Jurnal Pendidikan

Volume I No. 5, Oktober 2005

wadah publikasi penulisan karya ilmiah tenaga kependidikan Kota Semarang
Hubungan Pembelajaran Dengan Media Grafis Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas IV SD Negeri Tlogosari Wetan 01 – 02 Kecamatan Pedurungan Dyah Dwihastuti Analisis Pengaruh Kompensasi, Tingkat Pendidikan dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Semarang Dwi Laswiyati Meningkatkan Kualitas Muatan Lokal Pilihan Sekolah Melalui Peran Kepala SekolahGuru Dalam Menyusun Program Sebagai Perwujudan Menuju Kurikulum Berbasis Kompetensi Amos Musadi, S.Pd

ISSN 1907-0810

TIM REDAKSI
PENASEHAT
Drs. Sri Santoso Dr. Rasdi Ekosiswoyo, M.Sc Drs. Suratin

REDAKSI : Ketua
Drs. Susetyo Budi Drs. YYFR Sunardjan, MS Drs. Abdul Kholiq, M.Ag

Sekretaris
Drs. Imam Priyo Subarkah, MM

Anggota
Drs. Tri Waluyo, Ir. H. Soeharmono, MM, MBA Drs. Sujono, Drs. Purwandi, M.Pd Drs. Sumirin, M.Pd, Drs. Sutomo Drs. Aryono, M.Hum, Drs. Taryono, MM

Penyunting Bahasa
Ngasbun Egar, S.Pd, M.Pd Drs. A Wiyaka Drs. Sudibyo, M.Pd

Setting / Layout
Arifin Rasyid

Pembantu Umum
Arifin Rasyid, Didin Rachmaningtyas Winaryanto Jurnal Pendidikan “ISWARA MANGGALA” diterbitkan pertama kali tahun 2005 oleh Forum Pemberdayaan Tenaga Kependidikan Kota Semarang, kerjasama Dewan Pendidikan Kota Semarang, Dinas Pendidikan Kota Semarang dan PGRI Kota Semarang. Redaksi menerima kiriman naskah karya tulis, penelitian, karya ilmiah dari guru dan tenaga kependidikan. Informasi lebih lanjut silahkan menghubungi Sekretariat Dewan Pendidikan Kota Semarang, Gedung Moh. Ikhsan Lt. 1, Balaikota, Jl. Pemuda No. 148 Semarang, Telp. (024) 3540974. ISSN 1907-0810

Sekapur Sirih Ketua Dewan Pendidikan Kota Semarang
Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Kita patut bersyukur bahwa atas ridho-Nya, Jurnal Pendidikan “ISWARA MANGGALA” sudah sampai pada Volume I No. 5 Tahun 2005. Sungguh sangat dibanggakan bahwa kehadiran jurnal ini mendapat respon yang positif dari tenaga kependidikan di Kota Semarang ini. Hal ini bisa dilihat dari bervariasinya tulisan-tulisan yang dikirimkan kepada redaksi. “ISWARA MANGGALA” diterbitkan bersama-sama Dinas Pendidikan Kota Semarang dan PGRI Kota Semarang, sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru melalui penulisan karya ilmiah. Sehingga diharapkan jurnal pendidikan ini dapat menjadi wadah yang dapat menampung karya ilmiah guru, baik berupa hasil penelitian selama menjalankan tugas profesinya, maupun pemikiran-pemikiran akademis guru sebagai pengemban profesi kependidikan. Di samping itu, penerbitan jurnal ini juga merupakan salah satu upaya memberi kesempatan kepada guru untuk dapat mencapai karier profesinya secara maksimal, dengan memperoleh angka kredit dari unsur penulisan karya ilmiah. Dengan demikian, para guru diharapkan memanfaatkan secara optimal kesempatan ini, dengan berupaya mengirimkan tulisan-tulisan ilmiahnya untuk dimuat di “ISWARA MANGGALA”. Terwujudnya penerbitan “ISWARA MANGGALA” juga atas kerja keras dan partisipasi banyak pihak. Oleh karena itu, ucapan terima kasih secara tulus kami sampaikan kepada Walikota Semarang, Ketua DPRD Kota Semarang khususnya Komisi D, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang dan Ketua PGRI Kota Semarang. Terima kasih yang mendalam juga kami sampaikan kepada Tim Redaksi atas kerja kerasnya, para penulis, serta semua pihak yang ikut andil bagi terbitnya “ISWARA MANGGALA”. Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Dr. Rasdi Ekosiswoyo, M.Sc

Daftar Isi Volume I No. 5, Oktober 2005
Hubungan Pembelajaran Dengan Media Grafis Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas IV SD Negeri Tlogosari Wetan 01 – 02 Kecamatan Pedurungan
Dyah Dwihastuti........................................................................................................ 5

Analisis Pengaruh Kompensasi, Tingkat Pendidikan dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Semarang
Dwi 17 Laswiyati.............................................................................................................

Meningkatkan Kualitas Muatan Lokal Pilihan Sekolah Melalui Peran Kepala Sekolah–Guru Dalam Menyusun Program Sebagai Perwujudan Menuju Kurikulum Berbasis Kompetensi

Amos Musadi, S.Pd................................................................................................. 43

HUBUNGAN PEMBELAJARAN DENGAN MEDIA GRAFIS TERHADAP HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL SISWA KELAS IV SD NEGERI TLOGOSARI WETAN 01 – 02 KECAMATAN PEDURUNGAN Abstrak Kegiatan belajar mengajar pada saat ini masih banyak yang kurang berhasil, khususnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Hal ini dikarenakan karena sebagian besar guru hanya menggunakan satu metode pembelajaran yaitu ceramah, dengan metode ceramah maka dengan sendirinya hasil yang didapatkan bersifat verbalisme. Salah satu upaya untuk dapat menunjang keberhasilan kegiatan belajar mengajar (KBM), khususnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dengan menggunakan media grafis. Penggunaan media grafis dalam kegiatan belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dapat berupa gambar, bagan, skema, grafis, kartun, foto, gambar guntingan majalah, koran, kalender, kesemuanya ini disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan sehingga akan mempermudah seorang guru dalam menuangkan ide-ide atau gagasan guna pengembangan materi pelajaran, disamping peningkatan keberhasilan KBM penggunaan media grafis juga dapat meningkatkan kreatifitas dan keaktifan siswa di dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Kata kunci : Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), Mata Pelajaran IPS, Media Grafis
Oleh : Dyah Dwihastuti

pengertian media pendidikan. mengajar dan memberikan motivasi kepada siswa. Salah satu caranya adalah melaksanakan kegiatan belajar mengajar/ pembelajaran dengan menggunakan media grafis. media grafis sebagai salah satu alternatif. guru dituntut untuk menguasai materi. GAMBARAN UMUM TENTANG MEDIA PENDIDIKAN Segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai alat bantu atau media untuk meningkatkan mutu pendidikan dapat dikategorikan sebagai media. membimbing. siswa maupun lingkungan. khususnya untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial akan dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan nyata kepada siswa sehingga verbalisme dapat dihindari disamping itu dapat mengurangi rasa jemu pada siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. suatu contoh teknologi . yaitu mendidik. Untuk mengatasi hal tersebut guru dituntut untuk memiliki kemampuan profesional yaitu kesanggupan seorang guru untuk menjalankan perannya sebagai guru. Sesuai dengan perannya tersebut. baik yang berasal dari guru. media grafis dalam kegiatan belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Dengan penggunaan media grafis. metode dan juga penggunaan media pembelajaran sehingga memungkinkan perkembangan siswa secara optimal. Kepala Sekolah dan guru SD Tlogosari Wetan 01 – 02 berupaya untuk meningkatkan hasil dan mutu pendidikan.PENDAHULUAN Dalam setiap kegiatan belajar mengajar pasti ada hambatan-hambatan yang muncul. nilai dan manfaat media pendidikan. Sebagai landasan teori yang mendukung penelitian ini disajikan secara berturut-turut: gambaran umum tentang media pendidikan. Menyadari hal tersebut.

Di dalam perkembangannya. menunjang dan meningkatkan proses belajar mengajar. Ø Media pendidikan merupakan perantara (medium) yang digunakan dalam rangka . metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.dunia pendidikan tepatnya dunia sekolah dan dalam lingkup kelas yang fungsinya sebagai alat bantu atau media yang dapat meningkatkan mutu pendidikan. Teknologi adalah pengetahuan tentang proses dan metode pengajaran atau pengelolaan yang diuji dengan hasil memuaskan. teknologi tidak hanya terbatas pada teknik mengajar saja namun juga mencapai bidang administrasi dan pengelolaan tentang semua hal yang menyangkut kependidikan. termasuk alat dan bahan yang membantu dan menunjang proses belajar mengajar. Sadiman.. Sebagai gambaran yang lebih jelas akan diketengahkan tentang ciri-ciri media pendidikan: Ø Media pendidikan digunakan dalam rangka hubungan atau komunikasi dalam pengajaran antara guru dan siswa.‖ (Arif S. Seperti dikatakan bahwa ―Teknologi pendidikan mempersatukan segala alat (hardware) dan bahan (software) yang tepat. dengan hasil pengujian ini dapat dijadikan standar dan merupakan penerapan sistematis dari ilmu pengetahuan dengan tujuan praktis.1993:19) Pengertian Media Pendidikan Media pendidikan adalah alat. Ø Media pendidikan adalah alat bantu belajar mengajar baik di dalam maupun di luar kelas.

peta dan globe. Media grafis yang terdiri atas: gambar/ foto. (Oemar Hamalik 1994:12) Nilai dan Manfaat Media Pendidikan Media pendidikan mempunyai manfaat yang tidak kecil dalam kegiatan belajar mengajar diantaranya adalah mengurangi verbalisme. dapat menggantikan objek yang terlalu besar atau terlalu kecil dan dapat dibawa ke ruang kelas. chart. memberikan pengetahuan yang tidak diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi yang lebih mendalam serta keragaman yang lebih banyak dalam belajar (Oemar Hamalik 1994:15). proses pembelajaran lebih mantap. sebagai alat dan sebagai teknik yang sangat erat pertaliannya dengan metode mengajar. memperbesar perhatian siswa. diantaranya dapat mengatasi perbedaan anak yang kurang dalam dalam pengalaman dengan anak yang lebih pengalamannya. memberikan pengalaman yang nyata. media pendidikan juga memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara siswa dan lingkungannya serta memberikan pengalaman yang menyeluruh dan konkrit. diagram. .Ø Media pendidikan merupakan perantara (medium) yang digunakan dalam rangka pendidikan. kartun. poster. Ø Media pendidikan mengandung aspek. sketsa. Jenis-jenis Media Pendidikan Secara umum media pendidikan terdiri dari berbagai jenis media diantaranya: a. Di samping itu media pendidikan juga dapat memberikan nilai praktis. grafik.

Televisi f. Vidio tape recorder Media grafis sebagai salah satu alternatif Dalam uraian di atas disampaikan bahwa media grafis terdiri dari: Gambar/ foto : dengan media gambar/ foto akan lebih realitis menunjukkan pokok masalah. merangsang minat anak siswa untuk mempelajari sesuatu hal. filmstrip. opaque proyektor. Media proyektor still terdiri dari: slide. Film loop e.c. dapat dengan cepat mengadakan analisis interprestasi dari data perbandingan. Grafik: media grafik adalah suatu jenis grafik yang menggunakan titik-titik atau garis untuk menyampaikan informasi statistik yang saling berhubungan. overhead proyektor. Chart: penyajian bergambar dan grafik untuk mendaftar sejumlah besar informasi. MEDIA GRAFIS DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL Untuk mencapai tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dibutuhkan penanaman keterampilan proses pada diri siswa dan keterampilan proses ini dapat diwujudkan dengan . mikro proyektor. Beberapa manfaat/ kelebihan media grafik adalah dapat untuk mempelajari dan mengingat data kualitatif. d.

METODE Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen. dalam upaya meningkatkan prestasi belajar Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. kemampuan bersosial. Karena penelitian ini untuk menyelidiki hubungan sebab akibat antara yang menggunakan media grafis dan yang tidak menggunakan media grafis maka metode yang tepat adalah metode eksperimen. Ilmu Pengetahuan Sosial memang memerlukan suatu usaha yang lebih dari mata pelajaran yang lainnya karena materi Ilmu Pengetahuan Sosial senantiasa berkembang sesuai dengan perkembangan jaman. yaitu kelompok eksperimen dan kelompok . kartun akan mempermudah seorang guru dalam menuangkan ide-ide atau gagasan-gagasan guna mengembangkan materi pengajaran yang ingin disampaikan. selain memberikan banyak kemudahan bagi guru. skema. grafis. bagan.fisik. Dengan demikian dapat dilihat bahwa media grafis mempunyai peranan yang besar dalam menyampaikan materi pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.‖ Adapun pola eksperimen yang digunakan adalah pola the static group comparison: randomized control group only design. media grafis lebih murah sehingga dapat dijangkau baik oleh guru sekolah maupun siswa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sutrisno Hadi (1990:427) bahwa ―Metode eksperimen merupakan salah satu metode yang paling tepat untuk menyelidiki sebab akibat. disamping itu dalam penyajian bahan pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ini alat pelajaran mutlak diperlukan dan salah satu langkah yang tepat adalah dengan penggunaan media grafis. yaitu sekelompok subjek yang diambil dari populasi tertentu dikelompokkan menjadi dua kelompok. Dengan menggunakan media grafis yang berupa gambar.

kesamaan umur. Sebagai populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri Tlogosari Wetan 01 – 02. Perbedaan yang timbul dianggap bersumber pada variabel perlakuan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan awal dari penelitian ini relatif sama dilihat dari uji normalitas jenis kelamin. Sebagai langkah pelaksanaan penelitian disusun urutan sebagai berikut: Tahap pertama adalah matching/ pemasangan dalam penelitian ini. Prosedur matching yang digunakan adalah prosedur pemasangan kelompok (group matching) berdasar kelas masing-masing. Hasil pengamatan awal tentang jenis kelamin antara dua kelompok sampel menunjukkan bahwa kedua sampel tidak ada perbedaan dalam faktor jenis kelamin. nilai Ilmu Pengetahuan Sosial di raport. Tahap ketiga mengadakan pengumpulan data dengan menggunakan teknik dokumentasi dan tes sedangkan tahap keempat adalah menganalisa data yang sudah ada menggunakan analisis statistikdengan menggunakan teknik korelasi t-tes. dan guru pengajar. Hasil pengamatan tingkat pendidikan orang tua juga tidak ada perbedaan antara hasil . tingkat pendidikan orang tua. Dari populasi yang ada peneliti mengambil sampel sebanyak 40 siswa.Kelompok eksperimen dikenai variabel tertentu dalam jangka waktu tertentu lalu kedua kelompok ini dikenai pengukuran yang sama. Tahap kedua adalah langkah penyusunan perangkat tes penelitian. dengan penghitungan x2 hitung kedua sampel lebih kecil dibanding dengan x2 tabel. selanjutnya secara random mana yang menjadi kelompok eksperimen mana yang menjadi kelompok kontrol.

178571 untuk f empiris. dengan hasil penghitungannya f hitung sebesar 1.4 sehingga dapat dikatakan bahwa kedua kelompok sampel tidak ada perbedaan dalam hasil belajar dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Hasil penghitungannya x2 empiris = 0. dengan penghitungan x2 hitung kedua sampel lebih kecil dibanding dengan x2 tabel.206896 dan harga f hitung sebesar 19. kepegawaian (sama-sama pegawai negeri sipil).Hasil pengamatan awal tentang jenis kelamin antara dua kelompok sampel menunjukkan bahwa kedua sampel tidak ada perbedaan dalam faktor jenis kelamin. waktu mengajar sama yaitu pagi hari. Hasil pengamatan tentang guru pengajar kedua kelompok sampel tersebut menunjukkan kesamaan dari segi tingkat pendidikan (lulusan D2). Hasil belajar siswa dari dua kelompok sampel dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial menunjukkan bahwa hasil belajar kedua kelompok sampel tidak ada perbedaan yang mencolok dengan hasil penghitungan varians 0.4 sedangkan f tabel sebesar 19. x2 ts 5% = 3. PELAKSANAAN PENELITIAN/ PEMBAHASAN Di dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar sehari-hari kelas IV SD Negeri . Hasil pengamatan tingkat pendidikan orang tua juga tidak ada perbedaan antara hasil penghitungan antara siswa dalam kelompok sampel.841. Dari hasil penghitungan tentang umur kedua kelompok sampel dapat disimpulkan bahwa umur keduanya tidak ada perbedaan.

budaya. kepadatan penduduk .Penelitian ini dilaksanakan selama 6 pertemuan. b. sosial. 5 kali pertemuan untuk menyampaikan materi sedangkan 1 pertemuan untuk mengadakan evaluasi. sosial. SD Negeri Tlogosari Wetan 02 bertindak sebagai kelompok kontrol. Mempelajari propinsi di Kalimantan dan Sulawesi b. dan kepadatan penduduk Pertemuan keempat: Persamaan tiap propinsi. Propinsi di pulau Sumatra. Nusa Tenggara Timur dan Irian Jaya. Propinsi di Bali. luas daerah. Penjelasan pembagian propinsi di Indonesia b. Batas propinsi. Jawa dan ibukotanya Pertemuan kedua: a. yaitu: Pertemuan pertama: a. Nusa Tenggara Barat. Materi pelajaran yang disampaikan selama 5 pertemuan untuk kelompok eksperimen (SD Negeri Tlogosari Wetan 01) dan kelompok kontrol (SD Negeri Tlogosari Wetan 02) sama. keadaan fisik. Adapun cara penyajian materi pelajaran untuk kedua kelompok sampel adalah kelas IV SD SD Negeri Tlogosari Wetan 01 sebagai kelompok eksperimen menggunakan media grafis sedangkan untuk kelas IV SD Negeri Tlogosari Wetan 02 dalam menyampaikan materi pelajaran tidak menggunakan media grafis. budaya Pertemuan kelima: Perbedaan tiap propinsi baik fisik. Batas propinsi dan ibukotanya Pertemuan ketiga: a. ibukota.

27 sedangkan nilai rata-rata dari kelompok kontrol (SD Negeri Tlogosari Wetan 02) yang tidak menggunakan media grafis adalah 5. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Setelah mengadakan penelitian tentang Pengaruh Pembelajaran dengan Media Grafis Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Tlogosari Wetan 01 dan Sekolah Dasar Negeri Tlogosari Wetan 02 Kecamatan Pedurungan Kota Semarang dapat disimpulkan bahwa hasil belajar dari mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang penyampaiannya menggunakan media grafis lebih baik dari hasil belajar dari mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang penyampaiannya tidak menggunakan media grafis. tt 1% = 2.Pertemuan keenam: Evaluasi hasil belajar Dari hasil penelitian ini yang dilihat dari hasil belajar antara kelompok eksperimen (SD Negeri Tlogosari Wetan 01) yang menggunakan media grafis dan kelompok kontrol (SD Negeri Tlogosari Wetan 02) tanpa menggunakan media grafis dalam penyampaian materi pelajaran dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan media grafis lebih baik daripada hasil belajar yang tidak menggunakan media grafis.5452. Untuk rata-rata nilai dari kelompok eksperimen (SD Negeri Tlogosari Wetan 01) yang menggunakan media grafis adalah 6. hal ini ditunjukkan oleh ratarata nilai yang diperoleh.02.74 . Dengan hasil penghitungan t a = 3.

menyediakan dana untuk pembuatan media grafis. * Pembelajaran dengan menggunakan media grafis selain memudahkan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran juga memberikan motivasi bagi anak dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar sehingga hasil belajar bisa lebih optimal. * Untuk Kepala Sekolah diharapkan dapat memberikan motivasi kepada guru untuk menyediakan media grafis dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.Saran Berdasarkan simpulan yang dikemukakan di atas maka peneliti menyampaikan saran-saran sebagai berikut: * Untuk guru dalam pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar akan lebih baik apabila dilengkapi dengan menggunakan media terutama media grafis. Motivasi yang dapat diberikan kepada guru oleh Kepala Sekolah diantaranya memberikan saran dan masukan tentang penyediaan media grafis ini. mengadakan supervisi terhadap segala kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar. baik media elektronik yang pengadaannya harus dengan membeli maupun media grafis sederhana yang dapat dibuat sendiri oleh guru dengan biaya yang tidak mahal. * Diharapkan dengan hasil penelitian ini dan saran yang disampaikan penulis akan dapat menambah wawasan seorang guru dalam menyampaikan pelajaran. Sehingga dengan demikian guru disamping dituntut untuk menguasai materii pelajaran juga dituntut untuk dapat mendesain alat peraga atau media pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. .

Metodologi Research. Nana.DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Bandung: Citra Aditya Sadiman. 1997. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset .1998. 1994. Jakarta: Bumi Aksara Hamalik. Jakarta: Depdikbud ————————————. Jakarta: Pustakkom dan Raja Grafindo Persada Sudjana. 1993.1999. Prosedur Penelitian. Suharsimi. Bandung: Citra Aditya Sutrisno Hadi. Media Pendidikan. Media Pendidikan. 1990. Jakarta: Rineka Cipta ————————————. 1994. GBPP Ilmu Pengetahuan SD tahun 1994. Media Pendidikan.

Considering that reality. Tingkat Pendidikan dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Semarang . Meanwhile. such as Compensation. How is the impact of education level towards the employers performance ? 3. which is determined as many as 40 people. How is the impact of compensation. How is the impact of compensation towards the employers performance ? 2. education level and office environment towards employers performance that will gain the solution to set the policy of office of Local Government Agency Of Finance Management Semarang. the research’s type is explanatory research and the population who asking service for Local Government Agency Of Finance Management are as the sample. This research took place in office of Local Government Agency Of Finance Management Semarang and it will answer the problems of : 1. How is the impact of office environment towards the employers performance ? 4. office environment occured in the office and by the Employers Performance sorrounding the office. education level and office environment towards the employers performance ? This research is directed to describe and analisys the impact of compensation. education level and office environment to employers performance in Local Government Agency Of Finance Management Semarang. It found that there was no heteroskedastisitas and multikolinaritas through Analisis Pengaruh Kompensasi. to maximalize the employers performance Local Government Agency Of Finance Management Semarang. we observe the impact among the variables. The research use qualitative analisys to analize the tables and the quantitative analisys use multiple regression methode by T & F test. The hypothese is ―there is impact of compensation. Education Level.Oleh : DWI LASWIYATI ABSTRACT Employers Performance is a description of the officers in conducting their duties and function. employers performance level will change by many factors.

Tetapi apabila dipertanyakan mana yang lebih penting diantara kedua sumber daya tersebut. tetapi usaha peningkatan sumber daya manusianya luar biasa.200 mean that dependant variables have 20% impact value. and the rest procentage 80% by other variables’s impact. maka kemajuan bangsa tersebut dapat kita saksikan dewasa ini. sebaliknya negara-negara yang potensial kaya sumber daya alamnya (Negara-negara Timur Tengah) tetapi kurang memetingkan pengembangan sumber daya manusianya. Kuantitas menyangkut sumber daya manusia (penduduk). Determination coefficient of 0. Sedangkan kualitas menyangkut mutu sumber daya manusia. maka kemajuannya tidak secepat negara-negara tersebut diatas. Korea). also 4.431 for the impact of compencation towards employers performance in 0. and 0. The hypothese was not accepted. meanwhile the variable of compentation an education level has 46. In detail. yaitu kemampuan fisik maupun kemampuan non fisik (kecerdasan dan mental). PENDAHULUAN Pembangunan suatu bangsa memerlukan sumber daya (resources) baik sumber daya manusia (Human resources) atau sumber daya alam (Natural resources). Hal ini dapat kita amati dari kemajuan-kemajuan suatu negara sebagai indikator keberhasilan pembangunan bangsa tersebut. Seperti yang telah kita amati negara-negara yang potensial miskin sumber daya alamnya (Jepang. Kedua sumber daya tersebut sangat penting di dalam menentukan keberhasilan suatu pembangunan. 3.It found that there was no heteroskedastisitas and multikolinaritas through classic assumption. Based on it’s result. we concluded that environment variable has 43. such as motivation and moral of the officers.9%. Oleh sebab itu untuk kepentingan .05 level of signification.1% impact to the level of employers performance.190 for the impact of office environment towards employers performance. We recommended to make research of these variables to deepen the employers performance observation. maka menurut peneliti adalah sumber daya manusialah yang lebih penting.021 for the impact of educational level towards employers performance was not accepted.254 for the impact among the variables. Sumber daya manusia sebenarnya dapat dilihat dari dua aspek yaitu kuantitas dan kualitas. there is value of 0.

Hal ini disebabkan karena fungsinya yang cukup vital sebagai pengelola serta pengatur keuangan daerah. baik secara organisasi maupun individu untuk meningkatkan kemampuan. baik kelengkapan fisik. Yang menjadi persoalan adalah : mampukah sumber daya manusia yang ada menjawab berbagai perubahan dan menyesuaikan diri dengan tantangan tersebut. Karena fungsi tersebut setiap pegawai yang ada di lingkungan DPKD mempunyai perbedaan penghasilan yang cukup signifikan apabila dibandingkan dengan pegawai instansi lain. emosional maupun intelektual. imbalan (kompensasi). kepemimpinan. Disamping faktor kompensasi. Peningkatan kemampuan kerja bagi pegawai. Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting dan sangat berpengaruh terhadap perkembangan manusia. memerlukan perhatian pada beberapa hal. karena banyak faktor yang berpengaruh pada kemampuan kerja pegawai. memiliki pengetahuan yang berkaitan dengan pekerjaannya. Penelitian ini akan dilakukan pada Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah (DPKD) Kota Semarang. Memasuki era globalisasi. yang bertujuan agar manusia mempunyai kelengkapan yang diperlukan agar pada tiap-tiap tahap selalu mampu menghadapi tantangan hidup. diantaranya adalah ketrampilan. DPKD mempunyai karakteristik yang cukup berbeda apabila dibandingkan dengan instansi lainnya pada lingkungan instansi pemerintah. Kompensasi yang diterima atas pekerjaan mempunyai kadar pengaruh yang tinggi terhadap moral dan disiplin kerja. Pada hakekatnya manusia (pegawai) mempunyai kebutuhan untuk berprestasi. Kalau dilihat dari sisi gaji pokok yang diterima akan sama berdasarkan pangkat serta golongan apabila dibandingkan dengan pegawai . Berbagai perkembangan zaman seperti diatas menuntut sumber daya yang ada. menjalankan tugas. faktor lain lain yang berpengaruh pada kemampuan kerja pegawai adalah faktor tingkat pendidikan. kebebasan mengeluarkan pendapat. arus informasi tidak mengenal ruang dan waktu. Persoalan yang sering bangsa ini hadapi adalah ketertinggalan kita dalam teknologi dan penguasaannya pada bagian lain. maka peningkatan kualias sumber daya manusia merupakan suatu prasyarat utama. yang akan tercermin pada kualitas profesionalisme pegawai.akselerasi suatu pembangunan di bidang apapun. tingkat pendidikan pegawai dan lingkungan kerja. Era reformasi menuntut kemampuan sumber daya manusia untuk melaksanakan secara adil dan kontinue.

hal. 63) Dari pengertian tentang imbalan jasa tersebut di atas. rumah dinas. Adapun imbalan jasa adalah sebagai berikut : Imbalan jasa merupakan balas jasa yang diberikan perusahaan pada karyawan yang menyangkut upah atau gaji. Tingkat Pendidikan Pendidikan adalah proses sistematik dari penambahan pengetahuan menuju perubahan perilaku para karyawan dalam suatu arah guna meningkatkan tujuan organisasi. dapat diambil kesimpulan bahwa kompensasi selain dapat berupa uang atau gaji dapat pula berupa tunjangan atau fasilitas yang dinilai dengan uang serta memberikan secara tetap oleh perusahaan kepada karyawannya. Terdapat beberapa pengertian tentang kompensasi yang dikemukakan oleh para ahli yang pada dasar dan intinya sama. tidak jauh berbeda dengan pengertian kompensasi. Biasanya pendidikan dianggap sebagai proses transformasi pengetahuan secara formal di sekolah. diharapkan dengan kondisi seperti ini pegawai di lingkungan DPKD mempunyai kinerja yang lebih baik. KERANGKA TEORITIS 1. Landasan Teori 1. Dari pengertian tersebut di atas. keanggotaan dalam hal khusus dan lain-lain (Ruky A. hal. 92). akademi atau perguruan tinggi dengan tujuan mewakili suatu perluasan individu sehingga dia dapat dipersiapkan untuk menilai berbagai situasi dan memilih respon yang paling tepat. Kompensasi dan Pengertiannya Dalam membahas pengertian kompensasi ini alangkah baiknya kita mengetahui lebih dahulu tentang imbalan jasa. oleh karena itu kompensasi dapat disamakan dengan imbalan jasa.dibandingkan dengan pegawai instansi lain.S : 1997 . tetapi jumlah bonus. cuti khusus. Kompensasi adalah imbalan jasa pada pegawai-pegawai yang layak atas bantuan mereka dan untuk tujuan-tujuan organisasi (Mukiyat : 1983. 1. tunjangan-tunjangan baik berupa uang atau natura. Kalau dilihat dari sisi gaji pokok yang diterima akan sama berdasarkan pangkat serta golongan apabila dibandingkan dengan pegawai pada instansi lain. . fasilitas atau kemudahan. hak istimewa atau lainnya seperti tunjangan presentase untuk eksekutif.2.3. maupun tambahan penghasilan lain diluar gaji pokok akan jauh lebih besar.

kewajiban dan tanggung jawabnya. baik fisik. menggunakan metode belajar mengajar yang konversial. dan psychomotorik. area kemampuan penekanannya pada psikomotor. penghargaan akhir proses adalah gelar (degree). penekanan area kemampuan kognitif. sampai pada tingkat-tingkat tertinggi pendidikan. mulai dari sekolah dasar. pendidikan senantiasa merupakan faktor yang menentukan. Tentang pendidikan ini Combs dan Ahmed menjelaskan sebagai berikut : ―Istilah pendidikan formal. . (Philip H. Comb : ) Dengan melihat batasan di atas dapat dipertegas bahwa pendidikan formal lebih menekankan pada pengembangan kemampuan secara menyeluruh (overall).Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam suatu organisasi karena dengantingkat pendidikan yang tinggi akan mempengaruhi kemampuan seseorang atau pegawai dalam melaksanakan tugas. dipakai untuk menyebut sistem pendidikan yang sangat di lembagakan bertahap kronologis dan bertata tingkat. universitas. istilah pendidikan non formal dipakai untuk menyebut kegiatan pendidikan berorganisasi dan sistematis. Mashuri mengutarakan pentingnya pendidikan sebagai berikut : ―Pada hakekatnya sejarah peradaban manusia adalah sejarah perjuangan manusia yang berlangsung dari abad ke abad untuk mewujudkan kepribadiannya dan mengembangkan hidupnya. jangka waktu pelaksanaan lebih pendek. materi yang diberikan lebih khusus. Pendidikan saat ini merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan manusia. penghargaan akhir proses adalah sertifikat (non degree). afektif. sebagai halnya dimasa lampau dalam perjuangan untuk masa yang akan datang. baik yang ada maupun yang terbuka sebagai hasil budidayanya mengahadapi segala hambatan-hambatan dan keterbatasan-keterbatasan yang dihadapi sepanjang perjalanan hidupnya. baik dalam arti peranan maupun kegunaannya. Untuk langkah selanjutnya pendidikan dikelompokkan menjadi dua jenis. menggunakan metode belajar mengajar inconvensional. Dalam proses itu. yang berlangsung di luar kerangka pendidikan formal untuk menyediakan beraneka ragam pelajaran tertentu kepada kelompok pendidikan. yaitu : pendidikan formal dan pendidikan non formal. dengan menggunakan setiap kemungkinan. materi yang diberikan lebih umum. Sedangkan pendidikan non formal lebih pada pengembangan kemampuan khusus (specific). emosi maupun intelektualnya (Mashuri : 2000). sebab tidak lain pendidikan bertujuan agar manusia mempunyai kelengkapan yang diperlukan agar pada tiap-tiap tahap selalu mampu menghadapi tantangan. Jangka waktu pelaksanaannya panjang (long term).

diberikan lebih khusus. keamanan. Sementara Suyudi Prawirosentono (1999 : 2) memberikan batasan pengertian kinerja sebagai berikut : ―Melakukan suatu kegiatan dan penyempurnaannya sesuai dengan tanggung jawab dengan hasil seperti yang diharapkan. Secara umum yang dimaksud dengan lingkungan kerja adalah lingkungan yang ada disekitar dimana karyawan menjalankan pekerjaannya … (Saul W Gallermen. Umumnya karyawan menginginkan tempat kerja yang aman. Seperti yang diungkapkan oleh Richard M. perilaku. lambang kemampuan setiap individu inilah yang biasa disebut dengan kinerja. keselamatan dan kondisi kerja yang baik adalah sangat penting untuk kelancaran dalam bekerja sehingga hasil kerja yang dicapai diharapkan dapat memenuhi standar yang telah ditetapkan.4. 1.5. Lingkungan Kerja kerja yang buruk akan mendorong ke arah lemahnya aktivitas-aktivitas pekerja dan tingkat absensi yang tinggi. Hal ini mencerminkan bahwa pada prinsipnya manusia berbeda antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Kinerja Setiap individu mempunyai perbedaan dalam sikap. Lingkungan yang bersih dan jam kerja yang tidak terlalu lama. Nitisemito. menggunakan metode belajar mengajar inconvensional. penghargaan akhir proses adalah sertifikat (non degree). Dalam lingkungan kerja manapun. 1. Definisi lain lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja dan dapat mempengaruhi tugas-tugas yang dibebankan (Alex S. pendidikan. Lingkungan Kerja Lingkungan Kerja akan berpengaruh terhadap jalannya organisasi baik secara langsung maupun tidak langsung. tetapi juga dapat dirasakan misalnya suasana nyaman dalam bekerja. 1988 : 167). oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu . kemampuan dan pengetahuan. udara yang selalu segar. dan pada akhirnya akan mengarah pada ketidak efisienan pekerjaan. 1984 : 237) memberikan definisi lingkungan kerja sebagai segala sesuatu yang didasarinya atau menurut perkiraannya dapat mempunyai pengaruh terhadapnya. Lingkungan kerja tidak terbatas pada apa yang dapat dilihat saja. Steer (1995 : 527) bahwa ―Kinerja/ job performance adalah hasil yang dicapai seseorang menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan yang bersangkutan.

seperti kesediaan untuk bekerja secara bergiliran. Tingkat ketrampilan. dan berada pada jalan yang benar dalam berusaha. yang tercermin dalam pengambilan resiko. Untuk bisa menjelaskan apakah seseorang mampu melaksanakan tugas dan fungsi yang dibebankan kepadanya. 3. yang ditentukan oleh pendidikan. Kewiraswastaan. Memikat dan menahan orang dalam organisasi. oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal. yaitu manajemen yang efisien mengenai sumber dan sistem kerja untuk mencapai peningkatan produktivitas 5. seperti : perencanaan tenaga kerja dan tambahan tugas 6. . Perilaku inovatif dan spontan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Pegawai. tidak melanggar hukum serta sesuai dengan moral dan etika‖. dapat menerima tambahan tugas dan bekerja dalam suatu tim. 2. Adapun faktor-faktor utama yang menentukan kinerja pegawai adalah : 1. baik yang berhubungan dengan tenaga kerja maupun yang berhubungan dengan lingkungan kerja dan kebijaksanaan pemerintah secara keseluruhan. b). Hubungan antara tenaga kerja dan pimpinan organisasi yang tercermin dalam usaha bersama antara pimpinan organisasi dan tenaga kerja untuk meningkatkan produktivitas melalui lingkaran pengawasan mutu dan panitia kerja unggul. Dengan kinerja diharapkan mampu menjelaskan apakah seseorang itu mampu melaksanakan tugas-tugas dan fungsi-fungsi yang dibebankan kepadanya.―Melakukan suatu kegiatan dan penyempurnaannya sesuai dengan tanggung jawab dengan hasil seperti yang diharapkan. Manajemen produktivitas. dan secara optimal berhasil di dalam mempengaruhi keadaan kelompok dalam organisasi. latihan dalam manajemen dan supervisi serta ketrampilan dalam teknik industri. kreativitas dalam berusaha. Penyelesaian tugas yang terandalkan c). yang dalam istilah manajemen disebut dengan penilaian kinerja (performance appraisal) yang menurut Henry Simamora ada beberapa dimensi kinerja : a). diperlukan kegiatan mengevaluasi pelaksanaan kerja individu. 4. Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai. Efisiensi tenaga kerja. Sikap kerja.

Tipe penelitian ini adalah tipe penelitian eksplanatory/penjelasan. kreativitas dalam berusaha. diukur dari banyak macamnya tunjangan yang diterima c. Lingkungan Kerja Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar pekerja atau pegawai dimana ia bekerja baik kondisi fisik maupun non fisik (psikologis) yang dapat mempengaruhi pegawai dalam menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya. Fasilitas. Agar memudahkan dalam penetapan sumber data yang ingin diperoleh. diukur dari macam-macam fasilitas yang diterima pegawai. Kewiraswastaan. tingkat pendidikan dan lingkungan kerja. METODE PENELITIAN 1. Gaji. Sebagai variabel dependen adalah kinerja pegawai dan independen adalah kompensasi. dengan indikatornya adalah : a. Walaupun uraiannya juga mengandung deskriptif.3. dan berada pada jalan yang benar dalam berusaha. Oleh karena itu dinamakan juga penelitian pengujian hipotesis atau testing research. Jenis dan Design Penelitian.2. 2. Operasionalisasi Variabel Berdasarkan kerangka pemikiran dan hipotesis dimuka. tunjangan innatural. fasilitas. Kompensasi adalah balas jasa yang diberikan kepada pegawai berupa gaji. yang tercermin dalam pengambilan resiko. dengan indikatornya adalah pendidikan formal. 115). sehingga memudahkan dalam proses pelaksanaan penelitian. diukur dari tahun masa studi atau dengan angka tahun. 2.1. maka perlu ditetapkan tipe penelitian yang akan digunakan. diukur besar kecilnya gaji yang diterima b. 2. hal. tunjangan keluarga dengan kesemuanya dapat dinilai dengan uang (Bedjo Siswanto. Tingkat Pendidikan adalah tingkat pendidikan terakhir yang ditamatkan. 2. tetapi sebagai penelitian rasional fokusnya adalah pada penjelasan hubungan-hubungan antara variabelvariabel. tunjangan kesehatan.6. Tunjangan. . dalam penelitian ini terdapat tiga variabel independen dan satu variabel dependen. 1987.

Dalam hal ini uji validitas dilakukan dengan menggunakan perhitungan korelasi produk moment dengan rumus sebagai berikut : Dimana : r = Koefisien korelasi n = jumlah sampel X = indikator tiap variabel (skor tiap pernyataan / indikator ) Y = variabel (skor total) Setelah perhitungan dilakukan (dalam hal ini proses perhitungan dibantu dengan program .2. 3. Data Sekunder Data Sekunder adalah data yang diterbitkan oleh organisasi yang bukan merupakan pengolahnya (Anto Djajan.1. Teknik Pengumpulan Data Untuk mendapatkan data yang diperlukan digunakan data sebagai berikut : 3. Pengujian Uji Coba Kuisioner 3.4. 1983 : 19).2. Uji Validitas Uji validitas menurut Masri Singarimbun (1995 : 123) digunakan untuk menguji sejauh mana suatu alat pengukur mengungkapkan ketepatan gejala yang dapat diukur. Kinerja Pegawai adalah gambaran kemampuan seseorang pekerja di dalam menyelesaikan pekerjaan dan beban tanggung jawabnya 3.3.1. Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumber yang asli dan dikumpulkan untuk menjawab pertanyaan yang telah disediakan sesuai dengan topik dan tujuan peneliti 3.3.

Dalam pengujian validitas. normalitas. hal.3. Dalam penelitian ini menggunakan analisis data sebagai berikut : .5 %). Uji Reliabilitas Uji reliabilitas menurut Suharsini Arikunto (1996 : 168) menunjuk pada satu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. dan autokorelasi dan non-heteroskedastik (Gujarati.3. non-multikolinearitas.3.1. Uji Asumsi Klasik Dalam analisis regresi linier perlu dihindari asumsi klasik supaya variabel independen sebagai estimator atas variabel dependen tidak bias. Kemudian nilai r yang diperoleh dibandingkan nilai r tabel sesuai dengan baris n dan taraf signifikansi (á . 153) METODE ANALISA DATA Tahapan kegiatan statistik yang merupakan tindak lanjut dari data yang telah dikumpulkan untuk dianalisis. 1995. Keandalan (realibilitas) parameter-parameter dilihat melalui ada tidaknya penyimpangan terhadap regresi linier klasik yaitu. dengan standar nilai Alpha Cronbach > 60% berarti realibel. Adapun rumus perhitungannya adalah sebagai berikut : Dimana : = Koefisien reliabilitas k = jumlah item per-veriabel x r = mean korelasi antar item 3. 3.Setelah perhitungan dilakukan (dalam hal ini proses perhitungan dibantu dengan program SPSS). kuesioner dikatakan valid apabila r hitung > r tabel. Cara menghitung tingkat reliabilitas suatu data yaitu dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach.

Menentukan level of sigbificance sebesar 95% ( 0. Analisa Kuantitatif Analisa data kuantitatif adalah analisis yang digunakan untuk menguji data dalam bentuk angka.05) 3). berarti ada pengaruh antara X1 terhadap Y. Dimana : th = tabel hitung b1 = koefisien regresi SEb1 = standar error koefisien regresi .1. k = variabel bebas t tabel = 1 ( n – 1 – k. 2). atau X3 terhadap Y. = 0. Analisa Kualitatif Dalam hal ini analisis kualitatif digunakan untuk menginterpretasikan data yang sudah diolah menjadi suatu informasi yang berguna bagi kantor tersebut. Uji t Untuk pengujian signifikansi pengaruh antara variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat menggunakan uji t. 3. X2 terhadap Y. X2 terhadap Y. dimana n = sampel. Adapun langkah-langkah pengujinya adalah sebagai berikut : 1).05) DF = n – 1 – k. Perhitungan untuk t hitung. atau X3 terhadap Y. Analisa data kuantitatif yang dipergunakan adalah regresi berganda dan koefisien determinasi.1. 2. Pengujian Hipotesa 3. Menggunakan Hipotesis berarti tidak ada pengaruh antara X1 terhadap Y.

Ho ditolak Apabila t hitung < t tabel dan t hitung . Uji F Untuk pengujian pengaruh variabel bebas secara simultas terhadap variabel terikat menggunakan uji F Rumus : Dimana : F = F hitung k = jumlah variabel tak terikat R = Koefisiensi determinasi berganda n = jumlah responden HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1.2. Pengujian Instrumen . Ho diterima Adapun gambar sebagai berikut : 3.> t tabel. Kesimpulan : Dari hasil pengujian tersebut di atas dapat dilakukan uji t : Apabila t hitung > t tabel atau th < -t tabel.4).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Pengujian Validitas Uji validitas pada penelitian ini menggunakan korelasi product moment.a. di dapat hasil perhitungan. Pengujian Instrumen 1. r-hitung > r-tabel. variabel kompensasi. tingkat pendidikan. lingkungan kerja dan kinerja adalah sebagai berikut : . Berdasarkan hasil. maka kuestioner valid atau sahih.

Berdasarkan hasil perhitungan yang tampak pada table 5.c.00 masing-masing perhitungan variabel nampak pada tabel sebagai berikut : 1.1. Uji Multikolinearitas Untuk menguji ada tidaknya koloniaritas ganda. .1. maka dapat disimpulkan bahwa asumsi tidak ada multikolinaritas dalam penelitian ini terpenuhi. Berdasarkan perhitungan dengan program SPSS 10. Jika cronbach alpha > 0.I.c. jika hasil hitung nilai varian inflation faktor (VIF) di bawah 10 dan tolerance variable bebas di atas 10 %.6 maka kuestioner dikatakan konsisten atau reliabel.F di bawah 10.3 di atas menunjukkan bahwa angka tolerance di atas 10 % dan V. Pengujian Reliabilitas Uji reliabilitas pada pengujian ini menggunakan uji statistik cronbach alpha (a). Uji Asumsi Klasik 1.b.

maka disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda di disebut Heteroskedastisitas. Deteksi ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SREID dan ZPRED.2. dan sumbu X adalah residualnya. 2. lingkungan kerja maupun kinerja pegawai Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Semarang.1. dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi. Uji Heteroskedastisitas Uji Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Cara untuk mendekteksi ada tidaknya Heteroskedastisitas adalah melihat grafik scatterplot antara nilai prediksi variabel terikat ( Z PRED ) dengan residualnya (SRESID). model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas. . tingkat pendidikan.c. Tidak adanya Heteroskedastisitas pada gambar 5. Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap. Analisis ini berguna untuk mengetahui tanggapan responden terhadap kuesioner yang diberikan baik untuk kompensasi. Dapat disimpulkan bahwa model regresi ini tidak terjadi Heteroskedastisitas atau bebas Heteroskedastisitas atau homoskedastisitas. Analisa Deskriptif Dalam analisis ini menekankan pada penjabaran data dengan menggunakan angka-angka atau menggunakan tabel-tabel sebagai alat bantu.1 di bawah ini adalah adanya penyebaran titik-titik secara acak serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y.

Tingkat Pendidikan c. hasilnya nampak dalam tabel di bawah ini : Berdasar tabel V. Kinerja Pegawai 3.28 di atas dapat dijelaskan analisis-analisis dibawah ini: . Lingkungan Kerja d.00.Pada pembahasan disini tidak kami uraikan secara detail mengingat terbatasnya ruang. namun jika diperlukan penulis mempunyai uraian rincinya beserta table-tabel yang merupakan hasil penelitian yang meliputi analisa : a. Kompensasi b. Pengujian Hipotesa Berdasarkan perhitungan regresi berganda dengan program SPSS 10.

2. 4. Koefisien â2 = 0. Pengujian Hipotesa 1 : kompensasi (X1) terhadap kinerja pegawai (Y) Ho : â = 0.909 + 0.a.909 2.490 menunjukkan bahwa lingkungan kerja berpengaruh positif terhadap kinerja pegawai. lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai di DPKD Kota Semarang. tingkat pendidikan dan lingkungan kerja secara parsial terhadap kinerja pegawai. Koefisien â3 = 0. artinya bila lingkungan kerja semakin baik maka kinerja pegawai akan meningkat. tingkat pendidikan. 3. berarti ada pengaruh yang signifikan antara kompensasi terhadap kinerja pegawai Kriteria pengujian : 1.065 X1 + 0. 3.2. Nilai t-tabel = 1.3. 3. Dengan d. berarti tidak ada pengaruh yang signifikan antara kompensasi terhadap kinerja pegawai Ha : â ‘“ 0. tingkat pendidikan dan lingkungan kerja) adalah sebesar 10.490 X3 Dari hasil regresi tersebut dapat disimpulkan bahwa : 1.431 . maka kinerja pegawai akan meningkat. Dari hasil perhitungan regresi berganda (lampiran) diperoleh hasil sebagai berikut : Y = 10. Perhitungan t-hitung = 0.909 mempunyai arti bahwa rata-rata kinerja pegawai (Y) sebelum dipengaruhi variabel bebas (kompensasi.065. Uji t Digunakan untuk menguji signifikansi pengaruh kompensasi. artinya bila tingkat pendidikan semakin tinggi maka kinerja pegawai semakin tinggi.05 2.f = n-4 3.008 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan berpengaruh positif terhadap kinerja pegawai.1.008 X2 + 0. Koefisien â1 = 0. menunjukkan bahwa kompensasi berpengaruh positif terhadap kinerja pegawai artinya bila kompensasi semakin baik.688 4. Konstanta a = 10. Taraf uji signifikansi (a) = 0. Analisa Regresi Berganda Analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat yaitu variabel kompensasi.

Nilai t-tabel menunjukkan = 1.f = n-4 3. Dengan d.688 4. dengan demikian Ho diterima dan Ha ditolak. 3. Gambar pengujian Dari hasil perhitungan t-hitung (0.05. Gambar pengujian : . Maka dapat disimpulkan tidak ada pengaruh positif yang signifikan antara kompensasi terhadap kinerja pegawai.b. berarti ada pengaruh yang signifikan antara tingkat pendidikan terhadap kinerja pegawai Kriteria pengujian : 1. Taraf uji signifikansi (a) = 0.021 5.431) < t-tabel (1.2.688) tingkat signifikansi 0.05 2. Pengujian Hipotesa 2 : tingkat pendidikan (X2) terhadap kinerja pegawai (Y) Ho : â = 0. Perhitungan t-hitung = 0. berarti tidak ada pengaruh yang signifikan antara tingkat pendidikan terhadap kinerja pegawai Ha : â ‘“ 0.431 5.4. Perhitungan t-hitung = 0.

berarti tidak ada pengaruh yang signifikan antara lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai Ha : â ‘“ 0. Dengan d.05. Maka dapat disimpulkan tidak ada pengaruh yang signifikan antara tingkat pendidikan terhadap kinerja pegawai. dengan demikian Ha ditolak dan Ho diterima.c.Dari hasil perhitungan t-tabel (1.2. berarti ada pengaruh yang signifikan antara lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai Kriteria pengujian : 1.688 4.021) pada taraf signifikansi 0.190 5.05 2. 3. Perhitungan t-hitung = 3. Taraf uji signifikansi (a) = 0. Nilai t-tabel menunjukkan = 1. Gambar pengujian : . Pengujian Hipotesa 3 : lingkungan kerja (X3) terhadap kinerja pegawai (Y) Ho : â = 0.688) > t-hitung (0.f = n-4 3.

3. ada pengaruh positif yang signifikan antara kompensasi.688) pada taraf signifikansi 0. tingkat pendidikan dan lingkungan kerja secara bersama-sama terhadap kinerja pegawai. tidak ada pengaruh yang signifikan antara kompensasi. tingkat pendidikan dan lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai. dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima. Maka dapat disimpulkan ada pengaruh yang signifikan antara lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai.05 2. Taraf uji signifikansi (a) = 0. Dengan d.190) > t-tabel (1. tingkat pendidikan dan lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai.f = ( n – k . Ho : â = 0. Nilai t-hitung menunjukkan = 4. Ha : â ‘“ 0. Nilai t-tabel menunjukkan = 3.2594 4.254 5.Dari hasil perhitungan t-hitung (3. Gambar pengujian .3. Uji F Uji F digunakan untuk menguji signifikansi pengaruh kompensasi.05. Kriteria pengujian : 1.1 ) = 36 3.

1. 3. sedangkan variabel lingkungan kerja dari perhitungan disimpulkan ada pengaruh terhadap kinerja pegawai (t-hitung > t-tabel) pada taraf signifikansi 0. tingkat pendidikan.05. lingkungan kerja) berpengaruh terhadap kinerja pegawai. terbukti t-hitung < t-tabel.05. dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima.Dari hasil perhitungan F-hitung (4. Kompensasi (X1) Kompensasi tidak memberikan pengaruh pada kinerja pegawai di DPKD Kota Semarang. tingkat pendidikan dan lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai di DPKD Kota Semarang adalah 20 %.254) > F-tabel (3. tingkat pendidikan dan lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai. karena sebagian besar pegawai menganggap bahwa tunjangan (kompensasi) adalah hal yang .4. terbukti F-hitung > F-tabel pada taraf 0. Koefisien Determinasi Nilai koefisien determinasi adalah sebesar 0. Secara simultan ke 3 variabel (kompensasi.05. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa secara parsial variabel kompensasi dan variabel tingkat pendidikan tidak berpengaruh pada variabel kinerja pegawai. Maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan antara kompensasi. sedangkan sisanya 80 % dipengaruhi oleh faktor lain.259) pada taraf signifikansi 0.200 yang artinya besarnya pengaruh kompensasi.

Pencapaian tingginya efisiensi dan efektivitas adalah gambaran dari tingginya kinerja pegawai. kenyamanan berada dalam kantor dan kelancaran dalam menyelesaikan tugas pekerjaan. serta pengaturan tata cahaya dalam ruangruang kantor. Pengaruh Kompensasi. demikian juga penataan ruang yang baik akan menciptakan kenyamanan dan keleluasaan aktivitas pegawai di dalam menjalankan tugas. bahkan sebagian berpendapat bahwa tunjangan yang diterima selama ini tidak memuaskan. namun demikian kinerja pegawai cukup tinggi. akan menciptakan kenyamanan dan kejelasan bagi pegawai untuk bisa menterjemahkan dan mengerjakan pekerjaan dalam bentuk tulisan.wajar diterima pegawai. tata letak yang tetap yang dapat menimbulkan keleluasaan bergerak. 4. . Tingkat Pendidikan (X2) Demikian juga tingkat pendidikan tidak berpengaruh pada optimasi kinerja pegawai di DPKD Kota Semarang 3. Tingkat Pendidikan. diharapkan akan tercapai tingkat efektivitas dan efisiensi kerja. 2. Tingkat Pendidikan dan Lingkungan Kerja secara simultan berpengaruh terhadap Kinerja Pegawai di DPKD Kota Semarang. Begitu juga penataan tata letak kantor dan ruang-ruang kantor akan tercipta suasana ketenangan bagi pegawai untuk bisa berkonsentrasi penuh dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari diharapkan dengan kemampuan konsentrasi tinggi dapat tercapainya tingkat efisiensi dan efektivitas pekerjaan. Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Pegawai Kompensasi. diharapkan akan tercapai tingkat efektivitas dan efisiensi pekerjaan. hal ini dikarenakan gaji yang diterima dapat mencukupi kebutuhan hidup para pegawai. Lingkungan Kerja (X3) Lingkungan kerja memberikan pengaruh pada optimasi kinerja pegawai di kantor DPKD Kota Semarang. karena pegawai menghendaki lingkungan kerja yang mendukung pada proses kerja yaitu pengaturan tata ruang. pemberian beban pekerjaan pada pegawai sesuai dengan ketrampilan atau tingkat pendidikan. tata cahaya.

berarti ada pengaruh yang signifikan antara lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai di Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Semarang.688). 3. Hipotesis pertama yang menyatakan diduga ada pengaruh yang signifikan antara kompensasi terhadap kinerja pegawai pada Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah (DPKD) Kota Semarang ditolak. tingkat pendidikan.688) pada taraf signifikansi 0. dikarenakan nilai koefisien regresi lebih kecil dari t-tabel (0. berarti tidak ada pengaruh yang signifikan antara variable tingkat pendidikan terhadap kinerja pegawai pada Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Semarang. Hipotesis kedua yang menyatakan diduga ada pengaruh yang signifikan antara tingkat pendidikan terhadap kinerja pegawai pada Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Semarang ditolak. berarti ada pengaruh yang signifikan antara kompensasi. Hipotesis ke empat yang menyatakan diduga ada pengaruh yang signifikan antara kompensasi.431 < 1. Saran 1.259). Simpulan Berdasarkan pembahasan pada bab-bab terdahulu. 2.254 > 3. maka yang dapat disimpulkan adalah sebagai berikut : 1.021 < 1. terbukti nilai Fhitung lebih besar dari nilai F-tabel (4. Hipotesis ketiga yang menyatakan diduga ada pengaruh yang signifikan antara lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai pada Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Semarang diterima.05. 2. Terbukti tidak adanya pengaruh antara variabel kompensasi dan tingkat pendidikan terhadap kinerja pegawai. tingkat pendidikan.SIMPULAN DAN SARAN 1. .190 > 1. lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai pada Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Semarang diterima.688) pada taraf signifikansi 0.05.05 berarti tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel kompensasi terhadap kinerja pegawai di Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Semarang. terbukti nilai koefisien regresi lebih kecil dari nilai tabel (0. barangkali untuk dapat mengoptimalisasi kinerja pegawai perlu adanya peninjauan aturan pemberian kompensasi serta pemberian kesempatan bagi para pegawai di lingkungan DPKP Kota Semarang. lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai di Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Semarang. 4. pada taraf signifikansi 0. dibuktikan nilai t-hitung lebih besar dari nilai ttabel (3.

Pengantar Metode Statistik Jilid I. Manajemen Personalia. 1984. Manajemen Personalia. 1989. 1979. 1985. Jakarta : Erlangga. Richard. Hani. Jakarta : Ghalia Indonesia Notoatmodjo. Saul W. 1992. Kussriyanto. Cooper dan C. 1995. Meningkatkan Produktivitas Karyawan. 2001. Gellermen. Dasar-Dasar Organisasi dan Manajemen. Aplikasi Analisa Multivariate Dengan Program SPSS. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Jakarta : Prisma. Rajawali. Donald R. 1983. Jakarta : Ghalia Indonesia . Manajemen Produksi Perencanaan Sistem Produksi. Yogyakarta : BPFE. Suyudi. Kartini. William Emory. Kiat Membangun Organisasi Kompetitif. Jakarta : Seri Manajemen. Moh. S. Jakarta : Erlangga. Steer. Jakarta. Sumarno. M. 1977. Bambang. Pustaka Binaman Presindo. Manajemen. Imam. Demodar. Anto. 1996. 2000. Jakarta : CV. Sarwoto. Kebijaksanaan dan Langkah-Langkah Pembangunan Pendidikan. Gujarati.peninjauan aturan pemberian kompensasi serta pemberian kesempatan bagi para pegawai di lingkungan DPKP Kota Semarang. Jakarta : Erlangga. Kartono. Prawirosentono. Jakarta : LP3ES. Metode Penelitian Bisnis. Soekadijo. 2001. Alex. Yogyakarta : BPFE. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Ekonometrika Dasar. 1999. Pengantar Metode Statistik Jilid II. BPFE. 1994. Moekijat. Tingkat Pendidikan dan Lingkungan Kerja DAFTAR PUSTAKA Ahzari. Nasir. UGM. Maskuri. Motivasi dan Produktivitas. Jakarta : Rineka Cipta. Dajan. Kebijakan Kinerja Karyawan. Zain. Yogyakarta. Efektivitas Organisasi. Ghozali. Jakarta : PT. 2. 2002. 1988. Jakarta : Ghalia Indonesia Nitisemito. Psikologi Sosial Untuk Manajemen Perusahaan dan Industri. Handoko. 1988. Metode Penelitian. Jakarta : LP3ES ——————— 1984. Sangat berharap akan ada penelitian tentang kinerja pada DPKP Semarang yang dianalisis dengan variabel yang lain selain variabel Kompensasi. Erlangga. Agus.

1994. Bandung : Tarsito Sugiono. 2000. Wijaya. Arikunto. Ir. Semarang. Jamu Jago Semarang. Manajemen Tenaga Kerja. Suharsini. Bandung : Alfabeta Winardi. 2000. Janti. Bandung : Alfabeta. Bandung : CV. Mandar Maju. Bandung : Sinar Baru. 1987.Siswanto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Soegiyastuti.1996. 1997. Statistik Non Parametrik. Konflik Perubahan dan Pengembangan. Statistik Untuk Penelitian. Hasil Penelitian Sudjana. Jakarta : Rineka Cipta. 1989. . Hubungan Kompensasi dan Lingkungan Kerja dengan Produktivitas Kerja Pada PT. Bedjo. Statistik Untuk Ekonomi dan Niaga II.

dan Tinggi. Kata kunci: Muatan lokal ( Mulok ). mendekatkan sekolah dengan masyarakat. Pendahuluan Pendidikan sebagai usaha mencerdaskan bangsa diperlukan perangkat dan tingkatan / jenjang pelaksanaan yang berkelanjutan agar tujuan pendidikan tercapai secara menyeluruh.Pd Abstraksi Muatan Lokal merupakan mata pelajaran yang diberikan kepada anak didik untuk mengembangkan pengenalan terhadap daerah sekitar lingkungan sekolah. Perangkat dimaksud berupa lembaga – lembaga yang menjalankan kebijakan pendidikan sebagai penjabaran Pendidikan Nasional. Kurikulum I. Hasilpembahasan. Tujuannya meningkatkan apresiasi Kepala Sekolah dan Guru terhadap Mulok pilihan sekolah. melaksanakan Mulok pilihan sekolah sesuai dengan alokasi waktu. Pembelajaran Mulok dikelompokkan dalam Mulok wajib dan Mulok pilihan sekolah. Mulok pilihan sekolah paling tertingggal karena sulitnya menyusun program. Simpulan hasil. langkanya buku sumber. Mulok pilihan sekolah memiliki nilai edukatif. anak didik tidak tercabut dari akar budaya bangsa. dan berikan nilai angka kredit bagi yang telah membuat program.Meningkatkan Kualitas Muatan Lokal Pilihan Sekolah Melalui Peran Kepala Sekolah–Guru Dalam Menyusun Program Sebagai Perwujudan Menuju Kurikulum Berbasis Kompetensi Oleh : Amos Musadi. Saran yang diajukan. dan menempatkan peran Kepala Sekolah dan Guru. Implementasi ini terwujud dalam jenjang Pendidikan Dasar . Sekolah Dasar ( SD ) memiliki tujuan menyiapkan anak ke jenjang pendidikan SLTP . S. Pembelajaran Mulok belum memenuhi harapan karena sering diganti dengan mata pelajaran lain. pelaksanaan tepat waktu. Menengah. KBK. Setiap tingkatan pendidikan memiliki sasaran yang tertuang dalam Tujuan Institusional. manfatkan nara sumber. Metoda yang digunakan untuk mengetahui permasalahan Mulok pilihan adalah pengamatan dan wawancara dengan rekan sejawat saat KKG.

2001: 214 ). III= 4. Sedang Mulok pilihan menjadi otonomi sekolah untuk menentukan sendiri bentuk dan macamnya sesuai dengan kedekatan sekolah degan lingkungan.Sekolah Dasar ( SD ) memiliki tujuan menyiapkan anak ke jenjang pendidikan SLTP sebagai wujud pelaksanaan Program Wajib Belajar . atau menyiapkan bekal untuk terjun ke dalam masyarakat karena tidak melanjutkan pendidikan. dan Muatan Lokal ( Wahjosumidjo. IPS. Dinas Pendidikan Kota Semarang mengimplementasikan Mulok dalam kelompok Mulok Wajib dan Mulok Pilihan. II=2. Bahasa Inggris. IPA. alokasi waktu Mulok meliputi: Kelas I = 2 . pengetahuan berbagai ciri khas lingkungan alam sekitar . Mata pelajaran itu meliputi: Pendidikan Agama. kerajinan daerah. Kertangkes. Matematika. dan VI=7 jam pelajaran. kesenian daerah. bahwa Mulok yang diberikan dapat berupa bahasa daerah. Mulok wajib tingkat Propinsi berupa Bahasa Daerah Jawa. V=7. PPKN. Mulok berfungsi memberikan peluang untuk mengembangkan kemampuan siswa yang dianggap perlu oleh daerah yang bersangkutan ( Wahjosumidjo. . serta hal-hal lain yang dianggap perlu oleh sekolah atau daerah yang bersangkutan. Selanjutnya ditulis oleh Wahjosumidjo ( id ) . Mulok tingkat Kota berupa Kepedulian Diri Sendiri dan Lingkungan ( KPDL ). IV=5. Bahasa Indonesia. Penjaskes. Mata pelajaran Muatan Lokal ( Mulok ) diberikan kepada anak didik untuk mengembangkan pemahaman akan daerah sekitar lingkungan sekolah. 2001: 213 ). Untuk mencapai Tujuan Institusional SD menggunakan instrumen berupa 9 mata pelajaran sebagai acuan program. Dalam struktur program Kurikulum 1994 beserta Suplemennya. Tujuan yang akan dicapai setiap mata pelajaran dinamakan Tujuan Kurikuler.

Persoalan ini menyebabkan lambatnya pembaharuan dan . Riset hanya dianggap sebagai kegiatan yang wajib bagi lembaga Perguruan Tinggi. Kelemahan ini terjadi karena kebiasan menggunakan perangkat dan materi kurikulum yang telah jadi sehingga kurang terpacu untuk mencipta sendiri.Mulok pilihan sekolah disesuaikan dengan kondisi perikehidupan yang ada dan berkembang di tengah masyarakat tempat sekolah itu berada. sekolah dalam menentukan bentuk Mulok pilihan sekolah hanya untuk memenuhi pertanyaan ―apa‖. dan tingkat kompetensi yang belum tergali. Metoda yang digunakan untuk menjawab permasalahan pokok Mulok pilihan sekolah dengan menggunakan pengamatan 5 SD yang ada di Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Semarang Barat secara sepintas. Tiap unit SD melaksanakan Mulok pilihan sekolah yang berbeda. Hal ini berakibat pada lahirnya keanekaragaman Mulok pilihan sekolah . menyusun. Kegiatan riset dan pengembangan tentang dunia pendidikan belum mendapat tempat. Kondisi ini dimungkinkan berkembang karena berlakunya desentralisasi pendidikan dan otonomi sekolah. Para pelaksana lapangan lebih disibukkan pada kegiatan rutin yang kurang memberi kesempatan untuk mengembangkan sebagaimana kebiasaan yang terjadi pada negara lain. Merencanakan. Kelemahan yang dihadapi . Demikian pula lemahnya kompetensi Kepala Sekolah – Guru dalam memahami kurikulum Mulok pilihan sekolah dalam bentuk konsep. Kepala Sekolah dan Guru dalam menentukan bentuk Mulok pilihan sekolah mengambil dari bentuk aktifitas kehidupan masyarakat tanpa memberikan pengkajian yang mendalam. melalui kegiatan KKG dan wawancara kecil-kecilan terhadap rekan-rekan guru. landasan filosofi. dan mengimplementasikan rancangan program Mulok belum menjadi tradisi stakeholder pendidikan. Artinya. dan psikologis.

bagi lembaga Perguruan Tinggi. meningkatkan kemampuan Kepala Sekolah dan guru dalam menyusun dan menentukan Mulok pilihan sekolah. 1991: 20 ). kepercayaan. Termasuk di dalamnya Mulok pilihan sekolah lebih disebabkan persoalan dari pada kebutuhan pengembangan. Maksudnya. penentuan pilihan Mulok pilihan Sekolah harus dikaji dalam segi nilai-nilai. menambah wawasan Kepala Sekolah dan guru untuk menggali dan meningkatkan mutu pembelajaran Mulok pilihan sekolah. Masalah yang akan diungkap dalam bahasan ini adalah. Dengan menyiapkan Mulok pilihan sekolah secara matang akan mempermudah guru dalam menentukan batasan tujuan dan pengembangannya. Landasan tersebut berupa filosofi. Kedua. psikologis. Persoalan ini menyebabkan lambatnya pembaharuan dan penemuan yang banyak tersebar pada institusi pendidikan SD. menentukan alternatif pengganti terhadap bahan ajar Mulok pilihan sekolah yang dirasa kurang up to date. dan kekuatan lain yang berpengaruh terhadap bentuk dan kualitas pendidikan yang akan diberikan sekolah kepada anak didik. dan historis ( Ansyar. (3) guru mengalami kesukaran dalam mengembangkan bahan ajar. . (2) guru mengalami kesulitan mengatasi batasan-batasan bahan ajar. Keputusan yang harus diambil untuk menentukan bahan Mulok pilihan sekolah seharusnya memenuhi pertanyaan ―bagaimana‖. Akibat yang timbul : (1) guru mengalami kesulitan dalam menentukan tujuan kurikuler. tradisi. Ketiga. bagaimana meningkatkan kualitas Mulok pilihan sekolah dan meningkatkan peran Kepala Sekolah – Guru dalam menyusun program Mulok ? Adapun tujuan yang akan dicapai dalam tulisan ini: Pertama.

1. lingkunga sosial. Mulok wajib harus diberikan berdasarkan ketentuan tingkat Propinsi dan tingkat Kota / Kabupaten. dan lingkungan budaya serta kebutuhan pembangunan daerah yang perlu diajarkan kepada siswa. Berdasarkan difinisi tersebut. potensi daerah yang memiliki ciri khas. Oleh karena itu. Mulok di Sekolah Dasar. Tambunan ( 1994: 329 ) mendifinisikan Mulok sebagai program pendidikan yang isi dan media penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam. Mulok pilihan sekolah artinya pemanfaat alokasi waktu mata pelajaran Mulok berdasarkan pada unit sekolah yang akan memilih bahan ajar sesuai dengan kehidupan lingkungan sekolah berada. Mulok pilihan pelaksanaannya berdasarkan pilihan sekolah. Kajian teori. Mulok memiliki ciri-ciri menjadi bagian dalam warga sekolah. SD yang berada di lereng bukit dapat memilih Mulok berupa pertaniaan. Kurikulum Berbasis Kompetensi di Sekolah Dasar. . Mulok merupakan sejumlah pelajaran yang diajarkan kepada siswa untuk mengembangkan potensi di daerah. kajian teori dipaparkan untuk mendapatkan diskripsi yang jelas tentang seputar Mulok pilihan sekolah beserta perangkatnya. Berkaitan dengan permasalahan yang akan dijawab diperlukan landasan berpikir untuk memenuhi pertanyaan pada pokok permasalahan yang dihadapi. SD yang berada di pesisir pantai dapat memilih Mulok sekolah tentang periknan laut atau nelayan. Dalam pelaksanaannya dikenal Mulok wajib dan Mulok pilihan. 2. kedekatakan dengan sekolah.II. Dengan demikian tiap unit sekolah miliki mulok pilihan yang tidak sama.

Kepala Sekolah berfungsi sebagai manajer. 2001: 83 ). atau tempat di mana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran (Wahjosumidjo. menulis. Sedang kompetensi tamatan SD adalah memiliki pengetahuan. Kepala Sekolah didifinisikan : seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah. Secara umum. tanggung jawab. Peran Kepala Sekolah dan Guru di Sekolah Dasar. lingkungan budaya. Ansyar ( 1984: 19 ) mendifinisikan kurikulum sebagai konstan atau isi pelajaran yang akan diajarkan atau dipelajari peserta didik. Kepala Sekolah selaku pimpinan memiliki wewenang dan tanggung jawab terhadap sekolah yang dipimpinnya. di mana diselenggarakan proses belajar mengajar. 3. kurikulum dipahami sebagai sejumlah mata pelajaran yang diberikan pada anak didik. 1994:10 ). mempunyai rasa kejawatan dan berjanji akan mengabdikan dirinya dan selalu berusaha untuk meningkatkan dan mengembangkan profesinya. dan berhitung ( Suriamihardja. Guru profesional.2. seorang guru yang mempunyai keahlian. nilai dan sikap. guru dibekali ilmu pendidikan sehingga memiliki kemampuan profesional. Lebih tegas lagi. supervisor. Sebagai pimpinan. dan berhitung. Sedang . dan kebutuhan daerah perlu dipelajari serta mempunyai kemampuan dasar baca. Guru merupakan tenaga kependidikan yang keseharian berhadapan langsung dengan anak didik. lingkungan sosial. Dalam tugasnya. tulis. kemampuan melaksanakan tugas atau mempunyai kemampuan untuk mendekati dirinya dengan lingkungan alam. Kurikulum Berbasis Kompetensi di Sekolah Dasar. Kompetensi dasar pendidikan meliputi mambaca. dan administrator.

alokasi waktu yang tersedia dimanfaatkan secara optimal. tingkat Kota berupa KPDL. tidak hilang diganti pelajaran lain seperti yang telah diduga. . III.Dalam hubungannya dengan guru. sering dikesampingkan. Artinya. Kepala Sekolah berkewajiban menciptakan hubungan yang sebaik-baiknya dengan guru. Mulok berisi bahan ajar yang menentukan keunikan daerah. Kepala Sekolah merupakan teman sejawat yang memiliki tanggung jawab sama dalam berperan untuk memajukan pendidikan. menyenangkan bagi anak bukan sebaliknya. tetapi memiliki kesejajaran dengan mata pelajaran lain. Dan. di mana terdapat sendi perikehidupan yang berkembang dan hidup serta layak untuk dikembangkan karena memiliki nilai edukatif. Implementasi Mulok menunjukkan bahwa belum memposisikan Mulok sebagai mana mestinya. Mulok tidak lagi menjadi mata pelajaran kelas dua. Pembahasan. Ini dilakukan agar bahan ajar yang disampaikan menarik. 1993: 5 ). Hubungan ini membentuk lingkungan pendidikan. Mulok masih dianggap mata pelajaran kelas dua. Pelaksanaan struktur program Mulok terbagi atas Mulok wajib dan Mulok pilihan. terbukti jam-jam Mulok dimanfaatkan pelajaran lain walau sudah tersedia GBPP dan buku materi ajar. Dalam penyajian kepada siswa memerlukan proses belajar-mengajar yang khas pula ( Nasution. Mulok wajib diisi untuk tingkat Propinsi berupa Bahasa Daerah. Mulok sebagai mata pelajaran dalam Kurikulum 1994 merupakan suatu kebutuhan dalam dunia pendidikan agar siswa memahami lingkungan sekolah beserta masyarakatnya. Mulok pilihan sekolah disesuaikan dengan lokasi sekolah. staf dan siswa sebagi esensi kepemimpinan adalah kepengikutan.

lemahnya stakeholder untuk menggeluti Mulok pilihan sekolah . kurang pemahaman Guru dan Kepala Sekolah pada Mulok pilihan. Dengan mendekatkan sekolah-masyarakat akan mudah mencari nara sumber yang diperlukan. Rumusan Mulok pilihan memperhatikan sturtur yang ada. Mulok pilihan sekolah disusun berdasarkan filsafat bangsa yakni Pancasila. pokok bahasan. memperhatikan tingkat perkembangan anak. Kekurangan ini ditunjukkan pada tak adanya bentuk program pengajaran. sulitnya mencari nara sumber yang ahli pada bidangnya. psikologis. dan historis. materi dan metoda. Segera membuat program Mulok pilihan dan tidak ditunda. sulitnya mencari buku sumber yang sesuai.Lebih parah lagi keberadaan Mulok pilihan sekolah yang beraneka ragam dalam penyajiannya kurang memenuhi standar minimal sebuah mata pelajaran. Kepala Sekolah dan Guru menyusun program Mulok pilihan sekolah dengan memperhatikan kedekatan sekolah dengan masyarakat. memiliki nilai sejarah bagi perkembangan dan kemajuan bangsa. 4. Langkah yang diperlukan untuk memposisikan Mulok pilihan sekolah Agar sejajar dengan mata pelajaran lain adalah : 1. Program disusun berdasarkan azas-azas kurikulum seperti filosofis. alokasi waktu. mengembangkan budaya masyarakat. dan tumbuhnya pemahaman bahwa Mulok pilihan merupakan mata pelajaran yang tidak bermanfaat Pemecahan terhadap hambatan dimaksud diperlukan untuk menghidupkan kembali semangat pelaksanaan pendidikan agar melaksanakan Mulok pilihan sesuai alokasi waktu yang tersedia pada struktur program Kurikulum 1994. sosiologis. 2. seperti tujuan kurikuler. institusional umum. . 3.

terasi. Kedekatan sekolah terhadap lingkungan sekitar memperjelas bahwa telah terjadi rasa peduli pihak sekolah dengan kehidupan yang berkembang di masyarakat. dan kerajinan wuwu atau jala dapat jadi satu paket pembelajaran yang perlu diangkat bagi sekolah dibanding pilihan Mulok lain. berkelanjutan akan mengembangkan poensi daerah. masyarakat Kelurahan Tawang Mas. sistematis. Akibatnya. Dengan demikian napas kehidupn sekolah tak tercabut dari akar masyarakat. Persoalan akan muncul manakala sekolah mengangkat materi ajar Mulok melebihi lintas batas wilayah sekolah. Pembuatan ikan asin. Banyak kasus ditemukan. penentuan Mulok pilihan sekolah oleh stokeholder pendidikan lebih dititikberatkan pada kesenangan pihak sekolah. ditemukan perwajahan . adalah bagian dari Muatan Lokal yang harus jadi bagian dalam proses pendidikan sekolah dimaksud dan harus diadakan. Perikehidupan yang berciri khas daerah akan tumbuh dan ter-proteksi dari kepunahan. seandainya di masyarakat sekitar sekolah terinventaris 2 atau 3 model kegiatan perikehidupan maka penentuannya diambil dari apa yang paling menonjol. Tentu saja tidak semua apa yang ada boleh masuk di dalamnya. Disini ditemukan pula sentra produksi ikan asin dan pembuatan terasi. Misal. Dengan menggunakan skala sasaran. Keputusan tehnis kependidikan memberi ruang unit sekolah mengembangkan diri sesuai keberadaab lingkungan dimana sekolah berada. Kecamatan Semarang Barat sebagian besar bermatapencaharian sebagai nelayan. dan perbengkelan motor karena dekat pula dengan alur jalan raya. Dengan paparan data ini tentu saja sekolah terdekat sudah berkewajiban mengangkat salah satu perikehidupan yang ada dijadikan bahan ajar Mulok.Pelaksanaan Mulok pilihan secara runtut. Mulok sebagai organisasi mata pelajaran lebih bersifat terbuka untuk menampung option materi ajar yang memiliki nilai edukatif bagi perkembangan anak didik. Dengan demikian anak didik tidak tercabut dari akar budaya bangsa. ada pula kegiatan kerajinan pembuatan jala dan wuwu untuk menangkap ikan.

kebutuhan masyrakat. kontinuitas. suka-tidak-suka harus jadi orientasi bahan ajar Mulok pilihan sekolah. Multi tafsir Mulok mengahsilkan beragan jenis muatan bahan ajar. dan nilai-nilai edukatif. tetapi terus di up grade untuk tetap up to date. Hal ini lebih disebabkan tidak dibakukannya pemahaman tentang Mulok. Pilihan tersebut memang tidak salah. Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit sekolah harus megambil begitu saja salah satu model kegiatan yang dijadikan bahan ajar. termasuk di dalamnya mengembangkan Mulok pilihan sekolah yang dapat dijadikan kebanggaan sekolah dalam berkompetensi mutu dengan unit SD lainnya. lokal artinya setempat (Poerwodarminto. Untuk itu diperlukan redifinisi Mulok agar tepat pada sasaran. Akibatnya. sekolah perlu mengembangkan diri. Untuk itu diperlukan perencanan yang matang oleh komponen sekolah dalam menentukan model yang tepat agar Mulok pilihan sekolah keberadaannya dapat dipertanggungjawabkan dalam segi mutu. sekolah dihadapkan pada satu pilihan diantara dua atau lebih model perikehidupan yang berlaku di lingkungan sekitar sekolah. praktis. Pengembangan Mulok pilihan sekolah memberi manfaat nilai tambah bagi stakeholder dan bahan saji Mulok pilihan tidak usang tertinggal. Oleh karena itu. Memasuki Kurikulum Berbasis Kompetensi. 2000: 150). dan lingkungan pertanian mempelajari bahasa asing. Permasalahan yang muncul. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia. Penyusunan rencana Muatan Lokal Sekolah juga kurikulum pada umumnya harus mencakup prinsip-prinsip relevansi. 1984: 605).pendidikan lebih dititikberatkan pada kesenangan pihak sekolah. Prinsip . ditemukan perwajahan materi ajar Mulok tidak mencerminkan kandungan keberadaan lingkungan sekitar sekolah. lingkungan perkebunan mempelajari peternakan. Keputusan tanpa pertimbangan masak berakibat pada proses KBM Mulok sekolah berlangsung tanpa arah dan tujuan yang pasti. daerah setempat mau-tidak-mau. fleksibilitas. efektifitas (Nana. Hal ini menyulitkan bagi program pembaharuan Mulok pilihan sekolah. Maka ditemukan sekolah dilingkungan nelayan mempelajari kerajinan mebel.

bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Pembelajaran dikatakan efektif jika tepat mengenai sasaran pada tujuan yang akan diraih. Masyarakat dapat memperoleh informasi inovatif sebagai hasil pengamatan langsung dunia pendidikan. Proses KBM mempermudah anak dalam mengikuti. 2000: 150). di sini dan tempat lain. Derasnya pengaruh global berdampak pula pada Mulok pilihan sekolah. Kedekatan masyarakat dengan sekolah menggambarkan suatu simbiosis mutualisme. tidak terputus. baik menggunakan peraga sederhada maupun modern dan memiliki nilai praktis dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip relevansi artinya penyusunan Kurikulum Muatan Lokal Sekolah harus menyesuaikan dengan kebutuhan. efektifitas (Nana. karena keberadaannya tidak berseberangan dengan sekolah melainkan memiliki daya dorong dan dukung kepada sekolah sehingga bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan pendidikan pada tingkat mikro. Sekolah diuntungkan dalam kemudahan mengakses pengetahuan yang tersedia pada lingkungan terdekat. Sekolah membutuhkan jenis mulok pilihan. Prinsip fleksibilitas artinya dapat mengantarkan anak didik dalam kehidupan sekarang dan akan datang. Mulok pilihan sekolah akan menjadi tidak menarik lagi.Penyusunan rencana Muatan Lokal Sekolah juga kurikulum pada umumnya harus mencakup prinsip-prinsip relevansi. serta mengalami ketertinggalan manakala tidak . kedekatan . pengalaman yang diperoleh merupakan bentuk berkesinambungan sesuai tingkat usia dan tingkatan kelas. praktis. dan perkemangan masyarakat. tradisional oriented. kontinuitas. Dengan demikian terjadi umpan balik diantara kedua belah pihak dan saling menguntungkan. Dasar psikologis ajar Mulok pilihan sekolah tidak berbeda dengan pelajaran lain. Prinsip kontinuitas berarti pembelajaran yang disampaikan merupakan bentuk yang berkelanjutan . Latar belakang dipilihnya bentuk Mulok pilihan sekolah didasarkan pada kebutuhan sekolah. fleksibilitas. kesatuan masyarakat terhadap sekolah. dan kemungkinan tindak lanjut perkembangannya. tuntutan.

Mutu pendidikan sebagai tuntutan untuk mengimbangi kemajuan teknologi yang pesat. Kondisi di atas jika diteropong melalui model MBS telah memenuhi salah satu prinsip peningkatan mutu. keluasan bahan. Untuk itu perlu perubahan sikap pengelola sekolah / kelas untuk memiliki sikap dinamis terhadap pembaharuan yang telah menjadi suatu kebutuhan. Masyarakat merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan sangat memahami. serta mengalami ketertinggalan manakala tidak terlihat tanda-tanda munculnya inovasi. dalam hal ini stake holder dunia pendidikan. Mulok pilihan sekolah akan menjadi tidak menarik lagi. tingkatan kelas. Dengan mengacu pada kerangka yang ada. Dalam menejemen mutu memenuhi standar kualifikasi kebutuhan para penikmat pendidikan. Sultinya menggiring sikap dinamika kinerja yang semula dibingkai oleh sistem nilai yang baik dan benar adalah ―seragam‖ . Tampilan baru yang muncul menambah bobot dan kedalaman bahan ajar. pertumbuhan dan perkembangan pembaharuan tidak lepas tanpa arah. sementara sekarang harus membalik paradigma menjadi yang baik dan benar adalah yang ―berbeda‖ (Prihatin. Mutu pendidikan dapat berkembang optimal perlu adanya kebebasan para pengelola sekolah untuk berimprovisasi sesuai dengan kerangka Tujuan Pendidikan Nasional. melainkan menunjukkan semakin mantapnya arah perkembangan yang menuju pada peningkatan kualitas. tradisional oriented. kesesuaian. 2000 ). Pendidikan merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh sekolah sebagai institusi tempat masyarakat berharap tentang kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang ( Nanang. bahwa pendidikan bermutu mampu menjawab dan mengantisipasi berbagai tantangan. 2000: 3 ). Inovasi ini diperlukan untuk menjawab permasalahan akan ketertinggalan dan merelokasikan kembali Mulok agar tampil lebih segar serta menarik. .Derasnya pengaruh global berdampak pula pada Mulok pilihan sekolah. Salah satu sikap dinamik itu dapat ditunjukkan pada keberanian para Kepala Sekolah – Guru memberikan penilaian terhadap tujuan kurikuler.

perubahan. Secara umum. Selaku tenaga profesional. Kemampuan ini dapat digali melalui kegiatan pelatihan. Kepala sekolah dan Guru merupakan personal pendidikan yang masing-masing memiliki wewenang dan tugas di sekitar ruang lingkup pendidikan. pokok bahasan serta topik bahan ajar. Berlangsungnya Mulok Sekolah berdasarkan pilihan yang diputuskan secara sepihak oleh kepala sekolah ataupun hasil kolaburasi dengan guru. tingkatan kelas. kompetensi yang dimiliki sangat menentukan terhadap jalannya pendidikan tingkat mikro. Hal ini disebabkan belum terbiasanya sikap untuk mencipta dan terbiasanya sikap hanya memakai yang telah ada. alokasi waktu yang diperlukan ( 1-3 jam ). Untuk itu perlu dikembangkan sikap kreatif dan daya cipta untuk memahami cara menyusun Program Mulok Pilihan Sekolah. Konsideran nilai praktis menyusun program Mulok pilihan sekolah dapat mengacu pada GBPP yang ada. keluasan bahan. penataran. Faktor kesulitan yang tinggi membawa kecenderungan untuk menjauhkan diri dari . dan sasaran yang lebih luas tercapainya tujuan pendidikan. dan penggantian terhadap Mulok pilihan sekolah. serta reaktualisasi pemahaman terhadap kurikulum. Kinerja pokok Kepala Sekolah – Guru merupakan personal yang memiliki tanggung jawab terhadap kemungkinan pemilihan. Isinya meliputi tujuan kerikuler yang dikehendaki sebagai sasaran pencapaian. kesesuaian. Penyusunan Mulok pilihan sekolah memperhatikan format yang tersedia. Proses penilaian berlangsung setelah selesainya beberapa bahasan yang berhasil ditelaah. pegalaman . serta rendahnya kompetensi untuk menentukan bentuk kurikulum Muatan Lokal. dan sikap profesional. Demikian pula ―jam terbang‖ yang dimiliki mewarnai pengalaman yang sangat berguna bagi pengembangan prestasi dalam meniti karier. adalah bukan merupakan kemampuannya untuk menyusun kurikulum Mulok pilihan sekolah.Salah satu sikap dinamik itu dapat ditunjukkan pada keberanian para Kepala Sekolah – Guru memberikan penilaian terhadap tujuan kurikuler. lokakarya. Untuk memiliki kompetensi secara khusus terhadap Mulok pilihan sekolah diperlukan pengetahuan.

Untuk itu diperlukan analisis pemahaman bagi pelaksana kelas. serta memberi warna tersendiri bagi tiap sekolah. IV. Kelemahan ini dapat dipecahkan dengan cara mendatangkan nara sumber yang ahli dalam bidangnya untuk memberikan bekal praktis cara menyusun Mulok pilihan sekolah. sehingga sekolah tidak lagi monoton tetapi beragam jenis mulok yang ada . Dengan meningkatkan kualitas pemahaman faktor pendukung serta mengatasi faktor penghambat akan meningkatkan keahlian dalam menyusun Mulok Evaluasi diperlukan untuk mengetahui tingkat kelayakan pada Mulok pilihan sekolah yang telah berjalan. Penutup Telaah singkat tentang Mulok pilihan sekolah mengingatkan para Kepala Sekolah dan guru untuk tidak lagi memandang Mulok sebagai pelajaran kelas dua. Sikap ini berpengaruh besar pada siswa untuk tidak menganggap kurng pentingnya Mulok pilihan sekolah. perbaikan yang dilakukan akan membawa hasil. penggantian. Hasil ini terlihat pada semakin bervariatif squen Mulok pilihan sekolah antar unit lembaga . Melalui penilaian secara terus-menerus dan berkelanjutan . Tindak lanjut pembekalan adalah menyusun Mulok pilihan sekolah yang dikehendaki. Kesemuanya itu membutuhkan hubungan sinerji antar Kepala Sekolah dan guru. Lebih mudahnya menggunakan secara terus-menerus program yang telah ada. Untuk lebih meningkatkan hasil diperlukan pembanding antar unit sekolah yang memiliki mulok sama ataupun berbeda. atau pembaharuan orientasi bahan ajar agar sesuai dengan kemajuan jaman.Faktor kesulitan yang tinggi membawa kecenderungan untuk menjauhkan diri dari pembuatan kurikulum Mulok pilihan sekolah. Mulok Sekolah bersikap terbuka. tetapi memiliki kesejajaran dengan mata pelajaran lain. Sumber Mulok perlu digali secara terus-menerus dan tidak akan habis. karena orientasi Mulok . Lewat analisis mulok dapat disimpulkan faktor pendukung dan penghambat yang muncul. Ini untuk menghindari perubahan .

Moch. Dirjen Dikti. 1992. manfaatkan nara sumber dari masyarakat untuk mengembangkan Mulok pilihan sekolah. Mulok pilihan sekolah memiliki kesejajaran dengan mata pelajaran lain. Melalui tindakan berkelanjutan akan membawa kelengkapan program Mulok. Petunjuk Peningkatan Mutu Pendidikan. Depdikbud. manfaatkan alokasi waktu Mulok pilihan sekolah dengan tepat jangan sampai diganti mata pelajaran lain. relevansi. serta kemungkinan perkembangan. 2001. Andira. Ketiga. Ketiga. Kedua. Kedua. Mulok Sekolah merupakan bagian dari mutu pendidikan. Nanang. 1996. Daftar Pustaka Ansyar. Semakin mendekati tingkat ideal akan terlihat semakin baik. Berdasarkan paparan di atas. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. kedalaman bahan ajar. Manajemen Berbasis Sekolah – Strategi Pemberdayaan Sekolah Dalam Rangka Peningkatan Mutu dan Kemandirian Sekolah. menentukan Mulok pilihan sekolah harus mempertimbangkan kedekatan sekolah degan masyarakat.digali secara terus-menerus dan tidak akan habis. jakarta Fatah. simpulan yang dapat diambil adalah : Pertama. Jakarta Depdikbud. Berdasarkan paparan di atas. Kepala Sekolah dan Guru berperan sentral terhadap proses pengembangan Mulok pilihan sekolah. perlunya diberi tambahan nilai angka kredit bagi Kepala Sekolah dan Guru yang telah berhasil menyusun Program Mulok pilihan sekolah. saran-saran yang dapat dikemukakan adalah: Pertama. karena orientasi Mulok merupakan bagian kehidupan yang ada di tengah masyarakat. Baik dalam segi mutu. Bandung .

D-2 Unnes (2000). Citra. Kepala SD Negeri Bubakan 02 (2003). Pengembangan Kurikulum. 2. Riwayat pekerjaan: Guru SD Negeri Krapyak 02 (1980). Kepala SD Negeri Pesantren (2005) . Kamus Umum Bahasa Indonesia. Riwayat pendidikan: SPGN Semarang (1980). Grasindo. Mananti. 2000. Kompetesi dan Karakteristik Tamatan Pendidikan Dasar Sembilan Tahun. Majalah Ilmiah Edukasi:Jan-Apri 2000. 2001. Guru SD Negeri Krobokan 02 (1984). 1994. S-1 Prog PSD Unnes (2002). Persfektip Kurikulum Pendidikan Indonesia Pada Tahun 2005. Mijen. Pengembangan Kurikulum – Teori dan Praktek. Fisibilitas Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah Dalam Persfektif Sosial Budaya. Bandung Prihatin. Jakarta Syaodih. Kota Semarang 1. Kepemimpinan Kepala Sekolah – Tinjauan Teoritis dan Permasalahannya. Grafindo Persada.Pd: Kepala SD Negeri Pesantren. 1984. 1994. Balai Pustaka. Rosda Karya.Nasution. Unnes. 2000. Kec. Jakarta Tambunan. Jakarta Biodata Penulis: Amos Musadi. Jakarta Wahjosumidjo. Titi. Nana. Bandung Poerwodarminta. Basyumi. 1994. 1993. Profel Pendidikan Nasional. Guru SD Negeri Anjasmoro 02 (1987). Grasuido. Semarang Sahartian. Yogyakarta Suramihardja. Andi. S.

Jenis tulisan ( font ) : Arial 4. Hasil Penelitian ataupun Kajian Ilmiah. Jumlah halaman minimal 10 maksimal tidak dibatasi 6. Merupakan karya sendiri dan belum pernah dipublikasikan ke media lainnya 2.Jurnal Pendidikan ISWARA MANGGALA memberikan kesempatan seluas-luasnya dan mengajak semua kalangan pendidikan di Kota Semarang pada khususnya untuk mengirimkan tulisan-tulisan dalam bentuk Karya Ilmiah. Judul 2. Tulisan dengan jarak 1. Daftar Pustaka 2. Uraian Isi tentang permasalahannya ( Pembahasan ) 4.5 spasi 5. Kesimpulan dan saran 1. Uraian Isi secara teori 3. Permasalahan 2. Kata kunci 1. Abstrak ( bisa dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris ) 3. Ditulis dengan MS-Word 3. Biodata Penulis 1. Tulisan disusun dengan metode : 1. Penyerahan naskah dalam bentuk print-out dan disket .

Copyright 2005 Dicetak dan Diterbitkan oleh : Kerjasama Dewan Pendidikan Kota Semarang. PGRI Kota Semarang dan Dinas Pendidikan Kota Semarang Forum Pemberdayaan Tenaga Kependidikan Kota Semarang .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful