Teori Strukturalisme – Levi Stauss

A.

Pendahuluan Teori Sosiologi dapat dibagi sesuai dengan periode ditemukannya, yaitu,

teori Sosiologi Klasik dan teori-teori Sosiologi Modern dan Post Modern. Teori Strukturalisme termasuk teori Sosiologi Modern dan juga Post Modern, karena dalam perkembangannya, teori ini terus dikembangkan dan menjadi teori Post Strukturalisme. Paper ini ditulis dalam rangka ingin menjelaskan mengenai teori Strukturalisme Levi-Strauss, yang termasuk teori Sosiologi Modern, namun untuk memperjelas pembahasannya akan ditambah juga dengan pembahasan teori Strukturalisme Post Modern. Walaupun teori ini jelas memusatkan perhatiannya pada struktur, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan struktur yang menjadi sasaran perhatian teoritisi Fungsionalisme Struktural (salah satu teori Sosiologi klasik). Perbedaanya pada tekanannya, yaitu Fungsionalisme Struktural memusatkan perhatiannya pada struktur sosial, sedangkan Teori Strukturalisme Levi-Strauss memusatkan pada struktur linguistik (Ritzer, 2004 : 603). Teori ini sebenarnya lebih terkenal sebagai teori Antropologi, tetapi dalam perkembangannya juga dimasukkan dalam teori Sosiologi. Strukturalisme memberikan perspektif baru dalam memandang fenomena budaya. Hal-hal yang tadinya dianggap sederhana dan tidak penting, justru memiliki peran yang sangat penting dalam menemukan dan memahami gejala sosial budaya, misalnya adalah bagaimana kita mungkin bisa memahami suatu fenomena sosial dengan menggunakan analisis sebagaimana para ahli Linguistik memahami bahasa. Bahasa memiliki tempat yang istimewa dalam ilmu sosial. Sebagai alat berkomunikasi, bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kebudayaan manusia. Oleh karena itu wajar jika untuk mengungkap persoalan budaya dapat dilakukan melalui atau mencontoh metode bahasa (ilmu bahasa). Marcel Mauss (dalam Allen Lane, 1968) menuliskan bahwa:
1

“Sociology would certainly have progressed much further if it had everywhere followed the lead of the linguists……”. Maksudya Sosiologi akan semakin berkembang jika diinspirasi oleh para ahli bahasa dalam memahami gejala sosial. Salah satu ilmuwan sosial yang menggunakan cara bagaimana memahami bahasa dalam menjelaskan fenomena sosial adalah Levi-Strauss. Levi-Strauss melakukan konseptualisasi ulang di bidang Antropologi

dengan sebutan "tiga nyonya" yaitu geologi, psikoanalisis, dan Marxisme untuk membantu membentuk tren dalam ilmu-ilmu sosial dan teori sastra, dan dipengaruhi oleh intelektualisme seperti Michel Foucault dan Jacques Derrida. Lahir di Belgia, Levi-Strauss belajar filsafat di universitas Sorbonne, Paris dan mengajar Sosiologi di Brasilia pada 1930-an. Teori-teorinya didasarkan hasil penelitannya di belantara Amazone di Brasilia. Sebagian besar teorinya dibangun selama 3 tahun ketika menghabiskan waktu bersama suku Indian di pedalaman Brasil. Pergumulan antara ilmu sosial dan ilmu bahasa telah melahirkan perspektif baru yang membuka jalan bagi perkembangan kedua bidang ilmu tersebut. Ilmu bahasa semakin berkembang berkat penemuan-penemuan dalam bidang Antropologi, demikian juga yang terjadi pada ilmu sosial atau Antropologi yang perkembangannya banyak dipengaruhi oleh para ahli bidang linguistik. Proses inilah yang kemudian melahirkan teori Strukturalisme Levi-Strauss itu. N. Troubetzkoy (dalam Alan Lane, 1968) menyatakan bahwa pikiran dasar dari teori Struktural adalah: Pertama, linguistik struktural mengalami lompatan dari studi fenomena kesadaran linguistik pada infra-struktur nir-sadar. Kedua, Strukturalisme tidak menganggap istilah-istilah itu independen, tetapi menganalisis hubungan antar istilah-istilah yang saling terikat. Ketiga, Strukturalisme mengenalkan sistem konsep. Dan yang terakhir, linguistik struktural ditujukan untuk menemukan hukum umum (general laws) baik secara induksi maupun dengan cara deduksi.

2

Lahirnya teori strukturalisme dalam bidang Antropologi/Sosiologi telah melahirkan berbagai perspektif dalam memandang fenomena budaya. Dengan teori ini, persoalan-persoalan tanda (simbol dalam bahasa) semakin mudah dipahami. Hal ini dikarenakan setiap persoalan bisa diidentifikasi melalui struktur dari persoalan tersebut. Karena dalam konsep ini segala sesuatu yang berbentuk diyakini memiliki struktur. Susunan unsur-unsur dapat dianalisis sehingga dapat diketahui asal-usul konsep itu dan juga gejalanya. Dengan demikian penjelasanya akan semakin mudah. Strukturalisme begitu berpengaruh pada pemikiran di kalangan ilmuwan ssosial di tahun 1960-an, terutama di Perancis. Era strukturalisme ini muncul setelah era eksistensialisme yang marak setelah Perang Dunia II. Strukturalisme melakukan beberapa kritik terhadap eksistensialisme dan juga pemikiran fenomenologi. Strukturalisme dianggap menghancurkan posisi manusia sebagai peran utama dalam memandang dan membentuk dunia. Strukturalisme berkembang pesat di Perancis dengan tokoh-tokoh utama selain Claude Levi-Strauss, yaitu Micheal Foucault, J. Lacan, dan R. Barthes. Aliran ini muncul ketika filsafat eksistensialisme mulai pudar. Masyarakat yang semakin kaya dan dikendalikan oleh berbagai bentuk struktur ilmiah-teknoekonomis mapan dan terkomputerisasi memudarkan aliran humanisme romantis eksistensialis yang berkisar pada subyek otonom, daya cipta peorangan, penciptaan makna, dan pilihan proyek masa depan serta dunia bersama sebagai tempat tinggal yang manusiawi. Usaha eksistensialisme untuk mengubah dan memperbaiki keadaan tersebut tidak berdaya dihadapan kenyataan-kenyataan struktur yang makin kuat yang mengutamakan kemantapan dan keseimbangan struktural daripada dinamika kreatif dari si subyek. Dengan diilhami oleh Marx dan Freud, para strukturalis menyangsikan istilah-istilah kaya kunci eksistensialis seperti ,"manusia", "kesadaran intensional", "subyek", "kebebasan", "otonomi" dan menggantinya dengan istilah-istilah mereka, yaitu: "ketidaksadaran", "struktur","diskursus","penanda" dan "petanda".

3

Ketidaksadaran menjadi sebuah unsur pokok yang menandai keberadaan manusia. terutama dengan pemikiran fenomenologi. Sedangkan keterjebakkan manusia dalam jaring-jaring struktur mengandaikan hilangnya unsur subyek dan obyek. hubungan antar manusia berada dalam sistem yang tidak disadarinya. adalah pencapaian makna atau kebenaran atas yang ada. karena klen-klen atau famili-famili lain tukar-menukar wanita-wanita mereka. Dengan menggunakan teori linguistik dari Saussure (Semiologi). Bahasa adalah sistem komunikasi.Meskipun banyak pertentangan antara eksistensialisme dan strukturalisme tapi ada juga yang saling melengkapi. seperti misalnya suami-istri. anakbapak. Hubungan ini sama seperti bahasa. ia memiliki peran. Berbeda dengan pandangan Heidegger bahwa seseorang harus memiliki tanggung jawab pribadi untuk membentuk hidupnya sendiri. paman-keponakan. Dalam pandangan strukturalis manusia terjebak dalam suatu struktur budaya yang dijalinnya sendiri. ia bukan manusia "massal" atau diombang-ambingkan arus mode dan kecenderungan sosial. Perbedaan lain yang cukup mendasar. tapi ia kembali akan terjebak di dalamnya. Pandangan ini mirip dengan faktisitasnya Heidegger dimana manusia terlempar ke dunia tanpa bisa dirundingkan lebih dulu. saudara lelaki . kekerabatan pun merupakan sistem komunikasi. Sistem kekerabatan terdiri dari relasi-relasi dan oposisi-oposisi. LeviStrauss melakukan analisis terhadap masalah kekerabatan. kekerabatan pun dikuasai oleh aturan-aturan yang tidak disadari. Supaya tidak menjadi manusia "massal" tentu dituntut kesadaran penuh tentang lingkungannya yang menurut strukturalis mustahil untuk disadari secara penuh. Sebagaimana halnya bahasa. manusia mempunyai putusan sendiri. meskipun kemudian ia mampu memilih atau membuat sendiri sebuah struktur. semua hanyalah bagian dari tenunan struktur.saudara perempuan. Ketika manusia lahir ia sudah ada dalam suatu struktur. Perbedaannya faktisitas mengandaikan adanya kebebasan yang menegaskan eksistensialitas manusia. karena informasi atau pesan-pesan yang disampaikan oleh satu individu pada individu lain. Kekerabatan adalah suatu sistem komunikasi. 4 .

Sedangkan Levi-Strauss dengan mengacu pada Kant (P. Tugas strukturalis lah untuk mengorek makna yang laten tersebut. Sebaliknya "humanisme baru" dengan pola 5 . yang mengatakan bahwa obyek kesadaran adalah fenomen dalam arti: ”apa yang menampakkan diri”. Ada sendiri menampakkan diri dan terbuka. Namun kenyataan itu tidak pernah dimengerti seluruhnya. Ada itu sendiri tampak sebagai tidak tersembunyi ( aletheia). Ini didapat dari Husserl. sebab tiap usaha merepresentasikannya pada dasarnya kurang memadai. sambil menyadari bahwa realitas yang sebenarnya tidak pernah tampak sendiri dan langsung kelihatan. kendatipun kenyataan konkret tidak bisa dipahami secara lain. karena menciptakan pemisahan dan pertentangan antara manusia dan alam. Humanisme klasik dianggap mangancam kehidupan manusia. kecuali lewat paksaan mental tersebut. Seperti sudah diuraikan sebelumnya bahwa Levi-Strauss enggan menggunakan nama "strukturalisme" yang terlalu ideologis. Menurut Levi-Strauss. Melalui kajian Antropologi budaya. Makna yang dicari tersembunyi dalam bendabenda yang tampak. ide regulatif dan sebagainya) yang dikenakan pada kenyataan empiris. seorang fenomenolog. mengabaikan manusia dan melarutkannya dalam struktur yang berkuasa. Ricoeur menjuluki Levi-Strauss sebagai "kantianisme tanpa transendental") bahwa akal budi manusia memiliki sejumlah paksaan. ia memang menolak beberapa pandangan umum mengenai strukturalisme bahwa aliran ini anti humanisme. tetapi justru suka menyembunyikan diri. antara budaya Barat dan budaya lain ( non Barat) yang dianggap inferior (merasa rendah dari Budaya Barat). Levi-Strauss membentuk strukturalisme sebagai "humanisme integral baru" yang mengkritik dan mengatasi humanisme klasik Barat. kategori. Dan sisasisa penyembunyian diri itulah yang merupakan bekas-bekas yang hendak "dibaca" sebagai tanda penyingkapan diri yang tak langsung dari kenyataan dan kebenaran yang sesungguhnya.Bagi Heidegger. "Pemahaman" berarti memahami keberadaan sesuatu yang spontan dan tampak bagi kita itu kepada suatu taraf yang lebih dalam. ketentuan dan aturan (bentuk mental apriori.

Bahaya baru dapat saja muncul dengan tidak ditekankannya pribadi kreatif manusia dan bisa terjebak menjadi manusia "massal". Persamaan lain adalah keduanya sama-sama menentang bentuk teknik (kemajuan teknologi di Barat) yang jika tidak diwaspadai akan menjadi subyek baru dan menindas keberadaan manusia. tetapi mengutamakan dunia dan alam semesta atas hidup. tidak bermula dengan hidup manusia sendiri. Rasa kagumnya terhadap budaya primitif tertuang dalam bukunya Mythologica III. Kebudayaan primitif menurut Levi-Strauss memiliki keaslian dalam menciptakan patokan keselarasan manusia dengan alam dan sesamanya. Dia mengammbarkan kebudayaan primitif sebagai berikut: "Suatu humanisme yang seimbang. Kekurangan ini dapat dilengkapi dengan pemikiran Heidegger yang meski mengkritik dualisme 6 . Hal ini jelas terdapat persamaan dengan pemikiran Heidegger yang juga mengkritik metafisika Barat yang memisahkan subyek (manusia) dan obyek (alam). Perbedaanperbedaan yang ada tidak dilihat sebagai bertentangan. artinya tidak menguasai keadaan. Levi-Strauss menyatakannya dengan keprihatinan terhadap nasib masyarakat primitif yang dilenyapkan oleh kekuasaan kolonial Barat demi keuntungan ekonomis (penjajahan yang menggunakan penemuan-penemuan alat /teknik modern). Ketika Levi-Strauss dengan strukturalismenya berusaha menghilangkan dualisme subyek dan obyek yang dianggap mengancam kehidupan manusia maka ia meleburkannya dalam kesatuan struktur yang tak terpilah. Kedua pemikir memiliki beberapa perbedaan dan kesamaan.strukturalisme ini tidak mengadakan garis pemisah dan penggusuran yang fatal. Penguasaan subyek atas obyek ini dibenahi dengan istilah menggembalakan ada. mengutamakan hidup atas manusia sendiri dan mengutamakan rasa hormat terhadap mahluk-mahluk lain melampaui rasa cinta diri sendiri". tetapi justru menekankan sifat saling terkait dan mencakup segala sesuatu. tetapi justru saling melengkapi.

Kata “struktur” yang menjadi dasar dari pemikiran strukturalisme dapat kita lacak dengan memahami Semiotika (Semiotics) atau Semiologi (Semiology) yang dikembangkan secara brilian oleh Saussure untuk mengkaji tanda bahasa. Perbedaan inilah yang kemudian dikenal sebagai oposisi biner ( binary opposition) 7 . Sebuah periode yang ditandai dengan pergolakan intelektual dan juga ditandai dengan berkembang pesatnya strukturalisme. 1996:513).tersebut. sebuah genre pemikiran yang melampaui Marxisme yang sedang menjadi trend pemikiran pada saat itu. Strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran yang sangat menonjol dalam khazanah pemikiran di Dunia Barat. eksistensialisme dan juga yang tidak dapat dilupakan adalah perkembangan Frankfurt School (teori Kritik). walaupun sebenarnya istilah strukturalisme diperkenalkan pertama kali bukan oleh Saussure. terutama Eropa Barat. ia tetap menekankan sosok manusia yang autentik. 1996:513). pada dekade 1960-an. seorang ahli linguistik dari Rusia (Payne. Pergolakan intelektual ini juga diwarnai dengan pergolakan mahasiswa yang hidup dalam affluent society. Saussure memproklamirkan bahwa tanda bahasa dibangun melalui struktur relasi antar tanda bahasa yang menunjukan adanya perbedaaan (Payne. Meski tidak mungkin juga manusia menghindari sepenuhnya arus massa tapi dengan bantuan kesadaran dengan hati nurani manusia yang tidak mudah hanyut. sebagaimana yang terjadi dalam revolusi mahasiswa di bulan Mei 1967 di Paris di Perancis yang menuntut perluasan demokrasi serta penghentian praktek kolonialisme Perancis serta juga gerakan New Left yang menjadikan Herbert Marcuse sebagai “nabi” yang menginspirasi gerakan mereka. namun oleh Roman Jakobson. ilmu sosial di Perancis melahirkan strukturalisme. Adalah Ferdinand de Saussure yang mengawali kajian strukturalisme dalam bahasa. Di tengah kapitalisme yang melahirkan masyarakat serba melimpah di Eropa Barat dan Amerika Serikat serta komunisme di Uni Sovyet yang mengundang decak kagum banyak orang dengan keberhasilannya menjangkau bulan. Saussure secara brilian melepaskan kajian tentang tanda bahasa dari suatu kajian yang merupakan kajian yang bersifat linguistik semata.

para pemain harus mengikuti struktur aturan yang telah ada dan tidak mungkin permainan ini dimainkan jika para pemainnya keluar dari aturan permainan. sedangkan petanda adalah aspek mental dari tanda bahasa. 2000 : 219 ). Kombinasi dari keduanya inilah yang kemudian menghasilkan ”tanda” (sign). di mana pendekatan linguistik yang lain hanya berhenti pada tataran langue (Bertens. Kedua. Ini dapat dianggap sebagai parole dari sebuah sistem struktur. Karena itu kita perlu mengetahui kode-kode yang menyatakan kepada kata apa yang dimaknakan oleh tanda-tanda. Sebagai ilustrasi adalah bidak kuda dalam permainan catur memiliki gerak berbentuk huruf “L”. Semiotika sendiri secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu semieon.yang dapat diterapkan hampir ke semua tanda bahasa. merupakan entitas psikologis yang bersisi dua atau berdwimuka. Relasi antara penanda dengan petanda terjadi begitu saja dan arbitrer. Dalam permainan catur. Kode (code) adalah satu sistem dari konvensikonvensi yang memungkinkan kepada seseorang untuk mendeteksi arti dalam tanda-tanda karena hubungan (Berger. dalam pendapat Saussure. Agar lebih jelas. ke kanan. Langue dimaksudkan sebagai penggunaan tanda bahasa secara umum atau oleh publik yang menyepakatinya. elemen tanda-tanda itu menyatu dan saling tergantung satu sama lain. terdiri dari unsur ”penanda” (signifier) dan ”petanda” (signified). Pertama. sedangkan parole adalah pemakaian tanda bahasa di tangan individu. yang artinya adalah ”tanda”. kita dapat mengikuti contoh yang dikemukakan oleh Saussure berikut ini. 2001 : 182). Individu yang bermain catur bebas untuk menggerakkan kuda dalam bentuk huruf “L” baik ke kiri. Penanda adalah aspek fisik dari tanda bahasa. Saussure mengembangkan semiotika ke dalam beberapa aturan pokok yang mengatur sistem tanda bahasa. Kedua adalah langue dan parole. Berdasarkan pendapatnya mengenai oposisi biner. Inilah yang membedakan kajian strukturalisme yang dikembangkan oleh Saussure dengan pendekatan linguistik yang lain. sehingga dari sinilah kemudian lahir strukturalisme. sebuah tanda khususnya tanda kebahasaan. ke 8 .

seperti universitas Harvard. Lahir dari orang tua berkebangsaan Prancis dengan darah Yahudi. Satu hal yang harus diingat kebebasan menggerakkan kuda ini terstruktur dalam huruf “L” dan tidak boleh keluar dari aturan ini. Perancis maupun saat ia berada di New York. dengan menjabarkan keadaan sosial yang terjadi pada saat teori ini dibangun. B. Yale. Selain itu. Yang penting masih dalam bentuk huruf “L”. Pertemuannya dengan para pakar dari berbagai bidang ilmu itu telah melahirkan berbagai konsep yang sangat penting dalam membentuk teori budaya yang sangat 9 . Paper ini juga mencoba untuk menjelaskan teori Strukturalisme Levi Strauss. pengalaman kerja dan tentunya pola pikirnya sangat menentukan dalam mencetuskan teori strukturalnya. mengingat perjalanan hidup penggagas teori Antropologi struktural ini sangat dinamis. Hal ini penting. Ini dapat dianggap sebagai parole. dan Oxford di Amerika. Sejak lama dia juga menjadi anggota Academie Francaise. badan pembelajaran terkemuka mengenai hal-hal yang bersingungan dengan Bahasa Prancis. akan lebih baik jika kita membicarakan sejarah hidup Levi-Strauss secara singkat. B.depan atau ke belakang. Kanada dan Meksiko. Selain itu juga dari universitas di Swedia. LeviStrauss diberi gelar doktor dari sejumlah institusi pendidikan terkemuka. penjelasan tentang teorinya dan juga kritik terhadap teori tersebut. Latar belakang pendidikan. C. Sejarah Hidup Claude Levi-Strauss Sebelum membicarakan teori strukturalisme Levi-Strauss. karena jika bergerak selain gerak “L”. yang juga sangat menentukan dalam pandangan-pandangan Levi-Strauss adalah hubungannya dengan para pakar berbagai bidang di Brasilia. teori lain yang mempengaruhi. maka hancurlah struktur permainan catur itu. riwayat hidup penemunya.

Apa yang diharapkan oleh Levi-Strauss ini akhirnya terkabulkan setelah ia berkesempatan menjadi pengajar di Universtias Sao Paulo. memberi kesempatan kepadanya untuk mempelajari orang-orang Indian Caduveo dan Bororo. Bahkan ia menjadi bosan mengajar di Mont de-Marsan Lycee dan berkeinginan untuk mengadakan perjalanan keliling dunia.unik itu. Levi-Strauss dilahirkan pada 28 November 1905 di Brussles. Di universitas ini ia memiliki kesempatan untuk keliling ke daerah-daerah pedalaman Brazil. Ayahnya bernama Raymond Levi-Strauss seorang artis dan juga anggota keluarga intelektual Yahudi Perancis (Intelectual French Jewish family). Ia pernah sukses dalam bidang hukum ketika ia telah mendapatkan licence dalam bidang hukum. Dikatakan sangat unik karena memang belum terpikirkan oleh para pakar di bidang Antropolgi periode sebelumnya. Sedangkan ibunya bernama Emma Levy. Brazil. Minat utama Levi-Strauss sebenarnya adalah ilmu hukum. Buku itu cukup mengesankan bagi Levi-Strauss dan mendorongnya untuk mengadakan beberapa studi mengenai masyarakat primitif. Ia adalah keturunan Yahudi. serta mengunjungi berbagai suku Indian yang selama itu boleh dikatakan belum terjamah oleh peradaban Barat. Penguasaan dalam bidang hukum mengenai aliran-aliran filsafat materialisme historis ini turut mendorong kesuksesannya dalam bidang Antropologi. Di tahun yang sama ia juga mempelajari filsafat di universitas Sorbonne. Pengalaman perjalanannya menjelajah daerah-daerah terpencil itu ditulisnya dalam sebuah buku yang berjudul Tristes Tropique. Ia mempelajari hukum di fakultas hukum pada suatu universitas di Paris pada tahun 1927. Buku ini bercerita tentang penderitaan orang-orang Indian di belantara Amazone. Hal yang paling penting dan sangat berpengaruh terhadap loyalitasnya di bidang Antropologi adalah ketika ia membaca buku Primitive Society yang ditulis oleh Robert Lowie. Berawal dari buku inilah yang menjadikan Levi-Strauss terkenal sampai ke negara asalnya yakni 10 . Dari ekpedisi yang di dukung oleh Musee de 1’Hummed dan museum di kota Sao Paulo ini. Belgia.

yaitu petugas penghubung. Ia pun akhirnya dibebaskan dari kewajiban militer setelah menjadi seorang professor. Dari program ini Levi-Strauss berhasil datang ke New York dan selamat dari pembantaian tentara Nazi yang anti terhadap orang-orang Yahudi. Akhirnya Levi-Strauss diselamatkan oleh program Yayasan Rockefeller. bahkan masih sangat sedikit orang yang mendokumentasikan mitos-mitos tersebut. Kita sangat menghargai perjuangan Levi-Strauss dalam menemukan teori (konsep) strukturalisme ini. Levi-Strauss tinggal. Ruth Benedict. Dengan ketekunan. 11 . Ia pun berkesempatan mengajar mata kuliah Etnologi di New York Ecole Libre des Hautes Etudes. Di daerah Greenwich Village. kesabaran. Franz Boas. Ia ditugaskan dibagian pos telekomunikasi di bidang sensor telegram. A. yang didirikan oleh para intelektual pelarian dari Prancis. Karir Levi-Strauss sempat mengalami halangan saat ia diwajibkan menjalani wajib militer.Prancis. ribuan bahkan jutaan mitos kini memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan kita. New York. yang memiliki program menyelamatkan ilmuwan dan pemikir-pemikir Eropa berdarah Yahudi di Amerika Serikat. dan ketelitian yang luar biasa Levi-Strausss mampu melahirkan karya yang sangat bermanfaat. Namun dalam situasi yang seperti itu tetap tidak menghalangi dirinya untuk menjadikannya seorang professor. Halangan tidak hanya sampai disitu. Ia bahkan telah menghasilkan suatu karya yang sangat penting di bidang Antropologi yang sesungguhnya sangat jauh dari studi formal yang dimilikinya. Mitos-mitos itu sebelumnya tak seorang pun yang memperhatikan. Sampai akhirnya ia diangkat menjadi liaison officer.L. Di kota New York inilah Levi-Strauss semakin banyak memiliki peluang mengembangkan keilmuannya. seperti Maz Ernst. Kroever dan Ralph Linton. ia juga mengalami diskriminasi ras. Ia banyak berkomunikasi dengan para ilmuan buangan dari Prancis. Ia dipecat dari jabatannya karena ia adalah seorang Yahudi. Berkat jasanya.

Pada tahun 1942 sampai 1945 ia diangkat sebagai professor di New School for Social Research. Berbicara pada radio Perancis. memuji Levi-Strauss memiliki "semangat keterbukaan yang luar biasa". Dan dunia di mana saya menyelesaikan keberadaan saya. baik itu tanaman atau hewan. Pada tahun 1935 sampai 1939 ia diangkat sebagai seorang Professor di Universitas Sao Paolo yang kemudian melakukan beberapa ekspedisi ke Brazil. mereka telah mulai meracuni diri mereka sendiri. dikembangkan Ward H. Dalam wawancara dengan National Public Radio. sekretaris abadi Académie française. "Pada hari ini hilangnya spesies hidup yang sangat mengerikan. Ia juga dianugrahi empat gelar kehormatan oleh Oxford. Aliran ini membawa 12 .Pada zaqmannya. Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya diantaranya adalah: the wenner-Gren Foundation’s Viking Fund Medal dan Erasmus Prize pada tahun 1975." kata LeviStrauss. Penulis Jean d'Ormesson. yang bersamaan pula dengan kedudukannya sebagai pimpinan Social Antropology pada College de France.. berencana untuk menghormatinya. "Dia adalah seorang pemikir. Pada tahun 1959 ia menjadi direktur The Ecole Practique des Hautes Etude. . menjulukinya "ilmuwan terbesar Perancis. seorang filsuf." Hélène Carrère d'Encausse.. tidak lagi dunia yang aku suka. Goodenough (1950-an). setelah dia meninggal. Harvard dan Columbia University di Amerika Serikat. Levi-Strauss menyatakan bahwa prospek manusia sangat suram. lahir pula Antropologi Kognitif. Kami tidak akan menemukan lagi seperti dia. salah satu di antaranya adalah kepala bagian Museum dan benda-benda budaya UNESCO di Paris. ia berkata.Selama hidupnya Levi-Strauss pernah menduduki jabatan-jabatan strategis terutama di bidang pendidikan." Levi Strauss meninggalkan dua putra. Claude Levi-Strauss adalah pencetus Antropologi Struktural dengan strukturalisme sebagai perspektifnya. Yale. Dan itu jelas bahwa kepadatan manusia telah menjadi begitu besar. Académie française adalah institusi yang bergengsi milik Levi-Strauss.

Dari rangkaian persoalan manusia itu terdapat beberapa kesamaan yang 13 . dan "The Raw and the Cooked" (1964). terutama mitos. Presiden Prancis Nicolas Sarkozy menyebut Levi-Strauss sebagai salah satu etnolog besar sepanjang waktu. konsep mengenai pola umum pikiran dan tingkah laku. Karyakarya pemikir abad 20 ini. Hal ini disebabkan banyaknya persoalan yang timbul dalam aktivitas manusia baik secara individu maupun dalam kaitannya dengan masyarakat. seperti ilmu eksakta dan pengetahuan alam ( exact and natural Sciences). sebagaimana dicontohkan dalam mitos-mitos yang berkembang. Akhirnya Claude Lévi-Strauss.definisi budaya dari yg fisik menuju pengertian bahwa budaya sebagai sistem pengetahuan. Beberapa di antaranya adalah teori tentang persamaan komponen antara masyarakat industri dan sukuterasing. Inilah yang menjadikan salah satu alasan kenapa dalam ilmu sosial kita harus meniru metode ilmu-ilmu di luar ilmu sosial. antara lain "Tristes Tropiques" (1955). Oleh karena begitu kompleknya persolan itu. 2009 dengan usia 101 tahun. Seperti dikutip dari siaran stasiun televisi BBC. Dia juga seorang pecinta musik sejati. LeviStrauss memperkenalkan "strukturalisme" untuk Antropologi. sangat tidak mungkin bisa memahami fenomena sosial tanpa mengaitkan dengan fenomena-fenomena lain. dalam rentang enam dekade. Aliran Antropologi Simbolik. meninggal di Paris pada 31 Oktober.Konsep Strukturalisme Levi-Strauss Sebagaimana diketahui bahwa cakupan ilmu sosial itu sangat luas. Levi-Strauss disebut sebagai bapak Antropologi modern berkat karya-karyanya. konsep bahwa semua masyarakat universal mengikuti pola pikir dan perilaku. dalam jangkauan luas masyarakat. seorang tokoh di dunia Antropologi abad ke-20. C. "The Savage Mind" (1963). Levi-Strauss juga memperkenalkan strukturalisme.Interpretatif yg dipelopori oleh Clifford Geertz melihat sistem simbol sebagai media pemahaman manusia atas sistem nilai dan sistem koginitifnya.

except to provoke a degree of pleasant puzzlement’. Dalam konsep Strukturalisme Levi-Strauss. Langkah ini dilakukan karena dalam strukturalisme dipahami bahwa setiap benda yang berbentuk pasti memiliki struktur. Of course a typical personality can be viewed as having a structure.8) menyatakan sebagai berikut: ”On the other hand.and during its vogue tends to be applied indiscriminately because of the pleasurable connotations of its sound. 2006.bisa dijadikan model dalam sebuah penelitian. where problems are similarly set in formal terms or. Adanya struktur ini memungkinkan juga adanya persamaan-persamaan. So what “structure” adds to the meaning of our phrase seems to be nothing. struktur adalah model-model yang dibuat oleh ahli Antropologi untuk memahami atau menjelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya. Oleh karena itu pula pemahaman dasar dari teori strukturalisme adalah mengacu pada model penelitian linguistik. fokus strukturalisme Levi-Strauss sebenarnya bukan pada makna kata. they are therefore difficult to define. Allen Lane (1968. but the patterns that the words form. “Levi-Strauss derived structuralism from school of linguistics whose focus was not on the meaning of the word. crystals. any organism. studies in social structure have to do with the formal aspects of social phenomena. where the formal expression of different problems admits of the same kind of treatment”. Kroeber dalam buku edisi kedua Anthropology menyebutkan bahwa: “Structure” appears to be just a yielding to a word that has perfectly good meaning but suddenly becomes fashionably attractive for a decade or so –like “streamlining”.in fact everything that is not wholly amorphous has a structure. without overlapping other fields pertaining to the exact and natural sciences. Oleh sebab itu Sarah Schmitt (1999) menyatakan. Pendapat Allen ini menunjukkan adanya struktur dalam setiap persoalan. and still more difficult to discuss. But so can a physiology. rather. all societies and all cultures.machines.” 14 . yang tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris kebudayaan itu sendiri (Ahimsa. 60). tetapi lebih menekankan pada bentuk (pattern) dari kata itu. machines. Meskipun bertolak pada linguistik. Bentuk-bentuk kata ini menurut Levi-Strauss berkaitan erat dengan bentuk atau susunan sosial masyarakat.

Strukturalisme Levi-Strauss juga bertolak dari konsep oposisi biner (binary opposition). Untuk membuktikan adanya keterkaitan atau beberapa kesamaan antara bahasa dan budaya. Untuk mengetahui makna struktur dalam bidang Antropologi Levi-Strauss. 1. Itu sebabnya ia mulai dengan mitos. sedangkan putih dihubungkan dengan kesucian. Levi-Strauss sangat tertarik pada logika mitologi. Sementara emosional dianggap inferior yang diasosiasikan dengan perempuan. Struktur terdiri atas elemen-elemen seperti sebuah modifikasi apa saja. Konsep ini dianggap sama dengan organisasi pemikiran manusia dan juga kebudayaannya. Bangunan dari model-model itu yang akan membentuk struktur sosial. kejahatan. dan mencoba menerangkan paradigmatik mereka yang tumpah-tindih dengan varian-varian mitos. kebersihan. Hitam sering dikaitkan dengan kegelapan. dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan sosial. 15 . 1978). 1958. 378). menggabungkan fungsi-fungsi hanya secara vertikal. yang salah satunya akan menyeret modifikasi seluruh elemen lainnya. Menurut Levi-Strauss (1958) ada empat syarat model agar terbentuk struktur sosial. Prinsip dasar struktur yang dimaksud disini adalah bahwa struktur sosial tidak berkaitan dengan realitas empiris. Rasional dianggap lebih istimewa dan diasosiasikan dengan laki-laki. Contoh lain adalah kata rasional dan emosional. Seperti kata-kata hitam dan putih. Sebuah struktur menawarkan sebuah karakter sistem. perlu diketahui terlebih dahulu prinsip dasar dari struktur itu sendiri. Model strukturalnya tidak linier (Meletinskij. keburukan. melainkan dengan model-model yang dibangun menurut realitas empiris tersebut (Levi-Strauss. LeviStrauss mengembangkan teorinya dalam analisis mitos. Semua konsep mengenai struktur bahasa tersebut di atas. 1969 dalam Fokkema. ketulusan dan lain-lain.

Seluruh model termasuk dalam sebuah kelompok transformasi. yaitu sesuatu yang merusak impressi kesadaran individual yang halus. 1978). Bagi Levi-Strauss telaah Antropologi harus meniru apa yang dilakukan oleh para ahli linguistik. LeviStrauss memandang bahwa apa yang ada di dalam kebudayaan atau perilaku manusia tidak pernah lepas dari apa yang terefleksikan dalam bahasa yang digunakan. Dalam bukunya yang berjudul ”Trites Tropique” (1955) ia menyatakan bahwa penelaahan budaya perlu dilakukan dengan model linguistik seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure. Model itu harus dibangun dengan cara sedemikian rupa sehingga kegunaannya bisa bertanggung jawab atas semua kejadian yang diobservasi. Masalahnya para ahli Antropologi pada saat ini tidak pernah mempertimbangkan peranan bahasa yang sesungguhnya sangat dekat dengan kebudayaan manusia itu sendiri. Istilah kekerabatan.2. dan seperti fonem. seperti halnya fonem. sehingga seluruh transformasi ini membentuk sekelompok model. kekerabatan memperoleh maknanya hanya dari posisi yang mereka tempati dalam suatu sistem. 1978). 1978). Kesimpulannya adalah bahwa “meskipun mereka berasal dari tatanan relitas yang lain. Karena bagi Bergson tanda linguistik dianggap sebagai hambatan. cepat berlalu. Sifat-sifat yang telah ditunjukan sebelumnya tadi memungkinkan kita untuk memperkirakan dengan cara apa model akan beraksi menyangkut modifikasi salah satu dari sekian elemennya. 4. Oleh karena itu akan terdapat kesamaan konsep antara bahasa dan budaya manusia. bukan seperti yang dikembangkan oleh Bergson. merupakan unsur makna. Singkatnya Levi-Strauss berkeyakinan bahwa untuk mempelajari kebudayaan atau perilaku suatu masyarakat dapat dilakukan melalui bahasa. 1972 dalam Fokkema. 3. Lahirnya konsep Strukturalisme Levi-Strauss merupakan akibat dari ketidakpuasan Levi-Strauss terhadap fenomenologi dan eksistensialisme (Fokkema. fenomena kekerabatan merupakan tipe yang sama dengan fenomena linguistik (Levi-Strauss. dan mudah rusak (Fokkema. di mana masing-masing berhubungan dengan sebuah model dari keluarga yang sama. 16 .

Dengan bahasa manusia menjadi makhluk sosial yang berbudaya. Koentjaraningrat. Model-model matematis pada bahasa dapat berbeda pada tingkatan dengan model matematis yang ada pada kebudayaan. Untuk itu jika kita membahas mengenai kebudayaan. Hal ini dapat kita lihat juga pendapat para pakar kebudayaan yang selalu menyertakan bahasa sebagai unsur budaya yang sangat penting dalam kehidupan manusia. korelasi sistem kekerabatan orang-orang Indian di Amerika Utara dengan mitos-mitos mereka. menyadari bahwa bahasa merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. 2006). Levi-strauss mengakui bahwa analisis yang benar-benar ilmiah harus nyata. Dengan kata lain melalui bahasa manusia mengetahui kebudayaan suatu masyarakat yang sering disebut dengan kebudayaan dalam arti diakronis. maka bahasa adalah bagian dari kebudayaan itu sendiri. menyatakan bahwa bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan. Karena bahasa merupakan unsur dari kebudayaan. Hubungan atau korelasi bahasa dan budaya terjadi pada tingkat struktur (mathematical models) dan bukan pada statistical models (Ahimsa. dan bersifat menjelaskan (Levi17 . Berikutnya. Ketiga. dan dalam cara orang Indian mengekspresikan konsep waktu mereka. sederhana. 1978).Ahimsa (2006: 24-25) menyebutkan bahwa ada beberapa pemahaman mengenai keterkaitan bahasa dan budaya menurut Levi-Strauss. Antropologi mengalami perkembangan pesat setelah dikembangkan dengan model linguistik. Seperti yang disebutkan oleh Levi-Strauss (1963). Korelasi semacam ini sangat mungkin terdapat pada kebudayaan lain. bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan untuk membangun bahasa pada dasarnya memiliki kesamaan jenis atau tipe dengan apa yang ada pada kebudayaan itu sendiri. Kedua. terutama setelah diakuinya bidang Fonologi atau ilmu tentang bunyi dalam bahasa (Fokkema. Pertama. perlu juga diperhatikan beberapa perbedaan mendasar antara sifat keilmuan Fonologi dengan apa yang ada dalam Antropologi/Sosiologi. kita tidak pernah bisa lepas dari pembahasan bahasa (lihat. bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat merupakan refleksi dari keseluruhan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. 1987). Namun demikian.

Di Bali. Kebudayaan adalah produk atau hasil aktifitas nalar manusia yang memiliki kesejajaran dengan bahasa dan tradisi. apalagi ketika upacara pembakaran mayat. Pemahaman terhadap pikiran dan perilaku kehidupan manusia. analisis Antropolgi justru maju ke arah yang berlawanan. oleh karena itu selalu dengan upacara yang berbeda menurut pemahaman suatu suku atau pemeluk agama tertentu. Asumsi dasar nalar manusia (human mind) adalah sistem relasi (system of relation). 1972. Tradisi adalah tatanan transendental sebagai pengabsah tindakan dan juga sesuatu yg imanen dalam situasi aktual dan bersesuaian dengan konteks bersifat dinamis (J. Antropologi/Sosiologi bukan bergerak dari hal-hal yang kongkret. sistem “terminologi” dan sistem “sikap”. misalnya ketika persiapan menguburkan mayat. Antropolog Levi-Strauss bertujuan menemukan model bahasa dan budaya melalui strukturnya. Hastermann).C. 1978). Antropologi/Sosiologi berurusan dengan sistem kekerabatan pada titik persilangan dua tatanan realitas yang berbeda. manjauhi yang kongkret. Fonologi bisa diterangkan secara ekskulsif dalam sistem persitilahan. sedangkan upacara kemaian pada pemeluk Islam.Tetapi hal itu agak berbeda dengan apa yang ada dalam Antropologi. sebagai contoh: Konsensus manusia tentang persoalan kehidupan dan kematian merupakan suatu tradisi yang penuh dengan simbul dan tradisi. dalam Fokkema. tetapi bagaimana manusia mengucapkan vokal. dipenuhi dengan kesedian dan bahkan dilarang sama sekali memasak makanan pada komunitas Islam tertentu. 18 . Tradisi adalah sebuah jalan bagi masyarakat untuk memformulasikan dan memperlakukan fakta-fakta dasar dari eksistensi kehidupan manusia. serta relasi manusia dengan tradisi sangat penting.Strauss. Kebudayaan dan bahasa berposisi sejajar karena keduanya merupakan hasil dari nalar manusia. ia tidak perlu memperhitungkan segala “sikap” sumber sosial atau sumber psikologis. selalu daiadakan pesta dan upacara kematiannya penuh dengan kegembiraan. sistemnya lebih rumit daripada data observasi dan akhirnya hipotesisnya tidak menawarkan penjelasan bagi fenomena maupun asalusul sistem itu sendiri.

Saussure juga membedakan antara konsep “langue” & “parole”. sistem elemen phonic yg hubungannya ditentukan oleh hukum yg tetap. Hubungan antara penanda & tinanda disebut ”arbiter”. jelas sekali walaupun fonemnya hampir sama. . Bahasa adalah sistem tanda (sign). Levi-Strauss Strauss belajar metode komparasi tentang geologi masyarakat (Marx) untuk menemukan geologi psikis (Freud) dan bagaimana pola umum objek dalam menjelaskan gejala yang tersembunyi. ahli bahasa Swiss yang membangun Strukturalisme dari sudut ilmu bahasa struktural yg akhirnya menjadi teori Strukturalisme itu. Adanya langue menyebabkan adanya parole. Suara yang muncul dari sebuah kata adalah ”penanda” (signifier). Sedangkan ”binatang berkaki 4 (empat) & berlari kencang adalah ”tinanda”. konsep suara tersebut adalah ”tinanda” (signified). Kehidupan manusia dibentuk oleh struktur bahasa. Kajiannya berupa relasi antara keilmuan yang inderawi dan yang linguistik rasional yang dilakukan oleh Fredinand de Saussure (1857-1913). karena 19 juga menganalisa sistem simbol. Tinanda dari sebuah penanda dapat berupa apa saja. horse adalah ”penanda”. Contoh: Jaran. tabu. Sebagai contoh: babu. karena perbedaan sistimatis tersebut. yaitu suatu ilmu yang lebih luas kajiannya dari pada Strukturalisme. Langue adalah sistem tata bahasa formal. Studi tentang struktur bahasa melalui “tanda” melahirkan Semiotics. Isi bisa berubah. namun bentuknya tidak. Jadi ide tidak ada sebelum adanya kata-kata. kuda. tetapi artinya sangat berbeda. Untuk dapat mengetahui kekhasan bentuk (distinctive form) ialah dengan mengenali perbedaan satu kata dengan kata yang lain (differensiasi sistematis). menyatakan atau menyampaikan ide atau pengertian tertentu. Suara dapat dikatakan sebagai bahasa jika dapat mengekspresikan. Menurut Fredinand de Saussure konsep bentuk (form) dan isi (content) penanda dan tinanda selalu memiliki bentuk dan isi. yaitu cara pembicara mengungkapkan bahasa untuk dirinya sendiri dalam rangka berkomunikasi dengan orang lain. Elemen dasarnya adalah katakata. Sedangkan parole adalah percakapan sebenarnya.Dalam hal ini pengaruh pemikiran tokoh-tokoh terhadap strukturalisme Levi-Strauss cukup besar. tergantung dari relasinya. sabu.

Saussure menyebutnya sebagai “oposisi biner”. cara berpakaian. serta berusaha untuk membedakan sintagmatis dan paradigmatis. segala sesuatu arti/makna dapat dimasukkan dalam dua kategori. *bangku*. dan lain sebagainya. kegeraman. mungkin lewat “gerengan” atau “raungan” sebagaimana ketika seekor harimau makan binatang buruan bersama itu. mengerogoti. naskah sastra. Contoh yang jelas dalam sistem biner adalah : laki-laki <--> perempuan. Sintagmatis adalah hubungan yg dimiliki sebuah kata dengan kata sebelumnya. Namun dari segi 'actual speech' atau omongan ('parole'). karena ditentukan oleh ketidak existan/ketidakbermaknaan kategori yang lain. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan secara struktural. Selanjutnya menurut Saussure. Sedangkan paradigmatis atau asosiatif adalah relasi antara suku kata dengan kata lain diluar hubungan sintagmatis. Contoh lain adalah gunung <--> lembah. ekspresi. Bahwa lahirnya bahasa dari segi arti/makna yang muncul dalam otak itu berasal dari komunikasi genital. sampai mitos dalam masyarakat. dan bentuk komunikasi. Suatu kategori jadi exist atau bermakna. Contoh: kata menggigit akan berhubungan dg anjing. hanya ada dua sign (tanda) yang hanya memiliki makna bila masing-masing beroposisi dengan yang lain. Kategori X ataupun kategori Y. 20 mencaplok. Disebut gunung. Sebagai contoh: kata menggigit juga ada relasinya dengan memakan. text/bunyi *jeruk* punya arti/makna karena ada text bunyi lain macam *kelapa*. kedinginan. Teori oposisi biner ini jadi terkenal setelah Levi Strauss menggunakan teori ini untuk menganalisa proses kultural seperti cara memasak.bahasa tubuh. Dalam sebuah struktur oposisi biner yang ideal. Seseorang disebut laki-laki karena dia bukan perempuan. dan memproduksi suara. Tokoh Semiotics adalah Roland Barthes dan Fredinand de Saussure yang melakukan studi sinkronis (fakta bahasa sebagai sistem) bukan diakronik (historis bahasa & perubahan evolutifnya). dan lain sebagainya. dan lain-lain. Suatu kategori X tidak ada dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori Y. adalah bagaimana manusia itu merepresentasikan pikirannya lewat omongan. . Dalam sistem biner. *pergi*.

Strauss merupakan Antropolog strukturalis yang banyak menggunakan teori-teori bahasa. Konsep oposisi biner mula-mula diteorisikan oleh ahli bahasa Ferdinand de Saussure. karena adanya sistem oposisi biner yang mendukung struktur tersebut. publik <--> privat. Oposisi biner ini juga dapat menjelaskan dan digunakan untuk menganalisa perkara GAM/OPM lawan NKRI. Inilah pentingnya pengetrapan teori Strukturalisme pada fenomena aktual sekarang ini. Dia lahir karena manusia punya sistem penandaan dalam otaknya (genital-communication). Oposisi biner adalah sebuah sistem yang 21 . seperti: . dan sistem penandaan ini digunakan untuk menstrukturkan persepsi serta pemahaman manusia pada dunia di luar mereka. separatis lawan NKRI. oposisi biner adalah 'the essence of sense making'. tetapi Claude Levi-Strauss-lah yang membuatnya menjadi sangat berpengaruh. Contoh sederhana adalah oposisi biner alamiah seperti batu <--> air diparalelkan dengan keras <-> lunak. Dia adalah berbentuk produk atau reproduksi budaya. baik terhadap alam natural atau pun dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan. Bagi Strauss. Kalau melihat struktur oposisi biner ini dapat disimpulkan bahwa suatu struktur (baik abstrak atau konkrit) selalu ada. Sistem oposisi biner ini oleh manusia tidak saja digunakan untuk mengkategorikan sesuatu yang hanya ada di dunia alamiah. diabstrakkan jadi pemerintah yang kejam <> pemerintah yang ramah. positip <--> negatip. Terjadinya berbagai masalah di Indonesia mungkin disebabkan hilangnya salah satu bagian struktur oposisi biner tersebut. Sistem oposisi biner tidaklah lahir secara natural.karena dia bukan lembah dan begitulah seterusnya. Kalau Indonesia disebut sebagai struktur yang terbentuk dari bermacam-macam oposisi biner. yaitu struktur yang mengatur sistem pemaknaan kita terhadap budaya dan dunia tempat kita hidup. tetapi dia juga digunakan untuk untuk memahami/menjelaskan kategori-kategori makna yang abstrak. daratan <--> lautan. maka penghilangan salah satu bagian dari oposisi biner pasti akan meruntuhkan struktur Indonesia itu. militer-sipil. Islam moderat dan Islam radikal serta hubungan struktural antara keduanya yang timpang dan bagaimana memperbaikinya.

Oposisi biner menimbulkan posisi-posisi ambigu yang tidak bisa dimasukkan dalam kategori A atau kategori B.membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan. Dalam struktur oposisi biner yang sempurna. Seseorang disebut laki-laki karena ia bukan perempuan. ia bukan bersifat 'alamiah'. Suatu kategori A tidak dapat eksis dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori B. tidak akan ada ikatan dengan kategori A. segala sesuatu dimasukkan dalam kategori A maupun kategori B. begitu seterusnya. Kategori A masuk akal hanya karena ia bukan kategori B. bisa disejajarkan dengan oposisi biner alam yang kejam dan alam yang tenang (abstrak). dan berfungsi untuk menstrukturkan persepsi kita terhadap alam natural dan dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan dan makna. Keberadaan mereka ditentukan oleh ketidakberadaan yang lain. Proses transisi metafor dari sesuatu yang abstrak dalam sesuatu yang kongkret ini dinamakan Strauss sebagai 'the logic of concrete'. hanya ada dua tanda atau kata yang hanya punya arti jika masing-masing beroposisi dengan yang lain. Strauss juga menyebutkan konsep dasar dari oposisi biner yaitu 'the second stage of the sense-making process': penggunaan kategorikategori sesuatu yang hanya eksis di dunia alamiah (sesuatu yang kongkret) untuk menjelaskan kategori-kategori konsep kultural yang abstrak. Dalam sistem biner. Misalnya dalam sistem biner laki-laki dan perempuan dan laki-laki. dan bisa ditransfor-masikan dalam sistem-sistem oposisi biner yang lain. yang bisa disebut dengan atau ‘kategori ambigu’ atau 'kategori skandal' (Strauss lebih senang menyebutnya dengan 'anomalous category‘. dan bahkan tidak akan ada kategori A. Tanpa kategori B. dan dengan memakai pengkategorian itulah. kita mengatur pemahaman dunia di luar kita. daratan dan lautan. Contoh sederhana dari konsep ini misalnya diberikan oleh John Fiske (1994): konsep oposisi biner angin badai dan angin tenang (kongkret) misalnya. Ia adalah produk dari sistem penandaan. sesuatu itu disebut daratan karena ia bukan lautan. Secara struktur oposisi biner berhubungan satu dengan yang lain.‘Kategori anomali’ ini muncul dan mengganggu 22 . atau antara anak-anak dan orang dewasa. Oposisi biner adalah produk dari 'budaya'.

hantu. Kata tidak lagi dapat dianggap sebagai satuan linguistik paling dasar karena yang terkecil adalah fonem (satuan) bunyi yang terkecil dan berbeda. Antara orang hidup dan orang mati ada sesuatu yang disebut vampir. ada pantai. remaja. Karena dalam proses transformasi tidak sepenuhnya berubah. Antara laki-laki dan perempuan ada gay/lesbian/banci. Diantara mereka yang sangat berpengaruh 23 . perlu disampaikan konsep bahasa menurut para ahli linguistik yang mempengaruhi lahirnya teori ini. Sebagaimana sudah disebutkan di atas bahwa terbentuknya struktur merupakan akibat dari adanya relasi-relasi dari beberapa elemen. Struktur terbagi dua. Pemahaman kita akan adanya struktur dalam setiap benda atau aktivitas manusia memudahkan identivikasi benda atau aktivitas tersebut.sistem oposisi biner. Perbedaan “t” dan “th” inilah yang disebut fonem (Nikolai Troubetzkoi). Hanya bagian-bagian tertentu saja dari suatu struktur yang mengalami perubahan sedangkan elemen-elemen yang lama masih ada. Hal yang perlu diperhatikan dalam Strukturalisme adalah adanya perubahan pada struktur tersebut. Pantai. ada posisi remaja. Oleh karena itu struktur juga oleh Levi-Strauss diartikan sebagai relations of relations atau system of relation (sistim relasi). Agar pemahaman mengenai teori strukturalisme LeviStrauss lebih baik. Perubahan yang terjadi dalam suatu struktur disebut dengan transformasi (transformation). sebagai contoh: kutuk dan kuthuk (Jawa). Transformasi adalah perubahan bahasa pada struktur luar. atau gay/lesbian/banci adalah 'kategori anomali'. Antara anak-anak dan orang dewasa. Antara daratan dan lautan. zombi. Transformasi harus dibedakan dari kata perubahan yang berarti change. Sedangkan struktur batin/dalam (deep structure): adalah susunan tertentu yg dibangun atas struktur lahir yg telah berhasil dibuat. yaitu: Struktur permukaan/luar (surface structure): adalah relasi-relasi antar unsur yg dapat dibuat atau dibangun berdasarkan ciri-ciri empiris dari relasi tersebut. tapi pada struktur dalam tetap sama. Fonem adalah konsep linguistik bukan konsep psikologis. vampir/hantu/zombi. Ia mengotori kejernihan batas-batas oposisi biner.

dan menurut dia secara psikologis pikiran kita terlepas dari perwudjudannya dalam kata-kata sebenarnya hanyalah “Shapeless and indistinct mass”. Para Ahli bahasa yang berpengaruh pada pemikiran Levi Strauss Berikut ini adalah para pakar bahasa yang mempengaruhi Levi Strauss dalam proses pengembangan teori Struktulaisme. C. Terobosan pemikiran de Saussure dimulai pada pemikirannya mengenai hakekat gejala bahasa. Yaitu. wajar jika de Saussure dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh terhadap teori Strukturalisme. Ada lima pandangan de Saussure yang mempengaruhi Levi-Strauss dalam memandang bahasa. Ferdinan de Saussure. Signifier dan signified.terhadap pandangan Levi-Strauss adalah. Sebagai penemu konsep linguistik modern. Roman Jakobson dan Nikolay Trobetzkoy. 1978 dalam Ahimsa 2006). De Saussure berpendapat bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda linguistik atau tanda kebahasaan (linguistic sign). 1. Pemikiran ini kemudian melahirkan konsep struktural dalam bahasa dan juga semiologi atau yang sekarang disebut dengan semiotik (Ahimsa. Gagasan terbesar de Saussure adalah pada teori umum sistem tanda (general theory of sign system) yang disebutnya dengan ilmu Semiologi (Semiology) (Winfried Noth. 2006). a. 56). Signified (tinanda) dan signifier (penanda). 1995. Bahasa adalah suatu sistem tanda (sign). (Levi-Strauss. Bagi Saussure ide-ide tidak ada sebelum kata-kata. Ferdinand de Saussure Ferdinand de Saussure (1857-1913) merupakan penemu linguistik modern (Modern Linguistics). yang wujudnya tidak lain adalah kata-kata. 24 . Dari ketiga pemikir linguistik ini. Levi-Strauss memiliki keyakinan bahwa studi sosial bisa dilakukan dengan model linguistik yaitu yang bersifat struktural.

sesuatu yang tak berbentuk dan tak mengenal perbedaan-perbedaan atau tak bisa dibeda-bedakan. Kiasan yang sering digunakan untuk menggambarkan kedudukan wadah (form) dan isi adalah pergantian salah satu fungsi dari komponen permainan catur. Untuk menjelaskan konsep ini memang agak sulit. 35). Meskipun komponen “kuda” hilang seumpamanya. 25 . Langue (bahasa) dan parole (ujaran. Suatu benda yang ditempatkan pada posisi “kuda”. walaupun penanda dan tinanda tampak sebagai entitas yang terpisahpisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen dari tanda. 19 dalam Ahimsya. Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (signifier). tuturan). Fungsi “kuda” ini masih bisa digantukan dengan benda lain yang mirip atau tidak sama sekali dengan bentuk asli “kuda” yang digantikan. meskipun dengan bentuk yang lain dari kuda itu tetap bisa menggantikan fungsi kuda yang digantikan tersebut. Setiap tanda kebahasaan pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citra suara (sound image). Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa (Culler. bukan menyatukan sesuatu dengan sebuah nama. Wadah atau form adalah sesuatu yang tidak berubah. akan tetap memiliki fungsi dan kedudukan yang sama dengan “kuda” yang hilang itu. isi boleh saja berganti tetapi makna dari wadah masih tetap berfungsi. Form (bentuk) dan content (isi). 2006 h. Dalam konsep ini. 2. Tanda adalah juga kesatuan dari suatu bentuk penanda yang disebut signifier. 1976. Jadi benda apapun selama kita tempatkan dam posisi “kuda”. 3. dengan sebuah ide atau tinanda yang disebut signified. sedang konsepnya adalah tinanda (signified).

Inilah kenapa langue membicarakan juga aspek sosial dalam linguistik. via Ahimsa. 2006. Tuturan ini marupakan apa yang terwujud ketika kita mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang kita pergunakan. 2006. Namun demikian. aturan-aturan antarperson yang tidak disadari tetapi ada pada setiap pemakai bahasa. Dari pengertian inilah akhirnya dapat dipahami bahwa untuk mempelalajari bahasa diperlukan pemahaman terhadap relasi-relasi atas elemen-elemen yang bersifat sinkronis. Dalam langue terdapat norma-norma. Karena tida semua fakta-fakta kebahasaan itu memiliki sejarah. Sinkronis dan diakronis De Saussure meyakini akan adanya proses perubahan bahasa. 26 . via Ahimsa. Dengan kata lain tuturan yang membedakan kita dengan orang lain melalui gaya bahasa. de Saussure masih saja menekankan bahasa pada proses sinkronis. dan fakta-fakta kebahsaan yang mengalami evolosi (Culler.Pembahasan de Saussure bukan hanya fokus pada aspek bahasa semata tetapi juga aspek sosial dari bahasa. 4. Karena sifatnya yang evolutif maka tanda kebahasaan sepenuhnya tunduk pada proses sejarah. 46). Komsep langue merupakan aspek yang memungkinan manusia berkomunikasi dengan sesama. ia bisa mencerminkan kebebasan pribadi seseorang. Hal ini dikarenakan tanda itu sebagi suatu entitas yang bersifat relasional atau dalam relasi-relasi dengan tanda-tanda lain. Oleh karena itu keadaan ini menuntut adanya perbedaan yang jelas antara fakta-fakta kebahasasan sebagai sebuah sistem. 1976. 1966. Disisi lain parole merupakan tuturan yang bersifat individu. 47). kesimpulannya bahasa diartikan sebagai “a system of pure values whcih are determined by nothing except the momentary arrangement of its terms” (Ferdinand de Saussure.

Karena seperti kata “memetik” tentu tidak bisa digabungkan dengan kata “mengalir”. 1995. Koch (1981. Penggabungan kata ini tidak terjadi begitu saja. “memetik” dan “bunga”. Sintagmatik dan Paradigmatik. yaitu antara tahun 1914 sampai 1920. Disinilah hubungan sintagmatik dan paradigmatik itu berperan. 47). b. Gabungan kata yang sesuai itu memiliki makna. Konsep yang ditawarkan oleh Roman Jakobson (1896-1982) lebih condong pada para ahli bahasa dari Rusia (Rusian Linguist). Kita memiliki kata yang mau kita gunakan sebagaimana penguasaan bahasa yang kita miliki. Hubungan sintagmatik dan paradigmatik terdapat dalam kata-kata sebagai rangkaian bunyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep (Ahimsa. 2006. periode formalist. tetapi dipertimbangkan konvensi bahasa yang sudah ada.5. Roman Jakobson Meskipun Jakobson terlahir setelah de Saussure. Hubungan sintagmatik adalah hubungan yang dimiliki sebuah kata dengan kata-kata yang dapat berada di depannya atau di belakangnya dalam sebuah kalimat. ia dikenal sebagai pengembang Semiotika Klasik. Atau gabungan kata “bunga mengalir” gabungan ini tidak memiliki makna karena tidak sesuai tata bahasa yang umum atau standar. Pada periode ini Jakobson dikenal sebagai pendiri Moscow Linguistic Circle dan juga sebagai anggota kelompok Opoyaz yang sangat 27 . Tetapi menggunakan pertimbangan-pertimbangan akan kata yang akan digunakan. 74) membedakan empat periode perkembangan penelitian mengenai karya-karya Jakobson. Ketiga kata ini bisa digabung menjadi kalimat “saya memetik bunga”. Pertama. Sepeti kata yang terdapat dalam kata “saya”. Dalam kontek ini de Saussure menyatakan bahwa manusia menggunakan kata-kata dalam komunikasi bukan begitu saja terjadi. via Noth.

periode Semiotic. however. Dalam pemikiran Jakobson unsur terkecil dari bahasa adalah bunyi. 52).His (Jacobson’s) lectures. periode stucturalist. antara tahun 1939 sampai 1949... Jakobson merupakan figur yang paling mendominasi dalam Prague School of Linguistics and Aesthetics. Ketiga. Pada periode ini Jakobson bergabung dalam Copenhagen Linguistic Circle (Brondal. 2006. yaitu antara tahun 1920 sampai 1939. periode interdisciplinary yang dimulai pada 1949 yaitu saat ia mulai bekerja di Harvard dan juga MIT mengenai teori informasi dan komunikasi (Informatioan and Comunicatioan Theory). Keempat. Fonem sebagai unsur bahasa terkecil yang membedakan makna. gave me something very different and.” (1985:139). This was the revelation of structural linguistics. need I add.. 52) berikut ini: “. Pemikiran Jakobson berpengaruh besar pada diri Levi-Strauss pada konsepnya mengenai fenomena budaya. matematika dan juga fisika (1982).. 2006). Jakobson memberikan pandangan kepada Levi-Strauss tentang bagaimana memahami atau menangkap tatanan yang ada di balik fenomena budaya yang sangat variatif tersebut (Ahimsa. “Kutuk” mengacu pada nama sejenis ikan gabus sedangkan “kuthuk” adalah anak ayam (Ahimsa. Dengan demikian kata diartikan sebagai satuan bunyi yang terkecil dan berbeda. 28 . Pengaruh yang besar Romand Jakobson disampaikannya sendiri oleh Levi-Strauss sebagaimana dikutib oleh Ahimsa (2006. Perbedaan tulisan antar /t/ dan /th/ mengakibatkan sedikit perbedaan pengucapan tetapi memiliki makna yang jauh berbeda. Contoh kasus yang menujukan peranan penting fonem dapat kita lihat dalam dua kata antara “kutuk” dan “kuthuk” (basa Jawa). Hjelmslev) dan aktif dalam Linguistic Circle of New York. which provided me with a body of coherent ideas where I could crystallize my reveries about the wild flowers I had gazed at somewhere along the Luxembourg border early in May 1940. a great deal more than I had bargained for. Kedua.berpengaruh. meskipun fonem itu sendiri tidak bermakna.

Ahimsya. sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lian. dan ini dilakukan dengan mengetahui ciri-ciri pembeda (distinctive features) dari suatu suara yang memisahkannya dengan ciriciri suara yang lain. d. Menentukan perbedaan. yakni perbedaan-perbedaan antartanda yang masih dapat saling menggantikan(Pettit. 55). b. Jakobson yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis. 2006).Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa fonem terbentuk karena adanya relasi-relasi. Memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah. Jadi sebenarnya fonem tidak akan bermakna atau tidak memiliki isi. Nikolai Troubetzkoy 29 . yang hakiki dari sebuah fonem adalah relasi karena dengan begitu sebuah fonem baru memiliki fungsi yang jelas. Langkah-langkah struktural terhadap fonem yang dilakukan oleh Jakobson adalah. c. h.perbedaan antartanda yang penting secara paradigmatis. Merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah-istilah kebahasaan mana dengan distinctive features yang mana yang dapat berkombinasi dengan tanda-tanda kebahasaan tertentu lainya. unit-unit yang bermakna. c. Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada tidaknya ciri pembeda dalam tanda-tanda tersebut. a. dan realsi-relasi ini muncul karean adanya oposisi. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Jakobson mempengaruhi Levi-Strauss pada tataran tatanan (susunan/order) yang ada di balik fenomena budaya (Ahimsa. 11. 1977. Mencari distinctive feature (ciri pembeda) yang membedakan tandatanda kebahasaan satu dengan yang lain.

4. dan menjadikannya sebagai dasar analisisnya. Jadi fonem tidak dikenal oleh pengguna suatu bahasa. tetapi dia harus. (Ahimsa. Artinya. 3. strategi analisis dalam fonogi haruslah struktural. Toubetzkoy menyarankan agar perhatian pada fenomena fonem sebagai sebuah konsep linguistik. ciri-ciri pembeda. 59). karena relasi-relasi antar ciri-ciri pembeda dalam fonemlah yang menjadi pusat perhatian (Ahimsa. Beralih dari tataran yang disadari ke tataran nirsadar. fonem sebagai sebuah konsep atau ide berasal dari para ahli bahasa. 2006. 1. Karena itu sebaiknya para peneliti memperhatikan distinctive feature. Memperlihatkan sistem-sisitem fonemis. Selanjutnya dia perlu. Memperhatikan relasi-relasi antar istilah atau antar fonem tersebut. Harus berupaya merumuskan hukum-hukum tentang gejala kebahasaan yang mereka teliti. dan bukan ide yang diambil dari pengatahuan pemakai bahasa tertentu yang diteliti. Dengan kata lain. kecuali ahli fonologi dari kalangan mereka atau mereka yang pernah belajar lingusitik. d. 2. Pada tataran ini seorang ahli fonologi tidak lagi memperlakukan istilah-istilah (terms) atau fonem-fonem sebagai entitas yang berdiri sendiri. strukturalisme merupakan aliran baru bagi studi antropologi. Strukturalisme bertolak dari studi linguistik (ilmu bahasa). Nikolai berpendapat bahwa fonem adalah sebuah konsep linguistik. dan menampilkan struktur dari sistem tersebut. berbeda dengan pendekatan yang ada dalam fungsionalisme. Asumsi Dasar Strukturalisme Dari pemahaman kita di atas. 2006).Nikolai mempengaruhi Levi-Strauss dalam hal strategi kajian bahasa yang berawal dari konsepsi mengenai fonem. bukan konsep psikologis. 30 . yang memiliki fungsi atau operasional dalam satu bahasa. Langkah analisis struktural dalam fonologi.

3. 68). Mengikuti pandangan dari de Saussure yang berpendapat bahwa suatu istilah ditentukan maknanya oleh relasi-relasinya pada suatu titik waktu tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari apa yang kita dengar dan saksikan adalah perwujudan dari adanya struktur dalam tadi.Marxisme dan lain-lain. untuk menstruktur. pakaian dan sebagianya. seperti halnya suatu kalimat dalam bahasa Indonesia hanyalah wujud dari secuil struktur bahasa Indonesia. Hukum transformasi adalah keterulangan-keterulangan (regularities) yang tampak. 2006. secara formal semuanya dapat dikatakan sebagai bahasabahasa (Lane. 4. (Ahimsa. Relasi-relasi yang ada pada struktur dalam dapat diperas atau disederhanakan lagi menjadi oposisi berpasangan (binary opposition). 1970. dengan istilah-istilah yang lain. Ahimsa (2006. atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya. para penganut strukturalisme berpendapat bahwa relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena-fenomena yang lain pada titik waktu tertentu inilah yang menentukan makna fenomena tersebut. 2. Para penganut Strukturalisme beranggapan bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis sehingga kemampuan ini ada pada semua manusia yang normal. Dalam Strukturalisme ada angapan bahwa upacara-upacara. Suatu struktur hanya mewujud secara parsial (partial) pada suatu gejala. sistemsistem kekerabatan dan perkawinan. akan tetapi perwujudan ini tidak pernah kompolit. 31 . pola tempat tinggal. 13-14 Ahimsya. Yaitu kemampuan untuk structuring. 1. 66-71) menyebutkan bahwa strukturalisme memiliki beberapa asumsi dasar yang berbeda dengan konsep pendekatan lain. melalui mana suatu konfigurasi struktural berganti menjadi konfigurasi struktural yang lain. menyususun suatu struktur. yaitu secara sinkronis. Beberapa asumsi dasar tersebut adalah sebagai berikut. 66).

Disamping itu juga Kebudayaan diyakini memiliki struktur sebagaimana yang terdapat dalam bahasa yang digunakan dalam suatu masyarakat. dalam bahasa ada dua aspek: “penanda” ( signifier) dan “petanda” (signified). dan sebagai “tanda” (sign). juga jika hanya secara analogis. dan tidak terkait dengan objek yang ditunjuk. Dengan metode analisis struktural makna-makna yang ditampilkan dari berbagai fenomena budaya diharapakan akan dapat menjadi lebih utuh. camat dan sebagainya. Kata presiden ada bukan karena kaitan logis internal dengan orang yang menjadi kepala pemerintahan presidensial. Strukturalisme merupakan penerapan analisis bahasa ke wilayah sosial. Menurut perspektif Strukturalis itulah cara tutur kita yang sama sekali tidak menjelaskan apapun. bukannya sebagai seorang “pesinden”. Realitas sosial adalah “teks” atau bahasa. implikasinya cukup jauh. Apa yang utama dalam analisis sosial adalah menemukan “kode tersembunyi” yang ada dibalik gejala 32 . gubernur. Dalam wacana ilmu-ilmu sosial. Ketika diterapkan ke dalam ilmu-ilmu sosial. fenomena budaya pada dasarnya juga dapat ditanggapi dengan cara seperti di atas. Semua bisa dipahami secara otonom di tataran langue (logika-internal penunjuk). Strukturalisme merupakan gerakan pemikiran yang kembali ke bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913). Keempat asumsi dasar ini merupakan ciri utama dalam pendekatan strukturalisme. melainkan karena kaitan dan perbedaannya dengan kata sultan.Sebagai serangkaian tanda-tanda dan simbol-simbol. Dengan demikian dapat kita pahami juga bahwa strukturalisme Levi-Strauss menekankan pada aspek bahasa. Struktur bahasa mencerminkan struktur sosial masyarakat. Semenjak strukturalisme inilah muncul pendapat bahwa bahwa bahasa sebagai sistem tanda bersifat arbiter (arbitrary). Sebagai contoh mengapa SBY disebut sebagai ”presiden”. dan bahasa selalu memiliki dua sisi: bahasa sebagai parole (tuturan percakapan lisan sebagai sisi eksekutif bahasa) dan sebagai langue (sistem tanda atau tata bahasa).

Artinya. ruang. berbeda merupakan identitas itu sendiri. sehingga model-model mengenai hubunganhubungan tersebut nampak berbeda-beda di antara ahli-ahli yang berbeda. Ada dua unsur sentral di situ: sifat sewenang-wenang (arbitrary) dan perbedaan (difference). Jacques Derrida. sebagaimana langue menjadi kunci otonom di balik parole. Penekanan yang telah diberikan adalah pada hubungan-hubungannya yang dilihat secara konseptual. Derrida melihat ‘perbedaan’ bukan hanya sebagai cara menunjuk. melainkan karena perbedaannya dengan kata ‘raja’. yaitu pengebawahan pelaku dan tindakan pelaku. perbedaan kata ‘presiden’ dan ‘camat’ bukan sekedar bahwa ‘presiden’ ialah apa yang ‘bukan camat’. dan proses adalah soal kebetulan. Seperti telah dicontohkan di atas. Berbeda adalah menang-guhkan serta melawan. kata ‘presiden’ terbentuk bukan karena kaitannya dengan seseorang yang menjadi kepala sebuah negara pada waktu-tempat tertentu. melainkan sebagai pembentuk identitas yang bersifat konstitutif. misalnya. ‘gubernur’. ‘camat’ dan sebagainya.kasat mata. Ada paralel antara perspektif strukturalis dan fungsionalis. melainkan bahwa ‘bukan camat’ itu sendiri merupakan pokok eksistensi. yang mempunyai implikasi pada tingkat pembahasan yang mereka lakukan 33 . waktu. Kalau mau mengerti masyarakat kapitalis. e. perspektif ini merupakan “penolakan yang penuh skandal terhadap subjek”. Dalam kritik Giddens. Gejala penyingkiran pelaku tindakan atau subjek (decentering) dalam strukturalisme ini dibawa ke implikasi terjauhnya oleh para penggagas post-strukturalisme. Sejumlah ahli Antropologi menggunakan cara-cara yang berbeda dalam melihat struktur sosial dalam kaitannya dengan agama dan upacara. Tindakan individual dalam ruang dan waktu tertentu hanyalah suatu kebetulan. bidiklah logika-internal kinerja ‘modal’. “Kode tersembunyi” itulah struktur.

Dengan demikian maka juga nampak bahwa masing-masing model tersebut mempunyai relevansi dan validitas yang terbatas sesuai dengan tujuan penggunaannya dalam hal mengkaji hubungan antara struktur sosial di satu pihak dengan agama dan upacara di pihak lainnya. struktur sosial yang merupakan bagian yang terorganisasi dalam kehidupan mereka menjadi dapat dipahami serta masuk akal secara sewajarnya bagi mereka. yang walaupun berbelit-belit tetapi memberikan suatu ketegasan penjelasan mengenai arti kebudayaan dalam kaitannya dengan struktur dan dengan lingkungan yang dihadapi oleh manusia. yaitu dengan berlandaskan pada sistem klasifikasi yang menjadi dasar dan yang ada dalam agama.serta pada tingkat pengertian yang mereka peroleh dengan menggunakan model-model tersebut. Analogi yang berlandaskan pada sistem penggolongan yang dilakukan oleh Hertz dan Cunningham. yang berlandaskan pada konsep-konsepnya mengenai sistem-sistem simbol dan ide yang memberi informasi. Model-model dari Geertz yang berdasarkan pada model bagi dan model dari. yang walaupun masing-masing berbeda dalam hal kedalaman dan luasnya cakupan dari model klasifikasi yang digunakan. dan yang mewujudkan adanya perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan Cunningham memperlihatkan adanya suatu 34 . Hertz melihat bahwa agama berperan terhadap adanya semacam polarisasi dalam kehidupan sosial dari individu maupun bagi seluruh warga masyarakat yang bersangkutan. mitos dan upacara adalah sebagai jalan untuk memahami bagaimana manusia memahami dan menerima hakekat dari kedudukan dan peranannya dalam kehidupan sosial di masyarakatnya. Secara umum dapatlah dikatakan. bahwa masing-masing model yang telah dibahas tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. 2. tetapi pada prinsipnya berlandaskan pada model-model yang sama. Geertz menyatakan bahwa studi mengenai agama.

Levi-Strauss percaya bahwa dengan melalui studi mengenai agama dan mitos akan dapat diperoleh suatu pemahaman mengenai pengertian struktur sosial yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan. agama adalah suatu bagian dari struktur sosial. dapat membantu usaha-usaha mengenai struktur sosial karena mitos selalu berhubungan dengan masyarakat dan berbicara mengenai masyarakat tersebut baik 35 . sebagaimana juga dengan pendahulu-pendahulunya yaitu Durkheim dan RadcliffeBrown. Turner melihat bahwa upacara berperan untuk membuat individu dapat menjadi cocok dengan masyarakatnya dan membuatnya dapat menerima aturan-aturan yang berlaku.prinsip kesadaran kolektif dan primordial yang dilakukan oleh Levi-Strauss dan Victor Turner.keteraturan (order). Pada waktu pegangan yang berisikan aturan-aturan itu diikuti/ditaati oleh manusia. maka sesungguhnya ide-ide yang terletak dibalik aturan-aturan tersebut secara simbolik telah juga diterima. yang walaupun mempunyai landasan model-model sendiri yang sesuai dengan perhatian yang dipunyai masing-masing maka juga telah menghasilkan pengertian-pengertian yang berbedabeda antara yang satu dengan yang lainnya. Levi-Strauss melihat struktur sosial bukan sebagai kenyataan yang dapat diamati. tetapi sebagai model bagi kenyataan. yaitu suatu sistem yang menjadi pegangan bagi manusia pada waktu mereka mengklasifikasi dunia yang mereka hadapi. Dalam perhatiannya mengenai mitos. Levi-Strauss menyatakan bahwa mitos sebagai agama atau sebagai bagian dari agama. Upacara adalah tempat bagi perwujudan ketaatan atas aturan-aturan yang diikuti tersebut dalam bentuk berbagai tindakan yang dapat dilihat sebagai simbol dan metafor. Model ini adalah suatu sistem yang mempunyai kesanggupan untuk memprediksi atau meramalkan dan membuat kenyataan dapat menjadi masuk akal dan dipahami. 3. Menurut Levi-Strauss. Model-model hubungan yang dibuat berdasarkan atas prinsip.

maupun masa yang akan datang. sekarang. agama memainkan peranan yang besar bagi individu-individu yang bersangkutan karena agama menyajikan penjelasan dan bertindak sebagai kerangka 36 . Fungsi-fungsi tersebut antara lain adalah: 1. Sehingga pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan relevansi dari sesuatu keyakinan keagamaan dan upacara yang dilihat sebagai struktur sosial ataupun sebagai corak hubungan yang terwujud antara struktur sosial dengan agama dan upacara. sehingga kedudukan dan peranannya menjadi jelas dan penerimaannya atas berbagai tahap dan keadaan kondisi kehidupan yang dihadapi dan dialaminya dapat diterima secara masuk akal baginya. 2. kebingungan dan jiwa tertekan. Membentuk dan mendukung berlakunya nilai-nilai yang ada dan mendasar dari kebudayaan suatu masyarakat. Salah satu dari peranannya yang jelas terlihat adalah bahwa dalam keadaan kekacauan dan kesukaran. agama mempunyai berbagai fungsi penting yang terwujud dalam berbagai cara yang berbeda dalam kehidupan sosial manusia. Yang sebenarnya patut diperhatikan dalam pengkajian mengenai hubungan antara struktur sosial dengan agama dan upacara adalah dalam hal kaitannya dengan kenyataan-kenyataan sosial dan ekonomi yang ada dalam lingkungan hidup yang dihadapi oleh para pelakunya dalam masyarakat. Agama menyajikan berbagai penjelasan mengenai hakekat kehidupan manusia dan lingkungan serta ruang dan waktu yang dihadapi manusia dan yang dirinya sendiri adalah sebagian dari padanya. yaitu etos dan pandangan hidup. Karena. bukanlah harus dilihat dalam konteks struktur itu sendiri tetapi dalam suatu konteks yang lebih luas dan berlandaskan pada kehidupan yang nyata yang dihadapi oleh para pelaku yang bersangkutan. yang antara lain terwujud dalam penekanannya pada bentukbentuk kelakuan yang wajar dan tepat menurut bidang atau arena sosial yang ada.mengenai masa yang lampau.

data etnografi dan interpretasi. serta hasil analisis dan kesimpulan dari hasil analisis teori tersebut. Keduanya mempunyai peranan yang penting dalam mengko-ordinasi titik temu antara struktur sosial dengan agama dan antara agama dengan kehidupan yang nyata. yaitu dalam rangkuman struktur sosial. Demikian halnya dengan teori Strukturalisme LeviStrauss ini. a). Model-model yang telah dibahas tersebut di atas dapat digunakan secara terseleksi. Sebagai akhir kata. Agama mempunyai peranan untuk menyatukan berbagai faktor dan bidang kehidupan ke dalam suatu pengorganisasian yang menyeluruh. D. yaitu tergantung pada masalah yang hendak dikaji dan kenyataan kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat dimana pengkajian itu hendak dilakukan. 3. yang dimungkinkan oleh adanya peranan dari mitos dan upacara. mitos dan upacara sehingga dapat menemukan dan kemudian menentukan apa yang seharusnya dijelaskan. Begitu juga sebaliknya kalau kita ingin memahami hakekat dan corak dari agama yang diyakini oleh warga suatu masyarakat. a. ) menyebutkan bahwa kritik terhadap perangkat dan metode analisis dapat dibedakan menjadi tiga. Kelemahan dan kelebihan Strukturalisme Levi-Strauss Seberapapun sempurnanya suatu teori. dan didukung dalam suatu masyarakat. Strukturalisme ini mendapat kritik terutama dari para ahli antroplogi itu sendiri. kita dapat mempelajari dan mengkaji agama.sandaran bagi ketentraman dan penghiburan hati dalam keadaan kesukaran dan kekacauan yang dihadapi tersebut. dapatlah dikatakan bahwa untuk dapat memperoleh pemahaman mengenai hakekat dan corak dari struktur sosial. Perangkat dan Metode Analisis Ahimsa (2006. Kritik yang berkenaan dengan teori Strukturalisme Levi-Strauss dapat dilihat pada persoalan perangkat dan metode analisis. dibenarkan. Cara menggunakan 37 . pasti akan terdapat celah-celah kekurangan dan kelemahanya.

menurutnya Levi-Strauss tidak selalu menggunakan konsep analisisnya dengan tepat. 2006). 162). Cara ini sangat kurang tepat untuk menganalisis mitos sebagai produk budaya manusia yang sangat kompolek. Disisi lain ia juga berpendapat bahwa dalam mitos isi dan bentuk tidak bisa dipisahkan (Yalman. Konsistensi prosedur analisis dan c). Ketiga. Levi-Strauss pernah mengatakan bahwa untuk memahami sebuah mitos lebih penting memahami struktur daripada isi cerita. tetapi juga pada tataran semantis yang berarti isinya juga. Menurut para 38 .konsep-konsep analisis. Dalam persoalan ini. Hal ini dikarenakan mitos tidak pernah lepas dari kontek budaya masyarakat setempat dimana lahirnya mitos tersebut. Douglas menyebutkan bahwa Levi-Strauss sering memaksakan datanya agar sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya (Ahimsa. 2006. Douglas menyebut dua reduksionisme yang dilakukan oleh Levi-Strauss yaitu pada model komputer yang dipakainya dan adanya dua tujuan dalam analisis wacana (Ahimsa. Dalam beberapa analisisnya ia tidak hanya menlaah pada tataran sintaksis. 164). b). b. Marry Douglas mengkritik mengenai cara penggunaan konsep-konsep analisis. Namun dalam prakteknya ia tidak melakukan analisis seperti yang digambarkan. Levi-Strauss sering tidak konsisten dengan analisis yang dikembangkan. 1967 dalam Ahimsa. 2006. Cara analisis menggunakan sistem ini akan mengurangi kesempurnaan analisis karena akan mengalami kelemahan makna (a lesser meaning). Levi-Strauss menggunakan cara analisis reductionist (reduksionis). Kedua. Interpretasi Data Etnografi Data etnografi sangat penting dalam menelaah mitos. Levi-Strauss sering membuat kesimpulan-kesimpulan yang dianggap terlalu jauh. Karena ketidaktepatan itu. Strukturalisme Levi-Strauss memiliki beberapa kelemahan. Reduksi dalam proses analisis.

Persoalan terhadap suku ini yang sebenarnya sederhana dan bahkan tidak ada. Kebenaran struktur mitos yang dikemukakan. 168). Pengertian mitos yang cenderung dianggap negatif oleh LeviStrauss ditolak oleh Douglas.antropolog. Ia menyatakan bahwa analisis Strauss justru menutupi realistas kekerabatan yang ada pada suku Indian tersebut. (Ahimsa.L. Douglas beranggapan bahwa masih ada 39 . Kemampuan analisis struktural menuntaskan tafsir yang diberikan. Hasil analisisnya pun masih banyak mendapat kritikan dari berbagai kalangan terutama para ahli antropologi. oleh Strauss dipaksakan sesuai apa yang menjadi konsepsinya. Adam (1974) mengkritik mengenai hasil analisis Strukturalisme Levi-Strauss terhadap suku Asdiwal. Ahimsa (2006) menyatakan bahwa hasil analisis kritik dapat dibedakan dalam beberapa hal. Bukan sekedar metode dan data etnogarfi yang nampaknya dipersoalkan dalam Strukturalisme Levi-Strauss. Bahkan analsisnya dianggap mengalami kesalahrepresentasi-an. L. a). b). 2006. Alice Kassakoff (1974) ahli antropologi ini melakukan penelitian suku Indian Tsimshian yang telah dianalisis oleh teori Strukturalisme Levi-Strauss ini. JZ. Thomas. seperti Alice Kassakoff dan John W. Ketiganya menyimpulkan bahwa analisis Strukturalisme Levi-Strauss dianggap penuh dengan generalisasi-generalisasi etnografi yang sangat diragukan kebenarannya. c. Menurut Adam gagasan Levi-Strauss terhadap suku ini terlalu diada-adakan. Kronenfeld dan DB. Justru dengan tindakan seperti inilah teori ini kridibilitasnya masih perlu untuk disangsikan. Hasil Analisis. Lain lagi dengan pendapat Alice. (misrepresentasions of story). Adam keakuratan data etnografi yang disampaikan Levi-Strauss belum seutuhnya mendukung dari apa yang disampaikan. Pendapat ini juga didukung oleh tiga ahli antropologi lain yakni. Kronenfeld.

“Instead of more and richer depths of understanding. tentunya banyak hal yang dapat menjadi kelebihan dari teori ini. Maka wajar kiranya banyak yang menghujat sekaligus memuja teori ini. 1967 dalam Ahimsa. Selanjutnya Douglas menyatakan bahwa makna mengenai mitos yang dikemukakan oleh Levi-Strauss dianggap biasabiasa saja dengan istilah lain tidak begitu penting. Maybury-Lewis (1970) menyatakan bahwa banyak hal yang berhasil membuka perspektif-perspektif baru dalam analisis mitos yang telah dilakukan oleh Levi-Strauss. ( Douglas. Beberapa Tanggapan Betapapun banyaknya kekurangan dan kelemahan yang terdapat dalam Strukturalisme Levi-Strauss. Banyak manfaat yang kita dapatkan dari teori Strukturalisme LeviStrauss ini. karena kita menyadari juga bahwa teori ini masih baru dalam bidang antropologi. Hal yang demikian ini terjadi karena Levi-Strauss terlalu banyak mencontoh model yang diterapkan dalam ilmu bahasa (linguistik) yang menurut Douglas tidak cocok jika diterapkan dalam analisis mitos. Douglas yang sebelumnya banyak melakukan kritik. 170).aspek-aspek positif mengenai makna mitos. we get a surprise. d. 20006. Tema-tema mitos yang terdapat dalam suatu masyarakat masih banyak yang mengungkap realitas sosial yang positif. Metoda ini justru dianggap mengalami kebocoran seperti yang diistilahkan Ahimsa dalam tulisannya. Metode analisis yang dilakukan oleh Levi-Strauss dalam analisis mitos menggunakan model analisis puisi denganggap tidak tepat. sehingga tentunya masih banyak penyesuaian dan pendalaman (penyempurnaan). a totally new theme. and often a paltry one at that”. ternyata masih mengakui beberapa kemanfaatan dari 40 .

Dan inilah yang menunjukan pada kita akan keterkaitan mitos dan budaya masyarakat yang terdapat dalam mitos tersebut. struktur dan koherensi logis dalam mitos. Masuk akal. Bahkan apa yang digagas oleh Levi-Strauss melalui metode struktural ini dapat dikatakan banyak benarnya. 2006. makna-makna yang sangat dalam. E. 176).Strukturalisme Levi-Strauss ini. menarik dan mampu memberikan wawasan atau wacana tentang mitos yang sangat penting itu. yang tidak terduga dan menarik. Secara umum dapat disimpulkan bahwa meskipun para ahli antropologi melakukan kritik terhadap teori Strukturalisme Levi-Strauss mereka masih mengakui beberapa keunggulan atau manfaat dari jerih payah Levi-Strauss. Ia menyatakan teori ini telah mampu mengungkapkan acuan-acuan tertentu. Teori muncul sebagai kritik atas kegagalan filsafat Eksistensialisme yang gagal dalam memahami realitas sosial pada kehidupan kelompok manusia. Penutup Dari uraian diatas terbukti bahwa Strukturalisme Levi-Strauss berasal dari teori Antropologi yang analisisnya oleh bagaimana ahli bahasa memahami struktur dalam komponen bahasa. dari serangkaian mitos-mitos tertentu (via Ahmisa. Yalman (1967) menyebutkan bahwa berkat jasa yang dilakukan oleh Levi-Strauss kita mengetahui keterkaitan antara mitos yang satu dengan yang lain. Ada susunan. Terpengaruh oleh ahli-ahli bahasa yang sebelumnya sangat marak dalam kehidupan ilmiah di Prancis. Stauss ketika berkesempatan melakukan penelitian tearhadap suku-suku terasing di lembah Amazon Brazil. Strauss yang meninggal pada akhir tahun 2009 di akui sebagai Antropolog/Sosiolog yang sangat terkemuka. karena teorinya selalu dirujuk oleh 41 . berhasil menemukan Teori Stukturalisme yang akhirnya sangat mempengaruhi perkembangan ilmu-ilmu sosial termansuk Sosiologi baik di Eropa maupun di Amerika dan bahkan di negara-negara lain termansuk Indonesia.

2006. Nalar Jawa. 1998c. 2005. 1998a. H. Teori Strukturalisme masih terus relevan sampai berumur satu abad walaupun penemunya Levi-Strauss sudah tiada.. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S.S. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. ___________. DAFTAR PUSTAKA Abdullah.para pakar pakar ilmu-ilmu sosial dan analisisnya diakui sebagai analisis yang cemerlang. Ahimsa-Putra. “Lévi-Strauss. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. T. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. Yogyakarta : LKIS. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. kepel Press. ___________. ___________. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. Kalam 6 : 124-143. Tesis Pascasarjana Antropologi. 1997. Shri. Makalah seminar. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng42 . ___________. 1995. Makalah seminar. sehingga para intelektual berhasil memahami kehidupan sosial. Dengan analisis ini pemahaman tentang struktur. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. Kawin Bedil dan Sobrat. baik yang berupa realitas maupun yang tersembunyi. Universitas Gadjah Mada. 1994. ___________. ___________. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. relasi sosial dan peran struktur dalam mewarnai prilaku individu dalam kehidupan sosial menjadi lebih jelas. 1984. Orang-Orang PKI. Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra. Makalah seminar Arkeologi. Paz. Basis XXXIII (4) : 122-135. Ahimsa-Putra. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. H. 1998b. O. Yogyakarta.

Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. Satwa. Yogyakarta : Galang Press. Salam (ed). 1999c. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. Rahayu S. ___________. ___________. 2002e. Humaniora XV (3) : 239 – 264. Tiga Dasawarsa. 2002c. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. September – Desember. Yogyakarta : Insight Reference. Makalah Sarasehan. ___________. ___________. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. 1999a. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. Roland Barthes : dari Strukturalisme Strukturalisme. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. 2006a. 2002d. ___________. Dua Paradigma. Makalah Pelatihan. Mitos dan Karya Sastra. ___________. A. Makalah seminar. ___________. Robby H. Makalah diskusi. Badcock. ___________. 1999b.I : 10 – 19. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. ___________. Humaniora 12 : 1 – 13. (ed). Tembi 1 Thn. 2005. Terj. ___________. ke Post- ___________. C. 2001. ___________. Satu Model. Makalah dalam bedah buku. 2002b. ___________. ___________. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2002a. Jakarta : UI Press. Abror. Strukturalisme Lévi-Strauss. 43 . “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. 2000a. Gerbang 5 (2) : 88 – 97. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. Mitos dan Nalar Primitif. 2000b. Totem. Makalah bedah buku. Makalah seminar. 2003.

Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. 2006b. Ngaju. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. 2007). 1995. T. Longman. Ngawa. 2008b. Pustaka Pelajar. 2006d. Ahimsa-Putra (ed. Sawerigading. Kepel Press : Yogyakarta. 1999. Ritus Penandaan. H.. 1958. Jakarta : Rajagrafindo Persada.___________. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasi-relasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. Winfried. Makalah seminar nasional. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya BugisMakassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya BugisMakassar.). 2006e. Metodologi dan Etnografi. Mitos dan Karya Sastra. New York.). Yogyakarta. David. 2006c. Edisi Baru. Claude. Makalah seminar. dkk. D. Strukturalisme Lévi-Strauss. Antropologi Struktural. Sussex. Liwa : Analisis Strukturalisme LéviStrauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Bloomington and Indianapolis. 2007b. Nasrulah. Yogyakarta.. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. Kreasi Wacana. Structural Anthropology. Strauss. 2007a. ___________. The Penguin Press. Ritus Pertukaran”. Critical Approaches to Literature. Selden. Makalah bedah buku. 1981.W. ___________. Hand Book of Semiotics. David. ___________. Allen. Lane. 1998. Ngambu. Raman. Abdullah (ed.S. Kaplan. The Harvester Press Limited. ___________. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. Teori Sastra Abad Kedua Puluh (Theories of Literature in the Twentieth Century). ___________. ___________. Tesis Pascasarjana Antropologi. Indiana university Press. Anthropologie Structurale (Terj. 1968. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. A Reader Guide to Contemporary Literary Work. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. Daiches. 2008. 44 . 2008a. Jakarta. ___________. 1985. Universitas Gadjah Mada. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. Levi. Noth. Yogyakarta : Kepel Press. The Theory of Culture (Teori Budaya). Fokkema. Gramedia.

1958. Oxford : Oxford University Press. Yogyakarta. Berkenalan dengan Poststrukturalisme oleh : easternwriter Pengarang : Jacques Derrida. For the best results. D. Oxford : Oxford University Press. 1979. Sturrock (ed. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Claude. “Introduction” dalam Structuralism and Since : From LéviStrauss to Derrida.). Sperber. Sturrock. Sturrock (ed. J. J. click here! • • • • Daftarkan diri Apakah Shvoong itu? Masuk Write & earn Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong. Pengantar singkat wacana post strukturalisme dalam kesusasteraanStrukturalisme dibangun atas prinsip Saussure* bahwa bahasa sebagai sebuah sistem 45 .Strauss. Ferdinand de Saussure • • • • Summary rating: 3 stars (15 Tinjauan) Kunjungan : 2286 kata:600 You searched for: "strukturalisme". Kreasi Wacana. J. Antropologi Struktural.). 1979. Anthropologie Structurale (Terj. Roland Barthes. 2007). Erdward Said. Levi.

Derrida menekankan “logosentrime” (berpusat pada logos) pemikiran barat bahwa makna dipahami sebagai independensi bahasa yang dikomunikasikan dan tidak tunduk pada permainan bahasa. mengenalkan aspek sesaat ke dalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified. merusak logonsentrisme dengan menyatakan bahwa makna tak pernah dapat mewakili seluruhnya karena makna tersebut selalu ditangguhkan. yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa. Derrida percaya bahwa penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung ke dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking). Derrida menyerang pandangan logosentrisme dan menilai bahwa tulisan merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi. dilihat sebagai bagian yang kurang penting. Derrida menilai bahwa Saussure tak dapat membebaskan dirinya dari pandangan logosentris. Praktik “dekonstruksi ”**-nya ini berdasar pada teks yang dia teliti yang berpengaruh besar pada kritik 46 . Dalam tulisan.Perumusan dasar “differance” Derrida disusun dengan mempermainkan pada kata perancis ‘difference’. Selain itu. penanda selalu produktif.tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). berpikir sementara menjadi hal yang utama. yang dapat berarti ‘pertentangan’ dan “penundaan”. Derrida sepakat dengan Saussure bahwa bahasa merupakan produk yang berbeda antar penanda.Tokoh utama yang paling berpengaruh pada era kritik sastra post-strukturalis adalah seorang filsuf perancis Jacques Derrida. Dalam pemikiran post strukturalis. buah karya pemikiran psikoanalis Jacques Lacan dan ahli teori kebudayaan Michael Foucault juga berperan penting dalam kemunculan post strukturalisme tersebut. tapi dia berpikir melampaui Saussure dalam menegaskan bahwa dimensi sesaat (temporal dimension) tak dapat ditinggalkan. sejak ia mengunggulkan bahasa di atas tulisan. Aspek diakronis bahasa.

Teoritikus terkemuka Yale adalah Paul de Man yang berpendapat bahwa teks sastra telah tergabung dengan “pertentangan” Derrida. De Man berpendapat bahwa sastra digabungkan oleh permainan (play) yang tak dapat ditentukan secara gramatikal dan retoris dalam teks dan tidak dengan pertimbangan estetis. Edward W Said menerima pandangan post strukturalis tapi menolak pada apa yang dia lihatnya sebagai pendekatan tekstual sempit ala Derrida. sangat berpengaruh dalam teori kritik sastra. khususnya di kalangan kritikus yang tinggal di Yale. misalnya pada New Criticsm. 47 . mengadopsi sebuah pandangan tekstual bahasa dan makna secara radikal dan dengan jelas menunjukkan perannya dalam post strukturalis. Dia berpendapaat bahwa karya Foucault memungkinkan kritik sastra melampaui dimensi sosial dan politis teks. Sign.Essay Roland Barthes. 2008 23 45Moho n ringkasa n ini dinilai : ilai :1 Link yang relevan : • http://sulhanudin. Diterbitkan di: Januari 04.sastra.. and Play in the Discourse of the Human Sciences” . pertama kali disampaikan di John Hopkins University pada tahun 1966. De Man berpendapat bahwa ada devisi radikal dalam teks sastra antara gramatikal atau struktur logika bahasa dan aspek retorisnya. Pemikiran post strukturalis juga berkembang di di Amerika pada tahun 1970-an.Essainya yang berjudul “Structure. atau disebut para dekonstrusionis Yale.info/2006/01/berkenalan-dengan-poststrukturali .. Hal ini menciptakan sebuah signifikansi (penandaan) dalam teks sastra yang pada akhirnya tak dapat ditentukan. “The Death of the Author” pertama kali dipublikasikan pada tahun 1968.

• • • • • • • • • Sastra. Dalam.blogspot. Dapat. Bahwa.You searched for: "strukturalisme". Pada. click here! • Kutipan • Dan.com/ Mengolah Kemelayuan di Asia Tenggara Mari Membaca Isi (Ratusan) Novel Sastra Indonesia! Kritik Sastra Indonesia dari Australia Dua “Kiblat” dalam Sastra Indonesia Lainnya tentang Ilmu Sosial • • • • • • PRRI. Bahasa. For the best results. Derrida. Post Buat kutipan untuk ringkasan ini Tambahkan komentar Anda Terjemahkan Kirim Link Cetak Share Orang yang membaca ringkasan ini juga membaca: • • • • • • PERS NASIONAL. Perjuangan Koreksi Keakbaran Penyair Tongkat-Baudelaire Bagaimana Kita Menilai PRRI? Renungan 61 Tahun Republik Proklamasi Intelektual Minang Provinsi Minangkabau Sajak "Malaikat" Saeful Badar Yang Tetap Hadir 48 . TIDAK CUKUP DENGAN MITOS http://helaby-boys. Dengan.

Paling populer Ringkasan lain oleh easternwriter • • • • • Menulis adalah Jalan Hidupku Petualangan Celana Dalam: Tren awam menulis sastra Opera Zaman: Perlukah Faktualitas dalam Cerpen Tetralogi Laskar Pelangi: Andrea Tak Melawan Pasar Pengakuan Korban NII (1) More Berikut Yang paling banyak dicari • • • • • • • • • • • • • • • tips bisnis kesehatan uang wanita cinta trik jantung pria 2012 berita blog Seks dunia kiamat Tulis dan dapatkan bayaran 49 .

.

Strukturalisme dan Implikasinya
8Oct2008 Filed under: Epistemology, Paradigm and Perspective, Philosophers, Philosophy, Postmodern Author: Arif

Pengantar Strukturalisme merupakan suatu gerakan pemikiran filsafat yang mempunyai pokok pikiran bahwa semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai suatu struktur yang sama dan tetap. Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual obyek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan. Strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur inti dari suatu obyek (hirarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat) (Bagus, 1996: 1040) Gagasan-gagasan strukturalisme juga mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi interdisipliner tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu alam. Akan tetapi introduksi metode struktural dalam bermacam bidang pengetahuan menimbulkan upaya yang sia-sia untuk mengangkat strukturalisme pada status sistem filosofis. (Bagus, 1996: 1040) Ferdinand de Saussure Untuk mengenal lebih lanjut tentang strukturalisme maka ada baiknya untuk menyimak pemikiran Ferdinand de Saussure yang banyak disebut orang sebagai bapak strukturalisme, walaupun bukan orang pertama yang mengungkapkan strukturalisme. Banyak hal yang menunjukkan Ferdinand de Saussure adalah bapak strukturalisme. Selain ia sebagai bapak strukturalisme ia juga sebagai bapak linguistik yang ditunjukkan dengan mengadakan perubahan besar-besaran di bidang lingustik. Ia yang pertama kali merumuskan secara sistematis cara menganalisa bahasa, yang juga dapat dipergunakan untuk menganalisa sistem tanda atau simbol dalam kehidupan masyarakat, dengan menggunakan analisis struktural. Ia mengatakan bahwa linguistik adalah ilmu yang mandiri, karena bahan penelitiannya, yaitu bahasa, juga bersifat otonom. Bahasa adalah sistem tanda yang paling lengkap. Menurutnya ada kemiskinan dalam sistem tanda lainnya, sehingga untuk masuk ke dalam analisis semiotik, sering digunakan pola ilmu bahasa. De Saussure mengatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang mengungkapkan gagasan, dengan demikian dapat dibandingkan dengan tulisan,
50

abjad orang-orang bisu tuli, upacara simbolik, bentuk sopan santun, tanda-tanda kemiliteran dan lain sebagainya. Bahasa hanyalah yang paling penting dari sistemsistem ini. Jadi kita dapat menanamkan benih suatu ilmu yang mempelajari tandatanda di tengah-tengah kehidupan kemasyarakatan; ia akan menjadi bagian dari psikologi umum, yang nantinya dinamakan oleh de saussure sebagai semiologi. Ilmu ini akan mengajarkan kepada kita, terdiri dari apa saja tanda-tanda itu, kaidah mana yang mengaturnya. Karena ilmu ini belum ada, maka kita belum dapat mengatakan bagaimana ilmu ini, tetapi ia berhak hadir, tempatnya telah ditentukan lebih dahulu. Linguistik hanyalah sebahagian dari ilmu umum itu, kaidah-kaidah yang digunakan dalam semiologi akan dapat digunakan dalam linguistik dan dengan demikian linguistik akan terikat pada suatu bidang tertentu dalam keseluruhan fakta manusia. Gagasan yang paling mendasar dari de Saussure adalah sebagai berikut: 1. Diakronis dan sinkronis: penelitian suatu bidang ilmu tidak hanya dapat dilakukan secara diakronis (menurut perkembangannya) melainkan juga secara sinkronis (penelitian dilakukan terhadap unsur-unsur struktur yang sezaman) 2. Langue dan parole: langue adalah penelitian bahasa yang mengandung kaidah-kaidah, telah menjadi milik masyarakat, dan telah menjadi konvensi. Sementara parole adalah penelitian terhadap ujaran yang dihasilkan secara individual. 3. Sintagmatik dan Paradikmatik (asosiatif): sintagmatik adalah hubungan antara unsur yang berurutan (struktur) dan paradikmatik adalah hubungan antara unsur yang hadir dan yang tidak hadir, dan dapat saling menggantikan, bersifat asosiatif (sistem). 4. Penanda dan Petanda: Saussure menampilkan tiga istilah dalam teoi ini, yaitu tanda bahasa (sign), penanda (signifier) dan petanda (signified). Menurutnya setiap tanda bahasa mempunyai dua sisi yang tidak terpisahkan yaitu penanda (imaji bunyi) dan petanda (konsep). Sebagai contoh kalau kita mendengan kata rumah langsung tergambar dalam pikiran kita konsep rumah. Strukturalisme termasuk dalam teori kebudayaan yang idealistik karena strukturalisme mengkaji pikiran-pikiran yang terjadi dalam diri manusia. Strukturalisme menganalisa proses berfikir manusia dari mulai konsep hingga munculnya simbol-simbol atau tanda-tanda (termasuk didalmnya upacaraupacara, tanda-tanda kemiliteran dan sebagainya) sehingga membentuk sistem bahasa. Bahasa yang diungkapkan dalam percakapan sehari-hari juga mengenai proses kehidupan yang ada dalam kehidupan manusia, dianalisa berdasarkan strukturnya melalui petanda dan penanda, langue dan parole, sintagmatik dan paradikmatik serta diakronis dan sinkronis. Semua relaitas sosial dapat dianalisa berdasarkan analisa struktural yang tidak terlepas dari kebahasaan.
51

Dalam memahami kebudayaan kita tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip dasarnya. de Saussure merumuskan setidaknya ada tiga prinsip dasar yang penting dalammemahami kebudayaan, yaitu: 1. Tanda (dalam bahasa) terdiri atas yang menandai (signifiant, signifier, penanda) dan yang ditandai (signifié, signified, petanda). Penanda adalah citra bunyi sedangkan petanda adalah gagasan atau konsep. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya konsep bunyi terdiri atas tiga komponen (1) artikulasi kedua bibir, (2) pelepasan udara yang keluar secara mendadak, dan (3) pita suara yang tidak bergetar. 2. Gagasan penting yang berhubungan dengan tanda menurut Saussure adalah tidak adanya acuan ke realitas obyektif. Tanda tidak mempunyai nomenclature. Untuk memahami makna maka terdapat dua cara, yaitu, pertama, makna tanda ditentukan oleh pertalian antara satu tanda dengan semua tanda lainnya yang digunakan dan cara kedua karena merupakan unsur dari batin manusia, atau terekam sebagai kode dalam ingatan manusia, menentukan bagaimana unsur-unsur realitas obyektif diberikan signifikasi atau kebermaknaan sesuai dengan konsep yang terekam. 3. Permasalahan yang selalu kembali dalam mengkaji masyarakat dan kebudayaan adalah hubungan antara individu dan masyarakat. Untuk bahasa, menurut Saussure ada langue dan parole (bahasa dan tuturan). Langue adalah pengetahuan dan kemampuan bahasa yang bersifat kolektif, yang dihayati bersama oleh semua warga masyarakat; parole adalah perwujudan langue pada individu. Melalui individu direalisasi tuturan yang mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku secara kolektif, karena kalau tidak, komunikasi tidak akan berlangsung secara lancar. Gagasan kebudayaan, baik sebagai sistem kognitif maupun sebagai sistem struktural, bertolak dari anggapan bahwa kebudayaan adalah sistem mental yang mengandung semua hal yang harus diketahui individu agar dapat berperilaku dan bertindakj sedemikian rupa sehingga dapat diterima dan dianggap wajar oleh sesama warga masyarakatnya. Pierre Bourdieu Bourdieu pada awalnya menghasilkan karya-karya yang memaparkan sejumlah pengaruh teoritis, termasuk fungsionalisme, strukturalisme dan eksistensialisme, terutama pengaruh Jean Paul Sartre dan Louis Althusser. Pada tahun 60an ia mulai mengolah pandangan-pandangan tersebut dan membangun suatu teori tentang model masyarakat. Gabungan antara pendekatan teori obyektivis dan teori subyektivis sosial yang dituangkan dalam buku yang berjudul ”outline of a theory of practice” dimana didalamnya ia memiliki posisi yang unik karena berusaha mensintesakan kedua pendekatan metodologi dan epistemologi tersebut.
52

cita rasa atau perasaan (emosi) Sebagai perilaku yang mendarah daging 53 . Kelebihan Bourdieu adalah menghasilkan cara pandang dan metode baru yang mengatasi berbegai pertentangan di antara penjelasan-penjelasan sebelumnya. Atau dengan kata lain habitus dilihat sebagai ”struktur sosial yang diinternalisasikan yang diwujudkan”. Melalui pola-pola itulah aktor memproduksi tindakan mereka dan juga menilainya. Dilain pihak habitus adalah struktur yang terstruktur. Habitus berbeda-beda pada setiap orang tergantung pada wujud posisi seseorang dalam kehidupan sosial. Disatu pihak habitus adalah struktur yang menstruktur artinya habitus adalah sebuah struktur yang menstruktur kehidupan sosial. tidak setiap orang sama kebiasaannya. Terdapat 3 konsep penting dalam pemikiran Bourdieu yaitu Habitus. cenderung mempunyai kebiasaan yang sama. Habitus menjadi konsep penting baginya dalam mendamaikan ide tentang struktur dengan ide tentang praktek. Habitus adalah “struktur mental atau kognitif” yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial.Dalam karyanya ini ia menyerang pemahaman kaum strukturalis yang menciptakan obyektivisme yang menyimpang dengan memposisikan ilmuwan sosial sebagai pengamat. Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh kehidupan sosial. orang yang menduduki posisi yang sama dalam kehidupan sosial. memahami. dan menilai dunia sosial. preferensi. Berikut ini akan dibahas ketiga konsep tersebut dan akan dijelaskan interaksi ketiga konsep ini dalam masyarakat. menyadari. Habitus mencerminkan pembagian obyektif dalam struktur kelas seperti umur. Field dan Modal. kelompok dan kelas sosial. Habitus diperoleh sebagai akibat dari lamanya posisi dalam kehidupan sosial diduduki. yaitu habitus adalah struktur yang distruktur oleh dunia sosial. Ia berusaha mengkonsepkan kebiasaan dalam berbagai cara. Pemikirannya bukan hanya menjawab pertanyaan tentang asal usul dan seluk beluk masyarakat tetapi lebih pada menjawab persoalan-persoalan baru yang diturunkan dari pemikiran-pemikiran terdahulu. Setiap aktor dibekali serangkaian skema atau pola yang diinternalisasikan yang mereka gunakan untuk merasakan. jenis kelamin. Secara dialektis habitus adalah ”produk internalisasi struktur” dunia sosial. Menurutnya pemahaman ini mengabaikan peran pelaku dan tindakan-tindakan praktis dalam kehidupan sosial. dimana seorang individu bereaksi secara efisien dalam semua aspek kehidupan. Habitus lebih didasarkan pada keputusan impulsif. yaitu: • • • Sebagai kecenderungan-kecenderungan empiris untuk bertindak dalam cara-cara yang khusus (gaya hidup) Sebagai motivasi.

• • •

Sebagai suatu pandangan tentang dunia (kosmologi) Sebagai keterampilan dan kemampuan sosial praktis Sebagai aspirasi dan harapan berkaitan dengan perubahan hidup dan jenjang karier.

Habitus membekali seseorang dengan hasrta. Motivasi, pengetahuan, keterampilan, rutinitas dan strategi untuk memproduksi status yang lebih rendah. Bagi Bourdieu keluarga dan sekolah merupakan lembaga penting dalam membentuk kebiasaan yang berbeda. Field bagi Bourdieu lebih bersifat relasional ketimbang struktural. Field adalah jaringan hubungan antar posisi obyektif di dalamnya. Keberadaan hubungan ini terlepas dari kesadaran dan kemauan individu. Field bukanlah interaksi atau ikatan lingkungan bukanlah intersubyektif antara individu. Penghubi posisi mungkin agen individual atau lembaga, dan penghubi posisi ini dikendalikan oleh struktur lingkungan. Bourdieu melihat field sebagai sebuah arena pertarungan. Struktur Field lah yang menyiapkan dan membimbing strategi yang digunakan penghuni posisi tertentu yang mencoba melindungi atau meningkatkan posisi mereka untuk memaksakan prinsip penjenjangan sosial yang paling menguntungkan bagi produk mereka sendiri. Field adalah sejenis pasar kompetisi dimana berbagai jenis modal (ekonomi, kultur, sosial, simbolik) digunakan dan disebarkan. Lingkungan adalah lingkungan politik (kekuasaan) yang sangat penting; hirarki hubungan kekuasaan di dalam lingkungan politik membantu menata semua lingkungan yang lain. Bourdieu menyusun 3 langkah proses untuk menganalisa lingkungan, pertama, menggambarkan keutamaan lingkungan kekuasaan (politik). Langkah kedua, menggambarkan struktur obyektif hubungan antar berbagai posisi di dalam lingkungan tertentu, ketiga, analis harus mencoba menetukan ciri-ciri kebiasaan agen yang menempati berbagai tipe posisi di dalam lingkungan. Dengan kata lain, Field adalah wilayah kehidupan sosial, seperti seni, industri, hukum, pengobatan, politik dan lain sebagainya, dimana para pelakunya berusaha untuk memperoleh kekuasaan dan status. Bourdieu menganggap bahwa modal memainkan peranan yang penting, karena modallah yang memungkinkan orang untuk mengendalikan orang untuk mengendalikan nasibnya sendiri maupun nasib orang lain. Ada 4 modal yang berperan dalam masyarakat yang menentukan kekuasaan sosial dan ketidaksetaraan sosial, pertama modal ekonomis yang menunjukkan sumber ekonomi. Kedua, modal sosial yang berupa hubunganhubungan sosial yang memungkinkan seseorang bermobilisasi demi kepentingan
54

sendiri. Ketiga, modal simbolik yang berasal dari kehormatan dan prestise seseorang. Dan keempat adalah modal budaya yang memiliki beberapa dimensi, yaitu:
• • • • •

Pengetahuan obyektif tentang seni dan budaya Cita rasa budaya (cultural taste) dan preferensi Kualifikasi-kualifikasi formal (seperti gelas-gelar universitas) Kemampuan-kemampuan budayawi dan pengetahuan praktis. Kemampuan untuk dibedakan dan untuk membuat oerbedaan antara yang baik dan buruk.

Modal kultural ini terbentuk selama bertahun-tahun hingga terbatinkan dalam diri seseorang. Setelah dibahas tentang ketiga konsep diatas maka akan dijelaskan hubungan ketiga konsep tersebut. Habitus dan ranah merupakan perangkat konseptual utama yang krusial bagi karya Bourdieu yang ditopang oleh sejumlah ide lain seperti kekuasaan simbolik, strategi dan perbuatan beserta beragan jenis modal. Seperti telah diungkapkan diatas bahwa habitus adalah struktur kognitif yang menghubungkan individu dan realitas sosial. Habitus merupakan struktur subyektif yang terbentuk dari pengalaman individu berhubungan dengan individu lain dalam jaringan struktur obyektif yang ada dalam ruang sosial. Habitus adalah produk sejarah yang terbentuk setelah manusia lahir dan berinteraksi dengan masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu, dengan kata lain habitus adalah hasil pembelajaran lewat pengasuhan, aktivitas bermain, dan juga pendidikan masyarakat. Pembelajaran ini berjalan secara halus sehingga individu tidak menyadari hal ini terjadi pada dirinya, jadi habitus bukan pengetahuan bawaan. Habitus mendasari field yang merupakan jaringan relasi antar posisi-posisi obyektif dalam suatu tatanan sosial yang hadir terpisah dari kesadaran individu. Field semacam hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisiposisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakatyang terbentuk secara spontan. Habitus memungkinkan manusia hidup dalam keseharian mereka secara spontan dan melakukan hubungan dengan pihak-pihak diluar dirinya. Dalam proses interaksi dengan pihak luar tersebut terbentuklah Field. Dalam suatu Field ada pertarungan kekuatan-kekuatan antara individu yang memiliki banyak modal dengan individu yang tidak memiliki modal. Diatas sudah di singgung bahwa modal merupakan sebuah konsentrasi kekuatan, suatu kekuatan spesifik yang beroperasi di dalam field dimana di dalam setiap field
55

menuntut untuk setiap individu untuk memiliki modal gara dapat hidup secara baik dan bertahan di dalamnya. Secara ringkas Bourdieu menyatakan rumusan generatif yang menerangkan praktis sosial dengan rumus setiap relasi sederhana antara individu dan struktur dengan relasi antara habitus dan ranah yang melibatkan modal. Daftar Acuan Bagus, Loren. 1996.”Kamus Filsafat”. Jakarta: Pustakan Gramedia Harker, Richard, Cheelen Mahar, Chris Wilkes. 2005.”(Habitus x Modal) + Praktik: Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu”. Yogyakarta: Jalasutra Lechte, John. 2001.”50 Filusuf Kontmporer: Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas”. Yogyakarta: Kanisius Sutrisno, Mudji, Hendar Putranto. 2006.” Teori-teori Kebudayaan”. Yogyakarta: Kanisius
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

. Pengantar Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada, seperti apa? Di kalangan yang mana? Kalau tidak ada atau kurang terlihat, mengapa? Itulah beberapa pertanyaan yang berusaha dijawab dalam makalah ini. Jawaban-jawaban ini lebih didasarkan pada hasil pengalaman pribadi daripada hasil sebuah penelitian yang serius dan teliti mengenai pengaruh strukturalisme Prancis di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Namun sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ada baiknya saya paparkan terlebih dulu seperti apa strukturalisme Prancis itu, terutama yang diusung oleh Lévi-Strauss, dan mengapa saya memilih menampilkan strukturalisme Lévi-Strauss di sini. Pada musim semi tahun 1981, setahun setelah meninggalnya ahli filsafat Jean Paul Sartre, majalah Prancis Lire mengadakan sebuah jajak pendapat di kalangan intelektual, mahasiswa dan politisi Prancis, dengan pertanyaan, “siapa tiga pemikir berbahasa Perancis yang masih hidup, yang pandangannya – menurut anda – paling berpengaruh terhadap evolusi (perkembangan) pemikiran sastra dan ilmu pengetahuan dan sebagainya ?”. Dari kira-kira 448 jawaban yang masuk, 101 orang menyebut nama Lévi-Strauss, 84 orang menyebut Raymond Aron, 83 orang menyebut Michel Foucault. Nama-nama lain yang juga disebut antara lain adalah Jaques Lacan (51), Simone de Beauvoir (46), dan masih ada lagi beberapa yang lain (Pace, 1986 : 1). Hasil jajak pendapat tersebut mungkin agak mengherankan juga, karena antropologi bukanlah sebuah cabang ilmu yang populer di Prancis, dibandingkan
56

satu persatu dari mereka meninggalkan strukturalisme. seperti post-modernisme atau post-strukturalisme – ini nama-nama yang sebenarnya kurang tepat untuk menyebut sebuah aliran pemikiran – atau semiotika yang kini populer di Barat. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa pemikiran-pemikiran Lévi-Strauss ternyata dipandang begitu berpengaruh oleh kaum intelektual Prancis. Dengan kata lain. aliran pemikiran baru yang muncul setelah strukturalisme. Kedua. 57 . Karikatur ini setidak-tidaknya menunjukkan bahwa di kalangan intelektual Prancis ketika itu. Namun. tetapi – sebagaimana dikatakan oleh Lévi-Strauss sendiri – adalah juga sebuah epistemologi baru dalam ilmu-ilmu sosial-budaya. Keempat. sastra. hasil survei sebuah lembaga Amerika atas kutipan-kutipan (citations) antropologi dari tahun 1969-1977. tidak dapat dipahami dengan baik tanpa memahami strukturalisme. 1979 : 1). Empat orang tersebut adalah Jacques Lacan. Tidak mengherankan. Dengan kata lain. tetapi juga ahli filsafat. dan akhirnya tinggal Lévi-Strauss yang tetap setia menjadi perawat dan pengembang paradigma tersebut. beberapa tahun kemudian. setelah kemunculan strukturalisme ini pandangan-pandangan antropologi kemudian mempengaruhi cabang-cabang ilmu sosial-budaya yang lain seperti sosiologi. setelah dia berkenalan dengan antropologi. yaitu rok yang terbuat dari daun ilalang. sebuah karikatur yang banyak direproduksi muncul dalam majalah-majalah Prancis tentang para strukturalis.dengan di Inggris dan Amerika Serikat. dan sedikit banyak hal itu juga menunjukkan bahwa Lévi-Strauss tidak hanya dipandang sebagai ahli antropologi. walaupun Lévi-Strauss sendiri sudah tidak lagi begitu menyukai filsafat sebagaimana yang dia kenal. dialah seorang penganut strukturalisme tulen. Oleh karena itu strukturalisme Lévi-Strauss tidak hanya penting bagi dan dalam antropologi. Di situ digambarkan empat orang tengah duduk melingkar di bawah pohon tropis dengan mengenakan pakaian suku-suku bangsa yang masih primitif. Michel Foucault dan tentu saja Claude Lévi-Strauss. 1986 : 7). Judul karikatur ini adalah “Le déjeuner des structuralistes”. dibanding tulisan ahli-ahli antropologi yang lain (Pace. Bagaimanapun juga. strukturalisme Lévi-Strauss juga bukan hanya merupakan sebuah teori baru. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa Lévi-Strausslah yang paling yakin dengan manfaat dan kemampuan paradigma struktural untuk digunakan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya. Kelima. tetapi juga penting bagi ilmu-ilmu sosial-budaya lain. Ketiga. atau “makan siang para strukturalis” (Sturrock. menunjukkan bahwa tulisan-tulisan Lévi-Strauss adalah tulisan yang paling banyak dikutip orang. dan filsafat. strukturalisme Lévi-Strausslah yang paling banyak dikenal dan berpengaruh dibandingkan dengan paradigma antropologi yang lain. empat orang itulah yang dikenal sebagai tokoh-tokoh strukturalisme. Rolanda Barthes. Tanpa memahami strukturalisme akan sulit memahami post-strukturalisme atau post-modernisme. kelahiran paradigma-paradigma baru ini tidak dapat dilepaskan dari munculnya strukturalisme itu sendiri.

Dalam Sejarah Teori Antropologi II. sangat dapat dimengerti apabila dari kalangan ahli antropologi tidak ada yang berupaya untuk memperkenalkan secara serius strukturalisme Lévi-Strauss. Prof. akhirnya saya harus kecewa. sedang saya lumayan menyukai teori-teori tersebut karena terasa begitu menantang untuk memahaminya. 2. oleh lebih banyak ilmuwan. karena saya tidak tahu orang lain di Indonesia yang telah membahas pemikiran Lévi-Strauss dengan cukup mendalam sebagaimana yang telah saya lakukan. Claude Lévi-Strauss adalah seorang ahli antropologi yang tetap konsisten menekuni dan mengembangkan paradigma struktural. Koetjaraningrat misalnya. yang mengajar kami teori-teori antropologi. Nico Kalangie. Dr. Saya ingat. dosen-dosen antropologi yang mengajar kami ketika itu juga tidak banyak yang paham dan menaruh minat pada strukturalisme LéviStrauss. Dr. seperti Clifford Geertz. teman-teman saya umumnya tidak menyukai teori-teori dari Lévi-Strauss. James P. Prof. Danandjaja. Koentjaraningrat melontarkan kritik terhadap strukturalisme Lévi-Strauss. Prancis) sama sekali tidak terasa pengaruhnya dalam pemikiran-pemikiran dan analisis mereka tentang gejala sosial-budaya di Indonesia. Sementara itu. Lebih dair itu. Belanda. karena selalu sulit dan tidak biasa. Ilmu Sosial-Budaya Indonesia 1970-1990an : Mengapa Tidak Struktural? Beberapa tahun setelah saya meninggalkan Indonesia untuk mengikuti pendidikan S-3. karena situasi dan kondisi pemikiran dalam 58 . Dr. Antropologi Eropa (Inggris. pada tahun 1994 saya kembali. karena mereka melanjutkan pendidikan pascasarjana mereka di Amerika. Saya berharap ketika itu berbagai pemikiran yang saya kenal dari perkuliahan saya di jurusan Antropologi di Universitas Columbia akan dapat saya temukan di Indonesia. dosen-dosen antropologi yang lain – yang ketika itu belum Professor – seperti Dr. yang menurut saya kritik tersebut sebenarnya kurang tepat. Spradley. ketika saya masih kuliah antropologi di Universitas Indonesia di akhir tahun 1970an. karena aliran ini kurang sejalan dengan kecenderungan teoritis beliau yang lebih positivistik. Oleh karena itu. Ward H. dan sebagainya. sehingga saya dapat segera membangun wacana tentang pemikiran-pemikiran tersebut di negeri sendiri. walaupun mereka itu kemudian tidak mengembangkan aliran pemikiran antropologi tertentu di Indonesia. Goodenough. terasa begitu dipengaruhi oleh ahli-ahli antropologi Amerika. Namun. J.Itulah lima alasan utama mengapa dalam perbincangan tentang strukturalisme ini strukturalisme yang dirintis dan dikembangkan oleh LéviStrausslah yang akan ditampilkan di sini. Budi Santoso. Dengan memperbincangkan tentang strukturalisme ini diharapkan akan muncul ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia yang akan bersedia mengembangkan lebih lanjut kerangka pemikiran tersebut. tidak terlihat menyukai strukturalisme Lévi-Strauss. Sebelumnya saya perlu minta maaf kepada publik jika dalam tulisan ini sosok saya terasa begitu menonjol dalam proses penyebaran strukturalisme LéviStrauss di Indonesia. Parsudi Suparlan. Ditangannyalah strukturalisme kemudian dikenal oleh lebih banyak orang.

seperti misalnya Fuad Hasan. Nama ilmuwan Prancis yang meneliti Indonesia namun namanya hampir tidak terdengar di Indonesia adalah Christian Pelras (meneliti sejarah Indonesia). akhirnya saya dapat memaklumi keadaan yang seperti itu. karena biasanya ilmuwan Indonesia sangat mudah dan cepat menanggapi dan berusaha segera mempopulerkan paradigma-paradigma baru di Barat yang baru saja mereka kenal. Nama Lévi-Strauss sebagai seorang teoritisi hampir tak dikenal. tidak ada aliran Etnosains dari Amerika Serikat. 59 . Pertama.ilmu sosial-budaya Indonesia ketika itu ternyata tidak seperti yang saya duga dan harapkan. sebuah negeri yang relatif kurang begitu dikenal oleh banyak orang Indonesia. Parsudi Suparlan. dan masih aktif. Saya mencoba untuk mengetahui apa kira-kira penyebab hal tersebut. tetapi setelah itu seperti hilang ditelan bumi. Postmodernisme mulai terdengar. dibandingkan misalnya dengan bahasa Inggris dan Belanda. Lévi-Strauss yang kita kenal ketika itu adalah merk sebuah celana jeans. Orientasi pendidikan ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah Amerika Serikat. Selo Soemardjan dan sebagainya. strukturalisme Lévi-Strauss tidak terdengar gaungnya di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Nama-nama beken sebagian ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat ketika adalah nama-nama mereka yang banyak meneliti masyarakat Indonesia. Koentjaraningrat almarhum di tahun 1970-1980an. dan sempat populer dalam dua-tiga tahun. Tidak banyak ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu yang memperoleh pendidikan di Prancis. karena bahasanya juga kurang populer di Indonesia. Bagi saya ini adalah sebuah keanehan. Beberapa tahun saya mencoba mengetahui hal ini. karena kalau kita membaca jurnal dan bukubuku ilmu sosial-budaya di Barat di tahun 1970an. Koentjaraningrat. tidak terlihat Tafsir Kebudayaan seperti yang dikembangkan Clifford Geertz. Akan tetapi setelah beberapa tahun berada di Indonesia. strukturalisme tersebut tumbuh dan berkembang di Prancis. James Danandjaja. karena di tahun 1950an dan 1960an Indonesia adalah salah satu negeri yang banyak diteliti dan dibahas oleh ilmuwan sosial Amerika Serikat. Ada beberapa faktor yang tampaknya telah membuat strukturalisme Prancis kurang begitu dikenal di Indonesia. tokoh-tokoh ilmu sosial-budaya yang saya kagumi dan sebagian pernah menjadi guru saya ketika itu masih ada. Sartono Kartodirdjo. Padahal. bahkan sampai tahun 1980an. walaupun itu tidak berarti bahwa saya menyetujui dan menyukai keadaan tersebut. Hanya mahasiswa antropologi saja yang mengenal tokoh tersebut lewah kuliah dari Prof. Ketika saya datang pada awal tahun 1990an. bahkan hampir tidak ada. Masri Singarimbun. strukturalisme masih tetap merupakan paradigma yang populer dan terasa kuat pengaruhnya. tidak telihat arus pemikiran strukturalisme dari Prancis. Saya cukup heran dengan situasi dan kondisi seperti itu. Saya bertanya-tanya dalam hati : Mengapa mereka tidak menulis mengenai aliran-aliran baru dalam antropologi atau bidang ilmu yang mereka tekuni ? Dalam antropologi di Indonesia ketika itu.

Ilmuwan sosial-budaya Indonesia yang belajar di Amerika Serikat di masa itu otomatis sangat dipengaruhi oleh aliran pemikiran ini – bahkan sampai sekarang – . Lengkaplah sarana paradigma Fungsionalisme – Struktural untuk menyebar dan dikenal di Indonesia. seperti halnya kebanyakan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Fungsionalisme-Struktural yang diwariskan oleh A. strukturalisme banyak mendapat inspirasi dari ilmu bahasa dan mengambil ilmu tersebut sebagai modelnya. Memang.Aliran pemikiran yang sangat mempengaruhi ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah aliran fungsionalisme-struktural yang berasal dari Talcott Parsons.R. Kalau di kalangan ahli antropologi Indonesia saja strukturalisme di Lévi-Strauss sudah tidak begitu dikenal. Kelima. apalagi oleh kalangan yang lebih luas. sehingga mereka tentunya mengalami kesulitan ketika berusaha memahami analisis-analisis strukturalisme Lévi-Strauss yang sangat banyak mendapat inspirasi dari linguistik. munculnya sebuah paradigma atau epistemologi baru tidak akan memicu munculnya tanggapan yang positif. Aalagi ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat yang mempelajari Indonesia juga menggunakan paradigma tersebut. Ketiga. sebuah cabang ilmu yang kurang begitu populer di Indonesia. reaksi yang muncul biasanya adalah : menolak secara sembunyi-sembunyi. Radcliffe-Brown dan Bronislaw Malinowski di tahun 1940an dikembangkan lebih lanjut oleh Parsons dan berhasil menjadi sebuah aliran yang mendominasi pemikiran ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat di tahun 1960-1970an. atau menolak secara terang-terangan. Kalau antropologi sebagai ilmu sudah tidak begitu dikenal. acuh tak acuh. Analisis struktural Lévi-Strauss banyak memanfaatkan data etnografi dan analisis serta interpretasi 60 . Untuk mereka yang terbiasa berfikir dengan menggunakan sebuah paradigma. apalagi teori-teori yang ada di dalamnya. di tahun 1970an dan 1980an antropologi sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan masih belum begitu dikenal di Indonesia. dan cukup besar perbedaannya dengan epistemologi positivisme. Sementara itu. Para ilmuwan sosial-budaya umumnya juga tidak mengenal linguistik. ahli sosiologi Amerika Serikat. yakni epistemologi yang positivistik dan epistemologi yang historis. Sebagai epistemologi strukturalisme sangat berseberangan dengan epistemologi historisme. yang di Amerika Serikat memang merupakan salah satu spesialisasi dalam antropologi. yang saya kira cukup besar perbedaannya dengan epistemologi yang dianut oleh sebagian besar ilmuwan sosial-budaya Indonesia. ilmu bahasa atau linguistik bukanlah sebuah ilmu yang populer di Indonesia. Orang masih sering mengacaukannya dengan arkeologi. strukturalisme Lévi-Strauss dalam antropologi. atau yang didasarkan pada sebuah epistemologi saja. Keempat. analisis struktural dan bahasa yang digunakan oleh Lévi-Strauss dalam tulisan-tulisannya termasuk yang tidak mudah dipahami. Sebaliknya. Kedua. strukturalisme Lévi-Strauss adalah sebuah epistemologi baru. dan teori-teorinya juga tidak begitu dikenal.

M. Tesis pascasarjananya. Buku ini memang tidak mendapat banyak perhatian dari ilmuwan sosial-budaya Indonesia. bahkan cenderung bersikap negatif dan sinis terhadap aliran strukturalisme yang ketika itu diajarkan oleh P. Dengan menggunakan analisis struktural Laksono (1986) mencoba menunjukkan bahwa Tradisi Ageng Jawa di Kraton adalah transformasi dari Tradisi Alit Jawa di daerah pedesaan.dilakukan atas informasi etnografis mengenai berbagai hal yang begitu kecil dan njlimet. Bahasa tulisannya memang belum nyastra sekali seperti Geertz. Meskipun demikian. saya tidak serta-merta tertarik pada strukturalisme Prancis. Oleh karena itu pula analisis struktural yang dikerjakan Lévi-Strauss termasuk yang tidak mudah dipahami oleh orang-orang antropologi. maka saya kemudian memberanikan diri untuk mengusung strukturalisme Lévi-Strauss ke Indonesia setelah saya menyiapkan diri dengan lebih baik di Amerika Serikat. a. Mengingat pentingnya strukturalisme Lévi-Strauss dalam perkembangan pemikiran di Barat.E. Laksono. 3. tetapi sudah termasuk nyastra atau sastrawi. Ketika itu teman sayalah yang kemudian menggunakan paradigma struktural – yang merupakan campuran strukturalisme Prancis dan Belanda – untuk menulis tesis S-2 nya. karena antropologi di Belanda di masa lampau sudah lebih dulu mengenal strukturalisme. karena saya mendapat pendidikan lanjutan di Belanda. Mungkin. dengan mengumpulkan artikel dan buku-buku yang relevan. de Josselin de Jong kepada kami. Periode 1980an Laksono menerapkan analisis struktural lebih awal daripada saya. yakni P. tidak dapat digunakan untuk memahami dan menganalisis perubahan. mungkin juga sulit 61 . Yang lain tidak tertarik. Itulah beberapa faktor yang menurut saya telah membuat strukturalisme LéviStrauss kurang begitu dikenal di Indonesia. begitu tidak dikenalnya aliran pemikiran itu di Indonesia. Lévi-Strauss termasuk ahli antropologi yang mampu menggunakan daya retorika yang bagus tetapi tidak mudah dipahami. Kami berdua adalah mahasiswa Indonesia yang dipengaruhi oleh pemikiran struktural ketika itu. walaupun aliran ini sangat kuat pengaruhnya dalam dunia pemikiran di Barat. Dalam hal ini Laksono membandingkan struktur budaya pada masyarakat Jawa di Bagelen dengan struktur budaya Jawa di Kraton Mataram. dan kemudian mendapat pengaruh kuat dari strukturalisme Prancis. karena pendekatannya terasa tidak lazim. Saya tidak tahu mengapa demikian. Kesulitan memahami ini bertambah besar lagi di kalangan ketika Lévi-Strauss menggunakan bahasa yang juga relatif sulit dipahami. yang kemudian diterbitkan menjadi buku. Mengusung Strukturalisme Lévi-Strauss : 1980an dan 1990an Generasi saya adalah generasi baru pelajar ilmu sosial-budaya yang mulai mengenal pemikiran dari Eropa Daratan. tetapi seingat saya karena mereka umumnya menganggap pendekatan tersebut “statis”. adalah mengenai struktur yang ada dalam Tradisi Ageng dan Tradisi Alit masyarakat Jawa. Di sinilah saya berkenalan lebih dekat dengan strukturalisme Prancis. serta sulitnya memahami paradigma itu sendiri. walaupun saya terus-terang tertarik pada kecanggihan pemikiran LéviStrauss.

Para mahasiswa antropologi UGM ketika itu mulai mengenal nama Lévi-Strauss serta teori-teorinya dengan cukup baik. Ketika itu pengajaran teori antropologi. ahli antropologi struktural dari Universitas Leiden. Satu-dua orang mahasiswa mulai tertarik dengan pendekatan ini dan mulai menerapkannya untuk penulisan skripsi. Pak Kodiran. Periode 1990an Pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss yang sudah mulai terlihat di tahun 1980an di Indonesia mulai terasa menguat setelah saya memberikan kuliah mengenai strukturalisme lagi selama beberapa tahun di jurusan Antropologi UGM. 1984). dilanjutkan oleh dosen kami yang paling senior di UGM. yang ditulis oleh Radrianarisoa. tambahan dan “pelurusan” beberapa pendapat dalam artikel tersebut (Ahimsa-Putra. Oleh karena penulisan buku tersebut berada di bawah bimbingan P. b. Oleh karena itu sayapun menulis sebuah artikel yang isinya merupakan tanggapan. maka tidak terlalu mengherankan apabila pengaruh strukturalisme Belanda lebih terlihat di situ daripada pengaruh strukturalisme Prancis.E. Secara kebetulan waktu itu di majalah Basis muncul sebuah artikel mengenai Lévi-Strauss dan strukturalismenya. Semenjak itu. Laksono tidak dapat menggantikan. termasuk di dalamnya strukturalisme Lévi-Strauss. Walaupun masih dalam taraf yang sangat sederhana namun minta mereka untuk menggunakan sebuah paradigma yang belum lazim diterima dan cukup sulit. saya merasa bahwa nama saya hampir selalu dihubungkan dengan strukturalisme atau antropologi struktural. Bukan hanya karena kuliahnya lebih terfokus. Setelah membaca artikel itu saya berpendapat bahwa apa yang ada dalam artikel tersebut tidak seluruhnya tepat atau seperti yang saya ketahui. dan kesempatan itu saya gunakan untuk menebar paradigma strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. Setelah saya kembali ke UGM. Yang jelas buku ini setahu saya merupakan analisis kebudayaan secara struktural yang pertama dilakukan oleh ahli antropologi Indonesia. karena dia sudah lebih dulu pergi ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi. tetapi juga karena buku-buku dan artikel-artikel antropologi struktural dapat mereka peroleh secara langsung. Amerika Serikat. yaitu dengan memfotocopy buku-buku dan artikel-artikel yang saya bawa dari luar. Baroroh Baried – yang ketika itu 62 . Pengetahuan mengenai strukturalisme tidak dapat saya tebar lebih lama di UGM. saya mengajar di jurusan antropologi. de Josselin de Jong. yang saat itu masih belum guru besar. saya kebetulan diminta Prof.dimengerti oleh mereka yang belum mengenal strukturalisme. Belanda. mungkin pula karena kurang promosi. saya tidak mengetahui perkembangan strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. patut dihargai. Untuk beberapa tahun. karena setelah dua tahun saya mengajar saya memperoleh kesempatan melanjutkan studi S-3 antropologi ke Universitas Columbia di New York. sampai ketika saya pulang kembali ke UGM setelah menyelesaikan S-3 saya. Belanda. dan menulis beberapa artikel dengan menggunakan paradigma tersebut. Setelah selesai kuliah di Universitas Leiden.

yang saya gunakan untuk melakukan penelitian atas mitos orang Bajo. saya terus menyebarkan strukturalisme ke kalangan mahasiswa. melalui perkuliahan di S-1 dan S-2 antropologi serta S-2 sastra. Artikel ini rupanya semakin menguatkan citra saya sebagai orang yang tahu strukturalisme Lévi-Strauss lebih dari yang lain. yang berasal dari buku Octavio Paz mengenai strukturalisme Lévi-Strauss. Melalui forum seperti inilah saya dapat menyebarkan strukturalisme. serta memberikan tanggapan terhadap pendapat-pendapat Paz yang menurut saya kurang tepat. atau perlu dijelaskan lagi agar tidak menimbulkan salah pengertian (Ahimsa-Putra. saya juga menulis makalah-makalah untuk seminar dengan tema struktural. Mudahmudahan ada yang bersedia memberikan informasi mengenai bagaimana strukturalisme (Lévi-Strauss) dipandang dan dipahami oleh para mahasiswa – antropologi maupun bukan – di luar UGM. semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk menyusun tesis atau skripsi struktural. tentu buku Paz tidak akan diterjemahkan dan diterbitkan. karena – sebagaimana kita ketahui – majalah Kalam adalah majalah yang banyak dibaca oleh mereka yang berminat pada sastra. terutama jurusan antropologi di UGM.menjadi ketua program pascasarjana sastra – untuk mengampu matakuliah mitologi. Laporan penelitiannya kemudian saya tulis kembali menjadi artikel yang kemudian diterbitkan oleh majalah Kalam (Ahimsa Putra. 1995). karena kalau tidak ada ketertarikan tersebut. Ketika satu-dua tesis struktural mulai dapat ditulis dan diujikan dengan hasil yang baik (banyak yang mendapat nilai A). dan diluar lingkaran antropologi setahu saya belum ada orang lain yang berbicara mengenai aliran pemikiran tersebut. Saya menawarkan 63 . 1997). seni dan filsafat. Pendapat bahwa saya adalah orang yang tahu tentang strukturalisme LéviStrauss itu rupanya telah mendorong pihak penerbit LKIS meminta saya menulis kata pengantar untuk buku yang akan mereka terbitkan. Sementara itu. Ketika itu saya merasa bahwa strukturalisme mulai menarik perhatian kalangan intelektual muda. tetapi saya tidak tahu bagaimana gaung tersebut di luar UGM. Analisis struktural ala Lévi-Strauss atas mitos sama sekali belum dikenal di Indonesia ketika itu. Selain melalui perkuliahan. terutama di Yogyakarta. Gaung strukturalisme sebagai sebuah paradigma semakin luas terdengar di kalangan mahasiswa. maka pembimbingan penulisan skripsi atau tesis semacam ini boleh dikatakan selalu diserahkan kepada saya. Permintaan tersebut saya terima dan secara kebetulan saya mendapat dana penelitian. Nama Lévi-Strauss dan strukturalisme tetap belum akrab di kalangan terpelajar di Indonesia. Dalam kata pengantar itu saya kembali menyampaikan berbagai hal mengenai strukturalisme Lévi-Strauss yang belum banyak diketahui. baik itu yang analitis maupun teoritis. Beberapa mahasiswa kemudian tertarik untuk menulis tesis dengan menggunakan pendekatan struktural. Oleh karena tidak ada dosen lain yang dipandang lebih memahami strukturalisme. Sayapun menyanggupi permintaan tersebut.

1999c. 2000a). 2002c). para peneliti sastra sebaiknya juga menengok dan mempelajari paradigma-paradigma yang berkembang di luar kajian sastra. Langkah yang saya tempuh untuk memperkenalkan paradigma antropologi struktural di Indonesia dengan menulis artikel dan menerbikan buku didasarkan pada pandangan bahwa orang tidak akan tertarik pada suatu pendekatan atau paradigma bilamana dia belum mengetahui tentang paradigma tersebut. sedang kepada para peneliti fenomena keagamaan saya juga menunjukkan bahwa strukturalisme dapat digunakan untuk memahami fenomena keagamaan seperti sinkretisme (Ahimsa – Putra. seperti karya-karya Umar Kayam (Ahimsa – Putra. Strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia : 2009 Bagaimana strukturalisme di Indonesia sekarang. Lewat berbagai makalah dan artikel itulah saya berupaya menunjukkan bahwa strukturalisme adalah sebuah cara baru untuk memandang gejala sosialbudaya. Buku ini pula yang membuat banyak orang mulai menyadari bahwa sekat-sekat keilmuan sebenarnya sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Sejak itu. Meskipun demikian saya tetap tidak mengetahui bagaimana perkembangan paradigma strukturalisme Lévi-Strauss atapun strukturalisme pada umumnya di luar UGM.pendekatan struktural untuk menganalisis fenomena arkeologis (Ahimsa – Putra. Saya juga menawarkan pendekatan tersebut untuk menganalisis karya-karya sastra kontemporer yang mungkin tidak pernah terpikirkan untuk dianalisis secara struktural. Dengan demikian. Mitos dan Karya Sastra (Ahimsa – Putra. 64 . 2001). Buku ini saya kira telah membuat peneliti dan pelajar sastra menengok para strukturalisme Lévi-Strauss. yang berbeda dengan strukturalisme yang selama ini mereka kenal dalam analisis sastra. Strukturalisme Lévi-Strauss yang muncul dan berkembang dengan baik dalam antropologi ternyata sangat dapat digunakan untuk menganalisis karya sastra. setelah saya menganalisis mitos Bajo secara struktural dan mulai memberi kuliah strukturalisme 15 tahun yang lalu? Strukturalisme Lévi-Strauss kini sudah lebih dikenal di Indonesia. dan manfaat apa yang akan diperoleh dari penggunaan tersebut. dan analisis semacam ini dapat mengungkapkan dimensi tertentu dari karya sastra yang tidak dapat diungkapkan melalui pendekatan yang lain. dan semakin banyak mahasiswa antropologi yang menggunakan pendekatan ini untuk memahami berbagai gejala sosial-budaya dalam masyarakat Indonesia. 2000b). strukturalisme Lévi-Strauss mulai dikenal di luar lingkaran antropologi. Paradigma strukturalisme Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal lagi setelah terbitnya buku Strukturalisme Lévi-Strauss. yang tidak akan dapat diungkap melalui paradigma yang lain. Dari makalah dan artikel tersebut orang dapat menilai keampuhan paradigma struktural untuk memahami gejala sosial-budaya lewat sudut pandang yang berbeda. Melalui paradigma tersebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya yang dapat diungkapkan. strukturalisme Lévi-Strauss semakin dikenal di Indonesia. Melalui paradigma tesebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya. dan tidak terbatas di kalangan pelajar antropologi saja. Dengan terbitnya buku tersebut. 1998a. 4. tentang cara menggunakannya.

untuk menganalisis konsepsi orang Bakumpai tentang ruang. 1999c. ngambu dan liwa untuk menunjuk arah. yakni patung (Ahimsa-Putra. Ini terlihat pada tesis dan disertasi di jurusan antropologi UGM. strukturalisme Lévi-Strauss justru terlihat membedakan dirinya dari yang lain melalui metode analisis ini. Dalam hal ini Numbery telah berhasil menunjukkan keterkaitan struktural yang erat antara struktur ruang yang dikenal oleh orang Dani dengan organisasi sosial mereka. ataupun dalam diskusi-diskusi informal. Struktur ruang juga dianalisis oleh Gerda Numbery (2008) yang melakukan penelitian di kalangan orang Dani di Papua. baik itu secara formal lewat seminar. Metode Analisis Pengaruh strukturalisme terlihat terutama pada metode analisis. rumah tradisional Sumba (Purwadi. karena sungai merupakan ruang yang sangat penting dalam kehidupan orang Dayak Bakumpai. Analisis struktural telah digunakan untuk mengungkap struktur yang ada pada rumah Limas Palembang (Purnama. terutama strukturalisme Lévi-Strauss sebagaimana yang saya ketahui dari karya-karya ilmiah yang bisa saya peroleh. dan konsepsi arah yang terkait dengan ruang ini juga terkait erat dengan sungai. dan dengan konsep ini pula dia dapat menyajikan rangkaian transformasi yang ada dalam budaya masyarakat Palembang. Oleh karena itu. 2002). analisis struktural yang dikerjakan oleh Numbery merupakan analisis struktural ala Lévi-Strauss yang pertama kali dimanfaatkan oleh ilmuwan sosial Indonesia untuk memahami struktur organisasi sosial orang Dani dan pandangan mereka tentang ruang beserta strukturnya. a. Purwadi lebih tertarik untuk mengungkap prinsip-prinsip struktural yang ada di balik rumah tradisional Suma di Umaluhu. ngawa. Kalau Dadang H. Sepengetahuan saya. namun belum pernah saya mendengar orang membahas pemikiran-pemikiran Barthes dan Foucault secara serius. Kalau paradigma antropologi sebelumnya jarang sekali menampilkan metode analisisnya. Orang Dayak Bakumpai mengenal istilah-istilah ngaju. dan di sinilah memang terletak kekuatan strukturalisme Lévi-Strauss sebagai sebuah paradigma. Pendekatan struktural juga digunakan oleh Nasrullah (2008). Oleh karena itu. Kalimantan. di sini saya hanya akan memaparkan pengaruh-pengaruh strukturalisme. Strukturalisme Lévi-Strauss mulai terlihat digunakan untuk menganalisis berbagai gejala kebudayaan yang belum pernah dianalisis secara struktural. 2009) dan makanan tradisional orang 65 . Subiantoro. Analisis struktural juga telah diterapkan pada budaya material. saya sering mendengar nama-nama Barthes dan Foucault disebut-sebut dalam beberapa diskusi. analisis Purnama kemudian menuntut digunakannya konsep transformasi. yang berasal dari suku Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Purnama mengungkapkan struktur rumah Limas Palembang dan mengaitkannya dengan struktur pemikiran orang Palembang.Memang. 2000).

memberikan kuliah dan membimbing penulisan karya ilmiah saya merasa ide Lévi-Strauss mengenai struktur termasuk yang tidak mudah dimengerti dan diketahui adanya dalam gejala sosial-budaya yang dianalisis. Meskipun demikian. yakni banyaknya orang Tionghoa Indonesia yang masuk agama Katholik dan bagaimana perilaku mereka setelah mereka memeluk agama tersebut (Radjabana. Diskusi yang lebih teoritis dan konseptual tentang strukturalisme belum dapat diharapkan dapat muncul dari kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. yang sebelumnya telah diteliti secara seksama oleh Edi Sedyawati. Dari pengalaman berdiskusi. ahli arkeologi UI. 2000). 2009). ternyata tidak selalu mudah dipahami. Beberapa contoh kajian ini menunjukkan bahwa strukturalisme sebagai sebuah paradigma ternyata dapat digunakan untuk menganalisis beraneka-macam gejala sosial-budaya. namun tidak ada hubungan empirisnya dengan gejala sosial-budaya tersebut. 66 . karena dengan adanya tesis-tesis tersebut maka paradigma Strukturalisme dari Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal dan jelas-jelas dapat digunakan dalam berbagai penelitian. Lebih dari itu. namun analisis tersebut telah memberi inspirasi pada sejumlah ahli arkeologi lain untuk mencoba menerapkannya pada artefak-artefak atau benda arkeologis lainnya. yang menempatkan patung loro-blonyo dalam konteks kebudayaan yang lebih luas. pengertian struktur tersebut kini mulai dapat dimengerti. 2007). Selain arca ganesya. Sementara itu. Pemahaman tentang “Struktur” (Structure) Meskipun strukturalisme memberikan penekanan utama pada struktur. Dalam hal ini para mahasiswa pascasarjana antropologi UGM (S-2) merupakan orang-orang yang cukup besar sumbangannya. namun ternyata pemahaman tentang struktur ini tidak selalu dapat ditangkap. Pengertian struktur sebagai sebuah model yang dibuat oleh ahli antropologi untuk memahami gejala yang dipelajari. Masih sangat sedikitnya buku dan artikel jurnal ilmiah yang membahas strukturalisme secara kritis di Indonesia merupakan bukti yang paling jelas masih belum berkembangnya tradisi tersebut. b. ternyata pendekatan struktural juga dapat menjelaskan fenomena sosial yang terjadi di Indonesia tidak lama setelah meletusnya peristiwa G-30-S.Minang (Maryetti. dan pengertian struktur sebagai sistem relasi. Kita masih jauh dari suasana akademik dan intelektual yang seperti itu. Ahimsa-Putra misalnya menerapkan analisis struktural pada arca ganesya. Walaupun analisisnya belum sepenuhnya tuntas. Maryetti lebih tertarik untuk menganalisis dan mengungkapkan struktur yang ada di balik berbagai macam makanan tradisional yang disajikan dalam ritual-ritual (Subiantoro. karena tradisi membahas secara kritis pemikiran-pemikiran yang berasal dari Barat masih belum tumbuh dan berkembang di kalangan mereka. dengan adanya kuliah mengenai strukturalisme Lévi-Strauss secara khusus. yakni kosmologi Jawa. analisis patung secara struktural juga telah dilakukan oleh Slamet Subiantoro.

karena ini menuntut kemampuan memandang gejala sosialbudaya dengan cara yang berbeda. Lebih sulit dari itu adalah membedakan makna transformasi dengan change (perubahan). Sebagaimana kita tahu konsep transformasi berasal dari ilmu bahasa juga. dan kebanyakan telah dapat menerapkan konsep ini dengan baik dalam analisis. dan itu berarti kepada masa lampaunya. yang lebih mudah dilihat dan mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. yakni keterbatasan pendekatan sejarah ketika digunakan untuk memahami dan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya yang memang tidak ada data sejarahnya. ketika dikatakan bahwa strukturalisme tidak dapat digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala perubahan sosial dan kebudayaan. yang a-historis. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. Konsep ini tampaknya lebih mudah dipahami oleh para mahasiswa daripada konsep struktur atau struktur sosial. Segala sesuatu selalu kita pandang dalam hubungan sebab-akibat sehingga penjelasan tentang sesuatu tersebut selalu mengacu pada sebab-sebabnya.Konsep turunan yang berasal dari “struktur”. bahwa strukturalisme tidak menyejarah (ahistoris). Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. walaupun implikasi teoritisnya tidak selalu mudah dipahami. c. diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. namun banyak contoh yang dapat diberikan untuk menjelaskan makna transformasi sebagaimana digunakan dalam analisis struktural. diakronis. Sulit rasanya mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya yang memang tidak ada data sejarahnya. diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. Kita umumnya memiliki pola pikir yang linier. Kesulitan tersebut juga menambah orang semakin kurang berminat memandang gejala sosial-budaya dari perspektif strukturalisme. konsep-konsep penting tidak selalu dapat dipahami fungsinya dalam analisis. Bahwa ternyata struktur sosial adalah juga sebuah model dari seorang ahli antropologi mengenai suatu masyarakat atau suku bangsa juga masih sulit diterima. Sulit rasanya 67 . yang historis. Bahkan. Hal ini tampaknya telah membuat konsep transformasi menjadi lebih mudah dipahami dan digunakan dalam analisis. A-historis Konsep yang sangat penting dalam analisis struktural adalah transformasi. yakni “struktur sosial” menurut padangan Lévi-Strauss (yang berbeda dengan “struktur sosial” menurut Radcliffe-Brown). Mereka yang menerima begitu saja kritik ini sebenarnya telah melupakan faktor-faktor yang mendorong munculnya pendekatan struktural. Stukturalisme : Cara Pandang Transformasional. karena para ilmuwan dan pelajar Indonesia masih lebih mudah memahami konsep-konsep yang lebih jelas acuannya. Kebiasaan ini membuat kita mengalami kesulitan jika harus memandang dan menjelaskan gejala sosial-budaya tidak melalui sudut pandang kausalitas. juga belum dapat dimengerti dengan baik.

Mungkin karena sisi ini lebih sulit untuk ditangkap dan dipahami oleh ahli filsafat Indonesia. terutama karena tidak dapat digunakan untuk memahami dinamika dan perubahan kebudayaan. mungkin pula karena ahli filsafat Indonesia tidak ada yang tertarik untuk 68 . Di UGM pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terasa terutama di kalangan mahasiswa antropologi. Hal ini tentu sangat mengherankan. 5. yang setahu saya sudah mulai banyak dikenal dan digungakan sebagai paradigma dalam penelitian. tidak adanya ilmuwan sosial-budaya yang khusus menekuni strukturalisme dan kemudian memperkenalkannya kepada publik Indonesia. Faktor-faktor yang lain mungkin sekali juga menjadi penyebabnya seperti misalnya : langkanya buku mengenai strukturalisme itu sendiri. mungkin juga karena paradigma ini dianggap terlalu banyak kelemahannya. tidak adanya kuliah khusus mengenai strukturalisme di universitasuniversitas di Indonesia. wacana serius tentang strukturalisme (Lévi-Strauss) setahu saya tidak pernah muncul di Indonesia. Sisi filosofis inilah yang belum diserap oleh kalangan intelektual atau ilmuwan Indonesia. Yang jelas saya belum pernah mendengar sama sekali bahwa paradigma ini telah diajarkan di UGM (dulu). jika tidak memprihatinkan. Saya tidak tahu apakah di jurusan-jurusan antropologi lain di Indonesia paradigma ini telah diajarkan. dan ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal. Pengaruh ini terlihat terutama di jurusan Antropologi di Universitas Gadjah Mada. Mungkin karena di jurusan-jurusan antropologi yang lain tidak ada orang yang merasa menguasai dan dapat mengajarkan dengan baik strukturalisme sebagai sebuah paradigma. Belum pernah saya diundang dalam seminar. Tidak sebagaimana halnya post-modernisme dan cultural studies. atau mungkin ada tetapi saya tidak mengetahuinya. diskusi atau lokakarya yang secara khusus membahas strukturalisme (Lévi-Strauss) sebagai sebuah trend pendekatan baru dalam ilmu sosial-budaya. Kalau pada awal kemunculan post-modernisme dan cultural studies saya sempat diundang dalam diskusi dan seminar di Indonesia tentang dua trend keilmuan tersebut. tidak demikian halnya dengan strukturalisme. Di luar UGM pengaruh tersebut tetap masih belum terasa. tingkat pascasarjana. Penutup Apa yang saya paparkan di sini adalah apa yang saya ketahui mengenai strukturalisme di Indonesia di masa kini. maka aspek filosofis dari aliran pemikiran ini tentu lebih belum dikenal lagi. Kalau dalam antropologi saja strukturalisme (Lévi-Strauss) sampai saat ini masih belum sangat dikenal. Walaupun Lévi-Strauss tidak pernah menganggap strukturalisme yang dikembangkannya sebagai sebuah filsafat.mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya Indonesia dalam waktu yang relatif dekat ini. Mengapa demikian? Mungkin beberapa faktor yang telah saya sebutkan di atas adalah diantaranya. namun sebenarnya sebagai sebuah epistemologi strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran filsafati.

___________.S. Basis XXXIII (4) : 122-135. sintagmatik-para digmatik. di tingkat pascasarjana. Makalah seminar. Namun. karena di jurusan antropologi UGM strukturalisme Lévi-Strauss diajarkan secara khusus selama satu semester. sementara strukturalisme yang berasal dari Foucault dan Barthes tidak begitu terlihat pengaruhnya di kalangan kaum terpelajar Indonesia. 1984. struktur sosial. dan transformasi. pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terhadap pemikiran-pemikiran ilmuwan sosial-budaya Indonesia masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat meninggalkan bekas yang cukup dalam serta mudah dikenali dalam karya-karya ilmiah mereka. Ahimsa-Putra. ___________. Dari paparan di atas kita dapat mengatakan bahwa (a) strukturalisme yang dikenal di Indonesia adalah strukturalisme yang dikembangkan oleh Lévi-Strauss. H. Tesis Pascasarjana Antropologi. 1994. signifier. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan.membahasnya. Fakultas Ilmu Budaya. Oleh karena itu pula. dan sebagainya. di samping konsep-konsep seperti nirsadar. itulah tantangan dari strukturalisme yang hingga kini di Indonesia masih belum ada yang bersedia menghadapi dan dapat menakhlukannya. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. signified. Yogyakarta **Makalah ini disampaikan dalam diskusi publik bertema: Perkembangan Strukturalisme Prancis di Indonesia pada hari Rabu. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. Kawin Bedil dan Sobrat. sign. karena hal semacam ini menuntut pemahaman yang mendalam atas berbagai paradigma dan pandangan filosofis yang berkembang dalam antropologi dan filsafat. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. terutama di UGM. (b) strukturalisme Lévi-Strauss masih terbatas dikenal di kalangan pelajar antropologi. dan tampaknya belum akan muncul dalam waktu dekat. Universitas Gadjah Mada. 1995. T. 69 . “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. 2005. oposisi biner. *Penulis adalah Pengajar Antropologi Budaya. Universitas Gadjah Mada. 1 April 2009 sebagai mata rangkai Public Culture Series bertajuk: Pemikiran Kritis Prancis dan Implikasinya di Indonesia Sekarang ini Daftar Pustaka Abdullah. (c) beberapa konsep penting dalam strukturalisme yang mulai dikenal dan dimengerti adalah konsep struktur. (d) pembahasan kritis atas pemikiran-pemikiran antropologis dan filosofis belum terlihat. Kalam 6 : 124-143.

2002d. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. Makalah seminar Arkeologi. 1998c. ___________. 2001. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. O. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. Strukturalisme Lévi-Strauss.I : 10 – 19. 2002a. Makalah dalam bedah buku. Yogyakarta : Galang Press. 2002b. Makalah seminar. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng-Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. Satu Model. 1999c. Tembi 1 Thn. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. 1998b. Jakarta : UI Press. 2000a. Roland Barthes : dari Strukturalisme ke PostStrukturalisme. Humaniora 12 : 1 – 13. A. Gerbang 5 (2) : 88 – 97. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. ___________. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. Orang-Orang PKI. Makalah seminar. Tiga Dasawarsa. Mitos dan Karya Sastra. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. “Lévi-Strauss. “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. September – Desember. Paz. 1997. Nalar Jawa. 2002c. ___________. (ed). Makalah Sarasehan. Dua Paradigma. 1999b. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. ___________. 70 . ___________. Salam (ed). ___________. ___________. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. 2000b.___________. ___________. Makalah Pelatihan. ___________. ___________. ___________. Rahayu S. ___________. Yogyakarta : LKIS. ___________. Makalah seminar. 1999a. 1998a.

“Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. ___________. 2002e. Totem. Ahimsa-Putra (ed. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. Badcock. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. Humaniora XV (3) : 239 – 264. 2004. Metodologi dan Etnografi. Edisi Baru. 2006e. N. Makalah bedah buku. 2007a. ___________. Satwa. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. ___________. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. Terj. Robby H. 2006c.). ___________. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. ___________. 71 . Abdullah (ed. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. Kepel Press : Yogyakarta. Makalah diskusi. 2008b. Abror. Mitos dan Nalar Primitif. ___________. 2006d. Yogyakarta : Kepel Press. T.___________. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasirelasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. ___________. Ritus Penandaan. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. Yogyakarta : Insight Reference. Analisis Struktural Lévi-Strauss dan Mitos Tasawuf. 2006b. 2007b. Sawerigading. Makalah seminar. Ritus Pertukaran”. 2005. Makalah seminar nasional. ___________.). Jakarta : Rajagrafindo Persada. ___________. 2008a. Mitos dan Karya Sastra. H. Universitas Gadjah Mada. 2006a. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya Bugis-Makassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya Bugis-Makassar. C. Leni. Tesis Pascasarjana Antropologi. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. Strukturalisme Lévi-Strauss.S. ___________. 2003. ___________. Makalah bedah buku.

Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. Tesis Pascasarjana Antropologi. Numbery. Universitas Gadjah Mada.I. Menjadi Katolik Bagi Keturunan Cina di Jawa : Pertukaran Sosial Antara Keturunan Cina dan Gereja Katolik di Jawa. Purnama. Rumah Limas dan Struktur Pemikiran Orang Palembang. Universitas Gadjah Mada. Posisi Wahyu dalam Agama Kristiani dan Islam : Studi Atas Perbedaan Agama Kristiani dan Islam Menurut Strukturalisme Lévi-Strauss. Yogyakarta. Struktur Budaya Orang Dani di Desa Jiwika. Sperber. Pace. G. Loro Blonyo Dalam Rumah Tradisional Jawa : Studi Tentang Kosmologi Jawa. J. Yogyakarta.).K. Kabupaten Jayawijaya : Suatu Kajian Strukturalisme Lévi-Strauss. Prinsip-prinsip Struktural dalam Rumah Tradisional Sumba di Umaluhu. 2002. 1979.H. 2004. 1998. 2008. Tesis Pascasarjana Antropologi. Ngaju. Sturrock (ed. Claude Lévi-Strauss : The Bearer of Ashes. D. Universitas Gadjah Mada. Xiao Lixian. London : Ark Paperbacks. Ngawa. Liwa : Analisis Strukturalisme Lévi-Strauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. Universitas Gadjah Mada. Analisis Struktural Lévi-Strauss. Disertasi Antropologi. Sumintarsih. Subiantoro. J. Radjabana. Maryetti. S. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. 2009. Purwadi. Universitas Gadjah Mada.). 2005. D. Sturrock. Tesis Pascasarjana Antropologi. Tesis Pascasarjana Antropologi. “Introduction” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida.Listia. Ngambu. 72 . Universitas Gadjah Mada. Sturrock (ed. 2007. 2000. 2007. Nasrulah. Kulon Progo. A. Universitas Gadjah Mada. Budaya dan Struktur Masyarakat Tiongkok pada Dinasti Qing dalam Novel “Hong Lou Meng”. Oxford : Oxford University Press. 1986. Distrik Kurulu. Tesis Pascasarjana Antropologi. 1979. D. J. Tesis Pascasarjana Antropologi. Makanan dan Struktur Budaya Minangkabau. Pertukaran Dalam Hubungan Subkontrak di Kalangan Perajin Agel. Oxford : Oxford University Press. Tesis Pascasarjana Antropologi. 2003.

kertas kerja tentang kajian budaya. laporan penelitian. dan usia manusia dalam sebuah perbincangan dengan Kristine McKenna dari LA Weekly. makalah. Selain itu perpustakaan juga memiliki koleksi media alternatif (zine) dan transkrip hasil diskusi. Tema-tema khusus yang menjadi fokus utama … More articles » General » Tiga Usia Jacques Derrida Derrida berbicara tentang arti biografi. in Indonesia. KUNCI Cultural Studies conducted a research on the popularity of Taiwan’s TV series. kematian. More articles » Kertas Kerja » Demam K-Drama dan Cerita Fans di Yogya oleh YULI ANDARI M Yuli Andari menuliskan pengamatannya tentang demam drama Korea dan para fans di Yogyakarta. Laporan ini dibuat pada tahun 2006. Audio Archive : FGD Meteor Garden On 2002. … More articles » Buku » Koleksi Terbaru Perpustakaan KUNCI September-November 2009 Perpustakaan Kajian Budaya KUNCI mengoleksi buku teks. filsuf perempuan.11 readers like this article. tuhan. KUNCI asked Meteor Garden’s fans reception to the show through forum group discussion. Meteor Garden. jurnal. 73 . During the research.

Alat memproduksi video semakin terdemokratisasi … More articles » Public Culture Series » Strukturalisme Levi-Strauss di Indonesia 2009 oleh HEDDY SHRI AHIMSA-PUTRA 74 . merebahkan badan … More articles » Magazine » Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN Ini adalah kumpulan Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN.More articles » Kolom » Putih oleh YULI ANDARI M Sejak kecil saya telah menyukai pantai. saya menyempatkan diri ke pantai bersama teman-teman atau kerabat. Saya bisa menghabiskan waktu seharian di pantai dengan berbagai aktivitas: mandi. lengkap dari bagian I sampai bagian IV. maupun organisasi aktivis. kampanye isu tertentu. More articles » PDF » VIDEOCHRONIC [scroll down for English version] Beberapa dekade belakangan Indonesia mengalami perubahan yang cukup drastis dalam penggunaan video sebagai alat perubahan sosial baik di ranah komunitas. Bila ada kesempatan di akhir pekan.

mengapa? Hedy-Shri Ahimsa Putra mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. More articles » Review » “Kalaupun punk mati…” oleh FERDIANSYAH THAJIB Sebagai salah satu tampilan subkultur yang kini sering diutak-atik dalam beragam laporan ”tampak muka” rubrik gaya hidup di media massa sehari-hari. seperti apa? Di kalangan yang mana ia menunjukkan pengaruh? Kalau tidak ada atau kurang terlihat. praktikkan gaya membaca “penyusutan” | Indonesia Buku on Newsletter KUNCI #15 Space/Scape Project • • Warung Kidul di Alun-alun Selatan 27/11/2009 nuning Monumen Cinta 24/11/2009 nuning ANONYMOUS WRITERS CLUB • aku ingin hidup aku ingin hidup […] Archives • • • • • • • December 2009 November 2009 October 2009 September 2009 August 2009 July 2009 June 2009 75 . punk dibaca secara nostalgis dalam hubungannya yang selalu serba salah di hadapan tradisi (lokal) … Comments • • Avatar Play « ŚĨβĔŔРŔŐÚŚŤ ŤĔŔĂ on Avatar: “Visualizes yourself!” (Estetika Populer dan Identitas dalam Technoculture) Oleh ARIE SETYANINGRUM Umberto Eco: Di era fotokopi dan rimba informasi internet.Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada.

arguing for the myths underlying those different motifs. Javanese mythology.Abstracts due 22 FEB 2010 11/01/2010 . Pujianto tampaknya menggunakan kajian simbolik. Pola diskripsi kajian simbolik seperti pada paparan dan analisisnya menunjukan sebuah pola linier . the writer suggests using the structural approach as a complement for the symbolic approach.. Key words: batik. with a great variety of sizes. according to the present writer. motifs. Robby Hidayat adalah dosen Jurusan Seni dan Desain.Networks • • • • Arts Network Asia Ford Foundation Indonesian Visual Art Archives Yes No Wave Music Twitter ‘New article. Universitas Negeri Malang.http://tinyurl. Tahun 31. Fakultas Sastra. Februari 2003).com/ybecqvt 02:53:47 AM December 03. Sebuah Wawancara dengan Bapak Dekonstruksi . Mencermati artikel Pujianto berjudul Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam (Jurnal Bahasa & Seni. The latter approach may lead not only to analyzing symbolizations but also to placing symbols in a given structure.Abstracts due 22 FEB 2010 To: danuprimanto@.. Date: […] KAJIAN STRUKTURALISME-SIMBOLIK MITOS JAWA PADA MOTIF BATIK BERUNSUR ALAM Robby Hidajat Abstract: Batik is a product of Javanese culture. symbolic approach. Nomor 1. In his study he employs a symbolic approach. still needs to be completed with a structural approach proposed and developed by the French anthropologist Levi-Stauss. 2009 from WordTwit KUNCI-List • Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung . yaitu berbagai entitas yang dikaji seolah-olah memiliki relasi yang segaris (Line Relation).. structural approach. Tiga Usia Jacques Derrida. From: primanto danu Subject: Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung . forms. Pujianto writes a book on batik semen. 76 . Therefore. which. Pokok pikiran seperti pada judul artikel tersebut dan mencermati uraiannya. sawat. and functions. and alas-alasan and their relationship with Javanese mythology.. The structural approach produces research results different from those produced by the symbolic approach.

Pada kaitan ini. tetapi tidak menunjukan sistematika analisisnya.Hidayat. bolik menjadi pola pencermatan yang sangat popular di lingkungan pengkaji seni. dapat meletakan posisi batik sebagai benda yang bersifat funsional di lingkungan budaya Jawa. professor di College de France. Nomor 2. Teori Durkheim menjadi dasar pembenaraan adanya relaisi-realasi dalam struktur kebudayaan manusia yang seolah-oleh seperti Organisme biologi (Abdullah & Leeden. M. Pemahaman Pujianto menjadi semakin anakronistik ketika menyimak skematis pada halaman 138. 137). yaitu terbatas pada aspek permukaan (2000:402). Simbol yang ditafsirkan atas dasar wujud fisik dari sesuatu yang terindra sebagai tanda bermakna. dua tokoh tersebut sangat berpengaruh pada pada pemikir tentang simbol . yaitu strukturalisme fungsional. Berdasarkan pemikiran Emil Durkheim. referensinya telah tersedia. Langkah ini tidak akan lengkap dan mantap tanpa memperhatikan pandangan pemilik budaya. Heddy Shri Ahimsa-Putra seorang antropolog dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengomentari kelemahan kajian simbolik. artinya wujud objek dicermati sebagai susunan unsur-unsur yang telah memiliki relasi tertentu. Paparan Pujianto seolah-oleh seperti bentuk analisis realasional. yaitu seperti model analisis yang dikembangkan oleh Ernst Cassire (studi budaya) dan Sussan K. bahwa kajian 288 BAHASA DAN SENI. terutama menyimak relasi lambang dan arti . Hal ini dapat disimak pada table 1 [ Mitologi Jawa dalam Motif Batik] (hal. Falsafah orang Jawa . Unsur Alam Kehidupan dan Unsur Batik . Entitas ini muncul secara tiba-tiba. Bertolak dari artikel Pujianto. setidaknya telah dilakukan oleh Pujianto. Kadang pelacakkan simbol umumnya hanya mencermati tata bentuk visual. Pujianto sangat terbantu oleh paham filosifis Jawa. lambang dan arti seoleh-oleh membuat pembenaran adanya relasi tentang konsep hindusitis yang disebut triloka . Pujianto telah mengemukakan bahwa Batik . artikel ini bermaksud melakukan reinterpertasi ulang dengan model strukturalisme-simbolik. Sebuah kajian berpijak pada paradigma Strukturalisme. Perspektif simbolik. di samping tokoh yang lain. misalnya sebagai contoh 77 . Salah satu kajian yang dikembangkan oleh Levi-Strauss. Agustus 2004 simbol tidak melakukan kajian struktur. salah seorang tokoh strukturalisme Prancis. Mauss. sehingga pembahasan tentang simbol menjadi sekenanya (2000K:4a0ji3a-n40S8i)m. Hanya saja bagaimana pola relasional filosofis Jawa itu terkait dengan motif batik berunsur alam ?. di samping bersandar juga pada pemikiran Emile Durkheim. Kajian Strukturalisme-Simbolik 287 Kajian simbolik yang digunakan oleh Pujianto dalam mencermati Motif Batik unsur Alam adalah pola pemikiran yang khas dari para peneliti sebelum generasi Roland Barthes. Pemikirannya menjadi sangat lancer karena terdukung oleh tata makna yang bersifat konvensional. Pujianto telah memaparkan panjang lebar. Lenger (studi seni). Tahun 32. Dasar utama pemikiran yang digunakan oleh Pujianto secara mendasar mengacu pada filsafat makna. Sementara simbol di balik yang disimbolkan kadang sulit atau seringkali tak terjangkau. Ini yang dimaksudkan oleh Heddy Shri Ahimasa-Putra. suatu usaha menafsir terhadap simbol-simbol. Skema yang dipaparkan tentang adanya relasi antara sifat orang Jawa . Seakan-akan unsur ornament . 1986).

Adapun batik Cumangkirang yang acalecep berupa lunglungan (sulur) atau kekembangan (bunga-bungaan). Adipati. kawulaningsun Wedana. (halaman 130) Motif alas-alasan tidak tampil pada semua jenis kain batik. tetapi untuk mencermati sebuah simbolisasi dari benda-benda fungsional menjadi lebih kredibel. bangun-tulak. dan untuk pengantin pria pada waktu ijab Kabul (Semen Rama). Konsep dari fungsi adalah memiliki kaitan relasional dengan unsur yang memungsikan suatu benda. tetapi (hanya tempil) pada kain baik sebagi (untuk) Dodot bangun-tulak (pola busana) dengan kombinasi prada emas. (Pujianto. Bahkan Sunan Paku Buwana III pada tahun 1769 mengluarkan larangan menggunakan batik tertentu. Landung Simatupang. Mengingat strukturalisme model Levi-Strauss memandang struktur sebagai model dari pola pikir manusia dalam memahami dunianya (Kaplan & Manners. 1983:213). seperti yang disampaikan oleh Soedjoko yang dikutip oleh Amri Yahya. BATIK BERUNSUR MOTIF ALAM 78 . utamanya ketika sedang bertitah. batik cumangkiri yang calacep. baik pemikiran Emile Durkheim atau Levi-Strauss. Relasi dari benda dan orang yang memfungsikan didasarkan oleh sebuah konsep . lenga-teleng. titahnya merupakan keputusan yang terbagik bagi dirinya. maupun Abdi Dalem. Mengetengahkan paradigma strukturalisme sebagai model telaah batik berunsur alam bukan cara pandang yang berbeda dengan pemikiran Pujianto. bahwa Batik merupakan benda fungsional. dan abdidalem. yang saya perbolehkan dipakai Patih. Pemikiran ini yang mengarahkan pada kajian structural. modang. Pujianto mengemukakan batik bermotif Sawat merupakan busana yang melambangkan kebijakan raja. Anadene Hidayat. daragam. Konsep-konsep dari fungsi menunjukan adanya sebuah struktur. batik cumangkiri kang calacep. 2003: 131). Batik Sawat merupakan salah satu batik yang menjadi milik raja. dan batik parang rusak.uraian tentang fungsi batik alas-alasan. sebagai berikut: Motif Semen dalam penerapannya di dalam keraton diperuntukkan bagi Pangeran. fungsinya sebagai busana seorang raja Jawa (Kasunanan Surakarta) ketika bertahta. ingkang ingsun kawenangaken anganggona pepatih ingsun lan sentaningsun. bangun tulak. Jenis batik ini sering digunakan oleh Raja untuk upacara-uparada agung. 1985: 16) Adapun barang berupa kain panjang (jarit) yang termasuk larangan saya (raja): Batik Sawat. 2000: 237). (Yahya. modang. terj. dan tumpal. Pernyataan Pujianto dan Amri Yahya jelas. Strukturalisme lebih menekankan pada sebuah cara berpikir dari masyarakat sederhana yang menganggap bahwa sistem sosial hanyalah refleksi dari sistem dunianya atau dengan kata lain mikro-kosmos merupakan refleksi dari makro-kosmos (Randrianarisoa. Wedana. dan tari Bedhaya (halaman 133). Motif Sawat secara etimologis dipahami semi . Kajian Strukturalisme-Simbolik 289 batik cumangkirang ingkan acalacap lung-lungan utawa kekembangan. keluarganya. Walaupun kedua teori tersebut berpijak pada konsep yang berbeda. dan rakyatnya. daragam lan tumpal. lenga-teleng. sebagai berikut: Ana dene kang arupa jejarit kang kalebu ing laranganingsung: Batik Sawat lan batik parang rusak. Tetapi sebuah analisis yang lebih sistematis.

selanjutnya dicermati lebih lanjut dengan menyusun table realasi dari ketiga entitas tersebut di atas. sehingga simbolisasi tentang kesuburan tidak dikemukakan secara jelas oleh Pujianto. dan Alas-alasan memiliki realisi dengan mitos kesuburan dan kekuasaan. Semen 79 . Selanjutnya relasi tentang kesuburan tidak dibahas secara mendalam. Agustus 2004 ran dan kekuasaan Apabila benar. alam tengah. Misalnya. dan Alas-alasan. pemikiran Pujianto tampaknya seperti skema tersebut di atas. dengan tujuan menguji adanya keterkaitan dengan paham filosofis Hindu tentang Triloka [tri = tiga dan loka = dunia]. Pemilihan relasi paham triloka didasarkan atas kesamaan relasi tiga . tiga motif batik yang terdiri dari motif Semen. sebagai berikut. dan batik Alas-alasan memiliki kaitan dengan alam bawah. Ketiga mofif batik tersebut diasumsikan bersumber pada fenomena alam sebagai lambang kesuburan dan kekuasaan 290 BAHASA DAN SENI.Pujianto memilik topik penulisan artikel tentang batik berunsur motif alam dengan objek batik yang berkembang di keraton (?) [tidak dijelaskan lebih sepesifik keraton yang mana] dengan sample analisis batik bermotif Semen. Skema relasional antara konsep Triloka dan motif batik berunsur alam Keterangan: Batik seolah-oleh memiliki kaitan dengan konsep triloko. dan demikian pula dengan batik Sawat & Alas-alasan yang memiliki kaitan dengan batik Semen. sementara batik Sawat memiliki kaitan dengan alam tengah. Sawat. Langkah awal yang akan dilakukan adalah menghubungkan ketiga motif tersebut. Kajian Strukturalisme-Simbolik 291 dipahami sebagai kenyataan tentang kosmologis Jawa. seperti yang digambarkan berupa tanaman menjalar (sulur) sebagai penggambaran alat kelamin pria (halaman 130). yaitu ada kesamaan bentuk dengan pengertian konvensional tentang makna kesuburan . agar benih tersebut dapat bersemi. sebagai berikut: Gambar 1. Bahawa dunia dibagi menjadi tiga tataran yang bersifat hirarkis. Batik Semen memiliki kaitan yang bersifat vertical alam atas. yaitu yang memahami bahwa secara kosmologis dunia dibagi menjadi tiga. seperti Levi-Strauss menganalisis tentang makanan. Nomor 2. Tahun 32. yaitu: Alam atas. yaitu dipahami dari adanya berdasarkan analogi. Sawat. demikian juga tentang kekuasaan . 1997: 80). Penyebara benih. Skema segitiga kuliner model strukturalisme Levi-Strauss Dasar pemempatan sample tiga motif batik tersebut bersifat abitrer (sekenanya). dan alam bawah. yang dijelaskan oleh Pujianto. yaitu Semen Sawat Alas-alasan Hidayat. Berdasarkan konsep Triloka. urairan tentang bentuk Semen. Batik Semen memiliki hubungan kesamaan motif dengan dua batik yang lain (Sawat & Alasalasan). Berdasarkan skema tersebut di atas. Levi-Strauss menempatkan makanan dengan pola analisis segitiga kuliner (Cremers. Analisisnya lebih pada pemahaman tentang adanya persepsi bentuk. dalam kaitan ini adalah Raja Jawa . Pemahaman tersebut dapat disekematiskan sebagai berikut Gambar 2. Bentuk Semen merupakan tanda penyebaran benih.

Awan. kapal Udara. kejayaan. Tanah Brahma Tumbuhan.Sawat Alas-alasan Alam bawah Alam atas Alam tengah 292 BAHASA DAN SENI. Awan. kemakmuran. Tahun 32. Garuda. Matahari Burung Garuda. burung merak. Kekuasaan. Kalpataru. Agustus 2004 Tabel 1. kegembiraa. kupukupu. ALAM 80 . kumbang. Analisa Taksonomi Relasi antara Konsep Triloka dan Motif Batik Berunsur Alam SEMEN SAWAT (GURDO) ALAS-ALASAN INTERPERTASI MAKNA ALAM ATAS Gunung Semeru/ Brahma Lingga (Siwa) Tirta Marta Raja Burung. wahyu. kakyaan. angkasa. gunung. hidup. (pohon hayat) Ayam jantan. roh ALAM TENGAH Manusia. Lar (sayap). suci. kesaktian. pengavoman. tumbuhtumbuhan Kehidupan. harimau. Nomor 2. kuda. Lar (sayap) bersulur bangunan.

kematian Tabel di atas merupakan dasar analisis yang dilakukan oleh Susanto (1983: 235-237). Tetapi menekankan relasi batik berunsur alam dengan fenomena kekuasaan Jawa . Ular (naga) Kesuburan Roh-roh jahat. Model pemahaman yang dilakukan oleh Pujianto adalah analisis analogi. kedukaan. Zoetmulder. sungguhpun tidak seluruhnya salah. Betari Sri Laut. bahwa ketiga batik tersebut memiliki pormasi struktural yang lain. dan sebagian kecil berrelasi dengan kolom alam tangah . Berdasarkan hasil pencermatan melalui table 1. atau ular yang berrelasi dengan air. yaitu memandang kosmis tercipta serba dua (Sutarno. Salah satu burung yang diyakini sebagai kendaraaan dewa Wisnu. bahwa sistem analisis terhadap motif batik berunsur alam kurang menunjukan akurasinya. Pemikiran ini ditunjukan oleh Levi81 . yang dimungkinkan mendapatkan sebuah gambaran yang jelas tentang lambang-lambang dan ditafsir. 2002: 24. Sedangkan untuk kolom alam bawah tidak menunjukan adanya relasi. sengsara. yuitu tidak dengan paham triloka yang dianggam memberikan makna pada motif batik berunsur alam. ternyata tidak semua motif batik berunsur alam memiliki realisi dengan konsep triloka. ternyata segi tiga kuliner tersebut tidak cocok. Jika dicermati lebih lanjut paham monisme dualitik memandang dunia ini terbentuk berdasarkan relasi yang bersifat oposisional (bertentangan dalam kesatuan). yaitu menempatkan raja dengan kode (+) dan rakyat dengan kode (-). 2003:134). 2000:127). berrelasi dengan bulat yang disebut Matahari . Kalau diperhatikan. sebagai lawan garuda. bahwa konsep triloka dimungkinkan tidak tepat. Matahari yang berbentuk bulat. Paparan Pujianto dalam menguraikan makna-makna seolah-oleh benar. dan memiliki relasi dengan mitos tentang burung dewata . Tabel 1 menunjukan sebuah sistem analisis makan. atau tidak terbukti. Analisis ini menunjukan. Apabila diubah relasinya. yaitu sesuatu menjadi ada karena memiliki realsi dengan keberadaannya. Akan tetapi menjadi kurang mampu memberikan pemahaman yang lengkap dan jelas. Sebagai contoh garuda dipahami berdasarkan makna sifat dari binatang yang mampu terbang. tidak berelasi dengan bulat yang disebut dengan rembulan . sehingga ular berrelasi dengan dunia bawah (Pujianto. sacral. Wisnu.BAWAH Laut. simbol dibaca dari materi yang seolah oleh menyimbolkan dari sesuatu. Sementara Pujianto hanya menyitir dari hasil pemikiran peneliti lain yang telah berupa pernyataan. Kajian Strukturalisme-Simbolik 293 nya unsur-sunsur alam tampak mengelompok pada kolom alam atas . Analisis pada tabel 1 menunjukan. bukti Hidayat. atau kurang dapat memberikan pemahaman secara komperhensif. dan Veldhuisen (1988: 28) yang dicuplik oleh Pujianto ( halaman 134-135). Maka dimungkinkan. laut. sungai. Ditemukan relasi kearah paham monisme dualitik.

juga berada dalam dua waktu sekaligus. lambang dan arti tidak menunjukkan sumber data. yaitu sesuatu yang tidak tampak pada gambar itu sendiri. yang tidak terpengaruh oleh individu-individu yang meng294 BAHASA DAN SENI. yang relative tetap. Tahun 32. Tetapi tabel 2 di atas cukup jelas. cerita Garudia Kejayaan. Kajian Strukturalisme-Simbolik 295 Tabel 2. (antara ornamen. kesetiaan 82 . realasi. kebijakan. Analisis ditujukan untuk mencari strukltur (Pujianto mengartikan dengan Mitologi. Hidayat. Tabel analisis berikut secara keseluruhan memanfaatkan data yang ditulis oleh Pujianto berdasarkan cuplikan dari berbagai sumber. yaitu diucapkan. kekuasaan. bahkan mengetengahkan kemungkinan strukturnya. sedangkan aspek langue dari sebuah bahasa adalah aspek strukturalnya. Akan tetapi wujud gambar itu menunjukan adanya pola realisonal yang bersifat permanen. dan relasi konstan). yaitu menempatkan unsur-unsur yang saling berkait dan saling menjelaskan. (Ahimsa-Putra. bahwa motif batik berunsur alam dapat dipahami sebagaimana langue dan parole [simak John Strorey. tetapi bahasa sebagai parole tidak dapat terlepas dari perangkap waktu itu sehingga parole dianggap oleh LoviStrauss berada dalam waktu yang tidak dapat berbalik (non-revarsible time). dan waktu yang tidak bisa berbalik. Parole adalah aspek statistikal dari bahasa yang muncul dari adanya penggunaan bahasa secara kongkrit. 2003:105-142]. Analisis motif batik berunsur alam yang terdiri dari motif Semen. keluhuran. Bahasa memiliki aspek Langue dan parole parole adalah bahasa sebagaimana dia diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sarana berkomunikasi. kata Levi Strauss. cerita Ramayana. (simak halaman 134-138). 2001: 80-81). Mitos tentang burung Garuda (burung dewata).Strausss berdasarkan konsep Ferdinad de Saussure tentang bahasa. karena dia terlepas dari perangkap waktu yang diakronis. Bahasa dalam pengertian ini merupakan struktur-struktur yang membentuk suatu sistem atau merupakan suatu sistem struktur. Bahasa sebagai suatu lengue berada dalam waktu yang bisa berbalik (reversibele time). dan motif Alas-alasan dapat lebih mendalam. Struktur inilah yang membedakan suatu bahasa dengan bahasa yang lain. perwujudan yang terlukis pada kain (jarid) yang berfungsi sebagai busana para priyayi Jawa. dan simbol dapat dikemukakan sebagai berikut. yaitu waktu yang bisa berbalik. Tabel yang dibuat oleh Pujianto. Agustus 2004 gunakannya. motif Sawat. yaitru disebut struktur atau sebagai grammer pada bahasa. kebesaran. Aspek visual yang ditangkap menjadi perhatian utama untuk dipahami relasi-relasinya. tabel 1 Mitologi Jawa dalam Motif Batik (lihat halaman 137) tidak jelas. Nomor 2. Motif yang terlukis selain menunjukan pola gambar yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan. Analisis Relasi dan Simbol Motif Batik Berunsur Alam Wujud Motif Relasi Simbol Burung. Pemahaman di atas menunjukan. Mitos. seperti katakata (bahasa) yang sebagai alat komunikasi sehari-hari. Pertimbangannya adalah cuplikan tersebut merupakan data yang telah teranalisis. walaupun langkah pencermatannya tidak secara mendalam membicara Skematis antara wujud.

pikiran. kesetiaan Burung merak. kasih sayang. kegelapan 296 BAHASA DAN SENI. pencerahan. Tahun 32. bentuk wayang rampokan Kebebasan. kesucian Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. kesetiaan. Mitos Sri Sardono Kemakmuran. Mitos kematinan. pundhen desa. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. ketentraman Burung Garuda. pelepasan. Kejantanan Kekuatan. kecantikan Lar (sayap) Unggas bersayap. kebebasan Sulur Tanaman menjalar Kesuburan. kesetiaan Kumbang. Nomor 2. harapan. puncak meru. kekuasaan. Kuda.Lar (sayap) Unggas bersayap. kecerdirkan. Kejantangan Kekuatan. Sorga. kalpataru. kelestarian. tujuan Motif Semen Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. keabadian. keperkasan. kedamaian. kekayaan. Rumah. Kemakmuran. penghancur. perlindungan. kebijakan. gunungan wayang kulit (Kayon) Perlindungan. Wanita (femimimitas) Kasih saying. Tetapi mengarah pada kajian simbolik) pemikiran masyarakat pemilik simbol. kebijakan. kepergiaan. Mitos tentang kesejodohan Kecantikan. keluhuran. keinginan. langit. kekayaan. kekayaan. kekuasaan. ketenangan. Istana. rintangan. mitos SriSadana Kemakmuran. kayon Puncak. Dalam hal ini diarahkan pada masyarakat keraton Jawa dari dinasti raja-raja Mataram. kekuasaan. pencerahan. kebesaran. kekuatan perusak. ketentraman Motif Sawat Pohon hayat Pohon beringin. kebebasan Gunung Mitos tentang sorga. Sorga Ketentraman. Kejantanan (maskulinitas) Keperkasaan. ketentraman. Kebebasan. Mitos Laut selatan. alam kegelapa. kekuasaan Kapal. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata) Kejayaan. ketentraman Laut. Harimau. kebijakan. Kejantanan Keperkasaan Ayam jantan. harapan. kebesaran. pembasmi. Kupu-kupu. perdamaian Awan. ikatan kekerabatan. tanah Kejahatan. ringin kurung. kekuatan penakluk Motif Alasalasan Ular (naga) Dewa Siwa. keperkasaan Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. Agustus 2004 tentang mitologi Jawa. pikiran Bangunan. angkasa (langit) Maskulinitas (bapa). belencong (lampu/sinar) Kekuatan. kekuasaan. atau pandangan para priyayi 83 . mitos Sri Sadana.

Pujianto lebih menitik beratkan pemahamannya tentang mitologi Jawa yang tampak pada motif-motif batik berunsur alam. sebenarnnya semua orang tidak dengan amat menyadari tata bahasa (grammer) yang sedang digunakan. melainkan diperoleh atas dasar pertalian tanda-tana (artinya antar tanda) itu sendiri. Paparan pada artikel Pujianto tampaknya rasional. antara judul yang diajukan dengan pokok pikiran yang dipaparkan. 2001:31) Fenomena ini seperti kita berbicara. tanaman. unggas (burung garuda. Hidayat. kaitanya dengan mitologimitologi tertentu yang menghadirkan motif. logis. yaitu yang terrangkum dalam salah satu bentuk. posisi motif. seperti motif Sulur-suluran. Kajian yang menjadi sasaran adalah kesadaran dari ketidaksasaran tindakan. Kondisi ini dikarenakan oleh sifat diskriptif yang tidak analitis. Melalui pendekatan Strukturalisme dapat mencermati motif (wujud material visual sebagai tanda) pada Batik. dan lain sebagainya.(maksud dari Pujianto adalah keraton Kasunanan Surakarta). akan tetapi lebih mendalam. Maksudnya adalah mencari makna dari tanda . dan lain-lain. garis-garis. naga. dan referentif. yaitu tentang paham monisme dualistik. Fenomena alam yang berwujud motif alam pada kain batik. pohon hayat. Sawat. sehingga tercipta berbagai bentuk mitos tentang asal usul sebuah komunitas. dan berbagai perujudan lain termasuk jumlah dan pengulangan bentuknya. kupu-kupu. atau Alas-alasan. Unsur mitos. kemudian motif-motif dianalisis keterkaitannya dengan motif-motif lain untuk menentukan sebuah struktur. merak). meliputi warna dasar. makna tidaklah dicari pada dunia eksteral. gambar. 2001:31). mitos kekuasaan. Pendekatan strukturalisme mengarahkan kajian pada mitos. mitos kesuburan. salah satunya ada pada motif batik. secara linier dicari keterkaitannya dengan mitos Jawa (salah satunya digali dari paham filosis Jawa). lidah api. kata demi kata yang terlontar sangat disadari maknanya. Mitos adalah grammer yang membimbing sebuah komunitas memahami realitas kehiduannya. sehingga tidak menyadari adanya ambiguitas. Pujianto mengemukakan opininya tentang mitologi Jawa pada subbab Pandangan Hidup Orang Jawa (halaman 137-140). Akan tetapi perlu disadari. tetapi bersamaan dengan itu. Kajian Strukturalisme-Simbolik 297 dan keputusan sesorang. Artinya selembar kain batik yang disebut Semen. Pendekatan Strukturalis tidak hanya berhenti memahami teks (wujud kain batik. Motif-motif pada batik yang memvisualisasikan fenomena alam diangkat sebagai morfem (unsur terkecil dari unit kata). atau Hermeneutik. dan motif-motifnya). Struktur Batik Semen didiskripsikan sedemikian rupa. Metode ini yang dimaksud oleh Heddy Shri Ahimsa-Putra sebagai kajian tekstual (2000: 404). Paparan tersebut merupakan interpertasi 84 .motif pada kain batik. seolah-olah referensi dari berbagai sumber benar-benar memberikan dukungan pada asumsi judul. Maka. awan. Struktur sebagai bagian dari sistem mental manusia adalah sesuatu yang berada di luar kesadaran manusia dan merupakan kebudayaan itu sendiri (Masinambaw & Hidajat. ucapan. Kemudian dilanjutkan menelaah makna dengan alat analisis. ukuran. mitos perjodohan. salah satunya adalah menggunakan teori semiotika. seperti bentuk batik Semen. analisis kebudayaan berdasarkan perspektif strukturaliseme adalah analisis unit mental (Masinambaw & Hidajat. dipahami sebagai sebuah struktur.

] dan duwur (atas) [ + ]. dan kreativitas yang dikarsai. Danaita. Persatuan ini diibaratkan sebagai manunggaling kawula gusti (dengan g kecil). Agar dapat memahami eksistensi Gusti dan kawula dan analoginya gusti (raja) dan kawula (rakyat) maka tercipta sebuah konstruk pikiran Kawula Gusti . Darmaita ( ahli stragegi perang. yaitu makna yang tersimpan pada struktur dalam (deef stracture).untuk menemukan makna.. tetapi harus diwujudkan sedikitnya dua relasi. Konsep raja sebagai manivestasi dewa ini ternyata berlanjut hingga dinasti raja-raja Mataram. berfungsi (raja) sebagai pusering bumi lan langit (pusat bumi dan langit sekaligus) (2002: 101). Agustus 2004 presentasi idealistik raja Jawa yang menganggap dirinya adalah menivestasi Dewa . Anthony Reid mengemukakan perihal esensi pria-wanita yang bersifat saling melengkapi. yaitu sebuah paham kemanunggalan (kesatuan) yang berikutnya menjadi paham monisme dualitik. Paham ini dikenal dengan konsep dewa raja . maka juga ada persatuan antara manusia dengan penguasa masyarakat. Curiga manjing warangka. Tuhan (Gusti) memiliki kuasa atas makluk (kawula) yang dikuasai . ANALISIS STRUKTUR Relasi isor (bawah) [ . seorang peneliti dari Universitas Indonesia menjelaskan paham tersebut sebagai berikut: Dalam pikiran orang Jawa. sebagai berikut: Kepriaan biasanya dikaitakan dengan warna putih 9air mani). Penguasa dan rakyat ada hubungan timba-balik. Pandangan ini telah dikonstruk sejak jaman kerajaan Singasari. salah satu klasifikasi simbolis dalam budaya Jawa (Koentjaraningrat. siap memberi bantuan pada siapapun yang membutuhkan. yaitu Loro-loroning Atunggal. dan rakyat dipandang sebagai kawula . Woro Ariyandini S. Nomor 2. kesejukan.. Raja yang bersifat Saraita. bumi. bahwa lapisan bawah yang biasa disebut rakyat juga mendapat perhatian. yaitu . pengendalian. istilah ini berrelasi dengan 85 . langit. Tahun 32. spontanitas. Hakekatnya adalah sebuah 298 BAHASA DAN SENI. paparan berikut ini menganalisis deef stracture berdasarkan realsi antar tanda pada motif batik yang dimaksud. sebuah batik yang digunakan oleh Susuhunan Pakubuwana (Surakarta) ketika duduk di dapar kencana. Agar uraian Pujianto menjadi lebih lengkap. Mitos tentang relasi atas-bawah juga hadir pada konsep-konsep tentang kesuburan. subtansi. (1992:186) Menyatunya dua eskistensi tersebut menurunkan yang disebut wiji . sebuah citra yang kuat. dan bersikap adil). Ken Arok melegitimasi dirinya sebagai putra Betara Brahma. yaitu memahami angkasa sebagai bapa (eksistensi maskulin) dan bumi sebagai ibu (eksistensi feminim). dan kreativitas alami kedua-duanya dipandang perlu pemaduan. Penguasa masyarakat adalah raja yang dianggap mewakili kekuasan Tuhan di dunia. Konsep tersebut dimungkinan dapat ditafsirkan dari bentuk struktur batik Sawat. Wanita dikaitkan dengan warna merah (darah). bahwa raja Jawa dipahami sebagai Gusti (bahasa Jawa gusti juga dipahami sebagai kekuasaana gaib dari realitas transendental). Kekuasaan tidak dapat berdiri sendiri. bentuk.1994 :228) yang terwujud dalam mitos-mitos kekuasaan. atau tunas yang harus di semai kan. Bila dengan ungkapan manunggaling kawula-Gusti (dengan G besar) dimaksudkan sebagai persatuan antara manusia dengan penguasa gaib (Tuhan). kehangatan. bibit .

sabda pandita ratu. Kenyataan ini hingga kini dapat disimak pada posisi simpingan (jajaran) figure wayang kulit. Gunung (merapi) berada di Utara. simbol keseimbangan ekologi. keluarga. menunjuk pada struktur tengen (kanan)[+]. Di sini menempatkan posisi Gunung sebagai sumber mataair. ora kena wula-wali.1989: 635). Ayah ibarat pohon. eksistensinya sebagai pengayom. Barat menunjukan arah marabahaya. Gunung laut diwujudkan secara struktural pada bentuk motif Alas-alasan. dan Alas-alasan merefleksikan sebuah deef structure sebagaimana skema garis bersilang. Agustus 2004 pat dipahami sebagai hutan . Hutan-hutan yang lebat merupakan tempat yang aman. tempat makluk hidup bertebaran. dan laut sebagai muara. kebijakan atas dirinya. Tempat arwah yang tidak beruntung. sebuah areal tempat berlindungnya semua satwa. Relasi gunung laut . dan kejayaan. kaitannya dengan posisi kekuasaan. Gambar 3. ratu pelindung raja-raja Jawa (sejak jaman Mataram). Kedudukan relasi ini bermakna Loroloroning Atunggal dalam posisi horizontal. Ketika laki-laki (ayah) hadir sebagai penguasa menunjukan sikap berbudi bawa leksanan . Maka raja Jawa yang dilegitimasi dengan mitos RajaDewa menunjukan. Gunung laut menunjukan posisi horizontal. horizontal dan vertikal. Selatan menunjukan arah laut. Paparan relasional dari motif batik Semen. dan bermukimnya jin. kebesaran. Semi memberikan petunjuk adanya kaitan dengan mitologi tentang padi . setan. sering ditunjukan pada fenomena candikala (mega merah tembaga ketika sore hari). dan roh-roh pengganggu manusia. yang artinya semi. gunung adalah sorgaloka. sedangkan dunia ada percapada. dan juga manusia. dan seluruh rakyat. Kayon dalam konsep wayang Jawa adalah gunungan . atau sakral. Sawat. keagungan. Gunung laut juga berkaitan dengan kiblat (arah mata angin). Konsep kesuburan menempatkan kedudukan suami (tengen/ kanan) dan istri (kiwa/kiri). bahwa titah (perintah) raja selalu dipandang sebagai bijaksana. sorga tempat bersemayamnya para dewa.motif batik Semen . Skema oposisional berdasarkan monisme dualitik. Nomor 2. atau pohon sorga (Sri Mulyana. berrelasi dengan emas . ancaman Batari Durga. Eksistensial hutan ditampakkan perwujudan kalpataru (pohon hayat). dan laut berada di selatan (pantai parangtritis). yang menunjukan kelompok kanan (bala tengen) dan kelompok kiri (bala kiwa). keramat. siksaan. atau meru . Ini tampak pada struktur batik Alas-Alasan. raja berada di timur (gegong kuning keraton Kasultanan Yogyakarta menghadap ke Timur). 1982:33). yang tumbuh di bumi Hidayat. yang da 300 BAHASA DAN SENI. anak buah. yaitu Betari Sri dan Raden Sedana (Danandjaya. Hutan merupakan gagasan utama adanya kayon atau kayun yang berarti hidup. Kajian Strukturalisme-Simbolik 299 (tanah). Tahun 32. tumbuhan. menampakan hubungan yang bersifat duniawi. Hutan lebih bersifat magis.kiwa (kiri)[-]. pelindung istri dan anakanaknya. bersemayamnya ratu pantai selatan. Sebuah pola pikir orang Jawa disebut loro-loroning a tunggal Tengen (kanan) 86 . Gunung laut berrelasi horizontal.

Pujianto telah berusaha untuk memaparkan gagasanya tentang mitologi Jawa kaitannya dengan motif batik berunsur alam. Asumsi Pujianto perlu diuji. Struktur yang berupa persilangan yang dibentuk antara garis vertical. dan memilik model pemaparan dengan menekankan aspek simbolisasi. Kenyataan ini yang dimaksudkan oleh Emil Durkheim sebagai organisme. dan Alasalasan. Sawat. Setelah dilakukan analisis unsur motif. Temuan ini menunjukan. Ternyata tidak mempu menjawab gagasan Pujianto yang mengkaitkan konsep triloko dengan bentuk motif batik. setidaknya meminjam model segitiga kuliner yang digunakan oleh Lovi-Strauss untuk menganalisa makanan. Temuan tersebut merupakan modal untuk menyusun struktur. 1997:790. Sebagai contoh asumsi Pujianto. tetapi dapat menunjukan kedudukan objek. hubungannya dengan mitos kesuburan dan kekuasan. dan juga dimungkinkan adalah motif batik. dan Alas-alasan berkati dengan paham Hindu tentang triloko . dan simbol di temukan sejumlah kecendrungan makna. Terlebih. makanan tradisional. 87 . di mana suatu benda memiliki posisi dan fungsi tertentu. bahwa motif bagik Semen. Sungguhpun analisis simbolis terpaku pada teks . perdukunan. Sawat.Kiwa (kiri) Isor (bawah) Duwur (atas) (-) (+) Batik Batik AlasBatik Semen (+ ) (-) Gusti Kawula Gunun Laut Hidayat. akibatnya aspek struktur terabaikan. relasi. seperti topeng. Pujianto tidak mengkaitkan tiga motif batik Semen. ilmu sihir. Kapasitas benda pada posisi dan fungsinya semata-mata terkait dengan benda lain secara struktural. Akibatnya sulit untuk mengetahui hubungan strukturalnya. bahwa fungsional suatu benda selalu terkait dengan kedudukan atau posisi di antara benda yang lain. Inspirasinya menggunakan segitiga kuliner berasal dari segi tiga vocal: gagasan dari seorang lingguis Roman Jakobson (Cremer. Kajian Strukturalisme-Simbolik 301 Telaah dengan perspektif strukturalisme tidak hanya mendiskripsikan makna mitologis. PENUTUP Analisis mitos kaitanya dengan perwujudan benda budaya. Pijianto mempunyai sudut pandang. kaitanya dengan mitologi Jawa tentang kekuasaan dan kesuburan. berbagai asumsi dari para peneliti lain atau tulisan-tulisan lain yang bertebaran dengan gampang mempengarui.

1988: 56-57). Kinarya gedhong dening sang nata. yaitu mendudukan wanita pada sumbu vertikal dengan laki-laki. Fenomena tersebut dapat disimak pada sebuah tembang dhandhanggula dalam Serat Niti-Praja. 88 . tempat arwah bersemayam. yaitu adanya konsep Dewa-raja . Garis ini mengubungkan antara struktur motif batik Semen dan Alas-alasan. Semunira den asumeh. Struktur silang (crossing model) menjelaskan tentang makna kawula-Gusti atau raja-rakyat yaitu sebuah falsafah kekuasaan rajaraja Jawa. Kadi garwa kawitan. Pujianto mengkaitkan dengan sikap wanita sebagai pembatik yang rela. Setyanireng kakung. naga. yaitu tentang asal usul manusia dan kepasrahannya terhadap sifat gaib transendental (Tanpoaran. dan kekuatan penghancur. ini sebuah kerelaan. yaitu ngabekti. Pemikiran itu juga berkait dengan konsep sangkan paraning dumadi . isor 302 BAHASA DAN SENI. sabar. Seperti istri pertama. Untuk mencapai tujuan ini orang harus mengatasi kekangan-kekangan yang membelenggu dirinya kepada eksitensi gejalan seperti misalnya hawa nafsu dan rasionalitas duniwi yang hanya menuju kearah persepsi kebenaran yang bersifa kehayali (1996:31).duwur (atas) bernilai (+) yaitu bermakna transkendental. Tahun 32. Gambaran wanita sebagai pembatik itu adalah sebuah metafora. Garis horizontal menunjukan antara rentang Tengen (kanan) bernilai (+) gunung . Pasrahlah dalam segala kehendaknya. Nomor 2. temen. tetapi juga sekaligus menjelaskan Lanang dan Wadhon secara horizontal. dan budi luhur. narima. Kepasrahan ini seperti sifat Garuda yang dengan rela sebagai kendaan dewa Wisnu. Boga busana mukya Kalau engkau dijadikan istri. Kedudukan wanita Jawa dimata laki-laki sebagai berikut: Lamun sira rineka pawestri. tempat roh-roh jahat. Hendaknya wajahmu berseri manis. Angrasa yen sinatyan. ketulusan. gagasan mencapai persatuan antara hamba dan Tuhan secara mistik ( manunggaling kawula-Gusti). yang berposisi dengan ular naga pada cerita tentang Garudia . Buat simpanan oleh sang raja. Dan pelayananmu bila ketemu. Ing raga nuta saosa kersing laki. dan sekaligus kepasrahan. sebuah relief yang dipahat di candi Kidal. berkait dengan kedudukan raja . Niels Mulder menjelaskan. Agustus 2004 (bawah) bernilai (-) yaitu bermakna profane. dan juga kesetiaan. Kiwo (kiri) bernilai (-) berrelasi dengan laut . Struktur silang tersebut juga dapat menjelaskan kedudukan wanita dan laki-laki dalam pengertian vertical. swargaloka. Kajian Strukturalisme-Simbolik 303 Mang salokanira kepanggih. Hidayat. berkait dengan kedudukan rakyat kawula . Sebuah kisah Garuda yang membebaskan ibunya dari tawanan bangsa naga. (2003: 139). Di sini terjadi sebuah pemahaman tentang pesejodohan.

2001. Aryandini S. Diterj. Yogyakarta: Galang press. Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Mochtar Pabotinggi. Pewayangan Dalam Budaya Jawa artikel dalam jurnal Dewa Ruci. Flores: Nusa Indah. Kaplan.Kesetiaanmu pada suami Merasalah jika dicintai Jiwa raga serahkan sepenuhnya pada pria Makan minum kegemarannya. artikel pada Jurnal Bahasa dan Seni. Albert A. Faufik & Leeden. Teori Budaya dan Budaya Pop. Surakarta: Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta.B. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. Yogyakarta: Hanindita. April 2002. Claire. 1985. 2000. Yogyakarta: media Pressindo. Manunggaling Kawula Gusti. Memutar Taman Sri Wedari. Abdullah. [tanpa kota terbit]. Semilogi Roland Barthes. Asal-usul. diterj. Universitas Negeri Malang. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. vol. Niels. Ketika Orang Jawa Nyeni.J. Yayasan Indonesiatera.K. Yahya. Mulder. E. 1996. 1992. 1983. Storey. Anthony [1988]. Wayang dan Lingkungan. Ahimsa-Putra. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Jakarta: Balai Pustaka. 2002. Artikel pada Jurnal Bahasa & Seni. 1988. 2001. (Purwadi. Basis. Direktorat jendral Kebudayaan. Sastra. Semiotik. Jakarta: Gramedia.Yogyakrta: Gadjah Mada Universitas Press. Shri Heddy (ed. Sri. Tahun 32. Woro. 2001:8-9) DAFTAR RUJUKAN Tanpoaran. tahun 31. Purwadi. 2002. James.C. Randrianarisoa.2000. Teori Budaya. 2001. Olga. no.1986. Sejarah perkembangan Seni Lukis Batik Indonesia . 1974. 1. 304 BAHASA DAN SENI. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. Nomor 2. nomor 1. Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam . pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa. John. diterjemahkan: Landung Simatupang. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. Mitologi Jawa Dalam Motif Batik Unsur Alam . Bandung: Masyarakat Seni Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Jakarta: Gunungagung. 2000. Amri. Diterj. tahun 31. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Pujianto. Holt. Danandjaya. Totemisme di Madagasikara artikel pada majalah budaya Basis. Soedarsono. Februari 2003. Malang: Fakultas Sastra. Jakarta: Balai Pustaka. Kebudayaan Jawa.Yogyakrta: Pustaka Pelajar. Sutarno. Niels. Rahayu S. Proyek Penelitian dan Pe 89 . Dick Hartoko. 1994.). Ciptaprawiro. 2001. Pujianto. Juni 1983 XXXII 6. Wayang. Pribadi dan Masyarakat di Jawa. Malang: Fak. Jakarta: Sinar Harapan Mulyana. Filsafat dan Masa depannya. & Hidajat. Mengkaji Tanda dalam Artifak. Mulder. Budiono. 1. van Der. A. Zoetmulder. 1986.M. Yogyakarta: Qalam. Abdullah. David & Monners. 2003. 2003. Kurniawan. Agus. Antara Alam dan Mitos. nomor 1. 2003. Februari 2003. Falsafah Jawa. Sangkan paraning Dumadi. Herusatoto. Reid. 1967. Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas. Yogyakarta : Yayasan P. Cremers. P. Masinambow. Yogyakarta: Makalah disajikan pada seminar Javanologi. Universitas Negeri Malang. 1997. Surabaya: Yayasan Djojo Bojo & Paguyuban Sosrokertanan Surabaya. Agustus 2004 Koentjaraningrat.2000. 1989. 1982.

dan analisis dokumen. latar. Strategi yang digunakan adalah studi kasus tunggal yang dilakukan pada satu sasaran (subjek) dan satu karakteristik. Amanat yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten cukup 90 . Teknik validasi data lain yang digunakan adalah informant review. nilai pendidikan adat.ngkajian. nilai pendidikan agama (religi). Teknik validasi data yang digunakan adalah triangulasi data/sumber. dan nilai pendidikan kepahlawanan. dan terjadinya suatu tempat. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui observasi langsung. Tokoh yang dominan dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah manusia yang digambarkan sebagai manusia yang memiliki kasaktian dan berkarakter baik.G. yaitu cerita rakyat Kabupaten Klaten. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. (2) mendeskripsikan struktur cerita rakyat Kabupaten Klaten. Lima cerita rakyat tersebut. Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa sumber yaitu informan. Informasi dari penelitian ini dideskripsikan secara analitis dan teliti. observasi benda-benda fisik dan dokumen. (2) “Petilasan Sunan Kalijaga”. dan legenda keagamaan. pencatatan. Teknik cuplikan (sampling) yang digunakan adalah purposive sampling. dan (3) mendeskripsikan nilai edukatif yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. perjuangan seorang tokoh. Pendeskripsian nilai edukatif (pendidikan ) dalam cerita rakyat meliputi nilai pendidikan moral. Isi dan tema cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah syiar agama. dan (5) “Kyai Ageng Gribig”. dan amanat. Pendeskripsian struktur cerita rakyat meliputi isi cerita. tokoh. (4) “Reyog Brijo Lor”. Sarmadi ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan jenis-jenis cerita rakyat Kabupaten Klaten. wawancara. Alur cerita yang digunakan adalah alur maju atau lurus. legenda perseorangan . tema. nilai pendidikan sejarah (historis). Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis struktural dan analisis model interaktif (interactive model of analysis) Dalam penelitian ini ada lima cerita rakyat Kabupaten Klaten yang dihimpun dan dianalisis. KebuKajian strukturalisme dan nilai edukatif dalam cerita rakyat kabupaten Klaten L. Cerita rakyat Kabupaten Klaten tersebut diklasifikasikan ke dalam legenda dan lebih spesifik dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok legenda setempat. dan teori. perekaman. alur. yaitu: (1) “Ki Ageng Padang Aran”. Latar yang paling dominan adalah latar tempat. (3) “Raden Ngabehi Ronggo Warsito”. metode.

bervariasi. Nilai pendidikan yang terdapat dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. adalah Nilai pendidikan moral . dan nilai Kepahlawanan 1/1dayaan Nusantara (Javanologi). nilai pendidikan adat (tradisi). 91 . nilai pendidikan sejarah (historis). nilai pendidikan agama (religi).