Teori Strukturalisme – Levi Stauss

A.

Pendahuluan Teori Sosiologi dapat dibagi sesuai dengan periode ditemukannya, yaitu,

teori Sosiologi Klasik dan teori-teori Sosiologi Modern dan Post Modern. Teori Strukturalisme termasuk teori Sosiologi Modern dan juga Post Modern, karena dalam perkembangannya, teori ini terus dikembangkan dan menjadi teori Post Strukturalisme. Paper ini ditulis dalam rangka ingin menjelaskan mengenai teori Strukturalisme Levi-Strauss, yang termasuk teori Sosiologi Modern, namun untuk memperjelas pembahasannya akan ditambah juga dengan pembahasan teori Strukturalisme Post Modern. Walaupun teori ini jelas memusatkan perhatiannya pada struktur, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan struktur yang menjadi sasaran perhatian teoritisi Fungsionalisme Struktural (salah satu teori Sosiologi klasik). Perbedaanya pada tekanannya, yaitu Fungsionalisme Struktural memusatkan perhatiannya pada struktur sosial, sedangkan Teori Strukturalisme Levi-Strauss memusatkan pada struktur linguistik (Ritzer, 2004 : 603). Teori ini sebenarnya lebih terkenal sebagai teori Antropologi, tetapi dalam perkembangannya juga dimasukkan dalam teori Sosiologi. Strukturalisme memberikan perspektif baru dalam memandang fenomena budaya. Hal-hal yang tadinya dianggap sederhana dan tidak penting, justru memiliki peran yang sangat penting dalam menemukan dan memahami gejala sosial budaya, misalnya adalah bagaimana kita mungkin bisa memahami suatu fenomena sosial dengan menggunakan analisis sebagaimana para ahli Linguistik memahami bahasa. Bahasa memiliki tempat yang istimewa dalam ilmu sosial. Sebagai alat berkomunikasi, bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kebudayaan manusia. Oleh karena itu wajar jika untuk mengungkap persoalan budaya dapat dilakukan melalui atau mencontoh metode bahasa (ilmu bahasa). Marcel Mauss (dalam Allen Lane, 1968) menuliskan bahwa:
1

“Sociology would certainly have progressed much further if it had everywhere followed the lead of the linguists……”. Maksudya Sosiologi akan semakin berkembang jika diinspirasi oleh para ahli bahasa dalam memahami gejala sosial. Salah satu ilmuwan sosial yang menggunakan cara bagaimana memahami bahasa dalam menjelaskan fenomena sosial adalah Levi-Strauss. Levi-Strauss melakukan konseptualisasi ulang di bidang Antropologi

dengan sebutan "tiga nyonya" yaitu geologi, psikoanalisis, dan Marxisme untuk membantu membentuk tren dalam ilmu-ilmu sosial dan teori sastra, dan dipengaruhi oleh intelektualisme seperti Michel Foucault dan Jacques Derrida. Lahir di Belgia, Levi-Strauss belajar filsafat di universitas Sorbonne, Paris dan mengajar Sosiologi di Brasilia pada 1930-an. Teori-teorinya didasarkan hasil penelitannya di belantara Amazone di Brasilia. Sebagian besar teorinya dibangun selama 3 tahun ketika menghabiskan waktu bersama suku Indian di pedalaman Brasil. Pergumulan antara ilmu sosial dan ilmu bahasa telah melahirkan perspektif baru yang membuka jalan bagi perkembangan kedua bidang ilmu tersebut. Ilmu bahasa semakin berkembang berkat penemuan-penemuan dalam bidang Antropologi, demikian juga yang terjadi pada ilmu sosial atau Antropologi yang perkembangannya banyak dipengaruhi oleh para ahli bidang linguistik. Proses inilah yang kemudian melahirkan teori Strukturalisme Levi-Strauss itu. N. Troubetzkoy (dalam Alan Lane, 1968) menyatakan bahwa pikiran dasar dari teori Struktural adalah: Pertama, linguistik struktural mengalami lompatan dari studi fenomena kesadaran linguistik pada infra-struktur nir-sadar. Kedua, Strukturalisme tidak menganggap istilah-istilah itu independen, tetapi menganalisis hubungan antar istilah-istilah yang saling terikat. Ketiga, Strukturalisme mengenalkan sistem konsep. Dan yang terakhir, linguistik struktural ditujukan untuk menemukan hukum umum (general laws) baik secara induksi maupun dengan cara deduksi.

2

Lahirnya teori strukturalisme dalam bidang Antropologi/Sosiologi telah melahirkan berbagai perspektif dalam memandang fenomena budaya. Dengan teori ini, persoalan-persoalan tanda (simbol dalam bahasa) semakin mudah dipahami. Hal ini dikarenakan setiap persoalan bisa diidentifikasi melalui struktur dari persoalan tersebut. Karena dalam konsep ini segala sesuatu yang berbentuk diyakini memiliki struktur. Susunan unsur-unsur dapat dianalisis sehingga dapat diketahui asal-usul konsep itu dan juga gejalanya. Dengan demikian penjelasanya akan semakin mudah. Strukturalisme begitu berpengaruh pada pemikiran di kalangan ilmuwan ssosial di tahun 1960-an, terutama di Perancis. Era strukturalisme ini muncul setelah era eksistensialisme yang marak setelah Perang Dunia II. Strukturalisme melakukan beberapa kritik terhadap eksistensialisme dan juga pemikiran fenomenologi. Strukturalisme dianggap menghancurkan posisi manusia sebagai peran utama dalam memandang dan membentuk dunia. Strukturalisme berkembang pesat di Perancis dengan tokoh-tokoh utama selain Claude Levi-Strauss, yaitu Micheal Foucault, J. Lacan, dan R. Barthes. Aliran ini muncul ketika filsafat eksistensialisme mulai pudar. Masyarakat yang semakin kaya dan dikendalikan oleh berbagai bentuk struktur ilmiah-teknoekonomis mapan dan terkomputerisasi memudarkan aliran humanisme romantis eksistensialis yang berkisar pada subyek otonom, daya cipta peorangan, penciptaan makna, dan pilihan proyek masa depan serta dunia bersama sebagai tempat tinggal yang manusiawi. Usaha eksistensialisme untuk mengubah dan memperbaiki keadaan tersebut tidak berdaya dihadapan kenyataan-kenyataan struktur yang makin kuat yang mengutamakan kemantapan dan keseimbangan struktural daripada dinamika kreatif dari si subyek. Dengan diilhami oleh Marx dan Freud, para strukturalis menyangsikan istilah-istilah kaya kunci eksistensialis seperti ,"manusia", "kesadaran intensional", "subyek", "kebebasan", "otonomi" dan menggantinya dengan istilah-istilah mereka, yaitu: "ketidaksadaran", "struktur","diskursus","penanda" dan "petanda".

3

terutama dengan pemikiran fenomenologi. meskipun kemudian ia mampu memilih atau membuat sendiri sebuah struktur. tapi ia kembali akan terjebak di dalamnya. Berbeda dengan pandangan Heidegger bahwa seseorang harus memiliki tanggung jawab pribadi untuk membentuk hidupnya sendiri. Bahasa adalah sistem komunikasi. Pandangan ini mirip dengan faktisitasnya Heidegger dimana manusia terlempar ke dunia tanpa bisa dirundingkan lebih dulu. Sistem kekerabatan terdiri dari relasi-relasi dan oposisi-oposisi. Hubungan ini sama seperti bahasa. karena klen-klen atau famili-famili lain tukar-menukar wanita-wanita mereka. Perbedaan lain yang cukup mendasar. adalah pencapaian makna atau kebenaran atas yang ada.saudara perempuan. 4 . anakbapak. paman-keponakan. hubungan antar manusia berada dalam sistem yang tidak disadarinya. ia memiliki peran. Dengan menggunakan teori linguistik dari Saussure (Semiologi). Sebagaimana halnya bahasa. manusia mempunyai putusan sendiri. Supaya tidak menjadi manusia "massal" tentu dituntut kesadaran penuh tentang lingkungannya yang menurut strukturalis mustahil untuk disadari secara penuh. ia bukan manusia "massal" atau diombang-ambingkan arus mode dan kecenderungan sosial. Perbedaannya faktisitas mengandaikan adanya kebebasan yang menegaskan eksistensialitas manusia. Sedangkan keterjebakkan manusia dalam jaring-jaring struktur mengandaikan hilangnya unsur subyek dan obyek. semua hanyalah bagian dari tenunan struktur. saudara lelaki . kekerabatan pun merupakan sistem komunikasi. Kekerabatan adalah suatu sistem komunikasi. Dalam pandangan strukturalis manusia terjebak dalam suatu struktur budaya yang dijalinnya sendiri. karena informasi atau pesan-pesan yang disampaikan oleh satu individu pada individu lain. kekerabatan pun dikuasai oleh aturan-aturan yang tidak disadari. Ketidaksadaran menjadi sebuah unsur pokok yang menandai keberadaan manusia. LeviStrauss melakukan analisis terhadap masalah kekerabatan.Meskipun banyak pertentangan antara eksistensialisme dan strukturalisme tapi ada juga yang saling melengkapi. Ketika manusia lahir ia sudah ada dalam suatu struktur. seperti misalnya suami-istri.

Sebaliknya "humanisme baru" dengan pola 5 . Levi-Strauss membentuk strukturalisme sebagai "humanisme integral baru" yang mengkritik dan mengatasi humanisme klasik Barat. seorang fenomenolog. kategori. "Pemahaman" berarti memahami keberadaan sesuatu yang spontan dan tampak bagi kita itu kepada suatu taraf yang lebih dalam. kendatipun kenyataan konkret tidak bisa dipahami secara lain. sambil menyadari bahwa realitas yang sebenarnya tidak pernah tampak sendiri dan langsung kelihatan. Dan sisasisa penyembunyian diri itulah yang merupakan bekas-bekas yang hendak "dibaca" sebagai tanda penyingkapan diri yang tak langsung dari kenyataan dan kebenaran yang sesungguhnya. Seperti sudah diuraikan sebelumnya bahwa Levi-Strauss enggan menggunakan nama "strukturalisme" yang terlalu ideologis. karena menciptakan pemisahan dan pertentangan antara manusia dan alam.Bagi Heidegger. Ricoeur menjuluki Levi-Strauss sebagai "kantianisme tanpa transendental") bahwa akal budi manusia memiliki sejumlah paksaan. Melalui kajian Antropologi budaya. Namun kenyataan itu tidak pernah dimengerti seluruhnya. ia memang menolak beberapa pandangan umum mengenai strukturalisme bahwa aliran ini anti humanisme. tetapi justru suka menyembunyikan diri. ketentuan dan aturan (bentuk mental apriori. ide regulatif dan sebagainya) yang dikenakan pada kenyataan empiris. Tugas strukturalis lah untuk mengorek makna yang laten tersebut. antara budaya Barat dan budaya lain ( non Barat) yang dianggap inferior (merasa rendah dari Budaya Barat). Menurut Levi-Strauss. sebab tiap usaha merepresentasikannya pada dasarnya kurang memadai. Sedangkan Levi-Strauss dengan mengacu pada Kant (P. mengabaikan manusia dan melarutkannya dalam struktur yang berkuasa. Makna yang dicari tersembunyi dalam bendabenda yang tampak. Humanisme klasik dianggap mangancam kehidupan manusia. Ada sendiri menampakkan diri dan terbuka. Ini didapat dari Husserl. yang mengatakan bahwa obyek kesadaran adalah fenomen dalam arti: ”apa yang menampakkan diri”. Ada itu sendiri tampak sebagai tidak tersembunyi ( aletheia). kecuali lewat paksaan mental tersebut.

strukturalisme ini tidak mengadakan garis pemisah dan penggusuran yang fatal. artinya tidak menguasai keadaan. Kebudayaan primitif menurut Levi-Strauss memiliki keaslian dalam menciptakan patokan keselarasan manusia dengan alam dan sesamanya. Perbedaanperbedaan yang ada tidak dilihat sebagai bertentangan. Ketika Levi-Strauss dengan strukturalismenya berusaha menghilangkan dualisme subyek dan obyek yang dianggap mengancam kehidupan manusia maka ia meleburkannya dalam kesatuan struktur yang tak terpilah. Rasa kagumnya terhadap budaya primitif tertuang dalam bukunya Mythologica III. Dia mengammbarkan kebudayaan primitif sebagai berikut: "Suatu humanisme yang seimbang. Levi-Strauss menyatakannya dengan keprihatinan terhadap nasib masyarakat primitif yang dilenyapkan oleh kekuasaan kolonial Barat demi keuntungan ekonomis (penjajahan yang menggunakan penemuan-penemuan alat /teknik modern). mengutamakan hidup atas manusia sendiri dan mengutamakan rasa hormat terhadap mahluk-mahluk lain melampaui rasa cinta diri sendiri". Hal ini jelas terdapat persamaan dengan pemikiran Heidegger yang juga mengkritik metafisika Barat yang memisahkan subyek (manusia) dan obyek (alam). Penguasaan subyek atas obyek ini dibenahi dengan istilah menggembalakan ada. tidak bermula dengan hidup manusia sendiri. tetapi mengutamakan dunia dan alam semesta atas hidup. Bahaya baru dapat saja muncul dengan tidak ditekankannya pribadi kreatif manusia dan bisa terjebak menjadi manusia "massal". tetapi justru menekankan sifat saling terkait dan mencakup segala sesuatu. Kekurangan ini dapat dilengkapi dengan pemikiran Heidegger yang meski mengkritik dualisme 6 . Persamaan lain adalah keduanya sama-sama menentang bentuk teknik (kemajuan teknologi di Barat) yang jika tidak diwaspadai akan menjadi subyek baru dan menindas keberadaan manusia. Kedua pemikir memiliki beberapa perbedaan dan kesamaan. tetapi justru saling melengkapi.

Sebuah periode yang ditandai dengan pergolakan intelektual dan juga ditandai dengan berkembang pesatnya strukturalisme. Meski tidak mungkin juga manusia menghindari sepenuhnya arus massa tapi dengan bantuan kesadaran dengan hati nurani manusia yang tidak mudah hanyut. Saussure memproklamirkan bahwa tanda bahasa dibangun melalui struktur relasi antar tanda bahasa yang menunjukan adanya perbedaaan (Payne. 1996:513). Kata “struktur” yang menjadi dasar dari pemikiran strukturalisme dapat kita lacak dengan memahami Semiotika (Semiotics) atau Semiologi (Semiology) yang dikembangkan secara brilian oleh Saussure untuk mengkaji tanda bahasa. Adalah Ferdinand de Saussure yang mengawali kajian strukturalisme dalam bahasa. walaupun sebenarnya istilah strukturalisme diperkenalkan pertama kali bukan oleh Saussure. ilmu sosial di Perancis melahirkan strukturalisme. 1996:513). seorang ahli linguistik dari Rusia (Payne. namun oleh Roman Jakobson. ia tetap menekankan sosok manusia yang autentik. sebagaimana yang terjadi dalam revolusi mahasiswa di bulan Mei 1967 di Paris di Perancis yang menuntut perluasan demokrasi serta penghentian praktek kolonialisme Perancis serta juga gerakan New Left yang menjadikan Herbert Marcuse sebagai “nabi” yang menginspirasi gerakan mereka. Pergolakan intelektual ini juga diwarnai dengan pergolakan mahasiswa yang hidup dalam affluent society. pada dekade 1960-an. eksistensialisme dan juga yang tidak dapat dilupakan adalah perkembangan Frankfurt School (teori Kritik). Di tengah kapitalisme yang melahirkan masyarakat serba melimpah di Eropa Barat dan Amerika Serikat serta komunisme di Uni Sovyet yang mengundang decak kagum banyak orang dengan keberhasilannya menjangkau bulan. terutama Eropa Barat. Saussure secara brilian melepaskan kajian tentang tanda bahasa dari suatu kajian yang merupakan kajian yang bersifat linguistik semata. Perbedaan inilah yang kemudian dikenal sebagai oposisi biner ( binary opposition) 7 .tersebut. Strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran yang sangat menonjol dalam khazanah pemikiran di Dunia Barat. sebuah genre pemikiran yang melampaui Marxisme yang sedang menjadi trend pemikiran pada saat itu.

Kedua adalah langue dan parole. sebuah tanda khususnya tanda kebahasaan. Relasi antara penanda dengan petanda terjadi begitu saja dan arbitrer. Kombinasi dari keduanya inilah yang kemudian menghasilkan ”tanda” (sign). yang artinya adalah ”tanda”. elemen tanda-tanda itu menyatu dan saling tergantung satu sama lain. sedangkan parole adalah pemakaian tanda bahasa di tangan individu. ke kanan. merupakan entitas psikologis yang bersisi dua atau berdwimuka. Inilah yang membedakan kajian strukturalisme yang dikembangkan oleh Saussure dengan pendekatan linguistik yang lain. terdiri dari unsur ”penanda” (signifier) dan ”petanda” (signified). Langue dimaksudkan sebagai penggunaan tanda bahasa secara umum atau oleh publik yang menyepakatinya. Pertama. Penanda adalah aspek fisik dari tanda bahasa. Agar lebih jelas. 2001 : 182).yang dapat diterapkan hampir ke semua tanda bahasa. ke 8 . Kedua. dalam pendapat Saussure. kita dapat mengikuti contoh yang dikemukakan oleh Saussure berikut ini. Karena itu kita perlu mengetahui kode-kode yang menyatakan kepada kata apa yang dimaknakan oleh tanda-tanda. para pemain harus mengikuti struktur aturan yang telah ada dan tidak mungkin permainan ini dimainkan jika para pemainnya keluar dari aturan permainan. Saussure mengembangkan semiotika ke dalam beberapa aturan pokok yang mengatur sistem tanda bahasa. Semiotika sendiri secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu semieon. sehingga dari sinilah kemudian lahir strukturalisme. di mana pendekatan linguistik yang lain hanya berhenti pada tataran langue (Bertens. sedangkan petanda adalah aspek mental dari tanda bahasa. Dalam permainan catur. Individu yang bermain catur bebas untuk menggerakkan kuda dalam bentuk huruf “L” baik ke kiri. Kode (code) adalah satu sistem dari konvensikonvensi yang memungkinkan kepada seseorang untuk mendeteksi arti dalam tanda-tanda karena hubungan (Berger. Sebagai ilustrasi adalah bidak kuda dalam permainan catur memiliki gerak berbentuk huruf “L”. Berdasarkan pendapatnya mengenai oposisi biner. 2000 : 219 ). Ini dapat dianggap sebagai parole dari sebuah sistem struktur.

dengan menjabarkan keadaan sosial yang terjadi pada saat teori ini dibangun. Ini dapat dianggap sebagai parole. dan Oxford di Amerika. Sejarah Hidup Claude Levi-Strauss Sebelum membicarakan teori strukturalisme Levi-Strauss. Satu hal yang harus diingat kebebasan menggerakkan kuda ini terstruktur dalam huruf “L” dan tidak boleh keluar dari aturan ini. Pertemuannya dengan para pakar dari berbagai bidang ilmu itu telah melahirkan berbagai konsep yang sangat penting dalam membentuk teori budaya yang sangat 9 . teori lain yang mempengaruhi. Selain itu. maka hancurlah struktur permainan catur itu. LeviStrauss diberi gelar doktor dari sejumlah institusi pendidikan terkemuka. B. penjelasan tentang teorinya dan juga kritik terhadap teori tersebut. riwayat hidup penemunya. pengalaman kerja dan tentunya pola pikirnya sangat menentukan dalam mencetuskan teori strukturalnya. badan pembelajaran terkemuka mengenai hal-hal yang bersingungan dengan Bahasa Prancis. karena jika bergerak selain gerak “L”. B. akan lebih baik jika kita membicarakan sejarah hidup Levi-Strauss secara singkat. mengingat perjalanan hidup penggagas teori Antropologi struktural ini sangat dinamis. Lahir dari orang tua berkebangsaan Prancis dengan darah Yahudi. Yale. Sejak lama dia juga menjadi anggota Academie Francaise. seperti universitas Harvard. Kanada dan Meksiko. Selain itu juga dari universitas di Swedia. C. Paper ini juga mencoba untuk menjelaskan teori Strukturalisme Levi Strauss. Perancis maupun saat ia berada di New York.depan atau ke belakang. Yang penting masih dalam bentuk huruf “L”. Hal ini penting. yang juga sangat menentukan dalam pandangan-pandangan Levi-Strauss adalah hubungannya dengan para pakar berbagai bidang di Brasilia. Latar belakang pendidikan.

Di tahun yang sama ia juga mempelajari filsafat di universitas Sorbonne. Brazil. Levi-Strauss dilahirkan pada 28 November 1905 di Brussles. Bahkan ia menjadi bosan mengajar di Mont de-Marsan Lycee dan berkeinginan untuk mengadakan perjalanan keliling dunia. Pengalaman perjalanannya menjelajah daerah-daerah terpencil itu ditulisnya dalam sebuah buku yang berjudul Tristes Tropique. Ia adalah keturunan Yahudi. Buku ini bercerita tentang penderitaan orang-orang Indian di belantara Amazone. Buku itu cukup mengesankan bagi Levi-Strauss dan mendorongnya untuk mengadakan beberapa studi mengenai masyarakat primitif. Ia mempelajari hukum di fakultas hukum pada suatu universitas di Paris pada tahun 1927. serta mengunjungi berbagai suku Indian yang selama itu boleh dikatakan belum terjamah oleh peradaban Barat. Belgia. Sedangkan ibunya bernama Emma Levy. Hal yang paling penting dan sangat berpengaruh terhadap loyalitasnya di bidang Antropologi adalah ketika ia membaca buku Primitive Society yang ditulis oleh Robert Lowie. Ia pernah sukses dalam bidang hukum ketika ia telah mendapatkan licence dalam bidang hukum. Penguasaan dalam bidang hukum mengenai aliran-aliran filsafat materialisme historis ini turut mendorong kesuksesannya dalam bidang Antropologi. Minat utama Levi-Strauss sebenarnya adalah ilmu hukum. memberi kesempatan kepadanya untuk mempelajari orang-orang Indian Caduveo dan Bororo.unik itu. Apa yang diharapkan oleh Levi-Strauss ini akhirnya terkabulkan setelah ia berkesempatan menjadi pengajar di Universtias Sao Paulo. Dikatakan sangat unik karena memang belum terpikirkan oleh para pakar di bidang Antropolgi periode sebelumnya. Dari ekpedisi yang di dukung oleh Musee de 1’Hummed dan museum di kota Sao Paulo ini. Di universitas ini ia memiliki kesempatan untuk keliling ke daerah-daerah pedalaman Brazil. Ayahnya bernama Raymond Levi-Strauss seorang artis dan juga anggota keluarga intelektual Yahudi Perancis (Intelectual French Jewish family). Berawal dari buku inilah yang menjadikan Levi-Strauss terkenal sampai ke negara asalnya yakni 10 .

dan ketelitian yang luar biasa Levi-Strausss mampu melahirkan karya yang sangat bermanfaat. Akhirnya Levi-Strauss diselamatkan oleh program Yayasan Rockefeller. Dengan ketekunan. Mitos-mitos itu sebelumnya tak seorang pun yang memperhatikan. yang didirikan oleh para intelektual pelarian dari Prancis.L. New York. Kroever dan Ralph Linton.Prancis. kesabaran. Ia banyak berkomunikasi dengan para ilmuan buangan dari Prancis. Di kota New York inilah Levi-Strauss semakin banyak memiliki peluang mengembangkan keilmuannya. Kita sangat menghargai perjuangan Levi-Strauss dalam menemukan teori (konsep) strukturalisme ini. Ia pun akhirnya dibebaskan dari kewajiban militer setelah menjadi seorang professor. seperti Maz Ernst. 11 . Franz Boas. Dari program ini Levi-Strauss berhasil datang ke New York dan selamat dari pembantaian tentara Nazi yang anti terhadap orang-orang Yahudi. A. Ia dipecat dari jabatannya karena ia adalah seorang Yahudi. ribuan bahkan jutaan mitos kini memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan kita. Halangan tidak hanya sampai disitu. Karir Levi-Strauss sempat mengalami halangan saat ia diwajibkan menjalani wajib militer. Ruth Benedict. Sampai akhirnya ia diangkat menjadi liaison officer. Ia ditugaskan dibagian pos telekomunikasi di bidang sensor telegram. Di daerah Greenwich Village. Namun dalam situasi yang seperti itu tetap tidak menghalangi dirinya untuk menjadikannya seorang professor. bahkan masih sangat sedikit orang yang mendokumentasikan mitos-mitos tersebut. Levi-Strauss tinggal. ia juga mengalami diskriminasi ras. yaitu petugas penghubung. yang memiliki program menyelamatkan ilmuwan dan pemikir-pemikir Eropa berdarah Yahudi di Amerika Serikat. Ia bahkan telah menghasilkan suatu karya yang sangat penting di bidang Antropologi yang sesungguhnya sangat jauh dari studi formal yang dimilikinya. Berkat jasanya. Ia pun berkesempatan mengajar mata kuliah Etnologi di New York Ecole Libre des Hautes Etudes.

Dalam wawancara dengan National Public Radio. Aliran ini membawa 12 . ia berkata.Selama hidupnya Levi-Strauss pernah menduduki jabatan-jabatan strategis terutama di bidang pendidikan. "Dia adalah seorang pemikir. Harvard dan Columbia University di Amerika Serikat. baik itu tanaman atau hewan. salah satu di antaranya adalah kepala bagian Museum dan benda-benda budaya UNESCO di Paris. Dan dunia di mana saya menyelesaikan keberadaan saya. memuji Levi-Strauss memiliki "semangat keterbukaan yang luar biasa". . Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya diantaranya adalah: the wenner-Gren Foundation’s Viking Fund Medal dan Erasmus Prize pada tahun 1975. berencana untuk menghormatinya..." Levi Strauss meninggalkan dua putra. Levi-Strauss menyatakan bahwa prospek manusia sangat suram. lahir pula Antropologi Kognitif. dikembangkan Ward H. Pada tahun 1942 sampai 1945 ia diangkat sebagai professor di New School for Social Research. Kami tidak akan menemukan lagi seperti dia." Hélène Carrère d'Encausse. Yale. Académie française adalah institusi yang bergengsi milik Levi-Strauss. Pada tahun 1935 sampai 1939 ia diangkat sebagai seorang Professor di Universitas Sao Paolo yang kemudian melakukan beberapa ekspedisi ke Brazil. menjulukinya "ilmuwan terbesar Perancis. seorang filsuf. Ia juga dianugrahi empat gelar kehormatan oleh Oxford. Pada tahun 1959 ia menjadi direktur The Ecole Practique des Hautes Etude. Dan itu jelas bahwa kepadatan manusia telah menjadi begitu besar. setelah dia meninggal. tidak lagi dunia yang aku suka. Berbicara pada radio Perancis. Goodenough (1950-an). sekretaris abadi Académie française. Claude Levi-Strauss adalah pencetus Antropologi Struktural dengan strukturalisme sebagai perspektifnya. Penulis Jean d'Ormesson. "Pada hari ini hilangnya spesies hidup yang sangat mengerikan." kata LeviStrauss. mereka telah mulai meracuni diri mereka sendiri.Pada zaqmannya. yang bersamaan pula dengan kedudukannya sebagai pimpinan Social Antropology pada College de France.

Oleh karena begitu kompleknya persolan itu. Levi-Strauss disebut sebagai bapak Antropologi modern berkat karya-karyanya. meninggal di Paris pada 31 Oktober. dan "The Raw and the Cooked" (1964). dalam rentang enam dekade. 2009 dengan usia 101 tahun. konsep mengenai pola umum pikiran dan tingkah laku. Karyakarya pemikir abad 20 ini. Akhirnya Claude Lévi-Strauss. antara lain "Tristes Tropiques" (1955). seperti ilmu eksakta dan pengetahuan alam ( exact and natural Sciences). Beberapa di antaranya adalah teori tentang persamaan komponen antara masyarakat industri dan sukuterasing. Inilah yang menjadikan salah satu alasan kenapa dalam ilmu sosial kita harus meniru metode ilmu-ilmu di luar ilmu sosial. seorang tokoh di dunia Antropologi abad ke-20.Konsep Strukturalisme Levi-Strauss Sebagaimana diketahui bahwa cakupan ilmu sosial itu sangat luas. C. dalam jangkauan luas masyarakat. Seperti dikutip dari siaran stasiun televisi BBC.Interpretatif yg dipelopori oleh Clifford Geertz melihat sistem simbol sebagai media pemahaman manusia atas sistem nilai dan sistem koginitifnya. "The Savage Mind" (1963).definisi budaya dari yg fisik menuju pengertian bahwa budaya sebagai sistem pengetahuan. Presiden Prancis Nicolas Sarkozy menyebut Levi-Strauss sebagai salah satu etnolog besar sepanjang waktu. Levi-Strauss juga memperkenalkan strukturalisme. sebagaimana dicontohkan dalam mitos-mitos yang berkembang. LeviStrauss memperkenalkan "strukturalisme" untuk Antropologi. Hal ini disebabkan banyaknya persoalan yang timbul dalam aktivitas manusia baik secara individu maupun dalam kaitannya dengan masyarakat. Aliran Antropologi Simbolik. terutama mitos. konsep bahwa semua masyarakat universal mengikuti pola pikir dan perilaku. Dia juga seorang pecinta musik sejati. sangat tidak mungkin bisa memahami fenomena sosial tanpa mengaitkan dengan fenomena-fenomena lain. Dari rangkaian persoalan manusia itu terdapat beberapa kesamaan yang 13 .

Langkah ini dilakukan karena dalam strukturalisme dipahami bahwa setiap benda yang berbentuk pasti memiliki struktur. Dalam konsep Strukturalisme Levi-Strauss. fokus strukturalisme Levi-Strauss sebenarnya bukan pada makna kata. machines. all societies and all cultures. Bentuk-bentuk kata ini menurut Levi-Strauss berkaitan erat dengan bentuk atau susunan sosial masyarakat.” 14 . Adanya struktur ini memungkinkan juga adanya persamaan-persamaan.and during its vogue tends to be applied indiscriminately because of the pleasurable connotations of its sound. but the patterns that the words form. Kroeber dalam buku edisi kedua Anthropology menyebutkan bahwa: “Structure” appears to be just a yielding to a word that has perfectly good meaning but suddenly becomes fashionably attractive for a decade or so –like “streamlining”. rather. and still more difficult to discuss. where the formal expression of different problems admits of the same kind of treatment”. tetapi lebih menekankan pada bentuk (pattern) dari kata itu.bisa dijadikan model dalam sebuah penelitian. 2006. studies in social structure have to do with the formal aspects of social phenomena. yang tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris kebudayaan itu sendiri (Ahimsa. Meskipun bertolak pada linguistik. Of course a typical personality can be viewed as having a structure. “Levi-Strauss derived structuralism from school of linguistics whose focus was not on the meaning of the word.in fact everything that is not wholly amorphous has a structure. 60). Oleh karena itu pula pemahaman dasar dari teori strukturalisme adalah mengacu pada model penelitian linguistik. Oleh sebab itu Sarah Schmitt (1999) menyatakan. But so can a physiology.machines. Allen Lane (1968. without overlapping other fields pertaining to the exact and natural sciences. struktur adalah model-model yang dibuat oleh ahli Antropologi untuk memahami atau menjelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya.8) menyatakan sebagai berikut: ”On the other hand. except to provoke a degree of pleasant puzzlement’. they are therefore difficult to define. where problems are similarly set in formal terms or. any organism. crystals. Pendapat Allen ini menunjukkan adanya struktur dalam setiap persoalan. So what “structure” adds to the meaning of our phrase seems to be nothing.

Menurut Levi-Strauss (1958) ada empat syarat model agar terbentuk struktur sosial. Levi-Strauss sangat tertarik pada logika mitologi. Sementara emosional dianggap inferior yang diasosiasikan dengan perempuan. Rasional dianggap lebih istimewa dan diasosiasikan dengan laki-laki. kejahatan. Hitam sering dikaitkan dengan kegelapan. Struktur terdiri atas elemen-elemen seperti sebuah modifikasi apa saja. Untuk membuktikan adanya keterkaitan atau beberapa kesamaan antara bahasa dan budaya. 1978). dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan sosial. 1.Strukturalisme Levi-Strauss juga bertolak dari konsep oposisi biner (binary opposition). Semua konsep mengenai struktur bahasa tersebut di atas. menggabungkan fungsi-fungsi hanya secara vertikal. Prinsip dasar struktur yang dimaksud disini adalah bahwa struktur sosial tidak berkaitan dengan realitas empiris. kebersihan. keburukan. 378). perlu diketahui terlebih dahulu prinsip dasar dari struktur itu sendiri. yang salah satunya akan menyeret modifikasi seluruh elemen lainnya. 15 . Itu sebabnya ia mulai dengan mitos. Seperti kata-kata hitam dan putih. LeviStrauss mengembangkan teorinya dalam analisis mitos. Untuk mengetahui makna struktur dalam bidang Antropologi Levi-Strauss. Model strukturalnya tidak linier (Meletinskij. Contoh lain adalah kata rasional dan emosional. 1958. Sebuah struktur menawarkan sebuah karakter sistem. 1969 dalam Fokkema. Bangunan dari model-model itu yang akan membentuk struktur sosial. melainkan dengan model-model yang dibangun menurut realitas empiris tersebut (Levi-Strauss. Konsep ini dianggap sama dengan organisasi pemikiran manusia dan juga kebudayaannya. ketulusan dan lain-lain. dan mencoba menerangkan paradigmatik mereka yang tumpah-tindih dengan varian-varian mitos. sedangkan putih dihubungkan dengan kesucian.

dan mudah rusak (Fokkema. 1972 dalam Fokkema. Sifat-sifat yang telah ditunjukan sebelumnya tadi memungkinkan kita untuk memperkirakan dengan cara apa model akan beraksi menyangkut modifikasi salah satu dari sekian elemennya. Kesimpulannya adalah bahwa “meskipun mereka berasal dari tatanan relitas yang lain. 1978). Singkatnya Levi-Strauss berkeyakinan bahwa untuk mempelajari kebudayaan atau perilaku suatu masyarakat dapat dilakukan melalui bahasa. di mana masing-masing berhubungan dengan sebuah model dari keluarga yang sama. Model itu harus dibangun dengan cara sedemikian rupa sehingga kegunaannya bisa bertanggung jawab atas semua kejadian yang diobservasi. LeviStrauss memandang bahwa apa yang ada di dalam kebudayaan atau perilaku manusia tidak pernah lepas dari apa yang terefleksikan dalam bahasa yang digunakan. sehingga seluruh transformasi ini membentuk sekelompok model. fenomena kekerabatan merupakan tipe yang sama dengan fenomena linguistik (Levi-Strauss. Lahirnya konsep Strukturalisme Levi-Strauss merupakan akibat dari ketidakpuasan Levi-Strauss terhadap fenomenologi dan eksistensialisme (Fokkema. merupakan unsur makna. 3. kekerabatan memperoleh maknanya hanya dari posisi yang mereka tempati dalam suatu sistem. Karena bagi Bergson tanda linguistik dianggap sebagai hambatan. Dalam bukunya yang berjudul ”Trites Tropique” (1955) ia menyatakan bahwa penelaahan budaya perlu dilakukan dengan model linguistik seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure. 1978). cepat berlalu.2. Seluruh model termasuk dalam sebuah kelompok transformasi. 4. 16 . Masalahnya para ahli Antropologi pada saat ini tidak pernah mempertimbangkan peranan bahasa yang sesungguhnya sangat dekat dengan kebudayaan manusia itu sendiri. bukan seperti yang dikembangkan oleh Bergson. Istilah kekerabatan. seperti halnya fonem. Bagi Levi-Strauss telaah Antropologi harus meniru apa yang dilakukan oleh para ahli linguistik. 1978). Oleh karena itu akan terdapat kesamaan konsep antara bahasa dan budaya manusia. dan seperti fonem. yaitu sesuatu yang merusak impressi kesadaran individual yang halus.

Model-model matematis pada bahasa dapat berbeda pada tingkatan dengan model matematis yang ada pada kebudayaan. Ketiga. menyadari bahwa bahasa merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. menyatakan bahwa bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan. Untuk itu jika kita membahas mengenai kebudayaan. Namun demikian. sederhana. korelasi sistem kekerabatan orang-orang Indian di Amerika Utara dengan mitos-mitos mereka. bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan untuk membangun bahasa pada dasarnya memiliki kesamaan jenis atau tipe dengan apa yang ada pada kebudayaan itu sendiri. 1978). Levi-strauss mengakui bahwa analisis yang benar-benar ilmiah harus nyata. Dengan bahasa manusia menjadi makhluk sosial yang berbudaya. 1987). dan dalam cara orang Indian mengekspresikan konsep waktu mereka. Seperti yang disebutkan oleh Levi-Strauss (1963). Koentjaraningrat. 2006). terutama setelah diakuinya bidang Fonologi atau ilmu tentang bunyi dalam bahasa (Fokkema. Antropologi mengalami perkembangan pesat setelah dikembangkan dengan model linguistik. bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat merupakan refleksi dari keseluruhan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Kedua. Dengan kata lain melalui bahasa manusia mengetahui kebudayaan suatu masyarakat yang sering disebut dengan kebudayaan dalam arti diakronis. dan bersifat menjelaskan (Levi17 . Berikutnya. Hal ini dapat kita lihat juga pendapat para pakar kebudayaan yang selalu menyertakan bahasa sebagai unsur budaya yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Korelasi semacam ini sangat mungkin terdapat pada kebudayaan lain. perlu juga diperhatikan beberapa perbedaan mendasar antara sifat keilmuan Fonologi dengan apa yang ada dalam Antropologi/Sosiologi. Hubungan atau korelasi bahasa dan budaya terjadi pada tingkat struktur (mathematical models) dan bukan pada statistical models (Ahimsa. Karena bahasa merupakan unsur dari kebudayaan.Ahimsa (2006: 24-25) menyebutkan bahwa ada beberapa pemahaman mengenai keterkaitan bahasa dan budaya menurut Levi-Strauss. kita tidak pernah bisa lepas dari pembahasan bahasa (lihat. Pertama. maka bahasa adalah bagian dari kebudayaan itu sendiri.

sistemnya lebih rumit daripada data observasi dan akhirnya hipotesisnya tidak menawarkan penjelasan bagi fenomena maupun asalusul sistem itu sendiri. analisis Antropolgi justru maju ke arah yang berlawanan. tetapi bagaimana manusia mengucapkan vokal. ia tidak perlu memperhitungkan segala “sikap” sumber sosial atau sumber psikologis. Di Bali. Asumsi dasar nalar manusia (human mind) adalah sistem relasi (system of relation). Tradisi adalah tatanan transendental sebagai pengabsah tindakan dan juga sesuatu yg imanen dalam situasi aktual dan bersesuaian dengan konteks bersifat dinamis (J. Kebudayaan adalah produk atau hasil aktifitas nalar manusia yang memiliki kesejajaran dengan bahasa dan tradisi. 1978). sistem “terminologi” dan sistem “sikap”. serta relasi manusia dengan tradisi sangat penting. Kebudayaan dan bahasa berposisi sejajar karena keduanya merupakan hasil dari nalar manusia. Fonologi bisa diterangkan secara ekskulsif dalam sistem persitilahan. sebagai contoh: Konsensus manusia tentang persoalan kehidupan dan kematian merupakan suatu tradisi yang penuh dengan simbul dan tradisi. dalam Fokkema. Hastermann). misalnya ketika persiapan menguburkan mayat. Tradisi adalah sebuah jalan bagi masyarakat untuk memformulasikan dan memperlakukan fakta-fakta dasar dari eksistensi kehidupan manusia. Antropologi/Sosiologi berurusan dengan sistem kekerabatan pada titik persilangan dua tatanan realitas yang berbeda. 1972. Pemahaman terhadap pikiran dan perilaku kehidupan manusia.C. 18 .Strauss. Antropolog Levi-Strauss bertujuan menemukan model bahasa dan budaya melalui strukturnya. apalagi ketika upacara pembakaran mayat. Antropologi/Sosiologi bukan bergerak dari hal-hal yang kongkret. dipenuhi dengan kesedian dan bahkan dilarang sama sekali memasak makanan pada komunitas Islam tertentu.Tetapi hal itu agak berbeda dengan apa yang ada dalam Antropologi. selalu daiadakan pesta dan upacara kematiannya penuh dengan kegembiraan. sedangkan upacara kemaian pada pemeluk Islam. oleh karena itu selalu dengan upacara yang berbeda menurut pemahaman suatu suku atau pemeluk agama tertentu. manjauhi yang kongkret.

Saussure juga membedakan antara konsep “langue” & “parole”. . Contoh: Jaran. Kajiannya berupa relasi antara keilmuan yang inderawi dan yang linguistik rasional yang dilakukan oleh Fredinand de Saussure (1857-1913). Isi bisa berubah. karena perbedaan sistimatis tersebut. Bahasa adalah sistem tanda (sign). Sedangkan ”binatang berkaki 4 (empat) & berlari kencang adalah ”tinanda”. yaitu suatu ilmu yang lebih luas kajiannya dari pada Strukturalisme. namun bentuknya tidak. Suara yang muncul dari sebuah kata adalah ”penanda” (signifier). sistem elemen phonic yg hubungannya ditentukan oleh hukum yg tetap. Levi-Strauss Strauss belajar metode komparasi tentang geologi masyarakat (Marx) untuk menemukan geologi psikis (Freud) dan bagaimana pola umum objek dalam menjelaskan gejala yang tersembunyi. kuda.Dalam hal ini pengaruh pemikiran tokoh-tokoh terhadap strukturalisme Levi-Strauss cukup besar. Elemen dasarnya adalah katakata. konsep suara tersebut adalah ”tinanda” (signified). Hubungan antara penanda & tinanda disebut ”arbiter”. Kehidupan manusia dibentuk oleh struktur bahasa. horse adalah ”penanda”. Suara dapat dikatakan sebagai bahasa jika dapat mengekspresikan. yaitu cara pembicara mengungkapkan bahasa untuk dirinya sendiri dalam rangka berkomunikasi dengan orang lain. Studi tentang struktur bahasa melalui “tanda” melahirkan Semiotics. karena 19 juga menganalisa sistem simbol. ahli bahasa Swiss yang membangun Strukturalisme dari sudut ilmu bahasa struktural yg akhirnya menjadi teori Strukturalisme itu. Tinanda dari sebuah penanda dapat berupa apa saja. Jadi ide tidak ada sebelum adanya kata-kata. Langue adalah sistem tata bahasa formal. tetapi artinya sangat berbeda. Sebagai contoh: babu. Untuk dapat mengetahui kekhasan bentuk (distinctive form) ialah dengan mengenali perbedaan satu kata dengan kata yang lain (differensiasi sistematis). Adanya langue menyebabkan adanya parole. tergantung dari relasinya. tabu. jelas sekali walaupun fonemnya hampir sama. menyatakan atau menyampaikan ide atau pengertian tertentu. sabu. Sedangkan parole adalah percakapan sebenarnya. Menurut Fredinand de Saussure konsep bentuk (form) dan isi (content) penanda dan tinanda selalu memiliki bentuk dan isi.

ekspresi.bahasa tubuh. Contoh lain adalah gunung <--> lembah. Disebut gunung. mungkin lewat “gerengan” atau “raungan” sebagaimana ketika seekor harimau makan binatang buruan bersama itu. segala sesuatu arti/makna dapat dimasukkan dalam dua kategori. Dalam sebuah struktur oposisi biner yang ideal. Sintagmatis adalah hubungan yg dimiliki sebuah kata dengan kata sebelumnya. dan lain sebagainya. Sebagai contoh: kata menggigit juga ada relasinya dengan memakan. adalah bagaimana manusia itu merepresentasikan pikirannya lewat omongan. Sedangkan paradigmatis atau asosiatif adalah relasi antara suku kata dengan kata lain diluar hubungan sintagmatis. Selanjutnya menurut Saussure. sampai mitos dalam masyarakat. Seseorang disebut laki-laki karena dia bukan perempuan. . Teori oposisi biner ini jadi terkenal setelah Levi Strauss menggunakan teori ini untuk menganalisa proses kultural seperti cara memasak. kedinginan. cara berpakaian. hanya ada dua sign (tanda) yang hanya memiliki makna bila masing-masing beroposisi dengan yang lain. dan lain sebagainya. Bahwa lahirnya bahasa dari segi arti/makna yang muncul dalam otak itu berasal dari komunikasi genital. Saussure menyebutnya sebagai “oposisi biner”. naskah sastra. Suatu kategori jadi exist atau bermakna. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan secara struktural. Contoh yang jelas dalam sistem biner adalah : laki-laki <--> perempuan. text/bunyi *jeruk* punya arti/makna karena ada text bunyi lain macam *kelapa*. Suatu kategori X tidak ada dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori Y. *bangku*. mengerogoti. serta berusaha untuk membedakan sintagmatis dan paradigmatis. dan bentuk komunikasi. dan memproduksi suara. Tokoh Semiotics adalah Roland Barthes dan Fredinand de Saussure yang melakukan studi sinkronis (fakta bahasa sebagai sistem) bukan diakronik (historis bahasa & perubahan evolutifnya). Namun dari segi 'actual speech' atau omongan ('parole'). Dalam sistem biner. *pergi*. Kategori X ataupun kategori Y. Contoh: kata menggigit akan berhubungan dg anjing. kegeraman. dan lain-lain. 20 mencaplok. karena ditentukan oleh ketidak existan/ketidakbermaknaan kategori yang lain.

Dia lahir karena manusia punya sistem penandaan dalam otaknya (genital-communication). Terjadinya berbagai masalah di Indonesia mungkin disebabkan hilangnya salah satu bagian struktur oposisi biner tersebut. Islam moderat dan Islam radikal serta hubungan struktural antara keduanya yang timpang dan bagaimana memperbaikinya. Kalau Indonesia disebut sebagai struktur yang terbentuk dari bermacam-macam oposisi biner. Dia adalah berbentuk produk atau reproduksi budaya. tetapi Claude Levi-Strauss-lah yang membuatnya menjadi sangat berpengaruh. Inilah pentingnya pengetrapan teori Strukturalisme pada fenomena aktual sekarang ini. baik terhadap alam natural atau pun dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan. militer-sipil. daratan <--> lautan. Sistem oposisi biner tidaklah lahir secara natural. dan sistem penandaan ini digunakan untuk menstrukturkan persepsi serta pemahaman manusia pada dunia di luar mereka. Kalau melihat struktur oposisi biner ini dapat disimpulkan bahwa suatu struktur (baik abstrak atau konkrit) selalu ada. karena adanya sistem oposisi biner yang mendukung struktur tersebut. tetapi dia juga digunakan untuk untuk memahami/menjelaskan kategori-kategori makna yang abstrak. yaitu struktur yang mengatur sistem pemaknaan kita terhadap budaya dan dunia tempat kita hidup. maka penghilangan salah satu bagian dari oposisi biner pasti akan meruntuhkan struktur Indonesia itu. oposisi biner adalah 'the essence of sense making'. Contoh sederhana adalah oposisi biner alamiah seperti batu <--> air diparalelkan dengan keras <-> lunak. Bagi Strauss. diabstrakkan jadi pemerintah yang kejam <> pemerintah yang ramah. seperti: . Konsep oposisi biner mula-mula diteorisikan oleh ahli bahasa Ferdinand de Saussure. publik <--> privat. Oposisi biner ini juga dapat menjelaskan dan digunakan untuk menganalisa perkara GAM/OPM lawan NKRI. Sistem oposisi biner ini oleh manusia tidak saja digunakan untuk mengkategorikan sesuatu yang hanya ada di dunia alamiah. positip <--> negatip. Strauss merupakan Antropolog strukturalis yang banyak menggunakan teori-teori bahasa. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang 21 .karena dia bukan lembah dan begitulah seterusnya. separatis lawan NKRI.

atau antara anak-anak dan orang dewasa. Contoh sederhana dari konsep ini misalnya diberikan oleh John Fiske (1994): konsep oposisi biner angin badai dan angin tenang (kongkret) misalnya. tidak akan ada ikatan dengan kategori A. Oposisi biner adalah produk dari 'budaya'. Proses transisi metafor dari sesuatu yang abstrak dalam sesuatu yang kongkret ini dinamakan Strauss sebagai 'the logic of concrete'. Tanpa kategori B. Dalam sistem biner. Oposisi biner menimbulkan posisi-posisi ambigu yang tidak bisa dimasukkan dalam kategori A atau kategori B. begitu seterusnya. Secara struktur oposisi biner berhubungan satu dengan yang lain. segala sesuatu dimasukkan dalam kategori A maupun kategori B.‘Kategori anomali’ ini muncul dan mengganggu 22 . ia bukan bersifat 'alamiah'. yang bisa disebut dengan atau ‘kategori ambigu’ atau 'kategori skandal' (Strauss lebih senang menyebutnya dengan 'anomalous category‘. dan dengan memakai pengkategorian itulah. Keberadaan mereka ditentukan oleh ketidakberadaan yang lain. Dalam struktur oposisi biner yang sempurna. Kategori A masuk akal hanya karena ia bukan kategori B. kita mengatur pemahaman dunia di luar kita. dan berfungsi untuk menstrukturkan persepsi kita terhadap alam natural dan dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan dan makna. hanya ada dua tanda atau kata yang hanya punya arti jika masing-masing beroposisi dengan yang lain. Misalnya dalam sistem biner laki-laki dan perempuan dan laki-laki. dan bahkan tidak akan ada kategori A. Suatu kategori A tidak dapat eksis dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori B. dan bisa ditransfor-masikan dalam sistem-sistem oposisi biner yang lain. sesuatu itu disebut daratan karena ia bukan lautan. daratan dan lautan. Seseorang disebut laki-laki karena ia bukan perempuan. Ia adalah produk dari sistem penandaan. bisa disejajarkan dengan oposisi biner alam yang kejam dan alam yang tenang (abstrak). Strauss juga menyebutkan konsep dasar dari oposisi biner yaitu 'the second stage of the sense-making process': penggunaan kategorikategori sesuatu yang hanya eksis di dunia alamiah (sesuatu yang kongkret) untuk menjelaskan kategori-kategori konsep kultural yang abstrak.membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan.

Hal yang perlu diperhatikan dalam Strukturalisme adalah adanya perubahan pada struktur tersebut. Hanya bagian-bagian tertentu saja dari suatu struktur yang mengalami perubahan sedangkan elemen-elemen yang lama masih ada. Diantara mereka yang sangat berpengaruh 23 . Transformasi adalah perubahan bahasa pada struktur luar.sistem oposisi biner. remaja. Antara orang hidup dan orang mati ada sesuatu yang disebut vampir. Antara laki-laki dan perempuan ada gay/lesbian/banci. Sebagaimana sudah disebutkan di atas bahwa terbentuknya struktur merupakan akibat dari adanya relasi-relasi dari beberapa elemen. Antara daratan dan lautan. Oleh karena itu struktur juga oleh Levi-Strauss diartikan sebagai relations of relations atau system of relation (sistim relasi). yaitu: Struktur permukaan/luar (surface structure): adalah relasi-relasi antar unsur yg dapat dibuat atau dibangun berdasarkan ciri-ciri empiris dari relasi tersebut. Agar pemahaman mengenai teori strukturalisme LeviStrauss lebih baik. hantu. Pemahaman kita akan adanya struktur dalam setiap benda atau aktivitas manusia memudahkan identivikasi benda atau aktivitas tersebut. atau gay/lesbian/banci adalah 'kategori anomali'. Transformasi harus dibedakan dari kata perubahan yang berarti change. zombi. Karena dalam proses transformasi tidak sepenuhnya berubah. sebagai contoh: kutuk dan kuthuk (Jawa). Antara anak-anak dan orang dewasa. Kata tidak lagi dapat dianggap sebagai satuan linguistik paling dasar karena yang terkecil adalah fonem (satuan) bunyi yang terkecil dan berbeda. tapi pada struktur dalam tetap sama. ada posisi remaja. Pantai. Perbedaan “t” dan “th” inilah yang disebut fonem (Nikolai Troubetzkoi). ada pantai. Perubahan yang terjadi dalam suatu struktur disebut dengan transformasi (transformation). Sedangkan struktur batin/dalam (deep structure): adalah susunan tertentu yg dibangun atas struktur lahir yg telah berhasil dibuat. Ia mengotori kejernihan batas-batas oposisi biner. vampir/hantu/zombi. Fonem adalah konsep linguistik bukan konsep psikologis. perlu disampaikan konsep bahasa menurut para ahli linguistik yang mempengaruhi lahirnya teori ini. Struktur terbagi dua.

1995. Pemikiran ini kemudian melahirkan konsep struktural dalam bahasa dan juga semiologi atau yang sekarang disebut dengan semiotik (Ahimsa. Signifier dan signified. De Saussure berpendapat bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda linguistik atau tanda kebahasaan (linguistic sign). 2006). dan menurut dia secara psikologis pikiran kita terlepas dari perwudjudannya dalam kata-kata sebenarnya hanyalah “Shapeless and indistinct mass”. Signified (tinanda) dan signifier (penanda). Ferdinand de Saussure Ferdinand de Saussure (1857-1913) merupakan penemu linguistik modern (Modern Linguistics). Levi-Strauss memiliki keyakinan bahwa studi sosial bisa dilakukan dengan model linguistik yaitu yang bersifat struktural. Sebagai penemu konsep linguistik modern. Roman Jakobson dan Nikolay Trobetzkoy. (Levi-Strauss. a. C. yang wujudnya tidak lain adalah kata-kata. Dari ketiga pemikir linguistik ini. 1978 dalam Ahimsa 2006). 24 . Para Ahli bahasa yang berpengaruh pada pemikiran Levi Strauss Berikut ini adalah para pakar bahasa yang mempengaruhi Levi Strauss dalam proses pengembangan teori Struktulaisme. Yaitu.terhadap pandangan Levi-Strauss adalah. Ferdinan de Saussure. Terobosan pemikiran de Saussure dimulai pada pemikirannya mengenai hakekat gejala bahasa. Gagasan terbesar de Saussure adalah pada teori umum sistem tanda (general theory of sign system) yang disebutnya dengan ilmu Semiologi (Semiology) (Winfried Noth. Bahasa adalah suatu sistem tanda (sign). 56). 1. Ada lima pandangan de Saussure yang mempengaruhi Levi-Strauss dalam memandang bahasa. wajar jika de Saussure dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh terhadap teori Strukturalisme. Bagi Saussure ide-ide tidak ada sebelum kata-kata.

2006 h. Suatu benda yang ditempatkan pada posisi “kuda”. tuturan). Dalam konsep ini.sesuatu yang tak berbentuk dan tak mengenal perbedaan-perbedaan atau tak bisa dibeda-bedakan. Wadah atau form adalah sesuatu yang tidak berubah. Untuk menjelaskan konsep ini memang agak sulit. dengan sebuah ide atau tinanda yang disebut signified. sedang konsepnya adalah tinanda (signified). Kiasan yang sering digunakan untuk menggambarkan kedudukan wadah (form) dan isi adalah pergantian salah satu fungsi dari komponen permainan catur. 19 dalam Ahimsya. meskipun dengan bentuk yang lain dari kuda itu tetap bisa menggantikan fungsi kuda yang digantikan tersebut. Form (bentuk) dan content (isi). Fungsi “kuda” ini masih bisa digantukan dengan benda lain yang mirip atau tidak sama sekali dengan bentuk asli “kuda” yang digantikan. 35). 3. Tanda adalah juga kesatuan dari suatu bentuk penanda yang disebut signifier. 1976. Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa (Culler. 2. Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (signifier). isi boleh saja berganti tetapi makna dari wadah masih tetap berfungsi. 25 . Langue (bahasa) dan parole (ujaran. walaupun penanda dan tinanda tampak sebagai entitas yang terpisahpisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen dari tanda. Setiap tanda kebahasaan pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citra suara (sound image). Jadi benda apapun selama kita tempatkan dam posisi “kuda”. akan tetap memiliki fungsi dan kedudukan yang sama dengan “kuda” yang hilang itu. Meskipun komponen “kuda” hilang seumpamanya. bukan menyatukan sesuatu dengan sebuah nama.

Oleh karena itu keadaan ini menuntut adanya perbedaan yang jelas antara fakta-fakta kebahasasan sebagai sebuah sistem. 47). Inilah kenapa langue membicarakan juga aspek sosial dalam linguistik. Dari pengertian inilah akhirnya dapat dipahami bahwa untuk mempelalajari bahasa diperlukan pemahaman terhadap relasi-relasi atas elemen-elemen yang bersifat sinkronis. 1976. kesimpulannya bahasa diartikan sebagai “a system of pure values whcih are determined by nothing except the momentary arrangement of its terms” (Ferdinand de Saussure. dan fakta-fakta kebahsaan yang mengalami evolosi (Culler. 2006. 2006. Tuturan ini marupakan apa yang terwujud ketika kita mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang kita pergunakan. Dengan kata lain tuturan yang membedakan kita dengan orang lain melalui gaya bahasa. 46). aturan-aturan antarperson yang tidak disadari tetapi ada pada setiap pemakai bahasa. Hal ini dikarenakan tanda itu sebagi suatu entitas yang bersifat relasional atau dalam relasi-relasi dengan tanda-tanda lain. via Ahimsa. Komsep langue merupakan aspek yang memungkinan manusia berkomunikasi dengan sesama.Pembahasan de Saussure bukan hanya fokus pada aspek bahasa semata tetapi juga aspek sosial dari bahasa. via Ahimsa. ia bisa mencerminkan kebebasan pribadi seseorang. de Saussure masih saja menekankan bahasa pada proses sinkronis. 26 . Namun demikian. 4. 1966. Sinkronis dan diakronis De Saussure meyakini akan adanya proses perubahan bahasa. Disisi lain parole merupakan tuturan yang bersifat individu. Dalam langue terdapat norma-norma. Karena sifatnya yang evolutif maka tanda kebahasaan sepenuhnya tunduk pada proses sejarah. Karena tida semua fakta-fakta kebahasaan itu memiliki sejarah.

Roman Jakobson Meskipun Jakobson terlahir setelah de Saussure. 47). yaitu antara tahun 1914 sampai 1920. 1995. “memetik” dan “bunga”. Pada periode ini Jakobson dikenal sebagai pendiri Moscow Linguistic Circle dan juga sebagai anggota kelompok Opoyaz yang sangat 27 . Gabungan kata yang sesuai itu memiliki makna. 74) membedakan empat periode perkembangan penelitian mengenai karya-karya Jakobson. Atau gabungan kata “bunga mengalir” gabungan ini tidak memiliki makna karena tidak sesuai tata bahasa yang umum atau standar. ia dikenal sebagai pengembang Semiotika Klasik. Dalam kontek ini de Saussure menyatakan bahwa manusia menggunakan kata-kata dalam komunikasi bukan begitu saja terjadi. via Noth. Ketiga kata ini bisa digabung menjadi kalimat “saya memetik bunga”. Koch (1981. Karena seperti kata “memetik” tentu tidak bisa digabungkan dengan kata “mengalir”. Konsep yang ditawarkan oleh Roman Jakobson (1896-1982) lebih condong pada para ahli bahasa dari Rusia (Rusian Linguist). b. Sintagmatik dan Paradigmatik. Pertama. Kita memiliki kata yang mau kita gunakan sebagaimana penguasaan bahasa yang kita miliki. Hubungan sintagmatik dan paradigmatik terdapat dalam kata-kata sebagai rangkaian bunyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep (Ahimsa. 2006. Hubungan sintagmatik adalah hubungan yang dimiliki sebuah kata dengan kata-kata yang dapat berada di depannya atau di belakangnya dalam sebuah kalimat.5. Sepeti kata yang terdapat dalam kata “saya”. periode formalist. Disinilah hubungan sintagmatik dan paradigmatik itu berperan. Penggabungan kata ini tidak terjadi begitu saja. tetapi dipertimbangkan konvensi bahasa yang sudah ada. Tetapi menggunakan pertimbangan-pertimbangan akan kata yang akan digunakan.

. Pengaruh yang besar Romand Jakobson disampaikannya sendiri oleh Levi-Strauss sebagaimana dikutib oleh Ahimsa (2006.” (1985:139). Jakobson memberikan pandangan kepada Levi-Strauss tentang bagaimana memahami atau menangkap tatanan yang ada di balik fenomena budaya yang sangat variatif tersebut (Ahimsa. Dalam pemikiran Jakobson unsur terkecil dari bahasa adalah bunyi. 28 . Jakobson merupakan figur yang paling mendominasi dalam Prague School of Linguistics and Aesthetics. Perbedaan tulisan antar /t/ dan /th/ mengakibatkan sedikit perbedaan pengucapan tetapi memiliki makna yang jauh berbeda. yaitu antara tahun 1920 sampai 1939. Dengan demikian kata diartikan sebagai satuan bunyi yang terkecil dan berbeda. periode interdisciplinary yang dimulai pada 1949 yaitu saat ia mulai bekerja di Harvard dan juga MIT mengenai teori informasi dan komunikasi (Informatioan and Comunicatioan Theory). Fonem sebagai unsur bahasa terkecil yang membedakan makna. periode Semiotic. Contoh kasus yang menujukan peranan penting fonem dapat kita lihat dalam dua kata antara “kutuk” dan “kuthuk” (basa Jawa). 52). 2006. Kedua.His (Jacobson’s) lectures. Pada periode ini Jakobson bergabung dalam Copenhagen Linguistic Circle (Brondal. which provided me with a body of coherent ideas where I could crystallize my reveries about the wild flowers I had gazed at somewhere along the Luxembourg border early in May 1940. “Kutuk” mengacu pada nama sejenis ikan gabus sedangkan “kuthuk” adalah anak ayam (Ahimsa.. Ketiga. meskipun fonem itu sendiri tidak bermakna. gave me something very different and. matematika dan juga fisika (1982). however... periode stucturalist.berpengaruh. Hjelmslev) dan aktif dalam Linguistic Circle of New York. Pemikiran Jakobson berpengaruh besar pada diri Levi-Strauss pada konsepnya mengenai fenomena budaya. a great deal more than I had bargained for. need I add. antara tahun 1939 sampai 1949. 52) berikut ini: “. This was the revelation of structural linguistics. 2006). Keempat.

Memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah. unit-unit yang bermakna. 55). sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lian. c. dan realsi-relasi ini muncul karean adanya oposisi. b.Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa fonem terbentuk karena adanya relasi-relasi.perbedaan antartanda yang penting secara paradigmatis. h. c. Nikolai Troubetzkoy 29 . Langkah-langkah struktural terhadap fonem yang dilakukan oleh Jakobson adalah. d. Ahimsya. Merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah-istilah kebahasaan mana dengan distinctive features yang mana yang dapat berkombinasi dengan tanda-tanda kebahasaan tertentu lainya. yang hakiki dari sebuah fonem adalah relasi karena dengan begitu sebuah fonem baru memiliki fungsi yang jelas. 11. Mencari distinctive feature (ciri pembeda) yang membedakan tandatanda kebahasaan satu dengan yang lain. Jakobson yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis. dan ini dilakukan dengan mengetahui ciri-ciri pembeda (distinctive features) dari suatu suara yang memisahkannya dengan ciriciri suara yang lain. yakni perbedaan-perbedaan antartanda yang masih dapat saling menggantikan(Pettit. 1977. a. Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada tidaknya ciri pembeda dalam tanda-tanda tersebut. Menentukan perbedaan. 2006). Jadi sebenarnya fonem tidak akan bermakna atau tidak memiliki isi. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Jakobson mempengaruhi Levi-Strauss pada tataran tatanan (susunan/order) yang ada di balik fenomena budaya (Ahimsa.

1. berbeda dengan pendekatan yang ada dalam fungsionalisme. dan menampilkan struktur dari sistem tersebut. Pada tataran ini seorang ahli fonologi tidak lagi memperlakukan istilah-istilah (terms) atau fonem-fonem sebagai entitas yang berdiri sendiri. 2006). ciri-ciri pembeda. fonem sebagai sebuah konsep atau ide berasal dari para ahli bahasa. 2. Jadi fonem tidak dikenal oleh pengguna suatu bahasa. kecuali ahli fonologi dari kalangan mereka atau mereka yang pernah belajar lingusitik. dan bukan ide yang diambil dari pengatahuan pemakai bahasa tertentu yang diteliti. Beralih dari tataran yang disadari ke tataran nirsadar. Dengan kata lain. (Ahimsa. strukturalisme merupakan aliran baru bagi studi antropologi. Strukturalisme bertolak dari studi linguistik (ilmu bahasa). 2006. Asumsi Dasar Strukturalisme Dari pemahaman kita di atas. dan menjadikannya sebagai dasar analisisnya. 59). Selanjutnya dia perlu. yang memiliki fungsi atau operasional dalam satu bahasa. Artinya. Nikolai berpendapat bahwa fonem adalah sebuah konsep linguistik. Memperhatikan relasi-relasi antar istilah atau antar fonem tersebut. Memperlihatkan sistem-sisitem fonemis. 3. bukan konsep psikologis.Nikolai mempengaruhi Levi-Strauss dalam hal strategi kajian bahasa yang berawal dari konsepsi mengenai fonem. Langkah analisis struktural dalam fonologi. 30 . Toubetzkoy menyarankan agar perhatian pada fenomena fonem sebagai sebuah konsep linguistik. tetapi dia harus. Karena itu sebaiknya para peneliti memperhatikan distinctive feature. 4. Harus berupaya merumuskan hukum-hukum tentang gejala kebahasaan yang mereka teliti. strategi analisis dalam fonogi haruslah struktural. karena relasi-relasi antar ciri-ciri pembeda dalam fonemlah yang menjadi pusat perhatian (Ahimsa. d.

pakaian dan sebagianya. melalui mana suatu konfigurasi struktural berganti menjadi konfigurasi struktural yang lain. 1. 31 . Hukum transformasi adalah keterulangan-keterulangan (regularities) yang tampak. atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya. 2006. 3. Suatu struktur hanya mewujud secara parsial (partial) pada suatu gejala. menyususun suatu struktur. Mengikuti pandangan dari de Saussure yang berpendapat bahwa suatu istilah ditentukan maknanya oleh relasi-relasinya pada suatu titik waktu tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari apa yang kita dengar dan saksikan adalah perwujudan dari adanya struktur dalam tadi. 68). para penganut strukturalisme berpendapat bahwa relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena-fenomena yang lain pada titik waktu tertentu inilah yang menentukan makna fenomena tersebut. Ahimsa (2006. secara formal semuanya dapat dikatakan sebagai bahasabahasa (Lane. dengan istilah-istilah yang lain. Dalam Strukturalisme ada angapan bahwa upacara-upacara. seperti halnya suatu kalimat dalam bahasa Indonesia hanyalah wujud dari secuil struktur bahasa Indonesia. Relasi-relasi yang ada pada struktur dalam dapat diperas atau disederhanakan lagi menjadi oposisi berpasangan (binary opposition). 2. (Ahimsa. 66). Para penganut Strukturalisme beranggapan bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis sehingga kemampuan ini ada pada semua manusia yang normal. 66-71) menyebutkan bahwa strukturalisme memiliki beberapa asumsi dasar yang berbeda dengan konsep pendekatan lain. 4. pola tempat tinggal. sistemsistem kekerabatan dan perkawinan. Beberapa asumsi dasar tersebut adalah sebagai berikut. akan tetapi perwujudan ini tidak pernah kompolit. yaitu secara sinkronis. Yaitu kemampuan untuk structuring. 1970.Marxisme dan lain-lain. 13-14 Ahimsya. untuk menstruktur.

fenomena budaya pada dasarnya juga dapat ditanggapi dengan cara seperti di atas. Strukturalisme merupakan gerakan pemikiran yang kembali ke bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913).Sebagai serangkaian tanda-tanda dan simbol-simbol. dan sebagai “tanda” (sign). Dalam wacana ilmu-ilmu sosial. Sebagai contoh mengapa SBY disebut sebagai ”presiden”. Strukturalisme merupakan penerapan analisis bahasa ke wilayah sosial. bukannya sebagai seorang “pesinden”. dan bahasa selalu memiliki dua sisi: bahasa sebagai parole (tuturan percakapan lisan sebagai sisi eksekutif bahasa) dan sebagai langue (sistem tanda atau tata bahasa). implikasinya cukup jauh. Dengan metode analisis struktural makna-makna yang ditampilkan dari berbagai fenomena budaya diharapakan akan dapat menjadi lebih utuh. Disamping itu juga Kebudayaan diyakini memiliki struktur sebagaimana yang terdapat dalam bahasa yang digunakan dalam suatu masyarakat. Semenjak strukturalisme inilah muncul pendapat bahwa bahwa bahasa sebagai sistem tanda bersifat arbiter (arbitrary). Semua bisa dipahami secara otonom di tataran langue (logika-internal penunjuk). Apa yang utama dalam analisis sosial adalah menemukan “kode tersembunyi” yang ada dibalik gejala 32 . dalam bahasa ada dua aspek: “penanda” ( signifier) dan “petanda” (signified). Struktur bahasa mencerminkan struktur sosial masyarakat. gubernur. juga jika hanya secara analogis. Menurut perspektif Strukturalis itulah cara tutur kita yang sama sekali tidak menjelaskan apapun. Kata presiden ada bukan karena kaitan logis internal dengan orang yang menjadi kepala pemerintahan presidensial. dan tidak terkait dengan objek yang ditunjuk. Ketika diterapkan ke dalam ilmu-ilmu sosial. Dengan demikian dapat kita pahami juga bahwa strukturalisme Levi-Strauss menekankan pada aspek bahasa. melainkan karena kaitan dan perbedaannya dengan kata sultan. Realitas sosial adalah “teks” atau bahasa. Keempat asumsi dasar ini merupakan ciri utama dalam pendekatan strukturalisme. camat dan sebagainya.

Dalam kritik Giddens.kasat mata. Gejala penyingkiran pelaku tindakan atau subjek (decentering) dalam strukturalisme ini dibawa ke implikasi terjauhnya oleh para penggagas post-strukturalisme. melainkan bahwa ‘bukan camat’ itu sendiri merupakan pokok eksistensi. Artinya. sebagaimana langue menjadi kunci otonom di balik parole. melainkan sebagai pembentuk identitas yang bersifat konstitutif. ruang. Derrida melihat ‘perbedaan’ bukan hanya sebagai cara menunjuk. Penekanan yang telah diberikan adalah pada hubungan-hubungannya yang dilihat secara konseptual. perbedaan kata ‘presiden’ dan ‘camat’ bukan sekedar bahwa ‘presiden’ ialah apa yang ‘bukan camat’. Seperti telah dicontohkan di atas. ‘camat’ dan sebagainya. melainkan karena perbedaannya dengan kata ‘raja’. “Kode tersembunyi” itulah struktur. perspektif ini merupakan “penolakan yang penuh skandal terhadap subjek”. waktu. yang mempunyai implikasi pada tingkat pembahasan yang mereka lakukan 33 . misalnya. sehingga model-model mengenai hubunganhubungan tersebut nampak berbeda-beda di antara ahli-ahli yang berbeda. Berbeda adalah menang-guhkan serta melawan. Jacques Derrida. dan proses adalah soal kebetulan. Tindakan individual dalam ruang dan waktu tertentu hanyalah suatu kebetulan. bidiklah logika-internal kinerja ‘modal’. berbeda merupakan identitas itu sendiri. kata ‘presiden’ terbentuk bukan karena kaitannya dengan seseorang yang menjadi kepala sebuah negara pada waktu-tempat tertentu. Sejumlah ahli Antropologi menggunakan cara-cara yang berbeda dalam melihat struktur sosial dalam kaitannya dengan agama dan upacara. Ada dua unsur sentral di situ: sifat sewenang-wenang (arbitrary) dan perbedaan (difference). Ada paralel antara perspektif strukturalis dan fungsionalis. Kalau mau mengerti masyarakat kapitalis. yaitu pengebawahan pelaku dan tindakan pelaku. e. ‘gubernur’.

mitos dan upacara adalah sebagai jalan untuk memahami bagaimana manusia memahami dan menerima hakekat dari kedudukan dan peranannya dalam kehidupan sosial di masyarakatnya. Sedangkan Cunningham memperlihatkan adanya suatu 34 . yang walaupun berbelit-belit tetapi memberikan suatu ketegasan penjelasan mengenai arti kebudayaan dalam kaitannya dengan struktur dan dengan lingkungan yang dihadapi oleh manusia. Analogi yang berlandaskan pada sistem penggolongan yang dilakukan oleh Hertz dan Cunningham. Secara umum dapatlah dikatakan. Geertz menyatakan bahwa studi mengenai agama. struktur sosial yang merupakan bagian yang terorganisasi dalam kehidupan mereka menjadi dapat dipahami serta masuk akal secara sewajarnya bagi mereka. yaitu dengan berlandaskan pada sistem klasifikasi yang menjadi dasar dan yang ada dalam agama. tetapi pada prinsipnya berlandaskan pada model-model yang sama. dan yang mewujudkan adanya perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya.serta pada tingkat pengertian yang mereka peroleh dengan menggunakan model-model tersebut. Dengan demikian maka juga nampak bahwa masing-masing model tersebut mempunyai relevansi dan validitas yang terbatas sesuai dengan tujuan penggunaannya dalam hal mengkaji hubungan antara struktur sosial di satu pihak dengan agama dan upacara di pihak lainnya. yang berlandaskan pada konsep-konsepnya mengenai sistem-sistem simbol dan ide yang memberi informasi. Hertz melihat bahwa agama berperan terhadap adanya semacam polarisasi dalam kehidupan sosial dari individu maupun bagi seluruh warga masyarakat yang bersangkutan. yang walaupun masing-masing berbeda dalam hal kedalaman dan luasnya cakupan dari model klasifikasi yang digunakan. Model-model dari Geertz yang berdasarkan pada model bagi dan model dari. 2. bahwa masing-masing model yang telah dibahas tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.

maka sesungguhnya ide-ide yang terletak dibalik aturan-aturan tersebut secara simbolik telah juga diterima. Model-model hubungan yang dibuat berdasarkan atas prinsip. yaitu suatu sistem yang menjadi pegangan bagi manusia pada waktu mereka mengklasifikasi dunia yang mereka hadapi.keteraturan (order). agama adalah suatu bagian dari struktur sosial. Upacara adalah tempat bagi perwujudan ketaatan atas aturan-aturan yang diikuti tersebut dalam bentuk berbagai tindakan yang dapat dilihat sebagai simbol dan metafor. 3. Levi-Strauss melihat struktur sosial bukan sebagai kenyataan yang dapat diamati. Turner melihat bahwa upacara berperan untuk membuat individu dapat menjadi cocok dengan masyarakatnya dan membuatnya dapat menerima aturan-aturan yang berlaku. Levi-Strauss percaya bahwa dengan melalui studi mengenai agama dan mitos akan dapat diperoleh suatu pemahaman mengenai pengertian struktur sosial yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan. Dalam perhatiannya mengenai mitos.prinsip kesadaran kolektif dan primordial yang dilakukan oleh Levi-Strauss dan Victor Turner. sebagaimana juga dengan pendahulu-pendahulunya yaitu Durkheim dan RadcliffeBrown. Model ini adalah suatu sistem yang mempunyai kesanggupan untuk memprediksi atau meramalkan dan membuat kenyataan dapat menjadi masuk akal dan dipahami. yang walaupun mempunyai landasan model-model sendiri yang sesuai dengan perhatian yang dipunyai masing-masing maka juga telah menghasilkan pengertian-pengertian yang berbedabeda antara yang satu dengan yang lainnya. Menurut Levi-Strauss. Levi-Strauss menyatakan bahwa mitos sebagai agama atau sebagai bagian dari agama. tetapi sebagai model bagi kenyataan. dapat membantu usaha-usaha mengenai struktur sosial karena mitos selalu berhubungan dengan masyarakat dan berbicara mengenai masyarakat tersebut baik 35 . Pada waktu pegangan yang berisikan aturan-aturan itu diikuti/ditaati oleh manusia.

Agama menyajikan berbagai penjelasan mengenai hakekat kehidupan manusia dan lingkungan serta ruang dan waktu yang dihadapi manusia dan yang dirinya sendiri adalah sebagian dari padanya. yang antara lain terwujud dalam penekanannya pada bentukbentuk kelakuan yang wajar dan tepat menurut bidang atau arena sosial yang ada. kebingungan dan jiwa tertekan. Membentuk dan mendukung berlakunya nilai-nilai yang ada dan mendasar dari kebudayaan suatu masyarakat.mengenai masa yang lampau. Sehingga pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan relevansi dari sesuatu keyakinan keagamaan dan upacara yang dilihat sebagai struktur sosial ataupun sebagai corak hubungan yang terwujud antara struktur sosial dengan agama dan upacara. yaitu etos dan pandangan hidup. bukanlah harus dilihat dalam konteks struktur itu sendiri tetapi dalam suatu konteks yang lebih luas dan berlandaskan pada kehidupan yang nyata yang dihadapi oleh para pelaku yang bersangkutan. maupun masa yang akan datang. sehingga kedudukan dan peranannya menjadi jelas dan penerimaannya atas berbagai tahap dan keadaan kondisi kehidupan yang dihadapi dan dialaminya dapat diterima secara masuk akal baginya. 2. Yang sebenarnya patut diperhatikan dalam pengkajian mengenai hubungan antara struktur sosial dengan agama dan upacara adalah dalam hal kaitannya dengan kenyataan-kenyataan sosial dan ekonomi yang ada dalam lingkungan hidup yang dihadapi oleh para pelakunya dalam masyarakat. Karena. agama memainkan peranan yang besar bagi individu-individu yang bersangkutan karena agama menyajikan penjelasan dan bertindak sebagai kerangka 36 . sekarang. Fungsi-fungsi tersebut antara lain adalah: 1. Salah satu dari peranannya yang jelas terlihat adalah bahwa dalam keadaan kekacauan dan kesukaran. agama mempunyai berbagai fungsi penting yang terwujud dalam berbagai cara yang berbeda dalam kehidupan sosial manusia.

data etnografi dan interpretasi. D. a. Perangkat dan Metode Analisis Ahimsa (2006. ) menyebutkan bahwa kritik terhadap perangkat dan metode analisis dapat dibedakan menjadi tiga. pasti akan terdapat celah-celah kekurangan dan kelemahanya.sandaran bagi ketentraman dan penghiburan hati dalam keadaan kesukaran dan kekacauan yang dihadapi tersebut. mitos dan upacara sehingga dapat menemukan dan kemudian menentukan apa yang seharusnya dijelaskan. kita dapat mempelajari dan mengkaji agama. yaitu tergantung pada masalah yang hendak dikaji dan kenyataan kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat dimana pengkajian itu hendak dilakukan. Sebagai akhir kata. dan didukung dalam suatu masyarakat. Agama mempunyai peranan untuk menyatukan berbagai faktor dan bidang kehidupan ke dalam suatu pengorganisasian yang menyeluruh. dibenarkan. Kelemahan dan kelebihan Strukturalisme Levi-Strauss Seberapapun sempurnanya suatu teori. Kritik yang berkenaan dengan teori Strukturalisme Levi-Strauss dapat dilihat pada persoalan perangkat dan metode analisis. Keduanya mempunyai peranan yang penting dalam mengko-ordinasi titik temu antara struktur sosial dengan agama dan antara agama dengan kehidupan yang nyata. Begitu juga sebaliknya kalau kita ingin memahami hakekat dan corak dari agama yang diyakini oleh warga suatu masyarakat. Model-model yang telah dibahas tersebut di atas dapat digunakan secara terseleksi. dapatlah dikatakan bahwa untuk dapat memperoleh pemahaman mengenai hakekat dan corak dari struktur sosial. Cara menggunakan 37 . yaitu dalam rangkuman struktur sosial. yang dimungkinkan oleh adanya peranan dari mitos dan upacara. a). serta hasil analisis dan kesimpulan dari hasil analisis teori tersebut. Strukturalisme ini mendapat kritik terutama dari para ahli antroplogi itu sendiri. Demikian halnya dengan teori Strukturalisme LeviStrauss ini. 3.

menurutnya Levi-Strauss tidak selalu menggunakan konsep analisisnya dengan tepat. 164). Cara analisis menggunakan sistem ini akan mengurangi kesempurnaan analisis karena akan mengalami kelemahan makna (a lesser meaning). 2006). Levi-Strauss sering tidak konsisten dengan analisis yang dikembangkan. tetapi juga pada tataran semantis yang berarti isinya juga. Namun dalam prakteknya ia tidak melakukan analisis seperti yang digambarkan. 2006. Ketiga. Menurut para 38 . Cara ini sangat kurang tepat untuk menganalisis mitos sebagai produk budaya manusia yang sangat kompolek. b. Strukturalisme Levi-Strauss memiliki beberapa kelemahan. Levi-Strauss sering membuat kesimpulan-kesimpulan yang dianggap terlalu jauh. 2006. Disisi lain ia juga berpendapat bahwa dalam mitos isi dan bentuk tidak bisa dipisahkan (Yalman. Douglas menyebut dua reduksionisme yang dilakukan oleh Levi-Strauss yaitu pada model komputer yang dipakainya dan adanya dua tujuan dalam analisis wacana (Ahimsa. Dalam persoalan ini. Karena ketidaktepatan itu. b). Kedua. Hal ini dikarenakan mitos tidak pernah lepas dari kontek budaya masyarakat setempat dimana lahirnya mitos tersebut. Dalam beberapa analisisnya ia tidak hanya menlaah pada tataran sintaksis. 1967 dalam Ahimsa. Konsistensi prosedur analisis dan c). Marry Douglas mengkritik mengenai cara penggunaan konsep-konsep analisis. Levi-Strauss pernah mengatakan bahwa untuk memahami sebuah mitos lebih penting memahami struktur daripada isi cerita. Reduksi dalam proses analisis. Levi-Strauss menggunakan cara analisis reductionist (reduksionis). Interpretasi Data Etnografi Data etnografi sangat penting dalam menelaah mitos.konsep-konsep analisis. 162). Douglas menyebutkan bahwa Levi-Strauss sering memaksakan datanya agar sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya (Ahimsa.

Pendapat ini juga didukung oleh tiga ahli antropologi lain yakni. Hasil analisisnya pun masih banyak mendapat kritikan dari berbagai kalangan terutama para ahli antropologi. Thomas. 168). JZ.L. Ketiganya menyimpulkan bahwa analisis Strukturalisme Levi-Strauss dianggap penuh dengan generalisasi-generalisasi etnografi yang sangat diragukan kebenarannya. Bukan sekedar metode dan data etnogarfi yang nampaknya dipersoalkan dalam Strukturalisme Levi-Strauss. Bahkan analsisnya dianggap mengalami kesalahrepresentasi-an. (misrepresentasions of story). Ia menyatakan bahwa analisis Strauss justru menutupi realistas kekerabatan yang ada pada suku Indian tersebut. c. Menurut Adam gagasan Levi-Strauss terhadap suku ini terlalu diada-adakan. Kronenfeld. b). Adam (1974) mengkritik mengenai hasil analisis Strukturalisme Levi-Strauss terhadap suku Asdiwal. 2006. oleh Strauss dipaksakan sesuai apa yang menjadi konsepsinya.antropolog. a). Kronenfeld dan DB. L. Douglas beranggapan bahwa masih ada 39 . Pengertian mitos yang cenderung dianggap negatif oleh LeviStrauss ditolak oleh Douglas. Alice Kassakoff (1974) ahli antropologi ini melakukan penelitian suku Indian Tsimshian yang telah dianalisis oleh teori Strukturalisme Levi-Strauss ini. Hasil Analisis. Justru dengan tindakan seperti inilah teori ini kridibilitasnya masih perlu untuk disangsikan. Lain lagi dengan pendapat Alice. Ahimsa (2006) menyatakan bahwa hasil analisis kritik dapat dibedakan dalam beberapa hal. Kebenaran struktur mitos yang dikemukakan. seperti Alice Kassakoff dan John W. (Ahimsa. Persoalan terhadap suku ini yang sebenarnya sederhana dan bahkan tidak ada. Kemampuan analisis struktural menuntaskan tafsir yang diberikan. Adam keakuratan data etnografi yang disampaikan Levi-Strauss belum seutuhnya mendukung dari apa yang disampaikan.

20006. Hal yang demikian ini terjadi karena Levi-Strauss terlalu banyak mencontoh model yang diterapkan dalam ilmu bahasa (linguistik) yang menurut Douglas tidak cocok jika diterapkan dalam analisis mitos. Maybury-Lewis (1970) menyatakan bahwa banyak hal yang berhasil membuka perspektif-perspektif baru dalam analisis mitos yang telah dilakukan oleh Levi-Strauss. tentunya banyak hal yang dapat menjadi kelebihan dari teori ini. Maka wajar kiranya banyak yang menghujat sekaligus memuja teori ini. we get a surprise. Metode analisis yang dilakukan oleh Levi-Strauss dalam analisis mitos menggunakan model analisis puisi denganggap tidak tepat. karena kita menyadari juga bahwa teori ini masih baru dalam bidang antropologi. d. Tema-tema mitos yang terdapat dalam suatu masyarakat masih banyak yang mengungkap realitas sosial yang positif. Beberapa Tanggapan Betapapun banyaknya kekurangan dan kelemahan yang terdapat dalam Strukturalisme Levi-Strauss. and often a paltry one at that”. Metoda ini justru dianggap mengalami kebocoran seperti yang diistilahkan Ahimsa dalam tulisannya. ternyata masih mengakui beberapa kemanfaatan dari 40 . Selanjutnya Douglas menyatakan bahwa makna mengenai mitos yang dikemukakan oleh Levi-Strauss dianggap biasabiasa saja dengan istilah lain tidak begitu penting. ( Douglas. “Instead of more and richer depths of understanding. Banyak manfaat yang kita dapatkan dari teori Strukturalisme LeviStrauss ini. a totally new theme. sehingga tentunya masih banyak penyesuaian dan pendalaman (penyempurnaan). 1967 dalam Ahimsa.aspek-aspek positif mengenai makna mitos. Douglas yang sebelumnya banyak melakukan kritik. 170).

struktur dan koherensi logis dalam mitos. Secara umum dapat disimpulkan bahwa meskipun para ahli antropologi melakukan kritik terhadap teori Strukturalisme Levi-Strauss mereka masih mengakui beberapa keunggulan atau manfaat dari jerih payah Levi-Strauss. Ada susunan. Penutup Dari uraian diatas terbukti bahwa Strukturalisme Levi-Strauss berasal dari teori Antropologi yang analisisnya oleh bagaimana ahli bahasa memahami struktur dalam komponen bahasa.Strukturalisme Levi-Strauss ini. E. menarik dan mampu memberikan wawasan atau wacana tentang mitos yang sangat penting itu. Stauss ketika berkesempatan melakukan penelitian tearhadap suku-suku terasing di lembah Amazon Brazil. Yalman (1967) menyebutkan bahwa berkat jasa yang dilakukan oleh Levi-Strauss kita mengetahui keterkaitan antara mitos yang satu dengan yang lain. dari serangkaian mitos-mitos tertentu (via Ahmisa. Masuk akal. 176). Ia menyatakan teori ini telah mampu mengungkapkan acuan-acuan tertentu. Teori muncul sebagai kritik atas kegagalan filsafat Eksistensialisme yang gagal dalam memahami realitas sosial pada kehidupan kelompok manusia. Dan inilah yang menunjukan pada kita akan keterkaitan mitos dan budaya masyarakat yang terdapat dalam mitos tersebut. 2006. Bahkan apa yang digagas oleh Levi-Strauss melalui metode struktural ini dapat dikatakan banyak benarnya. makna-makna yang sangat dalam. Strauss yang meninggal pada akhir tahun 2009 di akui sebagai Antropolog/Sosiolog yang sangat terkemuka. berhasil menemukan Teori Stukturalisme yang akhirnya sangat mempengaruhi perkembangan ilmu-ilmu sosial termansuk Sosiologi baik di Eropa maupun di Amerika dan bahkan di negara-negara lain termansuk Indonesia. yang tidak terduga dan menarik. karena teorinya selalu dirujuk oleh 41 . Terpengaruh oleh ahli-ahli bahasa yang sebelumnya sangat marak dalam kehidupan ilmiah di Prancis.

Orang-Orang PKI. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika.S. ___________. ___________.para pakar pakar ilmu-ilmu sosial dan analisisnya diakui sebagai analisis yang cemerlang. H. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. 1994. Paz. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. Kalam 6 : 124-143. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. relasi sosial dan peran struktur dalam mewarnai prilaku individu dalam kehidupan sosial menjadi lebih jelas. 1984. 1998b. 1997. Basis XXXIII (4) : 122-135.. kepel Press. Ahimsa-Putra. Makalah seminar. 2006. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. 2005. Shri. baik yang berupa realitas maupun yang tersembunyi. Makalah seminar. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. ___________. DAFTAR PUSTAKA Abdullah. sehingga para intelektual berhasil memahami kehidupan sosial. Makalah seminar Arkeologi. ___________. Tesis Pascasarjana Antropologi. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. 1998c. Ahimsa-Putra. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng42 . 1998a. Yogyakarta. H. ___________. Yogyakarta : LKIS. Universitas Gadjah Mada. 1995. Nalar Jawa. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. O. Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra. T. Kawin Bedil dan Sobrat. Teori Strukturalisme masih terus relevan sampai berumur satu abad walaupun penemunya Levi-Strauss sudah tiada. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. Dengan analisis ini pemahaman tentang struktur. ___________. “Lévi-Strauss.

“Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. 2005. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. ___________. Strukturalisme Lévi-Strauss. ___________. Gerbang 5 (2) : 88 – 97. Yogyakarta : Galang Press. Mitos dan Karya Sastra. 2000b. ___________. ke Post- ___________. 2002c. Terj. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. ___________. Mitos dan Nalar Primitif. 2002a. Satwa. Makalah Pelatihan. ___________. 2002d. ___________. 43 . A. Makalah seminar. Humaniora XV (3) : 239 – 264. C. 1999a. Rahayu S. Badcock. Satu Model. Makalah bedah buku. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. 1999b. Totem. 2002e. Humaniora 12 : 1 – 13. Makalah dalam bedah buku. 1999c. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. ___________. September – Desember. ___________. 2006a.Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. Abror. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. Dua Paradigma. ___________. Tembi 1 Thn. (ed). Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra.I : 10 – 19. Jakarta : UI Press. 2000a. ___________. 2003. 2002b. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. Roland Barthes : dari Strukturalisme Strukturalisme. Makalah seminar. Tiga Dasawarsa. ___________. Yogyakarta : Insight Reference. Salam (ed). Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. 2001. Makalah Sarasehan. Robby H. Makalah diskusi. ___________. ___________.

Ritus Pertukaran”.). ___________. D. 2008b. Indiana university Press. 1981. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. Antropologi Struktural. Ngaju. David. A Reader Guide to Contemporary Literary Work. 1999. Metodologi dan Etnografi. 2006b. 2006e. ___________. Tesis Pascasarjana Antropologi.). Jakarta : Rajagrafindo Persada. Pustaka Pelajar. Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. Universitas Gadjah Mada. 2007). Longman. The Theory of Culture (Teori Budaya). 2008. David. Jakarta. Makalah seminar nasional. H. ___________. Levi. 1968. Sussex. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. The Penguin Press. Selden.W. Teori Sastra Abad Kedua Puluh (Theories of Literature in the Twentieth Century). Allen. 1998. 2006c. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. Lane.. Daiches. Makalah seminar. New York. 2006d. Critical Approaches to Literature. Edisi Baru. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasi-relasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. Ritus Penandaan. Yogyakarta : Kepel Press. Gramedia. Fokkema. Strauss. Kepel Press : Yogyakarta. ___________. Abdullah (ed. T. 1958. Ngawa. Kaplan. Nasrulah. Mitos dan Karya Sastra. ___________. 1985. Winfried. Ahimsa-Putra (ed. 2007a. Strukturalisme Lévi-Strauss.S. Ngambu. The Harvester Press Limited. Hand Book of Semiotics. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. ___________. dkk. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76.. Raman. Claude. Makalah bedah buku. Sawerigading. 44 . 2008a. Noth. 2007b. Structural Anthropology. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya BugisMakassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya BugisMakassar. Kreasi Wacana. Yogyakarta. 1995. ___________. Anthropologie Structurale (Terj. Bloomington and Indianapolis. Liwa : Analisis Strukturalisme LéviStrauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito.___________. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. Yogyakarta.

Pengantar singkat wacana post strukturalisme dalam kesusasteraanStrukturalisme dibangun atas prinsip Saussure* bahwa bahasa sebagai sebuah sistem 45 . Berkenalan dengan Poststrukturalisme oleh : easternwriter Pengarang : Jacques Derrida. Levi. Sturrock. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Oxford : Oxford University Press. Oxford : Oxford University Press. Sperber. click here! • • • • Daftarkan diri Apakah Shvoong itu? Masuk Write & earn Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.). J. J. Anthropologie Structurale (Terj. Erdward Said. Sturrock (ed. Claude. “Introduction” dalam Structuralism and Since : From LéviStrauss to Derrida.Strauss. Sturrock (ed. 2007). J. 1979.). Ferdinand de Saussure • • • • Summary rating: 3 stars (15 Tinjauan) Kunjungan : 2286 kata:600 You searched for: "strukturalisme". 1979. For the best results. Antropologi Struktural. D. 1958. Yogyakarta. Roland Barthes. Kreasi Wacana.

tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). yang dapat berarti ‘pertentangan’ dan “penundaan”. Derrida menekankan “logosentrime” (berpusat pada logos) pemikiran barat bahwa makna dipahami sebagai independensi bahasa yang dikomunikasikan dan tidak tunduk pada permainan bahasa. Derrida percaya bahwa penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung ke dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking). berpikir sementara menjadi hal yang utama.Perumusan dasar “differance” Derrida disusun dengan mempermainkan pada kata perancis ‘difference’. Derrida sepakat dengan Saussure bahwa bahasa merupakan produk yang berbeda antar penanda. tapi dia berpikir melampaui Saussure dalam menegaskan bahwa dimensi sesaat (temporal dimension) tak dapat ditinggalkan.Tokoh utama yang paling berpengaruh pada era kritik sastra post-strukturalis adalah seorang filsuf perancis Jacques Derrida. Aspek diakronis bahasa. penanda selalu produktif. Derrida menilai bahwa Saussure tak dapat membebaskan dirinya dari pandangan logosentris. sejak ia mengunggulkan bahasa di atas tulisan. Selain itu. yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa. Praktik “dekonstruksi ”**-nya ini berdasar pada teks yang dia teliti yang berpengaruh besar pada kritik 46 . dilihat sebagai bagian yang kurang penting. merusak logonsentrisme dengan menyatakan bahwa makna tak pernah dapat mewakili seluruhnya karena makna tersebut selalu ditangguhkan. mengenalkan aspek sesaat ke dalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified. Dalam tulisan. Dalam pemikiran post strukturalis. buah karya pemikiran psikoanalis Jacques Lacan dan ahli teori kebudayaan Michael Foucault juga berperan penting dalam kemunculan post strukturalisme tersebut. Derrida menyerang pandangan logosentrisme dan menilai bahwa tulisan merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi.

De Man berpendapat bahwa ada devisi radikal dalam teks sastra antara gramatikal atau struktur logika bahasa dan aspek retorisnya. Diterbitkan di: Januari 04. atau disebut para dekonstrusionis Yale. 47 . Dia berpendapaat bahwa karya Foucault memungkinkan kritik sastra melampaui dimensi sosial dan politis teks. Sign. khususnya di kalangan kritikus yang tinggal di Yale. Teoritikus terkemuka Yale adalah Paul de Man yang berpendapat bahwa teks sastra telah tergabung dengan “pertentangan” Derrida. De Man berpendapat bahwa sastra digabungkan oleh permainan (play) yang tak dapat ditentukan secara gramatikal dan retoris dalam teks dan tidak dengan pertimbangan estetis.Essainya yang berjudul “Structure. 2008 23 45Moho n ringkasa n ini dinilai : ilai :1 Link yang relevan : • http://sulhanudin. misalnya pada New Criticsm. Pemikiran post strukturalis juga berkembang di di Amerika pada tahun 1970-an..info/2006/01/berkenalan-dengan-poststrukturali . pertama kali disampaikan di John Hopkins University pada tahun 1966. Hal ini menciptakan sebuah signifikansi (penandaan) dalam teks sastra yang pada akhirnya tak dapat ditentukan. and Play in the Discourse of the Human Sciences” .. “The Death of the Author” pertama kali dipublikasikan pada tahun 1968. Edward W Said menerima pandangan post strukturalis tapi menolak pada apa yang dia lihatnya sebagai pendekatan tekstual sempit ala Derrida.sastra. sangat berpengaruh dalam teori kritik sastra. mengadopsi sebuah pandangan tekstual bahasa dan makna secara radikal dan dengan jelas menunjukkan perannya dalam post strukturalis.Essay Roland Barthes.

Dengan. Pada. Perjuangan Koreksi Keakbaran Penyair Tongkat-Baudelaire Bagaimana Kita Menilai PRRI? Renungan 61 Tahun Republik Proklamasi Intelektual Minang Provinsi Minangkabau Sajak "Malaikat" Saeful Badar Yang Tetap Hadir 48 . Post Buat kutipan untuk ringkasan ini Tambahkan komentar Anda Terjemahkan Kirim Link Cetak Share Orang yang membaca ringkasan ini juga membaca: • • • • • • PERS NASIONAL. For the best results. click here! • Kutipan • Dan. TIDAK CUKUP DENGAN MITOS http://helaby-boys. Bahasa. Bahwa.com/ Mengolah Kemelayuan di Asia Tenggara Mari Membaca Isi (Ratusan) Novel Sastra Indonesia! Kritik Sastra Indonesia dari Australia Dua “Kiblat” dalam Sastra Indonesia Lainnya tentang Ilmu Sosial • • • • • • PRRI.blogspot. Dapat. • • • • • • • • • Sastra.You searched for: "strukturalisme". Dalam. Derrida.

Paling populer Ringkasan lain oleh easternwriter • • • • • Menulis adalah Jalan Hidupku Petualangan Celana Dalam: Tren awam menulis sastra Opera Zaman: Perlukah Faktualitas dalam Cerpen Tetralogi Laskar Pelangi: Andrea Tak Melawan Pasar Pengakuan Korban NII (1) More Berikut Yang paling banyak dicari • • • • • • • • • • • • • • • tips bisnis kesehatan uang wanita cinta trik jantung pria 2012 berita blog Seks dunia kiamat Tulis dan dapatkan bayaran 49 .

.

Strukturalisme dan Implikasinya
8Oct2008 Filed under: Epistemology, Paradigm and Perspective, Philosophers, Philosophy, Postmodern Author: Arif

Pengantar Strukturalisme merupakan suatu gerakan pemikiran filsafat yang mempunyai pokok pikiran bahwa semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai suatu struktur yang sama dan tetap. Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual obyek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan. Strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur inti dari suatu obyek (hirarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat) (Bagus, 1996: 1040) Gagasan-gagasan strukturalisme juga mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi interdisipliner tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu alam. Akan tetapi introduksi metode struktural dalam bermacam bidang pengetahuan menimbulkan upaya yang sia-sia untuk mengangkat strukturalisme pada status sistem filosofis. (Bagus, 1996: 1040) Ferdinand de Saussure Untuk mengenal lebih lanjut tentang strukturalisme maka ada baiknya untuk menyimak pemikiran Ferdinand de Saussure yang banyak disebut orang sebagai bapak strukturalisme, walaupun bukan orang pertama yang mengungkapkan strukturalisme. Banyak hal yang menunjukkan Ferdinand de Saussure adalah bapak strukturalisme. Selain ia sebagai bapak strukturalisme ia juga sebagai bapak linguistik yang ditunjukkan dengan mengadakan perubahan besar-besaran di bidang lingustik. Ia yang pertama kali merumuskan secara sistematis cara menganalisa bahasa, yang juga dapat dipergunakan untuk menganalisa sistem tanda atau simbol dalam kehidupan masyarakat, dengan menggunakan analisis struktural. Ia mengatakan bahwa linguistik adalah ilmu yang mandiri, karena bahan penelitiannya, yaitu bahasa, juga bersifat otonom. Bahasa adalah sistem tanda yang paling lengkap. Menurutnya ada kemiskinan dalam sistem tanda lainnya, sehingga untuk masuk ke dalam analisis semiotik, sering digunakan pola ilmu bahasa. De Saussure mengatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang mengungkapkan gagasan, dengan demikian dapat dibandingkan dengan tulisan,
50

abjad orang-orang bisu tuli, upacara simbolik, bentuk sopan santun, tanda-tanda kemiliteran dan lain sebagainya. Bahasa hanyalah yang paling penting dari sistemsistem ini. Jadi kita dapat menanamkan benih suatu ilmu yang mempelajari tandatanda di tengah-tengah kehidupan kemasyarakatan; ia akan menjadi bagian dari psikologi umum, yang nantinya dinamakan oleh de saussure sebagai semiologi. Ilmu ini akan mengajarkan kepada kita, terdiri dari apa saja tanda-tanda itu, kaidah mana yang mengaturnya. Karena ilmu ini belum ada, maka kita belum dapat mengatakan bagaimana ilmu ini, tetapi ia berhak hadir, tempatnya telah ditentukan lebih dahulu. Linguistik hanyalah sebahagian dari ilmu umum itu, kaidah-kaidah yang digunakan dalam semiologi akan dapat digunakan dalam linguistik dan dengan demikian linguistik akan terikat pada suatu bidang tertentu dalam keseluruhan fakta manusia. Gagasan yang paling mendasar dari de Saussure adalah sebagai berikut: 1. Diakronis dan sinkronis: penelitian suatu bidang ilmu tidak hanya dapat dilakukan secara diakronis (menurut perkembangannya) melainkan juga secara sinkronis (penelitian dilakukan terhadap unsur-unsur struktur yang sezaman) 2. Langue dan parole: langue adalah penelitian bahasa yang mengandung kaidah-kaidah, telah menjadi milik masyarakat, dan telah menjadi konvensi. Sementara parole adalah penelitian terhadap ujaran yang dihasilkan secara individual. 3. Sintagmatik dan Paradikmatik (asosiatif): sintagmatik adalah hubungan antara unsur yang berurutan (struktur) dan paradikmatik adalah hubungan antara unsur yang hadir dan yang tidak hadir, dan dapat saling menggantikan, bersifat asosiatif (sistem). 4. Penanda dan Petanda: Saussure menampilkan tiga istilah dalam teoi ini, yaitu tanda bahasa (sign), penanda (signifier) dan petanda (signified). Menurutnya setiap tanda bahasa mempunyai dua sisi yang tidak terpisahkan yaitu penanda (imaji bunyi) dan petanda (konsep). Sebagai contoh kalau kita mendengan kata rumah langsung tergambar dalam pikiran kita konsep rumah. Strukturalisme termasuk dalam teori kebudayaan yang idealistik karena strukturalisme mengkaji pikiran-pikiran yang terjadi dalam diri manusia. Strukturalisme menganalisa proses berfikir manusia dari mulai konsep hingga munculnya simbol-simbol atau tanda-tanda (termasuk didalmnya upacaraupacara, tanda-tanda kemiliteran dan sebagainya) sehingga membentuk sistem bahasa. Bahasa yang diungkapkan dalam percakapan sehari-hari juga mengenai proses kehidupan yang ada dalam kehidupan manusia, dianalisa berdasarkan strukturnya melalui petanda dan penanda, langue dan parole, sintagmatik dan paradikmatik serta diakronis dan sinkronis. Semua relaitas sosial dapat dianalisa berdasarkan analisa struktural yang tidak terlepas dari kebahasaan.
51

Dalam memahami kebudayaan kita tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip dasarnya. de Saussure merumuskan setidaknya ada tiga prinsip dasar yang penting dalammemahami kebudayaan, yaitu: 1. Tanda (dalam bahasa) terdiri atas yang menandai (signifiant, signifier, penanda) dan yang ditandai (signifié, signified, petanda). Penanda adalah citra bunyi sedangkan petanda adalah gagasan atau konsep. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya konsep bunyi terdiri atas tiga komponen (1) artikulasi kedua bibir, (2) pelepasan udara yang keluar secara mendadak, dan (3) pita suara yang tidak bergetar. 2. Gagasan penting yang berhubungan dengan tanda menurut Saussure adalah tidak adanya acuan ke realitas obyektif. Tanda tidak mempunyai nomenclature. Untuk memahami makna maka terdapat dua cara, yaitu, pertama, makna tanda ditentukan oleh pertalian antara satu tanda dengan semua tanda lainnya yang digunakan dan cara kedua karena merupakan unsur dari batin manusia, atau terekam sebagai kode dalam ingatan manusia, menentukan bagaimana unsur-unsur realitas obyektif diberikan signifikasi atau kebermaknaan sesuai dengan konsep yang terekam. 3. Permasalahan yang selalu kembali dalam mengkaji masyarakat dan kebudayaan adalah hubungan antara individu dan masyarakat. Untuk bahasa, menurut Saussure ada langue dan parole (bahasa dan tuturan). Langue adalah pengetahuan dan kemampuan bahasa yang bersifat kolektif, yang dihayati bersama oleh semua warga masyarakat; parole adalah perwujudan langue pada individu. Melalui individu direalisasi tuturan yang mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku secara kolektif, karena kalau tidak, komunikasi tidak akan berlangsung secara lancar. Gagasan kebudayaan, baik sebagai sistem kognitif maupun sebagai sistem struktural, bertolak dari anggapan bahwa kebudayaan adalah sistem mental yang mengandung semua hal yang harus diketahui individu agar dapat berperilaku dan bertindakj sedemikian rupa sehingga dapat diterima dan dianggap wajar oleh sesama warga masyarakatnya. Pierre Bourdieu Bourdieu pada awalnya menghasilkan karya-karya yang memaparkan sejumlah pengaruh teoritis, termasuk fungsionalisme, strukturalisme dan eksistensialisme, terutama pengaruh Jean Paul Sartre dan Louis Althusser. Pada tahun 60an ia mulai mengolah pandangan-pandangan tersebut dan membangun suatu teori tentang model masyarakat. Gabungan antara pendekatan teori obyektivis dan teori subyektivis sosial yang dituangkan dalam buku yang berjudul ”outline of a theory of practice” dimana didalamnya ia memiliki posisi yang unik karena berusaha mensintesakan kedua pendekatan metodologi dan epistemologi tersebut.
52

cita rasa atau perasaan (emosi) Sebagai perilaku yang mendarah daging 53 . Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh kehidupan sosial. Habitus mencerminkan pembagian obyektif dalam struktur kelas seperti umur. dan menilai dunia sosial. Habitus adalah “struktur mental atau kognitif” yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial. memahami. Habitus lebih didasarkan pada keputusan impulsif. Kelebihan Bourdieu adalah menghasilkan cara pandang dan metode baru yang mengatasi berbegai pertentangan di antara penjelasan-penjelasan sebelumnya. Setiap aktor dibekali serangkaian skema atau pola yang diinternalisasikan yang mereka gunakan untuk merasakan. dimana seorang individu bereaksi secara efisien dalam semua aspek kehidupan. Melalui pola-pola itulah aktor memproduksi tindakan mereka dan juga menilainya. preferensi. Habitus diperoleh sebagai akibat dari lamanya posisi dalam kehidupan sosial diduduki. orang yang menduduki posisi yang sama dalam kehidupan sosial. Menurutnya pemahaman ini mengabaikan peran pelaku dan tindakan-tindakan praktis dalam kehidupan sosial. Habitus berbeda-beda pada setiap orang tergantung pada wujud posisi seseorang dalam kehidupan sosial. jenis kelamin. Ia berusaha mengkonsepkan kebiasaan dalam berbagai cara. yaitu habitus adalah struktur yang distruktur oleh dunia sosial. Field dan Modal. Disatu pihak habitus adalah struktur yang menstruktur artinya habitus adalah sebuah struktur yang menstruktur kehidupan sosial. Atau dengan kata lain habitus dilihat sebagai ”struktur sosial yang diinternalisasikan yang diwujudkan”. Terdapat 3 konsep penting dalam pemikiran Bourdieu yaitu Habitus. Habitus menjadi konsep penting baginya dalam mendamaikan ide tentang struktur dengan ide tentang praktek. tidak setiap orang sama kebiasaannya. Dilain pihak habitus adalah struktur yang terstruktur. yaitu: • • • Sebagai kecenderungan-kecenderungan empiris untuk bertindak dalam cara-cara yang khusus (gaya hidup) Sebagai motivasi. Pemikirannya bukan hanya menjawab pertanyaan tentang asal usul dan seluk beluk masyarakat tetapi lebih pada menjawab persoalan-persoalan baru yang diturunkan dari pemikiran-pemikiran terdahulu.Dalam karyanya ini ia menyerang pemahaman kaum strukturalis yang menciptakan obyektivisme yang menyimpang dengan memposisikan ilmuwan sosial sebagai pengamat. Secara dialektis habitus adalah ”produk internalisasi struktur” dunia sosial. Berikut ini akan dibahas ketiga konsep tersebut dan akan dijelaskan interaksi ketiga konsep ini dalam masyarakat. menyadari. cenderung mempunyai kebiasaan yang sama. kelompok dan kelas sosial.

• • •

Sebagai suatu pandangan tentang dunia (kosmologi) Sebagai keterampilan dan kemampuan sosial praktis Sebagai aspirasi dan harapan berkaitan dengan perubahan hidup dan jenjang karier.

Habitus membekali seseorang dengan hasrta. Motivasi, pengetahuan, keterampilan, rutinitas dan strategi untuk memproduksi status yang lebih rendah. Bagi Bourdieu keluarga dan sekolah merupakan lembaga penting dalam membentuk kebiasaan yang berbeda. Field bagi Bourdieu lebih bersifat relasional ketimbang struktural. Field adalah jaringan hubungan antar posisi obyektif di dalamnya. Keberadaan hubungan ini terlepas dari kesadaran dan kemauan individu. Field bukanlah interaksi atau ikatan lingkungan bukanlah intersubyektif antara individu. Penghubi posisi mungkin agen individual atau lembaga, dan penghubi posisi ini dikendalikan oleh struktur lingkungan. Bourdieu melihat field sebagai sebuah arena pertarungan. Struktur Field lah yang menyiapkan dan membimbing strategi yang digunakan penghuni posisi tertentu yang mencoba melindungi atau meningkatkan posisi mereka untuk memaksakan prinsip penjenjangan sosial yang paling menguntungkan bagi produk mereka sendiri. Field adalah sejenis pasar kompetisi dimana berbagai jenis modal (ekonomi, kultur, sosial, simbolik) digunakan dan disebarkan. Lingkungan adalah lingkungan politik (kekuasaan) yang sangat penting; hirarki hubungan kekuasaan di dalam lingkungan politik membantu menata semua lingkungan yang lain. Bourdieu menyusun 3 langkah proses untuk menganalisa lingkungan, pertama, menggambarkan keutamaan lingkungan kekuasaan (politik). Langkah kedua, menggambarkan struktur obyektif hubungan antar berbagai posisi di dalam lingkungan tertentu, ketiga, analis harus mencoba menetukan ciri-ciri kebiasaan agen yang menempati berbagai tipe posisi di dalam lingkungan. Dengan kata lain, Field adalah wilayah kehidupan sosial, seperti seni, industri, hukum, pengobatan, politik dan lain sebagainya, dimana para pelakunya berusaha untuk memperoleh kekuasaan dan status. Bourdieu menganggap bahwa modal memainkan peranan yang penting, karena modallah yang memungkinkan orang untuk mengendalikan orang untuk mengendalikan nasibnya sendiri maupun nasib orang lain. Ada 4 modal yang berperan dalam masyarakat yang menentukan kekuasaan sosial dan ketidaksetaraan sosial, pertama modal ekonomis yang menunjukkan sumber ekonomi. Kedua, modal sosial yang berupa hubunganhubungan sosial yang memungkinkan seseorang bermobilisasi demi kepentingan
54

sendiri. Ketiga, modal simbolik yang berasal dari kehormatan dan prestise seseorang. Dan keempat adalah modal budaya yang memiliki beberapa dimensi, yaitu:
• • • • •

Pengetahuan obyektif tentang seni dan budaya Cita rasa budaya (cultural taste) dan preferensi Kualifikasi-kualifikasi formal (seperti gelas-gelar universitas) Kemampuan-kemampuan budayawi dan pengetahuan praktis. Kemampuan untuk dibedakan dan untuk membuat oerbedaan antara yang baik dan buruk.

Modal kultural ini terbentuk selama bertahun-tahun hingga terbatinkan dalam diri seseorang. Setelah dibahas tentang ketiga konsep diatas maka akan dijelaskan hubungan ketiga konsep tersebut. Habitus dan ranah merupakan perangkat konseptual utama yang krusial bagi karya Bourdieu yang ditopang oleh sejumlah ide lain seperti kekuasaan simbolik, strategi dan perbuatan beserta beragan jenis modal. Seperti telah diungkapkan diatas bahwa habitus adalah struktur kognitif yang menghubungkan individu dan realitas sosial. Habitus merupakan struktur subyektif yang terbentuk dari pengalaman individu berhubungan dengan individu lain dalam jaringan struktur obyektif yang ada dalam ruang sosial. Habitus adalah produk sejarah yang terbentuk setelah manusia lahir dan berinteraksi dengan masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu, dengan kata lain habitus adalah hasil pembelajaran lewat pengasuhan, aktivitas bermain, dan juga pendidikan masyarakat. Pembelajaran ini berjalan secara halus sehingga individu tidak menyadari hal ini terjadi pada dirinya, jadi habitus bukan pengetahuan bawaan. Habitus mendasari field yang merupakan jaringan relasi antar posisi-posisi obyektif dalam suatu tatanan sosial yang hadir terpisah dari kesadaran individu. Field semacam hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisiposisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakatyang terbentuk secara spontan. Habitus memungkinkan manusia hidup dalam keseharian mereka secara spontan dan melakukan hubungan dengan pihak-pihak diluar dirinya. Dalam proses interaksi dengan pihak luar tersebut terbentuklah Field. Dalam suatu Field ada pertarungan kekuatan-kekuatan antara individu yang memiliki banyak modal dengan individu yang tidak memiliki modal. Diatas sudah di singgung bahwa modal merupakan sebuah konsentrasi kekuatan, suatu kekuatan spesifik yang beroperasi di dalam field dimana di dalam setiap field
55

menuntut untuk setiap individu untuk memiliki modal gara dapat hidup secara baik dan bertahan di dalamnya. Secara ringkas Bourdieu menyatakan rumusan generatif yang menerangkan praktis sosial dengan rumus setiap relasi sederhana antara individu dan struktur dengan relasi antara habitus dan ranah yang melibatkan modal. Daftar Acuan Bagus, Loren. 1996.”Kamus Filsafat”. Jakarta: Pustakan Gramedia Harker, Richard, Cheelen Mahar, Chris Wilkes. 2005.”(Habitus x Modal) + Praktik: Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu”. Yogyakarta: Jalasutra Lechte, John. 2001.”50 Filusuf Kontmporer: Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas”. Yogyakarta: Kanisius Sutrisno, Mudji, Hendar Putranto. 2006.” Teori-teori Kebudayaan”. Yogyakarta: Kanisius
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

. Pengantar Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada, seperti apa? Di kalangan yang mana? Kalau tidak ada atau kurang terlihat, mengapa? Itulah beberapa pertanyaan yang berusaha dijawab dalam makalah ini. Jawaban-jawaban ini lebih didasarkan pada hasil pengalaman pribadi daripada hasil sebuah penelitian yang serius dan teliti mengenai pengaruh strukturalisme Prancis di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Namun sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ada baiknya saya paparkan terlebih dulu seperti apa strukturalisme Prancis itu, terutama yang diusung oleh Lévi-Strauss, dan mengapa saya memilih menampilkan strukturalisme Lévi-Strauss di sini. Pada musim semi tahun 1981, setahun setelah meninggalnya ahli filsafat Jean Paul Sartre, majalah Prancis Lire mengadakan sebuah jajak pendapat di kalangan intelektual, mahasiswa dan politisi Prancis, dengan pertanyaan, “siapa tiga pemikir berbahasa Perancis yang masih hidup, yang pandangannya – menurut anda – paling berpengaruh terhadap evolusi (perkembangan) pemikiran sastra dan ilmu pengetahuan dan sebagainya ?”. Dari kira-kira 448 jawaban yang masuk, 101 orang menyebut nama Lévi-Strauss, 84 orang menyebut Raymond Aron, 83 orang menyebut Michel Foucault. Nama-nama lain yang juga disebut antara lain adalah Jaques Lacan (51), Simone de Beauvoir (46), dan masih ada lagi beberapa yang lain (Pace, 1986 : 1). Hasil jajak pendapat tersebut mungkin agak mengherankan juga, karena antropologi bukanlah sebuah cabang ilmu yang populer di Prancis, dibandingkan
56

dan akhirnya tinggal Lévi-Strauss yang tetap setia menjadi perawat dan pengembang paradigma tersebut. aliran pemikiran baru yang muncul setelah strukturalisme. Keempat. 1986 : 7). Empat orang tersebut adalah Jacques Lacan. Ketiga. dialah seorang penganut strukturalisme tulen. dan sedikit banyak hal itu juga menunjukkan bahwa Lévi-Strauss tidak hanya dipandang sebagai ahli antropologi. kelahiran paradigma-paradigma baru ini tidak dapat dilepaskan dari munculnya strukturalisme itu sendiri. satu persatu dari mereka meninggalkan strukturalisme. sastra. strukturalisme Lévi-Strausslah yang paling banyak dikenal dan berpengaruh dibandingkan dengan paradigma antropologi yang lain. tetapi – sebagaimana dikatakan oleh Lévi-Strauss sendiri – adalah juga sebuah epistemologi baru dalam ilmu-ilmu sosial-budaya. Karikatur ini setidak-tidaknya menunjukkan bahwa di kalangan intelektual Prancis ketika itu. Dengan kata lain. setelah kemunculan strukturalisme ini pandangan-pandangan antropologi kemudian mempengaruhi cabang-cabang ilmu sosial-budaya yang lain seperti sosiologi. dibanding tulisan ahli-ahli antropologi yang lain (Pace. Namun. Rolanda Barthes. tidak dapat dipahami dengan baik tanpa memahami strukturalisme. empat orang itulah yang dikenal sebagai tokoh-tokoh strukturalisme. seperti post-modernisme atau post-strukturalisme – ini nama-nama yang sebenarnya kurang tepat untuk menyebut sebuah aliran pemikiran – atau semiotika yang kini populer di Barat. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa Lévi-Strausslah yang paling yakin dengan manfaat dan kemampuan paradigma struktural untuk digunakan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya. hasil survei sebuah lembaga Amerika atas kutipan-kutipan (citations) antropologi dari tahun 1969-1977. Kedua. sebuah karikatur yang banyak direproduksi muncul dalam majalah-majalah Prancis tentang para strukturalis. strukturalisme Lévi-Strauss juga bukan hanya merupakan sebuah teori baru. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa pemikiran-pemikiran Lévi-Strauss ternyata dipandang begitu berpengaruh oleh kaum intelektual Prancis. 57 . Kelima. dan filsafat. tetapi juga penting bagi ilmu-ilmu sosial-budaya lain. Di situ digambarkan empat orang tengah duduk melingkar di bawah pohon tropis dengan mengenakan pakaian suku-suku bangsa yang masih primitif. menunjukkan bahwa tulisan-tulisan Lévi-Strauss adalah tulisan yang paling banyak dikutip orang. setelah dia berkenalan dengan antropologi.dengan di Inggris dan Amerika Serikat. atau “makan siang para strukturalis” (Sturrock. Michel Foucault dan tentu saja Claude Lévi-Strauss. Oleh karena itu strukturalisme Lévi-Strauss tidak hanya penting bagi dan dalam antropologi. Tanpa memahami strukturalisme akan sulit memahami post-strukturalisme atau post-modernisme. Tidak mengherankan. 1979 : 1). beberapa tahun kemudian. Dengan kata lain. Judul karikatur ini adalah “Le déjeuner des structuralistes”. Bagaimanapun juga. walaupun Lévi-Strauss sendiri sudah tidak lagi begitu menyukai filsafat sebagaimana yang dia kenal. tetapi juga ahli filsafat. yaitu rok yang terbuat dari daun ilalang.

J. Antropologi Eropa (Inggris. karena mereka melanjutkan pendidikan pascasarjana mereka di Amerika. dan sebagainya. seperti Clifford Geertz. Dengan memperbincangkan tentang strukturalisme ini diharapkan akan muncul ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia yang akan bersedia mengembangkan lebih lanjut kerangka pemikiran tersebut. Goodenough. 2. Dr. Ward H. terasa begitu dipengaruhi oleh ahli-ahli antropologi Amerika. akhirnya saya harus kecewa. Danandjaja. walaupun mereka itu kemudian tidak mengembangkan aliran pemikiran antropologi tertentu di Indonesia. Belanda. dosen-dosen antropologi yang lain – yang ketika itu belum Professor – seperti Dr. Claude Lévi-Strauss adalah seorang ahli antropologi yang tetap konsisten menekuni dan mengembangkan paradigma struktural. yang menurut saya kritik tersebut sebenarnya kurang tepat. teman-teman saya umumnya tidak menyukai teori-teori dari Lévi-Strauss. James P. Prof. oleh lebih banyak ilmuwan.Itulah lima alasan utama mengapa dalam perbincangan tentang strukturalisme ini strukturalisme yang dirintis dan dikembangkan oleh LéviStrausslah yang akan ditampilkan di sini. dosen-dosen antropologi yang mengajar kami ketika itu juga tidak banyak yang paham dan menaruh minat pada strukturalisme LéviStrauss. Prancis) sama sekali tidak terasa pengaruhnya dalam pemikiran-pemikiran dan analisis mereka tentang gejala sosial-budaya di Indonesia. Spradley. Dr. Lebih dair itu. karena situasi dan kondisi pemikiran dalam 58 . pada tahun 1994 saya kembali. Saya berharap ketika itu berbagai pemikiran yang saya kenal dari perkuliahan saya di jurusan Antropologi di Universitas Columbia akan dapat saya temukan di Indonesia. karena selalu sulit dan tidak biasa. Saya ingat. Parsudi Suparlan. Namun. Budi Santoso. Sementara itu. Koetjaraningrat misalnya. Dr. Dalam Sejarah Teori Antropologi II. Ditangannyalah strukturalisme kemudian dikenal oleh lebih banyak orang. sedang saya lumayan menyukai teori-teori tersebut karena terasa begitu menantang untuk memahaminya. Koentjaraningrat melontarkan kritik terhadap strukturalisme Lévi-Strauss. Nico Kalangie. sangat dapat dimengerti apabila dari kalangan ahli antropologi tidak ada yang berupaya untuk memperkenalkan secara serius strukturalisme Lévi-Strauss. Oleh karena itu. Prof. karena saya tidak tahu orang lain di Indonesia yang telah membahas pemikiran Lévi-Strauss dengan cukup mendalam sebagaimana yang telah saya lakukan. karena aliran ini kurang sejalan dengan kecenderungan teoritis beliau yang lebih positivistik. sehingga saya dapat segera membangun wacana tentang pemikiran-pemikiran tersebut di negeri sendiri. ketika saya masih kuliah antropologi di Universitas Indonesia di akhir tahun 1970an. yang mengajar kami teori-teori antropologi. Ilmu Sosial-Budaya Indonesia 1970-1990an : Mengapa Tidak Struktural? Beberapa tahun setelah saya meninggalkan Indonesia untuk mengikuti pendidikan S-3. Sebelumnya saya perlu minta maaf kepada publik jika dalam tulisan ini sosok saya terasa begitu menonjol dalam proses penyebaran strukturalisme LéviStrauss di Indonesia. tidak terlihat menyukai strukturalisme Lévi-Strauss.

Selo Soemardjan dan sebagainya. Saya bertanya-tanya dalam hati : Mengapa mereka tidak menulis mengenai aliran-aliran baru dalam antropologi atau bidang ilmu yang mereka tekuni ? Dalam antropologi di Indonesia ketika itu. strukturalisme tersebut tumbuh dan berkembang di Prancis. dan sempat populer dalam dua-tiga tahun. karena biasanya ilmuwan Indonesia sangat mudah dan cepat menanggapi dan berusaha segera mempopulerkan paradigma-paradigma baru di Barat yang baru saja mereka kenal. walaupun itu tidak berarti bahwa saya menyetujui dan menyukai keadaan tersebut. Hanya mahasiswa antropologi saja yang mengenal tokoh tersebut lewah kuliah dari Prof. tetapi setelah itu seperti hilang ditelan bumi. karena bahasanya juga kurang populer di Indonesia. bahkan sampai tahun 1980an. Nama-nama beken sebagian ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat ketika adalah nama-nama mereka yang banyak meneliti masyarakat Indonesia. Akan tetapi setelah beberapa tahun berada di Indonesia. tidak ada aliran Etnosains dari Amerika Serikat. Koentjaraningrat. Lévi-Strauss yang kita kenal ketika itu adalah merk sebuah celana jeans. 59 . Ketika saya datang pada awal tahun 1990an. tidak telihat arus pemikiran strukturalisme dari Prancis. akhirnya saya dapat memaklumi keadaan yang seperti itu. tidak terlihat Tafsir Kebudayaan seperti yang dikembangkan Clifford Geertz. Nama Lévi-Strauss sebagai seorang teoritisi hampir tak dikenal. James Danandjaja. karena kalau kita membaca jurnal dan bukubuku ilmu sosial-budaya di Barat di tahun 1970an. Sartono Kartodirdjo. strukturalisme masih tetap merupakan paradigma yang populer dan terasa kuat pengaruhnya. Pertama. Koentjaraningrat almarhum di tahun 1970-1980an. Bagi saya ini adalah sebuah keanehan. tokoh-tokoh ilmu sosial-budaya yang saya kagumi dan sebagian pernah menjadi guru saya ketika itu masih ada. Parsudi Suparlan. Orientasi pendidikan ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah Amerika Serikat. seperti misalnya Fuad Hasan. Beberapa tahun saya mencoba mengetahui hal ini. Tidak banyak ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu yang memperoleh pendidikan di Prancis. dibandingkan misalnya dengan bahasa Inggris dan Belanda. Saya mencoba untuk mengetahui apa kira-kira penyebab hal tersebut. karena di tahun 1950an dan 1960an Indonesia adalah salah satu negeri yang banyak diteliti dan dibahas oleh ilmuwan sosial Amerika Serikat. Padahal. Saya cukup heran dengan situasi dan kondisi seperti itu. strukturalisme Lévi-Strauss tidak terdengar gaungnya di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. bahkan hampir tidak ada. Ada beberapa faktor yang tampaknya telah membuat strukturalisme Prancis kurang begitu dikenal di Indonesia. sebuah negeri yang relatif kurang begitu dikenal oleh banyak orang Indonesia. Nama ilmuwan Prancis yang meneliti Indonesia namun namanya hampir tidak terdengar di Indonesia adalah Christian Pelras (meneliti sejarah Indonesia). Postmodernisme mulai terdengar. dan masih aktif.ilmu sosial-budaya Indonesia ketika itu ternyata tidak seperti yang saya duga dan harapkan. Masri Singarimbun.

apalagi oleh kalangan yang lebih luas. atau yang didasarkan pada sebuah epistemologi saja. yakni epistemologi yang positivistik dan epistemologi yang historis. Analisis struktural Lévi-Strauss banyak memanfaatkan data etnografi dan analisis serta interpretasi 60 . strukturalisme banyak mendapat inspirasi dari ilmu bahasa dan mengambil ilmu tersebut sebagai modelnya. dan teori-teorinya juga tidak begitu dikenal. Orang masih sering mengacaukannya dengan arkeologi. yang di Amerika Serikat memang merupakan salah satu spesialisasi dalam antropologi. Aalagi ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat yang mempelajari Indonesia juga menggunakan paradigma tersebut. Kalau di kalangan ahli antropologi Indonesia saja strukturalisme di Lévi-Strauss sudah tidak begitu dikenal. di tahun 1970an dan 1980an antropologi sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan masih belum begitu dikenal di Indonesia.R. reaksi yang muncul biasanya adalah : menolak secara sembunyi-sembunyi. Ketiga. Radcliffe-Brown dan Bronislaw Malinowski di tahun 1940an dikembangkan lebih lanjut oleh Parsons dan berhasil menjadi sebuah aliran yang mendominasi pemikiran ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat di tahun 1960-1970an. Fungsionalisme-Struktural yang diwariskan oleh A. analisis struktural dan bahasa yang digunakan oleh Lévi-Strauss dalam tulisan-tulisannya termasuk yang tidak mudah dipahami. Lengkaplah sarana paradigma Fungsionalisme – Struktural untuk menyebar dan dikenal di Indonesia. Ilmuwan sosial-budaya Indonesia yang belajar di Amerika Serikat di masa itu otomatis sangat dipengaruhi oleh aliran pemikiran ini – bahkan sampai sekarang – . sehingga mereka tentunya mengalami kesulitan ketika berusaha memahami analisis-analisis strukturalisme Lévi-Strauss yang sangat banyak mendapat inspirasi dari linguistik. atau menolak secara terang-terangan. acuh tak acuh. seperti halnya kebanyakan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Para ilmuwan sosial-budaya umumnya juga tidak mengenal linguistik. Untuk mereka yang terbiasa berfikir dengan menggunakan sebuah paradigma. ilmu bahasa atau linguistik bukanlah sebuah ilmu yang populer di Indonesia.Aliran pemikiran yang sangat mempengaruhi ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah aliran fungsionalisme-struktural yang berasal dari Talcott Parsons. strukturalisme Lévi-Strauss dalam antropologi. dan cukup besar perbedaannya dengan epistemologi positivisme. Sebagai epistemologi strukturalisme sangat berseberangan dengan epistemologi historisme. munculnya sebuah paradigma atau epistemologi baru tidak akan memicu munculnya tanggapan yang positif. Kalau antropologi sebagai ilmu sudah tidak begitu dikenal. Kelima. sebuah cabang ilmu yang kurang begitu populer di Indonesia. Kedua. Sebaliknya. apalagi teori-teori yang ada di dalamnya. Sementara itu. strukturalisme Lévi-Strauss adalah sebuah epistemologi baru. Memang. Keempat. ahli sosiologi Amerika Serikat. yang saya kira cukup besar perbedaannya dengan epistemologi yang dianut oleh sebagian besar ilmuwan sosial-budaya Indonesia.

E. mungkin juga sulit 61 . walaupun saya terus-terang tertarik pada kecanggihan pemikiran LéviStrauss. serta sulitnya memahami paradigma itu sendiri. Mengusung Strukturalisme Lévi-Strauss : 1980an dan 1990an Generasi saya adalah generasi baru pelajar ilmu sosial-budaya yang mulai mengenal pemikiran dari Eropa Daratan. Mengingat pentingnya strukturalisme Lévi-Strauss dalam perkembangan pemikiran di Barat. Periode 1980an Laksono menerapkan analisis struktural lebih awal daripada saya. Kesulitan memahami ini bertambah besar lagi di kalangan ketika Lévi-Strauss menggunakan bahasa yang juga relatif sulit dipahami. tidak dapat digunakan untuk memahami dan menganalisis perubahan. tetapi seingat saya karena mereka umumnya menganggap pendekatan tersebut “statis”. tetapi sudah termasuk nyastra atau sastrawi.dilakukan atas informasi etnografis mengenai berbagai hal yang begitu kecil dan njlimet. walaupun aliran ini sangat kuat pengaruhnya dalam dunia pemikiran di Barat. begitu tidak dikenalnya aliran pemikiran itu di Indonesia. karena pendekatannya terasa tidak lazim. Yang lain tidak tertarik. Laksono. Dalam hal ini Laksono membandingkan struktur budaya pada masyarakat Jawa di Bagelen dengan struktur budaya Jawa di Kraton Mataram. Dengan menggunakan analisis struktural Laksono (1986) mencoba menunjukkan bahwa Tradisi Ageng Jawa di Kraton adalah transformasi dari Tradisi Alit Jawa di daerah pedesaan. Tesis pascasarjananya. Mungkin. de Josselin de Jong kepada kami. Itulah beberapa faktor yang menurut saya telah membuat strukturalisme LéviStrauss kurang begitu dikenal di Indonesia. Ketika itu teman sayalah yang kemudian menggunakan paradigma struktural – yang merupakan campuran strukturalisme Prancis dan Belanda – untuk menulis tesis S-2 nya.M. karena saya mendapat pendidikan lanjutan di Belanda. bahkan cenderung bersikap negatif dan sinis terhadap aliran strukturalisme yang ketika itu diajarkan oleh P. Bahasa tulisannya memang belum nyastra sekali seperti Geertz. saya tidak serta-merta tertarik pada strukturalisme Prancis. Oleh karena itu pula analisis struktural yang dikerjakan Lévi-Strauss termasuk yang tidak mudah dipahami oleh orang-orang antropologi. 3. Meskipun demikian. karena antropologi di Belanda di masa lampau sudah lebih dulu mengenal strukturalisme. Saya tidak tahu mengapa demikian. Di sinilah saya berkenalan lebih dekat dengan strukturalisme Prancis. yakni P. Buku ini memang tidak mendapat banyak perhatian dari ilmuwan sosial-budaya Indonesia. adalah mengenai struktur yang ada dalam Tradisi Ageng dan Tradisi Alit masyarakat Jawa. yang kemudian diterbitkan menjadi buku. maka saya kemudian memberanikan diri untuk mengusung strukturalisme Lévi-Strauss ke Indonesia setelah saya menyiapkan diri dengan lebih baik di Amerika Serikat. a. Kami berdua adalah mahasiswa Indonesia yang dipengaruhi oleh pemikiran struktural ketika itu. Lévi-Strauss termasuk ahli antropologi yang mampu menggunakan daya retorika yang bagus tetapi tidak mudah dipahami. dengan mengumpulkan artikel dan buku-buku yang relevan. dan kemudian mendapat pengaruh kuat dari strukturalisme Prancis.

saya merasa bahwa nama saya hampir selalu dihubungkan dengan strukturalisme atau antropologi struktural. ahli antropologi struktural dari Universitas Leiden. Pengetahuan mengenai strukturalisme tidak dapat saya tebar lebih lama di UGM. Setelah saya kembali ke UGM. 1984). patut dihargai. Oleh karena penulisan buku tersebut berada di bawah bimbingan P. maka tidak terlalu mengherankan apabila pengaruh strukturalisme Belanda lebih terlihat di situ daripada pengaruh strukturalisme Prancis. Yang jelas buku ini setahu saya merupakan analisis kebudayaan secara struktural yang pertama dilakukan oleh ahli antropologi Indonesia.E. yang saat itu masih belum guru besar. saya tidak mengetahui perkembangan strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. sampai ketika saya pulang kembali ke UGM setelah menyelesaikan S-3 saya. dilanjutkan oleh dosen kami yang paling senior di UGM. Untuk beberapa tahun. mungkin pula karena kurang promosi. Para mahasiswa antropologi UGM ketika itu mulai mengenal nama Lévi-Strauss serta teori-teorinya dengan cukup baik. karena dia sudah lebih dulu pergi ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi. saya kebetulan diminta Prof. Periode 1990an Pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss yang sudah mulai terlihat di tahun 1980an di Indonesia mulai terasa menguat setelah saya memberikan kuliah mengenai strukturalisme lagi selama beberapa tahun di jurusan Antropologi UGM. dan kesempatan itu saya gunakan untuk menebar paradigma strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. Belanda. yaitu dengan memfotocopy buku-buku dan artikel-artikel yang saya bawa dari luar. Secara kebetulan waktu itu di majalah Basis muncul sebuah artikel mengenai Lévi-Strauss dan strukturalismenya. Oleh karena itu sayapun menulis sebuah artikel yang isinya merupakan tanggapan. b. saya mengajar di jurusan antropologi. yang ditulis oleh Radrianarisoa. Bukan hanya karena kuliahnya lebih terfokus. Setelah selesai kuliah di Universitas Leiden. tambahan dan “pelurusan” beberapa pendapat dalam artikel tersebut (Ahimsa-Putra. karena setelah dua tahun saya mengajar saya memperoleh kesempatan melanjutkan studi S-3 antropologi ke Universitas Columbia di New York.dimengerti oleh mereka yang belum mengenal strukturalisme. termasuk di dalamnya strukturalisme Lévi-Strauss. Satu-dua orang mahasiswa mulai tertarik dengan pendekatan ini dan mulai menerapkannya untuk penulisan skripsi. dan menulis beberapa artikel dengan menggunakan paradigma tersebut. Ketika itu pengajaran teori antropologi. de Josselin de Jong. Belanda. Pak Kodiran. Laksono tidak dapat menggantikan. Walaupun masih dalam taraf yang sangat sederhana namun minta mereka untuk menggunakan sebuah paradigma yang belum lazim diterima dan cukup sulit. Baroroh Baried – yang ketika itu 62 . Amerika Serikat. Setelah membaca artikel itu saya berpendapat bahwa apa yang ada dalam artikel tersebut tidak seluruhnya tepat atau seperti yang saya ketahui. tetapi juga karena buku-buku dan artikel-artikel antropologi struktural dapat mereka peroleh secara langsung. Semenjak itu.

menjadi ketua program pascasarjana sastra – untuk mengampu matakuliah mitologi. Oleh karena tidak ada dosen lain yang dipandang lebih memahami strukturalisme. 1995). Sayapun menyanggupi permintaan tersebut. terutama di Yogyakarta. Gaung strukturalisme sebagai sebuah paradigma semakin luas terdengar di kalangan mahasiswa. karena kalau tidak ada ketertarikan tersebut. Analisis struktural ala Lévi-Strauss atas mitos sama sekali belum dikenal di Indonesia ketika itu. Sementara itu. Dalam kata pengantar itu saya kembali menyampaikan berbagai hal mengenai strukturalisme Lévi-Strauss yang belum banyak diketahui. maka pembimbingan penulisan skripsi atau tesis semacam ini boleh dikatakan selalu diserahkan kepada saya. baik itu yang analitis maupun teoritis. melalui perkuliahan di S-1 dan S-2 antropologi serta S-2 sastra. Saya menawarkan 63 . saya terus menyebarkan strukturalisme ke kalangan mahasiswa. tetapi saya tidak tahu bagaimana gaung tersebut di luar UGM. yang saya gunakan untuk melakukan penelitian atas mitos orang Bajo. Beberapa mahasiswa kemudian tertarik untuk menulis tesis dengan menggunakan pendekatan struktural. Melalui forum seperti inilah saya dapat menyebarkan strukturalisme. atau perlu dijelaskan lagi agar tidak menimbulkan salah pengertian (Ahimsa-Putra. Selain melalui perkuliahan. Laporan penelitiannya kemudian saya tulis kembali menjadi artikel yang kemudian diterbitkan oleh majalah Kalam (Ahimsa Putra. Mudahmudahan ada yang bersedia memberikan informasi mengenai bagaimana strukturalisme (Lévi-Strauss) dipandang dan dipahami oleh para mahasiswa – antropologi maupun bukan – di luar UGM. karena – sebagaimana kita ketahui – majalah Kalam adalah majalah yang banyak dibaca oleh mereka yang berminat pada sastra. serta memberikan tanggapan terhadap pendapat-pendapat Paz yang menurut saya kurang tepat. Ketika itu saya merasa bahwa strukturalisme mulai menarik perhatian kalangan intelektual muda. Nama Lévi-Strauss dan strukturalisme tetap belum akrab di kalangan terpelajar di Indonesia. seni dan filsafat. tentu buku Paz tidak akan diterjemahkan dan diterbitkan. terutama jurusan antropologi di UGM. 1997). Permintaan tersebut saya terima dan secara kebetulan saya mendapat dana penelitian. saya juga menulis makalah-makalah untuk seminar dengan tema struktural. Ketika satu-dua tesis struktural mulai dapat ditulis dan diujikan dengan hasil yang baik (banyak yang mendapat nilai A). Artikel ini rupanya semakin menguatkan citra saya sebagai orang yang tahu strukturalisme Lévi-Strauss lebih dari yang lain. semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk menyusun tesis atau skripsi struktural. yang berasal dari buku Octavio Paz mengenai strukturalisme Lévi-Strauss. Pendapat bahwa saya adalah orang yang tahu tentang strukturalisme LéviStrauss itu rupanya telah mendorong pihak penerbit LKIS meminta saya menulis kata pengantar untuk buku yang akan mereka terbitkan. dan diluar lingkaran antropologi setahu saya belum ada orang lain yang berbicara mengenai aliran pemikiran tersebut.

yang tidak akan dapat diungkap melalui paradigma yang lain. dan analisis semacam ini dapat mengungkapkan dimensi tertentu dari karya sastra yang tidak dapat diungkapkan melalui pendekatan yang lain. Strukturalisme Lévi-Strauss yang muncul dan berkembang dengan baik dalam antropologi ternyata sangat dapat digunakan untuk menganalisis karya sastra. 4. 2001). setelah saya menganalisis mitos Bajo secara struktural dan mulai memberi kuliah strukturalisme 15 tahun yang lalu? Strukturalisme Lévi-Strauss kini sudah lebih dikenal di Indonesia. Paradigma strukturalisme Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal lagi setelah terbitnya buku Strukturalisme Lévi-Strauss. Dari makalah dan artikel tersebut orang dapat menilai keampuhan paradigma struktural untuk memahami gejala sosial-budaya lewat sudut pandang yang berbeda. Lewat berbagai makalah dan artikel itulah saya berupaya menunjukkan bahwa strukturalisme adalah sebuah cara baru untuk memandang gejala sosialbudaya. yang berbeda dengan strukturalisme yang selama ini mereka kenal dalam analisis sastra. Melalui paradigma tersebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya yang dapat diungkapkan. 2000a). Dengan demikian. dan manfaat apa yang akan diperoleh dari penggunaan tersebut. sedang kepada para peneliti fenomena keagamaan saya juga menunjukkan bahwa strukturalisme dapat digunakan untuk memahami fenomena keagamaan seperti sinkretisme (Ahimsa – Putra. Dengan terbitnya buku tersebut. strukturalisme Lévi-Strauss mulai dikenal di luar lingkaran antropologi. dan tidak terbatas di kalangan pelajar antropologi saja. Buku ini pula yang membuat banyak orang mulai menyadari bahwa sekat-sekat keilmuan sebenarnya sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Melalui paradigma tesebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya. 2002c). para peneliti sastra sebaiknya juga menengok dan mempelajari paradigma-paradigma yang berkembang di luar kajian sastra. Langkah yang saya tempuh untuk memperkenalkan paradigma antropologi struktural di Indonesia dengan menulis artikel dan menerbikan buku didasarkan pada pandangan bahwa orang tidak akan tertarik pada suatu pendekatan atau paradigma bilamana dia belum mengetahui tentang paradigma tersebut.pendekatan struktural untuk menganalisis fenomena arkeologis (Ahimsa – Putra. 64 . 1999c. 1998a. tentang cara menggunakannya. Meskipun demikian saya tetap tidak mengetahui bagaimana perkembangan paradigma strukturalisme Lévi-Strauss atapun strukturalisme pada umumnya di luar UGM. Buku ini saya kira telah membuat peneliti dan pelajar sastra menengok para strukturalisme Lévi-Strauss. 2000b). Saya juga menawarkan pendekatan tersebut untuk menganalisis karya-karya sastra kontemporer yang mungkin tidak pernah terpikirkan untuk dianalisis secara struktural. Sejak itu. seperti karya-karya Umar Kayam (Ahimsa – Putra. Strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia : 2009 Bagaimana strukturalisme di Indonesia sekarang. strukturalisme Lévi-Strauss semakin dikenal di Indonesia. dan semakin banyak mahasiswa antropologi yang menggunakan pendekatan ini untuk memahami berbagai gejala sosial-budaya dalam masyarakat Indonesia. Mitos dan Karya Sastra (Ahimsa – Putra.

Oleh karena itu. Dalam hal ini Numbery telah berhasil menunjukkan keterkaitan struktural yang erat antara struktur ruang yang dikenal oleh orang Dani dengan organisasi sosial mereka. Purnama mengungkapkan struktur rumah Limas Palembang dan mengaitkannya dengan struktur pemikiran orang Palembang.Memang. 2009) dan makanan tradisional orang 65 . analisis struktural yang dikerjakan oleh Numbery merupakan analisis struktural ala Lévi-Strauss yang pertama kali dimanfaatkan oleh ilmuwan sosial Indonesia untuk memahami struktur organisasi sosial orang Dani dan pandangan mereka tentang ruang beserta strukturnya. analisis Purnama kemudian menuntut digunakannya konsep transformasi. Kalau paradigma antropologi sebelumnya jarang sekali menampilkan metode analisisnya. Oleh karena itu. Pendekatan struktural juga digunakan oleh Nasrullah (2008). yang berasal dari suku Dayak Bakumpai di Sungai Barito. untuk menganalisis konsepsi orang Bakumpai tentang ruang. 2002). strukturalisme Lévi-Strauss justru terlihat membedakan dirinya dari yang lain melalui metode analisis ini. yakni patung (Ahimsa-Putra. Analisis struktural juga telah diterapkan pada budaya material. namun belum pernah saya mendengar orang membahas pemikiran-pemikiran Barthes dan Foucault secara serius. Orang Dayak Bakumpai mengenal istilah-istilah ngaju. Metode Analisis Pengaruh strukturalisme terlihat terutama pada metode analisis. Struktur ruang juga dianalisis oleh Gerda Numbery (2008) yang melakukan penelitian di kalangan orang Dani di Papua. Strukturalisme Lévi-Strauss mulai terlihat digunakan untuk menganalisis berbagai gejala kebudayaan yang belum pernah dianalisis secara struktural. dan konsepsi arah yang terkait dengan ruang ini juga terkait erat dengan sungai. 2000). dan dengan konsep ini pula dia dapat menyajikan rangkaian transformasi yang ada dalam budaya masyarakat Palembang. 1999c. Kalimantan. baik itu secara formal lewat seminar. saya sering mendengar nama-nama Barthes dan Foucault disebut-sebut dalam beberapa diskusi. dan di sinilah memang terletak kekuatan strukturalisme Lévi-Strauss sebagai sebuah paradigma. rumah tradisional Sumba (Purwadi. Purwadi lebih tertarik untuk mengungkap prinsip-prinsip struktural yang ada di balik rumah tradisional Suma di Umaluhu. ataupun dalam diskusi-diskusi informal. Analisis struktural telah digunakan untuk mengungkap struktur yang ada pada rumah Limas Palembang (Purnama. terutama strukturalisme Lévi-Strauss sebagaimana yang saya ketahui dari karya-karya ilmiah yang bisa saya peroleh. Ini terlihat pada tesis dan disertasi di jurusan antropologi UGM. a. Sepengetahuan saya. karena sungai merupakan ruang yang sangat penting dalam kehidupan orang Dayak Bakumpai. Kalau Dadang H. ngambu dan liwa untuk menunjuk arah. di sini saya hanya akan memaparkan pengaruh-pengaruh strukturalisme. Subiantoro. ngawa.

Diskusi yang lebih teoritis dan konseptual tentang strukturalisme belum dapat diharapkan dapat muncul dari kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Lebih dari itu. Sementara itu. memberikan kuliah dan membimbing penulisan karya ilmiah saya merasa ide Lévi-Strauss mengenai struktur termasuk yang tidak mudah dimengerti dan diketahui adanya dalam gejala sosial-budaya yang dianalisis. 2007). Walaupun analisisnya belum sepenuhnya tuntas. yang sebelumnya telah diteliti secara seksama oleh Edi Sedyawati. 66 . b. Ahimsa-Putra misalnya menerapkan analisis struktural pada arca ganesya. dengan adanya kuliah mengenai strukturalisme Lévi-Strauss secara khusus. pengertian struktur tersebut kini mulai dapat dimengerti. 2009). Pemahaman tentang “Struktur” (Structure) Meskipun strukturalisme memberikan penekanan utama pada struktur.Minang (Maryetti. namun ternyata pemahaman tentang struktur ini tidak selalu dapat ditangkap. karena dengan adanya tesis-tesis tersebut maka paradigma Strukturalisme dari Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal dan jelas-jelas dapat digunakan dalam berbagai penelitian. Dari pengalaman berdiskusi. yakni kosmologi Jawa. karena tradisi membahas secara kritis pemikiran-pemikiran yang berasal dari Barat masih belum tumbuh dan berkembang di kalangan mereka. Dalam hal ini para mahasiswa pascasarjana antropologi UGM (S-2) merupakan orang-orang yang cukup besar sumbangannya. Kita masih jauh dari suasana akademik dan intelektual yang seperti itu. dan pengertian struktur sebagai sistem relasi. analisis patung secara struktural juga telah dilakukan oleh Slamet Subiantoro. Selain arca ganesya. ternyata pendekatan struktural juga dapat menjelaskan fenomena sosial yang terjadi di Indonesia tidak lama setelah meletusnya peristiwa G-30-S. Beberapa contoh kajian ini menunjukkan bahwa strukturalisme sebagai sebuah paradigma ternyata dapat digunakan untuk menganalisis beraneka-macam gejala sosial-budaya. yakni banyaknya orang Tionghoa Indonesia yang masuk agama Katholik dan bagaimana perilaku mereka setelah mereka memeluk agama tersebut (Radjabana. ahli arkeologi UI. yang menempatkan patung loro-blonyo dalam konteks kebudayaan yang lebih luas. Masih sangat sedikitnya buku dan artikel jurnal ilmiah yang membahas strukturalisme secara kritis di Indonesia merupakan bukti yang paling jelas masih belum berkembangnya tradisi tersebut. namun tidak ada hubungan empirisnya dengan gejala sosial-budaya tersebut. Pengertian struktur sebagai sebuah model yang dibuat oleh ahli antropologi untuk memahami gejala yang dipelajari. 2000). Meskipun demikian. namun analisis tersebut telah memberi inspirasi pada sejumlah ahli arkeologi lain untuk mencoba menerapkannya pada artefak-artefak atau benda arkeologis lainnya. ternyata tidak selalu mudah dipahami. Maryetti lebih tertarik untuk menganalisis dan mengungkapkan struktur yang ada di balik berbagai macam makanan tradisional yang disajikan dalam ritual-ritual (Subiantoro.

diakronis. bahwa strukturalisme tidak menyejarah (ahistoris). Kebiasaan ini membuat kita mengalami kesulitan jika harus memandang dan menjelaskan gejala sosial-budaya tidak melalui sudut pandang kausalitas. yakni “struktur sosial” menurut padangan Lévi-Strauss (yang berbeda dengan “struktur sosial” menurut Radcliffe-Brown). dan itu berarti kepada masa lampaunya. c. Mereka yang menerima begitu saja kritik ini sebenarnya telah melupakan faktor-faktor yang mendorong munculnya pendekatan struktural. Segala sesuatu selalu kita pandang dalam hubungan sebab-akibat sehingga penjelasan tentang sesuatu tersebut selalu mengacu pada sebab-sebabnya. karena para ilmuwan dan pelajar Indonesia masih lebih mudah memahami konsep-konsep yang lebih jelas acuannya. Sulit rasanya mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya yang memang tidak ada data sejarahnya. A-historis Konsep yang sangat penting dalam analisis struktural adalah transformasi. Bahwa ternyata struktur sosial adalah juga sebuah model dari seorang ahli antropologi mengenai suatu masyarakat atau suku bangsa juga masih sulit diterima. karena ini menuntut kemampuan memandang gejala sosialbudaya dengan cara yang berbeda. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. yang lebih mudah dilihat dan mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Lebih sulit dari itu adalah membedakan makna transformasi dengan change (perubahan). Sebagaimana kita tahu konsep transformasi berasal dari ilmu bahasa juga. Bahkan.Konsep turunan yang berasal dari “struktur”. Stukturalisme : Cara Pandang Transformasional. namun banyak contoh yang dapat diberikan untuk menjelaskan makna transformasi sebagaimana digunakan dalam analisis struktural. konsep-konsep penting tidak selalu dapat dipahami fungsinya dalam analisis. diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. walaupun implikasi teoritisnya tidak selalu mudah dipahami. ketika dikatakan bahwa strukturalisme tidak dapat digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala perubahan sosial dan kebudayaan. yakni keterbatasan pendekatan sejarah ketika digunakan untuk memahami dan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya yang memang tidak ada data sejarahnya. Hal ini tampaknya telah membuat konsep transformasi menjadi lebih mudah dipahami dan digunakan dalam analisis. diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. juga belum dapat dimengerti dengan baik. dan kebanyakan telah dapat menerapkan konsep ini dengan baik dalam analisis. Sulit rasanya 67 . Konsep ini tampaknya lebih mudah dipahami oleh para mahasiswa daripada konsep struktur atau struktur sosial. Kita umumnya memiliki pola pikir yang linier. yang a-historis. yang historis. Kesulitan tersebut juga menambah orang semakin kurang berminat memandang gejala sosial-budaya dari perspektif strukturalisme. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial.

Kalau dalam antropologi saja strukturalisme (Lévi-Strauss) sampai saat ini masih belum sangat dikenal.mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya Indonesia dalam waktu yang relatif dekat ini. Sisi filosofis inilah yang belum diserap oleh kalangan intelektual atau ilmuwan Indonesia. Yang jelas saya belum pernah mendengar sama sekali bahwa paradigma ini telah diajarkan di UGM (dulu). mungkin pula karena ahli filsafat Indonesia tidak ada yang tertarik untuk 68 . tidak adanya ilmuwan sosial-budaya yang khusus menekuni strukturalisme dan kemudian memperkenalkannya kepada publik Indonesia. Saya tidak tahu apakah di jurusan-jurusan antropologi lain di Indonesia paradigma ini telah diajarkan. tidak adanya kuliah khusus mengenai strukturalisme di universitasuniversitas di Indonesia. Mungkin karena sisi ini lebih sulit untuk ditangkap dan dipahami oleh ahli filsafat Indonesia. jika tidak memprihatinkan. Walaupun Lévi-Strauss tidak pernah menganggap strukturalisme yang dikembangkannya sebagai sebuah filsafat. 5. Di luar UGM pengaruh tersebut tetap masih belum terasa. Kalau pada awal kemunculan post-modernisme dan cultural studies saya sempat diundang dalam diskusi dan seminar di Indonesia tentang dua trend keilmuan tersebut. Di UGM pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terasa terutama di kalangan mahasiswa antropologi. wacana serius tentang strukturalisme (Lévi-Strauss) setahu saya tidak pernah muncul di Indonesia. Mengapa demikian? Mungkin beberapa faktor yang telah saya sebutkan di atas adalah diantaranya. Pengaruh ini terlihat terutama di jurusan Antropologi di Universitas Gadjah Mada. Penutup Apa yang saya paparkan di sini adalah apa yang saya ketahui mengenai strukturalisme di Indonesia di masa kini. yang setahu saya sudah mulai banyak dikenal dan digungakan sebagai paradigma dalam penelitian. Hal ini tentu sangat mengherankan. namun sebenarnya sebagai sebuah epistemologi strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran filsafati. mungkin juga karena paradigma ini dianggap terlalu banyak kelemahannya. Tidak sebagaimana halnya post-modernisme dan cultural studies. tidak demikian halnya dengan strukturalisme. Mungkin karena di jurusan-jurusan antropologi yang lain tidak ada orang yang merasa menguasai dan dapat mengajarkan dengan baik strukturalisme sebagai sebuah paradigma. terutama karena tidak dapat digunakan untuk memahami dinamika dan perubahan kebudayaan. dan ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal. maka aspek filosofis dari aliran pemikiran ini tentu lebih belum dikenal lagi. Belum pernah saya diundang dalam seminar. diskusi atau lokakarya yang secara khusus membahas strukturalisme (Lévi-Strauss) sebagai sebuah trend pendekatan baru dalam ilmu sosial-budaya. atau mungkin ada tetapi saya tidak mengetahuinya. Faktor-faktor yang lain mungkin sekali juga menjadi penyebabnya seperti misalnya : langkanya buku mengenai strukturalisme itu sendiri. tingkat pascasarjana.

di samping konsep-konsep seperti nirsadar. Tesis Pascasarjana Antropologi. *Penulis adalah Pengajar Antropologi Budaya. 69 . dan transformasi. Dari paparan di atas kita dapat mengatakan bahwa (a) strukturalisme yang dikenal di Indonesia adalah strukturalisme yang dikembangkan oleh Lévi-Strauss. sementara strukturalisme yang berasal dari Foucault dan Barthes tidak begitu terlihat pengaruhnya di kalangan kaum terpelajar Indonesia. pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terhadap pemikiran-pemikiran ilmuwan sosial-budaya Indonesia masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat meninggalkan bekas yang cukup dalam serta mudah dikenali dalam karya-karya ilmiah mereka. Kalam 6 : 124-143. karena di jurusan antropologi UGM strukturalisme Lévi-Strauss diajarkan secara khusus selama satu semester. 1 April 2009 sebagai mata rangkai Public Culture Series bertajuk: Pemikiran Kritis Prancis dan Implikasinya di Indonesia Sekarang ini Daftar Pustaka Abdullah. dan tampaknya belum akan muncul dalam waktu dekat. H. (b) strukturalisme Lévi-Strauss masih terbatas dikenal di kalangan pelajar antropologi. signified. Basis XXXIII (4) : 122-135. di tingkat pascasarjana. 2005. 1984. Universitas Gadjah Mada. Universitas Gadjah Mada. (c) beberapa konsep penting dalam strukturalisme yang mulai dikenal dan dimengerti adalah konsep struktur. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. Oleh karena itu pula. Namun. 1995. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S.membahasnya. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. (d) pembahasan kritis atas pemikiran-pemikiran antropologis dan filosofis belum terlihat. 1994. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. terutama di UGM. karena hal semacam ini menuntut pemahaman yang mendalam atas berbagai paradigma dan pandangan filosofis yang berkembang dalam antropologi dan filsafat. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. signifier. itulah tantangan dari strukturalisme yang hingga kini di Indonesia masih belum ada yang bersedia menghadapi dan dapat menakhlukannya. dan sebagainya. Ahimsa-Putra. Kawin Bedil dan Sobrat. ___________. Fakultas Ilmu Budaya. sign. ___________.S. Makalah seminar. oposisi biner. T. sintagmatik-para digmatik. Yogyakarta **Makalah ini disampaikan dalam diskusi publik bertema: Perkembangan Strukturalisme Prancis di Indonesia pada hari Rabu. struktur sosial.

1997. Orang-Orang PKI. 2001. ___________. Jakarta : UI Press. Humaniora 12 : 1 – 13. 2000b. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. Nalar Jawa. Strukturalisme Lévi-Strauss. ___________. ___________. Makalah Sarasehan. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. A. 1999c. ___________. 2002d. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. 2000a. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. Yogyakarta : Galang Press. Makalah seminar. Tiga Dasawarsa. Rahayu S. Roland Barthes : dari Strukturalisme ke PostStrukturalisme. 2002c. Makalah Pelatihan. 2002a. Makalah seminar. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. 1998c. Salam (ed). O. Makalah seminar. September – Desember. ___________.___________. ___________. Gerbang 5 (2) : 88 – 97. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. 1998b. Makalah seminar Arkeologi. ___________. Makalah dalam bedah buku. Tembi 1 Thn. ___________. 1999b.I : 10 – 19. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. “Lévi-Strauss. Yogyakarta : LKIS. 70 . ___________. ___________. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng-Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. ___________. ___________. Paz. ___________. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Dua Paradigma. Satu Model. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. Mitos dan Karya Sastra. (ed). 2002b. 1999a. 1998a.

H. ___________. ___________. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasirelasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. ___________. ___________. Kepel Press : Yogyakarta. Edisi Baru. N. Terj. 2007b. 2006a. ___________. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. Abdullah (ed. Strukturalisme Lévi-Strauss. Yogyakarta : Kepel Press. 2008b. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. Mitos dan Nalar Primitif. Ahimsa-Putra (ed. Analisis Struktural Lévi-Strauss dan Mitos Tasawuf. ___________. Abror. 2006b. Ritus Pertukaran”. Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. Robby H. 2002e. 2007a. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. 2008a. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. Metodologi dan Etnografi. 2006c. Yogyakarta : Insight Reference.). Jakarta : Rajagrafindo Persada. ___________. Ritus Penandaan. 2006e. 2006d. 2003.S. 2004. ___________. Makalah diskusi. Makalah bedah buku. Humaniora XV (3) : 239 – 264. ___________. 2005. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. ___________. 71 .). Makalah seminar. Sawerigading. Totem. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan.___________. T. Makalah bedah buku. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. Tesis Pascasarjana Antropologi. Makalah seminar nasional. Mitos dan Karya Sastra. Leni. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. Satwa. C. ___________. Universitas Gadjah Mada. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya Bugis-Makassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya Bugis-Makassar. Badcock.

).Listia. 2002. Universitas Gadjah Mada. A. 2008. Tesis Pascasarjana Antropologi. Nasrulah. Disertasi Antropologi. Prinsip-prinsip Struktural dalam Rumah Tradisional Sumba di Umaluhu. G. 2004. Budaya dan Struktur Masyarakat Tiongkok pada Dinasti Qing dalam Novel “Hong Lou Meng”. 2007. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Kulon Progo. 2000. Sperber. S. Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada. Radjabana. Universitas Gadjah Mada. London : Ark Paperbacks. Tesis Pascasarjana Antropologi. Distrik Kurulu. Xiao Lixian. 2003. Pertukaran Dalam Hubungan Subkontrak di Kalangan Perajin Agel. Subiantoro. Oxford : Oxford University Press. Yogyakarta. Pace. Tesis Pascasarjana Antropologi. 2007. 72 . Sturrock (ed. D. Liwa : Analisis Strukturalisme Lévi-Strauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. “Introduction” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. J. J. Universitas Gadjah Mada. Makanan dan Struktur Budaya Minangkabau. 1986. Maryetti. Posisi Wahyu dalam Agama Kristiani dan Islam : Studi Atas Perbedaan Agama Kristiani dan Islam Menurut Strukturalisme Lévi-Strauss.).H. Universitas Gadjah Mada. Menjadi Katolik Bagi Keturunan Cina di Jawa : Pertukaran Sosial Antara Keturunan Cina dan Gereja Katolik di Jawa. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. Tesis Pascasarjana Antropologi. Oxford : Oxford University Press. 1979. Analisis Struktural Lévi-Strauss. Tesis Pascasarjana Antropologi. D. Ngaju. 2009. 1979. Sumintarsih. Universitas Gadjah Mada. 2005. Claude Lévi-Strauss : The Bearer of Ashes. Tesis Pascasarjana Antropologi. Struktur Budaya Orang Dani di Desa Jiwika. Kabupaten Jayawijaya : Suatu Kajian Strukturalisme Lévi-Strauss. Universitas Gadjah Mada.I. Sturrock (ed. Loro Blonyo Dalam Rumah Tradisional Jawa : Studi Tentang Kosmologi Jawa. Tesis Pascasarjana Antropologi. D. Universitas Gadjah Mada. Ngawa. Sturrock. Tesis Pascasarjana Antropologi. J. Rumah Limas dan Struktur Pemikiran Orang Palembang. 1998. Ngambu. Purwadi. Purnama. Numbery.K.

jurnal. … More articles » Buku » Koleksi Terbaru Perpustakaan KUNCI September-November 2009 Perpustakaan Kajian Budaya KUNCI mengoleksi buku teks. 73 .11 readers like this article. kertas kerja tentang kajian budaya. More articles » Kertas Kerja » Demam K-Drama dan Cerita Fans di Yogya oleh YULI ANDARI M Yuli Andari menuliskan pengamatannya tentang demam drama Korea dan para fans di Yogyakarta. Audio Archive : FGD Meteor Garden On 2002. filsuf perempuan. KUNCI Cultural Studies conducted a research on the popularity of Taiwan’s TV series. Meteor Garden. Laporan ini dibuat pada tahun 2006. tuhan. During the research. Selain itu perpustakaan juga memiliki koleksi media alternatif (zine) dan transkrip hasil diskusi. in Indonesia. KUNCI asked Meteor Garden’s fans reception to the show through forum group discussion. dan usia manusia dalam sebuah perbincangan dengan Kristine McKenna dari LA Weekly. makalah. Tema-tema khusus yang menjadi fokus utama … More articles » General » Tiga Usia Jacques Derrida Derrida berbicara tentang arti biografi. laporan penelitian. kematian.

Bila ada kesempatan di akhir pekan. More articles » PDF » VIDEOCHRONIC [scroll down for English version] Beberapa dekade belakangan Indonesia mengalami perubahan yang cukup drastis dalam penggunaan video sebagai alat perubahan sosial baik di ranah komunitas. Alat memproduksi video semakin terdemokratisasi … More articles » Public Culture Series » Strukturalisme Levi-Strauss di Indonesia 2009 oleh HEDDY SHRI AHIMSA-PUTRA 74 . merebahkan badan … More articles » Magazine » Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN Ini adalah kumpulan Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN.More articles » Kolom » Putih oleh YULI ANDARI M Sejak kecil saya telah menyukai pantai. lengkap dari bagian I sampai bagian IV. kampanye isu tertentu. saya menyempatkan diri ke pantai bersama teman-teman atau kerabat. maupun organisasi aktivis. Saya bisa menghabiskan waktu seharian di pantai dengan berbagai aktivitas: mandi.

More articles » Review » “Kalaupun punk mati…” oleh FERDIANSYAH THAJIB Sebagai salah satu tampilan subkultur yang kini sering diutak-atik dalam beragam laporan ”tampak muka” rubrik gaya hidup di media massa sehari-hari. mengapa? Hedy-Shri Ahimsa Putra mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. praktikkan gaya membaca “penyusutan” | Indonesia Buku on Newsletter KUNCI #15 Space/Scape Project • • Warung Kidul di Alun-alun Selatan 27/11/2009 nuning Monumen Cinta 24/11/2009 nuning ANONYMOUS WRITERS CLUB • aku ingin hidup aku ingin hidup […] Archives • • • • • • • December 2009 November 2009 October 2009 September 2009 August 2009 July 2009 June 2009 75 . seperti apa? Di kalangan yang mana ia menunjukkan pengaruh? Kalau tidak ada atau kurang terlihat. punk dibaca secara nostalgis dalam hubungannya yang selalu serba salah di hadapan tradisi (lokal) … Comments • • Avatar Play « ŚĨβĔŔРŔŐÚŚŤ ŤĔŔĂ on Avatar: “Visualizes yourself!” (Estetika Populer dan Identitas dalam Technoculture) Oleh ARIE SETYANINGRUM Umberto Eco: Di era fotokopi dan rimba informasi internet.Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada.

motifs. Tiga Usia Jacques Derrida. symbolic approach.http://tinyurl. arguing for the myths underlying those different motifs.Abstracts due 22 FEB 2010 To: danuprimanto@. still needs to be completed with a structural approach proposed and developed by the French anthropologist Levi-Stauss. Pokok pikiran seperti pada judul artikel tersebut dan mencermati uraiannya. 76 . Mencermati artikel Pujianto berjudul Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam (Jurnal Bahasa & Seni. Sebuah Wawancara dengan Bapak Dekonstruksi ..com/ybecqvt 02:53:47 AM December 03. Pola diskripsi kajian simbolik seperti pada paparan dan analisisnya menunjukan sebuah pola linier . and functions. Therefore. with a great variety of sizes.Abstracts due 22 FEB 2010 11/01/2010 . and alas-alasan and their relationship with Javanese mythology. yaitu berbagai entitas yang dikaji seolah-olah memiliki relasi yang segaris (Line Relation). 2009 from WordTwit KUNCI-List • Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung . Javanese mythology. Tahun 31. The latter approach may lead not only to analyzing symbolizations but also to placing symbols in a given structure. Date: […] KAJIAN STRUKTURALISME-SIMBOLIK MITOS JAWA PADA MOTIF BATIK BERUNSUR ALAM Robby Hidajat Abstract: Batik is a product of Javanese culture. Universitas Negeri Malang.. sawat.Networks • • • • Arts Network Asia Ford Foundation Indonesian Visual Art Archives Yes No Wave Music Twitter ‘New article. the writer suggests using the structural approach as a complement for the symbolic approach. Februari 2003). Nomor 1. which. Pujianto writes a book on batik semen. Pujianto tampaknya menggunakan kajian simbolik. according to the present writer. forms. Key words: batik. Robby Hidayat adalah dosen Jurusan Seni dan Desain. Fakultas Sastra. From: primanto danu Subject: Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung .. structural approach. In his study he employs a symbolic approach.. The structural approach produces research results different from those produced by the symbolic approach.

Berdasarkan pemikiran Emil Durkheim. bahwa kajian 288 BAHASA DAN SENI. Seakan-akan unsur ornament . suatu usaha menafsir terhadap simbol-simbol. 1986). tetapi tidak menunjukan sistematika analisisnya. 137). bolik menjadi pola pencermatan yang sangat popular di lingkungan pengkaji seni. Pemahaman Pujianto menjadi semakin anakronistik ketika menyimak skematis pada halaman 138. Hal ini dapat disimak pada table 1 [ Mitologi Jawa dalam Motif Batik] (hal. dua tokoh tersebut sangat berpengaruh pada pada pemikir tentang simbol . dapat meletakan posisi batik sebagai benda yang bersifat funsional di lingkungan budaya Jawa. Bertolak dari artikel Pujianto. terutama menyimak relasi lambang dan arti . salah seorang tokoh strukturalisme Prancis. professor di College de France. Pujianto telah mengemukakan bahwa Batik . artikel ini bermaksud melakukan reinterpertasi ulang dengan model strukturalisme-simbolik. Pujianto sangat terbantu oleh paham filosifis Jawa. Mauss. di samping tokoh yang lain. Sebuah kajian berpijak pada paradigma Strukturalisme. yaitu seperti model analisis yang dikembangkan oleh Ernst Cassire (studi budaya) dan Sussan K. Lenger (studi seni). Hanya saja bagaimana pola relasional filosofis Jawa itu terkait dengan motif batik berunsur alam ?. Kajian Strukturalisme-Simbolik 287 Kajian simbolik yang digunakan oleh Pujianto dalam mencermati Motif Batik unsur Alam adalah pola pemikiran yang khas dari para peneliti sebelum generasi Roland Barthes. Langkah ini tidak akan lengkap dan mantap tanpa memperhatikan pandangan pemilik budaya. Simbol yang ditafsirkan atas dasar wujud fisik dari sesuatu yang terindra sebagai tanda bermakna. Pemikirannya menjadi sangat lancer karena terdukung oleh tata makna yang bersifat konvensional. yaitu strukturalisme fungsional. artinya wujud objek dicermati sebagai susunan unsur-unsur yang telah memiliki relasi tertentu. Teori Durkheim menjadi dasar pembenaraan adanya relaisi-realasi dalam struktur kebudayaan manusia yang seolah-oleh seperti Organisme biologi (Abdullah & Leeden. Agustus 2004 simbol tidak melakukan kajian struktur. di samping bersandar juga pada pemikiran Emile Durkheim. Nomor 2. Pada kaitan ini. M. Kadang pelacakkan simbol umumnya hanya mencermati tata bentuk visual. yaitu terbatas pada aspek permukaan (2000:402). sehingga pembahasan tentang simbol menjadi sekenanya (2000K:4a0ji3a-n40S8i)m. Perspektif simbolik. Falsafah orang Jawa . Salah satu kajian yang dikembangkan oleh Levi-Strauss. referensinya telah tersedia.Hidayat. misalnya sebagai contoh 77 . Paparan Pujianto seolah-oleh seperti bentuk analisis realasional. Tahun 32. Ini yang dimaksudkan oleh Heddy Shri Ahimasa-Putra. Entitas ini muncul secara tiba-tiba. Heddy Shri Ahimsa-Putra seorang antropolog dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengomentari kelemahan kajian simbolik. lambang dan arti seoleh-oleh membuat pembenaran adanya relasi tentang konsep hindusitis yang disebut triloka . Dasar utama pemikiran yang digunakan oleh Pujianto secara mendasar mengacu pada filsafat makna. Pujianto telah memaparkan panjang lebar. Unsur Alam Kehidupan dan Unsur Batik . setidaknya telah dilakukan oleh Pujianto. Skema yang dipaparkan tentang adanya relasi antara sifat orang Jawa . Sementara simbol di balik yang disimbolkan kadang sulit atau seringkali tak terjangkau.

sebagai berikut: Ana dene kang arupa jejarit kang kalebu ing laranganingsung: Batik Sawat lan batik parang rusak.uraian tentang fungsi batik alas-alasan. tetapi untuk mencermati sebuah simbolisasi dari benda-benda fungsional menjadi lebih kredibel. Konsep dari fungsi adalah memiliki kaitan relasional dengan unsur yang memungsikan suatu benda. Bahkan Sunan Paku Buwana III pada tahun 1769 mengluarkan larangan menggunakan batik tertentu. 1985: 16) Adapun barang berupa kain panjang (jarit) yang termasuk larangan saya (raja): Batik Sawat. Pernyataan Pujianto dan Amri Yahya jelas. Batik Sawat merupakan salah satu batik yang menjadi milik raja. Mengingat strukturalisme model Levi-Strauss memandang struktur sebagai model dari pola pikir manusia dalam memahami dunianya (Kaplan & Manners. maupun Abdi Dalem. lenga-teleng. Anadene Hidayat. dan tari Bedhaya (halaman 133). modang. ingkang ingsun kawenangaken anganggona pepatih ingsun lan sentaningsun. Pemikiran ini yang mengarahkan pada kajian structural. daragam. sebagai berikut: Motif Semen dalam penerapannya di dalam keraton diperuntukkan bagi Pangeran. Adapun batik Cumangkirang yang acalecep berupa lunglungan (sulur) atau kekembangan (bunga-bungaan). 2000: 237). baik pemikiran Emile Durkheim atau Levi-Strauss. Pujianto mengemukakan batik bermotif Sawat merupakan busana yang melambangkan kebijakan raja. Konsep-konsep dari fungsi menunjukan adanya sebuah struktur. Mengetengahkan paradigma strukturalisme sebagai model telaah batik berunsur alam bukan cara pandang yang berbeda dengan pemikiran Pujianto. Walaupun kedua teori tersebut berpijak pada konsep yang berbeda. batik cumangkiri kang calacep. batik cumangkiri yang calacep. dan abdidalem. dan batik parang rusak. Kajian Strukturalisme-Simbolik 289 batik cumangkirang ingkan acalacap lung-lungan utawa kekembangan. BATIK BERUNSUR MOTIF ALAM 78 . dan tumpal. Relasi dari benda dan orang yang memfungsikan didasarkan oleh sebuah konsep . (Pujianto. 2003: 131). Tetapi sebuah analisis yang lebih sistematis. (halaman 130) Motif alas-alasan tidak tampil pada semua jenis kain batik. keluarganya. dan rakyatnya. Adipati. seperti yang disampaikan oleh Soedjoko yang dikutip oleh Amri Yahya. fungsinya sebagai busana seorang raja Jawa (Kasunanan Surakarta) ketika bertahta. Motif Sawat secara etimologis dipahami semi . bangun tulak. Strukturalisme lebih menekankan pada sebuah cara berpikir dari masyarakat sederhana yang menganggap bahwa sistem sosial hanyalah refleksi dari sistem dunianya atau dengan kata lain mikro-kosmos merupakan refleksi dari makro-kosmos (Randrianarisoa. dan untuk pengantin pria pada waktu ijab Kabul (Semen Rama). modang. tetapi (hanya tempil) pada kain baik sebagi (untuk) Dodot bangun-tulak (pola busana) dengan kombinasi prada emas. lenga-teleng. 1983:213). Jenis batik ini sering digunakan oleh Raja untuk upacara-uparada agung. Landung Simatupang. (Yahya. bangun-tulak. kawulaningsun Wedana. bahwa Batik merupakan benda fungsional. titahnya merupakan keputusan yang terbagik bagi dirinya. terj. utamanya ketika sedang bertitah. Wedana. yang saya perbolehkan dipakai Patih. daragam lan tumpal.

Levi-Strauss menempatkan makanan dengan pola analisis segitiga kuliner (Cremers. sebagai berikut. Selanjutnya relasi tentang kesuburan tidak dibahas secara mendalam. dan alam bawah. Penyebara benih. yaitu: Alam atas. yaitu dipahami dari adanya berdasarkan analogi. selanjutnya dicermati lebih lanjut dengan menyusun table realasi dari ketiga entitas tersebut di atas. yaitu ada kesamaan bentuk dengan pengertian konvensional tentang makna kesuburan . Langkah awal yang akan dilakukan adalah menghubungkan ketiga motif tersebut. Misalnya. Pemilihan relasi paham triloka didasarkan atas kesamaan relasi tiga . Bentuk Semen merupakan tanda penyebaran benih. Tahun 32. Pemahaman tersebut dapat disekematiskan sebagai berikut Gambar 2. 1997: 80). yang dijelaskan oleh Pujianto. yaitu Semen Sawat Alas-alasan Hidayat. Agustus 2004 ran dan kekuasaan Apabila benar. dan batik Alas-alasan memiliki kaitan dengan alam bawah. seperti Levi-Strauss menganalisis tentang makanan. dan Alas-alasan memiliki realisi dengan mitos kesuburan dan kekuasaan. sementara batik Sawat memiliki kaitan dengan alam tengah. Skema relasional antara konsep Triloka dan motif batik berunsur alam Keterangan: Batik seolah-oleh memiliki kaitan dengan konsep triloko. seperti yang digambarkan berupa tanaman menjalar (sulur) sebagai penggambaran alat kelamin pria (halaman 130). Analisisnya lebih pada pemahaman tentang adanya persepsi bentuk. alam tengah. Ketiga mofif batik tersebut diasumsikan bersumber pada fenomena alam sebagai lambang kesuburan dan kekuasaan 290 BAHASA DAN SENI. Sawat. Semen 79 . tiga motif batik yang terdiri dari motif Semen.Pujianto memilik topik penulisan artikel tentang batik berunsur motif alam dengan objek batik yang berkembang di keraton (?) [tidak dijelaskan lebih sepesifik keraton yang mana] dengan sample analisis batik bermotif Semen. agar benih tersebut dapat bersemi. sebagai berikut: Gambar 1. urairan tentang bentuk Semen. Sawat. Kajian Strukturalisme-Simbolik 291 dipahami sebagai kenyataan tentang kosmologis Jawa. Berdasarkan skema tersebut di atas. Berdasarkan konsep Triloka. demikian juga tentang kekuasaan . dengan tujuan menguji adanya keterkaitan dengan paham filosofis Hindu tentang Triloka [tri = tiga dan loka = dunia]. Nomor 2. dan Alas-alasan. pemikiran Pujianto tampaknya seperti skema tersebut di atas. Batik Semen memiliki kaitan yang bersifat vertical alam atas. yaitu yang memahami bahwa secara kosmologis dunia dibagi menjadi tiga. Bahawa dunia dibagi menjadi tiga tataran yang bersifat hirarkis. Skema segitiga kuliner model strukturalisme Levi-Strauss Dasar pemempatan sample tiga motif batik tersebut bersifat abitrer (sekenanya). sehingga simbolisasi tentang kesuburan tidak dikemukakan secara jelas oleh Pujianto. dalam kaitan ini adalah Raja Jawa . Batik Semen memiliki hubungan kesamaan motif dengan dua batik yang lain (Sawat & Alasalasan). dan demikian pula dengan batik Sawat & Alas-alasan yang memiliki kaitan dengan batik Semen.

Nomor 2. Kalpataru. Awan. kupukupu. kejayaan. kumbang. Agustus 2004 Tabel 1. Matahari Burung Garuda. hidup. Analisa Taksonomi Relasi antara Konsep Triloka dan Motif Batik Berunsur Alam SEMEN SAWAT (GURDO) ALAS-ALASAN INTERPERTASI MAKNA ALAM ATAS Gunung Semeru/ Brahma Lingga (Siwa) Tirta Marta Raja Burung. tumbuhtumbuhan Kehidupan. Garuda. kapal Udara. suci. Tahun 32. harimau. gunung. kakyaan. kemakmuran. kesaktian.Sawat Alas-alasan Alam bawah Alam atas Alam tengah 292 BAHASA DAN SENI. pengavoman. Lar (sayap) bersulur bangunan. kegembiraa. ALAM 80 . kuda. Kekuasaan. wahyu. roh ALAM TENGAH Manusia. angkasa. (pohon hayat) Ayam jantan. Lar (sayap). burung merak. Tanah Brahma Tumbuhan. Awan.

sengsara. 2000:127). Ular (naga) Kesuburan Roh-roh jahat. Akan tetapi menjadi kurang mampu memberikan pemahaman yang lengkap dan jelas. Apabila diubah relasinya. Analisis pada tabel 1 menunjukan. Matahari yang berbentuk bulat. Kalau diperhatikan. 2002: 24. Jika dicermati lebih lanjut paham monisme dualitik memandang dunia ini terbentuk berdasarkan relasi yang bersifat oposisional (bertentangan dalam kesatuan). Analisis ini menunjukan. kedukaan. yaitu menempatkan raja dengan kode (+) dan rakyat dengan kode (-). dan memiliki relasi dengan mitos tentang burung dewata . laut.BAWAH Laut. Paparan Pujianto dalam menguraikan makna-makna seolah-oleh benar. bahwa konsep triloka dimungkinkan tidak tepat. yaitu sesuatu menjadi ada karena memiliki realsi dengan keberadaannya. Kajian Strukturalisme-Simbolik 293 nya unsur-sunsur alam tampak mengelompok pada kolom alam atas . Tetapi menekankan relasi batik berunsur alam dengan fenomena kekuasaan Jawa . Sementara Pujianto hanya menyitir dari hasil pemikiran peneliti lain yang telah berupa pernyataan. dan sebagian kecil berrelasi dengan kolom alam tangah . Betari Sri Laut. Maka dimungkinkan. Model pemahaman yang dilakukan oleh Pujianto adalah analisis analogi. 2003:134). Salah satu burung yang diyakini sebagai kendaraaan dewa Wisnu. Ditemukan relasi kearah paham monisme dualitik. yuitu tidak dengan paham triloka yang dianggam memberikan makna pada motif batik berunsur alam. yaitu memandang kosmis tercipta serba dua (Sutarno. bukti Hidayat. sebagai lawan garuda. yang dimungkinkan mendapatkan sebuah gambaran yang jelas tentang lambang-lambang dan ditafsir. Sebagai contoh garuda dipahami berdasarkan makna sifat dari binatang yang mampu terbang. sungguhpun tidak seluruhnya salah. Berdasarkan hasil pencermatan melalui table 1. Pemikiran ini ditunjukan oleh Levi81 . atau ular yang berrelasi dengan air. kematian Tabel di atas merupakan dasar analisis yang dilakukan oleh Susanto (1983: 235-237). simbol dibaca dari materi yang seolah oleh menyimbolkan dari sesuatu. ternyata segi tiga kuliner tersebut tidak cocok. Wisnu. Sedangkan untuk kolom alam bawah tidak menunjukan adanya relasi. berrelasi dengan bulat yang disebut Matahari . ternyata tidak semua motif batik berunsur alam memiliki realisi dengan konsep triloka. atau kurang dapat memberikan pemahaman secara komperhensif. bahwa sistem analisis terhadap motif batik berunsur alam kurang menunjukan akurasinya. bahwa ketiga batik tersebut memiliki pormasi struktural yang lain. atau tidak terbukti. sacral. dan Veldhuisen (1988: 28) yang dicuplik oleh Pujianto ( halaman 134-135). Tabel 1 menunjukan sebuah sistem analisis makan. sehingga ular berrelasi dengan dunia bawah (Pujianto. tidak berelasi dengan bulat yang disebut dengan rembulan . sungai. Zoetmulder.

kebesaran. realasi. yaitu waktu yang bisa berbalik. perwujudan yang terlukis pada kain (jarid) yang berfungsi sebagai busana para priyayi Jawa. seperti katakata (bahasa) yang sebagai alat komunikasi sehari-hari. Hidayat. motif Sawat. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata). 2003:105-142]. bahkan mengetengahkan kemungkinan strukturnya. Akan tetapi wujud gambar itu menunjukan adanya pola realisonal yang bersifat permanen. kesetiaan 82 . yaitu menempatkan unsur-unsur yang saling berkait dan saling menjelaskan. walaupun langkah pencermatannya tidak secara mendalam membicara Skematis antara wujud. Agustus 2004 gunakannya. sedangkan aspek langue dari sebuah bahasa adalah aspek strukturalnya. Bahasa dalam pengertian ini merupakan struktur-struktur yang membentuk suatu sistem atau merupakan suatu sistem struktur. (Ahimsa-Putra. Parole adalah aspek statistikal dari bahasa yang muncul dari adanya penggunaan bahasa secara kongkrit. lambang dan arti tidak menunjukkan sumber data. Analisis Relasi dan Simbol Motif Batik Berunsur Alam Wujud Motif Relasi Simbol Burung. dan simbol dapat dikemukakan sebagai berikut. kebijakan. Aspek visual yang ditangkap menjadi perhatian utama untuk dipahami relasi-relasinya. kekuasaan. Pertimbangannya adalah cuplikan tersebut merupakan data yang telah teranalisis. yang tidak terpengaruh oleh individu-individu yang meng294 BAHASA DAN SENI. Struktur inilah yang membedakan suatu bahasa dengan bahasa yang lain. Tabel analisis berikut secara keseluruhan memanfaatkan data yang ditulis oleh Pujianto berdasarkan cuplikan dari berbagai sumber. keluhuran. kata Levi Strauss. tetapi bahasa sebagai parole tidak dapat terlepas dari perangkap waktu itu sehingga parole dianggap oleh LoviStrauss berada dalam waktu yang tidak dapat berbalik (non-revarsible time). Mitos. Tabel yang dibuat oleh Pujianto. (simak halaman 134-138). karena dia terlepas dari perangkap waktu yang diakronis. juga berada dalam dua waktu sekaligus. yaitu sesuatu yang tidak tampak pada gambar itu sendiri. cerita Garudia Kejayaan. yaitru disebut struktur atau sebagai grammer pada bahasa. cerita Ramayana. yang relative tetap. (antara ornamen. dan waktu yang tidak bisa berbalik. dan motif Alas-alasan dapat lebih mendalam. 2001: 80-81). Pemahaman di atas menunjukan. bahwa motif batik berunsur alam dapat dipahami sebagaimana langue dan parole [simak John Strorey. Bahasa sebagai suatu lengue berada dalam waktu yang bisa berbalik (reversibele time). Kajian Strukturalisme-Simbolik 295 Tabel 2. Tetapi tabel 2 di atas cukup jelas. Tahun 32. Analisis ditujukan untuk mencari strukltur (Pujianto mengartikan dengan Mitologi. Bahasa memiliki aspek Langue dan parole parole adalah bahasa sebagaimana dia diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sarana berkomunikasi. Nomor 2. yaitu diucapkan.Strausss berdasarkan konsep Ferdinad de Saussure tentang bahasa. tabel 1 Mitologi Jawa dalam Motif Batik (lihat halaman 137) tidak jelas. Motif yang terlukis selain menunjukan pola gambar yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan. Analisis motif batik berunsur alam yang terdiri dari motif Semen. dan relasi konstan).

kepergiaan. kecerdirkan. kedamaian. tujuan Motif Semen Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. Agustus 2004 tentang mitologi Jawa. Mitos kematinan. kebijakan. Mitos Sri Sardono Kemakmuran. pencerahan. Nomor 2. pelepasan. kegelapan 296 BAHASA DAN SENI. pikiran. Kejantanan Keperkasaan Ayam jantan. Tetapi mengarah pada kajian simbolik) pemikiran masyarakat pemilik simbol. Kejantangan Kekuatan. perdamaian Awan. kekuasaan. kebesaran. mitos SriSadana Kemakmuran. kasih sayang. harapan. Kejantanan Kekuatan. pencerahan. kekuasaan. Sorga. kebijakan. rintangan. keluhuran. ketentraman Laut. kebesaran. ketenangan. kekayaan. kebebasan Sulur Tanaman menjalar Kesuburan. angkasa (langit) Maskulinitas (bapa). kesucian Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. kesetiaan Burung merak. kekuatan perusak. Dalam hal ini diarahkan pada masyarakat keraton Jawa dari dinasti raja-raja Mataram. Kupu-kupu. langit. ketentraman Burung Garuda. tanah Kejahatan. kekuasaan. kesetiaan. penghancur. pembasmi. kesetiaan Kumbang. kekuasaan. Kemakmuran. Mitos Laut selatan. pikiran Bangunan. pundhen desa. Tahun 32. bentuk wayang rampokan Kebebasan. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. kecantikan Lar (sayap) Unggas bersayap. kebebasan Gunung Mitos tentang sorga. Kejantanan (maskulinitas) Keperkasaan. harapan. keperkasaan Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. Rumah. ketentraman. Wanita (femimimitas) Kasih saying. kalpataru. Sorga Ketentraman. kekayaan. ikatan kekerabatan. atau pandangan para priyayi 83 . puncak meru. Harimau. kekayaan.Lar (sayap) Unggas bersayap. ketentraman Motif Sawat Pohon hayat Pohon beringin. gunungan wayang kulit (Kayon) Perlindungan. alam kegelapa. kelestarian. keinginan. kekuasaan Kapal. mitos Sri Sadana. kebijakan. Kebebasan. kekuatan penakluk Motif Alasalasan Ular (naga) Dewa Siwa. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata) Kejayaan. Mitos tentang kesejodohan Kecantikan. Kuda. kayon Puncak. ringin kurung. Istana. perlindungan. keabadian. keperkasan.

melainkan diperoleh atas dasar pertalian tanda-tana (artinya antar tanda) itu sendiri. yaitu tentang paham monisme dualistik. Maka. Kajian yang menjadi sasaran adalah kesadaran dari ketidaksasaran tindakan. mitos kekuasaan. yaitu yang terrangkum dalam salah satu bentuk. ukuran. Pendekatan strukturalisme mengarahkan kajian pada mitos. Metode ini yang dimaksud oleh Heddy Shri Ahimsa-Putra sebagai kajian tekstual (2000: 404). dan lain sebagainya. Hidayat. tanaman. Artinya selembar kain batik yang disebut Semen. Kemudian dilanjutkan menelaah makna dengan alat analisis. Paparan tersebut merupakan interpertasi 84 . analisis kebudayaan berdasarkan perspektif strukturaliseme adalah analisis unit mental (Masinambaw & Hidajat. pohon hayat. meliputi warna dasar. Maksudnya adalah mencari makna dari tanda . Melalui pendekatan Strukturalisme dapat mencermati motif (wujud material visual sebagai tanda) pada Batik. garis-garis. kupu-kupu. akan tetapi lebih mendalam. salah satunya ada pada motif batik. secara linier dicari keterkaitannya dengan mitos Jawa (salah satunya digali dari paham filosis Jawa). kaitanya dengan mitologimitologi tertentu yang menghadirkan motif. 2001:31) Fenomena ini seperti kita berbicara. makna tidaklah dicari pada dunia eksteral. dan motif-motifnya). sebenarnnya semua orang tidak dengan amat menyadari tata bahasa (grammer) yang sedang digunakan. dan lain-lain.(maksud dari Pujianto adalah keraton Kasunanan Surakarta). antara judul yang diajukan dengan pokok pikiran yang dipaparkan. mitos perjodohan. salah satunya adalah menggunakan teori semiotika. atau Alas-alasan. kata demi kata yang terlontar sangat disadari maknanya. unggas (burung garuda. Struktur Batik Semen didiskripsikan sedemikian rupa. tetapi bersamaan dengan itu. sehingga tercipta berbagai bentuk mitos tentang asal usul sebuah komunitas. awan. logis. Pujianto mengemukakan opininya tentang mitologi Jawa pada subbab Pandangan Hidup Orang Jawa (halaman 137-140). dipahami sebagai sebuah struktur. Kondisi ini dikarenakan oleh sifat diskriptif yang tidak analitis. seperti motif Sulur-suluran. Unsur mitos. merak). Struktur sebagai bagian dari sistem mental manusia adalah sesuatu yang berada di luar kesadaran manusia dan merupakan kebudayaan itu sendiri (Masinambaw & Hidajat. Kajian Strukturalisme-Simbolik 297 dan keputusan sesorang. kemudian motif-motif dianalisis keterkaitannya dengan motif-motif lain untuk menentukan sebuah struktur. Pujianto lebih menitik beratkan pemahamannya tentang mitologi Jawa yang tampak pada motif-motif batik berunsur alam. naga. Fenomena alam yang berwujud motif alam pada kain batik. Pendekatan Strukturalis tidak hanya berhenti memahami teks (wujud kain batik. posisi motif. lidah api. dan referentif. Mitos adalah grammer yang membimbing sebuah komunitas memahami realitas kehiduannya. Paparan pada artikel Pujianto tampaknya rasional. ucapan. Akan tetapi perlu disadari. gambar. Motif-motif pada batik yang memvisualisasikan fenomena alam diangkat sebagai morfem (unsur terkecil dari unit kata). sehingga tidak menyadari adanya ambiguitas. atau Hermeneutik. seolah-olah referensi dari berbagai sumber benar-benar memberikan dukungan pada asumsi judul. Sawat.motif pada kain batik. dan berbagai perujudan lain termasuk jumlah dan pengulangan bentuknya. mitos kesuburan. seperti bentuk batik Semen. 2001:31).

ANALISIS STRUKTUR Relasi isor (bawah) [ . pengendalian. tetapi harus diwujudkan sedikitnya dua relasi.. Bila dengan ungkapan manunggaling kawula-Gusti (dengan G besar) dimaksudkan sebagai persatuan antara manusia dengan penguasa gaib (Tuhan). Hakekatnya adalah sebuah 298 BAHASA DAN SENI. paparan berikut ini menganalisis deef stracture berdasarkan realsi antar tanda pada motif batik yang dimaksud. sebuah citra yang kuat. yaitu memahami angkasa sebagai bapa (eksistensi maskulin) dan bumi sebagai ibu (eksistensi feminim). salah satu klasifikasi simbolis dalam budaya Jawa (Koentjaraningrat. Woro Ariyandini S.] dan duwur (atas) [ + ]. dan bersikap adil). Konsep tersebut dimungkinan dapat ditafsirkan dari bentuk struktur batik Sawat. yaitu makna yang tersimpan pada struktur dalam (deef stracture). yaitu sebuah paham kemanunggalan (kesatuan) yang berikutnya menjadi paham monisme dualitik. Agar dapat memahami eksistensi Gusti dan kawula dan analoginya gusti (raja) dan kawula (rakyat) maka tercipta sebuah konstruk pikiran Kawula Gusti . Konsep raja sebagai manivestasi dewa ini ternyata berlanjut hingga dinasti raja-raja Mataram. Darmaita ( ahli stragegi perang. istilah ini berrelasi dengan 85 .. Agustus 2004 presentasi idealistik raja Jawa yang menganggap dirinya adalah menivestasi Dewa . bahwa lapisan bawah yang biasa disebut rakyat juga mendapat perhatian. Kekuasaan tidak dapat berdiri sendiri. Curiga manjing warangka. Danaita. Tuhan (Gusti) memiliki kuasa atas makluk (kawula) yang dikuasai . yaitu . atau tunas yang harus di semai kan. berfungsi (raja) sebagai pusering bumi lan langit (pusat bumi dan langit sekaligus) (2002: 101). spontanitas. siap memberi bantuan pada siapapun yang membutuhkan. bentuk. bibit . Penguasa dan rakyat ada hubungan timba-balik. (1992:186) Menyatunya dua eskistensi tersebut menurunkan yang disebut wiji . Wanita dikaitkan dengan warna merah (darah). kehangatan. bumi. dan rakyat dipandang sebagai kawula . Persatuan ini diibaratkan sebagai manunggaling kawula gusti (dengan g kecil). Nomor 2. dan kreativitas yang dikarsai. Agar uraian Pujianto menjadi lebih lengkap. Pandangan ini telah dikonstruk sejak jaman kerajaan Singasari. Ken Arok melegitimasi dirinya sebagai putra Betara Brahma. bahwa raja Jawa dipahami sebagai Gusti (bahasa Jawa gusti juga dipahami sebagai kekuasaana gaib dari realitas transendental). kesejukan. seorang peneliti dari Universitas Indonesia menjelaskan paham tersebut sebagai berikut: Dalam pikiran orang Jawa. Paham ini dikenal dengan konsep dewa raja . sebagai berikut: Kepriaan biasanya dikaitakan dengan warna putih 9air mani). Raja yang bersifat Saraita. Mitos tentang relasi atas-bawah juga hadir pada konsep-konsep tentang kesuburan. langit. Tahun 32. yaitu Loro-loroning Atunggal. subtansi. Penguasa masyarakat adalah raja yang dianggap mewakili kekuasan Tuhan di dunia. maka juga ada persatuan antara manusia dengan penguasa masyarakat.1994 :228) yang terwujud dalam mitos-mitos kekuasaan. sebuah batik yang digunakan oleh Susuhunan Pakubuwana (Surakarta) ketika duduk di dapar kencana. dan kreativitas alami kedua-duanya dipandang perlu pemaduan.untuk menemukan makna. Anthony Reid mengemukakan perihal esensi pria-wanita yang bersifat saling melengkapi.

Gunung (merapi) berada di Utara. 1982:33). anak buah. tumbuhan. Kayon dalam konsep wayang Jawa adalah gunungan .1989: 635). Ayah ibarat pohon. menunjuk pada struktur tengen (kanan)[+]. Gunung laut berrelasi horizontal. Gunung laut diwujudkan secara struktural pada bentuk motif Alas-alasan. kebesaran. Gunung laut juga berkaitan dengan kiblat (arah mata angin).kiwa (kiri)[-]. Ini tampak pada struktur batik Alas-Alasan. yang menunjukan kelompok kanan (bala tengen) dan kelompok kiri (bala kiwa). yang tumbuh di bumi Hidayat. kebijakan atas dirinya. sering ditunjukan pada fenomena candikala (mega merah tembaga ketika sore hari). sabda pandita ratu. Semi memberikan petunjuk adanya kaitan dengan mitologi tentang padi . Di sini menempatkan posisi Gunung sebagai sumber mataair. dan bermukimnya jin. Hutan-hutan yang lebat merupakan tempat yang aman. dan laut berada di selatan (pantai parangtritis). tempat makluk hidup bertebaran. keluarga. Agustus 2004 pat dipahami sebagai hutan . atau meru . Selatan menunjukan arah laut. bahwa titah (perintah) raja selalu dipandang sebagai bijaksana. dan Alas-alasan merefleksikan sebuah deef structure sebagaimana skema garis bersilang. yang artinya semi. yaitu Betari Sri dan Raden Sedana (Danandjaya. gunung adalah sorgaloka. dan roh-roh pengganggu manusia. Tahun 32. sorga tempat bersemayamnya para dewa. dan laut sebagai muara. dan juga manusia. Hutan lebih bersifat magis. yang da 300 BAHASA DAN SENI. siksaan. atau pohon sorga (Sri Mulyana. simbol keseimbangan ekologi. Nomor 2. Kedudukan relasi ini bermakna Loroloroning Atunggal dalam posisi horizontal. berrelasi dengan emas . atau sakral. sedangkan dunia ada percapada. Kajian Strukturalisme-Simbolik 299 (tanah). Skema oposisional berdasarkan monisme dualitik. Sawat. Eksistensial hutan ditampakkan perwujudan kalpataru (pohon hayat).motif batik Semen . bersemayamnya ratu pantai selatan. ancaman Batari Durga. Relasi gunung laut . keramat. setan. dan kejayaan. Gambar 3. ora kena wula-wali. dan seluruh rakyat. Konsep kesuburan menempatkan kedudukan suami (tengen/ kanan) dan istri (kiwa/kiri). Sebuah pola pikir orang Jawa disebut loro-loroning a tunggal Tengen (kanan) 86 . menampakan hubungan yang bersifat duniawi. Barat menunjukan arah marabahaya. eksistensinya sebagai pengayom. Kenyataan ini hingga kini dapat disimak pada posisi simpingan (jajaran) figure wayang kulit. kaitannya dengan posisi kekuasaan. horizontal dan vertikal. keagungan. raja berada di timur (gegong kuning keraton Kasultanan Yogyakarta menghadap ke Timur). Ketika laki-laki (ayah) hadir sebagai penguasa menunjukan sikap berbudi bawa leksanan . Paparan relasional dari motif batik Semen. Tempat arwah yang tidak beruntung. Hutan merupakan gagasan utama adanya kayon atau kayun yang berarti hidup. ratu pelindung raja-raja Jawa (sejak jaman Mataram). Maka raja Jawa yang dilegitimasi dengan mitos RajaDewa menunjukan. pelindung istri dan anakanaknya. sebuah areal tempat berlindungnya semua satwa. Gunung laut menunjukan posisi horizontal.

dan Alasalasan. hubungannya dengan mitos kesuburan dan kekuasan. di mana suatu benda memiliki posisi dan fungsi tertentu. Sawat.Kiwa (kiri) Isor (bawah) Duwur (atas) (-) (+) Batik Batik AlasBatik Semen (+ ) (-) Gusti Kawula Gunun Laut Hidayat. tetapi dapat menunjukan kedudukan objek. 87 . bahwa motif bagik Semen. Akibatnya sulit untuk mengetahui hubungan strukturalnya. Temuan tersebut merupakan modal untuk menyusun struktur. relasi. PENUTUP Analisis mitos kaitanya dengan perwujudan benda budaya. Temuan ini menunjukan. makanan tradisional. Pujianto telah berusaha untuk memaparkan gagasanya tentang mitologi Jawa kaitannya dengan motif batik berunsur alam. Terlebih. Sawat. Sebagai contoh asumsi Pujianto. Asumsi Pujianto perlu diuji. Pijianto mempunyai sudut pandang. dan Alas-alasan berkati dengan paham Hindu tentang triloko . dan juga dimungkinkan adalah motif batik. akibatnya aspek struktur terabaikan. Inspirasinya menggunakan segitiga kuliner berasal dari segi tiga vocal: gagasan dari seorang lingguis Roman Jakobson (Cremer. setidaknya meminjam model segitiga kuliner yang digunakan oleh Lovi-Strauss untuk menganalisa makanan. dan simbol di temukan sejumlah kecendrungan makna. seperti topeng. Kapasitas benda pada posisi dan fungsinya semata-mata terkait dengan benda lain secara struktural. ilmu sihir. dan memilik model pemaparan dengan menekankan aspek simbolisasi. bahwa fungsional suatu benda selalu terkait dengan kedudukan atau posisi di antara benda yang lain. perdukunan. Setelah dilakukan analisis unsur motif. kaitanya dengan mitologi Jawa tentang kekuasaan dan kesuburan. berbagai asumsi dari para peneliti lain atau tulisan-tulisan lain yang bertebaran dengan gampang mempengarui. Pujianto tidak mengkaitkan tiga motif batik Semen. Ternyata tidak mempu menjawab gagasan Pujianto yang mengkaitkan konsep triloko dengan bentuk motif batik. Struktur yang berupa persilangan yang dibentuk antara garis vertical. 1997:790. Kajian Strukturalisme-Simbolik 301 Telaah dengan perspektif strukturalisme tidak hanya mendiskripsikan makna mitologis. Sungguhpun analisis simbolis terpaku pada teks . Kenyataan ini yang dimaksudkan oleh Emil Durkheim sebagai organisme.

duwur (atas) bernilai (+) yaitu bermakna transkendental. narima. Kadi garwa kawitan. Kiwo (kiri) bernilai (-) berrelasi dengan laut . yaitu ngabekti. Garis ini mengubungkan antara struktur motif batik Semen dan Alas-alasan. Tahun 32. Struktur silang (crossing model) menjelaskan tentang makna kawula-Gusti atau raja-rakyat yaitu sebuah falsafah kekuasaan rajaraja Jawa. temen. dan juga kesetiaan.1988: 56-57). Pujianto mengkaitkan dengan sikap wanita sebagai pembatik yang rela. sabar. Buat simpanan oleh sang raja. Kedudukan wanita Jawa dimata laki-laki sebagai berikut: Lamun sira rineka pawestri. Fenomena tersebut dapat disimak pada sebuah tembang dhandhanggula dalam Serat Niti-Praja. yaitu adanya konsep Dewa-raja . dan sekaligus kepasrahan. Pasrahlah dalam segala kehendaknya. dan budi luhur. Gambaran wanita sebagai pembatik itu adalah sebuah metafora. naga. Pemikiran itu juga berkait dengan konsep sangkan paraning dumadi . tempat roh-roh jahat. (2003: 139). swargaloka. Sebuah kisah Garuda yang membebaskan ibunya dari tawanan bangsa naga. Angrasa yen sinatyan. Untuk mencapai tujuan ini orang harus mengatasi kekangan-kekangan yang membelenggu dirinya kepada eksitensi gejalan seperti misalnya hawa nafsu dan rasionalitas duniwi yang hanya menuju kearah persepsi kebenaran yang bersifa kehayali (1996:31). tetapi juga sekaligus menjelaskan Lanang dan Wadhon secara horizontal. Kajian Strukturalisme-Simbolik 303 Mang salokanira kepanggih. berkait dengan kedudukan raja . gagasan mencapai persatuan antara hamba dan Tuhan secara mistik ( manunggaling kawula-Gusti). ketulusan. sebuah relief yang dipahat di candi Kidal. Kepasrahan ini seperti sifat Garuda yang dengan rela sebagai kendaan dewa Wisnu. isor 302 BAHASA DAN SENI. Di sini terjadi sebuah pemahaman tentang pesejodohan. Semunira den asumeh. Ing raga nuta saosa kersing laki. Seperti istri pertama. Niels Mulder menjelaskan. Hendaknya wajahmu berseri manis. tempat arwah bersemayam. yaitu tentang asal usul manusia dan kepasrahannya terhadap sifat gaib transendental (Tanpoaran. Setyanireng kakung. Nomor 2. dan kekuatan penghancur. yang berposisi dengan ular naga pada cerita tentang Garudia . Hidayat. Boga busana mukya Kalau engkau dijadikan istri. Struktur silang tersebut juga dapat menjelaskan kedudukan wanita dan laki-laki dalam pengertian vertical. yaitu mendudukan wanita pada sumbu vertikal dengan laki-laki. Agustus 2004 (bawah) bernilai (-) yaitu bermakna profane. Kinarya gedhong dening sang nata. 88 . berkait dengan kedudukan rakyat kawula . ini sebuah kerelaan. Dan pelayananmu bila ketemu. Garis horizontal menunjukan antara rentang Tengen (kanan) bernilai (+) gunung .

Manunggaling Kawula Gusti. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. van Der. Malang: Fakultas Sastra. Februari 2003. Jakarta: Balai Pustaka. 1988. Wayang dan Lingkungan. Storey. Tahun 32. Direktorat jendral Kebudayaan. Sutarno. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. 2003. diterj. Yahya. Universitas Negeri Malang. April 2002. Kebudayaan Jawa. Februari 2003. 2001:8-9) DAFTAR RUJUKAN Tanpoaran. Flores: Nusa Indah. 2000. Zoetmulder. 2003. Antara Alam dan Mitos. Yogyakarta : Yayasan P. Artikel pada Jurnal Bahasa & Seni. Faufik & Leeden. 1994. 1996. Olga. Asal-usul. Budiono. pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa. Teori Budaya. & Hidajat. Mitologi Jawa Dalam Motif Batik Unsur Alam . Sastra. vol.). Herusatoto. Jakarta: Balai Pustaka.B.C. 2002. 1967. Universitas Negeri Malang. A. Woro. Aryandini S. Falsafah Jawa. E. 2003. Pribadi dan Masyarakat di Jawa. 2001.1986. 1992. Mengkaji Tanda dalam Artifak. 2001. Jakarta: Sinar Harapan Mulyana. 2002. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Semilogi Roland Barthes. no.2000. David & Monners. Mochtar Pabotinggi. 1. Amri. Bandung: Masyarakat Seni Indonesia. Purwadi. Totemisme di Madagasikara artikel pada majalah budaya Basis. Diterj. Yayasan Indonesiatera. Abdullah. Semiotik. diterjemahkan: Landung Simatupang. 1. Yogyakarta: Galang press.2000. tahun 31. 1974. artikel pada Jurnal Bahasa dan Seni. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Claire. Surakarta: Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta. 1997. Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas. Holt. Juni 1983 XXXII 6. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Kurniawan. Niels. Ahimsa-Putra. Jakarta: Gunungagung. Anthony [1988]. Masinambow. Niels. Jakarta: Gramedia. John. Pujianto. [tanpa kota terbit]. Danandjaya. nomor 1. 1982. Ciptaprawiro. Surabaya: Yayasan Djojo Bojo & Paguyuban Sosrokertanan Surabaya. Abdullah.Yogyakrta: Gadjah Mada Universitas Press. Rahayu S. Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali. Yogyakarta: media Pressindo. Basis. Sangkan paraning Dumadi. Jakarta: Universitas Indonesia Press. James. Agus. Yogyakarta: Hanindita. Yogyakarta: Makalah disajikan pada seminar Javanologi. Reid. Jakarta: Balai Pustaka. 1989. Mulder. Albert A. P. 1983. Randrianarisoa. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Sri. Teori Budaya dan Budaya Pop. Malang: Fak. Memutar Taman Sri Wedari. Mulder. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Yogyakrta: Pustaka Pelajar. (Purwadi. nomor 1. Shri Heddy (ed. Yogyakarta: Qalam. Filsafat dan Masa depannya. Dick Hartoko. Kaplan.J. Soedarsono. 2001. tahun 31.K. Agustus 2004 Koentjaraningrat.M. Ketika Orang Jawa Nyeni. 1986. Proyek Penelitian dan Pe 89 . Nomor 2. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680.Kesetiaanmu pada suami Merasalah jika dicintai Jiwa raga serahkan sepenuhnya pada pria Makan minum kegemarannya. Wayang. Pujianto. Pewayangan Dalam Budaya Jawa artikel dalam jurnal Dewa Ruci. 2001. 2000. 1985. Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam . Diterj. Sejarah perkembangan Seni Lukis Batik Indonesia . 304 BAHASA DAN SENI. Cremers.

nilai pendidikan adat. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis struktural dan analisis model interaktif (interactive model of analysis) Dalam penelitian ini ada lima cerita rakyat Kabupaten Klaten yang dihimpun dan dianalisis. tema. Sarmadi ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan jenis-jenis cerita rakyat Kabupaten Klaten. Isi dan tema cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah syiar agama. Lima cerita rakyat tersebut. dan legenda keagamaan. dan nilai pendidikan kepahlawanan.ngkajian. dan teori. (2) mendeskripsikan struktur cerita rakyat Kabupaten Klaten. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Strategi yang digunakan adalah studi kasus tunggal yang dilakukan pada satu sasaran (subjek) dan satu karakteristik. dan analisis dokumen. Amanat yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten cukup 90 . dan (3) mendeskripsikan nilai edukatif yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. perjuangan seorang tokoh. Tokoh yang dominan dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah manusia yang digambarkan sebagai manusia yang memiliki kasaktian dan berkarakter baik. tokoh. (2) “Petilasan Sunan Kalijaga”. Informasi dari penelitian ini dideskripsikan secara analitis dan teliti. latar. legenda perseorangan . (4) “Reyog Brijo Lor”. Latar yang paling dominan adalah latar tempat. (3) “Raden Ngabehi Ronggo Warsito”.G. Cerita rakyat Kabupaten Klaten tersebut diklasifikasikan ke dalam legenda dan lebih spesifik dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok legenda setempat. dan amanat. dan (5) “Kyai Ageng Gribig”. dan terjadinya suatu tempat. perekaman. Pendeskripsian nilai edukatif (pendidikan ) dalam cerita rakyat meliputi nilai pendidikan moral. Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa sumber yaitu informan. observasi benda-benda fisik dan dokumen. Teknik cuplikan (sampling) yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik validasi data lain yang digunakan adalah informant review. metode. Alur cerita yang digunakan adalah alur maju atau lurus. wawancara. yaitu: (1) “Ki Ageng Padang Aran”. nilai pendidikan agama (religi). alur. KebuKajian strukturalisme dan nilai edukatif dalam cerita rakyat kabupaten Klaten L. pencatatan. Pendeskripsian struktur cerita rakyat meliputi isi cerita. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui observasi langsung. nilai pendidikan sejarah (historis). yaitu cerita rakyat Kabupaten Klaten. Teknik validasi data yang digunakan adalah triangulasi data/sumber.

nilai pendidikan agama (religi). Nilai pendidikan yang terdapat dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. nilai pendidikan sejarah (historis). adalah Nilai pendidikan moral . 91 . dan nilai Kepahlawanan 1/1dayaan Nusantara (Javanologi). nilai pendidikan adat (tradisi).bervariasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful