Teori Strukturalisme – Levi Stauss

A.

Pendahuluan Teori Sosiologi dapat dibagi sesuai dengan periode ditemukannya, yaitu,

teori Sosiologi Klasik dan teori-teori Sosiologi Modern dan Post Modern. Teori Strukturalisme termasuk teori Sosiologi Modern dan juga Post Modern, karena dalam perkembangannya, teori ini terus dikembangkan dan menjadi teori Post Strukturalisme. Paper ini ditulis dalam rangka ingin menjelaskan mengenai teori Strukturalisme Levi-Strauss, yang termasuk teori Sosiologi Modern, namun untuk memperjelas pembahasannya akan ditambah juga dengan pembahasan teori Strukturalisme Post Modern. Walaupun teori ini jelas memusatkan perhatiannya pada struktur, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan struktur yang menjadi sasaran perhatian teoritisi Fungsionalisme Struktural (salah satu teori Sosiologi klasik). Perbedaanya pada tekanannya, yaitu Fungsionalisme Struktural memusatkan perhatiannya pada struktur sosial, sedangkan Teori Strukturalisme Levi-Strauss memusatkan pada struktur linguistik (Ritzer, 2004 : 603). Teori ini sebenarnya lebih terkenal sebagai teori Antropologi, tetapi dalam perkembangannya juga dimasukkan dalam teori Sosiologi. Strukturalisme memberikan perspektif baru dalam memandang fenomena budaya. Hal-hal yang tadinya dianggap sederhana dan tidak penting, justru memiliki peran yang sangat penting dalam menemukan dan memahami gejala sosial budaya, misalnya adalah bagaimana kita mungkin bisa memahami suatu fenomena sosial dengan menggunakan analisis sebagaimana para ahli Linguistik memahami bahasa. Bahasa memiliki tempat yang istimewa dalam ilmu sosial. Sebagai alat berkomunikasi, bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kebudayaan manusia. Oleh karena itu wajar jika untuk mengungkap persoalan budaya dapat dilakukan melalui atau mencontoh metode bahasa (ilmu bahasa). Marcel Mauss (dalam Allen Lane, 1968) menuliskan bahwa:
1

“Sociology would certainly have progressed much further if it had everywhere followed the lead of the linguists……”. Maksudya Sosiologi akan semakin berkembang jika diinspirasi oleh para ahli bahasa dalam memahami gejala sosial. Salah satu ilmuwan sosial yang menggunakan cara bagaimana memahami bahasa dalam menjelaskan fenomena sosial adalah Levi-Strauss. Levi-Strauss melakukan konseptualisasi ulang di bidang Antropologi

dengan sebutan "tiga nyonya" yaitu geologi, psikoanalisis, dan Marxisme untuk membantu membentuk tren dalam ilmu-ilmu sosial dan teori sastra, dan dipengaruhi oleh intelektualisme seperti Michel Foucault dan Jacques Derrida. Lahir di Belgia, Levi-Strauss belajar filsafat di universitas Sorbonne, Paris dan mengajar Sosiologi di Brasilia pada 1930-an. Teori-teorinya didasarkan hasil penelitannya di belantara Amazone di Brasilia. Sebagian besar teorinya dibangun selama 3 tahun ketika menghabiskan waktu bersama suku Indian di pedalaman Brasil. Pergumulan antara ilmu sosial dan ilmu bahasa telah melahirkan perspektif baru yang membuka jalan bagi perkembangan kedua bidang ilmu tersebut. Ilmu bahasa semakin berkembang berkat penemuan-penemuan dalam bidang Antropologi, demikian juga yang terjadi pada ilmu sosial atau Antropologi yang perkembangannya banyak dipengaruhi oleh para ahli bidang linguistik. Proses inilah yang kemudian melahirkan teori Strukturalisme Levi-Strauss itu. N. Troubetzkoy (dalam Alan Lane, 1968) menyatakan bahwa pikiran dasar dari teori Struktural adalah: Pertama, linguistik struktural mengalami lompatan dari studi fenomena kesadaran linguistik pada infra-struktur nir-sadar. Kedua, Strukturalisme tidak menganggap istilah-istilah itu independen, tetapi menganalisis hubungan antar istilah-istilah yang saling terikat. Ketiga, Strukturalisme mengenalkan sistem konsep. Dan yang terakhir, linguistik struktural ditujukan untuk menemukan hukum umum (general laws) baik secara induksi maupun dengan cara deduksi.

2

Lahirnya teori strukturalisme dalam bidang Antropologi/Sosiologi telah melahirkan berbagai perspektif dalam memandang fenomena budaya. Dengan teori ini, persoalan-persoalan tanda (simbol dalam bahasa) semakin mudah dipahami. Hal ini dikarenakan setiap persoalan bisa diidentifikasi melalui struktur dari persoalan tersebut. Karena dalam konsep ini segala sesuatu yang berbentuk diyakini memiliki struktur. Susunan unsur-unsur dapat dianalisis sehingga dapat diketahui asal-usul konsep itu dan juga gejalanya. Dengan demikian penjelasanya akan semakin mudah. Strukturalisme begitu berpengaruh pada pemikiran di kalangan ilmuwan ssosial di tahun 1960-an, terutama di Perancis. Era strukturalisme ini muncul setelah era eksistensialisme yang marak setelah Perang Dunia II. Strukturalisme melakukan beberapa kritik terhadap eksistensialisme dan juga pemikiran fenomenologi. Strukturalisme dianggap menghancurkan posisi manusia sebagai peran utama dalam memandang dan membentuk dunia. Strukturalisme berkembang pesat di Perancis dengan tokoh-tokoh utama selain Claude Levi-Strauss, yaitu Micheal Foucault, J. Lacan, dan R. Barthes. Aliran ini muncul ketika filsafat eksistensialisme mulai pudar. Masyarakat yang semakin kaya dan dikendalikan oleh berbagai bentuk struktur ilmiah-teknoekonomis mapan dan terkomputerisasi memudarkan aliran humanisme romantis eksistensialis yang berkisar pada subyek otonom, daya cipta peorangan, penciptaan makna, dan pilihan proyek masa depan serta dunia bersama sebagai tempat tinggal yang manusiawi. Usaha eksistensialisme untuk mengubah dan memperbaiki keadaan tersebut tidak berdaya dihadapan kenyataan-kenyataan struktur yang makin kuat yang mengutamakan kemantapan dan keseimbangan struktural daripada dinamika kreatif dari si subyek. Dengan diilhami oleh Marx dan Freud, para strukturalis menyangsikan istilah-istilah kaya kunci eksistensialis seperti ,"manusia", "kesadaran intensional", "subyek", "kebebasan", "otonomi" dan menggantinya dengan istilah-istilah mereka, yaitu: "ketidaksadaran", "struktur","diskursus","penanda" dan "petanda".

3

manusia mempunyai putusan sendiri. Hubungan ini sama seperti bahasa. ia memiliki peran. Perbedaan lain yang cukup mendasar. tapi ia kembali akan terjebak di dalamnya. Perbedaannya faktisitas mengandaikan adanya kebebasan yang menegaskan eksistensialitas manusia. kekerabatan pun dikuasai oleh aturan-aturan yang tidak disadari. Sistem kekerabatan terdiri dari relasi-relasi dan oposisi-oposisi. meskipun kemudian ia mampu memilih atau membuat sendiri sebuah struktur. kekerabatan pun merupakan sistem komunikasi. ia bukan manusia "massal" atau diombang-ambingkan arus mode dan kecenderungan sosial. Sedangkan keterjebakkan manusia dalam jaring-jaring struktur mengandaikan hilangnya unsur subyek dan obyek. saudara lelaki . Bahasa adalah sistem komunikasi. paman-keponakan. seperti misalnya suami-istri. LeviStrauss melakukan analisis terhadap masalah kekerabatan. karena klen-klen atau famili-famili lain tukar-menukar wanita-wanita mereka.Meskipun banyak pertentangan antara eksistensialisme dan strukturalisme tapi ada juga yang saling melengkapi. Ketidaksadaran menjadi sebuah unsur pokok yang menandai keberadaan manusia. hubungan antar manusia berada dalam sistem yang tidak disadarinya. Dengan menggunakan teori linguistik dari Saussure (Semiologi). anakbapak. adalah pencapaian makna atau kebenaran atas yang ada. Berbeda dengan pandangan Heidegger bahwa seseorang harus memiliki tanggung jawab pribadi untuk membentuk hidupnya sendiri. semua hanyalah bagian dari tenunan struktur. Supaya tidak menjadi manusia "massal" tentu dituntut kesadaran penuh tentang lingkungannya yang menurut strukturalis mustahil untuk disadari secara penuh. Dalam pandangan strukturalis manusia terjebak dalam suatu struktur budaya yang dijalinnya sendiri. karena informasi atau pesan-pesan yang disampaikan oleh satu individu pada individu lain. terutama dengan pemikiran fenomenologi. Sebagaimana halnya bahasa. 4 . Kekerabatan adalah suatu sistem komunikasi.saudara perempuan. Ketika manusia lahir ia sudah ada dalam suatu struktur. Pandangan ini mirip dengan faktisitasnya Heidegger dimana manusia terlempar ke dunia tanpa bisa dirundingkan lebih dulu.

"Pemahaman" berarti memahami keberadaan sesuatu yang spontan dan tampak bagi kita itu kepada suatu taraf yang lebih dalam. Melalui kajian Antropologi budaya. Ada itu sendiri tampak sebagai tidak tersembunyi ( aletheia). Namun kenyataan itu tidak pernah dimengerti seluruhnya. Sebaliknya "humanisme baru" dengan pola 5 . tetapi justru suka menyembunyikan diri. Ini didapat dari Husserl. kendatipun kenyataan konkret tidak bisa dipahami secara lain. Tugas strukturalis lah untuk mengorek makna yang laten tersebut.Bagi Heidegger. Menurut Levi-Strauss. antara budaya Barat dan budaya lain ( non Barat) yang dianggap inferior (merasa rendah dari Budaya Barat). mengabaikan manusia dan melarutkannya dalam struktur yang berkuasa. Levi-Strauss membentuk strukturalisme sebagai "humanisme integral baru" yang mengkritik dan mengatasi humanisme klasik Barat. karena menciptakan pemisahan dan pertentangan antara manusia dan alam. yang mengatakan bahwa obyek kesadaran adalah fenomen dalam arti: ”apa yang menampakkan diri”. ketentuan dan aturan (bentuk mental apriori. Dan sisasisa penyembunyian diri itulah yang merupakan bekas-bekas yang hendak "dibaca" sebagai tanda penyingkapan diri yang tak langsung dari kenyataan dan kebenaran yang sesungguhnya. Sedangkan Levi-Strauss dengan mengacu pada Kant (P. Makna yang dicari tersembunyi dalam bendabenda yang tampak. ide regulatif dan sebagainya) yang dikenakan pada kenyataan empiris. sambil menyadari bahwa realitas yang sebenarnya tidak pernah tampak sendiri dan langsung kelihatan. kecuali lewat paksaan mental tersebut. Humanisme klasik dianggap mangancam kehidupan manusia. Seperti sudah diuraikan sebelumnya bahwa Levi-Strauss enggan menggunakan nama "strukturalisme" yang terlalu ideologis. ia memang menolak beberapa pandangan umum mengenai strukturalisme bahwa aliran ini anti humanisme. seorang fenomenolog. Ricoeur menjuluki Levi-Strauss sebagai "kantianisme tanpa transendental") bahwa akal budi manusia memiliki sejumlah paksaan. Ada sendiri menampakkan diri dan terbuka. sebab tiap usaha merepresentasikannya pada dasarnya kurang memadai. kategori.

Kekurangan ini dapat dilengkapi dengan pemikiran Heidegger yang meski mengkritik dualisme 6 . Bahaya baru dapat saja muncul dengan tidak ditekankannya pribadi kreatif manusia dan bisa terjebak menjadi manusia "massal". Ketika Levi-Strauss dengan strukturalismenya berusaha menghilangkan dualisme subyek dan obyek yang dianggap mengancam kehidupan manusia maka ia meleburkannya dalam kesatuan struktur yang tak terpilah. tetapi justru saling melengkapi. tetapi mengutamakan dunia dan alam semesta atas hidup. Rasa kagumnya terhadap budaya primitif tertuang dalam bukunya Mythologica III. Levi-Strauss menyatakannya dengan keprihatinan terhadap nasib masyarakat primitif yang dilenyapkan oleh kekuasaan kolonial Barat demi keuntungan ekonomis (penjajahan yang menggunakan penemuan-penemuan alat /teknik modern). Kedua pemikir memiliki beberapa perbedaan dan kesamaan. Penguasaan subyek atas obyek ini dibenahi dengan istilah menggembalakan ada. mengutamakan hidup atas manusia sendiri dan mengutamakan rasa hormat terhadap mahluk-mahluk lain melampaui rasa cinta diri sendiri". Dia mengammbarkan kebudayaan primitif sebagai berikut: "Suatu humanisme yang seimbang. tetapi justru menekankan sifat saling terkait dan mencakup segala sesuatu. tidak bermula dengan hidup manusia sendiri.strukturalisme ini tidak mengadakan garis pemisah dan penggusuran yang fatal. Hal ini jelas terdapat persamaan dengan pemikiran Heidegger yang juga mengkritik metafisika Barat yang memisahkan subyek (manusia) dan obyek (alam). Perbedaanperbedaan yang ada tidak dilihat sebagai bertentangan. Kebudayaan primitif menurut Levi-Strauss memiliki keaslian dalam menciptakan patokan keselarasan manusia dengan alam dan sesamanya. artinya tidak menguasai keadaan. Persamaan lain adalah keduanya sama-sama menentang bentuk teknik (kemajuan teknologi di Barat) yang jika tidak diwaspadai akan menjadi subyek baru dan menindas keberadaan manusia.

Sebuah periode yang ditandai dengan pergolakan intelektual dan juga ditandai dengan berkembang pesatnya strukturalisme. 1996:513). terutama Eropa Barat.tersebut. eksistensialisme dan juga yang tidak dapat dilupakan adalah perkembangan Frankfurt School (teori Kritik). Adalah Ferdinand de Saussure yang mengawali kajian strukturalisme dalam bahasa. Saussure memproklamirkan bahwa tanda bahasa dibangun melalui struktur relasi antar tanda bahasa yang menunjukan adanya perbedaaan (Payne. Pergolakan intelektual ini juga diwarnai dengan pergolakan mahasiswa yang hidup dalam affluent society. Perbedaan inilah yang kemudian dikenal sebagai oposisi biner ( binary opposition) 7 . Kata “struktur” yang menjadi dasar dari pemikiran strukturalisme dapat kita lacak dengan memahami Semiotika (Semiotics) atau Semiologi (Semiology) yang dikembangkan secara brilian oleh Saussure untuk mengkaji tanda bahasa. Meski tidak mungkin juga manusia menghindari sepenuhnya arus massa tapi dengan bantuan kesadaran dengan hati nurani manusia yang tidak mudah hanyut. 1996:513). ia tetap menekankan sosok manusia yang autentik. Saussure secara brilian melepaskan kajian tentang tanda bahasa dari suatu kajian yang merupakan kajian yang bersifat linguistik semata. Di tengah kapitalisme yang melahirkan masyarakat serba melimpah di Eropa Barat dan Amerika Serikat serta komunisme di Uni Sovyet yang mengundang decak kagum banyak orang dengan keberhasilannya menjangkau bulan. namun oleh Roman Jakobson. seorang ahli linguistik dari Rusia (Payne. ilmu sosial di Perancis melahirkan strukturalisme. sebagaimana yang terjadi dalam revolusi mahasiswa di bulan Mei 1967 di Paris di Perancis yang menuntut perluasan demokrasi serta penghentian praktek kolonialisme Perancis serta juga gerakan New Left yang menjadikan Herbert Marcuse sebagai “nabi” yang menginspirasi gerakan mereka. pada dekade 1960-an. walaupun sebenarnya istilah strukturalisme diperkenalkan pertama kali bukan oleh Saussure. sebuah genre pemikiran yang melampaui Marxisme yang sedang menjadi trend pemikiran pada saat itu. Strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran yang sangat menonjol dalam khazanah pemikiran di Dunia Barat.

2001 : 182). terdiri dari unsur ”penanda” (signifier) dan ”petanda” (signified). Kode (code) adalah satu sistem dari konvensikonvensi yang memungkinkan kepada seseorang untuk mendeteksi arti dalam tanda-tanda karena hubungan (Berger. Relasi antara penanda dengan petanda terjadi begitu saja dan arbitrer. para pemain harus mengikuti struktur aturan yang telah ada dan tidak mungkin permainan ini dimainkan jika para pemainnya keluar dari aturan permainan. Semiotika sendiri secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu semieon. Kombinasi dari keduanya inilah yang kemudian menghasilkan ”tanda” (sign). Individu yang bermain catur bebas untuk menggerakkan kuda dalam bentuk huruf “L” baik ke kiri. ke kanan. elemen tanda-tanda itu menyatu dan saling tergantung satu sama lain. kita dapat mengikuti contoh yang dikemukakan oleh Saussure berikut ini. yang artinya adalah ”tanda”. Dalam permainan catur. sebuah tanda khususnya tanda kebahasaan. Ini dapat dianggap sebagai parole dari sebuah sistem struktur. Langue dimaksudkan sebagai penggunaan tanda bahasa secara umum atau oleh publik yang menyepakatinya. Berdasarkan pendapatnya mengenai oposisi biner. merupakan entitas psikologis yang bersisi dua atau berdwimuka. Agar lebih jelas. dalam pendapat Saussure. Karena itu kita perlu mengetahui kode-kode yang menyatakan kepada kata apa yang dimaknakan oleh tanda-tanda. Inilah yang membedakan kajian strukturalisme yang dikembangkan oleh Saussure dengan pendekatan linguistik yang lain. Pertama. Sebagai ilustrasi adalah bidak kuda dalam permainan catur memiliki gerak berbentuk huruf “L”. Kedua.yang dapat diterapkan hampir ke semua tanda bahasa. Saussure mengembangkan semiotika ke dalam beberapa aturan pokok yang mengatur sistem tanda bahasa. ke 8 . sehingga dari sinilah kemudian lahir strukturalisme. sedangkan parole adalah pemakaian tanda bahasa di tangan individu. 2000 : 219 ). Kedua adalah langue dan parole. di mana pendekatan linguistik yang lain hanya berhenti pada tataran langue (Bertens. Penanda adalah aspek fisik dari tanda bahasa. sedangkan petanda adalah aspek mental dari tanda bahasa.

Ini dapat dianggap sebagai parole. Sejak lama dia juga menjadi anggota Academie Francaise. pengalaman kerja dan tentunya pola pikirnya sangat menentukan dalam mencetuskan teori strukturalnya. B.depan atau ke belakang. Hal ini penting. dan Oxford di Amerika. Selain itu juga dari universitas di Swedia. Kanada dan Meksiko. teori lain yang mempengaruhi. Satu hal yang harus diingat kebebasan menggerakkan kuda ini terstruktur dalam huruf “L” dan tidak boleh keluar dari aturan ini. B. riwayat hidup penemunya. LeviStrauss diberi gelar doktor dari sejumlah institusi pendidikan terkemuka. Selain itu. seperti universitas Harvard. Yang penting masih dalam bentuk huruf “L”. penjelasan tentang teorinya dan juga kritik terhadap teori tersebut. Sejarah Hidup Claude Levi-Strauss Sebelum membicarakan teori strukturalisme Levi-Strauss. Paper ini juga mencoba untuk menjelaskan teori Strukturalisme Levi Strauss. Perancis maupun saat ia berada di New York. Lahir dari orang tua berkebangsaan Prancis dengan darah Yahudi. badan pembelajaran terkemuka mengenai hal-hal yang bersingungan dengan Bahasa Prancis. Yale. akan lebih baik jika kita membicarakan sejarah hidup Levi-Strauss secara singkat. dengan menjabarkan keadaan sosial yang terjadi pada saat teori ini dibangun. Pertemuannya dengan para pakar dari berbagai bidang ilmu itu telah melahirkan berbagai konsep yang sangat penting dalam membentuk teori budaya yang sangat 9 . mengingat perjalanan hidup penggagas teori Antropologi struktural ini sangat dinamis. Latar belakang pendidikan. maka hancurlah struktur permainan catur itu. C. karena jika bergerak selain gerak “L”. yang juga sangat menentukan dalam pandangan-pandangan Levi-Strauss adalah hubungannya dengan para pakar berbagai bidang di Brasilia.

Berawal dari buku inilah yang menjadikan Levi-Strauss terkenal sampai ke negara asalnya yakni 10 . Ia adalah keturunan Yahudi. Buku ini bercerita tentang penderitaan orang-orang Indian di belantara Amazone. Penguasaan dalam bidang hukum mengenai aliran-aliran filsafat materialisme historis ini turut mendorong kesuksesannya dalam bidang Antropologi. Dari ekpedisi yang di dukung oleh Musee de 1’Hummed dan museum di kota Sao Paulo ini. Ayahnya bernama Raymond Levi-Strauss seorang artis dan juga anggota keluarga intelektual Yahudi Perancis (Intelectual French Jewish family). serta mengunjungi berbagai suku Indian yang selama itu boleh dikatakan belum terjamah oleh peradaban Barat. Dikatakan sangat unik karena memang belum terpikirkan oleh para pakar di bidang Antropolgi periode sebelumnya. Di tahun yang sama ia juga mempelajari filsafat di universitas Sorbonne. Ia mempelajari hukum di fakultas hukum pada suatu universitas di Paris pada tahun 1927. memberi kesempatan kepadanya untuk mempelajari orang-orang Indian Caduveo dan Bororo. Di universitas ini ia memiliki kesempatan untuk keliling ke daerah-daerah pedalaman Brazil. Levi-Strauss dilahirkan pada 28 November 1905 di Brussles. Minat utama Levi-Strauss sebenarnya adalah ilmu hukum. Buku itu cukup mengesankan bagi Levi-Strauss dan mendorongnya untuk mengadakan beberapa studi mengenai masyarakat primitif. Apa yang diharapkan oleh Levi-Strauss ini akhirnya terkabulkan setelah ia berkesempatan menjadi pengajar di Universtias Sao Paulo. Hal yang paling penting dan sangat berpengaruh terhadap loyalitasnya di bidang Antropologi adalah ketika ia membaca buku Primitive Society yang ditulis oleh Robert Lowie. Bahkan ia menjadi bosan mengajar di Mont de-Marsan Lycee dan berkeinginan untuk mengadakan perjalanan keliling dunia. Brazil. Ia pernah sukses dalam bidang hukum ketika ia telah mendapatkan licence dalam bidang hukum.unik itu. Pengalaman perjalanannya menjelajah daerah-daerah terpencil itu ditulisnya dalam sebuah buku yang berjudul Tristes Tropique. Belgia. Sedangkan ibunya bernama Emma Levy.

Ruth Benedict. Ia pun akhirnya dibebaskan dari kewajiban militer setelah menjadi seorang professor. Berkat jasanya. Halangan tidak hanya sampai disitu. A. Akhirnya Levi-Strauss diselamatkan oleh program Yayasan Rockefeller. kesabaran. Di daerah Greenwich Village. Dari program ini Levi-Strauss berhasil datang ke New York dan selamat dari pembantaian tentara Nazi yang anti terhadap orang-orang Yahudi. New York. yang memiliki program menyelamatkan ilmuwan dan pemikir-pemikir Eropa berdarah Yahudi di Amerika Serikat. bahkan masih sangat sedikit orang yang mendokumentasikan mitos-mitos tersebut. Ia ditugaskan dibagian pos telekomunikasi di bidang sensor telegram. Ia dipecat dari jabatannya karena ia adalah seorang Yahudi. Kroever dan Ralph Linton. Karir Levi-Strauss sempat mengalami halangan saat ia diwajibkan menjalani wajib militer. Levi-Strauss tinggal. Ia pun berkesempatan mengajar mata kuliah Etnologi di New York Ecole Libre des Hautes Etudes. Dengan ketekunan. Ia bahkan telah menghasilkan suatu karya yang sangat penting di bidang Antropologi yang sesungguhnya sangat jauh dari studi formal yang dimilikinya. Di kota New York inilah Levi-Strauss semakin banyak memiliki peluang mengembangkan keilmuannya. Franz Boas.L. Sampai akhirnya ia diangkat menjadi liaison officer. yaitu petugas penghubung. seperti Maz Ernst. dan ketelitian yang luar biasa Levi-Strausss mampu melahirkan karya yang sangat bermanfaat. ia juga mengalami diskriminasi ras. 11 . yang didirikan oleh para intelektual pelarian dari Prancis. Ia banyak berkomunikasi dengan para ilmuan buangan dari Prancis. ribuan bahkan jutaan mitos kini memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan kita. Kita sangat menghargai perjuangan Levi-Strauss dalam menemukan teori (konsep) strukturalisme ini.Prancis. Mitos-mitos itu sebelumnya tak seorang pun yang memperhatikan. Namun dalam situasi yang seperti itu tetap tidak menghalangi dirinya untuk menjadikannya seorang professor.

sekretaris abadi Académie française. salah satu di antaranya adalah kepala bagian Museum dan benda-benda budaya UNESCO di Paris. Aliran ini membawa 12 . Harvard dan Columbia University di Amerika Serikat." kata LeviStrauss. yang bersamaan pula dengan kedudukannya sebagai pimpinan Social Antropology pada College de France. Dan itu jelas bahwa kepadatan manusia telah menjadi begitu besar. seorang filsuf.Selama hidupnya Levi-Strauss pernah menduduki jabatan-jabatan strategis terutama di bidang pendidikan. Académie française adalah institusi yang bergengsi milik Levi-Strauss.." Hélène Carrère d'Encausse. Claude Levi-Strauss adalah pencetus Antropologi Struktural dengan strukturalisme sebagai perspektifnya. baik itu tanaman atau hewan. Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya diantaranya adalah: the wenner-Gren Foundation’s Viking Fund Medal dan Erasmus Prize pada tahun 1975. menjulukinya "ilmuwan terbesar Perancis. Pada tahun 1942 sampai 1945 ia diangkat sebagai professor di New School for Social Research. Ia juga dianugrahi empat gelar kehormatan oleh Oxford. Yale.Pada zaqmannya. Penulis Jean d'Ormesson. Kami tidak akan menemukan lagi seperti dia." Levi Strauss meninggalkan dua putra. "Pada hari ini hilangnya spesies hidup yang sangat mengerikan. ia berkata. Goodenough (1950-an). . Levi-Strauss menyatakan bahwa prospek manusia sangat suram. dikembangkan Ward H. berencana untuk menghormatinya. mereka telah mulai meracuni diri mereka sendiri. Pada tahun 1935 sampai 1939 ia diangkat sebagai seorang Professor di Universitas Sao Paolo yang kemudian melakukan beberapa ekspedisi ke Brazil. Dan dunia di mana saya menyelesaikan keberadaan saya. setelah dia meninggal. Pada tahun 1959 ia menjadi direktur The Ecole Practique des Hautes Etude. lahir pula Antropologi Kognitif.. memuji Levi-Strauss memiliki "semangat keterbukaan yang luar biasa". tidak lagi dunia yang aku suka. Dalam wawancara dengan National Public Radio. "Dia adalah seorang pemikir. Berbicara pada radio Perancis.

Levi-Strauss disebut sebagai bapak Antropologi modern berkat karya-karyanya. seperti ilmu eksakta dan pengetahuan alam ( exact and natural Sciences). terutama mitos. Aliran Antropologi Simbolik. Akhirnya Claude Lévi-Strauss. konsep bahwa semua masyarakat universal mengikuti pola pikir dan perilaku. konsep mengenai pola umum pikiran dan tingkah laku. Inilah yang menjadikan salah satu alasan kenapa dalam ilmu sosial kita harus meniru metode ilmu-ilmu di luar ilmu sosial. Presiden Prancis Nicolas Sarkozy menyebut Levi-Strauss sebagai salah satu etnolog besar sepanjang waktu. meninggal di Paris pada 31 Oktober. dan "The Raw and the Cooked" (1964). dalam rentang enam dekade. Dari rangkaian persoalan manusia itu terdapat beberapa kesamaan yang 13 . "The Savage Mind" (1963).Konsep Strukturalisme Levi-Strauss Sebagaimana diketahui bahwa cakupan ilmu sosial itu sangat luas. Levi-Strauss juga memperkenalkan strukturalisme. Hal ini disebabkan banyaknya persoalan yang timbul dalam aktivitas manusia baik secara individu maupun dalam kaitannya dengan masyarakat. LeviStrauss memperkenalkan "strukturalisme" untuk Antropologi. sangat tidak mungkin bisa memahami fenomena sosial tanpa mengaitkan dengan fenomena-fenomena lain. Oleh karena begitu kompleknya persolan itu. dalam jangkauan luas masyarakat. antara lain "Tristes Tropiques" (1955). 2009 dengan usia 101 tahun. Karyakarya pemikir abad 20 ini. Dia juga seorang pecinta musik sejati. Seperti dikutip dari siaran stasiun televisi BBC.definisi budaya dari yg fisik menuju pengertian bahwa budaya sebagai sistem pengetahuan. Beberapa di antaranya adalah teori tentang persamaan komponen antara masyarakat industri dan sukuterasing. sebagaimana dicontohkan dalam mitos-mitos yang berkembang. seorang tokoh di dunia Antropologi abad ke-20. C.Interpretatif yg dipelopori oleh Clifford Geertz melihat sistem simbol sebagai media pemahaman manusia atas sistem nilai dan sistem koginitifnya.

except to provoke a degree of pleasant puzzlement’. studies in social structure have to do with the formal aspects of social phenomena. Bentuk-bentuk kata ini menurut Levi-Strauss berkaitan erat dengan bentuk atau susunan sosial masyarakat. fokus strukturalisme Levi-Strauss sebenarnya bukan pada makna kata. Kroeber dalam buku edisi kedua Anthropology menyebutkan bahwa: “Structure” appears to be just a yielding to a word that has perfectly good meaning but suddenly becomes fashionably attractive for a decade or so –like “streamlining”. crystals. any organism. 60). 2006. where problems are similarly set in formal terms or. So what “structure” adds to the meaning of our phrase seems to be nothing.” 14 . Langkah ini dilakukan karena dalam strukturalisme dipahami bahwa setiap benda yang berbentuk pasti memiliki struktur.in fact everything that is not wholly amorphous has a structure. But so can a physiology. Adanya struktur ini memungkinkan juga adanya persamaan-persamaan. struktur adalah model-model yang dibuat oleh ahli Antropologi untuk memahami atau menjelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya. yang tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris kebudayaan itu sendiri (Ahimsa. Pendapat Allen ini menunjukkan adanya struktur dalam setiap persoalan. but the patterns that the words form. Oleh karena itu pula pemahaman dasar dari teori strukturalisme adalah mengacu pada model penelitian linguistik. Of course a typical personality can be viewed as having a structure. tetapi lebih menekankan pada bentuk (pattern) dari kata itu. Allen Lane (1968. without overlapping other fields pertaining to the exact and natural sciences.8) menyatakan sebagai berikut: ”On the other hand.machines. “Levi-Strauss derived structuralism from school of linguistics whose focus was not on the meaning of the word. Meskipun bertolak pada linguistik. rather. where the formal expression of different problems admits of the same kind of treatment”.bisa dijadikan model dalam sebuah penelitian. and still more difficult to discuss. all societies and all cultures.and during its vogue tends to be applied indiscriminately because of the pleasurable connotations of its sound. Oleh sebab itu Sarah Schmitt (1999) menyatakan. Dalam konsep Strukturalisme Levi-Strauss. they are therefore difficult to define. machines.

sedangkan putih dihubungkan dengan kesucian. ketulusan dan lain-lain. yang salah satunya akan menyeret modifikasi seluruh elemen lainnya.Strukturalisme Levi-Strauss juga bertolak dari konsep oposisi biner (binary opposition). Sementara emosional dianggap inferior yang diasosiasikan dengan perempuan. melainkan dengan model-model yang dibangun menurut realitas empiris tersebut (Levi-Strauss. dan mencoba menerangkan paradigmatik mereka yang tumpah-tindih dengan varian-varian mitos. 1969 dalam Fokkema. Semua konsep mengenai struktur bahasa tersebut di atas. Struktur terdiri atas elemen-elemen seperti sebuah modifikasi apa saja. Levi-Strauss sangat tertarik pada logika mitologi. kejahatan. Menurut Levi-Strauss (1958) ada empat syarat model agar terbentuk struktur sosial. 378). keburukan. 15 . kebersihan. 1978). Untuk mengetahui makna struktur dalam bidang Antropologi Levi-Strauss. Untuk membuktikan adanya keterkaitan atau beberapa kesamaan antara bahasa dan budaya. 1. Bangunan dari model-model itu yang akan membentuk struktur sosial. perlu diketahui terlebih dahulu prinsip dasar dari struktur itu sendiri. Itu sebabnya ia mulai dengan mitos. Hitam sering dikaitkan dengan kegelapan. 1958. Prinsip dasar struktur yang dimaksud disini adalah bahwa struktur sosial tidak berkaitan dengan realitas empiris. Seperti kata-kata hitam dan putih. Contoh lain adalah kata rasional dan emosional. Rasional dianggap lebih istimewa dan diasosiasikan dengan laki-laki. Konsep ini dianggap sama dengan organisasi pemikiran manusia dan juga kebudayaannya. Sebuah struktur menawarkan sebuah karakter sistem. LeviStrauss mengembangkan teorinya dalam analisis mitos. Model strukturalnya tidak linier (Meletinskij. menggabungkan fungsi-fungsi hanya secara vertikal. dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan sosial.

Karena bagi Bergson tanda linguistik dianggap sebagai hambatan. Bagi Levi-Strauss telaah Antropologi harus meniru apa yang dilakukan oleh para ahli linguistik. 1972 dalam Fokkema. merupakan unsur makna. sehingga seluruh transformasi ini membentuk sekelompok model. Sifat-sifat yang telah ditunjukan sebelumnya tadi memungkinkan kita untuk memperkirakan dengan cara apa model akan beraksi menyangkut modifikasi salah satu dari sekian elemennya. Istilah kekerabatan. Dalam bukunya yang berjudul ”Trites Tropique” (1955) ia menyatakan bahwa penelaahan budaya perlu dilakukan dengan model linguistik seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure.2. yaitu sesuatu yang merusak impressi kesadaran individual yang halus. Seluruh model termasuk dalam sebuah kelompok transformasi. dan seperti fonem. di mana masing-masing berhubungan dengan sebuah model dari keluarga yang sama. 16 . kekerabatan memperoleh maknanya hanya dari posisi yang mereka tempati dalam suatu sistem. dan mudah rusak (Fokkema. LeviStrauss memandang bahwa apa yang ada di dalam kebudayaan atau perilaku manusia tidak pernah lepas dari apa yang terefleksikan dalam bahasa yang digunakan. Model itu harus dibangun dengan cara sedemikian rupa sehingga kegunaannya bisa bertanggung jawab atas semua kejadian yang diobservasi. Oleh karena itu akan terdapat kesamaan konsep antara bahasa dan budaya manusia. bukan seperti yang dikembangkan oleh Bergson. 1978). cepat berlalu. 1978). seperti halnya fonem. Singkatnya Levi-Strauss berkeyakinan bahwa untuk mempelajari kebudayaan atau perilaku suatu masyarakat dapat dilakukan melalui bahasa. 3. Kesimpulannya adalah bahwa “meskipun mereka berasal dari tatanan relitas yang lain. fenomena kekerabatan merupakan tipe yang sama dengan fenomena linguistik (Levi-Strauss. 1978). Masalahnya para ahli Antropologi pada saat ini tidak pernah mempertimbangkan peranan bahasa yang sesungguhnya sangat dekat dengan kebudayaan manusia itu sendiri. 4. Lahirnya konsep Strukturalisme Levi-Strauss merupakan akibat dari ketidakpuasan Levi-Strauss terhadap fenomenologi dan eksistensialisme (Fokkema.

Seperti yang disebutkan oleh Levi-Strauss (1963). Pertama. 1978). Berikutnya. bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan untuk membangun bahasa pada dasarnya memiliki kesamaan jenis atau tipe dengan apa yang ada pada kebudayaan itu sendiri. bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat merupakan refleksi dari keseluruhan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. korelasi sistem kekerabatan orang-orang Indian di Amerika Utara dengan mitos-mitos mereka. Antropologi mengalami perkembangan pesat setelah dikembangkan dengan model linguistik. 2006). Levi-strauss mengakui bahwa analisis yang benar-benar ilmiah harus nyata. Hal ini dapat kita lihat juga pendapat para pakar kebudayaan yang selalu menyertakan bahasa sebagai unsur budaya yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain melalui bahasa manusia mengetahui kebudayaan suatu masyarakat yang sering disebut dengan kebudayaan dalam arti diakronis. menyatakan bahwa bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan. Dengan bahasa manusia menjadi makhluk sosial yang berbudaya. kita tidak pernah bisa lepas dari pembahasan bahasa (lihat. Model-model matematis pada bahasa dapat berbeda pada tingkatan dengan model matematis yang ada pada kebudayaan.Ahimsa (2006: 24-25) menyebutkan bahwa ada beberapa pemahaman mengenai keterkaitan bahasa dan budaya menurut Levi-Strauss. Ketiga. maka bahasa adalah bagian dari kebudayaan itu sendiri. sederhana. Kedua. Karena bahasa merupakan unsur dari kebudayaan. perlu juga diperhatikan beberapa perbedaan mendasar antara sifat keilmuan Fonologi dengan apa yang ada dalam Antropologi/Sosiologi. menyadari bahwa bahasa merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. dan dalam cara orang Indian mengekspresikan konsep waktu mereka. 1987). terutama setelah diakuinya bidang Fonologi atau ilmu tentang bunyi dalam bahasa (Fokkema. Korelasi semacam ini sangat mungkin terdapat pada kebudayaan lain. Hubungan atau korelasi bahasa dan budaya terjadi pada tingkat struktur (mathematical models) dan bukan pada statistical models (Ahimsa. dan bersifat menjelaskan (Levi17 . Koentjaraningrat. Namun demikian. Untuk itu jika kita membahas mengenai kebudayaan.

Antropolog Levi-Strauss bertujuan menemukan model bahasa dan budaya melalui strukturnya. analisis Antropolgi justru maju ke arah yang berlawanan. Fonologi bisa diterangkan secara ekskulsif dalam sistem persitilahan. tetapi bagaimana manusia mengucapkan vokal. Tradisi adalah tatanan transendental sebagai pengabsah tindakan dan juga sesuatu yg imanen dalam situasi aktual dan bersesuaian dengan konteks bersifat dinamis (J. 1972. 18 . Pemahaman terhadap pikiran dan perilaku kehidupan manusia. Di Bali. Antropologi/Sosiologi bukan bergerak dari hal-hal yang kongkret. oleh karena itu selalu dengan upacara yang berbeda menurut pemahaman suatu suku atau pemeluk agama tertentu. Kebudayaan dan bahasa berposisi sejajar karena keduanya merupakan hasil dari nalar manusia. sistem “terminologi” dan sistem “sikap”. sedangkan upacara kemaian pada pemeluk Islam. Kebudayaan adalah produk atau hasil aktifitas nalar manusia yang memiliki kesejajaran dengan bahasa dan tradisi. sistemnya lebih rumit daripada data observasi dan akhirnya hipotesisnya tidak menawarkan penjelasan bagi fenomena maupun asalusul sistem itu sendiri.C. Hastermann).Strauss. selalu daiadakan pesta dan upacara kematiannya penuh dengan kegembiraan.Tetapi hal itu agak berbeda dengan apa yang ada dalam Antropologi. dalam Fokkema. manjauhi yang kongkret. Tradisi adalah sebuah jalan bagi masyarakat untuk memformulasikan dan memperlakukan fakta-fakta dasar dari eksistensi kehidupan manusia. ia tidak perlu memperhitungkan segala “sikap” sumber sosial atau sumber psikologis. Asumsi dasar nalar manusia (human mind) adalah sistem relasi (system of relation). sebagai contoh: Konsensus manusia tentang persoalan kehidupan dan kematian merupakan suatu tradisi yang penuh dengan simbul dan tradisi. apalagi ketika upacara pembakaran mayat. Antropologi/Sosiologi berurusan dengan sistem kekerabatan pada titik persilangan dua tatanan realitas yang berbeda. misalnya ketika persiapan menguburkan mayat. serta relasi manusia dengan tradisi sangat penting. 1978). dipenuhi dengan kesedian dan bahkan dilarang sama sekali memasak makanan pada komunitas Islam tertentu.

Contoh: Jaran. Menurut Fredinand de Saussure konsep bentuk (form) dan isi (content) penanda dan tinanda selalu memiliki bentuk dan isi. tetapi artinya sangat berbeda.Dalam hal ini pengaruh pemikiran tokoh-tokoh terhadap strukturalisme Levi-Strauss cukup besar. namun bentuknya tidak. Studi tentang struktur bahasa melalui “tanda” melahirkan Semiotics. Langue adalah sistem tata bahasa formal. menyatakan atau menyampaikan ide atau pengertian tertentu. yaitu suatu ilmu yang lebih luas kajiannya dari pada Strukturalisme. karena 19 juga menganalisa sistem simbol. Elemen dasarnya adalah katakata. sistem elemen phonic yg hubungannya ditentukan oleh hukum yg tetap. Hubungan antara penanda & tinanda disebut ”arbiter”. Kajiannya berupa relasi antara keilmuan yang inderawi dan yang linguistik rasional yang dilakukan oleh Fredinand de Saussure (1857-1913). karena perbedaan sistimatis tersebut. jelas sekali walaupun fonemnya hampir sama. Suara yang muncul dari sebuah kata adalah ”penanda” (signifier). konsep suara tersebut adalah ”tinanda” (signified). Bahasa adalah sistem tanda (sign). Tinanda dari sebuah penanda dapat berupa apa saja. Saussure juga membedakan antara konsep “langue” & “parole”. Suara dapat dikatakan sebagai bahasa jika dapat mengekspresikan. Adanya langue menyebabkan adanya parole. Untuk dapat mengetahui kekhasan bentuk (distinctive form) ialah dengan mengenali perbedaan satu kata dengan kata yang lain (differensiasi sistematis). . kuda. tabu. Kehidupan manusia dibentuk oleh struktur bahasa. Sedangkan parole adalah percakapan sebenarnya. Sedangkan ”binatang berkaki 4 (empat) & berlari kencang adalah ”tinanda”. Sebagai contoh: babu. Jadi ide tidak ada sebelum adanya kata-kata. tergantung dari relasinya. Isi bisa berubah. sabu. yaitu cara pembicara mengungkapkan bahasa untuk dirinya sendiri dalam rangka berkomunikasi dengan orang lain. Levi-Strauss Strauss belajar metode komparasi tentang geologi masyarakat (Marx) untuk menemukan geologi psikis (Freud) dan bagaimana pola umum objek dalam menjelaskan gejala yang tersembunyi. horse adalah ”penanda”. ahli bahasa Swiss yang membangun Strukturalisme dari sudut ilmu bahasa struktural yg akhirnya menjadi teori Strukturalisme itu.

Contoh yang jelas dalam sistem biner adalah : laki-laki <--> perempuan. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan secara struktural. . Sebagai contoh: kata menggigit juga ada relasinya dengan memakan. segala sesuatu arti/makna dapat dimasukkan dalam dua kategori. mungkin lewat “gerengan” atau “raungan” sebagaimana ketika seekor harimau makan binatang buruan bersama itu. Selanjutnya menurut Saussure. text/bunyi *jeruk* punya arti/makna karena ada text bunyi lain macam *kelapa*. kedinginan. Dalam sebuah struktur oposisi biner yang ideal.bahasa tubuh. kegeraman. hanya ada dua sign (tanda) yang hanya memiliki makna bila masing-masing beroposisi dengan yang lain. naskah sastra. *bangku*. Suatu kategori X tidak ada dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori Y. ekspresi. sampai mitos dalam masyarakat. dan lain sebagainya. Namun dari segi 'actual speech' atau omongan ('parole'). dan memproduksi suara. Teori oposisi biner ini jadi terkenal setelah Levi Strauss menggunakan teori ini untuk menganalisa proses kultural seperti cara memasak. Bahwa lahirnya bahasa dari segi arti/makna yang muncul dalam otak itu berasal dari komunikasi genital. *pergi*. Suatu kategori jadi exist atau bermakna. 20 mencaplok. Tokoh Semiotics adalah Roland Barthes dan Fredinand de Saussure yang melakukan studi sinkronis (fakta bahasa sebagai sistem) bukan diakronik (historis bahasa & perubahan evolutifnya). Sintagmatis adalah hubungan yg dimiliki sebuah kata dengan kata sebelumnya. Contoh: kata menggigit akan berhubungan dg anjing. mengerogoti. dan bentuk komunikasi. Kategori X ataupun kategori Y. dan lain sebagainya. Contoh lain adalah gunung <--> lembah. dan lain-lain. cara berpakaian. Saussure menyebutnya sebagai “oposisi biner”. Disebut gunung. Sedangkan paradigmatis atau asosiatif adalah relasi antara suku kata dengan kata lain diluar hubungan sintagmatis. serta berusaha untuk membedakan sintagmatis dan paradigmatis. Dalam sistem biner. adalah bagaimana manusia itu merepresentasikan pikirannya lewat omongan. Seseorang disebut laki-laki karena dia bukan perempuan. karena ditentukan oleh ketidak existan/ketidakbermaknaan kategori yang lain.

oposisi biner adalah 'the essence of sense making'. militer-sipil. tetapi Claude Levi-Strauss-lah yang membuatnya menjadi sangat berpengaruh. Contoh sederhana adalah oposisi biner alamiah seperti batu <--> air diparalelkan dengan keras <-> lunak.karena dia bukan lembah dan begitulah seterusnya. publik <--> privat. dan sistem penandaan ini digunakan untuk menstrukturkan persepsi serta pemahaman manusia pada dunia di luar mereka. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang 21 . tetapi dia juga digunakan untuk untuk memahami/menjelaskan kategori-kategori makna yang abstrak. baik terhadap alam natural atau pun dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan. Bagi Strauss. positip <--> negatip. diabstrakkan jadi pemerintah yang kejam <> pemerintah yang ramah. Sistem oposisi biner tidaklah lahir secara natural. daratan <--> lautan. Dia adalah berbentuk produk atau reproduksi budaya. Konsep oposisi biner mula-mula diteorisikan oleh ahli bahasa Ferdinand de Saussure. karena adanya sistem oposisi biner yang mendukung struktur tersebut. Inilah pentingnya pengetrapan teori Strukturalisme pada fenomena aktual sekarang ini. Terjadinya berbagai masalah di Indonesia mungkin disebabkan hilangnya salah satu bagian struktur oposisi biner tersebut. maka penghilangan salah satu bagian dari oposisi biner pasti akan meruntuhkan struktur Indonesia itu. Strauss merupakan Antropolog strukturalis yang banyak menggunakan teori-teori bahasa. Sistem oposisi biner ini oleh manusia tidak saja digunakan untuk mengkategorikan sesuatu yang hanya ada di dunia alamiah. Kalau Indonesia disebut sebagai struktur yang terbentuk dari bermacam-macam oposisi biner. Kalau melihat struktur oposisi biner ini dapat disimpulkan bahwa suatu struktur (baik abstrak atau konkrit) selalu ada. Dia lahir karena manusia punya sistem penandaan dalam otaknya (genital-communication). yaitu struktur yang mengatur sistem pemaknaan kita terhadap budaya dan dunia tempat kita hidup. Islam moderat dan Islam radikal serta hubungan struktural antara keduanya yang timpang dan bagaimana memperbaikinya. separatis lawan NKRI. Oposisi biner ini juga dapat menjelaskan dan digunakan untuk menganalisa perkara GAM/OPM lawan NKRI. seperti: .

sesuatu itu disebut daratan karena ia bukan lautan. kita mengatur pemahaman dunia di luar kita. Secara struktur oposisi biner berhubungan satu dengan yang lain. Misalnya dalam sistem biner laki-laki dan perempuan dan laki-laki. begitu seterusnya. Contoh sederhana dari konsep ini misalnya diberikan oleh John Fiske (1994): konsep oposisi biner angin badai dan angin tenang (kongkret) misalnya. dan bahkan tidak akan ada kategori A. dan bisa ditransfor-masikan dalam sistem-sistem oposisi biner yang lain. Oposisi biner menimbulkan posisi-posisi ambigu yang tidak bisa dimasukkan dalam kategori A atau kategori B. yang bisa disebut dengan atau ‘kategori ambigu’ atau 'kategori skandal' (Strauss lebih senang menyebutnya dengan 'anomalous category‘. daratan dan lautan. Ia adalah produk dari sistem penandaan. hanya ada dua tanda atau kata yang hanya punya arti jika masing-masing beroposisi dengan yang lain. Dalam sistem biner. Proses transisi metafor dari sesuatu yang abstrak dalam sesuatu yang kongkret ini dinamakan Strauss sebagai 'the logic of concrete'. tidak akan ada ikatan dengan kategori A. Dalam struktur oposisi biner yang sempurna. Tanpa kategori B. Keberadaan mereka ditentukan oleh ketidakberadaan yang lain. Seseorang disebut laki-laki karena ia bukan perempuan. segala sesuatu dimasukkan dalam kategori A maupun kategori B. Suatu kategori A tidak dapat eksis dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori B. ia bukan bersifat 'alamiah'. dan dengan memakai pengkategorian itulah. Strauss juga menyebutkan konsep dasar dari oposisi biner yaitu 'the second stage of the sense-making process': penggunaan kategorikategori sesuatu yang hanya eksis di dunia alamiah (sesuatu yang kongkret) untuk menjelaskan kategori-kategori konsep kultural yang abstrak. bisa disejajarkan dengan oposisi biner alam yang kejam dan alam yang tenang (abstrak).membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan. dan berfungsi untuk menstrukturkan persepsi kita terhadap alam natural dan dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan dan makna. atau antara anak-anak dan orang dewasa. Oposisi biner adalah produk dari 'budaya'.‘Kategori anomali’ ini muncul dan mengganggu 22 . Kategori A masuk akal hanya karena ia bukan kategori B.

ada pantai. Antara anak-anak dan orang dewasa. tapi pada struktur dalam tetap sama. Transformasi harus dibedakan dari kata perubahan yang berarti change. Perubahan yang terjadi dalam suatu struktur disebut dengan transformasi (transformation). Sebagaimana sudah disebutkan di atas bahwa terbentuknya struktur merupakan akibat dari adanya relasi-relasi dari beberapa elemen. Antara laki-laki dan perempuan ada gay/lesbian/banci. Hanya bagian-bagian tertentu saja dari suatu struktur yang mengalami perubahan sedangkan elemen-elemen yang lama masih ada. Pemahaman kita akan adanya struktur dalam setiap benda atau aktivitas manusia memudahkan identivikasi benda atau aktivitas tersebut. Diantara mereka yang sangat berpengaruh 23 . atau gay/lesbian/banci adalah 'kategori anomali'. yaitu: Struktur permukaan/luar (surface structure): adalah relasi-relasi antar unsur yg dapat dibuat atau dibangun berdasarkan ciri-ciri empiris dari relasi tersebut. sebagai contoh: kutuk dan kuthuk (Jawa). Transformasi adalah perubahan bahasa pada struktur luar. Struktur terbagi dua. vampir/hantu/zombi. Antara daratan dan lautan. Perbedaan “t” dan “th” inilah yang disebut fonem (Nikolai Troubetzkoi). Sedangkan struktur batin/dalam (deep structure): adalah susunan tertentu yg dibangun atas struktur lahir yg telah berhasil dibuat. Fonem adalah konsep linguistik bukan konsep psikologis. Antara orang hidup dan orang mati ada sesuatu yang disebut vampir. zombi. Ia mengotori kejernihan batas-batas oposisi biner. ada posisi remaja. Oleh karena itu struktur juga oleh Levi-Strauss diartikan sebagai relations of relations atau system of relation (sistim relasi). Pantai. remaja. Hal yang perlu diperhatikan dalam Strukturalisme adalah adanya perubahan pada struktur tersebut. Kata tidak lagi dapat dianggap sebagai satuan linguistik paling dasar karena yang terkecil adalah fonem (satuan) bunyi yang terkecil dan berbeda. Agar pemahaman mengenai teori strukturalisme LeviStrauss lebih baik. perlu disampaikan konsep bahasa menurut para ahli linguistik yang mempengaruhi lahirnya teori ini.sistem oposisi biner. Karena dalam proses transformasi tidak sepenuhnya berubah. hantu.

wajar jika de Saussure dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh terhadap teori Strukturalisme. 56). Signifier dan signified. Ferdinan de Saussure. 2006). Gagasan terbesar de Saussure adalah pada teori umum sistem tanda (general theory of sign system) yang disebutnya dengan ilmu Semiologi (Semiology) (Winfried Noth. Bahasa adalah suatu sistem tanda (sign). Ferdinand de Saussure Ferdinand de Saussure (1857-1913) merupakan penemu linguistik modern (Modern Linguistics). Sebagai penemu konsep linguistik modern. Ada lima pandangan de Saussure yang mempengaruhi Levi-Strauss dalam memandang bahasa. Pemikiran ini kemudian melahirkan konsep struktural dalam bahasa dan juga semiologi atau yang sekarang disebut dengan semiotik (Ahimsa. C. 1978 dalam Ahimsa 2006). 1. Bagi Saussure ide-ide tidak ada sebelum kata-kata. 24 . Dari ketiga pemikir linguistik ini. yang wujudnya tidak lain adalah kata-kata. De Saussure berpendapat bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda linguistik atau tanda kebahasaan (linguistic sign). 1995.terhadap pandangan Levi-Strauss adalah. a. Yaitu. Levi-Strauss memiliki keyakinan bahwa studi sosial bisa dilakukan dengan model linguistik yaitu yang bersifat struktural. dan menurut dia secara psikologis pikiran kita terlepas dari perwudjudannya dalam kata-kata sebenarnya hanyalah “Shapeless and indistinct mass”. Signified (tinanda) dan signifier (penanda). Roman Jakobson dan Nikolay Trobetzkoy. (Levi-Strauss. Para Ahli bahasa yang berpengaruh pada pemikiran Levi Strauss Berikut ini adalah para pakar bahasa yang mempengaruhi Levi Strauss dalam proses pengembangan teori Struktulaisme. Terobosan pemikiran de Saussure dimulai pada pemikirannya mengenai hakekat gejala bahasa.

Langue (bahasa) dan parole (ujaran. 2006 h. 19 dalam Ahimsya. Wadah atau form adalah sesuatu yang tidak berubah. Jadi benda apapun selama kita tempatkan dam posisi “kuda”. tuturan). sedang konsepnya adalah tinanda (signified). 1976. walaupun penanda dan tinanda tampak sebagai entitas yang terpisahpisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen dari tanda. 35). isi boleh saja berganti tetapi makna dari wadah masih tetap berfungsi. dengan sebuah ide atau tinanda yang disebut signified. 3. 2. Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (signifier). Dalam konsep ini. Suatu benda yang ditempatkan pada posisi “kuda”. Meskipun komponen “kuda” hilang seumpamanya. akan tetap memiliki fungsi dan kedudukan yang sama dengan “kuda” yang hilang itu. Fungsi “kuda” ini masih bisa digantukan dengan benda lain yang mirip atau tidak sama sekali dengan bentuk asli “kuda” yang digantikan. bukan menyatukan sesuatu dengan sebuah nama. meskipun dengan bentuk yang lain dari kuda itu tetap bisa menggantikan fungsi kuda yang digantikan tersebut. Form (bentuk) dan content (isi). Kiasan yang sering digunakan untuk menggambarkan kedudukan wadah (form) dan isi adalah pergantian salah satu fungsi dari komponen permainan catur. Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa (Culler.sesuatu yang tak berbentuk dan tak mengenal perbedaan-perbedaan atau tak bisa dibeda-bedakan. 25 . Untuk menjelaskan konsep ini memang agak sulit. Setiap tanda kebahasaan pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citra suara (sound image). Tanda adalah juga kesatuan dari suatu bentuk penanda yang disebut signifier.

1976. 1966. Karena tida semua fakta-fakta kebahasaan itu memiliki sejarah. Karena sifatnya yang evolutif maka tanda kebahasaan sepenuhnya tunduk pada proses sejarah. dan fakta-fakta kebahsaan yang mengalami evolosi (Culler. aturan-aturan antarperson yang tidak disadari tetapi ada pada setiap pemakai bahasa. Dengan kata lain tuturan yang membedakan kita dengan orang lain melalui gaya bahasa. Sinkronis dan diakronis De Saussure meyakini akan adanya proses perubahan bahasa. ia bisa mencerminkan kebebasan pribadi seseorang. 26 . 46). Hal ini dikarenakan tanda itu sebagi suatu entitas yang bersifat relasional atau dalam relasi-relasi dengan tanda-tanda lain. Tuturan ini marupakan apa yang terwujud ketika kita mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang kita pergunakan. Komsep langue merupakan aspek yang memungkinan manusia berkomunikasi dengan sesama. 4. de Saussure masih saja menekankan bahasa pada proses sinkronis. via Ahimsa. Dalam langue terdapat norma-norma. via Ahimsa. Inilah kenapa langue membicarakan juga aspek sosial dalam linguistik. Oleh karena itu keadaan ini menuntut adanya perbedaan yang jelas antara fakta-fakta kebahasasan sebagai sebuah sistem. 2006.Pembahasan de Saussure bukan hanya fokus pada aspek bahasa semata tetapi juga aspek sosial dari bahasa. 47). Dari pengertian inilah akhirnya dapat dipahami bahwa untuk mempelalajari bahasa diperlukan pemahaman terhadap relasi-relasi atas elemen-elemen yang bersifat sinkronis. Namun demikian. Disisi lain parole merupakan tuturan yang bersifat individu. kesimpulannya bahasa diartikan sebagai “a system of pure values whcih are determined by nothing except the momentary arrangement of its terms” (Ferdinand de Saussure. 2006.

b. Disinilah hubungan sintagmatik dan paradigmatik itu berperan. Tetapi menggunakan pertimbangan-pertimbangan akan kata yang akan digunakan. ia dikenal sebagai pengembang Semiotika Klasik. Gabungan kata yang sesuai itu memiliki makna.5. Dalam kontek ini de Saussure menyatakan bahwa manusia menggunakan kata-kata dalam komunikasi bukan begitu saja terjadi. Penggabungan kata ini tidak terjadi begitu saja. Karena seperti kata “memetik” tentu tidak bisa digabungkan dengan kata “mengalir”. “memetik” dan “bunga”. Konsep yang ditawarkan oleh Roman Jakobson (1896-1982) lebih condong pada para ahli bahasa dari Rusia (Rusian Linguist). Sintagmatik dan Paradigmatik. yaitu antara tahun 1914 sampai 1920. 74) membedakan empat periode perkembangan penelitian mengenai karya-karya Jakobson. Pada periode ini Jakobson dikenal sebagai pendiri Moscow Linguistic Circle dan juga sebagai anggota kelompok Opoyaz yang sangat 27 . 47). Koch (1981. periode formalist. Hubungan sintagmatik adalah hubungan yang dimiliki sebuah kata dengan kata-kata yang dapat berada di depannya atau di belakangnya dalam sebuah kalimat. tetapi dipertimbangkan konvensi bahasa yang sudah ada. Hubungan sintagmatik dan paradigmatik terdapat dalam kata-kata sebagai rangkaian bunyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep (Ahimsa. Atau gabungan kata “bunga mengalir” gabungan ini tidak memiliki makna karena tidak sesuai tata bahasa yang umum atau standar. Kita memiliki kata yang mau kita gunakan sebagaimana penguasaan bahasa yang kita miliki. 2006. Sepeti kata yang terdapat dalam kata “saya”. Roman Jakobson Meskipun Jakobson terlahir setelah de Saussure. 1995. Pertama. via Noth. Ketiga kata ini bisa digabung menjadi kalimat “saya memetik bunga”.

periode Semiotic. Fonem sebagai unsur bahasa terkecil yang membedakan makna. Hjelmslev) dan aktif dalam Linguistic Circle of New York. matematika dan juga fisika (1982). Pada periode ini Jakobson bergabung dalam Copenhagen Linguistic Circle (Brondal.. need I add. Keempat. Ketiga. periode interdisciplinary yang dimulai pada 1949 yaitu saat ia mulai bekerja di Harvard dan juga MIT mengenai teori informasi dan komunikasi (Informatioan and Comunicatioan Theory). “Kutuk” mengacu pada nama sejenis ikan gabus sedangkan “kuthuk” adalah anak ayam (Ahimsa. Pemikiran Jakobson berpengaruh besar pada diri Levi-Strauss pada konsepnya mengenai fenomena budaya. 52) berikut ini: “. 2006.. Contoh kasus yang menujukan peranan penting fonem dapat kita lihat dalam dua kata antara “kutuk” dan “kuthuk” (basa Jawa). This was the revelation of structural linguistics. a great deal more than I had bargained for. antara tahun 1939 sampai 1949.His (Jacobson’s) lectures. yaitu antara tahun 1920 sampai 1939. periode stucturalist. 52). which provided me with a body of coherent ideas where I could crystallize my reveries about the wild flowers I had gazed at somewhere along the Luxembourg border early in May 1940.” (1985:139). Jakobson merupakan figur yang paling mendominasi dalam Prague School of Linguistics and Aesthetics. however. Perbedaan tulisan antar /t/ dan /th/ mengakibatkan sedikit perbedaan pengucapan tetapi memiliki makna yang jauh berbeda. 2006). Pengaruh yang besar Romand Jakobson disampaikannya sendiri oleh Levi-Strauss sebagaimana dikutib oleh Ahimsa (2006. gave me something very different and. Jakobson memberikan pandangan kepada Levi-Strauss tentang bagaimana memahami atau menangkap tatanan yang ada di balik fenomena budaya yang sangat variatif tersebut (Ahimsa. Dalam pemikiran Jakobson unsur terkecil dari bahasa adalah bunyi. meskipun fonem itu sendiri tidak bermakna.. Kedua. 28 ..berpengaruh. Dengan demikian kata diartikan sebagai satuan bunyi yang terkecil dan berbeda.

b. sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lian. Mencari distinctive feature (ciri pembeda) yang membedakan tandatanda kebahasaan satu dengan yang lain. Memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah.perbedaan antartanda yang penting secara paradigmatis. Jadi sebenarnya fonem tidak akan bermakna atau tidak memiliki isi. a. Ahimsya. Nikolai Troubetzkoy 29 . 2006). Langkah-langkah struktural terhadap fonem yang dilakukan oleh Jakobson adalah. c. h.Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa fonem terbentuk karena adanya relasi-relasi. dan realsi-relasi ini muncul karean adanya oposisi. Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada tidaknya ciri pembeda dalam tanda-tanda tersebut. unit-unit yang bermakna. 11. yang hakiki dari sebuah fonem adalah relasi karena dengan begitu sebuah fonem baru memiliki fungsi yang jelas. yakni perbedaan-perbedaan antartanda yang masih dapat saling menggantikan(Pettit. Merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah-istilah kebahasaan mana dengan distinctive features yang mana yang dapat berkombinasi dengan tanda-tanda kebahasaan tertentu lainya. dan ini dilakukan dengan mengetahui ciri-ciri pembeda (distinctive features) dari suatu suara yang memisahkannya dengan ciriciri suara yang lain. c. Jakobson yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Jakobson mempengaruhi Levi-Strauss pada tataran tatanan (susunan/order) yang ada di balik fenomena budaya (Ahimsa. Menentukan perbedaan. d. 1977. 55).

Pada tataran ini seorang ahli fonologi tidak lagi memperlakukan istilah-istilah (terms) atau fonem-fonem sebagai entitas yang berdiri sendiri. fonem sebagai sebuah konsep atau ide berasal dari para ahli bahasa. ciri-ciri pembeda. karena relasi-relasi antar ciri-ciri pembeda dalam fonemlah yang menjadi pusat perhatian (Ahimsa. Dengan kata lain. 2006). 2006. (Ahimsa. strukturalisme merupakan aliran baru bagi studi antropologi. Asumsi Dasar Strukturalisme Dari pemahaman kita di atas. Nikolai berpendapat bahwa fonem adalah sebuah konsep linguistik. Selanjutnya dia perlu. Memperhatikan relasi-relasi antar istilah atau antar fonem tersebut. bukan konsep psikologis. tetapi dia harus. Artinya. Langkah analisis struktural dalam fonologi. 3. Jadi fonem tidak dikenal oleh pengguna suatu bahasa. 4. 30 . 1. berbeda dengan pendekatan yang ada dalam fungsionalisme. Karena itu sebaiknya para peneliti memperhatikan distinctive feature. 59). d. dan menampilkan struktur dari sistem tersebut. Harus berupaya merumuskan hukum-hukum tentang gejala kebahasaan yang mereka teliti. strategi analisis dalam fonogi haruslah struktural. kecuali ahli fonologi dari kalangan mereka atau mereka yang pernah belajar lingusitik.Nikolai mempengaruhi Levi-Strauss dalam hal strategi kajian bahasa yang berawal dari konsepsi mengenai fonem. Strukturalisme bertolak dari studi linguistik (ilmu bahasa). Memperlihatkan sistem-sisitem fonemis. 2. yang memiliki fungsi atau operasional dalam satu bahasa. Toubetzkoy menyarankan agar perhatian pada fenomena fonem sebagai sebuah konsep linguistik. dan menjadikannya sebagai dasar analisisnya. Beralih dari tataran yang disadari ke tataran nirsadar. dan bukan ide yang diambil dari pengatahuan pemakai bahasa tertentu yang diteliti.

68). 66). Ahimsa (2006. Suatu struktur hanya mewujud secara parsial (partial) pada suatu gejala. Dalam Strukturalisme ada angapan bahwa upacara-upacara. yaitu secara sinkronis. 4. 2. Dalam kehidupan sehari-hari apa yang kita dengar dan saksikan adalah perwujudan dari adanya struktur dalam tadi. 2006. 31 . Yaitu kemampuan untuk structuring. 13-14 Ahimsya. pola tempat tinggal. Relasi-relasi yang ada pada struktur dalam dapat diperas atau disederhanakan lagi menjadi oposisi berpasangan (binary opposition). Para penganut Strukturalisme beranggapan bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis sehingga kemampuan ini ada pada semua manusia yang normal. 1.Marxisme dan lain-lain. akan tetapi perwujudan ini tidak pernah kompolit. Hukum transformasi adalah keterulangan-keterulangan (regularities) yang tampak. sistemsistem kekerabatan dan perkawinan. dengan istilah-istilah yang lain. seperti halnya suatu kalimat dalam bahasa Indonesia hanyalah wujud dari secuil struktur bahasa Indonesia. menyususun suatu struktur. atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya. 1970. pakaian dan sebagianya. para penganut strukturalisme berpendapat bahwa relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena-fenomena yang lain pada titik waktu tertentu inilah yang menentukan makna fenomena tersebut. (Ahimsa. 66-71) menyebutkan bahwa strukturalisme memiliki beberapa asumsi dasar yang berbeda dengan konsep pendekatan lain. Mengikuti pandangan dari de Saussure yang berpendapat bahwa suatu istilah ditentukan maknanya oleh relasi-relasinya pada suatu titik waktu tertentu. untuk menstruktur. 3. Beberapa asumsi dasar tersebut adalah sebagai berikut. melalui mana suatu konfigurasi struktural berganti menjadi konfigurasi struktural yang lain. secara formal semuanya dapat dikatakan sebagai bahasabahasa (Lane.

Semua bisa dipahami secara otonom di tataran langue (logika-internal penunjuk). implikasinya cukup jauh. Struktur bahasa mencerminkan struktur sosial masyarakat. melainkan karena kaitan dan perbedaannya dengan kata sultan. dan bahasa selalu memiliki dua sisi: bahasa sebagai parole (tuturan percakapan lisan sebagai sisi eksekutif bahasa) dan sebagai langue (sistem tanda atau tata bahasa). Kata presiden ada bukan karena kaitan logis internal dengan orang yang menjadi kepala pemerintahan presidensial. Dalam wacana ilmu-ilmu sosial. dan sebagai “tanda” (sign).Sebagai serangkaian tanda-tanda dan simbol-simbol. Disamping itu juga Kebudayaan diyakini memiliki struktur sebagaimana yang terdapat dalam bahasa yang digunakan dalam suatu masyarakat. Keempat asumsi dasar ini merupakan ciri utama dalam pendekatan strukturalisme. Sebagai contoh mengapa SBY disebut sebagai ”presiden”. camat dan sebagainya. Dengan metode analisis struktural makna-makna yang ditampilkan dari berbagai fenomena budaya diharapakan akan dapat menjadi lebih utuh. Dengan demikian dapat kita pahami juga bahwa strukturalisme Levi-Strauss menekankan pada aspek bahasa. dan tidak terkait dengan objek yang ditunjuk. fenomena budaya pada dasarnya juga dapat ditanggapi dengan cara seperti di atas. gubernur. Strukturalisme merupakan penerapan analisis bahasa ke wilayah sosial. Apa yang utama dalam analisis sosial adalah menemukan “kode tersembunyi” yang ada dibalik gejala 32 . Semenjak strukturalisme inilah muncul pendapat bahwa bahwa bahasa sebagai sistem tanda bersifat arbiter (arbitrary). Strukturalisme merupakan gerakan pemikiran yang kembali ke bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913). Menurut perspektif Strukturalis itulah cara tutur kita yang sama sekali tidak menjelaskan apapun. juga jika hanya secara analogis. Ketika diterapkan ke dalam ilmu-ilmu sosial. bukannya sebagai seorang “pesinden”. dalam bahasa ada dua aspek: “penanda” ( signifier) dan “petanda” (signified). Realitas sosial adalah “teks” atau bahasa.

Berbeda adalah menang-guhkan serta melawan. Artinya. Seperti telah dicontohkan di atas. berbeda merupakan identitas itu sendiri. kata ‘presiden’ terbentuk bukan karena kaitannya dengan seseorang yang menjadi kepala sebuah negara pada waktu-tempat tertentu. waktu. Gejala penyingkiran pelaku tindakan atau subjek (decentering) dalam strukturalisme ini dibawa ke implikasi terjauhnya oleh para penggagas post-strukturalisme. yang mempunyai implikasi pada tingkat pembahasan yang mereka lakukan 33 . Penekanan yang telah diberikan adalah pada hubungan-hubungannya yang dilihat secara konseptual. Tindakan individual dalam ruang dan waktu tertentu hanyalah suatu kebetulan. sehingga model-model mengenai hubunganhubungan tersebut nampak berbeda-beda di antara ahli-ahli yang berbeda. Dalam kritik Giddens. ‘gubernur’. ruang. sebagaimana langue menjadi kunci otonom di balik parole. Ada dua unsur sentral di situ: sifat sewenang-wenang (arbitrary) dan perbedaan (difference). Ada paralel antara perspektif strukturalis dan fungsionalis.kasat mata. Sejumlah ahli Antropologi menggunakan cara-cara yang berbeda dalam melihat struktur sosial dalam kaitannya dengan agama dan upacara. dan proses adalah soal kebetulan. Jacques Derrida. melainkan bahwa ‘bukan camat’ itu sendiri merupakan pokok eksistensi. yaitu pengebawahan pelaku dan tindakan pelaku. misalnya. Kalau mau mengerti masyarakat kapitalis. ‘camat’ dan sebagainya. melainkan sebagai pembentuk identitas yang bersifat konstitutif. Derrida melihat ‘perbedaan’ bukan hanya sebagai cara menunjuk. e. perbedaan kata ‘presiden’ dan ‘camat’ bukan sekedar bahwa ‘presiden’ ialah apa yang ‘bukan camat’. “Kode tersembunyi” itulah struktur. perspektif ini merupakan “penolakan yang penuh skandal terhadap subjek”. melainkan karena perbedaannya dengan kata ‘raja’. bidiklah logika-internal kinerja ‘modal’.

Analogi yang berlandaskan pada sistem penggolongan yang dilakukan oleh Hertz dan Cunningham. dan yang mewujudkan adanya perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. yang walaupun berbelit-belit tetapi memberikan suatu ketegasan penjelasan mengenai arti kebudayaan dalam kaitannya dengan struktur dan dengan lingkungan yang dihadapi oleh manusia. struktur sosial yang merupakan bagian yang terorganisasi dalam kehidupan mereka menjadi dapat dipahami serta masuk akal secara sewajarnya bagi mereka. bahwa masing-masing model yang telah dibahas tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Sedangkan Cunningham memperlihatkan adanya suatu 34 .serta pada tingkat pengertian yang mereka peroleh dengan menggunakan model-model tersebut. Hertz melihat bahwa agama berperan terhadap adanya semacam polarisasi dalam kehidupan sosial dari individu maupun bagi seluruh warga masyarakat yang bersangkutan. yang berlandaskan pada konsep-konsepnya mengenai sistem-sistem simbol dan ide yang memberi informasi. Model-model dari Geertz yang berdasarkan pada model bagi dan model dari. yaitu dengan berlandaskan pada sistem klasifikasi yang menjadi dasar dan yang ada dalam agama. yang walaupun masing-masing berbeda dalam hal kedalaman dan luasnya cakupan dari model klasifikasi yang digunakan. tetapi pada prinsipnya berlandaskan pada model-model yang sama. Dengan demikian maka juga nampak bahwa masing-masing model tersebut mempunyai relevansi dan validitas yang terbatas sesuai dengan tujuan penggunaannya dalam hal mengkaji hubungan antara struktur sosial di satu pihak dengan agama dan upacara di pihak lainnya. Secara umum dapatlah dikatakan. mitos dan upacara adalah sebagai jalan untuk memahami bagaimana manusia memahami dan menerima hakekat dari kedudukan dan peranannya dalam kehidupan sosial di masyarakatnya. Geertz menyatakan bahwa studi mengenai agama. 2.

tetapi sebagai model bagi kenyataan. Levi-Strauss menyatakan bahwa mitos sebagai agama atau sebagai bagian dari agama. Dalam perhatiannya mengenai mitos. sebagaimana juga dengan pendahulu-pendahulunya yaitu Durkheim dan RadcliffeBrown. 3. yang walaupun mempunyai landasan model-model sendiri yang sesuai dengan perhatian yang dipunyai masing-masing maka juga telah menghasilkan pengertian-pengertian yang berbedabeda antara yang satu dengan yang lainnya. dapat membantu usaha-usaha mengenai struktur sosial karena mitos selalu berhubungan dengan masyarakat dan berbicara mengenai masyarakat tersebut baik 35 . Levi-Strauss melihat struktur sosial bukan sebagai kenyataan yang dapat diamati. Menurut Levi-Strauss.prinsip kesadaran kolektif dan primordial yang dilakukan oleh Levi-Strauss dan Victor Turner. Turner melihat bahwa upacara berperan untuk membuat individu dapat menjadi cocok dengan masyarakatnya dan membuatnya dapat menerima aturan-aturan yang berlaku. Upacara adalah tempat bagi perwujudan ketaatan atas aturan-aturan yang diikuti tersebut dalam bentuk berbagai tindakan yang dapat dilihat sebagai simbol dan metafor.keteraturan (order). yaitu suatu sistem yang menjadi pegangan bagi manusia pada waktu mereka mengklasifikasi dunia yang mereka hadapi. Model ini adalah suatu sistem yang mempunyai kesanggupan untuk memprediksi atau meramalkan dan membuat kenyataan dapat menjadi masuk akal dan dipahami. agama adalah suatu bagian dari struktur sosial. maka sesungguhnya ide-ide yang terletak dibalik aturan-aturan tersebut secara simbolik telah juga diterima. Pada waktu pegangan yang berisikan aturan-aturan itu diikuti/ditaati oleh manusia. Levi-Strauss percaya bahwa dengan melalui studi mengenai agama dan mitos akan dapat diperoleh suatu pemahaman mengenai pengertian struktur sosial yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan. Model-model hubungan yang dibuat berdasarkan atas prinsip.

sekarang.mengenai masa yang lampau. kebingungan dan jiwa tertekan. Salah satu dari peranannya yang jelas terlihat adalah bahwa dalam keadaan kekacauan dan kesukaran. sehingga kedudukan dan peranannya menjadi jelas dan penerimaannya atas berbagai tahap dan keadaan kondisi kehidupan yang dihadapi dan dialaminya dapat diterima secara masuk akal baginya. agama mempunyai berbagai fungsi penting yang terwujud dalam berbagai cara yang berbeda dalam kehidupan sosial manusia. Agama menyajikan berbagai penjelasan mengenai hakekat kehidupan manusia dan lingkungan serta ruang dan waktu yang dihadapi manusia dan yang dirinya sendiri adalah sebagian dari padanya. bukanlah harus dilihat dalam konteks struktur itu sendiri tetapi dalam suatu konteks yang lebih luas dan berlandaskan pada kehidupan yang nyata yang dihadapi oleh para pelaku yang bersangkutan. yang antara lain terwujud dalam penekanannya pada bentukbentuk kelakuan yang wajar dan tepat menurut bidang atau arena sosial yang ada. Membentuk dan mendukung berlakunya nilai-nilai yang ada dan mendasar dari kebudayaan suatu masyarakat. Yang sebenarnya patut diperhatikan dalam pengkajian mengenai hubungan antara struktur sosial dengan agama dan upacara adalah dalam hal kaitannya dengan kenyataan-kenyataan sosial dan ekonomi yang ada dalam lingkungan hidup yang dihadapi oleh para pelakunya dalam masyarakat. 2. Fungsi-fungsi tersebut antara lain adalah: 1. Sehingga pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan relevansi dari sesuatu keyakinan keagamaan dan upacara yang dilihat sebagai struktur sosial ataupun sebagai corak hubungan yang terwujud antara struktur sosial dengan agama dan upacara. agama memainkan peranan yang besar bagi individu-individu yang bersangkutan karena agama menyajikan penjelasan dan bertindak sebagai kerangka 36 . maupun masa yang akan datang. Karena. yaitu etos dan pandangan hidup.

Begitu juga sebaliknya kalau kita ingin memahami hakekat dan corak dari agama yang diyakini oleh warga suatu masyarakat. Keduanya mempunyai peranan yang penting dalam mengko-ordinasi titik temu antara struktur sosial dengan agama dan antara agama dengan kehidupan yang nyata. pasti akan terdapat celah-celah kekurangan dan kelemahanya. serta hasil analisis dan kesimpulan dari hasil analisis teori tersebut. dan didukung dalam suatu masyarakat. dibenarkan. Perangkat dan Metode Analisis Ahimsa (2006. a. Cara menggunakan 37 .sandaran bagi ketentraman dan penghiburan hati dalam keadaan kesukaran dan kekacauan yang dihadapi tersebut. Kelemahan dan kelebihan Strukturalisme Levi-Strauss Seberapapun sempurnanya suatu teori. mitos dan upacara sehingga dapat menemukan dan kemudian menentukan apa yang seharusnya dijelaskan. Kritik yang berkenaan dengan teori Strukturalisme Levi-Strauss dapat dilihat pada persoalan perangkat dan metode analisis. Demikian halnya dengan teori Strukturalisme LeviStrauss ini. Model-model yang telah dibahas tersebut di atas dapat digunakan secara terseleksi. data etnografi dan interpretasi. Agama mempunyai peranan untuk menyatukan berbagai faktor dan bidang kehidupan ke dalam suatu pengorganisasian yang menyeluruh. a). kita dapat mempelajari dan mengkaji agama. dapatlah dikatakan bahwa untuk dapat memperoleh pemahaman mengenai hakekat dan corak dari struktur sosial. D. yang dimungkinkan oleh adanya peranan dari mitos dan upacara. 3. yaitu dalam rangkuman struktur sosial. Sebagai akhir kata. Strukturalisme ini mendapat kritik terutama dari para ahli antroplogi itu sendiri. ) menyebutkan bahwa kritik terhadap perangkat dan metode analisis dapat dibedakan menjadi tiga. yaitu tergantung pada masalah yang hendak dikaji dan kenyataan kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat dimana pengkajian itu hendak dilakukan.

2006. Disisi lain ia juga berpendapat bahwa dalam mitos isi dan bentuk tidak bisa dipisahkan (Yalman. Levi-Strauss pernah mengatakan bahwa untuk memahami sebuah mitos lebih penting memahami struktur daripada isi cerita. b. Reduksi dalam proses analisis. tetapi juga pada tataran semantis yang berarti isinya juga. Dalam persoalan ini. Levi-Strauss sering tidak konsisten dengan analisis yang dikembangkan. Dalam beberapa analisisnya ia tidak hanya menlaah pada tataran sintaksis. 2006). Cara ini sangat kurang tepat untuk menganalisis mitos sebagai produk budaya manusia yang sangat kompolek. 162). 164). Konsistensi prosedur analisis dan c).konsep-konsep analisis. Ketiga. Menurut para 38 . Strukturalisme Levi-Strauss memiliki beberapa kelemahan. Douglas menyebut dua reduksionisme yang dilakukan oleh Levi-Strauss yaitu pada model komputer yang dipakainya dan adanya dua tujuan dalam analisis wacana (Ahimsa. Marry Douglas mengkritik mengenai cara penggunaan konsep-konsep analisis. Kedua. menurutnya Levi-Strauss tidak selalu menggunakan konsep analisisnya dengan tepat. Levi-Strauss menggunakan cara analisis reductionist (reduksionis). 2006. Namun dalam prakteknya ia tidak melakukan analisis seperti yang digambarkan. Cara analisis menggunakan sistem ini akan mengurangi kesempurnaan analisis karena akan mengalami kelemahan makna (a lesser meaning). Levi-Strauss sering membuat kesimpulan-kesimpulan yang dianggap terlalu jauh. Douglas menyebutkan bahwa Levi-Strauss sering memaksakan datanya agar sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya (Ahimsa. b). Karena ketidaktepatan itu. 1967 dalam Ahimsa. Interpretasi Data Etnografi Data etnografi sangat penting dalam menelaah mitos. Hal ini dikarenakan mitos tidak pernah lepas dari kontek budaya masyarakat setempat dimana lahirnya mitos tersebut.

Hasil analisisnya pun masih banyak mendapat kritikan dari berbagai kalangan terutama para ahli antropologi. JZ. (Ahimsa. oleh Strauss dipaksakan sesuai apa yang menjadi konsepsinya. Menurut Adam gagasan Levi-Strauss terhadap suku ini terlalu diada-adakan. Adam (1974) mengkritik mengenai hasil analisis Strukturalisme Levi-Strauss terhadap suku Asdiwal.L. Alice Kassakoff (1974) ahli antropologi ini melakukan penelitian suku Indian Tsimshian yang telah dianalisis oleh teori Strukturalisme Levi-Strauss ini. Kemampuan analisis struktural menuntaskan tafsir yang diberikan. Lain lagi dengan pendapat Alice. seperti Alice Kassakoff dan John W. Ia menyatakan bahwa analisis Strauss justru menutupi realistas kekerabatan yang ada pada suku Indian tersebut.antropolog. Justru dengan tindakan seperti inilah teori ini kridibilitasnya masih perlu untuk disangsikan. Ahimsa (2006) menyatakan bahwa hasil analisis kritik dapat dibedakan dalam beberapa hal. (misrepresentasions of story). Kronenfeld dan DB. 2006. Thomas. a). Pengertian mitos yang cenderung dianggap negatif oleh LeviStrauss ditolak oleh Douglas. Bukan sekedar metode dan data etnogarfi yang nampaknya dipersoalkan dalam Strukturalisme Levi-Strauss. Hasil Analisis. c. 168). Ketiganya menyimpulkan bahwa analisis Strukturalisme Levi-Strauss dianggap penuh dengan generalisasi-generalisasi etnografi yang sangat diragukan kebenarannya. Adam keakuratan data etnografi yang disampaikan Levi-Strauss belum seutuhnya mendukung dari apa yang disampaikan. Kronenfeld. b). Douglas beranggapan bahwa masih ada 39 . Kebenaran struktur mitos yang dikemukakan. Bahkan analsisnya dianggap mengalami kesalahrepresentasi-an. Pendapat ini juga didukung oleh tiga ahli antropologi lain yakni. Persoalan terhadap suku ini yang sebenarnya sederhana dan bahkan tidak ada. L.

d. 20006. “Instead of more and richer depths of understanding. sehingga tentunya masih banyak penyesuaian dan pendalaman (penyempurnaan). and often a paltry one at that”. Metoda ini justru dianggap mengalami kebocoran seperti yang diistilahkan Ahimsa dalam tulisannya. Douglas yang sebelumnya banyak melakukan kritik.aspek-aspek positif mengenai makna mitos. Maybury-Lewis (1970) menyatakan bahwa banyak hal yang berhasil membuka perspektif-perspektif baru dalam analisis mitos yang telah dilakukan oleh Levi-Strauss. Selanjutnya Douglas menyatakan bahwa makna mengenai mitos yang dikemukakan oleh Levi-Strauss dianggap biasabiasa saja dengan istilah lain tidak begitu penting. Hal yang demikian ini terjadi karena Levi-Strauss terlalu banyak mencontoh model yang diterapkan dalam ilmu bahasa (linguistik) yang menurut Douglas tidak cocok jika diterapkan dalam analisis mitos. karena kita menyadari juga bahwa teori ini masih baru dalam bidang antropologi. Banyak manfaat yang kita dapatkan dari teori Strukturalisme LeviStrauss ini. tentunya banyak hal yang dapat menjadi kelebihan dari teori ini. Beberapa Tanggapan Betapapun banyaknya kekurangan dan kelemahan yang terdapat dalam Strukturalisme Levi-Strauss. ( Douglas. Metode analisis yang dilakukan oleh Levi-Strauss dalam analisis mitos menggunakan model analisis puisi denganggap tidak tepat. Maka wajar kiranya banyak yang menghujat sekaligus memuja teori ini. 1967 dalam Ahimsa. we get a surprise. a totally new theme. ternyata masih mengakui beberapa kemanfaatan dari 40 . Tema-tema mitos yang terdapat dalam suatu masyarakat masih banyak yang mengungkap realitas sosial yang positif. 170).

Strukturalisme Levi-Strauss ini. E. Ia menyatakan teori ini telah mampu mengungkapkan acuan-acuan tertentu. menarik dan mampu memberikan wawasan atau wacana tentang mitos yang sangat penting itu. Masuk akal. Terpengaruh oleh ahli-ahli bahasa yang sebelumnya sangat marak dalam kehidupan ilmiah di Prancis. Teori muncul sebagai kritik atas kegagalan filsafat Eksistensialisme yang gagal dalam memahami realitas sosial pada kehidupan kelompok manusia. Dan inilah yang menunjukan pada kita akan keterkaitan mitos dan budaya masyarakat yang terdapat dalam mitos tersebut. Penutup Dari uraian diatas terbukti bahwa Strukturalisme Levi-Strauss berasal dari teori Antropologi yang analisisnya oleh bagaimana ahli bahasa memahami struktur dalam komponen bahasa. Yalman (1967) menyebutkan bahwa berkat jasa yang dilakukan oleh Levi-Strauss kita mengetahui keterkaitan antara mitos yang satu dengan yang lain. 176). makna-makna yang sangat dalam. yang tidak terduga dan menarik. Bahkan apa yang digagas oleh Levi-Strauss melalui metode struktural ini dapat dikatakan banyak benarnya. Stauss ketika berkesempatan melakukan penelitian tearhadap suku-suku terasing di lembah Amazon Brazil. karena teorinya selalu dirujuk oleh 41 . dari serangkaian mitos-mitos tertentu (via Ahmisa. berhasil menemukan Teori Stukturalisme yang akhirnya sangat mempengaruhi perkembangan ilmu-ilmu sosial termansuk Sosiologi baik di Eropa maupun di Amerika dan bahkan di negara-negara lain termansuk Indonesia. 2006. Strauss yang meninggal pada akhir tahun 2009 di akui sebagai Antropolog/Sosiolog yang sangat terkemuka. struktur dan koherensi logis dalam mitos. Secara umum dapat disimpulkan bahwa meskipun para ahli antropologi melakukan kritik terhadap teori Strukturalisme Levi-Strauss mereka masih mengakui beberapa keunggulan atau manfaat dari jerih payah Levi-Strauss. Ada susunan.

1995. 2005. Yogyakarta : LKIS. H. Basis XXXIII (4) : 122-135. 1997. Shri. Nalar Jawa. H. Makalah seminar. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Kalam 6 : 124-143. 1998a. kepel Press. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. Makalah seminar Arkeologi. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. 1998c. 2006. baik yang berupa realitas maupun yang tersembunyi. Ahimsa-Putra.. Kawin Bedil dan Sobrat. 1984.S. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. 1994. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng42 . sehingga para intelektual berhasil memahami kehidupan sosial. Yogyakarta. 1998b. ___________. O. Tesis Pascasarjana Antropologi. Makalah seminar. Dengan analisis ini pemahaman tentang struktur. ___________. Paz. “Lévi-Strauss. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. Universitas Gadjah Mada. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural.para pakar pakar ilmu-ilmu sosial dan analisisnya diakui sebagai analisis yang cemerlang. Orang-Orang PKI. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. T. ___________. Ahimsa-Putra. ___________. relasi sosial dan peran struktur dalam mewarnai prilaku individu dalam kehidupan sosial menjadi lebih jelas. ___________. Teori Strukturalisme masih terus relevan sampai berumur satu abad walaupun penemunya Levi-Strauss sudah tiada. ___________.

___________.I : 10 – 19. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. 1999c. 2000a. ___________. Roland Barthes : dari Strukturalisme Strukturalisme. Makalah Pelatihan. 2002d. Satwa. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. 2002c. Salam (ed). Makalah diskusi. ___________. Yogyakarta : Galang Press. Gerbang 5 (2) : 88 – 97. 1999a. ke Post- ___________. Makalah bedah buku. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. (ed). Jakarta : UI Press. ___________. 2002e. ___________. 2002b. ___________. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. Makalah seminar. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2006a. ___________. Mitos dan Karya Sastra. ___________. 43 . 2002a. Badcock. 1999b. Totem. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. Makalah seminar. 2003. ___________. Tiga Dasawarsa. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. Humaniora XV (3) : 239 – 264. Yogyakarta : Insight Reference. Makalah dalam bedah buku. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. Tembi 1 Thn. ___________. ___________. Makalah Sarasehan. Abror. 2000b. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. 2005. September – Desember.Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. Mitos dan Nalar Primitif. Robby H. 2001. Terj. C. Satu Model. Strukturalisme Lévi-Strauss. Rahayu S. Humaniora 12 : 1 – 13. ___________. ___________. A. Dua Paradigma. “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”.

___________. Ritus Pertukaran”.W. Ngaju. Bloomington and Indianapolis. Daiches. The Penguin Press. 2006d. ___________. Tesis Pascasarjana Antropologi. Longman. dkk. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. 2007b. Pustaka Pelajar. ___________. New York. ___________. Anthropologie Structurale (Terj. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. Jakarta. Sussex. 2008. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. Strukturalisme Lévi-Strauss. Edisi Baru. Mitos dan Karya Sastra. ___________. Teori Sastra Abad Kedua Puluh (Theories of Literature in the Twentieth Century). Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. 2006e. Yogyakarta. Metodologi dan Etnografi. Ngambu. Kepel Press : Yogyakarta. Fokkema. Levi. Claude. Liwa : Analisis Strukturalisme LéviStrauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. The Harvester Press Limited. D. Antropologi Struktural. Yogyakarta : Kepel Press. Ngawa. 1995.). To-manurung dan Nilai-nilai Budaya BugisMakassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya BugisMakassar. David. Lane. 2007a. 2008a.S. Sawerigading. Jakarta : Rajagrafindo Persada. 1999. Yogyakarta. 2006c. ___________. David. Indiana university Press. Hand Book of Semiotics. Makalah bedah buku. ___________. Critical Approaches to Literature. 1998. Makalah seminar nasional. Kaplan. Universitas Gadjah Mada. 44 . 1981. Abdullah (ed. Kreasi Wacana. Strauss. Ritus Penandaan. Raman. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. Noth. Makalah seminar. Winfried. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasi-relasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. 2006b. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. 1968.. Nasrulah. Gramedia. H. 2008b. 1958. Allen. Ahimsa-Putra (ed.). A Reader Guide to Contemporary Literary Work.. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. The Theory of Culture (Teori Budaya). T.___________. Selden. 2007). Structural Anthropology. 1985.

2007). 1958. “Introduction” dalam Structuralism and Since : From LéviStrauss to Derrida. Oxford : Oxford University Press. Sturrock. Sturrock (ed. Oxford : Oxford University Press.). J. D. Antropologi Struktural. Berkenalan dengan Poststrukturalisme oleh : easternwriter Pengarang : Jacques Derrida. Sperber. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Levi.Strauss. J. Roland Barthes. 1979. Kreasi Wacana. For the best results. J. Anthropologie Structurale (Terj. Erdward Said. Sturrock (ed. Pengantar singkat wacana post strukturalisme dalam kesusasteraanStrukturalisme dibangun atas prinsip Saussure* bahwa bahasa sebagai sebuah sistem 45 . Ferdinand de Saussure • • • • Summary rating: 3 stars (15 Tinjauan) Kunjungan : 2286 kata:600 You searched for: "strukturalisme". 1979. click here! • • • • Daftarkan diri Apakah Shvoong itu? Masuk Write & earn Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong. Claude. Yogyakarta.).

merusak logonsentrisme dengan menyatakan bahwa makna tak pernah dapat mewakili seluruhnya karena makna tersebut selalu ditangguhkan. Praktik “dekonstruksi ”**-nya ini berdasar pada teks yang dia teliti yang berpengaruh besar pada kritik 46 .Tokoh utama yang paling berpengaruh pada era kritik sastra post-strukturalis adalah seorang filsuf perancis Jacques Derrida. Selain itu.tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). Dalam pemikiran post strukturalis. yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa. buah karya pemikiran psikoanalis Jacques Lacan dan ahli teori kebudayaan Michael Foucault juga berperan penting dalam kemunculan post strukturalisme tersebut. tapi dia berpikir melampaui Saussure dalam menegaskan bahwa dimensi sesaat (temporal dimension) tak dapat ditinggalkan. dilihat sebagai bagian yang kurang penting. penanda selalu produktif. sejak ia mengunggulkan bahasa di atas tulisan. Dalam tulisan. Derrida menilai bahwa Saussure tak dapat membebaskan dirinya dari pandangan logosentris. Derrida percaya bahwa penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung ke dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking). berpikir sementara menjadi hal yang utama.Perumusan dasar “differance” Derrida disusun dengan mempermainkan pada kata perancis ‘difference’. Derrida sepakat dengan Saussure bahwa bahasa merupakan produk yang berbeda antar penanda. mengenalkan aspek sesaat ke dalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified. Derrida menyerang pandangan logosentrisme dan menilai bahwa tulisan merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi. Aspek diakronis bahasa. Derrida menekankan “logosentrime” (berpusat pada logos) pemikiran barat bahwa makna dipahami sebagai independensi bahasa yang dikomunikasikan dan tidak tunduk pada permainan bahasa. yang dapat berarti ‘pertentangan’ dan “penundaan”.

Essainya yang berjudul “Structure. mengadopsi sebuah pandangan tekstual bahasa dan makna secara radikal dan dengan jelas menunjukkan perannya dalam post strukturalis. Teoritikus terkemuka Yale adalah Paul de Man yang berpendapat bahwa teks sastra telah tergabung dengan “pertentangan” Derrida. Dia berpendapaat bahwa karya Foucault memungkinkan kritik sastra melampaui dimensi sosial dan politis teks..info/2006/01/berkenalan-dengan-poststrukturali . and Play in the Discourse of the Human Sciences” .sastra. atau disebut para dekonstrusionis Yale. Sign. Diterbitkan di: Januari 04. Pemikiran post strukturalis juga berkembang di di Amerika pada tahun 1970-an.. De Man berpendapat bahwa ada devisi radikal dalam teks sastra antara gramatikal atau struktur logika bahasa dan aspek retorisnya. sangat berpengaruh dalam teori kritik sastra. “The Death of the Author” pertama kali dipublikasikan pada tahun 1968. 47 . 2008 23 45Moho n ringkasa n ini dinilai : ilai :1 Link yang relevan : • http://sulhanudin. Hal ini menciptakan sebuah signifikansi (penandaan) dalam teks sastra yang pada akhirnya tak dapat ditentukan. khususnya di kalangan kritikus yang tinggal di Yale. Edward W Said menerima pandangan post strukturalis tapi menolak pada apa yang dia lihatnya sebagai pendekatan tekstual sempit ala Derrida. pertama kali disampaikan di John Hopkins University pada tahun 1966.Essay Roland Barthes. De Man berpendapat bahwa sastra digabungkan oleh permainan (play) yang tak dapat ditentukan secara gramatikal dan retoris dalam teks dan tidak dengan pertimbangan estetis. misalnya pada New Criticsm.

Dapat.You searched for: "strukturalisme". • • • • • • • • • Sastra.com/ Mengolah Kemelayuan di Asia Tenggara Mari Membaca Isi (Ratusan) Novel Sastra Indonesia! Kritik Sastra Indonesia dari Australia Dua “Kiblat” dalam Sastra Indonesia Lainnya tentang Ilmu Sosial • • • • • • PRRI. Derrida. click here! • Kutipan • Dan. TIDAK CUKUP DENGAN MITOS http://helaby-boys. Perjuangan Koreksi Keakbaran Penyair Tongkat-Baudelaire Bagaimana Kita Menilai PRRI? Renungan 61 Tahun Republik Proklamasi Intelektual Minang Provinsi Minangkabau Sajak "Malaikat" Saeful Badar Yang Tetap Hadir 48 . Post Buat kutipan untuk ringkasan ini Tambahkan komentar Anda Terjemahkan Kirim Link Cetak Share Orang yang membaca ringkasan ini juga membaca: • • • • • • PERS NASIONAL. Dalam. Dengan. Bahwa.blogspot. Pada. Bahasa. For the best results.

Paling populer Ringkasan lain oleh easternwriter • • • • • Menulis adalah Jalan Hidupku Petualangan Celana Dalam: Tren awam menulis sastra Opera Zaman: Perlukah Faktualitas dalam Cerpen Tetralogi Laskar Pelangi: Andrea Tak Melawan Pasar Pengakuan Korban NII (1) More Berikut Yang paling banyak dicari • • • • • • • • • • • • • • • tips bisnis kesehatan uang wanita cinta trik jantung pria 2012 berita blog Seks dunia kiamat Tulis dan dapatkan bayaran 49 .

.

Strukturalisme dan Implikasinya
8Oct2008 Filed under: Epistemology, Paradigm and Perspective, Philosophers, Philosophy, Postmodern Author: Arif

Pengantar Strukturalisme merupakan suatu gerakan pemikiran filsafat yang mempunyai pokok pikiran bahwa semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai suatu struktur yang sama dan tetap. Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual obyek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan. Strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur inti dari suatu obyek (hirarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat) (Bagus, 1996: 1040) Gagasan-gagasan strukturalisme juga mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi interdisipliner tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu alam. Akan tetapi introduksi metode struktural dalam bermacam bidang pengetahuan menimbulkan upaya yang sia-sia untuk mengangkat strukturalisme pada status sistem filosofis. (Bagus, 1996: 1040) Ferdinand de Saussure Untuk mengenal lebih lanjut tentang strukturalisme maka ada baiknya untuk menyimak pemikiran Ferdinand de Saussure yang banyak disebut orang sebagai bapak strukturalisme, walaupun bukan orang pertama yang mengungkapkan strukturalisme. Banyak hal yang menunjukkan Ferdinand de Saussure adalah bapak strukturalisme. Selain ia sebagai bapak strukturalisme ia juga sebagai bapak linguistik yang ditunjukkan dengan mengadakan perubahan besar-besaran di bidang lingustik. Ia yang pertama kali merumuskan secara sistematis cara menganalisa bahasa, yang juga dapat dipergunakan untuk menganalisa sistem tanda atau simbol dalam kehidupan masyarakat, dengan menggunakan analisis struktural. Ia mengatakan bahwa linguistik adalah ilmu yang mandiri, karena bahan penelitiannya, yaitu bahasa, juga bersifat otonom. Bahasa adalah sistem tanda yang paling lengkap. Menurutnya ada kemiskinan dalam sistem tanda lainnya, sehingga untuk masuk ke dalam analisis semiotik, sering digunakan pola ilmu bahasa. De Saussure mengatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang mengungkapkan gagasan, dengan demikian dapat dibandingkan dengan tulisan,
50

abjad orang-orang bisu tuli, upacara simbolik, bentuk sopan santun, tanda-tanda kemiliteran dan lain sebagainya. Bahasa hanyalah yang paling penting dari sistemsistem ini. Jadi kita dapat menanamkan benih suatu ilmu yang mempelajari tandatanda di tengah-tengah kehidupan kemasyarakatan; ia akan menjadi bagian dari psikologi umum, yang nantinya dinamakan oleh de saussure sebagai semiologi. Ilmu ini akan mengajarkan kepada kita, terdiri dari apa saja tanda-tanda itu, kaidah mana yang mengaturnya. Karena ilmu ini belum ada, maka kita belum dapat mengatakan bagaimana ilmu ini, tetapi ia berhak hadir, tempatnya telah ditentukan lebih dahulu. Linguistik hanyalah sebahagian dari ilmu umum itu, kaidah-kaidah yang digunakan dalam semiologi akan dapat digunakan dalam linguistik dan dengan demikian linguistik akan terikat pada suatu bidang tertentu dalam keseluruhan fakta manusia. Gagasan yang paling mendasar dari de Saussure adalah sebagai berikut: 1. Diakronis dan sinkronis: penelitian suatu bidang ilmu tidak hanya dapat dilakukan secara diakronis (menurut perkembangannya) melainkan juga secara sinkronis (penelitian dilakukan terhadap unsur-unsur struktur yang sezaman) 2. Langue dan parole: langue adalah penelitian bahasa yang mengandung kaidah-kaidah, telah menjadi milik masyarakat, dan telah menjadi konvensi. Sementara parole adalah penelitian terhadap ujaran yang dihasilkan secara individual. 3. Sintagmatik dan Paradikmatik (asosiatif): sintagmatik adalah hubungan antara unsur yang berurutan (struktur) dan paradikmatik adalah hubungan antara unsur yang hadir dan yang tidak hadir, dan dapat saling menggantikan, bersifat asosiatif (sistem). 4. Penanda dan Petanda: Saussure menampilkan tiga istilah dalam teoi ini, yaitu tanda bahasa (sign), penanda (signifier) dan petanda (signified). Menurutnya setiap tanda bahasa mempunyai dua sisi yang tidak terpisahkan yaitu penanda (imaji bunyi) dan petanda (konsep). Sebagai contoh kalau kita mendengan kata rumah langsung tergambar dalam pikiran kita konsep rumah. Strukturalisme termasuk dalam teori kebudayaan yang idealistik karena strukturalisme mengkaji pikiran-pikiran yang terjadi dalam diri manusia. Strukturalisme menganalisa proses berfikir manusia dari mulai konsep hingga munculnya simbol-simbol atau tanda-tanda (termasuk didalmnya upacaraupacara, tanda-tanda kemiliteran dan sebagainya) sehingga membentuk sistem bahasa. Bahasa yang diungkapkan dalam percakapan sehari-hari juga mengenai proses kehidupan yang ada dalam kehidupan manusia, dianalisa berdasarkan strukturnya melalui petanda dan penanda, langue dan parole, sintagmatik dan paradikmatik serta diakronis dan sinkronis. Semua relaitas sosial dapat dianalisa berdasarkan analisa struktural yang tidak terlepas dari kebahasaan.
51

Dalam memahami kebudayaan kita tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip dasarnya. de Saussure merumuskan setidaknya ada tiga prinsip dasar yang penting dalammemahami kebudayaan, yaitu: 1. Tanda (dalam bahasa) terdiri atas yang menandai (signifiant, signifier, penanda) dan yang ditandai (signifié, signified, petanda). Penanda adalah citra bunyi sedangkan petanda adalah gagasan atau konsep. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya konsep bunyi terdiri atas tiga komponen (1) artikulasi kedua bibir, (2) pelepasan udara yang keluar secara mendadak, dan (3) pita suara yang tidak bergetar. 2. Gagasan penting yang berhubungan dengan tanda menurut Saussure adalah tidak adanya acuan ke realitas obyektif. Tanda tidak mempunyai nomenclature. Untuk memahami makna maka terdapat dua cara, yaitu, pertama, makna tanda ditentukan oleh pertalian antara satu tanda dengan semua tanda lainnya yang digunakan dan cara kedua karena merupakan unsur dari batin manusia, atau terekam sebagai kode dalam ingatan manusia, menentukan bagaimana unsur-unsur realitas obyektif diberikan signifikasi atau kebermaknaan sesuai dengan konsep yang terekam. 3. Permasalahan yang selalu kembali dalam mengkaji masyarakat dan kebudayaan adalah hubungan antara individu dan masyarakat. Untuk bahasa, menurut Saussure ada langue dan parole (bahasa dan tuturan). Langue adalah pengetahuan dan kemampuan bahasa yang bersifat kolektif, yang dihayati bersama oleh semua warga masyarakat; parole adalah perwujudan langue pada individu. Melalui individu direalisasi tuturan yang mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku secara kolektif, karena kalau tidak, komunikasi tidak akan berlangsung secara lancar. Gagasan kebudayaan, baik sebagai sistem kognitif maupun sebagai sistem struktural, bertolak dari anggapan bahwa kebudayaan adalah sistem mental yang mengandung semua hal yang harus diketahui individu agar dapat berperilaku dan bertindakj sedemikian rupa sehingga dapat diterima dan dianggap wajar oleh sesama warga masyarakatnya. Pierre Bourdieu Bourdieu pada awalnya menghasilkan karya-karya yang memaparkan sejumlah pengaruh teoritis, termasuk fungsionalisme, strukturalisme dan eksistensialisme, terutama pengaruh Jean Paul Sartre dan Louis Althusser. Pada tahun 60an ia mulai mengolah pandangan-pandangan tersebut dan membangun suatu teori tentang model masyarakat. Gabungan antara pendekatan teori obyektivis dan teori subyektivis sosial yang dituangkan dalam buku yang berjudul ”outline of a theory of practice” dimana didalamnya ia memiliki posisi yang unik karena berusaha mensintesakan kedua pendekatan metodologi dan epistemologi tersebut.
52

memahami. Field dan Modal. preferensi. Habitus diperoleh sebagai akibat dari lamanya posisi dalam kehidupan sosial diduduki. kelompok dan kelas sosial. cita rasa atau perasaan (emosi) Sebagai perilaku yang mendarah daging 53 . Pemikirannya bukan hanya menjawab pertanyaan tentang asal usul dan seluk beluk masyarakat tetapi lebih pada menjawab persoalan-persoalan baru yang diturunkan dari pemikiran-pemikiran terdahulu. Habitus lebih didasarkan pada keputusan impulsif. dan menilai dunia sosial. Habitus menjadi konsep penting baginya dalam mendamaikan ide tentang struktur dengan ide tentang praktek. tidak setiap orang sama kebiasaannya. Menurutnya pemahaman ini mengabaikan peran pelaku dan tindakan-tindakan praktis dalam kehidupan sosial. Habitus adalah “struktur mental atau kognitif” yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial. Setiap aktor dibekali serangkaian skema atau pola yang diinternalisasikan yang mereka gunakan untuk merasakan. Melalui pola-pola itulah aktor memproduksi tindakan mereka dan juga menilainya. Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh kehidupan sosial. Disatu pihak habitus adalah struktur yang menstruktur artinya habitus adalah sebuah struktur yang menstruktur kehidupan sosial. menyadari. Kelebihan Bourdieu adalah menghasilkan cara pandang dan metode baru yang mengatasi berbegai pertentangan di antara penjelasan-penjelasan sebelumnya. Berikut ini akan dibahas ketiga konsep tersebut dan akan dijelaskan interaksi ketiga konsep ini dalam masyarakat. Atau dengan kata lain habitus dilihat sebagai ”struktur sosial yang diinternalisasikan yang diwujudkan”. dimana seorang individu bereaksi secara efisien dalam semua aspek kehidupan. cenderung mempunyai kebiasaan yang sama. Dilain pihak habitus adalah struktur yang terstruktur. Habitus mencerminkan pembagian obyektif dalam struktur kelas seperti umur. Habitus berbeda-beda pada setiap orang tergantung pada wujud posisi seseorang dalam kehidupan sosial. jenis kelamin.Dalam karyanya ini ia menyerang pemahaman kaum strukturalis yang menciptakan obyektivisme yang menyimpang dengan memposisikan ilmuwan sosial sebagai pengamat. Terdapat 3 konsep penting dalam pemikiran Bourdieu yaitu Habitus. yaitu: • • • Sebagai kecenderungan-kecenderungan empiris untuk bertindak dalam cara-cara yang khusus (gaya hidup) Sebagai motivasi. Ia berusaha mengkonsepkan kebiasaan dalam berbagai cara. orang yang menduduki posisi yang sama dalam kehidupan sosial. Secara dialektis habitus adalah ”produk internalisasi struktur” dunia sosial. yaitu habitus adalah struktur yang distruktur oleh dunia sosial.

• • •

Sebagai suatu pandangan tentang dunia (kosmologi) Sebagai keterampilan dan kemampuan sosial praktis Sebagai aspirasi dan harapan berkaitan dengan perubahan hidup dan jenjang karier.

Habitus membekali seseorang dengan hasrta. Motivasi, pengetahuan, keterampilan, rutinitas dan strategi untuk memproduksi status yang lebih rendah. Bagi Bourdieu keluarga dan sekolah merupakan lembaga penting dalam membentuk kebiasaan yang berbeda. Field bagi Bourdieu lebih bersifat relasional ketimbang struktural. Field adalah jaringan hubungan antar posisi obyektif di dalamnya. Keberadaan hubungan ini terlepas dari kesadaran dan kemauan individu. Field bukanlah interaksi atau ikatan lingkungan bukanlah intersubyektif antara individu. Penghubi posisi mungkin agen individual atau lembaga, dan penghubi posisi ini dikendalikan oleh struktur lingkungan. Bourdieu melihat field sebagai sebuah arena pertarungan. Struktur Field lah yang menyiapkan dan membimbing strategi yang digunakan penghuni posisi tertentu yang mencoba melindungi atau meningkatkan posisi mereka untuk memaksakan prinsip penjenjangan sosial yang paling menguntungkan bagi produk mereka sendiri. Field adalah sejenis pasar kompetisi dimana berbagai jenis modal (ekonomi, kultur, sosial, simbolik) digunakan dan disebarkan. Lingkungan adalah lingkungan politik (kekuasaan) yang sangat penting; hirarki hubungan kekuasaan di dalam lingkungan politik membantu menata semua lingkungan yang lain. Bourdieu menyusun 3 langkah proses untuk menganalisa lingkungan, pertama, menggambarkan keutamaan lingkungan kekuasaan (politik). Langkah kedua, menggambarkan struktur obyektif hubungan antar berbagai posisi di dalam lingkungan tertentu, ketiga, analis harus mencoba menetukan ciri-ciri kebiasaan agen yang menempati berbagai tipe posisi di dalam lingkungan. Dengan kata lain, Field adalah wilayah kehidupan sosial, seperti seni, industri, hukum, pengobatan, politik dan lain sebagainya, dimana para pelakunya berusaha untuk memperoleh kekuasaan dan status. Bourdieu menganggap bahwa modal memainkan peranan yang penting, karena modallah yang memungkinkan orang untuk mengendalikan orang untuk mengendalikan nasibnya sendiri maupun nasib orang lain. Ada 4 modal yang berperan dalam masyarakat yang menentukan kekuasaan sosial dan ketidaksetaraan sosial, pertama modal ekonomis yang menunjukkan sumber ekonomi. Kedua, modal sosial yang berupa hubunganhubungan sosial yang memungkinkan seseorang bermobilisasi demi kepentingan
54

sendiri. Ketiga, modal simbolik yang berasal dari kehormatan dan prestise seseorang. Dan keempat adalah modal budaya yang memiliki beberapa dimensi, yaitu:
• • • • •

Pengetahuan obyektif tentang seni dan budaya Cita rasa budaya (cultural taste) dan preferensi Kualifikasi-kualifikasi formal (seperti gelas-gelar universitas) Kemampuan-kemampuan budayawi dan pengetahuan praktis. Kemampuan untuk dibedakan dan untuk membuat oerbedaan antara yang baik dan buruk.

Modal kultural ini terbentuk selama bertahun-tahun hingga terbatinkan dalam diri seseorang. Setelah dibahas tentang ketiga konsep diatas maka akan dijelaskan hubungan ketiga konsep tersebut. Habitus dan ranah merupakan perangkat konseptual utama yang krusial bagi karya Bourdieu yang ditopang oleh sejumlah ide lain seperti kekuasaan simbolik, strategi dan perbuatan beserta beragan jenis modal. Seperti telah diungkapkan diatas bahwa habitus adalah struktur kognitif yang menghubungkan individu dan realitas sosial. Habitus merupakan struktur subyektif yang terbentuk dari pengalaman individu berhubungan dengan individu lain dalam jaringan struktur obyektif yang ada dalam ruang sosial. Habitus adalah produk sejarah yang terbentuk setelah manusia lahir dan berinteraksi dengan masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu, dengan kata lain habitus adalah hasil pembelajaran lewat pengasuhan, aktivitas bermain, dan juga pendidikan masyarakat. Pembelajaran ini berjalan secara halus sehingga individu tidak menyadari hal ini terjadi pada dirinya, jadi habitus bukan pengetahuan bawaan. Habitus mendasari field yang merupakan jaringan relasi antar posisi-posisi obyektif dalam suatu tatanan sosial yang hadir terpisah dari kesadaran individu. Field semacam hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisiposisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakatyang terbentuk secara spontan. Habitus memungkinkan manusia hidup dalam keseharian mereka secara spontan dan melakukan hubungan dengan pihak-pihak diluar dirinya. Dalam proses interaksi dengan pihak luar tersebut terbentuklah Field. Dalam suatu Field ada pertarungan kekuatan-kekuatan antara individu yang memiliki banyak modal dengan individu yang tidak memiliki modal. Diatas sudah di singgung bahwa modal merupakan sebuah konsentrasi kekuatan, suatu kekuatan spesifik yang beroperasi di dalam field dimana di dalam setiap field
55

menuntut untuk setiap individu untuk memiliki modal gara dapat hidup secara baik dan bertahan di dalamnya. Secara ringkas Bourdieu menyatakan rumusan generatif yang menerangkan praktis sosial dengan rumus setiap relasi sederhana antara individu dan struktur dengan relasi antara habitus dan ranah yang melibatkan modal. Daftar Acuan Bagus, Loren. 1996.”Kamus Filsafat”. Jakarta: Pustakan Gramedia Harker, Richard, Cheelen Mahar, Chris Wilkes. 2005.”(Habitus x Modal) + Praktik: Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu”. Yogyakarta: Jalasutra Lechte, John. 2001.”50 Filusuf Kontmporer: Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas”. Yogyakarta: Kanisius Sutrisno, Mudji, Hendar Putranto. 2006.” Teori-teori Kebudayaan”. Yogyakarta: Kanisius
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

. Pengantar Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada, seperti apa? Di kalangan yang mana? Kalau tidak ada atau kurang terlihat, mengapa? Itulah beberapa pertanyaan yang berusaha dijawab dalam makalah ini. Jawaban-jawaban ini lebih didasarkan pada hasil pengalaman pribadi daripada hasil sebuah penelitian yang serius dan teliti mengenai pengaruh strukturalisme Prancis di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Namun sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ada baiknya saya paparkan terlebih dulu seperti apa strukturalisme Prancis itu, terutama yang diusung oleh Lévi-Strauss, dan mengapa saya memilih menampilkan strukturalisme Lévi-Strauss di sini. Pada musim semi tahun 1981, setahun setelah meninggalnya ahli filsafat Jean Paul Sartre, majalah Prancis Lire mengadakan sebuah jajak pendapat di kalangan intelektual, mahasiswa dan politisi Prancis, dengan pertanyaan, “siapa tiga pemikir berbahasa Perancis yang masih hidup, yang pandangannya – menurut anda – paling berpengaruh terhadap evolusi (perkembangan) pemikiran sastra dan ilmu pengetahuan dan sebagainya ?”. Dari kira-kira 448 jawaban yang masuk, 101 orang menyebut nama Lévi-Strauss, 84 orang menyebut Raymond Aron, 83 orang menyebut Michel Foucault. Nama-nama lain yang juga disebut antara lain adalah Jaques Lacan (51), Simone de Beauvoir (46), dan masih ada lagi beberapa yang lain (Pace, 1986 : 1). Hasil jajak pendapat tersebut mungkin agak mengherankan juga, karena antropologi bukanlah sebuah cabang ilmu yang populer di Prancis, dibandingkan
56

Karikatur ini setidak-tidaknya menunjukkan bahwa di kalangan intelektual Prancis ketika itu. seperti post-modernisme atau post-strukturalisme – ini nama-nama yang sebenarnya kurang tepat untuk menyebut sebuah aliran pemikiran – atau semiotika yang kini populer di Barat. yaitu rok yang terbuat dari daun ilalang. sebuah karikatur yang banyak direproduksi muncul dalam majalah-majalah Prancis tentang para strukturalis. tetapi – sebagaimana dikatakan oleh Lévi-Strauss sendiri – adalah juga sebuah epistemologi baru dalam ilmu-ilmu sosial-budaya. Di situ digambarkan empat orang tengah duduk melingkar di bawah pohon tropis dengan mengenakan pakaian suku-suku bangsa yang masih primitif. Rolanda Barthes. Tanpa memahami strukturalisme akan sulit memahami post-strukturalisme atau post-modernisme. Michel Foucault dan tentu saja Claude Lévi-Strauss. sastra. dialah seorang penganut strukturalisme tulen. tetapi juga ahli filsafat. beberapa tahun kemudian. empat orang itulah yang dikenal sebagai tokoh-tokoh strukturalisme. 57 . hasil survei sebuah lembaga Amerika atas kutipan-kutipan (citations) antropologi dari tahun 1969-1977. walaupun Lévi-Strauss sendiri sudah tidak lagi begitu menyukai filsafat sebagaimana yang dia kenal. tidak dapat dipahami dengan baik tanpa memahami strukturalisme. satu persatu dari mereka meninggalkan strukturalisme. Kelima. Dengan kata lain. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa pemikiran-pemikiran Lévi-Strauss ternyata dipandang begitu berpengaruh oleh kaum intelektual Prancis. Bagaimanapun juga. setelah dia berkenalan dengan antropologi. 1986 : 7). Keempat. setelah kemunculan strukturalisme ini pandangan-pandangan antropologi kemudian mempengaruhi cabang-cabang ilmu sosial-budaya yang lain seperti sosiologi. dan akhirnya tinggal Lévi-Strauss yang tetap setia menjadi perawat dan pengembang paradigma tersebut. Dengan kata lain. Namun. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa Lévi-Strausslah yang paling yakin dengan manfaat dan kemampuan paradigma struktural untuk digunakan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya. atau “makan siang para strukturalis” (Sturrock. strukturalisme Lévi-Strauss juga bukan hanya merupakan sebuah teori baru. Ketiga. tetapi juga penting bagi ilmu-ilmu sosial-budaya lain.dengan di Inggris dan Amerika Serikat. Judul karikatur ini adalah “Le déjeuner des structuralistes”. Empat orang tersebut adalah Jacques Lacan. strukturalisme Lévi-Strausslah yang paling banyak dikenal dan berpengaruh dibandingkan dengan paradigma antropologi yang lain. dan filsafat. Oleh karena itu strukturalisme Lévi-Strauss tidak hanya penting bagi dan dalam antropologi. dan sedikit banyak hal itu juga menunjukkan bahwa Lévi-Strauss tidak hanya dipandang sebagai ahli antropologi. menunjukkan bahwa tulisan-tulisan Lévi-Strauss adalah tulisan yang paling banyak dikutip orang. Tidak mengherankan. Kedua. aliran pemikiran baru yang muncul setelah strukturalisme. kelahiran paradigma-paradigma baru ini tidak dapat dilepaskan dari munculnya strukturalisme itu sendiri. 1979 : 1). dibanding tulisan ahli-ahli antropologi yang lain (Pace.

Dr. Prof. Dengan memperbincangkan tentang strukturalisme ini diharapkan akan muncul ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia yang akan bersedia mengembangkan lebih lanjut kerangka pemikiran tersebut. Koetjaraningrat misalnya. Koentjaraningrat melontarkan kritik terhadap strukturalisme Lévi-Strauss. pada tahun 1994 saya kembali. Goodenough. Claude Lévi-Strauss adalah seorang ahli antropologi yang tetap konsisten menekuni dan mengembangkan paradigma struktural. karena mereka melanjutkan pendidikan pascasarjana mereka di Amerika. Saya berharap ketika itu berbagai pemikiran yang saya kenal dari perkuliahan saya di jurusan Antropologi di Universitas Columbia akan dapat saya temukan di Indonesia. Nico Kalangie. Ditangannyalah strukturalisme kemudian dikenal oleh lebih banyak orang. karena aliran ini kurang sejalan dengan kecenderungan teoritis beliau yang lebih positivistik. tidak terlihat menyukai strukturalisme Lévi-Strauss. terasa begitu dipengaruhi oleh ahli-ahli antropologi Amerika. teman-teman saya umumnya tidak menyukai teori-teori dari Lévi-Strauss. Spradley. karena selalu sulit dan tidak biasa. sedang saya lumayan menyukai teori-teori tersebut karena terasa begitu menantang untuk memahaminya. Danandjaja. Dalam Sejarah Teori Antropologi II. Ilmu Sosial-Budaya Indonesia 1970-1990an : Mengapa Tidak Struktural? Beberapa tahun setelah saya meninggalkan Indonesia untuk mengikuti pendidikan S-3.Itulah lima alasan utama mengapa dalam perbincangan tentang strukturalisme ini strukturalisme yang dirintis dan dikembangkan oleh LéviStrausslah yang akan ditampilkan di sini. 2. Sebelumnya saya perlu minta maaf kepada publik jika dalam tulisan ini sosok saya terasa begitu menonjol dalam proses penyebaran strukturalisme LéviStrauss di Indonesia. karena situasi dan kondisi pemikiran dalam 58 . Prof. Sementara itu. Oleh karena itu. dan sebagainya. Saya ingat. dosen-dosen antropologi yang mengajar kami ketika itu juga tidak banyak yang paham dan menaruh minat pada strukturalisme LéviStrauss. yang menurut saya kritik tersebut sebenarnya kurang tepat. J. James P. karena saya tidak tahu orang lain di Indonesia yang telah membahas pemikiran Lévi-Strauss dengan cukup mendalam sebagaimana yang telah saya lakukan. Lebih dair itu. ketika saya masih kuliah antropologi di Universitas Indonesia di akhir tahun 1970an. walaupun mereka itu kemudian tidak mengembangkan aliran pemikiran antropologi tertentu di Indonesia. sangat dapat dimengerti apabila dari kalangan ahli antropologi tidak ada yang berupaya untuk memperkenalkan secara serius strukturalisme Lévi-Strauss. Budi Santoso. Antropologi Eropa (Inggris. Dr. Parsudi Suparlan. dosen-dosen antropologi yang lain – yang ketika itu belum Professor – seperti Dr. Namun. oleh lebih banyak ilmuwan. Dr. yang mengajar kami teori-teori antropologi. sehingga saya dapat segera membangun wacana tentang pemikiran-pemikiran tersebut di negeri sendiri. Prancis) sama sekali tidak terasa pengaruhnya dalam pemikiran-pemikiran dan analisis mereka tentang gejala sosial-budaya di Indonesia. akhirnya saya harus kecewa. Ward H. Belanda. seperti Clifford Geertz.

Masri Singarimbun. bahkan hampir tidak ada. Saya cukup heran dengan situasi dan kondisi seperti itu. Tidak banyak ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu yang memperoleh pendidikan di Prancis. tidak telihat arus pemikiran strukturalisme dari Prancis. Beberapa tahun saya mencoba mengetahui hal ini. Saya bertanya-tanya dalam hati : Mengapa mereka tidak menulis mengenai aliran-aliran baru dalam antropologi atau bidang ilmu yang mereka tekuni ? Dalam antropologi di Indonesia ketika itu. Nama-nama beken sebagian ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat ketika adalah nama-nama mereka yang banyak meneliti masyarakat Indonesia. karena biasanya ilmuwan Indonesia sangat mudah dan cepat menanggapi dan berusaha segera mempopulerkan paradigma-paradigma baru di Barat yang baru saja mereka kenal. karena kalau kita membaca jurnal dan bukubuku ilmu sosial-budaya di Barat di tahun 1970an. tidak ada aliran Etnosains dari Amerika Serikat. Koentjaraningrat. walaupun itu tidak berarti bahwa saya menyetujui dan menyukai keadaan tersebut. Akan tetapi setelah beberapa tahun berada di Indonesia. Hanya mahasiswa antropologi saja yang mengenal tokoh tersebut lewah kuliah dari Prof. Bagi saya ini adalah sebuah keanehan. tetapi setelah itu seperti hilang ditelan bumi. karena di tahun 1950an dan 1960an Indonesia adalah salah satu negeri yang banyak diteliti dan dibahas oleh ilmuwan sosial Amerika Serikat. Lévi-Strauss yang kita kenal ketika itu adalah merk sebuah celana jeans. Saya mencoba untuk mengetahui apa kira-kira penyebab hal tersebut. strukturalisme masih tetap merupakan paradigma yang populer dan terasa kuat pengaruhnya. Pertama. Selo Soemardjan dan sebagainya. Ketika saya datang pada awal tahun 1990an. strukturalisme tersebut tumbuh dan berkembang di Prancis. Parsudi Suparlan. Ada beberapa faktor yang tampaknya telah membuat strukturalisme Prancis kurang begitu dikenal di Indonesia. akhirnya saya dapat memaklumi keadaan yang seperti itu. karena bahasanya juga kurang populer di Indonesia. tokoh-tokoh ilmu sosial-budaya yang saya kagumi dan sebagian pernah menjadi guru saya ketika itu masih ada. 59 .ilmu sosial-budaya Indonesia ketika itu ternyata tidak seperti yang saya duga dan harapkan. Sartono Kartodirdjo. sebuah negeri yang relatif kurang begitu dikenal oleh banyak orang Indonesia. Koentjaraningrat almarhum di tahun 1970-1980an. dan sempat populer dalam dua-tiga tahun. Postmodernisme mulai terdengar. James Danandjaja. dan masih aktif. Orientasi pendidikan ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah Amerika Serikat. tidak terlihat Tafsir Kebudayaan seperti yang dikembangkan Clifford Geertz. Padahal. Nama ilmuwan Prancis yang meneliti Indonesia namun namanya hampir tidak terdengar di Indonesia adalah Christian Pelras (meneliti sejarah Indonesia). bahkan sampai tahun 1980an. Nama Lévi-Strauss sebagai seorang teoritisi hampir tak dikenal. strukturalisme Lévi-Strauss tidak terdengar gaungnya di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. dibandingkan misalnya dengan bahasa Inggris dan Belanda. seperti misalnya Fuad Hasan.

Untuk mereka yang terbiasa berfikir dengan menggunakan sebuah paradigma. Sebaliknya. dan teori-teorinya juga tidak begitu dikenal. strukturalisme Lévi-Strauss adalah sebuah epistemologi baru. yang di Amerika Serikat memang merupakan salah satu spesialisasi dalam antropologi. munculnya sebuah paradigma atau epistemologi baru tidak akan memicu munculnya tanggapan yang positif. apalagi teori-teori yang ada di dalamnya. Ilmuwan sosial-budaya Indonesia yang belajar di Amerika Serikat di masa itu otomatis sangat dipengaruhi oleh aliran pemikiran ini – bahkan sampai sekarang – . Aalagi ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat yang mempelajari Indonesia juga menggunakan paradigma tersebut. Analisis struktural Lévi-Strauss banyak memanfaatkan data etnografi dan analisis serta interpretasi 60 . Kalau antropologi sebagai ilmu sudah tidak begitu dikenal. apalagi oleh kalangan yang lebih luas. analisis struktural dan bahasa yang digunakan oleh Lévi-Strauss dalam tulisan-tulisannya termasuk yang tidak mudah dipahami. strukturalisme Lévi-Strauss dalam antropologi. atau yang didasarkan pada sebuah epistemologi saja. Ketiga. acuh tak acuh. Fungsionalisme-Struktural yang diwariskan oleh A. ahli sosiologi Amerika Serikat.Aliran pemikiran yang sangat mempengaruhi ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah aliran fungsionalisme-struktural yang berasal dari Talcott Parsons. Sebagai epistemologi strukturalisme sangat berseberangan dengan epistemologi historisme. di tahun 1970an dan 1980an antropologi sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan masih belum begitu dikenal di Indonesia. dan cukup besar perbedaannya dengan epistemologi positivisme. Orang masih sering mengacaukannya dengan arkeologi. Para ilmuwan sosial-budaya umumnya juga tidak mengenal linguistik. strukturalisme banyak mendapat inspirasi dari ilmu bahasa dan mengambil ilmu tersebut sebagai modelnya. yakni epistemologi yang positivistik dan epistemologi yang historis. sehingga mereka tentunya mengalami kesulitan ketika berusaha memahami analisis-analisis strukturalisme Lévi-Strauss yang sangat banyak mendapat inspirasi dari linguistik. seperti halnya kebanyakan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Kedua. Kelima. atau menolak secara terang-terangan. Memang. reaksi yang muncul biasanya adalah : menolak secara sembunyi-sembunyi. sebuah cabang ilmu yang kurang begitu populer di Indonesia. Kalau di kalangan ahli antropologi Indonesia saja strukturalisme di Lévi-Strauss sudah tidak begitu dikenal. Keempat. Sementara itu. Radcliffe-Brown dan Bronislaw Malinowski di tahun 1940an dikembangkan lebih lanjut oleh Parsons dan berhasil menjadi sebuah aliran yang mendominasi pemikiran ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat di tahun 1960-1970an. yang saya kira cukup besar perbedaannya dengan epistemologi yang dianut oleh sebagian besar ilmuwan sosial-budaya Indonesia. ilmu bahasa atau linguistik bukanlah sebuah ilmu yang populer di Indonesia. Lengkaplah sarana paradigma Fungsionalisme – Struktural untuk menyebar dan dikenal di Indonesia.R.

a. tetapi sudah termasuk nyastra atau sastrawi. Laksono. Buku ini memang tidak mendapat banyak perhatian dari ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Kami berdua adalah mahasiswa Indonesia yang dipengaruhi oleh pemikiran struktural ketika itu. saya tidak serta-merta tertarik pada strukturalisme Prancis. begitu tidak dikenalnya aliran pemikiran itu di Indonesia. Periode 1980an Laksono menerapkan analisis struktural lebih awal daripada saya. Di sinilah saya berkenalan lebih dekat dengan strukturalisme Prancis. karena antropologi di Belanda di masa lampau sudah lebih dulu mengenal strukturalisme. yang kemudian diterbitkan menjadi buku. dengan mengumpulkan artikel dan buku-buku yang relevan. Meskipun demikian. Oleh karena itu pula analisis struktural yang dikerjakan Lévi-Strauss termasuk yang tidak mudah dipahami oleh orang-orang antropologi. Mengusung Strukturalisme Lévi-Strauss : 1980an dan 1990an Generasi saya adalah generasi baru pelajar ilmu sosial-budaya yang mulai mengenal pemikiran dari Eropa Daratan. adalah mengenai struktur yang ada dalam Tradisi Ageng dan Tradisi Alit masyarakat Jawa. mungkin juga sulit 61 . Dengan menggunakan analisis struktural Laksono (1986) mencoba menunjukkan bahwa Tradisi Ageng Jawa di Kraton adalah transformasi dari Tradisi Alit Jawa di daerah pedesaan. walaupun aliran ini sangat kuat pengaruhnya dalam dunia pemikiran di Barat.E. Lévi-Strauss termasuk ahli antropologi yang mampu menggunakan daya retorika yang bagus tetapi tidak mudah dipahami. Mungkin. Yang lain tidak tertarik. yakni P. Saya tidak tahu mengapa demikian.dilakukan atas informasi etnografis mengenai berbagai hal yang begitu kecil dan njlimet. Bahasa tulisannya memang belum nyastra sekali seperti Geertz. Kesulitan memahami ini bertambah besar lagi di kalangan ketika Lévi-Strauss menggunakan bahasa yang juga relatif sulit dipahami. Mengingat pentingnya strukturalisme Lévi-Strauss dalam perkembangan pemikiran di Barat. karena saya mendapat pendidikan lanjutan di Belanda. serta sulitnya memahami paradigma itu sendiri. bahkan cenderung bersikap negatif dan sinis terhadap aliran strukturalisme yang ketika itu diajarkan oleh P. walaupun saya terus-terang tertarik pada kecanggihan pemikiran LéviStrauss. tidak dapat digunakan untuk memahami dan menganalisis perubahan. Ketika itu teman sayalah yang kemudian menggunakan paradigma struktural – yang merupakan campuran strukturalisme Prancis dan Belanda – untuk menulis tesis S-2 nya. Dalam hal ini Laksono membandingkan struktur budaya pada masyarakat Jawa di Bagelen dengan struktur budaya Jawa di Kraton Mataram. maka saya kemudian memberanikan diri untuk mengusung strukturalisme Lévi-Strauss ke Indonesia setelah saya menyiapkan diri dengan lebih baik di Amerika Serikat. Itulah beberapa faktor yang menurut saya telah membuat strukturalisme LéviStrauss kurang begitu dikenal di Indonesia. 3. de Josselin de Jong kepada kami. Tesis pascasarjananya. karena pendekatannya terasa tidak lazim. tetapi seingat saya karena mereka umumnya menganggap pendekatan tersebut “statis”. dan kemudian mendapat pengaruh kuat dari strukturalisme Prancis.M.

Para mahasiswa antropologi UGM ketika itu mulai mengenal nama Lévi-Strauss serta teori-teorinya dengan cukup baik. Ketika itu pengajaran teori antropologi. yang ditulis oleh Radrianarisoa. maka tidak terlalu mengherankan apabila pengaruh strukturalisme Belanda lebih terlihat di situ daripada pengaruh strukturalisme Prancis. Pak Kodiran.E. Walaupun masih dalam taraf yang sangat sederhana namun minta mereka untuk menggunakan sebuah paradigma yang belum lazim diterima dan cukup sulit. Yang jelas buku ini setahu saya merupakan analisis kebudayaan secara struktural yang pertama dilakukan oleh ahli antropologi Indonesia. tetapi juga karena buku-buku dan artikel-artikel antropologi struktural dapat mereka peroleh secara langsung. karena dia sudah lebih dulu pergi ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi. patut dihargai. 1984). yang saat itu masih belum guru besar. sampai ketika saya pulang kembali ke UGM setelah menyelesaikan S-3 saya. Belanda. karena setelah dua tahun saya mengajar saya memperoleh kesempatan melanjutkan studi S-3 antropologi ke Universitas Columbia di New York. Setelah saya kembali ke UGM. dan menulis beberapa artikel dengan menggunakan paradigma tersebut. Satu-dua orang mahasiswa mulai tertarik dengan pendekatan ini dan mulai menerapkannya untuk penulisan skripsi. saya mengajar di jurusan antropologi. saya kebetulan diminta Prof. Setelah selesai kuliah di Universitas Leiden. Bukan hanya karena kuliahnya lebih terfokus. Semenjak itu. saya merasa bahwa nama saya hampir selalu dihubungkan dengan strukturalisme atau antropologi struktural. termasuk di dalamnya strukturalisme Lévi-Strauss. Belanda. dilanjutkan oleh dosen kami yang paling senior di UGM. Setelah membaca artikel itu saya berpendapat bahwa apa yang ada dalam artikel tersebut tidak seluruhnya tepat atau seperti yang saya ketahui. saya tidak mengetahui perkembangan strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. tambahan dan “pelurusan” beberapa pendapat dalam artikel tersebut (Ahimsa-Putra. yaitu dengan memfotocopy buku-buku dan artikel-artikel yang saya bawa dari luar. Pengetahuan mengenai strukturalisme tidak dapat saya tebar lebih lama di UGM. Periode 1990an Pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss yang sudah mulai terlihat di tahun 1980an di Indonesia mulai terasa menguat setelah saya memberikan kuliah mengenai strukturalisme lagi selama beberapa tahun di jurusan Antropologi UGM. Laksono tidak dapat menggantikan. dan kesempatan itu saya gunakan untuk menebar paradigma strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. mungkin pula karena kurang promosi. Baroroh Baried – yang ketika itu 62 . Secara kebetulan waktu itu di majalah Basis muncul sebuah artikel mengenai Lévi-Strauss dan strukturalismenya. Untuk beberapa tahun. Amerika Serikat. b.dimengerti oleh mereka yang belum mengenal strukturalisme. de Josselin de Jong. Oleh karena penulisan buku tersebut berada di bawah bimbingan P. ahli antropologi struktural dari Universitas Leiden. Oleh karena itu sayapun menulis sebuah artikel yang isinya merupakan tanggapan.

Laporan penelitiannya kemudian saya tulis kembali menjadi artikel yang kemudian diterbitkan oleh majalah Kalam (Ahimsa Putra. Beberapa mahasiswa kemudian tertarik untuk menulis tesis dengan menggunakan pendekatan struktural. maka pembimbingan penulisan skripsi atau tesis semacam ini boleh dikatakan selalu diserahkan kepada saya. Sayapun menyanggupi permintaan tersebut. yang saya gunakan untuk melakukan penelitian atas mitos orang Bajo. Mudahmudahan ada yang bersedia memberikan informasi mengenai bagaimana strukturalisme (Lévi-Strauss) dipandang dan dipahami oleh para mahasiswa – antropologi maupun bukan – di luar UGM. Artikel ini rupanya semakin menguatkan citra saya sebagai orang yang tahu strukturalisme Lévi-Strauss lebih dari yang lain. 1997). Selain melalui perkuliahan. atau perlu dijelaskan lagi agar tidak menimbulkan salah pengertian (Ahimsa-Putra. semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk menyusun tesis atau skripsi struktural. Melalui forum seperti inilah saya dapat menyebarkan strukturalisme. melalui perkuliahan di S-1 dan S-2 antropologi serta S-2 sastra. karena kalau tidak ada ketertarikan tersebut. Pendapat bahwa saya adalah orang yang tahu tentang strukturalisme LéviStrauss itu rupanya telah mendorong pihak penerbit LKIS meminta saya menulis kata pengantar untuk buku yang akan mereka terbitkan. Saya menawarkan 63 . yang berasal dari buku Octavio Paz mengenai strukturalisme Lévi-Strauss. terutama di Yogyakarta. baik itu yang analitis maupun teoritis. tetapi saya tidak tahu bagaimana gaung tersebut di luar UGM. tentu buku Paz tidak akan diterjemahkan dan diterbitkan. Analisis struktural ala Lévi-Strauss atas mitos sama sekali belum dikenal di Indonesia ketika itu.menjadi ketua program pascasarjana sastra – untuk mengampu matakuliah mitologi. serta memberikan tanggapan terhadap pendapat-pendapat Paz yang menurut saya kurang tepat. seni dan filsafat. dan diluar lingkaran antropologi setahu saya belum ada orang lain yang berbicara mengenai aliran pemikiran tersebut. saya terus menyebarkan strukturalisme ke kalangan mahasiswa. terutama jurusan antropologi di UGM. Dalam kata pengantar itu saya kembali menyampaikan berbagai hal mengenai strukturalisme Lévi-Strauss yang belum banyak diketahui. Sementara itu. Nama Lévi-Strauss dan strukturalisme tetap belum akrab di kalangan terpelajar di Indonesia. Gaung strukturalisme sebagai sebuah paradigma semakin luas terdengar di kalangan mahasiswa. Ketika itu saya merasa bahwa strukturalisme mulai menarik perhatian kalangan intelektual muda. Permintaan tersebut saya terima dan secara kebetulan saya mendapat dana penelitian. karena – sebagaimana kita ketahui – majalah Kalam adalah majalah yang banyak dibaca oleh mereka yang berminat pada sastra. Ketika satu-dua tesis struktural mulai dapat ditulis dan diujikan dengan hasil yang baik (banyak yang mendapat nilai A). 1995). Oleh karena tidak ada dosen lain yang dipandang lebih memahami strukturalisme. saya juga menulis makalah-makalah untuk seminar dengan tema struktural.

Strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia : 2009 Bagaimana strukturalisme di Indonesia sekarang. dan semakin banyak mahasiswa antropologi yang menggunakan pendekatan ini untuk memahami berbagai gejala sosial-budaya dalam masyarakat Indonesia. 2000a). Paradigma strukturalisme Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal lagi setelah terbitnya buku Strukturalisme Lévi-Strauss. seperti karya-karya Umar Kayam (Ahimsa – Putra.pendekatan struktural untuk menganalisis fenomena arkeologis (Ahimsa – Putra. Buku ini pula yang membuat banyak orang mulai menyadari bahwa sekat-sekat keilmuan sebenarnya sudah tidak dapat dipertahankan lagi. dan analisis semacam ini dapat mengungkapkan dimensi tertentu dari karya sastra yang tidak dapat diungkapkan melalui pendekatan yang lain. Saya juga menawarkan pendekatan tersebut untuk menganalisis karya-karya sastra kontemporer yang mungkin tidak pernah terpikirkan untuk dianalisis secara struktural. Buku ini saya kira telah membuat peneliti dan pelajar sastra menengok para strukturalisme Lévi-Strauss. setelah saya menganalisis mitos Bajo secara struktural dan mulai memberi kuliah strukturalisme 15 tahun yang lalu? Strukturalisme Lévi-Strauss kini sudah lebih dikenal di Indonesia. strukturalisme Lévi-Strauss semakin dikenal di Indonesia. Lewat berbagai makalah dan artikel itulah saya berupaya menunjukkan bahwa strukturalisme adalah sebuah cara baru untuk memandang gejala sosialbudaya. dan tidak terbatas di kalangan pelajar antropologi saja. 1999c. Dengan terbitnya buku tersebut. Langkah yang saya tempuh untuk memperkenalkan paradigma antropologi struktural di Indonesia dengan menulis artikel dan menerbikan buku didasarkan pada pandangan bahwa orang tidak akan tertarik pada suatu pendekatan atau paradigma bilamana dia belum mengetahui tentang paradigma tersebut. strukturalisme Lévi-Strauss mulai dikenal di luar lingkaran antropologi. Sejak itu. Strukturalisme Lévi-Strauss yang muncul dan berkembang dengan baik dalam antropologi ternyata sangat dapat digunakan untuk menganalisis karya sastra. 2000b). Melalui paradigma tesebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya. Dari makalah dan artikel tersebut orang dapat menilai keampuhan paradigma struktural untuk memahami gejala sosial-budaya lewat sudut pandang yang berbeda. Mitos dan Karya Sastra (Ahimsa – Putra. Meskipun demikian saya tetap tidak mengetahui bagaimana perkembangan paradigma strukturalisme Lévi-Strauss atapun strukturalisme pada umumnya di luar UGM. Dengan demikian. dan manfaat apa yang akan diperoleh dari penggunaan tersebut. 4. 64 . para peneliti sastra sebaiknya juga menengok dan mempelajari paradigma-paradigma yang berkembang di luar kajian sastra. 2002c). 1998a. tentang cara menggunakannya. Melalui paradigma tersebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya yang dapat diungkapkan. sedang kepada para peneliti fenomena keagamaan saya juga menunjukkan bahwa strukturalisme dapat digunakan untuk memahami fenomena keagamaan seperti sinkretisme (Ahimsa – Putra. 2001). yang tidak akan dapat diungkap melalui paradigma yang lain. yang berbeda dengan strukturalisme yang selama ini mereka kenal dalam analisis sastra.

rumah tradisional Sumba (Purwadi. dan di sinilah memang terletak kekuatan strukturalisme Lévi-Strauss sebagai sebuah paradigma. yang berasal dari suku Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Dalam hal ini Numbery telah berhasil menunjukkan keterkaitan struktural yang erat antara struktur ruang yang dikenal oleh orang Dani dengan organisasi sosial mereka. Orang Dayak Bakumpai mengenal istilah-istilah ngaju. Analisis struktural juga telah diterapkan pada budaya material. Ini terlihat pada tesis dan disertasi di jurusan antropologi UGM. ataupun dalam diskusi-diskusi informal. untuk menganalisis konsepsi orang Bakumpai tentang ruang. Kalimantan. Metode Analisis Pengaruh strukturalisme terlihat terutama pada metode analisis. Struktur ruang juga dianalisis oleh Gerda Numbery (2008) yang melakukan penelitian di kalangan orang Dani di Papua. Oleh karena itu. saya sering mendengar nama-nama Barthes dan Foucault disebut-sebut dalam beberapa diskusi. Kalau paradigma antropologi sebelumnya jarang sekali menampilkan metode analisisnya. 2009) dan makanan tradisional orang 65 . namun belum pernah saya mendengar orang membahas pemikiran-pemikiran Barthes dan Foucault secara serius. analisis Purnama kemudian menuntut digunakannya konsep transformasi. analisis struktural yang dikerjakan oleh Numbery merupakan analisis struktural ala Lévi-Strauss yang pertama kali dimanfaatkan oleh ilmuwan sosial Indonesia untuk memahami struktur organisasi sosial orang Dani dan pandangan mereka tentang ruang beserta strukturnya. Analisis struktural telah digunakan untuk mengungkap struktur yang ada pada rumah Limas Palembang (Purnama. baik itu secara formal lewat seminar. Sepengetahuan saya. yakni patung (Ahimsa-Putra. strukturalisme Lévi-Strauss justru terlihat membedakan dirinya dari yang lain melalui metode analisis ini. Subiantoro.Memang. ngawa. Strukturalisme Lévi-Strauss mulai terlihat digunakan untuk menganalisis berbagai gejala kebudayaan yang belum pernah dianalisis secara struktural. dan dengan konsep ini pula dia dapat menyajikan rangkaian transformasi yang ada dalam budaya masyarakat Palembang. Kalau Dadang H. Pendekatan struktural juga digunakan oleh Nasrullah (2008). Purnama mengungkapkan struktur rumah Limas Palembang dan mengaitkannya dengan struktur pemikiran orang Palembang. di sini saya hanya akan memaparkan pengaruh-pengaruh strukturalisme. 2002). dan konsepsi arah yang terkait dengan ruang ini juga terkait erat dengan sungai. karena sungai merupakan ruang yang sangat penting dalam kehidupan orang Dayak Bakumpai. ngambu dan liwa untuk menunjuk arah. 1999c. terutama strukturalisme Lévi-Strauss sebagaimana yang saya ketahui dari karya-karya ilmiah yang bisa saya peroleh. 2000). Oleh karena itu. Purwadi lebih tertarik untuk mengungkap prinsip-prinsip struktural yang ada di balik rumah tradisional Suma di Umaluhu. a.

Maryetti lebih tertarik untuk menganalisis dan mengungkapkan struktur yang ada di balik berbagai macam makanan tradisional yang disajikan dalam ritual-ritual (Subiantoro. Diskusi yang lebih teoritis dan konseptual tentang strukturalisme belum dapat diharapkan dapat muncul dari kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Beberapa contoh kajian ini menunjukkan bahwa strukturalisme sebagai sebuah paradigma ternyata dapat digunakan untuk menganalisis beraneka-macam gejala sosial-budaya. ahli arkeologi UI. Selain arca ganesya. Dalam hal ini para mahasiswa pascasarjana antropologi UGM (S-2) merupakan orang-orang yang cukup besar sumbangannya.Minang (Maryetti. pengertian struktur tersebut kini mulai dapat dimengerti. namun ternyata pemahaman tentang struktur ini tidak selalu dapat ditangkap. 66 . yang sebelumnya telah diteliti secara seksama oleh Edi Sedyawati. Dari pengalaman berdiskusi. karena dengan adanya tesis-tesis tersebut maka paradigma Strukturalisme dari Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal dan jelas-jelas dapat digunakan dalam berbagai penelitian. yang menempatkan patung loro-blonyo dalam konteks kebudayaan yang lebih luas. Ahimsa-Putra misalnya menerapkan analisis struktural pada arca ganesya. yakni banyaknya orang Tionghoa Indonesia yang masuk agama Katholik dan bagaimana perilaku mereka setelah mereka memeluk agama tersebut (Radjabana. memberikan kuliah dan membimbing penulisan karya ilmiah saya merasa ide Lévi-Strauss mengenai struktur termasuk yang tidak mudah dimengerti dan diketahui adanya dalam gejala sosial-budaya yang dianalisis. karena tradisi membahas secara kritis pemikiran-pemikiran yang berasal dari Barat masih belum tumbuh dan berkembang di kalangan mereka. namun tidak ada hubungan empirisnya dengan gejala sosial-budaya tersebut. yakni kosmologi Jawa. Pengertian struktur sebagai sebuah model yang dibuat oleh ahli antropologi untuk memahami gejala yang dipelajari. b. Meskipun demikian. dan pengertian struktur sebagai sistem relasi. 2000). ternyata tidak selalu mudah dipahami. Kita masih jauh dari suasana akademik dan intelektual yang seperti itu. namun analisis tersebut telah memberi inspirasi pada sejumlah ahli arkeologi lain untuk mencoba menerapkannya pada artefak-artefak atau benda arkeologis lainnya. Sementara itu. 2009). Masih sangat sedikitnya buku dan artikel jurnal ilmiah yang membahas strukturalisme secara kritis di Indonesia merupakan bukti yang paling jelas masih belum berkembangnya tradisi tersebut. Walaupun analisisnya belum sepenuhnya tuntas. dengan adanya kuliah mengenai strukturalisme Lévi-Strauss secara khusus. Lebih dari itu. Pemahaman tentang “Struktur” (Structure) Meskipun strukturalisme memberikan penekanan utama pada struktur. analisis patung secara struktural juga telah dilakukan oleh Slamet Subiantoro. 2007). ternyata pendekatan struktural juga dapat menjelaskan fenomena sosial yang terjadi di Indonesia tidak lama setelah meletusnya peristiwa G-30-S.

Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. konsep-konsep penting tidak selalu dapat dipahami fungsinya dalam analisis. c. yang lebih mudah dilihat dan mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Mereka yang menerima begitu saja kritik ini sebenarnya telah melupakan faktor-faktor yang mendorong munculnya pendekatan struktural. Bahkan. diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. karena para ilmuwan dan pelajar Indonesia masih lebih mudah memahami konsep-konsep yang lebih jelas acuannya. bahwa strukturalisme tidak menyejarah (ahistoris). yakni keterbatasan pendekatan sejarah ketika digunakan untuk memahami dan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya yang memang tidak ada data sejarahnya. Segala sesuatu selalu kita pandang dalam hubungan sebab-akibat sehingga penjelasan tentang sesuatu tersebut selalu mengacu pada sebab-sebabnya. dan itu berarti kepada masa lampaunya. Konsep ini tampaknya lebih mudah dipahami oleh para mahasiswa daripada konsep struktur atau struktur sosial. karena ini menuntut kemampuan memandang gejala sosialbudaya dengan cara yang berbeda. Kesulitan tersebut juga menambah orang semakin kurang berminat memandang gejala sosial-budaya dari perspektif strukturalisme. Kita umumnya memiliki pola pikir yang linier. A-historis Konsep yang sangat penting dalam analisis struktural adalah transformasi. diakronis. walaupun implikasi teoritisnya tidak selalu mudah dipahami. Bahwa ternyata struktur sosial adalah juga sebuah model dari seorang ahli antropologi mengenai suatu masyarakat atau suku bangsa juga masih sulit diterima.Konsep turunan yang berasal dari “struktur”. Sebagaimana kita tahu konsep transformasi berasal dari ilmu bahasa juga. Lebih sulit dari itu adalah membedakan makna transformasi dengan change (perubahan). yang a-historis. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. ketika dikatakan bahwa strukturalisme tidak dapat digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala perubahan sosial dan kebudayaan. Sulit rasanya 67 . Stukturalisme : Cara Pandang Transformasional. Hal ini tampaknya telah membuat konsep transformasi menjadi lebih mudah dipahami dan digunakan dalam analisis. dan kebanyakan telah dapat menerapkan konsep ini dengan baik dalam analisis. yakni “struktur sosial” menurut padangan Lévi-Strauss (yang berbeda dengan “struktur sosial” menurut Radcliffe-Brown). juga belum dapat dimengerti dengan baik. namun banyak contoh yang dapat diberikan untuk menjelaskan makna transformasi sebagaimana digunakan dalam analisis struktural. diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. Sulit rasanya mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya yang memang tidak ada data sejarahnya. Kebiasaan ini membuat kita mengalami kesulitan jika harus memandang dan menjelaskan gejala sosial-budaya tidak melalui sudut pandang kausalitas. yang historis.

Kalau pada awal kemunculan post-modernisme dan cultural studies saya sempat diundang dalam diskusi dan seminar di Indonesia tentang dua trend keilmuan tersebut. yang setahu saya sudah mulai banyak dikenal dan digungakan sebagai paradigma dalam penelitian. Sisi filosofis inilah yang belum diserap oleh kalangan intelektual atau ilmuwan Indonesia. Kalau dalam antropologi saja strukturalisme (Lévi-Strauss) sampai saat ini masih belum sangat dikenal. Yang jelas saya belum pernah mendengar sama sekali bahwa paradigma ini telah diajarkan di UGM (dulu). mungkin pula karena ahli filsafat Indonesia tidak ada yang tertarik untuk 68 . Penutup Apa yang saya paparkan di sini adalah apa yang saya ketahui mengenai strukturalisme di Indonesia di masa kini. Mungkin karena di jurusan-jurusan antropologi yang lain tidak ada orang yang merasa menguasai dan dapat mengajarkan dengan baik strukturalisme sebagai sebuah paradigma. diskusi atau lokakarya yang secara khusus membahas strukturalisme (Lévi-Strauss) sebagai sebuah trend pendekatan baru dalam ilmu sosial-budaya. dan ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal. Mungkin karena sisi ini lebih sulit untuk ditangkap dan dipahami oleh ahli filsafat Indonesia. Pengaruh ini terlihat terutama di jurusan Antropologi di Universitas Gadjah Mada. terutama karena tidak dapat digunakan untuk memahami dinamika dan perubahan kebudayaan. 5. Saya tidak tahu apakah di jurusan-jurusan antropologi lain di Indonesia paradigma ini telah diajarkan. maka aspek filosofis dari aliran pemikiran ini tentu lebih belum dikenal lagi. atau mungkin ada tetapi saya tidak mengetahuinya.mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya Indonesia dalam waktu yang relatif dekat ini. Tidak sebagaimana halnya post-modernisme dan cultural studies. Di luar UGM pengaruh tersebut tetap masih belum terasa. jika tidak memprihatinkan. wacana serius tentang strukturalisme (Lévi-Strauss) setahu saya tidak pernah muncul di Indonesia. tidak demikian halnya dengan strukturalisme. tidak adanya ilmuwan sosial-budaya yang khusus menekuni strukturalisme dan kemudian memperkenalkannya kepada publik Indonesia. Walaupun Lévi-Strauss tidak pernah menganggap strukturalisme yang dikembangkannya sebagai sebuah filsafat. tidak adanya kuliah khusus mengenai strukturalisme di universitasuniversitas di Indonesia. Belum pernah saya diundang dalam seminar. Faktor-faktor yang lain mungkin sekali juga menjadi penyebabnya seperti misalnya : langkanya buku mengenai strukturalisme itu sendiri. tingkat pascasarjana. namun sebenarnya sebagai sebuah epistemologi strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran filsafati. Di UGM pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terasa terutama di kalangan mahasiswa antropologi. Mengapa demikian? Mungkin beberapa faktor yang telah saya sebutkan di atas adalah diantaranya. Hal ini tentu sangat mengherankan. mungkin juga karena paradigma ini dianggap terlalu banyak kelemahannya.

Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. signifier. 69 . (d) pembahasan kritis atas pemikiran-pemikiran antropologis dan filosofis belum terlihat. Universitas Gadjah Mada. Kalam 6 : 124-143. di samping konsep-konsep seperti nirsadar.S. Dari paparan di atas kita dapat mengatakan bahwa (a) strukturalisme yang dikenal di Indonesia adalah strukturalisme yang dikembangkan oleh Lévi-Strauss. Kawin Bedil dan Sobrat. Ahimsa-Putra. itulah tantangan dari strukturalisme yang hingga kini di Indonesia masih belum ada yang bersedia menghadapi dan dapat menakhlukannya. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. Fakultas Ilmu Budaya. (b) strukturalisme Lévi-Strauss masih terbatas dikenal di kalangan pelajar antropologi. Makalah seminar. karena hal semacam ini menuntut pemahaman yang mendalam atas berbagai paradigma dan pandangan filosofis yang berkembang dalam antropologi dan filsafat. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. signified. dan tampaknya belum akan muncul dalam waktu dekat. di tingkat pascasarjana. (c) beberapa konsep penting dalam strukturalisme yang mulai dikenal dan dimengerti adalah konsep struktur. Oleh karena itu pula. *Penulis adalah Pengajar Antropologi Budaya. dan sebagainya. sintagmatik-para digmatik. Tesis Pascasarjana Antropologi. sign. ___________. 1 April 2009 sebagai mata rangkai Public Culture Series bertajuk: Pemikiran Kritis Prancis dan Implikasinya di Indonesia Sekarang ini Daftar Pustaka Abdullah. Universitas Gadjah Mada. 2005. struktur sosial. 1984.membahasnya. Namun. oposisi biner. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. karena di jurusan antropologi UGM strukturalisme Lévi-Strauss diajarkan secara khusus selama satu semester. 1995. H. T. 1994. sementara strukturalisme yang berasal dari Foucault dan Barthes tidak begitu terlihat pengaruhnya di kalangan kaum terpelajar Indonesia. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. ___________. pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terhadap pemikiran-pemikiran ilmuwan sosial-budaya Indonesia masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat meninggalkan bekas yang cukup dalam serta mudah dikenali dalam karya-karya ilmiah mereka. dan transformasi. Basis XXXIII (4) : 122-135. Yogyakarta **Makalah ini disampaikan dalam diskusi publik bertema: Perkembangan Strukturalisme Prancis di Indonesia pada hari Rabu. terutama di UGM.

70 . O. Jakarta : UI Press. ___________. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. A. Makalah seminar. Makalah dalam bedah buku. ___________. 2001. Yogyakarta : Galang Press. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. Makalah Pelatihan. Strukturalisme Lévi-Strauss. Orang-Orang PKI. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. Salam (ed). ___________. 1997. (ed). “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. “Lévi-Strauss. ___________. Yogyakarta : LKIS.I : 10 – 19. Dua Paradigma. 2000a. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. Makalah Sarasehan. Rahayu S. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng-Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik.___________. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. Tembi 1 Thn. ___________. ___________. Makalah seminar. Satu Model. ___________. Mitos dan Karya Sastra. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. Tiga Dasawarsa. 2002a. Paz. 1998b. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. Roland Barthes : dari Strukturalisme ke PostStrukturalisme. Makalah seminar Arkeologi. ___________. Nalar Jawa. Humaniora 12 : 1 – 13. 2000b. “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. Gerbang 5 (2) : 88 – 97. 2002b. 2002d. 1999b. ___________. Makalah seminar. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. 1998a. 1998c. ___________. 2002c. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. 1999c. 1999a. ___________. September – Desember. ___________. ___________.

Ritus Penandaan. 2006c. Sawerigading. 2006b. Mitos dan Karya Sastra. Abror. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. Analisis Struktural Lévi-Strauss dan Mitos Tasawuf. Badcock. ___________. 2007b. Mitos dan Nalar Primitif. Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. 2007a. 2005. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. ___________. T. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. ___________. ___________. H. 2008a. Strukturalisme Lévi-Strauss. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. 2008b. Makalah bedah buku. 71 . ___________. Makalah seminar nasional. Makalah diskusi. Humaniora XV (3) : 239 – 264. Kepel Press : Yogyakarta. Satwa. Ritus Pertukaran”. Totem. Metodologi dan Etnografi. Edisi Baru. 2006e. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. N. Yogyakarta : Insight Reference. ___________. 2004.). 2003. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasirelasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. ___________. Ahimsa-Putra (ed. 2006d.___________. ___________. Tesis Pascasarjana Antropologi. Abdullah (ed. Jakarta : Rajagrafindo Persada.S. Makalah seminar. Robby H. C. ___________. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya Bugis-Makassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya Bugis-Makassar. Yogyakarta : Kepel Press. ___________. Makalah bedah buku. 2002e. Universitas Gadjah Mada.). Leni. ___________. 2006a. Terj.

“Introduction” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Tesis Pascasarjana Antropologi. 2004. Liwa : Analisis Strukturalisme Lévi-Strauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Sturrock (ed. Ngawa. Menjadi Katolik Bagi Keturunan Cina di Jawa : Pertukaran Sosial Antara Keturunan Cina dan Gereja Katolik di Jawa. Makanan dan Struktur Budaya Minangkabau. Ngaju. 2008. 1998. Universitas Gadjah Mada. Ngambu. 2009. Tesis Pascasarjana Antropologi. Kabupaten Jayawijaya : Suatu Kajian Strukturalisme Lévi-Strauss. Subiantoro. Tesis Pascasarjana Antropologi. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Analisis Struktural Lévi-Strauss. A. Universitas Gadjah Mada. Universitas Gadjah Mada. Posisi Wahyu dalam Agama Kristiani dan Islam : Studi Atas Perbedaan Agama Kristiani dan Islam Menurut Strukturalisme Lévi-Strauss. G. Tesis Pascasarjana Antropologi. 2007. Purnama. Kulon Progo. 1986. Purwadi. Universitas Gadjah Mada. Claude Lévi-Strauss : The Bearer of Ashes.K.H. Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada. Tesis Pascasarjana Antropologi. 2000. Sturrock (ed. D. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. 1979. 72 . Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. 2005. 2003. J. J. Prinsip-prinsip Struktural dalam Rumah Tradisional Sumba di Umaluhu. Struktur Budaya Orang Dani di Desa Jiwika. Oxford : Oxford University Press.I. Numbery. Universitas Gadjah Mada. S. Sumintarsih. 2002. D. Distrik Kurulu. D.). Maryetti.). London : Ark Paperbacks. Loro Blonyo Dalam Rumah Tradisional Jawa : Studi Tentang Kosmologi Jawa. Xiao Lixian. Tesis Pascasarjana Antropologi. Budaya dan Struktur Masyarakat Tiongkok pada Dinasti Qing dalam Novel “Hong Lou Meng”. Oxford : Oxford University Press. J. Sturrock. Rumah Limas dan Struktur Pemikiran Orang Palembang. Radjabana. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. 1979. Pace. Nasrulah. Sperber.Listia. 2007. Pertukaran Dalam Hubungan Subkontrak di Kalangan Perajin Agel. Disertasi Antropologi.

11 readers like this article. More articles » Kertas Kerja » Demam K-Drama dan Cerita Fans di Yogya oleh YULI ANDARI M Yuli Andari menuliskan pengamatannya tentang demam drama Korea dan para fans di Yogyakarta. jurnal. kertas kerja tentang kajian budaya. in Indonesia. kematian. KUNCI asked Meteor Garden’s fans reception to the show through forum group discussion. laporan penelitian. dan usia manusia dalam sebuah perbincangan dengan Kristine McKenna dari LA Weekly. Laporan ini dibuat pada tahun 2006. … More articles » Buku » Koleksi Terbaru Perpustakaan KUNCI September-November 2009 Perpustakaan Kajian Budaya KUNCI mengoleksi buku teks. tuhan. Tema-tema khusus yang menjadi fokus utama … More articles » General » Tiga Usia Jacques Derrida Derrida berbicara tentang arti biografi. Selain itu perpustakaan juga memiliki koleksi media alternatif (zine) dan transkrip hasil diskusi. Audio Archive : FGD Meteor Garden On 2002. filsuf perempuan. During the research. Meteor Garden. KUNCI Cultural Studies conducted a research on the popularity of Taiwan’s TV series. makalah. 73 .

Saya bisa menghabiskan waktu seharian di pantai dengan berbagai aktivitas: mandi. merebahkan badan … More articles » Magazine » Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN Ini adalah kumpulan Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN. maupun organisasi aktivis.More articles » Kolom » Putih oleh YULI ANDARI M Sejak kecil saya telah menyukai pantai. kampanye isu tertentu. saya menyempatkan diri ke pantai bersama teman-teman atau kerabat. lengkap dari bagian I sampai bagian IV. Alat memproduksi video semakin terdemokratisasi … More articles » Public Culture Series » Strukturalisme Levi-Strauss di Indonesia 2009 oleh HEDDY SHRI AHIMSA-PUTRA 74 . More articles » PDF » VIDEOCHRONIC [scroll down for English version] Beberapa dekade belakangan Indonesia mengalami perubahan yang cukup drastis dalam penggunaan video sebagai alat perubahan sosial baik di ranah komunitas. Bila ada kesempatan di akhir pekan.

More articles » Review » “Kalaupun punk mati…” oleh FERDIANSYAH THAJIB Sebagai salah satu tampilan subkultur yang kini sering diutak-atik dalam beragam laporan ”tampak muka” rubrik gaya hidup di media massa sehari-hari.Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada. praktikkan gaya membaca “penyusutan” | Indonesia Buku on Newsletter KUNCI #15 Space/Scape Project • • Warung Kidul di Alun-alun Selatan 27/11/2009 nuning Monumen Cinta 24/11/2009 nuning ANONYMOUS WRITERS CLUB • aku ingin hidup aku ingin hidup […] Archives • • • • • • • December 2009 November 2009 October 2009 September 2009 August 2009 July 2009 June 2009 75 . punk dibaca secara nostalgis dalam hubungannya yang selalu serba salah di hadapan tradisi (lokal) … Comments • • Avatar Play « ŚĨβĔŔРŔŐÚŚŤ ŤĔŔĂ on Avatar: “Visualizes yourself!” (Estetika Populer dan Identitas dalam Technoculture) Oleh ARIE SETYANINGRUM Umberto Eco: Di era fotokopi dan rimba informasi internet. seperti apa? Di kalangan yang mana ia menunjukkan pengaruh? Kalau tidak ada atau kurang terlihat. mengapa? Hedy-Shri Ahimsa Putra mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Pujianto tampaknya menggunakan kajian simbolik.. which. Februari 2003). the writer suggests using the structural approach as a complement for the symbolic approach.com/ybecqvt 02:53:47 AM December 03. and functions. Pola diskripsi kajian simbolik seperti pada paparan dan analisisnya menunjukan sebuah pola linier . forms... Sebuah Wawancara dengan Bapak Dekonstruksi . 76 . Therefore. and alas-alasan and their relationship with Javanese mythology. with a great variety of sizes. Pujianto writes a book on batik semen. structural approach. Javanese mythology.Networks • • • • Arts Network Asia Ford Foundation Indonesian Visual Art Archives Yes No Wave Music Twitter ‘New article. symbolic approach.Abstracts due 22 FEB 2010 11/01/2010 . Tiga Usia Jacques Derrida.Abstracts due 22 FEB 2010 To: danuprimanto@. In his study he employs a symbolic approach. Pokok pikiran seperti pada judul artikel tersebut dan mencermati uraiannya. according to the present writer.. still needs to be completed with a structural approach proposed and developed by the French anthropologist Levi-Stauss. Robby Hidayat adalah dosen Jurusan Seni dan Desain. Fakultas Sastra. Date: […] KAJIAN STRUKTURALISME-SIMBOLIK MITOS JAWA PADA MOTIF BATIK BERUNSUR ALAM Robby Hidajat Abstract: Batik is a product of Javanese culture. From: primanto danu Subject: Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung . yaitu berbagai entitas yang dikaji seolah-olah memiliki relasi yang segaris (Line Relation). motifs. sawat. The latter approach may lead not only to analyzing symbolizations but also to placing symbols in a given structure. Nomor 1. Tahun 31. Mencermati artikel Pujianto berjudul Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam (Jurnal Bahasa & Seni. Key words: batik. arguing for the myths underlying those different motifs. Universitas Negeri Malang.http://tinyurl. The structural approach produces research results different from those produced by the symbolic approach. 2009 from WordTwit KUNCI-List • Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung .

dapat meletakan posisi batik sebagai benda yang bersifat funsional di lingkungan budaya Jawa. Hanya saja bagaimana pola relasional filosofis Jawa itu terkait dengan motif batik berunsur alam ?. Seakan-akan unsur ornament . Agustus 2004 simbol tidak melakukan kajian struktur. lambang dan arti seoleh-oleh membuat pembenaran adanya relasi tentang konsep hindusitis yang disebut triloka . Sementara simbol di balik yang disimbolkan kadang sulit atau seringkali tak terjangkau. Hal ini dapat disimak pada table 1 [ Mitologi Jawa dalam Motif Batik] (hal. Pujianto sangat terbantu oleh paham filosifis Jawa. artikel ini bermaksud melakukan reinterpertasi ulang dengan model strukturalisme-simbolik. Bertolak dari artikel Pujianto. sehingga pembahasan tentang simbol menjadi sekenanya (2000K:4a0ji3a-n40S8i)m. professor di College de France. Berdasarkan pemikiran Emil Durkheim. Tahun 32. Pemahaman Pujianto menjadi semakin anakronistik ketika menyimak skematis pada halaman 138. Sebuah kajian berpijak pada paradigma Strukturalisme. referensinya telah tersedia. Langkah ini tidak akan lengkap dan mantap tanpa memperhatikan pandangan pemilik budaya. 137). Falsafah orang Jawa . Lenger (studi seni). yaitu strukturalisme fungsional. Skema yang dipaparkan tentang adanya relasi antara sifat orang Jawa . bolik menjadi pola pencermatan yang sangat popular di lingkungan pengkaji seni. Pujianto telah mengemukakan bahwa Batik . Kadang pelacakkan simbol umumnya hanya mencermati tata bentuk visual. Unsur Alam Kehidupan dan Unsur Batik . artinya wujud objek dicermati sebagai susunan unsur-unsur yang telah memiliki relasi tertentu. yaitu seperti model analisis yang dikembangkan oleh Ernst Cassire (studi budaya) dan Sussan K. setidaknya telah dilakukan oleh Pujianto. Salah satu kajian yang dikembangkan oleh Levi-Strauss. salah seorang tokoh strukturalisme Prancis. Ini yang dimaksudkan oleh Heddy Shri Ahimasa-Putra. tetapi tidak menunjukan sistematika analisisnya. di samping bersandar juga pada pemikiran Emile Durkheim. di samping tokoh yang lain. terutama menyimak relasi lambang dan arti . Heddy Shri Ahimsa-Putra seorang antropolog dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengomentari kelemahan kajian simbolik. 1986). dua tokoh tersebut sangat berpengaruh pada pada pemikir tentang simbol . Teori Durkheim menjadi dasar pembenaraan adanya relaisi-realasi dalam struktur kebudayaan manusia yang seolah-oleh seperti Organisme biologi (Abdullah & Leeden. Pada kaitan ini. Perspektif simbolik. misalnya sebagai contoh 77 . yaitu terbatas pada aspek permukaan (2000:402). bahwa kajian 288 BAHASA DAN SENI. Entitas ini muncul secara tiba-tiba. Pemikirannya menjadi sangat lancer karena terdukung oleh tata makna yang bersifat konvensional. Pujianto telah memaparkan panjang lebar. Nomor 2. Paparan Pujianto seolah-oleh seperti bentuk analisis realasional. Mauss. Simbol yang ditafsirkan atas dasar wujud fisik dari sesuatu yang terindra sebagai tanda bermakna. M. Kajian Strukturalisme-Simbolik 287 Kajian simbolik yang digunakan oleh Pujianto dalam mencermati Motif Batik unsur Alam adalah pola pemikiran yang khas dari para peneliti sebelum generasi Roland Barthes. Dasar utama pemikiran yang digunakan oleh Pujianto secara mendasar mengacu pada filsafat makna.Hidayat. suatu usaha menafsir terhadap simbol-simbol.

Motif Sawat secara etimologis dipahami semi . Konsep-konsep dari fungsi menunjukan adanya sebuah struktur. Mengetengahkan paradigma strukturalisme sebagai model telaah batik berunsur alam bukan cara pandang yang berbeda dengan pemikiran Pujianto. batik cumangkiri kang calacep. 1983:213). fungsinya sebagai busana seorang raja Jawa (Kasunanan Surakarta) ketika bertahta. ingkang ingsun kawenangaken anganggona pepatih ingsun lan sentaningsun. Kajian Strukturalisme-Simbolik 289 batik cumangkirang ingkan acalacap lung-lungan utawa kekembangan. (Pujianto. sebagai berikut: Ana dene kang arupa jejarit kang kalebu ing laranganingsung: Batik Sawat lan batik parang rusak. titahnya merupakan keputusan yang terbagik bagi dirinya. (halaman 130) Motif alas-alasan tidak tampil pada semua jenis kain batik. Batik Sawat merupakan salah satu batik yang menjadi milik raja. sebagai berikut: Motif Semen dalam penerapannya di dalam keraton diperuntukkan bagi Pangeran. dan untuk pengantin pria pada waktu ijab Kabul (Semen Rama). kawulaningsun Wedana. lenga-teleng. dan tumpal. Walaupun kedua teori tersebut berpijak pada konsep yang berbeda. Relasi dari benda dan orang yang memfungsikan didasarkan oleh sebuah konsep . 1985: 16) Adapun barang berupa kain panjang (jarit) yang termasuk larangan saya (raja): Batik Sawat. Konsep dari fungsi adalah memiliki kaitan relasional dengan unsur yang memungsikan suatu benda. daragam. dan batik parang rusak. tetapi untuk mencermati sebuah simbolisasi dari benda-benda fungsional menjadi lebih kredibel. Adipati. Bahkan Sunan Paku Buwana III pada tahun 1769 mengluarkan larangan menggunakan batik tertentu. Pemikiran ini yang mengarahkan pada kajian structural. Anadene Hidayat. Pernyataan Pujianto dan Amri Yahya jelas. baik pemikiran Emile Durkheim atau Levi-Strauss. dan rakyatnya. bangun tulak. batik cumangkiri yang calacep. (Yahya. 2003: 131). keluarganya. maupun Abdi Dalem. daragam lan tumpal. Landung Simatupang. 2000: 237). seperti yang disampaikan oleh Soedjoko yang dikutip oleh Amri Yahya. modang. yang saya perbolehkan dipakai Patih. BATIK BERUNSUR MOTIF ALAM 78 . Wedana. Strukturalisme lebih menekankan pada sebuah cara berpikir dari masyarakat sederhana yang menganggap bahwa sistem sosial hanyalah refleksi dari sistem dunianya atau dengan kata lain mikro-kosmos merupakan refleksi dari makro-kosmos (Randrianarisoa. lenga-teleng.uraian tentang fungsi batik alas-alasan. Tetapi sebuah analisis yang lebih sistematis. terj. dan tari Bedhaya (halaman 133). bahwa Batik merupakan benda fungsional. Mengingat strukturalisme model Levi-Strauss memandang struktur sebagai model dari pola pikir manusia dalam memahami dunianya (Kaplan & Manners. Jenis batik ini sering digunakan oleh Raja untuk upacara-uparada agung. bangun-tulak. utamanya ketika sedang bertitah. tetapi (hanya tempil) pada kain baik sebagi (untuk) Dodot bangun-tulak (pola busana) dengan kombinasi prada emas. modang. Adapun batik Cumangkirang yang acalecep berupa lunglungan (sulur) atau kekembangan (bunga-bungaan). Pujianto mengemukakan batik bermotif Sawat merupakan busana yang melambangkan kebijakan raja. dan abdidalem.

Agustus 2004 ran dan kekuasaan Apabila benar. Ketiga mofif batik tersebut diasumsikan bersumber pada fenomena alam sebagai lambang kesuburan dan kekuasaan 290 BAHASA DAN SENI. dengan tujuan menguji adanya keterkaitan dengan paham filosofis Hindu tentang Triloka [tri = tiga dan loka = dunia]. agar benih tersebut dapat bersemi. sehingga simbolisasi tentang kesuburan tidak dikemukakan secara jelas oleh Pujianto. Misalnya. sebagai berikut: Gambar 1. dan Alas-alasan memiliki realisi dengan mitos kesuburan dan kekuasaan. selanjutnya dicermati lebih lanjut dengan menyusun table realasi dari ketiga entitas tersebut di atas. urairan tentang bentuk Semen. yaitu dipahami dari adanya berdasarkan analogi. Kajian Strukturalisme-Simbolik 291 dipahami sebagai kenyataan tentang kosmologis Jawa. Bentuk Semen merupakan tanda penyebaran benih. alam tengah. Pemilihan relasi paham triloka didasarkan atas kesamaan relasi tiga . 1997: 80). pemikiran Pujianto tampaknya seperti skema tersebut di atas. Penyebara benih. Skema relasional antara konsep Triloka dan motif batik berunsur alam Keterangan: Batik seolah-oleh memiliki kaitan dengan konsep triloko. Berdasarkan konsep Triloka. yaitu ada kesamaan bentuk dengan pengertian konvensional tentang makna kesuburan . tiga motif batik yang terdiri dari motif Semen. Tahun 32. sementara batik Sawat memiliki kaitan dengan alam tengah. dan demikian pula dengan batik Sawat & Alas-alasan yang memiliki kaitan dengan batik Semen. Pemahaman tersebut dapat disekematiskan sebagai berikut Gambar 2. Sawat. Batik Semen memiliki hubungan kesamaan motif dengan dua batik yang lain (Sawat & Alasalasan). Analisisnya lebih pada pemahaman tentang adanya persepsi bentuk. Levi-Strauss menempatkan makanan dengan pola analisis segitiga kuliner (Cremers. Sawat. Nomor 2. Semen 79 . dalam kaitan ini adalah Raja Jawa . Batik Semen memiliki kaitan yang bersifat vertical alam atas. dan Alas-alasan. Bahawa dunia dibagi menjadi tiga tataran yang bersifat hirarkis. Selanjutnya relasi tentang kesuburan tidak dibahas secara mendalam. dan batik Alas-alasan memiliki kaitan dengan alam bawah.Pujianto memilik topik penulisan artikel tentang batik berunsur motif alam dengan objek batik yang berkembang di keraton (?) [tidak dijelaskan lebih sepesifik keraton yang mana] dengan sample analisis batik bermotif Semen. dan alam bawah. sebagai berikut. seperti Levi-Strauss menganalisis tentang makanan. Skema segitiga kuliner model strukturalisme Levi-Strauss Dasar pemempatan sample tiga motif batik tersebut bersifat abitrer (sekenanya). demikian juga tentang kekuasaan . seperti yang digambarkan berupa tanaman menjalar (sulur) sebagai penggambaran alat kelamin pria (halaman 130). Berdasarkan skema tersebut di atas. yang dijelaskan oleh Pujianto. yaitu yang memahami bahwa secara kosmologis dunia dibagi menjadi tiga. yaitu Semen Sawat Alas-alasan Hidayat. yaitu: Alam atas. Langkah awal yang akan dilakukan adalah menghubungkan ketiga motif tersebut.

Tanah Brahma Tumbuhan. roh ALAM TENGAH Manusia. kemakmuran. Nomor 2. Lar (sayap). burung merak. kapal Udara. Garuda. Agustus 2004 Tabel 1. kakyaan. Lar (sayap) bersulur bangunan. (pohon hayat) Ayam jantan. hidup. Awan. pengavoman. Analisa Taksonomi Relasi antara Konsep Triloka dan Motif Batik Berunsur Alam SEMEN SAWAT (GURDO) ALAS-ALASAN INTERPERTASI MAKNA ALAM ATAS Gunung Semeru/ Brahma Lingga (Siwa) Tirta Marta Raja Burung. kumbang. angkasa. kesaktian. Awan. Tahun 32. Matahari Burung Garuda. ALAM 80 . Kalpataru. kupukupu. kuda. kegembiraa. kejayaan. harimau.Sawat Alas-alasan Alam bawah Alam atas Alam tengah 292 BAHASA DAN SENI. suci. gunung. tumbuhtumbuhan Kehidupan. Kekuasaan. wahyu.

Berdasarkan hasil pencermatan melalui table 1. laut. sungguhpun tidak seluruhnya salah. bahwa konsep triloka dimungkinkan tidak tepat. 2003:134). sehingga ular berrelasi dengan dunia bawah (Pujianto. Sebagai contoh garuda dipahami berdasarkan makna sifat dari binatang yang mampu terbang. kedukaan. bukti Hidayat. sebagai lawan garuda. Jika dicermati lebih lanjut paham monisme dualitik memandang dunia ini terbentuk berdasarkan relasi yang bersifat oposisional (bertentangan dalam kesatuan).BAWAH Laut. 2000:127). atau kurang dapat memberikan pemahaman secara komperhensif. Matahari yang berbentuk bulat. Ditemukan relasi kearah paham monisme dualitik. simbol dibaca dari materi yang seolah oleh menyimbolkan dari sesuatu. Maka dimungkinkan. Analisis pada tabel 1 menunjukan. dan memiliki relasi dengan mitos tentang burung dewata . 2002: 24. Tabel 1 menunjukan sebuah sistem analisis makan. tidak berelasi dengan bulat yang disebut dengan rembulan . yaitu sesuatu menjadi ada karena memiliki realsi dengan keberadaannya. Pemikiran ini ditunjukan oleh Levi81 . Apabila diubah relasinya. sungai. ternyata segi tiga kuliner tersebut tidak cocok. berrelasi dengan bulat yang disebut Matahari . dan Veldhuisen (1988: 28) yang dicuplik oleh Pujianto ( halaman 134-135). Wisnu. Akan tetapi menjadi kurang mampu memberikan pemahaman yang lengkap dan jelas. bahwa ketiga batik tersebut memiliki pormasi struktural yang lain. Kajian Strukturalisme-Simbolik 293 nya unsur-sunsur alam tampak mengelompok pada kolom alam atas . Paparan Pujianto dalam menguraikan makna-makna seolah-oleh benar. Model pemahaman yang dilakukan oleh Pujianto adalah analisis analogi. Kalau diperhatikan. sacral. ternyata tidak semua motif batik berunsur alam memiliki realisi dengan konsep triloka. Tetapi menekankan relasi batik berunsur alam dengan fenomena kekuasaan Jawa . atau ular yang berrelasi dengan air. Salah satu burung yang diyakini sebagai kendaraaan dewa Wisnu. Ular (naga) Kesuburan Roh-roh jahat. yuitu tidak dengan paham triloka yang dianggam memberikan makna pada motif batik berunsur alam. dan sebagian kecil berrelasi dengan kolom alam tangah . Zoetmulder. Sedangkan untuk kolom alam bawah tidak menunjukan adanya relasi. Analisis ini menunjukan. kematian Tabel di atas merupakan dasar analisis yang dilakukan oleh Susanto (1983: 235-237). yaitu menempatkan raja dengan kode (+) dan rakyat dengan kode (-). sengsara. yaitu memandang kosmis tercipta serba dua (Sutarno. yang dimungkinkan mendapatkan sebuah gambaran yang jelas tentang lambang-lambang dan ditafsir. atau tidak terbukti. bahwa sistem analisis terhadap motif batik berunsur alam kurang menunjukan akurasinya. Sementara Pujianto hanya menyitir dari hasil pemikiran peneliti lain yang telah berupa pernyataan. Betari Sri Laut.

dan relasi konstan). Nomor 2. realasi. yang relative tetap. juga berada dalam dua waktu sekaligus. (simak halaman 134-138). cerita Ramayana. kata Levi Strauss. Bahasa sebagai suatu lengue berada dalam waktu yang bisa berbalik (reversibele time). Tabel analisis berikut secara keseluruhan memanfaatkan data yang ditulis oleh Pujianto berdasarkan cuplikan dari berbagai sumber. lambang dan arti tidak menunjukkan sumber data. 2003:105-142]. kebijakan. cerita Garudia Kejayaan. Bahasa dalam pengertian ini merupakan struktur-struktur yang membentuk suatu sistem atau merupakan suatu sistem struktur. Parole adalah aspek statistikal dari bahasa yang muncul dari adanya penggunaan bahasa secara kongkrit. kebesaran. motif Sawat. kekuasaan. Tetapi tabel 2 di atas cukup jelas. Mitos. yang tidak terpengaruh oleh individu-individu yang meng294 BAHASA DAN SENI. Pemahaman di atas menunjukan. Analisis motif batik berunsur alam yang terdiri dari motif Semen. Tahun 32. bahkan mengetengahkan kemungkinan strukturnya. yaitu sesuatu yang tidak tampak pada gambar itu sendiri. perwujudan yang terlukis pada kain (jarid) yang berfungsi sebagai busana para priyayi Jawa. yaitu menempatkan unsur-unsur yang saling berkait dan saling menjelaskan. Bahasa memiliki aspek Langue dan parole parole adalah bahasa sebagaimana dia diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sarana berkomunikasi. Tabel yang dibuat oleh Pujianto. 2001: 80-81). dan simbol dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertimbangannya adalah cuplikan tersebut merupakan data yang telah teranalisis. walaupun langkah pencermatannya tidak secara mendalam membicara Skematis antara wujud. sedangkan aspek langue dari sebuah bahasa adalah aspek strukturalnya. Struktur inilah yang membedakan suatu bahasa dengan bahasa yang lain. tetapi bahasa sebagai parole tidak dapat terlepas dari perangkap waktu itu sehingga parole dianggap oleh LoviStrauss berada dalam waktu yang tidak dapat berbalik (non-revarsible time). Motif yang terlukis selain menunjukan pola gambar yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan. bahwa motif batik berunsur alam dapat dipahami sebagaimana langue dan parole [simak John Strorey. yaitu waktu yang bisa berbalik. Aspek visual yang ditangkap menjadi perhatian utama untuk dipahami relasi-relasinya. Hidayat. kesetiaan 82 . karena dia terlepas dari perangkap waktu yang diakronis. dan waktu yang tidak bisa berbalik. (Ahimsa-Putra. Analisis ditujukan untuk mencari strukltur (Pujianto mengartikan dengan Mitologi. yaitu diucapkan. (antara ornamen. Analisis Relasi dan Simbol Motif Batik Berunsur Alam Wujud Motif Relasi Simbol Burung. keluhuran. Agustus 2004 gunakannya. Kajian Strukturalisme-Simbolik 295 Tabel 2. yaitru disebut struktur atau sebagai grammer pada bahasa. Akan tetapi wujud gambar itu menunjukan adanya pola realisonal yang bersifat permanen.Strausss berdasarkan konsep Ferdinad de Saussure tentang bahasa. seperti katakata (bahasa) yang sebagai alat komunikasi sehari-hari. dan motif Alas-alasan dapat lebih mendalam. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata). tabel 1 Mitologi Jawa dalam Motif Batik (lihat halaman 137) tidak jelas.

pundhen desa. perlindungan. tujuan Motif Semen Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. Kejantanan Keperkasaan Ayam jantan. kekuasaan. kayon Puncak. puncak meru. keabadian. Kejantangan Kekuatan. ketentraman Laut. kasih sayang. kedamaian. kepergiaan. ketentraman Burung Garuda. kesucian Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. kebebasan Sulur Tanaman menjalar Kesuburan. mitos SriSadana Kemakmuran. keinginan. kecantikan Lar (sayap) Unggas bersayap. Rumah. kekuasaan. Mitos tentang kesejodohan Kecantikan. atau pandangan para priyayi 83 . alam kegelapa. kecerdirkan. pembasmi. gunungan wayang kulit (Kayon) Perlindungan. kekuasaan Kapal.Lar (sayap) Unggas bersayap. perdamaian Awan. bentuk wayang rampokan Kebebasan. kesetiaan Kumbang. keperkasaan Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. ikatan kekerabatan. Mitos Sri Sardono Kemakmuran. langit. angkasa (langit) Maskulinitas (bapa). Tetapi mengarah pada kajian simbolik) pemikiran masyarakat pemilik simbol. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. kekayaan. Agustus 2004 tentang mitologi Jawa. pikiran. kebesaran. Kemakmuran. harapan. pikiran Bangunan. Mitos Laut selatan. kebijakan. kekuatan perusak. Sorga Ketentraman. pencerahan. Harimau. ringin kurung. pencerahan. Dalam hal ini diarahkan pada masyarakat keraton Jawa dari dinasti raja-raja Mataram. keluhuran. Kuda. Istana. Kejantanan Kekuatan. keperkasan. kebebasan Gunung Mitos tentang sorga. ketentraman Motif Sawat Pohon hayat Pohon beringin. Tahun 32. Nomor 2. mitos Sri Sadana. kesetiaan. ketenangan. tanah Kejahatan. kekayaan. kekuatan penakluk Motif Alasalasan Ular (naga) Dewa Siwa. penghancur. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata) Kejayaan. kekuasaan. Kebebasan. kesetiaan Burung merak. Mitos kematinan. kelestarian. kebijakan. Kupu-kupu. rintangan. Kejantanan (maskulinitas) Keperkasaan. harapan. kegelapan 296 BAHASA DAN SENI. kebijakan. kebesaran. kekuasaan. Sorga. ketentraman. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. kekayaan. Wanita (femimimitas) Kasih saying. kalpataru. pelepasan.

Kajian yang menjadi sasaran adalah kesadaran dari ketidaksasaran tindakan. Melalui pendekatan Strukturalisme dapat mencermati motif (wujud material visual sebagai tanda) pada Batik. Paparan tersebut merupakan interpertasi 84 . 2001:31) Fenomena ini seperti kita berbicara. tetapi bersamaan dengan itu. dipahami sebagai sebuah struktur. kata demi kata yang terlontar sangat disadari maknanya. secara linier dicari keterkaitannya dengan mitos Jawa (salah satunya digali dari paham filosis Jawa). akan tetapi lebih mendalam. lidah api. ucapan. Metode ini yang dimaksud oleh Heddy Shri Ahimsa-Putra sebagai kajian tekstual (2000: 404). dan referentif. pohon hayat. Kondisi ini dikarenakan oleh sifat diskriptif yang tidak analitis. ukuran. kaitanya dengan mitologimitologi tertentu yang menghadirkan motif. salah satunya adalah menggunakan teori semiotika. mitos kesuburan. Mitos adalah grammer yang membimbing sebuah komunitas memahami realitas kehiduannya. dan lain-lain. Unsur mitos. logis. Struktur Batik Semen didiskripsikan sedemikian rupa. Pendekatan Strukturalis tidak hanya berhenti memahami teks (wujud kain batik. melainkan diperoleh atas dasar pertalian tanda-tana (artinya antar tanda) itu sendiri. Maksudnya adalah mencari makna dari tanda . Hidayat. merak). seperti motif Sulur-suluran. dan lain sebagainya. tanaman.(maksud dari Pujianto adalah keraton Kasunanan Surakarta). Akan tetapi perlu disadari. Pujianto lebih menitik beratkan pemahamannya tentang mitologi Jawa yang tampak pada motif-motif batik berunsur alam. mitos perjodohan. posisi motif. antara judul yang diajukan dengan pokok pikiran yang dipaparkan. Kajian Strukturalisme-Simbolik 297 dan keputusan sesorang. dan berbagai perujudan lain termasuk jumlah dan pengulangan bentuknya. garis-garis. Fenomena alam yang berwujud motif alam pada kain batik. yaitu yang terrangkum dalam salah satu bentuk. naga. sebenarnnya semua orang tidak dengan amat menyadari tata bahasa (grammer) yang sedang digunakan. Struktur sebagai bagian dari sistem mental manusia adalah sesuatu yang berada di luar kesadaran manusia dan merupakan kebudayaan itu sendiri (Masinambaw & Hidajat. atau Alas-alasan. Sawat. sehingga tidak menyadari adanya ambiguitas. gambar. seolah-olah referensi dari berbagai sumber benar-benar memberikan dukungan pada asumsi judul. 2001:31). meliputi warna dasar. Maka. Pujianto mengemukakan opininya tentang mitologi Jawa pada subbab Pandangan Hidup Orang Jawa (halaman 137-140). atau Hermeneutik.motif pada kain batik. Artinya selembar kain batik yang disebut Semen. seperti bentuk batik Semen. Kemudian dilanjutkan menelaah makna dengan alat analisis. salah satunya ada pada motif batik. analisis kebudayaan berdasarkan perspektif strukturaliseme adalah analisis unit mental (Masinambaw & Hidajat. yaitu tentang paham monisme dualistik. dan motif-motifnya). mitos kekuasaan. makna tidaklah dicari pada dunia eksteral. Paparan pada artikel Pujianto tampaknya rasional. kupu-kupu. Motif-motif pada batik yang memvisualisasikan fenomena alam diangkat sebagai morfem (unsur terkecil dari unit kata). awan. Pendekatan strukturalisme mengarahkan kajian pada mitos. sehingga tercipta berbagai bentuk mitos tentang asal usul sebuah komunitas. kemudian motif-motif dianalisis keterkaitannya dengan motif-motif lain untuk menentukan sebuah struktur. unggas (burung garuda.

dan bersikap adil). sebuah citra yang kuat. yaitu Loro-loroning Atunggal.. yaitu . kehangatan. istilah ini berrelasi dengan 85 . Raja yang bersifat Saraita..] dan duwur (atas) [ + ]. Agar uraian Pujianto menjadi lebih lengkap. Hakekatnya adalah sebuah 298 BAHASA DAN SENI. yaitu memahami angkasa sebagai bapa (eksistensi maskulin) dan bumi sebagai ibu (eksistensi feminim). salah satu klasifikasi simbolis dalam budaya Jawa (Koentjaraningrat.1994 :228) yang terwujud dalam mitos-mitos kekuasaan. Agustus 2004 presentasi idealistik raja Jawa yang menganggap dirinya adalah menivestasi Dewa . Ken Arok melegitimasi dirinya sebagai putra Betara Brahma. (1992:186) Menyatunya dua eskistensi tersebut menurunkan yang disebut wiji . Konsep raja sebagai manivestasi dewa ini ternyata berlanjut hingga dinasti raja-raja Mataram. Pandangan ini telah dikonstruk sejak jaman kerajaan Singasari. Darmaita ( ahli stragegi perang. Danaita. Persatuan ini diibaratkan sebagai manunggaling kawula gusti (dengan g kecil). dan kreativitas alami kedua-duanya dipandang perlu pemaduan. langit. dan rakyat dipandang sebagai kawula . bahwa lapisan bawah yang biasa disebut rakyat juga mendapat perhatian. Konsep tersebut dimungkinan dapat ditafsirkan dari bentuk struktur batik Sawat. sebuah batik yang digunakan oleh Susuhunan Pakubuwana (Surakarta) ketika duduk di dapar kencana. Woro Ariyandini S. kesejukan. Curiga manjing warangka. sebagai berikut: Kepriaan biasanya dikaitakan dengan warna putih 9air mani). yaitu makna yang tersimpan pada struktur dalam (deef stracture). bumi. Paham ini dikenal dengan konsep dewa raja . Penguasa dan rakyat ada hubungan timba-balik. subtansi. Agar dapat memahami eksistensi Gusti dan kawula dan analoginya gusti (raja) dan kawula (rakyat) maka tercipta sebuah konstruk pikiran Kawula Gusti . Tahun 32. Wanita dikaitkan dengan warna merah (darah). ANALISIS STRUKTUR Relasi isor (bawah) [ .untuk menemukan makna. maka juga ada persatuan antara manusia dengan penguasa masyarakat. bahwa raja Jawa dipahami sebagai Gusti (bahasa Jawa gusti juga dipahami sebagai kekuasaana gaib dari realitas transendental). spontanitas. pengendalian. tetapi harus diwujudkan sedikitnya dua relasi. yaitu sebuah paham kemanunggalan (kesatuan) yang berikutnya menjadi paham monisme dualitik. bentuk. Tuhan (Gusti) memiliki kuasa atas makluk (kawula) yang dikuasai . Nomor 2. seorang peneliti dari Universitas Indonesia menjelaskan paham tersebut sebagai berikut: Dalam pikiran orang Jawa. Bila dengan ungkapan manunggaling kawula-Gusti (dengan G besar) dimaksudkan sebagai persatuan antara manusia dengan penguasa gaib (Tuhan). berfungsi (raja) sebagai pusering bumi lan langit (pusat bumi dan langit sekaligus) (2002: 101). Penguasa masyarakat adalah raja yang dianggap mewakili kekuasan Tuhan di dunia. Anthony Reid mengemukakan perihal esensi pria-wanita yang bersifat saling melengkapi. Mitos tentang relasi atas-bawah juga hadir pada konsep-konsep tentang kesuburan. siap memberi bantuan pada siapapun yang membutuhkan. Kekuasaan tidak dapat berdiri sendiri. atau tunas yang harus di semai kan. paparan berikut ini menganalisis deef stracture berdasarkan realsi antar tanda pada motif batik yang dimaksud. dan kreativitas yang dikarsai. bibit .

Agustus 2004 pat dipahami sebagai hutan . Selatan menunjukan arah laut. keluarga. atau meru . dan laut berada di selatan (pantai parangtritis). menampakan hubungan yang bersifat duniawi. gunung adalah sorgaloka. Ketika laki-laki (ayah) hadir sebagai penguasa menunjukan sikap berbudi bawa leksanan . dan roh-roh pengganggu manusia. simbol keseimbangan ekologi. Semi memberikan petunjuk adanya kaitan dengan mitologi tentang padi . ancaman Batari Durga. Gunung laut diwujudkan secara struktural pada bentuk motif Alas-alasan. keramat. yang da 300 BAHASA DAN SENI. dan laut sebagai muara. horizontal dan vertikal. dan Alas-alasan merefleksikan sebuah deef structure sebagaimana skema garis bersilang. Kenyataan ini hingga kini dapat disimak pada posisi simpingan (jajaran) figure wayang kulit. Relasi gunung laut . atau pohon sorga (Sri Mulyana. Maka raja Jawa yang dilegitimasi dengan mitos RajaDewa menunjukan. Konsep kesuburan menempatkan kedudukan suami (tengen/ kanan) dan istri (kiwa/kiri). Gunung (merapi) berada di Utara. Nomor 2. sering ditunjukan pada fenomena candikala (mega merah tembaga ketika sore hari). Sebuah pola pikir orang Jawa disebut loro-loroning a tunggal Tengen (kanan) 86 . menunjuk pada struktur tengen (kanan)[+]. Skema oposisional berdasarkan monisme dualitik. Ini tampak pada struktur batik Alas-Alasan. eksistensinya sebagai pengayom. dan juga manusia. sebuah areal tempat berlindungnya semua satwa. ratu pelindung raja-raja Jawa (sejak jaman Mataram). bahwa titah (perintah) raja selalu dipandang sebagai bijaksana. kebijakan atas dirinya.1989: 635). yang menunjukan kelompok kanan (bala tengen) dan kelompok kiri (bala kiwa). tumbuhan. Barat menunjukan arah marabahaya. Kayon dalam konsep wayang Jawa adalah gunungan . tempat makluk hidup bertebaran. Eksistensial hutan ditampakkan perwujudan kalpataru (pohon hayat). Hutan-hutan yang lebat merupakan tempat yang aman. Gambar 3. ora kena wula-wali. Di sini menempatkan posisi Gunung sebagai sumber mataair. Gunung laut juga berkaitan dengan kiblat (arah mata angin). yaitu Betari Sri dan Raden Sedana (Danandjaya. sedangkan dunia ada percapada. keagungan. sabda pandita ratu. Ayah ibarat pohon. kaitannya dengan posisi kekuasaan. Sawat. Kedudukan relasi ini bermakna Loroloroning Atunggal dalam posisi horizontal. siksaan. dan bermukimnya jin. kebesaran.kiwa (kiri)[-]. Gunung laut berrelasi horizontal. 1982:33). berrelasi dengan emas .motif batik Semen . dan seluruh rakyat. yang artinya semi. sorga tempat bersemayamnya para dewa. Tahun 32. yang tumbuh di bumi Hidayat. Hutan lebih bersifat magis. bersemayamnya ratu pantai selatan. Kajian Strukturalisme-Simbolik 299 (tanah). Paparan relasional dari motif batik Semen. Gunung laut menunjukan posisi horizontal. dan kejayaan. raja berada di timur (gegong kuning keraton Kasultanan Yogyakarta menghadap ke Timur). Tempat arwah yang tidak beruntung. atau sakral. pelindung istri dan anakanaknya. anak buah. Hutan merupakan gagasan utama adanya kayon atau kayun yang berarti hidup. setan.

Temuan ini menunjukan. makanan tradisional. Pujianto telah berusaha untuk memaparkan gagasanya tentang mitologi Jawa kaitannya dengan motif batik berunsur alam. hubungannya dengan mitos kesuburan dan kekuasan. Inspirasinya menggunakan segitiga kuliner berasal dari segi tiga vocal: gagasan dari seorang lingguis Roman Jakobson (Cremer. perdukunan. dan Alasalasan. dan memilik model pemaparan dengan menekankan aspek simbolisasi. Asumsi Pujianto perlu diuji. Sebagai contoh asumsi Pujianto. Kajian Strukturalisme-Simbolik 301 Telaah dengan perspektif strukturalisme tidak hanya mendiskripsikan makna mitologis. Pujianto tidak mengkaitkan tiga motif batik Semen. seperti topeng. Akibatnya sulit untuk mengetahui hubungan strukturalnya. dan simbol di temukan sejumlah kecendrungan makna. di mana suatu benda memiliki posisi dan fungsi tertentu. Sungguhpun analisis simbolis terpaku pada teks . Sawat. bahwa motif bagik Semen. setidaknya meminjam model segitiga kuliner yang digunakan oleh Lovi-Strauss untuk menganalisa makanan. Sawat. kaitanya dengan mitologi Jawa tentang kekuasaan dan kesuburan. 87 . akibatnya aspek struktur terabaikan. Kapasitas benda pada posisi dan fungsinya semata-mata terkait dengan benda lain secara struktural. Setelah dilakukan analisis unsur motif. dan juga dimungkinkan adalah motif batik. ilmu sihir. Terlebih. bahwa fungsional suatu benda selalu terkait dengan kedudukan atau posisi di antara benda yang lain.Kiwa (kiri) Isor (bawah) Duwur (atas) (-) (+) Batik Batik AlasBatik Semen (+ ) (-) Gusti Kawula Gunun Laut Hidayat. 1997:790. Kenyataan ini yang dimaksudkan oleh Emil Durkheim sebagai organisme. berbagai asumsi dari para peneliti lain atau tulisan-tulisan lain yang bertebaran dengan gampang mempengarui. dan Alas-alasan berkati dengan paham Hindu tentang triloko . PENUTUP Analisis mitos kaitanya dengan perwujudan benda budaya. Temuan tersebut merupakan modal untuk menyusun struktur. tetapi dapat menunjukan kedudukan objek. Ternyata tidak mempu menjawab gagasan Pujianto yang mengkaitkan konsep triloko dengan bentuk motif batik. Struktur yang berupa persilangan yang dibentuk antara garis vertical. relasi. Pijianto mempunyai sudut pandang.

gagasan mencapai persatuan antara hamba dan Tuhan secara mistik ( manunggaling kawula-Gusti). dan juga kesetiaan. Kadi garwa kawitan. Garis ini mengubungkan antara struktur motif batik Semen dan Alas-alasan. tempat arwah bersemayam. Pemikiran itu juga berkait dengan konsep sangkan paraning dumadi . Kedudukan wanita Jawa dimata laki-laki sebagai berikut: Lamun sira rineka pawestri. 88 . Seperti istri pertama. Ing raga nuta saosa kersing laki. Setyanireng kakung. dan kekuatan penghancur. Hidayat. Fenomena tersebut dapat disimak pada sebuah tembang dhandhanggula dalam Serat Niti-Praja. sabar. Semunira den asumeh. Kinarya gedhong dening sang nata. sebuah relief yang dipahat di candi Kidal. ketulusan. Nomor 2. Untuk mencapai tujuan ini orang harus mengatasi kekangan-kekangan yang membelenggu dirinya kepada eksitensi gejalan seperti misalnya hawa nafsu dan rasionalitas duniwi yang hanya menuju kearah persepsi kebenaran yang bersifa kehayali (1996:31). yaitu mendudukan wanita pada sumbu vertikal dengan laki-laki. yaitu adanya konsep Dewa-raja . Tahun 32. Di sini terjadi sebuah pemahaman tentang pesejodohan. yaitu ngabekti. Sebuah kisah Garuda yang membebaskan ibunya dari tawanan bangsa naga. Pujianto mengkaitkan dengan sikap wanita sebagai pembatik yang rela.1988: 56-57). Kiwo (kiri) bernilai (-) berrelasi dengan laut . Gambaran wanita sebagai pembatik itu adalah sebuah metafora. Kajian Strukturalisme-Simbolik 303 Mang salokanira kepanggih. (2003: 139). Buat simpanan oleh sang raja. Boga busana mukya Kalau engkau dijadikan istri. Niels Mulder menjelaskan. temen. swargaloka. Pasrahlah dalam segala kehendaknya. Hendaknya wajahmu berseri manis. Dan pelayananmu bila ketemu. naga. berkait dengan kedudukan raja . tetapi juga sekaligus menjelaskan Lanang dan Wadhon secara horizontal. isor 302 BAHASA DAN SENI. yaitu tentang asal usul manusia dan kepasrahannya terhadap sifat gaib transendental (Tanpoaran.duwur (atas) bernilai (+) yaitu bermakna transkendental. ini sebuah kerelaan. dan budi luhur. berkait dengan kedudukan rakyat kawula . yang berposisi dengan ular naga pada cerita tentang Garudia . Agustus 2004 (bawah) bernilai (-) yaitu bermakna profane. narima. Garis horizontal menunjukan antara rentang Tengen (kanan) bernilai (+) gunung . Struktur silang tersebut juga dapat menjelaskan kedudukan wanita dan laki-laki dalam pengertian vertical. dan sekaligus kepasrahan. Struktur silang (crossing model) menjelaskan tentang makna kawula-Gusti atau raja-rakyat yaitu sebuah falsafah kekuasaan rajaraja Jawa. Angrasa yen sinatyan. Kepasrahan ini seperti sifat Garuda yang dengan rela sebagai kendaan dewa Wisnu. tempat roh-roh jahat.

1986. David & Monners. 2001. Teori Budaya dan Budaya Pop. artikel pada Jurnal Bahasa dan Seni. pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa. [tanpa kota terbit]. Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas. Nomor 2. Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam . Kebudayaan Jawa. 1997. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. Februari 2003. Zoetmulder. Amri. Yogyakarta: Hanindita. Abdullah. Yayasan Indonesiatera. 1. Soedarsono. 1989. Niels. Teori Budaya. Wayang. Herusatoto. Ahimsa-Putra. 2003. E. James.1986. 2000. Dick Hartoko. 2000. Cremers. Mengkaji Tanda dalam Artifak. A. Universitas Negeri Malang. Shri Heddy (ed. 1974. 304 BAHASA DAN SENI. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Sutarno. Juni 1983 XXXII 6. Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali. Asal-usul. (Purwadi. Jakarta: Balai Pustaka. 2002. 1967. diterjemahkan: Landung Simatupang. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Jakarta: Gramedia. Olga. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. 2001. Totemisme di Madagasikara artikel pada majalah budaya Basis.M. Malang: Fak. 2001. Falsafah Jawa. Yogyakarta: media Pressindo. Yogyakarta : Yayasan P. Niels. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Budiono. Pribadi dan Masyarakat di Jawa.Yogyakrta: Pustaka Pelajar. Kurniawan. Flores: Nusa Indah. 1994. Abdullah. Claire.C.2000. Februari 2003.J. Ciptaprawiro. Masinambow. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Reid. diterj.Yogyakrta: Gadjah Mada Universitas Press. Randrianarisoa. Holt.B. Agustus 2004 Koentjaraningrat. Semilogi Roland Barthes. Woro. Surabaya: Yayasan Djojo Bojo & Paguyuban Sosrokertanan Surabaya. Sejarah perkembangan Seni Lukis Batik Indonesia . Agus. Aryandini S. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. Yogyakarta: Galang press. no. Jakarta: Balai Pustaka. Danandjaya. tahun 31. P. Diterj. Tahun 32. Ketika Orang Jawa Nyeni. nomor 1. 2001:8-9) DAFTAR RUJUKAN Tanpoaran. Faufik & Leeden. Pewayangan Dalam Budaya Jawa artikel dalam jurnal Dewa Ruci. Proyek Penelitian dan Pe 89 . Wayang dan Lingkungan. Pujianto. Artikel pada Jurnal Bahasa & Seni. John. nomor 1. 2002. 1983. 1996. April 2002. 2003. Yogyakarta: Qalam. 1985. Semiotik. Filsafat dan Masa depannya. Pujianto. 1988. tahun 31. Jakarta: Gunungagung. Rahayu S.).K. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Mulder. Storey. Bandung: Masyarakat Seni Indonesia. 2003. Sri. Direktorat jendral Kebudayaan. Yahya. Sangkan paraning Dumadi. Albert A. & Hidajat. 1982. Mitologi Jawa Dalam Motif Batik Unsur Alam . van Der. Yogyakarta: Makalah disajikan pada seminar Javanologi.2000. Mulder. Sastra. Basis. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. vol. Purwadi. 1992. Jakarta: Sinar Harapan Mulyana. Malang: Fakultas Sastra. 1. Jakarta: Balai Pustaka. Diterj. Universitas Negeri Malang. Anthony [1988]. Mochtar Pabotinggi.Kesetiaanmu pada suami Merasalah jika dicintai Jiwa raga serahkan sepenuhnya pada pria Makan minum kegemarannya. Antara Alam dan Mitos. Memutar Taman Sri Wedari. Surakarta: Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta. 2001. Kaplan. Manunggaling Kawula Gusti.

tokoh. dan nilai pendidikan kepahlawanan. nilai pendidikan sejarah (historis). latar. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis struktural dan analisis model interaktif (interactive model of analysis) Dalam penelitian ini ada lima cerita rakyat Kabupaten Klaten yang dihimpun dan dianalisis. KebuKajian strukturalisme dan nilai edukatif dalam cerita rakyat kabupaten Klaten L. dan amanat. Teknik validasi data lain yang digunakan adalah informant review. Tokoh yang dominan dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah manusia yang digambarkan sebagai manusia yang memiliki kasaktian dan berkarakter baik. (4) “Reyog Brijo Lor”. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui observasi langsung. nilai pendidikan agama (religi). dan (5) “Kyai Ageng Gribig”.ngkajian. Alur cerita yang digunakan adalah alur maju atau lurus. dan analisis dokumen. dan legenda keagamaan. Informasi dari penelitian ini dideskripsikan secara analitis dan teliti. Pendeskripsian nilai edukatif (pendidikan ) dalam cerita rakyat meliputi nilai pendidikan moral. dan teori. observasi benda-benda fisik dan dokumen. Strategi yang digunakan adalah studi kasus tunggal yang dilakukan pada satu sasaran (subjek) dan satu karakteristik. pencatatan. (2) “Petilasan Sunan Kalijaga”. yaitu: (1) “Ki Ageng Padang Aran”. wawancara. yaitu cerita rakyat Kabupaten Klaten. Lima cerita rakyat tersebut. Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa sumber yaitu informan. perjuangan seorang tokoh. Teknik cuplikan (sampling) yang digunakan adalah purposive sampling. Latar yang paling dominan adalah latar tempat. (3) “Raden Ngabehi Ronggo Warsito”. tema. Cerita rakyat Kabupaten Klaten tersebut diklasifikasikan ke dalam legenda dan lebih spesifik dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok legenda setempat. legenda perseorangan . dan terjadinya suatu tempat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Sarmadi ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan jenis-jenis cerita rakyat Kabupaten Klaten. Teknik validasi data yang digunakan adalah triangulasi data/sumber. perekaman. Pendeskripsian struktur cerita rakyat meliputi isi cerita. Isi dan tema cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah syiar agama. Amanat yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten cukup 90 . nilai pendidikan adat.G. alur. dan (3) mendeskripsikan nilai edukatif yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. (2) mendeskripsikan struktur cerita rakyat Kabupaten Klaten. metode.

nilai pendidikan sejarah (historis). Nilai pendidikan yang terdapat dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. adalah Nilai pendidikan moral . dan nilai Kepahlawanan 1/1dayaan Nusantara (Javanologi). nilai pendidikan agama (religi). nilai pendidikan adat (tradisi). 91 .bervariasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful