P. 1
buku praktek1

buku praktek1

5.0

|Views: 16,353|Likes:
Published by antokkristanto

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: antokkristanto on Mar 24, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/22/2015

pdf

text

original

Sections

PERSIAPAN KULIT UNTUK PEMBEDAHAN

Sebelum proses pembedahan kulit dipersiapkan untuk
meminimalkan jumlah mikroorganisme residen yang dapat masuk
ke luka operasi. Persiapan kulit secara rutin memerlukan
pembersihan menyeluruh dengan scrub atau pancuran. Penjepitan
atau pencukuran rambut juga dilakukan untuk menghilangkan
rambut tubuh yang menjadi tempat mikroorganisme dan
menghambat pandangan lapangan pembedahan
CDC ( Central For Disease Control and Prevention )
menganjurkan menghindari penghilangan atau, bila perlu, mencukur
hanya segera sebelum operasi ( Garner, 1996, CDC, 1999 ).
Pembuangan rambut dapat mencederai kulit, khususnya tempat
pertumbuhan bakteri. Makin lama periode antara pencukuran dan
pembedahan, makiri besar potensial untuk pertumbuhan bakteri.

PERSIAPAN ALAT :

1.Alat potong elektrik
2.Gunting
3.Handuk
4.Baskom dengan air
5.Bola kapas, aplikator, dan larutan antiseptik ( opsional )
6.Lampu portable
7.Selimut mandi
8.Sarung tangan steril (hand scoon steril / sekali pakai)

36

Stikes Dian Husada

A dan B, area yg gelap menunjukkan area perkiraan penghilangan
rambut pra operasi
( Dari Peterson VM: Just the Facts: a Pocket guide to basic
nursing, ed 2, St.Louis, 1998,Mosby)

37

Stikes Dian Husada

38

Stikes Dian Husada

FORMAT
PERAWATAN PRE - OPERASI

N
o

KEGIATAN

1

2

3

1
2

3

4
5

6

7

8

9
1
0

1
1
1
2

1

Ikuti Protokol Standart
Inspeksi kondisi umum kulit. Bila ada luka,
iritasi, atau tanda infeksi, pencukuran tidak
harus dilakukan
Tinjau kembali program dokter untuk area
yang dipotong.
Tinggikan tempat tidur pada posisi tinggi
Posisikan klien secara nyaman dengan tempat
pembedahan yang dapat di akses, kemudian
kenakan sarung tangan sekali pakai.
Pencukuran rambut dan persiapan kulit
memerlukan beberapa menit
Dengan lembut, keringkan area yang diklip
pakai handuk. Bila krim pencabut rambut
digunakan, berikan pada area tersebut
dengan cukup
Tunggu beberapa menit yang diperlukan dan
kemudian bersihkan krimnya
Jika pencukuran dilakukan, tahan pencukur
pada tangan dominan, kira - kira 1 cm di atas
kulit, dan potong searah tumbuhnya rambut.
Jepit area yang kecil pada saat yang sama
Dengan Iembut, sikat potongan rambut pakai
handuk
Ketika area yang di klip merupakan
permukaan cekung ( Misalkan
umbilikus atau lipat paha ) bersihkan
cekungan dengan aplikator berujung kapas
atau bola kapas yang di rendam dalam
larutan antiseptik, kemudin keringkan
Beritahu pasien bahwa prosedur selesai
Bersihkan dan buang peralatan sesuai

39

Stikes Dian Husada

3

1
4

1
5

protap dan buang sarung tangan
Lihat kondisi klien setelah penyelesaian
pembuangan rambut
Catat prosedur, area yang diklip atau dicukur,
dan kondisi klien sebelum dam setelah
prosedur dalam catatan perawat
Lengkapi Akhir Protokol

Keterangan.

.............................................................................................................

.............................................................................................................

.............................................................................................................

.............................................................................................................

.............................................................................................................

40

Keterangan :
1: dilakukan sendiri
2: tidak dilakukan
3: dilakukan tetapi memerlukan bantuan

Mengetahui

Mojokerto, 2008

Kepala Laboratorium

Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Stikes Dian Husada

MENDEMONSTRASIKAN LATIHAN PASCA OPERASI

Cara menyiapkan klien untuk pembedahan dapat
memberikan pengaruh positif pada pemulihannya. Pada instruksi
yang direncanakan dengan baik, klien dapat belajar bagaimana
batuk, nafas panjang dengan teratur, ambulasi dan melakukan
aktifitas sehari - hari dini setelah pembedahan.
Sedikit manuver sederhana - pernafasan diafragmatik, batuk,
membalik, dan latihan kaki - membantu mencegah komplikasi
pernafasan dan sirkulasi yang dapat menyebabkan klien tinggal
inaktif pasca operasi. Latihan penting untuk klien yang mengalami
anastesi umum. Penyuluhan pra - operasi terstruktur dapat
mempengaruihi faktor pasca - operasi seperti :
1.Fungsi ventilasi : perbaikan kemampuan batuk dan
nafas panjang
2.Kapasitas fungsi fisik : Perbaikan kemampuian ambulasi dan
melakukan

aktifitas dini
3. Perasaan Sejahtera : Penurunan ansietas
4. Lama Tinggal di Rumah Sakit : Penurunan Lama Tinggal
Bila direncanakan latihan pasca opernsi, penting untuk
mengetahui resiko komplikasi klien :
1.Perokok Klinik
2.Riwayat pernafasan dan Insisi bedah yang nyeri dapat
menyertai gangguan kapasitas ventilasi klien.
3.Demikian juga riwayat penyakit vaskular perifer atau
immobilisasi kuat daripenggunaan gips atau traksi dapat
meningkatkan resiko perfusi jaringan buruk
4.Membantu Klien Belajar bagaimana berpartisipasi secara
aktif dalam pemulihan
pasca operasi
5.Memberi perencanaan pencegahan dan perawatan yang
efektif
6.Demonstrasi latihan pasca operasi memerlukan
pengetahuan dan pembuatan kepeutusan untuk perawat
profesional dan tidak boleh didelegsikan pada personel
asisten

41

Stikes Dian Husada

PERSIAPAN ALAT :
1.Bantal
2.Spirometer insentif
3.Stocking elastis atau manset kompresi pneumatik

42

Stikes Dian Husada

FORMAT
PERAWATAN PASCA OPERASI

No

KEGIATAN

1

2

3

Pernafasan Diafragmatik :

Demonstrasikan langkah berikut pada klien :
a.Bantu klien pada posisi nyaman semi
- fowler atau fowler tinggi dengan lutut
fleksi. Tunjukkan langkah berikut,
kemudian

klien

mengulangidemonstrasi anda :
•Duduk atau berdiri tegak,
tempatkan telapak tangan
anda sepanjang batas
bawah, kurva iga anterior
anda, minta klien bernafas
panjang dan lambat melalui
hidung, hindari hiperventilasi
•Beri perhatian pada gerakan
ke bawah normal
dari
diafragma anda selama
inspirasi. Organ abdominal
menurun, dan toraks meluas
dengan perlahan
•Hindari menggunakan dada
dan bahu anda ketika inhalasi
•Ambil Nafas panjang dan pada
hitungan 3
hembuskan melalui mulut dengan
perlahan
Ulangi latihan 3 sampai 5 kali
a.Minta klien mempraktikkan latihan

Spirometri Insentif

a.Berikan posisi semi fowler atau
fowler tinggi
b.Tempatkan bagian mulut pada

43

Stikes Dian Husada

mulut sehingga bibir benar - benar
menutup bagian mulut
c.Klien menarik nafas dengan
perlahan untuk mempertankan
aliran konstan melalui bagian
mulut. Bila inspirasi maksimal
dicapai klien menahan nafas
selama 2 sampai 3 detik dan
kemudian mengeluarkan dengan
perlahan. Jumlah pernafasan tidak
harus lebih dari 10 sampai 12 per
menit
d.Klien bernafas dengan normal
selama periode pendek
e.Klien menglangi gerakan. Beritahu
klien tentang petingnya tindakan
spirometer insentif setiap 2 jam
saat bangun selma periode pasca
operasi

Pengontrolan Batuk

a.Jelaskan

pentingnya
mempertahankan posisi tegak di
tempat tidur atau dui samping
tempat tidur
b.Tunjukkan batuk dengan mengambil 2
atau 3 nafas pendek
c.Inhalasi dalam, tahan nafas anda pada
hitungan ke 3, dan batuk sekali dan
kemudian batuk lagi
d.Waspadai klien terhadap hanya
membersihkan tenggorok daripada
batuk dengan dalam
e.Bila Insisi pembedahan di dada atau
area abdomen, tempatkan satu tangan
di atas area insisi dan tangan yang lain
di atas tangan pertama, selama inhalasi

44

Stikes Dian Husada

dan batuk, tekan dengan perlahan pada
area tersebut untuk membelat insisi (
satu bantal di atas insisi adalah
opsional )

f.Biarkan klien mempraktikkan batuk
dengan pembelatan setiap 2 jam ketika
terjaga selama periode pasca operasi
g.Instruksikan klien untuk memeriksa
sputum terhadap konsistensi, bau,
jumlah, dan warna

Membalik

Catatan : Tindakan ini untuk membalik klien
ke kiri

A.Instruksikan klien untuk
melakukan posisi terlentang
pada setengah kanan tempt
tidur ( tempat tidur harus
dipasang pagar di kedua
sisinya )
B.Tempatkan tangan kiri klien
di atas area insisi untuk
membelat
C.Minta Klien lurus dan fleksi

45

Stikes Dian Husada

lutut kanan dan di atas kaki kiri

A.Penggunaan bantal dan posisi untuk
meningkatkan kenyamanan klien
B.Perawat menggunakan bantal
untuk Menyokong insisi abdomen

d.Pegang pagar tempat pada sisi kiri
tempat tidur dengan tangan
kanannya, klien menarik ke arah
kiri dan mengelinding ke sisi
kirinya
e.Beritahu klien pentingnya
membalik setiap 2 jam saat
bangun selama periode pasca
operasi

Latihan Kaki

a. Tempatkan klien terlentang di tempat
tidur. i Demontrasikan latihan kaki
dengan gerakan rentang sendi pasif'

46

Stikes Dian Husada

b. Rotasikan tiap sendi pergelangan kaki
pada lingkaran yang lengkap dengan
berpura - pura menggambarkan
lingkaran dengan ibu jari kakinyn ,

.

c. Ubah - ubah dorsofleksi dan fleksi
plantar pada kaki. Klien akan merasa
otot betisnya kontraksi dan kemudian
ri leks
d. Minta klien memfleksikan dan ekstensi
lututnya

e. Pertahankan kaki klien lurus
klienkemudian secara
bergantian meninggikan tiap kaki
dari perrnukaaan tempat tidur
dan biarkan turun dengan
47

Stikes Dian Husada

perlahan
f. Instruksikan klien untuk melakukan
latihan kaki tiap 2 jam saat
terbangun
g. Untuk semua latihan pasca operasi,
observasi kemampuan klien untuk
melkukan semua latihan secara
mandiri

Keterangan.

.............................................................................................................

.............................................................................................................

.............................................................................................................

.............................................................................................................

.............................................................................................................

48

Keterangan :
1: dilakukan sendiri
2: tidak dilakukan
3: dilakukan tetapi memerlukan bantuan

Mengetahui

Mojokerto, 2008

Kepala Laboratorium

Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Stikes Dian Husada

PERAWATAN LUKA

Pengertian

Luka merupakan discontinuitas / terputusnya atau terpisahnya
susunan sel dari jaringan tubuh yang rusak yang disebabkan benda
tajam, tumpul, peluru, pecahan bahan peledak atau kecelakaan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka
1. FAKTOR SISTEMIK
.
a. Usia

Pada usia lanjut proses penyembuhan luka lebih lama
dibandingkan dengan usia muda. Faktor ini karena kemungkinan
adanya proses degenerasi , tidak adekuatnya pemasukan
makanan , menurunnya kekebaIan , dan penurunan sirkulasi.

b. Nutrisi

Faktor nutrisi sangat penting dalam proses penyembuhan luka.
Pada pasien yang mengalami penurunan tingkat
diantaranya serum albumin , total limposit dan transferin
adalah merupakan risiko terhambatnya proses penyembuhan
luka.
c. Insufisiensi vascular
Infusiensi vaskular juga merupakan faktor penghambat pada
proses penyembuhan luka. Seringkali pada kasus luka pada
ekstremitas bawah seperti luka diabetik , pada pembuluh
arteri atau vena kemudian decubitus karena faktor tekanan
yang semuanya akan berdampak pada penurunan atau
gangguan sirkulasi darah.
d. Obat-obatan

Terutama sekali pada pasien yang mengunakan terapi
steroid , kemoterapi dan imunosupresi.

2. FAKTOR LOKAL

a.Suplai darah
b.Infeksi

Infeksi sisternik atau lokal dapat menghambat penyembuhan
luka.

49

Stikes Dian Husada

c.Nekrosis

Luka dengan jaringan yang mengalami nekrosis dan eskar
akan dapat menjadi faktor penghanbat untuk perbaikan luka.
d.Adanya benda asing pada luka.

50

Stikes Dian Husada

LUKA DECUBITUS
Luka decubitus
adalah suatu area yang terlokalisir dengan
jaringan mengalami jaringan nekrosis yang biasanya terjadi pada
bagian permukaan tulang yang menonjol, sebagai akibat dari
tekanan dalam jangka waktu yang lama menyebabkan
peningkatan tekanan kapiler.

Manisfestasi klinis

1.Adanya eritema atau kemerahan pada kulit setempat yang
menetap , atau bila ditekan dengan jari , tanda eritema atau
kemerahan tidak kembali putih
2.Adanya kerusakan pada epitelial kulit yaitu lapisan epidermis
dan dermis . Kemudian dapat ditandai dengan adanya luka lecet
atau melepuh.
3.Kerusakan pada semua lapisan kulit atau sampai jaringan
subkutan , dan mengalami nekrosis dengan tanpa kapitas yang
dalam .'
Tingkat 4. Adanya kerusakan pada ketebalan kulit dan nekrosis
hingga sampai kejaringan otot bahkan tulang atau tendon dengan
kapitas yang dalam. Tempat luka dekubitus

51

Stikes Dian Husada

(Gambar 45 )

1.Tulang oksipitalis
2.Skapula
3.Prosesus spinosus
4.Siku
5.Krista iliaka
6.Sakrum
7.Iskium
8.Tendon Achilles
9.Tumit
10.Telapak
11.Telinga
12.Bahu
13. Anterior spina illiaka
14.Trokanter
15.Paha

52

Stikes Dian Husada

16.Lutut medial
17.Lutut lateral
18.Kaki bawah
19.Maleolus medial
20.Maleolus lateral
21.Tepi lateral telapak kaki
22.Lutut posterior

Penyebab dari luka decubitus dibedakan menjadi dua faktor
yaitu :

•Faktor ekstrinsik
a.Tekanan

Faktor tekanan, terutama sekali bila tekanan tersebut
terjadi dalam waktu lama yang menyebabkan jaringan
mengalami iskemik.
b.Pergesekan dan pergeseran
Gaya gesekan adalah faktor yang menimbulkan luka iskemik
(Reichel1958)
Hal ini bisanya akan terjadi apabila pasien diatas tempat tidur
kemudian sering merosot, dan kulit sering kali mengalami
regangan dan tekanan yang mengalihatkan iskemik pada
jaringan.
c.Kelembaban

Kondisi kulit pada pasien yang sering mengalami lembab
akan mengkontribusi kulit menjadi mascrasi kemudian
adanya gesekan dan pergeseran , memudahkan kulit
mengalami kerusakan.Kelembaban dapat akibat
incontinesia, drain luka, banyak keringat dan lainya.

Faktor intrinsik

a.Usia

Usia lanjut mudah sekali untuk terjadi luka decubitus hal ini
karena pada usia lanjut terjadi perubahan kualitas kulit
dimana adanya penurunan elastisitas, dan kurangnya
sirkulasi pada dermis.
b.Temperatur

Kondisi tubuh yang mengalami peningkatan temperatur akan
berpengaruh pada temperatur jaringan . Setiap terjadi

53

Stikes Dian Husada

peningkatan metabolisme akan meningkatkan I derajat
celsius dalam temperatur jaringan . Dengan adanya
peningkatan temperatur akan berisiko terhadap iskemik
jaringan. Selain itu dengan menurunnya elasitas kulit, akan
tidak toleran terhadap adanya gaya gesekan dan pergeseran
sehingga akan mudah mengalami kerusakan kulit.

c.Nutrisi

Nutrisi merupakan faktor yang dapat mengkontribusi terjadi
lika decubitus. Individu dengan tingkat serum albumin
yang rendah terkait dengan perkembangan terjadinya
luka decubitus.

Adapun faktor yang lain adalah:

a.Menurunnya persepsi sensori
b.Immobilisasi dan

'
c.Keterbatasan aktivitas
Ketiga dampak Ini adalah dampak dari pada lamanya intesitas
tekanan pada bagian permukaan tulang yang menonjol

Perawatan luka decubitus mencakup prinsip :

Debridement, pembersihan dan dressing.

Debridement adalah mengangkat jaringan yang sudah
mengalami nekrosis dan untuk menyokong pertumbuhan atau
pemulihan luka.
Adapun tipe dari debridement adalah beberapa cara diantaranya
secara mekanik yaitu dengan kompres basah - kering ,
hidroterapi , dan irigasi luka. Secara bedah yaitu dengan bedah
insisi , kemudian autolitik debridement yaitu mengunakan
dresing sintetis dengan menutup luka , ini hanya digunakan
pada klien dengan terinfeksi hydroclloid, hydrogels, calcium
alginates dan lain- lain.

Pembersihan ( wound cleansing )
Pada setiap luka yang akan diganti selalu dibersihkan .
Bahan - bahan yang perlu dihindari untuk membersihkan luka
seperti povidon iodine, larutan sodium hypochlorite, hydrogen

54

Stikes Dian Husada

peroxide, acetic acid, karena bahan- bahan ini tersebut bersifat
cytotoxic. Yang paling sering membersihkan luka decubitus
adalah dengan norma salin atau bisa dengan larutan antiseptik
yang tidak menimbulkan cytotoxic. Dalam membersihkan luka
perlu di irigasi dengan tekanan yang tidak terlalu kuat , dengan
tujuan untuk membersihkan sisa - sisa jaringan nekrotik atau
eksudat.

Dressing

Dressing adalah suatu usaha untuk mempertahankan
integritas fisiologi pada luka. Sebelum melakukan dressing atau
balutan dan pengobatan luka diperlukan pengkajian pada kondisi
luka hal ini untuk menentukan tipe dressing atau balutan yang
dibuluhkan . Perawatan luka decubitus adalah berdasarkan
derajat luka decubitus , eksudat, sekeliling luka , dan ada
tidaknya infeksi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada
balutan yaitu terdapat beberapa tipe balutan atau dressing tersebut
adalah dressing yang sifatnya kering, basah , basah – lembab basah
kering. Ada juga balutan untuk pelindung luka, dan dressing yang
sifatnya menyerap dan mengabsorsi.

Persiapan alat

1. Bak instrumen berisi:
–Pinset anatomi 2
–Pinset chirurgi 1
–Handscoon steril sepasang
–Kassa steril sesuai kebutuhan
–Gunting nekrotomi
–Depress sesuai kebutuhan

2.Cucing 1
3.Baskorn berisi air hangat
4.Sabun
5.cairan norma salin
6.Spuit 10 cc
7.Handsccon bersih
8.Waslap
9.Plester

55

Stikes Dian Husada

10.Balutan adesif( hipofix) sekali pakai
11.Bengkok 2
12.Handuk kecil 1

Pelaksanaan:

N
o

KEGIATAN

1

2

3

1
2
3

4

5

6

7

8

9

1
0
1

Cuci tangan dan gunakan sarung tangan
Tutup pintu ruangan atau gorden tempat
tidur.
Baringkan klien dengan nyaman dengan
area luka decubitus dan kulit sekitar mudah
diakses.
Kaji luka decubitus untuk menentukan
derajat luka .
a.Perhatikan warna, kelembaban , dan
penampilan kulit sekitar luka.
b.Ukur dua diameter yang dapat
diperkirakan.
c.Ukur kedalaman luka decubitus
dengan menggunakan aplikator
berujung kapas atau alat lain yang
memungkinkan pengukuran kedalaman
luka
Ukur kedalanan lubang kulit dengan nekrosis
jaringan .gunakan
Aplikator berujung kapas steril dengan
lembut tekan tepi luka.
Cuci kulit sekitar dengan lembut dengan
air hangat dan sabun
Aplikator berujung kapas atau alat lain yang
memungkinkan pengukuran kedalaman luka.
Ukur kedalaman lubang kulit dengan
nekrosis jaringan . Gunakan aplikator
berujung kapas steril dengan lembut tekan
tepi luka
Cuci kulit sekitar dengan lembut dengan air

56

Stikes Dian Husada

1

1
2

1
3

1
4

hangat dan sabun
Cuci secara menyeluruh dengan air
Gunakan sarung tangan steril
Bersihkan secara menyeluruh dengan cairan
norma salin atau agen pembersih.
Lepaskan sarung tangan dan buang peralatan
yang basah. Cuci Tangan
Catat penmpilan luka dan perawatan pada
catatan perawatan
Laporkan adanya penyimpangan penampilan
luka pada perawat atau dokter yang bertugas

Keterangan.

.............................................................................................................

.............................................................................................................

.............................................................................................................

.............................................................................................................

.............................................................................................................

57

Keterangan :
1: dilakukan sendiri
2: tidak dilakukan
3: dilakukan tetapi memerlukan bantuan

Mengetahui

Mojokerto, 2008

Kepala Laboratorium

Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Stikes Dian Husada

LUKA BAKAR

Penyebab luka bakarpun bermacam- macam bisa berupa
api , cairan panas , uap panas bahkan bahan kimia.
Luka bakar yang terjadi , akan menimbulkan kondisi kerusakan
kulit selain itu .juga dapat mempengaruhi berbagai sistem tubuh.
Faktor yang menjadi penyebab beratnya luka bakar antara lain :
1.Keluasan luka bakar.
2.Kedalaman luka bakar .
3.Umur pasien .
4.Agen penyebab.
5.Fraktur atau kuka- luka lain yang
menyertai.
6.Penyakit yang dialami terdahulu seperti : diabetes, jantung,
ginjal dan lain- lain.
7.Obesitas.
8.Adanya trauma inhalasi.

Komplikasi luka bakar: Curling ulcer, sepsis, pneumoni, gagal
ginjal akut, deformitas, kontraktur, hipertrofi jaringan parut, dan
decubitus.

Proses penyembuhan luka bakar, terbagi dalam tiga fase :
•Fase inflamasi.

Adalah fase yang berentang dari terjadinya luka bakar sampai 3-
4 hari pasca luka bakar . Dalam fase ini terjadi perubahan
vaskular dan proliferasi selular. Daerah luka mengalami
agregasi trombosit dan mengeluarkan serotinin
Mulai timbul epitelisasi
•Fase fibroblastik.
Fase yang dimulai pada hari ke 4- 20 pasca luka bakar . Pada
fase ini timbul sebukan fibroblast yang membentuk kolagen
yang tampak secara klinis sebagai jaringan granulasi yang
berwarna kemerahan.
•Fase maturasi.

Terjadi proses pematangan kolagen . Pada fase ini terjadi pula
penurunan aktivitas selular dan vaskular, berlangsung 8 bulan

58

Stikes Dian Husada

sampai lebih dari 1 tahun dan berakhir jika sudah tidak ada
tanda- tanda radang. Bentuk akhir dari fase ini berupa
jaringan parut yang berwarna pucat, tipis , lemas tanpa rasa
nyeri atau gagal.

59

Stikes Dian Husada

Penanganan luka

Ada berbagai macam hal yang dapat dilakukan dalam
menangani luka yang dialami pasien luka bakar sesuai dengan
keadaan luka.
•Pendinginan luka.
Mengingat sifat kulit adalah sebagai penyimpan panas yang
terbaik maka, pada pasien yang mengalami luka bakar , tubuh
masih tetap menyimpan energi panas sampai beberapa menit
setelah terjadi trauma panas.
Oleh karena itu , tindakan pendinginan luka perlu dilakukan
untuk mencegah pasien berada pada zona luka bakar lebih
dalam. Tindakan ini juga dapat mengurangi perluasan
kerusakan fisik sel, mencegah dehidrasi dan membersihkan
luka sekaligus mengurangi penggantian balutan , atau pada
saat pembedahan. Tindakan debridemen ini penting
dilakukan untuk mencegah terjadi infeksi luka dalam proses
penyembuhan luka.
•Tindakan pembedahan.
Eskarotomi merupakan tindakan pembedahan utama untuk
mengatasi perfusi jaringan yang tidak adekuat karena
adanya eschar yang menekan vaskuler.Tindakan yang
dilakukan hanya berupa insisi dan bukan membuang eschar.
Apabila tindakan ini tidak

dilakukan maka akan
mengakibatkan tidak adanya aliran darah kepembuluh darah
dan terjadi hipoksia serta iskemia jaringan. Tindakan ini
sebaiknya dilakukan sebelum hari ke-5.

Penatalaksanaan.
* Penanganan awal ditempat kejadian.
a. Jauhkan korban dari sumber panas , jika penyebabnya api,
jangan biarkan korban berlari, anjurkan korban untuk
berguling- guling dengan kain basah dan pindahkan segera
korban keruangan yang cukup ventilasi jika kejadian luka
bakar berada diruangan tertutup.
b. Buka pakaian dan perhiasan logam yang dikenakan korban.
c. Kaji kelancaran jalan nafas korban , beri bantuan pernafasan (
life suport) dan oksigen jika diperlukan.

60

Stikes Dian Husada

d. Beri pendinginan dengan merendam korban dalam air bersih
yang bersuhu 20 derajat celcius ( suhu air yang terlalu rendah
akan menyebabkan hipotermia ) selama 15 - 20 menit segera
setelah terjadinya luka bakar ( jika sudah tidak ada masalah
pada jalan nafas korban ).
e. Jika penyebab luka bakar adalah zat kimia , siram korban
dengan air sebanyak - banyaknya untuk menghilangkan zat
kimia dari tubuh korban.
f'. Kaji kesadaran , keadaan umum , luas dan kedalaman luka
bakar dan cedera lain yang menyertai luka bakar.
g. Segera bawa penderita kerumah sakit untuk penangan lebih
lanjut( tutup tubuh korban dengan kasa / kain yang bersih
selama perjalanan kerumah sakit
2. Penanganan pertama luka bakar di unit gawat darurat.
Tindakan yang harus dilakukan terhadap pasien pada 24 jam
pertama yaitu :

a.Penilaian keadan umum pasien . Perhatikan A: Airway
( jalan nafas ); B: Breathing (pernafasan); C: Circulation
( sirkulasi ) .
b.Penilaian luas dan kedalaman luka bakar.
c.Kaji adanya kesulitan menelan atau bicara ( kemungkinan
pasien mengalami trauma inhalasi).

.
d.Kaji adanya edema saluran pernafasan ( mungkin pasien
perlu dilakukan intubasi atau trakeostomi ).
e.Kaji adanya faktor – faktor lain yang memperberat luka bakar
seperti: adanya fraktur ,riwayat penyakit sebelumnya
( seperti diabetes, hipertensi , gagal ginjal dll) dan penyebab
luka bakar karena tegangan listrk ( sulit diketahui secara
akurat tingkat kedalamannya ).
f.Pasag infus ( iv line ) jika luka bakar > 20 % derajat 2 / 3
basanya dipasang CVP ( kolaborasi dengan dokter )
g.Pasang kateter urine.
h.Pasang nasograstik tube (NGT) jika perlu
i.Berikan terapi cairan intra vena (kolaborasi dengan dokter)
Biasanya diberikan sesuai formula parkland yaitu cairan
ringer laktat (RL) 4 ml / kgBB/ % luka bakar pada 24 jam
pertama

61

Stikes Dian Husada

j.Beri terapi oksigen sesuai kebutuhan ( kolaborasi dengan
dokter ) pada pasien yang mengalami trauma inhalasi /
gangguan sistem pernafasan dapat dilakukan nebulasasi
dengan obat bronkodilatator ( seperti :ventolin )
k.Pemeriksaaan lab darah : Hb, Ht, trombosit, proten
lokal( albumin dan globulin ), ureum dan kreatinin,
elektrolit, gula darah, analisa gas darah (jika perlu
dilakukan tiap 12jam atau minimal tiap hari ),
karboksihaemoglobin, test fungsi hati / LFT
l.Berkan suntikan ATS / Toxoid.
m.Perawatan luka :
•Cuci luka dengan cairan savlon 1% ( savlon dipecah
kecuali terdapat pada daerah sendi yang dapat
menggangu gerakan ).
•Biarkan bullae ( lepuh ) utuh"( jangan dipecah kecuali
terdapat pada daerah sendi yang dapat mengganggu
gerakan )
•Selimuti pada pasien dengan selimut steril ( usahakan
pasien tidak kedinginan sampai siap dipindah keruang
gawat ).
a.Pemberian obat -obatan ( kolabarasi dengan dokter ):
antasida, H2 antagonis, roborantika ( vitamin c, vitamin b),
analgeik, antibiotika.
b.Mobilisasi secara dini ( range of moian )
c.Pengaturan posisi.

•Keterangan :
Pada 8 jam 1 diberkan ½ dari kebutuhan cairan .
8 jam 2 diberikan ¼ dari kebutuhan cairan .
8 jam diberikan sisanya.

3. Penanganan pasien luka bakar di unit perawatan intensif.
Hal yang perlu diperhatikan selam pasien dirawat diunit ini
meliputi :

a.Pantau keadaan pasien dan seting ventilator, kaji
apakah pasien mengadakan perlawanan terhadap
ventilator.

62

Stikes Dian Husada

b.Observasi TTV, tekanan darah , nadi, pernafasan setiap
jam dan suhu setiap 4.jam.
c.Pantau nilai CVP.
d.Amati neurologis pasien ( GCS )
e.Pantau status hemodinamik .
f.Pantau saluran urin (minimal 1 ml/ kg BB/ jam)
g.Auskultasi suara paru tiap pertukaran jaga.
h.Cek analisa gas darah setiap hari / bila diperlukan.
i.Pantau saturasi oksigen.
j.Pengisapan lendir ( suction ) minimal setiap 2 jam dan jika

perlu.
k.Perawatan mulut setiap 2 jam ( beri boraq gliserin ).
l.Perawatan dengan memberi salep / tetes mata setiap 2 jam.
m.Ganti posisi pasien setiap 3 jam ( perhatikan posisi yang
benar bagi pasien )
n.Fisioterapi dada.
o.Perawatan daerah invasif seperti daerah pemasangan CVP
, kateter, tube setiap hari.
p.Ganti kateter dan NGT setiap minggu.
q.Observasi letak tube ( ETT) setiap shift.
r.Observasi terhadap aspirasi cairan lambung .
s.Periksalah caiaran elektrolit ureum / kreatinin, AGD,
protein ( albumin ),gula darah (kolaborasi dokter)
t.Perawatan luka bakar sesuai dengan protokol rumah sakit
u.Pemberian medikasi sesuai dengan petunjuk dokter
4. Penanganan pasien luka bakar diunit perawatan luka bakar.

Terdapat 2 jenis perawatan luka bakar selama
dirawat dibangsal yaitu :

1.Perawatan terbuka adalah luka yang telah diberi obat
topikal dibiarkan terbuka tanpa balutan dan diberi
pelindung cradle bed Biasanya juga dilakukan untuk daerah
yang sulit dibalut seperti wajah , perineum, lipat paha.
•Keuntungan perawatan terbuka :
a. Waktu yang dibutuhkan lebih singkat.
b. Lebih praktis dan efisien.
c. Bila terjadi infeksi mudah terdeteksi.

63

Stikes Dian Husada

Kerugiannya :

1. Pasien merasa tidak nyaman.
2. Dari segi etika kurang.
3. Perawatan tertutup adalah penutupan luka dengan balutan
kassa steril setelah diberikan obat topikal.

Keuntungan perawatan luka tertutup :

•Luka tidak langsung berhubungan dengan udara ruangan
( mengurangi kontaminasi )
•Pasien merasa lebih nyaman.

Kerugian :
•Balutan seringkali mengatasi gerakan pasien
•Biaya perawatan bertambah.
•Butuh waktu perawatan lebih lama.
•Pasien merasa nyeri saat balutan dibuka.

Persiapan alat- alat :
Bak instrumen berisi :
1.Pinset anatomi l
2.Handscoon steri 1 .
3.Kassa steril sesuai kebutuhan.
4.Pinset chirurgi 2
5.Gunting nekrotomi
6.Gunting plester.
7.Bengkok.
8. Cairan savlon I %.
9.Cairan Nacl 0,9 %.
10. Betadine sol 2 %.
11.Salep silver sulfadiazine.
12.Cucing

Pelaksanaan:

N
o

KEGIATAN

1

2

3

1

Cuci / bersihkan luka dengan cairan
savlon 1% dan cukur rambut yang

64

Stikes Dian Husada

2

3

4

5
6

7

8
9

1
0

tumbuh pada daerah luka bakar seperti
pada wajah, aksila, pubis.
Lakukan nekrotomi / debridement
jaringan nekrosis.
Lakukan escharotomy jika luka bakar
melingakar dan eschar menekan
pembuluh d arah .
Bullae dibiarkan utuh sampai hari ke 5 post
luka bakar, kecuali jika berada di daerah
sendi / pergerakan boleh dipecahkan
dengan menggunakan spuit steril dan
kemudian lakukan nekrotomi.
Mandikan pasien tiap hari .jika mungkin.
Jika banyak pus, bersihkan dengan
betadine sol 2 %, perhatikan ekspresi
wajah dan KU pasien selama merawat
luka.
Bilas savlon 1% dengan menggunakan
cairan Nacl 0,9 %.
Keringkan dengan menggunakan kassa
steril.
Beri salep silver sulfadiazine ( SSD)
setebal 0,5 cm pada seluruh daerah luka
bakar ( kecuali wajah hanya jika luka
bakar derajat ½ beri salep antibiotika (
mis., salep neomisin ).
Tutup

dengan

kassa steril
( perawatan tertutup ) atau biarkan
terbuka ( gunakan cradle bed ).

65

Keterangan :
1: dilakukan sendiri
2: tidak dilakukan
3: dilakukan tetapi memerlukan bantuan

Mengetahui

Mojokerto, 2008

Kepala Laboratorium

Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Stikes Dian Husada

Keterangan.

.............................................................................................................

.............................................................................................................

.............................................................................................................

.............................................................................................................

.............................................................................................................

66

Stikes Dian Husada

Hal - hal yang harus diperhatikan dalam perawatan
luka yaitu:

a.Saat membuka balutan luka yang.akan dibersihkan harus
dilakukan secara hati - hati dan beri / siram dengan
cairan Nacl jika kassa lengket dan kering untuk
menghindari perdarahan dan nyeri.
b.Beri analgetik sebelum dilakukan perawatan luka ( jika
diperlukan ) kolaborasi dokter.
c.Kaji dan catat kondisi luka setiap hari terhadap tanda- tanda
infeksi seperti kemerahan, bengkak, berbau, ada pus dan
lain- lain.
d.Jangan gunakan salep yang sama ( satu tube) untuk
pasien yang berbeda.
e.Ganti sarung tangan steril saat merawat pasien lain.
f.Cukur gundul pasien terutama pada pasien dengan luka
bakar luas dan dalam yang perlu tindakan operasi dan luka
bakar didaerah wajah.
g.Gunakan linen steril ( sprei, selimut, sarung bantal ).

PERAWATAN LUKA SECARA UMUM.

Perawaan luka tergantung pada jenis luka , berat ringannya luka,
ada tidaknya perdarahan dan resiko yang dapat menimbulkan
infeksi.

Persiapan alat :
Bak instrumen steril berisi
1.Pinset anatomi 1
2.Pinset chirurgi 2
3.Handscon steril 1 pasang
4.Kassa steril sesuai kebutuhan
5.Gunting nekrotomi 1 k/p
6.Gunting lancip 1 k/p .
7.Cuching sesuai dengan larutan yang dibutuhkan.
8.Gunting kassa 1
9.Bengkok 2
10.Cairan Norma salin (Ns )

67

Stikes Dian Husada

11.Cairan Perihidrol ( H2O2 )
12.Betadine
13.Korentang + tempatnya

Pelaksanaan :

N
o

KEGIATAN

1

2

3

1

2

3

4
5
6

Mencuci tangan dengan menggunakan sabun
atau larutan anti septik
Segera pantau luka kemungkinan ada benda
asing dalam luka
Bersihkan luka dengan antiseptik atau sabun
antiseptik, bila lukanya dalam, bersihkan
dengan norma salin dari pusat luka kearah
luar, setelah luka dibersihkan kemudian
lakukan irigasi luka dengan norma salin
Keringkan luka dengan kassa steril yang
lembut
Berikan anti biotik atau obat anti septik yang
sesuai
Tutup luka dengan kassa steril dan paten,
tinggikan posisi are IKA bila ada perdarahan
dan imobilisasi

68

Keterangan :
1: dilakukan sendiri
2: tidak dilakukan
3: dilakukan tetapi memerlukan bantuan

Mengetahui

Mojokerto, 2008

Kepala Laboratorium

Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Stikes Dian Husada

Keterangan.

.............................................................................................................

.............................................................................................................

.............................................................................................................

.............................................................................................................

69

Stikes Dian Husada

MENGATASI TEGANGAN KULIT

Kulit yang terlampau tegang tidak boleh dijahit. Biarkan luka
tetap terbuka atau tutup dengan split skin graft . Kedua tepi luka
dapat ditarik mendekat dan dibersihkan dengan membuat sayatan
horisantal dilapisan lemak subdermal sejauh 3-6 mm ( undermining ).
Kedalaman sayatan

ditentukan dengan memperhitungkan
vaskularisasi dan enervasi. Teknik ini tidak boleh digunakan tanpa
batas karena dapat menyebabkan nekrosis tepi luka. Jika diperlukan
penutupan primer untuk melindungi tulang, tendo atau saraf yang
terbuka . Beberapa teknis insisi sejajar untuk mengurangi
ketegangan kulit.

MENGGUNAKAN PLESTER UNTUK MENGURANGI KETEGANGAN
KULIT :

Setelah luka selesai dijahit, plester steristrips bisa
direkatkan sepanjang luka agar tegangan tersebar pada daerah
yang lebih luas. Dipilah ukuran yang sesuai, kulit dikeringkan, dan
plester direkatkan melintang pada kulit dengan bantuan pinset tak
bergigi. Jika salah satu tepi luka diragukan vaskularisasinya, plester
direkatkan dari sisi ini kesisi yang sehat. Daya rekat plester akan
bertambah jika kulit disekitar luka dibubuhi semacam bahan
penutup luka yang disemprotkan atau dibalsam friar..Karena
menghambat epitalisasi bahan ini disapukan didaerah sekitar luka
dengan bantuan kasa tidak boleh disemprotkan langsung. Plester
harus dipasang dengan rapi dan interval yang sama

JAHITAN SUB KUTIKULAR UNTUK MENJAHIT KULIT

Disebut juga jahitan intradermal. Jahitan ini cukup kuat
dan memberikan parut luka yang tipis tanpa bekas melintang
.Teknis ini sangat menguntungkan dari segi kosmetika. Benang
yang dipakai harus satu tingkat lebih kuat dari pada benang jahitan
sederhana.

Jahitan dimulai dengan menusukkan jarum kekulit 1 cm dan
ujung luka sebelah kanan, sampai keluar tepat dibagian luka. Jarum
ditusukkan mendatar mengambil 5 mm jaringan dermis. Benang
ditarik terus sampal ujungnya yang telah dijepit dengan klem
disisakan 5 cm diatas kulit. Tusukkan disisi yang lain dilakukan

70

Stikes Dian Husada

tepat diseberang tempat keluarnya benang. Eversi tepi luka yang
dicapai dengan jepitan pinset disisi operator dan tarikan benang
disisi asisten .

Kedua tepi luka yang tidak sama tinggi serta dog ear juga
bisa disebabkan oleh jahitan subkutis yang tidak terpasang
dengan balk. Jahitan ini harus diangkat. Jika dibiarkan, dengan
cara apapun kulit tidak dapat dirapatkan dengan sempurna.
Untuk mengatasi inversi kulit dan tepi luka yang tidak sama
tinggi dipakai jahitan matras vertikal. Jahitan ini tidak boleh
dipakai jika ada keraguan atas vaskularisasi kulit. Bila salah
satu sisi yang pendarahan nya diragukan, bisa digunakan
jahitan donatti yang telah dimodifikasi. Tepi lika akan cenderung
untuk inversi jika lemak subkutis tidak dijahit dengan baik atau
jika kulit telah mengalami atrofi dan kurang disangga oleh
jaringan lemak.

Menjahit dari sisi luka yang tebal akan terasa lebih
mudah dibandingkan dengan dan sisi yang tipis. Pada flap,
misalnya luka kulit kepala, jarum dapat ditusukkan dari sisi
yang bebas kearah sisi yang terfiksasi. Pada lika yang tepinya
tidak sama tinggi, tusukkan dari sisi yang tinggi kearah yang
rendah.

Tebal ketipis,

'.
Sisi bebas kesisi yang terfiksasi,
Tinggi ke rendah.

CARA MENCAPAI HASIL YANG MEMUASKAN
DALAM MENJAHIT KULIT

Pada jahitan terputus sederhana eversi kulit akan terjadi bila
lapisan lemak subkutis diambil lebih banyak dari pada kulit. ( Gbr.
3.45 )

71

Stikes Dian Husada

Jika jahitan pertama ditempatkan dipertengahan luka dan
jahitan - jahitan selanjutnya dipasang di pertengahan jarak
antara dua jahitan, kedua tepi luka dapat dirapatkan sesuai
posisi semula dengan mencocokkan kembali alur - alur kulit di
kedua sisi. Jika kulit kendur, kedua ujung sayatan dapat ditarik
dengan pengait bergigi tunggal ( Gbr. 3.46 )

" Dog ear " terbentuk jika panjang kedua tepi luka tidak sesuai.
Dengan memperpendek jarak antara dua jahitan pada sisi
yang pendek serta memperpanjang jarak ini pada sisi yang lebih
panjang, biasanya " dog ear " yang kecil akan menjadi rata. " Dog
ear " yang besar harus dieksisi ( Gbr. 3.47 )

Jahitan kendali digunakan untuk mengontrol atau mengarahkan
jaringan yang akan dimanipulmi, misalnya pada sirkumsisi (
72

Stikes Dian Husada

Gbr. 3.43
TEKNIK JEPIT DAN POTONG UNTUK MENUTUP LUKA
Untuk memasang sederetan jahitan dalam dengan tepat,
digunakan teknik " jepit dan potong " ini memungkinkan visualisasi
seluruh luka sampai seluruh jahitan selesai terpasang. Setelah itu
simpul dieratkan satu persatu ( Gbr. 3.41 )

Jika jaringan dalam keadaan rapuh ( misalnya pada penjapitan
sekunder) jarum dapat dimasukkan menembus semua lapisan,
termasuk kulit ini dikerjakan dengan teknik ”jepit dan potong”
Jika fasia begitu tegang, jaitan jelujur boleh dipakai

Jahitan sederhana
1.Jahitan dipasang pada jarak yang sama
2.Meletakkan simpul di satu sisi
3.Jika simpul terlalu ketat, luka akan terasa nyeri dan
jahitan akan meninggalkan bekas yang buruk
73

Stikes Dian Husada

4.Simpul harus dilctakkan di tepi luka, di isis yang
mempunyai vaskularisasi lebih balk

Memegang jarum yang benar dengan alat

Memegang jarum yang salah dengan alat

Memotong benang

SIMPUL

74

Stikes Dian Husada

Latihan membuat simpul merupakan hal yang penting, simpul
dapat di ikatkan dengan 2 tangan ( mirip dengan mengikat tali
sepatu ) atau satu tangan. Perlu diperhatikan bahwa benang harus
selalu dalam keadaan tegang, karena itu bila kendur gerakan akan
menjadi lebih lambat. Dalam Ilustrasi akan terlihat jelas bahwa
setelah satu gerakan selesai dilakukan, tangan dan benang berada
dalam posisi siap untuk gerakan selanjutnya

Mengikat dengan menggunakan instrumen akan menghemat
pemakaian benang. Untuk operasi - operasi halus cara ini harus
dipakai, setelah benang dilewatkan menembus kedua tepi luka,
diusahakan agar ujung yang bebas sependek mungkin mencuat
dari permukaan kulit, dengan demikian ujung tersebut akan
mudah dijepit dan ditarik melalui bagian benang yang
dilingkarkan pada klem pemegang jarum ( Gbr. 3.29 dan 3.30 )

JARUM

Jarum ada yang dirancang untuk digunakan langsung dengan
tangan ada pula yang harus dengan instrumen, jarum biasanya
terbuat dan baja tahan karat yang keras, dan ditutupi oleh lapisan
yang akan membuatnya menembus jaringan dengan mudah,
semua jarum bedah mempunyai tiga komponen dasar ; bagian

75

Stikes Dian Husada

belakang, bagian tengah atau batang tuhuh : serta bagian ujung

Persiapan Alat

a.Baki atau meja dorong yang telah dilengkapi dengan heacting
set steril antara lain :
1.Pinset anatomi dan pinset chirurghi
2.Klem arteri
3.Gunting jaringan
4.Jarum otot atau jarum kulit
5.Benang (side atau cat gut)
6.Mes (pisau)
7.Duk steril
8.Hand scoon
9.Chucing dan com
a.Obat anastesi

1.Lidocain, pehacain, procain, lidonest, cloretil
2.Cairan desinfectan
3.NaCl, Perhidrol, BIOC, Betadine, Savlon
4.Lain - lain : kapas lidi, kassa steril, bengkok, depers,
spuit, plester, gunting, supratule
a.Pasien dan lingkungan
1.menjelaskan maksud dan tujuan
2.Mengatur posisi pasien yang nyaman
3.Memasang sketsel / tiras + B40

76

Stikes Dian Husada

FORMAT
HEACTING

N
o

KEGIATAN

1

2

3

1
2

3

4

5
6
7

8

9

1
0

1
1

1
2

1

Perawat cuci tangan
Pasang pengalas dibawah anggota tubuh
yang akan dilakukan tindakan
Bila luka kotor dibersihkan dengan NaCI
0,9% dengan arah memutar dari dalam
keluar, bila luka masih kotor bersihkan
dengan menggunakan perhidrol kemudian
bersihkan lagi dengan NaCl 0,9%
Resinjeksi pada tepi kulit yang luka
dengan larutan betadine dari dalam keluar
dengan memakai pinset dan depress
Memakai handscoon
Memasang duk lubang
Memberikan anastesi lokal pada daerah
sekitar jaringan yang luka
Lakukan debridement pada jaringan yang
luka dengan memakai pinset chirurghi
Melakukan penjahitan yang dimulai dari tepi
luka dengan jarak antara jahitan yang satu
dengan lainnya ½ - 1 cm, jahitan pc;rtarna
0,5 cm-

dari tepi luka dan seterusnya hingga

jahitan terlihat rapi
Desinfektan pada daerah luka dan bersihkan
dengan depress / kassa steril
Kalau perlu memberikan obat untuk
mempercepat proses

penyembuhan

jaringan luka
Menutup luka dengan kassa steril yang
diberi desinfeksi ( betadine ),
kemudian tutup dengan kassa kering dan
difiksasi dengan plester
Peralatan dirapikan dan dikembalikan
77

Stikes Dian Husada

3

1
4
1
5
1
6

pada tempatnya
Perawat cuci tangan
Teliti dan hati - hati
Bertanggung jawab atau respon yang terjadi
pada prosedur yang dilaksanakan

Keterangan.

.............................................................................................................

.............................................................................................................

.............................................................................................................

.............................................................................................................

.............................................................................................................

78

Keterangan :
1: dilakukan sendiri
2: tidak dilakukan
3: dilakukan tetapi memerlukan bantuan

Mengetahui

Mojokerto, 2008

Kepala Laboratorium

Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Stikes Dian Husada

FORMAT
MENGANGKAT JAHITAN

N
o

KEGIATAN

1

2

3

1
2

3
4

5

6

7

8

9
1
0

1
1
1
2
1
3

Perawat mencuci tangan
Memakai hand scoon
Membuka balutan lama dengan menggunakan
pinset anatomis dan membuang pada bengkok
Bekas plester dibersihkan dengan alkohol /
bensin
Membersihkan luka jahitan dengan kassa
satu arah dimulai dari pinggir
Menjepit pangkal / simpul jahitan dengan
pinset
Chirurghi
Ujung dari lekukan gunting diletakkan di
bawah jahitan kemudian kedua simpul
yang berhadapan / simpul yang dibawah
kulit dipotong dan potongan jahitan di
buang di bengkok
Mengangkat jahitan secara berurutan
dengan cara selang – seling
Jika tidak terjadi dehischene sisa jahitan
diangkat
Membersihkan luka dengan antiseptik /
betadine
Menutup luka dcngan kassa steril dan
fiksasi dengan plester secukupnya
Rapikan alat - alat dan perawat cuci tangan
Hati – hati dan teliti
Bertanggung jawab atas respon yang
tcrjadi

79

Stikes Dian Husada

Keterangan.

.............................................................................................................

.............................................................................................................

.............................................................................................................

.............................................................................................................

.............................................................................................................

80

Keterangan :
1: dilakukan sendiri
2: tidak dilakukan
3: dilakukan tetapi memerlukan bantuan

Mengetahui

Mojokerto, 2008

Kepala Laboratorium

Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Stikes Dian Husada

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->