GAGASAN PENERAPAN RESTORATIVE JUSTICE BAGI WHISTLE BLOWER DALAM KASUS TINDAK PIDANA KORUPSI

OLEH H.M. ARSYAD SANUSI

Page | 1

ABSTRAK
Korupsi layaknya lingkaran setan yang saling menghubungkan satu pejabat dengan pejabat lain.Korupsi merupakan kejahatan yang terorganisir, sehingga perlu ada seseorang yang ada dalam sistem tersebut yang memutus rantai korupsi yaitu dengan membongkar tindakan korupsi dan yang bersangkutan harus menyandang predikat sebagai whistle blower.Namun menjalankan peran sebagai whistle blower bukanlah hal yang mudah sehingga harus ada sebuah mekanisme pemberian protection and achievemen tterhadap whistle blower. Stagnannya upaya pemberantasan korupsi dewasa ini disebabkan oleh beberapa faktor salah satunyakurangnya peran serta masyarakat dalam upaya pemberantasan korupsi.Harus ada sebuah upaya yang dilakukan agar masyarakat bersedia berperan aktif dalam pemberantasan korupsi. Salah satu awalan yang baik adalah dengan memberikan protection and achievement terhadap whistle blower.Dengan adanya jaminan pemberian protection and achievementtersebut maka peningkatan peran serta masyarakat, khususnya individu yang terlibat dalam tindak pidana korupsi tersebut, dalam upaya pemberantasan korupsi adalah sebuah keniscayaan. Whistle blower merupakan sebuah harapan besar dalam mengoptimalkan upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.Namun peran whistle blower tersebut tidak ditunjang dengan adanya peraturan perundangundangan yang menjamin perlindungan terhadap whistle blower. Meskipun telah ada UU Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban sebagai regulasi yang menjadi instrumen perlindungan, tetapi undangundang tersebut tidak dapat mengakomodirpemberian protection and achievement terhadap whistle blower. Oleh karena itu,diperlukan sebuah peraturan perundang-undangan yang mengatur lebih spesifik dan khusus terkait whistle blower karena hal tersebut belum diatur secara tegas dalam UU Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

Page | 2

[1]Sedangkan whistleblower merupakan seorang yang memberikan bantuan kepada penegak hukum dalam bentuk pemberian informasi penting. bukti-bukti yang kuat. Keberadaan whistle blower merupakan instrumenpenting yang dapat memutus mata rantai dari tindak pidana korupsi dan mafia hukum yang terbentuk dalam sebuah lingkaran setan yang terorganisir. penyidikan. sedangkan saksi dan whistleblower merupakan hal yang berbeda. dan pemeriksaan di sidang pengadilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri. Sebagai contoh dalam kasus penahanan mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri KomjenPol. sehingga menjadi sesuatu yang wajar jika whistleblower mendapatkan protection and achievement.I. ia lihat sendiri. atau keterangan dibawah sumpah yang dapat mengungkap suatu kejahatan dimana orang tersebut terlibat dalam kejahatan tersebut atau suatu kejahatan lainnya.Dalam kenyataannya korupsi merupakan extraordinary crime. penuntutan.Yang dimaksud dengan bentuk penghargaan. sehingga diperlukan sebuah upaya serius untuk memberantasnya.SusnoDuadji yang selanjutnya Susno Page | 3 protection and achievementbagi whistleblower dapat berupa perlindungan fisik maupun perlindungan dalam . UU Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban tidak mengakomodir protection and achievement terhadap whistleblower.Seakan keberadaan Indonesia diidentikkan dengan adanya korupsi itu sendiri.Saat ini permasalahan korupsi sudah mencapai titik kulminasi yang sangat memprihatinkan. PENDAHULUAN Permasalahan korupsi sudah menjadi penyakit kronis di negeri ini. Selain itu peraturan perundang-undangan a quo berlaku untuk saksi. Saksi merupakan orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyelidikan. dan/atau ia alami sendiri.[2] Keberadaan whistleblower menjadi sebuah hal yang nyata di Indonesia. sehingga diperlukan extraordinary treatment untuk memberantasnya.

menjadi whistle blower antara lain dalam kasus GayusTambunan dan PT Salmah Arwana Lestari sebelum ditetapkan menjadi tersangka oleh Mabes Polri. Torehan sederhana ini dimaksudkan untuk memberikan sumbangsih pemikiran guna solusi atas maraknya kasus korupsi di Indonesia dengan menerapkan sebuah sistem baru yang bernama restorative justice bagi whistle blower.[3] Dalam pengertian lain. restorative justice merupakan sebuah teori yang menekankan pada pemulihan kerugian yang disebabkan atau ditimbulkan oleh perbuatan pidana. Pemulihan kerugian ini dicapai dengan adanya proses kooperatif yang mencakup semua pihak yang berkepentingan. tentunya dengan diberlakukannya restorative justice ini juga diharapkan agar terbangunnya pola pikir pemerintah bahwa diperlukan suatu mekanisme atau cara-cara baru untuk memberantas korupsi di Indonesia yang akan lebih banyak memberikan manfaat bagi bangsa ini. Selain itu.Oleh karena itu protection and achievement menjadi hal yang mutlak untuk diatur demi menstimulasi munculnya whistle blower yang akan membantu pelaksanaan upaya pemberantasan korupsi. antara lain berisi:[5] Page | 4 . yang.Marshall menyebutkan pihak bahwa yang dimaksud dalam dengan suatu restorative justice atau keadilan restoratif adalah suatu proses yang mempertemukan seluruh yang berkepentingan pelanggaran hukum untuk menyelesaikan secara bersama-sama akibat pelanggaran hukum itu dan akibatnya.[4] Dalam hal ini PBB mendorong pelaksanaan restorative justiceterkait penuntasan masalah-masalah pidana dengan UN Declaration on The Basic Principles on The Use of Restorative Justice Programmes in Criminal Matters. II. KERANGKA PEMIKIRAN a. Restorative Justice Tony F.

community service. seperti restitution (restitusi). e.[7] Dalam usulan definisi whistleblower. c. Restorative Justiceadalah pelaksanaan program yang menggunakan proses restorative justiceatau dengan maksud untuk mencapai restorative justice. dan program yang bertujuan untuk memperbaiki korban dan masyarakat serta mengembalikan pelaku. Fasilitator. Restorative Justice Outcome adalah kesepakatan yang dicapai sebagai hasil proses restorative justice. adalah pihak ketiga yang menjalankan fungsi memfasilitasi keikutsertaan pihak terkait.a.[6] b. buktibukti yang kuat. istilah whistle blower sering digunakan untuk seseorang yang berupaya mengungkap ketidakjujuran dan penyimpangan anggaran yang terjadi di mana ia bekerja. b. Pihak terkait (parties) adalah korban. pelaku dan individu dalam masyarakat yang dilibatkan dalam proses restorative justice. seperti restorative mediation. conferencing dan circle. atau keterangan di bawah sumpah yang dapat mengungkap Page | 5 . dan (b) Memberikan kesempatan kepada pelanggar untuk membuktikan kapasitas dan kualitasnya di samping mengatasi rasa bersalahnya secara konstruktif. pelaku dan masyarakat secara aktif dalam penyelesaian akibat perbuatan kejahatan tersebut dengan campur tangan pihak ketiga. Whistle Blower Secara historis. whistle blower didefinisikan sebagai seorang yang memberikan bantuan kepada penegak hukum dalam bentuk pemberian informasi penting. d. Prinsip keadilan restoratif diantaranya adalah (a) Membuat pelanggar bertanggung jawab untuk memperbaiki kerugian yang ditimbulkan oleh kesalahannya. Proses Restorative Justiceadalah proses bertemunya korban.

Internal whistle blower yaitu seorang pekerja atau karyawan di dalam suatu perusahaan atau institusi yang melaporkan suatu tindakan pelanggaran hukum kepada karyawan lainnya atau atasannya yang juga ada didalam perusahaan tersebut. “suatu sistem yang korup hanya akan terjadi bila para individu yang menjalankan sistem itu juga korup”.[10] Berdasarkan penelitian di Amerika. Makna dari ungkapan tersebut secara implisit juga disebutkan dalam substansi Pasal 103 Page | 6 . organisasi atau perusahaan tersebut. dan rasa tanggung jawab terhadap masyarakat (social responsibility).suatu kejahatan dimana orang tersebut terlibat dalam kejahatan tersebut atau suatu kejahatan lainnya. Tindak Pidana Korupsi Het rechthinkachter de feitenaan. yang dilakukan Glazer dan Glazer terhadap 55 whistle blower untuk mengungkapkan motif mereka. etika profesional (professional ethics). sebuah ungkapan dalam Bahasa Belanda yang berarti hukum itu selalu ketinggalan dari jamannya. Secara umum bisa dikatakan.[9] Dalam pengertian lain whistle blower adalah seorang informan (bisa dari dalam atau luar institusi/perusahaan) yang mengungkapkan kesalahan kebijakan atau pelanggaran hukum yang terjadi pada suatu institusi/perusahaan dengan harapan untuk menghentikan kesalahan tersebut agar tidak berulang.[8] Whistle blower juga biasa diartikan peniup peluit dan pengungkap fakta. keyakinan individual yang dimiliki para whistle blower bersumber pada tiga hal: nilai.[11] Ada dua tipe whistle blower. Mereka berasumsi. mayoritas whistle blower mengungkapkan bahwa mereka memutuskan untuk meniup peluit berdasar keyakinan individual. yaitu internal whistle blower dan external whistle blower. Sedangkan tipe e xternal whistle blower adalah pihak pekerja atau karyawan di dalam suatu perusahaan atau organisasi yang melaporkan suatu pelanggaran hukum kepada pihak di luar institusi.[12] c.nilai keagamaan (religious values).

maka tindak pidana korupsi masuk ke dalam tindak pidana khusus. Maksudnya adalah dalam mengantisipasi perkembangan zaman tidaklah menutup kemungkinan timbulnya kejahatan-kejahatan baru yang sama sekali belum terpikirkan pada saat mengkodifikasi hukum pidana dalam suatu kitab undang-undang. dan pelanggaran berat hak asasi manusia.KUHP dan Pasal 284 KUHAP yang pada pokoknya memberi peluang bagi pertumbuhan hukum pidana baru di luar kodifikasi. Demikian juga dengan perkembangan zaman. Bahwa tindak pidana korupsi sangat merugikan Negara atau perekonomian Negara dan menghambat pembangunan nasional. Korupsi merusak moral dan karakter bangsa serta sendi-sendi kehidupan nasional. Dikatakan extraordinary atau luar biasa karena hal-hal sebagai berikut:[15] 1. 2. merupakan dasar hukum munculnya suatu Undang-Undang baru di luar KUHP terhadap pelanggaran atau kejahatan yang sebelumnya belum pernah diatur dalam KUHP tersebut. 3.[13] Kesempatan yang diberikan oleh Pasal 103 KUHP dan Pasal 284 KUHAP. Salah satu contohnya adalah tindak pidana korupsi. genosida. Istilah extraordinary crime pada mulanya digunakan sebagai istilah untuk menyebut kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan. Page | 7 . Tindak pidana korupsi yang meluas dan sistematis juga merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan hak-hak ekonomi masyarakat. seperti terorisme. banyak kejahatan konvensional dilakukan dengan modus operandi yang canggih sehingga dalam proses beracara diperlukan teknik atau prosedur khusus untuk mengungkapkan suatu kejahatan.[14] Selain tindak pidana khusus. tindak pidana korupsi juga digolongkan sebagai extraordinary crime atau kejahatan luar biasa yang juga membutuhkan penanganan luar biasa pula. Karena tindak pidana korupsi bersumber dari peraturan perundang-undangan di luar KUHP.

perusahaan dan menyalahgunakan wewenang.[16] Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (1) UU No. menyatakan bahwa korupsi adalah kumpulan orang dan atau kekayaan yang terorganisasi baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum. menyatakan bahwa korupsi merupakan suatu bentuk perbuatan melawan hukum yang bertujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain.4. Sesuai dengan hal-hal yang telah disebutkan di atas. Tindak pidana korupsi di Indonesia saat ini sudah pada titik yang tidak dapat ditolerir. kesempatan atau sarana yang melekat pada jabatan yang merugikan keuangan negara. UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi. membudaya dan sistematis. Berdasarkan Pasal 3 UUNomor 31 Tahun 1999 jo. begitu mengakar. monopoli kekuatan oleh pimpinan ( monopoly of power) ditambah dengan tingginya kekuasaan yang dimiliki seseorang (discretion of official) tanpa adanya pengawasan yang memadai dari aparat Page | 8 . 31 tahun 1999 jo UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi.[17] Faktor penyebab atau variabel pendukung adanya korupsi seperti dinyatakan dalam Teori Korupsi yang dikemukakan oleh Klitgaard antara lain adalah sebagai berikut:[18] C=M+D–A C = Korupsi M= Monopoly of Power D= Discretion of official A= Accountability Menurut Robert Klitgaard. penulis berpendapat korupsi memang seharusnya digolongkan sebagai salah satu extraordinary crime atau kejahatan yang luar biasa sehingga membutuhkan penanganan yang luar biasa pula untuk memberantasnya.

pengawas (minus accountability). maka akan terjadi korupsi dan hal itulah yang banyak terjadi di Indonesia sekarang. III. maka akan terjadi korupsi. Peraturan perundang-undangan yang sudah ada. yang disampaikan oleh Klitgaard bahwa dengan adanya monopoli kekuatan oleh pimpinan ( monopoly of power) ditambah dengan tingginya kekuasaan yang dimiliki seseorang ( discretion of official) tanpa adanya pengawasan yang memadai dari aparat pengawas ( minus accountability). whistle blower diharapkan tidak ragu dan takut untuk membantu mengungkap semua fakta tindak pidana korupsi yang terjadi.Perubahan pola pemerintahan yang tersentralisasi menjadi terdesentralisasi dengan adanya otonomi daerah telah menggeser praktik korupsi yang dahulu hanya didominasi oleh pemerintah pusat kini menjadi marak terjadi di daerah. GAGASAN a.Hal ini selaras dengan teori Klitgaard bahwa korupsi mengikuti kekuasaan. korupsi merupakan kejahatan yang terorganisir. Dengan adanya protection and achievement. Korupsi selayaknya lingkaran setan yang saling menghubungkan satu pejabat dengan pejabat lain.[19] Namun menjalankan peran sebagai whistle blower bukanlah hal yang mudah sehingga harus ada sebuah protection and achievement yang diberikan kepada whistle blower. Whistle-blower dan Upaya Pemberantasan Korupsi Berdasarkan teori korupsi yang telah dikutip dalam kerangka teori tersebut di atas. sehingga perlu ada seorang yang ada dalam sistem atau lingkaran setan tersebut yang memutus rantai korupsi yaitu dengan membongkar tindakan korupsi tersebut dan mau tidak mau harus menyandang predikat sebagai whistle blower. yaitu UU Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban tidak dapat diberlakukan Page | 9 . Restorative Justice.

dan/atau ia alami sendiri. UU Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban Pasal 10 ayat (2) juga menyatakan bahwa “Seorang saksi yang juga tersangka dalam kasus yang sama tidak dapat dibebaskan dari tuntutan pidana apabila ia ternyata terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah. ia lihat sendiri.[20] Namun hal ini pun tidak cukup menjamin adanya protection and achievement terhadap whistle blower. bukti-bukti yang kuat. whistle blower adalah seorang yang memberikan bantuan kepada penegak hukum dalam bentuk pemberian informasi penting. seperti yang telah dikutip dalam penulisan ini. sehingga apa yang diatur dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban tidak berlaku terhadap whistle blower. konteks restorative justice yang berlaku di Indonesia saat ini. Protection and achievement tersebut dapat direalisasikan dengan penerapan restorative justice terhadap whistle blower. penyidikan. atau keterangan di bawah sumpah yang dapat mengungkap suatu kejahatan dimana orang tersebut terlibat dalam kejahatan tersebut atau suatu kejahatan lainnya. tetapi kesaksiannya dapat dijadikan pertimbangan hakim dalam meringankan pidanayang akan dijatuhkan”. sedangkan saksi dalam pengertian menurut UU Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban Pasal 1 point (1) saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyelidikan. Berdasarkan landasan teori yang telah disampaikan di awal penulisan ini.pada whistle blower karena UU Nomor 13 Tahun 2006 berlaku terhadap saksi sedangkan whistle blower bukan saksi. adalah proses yang mempertemukan seluruh pihak yang berkepentingan dalam suatu pelanggaran hukum untuk Page | 10 . dan pemeriksaan di sidang pengadilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri. Menurut usulan pengertian whistle blower yang diajukan oleh Divisi Kajian dan Riset Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum Unit Kegiatan Presiden Republik Indonesia. penuntutan.

Penerapan dua prinsip di atas terhadap whistle blower dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi yaitu dengan memberikan kesempatan pada whistle blower untuk memberikan informasi penting. bukti-bukti yang kuat. community service. hasil proses restorative justice tersebut adalah berupa restitusi ( restitution). Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut: a. Restorative Justicediberlakukan untuk menyelesaikan perkara pidana yang dilakukan anak namun ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan terhadap whistle blower dalam upaya pemberantasan korupsi. b. atau biasa disebut kesepakatan yang dicapai sebagai hasil proses restorative justice yang dinyatakan dalam UN Declaration on The Basic Principles on The Use of Restorative Justice Programmes in Criminal Matters. dan program yang bertujuan untuk memperbaiki korban dan masyarakat serta mengembalikan pelaku juga dapat diterapkan terhadap whistle blower. Page | 11 . atau keterangan di bawah sumpah yang dapat mengungkap suatu kejahatan dimana orang tersebut terlibat dalam kejahatan tersebut atau suatu kejahatan lainnya. Membuat pelanggar bertanggung jawab untuk memperbaiki kerugian yang ditimbulkan oleh kesalahannya. Memberikan kesempatan kepada pelanggar untuk membuktikan kapasitas dan kualitasnya disamping mengatasi rasa bersalahnya secara konstruktif. sehingga dengan demikian whistle blower dapat memperbaiki kerugian yang ditimbulkan oleh kesalahannya dan membuktikan kapasitas/kualitasnya dalam hal berpartisipasi dalam upaya pemberantasan korupsi.menyelesaikan secara bersama-sama akibat pelanggaran hukum itu dan akibatnya. Selain hal tersebut di atas menurut restorative justice outcome.

Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas. dengan adanya pemberlakuan restorative justice terhadap whistle blower dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi diharapkan semakin banyak tindak pidana korupsi yang akan terungkap dan terselesaikan sehingga upaya pemberantasan korupsi semakin progresif.Dalam hal restitusi (restitution) adalah dengan memberikan achievement jika informasi/keterangan yang diberikan oleh whistle blower terbukti. penyidikan. penuntutan. dan/atau ia alami sendiri.[21] Berdasarkan pengertian ini maka UU secara tegas Page | 12 . b. saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyelidikan. Restorative justice yang dimaksud dalam upaya pemberantasan korupsi adalah proses dimana whistle blower memberikan informasi/keterangan untuk mengungkap suatu tindak pidana korupsi sebagai bentuk pemberian kesempatan pada whistle blower untuk memperbaiki kerugian yang ditimbulkan oleh kesalahannya dan membuktikan kapasitas/kualitasnya untuk membongkar suatu tindak pidana korupsi yang belum terungkap. dan pemeriksaan disidang pengadilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri.Dalam Pasal 1 angka 1 UU Nomor 13 Tahun 2006. ia lihat sendiri. namun undangundang tersebut tidak dapat mengakomodir perlindungan terhadap whistle blower. Kelemahan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban UU Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban hadir sebagai instrumen perlindungan Saksi dan Korban. sedangkan terkait community service dalam upaya pemberantasan korupsi whistle blower mempunyai tanggung jawab untuk membantu upaya pemberantasan korupsi. Kekurangan dalam UU Nomor 13 Tahun 2006 adalah definisi saksi kurang memadai sehingga menutup kemungkinan perlindungan terhadap whistleblower.

Implementasi Konsep Restorative Justicedan Whistle Blower Dalam Upaya Pemberantasan Korupsi Berdasarkan beberapa pokok bahasan sebelumnya telah menjadi sebuah fakta jika peraturan perundang-undangan yang ada tidak mengakomodir perlindungan (protection) dan penghargaan (achievement) terhadap whistle blower. c.[22] Berdasarkan hal tersebut maka kedudukan whistle blower tidak diakui secara tegas dalam undang-undang a quo. Selain itu tidak adanya rumusan yang jelas dan tegas terhadap kedudukan saksi yang jugatersangka. yang tercantum dalam Pasal 10 ayat (2) UU Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban sehingga hal tersebut menimbulkan multi tafsir dan berpotensi menimbulkan tafsir inkonstitusional dan menimbulkan ketidakpastian hukum serta bertentangan dengan HAM dalam Pasal 28D ayat (1) dan Pasal 28G ayat (1) UUD 1945.menyatakan bahwa aturan dalam undang-undang ini hanya berlaku bagi saksi dalam lingkup perkara pidana. Selanjutnya dalam UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi maupun dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi juga tidak dijamin tentang perlindungan (protection) dan penghargaan (achievement) terhadap whistle blower sehingga terkait perlindungan terhadap whistle blower belum dijamin kepastian hukumnya dalam peraturan perundang-undangan manapun. Berangkat dari korupsi masuk dalam tindak pidana khusus dan berdasarkan Pasal 103 dan Pasal 284 KUHAP dimungkinkan adanya Page | 13 . Oleh karena hal tersebut protection and achievement perlu dimasukkan dalam peraturan perundang-undangan. Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban tidak memberikan kepastian hukum terhadap kedudukan dan protection and achievement terhadap whistle blower.

peraturan perundang-undangan lain di luar KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana) yang mengatur tentang tindak pidana korupsi tersebut. 1. antara lain: [23] a.UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi. Bentuk protection and achievement yang dapat diberikan pada whistle blower untuk dimasukkan dalam UU Nomor 31 Tahun 1999 jo. yaitu memasukkan restorative justice dalam peraturan perundang-undangan yang khusus mengatur tentang korupsi.UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi. Perlindungan dalam bentuk (achievement) secara umum dapat terbagi menjadi dua kategori. Penghapusan Penuntutan Apabila mengacu pada UU 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi khususnya Pasal 10 ayat (2) memang terkesan bahwa seorang saksi yang juga tersangka dalam kasus yang sama tidak dapat dibebaskan dari tuntutan pidana. apabila mengacu pada UU Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan secara filosofis penghapusan penuntutan masih Page | 14 . Namun. Peraturan perundang-undangan di luar KUHP tersebut adalah UU Nomor 31 Tahun 1999 jo. Korupsi masuk dalam klasifikasi extraordinary crime dibutuhkan extraordinary treatment dalam upaya pemberantasan korupsi sehingga berdasarkan hal tersebut dimungkinkan adanya sebuah peraturan yang mengatur kekhususan-kekhususan dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi. yang pertama yaitu yang menghapuskan kewenangan penuntutan dan yang tidak menghapuskan kewenangan penuntutan. yaitu UU Nomor 31 Tahun 1999 jo.UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi. Perlindungan Fisik (protection) Perlindungan dalam bentuk penghargaan (achievement) kepada whistle blower. b.

a. Untuk itu maka apabila pemberian hukuman percobaan ini ingin diterapkan sebagai bentuk achievement kepada whistle blower maka diperlukan pengaturan khusus mengenai hal ini Page | 15 . [24]Kewenangan dimanfaatkan seponeeringatau dijadikan untuk dasar penghapusan penuntutan terhadap whistle blower yang berjasa dalam membongkar suatu kejahatan khususnya kejahatan yang terorganisir. namun dapat juga dalam bentuk-bentuk lainnya yang pada pokoknya masih bersifat penghukuman seperti penjatuhan hukuman percobaan maupun penjatuhan bentuk hukuman yang lebih ringan. yaitu dengan menggunakan asas oportunitas pengaturan kewenangan ini dapat Pengesampingan Perkara atau yang lebih dikenal dengan seponeering. Dengan hukuman percobaan ini maka whistle blower yang juga pelaku tindak pidana dapat tidak menjalani hukuman kecuali jika dalam masa percobaan yang ditetapkan hakim whistle blower tersebut melakukan suatu tindak pidana. Penjatuhan hukuman percobaan Hukuman percobaan sebagaimana diatur dalam Pasal 14huruf a sampai dengan 14huruf f KUHP dapat juga dijadikan pilihan dalam memberikan achievement kepada whistle blower. Terlebih dengan telah diratifikasinya UNTOC melalui UU Nomor 5 Tahun 2009 dimana di Pasal 26 ayat (3) memang dianjurkan agar setiap negara anggota UNTOC memungkinkan agar pengampunan terhadap whistle blower dapat diberikan. Tanpa Penghapusan Penuntutan Pemberian sanksi yang lebih ringan tersebut tidak harus dalam bentuk pengurangan hukuman atau ancaman hukuman. 2.dapat dilakukan.

Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28D Setiap orang berhak atas pengakuan. sebagaimana layaknya.UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi.[26] Page | 16 .dalam revisi UU Nomor 31 Tahun 1999 jo. Ahli dan Korban Setiap Negara Pihak wajib mengambil tindakan-tindakan yang tepat sesuai dengan sistem hukum nasionalnya yang dan efektif dalam dari kewenangannyauntuk memberikan perlindungan kemungkinan pembalasan atau intimidasi bagi para saksi dan ahli yang memberikan kesaksian mengenai kejahatan-kejahatan yang ditetapkan sesuai dengan konvensi ini dan. c. b. dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang samadi hadapan hukum. Perubahan/pengalihan bentuk hukuman Yang dimaksud dengan pengalihan jenis hukuman di sini yaitu pengalihan dari bentuk hukuman ke bentuk hukuman lainnya yang lebih ringan. Pengurangan hukuman Selain penghapusan penuntutan achievement yang dapat diberikan pada whistle bloweryaitu pengurangan hukuman yang akan dijatuhkan. bagi keluarga mereka dan orang-orang lain yang dekat dengan mereka. jaminan.[25] b.Misalnya perubahan dari bentuk hukuman penjara menjadi kurungan atau denda. Dasar hukum yang dapat digunakan sebagai dasar dari pemberian protection and achievement yang dapat diberikan pada whistle blower antara lain adalah sebagai berikut: a. perlindungan. UNCAC Pasal 32 Perlindungan para Saksi.

Undang-undang No. penuntutan dapat dilaksanakan oleh KPK dan Kejaksaan. dan pelapor tidak dapat dituntut secara hukum baik pidana maupun perdata atas laporan. Pemberian protection and achievement dapat sekaligus dilaksanakan oleh KPK yaitu dalam hal KPK dapat memberikan perlindungan secara fisik maupun perlindungan dalam bentuk penghargaan.[27] d.13 Tahun 2006 Pasal 10 Saksi. dan pengurangan hukuman dapat diberikan oleh Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada saat penjatuhan putusan.c. kesaksian yang akan. Sedangkan achievement berupa penjatuhan perubahan/pengalihan bentuk hukuman. sedang. 5 Tahun 2009 Dalam Pasal 26 khususnya ayat 2 dan 3 disebutkan bahwa setiap negara anggota UNTOC harus mempertimbangkan untuk dapat memberikan kemungkinan pengurangan hukuman hingga impunitas kepada pelaku yang mau bekerjasama dengan aparat penegak hukum dalam membongkar suatu kejahatan yang terorganisir.[28] Dalam hal mekanisme pemberian perlindungan (protection) dapat dilaksanakan oleh lembaga perlindungan khusus whistle blower dalam kasus tindak pidana korupsi yang dapat dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan seperti halnya Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) yang dibentuk berdasarkan UU Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. atau telah diberikan nya. United Nation Transnational Organized Crimes (UNTOC) Resolusi PBB No. Namun dalam hal pemberian achievement harus menunggu bahwa informasi/keterangan whistle blower terkait tindak pidana korupsi yang diungkap oleh whistle blower terbukti di pengadilan.Terkait yang achievement yang berupa hukuman penghapusan percobaan. Page | 17 . korban. 55/25 15 Nopember 2000 melalui UU No.

Tindak pidana korupsi adalah extraordinary crime yang membutuhkan extraordinary treatment. Korupsi adalah kejahatan yang terorganisir dan melibatkan para penguasa serta kalangan elit politik.IV. 3. PENUTUP a. Selain itu diharapkan partisipasi berbagai pihak semakin meningkat dalam hal upaya pemberantasan korupsi. dalam hal ini whistle blower. Sehingga perlu kehadiran whistle bloweryang ada dalam sistem tersebutuntuk mempermudah upaya pemberantasan korupsi. Korupsi telah menjadi sebuah sistem yang sulit untuk ditembus dari luar. khususnya pihak-pihak yang terlibat atau menjadi bagian dari suatu sistem yang korup. 2. Namun perlu ada sebuah jaminan kepastian hukum terkait kedudukannya sebagai whistle blower selayaknya kepastian hukum yang diberikan kepada saksi dalam UU Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban sehingga dengan adanya kepastian kedudukan hukum yang diejawantahkan dalam peraturan perundang-undangan dapat menjadi dasar pemberlakuan restorative justice dan pemberian protection and achievement terhadap whistle blower. uraian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Pemberian protection and achievement terhadap whistle blower merupakan upaya untuk meningkatkan progresivitas pemberantasan tindak pidana korupsi sehingga semakin banyak tindak pidana korupsi yang terungkap. Kesimpulan Berdasarkan keterangan. Bahwa whistle blower mempunyai peran penting dalam upaya pemberantasan korupsi. Page | 18 .

serta risiko lain yang lebih berbahaya dibandingkan dengan saksi karena whistle blower lebih mengetahui semua sistem dalam tindak pidana korupsi. Kejaksaan. ancaman. Perlu diberikan kepastian kedudukan bagi whistle blower terkait kedudukannya selayaknya kepastian hukum yang diberikan kepada saksi dalam UU Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Perlu memperluas fungsi LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) agar memungkinkan untuk memberikan perlindungan kepada whistle blower atau dengan membentuk lembaga perlindungan khusus untuk whistle blower terkait whistle blower rawan terhadap intimidasi.b. Rekomendasi 1. UU Nomor 21 Tahun 2000 tentang Tindak Pidana Korupsi dalam hal memasukkan restorative justice serta pemberian protection and achievement terhadap whistle blower. Kepastian hukum terkait kedudukan whistle blower ini adalah sebuah pengakuan yang dapat diberikan dengan merevisi UU Nomor 31 Tahun 1999 jo. Page | 19 . Dimana peraturan perundangundangan tersebut memberikan pengakuan tentang keberadaan whistle blowerserta memberikan perlindungan (protection) dan penghargaan (achievement) terhadap whistle blower karena dua hal tersebut tidak terakomodir dalam UU Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Selain itu juga rekomendasi untuk memberikan kewenangan kepada KPK. serta Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi untuk dapat melaksanakan pemberian penghargaan (achievement). 2.

blogspot. MAKALAH Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum. ARTIKEL INTERNET Masguh. Quentin. Makalah. Portal UII. Krisnawati. Dempster. Muladi. Whistle Blower Para Pengungkap Fakta . 2006. 1995. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana . Bunga Rampai Hukum Pidana Khusus . Adami. “Talk Show tentang Eksistensi Whistle Blower dan Perlindungan Hukumnya dalam Penegakan Hukum di Indonesia”. Alumni.html. Hukum Pembuktian Tindak Pidana Korupsi . Pena Pundi Aksara. Bandung. “Focus Group Discussion Divisi Kajian dan Riset”. BUKU Chazawi.com/2010/03/teori-teori-korupsi. “Teori-Teori Korupsi”. diakses 11 Pebruari 2013. UKP4. Dani. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. 2006. http://seminar. diakses 11 Pebruari 2013 Page | 20 .DAFTAR PUSTAKA A.al. Jakarta.html . B.ac.id/news/politik-dan-hukum/talk-show-tentang-eksistensiwhistle-blower.. C. et. http://kuliahhurahura. Jakarta.uii. 2011. Impresum. Jakarta. 2006. Divisi Kajian dan Riset Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum. Semarang.

http://repository. United Nations Convention against Corruption (UNCAC).ac.id/bitstream/123456789/16655/3/Chapter%20II. diakses 11 Pebruari 2012 D.pdf .Sinaga. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi.usu. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. United Nation Transnational Organized Crimes (UNTOC). “Konsep Perlindungan Hukum Bagi Pengungkap Fakta (Whistle Blower) menurut Undang-Undang RI Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban”. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi. PERATURAN PERUNDANGAN/DOKUMEN LAIN Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Page | 21 .

Divisi Kajian dan Riset Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum. hlm. Makalah. Op. Pelaksanaan Penegakan Hukum Terhadap Delikuen Anak dalam Perkara Anak Nakal Berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak di Kota Yogyakarta dan Pengembangan Konsep Keadilan Restoratif dengan Cara Diversi dalam Rancangan Undang-Undang Pengadilan Pidana Anak di Indonesia . Unicef Indonesia. “Talk Show tentang Eksistensi Whistle Blower dan Hukumnya dalam Penegakan Hukum di Indonesia”. hlm. UKP4. 2011. Discussion Divisi Kajian dan Riset”. Analisis Situasi Sistem Pidana Anak di Indonesia . Portal UII. hlm. Unicef. 1995.END NOTES [1] [2] Pasal 1 angka 1Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum. 6 Februari 2008. Badan Zahru Arqom. Tesis. Impresum. [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] Muladi. Achmad ZainalArifin. Yogyakarta. 2010. Jakarta. Jakarta. hlm. Magister Litigasi Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Kompas. 39.. 125. Whistle Blower Para Pengungkap Fakta . Pemberantasan Korupsi”. 7. Perlindungan Page | 22 . “Focus Group Quentin Dempster. “Fenomena ‘Whistleblower’ dan Penerbit Universitas Diponegoro. hlm. Loc. 2011. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana . “Focus Group Perlindungan Saksi dan Korban.cit. Jakarta. Semarang.cit.1. 2006. Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum. 39-40. Discussion Divisi Kajian dan Riset”. [3] ZahruArqom.

hlm. Loc. PLN(Persero).S.id/bitstream/123456789/16655/3/Chapter%20II. [16] Korupsi. diakses 2 Maret 2011. 2006. Bunga Rampai Hukum Pidana Khusus. 18-19. http://kuliahhurahura. SigidRiyanto. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi) . [18] Masguh.html . Bandung. hlm. http://repository. disampaikan Penyuluhan Hukum di lingkungan PT. Eddy O. [19] Ramelan. Jakarta. [17] Korupsi. 1 Penghentian Penyidikan (Sp3) oleh Penyidik pada Perkara Tindak Pidana Korupsi (Tinjauan terhadap Pasal 40 Undang-Undang No. Fakultas Hukum UI. [12] [13] AchmadZainalArifin. DaniKrisnawati. diakses 2 Maret 2011. Kewenangan Mengeluarkan Surat Korupsi.html.usu.id/news/politik-dan-hukum/talk-show-tentang-eksistensiwhistle-blower. 2009. Pena Pundi Aksara. “Penerapan Hukum dan Studi Kasus Korupsi”.http://seminar. [11] Sinaga. Hukum Pembuktian Tindak Pidana Jenti Okatavia S. Depok.. Makassar. 1-3. diakses 2 Maret 2011.com/2010/03/teori-teori-korupsi. “Konsep Perlindungan Hukum Bagi Pengungkap Fakta (Whistle blower) menurut Undang-Undang RI Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban”. hlm. Skripsi. Alumni. “Teori-Teori Korupsi”.cit.Makalah.uii. 27 Juni 2002. Supriyadi.ac. Hiariej.blogspot.ac.pdf. Marcus PriyoGunarto. Distribusi Unit Bisnis Sulawesi Selatan. 2006. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Page | 23 . [14] [15] AdamiChazawi.

“Focus Group Pasal 35 huruf c Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Discussion Divisi Kajian dan Riset”.Hiariej. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum. Pasal 10Undang-Undang Nomor 13 Tahun2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Page | 24 . [23] [24] Pasal 10 ayat (2)Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pasal 1 angka 1Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Eddy O. [27] [28] United Nation Transnational Organized Crimes (UNTOC). [25] Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. “Legal Opinion Pengujian Pasal 10 ayat (2) Perlindungan Saksi dan Korban.[20] [21] [22] Korban”. [26] United Nations Convention against Corruption (UNCAC).cit.S. Kejaksaan Republik Indonesia. Perlindungan Saksi dan Korban. Loc.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful