P. 1
Etos Kerja Dalam Islam

Etos Kerja Dalam Islam

|Views: 342|Likes:
Published by Ajib Setiawan
etos kerja dalam agama islam
etos kerja dalam agama islam

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Ajib Setiawan on Apr 15, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/25/2014

pdf

text

original

Etos Kerja dalam Islam Sesungguhnya dikotomi antara "kerja" dengan "belajar" tidak perlu terjadi.

Karena, apabila kita menghayati ikrar kita secara mendalam pada proposisi "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in" dalam surat Al-Fatihah, maka dunia kehidupan kaum Muslimin bernuansa ibadah yang sangat kental. Dalam firmanNya yang lain, Allah mengatakan, "Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah," (QS Adz-Dzariyat, 51 : 56). Sehingga, jelas-jelas tidak ada pemisahan antara yang sakral dengan yang profan, yang duniawi dengan yang ukhrawi. Ketika mengomentari ayat, "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad (perjanjian) itu" (QS Al-Ma'idah, 5 :1), Raghib Isfahani, sebagaimana dikutip Seyyed Hossein Nasr (1994) mengatakan bahwa perjanjian-perjanjian itu meliputi perjanjian-perjanjian antara Tuhan dan manusia, yakni kewajibankewajiban manusia kepada Tuhan; [perjanjian antara manusia dan dirinya sendiri; dan [perjanjian] antara individu dan sesamanya. Dengan demikian, perjanjian (uqud) yang dirujuk pada ayat tersebut berkisar antara pelaksanaan shalat sehari-hari sampai menjual barang dagangan di bazaar, dari sembah sujud hingga kerja mencari penghidupan. Berangkat dari pandangan dunia tradisional tersebut yang tidak mendikotomikan antara yang sakral dan yang profan, maka etos kerja kaum Muslim selayaknya memperhatikan kualitas pekerjaannya. Ini artinya, dalam bekerja karakteristik spiritual tetap terjaga dan terpelihara yakni pekerjaan itu dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Tanggung jawab terhadap kerja berarti kesiapan untuk bertanggung jawab di hadapan Yang Mutlak karena kerja adalah saksi bagi semua tindakan manusia. Dalam ushuluddin disebut-sebut perihal konsep ma'ad atau qiyamah yang bila diterjemahkan dalam keseharian akan sangat mendukung sekali terhadap profesionalisme dalam bekerja. Di sini konsep ma'ad atau qiyamah bukanlah suatu konsep di langit-langit Platonik melainkan sesuatu yang hidup, membumi. Penghayatan yang mendalam terhadap prinsip ma'ad akan berimplikasi positif dan konstruktif terhadap perkembangan kepribadian kaum Muslim. Setidaknya dengan menghayati prinsip tersebut, pemuda Muslim tidak mengenal istilah pengangguran. Konon, praktik shalat wajib di kalangan Syi'ah yang mencakup shalat fajr, shalat siang hari (Zhuhur dan 'Ashar), dan shalat malam hari (Maghrib dan 'Isya), merupakan refleksi etos kerja mereka yang begitu tinggi dan manifestasi produktivitas dalam berkarya. Artinya, bila kaum Syi'ah selesai melaksanakan shalat siang hari, maka setelah selesai shalat dan zikir, mereka akan kembali bekerja dengan semangat yang tetap terjaga. Bukan meneruskannya dengan aktivitas yang kurang produktif dan tidak bermanfaat. "Kerja berkaitan erat dengan doa dan hidayah bagi semua masyarakat tradisional dan kaitan ini dirasakan dan diaksentuasikan dalam Islam," tulis Nasr (1994). Dengan mengamati lafaz adzan Syi'ah, dengan formulasi hayya 'ala al-shalah, hayya 'ala al-falah, dan hayya 'ala khair al-'amal, Nasr menyimpulkan bahwa shalat dan kerja memiliki keterkaitan yang prinsipal. "Di sana hubungan antara shalat, kerja, dan amal saleh selalu ditekankan," lanjutnya. Perspektif Islam yang padu, menolak membedakan antara yang sakral dan yang profan, yang ukhrawi dan yang duniawi, yang religius dan yang sekular atau, secara lebih spesifik, antara shalat dan kerja. Implikasi praktisnya adalah bahwa sebagaimana kita mencoba khusyu dalam shalat, maka begitu pula dalam bekerja kita mencoba untuk meng-khusyu'-kan diri. Dalam bahasa bisnisnya, berusaha bersikap lebih profesional. Lebih jauh, sebagaimana ketakutan pada Tuhan dan tanggung jawab kepada-Nya dalam ekspresi shalat kita, maka demikian pula kita dalam pekerjaan kita. Karena, "Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu." [ ]

5 Prinsip Kerja Seorang Muslim (Etos Kerja dalam Islam)
Muhammad Hamzah

Kerja keras. Kita dapat meneladani ibunda Ismail a. „amal dalam Islam adalah perwujudan rasa syukur kita kepada ni‟mat Allah SWT.1. spiritual) Sementara al-amiin. intelektual. dapat memegang amanah. memiliki kekuatan fisik dan mental (emosional. Saba‟ [34] : 13) ْ‫ش‬ ُ‫ش‬ َّ ‫ي ان‬ ُ ‫د‬ ْ‫م‬ ْ ‫ا‬ ٌ ‫وقَهِي‬ }13/‫ر {سبأ‬ ُ ‫كى‬ َ ‫وو‬ ُ ‫ل دَا‬ َ ‫د‬ َ ‫مهُىا آ‬ ِ ‫عبَا‬ ِ ‫ه‬ ِّ ‫م‬ َ ‫كزً ا‬ َ‫ع‬ 2. aktifitas. satunya kata dengan perbuatan alias jujur. Sehingga seorang pekerja keras tidak mengenal kata “gagal” (atau memandang kegagalan sebagai sebuah kesuksesan yang tertunda) . AlQashash [28] : 26 ْ َ‫جزْ ث‬ ْ ُّ‫ىي‬ ْ َ‫قَان‬ َّ ِ‫جزْ يُ إ‬ َ ‫ن‬ ْ ‫ها‬ ْ‫خ‬ ْ ‫جا‬ }22/‫ميهُ {انقصص‬ َ ْ‫سخَأ‬ َ‫ي‬ ِ َ‫اْل‬ ِ َ‫ما يَا أَب‬ ِ ْ‫سخَأ‬ َ ‫ز‬ َ ُ‫ج إِحْ دَاه‬ ِ ‫م‬ ِ َ‫انق‬ Al-qawiyy merujuk kepada : reliability. Al-Baqarah [002] : 201) ْ‫د‬ ْ‫م‬ َ‫ع‬ ُّ ‫ربَّىَا آحِىَا فِي ان‬ }201/‫ار {انبقزة‬ ُ ‫مه يَقُى‬ َ ‫وقِىَا‬ َ ‫ذ‬ َ ‫ح‬ َ ‫ة‬ َ‫خ‬ َ ‫ح‬ َ ‫ويَا‬ َ ‫ل‬ َّ ‫ىهُم‬ ِ‫ز‬ ِ ‫وفِي اآل‬ ِ‫و‬ َ ً‫سىَت‬ َ ً‫سىَت‬ ِ ِ َّ‫اب انى‬ 3. QS. 4.s. Dua karakter utama yang hendaknya kita miliki: al-qawiyy dan al-amiin. Juga berarti. Seorang Muslim hendaknya berorientasi pada pencapaian hasil: hasanah fi addunyaa dan hasanah fi al-akhirah – QS. dapat diandalkan. terus mencoba hingga berhasil. (QS. Kerja. Ciri pekerja keras adalah sikap pantang menyerah. merujuk kepada integrity.

Jika etos kerja difahami sebagai etika kerja.” [HR. Disamping itu. Seperti yang tergambar dalam kisah Nabi Sulaeman a. Artinya. di antara perbuatan dosa ada dosa yang tidak bisa terhapus (ditebus) oleh pahala shalat. Dalam Islam. terencana. ciri dari seorang profesional adalah adanya etos kerja yang tinggi dan selalu bersemangat dalam bekerja.s. Etos kerja inilah yang membuat seseorang mampu bekerja dengan baik dan optimal. Dimana Islam mendorong setiap manusia untuk selalu bekerja keras serta bersungguh-sungguh mencurahkan tenaga dan kemampuannya dalam bekerja. bahwa bekerja dengan sungguh-sungguh dapat menghapuskan dosa yang tidak bisa dihapus oleh aktivitas ibadah ritual sekalipun. hingga Islam (Allah swt) menempatkannya dalam kategori ibadah.5. seorang Muslim senantiasa menunjukkan kesungguhan “Tidaklah seorang di antara kamu makan suatu makanan lebih baik daripada memakan dari hasil keringatnya sendiri”. maka etos kerja seorang Muslim bersumber dari visinya: meraih hasanah fid dunya dan hasanah fi al-akhirah. mentalitas kerja. Coba perhatikan hadits berikut ini : “Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hamba-Nya bersusah payah (kelelahan) dalam mencari rezeki yang halal. namun hanya dapatditebus dengan kesusahan dalam mencari nafkah penghidupan. Tetapi inilah kemurahan dan bentuk penghargaan serta perhatian Nya . sedekah (zakat). ataupun haji. Bahkan dalam beberapa hadits dikatakan. Ad-Dailami] Begitu besarnya penghargaan Islam terhadap kesungguhan bekerja ini. memanfaatkan segenap sumberdaya yang ada. maka pada malam itu ia diampuni. Cirinya: memiliki pengetahuan dan keterampilan. Jika etos kerja dimaknai dengan semangat kerja. Semakin baik dan sempurna hasil pekerjaan yang dilakukannya. [HR. Tabrani] Tentu sebagai muslim kita tidak akan berpikir ini hanyalah basa-basi Allah kepada hamba-Nya agar semangat bekerja. Baihaqi] Seseorang dikatakan profesional jika ia memiliki keahlian dan sungguh-sungguh dalam menyelesaikan pekerjaannya. Ahmad] “Sesungguhnya. sekumpulan karakter. etos kerja (himmatul „amal) merupakan bagian yang amat penting dan mendasar. maka dalam bekerja.” [HR. aktivitas kerja dalam pandangan Allah (Islam) merupakan bagian dari ibadah yang akan mendapatkan bukan saja keuntungan material.” [HR. kita akan sepakat mengatakan itulah profesional sejati. Kerja dengan cerdas. sikap. tetapi juga pahala dari sisi Allah swt. “Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya keterampilan kedua tangannya pada siang harinya.

Dalam Kitab Shahih Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda.” Maka. sehingga Allah menutupi wajahnya (memuliakannya). ini tercantum dalam surah Yusuf ayat 55. bagaikan orang yang memungut bara api. atau orang-orang yang menjadi tanggungannya. Begitu pula dengan Nabi Yusuf yang bekerja menjadi bendahara kerajaan Fir‟aun. mencari pekerjaan atau membuat peluang pekerjaan tidaklah mudah. dan yang ingin memperbanyaknya. atau modal dalam bekerja. lewatlah seorang lelaki dengan penuh . Sekarang ini. Seorang Muslim tidak pantas bermalas-malasan dalam mencari rezeki walaupun itu dengan alasan sibuk beribadah atau tawakal kepada Allah Swt. maka pada hari kiamat harta tersebut akan mencakar wajahnya dan menjadi batu panas dari neraka jahannam untuk dimakannya. Ada banyak tantangan masalah yang harus dihadapi. mulai dari keterbatasan lowongan pekerjaan. Dalam riwayat Baihaqi disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda. Allah akan memuliakan orang yang bekerja. Semangat bekerja juga dapat kita lihat dari para nabi. Itulah hal mendasar yang membedakan konsep etos kerja dalam Islam dengan etos kerja dalam paham sekuler. keahlian pekerjaan. di mana mereka itu adakalanya memberi dan tidak.” Kedua. “Tidak halal sedekah kepada orang kaya dan orang yang memiliki kemampuan yang stabil. yang dalam paham meterialis dan sekuler tidak akan pernah di temui. Bahkan. pertama. Itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang-orang. Dalam kitab Sunan Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda. Maka. tidak adanya lahan pekerjaan. silakan lakukan. memenuhi kebutuhan keluarganya. seperti: Nabi Daud yang bekerja sebagai pembuat baju besi sebagai tameng dalam peperangan. silakan lakukan. “Seseorang yang meraih tali lalu datang dengan seikat kayu bakar di pundaknya kemudian menjualnya. semua itu tidak mesti menjadi kendala dalam bekerja atau mencari rezeki. “Orang yang meminta sesuatu bukan kebutuhannya.” Hadis tersebut menunjukkan bahwa.atas kesungguhan manusia dalam menjalani kehidupan di dunia.” Dalam riwayat Mutafaq alaih juga disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda. Namun. Seorang Muslim tidak pantas meminta-minta kepada orang lain. Tidak pantas pula mengharap sedekah dari orang lain padahal ia memiliki kemampuan bekerja untuk menghidupi dirinya. “Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain untuk memperbanyak harta (memperkaya dirinya). seorang Muslim harus bekerja apa saja asalkan halal.” Adapun dalam riwayat Sunan Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda. Etos kerja seorang Muslim dapat dilihat dari hadis riwayat Thabrani yang menyebutkan bahwa tatkala Rasulullah Saw duduk bersama para sahabatnya. Dalam Islam. seorang Muslim adalah seorang pekerja. Nabi Muhammad Saw adalah seorang penggembala dan pedagang yang terkenal dengan sifat amanah dan kejujurannya. “Tidaklah orang yang selalu meminta-minta itu kecuali ia akan menemui Allah dengan wajah tanpa daging. ini tercantum dalam surah Al-Anbiya ayat 80. Kerendahan dan kehinaan bagi orang yang meminta-minta kepada orang lain. siapa yang ingin menguranginya.

sifat lemah dan berlindung dari Allah. “Alangkah baik jika semangatnya itu dimanfaatkan di jalan Allah. penakut dan sangat tua dan saya berlindung ke-pada-Mu dari siksa kubur dan dari ujianhidup dan mali (HR Abu Daud). Dalam Islam etika/ etos dianggap sebagai akhlak (budi pekerti. Banyak tuntunan dalam Al-Quran dan Hadits tentang bekerja. Dan jika dia keluar untuk pamer dan gagah-gagahan maka dia di jalan setan.semangat. maka dia juga berada di jalan Allah. tetapi Juga oleh kelompok bahkan masyarakat yang dibentuk oleh berbagai kebiasaan. “Jika dia keluar untuk (keperluan) anaknya yang masih kecil. intelektual atau fisik maupun hal-hal yang berkaitan dengan masalah keduniaan dan keakhlr-atan. Sikap ini diperlihatkan Umar bin Khattab ketika mendapati seorang sahabat yang selalu berdoa dan tidak mau bekerja. Etika Kerja Menurut Islam ETIKA berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu ethos yang berarti watak.” Mendengar perkataan sahabat tersebut. lalu dlberikanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. Dalam QS At Taubah 105 disebutkan bahwa Dan katakanlah bekerjalah kamu. Rasulullah Saw mengomentarinya dengan bersabda. marilah kita bekerja dengan sungguh-sungguh. Para sahabat kemudian berkata. kepribadian. atau tabiat seseorang) yakni tingkah laku atau perlakuan manusia ke arah kebaikan dan kemanfaatan hidup. Jika dia keluar (bekerja) karena ingin menjaga kesucian dirinya (dari meminta-minta). Kerja. perangai. dapat dldellnlslkan sebagai aktivitas karena adanya dorongan untuk mewujudkan sesuatu sehingga tumbuh rasa tanggung Jawab yang besar untuk menghasilkan karya atau produk yang berkualitas. pengaruh budaya. adat serta keyakinan dalam melakukan sesuatu. tingkah laku. kerja dalam arti sempit ialah kerja untuk memenuhi tuntutan hidup manusia berupa sandang." Dengan kata lain Islam sangat membenci pada orang yang malas dan bergantung pada orang lain. . dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata. serta sistem nilai yang diyakininya. maka dia berada di jalan Allah. Pertama. Sikap ini tidak hanya dimiliki oleh Individu.” Dengan demikian. sikap. Maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihal pekerjaanmu Itu. pangan dan papan yang merupakan kebutuhan bagi setiap manusia dan muaranya adalah Ibadah. Kedua. kerja dalam arti umum yaitu semua bentuk usaha yang dilakukan manusia baik da lam hal materi atau non materi. "Janganlah seorang dari kamu duduk dan malas mencari rizki kemudian Ia mengetahui langit tidak akan menghujankan mas dan perak. kesusilaan. maka dia berada di jalan Allah. serta berusaha menggapai pintu-pintu rezeki yang telah disediakan oleh Allah Swt berdasarkan ketentuan dan syariat-Nya. Rasulullah SAW pun senantiasa berdoa kepada Allah agar dijauhi sifat malas. Jika dia keluar untuk kedua orangtuanya yang sudah tua renta.Dalam Islam pengertian kerja dapat dibagi dalam dua bagian.

seharusnya kaum muslim khususnya di Indonesia memiliki etos kerja tinggi. maka sekali-kali Janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga karena (jika demikian) engkau akan bersusalx payah. usaha yang berkualitas). Malaysia (28). World Competitiveness Book (2007). Ada sebuah hadits Nabi yang sangat mendorong umat Islam untuk menjadi produsen dari kemajuan. Korea (29).Dalam pandangan Islam. Al-Quran secara tegas menyebutkan ketiga macam kebutuhan primer Itu mengingatkan manusia pertama Nabi Adam dan Siti Hawa pada saat menginjakkan kakinya di bumi. Mengapa? Karena Islam mengajaran agar umatnya memiliki etos kerja yang sangat kuat dengan senantiasa menclptaan produktivitas dan progrcslfitas di berbagai bidang dalam kehidupan ini.Yang dimaksud bersusah payah adalah bekerja untuk . Atau semakin turun ketimbang tahun 2001 yang mencapai urutan 46. dan Filipina (49). Cina (31). "kata amal mengandung pengertian segala apa yang diperbuat atau dikerjakan seseorang. Thailand (27). Sementara itu negara-negara Asta lainnya berada di atas Indonesia seperti Singapura (peringkat 1). Dengan itu." Menurut Prof Dr KH All Yafie. Hal ini diduga kuat bahwa semuanya itu karena mutu sumberdaya manusia Indonesia yang tidak mampu bersaing. Dari sini Juga dapat dlfahaml bahwa kata "sha-lih" adalah predikat dari amal atau kualitas kerja (kerja. Allah mengingatkan mereka berdua dalam QS Thaha 117-119. Hadis tersebut memiliki makna "barangslapa yang hari Ini lebih baik daii hari kemarin maka sesung-gulmya dia telah berwxlung. Urutan peringkat tersebut berkaitan juga dengan kinerja pada dimensi lainnya yakni pada Economic Performance pada tahun 2005 berada pada urutan buncit yakni ke 60. kebutuhan bisa diartikan sebagai hasrat manusia yang perlu dipenuhi atau dipuaskan. sekunder (hajlyal).InstituteJbrManagemenl o/DeueloplneiU.Jahat). barangslapa yang hari ini sama dengan hari kemarin. Hal Adam. apakah Itu khairon atau shallhan (baik) maupun syarron atausuan (buruk. Primer (dharwy). dan Gouernment Efficiency (55). maka sesungguhnya Ia ter-laknat. memberitakan bahwa pada tahun 2005. dan tertier(kamaHyat). tidak pula disengat panas matahari di sana (surga). Maka Kami berkata. Sesung-gulviya engkau tidak akan dalmga. sesungguhnya ftii (iblis) adalalx musuh bagimu dan bagi Istrimu.Secara normatif. Swiss. dan Islam mengarahkan setiap orang untuk berbuat atau melakukan amal (kerja) yang berkualitas (shalih). pangan dan papan selain juga untuk membiayai pemeliharaan kesehatan. peringkat produktivitas kerja Indonesia yang sebagian besar umat Islam berada pada posisi 59 dari 60 negara yang disurvei. maka sesungguhnya Ia telah merugi Dan barangsiapa yang hari Int lebih buruk dari hari kemarin. Juga mungkin kaerna faktor budaya kerja yang juga masih lemah dan tidak merata. orang berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup sandang. Oleh sebab Itu setiap kerja adalah amal. namun secara umum dapat dibagi dalam Uga jenis sesuai dengan tingkat kepentingannya. Business Efficiency (59). Kebutuhan bermacam-macam dan bertlngkat-tingkat. (al-Hadits) Istilah yang dipakai dalam Al-Quran dan hadits untuk bekerja adalah "amal. Tujuan Umum Bekerja Ada beberapa tujuan orang bekerja antara lain untuk mendapatkan nafkah.

intelektual atau fisik maupun hal-hal yang berkaitan dengan masalah keduniaan dan keakhlr-atan. Pada permulaan 1960-an data-data ekonomi Korea Selatan dan Ghana nyaris sama. berorientasi sukses material. kerja dalam arti umum yaitu semua bentuk usaha yang dilakukan manusia baik da lam hal materi atau non materi. berhemat. termasuk 14 negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia. berdisiplin tinggi.memenuhi kebutuhan mereka yang ada di dunia. Kata Weber. misalnya etos kerja Jepang yang berbasis pada agama Tokugawa -namun intisari teori Weber yaitu bahwa etos kerja adalah kunci dan fondasi keberhasilan suatu masyarakat atau bangsa dapat diterima secara aklamasi. Samuel Huntington dalam buku "Culture Matters (Huntington and Harrison. elektronik. yang secara harfiah berarti "kelebihan yang bersumbr dari Allah. disiplin. Etos Kerja Menurut Pemikir Barat Pada 1905 sosiolog Jerman Max Weber. tidak mengumbar kesenangan. hemat dan bersahaja menabung serta berinvestasi. dan nilai1 nilainya. pangan dan papan yang . Tetapi 30 tahun kemudian keadaan tersebut berubah drastis. (Bersambung) Ringkasan Artikel Ini Pertama. Budaya dalam artian perilaku khas suatu kelompok sosial. 2000) menuturkan sepenggal kisah ironis. kerja dalam arti sempit ialah kerja untuk memenuhi tuntutan hidup manusia berupa sandang. Etos bangsa Jerman yang diformulasikan Weber antara lain bertindak rasional. eksportir. termasuk cara hidup."Dalam ayat tersebut dapat kita pahamibahwa terdapat relasi antara Iman sebagai sistem nilai serta ide dengan amal shaleh yang merupakan realisasinya. merumuskan hubungan rasional antara etos kerja dan kesuksesan suatu masyarakat dalam buku klasik "The Proiteslarrt Ethnic and The Spirit of Capitalism (Weber. Pandangan Islam terhadap pekerjaan amatlah positif. GNP kedua negara relatif tidak berbeda dan tingkat kesejahteraan rakyatnya Juga hampir sama. produk-produk manufaktur lainnya. otomotif. Sedangkan Ghana tetap di tempat sebagai negara miskin. bekerja keras. memiliki banyak perusahaan multinasional. Mengapa hal yang aneh ini bisa terjadi? Huntington menyebutkan satu-satunya alasan perbedaan bur daya. menabung dan mengutamakan pendidikan. Manusia diperintahkan Allah untuk mencari rezki bukan hanya untuk mencukupi kebutuhannya tetapi Al-Quran memerintahkan untuk mencari apa yang diistilahkan fadhl Allah. Meskipun sejumlah kritik dialamatkan kepada Weber karena kesan kuat yang menyatakan bahwa etos kerja Protestant lebih unggul dibandingkan dengan etos berbasis agama lain . gaya hidup. kebiasaan. etos inilah pangkal kemajuan masyarakat Protestand di Eropa dan Amerika. Etos yang tumbuh di Korea Selatan adalah kerja keras. Kondisi kedua negara berbeda bagai bumi dan langit. Ketiga jenis kebu -tuhan di atas mengantarkan manusia untuk berikhtiar dan bekerja. Kedua. 1958)." Salah satu ayat yang menunjuk masalah Ini adalah QS Al Jumuah 10 "Apabila kamu telah selesai shalat (Jumat) maka bertebaranlah d( bumi dan carilah fadhl (kelebihan rezki) Allal\ ba nyakbanyaklali mengingat Allalx supaya kamu beruntung. Pada 1997. Korea Selatan berkembang menjadi raksasa industri.padahal kenyataannya tidaklah demikian. Dengan kata lain perbedaan etos.

Secara terminologis kata etos. Dari keterangan diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa kata etos berarti watak atau karakter seorang individu atau kelompok manusia yang berupa kehendak atau kemauan yang disertai dengan semangat yang tinggi guna mewujudkan sesuatu keinginan atau cita-cita. Menurut K. Kesimpulannya. Dalam kamus besar bahasa Indonesia etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau sesesuatu kelompok. yang mengalami perubahan makna yang meluas. Penyelidikan tentang jalan hidup dan seperangkat aturan tingkah laku . watak. sifat lemah dan berlindung dari Allah. Manusia diperintahkan Allah untuk mencari rezki bukan hanya untuk mencukupi kebutuhannya tetapi Al-Quran memerintahkan untuk mencari apa yang diistilahkan fadhl Allah.merupakan kebutuhan bagi setiap manusia dan muaranya adalah Ibadah. Etos kerja adalah refleksi dari sikap hidup yang mendasar maka etos kerja pada dasarnya juga merupakan cerminan dari pandangan hidup yang berorientasi pada nilai-nilai yang berdimensi transenden. misalnya etos kerja Jepang yang berbasis pada agama Tokugawa -namun intisari teori Weber yaitu bahwa etos kerja adalah kunci dan fondasi keberhasilan suatu masyarakat atau bangsa dapat diterima secara aklamasi. Etos Kerja. yang secara harfiah berarti "kelebihan yang bersumbr dari Allah. d. Toto Tasmara etos kerja adalah totalitas kepribadian dirinya serta caranya . Ahmad Amin adalah membiasakan kehendak. karakter." Salah satu ayat yang menunjuk masalah Ini adalah QS Al Jumuah 10 "Apabila kamu telah selesai shalat (Jumat) maka bertebaranlah d( bumi dan carilah fadhl (kelebihan rezki) Allal\ ba nyakbanyaklali mengingat Allalx supaya kamu beruntung. etos adalah sikap yang tetap dan mendasar yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dalam pola hubungan antara manusia dengan dirinya dan diluar dirinya ." Rasulullah SAW pun senantiasa berdoa kepada Allah agar dijauhi sifat malas. Akhlak atau etos dalam terminologi Prof. suatu tatanan aturan perilaku. A."Dalam ayat tersebut dapat kita pahamibahwa terdapat relasi antara Iman sebagai sistem nilai serta ide dengan amal shaleh yang merupakan realisasinya. Digunakan dalam tiga pengertian yang berbeda yaitu: b. serta keyakinan atas sesuatu. tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat . 1.H.padahal kenyataannya tidaklah demikian. penakut dan sangat tua dan saya berlindung ke-pada-Mu dari siksa kubur dan dari ujianhidup dan mali (HR Abu Daud). etos dapat diartikan sebagai thumuhat yang berkehendak atau berkemauan yang disertai semangat yang tinggi dalam rangka mencapai cita-cita yang positif. lalu dlberiiakanNua kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. Dr. dan kamu akan dikembalikan kepada (Allali) yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata. suatu aturan umum atau cara hidup c. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu. kepribadian. Etos berasal dari bahasa Yunani (etos) yang memberikan arti sikap. Dalam pengertian lain. Pengertian Etos kerja . Meskipun sejumlah kritik dialamatkan kepada Weber karena kesan kuat yang menyatakan bahwa etos kerja Protestant lebih unggul dibandingkan dengan etos berbasis agama lain .

pengetahuan dan lain-lain. fungsi etos kerja adalah: a. Jadi pengertian etos adalah karakter seseorang atau kelompok manusia yang berupa kehendak atau kemauan dalam bekerja yang disertai semangat yang tinggi untuk mewujudkan cita-cita. Penggairah dalam aktivitas.S Purwadaminta. Sedangkan dalam arti sempit. baik dalam hal materi maupun non materi baik bersifat intelektual maupun fisik. Ahli-ahli Tasawuf mengatakan: Untuk mencapai kebahagiaan di akhirat. manusia harus mempunyai bekal di dunia dan di manapun manusia menginginkan kebahagiaan. sesuatu yang dilakukan . kekal untuk lebih dari kehidupan dunia. dan jika tujuannya rendah (seperti misalnya hanya bertujuan memperoleh simpati sesama . Kerja merupakan perbuatan melakukan pekerjaan atau menurut kamus W. Dengan etos kerja tersebut jaminan keberlangsungan usaha berdagang akan terus berjalan mengikuti waktu. dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. di mulai dari usaha mengangkap sedalam-dalamnya sabda nabi yang mengatakan bahwa niali setiap bentuk kerja itu tergantung pada niat-niat yang dipunyai pelakunya. Dengan demikian adanya etos kerja pada diri seseorang pedagang akan lahir semangat untuk menjalankan sebuah usaha dengan sungguh-sungguh. kedudukan. bahkan justru dapat menyengsarakannya.J. Manusia berbeda-beda dalam mengukur kebahagiaan. Fungsi dan Tujuan Etos Kerja Secara umum. jabatan. Tabrani Rusyan. memandang. yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal (high Performance) . . kerja berkonotasi ekonomi yang persetujuan mendapatkan materi. Penggerak. (Q. seperti mesin bagi mobil besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat lambatnya suatu perbuatan . etos kerja berfungsi sebagai alat penggerak tetap perbuatan dan kegiatan individu. kebahagian hidup di akhirat adalah kebahagiaan sejati.S. jika tujuannya tinggi (mencari keridhaan Allah) maka ia pun akan mendapatkan nilai kerja yang tinggi. Yang kenyataannya keadaan-keadaan lahiriah tersebut tidak pernah memuaskan jiwa manusia. b. Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat. Pendorang timbulnya perbuatan. ada yang mengukur banyaknya harta. wanita. mengenai keduniaan maupun akhirat. 2. kerja berarti melakukan sesuatu. Nilai kerja dalam Islam dapat diketahui dari tujuan hidup manusia yang kebahagiaan hidup di dunia untuk akhirat.mengekspresikan. Kerja memiliki arti luas dan sempit dalam arti luas kerja mencakup semua bentuk usaha yang dilakukan manusia. perhiasan lading yang dapat membuat lalai terhadap kehidupan di akhirat. adanya keyakinan bahwa dengan berusaha secara maksimal hasil yang akan didapat tentunya maksimal pula. Menurut A. dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. c. Al-Qashash: 77) Pandangan Islam mengenai etos kerja. Jadi dianjurkan di dunia tapi tidak melupakan kehidupan akhirat. Manusia sebelum mencapai akhirat harus melewati dunia sebagai tempat hidup manusia untuk sebagai tempat untuk mancari kebahagiaan di akhirat. meyakini dan memberikan makna ada sesuatu. sementara kehidupan di dunia dinyatakan sebagai permainan.

lebih-lebih keadaan di masa lalu. Dengan demikian etos kerja Islami adalah akhlak dalam bekerja sesuai dengan nilai-nilai islam sehingga dalam melaksanakannya tidak perlu lagi dipikir-pikir karena jiwanya sudah meyakini sebagai sesuatu yang baik dan benar. menjelaskan pengertian etos (khuluk) adalah suatu sifat yang tetap pada jiwa. motivasi dan niat. (Q. sedangkan nilai-nilai ‘abd bermatan moral. perlu adanya peningkatan. Kerja santai. termasuk didalamnya menghidupi ekonomi keluarga. Dengan bekerja seseorang akan menghasilkan uang. diantaranya: 1. lebih sejahtera. Hasil yang diperoleh dari pekerjaannya juga dapat digunakan untuk kepentingan ibadah. pemborosan tenaga. Artinya: Demi masa. terutama yang beragama islam. Etos kerja Islami Dalam kehidupan pada saat sekarang. Oleh karena itu seleksi memililih pekerjaan menumbuhkan etos kerja yang islami menjadi suatu keharusan bagi semua pekerjaan. Ciri-ciri orang yang memiliki semangat kerja. atau etos yang tinggi.manusia belaka) maka setingkat pula nilai kerjanya . Nilai-nilai khalifah adalah bermuatan kreatif. Adapun etos kerja yang islami tersebut adalah: niat ikhlas karena Allah semata. harus dapat menumbuhkan etos kerja secara Islami. dan lebih bahagia daripada keadaan sekarang. karena pekerjaan yang ditekuni bernilai ibadah. 3. yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak membutuhkan pemikiran. Akan tetapi dengan bekerja saja tidak cukup. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Orientasi kemasa depan. untuk meningkatkan keimanan. Kerja keras dan teliti serta menghargai waktu. kerja keras dan memiliki cita-cita yang tinggi Menurut Al-Ghazali dalam bukunya “Ihya-u “ulumuddin” yang dikutip Ali Sumanto Al-Khindi dalam bukunya Bekerja Sebagai Ibadah.S. Untuk itu hendaklah manusia selalu menghitung dirinya untuk mempersiapkan hari esok. dengan uang tersebut seseorang dapat membelanjakan segala kebutuhan sehari-hari hingga akhirnya ia dapat bertahan hidup. . Musa Asy’arie etos kerja islami adalah rajutan nilai-nilai khalifah dan abd yang membentuk kepribadian muslim dalam bekerja. Al-Ashr: 1-3) . berdasarkan pengetahuan konseptual. firman Allah: . setiap manusia dituntut untuk bekerja guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Menurut Dr. dan waktu adalah bertentangan dengan nilai Islam. dapat dilihat dari sikap dan tingkah lakunya. Islam mengajarkan agar setiap detik dari waktu harus di isi dengan 3 (tiga) hal yaitu. taat dan patuh pada hukum agama dan masyarakat Toto Tasmara mengatakan bahwa semangat kerja dalam Islam kaitannya dengan niat semata-mata bahwa bekerja merupakan kewajiban agama dalam rangka menggapai ridha Allah. Setiap pekerja. sebab itulah dinamakan jihad fisabilillah . 2. inovatif. beramal sholeh (membangun) dan membina komunikasi sosial. . malas. produktif. tanpa rencana. Artinya semua kegiatan harus di rencanakan dan di perhitungkan untuk menciptakan masa depan yang maju. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dari pada ia bertarung tanpa mengetahui potensi diri. Allah berfirman: .S. Semua masalah diperbuat dan dipikirkan. menghitung asset atau kemampuan diri karena dia lebih baik mengetahui dan mengakui kelemahan sebagai persiapan untuk bangkit.3. Al-Isra’: 7) 4. harus dihadapi dengan tanggung jawab. baik kebahagiaan maupun kegagalan. (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). dan melemparkan kesalahan di bawah. Artinya: Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. 5. . dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua. Seseorang yang memiliki etos kerja yang tinggi. Bertanggung jawab. Karena hal itu sama dengan orang yang bertindak nekat. Adanya iklim kompetisi atau bersaing secara jujur dan sehat. (Q. karena boros adalah sikapnya setan. AlBaqarah: 148) Sebagai orang yang ingin menjadi winner dalam setiap pertandingan exercise atau latihan untuk menjaga seluruh kondisinya. Dia menjauhkan sikap boros. sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. Maka berlombalombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. tidak berwatak mencari perlindungan ke atas.(Q. laksana seorang pelari marathon lintas alam yang harus berlari jauh maka akan tampak dari cara hidupnya yang sangat efesien dalam mengelola setiap hasil yang diperolehnya. is that he corrects his defects and makes up his failings” (Keberuntungan yang baik akan datang kepada seseorang ketka dia dapat mengoreksi kekurangannya dan bangkit dari kegagalannya . .S. Terukir sebuah motto dalam dirinya: “The best fortune that can come to a man. Hemat dan sederhana. Artinya: Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri. Setiap orang atau kelompok pasti ingin maju dan berkembang namun kemajuan itu harus di capai secara wajar tanpa merugikan orang lain.

seringkali menjadi kontra produktif dalam pengamalannya. paling kurang ia dapat memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang dan pangan. Banyak ajaran Islam yang secara idealis memotivasi seseorang. namun tidak akan diperoleh kecuali dengan bekerja atau berusaha.” Hal ini menunjukkan bahwa Islam menghendaki adanya etos kerja yang tinggi bagi umatnya dalam memenuhi keinginannya. dan syuhada. Kata “bekerja” dalam ayat di atas mengandung arti sebagai suatu usaha yang dilakukan seseorang. Ajaran “tawakkal” yang seringkali diartikan sebagai sikap pasrah tidaklah berarti meninggalkan kerja dan usaha yang merupakan sarana untuk memperoleh rezeki. “Apabila telah ditunaikan Shalat. Artinya.” (QS. menyebar di muka bumi. Dan pada hadits yang lain Rasulullah SAW menyatakan bahwa: “Makanan yang paling baik dimakan oleh seseorang adalah hasil usaha tangannya sendiri.” Hadits di atas sebenarnya menganjurkan orang untuk bekerja. baik sendiri atau bersama orang lain. Untuk mewujudkan hal itu. Islam mengajarkan. dalam sejumlah hadits. sangat menghargai “kerja”. Dalam beberapa ayat di Al Qur‟an. Rasulullah SAW bersabda: “Pedagang yang lurus dan jujur kelak akan tinggal bersama para nabi. bagi setiap orang harus tersedia tingkat kehidupan yang sesuai dengan kondisinya.R. maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. antara lain pada Surah AlJumu‟ah ayat 10. Kerja atau berusaha merupakan senjata utama untuk memerangi kemiskinan dan juga merupakan faktor utama untuk memperoleh penghasilan dan unsur penting untuk memakmurkan bumi dengan manusia sebagai kalifah seizin Allah. siddiqin. Allah akan memberi kalian rezeki seperti Dia memberi rezeki kepada burung yang terbang tinggi dari sarangnya pada pagi hari dengan perut kosong dan pulang di sore hari dengan perut kenyang. Hal ini dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah SAW yang berdagang lewat jalan darat dan laut dengan gigih dan ulet. dan memanfaatkan rezeki pemberian Allah SWT. Allah telah menjamin rezeki dalam kehidupan seseorang. “Jika kalian tawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal. bukan sebaliknya pasrah berdiam diri di tempat tinggal menunggu tersedianya kebutuhan hidup. untuk memproduksi suatu komoditi atau memberikan jasa. menyingkirkan semua faktor penghalang yang menghambat seseorang untuk bekerja dan berusaha di muka bumi. Mereka bekerja dan berusaha sesuai dengan kemampuan dan keahliannya masing-masing. al-Mulk:15) Islam menghendaki setiap individu hidup di tengah masyarakat secara layak sebagai manusia. seperti salah satu haditsnya yang berbunyi. sehingga ia mampu melaksanakan berbagai kewajiban yang dibebankan Allah serta berbagai tugas lainnya. Ajaran Islam. Bukhari) .” (H. Nabi Muhammad SAW. memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahliannya. Bahkan untuk memotivasi kegiatan perdagangan (bisnis). bahkan harus meninggalkan tempat tinggal pada pagi hari untuk mencari nafkah. maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. setiap orang dituntut untuk bekerja atau berusaha.“Dialah Yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu. bukan semata-mata hanya dengan berdoa. dinyatakan.” (HR Tirmidzi). Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. atau membina rumah tangga dengan bekal yang cukup.

dan berlaku zalim terhadap tauhid dan keikhlasan. maka orang-orang yang mengalami hal tersebut dianjurkan merantau (hijrah) untuk memperbaiki kondisi kehidupannya karena bumi Allah luas dan rezekiNya tidak terbatas di suatu tempat. merendahkan martabat diri. betapa pun kecilnya. menghamba bukan kepada Sang Pencipta. ia menghadapkan orang yang diminta kepada pilihan sulit antara memuhi permintaannya atau menolaknya. menghinakan diri. sangat memotivasi seseorang untuk bekerja atau berusaha. Sebaiknya ia mengumpulkan harta sendiri. . Mereka harus memanfaatkan semua kekayaan. tetapi orang tersebut harus didorong agar mau bekerja dan mencari rezeki yang halal sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang berbunyi. dan kondisi lingkungannya.. Namun bila tidak memberi. Islam. dan tunduk kepada selain Allah. dan hak pengemis itu sendiri. Islam melarang seseorang mengemis sedangkan ia mempunyai sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk membuka peluang kerja yang akan mencukupi kebutuhannya.R.Islam juga mengajarkan bahwa apabila peluang kerja atau berusaha di tempat tinggal asal (kampung halaman) tertutup. ketawakkalan.” (H. Islam tidak membolehkan kaum penganggur dan pemalas menerima shadaqah. sebagaimana Firman Allah SWT: “Barang siapa berhijrah di jalan Allah. Jika orang itu terpaksa memnuhi permintaanya.. an-Nisa‟:100) Ajaran Islam. walaupun rezeki itu diperoleh dengan susah payah daripada mengemis dan meminta-minta kepada orang lain. Sedangkan berlaku zalim terhadap diri sendiri artinya seorang pengemis menghina diri sendiri. sesungguhnya dia mengemis bara api. Islam membimbing seseorang agar melakukan pekerjaan sesuai dengan kepribadian. Masyarakat Islam.” (QS. kemampuan. “Bila seseorang meminta-minta harta kepada orang lain untuk mengumpulkannya. mempersembahkan sesuatu bukan kepada yang berhak. dan rela menundukkan kepala kepada sesama makhluk. bahwa semua usaha yang dapat mendatangkan rezeki yang halal adalah sesuatu yang mulia. Ia meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Tindakan zalim terhadap hak Rabbul‟alamin artinya meminta. dan melalaikan tindakan mencegah diri dari mengemis kepada orang lain. Islam menuntun setiap orang untuk mendayagunakan semua potensi dan mengarahkan segala dayanya. sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Qayyim. Ia menjual kesabaran. serta tidak membiarkan si lemah terombang-ambing tanpa pegangan. berharap. sumber daya manusia maupun sumber daya alam sehingga akan meningkatkan produksi serta berkembangnya berbagai sumber kekayaan secara umum yang akan berdampak dalam pengentasan umat dari kemiskinan. Muslim). bahwa mengemis kepada orang lain adalah tindakan zalim terhadap Rabbul‟alamin. niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak…. memberikan peringatan keras kepada yang meminta-minta (mengemis). hak tempat meminta. Oleh karena itu. dan menentang keras untuk meminta-minta (mengemis) kepada orang lain. Berlaku zalim terhadap tempat meminta artinya menzalimi orang yang diminta sebab dengan mengajukan permintaan. Islam mengajarkan. orang itu akan merasa malu. ada kemungkinan disertai dengan rasa dongkol. baik penguasa maupun rakyat. diminta untuk mengerahkan segenap potensinya untuk menghilangkan kemiskinan.

perlu kita sadari. Masyarakat Islam dituntut menciptakan lapangan kerja dan membuka pintu untuk berusaha (berbisnis). Hal ini merupakan tugas kita semua secara bersama-sama sebagai umat Muslim yang peduli terhadap keluarga kita umat Islam di seluruh jagad raya agar tidak tertinggal dan dapat “duduk sama rendah berdiri sama tinggi” dengan umat lainnya di muka bumi ini. di muka dan di belakangnya. terakhir.Umat Islam diminta bergandengtangan menghilangkan semua cacat yang dapat merusak bangunan masyarakatnya.13/ ar-Ra‟d: 11) . yakni menuju kemakmuran di dunia dan kebahagiaan di akhirat. realitas yang ada di masyarakat Islam saat ini sangat jauh dari idealisme yang diajarkan Islam dalam memotivasi seseorang untuk menjadi berhasil dalam kehidupannya. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehinga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri………” (QS. Di samping itu. sebagaimana firman Allah SWT: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran. Faktor utama untuk kembali kepada ajaran motivasi Islam yang berorientasi kepada falah oriented. Namun. juga harus menyiapkan tenaga-tenaga ahli yang akan menangani pekerjaan tersebut. bahwa Allah SWT tidak akan mengubah nasib kita tanpa kita sendiri mengubah nasib kita. mereka menjaganya atas perintah Allah. adalah membangkitkan kembali semangat ukhuwah islamiyah di antara kita. dan oleh karena itu kita harus menjaga dan meningkatkan etos kerja kita agar kita tidak tertinggal oleh yang lain. Dan. Hal ini merupakan kewajiban kolektif umat Islam.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->