Etos Kerja dalam Islam Sesungguhnya dikotomi antara "kerja" dengan "belajar" tidak perlu terjadi.

Karena, apabila kita menghayati ikrar kita secara mendalam pada proposisi "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in" dalam surat Al-Fatihah, maka dunia kehidupan kaum Muslimin bernuansa ibadah yang sangat kental. Dalam firmanNya yang lain, Allah mengatakan, "Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah," (QS Adz-Dzariyat, 51 : 56). Sehingga, jelas-jelas tidak ada pemisahan antara yang sakral dengan yang profan, yang duniawi dengan yang ukhrawi. Ketika mengomentari ayat, "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad (perjanjian) itu" (QS Al-Ma'idah, 5 :1), Raghib Isfahani, sebagaimana dikutip Seyyed Hossein Nasr (1994) mengatakan bahwa perjanjian-perjanjian itu meliputi perjanjian-perjanjian antara Tuhan dan manusia, yakni kewajibankewajiban manusia kepada Tuhan; [perjanjian antara manusia dan dirinya sendiri; dan [perjanjian] antara individu dan sesamanya. Dengan demikian, perjanjian (uqud) yang dirujuk pada ayat tersebut berkisar antara pelaksanaan shalat sehari-hari sampai menjual barang dagangan di bazaar, dari sembah sujud hingga kerja mencari penghidupan. Berangkat dari pandangan dunia tradisional tersebut yang tidak mendikotomikan antara yang sakral dan yang profan, maka etos kerja kaum Muslim selayaknya memperhatikan kualitas pekerjaannya. Ini artinya, dalam bekerja karakteristik spiritual tetap terjaga dan terpelihara yakni pekerjaan itu dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Tanggung jawab terhadap kerja berarti kesiapan untuk bertanggung jawab di hadapan Yang Mutlak karena kerja adalah saksi bagi semua tindakan manusia. Dalam ushuluddin disebut-sebut perihal konsep ma'ad atau qiyamah yang bila diterjemahkan dalam keseharian akan sangat mendukung sekali terhadap profesionalisme dalam bekerja. Di sini konsep ma'ad atau qiyamah bukanlah suatu konsep di langit-langit Platonik melainkan sesuatu yang hidup, membumi. Penghayatan yang mendalam terhadap prinsip ma'ad akan berimplikasi positif dan konstruktif terhadap perkembangan kepribadian kaum Muslim. Setidaknya dengan menghayati prinsip tersebut, pemuda Muslim tidak mengenal istilah pengangguran. Konon, praktik shalat wajib di kalangan Syi'ah yang mencakup shalat fajr, shalat siang hari (Zhuhur dan 'Ashar), dan shalat malam hari (Maghrib dan 'Isya), merupakan refleksi etos kerja mereka yang begitu tinggi dan manifestasi produktivitas dalam berkarya. Artinya, bila kaum Syi'ah selesai melaksanakan shalat siang hari, maka setelah selesai shalat dan zikir, mereka akan kembali bekerja dengan semangat yang tetap terjaga. Bukan meneruskannya dengan aktivitas yang kurang produktif dan tidak bermanfaat. "Kerja berkaitan erat dengan doa dan hidayah bagi semua masyarakat tradisional dan kaitan ini dirasakan dan diaksentuasikan dalam Islam," tulis Nasr (1994). Dengan mengamati lafaz adzan Syi'ah, dengan formulasi hayya 'ala al-shalah, hayya 'ala al-falah, dan hayya 'ala khair al-'amal, Nasr menyimpulkan bahwa shalat dan kerja memiliki keterkaitan yang prinsipal. "Di sana hubungan antara shalat, kerja, dan amal saleh selalu ditekankan," lanjutnya. Perspektif Islam yang padu, menolak membedakan antara yang sakral dan yang profan, yang ukhrawi dan yang duniawi, yang religius dan yang sekular atau, secara lebih spesifik, antara shalat dan kerja. Implikasi praktisnya adalah bahwa sebagaimana kita mencoba khusyu dalam shalat, maka begitu pula dalam bekerja kita mencoba untuk meng-khusyu'-kan diri. Dalam bahasa bisnisnya, berusaha bersikap lebih profesional. Lebih jauh, sebagaimana ketakutan pada Tuhan dan tanggung jawab kepada-Nya dalam ekspresi shalat kita, maka demikian pula kita dalam pekerjaan kita. Karena, "Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu." [ ]

5 Prinsip Kerja Seorang Muslim (Etos Kerja dalam Islam)
Muhammad Hamzah

s. terus mencoba hingga berhasil. Al-Baqarah [002] : 201) ْ‫د‬ ْ‫م‬ َ‫ع‬ ُّ ‫ربَّىَا آحِىَا فِي ان‬ }201/‫ار {انبقزة‬ ُ ‫مه يَقُى‬ َ ‫وقِىَا‬ َ ‫ذ‬ َ ‫ح‬ َ ‫ة‬ َ‫خ‬ َ ‫ح‬ َ ‫ويَا‬ َ ‫ل‬ َّ ‫ىهُم‬ ِ‫ز‬ ِ ‫وفِي اآل‬ ِ‫و‬ َ ً‫سىَت‬ َ ً‫سىَت‬ ِ ِ َّ‫اب انى‬ 3. Kerja keras. Seorang Muslim hendaknya berorientasi pada pencapaian hasil: hasanah fi addunyaa dan hasanah fi al-akhirah – QS. Kita dapat meneladani ibunda Ismail a. merujuk kepada integrity. Ciri pekerja keras adalah sikap pantang menyerah. spiritual) Sementara al-amiin. Saba‟ [34] : 13) ْ‫ش‬ ُ‫ش‬ َّ ‫ي ان‬ ُ ‫د‬ ْ‫م‬ ْ ‫ا‬ ٌ ‫وقَهِي‬ }13/‫ر {سبأ‬ ُ ‫كى‬ َ ‫وو‬ ُ ‫ل دَا‬ َ ‫د‬ َ ‫مهُىا آ‬ ِ ‫عبَا‬ ِ ‫ه‬ ِّ ‫م‬ َ ‫كزً ا‬ َ‫ع‬ 2. dapat memegang amanah. Kerja. „amal dalam Islam adalah perwujudan rasa syukur kita kepada ni‟mat Allah SWT. intelektual. satunya kata dengan perbuatan alias jujur. memiliki kekuatan fisik dan mental (emosional. aktifitas. Sehingga seorang pekerja keras tidak mengenal kata “gagal” (atau memandang kegagalan sebagai sebuah kesuksesan yang tertunda) .1. QS. 4. AlQashash [28] : 26 ْ َ‫جزْ ث‬ ْ ُّ‫ىي‬ ْ َ‫قَان‬ َّ ِ‫جزْ يُ إ‬ َ ‫ن‬ ْ ‫ها‬ ْ‫خ‬ ْ ‫جا‬ }22/‫ميهُ {انقصص‬ َ ْ‫سخَأ‬ َ‫ي‬ ِ َ‫اْل‬ ِ َ‫ما يَا أَب‬ ِ ْ‫سخَأ‬ َ ‫ز‬ َ ُ‫ج إِحْ دَاه‬ ِ ‫م‬ ِ َ‫انق‬ Al-qawiyy merujuk kepada : reliability. Juga berarti. (QS. dapat diandalkan. Dua karakter utama yang hendaknya kita miliki: al-qawiyy dan al-amiin.

Tabrani] Tentu sebagai muslim kita tidak akan berpikir ini hanyalah basa-basi Allah kepada hamba-Nya agar semangat bekerja. sikap. maka pada malam itu ia diampuni. di antara perbuatan dosa ada dosa yang tidak bisa terhapus (ditebus) oleh pahala shalat. terencana. kita akan sepakat mengatakan itulah profesional sejati. tetapi juga pahala dari sisi Allah swt. Dalam Islam. Etos kerja inilah yang membuat seseorang mampu bekerja dengan baik dan optimal. Jika etos kerja dimaknai dengan semangat kerja. Jika etos kerja difahami sebagai etika kerja. memanfaatkan segenap sumberdaya yang ada. ataupun haji. hingga Islam (Allah swt) menempatkannya dalam kategori ibadah. Kerja dengan cerdas. aktivitas kerja dalam pandangan Allah (Islam) merupakan bagian dari ibadah yang akan mendapatkan bukan saja keuntungan material.” [HR. Dimana Islam mendorong setiap manusia untuk selalu bekerja keras serta bersungguh-sungguh mencurahkan tenaga dan kemampuannya dalam bekerja. namun hanya dapatditebus dengan kesusahan dalam mencari nafkah penghidupan. Artinya. seorang Muslim senantiasa menunjukkan kesungguhan “Tidaklah seorang di antara kamu makan suatu makanan lebih baik daripada memakan dari hasil keringatnya sendiri”. Baihaqi] Seseorang dikatakan profesional jika ia memiliki keahlian dan sungguh-sungguh dalam menyelesaikan pekerjaannya.” [HR.5. Semakin baik dan sempurna hasil pekerjaan yang dilakukannya. bahwa bekerja dengan sungguh-sungguh dapat menghapuskan dosa yang tidak bisa dihapus oleh aktivitas ibadah ritual sekalipun. Coba perhatikan hadits berikut ini : “Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hamba-Nya bersusah payah (kelelahan) dalam mencari rezeki yang halal. Tetapi inilah kemurahan dan bentuk penghargaan serta perhatian Nya . sekumpulan karakter. Disamping itu. sedekah (zakat).” [HR. Seperti yang tergambar dalam kisah Nabi Sulaeman a. maka etos kerja seorang Muslim bersumber dari visinya: meraih hasanah fid dunya dan hasanah fi al-akhirah. Ahmad] “Sesungguhnya. “Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya keterampilan kedua tangannya pada siang harinya. [HR. ciri dari seorang profesional adalah adanya etos kerja yang tinggi dan selalu bersemangat dalam bekerja. Bahkan dalam beberapa hadits dikatakan. maka dalam bekerja. mentalitas kerja. Cirinya: memiliki pengetahuan dan keterampilan. Ad-Dailami] Begitu besarnya penghargaan Islam terhadap kesungguhan bekerja ini.s. etos kerja (himmatul „amal) merupakan bagian yang amat penting dan mendasar.

Tidak pantas pula mengharap sedekah dari orang lain padahal ia memiliki kemampuan bekerja untuk menghidupi dirinya. “Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain untuk memperbanyak harta (memperkaya dirinya). Seorang Muslim tidak pantas meminta-minta kepada orang lain. Etos kerja seorang Muslim dapat dilihat dari hadis riwayat Thabrani yang menyebutkan bahwa tatkala Rasulullah Saw duduk bersama para sahabatnya. atau modal dalam bekerja. Namun. Dalam kitab Sunan Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda. silakan lakukan. seorang Muslim adalah seorang pekerja.” Adapun dalam riwayat Sunan Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda. “Tidak halal sedekah kepada orang kaya dan orang yang memiliki kemampuan yang stabil. siapa yang ingin menguranginya. Itulah hal mendasar yang membedakan konsep etos kerja dalam Islam dengan etos kerja dalam paham sekuler. “Seseorang yang meraih tali lalu datang dengan seikat kayu bakar di pundaknya kemudian menjualnya. Semangat bekerja juga dapat kita lihat dari para nabi. Itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang-orang. mulai dari keterbatasan lowongan pekerjaan. ini tercantum dalam surah Al-Anbiya ayat 80. seperti: Nabi Daud yang bekerja sebagai pembuat baju besi sebagai tameng dalam peperangan. keahlian pekerjaan. Maka. sehingga Allah menutupi wajahnya (memuliakannya). Bahkan. dan yang ingin memperbanyaknya. Allah akan memuliakan orang yang bekerja. tidak adanya lahan pekerjaan.” Kedua. pertama. Dalam riwayat Baihaqi disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda. lewatlah seorang lelaki dengan penuh . Sekarang ini. atau orang-orang yang menjadi tanggungannya. seorang Muslim harus bekerja apa saja asalkan halal. bagaikan orang yang memungut bara api. Kerendahan dan kehinaan bagi orang yang meminta-minta kepada orang lain. “Tidaklah orang yang selalu meminta-minta itu kecuali ia akan menemui Allah dengan wajah tanpa daging. Begitu pula dengan Nabi Yusuf yang bekerja menjadi bendahara kerajaan Fir‟aun. memenuhi kebutuhan keluarganya. semua itu tidak mesti menjadi kendala dalam bekerja atau mencari rezeki. silakan lakukan. di mana mereka itu adakalanya memberi dan tidak. Dalam Islam. Seorang Muslim tidak pantas bermalas-malasan dalam mencari rezeki walaupun itu dengan alasan sibuk beribadah atau tawakal kepada Allah Swt.” Hadis tersebut menunjukkan bahwa.” Dalam riwayat Mutafaq alaih juga disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda. “Orang yang meminta sesuatu bukan kebutuhannya. ini tercantum dalam surah Yusuf ayat 55. Dalam Kitab Shahih Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda.atas kesungguhan manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Ada banyak tantangan masalah yang harus dihadapi. maka pada hari kiamat harta tersebut akan mencakar wajahnya dan menjadi batu panas dari neraka jahannam untuk dimakannya.” Maka. Nabi Muhammad Saw adalah seorang penggembala dan pedagang yang terkenal dengan sifat amanah dan kejujurannya. mencari pekerjaan atau membuat peluang pekerjaan tidaklah mudah. yang dalam paham meterialis dan sekuler tidak akan pernah di temui.

serta sistem nilai yang diyakininya. dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata. kerja dalam arti sempit ialah kerja untuk memenuhi tuntutan hidup manusia berupa sandang. dapat dldellnlslkan sebagai aktivitas karena adanya dorongan untuk mewujudkan sesuatu sehingga tumbuh rasa tanggung Jawab yang besar untuk menghasilkan karya atau produk yang berkualitas. perangai. Kerja. penakut dan sangat tua dan saya berlindung ke-pada-Mu dari siksa kubur dan dari ujianhidup dan mali (HR Abu Daud). Sikap ini diperlihatkan Umar bin Khattab ketika mendapati seorang sahabat yang selalu berdoa dan tidak mau bekerja. Dalam QS At Taubah 105 disebutkan bahwa Dan katakanlah bekerjalah kamu. Dalam Islam etika/ etos dianggap sebagai akhlak (budi pekerti. sikap. “Alangkah baik jika semangatnya itu dimanfaatkan di jalan Allah.Dalam Islam pengertian kerja dapat dibagi dalam dua bagian. pengaruh budaya.” Dengan demikian. Para sahabat kemudian berkata. tingkah laku. maka dia berada di jalan Allah. Rasulullah SAW pun senantiasa berdoa kepada Allah agar dijauhi sifat malas. Etika Kerja Menurut Islam ETIKA berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu ethos yang berarti watak. lalu dlberikanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. kepribadian. marilah kita bekerja dengan sungguh-sungguh. “Jika dia keluar untuk (keperluan) anaknya yang masih kecil. adat serta keyakinan dalam melakukan sesuatu. pangan dan papan yang merupakan kebutuhan bagi setiap manusia dan muaranya adalah Ibadah. . "Janganlah seorang dari kamu duduk dan malas mencari rizki kemudian Ia mengetahui langit tidak akan menghujankan mas dan perak. kerja dalam arti umum yaitu semua bentuk usaha yang dilakukan manusia baik da lam hal materi atau non materi. maka dia berada di jalan Allah. tetapi Juga oleh kelompok bahkan masyarakat yang dibentuk oleh berbagai kebiasaan." Dengan kata lain Islam sangat membenci pada orang yang malas dan bergantung pada orang lain. maka dia juga berada di jalan Allah. Maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihal pekerjaanmu Itu. atau tabiat seseorang) yakni tingkah laku atau perlakuan manusia ke arah kebaikan dan kemanfaatan hidup. Jika dia keluar (bekerja) karena ingin menjaga kesucian dirinya (dari meminta-minta). Dan jika dia keluar untuk pamer dan gagah-gagahan maka dia di jalan setan. kesusilaan.” Mendengar perkataan sahabat tersebut. serta berusaha menggapai pintu-pintu rezeki yang telah disediakan oleh Allah Swt berdasarkan ketentuan dan syariat-Nya. sifat lemah dan berlindung dari Allah. Rasulullah Saw mengomentarinya dengan bersabda. Banyak tuntunan dalam Al-Quran dan Hadits tentang bekerja.semangat. intelektual atau fisik maupun hal-hal yang berkaitan dengan masalah keduniaan dan keakhlr-atan. Kedua. Pertama. Jika dia keluar untuk kedua orangtuanya yang sudah tua renta. Sikap ini tidak hanya dimiliki oleh Individu.

orang berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup sandang. sesungguhnya ftii (iblis) adalalx musuh bagimu dan bagi Istrimu. Sementara itu negara-negara Asta lainnya berada di atas Indonesia seperti Singapura (peringkat 1). Dengan itu. Al-Quran secara tegas menyebutkan ketiga macam kebutuhan primer Itu mengingatkan manusia pertama Nabi Adam dan Siti Hawa pada saat menginjakkan kakinya di bumi. (al-Hadits) Istilah yang dipakai dalam Al-Quran dan hadits untuk bekerja adalah "amal. namun secara umum dapat dibagi dalam Uga jenis sesuai dengan tingkat kepentingannya. peringkat produktivitas kerja Indonesia yang sebagian besar umat Islam berada pada posisi 59 dari 60 negara yang disurvei. Maka Kami berkata. dan tertier(kamaHyat). apakah Itu khairon atau shallhan (baik) maupun syarron atausuan (buruk.Jahat). barangslapa yang hari ini sama dengan hari kemarin. dan Filipina (49). Oleh sebab Itu setiap kerja adalah amal. Business Efficiency (59). pangan dan papan selain juga untuk membiayai pemeliharaan kesehatan. Hadis tersebut memiliki makna "barangslapa yang hari Ini lebih baik daii hari kemarin maka sesung-gulmya dia telah berwxlung. tidak pula disengat panas matahari di sana (surga).InstituteJbrManagemenl o/DeueloplneiU. Korea (29). Malaysia (28).Secara normatif. Atau semakin turun ketimbang tahun 2001 yang mencapai urutan 46. dan Islam mengarahkan setiap orang untuk berbuat atau melakukan amal (kerja) yang berkualitas (shalih)." Menurut Prof Dr KH All Yafie. Allah mengingatkan mereka berdua dalam QS Thaha 117-119.Dalam pandangan Islam. Hal ini diduga kuat bahwa semuanya itu karena mutu sumberdaya manusia Indonesia yang tidak mampu bersaing. Thailand (27). maka sesungguhnya Ia telah merugi Dan barangsiapa yang hari Int lebih buruk dari hari kemarin.Yang dimaksud bersusah payah adalah bekerja untuk . Swiss. Cina (31). Urutan peringkat tersebut berkaitan juga dengan kinerja pada dimensi lainnya yakni pada Economic Performance pada tahun 2005 berada pada urutan buncit yakni ke 60. Kebutuhan bermacam-macam dan bertlngkat-tingkat. Mengapa? Karena Islam mengajaran agar umatnya memiliki etos kerja yang sangat kuat dengan senantiasa menclptaan produktivitas dan progrcslfitas di berbagai bidang dalam kehidupan ini. World Competitiveness Book (2007). usaha yang berkualitas). sekunder (hajlyal). Tujuan Umum Bekerja Ada beberapa tujuan orang bekerja antara lain untuk mendapatkan nafkah. Dari sini Juga dapat dlfahaml bahwa kata "sha-lih" adalah predikat dari amal atau kualitas kerja (kerja. Hal Adam. dan Gouernment Efficiency (55). Primer (dharwy). memberitakan bahwa pada tahun 2005. Sesung-gulviya engkau tidak akan dalmga. maka sekali-kali Janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga karena (jika demikian) engkau akan bersusalx payah. kebutuhan bisa diartikan sebagai hasrat manusia yang perlu dipenuhi atau dipuaskan. "kata amal mengandung pengertian segala apa yang diperbuat atau dikerjakan seseorang. Ada sebuah hadits Nabi yang sangat mendorong umat Islam untuk menjadi produsen dari kemajuan. seharusnya kaum muslim khususnya di Indonesia memiliki etos kerja tinggi. Juga mungkin kaerna faktor budaya kerja yang juga masih lemah dan tidak merata. maka sesungguhnya Ia ter-laknat.

padahal kenyataannya tidaklah demikian. berhemat. Meskipun sejumlah kritik dialamatkan kepada Weber karena kesan kuat yang menyatakan bahwa etos kerja Protestant lebih unggul dibandingkan dengan etos berbasis agama lain . eksportir. pangan dan papan yang . Budaya dalam artian perilaku khas suatu kelompok sosial. merumuskan hubungan rasional antara etos kerja dan kesuksesan suatu masyarakat dalam buku klasik "The Proiteslarrt Ethnic and The Spirit of Capitalism (Weber. Etos bangsa Jerman yang diformulasikan Weber antara lain bertindak rasional. 2000) menuturkan sepenggal kisah ironis. GNP kedua negara relatif tidak berbeda dan tingkat kesejahteraan rakyatnya Juga hampir sama. elektronik. Mengapa hal yang aneh ini bisa terjadi? Huntington menyebutkan satu-satunya alasan perbedaan bur daya. Manusia diperintahkan Allah untuk mencari rezki bukan hanya untuk mencukupi kebutuhannya tetapi Al-Quran memerintahkan untuk mencari apa yang diistilahkan fadhl Allah. hemat dan bersahaja menabung serta berinvestasi. dan nilai1 nilainya. Etos yang tumbuh di Korea Selatan adalah kerja keras. kerja dalam arti sempit ialah kerja untuk memenuhi tuntutan hidup manusia berupa sandang. gaya hidup. disiplin. Korea Selatan berkembang menjadi raksasa industri. kebiasaan." Salah satu ayat yang menunjuk masalah Ini adalah QS Al Jumuah 10 "Apabila kamu telah selesai shalat (Jumat) maka bertebaranlah d( bumi dan carilah fadhl (kelebihan rezki) Allal\ ba nyakbanyaklali mengingat Allalx supaya kamu beruntung. 1958). Kedua. tidak mengumbar kesenangan. otomotif. Ketiga jenis kebu -tuhan di atas mengantarkan manusia untuk berikhtiar dan bekerja.memenuhi kebutuhan mereka yang ada di dunia. Pandangan Islam terhadap pekerjaan amatlah positif. Kata Weber. Dengan kata lain perbedaan etos."Dalam ayat tersebut dapat kita pahamibahwa terdapat relasi antara Iman sebagai sistem nilai serta ide dengan amal shaleh yang merupakan realisasinya. kerja dalam arti umum yaitu semua bentuk usaha yang dilakukan manusia baik da lam hal materi atau non materi. termasuk cara hidup. menabung dan mengutamakan pendidikan. berorientasi sukses material. produk-produk manufaktur lainnya. berdisiplin tinggi. Pada permulaan 1960-an data-data ekonomi Korea Selatan dan Ghana nyaris sama. yang secara harfiah berarti "kelebihan yang bersumbr dari Allah. intelektual atau fisik maupun hal-hal yang berkaitan dengan masalah keduniaan dan keakhlr-atan. Tetapi 30 tahun kemudian keadaan tersebut berubah drastis. Sedangkan Ghana tetap di tempat sebagai negara miskin. Kondisi kedua negara berbeda bagai bumi dan langit. (Bersambung) Ringkasan Artikel Ini Pertama. etos inilah pangkal kemajuan masyarakat Protestand di Eropa dan Amerika. termasuk 14 negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia. Etos Kerja Menurut Pemikir Barat Pada 1905 sosiolog Jerman Max Weber. misalnya etos kerja Jepang yang berbasis pada agama Tokugawa -namun intisari teori Weber yaitu bahwa etos kerja adalah kunci dan fondasi keberhasilan suatu masyarakat atau bangsa dapat diterima secara aklamasi. Samuel Huntington dalam buku "Culture Matters (Huntington and Harrison. memiliki banyak perusahaan multinasional. bekerja keras. Pada 1997.

watak. Ahmad Amin adalah membiasakan kehendak."Dalam ayat tersebut dapat kita pahamibahwa terdapat relasi antara Iman sebagai sistem nilai serta ide dengan amal shaleh yang merupakan realisasinya. Dr. Toto Tasmara etos kerja adalah totalitas kepribadian dirinya serta caranya . serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu. Meskipun sejumlah kritik dialamatkan kepada Weber karena kesan kuat yang menyatakan bahwa etos kerja Protestant lebih unggul dibandingkan dengan etos berbasis agama lain . tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat . karakter. yang mengalami perubahan makna yang meluas. suatu aturan umum atau cara hidup c." Rasulullah SAW pun senantiasa berdoa kepada Allah agar dijauhi sifat malas." Salah satu ayat yang menunjuk masalah Ini adalah QS Al Jumuah 10 "Apabila kamu telah selesai shalat (Jumat) maka bertebaranlah d( bumi dan carilah fadhl (kelebihan rezki) Allal\ ba nyakbanyaklali mengingat Allalx supaya kamu beruntung. Kesimpulannya. Digunakan dalam tiga pengertian yang berbeda yaitu: b. suatu tatanan aturan perilaku. Etos Kerja. A. kepribadian. d. Dalam pengertian lain. misalnya etos kerja Jepang yang berbasis pada agama Tokugawa -namun intisari teori Weber yaitu bahwa etos kerja adalah kunci dan fondasi keberhasilan suatu masyarakat atau bangsa dapat diterima secara aklamasi.merupakan kebutuhan bagi setiap manusia dan muaranya adalah Ibadah. Secara terminologis kata etos. Manusia diperintahkan Allah untuk mencari rezki bukan hanya untuk mencukupi kebutuhannya tetapi Al-Quran memerintahkan untuk mencari apa yang diistilahkan fadhl Allah. Etos berasal dari bahasa Yunani (etos) yang memberikan arti sikap. dan kamu akan dikembalikan kepada (Allali) yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata. sifat lemah dan berlindung dari Allah. penakut dan sangat tua dan saya berlindung ke-pada-Mu dari siksa kubur dan dari ujianhidup dan mali (HR Abu Daud). Etos kerja adalah refleksi dari sikap hidup yang mendasar maka etos kerja pada dasarnya juga merupakan cerminan dari pandangan hidup yang berorientasi pada nilai-nilai yang berdimensi transenden. 1.padahal kenyataannya tidaklah demikian.H. Dalam kamus besar bahasa Indonesia etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau sesesuatu kelompok. yang secara harfiah berarti "kelebihan yang bersumbr dari Allah. Penyelidikan tentang jalan hidup dan seperangkat aturan tingkah laku . Menurut K. etos dapat diartikan sebagai thumuhat yang berkehendak atau berkemauan yang disertai semangat yang tinggi dalam rangka mencapai cita-cita yang positif. Akhlak atau etos dalam terminologi Prof. lalu dlberiiakanNua kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. Pengertian Etos kerja . Dari keterangan diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa kata etos berarti watak atau karakter seorang individu atau kelompok manusia yang berupa kehendak atau kemauan yang disertai dengan semangat yang tinggi guna mewujudkan sesuatu keinginan atau cita-cita. etos adalah sikap yang tetap dan mendasar yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dalam pola hubungan antara manusia dengan dirinya dan diluar dirinya .

Tabrani Rusyan. seperti mesin bagi mobil besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat lambatnya suatu perbuatan . adanya keyakinan bahwa dengan berusaha secara maksimal hasil yang akan didapat tentunya maksimal pula. kedudukan. sementara kehidupan di dunia dinyatakan sebagai permainan.J. jika tujuannya tinggi (mencari keridhaan Allah) maka ia pun akan mendapatkan nilai kerja yang tinggi. perhiasan lading yang dapat membuat lalai terhadap kehidupan di akhirat. meyakini dan memberikan makna ada sesuatu. kerja berkonotasi ekonomi yang persetujuan mendapatkan materi. ada yang mengukur banyaknya harta. Yang kenyataannya keadaan-keadaan lahiriah tersebut tidak pernah memuaskan jiwa manusia. Manusia berbeda-beda dalam mengukur kebahagiaan. dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.mengekspresikan. (Q. Nilai kerja dalam Islam dapat diketahui dari tujuan hidup manusia yang kebahagiaan hidup di dunia untuk akhirat. Fungsi dan Tujuan Etos Kerja Secara umum. c. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat. sesuatu yang dilakukan . Jadi pengertian etos adalah karakter seseorang atau kelompok manusia yang berupa kehendak atau kemauan dalam bekerja yang disertai semangat yang tinggi untuk mewujudkan cita-cita. di mulai dari usaha mengangkap sedalam-dalamnya sabda nabi yang mengatakan bahwa niali setiap bentuk kerja itu tergantung pada niat-niat yang dipunyai pelakunya. bahkan justru dapat menyengsarakannya. fungsi etos kerja adalah: a. Kerja merupakan perbuatan melakukan pekerjaan atau menurut kamus W. Penggairah dalam aktivitas. Menurut A. yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal (high Performance) . kekal untuk lebih dari kehidupan dunia. 2. mengenai keduniaan maupun akhirat. manusia harus mempunyai bekal di dunia dan di manapun manusia menginginkan kebahagiaan. b. jabatan. dan jika tujuannya rendah (seperti misalnya hanya bertujuan memperoleh simpati sesama . Manusia sebelum mencapai akhirat harus melewati dunia sebagai tempat hidup manusia untuk sebagai tempat untuk mancari kebahagiaan di akhirat. Al-Qashash: 77) Pandangan Islam mengenai etos kerja. Dengan demikian adanya etos kerja pada diri seseorang pedagang akan lahir semangat untuk menjalankan sebuah usaha dengan sungguh-sungguh. memandang. Ahli-ahli Tasawuf mengatakan: Untuk mencapai kebahagiaan di akhirat. pengetahuan dan lain-lain. Sedangkan dalam arti sempit.S Purwadaminta. Dengan etos kerja tersebut jaminan keberlangsungan usaha berdagang akan terus berjalan mengikuti waktu. Jadi dianjurkan di dunia tapi tidak melupakan kehidupan akhirat. etos kerja berfungsi sebagai alat penggerak tetap perbuatan dan kegiatan individu. dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Pendorang timbulnya perbuatan.S. baik dalam hal materi maupun non materi baik bersifat intelektual maupun fisik. Penggerak. . kerja berarti melakukan sesuatu. Kerja memiliki arti luas dan sempit dalam arti luas kerja mencakup semua bentuk usaha yang dilakukan manusia. kebahagian hidup di akhirat adalah kebahagiaan sejati. wanita.

sedangkan nilai-nilai ‘abd bermatan moral. . Ciri-ciri orang yang memiliki semangat kerja. kerja keras dan memiliki cita-cita yang tinggi Menurut Al-Ghazali dalam bukunya “Ihya-u “ulumuddin” yang dikutip Ali Sumanto Al-Khindi dalam bukunya Bekerja Sebagai Ibadah. sebab itulah dinamakan jihad fisabilillah . perlu adanya peningkatan. 2. produktif. lebih sejahtera. karena pekerjaan yang ditekuni bernilai ibadah. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Dengan demikian etos kerja Islami adalah akhlak dalam bekerja sesuai dengan nilai-nilai islam sehingga dalam melaksanakannya tidak perlu lagi dipikir-pikir karena jiwanya sudah meyakini sebagai sesuatu yang baik dan benar. dapat dilihat dari sikap dan tingkah lakunya. terutama yang beragama islam. firman Allah: . Setiap pekerja. Adapun etos kerja yang islami tersebut adalah: niat ikhlas karena Allah semata. dan lebih bahagia daripada keadaan sekarang. motivasi dan niat. termasuk didalamnya menghidupi ekonomi keluarga. Islam mengajarkan agar setiap detik dari waktu harus di isi dengan 3 (tiga) hal yaitu. beramal sholeh (membangun) dan membina komunikasi sosial. Hasil yang diperoleh dari pekerjaannya juga dapat digunakan untuk kepentingan ibadah. pemborosan tenaga. . Oleh karena itu seleksi memililih pekerjaan menumbuhkan etos kerja yang islami menjadi suatu keharusan bagi semua pekerjaan. malas. dan waktu adalah bertentangan dengan nilai Islam.manusia belaka) maka setingkat pula nilai kerjanya . Menurut Dr. Al-Ashr: 1-3) . Kerja santai. Musa Asy’arie etos kerja islami adalah rajutan nilai-nilai khalifah dan abd yang membentuk kepribadian muslim dalam bekerja. taat dan patuh pada hukum agama dan masyarakat Toto Tasmara mengatakan bahwa semangat kerja dalam Islam kaitannya dengan niat semata-mata bahwa bekerja merupakan kewajiban agama dalam rangka menggapai ridha Allah. dengan uang tersebut seseorang dapat membelanjakan segala kebutuhan sehari-hari hingga akhirnya ia dapat bertahan hidup. yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak membutuhkan pemikiran. tanpa rencana. Artinya: Demi masa. Kerja keras dan teliti serta menghargai waktu. berdasarkan pengetahuan konseptual. harus dapat menumbuhkan etos kerja secara Islami. (Q. untuk meningkatkan keimanan.S. Etos kerja Islami Dalam kehidupan pada saat sekarang. setiap manusia dituntut untuk bekerja guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Artinya semua kegiatan harus di rencanakan dan di perhitungkan untuk menciptakan masa depan yang maju. Orientasi kemasa depan. lebih-lebih keadaan di masa lalu. Dengan bekerja seseorang akan menghasilkan uang. menjelaskan pengertian etos (khuluk) adalah suatu sifat yang tetap pada jiwa. Untuk itu hendaklah manusia selalu menghitung dirinya untuk mempersiapkan hari esok. atau etos yang tinggi. Nilai-nilai khalifah adalah bermuatan kreatif. 3. Akan tetapi dengan bekerja saja tidak cukup. diantaranya: 1. inovatif.

Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.S. Artinya: Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri. dan melemparkan kesalahan di bawah. tidak berwatak mencari perlindungan ke atas. menghitung asset atau kemampuan diri karena dia lebih baik mengetahui dan mengakui kelemahan sebagai persiapan untuk bangkit. Allah berfirman: .S. baik kebahagiaan maupun kegagalan. sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. Dia menjauhkan sikap boros. laksana seorang pelari marathon lintas alam yang harus berlari jauh maka akan tampak dari cara hidupnya yang sangat efesien dalam mengelola setiap hasil yang diperolehnya. Hemat dan sederhana. Semua masalah diperbuat dan dipikirkan. (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid. Terukir sebuah motto dalam dirinya: “The best fortune that can come to a man. dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua. AlBaqarah: 148) Sebagai orang yang ingin menjadi winner dalam setiap pertandingan exercise atau latihan untuk menjaga seluruh kondisinya. Adanya iklim kompetisi atau bersaing secara jujur dan sehat. Artinya: Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. harus dihadapi dengan tanggung jawab. Seseorang yang memiliki etos kerja yang tinggi. is that he corrects his defects and makes up his failings” (Keberuntungan yang baik akan datang kepada seseorang ketka dia dapat mengoreksi kekurangannya dan bangkit dari kegagalannya . Setiap orang atau kelompok pasti ingin maju dan berkembang namun kemajuan itu harus di capai secara wajar tanpa merugikan orang lain. 5.3. .(Q. Maka berlombalombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Bertanggung jawab. . Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Dari pada ia bertarung tanpa mengetahui potensi diri. Karena hal itu sama dengan orang yang bertindak nekat. Al-Isra’: 7) 4. (Q. karena boros adalah sikapnya setan.

bukan semata-mata hanya dengan berdoa.” Hal ini menunjukkan bahwa Islam menghendaki adanya etos kerja yang tinggi bagi umatnya dalam memenuhi keinginannya. Bukhari) .” Hadits di atas sebenarnya menganjurkan orang untuk bekerja.R. antara lain pada Surah AlJumu‟ah ayat 10. menyingkirkan semua faktor penghalang yang menghambat seseorang untuk bekerja dan berusaha di muka bumi. memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahliannya. Ajaran Islam. “Jika kalian tawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal. dinyatakan. dan syuhada. seperti salah satu haditsnya yang berbunyi. Kerja atau berusaha merupakan senjata utama untuk memerangi kemiskinan dan juga merupakan faktor utama untuk memperoleh penghasilan dan unsur penting untuk memakmurkan bumi dengan manusia sebagai kalifah seizin Allah. Ajaran “tawakkal” yang seringkali diartikan sebagai sikap pasrah tidaklah berarti meninggalkan kerja dan usaha yang merupakan sarana untuk memperoleh rezeki.“Dialah Yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu. “Apabila telah ditunaikan Shalat. Dalam beberapa ayat di Al Qur‟an. Artinya. bagi setiap orang harus tersedia tingkat kehidupan yang sesuai dengan kondisinya. Untuk mewujudkan hal itu. bukan sebaliknya pasrah berdiam diri di tempat tinggal menunggu tersedianya kebutuhan hidup. bahkan harus meninggalkan tempat tinggal pada pagi hari untuk mencari nafkah. Bahkan untuk memotivasi kegiatan perdagangan (bisnis). sangat menghargai “kerja”. siddiqin. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. Kata “bekerja” dalam ayat di atas mengandung arti sebagai suatu usaha yang dilakukan seseorang. Rasulullah SAW bersabda: “Pedagang yang lurus dan jujur kelak akan tinggal bersama para nabi. Banyak ajaran Islam yang secara idealis memotivasi seseorang. setiap orang dituntut untuk bekerja atau berusaha. Allah akan memberi kalian rezeki seperti Dia memberi rezeki kepada burung yang terbang tinggi dari sarangnya pada pagi hari dengan perut kosong dan pulang di sore hari dengan perut kenyang. paling kurang ia dapat memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang dan pangan. Dan pada hadits yang lain Rasulullah SAW menyatakan bahwa: “Makanan yang paling baik dimakan oleh seseorang adalah hasil usaha tangannya sendiri. seringkali menjadi kontra produktif dalam pengamalannya.” (HR Tirmidzi). menyebar di muka bumi. dalam sejumlah hadits. Mereka bekerja dan berusaha sesuai dengan kemampuan dan keahliannya masing-masing.” (QS. untuk memproduksi suatu komoditi atau memberikan jasa. maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.” (H. Hal ini dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah SAW yang berdagang lewat jalan darat dan laut dengan gigih dan ulet. Islam mengajarkan. Nabi Muhammad SAW. baik sendiri atau bersama orang lain. Allah telah menjamin rezeki dalam kehidupan seseorang. maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. namun tidak akan diperoleh kecuali dengan bekerja atau berusaha. dan memanfaatkan rezeki pemberian Allah SWT. sehingga ia mampu melaksanakan berbagai kewajiban yang dibebankan Allah serta berbagai tugas lainnya. atau membina rumah tangga dengan bekal yang cukup. al-Mulk:15) Islam menghendaki setiap individu hidup di tengah masyarakat secara layak sebagai manusia.

dan melalaikan tindakan mencegah diri dari mengemis kepada orang lain. Muslim). sesungguhnya dia mengemis bara api. menghamba bukan kepada Sang Pencipta. kemampuan. Islam membimbing seseorang agar melakukan pekerjaan sesuai dengan kepribadian. sebagaimana Firman Allah SWT: “Barang siapa berhijrah di jalan Allah. menghinakan diri. dan berlaku zalim terhadap tauhid dan keikhlasan. Islam mengajarkan. Islam. Sebaiknya ia mengumpulkan harta sendiri. diminta untuk mengerahkan segenap potensinya untuk menghilangkan kemiskinan. dan tunduk kepada selain Allah.. ia menghadapkan orang yang diminta kepada pilihan sulit antara memuhi permintaannya atau menolaknya. betapa pun kecilnya. an-Nisa‟:100) Ajaran Islam. bahwa semua usaha yang dapat mendatangkan rezeki yang halal adalah sesuatu yang mulia. dan kondisi lingkungannya. sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Qayyim. Islam melarang seseorang mengemis sedangkan ia mempunyai sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk membuka peluang kerja yang akan mencukupi kebutuhannya. “Bila seseorang meminta-minta harta kepada orang lain untuk mengumpulkannya. Oleh karena itu. ada kemungkinan disertai dengan rasa dongkol. dan hak pengemis itu sendiri. . Berlaku zalim terhadap tempat meminta artinya menzalimi orang yang diminta sebab dengan mengajukan permintaan. sumber daya manusia maupun sumber daya alam sehingga akan meningkatkan produksi serta berkembangnya berbagai sumber kekayaan secara umum yang akan berdampak dalam pengentasan umat dari kemiskinan. mempersembahkan sesuatu bukan kepada yang berhak. Ia menjual kesabaran. Islam tidak membolehkan kaum penganggur dan pemalas menerima shadaqah. merendahkan martabat diri. orang itu akan merasa malu. sangat memotivasi seseorang untuk bekerja atau berusaha. Tindakan zalim terhadap hak Rabbul‟alamin artinya meminta. Masyarakat Islam. Jika orang itu terpaksa memnuhi permintaanya. bahwa mengemis kepada orang lain adalah tindakan zalim terhadap Rabbul‟alamin.” (QS. niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak…. Islam menuntun setiap orang untuk mendayagunakan semua potensi dan mengarahkan segala dayanya. berharap.. serta tidak membiarkan si lemah terombang-ambing tanpa pegangan. memberikan peringatan keras kepada yang meminta-minta (mengemis). Mereka harus memanfaatkan semua kekayaan. Ia meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. dan menentang keras untuk meminta-minta (mengemis) kepada orang lain. maka orang-orang yang mengalami hal tersebut dianjurkan merantau (hijrah) untuk memperbaiki kondisi kehidupannya karena bumi Allah luas dan rezekiNya tidak terbatas di suatu tempat. dan rela menundukkan kepala kepada sesama makhluk.R.” (H. walaupun rezeki itu diperoleh dengan susah payah daripada mengemis dan meminta-minta kepada orang lain. tetapi orang tersebut harus didorong agar mau bekerja dan mencari rezeki yang halal sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang berbunyi. Namun bila tidak memberi. Sedangkan berlaku zalim terhadap diri sendiri artinya seorang pengemis menghina diri sendiri.Islam juga mengajarkan bahwa apabila peluang kerja atau berusaha di tempat tinggal asal (kampung halaman) tertutup. ketawakkalan. baik penguasa maupun rakyat. hak tempat meminta.

realitas yang ada di masyarakat Islam saat ini sangat jauh dari idealisme yang diajarkan Islam dalam memotivasi seseorang untuk menjadi berhasil dalam kehidupannya. Di samping itu. yakni menuju kemakmuran di dunia dan kebahagiaan di akhirat. terakhir. adalah membangkitkan kembali semangat ukhuwah islamiyah di antara kita. Faktor utama untuk kembali kepada ajaran motivasi Islam yang berorientasi kepada falah oriented.13/ ar-Ra‟d: 11) . Hal ini merupakan tugas kita semua secara bersama-sama sebagai umat Muslim yang peduli terhadap keluarga kita umat Islam di seluruh jagad raya agar tidak tertinggal dan dapat “duduk sama rendah berdiri sama tinggi” dengan umat lainnya di muka bumi ini. Namun. mereka menjaganya atas perintah Allah. di muka dan di belakangnya. bahwa Allah SWT tidak akan mengubah nasib kita tanpa kita sendiri mengubah nasib kita. Dan. Hal ini merupakan kewajiban kolektif umat Islam. juga harus menyiapkan tenaga-tenaga ahli yang akan menangani pekerjaan tersebut. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehinga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri………” (QS.Umat Islam diminta bergandengtangan menghilangkan semua cacat yang dapat merusak bangunan masyarakatnya. dan oleh karena itu kita harus menjaga dan meningkatkan etos kerja kita agar kita tidak tertinggal oleh yang lain. sebagaimana firman Allah SWT: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran. Masyarakat Islam dituntut menciptakan lapangan kerja dan membuka pintu untuk berusaha (berbisnis). perlu kita sadari.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful