaran atas berbagai tipe tambahan biaya. Permintaan untuk unfreezing atas dana-dana atau aset dari orang atau badan hukum lainnya yang terkena imbas dari mekanisme pembekuan.III. yaitu harus tanpa menggunakan limit waktu. maupun 1373. adalah bahwasanya negara-negara harus mengimplementasikan pula prosedur pemberitahuan kepada publik untuk: Permintaan untuk melakukan delisting (c. mengapa tidak ada? Prosedur apakah yang diambil oleh negara untuk memperoleh informasi dari sektor privat lainnya? Ketentuan mengenai penundaan transaksi dan pembekuan aset harus memenuhi syarat sebagaimana ditentukan di dalam SR maupun Resolusi. Permintaan dilakukannya unfreezing atas dana-dana atau aset dari orang yang dimintakan delisting tersebut (c.III. maka harus berkontempelasi. Ada kewajiban without undue delay. misalnya beberapa kasus yang telah diverifikasi karena adanya kesalahan identitas atau terjadi kekeliruan (c. Setiap negara hendaknya selalu melakukan refleksi atas rezim anti pendanaan terorisme.9 Resolusi 1267 sejalan dengan Resolusi 1425. Jika tidak ada aset yang dibekukan. Pihak-pihak atau perusahaan yang dana atau asetnya telah dibekukan tersebut diperbolehkan melakukan CHALLENGE kepada pengadilan atas tindakan pembekuan yang telah dilakukan. biaya-biaya yang telah dikeluarkan lainnya. III.7). Menurut c.III.

dan kerjasama internasional. menggunakan data dan identitas yang tidak jelas dalam proses pengiriman dan penerimaan uang melalui sistem pembayaran alternatif. Sebagai perbandingan di Australia terdapat beberapa peraturan perundang-undangan pendanaan terorisme: 1) Anti Money Laundering and Counter-Terrorism Financing Act 2006 Peningkatan pengawasan terhadap aktivitas perbankan. lembaga keuangan bukan bank. sistem perdagangan internasional. dan sistem pembayaran alternatif19. sumbangan-sumbangan melalui organisasi sosial/amal. Untuk proses penyitaan juga harus memenuhi kewajiban without delay. Hal tersebut terjadi umumnya karena belum adanya aturan yang baik sebagaimana aturan mengenai perbankan. pengawasan sektor keuangan.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Kewajiban lainnya yang harus dilakukan setelah pembekuan aset adalah dilakukannya tindakan oleh Pengadilan dan kemudian pengadilan yang akan menetapkan penyitaan. peraturan perundang-undangan yang proporsional. intelijen keuangan yang kuat. pemerintah umumnya tidak memiliki data dan kontrol yang jelas mengenai pelaku usaha di bidang sistem pembayaran alternatif. dll. pergerakan uang tunai secara fisik. yakni pendanaan operasi terorisme khusus dan pendanaan terhadap organisasi lintas batas negara yang melakukan pembangunan infrastruktur dan/atau penyebarluasan ideologi terorisme. serta penyedia jasa keuangan lainnya). penegakan hukum. melakukan penyusupan terhadap kepengurusan organisasi sosial amal tersebut. sektor keuangan lainnya. termasuk pengawasan terhadap aktivitas profesiprofesi yang rentan terkait pendanaan terorisme dan pencucian uang. Pergerakan arus pendanaan terorisme selama ini umumnya dapat melalui sektor keuangan formal (Bank. dimana teroris seringkali menyalahgunakan hasil sumbangan/amal untuk kegiatan teroris. Pembiayaan Organisasi dan Operasi Teroris Pada dasarnya ada 2 (dua) aspek penting yang perlu diperhatikan dalam hal pendanaan terorisme. 19 33 . Untuk mewujudkan peraturan perundang-undangan yang efektif di bidang anti pencucian uang dan pendanaan terorisme maka diperlukan komitmen politik. melakukan pengumpulan dana dengan itikad tidak baik.

7 (1)]. baik secara langsung maupun tidak langsung dan orang tersebut mengetahui bahwa organisasi tersebut adalah organisasi teroris. dan sebagainya. diancam dengan maksimum pidana 25 tahun [Pasal 102. serta programprogram lainnya yang mendukung implementasi regulasi tersebut dalam praktek. diancam dengan maksimum pidana 15 tahun [Pasal 102.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme seperti lawyers. 34 . 2) Combating the Financing of People Smuggling and other Measures Act Telah disetujui oleh Parlemen Australia pada bulan Juni 2011 sebagai amandemen dari Undang-Undang Anti-Money Laundering/ Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme. pelaporan yang baik. akuntan. sedangkan orang tersebut karena kelalaiannya tidak mengetahui bahwa organisasi tersebut adalah organisasi teroris. agen real-estate. pengumpulan dan pengolahan data yang akurat. setiap orang yang dengan sengaja menerima dana dari atau menyediakan dana untuk organisasi teroris. pedagang logam mulia.6 (1)]. setiap orang yang dengan sengaja memberikan dukungan atau menyediakan sumber bagi organisasi teroris dan orang tersebut mengetahui bahwa organisasi tersebut adalah organisasi teroris diancam dengan maksimum pidana 25 tahun [Pasal 102. Undang-Undang ini memuat ketentuan yang berorientasi untuk mengurangi resiko pengiriman uang melalui penyelenggara transfer dana yang bertujuan untuk pembiayaan kegiatan terorisme and beberapa kejahatan serius lainnya.6 (2)]. 3) KUHP Australia Kriminalisasi terhadap: setiap orang yang dengan sengaja menerima dana dari atau menyediakan dana untuk organisasi teroris. Kewajiban-kewajiban terorisme: prinsip pokok dalam regulasi anti pendanaan mekanisme kepatuhan konsumen/nasabah. baik secara langsung maupun tidak langsung.

yang mengatur bahwa: (a) adalah tindak pidana memberikan informasi palsu atau menyesatkan sehubungan dengan Peraturan. atau melalui seseorang/organisasi terorisme dengan tujuan memfasilitiasi atau terkait dengan kegiatan terorisme diancam dengan pidana penjara maksimum seumur hidup (Pasal 103. dan UNSC Resolutions No. atas nama. Sumber hukum lainnya: Charter of the United Nations Act 194520. 1373 Hal-hal penting lain yaitu: pertanggungjawaban pidana yang diperluas hingga mencakup percobaan. Freezing of Terrorist Asset. setiap orang yang dengan sengaja atau kelalaiannya menyediakan dan/atau mengumpulkan dana.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme setiap orang yang dengan sengaja memberikan dukungan atau menyediakan sumber bagi organisasi teroris meskipun orang tersebut karena kelalaiannya tidak mengetahui bahwa organisasi tersebut adalah organisasi teroris diancam dengan maksimum pidana 15 tahun [Pasal 102. pembantuan. termasuk aplikasi ijin (bagian 28).1 dan Pasal 103. konspirasi untuk kegiatan pendanaan terorisme.7 (2)]. Kewajiban dan panduan Hukum bagi organisasi Nirlaba di Australia: Mewujudkan upaya-upaya yang rasional untuk menjamin agar dana tersebut tidak di transfer kepada organisasi teroris. Ketentuan dalam KUHP ini dapat berlaku bagi setiap orang dan korporasi (termasuk organisasi nirlaba). kegiatan pendanaan terorisme merupakan salah satu tindak pidana asal dari tindak pidana pencucian uang. serta tidak mensyaratkan bahwa dana tersebut harus secara nyata atau dengan percobaan telah digunakan untuk kegiatan terorisme. Charter of the United Nations Act 1945 melakukan kontrol pada pemberian/integritas izin. penghasutan. dan (b) ijin yang diperoleh dengan menggunakan informasi palsu atau menyesatkan akan dibatalkan ab initio (bagian 13A dan 22B).2) . 20 35 . dan ketentuan mengeni penundaan dan penyitaan aset dalam KUHAP Australia 2002 dapat digunakan oleh para Jaksa dalam melakukan penuntutan. 1267 dan No. baik secara langsung/tidak langsung untuk.

Pembekuan Aset Teroris Pasal 39 Piagam PBB telah mengatur tindakan terhadap setiap ancaman atau pelanggaran terhadap perdamaian. kerja sama antar intelijen keuangan (the Egmont Group). Pasal 25 mengatur bahwa Anggota (PBB) secara hukum terikat untuk menerima dan melaksanakan keputusan Dewan Keamanan. Adapun beberapa Resolusi PBB yang Terkait Terorisme sebagai berikut: RES 1267/1333: berkaitan kegagalan Pemerintah Taliban dalam menyangkal memberikan perlindungan dan pelatihan teroris internasional serta bekerja sama dengan upaya untuk membawa teroris ke pengadilan. usaha dan badan/entitas terkait dengan mereka karena tindakan kriminal dan terorisme. dan International Cooperation Review Group (ICRG). Usamah bin Laden. standar internasional FATF.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Mematuhi kewajiban-kewajiban hukum. OP4 (b) dan RES1333. Memahami dan mengantisipasi resiko penyalahgunaan oleh kelompok teroris. RES 1904: mengecam Al-Qaeda. yang dimiliki atau dikendalikan oleh orang atau badan dimaksud. Ekstradisi. Kerjasama Internasional dapat dilakukan melalui MLA. kelompok. segala aset keuangan lain dan sumber daya ekonomi (yang berada di wilayah mereka). Sedangkan sanksi keuangan yang diberikan oleh DK PBB terkait RES1267. 36 . khususnya prinsip due diligence dan update terhadap daftar kelompok teroris. OP1 (c) dan (d) adalah: Membekukan/memblokir tanpa penundaan dana. OP8 (c) . RES 1373: setiap tindakan terorisme internasional merupakan ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional. sekarang RES1988 / 1989) RES1373. Selanjutnya. didakwa sebagai ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional. Taliban dan individu lainnya. dan untuk memutuskan tindakan yang akan diambil dalam rangka memelihara atau memulihkan perdamaian dan keamanan internasional. Dalam hal ini sanksi berupa tindakan yang tidak melibatkan penggunaan kekuatan bersenjata (Pasal 41).

Berdasarkan RES 1373.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Memastikan pencegahan penyediaan dana. Berkaitan dengan sanksi tersebut. orang dan badan yang bertindak atas nama atau dalam kendali orang atau badan tersebut. 37 . Orang atau badan yang diidentifikasi sebagai subjek sanksi keuangan adalah: orang yang melakukan atau mencoba untuk melakukan tindakan teroris atau berpartisipasi atau memfasilitasi tindakan teroris. usaha dan entitas terkait. Al-Qaeda. apakah berwujud atau tidak berwujud. bergerak atau tidak bergerak. Individu. kelompok. properti dari setiap jenis. karena berdasaran RES 1373 terdapat alasan untuk mencurigai atau percaya terhadap penetapan orang atau badan dalam OP1 (c) RES1373. aset keuangan atau sumber daya ekonomi oleh warga negara mereka. sebagaimana dimaksud dalam daftar yang dibuat berdasarkan RES1267. 2. badan/entitas yang dimiliki atau dikendalikan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh orang-orang tersebut. Taliban. atau untuk kepentingan orang atau badan dimaksud. pelepasan atau pergerakan dana atau aset lainnya. RES 1267 / 1333 (sekarang RES1989): a. atau oleh orang atau badan dalam wilayah mereka. konversi. b. Tanpa penundaan: dalam hitungan jam berdasarkan penetapan DK PBB (RES 1267). maka terminologi yang dipergunakan oleh PBB adalah sebagai berikut : Memblokir adalah: melarang transfer. RES 1267 / 1333 (sekarang RES1988): a. Beberapa orang atau badan yang telah diidentifikasi dikenakan sanksi keuangan berdasarkan resolusi adalah: 1. Dana: aset keuangan lainnya dan sumber daya ekonomi: keuangan aset. Dana beku atau aset lainnya tetap menjadi milik orang tersebut atau badan yang mereka selenggarakan pada waktu pemblokiran.

Daftar tersebut ditetapkan dalam keputusan eksekutif atau yudikatif. Setiap Orang. sebagaimana dimaksud dalam daftar yang dibuat berdasarkan RES1989. 2. Memberikan kesempatan bagi orang/badan yang ditetapkan dalam daftar untuk mengajukan permohonan peninjauan ulang kepada otoritas berdasarkan bukti-bukti. Memungkinkan delisting/unfreezing terhadap orang/badan dan asetnya yang tidak lagi masuk dalam daftar. persyaratan kepatuhan. 3. 5. Penyusunan strategi komunikasi diperlukan dalam rangka memastikan publikasi kepada masyarakat.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme b. individu. usaha dan entitas terkait. dalam yurisdiksinya wajib melakukan pemblokiran atas aset Orang/badan yang masuk dalam daftar tersebut. Melakukan review secara periodikal atas penetapan tersebut berdasarkan masukan negara anggota. didasarkan pada “alasan/dasar" standar pembuktian. Pemblokiran dan larangan berurusan dengan aset orang yang masuk dalam daftar (pasca penetapan resolusi). mengirimkan nama-nama Al Qaeda/Taliban rekan untuk Komite 1267. bukan hanya lembaga keuangan. kelompok. Pemblokiran aset tersebut bersifat "tanpa penundaan". berkenaan dengan: sanksi dan penerapan hukumnya. DK PBB telah memberikan pedoman terkait pelaksanaan resolusi dimaksud. diterapkan tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada orang/badan yang ditetapkan tersebut. Penyusunan daftar tersebut harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: dilakukan sendiri atau atas permintaan pemerintah asing. 38 . 6. 4. Diharapkan masing-masing negara anggota menunjuk institusi/otoritas dan memiliki prosedur dalam mengidentifikasi orang atau badan serta memasukkannya dalam daftar (domestic list). sebagai berikut: 1. tidak bersyarat atas adanya proses pidana.

setiap negara juga wajib mengadopsi dan menerapkan langkah-langkah. Dalam pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme. yaitu 22 39 .Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme komprehensif penetapan orang/badan dalam daftar.22 Sehubungan dengan hal tersebut maka 21 Special Recommendation III FATF terdiri dari dua kewajiban. atau digunakan dalam. Dalam pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme. sebagai Negara Anggota FATF seyogiyanya menjalankan secara komprehensif rekomendasi-rekomendasi FATF. tindakan teroris atau organisasi teroris. contact person/help desk. yang akan memungkinkan pihak yang berwenang untuk merampas dan menyita harta yang merupakan hasil dari. Pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme. namun selalu memiliki keterkaitan yang sejalan dengan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme. termasuk dalam perundang-undangan nasionalnya. Perampasan dan Penyitaan Aset Teroris Sejalan dengan semangat pemberantasan terorisme secara global. Recommendation 3 FATF dan Recommendation 38 FATF mengenai Anti-Money Laundering. Di samping itu. penetapan keputusan. atau dimaksudkan atau dialokasikan untuk digunakan dalam. rekomendasi-rekomendasi FATF yang perlu diadopsi antara lain. yaitu: (a) menerapkan langkahlangkah yang sesuai dengan resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB terkait perampasan dana teroris atau aset lainnya tanpa penundaan. baik dalam pemberantasan Money Laundering maupun dalam pendanaan terorisme. pendanaan terorisme. meskipun merupakan rezim pengaturan yang berbeda dengan tindak pidana pencucian uang. mereka yang membiayai terorisme dan organisasi teroris sesuai dengan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berkaitan dengan pencegahan dan pemberantasan pendanaan terorisme. Special Recommendation III mengenai Terrorist Financing. Special Recommendation III FATF21 merekomendasikan bahwa setiap Negara wajib menerapkan langkah-langkah untuk membekukan dana tanpa penundaan (freeze without delay) atau aset teroris lainnya. Pemerintah Australia juga memiliki dasar yang berasal dari hukum nasional Australia. dan (b) mengambil langkah-langkah yang memungkinkan untuk merebut atau merampas dana teroris atau aset lainnya atas dasar perintah atau mekanisme yang dikeluarkan oleh otoritas yang berwenang atau pengadilan.

transfer atau penghilangan harta tersebut. yang paling memungkinkan dalam pemberian bantuan dalam kaitannya dengan tindak pidana. dan (b) mereka yang terkait dengan instrumen kejahatan (dana yang digunakan untuk melakukan kegiatan ilegal). (c) melakukan penahanan aset. penegakan hukum sipil.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme dalam pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme perlu diperhatikan juga Recommendation 3 FATF dan Recommendation 38 FATF dalam pemberantasan tindak pidana pencucian uang. Recommendation 3 FATF menyebutkan bahwa tindakan yang dilakukan Pemerintah tersebut harus termasuk kewenangan untuk mengidentifikasi. dan proses yang berkaitan dengan pendanaan terorisme. 25-29 September 2011. Saat ini ada 19 pelanggaran yang berbeda dari pencucian uang yang tersedia di bawah Commonwealth Criminal Code. baik hartanya maupun pelakunya. Kerja sama internasional dilakukan atas dasar mekanisme perjanjian atau pengaturan lainnya untuk melakukan bantuan hukum timbal balik atau pertukaran informasi (termasuk agency to agency channels). Commonwealth Criminal Code berisi tindak pidana pencucian uang utama di Australia. Pengembalian dalam lingkup 23 40 . Sydney-Australa. Sebagai contoh bentuk kerjasama antar negara. melaksanakan langkah-langkah sementara. Divisi 400 tersebut dimasukkan ke dalam Commonwealth Criminal Code melalui Proceeds of Crime Act 2002 pada Januari 2003. untuk mencegah transaksi. Division 400. pertanyaan. membekukan. seperti pembekuan dan menyita. sarana-sarana yang digunakan dalam atau dimaksudkan untuk digunakan dalam tindak pidana. Sistem hukum Australia tersebut memungkinkan adopsi langsung dari hukum internasional seperti rekomendasi-rekomendasi PBB dan rekomendasi-rekomendasi FATF. Dalam kaitannya dalam pelaksanaan Mutual Legal Assistance (MLA) dengan negara lain. (d) melakukan perampasan aset. dan investigasi administratif. tindakan teroris dan organisasi teroris. melacak dan mengevaluasi harta kekayaan yang akan dirampas. menyita dan menyita properti dicuci. Australia dan Indonesia telah memiliki dasar hukum melalui Treaty Between Australia and the Republic of Indonesia on Mutual Assistance in Criminal Matters yang ditandatangani tanggal 27 Oktober 1995. Mutual Assistance tersebut meliputi proses: (a) membuat daftar orang yang diduga terkait dalam pendanaan teroris berdasarkan daftar PBB. dan dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis. Australia memiliki pendekatan yang sangat tegas dalam hal tindak pidana pencucian uang. hasil dari pencucian uang atau tindak pidana asal. dan (e) melakukan pengambalian kepada negara yang meminta proses mutual assistence. Lihat “Laporan Pelaksanaan Counter Financing of Terrorism Study Tour”.23 Commonwealth Criminal Code dan Proceeds of Crime Act 2002. (b) melakukan lokalisasi aset. Setiap Negara juga memiliki pengaturan untuk mengkoordinasi proses penyitaan dan perampasan aset teroris. yaitu: (a) mereka yang terkait dengan hasil kejahatan (dana yang dihasilkan oleh aktivitas ilegal). Recommendation 38 FATF menyebutkan bahwa setiap negara wajib memiliki kewenangan untuk mengambil tindakan cepat dalam menanggapi permintaan oleh negara-negara lain untuk mengidentifikasi.

atau meminjamkan dana baik langsung maupun tidak langsung digunakan atau yang diketahui akan digunakan untuk terorisme. mengumpulkan. Pendanaan Terorisme banyak dilakukan dengan menggunakan transaksi keuangan yang dilakukan melalui penyedia jasa keuangan (PJK). Penyelenggara Transfer Dana (PTD) harus mendapatkan ijin dari Bank Indonesia. 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana telah mengatur bahwa dalam melakukan kegiatan usahanya. pengawasan pengumpulan dan penerimaan sumbangan. PJK harus melaporkan transaksi keuangan mencurigakan terkait pendanaan terorisme kepada PPATK. dan c. Pada prinsipnya. pengertian Orang dapat pula meliputi perseorangan dan korporasi (badan hukum atau tidak berbadan hukum). a. PJK merupakan PTD karena menyelenggarakan kegiatan transfer dana. yaitu terkait: pengembalian pelaku tindak pidana dilakukan melalui proses ekstradisi yang berlaku berdasarkan perjanjian. b. pengawasan kegiatan pengiriman uang melalui sistem transfer atau pengiriman uang melalui sistem lainnya. atau Teroris. Lihat “Laporan Pelaksanaan Counter Financing of Terrorism Study Tour”. Sehingga dalam hal tertentu terdapat batasan-batasan yang menyebabkan ekstradisi tidak dapat diberikan. Organisasi Teroris. akan dikenai ancaman hukuman pidana (PTD ilegal). Australia dan Indonesia memiliki Perjanjian Ekstradisi antara Republik Indonesia dan Australia. Terminologi “formal” atau “nonformal” dapat diartikan sebagai PJK berbentuk badan hukum (formal) atau perorangan/tidak berbadan hukum (nonformal) Sementara itu. UU No. 25-29 September 2011. namun ada juga dalam batasan-batasan tersebut dapat diberlakukan berdasarkan kebijakan. Sydney-Australa. Dalam hal ini. PTD yang menyelenggarakan kegiatan transfer dana tanpa ijin. Pelaksanaan ekstradisi antara kedua negara tunduk kepada perjanjian dan prosedur yang berlaku di setiap negara tersebut.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Monitoring Oleh Penyedia Jasa Keuangan Pendanaan Terorisme adalah segala perbuatan dalam rangka menyediakan. memberikan. yaitu setiap orang yang menyediakan jasa di bidang keuangan atau jasa lainnya yang terkait dengan keuangan baik secara formal maupun nonformal. penerapan prinsip mengenali Pengguna Jasa Keuangan. sehingga harus memiliki ijin (formal). pelaporan dan pengawasan kepatuhan Pengguna Jasa Keuangan. Dalam hal ini upaya pencegahan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme dilakukan melalui: a. Untuk melindungi kepentingan masyarakat. 41 .

24 42 . 96 104 . B. Sumber pendanaan teroris di Asia Tenggara. transaksi yang melibatkan Setiap Orang yang berdasarkan publikasi pemerintah atau organisasi internasional dikategorikan sebagai teroris atau organisasi teroris. Pada umumnya uang tersebut dikumpulkan anggota-anggota kelompok sebagai suatu kewajiban dari anggota. sebagaimana dikemukakan oleh Arabinda Acharya24 berasal dari sumbangan (donations). Ushulul–Manhaj Al-Harakiy Li Iqomatid-Dien ini berfungsi sebagai pedoman pokok yang menjadi dasar dalam penyusunan Al-Manhaj Al Hirakiy Li Iqomatid-Dien. Al-Manhaj Al Hirakiy Li Iqomatid-Dien atau pedoman gerakan menegakkan agama mengandung pengertian sebagai pedoman mengenai langkah-langkah sistematis yang wajib ditempuh dalam rangka menegakkan Dien. c.25 Arabinda Acharya. b. 2009. Editor Daljit Singh. Kajian Terhadap Asas/Prinsip Yang Terkait Dengan Penyusunan Norma Pendanaan teroris adalah merupakan bagian dari persoalan kejahatan global yang sudah ada sejak lama dan terkait erat dengan dana-dana ilegal yang bergerak menyeberang lintas batas antar negara. Institute of Southest Asian Studios.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme a. Fungsi Al-Manhaj Al Hirakiy Li Iqomatid-Dien adalah sebagai penjabaran dari Ushulul– Manhaj Al-Harakiy Li Iqomatid-Dien dan sebagai pedoman dasar dalam penyusunan Al-Manhaj Al-Amaliy. Singapore. Menegakkan Ad-Dien yang dimaksud adalah menegakkan Daulah Islamiyyah atau Negara Islam dan selanjutnya menegakkan Khilafah Islamiyyah atau pemerintahan Islam. hal. Sumbangan (donasi) untuk terorisme diberikan dalam bentuk yang berbeda-beda dan yang diberikan secara sukarela atau diperoleh melalui unsur paksaan. atau b. keuntungan dari pendapatan bisnis yang sah dan berasal dari kejahatan. Al-Manhaj Al-Amaliy atau pedoman operasional mengandung pengertian sebagai pedoman umum operasi. transaksi yang patut diduga menggunakan dana yang terkait atau berhubungan dengan atau akan digunakan untuk tindak pidana terorisme. Terorist Financing in Southest Asia dalam Terrorism in South and Southest Asia in The Coming Accade. Ushulul–Manhaj Al-Harakiy Li Iqomatid-Dien atau pokok-pokok pedoman gerakan menegakkan agama yang berisi prinsip-prinsip dalam memahami Ad-Dien sebagai landasan langkah-langkah sistematis yang wajib ditempuh dalam rangka menegakkan Ad-Dien. pemanfaatan uang dari yayasan amal agama Islam. Seperti halnya yang diatur dalam PUPJI (Pedoman Umum Perjuangan Al–Jamaah Al–Islamiyah) sebagai Piagam Anggaran Dasar Jemaah Islamiyah yang menuntut anggota-anggotanya berpartisipasi pada organisasi. 25 Pedoman Umum Perjuangan Al-Jama’ah Al-Islamiyah (PUPJI) yang isinya antara lain : a.

jasa pengiriman uang dan bahkan sekolah-sekolah. Pengelola dana zakat menginvestasikan dalam bentuk bermacammacam sumbangan atau subsidi pada organisasi-organisasi amal. anggota majelis qiyadah markaziyah. jasa pengiriman (courier service). Al-Manhaj Al Hirakiy Li Iqomatid-Dien. Majelis Qiyadah Manthiqih atau Dewan Pimpinan Wilayah dan Majelis Qiyadah Wakalah atau Dewan Pimpinan Tingkat Perwakilan. Pembinaan At-To’ah atau ketaatan / loyalitas. Bisnis ini meliputi perusahaan konstruksi. Tajnid atau rekrut kemiliteran. mengutip infaq dari anggota jama’ah yang baik yang bersifat rutin maupun incidental. murtad. Jihad Musallah diartikan sebagai Qital yakni perperang untuk melawan musuh Allah dan Rasul-Nya antara penguasa kafir. (Disalin dari Surat Dakwaan Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan tertanggal 12 Oktober 2004 dalam perkara terdakwa Abu Bakar Ba’asyir alias Abdus Somad alias Abu Bakar Ba’asyirbin Abud Ba’asyir) 43 . dengan sasaran perjuangan mewujudkan tegaknya Daulah Islamiyah sebagai basis menuju wujudnya kembali Khilafah Alaa Minhajin Nubuwwah atau pemerintahan berdasarkan ajaran Nabi dengan menempuh jalan antara lain jihad fii sabilillah. bukan hanya menghasilkan pendapatan. Amir menyelenggarakan musyawarah majelis-majelis tingkat markas. mustabdil dan pembantunya tanpa menjelaskan alasan dibolehkannya jihad Qital (berperang). bahwa jama’ah bernama Al-Jama’ah Al-Islamiyah yang merupakan Jama’atun minal-Muslimin yaitu sebuah Jama’ah yang anggotanya terdiri dari sebagian kaum muslimin. Untuk melaksanakan Ushulul–Manhaj Al-Harakiy Li Iqomatid-Dien. Dalam hal ini penyumbang zakat menganggap bahwa uang itu dizakatkan sebagai kewajiban keagamaan yang digunakan untuk tujuan utama beribadah. musyrik. Dengan cara ini sumbangan amal dapat dilibatkan untuk mendukung kegiatan kelompok-kelompok teroris. Bisnis wirausaha tingkat menengah adalah sesuatu yang ideal. tetapi juga menjadi kedok transaksi keuangan untuk menghindari pelacakan. agen perjalanan (travel agencies). mengadakan hubungan dengan pihak lain yang dipandang membawa kemashlahatan jama’ah dan menunjuk pejabat sementara apabila berhalangan dalam menjalankan tugasnya. Amir membela dan melindungi anggota. Sumber dana juga dapat diperoleh kelompok teroris dengan membangun usaha mereka sendiri melalui perdagangan dan perputaran uang. yang dalam melaksanakan tugasnya Amir dibantu oleh majelis – majelis Qiyadah atau Dewan Kepemimpinan. Amir mengangkat dan memberhentikan anggota majelis syuro. Jama’ah dipimpin oleh seorang Amir atau pemimpin. memberi sanksi anggota jama’ah yang melanggar peraturan jama’ah. Majelis Syuro atau Dewan Pertimbangan. Uang tersebut diselewengkan oleh pegawai atau pengurus lainnya. anggota majelis fatwa dan anggota majelis hisbah.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Sumber dana terorisme juga dilakukan dengan penyalahgunaan yayasan amal yaitu menyelewengkan uang yang dikumpulkan melalui zakat dengan dalih untuk ijtihad. yang antara lain mengatur Jama’ah. Amir juga mempunyai wewenang untuk menentukan dan mengesahkan keputusan musyawarah. Uang zakat tersebut dapat disalahgunakan tanpa sepengetahuan penyumbang. Tamwil atau pendanaan dan Jihad Musallah atau jihad dengan senjata. Pendidikan dan Pelatihan. Majelis Qiyadah terdiri dari Majelis Qiyadah Markaziah atau Dewan Pimpinan Pusat. Nidhom Asasi atau aturan dasar atau anggaran dasar. bukan seluruh kaum muslimin di dunia. Al-Manhaj Al-Amaliy dan Nidhom Asasi antara lain dengan Tandzim Siri atau organisasi rahasia. Tugas dan wewenang Amir antara lain menerima mubaya’ah atau pembai’atan anggota. pemberi zakat atau bahkan tidak diketahui oleh anggota pengelola/pengurus dan staf organisasi itu sendiri. d. zindiq. Majelis Fatwa atau Dewan Penasehat dan Majelis Hisbah atau Dewan Pengawas.

(3) Asas subsidiaritas (sebelum perbuatan dinyatakan sebagai tindak pidana. yaitu : (1) Asas bahwa kerugian yang digambarkan oleh perbuatan tersebut harus masuk akal. Kriminalisasi menurut Mardjono Reksodiputro mengandung pengertian : primair untuk menyatakan sebagai tindak pidana perbuatan dalam abstracto dan secundair untuk memberi label pelanggar hukum pidana pada orang dalam concreto (sekedar catatan sementara tentang Kriminalisasi. Arabinda Acharya menyebut nama Zubair seorang warga negara Malaysia. adapun kerugian ini dapat mempunyai aspek moral (moralitas individu – kelompok – kolektifitas). hal. Politik Kriminal dan AsasAsasnya (Makalah disampaikan pada FGD-PPATK. tetapi selalu harus merupakan “public issue”. perlu diperhatikan apakah kepentingan hukum yang terlanggar oleh perbuatan tersebut masih dapat dilindungi dengan cara lain . loc. berkaitan erat dengan ada atau tidak adanya toleransi . (2) Asas adanya toleransi (tenggang-rasa) terhadap perbuatan tersebut penilaian atas terjadinya kerugian. Arabinda Acharya. 5 Januari 2008) 28 (ibid) 27 26 44 . Beberapa sekolah yang sudah mapan juga membayar orang-orang upahan untuk operasi teroris.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Seringkali kelompok teroris itu sendiri yang akan mengambil tindakan menyebarkan uang untuk memulai suatu bisnis yang sah. Menurut Mardjono Reksodiputro28 untuk menguji suatu kriminalisasi primair (rumusan tindak pidana) perlu diperhatikan sejumlah asas. Modus operandi pendanaan terorisme sebagaimana digambarkan diatas adalah merupakan salah satu bentuk perbuatan yang akan dikriminalisasikan 27 dalam Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Pendanaan Terorisme. toleransi didasarkan pada penghormatan atas kebebasan dan tanggung jawab individu) .cit. taman kanak-kanak dan yatim piatu. Zubair bertanggung jawab untuk operasi dari Om-Al-Qura Foundation. Salah satu tujuannya disini adalah untuk menghasilkan pendapatan atau untuk mencampurkan hasil pencucian uang seolah-olah berasal dari usaha yang sah. hukum pidana hanyalah ultimum remedium) . menjadi anggota Al Qaeda. membangun aktifitas kelompok melalui jaringan sekolah perawat. suatu sekolah Islam di Cambodia 26. Senin. 101. Kelompok teroris juga menggunakan sekolah-sekolah swasta untuk mendukung pendanaan dalam aktifitas mereka.

(5) Asas legalitas. Masyarakat tidak dapat lagi mentolerir 45 . Aspek moral dapat digambarkan dari kerugian mereka yang secara ikhlas menyumbang atas dasar kewajiban agama yang disalurkan melalui badanbadan keagamaan seperti badan zakat. yang merupakan sendi utama hukum pidana . masih perlu dilihat apakah perbuatan tersebut dapat dirumuskan dengan baik hingga kepentingan hukum yang akan dilindungi. Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 1373 (2001) tertanggal 28 September 2001 telah memutuskan agar semua negara mencegah dan menindas pendanaan tindakan–tindakan teroris. yayasan keagamaan ternyata telah disalahgunakan orang lain untuk membantu pendanaan terorisme. dan dengan reaksi atau pidana yang diberikan) . Perumusan tindak pidana pendanaan terorisme dapat dipandang telah memenuhi asas-asas kebijakan kriminal tersebut diatas. tercakup dan pula jelas hubungannya dengan asas kesalahan. (6) Asas penggunaannya secara praktis. Resolusi juga meminta kepada semua negara untuk menjadikannya suatu kejahatan untuk setiap perbuatan yang dengan sengaja memberi atau mengumpulkan dengan cara apapun baik langsung atau tidak langsung dengan maksud bahwa dana tersebut akan digunakan untuk melaksanakan tindakan-tindakan teroris. Upaya menghentikan pendanaan terorisme bukan saja menjadi issu domestik tetapi juga sudah menjadi issu global. apabila a sampai dengan d telah dipertimbangkan. yaitu : (1) Sifat kerugian yang ditimbulkan perbuatan pendanaan terorisme dapat menimbulkan kerugian baik dari aspek moral maupun public issue. (2) Memenuhi asas toleransi (tenggang-rasa) dalam arti bahwa akibat perbuatan pendanaan dapat mengakibatkan tindakan terorisme yang menimbulkan kerugian sangat besar bagi masyarakat berupa korbanharta benda maupun korban manusia. dan efektifitasnya berkaitan dengan kemungkinan penegakannya serta dampaknya pada prevensi umum (practical use and effectivity).Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme (4) Asas proporsionalitas (harus ada keseimbangan antara kerugian yang digambarkan dengan batas-batas yang diberikan oleh asas toleransi.

dan asas lex stricta (aturan itu harus ditafsirkan secara sempit dan tidak digunakan analogi). hal. (3) Asas subsidiaritas telah terpenuhi mengingat tidak ada cara lain untuk melindungi kepentingan hukum masyarakat. selain dengan menggunakan hukum pidana sebagai ultimum remedium. 62. Terorisme tidak akan dilakukan tanpa dana. (6) Asas penggunaannya secara praktis dan efektif dalam penerapannya akan dapat dipenuhi manakala waktu merumuskan tindak pidana sudah memiliki prediksi dalam praktik penegakan hukumnya. Jakarta. tetapi hukum pidana dapat dikatakan melakukan upaya preventif. namun langsung bekerja begitu “ancaman” terhadap kepentingan hukum yang hendakdilindungi muncul29 ancaman bahaya dalam Jan Remmelink.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme perbuatan pendanaan terorisme yang menimbulkan kerugian luar biasa bagi masyarakat. Hukum pidana tidak menunggu munculnya akibat perbuatan (kerugian). LLM. Gramedia Pustaka. Oleh karena sifat tindak pidana ini adalah tindak pidana yang kemungkinan menimbulkan ancaman bahaya. 2003. Tindak pidana pendanaan terorisme merupakan tindak pidana yang mendahului terjadinya tindak pidana terorisme. Hukum Pidana. SH. Ancaman sanksi pidana merupakan sarana yang efektif untuk menekan kerugian yang ditimbulkan oleh perbuatan pendanaan teroris. asas lex certa (perumusan jelas dan tidak multi tafsir). Alternatif usaha lain memberantas pendanaan terorisme dipandang tidak akan memadai. (5) Asas legalitas akan terpenuhi melalui perumusan undang-undang yang jelas. konkrit sejalan dengan asas lex sricpta (dirumuskan sebagai aturan hukum pidana tertulis). 29 46 . dukungan publik yang kuat baik nasional maupun internasional terhadap pemberantasan terorisme melalui penghentian pendanaan. (4) Asas proporsionalitas sebagai persyaratan kebijakan kriminal dapat digambarkan dengan adanya keseimbangan antara kerugian menurut batas – batas asas toleransi dengan reaksi atau pidana yang akan diberikan. diterjemahkan oleh Pascal Moeljono. berhubung analisa biaya dan hasil. Komentar atas Pasal-pasal terpenting dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia. terjadinya pelanggaran atas kepentingan hukum tidak ditunggu.

Berdasarkan kenyataan ini upaya pencegahan dan pemberantasan pendanaan terorisme dianggap sebagai upaya terkini untuk memberantas kegiatan terorisme itu sendiri. Kajian Terhadap Praktik Penyelenggaraan. Tentang akibat perbuatan. Serta Permasalahan Yang Dihadapi Masyarakat Pendanaan terorisme merupakan “urat nadi” dari terjadinya suatu kegiatan terorisme. secara melawan hukum dan sengaja menyediakan atau mengumpulkan dana dengan maksud akan digunakan melakukan terorisme. maka tindak pidana pendanaan terorisme pada dasarnya adalah merupakan suatu perbuatan yang merujuk pada kelakuan yaitu melakukan suatu perbuatan dengan segala cara. langsung atau tidak langsung. Dalam melakukan suatu aksi teror dibutuhkan dana dalam jumlah besar. Sebaliknya yang kedua. apabila tindakan tersebut “in concreto” telah menimbulkan bahaya yang dirumuskan dalam undang-undang. Kondisi Yang Ada. suatu cara merumuskan suatu perbuatan tertentu sebagai tindak pidana berdasarkan pengalaman. Katagori tindak pidana tersebut berkembang menjadi pemilahan antara delik formal dan delik materiil. tanpa merumuskan lebih terperinci kepentingan-kepentingan hukum seperti apa yang rentan terhadap resiko tersebut. sedangkan delik yang menimbulkan bahaya konkret melarang suatu tindakan dan munculnya akibat yang menimbulkan bahaya bagi kepentingan-kepentingan hukum tertentu. lebih tepat dirumuskan sebagai “delik formal”.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme perumusan tindak pidana. perbuatan tertentu sangat mudah berujung pada pelanggaran kepentingan kepentingan hukum. C. yaitu ia juga dapat merumuskan suatu perbuatan sebagai tindak pidana. Jan Remmelink menunjuk adanya dua cara yaitu delik yang menimbulkan bahaya abstrak. Delik yang menimbulkan bahaya abstrak hanya melarang suatu perilaku. Dengan demikian perumusan tindak pidana pendanaan terorisme. 47 . delik yang menimbulkan bahaya konret. berupa terorisme sebagai kepentingan hukum yang dilanggar. Mencermati cara perumusan tindak pidana sebagaimana tersebut diatas. masih belum tentu terjadi akan timbul.

ibid.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Teorisme memerlukan dana untuk mendapatkan senjata dan bahanbahan peledak yang belakangan ini banyak digunakan. 1 Tahun 2002 yang berdasarkan UU No. Perdebatan yang juga terjadi atas terbitnya Perpu ini adalah perihal penangkapan 7x24 jam hingga laporan intelijen yang digunakan sebagai alat bukti. Sehingga. Kelompok-kelompok teroris yang sudah sangat terorganisir mengguunakan peralatan-peralatan yang lebih canggih. Kontroversi yang timbul dari mulai sifat retrokatif atau berlaku surut hingga Perpu ini dapat diterapkan terhadap aksi pemboman di Bali. agar tenaga-tenaga dapat terlatih untuk menjalankan aksinya mereka perlu membuat pelatihan. Dibutuhkan adanya tempat untuk menampung para teroris sehingga mereka dapat hidup dan memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. 15 Tahun 2003 telah ditetapkan menjadi Undang-Undang. 1 tahun 2002 guna mengisi kekosongan hukum (rechsvacuum) tentang penindakan kejahatan terorisme. Namun undang-undang ini tidak secara tegas menggunakan istilah pendanaan terorisme atau bahkan memberikan pengertian apa itu pendanaan terorisme.30 Penerbitan Perpu ini sejak awal telah banyak mengundang kontroversi dari berbagai pihak dan kalangan. 8-9. Dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. hal. apabila setiap negara dapat memotong aliran dana bagi para teroris maka tindakan terorisme dapat dicegah. Selain itu. pemerintah Indonesia telah mengatur pendanaan terorisme. Pemerintah menerbitkan Perpu No. 48 . Ketentuan pendanaan terorisme ini diatur secara bersamaan dengan kegiatan terorisme dalam undang-undang tersebut. Indonesia telah mengkriminalisasi kegiatan terorisme dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. Dalam ketentuan yang mengatur pendanaan terorisme hanya melarang tindakan-tindakan untuk memberikan bantuan dana bagi kegiatan 30 Sidik. Semua kegiatan dan kebutuhan diatas membutuhkan dana yang dapat dibilang tidak sedikit. Pengaturan ini dianggap telah melanggar hak asasi dari pelaku tindak pidana. Perpu ini sendiri baru dikeluarkan setelah terjadinya pemboman pada 12 Oktober 200 di Sari Club dan Paddy’s Club. Kuta Bali. baik untuk senjata maupun sarana komunikasi.

Oleh karena itu perkembangan kedepan atau permasalahannya tentu saja semakin kompleks kepentingan dan didukung oleh berbagai peralatan yang semakin canggih. yaitu dengan dikerluarkannya UU No. 31 Ibid. UU No. 25 tahun 2003 yang merubah dan menambah UU No. yaitu Undang-Undang No. dalam perkembangannya ternyata ketentuan pendanaan terorisme diatur dalam Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang. Selain itu. bagaimana. Uang.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme terorisme yang disamakan dengan kegiatan pendanaan terorisme atau Financing of Terrorism. Namun. 15 Tahun 2002 ini diundangkan sebelum adanya undang-undang tentang tindak pidana terorisme. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencuian Uang. Penerapan Program Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) Bagi Bank Umum Dalam rangka mencegah digunakannya bank sebagai media pendanaan teroris. bank wajib memelihara database daftar teroris yang diterima dari Bank Indonesia setiap 6 (enam) bulan sekali berdasarkan data yang dipublikasikan oleh PBB. 5 49 . Setelah adanya perubahan dan penambahan UU Tindak Pidana Pencucian Uang (UU TPPU). 25 Tahun 2003 barulah pendanaan terorisme diatur dalam UU Tindak Pidana Pencucian Uang. Kewajiban Pelaporan dan Pelaksanaan Monitoring 1. 15 tahun 2002 telah memasukkan tindak pidana terorisme sebagai salah satu bentuk kejahatan asal pada pencucian uang.31 Namun dari awal dan perkembangnya terorisme didapai satu hal yang tidak akan erubah bahwa kegiatan atau aksi teror pastilah membutuhkan dana. sulit dideteksi apa. hal. dimana dan siapa yang menjadi sasaran berikutnya. Aksi-aksi teror yang ada sekarang ini jauh lebih berbahaya dari aksi teror yang dikenal sebelumnya. Namun. Hingga saat ini belum ada undang-undang yang khusus membahas perihal pendanaan terorisme. Pasal 2 ayat (1) huruf n UU No. Diaturnya terorisme dalam undang-undang ini adalah untuk meng-cover apabila kemudian diundangkannya UU tentang Tindak Pidana Terorisme.

Sebagai upaya efektivitas pelaksanaan pemantauan terhadap database Daftar teroris diperlukan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dan kemampuan yang memadai khususnya yang terkait kegiatan pendanaan terorisme. melaksankan tugas pengawasan pelaksanaan program pencegahan pendanaan terorisme.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Informasi mengenai Daftar teroris antara lain dapat diperoleh melalui website PBB (http://www. bank wajib menyelenggarakan pelatihan mengenai upaya pencegahan pendanaan terorisme kepada seluruh karyawan khususnya bagi karyawan yang berhadapan langsung dengan nasabah. Dalam hal terdapat kemiripan nama nasabah dengan nama yang tercantum dalam databse Daftar teroris. Untuk membantu pihak yang berwenang melakukan penyidikan terhadap dasna-dana yang diindikasikan terkait dengan pendanaan terorisme. atau melakukan pelaporan LTKM kepada PPATK.org/sc/committees/1267/consolist. b. Dalam hal terdaspat kesamaan nama nasabah dan kesamaan informasi lainnya dengan nama yang tercantum daslam database Daftar Teroris. dan pihak berwenang seperti informasi dari PPATK. Sehubungan dengan hal tersebut.shtml).un. Kegiatan pemantauan yang wajib dilakukan bank terkait dengan database Daftar teroris yang dimiliki adalah: a. sehingga bank dapat secara aktif mengkinikan Daftar Teroris tanpa harus menunggu daftar yang dikirim Indonesia. dan INTERPOL. dan dokumen keuangan dengan jangka waktu sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Dokumen Perusahaan. Memastikan secara berkala terdapat atau tidasknya nama-nama nasabah bank yang memiliki kesamaan atau kemiripan dengan nama yang tercantum dalam database tersebut. bank wajib melaporkannya dalam Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan kepada PPATK. 50 . bank wajib menatausahakan dokumen yang terkait dengan data nasabah atau WIC dengan jangka waktu 5 (lima) tahun. c. bank wajib memastikan kesesuaian identitas nasabah tersbeut dengan informasi lain yang terkait.

obat terlarang. penipuan/fraud. Secara umum pendekatan yang dilakukan berdasarkan FTR Act 1988 adalah “prescriptive”. AUSTRAC merupakan Financial Intelligence Unit (FIU) yang bertipe Administratif dan merupakan menjadi bagian dari Australian Government Attorney-Generals Department. dan SA). AUSTRAC memiliki peran ganda yaitu: • sebagai regulator dalam mengatur dan mengawasi pelaksanaan dan pemenuhan kepatuhan pihak pelapor terhadap ketentuan anti pencucian uang dan pendanaan terorisme di Australia (the AML/CTF Act and FTR Act). AUSTRAC didirikan pada tahun 1989 berdasarkan the Financial Transaction Reports Act 1988 (FTR Act). pendekatan dilakukan berdasarkan “riskbased”. Gavin Raper dari Australian Transaction Reports and Analysis Centre (AUSTRAC). WA. ACT. 32 51 . Selanjutnya berdasarkan anti-Money Laundering/Counter Terrorism Financing atau yang dikenal dengan AML/CFT Act 2006. Penerapan Program Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) Bagi Bank di Australia32 Lembaga yang memiliki kewenangan dalam melakukan pengaturan dan monitoring pelaksanaan dan pemenuhan kepatuhan pihak pelapor terhadap ketentuan anti pencucian uang dan pendanaan terorisme di Australia adalah AUSTRAC. penyelundupan. Suzanne Robinson dan Mr. AUSTRAC memiliki 6 kantor yang terdiri dari 1 kantor pusat di New South Wales dan 5 kantor regional di 5 state yang berbeda (Victoria. dan kejahatan serius lainnya. Keberadaan AUSTRAC dalam AML/CFT Act 2006 tercantum dalam bagian 209. Qld. Presentasi disampaikan oleh Ms. menganalisis dan menyediakan atau menyampaikan informasi kepada pihak terkait yang berwenang di dalam negeri (partner agencies) maupun di luar negeri (international counterparts).Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 2. dan • sebagai lembaga di bidang intelijen keuangan /financial intelligence unit AUSTRAC menerima. Informasi AUSTRAC digunakan oleh pihak terkait dimaksud dalam penyelidikan berbagai tindak pidana seperti pencucian uang.

social justice. money order. Berkenaan dengan domestic dan international coordination diketahui pada saat ini yang menjadi domestic partner agencies AUSTRAC meliputi law enforcement. AUSTRAC menyampaikan informasi kepada pihak terkait sesuai dengan AML CFT Act 2006 section 126. SUSTR/SMR bisa diminta secara on line oleh pihak terkait dan dapat disampaikan sebagai bagian dari suatu laporan keuangan intelijen. pihak-pihak kewajiban pelaporan kepada AUSTRAC yakni: lembaga keuangan (financial institutions). Pihak terkait yang menerima SUSTR/SMR dapat menggunakan / tidak menggunakan informasi tersebut. penyedia jasa pengiriman uang (money transfer remmitters). Sedangkan jumlah FIU yang telah menandatangi MOU dengan AUSTRAC sebanyak 59 FIU. dan International Fund Transfer Instruction (IFTI) serta Cross Border Movement (CBM). revenue collection. Threshold Transaction Report (TTR). pedagang valuta asing (bureau de changes) pedagang emas dan permata (bullion sellers). yang meliputi: Provision of an account Pemberian pinjaman (Making a loan) Leasing dan penyewaan (Some leasing and hire purchase agreement) Penerbitan kartu debit. penyelenggara undian/TAB/bookmakers. pembawa uang tunai/ cash carriers. regulatory. travel cek atau store value card Penerimaan taruhan dan atau pembayaran kepada pemenang taruhan (accepting bets and/or paying winnings) Berdasarkan FTR Act dan AML/CFT Act.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme Jenis laporan yang diterima AUSTRAC dari pihak pelapor sesuai AML/CFT Act terdiri dari Suspicious Matter Reports (SMR). perjudian/casinos. Dalam kondisi tertentu SUSTR/SMR dapat yang memiliki 52 . Pihak-pihak yang diatur dan diawasi oleh AUSTRAC terdiri dari pihak pelapor yang melakukan kegiatan salah satu dari 71 designated services. national security.

Tujuan assessment pihak pelapor pada major reporters lebih ditekankan pada kualitas laporan yang telah diberikan ke Austrac. Namun saat ini compliance dalam struktur organisasi merupakan satu dari dua fungsi besar Austrac selain intellegence.000 yang dibagi pengawasannya terbagi ke dalam beberapa region). Hal ini agar data yang nantinya diberikan Austrac ke LEA juga bisa berkualitas terutama tidak terdapatnya kesalahan data KYC yang dilakukan oleh pihak pelapor. Pendekatan pengawasan pihak pelapor juga mengalami evolusi dari sebelumnya hanya menekankan pada risiko pihak pelapor (sebagaimana ditentukan oleh program CREST) menjadi “Compliance Behavior Based Supervision”. 53 . TTR dan IFTI). Artinya pola-pola pelaporan dari pihak pelapor dianalisa sedemikian rupa untuk menentukan perlunya audit atau education-visit terhadap pihak pelapor. Sebelum berlakunya AML/CTF Act 2006. ke-15 pihak pelapor tersebut menyumbang 70% dari laporan yang diterima oleh Austrac. Penyelenggaran pada dasarnya terbagi menjadi dua yaitu major reporters (yang jumlahnya hanya sekitar 10 pihak pelapor) dan other reporters. fungsi compliance hanya merupakan bagian dari Regulatory Compliance. Untuk itu prosedur pengawasan major reporters berbeda dengan pihak pelapor lainnya. Prosedur assessment dimulai dengan preliminary research. Fokus compliance memang lebih ditekankan pada major reporters karena walaupun jumlahnya hanya 10 namun dari sisi pelaporan (SMR.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme disampaikan kepada beberapa pihak terkait. tanggal 30 Juni 2007 dan April 2010. SUSTR/SMR tidak dapat dipergunakan sebagai barang bukti dalam proses pengadilan. Seluruh major reporter adalah pihak pelapor yang telah diawasi oleh regulator lain (APRA/ASIC). Jangka waktu assessment terhadap satu pihak pelapor berkisar antara 3-4 bulan (beberapa pihak pelapor dapat di-assess pada waktu bersamaan). (yang jumlahnya sekitar 17. Struktur organisasi AUTRAC mengalami 3 (tiga) kali perubahan sejak diundangkannya AML/CFT tahun 2006 yaitu pada tanggal 30 Juni 2006. Tekanan pengawasan adalah pada desk-review (off site supervision) walaupun terhadap pihak pelapor tertentu dilakukan assessment secara khusus secara on-site.

Apabila kasus dilimpahkan ke bagian enforcement maka bagian compliance mengirimkan surat resmi ke pihak pelapor bahwa kasusnya sudah dilimpahkan ke bagian enforcement. Kerangka Insitusional Dalam Pemberantasan Pendanaan Terorisme di Amerika Serikat A. Penerusan laporan ke partner agencies secara otomatis. Penerapan Program Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) Bagi Bank di Amerika 3.1. SMRs/SUSTRs disaring oleh: • • Business Rules Engine Senior Analyst/manager Pembagian prioritas laporan terdiri dari : Very High. Department of the Treasury (Treasury). Mengidentifikasi laporan yang berisiko rendah yang tidak perlu dilakukan evaluasi/analisis oleh analis. AUSTRAC menggunakan system yang digunakan untuk memprioritisasi laporan mencurigakan yang diterima yaitu “BUSINESS RULES ENGINE” (BRE). antara lain: 54 .S. very Low 3. High. Moderate. nilai dolar yang tinggi. memiliki beberapa kantor yang mengembangkan kebijakan dan strategi AML/CFT. Memungkinkan identifikasi risiko tinggi.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme talk to organization. Hal-hal terkait benefit dari BRE antara lain sebagai berikut: Memungkinkan pengguna/user untuk menulis aturan-aturan yang terkait dengan atribut-atribut tertentu dalam laporan. Low. U. Bagian enforcement di AUSTRAC terpisah dari bagian compliance (lihat bagan). reporting dan terakhir follow-up. Apabila pihak pelapor tidak kooperatif dan tidak bisa ditangani lagi oleh bagian compliance maka kasusnya akan dilimpahkan ke bagian enforcement untuk dipertimbangkan diberikan sanksi. asking for more information. Dalam rangka prioritisasi terdapat beberapa hal antara lain: SMRs/SUSTRs dimasukkan ke dalam daftar urutan pekerjaan yang harus dilakukan (work queue). dan laporan menarik lainnya. audit visit.

S. termasuk pengawasan kepada sektor swasta. 2. TFI juga bertanggung jawab untuk hal sbb: (1) pengembangan dan pengimplemntasian strategi terorisme pemerintah baik US untuk memberantas pendanaan (2) domestik maupun internasional. including heading the U. and other financial crimes. Department of Justice (DOJ): The DOJ adalah badan pemerintah utama yang bertanggung jawab untuk mengawasi 55 . TFFC represents the U.S. Office of Terrorism and Financial Intelligence (TFI): TFI dan bagian organisasinya (termasuk the Office of Terrorist Financing and Financial Crime dan the Office of Intelligence and Analysis). TFFC works closely with Treasury’s Office of International Affairs and Office of Domestic Finance in the formulation of AML/CFT policy and strategies.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme 1. dan pengawasan terhadap FinCEN. (3) bekerja sama dengan FinCEN untuk mengembangkan dan mengimplementasikan kebijakan dan peraturan pemerintah US dalam mendukung BSA dan USA PATRIOT Act. pengembangan dan pengimplementasian the National Money Laundering Strategy. pencucian uang. terrorist financing. (4) mewakili US dalam badan/lembaga internasional yang mendedikasikan diri untuk memerangi pendanaan terorisme. at relevant international bodies. dan (5) mengawasi dan menyediakan pedoman kebijakan untuk implementasi dan administrasi dari program dan peraturan mengenai sanksi ekonomi negara. TFI bertanggung jawab terhadap pengawasan arah kebijakan dan integrasi the Office of Foreign Assets Control (OFAC) dan Treasury Executive Office for Asset Forfeiture (TEOAF). 3. delegation to the FATF and FATF-style regional bodies (FSRBs). dan kejahatan keuangan lain. juga kebiajakan dan program lain untuk memeragi kejahatan keuangan. Office of Terrorist Financing and Financial Crime (TFFC): TFFC is responsible for the policy and strategy functions within TFI concerning money laundering. U.S.

Asset Forfeiture and Money Laundering Section. dan the FATF.S. Marshals Services (USMS). Criminal Division (AFMLS): The AFMLS adalah divisi kriminal dibawah DOJ untuk pelaksanaan perampasan aset dan penegakan hukum AML. Department of Homeland Security. the Drug Enforcement Administration (DEA) and the Bureau of Alcohol. Selain itu. antara lain: the FBI. 2. termasuk the UN 1267 Sanctions and CounterTerrorism Committees. Law Enforcement Agencies 1. Sebagai tambahan. FBI terlibat dalam multi agency Joint Terrorism Task Forces (JTTF) yang bertanggung jawab untuk penyidikan terorisme dan pendanaan terorisme. termasuk mengkoordinasikan dan mereview pengajuan legistatif dan kebijakan yang berdampak pada program perampasan aset dan lembaga penegakan hukum pencucian uang. terbagi dalam 40 organisasi terpisah. B. DOJ dipimpin oleh Jaksa Agung. State Department/Departemen Luar Negeri The State Department mewakili pemerintah US dalam beberapa institusi multilateral. Federal Bureau of Investigation (FBI): FBI adalah lembaga utama yang bertanggung jawab untuk menyidik kejahatan federal. . AFMLS mengelola secara terpusat program perampasan aset DOJ dan menjamin maksimalnya potensi penegakan hukum. 4. Drug Enforcement Administration (DEA): The DEA bertanggung jawab untuk penyidikan perdagangan obat-obat terlarang. dan the U. FBI mempromosikan penyidikan dan penuntutan pencucian uang dalam keseluruhan penyidikan kwjahatan-kejahatan tersebut diatas. Immigration and Customs Enforcement (ICE): ICE bertanggung jawab untuk melindungi US 56 . 3. Personil State Department berpartisipasi aktif dalam misi diplomatik multi-agency diplomatic terkait AML/CFT. Tobacco. C. Firearms and Explosives (ATF).Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme penyidikan dan penuntutan pencucian uang dan pendanaan terorisme di tingkat federal.

a n d (3) ( C )1 8U S C2 3 3 9 C ( a ) me n y e d i a k a nd a n me n g u mp u l k a nd a n a t e r o r i s 57 . (2) 1 8U S C2 3 3 9 B – me n y e d i a k a nd u k u n g a n ma t e r i a l a t a us u mb e r d a y a u n t u k d e s i g n a t e d F T O s .2. dan kejahatan perpajakan. 38.000 kendaraan perposan. di dan antara pelabuhan masuk resmi. Target IRS-CI adalah penyidikan highprofile money laundering. 3. Internal Revenue Service Criminal Investigation (IRS-CI): The IRS-CI menegakkan UU pencucian uang. Department of Homeland Security. U.S. melarang. pendanaan terorisme. mengawasi. and milyaran dolar aset perposan. dan menyidik ancaman ML/TF yang timbul dari perpindahan orang dan barang ke dalam dan ke luar wilayah US. 5. Federal laws: Ada 4 (empat) tindak pidana federal terkait pendanaan teroris dan organisasi teroris (1) 2339A–penyediaan dukungan 1 8 U S C ma t e r i a l u n t u k me l a k u k a n t i n d a k p i d a n a t e r t e n t u . 4.000 fasilitas perposan. khususnya yang secara langsung maupun tidak langsung meningkatkan kepatuhan terhadap perpajakan. CBP bekerja sama dengan ICE untuk melakukan penyitaan baik uang tunai dan instrumen pembayaran moneter. yang bertugas untuk mengelola. Postal Inspection Service dibebankan untuk menjaga lebih dari 200 milyar surat per tahun and melindungi lebih dari 700.000 pekerja perposan. dan melindungi lintas batas negara. 6. 200.Laporan Akhir Tim Naskah Akademik RUU Pemberantasan Pendanaan Terorisme dan warga negaranya dengan menghalangi. Kriminalisasi Pendanaan terorisama (Criminalization of Terrorist Financing) a. Postal Inspection Service: The U.S. Customer and Border Protection (CBP): CBP adalah lembaga perbatasan terpadu negara.

E f e k t i f i t a s tindak pidana pendanaan terorisme T h eU . 2 3 3 9 B . 3 . 5 4i n d i v i d ut e l a hme n g a k ub e r s a l a ha t a ud i h u k u mk a r e n at e r b u k t i b a i k me l a n g g a r 1 8 U S C 2 3 3 9 Aa t a u p u n 2 3 3 9 B .me n y e d i a k a nd o k u me ny a n g me n u n j u k k a nb a h w a1 2 6 i n d i v i d ut e l a hd i t u n t u t d e n g a np i d a n a p e n d a n a a nt e r o r i s me ( c o n t o h : 1 8U S C2 3 3 9 A .y a n gh a r u sp e r t a ma me mb u k t i k a nb a h w at e r d a k w a me l a k u k a nh a l y a n gd i l a r a n gd a l a m s a l a hs a t ud a r i 9i n t e r n a t i o n a l t r e a t i e s d a ns e l a n j u t n y a me mb u k t i k a nb a h w a b a g i a nd a r i t r e a t y t e l a h d i i mp l e me n t a s i k a n o l e h U . D a r i 1 2 6y a n gd i t u n t u t t e r s e b u t .S t a t e l a w s : S e t i d a k n y a2 n e g a r ab a g i a nt e l a h me mb e r l a k u k a nt i n d a kp i d a n a p e n d a n a a nt e r o r i s me d i A r i z o n a d a nN e wY o r k .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me (4) 1 8U S C2 3 3 9 C ( c ) me n g a b u r k a na t a u me n y a ma r k a n ma t e r i a l b a i ku n t u kme n d u k u n gF T O sa t a ud a n ay a n gd i g u n a k a na t a u a k a n d i g u n a k a n u n t u k k e g i a t a n t e r o r i s . d a n2 3 3 9 C ) . T e r r o r i s t a c t d i d e f i n i s i k a n d e n g a n me r u j u k / me n g a c u p a d a s e r a n g k a i a n t r e a t i e s y a n g d i i mp l e me n t a s i k a n o l e h t h e U . 2 )L e b i h p e n t i n g l a g i . S . s e b a g a i ma n a h a k i md a nj u r i h a r u s d i p a n d uu n t u kme ma h a mi r a n t a i l e g i s l a s i y a n g k o mp l e k s d i s e b a b k a n me r u j u k p a d a l e g i s l a s i l a i n t e r s e b u t . K e b u t u h a nu n t u kr u j u k a ns i l a n gk e p a d a l e g i s l a s i l a i nme n y e b a b k a nk e s u l i t a nu n t u kme ma h a mi e l e me nt i n d a k p i d a n a p e n d a n a a n t e r o r i s me . S . C a t a t a n ME RA me r i k a S e r i k a t : 1 )K e s u l i t a n u t a ma d e n g a nk e t e n t u a nU S me n g e n a i p e n d a n a a nt e r o r i s me a d a l a h“ t i d a kma n d i r i ” . P r o s e c u t o r s . 3 .T i d a ka d a i n f o r ma s i y a n g t e r s e d i a me n g e n a i a p a k a hn e g a r a b a g i a nl a i nme mi l i k i p e r a t u r a n me n g e n a i p e n d a n a a n t e r o r i s me . K a t ak u n c i s e p e r t i “ t e r r o r i s t a c t ” . j a k s a p e n u n t u t u mu mt e l a h me n g k o n f i r ma s i b a h w a h a l t e r s e b u tme n a mb a hk e s u l i t a nd a l a mp e n u n t u t a n . 3 )B a h k a nk e t e n t u a np e n d a n a a nt e r o r i s mey a n gt e r b a r ud a nt e r j e l a s ( 2 3 3 9 C ) t i d a k s e p e n u h n y a ma n d i r i d e n g a ne l e me nk u n c i t e r r o r i s t a c t . S . c. “ t e r r o r i s t a c t i v i t y ”d a n“ f o r e i g nt e r r o r i s to r g a n i z a t i o n ”d i d e f i n i s i k a nd e n g a n me r u j u kp a d al e g i s l a s i l a i n . 58 . b .

P e n u n n j u k a n / p e n a r g e t a n d i l a k u k a n ex me mb e r i t a h u k a n k e p a d a p i h a k y a n g t e r l i b a t / t e r k a i t . d e n g a nb e r k o n s u l t a s i p a d a D O J d a nt h eD H S . P e mb e k u a n D a n a Y a n g D i g u n a k a n U n t u k P e n d a n a a n T e r o r i s me a . me mb e r i k a nw e w e n a n gk e p a d a S e c r e t a r i e s o f t h e T r e a s u r ya n dS t a t e .s e c a r a t e k n o l o g i . S . d .o r g a n i s a s it e r o r i s . a t a uh a l l a i ny a n gd i h u b u n g k a nd e n g a nS D G T s .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me 3 . o r a n g o r a n gy a n gd i d a f t a r d a l a mt h eE x e c u t i v eO r d e ra t a ud i t u n j u k / d i t a r g e t ( d e s i g n a t e d ) o l e h S e c r e t a r i e so f t h eT r e a s u r yd a nn e g a r ab a g i a nb e r d a s a r k a nd e f i n i s i t h eE x e c u t i v eO r d e r . T h r e a t e nt oC o mmi t . P e n u n j u k a n / p e n a r g e t a ni n i h a n y a b e r l a k uu n t u ko r g a n i s a s i t e r o r i s . P r e s i d e n tp a d at a n g g a l 2 3 S e p t e mb e r 2 0 0 1 . c . s e b a g a i r e s p o na t a ss e r a n g a nt e r o r i sp a d at a n g g a l 1 1 S e p t e mb e r 2 0 0 1 .s e c a r ak e u a n g a n . 4 .E O1 3 2 2 4 . D a f t a r F T Od i a d mi n i s t r a t i k a n o l e h S t a t e D e p a r t me n t / K e me n t e r i a n L u a r N e g e r i .b e r t i n d a ku n t u kd a na t a sn a ma .U S me n g i mp l e me n t a s i k a n k e w a j i b a n t e r k a i ts a n k s ik e u a n g a n b e r d a s a r k a n U n i t e d N a t i o n s S e c u r i t y C o u n c i l R e s o l u t i o n S / R E S / 1 2 6 7 ( 1 9 9 9 ) d a nS / R E S / 1 3 7 3 ( 2 0 0 1 ) me l a l u i E x e c u t i v eO r d e r ( E O )1 3 2 2 4 . T h eE x e c u t i v eO r d e rj u g ame mb l o k i rs e mu a p r o p e r t i d a nb u n g a t e r k a i t p r o p e r t i d a r i o r a n g y a n g d i t u n j u k / d i t a r g e t d i U S .E O 1 3 2 2 4 me l a r a n g s e t i a po r a n g U S a t a ue n t i t a s u n t u k me l a k u k a nt r a n s a k s i d a n b e r h u b u n g a n d e n g a ni n d i v i d u d a ne n t i t a s y a n g d i mi l i k i a t a ud i k o n t r o l o l e h . u n t u k me n g i mp l e me n t a s i k a nk e w e n a n g a nP r e s i d e n u n t u k me mb e r a n t a s t e r o r i s .d a n j a r i n g a n p e n d u k u n gt e r o r i s . y a n gt e l a hd i a ma n d e me n . “ B l o c k i n gP r o p e r t ya n dP r o h i b i t i n gT r a n s a c t i o n sw i t h P e r s o n sWh oC o mmi t .O F A Cb e r f u n g s i s e b a g a i p e n g a d mi n i s t r a s i d a np e l a k s a n as a n k s i E O 1 3 2 2 4t e r h a d a pt e r o r i sd a no r g a n i s a s i t e r o r i s .D a f t a r O F A C ( y a n g d i a d mi n i s t r a s i k a n o l e h T r e a s u r y ) j u g a me ma s u k k a nF T O sy a n gd i s e b u tb e r d a s a r k a nB a g i a n2 1 9U U I mmi g r a t i o na n dN a t i o n a l i t yA c t d a nB a g i a n3 0 2U UA n t i t e r r o r i s m a n dE f f e c t i v eD e a t hP e n a l t y( A E D P A ) . o rS u p p o r t T e r r o r i s m” ( E O1 3 2 2 4 )y a n gd i k e l u a r k a no l e hU . a t a us e c a r ama t e r i a l me mb a n t ua t a ume n d u k u n g . s e b a g a i ma n as a n k s i 59 parte t a n p a .s e c a r as i s t e ma t i sd a ns t r a t e g i s . b .

P e n e g a kh u k u mO F A Cd a p a tme l a y a n i p e r mi n t a a nb l o k i rt e r h a d a p o r a n g y a n g d i t u n j u k / d i t a r g e t d i U S . t a p i j u g a t e r ma s u kp i h a k p i h a ky a n gd i t a r g e t / d i t u n j u k U N1 2 6 7C o mmi t t e ed a nb e r h u b u n g a nd e n g a nA l Q a i d a . S e k a l id a n ad i b l o k i r . S a mp a i b u l a nJ u l i 2 0 0 5 . (2) Me l a r a n go r a n gU Su n t u k me mi l i k ih u b u n g a nd e n g a np i h a k p i h a k y a n g d i t u n j u k / d i t a r g e t t e r s e b u t . U s a ma b i n L a d e n . t h eR e a l I R A .E O1 3 2 2 4 me me b e r i k a n w e w e n a n g k e p a d a p e me r i n t a h u n t u k : (1) Me n g i d e n t i f i k a s i d a nme n u n j u k / me n t a r g e t t e r o r i s d a ns t r u k t u r p e n d u k u n gy a n gb e r h u b u n g a nd e n g a no r g a n i s a s i t e r o r i s( t d a k t e r b a t a s . t e t a p i t e r ma s u k g r o u pt e r o r i s s e p e r t i H a ma s .y a n g d i s e b u tS D G T . h a r u s me l a p o r k a nk e p a d a O F A C . d a n t h e T a l i b a n ) . g . h .S e t i a pi n s t i t u s ik e u a n g a nU Sy a n g me n g e n t a h u i me n g e n a i k e p e mi l i k a no r p e n g u a s a a nd a n ao l e hS D G Ta t a ua g e n n y a . d a n o r a n g y a n g t e r l i b a t d a l a ms e n j a t a p r o l i f e r a s i . e . 4 3 8o r a n gt e l a hd i t u n j u k / d i t a r g e t 60 . T i n d a k a ni n i d a p a t me n y e b a b k a n k e ma t i a nme n y e l u r u hp a d a e n t i t a s t e r s e b u t d a np e n e mp a t a np r o p e r t i n of i n a n c i a ld a l a m p e n y i mp a n a np e r ma n e n .T a r g e t E O1 3 2 2 4b u k a nh a n y a A l Q a i d a d a nT a l i b a n . l e mb a g a k e u a n g a nd i U S h a r u s me mb l o k i r a t a ume mb e k u k a nd a n ay a n gd i s e t o r k a no l e ha t a u a t a s n a ma i n d i v i d ua t a ue n t i t a s y a n g d i b l o k i r . p e n g e d a ro b a t o b a tt e r l a r a n gi n t e r n a s i o n a l . (3) Me mi n t ao r a n gU Su n t u kme mb l o k i ra s e ty a n gb e r h u b u n g a n d e n g a np i h a ky a n gd i t u n j u k / d i t a r g e t d a nme l a p o r k a nk e g i a t a n t e r s e b u t k e p a d a O F A C . a t a ud i s e t o r k a ns e h u b u n g a nd e n g a n t r a n s a k s i d i ma n a e n t i t a s y a n g d i b l o k i r me mi l i k i k e p e n t i n g a n . d a n i n d i v i d u s e r t a e n t i t a s t e r k a i t .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me e k o n o mi d a n p e r d a g a n g a n U S t e r h a d a p n e g a r a a s i n g y g d i t u n j u k / d i t a r g e t . t h eF A R C . H i z b a l l a h . me r e k ah a n y ad a p a td i l e p a s k a nh a n y ao l e ho t o r i s a s i s p e s i f i kd a r i T r e a s u r y .P e n u n j u k a n / p e n t a r g e t a ni n i me j a d i k a np e r b u a t a n me l a w a nh u k u m b a g i o r a n gy a n ga d ad i U Sa t a us u b j e ky a n gt u n d u kp a d ay u r i s d i k s i a p a b i l ab e r h u b u n g a nd e n g a no r a n gy a n gd i t u n j u k / d i t a r g e t . y a n g d i k i r i mk a nk e a t a u me l a l u i e n t i t a sy a n gd i b l o k i r . U mu mn y a . f .

D .I s t i l a h“ “ b u n g a / k e p e n t i n g a n d a l a m p r o p e r t i ”a r t i n y as e t i a pb u n g a . a t a ud i t a n g a n i t a n p a p e r s e t u j u a n l b i h d u l u d a r i O F A C .s e b a g i a na t a u k e s e l u r u h a n n y a ( C F R 5 9 4 . d i t a r i k . D e f i n i s y a n g l u a s d a r i “ b u n g a / k e p e n t i n g a nd a l a m p r o p e r t i ” d a p a t me mp e n g a r u h i s e b a g i a n b e s a r p r o d u kd a nj a s ay a n gd i s e d i a k a no l e hi s n t i t u s i k e u a n g a ny a n g b e r l o k a s id iU Sa t a ud i s e l e n g g a r a k a nb e r d a s a r k a nh u k u m U S . p r o p e r t iy a n gd i b l o k i rt i d a kd a p a t d i a l i h k a n . j .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me s e j a kp e r mu l a a np r o g r a mt e r o r i s meb e r d a s a r k a nE O1 3 2 2 4 . k a r e n aU Sme mp e r t i mb a n g k a nb a h w a t i d a kt e r d a p a t i d e n t i f i k a s i d a ni n f o r ma s i y a n gc u k u pu n t u kme mb u a t p e n d a f t a r a n / l i s t i n g n a ma n a ma t e r s e b u t s e c a r a o p e r a s i o n a l k o n s t r u k t i f .T i d a ks e mu ao r a n ga t a ue n t i t a sy a n gd i t u n j u k / d i t a r g e t b e r d a s a r k a n S / R E S / 1 2 6 7 ( 1 9 9 9 )d a nS / R E S / 1 3 7 3 ( 2 0 0 1 )d i t e r i mao l e hU Su n t u k d i ma s u k k a nd a l a mE O1 3 2 2 4 . d i e k s p o r . h a mp i r 3 3 0 o r a n g d i t a r g e t / d i t u n j u k b a i k s e c a r a b i l a t e r a l ma u p u n me l a l u i U N . Kajian Terhadap Implikasi Penerapan Sistem Baru yang akan Diatur Dalam UU terhadap Aspek Kehidupan Masyarakat dan Dampaknya terhadap Keuangan Negara § Me n g a t u r t e n t a n g b e n t u kp e l a n g g a r a nb a g i s e t i a po r a n gy a n g ” me n y e d i a k a n d a n a ” u n t u k s e s e o r a n g a t a ub a d a nh u k u my a n g t e r d a p a t d a l a md a f t a r t e r o r i s me n u r u t R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B B1 2 6 7 . S e b a g a i k o n s e k u e n s i n y a . h a n y a1o r a n gd a r i 1 4 3n a ma T a l i b a nd i t e mp a t k a nd a l a m d a f t a rO F A C .b a i kl a n g s u n g ma u p u nt i d a kl a n g s u n g .T i d a n k a nme mb l o k i r s e s u a i d e n g a nE O1 3 2 2 4b e r l a k uu n t u ks e mu a p r o p e r t i d a n“ b u n g a / k e p e n t i n g a nd a l a mp r o p e r t i ” y a n g ma s u kk e U S a t a ua k a nma s u kk e U S . a t a uy a n gs e t e l a hma s u kk eU Sme j a d i mi l i k a t a ud i b a w a hk e k u a s a a n wa r g aU S . k e p e n t i n g a nd a l a ms e g a l a b e n t u k .k a r e n ak e k h a w a t i r a n me n i mb u l k a n e f e k k o n t r a p r o d u k t i fk a r e n a k e b i n g u n g a n d a n k e t i d a k p a s t i a nd a l a md a f t a r t e r s e b u t b i s ame n y e b a b k a nb l o k i r y a n g t i d a k a d i l . t e r ma s u k c a b a n gl u a rn e g e r i . 3 0 6 ) . 61 . d i b a y a r . i .

a t a u b e r k o n t r i b u s id a l a m p e l a k s a n a a na n t it e r o r i s me y a n gd i l a k u k a no l e h s e k e l o mp o ko r a n gd e n g a n t u j u a n u n t u k me mb a n t u k e l a n c a r a n a k s i t e r o r i s me . § I n d o n e s i ab e l u m me mi l i k ih u k u m a t a up r o s e d u ry a n ge f e k t i fu n t u k me mb e k u k a na s e t a s e tt e r o r i sl a i n n y ad a r ip i h a k p i h a ky a n g me mb i a y a i t e r o r i s med a no r g a n i s a s i o r g a n i s a s it e r o r i s” t a n p ap e n u n d a a nd a nt a n p a p e mb e r i t a h u a n ”s e b e l u mn y as e p e r t i y a n gd i p e r s y a r a t k a nF A T F . § Me n s y a r a t k a nb a h w at i n d a kp i d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s meh a r u sd i k a i t k a n d e n g a n a d a n y a a k s i t e r o r i s me t e r t e n t u . § Me n g a t u r t e n t a n g t a n g g u n g j a w a bk o r p o r a s i . k a r e n ab a g i I n d o n e s i a . § Me n g a t u r a nu n t u kp e n d a n a a na t a s t e r o r i s p e r o r a n g a nd a np e n y e d i a a nh a r t a k e k a y a a n u n t u k o r g a n i s a s i t e r o r i s . § Me n j a t u h a nh u k u ma nh a r u se f e k t i f . t e r d a f t a rs e b a g a i 62 . p r o p o r s i o n a l d a np r e v e n t i f .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me § Me n g a t u r a np e mi d a n a a nu n t u ks e t i a po r a n gy a n gme r e n c a n a k a nd a n / a t a u me n g g e r a k k a n o r a n g l a i n u n t u k me l a k u k a n a k s it e r o r i s me . § Me n g a t u r a n s e c a r a t e g a s a g a r p i h a k y a n g b e r w e n a n g d a p a t me mp e r t i mb a n g k a nu n t u kme n g a d o p s i s e b u a hp e n d e k a t a nd i ma n as e l u r u h d a k w a a nt e n t a n gt i n d a kp i d a n ap e mb i a y a a nt e r o r i s mei n ih a r u sb e r u p a d a k w a a nk u mu l a t i f y a n gme me r l u k a ns a t up u t u s a nk h u s u su n t u kt i n d a k p i d a n a p e n d a n a a n t e r o r i s me . § Me n g a t u r a np e n g u mp u l a nd a np e n y e d i a a nh a r t ak e k a y a a nb a i ks e c a r a l a n g s u n g d a n t i d a k l a n g s u n g . H a l i n ih a r u s h a r u s d i p a s t i k a n u n t u k me n c e g a h k e t i mp a n g a n t e r k a i td e n g a n k e t e n t a u n me n g e n a i t a n g g u n g j a w a b p i d a n a k o r p o r a s i d a p a t d i a t a s i . § Me n c a n t u mk a nu n s u r” a l a s a ny a n gk u a t u n t u kme y a k i n i a t a uu n s u r u n s u r l a i n ” y a n ga k a nme n d u k u n gp e mb u k t i a nb e r d a s a r k a nk e j a d i a ny a n gf a k t u a l d a n o b j e k t i f . t e r ma s u k h u k u ma nd e n d a b a g i s u b j e kh u k u mp e r o r a n g a nd a nh u k u ma na d mi n i s t r a t i f y a n g e f e k t i f b a g i k o r p o r a s i . I n d o n e s i a s e l a mai n i me n g a n d a l k a np r o s e sp e n y e l i d i k a nd a nl a n g k a h l a n g k a hy a n g d i a t u r d a l a mK U H A Pu n t u kme mb e k u k a na s e t e n t i t a s e n t i t a s y a n gt e r d a f t a r d a l a mD a f t a rt e r o r i ss e b a g a i ma n aconsolidated list United Nations Security Council Resolution ( U N S C R ) 1 2 6 7 .

U UT i n d a kP i d a n a T e r o r s i me . 63 .K e k u a s a a nu mu m u n t u k me n y i t a s e p e r t i y a n gd i a t u rd a l a mP a s a l 3 8 4 9K U H P me n g a t u rb a h w ap e n y i t a a n h a n y ad i b a t a s i p a d ab a r a n g b a r a n gy a n gd i d u g ame r u p a k a nb a r a n gc u r i a n .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me t e r o r i sb e l u md a p a t d i j a d i k a nd a s a ru n t u kd i l a k u k a n n y ap e mb e k u a na t a u p e mb l o k i r a n( freezing without delay) . § Me n g a t u ra d ak e j e l a s a nb a g i P o l r i u n t u kme n g g u n a k a nd a s a rh u k u ma p a ( a p a k a hme n g g u n a k a nK U H A P . K e c i l k e mu n g k i n a nu n t u k d a p a tme n e r a p k a nk e t e n t u a ni n iu n t u kh a r t ak e k a y a a ns e s e o r a n gy a n g mu n g k i n t e l a h me l a k u k a na k s i t e r o r i s me . § T i d a k me mb e n t u kl e mb a g ab a r u me l a i n k a n me n d u k u n gl e b i he f e k t i f t e r h a d a p l e mb a g a y a n g k e b e r a d a a n n y a s u d a h d i a k u i s e l a ma i n i . a t a ud a l a mp r o s e s me n j u a l b a r a n g c u r i a nt e r s e b u t .D e n g a nd e mi k i a nt i d a ka d a k e w e n a n g a nu n t u kme n y i t ah a r t ak e k a y a a nh a n y aa t a sd a s a rb a h w ah a r t a k e k a y a a nt e r s e b u t me r u p a k a nh a kmi l i kd a r i s e b u a he n t i t a s a t a uk e l o mp o k t e r o r i s . s e b e l u mp e r i n t a h p e mb e k u a n d a p a t d i k e l u a r k a n . a t a uU UT P P U ) d a l a m me me r i n t a h k a np e mb l o k i r a na k u nb a n ks e t i a po r a n ga t a uk o r p o r a s i y a n g d i d u g a t e r k a i t d e n g a n a k s i t e r o r i s me . § Me n g a t u rS y a r a tp e mb u k t i a nu n s u r” d i k e t a h u i a t a ud i d u g ak e r a sd e n g a n a l a s a ny a n gc u k u p ” y a n gd i a t u r d a l a mP a s a l 2 9U UP e mb e r a n t a s a nT i n d a k P i d a n aT e r o r i s mei n i t e r l a l ut i n g g i u n t u kd i p e n u h ik e t i k as e d a n gd a l a m p r o s e s me n g u mp u l k a n i n f o r ma s i me n g e n a ik a s u s k a s u s p e mb i a y a a n t e r o r i s me i n i . P a s a l 3 8 4 9j u g a t i d a k me mb e r i k a n k u a s au n t u kme n y i t ah a r t ak e k a y a a nt a n p ad i d a h u l u i a d a n y ak e c u r i g a a n b a h w as u a t ut i n d a kp i d a n at e l a ht e r j a d i . d i l u a r k o n t e k s t i n d a k p i d a n a t e r o r i s me t e r t e n t u .

1 9 9 9y a n gs u d a h me n j a d ih u k u m n a s i o n a lme l a l u ir a t i f i k a s io l e hU n d a n g–U n d a n gN o mo r6 t a h u n2 0 0 6 . B e r k a i t a n d e n g a n h a l h a l t e r s e b u t d i a t a s .1 9 9 9 s a mp a is a a ts e k a r a n gi n i . d a p a t d i l i h a t u r g e n s i u n t u ks e g e r ad i b e n t u k n y ap e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a ny a n g s e c a r ak o mp r e h e n s i f me n g a t u rt e n t a n gp e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me . t e r n y a t a j u g a me mu n c u l k a nk e g i a t a nt e r o r i s me d e n g a ns t r a t e g i d a nt a k t i ky a n gb a r u . r e g i o n a l ma u p u ni n t e r n a s i o n a l . S e b a g a i ma n at e l a hd i k e mu k a k a nd a l a ml a t a rb e l a k a n gd ia t a s . u n d a n g u n d a n gy a n gt e r k a i t s e p e r t i P e r p uN o mo r 1t a h u n2 0 0 2j o U n d a n gU n d a n gN o mo r 1 5t a h u n2 0 0 3d a nU n d a n gU n d a n gN o mo r 8t a h u n 2 0 1 0t e n t a n gP e n c e g a h a nd a nP e mb e r a n t a s a nT i n d a kP i d a n aP e n c u c i a nU a n g . a g a rp e r u mu s a n u n d a n g u n d a n gy a n ga k a nd i s u s u ni n i t i d a ks a l i n gt u mp a n gt i n d i ha t a us a l i n g b e r t e n t a n g a n s a t u d e n g a n y a n g l a i n . y a k n iu n d a n g u n d a n gt e n t a n g p e mb e r a n t a s a nt e r o r i s me d i n i l a i b e l u ms e c a r a k o mp r e h e n s i f me n g a t u r t e n t a n g 64 .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me BAB III EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT A . Kondisi Hukum Yang Ada K o n v e n s ii n t e r n a s i o n a lP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me . H u k u m n a s i o n a ly a n gs e l a ma i n id i g u n a k a n . s e r t aU n d a n g–U n d a n gN o mo r1t a h u n2 0 0 6t e n t a n gB a n t u a nT i mb a l B a l i k D a l a m Ma s a l a hP i d a n ap e r l ud i p e r h a t i k a ns e b a g a ir u j u k a n . ma ut i d a kma ud a n t i d a kd a p a td i l e p a s k a nu n t u k me n g g u n a k a nr u j u k a nK o n v e n s iI n t e r n a s i o n a l P e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a nT e r o r i s me .p e r ma s a l a h a n t e r o r i s me d a nk h u s u s n y ap e n d a n a a nt e r o r i s me t e l a hb e r k e mb a n gs e ma k i n k o mp l e k ss e i r i n gd e n g nt r e n dt e r o r i s mey a n gt e r j a d i d a l a mt i n g k a t n a s i o n a l . d a l a mr a n g k a me n y u s u nn a s k a h a k a d e mi kt e n t a n gp e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me . D i s a mp i n g . K e b i j a k a nk r i mi n a l i s a s i me l a l u i p e mb e n t u k a nu n d a n g u n d a n g . me me r l u k a n s i n k r o n i s a s id a n h a r mo n i s a s id i a n t a r a b e r b a g a i p e r u n d a n g u n d a n g a n y a n g t e r k a i t . s e l a ma l e b i h1 1( s e b e l a s )t a h u n . U p a y ap e mb e r a n t a s a nt e r o r i s meo l e hn e g a r a n e g a r a d i d u n i a .

5. 7. 8. P e n j a t u h a nh u k u ma nh a r u s e f e k t i f . 4. H a l i n ih a r u s h a r u s d i p a s t i k a n u n t u k me n c e g a hk e t i mp a n g a nt e r k a i td e n g a nk e t e n t a u n me n g e n a i t a n g g u n g j a w a b p i d a n a k o r p o r a s i d a p a t d i a t a s i . P e mb e r a n t a s a nt e r o r i s meme mb a t a s i u n s u rp e n g e t a h u a nd e n g a nu n s u r ” d e n g a ns e n g a j a ”s a j an a mu nt i d a kme n c a n t u mk a nu n s u r” a l a s a ny a n g k u a tu n t u k me y a k i n ia t a uu n s u r u n s u rl a i n ”y a n ga k a n me n d u k u n g p e mb u k t i a n b e r d a s a r k a n k e j a d i a n y a n g f a k t u a l d a n o b j e k t i f . t e r ma s u k h u k u ma n d e n d a b a g is u b j e k h u k u m p e r o r a n g a n d a n h u k u ma n a d mi n i s t r a t i f y a n g e f e k t i f b a g i k o r p o r a s i . B e l u ma d ap e n g a t u r a ns e c a r at e g a sa g a rp i h a ky a n gb e r w e n a n gd a p a t me mp e r t i mb a n g k a nu n t u k me n g a d o p s is e b u a hp e n d e k a t a nd i ma n a s e l u r u hd a k w a a nt e n t a n gt i n d a kp i d a n a p e mb i a y a a nt e r o r i s me i n i h a r u s 65 . Ma s i hme n s y a r a t k a nb a h w at i n d a kp i d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s meh a r u s d i k a i t k a n d e n g a n a d a n y a a k s i t e r o r i s me t e r t e n t u . k o r p o r a s i ma u p u nn o nk o r p o r a s i . 2. 3. D a l a mK U H Pt i d a kd i k e n a l t a n g g u n gj a w a bp i d a n au n t u ks u b j e kh u k u m j a ma k . B e l u m a d a p e n g a t u r a n p e mi d a n a a n u n t u k s e t i a p o r a n g y a n g me r e n c a n a k a nd a n / a t a ume n g g e r a k k a no r a n g l a i nu n t u k me l a k u k a na k s i t e r o r i s me . p r o p o r s i o n a l d a np r e v e n t i f . 6. B e l u m a d ap e n g a t u r a nu n t u kp e n g u mp u l a nd a np e n y e d i a a nh a r t a k e k a y a a n b a i k s e c a r a l a n g s u n g d a n t i d a k l a n g s u n g .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me p e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me d a nma s i hme mi l i k i b a n y a k k e k u r a n g a nd i a n t a r a n y a : 1. b a i kb e r u p a s e k e l o mp o ko r a n g . s e d a n g k a nd a l a mU Ut e n t a n gP e mb e r a n t a s a nT i n d a kP i d a n aT e r o r i s me d i a t u r t e n t a n g t a n g g u n g j a w a bk o r p o r a s i . a t a ub e r k o n t r i b u s i d a l a mp e l a k s a n a a na n t i t e r o r i s mey a n g d i l a k u k a no l e hs e k e l o mp o ko r a n gd e n g a nt u j u a nu n t u k me mb a n t u k e l a n c a r a n a k s i t e r o r i s me . B e l u ma d ap e n g a t u r a nu n t u kp e n d a n a a na t a st e r o r i sp e r o r a n g a nd a n p e n y e d i a a n h a r t a k e k a y a a n u n t u k o r g a n i s a s i t e r o r i s . 9. B e l u ma d ap e n g a t u r a nt e n t a n gb e n t u kp e l a n g g a r a nb a g i s e t i a po r a n g y a n g” me n y e d i a k a nd a n a ”u n t u ks e s e o r a n ga t a ub a d a nh u k u m y a n g t e r d a p a t d a l a md a f t a rt e r o r i sme n u r u t R e s o l u s i D e w a nK e a ma n a nP B B 1 2 6 7 .

66 . U UT i n d a kP i d a n aT e r o r s i me . I n d o n e s i ab e l u m me mi l i k ih u k u m a t a up r o s e d u ry a n ge f e k t i fu n t u k me mb e k u k a na s e t a s e t t e r o r i s l a i n n y a d a r i p i h a k p i h a ky a n gme mb i a y a i t e r o r i s me d a no r g a n i s a s i o r g a n i s a s i t e r o r i s ” t a n p a p e n u n d a a nd a nt a n p a p e mb e r i t a h u a n ” s e b e l u mn y a s e p e r t iy a n g d i p e r s y a r a t k a n F A T F . a t a uU UT P P U ) d a l a m me me r i n t a h k a np e mb l o k i r a na k u nb a n k s e t i a po r a n g a t a uk o r p o r a s i y a n g d i d u g a t e r k a i t d e n g a n a k s i t e r o r i s me . K e k u a s a a nu mu mu n t u kme n y i t as e p e r t i y a n gd i a t u r d a l a mP a s a l 3 8 4 9 K U H P me n g a t u rb a h w ap e n y i t a a nh a n y ad i b a t a s i p a d ab a r a n g b a r a n g y a n g d i d u g a me r u p a k a n b a r a n g c u r i a n . d i l u a r k o n t e k s t i n d a k p i d a n a t e r o r i s me t e r t e n t u . S y a r a tp e mb u k t i a nu n s u r” d i k e t a h u i a t a ud i d u g ak e r a sd e n g a na l a s a n y a n g c u k u p ” y a n g d i a t u r d a l a mP e mb e r a n t a s a nT i n d a kP i d a n a T e r o r i s me i n it e r l a l u t i n g g iu n t u k d i p e n u h ik e t i k a s e d a n g d a l a m p r o s e s me n g u mp u l k a ni n f o r ma s i me n g e n a i k a s u s k a s u sp e mb i a y a a nt e r o r i s me i n i . D e n g a nd e mi k i a nt i d a ka d ak e w e n a n g a nu n t u kme n y i t a h a r t ak e k a y a a nh a n y aa t a sd a s a rb a h w ah a r t ak e k a y a a nt e r s e b u t me r u p a k a nh a kmi l i kd a r i s e b u a he n t i t a sa t a uk e l o mp o kt e r o r i s . k a r e n ab a g i I n d o n e s i a . a t a u d a l a mp r o s e s me n j u a l b a r a n g c u r i a nt e r s e b u t . B e l u ma d ak e j e l a s a nb a g iP o l r iu n t u k me n g g u n a k a nd a s a rh u k u ma p a ( a p a k a hme n g g u n a k a nK U H A P . K e c i l k e mu n g k i n a nu n t u kd a p a t me n e r a p k a nk e t e n t u a n i n i u n t u kh a r t a k e k a y a a ns e s e o r a n gy a n gmu n g k i nt e l a hme l a k u k a na k s i t e r o r i s me . 11. P a s a l 3 8 4 9j u g a t i d a k me mb e r i k a nk u a s a u n t u k me n y i t a h a r t a k e k a y a a nt a n p a d i d a h u l u i a d a n y a k e c u r i g a a nb a h w a s u a t ut i n d a kp i d a n a t e l a ht e r j a d i . s e b e l u mp e r i n t a h p e mb e k u a n d a p a t d i k e l u a r k a n . 10. I n d o n e s i as e l a mai n i me n g a n d a l k a np r o s e sp e n y e l i d i k a nd a nl a n g k a h l a n g k a hy a n gd i a t u rd a l a mK U H A Pu n t u k me mb e k u k a na s e te n t i t a s e n t i t a s y a n g t e r d a f t a r d a l a mD a f t a r t e r o r i s s e b a g a i ma n a consolidated list United Nations Security Council Resolution ( U N S C R )1 2 6 7 . t e r d a f t a rs e b a g a i t e r o r i sb e l u md a p a t d i j a d i k a nd a s a ru n t u k d i l a k u k a n n y ap e mb e k u a na t a up e mb l o k i r a n( freezing without delay) .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me b e r u p a d a k w a a nk u mu l a t i f y a n g me me r l u k a ns a t up u t u s a nk h u s u s u n t u k t i n d a k p i d a n a p e n d a n a a n t e r o r i s me .

21. 1. 5. 1 3 3 3 . U n d a n g U n d a n gR I N o mo r 1 5T a h u n2 0 0 8t e n t a n gP e n g e s a h a nTreaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters. 2. 20.L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me B . 7. R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o . Convention for the Suppression of Unlawful Seizure of Aircraft. 15. 6. 4. 1971. 3. 19. 16. U n d a n g U n d a n g R I N o mo r 6T a h u n2 0 0 6t e n t a n g P e n g e s a h a n International Convention For The Suppression Of The Financing Of Terrorism. 10. 2004. U n d a n g U n d a n g R IN o mo r 5 T a h u n 2 0 0 6 T e n t a n g P e n g e s a h a n International Convention for the Suppression of Terrorist Bombing. 1973. U n d a n g U n d a n gN o mo r1 5T a h u n2 0 0 3t e n t a n gP e n e t a p a nP e r a t u r a n P e me r i n t a hP e n g g a n t iU n d a n g U n d a n gN o mo r1 T a h u n2 0 0 2T e n t a n g P e mb e r a n t a s a n T i n d a k P i d a n a T e r o r i s me . 2004. 1 9 0 4 . 11. FATF 40+9 recommendations. 1 9 9 7 . U n d a n g U n d a n g N o mo r 8 T a h u n 2 0 1 0 t e n t a n g P e n c e g a h a n d a n P e mb e r a n t a s a n T i n d a k P i d a n a P e n c u c i a n U a n g . 1997. 8. R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o mo r 1 2 6 7 . R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o . 17. International Convention for The Suppression of The Financing of Terrorism. 1 3 7 3 . R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o mo r 1 3 7 2 . 1999. United Nations Convention Against Transnational Organized Crime. U n d a n g U n d a n gR IN o mo r5 T a h u n2 0 0 9t e n t a n gP e n g e s a h a n United Nations Convention Against Transnational Organized Crime. 1999. 67 . 1970. Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation. 14. International Convention for the Suppression of Terrorist Bombing. Convention on the Prevention and Punishment of Crimes against Internationally Protected Persons. 9. 2000. Treaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters. R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o . 13. including Diplomatic Agents. 12. 1 4 2 5 . 1 9 8 8 / 1 9 8 9 . Keterkaitan dengan Peraturan Perundang-undangan lain. R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o . 18. R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B BN o . 2000.

68 . 6. 27. Protocol for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of /Fixed Platforms located on the Continental Shelf. 30. 25. International Convention against the Taking of Hostages. 1988. Protocol for the Suppression of Unlawful Acts of Violence at Airports Serving International Civil Aviation 1988. U n d a n g U n d a n gN o mo r1 5T a h u n2 0 0 3t e n t a n gP e n e t a p a nP e r a t u r a n P e me r i n t a hP e n g g a n t iU n d a n g U n d a n gN o mo r1 T a h u n2 0 0 2T e n t a n g P e mb e r a n t a s a n T i n d a k P i d a n a T e r o r i s me . 2000. 24. 2. U n d a n g U n d a n gR IN o mo r5 T a h u n2 0 0 9t e n t a n gP e n g e s a h a n United Nations Convention Against Transnational Organized Crime. 1 9 9 7 . KUHP Australia. Anti Money Laundering and Counter-Terrorism Financing Act 2006 (Australia). 31. 2004. 23. 1. Harmonisasi Secara Vertikal Dan Horizontal. 1988. Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Maritime Navigation. 28. 26. U n d a n g U n d a n g D a s a r N e g a r a R e p u b l i k I n d o n e s i a 1 9 4 5 . Convention for the Suppression of Unlawful Acts at Airports Serving International Civil Aviation. U n d a n g U n d a n g R IN o mo r 5 T a h u n 2 0 0 6 T e n t a n g P e n g e s a h a n International Convention for the Suppression of Terrorist Bombing. 29. 1999.L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me 22. 3. Freezing of Terrorist Asset (Australia) Charter of the United Nations Act 1945. U n d a n g U n d a n gR I N o mo r 1 5T a h u n2 0 0 8t e n t a n gP e n g e s a h a nTreaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters. C. 1988. supplementary to the Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation. 5. 1979. Combating the Financing of People Smuggling and other Measure Act (Australia). U n d a n g U n d a n g R I N o mo r 6T a h u n2 0 0 6t e n t a n g P e n g e s a h a n International Convention For The Suppression Of The Financing Of Terrorism. 4.

P a s a l 1 3 h u r u f a . T a mb a h a nL e mb a r a nN e g a r a R e p u b l i kI n d o n e s i a N o mo r 4 2 8 4 ) y a n gd i l a k u k a ns e b e l u mb e r l a k u n y aU n d a n g U n d a n gi n i . T i n d a kP i d a n aT e r o r i s met e r k a i t d e n g a np e l a n g g a r a nP a s a l 1 1 . Status Peraturan Perundang-undangan yang ada. termasuk Peraturan Perundang-undangan yang dicabut dan dinyatakan tidak berlaku serta Peraturan Perundang-undangan yang masih tetap berlaku karena tidak bertentangan dengan Undang-Undang yang baru. U n d a n g U n d a n g N o mo r 8 T a h u n 2 0 1 0 t e n t a n g P e n c e g a h a n d a n P e mb e r a n t a s a n T i n d a k P i d a n a P e n c u c i a n U a n g . T a mb a h a nL e mb a r a nN e g a r aR e p u b l i k I n d o n e s i a N o mo r 4 2 3 2 ) s e b a g a i ma n a t e l a hd i t e t a p k a nme n j a d i U n d a n g U n d a n g N o mo r1 5T a h u n2 0 0 3t e n t a n gP e n e t a p a nP e r a t u r a nP e me r i n t a hP e n g g a n t i U n d a n g U n d a n gN o mo r1 T a h u n2 0 0 2 me n j a d iU n d a n g U n d a n g( L e mb a r a n N e g a r a R e p u b l i k I n d o n e s i a T a h u n2 0 0 3N o mo r 4 5 .T a mb a h a nL e mb a r a nN e g a r aR e p u b l i k I n d o n e s i a N o mo r 4 2 8 4 ) . 69 . d a nP a s a l 1 4P e r a t u r a nP e me r i n t a hP e n g g a n t i U n d a n g U n d a n g N o mo r 1 T a h u n2 0 0 2t e n t a n gT i n d a kP i d a n aT e r o r i s me( L e mb a r a nN e g a r aR e p u b l i k I n d o n e s i aT a h u n2 0 0 2N o mo r1 0 6 .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me 7. D. T a mb a h a nL e mb a r a nN e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i aN o mo r 4 2 3 2 ) y a n gt e l a h d i t e t a p k a nme n j a d i U n d a n g U n d a n gd e n g a nU n d a n g U n d a n gN o mo r1 5T a h u n 2 0 0 3t e n t a n gP e n e t a p a nP e r a t u r a nP e me r i n t a hP e n g g a n t iU n d a n g U n d a n g N o mo r1 T a h u n2 0 0 2 me n j a d iU n d a n g U n d a n g( L e mb a r a nN e g a r aR e p u b l i k I n d o n e s i aT a h u n2 0 0 3N o mo r4 5 . d i p e r i k s ad a nd i p u t u sb e r d a s a r k a nk e t e n t u a nd a l a m P e r a t u r a n P e me r i n t a hP e n g g a n t i U n d a n g U n d a n gN o mo r1T a h u n2 0 0 2t e n t a n gT i n d a k P i d a n aT e r o r i s me( L e mb a r a nN e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i aT a h u n2 0 0 2N o mo r 1 0 6 .

Landasan Sosiologis Ma s y a r a k a t I n d o n e s i a d a nma s y a r a k a t d u n i a s a a t i n i s e d a n gd i h a d a p k a n p a d ak e a d a a ny a n gs a n g a tme n g k h a w a t i r k a na k i b a tma r a k n y aa k s it e r o r . k e t e r t i b a n .p e me r i n t a hw a j i b me me l i h a r ad a n me n e g a k k a nk e d a u l a t a nd a nme l i n d u n g i s e g e n a pw a r g an e g a r a n y ad a r i s e t i a p a n c a ma na t a ut i n d a k a nd e s t r u k t i fb a i kd a r id a l a mn e g e r i ma u p u nd a r i l u a r n e g e r i . p e r d a ma i a nd u n i as e r t ame r u g i k a n k e s e j a h t e r a a n ma s y a r a k a ts e h i n g g ap e r l ud i l a k u k a np e mb e r a n t a s a ns e c a r a t e r e n c a n ad a nb e r k e s i n a mb u n g a ns e h i n g g ah a ka s a s io r a n gb a n y a kd a p a t d i l i n d u n g i d a n d i j u n j u n g t i n g g i . ma k a mu t l a k d i p e r l u k a np e n e g a k a nh u k u md a nk e t e r t i b a ns e c a r a k o n s i s t e nd a n b e r k e s i n a mb u n g a n . y a i t uP a n c a s i l a . SOSIOLOGIS DAN YURIDIS A. B.me ma j u k a nk e s e j a h t e r a a nu mu m. me n c e r d a s k a nk e h i d u p a nb a n g s ad a ni k u t s e r t ad a l a m me me l i h a r ak e t e r t i b a n d u n i ay a n gb e r d a s a r k a nk e me r d e k a a n . R a n g k a i a np e r i s t i w ap e mb o ma ny a n gt e r j a d id iw i l a y a hN e g a r aR e p u b l i k 70 . T e r o r i s meme r u p a k a nk e j a h a t a nt e r h a d a pk e ma n u s i a a nd a np e r a d a b a n s e r t ame r u p a k a ns a l a hs a t ua n c a ma ns e r i u s t e r h a d a pk e d a u l a t a ns e t i a pn e g a r a k a r e n at e r o r i s mes u d a hme r u p a k a nk e j a h a t a ny a n gb e r s i f a t i n t e r n a s i o n a l y a n g me n i mb u l k a nb a h a y at e r h a d a pk e a ma n a n .R u mu s a nP a n c a s i l ay a n gt e r d a p a td id a l a m P e mb u k a a n( preambule)U n d a n g U n d a n gD a s a rN e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i a t a h u n1 9 4 5( U U D1 9 4 5 )t e r d i r i d a r i e mp a te l i n e a . A l i n e ak e e mp a tme mu a t r u mu s a nt u j u a nn e g a r a I n d o n e s i a a d a l a hme l i n d u n g i s e g e n a pb a n g s a I n d o n e s i a d a ns e l u r u ht u mp a hd a r a hI n d o n e s i a . d a nk e s e j a h t e r a a ny a n gd i i n g i n k a n o l e h ma s y a r a k a tI n d o n e s i a . p e r d a ma i a na b a d i d a nk e a d i l a ns o s i a l . Landasan Filosofis D a s a r f i l o s o f i s a d a l a hp a n d a n g a nh i d u pb a n g s a I n d o n e s i a d a l a mb e r b a n g s a d a nb e r n e g a r a . P e n j a b a r a nn i l a i n i l a i P a n c a s i l a d i d a l a mh u k u m me n c e r mi n k a ns u a t uk e a d i l a n . U n t u k me n c a p a it u j u a nt e r s e b u t .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me BAB IV LANDASAN FILOSOFIS.

p o l i t i k . d a nk e r u g i a nh a r t ab e n d a . Me l a l u i me k a n i s mefollow the money d e n g a nme n e l u s u r i a l i r a nd a n ame l a l u i t r a n s a k s i k e u a n g a nme r u p a k a nc a r a y a n g p a l i n g mu d a hu n t u k me n d e t e k s i d a n a y a n g a k a nd i g u n a k a na t a ud i d u g a a k a nd i g u n a k a nu n t u k k e g i a t a nt e r o r i s me d a n p e l a k ut e r o r y a n gb e r p e r a ns e b a g a i p e n y a n d a n gd a n a . d a nh u b u n g a n i n t e r n a s i o a n l . d a n k e r j as a ma i n t e r n a s i o n a lu n t u k me n d e t e k s ia d a n y as u a t ua l i r a nd a n ay a n g d i g u n a k a na t a ud i d u g ad i g u n a k a nu n t u kp e n d a n a a nk e g i a t a nt e r o r i s m. U p a y a p e mb e r a n t a s a n t i n d a kp i d a n at e r o r i s med e n g a nc a r ak o n v e n s i o n a l ( follow the suspect)y a k n i d e n g a n me n g h u k u mp a r ap e l a k ut e r o ri n i t e r n y a t ab u k a ns a t u s a t u n y ac a r a u n t u kme n c e g a hd a n me mb e r a n t a st i d a kp i d a n at e r o r i s mes e c a r ama k s i ma l . me n i mb u l k a n k e t a k u t a n ma s y a r a k a ts e c a r al u a s . A p a b i l ama t ar a n t a i p e n d a n a a ni n g i n d i p u t u sma k as e mu an e g a r ah a r u sme n g a mb i l t i n d a k a nb e r d a s a r k a nh u k u m b e r u p ap e mb e k u a n . s e h i n g g a me n i mb u l k a n d a mp a ky a n gl u a s t e r h a d a pk e h i d u p a ns o s i a l . s e h i n g g a d a p a t s e s e g e r a mu n g k i nd i l a k u k a nt i n d a k a nh u k u mp e n c e g a h a nt e r h a d a pu p a y ap e n g g u n a a n d a n a t e r s e b u t o l e hp a r a p e l a k ut e r o r .p r i n s i pu t a ma d a l a m me me r a n g it e r o r i s me a d a l a h b a g a i ma n ame mu t u sma t ar a n t a i p e n d a n a a nu n t u kme n g u r a n g i k e ma mp u a n t e r o r i sd a l a m me l a k u k a nt i n d a k a n n y a . e k o n o mi . 71 . a p a r a t p e n e g a kh u k u m.L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me I n d o n e s i ay a n gmu l a i t e r j a d i s e j a ka k h i rt a h u n1 9 9 0 a nt e l a hme n g a k i b a t k a n h i l a n g n y a n y a w a t a n p a me ma n d a n g k o r b a n . S e b a g a i ma n a h a l n y a p e mb a n g u n a nr e z i m a n t ip e n c u c i a nu a n g . A d a p u n k e g i a t a nt e r o r i s me i n i p a d a k e n y a t a a n n y a s u d a hme mi l i k i j a r i n g a ny a n gk u a t b a i kd i d a l a m ma u p u nd i l u a r n e g e r i .p e n y i t a a nd a np e r a mp a s a na s e ty a n gt e r k a i td e n g a n t e r o r i s me . U p a y al a i ny a n gp e r l ud i l a k u k a nu n t u k me n c e g a hd a n me mb e r a n t a st i n d a k p i d a n a t e r o r i s me a d a l a h d e n g a nme n g g u n a k a ns i s t e md a nme k a n i s me follow the money d e n g a nme l i b a t k a np e n y e d i aj a s ak e u a n g a n . k a r e n a s u a t uk e g i a t a nt e r o r i s met i d a kmu n g k i nd a p a t d i l a k u k a nt a n p aa d a n y ap e l a k u t e r o ry a n gb e r p e r a ns e b a g a ip e n y a n d a n gd a n au n t u kk e g i a t a nt e r o r i s me t e r s e b u t . Me l u a s n y a a k s i t e r o r y a n g d i d u k u n g o l e hp e n d a n a a ny a n g b e r s i f a t l i n t a s n e g a r a me n g a k i b a t k a n p e mb e r a n t a s a n n y a me mb u t u h k a n k e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a l d a l a mp e mb e n t u k a ns u a t ua t u r a nI n t e r n a s i o n a l y a n gme n j a d i r u j u k a nb e r s a ma .

Landasan Yuridis K e t e n t u a nd a l a m p e mb u k a a nU n d a n g U n d a n gD a s a rN e g a r aR e p u b l i k I n d o n e s i a T a h u n1 9 4 5 .U n t u ka l a s a n a l a s a ni n i l a hs e mu an e g a r ah a r u sme ma s t i k a n b a h w ad e f i n i s i h u k u m me n g e n a i p e n d a n a a nt e r o r i s me n c a k u pp u l ad a n ay a n g d i p e r o l e hd a r i s u mb e r s u mb e r y a n gs a hd a nme n g a mb i l l a n g k a h l a n g k a hy a n g d i p e r l u k a n g u n a me n c e g a h p e n d a n a a n s e j e n i s i t u .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me H a l y a n gme n j a d i p e r b e d a a np a d ap r a k t i kp e n c u c i a nu a n gd e n g a np e n d a n a a n t e r o r i s mea d a l a hp a d ap e n c u c i a nu a n gs e c a r ak h u s u sme l i b a t k a np e n g a l i h a n h a s i lk e j a h a t a ny a n gs i g n i f i k a nk ed a l a m t r a n s a k s il e g a l me l a l u iu p a y a p e n y e mb i n y i a na t a up e n y a ma r a n . C. D e n g a nd e mi k i a nk r i mi n a l i s a s ip e n d a n a a nt e r o r i s me s e b a g a is u a t ut i n d a k p i d a n a s a a t i n i mu l t a kd i p e r l u k a n . D e n g a nt e l a hd i r a t i f i k a s i n y aK o n v e n s iI n t e r n a s i o n a lP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a nT e r o r i s meme n j a d i U UN o . P e me r i n t a hI n d o n e s i a 72 . me s k i p u nu s a h a u s a h ay a n gd i j a l a n k a na d a l a hs a h . b a i k l a n g s u n g ma u p u n t i d a k l a n g s u n g . S e t i a po r a n gy a n gb e r h u b u n g a nd e n g a n h u k u m. N e g a r a I n d o n e s i a me l i n d u n g i s e g e n a pb a n g s a I n d o n e s i a d a ns e l u r u ht u mp a hd a r a hI n d o e n s i ad a nu n t u k me ma j u k a nk e s e j a h t e r a a n u mu m.s e d a n g k a np e n d a n a a nt e r o r i s me d a p a t me l i b a t k a nh a s i l k e j a h a t a nd e n g a nh a s i l u s a h ay a n gs a hy a n gd i g u n a k a nu n t u k t u j u a np e n d a n a a nk e g i a t a nt e r o r i s me . U n s u r p e n d a n a a nme r u p a k a ns a l a hs a t uf a k t o r u t a mad a l a ms e t i a pa k s i t e r o r i s mes e h i n g g au p a y ap e n a n g g u l a n g a nt i n d a kp i d a n at e r o r i s med i y a k i n i t i d a ko p t i ma lt a n p ad i i k u t id e n g a nu p a y ap e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a n t e r h a d a p p e n d a n a a n t e r o r i s me . p e r d a ma i a na b a d i d a nk e a d i l a ns o s i a l ma k ap e r l ud i l a k u k a nt i n d a k a nt e g a st e r h a d a ps e g a l ab e n t u ka n c a ma ny a n g me n g g a n g g ur a s aa ma nw a r g an e g a r ad a n me n g g a n g g uk e d a u l a t a nn e g a r a t e r ma s u ka n c a ma nt i n d a kp i d a n at e r o r i s me d a na k t i f i t a sy a n g me n d u k u n g t e r j a d i n y a a k s i t e r o r i s me . n a mu nd a p a t s a j a d i g u n a k a ns e b a g a i t a b i ru n t u k me n g u mp u l k a nd a n ab a g ip a r at e r o r i ss e r t a o r g a n i s a s i n y a . me n c e r d a s k a nk e h i d u p a nb a n g s ad a ni k u tme l a k s a n a k a nk e t e r t i b a n d u n i ay a n gb e r d a s a r k a nk e me r d e k a a n . 6T a h u n2 0 0 6 . k a r e n a p e n y a n d a n gd a n a j u g a a d a l a hp e l a k u d a r i t i n d a k p i d a n a t e r o r i s me .

D a l a m u p a y ame n c e g a hd a nme mb e r a n t a st i n d a kp i d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s me . t e r ma s u k me r a t i f i k a s i1 2K o n v e n s iI n t e r n a s i o n a l me n g e n a it e r o r i s me . 1 9 9 9 ) b e r d a s a r k a nU n d a n g U n d a n g N o mo r 6T a h u n2 0 0 6 . ma k a p e r l ua d a n y ak e p a s t i a nh u k u md a np e n e g a k a nh u k u my a n gb e r k e a d i l a ny a n g h a r u s d i l a k s a n a k a n s e c a r a k o n s i s t e n d a n b e r k e l a n j u t a n . K e t e n t u a ny a n ga d ab e r k a i t a nd e n g a np e n d a n a a nt e r o r i s me b e l u m me n g a t u rt e n t a n gp e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a nt i n d a kp i d a n ap e n d a n a a n t e r o r i s me s e c a r a me ma d a i d a n k o mp r e h e n s i f . K o n v e n s i i n i j u g a 73 . R a t i f i k a s ii n ime n u n j u k k a nk o mi t me nI n d o n e s i ad a l a m p e mb e r a n t a s a n p e n d a n a a n t e r o r i s me . P e n y u s u n a nR U Ut e n t a n g P e n c e g a h a nd a n P e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a nT e r o r i s meme n j a d is e ma k i ns t r a t e g id a nr e l e v a n d e n g a nd i r a t i f i k a s i n y a International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism. B a h k a nU n d a n g U n d a n gN o mo r1 5T a h u n2 0 0 3 t e n t a n gP e n e t a p a nP e r a t u r a nP e me r i n t a hP e n g g a n t i U n d a n g U n d a n gN o mo r 1 T a h u n2 0 0 2t e n t a n g P e mb e r a n t a s a nT i n d a kP i d a n a T e r o r i s me Me n j a d i U n d a n g U n d a n gy a n gt e l a h me n g k r i mi n a l i s a s ip e n d a n a a nt e r o r i s me s e b a g a it i n d a k p i d a n at e r n y a t ama s i hme n y i s a k a n“ loopholes” s e h i n g g ap e n g a t u r a n n y ab e l u m me n j a mi nk e p a s t i a nh u k u md a nk e t e r t i b a nh u k u md a l a m ma s y a r a k a t . U p a y a me ma s u k a nt i n d a kp i d a n at e r o r i s me s e b a g a is a l a hs a t ut i n d a k p i d a n aa s a l( predicate crime)d a l a mU UT P P Ut e r n y a t ama s i hb e l u md a p a t d i i mp l e me n t a s i k a ns e c a r ae f e k t i fd a l a m me n c e g a hd a n me mb e r a n t a st i n d a k p i d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s me .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me b e r k e w a j i b a nu n t u k me mb u a ta t a u me n y e l a r a s k a np e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a nt e r k a i tp e r d a n a a nt e r o r i s me s e h i n g g as e j a l a nd e n g a nk e t e n t u a n k e t e n t u a n y a n g d i a t u r d i d a l a mk o n v e n s i . 1999 ( K o n v e n s i I n t e r n a s i o n a l P e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a n T e r o r i s me . R a t i f i k a s i K o n v e n s i me r u p a k a np e me n u h a nk e w a j i b a nI n d o n e s i as e b a g a i a n g g o t aP B Bt e r h a d a pR e s o l u s i D e w a nK e ma n a nP B BN o mo r1 3 7 3 . S a l a hs a t u k e w a j i b a ns e s u a i P a s a l 2K o n v e n s i P B B me n g e n a i P e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a n T e r o r i s me a d a l a h p e n e r a p a n k e w a j i b a n b a g il e mb a g ak e u a n g a n u n t u k me l a p o r k a nt r a n s a k s iy a n g me n c u r i g a k a nk e p a d ai n s t a n s ib e r w e n a n gs e r t a b e k e r j as a mau n t u ks a l i n gt u k a r me n u k a r i n f o r ma s i d a l a mr a n g k ap e n c e g a h a n d a n p e mb e r a n t a s a n a l i r a n d a n a u n t u k t i n d a k p i d a n a t e r o r i s me . R e s o l u s i t e r s e b u t me mi n t a s e t i a p n e g a r a a n g g o t a u n t u k me n g a mb i ll a n g k a h p e mb e r a n t a s a nt e r o r i s me .

p e n d e t e k s i a n . d a np e mb e k u a nd a n ay a n gd i g u n a k a nu n t u k me mb i a y a i t i n d a k p i d a n a t e r o r i s me .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me me w a j i b k a n s e t i a p n e g a r a p i h a k ( state party) u n t u k me n g a t u r p e n g i d e n t i f i k a s i a n . 74 .

detikBandung. padahal pekerjaan tetap. ARAH PENGATURAN. 3 September2009. DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN A. Arah dan Jangkauan Pengaturan D iI n d o n e s i at i n d a kp i d a n at e r o r i s me me r u p a k a ni s up e n t i n gy a n g me n d a p a t k a np e r h a t i a np e n u hd a r i s e mu a l a p i s a nma s y a r a k a t d a nP e me r i n t a h . Aliran Dana Terorisme Terus Mengalir di Bank”. d a n u n t u k me r a n c a n g d a nme l a k s a n a k a no p e r a s i . Menurut Pimpinan Direktorat Perizinan dan Pengaturan Perbankan BI Zainal Abidin. Bank sering segan untuk mengkroscek identitas nasabah yang akan membuka rekening. Bank sebagai tempat penyaluran dana dinilai lalai dalam menganalisa identitas nasabah. Identitas teroris saat akan melakukan transaksi keuangan bisa dipastikan palsu. bahwa kematian Usamah Bin Ladin tidak akan menggoyang keberadaan kelompok teroris yang ada di dalam negeri. 35 34 33 75 . d a n as a n g a td i b u t u h k a nu n t u kme mp r o mo s i k a ni d e o l o g i . Saat ini para teroris cenderung menggunakan identitas orang terdekatnya yang dianggapnya aman. Harusnya bank curiga kalau penghasilan naik tiba-tiba dengan angka yang drastis. me ma l s u k a n i d e n t i t a s d a n d o k u me n . me r e k r u t d a n me l a t i h a n g g o t a b a r u . 4 Mei 2011. detiknews. melainkan juga memanfaatkan teknologi perbankan seperti phone banking dan lain-lain. me mb e l i 3 5O p e r s e n j a t a a n . aksi terorisme dalam negeri praktis didanai secara swadaya oleh para teroris dengan dibantu simpatisan mereka. dan bank kerap terkecoh. Lihat: ”Karena Lalai. Standar operasionalnya. bank wajib meminta informasi sedetil-detilnya dari si nasabah. 23 Maret 2010. P a r a p e l a k ut e r o r i s me s u d a hp a s t i t i d a k a k a np e r n a hb e r h a s i l me l a k u k a n a k s i n y a t a n p a a d a n y a b e r b a g a i b e n t u k f a s i l i t a s d a ni n s t r u me n p e d u k u n g l a i n n y a . khususnya dari kelompok Al-Qaidah. me mb i a y a i a n g g o t a t e r o r i sd a nk e l u a r g a n y a .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me BAB V JANGKAUAN. Modusnya lebih rapi. sebelum melakukan hubungan dengan nasabah. karena yang dipakai adalah identitas pinjaman yang seringkali fiktif. l e hs e b a b i t u . me n d a n a i p e r j a l a n a nd a np e n g i n a p a n . d i ma n as a l a hs a t u n y aa d a l a hd u k u n g a np e n d a n a a n . Lihat: “Pendanaan teroris Indonesia Tak Lagi dari Al-Qaidah”. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyaad Mbai mengatakan. s e h i n g g aa k t i f i t a st e r o r i s med a ni n s t r u me np e n d u k u n g n y a 3 4 t e l a h me n d a p a t p e r h a t i a n k h u s u s d a r i p e me r i n t a h I n d o n e s i a . Tempo Interaktif.com. Sasaran Yang Akan diwujudkan. Pengamat terorisme Wawan Purwanto mengatakan bahwa aksi terorisme di Indonesia tidak lagi disokong dana dari Timur Tengah. Sejak Bom Bali I pada 2002. maraknya kasus terorisme di Indonesia disinyalir karena sokongan dana yang terus mengalir. Lihat: ”Kapolri: Pendanaan Teroris Gunakan Jasa Phone Banking”. Sementara Kapolri Bambang Hendarso Danuri mengungkapkan bahwa pola penyaluran dana kelompok teroris bukan hanya melalui cara tradisional seperti menggunakan kurir (Hawala). 3 3h T e r j a d i n y ap e r i s t i w ap e mb o ma nd i B a l i p a d at a h u n2 0 0 2 i n g g ap e mb o ma n h o t e l J W Ma r r i o t p a d a t a h u n2 0 0 9me r u p a k a nb u k t i k u a t b a h w a t i n d a kp i d a n a t e r o r i s me me r u p a k a ns u a t ua n c a ma nn y a t a y a n gd a p a t me r o n g r o n gk e d a u l a t a n b a n g s ad a nn e g a r a . D a l a mk e g i a t a nt e r o r i s me . Rekening salurannya bisa milik sopir atau bahkan pembantu.

Soalnya. Penelusuran dana bisa dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri. P e n t i n g n y ap e r a n gme l a w a np e n d a n a a nt e r o r i s med i d a s a r k a nk e p a d a k e n y a t a a nb a h w ap e n d a n a a nt e r o r i s me me n d u k u n gu s a h ap e r e k r u t a nd a n p e mb e r i a nmo t i v a s i me l a l u i i n s e n t i f k e u a n g a ns e r t ama mp ume n j a g ak e k u a t a n mo r a l d a n mo t i v a s i d e n g a nk e b e r h a s i l a np e r e n c a n a a nd a np e l a k s a n a a na k s i t e r o r n y a . t e r o r i s j u g a ma s i hme me r l u k a ni n f r a s t r u k t u r s i s t e mk e u a n g a n u n t u k me mo b i l i s a s id a n me n y a l u r k a n d a n a n y a . S e l a i ni t u . mencuci otak mereka. Pendanaan tidak semata-mata dari Al-Qaidah. Lihat: “Pendanaan teroris Indonesia Tak Lagi dari Al-Qaidah”. Prasetya Online. ma u p u n 3 6 y a n g me l a k u k a n a k s i t e r o r i s me . Lihat “Seminar Internasional: Pencegahan terorisme Perlu Kerjasama Semua Negara”. dengan alasan fa'i. Kepala PPATK Yunus Husein mengemukakan bahwa PPTAK memiliki peran penting dalam pencegahan dan pemberantasan pendanaan terorisme. terutama aparat keamanan dan intelijen. 23 Juni 2011. Tempo Interaktif. b a i k b a g i y a n g me mf a s i l i t a s i . dan menarik infak dari mereka sebagai sumber pendanaan. Namun. Seperti gerakan Negara Islam Indonesia (NII) yang merekrut anggota baru. terutama dengan memberikan informasi dan intelejen keuangan penelusuran dana. N a mu n . Penelusuran aliran dana dimulai dari identifikasi kegiatan pendanaan untuk terorisme setelah menuju kepada tokoh-tokoh penting dalam terorisme selanjutnya adalah mengidentifikasi lokasi pelaku dan aksi teroris tersebut. khususnya dari kelompok Al-Qaidah pimpinan Usamah.s u mb e rd a n a t e r o r i s me d a p a tp u l ab e r a s a ld a r is u mb e ry a n gh a l a la t a ul e g a ls e h i n g g a me mp e r s u l i tp e n e l u s u r a nd a np e mb u k t i a na l i r a nd a n at e r o r i s me . pelaku teror domestik tidak lagi mengandalkan dana dari Timur Tengah. 4 Mei 2011. P a d ai n t i n y ap e n d a n a a n t e r o r i s me a d a l a h p e n y e d i a a n d u k u n g a n k e u a n g a n u n t u k t e r o r i s me . s e h i n g g au p a y ap e n a n g g u l a n g a nt e r o r i s meh a r u sp u l a d i i k u t id e n g a nu p a y ap e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a nt e r h a d a pp e n d a n a a n t e r o r i s me . Contoh lain adalah sejumlah aksi perampokan terhadap bank dan toko emas yang terjadi beberapa bulan lalu. harus juga mencermati kegiatan-kegiatan yang berpotensi dijadikan sumber pendanaan kelompok teroris. setelah diselidiki dan diusut polisi. me r e n c a n a k a n . Pemerintah Indonesia. 36 76 . perampokan itu dilakukan untuk menggalang dana guna melakukan aksi teror.A d a p u n y a n g me mb u a t p e n d a n a a nt e r o r i s meme n j a d i s a n g a t b e r b a h a y ad i b a n d i n g k a nb e n t u kk r i mi n a l l a i n n y a d i k a r e n a k a ns t r a t e g i me r e k a d a l a m me n g g u n a k a no r g a n i s a s i a ma l a t a u n i r l a b as e b a g a i s u mb e rp e n d a n a a nd a nk e ma mp u a n n y ame n g i n f i l t r a s i s i s t e m k e u a n g a nn e g a r a n e g a r a mi s k i nd a nb e r k e mb a n g .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me d u k u n g a nd a l a mb e n t u ku a n ga t a ud a n ame r u p a k a ns a l a hs a t uf a k t o rp e n t i n g d a l a ma k s i t e r o r i s me . P e ma l s u a n i d e n t i t a sj u g amu d a hd i l a k u k a nk a r e n as e ma k i nme n j a mu r n y ae-business d a n k e mu d a h a nt r a n s a k s ik e u a n g a nv i ai n t e r n e td ie r ag l o b a l i s a s ii n is e ma k i n me mp e r s u l i t p e n e g a k h u k u mu n t u k me l a c a k a l i r a n d a n a t e r o r i s .

Jadi bukan hanya mereka melakukan pengamanan di perbatasan (Airport. 1999. D e n g a n t e l a h d i r a t i f i k a s i n y aK o n v e n s iI n t e r n a s i o n a lP e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a nT e r o r i s me me l a l u i U n d a n g U n d a n g N o mo r 6T a h u n2 0 0 6t e n t a n g P e n g e s a h a nInternational Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism.R e k o me n d a s ii n i me r u p a k a n r e k o me n d a s ik h u s u sy a n gd i g u n a k a ns e b a g a is t a n d a ri n t e r n a s i o n a lu n t u k me n g h a l a n g ia k s e sb a g ip a r at e r o r i sd a np e n d u k u n g n y a me ma s u k is i s t e m k e u a n g a n . P e mu t u s a n ma t a r a n t a ip e n d a n a a n t e r o r i s me t e r s e b u tt e n t u n y a me mb u t u h k a nl a n d a s a nh u k u my a n g j e l a s a g a r d a p a t d i l a k s a n a k a ns e c a r a b e n a r d a n d a p a tp u l a d i p e r t a n g g u n g j a w a b k a n s e c a r a h u k u m. Terrorist Financing Typology Report . E f e k t i f i t a s p i h a k b e r w e n a n g d a l a m me n d e t e k s id a n me n y e l i d i k ia k t i f i t a st e r o r i sd a p a t d i t i n g k a t k a ns e c a r as i g n i f i k a nk e t i k ai n t e l i j e nk o n t r a t e r o r i s med a ni n f o r ma s i 3 7 f i n a n s i a l d i g u n a k a n s e c a r a b e r s a ma a n . diakses tanggal 12 Desember 2011. Seaport. Yang mereka lakukan adalah menghentikan: (1) praktik pencucian uang. 2008. s e b e n a r n y aj u g ad i p i c uo l e h a d a n y a Nine Special Recommendation F A T F .D e n g a na d a n y ak o n v e n s ii n t e r n a s i o n a ly a n gt e l a hd i r a t i f i k a s i Lihat FATF. Semenjak terjadinya serangan di New York City. P e r l u n y ap e n g a t u r a nt e n t a n gP e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a nT e r o r i s mek e d a l a m s e b u a hp e r u n d a n g u n d a n g a nt e r s e n d i r i . bahwa kunci keberhasilan Pemerintah di negara manapun untuk melemahkan dan menghancurkan jaringan teroris hanya satu.P e mu t u s a nt e r h a d a p ma t ar a n t a ip e n d a n a a n t e r o r i s me me n g h a r u s l a n a d a n y ap e r l i n d u n g a n s i s t e mi kt e r h a d a p s i s t e m k e u a n g a nd a np e r b a n k a nd a r ip e r b u a t a np i d a n a .com.ap-southeast1.ma k a I n d o n e s i a j u g a w a j i b u n t u k me mb u a t a t a ume n y e l a r a s k a np e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a nt e r k a i tp e n d a n a a nt e r o r i s me s e h i n g g as e j a l a nd e n g a nk e t e n t u a n k e t e n t u a n y a n g d i a t u r d a l a mk o n v e n s i t e r s e b u t .s e r t a me mb a t a s ik e ma mp u a n t e r o r i su n t u k me l a n c a r k a na k s ib r u t a l n y a .me n g i n g a ts e n s i t i f n y a i n f o r ma s i y a n gd i i n f o r ma s i k a no l e hi n t e l i j e nk o n t r a t e r o r i s me . 37 77 . “Hentikan Pendanaan Jaringan Teroris di Indonesia Sekarang!”. Lihat: John Tanujaya.amazonaws. London dan Spain.L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me S a l a h s a t u u p a y a y a n g d a p a t d i l a k u k a no l e ha p a r a t p e n e g a k h u k u mu n t u k me n c e g a hd a nme mb e r a n t a s t i n d a kp i d a n at e r o r i s mey a n gt e r j a d i d i I n d o n e s i a d a p a t d i l a k u k a nd e n g a nme mu t u sa l i r a np e n d a n a a nk e p a d ap e l a k ut e r o r i s me . http://ec2-175-41-177-36. (2) transfer uang lewat yayasan no profit.compute. yaitu menghentikan money line. Pemerintah di negara-segara tersebut melakukan monitor money traffic. Land port) tetapi yang mereka utamakan adalah pengawasan money traffic. D e n g a n me mu t u sa l i r a nd a n aa k a n me n c i p t a k a nl i n g k u n g a ny a n gt i d a k b e r s a h a b a tb a g it e r o r i s me . dan (3) transfer uang lewat sistim Hawala. Menurut John Tanujaya.

k r i mi n a l i s a s i t i n d a kp i n d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s med a nt i n d a kp i d a n al a i ny a n g b e r k a i t a n d e n g a n t i n d a k p i d a n a p e n d a n a a n t e r o r i s me . s o s i a l b u d a y a . d a n( i i i ) me n u n j u k k a n k o mi t me n I n d o n e s i a y a n g k u a t d a n s e r i u s d a l a m p e n c e g a h a n d a n p e mb e r a n t a s a n p e n d a n a a n t e r o r i s me . S a s a r a ny a n ga k a nd i w u j u d k a na d a l a h( i ) i k u t me me l i h a r ad a nme n j a g a s t a b i l i t a se k o n o mi .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me ( International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism. y a n gme n g a t u rt e n t a n gt i n d a kp i d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s me . s e r t a b a n y a k n y ak e l e ma h a ny a n gd i mi l i k i o l e hb e b e r a p ap e r a t u r a ny a n gt e l a ha d a . 38 78 . p e n y i d i k a n . p e n u n t u t a nd a n p e me r i k s a a nd is i d a n gp e n g a d i l a n . terciptanya penegakan hukum dan ketertiban yang konsisten dan berkesinambungan.p e l a p o r a n d a n p e n g a w a s a nk e p a t u h a n .s e r t ak e r j a s a ma b a i kn a s o n a lma u p u n i n t e r n a s i o n a l d a l a mp e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a nt i n d a kp i d a n ap e n d a n a a n 3 8 t e r o r i s me . 1999) d a l a ma t u r a nh u k u mI n d o n e s i ad a nNine Special Recommendation F A T F . U n d a n g U n d a n gi n i me n g a t u rs e c a r ak o mp r e h e n s i f me n g e n a i a s a s .( 2 ) me n g e t a h u id a n me n g a t u rp r o s e d u rd a n me k a n i s me y a n gj e l a su p a y ap e n c e g a h a n d a n p e mb e r a n t a s a nt i n d a kp i d a n at e r o r i s meme l a l u i p e n d e k a t a nfollow the money n a mu nt i d a k me n g h a mb a t k e g i a t a np e n g e l o l a j a s a k e u a n g a n . Ibid. d a nk e a ma n a nd a nk e t e r t i b a nn a s i o n a l . me k a n i s mep e mb l o k i r a n . ma k ad i p e r l u k a n U n d a n g U n d a n gt e r s e n d i r i y a n gme n g a t u r me n g e n a i T i n d a kP i d a n aP e n d a n a a n T e r o r i s me . Pada dasarnya Pengaturan tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme ini dimaksudkan untuk membentuk suatu aturan hukum yang baku dan lengkap mengenai Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme sebagai salah satu cara untuk mewujudkan tujuan nasional. ( i i ) me mu t u sa l u rp e n d a n a a nt e r o r i s mes e k a l i g u sme n c e g a ht e r j a d i n y ak e mb a l i s e r a n g a na t a ua k s i a k s i t e r o r i s med i s e l u r u ht a n a ha i r . Ma k aa r a h p e n g a t u r a n P e mb e r a n t a s a n T i n d a kP i d a n aP e n d a n a a n T e r o r i s mea d a l a hu n t u k : ( 1 ) me n g a t a s i c e l a h c e l a hy a n ga d ad a l a mp e r a t u r a n y a n gb e r k a i t a nd e n g a nt i n d a kp i d a n a p e n d a n a a nt e r o r i s me s e h i n g g a me n j a mi n k e p a s t i a nh u k u m d a nk e t e r t i b a nd a l a m ma s y a r a k a t . d a n( 3 ) me me n u h i R e k o me n d a s i Financial Action Task Force on Money Laundering ( F A T F ) k h u s u s n y a Nine Special Recommendations.

t e r h a d a ps e g a l ab e n t u ka n c a ma ny a n g me n g g a n g g ur a s aa ma nw a r g an e g a r ad a n me n g g a n g g uk e d a u l a t a nn e g a r a . u n s u rp e n d a n a a n me r u p a k a ns a l a hs a t uf a k t o r u t a ma .D e n g a nt e l a hd i r a t i f i k a s i n y a International Convention for The Suppression of The Financing of Terrorism. 1999)d e n g a n U n d a n g U n d a n gR IN o mo r6 T a h u n2 0 0 6 . s e h i n g g au p a y ap e n a n g g u l a n g a nt i n d a kp i d a n at e r o r i s med i y a k i n i t i d a k a k a no p t i ma lt a n p ad i i k u t id e n g a nu p a y ap e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a n t e r h a d a pp e n d a n a a nt e r o r i s me .B e r d a s a r k a n b e b e r a p a p e r t i mb a n g a ni t u l a hs e h i n g g ap e r l u me mb e n t u kU n d a n g U n d a n gt e n t a n g P e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me . d i ma n a n e g a r a w a j i bme l i n d u n g i s e g e n a pb a n g s a d a ns e l u r u ht u mp a hd a r a hI n d o n e s i a .P e r a t u r a nP e me r i n t a hP e n g g a n t iU n d a n g U n d a n gR IN o mo r1 T a h u n2 0 0 2t e n t a n gP e mb e r a n t a s a nT i n d a kP i d a n a T e r o r i s me . me n c e r d a s k a nk e h i d u p a nb a n g s ad a ni k u t me l a k s a n a k a nk e t e r t i b a nd u n i ab e r d a s a r k a nk e me r d e k a a n . p e r d a ma i a na b a d i d a nk e a d i l a ns o s i a l . me ma j u k a nk e s e j a h t e r a a nu mu m.ma k aP e me r i n t a hI n d o n e s i a b e r k e w a j i b a nu n t u k me mb u a ta t a u me n y e l a r a s k a np e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a nt e r k a i tp e r d a n a a nt e r o r i s me s e h i n g g as e j a l a nd e n g a nk e t e n t u a n k e t e n t u a ny a n gd i a t u rd id a l a mk o n v e n s it e r s e b u t .s e b a g a i ma n at e l a hd i t e t a p k a n me n j a d iU n d a n g U n d a n gd e n g a n U n d a n g U n d a n gR IN o mo r1 5T a h u n2 0 0 3t e n t a n gP e n e t a p a nP e r a t u r a n P e me r i n t a hP e n g g a n t iU n d a n g U n d a n gR IN o mo r1 T a h u n2 0 0 2 me n j a d i U n d a n g U n d a n g . D a l a m a k s it e r o r i s me . p e r l u d i l a k u k a n t i n d a k a n t e g a s . Ruang Lingkup Materi Muatan P e n g a t u r a nt e n t a n g P e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a nT e r o r i s me d i s u s u nd e n g a n me mp e r t i mb a n g k a nk e t e n t u a ny a n ga d ad a l a mP e mb u k a a nU U D1 9 4 5 . Me n g i n g a t P a s a l 5a y a t ( 1 )d a nP a s a l 2 0U n d a n g U n d a n gD a s a rN e g a r a R e p u b l i kI n d o n e s i aT a h u n1 9 4 5 . t e r ma s u ka n c a ma nt i n d a kp i d a n at e r o r i s me d a na k t i f i t a sy a n g me n d u k u n g t e r j a d i n y a a k s i t e r o r i s me . O l e hs e b a bi t u .d a nU n d a n g U n d a n gR IN o mo r6 T a h u n2 0 0 6t e n t a n g P e n g e s a h a nInternational Convention For The Suppression Of The Financing Of 79 . H a li t up e r l ud i l a k u k a n me n g i n g a t k e t e n t u a ny a n ga d ab e r k a i t a nd e n g a np e n d a n a a nt e r o r i s meb e l u m me n g a t u ru p a y ap e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a nt i n d a kp i d a n ap e n d a n a a n t e r o r i s me s e c a r a me ma d a id a n k o mp r e h e n s i f .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me B.

L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me Terrorism, 1999; ma k a d e n g a nP e r s e t u j u a nB e r s a ma a n t a r a D P Rd a nP r e s i d e nR I me mu t u s k a n u n t u k me n e t a p k a n U n d a n g U n d a n gt e n t a n gP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me .

1 .

Ketentuan Umum: Memuat Pengertian Istilah dan Frase P e n g a t u r a n t e n t a n gP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me i n id a l a m k e t e n t u a nu mu ma k a nd i r u mu s k a ns e p e r t i:( 1 )P e n d a n a a nT e r o r i s me ;( 2 ) T i n d a kP i d a n aT e r o r i s me ; ( 3 )S e t i a pO r a n g ; ( 4 )K o r p o r a s i ; ( 5 )T r a n s a k s i ; ( 6 ) T r a n s a k s iK e u a n g a n Me n c u r i g a k a nT e r k a i tP e n d a n a a nT e r o r i s me ;( 7 )H a r t a K e k a y a a n ; ( 8 )D a n a ; ( 9 )P e mb l o k i r a nS e me n t a r a ; ( 1 0 )P u s a tP e l a p o r a nd a n A n a l i s i s T r a n s a k s i K e u a n g a ny a n gs e l a n j u t n y ad i s i n g k a t P P A T K ; ( 1 1 ) P e n y e d i a J a s aK e u a n g a ny a n gs e l a n j u t n y ad i s i n g k a t P J K ; ( 1 2 ) P e n g g u n aJ a s aK e u a n g a n ; ( 1 3 )L e mb a g aP e n g a w a sd a nP e n g a t u ry a n gs e l a n j u t n y ad i s i n g k a tL P P ; ( 1 4 ) P e r s o n i l P e n g e n d a l i K o r p o r a s i ; d a n ( 1 5 ) D o k u me n . T i n d a kp i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s med a p a t t e r j a d i k a r e n ad i s e b a b k a no l e h p e r b u a t a n ma n u s i aa t a up u nk o r p o r a s i ( b a d a nh u k u m) . D a l a mh a l i n i , y a n g d i ma k s u dd e n g a nt i n d a kp i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s mea d a l a h“ S e t i a pO r a n g y a n g d e n g a n s e n g a j a me n y e d i a k a n , me n g u mp u l k a n , me mb e r i k a n ,a t a u me mi n j a mk a nD a n ab a i kl a n g s u n g ma u p u nt i d a kl a n g s u n g , d e n g a n ma k s u d d i g u n a k a n s e l u r u h n y a a t a u s e b a g i a n u n t u k me l a k u k a n T i n d a k P i d a n a T e r o r i s me . A p a b i l aT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me d i l a k u k a no l e hK o r p o r a s i , ma k a t u n t u t a nd a np e n j a t u h a np i d a n a d i k e n a k a nt e r h a d a pK o r p o r a s i , p e n g u r u s , d a n / a t a uP e r s o n i lP e n g e n d a l iK o r p o r a s i .K h u s u su n t u kk o r p o r a s i ,p i d a n a d i j a t u h k a nt e r h a d a p n y aa p a b i l aT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me :( a ) d i l a k u k a na t a ud i p e r i n t a h k a no l e hP e r s o n i l P e n g e n d a l i K o r p o r a s i ; ( b ) d i l a k u k a n d a l a mr a n g k ap e me n u h a nma k s u dd a nt u j u a nK o r p o r a s i ; ( c ) d i l a k u k a ns e s u a i d e n g a nt u g a sd a nf u n g s ip e l a k ua t a up e mb e r ip e r i n t a h ; a t a u( d )d i l a k u k a n d e n g a n ma k s u d me mb e r i k a n ma n f a a t b a g i K o r p o r a s i . S e l a i ny a n g d i k e mu k a k a nd i a t a s , t e r d a p a t p u l a s e j u ml a ht i n d a kp i d a n a l a i n y a n gb e r k a i t a nd e n g a nT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me . Pertama, P e j a b a t a t a up e g a w a i P P A T K , p e n y i d i k , p e n u n t u t u mu m, h a k i m, a t a uS e t i a pO r a n gy a n g me mp e r o l e hd o k u me na t a uk e t e r a n g a nb e r k a i t a nd e n g a nT r a n s a k s i K e u a n g a n Me n c u r i g a k a n T e r k a i tP e n d a n a a n T e r o r i s me d a l a m r a n g k ap e l a k s a n a a n 80

L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me t u g a s n y a ,w a j i b me r a h a s i a k a nD o k u me na t a uk e t e r a n g a nt e r s e b u t .Kedua, P e j a b a ta t a up e g a w a i P P A T K , p e n y i d i k , p e n u n t u tu mu m, h a k i m, a t a uS e t i a p O r a n gy a n g me l a n g g a rk e t e n t u a ns e b a g a i ma n ad i ma k s u d , d i p i d a n ad e n g a n
3 9 Ketiga, p i d a n ap e n j a r ap a l i n gl a ma 4 ( e mp a t )t a h u n . D i r e k s i ,k o mi s a r i s ,

p e n g u r u s , a t a up e g a w a iP e n y e d i aJ a s aK e u a n g a nd i l a r a n g me mb e r i t a h u k a n k e p a d aP e n g g u n aJ a s aK e u a n g a na t a up i h a kl a i n , b a i ks e c a r al a n g s u n gma u p u n t i d a kl a n g s u n g , d a nd e n g a nc a r a a p a p u n , me n g e n a i l a p o r a nT r a n s a k s i K e u a n g a n Me n c u r i g a k a nT e r k a i tP e n d a n a a nT e r o r i s mey a n gs e d a n gd i s u s u na t a ut e l a h d i s a mp a i k a n k e p a d a P P A T K . T e t a p i , k e t e n t u a nme n g e n a i l a r a n g a ns e b a g a i ma n ad i ma k s u dt i d a kb e r l a k u u n t u kp e mb e r i a ni n f o r ma s i k e p a d aL e mb a g aP e n g a w a sd a nP e n g a t u r . U n t u k L e mb a g aP e n g a w a sd a nP e n g a t u r( L P P ) ,b a i ks e c a r al a n g s u n ga t a ut i d a k l a n g s u n g , d e n g a nc a r aa p a p u n , d i l a r a n g me mb e r i t a h u k a nl a p o r a nT r a n s a k s i K e u a n g a nMe n c u r i g a k a nT e r k a i t P e n d a n a a nT e r o r i s mek e p a d aP e n g g u n aJ a s a K e u a n g a n y a n g t e l a h d i l a p o r k a n k e p a d a P P A T K .

2.

Materi Yang Akan Diatur Ruang Lingkup P e n g a t u r a nt e n t a n gt e n t a n gP e mb e r a n t a s a nP e n d a n a a nT e r o r i s me i n i b e r l a k ut e r h a d a ps e t i a po r a n g ,d a n a( fund) ,n e g a r al a i n ,t i n d a kp i d a n a p e n d a n a a n t e r o r i s me t e r k a i t d e n g a n t i n d a k p i d a n a t e r o r i s me . B a h w aU n d a n g U n d a n gA n t i P e n d a n a a nT e r o r i s mei n i b e r l a k ut e r h a d a p : ( a )S e t i a pO r a n gy a n gme l a k u k a na t a ub e r ma k s u d me l a k u k a nt i n d a kp i d a n a P e n d a n a a nT e r o r i s med i w i l a y a hn e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i ad a n / a t a ud i l u a r w i l a y a hn e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i a ; d a n / a t a u( b )D a n ay a n gt e r k a i td e n g a n P e n d a n a a nT e r o r i s med i w i l a y a hn e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i ad a n / a t a ud i l u a r w i l a y a hn e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i a . S e l a i ni t uU n d a n g u n d a n gi n i j u g ab e r l a k u t e r h a d a pt i n d a kp i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me y a n gt e r j a d id i l u a rw i l a y a h I n d o n e s i a a p a b i l a : ( a ) d i l a k u k a no l e h w a r g a n e g a r a I n d o n e s i a ; ( b ) t e r k a i t d e n g a n T i n d a kP i d a n aT e r o r i s met e r h a d a pw a r g an e g a r aI n d o n e s i a ; ( c ) t e r k a i t d e n g a n

Namun, ketentuan sebagaimana dimaksud tersebut tidak berlaku terhadap Pejabat atau pegawai PPATK, penyidik, penuntut umum, hakim, atau setiap orang apabila dilakukan dalam rangka memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

39

81

L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me T i n d a kP i d a n aT e r o r i s met e r h a d a pf a s i l i t a sp e me r i n t a hI n d o n e s i at e r ma s u k p e r w a k i l a nI n d o n e s i aa t a ut e mp a t k e d i a ma np e j a b a t d i p l o ma t i ka t a uk o n s u l e r d a r i I n d o n e s i a ; ( d )t e r k a i td e n g a nT i n d a kP i d a n aT e r o r i s mey a n gd i l a k u k a n s e b a g a iu p a y au n t u k me ma k s ap e me r i n t a hI n d o n e s i ame l a k u k a na t a ut i d a k me l a k u k a ns u a t ut i n d a k a n ;( e )t e r k a i td e n g a nT i n d a kP i d a n aT e r o r i s me t e r h a d a pp e s a w a t u d a r ay a n gd i o p e r a s i k a no l e hn e g a r aI n d o n e s i a ; ( f )t e r k a i t d e n g a nT i n d a kP i d a n aT e r o r i s me d ia t a sk a p a ly a n gb e r b e n d e r an e g a r a I n d o n e s i aa t a up e s a w a tu d a r ay a n gt e r d a f t a rb e r d a s a r k a nu n d a n g u n d a n g I n d o n e s i a p a d a s a a t t i n d a kp i d a n a i t ud i l a k u k a n ; a t a u( g ) d i l a k u k a no l e hS e t i a p O r a n gy a n gt i d a kme mi l i k i k e w a r g a n e g a r a a nd a nb e r t e mp a t t i n g g a l d i w i l a y a h n e g a r a R e p u b l i k I n d o n e s i a .

Pencegahan dan Pengawasan Kepatuhan U p a y a p e n c e g a h a n T i n d a k P i d a n a P e n d a n a a nT e r o r i s me d i l a k u k a nme l a l u i : p e n e r a p a n p r i n s i p me n g e n a l iP e n g g u n aJ a s aK e u a n g a n ,p e l a p o r a n d a n p e n g a w a s a n k e p a t u h a n P e n g g u n aJ a s aK e u a n g a n ,p e n g a w a s a n k e g i a t a n p e n g i r i ma nu a n gme l a l u i s i s t e mt r a n s f e r a t a up e n g i r i ma nu a n gme l a l u i s i s t e m l a i n n y a ; s e r t ap e n g a w a s a np e n g u mp u l a nd a np e n e r i ma a ns u mb a n g a n . D a l a m p e n e r a p a nP e n e r a p a nP r i n s i p Me n g e n a l iP e n g g u n aJ a s aK e u a n g a n , L e mb a g a P e n g a w a sd a nP e n g a t u r( L P P ) me n e t a p k a nk e t e n t u a np r i n s i p me n g e n a l i P e n g g u n a J a s a K e u a n g a nt e r ma s u k P e n g g u n a J a s a K e u a n g a ny a n g t e r k a i t T i n d a k P i d a n a P e n d a n a a n T e r o r i s me .P e n g a t u r a n me n g e n a ik e t e n t u a n p r i n s i p me n g e n a l i P e n g g u n a J a s a K e u a n g a ns e b a g a i ma n a d i ma k s u dd a p a t d i a t u r s e c a r a t e r s e n d i r i a t a ub e r s a mad e n g a nk e t e n t u a nme n g e n a i t i n d a kp i d a n ap e n c u c i a n u a n g . D a l a mh a l i n i , P J Kw a j i bme n e r a p k a np r i n s i pme n g e n a l i P e n g g u n aJ a s a K e u a n g a n y a n g d i t e t a p k a n o l e h s e t i a p L P Ps e b a g a i ma n a d i ma k s u d . D a l a mh a l p e n g a w a s a ny a n g d i l a k u k a nt e r h a d a pk e g i a t a np e n g i r i ma nu a n g me l a l u i s i s t e mt r a n s f e r , P J Ky a n g me l a k u k a nT r a n s a k s i p e n g i r i ma nu a n g me l a l u i s i s t e mt r a n s f e r w a j i bme mb e r i k a ni d e n t i t a s d a ni n f o r ma s i y a n g b e n a r me n g e n a i p e n g i r i ma s a l , a l a ma t p e n g i r i ma s a l , p e n e r i ma , j u ml a hu a n g , j e n i sma t au a n g , t a n g g a l p e n g i r i ma nu a n g , s u mb e rd a n ad a ni n f o r ma s i l a i ny a n gb e r d a s a r k a n k e t e n t u a n p e r a t u r a n p e r u n d a n g u n d a n g a n w a j i b d i b e r i k a n k e p a d a P J K . I n f o r ma s i s e b a g a i ma n a d i ma k s u d d i s a mp a i k a no l e h P J Kd e n g a n me n g i s i f o r mu l i r 82

a l a ma t p e n g i r i ma s a l . U n t u ki t u . Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyampaian laporan penyelenggaraan kegiatan pengiriman uang dan tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam Peraturan masing-masing LPP. l i n g k u pp e n g a t u r a nd a l a mU Ui n i me l i p u t i p u l a p e l a k s a n a a nt r a n s a k s i k e u a n g a n y a n g d i l a k u k a n me l a l u i P J Kf o r ma l ma u p u n P J Kn o n f o r ma l . t a n g g a l p e n g i r i ma nu a n g .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me y a n gd i s e d i a k a no l e hP J Kd e n g a nme l a mp i r k a nd o k u me np e n d u k u n g . 40 83 . P T D y a n g t i d a k me mi l i k i i j i nd a nt e r b u k t i t e r l i b a t d a l a mp e n d a n a a nt e r o r i s me . B a g ip e l a k uy a n gd i d u g at e r l i b a td a l a m p e n d a n a a nt e r o r i s me y a n g d i l a k u k a nd e n g a nt r a n s a k s i k e u a n g a nme l a l u i P J Ky a n gb e r b a d a nh u k u ma t a u t i d a k b e r b a d a n h u k u md i k e n a i a n c a ma nh u k u ma ns e b a g a i ma n a d i a t u r d a l a mU U i n i . ma u p u n d i a n c a md e n g a n h u k u ma n p i d a n a s e b a g a i ma n a d i a t u r d a l a mU UT r a n s f e r D a n a .S e d a n g k a n u n t u k p e n g a w a s a nk e g i a t a np e n g i r i ma nu a n g me l a l u is i s t e m l a i n n y a . S e h u b u n g a nd e n g a np e n g a w a s a ni n i . U n t u kk e p e n t i n g a np e r l i n d u n g a n ma s y a r a k a td a np e n c e g a h a nt i n d a k p i d a n a p e n d a n a a nt e r o r i s me s e r t a me mu t u s r a n t a i p e n d a n a a nd a l a mk e j a h a t a n t e r o r i s me .P J Kw a j i b me mp e r o l e h i z i n d a r i d a n / a t a ut e r d a f t a r p a d a L e mb a g a P e n g a wa s d a nP e n g a t u r . p e n e r i ma . B a g ip e l a k uy a n gd i d u g at e r l i b a td a l a m p e n d a n a a nt e r o r i s me y a n g d i l a k u k a nd e n g a nt r a n s a k s i k e u a n g a nme l a l u i P J Ky a n g t i d a kb e r i j i nt e t a pd a p a t d i k e n a i a n c a ma n h u k u ma ns e b a g a i ma n a d i a t u r d a l a mU Ui n i . P J Kp e n g i r i mw a j i b me n y i mp a ns e mu a i n f o r ma s i y a n g d i p e r l u k a nu n t u kme n g e n a l i s e mu a p e n g i r i m a s a l d a np e n e r i mak i r i ma np a l i n gs i n g k a t5 ( l i ma )t a h u ns e j a kb e r a k h i r n y a T r a n s a k s ip e n g i r i ma n u a n g me l a l u is i s t e m t r a n s f e r . j e n i s ma t a u a n g . A p a b i l a P e n g g u n a J a s a K e u a n g a n t i d a k me mb e r i k a n i n f o r ma s i y a n g d i mi n t a s e b a g a i ma n a d i ma k s u d . d a p a t d i k e n a i d e n g a na n c a ma nh u k u ma ns e b a g a i ma n ad i a t u rd a l a mU Ui n i . d a nd i w a j i b k a np u l a me n y a mp a i k a nl a p o r a nt e r t u l i s me n g e n a i p e n y e l e n g g a r a a n 4 0 k e g i a t a n p e n g i r i ma n u a n g k e p a d a L P P . S e me n t a r a i t u . s u mb e rd a n ad a ni n f o r ma s il a i ny a n gb e r d a s a r k a nk e t e n t u a np e r a t u r a n p e r u n d a n g u n d a n g a nw a j i bd i mi n t ao l e hP J K . j u ml a hu a n g .ma k aP e n y e d i aJ a s aK e u a n g a nw a j i b me n o l a kp e n g i r i ma nu a n g me l a l u i s i s t e mt r a n s f e r t e r s e b u t . P J Kd i w a j i b k a nme mi n t ai n f o r ma s i y a n gl e n g k a pk e p a d aP e n g g u n aJ a s aK e u a n g a nme n g e n a i p e n g i r i ma s a l .

P J Ka t a up i h a ky a n gb e r w e n a n gw a j i b me n y e r a h k a n b e r i t a a c a r a p e l a k s a n a a n P e mb l o k i r a n k e p a d a P P A T K . p e n u n t u t u mu m. a t a uh a k i m d a l a m w a k t up a l i n gl a ma 1 ( s a t u )h a r ik e r j as e j a kt a n g g a l p e l a k s a n a a nP e mb l o k i r a n . a t a uh a k i m d e n g a n me mi n t aa t a u me me r i n t a h k a nP J Ka t a up i h a kb e r w e n a n gu n t u k me l a k u k a nP e mb l o k i r a n . p e n u n t u tu mu m. k e c u a l i t e r d a p a t u n s u r p e n y a l a h g u n a a n w e w e n a n g . p e n y i d i k . p e n y i d i k . P e mb l o k i r a nd i l a k u k a nd a l a mw a k t up a l i n gl a ma9 0 ( s e mb i l a np u l u h )h a r i . p e n u n t u t u mu m.L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me Pemblokiran dan Cara Penanganannya P e mb l o k i r a nd i l a k u k a nt e r h a d a pD a n ad a nh a r t ak e k a y a a ny a n gs e c a r a l a n g s u n g a t a ut i d a k l a n g s u n g . ma k a p e n g a d i l a nn e g e r i me l a k u k a np e me r i k s a a ng u n ame mu t u s k a nD a n at e r s e b u t d i k e mb a l i k a nk e p a d ay a n gb e r h a ka t a ud i r a mp a su n t u kn e g a r a .P e n g a j u a n k e b e r a t a n t e r h a d a p p e l a k s a n a a n P e mb l o k i r a n d i s a mp a i k a n k e p a d a P P A T K . D a l a m h a lt i d a ka d ao r a n gd a n / a t a up i h a kk e t i g ay a n g me n g a j u k a n k e b e r a t a nd a l a mw a k t u9 0( s e mb i l a np u l u h )h a r i s e j a kt a n g g a l P e mb l o k i r a n . P P A T Ka t a up e n y i d i k me n y e r a h k a np e n a n g a n a nD a n ay a n g d i k e t a h u i a t a up a t u t d i d u g a t e r k a i t T i n d a k P i d a n a T e r o r i s me k e p a d a p e n g a d i l a nn e g e r i .a t a uh a k i m. p e n y i d i k .D a l a m h a lk e b e r a t a nd i t e r i ma .D a l a m h a lk e b e r a t a nd i t o l a k .h a r u sd i l a k u k a n p e n c a b u t a np e l a k s a n a a nP e mb l o k i r a no l e hP J Ka t a up i h a ky a n g me l a k u k a n P e mb l o k i r a nb e r d a s a r k a np e r mi n t a a nP P A T Ka t a up e r i n t a hd a r ip e n y i d i k . D a l a mw a k t u 3 0( t i g a p u l u h ) h a r i s e j a k d i u mu mk a n : ( a ) t e r d a p a t p i h a ky a n g k e b e r a t a n . p a t u t d i d u g a d i g u n a k a na t a ua k a nd i g u n a k a nb a i k s e l u r u h a t a u s e b a g i a n u n t u k T i n d a k P i d a n a T e r o r i s me . a t a u h a k i m. Me n g e n a i k e b e r a t a n . P e mb l o k i r a nd i l a k u k a no l e hP P A T K . 84 . P J Ka t a up i h a ky a n gb e r w e n a n gy a n gme l a k s a n a k a n p e r i n t a hP e mb l o k i r a nt i d a kd a p a t d i t u n t u t b a i ks e c a r ap e r d a t ama u p u np i d a n a d a l a mp e l a k s a n a a nP e mb l o k i r a nb e r d a s a r k a nk e t e n t u a nd a l a mU n d a n g U n d a n g i n i . d a n / a t a u( b ) t i d a ka d ak e b e r a t a n . p e n u n t u t u mu m.p i h a ky a n g me n g a j u k a n k e b e r a t a n d a p a t me n g a j u k a n k e p e n g a d i l a n . S e t i a pO r a n gd a p a t me n g a j u k a nk e b e r a t a nt e r h a d a p p e l a k s a n a a n P e mb l o k i r a n . P e n g a j u a nk e b e r a t a nd i l a k u k a nd a l a mw a k t up a l i n gl a ma7( t u j u h ) h a r i s e j a k d i k e t a h u i n y aP e mb l o k i r a n . ma k ap e n g a d i l a n me mu t u s k a nD a n at e r s e b u td i r a mp a s u n t u k n e g a r a a t a u d i mu s n a h k a n .

D a n a y a n g s e c a r a l a n g s u n g a t a ut i d a k l a n g s u n g . Pemblokiran Serta Merta Berdasarkan Publikasi Internasional T e r h a d a pd a f t a rT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s i T e r o r i sy a n gd i k e l u a r k a no l e h D e w a nK e a ma n a nP B B . d a ni n s t a n s i y a n gb e r w e n a n gd i ma n aD a n ay a n gd i b l o k i r t e t a pme n j a d i mi l i kT e r o r i s a t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s y a n g me mi l i k i k e p e n t i n g a nt e r h a d a pD a n a y a n gd i b l o k i r d a nd a p a t t e r u s d i k e l o l a o l e hP e n y e d i a J a s a K e u a n g a na t a up i h a k l a i ny a n gd i t e t a p k a no l e hT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s i T e r o r i ss e b e l u md i l a k u k a n p e mb l o k i r a n .D e n g a nd e mi k i a ns e t i a pO r a n gd a p a t me n g a j u k a nk e b e r a t a n t e r h a d a pd a f t a r T e r o r i s d a nO r g a n i s a s i T e r o r i s y a n g d i k e l u a r k a no l e ho r g a n i s a s i i n t e r n a s i o n a l .p e r p i n d a h a n / p e r g e r a k a nD a n ay a n gd i l a k u k a no l e hP J K . p a t u t d i d u g a d i g u n a k a na t a u a k a nd i g u n a k a nb a i ks e l u r u ha t a us e b a g i a nu n t u kt i n d a kp i d a n at e r o r i s me . P P A T K .p e n u k a r a n . S e l a n j u t n y at e r h a d a p t i n d a k a n p e mb l o k i r a n t e r s e b u td i a t u r me k a n i s me k e b e r a t a n .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me Pemblokiran Secara Serta Merta (Freezing without delay) P e mb l o k i r a nS e r t a me r t aa d a l a ht i n d a k a n me n c e g a hp e n t r a n s f e r a n . P e mb l o k i r a n S e r t a me r t a d i l a k u k a n t e r h a d a p : a . U p a y a t e r h a d a pp e mb l o k i r a ns e r t a me r t ai n ime r u p a k a nb a g i a np e n t i n gd a l a m p e l a k s a n a a n R e s o l u s i D e w a n K e a ma n a n P B B1 2 6 7 . 85 . p e n u n t u t u mu m. h a k i m. p e n y i d i k .p e n e mp a t a n / p e mb a g i a n . p e n g u b a h a n b e n t u k .K e b e r a t a nt e r h a d a pd a f t a ry a n gd i k e l u a r k a no l e ho r g a n i s a s i i n t e r n a s i o n a l d i s a mp a i k a nk e p a d a o r g a n i s a s i i n t e r n a s i o n a l me l a l u i Me n t e r i L u a r N e g e r i . p e r l ud i a t u r me k a n i s me u n t u kp e mb l o k i r a ns e r t a me r t a t e r h a d a pd a n aa t a ua s e ty a n gd i mi l i k i a t a ud i k u a s a i o l e ho r a n ga t a ue n t i t a s n a ma n y ay a n gt e r c a n t u md a l a m D a f t a r T e r o r i s a t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s . Me n t e r i L u a rN e g e r i me n e r u s k a nk e b e r a t a nt e r s e b u tk e p a d aD e w a n K e a ma n a n P e r s e r i k a t a n B a n g s a B a n g s a .D a n ay a n gt e r k a i td e n g a nT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s iT e r o r i ss e b a g a i ma n a t e r c a n t u md a l a mp u b l i k a s i y a n gd i k e l u a r k a no l e ho r g a n i s a s i i n t e r n a s i o n a l d a n / a t a u p e me r i n t a h . a t a u b .

o b a t o b a t a nd a np e r a w a t a nme d i s . ma k aK e t u aa t a uWa k i l K e t u aP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t aP u s a t s e g e r a me n e t a p k a n i d e n t i t a s o r a n ga t a uk o r p o r a s i t e r s e b u t s e b a g a i o r g a n i s a s i t e r r o r i s . P e r mo h o n a np e n g e c u a l i a nd i s a mp a i k a nk e p a d ad a nd i p u t u s k a no l e hK e p a l a P P A T Ka t a u p e j a b a t y a n g b e r w e n a n g s e s u a i t i n g k a t p e me r i k s a a n p e r k a r a . Daftar Terduga Teroris dan Organisasi Teroris Yang Dikeluarkan Oleh Pemerintah. s e w aa t a uh i p o t i k . K e t u a a t a u Wa k i l K e t u a P e n g a d i l a n N e g e r i J a k a r t a P u s a t h a r u s s e g e r a me me r i k s a d a nme n e t a p k a np e r mo h o n a nt e r s e b u t d a l a mw a k t up a l i n g l a ma 3 0( t i g a p u l u h ) h a r i k e r j a s e j a k d i t e r i ma n y a p e r mo h o n a nA p a b i l a d a l a mp e me r i k s a a n . K e p a l aK e p o l i s i a nR e p u b l i kI n d o n e s i a me n y a mp a i k a nd a f t a rt e r d u g a T e r o r i sa t a uO r g a n i s a s iT e r o r i ss e r t as e t i a pp e r u b a h a n n y ak e p a d ai n s t a n s i 86 . p r e mi a s u r a n s i d a nb i a y a p e l a y a n a np u b l i k . S e t e l a hme mp e r o l e hp e n e t a p a nK e t u aP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t aP u s a t . p e mb a y a r a nb i a y ap r o f e s i o n a l y a n gw a j a r d a np e n g g a n t i a nb i a y a y a n g d i k e l u a r k a nt e r k a i t d e n g a np e n y e d i a a nj a s a h u k u m. d o k u me n d a n / a t a uI n f o r ma s i y a n gd i a j u k a nd a p a t d i j a d i k a nd a s a r u n t u kme n c a n t u mk a n i d e n t i t a s o r a n g a t a uK o r p o r a s i k e d a l a mD a f t a r t e r d u g a T e r o r i s a t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s . p a j a k .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me P e mb l o k i r a nS e r t a me r t ad a p a td i k e c u a l i k a nu n t u kt u j u a np e me n u h a n k e b u t u h a np o k o kT e r o r i sb e s e r t ak e l u a r g a . P e r mo h o n a np e n g e c u a l i a nd i s a mp a i k a no l e ho r a n gp e r s e o r a n g a na t a u p i h a k y a n g me mi l i k ih u b u n g a n l a n g s u n gd e n g a n D a n a y a n g d i b l o k i r .t e r ma s u kp e mb a y a r a nu n t u k ma k a n a n . K e p a l a K e p o l i s i a nR e p u b l i kI n d o n e s i as e g e r a me n c a n t u mk a ni d e n t i t a so r a n ga t a u K o r p o r a s ik ed a l a m D a f t a rt e r d u g aT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s iT e r o r i s . K e p a l aK e p o l i s i a nR e p u b l i kI n d o n e s i ame n g a j u k a np e r mo h o n a nk e p a d a P e n g a d i l a nN e g e r iJ a k a r t aP u s a tu n t u k me n e t a p k a np e n c a n t u ma ni d e n t i t a s o r a n ga t a uK o r p o r a s i k ed a l a mD a f t a r t e r d u g aT e r o r i s a t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s . K e p a l aK e p o l i s i a nR e p u b l i kI n d o n e s i ame mb e r i t a h u k a ns e c a r at e r t u l i s k e p a d ao r a n ga t a uK o r p o r a s i d a l a mw a k t up a l i n gl a mb a t 3 0( t i g ap u l u h ) h a r i k e r j a . D a f t a r t e r d u g aT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s iT e r o r i sd i k e l u a r k a no l e hK e p a l aK e p o l i s i a n N e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i ab e r d a s a r k a np e n e t a p a nP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t a P u s a t . a t a u b i a y a a d mi n i s t r a s i r u t i n p e me l i h a r a a n D a n a y a n g d i b l o k i r .

K e p a l a K e p o l i s i a n N e g a r a R e p u b l i k I n d o n e s i a d a p a t me n g a j u k a n p e r mo h o n a n p e r p a n j a n g a nk e p a d aP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t aP u s a t . b a i k s e c a r al a n g s u n gma u p u nt i d a kl a n g s u n go l e ho r a n ga t a uK o r p o r a s i .( c ) t e r d a p a t p e n e t a p a nP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t a P u s a t . I d e n t i t a s o r a n ga t a uK o r p o r a s i d i h a p u s k a no l e hK e p a l a K e p o l i s i a nN e g a r a R e p u b l i kI n d o n e s i ad a r i d a f t a r t e r d u g aT e r o r i s a t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s k a r e n a : ( a )t e l a h me l a mp a u i1 ( s a t u )t a h u nt e r h i t u n gs e j a kt a n g g a lp e n c a n t u ma n i d e n t i t a st e r s e b u to l e hK e p a l aK e p o l i s i a nN e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i a . k e c u a l i p e n c a n t u ma nt e r s e b u t d i p e r p a n j a n gb e r d a s a r k a np e n e t a p a nP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t aP u s a t .I n s t a n s i p e me r i n t a ht e r k a i t a t a uP J Kw a j i bme l a k u k a nP e mb l o k i r a ns e c a r as e r t ame r t a t e r h a d a ps e mu aH a r t aK e k a y a a nd a nD a n ay a n gd i mi l i k i a t a ud i k u a s a i b a i k s e c a r a l a n g s u n g ma u p u nt i d a kl a n g s u n g o l e ho r a n ga t a uK o r p o r a s i b e r d a s a r k a n d a f t a rt e r d u g aT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s iT e r o r i sy a n gt e l a hd i k e l u a r k a no l e h K e p a l a K e p o l i s i a n N e g a r a R e p u b l i k I n d o n e s i a b e r d a s a r k a n p e n e t a p a n P e n g a d i l a n N e g e r i J a k a r t a P u s a t . d a n / a t a u( d ) a l a s a nd e mi h u k u m. D a l a mh a l k e b e r a t a nd i t e r i ma . P e n y a mp a i a nd a f t a rd i s e r t a ip e r mi n t a a nP e mb l o k i r a ns e c a r as e r t a me r t a t e r h a d a ps e l u r u hH a r t aK e k a y a a nd a nD a n ay a n gd i mi l i k i a t a ud i k u a s a i .P e r p a n j a n g a nd a p a t d i b e r i k a np a l i n gb a n y a k2( d u a ) k a l i ma s i n g ma s i n gt i d a kme l a mp a u i 1( s a t u ) t a h u n . O r a n ga t a uK o r p o r a s i d a p a t me n g a j u k a nk e b e r a t a nt e r h a d a pp e l a k s a n a a n P e mb l o k i r a nk e p a d aK e p a l aK e p o l i s i a nN e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i a . ( b )t e r d a p a tp e n e t a p a nP e n g a d i l a nN e g e r iJ a k a r t aP u s a t . A p a b i l a p e n c a n t u ma ni d e n t i t a s o r a n g a t a uK o r p o r a s i d a l a md a f t a r t e r d u g a T e r o r i sa t a uO r g a n i s a s iT e r o r i st e l a h me l a mp a u i1 ( s a t u )t a h u n .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me p e me r i n t a ht e r k a i td a nL P Pu n t u ks e l a n j u t n y ad i s a mp a i k a nk e p a d aP J K .K e p a l aK e p o l i s i a nN e g a r aR e p u b l i kI n d o n e s i as e g e r a me mi n t ai n s t a n s i p e me r i n t a ht e r k a i ta t a uP J Ky a n gme l a k u k a nP e mb l o k i r a n u n t u kme n c a b u t P e mb l o k i r a ny a n gd i t u a n g k a nd a l a mb e r i t aa c a r ap e n c a b u t a n P e mb l o k i r a n . S e t i a pO r a n ga t a uK o r p o r a s id a p a t me n g a j u k a nk e b e r a t a nt e r h a d a p p e n c a n t u ma ni d e n t i t a s n y a d a l a md a f t a r t e r d u g a T e r o r i s a t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s k e p a d aP e n g a d i l a nN e g e r i J a k a r t aP u s a t u n t u kme mp e r o l e hp e n e t a p a nt e n t a n g 87 .

d a np e me r i k s a a nd is i d a n gp e n g a d i l a ns e r t a p e l a k s a n a a np u t u s a ny a n gt e l a hme mp e r o l e hk e k u a t a nh u k u mt e t a pt e r h a d a p t i n d a kp i d a n ap e n d a n a a nt e r o r i s me d i l a k u k a ns e s u a id e n g a nk e t e n t u a n p e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a n . a n t a r al a i np e n g a t u r a n me n g e n a i p e r mi n t a a nk e t e r a n g a nd a r i p e n y e d i aj a s ak e u a n g a ny a n gme n g e s a mp i n g k a nd a r i k e t e n t u a nr a h a s i ab a n k b a n k .( b )t e r s a n g k a . Penuntan dan Pemeriksaan di Sidang Pengadilan) U n d a n g u n d a n g t e n t a n gP e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me s e b a i k n y a j u g a me mu a tk e t e n t u a n me n g e n a iH u k u m A c a r aa t a uk e g i a t a np e y i d i k a n p e n u n t u t a nd a np e me r i k s a n a a nd i s i d a n gp e n g a d i l a nt e r h a d a pp e r k a r a p e r k a r a p e d a n a a n t e r o r i s me . P e l a k s a n a a nP e mb l o k i r a nd a p a t d i k e c u a l i k a nt e r h a d a ps e b a g i a nd a r i H a r t a K e k a y a a n d a n D a n au n t u k p e me n u h a n k e b u t u h a n p o k o k .d i k i r i mk a n . a t a uh a k i mb e r w e n a n gu n t u kme mi n t ak e t e r a n g a n d a r iP e n y e d i aJ a s aK e u a n g a n me n g e n a iD a n ad a r i :( a )o r a n gy a n gt e l a h d i l a p o r k a no l e hP P A T Kk e p a d ap e n y i d i k . d a n l a i n l a i n .S e d a n g k a nu n t u k k e p e n t i n g a np e me r i k s a a nd a l a mp e r k a r aT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me . a t a uh a k i m t i d a kb e r l a k uk e t e n t u a nu n d a n g u n d a n gy a n gme n g a t u r me n g e n a i r a h a s i a b a n k d a n k e r a h a s i a a n T r a n s a k s i k e u a n g a n l a i n n y a . t i n d a k a n p e mb l o k i r a n . P e r mo h o n a n h a r u s d i s e r t a i a l a s a n y a n g me mp e r k u a t p e r mo h o n a n . a t a ud i s i mp a ns e c a r ae l e k t r o n i kd e n g a na l a to p t i ka t a ua l a ty a n g 88 . Ma t e r i mu a t a nme n g e n a i H u k u mA c a r a y a n g d i a t u r d a p a t b e r s i f a t k h u s u s a t a us p e s i a l i s . P e n y i d i k a n . t e r h a d a pp e n y i d i k .a t a u( c )t e r d a k w a . D a l a m me mi n t ak e t e r a n g a n .k e c u a l id i t e n t u k a nl a i n . p e n y i d i k .p e n u n t u t a n . p e n g a t u r a n me n g e n a ia l a tb u k t iy a n gd i p e r l u a s( d i t e r i ma a l a tb u k t i e l e k t r o n i k ) . A l a tb u k t iy a n gs a hd a l a m p e mb u k t i a nT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a n T e r o r i s mei a l a h : ( a )a l a tb u k t is e b a g a i ma n ad i ma k s u dd a l a mH u k u mA c a r a P i d a n a .P e r mo h o n a n p e n g e c u a l i a n d i s a mp a i k a n o l e ho r a n g a t a uK o r p o r a s i y a n g me mi l i k i k e p e n t i n g a n l a n g s u n g d e n g a n H a r t a K e k a y a a n d a n D a n a y a n g d i b l o k i r .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me p e n g h a p u s a ni d e n t i t a s n y ad a r i d a f t a rt e r d u g aT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s . p e n u n t u t u mu m. Hukum Acara (Penyidikan. d i t e r i ma .( b )a l a tb u k t il a i nb e r u p ai n f o r ma s iy a n gd i u c a p k a n . p e n u n t u t u mu m.

N e g a r aa t a uy u r i s d i k s ia s i n gd a p a tme n y a mp a i k a np e r mi n t a a nk e p a d a P e me r i n t a hI n d o n e s i au n t u k me l a k u k a nP e mb l o k i r a na t a sD a n ad a nh a r t a k e k a y a a ny a n gd i d u g ab e r a d aa t a ub e r a d ad iI n d o n e s i a mi l i ko r a n ga t a u K o r p o r a s i y a n gi d e n t i t a s n y at e r c a n t u md a l a md a f t a rT e r o r i sa t a uO r g a n i s a s i T e r o r i s y a n g d i k e l u a r k a n o l e h n e g a r a a t a u y u r i s d i k s i a s i n g . D a l a m r a n g k a me n c e g a hd a n me mb e r a n t a sT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a n T e r o r i s me . P e me r i k s a a n P e r k a r a T i n d a k P i d a n a P e n d a n a a n T e r o r i s me d a n P e me r i k s a a nP e r k a r a P e r d a t a a t a s P e n g a j u a nK e b e r a t a nP e mu a t a nD a l a mD a f t a r T e r d u g a T e r o r i s d a n O r g a n i s a s i T e r o r i s Y a n g D i k e l u a r k a n O l e h P e me r i n t a h .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me s e r u p ao p t i k . 89 .P e me r i k s a a nd is i d a n g p e n g a d i l a nt e r h a d a pT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me d a p a td i l a k u k a n me l a l u i a l a t k o mu n i k a s i a u d i ov i s u a l y a n gd i s e s u a i k a nd e n g a nk e b u t u h a nd a n k o n d i s i y a n g d i h a d a p i . Me me n u h ia z a sp r a d u g at a k b e r s a l a h .d a n / a t a u k e r j a s a mal a i n n y as e s u a i k e t e n t u a ny a n gb e r l a k u .d a n / a t a u( c )D o k u me n .( P a s a l3 6 ) .y a n g d i a j u k a n me l a l u i P e n g a d i l a n N e g e r i . b a i k d a l a ml i n g k u p n a s i o n a l ma u p u n i n t e r n a s i o n a l .b a n t u a nh u k u m t i mb a lb a l i kd a l a m ma s a l a hp i d a n a . d a p a t me l a k u k a n k e r j a s a ma . D a l a m h a li n ip e me r i k s a a np e r k a r at e r h a d a pd u g a a nt i n d a kp i d a n a p e n d a n a a nt e r o r i s me y a n gd i t u d u h k a nk e p a d ay b sd a p a td i l a k u k a ns e c a r a s i mu l t a n d e n g a n p e me r i k s a a n p e r d a t a a t a s p e n g a j u a n k e b e r a t a n t e r s e b u t . P e me r i n t a hd a p a t me l a k u k a nk e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a l y a n gme l i p u t i e k s t r a d i s i . b a i kd i l a k u k a nb e r d a s a r k a n p e r j a n j i a n a t a u p r i n s i p r e s i p r o s i t a s .R U U me n g a t u r me n g e n a i p e n g a j u a nk e b e r a t a ny a n g d i l a k u k a no l e ht e r d u g a t e r o r i s a t a uo r g a n i s a s i t e r o r i s y a n g ma s u kd a l a m d a f t a rP u b l i k a s iP e me r i n t a ht e r k a i th a lt e r s e b u t .d a nl e mb a g al a i ny a n gt e r k a i td e n g a n p e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a nT i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me . Kerja Sama D a l a m me n c e g a hd a nme mb e r a n t a s T i n d a kP i d a n aP e n d a n a a nT e r o r i s me . i n s t a n s ip e n e g a kh u k u m.P P A T K .

41 90 . Ketentuan sanksi. 4. a l a m r a n g k a p e n g a w a s a nk e p a t u h a nP J Ka t a sk e w a j i b a np e l a p o r a nT r a n s a k s iK e u a n g a n Me n c u r i g a k a nT e r k a i tP e n d a n a a nT e r o r i s med i l a k u k a no l e hP P A T Kd a nL P P y a n gb e r w e n a n g . P J Kd a nS e t i a pO r a n g y a n gb e r w e n a n gme l a k u k a nP e mb l o k i r a nS e r t a me r t at i d a kd a p a t d i t u n t u t b a i k s e c a r ap e r d a t ama u p u np i d a n ad a l a mp e l a k s a n a a np e mb l o k i r a nb e r d a s a r k a n k e t e n t u a n d a l a mU n d a n g U n d a n g i n i . K e c u a l i t e r d a p a t u n s u r p e n y a l a h g u n a a nw e w e n a n g .P J K w a j i b me n y a mp a i k a nl a p o r a nT r a n s a k s i K e u a n g a nMe n c u r i g a k a nT e r k a i t P e n d a n a a nT e r o r i s mek e p a d aP P A T Kp a l i n g l a ma3( t i g a )h a r i k e r j as e t e l a hP J K me n g e t a h u i a d a n y aT r a n s a k s i K e u a n g a n Me n c u r i g a k a nT e r k a i t P e n d a n a a nT e r o r i s me t e r s e b u t .D a l a m h a lL P P me n e mu k a na d a n y aT r a n s a k s iK e u a n g a n Me n c u r i g a k a nT e r k a i tP e n d a n a a nT e r o r i s me y a n gt i d a kd i l a p o r k a no l e h P e n y e d i a J a s a K e u a n g a n k e p a d a P P A T K . 3 . L P P t e r h a d a p P J Ks e g e r a me n y a mp a i k a n t e mu a nt e r s e b u tk e p a d aP P A T K . 0 0( s a t u mi l i a rr u p i a h ) . a g a r d a p a t l e b i h Penerimaan hasil denda administratif sebagaimana dimaksud dinyatakan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak atau penerimaan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 0 0 0 . P J Ky a n gd e n g a ns e n g a j a me l a n g g a rk e t e n t u a ns e b a g a i ma n ad i ma k s u dd i k e n a k a nd e n d aa d mi n i s t r a t i f p a l i n gb a n y a kR p 1 . p e j a b a t . P J K . d a np e g a w a i n y a t i d a k d a p a t d i t u n t u t . 0 0 0 . d e n g a nme n g a k o mo d i r p e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a nt e r k a i t . dan D a l a m h a lP e l a p o r a n . 0 0 0 . Ketentun Peralihan B a bt e n t a n g k e t e n t u a np e r a l i h a ni n i d i t e t a p k a nu n t u k me n g a n t i s i p a s i t e r j a d i n y a k e k o s o n g a nh u k u md a l a mp e n c e g a h a np e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me .P e n g e n a a ns a n k s i 4 1 D a d mi n i s t r a t i fs e b a g a i ma n ad i ma k s u dd i l a k u k a no l e hL P P . b a i ks e c a r a p e r d a t a ma u p u np i d a n a a t a s p e l a k s a n a a nk e w a j i b a n p e l a p o r a n T r a n s a k s i K e u a n g a n Me n c u r i g a k a n T e r k a i t P e n d a n a a n T e r o r i s me . P e l a k s a n a a nk e w a j i b a np e l a p o r a nT r a n s a k s i K e u a n g a nMe n c u r i g a k a nT e r k a i t P e n d a n a a nT e r o r i s meo l e hP J Kd i k e c u a l i k a n d a r i k e t e n t u a nk e r a h a s i a a ny a n gb e r l a k ub a g i P J Ky a n gb e r s a n g k u t a n .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me Perlindungan Hukum K e c u a l i t e r d a p a t u n s u r p e n y a l a h g u n a a nw e w e n a n g .

L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me e f e k t i fd a l a m p e n a n g a n a np e n d a n a a nt e r o r i s me y a n gb e l u m d i a t u rd a l a m p e r u n d a n g u n d a n g a n s e b e l u mn y a . 91 .

B. o p e r a s i d a n p e n d a n a a n t e r o r i s me . d a n L e mb a g a P e ma s y a r a k a t a n . 2 . p e n e g a k a nh u k u m.s e r t a k e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a ld a l a m p e mb e r a n t a s a n p e n d a n a a n t e r o r i s me . K e p o l i s i a n . P e n g a d i l a n . p e n y i t a a n . K e p a b e a n a n . Rekomendasi 1. 3 . y a n gme l i p u t i p e mb e k u a n . F A T Fma u p u nl e mb a g ad a no r g a n i s a s i i n t e r n a s i o n a l l a i ny a n g k o mp e t e nd i b i d a n gp e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a no r g a n i s a s i . d a n p e r a mp a s a n a s e tt e r o r i s .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me BAB VI PENUTUP A.K e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a ly a n gd i k u a t k a nt e r s e b u ta n t a r al a i nk e r j a s a ma a n t a r Financial Intellegence Units ( F I U s ) . 4 .l e mb a g a l e mb a g ap e n g a w a sd a n p e n g a t u rme n g e n a icharity. U n t u k d a p a t me w u j u d k a np e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a ny a n g e f e k t i f d i b i d a n ga n t ip e n d a n a a nt e r o r i s mema k ad i p e r l u k a nk o mi t me np o l i t i k . K e b i j a k a nn a s i o n a l d i b i d a n g p e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me h a r u s me mi l i k i v i s i h o l i s t i k d a nme me n u h i s t a n d a r d . K e j a k s a a n . p e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a ny a n gp r o p o r s i o n a l . S e b a g a i p e r a n g k a t p e n d u k u n g p e l a k s a n a a n p e n g a t u r a n t e n t a n g p e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me . P a d a h a k i k a t n y a p e mb e r a n t a s a nt e r o r i s me me me r l u k a ns e b u a hl a n d a s a n h u k u my a n gk u a t d a nt e p a t .p e r l u me n y e l a r a s k a nd e n g a n p e r a t u r a np e r u n d a n g u n d a n g a nt e r k a i t a n t a r al a i nk e t e n t u a nme n g e n a i 92 . s e h i n g g a me mb u t u h k a n a d a n y a k e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a lu n t u kp e n c e g a h a nd a np e mb e r a n t a s a n n y a . b a i k y a n g t e l a hd i t e n t u k a n o l e hP B B . i n t e l i j e nd i b i d a n g k e u a n g a ny a n gk u a t . Kesimpulan 1 . Me k a n i s me k e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a ld i p e r k u a t me n g i n g a ts i f a td a n h a k i k a tp e n d a n a a nt e r o r i s mey a n g me n g i k u t ih a k i k a tk e b e r a d a a n n y a y a n g t r a n s n a s i o n a l . r e g u l a t o rs e k t o rf i n a n s i a l( B a n kS e n t r a l ) . p e n g a w a s a ns e k t o rk e u a n g a n . d a n k e r j a s a ma i n t e r n a s i o n a l .

93 . me n g i n g a tu p a y ap e mb e r a n t a s a np e n d a n a a nt e r o r i s me d iI n d o n e s i a d i h a r a p k a ns e ma k i ne f e k t i f d a ne f i s i e n .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me t i n d a kp i d a n ap e n c u c i a nu a n gs e r t ap e r a t u r a ny a n gd i k e l u a r k a no l e h ma s i n g ma s i n g l e mb a g a p e n g a w a s d a n p e n g a t u r . 2. k h u s u s n y ad a l a m me n j e r a t p a r a p e l a k u t e r o r i s me y a n g h e n d a k me l a k u k a n a k s i n y a d i w i l a y a h N K R I .

h t t p : / / w w w . I n d i a n a U n i v e r s i t y P r e s s . Mb a i . Me t h a p o r . W. V a l e r i e J . t a n g g a l 2 3 Ma r e t 2 0 1 0 . ( E d i t o r ) “ T e r r o r i s mA n dT h eU NB e f o r ea n d A f t e r S e p t e mb e r 1 1 . A l i r a nD a n aT e r o r i s meT e r u sMe n g a l i rd i B a n k ” . E d d y .“ P e n d a n a a nt e r o r i sI n d o n e s i aT a kL a g id a r iA l Q a i d a h ” . N o r t o n &C o . ” D i a n g g a r k a n R p 2 5 . ( e d ) . T h o ma s G e o r g e . h a r i a n s u mu t p o s . H i a r i e j .com. L a w r e n c e M. t a n g g a l 3 0 A g u s t u s 2 0 1 1 . A t ma s a s mi t a . . 8 Mb e r a n t a s t e r o r i s ” . O . Me t h o d o l o g y a n dMe a n i n g ” . . 94 . ” K a p o l r i : P e n d a n a a nT e r o r i s G u n a k a nJ a s a P h o n e B a n k i n g ” . h t t p : / / w w w . Handbook of Qualitative Research. 1 9 8 4 . “ T h e D a n c e o f Q u a l i t a t i v e R e s e a r c hD e s i g n . B o u l d e n . “ P e n g a n t a r H u k u mP i d a n a I n t e r n a s i o n a l ” J a k a r t a A i r l a n g g a . c o m/ a r s i p / ? p = 3 6 5 7 6 . d a l a mN o r ma nK . J a n e s i c k . L i n c o l n .“ K a t aP e n g a n t a r ”d a l a m T i m P e n y u s u n . R o ml i . d i a k s e s t a n g g a l 1 0D e s e mb e r 2 0 1 1 . 1 9 7 3 . U n i t e d S t a t e s o f A me r i c a . t a n g g a l 4 Me i 2 0 1 1 . American Law. D a n u r i . 2 0 0 9 . H u s e i n . “ S o s i a l i s a s i R a n c a n g a nU n d a n g U n d a n g t e n t a n g P e n c e g a h a nd a nP e mb e r a n t a s a n T i n d a k P i d a n a P e n d a n a a n T e r o r i s me ” . . D e n z i na n dY v o n n e S . H a r i a n Wa s p a d a .Tempo Interaktif. Harian Sumut Pos. 2 0 0 8 .H u s e i n . g o . “ P e n g a n t a r H u k u mP i d a n a I n t e r n a s i o n a l ” B a n d u n g R e f i k a A d i t a ma . .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me PUSTAKA A b i d i n . N e wY o r k : W. d e p k u mh a m. J a k a r t a : P P A T K . 2 0 0 4 . d i a k s e s t a n g g a l 1 2 D e s e mb e r 2 0 1 1 . D a e d a l u s : S p r i n g . 2 0 0 3 . C a l i f o r n i a : S a g e P u b l i c a t i o n . ” K a r e n aL a l a i .A n s y a a d . Sistem dan Mekanisme Penanganan Tindak Pidana Pencucian Uang di Negara Lain (Laporan Pelaksanaan Tugas 2003-2006). Legal Research. D i r e k t o r a t J e n d e r a l P e r a t u r a nP e r u n d a n g u n d a n g a nK e me n t e r i a nH u k u md a nH A MR I . I n c . F A T F . Terrorist Financing Typology Report. F r i e d ma n . D w o r k i n . Z a i n a l . detik Bandung. i d / k e g i a t a n u mu m/ 1 1 0 8 s o s i a l i s a s i r u u t e n t a n g p e n c e g a h a n d a n p e mb e r a n t a s a n t i n d a k p i d a n a p e n d a n a a n t e r o r i s me . 2 0 0 6 . J a n e& We i s s . detiknews. d j p p . R o n a l d . h t ml . 1 9 9 4 . C . “ D a n a T e r o r i s D i t r a n s f e r d a r i B a n k B e s a r ” . t a n g g a l 3 S e p t e mb e r 2 0 0 9 . B a mb a n g H e n d a r s o .

L L . G r a me d i a P u s t a k a J a k a r t a . d i a k s e s 2 6 D e s e mb e r 2 0 1 1 .h t t p : / / w w w . h t m. “ S e mi n a r I n t e r n a s i o n a l : P e n c e g a h a nt e r o r i s me P e r l uK e r j a s a ma S e mu a N e g a r a ” . d i a k s e s t a n g g a l 1 2 d e s e mb e r 2 0 1 1 . C e t a k a nK e t i g a . k o mp a s . Wa w a n . S H . 2 0 0 3 . S o e k a n t o . t a n g g a l 2 3 J u n i 2 0 1 1 .J o h n . t a n g g a l 1 2 D e s e mb e r 2 0 1 1 . d i a k s e s 95 . K o me n t a ra t a sP a s a l p a s a lT e r p e n t i n gd a r iK i t a b U n d a n g U n d a n gH u k u mP i d a n aB e l a n d ad a nP a d a n a n n y ad a l a mK i t a bU n d a n g U n d a n gH u k u mP i d a n aI n d o n e s i a .“ P e n d a n a a nt e r o r i sI n d o n e s i aT a kL a g i d a r i A l Q a i d a h ” . S o e r j o n o . 1 9 8 6 . . n e t / i n d e x . R e mme l i n k . c o m. T a n u j a y a .“ Me me r a n g iP e n d a n a a n T e r o r i s me ” . M. R i j a n t o . c o m/ k o mp a s c e t a k / 0 3 0 9 / 2 9 / o p i n i / 5 8 6 7 4 1 . P u r w a n t o . ykai.L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me P r a s e t y a O n l i n e . S y d n e y A u s t r a l a . h t t p : / / e c 2 1 7 5 4 1 1 7 7 3 6 . t a n g g a l 4 Me i 2 0 1 1 . Tempo Interaktif. “ H u k u mP i d a n a .p h p ? o p t i o n = c o m_ c o n t e n t & v i e w = a r t i c l e & i d = 8 5 7 : u p a y a p e n c e g a h a n d a n p e mb e r a n t a s a n t p p u d a n p e n d a n a a n t e r o r i s me & c a t i d = 1 1 7 : t e r k i n i & I t e mi d = 1 3 6 .t a n g g a l2 D e s e mb e r2 0 1 1 .“ H e n t i k a nP e n d a n a a nJ a r i n g a nT e r o r i sd iI n d o n e s i aS e k a r a n g ! ” . “ L a p o r a nP e l a k s a n a a n Counter Financing of Terrorism Study Tour” . a ma z o n a w s . J a n . d i t e r j e ma h k a no l e hP a s c a l Mo e l j o n o . J a k a r t a: U I P r e s s . c o mp u t e . 2 5 2 9 S e p t e mb e r 2 0 1 1 . Pengantar Penelitian Hukum. a p s o u t h e a s t 1 . h t t p : / / w w w . T i mP e n y u s u n . y k a i .net.

S H . P O WE RP O I N TP R O F . P E N J E L A S A NR U UP P T P P T I I I . D R . MA K A L A HD A NP O WE RP O I N TP R O F . P h . . H I K MA H A N T OY U WO N O . M. S H ( D i s k u s i P u b l i k d i H o t e l P a n d a n a r a n S e ma r a n g J a w a T e n g a h ) I V . L L . B A R D AN A WA WI A R I E F . . D . ( D i s k u s i P u b l i k d i H o t e l S o f y a n B e t a w i J a k a r t a ) . 96 . R U UT E N T A N GP E N C E G A H A ND A NP E MB E R A N T A S A NT I N D A KP I D A N A P E N D A N A A NT E R O R I S ME I I .L a p o r a n A k h i r T i mN a s k a h A k a d e mi k R U UP e mb e r a n t a s a n P e n d a n a a n T e r o r i s me LAMPIRAN I .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->