METABOLISME AIR I.

Pendahuluan Cairan tubuh (bahasa Inggris: interstitial fluid, tissue fluid, interstitium) adalah cairan suspensi sel di dalam tubuh makhluk multiselular seperti manusia atau hewan yang memiliki fungsi fisiologis tertentu. Cairan tubuh merupakan komponen penting bagi fluida ekstraselular, termasuk plasma darah dan fluida transelular. Cairan tubuh dapat ditemukan pada spasi jaringan (bahasa Inggris: tissue space, interstitial space). Rata-rata seseorang memerlukan sekitar 11 liter cairan tubuh untuk nutrisi sel dan pembuangan residu jaringan tubuh. Kelebihan cairan tubuh dikeluarkan melalui air seni. Kekurangan cairan tubuh menyebabkan seseorang kehausan dan akhirnya dehidrasi. II. Air dan Elektrolit 2.1. Air Air merupakan bagian terbesar pada tubuh manusia, persentasenya dapat berubah tergantung pada umur, jenis kelamin dan derajat obesitas seseorang. Pada bayi usia < 1 tahun cairan tubuh adalah sekitar 80-85% berat badan dan pada bayi usia > 1 tahun mengandung air sebanyak 70-75 %. Seiring dengan pertumbuhan seseorang persentase jumlah cairan terhadap berat badan berangsur-angsur turun yaitu pada laki-laki dewasa 50-60% berat badan, sedangkan pada wanita dewasa 50 % berat badan.2 Hal ini terlihat pada tabel berikut :

Tabel.1 Perubahan cairan tubuh total sesuai usia

Usiailog Be rat (%)

1 Metabolisme Air

3  Kation Kation utama dalam cairan ekstraselular adalah sodium (Na+).  Anion Anion utama dalam cairan ekstraselular adalah klorida (Cl-) dan bikarbonat (HCO3-). faeces 35mEq/liter dan keringat 58mEq/liter. Apabila tubuh banyak mengeluarkan natrium (muntah.3 a.5mEq/kgBB dapat berubah-ubah. sedangkan kation utama dalam cairan intraselular adalah potassium (K+). Elektrolit dibedakan menjadi ion positif (kation) dan ion negatif (anion). sedangkan anion utama dalam cairan intraselular adalah ion fosfat (PO43-).Atrial natriuretic factor .Sekresi ADH .Left atrial stretch reseptor . Karena kandungan elektrolit dalam plasma dan cairan interstitial pada intinya sama maka nilai elektrolit plasma mencerminkan komposisi dari cairan ekstraseluler tetapi tidak mencerminkan komposisi cairan intraseluler.5mEq/kgBB dimana + 70% atau 40. Kadar natrium plasma: 135-145mEq/liter. Suatu sistem pompa terdapat di dinding sel tubuh yang memompa keluar sodium dan potassium ini. Elektrolit Elektrolit adalah molekul anorganik terlarut yang berperan sebagai ion dalam konduksi aliran listrik.Sistem renin angiotensin .Perubahan yang terjadi pada air tubuh total (TBW=Total Body Water) Kadar natrium dalam tubuh 58. Kebutuhan setiap hari = 100mEq (6-15 gram NaCl).5 Natrium dapat bergerak cepat antara ruang intravaskuler dan interstitial maupun ke dalam dan keluar sel.diare) sedangkan pemasukkan terbatas maka akan terjadi keadaan dehidrasi disertai kekurangan natrium.Renal afferent baroreseptor .Central baroreseptor .Aldosterone (reabsorpsi di ginjal) .4 Kadar natrium dalam plasma diatur lewat beberapa mekanisme: .2. Natrium Natrium sebagai kation utama didalam cairan ekstraseluler dan paling berperan di dalam mengatur keseimbangan cairan. Kekurangan air dan natrium 2 Metabolisme Air . Ekresi natrium dalam urine 100-180mEq/liter.1 Merupakan zat yang terdisosiasi dalam cairan dan menghantarkan arus listrik.2. Jumlah kation dan anion dalam larutan adalah selalu sama (diukur dalam miliekuivalen).

5-5.3 3 Metabolisme Air .dalam plasma akan diganti dengan air dan natrium dari cairan interstitial. Magnesium Magnesium ditemukan di semua jenis makanan. Kalsium Kalsium dapat dalam makanan dan minuman. keadaan endokrin. terutama susu. faeces 72 mEq/liter dan keringat 10 mEq/liter. Ekskresi kalium lewat urine 60-90 mEq/liter. Dikeluarkan lewat urine dan faeces. besarnya tulang. Metabolisme kalsium sangat dipengaruhi oleh kelenjarkelenjar paratiroid. da hipofisis. ovarium. kebutuhan setiap hari 1-3 mEq/kgBB. Kadar bikarbonat dikontrol oleh ginjal. Asam bikarbonat dikontrol oleh paru-paru dan sangat penting peranannya dalam keseimbangan asam basa. tiroid. Sedikit sekali bikarbonat yang akan dikeluarkan urine. testis. 6 c. Apabila kehilangan cairan terus berlangsung.5 Kadar kalium plasma 3. Keseimbangan kalium sangat berhubungan dengan konsentrasi H+ ekstraseluler. air akan ditarik dari dalam sel dan apabila volume plasma tetap tidak dapat dipertahankan terjadilah kegagalan sirkulasi. 5 e. Kebutuhan untuk pertumbuhan +10 mg/hari.5 d. Karbonat Asam karbonat dan karbohidrat terdapat dalam tubuh sebagai salah satu hasil akhir daripada metabolisme. Jumlah kalium dalam tubuh sekitar 53 mEq/kgBB dimana 99% dapat berubah-ubah sedangkan yang tidak dapat berpindah adalah kalium yang terikat dengan protein didalam sel. Kalium Kalium merupakan kation utama (99%) di dalam cairan ekstraseluler berperan penting di dalam terapi gangguan keseimbangan air dan elektrolit. 80-90% dikeluarkan lewat faeces dan sekitar 20% lewat urine. Zat lainya termasuk penting adalah kreatinin dan bilirubin. 5 b.0 mEq/liter. Jumlah pengeluaran ini tergantung pada intake. Sebagian besar (99%) ditemukan didalam gigi dan + 1% dalam cairan ekstraseluler dan tidak terdapat dalam sel.5  Non elektrolit Merupakan zat seperti glukosa dan urea yang tidak terdisosiasi dalam cairan.

1 4 Metabolisme Air . Fisiologi Keseimbangan Air dan Elektrolit 3. 1997. Media transpor pada sistem sirkulasi. dan intra sel Mempunyai panas jenis. dan daya hantar panas yang tinggi sehingga berperan penting dalam pengaturan suhu tubuh.Gambar 1. Karakteristik air dalam fisiologi Air adalah senyawa esensial untuk semua makhluk hidup dan mempunyai beberapa karakteristik fisiologik: Media utama pada reaksi intrasel Diperlukan oleh sel untuk mempertahankan kehidupan. ruang di sekitar sel (ruang intravaskuler. Hampir semua reaksi biokimia tubuh terjadi dalam media air. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Pelarut terbaik untuk solut polar dan ionik. sehingga dapat dikatakan bahwa air merupakan pelarut untuk kehidupan.1. 2:56 III. panas penguapan. interstisium). Susunan Kimia Cairan Ekstraseluler dan Intraseluler5 Diambil dari Guyton & Hall.

Pengukuran cairan kompartemen tubuh berdasarkan konsentrasi suatu zat di dalam kompartemen: Konsentrasi zat = b. Dalam melakukan pengukuran jumlah air di kompartemen. yaitu:1 a. diperhitungkan zat tertentu yang terdistribusi dengan sendirinya di dalam kompartemen. Vd : c.2. perlu dilakukan perhitungan (koreksi) zat zat yang dieskresikan dalam kurun waktu yang dibutuhkan oleh zat tersebut sejak disuntikkan dan terdistribusi ke dalam kompatemen. dilakukan dengan melakukan pengurangan.1 5 Metabolisme Air .3. Penentuan jumlah cairan ekstrasel biasanya diukur secara langsung akan tetapi lebih sulit dibandingkan pengukuran air tubuh total. Sementara pengukuran volume kompartemen yang tidak mengandung zat tertentu. Untuk mengukur volume cairan kompartemen. dan antipirin. Jumlah Cairan Tubuh Total body water (air tubuh total) dapat ditentukan melalui beberapa perhitungan yang menerapkan teknik dilusi dengan menggunakan berbagai zat seperti duterium. tritium.1 Beberapa cara mengukur kompatemen cairan tubuh. Hal ini disebabkan bahan yang digunakan dalam proses dilusi harus hanya terdapat pada cairan ekstrasel dan tersebar pada seluruh kompartemen ekstrasel.

TBW) dibubuhkan zat deuterium atau disebut deuterated water (D2O). jenis kelamin dan umur. ISFV) diukur dengan melakukan substraksi : ISFV = ECFV . ECFV) diukur dengan melakukan pemberian label dengan inulin. biasanya jumlah lemaknya meningkat sedngkan jumlah airnya makin berkurang. Pada bayi prematur jumlah cairan tubuh total sebesar 70-75% dari berat badan.PV Jumlah cairan tubuh total kurang lebih 55-60% dari berat badan dan persentase ini berhubungan dengan jumlah lemak dalam tubuh. Kandiungna air di dalam sel lemak lebih rendah dibandingkan kandungan air dalam sel otot. ICFV) diukur dengan melakukan substraksi : ICF = TBW – ECFV - Volume cairan interstisium (interstitial fluid volume. Kadar lemak pada wanita umumnyalebih bayak dibadning dengan pria. Pada bayi dan anak. - Volume ekstraseluler (extracellular fluid volume. Makin tua seseorang. tritium atau disebut tritiated water (THO). Pengaruh terbesar berhubungan dengan jumlah lemak tubuh.- Untuk mengukur jumlah total air tubuh (total body water. sukrosa. 1 6 Metabolisme Air . mannitol dan sulfat. yaitu radiolabeled albumin atau zat warna biru Evans (Evans blue dye yang berikatan dengan albumin). - Volume intraselular (intracellular fluid volume. persentase cairan tubuh total lbih besar dibanding dengan orang dewasa dan akan menurun sesuai dengan pertambahan usia. sehingga cairan tubuh total pada orang yang gemuk lebih rendah dari mereka yang tidak gemuk. dan antipirin. PV) diukur dengan melakukan pemberian label radioaktif. sedangkan kadar air pada pria lebih besar dari pada wanita. - Volume plasma (plasma volume. sedangkan pada bayi normal dan pada orang dewasa sebesar 55-60% dari berat badan.

3. maka perhitungan cairan tubuh total menggunakan rumus : Jumlah total air tubuh (L) = Berat badan (Kg) x 55% Perhitungan ini hanya berlaku untuk individu dalam keadaan keseimbagnan air tubuh normal. Pada keadan dehidrasi berat. Lebih jauh kompartemen ekstraselular dibagi menjadi cairanintravaskular dan intersisial. sebaliknya pada bayi hanya setengah dari berat badannya merupakan cairan intraselular.6 7 Metabolisme Air .Bila diperkirakan sekitar 55% berat tubuh merupakan air. air tubuh total berkurang sekitar 10% maka pada keadaan dehidrasi berat air tubuh total dihitung dengan menggunakan rumus: Jumlah air total tubuh (L) = 0. sekitar duapertiga dari cairan dalam tubuhnya terdapat di intraselular (sekitar 27 liter rata-rata untuk dewasa laki-laki dengan berat badan sekitar 70 kilogram). Untuk orang dewasa obesitas hasil penghitungan rumus ini dikurangi 10%.9 x Berat badan (Kg) x 55% Perhitungan di atas tidak dapat digunakan pada keadaan edema karena kemungkinan kesalahan sangat besar.3.6  Cairan intraselular Cairan yang terkandung di antara sel disebut cairan intraselular. Pada orang dewasa. Distribusi Cairan Tubuh Seluruh cairan tubuh didistribusikan ke dalam kompartemen intraselular dan kompartemen ekstraselular. sedangkan untuk orang kurus ditambahkan 10%.

Pada keadaan sewaktu. Pada bayi baru lahir. sendi sinovial.2 8 Metabolisme Air . sekitar 11. dehidrasi. Cairan ekstraselular Cairan yang berada di luar sel disebut cairan ekstraselular. sel darah putih dan platelet. muntah. intraokular dan sekresi saluran pencernaan.6 Perubahan jumlah dan komposisi cairan tubuh. Jika gangguan tersebut tidak dikoreksi secara adekuat sebelum tindakan anestesi dan bedah. dapat menyebabkan gangguan fisiologis yang berat. volume ISF adalah sekitar 2 kali lipat pada bayi baru lahir dibandingkan orang dewasa. jumlah cairan ekstraselular menurun sampai sekitar sepertiga dari volume total. Jumlah relatif cairan ekstraselular berkurang seiring dengan usia. Ini sebanding dengan sekitar 15 liter pada dewasa muda dengan berat rata-rata 70 kg. pleura. Cairan limfe termasuk dalam volume interstitial.12 liter pada orang dewasa.6  Cairan transeluler Merupakan cairan yang terkandung diantara rongga tubuh tertentu seperti serebrospinal. perikardial. volume cairan transeluler adalah sekitar 1 liter. diare. sekitar setengah dari cairan tubuh terdapat di cairan ekstraselular. yang dapat terjadi pada perdarahan. dan puasa preoperatif maupun perioperatif. Relatif terhadap ukuran tubuh.6  Cairan Intravaskular Merupakan cairan yang terkandung dalam pembuluh darah (contohnya volume plasma).6 Cairan ekstraselular dibagi menjadi6 :  Cairan Interstitial Cairan yang mengelilingi sel termasuk dalam cairan interstitial. luka bakar. Rata-rata volume darah orang dewasa sekitar 5-6L dimana 3 liternya merupakan plasma. tetapi cairan dalam jumlah banyak dapat masuk dan keluar dari ruang transeluler. maka resiko penderita menjadi lebih besar. sisanya terdiri dari sel darah merah. Setelah usia 1 tahun.

5 Perubahan cairan tubuh 9 Metabolisme Air . masuk ke pembuluh darah dan beredar ke seluruh tubuh. bahan toksik atau bahan yang telah mengalami detoksifikasi dari sekitar lingkungan sel.Cairan ekstrasel berperan sebagai : Pengantar semua keperluan sel (nutrien.4 Pergerakan Cairan Tubuh Pergerakan cairan tubuh (hidrodinamik) mencakup penyerapan air di usus. trace mierals. oksigen. ekskresi air ke saluran cerna sebagai liur pencernaan (umumnya diserap kembali) serta pergerakan air ke kulit dan saluran nafas yang keluar sebagai kerinat dan uap air. sebaliknya air dari dalam sel keluar kembali ke ruang interstisium dan masuk ke pembuluh darah. berbagai ion.1 3.1 Pergerakan air juga meliputi filtrasi air di ginjal (sebagian kecil dibuang sebagai urin).1 Diagram 1. air mengalami filtrasi ke ruang interstisium dan selanjutnya masuk ke dalam sel melalui proses difusi. Pengangkut CO2 sisa metabolisme. Pada pembuluh kapiler. Pergerakan cairan tersebut bergantung kepada tekanan hidorostatik dan osmotik. dan regulator hormon/molekul). Distribusi cairan tubuh 3.

infeksi. Karena kadar natrium serum rendah. Perubahan volume a. Pada kehilangan cairan yang lambat lebih dapat ditoleransi sampai defisi volume cairan ekstraselular yang berat terjadi. sedangkan dehidrasi hipernatremik atau hiponatremik sekitar 5-10% dari kasus. air di kompartemen intravaskular berpindah ke kompartemen ekstravaskular. kehilangan cairan yang cepat akan menimbulkan tanda gangguan pada susunan saraf pusat dan jantung. Penyebab lainnya dapat berupa kehilangan cairan pada cedera jaringan lunak. Defisit volume Defisit volume cairan ekstraselular merupakan perubahan cairan tubuh yang paling umum terjadi pada pasien bedah. hiponatremik (<139 mEq/L) atau hipernatremik (>150 mEq/L). yaitu : 1.Perubahan cairan tubuh dapat dikategorikan menjadi 3.16 Dehidrasi Isotonis (isonatremik) terjadi ketika kehilangan cairan hampir sama dengan konsentrasi natrium terhadap darah. dan luka bakar. Secara garis besar terjadi kehilangan natrium yang lebih banyak dibandingkan air yang hilang. Penyebab paling umum adalah kehilangan cairan di gastrointestinal akibat muntah. inflamasi jaringan. Keadaan akut. diare dan drainase fistula.16 Dehidrasi hipotonis (hiponatremik) terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan natrium lebih banyak dari darah (kehilangan cairan hipertonis). penyedot nasogastrik. Kehilangan cairan dan natrium besarnya relatif sama dalam kompartemen intravaskular maupun kompartemen ekstravaskular.16 10 Metabolisme Air . obstruksi usus.10 Dehidrasi Dehidrasi sering dikategorikan sesuai dengan kadar konsentrasi serum dari natrium menjadi isonatremik (130-150 mEq/L). Dehidrasi isonatremik merupakan yang paling siring terjadi (80%). sehingga menyebabkan penurunan volume intravaskular. peritonitis.

Dehidrasi hipertonis (hipernatremik) terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan natrium lebih sedikit dari darah (kehilangan cairan hipotonis). 3 Derajat dehidrasi16 Terapi untuk dehidrasi (rehidrasi) dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan cairan untuk rumatan.2 Tanda-tanda klinis dehidrasi16 Tabel. Beberapa pendekatan terangkum dalam tabel 5. defisit cairan dan kehilangan cairan yang sedang berlangsung. sehingga meminimalkan penurunan volume intravaskular.16 Tabel. Karena kadar natrium tinggi.18 11 Metabolisme Air . Secara garis besar terjadi kehilangan air yang lebih banyak dibandingkan natrium yang hilang. air di kompartemen ekstraskular berpindah ke kompartemen intravaskular.

Cara rehidrasi17 : 1. ataupun gagal jantung kongestif.4 Pendekatan pada masalah cairan dan elektrolit18 Tabel. 18 jam II = ½ D + ¾ M atau 16 jam II = ½ D + ½ M (menurut Guillot 18) b. Kelebihan volume Kelebihan volume cairan ekstraselular merupakan suatu kondisi akibat iatrogenik (pemberian cairan intravena seperti NaCl yang menyebabkan kelebihan air dan NaCl ataupun pemberian cairan intravena glukosayang menyebabkan kelebihan air) ataupun dapat sekunder akibat insufisiensi renal (gangguan pada GFR). Nilai status rehidrasi (sesuai tabel 4 di atas). 6 jam I = ½ D + ¼ M atau 8 jam I = ½ D + ½ M (menurut Guillot18) b.Tabel.9.5 Rumatan cairan menurut rumus Holliday-Segar16 Strategi untuk rehidrasi adalah dengan memperhitungkan defisit cairan. cairan rumatan yang diperlukan dan kehilangan cairan yang sedang berlangsung disesuaikan . Hitung cairan rumatan (M) yang diperlukan (untuk dewasa 40 cc/kgBB/24 jam atau rumus holliday-segar seperti untuk anak-anak) 3. sirosis. banyak cairan yang diberikan (D) = derajat dehidrasi (%) x BB x 1000 cc 2.10 12 Metabolisme Air . Pemberian cairan : a.

diuresis.12 Hipokalemia Jika kadar kalium < 3 mEq/L. muntah. keringat berlebihan).12 Koreksi hiponatremia yang sudah berlangsung lama dilakukan scara perlahanlahan. muntah. Terapi keadaan ini adalah penggantian cairan dengan 5% dekstrose dalam air sebanyak {(X-140) x BB x 0. poliuria. asupan natrium berlebihan. Dapat terjadi akibat dari redistribusi akut kalium dari cairan ekstraselular ke intraselular atau dari pengurangan kronis kadar total kalium tubuh. perubahan EKG (QRS segmen melebar. hipotensi postural. nefrosis). sedangkan untuk hiponatremia akut lebih agresif. intoleransi 13 Metabolisme Air . diabetes insipidus. koma. kejang. hipovolemia (disfungsi tubuli ginjal. letargi. polidipsi psikogenik). gangguan mental. letargi.6}: 140.6 mg dan untuk pediatrik 1. Hiponatremia ini dapat disebabkan oleh euvolemia (SIADH. diare. diuretika). ST segmen depresi. kelemahan otot skeletal. Keadaan ini dapat diterapi dengan restriksi cairan (Na+ ≥ 125 mg/L) atau NaCl 3% sebanyak (140-X)xBBx0. lemah. Tanda dan gejala hipokalemia dapat berupa disritmik jantung. asupan air kurang.5 mg/kg.5-2. Untuk menghitung Na serum yang dibutuhkan dapat menggunakan rumus19 : Na = Jumlah Na yang diperlukan untuk koreksi (mEq) Na1 = 125 mEq/L atau Na serum yang diinginkan Na0 = Na serum yang aktual TBW = total body water = 0. third space losses.11 2. sedangkan jika kadar < 110 mg/L maka akan timbul gejala kejang. koma. Hipernatremi dapat disebabkan oleh kehilangan cairan (diare. hipervolemia (sirosis.6 x BB (kg) Na= Na1 – Na0 x TBW Hipernatremia Jika kadar natrium > 160 mg/L maka akan timbul gejala berupa perubahan mental. Perubahan konsentrasi Hiponatremia Jika < 120 mg/L maka akan timbul gejala disorientasi. lemah dan henti pernafasan. iritabilitas.Kelebihan cairan intaseluler dapat terjadi jika terjadi kelebihan cairan tetapi jumlah NaCl tetap atau berkurang.

dan ventilasi mekanis bila perlu. ACE-inhibitor. Kejadian akut merupakan akibat dari ventilasi yang tidak adekuat termasuk obstruksi jalan nafas. infus potasium klorida sampai 10 mEq/jam (untuk mild hipokalemia . Tanda dan gejalanya terutama melibatkan susunan saraf pusat (parestesia. obat-obatan). hemodialisis. siklosporin. atelektasis. diuretik). dan alkalosis terjadi sebagai 14 Metabolisme Air . dan ventilasi yang dibantu. 10. sering terjadi karena insufisiensi renal atau obat yang membatasi ekskresi kalium (NSAIDs. intubasi endotrakeal. kelemahan otot yang hebat). pneumonia.25 x BB K = kalium yang dibutuhkan K1 = serum kalium yang diinginkan K0 = serum kalium yang terukur BB = berat badan (kg) Hiperkalemia Terjadi jika kadar kalium > 5 mEq/L. perubahan EKG).75 dan PaCO2> 45 mmHg) Kondisi ini berhubungan dengan retensi CO2 secara sekunder untuk menurunkan ventilasi alveolar pada pasien bedah. hipoksia. konsentrasi bikarbonat serum normal. Manajemennya melibatkan koreksi yang adekuat dari defek pulmonal. cedera SSP. distensi abdomen dan penggunaan narkose yang berlebihan. atau diuretik.>2 mEq/L) atau infus potasium klorida sampai 40 mEq/jam dengan monitoring oleh EKG (untuk hipokalemia berat. Perhatian yang ketat terhadap higiene trakeobronkial saat post operatif adalah sangat penting. efusi pleura.14 Alkalosis respiratorik (pH> 7. Terapi untuk hiperkalemia dapat berupa intravena kalsium klorida 10% dalam 10 menit.glukosa. hipomagnesemia. sodium bikarbonat 50-100 mEq dalam 5-10 menit. nyeri dari insisi abdomen atas. Terapi hipokalemia dapat berupa koreksi faktor presipitasi (alkalosis.45 dan PaCO2 < 35 mmHg) Kondisi ini disebabkan ketakutan.<2mEq/L disertai perubahan EKG. nyeri. kelemahan otot) dan sistem kardiovaskular (disritmik. Pada fase akut. Perubahan komposisi Asidosis respiratorik (pH< 3.14 3.14 Rumus untuk menghitung defisit kalium18 : K = K1 – K0 x 0.

Penyebab yang paling umum termasuk gagal ginjal. Terapi ditujukan untuk mengkoreksi masalah yang mendasari termasuk sedasi yang sesuai.hasil dari penurunan PaCO2 yang cepat. diabetik ketoasidosis. fistula usus kecil.14 Asidosis metabolik (pH<7. analgesia. penggunaan yang tepat dari ventilator mekanik. dan asidosis laktat. diare.45 dan bikarbonat >27 mEq/L) Kelainan ini merupakan akibat dari kehilangan asam atau penambahan bikarbonat dan diperburuk oleh hipokalemia. Terapi sebaiknya ditujukan terhadap koreksi kelainan yang mendasari. PaCO2 dan serum elektrolit yang sering. Terapi bikarbonat hanya diperuntukkan bagi penanganan asidosis berat dan hanya setelah kompensasi alkalosis respirasi digunakan. Koreksi alkalosis harus gradual selama perode 24 jam dengan pengukuran pH. hipokalemik akibat defisit volume ekstraselular.35 dan bikarbonat <21 mEq/L) Kondisi ini disebabkan oleh retensi atau penambahan asam atau kehilangan bikarbonat. kelaparan. Masalah yang umum terjadi pada pasien bedah adalah hipokloremik. diabetik ketoasidosis.10.10. Kompensasi awal yang terjadi adalah peningkatan ventilasi dan depresi PaCO2. aspirin yang berlebihan dan keracunan metanol. dan koreksi defisit potasium yang terjadi.10. Terapi yang digunakan adalah sodium klorida isotonik dan penggantian kekurangan potasium. Penyebab paling umum adalah syok.14 Alkalosis metabolik (pH>7.14 15 Metabolisme Air .

Fluid and electrolyte made incredibly easy. Cullen BF.Philadelphia: Lippincot williams and wilkins. Horne MM. Dehydration. Fakultas Kedokteran Unpad. Principles of surgery companion handbook.47(5):380-387. Indian J. Ellsbury DL.Anaesh. Handbook of clinical anesthesia. 2nd ed. 2003 18. eMed J [serial online] 2006 Mar (Diakses tanggal 21 Januari 2009). 16. Missouri: Elsevier-mosby. Mayer H. 11. Smf/bagian anestesi dan terapi intensif FK Undip: Semarang. 2005. Schwartz SI. Diagnosis. 17. Fluid and electrolyte disorders. Ed. George CS.com/CHILD/topic925. 5th ed. 2003: 17-40. Kehlet H. 2002:3-189. Follin SA. 7th ed. Graber MA.emedicine.htm.2. 2006: 74-97. New york: McGraw-Hill. Pennsylvania: Springhouse. 10. Farmedia. Stoelting RK. Fluid. FKUI. Patofisiologi. ed. Pandey CK. Protokol Tindakan Bedah. 2007 3. elektrolit dan metabolik. Singh RB. dan Tatalaksana. Fisiologi. Bandung. 14. 2003. Gangguan Keseimbangan Air-Elektrolit dan Asam Basa. electrolyte and acid base balance. 16 Metabolisme Air . 2002. 5. 46: 1089-93 6. Leksana E. Heitz U. 5th ed. 1999:53-70.p3-227 4. Compensatory fluid administration for preoperative dehydrationdoes it improve outcome? Acta Anaesthesiol Scand. Unit Pendidikan Kedokteran-Pengembangan Keprofesioan Berkelanjutan.DAFTAR PUSTAKA 1. 2004: 1-60. Holte K. Tersedia dari: URL: http://www. Terapi cairan dan elektrolit. Barash PG. Terapi cairan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful