Teori Strukturalisme – Levi Stauss

A.

Pendahuluan Teori Sosiologi dapat dibagi sesuai dengan periode ditemukannya, yaitu,

teori Sosiologi Klasik dan teori-teori Sosiologi Modern dan Post Modern. Teori Strukturalisme termasuk teori Sosiologi Modern dan juga Post Modern, karena dalam perkembangannya, teori ini terus dikembangkan dan menjadi teori Post Strukturalisme. Paper ini ditulis dalam rangka ingin menjelaskan mengenai teori Strukturalisme Levi-Strauss, yang termasuk teori Sosiologi Modern, namun untuk memperjelas pembahasannya akan ditambah juga dengan pembahasan teori Strukturalisme Post Modern. Walaupun teori ini jelas memusatkan perhatiannya pada struktur, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan struktur yang menjadi sasaran perhatian teoritisi Fungsionalisme Struktural (salah satu teori Sosiologi klasik). Perbedaanya pada tekanannya, yaitu Fungsionalisme Struktural memusatkan perhatiannya pada struktur sosial, sedangkan Teori Strukturalisme Levi-Strauss memusatkan pada struktur linguistik (Ritzer, 2004 : 603). Teori ini sebenarnya lebih terkenal sebagai teori Antropologi, tetapi dalam perkembangannya juga dimasukkan dalam teori Sosiologi. Strukturalisme memberikan perspektif baru dalam memandang fenomena budaya. Hal-hal yang tadinya dianggap sederhana dan tidak penting, justru memiliki peran yang sangat penting dalam menemukan dan memahami gejala sosial budaya, misalnya adalah bagaimana kita mungkin bisa memahami suatu fenomena sosial dengan menggunakan analisis sebagaimana para ahli Linguistik memahami bahasa. Bahasa memiliki tempat yang istimewa dalam ilmu sosial. Sebagai alat berkomunikasi, bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kebudayaan manusia. Oleh karena itu wajar jika untuk mengungkap persoalan budaya dapat dilakukan melalui atau mencontoh metode bahasa (ilmu bahasa). Marcel Mauss (dalam Allen Lane, 1968) menuliskan bahwa:
1

“Sociology would certainly have progressed much further if it had everywhere followed the lead of the linguists……”. Maksudya Sosiologi akan semakin berkembang jika diinspirasi oleh para ahli bahasa dalam memahami gejala sosial. Salah satu ilmuwan sosial yang menggunakan cara bagaimana memahami bahasa dalam menjelaskan fenomena sosial adalah Levi-Strauss. Levi-Strauss melakukan konseptualisasi ulang di bidang Antropologi

dengan sebutan "tiga nyonya" yaitu geologi, psikoanalisis, dan Marxisme untuk membantu membentuk tren dalam ilmu-ilmu sosial dan teori sastra, dan dipengaruhi oleh intelektualisme seperti Michel Foucault dan Jacques Derrida. Lahir di Belgia, Levi-Strauss belajar filsafat di universitas Sorbonne, Paris dan mengajar Sosiologi di Brasilia pada 1930-an. Teori-teorinya didasarkan hasil penelitannya di belantara Amazone di Brasilia. Sebagian besar teorinya dibangun selama 3 tahun ketika menghabiskan waktu bersama suku Indian di pedalaman Brasil. Pergumulan antara ilmu sosial dan ilmu bahasa telah melahirkan perspektif baru yang membuka jalan bagi perkembangan kedua bidang ilmu tersebut. Ilmu bahasa semakin berkembang berkat penemuan-penemuan dalam bidang Antropologi, demikian juga yang terjadi pada ilmu sosial atau Antropologi yang perkembangannya banyak dipengaruhi oleh para ahli bidang linguistik. Proses inilah yang kemudian melahirkan teori Strukturalisme Levi-Strauss itu. N. Troubetzkoy (dalam Alan Lane, 1968) menyatakan bahwa pikiran dasar dari teori Struktural adalah: Pertama, linguistik struktural mengalami lompatan dari studi fenomena kesadaran linguistik pada infra-struktur nir-sadar. Kedua, Strukturalisme tidak menganggap istilah-istilah itu independen, tetapi menganalisis hubungan antar istilah-istilah yang saling terikat. Ketiga, Strukturalisme mengenalkan sistem konsep. Dan yang terakhir, linguistik struktural ditujukan untuk menemukan hukum umum (general laws) baik secara induksi maupun dengan cara deduksi.

2

Lahirnya teori strukturalisme dalam bidang Antropologi/Sosiologi telah melahirkan berbagai perspektif dalam memandang fenomena budaya. Dengan teori ini, persoalan-persoalan tanda (simbol dalam bahasa) semakin mudah dipahami. Hal ini dikarenakan setiap persoalan bisa diidentifikasi melalui struktur dari persoalan tersebut. Karena dalam konsep ini segala sesuatu yang berbentuk diyakini memiliki struktur. Susunan unsur-unsur dapat dianalisis sehingga dapat diketahui asal-usul konsep itu dan juga gejalanya. Dengan demikian penjelasanya akan semakin mudah. Strukturalisme begitu berpengaruh pada pemikiran di kalangan ilmuwan ssosial di tahun 1960-an, terutama di Perancis. Era strukturalisme ini muncul setelah era eksistensialisme yang marak setelah Perang Dunia II. Strukturalisme melakukan beberapa kritik terhadap eksistensialisme dan juga pemikiran fenomenologi. Strukturalisme dianggap menghancurkan posisi manusia sebagai peran utama dalam memandang dan membentuk dunia. Strukturalisme berkembang pesat di Perancis dengan tokoh-tokoh utama selain Claude Levi-Strauss, yaitu Micheal Foucault, J. Lacan, dan R. Barthes. Aliran ini muncul ketika filsafat eksistensialisme mulai pudar. Masyarakat yang semakin kaya dan dikendalikan oleh berbagai bentuk struktur ilmiah-teknoekonomis mapan dan terkomputerisasi memudarkan aliran humanisme romantis eksistensialis yang berkisar pada subyek otonom, daya cipta peorangan, penciptaan makna, dan pilihan proyek masa depan serta dunia bersama sebagai tempat tinggal yang manusiawi. Usaha eksistensialisme untuk mengubah dan memperbaiki keadaan tersebut tidak berdaya dihadapan kenyataan-kenyataan struktur yang makin kuat yang mengutamakan kemantapan dan keseimbangan struktural daripada dinamika kreatif dari si subyek. Dengan diilhami oleh Marx dan Freud, para strukturalis menyangsikan istilah-istilah kaya kunci eksistensialis seperti ,"manusia", "kesadaran intensional", "subyek", "kebebasan", "otonomi" dan menggantinya dengan istilah-istilah mereka, yaitu: "ketidaksadaran", "struktur","diskursus","penanda" dan "petanda".

3

Ketika manusia lahir ia sudah ada dalam suatu struktur. Perbedaan lain yang cukup mendasar. karena klen-klen atau famili-famili lain tukar-menukar wanita-wanita mereka. Ketidaksadaran menjadi sebuah unsur pokok yang menandai keberadaan manusia. tapi ia kembali akan terjebak di dalamnya. hubungan antar manusia berada dalam sistem yang tidak disadarinya.saudara perempuan.Meskipun banyak pertentangan antara eksistensialisme dan strukturalisme tapi ada juga yang saling melengkapi. Berbeda dengan pandangan Heidegger bahwa seseorang harus memiliki tanggung jawab pribadi untuk membentuk hidupnya sendiri. semua hanyalah bagian dari tenunan struktur. Dalam pandangan strukturalis manusia terjebak dalam suatu struktur budaya yang dijalinnya sendiri. anakbapak. Bahasa adalah sistem komunikasi. ia bukan manusia "massal" atau diombang-ambingkan arus mode dan kecenderungan sosial. terutama dengan pemikiran fenomenologi. meskipun kemudian ia mampu memilih atau membuat sendiri sebuah struktur. Kekerabatan adalah suatu sistem komunikasi. Pandangan ini mirip dengan faktisitasnya Heidegger dimana manusia terlempar ke dunia tanpa bisa dirundingkan lebih dulu. Dengan menggunakan teori linguistik dari Saussure (Semiologi). adalah pencapaian makna atau kebenaran atas yang ada. Sebagaimana halnya bahasa. kekerabatan pun merupakan sistem komunikasi. manusia mempunyai putusan sendiri. LeviStrauss melakukan analisis terhadap masalah kekerabatan. ia memiliki peran. saudara lelaki . Perbedaannya faktisitas mengandaikan adanya kebebasan yang menegaskan eksistensialitas manusia. 4 . karena informasi atau pesan-pesan yang disampaikan oleh satu individu pada individu lain. paman-keponakan. kekerabatan pun dikuasai oleh aturan-aturan yang tidak disadari. Sistem kekerabatan terdiri dari relasi-relasi dan oposisi-oposisi. Supaya tidak menjadi manusia "massal" tentu dituntut kesadaran penuh tentang lingkungannya yang menurut strukturalis mustahil untuk disadari secara penuh. Sedangkan keterjebakkan manusia dalam jaring-jaring struktur mengandaikan hilangnya unsur subyek dan obyek. seperti misalnya suami-istri. Hubungan ini sama seperti bahasa.

ia memang menolak beberapa pandangan umum mengenai strukturalisme bahwa aliran ini anti humanisme. Ricoeur menjuluki Levi-Strauss sebagai "kantianisme tanpa transendental") bahwa akal budi manusia memiliki sejumlah paksaan. Menurut Levi-Strauss. ketentuan dan aturan (bentuk mental apriori. Dan sisasisa penyembunyian diri itulah yang merupakan bekas-bekas yang hendak "dibaca" sebagai tanda penyingkapan diri yang tak langsung dari kenyataan dan kebenaran yang sesungguhnya. sebab tiap usaha merepresentasikannya pada dasarnya kurang memadai. ide regulatif dan sebagainya) yang dikenakan pada kenyataan empiris. Sedangkan Levi-Strauss dengan mengacu pada Kant (P. Levi-Strauss membentuk strukturalisme sebagai "humanisme integral baru" yang mengkritik dan mengatasi humanisme klasik Barat. Sebaliknya "humanisme baru" dengan pola 5 .Bagi Heidegger. Ada sendiri menampakkan diri dan terbuka. Makna yang dicari tersembunyi dalam bendabenda yang tampak. kendatipun kenyataan konkret tidak bisa dipahami secara lain. antara budaya Barat dan budaya lain ( non Barat) yang dianggap inferior (merasa rendah dari Budaya Barat). kategori. seorang fenomenolog. sambil menyadari bahwa realitas yang sebenarnya tidak pernah tampak sendiri dan langsung kelihatan. mengabaikan manusia dan melarutkannya dalam struktur yang berkuasa. Humanisme klasik dianggap mangancam kehidupan manusia. Tugas strukturalis lah untuk mengorek makna yang laten tersebut. Melalui kajian Antropologi budaya. Seperti sudah diuraikan sebelumnya bahwa Levi-Strauss enggan menggunakan nama "strukturalisme" yang terlalu ideologis. karena menciptakan pemisahan dan pertentangan antara manusia dan alam. yang mengatakan bahwa obyek kesadaran adalah fenomen dalam arti: ”apa yang menampakkan diri”. "Pemahaman" berarti memahami keberadaan sesuatu yang spontan dan tampak bagi kita itu kepada suatu taraf yang lebih dalam. Ini didapat dari Husserl. tetapi justru suka menyembunyikan diri. kecuali lewat paksaan mental tersebut. Ada itu sendiri tampak sebagai tidak tersembunyi ( aletheia). Namun kenyataan itu tidak pernah dimengerti seluruhnya.

Kekurangan ini dapat dilengkapi dengan pemikiran Heidegger yang meski mengkritik dualisme 6 . Perbedaanperbedaan yang ada tidak dilihat sebagai bertentangan. mengutamakan hidup atas manusia sendiri dan mengutamakan rasa hormat terhadap mahluk-mahluk lain melampaui rasa cinta diri sendiri". artinya tidak menguasai keadaan. tetapi justru menekankan sifat saling terkait dan mencakup segala sesuatu. Kedua pemikir memiliki beberapa perbedaan dan kesamaan. Dia mengammbarkan kebudayaan primitif sebagai berikut: "Suatu humanisme yang seimbang. Persamaan lain adalah keduanya sama-sama menentang bentuk teknik (kemajuan teknologi di Barat) yang jika tidak diwaspadai akan menjadi subyek baru dan menindas keberadaan manusia. Ketika Levi-Strauss dengan strukturalismenya berusaha menghilangkan dualisme subyek dan obyek yang dianggap mengancam kehidupan manusia maka ia meleburkannya dalam kesatuan struktur yang tak terpilah. Levi-Strauss menyatakannya dengan keprihatinan terhadap nasib masyarakat primitif yang dilenyapkan oleh kekuasaan kolonial Barat demi keuntungan ekonomis (penjajahan yang menggunakan penemuan-penemuan alat /teknik modern). Kebudayaan primitif menurut Levi-Strauss memiliki keaslian dalam menciptakan patokan keselarasan manusia dengan alam dan sesamanya. tidak bermula dengan hidup manusia sendiri. Bahaya baru dapat saja muncul dengan tidak ditekankannya pribadi kreatif manusia dan bisa terjebak menjadi manusia "massal". tetapi mengutamakan dunia dan alam semesta atas hidup. Penguasaan subyek atas obyek ini dibenahi dengan istilah menggembalakan ada. Rasa kagumnya terhadap budaya primitif tertuang dalam bukunya Mythologica III. tetapi justru saling melengkapi. Hal ini jelas terdapat persamaan dengan pemikiran Heidegger yang juga mengkritik metafisika Barat yang memisahkan subyek (manusia) dan obyek (alam).strukturalisme ini tidak mengadakan garis pemisah dan penggusuran yang fatal.

Kata “struktur” yang menjadi dasar dari pemikiran strukturalisme dapat kita lacak dengan memahami Semiotika (Semiotics) atau Semiologi (Semiology) yang dikembangkan secara brilian oleh Saussure untuk mengkaji tanda bahasa. Di tengah kapitalisme yang melahirkan masyarakat serba melimpah di Eropa Barat dan Amerika Serikat serta komunisme di Uni Sovyet yang mengundang decak kagum banyak orang dengan keberhasilannya menjangkau bulan. Adalah Ferdinand de Saussure yang mengawali kajian strukturalisme dalam bahasa. seorang ahli linguistik dari Rusia (Payne. eksistensialisme dan juga yang tidak dapat dilupakan adalah perkembangan Frankfurt School (teori Kritik). namun oleh Roman Jakobson. terutama Eropa Barat. sebagaimana yang terjadi dalam revolusi mahasiswa di bulan Mei 1967 di Paris di Perancis yang menuntut perluasan demokrasi serta penghentian praktek kolonialisme Perancis serta juga gerakan New Left yang menjadikan Herbert Marcuse sebagai “nabi” yang menginspirasi gerakan mereka. Saussure secara brilian melepaskan kajian tentang tanda bahasa dari suatu kajian yang merupakan kajian yang bersifat linguistik semata.tersebut. Meski tidak mungkin juga manusia menghindari sepenuhnya arus massa tapi dengan bantuan kesadaran dengan hati nurani manusia yang tidak mudah hanyut. Strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran yang sangat menonjol dalam khazanah pemikiran di Dunia Barat. 1996:513). Pergolakan intelektual ini juga diwarnai dengan pergolakan mahasiswa yang hidup dalam affluent society. ilmu sosial di Perancis melahirkan strukturalisme. ia tetap menekankan sosok manusia yang autentik. sebuah genre pemikiran yang melampaui Marxisme yang sedang menjadi trend pemikiran pada saat itu. walaupun sebenarnya istilah strukturalisme diperkenalkan pertama kali bukan oleh Saussure. pada dekade 1960-an. Sebuah periode yang ditandai dengan pergolakan intelektual dan juga ditandai dengan berkembang pesatnya strukturalisme. Saussure memproklamirkan bahwa tanda bahasa dibangun melalui struktur relasi antar tanda bahasa yang menunjukan adanya perbedaaan (Payne. Perbedaan inilah yang kemudian dikenal sebagai oposisi biner ( binary opposition) 7 . 1996:513).

Ini dapat dianggap sebagai parole dari sebuah sistem struktur. Penanda adalah aspek fisik dari tanda bahasa. Sebagai ilustrasi adalah bidak kuda dalam permainan catur memiliki gerak berbentuk huruf “L”. Relasi antara penanda dengan petanda terjadi begitu saja dan arbitrer. sehingga dari sinilah kemudian lahir strukturalisme. Berdasarkan pendapatnya mengenai oposisi biner. sedangkan petanda adalah aspek mental dari tanda bahasa. Kode (code) adalah satu sistem dari konvensikonvensi yang memungkinkan kepada seseorang untuk mendeteksi arti dalam tanda-tanda karena hubungan (Berger. Agar lebih jelas. Kedua. terdiri dari unsur ”penanda” (signifier) dan ”petanda” (signified). 2001 : 182). Langue dimaksudkan sebagai penggunaan tanda bahasa secara umum atau oleh publik yang menyepakatinya. merupakan entitas psikologis yang bersisi dua atau berdwimuka. kita dapat mengikuti contoh yang dikemukakan oleh Saussure berikut ini. Saussure mengembangkan semiotika ke dalam beberapa aturan pokok yang mengatur sistem tanda bahasa. sedangkan parole adalah pemakaian tanda bahasa di tangan individu. dalam pendapat Saussure. Pertama. sebuah tanda khususnya tanda kebahasaan. Individu yang bermain catur bebas untuk menggerakkan kuda dalam bentuk huruf “L” baik ke kiri. ke kanan. 2000 : 219 ). Kedua adalah langue dan parole. elemen tanda-tanda itu menyatu dan saling tergantung satu sama lain. para pemain harus mengikuti struktur aturan yang telah ada dan tidak mungkin permainan ini dimainkan jika para pemainnya keluar dari aturan permainan. Inilah yang membedakan kajian strukturalisme yang dikembangkan oleh Saussure dengan pendekatan linguistik yang lain. Kombinasi dari keduanya inilah yang kemudian menghasilkan ”tanda” (sign). Semiotika sendiri secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu semieon. yang artinya adalah ”tanda”. Dalam permainan catur.yang dapat diterapkan hampir ke semua tanda bahasa. di mana pendekatan linguistik yang lain hanya berhenti pada tataran langue (Bertens. Karena itu kita perlu mengetahui kode-kode yang menyatakan kepada kata apa yang dimaknakan oleh tanda-tanda. ke 8 .

maka hancurlah struktur permainan catur itu. karena jika bergerak selain gerak “L”. penjelasan tentang teorinya dan juga kritik terhadap teori tersebut. Selain itu. Satu hal yang harus diingat kebebasan menggerakkan kuda ini terstruktur dalam huruf “L” dan tidak boleh keluar dari aturan ini. Latar belakang pendidikan.depan atau ke belakang. teori lain yang mempengaruhi. Perancis maupun saat ia berada di New York. C. Yale. mengingat perjalanan hidup penggagas teori Antropologi struktural ini sangat dinamis. dan Oxford di Amerika. pengalaman kerja dan tentunya pola pikirnya sangat menentukan dalam mencetuskan teori strukturalnya. B. Yang penting masih dalam bentuk huruf “L”. Selain itu juga dari universitas di Swedia. Paper ini juga mencoba untuk menjelaskan teori Strukturalisme Levi Strauss. riwayat hidup penemunya. yang juga sangat menentukan dalam pandangan-pandangan Levi-Strauss adalah hubungannya dengan para pakar berbagai bidang di Brasilia. badan pembelajaran terkemuka mengenai hal-hal yang bersingungan dengan Bahasa Prancis. Lahir dari orang tua berkebangsaan Prancis dengan darah Yahudi. Hal ini penting. Pertemuannya dengan para pakar dari berbagai bidang ilmu itu telah melahirkan berbagai konsep yang sangat penting dalam membentuk teori budaya yang sangat 9 . Sejarah Hidup Claude Levi-Strauss Sebelum membicarakan teori strukturalisme Levi-Strauss. akan lebih baik jika kita membicarakan sejarah hidup Levi-Strauss secara singkat. dengan menjabarkan keadaan sosial yang terjadi pada saat teori ini dibangun. Ini dapat dianggap sebagai parole. Kanada dan Meksiko. LeviStrauss diberi gelar doktor dari sejumlah institusi pendidikan terkemuka. B. Sejak lama dia juga menjadi anggota Academie Francaise. seperti universitas Harvard.

Apa yang diharapkan oleh Levi-Strauss ini akhirnya terkabulkan setelah ia berkesempatan menjadi pengajar di Universtias Sao Paulo. Di tahun yang sama ia juga mempelajari filsafat di universitas Sorbonne. Ia adalah keturunan Yahudi. memberi kesempatan kepadanya untuk mempelajari orang-orang Indian Caduveo dan Bororo. Ia pernah sukses dalam bidang hukum ketika ia telah mendapatkan licence dalam bidang hukum.unik itu. Ayahnya bernama Raymond Levi-Strauss seorang artis dan juga anggota keluarga intelektual Yahudi Perancis (Intelectual French Jewish family). Buku ini bercerita tentang penderitaan orang-orang Indian di belantara Amazone. Pengalaman perjalanannya menjelajah daerah-daerah terpencil itu ditulisnya dalam sebuah buku yang berjudul Tristes Tropique. Minat utama Levi-Strauss sebenarnya adalah ilmu hukum. Sedangkan ibunya bernama Emma Levy. Ia mempelajari hukum di fakultas hukum pada suatu universitas di Paris pada tahun 1927. Hal yang paling penting dan sangat berpengaruh terhadap loyalitasnya di bidang Antropologi adalah ketika ia membaca buku Primitive Society yang ditulis oleh Robert Lowie. Dari ekpedisi yang di dukung oleh Musee de 1’Hummed dan museum di kota Sao Paulo ini. serta mengunjungi berbagai suku Indian yang selama itu boleh dikatakan belum terjamah oleh peradaban Barat. Belgia. Buku itu cukup mengesankan bagi Levi-Strauss dan mendorongnya untuk mengadakan beberapa studi mengenai masyarakat primitif. Levi-Strauss dilahirkan pada 28 November 1905 di Brussles. Brazil. Berawal dari buku inilah yang menjadikan Levi-Strauss terkenal sampai ke negara asalnya yakni 10 . Di universitas ini ia memiliki kesempatan untuk keliling ke daerah-daerah pedalaman Brazil. Dikatakan sangat unik karena memang belum terpikirkan oleh para pakar di bidang Antropolgi periode sebelumnya. Bahkan ia menjadi bosan mengajar di Mont de-Marsan Lycee dan berkeinginan untuk mengadakan perjalanan keliling dunia. Penguasaan dalam bidang hukum mengenai aliran-aliran filsafat materialisme historis ini turut mendorong kesuksesannya dalam bidang Antropologi.

seperti Maz Ernst. Berkat jasanya. New York. A. Levi-Strauss tinggal. ia juga mengalami diskriminasi ras. ribuan bahkan jutaan mitos kini memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan kita. yang didirikan oleh para intelektual pelarian dari Prancis. Kita sangat menghargai perjuangan Levi-Strauss dalam menemukan teori (konsep) strukturalisme ini. dan ketelitian yang luar biasa Levi-Strausss mampu melahirkan karya yang sangat bermanfaat. Di daerah Greenwich Village. Sampai akhirnya ia diangkat menjadi liaison officer. bahkan masih sangat sedikit orang yang mendokumentasikan mitos-mitos tersebut. yaitu petugas penghubung. Ia banyak berkomunikasi dengan para ilmuan buangan dari Prancis.L. Namun dalam situasi yang seperti itu tetap tidak menghalangi dirinya untuk menjadikannya seorang professor. Ia pun akhirnya dibebaskan dari kewajiban militer setelah menjadi seorang professor. Ia dipecat dari jabatannya karena ia adalah seorang Yahudi. kesabaran. Akhirnya Levi-Strauss diselamatkan oleh program Yayasan Rockefeller. Di kota New York inilah Levi-Strauss semakin banyak memiliki peluang mengembangkan keilmuannya. yang memiliki program menyelamatkan ilmuwan dan pemikir-pemikir Eropa berdarah Yahudi di Amerika Serikat. Ruth Benedict. Karir Levi-Strauss sempat mengalami halangan saat ia diwajibkan menjalani wajib militer.Prancis. Mitos-mitos itu sebelumnya tak seorang pun yang memperhatikan. Kroever dan Ralph Linton. Ia bahkan telah menghasilkan suatu karya yang sangat penting di bidang Antropologi yang sesungguhnya sangat jauh dari studi formal yang dimilikinya. Ia ditugaskan dibagian pos telekomunikasi di bidang sensor telegram. Halangan tidak hanya sampai disitu. Ia pun berkesempatan mengajar mata kuliah Etnologi di New York Ecole Libre des Hautes Etudes. Dari program ini Levi-Strauss berhasil datang ke New York dan selamat dari pembantaian tentara Nazi yang anti terhadap orang-orang Yahudi. Franz Boas. Dengan ketekunan. 11 .

Penulis Jean d'Ormesson." Levi Strauss meninggalkan dua putra." kata LeviStrauss. ia berkata. tidak lagi dunia yang aku suka.Pada zaqmannya. Ia juga dianugrahi empat gelar kehormatan oleh Oxford. Kami tidak akan menemukan lagi seperti dia. lahir pula Antropologi Kognitif.. Dan itu jelas bahwa kepadatan manusia telah menjadi begitu besar. Yale. Pada tahun 1935 sampai 1939 ia diangkat sebagai seorang Professor di Universitas Sao Paolo yang kemudian melakukan beberapa ekspedisi ke Brazil. seorang filsuf. setelah dia meninggal. Goodenough (1950-an). dikembangkan Ward H. sekretaris abadi Académie française. salah satu di antaranya adalah kepala bagian Museum dan benda-benda budaya UNESCO di Paris. mereka telah mulai meracuni diri mereka sendiri. . Harvard dan Columbia University di Amerika Serikat. Aliran ini membawa 12 . menjulukinya "ilmuwan terbesar Perancis. "Pada hari ini hilangnya spesies hidup yang sangat mengerikan. berencana untuk menghormatinya. memuji Levi-Strauss memiliki "semangat keterbukaan yang luar biasa". Berbicara pada radio Perancis. Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya diantaranya adalah: the wenner-Gren Foundation’s Viking Fund Medal dan Erasmus Prize pada tahun 1975. "Dia adalah seorang pemikir. Pada tahun 1942 sampai 1945 ia diangkat sebagai professor di New School for Social Research.Selama hidupnya Levi-Strauss pernah menduduki jabatan-jabatan strategis terutama di bidang pendidikan. Dan dunia di mana saya menyelesaikan keberadaan saya." Hélène Carrère d'Encausse. Dalam wawancara dengan National Public Radio. yang bersamaan pula dengan kedudukannya sebagai pimpinan Social Antropology pada College de France. Levi-Strauss menyatakan bahwa prospek manusia sangat suram.. Pada tahun 1959 ia menjadi direktur The Ecole Practique des Hautes Etude. Claude Levi-Strauss adalah pencetus Antropologi Struktural dengan strukturalisme sebagai perspektifnya. Académie française adalah institusi yang bergengsi milik Levi-Strauss. baik itu tanaman atau hewan.

Beberapa di antaranya adalah teori tentang persamaan komponen antara masyarakat industri dan sukuterasing. Akhirnya Claude Lévi-Strauss. Dari rangkaian persoalan manusia itu terdapat beberapa kesamaan yang 13 . dalam rentang enam dekade. Levi-Strauss juga memperkenalkan strukturalisme. konsep bahwa semua masyarakat universal mengikuti pola pikir dan perilaku.definisi budaya dari yg fisik menuju pengertian bahwa budaya sebagai sistem pengetahuan. sangat tidak mungkin bisa memahami fenomena sosial tanpa mengaitkan dengan fenomena-fenomena lain. terutama mitos. sebagaimana dicontohkan dalam mitos-mitos yang berkembang. Aliran Antropologi Simbolik.Interpretatif yg dipelopori oleh Clifford Geertz melihat sistem simbol sebagai media pemahaman manusia atas sistem nilai dan sistem koginitifnya. meninggal di Paris pada 31 Oktober. Oleh karena begitu kompleknya persolan itu. seperti ilmu eksakta dan pengetahuan alam ( exact and natural Sciences). Hal ini disebabkan banyaknya persoalan yang timbul dalam aktivitas manusia baik secara individu maupun dalam kaitannya dengan masyarakat. Seperti dikutip dari siaran stasiun televisi BBC. 2009 dengan usia 101 tahun. Karyakarya pemikir abad 20 ini. dalam jangkauan luas masyarakat. konsep mengenai pola umum pikiran dan tingkah laku. antara lain "Tristes Tropiques" (1955). dan "The Raw and the Cooked" (1964). Inilah yang menjadikan salah satu alasan kenapa dalam ilmu sosial kita harus meniru metode ilmu-ilmu di luar ilmu sosial.Konsep Strukturalisme Levi-Strauss Sebagaimana diketahui bahwa cakupan ilmu sosial itu sangat luas. LeviStrauss memperkenalkan "strukturalisme" untuk Antropologi. seorang tokoh di dunia Antropologi abad ke-20. Presiden Prancis Nicolas Sarkozy menyebut Levi-Strauss sebagai salah satu etnolog besar sepanjang waktu. Levi-Strauss disebut sebagai bapak Antropologi modern berkat karya-karyanya. "The Savage Mind" (1963). Dia juga seorang pecinta musik sejati. C.

rather. Langkah ini dilakukan karena dalam strukturalisme dipahami bahwa setiap benda yang berbentuk pasti memiliki struktur. where the formal expression of different problems admits of the same kind of treatment”. where problems are similarly set in formal terms or. but the patterns that the words form. crystals.and during its vogue tends to be applied indiscriminately because of the pleasurable connotations of its sound.8) menyatakan sebagai berikut: ”On the other hand. Oleh sebab itu Sarah Schmitt (1999) menyatakan. and still more difficult to discuss.machines. struktur adalah model-model yang dibuat oleh ahli Antropologi untuk memahami atau menjelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya. Of course a typical personality can be viewed as having a structure. except to provoke a degree of pleasant puzzlement’. machines. yang tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris kebudayaan itu sendiri (Ahimsa. all societies and all cultures.bisa dijadikan model dalam sebuah penelitian. Allen Lane (1968. “Levi-Strauss derived structuralism from school of linguistics whose focus was not on the meaning of the word.in fact everything that is not wholly amorphous has a structure. any organism. fokus strukturalisme Levi-Strauss sebenarnya bukan pada makna kata. But so can a physiology. they are therefore difficult to define. without overlapping other fields pertaining to the exact and natural sciences. 60). studies in social structure have to do with the formal aspects of social phenomena. Adanya struktur ini memungkinkan juga adanya persamaan-persamaan.” 14 . Kroeber dalam buku edisi kedua Anthropology menyebutkan bahwa: “Structure” appears to be just a yielding to a word that has perfectly good meaning but suddenly becomes fashionably attractive for a decade or so –like “streamlining”. Bentuk-bentuk kata ini menurut Levi-Strauss berkaitan erat dengan bentuk atau susunan sosial masyarakat. Dalam konsep Strukturalisme Levi-Strauss. tetapi lebih menekankan pada bentuk (pattern) dari kata itu. Meskipun bertolak pada linguistik. 2006. So what “structure” adds to the meaning of our phrase seems to be nothing. Oleh karena itu pula pemahaman dasar dari teori strukturalisme adalah mengacu pada model penelitian linguistik. Pendapat Allen ini menunjukkan adanya struktur dalam setiap persoalan.

Semua konsep mengenai struktur bahasa tersebut di atas. 1978). 1958. dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan sosial. keburukan. Seperti kata-kata hitam dan putih. Model strukturalnya tidak linier (Meletinskij. perlu diketahui terlebih dahulu prinsip dasar dari struktur itu sendiri. 1. Untuk membuktikan adanya keterkaitan atau beberapa kesamaan antara bahasa dan budaya. 1969 dalam Fokkema. menggabungkan fungsi-fungsi hanya secara vertikal. Konsep ini dianggap sama dengan organisasi pemikiran manusia dan juga kebudayaannya. Sementara emosional dianggap inferior yang diasosiasikan dengan perempuan. ketulusan dan lain-lain. 15 . sedangkan putih dihubungkan dengan kesucian. Struktur terdiri atas elemen-elemen seperti sebuah modifikasi apa saja. melainkan dengan model-model yang dibangun menurut realitas empiris tersebut (Levi-Strauss. Menurut Levi-Strauss (1958) ada empat syarat model agar terbentuk struktur sosial. Bangunan dari model-model itu yang akan membentuk struktur sosial. Contoh lain adalah kata rasional dan emosional. Untuk mengetahui makna struktur dalam bidang Antropologi Levi-Strauss. Hitam sering dikaitkan dengan kegelapan. Sebuah struktur menawarkan sebuah karakter sistem. kebersihan. Levi-Strauss sangat tertarik pada logika mitologi. dan mencoba menerangkan paradigmatik mereka yang tumpah-tindih dengan varian-varian mitos. kejahatan. yang salah satunya akan menyeret modifikasi seluruh elemen lainnya.Strukturalisme Levi-Strauss juga bertolak dari konsep oposisi biner (binary opposition). Itu sebabnya ia mulai dengan mitos. Prinsip dasar struktur yang dimaksud disini adalah bahwa struktur sosial tidak berkaitan dengan realitas empiris. Rasional dianggap lebih istimewa dan diasosiasikan dengan laki-laki. 378). LeviStrauss mengembangkan teorinya dalam analisis mitos.

kekerabatan memperoleh maknanya hanya dari posisi yang mereka tempati dalam suatu sistem. Bagi Levi-Strauss telaah Antropologi harus meniru apa yang dilakukan oleh para ahli linguistik. 1972 dalam Fokkema. 1978). 16 . Oleh karena itu akan terdapat kesamaan konsep antara bahasa dan budaya manusia. 1978). Seluruh model termasuk dalam sebuah kelompok transformasi. sehingga seluruh transformasi ini membentuk sekelompok model. Lahirnya konsep Strukturalisme Levi-Strauss merupakan akibat dari ketidakpuasan Levi-Strauss terhadap fenomenologi dan eksistensialisme (Fokkema. bukan seperti yang dikembangkan oleh Bergson. seperti halnya fonem. 1978). Masalahnya para ahli Antropologi pada saat ini tidak pernah mempertimbangkan peranan bahasa yang sesungguhnya sangat dekat dengan kebudayaan manusia itu sendiri. merupakan unsur makna. Istilah kekerabatan. dan mudah rusak (Fokkema. Dalam bukunya yang berjudul ”Trites Tropique” (1955) ia menyatakan bahwa penelaahan budaya perlu dilakukan dengan model linguistik seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure. 3. Kesimpulannya adalah bahwa “meskipun mereka berasal dari tatanan relitas yang lain. dan seperti fonem. Singkatnya Levi-Strauss berkeyakinan bahwa untuk mempelajari kebudayaan atau perilaku suatu masyarakat dapat dilakukan melalui bahasa. LeviStrauss memandang bahwa apa yang ada di dalam kebudayaan atau perilaku manusia tidak pernah lepas dari apa yang terefleksikan dalam bahasa yang digunakan. fenomena kekerabatan merupakan tipe yang sama dengan fenomena linguistik (Levi-Strauss. cepat berlalu. di mana masing-masing berhubungan dengan sebuah model dari keluarga yang sama. Model itu harus dibangun dengan cara sedemikian rupa sehingga kegunaannya bisa bertanggung jawab atas semua kejadian yang diobservasi. 4. Karena bagi Bergson tanda linguistik dianggap sebagai hambatan.2. Sifat-sifat yang telah ditunjukan sebelumnya tadi memungkinkan kita untuk memperkirakan dengan cara apa model akan beraksi menyangkut modifikasi salah satu dari sekian elemennya. yaitu sesuatu yang merusak impressi kesadaran individual yang halus.

Karena bahasa merupakan unsur dari kebudayaan. bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat merupakan refleksi dari keseluruhan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Antropologi mengalami perkembangan pesat setelah dikembangkan dengan model linguistik. Model-model matematis pada bahasa dapat berbeda pada tingkatan dengan model matematis yang ada pada kebudayaan. Ketiga. Kedua. bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan untuk membangun bahasa pada dasarnya memiliki kesamaan jenis atau tipe dengan apa yang ada pada kebudayaan itu sendiri. Untuk itu jika kita membahas mengenai kebudayaan. menyatakan bahwa bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan. 1987). dan bersifat menjelaskan (Levi17 .Ahimsa (2006: 24-25) menyebutkan bahwa ada beberapa pemahaman mengenai keterkaitan bahasa dan budaya menurut Levi-Strauss. Dengan bahasa manusia menjadi makhluk sosial yang berbudaya. Pertama. Seperti yang disebutkan oleh Levi-Strauss (1963). dan dalam cara orang Indian mengekspresikan konsep waktu mereka. Koentjaraningrat. sederhana. maka bahasa adalah bagian dari kebudayaan itu sendiri. 2006). Levi-strauss mengakui bahwa analisis yang benar-benar ilmiah harus nyata. menyadari bahwa bahasa merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. Namun demikian. Korelasi semacam ini sangat mungkin terdapat pada kebudayaan lain. kita tidak pernah bisa lepas dari pembahasan bahasa (lihat. Hal ini dapat kita lihat juga pendapat para pakar kebudayaan yang selalu menyertakan bahasa sebagai unsur budaya yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain melalui bahasa manusia mengetahui kebudayaan suatu masyarakat yang sering disebut dengan kebudayaan dalam arti diakronis. korelasi sistem kekerabatan orang-orang Indian di Amerika Utara dengan mitos-mitos mereka. perlu juga diperhatikan beberapa perbedaan mendasar antara sifat keilmuan Fonologi dengan apa yang ada dalam Antropologi/Sosiologi. 1978). terutama setelah diakuinya bidang Fonologi atau ilmu tentang bunyi dalam bahasa (Fokkema. Hubungan atau korelasi bahasa dan budaya terjadi pada tingkat struktur (mathematical models) dan bukan pada statistical models (Ahimsa. Berikutnya.

Hastermann). sistem “terminologi” dan sistem “sikap”. Kebudayaan adalah produk atau hasil aktifitas nalar manusia yang memiliki kesejajaran dengan bahasa dan tradisi. Fonologi bisa diterangkan secara ekskulsif dalam sistem persitilahan. manjauhi yang kongkret. Kebudayaan dan bahasa berposisi sejajar karena keduanya merupakan hasil dari nalar manusia. Asumsi dasar nalar manusia (human mind) adalah sistem relasi (system of relation). sebagai contoh: Konsensus manusia tentang persoalan kehidupan dan kematian merupakan suatu tradisi yang penuh dengan simbul dan tradisi. dipenuhi dengan kesedian dan bahkan dilarang sama sekali memasak makanan pada komunitas Islam tertentu. Tradisi adalah tatanan transendental sebagai pengabsah tindakan dan juga sesuatu yg imanen dalam situasi aktual dan bersesuaian dengan konteks bersifat dinamis (J. Antropolog Levi-Strauss bertujuan menemukan model bahasa dan budaya melalui strukturnya.Tetapi hal itu agak berbeda dengan apa yang ada dalam Antropologi. selalu daiadakan pesta dan upacara kematiannya penuh dengan kegembiraan. misalnya ketika persiapan menguburkan mayat.C. Tradisi adalah sebuah jalan bagi masyarakat untuk memformulasikan dan memperlakukan fakta-fakta dasar dari eksistensi kehidupan manusia. apalagi ketika upacara pembakaran mayat. ia tidak perlu memperhitungkan segala “sikap” sumber sosial atau sumber psikologis. Pemahaman terhadap pikiran dan perilaku kehidupan manusia. dalam Fokkema. oleh karena itu selalu dengan upacara yang berbeda menurut pemahaman suatu suku atau pemeluk agama tertentu. Antropologi/Sosiologi bukan bergerak dari hal-hal yang kongkret. 18 . sedangkan upacara kemaian pada pemeluk Islam. 1972. tetapi bagaimana manusia mengucapkan vokal. sistemnya lebih rumit daripada data observasi dan akhirnya hipotesisnya tidak menawarkan penjelasan bagi fenomena maupun asalusul sistem itu sendiri. 1978). analisis Antropolgi justru maju ke arah yang berlawanan. Antropologi/Sosiologi berurusan dengan sistem kekerabatan pada titik persilangan dua tatanan realitas yang berbeda. Di Bali. serta relasi manusia dengan tradisi sangat penting.Strauss.

Sebagai contoh: babu. Sedangkan parole adalah percakapan sebenarnya. jelas sekali walaupun fonemnya hampir sama. Langue adalah sistem tata bahasa formal. Levi-Strauss Strauss belajar metode komparasi tentang geologi masyarakat (Marx) untuk menemukan geologi psikis (Freud) dan bagaimana pola umum objek dalam menjelaskan gejala yang tersembunyi. karena 19 juga menganalisa sistem simbol. karena perbedaan sistimatis tersebut. Bahasa adalah sistem tanda (sign). Menurut Fredinand de Saussure konsep bentuk (form) dan isi (content) penanda dan tinanda selalu memiliki bentuk dan isi. yaitu suatu ilmu yang lebih luas kajiannya dari pada Strukturalisme. tergantung dari relasinya. Kehidupan manusia dibentuk oleh struktur bahasa. Contoh: Jaran. Tinanda dari sebuah penanda dapat berupa apa saja. Isi bisa berubah. namun bentuknya tidak. Elemen dasarnya adalah katakata. Jadi ide tidak ada sebelum adanya kata-kata. Adanya langue menyebabkan adanya parole. Hubungan antara penanda & tinanda disebut ”arbiter”. tetapi artinya sangat berbeda. Saussure juga membedakan antara konsep “langue” & “parole”. Suara yang muncul dari sebuah kata adalah ”penanda” (signifier). Suara dapat dikatakan sebagai bahasa jika dapat mengekspresikan. horse adalah ”penanda”. sabu. Studi tentang struktur bahasa melalui “tanda” melahirkan Semiotics. ahli bahasa Swiss yang membangun Strukturalisme dari sudut ilmu bahasa struktural yg akhirnya menjadi teori Strukturalisme itu. yaitu cara pembicara mengungkapkan bahasa untuk dirinya sendiri dalam rangka berkomunikasi dengan orang lain. tabu.Dalam hal ini pengaruh pemikiran tokoh-tokoh terhadap strukturalisme Levi-Strauss cukup besar. Sedangkan ”binatang berkaki 4 (empat) & berlari kencang adalah ”tinanda”. kuda. konsep suara tersebut adalah ”tinanda” (signified). Kajiannya berupa relasi antara keilmuan yang inderawi dan yang linguistik rasional yang dilakukan oleh Fredinand de Saussure (1857-1913). sistem elemen phonic yg hubungannya ditentukan oleh hukum yg tetap. menyatakan atau menyampaikan ide atau pengertian tertentu. . Untuk dapat mengetahui kekhasan bentuk (distinctive form) ialah dengan mengenali perbedaan satu kata dengan kata yang lain (differensiasi sistematis).

Sebagai contoh: kata menggigit juga ada relasinya dengan memakan. dan memproduksi suara. Suatu kategori jadi exist atau bermakna. hanya ada dua sign (tanda) yang hanya memiliki makna bila masing-masing beroposisi dengan yang lain. Sedangkan paradigmatis atau asosiatif adalah relasi antara suku kata dengan kata lain diluar hubungan sintagmatis. Teori oposisi biner ini jadi terkenal setelah Levi Strauss menggunakan teori ini untuk menganalisa proses kultural seperti cara memasak. karena ditentukan oleh ketidak existan/ketidakbermaknaan kategori yang lain. mungkin lewat “gerengan” atau “raungan” sebagaimana ketika seekor harimau makan binatang buruan bersama itu. Selanjutnya menurut Saussure. text/bunyi *jeruk* punya arti/makna karena ada text bunyi lain macam *kelapa*. kegeraman. Contoh yang jelas dalam sistem biner adalah : laki-laki <--> perempuan. adalah bagaimana manusia itu merepresentasikan pikirannya lewat omongan. serta berusaha untuk membedakan sintagmatis dan paradigmatis. Tokoh Semiotics adalah Roland Barthes dan Fredinand de Saussure yang melakukan studi sinkronis (fakta bahasa sebagai sistem) bukan diakronik (historis bahasa & perubahan evolutifnya). Seseorang disebut laki-laki karena dia bukan perempuan. mengerogoti.bahasa tubuh. naskah sastra. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan secara struktural. ekspresi. Bahwa lahirnya bahasa dari segi arti/makna yang muncul dalam otak itu berasal dari komunikasi genital. Suatu kategori X tidak ada dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori Y. 20 mencaplok. dan lain sebagainya. Namun dari segi 'actual speech' atau omongan ('parole'). *bangku*. dan bentuk komunikasi. cara berpakaian. *pergi*. . Sintagmatis adalah hubungan yg dimiliki sebuah kata dengan kata sebelumnya. segala sesuatu arti/makna dapat dimasukkan dalam dua kategori. dan lain sebagainya. Contoh: kata menggigit akan berhubungan dg anjing. kedinginan. Kategori X ataupun kategori Y. Contoh lain adalah gunung <--> lembah. Saussure menyebutnya sebagai “oposisi biner”. dan lain-lain. Disebut gunung. Dalam sebuah struktur oposisi biner yang ideal. sampai mitos dalam masyarakat. Dalam sistem biner.

maka penghilangan salah satu bagian dari oposisi biner pasti akan meruntuhkan struktur Indonesia itu. Konsep oposisi biner mula-mula diteorisikan oleh ahli bahasa Ferdinand de Saussure. baik terhadap alam natural atau pun dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan. oposisi biner adalah 'the essence of sense making'. Kalau melihat struktur oposisi biner ini dapat disimpulkan bahwa suatu struktur (baik abstrak atau konkrit) selalu ada. tetapi Claude Levi-Strauss-lah yang membuatnya menjadi sangat berpengaruh. diabstrakkan jadi pemerintah yang kejam <> pemerintah yang ramah. tetapi dia juga digunakan untuk untuk memahami/menjelaskan kategori-kategori makna yang abstrak. Contoh sederhana adalah oposisi biner alamiah seperti batu <--> air diparalelkan dengan keras <-> lunak. Islam moderat dan Islam radikal serta hubungan struktural antara keduanya yang timpang dan bagaimana memperbaikinya. daratan <--> lautan. dan sistem penandaan ini digunakan untuk menstrukturkan persepsi serta pemahaman manusia pada dunia di luar mereka. militer-sipil. publik <--> privat. Terjadinya berbagai masalah di Indonesia mungkin disebabkan hilangnya salah satu bagian struktur oposisi biner tersebut. Oposisi biner ini juga dapat menjelaskan dan digunakan untuk menganalisa perkara GAM/OPM lawan NKRI. Bagi Strauss. seperti: . Dia lahir karena manusia punya sistem penandaan dalam otaknya (genital-communication). separatis lawan NKRI. yaitu struktur yang mengatur sistem pemaknaan kita terhadap budaya dan dunia tempat kita hidup. positip <--> negatip. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang 21 . Inilah pentingnya pengetrapan teori Strukturalisme pada fenomena aktual sekarang ini. Dia adalah berbentuk produk atau reproduksi budaya. Strauss merupakan Antropolog strukturalis yang banyak menggunakan teori-teori bahasa. Sistem oposisi biner ini oleh manusia tidak saja digunakan untuk mengkategorikan sesuatu yang hanya ada di dunia alamiah. Sistem oposisi biner tidaklah lahir secara natural.karena dia bukan lembah dan begitulah seterusnya. Kalau Indonesia disebut sebagai struktur yang terbentuk dari bermacam-macam oposisi biner. karena adanya sistem oposisi biner yang mendukung struktur tersebut.

yang bisa disebut dengan atau ‘kategori ambigu’ atau 'kategori skandal' (Strauss lebih senang menyebutnya dengan 'anomalous category‘. kita mengatur pemahaman dunia di luar kita.membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan. Ia adalah produk dari sistem penandaan. daratan dan lautan. dan bisa ditransfor-masikan dalam sistem-sistem oposisi biner yang lain. Keberadaan mereka ditentukan oleh ketidakberadaan yang lain. atau antara anak-anak dan orang dewasa. bisa disejajarkan dengan oposisi biner alam yang kejam dan alam yang tenang (abstrak). Contoh sederhana dari konsep ini misalnya diberikan oleh John Fiske (1994): konsep oposisi biner angin badai dan angin tenang (kongkret) misalnya. dan berfungsi untuk menstrukturkan persepsi kita terhadap alam natural dan dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan dan makna. Secara struktur oposisi biner berhubungan satu dengan yang lain. Dalam struktur oposisi biner yang sempurna. ia bukan bersifat 'alamiah'. Seseorang disebut laki-laki karena ia bukan perempuan. sesuatu itu disebut daratan karena ia bukan lautan. Strauss juga menyebutkan konsep dasar dari oposisi biner yaitu 'the second stage of the sense-making process': penggunaan kategorikategori sesuatu yang hanya eksis di dunia alamiah (sesuatu yang kongkret) untuk menjelaskan kategori-kategori konsep kultural yang abstrak. Tanpa kategori B. hanya ada dua tanda atau kata yang hanya punya arti jika masing-masing beroposisi dengan yang lain.‘Kategori anomali’ ini muncul dan mengganggu 22 . Dalam sistem biner. Oposisi biner adalah produk dari 'budaya'. Proses transisi metafor dari sesuatu yang abstrak dalam sesuatu yang kongkret ini dinamakan Strauss sebagai 'the logic of concrete'. begitu seterusnya. Oposisi biner menimbulkan posisi-posisi ambigu yang tidak bisa dimasukkan dalam kategori A atau kategori B. dan dengan memakai pengkategorian itulah. tidak akan ada ikatan dengan kategori A. Kategori A masuk akal hanya karena ia bukan kategori B. segala sesuatu dimasukkan dalam kategori A maupun kategori B. dan bahkan tidak akan ada kategori A. Suatu kategori A tidak dapat eksis dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori B. Misalnya dalam sistem biner laki-laki dan perempuan dan laki-laki.

sistem oposisi biner. Struktur terbagi dua. Antara orang hidup dan orang mati ada sesuatu yang disebut vampir. Kata tidak lagi dapat dianggap sebagai satuan linguistik paling dasar karena yang terkecil adalah fonem (satuan) bunyi yang terkecil dan berbeda. Oleh karena itu struktur juga oleh Levi-Strauss diartikan sebagai relations of relations atau system of relation (sistim relasi). Fonem adalah konsep linguistik bukan konsep psikologis. Pantai. perlu disampaikan konsep bahasa menurut para ahli linguistik yang mempengaruhi lahirnya teori ini. Perbedaan “t” dan “th” inilah yang disebut fonem (Nikolai Troubetzkoi). vampir/hantu/zombi. Hal yang perlu diperhatikan dalam Strukturalisme adalah adanya perubahan pada struktur tersebut. Transformasi harus dibedakan dari kata perubahan yang berarti change. ada posisi remaja. yaitu: Struktur permukaan/luar (surface structure): adalah relasi-relasi antar unsur yg dapat dibuat atau dibangun berdasarkan ciri-ciri empiris dari relasi tersebut. Antara anak-anak dan orang dewasa. Antara laki-laki dan perempuan ada gay/lesbian/banci. tapi pada struktur dalam tetap sama. Hanya bagian-bagian tertentu saja dari suatu struktur yang mengalami perubahan sedangkan elemen-elemen yang lama masih ada. Transformasi adalah perubahan bahasa pada struktur luar. sebagai contoh: kutuk dan kuthuk (Jawa). Perubahan yang terjadi dalam suatu struktur disebut dengan transformasi (transformation). Agar pemahaman mengenai teori strukturalisme LeviStrauss lebih baik. Antara daratan dan lautan. zombi. Pemahaman kita akan adanya struktur dalam setiap benda atau aktivitas manusia memudahkan identivikasi benda atau aktivitas tersebut. remaja. ada pantai. Sedangkan struktur batin/dalam (deep structure): adalah susunan tertentu yg dibangun atas struktur lahir yg telah berhasil dibuat. Diantara mereka yang sangat berpengaruh 23 . Sebagaimana sudah disebutkan di atas bahwa terbentuknya struktur merupakan akibat dari adanya relasi-relasi dari beberapa elemen. atau gay/lesbian/banci adalah 'kategori anomali'. Karena dalam proses transformasi tidak sepenuhnya berubah. hantu. Ia mengotori kejernihan batas-batas oposisi biner.

Levi-Strauss memiliki keyakinan bahwa studi sosial bisa dilakukan dengan model linguistik yaitu yang bersifat struktural. dan menurut dia secara psikologis pikiran kita terlepas dari perwudjudannya dalam kata-kata sebenarnya hanyalah “Shapeless and indistinct mass”. 1995. (Levi-Strauss. 2006). a. Sebagai penemu konsep linguistik modern. Dari ketiga pemikir linguistik ini. Terobosan pemikiran de Saussure dimulai pada pemikirannya mengenai hakekat gejala bahasa. wajar jika de Saussure dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh terhadap teori Strukturalisme. De Saussure berpendapat bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda linguistik atau tanda kebahasaan (linguistic sign). Ada lima pandangan de Saussure yang mempengaruhi Levi-Strauss dalam memandang bahasa. Ferdinand de Saussure Ferdinand de Saussure (1857-1913) merupakan penemu linguistik modern (Modern Linguistics).terhadap pandangan Levi-Strauss adalah. 56). Pemikiran ini kemudian melahirkan konsep struktural dalam bahasa dan juga semiologi atau yang sekarang disebut dengan semiotik (Ahimsa. Signifier dan signified. yang wujudnya tidak lain adalah kata-kata. Ferdinan de Saussure. 24 . Roman Jakobson dan Nikolay Trobetzkoy. 1. Signified (tinanda) dan signifier (penanda). 1978 dalam Ahimsa 2006). Yaitu. Bahasa adalah suatu sistem tanda (sign). Para Ahli bahasa yang berpengaruh pada pemikiran Levi Strauss Berikut ini adalah para pakar bahasa yang mempengaruhi Levi Strauss dalam proses pengembangan teori Struktulaisme. C. Gagasan terbesar de Saussure adalah pada teori umum sistem tanda (general theory of sign system) yang disebutnya dengan ilmu Semiologi (Semiology) (Winfried Noth. Bagi Saussure ide-ide tidak ada sebelum kata-kata.

Suatu benda yang ditempatkan pada posisi “kuda”. Form (bentuk) dan content (isi). Untuk menjelaskan konsep ini memang agak sulit. Wadah atau form adalah sesuatu yang tidak berubah. 35). Meskipun komponen “kuda” hilang seumpamanya. 2. Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (signifier). 19 dalam Ahimsya. akan tetap memiliki fungsi dan kedudukan yang sama dengan “kuda” yang hilang itu. Tanda adalah juga kesatuan dari suatu bentuk penanda yang disebut signifier. Langue (bahasa) dan parole (ujaran. 3. 25 . Dalam konsep ini. sedang konsepnya adalah tinanda (signified). Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa (Culler. meskipun dengan bentuk yang lain dari kuda itu tetap bisa menggantikan fungsi kuda yang digantikan tersebut. Kiasan yang sering digunakan untuk menggambarkan kedudukan wadah (form) dan isi adalah pergantian salah satu fungsi dari komponen permainan catur. Jadi benda apapun selama kita tempatkan dam posisi “kuda”. walaupun penanda dan tinanda tampak sebagai entitas yang terpisahpisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen dari tanda. isi boleh saja berganti tetapi makna dari wadah masih tetap berfungsi. 2006 h. tuturan). Fungsi “kuda” ini masih bisa digantukan dengan benda lain yang mirip atau tidak sama sekali dengan bentuk asli “kuda” yang digantikan. bukan menyatukan sesuatu dengan sebuah nama. 1976. dengan sebuah ide atau tinanda yang disebut signified. Setiap tanda kebahasaan pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citra suara (sound image).sesuatu yang tak berbentuk dan tak mengenal perbedaan-perbedaan atau tak bisa dibeda-bedakan.

Hal ini dikarenakan tanda itu sebagi suatu entitas yang bersifat relasional atau dalam relasi-relasi dengan tanda-tanda lain. Tuturan ini marupakan apa yang terwujud ketika kita mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang kita pergunakan. Karena tida semua fakta-fakta kebahasaan itu memiliki sejarah. Namun demikian. 2006. 1976. dan fakta-fakta kebahsaan yang mengalami evolosi (Culler. ia bisa mencerminkan kebebasan pribadi seseorang. via Ahimsa. 2006. 26 . de Saussure masih saja menekankan bahasa pada proses sinkronis. Dengan kata lain tuturan yang membedakan kita dengan orang lain melalui gaya bahasa. kesimpulannya bahasa diartikan sebagai “a system of pure values whcih are determined by nothing except the momentary arrangement of its terms” (Ferdinand de Saussure. Dalam langue terdapat norma-norma. Disisi lain parole merupakan tuturan yang bersifat individu. aturan-aturan antarperson yang tidak disadari tetapi ada pada setiap pemakai bahasa. Karena sifatnya yang evolutif maka tanda kebahasaan sepenuhnya tunduk pada proses sejarah. 4. via Ahimsa. Dari pengertian inilah akhirnya dapat dipahami bahwa untuk mempelalajari bahasa diperlukan pemahaman terhadap relasi-relasi atas elemen-elemen yang bersifat sinkronis. 46). Inilah kenapa langue membicarakan juga aspek sosial dalam linguistik. Sinkronis dan diakronis De Saussure meyakini akan adanya proses perubahan bahasa. 47).Pembahasan de Saussure bukan hanya fokus pada aspek bahasa semata tetapi juga aspek sosial dari bahasa. Komsep langue merupakan aspek yang memungkinan manusia berkomunikasi dengan sesama. Oleh karena itu keadaan ini menuntut adanya perbedaan yang jelas antara fakta-fakta kebahasasan sebagai sebuah sistem. 1966.

tetapi dipertimbangkan konvensi bahasa yang sudah ada. “memetik” dan “bunga”. Hubungan sintagmatik adalah hubungan yang dimiliki sebuah kata dengan kata-kata yang dapat berada di depannya atau di belakangnya dalam sebuah kalimat. Pertama. yaitu antara tahun 1914 sampai 1920. periode formalist. Konsep yang ditawarkan oleh Roman Jakobson (1896-1982) lebih condong pada para ahli bahasa dari Rusia (Rusian Linguist). Sepeti kata yang terdapat dalam kata “saya”. b. Kita memiliki kata yang mau kita gunakan sebagaimana penguasaan bahasa yang kita miliki. Hubungan sintagmatik dan paradigmatik terdapat dalam kata-kata sebagai rangkaian bunyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep (Ahimsa. Sintagmatik dan Paradigmatik. Tetapi menggunakan pertimbangan-pertimbangan akan kata yang akan digunakan. Ketiga kata ini bisa digabung menjadi kalimat “saya memetik bunga”. Dalam kontek ini de Saussure menyatakan bahwa manusia menggunakan kata-kata dalam komunikasi bukan begitu saja terjadi. Gabungan kata yang sesuai itu memiliki makna.5. 47). via Noth. ia dikenal sebagai pengembang Semiotika Klasik. Roman Jakobson Meskipun Jakobson terlahir setelah de Saussure. Koch (1981. Penggabungan kata ini tidak terjadi begitu saja. 1995. Pada periode ini Jakobson dikenal sebagai pendiri Moscow Linguistic Circle dan juga sebagai anggota kelompok Opoyaz yang sangat 27 . Atau gabungan kata “bunga mengalir” gabungan ini tidak memiliki makna karena tidak sesuai tata bahasa yang umum atau standar. 2006. Disinilah hubungan sintagmatik dan paradigmatik itu berperan. Karena seperti kata “memetik” tentu tidak bisa digabungkan dengan kata “mengalir”. 74) membedakan empat periode perkembangan penelitian mengenai karya-karya Jakobson.

” (1985:139). Jakobson merupakan figur yang paling mendominasi dalam Prague School of Linguistics and Aesthetics. Perbedaan tulisan antar /t/ dan /th/ mengakibatkan sedikit perbedaan pengucapan tetapi memiliki makna yang jauh berbeda. Dengan demikian kata diartikan sebagai satuan bunyi yang terkecil dan berbeda. need I add. a great deal more than I had bargained for. 52) berikut ini: “. gave me something very different and. Ketiga. Pengaruh yang besar Romand Jakobson disampaikannya sendiri oleh Levi-Strauss sebagaimana dikutib oleh Ahimsa (2006. This was the revelation of structural linguistics. antara tahun 1939 sampai 1949. yaitu antara tahun 1920 sampai 1939. 52). Dalam pemikiran Jakobson unsur terkecil dari bahasa adalah bunyi. Pada periode ini Jakobson bergabung dalam Copenhagen Linguistic Circle (Brondal.berpengaruh. “Kutuk” mengacu pada nama sejenis ikan gabus sedangkan “kuthuk” adalah anak ayam (Ahimsa. periode interdisciplinary yang dimulai pada 1949 yaitu saat ia mulai bekerja di Harvard dan juga MIT mengenai teori informasi dan komunikasi (Informatioan and Comunicatioan Theory). 2006. Kedua. Contoh kasus yang menujukan peranan penting fonem dapat kita lihat dalam dua kata antara “kutuk” dan “kuthuk” (basa Jawa). periode Semiotic. matematika dan juga fisika (1982).. periode stucturalist. Jakobson memberikan pandangan kepada Levi-Strauss tentang bagaimana memahami atau menangkap tatanan yang ada di balik fenomena budaya yang sangat variatif tersebut (Ahimsa.. 28 .His (Jacobson’s) lectures. Fonem sebagai unsur bahasa terkecil yang membedakan makna. however.. which provided me with a body of coherent ideas where I could crystallize my reveries about the wild flowers I had gazed at somewhere along the Luxembourg border early in May 1940. Pemikiran Jakobson berpengaruh besar pada diri Levi-Strauss pada konsepnya mengenai fenomena budaya. 2006). Hjelmslev) dan aktif dalam Linguistic Circle of New York. Keempat. meskipun fonem itu sendiri tidak bermakna..

dan realsi-relasi ini muncul karean adanya oposisi. Merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah-istilah kebahasaan mana dengan distinctive features yang mana yang dapat berkombinasi dengan tanda-tanda kebahasaan tertentu lainya. yakni perbedaan-perbedaan antartanda yang masih dapat saling menggantikan(Pettit. sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lian. 11. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Jakobson mempengaruhi Levi-Strauss pada tataran tatanan (susunan/order) yang ada di balik fenomena budaya (Ahimsa. 1977. Langkah-langkah struktural terhadap fonem yang dilakukan oleh Jakobson adalah. Jadi sebenarnya fonem tidak akan bermakna atau tidak memiliki isi. b.Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa fonem terbentuk karena adanya relasi-relasi. c. Jakobson yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis. 2006). Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada tidaknya ciri pembeda dalam tanda-tanda tersebut. yang hakiki dari sebuah fonem adalah relasi karena dengan begitu sebuah fonem baru memiliki fungsi yang jelas. Ahimsya. dan ini dilakukan dengan mengetahui ciri-ciri pembeda (distinctive features) dari suatu suara yang memisahkannya dengan ciriciri suara yang lain. 55). Mencari distinctive feature (ciri pembeda) yang membedakan tandatanda kebahasaan satu dengan yang lain. Memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah.perbedaan antartanda yang penting secara paradigmatis. Nikolai Troubetzkoy 29 . h. Menentukan perbedaan. unit-unit yang bermakna. d. a. c.

strategi analisis dalam fonogi haruslah struktural. strukturalisme merupakan aliran baru bagi studi antropologi. kecuali ahli fonologi dari kalangan mereka atau mereka yang pernah belajar lingusitik. Harus berupaya merumuskan hukum-hukum tentang gejala kebahasaan yang mereka teliti. Selanjutnya dia perlu. Asumsi Dasar Strukturalisme Dari pemahaman kita di atas. Memperlihatkan sistem-sisitem fonemis. 2006). Strukturalisme bertolak dari studi linguistik (ilmu bahasa). (Ahimsa. 59). dan bukan ide yang diambil dari pengatahuan pemakai bahasa tertentu yang diteliti. d. dan menjadikannya sebagai dasar analisisnya. karena relasi-relasi antar ciri-ciri pembeda dalam fonemlah yang menjadi pusat perhatian (Ahimsa. yang memiliki fungsi atau operasional dalam satu bahasa. tetapi dia harus. 2. Langkah analisis struktural dalam fonologi. 1. fonem sebagai sebuah konsep atau ide berasal dari para ahli bahasa. Memperhatikan relasi-relasi antar istilah atau antar fonem tersebut. Nikolai berpendapat bahwa fonem adalah sebuah konsep linguistik. 3.Nikolai mempengaruhi Levi-Strauss dalam hal strategi kajian bahasa yang berawal dari konsepsi mengenai fonem. Beralih dari tataran yang disadari ke tataran nirsadar. bukan konsep psikologis. 4. Karena itu sebaiknya para peneliti memperhatikan distinctive feature. Toubetzkoy menyarankan agar perhatian pada fenomena fonem sebagai sebuah konsep linguistik. ciri-ciri pembeda. Artinya. 30 . Pada tataran ini seorang ahli fonologi tidak lagi memperlakukan istilah-istilah (terms) atau fonem-fonem sebagai entitas yang berdiri sendiri. 2006. dan menampilkan struktur dari sistem tersebut. Dengan kata lain. Jadi fonem tidak dikenal oleh pengguna suatu bahasa. berbeda dengan pendekatan yang ada dalam fungsionalisme.

Relasi-relasi yang ada pada struktur dalam dapat diperas atau disederhanakan lagi menjadi oposisi berpasangan (binary opposition). secara formal semuanya dapat dikatakan sebagai bahasabahasa (Lane. 4. seperti halnya suatu kalimat dalam bahasa Indonesia hanyalah wujud dari secuil struktur bahasa Indonesia. pakaian dan sebagianya. Para penganut Strukturalisme beranggapan bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis sehingga kemampuan ini ada pada semua manusia yang normal. menyususun suatu struktur. 68). (Ahimsa. Dalam kehidupan sehari-hari apa yang kita dengar dan saksikan adalah perwujudan dari adanya struktur dalam tadi. 1970. melalui mana suatu konfigurasi struktural berganti menjadi konfigurasi struktural yang lain. Yaitu kemampuan untuk structuring. Mengikuti pandangan dari de Saussure yang berpendapat bahwa suatu istilah ditentukan maknanya oleh relasi-relasinya pada suatu titik waktu tertentu. Suatu struktur hanya mewujud secara parsial (partial) pada suatu gejala. Ahimsa (2006. 3. akan tetapi perwujudan ini tidak pernah kompolit. Hukum transformasi adalah keterulangan-keterulangan (regularities) yang tampak. 2006.Marxisme dan lain-lain. 66). sistemsistem kekerabatan dan perkawinan. untuk menstruktur. Dalam Strukturalisme ada angapan bahwa upacara-upacara. pola tempat tinggal. dengan istilah-istilah yang lain. yaitu secara sinkronis. atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya. 2. 31 . 66-71) menyebutkan bahwa strukturalisme memiliki beberapa asumsi dasar yang berbeda dengan konsep pendekatan lain. para penganut strukturalisme berpendapat bahwa relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena-fenomena yang lain pada titik waktu tertentu inilah yang menentukan makna fenomena tersebut. 13-14 Ahimsya. Beberapa asumsi dasar tersebut adalah sebagai berikut. 1.

Dengan demikian dapat kita pahami juga bahwa strukturalisme Levi-Strauss menekankan pada aspek bahasa. Realitas sosial adalah “teks” atau bahasa. Dengan metode analisis struktural makna-makna yang ditampilkan dari berbagai fenomena budaya diharapakan akan dapat menjadi lebih utuh. gubernur. bukannya sebagai seorang “pesinden”. Menurut perspektif Strukturalis itulah cara tutur kita yang sama sekali tidak menjelaskan apapun. dalam bahasa ada dua aspek: “penanda” ( signifier) dan “petanda” (signified). juga jika hanya secara analogis. dan tidak terkait dengan objek yang ditunjuk. Strukturalisme merupakan gerakan pemikiran yang kembali ke bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913). Dalam wacana ilmu-ilmu sosial. fenomena budaya pada dasarnya juga dapat ditanggapi dengan cara seperti di atas. Strukturalisme merupakan penerapan analisis bahasa ke wilayah sosial. camat dan sebagainya. Semua bisa dipahami secara otonom di tataran langue (logika-internal penunjuk). Keempat asumsi dasar ini merupakan ciri utama dalam pendekatan strukturalisme.Sebagai serangkaian tanda-tanda dan simbol-simbol. Kata presiden ada bukan karena kaitan logis internal dengan orang yang menjadi kepala pemerintahan presidensial. Ketika diterapkan ke dalam ilmu-ilmu sosial. dan bahasa selalu memiliki dua sisi: bahasa sebagai parole (tuturan percakapan lisan sebagai sisi eksekutif bahasa) dan sebagai langue (sistem tanda atau tata bahasa). Disamping itu juga Kebudayaan diyakini memiliki struktur sebagaimana yang terdapat dalam bahasa yang digunakan dalam suatu masyarakat. dan sebagai “tanda” (sign). melainkan karena kaitan dan perbedaannya dengan kata sultan. Sebagai contoh mengapa SBY disebut sebagai ”presiden”. implikasinya cukup jauh. Apa yang utama dalam analisis sosial adalah menemukan “kode tersembunyi” yang ada dibalik gejala 32 . Semenjak strukturalisme inilah muncul pendapat bahwa bahwa bahasa sebagai sistem tanda bersifat arbiter (arbitrary). Struktur bahasa mencerminkan struktur sosial masyarakat.

perbedaan kata ‘presiden’ dan ‘camat’ bukan sekedar bahwa ‘presiden’ ialah apa yang ‘bukan camat’. Ada paralel antara perspektif strukturalis dan fungsionalis. yaitu pengebawahan pelaku dan tindakan pelaku. ruang. melainkan karena perbedaannya dengan kata ‘raja’. melainkan sebagai pembentuk identitas yang bersifat konstitutif. sehingga model-model mengenai hubunganhubungan tersebut nampak berbeda-beda di antara ahli-ahli yang berbeda. ‘gubernur’. Derrida melihat ‘perbedaan’ bukan hanya sebagai cara menunjuk. waktu. Kalau mau mengerti masyarakat kapitalis. yang mempunyai implikasi pada tingkat pembahasan yang mereka lakukan 33 . “Kode tersembunyi” itulah struktur. e. Dalam kritik Giddens.kasat mata. sebagaimana langue menjadi kunci otonom di balik parole. Artinya. Tindakan individual dalam ruang dan waktu tertentu hanyalah suatu kebetulan. Seperti telah dicontohkan di atas. Ada dua unsur sentral di situ: sifat sewenang-wenang (arbitrary) dan perbedaan (difference). bidiklah logika-internal kinerja ‘modal’. kata ‘presiden’ terbentuk bukan karena kaitannya dengan seseorang yang menjadi kepala sebuah negara pada waktu-tempat tertentu. Penekanan yang telah diberikan adalah pada hubungan-hubungannya yang dilihat secara konseptual. Berbeda adalah menang-guhkan serta melawan. Sejumlah ahli Antropologi menggunakan cara-cara yang berbeda dalam melihat struktur sosial dalam kaitannya dengan agama dan upacara. Jacques Derrida. melainkan bahwa ‘bukan camat’ itu sendiri merupakan pokok eksistensi. Gejala penyingkiran pelaku tindakan atau subjek (decentering) dalam strukturalisme ini dibawa ke implikasi terjauhnya oleh para penggagas post-strukturalisme. ‘camat’ dan sebagainya. misalnya. perspektif ini merupakan “penolakan yang penuh skandal terhadap subjek”. dan proses adalah soal kebetulan. berbeda merupakan identitas itu sendiri.

Model-model dari Geertz yang berdasarkan pada model bagi dan model dari. yang berlandaskan pada konsep-konsepnya mengenai sistem-sistem simbol dan ide yang memberi informasi. struktur sosial yang merupakan bagian yang terorganisasi dalam kehidupan mereka menjadi dapat dipahami serta masuk akal secara sewajarnya bagi mereka. bahwa masing-masing model yang telah dibahas tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Secara umum dapatlah dikatakan. tetapi pada prinsipnya berlandaskan pada model-model yang sama. dan yang mewujudkan adanya perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. mitos dan upacara adalah sebagai jalan untuk memahami bagaimana manusia memahami dan menerima hakekat dari kedudukan dan peranannya dalam kehidupan sosial di masyarakatnya. yang walaupun berbelit-belit tetapi memberikan suatu ketegasan penjelasan mengenai arti kebudayaan dalam kaitannya dengan struktur dan dengan lingkungan yang dihadapi oleh manusia.serta pada tingkat pengertian yang mereka peroleh dengan menggunakan model-model tersebut. Dengan demikian maka juga nampak bahwa masing-masing model tersebut mempunyai relevansi dan validitas yang terbatas sesuai dengan tujuan penggunaannya dalam hal mengkaji hubungan antara struktur sosial di satu pihak dengan agama dan upacara di pihak lainnya. Analogi yang berlandaskan pada sistem penggolongan yang dilakukan oleh Hertz dan Cunningham. Sedangkan Cunningham memperlihatkan adanya suatu 34 . Geertz menyatakan bahwa studi mengenai agama. yaitu dengan berlandaskan pada sistem klasifikasi yang menjadi dasar dan yang ada dalam agama. 2. Hertz melihat bahwa agama berperan terhadap adanya semacam polarisasi dalam kehidupan sosial dari individu maupun bagi seluruh warga masyarakat yang bersangkutan. yang walaupun masing-masing berbeda dalam hal kedalaman dan luasnya cakupan dari model klasifikasi yang digunakan.

yaitu suatu sistem yang menjadi pegangan bagi manusia pada waktu mereka mengklasifikasi dunia yang mereka hadapi. agama adalah suatu bagian dari struktur sosial. sebagaimana juga dengan pendahulu-pendahulunya yaitu Durkheim dan RadcliffeBrown. tetapi sebagai model bagi kenyataan. Dalam perhatiannya mengenai mitos. Model-model hubungan yang dibuat berdasarkan atas prinsip. Turner melihat bahwa upacara berperan untuk membuat individu dapat menjadi cocok dengan masyarakatnya dan membuatnya dapat menerima aturan-aturan yang berlaku. dapat membantu usaha-usaha mengenai struktur sosial karena mitos selalu berhubungan dengan masyarakat dan berbicara mengenai masyarakat tersebut baik 35 . Levi-Strauss menyatakan bahwa mitos sebagai agama atau sebagai bagian dari agama.prinsip kesadaran kolektif dan primordial yang dilakukan oleh Levi-Strauss dan Victor Turner. Menurut Levi-Strauss. Levi-Strauss percaya bahwa dengan melalui studi mengenai agama dan mitos akan dapat diperoleh suatu pemahaman mengenai pengertian struktur sosial yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan.keteraturan (order). maka sesungguhnya ide-ide yang terletak dibalik aturan-aturan tersebut secara simbolik telah juga diterima. Upacara adalah tempat bagi perwujudan ketaatan atas aturan-aturan yang diikuti tersebut dalam bentuk berbagai tindakan yang dapat dilihat sebagai simbol dan metafor. Model ini adalah suatu sistem yang mempunyai kesanggupan untuk memprediksi atau meramalkan dan membuat kenyataan dapat menjadi masuk akal dan dipahami. Levi-Strauss melihat struktur sosial bukan sebagai kenyataan yang dapat diamati. yang walaupun mempunyai landasan model-model sendiri yang sesuai dengan perhatian yang dipunyai masing-masing maka juga telah menghasilkan pengertian-pengertian yang berbedabeda antara yang satu dengan yang lainnya. Pada waktu pegangan yang berisikan aturan-aturan itu diikuti/ditaati oleh manusia. 3.

yang antara lain terwujud dalam penekanannya pada bentukbentuk kelakuan yang wajar dan tepat menurut bidang atau arena sosial yang ada. sehingga kedudukan dan peranannya menjadi jelas dan penerimaannya atas berbagai tahap dan keadaan kondisi kehidupan yang dihadapi dan dialaminya dapat diterima secara masuk akal baginya. Yang sebenarnya patut diperhatikan dalam pengkajian mengenai hubungan antara struktur sosial dengan agama dan upacara adalah dalam hal kaitannya dengan kenyataan-kenyataan sosial dan ekonomi yang ada dalam lingkungan hidup yang dihadapi oleh para pelakunya dalam masyarakat. Membentuk dan mendukung berlakunya nilai-nilai yang ada dan mendasar dari kebudayaan suatu masyarakat. Salah satu dari peranannya yang jelas terlihat adalah bahwa dalam keadaan kekacauan dan kesukaran. Agama menyajikan berbagai penjelasan mengenai hakekat kehidupan manusia dan lingkungan serta ruang dan waktu yang dihadapi manusia dan yang dirinya sendiri adalah sebagian dari padanya. agama mempunyai berbagai fungsi penting yang terwujud dalam berbagai cara yang berbeda dalam kehidupan sosial manusia. Fungsi-fungsi tersebut antara lain adalah: 1. Karena. agama memainkan peranan yang besar bagi individu-individu yang bersangkutan karena agama menyajikan penjelasan dan bertindak sebagai kerangka 36 . kebingungan dan jiwa tertekan. 2. Sehingga pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan relevansi dari sesuatu keyakinan keagamaan dan upacara yang dilihat sebagai struktur sosial ataupun sebagai corak hubungan yang terwujud antara struktur sosial dengan agama dan upacara. maupun masa yang akan datang. yaitu etos dan pandangan hidup. bukanlah harus dilihat dalam konteks struktur itu sendiri tetapi dalam suatu konteks yang lebih luas dan berlandaskan pada kehidupan yang nyata yang dihadapi oleh para pelaku yang bersangkutan. sekarang.mengenai masa yang lampau.

Demikian halnya dengan teori Strukturalisme LeviStrauss ini.sandaran bagi ketentraman dan penghiburan hati dalam keadaan kesukaran dan kekacauan yang dihadapi tersebut. yaitu dalam rangkuman struktur sosial. dapatlah dikatakan bahwa untuk dapat memperoleh pemahaman mengenai hakekat dan corak dari struktur sosial. dibenarkan. Perangkat dan Metode Analisis Ahimsa (2006. Strukturalisme ini mendapat kritik terutama dari para ahli antroplogi itu sendiri. Kritik yang berkenaan dengan teori Strukturalisme Levi-Strauss dapat dilihat pada persoalan perangkat dan metode analisis. Agama mempunyai peranan untuk menyatukan berbagai faktor dan bidang kehidupan ke dalam suatu pengorganisasian yang menyeluruh. Model-model yang telah dibahas tersebut di atas dapat digunakan secara terseleksi. data etnografi dan interpretasi. serta hasil analisis dan kesimpulan dari hasil analisis teori tersebut. a). kita dapat mempelajari dan mengkaji agama. ) menyebutkan bahwa kritik terhadap perangkat dan metode analisis dapat dibedakan menjadi tiga. mitos dan upacara sehingga dapat menemukan dan kemudian menentukan apa yang seharusnya dijelaskan. a. Begitu juga sebaliknya kalau kita ingin memahami hakekat dan corak dari agama yang diyakini oleh warga suatu masyarakat. Keduanya mempunyai peranan yang penting dalam mengko-ordinasi titik temu antara struktur sosial dengan agama dan antara agama dengan kehidupan yang nyata. yaitu tergantung pada masalah yang hendak dikaji dan kenyataan kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat dimana pengkajian itu hendak dilakukan. pasti akan terdapat celah-celah kekurangan dan kelemahanya. Kelemahan dan kelebihan Strukturalisme Levi-Strauss Seberapapun sempurnanya suatu teori. Cara menggunakan 37 . dan didukung dalam suatu masyarakat. D. Sebagai akhir kata. yang dimungkinkan oleh adanya peranan dari mitos dan upacara. 3.

Marry Douglas mengkritik mengenai cara penggunaan konsep-konsep analisis. Levi-Strauss pernah mengatakan bahwa untuk memahami sebuah mitos lebih penting memahami struktur daripada isi cerita. Cara ini sangat kurang tepat untuk menganalisis mitos sebagai produk budaya manusia yang sangat kompolek. Levi-Strauss sering tidak konsisten dengan analisis yang dikembangkan. b. 162). Dalam persoalan ini. Namun dalam prakteknya ia tidak melakukan analisis seperti yang digambarkan. b).konsep-konsep analisis. Interpretasi Data Etnografi Data etnografi sangat penting dalam menelaah mitos. Disisi lain ia juga berpendapat bahwa dalam mitos isi dan bentuk tidak bisa dipisahkan (Yalman. Levi-Strauss sering membuat kesimpulan-kesimpulan yang dianggap terlalu jauh. Menurut para 38 . 1967 dalam Ahimsa. 2006). Kedua. Douglas menyebut dua reduksionisme yang dilakukan oleh Levi-Strauss yaitu pada model komputer yang dipakainya dan adanya dua tujuan dalam analisis wacana (Ahimsa. Strukturalisme Levi-Strauss memiliki beberapa kelemahan. 2006. tetapi juga pada tataran semantis yang berarti isinya juga. Dalam beberapa analisisnya ia tidak hanya menlaah pada tataran sintaksis. Konsistensi prosedur analisis dan c). 164). 2006. Reduksi dalam proses analisis. Hal ini dikarenakan mitos tidak pernah lepas dari kontek budaya masyarakat setempat dimana lahirnya mitos tersebut. menurutnya Levi-Strauss tidak selalu menggunakan konsep analisisnya dengan tepat. Karena ketidaktepatan itu. Cara analisis menggunakan sistem ini akan mengurangi kesempurnaan analisis karena akan mengalami kelemahan makna (a lesser meaning). Douglas menyebutkan bahwa Levi-Strauss sering memaksakan datanya agar sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya (Ahimsa. Levi-Strauss menggunakan cara analisis reductionist (reduksionis). Ketiga.

oleh Strauss dipaksakan sesuai apa yang menjadi konsepsinya. Persoalan terhadap suku ini yang sebenarnya sederhana dan bahkan tidak ada. Kronenfeld. Kronenfeld dan DB. Bahkan analsisnya dianggap mengalami kesalahrepresentasi-an. Kemampuan analisis struktural menuntaskan tafsir yang diberikan. Kebenaran struktur mitos yang dikemukakan. Menurut Adam gagasan Levi-Strauss terhadap suku ini terlalu diada-adakan. b). JZ. Alice Kassakoff (1974) ahli antropologi ini melakukan penelitian suku Indian Tsimshian yang telah dianalisis oleh teori Strukturalisme Levi-Strauss ini. (Ahimsa. Pendapat ini juga didukung oleh tiga ahli antropologi lain yakni. Hasil Analisis. c. 168). 2006. Ketiganya menyimpulkan bahwa analisis Strukturalisme Levi-Strauss dianggap penuh dengan generalisasi-generalisasi etnografi yang sangat diragukan kebenarannya. (misrepresentasions of story). Pengertian mitos yang cenderung dianggap negatif oleh LeviStrauss ditolak oleh Douglas. seperti Alice Kassakoff dan John W. Adam keakuratan data etnografi yang disampaikan Levi-Strauss belum seutuhnya mendukung dari apa yang disampaikan. Douglas beranggapan bahwa masih ada 39 .antropolog. Ahimsa (2006) menyatakan bahwa hasil analisis kritik dapat dibedakan dalam beberapa hal. Justru dengan tindakan seperti inilah teori ini kridibilitasnya masih perlu untuk disangsikan. Thomas. Bukan sekedar metode dan data etnogarfi yang nampaknya dipersoalkan dalam Strukturalisme Levi-Strauss.L. Hasil analisisnya pun masih banyak mendapat kritikan dari berbagai kalangan terutama para ahli antropologi. Ia menyatakan bahwa analisis Strauss justru menutupi realistas kekerabatan yang ada pada suku Indian tersebut. L. Adam (1974) mengkritik mengenai hasil analisis Strukturalisme Levi-Strauss terhadap suku Asdiwal. a). Lain lagi dengan pendapat Alice.

and often a paltry one at that”. “Instead of more and richer depths of understanding. Banyak manfaat yang kita dapatkan dari teori Strukturalisme LeviStrauss ini. Maybury-Lewis (1970) menyatakan bahwa banyak hal yang berhasil membuka perspektif-perspektif baru dalam analisis mitos yang telah dilakukan oleh Levi-Strauss. karena kita menyadari juga bahwa teori ini masih baru dalam bidang antropologi. 20006. a totally new theme. ( Douglas. Beberapa Tanggapan Betapapun banyaknya kekurangan dan kelemahan yang terdapat dalam Strukturalisme Levi-Strauss. we get a surprise. d. ternyata masih mengakui beberapa kemanfaatan dari 40 . Hal yang demikian ini terjadi karena Levi-Strauss terlalu banyak mencontoh model yang diterapkan dalam ilmu bahasa (linguistik) yang menurut Douglas tidak cocok jika diterapkan dalam analisis mitos. Metoda ini justru dianggap mengalami kebocoran seperti yang diistilahkan Ahimsa dalam tulisannya. sehingga tentunya masih banyak penyesuaian dan pendalaman (penyempurnaan).aspek-aspek positif mengenai makna mitos. Metode analisis yang dilakukan oleh Levi-Strauss dalam analisis mitos menggunakan model analisis puisi denganggap tidak tepat. Tema-tema mitos yang terdapat dalam suatu masyarakat masih banyak yang mengungkap realitas sosial yang positif. Douglas yang sebelumnya banyak melakukan kritik. Selanjutnya Douglas menyatakan bahwa makna mengenai mitos yang dikemukakan oleh Levi-Strauss dianggap biasabiasa saja dengan istilah lain tidak begitu penting. 170). 1967 dalam Ahimsa. tentunya banyak hal yang dapat menjadi kelebihan dari teori ini. Maka wajar kiranya banyak yang menghujat sekaligus memuja teori ini.

176). Strauss yang meninggal pada akhir tahun 2009 di akui sebagai Antropolog/Sosiolog yang sangat terkemuka. karena teorinya selalu dirujuk oleh 41 .Strukturalisme Levi-Strauss ini. yang tidak terduga dan menarik. E. Yalman (1967) menyebutkan bahwa berkat jasa yang dilakukan oleh Levi-Strauss kita mengetahui keterkaitan antara mitos yang satu dengan yang lain. struktur dan koherensi logis dalam mitos. 2006. Teori muncul sebagai kritik atas kegagalan filsafat Eksistensialisme yang gagal dalam memahami realitas sosial pada kehidupan kelompok manusia. makna-makna yang sangat dalam. dari serangkaian mitos-mitos tertentu (via Ahmisa. Secara umum dapat disimpulkan bahwa meskipun para ahli antropologi melakukan kritik terhadap teori Strukturalisme Levi-Strauss mereka masih mengakui beberapa keunggulan atau manfaat dari jerih payah Levi-Strauss. Masuk akal. Dan inilah yang menunjukan pada kita akan keterkaitan mitos dan budaya masyarakat yang terdapat dalam mitos tersebut. Penutup Dari uraian diatas terbukti bahwa Strukturalisme Levi-Strauss berasal dari teori Antropologi yang analisisnya oleh bagaimana ahli bahasa memahami struktur dalam komponen bahasa. Ia menyatakan teori ini telah mampu mengungkapkan acuan-acuan tertentu. menarik dan mampu memberikan wawasan atau wacana tentang mitos yang sangat penting itu. berhasil menemukan Teori Stukturalisme yang akhirnya sangat mempengaruhi perkembangan ilmu-ilmu sosial termansuk Sosiologi baik di Eropa maupun di Amerika dan bahkan di negara-negara lain termansuk Indonesia. Stauss ketika berkesempatan melakukan penelitian tearhadap suku-suku terasing di lembah Amazon Brazil. Terpengaruh oleh ahli-ahli bahasa yang sebelumnya sangat marak dalam kehidupan ilmiah di Prancis. Ada susunan. Bahkan apa yang digagas oleh Levi-Strauss melalui metode struktural ini dapat dikatakan banyak benarnya.

Shri. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. Universitas Gadjah Mada. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng42 . 1994. baik yang berupa realitas maupun yang tersembunyi. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra. Kalam 6 : 124-143. sehingga para intelektual berhasil memahami kehidupan sosial. 1995. 1998c. H. 1998b. 1998a. Makalah seminar.S. Teori Strukturalisme masih terus relevan sampai berumur satu abad walaupun penemunya Levi-Strauss sudah tiada. Orang-Orang PKI. O. ___________. H. Basis XXXIII (4) : 122-135. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. relasi sosial dan peran struktur dalam mewarnai prilaku individu dalam kehidupan sosial menjadi lebih jelas. T. 1997. DAFTAR PUSTAKA Abdullah.. 1984. Yogyakarta. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. Makalah seminar. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. ___________. Ahimsa-Putra. Makalah seminar Arkeologi. Yogyakarta : LKIS. 2006. Kawin Bedil dan Sobrat. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. Paz. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”.para pakar pakar ilmu-ilmu sosial dan analisisnya diakui sebagai analisis yang cemerlang. kepel Press. ___________. Dengan analisis ini pemahaman tentang struktur. ___________. Nalar Jawa. 2005. ___________. “Lévi-Strauss. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. Tesis Pascasarjana Antropologi. ___________. Ahimsa-Putra.

Jakarta : UI Press. September – Desember. 2000b. C. ___________. Satu Model. Satwa. 2002c. Makalah bedah buku. 2001. 2002b. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. Roland Barthes : dari Strukturalisme Strukturalisme. Strukturalisme Lévi-Strauss. ___________. 2006a. 2005. Abror. Makalah diskusi. ___________. Humaniora XV (3) : 239 – 264. ___________. ke Post- ___________. Salam (ed). Gerbang 5 (2) : 88 – 97. Humaniora 12 : 1 – 13. Tiga Dasawarsa. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. ___________. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. ___________. A. Totem.Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. ___________. ___________. Makalah seminar. Yogyakarta : Galang Press. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Rahayu S. 1999a. ___________. Yogyakarta : Insight Reference. Badcock. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. 1999b. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. Makalah seminar. ___________. 1999c. 2002a. 43 . 2002d. Makalah dalam bedah buku. 2000a. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. Makalah Pelatihan. Mitos dan Karya Sastra.I : 10 – 19. Terj. Tembi 1 Thn. Robby H. ___________. 2003. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. Mitos dan Nalar Primitif. (ed). ___________. 2002e. Dua Paradigma. Makalah Sarasehan. ___________.

“Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. Strauss. Pustaka Pelajar. Fokkema. Anthropologie Structurale (Terj. The Harvester Press Limited.). 2007b. 2006d. Universitas Gadjah Mada. The Theory of Culture (Teori Budaya). Indiana university Press. T. Sawerigading. Lane. Antropologi Struktural. H. Edisi Baru. David. 2006e. 44 . Ngaju. Daiches. Critical Approaches to Literature. Jakarta : Rajagrafindo Persada. D. Tesis Pascasarjana Antropologi.). Liwa : Analisis Strukturalisme LéviStrauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito.W. The Penguin Press. Ritus Pertukaran”. Abdullah (ed. ___________. Nasrulah. Makalah seminar nasional. 1958. 1999. David. ___________.. ___________. Allen. ___________. Mitos dan Karya Sastra. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. Metodologi dan Etnografi. Strukturalisme Lévi-Strauss. Kreasi Wacana. 2008. Gramedia. Kaplan. Ritus Penandaan. 2007). Ahimsa-Putra (ed. 1985. 1998. Teori Sastra Abad Kedua Puluh (Theories of Literature in the Twentieth Century).. Yogyakarta. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. 2007a.___________.S. Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. 2008a. Kepel Press : Yogyakarta. 1968. Noth. Bloomington and Indianapolis. Jakarta. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasi-relasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. Makalah bedah buku. ___________. Selden. Winfried. New York. ___________. 2008b. 2006b. Ngawa. Levi. Yogyakarta. Longman. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. Sussex. 1981. dkk. 1995. A Reader Guide to Contemporary Literary Work. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. Raman. Structural Anthropology. 2006c. Yogyakarta : Kepel Press. ___________. Hand Book of Semiotics. Makalah seminar. Claude. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya BugisMakassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya BugisMakassar. Ngambu.

Sperber. J. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. D. Erdward Said. Pengantar singkat wacana post strukturalisme dalam kesusasteraanStrukturalisme dibangun atas prinsip Saussure* bahwa bahasa sebagai sebuah sistem 45 . Oxford : Oxford University Press. “Introduction” dalam Structuralism and Since : From LéviStrauss to Derrida. J. Sturrock (ed. Kreasi Wacana. 1958. Roland Barthes. 2007). J. Levi.Strauss. Oxford : Oxford University Press. Sturrock.). For the best results. Berkenalan dengan Poststrukturalisme oleh : easternwriter Pengarang : Jacques Derrida. 1979. Antropologi Struktural. Yogyakarta. Sturrock (ed.). Anthropologie Structurale (Terj. Claude. 1979. click here! • • • • Daftarkan diri Apakah Shvoong itu? Masuk Write & earn Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong. Ferdinand de Saussure • • • • Summary rating: 3 stars (15 Tinjauan) Kunjungan : 2286 kata:600 You searched for: "strukturalisme".

Derrida menyerang pandangan logosentrisme dan menilai bahwa tulisan merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi. mengenalkan aspek sesaat ke dalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified. Derrida sepakat dengan Saussure bahwa bahasa merupakan produk yang berbeda antar penanda. Derrida menilai bahwa Saussure tak dapat membebaskan dirinya dari pandangan logosentris. merusak logonsentrisme dengan menyatakan bahwa makna tak pernah dapat mewakili seluruhnya karena makna tersebut selalu ditangguhkan.tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). Praktik “dekonstruksi ”**-nya ini berdasar pada teks yang dia teliti yang berpengaruh besar pada kritik 46 . yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa. buah karya pemikiran psikoanalis Jacques Lacan dan ahli teori kebudayaan Michael Foucault juga berperan penting dalam kemunculan post strukturalisme tersebut. berpikir sementara menjadi hal yang utama. Selain itu. tapi dia berpikir melampaui Saussure dalam menegaskan bahwa dimensi sesaat (temporal dimension) tak dapat ditinggalkan. sejak ia mengunggulkan bahasa di atas tulisan. Derrida menekankan “logosentrime” (berpusat pada logos) pemikiran barat bahwa makna dipahami sebagai independensi bahasa yang dikomunikasikan dan tidak tunduk pada permainan bahasa. penanda selalu produktif. Derrida percaya bahwa penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung ke dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking). Dalam tulisan. dilihat sebagai bagian yang kurang penting. Aspek diakronis bahasa.Perumusan dasar “differance” Derrida disusun dengan mempermainkan pada kata perancis ‘difference’. yang dapat berarti ‘pertentangan’ dan “penundaan”. Dalam pemikiran post strukturalis.Tokoh utama yang paling berpengaruh pada era kritik sastra post-strukturalis adalah seorang filsuf perancis Jacques Derrida.

Essainya yang berjudul “Structure.. Pemikiran post strukturalis juga berkembang di di Amerika pada tahun 1970-an. Diterbitkan di: Januari 04.sastra. pertama kali disampaikan di John Hopkins University pada tahun 1966. De Man berpendapat bahwa sastra digabungkan oleh permainan (play) yang tak dapat ditentukan secara gramatikal dan retoris dalam teks dan tidak dengan pertimbangan estetis. Edward W Said menerima pandangan post strukturalis tapi menolak pada apa yang dia lihatnya sebagai pendekatan tekstual sempit ala Derrida.Essay Roland Barthes.. Teoritikus terkemuka Yale adalah Paul de Man yang berpendapat bahwa teks sastra telah tergabung dengan “pertentangan” Derrida. atau disebut para dekonstrusionis Yale. khususnya di kalangan kritikus yang tinggal di Yale. and Play in the Discourse of the Human Sciences” . 2008 23 45Moho n ringkasa n ini dinilai : ilai :1 Link yang relevan : • http://sulhanudin. Sign. De Man berpendapat bahwa ada devisi radikal dalam teks sastra antara gramatikal atau struktur logika bahasa dan aspek retorisnya. Hal ini menciptakan sebuah signifikansi (penandaan) dalam teks sastra yang pada akhirnya tak dapat ditentukan. mengadopsi sebuah pandangan tekstual bahasa dan makna secara radikal dan dengan jelas menunjukkan perannya dalam post strukturalis.info/2006/01/berkenalan-dengan-poststrukturali . sangat berpengaruh dalam teori kritik sastra. misalnya pada New Criticsm. 47 . “The Death of the Author” pertama kali dipublikasikan pada tahun 1968. Dia berpendapaat bahwa karya Foucault memungkinkan kritik sastra melampaui dimensi sosial dan politis teks.

com/ Mengolah Kemelayuan di Asia Tenggara Mari Membaca Isi (Ratusan) Novel Sastra Indonesia! Kritik Sastra Indonesia dari Australia Dua “Kiblat” dalam Sastra Indonesia Lainnya tentang Ilmu Sosial • • • • • • PRRI. click here! • Kutipan • Dan. Dapat. Bahwa.blogspot. Dengan. • • • • • • • • • Sastra. Dalam. Bahasa. Post Buat kutipan untuk ringkasan ini Tambahkan komentar Anda Terjemahkan Kirim Link Cetak Share Orang yang membaca ringkasan ini juga membaca: • • • • • • PERS NASIONAL. For the best results. Perjuangan Koreksi Keakbaran Penyair Tongkat-Baudelaire Bagaimana Kita Menilai PRRI? Renungan 61 Tahun Republik Proklamasi Intelektual Minang Provinsi Minangkabau Sajak "Malaikat" Saeful Badar Yang Tetap Hadir 48 . TIDAK CUKUP DENGAN MITOS http://helaby-boys.You searched for: "strukturalisme". Pada. Derrida.

Paling populer Ringkasan lain oleh easternwriter • • • • • Menulis adalah Jalan Hidupku Petualangan Celana Dalam: Tren awam menulis sastra Opera Zaman: Perlukah Faktualitas dalam Cerpen Tetralogi Laskar Pelangi: Andrea Tak Melawan Pasar Pengakuan Korban NII (1) More Berikut Yang paling banyak dicari • • • • • • • • • • • • • • • tips bisnis kesehatan uang wanita cinta trik jantung pria 2012 berita blog Seks dunia kiamat Tulis dan dapatkan bayaran 49 .

.

Strukturalisme dan Implikasinya
8Oct2008 Filed under: Epistemology, Paradigm and Perspective, Philosophers, Philosophy, Postmodern Author: Arif

Pengantar Strukturalisme merupakan suatu gerakan pemikiran filsafat yang mempunyai pokok pikiran bahwa semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai suatu struktur yang sama dan tetap. Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual obyek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan. Strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur inti dari suatu obyek (hirarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat) (Bagus, 1996: 1040) Gagasan-gagasan strukturalisme juga mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi interdisipliner tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu alam. Akan tetapi introduksi metode struktural dalam bermacam bidang pengetahuan menimbulkan upaya yang sia-sia untuk mengangkat strukturalisme pada status sistem filosofis. (Bagus, 1996: 1040) Ferdinand de Saussure Untuk mengenal lebih lanjut tentang strukturalisme maka ada baiknya untuk menyimak pemikiran Ferdinand de Saussure yang banyak disebut orang sebagai bapak strukturalisme, walaupun bukan orang pertama yang mengungkapkan strukturalisme. Banyak hal yang menunjukkan Ferdinand de Saussure adalah bapak strukturalisme. Selain ia sebagai bapak strukturalisme ia juga sebagai bapak linguistik yang ditunjukkan dengan mengadakan perubahan besar-besaran di bidang lingustik. Ia yang pertama kali merumuskan secara sistematis cara menganalisa bahasa, yang juga dapat dipergunakan untuk menganalisa sistem tanda atau simbol dalam kehidupan masyarakat, dengan menggunakan analisis struktural. Ia mengatakan bahwa linguistik adalah ilmu yang mandiri, karena bahan penelitiannya, yaitu bahasa, juga bersifat otonom. Bahasa adalah sistem tanda yang paling lengkap. Menurutnya ada kemiskinan dalam sistem tanda lainnya, sehingga untuk masuk ke dalam analisis semiotik, sering digunakan pola ilmu bahasa. De Saussure mengatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang mengungkapkan gagasan, dengan demikian dapat dibandingkan dengan tulisan,
50

abjad orang-orang bisu tuli, upacara simbolik, bentuk sopan santun, tanda-tanda kemiliteran dan lain sebagainya. Bahasa hanyalah yang paling penting dari sistemsistem ini. Jadi kita dapat menanamkan benih suatu ilmu yang mempelajari tandatanda di tengah-tengah kehidupan kemasyarakatan; ia akan menjadi bagian dari psikologi umum, yang nantinya dinamakan oleh de saussure sebagai semiologi. Ilmu ini akan mengajarkan kepada kita, terdiri dari apa saja tanda-tanda itu, kaidah mana yang mengaturnya. Karena ilmu ini belum ada, maka kita belum dapat mengatakan bagaimana ilmu ini, tetapi ia berhak hadir, tempatnya telah ditentukan lebih dahulu. Linguistik hanyalah sebahagian dari ilmu umum itu, kaidah-kaidah yang digunakan dalam semiologi akan dapat digunakan dalam linguistik dan dengan demikian linguistik akan terikat pada suatu bidang tertentu dalam keseluruhan fakta manusia. Gagasan yang paling mendasar dari de Saussure adalah sebagai berikut: 1. Diakronis dan sinkronis: penelitian suatu bidang ilmu tidak hanya dapat dilakukan secara diakronis (menurut perkembangannya) melainkan juga secara sinkronis (penelitian dilakukan terhadap unsur-unsur struktur yang sezaman) 2. Langue dan parole: langue adalah penelitian bahasa yang mengandung kaidah-kaidah, telah menjadi milik masyarakat, dan telah menjadi konvensi. Sementara parole adalah penelitian terhadap ujaran yang dihasilkan secara individual. 3. Sintagmatik dan Paradikmatik (asosiatif): sintagmatik adalah hubungan antara unsur yang berurutan (struktur) dan paradikmatik adalah hubungan antara unsur yang hadir dan yang tidak hadir, dan dapat saling menggantikan, bersifat asosiatif (sistem). 4. Penanda dan Petanda: Saussure menampilkan tiga istilah dalam teoi ini, yaitu tanda bahasa (sign), penanda (signifier) dan petanda (signified). Menurutnya setiap tanda bahasa mempunyai dua sisi yang tidak terpisahkan yaitu penanda (imaji bunyi) dan petanda (konsep). Sebagai contoh kalau kita mendengan kata rumah langsung tergambar dalam pikiran kita konsep rumah. Strukturalisme termasuk dalam teori kebudayaan yang idealistik karena strukturalisme mengkaji pikiran-pikiran yang terjadi dalam diri manusia. Strukturalisme menganalisa proses berfikir manusia dari mulai konsep hingga munculnya simbol-simbol atau tanda-tanda (termasuk didalmnya upacaraupacara, tanda-tanda kemiliteran dan sebagainya) sehingga membentuk sistem bahasa. Bahasa yang diungkapkan dalam percakapan sehari-hari juga mengenai proses kehidupan yang ada dalam kehidupan manusia, dianalisa berdasarkan strukturnya melalui petanda dan penanda, langue dan parole, sintagmatik dan paradikmatik serta diakronis dan sinkronis. Semua relaitas sosial dapat dianalisa berdasarkan analisa struktural yang tidak terlepas dari kebahasaan.
51

Dalam memahami kebudayaan kita tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip dasarnya. de Saussure merumuskan setidaknya ada tiga prinsip dasar yang penting dalammemahami kebudayaan, yaitu: 1. Tanda (dalam bahasa) terdiri atas yang menandai (signifiant, signifier, penanda) dan yang ditandai (signifié, signified, petanda). Penanda adalah citra bunyi sedangkan petanda adalah gagasan atau konsep. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya konsep bunyi terdiri atas tiga komponen (1) artikulasi kedua bibir, (2) pelepasan udara yang keluar secara mendadak, dan (3) pita suara yang tidak bergetar. 2. Gagasan penting yang berhubungan dengan tanda menurut Saussure adalah tidak adanya acuan ke realitas obyektif. Tanda tidak mempunyai nomenclature. Untuk memahami makna maka terdapat dua cara, yaitu, pertama, makna tanda ditentukan oleh pertalian antara satu tanda dengan semua tanda lainnya yang digunakan dan cara kedua karena merupakan unsur dari batin manusia, atau terekam sebagai kode dalam ingatan manusia, menentukan bagaimana unsur-unsur realitas obyektif diberikan signifikasi atau kebermaknaan sesuai dengan konsep yang terekam. 3. Permasalahan yang selalu kembali dalam mengkaji masyarakat dan kebudayaan adalah hubungan antara individu dan masyarakat. Untuk bahasa, menurut Saussure ada langue dan parole (bahasa dan tuturan). Langue adalah pengetahuan dan kemampuan bahasa yang bersifat kolektif, yang dihayati bersama oleh semua warga masyarakat; parole adalah perwujudan langue pada individu. Melalui individu direalisasi tuturan yang mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku secara kolektif, karena kalau tidak, komunikasi tidak akan berlangsung secara lancar. Gagasan kebudayaan, baik sebagai sistem kognitif maupun sebagai sistem struktural, bertolak dari anggapan bahwa kebudayaan adalah sistem mental yang mengandung semua hal yang harus diketahui individu agar dapat berperilaku dan bertindakj sedemikian rupa sehingga dapat diterima dan dianggap wajar oleh sesama warga masyarakatnya. Pierre Bourdieu Bourdieu pada awalnya menghasilkan karya-karya yang memaparkan sejumlah pengaruh teoritis, termasuk fungsionalisme, strukturalisme dan eksistensialisme, terutama pengaruh Jean Paul Sartre dan Louis Althusser. Pada tahun 60an ia mulai mengolah pandangan-pandangan tersebut dan membangun suatu teori tentang model masyarakat. Gabungan antara pendekatan teori obyektivis dan teori subyektivis sosial yang dituangkan dalam buku yang berjudul ”outline of a theory of practice” dimana didalamnya ia memiliki posisi yang unik karena berusaha mensintesakan kedua pendekatan metodologi dan epistemologi tersebut.
52

Terdapat 3 konsep penting dalam pemikiran Bourdieu yaitu Habitus. Ia berusaha mengkonsepkan kebiasaan dalam berbagai cara. jenis kelamin. preferensi. Habitus menjadi konsep penting baginya dalam mendamaikan ide tentang struktur dengan ide tentang praktek.Dalam karyanya ini ia menyerang pemahaman kaum strukturalis yang menciptakan obyektivisme yang menyimpang dengan memposisikan ilmuwan sosial sebagai pengamat. yaitu: • • • Sebagai kecenderungan-kecenderungan empiris untuk bertindak dalam cara-cara yang khusus (gaya hidup) Sebagai motivasi. kelompok dan kelas sosial. Secara dialektis habitus adalah ”produk internalisasi struktur” dunia sosial. Field dan Modal. Habitus adalah “struktur mental atau kognitif” yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial. Berikut ini akan dibahas ketiga konsep tersebut dan akan dijelaskan interaksi ketiga konsep ini dalam masyarakat. menyadari. cita rasa atau perasaan (emosi) Sebagai perilaku yang mendarah daging 53 . Menurutnya pemahaman ini mengabaikan peran pelaku dan tindakan-tindakan praktis dalam kehidupan sosial. Habitus berbeda-beda pada setiap orang tergantung pada wujud posisi seseorang dalam kehidupan sosial. cenderung mempunyai kebiasaan yang sama. dan menilai dunia sosial. Kelebihan Bourdieu adalah menghasilkan cara pandang dan metode baru yang mengatasi berbegai pertentangan di antara penjelasan-penjelasan sebelumnya. dimana seorang individu bereaksi secara efisien dalam semua aspek kehidupan. Habitus mencerminkan pembagian obyektif dalam struktur kelas seperti umur. Melalui pola-pola itulah aktor memproduksi tindakan mereka dan juga menilainya. Disatu pihak habitus adalah struktur yang menstruktur artinya habitus adalah sebuah struktur yang menstruktur kehidupan sosial. Habitus lebih didasarkan pada keputusan impulsif. Atau dengan kata lain habitus dilihat sebagai ”struktur sosial yang diinternalisasikan yang diwujudkan”. Dilain pihak habitus adalah struktur yang terstruktur. Pemikirannya bukan hanya menjawab pertanyaan tentang asal usul dan seluk beluk masyarakat tetapi lebih pada menjawab persoalan-persoalan baru yang diturunkan dari pemikiran-pemikiran terdahulu. yaitu habitus adalah struktur yang distruktur oleh dunia sosial. Habitus diperoleh sebagai akibat dari lamanya posisi dalam kehidupan sosial diduduki. Setiap aktor dibekali serangkaian skema atau pola yang diinternalisasikan yang mereka gunakan untuk merasakan. orang yang menduduki posisi yang sama dalam kehidupan sosial. tidak setiap orang sama kebiasaannya. memahami. Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh kehidupan sosial.

• • •

Sebagai suatu pandangan tentang dunia (kosmologi) Sebagai keterampilan dan kemampuan sosial praktis Sebagai aspirasi dan harapan berkaitan dengan perubahan hidup dan jenjang karier.

Habitus membekali seseorang dengan hasrta. Motivasi, pengetahuan, keterampilan, rutinitas dan strategi untuk memproduksi status yang lebih rendah. Bagi Bourdieu keluarga dan sekolah merupakan lembaga penting dalam membentuk kebiasaan yang berbeda. Field bagi Bourdieu lebih bersifat relasional ketimbang struktural. Field adalah jaringan hubungan antar posisi obyektif di dalamnya. Keberadaan hubungan ini terlepas dari kesadaran dan kemauan individu. Field bukanlah interaksi atau ikatan lingkungan bukanlah intersubyektif antara individu. Penghubi posisi mungkin agen individual atau lembaga, dan penghubi posisi ini dikendalikan oleh struktur lingkungan. Bourdieu melihat field sebagai sebuah arena pertarungan. Struktur Field lah yang menyiapkan dan membimbing strategi yang digunakan penghuni posisi tertentu yang mencoba melindungi atau meningkatkan posisi mereka untuk memaksakan prinsip penjenjangan sosial yang paling menguntungkan bagi produk mereka sendiri. Field adalah sejenis pasar kompetisi dimana berbagai jenis modal (ekonomi, kultur, sosial, simbolik) digunakan dan disebarkan. Lingkungan adalah lingkungan politik (kekuasaan) yang sangat penting; hirarki hubungan kekuasaan di dalam lingkungan politik membantu menata semua lingkungan yang lain. Bourdieu menyusun 3 langkah proses untuk menganalisa lingkungan, pertama, menggambarkan keutamaan lingkungan kekuasaan (politik). Langkah kedua, menggambarkan struktur obyektif hubungan antar berbagai posisi di dalam lingkungan tertentu, ketiga, analis harus mencoba menetukan ciri-ciri kebiasaan agen yang menempati berbagai tipe posisi di dalam lingkungan. Dengan kata lain, Field adalah wilayah kehidupan sosial, seperti seni, industri, hukum, pengobatan, politik dan lain sebagainya, dimana para pelakunya berusaha untuk memperoleh kekuasaan dan status. Bourdieu menganggap bahwa modal memainkan peranan yang penting, karena modallah yang memungkinkan orang untuk mengendalikan orang untuk mengendalikan nasibnya sendiri maupun nasib orang lain. Ada 4 modal yang berperan dalam masyarakat yang menentukan kekuasaan sosial dan ketidaksetaraan sosial, pertama modal ekonomis yang menunjukkan sumber ekonomi. Kedua, modal sosial yang berupa hubunganhubungan sosial yang memungkinkan seseorang bermobilisasi demi kepentingan
54

sendiri. Ketiga, modal simbolik yang berasal dari kehormatan dan prestise seseorang. Dan keempat adalah modal budaya yang memiliki beberapa dimensi, yaitu:
• • • • •

Pengetahuan obyektif tentang seni dan budaya Cita rasa budaya (cultural taste) dan preferensi Kualifikasi-kualifikasi formal (seperti gelas-gelar universitas) Kemampuan-kemampuan budayawi dan pengetahuan praktis. Kemampuan untuk dibedakan dan untuk membuat oerbedaan antara yang baik dan buruk.

Modal kultural ini terbentuk selama bertahun-tahun hingga terbatinkan dalam diri seseorang. Setelah dibahas tentang ketiga konsep diatas maka akan dijelaskan hubungan ketiga konsep tersebut. Habitus dan ranah merupakan perangkat konseptual utama yang krusial bagi karya Bourdieu yang ditopang oleh sejumlah ide lain seperti kekuasaan simbolik, strategi dan perbuatan beserta beragan jenis modal. Seperti telah diungkapkan diatas bahwa habitus adalah struktur kognitif yang menghubungkan individu dan realitas sosial. Habitus merupakan struktur subyektif yang terbentuk dari pengalaman individu berhubungan dengan individu lain dalam jaringan struktur obyektif yang ada dalam ruang sosial. Habitus adalah produk sejarah yang terbentuk setelah manusia lahir dan berinteraksi dengan masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu, dengan kata lain habitus adalah hasil pembelajaran lewat pengasuhan, aktivitas bermain, dan juga pendidikan masyarakat. Pembelajaran ini berjalan secara halus sehingga individu tidak menyadari hal ini terjadi pada dirinya, jadi habitus bukan pengetahuan bawaan. Habitus mendasari field yang merupakan jaringan relasi antar posisi-posisi obyektif dalam suatu tatanan sosial yang hadir terpisah dari kesadaran individu. Field semacam hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisiposisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakatyang terbentuk secara spontan. Habitus memungkinkan manusia hidup dalam keseharian mereka secara spontan dan melakukan hubungan dengan pihak-pihak diluar dirinya. Dalam proses interaksi dengan pihak luar tersebut terbentuklah Field. Dalam suatu Field ada pertarungan kekuatan-kekuatan antara individu yang memiliki banyak modal dengan individu yang tidak memiliki modal. Diatas sudah di singgung bahwa modal merupakan sebuah konsentrasi kekuatan, suatu kekuatan spesifik yang beroperasi di dalam field dimana di dalam setiap field
55

menuntut untuk setiap individu untuk memiliki modal gara dapat hidup secara baik dan bertahan di dalamnya. Secara ringkas Bourdieu menyatakan rumusan generatif yang menerangkan praktis sosial dengan rumus setiap relasi sederhana antara individu dan struktur dengan relasi antara habitus dan ranah yang melibatkan modal. Daftar Acuan Bagus, Loren. 1996.”Kamus Filsafat”. Jakarta: Pustakan Gramedia Harker, Richard, Cheelen Mahar, Chris Wilkes. 2005.”(Habitus x Modal) + Praktik: Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu”. Yogyakarta: Jalasutra Lechte, John. 2001.”50 Filusuf Kontmporer: Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas”. Yogyakarta: Kanisius Sutrisno, Mudji, Hendar Putranto. 2006.” Teori-teori Kebudayaan”. Yogyakarta: Kanisius
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

. Pengantar Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada, seperti apa? Di kalangan yang mana? Kalau tidak ada atau kurang terlihat, mengapa? Itulah beberapa pertanyaan yang berusaha dijawab dalam makalah ini. Jawaban-jawaban ini lebih didasarkan pada hasil pengalaman pribadi daripada hasil sebuah penelitian yang serius dan teliti mengenai pengaruh strukturalisme Prancis di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Namun sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ada baiknya saya paparkan terlebih dulu seperti apa strukturalisme Prancis itu, terutama yang diusung oleh Lévi-Strauss, dan mengapa saya memilih menampilkan strukturalisme Lévi-Strauss di sini. Pada musim semi tahun 1981, setahun setelah meninggalnya ahli filsafat Jean Paul Sartre, majalah Prancis Lire mengadakan sebuah jajak pendapat di kalangan intelektual, mahasiswa dan politisi Prancis, dengan pertanyaan, “siapa tiga pemikir berbahasa Perancis yang masih hidup, yang pandangannya – menurut anda – paling berpengaruh terhadap evolusi (perkembangan) pemikiran sastra dan ilmu pengetahuan dan sebagainya ?”. Dari kira-kira 448 jawaban yang masuk, 101 orang menyebut nama Lévi-Strauss, 84 orang menyebut Raymond Aron, 83 orang menyebut Michel Foucault. Nama-nama lain yang juga disebut antara lain adalah Jaques Lacan (51), Simone de Beauvoir (46), dan masih ada lagi beberapa yang lain (Pace, 1986 : 1). Hasil jajak pendapat tersebut mungkin agak mengherankan juga, karena antropologi bukanlah sebuah cabang ilmu yang populer di Prancis, dibandingkan
56

Dengan kata lain. Tanpa memahami strukturalisme akan sulit memahami post-strukturalisme atau post-modernisme. Di situ digambarkan empat orang tengah duduk melingkar di bawah pohon tropis dengan mengenakan pakaian suku-suku bangsa yang masih primitif. Kelima. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa Lévi-Strausslah yang paling yakin dengan manfaat dan kemampuan paradigma struktural untuk digunakan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa pemikiran-pemikiran Lévi-Strauss ternyata dipandang begitu berpengaruh oleh kaum intelektual Prancis. Rolanda Barthes. Keempat. kelahiran paradigma-paradigma baru ini tidak dapat dilepaskan dari munculnya strukturalisme itu sendiri. Tidak mengherankan. Oleh karena itu strukturalisme Lévi-Strauss tidak hanya penting bagi dan dalam antropologi. sastra. setelah dia berkenalan dengan antropologi. Michel Foucault dan tentu saja Claude Lévi-Strauss. strukturalisme Lévi-Strauss juga bukan hanya merupakan sebuah teori baru. tidak dapat dipahami dengan baik tanpa memahami strukturalisme. dibanding tulisan ahli-ahli antropologi yang lain (Pace. dialah seorang penganut strukturalisme tulen. walaupun Lévi-Strauss sendiri sudah tidak lagi begitu menyukai filsafat sebagaimana yang dia kenal. setelah kemunculan strukturalisme ini pandangan-pandangan antropologi kemudian mempengaruhi cabang-cabang ilmu sosial-budaya yang lain seperti sosiologi. Judul karikatur ini adalah “Le déjeuner des structuralistes”. atau “makan siang para strukturalis” (Sturrock. tetapi juga penting bagi ilmu-ilmu sosial-budaya lain. menunjukkan bahwa tulisan-tulisan Lévi-Strauss adalah tulisan yang paling banyak dikutip orang. aliran pemikiran baru yang muncul setelah strukturalisme. dan filsafat. Bagaimanapun juga. 57 .dengan di Inggris dan Amerika Serikat. empat orang itulah yang dikenal sebagai tokoh-tokoh strukturalisme. tetapi – sebagaimana dikatakan oleh Lévi-Strauss sendiri – adalah juga sebuah epistemologi baru dalam ilmu-ilmu sosial-budaya. dan sedikit banyak hal itu juga menunjukkan bahwa Lévi-Strauss tidak hanya dipandang sebagai ahli antropologi. strukturalisme Lévi-Strausslah yang paling banyak dikenal dan berpengaruh dibandingkan dengan paradigma antropologi yang lain. 1986 : 7). satu persatu dari mereka meninggalkan strukturalisme. dan akhirnya tinggal Lévi-Strauss yang tetap setia menjadi perawat dan pengembang paradigma tersebut. tetapi juga ahli filsafat. Kedua. hasil survei sebuah lembaga Amerika atas kutipan-kutipan (citations) antropologi dari tahun 1969-1977. Empat orang tersebut adalah Jacques Lacan. sebuah karikatur yang banyak direproduksi muncul dalam majalah-majalah Prancis tentang para strukturalis. beberapa tahun kemudian. 1979 : 1). seperti post-modernisme atau post-strukturalisme – ini nama-nama yang sebenarnya kurang tepat untuk menyebut sebuah aliran pemikiran – atau semiotika yang kini populer di Barat. Ketiga. yaitu rok yang terbuat dari daun ilalang. Dengan kata lain. Karikatur ini setidak-tidaknya menunjukkan bahwa di kalangan intelektual Prancis ketika itu. Namun.

Ilmu Sosial-Budaya Indonesia 1970-1990an : Mengapa Tidak Struktural? Beberapa tahun setelah saya meninggalkan Indonesia untuk mengikuti pendidikan S-3. akhirnya saya harus kecewa. karena selalu sulit dan tidak biasa. Dr. tidak terlihat menyukai strukturalisme Lévi-Strauss. J. sangat dapat dimengerti apabila dari kalangan ahli antropologi tidak ada yang berupaya untuk memperkenalkan secara serius strukturalisme Lévi-Strauss. Prof. teman-teman saya umumnya tidak menyukai teori-teori dari Lévi-Strauss. Saya berharap ketika itu berbagai pemikiran yang saya kenal dari perkuliahan saya di jurusan Antropologi di Universitas Columbia akan dapat saya temukan di Indonesia. karena saya tidak tahu orang lain di Indonesia yang telah membahas pemikiran Lévi-Strauss dengan cukup mendalam sebagaimana yang telah saya lakukan. Saya ingat. Dr. oleh lebih banyak ilmuwan. karena situasi dan kondisi pemikiran dalam 58 . sedang saya lumayan menyukai teori-teori tersebut karena terasa begitu menantang untuk memahaminya. Lebih dair itu. dosen-dosen antropologi yang lain – yang ketika itu belum Professor – seperti Dr. Nico Kalangie. Dr. karena aliran ini kurang sejalan dengan kecenderungan teoritis beliau yang lebih positivistik. Koetjaraningrat misalnya. Dalam Sejarah Teori Antropologi II. ketika saya masih kuliah antropologi di Universitas Indonesia di akhir tahun 1970an. dosen-dosen antropologi yang mengajar kami ketika itu juga tidak banyak yang paham dan menaruh minat pada strukturalisme LéviStrauss. Sementara itu. James P. walaupun mereka itu kemudian tidak mengembangkan aliran pemikiran antropologi tertentu di Indonesia. karena mereka melanjutkan pendidikan pascasarjana mereka di Amerika. Belanda. Namun. Ward H. Budi Santoso.Itulah lima alasan utama mengapa dalam perbincangan tentang strukturalisme ini strukturalisme yang dirintis dan dikembangkan oleh LéviStrausslah yang akan ditampilkan di sini. Danandjaja. Dengan memperbincangkan tentang strukturalisme ini diharapkan akan muncul ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia yang akan bersedia mengembangkan lebih lanjut kerangka pemikiran tersebut. dan sebagainya. Spradley. Sebelumnya saya perlu minta maaf kepada publik jika dalam tulisan ini sosok saya terasa begitu menonjol dalam proses penyebaran strukturalisme LéviStrauss di Indonesia. yang menurut saya kritik tersebut sebenarnya kurang tepat. Antropologi Eropa (Inggris. Prof. Koentjaraningrat melontarkan kritik terhadap strukturalisme Lévi-Strauss. Prancis) sama sekali tidak terasa pengaruhnya dalam pemikiran-pemikiran dan analisis mereka tentang gejala sosial-budaya di Indonesia. pada tahun 1994 saya kembali. Claude Lévi-Strauss adalah seorang ahli antropologi yang tetap konsisten menekuni dan mengembangkan paradigma struktural. terasa begitu dipengaruhi oleh ahli-ahli antropologi Amerika. Parsudi Suparlan. 2. Ditangannyalah strukturalisme kemudian dikenal oleh lebih banyak orang. yang mengajar kami teori-teori antropologi. seperti Clifford Geertz. Goodenough. sehingga saya dapat segera membangun wacana tentang pemikiran-pemikiran tersebut di negeri sendiri. Oleh karena itu.

Saya cukup heran dengan situasi dan kondisi seperti itu. Saya bertanya-tanya dalam hati : Mengapa mereka tidak menulis mengenai aliran-aliran baru dalam antropologi atau bidang ilmu yang mereka tekuni ? Dalam antropologi di Indonesia ketika itu. Postmodernisme mulai terdengar. Masri Singarimbun. Tidak banyak ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu yang memperoleh pendidikan di Prancis. bahkan sampai tahun 1980an. Orientasi pendidikan ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah Amerika Serikat. karena di tahun 1950an dan 1960an Indonesia adalah salah satu negeri yang banyak diteliti dan dibahas oleh ilmuwan sosial Amerika Serikat. bahkan hampir tidak ada.ilmu sosial-budaya Indonesia ketika itu ternyata tidak seperti yang saya duga dan harapkan. seperti misalnya Fuad Hasan. sebuah negeri yang relatif kurang begitu dikenal oleh banyak orang Indonesia. Lévi-Strauss yang kita kenal ketika itu adalah merk sebuah celana jeans. tidak terlihat Tafsir Kebudayaan seperti yang dikembangkan Clifford Geertz. Koentjaraningrat. Saya mencoba untuk mengetahui apa kira-kira penyebab hal tersebut. 59 . dan sempat populer dalam dua-tiga tahun. Beberapa tahun saya mencoba mengetahui hal ini. karena kalau kita membaca jurnal dan bukubuku ilmu sosial-budaya di Barat di tahun 1970an. karena bahasanya juga kurang populer di Indonesia. Akan tetapi setelah beberapa tahun berada di Indonesia. Hanya mahasiswa antropologi saja yang mengenal tokoh tersebut lewah kuliah dari Prof. tidak telihat arus pemikiran strukturalisme dari Prancis. tetapi setelah itu seperti hilang ditelan bumi. Sartono Kartodirdjo. Selo Soemardjan dan sebagainya. Parsudi Suparlan. Padahal. walaupun itu tidak berarti bahwa saya menyetujui dan menyukai keadaan tersebut. karena biasanya ilmuwan Indonesia sangat mudah dan cepat menanggapi dan berusaha segera mempopulerkan paradigma-paradigma baru di Barat yang baru saja mereka kenal. Nama-nama beken sebagian ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat ketika adalah nama-nama mereka yang banyak meneliti masyarakat Indonesia. Pertama. strukturalisme masih tetap merupakan paradigma yang populer dan terasa kuat pengaruhnya. tokoh-tokoh ilmu sosial-budaya yang saya kagumi dan sebagian pernah menjadi guru saya ketika itu masih ada. strukturalisme Lévi-Strauss tidak terdengar gaungnya di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Bagi saya ini adalah sebuah keanehan. Nama ilmuwan Prancis yang meneliti Indonesia namun namanya hampir tidak terdengar di Indonesia adalah Christian Pelras (meneliti sejarah Indonesia). Ketika saya datang pada awal tahun 1990an. akhirnya saya dapat memaklumi keadaan yang seperti itu. tidak ada aliran Etnosains dari Amerika Serikat. Ada beberapa faktor yang tampaknya telah membuat strukturalisme Prancis kurang begitu dikenal di Indonesia. dan masih aktif. Koentjaraningrat almarhum di tahun 1970-1980an. Nama Lévi-Strauss sebagai seorang teoritisi hampir tak dikenal. strukturalisme tersebut tumbuh dan berkembang di Prancis. dibandingkan misalnya dengan bahasa Inggris dan Belanda. James Danandjaja.

reaksi yang muncul biasanya adalah : menolak secara sembunyi-sembunyi. Kalau di kalangan ahli antropologi Indonesia saja strukturalisme di Lévi-Strauss sudah tidak begitu dikenal. munculnya sebuah paradigma atau epistemologi baru tidak akan memicu munculnya tanggapan yang positif. sebuah cabang ilmu yang kurang begitu populer di Indonesia. Orang masih sering mengacaukannya dengan arkeologi. Memang. Fungsionalisme-Struktural yang diwariskan oleh A. strukturalisme banyak mendapat inspirasi dari ilmu bahasa dan mengambil ilmu tersebut sebagai modelnya. Kalau antropologi sebagai ilmu sudah tidak begitu dikenal. apalagi teori-teori yang ada di dalamnya. di tahun 1970an dan 1980an antropologi sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan masih belum begitu dikenal di Indonesia. Ilmuwan sosial-budaya Indonesia yang belajar di Amerika Serikat di masa itu otomatis sangat dipengaruhi oleh aliran pemikiran ini – bahkan sampai sekarang – . Lengkaplah sarana paradigma Fungsionalisme – Struktural untuk menyebar dan dikenal di Indonesia. Keempat. Kedua. strukturalisme Lévi-Strauss adalah sebuah epistemologi baru. ilmu bahasa atau linguistik bukanlah sebuah ilmu yang populer di Indonesia. analisis struktural dan bahasa yang digunakan oleh Lévi-Strauss dalam tulisan-tulisannya termasuk yang tidak mudah dipahami. Ketiga. apalagi oleh kalangan yang lebih luas. yang saya kira cukup besar perbedaannya dengan epistemologi yang dianut oleh sebagian besar ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Radcliffe-Brown dan Bronislaw Malinowski di tahun 1940an dikembangkan lebih lanjut oleh Parsons dan berhasil menjadi sebuah aliran yang mendominasi pemikiran ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat di tahun 1960-1970an. acuh tak acuh. Kelima. dan cukup besar perbedaannya dengan epistemologi positivisme. Analisis struktural Lévi-Strauss banyak memanfaatkan data etnografi dan analisis serta interpretasi 60 . Sebaliknya. Sebagai epistemologi strukturalisme sangat berseberangan dengan epistemologi historisme. ahli sosiologi Amerika Serikat. Sementara itu. Untuk mereka yang terbiasa berfikir dengan menggunakan sebuah paradigma. strukturalisme Lévi-Strauss dalam antropologi.R. seperti halnya kebanyakan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. yakni epistemologi yang positivistik dan epistemologi yang historis. dan teori-teorinya juga tidak begitu dikenal. Para ilmuwan sosial-budaya umumnya juga tidak mengenal linguistik. Aalagi ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat yang mempelajari Indonesia juga menggunakan paradigma tersebut. atau menolak secara terang-terangan. sehingga mereka tentunya mengalami kesulitan ketika berusaha memahami analisis-analisis strukturalisme Lévi-Strauss yang sangat banyak mendapat inspirasi dari linguistik. atau yang didasarkan pada sebuah epistemologi saja. yang di Amerika Serikat memang merupakan salah satu spesialisasi dalam antropologi.Aliran pemikiran yang sangat mempengaruhi ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah aliran fungsionalisme-struktural yang berasal dari Talcott Parsons.

3. Kesulitan memahami ini bertambah besar lagi di kalangan ketika Lévi-Strauss menggunakan bahasa yang juga relatif sulit dipahami. Mengusung Strukturalisme Lévi-Strauss : 1980an dan 1990an Generasi saya adalah generasi baru pelajar ilmu sosial-budaya yang mulai mengenal pemikiran dari Eropa Daratan. mungkin juga sulit 61 . dengan mengumpulkan artikel dan buku-buku yang relevan. Saya tidak tahu mengapa demikian. karena saya mendapat pendidikan lanjutan di Belanda. serta sulitnya memahami paradigma itu sendiri. yakni P. Oleh karena itu pula analisis struktural yang dikerjakan Lévi-Strauss termasuk yang tidak mudah dipahami oleh orang-orang antropologi. Bahasa tulisannya memang belum nyastra sekali seperti Geertz. Kami berdua adalah mahasiswa Indonesia yang dipengaruhi oleh pemikiran struktural ketika itu. begitu tidak dikenalnya aliran pemikiran itu di Indonesia. yang kemudian diterbitkan menjadi buku. Di sinilah saya berkenalan lebih dekat dengan strukturalisme Prancis. Yang lain tidak tertarik. saya tidak serta-merta tertarik pada strukturalisme Prancis. Mungkin. bahkan cenderung bersikap negatif dan sinis terhadap aliran strukturalisme yang ketika itu diajarkan oleh P. Ketika itu teman sayalah yang kemudian menggunakan paradigma struktural – yang merupakan campuran strukturalisme Prancis dan Belanda – untuk menulis tesis S-2 nya. Itulah beberapa faktor yang menurut saya telah membuat strukturalisme LéviStrauss kurang begitu dikenal di Indonesia. adalah mengenai struktur yang ada dalam Tradisi Ageng dan Tradisi Alit masyarakat Jawa. walaupun aliran ini sangat kuat pengaruhnya dalam dunia pemikiran di Barat. tetapi sudah termasuk nyastra atau sastrawi. de Josselin de Jong kepada kami. Dalam hal ini Laksono membandingkan struktur budaya pada masyarakat Jawa di Bagelen dengan struktur budaya Jawa di Kraton Mataram. a. karena antropologi di Belanda di masa lampau sudah lebih dulu mengenal strukturalisme. dan kemudian mendapat pengaruh kuat dari strukturalisme Prancis. Lévi-Strauss termasuk ahli antropologi yang mampu menggunakan daya retorika yang bagus tetapi tidak mudah dipahami.E. Tesis pascasarjananya. Buku ini memang tidak mendapat banyak perhatian dari ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Mengingat pentingnya strukturalisme Lévi-Strauss dalam perkembangan pemikiran di Barat. tidak dapat digunakan untuk memahami dan menganalisis perubahan. tetapi seingat saya karena mereka umumnya menganggap pendekatan tersebut “statis”.M. Laksono. karena pendekatannya terasa tidak lazim.dilakukan atas informasi etnografis mengenai berbagai hal yang begitu kecil dan njlimet. Dengan menggunakan analisis struktural Laksono (1986) mencoba menunjukkan bahwa Tradisi Ageng Jawa di Kraton adalah transformasi dari Tradisi Alit Jawa di daerah pedesaan. Periode 1980an Laksono menerapkan analisis struktural lebih awal daripada saya. walaupun saya terus-terang tertarik pada kecanggihan pemikiran LéviStrauss. Meskipun demikian. maka saya kemudian memberanikan diri untuk mengusung strukturalisme Lévi-Strauss ke Indonesia setelah saya menyiapkan diri dengan lebih baik di Amerika Serikat.

saya kebetulan diminta Prof.E. Semenjak itu. 1984). dan menulis beberapa artikel dengan menggunakan paradigma tersebut. karena dia sudah lebih dulu pergi ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi. maka tidak terlalu mengherankan apabila pengaruh strukturalisme Belanda lebih terlihat di situ daripada pengaruh strukturalisme Prancis. Pak Kodiran. tambahan dan “pelurusan” beberapa pendapat dalam artikel tersebut (Ahimsa-Putra. yaitu dengan memfotocopy buku-buku dan artikel-artikel yang saya bawa dari luar. Amerika Serikat. saya merasa bahwa nama saya hampir selalu dihubungkan dengan strukturalisme atau antropologi struktural. Secara kebetulan waktu itu di majalah Basis muncul sebuah artikel mengenai Lévi-Strauss dan strukturalismenya. Belanda. Laksono tidak dapat menggantikan. ahli antropologi struktural dari Universitas Leiden. termasuk di dalamnya strukturalisme Lévi-Strauss. Yang jelas buku ini setahu saya merupakan analisis kebudayaan secara struktural yang pertama dilakukan oleh ahli antropologi Indonesia. mungkin pula karena kurang promosi. Untuk beberapa tahun. Setelah selesai kuliah di Universitas Leiden. Baroroh Baried – yang ketika itu 62 . Walaupun masih dalam taraf yang sangat sederhana namun minta mereka untuk menggunakan sebuah paradigma yang belum lazim diterima dan cukup sulit. tetapi juga karena buku-buku dan artikel-artikel antropologi struktural dapat mereka peroleh secara langsung. yang saat itu masih belum guru besar.dimengerti oleh mereka yang belum mengenal strukturalisme. saya mengajar di jurusan antropologi. Satu-dua orang mahasiswa mulai tertarik dengan pendekatan ini dan mulai menerapkannya untuk penulisan skripsi. Oleh karena itu sayapun menulis sebuah artikel yang isinya merupakan tanggapan. yang ditulis oleh Radrianarisoa. dan kesempatan itu saya gunakan untuk menebar paradigma strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. dilanjutkan oleh dosen kami yang paling senior di UGM. sampai ketika saya pulang kembali ke UGM setelah menyelesaikan S-3 saya. de Josselin de Jong. Setelah saya kembali ke UGM. b. Periode 1990an Pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss yang sudah mulai terlihat di tahun 1980an di Indonesia mulai terasa menguat setelah saya memberikan kuliah mengenai strukturalisme lagi selama beberapa tahun di jurusan Antropologi UGM. Ketika itu pengajaran teori antropologi. patut dihargai. Para mahasiswa antropologi UGM ketika itu mulai mengenal nama Lévi-Strauss serta teori-teorinya dengan cukup baik. karena setelah dua tahun saya mengajar saya memperoleh kesempatan melanjutkan studi S-3 antropologi ke Universitas Columbia di New York. Pengetahuan mengenai strukturalisme tidak dapat saya tebar lebih lama di UGM. Bukan hanya karena kuliahnya lebih terfokus. saya tidak mengetahui perkembangan strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. Belanda. Setelah membaca artikel itu saya berpendapat bahwa apa yang ada dalam artikel tersebut tidak seluruhnya tepat atau seperti yang saya ketahui. Oleh karena penulisan buku tersebut berada di bawah bimbingan P.

Oleh karena tidak ada dosen lain yang dipandang lebih memahami strukturalisme. Sayapun menyanggupi permintaan tersebut. Laporan penelitiannya kemudian saya tulis kembali menjadi artikel yang kemudian diterbitkan oleh majalah Kalam (Ahimsa Putra. Mudahmudahan ada yang bersedia memberikan informasi mengenai bagaimana strukturalisme (Lévi-Strauss) dipandang dan dipahami oleh para mahasiswa – antropologi maupun bukan – di luar UGM. Permintaan tersebut saya terima dan secara kebetulan saya mendapat dana penelitian. melalui perkuliahan di S-1 dan S-2 antropologi serta S-2 sastra. Artikel ini rupanya semakin menguatkan citra saya sebagai orang yang tahu strukturalisme Lévi-Strauss lebih dari yang lain. dan diluar lingkaran antropologi setahu saya belum ada orang lain yang berbicara mengenai aliran pemikiran tersebut. terutama di Yogyakarta. Melalui forum seperti inilah saya dapat menyebarkan strukturalisme. Pendapat bahwa saya adalah orang yang tahu tentang strukturalisme LéviStrauss itu rupanya telah mendorong pihak penerbit LKIS meminta saya menulis kata pengantar untuk buku yang akan mereka terbitkan. Nama Lévi-Strauss dan strukturalisme tetap belum akrab di kalangan terpelajar di Indonesia. tentu buku Paz tidak akan diterjemahkan dan diterbitkan. maka pembimbingan penulisan skripsi atau tesis semacam ini boleh dikatakan selalu diserahkan kepada saya. atau perlu dijelaskan lagi agar tidak menimbulkan salah pengertian (Ahimsa-Putra. yang berasal dari buku Octavio Paz mengenai strukturalisme Lévi-Strauss. yang saya gunakan untuk melakukan penelitian atas mitos orang Bajo. Gaung strukturalisme sebagai sebuah paradigma semakin luas terdengar di kalangan mahasiswa. baik itu yang analitis maupun teoritis. Ketika itu saya merasa bahwa strukturalisme mulai menarik perhatian kalangan intelektual muda. terutama jurusan antropologi di UGM. 1995). saya juga menulis makalah-makalah untuk seminar dengan tema struktural. 1997). seni dan filsafat. Selain melalui perkuliahan. serta memberikan tanggapan terhadap pendapat-pendapat Paz yang menurut saya kurang tepat. Dalam kata pengantar itu saya kembali menyampaikan berbagai hal mengenai strukturalisme Lévi-Strauss yang belum banyak diketahui. saya terus menyebarkan strukturalisme ke kalangan mahasiswa. Ketika satu-dua tesis struktural mulai dapat ditulis dan diujikan dengan hasil yang baik (banyak yang mendapat nilai A). karena kalau tidak ada ketertarikan tersebut. Analisis struktural ala Lévi-Strauss atas mitos sama sekali belum dikenal di Indonesia ketika itu. semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk menyusun tesis atau skripsi struktural.menjadi ketua program pascasarjana sastra – untuk mengampu matakuliah mitologi. Sementara itu. Beberapa mahasiswa kemudian tertarik untuk menulis tesis dengan menggunakan pendekatan struktural. tetapi saya tidak tahu bagaimana gaung tersebut di luar UGM. karena – sebagaimana kita ketahui – majalah Kalam adalah majalah yang banyak dibaca oleh mereka yang berminat pada sastra. Saya menawarkan 63 .

seperti karya-karya Umar Kayam (Ahimsa – Putra. 1999c. dan semakin banyak mahasiswa antropologi yang menggunakan pendekatan ini untuk memahami berbagai gejala sosial-budaya dalam masyarakat Indonesia. 2000a). 2000b). Dengan terbitnya buku tersebut. Meskipun demikian saya tetap tidak mengetahui bagaimana perkembangan paradigma strukturalisme Lévi-Strauss atapun strukturalisme pada umumnya di luar UGM. Buku ini pula yang membuat banyak orang mulai menyadari bahwa sekat-sekat keilmuan sebenarnya sudah tidak dapat dipertahankan lagi. dan manfaat apa yang akan diperoleh dari penggunaan tersebut. Melalui paradigma tersebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya yang dapat diungkapkan. Paradigma strukturalisme Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal lagi setelah terbitnya buku Strukturalisme Lévi-Strauss. strukturalisme Lévi-Strauss semakin dikenal di Indonesia. 2002c). Lewat berbagai makalah dan artikel itulah saya berupaya menunjukkan bahwa strukturalisme adalah sebuah cara baru untuk memandang gejala sosialbudaya. yang tidak akan dapat diungkap melalui paradigma yang lain. strukturalisme Lévi-Strauss mulai dikenal di luar lingkaran antropologi. Melalui paradigma tesebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya. dan tidak terbatas di kalangan pelajar antropologi saja. Dengan demikian. Langkah yang saya tempuh untuk memperkenalkan paradigma antropologi struktural di Indonesia dengan menulis artikel dan menerbikan buku didasarkan pada pandangan bahwa orang tidak akan tertarik pada suatu pendekatan atau paradigma bilamana dia belum mengetahui tentang paradigma tersebut. Strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia : 2009 Bagaimana strukturalisme di Indonesia sekarang. sedang kepada para peneliti fenomena keagamaan saya juga menunjukkan bahwa strukturalisme dapat digunakan untuk memahami fenomena keagamaan seperti sinkretisme (Ahimsa – Putra. setelah saya menganalisis mitos Bajo secara struktural dan mulai memberi kuliah strukturalisme 15 tahun yang lalu? Strukturalisme Lévi-Strauss kini sudah lebih dikenal di Indonesia. tentang cara menggunakannya.pendekatan struktural untuk menganalisis fenomena arkeologis (Ahimsa – Putra. Mitos dan Karya Sastra (Ahimsa – Putra. yang berbeda dengan strukturalisme yang selama ini mereka kenal dalam analisis sastra. Strukturalisme Lévi-Strauss yang muncul dan berkembang dengan baik dalam antropologi ternyata sangat dapat digunakan untuk menganalisis karya sastra. dan analisis semacam ini dapat mengungkapkan dimensi tertentu dari karya sastra yang tidak dapat diungkapkan melalui pendekatan yang lain. Dari makalah dan artikel tersebut orang dapat menilai keampuhan paradigma struktural untuk memahami gejala sosial-budaya lewat sudut pandang yang berbeda. 4. 2001). 1998a. 64 . para peneliti sastra sebaiknya juga menengok dan mempelajari paradigma-paradigma yang berkembang di luar kajian sastra. Sejak itu. Buku ini saya kira telah membuat peneliti dan pelajar sastra menengok para strukturalisme Lévi-Strauss. Saya juga menawarkan pendekatan tersebut untuk menganalisis karya-karya sastra kontemporer yang mungkin tidak pernah terpikirkan untuk dianalisis secara struktural.

Analisis struktural telah digunakan untuk mengungkap struktur yang ada pada rumah Limas Palembang (Purnama. Struktur ruang juga dianalisis oleh Gerda Numbery (2008) yang melakukan penelitian di kalangan orang Dani di Papua. yakni patung (Ahimsa-Putra. saya sering mendengar nama-nama Barthes dan Foucault disebut-sebut dalam beberapa diskusi. strukturalisme Lévi-Strauss justru terlihat membedakan dirinya dari yang lain melalui metode analisis ini. Analisis struktural juga telah diterapkan pada budaya material. Kalau Dadang H. yang berasal dari suku Dayak Bakumpai di Sungai Barito. namun belum pernah saya mendengar orang membahas pemikiran-pemikiran Barthes dan Foucault secara serius. ataupun dalam diskusi-diskusi informal. analisis struktural yang dikerjakan oleh Numbery merupakan analisis struktural ala Lévi-Strauss yang pertama kali dimanfaatkan oleh ilmuwan sosial Indonesia untuk memahami struktur organisasi sosial orang Dani dan pandangan mereka tentang ruang beserta strukturnya. di sini saya hanya akan memaparkan pengaruh-pengaruh strukturalisme. Oleh karena itu. Metode Analisis Pengaruh strukturalisme terlihat terutama pada metode analisis. terutama strukturalisme Lévi-Strauss sebagaimana yang saya ketahui dari karya-karya ilmiah yang bisa saya peroleh. 2009) dan makanan tradisional orang 65 . Sepengetahuan saya. 1999c. Purwadi lebih tertarik untuk mengungkap prinsip-prinsip struktural yang ada di balik rumah tradisional Suma di Umaluhu. dan konsepsi arah yang terkait dengan ruang ini juga terkait erat dengan sungai. baik itu secara formal lewat seminar. Kalimantan. dan dengan konsep ini pula dia dapat menyajikan rangkaian transformasi yang ada dalam budaya masyarakat Palembang. ngambu dan liwa untuk menunjuk arah. analisis Purnama kemudian menuntut digunakannya konsep transformasi. Pendekatan struktural juga digunakan oleh Nasrullah (2008). karena sungai merupakan ruang yang sangat penting dalam kehidupan orang Dayak Bakumpai. Orang Dayak Bakumpai mengenal istilah-istilah ngaju. Oleh karena itu. Subiantoro. ngawa. dan di sinilah memang terletak kekuatan strukturalisme Lévi-Strauss sebagai sebuah paradigma. Purnama mengungkapkan struktur rumah Limas Palembang dan mengaitkannya dengan struktur pemikiran orang Palembang. Strukturalisme Lévi-Strauss mulai terlihat digunakan untuk menganalisis berbagai gejala kebudayaan yang belum pernah dianalisis secara struktural. Dalam hal ini Numbery telah berhasil menunjukkan keterkaitan struktural yang erat antara struktur ruang yang dikenal oleh orang Dani dengan organisasi sosial mereka. Ini terlihat pada tesis dan disertasi di jurusan antropologi UGM. rumah tradisional Sumba (Purwadi. Kalau paradigma antropologi sebelumnya jarang sekali menampilkan metode analisisnya. untuk menganalisis konsepsi orang Bakumpai tentang ruang. 2002).Memang. a. 2000).

Minang (Maryetti. Lebih dari itu. 2007). ternyata tidak selalu mudah dipahami. Ahimsa-Putra misalnya menerapkan analisis struktural pada arca ganesya. Pemahaman tentang “Struktur” (Structure) Meskipun strukturalisme memberikan penekanan utama pada struktur. Dari pengalaman berdiskusi. 66 . dengan adanya kuliah mengenai strukturalisme Lévi-Strauss secara khusus. Sementara itu. Pengertian struktur sebagai sebuah model yang dibuat oleh ahli antropologi untuk memahami gejala yang dipelajari. yakni kosmologi Jawa. Beberapa contoh kajian ini menunjukkan bahwa strukturalisme sebagai sebuah paradigma ternyata dapat digunakan untuk menganalisis beraneka-macam gejala sosial-budaya. Meskipun demikian. memberikan kuliah dan membimbing penulisan karya ilmiah saya merasa ide Lévi-Strauss mengenai struktur termasuk yang tidak mudah dimengerti dan diketahui adanya dalam gejala sosial-budaya yang dianalisis. yang sebelumnya telah diteliti secara seksama oleh Edi Sedyawati. karena dengan adanya tesis-tesis tersebut maka paradigma Strukturalisme dari Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal dan jelas-jelas dapat digunakan dalam berbagai penelitian. Diskusi yang lebih teoritis dan konseptual tentang strukturalisme belum dapat diharapkan dapat muncul dari kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Masih sangat sedikitnya buku dan artikel jurnal ilmiah yang membahas strukturalisme secara kritis di Indonesia merupakan bukti yang paling jelas masih belum berkembangnya tradisi tersebut. yang menempatkan patung loro-blonyo dalam konteks kebudayaan yang lebih luas. b. 2000). Dalam hal ini para mahasiswa pascasarjana antropologi UGM (S-2) merupakan orang-orang yang cukup besar sumbangannya. analisis patung secara struktural juga telah dilakukan oleh Slamet Subiantoro. karena tradisi membahas secara kritis pemikiran-pemikiran yang berasal dari Barat masih belum tumbuh dan berkembang di kalangan mereka. Walaupun analisisnya belum sepenuhnya tuntas. Selain arca ganesya. namun tidak ada hubungan empirisnya dengan gejala sosial-budaya tersebut. namun analisis tersebut telah memberi inspirasi pada sejumlah ahli arkeologi lain untuk mencoba menerapkannya pada artefak-artefak atau benda arkeologis lainnya. namun ternyata pemahaman tentang struktur ini tidak selalu dapat ditangkap. 2009). yakni banyaknya orang Tionghoa Indonesia yang masuk agama Katholik dan bagaimana perilaku mereka setelah mereka memeluk agama tersebut (Radjabana. ternyata pendekatan struktural juga dapat menjelaskan fenomena sosial yang terjadi di Indonesia tidak lama setelah meletusnya peristiwa G-30-S. Kita masih jauh dari suasana akademik dan intelektual yang seperti itu. pengertian struktur tersebut kini mulai dapat dimengerti. Maryetti lebih tertarik untuk menganalisis dan mengungkapkan struktur yang ada di balik berbagai macam makanan tradisional yang disajikan dalam ritual-ritual (Subiantoro. dan pengertian struktur sebagai sistem relasi. ahli arkeologi UI.

Sulit rasanya mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya yang memang tidak ada data sejarahnya. dan itu berarti kepada masa lampaunya. Mereka yang menerima begitu saja kritik ini sebenarnya telah melupakan faktor-faktor yang mendorong munculnya pendekatan struktural. bahwa strukturalisme tidak menyejarah (ahistoris). yang historis. Kebiasaan ini membuat kita mengalami kesulitan jika harus memandang dan menjelaskan gejala sosial-budaya tidak melalui sudut pandang kausalitas. c. diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. Bahwa ternyata struktur sosial adalah juga sebuah model dari seorang ahli antropologi mengenai suatu masyarakat atau suku bangsa juga masih sulit diterima. karena ini menuntut kemampuan memandang gejala sosialbudaya dengan cara yang berbeda. Kita umumnya memiliki pola pikir yang linier. karena para ilmuwan dan pelajar Indonesia masih lebih mudah memahami konsep-konsep yang lebih jelas acuannya. yang a-historis. Segala sesuatu selalu kita pandang dalam hubungan sebab-akibat sehingga penjelasan tentang sesuatu tersebut selalu mengacu pada sebab-sebabnya. A-historis Konsep yang sangat penting dalam analisis struktural adalah transformasi. ketika dikatakan bahwa strukturalisme tidak dapat digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala perubahan sosial dan kebudayaan. Sebagaimana kita tahu konsep transformasi berasal dari ilmu bahasa juga. yang lebih mudah dilihat dan mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. yakni “struktur sosial” menurut padangan Lévi-Strauss (yang berbeda dengan “struktur sosial” menurut Radcliffe-Brown). Bahkan. Stukturalisme : Cara Pandang Transformasional. Hal ini tampaknya telah membuat konsep transformasi menjadi lebih mudah dipahami dan digunakan dalam analisis. diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. Lebih sulit dari itu adalah membedakan makna transformasi dengan change (perubahan). yakni keterbatasan pendekatan sejarah ketika digunakan untuk memahami dan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya yang memang tidak ada data sejarahnya. juga belum dapat dimengerti dengan baik. walaupun implikasi teoritisnya tidak selalu mudah dipahami. dan kebanyakan telah dapat menerapkan konsep ini dengan baik dalam analisis. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial.Konsep turunan yang berasal dari “struktur”. Sulit rasanya 67 . Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. diakronis. konsep-konsep penting tidak selalu dapat dipahami fungsinya dalam analisis. Konsep ini tampaknya lebih mudah dipahami oleh para mahasiswa daripada konsep struktur atau struktur sosial. Kesulitan tersebut juga menambah orang semakin kurang berminat memandang gejala sosial-budaya dari perspektif strukturalisme. namun banyak contoh yang dapat diberikan untuk menjelaskan makna transformasi sebagaimana digunakan dalam analisis struktural.

yang setahu saya sudah mulai banyak dikenal dan digungakan sebagai paradigma dalam penelitian. Walaupun Lévi-Strauss tidak pernah menganggap strukturalisme yang dikembangkannya sebagai sebuah filsafat. Yang jelas saya belum pernah mendengar sama sekali bahwa paradigma ini telah diajarkan di UGM (dulu). Di UGM pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terasa terutama di kalangan mahasiswa antropologi. maka aspek filosofis dari aliran pemikiran ini tentu lebih belum dikenal lagi. mungkin pula karena ahli filsafat Indonesia tidak ada yang tertarik untuk 68 . Mengapa demikian? Mungkin beberapa faktor yang telah saya sebutkan di atas adalah diantaranya. tidak adanya kuliah khusus mengenai strukturalisme di universitasuniversitas di Indonesia. jika tidak memprihatinkan. Di luar UGM pengaruh tersebut tetap masih belum terasa. tidak adanya ilmuwan sosial-budaya yang khusus menekuni strukturalisme dan kemudian memperkenalkannya kepada publik Indonesia. namun sebenarnya sebagai sebuah epistemologi strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran filsafati. Saya tidak tahu apakah di jurusan-jurusan antropologi lain di Indonesia paradigma ini telah diajarkan. Faktor-faktor yang lain mungkin sekali juga menjadi penyebabnya seperti misalnya : langkanya buku mengenai strukturalisme itu sendiri. Belum pernah saya diundang dalam seminar. Pengaruh ini terlihat terutama di jurusan Antropologi di Universitas Gadjah Mada. Mungkin karena di jurusan-jurusan antropologi yang lain tidak ada orang yang merasa menguasai dan dapat mengajarkan dengan baik strukturalisme sebagai sebuah paradigma. Sisi filosofis inilah yang belum diserap oleh kalangan intelektual atau ilmuwan Indonesia. 5. diskusi atau lokakarya yang secara khusus membahas strukturalisme (Lévi-Strauss) sebagai sebuah trend pendekatan baru dalam ilmu sosial-budaya. terutama karena tidak dapat digunakan untuk memahami dinamika dan perubahan kebudayaan. Kalau pada awal kemunculan post-modernisme dan cultural studies saya sempat diundang dalam diskusi dan seminar di Indonesia tentang dua trend keilmuan tersebut. Penutup Apa yang saya paparkan di sini adalah apa yang saya ketahui mengenai strukturalisme di Indonesia di masa kini. tingkat pascasarjana. Hal ini tentu sangat mengherankan. tidak demikian halnya dengan strukturalisme. atau mungkin ada tetapi saya tidak mengetahuinya.mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya Indonesia dalam waktu yang relatif dekat ini. wacana serius tentang strukturalisme (Lévi-Strauss) setahu saya tidak pernah muncul di Indonesia. Tidak sebagaimana halnya post-modernisme dan cultural studies. dan ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal. Mungkin karena sisi ini lebih sulit untuk ditangkap dan dipahami oleh ahli filsafat Indonesia. Kalau dalam antropologi saja strukturalisme (Lévi-Strauss) sampai saat ini masih belum sangat dikenal. mungkin juga karena paradigma ini dianggap terlalu banyak kelemahannya.

1994. sementara strukturalisme yang berasal dari Foucault dan Barthes tidak begitu terlihat pengaruhnya di kalangan kaum terpelajar Indonesia. Yogyakarta **Makalah ini disampaikan dalam diskusi publik bertema: Perkembangan Strukturalisme Prancis di Indonesia pada hari Rabu. 1995. Universitas Gadjah Mada. Tesis Pascasarjana Antropologi. di samping konsep-konsep seperti nirsadar. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. di tingkat pascasarjana. Kalam 6 : 124-143. oposisi biner. Oleh karena itu pula. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. (d) pembahasan kritis atas pemikiran-pemikiran antropologis dan filosofis belum terlihat. Kawin Bedil dan Sobrat. Fakultas Ilmu Budaya. Ahimsa-Putra. signifier. sintagmatik-para digmatik. ___________.membahasnya. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. 1984. Dari paparan di atas kita dapat mengatakan bahwa (a) strukturalisme yang dikenal di Indonesia adalah strukturalisme yang dikembangkan oleh Lévi-Strauss.S. itulah tantangan dari strukturalisme yang hingga kini di Indonesia masih belum ada yang bersedia menghadapi dan dapat menakhlukannya. 69 . 2005. terutama di UGM. dan sebagainya. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terhadap pemikiran-pemikiran ilmuwan sosial-budaya Indonesia masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat meninggalkan bekas yang cukup dalam serta mudah dikenali dalam karya-karya ilmiah mereka. dan tampaknya belum akan muncul dalam waktu dekat. Universitas Gadjah Mada. karena di jurusan antropologi UGM strukturalisme Lévi-Strauss diajarkan secara khusus selama satu semester. dan transformasi. struktur sosial. sign. H. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. *Penulis adalah Pengajar Antropologi Budaya. (c) beberapa konsep penting dalam strukturalisme yang mulai dikenal dan dimengerti adalah konsep struktur. Namun. karena hal semacam ini menuntut pemahaman yang mendalam atas berbagai paradigma dan pandangan filosofis yang berkembang dalam antropologi dan filsafat. (b) strukturalisme Lévi-Strauss masih terbatas dikenal di kalangan pelajar antropologi. Makalah seminar. 1 April 2009 sebagai mata rangkai Public Culture Series bertajuk: Pemikiran Kritis Prancis dan Implikasinya di Indonesia Sekarang ini Daftar Pustaka Abdullah. T. Basis XXXIII (4) : 122-135. ___________. signified.

“Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. September – Desember. Gerbang 5 (2) : 88 – 97. 2000a. Makalah seminar Arkeologi. 2002b. Jakarta : UI Press. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. ___________. Makalah dalam bedah buku. ___________. ___________. 1997. A. Tiga Dasawarsa. Tembi 1 Thn. 1999c. Nalar Jawa. Rahayu S. ___________. Strukturalisme Lévi-Strauss. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. Humaniora 12 : 1 – 13. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. 2002c. Satu Model. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. ___________. 1998b.___________. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng-Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. Yogyakarta : LKIS. Mitos dan Karya Sastra. ___________. 1999b. 2000b. 2002a. Salam (ed). Makalah Pelatihan. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. Makalah seminar. Yogyakarta : Galang Press. 1998c. 1998a. (ed). dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. ___________. “Lévi-Strauss. Makalah Sarasehan. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. O. ___________. Makalah seminar. ___________. Roland Barthes : dari Strukturalisme ke PostStrukturalisme. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.I : 10 – 19. 1999a. ___________. Dua Paradigma. 2001. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. ___________. Makalah seminar. Paz. 2002d. 70 . Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. ___________. Orang-Orang PKI. ___________.

Yogyakarta : Insight Reference. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. Metodologi dan Etnografi. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya Bugis-Makassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya Bugis-Makassar. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. Sawerigading. 2006e. Makalah diskusi. Satwa. ___________. Mitos dan Nalar Primitif. Terj. ___________. 2007a. Kepel Press : Yogyakarta. Mitos dan Karya Sastra. 2006c. N. Totem. 2007b. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. C. Makalah bedah buku.). Ahimsa-Putra (ed. 2006d. ___________. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori.___________.). 2006a. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. Makalah bedah buku. Abdullah (ed. 2004. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta : Kepel Press. Jakarta : Rajagrafindo Persada. H. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. 2002e. ___________. Analisis Struktural Lévi-Strauss dan Mitos Tasawuf. Makalah seminar nasional. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. ___________. T. 2006b. 2008a. Ritus Pertukaran”. Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. Leni. 2003. ___________. Edisi Baru.S. Strukturalisme Lévi-Strauss. Badcock. ___________. Tesis Pascasarjana Antropologi. 2005. ___________. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. Humaniora XV (3) : 239 – 264. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. Abror. Robby H. ___________. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasirelasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. 2008b. 71 . ___________. ___________. Ritus Penandaan. Makalah seminar.

Tesis Pascasarjana Antropologi. Sperber. Sturrock (ed. London : Ark Paperbacks. 1979.Listia. J. 2007. Universitas Gadjah Mada. “Introduction” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Ngambu. Tesis Pascasarjana Antropologi. Budaya dan Struktur Masyarakat Tiongkok pada Dinasti Qing dalam Novel “Hong Lou Meng”. Yogyakarta. Distrik Kurulu.). Universitas Gadjah Mada. 1998. 2005. Analisis Struktural Lévi-Strauss. Ngaju. Tesis Pascasarjana Antropologi. 2008. Purnama. 2007. Makanan dan Struktur Budaya Minangkabau. Nasrulah.H. Subiantoro. Rumah Limas dan Struktur Pemikiran Orang Palembang. S. Universitas Gadjah Mada. Pace. D. Kabupaten Jayawijaya : Suatu Kajian Strukturalisme Lévi-Strauss. Ngawa. Claude Lévi-Strauss : The Bearer of Ashes. 2004. Tesis Pascasarjana Antropologi. Tesis Pascasarjana Antropologi. Pertukaran Dalam Hubungan Subkontrak di Kalangan Perajin Agel. 72 . Sumintarsih. 2003. Radjabana. Maryetti. Sturrock (ed. Menjadi Katolik Bagi Keturunan Cina di Jawa : Pertukaran Sosial Antara Keturunan Cina dan Gereja Katolik di Jawa. Universitas Gadjah Mada. A. Purwadi. Numbery. G. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Prinsip-prinsip Struktural dalam Rumah Tradisional Sumba di Umaluhu. Tesis Pascasarjana Antropologi. Oxford : Oxford University Press. Disertasi Antropologi. Xiao Lixian. Tesis Pascasarjana Antropologi. 2000. Tesis Pascasarjana Antropologi. Loro Blonyo Dalam Rumah Tradisional Jawa : Studi Tentang Kosmologi Jawa. Posisi Wahyu dalam Agama Kristiani dan Islam : Studi Atas Perbedaan Agama Kristiani dan Islam Menurut Strukturalisme Lévi-Strauss. J. Sturrock.K. 1986. J. D. Struktur Budaya Orang Dani di Desa Jiwika. D. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. Universitas Gadjah Mada. 1979. Oxford : Oxford University Press. Universitas Gadjah Mada. 2009. Kulon Progo. Universitas Gadjah Mada.). 2002. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Liwa : Analisis Strukturalisme Lévi-Strauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito.I.

Meteor Garden. KUNCI Cultural Studies conducted a research on the popularity of Taiwan’s TV series. Laporan ini dibuat pada tahun 2006. Audio Archive : FGD Meteor Garden On 2002. KUNCI asked Meteor Garden’s fans reception to the show through forum group discussion. Selain itu perpustakaan juga memiliki koleksi media alternatif (zine) dan transkrip hasil diskusi. in Indonesia. tuhan. makalah. During the research. 73 . filsuf perempuan. laporan penelitian. More articles » Kertas Kerja » Demam K-Drama dan Cerita Fans di Yogya oleh YULI ANDARI M Yuli Andari menuliskan pengamatannya tentang demam drama Korea dan para fans di Yogyakarta. kertas kerja tentang kajian budaya. kematian. jurnal. dan usia manusia dalam sebuah perbincangan dengan Kristine McKenna dari LA Weekly. … More articles » Buku » Koleksi Terbaru Perpustakaan KUNCI September-November 2009 Perpustakaan Kajian Budaya KUNCI mengoleksi buku teks. Tema-tema khusus yang menjadi fokus utama … More articles » General » Tiga Usia Jacques Derrida Derrida berbicara tentang arti biografi.11 readers like this article.

Alat memproduksi video semakin terdemokratisasi … More articles » Public Culture Series » Strukturalisme Levi-Strauss di Indonesia 2009 oleh HEDDY SHRI AHIMSA-PUTRA 74 . kampanye isu tertentu. maupun organisasi aktivis. merebahkan badan … More articles » Magazine » Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN Ini adalah kumpulan Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN. Bila ada kesempatan di akhir pekan. More articles » PDF » VIDEOCHRONIC [scroll down for English version] Beberapa dekade belakangan Indonesia mengalami perubahan yang cukup drastis dalam penggunaan video sebagai alat perubahan sosial baik di ranah komunitas. lengkap dari bagian I sampai bagian IV. Saya bisa menghabiskan waktu seharian di pantai dengan berbagai aktivitas: mandi. saya menyempatkan diri ke pantai bersama teman-teman atau kerabat.More articles » Kolom » Putih oleh YULI ANDARI M Sejak kecil saya telah menyukai pantai.

mengapa? Hedy-Shri Ahimsa Putra mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. praktikkan gaya membaca “penyusutan” | Indonesia Buku on Newsletter KUNCI #15 Space/Scape Project • • Warung Kidul di Alun-alun Selatan 27/11/2009 nuning Monumen Cinta 24/11/2009 nuning ANONYMOUS WRITERS CLUB • aku ingin hidup aku ingin hidup […] Archives • • • • • • • December 2009 November 2009 October 2009 September 2009 August 2009 July 2009 June 2009 75 .Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada. seperti apa? Di kalangan yang mana ia menunjukkan pengaruh? Kalau tidak ada atau kurang terlihat. More articles » Review » “Kalaupun punk mati…” oleh FERDIANSYAH THAJIB Sebagai salah satu tampilan subkultur yang kini sering diutak-atik dalam beragam laporan ”tampak muka” rubrik gaya hidup di media massa sehari-hari. punk dibaca secara nostalgis dalam hubungannya yang selalu serba salah di hadapan tradisi (lokal) … Comments • • Avatar Play « ŚĨβĔŔРŔŐÚŚŤ ŤĔŔĂ on Avatar: “Visualizes yourself!” (Estetika Populer dan Identitas dalam Technoculture) Oleh ARIE SETYANINGRUM Umberto Eco: Di era fotokopi dan rimba informasi internet.

The latter approach may lead not only to analyzing symbolizations but also to placing symbols in a given structure. symbolic approach. according to the present writer. Tahun 31.Abstracts due 22 FEB 2010 To: danuprimanto@. arguing for the myths underlying those different motifs.. Nomor 1. Robby Hidayat adalah dosen Jurusan Seni dan Desain. sawat. From: primanto danu Subject: Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung . The structural approach produces research results different from those produced by the symbolic approach. structural approach.http://tinyurl.. and alas-alasan and their relationship with Javanese mythology. 76 . Pujianto writes a book on batik semen. Pokok pikiran seperti pada judul artikel tersebut dan mencermati uraiannya. Pujianto tampaknya menggunakan kajian simbolik. Date: […] KAJIAN STRUKTURALISME-SIMBOLIK MITOS JAWA PADA MOTIF BATIK BERUNSUR ALAM Robby Hidajat Abstract: Batik is a product of Javanese culture. Fakultas Sastra.. the writer suggests using the structural approach as a complement for the symbolic approach. which.com/ybecqvt 02:53:47 AM December 03. and functions. Javanese mythology. Universitas Negeri Malang. with a great variety of sizes.Networks • • • • Arts Network Asia Ford Foundation Indonesian Visual Art Archives Yes No Wave Music Twitter ‘New article. yaitu berbagai entitas yang dikaji seolah-olah memiliki relasi yang segaris (Line Relation).Abstracts due 22 FEB 2010 11/01/2010 . 2009 from WordTwit KUNCI-List • Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung . motifs. Pola diskripsi kajian simbolik seperti pada paparan dan analisisnya menunjukan sebuah pola linier . still needs to be completed with a structural approach proposed and developed by the French anthropologist Levi-Stauss. Tiga Usia Jacques Derrida. Key words: batik. forms. Sebuah Wawancara dengan Bapak Dekonstruksi . In his study he employs a symbolic approach. Mencermati artikel Pujianto berjudul Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam (Jurnal Bahasa & Seni. Therefore.. Februari 2003).

yaitu seperti model analisis yang dikembangkan oleh Ernst Cassire (studi budaya) dan Sussan K. Pujianto sangat terbantu oleh paham filosifis Jawa. tetapi tidak menunjukan sistematika analisisnya. Tahun 32. misalnya sebagai contoh 77 . Ini yang dimaksudkan oleh Heddy Shri Ahimasa-Putra. bolik menjadi pola pencermatan yang sangat popular di lingkungan pengkaji seni. salah seorang tokoh strukturalisme Prancis. professor di College de France. Kadang pelacakkan simbol umumnya hanya mencermati tata bentuk visual. bahwa kajian 288 BAHASA DAN SENI. sehingga pembahasan tentang simbol menjadi sekenanya (2000K:4a0ji3a-n40S8i)m. Pemikirannya menjadi sangat lancer karena terdukung oleh tata makna yang bersifat konvensional. Mauss. Bertolak dari artikel Pujianto. artinya wujud objek dicermati sebagai susunan unsur-unsur yang telah memiliki relasi tertentu. Entitas ini muncul secara tiba-tiba. Salah satu kajian yang dikembangkan oleh Levi-Strauss. referensinya telah tersedia. Agustus 2004 simbol tidak melakukan kajian struktur. Nomor 2. artikel ini bermaksud melakukan reinterpertasi ulang dengan model strukturalisme-simbolik. Skema yang dipaparkan tentang adanya relasi antara sifat orang Jawa . Simbol yang ditafsirkan atas dasar wujud fisik dari sesuatu yang terindra sebagai tanda bermakna. yaitu strukturalisme fungsional. di samping bersandar juga pada pemikiran Emile Durkheim. Heddy Shri Ahimsa-Putra seorang antropolog dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengomentari kelemahan kajian simbolik. Pujianto telah mengemukakan bahwa Batik . Hal ini dapat disimak pada table 1 [ Mitologi Jawa dalam Motif Batik] (hal. setidaknya telah dilakukan oleh Pujianto. Teori Durkheim menjadi dasar pembenaraan adanya relaisi-realasi dalam struktur kebudayaan manusia yang seolah-oleh seperti Organisme biologi (Abdullah & Leeden. suatu usaha menafsir terhadap simbol-simbol. 137). Pada kaitan ini. Sementara simbol di balik yang disimbolkan kadang sulit atau seringkali tak terjangkau.Hidayat. Seakan-akan unsur ornament . di samping tokoh yang lain. yaitu terbatas pada aspek permukaan (2000:402). M. Falsafah orang Jawa . Hanya saja bagaimana pola relasional filosofis Jawa itu terkait dengan motif batik berunsur alam ?. Berdasarkan pemikiran Emil Durkheim. Pemahaman Pujianto menjadi semakin anakronistik ketika menyimak skematis pada halaman 138. terutama menyimak relasi lambang dan arti . Pujianto telah memaparkan panjang lebar. dua tokoh tersebut sangat berpengaruh pada pada pemikir tentang simbol . Sebuah kajian berpijak pada paradigma Strukturalisme. lambang dan arti seoleh-oleh membuat pembenaran adanya relasi tentang konsep hindusitis yang disebut triloka . Perspektif simbolik. dapat meletakan posisi batik sebagai benda yang bersifat funsional di lingkungan budaya Jawa. Paparan Pujianto seolah-oleh seperti bentuk analisis realasional. Lenger (studi seni). Langkah ini tidak akan lengkap dan mantap tanpa memperhatikan pandangan pemilik budaya. Dasar utama pemikiran yang digunakan oleh Pujianto secara mendasar mengacu pada filsafat makna. 1986). Unsur Alam Kehidupan dan Unsur Batik . Kajian Strukturalisme-Simbolik 287 Kajian simbolik yang digunakan oleh Pujianto dalam mencermati Motif Batik unsur Alam adalah pola pemikiran yang khas dari para peneliti sebelum generasi Roland Barthes.

BATIK BERUNSUR MOTIF ALAM 78 . dan tumpal. Konsep-konsep dari fungsi menunjukan adanya sebuah struktur. titahnya merupakan keputusan yang terbagik bagi dirinya.uraian tentang fungsi batik alas-alasan. dan untuk pengantin pria pada waktu ijab Kabul (Semen Rama). tetapi untuk mencermati sebuah simbolisasi dari benda-benda fungsional menjadi lebih kredibel. Pemikiran ini yang mengarahkan pada kajian structural. Kajian Strukturalisme-Simbolik 289 batik cumangkirang ingkan acalacap lung-lungan utawa kekembangan. daragam lan tumpal. Relasi dari benda dan orang yang memfungsikan didasarkan oleh sebuah konsep . dan batik parang rusak. dan tari Bedhaya (halaman 133). Mengetengahkan paradigma strukturalisme sebagai model telaah batik berunsur alam bukan cara pandang yang berbeda dengan pemikiran Pujianto. Mengingat strukturalisme model Levi-Strauss memandang struktur sebagai model dari pola pikir manusia dalam memahami dunianya (Kaplan & Manners. (halaman 130) Motif alas-alasan tidak tampil pada semua jenis kain batik. Motif Sawat secara etimologis dipahami semi . maupun Abdi Dalem. modang. bangun-tulak. Pujianto mengemukakan batik bermotif Sawat merupakan busana yang melambangkan kebijakan raja. Pernyataan Pujianto dan Amri Yahya jelas. terj. utamanya ketika sedang bertitah. modang. batik cumangkiri yang calacep. fungsinya sebagai busana seorang raja Jawa (Kasunanan Surakarta) ketika bertahta. keluarganya. Jenis batik ini sering digunakan oleh Raja untuk upacara-uparada agung. Anadene Hidayat. dan abdidalem. tetapi (hanya tempil) pada kain baik sebagi (untuk) Dodot bangun-tulak (pola busana) dengan kombinasi prada emas. (Yahya. Tetapi sebuah analisis yang lebih sistematis. bangun tulak. 1985: 16) Adapun barang berupa kain panjang (jarit) yang termasuk larangan saya (raja): Batik Sawat. lenga-teleng. Wedana. Walaupun kedua teori tersebut berpijak pada konsep yang berbeda. Konsep dari fungsi adalah memiliki kaitan relasional dengan unsur yang memungsikan suatu benda. ingkang ingsun kawenangaken anganggona pepatih ingsun lan sentaningsun. lenga-teleng. dan rakyatnya. Bahkan Sunan Paku Buwana III pada tahun 1769 mengluarkan larangan menggunakan batik tertentu. 1983:213). daragam. Batik Sawat merupakan salah satu batik yang menjadi milik raja. batik cumangkiri kang calacep. sebagai berikut: Ana dene kang arupa jejarit kang kalebu ing laranganingsung: Batik Sawat lan batik parang rusak. Adapun batik Cumangkirang yang acalecep berupa lunglungan (sulur) atau kekembangan (bunga-bungaan). baik pemikiran Emile Durkheim atau Levi-Strauss. 2003: 131). 2000: 237). yang saya perbolehkan dipakai Patih. seperti yang disampaikan oleh Soedjoko yang dikutip oleh Amri Yahya. (Pujianto. kawulaningsun Wedana. Landung Simatupang. sebagai berikut: Motif Semen dalam penerapannya di dalam keraton diperuntukkan bagi Pangeran. Adipati. Strukturalisme lebih menekankan pada sebuah cara berpikir dari masyarakat sederhana yang menganggap bahwa sistem sosial hanyalah refleksi dari sistem dunianya atau dengan kata lain mikro-kosmos merupakan refleksi dari makro-kosmos (Randrianarisoa. bahwa Batik merupakan benda fungsional.

Pemahaman tersebut dapat disekematiskan sebagai berikut Gambar 2. Misalnya. dalam kaitan ini adalah Raja Jawa . Batik Semen memiliki kaitan yang bersifat vertical alam atas. sebagai berikut: Gambar 1. yaitu yang memahami bahwa secara kosmologis dunia dibagi menjadi tiga. Berdasarkan skema tersebut di atas. yang dijelaskan oleh Pujianto. pemikiran Pujianto tampaknya seperti skema tersebut di atas. yaitu dipahami dari adanya berdasarkan analogi. agar benih tersebut dapat bersemi. Kajian Strukturalisme-Simbolik 291 dipahami sebagai kenyataan tentang kosmologis Jawa. Semen 79 . dan demikian pula dengan batik Sawat & Alas-alasan yang memiliki kaitan dengan batik Semen.Pujianto memilik topik penulisan artikel tentang batik berunsur motif alam dengan objek batik yang berkembang di keraton (?) [tidak dijelaskan lebih sepesifik keraton yang mana] dengan sample analisis batik bermotif Semen. dan Alas-alasan memiliki realisi dengan mitos kesuburan dan kekuasaan. sehingga simbolisasi tentang kesuburan tidak dikemukakan secara jelas oleh Pujianto. sebagai berikut. urairan tentang bentuk Semen. Selanjutnya relasi tentang kesuburan tidak dibahas secara mendalam. Skema relasional antara konsep Triloka dan motif batik berunsur alam Keterangan: Batik seolah-oleh memiliki kaitan dengan konsep triloko. Tahun 32. dan alam bawah. yaitu Semen Sawat Alas-alasan Hidayat. Sawat. seperti Levi-Strauss menganalisis tentang makanan. Levi-Strauss menempatkan makanan dengan pola analisis segitiga kuliner (Cremers. Nomor 2. Ketiga mofif batik tersebut diasumsikan bersumber pada fenomena alam sebagai lambang kesuburan dan kekuasaan 290 BAHASA DAN SENI. dan batik Alas-alasan memiliki kaitan dengan alam bawah. dan Alas-alasan. selanjutnya dicermati lebih lanjut dengan menyusun table realasi dari ketiga entitas tersebut di atas. Pemilihan relasi paham triloka didasarkan atas kesamaan relasi tiga . yaitu: Alam atas. Sawat. Agustus 2004 ran dan kekuasaan Apabila benar. tiga motif batik yang terdiri dari motif Semen. Penyebara benih. 1997: 80). dengan tujuan menguji adanya keterkaitan dengan paham filosofis Hindu tentang Triloka [tri = tiga dan loka = dunia]. sementara batik Sawat memiliki kaitan dengan alam tengah. demikian juga tentang kekuasaan . Skema segitiga kuliner model strukturalisme Levi-Strauss Dasar pemempatan sample tiga motif batik tersebut bersifat abitrer (sekenanya). yaitu ada kesamaan bentuk dengan pengertian konvensional tentang makna kesuburan . Analisisnya lebih pada pemahaman tentang adanya persepsi bentuk. Bentuk Semen merupakan tanda penyebaran benih. Batik Semen memiliki hubungan kesamaan motif dengan dua batik yang lain (Sawat & Alasalasan). Berdasarkan konsep Triloka. alam tengah. Bahawa dunia dibagi menjadi tiga tataran yang bersifat hirarkis. seperti yang digambarkan berupa tanaman menjalar (sulur) sebagai penggambaran alat kelamin pria (halaman 130). Langkah awal yang akan dilakukan adalah menghubungkan ketiga motif tersebut.

kuda. kakyaan. kupukupu. harimau. Awan. kegembiraa. kumbang. ALAM 80 . tumbuhtumbuhan Kehidupan. kemakmuran. Matahari Burung Garuda. roh ALAM TENGAH Manusia. gunung. Tanah Brahma Tumbuhan. Tahun 32. burung merak. Garuda. Lar (sayap) bersulur bangunan. Kekuasaan. hidup. kesaktian. Awan. wahyu. angkasa.Sawat Alas-alasan Alam bawah Alam atas Alam tengah 292 BAHASA DAN SENI. Lar (sayap). Nomor 2. Analisa Taksonomi Relasi antara Konsep Triloka dan Motif Batik Berunsur Alam SEMEN SAWAT (GURDO) ALAS-ALASAN INTERPERTASI MAKNA ALAM ATAS Gunung Semeru/ Brahma Lingga (Siwa) Tirta Marta Raja Burung. Kalpataru. pengavoman. Agustus 2004 Tabel 1. kejayaan. (pohon hayat) Ayam jantan. suci. kapal Udara.

dan sebagian kecil berrelasi dengan kolom alam tangah . Sebagai contoh garuda dipahami berdasarkan makna sifat dari binatang yang mampu terbang. Analisis ini menunjukan. yaitu menempatkan raja dengan kode (+) dan rakyat dengan kode (-). ternyata segi tiga kuliner tersebut tidak cocok. tidak berelasi dengan bulat yang disebut dengan rembulan . bahwa ketiga batik tersebut memiliki pormasi struktural yang lain. bahwa konsep triloka dimungkinkan tidak tepat. Apabila diubah relasinya. Sementara Pujianto hanya menyitir dari hasil pemikiran peneliti lain yang telah berupa pernyataan. atau kurang dapat memberikan pemahaman secara komperhensif. atau ular yang berrelasi dengan air. 2000:127). dan memiliki relasi dengan mitos tentang burung dewata . Paparan Pujianto dalam menguraikan makna-makna seolah-oleh benar. yuitu tidak dengan paham triloka yang dianggam memberikan makna pada motif batik berunsur alam. kematian Tabel di atas merupakan dasar analisis yang dilakukan oleh Susanto (1983: 235-237). sengsara. Matahari yang berbentuk bulat. yaitu memandang kosmis tercipta serba dua (Sutarno. 2002: 24. Ditemukan relasi kearah paham monisme dualitik. bahwa sistem analisis terhadap motif batik berunsur alam kurang menunjukan akurasinya. sacral. Maka dimungkinkan. atau tidak terbukti. Zoetmulder. dan Veldhuisen (1988: 28) yang dicuplik oleh Pujianto ( halaman 134-135). sehingga ular berrelasi dengan dunia bawah (Pujianto. simbol dibaca dari materi yang seolah oleh menyimbolkan dari sesuatu. sungai. Kalau diperhatikan. Model pemahaman yang dilakukan oleh Pujianto adalah analisis analogi. Salah satu burung yang diyakini sebagai kendaraaan dewa Wisnu. sungguhpun tidak seluruhnya salah. laut. kedukaan. berrelasi dengan bulat yang disebut Matahari . Pemikiran ini ditunjukan oleh Levi81 . Berdasarkan hasil pencermatan melalui table 1. Sedangkan untuk kolom alam bawah tidak menunjukan adanya relasi. bukti Hidayat. Tabel 1 menunjukan sebuah sistem analisis makan. Akan tetapi menjadi kurang mampu memberikan pemahaman yang lengkap dan jelas. Analisis pada tabel 1 menunjukan. Betari Sri Laut.BAWAH Laut. Wisnu. Kajian Strukturalisme-Simbolik 293 nya unsur-sunsur alam tampak mengelompok pada kolom alam atas . yaitu sesuatu menjadi ada karena memiliki realsi dengan keberadaannya. Jika dicermati lebih lanjut paham monisme dualitik memandang dunia ini terbentuk berdasarkan relasi yang bersifat oposisional (bertentangan dalam kesatuan). Tetapi menekankan relasi batik berunsur alam dengan fenomena kekuasaan Jawa . sebagai lawan garuda. yang dimungkinkan mendapatkan sebuah gambaran yang jelas tentang lambang-lambang dan ditafsir. 2003:134). Ular (naga) Kesuburan Roh-roh jahat. ternyata tidak semua motif batik berunsur alam memiliki realisi dengan konsep triloka.

lambang dan arti tidak menunjukkan sumber data. Bahasa sebagai suatu lengue berada dalam waktu yang bisa berbalik (reversibele time). kebesaran. Parole adalah aspek statistikal dari bahasa yang muncul dari adanya penggunaan bahasa secara kongkrit. 2001: 80-81). cerita Ramayana. dan motif Alas-alasan dapat lebih mendalam. Tetapi tabel 2 di atas cukup jelas. kesetiaan 82 . Hidayat. Pemahaman di atas menunjukan. keluhuran. tabel 1 Mitologi Jawa dalam Motif Batik (lihat halaman 137) tidak jelas. tetapi bahasa sebagai parole tidak dapat terlepas dari perangkap waktu itu sehingga parole dianggap oleh LoviStrauss berada dalam waktu yang tidak dapat berbalik (non-revarsible time). Pertimbangannya adalah cuplikan tersebut merupakan data yang telah teranalisis. dan simbol dapat dikemukakan sebagai berikut. Analisis ditujukan untuk mencari strukltur (Pujianto mengartikan dengan Mitologi. (antara ornamen. perwujudan yang terlukis pada kain (jarid) yang berfungsi sebagai busana para priyayi Jawa. (simak halaman 134-138). Struktur inilah yang membedakan suatu bahasa dengan bahasa yang lain. bahkan mengetengahkan kemungkinan strukturnya. yang tidak terpengaruh oleh individu-individu yang meng294 BAHASA DAN SENI. Tabel yang dibuat oleh Pujianto. yaitu diucapkan. karena dia terlepas dari perangkap waktu yang diakronis. yang relative tetap. Tahun 32. Mitos. 2003:105-142]. Akan tetapi wujud gambar itu menunjukan adanya pola realisonal yang bersifat permanen. yaitu menempatkan unsur-unsur yang saling berkait dan saling menjelaskan. Analisis motif batik berunsur alam yang terdiri dari motif Semen. kata Levi Strauss. seperti katakata (bahasa) yang sebagai alat komunikasi sehari-hari. cerita Garudia Kejayaan. Kajian Strukturalisme-Simbolik 295 Tabel 2. Aspek visual yang ditangkap menjadi perhatian utama untuk dipahami relasi-relasinya. dan waktu yang tidak bisa berbalik. dan relasi konstan). juga berada dalam dua waktu sekaligus. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata). Nomor 2. kekuasaan. Analisis Relasi dan Simbol Motif Batik Berunsur Alam Wujud Motif Relasi Simbol Burung. Motif yang terlukis selain menunjukan pola gambar yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan. Agustus 2004 gunakannya.Strausss berdasarkan konsep Ferdinad de Saussure tentang bahasa. motif Sawat. realasi. yaitru disebut struktur atau sebagai grammer pada bahasa. Bahasa memiliki aspek Langue dan parole parole adalah bahasa sebagaimana dia diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sarana berkomunikasi. Bahasa dalam pengertian ini merupakan struktur-struktur yang membentuk suatu sistem atau merupakan suatu sistem struktur. kebijakan. yaitu waktu yang bisa berbalik. yaitu sesuatu yang tidak tampak pada gambar itu sendiri. bahwa motif batik berunsur alam dapat dipahami sebagaimana langue dan parole [simak John Strorey. Tabel analisis berikut secara keseluruhan memanfaatkan data yang ditulis oleh Pujianto berdasarkan cuplikan dari berbagai sumber. (Ahimsa-Putra. walaupun langkah pencermatannya tidak secara mendalam membicara Skematis antara wujud. sedangkan aspek langue dari sebuah bahasa adalah aspek strukturalnya.

kasih sayang. kekuasaan. kekayaan. kekuatan penakluk Motif Alasalasan Ular (naga) Dewa Siwa. tanah Kejahatan. kecerdirkan. langit. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. Wanita (femimimitas) Kasih saying. kekuatan perusak. ikatan kekerabatan. Kemakmuran. tujuan Motif Semen Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. Tahun 32. Istana. pelepasan. Kebebasan. kekuasaan. Harimau. pikiran Bangunan. keluhuran. keabadian. Mitos Sri Sardono Kemakmuran. kebesaran. kekayaan. kelestarian. pembasmi.Lar (sayap) Unggas bersayap. Nomor 2. pencerahan. ketentraman Laut. alam kegelapa. kekuasaan. kesetiaan Burung merak. Kejantanan (maskulinitas) Keperkasaan. Mitos Laut selatan. ketentraman Motif Sawat Pohon hayat Pohon beringin. kegelapan 296 BAHASA DAN SENI. mitos SriSadana Kemakmuran. keperkasan. kepergiaan. rintangan. kesetiaan Kumbang. pencerahan. kalpataru. Dalam hal ini diarahkan pada masyarakat keraton Jawa dari dinasti raja-raja Mataram. Mitos tentang kesejodohan Kecantikan. Mitos kematinan. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata) Kejayaan. pikiran. Sorga Ketentraman. ringin kurung. Rumah. perlindungan. keinginan. kebijakan. atau pandangan para priyayi 83 . kecantikan Lar (sayap) Unggas bersayap. perdamaian Awan. Kuda. ketenangan. ketentraman Burung Garuda. Tetapi mengarah pada kajian simbolik) pemikiran masyarakat pemilik simbol. Kejantanan Keperkasaan Ayam jantan. pundhen desa. kekuasaan Kapal. Sorga. kekuasaan. Agustus 2004 tentang mitologi Jawa. harapan. mitos Sri Sadana. kekayaan. gunungan wayang kulit (Kayon) Perlindungan. kesetiaan. kayon Puncak. kedamaian. bentuk wayang rampokan Kebebasan. angkasa (langit) Maskulinitas (bapa). kebijakan. harapan. puncak meru. kebijakan. kebesaran. keperkasaan Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. ketentraman. kebebasan Sulur Tanaman menjalar Kesuburan. Kejantanan Kekuatan. kebebasan Gunung Mitos tentang sorga. Kupu-kupu. Kejantangan Kekuatan. kesucian Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. penghancur.

seperti bentuk batik Semen. logis. merak). naga. 2001:31) Fenomena ini seperti kita berbicara. meliputi warna dasar. Hidayat. Unsur mitos. tanaman. 2001:31). Motif-motif pada batik yang memvisualisasikan fenomena alam diangkat sebagai morfem (unsur terkecil dari unit kata). analisis kebudayaan berdasarkan perspektif strukturaliseme adalah analisis unit mental (Masinambaw & Hidajat. sebenarnnya semua orang tidak dengan amat menyadari tata bahasa (grammer) yang sedang digunakan. Kondisi ini dikarenakan oleh sifat diskriptif yang tidak analitis. dipahami sebagai sebuah struktur. Maksudnya adalah mencari makna dari tanda . Pendekatan Strukturalis tidak hanya berhenti memahami teks (wujud kain batik. mitos kekuasaan. yaitu yang terrangkum dalam salah satu bentuk. kata demi kata yang terlontar sangat disadari maknanya. akan tetapi lebih mendalam. Struktur Batik Semen didiskripsikan sedemikian rupa. atau Hermeneutik. melainkan diperoleh atas dasar pertalian tanda-tana (artinya antar tanda) itu sendiri. Sawat. Artinya selembar kain batik yang disebut Semen. dan lain-lain. salah satunya adalah menggunakan teori semiotika. kupu-kupu. dan motif-motifnya). dan berbagai perujudan lain termasuk jumlah dan pengulangan bentuknya. Pujianto mengemukakan opininya tentang mitologi Jawa pada subbab Pandangan Hidup Orang Jawa (halaman 137-140). seperti motif Sulur-suluran.motif pada kain batik. atau Alas-alasan. unggas (burung garuda. posisi motif. kaitanya dengan mitologimitologi tertentu yang menghadirkan motif. mitos perjodohan. secara linier dicari keterkaitannya dengan mitos Jawa (salah satunya digali dari paham filosis Jawa). Fenomena alam yang berwujud motif alam pada kain batik. Maka. ucapan. antara judul yang diajukan dengan pokok pikiran yang dipaparkan. Mitos adalah grammer yang membimbing sebuah komunitas memahami realitas kehiduannya. Kajian yang menjadi sasaran adalah kesadaran dari ketidaksasaran tindakan. Metode ini yang dimaksud oleh Heddy Shri Ahimsa-Putra sebagai kajian tekstual (2000: 404). garis-garis. Akan tetapi perlu disadari. pohon hayat. Pujianto lebih menitik beratkan pemahamannya tentang mitologi Jawa yang tampak pada motif-motif batik berunsur alam. Struktur sebagai bagian dari sistem mental manusia adalah sesuatu yang berada di luar kesadaran manusia dan merupakan kebudayaan itu sendiri (Masinambaw & Hidajat. dan referentif. Kemudian dilanjutkan menelaah makna dengan alat analisis. Kajian Strukturalisme-Simbolik 297 dan keputusan sesorang. dan lain sebagainya. lidah api. mitos kesuburan. gambar. salah satunya ada pada motif batik. tetapi bersamaan dengan itu. ukuran. sehingga tidak menyadari adanya ambiguitas. Pendekatan strukturalisme mengarahkan kajian pada mitos. seolah-olah referensi dari berbagai sumber benar-benar memberikan dukungan pada asumsi judul. Paparan tersebut merupakan interpertasi 84 . yaitu tentang paham monisme dualistik.(maksud dari Pujianto adalah keraton Kasunanan Surakarta). sehingga tercipta berbagai bentuk mitos tentang asal usul sebuah komunitas. awan. Melalui pendekatan Strukturalisme dapat mencermati motif (wujud material visual sebagai tanda) pada Batik. makna tidaklah dicari pada dunia eksteral. Paparan pada artikel Pujianto tampaknya rasional. kemudian motif-motif dianalisis keterkaitannya dengan motif-motif lain untuk menentukan sebuah struktur.

bentuk. bahwa lapisan bawah yang biasa disebut rakyat juga mendapat perhatian. atau tunas yang harus di semai kan. maka juga ada persatuan antara manusia dengan penguasa masyarakat. kesejukan. Wanita dikaitkan dengan warna merah (darah). yaitu makna yang tersimpan pada struktur dalam (deef stracture). Penguasa masyarakat adalah raja yang dianggap mewakili kekuasan Tuhan di dunia. yaitu sebuah paham kemanunggalan (kesatuan) yang berikutnya menjadi paham monisme dualitik. Konsep tersebut dimungkinan dapat ditafsirkan dari bentuk struktur batik Sawat. yaitu memahami angkasa sebagai bapa (eksistensi maskulin) dan bumi sebagai ibu (eksistensi feminim). Agar uraian Pujianto menjadi lebih lengkap. tetapi harus diwujudkan sedikitnya dua relasi. Kekuasaan tidak dapat berdiri sendiri.] dan duwur (atas) [ + ]. Mitos tentang relasi atas-bawah juga hadir pada konsep-konsep tentang kesuburan. dan kreativitas yang dikarsai. dan kreativitas alami kedua-duanya dipandang perlu pemaduan. berfungsi (raja) sebagai pusering bumi lan langit (pusat bumi dan langit sekaligus) (2002: 101). sebuah citra yang kuat. Persatuan ini diibaratkan sebagai manunggaling kawula gusti (dengan g kecil). salah satu klasifikasi simbolis dalam budaya Jawa (Koentjaraningrat. Danaita. Tuhan (Gusti) memiliki kuasa atas makluk (kawula) yang dikuasai . Woro Ariyandini S. sebagai berikut: Kepriaan biasanya dikaitakan dengan warna putih 9air mani). sebuah batik yang digunakan oleh Susuhunan Pakubuwana (Surakarta) ketika duduk di dapar kencana. spontanitas. Curiga manjing warangka. Pandangan ini telah dikonstruk sejak jaman kerajaan Singasari. paparan berikut ini menganalisis deef stracture berdasarkan realsi antar tanda pada motif batik yang dimaksud. Nomor 2. subtansi. Bila dengan ungkapan manunggaling kawula-Gusti (dengan G besar) dimaksudkan sebagai persatuan antara manusia dengan penguasa gaib (Tuhan).untuk menemukan makna. Raja yang bersifat Saraita. Ken Arok melegitimasi dirinya sebagai putra Betara Brahma. bibit . dan rakyat dipandang sebagai kawula .1994 :228) yang terwujud dalam mitos-mitos kekuasaan. Agar dapat memahami eksistensi Gusti dan kawula dan analoginya gusti (raja) dan kawula (rakyat) maka tercipta sebuah konstruk pikiran Kawula Gusti . Penguasa dan rakyat ada hubungan timba-balik.. pengendalian. Paham ini dikenal dengan konsep dewa raja . istilah ini berrelasi dengan 85 . yaitu . bahwa raja Jawa dipahami sebagai Gusti (bahasa Jawa gusti juga dipahami sebagai kekuasaana gaib dari realitas transendental). dan bersikap adil). langit. (1992:186) Menyatunya dua eskistensi tersebut menurunkan yang disebut wiji . kehangatan. Hakekatnya adalah sebuah 298 BAHASA DAN SENI. siap memberi bantuan pada siapapun yang membutuhkan. Tahun 32. bumi.. Konsep raja sebagai manivestasi dewa ini ternyata berlanjut hingga dinasti raja-raja Mataram. ANALISIS STRUKTUR Relasi isor (bawah) [ . Darmaita ( ahli stragegi perang. Agustus 2004 presentasi idealistik raja Jawa yang menganggap dirinya adalah menivestasi Dewa . Anthony Reid mengemukakan perihal esensi pria-wanita yang bersifat saling melengkapi. yaitu Loro-loroning Atunggal. seorang peneliti dari Universitas Indonesia menjelaskan paham tersebut sebagai berikut: Dalam pikiran orang Jawa.

Skema oposisional berdasarkan monisme dualitik. Kayon dalam konsep wayang Jawa adalah gunungan . raja berada di timur (gegong kuning keraton Kasultanan Yogyakarta menghadap ke Timur). keluarga. yang da 300 BAHASA DAN SENI. ora kena wula-wali. ratu pelindung raja-raja Jawa (sejak jaman Mataram). Hutan lebih bersifat magis. Gambar 3. setan. menampakan hubungan yang bersifat duniawi. 1982:33). Barat menunjukan arah marabahaya. Gunung laut juga berkaitan dengan kiblat (arah mata angin). Relasi gunung laut . atau sakral. Tempat arwah yang tidak beruntung. dan laut berada di selatan (pantai parangtritis). Konsep kesuburan menempatkan kedudukan suami (tengen/ kanan) dan istri (kiwa/kiri). yaitu Betari Sri dan Raden Sedana (Danandjaya. tumbuhan. Nomor 2. Hutan merupakan gagasan utama adanya kayon atau kayun yang berarti hidup. pelindung istri dan anakanaknya. horizontal dan vertikal. Paparan relasional dari motif batik Semen. sabda pandita ratu. Agustus 2004 pat dipahami sebagai hutan . kebesaran. Sebuah pola pikir orang Jawa disebut loro-loroning a tunggal Tengen (kanan) 86 . dan seluruh rakyat. dan juga manusia. siksaan. Semi memberikan petunjuk adanya kaitan dengan mitologi tentang padi . atau meru . Kajian Strukturalisme-Simbolik 299 (tanah).1989: 635). berrelasi dengan emas . Ayah ibarat pohon. kaitannya dengan posisi kekuasaan. Gunung laut berrelasi horizontal. Gunung laut menunjukan posisi horizontal. atau pohon sorga (Sri Mulyana. dan laut sebagai muara. yang menunjukan kelompok kanan (bala tengen) dan kelompok kiri (bala kiwa). sorga tempat bersemayamnya para dewa. kebijakan atas dirinya. Ketika laki-laki (ayah) hadir sebagai penguasa menunjukan sikap berbudi bawa leksanan .motif batik Semen . bahwa titah (perintah) raja selalu dipandang sebagai bijaksana. yang artinya semi. sedangkan dunia ada percapada. anak buah. Sawat. Tahun 32. menunjuk pada struktur tengen (kanan)[+]. Kedudukan relasi ini bermakna Loroloroning Atunggal dalam posisi horizontal. yang tumbuh di bumi Hidayat. Ini tampak pada struktur batik Alas-Alasan. dan roh-roh pengganggu manusia. Gunung (merapi) berada di Utara. dan kejayaan. Selatan menunjukan arah laut. dan Alas-alasan merefleksikan sebuah deef structure sebagaimana skema garis bersilang. Maka raja Jawa yang dilegitimasi dengan mitos RajaDewa menunjukan. ancaman Batari Durga. Gunung laut diwujudkan secara struktural pada bentuk motif Alas-alasan. keagungan. Eksistensial hutan ditampakkan perwujudan kalpataru (pohon hayat). Hutan-hutan yang lebat merupakan tempat yang aman. simbol keseimbangan ekologi. eksistensinya sebagai pengayom. sebuah areal tempat berlindungnya semua satwa. tempat makluk hidup bertebaran. dan bermukimnya jin. bersemayamnya ratu pantai selatan. keramat. gunung adalah sorgaloka. sering ditunjukan pada fenomena candikala (mega merah tembaga ketika sore hari). Di sini menempatkan posisi Gunung sebagai sumber mataair.kiwa (kiri)[-]. Kenyataan ini hingga kini dapat disimak pada posisi simpingan (jajaran) figure wayang kulit.

seperti topeng. Ternyata tidak mempu menjawab gagasan Pujianto yang mengkaitkan konsep triloko dengan bentuk motif batik. 1997:790. relasi. Struktur yang berupa persilangan yang dibentuk antara garis vertical. dan Alas-alasan berkati dengan paham Hindu tentang triloko . Pujianto tidak mengkaitkan tiga motif batik Semen. akibatnya aspek struktur terabaikan.Kiwa (kiri) Isor (bawah) Duwur (atas) (-) (+) Batik Batik AlasBatik Semen (+ ) (-) Gusti Kawula Gunun Laut Hidayat. bahwa motif bagik Semen. dan simbol di temukan sejumlah kecendrungan makna. Temuan tersebut merupakan modal untuk menyusun struktur. perdukunan. ilmu sihir. Kajian Strukturalisme-Simbolik 301 Telaah dengan perspektif strukturalisme tidak hanya mendiskripsikan makna mitologis. PENUTUP Analisis mitos kaitanya dengan perwujudan benda budaya. makanan tradisional. Sungguhpun analisis simbolis terpaku pada teks . Kapasitas benda pada posisi dan fungsinya semata-mata terkait dengan benda lain secara struktural. bahwa fungsional suatu benda selalu terkait dengan kedudukan atau posisi di antara benda yang lain. Asumsi Pujianto perlu diuji. Sawat. setidaknya meminjam model segitiga kuliner yang digunakan oleh Lovi-Strauss untuk menganalisa makanan. Setelah dilakukan analisis unsur motif. hubungannya dengan mitos kesuburan dan kekuasan. kaitanya dengan mitologi Jawa tentang kekuasaan dan kesuburan. Sebagai contoh asumsi Pujianto. dan juga dimungkinkan adalah motif batik. Pujianto telah berusaha untuk memaparkan gagasanya tentang mitologi Jawa kaitannya dengan motif batik berunsur alam. dan Alasalasan. Akibatnya sulit untuk mengetahui hubungan strukturalnya. Kenyataan ini yang dimaksudkan oleh Emil Durkheim sebagai organisme. Terlebih. Temuan ini menunjukan. Sawat. Inspirasinya menggunakan segitiga kuliner berasal dari segi tiga vocal: gagasan dari seorang lingguis Roman Jakobson (Cremer. dan memilik model pemaparan dengan menekankan aspek simbolisasi. berbagai asumsi dari para peneliti lain atau tulisan-tulisan lain yang bertebaran dengan gampang mempengarui. di mana suatu benda memiliki posisi dan fungsi tertentu. tetapi dapat menunjukan kedudukan objek. 87 . Pijianto mempunyai sudut pandang.

tempat arwah bersemayam. Dan pelayananmu bila ketemu. Fenomena tersebut dapat disimak pada sebuah tembang dhandhanggula dalam Serat Niti-Praja. Gambaran wanita sebagai pembatik itu adalah sebuah metafora. gagasan mencapai persatuan antara hamba dan Tuhan secara mistik ( manunggaling kawula-Gusti). Pujianto mengkaitkan dengan sikap wanita sebagai pembatik yang rela. sebuah relief yang dipahat di candi Kidal. sabar. Tahun 32. 88 . yaitu tentang asal usul manusia dan kepasrahannya terhadap sifat gaib transendental (Tanpoaran. yaitu mendudukan wanita pada sumbu vertikal dengan laki-laki. berkait dengan kedudukan raja . Buat simpanan oleh sang raja. Nomor 2. Di sini terjadi sebuah pemahaman tentang pesejodohan. Setyanireng kakung. naga. Kiwo (kiri) bernilai (-) berrelasi dengan laut . temen. Hidayat. Semunira den asumeh.duwur (atas) bernilai (+) yaitu bermakna transkendental. Agustus 2004 (bawah) bernilai (-) yaitu bermakna profane. Kadi garwa kawitan. yang berposisi dengan ular naga pada cerita tentang Garudia . (2003: 139). Niels Mulder menjelaskan. Garis ini mengubungkan antara struktur motif batik Semen dan Alas-alasan. Garis horizontal menunjukan antara rentang Tengen (kanan) bernilai (+) gunung . dan juga kesetiaan.1988: 56-57). Untuk mencapai tujuan ini orang harus mengatasi kekangan-kekangan yang membelenggu dirinya kepada eksitensi gejalan seperti misalnya hawa nafsu dan rasionalitas duniwi yang hanya menuju kearah persepsi kebenaran yang bersifa kehayali (1996:31). Struktur silang (crossing model) menjelaskan tentang makna kawula-Gusti atau raja-rakyat yaitu sebuah falsafah kekuasaan rajaraja Jawa. Ing raga nuta saosa kersing laki. Hendaknya wajahmu berseri manis. dan sekaligus kepasrahan. ini sebuah kerelaan. Kinarya gedhong dening sang nata. yaitu ngabekti. Struktur silang tersebut juga dapat menjelaskan kedudukan wanita dan laki-laki dalam pengertian vertical. dan kekuatan penghancur. yaitu adanya konsep Dewa-raja . berkait dengan kedudukan rakyat kawula . Seperti istri pertama. narima. Pasrahlah dalam segala kehendaknya. Sebuah kisah Garuda yang membebaskan ibunya dari tawanan bangsa naga. Kedudukan wanita Jawa dimata laki-laki sebagai berikut: Lamun sira rineka pawestri. dan budi luhur. isor 302 BAHASA DAN SENI. Kepasrahan ini seperti sifat Garuda yang dengan rela sebagai kendaan dewa Wisnu. tetapi juga sekaligus menjelaskan Lanang dan Wadhon secara horizontal. Angrasa yen sinatyan. tempat roh-roh jahat. Boga busana mukya Kalau engkau dijadikan istri. Kajian Strukturalisme-Simbolik 303 Mang salokanira kepanggih. ketulusan. Pemikiran itu juga berkait dengan konsep sangkan paraning dumadi . swargaloka.

Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam . Kebudayaan Jawa.Yogyakrta: Gadjah Mada Universitas Press. Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali. Proyek Penelitian dan Pe 89 . Basis. E. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Mitologi Jawa Dalam Motif Batik Unsur Alam . Kaplan. Soedarsono.C. nomor 1. Direktorat jendral Kebudayaan. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. 2001:8-9) DAFTAR RUJUKAN Tanpoaran. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia.J. 1974. Woro. Danandjaya. Claire. Filsafat dan Masa depannya. artikel pada Jurnal Bahasa dan Seni. Yayasan Indonesiatera. Ciptaprawiro. Yogyakarta: Makalah disajikan pada seminar Javanologi. Malang: Fakultas Sastra. diterjemahkan: Landung Simatupang. 2001. 2001. 2000. Mengkaji Tanda dalam Artifak. Albert A. Storey. 1986. Universitas Negeri Malang. Universitas Negeri Malang.Kesetiaanmu pada suami Merasalah jika dicintai Jiwa raga serahkan sepenuhnya pada pria Makan minum kegemarannya. Simbolisme dalam Budaya Jawa. tahun 31. 1996. Olga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Yogyakarta: Galang press. Jakarta: Balai Pustaka. Memutar Taman Sri Wedari. Purwadi. Februari 2003. Holt. David & Monners. 2003. 1. Malang: Fak. Shri Heddy (ed. Jakarta: Gunungagung.2000. & Hidajat. 2003. Rahayu S. Agus. Sejarah perkembangan Seni Lukis Batik Indonesia . Yogyakarta: Hanindita. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. Artikel pada Jurnal Bahasa & Seni. diterj. Mulder. 2001. Manunggaling Kawula Gusti. 2002. Ahimsa-Putra. Randrianarisoa.M. Abdullah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Niels. 1994. 304 BAHASA DAN SENI. Jakarta: Sinar Harapan Mulyana. 1988. 1983. 1985. Asal-usul.1986. Semiotik. pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa. P. 1997.B. 1989. Surabaya: Yayasan Djojo Bojo & Paguyuban Sosrokertanan Surabaya.Yogyakrta: Pustaka Pelajar. Jakarta: Gramedia. 1992. (Purwadi. Agustus 2004 Koentjaraningrat. Sastra. Faufik & Leeden. [tanpa kota terbit]. Antara Alam dan Mitos. 1967. no. Amri. van Der. Pribadi dan Masyarakat di Jawa. Sangkan paraning Dumadi. Falsafah Jawa. Jakarta: Balai Pustaka. Herusatoto. Totemisme di Madagasikara artikel pada majalah budaya Basis. Teori Budaya. Reid. Niels. A. Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas. Zoetmulder. Jakarta: Balai Pustaka. James. 2001. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Semilogi Roland Barthes. Budiono. Mulder. tahun 31. Sutarno. 2000. Wayang. Flores: Nusa Indah. Dick Hartoko. April 2002. Abdullah.). Teori Budaya dan Budaya Pop. Tahun 32. Wayang dan Lingkungan. Surakarta: Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta. 2002. Februari 2003. Sri. Pewayangan Dalam Budaya Jawa artikel dalam jurnal Dewa Ruci. Diterj. Mochtar Pabotinggi. Aryandini S. Cremers. 1982. Bandung: Masyarakat Seni Indonesia. Yogyakarta : Yayasan P. Nomor 2.K. Masinambow. Pujianto. Ketika Orang Jawa Nyeni. vol. John. 1. Jakarta: Universitas Indonesia Press. 2003. Anthony [1988]. Kurniawan. Yahya. Yogyakarta: media Pressindo. Pujianto. nomor 1. Diterj. Juni 1983 XXXII 6.2000. Yogyakarta: Qalam.

dan amanat. Lima cerita rakyat tersebut.ngkajian. Isi dan tema cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah syiar agama. Teknik validasi data lain yang digunakan adalah informant review. Pendeskripsian struktur cerita rakyat meliputi isi cerita. dan terjadinya suatu tempat. latar. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis struktural dan analisis model interaktif (interactive model of analysis) Dalam penelitian ini ada lima cerita rakyat Kabupaten Klaten yang dihimpun dan dianalisis. Teknik cuplikan (sampling) yang digunakan adalah purposive sampling. Sarmadi ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan jenis-jenis cerita rakyat Kabupaten Klaten. Latar yang paling dominan adalah latar tempat. Strategi yang digunakan adalah studi kasus tunggal yang dilakukan pada satu sasaran (subjek) dan satu karakteristik. Teknik validasi data yang digunakan adalah triangulasi data/sumber. (2) mendeskripsikan struktur cerita rakyat Kabupaten Klaten. pencatatan. nilai pendidikan adat. yaitu: (1) “Ki Ageng Padang Aran”. dan analisis dokumen. nilai pendidikan agama (religi). alur. perekaman. KebuKajian strukturalisme dan nilai edukatif dalam cerita rakyat kabupaten Klaten L. dan (3) mendeskripsikan nilai edukatif yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. tema. (4) “Reyog Brijo Lor”. Informasi dari penelitian ini dideskripsikan secara analitis dan teliti. Pendeskripsian nilai edukatif (pendidikan ) dalam cerita rakyat meliputi nilai pendidikan moral. metode. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui observasi langsung. legenda perseorangan . (2) “Petilasan Sunan Kalijaga”. Cerita rakyat Kabupaten Klaten tersebut diklasifikasikan ke dalam legenda dan lebih spesifik dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok legenda setempat. dan (5) “Kyai Ageng Gribig”. dan legenda keagamaan. perjuangan seorang tokoh. yaitu cerita rakyat Kabupaten Klaten. observasi benda-benda fisik dan dokumen. dan nilai pendidikan kepahlawanan. Alur cerita yang digunakan adalah alur maju atau lurus. Amanat yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten cukup 90 .G. dan teori. tokoh. (3) “Raden Ngabehi Ronggo Warsito”. wawancara. nilai pendidikan sejarah (historis). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Tokoh yang dominan dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah manusia yang digambarkan sebagai manusia yang memiliki kasaktian dan berkarakter baik. Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa sumber yaitu informan.

Nilai pendidikan yang terdapat dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. 91 . adalah Nilai pendidikan moral . nilai pendidikan adat (tradisi). nilai pendidikan agama (religi).bervariasi. dan nilai Kepahlawanan 1/1dayaan Nusantara (Javanologi). nilai pendidikan sejarah (historis).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful