Teori Strukturalisme – Levi Stauss

A.

Pendahuluan Teori Sosiologi dapat dibagi sesuai dengan periode ditemukannya, yaitu,

teori Sosiologi Klasik dan teori-teori Sosiologi Modern dan Post Modern. Teori Strukturalisme termasuk teori Sosiologi Modern dan juga Post Modern, karena dalam perkembangannya, teori ini terus dikembangkan dan menjadi teori Post Strukturalisme. Paper ini ditulis dalam rangka ingin menjelaskan mengenai teori Strukturalisme Levi-Strauss, yang termasuk teori Sosiologi Modern, namun untuk memperjelas pembahasannya akan ditambah juga dengan pembahasan teori Strukturalisme Post Modern. Walaupun teori ini jelas memusatkan perhatiannya pada struktur, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan struktur yang menjadi sasaran perhatian teoritisi Fungsionalisme Struktural (salah satu teori Sosiologi klasik). Perbedaanya pada tekanannya, yaitu Fungsionalisme Struktural memusatkan perhatiannya pada struktur sosial, sedangkan Teori Strukturalisme Levi-Strauss memusatkan pada struktur linguistik (Ritzer, 2004 : 603). Teori ini sebenarnya lebih terkenal sebagai teori Antropologi, tetapi dalam perkembangannya juga dimasukkan dalam teori Sosiologi. Strukturalisme memberikan perspektif baru dalam memandang fenomena budaya. Hal-hal yang tadinya dianggap sederhana dan tidak penting, justru memiliki peran yang sangat penting dalam menemukan dan memahami gejala sosial budaya, misalnya adalah bagaimana kita mungkin bisa memahami suatu fenomena sosial dengan menggunakan analisis sebagaimana para ahli Linguistik memahami bahasa. Bahasa memiliki tempat yang istimewa dalam ilmu sosial. Sebagai alat berkomunikasi, bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kebudayaan manusia. Oleh karena itu wajar jika untuk mengungkap persoalan budaya dapat dilakukan melalui atau mencontoh metode bahasa (ilmu bahasa). Marcel Mauss (dalam Allen Lane, 1968) menuliskan bahwa:
1

“Sociology would certainly have progressed much further if it had everywhere followed the lead of the linguists……”. Maksudya Sosiologi akan semakin berkembang jika diinspirasi oleh para ahli bahasa dalam memahami gejala sosial. Salah satu ilmuwan sosial yang menggunakan cara bagaimana memahami bahasa dalam menjelaskan fenomena sosial adalah Levi-Strauss. Levi-Strauss melakukan konseptualisasi ulang di bidang Antropologi

dengan sebutan "tiga nyonya" yaitu geologi, psikoanalisis, dan Marxisme untuk membantu membentuk tren dalam ilmu-ilmu sosial dan teori sastra, dan dipengaruhi oleh intelektualisme seperti Michel Foucault dan Jacques Derrida. Lahir di Belgia, Levi-Strauss belajar filsafat di universitas Sorbonne, Paris dan mengajar Sosiologi di Brasilia pada 1930-an. Teori-teorinya didasarkan hasil penelitannya di belantara Amazone di Brasilia. Sebagian besar teorinya dibangun selama 3 tahun ketika menghabiskan waktu bersama suku Indian di pedalaman Brasil. Pergumulan antara ilmu sosial dan ilmu bahasa telah melahirkan perspektif baru yang membuka jalan bagi perkembangan kedua bidang ilmu tersebut. Ilmu bahasa semakin berkembang berkat penemuan-penemuan dalam bidang Antropologi, demikian juga yang terjadi pada ilmu sosial atau Antropologi yang perkembangannya banyak dipengaruhi oleh para ahli bidang linguistik. Proses inilah yang kemudian melahirkan teori Strukturalisme Levi-Strauss itu. N. Troubetzkoy (dalam Alan Lane, 1968) menyatakan bahwa pikiran dasar dari teori Struktural adalah: Pertama, linguistik struktural mengalami lompatan dari studi fenomena kesadaran linguistik pada infra-struktur nir-sadar. Kedua, Strukturalisme tidak menganggap istilah-istilah itu independen, tetapi menganalisis hubungan antar istilah-istilah yang saling terikat. Ketiga, Strukturalisme mengenalkan sistem konsep. Dan yang terakhir, linguistik struktural ditujukan untuk menemukan hukum umum (general laws) baik secara induksi maupun dengan cara deduksi.

2

Lahirnya teori strukturalisme dalam bidang Antropologi/Sosiologi telah melahirkan berbagai perspektif dalam memandang fenomena budaya. Dengan teori ini, persoalan-persoalan tanda (simbol dalam bahasa) semakin mudah dipahami. Hal ini dikarenakan setiap persoalan bisa diidentifikasi melalui struktur dari persoalan tersebut. Karena dalam konsep ini segala sesuatu yang berbentuk diyakini memiliki struktur. Susunan unsur-unsur dapat dianalisis sehingga dapat diketahui asal-usul konsep itu dan juga gejalanya. Dengan demikian penjelasanya akan semakin mudah. Strukturalisme begitu berpengaruh pada pemikiran di kalangan ilmuwan ssosial di tahun 1960-an, terutama di Perancis. Era strukturalisme ini muncul setelah era eksistensialisme yang marak setelah Perang Dunia II. Strukturalisme melakukan beberapa kritik terhadap eksistensialisme dan juga pemikiran fenomenologi. Strukturalisme dianggap menghancurkan posisi manusia sebagai peran utama dalam memandang dan membentuk dunia. Strukturalisme berkembang pesat di Perancis dengan tokoh-tokoh utama selain Claude Levi-Strauss, yaitu Micheal Foucault, J. Lacan, dan R. Barthes. Aliran ini muncul ketika filsafat eksistensialisme mulai pudar. Masyarakat yang semakin kaya dan dikendalikan oleh berbagai bentuk struktur ilmiah-teknoekonomis mapan dan terkomputerisasi memudarkan aliran humanisme romantis eksistensialis yang berkisar pada subyek otonom, daya cipta peorangan, penciptaan makna, dan pilihan proyek masa depan serta dunia bersama sebagai tempat tinggal yang manusiawi. Usaha eksistensialisme untuk mengubah dan memperbaiki keadaan tersebut tidak berdaya dihadapan kenyataan-kenyataan struktur yang makin kuat yang mengutamakan kemantapan dan keseimbangan struktural daripada dinamika kreatif dari si subyek. Dengan diilhami oleh Marx dan Freud, para strukturalis menyangsikan istilah-istilah kaya kunci eksistensialis seperti ,"manusia", "kesadaran intensional", "subyek", "kebebasan", "otonomi" dan menggantinya dengan istilah-istilah mereka, yaitu: "ketidaksadaran", "struktur","diskursus","penanda" dan "petanda".

3

Sedangkan keterjebakkan manusia dalam jaring-jaring struktur mengandaikan hilangnya unsur subyek dan obyek.Meskipun banyak pertentangan antara eksistensialisme dan strukturalisme tapi ada juga yang saling melengkapi. manusia mempunyai putusan sendiri. semua hanyalah bagian dari tenunan struktur. karena informasi atau pesan-pesan yang disampaikan oleh satu individu pada individu lain. paman-keponakan. Perbedaan lain yang cukup mendasar. Pandangan ini mirip dengan faktisitasnya Heidegger dimana manusia terlempar ke dunia tanpa bisa dirundingkan lebih dulu. 4 . tapi ia kembali akan terjebak di dalamnya. saudara lelaki . Ketika manusia lahir ia sudah ada dalam suatu struktur. Supaya tidak menjadi manusia "massal" tentu dituntut kesadaran penuh tentang lingkungannya yang menurut strukturalis mustahil untuk disadari secara penuh. hubungan antar manusia berada dalam sistem yang tidak disadarinya. Kekerabatan adalah suatu sistem komunikasi. LeviStrauss melakukan analisis terhadap masalah kekerabatan. ia memiliki peran. karena klen-klen atau famili-famili lain tukar-menukar wanita-wanita mereka. kekerabatan pun merupakan sistem komunikasi. Hubungan ini sama seperti bahasa. Bahasa adalah sistem komunikasi. Ketidaksadaran menjadi sebuah unsur pokok yang menandai keberadaan manusia. seperti misalnya suami-istri. Sebagaimana halnya bahasa. kekerabatan pun dikuasai oleh aturan-aturan yang tidak disadari. adalah pencapaian makna atau kebenaran atas yang ada. anakbapak. Dengan menggunakan teori linguistik dari Saussure (Semiologi). Berbeda dengan pandangan Heidegger bahwa seseorang harus memiliki tanggung jawab pribadi untuk membentuk hidupnya sendiri. Dalam pandangan strukturalis manusia terjebak dalam suatu struktur budaya yang dijalinnya sendiri. ia bukan manusia "massal" atau diombang-ambingkan arus mode dan kecenderungan sosial. terutama dengan pemikiran fenomenologi. Sistem kekerabatan terdiri dari relasi-relasi dan oposisi-oposisi.saudara perempuan. Perbedaannya faktisitas mengandaikan adanya kebebasan yang menegaskan eksistensialitas manusia. meskipun kemudian ia mampu memilih atau membuat sendiri sebuah struktur.

sambil menyadari bahwa realitas yang sebenarnya tidak pernah tampak sendiri dan langsung kelihatan.Bagi Heidegger. kategori. tetapi justru suka menyembunyikan diri. ketentuan dan aturan (bentuk mental apriori. Sedangkan Levi-Strauss dengan mengacu pada Kant (P. seorang fenomenolog. ide regulatif dan sebagainya) yang dikenakan pada kenyataan empiris. yang mengatakan bahwa obyek kesadaran adalah fenomen dalam arti: ”apa yang menampakkan diri”. antara budaya Barat dan budaya lain ( non Barat) yang dianggap inferior (merasa rendah dari Budaya Barat). Dan sisasisa penyembunyian diri itulah yang merupakan bekas-bekas yang hendak "dibaca" sebagai tanda penyingkapan diri yang tak langsung dari kenyataan dan kebenaran yang sesungguhnya. Namun kenyataan itu tidak pernah dimengerti seluruhnya. Ada sendiri menampakkan diri dan terbuka. Ricoeur menjuluki Levi-Strauss sebagai "kantianisme tanpa transendental") bahwa akal budi manusia memiliki sejumlah paksaan. Makna yang dicari tersembunyi dalam bendabenda yang tampak. karena menciptakan pemisahan dan pertentangan antara manusia dan alam. mengabaikan manusia dan melarutkannya dalam struktur yang berkuasa. ia memang menolak beberapa pandangan umum mengenai strukturalisme bahwa aliran ini anti humanisme. Melalui kajian Antropologi budaya. kendatipun kenyataan konkret tidak bisa dipahami secara lain. Levi-Strauss membentuk strukturalisme sebagai "humanisme integral baru" yang mengkritik dan mengatasi humanisme klasik Barat. sebab tiap usaha merepresentasikannya pada dasarnya kurang memadai. Ada itu sendiri tampak sebagai tidak tersembunyi ( aletheia). Sebaliknya "humanisme baru" dengan pola 5 . Seperti sudah diuraikan sebelumnya bahwa Levi-Strauss enggan menggunakan nama "strukturalisme" yang terlalu ideologis. kecuali lewat paksaan mental tersebut. Ini didapat dari Husserl. "Pemahaman" berarti memahami keberadaan sesuatu yang spontan dan tampak bagi kita itu kepada suatu taraf yang lebih dalam. Menurut Levi-Strauss. Humanisme klasik dianggap mangancam kehidupan manusia. Tugas strukturalis lah untuk mengorek makna yang laten tersebut.

Persamaan lain adalah keduanya sama-sama menentang bentuk teknik (kemajuan teknologi di Barat) yang jika tidak diwaspadai akan menjadi subyek baru dan menindas keberadaan manusia. Ketika Levi-Strauss dengan strukturalismenya berusaha menghilangkan dualisme subyek dan obyek yang dianggap mengancam kehidupan manusia maka ia meleburkannya dalam kesatuan struktur yang tak terpilah. artinya tidak menguasai keadaan. tetapi justru saling melengkapi. Kedua pemikir memiliki beberapa perbedaan dan kesamaan. Levi-Strauss menyatakannya dengan keprihatinan terhadap nasib masyarakat primitif yang dilenyapkan oleh kekuasaan kolonial Barat demi keuntungan ekonomis (penjajahan yang menggunakan penemuan-penemuan alat /teknik modern). tetapi mengutamakan dunia dan alam semesta atas hidup. tidak bermula dengan hidup manusia sendiri. tetapi justru menekankan sifat saling terkait dan mencakup segala sesuatu. Bahaya baru dapat saja muncul dengan tidak ditekankannya pribadi kreatif manusia dan bisa terjebak menjadi manusia "massal". Perbedaanperbedaan yang ada tidak dilihat sebagai bertentangan. Rasa kagumnya terhadap budaya primitif tertuang dalam bukunya Mythologica III.strukturalisme ini tidak mengadakan garis pemisah dan penggusuran yang fatal. Kekurangan ini dapat dilengkapi dengan pemikiran Heidegger yang meski mengkritik dualisme 6 . Penguasaan subyek atas obyek ini dibenahi dengan istilah menggembalakan ada. Kebudayaan primitif menurut Levi-Strauss memiliki keaslian dalam menciptakan patokan keselarasan manusia dengan alam dan sesamanya. mengutamakan hidup atas manusia sendiri dan mengutamakan rasa hormat terhadap mahluk-mahluk lain melampaui rasa cinta diri sendiri". Hal ini jelas terdapat persamaan dengan pemikiran Heidegger yang juga mengkritik metafisika Barat yang memisahkan subyek (manusia) dan obyek (alam). Dia mengammbarkan kebudayaan primitif sebagai berikut: "Suatu humanisme yang seimbang.

Adalah Ferdinand de Saussure yang mengawali kajian strukturalisme dalam bahasa. walaupun sebenarnya istilah strukturalisme diperkenalkan pertama kali bukan oleh Saussure. Sebuah periode yang ditandai dengan pergolakan intelektual dan juga ditandai dengan berkembang pesatnya strukturalisme. Saussure memproklamirkan bahwa tanda bahasa dibangun melalui struktur relasi antar tanda bahasa yang menunjukan adanya perbedaaan (Payne. 1996:513). Di tengah kapitalisme yang melahirkan masyarakat serba melimpah di Eropa Barat dan Amerika Serikat serta komunisme di Uni Sovyet yang mengundang decak kagum banyak orang dengan keberhasilannya menjangkau bulan. namun oleh Roman Jakobson. sebuah genre pemikiran yang melampaui Marxisme yang sedang menjadi trend pemikiran pada saat itu. ia tetap menekankan sosok manusia yang autentik. terutama Eropa Barat. Kata “struktur” yang menjadi dasar dari pemikiran strukturalisme dapat kita lacak dengan memahami Semiotika (Semiotics) atau Semiologi (Semiology) yang dikembangkan secara brilian oleh Saussure untuk mengkaji tanda bahasa. 1996:513). Pergolakan intelektual ini juga diwarnai dengan pergolakan mahasiswa yang hidup dalam affluent society. Perbedaan inilah yang kemudian dikenal sebagai oposisi biner ( binary opposition) 7 . Saussure secara brilian melepaskan kajian tentang tanda bahasa dari suatu kajian yang merupakan kajian yang bersifat linguistik semata. Meski tidak mungkin juga manusia menghindari sepenuhnya arus massa tapi dengan bantuan kesadaran dengan hati nurani manusia yang tidak mudah hanyut. ilmu sosial di Perancis melahirkan strukturalisme. sebagaimana yang terjadi dalam revolusi mahasiswa di bulan Mei 1967 di Paris di Perancis yang menuntut perluasan demokrasi serta penghentian praktek kolonialisme Perancis serta juga gerakan New Left yang menjadikan Herbert Marcuse sebagai “nabi” yang menginspirasi gerakan mereka. pada dekade 1960-an. seorang ahli linguistik dari Rusia (Payne.tersebut. eksistensialisme dan juga yang tidak dapat dilupakan adalah perkembangan Frankfurt School (teori Kritik). Strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran yang sangat menonjol dalam khazanah pemikiran di Dunia Barat.

Sebagai ilustrasi adalah bidak kuda dalam permainan catur memiliki gerak berbentuk huruf “L”. ke kanan. Agar lebih jelas. 2001 : 182). Inilah yang membedakan kajian strukturalisme yang dikembangkan oleh Saussure dengan pendekatan linguistik yang lain. Langue dimaksudkan sebagai penggunaan tanda bahasa secara umum atau oleh publik yang menyepakatinya. Dalam permainan catur. Semiotika sendiri secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu semieon. Ini dapat dianggap sebagai parole dari sebuah sistem struktur. Kombinasi dari keduanya inilah yang kemudian menghasilkan ”tanda” (sign). Individu yang bermain catur bebas untuk menggerakkan kuda dalam bentuk huruf “L” baik ke kiri. 2000 : 219 ). Kedua. Karena itu kita perlu mengetahui kode-kode yang menyatakan kepada kata apa yang dimaknakan oleh tanda-tanda. Kedua adalah langue dan parole. Berdasarkan pendapatnya mengenai oposisi biner. elemen tanda-tanda itu menyatu dan saling tergantung satu sama lain. di mana pendekatan linguistik yang lain hanya berhenti pada tataran langue (Bertens. para pemain harus mengikuti struktur aturan yang telah ada dan tidak mungkin permainan ini dimainkan jika para pemainnya keluar dari aturan permainan. sehingga dari sinilah kemudian lahir strukturalisme. dalam pendapat Saussure. yang artinya adalah ”tanda”. kita dapat mengikuti contoh yang dikemukakan oleh Saussure berikut ini. Kode (code) adalah satu sistem dari konvensikonvensi yang memungkinkan kepada seseorang untuk mendeteksi arti dalam tanda-tanda karena hubungan (Berger. sebuah tanda khususnya tanda kebahasaan. sedangkan petanda adalah aspek mental dari tanda bahasa. ke 8 . Penanda adalah aspek fisik dari tanda bahasa.yang dapat diterapkan hampir ke semua tanda bahasa. Relasi antara penanda dengan petanda terjadi begitu saja dan arbitrer. Saussure mengembangkan semiotika ke dalam beberapa aturan pokok yang mengatur sistem tanda bahasa. terdiri dari unsur ”penanda” (signifier) dan ”petanda” (signified). sedangkan parole adalah pemakaian tanda bahasa di tangan individu. Pertama. merupakan entitas psikologis yang bersisi dua atau berdwimuka.

pengalaman kerja dan tentunya pola pikirnya sangat menentukan dalam mencetuskan teori strukturalnya. Perancis maupun saat ia berada di New York. mengingat perjalanan hidup penggagas teori Antropologi struktural ini sangat dinamis. Ini dapat dianggap sebagai parole. akan lebih baik jika kita membicarakan sejarah hidup Levi-Strauss secara singkat. riwayat hidup penemunya. penjelasan tentang teorinya dan juga kritik terhadap teori tersebut. Hal ini penting. Satu hal yang harus diingat kebebasan menggerakkan kuda ini terstruktur dalam huruf “L” dan tidak boleh keluar dari aturan ini.depan atau ke belakang. B. maka hancurlah struktur permainan catur itu. Pertemuannya dengan para pakar dari berbagai bidang ilmu itu telah melahirkan berbagai konsep yang sangat penting dalam membentuk teori budaya yang sangat 9 . Selain itu. Lahir dari orang tua berkebangsaan Prancis dengan darah Yahudi. dan Oxford di Amerika. teori lain yang mempengaruhi. Yale. Yang penting masih dalam bentuk huruf “L”. dengan menjabarkan keadaan sosial yang terjadi pada saat teori ini dibangun. seperti universitas Harvard. C. LeviStrauss diberi gelar doktor dari sejumlah institusi pendidikan terkemuka. Sejak lama dia juga menjadi anggota Academie Francaise. Kanada dan Meksiko. badan pembelajaran terkemuka mengenai hal-hal yang bersingungan dengan Bahasa Prancis. Sejarah Hidup Claude Levi-Strauss Sebelum membicarakan teori strukturalisme Levi-Strauss. Selain itu juga dari universitas di Swedia. B. Latar belakang pendidikan. Paper ini juga mencoba untuk menjelaskan teori Strukturalisme Levi Strauss. karena jika bergerak selain gerak “L”. yang juga sangat menentukan dalam pandangan-pandangan Levi-Strauss adalah hubungannya dengan para pakar berbagai bidang di Brasilia.

Di tahun yang sama ia juga mempelajari filsafat di universitas Sorbonne. serta mengunjungi berbagai suku Indian yang selama itu boleh dikatakan belum terjamah oleh peradaban Barat. Ia mempelajari hukum di fakultas hukum pada suatu universitas di Paris pada tahun 1927. Buku itu cukup mengesankan bagi Levi-Strauss dan mendorongnya untuk mengadakan beberapa studi mengenai masyarakat primitif. Levi-Strauss dilahirkan pada 28 November 1905 di Brussles. Ayahnya bernama Raymond Levi-Strauss seorang artis dan juga anggota keluarga intelektual Yahudi Perancis (Intelectual French Jewish family). Belgia. Brazil. Dari ekpedisi yang di dukung oleh Musee de 1’Hummed dan museum di kota Sao Paulo ini. Ia pernah sukses dalam bidang hukum ketika ia telah mendapatkan licence dalam bidang hukum. Apa yang diharapkan oleh Levi-Strauss ini akhirnya terkabulkan setelah ia berkesempatan menjadi pengajar di Universtias Sao Paulo. Penguasaan dalam bidang hukum mengenai aliran-aliran filsafat materialisme historis ini turut mendorong kesuksesannya dalam bidang Antropologi. Buku ini bercerita tentang penderitaan orang-orang Indian di belantara Amazone. Hal yang paling penting dan sangat berpengaruh terhadap loyalitasnya di bidang Antropologi adalah ketika ia membaca buku Primitive Society yang ditulis oleh Robert Lowie. Dikatakan sangat unik karena memang belum terpikirkan oleh para pakar di bidang Antropolgi periode sebelumnya. Pengalaman perjalanannya menjelajah daerah-daerah terpencil itu ditulisnya dalam sebuah buku yang berjudul Tristes Tropique. Bahkan ia menjadi bosan mengajar di Mont de-Marsan Lycee dan berkeinginan untuk mengadakan perjalanan keliling dunia. Minat utama Levi-Strauss sebenarnya adalah ilmu hukum. Sedangkan ibunya bernama Emma Levy. Di universitas ini ia memiliki kesempatan untuk keliling ke daerah-daerah pedalaman Brazil. memberi kesempatan kepadanya untuk mempelajari orang-orang Indian Caduveo dan Bororo. Berawal dari buku inilah yang menjadikan Levi-Strauss terkenal sampai ke negara asalnya yakni 10 . Ia adalah keturunan Yahudi.unik itu.

yaitu petugas penghubung. Ia pun berkesempatan mengajar mata kuliah Etnologi di New York Ecole Libre des Hautes Etudes. ia juga mengalami diskriminasi ras.Prancis. seperti Maz Ernst. Ia dipecat dari jabatannya karena ia adalah seorang Yahudi. Ia ditugaskan dibagian pos telekomunikasi di bidang sensor telegram. bahkan masih sangat sedikit orang yang mendokumentasikan mitos-mitos tersebut. Karir Levi-Strauss sempat mengalami halangan saat ia diwajibkan menjalani wajib militer. ribuan bahkan jutaan mitos kini memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan kita. dan ketelitian yang luar biasa Levi-Strausss mampu melahirkan karya yang sangat bermanfaat. yang memiliki program menyelamatkan ilmuwan dan pemikir-pemikir Eropa berdarah Yahudi di Amerika Serikat. Dari program ini Levi-Strauss berhasil datang ke New York dan selamat dari pembantaian tentara Nazi yang anti terhadap orang-orang Yahudi. A. Franz Boas. Halangan tidak hanya sampai disitu. Sampai akhirnya ia diangkat menjadi liaison officer. Akhirnya Levi-Strauss diselamatkan oleh program Yayasan Rockefeller. Di daerah Greenwich Village. 11 . yang didirikan oleh para intelektual pelarian dari Prancis. New York. Kroever dan Ralph Linton. Levi-Strauss tinggal.L. Ia bahkan telah menghasilkan suatu karya yang sangat penting di bidang Antropologi yang sesungguhnya sangat jauh dari studi formal yang dimilikinya. Namun dalam situasi yang seperti itu tetap tidak menghalangi dirinya untuk menjadikannya seorang professor. kesabaran. Ruth Benedict. Mitos-mitos itu sebelumnya tak seorang pun yang memperhatikan. Berkat jasanya. Dengan ketekunan. Kita sangat menghargai perjuangan Levi-Strauss dalam menemukan teori (konsep) strukturalisme ini. Ia pun akhirnya dibebaskan dari kewajiban militer setelah menjadi seorang professor. Ia banyak berkomunikasi dengan para ilmuan buangan dari Prancis. Di kota New York inilah Levi-Strauss semakin banyak memiliki peluang mengembangkan keilmuannya.

ia berkata. Harvard dan Columbia University di Amerika Serikat. Ia juga dianugrahi empat gelar kehormatan oleh Oxford. Kami tidak akan menemukan lagi seperti dia. Pada tahun 1942 sampai 1945 ia diangkat sebagai professor di New School for Social Research. dikembangkan Ward H. Académie française adalah institusi yang bergengsi milik Levi-Strauss. memuji Levi-Strauss memiliki "semangat keterbukaan yang luar biasa". mereka telah mulai meracuni diri mereka sendiri. yang bersamaan pula dengan kedudukannya sebagai pimpinan Social Antropology pada College de France. sekretaris abadi Académie française." kata LeviStrauss. tidak lagi dunia yang aku suka. berencana untuk menghormatinya." Hélène Carrère d'Encausse. Levi-Strauss menyatakan bahwa prospek manusia sangat suram. Berbicara pada radio Perancis. setelah dia meninggal.Pada zaqmannya. salah satu di antaranya adalah kepala bagian Museum dan benda-benda budaya UNESCO di Paris. Claude Levi-Strauss adalah pencetus Antropologi Struktural dengan strukturalisme sebagai perspektifnya. menjulukinya "ilmuwan terbesar Perancis.Selama hidupnya Levi-Strauss pernah menduduki jabatan-jabatan strategis terutama di bidang pendidikan. Pada tahun 1935 sampai 1939 ia diangkat sebagai seorang Professor di Universitas Sao Paolo yang kemudian melakukan beberapa ekspedisi ke Brazil. baik itu tanaman atau hewan. Yale. seorang filsuf. . Dan dunia di mana saya menyelesaikan keberadaan saya." Levi Strauss meninggalkan dua putra. Dalam wawancara dengan National Public Radio. Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya diantaranya adalah: the wenner-Gren Foundation’s Viking Fund Medal dan Erasmus Prize pada tahun 1975. lahir pula Antropologi Kognitif. "Pada hari ini hilangnya spesies hidup yang sangat mengerikan. Dan itu jelas bahwa kepadatan manusia telah menjadi begitu besar. Pada tahun 1959 ia menjadi direktur The Ecole Practique des Hautes Etude. "Dia adalah seorang pemikir. Aliran ini membawa 12 ... Goodenough (1950-an). Penulis Jean d'Ormesson.

sebagaimana dicontohkan dalam mitos-mitos yang berkembang. dalam rentang enam dekade. Karyakarya pemikir abad 20 ini. Dari rangkaian persoalan manusia itu terdapat beberapa kesamaan yang 13 . Seperti dikutip dari siaran stasiun televisi BBC. antara lain "Tristes Tropiques" (1955). Levi-Strauss juga memperkenalkan strukturalisme. LeviStrauss memperkenalkan "strukturalisme" untuk Antropologi. seorang tokoh di dunia Antropologi abad ke-20. meninggal di Paris pada 31 Oktober.Konsep Strukturalisme Levi-Strauss Sebagaimana diketahui bahwa cakupan ilmu sosial itu sangat luas. Levi-Strauss disebut sebagai bapak Antropologi modern berkat karya-karyanya. seperti ilmu eksakta dan pengetahuan alam ( exact and natural Sciences).definisi budaya dari yg fisik menuju pengertian bahwa budaya sebagai sistem pengetahuan. Beberapa di antaranya adalah teori tentang persamaan komponen antara masyarakat industri dan sukuterasing. 2009 dengan usia 101 tahun. Presiden Prancis Nicolas Sarkozy menyebut Levi-Strauss sebagai salah satu etnolog besar sepanjang waktu. "The Savage Mind" (1963). Dia juga seorang pecinta musik sejati. dan "The Raw and the Cooked" (1964). sangat tidak mungkin bisa memahami fenomena sosial tanpa mengaitkan dengan fenomena-fenomena lain. Inilah yang menjadikan salah satu alasan kenapa dalam ilmu sosial kita harus meniru metode ilmu-ilmu di luar ilmu sosial. Akhirnya Claude Lévi-Strauss. C. konsep mengenai pola umum pikiran dan tingkah laku.Interpretatif yg dipelopori oleh Clifford Geertz melihat sistem simbol sebagai media pemahaman manusia atas sistem nilai dan sistem koginitifnya. dalam jangkauan luas masyarakat. Aliran Antropologi Simbolik. terutama mitos. Oleh karena begitu kompleknya persolan itu. Hal ini disebabkan banyaknya persoalan yang timbul dalam aktivitas manusia baik secara individu maupun dalam kaitannya dengan masyarakat. konsep bahwa semua masyarakat universal mengikuti pola pikir dan perilaku.

Meskipun bertolak pada linguistik. Pendapat Allen ini menunjukkan adanya struktur dalam setiap persoalan. 60). all societies and all cultures. Dalam konsep Strukturalisme Levi-Strauss. except to provoke a degree of pleasant puzzlement’.bisa dijadikan model dalam sebuah penelitian. yang tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris kebudayaan itu sendiri (Ahimsa. But so can a physiology. struktur adalah model-model yang dibuat oleh ahli Antropologi untuk memahami atau menjelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya. where the formal expression of different problems admits of the same kind of treatment”. Kroeber dalam buku edisi kedua Anthropology menyebutkan bahwa: “Structure” appears to be just a yielding to a word that has perfectly good meaning but suddenly becomes fashionably attractive for a decade or so –like “streamlining”. without overlapping other fields pertaining to the exact and natural sciences. “Levi-Strauss derived structuralism from school of linguistics whose focus was not on the meaning of the word. and still more difficult to discuss. Allen Lane (1968. they are therefore difficult to define.8) menyatakan sebagai berikut: ”On the other hand. 2006. crystals. Adanya struktur ini memungkinkan juga adanya persamaan-persamaan. any organism. machines. but the patterns that the words form. Of course a typical personality can be viewed as having a structure.machines. studies in social structure have to do with the formal aspects of social phenomena.” 14 . tetapi lebih menekankan pada bentuk (pattern) dari kata itu.and during its vogue tends to be applied indiscriminately because of the pleasurable connotations of its sound. So what “structure” adds to the meaning of our phrase seems to be nothing. where problems are similarly set in formal terms or. Bentuk-bentuk kata ini menurut Levi-Strauss berkaitan erat dengan bentuk atau susunan sosial masyarakat.in fact everything that is not wholly amorphous has a structure. Oleh karena itu pula pemahaman dasar dari teori strukturalisme adalah mengacu pada model penelitian linguistik. fokus strukturalisme Levi-Strauss sebenarnya bukan pada makna kata. Langkah ini dilakukan karena dalam strukturalisme dipahami bahwa setiap benda yang berbentuk pasti memiliki struktur. Oleh sebab itu Sarah Schmitt (1999) menyatakan. rather.

Strukturalisme Levi-Strauss juga bertolak dari konsep oposisi biner (binary opposition). sedangkan putih dihubungkan dengan kesucian. Semua konsep mengenai struktur bahasa tersebut di atas. Hitam sering dikaitkan dengan kegelapan. yang salah satunya akan menyeret modifikasi seluruh elemen lainnya. 1978). 1958. Bangunan dari model-model itu yang akan membentuk struktur sosial. Sebuah struktur menawarkan sebuah karakter sistem. Prinsip dasar struktur yang dimaksud disini adalah bahwa struktur sosial tidak berkaitan dengan realitas empiris. menggabungkan fungsi-fungsi hanya secara vertikal. Rasional dianggap lebih istimewa dan diasosiasikan dengan laki-laki. perlu diketahui terlebih dahulu prinsip dasar dari struktur itu sendiri. Untuk mengetahui makna struktur dalam bidang Antropologi Levi-Strauss. Struktur terdiri atas elemen-elemen seperti sebuah modifikasi apa saja. Konsep ini dianggap sama dengan organisasi pemikiran manusia dan juga kebudayaannya. 1969 dalam Fokkema. Model strukturalnya tidak linier (Meletinskij. 1. kejahatan. Itu sebabnya ia mulai dengan mitos. dan mencoba menerangkan paradigmatik mereka yang tumpah-tindih dengan varian-varian mitos. Levi-Strauss sangat tertarik pada logika mitologi. ketulusan dan lain-lain. melainkan dengan model-model yang dibangun menurut realitas empiris tersebut (Levi-Strauss. Seperti kata-kata hitam dan putih. 378). LeviStrauss mengembangkan teorinya dalam analisis mitos. keburukan. Untuk membuktikan adanya keterkaitan atau beberapa kesamaan antara bahasa dan budaya. 15 . Menurut Levi-Strauss (1958) ada empat syarat model agar terbentuk struktur sosial. Sementara emosional dianggap inferior yang diasosiasikan dengan perempuan. kebersihan. dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan sosial. Contoh lain adalah kata rasional dan emosional.

Masalahnya para ahli Antropologi pada saat ini tidak pernah mempertimbangkan peranan bahasa yang sesungguhnya sangat dekat dengan kebudayaan manusia itu sendiri. kekerabatan memperoleh maknanya hanya dari posisi yang mereka tempati dalam suatu sistem. 1978). di mana masing-masing berhubungan dengan sebuah model dari keluarga yang sama. dan seperti fonem. dan mudah rusak (Fokkema. 16 . 1972 dalam Fokkema. yaitu sesuatu yang merusak impressi kesadaran individual yang halus. Lahirnya konsep Strukturalisme Levi-Strauss merupakan akibat dari ketidakpuasan Levi-Strauss terhadap fenomenologi dan eksistensialisme (Fokkema. sehingga seluruh transformasi ini membentuk sekelompok model. Singkatnya Levi-Strauss berkeyakinan bahwa untuk mempelajari kebudayaan atau perilaku suatu masyarakat dapat dilakukan melalui bahasa. 1978). Model itu harus dibangun dengan cara sedemikian rupa sehingga kegunaannya bisa bertanggung jawab atas semua kejadian yang diobservasi. Istilah kekerabatan. Sifat-sifat yang telah ditunjukan sebelumnya tadi memungkinkan kita untuk memperkirakan dengan cara apa model akan beraksi menyangkut modifikasi salah satu dari sekian elemennya. Karena bagi Bergson tanda linguistik dianggap sebagai hambatan. bukan seperti yang dikembangkan oleh Bergson. fenomena kekerabatan merupakan tipe yang sama dengan fenomena linguistik (Levi-Strauss. Dalam bukunya yang berjudul ”Trites Tropique” (1955) ia menyatakan bahwa penelaahan budaya perlu dilakukan dengan model linguistik seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure. cepat berlalu. 3.2. 4. Kesimpulannya adalah bahwa “meskipun mereka berasal dari tatanan relitas yang lain. 1978). merupakan unsur makna. Bagi Levi-Strauss telaah Antropologi harus meniru apa yang dilakukan oleh para ahli linguistik. seperti halnya fonem. Seluruh model termasuk dalam sebuah kelompok transformasi. LeviStrauss memandang bahwa apa yang ada di dalam kebudayaan atau perilaku manusia tidak pernah lepas dari apa yang terefleksikan dalam bahasa yang digunakan. Oleh karena itu akan terdapat kesamaan konsep antara bahasa dan budaya manusia.

Ahimsa (2006: 24-25) menyebutkan bahwa ada beberapa pemahaman mengenai keterkaitan bahasa dan budaya menurut Levi-Strauss. 2006). maka bahasa adalah bagian dari kebudayaan itu sendiri. Koentjaraningrat. bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan untuk membangun bahasa pada dasarnya memiliki kesamaan jenis atau tipe dengan apa yang ada pada kebudayaan itu sendiri. Kedua. Pertama. Dengan kata lain melalui bahasa manusia mengetahui kebudayaan suatu masyarakat yang sering disebut dengan kebudayaan dalam arti diakronis. kita tidak pernah bisa lepas dari pembahasan bahasa (lihat. sederhana. Levi-strauss mengakui bahwa analisis yang benar-benar ilmiah harus nyata. 1987). menyadari bahwa bahasa merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. terutama setelah diakuinya bidang Fonologi atau ilmu tentang bunyi dalam bahasa (Fokkema. Hubungan atau korelasi bahasa dan budaya terjadi pada tingkat struktur (mathematical models) dan bukan pada statistical models (Ahimsa. Untuk itu jika kita membahas mengenai kebudayaan. 1978). Hal ini dapat kita lihat juga pendapat para pakar kebudayaan yang selalu menyertakan bahasa sebagai unsur budaya yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Korelasi semacam ini sangat mungkin terdapat pada kebudayaan lain. korelasi sistem kekerabatan orang-orang Indian di Amerika Utara dengan mitos-mitos mereka. dan dalam cara orang Indian mengekspresikan konsep waktu mereka. Seperti yang disebutkan oleh Levi-Strauss (1963). dan bersifat menjelaskan (Levi17 . Ketiga. Dengan bahasa manusia menjadi makhluk sosial yang berbudaya. Berikutnya. perlu juga diperhatikan beberapa perbedaan mendasar antara sifat keilmuan Fonologi dengan apa yang ada dalam Antropologi/Sosiologi. Karena bahasa merupakan unsur dari kebudayaan. Model-model matematis pada bahasa dapat berbeda pada tingkatan dengan model matematis yang ada pada kebudayaan. Namun demikian. Antropologi mengalami perkembangan pesat setelah dikembangkan dengan model linguistik. menyatakan bahwa bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan. bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat merupakan refleksi dari keseluruhan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan.

sistem “terminologi” dan sistem “sikap”. Asumsi dasar nalar manusia (human mind) adalah sistem relasi (system of relation). Tradisi adalah tatanan transendental sebagai pengabsah tindakan dan juga sesuatu yg imanen dalam situasi aktual dan bersesuaian dengan konteks bersifat dinamis (J. selalu daiadakan pesta dan upacara kematiannya penuh dengan kegembiraan. Hastermann). Fonologi bisa diterangkan secara ekskulsif dalam sistem persitilahan. Tradisi adalah sebuah jalan bagi masyarakat untuk memformulasikan dan memperlakukan fakta-fakta dasar dari eksistensi kehidupan manusia. serta relasi manusia dengan tradisi sangat penting. Antropologi/Sosiologi bukan bergerak dari hal-hal yang kongkret. 1978). tetapi bagaimana manusia mengucapkan vokal. ia tidak perlu memperhitungkan segala “sikap” sumber sosial atau sumber psikologis. sistemnya lebih rumit daripada data observasi dan akhirnya hipotesisnya tidak menawarkan penjelasan bagi fenomena maupun asalusul sistem itu sendiri. analisis Antropolgi justru maju ke arah yang berlawanan. dipenuhi dengan kesedian dan bahkan dilarang sama sekali memasak makanan pada komunitas Islam tertentu. 18 . Antropolog Levi-Strauss bertujuan menemukan model bahasa dan budaya melalui strukturnya. Kebudayaan dan bahasa berposisi sejajar karena keduanya merupakan hasil dari nalar manusia.Strauss. Antropologi/Sosiologi berurusan dengan sistem kekerabatan pada titik persilangan dua tatanan realitas yang berbeda. sebagai contoh: Konsensus manusia tentang persoalan kehidupan dan kematian merupakan suatu tradisi yang penuh dengan simbul dan tradisi. sedangkan upacara kemaian pada pemeluk Islam. Kebudayaan adalah produk atau hasil aktifitas nalar manusia yang memiliki kesejajaran dengan bahasa dan tradisi. 1972. dalam Fokkema. Pemahaman terhadap pikiran dan perilaku kehidupan manusia. misalnya ketika persiapan menguburkan mayat. oleh karena itu selalu dengan upacara yang berbeda menurut pemahaman suatu suku atau pemeluk agama tertentu. Di Bali.Tetapi hal itu agak berbeda dengan apa yang ada dalam Antropologi. manjauhi yang kongkret. apalagi ketika upacara pembakaran mayat.C.

Kajiannya berupa relasi antara keilmuan yang inderawi dan yang linguistik rasional yang dilakukan oleh Fredinand de Saussure (1857-1913). yaitu cara pembicara mengungkapkan bahasa untuk dirinya sendiri dalam rangka berkomunikasi dengan orang lain. horse adalah ”penanda”. .Dalam hal ini pengaruh pemikiran tokoh-tokoh terhadap strukturalisme Levi-Strauss cukup besar. sabu. Isi bisa berubah. tabu. Adanya langue menyebabkan adanya parole. karena 19 juga menganalisa sistem simbol. yaitu suatu ilmu yang lebih luas kajiannya dari pada Strukturalisme. Bahasa adalah sistem tanda (sign). kuda. namun bentuknya tidak. Sedangkan parole adalah percakapan sebenarnya. Menurut Fredinand de Saussure konsep bentuk (form) dan isi (content) penanda dan tinanda selalu memiliki bentuk dan isi. menyatakan atau menyampaikan ide atau pengertian tertentu. Hubungan antara penanda & tinanda disebut ”arbiter”. Suara dapat dikatakan sebagai bahasa jika dapat mengekspresikan. sistem elemen phonic yg hubungannya ditentukan oleh hukum yg tetap. tergantung dari relasinya. jelas sekali walaupun fonemnya hampir sama. Jadi ide tidak ada sebelum adanya kata-kata. Kehidupan manusia dibentuk oleh struktur bahasa. konsep suara tersebut adalah ”tinanda” (signified). Untuk dapat mengetahui kekhasan bentuk (distinctive form) ialah dengan mengenali perbedaan satu kata dengan kata yang lain (differensiasi sistematis). Suara yang muncul dari sebuah kata adalah ”penanda” (signifier). ahli bahasa Swiss yang membangun Strukturalisme dari sudut ilmu bahasa struktural yg akhirnya menjadi teori Strukturalisme itu. Langue adalah sistem tata bahasa formal. tetapi artinya sangat berbeda. Studi tentang struktur bahasa melalui “tanda” melahirkan Semiotics. Saussure juga membedakan antara konsep “langue” & “parole”. Tinanda dari sebuah penanda dapat berupa apa saja. Sedangkan ”binatang berkaki 4 (empat) & berlari kencang adalah ”tinanda”. Elemen dasarnya adalah katakata. Contoh: Jaran. karena perbedaan sistimatis tersebut. Sebagai contoh: babu. Levi-Strauss Strauss belajar metode komparasi tentang geologi masyarakat (Marx) untuk menemukan geologi psikis (Freud) dan bagaimana pola umum objek dalam menjelaskan gejala yang tersembunyi.

bahasa tubuh. Dalam sistem biner. dan lain-lain. Contoh lain adalah gunung <--> lembah. Disebut gunung. serta berusaha untuk membedakan sintagmatis dan paradigmatis. adalah bagaimana manusia itu merepresentasikan pikirannya lewat omongan. text/bunyi *jeruk* punya arti/makna karena ada text bunyi lain macam *kelapa*. naskah sastra. Contoh yang jelas dalam sistem biner adalah : laki-laki <--> perempuan. Sebagai contoh: kata menggigit juga ada relasinya dengan memakan. segala sesuatu arti/makna dapat dimasukkan dalam dua kategori. *pergi*. mengerogoti. Sintagmatis adalah hubungan yg dimiliki sebuah kata dengan kata sebelumnya. dan lain sebagainya. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan secara struktural. cara berpakaian. Dalam sebuah struktur oposisi biner yang ideal. Contoh: kata menggigit akan berhubungan dg anjing. Suatu kategori X tidak ada dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori Y. dan lain sebagainya. dan memproduksi suara. Saussure menyebutnya sebagai “oposisi biner”. Tokoh Semiotics adalah Roland Barthes dan Fredinand de Saussure yang melakukan studi sinkronis (fakta bahasa sebagai sistem) bukan diakronik (historis bahasa & perubahan evolutifnya). Seseorang disebut laki-laki karena dia bukan perempuan. hanya ada dua sign (tanda) yang hanya memiliki makna bila masing-masing beroposisi dengan yang lain. *bangku*. ekspresi. Teori oposisi biner ini jadi terkenal setelah Levi Strauss menggunakan teori ini untuk menganalisa proses kultural seperti cara memasak. kedinginan. dan bentuk komunikasi. karena ditentukan oleh ketidak existan/ketidakbermaknaan kategori yang lain. 20 mencaplok. kegeraman. . Kategori X ataupun kategori Y. Selanjutnya menurut Saussure. Bahwa lahirnya bahasa dari segi arti/makna yang muncul dalam otak itu berasal dari komunikasi genital. Sedangkan paradigmatis atau asosiatif adalah relasi antara suku kata dengan kata lain diluar hubungan sintagmatis. mungkin lewat “gerengan” atau “raungan” sebagaimana ketika seekor harimau makan binatang buruan bersama itu. Namun dari segi 'actual speech' atau omongan ('parole'). sampai mitos dalam masyarakat. Suatu kategori jadi exist atau bermakna.

Terjadinya berbagai masalah di Indonesia mungkin disebabkan hilangnya salah satu bagian struktur oposisi biner tersebut. Islam moderat dan Islam radikal serta hubungan struktural antara keduanya yang timpang dan bagaimana memperbaikinya. Kalau Indonesia disebut sebagai struktur yang terbentuk dari bermacam-macam oposisi biner. militer-sipil. Strauss merupakan Antropolog strukturalis yang banyak menggunakan teori-teori bahasa. Dia adalah berbentuk produk atau reproduksi budaya. Contoh sederhana adalah oposisi biner alamiah seperti batu <--> air diparalelkan dengan keras <-> lunak. seperti: . daratan <--> lautan.karena dia bukan lembah dan begitulah seterusnya. oposisi biner adalah 'the essence of sense making'. diabstrakkan jadi pemerintah yang kejam <> pemerintah yang ramah. Sistem oposisi biner tidaklah lahir secara natural. tetapi Claude Levi-Strauss-lah yang membuatnya menjadi sangat berpengaruh. Kalau melihat struktur oposisi biner ini dapat disimpulkan bahwa suatu struktur (baik abstrak atau konkrit) selalu ada. publik <--> privat. Oposisi biner ini juga dapat menjelaskan dan digunakan untuk menganalisa perkara GAM/OPM lawan NKRI. baik terhadap alam natural atau pun dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan. Dia lahir karena manusia punya sistem penandaan dalam otaknya (genital-communication). positip <--> negatip. dan sistem penandaan ini digunakan untuk menstrukturkan persepsi serta pemahaman manusia pada dunia di luar mereka. separatis lawan NKRI. yaitu struktur yang mengatur sistem pemaknaan kita terhadap budaya dan dunia tempat kita hidup. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang 21 . Sistem oposisi biner ini oleh manusia tidak saja digunakan untuk mengkategorikan sesuatu yang hanya ada di dunia alamiah. maka penghilangan salah satu bagian dari oposisi biner pasti akan meruntuhkan struktur Indonesia itu. Konsep oposisi biner mula-mula diteorisikan oleh ahli bahasa Ferdinand de Saussure. Bagi Strauss. tetapi dia juga digunakan untuk untuk memahami/menjelaskan kategori-kategori makna yang abstrak. Inilah pentingnya pengetrapan teori Strukturalisme pada fenomena aktual sekarang ini. karena adanya sistem oposisi biner yang mendukung struktur tersebut.

Keberadaan mereka ditentukan oleh ketidakberadaan yang lain. dan berfungsi untuk menstrukturkan persepsi kita terhadap alam natural dan dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan dan makna. Proses transisi metafor dari sesuatu yang abstrak dalam sesuatu yang kongkret ini dinamakan Strauss sebagai 'the logic of concrete'.membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan. Contoh sederhana dari konsep ini misalnya diberikan oleh John Fiske (1994): konsep oposisi biner angin badai dan angin tenang (kongkret) misalnya. Oposisi biner adalah produk dari 'budaya'. segala sesuatu dimasukkan dalam kategori A maupun kategori B. daratan dan lautan. yang bisa disebut dengan atau ‘kategori ambigu’ atau 'kategori skandal' (Strauss lebih senang menyebutnya dengan 'anomalous category‘. begitu seterusnya. Dalam sistem biner. ia bukan bersifat 'alamiah'. Suatu kategori A tidak dapat eksis dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori B. Seseorang disebut laki-laki karena ia bukan perempuan. dan dengan memakai pengkategorian itulah. Ia adalah produk dari sistem penandaan. Strauss juga menyebutkan konsep dasar dari oposisi biner yaitu 'the second stage of the sense-making process': penggunaan kategorikategori sesuatu yang hanya eksis di dunia alamiah (sesuatu yang kongkret) untuk menjelaskan kategori-kategori konsep kultural yang abstrak. Dalam struktur oposisi biner yang sempurna. dan bahkan tidak akan ada kategori A. atau antara anak-anak dan orang dewasa. Tanpa kategori B. bisa disejajarkan dengan oposisi biner alam yang kejam dan alam yang tenang (abstrak). hanya ada dua tanda atau kata yang hanya punya arti jika masing-masing beroposisi dengan yang lain. sesuatu itu disebut daratan karena ia bukan lautan. tidak akan ada ikatan dengan kategori A. dan bisa ditransfor-masikan dalam sistem-sistem oposisi biner yang lain. Misalnya dalam sistem biner laki-laki dan perempuan dan laki-laki. Oposisi biner menimbulkan posisi-posisi ambigu yang tidak bisa dimasukkan dalam kategori A atau kategori B. Kategori A masuk akal hanya karena ia bukan kategori B.‘Kategori anomali’ ini muncul dan mengganggu 22 . kita mengatur pemahaman dunia di luar kita. Secara struktur oposisi biner berhubungan satu dengan yang lain.

Perbedaan “t” dan “th” inilah yang disebut fonem (Nikolai Troubetzkoi). tapi pada struktur dalam tetap sama. vampir/hantu/zombi. Diantara mereka yang sangat berpengaruh 23 . Ia mengotori kejernihan batas-batas oposisi biner. Sebagaimana sudah disebutkan di atas bahwa terbentuknya struktur merupakan akibat dari adanya relasi-relasi dari beberapa elemen. perlu disampaikan konsep bahasa menurut para ahli linguistik yang mempengaruhi lahirnya teori ini. Antara orang hidup dan orang mati ada sesuatu yang disebut vampir. Antara anak-anak dan orang dewasa. Perubahan yang terjadi dalam suatu struktur disebut dengan transformasi (transformation). Pemahaman kita akan adanya struktur dalam setiap benda atau aktivitas manusia memudahkan identivikasi benda atau aktivitas tersebut. Antara laki-laki dan perempuan ada gay/lesbian/banci. ada pantai. remaja. Fonem adalah konsep linguistik bukan konsep psikologis. atau gay/lesbian/banci adalah 'kategori anomali'. Agar pemahaman mengenai teori strukturalisme LeviStrauss lebih baik. Kata tidak lagi dapat dianggap sebagai satuan linguistik paling dasar karena yang terkecil adalah fonem (satuan) bunyi yang terkecil dan berbeda. Struktur terbagi dua. Hal yang perlu diperhatikan dalam Strukturalisme adalah adanya perubahan pada struktur tersebut. Transformasi adalah perubahan bahasa pada struktur luar. zombi. yaitu: Struktur permukaan/luar (surface structure): adalah relasi-relasi antar unsur yg dapat dibuat atau dibangun berdasarkan ciri-ciri empiris dari relasi tersebut.sistem oposisi biner. Hanya bagian-bagian tertentu saja dari suatu struktur yang mengalami perubahan sedangkan elemen-elemen yang lama masih ada. sebagai contoh: kutuk dan kuthuk (Jawa). Karena dalam proses transformasi tidak sepenuhnya berubah. ada posisi remaja. hantu. Transformasi harus dibedakan dari kata perubahan yang berarti change. Sedangkan struktur batin/dalam (deep structure): adalah susunan tertentu yg dibangun atas struktur lahir yg telah berhasil dibuat. Oleh karena itu struktur juga oleh Levi-Strauss diartikan sebagai relations of relations atau system of relation (sistim relasi). Pantai. Antara daratan dan lautan.

Terobosan pemikiran de Saussure dimulai pada pemikirannya mengenai hakekat gejala bahasa. Dari ketiga pemikir linguistik ini. Bahasa adalah suatu sistem tanda (sign). Para Ahli bahasa yang berpengaruh pada pemikiran Levi Strauss Berikut ini adalah para pakar bahasa yang mempengaruhi Levi Strauss dalam proses pengembangan teori Struktulaisme. Ada lima pandangan de Saussure yang mempengaruhi Levi-Strauss dalam memandang bahasa. Ferdinan de Saussure. Pemikiran ini kemudian melahirkan konsep struktural dalam bahasa dan juga semiologi atau yang sekarang disebut dengan semiotik (Ahimsa. Signified (tinanda) dan signifier (penanda). Levi-Strauss memiliki keyakinan bahwa studi sosial bisa dilakukan dengan model linguistik yaitu yang bersifat struktural. Gagasan terbesar de Saussure adalah pada teori umum sistem tanda (general theory of sign system) yang disebutnya dengan ilmu Semiologi (Semiology) (Winfried Noth. 56). yang wujudnya tidak lain adalah kata-kata. 1. Ferdinand de Saussure Ferdinand de Saussure (1857-1913) merupakan penemu linguistik modern (Modern Linguistics). Yaitu. Sebagai penemu konsep linguistik modern. 1978 dalam Ahimsa 2006). Bagi Saussure ide-ide tidak ada sebelum kata-kata. wajar jika de Saussure dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh terhadap teori Strukturalisme. C. a. 24 . De Saussure berpendapat bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda linguistik atau tanda kebahasaan (linguistic sign). Signifier dan signified.terhadap pandangan Levi-Strauss adalah. 2006). Roman Jakobson dan Nikolay Trobetzkoy. 1995. (Levi-Strauss. dan menurut dia secara psikologis pikiran kita terlepas dari perwudjudannya dalam kata-kata sebenarnya hanyalah “Shapeless and indistinct mass”.

35). isi boleh saja berganti tetapi makna dari wadah masih tetap berfungsi. Kiasan yang sering digunakan untuk menggambarkan kedudukan wadah (form) dan isi adalah pergantian salah satu fungsi dari komponen permainan catur. Fungsi “kuda” ini masih bisa digantukan dengan benda lain yang mirip atau tidak sama sekali dengan bentuk asli “kuda” yang digantikan. Meskipun komponen “kuda” hilang seumpamanya. Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (signifier). walaupun penanda dan tinanda tampak sebagai entitas yang terpisahpisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen dari tanda. 2006 h.sesuatu yang tak berbentuk dan tak mengenal perbedaan-perbedaan atau tak bisa dibeda-bedakan. dengan sebuah ide atau tinanda yang disebut signified. 19 dalam Ahimsya. 3. Langue (bahasa) dan parole (ujaran. Wadah atau form adalah sesuatu yang tidak berubah. Untuk menjelaskan konsep ini memang agak sulit. 1976. tuturan). 25 . Jadi benda apapun selama kita tempatkan dam posisi “kuda”. bukan menyatukan sesuatu dengan sebuah nama. sedang konsepnya adalah tinanda (signified). akan tetap memiliki fungsi dan kedudukan yang sama dengan “kuda” yang hilang itu. Tanda adalah juga kesatuan dari suatu bentuk penanda yang disebut signifier. meskipun dengan bentuk yang lain dari kuda itu tetap bisa menggantikan fungsi kuda yang digantikan tersebut. Dalam konsep ini. Setiap tanda kebahasaan pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citra suara (sound image). Form (bentuk) dan content (isi). Suatu benda yang ditempatkan pada posisi “kuda”. Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa (Culler. 2.

ia bisa mencerminkan kebebasan pribadi seseorang. 4. de Saussure masih saja menekankan bahasa pada proses sinkronis. aturan-aturan antarperson yang tidak disadari tetapi ada pada setiap pemakai bahasa. via Ahimsa. 2006. Hal ini dikarenakan tanda itu sebagi suatu entitas yang bersifat relasional atau dalam relasi-relasi dengan tanda-tanda lain.Pembahasan de Saussure bukan hanya fokus pada aspek bahasa semata tetapi juga aspek sosial dari bahasa. kesimpulannya bahasa diartikan sebagai “a system of pure values whcih are determined by nothing except the momentary arrangement of its terms” (Ferdinand de Saussure. 1966. Dalam langue terdapat norma-norma. Tuturan ini marupakan apa yang terwujud ketika kita mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang kita pergunakan. Komsep langue merupakan aspek yang memungkinan manusia berkomunikasi dengan sesama. Karena sifatnya yang evolutif maka tanda kebahasaan sepenuhnya tunduk pada proses sejarah. Inilah kenapa langue membicarakan juga aspek sosial dalam linguistik. 46). Karena tida semua fakta-fakta kebahasaan itu memiliki sejarah. dan fakta-fakta kebahsaan yang mengalami evolosi (Culler. Dengan kata lain tuturan yang membedakan kita dengan orang lain melalui gaya bahasa. Oleh karena itu keadaan ini menuntut adanya perbedaan yang jelas antara fakta-fakta kebahasasan sebagai sebuah sistem. 26 . 1976. Namun demikian. Sinkronis dan diakronis De Saussure meyakini akan adanya proses perubahan bahasa. Dari pengertian inilah akhirnya dapat dipahami bahwa untuk mempelalajari bahasa diperlukan pemahaman terhadap relasi-relasi atas elemen-elemen yang bersifat sinkronis. 2006. via Ahimsa. 47). Disisi lain parole merupakan tuturan yang bersifat individu.

47). Hubungan sintagmatik dan paradigmatik terdapat dalam kata-kata sebagai rangkaian bunyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep (Ahimsa. 1995. ia dikenal sebagai pengembang Semiotika Klasik. Ketiga kata ini bisa digabung menjadi kalimat “saya memetik bunga”. via Noth. Atau gabungan kata “bunga mengalir” gabungan ini tidak memiliki makna karena tidak sesuai tata bahasa yang umum atau standar. Sepeti kata yang terdapat dalam kata “saya”. b. Dalam kontek ini de Saussure menyatakan bahwa manusia menggunakan kata-kata dalam komunikasi bukan begitu saja terjadi. Pada periode ini Jakobson dikenal sebagai pendiri Moscow Linguistic Circle dan juga sebagai anggota kelompok Opoyaz yang sangat 27 . “memetik” dan “bunga”. yaitu antara tahun 1914 sampai 1920. 74) membedakan empat periode perkembangan penelitian mengenai karya-karya Jakobson. Sintagmatik dan Paradigmatik. Koch (1981.5. Pertama. Konsep yang ditawarkan oleh Roman Jakobson (1896-1982) lebih condong pada para ahli bahasa dari Rusia (Rusian Linguist). Karena seperti kata “memetik” tentu tidak bisa digabungkan dengan kata “mengalir”. Roman Jakobson Meskipun Jakobson terlahir setelah de Saussure. Penggabungan kata ini tidak terjadi begitu saja. Tetapi menggunakan pertimbangan-pertimbangan akan kata yang akan digunakan. Kita memiliki kata yang mau kita gunakan sebagaimana penguasaan bahasa yang kita miliki. Hubungan sintagmatik adalah hubungan yang dimiliki sebuah kata dengan kata-kata yang dapat berada di depannya atau di belakangnya dalam sebuah kalimat. Gabungan kata yang sesuai itu memiliki makna. periode formalist. tetapi dipertimbangkan konvensi bahasa yang sudah ada. 2006. Disinilah hubungan sintagmatik dan paradigmatik itu berperan.

Jakobson memberikan pandangan kepada Levi-Strauss tentang bagaimana memahami atau menangkap tatanan yang ada di balik fenomena budaya yang sangat variatif tersebut (Ahimsa. Pada periode ini Jakobson bergabung dalam Copenhagen Linguistic Circle (Brondal. antara tahun 1939 sampai 1949. need I add. periode interdisciplinary yang dimulai pada 1949 yaitu saat ia mulai bekerja di Harvard dan juga MIT mengenai teori informasi dan komunikasi (Informatioan and Comunicatioan Theory)... 52) berikut ini: “. Pengaruh yang besar Romand Jakobson disampaikannya sendiri oleh Levi-Strauss sebagaimana dikutib oleh Ahimsa (2006. Dalam pemikiran Jakobson unsur terkecil dari bahasa adalah bunyi.. Jakobson merupakan figur yang paling mendominasi dalam Prague School of Linguistics and Aesthetics. Pemikiran Jakobson berpengaruh besar pada diri Levi-Strauss pada konsepnya mengenai fenomena budaya. 28 . Dengan demikian kata diartikan sebagai satuan bunyi yang terkecil dan berbeda. a great deal more than I had bargained for. Perbedaan tulisan antar /t/ dan /th/ mengakibatkan sedikit perbedaan pengucapan tetapi memiliki makna yang jauh berbeda. 2006. Hjelmslev) dan aktif dalam Linguistic Circle of New York.His (Jacobson’s) lectures. periode stucturalist. This was the revelation of structural linguistics.berpengaruh. matematika dan juga fisika (1982). Contoh kasus yang menujukan peranan penting fonem dapat kita lihat dalam dua kata antara “kutuk” dan “kuthuk” (basa Jawa). meskipun fonem itu sendiri tidak bermakna. Ketiga.” (1985:139). Keempat. however. gave me something very different and. “Kutuk” mengacu pada nama sejenis ikan gabus sedangkan “kuthuk” adalah anak ayam (Ahimsa. 52). Fonem sebagai unsur bahasa terkecil yang membedakan makna. Kedua. yaitu antara tahun 1920 sampai 1939. which provided me with a body of coherent ideas where I could crystallize my reveries about the wild flowers I had gazed at somewhere along the Luxembourg border early in May 1940. periode Semiotic.. 2006).

h. dan realsi-relasi ini muncul karean adanya oposisi. unit-unit yang bermakna. c. Menentukan perbedaan. yakni perbedaan-perbedaan antartanda yang masih dapat saling menggantikan(Pettit. Memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah. Mencari distinctive feature (ciri pembeda) yang membedakan tandatanda kebahasaan satu dengan yang lain. a.Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa fonem terbentuk karena adanya relasi-relasi.perbedaan antartanda yang penting secara paradigmatis. Jakobson yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis. Merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah-istilah kebahasaan mana dengan distinctive features yang mana yang dapat berkombinasi dengan tanda-tanda kebahasaan tertentu lainya. yang hakiki dari sebuah fonem adalah relasi karena dengan begitu sebuah fonem baru memiliki fungsi yang jelas. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Jakobson mempengaruhi Levi-Strauss pada tataran tatanan (susunan/order) yang ada di balik fenomena budaya (Ahimsa. 11. b. d. 2006). dan ini dilakukan dengan mengetahui ciri-ciri pembeda (distinctive features) dari suatu suara yang memisahkannya dengan ciriciri suara yang lain. sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lian. Nikolai Troubetzkoy 29 . Ahimsya. Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada tidaknya ciri pembeda dalam tanda-tanda tersebut. Langkah-langkah struktural terhadap fonem yang dilakukan oleh Jakobson adalah. 1977. c. 55). Jadi sebenarnya fonem tidak akan bermakna atau tidak memiliki isi.

berbeda dengan pendekatan yang ada dalam fungsionalisme. Asumsi Dasar Strukturalisme Dari pemahaman kita di atas. 2. Artinya. Dengan kata lain. Karena itu sebaiknya para peneliti memperhatikan distinctive feature. 2006). 30 . Jadi fonem tidak dikenal oleh pengguna suatu bahasa. strategi analisis dalam fonogi haruslah struktural. 59). fonem sebagai sebuah konsep atau ide berasal dari para ahli bahasa. 1. Memperhatikan relasi-relasi antar istilah atau antar fonem tersebut. Langkah analisis struktural dalam fonologi. ciri-ciri pembeda. dan menjadikannya sebagai dasar analisisnya. dan menampilkan struktur dari sistem tersebut. yang memiliki fungsi atau operasional dalam satu bahasa. Strukturalisme bertolak dari studi linguistik (ilmu bahasa). Pada tataran ini seorang ahli fonologi tidak lagi memperlakukan istilah-istilah (terms) atau fonem-fonem sebagai entitas yang berdiri sendiri. karena relasi-relasi antar ciri-ciri pembeda dalam fonemlah yang menjadi pusat perhatian (Ahimsa. (Ahimsa. Harus berupaya merumuskan hukum-hukum tentang gejala kebahasaan yang mereka teliti. Nikolai berpendapat bahwa fonem adalah sebuah konsep linguistik. Beralih dari tataran yang disadari ke tataran nirsadar. tetapi dia harus. Memperlihatkan sistem-sisitem fonemis. Selanjutnya dia perlu. bukan konsep psikologis.Nikolai mempengaruhi Levi-Strauss dalam hal strategi kajian bahasa yang berawal dari konsepsi mengenai fonem. 3. strukturalisme merupakan aliran baru bagi studi antropologi. 2006. d. kecuali ahli fonologi dari kalangan mereka atau mereka yang pernah belajar lingusitik. 4. dan bukan ide yang diambil dari pengatahuan pemakai bahasa tertentu yang diteliti. Toubetzkoy menyarankan agar perhatian pada fenomena fonem sebagai sebuah konsep linguistik.

66-71) menyebutkan bahwa strukturalisme memiliki beberapa asumsi dasar yang berbeda dengan konsep pendekatan lain. 31 . akan tetapi perwujudan ini tidak pernah kompolit. 68). Beberapa asumsi dasar tersebut adalah sebagai berikut. seperti halnya suatu kalimat dalam bahasa Indonesia hanyalah wujud dari secuil struktur bahasa Indonesia. Hukum transformasi adalah keterulangan-keterulangan (regularities) yang tampak. dengan istilah-istilah yang lain. 1. sistemsistem kekerabatan dan perkawinan. Mengikuti pandangan dari de Saussure yang berpendapat bahwa suatu istilah ditentukan maknanya oleh relasi-relasinya pada suatu titik waktu tertentu. yaitu secara sinkronis. melalui mana suatu konfigurasi struktural berganti menjadi konfigurasi struktural yang lain. Suatu struktur hanya mewujud secara parsial (partial) pada suatu gejala. untuk menstruktur. Relasi-relasi yang ada pada struktur dalam dapat diperas atau disederhanakan lagi menjadi oposisi berpasangan (binary opposition).Marxisme dan lain-lain. atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya. menyususun suatu struktur. Dalam Strukturalisme ada angapan bahwa upacara-upacara. 13-14 Ahimsya. Para penganut Strukturalisme beranggapan bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis sehingga kemampuan ini ada pada semua manusia yang normal. 2006. secara formal semuanya dapat dikatakan sebagai bahasabahasa (Lane. pakaian dan sebagianya. 3. Dalam kehidupan sehari-hari apa yang kita dengar dan saksikan adalah perwujudan dari adanya struktur dalam tadi. (Ahimsa. 66). Ahimsa (2006. 2. 4. Yaitu kemampuan untuk structuring. 1970. pola tempat tinggal. para penganut strukturalisme berpendapat bahwa relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena-fenomena yang lain pada titik waktu tertentu inilah yang menentukan makna fenomena tersebut.

Dalam wacana ilmu-ilmu sosial. gubernur. Dengan demikian dapat kita pahami juga bahwa strukturalisme Levi-Strauss menekankan pada aspek bahasa. Menurut perspektif Strukturalis itulah cara tutur kita yang sama sekali tidak menjelaskan apapun. Ketika diterapkan ke dalam ilmu-ilmu sosial. implikasinya cukup jauh. melainkan karena kaitan dan perbedaannya dengan kata sultan. Disamping itu juga Kebudayaan diyakini memiliki struktur sebagaimana yang terdapat dalam bahasa yang digunakan dalam suatu masyarakat. Semenjak strukturalisme inilah muncul pendapat bahwa bahwa bahasa sebagai sistem tanda bersifat arbiter (arbitrary). Kata presiden ada bukan karena kaitan logis internal dengan orang yang menjadi kepala pemerintahan presidensial. Dengan metode analisis struktural makna-makna yang ditampilkan dari berbagai fenomena budaya diharapakan akan dapat menjadi lebih utuh. Strukturalisme merupakan gerakan pemikiran yang kembali ke bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913). Sebagai contoh mengapa SBY disebut sebagai ”presiden”. dalam bahasa ada dua aspek: “penanda” ( signifier) dan “petanda” (signified).Sebagai serangkaian tanda-tanda dan simbol-simbol. camat dan sebagainya. Semua bisa dipahami secara otonom di tataran langue (logika-internal penunjuk). Struktur bahasa mencerminkan struktur sosial masyarakat. dan sebagai “tanda” (sign). dan tidak terkait dengan objek yang ditunjuk. bukannya sebagai seorang “pesinden”. dan bahasa selalu memiliki dua sisi: bahasa sebagai parole (tuturan percakapan lisan sebagai sisi eksekutif bahasa) dan sebagai langue (sistem tanda atau tata bahasa). juga jika hanya secara analogis. fenomena budaya pada dasarnya juga dapat ditanggapi dengan cara seperti di atas. Keempat asumsi dasar ini merupakan ciri utama dalam pendekatan strukturalisme. Realitas sosial adalah “teks” atau bahasa. Apa yang utama dalam analisis sosial adalah menemukan “kode tersembunyi” yang ada dibalik gejala 32 . Strukturalisme merupakan penerapan analisis bahasa ke wilayah sosial.

Tindakan individual dalam ruang dan waktu tertentu hanyalah suatu kebetulan. bidiklah logika-internal kinerja ‘modal’. Sejumlah ahli Antropologi menggunakan cara-cara yang berbeda dalam melihat struktur sosial dalam kaitannya dengan agama dan upacara. Ada dua unsur sentral di situ: sifat sewenang-wenang (arbitrary) dan perbedaan (difference). Artinya. berbeda merupakan identitas itu sendiri. perspektif ini merupakan “penolakan yang penuh skandal terhadap subjek”. melainkan sebagai pembentuk identitas yang bersifat konstitutif. ‘camat’ dan sebagainya. e. yang mempunyai implikasi pada tingkat pembahasan yang mereka lakukan 33 . waktu. yaitu pengebawahan pelaku dan tindakan pelaku. perbedaan kata ‘presiden’ dan ‘camat’ bukan sekedar bahwa ‘presiden’ ialah apa yang ‘bukan camat’. Ada paralel antara perspektif strukturalis dan fungsionalis. Derrida melihat ‘perbedaan’ bukan hanya sebagai cara menunjuk. Penekanan yang telah diberikan adalah pada hubungan-hubungannya yang dilihat secara konseptual. Dalam kritik Giddens. Gejala penyingkiran pelaku tindakan atau subjek (decentering) dalam strukturalisme ini dibawa ke implikasi terjauhnya oleh para penggagas post-strukturalisme. dan proses adalah soal kebetulan. melainkan bahwa ‘bukan camat’ itu sendiri merupakan pokok eksistensi. sebagaimana langue menjadi kunci otonom di balik parole. Seperti telah dicontohkan di atas. Berbeda adalah menang-guhkan serta melawan. misalnya. sehingga model-model mengenai hubunganhubungan tersebut nampak berbeda-beda di antara ahli-ahli yang berbeda. kata ‘presiden’ terbentuk bukan karena kaitannya dengan seseorang yang menjadi kepala sebuah negara pada waktu-tempat tertentu. melainkan karena perbedaannya dengan kata ‘raja’. ruang. ‘gubernur’. “Kode tersembunyi” itulah struktur. Kalau mau mengerti masyarakat kapitalis. Jacques Derrida.kasat mata.

mitos dan upacara adalah sebagai jalan untuk memahami bagaimana manusia memahami dan menerima hakekat dari kedudukan dan peranannya dalam kehidupan sosial di masyarakatnya. yang walaupun masing-masing berbeda dalam hal kedalaman dan luasnya cakupan dari model klasifikasi yang digunakan. dan yang mewujudkan adanya perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya.serta pada tingkat pengertian yang mereka peroleh dengan menggunakan model-model tersebut. Model-model dari Geertz yang berdasarkan pada model bagi dan model dari. Hertz melihat bahwa agama berperan terhadap adanya semacam polarisasi dalam kehidupan sosial dari individu maupun bagi seluruh warga masyarakat yang bersangkutan. yang berlandaskan pada konsep-konsepnya mengenai sistem-sistem simbol dan ide yang memberi informasi. Analogi yang berlandaskan pada sistem penggolongan yang dilakukan oleh Hertz dan Cunningham. Dengan demikian maka juga nampak bahwa masing-masing model tersebut mempunyai relevansi dan validitas yang terbatas sesuai dengan tujuan penggunaannya dalam hal mengkaji hubungan antara struktur sosial di satu pihak dengan agama dan upacara di pihak lainnya. Sedangkan Cunningham memperlihatkan adanya suatu 34 . struktur sosial yang merupakan bagian yang terorganisasi dalam kehidupan mereka menjadi dapat dipahami serta masuk akal secara sewajarnya bagi mereka. bahwa masing-masing model yang telah dibahas tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. yaitu dengan berlandaskan pada sistem klasifikasi yang menjadi dasar dan yang ada dalam agama. 2. yang walaupun berbelit-belit tetapi memberikan suatu ketegasan penjelasan mengenai arti kebudayaan dalam kaitannya dengan struktur dan dengan lingkungan yang dihadapi oleh manusia. Secara umum dapatlah dikatakan. Geertz menyatakan bahwa studi mengenai agama. tetapi pada prinsipnya berlandaskan pada model-model yang sama.

3. Model-model hubungan yang dibuat berdasarkan atas prinsip. Menurut Levi-Strauss. Levi-Strauss menyatakan bahwa mitos sebagai agama atau sebagai bagian dari agama. Model ini adalah suatu sistem yang mempunyai kesanggupan untuk memprediksi atau meramalkan dan membuat kenyataan dapat menjadi masuk akal dan dipahami. yaitu suatu sistem yang menjadi pegangan bagi manusia pada waktu mereka mengklasifikasi dunia yang mereka hadapi. yang walaupun mempunyai landasan model-model sendiri yang sesuai dengan perhatian yang dipunyai masing-masing maka juga telah menghasilkan pengertian-pengertian yang berbedabeda antara yang satu dengan yang lainnya. agama adalah suatu bagian dari struktur sosial.keteraturan (order). Upacara adalah tempat bagi perwujudan ketaatan atas aturan-aturan yang diikuti tersebut dalam bentuk berbagai tindakan yang dapat dilihat sebagai simbol dan metafor. Levi-Strauss percaya bahwa dengan melalui studi mengenai agama dan mitos akan dapat diperoleh suatu pemahaman mengenai pengertian struktur sosial yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan. Turner melihat bahwa upacara berperan untuk membuat individu dapat menjadi cocok dengan masyarakatnya dan membuatnya dapat menerima aturan-aturan yang berlaku. tetapi sebagai model bagi kenyataan. maka sesungguhnya ide-ide yang terletak dibalik aturan-aturan tersebut secara simbolik telah juga diterima. Levi-Strauss melihat struktur sosial bukan sebagai kenyataan yang dapat diamati. sebagaimana juga dengan pendahulu-pendahulunya yaitu Durkheim dan RadcliffeBrown. dapat membantu usaha-usaha mengenai struktur sosial karena mitos selalu berhubungan dengan masyarakat dan berbicara mengenai masyarakat tersebut baik 35 .prinsip kesadaran kolektif dan primordial yang dilakukan oleh Levi-Strauss dan Victor Turner. Dalam perhatiannya mengenai mitos. Pada waktu pegangan yang berisikan aturan-aturan itu diikuti/ditaati oleh manusia.

maupun masa yang akan datang. kebingungan dan jiwa tertekan. Fungsi-fungsi tersebut antara lain adalah: 1.mengenai masa yang lampau. Sehingga pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan relevansi dari sesuatu keyakinan keagamaan dan upacara yang dilihat sebagai struktur sosial ataupun sebagai corak hubungan yang terwujud antara struktur sosial dengan agama dan upacara. Karena. Membentuk dan mendukung berlakunya nilai-nilai yang ada dan mendasar dari kebudayaan suatu masyarakat. agama memainkan peranan yang besar bagi individu-individu yang bersangkutan karena agama menyajikan penjelasan dan bertindak sebagai kerangka 36 . Salah satu dari peranannya yang jelas terlihat adalah bahwa dalam keadaan kekacauan dan kesukaran. bukanlah harus dilihat dalam konteks struktur itu sendiri tetapi dalam suatu konteks yang lebih luas dan berlandaskan pada kehidupan yang nyata yang dihadapi oleh para pelaku yang bersangkutan. Yang sebenarnya patut diperhatikan dalam pengkajian mengenai hubungan antara struktur sosial dengan agama dan upacara adalah dalam hal kaitannya dengan kenyataan-kenyataan sosial dan ekonomi yang ada dalam lingkungan hidup yang dihadapi oleh para pelakunya dalam masyarakat. sekarang. yaitu etos dan pandangan hidup. sehingga kedudukan dan peranannya menjadi jelas dan penerimaannya atas berbagai tahap dan keadaan kondisi kehidupan yang dihadapi dan dialaminya dapat diterima secara masuk akal baginya. Agama menyajikan berbagai penjelasan mengenai hakekat kehidupan manusia dan lingkungan serta ruang dan waktu yang dihadapi manusia dan yang dirinya sendiri adalah sebagian dari padanya. 2. agama mempunyai berbagai fungsi penting yang terwujud dalam berbagai cara yang berbeda dalam kehidupan sosial manusia. yang antara lain terwujud dalam penekanannya pada bentukbentuk kelakuan yang wajar dan tepat menurut bidang atau arena sosial yang ada.

Demikian halnya dengan teori Strukturalisme LeviStrauss ini. Keduanya mempunyai peranan yang penting dalam mengko-ordinasi titik temu antara struktur sosial dengan agama dan antara agama dengan kehidupan yang nyata. data etnografi dan interpretasi. dibenarkan. yang dimungkinkan oleh adanya peranan dari mitos dan upacara. Strukturalisme ini mendapat kritik terutama dari para ahli antroplogi itu sendiri. serta hasil analisis dan kesimpulan dari hasil analisis teori tersebut. 3. Begitu juga sebaliknya kalau kita ingin memahami hakekat dan corak dari agama yang diyakini oleh warga suatu masyarakat. yaitu dalam rangkuman struktur sosial. a). yaitu tergantung pada masalah yang hendak dikaji dan kenyataan kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat dimana pengkajian itu hendak dilakukan. D. kita dapat mempelajari dan mengkaji agama. pasti akan terdapat celah-celah kekurangan dan kelemahanya. Kritik yang berkenaan dengan teori Strukturalisme Levi-Strauss dapat dilihat pada persoalan perangkat dan metode analisis. dan didukung dalam suatu masyarakat. ) menyebutkan bahwa kritik terhadap perangkat dan metode analisis dapat dibedakan menjadi tiga.sandaran bagi ketentraman dan penghiburan hati dalam keadaan kesukaran dan kekacauan yang dihadapi tersebut. Agama mempunyai peranan untuk menyatukan berbagai faktor dan bidang kehidupan ke dalam suatu pengorganisasian yang menyeluruh. a. Model-model yang telah dibahas tersebut di atas dapat digunakan secara terseleksi. Kelemahan dan kelebihan Strukturalisme Levi-Strauss Seberapapun sempurnanya suatu teori. dapatlah dikatakan bahwa untuk dapat memperoleh pemahaman mengenai hakekat dan corak dari struktur sosial. Sebagai akhir kata. Cara menggunakan 37 . Perangkat dan Metode Analisis Ahimsa (2006. mitos dan upacara sehingga dapat menemukan dan kemudian menentukan apa yang seharusnya dijelaskan.

menurutnya Levi-Strauss tidak selalu menggunakan konsep analisisnya dengan tepat. Cara ini sangat kurang tepat untuk menganalisis mitos sebagai produk budaya manusia yang sangat kompolek.konsep-konsep analisis. Levi-Strauss pernah mengatakan bahwa untuk memahami sebuah mitos lebih penting memahami struktur daripada isi cerita. Hal ini dikarenakan mitos tidak pernah lepas dari kontek budaya masyarakat setempat dimana lahirnya mitos tersebut. Reduksi dalam proses analisis. b). Dalam beberapa analisisnya ia tidak hanya menlaah pada tataran sintaksis. Marry Douglas mengkritik mengenai cara penggunaan konsep-konsep analisis. Strukturalisme Levi-Strauss memiliki beberapa kelemahan. b. Cara analisis menggunakan sistem ini akan mengurangi kesempurnaan analisis karena akan mengalami kelemahan makna (a lesser meaning). Dalam persoalan ini. Levi-Strauss menggunakan cara analisis reductionist (reduksionis). Levi-Strauss sering tidak konsisten dengan analisis yang dikembangkan. 2006. 2006. Interpretasi Data Etnografi Data etnografi sangat penting dalam menelaah mitos. Levi-Strauss sering membuat kesimpulan-kesimpulan yang dianggap terlalu jauh. Ketiga. tetapi juga pada tataran semantis yang berarti isinya juga. Douglas menyebut dua reduksionisme yang dilakukan oleh Levi-Strauss yaitu pada model komputer yang dipakainya dan adanya dua tujuan dalam analisis wacana (Ahimsa. Namun dalam prakteknya ia tidak melakukan analisis seperti yang digambarkan. Menurut para 38 . Kedua. Konsistensi prosedur analisis dan c). 164). 2006). Karena ketidaktepatan itu. Disisi lain ia juga berpendapat bahwa dalam mitos isi dan bentuk tidak bisa dipisahkan (Yalman. Douglas menyebutkan bahwa Levi-Strauss sering memaksakan datanya agar sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya (Ahimsa. 1967 dalam Ahimsa. 162).

Bukan sekedar metode dan data etnogarfi yang nampaknya dipersoalkan dalam Strukturalisme Levi-Strauss. Bahkan analsisnya dianggap mengalami kesalahrepresentasi-an. 168). oleh Strauss dipaksakan sesuai apa yang menjadi konsepsinya.antropolog. Hasil analisisnya pun masih banyak mendapat kritikan dari berbagai kalangan terutama para ahli antropologi. c. Kronenfeld dan DB. Douglas beranggapan bahwa masih ada 39 . Kemampuan analisis struktural menuntaskan tafsir yang diberikan. Kebenaran struktur mitos yang dikemukakan. Alice Kassakoff (1974) ahli antropologi ini melakukan penelitian suku Indian Tsimshian yang telah dianalisis oleh teori Strukturalisme Levi-Strauss ini. JZ. Adam keakuratan data etnografi yang disampaikan Levi-Strauss belum seutuhnya mendukung dari apa yang disampaikan. a). Lain lagi dengan pendapat Alice. (Ahimsa. Pengertian mitos yang cenderung dianggap negatif oleh LeviStrauss ditolak oleh Douglas. (misrepresentasions of story). Persoalan terhadap suku ini yang sebenarnya sederhana dan bahkan tidak ada. Kronenfeld. Ia menyatakan bahwa analisis Strauss justru menutupi realistas kekerabatan yang ada pada suku Indian tersebut. Justru dengan tindakan seperti inilah teori ini kridibilitasnya masih perlu untuk disangsikan. Hasil Analisis. 2006. Adam (1974) mengkritik mengenai hasil analisis Strukturalisme Levi-Strauss terhadap suku Asdiwal.L. Menurut Adam gagasan Levi-Strauss terhadap suku ini terlalu diada-adakan. seperti Alice Kassakoff dan John W. Pendapat ini juga didukung oleh tiga ahli antropologi lain yakni. Ketiganya menyimpulkan bahwa analisis Strukturalisme Levi-Strauss dianggap penuh dengan generalisasi-generalisasi etnografi yang sangat diragukan kebenarannya. L. b). Thomas. Ahimsa (2006) menyatakan bahwa hasil analisis kritik dapat dibedakan dalam beberapa hal.

karena kita menyadari juga bahwa teori ini masih baru dalam bidang antropologi. 170). sehingga tentunya masih banyak penyesuaian dan pendalaman (penyempurnaan). we get a surprise. Douglas yang sebelumnya banyak melakukan kritik.aspek-aspek positif mengenai makna mitos. Hal yang demikian ini terjadi karena Levi-Strauss terlalu banyak mencontoh model yang diterapkan dalam ilmu bahasa (linguistik) yang menurut Douglas tidak cocok jika diterapkan dalam analisis mitos. Metode analisis yang dilakukan oleh Levi-Strauss dalam analisis mitos menggunakan model analisis puisi denganggap tidak tepat. 20006. d. Maybury-Lewis (1970) menyatakan bahwa banyak hal yang berhasil membuka perspektif-perspektif baru dalam analisis mitos yang telah dilakukan oleh Levi-Strauss. ternyata masih mengakui beberapa kemanfaatan dari 40 . 1967 dalam Ahimsa. ( Douglas. “Instead of more and richer depths of understanding. and often a paltry one at that”. Maka wajar kiranya banyak yang menghujat sekaligus memuja teori ini. a totally new theme. Tema-tema mitos yang terdapat dalam suatu masyarakat masih banyak yang mengungkap realitas sosial yang positif. Metoda ini justru dianggap mengalami kebocoran seperti yang diistilahkan Ahimsa dalam tulisannya. Banyak manfaat yang kita dapatkan dari teori Strukturalisme LeviStrauss ini. tentunya banyak hal yang dapat menjadi kelebihan dari teori ini. Selanjutnya Douglas menyatakan bahwa makna mengenai mitos yang dikemukakan oleh Levi-Strauss dianggap biasabiasa saja dengan istilah lain tidak begitu penting. Beberapa Tanggapan Betapapun banyaknya kekurangan dan kelemahan yang terdapat dalam Strukturalisme Levi-Strauss.

Ada susunan. Masuk akal. 176). Ia menyatakan teori ini telah mampu mengungkapkan acuan-acuan tertentu. Secara umum dapat disimpulkan bahwa meskipun para ahli antropologi melakukan kritik terhadap teori Strukturalisme Levi-Strauss mereka masih mengakui beberapa keunggulan atau manfaat dari jerih payah Levi-Strauss. karena teorinya selalu dirujuk oleh 41 . E. makna-makna yang sangat dalam. berhasil menemukan Teori Stukturalisme yang akhirnya sangat mempengaruhi perkembangan ilmu-ilmu sosial termansuk Sosiologi baik di Eropa maupun di Amerika dan bahkan di negara-negara lain termansuk Indonesia. Yalman (1967) menyebutkan bahwa berkat jasa yang dilakukan oleh Levi-Strauss kita mengetahui keterkaitan antara mitos yang satu dengan yang lain. 2006. dari serangkaian mitos-mitos tertentu (via Ahmisa. Terpengaruh oleh ahli-ahli bahasa yang sebelumnya sangat marak dalam kehidupan ilmiah di Prancis. Penutup Dari uraian diatas terbukti bahwa Strukturalisme Levi-Strauss berasal dari teori Antropologi yang analisisnya oleh bagaimana ahli bahasa memahami struktur dalam komponen bahasa. Strauss yang meninggal pada akhir tahun 2009 di akui sebagai Antropolog/Sosiolog yang sangat terkemuka. yang tidak terduga dan menarik. Dan inilah yang menunjukan pada kita akan keterkaitan mitos dan budaya masyarakat yang terdapat dalam mitos tersebut. Teori muncul sebagai kritik atas kegagalan filsafat Eksistensialisme yang gagal dalam memahami realitas sosial pada kehidupan kelompok manusia. Bahkan apa yang digagas oleh Levi-Strauss melalui metode struktural ini dapat dikatakan banyak benarnya.Strukturalisme Levi-Strauss ini. struktur dan koherensi logis dalam mitos. Stauss ketika berkesempatan melakukan penelitian tearhadap suku-suku terasing di lembah Amazon Brazil. menarik dan mampu memberikan wawasan atau wacana tentang mitos yang sangat penting itu.

“Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. Kawin Bedil dan Sobrat.S. Tesis Pascasarjana Antropologi. 1998a. Yogyakarta : LKIS. “Lévi-Strauss. Dengan analisis ini pemahaman tentang struktur. 1995. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng42 . Makalah seminar. H. ___________. Makalah seminar. Shri. ___________. 1984. ___________. ___________. baik yang berupa realitas maupun yang tersembunyi. Kalam 6 : 124-143. Ahimsa-Putra. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. ___________. 1994. relasi sosial dan peran struktur dalam mewarnai prilaku individu dalam kehidupan sosial menjadi lebih jelas.. Ahimsa-Putra. Basis XXXIII (4) : 122-135. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. kepel Press.para pakar pakar ilmu-ilmu sosial dan analisisnya diakui sebagai analisis yang cemerlang. sehingga para intelektual berhasil memahami kehidupan sosial. 1998c. 2005. Paz. 2006. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. H. Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra. Teori Strukturalisme masih terus relevan sampai berumur satu abad walaupun penemunya Levi-Strauss sudah tiada. Nalar Jawa. ___________. T. Yogyakarta. Makalah seminar Arkeologi. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. Orang-Orang PKI. 1998b. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Universitas Gadjah Mada. 1997. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. O.

2002c. ___________. 2001. 1999b. 2006a. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. Badcock. ___________. Makalah seminar. Abror. ___________. 2003. Robby H. Salam (ed). Satwa. “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. Jakarta : UI Press. 2002b. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. 43 . Makalah dalam bedah buku. 2005. Makalah diskusi. Gerbang 5 (2) : 88 – 97. Dua Paradigma. Totem. ke Post- ___________. A. ___________. Humaniora XV (3) : 239 – 264. 2002a. Mitos dan Nalar Primitif. Tembi 1 Thn. Strukturalisme Lévi-Strauss. Rahayu S. September – Desember. Makalah Sarasehan. ___________. Satu Model. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. Yogyakarta : Insight Reference. 1999c. ___________. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. ___________. Tiga Dasawarsa. Humaniora 12 : 1 – 13. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. Mitos dan Karya Sastra. ___________. Makalah bedah buku. ___________. 1999a. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. Roland Barthes : dari Strukturalisme Strukturalisme. Yogyakarta : Galang Press. Terj. C. ___________. ___________. 2000b.I : 10 – 19. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. 2000a.Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. ___________. Makalah seminar. ___________. Makalah Pelatihan. (ed). 2002d. 2002e.

2008b. 1995. 1968.S.). Fokkema. ___________. ___________. Abdullah (ed. The Penguin Press. Sussex.W. 2006d. Ritus Penandaan. 2006c. H. The Theory of Culture (Teori Budaya). Lane. Raman. Noth. Winfried. Strauss. Jakarta. Kaplan. 2006e. Universitas Gadjah Mada. Selden. 1958. 2006b. Bloomington and Indianapolis. D. Claude. 2007a. Yogyakarta : Kepel Press. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya BugisMakassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya BugisMakassar. Kreasi Wacana. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasi-relasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. Teori Sastra Abad Kedua Puluh (Theories of Literature in the Twentieth Century). Allen. The Harvester Press Limited. 1999. Critical Approaches to Literature. Jakarta : Rajagrafindo Persada. Yogyakarta. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. Hand Book of Semiotics. Makalah seminar. Longman. ___________. Nasrulah. Pustaka Pelajar. Makalah bedah buku. 2007b.. Ngambu. ___________. Strukturalisme Lévi-Strauss. dkk.___________. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. Kepel Press : Yogyakarta. 1998. 44 . Metodologi dan Etnografi. Yogyakarta. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. 2007). Tesis Pascasarjana Antropologi.. Daiches. Ahimsa-Putra (ed. Makalah seminar nasional.). New York. ___________. Liwa : Analisis Strukturalisme LéviStrauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. 1981. Levi. Sawerigading. Anthropologie Structurale (Terj. ___________. Gramedia. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. Ngawa. Indiana university Press. Antropologi Struktural. Ritus Pertukaran”. A Reader Guide to Contemporary Literary Work. David. 1985. Structural Anthropology. 2008. David. Ngaju. 2008a. Edisi Baru. Mitos dan Karya Sastra. ___________. T.

Kreasi Wacana. 1958.). Sturrock (ed. 1979. For the best results. Yogyakarta. D. Levi. Sturrock. Ferdinand de Saussure • • • • Summary rating: 3 stars (15 Tinjauan) Kunjungan : 2286 kata:600 You searched for: "strukturalisme". Antropologi Struktural. Erdward Said. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Oxford : Oxford University Press.Strauss. J. click here! • • • • Daftarkan diri Apakah Shvoong itu? Masuk Write & earn Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong. Roland Barthes.). “Introduction” dalam Structuralism and Since : From LéviStrauss to Derrida. Sturrock (ed. Oxford : Oxford University Press. J. Pengantar singkat wacana post strukturalisme dalam kesusasteraanStrukturalisme dibangun atas prinsip Saussure* bahwa bahasa sebagai sebuah sistem 45 . J. Claude. Anthropologie Structurale (Terj. 2007). Berkenalan dengan Poststrukturalisme oleh : easternwriter Pengarang : Jacques Derrida. Sperber. 1979.

dilihat sebagai bagian yang kurang penting. sejak ia mengunggulkan bahasa di atas tulisan. mengenalkan aspek sesaat ke dalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified. Derrida percaya bahwa penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung ke dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking).Perumusan dasar “differance” Derrida disusun dengan mempermainkan pada kata perancis ‘difference’. Selain itu. berpikir sementara menjadi hal yang utama. penanda selalu produktif. Dalam tulisan.Tokoh utama yang paling berpengaruh pada era kritik sastra post-strukturalis adalah seorang filsuf perancis Jacques Derrida. tapi dia berpikir melampaui Saussure dalam menegaskan bahwa dimensi sesaat (temporal dimension) tak dapat ditinggalkan. Dalam pemikiran post strukturalis. buah karya pemikiran psikoanalis Jacques Lacan dan ahli teori kebudayaan Michael Foucault juga berperan penting dalam kemunculan post strukturalisme tersebut. Derrida menyerang pandangan logosentrisme dan menilai bahwa tulisan merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi. Praktik “dekonstruksi ”**-nya ini berdasar pada teks yang dia teliti yang berpengaruh besar pada kritik 46 . Derrida menilai bahwa Saussure tak dapat membebaskan dirinya dari pandangan logosentris. Aspek diakronis bahasa. Derrida menekankan “logosentrime” (berpusat pada logos) pemikiran barat bahwa makna dipahami sebagai independensi bahasa yang dikomunikasikan dan tidak tunduk pada permainan bahasa. Derrida sepakat dengan Saussure bahwa bahasa merupakan produk yang berbeda antar penanda.tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa. yang dapat berarti ‘pertentangan’ dan “penundaan”. merusak logonsentrisme dengan menyatakan bahwa makna tak pernah dapat mewakili seluruhnya karena makna tersebut selalu ditangguhkan.

khususnya di kalangan kritikus yang tinggal di Yale. De Man berpendapat bahwa sastra digabungkan oleh permainan (play) yang tak dapat ditentukan secara gramatikal dan retoris dalam teks dan tidak dengan pertimbangan estetis..Essainya yang berjudul “Structure. and Play in the Discourse of the Human Sciences” . Edward W Said menerima pandangan post strukturalis tapi menolak pada apa yang dia lihatnya sebagai pendekatan tekstual sempit ala Derrida. Teoritikus terkemuka Yale adalah Paul de Man yang berpendapat bahwa teks sastra telah tergabung dengan “pertentangan” Derrida. misalnya pada New Criticsm. pertama kali disampaikan di John Hopkins University pada tahun 1966. 47 . 2008 23 45Moho n ringkasa n ini dinilai : ilai :1 Link yang relevan : • http://sulhanudin.sastra. Diterbitkan di: Januari 04.. mengadopsi sebuah pandangan tekstual bahasa dan makna secara radikal dan dengan jelas menunjukkan perannya dalam post strukturalis. sangat berpengaruh dalam teori kritik sastra.info/2006/01/berkenalan-dengan-poststrukturali . Pemikiran post strukturalis juga berkembang di di Amerika pada tahun 1970-an. “The Death of the Author” pertama kali dipublikasikan pada tahun 1968. De Man berpendapat bahwa ada devisi radikal dalam teks sastra antara gramatikal atau struktur logika bahasa dan aspek retorisnya. Sign. atau disebut para dekonstrusionis Yale. Hal ini menciptakan sebuah signifikansi (penandaan) dalam teks sastra yang pada akhirnya tak dapat ditentukan.Essay Roland Barthes. Dia berpendapaat bahwa karya Foucault memungkinkan kritik sastra melampaui dimensi sosial dan politis teks.

Derrida. Perjuangan Koreksi Keakbaran Penyair Tongkat-Baudelaire Bagaimana Kita Menilai PRRI? Renungan 61 Tahun Republik Proklamasi Intelektual Minang Provinsi Minangkabau Sajak "Malaikat" Saeful Badar Yang Tetap Hadir 48 . For the best results. Dalam.You searched for: "strukturalisme". Bahwa. click here! • Kutipan • Dan. TIDAK CUKUP DENGAN MITOS http://helaby-boys. Post Buat kutipan untuk ringkasan ini Tambahkan komentar Anda Terjemahkan Kirim Link Cetak Share Orang yang membaca ringkasan ini juga membaca: • • • • • • PERS NASIONAL.com/ Mengolah Kemelayuan di Asia Tenggara Mari Membaca Isi (Ratusan) Novel Sastra Indonesia! Kritik Sastra Indonesia dari Australia Dua “Kiblat” dalam Sastra Indonesia Lainnya tentang Ilmu Sosial • • • • • • PRRI. Bahasa. • • • • • • • • • Sastra. Dapat. Dengan.blogspot. Pada.

Paling populer Ringkasan lain oleh easternwriter • • • • • Menulis adalah Jalan Hidupku Petualangan Celana Dalam: Tren awam menulis sastra Opera Zaman: Perlukah Faktualitas dalam Cerpen Tetralogi Laskar Pelangi: Andrea Tak Melawan Pasar Pengakuan Korban NII (1) More Berikut Yang paling banyak dicari • • • • • • • • • • • • • • • tips bisnis kesehatan uang wanita cinta trik jantung pria 2012 berita blog Seks dunia kiamat Tulis dan dapatkan bayaran 49 .

.

Strukturalisme dan Implikasinya
8Oct2008 Filed under: Epistemology, Paradigm and Perspective, Philosophers, Philosophy, Postmodern Author: Arif

Pengantar Strukturalisme merupakan suatu gerakan pemikiran filsafat yang mempunyai pokok pikiran bahwa semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai suatu struktur yang sama dan tetap. Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual obyek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan. Strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur inti dari suatu obyek (hirarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat) (Bagus, 1996: 1040) Gagasan-gagasan strukturalisme juga mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi interdisipliner tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu alam. Akan tetapi introduksi metode struktural dalam bermacam bidang pengetahuan menimbulkan upaya yang sia-sia untuk mengangkat strukturalisme pada status sistem filosofis. (Bagus, 1996: 1040) Ferdinand de Saussure Untuk mengenal lebih lanjut tentang strukturalisme maka ada baiknya untuk menyimak pemikiran Ferdinand de Saussure yang banyak disebut orang sebagai bapak strukturalisme, walaupun bukan orang pertama yang mengungkapkan strukturalisme. Banyak hal yang menunjukkan Ferdinand de Saussure adalah bapak strukturalisme. Selain ia sebagai bapak strukturalisme ia juga sebagai bapak linguistik yang ditunjukkan dengan mengadakan perubahan besar-besaran di bidang lingustik. Ia yang pertama kali merumuskan secara sistematis cara menganalisa bahasa, yang juga dapat dipergunakan untuk menganalisa sistem tanda atau simbol dalam kehidupan masyarakat, dengan menggunakan analisis struktural. Ia mengatakan bahwa linguistik adalah ilmu yang mandiri, karena bahan penelitiannya, yaitu bahasa, juga bersifat otonom. Bahasa adalah sistem tanda yang paling lengkap. Menurutnya ada kemiskinan dalam sistem tanda lainnya, sehingga untuk masuk ke dalam analisis semiotik, sering digunakan pola ilmu bahasa. De Saussure mengatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang mengungkapkan gagasan, dengan demikian dapat dibandingkan dengan tulisan,
50

abjad orang-orang bisu tuli, upacara simbolik, bentuk sopan santun, tanda-tanda kemiliteran dan lain sebagainya. Bahasa hanyalah yang paling penting dari sistemsistem ini. Jadi kita dapat menanamkan benih suatu ilmu yang mempelajari tandatanda di tengah-tengah kehidupan kemasyarakatan; ia akan menjadi bagian dari psikologi umum, yang nantinya dinamakan oleh de saussure sebagai semiologi. Ilmu ini akan mengajarkan kepada kita, terdiri dari apa saja tanda-tanda itu, kaidah mana yang mengaturnya. Karena ilmu ini belum ada, maka kita belum dapat mengatakan bagaimana ilmu ini, tetapi ia berhak hadir, tempatnya telah ditentukan lebih dahulu. Linguistik hanyalah sebahagian dari ilmu umum itu, kaidah-kaidah yang digunakan dalam semiologi akan dapat digunakan dalam linguistik dan dengan demikian linguistik akan terikat pada suatu bidang tertentu dalam keseluruhan fakta manusia. Gagasan yang paling mendasar dari de Saussure adalah sebagai berikut: 1. Diakronis dan sinkronis: penelitian suatu bidang ilmu tidak hanya dapat dilakukan secara diakronis (menurut perkembangannya) melainkan juga secara sinkronis (penelitian dilakukan terhadap unsur-unsur struktur yang sezaman) 2. Langue dan parole: langue adalah penelitian bahasa yang mengandung kaidah-kaidah, telah menjadi milik masyarakat, dan telah menjadi konvensi. Sementara parole adalah penelitian terhadap ujaran yang dihasilkan secara individual. 3. Sintagmatik dan Paradikmatik (asosiatif): sintagmatik adalah hubungan antara unsur yang berurutan (struktur) dan paradikmatik adalah hubungan antara unsur yang hadir dan yang tidak hadir, dan dapat saling menggantikan, bersifat asosiatif (sistem). 4. Penanda dan Petanda: Saussure menampilkan tiga istilah dalam teoi ini, yaitu tanda bahasa (sign), penanda (signifier) dan petanda (signified). Menurutnya setiap tanda bahasa mempunyai dua sisi yang tidak terpisahkan yaitu penanda (imaji bunyi) dan petanda (konsep). Sebagai contoh kalau kita mendengan kata rumah langsung tergambar dalam pikiran kita konsep rumah. Strukturalisme termasuk dalam teori kebudayaan yang idealistik karena strukturalisme mengkaji pikiran-pikiran yang terjadi dalam diri manusia. Strukturalisme menganalisa proses berfikir manusia dari mulai konsep hingga munculnya simbol-simbol atau tanda-tanda (termasuk didalmnya upacaraupacara, tanda-tanda kemiliteran dan sebagainya) sehingga membentuk sistem bahasa. Bahasa yang diungkapkan dalam percakapan sehari-hari juga mengenai proses kehidupan yang ada dalam kehidupan manusia, dianalisa berdasarkan strukturnya melalui petanda dan penanda, langue dan parole, sintagmatik dan paradikmatik serta diakronis dan sinkronis. Semua relaitas sosial dapat dianalisa berdasarkan analisa struktural yang tidak terlepas dari kebahasaan.
51

Dalam memahami kebudayaan kita tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip dasarnya. de Saussure merumuskan setidaknya ada tiga prinsip dasar yang penting dalammemahami kebudayaan, yaitu: 1. Tanda (dalam bahasa) terdiri atas yang menandai (signifiant, signifier, penanda) dan yang ditandai (signifié, signified, petanda). Penanda adalah citra bunyi sedangkan petanda adalah gagasan atau konsep. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya konsep bunyi terdiri atas tiga komponen (1) artikulasi kedua bibir, (2) pelepasan udara yang keluar secara mendadak, dan (3) pita suara yang tidak bergetar. 2. Gagasan penting yang berhubungan dengan tanda menurut Saussure adalah tidak adanya acuan ke realitas obyektif. Tanda tidak mempunyai nomenclature. Untuk memahami makna maka terdapat dua cara, yaitu, pertama, makna tanda ditentukan oleh pertalian antara satu tanda dengan semua tanda lainnya yang digunakan dan cara kedua karena merupakan unsur dari batin manusia, atau terekam sebagai kode dalam ingatan manusia, menentukan bagaimana unsur-unsur realitas obyektif diberikan signifikasi atau kebermaknaan sesuai dengan konsep yang terekam. 3. Permasalahan yang selalu kembali dalam mengkaji masyarakat dan kebudayaan adalah hubungan antara individu dan masyarakat. Untuk bahasa, menurut Saussure ada langue dan parole (bahasa dan tuturan). Langue adalah pengetahuan dan kemampuan bahasa yang bersifat kolektif, yang dihayati bersama oleh semua warga masyarakat; parole adalah perwujudan langue pada individu. Melalui individu direalisasi tuturan yang mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku secara kolektif, karena kalau tidak, komunikasi tidak akan berlangsung secara lancar. Gagasan kebudayaan, baik sebagai sistem kognitif maupun sebagai sistem struktural, bertolak dari anggapan bahwa kebudayaan adalah sistem mental yang mengandung semua hal yang harus diketahui individu agar dapat berperilaku dan bertindakj sedemikian rupa sehingga dapat diterima dan dianggap wajar oleh sesama warga masyarakatnya. Pierre Bourdieu Bourdieu pada awalnya menghasilkan karya-karya yang memaparkan sejumlah pengaruh teoritis, termasuk fungsionalisme, strukturalisme dan eksistensialisme, terutama pengaruh Jean Paul Sartre dan Louis Althusser. Pada tahun 60an ia mulai mengolah pandangan-pandangan tersebut dan membangun suatu teori tentang model masyarakat. Gabungan antara pendekatan teori obyektivis dan teori subyektivis sosial yang dituangkan dalam buku yang berjudul ”outline of a theory of practice” dimana didalamnya ia memiliki posisi yang unik karena berusaha mensintesakan kedua pendekatan metodologi dan epistemologi tersebut.
52

yaitu: • • • Sebagai kecenderungan-kecenderungan empiris untuk bertindak dalam cara-cara yang khusus (gaya hidup) Sebagai motivasi. dimana seorang individu bereaksi secara efisien dalam semua aspek kehidupan. tidak setiap orang sama kebiasaannya. Pemikirannya bukan hanya menjawab pertanyaan tentang asal usul dan seluk beluk masyarakat tetapi lebih pada menjawab persoalan-persoalan baru yang diturunkan dari pemikiran-pemikiran terdahulu.Dalam karyanya ini ia menyerang pemahaman kaum strukturalis yang menciptakan obyektivisme yang menyimpang dengan memposisikan ilmuwan sosial sebagai pengamat. Habitus diperoleh sebagai akibat dari lamanya posisi dalam kehidupan sosial diduduki. Habitus adalah “struktur mental atau kognitif” yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial. kelompok dan kelas sosial. Habitus lebih didasarkan pada keputusan impulsif. Habitus mencerminkan pembagian obyektif dalam struktur kelas seperti umur. Setiap aktor dibekali serangkaian skema atau pola yang diinternalisasikan yang mereka gunakan untuk merasakan. Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh kehidupan sosial. dan menilai dunia sosial. Habitus berbeda-beda pada setiap orang tergantung pada wujud posisi seseorang dalam kehidupan sosial. Habitus menjadi konsep penting baginya dalam mendamaikan ide tentang struktur dengan ide tentang praktek. Melalui pola-pola itulah aktor memproduksi tindakan mereka dan juga menilainya. Berikut ini akan dibahas ketiga konsep tersebut dan akan dijelaskan interaksi ketiga konsep ini dalam masyarakat. preferensi. Disatu pihak habitus adalah struktur yang menstruktur artinya habitus adalah sebuah struktur yang menstruktur kehidupan sosial. yaitu habitus adalah struktur yang distruktur oleh dunia sosial. Secara dialektis habitus adalah ”produk internalisasi struktur” dunia sosial. menyadari. Kelebihan Bourdieu adalah menghasilkan cara pandang dan metode baru yang mengatasi berbegai pertentangan di antara penjelasan-penjelasan sebelumnya. Ia berusaha mengkonsepkan kebiasaan dalam berbagai cara. Dilain pihak habitus adalah struktur yang terstruktur. orang yang menduduki posisi yang sama dalam kehidupan sosial. Field dan Modal. Atau dengan kata lain habitus dilihat sebagai ”struktur sosial yang diinternalisasikan yang diwujudkan”. memahami. cita rasa atau perasaan (emosi) Sebagai perilaku yang mendarah daging 53 . jenis kelamin. Terdapat 3 konsep penting dalam pemikiran Bourdieu yaitu Habitus. cenderung mempunyai kebiasaan yang sama. Menurutnya pemahaman ini mengabaikan peran pelaku dan tindakan-tindakan praktis dalam kehidupan sosial.

• • •

Sebagai suatu pandangan tentang dunia (kosmologi) Sebagai keterampilan dan kemampuan sosial praktis Sebagai aspirasi dan harapan berkaitan dengan perubahan hidup dan jenjang karier.

Habitus membekali seseorang dengan hasrta. Motivasi, pengetahuan, keterampilan, rutinitas dan strategi untuk memproduksi status yang lebih rendah. Bagi Bourdieu keluarga dan sekolah merupakan lembaga penting dalam membentuk kebiasaan yang berbeda. Field bagi Bourdieu lebih bersifat relasional ketimbang struktural. Field adalah jaringan hubungan antar posisi obyektif di dalamnya. Keberadaan hubungan ini terlepas dari kesadaran dan kemauan individu. Field bukanlah interaksi atau ikatan lingkungan bukanlah intersubyektif antara individu. Penghubi posisi mungkin agen individual atau lembaga, dan penghubi posisi ini dikendalikan oleh struktur lingkungan. Bourdieu melihat field sebagai sebuah arena pertarungan. Struktur Field lah yang menyiapkan dan membimbing strategi yang digunakan penghuni posisi tertentu yang mencoba melindungi atau meningkatkan posisi mereka untuk memaksakan prinsip penjenjangan sosial yang paling menguntungkan bagi produk mereka sendiri. Field adalah sejenis pasar kompetisi dimana berbagai jenis modal (ekonomi, kultur, sosial, simbolik) digunakan dan disebarkan. Lingkungan adalah lingkungan politik (kekuasaan) yang sangat penting; hirarki hubungan kekuasaan di dalam lingkungan politik membantu menata semua lingkungan yang lain. Bourdieu menyusun 3 langkah proses untuk menganalisa lingkungan, pertama, menggambarkan keutamaan lingkungan kekuasaan (politik). Langkah kedua, menggambarkan struktur obyektif hubungan antar berbagai posisi di dalam lingkungan tertentu, ketiga, analis harus mencoba menetukan ciri-ciri kebiasaan agen yang menempati berbagai tipe posisi di dalam lingkungan. Dengan kata lain, Field adalah wilayah kehidupan sosial, seperti seni, industri, hukum, pengobatan, politik dan lain sebagainya, dimana para pelakunya berusaha untuk memperoleh kekuasaan dan status. Bourdieu menganggap bahwa modal memainkan peranan yang penting, karena modallah yang memungkinkan orang untuk mengendalikan orang untuk mengendalikan nasibnya sendiri maupun nasib orang lain. Ada 4 modal yang berperan dalam masyarakat yang menentukan kekuasaan sosial dan ketidaksetaraan sosial, pertama modal ekonomis yang menunjukkan sumber ekonomi. Kedua, modal sosial yang berupa hubunganhubungan sosial yang memungkinkan seseorang bermobilisasi demi kepentingan
54

sendiri. Ketiga, modal simbolik yang berasal dari kehormatan dan prestise seseorang. Dan keempat adalah modal budaya yang memiliki beberapa dimensi, yaitu:
• • • • •

Pengetahuan obyektif tentang seni dan budaya Cita rasa budaya (cultural taste) dan preferensi Kualifikasi-kualifikasi formal (seperti gelas-gelar universitas) Kemampuan-kemampuan budayawi dan pengetahuan praktis. Kemampuan untuk dibedakan dan untuk membuat oerbedaan antara yang baik dan buruk.

Modal kultural ini terbentuk selama bertahun-tahun hingga terbatinkan dalam diri seseorang. Setelah dibahas tentang ketiga konsep diatas maka akan dijelaskan hubungan ketiga konsep tersebut. Habitus dan ranah merupakan perangkat konseptual utama yang krusial bagi karya Bourdieu yang ditopang oleh sejumlah ide lain seperti kekuasaan simbolik, strategi dan perbuatan beserta beragan jenis modal. Seperti telah diungkapkan diatas bahwa habitus adalah struktur kognitif yang menghubungkan individu dan realitas sosial. Habitus merupakan struktur subyektif yang terbentuk dari pengalaman individu berhubungan dengan individu lain dalam jaringan struktur obyektif yang ada dalam ruang sosial. Habitus adalah produk sejarah yang terbentuk setelah manusia lahir dan berinteraksi dengan masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu, dengan kata lain habitus adalah hasil pembelajaran lewat pengasuhan, aktivitas bermain, dan juga pendidikan masyarakat. Pembelajaran ini berjalan secara halus sehingga individu tidak menyadari hal ini terjadi pada dirinya, jadi habitus bukan pengetahuan bawaan. Habitus mendasari field yang merupakan jaringan relasi antar posisi-posisi obyektif dalam suatu tatanan sosial yang hadir terpisah dari kesadaran individu. Field semacam hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisiposisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakatyang terbentuk secara spontan. Habitus memungkinkan manusia hidup dalam keseharian mereka secara spontan dan melakukan hubungan dengan pihak-pihak diluar dirinya. Dalam proses interaksi dengan pihak luar tersebut terbentuklah Field. Dalam suatu Field ada pertarungan kekuatan-kekuatan antara individu yang memiliki banyak modal dengan individu yang tidak memiliki modal. Diatas sudah di singgung bahwa modal merupakan sebuah konsentrasi kekuatan, suatu kekuatan spesifik yang beroperasi di dalam field dimana di dalam setiap field
55

menuntut untuk setiap individu untuk memiliki modal gara dapat hidup secara baik dan bertahan di dalamnya. Secara ringkas Bourdieu menyatakan rumusan generatif yang menerangkan praktis sosial dengan rumus setiap relasi sederhana antara individu dan struktur dengan relasi antara habitus dan ranah yang melibatkan modal. Daftar Acuan Bagus, Loren. 1996.”Kamus Filsafat”. Jakarta: Pustakan Gramedia Harker, Richard, Cheelen Mahar, Chris Wilkes. 2005.”(Habitus x Modal) + Praktik: Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu”. Yogyakarta: Jalasutra Lechte, John. 2001.”50 Filusuf Kontmporer: Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas”. Yogyakarta: Kanisius Sutrisno, Mudji, Hendar Putranto. 2006.” Teori-teori Kebudayaan”. Yogyakarta: Kanisius
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

. Pengantar Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada, seperti apa? Di kalangan yang mana? Kalau tidak ada atau kurang terlihat, mengapa? Itulah beberapa pertanyaan yang berusaha dijawab dalam makalah ini. Jawaban-jawaban ini lebih didasarkan pada hasil pengalaman pribadi daripada hasil sebuah penelitian yang serius dan teliti mengenai pengaruh strukturalisme Prancis di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Namun sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ada baiknya saya paparkan terlebih dulu seperti apa strukturalisme Prancis itu, terutama yang diusung oleh Lévi-Strauss, dan mengapa saya memilih menampilkan strukturalisme Lévi-Strauss di sini. Pada musim semi tahun 1981, setahun setelah meninggalnya ahli filsafat Jean Paul Sartre, majalah Prancis Lire mengadakan sebuah jajak pendapat di kalangan intelektual, mahasiswa dan politisi Prancis, dengan pertanyaan, “siapa tiga pemikir berbahasa Perancis yang masih hidup, yang pandangannya – menurut anda – paling berpengaruh terhadap evolusi (perkembangan) pemikiran sastra dan ilmu pengetahuan dan sebagainya ?”. Dari kira-kira 448 jawaban yang masuk, 101 orang menyebut nama Lévi-Strauss, 84 orang menyebut Raymond Aron, 83 orang menyebut Michel Foucault. Nama-nama lain yang juga disebut antara lain adalah Jaques Lacan (51), Simone de Beauvoir (46), dan masih ada lagi beberapa yang lain (Pace, 1986 : 1). Hasil jajak pendapat tersebut mungkin agak mengherankan juga, karena antropologi bukanlah sebuah cabang ilmu yang populer di Prancis, dibandingkan
56

seperti post-modernisme atau post-strukturalisme – ini nama-nama yang sebenarnya kurang tepat untuk menyebut sebuah aliran pemikiran – atau semiotika yang kini populer di Barat. dibanding tulisan ahli-ahli antropologi yang lain (Pace. kelahiran paradigma-paradigma baru ini tidak dapat dilepaskan dari munculnya strukturalisme itu sendiri. Kelima. Michel Foucault dan tentu saja Claude Lévi-Strauss. Karikatur ini setidak-tidaknya menunjukkan bahwa di kalangan intelektual Prancis ketika itu. sebuah karikatur yang banyak direproduksi muncul dalam majalah-majalah Prancis tentang para strukturalis. Di situ digambarkan empat orang tengah duduk melingkar di bawah pohon tropis dengan mengenakan pakaian suku-suku bangsa yang masih primitif. dan sedikit banyak hal itu juga menunjukkan bahwa Lévi-Strauss tidak hanya dipandang sebagai ahli antropologi. tetapi juga penting bagi ilmu-ilmu sosial-budaya lain. Judul karikatur ini adalah “Le déjeuner des structuralistes”. strukturalisme Lévi-Strausslah yang paling banyak dikenal dan berpengaruh dibandingkan dengan paradigma antropologi yang lain. Tidak mengherankan. Dengan kata lain.dengan di Inggris dan Amerika Serikat. walaupun Lévi-Strauss sendiri sudah tidak lagi begitu menyukai filsafat sebagaimana yang dia kenal. Oleh karena itu strukturalisme Lévi-Strauss tidak hanya penting bagi dan dalam antropologi. Kedua. tidak dapat dipahami dengan baik tanpa memahami strukturalisme. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa Lévi-Strausslah yang paling yakin dengan manfaat dan kemampuan paradigma struktural untuk digunakan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya. Keempat. aliran pemikiran baru yang muncul setelah strukturalisme. setelah kemunculan strukturalisme ini pandangan-pandangan antropologi kemudian mempengaruhi cabang-cabang ilmu sosial-budaya yang lain seperti sosiologi. Dengan kata lain. strukturalisme Lévi-Strauss juga bukan hanya merupakan sebuah teori baru. tetapi juga ahli filsafat. Ketiga. satu persatu dari mereka meninggalkan strukturalisme. yaitu rok yang terbuat dari daun ilalang. Empat orang tersebut adalah Jacques Lacan. 57 . tetapi – sebagaimana dikatakan oleh Lévi-Strauss sendiri – adalah juga sebuah epistemologi baru dalam ilmu-ilmu sosial-budaya. 1986 : 7). beberapa tahun kemudian. dialah seorang penganut strukturalisme tulen. menunjukkan bahwa tulisan-tulisan Lévi-Strauss adalah tulisan yang paling banyak dikutip orang. setelah dia berkenalan dengan antropologi. atau “makan siang para strukturalis” (Sturrock. Tanpa memahami strukturalisme akan sulit memahami post-strukturalisme atau post-modernisme. dan akhirnya tinggal Lévi-Strauss yang tetap setia menjadi perawat dan pengembang paradigma tersebut. empat orang itulah yang dikenal sebagai tokoh-tokoh strukturalisme. Namun. sastra. 1979 : 1). Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa pemikiran-pemikiran Lévi-Strauss ternyata dipandang begitu berpengaruh oleh kaum intelektual Prancis. dan filsafat. hasil survei sebuah lembaga Amerika atas kutipan-kutipan (citations) antropologi dari tahun 1969-1977. Bagaimanapun juga. Rolanda Barthes.

Dr. oleh lebih banyak ilmuwan. Prancis) sama sekali tidak terasa pengaruhnya dalam pemikiran-pemikiran dan analisis mereka tentang gejala sosial-budaya di Indonesia. dan sebagainya. J. James P. dosen-dosen antropologi yang lain – yang ketika itu belum Professor – seperti Dr. Sebelumnya saya perlu minta maaf kepada publik jika dalam tulisan ini sosok saya terasa begitu menonjol dalam proses penyebaran strukturalisme LéviStrauss di Indonesia. yang menurut saya kritik tersebut sebenarnya kurang tepat. Danandjaja. Prof. Belanda. terasa begitu dipengaruhi oleh ahli-ahli antropologi Amerika. karena selalu sulit dan tidak biasa. Lebih dair itu. teman-teman saya umumnya tidak menyukai teori-teori dari Lévi-Strauss. Sementara itu. Ditangannyalah strukturalisme kemudian dikenal oleh lebih banyak orang. 2. Dengan memperbincangkan tentang strukturalisme ini diharapkan akan muncul ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia yang akan bersedia mengembangkan lebih lanjut kerangka pemikiran tersebut. Saya berharap ketika itu berbagai pemikiran yang saya kenal dari perkuliahan saya di jurusan Antropologi di Universitas Columbia akan dapat saya temukan di Indonesia. Oleh karena itu. Dr. Prof. pada tahun 1994 saya kembali. Goodenough. Dr. karena saya tidak tahu orang lain di Indonesia yang telah membahas pemikiran Lévi-Strauss dengan cukup mendalam sebagaimana yang telah saya lakukan. sangat dapat dimengerti apabila dari kalangan ahli antropologi tidak ada yang berupaya untuk memperkenalkan secara serius strukturalisme Lévi-Strauss. sehingga saya dapat segera membangun wacana tentang pemikiran-pemikiran tersebut di negeri sendiri. Koentjaraningrat melontarkan kritik terhadap strukturalisme Lévi-Strauss. karena situasi dan kondisi pemikiran dalam 58 . Ward H. sedang saya lumayan menyukai teori-teori tersebut karena terasa begitu menantang untuk memahaminya. Ilmu Sosial-Budaya Indonesia 1970-1990an : Mengapa Tidak Struktural? Beberapa tahun setelah saya meninggalkan Indonesia untuk mengikuti pendidikan S-3. Antropologi Eropa (Inggris. Spradley. karena aliran ini kurang sejalan dengan kecenderungan teoritis beliau yang lebih positivistik. Koetjaraningrat misalnya. Namun. Dalam Sejarah Teori Antropologi II.Itulah lima alasan utama mengapa dalam perbincangan tentang strukturalisme ini strukturalisme yang dirintis dan dikembangkan oleh LéviStrausslah yang akan ditampilkan di sini. Parsudi Suparlan. tidak terlihat menyukai strukturalisme Lévi-Strauss. Budi Santoso. yang mengajar kami teori-teori antropologi. dosen-dosen antropologi yang mengajar kami ketika itu juga tidak banyak yang paham dan menaruh minat pada strukturalisme LéviStrauss. seperti Clifford Geertz. Claude Lévi-Strauss adalah seorang ahli antropologi yang tetap konsisten menekuni dan mengembangkan paradigma struktural. walaupun mereka itu kemudian tidak mengembangkan aliran pemikiran antropologi tertentu di Indonesia. Saya ingat. karena mereka melanjutkan pendidikan pascasarjana mereka di Amerika. Nico Kalangie. ketika saya masih kuliah antropologi di Universitas Indonesia di akhir tahun 1970an. akhirnya saya harus kecewa.

Akan tetapi setelah beberapa tahun berada di Indonesia. Selo Soemardjan dan sebagainya. tidak ada aliran Etnosains dari Amerika Serikat. Lévi-Strauss yang kita kenal ketika itu adalah merk sebuah celana jeans. Ketika saya datang pada awal tahun 1990an. Hanya mahasiswa antropologi saja yang mengenal tokoh tersebut lewah kuliah dari Prof. karena di tahun 1950an dan 1960an Indonesia adalah salah satu negeri yang banyak diteliti dan dibahas oleh ilmuwan sosial Amerika Serikat. Tidak banyak ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu yang memperoleh pendidikan di Prancis. Masri Singarimbun. walaupun itu tidak berarti bahwa saya menyetujui dan menyukai keadaan tersebut. Pertama. bahkan sampai tahun 1980an. karena biasanya ilmuwan Indonesia sangat mudah dan cepat menanggapi dan berusaha segera mempopulerkan paradigma-paradigma baru di Barat yang baru saja mereka kenal. 59 . sebuah negeri yang relatif kurang begitu dikenal oleh banyak orang Indonesia. Koentjaraningrat almarhum di tahun 1970-1980an. Nama ilmuwan Prancis yang meneliti Indonesia namun namanya hampir tidak terdengar di Indonesia adalah Christian Pelras (meneliti sejarah Indonesia). akhirnya saya dapat memaklumi keadaan yang seperti itu. Saya bertanya-tanya dalam hati : Mengapa mereka tidak menulis mengenai aliran-aliran baru dalam antropologi atau bidang ilmu yang mereka tekuni ? Dalam antropologi di Indonesia ketika itu. tetapi setelah itu seperti hilang ditelan bumi. seperti misalnya Fuad Hasan. Padahal. Bagi saya ini adalah sebuah keanehan. karena bahasanya juga kurang populer di Indonesia. strukturalisme masih tetap merupakan paradigma yang populer dan terasa kuat pengaruhnya. Sartono Kartodirdjo. Nama-nama beken sebagian ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat ketika adalah nama-nama mereka yang banyak meneliti masyarakat Indonesia. dan sempat populer dalam dua-tiga tahun. Beberapa tahun saya mencoba mengetahui hal ini. tokoh-tokoh ilmu sosial-budaya yang saya kagumi dan sebagian pernah menjadi guru saya ketika itu masih ada. tidak telihat arus pemikiran strukturalisme dari Prancis. Saya mencoba untuk mengetahui apa kira-kira penyebab hal tersebut. Nama Lévi-Strauss sebagai seorang teoritisi hampir tak dikenal. strukturalisme tersebut tumbuh dan berkembang di Prancis. James Danandjaja. Koentjaraningrat. strukturalisme Lévi-Strauss tidak terdengar gaungnya di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. tidak terlihat Tafsir Kebudayaan seperti yang dikembangkan Clifford Geertz. dan masih aktif. Parsudi Suparlan. dibandingkan misalnya dengan bahasa Inggris dan Belanda. Postmodernisme mulai terdengar. Saya cukup heran dengan situasi dan kondisi seperti itu. Ada beberapa faktor yang tampaknya telah membuat strukturalisme Prancis kurang begitu dikenal di Indonesia. bahkan hampir tidak ada. karena kalau kita membaca jurnal dan bukubuku ilmu sosial-budaya di Barat di tahun 1970an.ilmu sosial-budaya Indonesia ketika itu ternyata tidak seperti yang saya duga dan harapkan. Orientasi pendidikan ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah Amerika Serikat.

dan cukup besar perbedaannya dengan epistemologi positivisme. Sebaliknya. atau yang didasarkan pada sebuah epistemologi saja. Aalagi ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat yang mempelajari Indonesia juga menggunakan paradigma tersebut. reaksi yang muncul biasanya adalah : menolak secara sembunyi-sembunyi. Radcliffe-Brown dan Bronislaw Malinowski di tahun 1940an dikembangkan lebih lanjut oleh Parsons dan berhasil menjadi sebuah aliran yang mendominasi pemikiran ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat di tahun 1960-1970an. Keempat. Kalau antropologi sebagai ilmu sudah tidak begitu dikenal.Aliran pemikiran yang sangat mempengaruhi ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah aliran fungsionalisme-struktural yang berasal dari Talcott Parsons. strukturalisme Lévi-Strauss adalah sebuah epistemologi baru. Ilmuwan sosial-budaya Indonesia yang belajar di Amerika Serikat di masa itu otomatis sangat dipengaruhi oleh aliran pemikiran ini – bahkan sampai sekarang – . sehingga mereka tentunya mengalami kesulitan ketika berusaha memahami analisis-analisis strukturalisme Lévi-Strauss yang sangat banyak mendapat inspirasi dari linguistik. Lengkaplah sarana paradigma Fungsionalisme – Struktural untuk menyebar dan dikenal di Indonesia. ahli sosiologi Amerika Serikat. analisis struktural dan bahasa yang digunakan oleh Lévi-Strauss dalam tulisan-tulisannya termasuk yang tidak mudah dipahami. Kedua. seperti halnya kebanyakan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Analisis struktural Lévi-Strauss banyak memanfaatkan data etnografi dan analisis serta interpretasi 60 . yakni epistemologi yang positivistik dan epistemologi yang historis. Orang masih sering mengacaukannya dengan arkeologi.R. Memang. sebuah cabang ilmu yang kurang begitu populer di Indonesia. Para ilmuwan sosial-budaya umumnya juga tidak mengenal linguistik. strukturalisme banyak mendapat inspirasi dari ilmu bahasa dan mengambil ilmu tersebut sebagai modelnya. Sementara itu. atau menolak secara terang-terangan. Ketiga. ilmu bahasa atau linguistik bukanlah sebuah ilmu yang populer di Indonesia. Kalau di kalangan ahli antropologi Indonesia saja strukturalisme di Lévi-Strauss sudah tidak begitu dikenal. acuh tak acuh. strukturalisme Lévi-Strauss dalam antropologi. yang saya kira cukup besar perbedaannya dengan epistemologi yang dianut oleh sebagian besar ilmuwan sosial-budaya Indonesia. apalagi teori-teori yang ada di dalamnya. Sebagai epistemologi strukturalisme sangat berseberangan dengan epistemologi historisme. yang di Amerika Serikat memang merupakan salah satu spesialisasi dalam antropologi. apalagi oleh kalangan yang lebih luas. munculnya sebuah paradigma atau epistemologi baru tidak akan memicu munculnya tanggapan yang positif. Kelima. Fungsionalisme-Struktural yang diwariskan oleh A. Untuk mereka yang terbiasa berfikir dengan menggunakan sebuah paradigma. di tahun 1970an dan 1980an antropologi sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan masih belum begitu dikenal di Indonesia. dan teori-teorinya juga tidak begitu dikenal.

mungkin juga sulit 61 . maka saya kemudian memberanikan diri untuk mengusung strukturalisme Lévi-Strauss ke Indonesia setelah saya menyiapkan diri dengan lebih baik di Amerika Serikat. Meskipun demikian.dilakukan atas informasi etnografis mengenai berbagai hal yang begitu kecil dan njlimet. Bahasa tulisannya memang belum nyastra sekali seperti Geertz. 3. saya tidak serta-merta tertarik pada strukturalisme Prancis. Yang lain tidak tertarik. tetapi seingat saya karena mereka umumnya menganggap pendekatan tersebut “statis”. Kami berdua adalah mahasiswa Indonesia yang dipengaruhi oleh pemikiran struktural ketika itu. yakni P. adalah mengenai struktur yang ada dalam Tradisi Ageng dan Tradisi Alit masyarakat Jawa. Oleh karena itu pula analisis struktural yang dikerjakan Lévi-Strauss termasuk yang tidak mudah dipahami oleh orang-orang antropologi. Lévi-Strauss termasuk ahli antropologi yang mampu menggunakan daya retorika yang bagus tetapi tidak mudah dipahami. Ketika itu teman sayalah yang kemudian menggunakan paradigma struktural – yang merupakan campuran strukturalisme Prancis dan Belanda – untuk menulis tesis S-2 nya.M. Di sinilah saya berkenalan lebih dekat dengan strukturalisme Prancis. tidak dapat digunakan untuk memahami dan menganalisis perubahan. yang kemudian diterbitkan menjadi buku. walaupun saya terus-terang tertarik pada kecanggihan pemikiran LéviStrauss.E. bahkan cenderung bersikap negatif dan sinis terhadap aliran strukturalisme yang ketika itu diajarkan oleh P. Dalam hal ini Laksono membandingkan struktur budaya pada masyarakat Jawa di Bagelen dengan struktur budaya Jawa di Kraton Mataram. karena antropologi di Belanda di masa lampau sudah lebih dulu mengenal strukturalisme. Laksono. Dengan menggunakan analisis struktural Laksono (1986) mencoba menunjukkan bahwa Tradisi Ageng Jawa di Kraton adalah transformasi dari Tradisi Alit Jawa di daerah pedesaan. karena saya mendapat pendidikan lanjutan di Belanda. Tesis pascasarjananya. walaupun aliran ini sangat kuat pengaruhnya dalam dunia pemikiran di Barat. Saya tidak tahu mengapa demikian. Periode 1980an Laksono menerapkan analisis struktural lebih awal daripada saya. begitu tidak dikenalnya aliran pemikiran itu di Indonesia. tetapi sudah termasuk nyastra atau sastrawi. Itulah beberapa faktor yang menurut saya telah membuat strukturalisme LéviStrauss kurang begitu dikenal di Indonesia. Mengusung Strukturalisme Lévi-Strauss : 1980an dan 1990an Generasi saya adalah generasi baru pelajar ilmu sosial-budaya yang mulai mengenal pemikiran dari Eropa Daratan. a. karena pendekatannya terasa tidak lazim. serta sulitnya memahami paradigma itu sendiri. Mengingat pentingnya strukturalisme Lévi-Strauss dalam perkembangan pemikiran di Barat. Buku ini memang tidak mendapat banyak perhatian dari ilmuwan sosial-budaya Indonesia. dengan mengumpulkan artikel dan buku-buku yang relevan. de Josselin de Jong kepada kami. Kesulitan memahami ini bertambah besar lagi di kalangan ketika Lévi-Strauss menggunakan bahasa yang juga relatif sulit dipahami. dan kemudian mendapat pengaruh kuat dari strukturalisme Prancis. Mungkin.

Belanda. karena setelah dua tahun saya mengajar saya memperoleh kesempatan melanjutkan studi S-3 antropologi ke Universitas Columbia di New York. 1984).dimengerti oleh mereka yang belum mengenal strukturalisme. Untuk beberapa tahun. sampai ketika saya pulang kembali ke UGM setelah menyelesaikan S-3 saya. maka tidak terlalu mengherankan apabila pengaruh strukturalisme Belanda lebih terlihat di situ daripada pengaruh strukturalisme Prancis. yaitu dengan memfotocopy buku-buku dan artikel-artikel yang saya bawa dari luar. Para mahasiswa antropologi UGM ketika itu mulai mengenal nama Lévi-Strauss serta teori-teorinya dengan cukup baik. Semenjak itu. saya mengajar di jurusan antropologi. b. dan kesempatan itu saya gunakan untuk menebar paradigma strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. saya merasa bahwa nama saya hampir selalu dihubungkan dengan strukturalisme atau antropologi struktural. karena dia sudah lebih dulu pergi ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi. tetapi juga karena buku-buku dan artikel-artikel antropologi struktural dapat mereka peroleh secara langsung. saya tidak mengetahui perkembangan strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. dilanjutkan oleh dosen kami yang paling senior di UGM. Bukan hanya karena kuliahnya lebih terfokus. Walaupun masih dalam taraf yang sangat sederhana namun minta mereka untuk menggunakan sebuah paradigma yang belum lazim diterima dan cukup sulit. Satu-dua orang mahasiswa mulai tertarik dengan pendekatan ini dan mulai menerapkannya untuk penulisan skripsi. mungkin pula karena kurang promosi. Belanda. Oleh karena itu sayapun menulis sebuah artikel yang isinya merupakan tanggapan. Amerika Serikat. Baroroh Baried – yang ketika itu 62 . Pengetahuan mengenai strukturalisme tidak dapat saya tebar lebih lama di UGM. yang saat itu masih belum guru besar. tambahan dan “pelurusan” beberapa pendapat dalam artikel tersebut (Ahimsa-Putra. Setelah membaca artikel itu saya berpendapat bahwa apa yang ada dalam artikel tersebut tidak seluruhnya tepat atau seperti yang saya ketahui. Yang jelas buku ini setahu saya merupakan analisis kebudayaan secara struktural yang pertama dilakukan oleh ahli antropologi Indonesia. Oleh karena penulisan buku tersebut berada di bawah bimbingan P. Laksono tidak dapat menggantikan. ahli antropologi struktural dari Universitas Leiden. saya kebetulan diminta Prof. Pak Kodiran. termasuk di dalamnya strukturalisme Lévi-Strauss. de Josselin de Jong.E. Periode 1990an Pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss yang sudah mulai terlihat di tahun 1980an di Indonesia mulai terasa menguat setelah saya memberikan kuliah mengenai strukturalisme lagi selama beberapa tahun di jurusan Antropologi UGM. patut dihargai. Secara kebetulan waktu itu di majalah Basis muncul sebuah artikel mengenai Lévi-Strauss dan strukturalismenya. Setelah saya kembali ke UGM. Setelah selesai kuliah di Universitas Leiden. dan menulis beberapa artikel dengan menggunakan paradigma tersebut. yang ditulis oleh Radrianarisoa. Ketika itu pengajaran teori antropologi.

karena kalau tidak ada ketertarikan tersebut. Pendapat bahwa saya adalah orang yang tahu tentang strukturalisme LéviStrauss itu rupanya telah mendorong pihak penerbit LKIS meminta saya menulis kata pengantar untuk buku yang akan mereka terbitkan. Sayapun menyanggupi permintaan tersebut. Selain melalui perkuliahan. maka pembimbingan penulisan skripsi atau tesis semacam ini boleh dikatakan selalu diserahkan kepada saya.menjadi ketua program pascasarjana sastra – untuk mengampu matakuliah mitologi. Gaung strukturalisme sebagai sebuah paradigma semakin luas terdengar di kalangan mahasiswa. Artikel ini rupanya semakin menguatkan citra saya sebagai orang yang tahu strukturalisme Lévi-Strauss lebih dari yang lain. Dalam kata pengantar itu saya kembali menyampaikan berbagai hal mengenai strukturalisme Lévi-Strauss yang belum banyak diketahui. karena – sebagaimana kita ketahui – majalah Kalam adalah majalah yang banyak dibaca oleh mereka yang berminat pada sastra. yang saya gunakan untuk melakukan penelitian atas mitos orang Bajo. yang berasal dari buku Octavio Paz mengenai strukturalisme Lévi-Strauss. Mudahmudahan ada yang bersedia memberikan informasi mengenai bagaimana strukturalisme (Lévi-Strauss) dipandang dan dipahami oleh para mahasiswa – antropologi maupun bukan – di luar UGM. Ketika satu-dua tesis struktural mulai dapat ditulis dan diujikan dengan hasil yang baik (banyak yang mendapat nilai A). 1995). Oleh karena tidak ada dosen lain yang dipandang lebih memahami strukturalisme. terutama di Yogyakarta. seni dan filsafat. Ketika itu saya merasa bahwa strukturalisme mulai menarik perhatian kalangan intelektual muda. Beberapa mahasiswa kemudian tertarik untuk menulis tesis dengan menggunakan pendekatan struktural. atau perlu dijelaskan lagi agar tidak menimbulkan salah pengertian (Ahimsa-Putra. dan diluar lingkaran antropologi setahu saya belum ada orang lain yang berbicara mengenai aliran pemikiran tersebut. baik itu yang analitis maupun teoritis. Saya menawarkan 63 . tetapi saya tidak tahu bagaimana gaung tersebut di luar UGM. serta memberikan tanggapan terhadap pendapat-pendapat Paz yang menurut saya kurang tepat. Nama Lévi-Strauss dan strukturalisme tetap belum akrab di kalangan terpelajar di Indonesia. melalui perkuliahan di S-1 dan S-2 antropologi serta S-2 sastra. Analisis struktural ala Lévi-Strauss atas mitos sama sekali belum dikenal di Indonesia ketika itu. Melalui forum seperti inilah saya dapat menyebarkan strukturalisme. Sementara itu. 1997). saya terus menyebarkan strukturalisme ke kalangan mahasiswa. Permintaan tersebut saya terima dan secara kebetulan saya mendapat dana penelitian. tentu buku Paz tidak akan diterjemahkan dan diterbitkan. saya juga menulis makalah-makalah untuk seminar dengan tema struktural. semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk menyusun tesis atau skripsi struktural. terutama jurusan antropologi di UGM. Laporan penelitiannya kemudian saya tulis kembali menjadi artikel yang kemudian diterbitkan oleh majalah Kalam (Ahimsa Putra.

para peneliti sastra sebaiknya juga menengok dan mempelajari paradigma-paradigma yang berkembang di luar kajian sastra. 1998a. Strukturalisme Lévi-Strauss yang muncul dan berkembang dengan baik dalam antropologi ternyata sangat dapat digunakan untuk menganalisis karya sastra. dan analisis semacam ini dapat mengungkapkan dimensi tertentu dari karya sastra yang tidak dapat diungkapkan melalui pendekatan yang lain. dan tidak terbatas di kalangan pelajar antropologi saja. Saya juga menawarkan pendekatan tersebut untuk menganalisis karya-karya sastra kontemporer yang mungkin tidak pernah terpikirkan untuk dianalisis secara struktural. 64 . sedang kepada para peneliti fenomena keagamaan saya juga menunjukkan bahwa strukturalisme dapat digunakan untuk memahami fenomena keagamaan seperti sinkretisme (Ahimsa – Putra. Dengan demikian. Dari makalah dan artikel tersebut orang dapat menilai keampuhan paradigma struktural untuk memahami gejala sosial-budaya lewat sudut pandang yang berbeda. Langkah yang saya tempuh untuk memperkenalkan paradigma antropologi struktural di Indonesia dengan menulis artikel dan menerbikan buku didasarkan pada pandangan bahwa orang tidak akan tertarik pada suatu pendekatan atau paradigma bilamana dia belum mengetahui tentang paradigma tersebut. Dengan terbitnya buku tersebut. strukturalisme Lévi-Strauss semakin dikenal di Indonesia. yang berbeda dengan strukturalisme yang selama ini mereka kenal dalam analisis sastra. Strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia : 2009 Bagaimana strukturalisme di Indonesia sekarang. Lewat berbagai makalah dan artikel itulah saya berupaya menunjukkan bahwa strukturalisme adalah sebuah cara baru untuk memandang gejala sosialbudaya. strukturalisme Lévi-Strauss mulai dikenal di luar lingkaran antropologi. Melalui paradigma tersebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya yang dapat diungkapkan. 2000a). seperti karya-karya Umar Kayam (Ahimsa – Putra.pendekatan struktural untuk menganalisis fenomena arkeologis (Ahimsa – Putra. 2001). 2002c). dan semakin banyak mahasiswa antropologi yang menggunakan pendekatan ini untuk memahami berbagai gejala sosial-budaya dalam masyarakat Indonesia. 4. yang tidak akan dapat diungkap melalui paradigma yang lain. Sejak itu. tentang cara menggunakannya. Mitos dan Karya Sastra (Ahimsa – Putra. Melalui paradigma tesebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya. 1999c. dan manfaat apa yang akan diperoleh dari penggunaan tersebut. Meskipun demikian saya tetap tidak mengetahui bagaimana perkembangan paradigma strukturalisme Lévi-Strauss atapun strukturalisme pada umumnya di luar UGM. Buku ini saya kira telah membuat peneliti dan pelajar sastra menengok para strukturalisme Lévi-Strauss. Buku ini pula yang membuat banyak orang mulai menyadari bahwa sekat-sekat keilmuan sebenarnya sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Paradigma strukturalisme Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal lagi setelah terbitnya buku Strukturalisme Lévi-Strauss. 2000b). setelah saya menganalisis mitos Bajo secara struktural dan mulai memberi kuliah strukturalisme 15 tahun yang lalu? Strukturalisme Lévi-Strauss kini sudah lebih dikenal di Indonesia.

Kalau Dadang H. ngambu dan liwa untuk menunjuk arah. 2002). Kalimantan. Dalam hal ini Numbery telah berhasil menunjukkan keterkaitan struktural yang erat antara struktur ruang yang dikenal oleh orang Dani dengan organisasi sosial mereka. analisis struktural yang dikerjakan oleh Numbery merupakan analisis struktural ala Lévi-Strauss yang pertama kali dimanfaatkan oleh ilmuwan sosial Indonesia untuk memahami struktur organisasi sosial orang Dani dan pandangan mereka tentang ruang beserta strukturnya. dan konsepsi arah yang terkait dengan ruang ini juga terkait erat dengan sungai. Oleh karena itu. Metode Analisis Pengaruh strukturalisme terlihat terutama pada metode analisis. Pendekatan struktural juga digunakan oleh Nasrullah (2008). di sini saya hanya akan memaparkan pengaruh-pengaruh strukturalisme. Struktur ruang juga dianalisis oleh Gerda Numbery (2008) yang melakukan penelitian di kalangan orang Dani di Papua. Analisis struktural juga telah diterapkan pada budaya material. untuk menganalisis konsepsi orang Bakumpai tentang ruang. yang berasal dari suku Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Orang Dayak Bakumpai mengenal istilah-istilah ngaju. karena sungai merupakan ruang yang sangat penting dalam kehidupan orang Dayak Bakumpai. ataupun dalam diskusi-diskusi informal. ngawa. a. saya sering mendengar nama-nama Barthes dan Foucault disebut-sebut dalam beberapa diskusi. yakni patung (Ahimsa-Putra. Purwadi lebih tertarik untuk mengungkap prinsip-prinsip struktural yang ada di balik rumah tradisional Suma di Umaluhu.Memang. Strukturalisme Lévi-Strauss mulai terlihat digunakan untuk menganalisis berbagai gejala kebudayaan yang belum pernah dianalisis secara struktural. strukturalisme Lévi-Strauss justru terlihat membedakan dirinya dari yang lain melalui metode analisis ini. 1999c. baik itu secara formal lewat seminar. Kalau paradigma antropologi sebelumnya jarang sekali menampilkan metode analisisnya. Purnama mengungkapkan struktur rumah Limas Palembang dan mengaitkannya dengan struktur pemikiran orang Palembang. 2009) dan makanan tradisional orang 65 . Oleh karena itu. analisis Purnama kemudian menuntut digunakannya konsep transformasi. Analisis struktural telah digunakan untuk mengungkap struktur yang ada pada rumah Limas Palembang (Purnama. Subiantoro. 2000). dan di sinilah memang terletak kekuatan strukturalisme Lévi-Strauss sebagai sebuah paradigma. Sepengetahuan saya. rumah tradisional Sumba (Purwadi. terutama strukturalisme Lévi-Strauss sebagaimana yang saya ketahui dari karya-karya ilmiah yang bisa saya peroleh. dan dengan konsep ini pula dia dapat menyajikan rangkaian transformasi yang ada dalam budaya masyarakat Palembang. Ini terlihat pada tesis dan disertasi di jurusan antropologi UGM. namun belum pernah saya mendengar orang membahas pemikiran-pemikiran Barthes dan Foucault secara serius.

66 . Pemahaman tentang “Struktur” (Structure) Meskipun strukturalisme memberikan penekanan utama pada struktur. namun ternyata pemahaman tentang struktur ini tidak selalu dapat ditangkap. Meskipun demikian. 2009). Sementara itu. memberikan kuliah dan membimbing penulisan karya ilmiah saya merasa ide Lévi-Strauss mengenai struktur termasuk yang tidak mudah dimengerti dan diketahui adanya dalam gejala sosial-budaya yang dianalisis. Beberapa contoh kajian ini menunjukkan bahwa strukturalisme sebagai sebuah paradigma ternyata dapat digunakan untuk menganalisis beraneka-macam gejala sosial-budaya. yang menempatkan patung loro-blonyo dalam konteks kebudayaan yang lebih luas. Kita masih jauh dari suasana akademik dan intelektual yang seperti itu. ahli arkeologi UI. karena tradisi membahas secara kritis pemikiran-pemikiran yang berasal dari Barat masih belum tumbuh dan berkembang di kalangan mereka. namun analisis tersebut telah memberi inspirasi pada sejumlah ahli arkeologi lain untuk mencoba menerapkannya pada artefak-artefak atau benda arkeologis lainnya. ternyata pendekatan struktural juga dapat menjelaskan fenomena sosial yang terjadi di Indonesia tidak lama setelah meletusnya peristiwa G-30-S. dan pengertian struktur sebagai sistem relasi. Walaupun analisisnya belum sepenuhnya tuntas. karena dengan adanya tesis-tesis tersebut maka paradigma Strukturalisme dari Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal dan jelas-jelas dapat digunakan dalam berbagai penelitian. Selain arca ganesya. ternyata tidak selalu mudah dipahami. 2007). Maryetti lebih tertarik untuk menganalisis dan mengungkapkan struktur yang ada di balik berbagai macam makanan tradisional yang disajikan dalam ritual-ritual (Subiantoro. yakni kosmologi Jawa. Masih sangat sedikitnya buku dan artikel jurnal ilmiah yang membahas strukturalisme secara kritis di Indonesia merupakan bukti yang paling jelas masih belum berkembangnya tradisi tersebut. 2000). Pengertian struktur sebagai sebuah model yang dibuat oleh ahli antropologi untuk memahami gejala yang dipelajari. analisis patung secara struktural juga telah dilakukan oleh Slamet Subiantoro. Dari pengalaman berdiskusi. yakni banyaknya orang Tionghoa Indonesia yang masuk agama Katholik dan bagaimana perilaku mereka setelah mereka memeluk agama tersebut (Radjabana. dengan adanya kuliah mengenai strukturalisme Lévi-Strauss secara khusus. Diskusi yang lebih teoritis dan konseptual tentang strukturalisme belum dapat diharapkan dapat muncul dari kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. namun tidak ada hubungan empirisnya dengan gejala sosial-budaya tersebut. b. Lebih dari itu. Ahimsa-Putra misalnya menerapkan analisis struktural pada arca ganesya. yang sebelumnya telah diteliti secara seksama oleh Edi Sedyawati. pengertian struktur tersebut kini mulai dapat dimengerti.Minang (Maryetti. Dalam hal ini para mahasiswa pascasarjana antropologi UGM (S-2) merupakan orang-orang yang cukup besar sumbangannya.

Bahwa ternyata struktur sosial adalah juga sebuah model dari seorang ahli antropologi mengenai suatu masyarakat atau suku bangsa juga masih sulit diterima. yang historis. diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. yang lebih mudah dilihat dan mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. yakni “struktur sosial” menurut padangan Lévi-Strauss (yang berbeda dengan “struktur sosial” menurut Radcliffe-Brown). diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. dan kebanyakan telah dapat menerapkan konsep ini dengan baik dalam analisis. Sulit rasanya mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya yang memang tidak ada data sejarahnya. bahwa strukturalisme tidak menyejarah (ahistoris). Stukturalisme : Cara Pandang Transformasional. diakronis. Sebagaimana kita tahu konsep transformasi berasal dari ilmu bahasa juga. Lebih sulit dari itu adalah membedakan makna transformasi dengan change (perubahan). karena ini menuntut kemampuan memandang gejala sosialbudaya dengan cara yang berbeda. ketika dikatakan bahwa strukturalisme tidak dapat digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala perubahan sosial dan kebudayaan. dan itu berarti kepada masa lampaunya. Kita umumnya memiliki pola pikir yang linier. walaupun implikasi teoritisnya tidak selalu mudah dipahami. yang a-historis. Konsep ini tampaknya lebih mudah dipahami oleh para mahasiswa daripada konsep struktur atau struktur sosial. c. juga belum dapat dimengerti dengan baik. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. Segala sesuatu selalu kita pandang dalam hubungan sebab-akibat sehingga penjelasan tentang sesuatu tersebut selalu mengacu pada sebab-sebabnya. Hal ini tampaknya telah membuat konsep transformasi menjadi lebih mudah dipahami dan digunakan dalam analisis. yakni keterbatasan pendekatan sejarah ketika digunakan untuk memahami dan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya yang memang tidak ada data sejarahnya.Konsep turunan yang berasal dari “struktur”. karena para ilmuwan dan pelajar Indonesia masih lebih mudah memahami konsep-konsep yang lebih jelas acuannya. Bahkan. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. Mereka yang menerima begitu saja kritik ini sebenarnya telah melupakan faktor-faktor yang mendorong munculnya pendekatan struktural. konsep-konsep penting tidak selalu dapat dipahami fungsinya dalam analisis. A-historis Konsep yang sangat penting dalam analisis struktural adalah transformasi. namun banyak contoh yang dapat diberikan untuk menjelaskan makna transformasi sebagaimana digunakan dalam analisis struktural. Kebiasaan ini membuat kita mengalami kesulitan jika harus memandang dan menjelaskan gejala sosial-budaya tidak melalui sudut pandang kausalitas. Kesulitan tersebut juga menambah orang semakin kurang berminat memandang gejala sosial-budaya dari perspektif strukturalisme. Sulit rasanya 67 .

mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya Indonesia dalam waktu yang relatif dekat ini. Walaupun Lévi-Strauss tidak pernah menganggap strukturalisme yang dikembangkannya sebagai sebuah filsafat. yang setahu saya sudah mulai banyak dikenal dan digungakan sebagai paradigma dalam penelitian. Penutup Apa yang saya paparkan di sini adalah apa yang saya ketahui mengenai strukturalisme di Indonesia di masa kini. Yang jelas saya belum pernah mendengar sama sekali bahwa paradigma ini telah diajarkan di UGM (dulu). terutama karena tidak dapat digunakan untuk memahami dinamika dan perubahan kebudayaan. wacana serius tentang strukturalisme (Lévi-Strauss) setahu saya tidak pernah muncul di Indonesia. Di UGM pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terasa terutama di kalangan mahasiswa antropologi. Mengapa demikian? Mungkin beberapa faktor yang telah saya sebutkan di atas adalah diantaranya. mungkin pula karena ahli filsafat Indonesia tidak ada yang tertarik untuk 68 . Sisi filosofis inilah yang belum diserap oleh kalangan intelektual atau ilmuwan Indonesia. tidak demikian halnya dengan strukturalisme. mungkin juga karena paradigma ini dianggap terlalu banyak kelemahannya. Kalau pada awal kemunculan post-modernisme dan cultural studies saya sempat diundang dalam diskusi dan seminar di Indonesia tentang dua trend keilmuan tersebut. Belum pernah saya diundang dalam seminar. maka aspek filosofis dari aliran pemikiran ini tentu lebih belum dikenal lagi. Hal ini tentu sangat mengherankan. namun sebenarnya sebagai sebuah epistemologi strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran filsafati. 5. Pengaruh ini terlihat terutama di jurusan Antropologi di Universitas Gadjah Mada. Mungkin karena sisi ini lebih sulit untuk ditangkap dan dipahami oleh ahli filsafat Indonesia. Tidak sebagaimana halnya post-modernisme dan cultural studies. tidak adanya ilmuwan sosial-budaya yang khusus menekuni strukturalisme dan kemudian memperkenalkannya kepada publik Indonesia. atau mungkin ada tetapi saya tidak mengetahuinya. tingkat pascasarjana. diskusi atau lokakarya yang secara khusus membahas strukturalisme (Lévi-Strauss) sebagai sebuah trend pendekatan baru dalam ilmu sosial-budaya. Mungkin karena di jurusan-jurusan antropologi yang lain tidak ada orang yang merasa menguasai dan dapat mengajarkan dengan baik strukturalisme sebagai sebuah paradigma. Saya tidak tahu apakah di jurusan-jurusan antropologi lain di Indonesia paradigma ini telah diajarkan. Kalau dalam antropologi saja strukturalisme (Lévi-Strauss) sampai saat ini masih belum sangat dikenal. tidak adanya kuliah khusus mengenai strukturalisme di universitasuniversitas di Indonesia. Di luar UGM pengaruh tersebut tetap masih belum terasa. jika tidak memprihatinkan. dan ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal. Faktor-faktor yang lain mungkin sekali juga menjadi penyebabnya seperti misalnya : langkanya buku mengenai strukturalisme itu sendiri.

Universitas Gadjah Mada. sintagmatik-para digmatik. pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terhadap pemikiran-pemikiran ilmuwan sosial-budaya Indonesia masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat meninggalkan bekas yang cukup dalam serta mudah dikenali dalam karya-karya ilmiah mereka. itulah tantangan dari strukturalisme yang hingga kini di Indonesia masih belum ada yang bersedia menghadapi dan dapat menakhlukannya. sementara strukturalisme yang berasal dari Foucault dan Barthes tidak begitu terlihat pengaruhnya di kalangan kaum terpelajar Indonesia. 1 April 2009 sebagai mata rangkai Public Culture Series bertajuk: Pemikiran Kritis Prancis dan Implikasinya di Indonesia Sekarang ini Daftar Pustaka Abdullah. 1995. Oleh karena itu pula. 1994. Yogyakarta **Makalah ini disampaikan dalam diskusi publik bertema: Perkembangan Strukturalisme Prancis di Indonesia pada hari Rabu. sign. Kalam 6 : 124-143. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. oposisi biner.membahasnya. ___________. struktur sosial. Fakultas Ilmu Budaya. Kawin Bedil dan Sobrat. T. Basis XXXIII (4) : 122-135. H. (d) pembahasan kritis atas pemikiran-pemikiran antropologis dan filosofis belum terlihat. ___________. 2005. 1984. Tesis Pascasarjana Antropologi.S. karena di jurusan antropologi UGM strukturalisme Lévi-Strauss diajarkan secara khusus selama satu semester. Ahimsa-Putra. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. 69 . (c) beberapa konsep penting dalam strukturalisme yang mulai dikenal dan dimengerti adalah konsep struktur. Dari paparan di atas kita dapat mengatakan bahwa (a) strukturalisme yang dikenal di Indonesia adalah strukturalisme yang dikembangkan oleh Lévi-Strauss. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. (b) strukturalisme Lévi-Strauss masih terbatas dikenal di kalangan pelajar antropologi. Namun. signified. di samping konsep-konsep seperti nirsadar. *Penulis adalah Pengajar Antropologi Budaya. dan sebagainya. dan transformasi. Universitas Gadjah Mada. Makalah seminar. signifier. di tingkat pascasarjana. terutama di UGM. karena hal semacam ini menuntut pemahaman yang mendalam atas berbagai paradigma dan pandangan filosofis yang berkembang dalam antropologi dan filsafat. dan tampaknya belum akan muncul dalam waktu dekat.

“Lévi-Strauss. Mitos dan Karya Sastra. ___________. ___________. Nalar Jawa. 1999b. ___________. ___________. 2000a. ___________. Makalah seminar. Rahayu S. 2002c. ___________. Makalah seminar Arkeologi. 1998b. 1999a. Paz. 1997. Jakarta : UI Press. Yogyakarta : LKIS. Makalah seminar. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2001. ___________. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. ___________.___________. Tembi 1 Thn. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. Makalah seminar. 1998a. ___________. Makalah dalam bedah buku. “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. Yogyakarta : Galang Press. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. Makalah Pelatihan. Humaniora 12 : 1 – 13. Tiga Dasawarsa. 2002a. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. 1999c. Gerbang 5 (2) : 88 – 97. O. 2002d. September – Desember. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. Orang-Orang PKI. ___________. ___________. 70 . Salam (ed). “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. 2002b.I : 10 – 19. A. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. (ed). dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng-Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. ___________. Roland Barthes : dari Strukturalisme ke PostStrukturalisme. 2000b. Strukturalisme Lévi-Strauss. Dua Paradigma. Makalah Sarasehan. Satu Model. 1998c. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. ___________. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa.

___________. 2004. 2007a. ___________. Tesis Pascasarjana Antropologi. Kepel Press : Yogyakarta. ___________. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi.___________. 2005. Abror. Badcock. Yogyakarta : Kepel Press. Makalah seminar. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. N. Ahimsa-Putra (ed. ___________. Metodologi dan Etnografi. 2006c. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. 71 . 2008b. ___________. 2003. ___________. Edisi Baru. Makalah bedah buku. Abdullah (ed. ___________. Mitos dan Nalar Primitif. ___________. Totem. Satwa. ___________. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. T. 2006b. Terj. Ritus Pertukaran”. 2006a.S. Makalah seminar nasional. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya Bugis-Makassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya Bugis-Makassar. Jakarta : Rajagrafindo Persada. Sawerigading. 2008a. ___________. 2006e. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru.). Analisis Struktural Lévi-Strauss dan Mitos Tasawuf. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. Universitas Gadjah Mada.). Ritus Penandaan. Humaniora XV (3) : 239 – 264. Yogyakarta : Insight Reference. Mitos dan Karya Sastra. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. C. Robby H. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasirelasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. 2007b. Makalah diskusi. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. H. 2006d. ___________. Makalah bedah buku. Strukturalisme Lévi-Strauss. Leni. 2002e.

Purwadi. London : Ark Paperbacks. D.). Universitas Gadjah Mada. Universitas Gadjah Mada. Budaya dan Struktur Masyarakat Tiongkok pada Dinasti Qing dalam Novel “Hong Lou Meng”. Tesis Pascasarjana Antropologi.). 2007. Universitas Gadjah Mada. A. Tesis Pascasarjana Antropologi. 1979. Radjabana. 2005. 72 . D. 1979. Menjadi Katolik Bagi Keturunan Cina di Jawa : Pertukaran Sosial Antara Keturunan Cina dan Gereja Katolik di Jawa. 2007. Ngawa. D. Struktur Budaya Orang Dani di Desa Jiwika. 2003. Sumintarsih. 2008. 1998. Tesis Pascasarjana Antropologi. Kulon Progo. Yogyakarta. Makanan dan Struktur Budaya Minangkabau. Tesis Pascasarjana Antropologi. Pace.I. Universitas Gadjah Mada. 1986. S. 2004. J. Universitas Gadjah Mada. G. Sturrock (ed. Claude Lévi-Strauss : The Bearer of Ashes. Universitas Gadjah Mada. Universitas Gadjah Mada. Kabupaten Jayawijaya : Suatu Kajian Strukturalisme Lévi-Strauss. Tesis Pascasarjana Antropologi.K. Purnama. “Introduction” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Tesis Pascasarjana Antropologi. Oxford : Oxford University Press. Analisis Struktural Lévi-Strauss. Ngambu. Liwa : Analisis Strukturalisme Lévi-Strauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.Listia. Prinsip-prinsip Struktural dalam Rumah Tradisional Sumba di Umaluhu. Nasrulah. 2009. J. Sturrock. Sturrock (ed. Disertasi Antropologi. Distrik Kurulu. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. 2002. Numbery. Rumah Limas dan Struktur Pemikiran Orang Palembang. Loro Blonyo Dalam Rumah Tradisional Jawa : Studi Tentang Kosmologi Jawa. Sperber. 2000. Ngaju. Posisi Wahyu dalam Agama Kristiani dan Islam : Studi Atas Perbedaan Agama Kristiani dan Islam Menurut Strukturalisme Lévi-Strauss. Xiao Lixian. Subiantoro. J. Tesis Pascasarjana Antropologi. Maryetti. Oxford : Oxford University Press.H. Tesis Pascasarjana Antropologi. Pertukaran Dalam Hubungan Subkontrak di Kalangan Perajin Agel.

tuhan.11 readers like this article. kertas kerja tentang kajian budaya. Audio Archive : FGD Meteor Garden On 2002. in Indonesia. KUNCI Cultural Studies conducted a research on the popularity of Taiwan’s TV series. laporan penelitian. During the research. filsuf perempuan. Tema-tema khusus yang menjadi fokus utama … More articles » General » Tiga Usia Jacques Derrida Derrida berbicara tentang arti biografi. … More articles » Buku » Koleksi Terbaru Perpustakaan KUNCI September-November 2009 Perpustakaan Kajian Budaya KUNCI mengoleksi buku teks. Laporan ini dibuat pada tahun 2006. dan usia manusia dalam sebuah perbincangan dengan Kristine McKenna dari LA Weekly. makalah. jurnal. KUNCI asked Meteor Garden’s fans reception to the show through forum group discussion. 73 . Selain itu perpustakaan juga memiliki koleksi media alternatif (zine) dan transkrip hasil diskusi. Meteor Garden. More articles » Kertas Kerja » Demam K-Drama dan Cerita Fans di Yogya oleh YULI ANDARI M Yuli Andari menuliskan pengamatannya tentang demam drama Korea dan para fans di Yogyakarta. kematian.

More articles » Kolom » Putih oleh YULI ANDARI M Sejak kecil saya telah menyukai pantai. lengkap dari bagian I sampai bagian IV. saya menyempatkan diri ke pantai bersama teman-teman atau kerabat. Saya bisa menghabiskan waktu seharian di pantai dengan berbagai aktivitas: mandi. maupun organisasi aktivis. Bila ada kesempatan di akhir pekan. kampanye isu tertentu. More articles » PDF » VIDEOCHRONIC [scroll down for English version] Beberapa dekade belakangan Indonesia mengalami perubahan yang cukup drastis dalam penggunaan video sebagai alat perubahan sosial baik di ranah komunitas. merebahkan badan … More articles » Magazine » Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN Ini adalah kumpulan Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN. Alat memproduksi video semakin terdemokratisasi … More articles » Public Culture Series » Strukturalisme Levi-Strauss di Indonesia 2009 oleh HEDDY SHRI AHIMSA-PUTRA 74 .

More articles » Review » “Kalaupun punk mati…” oleh FERDIANSYAH THAJIB Sebagai salah satu tampilan subkultur yang kini sering diutak-atik dalam beragam laporan ”tampak muka” rubrik gaya hidup di media massa sehari-hari. praktikkan gaya membaca “penyusutan” | Indonesia Buku on Newsletter KUNCI #15 Space/Scape Project • • Warung Kidul di Alun-alun Selatan 27/11/2009 nuning Monumen Cinta 24/11/2009 nuning ANONYMOUS WRITERS CLUB • aku ingin hidup aku ingin hidup […] Archives • • • • • • • December 2009 November 2009 October 2009 September 2009 August 2009 July 2009 June 2009 75 . punk dibaca secara nostalgis dalam hubungannya yang selalu serba salah di hadapan tradisi (lokal) … Comments • • Avatar Play « ŚĨβĔŔРŔŐÚŚŤ ŤĔŔĂ on Avatar: “Visualizes yourself!” (Estetika Populer dan Identitas dalam Technoculture) Oleh ARIE SETYANINGRUM Umberto Eco: Di era fotokopi dan rimba informasi internet.Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada. mengapa? Hedy-Shri Ahimsa Putra mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. seperti apa? Di kalangan yang mana ia menunjukkan pengaruh? Kalau tidak ada atau kurang terlihat.

Tahun 31. Sebuah Wawancara dengan Bapak Dekonstruksi . Key words: batik.Abstracts due 22 FEB 2010 11/01/2010 .. yaitu berbagai entitas yang dikaji seolah-olah memiliki relasi yang segaris (Line Relation). Pujianto tampaknya menggunakan kajian simbolik. Robby Hidayat adalah dosen Jurusan Seni dan Desain. Nomor 1. sawat. still needs to be completed with a structural approach proposed and developed by the French anthropologist Levi-Stauss. Fakultas Sastra. symbolic approach. Pujianto writes a book on batik semen. 76 . Pola diskripsi kajian simbolik seperti pada paparan dan analisisnya menunjukan sebuah pola linier .Abstracts due 22 FEB 2010 To: danuprimanto@.com/ybecqvt 02:53:47 AM December 03. motifs.. From: primanto danu Subject: Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung .http://tinyurl.Networks • • • • Arts Network Asia Ford Foundation Indonesian Visual Art Archives Yes No Wave Music Twitter ‘New article. The structural approach produces research results different from those produced by the symbolic approach. Tiga Usia Jacques Derrida. Date: […] KAJIAN STRUKTURALISME-SIMBOLIK MITOS JAWA PADA MOTIF BATIK BERUNSUR ALAM Robby Hidajat Abstract: Batik is a product of Javanese culture... Mencermati artikel Pujianto berjudul Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam (Jurnal Bahasa & Seni. In his study he employs a symbolic approach. 2009 from WordTwit KUNCI-List • Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung . The latter approach may lead not only to analyzing symbolizations but also to placing symbols in a given structure. structural approach. Februari 2003). Universitas Negeri Malang. the writer suggests using the structural approach as a complement for the symbolic approach. arguing for the myths underlying those different motifs. according to the present writer. and alas-alasan and their relationship with Javanese mythology. forms. Therefore. Javanese mythology. with a great variety of sizes. which. and functions. Pokok pikiran seperti pada judul artikel tersebut dan mencermati uraiannya.

Pemahaman Pujianto menjadi semakin anakronistik ketika menyimak skematis pada halaman 138. 137). Pemikirannya menjadi sangat lancer karena terdukung oleh tata makna yang bersifat konvensional. Pujianto sangat terbantu oleh paham filosifis Jawa. Unsur Alam Kehidupan dan Unsur Batik . professor di College de France. Lenger (studi seni). dua tokoh tersebut sangat berpengaruh pada pada pemikir tentang simbol .Hidayat. tetapi tidak menunjukan sistematika analisisnya. yaitu seperti model analisis yang dikembangkan oleh Ernst Cassire (studi budaya) dan Sussan K. 1986). salah seorang tokoh strukturalisme Prancis. Heddy Shri Ahimsa-Putra seorang antropolog dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengomentari kelemahan kajian simbolik. bolik menjadi pola pencermatan yang sangat popular di lingkungan pengkaji seni. Sementara simbol di balik yang disimbolkan kadang sulit atau seringkali tak terjangkau. yaitu terbatas pada aspek permukaan (2000:402). Bertolak dari artikel Pujianto. Seakan-akan unsur ornament . Langkah ini tidak akan lengkap dan mantap tanpa memperhatikan pandangan pemilik budaya. Perspektif simbolik. Skema yang dipaparkan tentang adanya relasi antara sifat orang Jawa . M. Mauss. Hal ini dapat disimak pada table 1 [ Mitologi Jawa dalam Motif Batik] (hal. artikel ini bermaksud melakukan reinterpertasi ulang dengan model strukturalisme-simbolik. Teori Durkheim menjadi dasar pembenaraan adanya relaisi-realasi dalam struktur kebudayaan manusia yang seolah-oleh seperti Organisme biologi (Abdullah & Leeden. Pujianto telah mengemukakan bahwa Batik . Kajian Strukturalisme-Simbolik 287 Kajian simbolik yang digunakan oleh Pujianto dalam mencermati Motif Batik unsur Alam adalah pola pemikiran yang khas dari para peneliti sebelum generasi Roland Barthes. artinya wujud objek dicermati sebagai susunan unsur-unsur yang telah memiliki relasi tertentu. bahwa kajian 288 BAHASA DAN SENI. lambang dan arti seoleh-oleh membuat pembenaran adanya relasi tentang konsep hindusitis yang disebut triloka . referensinya telah tersedia. sehingga pembahasan tentang simbol menjadi sekenanya (2000K:4a0ji3a-n40S8i)m. Pujianto telah memaparkan panjang lebar. Agustus 2004 simbol tidak melakukan kajian struktur. Dasar utama pemikiran yang digunakan oleh Pujianto secara mendasar mengacu pada filsafat makna. misalnya sebagai contoh 77 . Sebuah kajian berpijak pada paradigma Strukturalisme. Tahun 32. Kadang pelacakkan simbol umumnya hanya mencermati tata bentuk visual. Ini yang dimaksudkan oleh Heddy Shri Ahimasa-Putra. yaitu strukturalisme fungsional. Salah satu kajian yang dikembangkan oleh Levi-Strauss. setidaknya telah dilakukan oleh Pujianto. Hanya saja bagaimana pola relasional filosofis Jawa itu terkait dengan motif batik berunsur alam ?. Simbol yang ditafsirkan atas dasar wujud fisik dari sesuatu yang terindra sebagai tanda bermakna. dapat meletakan posisi batik sebagai benda yang bersifat funsional di lingkungan budaya Jawa. Entitas ini muncul secara tiba-tiba. suatu usaha menafsir terhadap simbol-simbol. Paparan Pujianto seolah-oleh seperti bentuk analisis realasional. di samping tokoh yang lain. Falsafah orang Jawa . terutama menyimak relasi lambang dan arti . di samping bersandar juga pada pemikiran Emile Durkheim. Nomor 2. Pada kaitan ini. Berdasarkan pemikiran Emil Durkheim.

bangun-tulak. kawulaningsun Wedana. Jenis batik ini sering digunakan oleh Raja untuk upacara-uparada agung. dan untuk pengantin pria pada waktu ijab Kabul (Semen Rama). Tetapi sebuah analisis yang lebih sistematis. seperti yang disampaikan oleh Soedjoko yang dikutip oleh Amri Yahya. fungsinya sebagai busana seorang raja Jawa (Kasunanan Surakarta) ketika bertahta. Adapun batik Cumangkirang yang acalecep berupa lunglungan (sulur) atau kekembangan (bunga-bungaan). batik cumangkiri yang calacep. Mengingat strukturalisme model Levi-Strauss memandang struktur sebagai model dari pola pikir manusia dalam memahami dunianya (Kaplan & Manners. lenga-teleng. Strukturalisme lebih menekankan pada sebuah cara berpikir dari masyarakat sederhana yang menganggap bahwa sistem sosial hanyalah refleksi dari sistem dunianya atau dengan kata lain mikro-kosmos merupakan refleksi dari makro-kosmos (Randrianarisoa. tetapi (hanya tempil) pada kain baik sebagi (untuk) Dodot bangun-tulak (pola busana) dengan kombinasi prada emas. Kajian Strukturalisme-Simbolik 289 batik cumangkirang ingkan acalacap lung-lungan utawa kekembangan. Konsep dari fungsi adalah memiliki kaitan relasional dengan unsur yang memungsikan suatu benda. 2003: 131). daragam. 1983:213). dan batik parang rusak. utamanya ketika sedang bertitah. maupun Abdi Dalem. ingkang ingsun kawenangaken anganggona pepatih ingsun lan sentaningsun. titahnya merupakan keputusan yang terbagik bagi dirinya. Bahkan Sunan Paku Buwana III pada tahun 1769 mengluarkan larangan menggunakan batik tertentu. modang. Wedana. Batik Sawat merupakan salah satu batik yang menjadi milik raja. Pemikiran ini yang mengarahkan pada kajian structural. Konsep-konsep dari fungsi menunjukan adanya sebuah struktur. 1985: 16) Adapun barang berupa kain panjang (jarit) yang termasuk larangan saya (raja): Batik Sawat. sebagai berikut: Motif Semen dalam penerapannya di dalam keraton diperuntukkan bagi Pangeran.uraian tentang fungsi batik alas-alasan. Adipati. dan rakyatnya. dan tumpal. modang. tetapi untuk mencermati sebuah simbolisasi dari benda-benda fungsional menjadi lebih kredibel. dan tari Bedhaya (halaman 133). baik pemikiran Emile Durkheim atau Levi-Strauss. dan abdidalem. Landung Simatupang. Pujianto mengemukakan batik bermotif Sawat merupakan busana yang melambangkan kebijakan raja. (Pujianto. bangun tulak. BATIK BERUNSUR MOTIF ALAM 78 . sebagai berikut: Ana dene kang arupa jejarit kang kalebu ing laranganingsung: Batik Sawat lan batik parang rusak. Motif Sawat secara etimologis dipahami semi . daragam lan tumpal. Pernyataan Pujianto dan Amri Yahya jelas. batik cumangkiri kang calacep. (Yahya. bahwa Batik merupakan benda fungsional. terj. keluarganya. Relasi dari benda dan orang yang memfungsikan didasarkan oleh sebuah konsep . Anadene Hidayat. (halaman 130) Motif alas-alasan tidak tampil pada semua jenis kain batik. 2000: 237). Mengetengahkan paradigma strukturalisme sebagai model telaah batik berunsur alam bukan cara pandang yang berbeda dengan pemikiran Pujianto. lenga-teleng. Walaupun kedua teori tersebut berpijak pada konsep yang berbeda. yang saya perbolehkan dipakai Patih.

Berdasarkan konsep Triloka. 1997: 80). Skema relasional antara konsep Triloka dan motif batik berunsur alam Keterangan: Batik seolah-oleh memiliki kaitan dengan konsep triloko. Selanjutnya relasi tentang kesuburan tidak dibahas secara mendalam. sementara batik Sawat memiliki kaitan dengan alam tengah. seperti Levi-Strauss menganalisis tentang makanan. yaitu: Alam atas. yaitu ada kesamaan bentuk dengan pengertian konvensional tentang makna kesuburan . seperti yang digambarkan berupa tanaman menjalar (sulur) sebagai penggambaran alat kelamin pria (halaman 130). Penyebara benih. yang dijelaskan oleh Pujianto. Skema segitiga kuliner model strukturalisme Levi-Strauss Dasar pemempatan sample tiga motif batik tersebut bersifat abitrer (sekenanya). Bentuk Semen merupakan tanda penyebaran benih.Pujianto memilik topik penulisan artikel tentang batik berunsur motif alam dengan objek batik yang berkembang di keraton (?) [tidak dijelaskan lebih sepesifik keraton yang mana] dengan sample analisis batik bermotif Semen. dan Alas-alasan memiliki realisi dengan mitos kesuburan dan kekuasaan. tiga motif batik yang terdiri dari motif Semen. Analisisnya lebih pada pemahaman tentang adanya persepsi bentuk. Pemilihan relasi paham triloka didasarkan atas kesamaan relasi tiga . Agustus 2004 ran dan kekuasaan Apabila benar. sebagai berikut: Gambar 1. agar benih tersebut dapat bersemi. Bahawa dunia dibagi menjadi tiga tataran yang bersifat hirarkis. alam tengah. dalam kaitan ini adalah Raja Jawa . pemikiran Pujianto tampaknya seperti skema tersebut di atas. demikian juga tentang kekuasaan . Nomor 2. Levi-Strauss menempatkan makanan dengan pola analisis segitiga kuliner (Cremers. Ketiga mofif batik tersebut diasumsikan bersumber pada fenomena alam sebagai lambang kesuburan dan kekuasaan 290 BAHASA DAN SENI. Sawat. Langkah awal yang akan dilakukan adalah menghubungkan ketiga motif tersebut. yaitu Semen Sawat Alas-alasan Hidayat. Kajian Strukturalisme-Simbolik 291 dipahami sebagai kenyataan tentang kosmologis Jawa. Pemahaman tersebut dapat disekematiskan sebagai berikut Gambar 2. dan alam bawah. urairan tentang bentuk Semen. sebagai berikut. dengan tujuan menguji adanya keterkaitan dengan paham filosofis Hindu tentang Triloka [tri = tiga dan loka = dunia]. Berdasarkan skema tersebut di atas. yaitu dipahami dari adanya berdasarkan analogi. yaitu yang memahami bahwa secara kosmologis dunia dibagi menjadi tiga. Batik Semen memiliki hubungan kesamaan motif dengan dua batik yang lain (Sawat & Alasalasan). Batik Semen memiliki kaitan yang bersifat vertical alam atas. Semen 79 . dan batik Alas-alasan memiliki kaitan dengan alam bawah. dan demikian pula dengan batik Sawat & Alas-alasan yang memiliki kaitan dengan batik Semen. selanjutnya dicermati lebih lanjut dengan menyusun table realasi dari ketiga entitas tersebut di atas. Sawat. dan Alas-alasan. sehingga simbolisasi tentang kesuburan tidak dikemukakan secara jelas oleh Pujianto. Tahun 32. Misalnya.

roh ALAM TENGAH Manusia. angkasa. kumbang. Matahari Burung Garuda. kupukupu. kuda. Nomor 2. kakyaan. gunung. Lar (sayap). ALAM 80 . tumbuhtumbuhan Kehidupan. pengavoman. Awan. suci. Agustus 2004 Tabel 1. harimau. kejayaan. burung merak. kesaktian. Tahun 32. Kalpataru. hidup. (pohon hayat) Ayam jantan. Tanah Brahma Tumbuhan. wahyu. Awan. Lar (sayap) bersulur bangunan. kegembiraa. kemakmuran. kapal Udara.Sawat Alas-alasan Alam bawah Alam atas Alam tengah 292 BAHASA DAN SENI. Kekuasaan. Garuda. Analisa Taksonomi Relasi antara Konsep Triloka dan Motif Batik Berunsur Alam SEMEN SAWAT (GURDO) ALAS-ALASAN INTERPERTASI MAKNA ALAM ATAS Gunung Semeru/ Brahma Lingga (Siwa) Tirta Marta Raja Burung.

Pemikiran ini ditunjukan oleh Levi81 . Model pemahaman yang dilakukan oleh Pujianto adalah analisis analogi. dan memiliki relasi dengan mitos tentang burung dewata . 2003:134). dan sebagian kecil berrelasi dengan kolom alam tangah . berrelasi dengan bulat yang disebut Matahari . Sedangkan untuk kolom alam bawah tidak menunjukan adanya relasi. Matahari yang berbentuk bulat.BAWAH Laut. Berdasarkan hasil pencermatan melalui table 1. bahwa sistem analisis terhadap motif batik berunsur alam kurang menunjukan akurasinya. sehingga ular berrelasi dengan dunia bawah (Pujianto. Akan tetapi menjadi kurang mampu memberikan pemahaman yang lengkap dan jelas. yaitu sesuatu menjadi ada karena memiliki realsi dengan keberadaannya. 2002: 24. bahwa ketiga batik tersebut memiliki pormasi struktural yang lain. Wisnu. yuitu tidak dengan paham triloka yang dianggam memberikan makna pada motif batik berunsur alam. Salah satu burung yang diyakini sebagai kendaraaan dewa Wisnu. atau ular yang berrelasi dengan air. Paparan Pujianto dalam menguraikan makna-makna seolah-oleh benar. Kalau diperhatikan. sacral. Sementara Pujianto hanya menyitir dari hasil pemikiran peneliti lain yang telah berupa pernyataan. laut. ternyata tidak semua motif batik berunsur alam memiliki realisi dengan konsep triloka. simbol dibaca dari materi yang seolah oleh menyimbolkan dari sesuatu. Tabel 1 menunjukan sebuah sistem analisis makan. Analisis ini menunjukan. sebagai lawan garuda. Ditemukan relasi kearah paham monisme dualitik. kematian Tabel di atas merupakan dasar analisis yang dilakukan oleh Susanto (1983: 235-237). dan Veldhuisen (1988: 28) yang dicuplik oleh Pujianto ( halaman 134-135). yaitu menempatkan raja dengan kode (+) dan rakyat dengan kode (-). Tetapi menekankan relasi batik berunsur alam dengan fenomena kekuasaan Jawa . ternyata segi tiga kuliner tersebut tidak cocok. Apabila diubah relasinya. Betari Sri Laut. Maka dimungkinkan. Zoetmulder. yang dimungkinkan mendapatkan sebuah gambaran yang jelas tentang lambang-lambang dan ditafsir. atau kurang dapat memberikan pemahaman secara komperhensif. 2000:127). kedukaan. atau tidak terbukti. Sebagai contoh garuda dipahami berdasarkan makna sifat dari binatang yang mampu terbang. bukti Hidayat. Ular (naga) Kesuburan Roh-roh jahat. yaitu memandang kosmis tercipta serba dua (Sutarno. tidak berelasi dengan bulat yang disebut dengan rembulan . Jika dicermati lebih lanjut paham monisme dualitik memandang dunia ini terbentuk berdasarkan relasi yang bersifat oposisional (bertentangan dalam kesatuan). sungguhpun tidak seluruhnya salah. Kajian Strukturalisme-Simbolik 293 nya unsur-sunsur alam tampak mengelompok pada kolom alam atas . sengsara. Analisis pada tabel 1 menunjukan. sungai. bahwa konsep triloka dimungkinkan tidak tepat.

keluhuran. realasi. kebesaran. Tabel yang dibuat oleh Pujianto. Bahasa sebagai suatu lengue berada dalam waktu yang bisa berbalik (reversibele time). walaupun langkah pencermatannya tidak secara mendalam membicara Skematis antara wujud. yaitu sesuatu yang tidak tampak pada gambar itu sendiri. (Ahimsa-Putra.Strausss berdasarkan konsep Ferdinad de Saussure tentang bahasa. Nomor 2. karena dia terlepas dari perangkap waktu yang diakronis. bahkan mengetengahkan kemungkinan strukturnya. yaitu waktu yang bisa berbalik. kekuasaan. cerita Garudia Kejayaan. Analisis motif batik berunsur alam yang terdiri dari motif Semen. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata). bahwa motif batik berunsur alam dapat dipahami sebagaimana langue dan parole [simak John Strorey. juga berada dalam dua waktu sekaligus. (antara ornamen. Mitos. cerita Ramayana. kebijakan. Kajian Strukturalisme-Simbolik 295 Tabel 2. perwujudan yang terlukis pada kain (jarid) yang berfungsi sebagai busana para priyayi Jawa. 2001: 80-81). Aspek visual yang ditangkap menjadi perhatian utama untuk dipahami relasi-relasinya. sedangkan aspek langue dari sebuah bahasa adalah aspek strukturalnya. yang relative tetap. Hidayat. Tabel analisis berikut secara keseluruhan memanfaatkan data yang ditulis oleh Pujianto berdasarkan cuplikan dari berbagai sumber. yaitu menempatkan unsur-unsur yang saling berkait dan saling menjelaskan. kesetiaan 82 . lambang dan arti tidak menunjukkan sumber data. tetapi bahasa sebagai parole tidak dapat terlepas dari perangkap waktu itu sehingga parole dianggap oleh LoviStrauss berada dalam waktu yang tidak dapat berbalik (non-revarsible time). Analisis Relasi dan Simbol Motif Batik Berunsur Alam Wujud Motif Relasi Simbol Burung. Tetapi tabel 2 di atas cukup jelas. Struktur inilah yang membedakan suatu bahasa dengan bahasa yang lain. Bahasa dalam pengertian ini merupakan struktur-struktur yang membentuk suatu sistem atau merupakan suatu sistem struktur. Akan tetapi wujud gambar itu menunjukan adanya pola realisonal yang bersifat permanen. dan waktu yang tidak bisa berbalik. Bahasa memiliki aspek Langue dan parole parole adalah bahasa sebagaimana dia diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sarana berkomunikasi. 2003:105-142]. yaitu diucapkan. dan relasi konstan). seperti katakata (bahasa) yang sebagai alat komunikasi sehari-hari. (simak halaman 134-138). dan motif Alas-alasan dapat lebih mendalam. dan simbol dapat dikemukakan sebagai berikut. Analisis ditujukan untuk mencari strukltur (Pujianto mengartikan dengan Mitologi. Parole adalah aspek statistikal dari bahasa yang muncul dari adanya penggunaan bahasa secara kongkrit. tabel 1 Mitologi Jawa dalam Motif Batik (lihat halaman 137) tidak jelas. kata Levi Strauss. motif Sawat. Agustus 2004 gunakannya. yaitru disebut struktur atau sebagai grammer pada bahasa. Motif yang terlukis selain menunjukan pola gambar yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan. Tahun 32. Pemahaman di atas menunjukan. Pertimbangannya adalah cuplikan tersebut merupakan data yang telah teranalisis. yang tidak terpengaruh oleh individu-individu yang meng294 BAHASA DAN SENI.

Wanita (femimimitas) Kasih saying. kesetiaan. Kejantangan Kekuatan. Tahun 32.Lar (sayap) Unggas bersayap. kekuasaan. kasih sayang. Kejantanan Keperkasaan Ayam jantan. Agustus 2004 tentang mitologi Jawa. kecerdirkan. pencerahan. Harimau. Kebebasan. kesetiaan Burung merak. Tetapi mengarah pada kajian simbolik) pemikiran masyarakat pemilik simbol. kebesaran. pikiran Bangunan. kekayaan. kepergiaan. ketentraman Laut. Kuda. Nomor 2. ketentraman Motif Sawat Pohon hayat Pohon beringin. ketentraman. penghancur. kebijakan. kekayaan. kekuasaan Kapal. pencerahan. kekuatan perusak. atau pandangan para priyayi 83 . kebijakan. kebesaran. kebijakan. kekayaan. kelestarian. keabadian. Mitos Sri Sardono Kemakmuran. Mitos tentang kesejodohan Kecantikan. ikatan kekerabatan. rintangan. ketentraman Burung Garuda. keperkasan. mitos SriSadana Kemakmuran. kekuatan penakluk Motif Alasalasan Ular (naga) Dewa Siwa. kekuasaan. kalpataru. keinginan. langit. pembasmi. kesucian Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. kekuasaan. kebebasan Sulur Tanaman menjalar Kesuburan. mitos Sri Sadana. Istana. Mitos Laut selatan. Kupu-kupu. kecantikan Lar (sayap) Unggas bersayap. tanah Kejahatan. ringin kurung. Mitos kematinan. kegelapan 296 BAHASA DAN SENI. pikiran. ketenangan. alam kegelapa. bentuk wayang rampokan Kebebasan. angkasa (langit) Maskulinitas (bapa). kekuasaan. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata) Kejayaan. Sorga. puncak meru. Rumah. Kejantanan Kekuatan. keperkasaan Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. Dalam hal ini diarahkan pada masyarakat keraton Jawa dari dinasti raja-raja Mataram. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. perlindungan. kebebasan Gunung Mitos tentang sorga. harapan. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. Kejantanan (maskulinitas) Keperkasaan. kedamaian. pundhen desa. Sorga Ketentraman. kesetiaan Kumbang. harapan. keluhuran. kayon Puncak. pelepasan. tujuan Motif Semen Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. gunungan wayang kulit (Kayon) Perlindungan. Kemakmuran. perdamaian Awan.

logis. analisis kebudayaan berdasarkan perspektif strukturaliseme adalah analisis unit mental (Masinambaw & Hidajat.(maksud dari Pujianto adalah keraton Kasunanan Surakarta). dan lain-lain. secara linier dicari keterkaitannya dengan mitos Jawa (salah satunya digali dari paham filosis Jawa). akan tetapi lebih mendalam. Kondisi ini dikarenakan oleh sifat diskriptif yang tidak analitis. yaitu yang terrangkum dalam salah satu bentuk. Paparan pada artikel Pujianto tampaknya rasional. Hidayat. Pendekatan Strukturalis tidak hanya berhenti memahami teks (wujud kain batik. Pujianto mengemukakan opininya tentang mitologi Jawa pada subbab Pandangan Hidup Orang Jawa (halaman 137-140). Unsur mitos. Kajian Strukturalisme-Simbolik 297 dan keputusan sesorang. Pendekatan strukturalisme mengarahkan kajian pada mitos. Akan tetapi perlu disadari. makna tidaklah dicari pada dunia eksteral. gambar. seperti motif Sulur-suluran. 2001:31) Fenomena ini seperti kita berbicara. sehingga tercipta berbagai bentuk mitos tentang asal usul sebuah komunitas. merak). seolah-olah referensi dari berbagai sumber benar-benar memberikan dukungan pada asumsi judul. meliputi warna dasar. kupu-kupu. dan lain sebagainya. ukuran. salah satunya adalah menggunakan teori semiotika. sebenarnnya semua orang tidak dengan amat menyadari tata bahasa (grammer) yang sedang digunakan. tetapi bersamaan dengan itu. dan referentif. unggas (burung garuda. Melalui pendekatan Strukturalisme dapat mencermati motif (wujud material visual sebagai tanda) pada Batik. atau Alas-alasan. Mitos adalah grammer yang membimbing sebuah komunitas memahami realitas kehiduannya. yaitu tentang paham monisme dualistik. Motif-motif pada batik yang memvisualisasikan fenomena alam diangkat sebagai morfem (unsur terkecil dari unit kata). dan berbagai perujudan lain termasuk jumlah dan pengulangan bentuknya. Struktur Batik Semen didiskripsikan sedemikian rupa. Fenomena alam yang berwujud motif alam pada kain batik. atau Hermeneutik. Paparan tersebut merupakan interpertasi 84 . Maka. Kemudian dilanjutkan menelaah makna dengan alat analisis. Struktur sebagai bagian dari sistem mental manusia adalah sesuatu yang berada di luar kesadaran manusia dan merupakan kebudayaan itu sendiri (Masinambaw & Hidajat. Maksudnya adalah mencari makna dari tanda . sehingga tidak menyadari adanya ambiguitas. Metode ini yang dimaksud oleh Heddy Shri Ahimsa-Putra sebagai kajian tekstual (2000: 404). Pujianto lebih menitik beratkan pemahamannya tentang mitologi Jawa yang tampak pada motif-motif batik berunsur alam. kata demi kata yang terlontar sangat disadari maknanya. naga. Kajian yang menjadi sasaran adalah kesadaran dari ketidaksasaran tindakan. antara judul yang diajukan dengan pokok pikiran yang dipaparkan. garis-garis. mitos kesuburan. awan. pohon hayat.motif pada kain batik. Artinya selembar kain batik yang disebut Semen. mitos kekuasaan. tanaman. ucapan. lidah api. kemudian motif-motif dianalisis keterkaitannya dengan motif-motif lain untuk menentukan sebuah struktur. Sawat. mitos perjodohan. dipahami sebagai sebuah struktur. dan motif-motifnya). salah satunya ada pada motif batik. posisi motif. seperti bentuk batik Semen. kaitanya dengan mitologimitologi tertentu yang menghadirkan motif. 2001:31). melainkan diperoleh atas dasar pertalian tanda-tana (artinya antar tanda) itu sendiri.

Hakekatnya adalah sebuah 298 BAHASA DAN SENI. Paham ini dikenal dengan konsep dewa raja . Woro Ariyandini S. yaitu . sebagai berikut: Kepriaan biasanya dikaitakan dengan warna putih 9air mani).untuk menemukan makna. yaitu memahami angkasa sebagai bapa (eksistensi maskulin) dan bumi sebagai ibu (eksistensi feminim). dan kreativitas yang dikarsai. bumi. Agustus 2004 presentasi idealistik raja Jawa yang menganggap dirinya adalah menivestasi Dewa . Penguasa masyarakat adalah raja yang dianggap mewakili kekuasan Tuhan di dunia. langit. Kekuasaan tidak dapat berdiri sendiri. Mitos tentang relasi atas-bawah juga hadir pada konsep-konsep tentang kesuburan.1994 :228) yang terwujud dalam mitos-mitos kekuasaan. Wanita dikaitkan dengan warna merah (darah). dan kreativitas alami kedua-duanya dipandang perlu pemaduan. dan rakyat dipandang sebagai kawula . Penguasa dan rakyat ada hubungan timba-balik. yaitu Loro-loroning Atunggal. Nomor 2. berfungsi (raja) sebagai pusering bumi lan langit (pusat bumi dan langit sekaligus) (2002: 101). kehangatan. Curiga manjing warangka. spontanitas. sebuah batik yang digunakan oleh Susuhunan Pakubuwana (Surakarta) ketika duduk di dapar kencana. sebuah citra yang kuat. Danaita. yaitu sebuah paham kemanunggalan (kesatuan) yang berikutnya menjadi paham monisme dualitik. Raja yang bersifat Saraita. Ken Arok melegitimasi dirinya sebagai putra Betara Brahma. Konsep tersebut dimungkinan dapat ditafsirkan dari bentuk struktur batik Sawat.] dan duwur (atas) [ + ]. tetapi harus diwujudkan sedikitnya dua relasi. Agar uraian Pujianto menjadi lebih lengkap. Pandangan ini telah dikonstruk sejak jaman kerajaan Singasari. maka juga ada persatuan antara manusia dengan penguasa masyarakat. Bila dengan ungkapan manunggaling kawula-Gusti (dengan G besar) dimaksudkan sebagai persatuan antara manusia dengan penguasa gaib (Tuhan). yaitu makna yang tersimpan pada struktur dalam (deef stracture). siap memberi bantuan pada siapapun yang membutuhkan. Agar dapat memahami eksistensi Gusti dan kawula dan analoginya gusti (raja) dan kawula (rakyat) maka tercipta sebuah konstruk pikiran Kawula Gusti . Darmaita ( ahli stragegi perang. istilah ini berrelasi dengan 85 .. dan bersikap adil). bentuk. seorang peneliti dari Universitas Indonesia menjelaskan paham tersebut sebagai berikut: Dalam pikiran orang Jawa. Anthony Reid mengemukakan perihal esensi pria-wanita yang bersifat saling melengkapi. (1992:186) Menyatunya dua eskistensi tersebut menurunkan yang disebut wiji . Persatuan ini diibaratkan sebagai manunggaling kawula gusti (dengan g kecil). bahwa raja Jawa dipahami sebagai Gusti (bahasa Jawa gusti juga dipahami sebagai kekuasaana gaib dari realitas transendental).. bibit . Tahun 32. kesejukan. paparan berikut ini menganalisis deef stracture berdasarkan realsi antar tanda pada motif batik yang dimaksud. atau tunas yang harus di semai kan. Tuhan (Gusti) memiliki kuasa atas makluk (kawula) yang dikuasai . subtansi. salah satu klasifikasi simbolis dalam budaya Jawa (Koentjaraningrat. Konsep raja sebagai manivestasi dewa ini ternyata berlanjut hingga dinasti raja-raja Mataram. pengendalian. ANALISIS STRUKTUR Relasi isor (bawah) [ . bahwa lapisan bawah yang biasa disebut rakyat juga mendapat perhatian.

Nomor 2. bahwa titah (perintah) raja selalu dipandang sebagai bijaksana. 1982:33). ancaman Batari Durga. sorga tempat bersemayamnya para dewa. Ayah ibarat pohon. Gunung laut juga berkaitan dengan kiblat (arah mata angin). Hutan-hutan yang lebat merupakan tempat yang aman. Sawat. Gunung laut diwujudkan secara struktural pada bentuk motif Alas-alasan. Kedudukan relasi ini bermakna Loroloroning Atunggal dalam posisi horizontal. Konsep kesuburan menempatkan kedudukan suami (tengen/ kanan) dan istri (kiwa/kiri). raja berada di timur (gegong kuning keraton Kasultanan Yogyakarta menghadap ke Timur). tempat makluk hidup bertebaran. Eksistensial hutan ditampakkan perwujudan kalpataru (pohon hayat). Maka raja Jawa yang dilegitimasi dengan mitos RajaDewa menunjukan. sabda pandita ratu. yaitu Betari Sri dan Raden Sedana (Danandjaya. Ini tampak pada struktur batik Alas-Alasan. Kajian Strukturalisme-Simbolik 299 (tanah). yang artinya semi. dan kejayaan. kaitannya dengan posisi kekuasaan. dan roh-roh pengganggu manusia. Agustus 2004 pat dipahami sebagai hutan . Gunung laut berrelasi horizontal. kebijakan atas dirinya. bersemayamnya ratu pantai selatan. Paparan relasional dari motif batik Semen.motif batik Semen . Hutan lebih bersifat magis. atau pohon sorga (Sri Mulyana.1989: 635). dan laut sebagai muara. siksaan. pelindung istri dan anakanaknya. Sebuah pola pikir orang Jawa disebut loro-loroning a tunggal Tengen (kanan) 86 . yang da 300 BAHASA DAN SENI. Hutan merupakan gagasan utama adanya kayon atau kayun yang berarti hidup. menampakan hubungan yang bersifat duniawi. sering ditunjukan pada fenomena candikala (mega merah tembaga ketika sore hari). eksistensinya sebagai pengayom. dan juga manusia.kiwa (kiri)[-]. yang tumbuh di bumi Hidayat. simbol keseimbangan ekologi. dan bermukimnya jin. atau sakral. yang menunjukan kelompok kanan (bala tengen) dan kelompok kiri (bala kiwa). atau meru . keagungan. keramat. gunung adalah sorgaloka. Tahun 32. sebuah areal tempat berlindungnya semua satwa. anak buah. Ketika laki-laki (ayah) hadir sebagai penguasa menunjukan sikap berbudi bawa leksanan . kebesaran. ora kena wula-wali. tumbuhan. menunjuk pada struktur tengen (kanan)[+]. Skema oposisional berdasarkan monisme dualitik. keluarga. Semi memberikan petunjuk adanya kaitan dengan mitologi tentang padi . Kenyataan ini hingga kini dapat disimak pada posisi simpingan (jajaran) figure wayang kulit. ratu pelindung raja-raja Jawa (sejak jaman Mataram). Relasi gunung laut . Tempat arwah yang tidak beruntung. berrelasi dengan emas . dan laut berada di selatan (pantai parangtritis). Selatan menunjukan arah laut. Gambar 3. dan Alas-alasan merefleksikan sebuah deef structure sebagaimana skema garis bersilang. Gunung (merapi) berada di Utara. Kayon dalam konsep wayang Jawa adalah gunungan . setan. Di sini menempatkan posisi Gunung sebagai sumber mataair. dan seluruh rakyat. Barat menunjukan arah marabahaya. sedangkan dunia ada percapada. horizontal dan vertikal. Gunung laut menunjukan posisi horizontal.

akibatnya aspek struktur terabaikan. Pijianto mempunyai sudut pandang. Struktur yang berupa persilangan yang dibentuk antara garis vertical.Kiwa (kiri) Isor (bawah) Duwur (atas) (-) (+) Batik Batik AlasBatik Semen (+ ) (-) Gusti Kawula Gunun Laut Hidayat. Pujianto tidak mengkaitkan tiga motif batik Semen. dan Alas-alasan berkati dengan paham Hindu tentang triloko . relasi. Akibatnya sulit untuk mengetahui hubungan strukturalnya. Sawat. 1997:790. seperti topeng. Kapasitas benda pada posisi dan fungsinya semata-mata terkait dengan benda lain secara struktural. Asumsi Pujianto perlu diuji. bahwa fungsional suatu benda selalu terkait dengan kedudukan atau posisi di antara benda yang lain. setidaknya meminjam model segitiga kuliner yang digunakan oleh Lovi-Strauss untuk menganalisa makanan. Pujianto telah berusaha untuk memaparkan gagasanya tentang mitologi Jawa kaitannya dengan motif batik berunsur alam. di mana suatu benda memiliki posisi dan fungsi tertentu. Inspirasinya menggunakan segitiga kuliner berasal dari segi tiga vocal: gagasan dari seorang lingguis Roman Jakobson (Cremer. kaitanya dengan mitologi Jawa tentang kekuasaan dan kesuburan. dan simbol di temukan sejumlah kecendrungan makna. Terlebih. dan Alasalasan. Kajian Strukturalisme-Simbolik 301 Telaah dengan perspektif strukturalisme tidak hanya mendiskripsikan makna mitologis. PENUTUP Analisis mitos kaitanya dengan perwujudan benda budaya. 87 . hubungannya dengan mitos kesuburan dan kekuasan. Sawat. Kenyataan ini yang dimaksudkan oleh Emil Durkheim sebagai organisme. ilmu sihir. Ternyata tidak mempu menjawab gagasan Pujianto yang mengkaitkan konsep triloko dengan bentuk motif batik. makanan tradisional. dan memilik model pemaparan dengan menekankan aspek simbolisasi. Temuan tersebut merupakan modal untuk menyusun struktur. Sebagai contoh asumsi Pujianto. dan juga dimungkinkan adalah motif batik. tetapi dapat menunjukan kedudukan objek. Temuan ini menunjukan. bahwa motif bagik Semen. berbagai asumsi dari para peneliti lain atau tulisan-tulisan lain yang bertebaran dengan gampang mempengarui. Setelah dilakukan analisis unsur motif. Sungguhpun analisis simbolis terpaku pada teks . perdukunan.

Di sini terjadi sebuah pemahaman tentang pesejodohan. Semunira den asumeh. temen. Kiwo (kiri) bernilai (-) berrelasi dengan laut . Garis horizontal menunjukan antara rentang Tengen (kanan) bernilai (+) gunung . Boga busana mukya Kalau engkau dijadikan istri. Pasrahlah dalam segala kehendaknya. Setyanireng kakung. sabar. Hidayat. tempat arwah bersemayam. berkait dengan kedudukan raja . (2003: 139). Dan pelayananmu bila ketemu. Angrasa yen sinatyan. Tahun 32. tempat roh-roh jahat. Kadi garwa kawitan. Struktur silang (crossing model) menjelaskan tentang makna kawula-Gusti atau raja-rakyat yaitu sebuah falsafah kekuasaan rajaraja Jawa. Seperti istri pertama. Kajian Strukturalisme-Simbolik 303 Mang salokanira kepanggih. gagasan mencapai persatuan antara hamba dan Tuhan secara mistik ( manunggaling kawula-Gusti). Niels Mulder menjelaskan. Nomor 2. yaitu adanya konsep Dewa-raja . Kepasrahan ini seperti sifat Garuda yang dengan rela sebagai kendaan dewa Wisnu. Sebuah kisah Garuda yang membebaskan ibunya dari tawanan bangsa naga. tetapi juga sekaligus menjelaskan Lanang dan Wadhon secara horizontal. Garis ini mengubungkan antara struktur motif batik Semen dan Alas-alasan. Pujianto mengkaitkan dengan sikap wanita sebagai pembatik yang rela. ini sebuah kerelaan. isor 302 BAHASA DAN SENI. swargaloka. Struktur silang tersebut juga dapat menjelaskan kedudukan wanita dan laki-laki dalam pengertian vertical. Fenomena tersebut dapat disimak pada sebuah tembang dhandhanggula dalam Serat Niti-Praja. yaitu mendudukan wanita pada sumbu vertikal dengan laki-laki. dan budi luhur. dan sekaligus kepasrahan. yaitu ngabekti. Untuk mencapai tujuan ini orang harus mengatasi kekangan-kekangan yang membelenggu dirinya kepada eksitensi gejalan seperti misalnya hawa nafsu dan rasionalitas duniwi yang hanya menuju kearah persepsi kebenaran yang bersifa kehayali (1996:31). dan kekuatan penghancur. yang berposisi dengan ular naga pada cerita tentang Garudia . 88 . sebuah relief yang dipahat di candi Kidal.1988: 56-57).duwur (atas) bernilai (+) yaitu bermakna transkendental. Agustus 2004 (bawah) bernilai (-) yaitu bermakna profane. Hendaknya wajahmu berseri manis. berkait dengan kedudukan rakyat kawula . Ing raga nuta saosa kersing laki. Pemikiran itu juga berkait dengan konsep sangkan paraning dumadi . ketulusan. Gambaran wanita sebagai pembatik itu adalah sebuah metafora. naga. dan juga kesetiaan. Kinarya gedhong dening sang nata. Buat simpanan oleh sang raja. narima. Kedudukan wanita Jawa dimata laki-laki sebagai berikut: Lamun sira rineka pawestri. yaitu tentang asal usul manusia dan kepasrahannya terhadap sifat gaib transendental (Tanpoaran.

April 2002. Antara Alam dan Mitos. 1983.Kesetiaanmu pada suami Merasalah jika dicintai Jiwa raga serahkan sepenuhnya pada pria Makan minum kegemarannya. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. Zoetmulder. Ciptaprawiro. Mengkaji Tanda dalam Artifak. tahun 31. Februari 2003. Februari 2003. 1989. pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa. John. van Der. Manunggaling Kawula Gusti. 1988. 2000.). Falsafah Jawa. Mulder. 2000.B. Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam . Direktorat jendral Kebudayaan. artikel pada Jurnal Bahasa dan Seni. & Hidajat. Ahimsa-Putra. Albert A. Sutarno. Semiotik. 1992. Amri. 1994. Masinambow.J. nomor 1. Niels. 2003. Surabaya: Yayasan Djojo Bojo & Paguyuban Sosrokertanan Surabaya. Shri Heddy (ed. P. Universitas Negeri Malang. Dick Hartoko. Proyek Penelitian dan Pe 89 . Malang: Fak. E. Olga. Soedarsono. [tanpa kota terbit]. 1996. 2001. 1974. 304 BAHASA DAN SENI. Niels. Ketika Orang Jawa Nyeni. vol. Sastra. Yogyakarta: Galang press. diterjemahkan: Landung Simatupang. Budiono. A. 1985. 2002. Rahayu S. Flores: Nusa Indah. Kaplan. Mitologi Jawa Dalam Motif Batik Unsur Alam .C. 1997. Artikel pada Jurnal Bahasa & Seni. Abdullah. Filsafat dan Masa depannya. no. Yogyakarta: Qalam. Asal-usul. Anthony [1988]. Teori Budaya dan Budaya Pop. 1986. 2001. 2001.M. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sejarah perkembangan Seni Lukis Batik Indonesia . Yogyakarta: Hanindita.Yogyakrta: Pustaka Pelajar. Teori Budaya. Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas. Bandung: Masyarakat Seni Indonesia. Holt. Yogyakarta : Yayasan P. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. Aryandini S. Pujianto. Juni 1983 XXXII 6. Agus. Mochtar Pabotinggi.K. Malang: Fakultas Sastra. Yogyakarta: media Pressindo. 1. Pewayangan Dalam Budaya Jawa artikel dalam jurnal Dewa Ruci. Diterj. Jakarta: Balai Pustaka. Faufik & Leeden. Mulder. diterj. Universitas Negeri Malang. Danandjaya. Purwadi. 2003. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Abdullah. Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali. Storey. Yogyakarta: Makalah disajikan pada seminar Javanologi. Claire. Jakarta: Balai Pustaka. David & Monners. 1.1986.2000. Reid. Jakarta: Sinar Harapan Mulyana. Nomor 2. Jakarta: Gunungagung. 1967. Surakarta: Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta. Yayasan Indonesiatera. James. Pribadi dan Masyarakat di Jawa. Herusatoto. Agustus 2004 Koentjaraningrat. Kurniawan. Basis. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1982. Diterj. Memutar Taman Sri Wedari.Yogyakrta: Gadjah Mada Universitas Press. Sri. nomor 1. Semilogi Roland Barthes. Jakarta: Gramedia. Sangkan paraning Dumadi. Woro. 2001:8-9) DAFTAR RUJUKAN Tanpoaran. 2001. Randrianarisoa. Wayang. 2002. Jakarta: Balai Pustaka. Tahun 32. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. (Purwadi. Pujianto. tahun 31. Cremers. 2003. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Yahya. Wayang dan Lingkungan.2000. Kebudayaan Jawa. Totemisme di Madagasikara artikel pada majalah budaya Basis.

alur. perekaman. Strategi yang digunakan adalah studi kasus tunggal yang dilakukan pada satu sasaran (subjek) dan satu karakteristik. dan nilai pendidikan kepahlawanan. Teknik cuplikan (sampling) yang digunakan adalah purposive sampling. dan amanat. Teknik validasi data lain yang digunakan adalah informant review. dan (3) mendeskripsikan nilai edukatif yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. (2) “Petilasan Sunan Kalijaga”. Isi dan tema cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah syiar agama. tema. pencatatan. Amanat yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten cukup 90 . Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui observasi langsung. observasi benda-benda fisik dan dokumen. latar. Informasi dari penelitian ini dideskripsikan secara analitis dan teliti. Latar yang paling dominan adalah latar tempat. nilai pendidikan adat. Cerita rakyat Kabupaten Klaten tersebut diklasifikasikan ke dalam legenda dan lebih spesifik dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok legenda setempat. dan (5) “Kyai Ageng Gribig”. Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa sumber yaitu informan. Teknik validasi data yang digunakan adalah triangulasi data/sumber. Pendeskripsian struktur cerita rakyat meliputi isi cerita. legenda perseorangan . metode. (4) “Reyog Brijo Lor”. yaitu: (1) “Ki Ageng Padang Aran”. dan terjadinya suatu tempat. Lima cerita rakyat tersebut.ngkajian. yaitu cerita rakyat Kabupaten Klaten. wawancara.G. tokoh. Pendeskripsian nilai edukatif (pendidikan ) dalam cerita rakyat meliputi nilai pendidikan moral. Alur cerita yang digunakan adalah alur maju atau lurus. dan teori. dan analisis dokumen. (2) mendeskripsikan struktur cerita rakyat Kabupaten Klaten. Tokoh yang dominan dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah manusia yang digambarkan sebagai manusia yang memiliki kasaktian dan berkarakter baik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. KebuKajian strukturalisme dan nilai edukatif dalam cerita rakyat kabupaten Klaten L. (3) “Raden Ngabehi Ronggo Warsito”. perjuangan seorang tokoh. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis struktural dan analisis model interaktif (interactive model of analysis) Dalam penelitian ini ada lima cerita rakyat Kabupaten Klaten yang dihimpun dan dianalisis. nilai pendidikan sejarah (historis). nilai pendidikan agama (religi). dan legenda keagamaan. Sarmadi ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan jenis-jenis cerita rakyat Kabupaten Klaten.

nilai pendidikan adat (tradisi). 91 . nilai pendidikan sejarah (historis). adalah Nilai pendidikan moral . Nilai pendidikan yang terdapat dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. dan nilai Kepahlawanan 1/1dayaan Nusantara (Javanologi).bervariasi. nilai pendidikan agama (religi).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful