Etos Kerja dalam Islam Sesungguhnya dikotomi antara "kerja" dengan "belajar" tidak perlu terjadi.

Karena, apabila kita menghayati ikrar kita secara mendalam pada proposisi "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in" dalam surat Al-Fatihah, maka dunia kehidupan kaum Muslimin bernuansa ibadah yang sangat kental. Dalam firmanNya yang lain, Allah mengatakan, "Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah," (QS Adz-Dzariyat, 51 : 56). Sehingga, jelas-jelas tidak ada pemisahan antara yang sakral dengan yang profan, yang duniawi dengan yang ukhrawi. Ketika mengomentari ayat, "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad (perjanjian) itu" (QS Al-Ma'idah, 5 :1), Raghib Isfahani, sebagaimana dikutip Seyyed Hossein Nasr (1994) mengatakan bahwa perjanjian-perjanjian itu meliputi perjanjian-perjanjian antara Tuhan dan manusia, yakni kewajibankewajiban manusia kepada Tuhan; [perjanjian antara manusia dan dirinya sendiri; dan [perjanjian] antara individu dan sesamanya. Dengan demikian, perjanjian (uqud) yang dirujuk pada ayat tersebut berkisar antara pelaksanaan shalat sehari-hari sampai menjual barang dagangan di bazaar, dari sembah sujud hingga kerja mencari penghidupan. Berangkat dari pandangan dunia tradisional tersebut yang tidak mendikotomikan antara yang sakral dan yang profan, maka etos kerja kaum Muslim selayaknya memperhatikan kualitas pekerjaannya. Ini artinya, dalam bekerja karakteristik spiritual tetap terjaga dan terpelihara yakni pekerjaan itu dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Tanggung jawab terhadap kerja berarti kesiapan untuk bertanggung jawab di hadapan Yang Mutlak karena kerja adalah saksi bagi semua tindakan manusia. Dalam ushuluddin disebut-sebut perihal konsep ma'ad atau qiyamah yang bila diterjemahkan dalam keseharian akan sangat mendukung sekali terhadap profesionalisme dalam bekerja. Di sini konsep ma'ad atau qiyamah bukanlah suatu konsep di langit-langit Platonik melainkan sesuatu yang hidup, membumi. Penghayatan yang mendalam terhadap prinsip ma'ad akan berimplikasi positif dan konstruktif terhadap perkembangan kepribadian kaum Muslim. Setidaknya dengan menghayati prinsip tersebut, pemuda Muslim tidak mengenal istilah pengangguran. Konon, praktik shalat wajib di kalangan Syi'ah yang mencakup shalat fajr, shalat siang hari (Zhuhur dan 'Ashar), dan shalat malam hari (Maghrib dan 'Isya), merupakan refleksi etos kerja mereka yang begitu tinggi dan manifestasi produktivitas dalam berkarya. Artinya, bila kaum Syi'ah selesai melaksanakan shalat siang hari, maka setelah selesai shalat dan zikir, mereka akan kembali bekerja dengan semangat yang tetap terjaga. Bukan meneruskannya dengan aktivitas yang kurang produktif dan tidak bermanfaat. "Kerja berkaitan erat dengan doa dan hidayah bagi semua masyarakat tradisional dan kaitan ini dirasakan dan diaksentuasikan dalam Islam," tulis Nasr (1994). Dengan mengamati lafaz adzan Syi'ah, dengan formulasi hayya 'ala al-shalah, hayya 'ala al-falah, dan hayya 'ala khair al-'amal, Nasr menyimpulkan bahwa shalat dan kerja memiliki keterkaitan yang prinsipal. "Di sana hubungan antara shalat, kerja, dan amal saleh selalu ditekankan," lanjutnya. Perspektif Islam yang padu, menolak membedakan antara yang sakral dan yang profan, yang ukhrawi dan yang duniawi, yang religius dan yang sekular atau, secara lebih spesifik, antara shalat dan kerja. Implikasi praktisnya adalah bahwa sebagaimana kita mencoba khusyu dalam shalat, maka begitu pula dalam bekerja kita mencoba untuk meng-khusyu'-kan diri. Dalam bahasa bisnisnya, berusaha bersikap lebih profesional. Lebih jauh, sebagaimana ketakutan pada Tuhan dan tanggung jawab kepada-Nya dalam ekspresi shalat kita, maka demikian pula kita dalam pekerjaan kita. Karena, "Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu." [ ]

5 Prinsip Kerja Seorang Muslim (Etos Kerja dalam Islam)
Muhammad Hamzah

aktifitas. spiritual) Sementara al-amiin. memiliki kekuatan fisik dan mental (emosional. Seorang Muslim hendaknya berorientasi pada pencapaian hasil: hasanah fi addunyaa dan hasanah fi al-akhirah – QS. Kerja. 4. terus mencoba hingga berhasil. merujuk kepada integrity. Kita dapat meneladani ibunda Ismail a. (QS. dapat diandalkan. Kerja keras. Ciri pekerja keras adalah sikap pantang menyerah. intelektual. dapat memegang amanah. Juga berarti. AlQashash [28] : 26 ْ َ‫جزْ ث‬ ْ ُّ‫ىي‬ ْ َ‫قَان‬ َّ ِ‫جزْ يُ إ‬ َ ‫ن‬ ْ ‫ها‬ ْ‫خ‬ ْ ‫جا‬ }22/‫ميهُ {انقصص‬ َ ْ‫سخَأ‬ َ‫ي‬ ِ َ‫اْل‬ ِ َ‫ما يَا أَب‬ ِ ْ‫سخَأ‬ َ ‫ز‬ َ ُ‫ج إِحْ دَاه‬ ِ ‫م‬ ِ َ‫انق‬ Al-qawiyy merujuk kepada : reliability.s. QS. „amal dalam Islam adalah perwujudan rasa syukur kita kepada ni‟mat Allah SWT.1. Dua karakter utama yang hendaknya kita miliki: al-qawiyy dan al-amiin. Sehingga seorang pekerja keras tidak mengenal kata “gagal” (atau memandang kegagalan sebagai sebuah kesuksesan yang tertunda) . satunya kata dengan perbuatan alias jujur. Al-Baqarah [002] : 201) ْ‫د‬ ْ‫م‬ َ‫ع‬ ُّ ‫ربَّىَا آحِىَا فِي ان‬ }201/‫ار {انبقزة‬ ُ ‫مه يَقُى‬ َ ‫وقِىَا‬ َ ‫ذ‬ َ ‫ح‬ َ ‫ة‬ َ‫خ‬ َ ‫ح‬ َ ‫ويَا‬ َ ‫ل‬ َّ ‫ىهُم‬ ِ‫ز‬ ِ ‫وفِي اآل‬ ِ‫و‬ َ ً‫سىَت‬ َ ً‫سىَت‬ ِ ِ َّ‫اب انى‬ 3. Saba‟ [34] : 13) ْ‫ش‬ ُ‫ش‬ َّ ‫ي ان‬ ُ ‫د‬ ْ‫م‬ ْ ‫ا‬ ٌ ‫وقَهِي‬ }13/‫ر {سبأ‬ ُ ‫كى‬ َ ‫وو‬ ُ ‫ل دَا‬ َ ‫د‬ َ ‫مهُىا آ‬ ِ ‫عبَا‬ ِ ‫ه‬ ِّ ‫م‬ َ ‫كزً ا‬ َ‫ع‬ 2.

seorang Muslim senantiasa menunjukkan kesungguhan “Tidaklah seorang di antara kamu makan suatu makanan lebih baik daripada memakan dari hasil keringatnya sendiri”. etos kerja (himmatul „amal) merupakan bagian yang amat penting dan mendasar. maka etos kerja seorang Muslim bersumber dari visinya: meraih hasanah fid dunya dan hasanah fi al-akhirah. Baihaqi] Seseorang dikatakan profesional jika ia memiliki keahlian dan sungguh-sungguh dalam menyelesaikan pekerjaannya. “Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya keterampilan kedua tangannya pada siang harinya. Jika etos kerja dimaknai dengan semangat kerja. Ad-Dailami] Begitu besarnya penghargaan Islam terhadap kesungguhan bekerja ini. maka pada malam itu ia diampuni. Tetapi inilah kemurahan dan bentuk penghargaan serta perhatian Nya . memanfaatkan segenap sumberdaya yang ada. Coba perhatikan hadits berikut ini : “Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hamba-Nya bersusah payah (kelelahan) dalam mencari rezeki yang halal. kita akan sepakat mengatakan itulah profesional sejati. maka dalam bekerja. Cirinya: memiliki pengetahuan dan keterampilan. hingga Islam (Allah swt) menempatkannya dalam kategori ibadah.s. [HR. sikap. sekumpulan karakter. Semakin baik dan sempurna hasil pekerjaan yang dilakukannya. Ahmad] “Sesungguhnya. di antara perbuatan dosa ada dosa yang tidak bisa terhapus (ditebus) oleh pahala shalat. terencana. Dalam Islam.” [HR. Etos kerja inilah yang membuat seseorang mampu bekerja dengan baik dan optimal. Disamping itu. Artinya. bahwa bekerja dengan sungguh-sungguh dapat menghapuskan dosa yang tidak bisa dihapus oleh aktivitas ibadah ritual sekalipun. ciri dari seorang profesional adalah adanya etos kerja yang tinggi dan selalu bersemangat dalam bekerja. mentalitas kerja. Seperti yang tergambar dalam kisah Nabi Sulaeman a. Dimana Islam mendorong setiap manusia untuk selalu bekerja keras serta bersungguh-sungguh mencurahkan tenaga dan kemampuannya dalam bekerja. Bahkan dalam beberapa hadits dikatakan.” [HR. aktivitas kerja dalam pandangan Allah (Islam) merupakan bagian dari ibadah yang akan mendapatkan bukan saja keuntungan material. tetapi juga pahala dari sisi Allah swt. namun hanya dapatditebus dengan kesusahan dalam mencari nafkah penghidupan. sedekah (zakat). Kerja dengan cerdas. Tabrani] Tentu sebagai muslim kita tidak akan berpikir ini hanyalah basa-basi Allah kepada hamba-Nya agar semangat bekerja. Jika etos kerja difahami sebagai etika kerja.” [HR.5. ataupun haji.

Dalam Kitab Shahih Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda. pertama. semua itu tidak mesti menjadi kendala dalam bekerja atau mencari rezeki. Tidak pantas pula mengharap sedekah dari orang lain padahal ia memiliki kemampuan bekerja untuk menghidupi dirinya. “Seseorang yang meraih tali lalu datang dengan seikat kayu bakar di pundaknya kemudian menjualnya. Sekarang ini. tidak adanya lahan pekerjaan. mulai dari keterbatasan lowongan pekerjaan. Nabi Muhammad Saw adalah seorang penggembala dan pedagang yang terkenal dengan sifat amanah dan kejujurannya. Seorang Muslim tidak pantas bermalas-malasan dalam mencari rezeki walaupun itu dengan alasan sibuk beribadah atau tawakal kepada Allah Swt. Ada banyak tantangan masalah yang harus dihadapi. lewatlah seorang lelaki dengan penuh . silakan lakukan. Dalam kitab Sunan Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda. seperti: Nabi Daud yang bekerja sebagai pembuat baju besi sebagai tameng dalam peperangan. Kerendahan dan kehinaan bagi orang yang meminta-minta kepada orang lain.” Hadis tersebut menunjukkan bahwa.” Kedua. Etos kerja seorang Muslim dapat dilihat dari hadis riwayat Thabrani yang menyebutkan bahwa tatkala Rasulullah Saw duduk bersama para sahabatnya.atas kesungguhan manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. mencari pekerjaan atau membuat peluang pekerjaan tidaklah mudah. siapa yang ingin menguranginya. “Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain untuk memperbanyak harta (memperkaya dirinya).” Dalam riwayat Mutafaq alaih juga disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda. atau orang-orang yang menjadi tanggungannya. “Tidak halal sedekah kepada orang kaya dan orang yang memiliki kemampuan yang stabil. “Orang yang meminta sesuatu bukan kebutuhannya. maka pada hari kiamat harta tersebut akan mencakar wajahnya dan menjadi batu panas dari neraka jahannam untuk dimakannya. sehingga Allah menutupi wajahnya (memuliakannya). “Tidaklah orang yang selalu meminta-minta itu kecuali ia akan menemui Allah dengan wajah tanpa daging. ini tercantum dalam surah Yusuf ayat 55. Semangat bekerja juga dapat kita lihat dari para nabi. Seorang Muslim tidak pantas meminta-minta kepada orang lain. Bahkan. seorang Muslim adalah seorang pekerja. atau modal dalam bekerja. yang dalam paham meterialis dan sekuler tidak akan pernah di temui. memenuhi kebutuhan keluarganya. Begitu pula dengan Nabi Yusuf yang bekerja menjadi bendahara kerajaan Fir‟aun. Dalam Islam.” Maka. Itulah hal mendasar yang membedakan konsep etos kerja dalam Islam dengan etos kerja dalam paham sekuler. keahlian pekerjaan. bagaikan orang yang memungut bara api. silakan lakukan. Namun. Itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang-orang.” Adapun dalam riwayat Sunan Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda. Dalam riwayat Baihaqi disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda. dan yang ingin memperbanyaknya. ini tercantum dalam surah Al-Anbiya ayat 80. di mana mereka itu adakalanya memberi dan tidak. seorang Muslim harus bekerja apa saja asalkan halal. Maka. Allah akan memuliakan orang yang bekerja.

dapat dldellnlslkan sebagai aktivitas karena adanya dorongan untuk mewujudkan sesuatu sehingga tumbuh rasa tanggung Jawab yang besar untuk menghasilkan karya atau produk yang berkualitas. sifat lemah dan berlindung dari Allah. Dalam Islam etika/ etos dianggap sebagai akhlak (budi pekerti. perangai. Banyak tuntunan dalam Al-Quran dan Hadits tentang bekerja. maka dia berada di jalan Allah. pangan dan papan yang merupakan kebutuhan bagi setiap manusia dan muaranya adalah Ibadah. sikap. Sikap ini tidak hanya dimiliki oleh Individu.semangat. lalu dlberikanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. atau tabiat seseorang) yakni tingkah laku atau perlakuan manusia ke arah kebaikan dan kemanfaatan hidup. kesusilaan. Jika dia keluar untuk kedua orangtuanya yang sudah tua renta. "Janganlah seorang dari kamu duduk dan malas mencari rizki kemudian Ia mengetahui langit tidak akan menghujankan mas dan perak.” Mendengar perkataan sahabat tersebut. Dalam QS At Taubah 105 disebutkan bahwa Dan katakanlah bekerjalah kamu. intelektual atau fisik maupun hal-hal yang berkaitan dengan masalah keduniaan dan keakhlr-atan. . marilah kita bekerja dengan sungguh-sungguh. serta berusaha menggapai pintu-pintu rezeki yang telah disediakan oleh Allah Swt berdasarkan ketentuan dan syariat-Nya. Para sahabat kemudian berkata.Dalam Islam pengertian kerja dapat dibagi dalam dua bagian. Rasulullah SAW pun senantiasa berdoa kepada Allah agar dijauhi sifat malas. Dan jika dia keluar untuk pamer dan gagah-gagahan maka dia di jalan setan. “Jika dia keluar untuk (keperluan) anaknya yang masih kecil." Dengan kata lain Islam sangat membenci pada orang yang malas dan bergantung pada orang lain. Sikap ini diperlihatkan Umar bin Khattab ketika mendapati seorang sahabat yang selalu berdoa dan tidak mau bekerja. Rasulullah Saw mengomentarinya dengan bersabda. tetapi Juga oleh kelompok bahkan masyarakat yang dibentuk oleh berbagai kebiasaan. Kerja. maka dia berada di jalan Allah. kepribadian. “Alangkah baik jika semangatnya itu dimanfaatkan di jalan Allah. Maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihal pekerjaanmu Itu. Pertama. Etika Kerja Menurut Islam ETIKA berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu ethos yang berarti watak. kerja dalam arti sempit ialah kerja untuk memenuhi tuntutan hidup manusia berupa sandang. pengaruh budaya. Kedua. adat serta keyakinan dalam melakukan sesuatu. serta sistem nilai yang diyakininya. kerja dalam arti umum yaitu semua bentuk usaha yang dilakukan manusia baik da lam hal materi atau non materi. penakut dan sangat tua dan saya berlindung ke-pada-Mu dari siksa kubur dan dari ujianhidup dan mali (HR Abu Daud). Jika dia keluar (bekerja) karena ingin menjaga kesucian dirinya (dari meminta-minta). maka dia juga berada di jalan Allah. tingkah laku. dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata.” Dengan demikian.

Primer (dharwy).Jahat). Hadis tersebut memiliki makna "barangslapa yang hari Ini lebih baik daii hari kemarin maka sesung-gulmya dia telah berwxlung. Cina (31). memberitakan bahwa pada tahun 2005. Al-Quran secara tegas menyebutkan ketiga macam kebutuhan primer Itu mengingatkan manusia pertama Nabi Adam dan Siti Hawa pada saat menginjakkan kakinya di bumi. pangan dan papan selain juga untuk membiayai pemeliharaan kesehatan. Malaysia (28). dan Filipina (49).Yang dimaksud bersusah payah adalah bekerja untuk . Mengapa? Karena Islam mengajaran agar umatnya memiliki etos kerja yang sangat kuat dengan senantiasa menclptaan produktivitas dan progrcslfitas di berbagai bidang dalam kehidupan ini. sekunder (hajlyal). Allah mengingatkan mereka berdua dalam QS Thaha 117-119. Hal ini diduga kuat bahwa semuanya itu karena mutu sumberdaya manusia Indonesia yang tidak mampu bersaing. dan Islam mengarahkan setiap orang untuk berbuat atau melakukan amal (kerja) yang berkualitas (shalih). maka sesungguhnya Ia ter-laknat. namun secara umum dapat dibagi dalam Uga jenis sesuai dengan tingkat kepentingannya. Sementara itu negara-negara Asta lainnya berada di atas Indonesia seperti Singapura (peringkat 1). Juga mungkin kaerna faktor budaya kerja yang juga masih lemah dan tidak merata. "kata amal mengandung pengertian segala apa yang diperbuat atau dikerjakan seseorang. Urutan peringkat tersebut berkaitan juga dengan kinerja pada dimensi lainnya yakni pada Economic Performance pada tahun 2005 berada pada urutan buncit yakni ke 60.Dalam pandangan Islam.InstituteJbrManagemenl o/DeueloplneiU. Atau semakin turun ketimbang tahun 2001 yang mencapai urutan 46. seharusnya kaum muslim khususnya di Indonesia memiliki etos kerja tinggi. Kebutuhan bermacam-macam dan bertlngkat-tingkat. Sesung-gulviya engkau tidak akan dalmga. Oleh sebab Itu setiap kerja adalah amal.Secara normatif. Ada sebuah hadits Nabi yang sangat mendorong umat Islam untuk menjadi produsen dari kemajuan. sesungguhnya ftii (iblis) adalalx musuh bagimu dan bagi Istrimu. tidak pula disengat panas matahari di sana (surga). Dari sini Juga dapat dlfahaml bahwa kata "sha-lih" adalah predikat dari amal atau kualitas kerja (kerja. maka sesungguhnya Ia telah merugi Dan barangsiapa yang hari Int lebih buruk dari hari kemarin. apakah Itu khairon atau shallhan (baik) maupun syarron atausuan (buruk. Dengan itu." Menurut Prof Dr KH All Yafie. Hal Adam. barangslapa yang hari ini sama dengan hari kemarin. World Competitiveness Book (2007). Korea (29). Thailand (27). Business Efficiency (59). dan Gouernment Efficiency (55). usaha yang berkualitas). Tujuan Umum Bekerja Ada beberapa tujuan orang bekerja antara lain untuk mendapatkan nafkah. peringkat produktivitas kerja Indonesia yang sebagian besar umat Islam berada pada posisi 59 dari 60 negara yang disurvei. orang berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup sandang. (al-Hadits) Istilah yang dipakai dalam Al-Quran dan hadits untuk bekerja adalah "amal. maka sekali-kali Janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga karena (jika demikian) engkau akan bersusalx payah. dan tertier(kamaHyat). Maka Kami berkata. kebutuhan bisa diartikan sebagai hasrat manusia yang perlu dipenuhi atau dipuaskan. Swiss.

Pada 1997. Pandangan Islam terhadap pekerjaan amatlah positif. Etos bangsa Jerman yang diformulasikan Weber antara lain bertindak rasional. hemat dan bersahaja menabung serta berinvestasi. otomotif."Dalam ayat tersebut dapat kita pahamibahwa terdapat relasi antara Iman sebagai sistem nilai serta ide dengan amal shaleh yang merupakan realisasinya. gaya hidup. Pada permulaan 1960-an data-data ekonomi Korea Selatan dan Ghana nyaris sama. misalnya etos kerja Jepang yang berbasis pada agama Tokugawa -namun intisari teori Weber yaitu bahwa etos kerja adalah kunci dan fondasi keberhasilan suatu masyarakat atau bangsa dapat diterima secara aklamasi. Manusia diperintahkan Allah untuk mencari rezki bukan hanya untuk mencukupi kebutuhannya tetapi Al-Quran memerintahkan untuk mencari apa yang diistilahkan fadhl Allah. Samuel Huntington dalam buku "Culture Matters (Huntington and Harrison. Kondisi kedua negara berbeda bagai bumi dan langit. Mengapa hal yang aneh ini bisa terjadi? Huntington menyebutkan satu-satunya alasan perbedaan bur daya. menabung dan mengutamakan pendidikan. eksportir. merumuskan hubungan rasional antara etos kerja dan kesuksesan suatu masyarakat dalam buku klasik "The Proiteslarrt Ethnic and The Spirit of Capitalism (Weber. termasuk cara hidup. berdisiplin tinggi. disiplin.padahal kenyataannya tidaklah demikian. Korea Selatan berkembang menjadi raksasa industri. kebiasaan. 1958). berorientasi sukses material. termasuk 14 negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia. (Bersambung) Ringkasan Artikel Ini Pertama. bekerja keras.memenuhi kebutuhan mereka yang ada di dunia. Meskipun sejumlah kritik dialamatkan kepada Weber karena kesan kuat yang menyatakan bahwa etos kerja Protestant lebih unggul dibandingkan dengan etos berbasis agama lain . GNP kedua negara relatif tidak berbeda dan tingkat kesejahteraan rakyatnya Juga hampir sama." Salah satu ayat yang menunjuk masalah Ini adalah QS Al Jumuah 10 "Apabila kamu telah selesai shalat (Jumat) maka bertebaranlah d( bumi dan carilah fadhl (kelebihan rezki) Allal\ ba nyakbanyaklali mengingat Allalx supaya kamu beruntung. Kata Weber. Etos yang tumbuh di Korea Selatan adalah kerja keras. produk-produk manufaktur lainnya. dan nilai1 nilainya. Budaya dalam artian perilaku khas suatu kelompok sosial. kerja dalam arti sempit ialah kerja untuk memenuhi tuntutan hidup manusia berupa sandang. Kedua. etos inilah pangkal kemajuan masyarakat Protestand di Eropa dan Amerika. memiliki banyak perusahaan multinasional. yang secara harfiah berarti "kelebihan yang bersumbr dari Allah. intelektual atau fisik maupun hal-hal yang berkaitan dengan masalah keduniaan dan keakhlr-atan. Etos Kerja Menurut Pemikir Barat Pada 1905 sosiolog Jerman Max Weber. pangan dan papan yang . Sedangkan Ghana tetap di tempat sebagai negara miskin. kerja dalam arti umum yaitu semua bentuk usaha yang dilakukan manusia baik da lam hal materi atau non materi. 2000) menuturkan sepenggal kisah ironis. Ketiga jenis kebu -tuhan di atas mengantarkan manusia untuk berikhtiar dan bekerja. Dengan kata lain perbedaan etos. berhemat. Tetapi 30 tahun kemudian keadaan tersebut berubah drastis. elektronik. tidak mengumbar kesenangan.

padahal kenyataannya tidaklah demikian. Dalam pengertian lain."Dalam ayat tersebut dapat kita pahamibahwa terdapat relasi antara Iman sebagai sistem nilai serta ide dengan amal shaleh yang merupakan realisasinya. tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat . yang secara harfiah berarti "kelebihan yang bersumbr dari Allah. Akhlak atau etos dalam terminologi Prof. Dr." Salah satu ayat yang menunjuk masalah Ini adalah QS Al Jumuah 10 "Apabila kamu telah selesai shalat (Jumat) maka bertebaranlah d( bumi dan carilah fadhl (kelebihan rezki) Allal\ ba nyakbanyaklali mengingat Allalx supaya kamu beruntung. suatu tatanan aturan perilaku. 1. Etos Kerja. Menurut K. Digunakan dalam tiga pengertian yang berbeda yaitu: b. Secara terminologis kata etos. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu. A. kepribadian. Etos kerja adalah refleksi dari sikap hidup yang mendasar maka etos kerja pada dasarnya juga merupakan cerminan dari pandangan hidup yang berorientasi pada nilai-nilai yang berdimensi transenden. dan kamu akan dikembalikan kepada (Allali) yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata. Penyelidikan tentang jalan hidup dan seperangkat aturan tingkah laku . yang mengalami perubahan makna yang meluas. penakut dan sangat tua dan saya berlindung ke-pada-Mu dari siksa kubur dan dari ujianhidup dan mali (HR Abu Daud). etos adalah sikap yang tetap dan mendasar yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dalam pola hubungan antara manusia dengan dirinya dan diluar dirinya . etos dapat diartikan sebagai thumuhat yang berkehendak atau berkemauan yang disertai semangat yang tinggi dalam rangka mencapai cita-cita yang positif.merupakan kebutuhan bagi setiap manusia dan muaranya adalah Ibadah. karakter. misalnya etos kerja Jepang yang berbasis pada agama Tokugawa -namun intisari teori Weber yaitu bahwa etos kerja adalah kunci dan fondasi keberhasilan suatu masyarakat atau bangsa dapat diterima secara aklamasi. Manusia diperintahkan Allah untuk mencari rezki bukan hanya untuk mencukupi kebutuhannya tetapi Al-Quran memerintahkan untuk mencari apa yang diistilahkan fadhl Allah. Etos berasal dari bahasa Yunani (etos) yang memberikan arti sikap. Pengertian Etos kerja . watak. lalu dlberiiakanNua kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. Meskipun sejumlah kritik dialamatkan kepada Weber karena kesan kuat yang menyatakan bahwa etos kerja Protestant lebih unggul dibandingkan dengan etos berbasis agama lain . Kesimpulannya. Dalam kamus besar bahasa Indonesia etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau sesesuatu kelompok. d. Toto Tasmara etos kerja adalah totalitas kepribadian dirinya serta caranya . Dari keterangan diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa kata etos berarti watak atau karakter seorang individu atau kelompok manusia yang berupa kehendak atau kemauan yang disertai dengan semangat yang tinggi guna mewujudkan sesuatu keinginan atau cita-cita.H. Ahmad Amin adalah membiasakan kehendak. suatu aturan umum atau cara hidup c. sifat lemah dan berlindung dari Allah. serta keyakinan atas sesuatu." Rasulullah SAW pun senantiasa berdoa kepada Allah agar dijauhi sifat malas.

Fungsi dan Tujuan Etos Kerja Secara umum.S Purwadaminta. kekal untuk lebih dari kehidupan dunia. mengenai keduniaan maupun akhirat. wanita. meyakini dan memberikan makna ada sesuatu. kedudukan. Yang kenyataannya keadaan-keadaan lahiriah tersebut tidak pernah memuaskan jiwa manusia. manusia harus mempunyai bekal di dunia dan di manapun manusia menginginkan kebahagiaan. Kerja memiliki arti luas dan sempit dalam arti luas kerja mencakup semua bentuk usaha yang dilakukan manusia.J. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. c. kebahagian hidup di akhirat adalah kebahagiaan sejati.S. 2. pengetahuan dan lain-lain. fungsi etos kerja adalah: a. perhiasan lading yang dapat membuat lalai terhadap kehidupan di akhirat. Al-Qashash: 77) Pandangan Islam mengenai etos kerja. (Q.mengekspresikan. Manusia sebelum mencapai akhirat harus melewati dunia sebagai tempat hidup manusia untuk sebagai tempat untuk mancari kebahagiaan di akhirat. Ahli-ahli Tasawuf mengatakan: Untuk mencapai kebahagiaan di akhirat. dan jika tujuannya rendah (seperti misalnya hanya bertujuan memperoleh simpati sesama . jabatan. etos kerja berfungsi sebagai alat penggerak tetap perbuatan dan kegiatan individu. Menurut A. kerja berkonotasi ekonomi yang persetujuan mendapatkan materi. ada yang mengukur banyaknya harta. kerja berarti melakukan sesuatu. Dengan etos kerja tersebut jaminan keberlangsungan usaha berdagang akan terus berjalan mengikuti waktu. sesuatu yang dilakukan . memandang. Kerja merupakan perbuatan melakukan pekerjaan atau menurut kamus W. Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat. Tabrani Rusyan. Pendorang timbulnya perbuatan. bahkan justru dapat menyengsarakannya. Nilai kerja dalam Islam dapat diketahui dari tujuan hidup manusia yang kebahagiaan hidup di dunia untuk akhirat. dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Penggairah dalam aktivitas. baik dalam hal materi maupun non materi baik bersifat intelektual maupun fisik. Sedangkan dalam arti sempit. seperti mesin bagi mobil besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat lambatnya suatu perbuatan . Jadi pengertian etos adalah karakter seseorang atau kelompok manusia yang berupa kehendak atau kemauan dalam bekerja yang disertai semangat yang tinggi untuk mewujudkan cita-cita. sementara kehidupan di dunia dinyatakan sebagai permainan. Jadi dianjurkan di dunia tapi tidak melupakan kehidupan akhirat. dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. adanya keyakinan bahwa dengan berusaha secara maksimal hasil yang akan didapat tentunya maksimal pula. di mulai dari usaha mengangkap sedalam-dalamnya sabda nabi yang mengatakan bahwa niali setiap bentuk kerja itu tergantung pada niat-niat yang dipunyai pelakunya. b. Manusia berbeda-beda dalam mengukur kebahagiaan. Dengan demikian adanya etos kerja pada diri seseorang pedagang akan lahir semangat untuk menjalankan sebuah usaha dengan sungguh-sungguh. jika tujuannya tinggi (mencari keridhaan Allah) maka ia pun akan mendapatkan nilai kerja yang tinggi. . yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal (high Performance) . Penggerak.

atau etos yang tinggi. kerja keras dan memiliki cita-cita yang tinggi Menurut Al-Ghazali dalam bukunya “Ihya-u “ulumuddin” yang dikutip Ali Sumanto Al-Khindi dalam bukunya Bekerja Sebagai Ibadah. dan waktu adalah bertentangan dengan nilai Islam. Menurut Dr. untuk meningkatkan keimanan. sebab itulah dinamakan jihad fisabilillah . Adapun etos kerja yang islami tersebut adalah: niat ikhlas karena Allah semata. dapat dilihat dari sikap dan tingkah lakunya. Akan tetapi dengan bekerja saja tidak cukup. lebih-lebih keadaan di masa lalu. karena pekerjaan yang ditekuni bernilai ibadah. motivasi dan niat. Dengan demikian etos kerja Islami adalah akhlak dalam bekerja sesuai dengan nilai-nilai islam sehingga dalam melaksanakannya tidak perlu lagi dipikir-pikir karena jiwanya sudah meyakini sebagai sesuatu yang baik dan benar. Ciri-ciri orang yang memiliki semangat kerja. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak membutuhkan pemikiran. 2. Musa Asy’arie etos kerja islami adalah rajutan nilai-nilai khalifah dan abd yang membentuk kepribadian muslim dalam bekerja. Nilai-nilai khalifah adalah bermuatan kreatif. Islam mengajarkan agar setiap detik dari waktu harus di isi dengan 3 (tiga) hal yaitu. . terutama yang beragama islam. Artinya: Demi masa. beramal sholeh (membangun) dan membina komunikasi sosial. Oleh karena itu seleksi memililih pekerjaan menumbuhkan etos kerja yang islami menjadi suatu keharusan bagi semua pekerjaan. Orientasi kemasa depan.manusia belaka) maka setingkat pula nilai kerjanya . termasuk didalamnya menghidupi ekonomi keluarga. pemborosan tenaga. Al-Ashr: 1-3) . (Q. diantaranya: 1. firman Allah: . taat dan patuh pada hukum agama dan masyarakat Toto Tasmara mengatakan bahwa semangat kerja dalam Islam kaitannya dengan niat semata-mata bahwa bekerja merupakan kewajiban agama dalam rangka menggapai ridha Allah. . inovatif.S. Kerja santai. perlu adanya peningkatan. dengan uang tersebut seseorang dapat membelanjakan segala kebutuhan sehari-hari hingga akhirnya ia dapat bertahan hidup. Hasil yang diperoleh dari pekerjaannya juga dapat digunakan untuk kepentingan ibadah. setiap manusia dituntut untuk bekerja guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Artinya semua kegiatan harus di rencanakan dan di perhitungkan untuk menciptakan masa depan yang maju. dan lebih bahagia daripada keadaan sekarang. produktif. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. tanpa rencana. Etos kerja Islami Dalam kehidupan pada saat sekarang. Kerja keras dan teliti serta menghargai waktu. malas. lebih sejahtera. berdasarkan pengetahuan konseptual. harus dapat menumbuhkan etos kerja secara Islami. menjelaskan pengertian etos (khuluk) adalah suatu sifat yang tetap pada jiwa. 3. Dengan bekerja seseorang akan menghasilkan uang. Setiap pekerja. sedangkan nilai-nilai ‘abd bermatan moral. Untuk itu hendaklah manusia selalu menghitung dirinya untuk mempersiapkan hari esok.

Hemat dan sederhana. Semua masalah diperbuat dan dipikirkan. Artinya: Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Seseorang yang memiliki etos kerja yang tinggi. (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid.(Q. menghitung asset atau kemampuan diri karena dia lebih baik mengetahui dan mengakui kelemahan sebagai persiapan untuk bangkit. . Dari pada ia bertarung tanpa mengetahui potensi diri. Maka berlombalombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. AlBaqarah: 148) Sebagai orang yang ingin menjadi winner dalam setiap pertandingan exercise atau latihan untuk menjaga seluruh kondisinya. harus dihadapi dengan tanggung jawab. Setiap orang atau kelompok pasti ingin maju dan berkembang namun kemajuan itu harus di capai secara wajar tanpa merugikan orang lain. Karena hal itu sama dengan orang yang bertindak nekat. Dia menjauhkan sikap boros. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. 5. Al-Isra’: 7) 4. Terukir sebuah motto dalam dirinya: “The best fortune that can come to a man. dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua.S. tidak berwatak mencari perlindungan ke atas. Allah berfirman: .S. (Q. . baik kebahagiaan maupun kegagalan. Bertanggung jawab.3. Artinya: Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. is that he corrects his defects and makes up his failings” (Keberuntungan yang baik akan datang kepada seseorang ketka dia dapat mengoreksi kekurangannya dan bangkit dari kegagalannya . karena boros adalah sikapnya setan. dan melemparkan kesalahan di bawah. Adanya iklim kompetisi atau bersaing secara jujur dan sehat. laksana seorang pelari marathon lintas alam yang harus berlari jauh maka akan tampak dari cara hidupnya yang sangat efesien dalam mengelola setiap hasil yang diperolehnya. sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.

Kerja atau berusaha merupakan senjata utama untuk memerangi kemiskinan dan juga merupakan faktor utama untuk memperoleh penghasilan dan unsur penting untuk memakmurkan bumi dengan manusia sebagai kalifah seizin Allah. Banyak ajaran Islam yang secara idealis memotivasi seseorang. Kata “bekerja” dalam ayat di atas mengandung arti sebagai suatu usaha yang dilakukan seseorang. namun tidak akan diperoleh kecuali dengan bekerja atau berusaha. Rasulullah SAW bersabda: “Pedagang yang lurus dan jujur kelak akan tinggal bersama para nabi. Ajaran “tawakkal” yang seringkali diartikan sebagai sikap pasrah tidaklah berarti meninggalkan kerja dan usaha yang merupakan sarana untuk memperoleh rezeki. setiap orang dituntut untuk bekerja atau berusaha. bagi setiap orang harus tersedia tingkat kehidupan yang sesuai dengan kondisinya. menyebar di muka bumi. Allah telah menjamin rezeki dalam kehidupan seseorang. untuk memproduksi suatu komoditi atau memberikan jasa. “Apabila telah ditunaikan Shalat. atau membina rumah tangga dengan bekal yang cukup. al-Mulk:15) Islam menghendaki setiap individu hidup di tengah masyarakat secara layak sebagai manusia. Islam mengajarkan.” (HR Tirmidzi). Nabi Muhammad SAW. Bukhari) . seperti salah satu haditsnya yang berbunyi. dalam sejumlah hadits.” (QS. siddiqin. seringkali menjadi kontra produktif dalam pengamalannya. antara lain pada Surah AlJumu‟ah ayat 10. paling kurang ia dapat memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang dan pangan. Dan pada hadits yang lain Rasulullah SAW menyatakan bahwa: “Makanan yang paling baik dimakan oleh seseorang adalah hasil usaha tangannya sendiri. “Jika kalian tawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal. dinyatakan. Dalam beberapa ayat di Al Qur‟an. maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. menyingkirkan semua faktor penghalang yang menghambat seseorang untuk bekerja dan berusaha di muka bumi. bukan semata-mata hanya dengan berdoa. bahkan harus meninggalkan tempat tinggal pada pagi hari untuk mencari nafkah. sangat menghargai “kerja”. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” Hadits di atas sebenarnya menganjurkan orang untuk bekerja. Ajaran Islam. baik sendiri atau bersama orang lain. dan syuhada.” (H.” Hal ini menunjukkan bahwa Islam menghendaki adanya etos kerja yang tinggi bagi umatnya dalam memenuhi keinginannya. Bahkan untuk memotivasi kegiatan perdagangan (bisnis). bukan sebaliknya pasrah berdiam diri di tempat tinggal menunggu tersedianya kebutuhan hidup. Mereka bekerja dan berusaha sesuai dengan kemampuan dan keahliannya masing-masing. sehingga ia mampu melaksanakan berbagai kewajiban yang dibebankan Allah serta berbagai tugas lainnya. maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.“Dialah Yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu. Allah akan memberi kalian rezeki seperti Dia memberi rezeki kepada burung yang terbang tinggi dari sarangnya pada pagi hari dengan perut kosong dan pulang di sore hari dengan perut kenyang. dan memanfaatkan rezeki pemberian Allah SWT.R. Artinya. Hal ini dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah SAW yang berdagang lewat jalan darat dan laut dengan gigih dan ulet. Untuk mewujudkan hal itu. memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahliannya.

. Masyarakat Islam. Islam membimbing seseorang agar melakukan pekerjaan sesuai dengan kepribadian. betapa pun kecilnya. Islam melarang seseorang mengemis sedangkan ia mempunyai sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk membuka peluang kerja yang akan mencukupi kebutuhannya. bahwa mengemis kepada orang lain adalah tindakan zalim terhadap Rabbul‟alamin. dan rela menundukkan kepala kepada sesama makhluk. menghinakan diri. diminta untuk mengerahkan segenap potensinya untuk menghilangkan kemiskinan. Islam mengajarkan.” (QS.. Islam menuntun setiap orang untuk mendayagunakan semua potensi dan mengarahkan segala dayanya. Sedangkan berlaku zalim terhadap diri sendiri artinya seorang pengemis menghina diri sendiri. ketawakkalan. Ia menjual kesabaran. Islam. dan hak pengemis itu sendiri. menghamba bukan kepada Sang Pencipta. dan menentang keras untuk meminta-minta (mengemis) kepada orang lain. serta tidak membiarkan si lemah terombang-ambing tanpa pegangan. sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Qayyim. Mereka harus memanfaatkan semua kekayaan. orang itu akan merasa malu. sesungguhnya dia mengemis bara api.” (H. Muslim). kemampuan. dan kondisi lingkungannya. Jika orang itu terpaksa memnuhi permintaanya. niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak…. Tindakan zalim terhadap hak Rabbul‟alamin artinya meminta.R. an-Nisa‟:100) Ajaran Islam. merendahkan martabat diri. ada kemungkinan disertai dengan rasa dongkol. dan tunduk kepada selain Allah. memberikan peringatan keras kepada yang meminta-minta (mengemis). . mempersembahkan sesuatu bukan kepada yang berhak. tetapi orang tersebut harus didorong agar mau bekerja dan mencari rezeki yang halal sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang berbunyi.Islam juga mengajarkan bahwa apabila peluang kerja atau berusaha di tempat tinggal asal (kampung halaman) tertutup. bahwa semua usaha yang dapat mendatangkan rezeki yang halal adalah sesuatu yang mulia. Namun bila tidak memberi. dan berlaku zalim terhadap tauhid dan keikhlasan. ia menghadapkan orang yang diminta kepada pilihan sulit antara memuhi permintaannya atau menolaknya. Berlaku zalim terhadap tempat meminta artinya menzalimi orang yang diminta sebab dengan mengajukan permintaan. maka orang-orang yang mengalami hal tersebut dianjurkan merantau (hijrah) untuk memperbaiki kondisi kehidupannya karena bumi Allah luas dan rezekiNya tidak terbatas di suatu tempat. Oleh karena itu. dan melalaikan tindakan mencegah diri dari mengemis kepada orang lain. Ia meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. sangat memotivasi seseorang untuk bekerja atau berusaha. walaupun rezeki itu diperoleh dengan susah payah daripada mengemis dan meminta-minta kepada orang lain. berharap. Islam tidak membolehkan kaum penganggur dan pemalas menerima shadaqah. hak tempat meminta. “Bila seseorang meminta-minta harta kepada orang lain untuk mengumpulkannya. baik penguasa maupun rakyat. sumber daya manusia maupun sumber daya alam sehingga akan meningkatkan produksi serta berkembangnya berbagai sumber kekayaan secara umum yang akan berdampak dalam pengentasan umat dari kemiskinan. Sebaiknya ia mengumpulkan harta sendiri. sebagaimana Firman Allah SWT: “Barang siapa berhijrah di jalan Allah.

mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehinga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri………” (QS. dan oleh karena itu kita harus menjaga dan meningkatkan etos kerja kita agar kita tidak tertinggal oleh yang lain. perlu kita sadari. Di samping itu.13/ ar-Ra‟d: 11) . bahwa Allah SWT tidak akan mengubah nasib kita tanpa kita sendiri mengubah nasib kita. realitas yang ada di masyarakat Islam saat ini sangat jauh dari idealisme yang diajarkan Islam dalam memotivasi seseorang untuk menjadi berhasil dalam kehidupannya. terakhir. Hal ini merupakan kewajiban kolektif umat Islam. Namun. juga harus menyiapkan tenaga-tenaga ahli yang akan menangani pekerjaan tersebut. Faktor utama untuk kembali kepada ajaran motivasi Islam yang berorientasi kepada falah oriented. Dan. adalah membangkitkan kembali semangat ukhuwah islamiyah di antara kita. yakni menuju kemakmuran di dunia dan kebahagiaan di akhirat. di muka dan di belakangnya. sebagaimana firman Allah SWT: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran.Umat Islam diminta bergandengtangan menghilangkan semua cacat yang dapat merusak bangunan masyarakatnya. Hal ini merupakan tugas kita semua secara bersama-sama sebagai umat Muslim yang peduli terhadap keluarga kita umat Islam di seluruh jagad raya agar tidak tertinggal dan dapat “duduk sama rendah berdiri sama tinggi” dengan umat lainnya di muka bumi ini. Masyarakat Islam dituntut menciptakan lapangan kerja dan membuka pintu untuk berusaha (berbisnis).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful