P. 1
Bab 1

Bab 1

|Views: 3|Likes:
Published by DeNick Meteora

More info:

Published by: DeNick Meteora on Apr 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/17/2014

pdf

text

original

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Kebijakan desentralisasi merupakan suatu kebijakan untuk mewujudkan kemandirian daerah.

Kebijakan desentralisasi telah menjadi pilihan baik di Negara maju maupun di Negara berkembang dalam menjalankan kebijakan ekonominya. Tidak terkecuali di Indonesia. Maksud dari desentralisasi di sini adalah pemisahan yang tegas di bidang keuangan antar pemerintah pusat dan pemerintah daerah (Brahmantio isdijoso dan Tri Wibowo, 2002:33). Kemandirian daerah berarti pemerintah harus mampu mengelola keuangannya sendiri sebab segala aktivitas daerah ( pemerintah daerah ) mayoritas terkait dengan pengelolaan, penerimaan, dan pengeluaran kas yang pada dasarnya tersaji dalam Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD). Kegiatan pengelolaan bermula pada tahun anggaran setelah anggaran di sahkan dengan perkiraan kebutuhan yang lebih di tekankan peneliti dalam hal anggaran yang di fungsikan untuk urusan wajib pemerintah daerah dalam bidang pendidikan. Untuk menjalankan roda pemerintahan dengan baik sangat di perlukan anggaran . Anggaran merupakan pedoman tindakan yang akan di laksanakan oleh pemerintah yang salah satunya meliputi rencana belanja daerah yang di ukur dalam satuan rupiah yang di susun menurut klasifikasi tertentu secara sistematis untuk suatu periode. Anggaran pemerintah merupakan dokumen formal tentang pendapatan dan belanja yang dapat di harapkan dapat menutupi kebutuhan belanja pada fungsi pendidikan di dalam urusan wajib Pemerintah Daerah.

1

Anggaran dalam suatu organisasi sangat penting karena dengan anggaran tersebut segala program dan kegiatan pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dapat berjalan dengan baik seperti pembangunan gedung- gedung sekolah yang sudah rusak atau tidak layak pakai. Anggaran dalam organisasi pemerintah merupakan instrument Akuntabilitas atas pengelolaan dana public dan pelaksanaan program- program yang di biayai dengan uang public (masyarakat). Maksudnya pemerintah mengelola dana public untuk kepentingan dan kesejahteraan public, maka semua kegiatan dan program yang di biayai oleh dana public harus dapat di pertanggungjawabkan kepada public. Anggaran yang di kelola pemerintah berasal dari penerimaan daerah yakni Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pendapatan asli daerah adalah pendapatan yang di peroleh daerah yang di pungut dari masyrakat yakni Pajak daerah, Retribusi, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang di pisahkan dan lain – lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah. Selain itu terdapat juga penerimaan daerah berupa dana perimbangan yang terdiri dari Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) , dan lain- lain pendapatan daerah yang sah . semua

penerimaan daerah dengan tujuan di fungsikan untuk membiayai aktivitas dan program pemerintah yang ingin di laksanakan khususnya dalam melayani kepentingan public. Ruang lingkup pengelolaan keuangan daerah terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah. Keuangan daerah merupakan kekayaan daerah yang nilai dengan uang. Di dalam peraturan terdapat pedoman penyusunan anggaran daerah dan belanja

2

daerah. Dalam pengelolaan keuangan daerah pemerintah di tuntut harus mampu memberikan informasi yang akurat tentang arah dan tujuan penggunaan anggaran untuk belanja daerah pada urusan wajib. Untuk itu pengelolaan keuangan daerah harus berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri no 13 tahun 2006. peraturan tersebut memuat tentang pedoman penyusunan, pertanggungjawaban, dan

pengawasan keuangan daerah serta tata cara penyusunan anggaran pendapatan dan belanja daerah, pelaksanaan tata usaha keuangan daerah dan penyusunan perhitungan anggaran pendapatan dan belanja daerah. Dengan landasan inilah pemerintah daerah di harapkan mampu mengelola dana belanja pada urusan wajib khususnya dalam bidang pendidikan sesuai dengan asas keuangan daerah yang tertib, transparan, efektif, efisien, ekonomis dan bertanggung jawab. Belanja Daerah adalah semua pengeluaran pemerintah pada suatu periode anggaran . belanja daerah juga merupakan semua pengeluaran dari rekening kas daerah yang mengurangi ekuitas dana yang merupakan kewajiban daerah dari tahun anggaran dan tidak akan di peroleh kembali pembayarannya kembali oleh daerah. Belanja daerah di pergunakan dalam rangka mendanai seluruh kegiatan dan program pemerintah daerah dalam hal ini peneliti mengangkat mengenai belanja dalam bidang pendidikan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Peningkatan belanja daerah harus di sesuaikan dengan peningkatan pelayanan kepada masyrakat demi tercapainya kesejahteraan masyrakat. Klasifikasi belanja menurut fungsi di gunakan sebagai dasar untuk penyusunan anggaran berbasis kinerja. Hal ini di maksudkan untuk memperoleh manfaat yang sebesar – besarnya dalam menggunakan sumber daya yang terbatas. Oleh karena itu,

3

program dan kegiatan kementerian Negara/ lembaga/ SKPD harus di arahkan untuk mencapai hasil dan keluaran yang telah di tetapkan sesuai dengan rencana kerja pemerintah. Salah satu upaya yang perlu di lakukan adalah meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pelaksanaan program dan kegiatan dan sub kegiatan harus merupakan suatu rangkaian yang mencerminkan adanya keutuhan Konseptual. Adapun hubungan antara fungsi , program, kegiatan, dan sub kegiatan. Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) adalah rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang di bahas dan di setujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD, dan di tetapkan dengan peraturan daerah. Dalam APBD khususnya anggaran belanja di mana dalam anggaran belanja tersebut harus di

sesuaikan dengan kebutuhan masyrakat yang dominant. Kebutuhan masyarakat yang dominan dapat dilihat dalam Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 Pasal 16 Ayat 4 antara lain adalah pelayanan umum, ekonomi, pendidikan, perlindungan sosial, dan lain-lain. Namun dalam penelitian ini, tidak semua pelayanan publik tersebut akan menjadi kajian evaluasi belanja daerah. Penulis hanya memprioritaskan pada satu bidang yang dinilai memiliki keterkaitan paling erat dengan aspek kebutuhan masyarakat yakni pendidikan. Dalam urusan wajib pemerintah daerah terdapat 26 klasifikasi belanja tapi

peneliti tertarik untuk meneliti belanja pada bidang pendidikan khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). di karnakan pendidikan merupakan factor utama dalam memajukan sumber daya manusia untuk lebih baik lagi . pendidikan membangun sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing era globalisasi sekarang

4

ini sehingga Negara Indonesia ke depannya tidak lagi tetap menjadi Negara berkembang melainkan menjadi Negara maju. Kendala yang timbul dari tidak adanya kemajuan dalam bidang pendidikan di Provinsi NTT adalah: 1. masih kurangnya tenaga pendidik 2. kurangnya kesejahteraan untuk tenaga pendidik yang di berikan oleh pemerintah 3. kurangnya kesadaran tenaga pendidik dalam mengikuti kemajuan teknologi. Memperhatikan tuntutan masyrakat untuk mendapatkan pelayanan public yang berkualitas, prosedur yang jelas dan ringkas maka pola penyusunan anggaran harus mengutamakan kepentingan masyrakat luas terutama anggaran belanja pada bidang pendidikan . Gambaran kondisi anggaran untuk sector pendidikan di dalam Anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) . Di mana dapat di lihat anggaran untuk sector pendidikan di dalam APBD selama tiga tahun berturut – turut di lihat pada table 1, berikut: Anggaran Belanja untuk Sektor Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun 2008 – 2010 2008 Belanja 1 Belanja Tidak Langsung 19.480.125.000 25.968.220.000 -Belanja Pegawai 19.480.125.000 25.968.220.000 2 Belanja Langsung 39.871.321.640 38.985.411.225 -Belanja Pegawai 9.573.619.600 5.690.613.000 -Belanja Barang dan Jasa 28.321.197.040 29.945.299.425 -Belanja Modal 1.976.505.000 3.349.498.800 Sumber : Biro keuangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). No Uraian Tahun Anggaran (Rp.) 2009 2010 29.657.321.000 29.657.321.000 42.550.732.124 7.765.750.000 30.640.765.345 4.144.216.779

5

Dinas pendidikan, pemuda, dan olahraga adalah satuan kerja perangkat daerah (SKPD) selaku pengguna anggaran yang menyiapkan sumber daya manusia yang mampu berperan sebagai manusia yang mempunyai karakter dan kapasitas di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Fungsi dinas pendidikan provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) : 1. perumusan kebijakan teknis sesuai dengan kebijakan yang di terapkan oleh Kepala Dinas bedasarkan peraturan perundang –undangan yang berlaku. 2. pembinaan pendidikan dasar 3. pembinaan pendidikan menengah 4. pembinaan pendidikan luar sekolah Di dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Pasal 6 Ayat (2) menjelaskan evaluasi terhadap kemampuan pemerintah daerah adalah dengan penilaian menggunakan sistem pengukuran kinerja serta indikator-indikatornya yang meliputi masukan, keluaran, hasil, manfaat dan dampak. Pengukuran dan indikator kinerja digunakan untuk memperbandingkan antara satu daerah dengan daerah lain, dengan angka rata-rata secara nasional untuk masing-masing tingkat pemerintahan, atau dengan hasil tahun-tahun sebelumnya untuk masing-masing daerah. Kesiapan Dinas Pendidikan provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam menyusun usulan program, kegiatan dan anggaran tentu didasarkan pada prinsip-prinsip

anggaran kinerja dan untuk mengetahui kesiapannya, maka perlu diadakan suatu evaluasi kinerja keuangan daerahnya demi terwujudnya tingkat kemandirian dalam era otonomi daerah. Evaluasi dan pengukuran kinerja pada pemerintah daerah sangat penting untuk menilai akuntabilitas suatu organisasi dalam menghasilkan pelayanan

6

publik yang lebih baik, misalnya tingkat kesejahteraan masyarakat di sektor pendidikan di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dapat ditingkatkan karena aspek pelayanan publik mendapat porsi alokasi yang paling banyak. Salah satu contoh dengan adanya evaluasi pada Pemerintah Daerah ialah tingkat kesejahteraan masyarakat disektor pendidikan yang ada di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dapat ditingkatkan. Sebagaimana diketahui bahwa dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun yaitu 2008, 2009 dan 2010 belanja langsung pada sektor pendidikan mendapat alokasi dana yang minim dibandingkan dengan belanja tidak langsung dan meningkat untuk 3 tahun terakhir khususnya untuk belanja pegawai, dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2 dibawah ini. Tabel 2 Belanja Sektor Pendidikan Tahun Anggaran 2008, 2009, 2010 Tahun Anggaran (Rp.) Uraian 2008 2009 Belanja Belanja Tidak Langsung -Belanja Pegawai Belanja Langsung -Belanja Pegawai -Belanja Barang dan Jasa -Belanja Modal 15.818.105.766 15.818.105.766 37.699.891.284 9.132.932.750 26.645.183.395 1.921.775.139 19.951.812.272 19.951.812.272 35.448.980.957 5.338.394.500 27.705.790.824 2.354.795.633

No 1 2

2010 20.760.206.825 20.760.206.825 44.898.602.175 10.550.254.745 29.643.590.325 4.144.216.779

Sumber: Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi NTT

Melihat realitas yang terjadi tersebut penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”Analisis Belanja Daerah Pada Sektor Pendidikan Pada Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun Anggaran 2008 - 2010”.

7

1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1. Seberapa besar Porsi Belanja per fungsi di Sektor Pendidikan pada Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun Anggaran 2008 – 2010? 2. Apakah Anggaran Belanja langsung Dan tidak langsung Di Sektor Pendidikan pada Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah di kelola secara efektif atau belum dengan cara di evaluasi pada Tahun Anggaran 2008 – 2010? 1.3 Tujuan dan Kegunaan 1.3.1 Tujuan Penulisan Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai apakah pemerintah daerah sudah melaksanakan ketentuan perundangan yakni ketentuan Undang – Undang Dasar yang mengamanatkan anggaran pendidikan sebesar 20% dari total APBD dan untuk mengetahui apakah sudah efektif atau belum penggunaan anggaran untuk Belanja Daerah dengan cara evaluasi pada Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun Anggaran 2008 – 2010? 1.3.2 Kegunaan Penulisan 1. Bagi Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Sebagai masukan untuk melihat belanja daerah anggaran belanja daerah. 2. Bagi Pihak Lain Sebagai bahan referensi untuk dalam bidang yang sejenis. 8 melakukan penelitian selanjutnya pada hasil analisis

BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Asas Desentralisasi, Tugas Pembantuan, dan Aspek Kemandirian Asas Desentralisasi, Tugas Pembantuan, dan Aspek Kemandirian merupakan istilah-istilah yang penting dan perlu diketahui. defenisi dari istilahistilah tersebut adalah sebagai berikut. 1. Asas Desentralisasi Asas Desentralisasi adalah penyerahan kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengurusi urusan rumah tangganya sendiri berdasarkan prakarsa dan aspirasi dari rakyatnya dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia. Dengan adanya desentralisasi maka muncullah otonomi bagi suatu pemerintahan daerah. Desentralisasi sebenarnya adalah istilah dalam keorganisasian yang secara sederhana di definisikan sebagai penyerahan kewenangan. Dalam kaitannya dengan sistem pemerintahan Indonesia, desentralisasi akhir-akhir ini seringkali dikaitkan dengan sistem pemerintahan karena dengan adanya desentralisasi sekarang menyebabkan perubahan paradigm pemerintahan di Indonesia (sumber

:http://id.wikipedia.org/wiki/Desentralisasi). Menurut Undang-Undang No. 32 Tahun 2004, Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

9

2.

Tugas Pembantuan Berdasarkan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004, Tugas Pembantuan ialah adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu.

2.2 Konsep Desentralisasi Fiskal Secara harfiah istilah ini memberikan pengertian adanya pemisahan yang semakin tegas dan jelas dalam urusan keuangan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah (Brahmantio Isdijoso dan Tri Wibowo, 2002:33). Pemisahan dimaksud bisa tercermin pada kedua sisi anggaran yaitu sisi penerimaan dan sisi pengeluaran. Di sisi penerimaan, daerah akan memiliki kewenangan yang lebih besar dalam kebijakan pengenaan pajak (Tax Policy) sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Pemerintahan Daerah dan juga Undang-Undang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, yakni adanya keleluasaan yang lebih besar bagi daerah untuk menggali potensi penerimaan melalui pajak ataupun retribusi. Di sisi pengeluaran, daerah akan mendapat kewenangan penuh dalam penggunaan dana perimbangan. Pada prinsipnya penggunaan dana perimbangan tersebut ditentukan oleh daerah sendiri. Jadi tidak lagi ditetapkan penggunaannya oleh pemerintah pusat.

10

2.3 Konsep Belanja Daerah. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 yang merupakan perubahan dari Permendagri No. 13 Tahun 2006, belanja adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurangan nilai kekayaan bersih, yang dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintah yang menjadi kewenangan propinsi atau kabupaten atau kota yang terdiri dari urusan wajib, urusan pilihan dan urusan penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu yang dapat dilaksanakan bersama antar pemerintah dan pemerintah daerah atau antar pemerintah daerah yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan. Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 mengklasifikasikan belanja terdiri dari : 1. Menurut urusan pemerintahan mencakup urusan wajib dan urusan pilhan 2. Menurut fungsi digunakan untuk tujuan keselarasan dan keterpaduan pengelolaan keuangan negara mencakup pelayanan umum, ketertiban dan ketentraman, ekonomi, lingkungan hidup, perumahan dan fasilitas umum, kesehatan, pariwisata dan budaya, pendidikan, perlindungan sosial. 3. Menurut organisasi sesuai dengan susunan organisasi pada masing – masing pemerintah daerah. 4. Menurut program dan kegiatan disesuaikan dengan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. 5. Menurut kelompok belanja terdiri dari : a. Belanja tidak langsungBelanja tidak langsung, merupakan belanja

yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan 11

program dan kegiatan, yang termasuk dalam kelompok balanja tidak langsung yakni : 1. Belanja Pegawai, merupakan belanja kompensasi dalam bentuk gaji dan tunjangan serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada pegawai negeri sipil yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. 2. Belanja Bunga digunakan untuk menganggarkan pembayaran bunga utang yang dihitung atas kewajiban pokok utang berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. 3. Belanja Subsidi digunakan untuk menganggarkan bantuan biaya produksi kepada perusahaan atau lembaga tertentu agar harga jual produksi atau jasa yang dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak. 4. Belanja Hibah digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah dalam bentuk uang, barang dan atau jasa kepada pemerintah atau pemerintah daerah lainnya, dan kelompok masyarakat atau perorangan yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya. 5. Belanja Bantuan Sosial digunakan untuk menganggarkan pemberian batuan dalam bentuk uang dan atau barang kepada masyarakat, yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

12

6. Belanja Bagi Hasil digunakan untuk menganggarkan dana bagi hasil yang bersumber dari pendapatan provinsi kepada kabupaten atau kota atau pendapatan kabupaten atau kota kepada pemerintah desa atau pendapatan pemerintah daerah tertentu kepada

pemerintah daerah lainnya sesuai dengan ketentuan perundangundangan. 7. Belanja Bantuan Keuangan digunakan untuk menganggarkan bantuan keuangan yang bersifat umum atau khusus dari provinsi kepada kabupaten atau kota, pemerintah desa, dan pemerintah daerah lainnya atau dari pemerintah kabupaten atau kota kepada pemerintah desa dan pemerintah lainnya dalam rangka pemerataan dan atau peningkatan kemampuan keuangan. 8. Belanja Tidak Terduga, merupakan belanja untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan berulang, seperti penggulangan bencana alam dan bencana sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya, termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun sebelumnya yang telah ditutup. b. Belanja langsung Belanja langsung adalah belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan, yang termasuk dalam kelompok belanja tidak langsung adalah :

13

1. Belanja Pegawai, merupakan pengeluaran pemerintah daerah untuk orang atau personal yang berhubungan dengan suatu aktifitas. Belanja ini meliputi : honorium, upah lembur, uang paket, insentif. 2. Belanja Barang dan Jasa, merupakan pengeluaran pemerintah daerah yang digunakan untuk pengeluaran pembelian atau pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 bulan atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan kegiatan pemerintah daerah. 3. Belanja Modal, yaitu belanja langsung yang digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian atau pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang

mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah seperti dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung,dan bangunan, jalan, irigasi, dan aset tetap lainnya.

2.4 Analisis Belanja Daerah Menurut Mahmudi (2007) analisis belanja daerah sangat penting dilakukan untuk mengevaluasi apakah pemerintah daerah telah menggunakan APBD secara ekonomis, efisien dan efektif. Sejauh mana pemerintah daerah telah melakukan efisiensi anggaran, menghindari pengeluran yang tidak perlu dan tidak tepat sasaran. Dengan digunakannya sistem penganggaran berbasis kinerja, semangat untuk melakukan efisiensi atas setiap belanja mutlak harus tertanam dalam jiwa

14

setiap pegawai pemerintah daerah. Pemeritah tidak perlu lagi berorientasi untuk menghabiskan anggaran yang berakibat terjadinya pemborosan anggaran, tetapi hendaknya berorientasi pada output dan outcome dari anggaran. Berdasarkan informasi laporan keuangan kita dapat membuat analisis terkait dengan anggaran belanja antara lain : 1. Analisis Keserasian Belanja Analisis keserasian belanja bermanfaat untuk mengetahui keseimbangan antarbelanja. Hal ini terkait dengan fungsi anggaran sebagai alat distribusi, alokasi dan stabilisasi. Agar fungsi anggaran tersebut berjalan dengan baik, maka pemerintah daerah perlu membuat harmonisasi belanja antara lain: a. Analisis Belanja per Fungsi terhadap Total Belanja Analisis belanja per fungsi terhadap total belanja dapat dihitung dengan cara

membandingkan belanja tiap-tiap fungsi terhadap total belanja dalam

APBD. Dalam hal ini terdapat 9 fungsi yaitu: 1) Pelayanan Umum

Pemerintahan, 2) Ketertiban dan Keamanan, 3) Ekonomi, 4) Lingkungan

Hidup, 5) Perumahan dan Fasilitas Umum, 6) Kesehatan, 7) Pariwisata dan

Budaya, 8) Pendidikan dan 9) Perlindungan Sosial.

15

Rasio Belanja per Fungsi (%) =

Realisasi Belanja Fungsi ×100 Total Belanja Daerah

Rasio belanja per fungsi sangat penting untuk mengetahui pola dan orientasi pengeluaran pemerintah daerah. Selain itu informasi ini juga penting untuk menilai apakah pemerintah daerah sudah melaksanakan ketentuan perundangan, misalnya ketentutan UUD yang mengamanatkan anggaran pendidikan sebesar 20% dari total APBD, serta kecukupan tentang porsi anggaran kesehatan, lingkungan dan perlindungan sosial. Semestinya alokasi belanja diprioritaskan untuk perbaikan Indeks Pembangunan Manusia yang mana aspek pendidikan, kesehatan, dan ekonomi mendudukan prioritas yang utama. b. Analisis Belanja Operasi terhadap Total Belanja Rasio ini menginformasikan kepada pembaca laporan mengenai porsi belanja daerah yang dialokasikan untuk belanja operasi. Belanja operasi merupakan belanja yang manfaatnya habis dikomsumsi dalam 1 tahun anggaran, sehingga belanaj operasi ini sifatnya jangka pendek dan dalam hal tertentu sifatnya rutin atau berulang. Pada umumnya proporsi belanja operasi mendominasi total belanja daerah yaitu antara 60-90 persen. Pemerintah daerah dengan tingkat pendapatan tinggi cenderung memiliki porsi belanja operasi yang lebih tinggi dibandingkan Pemda yang tingkat pendapatannya rendah. Analisis ini dapat dihitung dengan rumus berikut:
Rasio Belanja Operasi (%) = Realisasi Belanja Operasi ×100 Total Belanja Daerah

c. Analisis Belanja Modal terhadap Total Belanja

16

Berbeda dengan belanja operasi yang bersifat jangkah pendek dan rutin, pengeluaran belanja modal yang dilakukan saat ini akan memberikan manfaat jangkah menengah dan panjang. Selain itu belanja modal juga tidak bersifat rutin. Belanja modal ini akan mempengaruhi neraca Pemda, yaitu menambah asset daerah. Kebalikan dengan belanja operasi pemerintah daerah dengan tingkat pendapatan daerah rendah pada umumnya justru memiliki proporsi tingkat belanja modal yang lebih tinggi dibandingkan Pemda dengan pendapatan tinggi. Hal ini disebabkan Pemda dengan pendapatan rendah berorientasi untuk giat melakukan belanja modal sebagai bagian dari investasi modal jangkah panjang, sedangkan Pemda yang pendapatannya tinggi biasanya telah memiliki asset modal yang mencukupu. Pada umumnya proporsi belanja modal terhadap total belanja daerah adalah antara 5-20%. Analisi belanja modal dapat dihitung dengan rumus berikut:
Rasio Belanja Modal (%) = Realisasi Belanja Modal ×100 Total Belanja Daerah

d. Analisis Belanja Langsung dan Tidak Langsung Analisis proporsi belanja langsung dan tidak Lansung bermanfaat untuk kepentingan manajemen internal pemerintah daerah, yaitu untuk

penegendalian biaya dan pengendalian anggaran. Belanja langsung dan tidak lansung biasanya tidak menjadi bagian dari laporan keuangan eksternal, namun informasi tersebut sangat penting bagi manajemen internal.

17

Belanja lanngsung adalah belanja yang terkait langsung dengan kegitan, sedangkan belanja tidak langsung merupakan pengeluaran belanja yag tidak terkait dengan pelaksanaan kegitan secara langsung. Rasio belanja langsung dan belanja tidak langsung dirumuskan sebagai berikut:

Rasio Belanja Langsung (%) =

Realisasi Belanja Langsung ×100 Total Belanja Daerah

Rasio B. Tdk Langsung (%) =

Realisasi Belanja Tidak Langsung ×100 Total Belanja Daerah

2.

Rasio Efisiensi Belanja Rasio efisiensi belanja merupakn perbandingan antara realisasi belanja dengan anggaran belanja. Rasio efisiensi belanja ini digunakan untuk mengukur tingkat penghematan anggaran yang dilakukan pemerintah. Angkah yang dihasilkan dari rsio efisiensi ini tidak bersifat absolut tetapi relative. Artinya tidak ada standar baku yang dianggap baik untuk rasio ini. Pemerintah daerah dinilai telah melakukan efisiensi anggaran jika rasio efisiensinya kurang dari 100%, sebaliknya jika lebih maka mengindikasikan telah terjadi pemborosan anggaran. Rasio efisiensi dirumuskan sebagai berukut:
Rasio Efisiensi Belanja(%) = Realisasi Belanja ×100 Anggaran Belanja Daerah

2.5 Konsep Pendidikan Dalam Bab I, Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional merumuskan pendidikan sebagai usaha dan terencana untuk mewujudkan

18

suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalia diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Visi dan misi pendidikan nasional sejalan dengan visi dan misi Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di bidang pendidikan yaitu peningkatan mutu pendidikan secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembenahan manajemen pendidikan serta penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. Adapun sasaran pembangunan di bidang pendidikan tahun 2007-2012 yaitu: 1. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas, bagi seluruh strata sosial dan ekonomi masyarakat. 2. Meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik, melalui pemberian insentif khusus yang memadai sesuai prestasi dan kinerja pelayanan yang dicapai. 3. Tersedianya sarana dan prasarana pendidikan yang memadai melalui pengadaan gedung sekolah baru, rehabilitasi dan penambahan runag kelas, adanya dukungan fasilitas laboraturium perpustakaan dan lainnya secara memadai 4. Memperluas jejaring kerja sama antara institusi/lembaga baik lokal, regional maupun nasional/internasional dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Adapun kebijakan pembangunan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 2007-2012 yang ditempuh dalam upaya memantapkan pengembangan kualitas sumberdaya manusia, adalah sebagai berikut: 1. Sub Fungsi Pendidikan

19

Kebijakan sub fungsi pendidikan di arahkan untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnyan kepada warga masyarakat terhadap pelayanan pendidikan yang bermutu melalui PAUD, wajar Diknas 9 Tahun, Pendidikan Menengah, Pendidikan non formal, pendidikan luar biasa, Peningkatan mutu pendidikan dan tenaga kependidikan, pengembangan budaya baca dan pembinaan perpustakaan dan manajemen pelayanan pendidikan. 2. Sub Fungsi Pemuda dan Olah Raga Kebijakan pembangunan sub fungsi pemuda dan olah raga di arahkan pada upaya pengembangan potensi pemuda sehingga mampu berperan serta aktif dalam setiap aspek pembangunan melalui pengembangan dan keserasian kebijakan pemuda, peningkatan peranserta kepemudaan, peningkatan upaya penumbuhan kewirausahaan dan kecakapan hidup pemuda, upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba, pengembangan kebijakan dan manajemen olahraga, pembinaan dan pemasyarakatan olahraga, peningktan sarana dan prasarana olahraga. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan suatu kebutuhan dasar bagi masyarakat seluruhnya khususnya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam penyelenggaraan pendidikan diperlukan dana yang cukup besar. Oleh kerana itu, dibutuhkan suatu kebijakan dari pemerintah daerah baik legislatif maupun eksekutif untuk merumuskan kebijakan anggaran pendidikan agar semua kebijakan pemuda, peningkatan peranserta kepemudaan, peningkatan upaya penumbuhan kewirausahaan dan kecakapan hidup pemuda, upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba,

20

pengembangan

kebijakan

dan

manajemen

olahraga,

pembinaan

dan

pemasyarakatan olahraga, peningktan sarana dan prasarana olahraga. 2.6 Konsep Evaluasi 1. Pengertian Evaluasi Evaluasi mempunyai kaitan yang erat dengan perencanaan yang secara utuh adalah salah satu fungsi dalam siklus manajemen apa saja yang direncanakan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Evaluasi adalah suatu usaha untuk mengukur dan memberi nilai secara obyektif pencapaian hasil-hasil yang telah direncanakan sebelumnya. Evaluasi merupakan suatu proses untuk menjelaskan secara sistematis untuk mencapai obyektif, efisien, dan efektif, serta untuk mengetahui dampak dari suatu kegiatan dan juga membantu pengambilan keputusan untuk perbaikan satu atau beberapa aspek program perencanaan yang akan datang. Evaluasi adalah sebagai salah satu fungsi manajemen berurusan dan berusaha untuk mempertanyakan efektifitas dan efisiensi pelaksanaan dari suatu rencana sekaligus mengukur se-obyektif mungkin hasil-hasil pelaksanaan itu dengan ukuran-ukuran yang dapat diterima. Evaluasi adalah sebuah proses dimana keberhasilan yang dicapai dibandingkan dengan seperangkat keberhasilan yang diharapkan. Perbandingan ini kemudian dilanjutkan dengan pengidentifikasian faktor-faktor yang berpengaruh pada kegagalan dan keberhasilan. evaluasi ini dapat dilakukan secara internal oleh mereka yang melakukan proses yang sedang dievaluasi ataupun oleh pihak lain, dan dapat dilakukan secara teratur maupun pada saat-

21

saat yang tidak beraturan. Proses evaluasi dilakukan setelah sebuah kegiatan selesai, dimana kegunaannya adalah untuk menilai/menganalisa apakah keluaran, hasil ataupun dampak dari kegiatan yang dilakukan sudah sesuai dengan yang diinginkan.

2. Tingkat Evaluasi 1. Pra evaluasi, ada hubungan dengan pengarahan suatu proyek. Misalnya, perlu ada manajemen yang baik agar proyek/program dapat dimanfaatkan sesuai dengan rencana. 2. Evaluasi Antara, adalah evaluasi pada pertengahan implementasi, yaitu evaluasi ketika program atau proyek sedang mengatasi masalah. Hasil ini dapat dipakai untuk memodifikasi perencanaan atau strategi

program/proyek. Misal, merubah sifat input, memodifikasi model intervensi dan menggeser penekanan atau kelompok target. 3. Evaluasi Akhir, adalah evaluasi ketika pembiayaan proyek tersebut berakhir. Evaluasi ini memberikan persepsi manfaat program dan dampak terhadap kegiatan. Rekomendasi ini adalah untuk memperbaiki perencanaan

selanjutnya dan memiliki hubungan dengan kebijakan.

3. Kriteria Evaluasi Evaluasi memiliki 3 (tiga) kriteria antara lain : 1. Efektifitas : yang mengidentifikasi apakah pencapaian tujuan yang diinginkan telah optimal.

22

2. Efisiensi : menyangkut apakah manfaat yang diinginkan benar-benar berguna atau bernilai dari program publik sebagai fasilitas yang dapat memadai secara efektif. 3. Responsivitas : yang menyangkut mengkaji apakah hasil kebijakan memuaskan kebutuhan/keinginan, preferensi, atau nilai kelompok tertentu terhadap pemanfaatan suatu sumber daya. 2.7 Kerangka Pemikiran Kesejahteraan yang belum di rasakan masyarakat pada sector Pendidikan di Provinsi NTT membuat Pemerintah Daerah harus bekerja keras dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah Daerah harus efektif dalam penggunaan anggaran Belanja Daerah untuk sector pendidikan agar semua tujuan dapat tercapai dengan baik. Peneliti ingin meneliti apakah sudah sesuai belum penetapan anggaran belanja pendidikan 20% sesuai dengan peraturan perundang- undangan dan ingin menilai efektifitas belanja daerah dengan cara evaluasi pada Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk lebih jelasnya di buat kerangka pemikiran sebagai berikut .

23

Gambar 1.1 Kerangka Pemikiran

Melihat Porsi dan Efektitas Belanja Daerah Pada Sektor Pendidikan Pada Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)

Anggaran untuk Belanja Sektor Pendidikan Pada APBD

Laporan Keuangan dan Analisisnya

Pengukuran Pengelolaan Keuangan Daerah Dengan Melihat Rasio Belanja

24

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) , berlokasi di Jl. Jend Soeharto No 57 . Penelitian ini berlangsung selama 6 (enam) bulan yaitu dari bulan Mei sampai Oktober 2012.

3.2 Jenis Data Data yang ada dalam penelitian ini dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu: 1. a. Menurut Jenisnya, terdiri dari : Data Kualitatif yaitu data yang bersifat pernyataan-pernyataan yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Data kualitatif ini seperti,

25

Rencana Kerja untuk Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Rencana Strategis Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). b. Data Kuantitatif yaitu data yang diperoleh dalam bentuk angkaangka seperti, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) khususnya anggaran untuk belanja sector pendidikan dan realisasinya pada Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) 2. a. Menurut Sumbernya, terdiri dari : Data Primer yaitu data yang diperoleh langsung dari pimpinan atau staf pada Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) seperti, Laporan Anggaran dan Realisasi Belanja, dan Rencana Strategis Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). b. Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari dokumen-dokumen berupa catatancatatan dari tempat penelitian misalnya, catatan mengenai rasio keuangan khususnya rasio belanja. 3.3 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Wawancara yaitu wawancara langsung dengan pejabat yang berwenang pada bidangnya pada Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) guna memperoleh informasi yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. 2. Dokumentasi adalah pengumpulan data melalui dokumen-dokumen seperti, Realisasi belanja daerah khususnya pada dinas pendidikan Provinsi NTT.

3.4 Definisi Operasional

26

Berdasarkan penelitian dengan judul : ”Analisis Belanja Daerah Sektor Pendidikan pada Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun Anggaran 2008 - 2010”, maka terdapat 3 (tiga) defenisi operasional yang akan dianalisis, yaitu : 1. Evaluasi, adalah suatu usaha untuk mengukur dan memberi nilai secara obyektif terhadap kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya oleh Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur NTT untuk melihat pencapaian hasil-hasilnya. Indikatornya ialah :

a.

Proporsi Belanja Indikator ini menunjukkan arah pengelolaan belanja pemerintah untuk manfaat jangka panjang.

b.

Kontribusi Sektor Pendidikan Indikator ini menunjukkan kontribusi pendidikan dalam menggerakkan pembangunan ekonomi daerah.

2.

Anggaran Belanja Daerah adalah anggaran yang dibuat oleh Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meliputi belanja pegawai, barang dan jasa dan modal dimana hasil, manfaat dan dampaknya benar-benar dinikmati oleh masyarakat (publik). Indikatornya ialah Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat darah (RKA-SKPD) Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diukur dengan satuan rupiah.

27

3.5 Teknik Analisis Data Dalam penelitian ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis campuran atau Mixed Methods Research (Creswell, John W. and Clarck Vicki : 2008) yaitu suatu desain penelitian yang didasari dengan asumsi-asumsi. Asumsi-asumsi tersebut menunjukkan arah atau memberi petunjuk tentang cara pengumpulan dan menganalisis data serta perpaduan pendekatan kuantitatif dan kualitatif melalui beberapa fase proses penelitian. Mixed methods research berfokus pada pengumpulan dan analisis data serta memadukan antara data kuantitatif dan data kualitatif, antara lain dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut : 1. Pendekatan kualitatif yaitu suatu pendekatan dimana data disederhanakan ke dalam bentuk yang lebih mudah dibicarakan dan diinterpretasikan dengan menggunakan model interaksi yang terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu : a. Reduksi data yaitu : dengan menajamkan, menggolongkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data dengan cara sedemikian rupa sehingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi. b. Penyajian data yaitu : berupa sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan melihat penyajian data dapat dipahami apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan. c. Menarik kesimpulan / verifikasi dilakukan secara longgar, tetapi terbuka dan dirumuskan secara rinci dan mengakar dengan kokoh (Miles, 1992:16).

28

2. Pendekatan Kuantitatif yaitu suatu pendekatan untuk mengetahui kinerja belanja daerah dengan menggunakan alat analisis belanja daerah antara lain: 1. Analisis Keserasian Belanja a) Analisis Belanja per Fungsi Terhadap Total Belanja
Realisasi Belanja Fungsi ×100 Total Belanja Daerah

Rasio Belanja per Fungsi (%) =

b) Analisis Belanja Operasi Terhadap Total Belanja

Rasio Belanja Operasi (%) =

Realisasi Belanja Operasi ×100 Total Belanja Daerah

c) Analisis Belanja Modal Terhadap Total Belanja

Rasio Belanja Modal (%) =

Realisasi Belanja Modal ×100 Total Belanja Daerah

d) Analisis Belanja Langsung Terhadap Total Belanja
Rasio Belanja Langsung (%) = Realisasi Belanja Langsung ×100 Total Belanja Daerah

e) Analisis Belanja Tidak Langsung Terhadap Total Belanja

Rasio Belanja Tidak Langsung (%) =

Realisasi Belanja Tidak Langsung ×100 Total Belanja Daerah

2. Rasio Efisiensi Belanja 29

Rasio Efisiensi Belanja(%) =

Realisasi Belanja ×100 Anggaran Belanja Daerah

30

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->