PENGARUH PENGGUNAAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVIS DENGAN METODE EKSPERIMEN TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPA FISIKA POKOK BAHASAN KALOR

PADA SISWA KELAS VII SMPN 1 PALIBELO TAHUN PELAJARAN 2011/2012.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pembangunan, dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan dapat

mengembangkan pengetahuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia seperti yang diharapkan. Agar pelaksanaan pendidikan dapat berlangsung sesuai yang diharapkan, maka perlu mendapatkan perhatian yang serius baik oleh pemerintah, masyarakat, guru dan orang tua. Fisika merupakan salah satu unsur dalam pendidikan. Mata pelajaran fisika telah diperkenalkan kepada siswa sejak tingkat SMP sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil observasi di SMPN 1 Palibelo, rata-rata siswa di sekolah tersebut tidak serius dalam belajar siswa-siswa tersebut cenderung ribut pada saat belajar mengajar berlangsung, hal ini terjadi dikarenakan guru bidang studi fisika cenderung menggunakan metode konvensional. Pendekatan konvensional ditandai dengan guru mengajar lebih banyak
mengajarkan tentang konsep-konsep bukan kompetensi, tujuannya adalah siswa mengetahui sesuatu bukan mampu untuk melakukan sesuatu, dan pada saat proses pembelajaran siswa lebih banyak mendengarkan. Di sini terlihat bahwa pendekatan konvensional yang dimaksud adalah proses pembelajaran yang lebih banyak didominasi gurunya sebagai “pen-transfer” ilmu, sementara siswa

lebih pasif sebagai “penerima” ilmu. Sehingga siswa banyak yang tidak tuntas dan memiliki

nilai yang tidak cukup memuaskan.. Menurut observasi yang dilakukan di SMPN 1 Palibelo pada siswa kelas VII hasil belajar siswa tersebut masih jauh dari yang diharapkan, selain itu masih banyak siswa yang menganggap mata pelajaran fisika adalah mata pelajaran yang paling menakutkan, dan rararata siswa merasa sulit dalam belajar fisika. Kecemasan seperti inilah yang sangat mempengaruhi terhadap mental siswa dalam belajar fisika, yang pada akhirnya orang tua dan siswa sendiri memaklumi apabila prestasi belajar fisikanya rendah. Rendahnya prestasi belajar fisika siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah proses belajar mengajar. Pembelajaran fisika yang selama ini dilaksanakan oleh guru masih menganut pada teori tabula rasa John Locke. Teori tersebut menyatakan bahwa pikiran seorang anak adalah seperti kertas kosong yang putih bersih dan siap menunggu coretan-coretan gurunya. Dengan kata lain, otak seorang anak adalah ibarat botol kosong yang siap diisi dengan segala ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan guru (Sadirman, 2003 : 97) . Berdasarkan asumsi ini dan asumsi yang sejenisnya, banyak guru yang melakukan kegiatan belajar mengajar sebagai berikut: 1. Memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa

Tugas seorang guru adalah memberi dan tugas seorang siswa adalah menerima. Guru memberi informasi dan mengharapkan siswa untuk menghafal dan mengingatnya. 2. Mengisi botol kosong dengan pengetahuan

Siswa menerima pengetahuan dengan pasif. Guru memiliki pengetahuan yang nantinya akan dihafal oleh siswa. 3. Mengkotak-kotakkan siswa

Guru mengelompokkan siswa berdasarkan nilai dan memasukkan siswa dalam kategori, siapa yang berhak naik kelas, siapa yang tidak berhak naik kelas, siapa yang bisa lulus dan siapa

Oleh karena itu. Orang tua pun saling menyombongkan anaknya masing-masing dan menonjolkan prestasi anaknya. Pendekatan konstruktivis pengetahuan dapat ditemukan. Karena itu guru mengembangkan kurikulum yang terstruktur dan menentukan bagaimana siswa harus dimotivasi. Melalui pendekatan konstruktivis dengan metode eksperimen ini diharapkan di dalam pembelajaran fisika siswa dapat menggunakan serta mengembangkan pengetahuannya tersebut untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik.yang tidak lulus. maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut: . Dengan kegiatan belajar mengajar tersebut siswa dianggap sebagai klise orang dewasa yang pasif dan butuh motivasi dari luar. 2007 : 64). dirangsang dan dievaluasi sehingga berkesan bahwa pembelajaran adalah sekedar pemindahan dan penyerapan pengetahuan saja sehingga dirasakan kurang bermakna bagi siswa. dibentuk dan dikembangkan oleh siswa. Salah satu pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran fisika dengan pendekatan konstruktivis. Metode eksperimen adalah metode atau cara di mana peneliti mengerjakan sesuatu latihan atau percobaan untuk mengetahui pengaruh atau akibat dari sesuatu aksi (Emzir. 4. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas. Memacu siswa dalam kompetensi Siswa bekerja keras untuk mengalahkan teman sekelasnya. Kemampuan dinilai dengan rangking dan siswa pun direduksi dengan angka-angka. B. sedangkan guru hanya berperan sebagai mediator serta fasilitator untuk membentuk dan mengembangkan pengetahuan itu sendiri. bukan untuk memindahkan pengetahuan. Siapa yang kuat dia yang menang. saat ini diperlukan pembelajaran fisika yang dapat meningkatkan makna pembelajaran.

C. Peningkatan prestasi belajar siswa dengan metode eksperimen pada pokok bahasan kalor. Manfaat Penelitian Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan bisa menambah wawasan keilmuan dan memajukan pola pikir peneliti dan pembaca mengenai pengaruh penerapan pendekatan kontruktivis dalam pembelajaran fisika melalui metode eksperimen terhadap prestasi belajar. 2 Untuk mengetahui metode yang dapat diterapkan dalam pembelajaran IPA fisika untuk pokok bahasan kalor. . karena guru mengajarkan dengan metode konvensional. 2 Metode yang dapat diterapkan dalam pembelajaran IPA fisika untuk pokok bahasan kalor. Guru tidak pernah menggunakan metode konstruktivis dengan metode eksperimen. F.1 2 Prestasi belajar siswa yang kurang. 1. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas dapat dirumuskan permasalahan yaitu: 1 Pengaruh penggunaan pendekatan konstruktivis dengan metode eksperimen terhadap prestasi belajar IPA fisika pokok bahasan kalor pada siswa kelas VII SMPN 1 Palibelo Tahun Pelajaran 2011/2012. Batasan Masalah penelitian ini hanya dibatasi pada: 1 2 Pengaruh pendekatan pembelajaran konstruktivis dengan metode eksperimen. E. D. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1 Untuk mengetahui adanya pengaruh penggunaan pendekatan konstruktivis dengan metode eksperimen terhadap prestasi belajar IPA fisika pokok bahasan kalor pada siswa kelas VII SMPN 1 Palibelo Tahun Pelajaran 2011/2012.

memperkaya wawasan strategi pembelajaran berikut praktiknya di lapangan yang berguna bagi pilihan profesi peneliti di masa mendatang. Diharapkan bisa menjadi bahan acuan sekolah untuk meningkatkan mutu belajar di sekolah tersebut. Dalam penelitian ini yang dimaksud pendekatan konstruktivis dalam pembelajaran adalah usaha sadar guru untuk membantu siswa agar memperoleh pengetahuannya sendiri dalam proses belajar dan mengajar dalam materi kalor. 2. Guru dalam mengembangkan metode mengajar yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku b.2. 2000: 19). maka beberapa istilah yang terdapat pada judul perlu dijelaskan. dan mengobservasi efek/pengaruhnya terhadap satu atau lebih variabel terikat. G. Praktis Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi: a. Pendekatan Konstruktivis Menurut Lorsbach konstruktivis dalam pembelajaran dapat diartikan sebagai siswa sendiri yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dan menyesuaikan terhadap pengalaman pengalaman mereka (Suparno. Adapun istilah yang perlu dijelaskan adalah sebagai berikut: 1. mengontrol variabel lain yang relevan. Metode Eksperimen menurut Emzir (2007 : 64) metode eksperimen adalah metode penelitian yang dapat menguji secara benar hipotesis menyangkut hubungan sebab akibat. d. . Definisi Operasional Untuk menghindari salah pengertian mengenai judul proposal ini. Mendapatkan pengetahuan. Siswa dalam mengembangkan dan meningkatkan hasil belajar yang optimal dalam pelajaran Fisika dengan menggunakan metode yang cocok yang diberikan oleh guru. c. dalam studi peneliti memanipulasi paling sedikit satu variabel.

Sedangkan prestasi adalah hasil yang dicapai seseorang setelah melalui proses belajar dimana hasil yang baik menunjukkan prestasi yang tinggi dan hasil yang tidak baik menunjukkan prestasi yang rendah.3. . Prestasi Belajar Menurut Usman (2007 : 5) belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya.

Perubahan tersebut dapat terlihat (overt) atau tidak (covert). khususnya berargumentasi dan berdiskusi membantu memperjelas pemikiran yang pada akhirnya memuat pemikiran itu menjadi lebih logis. ialah lingkungan dimana siswa dapat melakukan eksplorasi. Teori Belajar dari Piage Perkembangan kognitif sebagian besar ditentukan oleh manipulasi dan interaksi aktif anak dengan lingkungan. Untuk meningkatkan proses belajar mengajar perlu lingkungan yang dinamakan “discovery learning environment”. 2003: 32). setiap individu pada saat tumbuh mulai dari bayi yang baru dilahirkan sampai menginjak usia dewasa mengalami empat tingkat perkembangan kognitif (Trianto. 2003: 32). jadi tidak menerima pelajaran begitu saja. 2003: 2) c. tetapi pada belajar bermakna materi yang telah diperoleh itu dikembangkan dengan keadaan lain sehingga belajarnya lebih dimengerti. Pada belajar menghafal. Menurut teori piaget. siswa menghafalkan materi yang sudah diperolehnya. Sementara itu bahwa interaksi sosial dengan teman sebaya. Piaget yakin bahwa pengalamanpengalaman fisik dan manipulasi lingkungan penting bagi terjadinya perubahan perkembangan. penemuan-penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip dengan yang sudah diketahui (Slameto. Teori Bruner Di dalam proses belajar mengajar.BAB II KAJIAN PUSTAKA A. yang memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses dimana anak secara aktif membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi mereka. Bruner mementingkan partisipasi aktif tiap siswa. Membedakan antara belajar menemukan dengan belajar menerima. Teori belajar Pengertian belajar secara umum adalah terjadinya perubahan pada seseorang yang terjadi akibat pengalaman. Selain itu untuk dapat membedakan antara belajar menghafal dengan belajar bermakna. jadi tinggal menghafalkannya. tetapi pada belajar menemukan konsep ditemukan oleh siswa. Teori belajar David Ausubel Teori ini terkenal dengan belajar bermaknanya dan pentingnya pengulangan sebelum belajar. bertahan lama atau tidak. . 2007 : 14). Ausubel dalam (Dimyati. b. ke arah positif atau negatif pada keseluruhan pribadi atau pada aspek kognitif. afektif. dan psikomotor secara sendiri-sendiri (Dimyati. dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. Landasan Teori 1. Pada belajar menerima siswa hanya menerima. Beberapa teori belajar antara lain: a. Teori perkembangan piaget mewakili kontruktivisme. Pengetahuan datang dari tindakan.

dan teori psikologi kognitif yang lain. dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut (Nur dalam Trianto. 2007: 13-14). mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. prinsip yang telah dimiliki sebelum secara formal mempelajari konsep-konsep baru. Pengetahuan awal tersebut merupakan pengetahuan pribadi siswa yang terbentuk melalui belajar informal. Teori ini berkembang dari kerja Piaget. Dalam pandangan kontruktivis. Kontruktivis merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual. berusaha dengan susah payah dengan ide-ide. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta . strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Pengetahuan awal siswa mengenai suatu objek disebut dengan konsepsi awal (prakonsepsi). Pada akhirnya. 2007: 108-109). konsep.2. menurut Vygotsky memunculkan konsep scaffolding memberikan sejumlah bantuan kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran dan mengurangi bantuan serta . mereka harus bekerja memecahkan masalah. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan. Vygotsky. yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekoyong-koyong. dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Teori konstruktivis ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks. yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. b. memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri. Pendekatan Konstruktivis Teori-teori baru dalam psikologi pendidikan dikelompokkan dalam teori pembelajaran kontruktivis (constructivist theories of learning). teori-teori pemrosesan informasi. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini. Menurut teori kontruktivis ini. sedangkan pengetahuan awal siswa yang tidak tepat sama dengan pengetahuan yang akan dipelajari disebut miskonsepsi. Scaffolding. Ada beberapa konsep mendasar yang dimunculkan dalam pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis (Mohammad. ide-ide atau konsep-konsep. menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa. atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Menurut Yuwono (2003: 3) mendefinisikan pengetahuan awal siswa sebagai fakta. Landasan berpikir kontruktivis agak berbeda dengan pandangan kaum objektivis. dkk. seperti teori Bruner. dan c. Pengetahuan tumbuh berkembang melalui pengalaman. tugas Guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan a. pengalaman sehari-hari maupun dari belajar formal sebelum mempelajari konsep-konsep baru. pemahaman berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila selalu diuji dengan pengalaman baru (Trianto. 2000: 5). dalam proses pembelajaran di kelas akan terjadi interaksi antara pengetahuan guru dengan pengetahuan awal siswa yang menghasilkan pengetahuan siswa. a. satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. menemukan segala sesuatu untuk dirinya. dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinngi. Untuk itu.

Berdasarkan beberapa pandangan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu teori belajar yang menggunakan pendekatan kontruktivis pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif proses belajar mengajar dimana proses belajar mengajar lebih diwarnai atau dipusatkan pada siswa dibandingkan guru. yaitu kemampuan memecahkan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sejawat yang lebih mampu. Zone of Proximal Development (ZPD). Metode Eksperimen Dalam metode eksperimen. Proses Top Down. Siswa belajar secara aktif dengan mengikuti tahap-tahap pembelajarannya. a. b. guru dapat mengembangkan keterlibatan fisik dan mental. Siswa mendapat kesempatan untuk melatih keterampilan proses agar memperoleh hasil belajar yang maksimal. siswa akan menemukan sendiri konsep sesuai dengan hasil yang diperoleh selama pembelajaran. ini berarti siswa memulai dengan masalah kompleks untuk dipecahkan dan memecahkan atau menemukan ketrampilan dasar yang diperlukan. d. Djamarah (2000). Keterlibatan fisik dan mental serta emosional siswa diharapkan dapat diperkenalkan pada suatu cara atau kondisi pembelajaran yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan juga perilaku yang inovatif dan kreatif. Pengertian Metode Eksperimen Metode eksperimen adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok. Pengalaman yang dialami secara langsung dapat tertanam dalam ingatannya. dalam pendekatan ini sebagian besar waktu proses belajar mengajar berlangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa. Pembelajaran kooperatif.memberikan kesempatan kepada siswa tersebut untuk mengambil alih tanggung jawab yang besar setelah ia dapat melakukannya. Dengan demikian. c. sehingga dapat berinteraksi dalam menyelesaikan tugas dan dapat saling memunculkan strategi pemecahan masalah yang lebih efektif di dalam masing-masing zone of proximal development mereka. 3. menurut Vygotsky perlunya kelas berbentuk kooperatif antar siswa. . untuk dilatih melalui suatu proses atau percobaan. Pembelajaran dengan metode eksperimen melatih dan mengajar siswa untuk belajar konsep fisika sama halnya dengan seorang ilmuwan fisika. serta emosional siswa.

2) Kekurangan Metode Eksperimen Kekurangan metode eksperimen sebagai berikut: a) Tidak cukupnya alat-alat mengakibatkan tidak setiap anak didik berkesempatan mengadakan eksperimen. Siswa diberi kesempatan untuk menyusun sendiri konsep-konsep dalam struktur kognitifnya. kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan dievaluasi oleh guru. 1) Keunggulan dan Kelemahan Metode Eksperimen Keunggulan Metode Eksperimen Metode eksperimen mempunyai keunggulan sebagai berikut: a) Metode ini dapat membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri dari pada hanya menerima kata guru atau buku. karena metode eksperimen mampu memberikan kondisi belajar yang dapat mengembangkan kemampuan berfikir dan kreativitas secara optimal. c) Dengan metode ini akan terbina manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil percobaan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia. Cara Mengatasi Kelemahan Metode Eksperimen . anak didik harus menanti untuk melanjutkan pelajaran. b) Jika eksperimen memerlukan jangka waktu yang lama. mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya. c) 3) Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu dan teknologi. b) Anak didik dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi. b. di mana siswa melakukan suatu percobaan tentang sesuatu hal. selanjutnya dapat diaplikasikan dalam kehidupannya.Menurut Roestiyah (2001 :80) metode eksperimen adalah suatu cara mengajar. Metode eksperimen menurut Al-farisi (2005 :2) adalah metode yang bertitik tolak dari suatu masalah yang hendak dipecahkan dan dalam prosedur kerjanya berpegang pada prinsip metode ilmiah. Menurut Schoenherr (1996) yang dikutip oleh palendeng (2003 :81) metode eksperimen adalah metode yang sesuai untuk pembelajaran sains.

yaitu sebagi berikut: a) Hendaknya guru menjelaskan sejelas-jelasnya tentang hasil yang ingin dicapai sehingga ia mengetahui pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab dengan eksperimen .Ada beberapa cara untuk mengatasi kelemahan-kelemahan metode manusia dari metode eksperimen. Prestasi Belajar Pengertian Prestasi Belajar Kegiatan belajar adalah segala aktivitas yang dilakukan dengan sengaja oleh peserta didik untuk mencapai tujuan belajar. c) d) Bila perlu guru menolong siswa untuk memperoleh bahan-bahan yang diperlukan Guru perlu memberikan dorongan agar siswa mau membandingkan hasil eksperimennya dengan temannya agar mereka mau mendiskusikannyan kembali bila ada perbedaanperbedaan dan kekeliruan-kekeliruan. b) Hendaknya guru membicarakan bersama-sama dengan siswa tentang langkah-langkah yang dianggap baik untuk memecahkan masalah dalam eksperimen. sikap. serta bahan-bahan yang diperlukan. Masalah yang dihadapi adalah sampai di tingkat mana prestasi (hasil) belajar yang telah dicapai. 4. a. variabel yang perlu dikontrol dan hal-hl yang perlu dicatat. 2000: 96). Tujuan belajar berkaitan dengan perubahan tingkah laku peserta didik yang meliputi aspek-aspek pengetahuan. . nilai-nilai dan aspirasi (Sudjana. keberhasilan proses mengajar itu dibagi atas beberapa tingkatan atau taraf yaitu: 1) Istimewa/maksimal apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa. Maka yang dimaksud dengan Eksperimen dalam penelitian ini ialah suatu upaya atau praktek dengan menggunakan peragaan yang ditujukan pada siswa yang tujuannya ialah agar supaya semua siswa lebih mudah dalam memahami dan mempraktekan dari apa yang telah diperolehnya dan dapat mengatasi suatu permasalahan apabila terdapat suatu perbedaan. Setiap proses belajar mengajar selalu menghasilkan hasil belajar. Sehubungan dengan itu. keterampilan.

kelengkapan fasilitas belajar mengajar. b) Faktor intelegensial dan bakat (kemampuan yang dimiliki oleh siswa sejak lahir). 2006: 142). d) Faktor lingkungan sekitar. Untuk itu dibutuhkan kemampuan dalam merancang dan menggunakan metode. kurikulum. Meliputi metode mengajar guru. Faktor-Faktor yang Mempengruhi Prestasi Belajar Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar (Slameto 2003: 54-60). Berdasarkan pendapat-pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi belajar merupakan hasil perubahan belajar seseorang sehingga dapat dinyatakan dalam bentuk angka (kuantitatif) ataupun dalam bentuk pernyataan (kualitatif) melalui proses penilaian dan pengukuran terhadap tingkah laku yang dihasilkan dari proses belajar mengajar. 4) Kurang apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60% dapat dikuasai oleh siswa (Djamarah. c) Faktor masyarakat. Pola pembelajaran yang masih tradisional (teacher centered) menjadikan siswa menganggap proses belajar di sekolah hanya sebagai sebuah formalitas yang harus dijalani rutin setiap hari. dibagi menjadi dua bagian yaitu faktor internal dan faktor eksternal: 1) Faktor Internal Faktor ini terdapat dalam diri siswa antara lain: a) Faktor kesehatan yang berupa kesehatan jasmani dan kesehatan rohani. Untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan meningkatnya aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran tidaklah mudah. f) Faktor cara belajar 2) Faktor Eksternal Faktor eksternal ini berasal dari luar individu antara lain: a) Faktor keluarga. berupa teman bergaul serta hal yang terkait dengan kehidupan sosial masyarakat dimana siswa berada. berupa keadaan atau berupa suasana lingkungan tempat tinggal. relasi di sekolah. yaitu cara orang tua dalam mendidik. . b) Faktor sekolah.2) Baik sekali/optimal ababila sebagian besar 76% sampai dengan 99%) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa. 2006: 107). Belajar bukan hanya sekedar menyampaikan informasi. media dan sumber belajar (Sanjaya. e) Faktor minat dan motifasi. disiplin sekolah. b. akan tetapi suatu proses mengubah perilaku siswa sesuai dengan tujuan yang diharapkan. 3) Baik/minimal apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 60% sampai dengan 75% dapat dikuasai oleh siswa. c) Faktor minat dan motifasi. hubungan antara anggota keluarga. suasana rumah yang nyaman serta keadaan ekonomi keluarga. d) Faktor cara belajar.

Sebab individu melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan dan lingkungan tersebut mengalami perubahan. tetapi siswa dituntut untuk menemukan konsep dan mengembangkannya dengan keadaan lain sehingga belajarnya menjadi lebih dimengerti. Siswa hanya sekedar menirukan cara penyelesaian yang dikerjakan guru. rumus dan contoh soal diberikan dan dikerjakan oleh guru. Pembelajaran seperti ini terkesan kurang bermakna dan membatasi pemikiran siswa. Definisi. Kerangka Berpikir Setiap individu membangun sendiri pengetahuannya. dimana guru memegang peranan utama sebagai pemberi informasi. Pada pembelajaran konstruktivis tugas seorang guru adalah membantu siswa berpikir secara benar dengan membiarkannya berpikir sendiri dengan menyediakan pengalaman belajar atau kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa. siswa akan sangat tergantung pada guru. . Namun saat ini masih banyak guru yang menerapkan pembelajaran konvensional.B. Pada akhirnya. penemuan-penemuan baru berdasarkan pengalaman yang telah dimilikinya Selain itu proses belajar mengajar juga memerlukan partisipasi aktif dari siswa. Justru dengan adanya perbedaan pendapat tersebut dapat merangsang siswa untuk menemukan ide-ide baru yang menambah pengetahuan siswa. Perbedaan pendapat dalam kelas adalah hal yang biasa dan patut dihargai. Guru memberikan sejumlah bantuan kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran dan mengurangi bantuan serta memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang besar setelah ia dapat melakukannya. Jadi siswa tidak hanya menerima dan menghafalkan begitu saja materi yang diperolehnya dari guru. Siswa tidak bisa mengeksplorasi ide-idenya karena telah terpaku pada pola pengerjaan jawaban guru dan menganggapnya sebagai satu-satunya jawaban yang benar. lebih-lebih dalam memecahkan masalah yang kompleks. Lingkungan yang mendukung proses belajar mengajar adalah lingkungan dimana siswa dapat melakukan eksplorasi.

Pendekatan Penelitian . BAB III METODE PENELITIAN A. B. Hipotesis Berdasarkan kerangka pikir dapat dirumuskan hipotesis dalam penelitian ini adalah Ha : Ada pengaruh penggunaan pendekaan kontruktivis dengan metode eksperimen terhadap prestasi belajar fisika pokok bahasan kalor siswa kelas VII SMPN 1 Palibelo Tahun Pelajaran 2011/2012. 2007: 179). Jenis eksperimen merupakan suatu cara untuk mengetahui sebab akibat dari dua faktor yang sengaja di timbulkan oleh peneliti dengan mengurangi faktor-faktor yang lain. Jenis ini selalu dilakukan untuk melihat akibat dari suatu perlakuan (Sukardi. Ho : Tidak ada pengaruh penggunaan pendekaan kontruktivis dengan metode eksperimen terhadap prestasi belajar fisika pokok bahasan kalor siswa kelas VII SMPN 1 Palibelo Tahun Pelajaran 2011/2012.Pada pembelajaran yang menggunakan metode eksperimen siswa diberi kesempatan untuk melakukan suatu percobaan. Jenis Penelitan Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis eksperimen. metode eksperimen dapat membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri dari pada hanya menerima kata guru atau buku. C. mengamati proses serta menulis hasil percobaannya. Dari uraian di atas dapat diperkirakan bahwa dengan penerapan penggunaan pendekatan konstruktivis dengan metode eksperimen dapat meningkatkan prestasi belajar IPA fisika siswa dibandingkan dengan metode konvensional atau metode ceramah.

Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan pada tahun ajaran 2011/2012 D. di berikan tes kepada dua kelas. Kedua kelas tersebut mendapatkan perlakuan berbeda. C. setelah selesai proses pembelajaran pada materi kalor. Selanjutnya. Rancangan penelitian yang dilakukan sebagai berikut: Tabel 3. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu: 1. Kelas eksperimen diajarkan dengan menggunakan pendekatan konstruktivis dengan metode eksperimen. Desain Penelitian Dalam penelitian ini akan digunakan dua kelas perlakuan yaitu satu kelas sebagai kelas eksperimen dan satu kelas sebagai kelas pembanding (kontrol).1 Desain Penelitian Perlakuan Post Tes Konstruktivisme Ya Konvensional Ya Kelas Eksperimen Kontrol Pre tes Ya Ya E. Dari nilai tersebut dapat diketahui pengaruh yag ditimbulkan dari suatu perlakuan. Variabel bebas : pengaruh penerapan pendekatan konstruktivis dalam pembelajaran fisika dengan metode eksperimen 2. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mendapatkan data berupa nilai atau angka.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Hasil tes yang diperoleh dianalisis menggunakan uji-t. Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di SMPN 1 Palibelo 2. Variabel terikat : hasil belajar siswa kelas VII SMPN 1 Palibelo F. Subjek Penelitian . Waktu dan Tempat Penelitian 1. dan kelas pembanding (kontrol) di ajarkan dengan metode konvensional.

kelas VIIC = 15 orang. Metode Pengumpulan Data . Jenis sampel yang diambil harus mencerminkan populasi. yaitu pengambilan subyek secara acak dimana kelas VIIA = 15 orang. Populasinya sebanyak 123 siswa yang terbagi dalam 5 kelas yang terdiri dari kelas VIIA = 25 siswa. dan VIIE = 24 Pengaturan pembagian kelas tersebut adalah secara acak dan tidak berdasar pada rangking sehingga tidak ada kelas unggulan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII semester 1 SMPN 1 Palibelo tahun pelajaran 2011/2012. Sampel Sampel adalah bagian dari populasi. maka sebaiknya diambil semuanya sebagai sampel atau responden penelitian. populasi adalah kelompok yang menarik peneliti sehingga oleh peneliti dijadikan objek untuk menggeneralisasikan hasil penelitian. VIID = 24 siswa.1. kelas VIIB = 15 orang. Apabila subjek kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya adalah penelitian populasi. Sampel adalah sebagian atau keseluruhan dari populasi yang diteliti (Riyanto. jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10%-15% atau 20%25% atau lebih. Selanjutnya. Populasi Menurut Frenkel dan Walen dalam Riyanto (2001: 63). 2001: 64) Menurut Arikunto (2006: 48) bahwa jika jumlah populasi penelitian kurang dari 100 orang. G. VIIC = 25 siswa. dan kelas VIIE = 10 orang. kelas VIID = 15 orang. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh kelas VII SMPN 1 Palibelo dari jumlah populasi yang ada dengan menggunakan teknik random sampling. 2. VIIB = 25 siswa. Kemudian dari sampel tersebut dibagi menjadi dua kelas yaitu 35 orang kelas eksperimen dan 35 orang sebagai kelas control dengan syarat keduanya harus homogen.

sedangkan kelompok kontrol diajarkan menggunakan pendekatan konvensional. dengan cara tes hasil belajar. Tahapan Persiapan Pokok bahasan yang diajukan selama penelitian adalah kalor.Untuk mengumpulkan data dalam penelitian eksperimen ini dilakukan melalui tahaptahap sebagai berikut : 1. tes hasil belajar. Tes kemampuan awal diperoleh dari tes kemampuan siswa kelas VII( Eksperimen ) dan kelas VII(Kontrol). kemudian dari hasil tersebut dilakukan eksperimen. 2. Kelompok eksperimen diajarkan menggunakan pendekatan konstruktivis dengan metode eksperimen secara kelompok. H. Tes Awal Tes kemampuan awal IPA fisika adalah untuk melihat kemampuan awal siswa dari masing-masing kelompok. Tahap Eksperimen Terlebih dahulu melakukan tes awal. kemudian dilanjutkan dengan tahap akhir untuk memperoleh data tes hasil belajar IPA fisika. 3. Tahap Akhir Setelah tahap eksperimen dilakukan. Selanjutnya melakukan uji coba instrumen tes awal dan tes hasil belajar kemudian dilanjutkan analisis instrumen tersebut. serta menyiapkan LKS siswa sesuai dengan materi. langkah pertama yang dilakukan adalah menyusun perangkat tes awal. . Instrumen Penelitian Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini digunakan instrumen tes sebagai berikut : 1.

Tujuan dari uji coba instrumen untuk mengetahui kualaitas tes yang meliputi : 1. I.00 sampai 0. 4. Semua bitur soal disusun oleh peneliti berdasarkan materi yang diajarkan selama eksperimen yaitu pokok bahasan kalor. tabel 3. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut : Keterangan : P = Indeks kesukaran B = Banyaknya siswa yang menjawab soal dengan benar JS = Jumlah Seluruh siswa peserta tes. Tes Prestasi Belajar Untuk melihat prestasi belajar siswa. Taraf Kesukaran Daya Pembeda Validitas Item Reliabilitas 1. disusun alat ukur yang berbentuk tes objektif.30 Sukar . Tingkat Kesukaran Soal Tingkat kesukaran soal ditentukan berdasarkan banyak siswa yang menjawab soal dengan benar dibagi jumlah seluruh siswa peserta tes. Adapun instrumen yang diujikan meliputi tes awal dan tes hasil belajar IPA fisika. 2. Alat-alat Eksperimen IPA Fisika Alat-alat Eksperimen IPA fisika merupakan seperangkat alat yang digunakan dalam melakukan eksperimen khususnya materi kalor.2 Kriteria Tingkat Kesukaran Butir Soal Nilai Keterangan 0.2. 3. 3. Uji Instrumen Sebelum instrumen tersebut digunakan diuji cobakan terlebih dahulu untuk mengetahui kelayakan instrumen tersebut untuk dijadikan instrumen penelitian.

2004) J. Varians adalah rata-rata hitung deviasi kuadrat setiap data terhadap rata-rata hitungnya.70 Baik 0. Dengan kriteria pengujian jika Fhitung ≥ Ftabel berarti tidak homogen dan jika Fhitung ≤ Ftabel berarti homogen pada taraf signifikan 5%.31 sampai 0.70-1.3 Kriteria daya Beda Nilai Keterangan 0.00 Sedang Mudah ( Arikunto.00-0. Daya Pembeda Daya pembeda butir soal bertujuan untuk mengukur sejauh mana butir soal tertentu maupun membedakan antara anak yang pandai dengan anak yang kurang pandai berdasarkan kriteria tertentu. Metode Analisa Data 1. Uji Homogenitas Uji ini digunakan umtuk mencari tingkat homogenitas dari kedua varians.0. 2010 : 179) .71 sampai 1. (Riduwan. homogenitas kedua varians dapat dilakukan dengan uji F.20-0.40 Cukup 0. Untuk menghitung digunakan rumus sebagai berikut : keterangan : D = daya beda BA = banyak peserta kelompok atas yang menjawab soal dengan benar BB = banyak peserta kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar JA = banyaknya peserta kelompok atas JB = banyaknya peserta kelompok bawah Tabel 3.00 Baik Sekali (Arikunto.20 Jelek 0.70 0.40-0. Persyaratan Analisis a. 2004 ) 2.

Uji normalitas dicari dengan menggunakan rumus Chi-kuadrat. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah post-test terdistribusi normal atau tidak.Keterangan : varians = skor = rata-rata kelas = jumlah siswa Harga ini selanjutnya dibandingkan dengan harga dengan tingkat signifikan 5%. Keterangan: χ² = chi-kuadrat fo = frekuensi pengamatan fe = frekuensi yang diharapkan k = banyaknya kelas interval (Riduwan.2006) b. Jika lebih dari maka kedua varians tersebut adalah homogen (sugiyono. . 2010 : 182) Dengan ketentuan jika χ²hitung ≤ χ²tabel pada taraf signifikan 5% maka populasi berdistribusi secara normal.

2S≤x< -S 3.Tabel 3. +S<x< +2S 6. Distribusi Frekuensi No. Uji Beda ( Uji Hipotesis ) Uji beda (uji t) dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan peningkatan prestasi belajar siswa yang menggunakan pendekatan konstruktivis dengan metode eksperimen Apabila sampel homogen maka uji beda yang digunakan adalah(sugiyono.4. sebaliknya jika hipotesis ditolak yaitu tidak ada pengaruh penggunaan pendekaan kontruktivis dengan metode eksperimen terhadap prestasi belajar fisika pokok bahasan kalor pada siswa kelas VII SMPN 1 Palibelo Tahun Pelajaran 2011/2012. S<x+S 4. . <x< +S 5. x< 2S 2. Interval 1. +2S<x Frekuensi Teoritik 2% 14% 34% 34% 14% 2% 2.2006) Dimana : Keterangan : = hitung = rata-rata kelas eksperimen = rata-rata kelas kontrol = skor = varians kelas eksperimen = varians kelas kontrol = jumlah sampel Jika hipotesis diterima yaitu ada pengaruh penggunaan pendekaan kontruktivis dengan metode eksperimen terhadap prestasi belajar fisika pokok bahasan kalor pada siswa kelas VII SMPN 1 Palibelo Tahun Pelajaran 2011/2012.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.95 sedangkan Ftabel = 1. Uji prasyarat dalam penelitian ini terdiri dari uji homogenitas dan uji normalitas. Hasil Penelitian Data dalam penelitian ini terdiri dari prestasi belajar siswa yang menggunakan pendekatan konstruktivis dengan metode eksperimen dan hasil belajar siswa dengan pendekatan konvensnional. Uji homogenitas dalam penelitian ini menggunakan uji F (persamaan 3. b.80 sehingga dari hasil yang diperoleh didapatkan Fhitung< Ftabel dan dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok sampel yang digunakan memiliki kemampuan awal yang sama (homogen). hasil yang di peroleh adalah sebagai berikut: 1) Hasil Uji Normalitas Kelas Eksperimen Y1 74.1.7). Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji Chi-kuadrat (persamaan 3. dari data pre tes yang didapatkan (lampiran ) dan telah dianalisis menggunakan uji F (lampiran) maka diperoleh hasil dengan Fhitung = 0.60 90 50 11.1 Deskripsi Hasil Penelitian Statistik Rata-rata (mean) Nilai Maksimum Nilai Minimum Standar deviasi Nilai maksimum yang diharapkan Ketyerangan: Y1 : prestasi belajar fisika siswa kelas eksperimen Y2 : prestasi belajar fisika siswa kelas kontrol 1.68 100 Y2 56. Hasil Uji Prasyarat Hipotesis Uji prasyarat dilakukan sebelum melakukan uji hipotesis.73 100 .5).80 75 35 11. Dekskripsi hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 4. Hasil Uji Homogenitas Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui sama atau tidaknya kemampuan awal kedua kelompok sampel penelitian. Tabel 4. a. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data prestasi belajar siswa darti kedua kelompok sampel terdistribusi normal atau tidak.

997) yang berarti bahwa hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima yang berbunyi” ada pengaruh penggunaan pendekatan konstruktivis dengan metode eksperimen terhadap prestasi belajar fisika pokok bahasan kalorsiswa kelas VII SMPN 1 Palibelo tahun pelajaran 2011 / 2012”.995 (harga antara dk 60 dan 120). Dengan demikian didapatkan < maka data prestasi belajar untuk kelas eksperimen terdistribusi normal. Dengan kriteria .528 > 1. Tabel 4. 2. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan strategi pendekatan konstruktivis dengan metode eksperimen mempunyai keefektifan yang signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. 2) Hasil Uji Normalitas Kelas Kontrol Dari hasil perhitungan (lampiran) diperoleh dan . thitung 6. Selain itu juga untuk hasil uji hipotesi diperoleh nilai t 6. Hasil Uji Hipotesis Dari hasil perhitungan statistic uji-t polled varians diperoleh thitung sebesar 12.8 dan harga ttabel untuk taraf signifikasi 5% dengan derajat kebebasan dk k1 + k2 – 2 = 35 + 35 – 2 = 68 sebesar 1. diperoleh hasil uji normalitas ( ) kelas eksperimen sebesar 6. Maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan .997 5% 60 -120 Keterangan Ada pengaruh Pembahasan Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan.528 (lampiran). dari hasil yang didapatkan pada kelas eksperimen maupun untuk kelas kontrol diperoleh prestasi belajar fisika siswa pada pokok bahasan kalor terdistribusi normal. jika < data terdistribusi normal(lampiran) jadi.528> 1. Dengan demikian didapatkan < maka data prestasi belajar untuk kelas kontrol terdistribusi normal. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai thitung lebih besar dari ttabel (6. maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa pokok bahasan kalor yang diajarkan dengan pendekatan konstruktivis melalui metode eksperimen lebih baik secara signifikan dari pada siswa yang diajarkan dengan pendekatan konvensional pada siswa kelas VII semester ganjil SMPN 1 Palibelo tahun Pelajaran 2011/2012 (Lampiran ).997).096 pada taraf signifikan 5% didapatkan = 11.070.3 Hasil uji hipotesis ttabel Taraf Dk 1.430 dan kelas kontrol sebesar 6.Data hasil perhitungan (lampiran) diperoleh dan .528 B. Oleh karena thitung lebih besar dari ttabel (6.

Pada pembelajaran yang menggunakan metode eksperimen siswa diberi kesempatan untuk melakukan suatu percobaan.80. mengamati proses serta menulis hasil .yang berarti antara prestasi belajar fisika menggunakan pendekatan konstruktivis dengan metode eksperimen dibandingkan menggunakan pendekatan konvensional. membawa pengertiannya yang lama dalam situasi belajar yang baru. Namun dalam hal ini guru tidak lepas tangan begitu saja. Oleh karena itulah maka salah satu pendekatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran fisika yaitu pendekatan konstruktivis. karena pelajar sendirilah yang bertanggung jawab atas hasil belajarnya. Dengan kata lain. membandingkannya dengan apa yang telah diketahui serta menyelesaikan ketegangan antara apa yang telah ia ketahui dengan apa yang ia perlukan dalam pengalaman baru. Pembelajaran fisika bertujuan untuk meningkatkan kjeterampilan berpikir siswa. membuat penalaran atas apa yang dipelajarinya dengan cara mencari makna. bukan menginformasikannya. mengantarkan siswa membangun sendiri konsepsi dan definisi yang benar. Dari hasil tes akhir didapatkan bahwanilai rata-rata yang diperoleh oleh kelompok siswa yang diajarkan menggunakan pendekatan konstruktivis dengan metode eksperimen (kelas eksperimen) yaitu 74. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan pendekatan dan metode yang benar-benar tepat.60 lebih tinggi daripada kelompok siswa yang diajarkan menggunakan pendekatan konvensional (kelas kontrol) 56. pendekatan konstruktivis dapat membantu siswa untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri mereka dengan cara belajar yang aktif dan kreatif. melainkan guru bertindak sebagai mediator dan fasilitator selama pembelajaran berlangsung yang dapat lebih mengarahkan siswa jika suatu saat konsep yang dikemukakan mengarah pada miskonsepsi. dapat dikatakan bahwa penggunaan pendekatan konstruktivis dengan metode eksperimen memiliki pengaruh positif terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas VII di SMPN 1 Palibelo. Oleh karena itu .

percobaannya. dapat menikmati pelajaran fisika sebagai pelajaran yang menyenangkan dan dapat memperbaiki miskonsepsi pada siswa. metode eksperimen dapat membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri dari pada hanya menerima kata guru atau buku. Dari hasil di atas guru dianjurkan untuk menggunakan pendekatan konstruktivis dengan metode eksperimen agar siswa lebih termotivasi. . sehingga pembelajaran fisika semakin lama akan semakin baik.

Prosedur Penelitian pendekatan Praktek. 2006. Perlu penelitian lebih lanjut dengan pengaruh pennggunaan pendekatan konstruktivis dengan metode eksperimen terhadap prestasi belajar fisika pada pokok bahasan yang lain. 2004. 2006.Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT. Pada pengajaran fisika dengan metode eksperimen. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Arikunto.2010.BAB V PENUTUP A. Kepada pihak pengajar. Jakarta: Bumi Aksara.Jakarta: Rajawali Pers . hendaknya mempertimbangkan pengaruh penggunaan pendekatan konstruktivis guna meningkatkan prestasi belajar fisika siswa 2. Jakarta: Rineka Cipta. hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penggunaan pendekatan konstruktivis dengan metode eksperimen terhadap prestasi belajar fisika pokok bahasan kalor siswa kelas VII SMPN 1 Palibelo dari pada siswa yang diajarkan pendekatan konvensional sangat berpengaruh terhadap prestasi berlajar siswa B. Emzir. . Rineka Cipta. antara lain : 1. Dimianti dan Mudjiono. Belajar dan Pembelajaran. S. Simpulan Berdasarkan Rumusan masalah. Strateg Belajar Mengajar. S. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Saran Berdasarkan hasil Penelitian yang telah dilakukan maka penulis mengajukan beberapa saran. Danmara. 2003. khususnya pokok bahasan kalor sebaiknya guru menggunakan metode eksperimen 3. Jakarta: Rineka Cipta.

Sutrisno. Bandung: CV. 2001. Metode Penelitian Pendidikan. Metodelogi Penelitian Pendidikan. Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Slameto. Yogyakarta : Andi Ofset. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi konrtuktivistik. 2003.M. 2001.Bandung:Remaja RosdaKarya Offset. 2003. Jakarta: Rineka Cipta. Belajar Dan Faktor Yang Mempengaruhinya.Hadi. Konsep dan Makna Pembelajaran. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Kenscana Premada Media Grup. Sinar Baru Algesindo. 2000. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Yatim. . Sugiono. Uzer. Alfabeta. Usman. N. Jakarta : PT rajaGrafindo Persada. Sardiman A. Jakarta: Bumi Aksara. Sanjana. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. 2003. 2003. Sudjana. Surabaya: SIC Roestiyah. 2006. 2001. Saiful. 2006. 2007. Wina. Statistik 2. Bandung: PT. Jakarta : Rineka Cipta.K. Jakarta: Prestasi Pustaka Publsher. Sukardi.Menjadi Guru Profesional. N. Triyanto. Riyanto. Bandung: Alfabeta.2007. Metodelogi Penelitian Pendidikan. Sagala.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.