P. 1
Teori Strukturalisme

Teori Strukturalisme

|Views: 471|Likes:
Published by Muhammad Nur Giri

More info:

Published by: Muhammad Nur Giri on Apr 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/15/2014

pdf

text

original

Teori Strukturalisme – Levi Stauss

A.

Pendahuluan Teori Sosiologi dapat dibagi sesuai dengan periode ditemukannya, yaitu,

teori Sosiologi Klasik dan teori-teori Sosiologi Modern dan Post Modern. Teori Strukturalisme termasuk teori Sosiologi Modern dan juga Post Modern, karena dalam perkembangannya, teori ini terus dikembangkan dan menjadi teori Post Strukturalisme. Paper ini ditulis dalam rangka ingin menjelaskan mengenai teori Strukturalisme Levi-Strauss, yang termasuk teori Sosiologi Modern, namun untuk memperjelas pembahasannya akan ditambah juga dengan pembahasan teori Strukturalisme Post Modern. Walaupun teori ini jelas memusatkan perhatiannya pada struktur, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan struktur yang menjadi sasaran perhatian teoritisi Fungsionalisme Struktural (salah satu teori Sosiologi klasik). Perbedaanya pada tekanannya, yaitu Fungsionalisme Struktural memusatkan perhatiannya pada struktur sosial, sedangkan Teori Strukturalisme Levi-Strauss memusatkan pada struktur linguistik (Ritzer, 2004 : 603). Teori ini sebenarnya lebih terkenal sebagai teori Antropologi, tetapi dalam perkembangannya juga dimasukkan dalam teori Sosiologi. Strukturalisme memberikan perspektif baru dalam memandang fenomena budaya. Hal-hal yang tadinya dianggap sederhana dan tidak penting, justru memiliki peran yang sangat penting dalam menemukan dan memahami gejala sosial budaya, misalnya adalah bagaimana kita mungkin bisa memahami suatu fenomena sosial dengan menggunakan analisis sebagaimana para ahli Linguistik memahami bahasa. Bahasa memiliki tempat yang istimewa dalam ilmu sosial. Sebagai alat berkomunikasi, bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kebudayaan manusia. Oleh karena itu wajar jika untuk mengungkap persoalan budaya dapat dilakukan melalui atau mencontoh metode bahasa (ilmu bahasa). Marcel Mauss (dalam Allen Lane, 1968) menuliskan bahwa:
1

“Sociology would certainly have progressed much further if it had everywhere followed the lead of the linguists……”. Maksudya Sosiologi akan semakin berkembang jika diinspirasi oleh para ahli bahasa dalam memahami gejala sosial. Salah satu ilmuwan sosial yang menggunakan cara bagaimana memahami bahasa dalam menjelaskan fenomena sosial adalah Levi-Strauss. Levi-Strauss melakukan konseptualisasi ulang di bidang Antropologi

dengan sebutan "tiga nyonya" yaitu geologi, psikoanalisis, dan Marxisme untuk membantu membentuk tren dalam ilmu-ilmu sosial dan teori sastra, dan dipengaruhi oleh intelektualisme seperti Michel Foucault dan Jacques Derrida. Lahir di Belgia, Levi-Strauss belajar filsafat di universitas Sorbonne, Paris dan mengajar Sosiologi di Brasilia pada 1930-an. Teori-teorinya didasarkan hasil penelitannya di belantara Amazone di Brasilia. Sebagian besar teorinya dibangun selama 3 tahun ketika menghabiskan waktu bersama suku Indian di pedalaman Brasil. Pergumulan antara ilmu sosial dan ilmu bahasa telah melahirkan perspektif baru yang membuka jalan bagi perkembangan kedua bidang ilmu tersebut. Ilmu bahasa semakin berkembang berkat penemuan-penemuan dalam bidang Antropologi, demikian juga yang terjadi pada ilmu sosial atau Antropologi yang perkembangannya banyak dipengaruhi oleh para ahli bidang linguistik. Proses inilah yang kemudian melahirkan teori Strukturalisme Levi-Strauss itu. N. Troubetzkoy (dalam Alan Lane, 1968) menyatakan bahwa pikiran dasar dari teori Struktural adalah: Pertama, linguistik struktural mengalami lompatan dari studi fenomena kesadaran linguistik pada infra-struktur nir-sadar. Kedua, Strukturalisme tidak menganggap istilah-istilah itu independen, tetapi menganalisis hubungan antar istilah-istilah yang saling terikat. Ketiga, Strukturalisme mengenalkan sistem konsep. Dan yang terakhir, linguistik struktural ditujukan untuk menemukan hukum umum (general laws) baik secara induksi maupun dengan cara deduksi.

2

Lahirnya teori strukturalisme dalam bidang Antropologi/Sosiologi telah melahirkan berbagai perspektif dalam memandang fenomena budaya. Dengan teori ini, persoalan-persoalan tanda (simbol dalam bahasa) semakin mudah dipahami. Hal ini dikarenakan setiap persoalan bisa diidentifikasi melalui struktur dari persoalan tersebut. Karena dalam konsep ini segala sesuatu yang berbentuk diyakini memiliki struktur. Susunan unsur-unsur dapat dianalisis sehingga dapat diketahui asal-usul konsep itu dan juga gejalanya. Dengan demikian penjelasanya akan semakin mudah. Strukturalisme begitu berpengaruh pada pemikiran di kalangan ilmuwan ssosial di tahun 1960-an, terutama di Perancis. Era strukturalisme ini muncul setelah era eksistensialisme yang marak setelah Perang Dunia II. Strukturalisme melakukan beberapa kritik terhadap eksistensialisme dan juga pemikiran fenomenologi. Strukturalisme dianggap menghancurkan posisi manusia sebagai peran utama dalam memandang dan membentuk dunia. Strukturalisme berkembang pesat di Perancis dengan tokoh-tokoh utama selain Claude Levi-Strauss, yaitu Micheal Foucault, J. Lacan, dan R. Barthes. Aliran ini muncul ketika filsafat eksistensialisme mulai pudar. Masyarakat yang semakin kaya dan dikendalikan oleh berbagai bentuk struktur ilmiah-teknoekonomis mapan dan terkomputerisasi memudarkan aliran humanisme romantis eksistensialis yang berkisar pada subyek otonom, daya cipta peorangan, penciptaan makna, dan pilihan proyek masa depan serta dunia bersama sebagai tempat tinggal yang manusiawi. Usaha eksistensialisme untuk mengubah dan memperbaiki keadaan tersebut tidak berdaya dihadapan kenyataan-kenyataan struktur yang makin kuat yang mengutamakan kemantapan dan keseimbangan struktural daripada dinamika kreatif dari si subyek. Dengan diilhami oleh Marx dan Freud, para strukturalis menyangsikan istilah-istilah kaya kunci eksistensialis seperti ,"manusia", "kesadaran intensional", "subyek", "kebebasan", "otonomi" dan menggantinya dengan istilah-istilah mereka, yaitu: "ketidaksadaran", "struktur","diskursus","penanda" dan "petanda".

3

ia memiliki peran. tapi ia kembali akan terjebak di dalamnya. adalah pencapaian makna atau kebenaran atas yang ada. Perbedaan lain yang cukup mendasar. 4 . anakbapak. ia bukan manusia "massal" atau diombang-ambingkan arus mode dan kecenderungan sosial. kekerabatan pun dikuasai oleh aturan-aturan yang tidak disadari. Sebagaimana halnya bahasa. LeviStrauss melakukan analisis terhadap masalah kekerabatan. semua hanyalah bagian dari tenunan struktur. karena klen-klen atau famili-famili lain tukar-menukar wanita-wanita mereka. Hubungan ini sama seperti bahasa. Ketidaksadaran menjadi sebuah unsur pokok yang menandai keberadaan manusia. manusia mempunyai putusan sendiri. karena informasi atau pesan-pesan yang disampaikan oleh satu individu pada individu lain. seperti misalnya suami-istri. Dengan menggunakan teori linguistik dari Saussure (Semiologi). hubungan antar manusia berada dalam sistem yang tidak disadarinya. Pandangan ini mirip dengan faktisitasnya Heidegger dimana manusia terlempar ke dunia tanpa bisa dirundingkan lebih dulu. terutama dengan pemikiran fenomenologi. Bahasa adalah sistem komunikasi. paman-keponakan. meskipun kemudian ia mampu memilih atau membuat sendiri sebuah struktur. kekerabatan pun merupakan sistem komunikasi. Sistem kekerabatan terdiri dari relasi-relasi dan oposisi-oposisi. Sedangkan keterjebakkan manusia dalam jaring-jaring struktur mengandaikan hilangnya unsur subyek dan obyek. Perbedaannya faktisitas mengandaikan adanya kebebasan yang menegaskan eksistensialitas manusia. Kekerabatan adalah suatu sistem komunikasi.saudara perempuan. saudara lelaki . Supaya tidak menjadi manusia "massal" tentu dituntut kesadaran penuh tentang lingkungannya yang menurut strukturalis mustahil untuk disadari secara penuh. Dalam pandangan strukturalis manusia terjebak dalam suatu struktur budaya yang dijalinnya sendiri. Berbeda dengan pandangan Heidegger bahwa seseorang harus memiliki tanggung jawab pribadi untuk membentuk hidupnya sendiri. Ketika manusia lahir ia sudah ada dalam suatu struktur.Meskipun banyak pertentangan antara eksistensialisme dan strukturalisme tapi ada juga yang saling melengkapi.

seorang fenomenolog. antara budaya Barat dan budaya lain ( non Barat) yang dianggap inferior (merasa rendah dari Budaya Barat). Levi-Strauss membentuk strukturalisme sebagai "humanisme integral baru" yang mengkritik dan mengatasi humanisme klasik Barat. Ada itu sendiri tampak sebagai tidak tersembunyi ( aletheia). Namun kenyataan itu tidak pernah dimengerti seluruhnya. mengabaikan manusia dan melarutkannya dalam struktur yang berkuasa. Dan sisasisa penyembunyian diri itulah yang merupakan bekas-bekas yang hendak "dibaca" sebagai tanda penyingkapan diri yang tak langsung dari kenyataan dan kebenaran yang sesungguhnya. Menurut Levi-Strauss. tetapi justru suka menyembunyikan diri. ia memang menolak beberapa pandangan umum mengenai strukturalisme bahwa aliran ini anti humanisme. Melalui kajian Antropologi budaya. Humanisme klasik dianggap mangancam kehidupan manusia.Bagi Heidegger. kategori. Seperti sudah diuraikan sebelumnya bahwa Levi-Strauss enggan menggunakan nama "strukturalisme" yang terlalu ideologis. ketentuan dan aturan (bentuk mental apriori. Tugas strukturalis lah untuk mengorek makna yang laten tersebut. "Pemahaman" berarti memahami keberadaan sesuatu yang spontan dan tampak bagi kita itu kepada suatu taraf yang lebih dalam. Makna yang dicari tersembunyi dalam bendabenda yang tampak. kendatipun kenyataan konkret tidak bisa dipahami secara lain. sebab tiap usaha merepresentasikannya pada dasarnya kurang memadai. Sedangkan Levi-Strauss dengan mengacu pada Kant (P. karena menciptakan pemisahan dan pertentangan antara manusia dan alam. ide regulatif dan sebagainya) yang dikenakan pada kenyataan empiris. Sebaliknya "humanisme baru" dengan pola 5 . kecuali lewat paksaan mental tersebut. Ricoeur menjuluki Levi-Strauss sebagai "kantianisme tanpa transendental") bahwa akal budi manusia memiliki sejumlah paksaan. sambil menyadari bahwa realitas yang sebenarnya tidak pernah tampak sendiri dan langsung kelihatan. Ini didapat dari Husserl. Ada sendiri menampakkan diri dan terbuka. yang mengatakan bahwa obyek kesadaran adalah fenomen dalam arti: ”apa yang menampakkan diri”.

tidak bermula dengan hidup manusia sendiri. Kekurangan ini dapat dilengkapi dengan pemikiran Heidegger yang meski mengkritik dualisme 6 . mengutamakan hidup atas manusia sendiri dan mengutamakan rasa hormat terhadap mahluk-mahluk lain melampaui rasa cinta diri sendiri". Levi-Strauss menyatakannya dengan keprihatinan terhadap nasib masyarakat primitif yang dilenyapkan oleh kekuasaan kolonial Barat demi keuntungan ekonomis (penjajahan yang menggunakan penemuan-penemuan alat /teknik modern). Ketika Levi-Strauss dengan strukturalismenya berusaha menghilangkan dualisme subyek dan obyek yang dianggap mengancam kehidupan manusia maka ia meleburkannya dalam kesatuan struktur yang tak terpilah. Hal ini jelas terdapat persamaan dengan pemikiran Heidegger yang juga mengkritik metafisika Barat yang memisahkan subyek (manusia) dan obyek (alam). Persamaan lain adalah keduanya sama-sama menentang bentuk teknik (kemajuan teknologi di Barat) yang jika tidak diwaspadai akan menjadi subyek baru dan menindas keberadaan manusia. Perbedaanperbedaan yang ada tidak dilihat sebagai bertentangan. Kebudayaan primitif menurut Levi-Strauss memiliki keaslian dalam menciptakan patokan keselarasan manusia dengan alam dan sesamanya. Dia mengammbarkan kebudayaan primitif sebagai berikut: "Suatu humanisme yang seimbang. Rasa kagumnya terhadap budaya primitif tertuang dalam bukunya Mythologica III. tetapi mengutamakan dunia dan alam semesta atas hidup.strukturalisme ini tidak mengadakan garis pemisah dan penggusuran yang fatal. tetapi justru saling melengkapi. tetapi justru menekankan sifat saling terkait dan mencakup segala sesuatu. Bahaya baru dapat saja muncul dengan tidak ditekankannya pribadi kreatif manusia dan bisa terjebak menjadi manusia "massal". artinya tidak menguasai keadaan. Penguasaan subyek atas obyek ini dibenahi dengan istilah menggembalakan ada. Kedua pemikir memiliki beberapa perbedaan dan kesamaan.

ia tetap menekankan sosok manusia yang autentik. Kata “struktur” yang menjadi dasar dari pemikiran strukturalisme dapat kita lacak dengan memahami Semiotika (Semiotics) atau Semiologi (Semiology) yang dikembangkan secara brilian oleh Saussure untuk mengkaji tanda bahasa. Saussure memproklamirkan bahwa tanda bahasa dibangun melalui struktur relasi antar tanda bahasa yang menunjukan adanya perbedaaan (Payne. Saussure secara brilian melepaskan kajian tentang tanda bahasa dari suatu kajian yang merupakan kajian yang bersifat linguistik semata. ilmu sosial di Perancis melahirkan strukturalisme. sebagaimana yang terjadi dalam revolusi mahasiswa di bulan Mei 1967 di Paris di Perancis yang menuntut perluasan demokrasi serta penghentian praktek kolonialisme Perancis serta juga gerakan New Left yang menjadikan Herbert Marcuse sebagai “nabi” yang menginspirasi gerakan mereka. pada dekade 1960-an. eksistensialisme dan juga yang tidak dapat dilupakan adalah perkembangan Frankfurt School (teori Kritik). terutama Eropa Barat. 1996:513). Adalah Ferdinand de Saussure yang mengawali kajian strukturalisme dalam bahasa. Strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran yang sangat menonjol dalam khazanah pemikiran di Dunia Barat. Perbedaan inilah yang kemudian dikenal sebagai oposisi biner ( binary opposition) 7 . seorang ahli linguistik dari Rusia (Payne. 1996:513). namun oleh Roman Jakobson. walaupun sebenarnya istilah strukturalisme diperkenalkan pertama kali bukan oleh Saussure. Sebuah periode yang ditandai dengan pergolakan intelektual dan juga ditandai dengan berkembang pesatnya strukturalisme. Pergolakan intelektual ini juga diwarnai dengan pergolakan mahasiswa yang hidup dalam affluent society.tersebut. Meski tidak mungkin juga manusia menghindari sepenuhnya arus massa tapi dengan bantuan kesadaran dengan hati nurani manusia yang tidak mudah hanyut. sebuah genre pemikiran yang melampaui Marxisme yang sedang menjadi trend pemikiran pada saat itu. Di tengah kapitalisme yang melahirkan masyarakat serba melimpah di Eropa Barat dan Amerika Serikat serta komunisme di Uni Sovyet yang mengundang decak kagum banyak orang dengan keberhasilannya menjangkau bulan.

yang artinya adalah ”tanda”. Sebagai ilustrasi adalah bidak kuda dalam permainan catur memiliki gerak berbentuk huruf “L”. Kedua. Karena itu kita perlu mengetahui kode-kode yang menyatakan kepada kata apa yang dimaknakan oleh tanda-tanda. elemen tanda-tanda itu menyatu dan saling tergantung satu sama lain. Dalam permainan catur.yang dapat diterapkan hampir ke semua tanda bahasa. Pertama. Relasi antara penanda dengan petanda terjadi begitu saja dan arbitrer. kita dapat mengikuti contoh yang dikemukakan oleh Saussure berikut ini. para pemain harus mengikuti struktur aturan yang telah ada dan tidak mungkin permainan ini dimainkan jika para pemainnya keluar dari aturan permainan. sedangkan parole adalah pemakaian tanda bahasa di tangan individu. Penanda adalah aspek fisik dari tanda bahasa. ke 8 . 2001 : 182). Kedua adalah langue dan parole. merupakan entitas psikologis yang bersisi dua atau berdwimuka. terdiri dari unsur ”penanda” (signifier) dan ”petanda” (signified). ke kanan. di mana pendekatan linguistik yang lain hanya berhenti pada tataran langue (Bertens. sebuah tanda khususnya tanda kebahasaan. Langue dimaksudkan sebagai penggunaan tanda bahasa secara umum atau oleh publik yang menyepakatinya. Kode (code) adalah satu sistem dari konvensikonvensi yang memungkinkan kepada seseorang untuk mendeteksi arti dalam tanda-tanda karena hubungan (Berger. Inilah yang membedakan kajian strukturalisme yang dikembangkan oleh Saussure dengan pendekatan linguistik yang lain. Kombinasi dari keduanya inilah yang kemudian menghasilkan ”tanda” (sign). sehingga dari sinilah kemudian lahir strukturalisme. Individu yang bermain catur bebas untuk menggerakkan kuda dalam bentuk huruf “L” baik ke kiri. Saussure mengembangkan semiotika ke dalam beberapa aturan pokok yang mengatur sistem tanda bahasa. sedangkan petanda adalah aspek mental dari tanda bahasa. Agar lebih jelas. Ini dapat dianggap sebagai parole dari sebuah sistem struktur. Berdasarkan pendapatnya mengenai oposisi biner. dalam pendapat Saussure. 2000 : 219 ). Semiotika sendiri secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu semieon.

penjelasan tentang teorinya dan juga kritik terhadap teori tersebut. Kanada dan Meksiko. dan Oxford di Amerika. badan pembelajaran terkemuka mengenai hal-hal yang bersingungan dengan Bahasa Prancis. Sejarah Hidup Claude Levi-Strauss Sebelum membicarakan teori strukturalisme Levi-Strauss. yang juga sangat menentukan dalam pandangan-pandangan Levi-Strauss adalah hubungannya dengan para pakar berbagai bidang di Brasilia. Hal ini penting. Sejak lama dia juga menjadi anggota Academie Francaise. Lahir dari orang tua berkebangsaan Prancis dengan darah Yahudi. LeviStrauss diberi gelar doktor dari sejumlah institusi pendidikan terkemuka. pengalaman kerja dan tentunya pola pikirnya sangat menentukan dalam mencetuskan teori strukturalnya. Yang penting masih dalam bentuk huruf “L”. Yale. Paper ini juga mencoba untuk menjelaskan teori Strukturalisme Levi Strauss. riwayat hidup penemunya. seperti universitas Harvard. Selain itu juga dari universitas di Swedia. Selain itu. dengan menjabarkan keadaan sosial yang terjadi pada saat teori ini dibangun. Perancis maupun saat ia berada di New York. karena jika bergerak selain gerak “L”. mengingat perjalanan hidup penggagas teori Antropologi struktural ini sangat dinamis. B. Latar belakang pendidikan.depan atau ke belakang. B. maka hancurlah struktur permainan catur itu. akan lebih baik jika kita membicarakan sejarah hidup Levi-Strauss secara singkat. Satu hal yang harus diingat kebebasan menggerakkan kuda ini terstruktur dalam huruf “L” dan tidak boleh keluar dari aturan ini. Ini dapat dianggap sebagai parole. teori lain yang mempengaruhi. C. Pertemuannya dengan para pakar dari berbagai bidang ilmu itu telah melahirkan berbagai konsep yang sangat penting dalam membentuk teori budaya yang sangat 9 .

Ia mempelajari hukum di fakultas hukum pada suatu universitas di Paris pada tahun 1927. Dikatakan sangat unik karena memang belum terpikirkan oleh para pakar di bidang Antropolgi periode sebelumnya. Belgia. Di tahun yang sama ia juga mempelajari filsafat di universitas Sorbonne.unik itu. Pengalaman perjalanannya menjelajah daerah-daerah terpencil itu ditulisnya dalam sebuah buku yang berjudul Tristes Tropique. Ia adalah keturunan Yahudi. Buku ini bercerita tentang penderitaan orang-orang Indian di belantara Amazone. Sedangkan ibunya bernama Emma Levy. Bahkan ia menjadi bosan mengajar di Mont de-Marsan Lycee dan berkeinginan untuk mengadakan perjalanan keliling dunia. Di universitas ini ia memiliki kesempatan untuk keliling ke daerah-daerah pedalaman Brazil. Buku itu cukup mengesankan bagi Levi-Strauss dan mendorongnya untuk mengadakan beberapa studi mengenai masyarakat primitif. memberi kesempatan kepadanya untuk mempelajari orang-orang Indian Caduveo dan Bororo. Brazil. Penguasaan dalam bidang hukum mengenai aliran-aliran filsafat materialisme historis ini turut mendorong kesuksesannya dalam bidang Antropologi. Berawal dari buku inilah yang menjadikan Levi-Strauss terkenal sampai ke negara asalnya yakni 10 . Hal yang paling penting dan sangat berpengaruh terhadap loyalitasnya di bidang Antropologi adalah ketika ia membaca buku Primitive Society yang ditulis oleh Robert Lowie. Apa yang diharapkan oleh Levi-Strauss ini akhirnya terkabulkan setelah ia berkesempatan menjadi pengajar di Universtias Sao Paulo. Ia pernah sukses dalam bidang hukum ketika ia telah mendapatkan licence dalam bidang hukum. Minat utama Levi-Strauss sebenarnya adalah ilmu hukum. Ayahnya bernama Raymond Levi-Strauss seorang artis dan juga anggota keluarga intelektual Yahudi Perancis (Intelectual French Jewish family). serta mengunjungi berbagai suku Indian yang selama itu boleh dikatakan belum terjamah oleh peradaban Barat. Levi-Strauss dilahirkan pada 28 November 1905 di Brussles. Dari ekpedisi yang di dukung oleh Musee de 1’Hummed dan museum di kota Sao Paulo ini.

bahkan masih sangat sedikit orang yang mendokumentasikan mitos-mitos tersebut. ia juga mengalami diskriminasi ras. 11 . A. Dengan ketekunan. Ia pun akhirnya dibebaskan dari kewajiban militer setelah menjadi seorang professor. Akhirnya Levi-Strauss diselamatkan oleh program Yayasan Rockefeller. New York. seperti Maz Ernst.Prancis. yang memiliki program menyelamatkan ilmuwan dan pemikir-pemikir Eropa berdarah Yahudi di Amerika Serikat. Di daerah Greenwich Village. dan ketelitian yang luar biasa Levi-Strausss mampu melahirkan karya yang sangat bermanfaat. yaitu petugas penghubung. Berkat jasanya. Ia ditugaskan dibagian pos telekomunikasi di bidang sensor telegram. Ia dipecat dari jabatannya karena ia adalah seorang Yahudi. Dari program ini Levi-Strauss berhasil datang ke New York dan selamat dari pembantaian tentara Nazi yang anti terhadap orang-orang Yahudi. Ia banyak berkomunikasi dengan para ilmuan buangan dari Prancis. Karir Levi-Strauss sempat mengalami halangan saat ia diwajibkan menjalani wajib militer. kesabaran. ribuan bahkan jutaan mitos kini memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan kita.L. Di kota New York inilah Levi-Strauss semakin banyak memiliki peluang mengembangkan keilmuannya. Halangan tidak hanya sampai disitu. Kroever dan Ralph Linton. Sampai akhirnya ia diangkat menjadi liaison officer. Ia bahkan telah menghasilkan suatu karya yang sangat penting di bidang Antropologi yang sesungguhnya sangat jauh dari studi formal yang dimilikinya. Ia pun berkesempatan mengajar mata kuliah Etnologi di New York Ecole Libre des Hautes Etudes. Namun dalam situasi yang seperti itu tetap tidak menghalangi dirinya untuk menjadikannya seorang professor. Levi-Strauss tinggal. Mitos-mitos itu sebelumnya tak seorang pun yang memperhatikan. Franz Boas. yang didirikan oleh para intelektual pelarian dari Prancis. Kita sangat menghargai perjuangan Levi-Strauss dalam menemukan teori (konsep) strukturalisme ini. Ruth Benedict.

setelah dia meninggal. Yale.Selama hidupnya Levi-Strauss pernah menduduki jabatan-jabatan strategis terutama di bidang pendidikan. "Dia adalah seorang pemikir. "Pada hari ini hilangnya spesies hidup yang sangat mengerikan.. . tidak lagi dunia yang aku suka.Pada zaqmannya. yang bersamaan pula dengan kedudukannya sebagai pimpinan Social Antropology pada College de France. Pada tahun 1935 sampai 1939 ia diangkat sebagai seorang Professor di Universitas Sao Paolo yang kemudian melakukan beberapa ekspedisi ke Brazil. menjulukinya "ilmuwan terbesar Perancis. Claude Levi-Strauss adalah pencetus Antropologi Struktural dengan strukturalisme sebagai perspektifnya. Pada tahun 1942 sampai 1945 ia diangkat sebagai professor di New School for Social Research. Dan dunia di mana saya menyelesaikan keberadaan saya. Goodenough (1950-an). Aliran ini membawa 12 . berencana untuk menghormatinya. mereka telah mulai meracuni diri mereka sendiri. Dalam wawancara dengan National Public Radio. ia berkata. dikembangkan Ward H. Berbicara pada radio Perancis.. Ia juga dianugrahi empat gelar kehormatan oleh Oxford. seorang filsuf. Académie française adalah institusi yang bergengsi milik Levi-Strauss. Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya diantaranya adalah: the wenner-Gren Foundation’s Viking Fund Medal dan Erasmus Prize pada tahun 1975." kata LeviStrauss." Hélène Carrère d'Encausse. Dan itu jelas bahwa kepadatan manusia telah menjadi begitu besar. Penulis Jean d'Ormesson. baik itu tanaman atau hewan. Pada tahun 1959 ia menjadi direktur The Ecole Practique des Hautes Etude." Levi Strauss meninggalkan dua putra. memuji Levi-Strauss memiliki "semangat keterbukaan yang luar biasa". Levi-Strauss menyatakan bahwa prospek manusia sangat suram. salah satu di antaranya adalah kepala bagian Museum dan benda-benda budaya UNESCO di Paris. sekretaris abadi Académie française. Kami tidak akan menemukan lagi seperti dia. lahir pula Antropologi Kognitif. Harvard dan Columbia University di Amerika Serikat.

Konsep Strukturalisme Levi-Strauss Sebagaimana diketahui bahwa cakupan ilmu sosial itu sangat luas. seorang tokoh di dunia Antropologi abad ke-20.definisi budaya dari yg fisik menuju pengertian bahwa budaya sebagai sistem pengetahuan. dalam jangkauan luas masyarakat. seperti ilmu eksakta dan pengetahuan alam ( exact and natural Sciences). Seperti dikutip dari siaran stasiun televisi BBC. antara lain "Tristes Tropiques" (1955). meninggal di Paris pada 31 Oktober. Presiden Prancis Nicolas Sarkozy menyebut Levi-Strauss sebagai salah satu etnolog besar sepanjang waktu. Levi-Strauss juga memperkenalkan strukturalisme.Interpretatif yg dipelopori oleh Clifford Geertz melihat sistem simbol sebagai media pemahaman manusia atas sistem nilai dan sistem koginitifnya. Inilah yang menjadikan salah satu alasan kenapa dalam ilmu sosial kita harus meniru metode ilmu-ilmu di luar ilmu sosial. sebagaimana dicontohkan dalam mitos-mitos yang berkembang. konsep bahwa semua masyarakat universal mengikuti pola pikir dan perilaku. Dari rangkaian persoalan manusia itu terdapat beberapa kesamaan yang 13 . terutama mitos. sangat tidak mungkin bisa memahami fenomena sosial tanpa mengaitkan dengan fenomena-fenomena lain. dan "The Raw and the Cooked" (1964). Beberapa di antaranya adalah teori tentang persamaan komponen antara masyarakat industri dan sukuterasing. LeviStrauss memperkenalkan "strukturalisme" untuk Antropologi. Karyakarya pemikir abad 20 ini. Hal ini disebabkan banyaknya persoalan yang timbul dalam aktivitas manusia baik secara individu maupun dalam kaitannya dengan masyarakat. konsep mengenai pola umum pikiran dan tingkah laku. 2009 dengan usia 101 tahun. Levi-Strauss disebut sebagai bapak Antropologi modern berkat karya-karyanya. dalam rentang enam dekade. "The Savage Mind" (1963). Dia juga seorang pecinta musik sejati. Aliran Antropologi Simbolik. C. Akhirnya Claude Lévi-Strauss. Oleh karena begitu kompleknya persolan itu.

crystals. Of course a typical personality can be viewed as having a structure. Meskipun bertolak pada linguistik. where problems are similarly set in formal terms or. So what “structure” adds to the meaning of our phrase seems to be nothing.and during its vogue tends to be applied indiscriminately because of the pleasurable connotations of its sound. where the formal expression of different problems admits of the same kind of treatment”. Langkah ini dilakukan karena dalam strukturalisme dipahami bahwa setiap benda yang berbentuk pasti memiliki struktur. tetapi lebih menekankan pada bentuk (pattern) dari kata itu. “Levi-Strauss derived structuralism from school of linguistics whose focus was not on the meaning of the word.bisa dijadikan model dalam sebuah penelitian. rather. Adanya struktur ini memungkinkan juga adanya persamaan-persamaan. Pendapat Allen ini menunjukkan adanya struktur dalam setiap persoalan. 60). without overlapping other fields pertaining to the exact and natural sciences. fokus strukturalisme Levi-Strauss sebenarnya bukan pada makna kata. except to provoke a degree of pleasant puzzlement’. and still more difficult to discuss.machines. but the patterns that the words form. machines. all societies and all cultures. Oleh karena itu pula pemahaman dasar dari teori strukturalisme adalah mengacu pada model penelitian linguistik. Kroeber dalam buku edisi kedua Anthropology menyebutkan bahwa: “Structure” appears to be just a yielding to a word that has perfectly good meaning but suddenly becomes fashionably attractive for a decade or so –like “streamlining”. yang tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris kebudayaan itu sendiri (Ahimsa. Dalam konsep Strukturalisme Levi-Strauss. Bentuk-bentuk kata ini menurut Levi-Strauss berkaitan erat dengan bentuk atau susunan sosial masyarakat. studies in social structure have to do with the formal aspects of social phenomena. Allen Lane (1968. But so can a physiology. Oleh sebab itu Sarah Schmitt (1999) menyatakan. any organism. they are therefore difficult to define. struktur adalah model-model yang dibuat oleh ahli Antropologi untuk memahami atau menjelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya. 2006.in fact everything that is not wholly amorphous has a structure.” 14 .8) menyatakan sebagai berikut: ”On the other hand.

Seperti kata-kata hitam dan putih. dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan sosial. sedangkan putih dihubungkan dengan kesucian. kejahatan. ketulusan dan lain-lain. Itu sebabnya ia mulai dengan mitos. 1978). 378). Sementara emosional dianggap inferior yang diasosiasikan dengan perempuan. Prinsip dasar struktur yang dimaksud disini adalah bahwa struktur sosial tidak berkaitan dengan realitas empiris. Bangunan dari model-model itu yang akan membentuk struktur sosial. melainkan dengan model-model yang dibangun menurut realitas empiris tersebut (Levi-Strauss. keburukan. 1958. 1. Rasional dianggap lebih istimewa dan diasosiasikan dengan laki-laki. 15 . Contoh lain adalah kata rasional dan emosional. 1969 dalam Fokkema. Semua konsep mengenai struktur bahasa tersebut di atas. menggabungkan fungsi-fungsi hanya secara vertikal. Menurut Levi-Strauss (1958) ada empat syarat model agar terbentuk struktur sosial. Struktur terdiri atas elemen-elemen seperti sebuah modifikasi apa saja. Model strukturalnya tidak linier (Meletinskij. Hitam sering dikaitkan dengan kegelapan. Sebuah struktur menawarkan sebuah karakter sistem. Konsep ini dianggap sama dengan organisasi pemikiran manusia dan juga kebudayaannya. Untuk membuktikan adanya keterkaitan atau beberapa kesamaan antara bahasa dan budaya. LeviStrauss mengembangkan teorinya dalam analisis mitos. dan mencoba menerangkan paradigmatik mereka yang tumpah-tindih dengan varian-varian mitos.Strukturalisme Levi-Strauss juga bertolak dari konsep oposisi biner (binary opposition). Levi-Strauss sangat tertarik pada logika mitologi. perlu diketahui terlebih dahulu prinsip dasar dari struktur itu sendiri. Untuk mengetahui makna struktur dalam bidang Antropologi Levi-Strauss. kebersihan. yang salah satunya akan menyeret modifikasi seluruh elemen lainnya.

dan seperti fonem. kekerabatan memperoleh maknanya hanya dari posisi yang mereka tempati dalam suatu sistem. 1978). sehingga seluruh transformasi ini membentuk sekelompok model. di mana masing-masing berhubungan dengan sebuah model dari keluarga yang sama. 1978). Masalahnya para ahli Antropologi pada saat ini tidak pernah mempertimbangkan peranan bahasa yang sesungguhnya sangat dekat dengan kebudayaan manusia itu sendiri.2. Dalam bukunya yang berjudul ”Trites Tropique” (1955) ia menyatakan bahwa penelaahan budaya perlu dilakukan dengan model linguistik seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure. Model itu harus dibangun dengan cara sedemikian rupa sehingga kegunaannya bisa bertanggung jawab atas semua kejadian yang diobservasi. bukan seperti yang dikembangkan oleh Bergson. Karena bagi Bergson tanda linguistik dianggap sebagai hambatan. Istilah kekerabatan. 1978). cepat berlalu. Singkatnya Levi-Strauss berkeyakinan bahwa untuk mempelajari kebudayaan atau perilaku suatu masyarakat dapat dilakukan melalui bahasa. seperti halnya fonem. LeviStrauss memandang bahwa apa yang ada di dalam kebudayaan atau perilaku manusia tidak pernah lepas dari apa yang terefleksikan dalam bahasa yang digunakan. Seluruh model termasuk dalam sebuah kelompok transformasi. Sifat-sifat yang telah ditunjukan sebelumnya tadi memungkinkan kita untuk memperkirakan dengan cara apa model akan beraksi menyangkut modifikasi salah satu dari sekian elemennya. yaitu sesuatu yang merusak impressi kesadaran individual yang halus. 4. Oleh karena itu akan terdapat kesamaan konsep antara bahasa dan budaya manusia. 1972 dalam Fokkema. 3. 16 . dan mudah rusak (Fokkema. merupakan unsur makna. Bagi Levi-Strauss telaah Antropologi harus meniru apa yang dilakukan oleh para ahli linguistik. Kesimpulannya adalah bahwa “meskipun mereka berasal dari tatanan relitas yang lain. Lahirnya konsep Strukturalisme Levi-Strauss merupakan akibat dari ketidakpuasan Levi-Strauss terhadap fenomenologi dan eksistensialisme (Fokkema. fenomena kekerabatan merupakan tipe yang sama dengan fenomena linguistik (Levi-Strauss.

Pertama. 2006). dan bersifat menjelaskan (Levi17 . Ketiga. Hal ini dapat kita lihat juga pendapat para pakar kebudayaan yang selalu menyertakan bahasa sebagai unsur budaya yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Model-model matematis pada bahasa dapat berbeda pada tingkatan dengan model matematis yang ada pada kebudayaan. kita tidak pernah bisa lepas dari pembahasan bahasa (lihat. Karena bahasa merupakan unsur dari kebudayaan. Dengan kata lain melalui bahasa manusia mengetahui kebudayaan suatu masyarakat yang sering disebut dengan kebudayaan dalam arti diakronis. menyadari bahwa bahasa merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. Levi-strauss mengakui bahwa analisis yang benar-benar ilmiah harus nyata. Seperti yang disebutkan oleh Levi-Strauss (1963). dan dalam cara orang Indian mengekspresikan konsep waktu mereka. terutama setelah diakuinya bidang Fonologi atau ilmu tentang bunyi dalam bahasa (Fokkema. Namun demikian. Koentjaraningrat. Hubungan atau korelasi bahasa dan budaya terjadi pada tingkat struktur (mathematical models) dan bukan pada statistical models (Ahimsa. menyatakan bahwa bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan.Ahimsa (2006: 24-25) menyebutkan bahwa ada beberapa pemahaman mengenai keterkaitan bahasa dan budaya menurut Levi-Strauss. Berikutnya. Korelasi semacam ini sangat mungkin terdapat pada kebudayaan lain. 1978). perlu juga diperhatikan beberapa perbedaan mendasar antara sifat keilmuan Fonologi dengan apa yang ada dalam Antropologi/Sosiologi. 1987). Kedua. Dengan bahasa manusia menjadi makhluk sosial yang berbudaya. maka bahasa adalah bagian dari kebudayaan itu sendiri. sederhana. korelasi sistem kekerabatan orang-orang Indian di Amerika Utara dengan mitos-mitos mereka. Antropologi mengalami perkembangan pesat setelah dikembangkan dengan model linguistik. bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat merupakan refleksi dari keseluruhan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan untuk membangun bahasa pada dasarnya memiliki kesamaan jenis atau tipe dengan apa yang ada pada kebudayaan itu sendiri. Untuk itu jika kita membahas mengenai kebudayaan.

sistem “terminologi” dan sistem “sikap”. dipenuhi dengan kesedian dan bahkan dilarang sama sekali memasak makanan pada komunitas Islam tertentu. dalam Fokkema. misalnya ketika persiapan menguburkan mayat. oleh karena itu selalu dengan upacara yang berbeda menurut pemahaman suatu suku atau pemeluk agama tertentu. selalu daiadakan pesta dan upacara kematiannya penuh dengan kegembiraan. Antropologi/Sosiologi bukan bergerak dari hal-hal yang kongkret.Tetapi hal itu agak berbeda dengan apa yang ada dalam Antropologi. ia tidak perlu memperhitungkan segala “sikap” sumber sosial atau sumber psikologis. Tradisi adalah sebuah jalan bagi masyarakat untuk memformulasikan dan memperlakukan fakta-fakta dasar dari eksistensi kehidupan manusia.Strauss. sebagai contoh: Konsensus manusia tentang persoalan kehidupan dan kematian merupakan suatu tradisi yang penuh dengan simbul dan tradisi. serta relasi manusia dengan tradisi sangat penting. manjauhi yang kongkret. Antropologi/Sosiologi berurusan dengan sistem kekerabatan pada titik persilangan dua tatanan realitas yang berbeda. 18 . 1978). Fonologi bisa diterangkan secara ekskulsif dalam sistem persitilahan. Antropolog Levi-Strauss bertujuan menemukan model bahasa dan budaya melalui strukturnya. tetapi bagaimana manusia mengucapkan vokal. analisis Antropolgi justru maju ke arah yang berlawanan. Hastermann). Asumsi dasar nalar manusia (human mind) adalah sistem relasi (system of relation). Kebudayaan adalah produk atau hasil aktifitas nalar manusia yang memiliki kesejajaran dengan bahasa dan tradisi. sistemnya lebih rumit daripada data observasi dan akhirnya hipotesisnya tidak menawarkan penjelasan bagi fenomena maupun asalusul sistem itu sendiri. apalagi ketika upacara pembakaran mayat. 1972. Pemahaman terhadap pikiran dan perilaku kehidupan manusia. Di Bali. sedangkan upacara kemaian pada pemeluk Islam. Tradisi adalah tatanan transendental sebagai pengabsah tindakan dan juga sesuatu yg imanen dalam situasi aktual dan bersesuaian dengan konteks bersifat dinamis (J.C. Kebudayaan dan bahasa berposisi sejajar karena keduanya merupakan hasil dari nalar manusia.

Isi bisa berubah. Kehidupan manusia dibentuk oleh struktur bahasa. kuda. karena 19 juga menganalisa sistem simbol. horse adalah ”penanda”. Untuk dapat mengetahui kekhasan bentuk (distinctive form) ialah dengan mengenali perbedaan satu kata dengan kata yang lain (differensiasi sistematis). Suara dapat dikatakan sebagai bahasa jika dapat mengekspresikan. sabu. Langue adalah sistem tata bahasa formal. Hubungan antara penanda & tinanda disebut ”arbiter”. namun bentuknya tidak. jelas sekali walaupun fonemnya hampir sama. Sebagai contoh: babu. tetapi artinya sangat berbeda. menyatakan atau menyampaikan ide atau pengertian tertentu. yaitu suatu ilmu yang lebih luas kajiannya dari pada Strukturalisme. karena perbedaan sistimatis tersebut. Elemen dasarnya adalah katakata. tabu. tergantung dari relasinya. yaitu cara pembicara mengungkapkan bahasa untuk dirinya sendiri dalam rangka berkomunikasi dengan orang lain. Saussure juga membedakan antara konsep “langue” & “parole”. Sedangkan ”binatang berkaki 4 (empat) & berlari kencang adalah ”tinanda”.Dalam hal ini pengaruh pemikiran tokoh-tokoh terhadap strukturalisme Levi-Strauss cukup besar. Tinanda dari sebuah penanda dapat berupa apa saja. . konsep suara tersebut adalah ”tinanda” (signified). Levi-Strauss Strauss belajar metode komparasi tentang geologi masyarakat (Marx) untuk menemukan geologi psikis (Freud) dan bagaimana pola umum objek dalam menjelaskan gejala yang tersembunyi. Kajiannya berupa relasi antara keilmuan yang inderawi dan yang linguistik rasional yang dilakukan oleh Fredinand de Saussure (1857-1913). Adanya langue menyebabkan adanya parole. Menurut Fredinand de Saussure konsep bentuk (form) dan isi (content) penanda dan tinanda selalu memiliki bentuk dan isi. sistem elemen phonic yg hubungannya ditentukan oleh hukum yg tetap. ahli bahasa Swiss yang membangun Strukturalisme dari sudut ilmu bahasa struktural yg akhirnya menjadi teori Strukturalisme itu. Sedangkan parole adalah percakapan sebenarnya. Bahasa adalah sistem tanda (sign). Suara yang muncul dari sebuah kata adalah ”penanda” (signifier). Studi tentang struktur bahasa melalui “tanda” melahirkan Semiotics. Contoh: Jaran. Jadi ide tidak ada sebelum adanya kata-kata.

text/bunyi *jeruk* punya arti/makna karena ada text bunyi lain macam *kelapa*. dan lain sebagainya. *pergi*. serta berusaha untuk membedakan sintagmatis dan paradigmatis. mungkin lewat “gerengan” atau “raungan” sebagaimana ketika seekor harimau makan binatang buruan bersama itu. dan lain sebagainya. karena ditentukan oleh ketidak existan/ketidakbermaknaan kategori yang lain. Contoh yang jelas dalam sistem biner adalah : laki-laki <--> perempuan. 20 mencaplok. Dalam sebuah struktur oposisi biner yang ideal. segala sesuatu arti/makna dapat dimasukkan dalam dua kategori. Suatu kategori jadi exist atau bermakna. Contoh: kata menggigit akan berhubungan dg anjing. sampai mitos dalam masyarakat. Dalam sistem biner. hanya ada dua sign (tanda) yang hanya memiliki makna bila masing-masing beroposisi dengan yang lain. adalah bagaimana manusia itu merepresentasikan pikirannya lewat omongan. Tokoh Semiotics adalah Roland Barthes dan Fredinand de Saussure yang melakukan studi sinkronis (fakta bahasa sebagai sistem) bukan diakronik (historis bahasa & perubahan evolutifnya). cara berpakaian. Selanjutnya menurut Saussure. Suatu kategori X tidak ada dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori Y. . naskah sastra. Contoh lain adalah gunung <--> lembah. Sebagai contoh: kata menggigit juga ada relasinya dengan memakan. ekspresi. kegeraman. Kategori X ataupun kategori Y. dan lain-lain. dan bentuk komunikasi. mengerogoti. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan secara struktural. Sedangkan paradigmatis atau asosiatif adalah relasi antara suku kata dengan kata lain diluar hubungan sintagmatis. Seseorang disebut laki-laki karena dia bukan perempuan. Teori oposisi biner ini jadi terkenal setelah Levi Strauss menggunakan teori ini untuk menganalisa proses kultural seperti cara memasak.bahasa tubuh. Bahwa lahirnya bahasa dari segi arti/makna yang muncul dalam otak itu berasal dari komunikasi genital. *bangku*. dan memproduksi suara. Saussure menyebutnya sebagai “oposisi biner”. kedinginan. Sintagmatis adalah hubungan yg dimiliki sebuah kata dengan kata sebelumnya. Namun dari segi 'actual speech' atau omongan ('parole'). Disebut gunung.

militer-sipil. Contoh sederhana adalah oposisi biner alamiah seperti batu <--> air diparalelkan dengan keras <-> lunak. maka penghilangan salah satu bagian dari oposisi biner pasti akan meruntuhkan struktur Indonesia itu.karena dia bukan lembah dan begitulah seterusnya. Dia lahir karena manusia punya sistem penandaan dalam otaknya (genital-communication). seperti: . Kalau Indonesia disebut sebagai struktur yang terbentuk dari bermacam-macam oposisi biner. Konsep oposisi biner mula-mula diteorisikan oleh ahli bahasa Ferdinand de Saussure. positip <--> negatip. Dia adalah berbentuk produk atau reproduksi budaya. Inilah pentingnya pengetrapan teori Strukturalisme pada fenomena aktual sekarang ini. yaitu struktur yang mengatur sistem pemaknaan kita terhadap budaya dan dunia tempat kita hidup. Bagi Strauss. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang 21 . Sistem oposisi biner ini oleh manusia tidak saja digunakan untuk mengkategorikan sesuatu yang hanya ada di dunia alamiah. tetapi Claude Levi-Strauss-lah yang membuatnya menjadi sangat berpengaruh. karena adanya sistem oposisi biner yang mendukung struktur tersebut. Kalau melihat struktur oposisi biner ini dapat disimpulkan bahwa suatu struktur (baik abstrak atau konkrit) selalu ada. Sistem oposisi biner tidaklah lahir secara natural. tetapi dia juga digunakan untuk untuk memahami/menjelaskan kategori-kategori makna yang abstrak. diabstrakkan jadi pemerintah yang kejam <> pemerintah yang ramah. baik terhadap alam natural atau pun dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan. daratan <--> lautan. dan sistem penandaan ini digunakan untuk menstrukturkan persepsi serta pemahaman manusia pada dunia di luar mereka. separatis lawan NKRI. Terjadinya berbagai masalah di Indonesia mungkin disebabkan hilangnya salah satu bagian struktur oposisi biner tersebut. oposisi biner adalah 'the essence of sense making'. publik <--> privat. Oposisi biner ini juga dapat menjelaskan dan digunakan untuk menganalisa perkara GAM/OPM lawan NKRI. Strauss merupakan Antropolog strukturalis yang banyak menggunakan teori-teori bahasa. Islam moderat dan Islam radikal serta hubungan struktural antara keduanya yang timpang dan bagaimana memperbaikinya.

ia bukan bersifat 'alamiah'. Contoh sederhana dari konsep ini misalnya diberikan oleh John Fiske (1994): konsep oposisi biner angin badai dan angin tenang (kongkret) misalnya. Ia adalah produk dari sistem penandaan. atau antara anak-anak dan orang dewasa. Oposisi biner menimbulkan posisi-posisi ambigu yang tidak bisa dimasukkan dalam kategori A atau kategori B.membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan. Secara struktur oposisi biner berhubungan satu dengan yang lain. kita mengatur pemahaman dunia di luar kita. Dalam struktur oposisi biner yang sempurna. Misalnya dalam sistem biner laki-laki dan perempuan dan laki-laki. yang bisa disebut dengan atau ‘kategori ambigu’ atau 'kategori skandal' (Strauss lebih senang menyebutnya dengan 'anomalous category‘. dan bahkan tidak akan ada kategori A.‘Kategori anomali’ ini muncul dan mengganggu 22 . Dalam sistem biner. segala sesuatu dimasukkan dalam kategori A maupun kategori B. Suatu kategori A tidak dapat eksis dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori B. Kategori A masuk akal hanya karena ia bukan kategori B. daratan dan lautan. dan bisa ditransfor-masikan dalam sistem-sistem oposisi biner yang lain. Strauss juga menyebutkan konsep dasar dari oposisi biner yaitu 'the second stage of the sense-making process': penggunaan kategorikategori sesuatu yang hanya eksis di dunia alamiah (sesuatu yang kongkret) untuk menjelaskan kategori-kategori konsep kultural yang abstrak. dan dengan memakai pengkategorian itulah. tidak akan ada ikatan dengan kategori A. Tanpa kategori B. Proses transisi metafor dari sesuatu yang abstrak dalam sesuatu yang kongkret ini dinamakan Strauss sebagai 'the logic of concrete'. dan berfungsi untuk menstrukturkan persepsi kita terhadap alam natural dan dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan dan makna. begitu seterusnya. hanya ada dua tanda atau kata yang hanya punya arti jika masing-masing beroposisi dengan yang lain. Keberadaan mereka ditentukan oleh ketidakberadaan yang lain. Oposisi biner adalah produk dari 'budaya'. bisa disejajarkan dengan oposisi biner alam yang kejam dan alam yang tenang (abstrak). Seseorang disebut laki-laki karena ia bukan perempuan. sesuatu itu disebut daratan karena ia bukan lautan.

Pantai. tapi pada struktur dalam tetap sama. yaitu: Struktur permukaan/luar (surface structure): adalah relasi-relasi antar unsur yg dapat dibuat atau dibangun berdasarkan ciri-ciri empiris dari relasi tersebut. Antara orang hidup dan orang mati ada sesuatu yang disebut vampir. sebagai contoh: kutuk dan kuthuk (Jawa). hantu. Sedangkan struktur batin/dalam (deep structure): adalah susunan tertentu yg dibangun atas struktur lahir yg telah berhasil dibuat. Ia mengotori kejernihan batas-batas oposisi biner. ada pantai. Perbedaan “t” dan “th” inilah yang disebut fonem (Nikolai Troubetzkoi). atau gay/lesbian/banci adalah 'kategori anomali'. Antara anak-anak dan orang dewasa. vampir/hantu/zombi. remaja. Struktur terbagi dua. Antara laki-laki dan perempuan ada gay/lesbian/banci. zombi. Karena dalam proses transformasi tidak sepenuhnya berubah. Transformasi harus dibedakan dari kata perubahan yang berarti change. Oleh karena itu struktur juga oleh Levi-Strauss diartikan sebagai relations of relations atau system of relation (sistim relasi). Antara daratan dan lautan. Hal yang perlu diperhatikan dalam Strukturalisme adalah adanya perubahan pada struktur tersebut. Sebagaimana sudah disebutkan di atas bahwa terbentuknya struktur merupakan akibat dari adanya relasi-relasi dari beberapa elemen. Diantara mereka yang sangat berpengaruh 23 . Pemahaman kita akan adanya struktur dalam setiap benda atau aktivitas manusia memudahkan identivikasi benda atau aktivitas tersebut. Hanya bagian-bagian tertentu saja dari suatu struktur yang mengalami perubahan sedangkan elemen-elemen yang lama masih ada. Agar pemahaman mengenai teori strukturalisme LeviStrauss lebih baik. ada posisi remaja. Kata tidak lagi dapat dianggap sebagai satuan linguistik paling dasar karena yang terkecil adalah fonem (satuan) bunyi yang terkecil dan berbeda. Fonem adalah konsep linguistik bukan konsep psikologis.sistem oposisi biner. Perubahan yang terjadi dalam suatu struktur disebut dengan transformasi (transformation). perlu disampaikan konsep bahasa menurut para ahli linguistik yang mempengaruhi lahirnya teori ini. Transformasi adalah perubahan bahasa pada struktur luar.

Signified (tinanda) dan signifier (penanda). Sebagai penemu konsep linguistik modern. Ferdinand de Saussure Ferdinand de Saussure (1857-1913) merupakan penemu linguistik modern (Modern Linguistics). Terobosan pemikiran de Saussure dimulai pada pemikirannya mengenai hakekat gejala bahasa. Gagasan terbesar de Saussure adalah pada teori umum sistem tanda (general theory of sign system) yang disebutnya dengan ilmu Semiologi (Semiology) (Winfried Noth. wajar jika de Saussure dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh terhadap teori Strukturalisme. Ferdinan de Saussure. 24 . De Saussure berpendapat bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda linguistik atau tanda kebahasaan (linguistic sign). 1978 dalam Ahimsa 2006). Pemikiran ini kemudian melahirkan konsep struktural dalam bahasa dan juga semiologi atau yang sekarang disebut dengan semiotik (Ahimsa. 1. (Levi-Strauss. Roman Jakobson dan Nikolay Trobetzkoy. C. a. Bagi Saussure ide-ide tidak ada sebelum kata-kata. 2006). yang wujudnya tidak lain adalah kata-kata. Para Ahli bahasa yang berpengaruh pada pemikiran Levi Strauss Berikut ini adalah para pakar bahasa yang mempengaruhi Levi Strauss dalam proses pengembangan teori Struktulaisme. Yaitu. Signifier dan signified. 1995. Dari ketiga pemikir linguistik ini. Ada lima pandangan de Saussure yang mempengaruhi Levi-Strauss dalam memandang bahasa.terhadap pandangan Levi-Strauss adalah. 56). dan menurut dia secara psikologis pikiran kita terlepas dari perwudjudannya dalam kata-kata sebenarnya hanyalah “Shapeless and indistinct mass”. Bahasa adalah suatu sistem tanda (sign). Levi-Strauss memiliki keyakinan bahwa studi sosial bisa dilakukan dengan model linguistik yaitu yang bersifat struktural.

19 dalam Ahimsya. akan tetap memiliki fungsi dan kedudukan yang sama dengan “kuda” yang hilang itu. Form (bentuk) dan content (isi).sesuatu yang tak berbentuk dan tak mengenal perbedaan-perbedaan atau tak bisa dibeda-bedakan. 35). Fungsi “kuda” ini masih bisa digantukan dengan benda lain yang mirip atau tidak sama sekali dengan bentuk asli “kuda” yang digantikan. Jadi benda apapun selama kita tempatkan dam posisi “kuda”. Wadah atau form adalah sesuatu yang tidak berubah. 1976. sedang konsepnya adalah tinanda (signified). 25 . Suatu benda yang ditempatkan pada posisi “kuda”. tuturan). walaupun penanda dan tinanda tampak sebagai entitas yang terpisahpisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen dari tanda. meskipun dengan bentuk yang lain dari kuda itu tetap bisa menggantikan fungsi kuda yang digantikan tersebut. 2. Langue (bahasa) dan parole (ujaran. Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (signifier). Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa (Culler. bukan menyatukan sesuatu dengan sebuah nama. 2006 h. Dalam konsep ini. dengan sebuah ide atau tinanda yang disebut signified. 3. Tanda adalah juga kesatuan dari suatu bentuk penanda yang disebut signifier. Setiap tanda kebahasaan pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citra suara (sound image). Untuk menjelaskan konsep ini memang agak sulit. Kiasan yang sering digunakan untuk menggambarkan kedudukan wadah (form) dan isi adalah pergantian salah satu fungsi dari komponen permainan catur. Meskipun komponen “kuda” hilang seumpamanya. isi boleh saja berganti tetapi makna dari wadah masih tetap berfungsi.

Pembahasan de Saussure bukan hanya fokus pada aspek bahasa semata tetapi juga aspek sosial dari bahasa. Komsep langue merupakan aspek yang memungkinan manusia berkomunikasi dengan sesama. Disisi lain parole merupakan tuturan yang bersifat individu. Inilah kenapa langue membicarakan juga aspek sosial dalam linguistik. Oleh karena itu keadaan ini menuntut adanya perbedaan yang jelas antara fakta-fakta kebahasasan sebagai sebuah sistem. Sinkronis dan diakronis De Saussure meyakini akan adanya proses perubahan bahasa. 47). 26 . 1966. de Saussure masih saja menekankan bahasa pada proses sinkronis. 46). Namun demikian. aturan-aturan antarperson yang tidak disadari tetapi ada pada setiap pemakai bahasa. Dari pengertian inilah akhirnya dapat dipahami bahwa untuk mempelalajari bahasa diperlukan pemahaman terhadap relasi-relasi atas elemen-elemen yang bersifat sinkronis. Hal ini dikarenakan tanda itu sebagi suatu entitas yang bersifat relasional atau dalam relasi-relasi dengan tanda-tanda lain. 1976. kesimpulannya bahasa diartikan sebagai “a system of pure values whcih are determined by nothing except the momentary arrangement of its terms” (Ferdinand de Saussure. Dengan kata lain tuturan yang membedakan kita dengan orang lain melalui gaya bahasa. Tuturan ini marupakan apa yang terwujud ketika kita mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang kita pergunakan. 2006. dan fakta-fakta kebahsaan yang mengalami evolosi (Culler. Dalam langue terdapat norma-norma. Karena tida semua fakta-fakta kebahasaan itu memiliki sejarah. ia bisa mencerminkan kebebasan pribadi seseorang. 4. via Ahimsa. via Ahimsa. 2006. Karena sifatnya yang evolutif maka tanda kebahasaan sepenuhnya tunduk pada proses sejarah.

Disinilah hubungan sintagmatik dan paradigmatik itu berperan. Gabungan kata yang sesuai itu memiliki makna. 2006. Koch (1981. ia dikenal sebagai pengembang Semiotika Klasik. Sepeti kata yang terdapat dalam kata “saya”. Dalam kontek ini de Saussure menyatakan bahwa manusia menggunakan kata-kata dalam komunikasi bukan begitu saja terjadi. Karena seperti kata “memetik” tentu tidak bisa digabungkan dengan kata “mengalir”. tetapi dipertimbangkan konvensi bahasa yang sudah ada. Sintagmatik dan Paradigmatik. Roman Jakobson Meskipun Jakobson terlahir setelah de Saussure. periode formalist.5. Atau gabungan kata “bunga mengalir” gabungan ini tidak memiliki makna karena tidak sesuai tata bahasa yang umum atau standar. 1995. Penggabungan kata ini tidak terjadi begitu saja. Pada periode ini Jakobson dikenal sebagai pendiri Moscow Linguistic Circle dan juga sebagai anggota kelompok Opoyaz yang sangat 27 . Ketiga kata ini bisa digabung menjadi kalimat “saya memetik bunga”. Konsep yang ditawarkan oleh Roman Jakobson (1896-1982) lebih condong pada para ahli bahasa dari Rusia (Rusian Linguist). “memetik” dan “bunga”. 47). Hubungan sintagmatik dan paradigmatik terdapat dalam kata-kata sebagai rangkaian bunyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep (Ahimsa. Pertama. 74) membedakan empat periode perkembangan penelitian mengenai karya-karya Jakobson. Kita memiliki kata yang mau kita gunakan sebagaimana penguasaan bahasa yang kita miliki. Tetapi menggunakan pertimbangan-pertimbangan akan kata yang akan digunakan. yaitu antara tahun 1914 sampai 1920. b. via Noth. Hubungan sintagmatik adalah hubungan yang dimiliki sebuah kata dengan kata-kata yang dapat berada di depannya atau di belakangnya dalam sebuah kalimat.

periode stucturalist.His (Jacobson’s) lectures. Keempat. antara tahun 1939 sampai 1949.” (1985:139). 52) berikut ini: “. “Kutuk” mengacu pada nama sejenis ikan gabus sedangkan “kuthuk” adalah anak ayam (Ahimsa. yaitu antara tahun 1920 sampai 1939. 2006. periode Semiotic. which provided me with a body of coherent ideas where I could crystallize my reveries about the wild flowers I had gazed at somewhere along the Luxembourg border early in May 1940. Hjelmslev) dan aktif dalam Linguistic Circle of New York. Pemikiran Jakobson berpengaruh besar pada diri Levi-Strauss pada konsepnya mengenai fenomena budaya. Perbedaan tulisan antar /t/ dan /th/ mengakibatkan sedikit perbedaan pengucapan tetapi memiliki makna yang jauh berbeda. meskipun fonem itu sendiri tidak bermakna.. This was the revelation of structural linguistics.. periode interdisciplinary yang dimulai pada 1949 yaitu saat ia mulai bekerja di Harvard dan juga MIT mengenai teori informasi dan komunikasi (Informatioan and Comunicatioan Theory). 28 . Pengaruh yang besar Romand Jakobson disampaikannya sendiri oleh Levi-Strauss sebagaimana dikutib oleh Ahimsa (2006.berpengaruh. Kedua.. however. need I add. Dalam pemikiran Jakobson unsur terkecil dari bahasa adalah bunyi. a great deal more than I had bargained for. Jakobson memberikan pandangan kepada Levi-Strauss tentang bagaimana memahami atau menangkap tatanan yang ada di balik fenomena budaya yang sangat variatif tersebut (Ahimsa. matematika dan juga fisika (1982). Fonem sebagai unsur bahasa terkecil yang membedakan makna. gave me something very different and. Dengan demikian kata diartikan sebagai satuan bunyi yang terkecil dan berbeda. 52). Ketiga. Pada periode ini Jakobson bergabung dalam Copenhagen Linguistic Circle (Brondal. 2006). Jakobson merupakan figur yang paling mendominasi dalam Prague School of Linguistics and Aesthetics. Contoh kasus yang menujukan peranan penting fonem dapat kita lihat dalam dua kata antara “kutuk” dan “kuthuk” (basa Jawa)..

Ahimsya. dan ini dilakukan dengan mengetahui ciri-ciri pembeda (distinctive features) dari suatu suara yang memisahkannya dengan ciriciri suara yang lain. unit-unit yang bermakna. Langkah-langkah struktural terhadap fonem yang dilakukan oleh Jakobson adalah. Jakobson yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis. sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lian. dan realsi-relasi ini muncul karean adanya oposisi. Merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah-istilah kebahasaan mana dengan distinctive features yang mana yang dapat berkombinasi dengan tanda-tanda kebahasaan tertentu lainya. Menentukan perbedaan. 11. h. Jadi sebenarnya fonem tidak akan bermakna atau tidak memiliki isi. 1977. Memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah. Nikolai Troubetzkoy 29 . c.perbedaan antartanda yang penting secara paradigmatis. b.Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa fonem terbentuk karena adanya relasi-relasi. yakni perbedaan-perbedaan antartanda yang masih dapat saling menggantikan(Pettit. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Jakobson mempengaruhi Levi-Strauss pada tataran tatanan (susunan/order) yang ada di balik fenomena budaya (Ahimsa. 55). Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada tidaknya ciri pembeda dalam tanda-tanda tersebut. d. Mencari distinctive feature (ciri pembeda) yang membedakan tandatanda kebahasaan satu dengan yang lain. a. 2006). c. yang hakiki dari sebuah fonem adalah relasi karena dengan begitu sebuah fonem baru memiliki fungsi yang jelas.

dan menampilkan struktur dari sistem tersebut. Langkah analisis struktural dalam fonologi. d. 2006). kecuali ahli fonologi dari kalangan mereka atau mereka yang pernah belajar lingusitik. Selanjutnya dia perlu. 30 . Pada tataran ini seorang ahli fonologi tidak lagi memperlakukan istilah-istilah (terms) atau fonem-fonem sebagai entitas yang berdiri sendiri. 3. tetapi dia harus. Memperhatikan relasi-relasi antar istilah atau antar fonem tersebut. 4. Memperlihatkan sistem-sisitem fonemis. 2006. karena relasi-relasi antar ciri-ciri pembeda dalam fonemlah yang menjadi pusat perhatian (Ahimsa. Artinya. 59). dan bukan ide yang diambil dari pengatahuan pemakai bahasa tertentu yang diteliti. Nikolai berpendapat bahwa fonem adalah sebuah konsep linguistik. bukan konsep psikologis. Strukturalisme bertolak dari studi linguistik (ilmu bahasa). Dengan kata lain. Beralih dari tataran yang disadari ke tataran nirsadar. Asumsi Dasar Strukturalisme Dari pemahaman kita di atas. strukturalisme merupakan aliran baru bagi studi antropologi. Jadi fonem tidak dikenal oleh pengguna suatu bahasa. Toubetzkoy menyarankan agar perhatian pada fenomena fonem sebagai sebuah konsep linguistik. berbeda dengan pendekatan yang ada dalam fungsionalisme. dan menjadikannya sebagai dasar analisisnya. yang memiliki fungsi atau operasional dalam satu bahasa. fonem sebagai sebuah konsep atau ide berasal dari para ahli bahasa. (Ahimsa.Nikolai mempengaruhi Levi-Strauss dalam hal strategi kajian bahasa yang berawal dari konsepsi mengenai fonem. Karena itu sebaiknya para peneliti memperhatikan distinctive feature. 2. 1. ciri-ciri pembeda. strategi analisis dalam fonogi haruslah struktural. Harus berupaya merumuskan hukum-hukum tentang gejala kebahasaan yang mereka teliti.

yaitu secara sinkronis. untuk menstruktur. 3. 68). 1. 2006. 1970. secara formal semuanya dapat dikatakan sebagai bahasabahasa (Lane.Marxisme dan lain-lain. Beberapa asumsi dasar tersebut adalah sebagai berikut. 66). dengan istilah-istilah yang lain. melalui mana suatu konfigurasi struktural berganti menjadi konfigurasi struktural yang lain. pola tempat tinggal. seperti halnya suatu kalimat dalam bahasa Indonesia hanyalah wujud dari secuil struktur bahasa Indonesia. akan tetapi perwujudan ini tidak pernah kompolit. Mengikuti pandangan dari de Saussure yang berpendapat bahwa suatu istilah ditentukan maknanya oleh relasi-relasinya pada suatu titik waktu tertentu. Relasi-relasi yang ada pada struktur dalam dapat diperas atau disederhanakan lagi menjadi oposisi berpasangan (binary opposition). 13-14 Ahimsya. Dalam Strukturalisme ada angapan bahwa upacara-upacara. Yaitu kemampuan untuk structuring. pakaian dan sebagianya. Dalam kehidupan sehari-hari apa yang kita dengar dan saksikan adalah perwujudan dari adanya struktur dalam tadi. Ahimsa (2006. sistemsistem kekerabatan dan perkawinan. para penganut strukturalisme berpendapat bahwa relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena-fenomena yang lain pada titik waktu tertentu inilah yang menentukan makna fenomena tersebut. Suatu struktur hanya mewujud secara parsial (partial) pada suatu gejala. menyususun suatu struktur. Hukum transformasi adalah keterulangan-keterulangan (regularities) yang tampak. 2. atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya. 66-71) menyebutkan bahwa strukturalisme memiliki beberapa asumsi dasar yang berbeda dengan konsep pendekatan lain. 4. 31 . (Ahimsa. Para penganut Strukturalisme beranggapan bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis sehingga kemampuan ini ada pada semua manusia yang normal.

Sebagai contoh mengapa SBY disebut sebagai ”presiden”. implikasinya cukup jauh. Disamping itu juga Kebudayaan diyakini memiliki struktur sebagaimana yang terdapat dalam bahasa yang digunakan dalam suatu masyarakat. Strukturalisme merupakan gerakan pemikiran yang kembali ke bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913). melainkan karena kaitan dan perbedaannya dengan kata sultan. Dengan demikian dapat kita pahami juga bahwa strukturalisme Levi-Strauss menekankan pada aspek bahasa. Realitas sosial adalah “teks” atau bahasa. gubernur. dan sebagai “tanda” (sign). Semenjak strukturalisme inilah muncul pendapat bahwa bahwa bahasa sebagai sistem tanda bersifat arbiter (arbitrary).Sebagai serangkaian tanda-tanda dan simbol-simbol. dan bahasa selalu memiliki dua sisi: bahasa sebagai parole (tuturan percakapan lisan sebagai sisi eksekutif bahasa) dan sebagai langue (sistem tanda atau tata bahasa). camat dan sebagainya. Kata presiden ada bukan karena kaitan logis internal dengan orang yang menjadi kepala pemerintahan presidensial. Ketika diterapkan ke dalam ilmu-ilmu sosial. Semua bisa dipahami secara otonom di tataran langue (logika-internal penunjuk). Struktur bahasa mencerminkan struktur sosial masyarakat. Dengan metode analisis struktural makna-makna yang ditampilkan dari berbagai fenomena budaya diharapakan akan dapat menjadi lebih utuh. Dalam wacana ilmu-ilmu sosial. juga jika hanya secara analogis. dalam bahasa ada dua aspek: “penanda” ( signifier) dan “petanda” (signified). fenomena budaya pada dasarnya juga dapat ditanggapi dengan cara seperti di atas. Menurut perspektif Strukturalis itulah cara tutur kita yang sama sekali tidak menjelaskan apapun. Strukturalisme merupakan penerapan analisis bahasa ke wilayah sosial. dan tidak terkait dengan objek yang ditunjuk. bukannya sebagai seorang “pesinden”. Apa yang utama dalam analisis sosial adalah menemukan “kode tersembunyi” yang ada dibalik gejala 32 . Keempat asumsi dasar ini merupakan ciri utama dalam pendekatan strukturalisme.

Ada dua unsur sentral di situ: sifat sewenang-wenang (arbitrary) dan perbedaan (difference). Sejumlah ahli Antropologi menggunakan cara-cara yang berbeda dalam melihat struktur sosial dalam kaitannya dengan agama dan upacara. ruang. misalnya. Derrida melihat ‘perbedaan’ bukan hanya sebagai cara menunjuk. “Kode tersembunyi” itulah struktur.kasat mata. Berbeda adalah menang-guhkan serta melawan. Ada paralel antara perspektif strukturalis dan fungsionalis. melainkan sebagai pembentuk identitas yang bersifat konstitutif. ‘camat’ dan sebagainya. kata ‘presiden’ terbentuk bukan karena kaitannya dengan seseorang yang menjadi kepala sebuah negara pada waktu-tempat tertentu. bidiklah logika-internal kinerja ‘modal’. Gejala penyingkiran pelaku tindakan atau subjek (decentering) dalam strukturalisme ini dibawa ke implikasi terjauhnya oleh para penggagas post-strukturalisme. Tindakan individual dalam ruang dan waktu tertentu hanyalah suatu kebetulan. yang mempunyai implikasi pada tingkat pembahasan yang mereka lakukan 33 . Seperti telah dicontohkan di atas. yaitu pengebawahan pelaku dan tindakan pelaku. perspektif ini merupakan “penolakan yang penuh skandal terhadap subjek”. melainkan bahwa ‘bukan camat’ itu sendiri merupakan pokok eksistensi. e. melainkan karena perbedaannya dengan kata ‘raja’. berbeda merupakan identitas itu sendiri. Dalam kritik Giddens. Penekanan yang telah diberikan adalah pada hubungan-hubungannya yang dilihat secara konseptual. ‘gubernur’. waktu. sehingga model-model mengenai hubunganhubungan tersebut nampak berbeda-beda di antara ahli-ahli yang berbeda. dan proses adalah soal kebetulan. perbedaan kata ‘presiden’ dan ‘camat’ bukan sekedar bahwa ‘presiden’ ialah apa yang ‘bukan camat’. Jacques Derrida. Artinya. sebagaimana langue menjadi kunci otonom di balik parole. Kalau mau mengerti masyarakat kapitalis.

Hertz melihat bahwa agama berperan terhadap adanya semacam polarisasi dalam kehidupan sosial dari individu maupun bagi seluruh warga masyarakat yang bersangkutan. Geertz menyatakan bahwa studi mengenai agama. Model-model dari Geertz yang berdasarkan pada model bagi dan model dari. Secara umum dapatlah dikatakan.serta pada tingkat pengertian yang mereka peroleh dengan menggunakan model-model tersebut. yang berlandaskan pada konsep-konsepnya mengenai sistem-sistem simbol dan ide yang memberi informasi. struktur sosial yang merupakan bagian yang terorganisasi dalam kehidupan mereka menjadi dapat dipahami serta masuk akal secara sewajarnya bagi mereka. yaitu dengan berlandaskan pada sistem klasifikasi yang menjadi dasar dan yang ada dalam agama. bahwa masing-masing model yang telah dibahas tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. dan yang mewujudkan adanya perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. 2. yang walaupun berbelit-belit tetapi memberikan suatu ketegasan penjelasan mengenai arti kebudayaan dalam kaitannya dengan struktur dan dengan lingkungan yang dihadapi oleh manusia. tetapi pada prinsipnya berlandaskan pada model-model yang sama. Dengan demikian maka juga nampak bahwa masing-masing model tersebut mempunyai relevansi dan validitas yang terbatas sesuai dengan tujuan penggunaannya dalam hal mengkaji hubungan antara struktur sosial di satu pihak dengan agama dan upacara di pihak lainnya. Sedangkan Cunningham memperlihatkan adanya suatu 34 . Analogi yang berlandaskan pada sistem penggolongan yang dilakukan oleh Hertz dan Cunningham. yang walaupun masing-masing berbeda dalam hal kedalaman dan luasnya cakupan dari model klasifikasi yang digunakan. mitos dan upacara adalah sebagai jalan untuk memahami bagaimana manusia memahami dan menerima hakekat dari kedudukan dan peranannya dalam kehidupan sosial di masyarakatnya.

Model-model hubungan yang dibuat berdasarkan atas prinsip. Levi-Strauss percaya bahwa dengan melalui studi mengenai agama dan mitos akan dapat diperoleh suatu pemahaman mengenai pengertian struktur sosial yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan. tetapi sebagai model bagi kenyataan. yang walaupun mempunyai landasan model-model sendiri yang sesuai dengan perhatian yang dipunyai masing-masing maka juga telah menghasilkan pengertian-pengertian yang berbedabeda antara yang satu dengan yang lainnya. Turner melihat bahwa upacara berperan untuk membuat individu dapat menjadi cocok dengan masyarakatnya dan membuatnya dapat menerima aturan-aturan yang berlaku. dapat membantu usaha-usaha mengenai struktur sosial karena mitos selalu berhubungan dengan masyarakat dan berbicara mengenai masyarakat tersebut baik 35 . Model ini adalah suatu sistem yang mempunyai kesanggupan untuk memprediksi atau meramalkan dan membuat kenyataan dapat menjadi masuk akal dan dipahami. yaitu suatu sistem yang menjadi pegangan bagi manusia pada waktu mereka mengklasifikasi dunia yang mereka hadapi.keteraturan (order). 3.prinsip kesadaran kolektif dan primordial yang dilakukan oleh Levi-Strauss dan Victor Turner. Upacara adalah tempat bagi perwujudan ketaatan atas aturan-aturan yang diikuti tersebut dalam bentuk berbagai tindakan yang dapat dilihat sebagai simbol dan metafor. Dalam perhatiannya mengenai mitos. Menurut Levi-Strauss. sebagaimana juga dengan pendahulu-pendahulunya yaitu Durkheim dan RadcliffeBrown. agama adalah suatu bagian dari struktur sosial. Levi-Strauss menyatakan bahwa mitos sebagai agama atau sebagai bagian dari agama. Pada waktu pegangan yang berisikan aturan-aturan itu diikuti/ditaati oleh manusia. Levi-Strauss melihat struktur sosial bukan sebagai kenyataan yang dapat diamati. maka sesungguhnya ide-ide yang terletak dibalik aturan-aturan tersebut secara simbolik telah juga diterima.

Agama menyajikan berbagai penjelasan mengenai hakekat kehidupan manusia dan lingkungan serta ruang dan waktu yang dihadapi manusia dan yang dirinya sendiri adalah sebagian dari padanya. Membentuk dan mendukung berlakunya nilai-nilai yang ada dan mendasar dari kebudayaan suatu masyarakat. Fungsi-fungsi tersebut antara lain adalah: 1. Salah satu dari peranannya yang jelas terlihat adalah bahwa dalam keadaan kekacauan dan kesukaran. yaitu etos dan pandangan hidup. yang antara lain terwujud dalam penekanannya pada bentukbentuk kelakuan yang wajar dan tepat menurut bidang atau arena sosial yang ada. sehingga kedudukan dan peranannya menjadi jelas dan penerimaannya atas berbagai tahap dan keadaan kondisi kehidupan yang dihadapi dan dialaminya dapat diterima secara masuk akal baginya. agama memainkan peranan yang besar bagi individu-individu yang bersangkutan karena agama menyajikan penjelasan dan bertindak sebagai kerangka 36 . maupun masa yang akan datang. Sehingga pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan relevansi dari sesuatu keyakinan keagamaan dan upacara yang dilihat sebagai struktur sosial ataupun sebagai corak hubungan yang terwujud antara struktur sosial dengan agama dan upacara. agama mempunyai berbagai fungsi penting yang terwujud dalam berbagai cara yang berbeda dalam kehidupan sosial manusia.mengenai masa yang lampau. bukanlah harus dilihat dalam konteks struktur itu sendiri tetapi dalam suatu konteks yang lebih luas dan berlandaskan pada kehidupan yang nyata yang dihadapi oleh para pelaku yang bersangkutan. sekarang. 2. Yang sebenarnya patut diperhatikan dalam pengkajian mengenai hubungan antara struktur sosial dengan agama dan upacara adalah dalam hal kaitannya dengan kenyataan-kenyataan sosial dan ekonomi yang ada dalam lingkungan hidup yang dihadapi oleh para pelakunya dalam masyarakat. Karena. kebingungan dan jiwa tertekan.

Begitu juga sebaliknya kalau kita ingin memahami hakekat dan corak dari agama yang diyakini oleh warga suatu masyarakat. kita dapat mempelajari dan mengkaji agama. D. Agama mempunyai peranan untuk menyatukan berbagai faktor dan bidang kehidupan ke dalam suatu pengorganisasian yang menyeluruh. Kritik yang berkenaan dengan teori Strukturalisme Levi-Strauss dapat dilihat pada persoalan perangkat dan metode analisis. a).sandaran bagi ketentraman dan penghiburan hati dalam keadaan kesukaran dan kekacauan yang dihadapi tersebut. yaitu dalam rangkuman struktur sosial. Perangkat dan Metode Analisis Ahimsa (2006. Sebagai akhir kata. dibenarkan. mitos dan upacara sehingga dapat menemukan dan kemudian menentukan apa yang seharusnya dijelaskan. Cara menggunakan 37 . yang dimungkinkan oleh adanya peranan dari mitos dan upacara. Strukturalisme ini mendapat kritik terutama dari para ahli antroplogi itu sendiri. data etnografi dan interpretasi. dapatlah dikatakan bahwa untuk dapat memperoleh pemahaman mengenai hakekat dan corak dari struktur sosial. Model-model yang telah dibahas tersebut di atas dapat digunakan secara terseleksi. Keduanya mempunyai peranan yang penting dalam mengko-ordinasi titik temu antara struktur sosial dengan agama dan antara agama dengan kehidupan yang nyata. ) menyebutkan bahwa kritik terhadap perangkat dan metode analisis dapat dibedakan menjadi tiga. a. serta hasil analisis dan kesimpulan dari hasil analisis teori tersebut. Demikian halnya dengan teori Strukturalisme LeviStrauss ini. yaitu tergantung pada masalah yang hendak dikaji dan kenyataan kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat dimana pengkajian itu hendak dilakukan. 3. dan didukung dalam suatu masyarakat. pasti akan terdapat celah-celah kekurangan dan kelemahanya. Kelemahan dan kelebihan Strukturalisme Levi-Strauss Seberapapun sempurnanya suatu teori.

Reduksi dalam proses analisis. Strukturalisme Levi-Strauss memiliki beberapa kelemahan. 2006. Douglas menyebutkan bahwa Levi-Strauss sering memaksakan datanya agar sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya (Ahimsa. tetapi juga pada tataran semantis yang berarti isinya juga. 2006. Levi-Strauss menggunakan cara analisis reductionist (reduksionis). 2006). Cara analisis menggunakan sistem ini akan mengurangi kesempurnaan analisis karena akan mengalami kelemahan makna (a lesser meaning). Dalam persoalan ini. menurutnya Levi-Strauss tidak selalu menggunakan konsep analisisnya dengan tepat. Cara ini sangat kurang tepat untuk menganalisis mitos sebagai produk budaya manusia yang sangat kompolek. Menurut para 38 . 1967 dalam Ahimsa. Kedua. 162). Hal ini dikarenakan mitos tidak pernah lepas dari kontek budaya masyarakat setempat dimana lahirnya mitos tersebut. Levi-Strauss pernah mengatakan bahwa untuk memahami sebuah mitos lebih penting memahami struktur daripada isi cerita. Namun dalam prakteknya ia tidak melakukan analisis seperti yang digambarkan. b.konsep-konsep analisis. Karena ketidaktepatan itu. 164). Interpretasi Data Etnografi Data etnografi sangat penting dalam menelaah mitos. Levi-Strauss sering membuat kesimpulan-kesimpulan yang dianggap terlalu jauh. Ketiga. Konsistensi prosedur analisis dan c). Disisi lain ia juga berpendapat bahwa dalam mitos isi dan bentuk tidak bisa dipisahkan (Yalman. Levi-Strauss sering tidak konsisten dengan analisis yang dikembangkan. Dalam beberapa analisisnya ia tidak hanya menlaah pada tataran sintaksis. Douglas menyebut dua reduksionisme yang dilakukan oleh Levi-Strauss yaitu pada model komputer yang dipakainya dan adanya dua tujuan dalam analisis wacana (Ahimsa. Marry Douglas mengkritik mengenai cara penggunaan konsep-konsep analisis. b).

Kronenfeld. Alice Kassakoff (1974) ahli antropologi ini melakukan penelitian suku Indian Tsimshian yang telah dianalisis oleh teori Strukturalisme Levi-Strauss ini. c. Hasil Analisis. Adam keakuratan data etnografi yang disampaikan Levi-Strauss belum seutuhnya mendukung dari apa yang disampaikan. seperti Alice Kassakoff dan John W.antropolog. oleh Strauss dipaksakan sesuai apa yang menjadi konsepsinya. a). Ketiganya menyimpulkan bahwa analisis Strukturalisme Levi-Strauss dianggap penuh dengan generalisasi-generalisasi etnografi yang sangat diragukan kebenarannya. Douglas beranggapan bahwa masih ada 39 . Menurut Adam gagasan Levi-Strauss terhadap suku ini terlalu diada-adakan. Justru dengan tindakan seperti inilah teori ini kridibilitasnya masih perlu untuk disangsikan. (Ahimsa. Thomas. L. Bahkan analsisnya dianggap mengalami kesalahrepresentasi-an. Bukan sekedar metode dan data etnogarfi yang nampaknya dipersoalkan dalam Strukturalisme Levi-Strauss. b). 168). Kronenfeld dan DB. Pendapat ini juga didukung oleh tiga ahli antropologi lain yakni.L. Lain lagi dengan pendapat Alice. Pengertian mitos yang cenderung dianggap negatif oleh LeviStrauss ditolak oleh Douglas. JZ. Adam (1974) mengkritik mengenai hasil analisis Strukturalisme Levi-Strauss terhadap suku Asdiwal. Kebenaran struktur mitos yang dikemukakan. Persoalan terhadap suku ini yang sebenarnya sederhana dan bahkan tidak ada. 2006. (misrepresentasions of story). Ia menyatakan bahwa analisis Strauss justru menutupi realistas kekerabatan yang ada pada suku Indian tersebut. Ahimsa (2006) menyatakan bahwa hasil analisis kritik dapat dibedakan dalam beberapa hal. Kemampuan analisis struktural menuntaskan tafsir yang diberikan. Hasil analisisnya pun masih banyak mendapat kritikan dari berbagai kalangan terutama para ahli antropologi.

a totally new theme. 1967 dalam Ahimsa. ternyata masih mengakui beberapa kemanfaatan dari 40 . Banyak manfaat yang kita dapatkan dari teori Strukturalisme LeviStrauss ini. Metoda ini justru dianggap mengalami kebocoran seperti yang diistilahkan Ahimsa dalam tulisannya. ( Douglas.aspek-aspek positif mengenai makna mitos. 20006. Metode analisis yang dilakukan oleh Levi-Strauss dalam analisis mitos menggunakan model analisis puisi denganggap tidak tepat. sehingga tentunya masih banyak penyesuaian dan pendalaman (penyempurnaan). “Instead of more and richer depths of understanding. karena kita menyadari juga bahwa teori ini masih baru dalam bidang antropologi. we get a surprise. and often a paltry one at that”. Douglas yang sebelumnya banyak melakukan kritik. Maybury-Lewis (1970) menyatakan bahwa banyak hal yang berhasil membuka perspektif-perspektif baru dalam analisis mitos yang telah dilakukan oleh Levi-Strauss. Beberapa Tanggapan Betapapun banyaknya kekurangan dan kelemahan yang terdapat dalam Strukturalisme Levi-Strauss. Maka wajar kiranya banyak yang menghujat sekaligus memuja teori ini. tentunya banyak hal yang dapat menjadi kelebihan dari teori ini. d. Selanjutnya Douglas menyatakan bahwa makna mengenai mitos yang dikemukakan oleh Levi-Strauss dianggap biasabiasa saja dengan istilah lain tidak begitu penting. 170). Hal yang demikian ini terjadi karena Levi-Strauss terlalu banyak mencontoh model yang diterapkan dalam ilmu bahasa (linguistik) yang menurut Douglas tidak cocok jika diterapkan dalam analisis mitos. Tema-tema mitos yang terdapat dalam suatu masyarakat masih banyak yang mengungkap realitas sosial yang positif.

struktur dan koherensi logis dalam mitos. Stauss ketika berkesempatan melakukan penelitian tearhadap suku-suku terasing di lembah Amazon Brazil. Dan inilah yang menunjukan pada kita akan keterkaitan mitos dan budaya masyarakat yang terdapat dalam mitos tersebut. berhasil menemukan Teori Stukturalisme yang akhirnya sangat mempengaruhi perkembangan ilmu-ilmu sosial termansuk Sosiologi baik di Eropa maupun di Amerika dan bahkan di negara-negara lain termansuk Indonesia. menarik dan mampu memberikan wawasan atau wacana tentang mitos yang sangat penting itu. karena teorinya selalu dirujuk oleh 41 . 176). dari serangkaian mitos-mitos tertentu (via Ahmisa.Strukturalisme Levi-Strauss ini. Terpengaruh oleh ahli-ahli bahasa yang sebelumnya sangat marak dalam kehidupan ilmiah di Prancis. 2006. Yalman (1967) menyebutkan bahwa berkat jasa yang dilakukan oleh Levi-Strauss kita mengetahui keterkaitan antara mitos yang satu dengan yang lain. Penutup Dari uraian diatas terbukti bahwa Strukturalisme Levi-Strauss berasal dari teori Antropologi yang analisisnya oleh bagaimana ahli bahasa memahami struktur dalam komponen bahasa. Teori muncul sebagai kritik atas kegagalan filsafat Eksistensialisme yang gagal dalam memahami realitas sosial pada kehidupan kelompok manusia. Secara umum dapat disimpulkan bahwa meskipun para ahli antropologi melakukan kritik terhadap teori Strukturalisme Levi-Strauss mereka masih mengakui beberapa keunggulan atau manfaat dari jerih payah Levi-Strauss. Ada susunan. E. Strauss yang meninggal pada akhir tahun 2009 di akui sebagai Antropolog/Sosiolog yang sangat terkemuka. Masuk akal. yang tidak terduga dan menarik. Bahkan apa yang digagas oleh Levi-Strauss melalui metode struktural ini dapat dikatakan banyak benarnya. Ia menyatakan teori ini telah mampu mengungkapkan acuan-acuan tertentu. makna-makna yang sangat dalam.

___________. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. 1998b.. ___________. “Lévi-Strauss. Makalah seminar. 1984. DAFTAR PUSTAKA Abdullah. 2006. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. Dengan analisis ini pemahaman tentang struktur. relasi sosial dan peran struktur dalam mewarnai prilaku individu dalam kehidupan sosial menjadi lebih jelas. Basis XXXIII (4) : 122-135. 1997. ___________. Kawin Bedil dan Sobrat. Makalah seminar. Orang-Orang PKI. Universitas Gadjah Mada. Nalar Jawa. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S.para pakar pakar ilmu-ilmu sosial dan analisisnya diakui sebagai analisis yang cemerlang. ___________. Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra. Ahimsa-Putra. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. H. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. H. 1998c. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. sehingga para intelektual berhasil memahami kehidupan sosial. O. 1998a. ___________. Shri. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan.S. 1995. 1994. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng42 . Teori Strukturalisme masih terus relevan sampai berumur satu abad walaupun penemunya Levi-Strauss sudah tiada. Paz. Yogyakarta. baik yang berupa realitas maupun yang tersembunyi. Makalah seminar Arkeologi. Ahimsa-Putra. T. Tesis Pascasarjana Antropologi. Kalam 6 : 124-143. kepel Press. Yogyakarta : LKIS. 2005. ___________.

1999c. Rahayu S. (ed). Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. Satu Model. ___________. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. ___________. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. 2002c. 2000b. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. 2002d. 2002a. Satwa. 1999a. 1999b. Strukturalisme Lévi-Strauss. Humaniora XV (3) : 239 – 264. Humaniora 12 : 1 – 13. Totem. Makalah diskusi. Terj. ___________. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. Tembi 1 Thn. ___________. ___________.Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. Dua Paradigma. Mitos dan Nalar Primitif. ___________. 2003. Makalah Sarasehan. Yogyakarta : Galang Press. Makalah bedah buku. Jakarta : UI Press. 2002e. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. September – Desember. Salam (ed). Roland Barthes : dari Strukturalisme Strukturalisme. Gerbang 5 (2) : 88 – 97. “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. Abror. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. 2006a. 2000a. ___________. ___________.I : 10 – 19. Makalah Pelatihan. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. ___________. 2002b. ___________. Robby H. Makalah seminar. 2001. ___________. Badcock. Makalah seminar. C. A. Yogyakarta : Insight Reference. 43 . 2005. ke Post- ___________. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. ___________. Mitos dan Karya Sastra. Makalah dalam bedah buku. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. ___________. Tiga Dasawarsa.

Tesis Pascasarjana Antropologi. Kaplan. Raman. David. ___________. The Theory of Culture (Teori Budaya). Antropologi Struktural. Strauss. Claude.___________. Strukturalisme Lévi-Strauss.). Yogyakarta.. Makalah seminar. Anthropologie Structurale (Terj. Indiana university Press. A Reader Guide to Contemporary Literary Work. Edisi Baru. 1999. 1958. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. 2007a. 2006c. Ritus Pertukaran”. 2008. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. Ahimsa-Putra (ed. Hand Book of Semiotics. ___________. Abdullah (ed. Kepel Press : Yogyakarta. Selden. Ngambu. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta : Kepel Press. Noth. Structural Anthropology. Sussex. Lane. D. 1985. David. Teori Sastra Abad Kedua Puluh (Theories of Literature in the Twentieth Century). 1998. 2006b. 44 . 1968. The Harvester Press Limited. New York. Pustaka Pelajar. Jakarta. Metodologi dan Etnografi. 2008a. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya BugisMakassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya BugisMakassar. ___________. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. Daiches. Ngaju. Winfried. dkk. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. ___________. Allen. H. Critical Approaches to Literature. Yogyakarta. 1981. Jakarta : Rajagrafindo Persada. Longman. Mitos dan Karya Sastra. T. 1995. Nasrulah. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasi-relasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. ___________. The Penguin Press.). Makalah bedah buku. 2007). “Ritus Kematian : Ritus Peralihan.W. 2008b. ___________. 2007b. Kreasi Wacana.S. Ritus Penandaan. Sawerigading. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. Bloomington and Indianapolis. ___________.. 2006d. Makalah seminar nasional. Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. Levi. Ngawa. Fokkema. Liwa : Analisis Strukturalisme LéviStrauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Gramedia. 2006e.

Oxford : Oxford University Press. D. Sturrock (ed. Oxford : Oxford University Press. Antropologi Struktural. Roland Barthes. 1979. For the best results. J. Sturrock (ed. J. Sperber. Sturrock. Kreasi Wacana. click here! • • • • Daftarkan diri Apakah Shvoong itu? Masuk Write & earn Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Claude.Strauss. Anthropologie Structurale (Terj.). Yogyakarta. Pengantar singkat wacana post strukturalisme dalam kesusasteraanStrukturalisme dibangun atas prinsip Saussure* bahwa bahasa sebagai sebuah sistem 45 . Erdward Said. 1979. Berkenalan dengan Poststrukturalisme oleh : easternwriter Pengarang : Jacques Derrida. 2007). 1958. Ferdinand de Saussure • • • • Summary rating: 3 stars (15 Tinjauan) Kunjungan : 2286 kata:600 You searched for: "strukturalisme".). Levi. “Introduction” dalam Structuralism and Since : From LéviStrauss to Derrida. J.

Derrida menilai bahwa Saussure tak dapat membebaskan dirinya dari pandangan logosentris. buah karya pemikiran psikoanalis Jacques Lacan dan ahli teori kebudayaan Michael Foucault juga berperan penting dalam kemunculan post strukturalisme tersebut. Selain itu. sejak ia mengunggulkan bahasa di atas tulisan. Dalam tulisan.tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). Derrida percaya bahwa penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung ke dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking). Dalam pemikiran post strukturalis.Tokoh utama yang paling berpengaruh pada era kritik sastra post-strukturalis adalah seorang filsuf perancis Jacques Derrida. Aspek diakronis bahasa. Derrida menekankan “logosentrime” (berpusat pada logos) pemikiran barat bahwa makna dipahami sebagai independensi bahasa yang dikomunikasikan dan tidak tunduk pada permainan bahasa. Praktik “dekonstruksi ”**-nya ini berdasar pada teks yang dia teliti yang berpengaruh besar pada kritik 46 . yang dapat berarti ‘pertentangan’ dan “penundaan”. Derrida menyerang pandangan logosentrisme dan menilai bahwa tulisan merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi. mengenalkan aspek sesaat ke dalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified. merusak logonsentrisme dengan menyatakan bahwa makna tak pernah dapat mewakili seluruhnya karena makna tersebut selalu ditangguhkan. Derrida sepakat dengan Saussure bahwa bahasa merupakan produk yang berbeda antar penanda.Perumusan dasar “differance” Derrida disusun dengan mempermainkan pada kata perancis ‘difference’. berpikir sementara menjadi hal yang utama. dilihat sebagai bagian yang kurang penting. penanda selalu produktif. yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa. tapi dia berpikir melampaui Saussure dalam menegaskan bahwa dimensi sesaat (temporal dimension) tak dapat ditinggalkan.

Diterbitkan di: Januari 04. pertama kali disampaikan di John Hopkins University pada tahun 1966. 47 . Teoritikus terkemuka Yale adalah Paul de Man yang berpendapat bahwa teks sastra telah tergabung dengan “pertentangan” Derrida.Essay Roland Barthes. Pemikiran post strukturalis juga berkembang di di Amerika pada tahun 1970-an. Hal ini menciptakan sebuah signifikansi (penandaan) dalam teks sastra yang pada akhirnya tak dapat ditentukan.info/2006/01/berkenalan-dengan-poststrukturali . Edward W Said menerima pandangan post strukturalis tapi menolak pada apa yang dia lihatnya sebagai pendekatan tekstual sempit ala Derrida. “The Death of the Author” pertama kali dipublikasikan pada tahun 1968..sastra.Essainya yang berjudul “Structure. mengadopsi sebuah pandangan tekstual bahasa dan makna secara radikal dan dengan jelas menunjukkan perannya dalam post strukturalis. Sign. misalnya pada New Criticsm. sangat berpengaruh dalam teori kritik sastra. De Man berpendapat bahwa ada devisi radikal dalam teks sastra antara gramatikal atau struktur logika bahasa dan aspek retorisnya. khususnya di kalangan kritikus yang tinggal di Yale. 2008 23 45Moho n ringkasa n ini dinilai : ilai :1 Link yang relevan : • http://sulhanudin. Dia berpendapaat bahwa karya Foucault memungkinkan kritik sastra melampaui dimensi sosial dan politis teks.. De Man berpendapat bahwa sastra digabungkan oleh permainan (play) yang tak dapat ditentukan secara gramatikal dan retoris dalam teks dan tidak dengan pertimbangan estetis. atau disebut para dekonstrusionis Yale. and Play in the Discourse of the Human Sciences” .

Dapat. For the best results. Bahwa. Perjuangan Koreksi Keakbaran Penyair Tongkat-Baudelaire Bagaimana Kita Menilai PRRI? Renungan 61 Tahun Republik Proklamasi Intelektual Minang Provinsi Minangkabau Sajak "Malaikat" Saeful Badar Yang Tetap Hadir 48 . TIDAK CUKUP DENGAN MITOS http://helaby-boys. Dalam. • • • • • • • • • Sastra. click here! • Kutipan • Dan. Derrida.com/ Mengolah Kemelayuan di Asia Tenggara Mari Membaca Isi (Ratusan) Novel Sastra Indonesia! Kritik Sastra Indonesia dari Australia Dua “Kiblat” dalam Sastra Indonesia Lainnya tentang Ilmu Sosial • • • • • • PRRI.You searched for: "strukturalisme". Bahasa.blogspot. Dengan. Pada. Post Buat kutipan untuk ringkasan ini Tambahkan komentar Anda Terjemahkan Kirim Link Cetak Share Orang yang membaca ringkasan ini juga membaca: • • • • • • PERS NASIONAL.

Paling populer Ringkasan lain oleh easternwriter • • • • • Menulis adalah Jalan Hidupku Petualangan Celana Dalam: Tren awam menulis sastra Opera Zaman: Perlukah Faktualitas dalam Cerpen Tetralogi Laskar Pelangi: Andrea Tak Melawan Pasar Pengakuan Korban NII (1) More Berikut Yang paling banyak dicari • • • • • • • • • • • • • • • tips bisnis kesehatan uang wanita cinta trik jantung pria 2012 berita blog Seks dunia kiamat Tulis dan dapatkan bayaran 49 .

.

Strukturalisme dan Implikasinya
8Oct2008 Filed under: Epistemology, Paradigm and Perspective, Philosophers, Philosophy, Postmodern Author: Arif

Pengantar Strukturalisme merupakan suatu gerakan pemikiran filsafat yang mempunyai pokok pikiran bahwa semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai suatu struktur yang sama dan tetap. Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual obyek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan. Strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur inti dari suatu obyek (hirarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat) (Bagus, 1996: 1040) Gagasan-gagasan strukturalisme juga mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi interdisipliner tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu alam. Akan tetapi introduksi metode struktural dalam bermacam bidang pengetahuan menimbulkan upaya yang sia-sia untuk mengangkat strukturalisme pada status sistem filosofis. (Bagus, 1996: 1040) Ferdinand de Saussure Untuk mengenal lebih lanjut tentang strukturalisme maka ada baiknya untuk menyimak pemikiran Ferdinand de Saussure yang banyak disebut orang sebagai bapak strukturalisme, walaupun bukan orang pertama yang mengungkapkan strukturalisme. Banyak hal yang menunjukkan Ferdinand de Saussure adalah bapak strukturalisme. Selain ia sebagai bapak strukturalisme ia juga sebagai bapak linguistik yang ditunjukkan dengan mengadakan perubahan besar-besaran di bidang lingustik. Ia yang pertama kali merumuskan secara sistematis cara menganalisa bahasa, yang juga dapat dipergunakan untuk menganalisa sistem tanda atau simbol dalam kehidupan masyarakat, dengan menggunakan analisis struktural. Ia mengatakan bahwa linguistik adalah ilmu yang mandiri, karena bahan penelitiannya, yaitu bahasa, juga bersifat otonom. Bahasa adalah sistem tanda yang paling lengkap. Menurutnya ada kemiskinan dalam sistem tanda lainnya, sehingga untuk masuk ke dalam analisis semiotik, sering digunakan pola ilmu bahasa. De Saussure mengatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang mengungkapkan gagasan, dengan demikian dapat dibandingkan dengan tulisan,
50

abjad orang-orang bisu tuli, upacara simbolik, bentuk sopan santun, tanda-tanda kemiliteran dan lain sebagainya. Bahasa hanyalah yang paling penting dari sistemsistem ini. Jadi kita dapat menanamkan benih suatu ilmu yang mempelajari tandatanda di tengah-tengah kehidupan kemasyarakatan; ia akan menjadi bagian dari psikologi umum, yang nantinya dinamakan oleh de saussure sebagai semiologi. Ilmu ini akan mengajarkan kepada kita, terdiri dari apa saja tanda-tanda itu, kaidah mana yang mengaturnya. Karena ilmu ini belum ada, maka kita belum dapat mengatakan bagaimana ilmu ini, tetapi ia berhak hadir, tempatnya telah ditentukan lebih dahulu. Linguistik hanyalah sebahagian dari ilmu umum itu, kaidah-kaidah yang digunakan dalam semiologi akan dapat digunakan dalam linguistik dan dengan demikian linguistik akan terikat pada suatu bidang tertentu dalam keseluruhan fakta manusia. Gagasan yang paling mendasar dari de Saussure adalah sebagai berikut: 1. Diakronis dan sinkronis: penelitian suatu bidang ilmu tidak hanya dapat dilakukan secara diakronis (menurut perkembangannya) melainkan juga secara sinkronis (penelitian dilakukan terhadap unsur-unsur struktur yang sezaman) 2. Langue dan parole: langue adalah penelitian bahasa yang mengandung kaidah-kaidah, telah menjadi milik masyarakat, dan telah menjadi konvensi. Sementara parole adalah penelitian terhadap ujaran yang dihasilkan secara individual. 3. Sintagmatik dan Paradikmatik (asosiatif): sintagmatik adalah hubungan antara unsur yang berurutan (struktur) dan paradikmatik adalah hubungan antara unsur yang hadir dan yang tidak hadir, dan dapat saling menggantikan, bersifat asosiatif (sistem). 4. Penanda dan Petanda: Saussure menampilkan tiga istilah dalam teoi ini, yaitu tanda bahasa (sign), penanda (signifier) dan petanda (signified). Menurutnya setiap tanda bahasa mempunyai dua sisi yang tidak terpisahkan yaitu penanda (imaji bunyi) dan petanda (konsep). Sebagai contoh kalau kita mendengan kata rumah langsung tergambar dalam pikiran kita konsep rumah. Strukturalisme termasuk dalam teori kebudayaan yang idealistik karena strukturalisme mengkaji pikiran-pikiran yang terjadi dalam diri manusia. Strukturalisme menganalisa proses berfikir manusia dari mulai konsep hingga munculnya simbol-simbol atau tanda-tanda (termasuk didalmnya upacaraupacara, tanda-tanda kemiliteran dan sebagainya) sehingga membentuk sistem bahasa. Bahasa yang diungkapkan dalam percakapan sehari-hari juga mengenai proses kehidupan yang ada dalam kehidupan manusia, dianalisa berdasarkan strukturnya melalui petanda dan penanda, langue dan parole, sintagmatik dan paradikmatik serta diakronis dan sinkronis. Semua relaitas sosial dapat dianalisa berdasarkan analisa struktural yang tidak terlepas dari kebahasaan.
51

Dalam memahami kebudayaan kita tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip dasarnya. de Saussure merumuskan setidaknya ada tiga prinsip dasar yang penting dalammemahami kebudayaan, yaitu: 1. Tanda (dalam bahasa) terdiri atas yang menandai (signifiant, signifier, penanda) dan yang ditandai (signifié, signified, petanda). Penanda adalah citra bunyi sedangkan petanda adalah gagasan atau konsep. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya konsep bunyi terdiri atas tiga komponen (1) artikulasi kedua bibir, (2) pelepasan udara yang keluar secara mendadak, dan (3) pita suara yang tidak bergetar. 2. Gagasan penting yang berhubungan dengan tanda menurut Saussure adalah tidak adanya acuan ke realitas obyektif. Tanda tidak mempunyai nomenclature. Untuk memahami makna maka terdapat dua cara, yaitu, pertama, makna tanda ditentukan oleh pertalian antara satu tanda dengan semua tanda lainnya yang digunakan dan cara kedua karena merupakan unsur dari batin manusia, atau terekam sebagai kode dalam ingatan manusia, menentukan bagaimana unsur-unsur realitas obyektif diberikan signifikasi atau kebermaknaan sesuai dengan konsep yang terekam. 3. Permasalahan yang selalu kembali dalam mengkaji masyarakat dan kebudayaan adalah hubungan antara individu dan masyarakat. Untuk bahasa, menurut Saussure ada langue dan parole (bahasa dan tuturan). Langue adalah pengetahuan dan kemampuan bahasa yang bersifat kolektif, yang dihayati bersama oleh semua warga masyarakat; parole adalah perwujudan langue pada individu. Melalui individu direalisasi tuturan yang mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku secara kolektif, karena kalau tidak, komunikasi tidak akan berlangsung secara lancar. Gagasan kebudayaan, baik sebagai sistem kognitif maupun sebagai sistem struktural, bertolak dari anggapan bahwa kebudayaan adalah sistem mental yang mengandung semua hal yang harus diketahui individu agar dapat berperilaku dan bertindakj sedemikian rupa sehingga dapat diterima dan dianggap wajar oleh sesama warga masyarakatnya. Pierre Bourdieu Bourdieu pada awalnya menghasilkan karya-karya yang memaparkan sejumlah pengaruh teoritis, termasuk fungsionalisme, strukturalisme dan eksistensialisme, terutama pengaruh Jean Paul Sartre dan Louis Althusser. Pada tahun 60an ia mulai mengolah pandangan-pandangan tersebut dan membangun suatu teori tentang model masyarakat. Gabungan antara pendekatan teori obyektivis dan teori subyektivis sosial yang dituangkan dalam buku yang berjudul ”outline of a theory of practice” dimana didalamnya ia memiliki posisi yang unik karena berusaha mensintesakan kedua pendekatan metodologi dan epistemologi tersebut.
52

jenis kelamin.Dalam karyanya ini ia menyerang pemahaman kaum strukturalis yang menciptakan obyektivisme yang menyimpang dengan memposisikan ilmuwan sosial sebagai pengamat. dan menilai dunia sosial. yaitu habitus adalah struktur yang distruktur oleh dunia sosial. dimana seorang individu bereaksi secara efisien dalam semua aspek kehidupan. kelompok dan kelas sosial. Menurutnya pemahaman ini mengabaikan peran pelaku dan tindakan-tindakan praktis dalam kehidupan sosial. Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh kehidupan sosial. Habitus mencerminkan pembagian obyektif dalam struktur kelas seperti umur. memahami. orang yang menduduki posisi yang sama dalam kehidupan sosial. Kelebihan Bourdieu adalah menghasilkan cara pandang dan metode baru yang mengatasi berbegai pertentangan di antara penjelasan-penjelasan sebelumnya. Dilain pihak habitus adalah struktur yang terstruktur. Berikut ini akan dibahas ketiga konsep tersebut dan akan dijelaskan interaksi ketiga konsep ini dalam masyarakat. tidak setiap orang sama kebiasaannya. Atau dengan kata lain habitus dilihat sebagai ”struktur sosial yang diinternalisasikan yang diwujudkan”. Field dan Modal. yaitu: • • • Sebagai kecenderungan-kecenderungan empiris untuk bertindak dalam cara-cara yang khusus (gaya hidup) Sebagai motivasi. Secara dialektis habitus adalah ”produk internalisasi struktur” dunia sosial. cenderung mempunyai kebiasaan yang sama. Habitus menjadi konsep penting baginya dalam mendamaikan ide tentang struktur dengan ide tentang praktek. Pemikirannya bukan hanya menjawab pertanyaan tentang asal usul dan seluk beluk masyarakat tetapi lebih pada menjawab persoalan-persoalan baru yang diturunkan dari pemikiran-pemikiran terdahulu. cita rasa atau perasaan (emosi) Sebagai perilaku yang mendarah daging 53 . preferensi. Terdapat 3 konsep penting dalam pemikiran Bourdieu yaitu Habitus. Disatu pihak habitus adalah struktur yang menstruktur artinya habitus adalah sebuah struktur yang menstruktur kehidupan sosial. Setiap aktor dibekali serangkaian skema atau pola yang diinternalisasikan yang mereka gunakan untuk merasakan. Melalui pola-pola itulah aktor memproduksi tindakan mereka dan juga menilainya. menyadari. Habitus adalah “struktur mental atau kognitif” yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial. Habitus diperoleh sebagai akibat dari lamanya posisi dalam kehidupan sosial diduduki. Habitus berbeda-beda pada setiap orang tergantung pada wujud posisi seseorang dalam kehidupan sosial. Ia berusaha mengkonsepkan kebiasaan dalam berbagai cara. Habitus lebih didasarkan pada keputusan impulsif.

• • •

Sebagai suatu pandangan tentang dunia (kosmologi) Sebagai keterampilan dan kemampuan sosial praktis Sebagai aspirasi dan harapan berkaitan dengan perubahan hidup dan jenjang karier.

Habitus membekali seseorang dengan hasrta. Motivasi, pengetahuan, keterampilan, rutinitas dan strategi untuk memproduksi status yang lebih rendah. Bagi Bourdieu keluarga dan sekolah merupakan lembaga penting dalam membentuk kebiasaan yang berbeda. Field bagi Bourdieu lebih bersifat relasional ketimbang struktural. Field adalah jaringan hubungan antar posisi obyektif di dalamnya. Keberadaan hubungan ini terlepas dari kesadaran dan kemauan individu. Field bukanlah interaksi atau ikatan lingkungan bukanlah intersubyektif antara individu. Penghubi posisi mungkin agen individual atau lembaga, dan penghubi posisi ini dikendalikan oleh struktur lingkungan. Bourdieu melihat field sebagai sebuah arena pertarungan. Struktur Field lah yang menyiapkan dan membimbing strategi yang digunakan penghuni posisi tertentu yang mencoba melindungi atau meningkatkan posisi mereka untuk memaksakan prinsip penjenjangan sosial yang paling menguntungkan bagi produk mereka sendiri. Field adalah sejenis pasar kompetisi dimana berbagai jenis modal (ekonomi, kultur, sosial, simbolik) digunakan dan disebarkan. Lingkungan adalah lingkungan politik (kekuasaan) yang sangat penting; hirarki hubungan kekuasaan di dalam lingkungan politik membantu menata semua lingkungan yang lain. Bourdieu menyusun 3 langkah proses untuk menganalisa lingkungan, pertama, menggambarkan keutamaan lingkungan kekuasaan (politik). Langkah kedua, menggambarkan struktur obyektif hubungan antar berbagai posisi di dalam lingkungan tertentu, ketiga, analis harus mencoba menetukan ciri-ciri kebiasaan agen yang menempati berbagai tipe posisi di dalam lingkungan. Dengan kata lain, Field adalah wilayah kehidupan sosial, seperti seni, industri, hukum, pengobatan, politik dan lain sebagainya, dimana para pelakunya berusaha untuk memperoleh kekuasaan dan status. Bourdieu menganggap bahwa modal memainkan peranan yang penting, karena modallah yang memungkinkan orang untuk mengendalikan orang untuk mengendalikan nasibnya sendiri maupun nasib orang lain. Ada 4 modal yang berperan dalam masyarakat yang menentukan kekuasaan sosial dan ketidaksetaraan sosial, pertama modal ekonomis yang menunjukkan sumber ekonomi. Kedua, modal sosial yang berupa hubunganhubungan sosial yang memungkinkan seseorang bermobilisasi demi kepentingan
54

sendiri. Ketiga, modal simbolik yang berasal dari kehormatan dan prestise seseorang. Dan keempat adalah modal budaya yang memiliki beberapa dimensi, yaitu:
• • • • •

Pengetahuan obyektif tentang seni dan budaya Cita rasa budaya (cultural taste) dan preferensi Kualifikasi-kualifikasi formal (seperti gelas-gelar universitas) Kemampuan-kemampuan budayawi dan pengetahuan praktis. Kemampuan untuk dibedakan dan untuk membuat oerbedaan antara yang baik dan buruk.

Modal kultural ini terbentuk selama bertahun-tahun hingga terbatinkan dalam diri seseorang. Setelah dibahas tentang ketiga konsep diatas maka akan dijelaskan hubungan ketiga konsep tersebut. Habitus dan ranah merupakan perangkat konseptual utama yang krusial bagi karya Bourdieu yang ditopang oleh sejumlah ide lain seperti kekuasaan simbolik, strategi dan perbuatan beserta beragan jenis modal. Seperti telah diungkapkan diatas bahwa habitus adalah struktur kognitif yang menghubungkan individu dan realitas sosial. Habitus merupakan struktur subyektif yang terbentuk dari pengalaman individu berhubungan dengan individu lain dalam jaringan struktur obyektif yang ada dalam ruang sosial. Habitus adalah produk sejarah yang terbentuk setelah manusia lahir dan berinteraksi dengan masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu, dengan kata lain habitus adalah hasil pembelajaran lewat pengasuhan, aktivitas bermain, dan juga pendidikan masyarakat. Pembelajaran ini berjalan secara halus sehingga individu tidak menyadari hal ini terjadi pada dirinya, jadi habitus bukan pengetahuan bawaan. Habitus mendasari field yang merupakan jaringan relasi antar posisi-posisi obyektif dalam suatu tatanan sosial yang hadir terpisah dari kesadaran individu. Field semacam hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisiposisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakatyang terbentuk secara spontan. Habitus memungkinkan manusia hidup dalam keseharian mereka secara spontan dan melakukan hubungan dengan pihak-pihak diluar dirinya. Dalam proses interaksi dengan pihak luar tersebut terbentuklah Field. Dalam suatu Field ada pertarungan kekuatan-kekuatan antara individu yang memiliki banyak modal dengan individu yang tidak memiliki modal. Diatas sudah di singgung bahwa modal merupakan sebuah konsentrasi kekuatan, suatu kekuatan spesifik yang beroperasi di dalam field dimana di dalam setiap field
55

menuntut untuk setiap individu untuk memiliki modal gara dapat hidup secara baik dan bertahan di dalamnya. Secara ringkas Bourdieu menyatakan rumusan generatif yang menerangkan praktis sosial dengan rumus setiap relasi sederhana antara individu dan struktur dengan relasi antara habitus dan ranah yang melibatkan modal. Daftar Acuan Bagus, Loren. 1996.”Kamus Filsafat”. Jakarta: Pustakan Gramedia Harker, Richard, Cheelen Mahar, Chris Wilkes. 2005.”(Habitus x Modal) + Praktik: Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu”. Yogyakarta: Jalasutra Lechte, John. 2001.”50 Filusuf Kontmporer: Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas”. Yogyakarta: Kanisius Sutrisno, Mudji, Hendar Putranto. 2006.” Teori-teori Kebudayaan”. Yogyakarta: Kanisius
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

. Pengantar Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada, seperti apa? Di kalangan yang mana? Kalau tidak ada atau kurang terlihat, mengapa? Itulah beberapa pertanyaan yang berusaha dijawab dalam makalah ini. Jawaban-jawaban ini lebih didasarkan pada hasil pengalaman pribadi daripada hasil sebuah penelitian yang serius dan teliti mengenai pengaruh strukturalisme Prancis di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Namun sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ada baiknya saya paparkan terlebih dulu seperti apa strukturalisme Prancis itu, terutama yang diusung oleh Lévi-Strauss, dan mengapa saya memilih menampilkan strukturalisme Lévi-Strauss di sini. Pada musim semi tahun 1981, setahun setelah meninggalnya ahli filsafat Jean Paul Sartre, majalah Prancis Lire mengadakan sebuah jajak pendapat di kalangan intelektual, mahasiswa dan politisi Prancis, dengan pertanyaan, “siapa tiga pemikir berbahasa Perancis yang masih hidup, yang pandangannya – menurut anda – paling berpengaruh terhadap evolusi (perkembangan) pemikiran sastra dan ilmu pengetahuan dan sebagainya ?”. Dari kira-kira 448 jawaban yang masuk, 101 orang menyebut nama Lévi-Strauss, 84 orang menyebut Raymond Aron, 83 orang menyebut Michel Foucault. Nama-nama lain yang juga disebut antara lain adalah Jaques Lacan (51), Simone de Beauvoir (46), dan masih ada lagi beberapa yang lain (Pace, 1986 : 1). Hasil jajak pendapat tersebut mungkin agak mengherankan juga, karena antropologi bukanlah sebuah cabang ilmu yang populer di Prancis, dibandingkan
56

sebuah karikatur yang banyak direproduksi muncul dalam majalah-majalah Prancis tentang para strukturalis. dan sedikit banyak hal itu juga menunjukkan bahwa Lévi-Strauss tidak hanya dipandang sebagai ahli antropologi. tetapi juga penting bagi ilmu-ilmu sosial-budaya lain. Tanpa memahami strukturalisme akan sulit memahami post-strukturalisme atau post-modernisme. Oleh karena itu strukturalisme Lévi-Strauss tidak hanya penting bagi dan dalam antropologi. dibanding tulisan ahli-ahli antropologi yang lain (Pace. Kelima. dialah seorang penganut strukturalisme tulen. Rolanda Barthes. Empat orang tersebut adalah Jacques Lacan. Karikatur ini setidak-tidaknya menunjukkan bahwa di kalangan intelektual Prancis ketika itu. 1979 : 1). kelahiran paradigma-paradigma baru ini tidak dapat dilepaskan dari munculnya strukturalisme itu sendiri. Di situ digambarkan empat orang tengah duduk melingkar di bawah pohon tropis dengan mengenakan pakaian suku-suku bangsa yang masih primitif. menunjukkan bahwa tulisan-tulisan Lévi-Strauss adalah tulisan yang paling banyak dikutip orang. 1986 : 7). seperti post-modernisme atau post-strukturalisme – ini nama-nama yang sebenarnya kurang tepat untuk menyebut sebuah aliran pemikiran – atau semiotika yang kini populer di Barat. Tidak mengherankan. Ketiga. Dengan kata lain. Dengan kata lain. hasil survei sebuah lembaga Amerika atas kutipan-kutipan (citations) antropologi dari tahun 1969-1977. Namun. walaupun Lévi-Strauss sendiri sudah tidak lagi begitu menyukai filsafat sebagaimana yang dia kenal. tetapi – sebagaimana dikatakan oleh Lévi-Strauss sendiri – adalah juga sebuah epistemologi baru dalam ilmu-ilmu sosial-budaya. setelah kemunculan strukturalisme ini pandangan-pandangan antropologi kemudian mempengaruhi cabang-cabang ilmu sosial-budaya yang lain seperti sosiologi. Judul karikatur ini adalah “Le déjeuner des structuralistes”. Michel Foucault dan tentu saja Claude Lévi-Strauss. strukturalisme Lévi-Strausslah yang paling banyak dikenal dan berpengaruh dibandingkan dengan paradigma antropologi yang lain.dengan di Inggris dan Amerika Serikat. setelah dia berkenalan dengan antropologi. tetapi juga ahli filsafat. satu persatu dari mereka meninggalkan strukturalisme. strukturalisme Lévi-Strauss juga bukan hanya merupakan sebuah teori baru. aliran pemikiran baru yang muncul setelah strukturalisme. Bagaimanapun juga. sastra. atau “makan siang para strukturalis” (Sturrock. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa Lévi-Strausslah yang paling yakin dengan manfaat dan kemampuan paradigma struktural untuk digunakan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya. Kedua. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa pemikiran-pemikiran Lévi-Strauss ternyata dipandang begitu berpengaruh oleh kaum intelektual Prancis. empat orang itulah yang dikenal sebagai tokoh-tokoh strukturalisme. dan filsafat. dan akhirnya tinggal Lévi-Strauss yang tetap setia menjadi perawat dan pengembang paradigma tersebut. Keempat. 57 . tidak dapat dipahami dengan baik tanpa memahami strukturalisme. beberapa tahun kemudian. yaitu rok yang terbuat dari daun ilalang.

Dr. Koetjaraningrat misalnya. pada tahun 1994 saya kembali. seperti Clifford Geertz. karena saya tidak tahu orang lain di Indonesia yang telah membahas pemikiran Lévi-Strauss dengan cukup mendalam sebagaimana yang telah saya lakukan. Oleh karena itu. ketika saya masih kuliah antropologi di Universitas Indonesia di akhir tahun 1970an. Dengan memperbincangkan tentang strukturalisme ini diharapkan akan muncul ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia yang akan bersedia mengembangkan lebih lanjut kerangka pemikiran tersebut. Prof. 2. terasa begitu dipengaruhi oleh ahli-ahli antropologi Amerika. dosen-dosen antropologi yang lain – yang ketika itu belum Professor – seperti Dr. Spradley. Budi Santoso. teman-teman saya umumnya tidak menyukai teori-teori dari Lévi-Strauss. dan sebagainya. walaupun mereka itu kemudian tidak mengembangkan aliran pemikiran antropologi tertentu di Indonesia. Dr. oleh lebih banyak ilmuwan. sangat dapat dimengerti apabila dari kalangan ahli antropologi tidak ada yang berupaya untuk memperkenalkan secara serius strukturalisme Lévi-Strauss. Ditangannyalah strukturalisme kemudian dikenal oleh lebih banyak orang. Goodenough. Prancis) sama sekali tidak terasa pengaruhnya dalam pemikiran-pemikiran dan analisis mereka tentang gejala sosial-budaya di Indonesia. yang mengajar kami teori-teori antropologi. Dr. sedang saya lumayan menyukai teori-teori tersebut karena terasa begitu menantang untuk memahaminya. Sebelumnya saya perlu minta maaf kepada publik jika dalam tulisan ini sosok saya terasa begitu menonjol dalam proses penyebaran strukturalisme LéviStrauss di Indonesia. yang menurut saya kritik tersebut sebenarnya kurang tepat. J. sehingga saya dapat segera membangun wacana tentang pemikiran-pemikiran tersebut di negeri sendiri. Prof. tidak terlihat menyukai strukturalisme Lévi-Strauss. karena selalu sulit dan tidak biasa. karena aliran ini kurang sejalan dengan kecenderungan teoritis beliau yang lebih positivistik. Ward H. Ilmu Sosial-Budaya Indonesia 1970-1990an : Mengapa Tidak Struktural? Beberapa tahun setelah saya meninggalkan Indonesia untuk mengikuti pendidikan S-3. Koentjaraningrat melontarkan kritik terhadap strukturalisme Lévi-Strauss. Claude Lévi-Strauss adalah seorang ahli antropologi yang tetap konsisten menekuni dan mengembangkan paradigma struktural. Saya ingat. Parsudi Suparlan. Dalam Sejarah Teori Antropologi II. Antropologi Eropa (Inggris. Danandjaja. karena situasi dan kondisi pemikiran dalam 58 . Lebih dair itu. Saya berharap ketika itu berbagai pemikiran yang saya kenal dari perkuliahan saya di jurusan Antropologi di Universitas Columbia akan dapat saya temukan di Indonesia. Namun. James P. Belanda. karena mereka melanjutkan pendidikan pascasarjana mereka di Amerika.Itulah lima alasan utama mengapa dalam perbincangan tentang strukturalisme ini strukturalisme yang dirintis dan dikembangkan oleh LéviStrausslah yang akan ditampilkan di sini. akhirnya saya harus kecewa. dosen-dosen antropologi yang mengajar kami ketika itu juga tidak banyak yang paham dan menaruh minat pada strukturalisme LéviStrauss. Nico Kalangie. Sementara itu.

Bagi saya ini adalah sebuah keanehan. tidak terlihat Tafsir Kebudayaan seperti yang dikembangkan Clifford Geertz. Nama-nama beken sebagian ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat ketika adalah nama-nama mereka yang banyak meneliti masyarakat Indonesia. Selo Soemardjan dan sebagainya. Nama Lévi-Strauss sebagai seorang teoritisi hampir tak dikenal. strukturalisme masih tetap merupakan paradigma yang populer dan terasa kuat pengaruhnya.ilmu sosial-budaya Indonesia ketika itu ternyata tidak seperti yang saya duga dan harapkan. Saya bertanya-tanya dalam hati : Mengapa mereka tidak menulis mengenai aliran-aliran baru dalam antropologi atau bidang ilmu yang mereka tekuni ? Dalam antropologi di Indonesia ketika itu. strukturalisme Lévi-Strauss tidak terdengar gaungnya di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Lévi-Strauss yang kita kenal ketika itu adalah merk sebuah celana jeans. Postmodernisme mulai terdengar. dan sempat populer dalam dua-tiga tahun. walaupun itu tidak berarti bahwa saya menyetujui dan menyukai keadaan tersebut. Akan tetapi setelah beberapa tahun berada di Indonesia. dan masih aktif. tidak telihat arus pemikiran strukturalisme dari Prancis. seperti misalnya Fuad Hasan. Masri Singarimbun. karena kalau kita membaca jurnal dan bukubuku ilmu sosial-budaya di Barat di tahun 1970an. Ketika saya datang pada awal tahun 1990an. karena bahasanya juga kurang populer di Indonesia. akhirnya saya dapat memaklumi keadaan yang seperti itu. Ada beberapa faktor yang tampaknya telah membuat strukturalisme Prancis kurang begitu dikenal di Indonesia. Sartono Kartodirdjo. Pertama. Padahal. Koentjaraningrat. Nama ilmuwan Prancis yang meneliti Indonesia namun namanya hampir tidak terdengar di Indonesia adalah Christian Pelras (meneliti sejarah Indonesia). Tidak banyak ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu yang memperoleh pendidikan di Prancis. karena biasanya ilmuwan Indonesia sangat mudah dan cepat menanggapi dan berusaha segera mempopulerkan paradigma-paradigma baru di Barat yang baru saja mereka kenal. tidak ada aliran Etnosains dari Amerika Serikat. Saya mencoba untuk mengetahui apa kira-kira penyebab hal tersebut. tetapi setelah itu seperti hilang ditelan bumi. bahkan hampir tidak ada. Hanya mahasiswa antropologi saja yang mengenal tokoh tersebut lewah kuliah dari Prof. sebuah negeri yang relatif kurang begitu dikenal oleh banyak orang Indonesia. Parsudi Suparlan. strukturalisme tersebut tumbuh dan berkembang di Prancis. Orientasi pendidikan ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah Amerika Serikat. tokoh-tokoh ilmu sosial-budaya yang saya kagumi dan sebagian pernah menjadi guru saya ketika itu masih ada. bahkan sampai tahun 1980an. karena di tahun 1950an dan 1960an Indonesia adalah salah satu negeri yang banyak diteliti dan dibahas oleh ilmuwan sosial Amerika Serikat. Saya cukup heran dengan situasi dan kondisi seperti itu. 59 . James Danandjaja. dibandingkan misalnya dengan bahasa Inggris dan Belanda. Beberapa tahun saya mencoba mengetahui hal ini. Koentjaraningrat almarhum di tahun 1970-1980an.

Lengkaplah sarana paradigma Fungsionalisme – Struktural untuk menyebar dan dikenal di Indonesia. di tahun 1970an dan 1980an antropologi sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan masih belum begitu dikenal di Indonesia. Kedua. reaksi yang muncul biasanya adalah : menolak secara sembunyi-sembunyi. sebuah cabang ilmu yang kurang begitu populer di Indonesia. dan cukup besar perbedaannya dengan epistemologi positivisme. Sementara itu. atau yang didasarkan pada sebuah epistemologi saja. Ketiga. munculnya sebuah paradigma atau epistemologi baru tidak akan memicu munculnya tanggapan yang positif. strukturalisme Lévi-Strauss adalah sebuah epistemologi baru. yang di Amerika Serikat memang merupakan salah satu spesialisasi dalam antropologi. ilmu bahasa atau linguistik bukanlah sebuah ilmu yang populer di Indonesia. seperti halnya kebanyakan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Aalagi ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat yang mempelajari Indonesia juga menggunakan paradigma tersebut. Untuk mereka yang terbiasa berfikir dengan menggunakan sebuah paradigma. apalagi oleh kalangan yang lebih luas.R. atau menolak secara terang-terangan. Sebaliknya. Radcliffe-Brown dan Bronislaw Malinowski di tahun 1940an dikembangkan lebih lanjut oleh Parsons dan berhasil menjadi sebuah aliran yang mendominasi pemikiran ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat di tahun 1960-1970an. Para ilmuwan sosial-budaya umumnya juga tidak mengenal linguistik. Orang masih sering mengacaukannya dengan arkeologi. acuh tak acuh. yakni epistemologi yang positivistik dan epistemologi yang historis. Fungsionalisme-Struktural yang diwariskan oleh A. Kelima. dan teori-teorinya juga tidak begitu dikenal. strukturalisme banyak mendapat inspirasi dari ilmu bahasa dan mengambil ilmu tersebut sebagai modelnya. Kalau antropologi sebagai ilmu sudah tidak begitu dikenal. Keempat. ahli sosiologi Amerika Serikat. Kalau di kalangan ahli antropologi Indonesia saja strukturalisme di Lévi-Strauss sudah tidak begitu dikenal. strukturalisme Lévi-Strauss dalam antropologi. apalagi teori-teori yang ada di dalamnya. yang saya kira cukup besar perbedaannya dengan epistemologi yang dianut oleh sebagian besar ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Ilmuwan sosial-budaya Indonesia yang belajar di Amerika Serikat di masa itu otomatis sangat dipengaruhi oleh aliran pemikiran ini – bahkan sampai sekarang – . analisis struktural dan bahasa yang digunakan oleh Lévi-Strauss dalam tulisan-tulisannya termasuk yang tidak mudah dipahami. Analisis struktural Lévi-Strauss banyak memanfaatkan data etnografi dan analisis serta interpretasi 60 .Aliran pemikiran yang sangat mempengaruhi ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah aliran fungsionalisme-struktural yang berasal dari Talcott Parsons. sehingga mereka tentunya mengalami kesulitan ketika berusaha memahami analisis-analisis strukturalisme Lévi-Strauss yang sangat banyak mendapat inspirasi dari linguistik. Sebagai epistemologi strukturalisme sangat berseberangan dengan epistemologi historisme. Memang.

Bahasa tulisannya memang belum nyastra sekali seperti Geertz. maka saya kemudian memberanikan diri untuk mengusung strukturalisme Lévi-Strauss ke Indonesia setelah saya menyiapkan diri dengan lebih baik di Amerika Serikat. bahkan cenderung bersikap negatif dan sinis terhadap aliran strukturalisme yang ketika itu diajarkan oleh P. Lévi-Strauss termasuk ahli antropologi yang mampu menggunakan daya retorika yang bagus tetapi tidak mudah dipahami. Di sinilah saya berkenalan lebih dekat dengan strukturalisme Prancis. begitu tidak dikenalnya aliran pemikiran itu di Indonesia. Periode 1980an Laksono menerapkan analisis struktural lebih awal daripada saya. Itulah beberapa faktor yang menurut saya telah membuat strukturalisme LéviStrauss kurang begitu dikenal di Indonesia. Yang lain tidak tertarik. yang kemudian diterbitkan menjadi buku. Saya tidak tahu mengapa demikian. tidak dapat digunakan untuk memahami dan menganalisis perubahan. karena antropologi di Belanda di masa lampau sudah lebih dulu mengenal strukturalisme. Ketika itu teman sayalah yang kemudian menggunakan paradigma struktural – yang merupakan campuran strukturalisme Prancis dan Belanda – untuk menulis tesis S-2 nya. dengan mengumpulkan artikel dan buku-buku yang relevan.dilakukan atas informasi etnografis mengenai berbagai hal yang begitu kecil dan njlimet.M. saya tidak serta-merta tertarik pada strukturalisme Prancis. tetapi seingat saya karena mereka umumnya menganggap pendekatan tersebut “statis”. Dengan menggunakan analisis struktural Laksono (1986) mencoba menunjukkan bahwa Tradisi Ageng Jawa di Kraton adalah transformasi dari Tradisi Alit Jawa di daerah pedesaan. Mungkin. Mengingat pentingnya strukturalisme Lévi-Strauss dalam perkembangan pemikiran di Barat. dan kemudian mendapat pengaruh kuat dari strukturalisme Prancis. yakni P. adalah mengenai struktur yang ada dalam Tradisi Ageng dan Tradisi Alit masyarakat Jawa. tetapi sudah termasuk nyastra atau sastrawi. Mengusung Strukturalisme Lévi-Strauss : 1980an dan 1990an Generasi saya adalah generasi baru pelajar ilmu sosial-budaya yang mulai mengenal pemikiran dari Eropa Daratan. a. Meskipun demikian. Laksono. mungkin juga sulit 61 . serta sulitnya memahami paradigma itu sendiri. Kesulitan memahami ini bertambah besar lagi di kalangan ketika Lévi-Strauss menggunakan bahasa yang juga relatif sulit dipahami. walaupun saya terus-terang tertarik pada kecanggihan pemikiran LéviStrauss. Oleh karena itu pula analisis struktural yang dikerjakan Lévi-Strauss termasuk yang tidak mudah dipahami oleh orang-orang antropologi. de Josselin de Jong kepada kami. 3. karena saya mendapat pendidikan lanjutan di Belanda. Tesis pascasarjananya. Buku ini memang tidak mendapat banyak perhatian dari ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Kami berdua adalah mahasiswa Indonesia yang dipengaruhi oleh pemikiran struktural ketika itu. karena pendekatannya terasa tidak lazim. Dalam hal ini Laksono membandingkan struktur budaya pada masyarakat Jawa di Bagelen dengan struktur budaya Jawa di Kraton Mataram.E. walaupun aliran ini sangat kuat pengaruhnya dalam dunia pemikiran di Barat.

E. Pak Kodiran. Semenjak itu. b. Periode 1990an Pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss yang sudah mulai terlihat di tahun 1980an di Indonesia mulai terasa menguat setelah saya memberikan kuliah mengenai strukturalisme lagi selama beberapa tahun di jurusan Antropologi UGM. Laksono tidak dapat menggantikan. de Josselin de Jong. saya merasa bahwa nama saya hampir selalu dihubungkan dengan strukturalisme atau antropologi struktural. patut dihargai. saya tidak mengetahui perkembangan strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. dan kesempatan itu saya gunakan untuk menebar paradigma strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. Amerika Serikat. karena dia sudah lebih dulu pergi ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi. Setelah saya kembali ke UGM. mungkin pula karena kurang promosi.dimengerti oleh mereka yang belum mengenal strukturalisme. Belanda. karena setelah dua tahun saya mengajar saya memperoleh kesempatan melanjutkan studi S-3 antropologi ke Universitas Columbia di New York. ahli antropologi struktural dari Universitas Leiden. tambahan dan “pelurusan” beberapa pendapat dalam artikel tersebut (Ahimsa-Putra. saya kebetulan diminta Prof. Belanda. saya mengajar di jurusan antropologi. Yang jelas buku ini setahu saya merupakan analisis kebudayaan secara struktural yang pertama dilakukan oleh ahli antropologi Indonesia. Baroroh Baried – yang ketika itu 62 . Bukan hanya karena kuliahnya lebih terfokus. Para mahasiswa antropologi UGM ketika itu mulai mengenal nama Lévi-Strauss serta teori-teorinya dengan cukup baik. sampai ketika saya pulang kembali ke UGM setelah menyelesaikan S-3 saya. 1984). yaitu dengan memfotocopy buku-buku dan artikel-artikel yang saya bawa dari luar. Pengetahuan mengenai strukturalisme tidak dapat saya tebar lebih lama di UGM. Ketika itu pengajaran teori antropologi. yang ditulis oleh Radrianarisoa. Oleh karena itu sayapun menulis sebuah artikel yang isinya merupakan tanggapan. Setelah membaca artikel itu saya berpendapat bahwa apa yang ada dalam artikel tersebut tidak seluruhnya tepat atau seperti yang saya ketahui. yang saat itu masih belum guru besar. tetapi juga karena buku-buku dan artikel-artikel antropologi struktural dapat mereka peroleh secara langsung. dan menulis beberapa artikel dengan menggunakan paradigma tersebut. Oleh karena penulisan buku tersebut berada di bawah bimbingan P. maka tidak terlalu mengherankan apabila pengaruh strukturalisme Belanda lebih terlihat di situ daripada pengaruh strukturalisme Prancis. dilanjutkan oleh dosen kami yang paling senior di UGM. termasuk di dalamnya strukturalisme Lévi-Strauss. Setelah selesai kuliah di Universitas Leiden. Untuk beberapa tahun. Satu-dua orang mahasiswa mulai tertarik dengan pendekatan ini dan mulai menerapkannya untuk penulisan skripsi. Secara kebetulan waktu itu di majalah Basis muncul sebuah artikel mengenai Lévi-Strauss dan strukturalismenya. Walaupun masih dalam taraf yang sangat sederhana namun minta mereka untuk menggunakan sebuah paradigma yang belum lazim diterima dan cukup sulit.

Pendapat bahwa saya adalah orang yang tahu tentang strukturalisme LéviStrauss itu rupanya telah mendorong pihak penerbit LKIS meminta saya menulis kata pengantar untuk buku yang akan mereka terbitkan. Dalam kata pengantar itu saya kembali menyampaikan berbagai hal mengenai strukturalisme Lévi-Strauss yang belum banyak diketahui. Mudahmudahan ada yang bersedia memberikan informasi mengenai bagaimana strukturalisme (Lévi-Strauss) dipandang dan dipahami oleh para mahasiswa – antropologi maupun bukan – di luar UGM. Melalui forum seperti inilah saya dapat menyebarkan strukturalisme. Beberapa mahasiswa kemudian tertarik untuk menulis tesis dengan menggunakan pendekatan struktural. Analisis struktural ala Lévi-Strauss atas mitos sama sekali belum dikenal di Indonesia ketika itu. Oleh karena tidak ada dosen lain yang dipandang lebih memahami strukturalisme. saya juga menulis makalah-makalah untuk seminar dengan tema struktural. karena kalau tidak ada ketertarikan tersebut. terutama jurusan antropologi di UGM. Sayapun menyanggupi permintaan tersebut. saya terus menyebarkan strukturalisme ke kalangan mahasiswa. yang saya gunakan untuk melakukan penelitian atas mitos orang Bajo.menjadi ketua program pascasarjana sastra – untuk mengampu matakuliah mitologi. yang berasal dari buku Octavio Paz mengenai strukturalisme Lévi-Strauss. Ketika satu-dua tesis struktural mulai dapat ditulis dan diujikan dengan hasil yang baik (banyak yang mendapat nilai A). Artikel ini rupanya semakin menguatkan citra saya sebagai orang yang tahu strukturalisme Lévi-Strauss lebih dari yang lain. tentu buku Paz tidak akan diterjemahkan dan diterbitkan. Ketika itu saya merasa bahwa strukturalisme mulai menarik perhatian kalangan intelektual muda. serta memberikan tanggapan terhadap pendapat-pendapat Paz yang menurut saya kurang tepat. Gaung strukturalisme sebagai sebuah paradigma semakin luas terdengar di kalangan mahasiswa. Selain melalui perkuliahan. 1997). atau perlu dijelaskan lagi agar tidak menimbulkan salah pengertian (Ahimsa-Putra. seni dan filsafat. dan diluar lingkaran antropologi setahu saya belum ada orang lain yang berbicara mengenai aliran pemikiran tersebut. karena – sebagaimana kita ketahui – majalah Kalam adalah majalah yang banyak dibaca oleh mereka yang berminat pada sastra. semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk menyusun tesis atau skripsi struktural. baik itu yang analitis maupun teoritis. maka pembimbingan penulisan skripsi atau tesis semacam ini boleh dikatakan selalu diserahkan kepada saya. 1995). tetapi saya tidak tahu bagaimana gaung tersebut di luar UGM. melalui perkuliahan di S-1 dan S-2 antropologi serta S-2 sastra. Permintaan tersebut saya terima dan secara kebetulan saya mendapat dana penelitian. Nama Lévi-Strauss dan strukturalisme tetap belum akrab di kalangan terpelajar di Indonesia. Laporan penelitiannya kemudian saya tulis kembali menjadi artikel yang kemudian diterbitkan oleh majalah Kalam (Ahimsa Putra. Sementara itu. terutama di Yogyakarta. Saya menawarkan 63 .

Buku ini saya kira telah membuat peneliti dan pelajar sastra menengok para strukturalisme Lévi-Strauss. 2001). yang tidak akan dapat diungkap melalui paradigma yang lain. Melalui paradigma tesebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya. Dengan demikian. Meskipun demikian saya tetap tidak mengetahui bagaimana perkembangan paradigma strukturalisme Lévi-Strauss atapun strukturalisme pada umumnya di luar UGM. tentang cara menggunakannya. Sejak itu. para peneliti sastra sebaiknya juga menengok dan mempelajari paradigma-paradigma yang berkembang di luar kajian sastra. 1998a. 2002c). Langkah yang saya tempuh untuk memperkenalkan paradigma antropologi struktural di Indonesia dengan menulis artikel dan menerbikan buku didasarkan pada pandangan bahwa orang tidak akan tertarik pada suatu pendekatan atau paradigma bilamana dia belum mengetahui tentang paradigma tersebut. dan semakin banyak mahasiswa antropologi yang menggunakan pendekatan ini untuk memahami berbagai gejala sosial-budaya dalam masyarakat Indonesia.pendekatan struktural untuk menganalisis fenomena arkeologis (Ahimsa – Putra. Paradigma strukturalisme Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal lagi setelah terbitnya buku Strukturalisme Lévi-Strauss. Strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia : 2009 Bagaimana strukturalisme di Indonesia sekarang. strukturalisme Lévi-Strauss mulai dikenal di luar lingkaran antropologi. Dengan terbitnya buku tersebut. setelah saya menganalisis mitos Bajo secara struktural dan mulai memberi kuliah strukturalisme 15 tahun yang lalu? Strukturalisme Lévi-Strauss kini sudah lebih dikenal di Indonesia. yang berbeda dengan strukturalisme yang selama ini mereka kenal dalam analisis sastra. dan analisis semacam ini dapat mengungkapkan dimensi tertentu dari karya sastra yang tidak dapat diungkapkan melalui pendekatan yang lain. 2000b). Mitos dan Karya Sastra (Ahimsa – Putra. seperti karya-karya Umar Kayam (Ahimsa – Putra. Dari makalah dan artikel tersebut orang dapat menilai keampuhan paradigma struktural untuk memahami gejala sosial-budaya lewat sudut pandang yang berbeda. Saya juga menawarkan pendekatan tersebut untuk menganalisis karya-karya sastra kontemporer yang mungkin tidak pernah terpikirkan untuk dianalisis secara struktural. Strukturalisme Lévi-Strauss yang muncul dan berkembang dengan baik dalam antropologi ternyata sangat dapat digunakan untuk menganalisis karya sastra. dan tidak terbatas di kalangan pelajar antropologi saja. 2000a). 1999c. strukturalisme Lévi-Strauss semakin dikenal di Indonesia. dan manfaat apa yang akan diperoleh dari penggunaan tersebut. sedang kepada para peneliti fenomena keagamaan saya juga menunjukkan bahwa strukturalisme dapat digunakan untuk memahami fenomena keagamaan seperti sinkretisme (Ahimsa – Putra. Melalui paradigma tersebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya yang dapat diungkapkan. Lewat berbagai makalah dan artikel itulah saya berupaya menunjukkan bahwa strukturalisme adalah sebuah cara baru untuk memandang gejala sosialbudaya. 4. Buku ini pula yang membuat banyak orang mulai menyadari bahwa sekat-sekat keilmuan sebenarnya sudah tidak dapat dipertahankan lagi. 64 .

Sepengetahuan saya. karena sungai merupakan ruang yang sangat penting dalam kehidupan orang Dayak Bakumpai.Memang. saya sering mendengar nama-nama Barthes dan Foucault disebut-sebut dalam beberapa diskusi. dan konsepsi arah yang terkait dengan ruang ini juga terkait erat dengan sungai. baik itu secara formal lewat seminar. Purwadi lebih tertarik untuk mengungkap prinsip-prinsip struktural yang ada di balik rumah tradisional Suma di Umaluhu. namun belum pernah saya mendengar orang membahas pemikiran-pemikiran Barthes dan Foucault secara serius. dan di sinilah memang terletak kekuatan strukturalisme Lévi-Strauss sebagai sebuah paradigma. 2002). dan dengan konsep ini pula dia dapat menyajikan rangkaian transformasi yang ada dalam budaya masyarakat Palembang. Struktur ruang juga dianalisis oleh Gerda Numbery (2008) yang melakukan penelitian di kalangan orang Dani di Papua. 2009) dan makanan tradisional orang 65 . Strukturalisme Lévi-Strauss mulai terlihat digunakan untuk menganalisis berbagai gejala kebudayaan yang belum pernah dianalisis secara struktural. Pendekatan struktural juga digunakan oleh Nasrullah (2008). di sini saya hanya akan memaparkan pengaruh-pengaruh strukturalisme. Kalau Dadang H. strukturalisme Lévi-Strauss justru terlihat membedakan dirinya dari yang lain melalui metode analisis ini. Oleh karena itu. rumah tradisional Sumba (Purwadi. ataupun dalam diskusi-diskusi informal. Kalimantan. ngambu dan liwa untuk menunjuk arah. Oleh karena itu. ngawa. Subiantoro. Analisis struktural juga telah diterapkan pada budaya material. Purnama mengungkapkan struktur rumah Limas Palembang dan mengaitkannya dengan struktur pemikiran orang Palembang. terutama strukturalisme Lévi-Strauss sebagaimana yang saya ketahui dari karya-karya ilmiah yang bisa saya peroleh. a. untuk menganalisis konsepsi orang Bakumpai tentang ruang. yakni patung (Ahimsa-Putra. Dalam hal ini Numbery telah berhasil menunjukkan keterkaitan struktural yang erat antara struktur ruang yang dikenal oleh orang Dani dengan organisasi sosial mereka. analisis Purnama kemudian menuntut digunakannya konsep transformasi. 2000). analisis struktural yang dikerjakan oleh Numbery merupakan analisis struktural ala Lévi-Strauss yang pertama kali dimanfaatkan oleh ilmuwan sosial Indonesia untuk memahami struktur organisasi sosial orang Dani dan pandangan mereka tentang ruang beserta strukturnya. 1999c. Ini terlihat pada tesis dan disertasi di jurusan antropologi UGM. Kalau paradigma antropologi sebelumnya jarang sekali menampilkan metode analisisnya. Orang Dayak Bakumpai mengenal istilah-istilah ngaju. yang berasal dari suku Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Metode Analisis Pengaruh strukturalisme terlihat terutama pada metode analisis. Analisis struktural telah digunakan untuk mengungkap struktur yang ada pada rumah Limas Palembang (Purnama.

namun ternyata pemahaman tentang struktur ini tidak selalu dapat ditangkap. Maryetti lebih tertarik untuk menganalisis dan mengungkapkan struktur yang ada di balik berbagai macam makanan tradisional yang disajikan dalam ritual-ritual (Subiantoro. Selain arca ganesya. ternyata tidak selalu mudah dipahami. Pengertian struktur sebagai sebuah model yang dibuat oleh ahli antropologi untuk memahami gejala yang dipelajari. Ahimsa-Putra misalnya menerapkan analisis struktural pada arca ganesya. Beberapa contoh kajian ini menunjukkan bahwa strukturalisme sebagai sebuah paradigma ternyata dapat digunakan untuk menganalisis beraneka-macam gejala sosial-budaya. b. memberikan kuliah dan membimbing penulisan karya ilmiah saya merasa ide Lévi-Strauss mengenai struktur termasuk yang tidak mudah dimengerti dan diketahui adanya dalam gejala sosial-budaya yang dianalisis. Kita masih jauh dari suasana akademik dan intelektual yang seperti itu. yang sebelumnya telah diteliti secara seksama oleh Edi Sedyawati. yang menempatkan patung loro-blonyo dalam konteks kebudayaan yang lebih luas. 66 . dengan adanya kuliah mengenai strukturalisme Lévi-Strauss secara khusus. ternyata pendekatan struktural juga dapat menjelaskan fenomena sosial yang terjadi di Indonesia tidak lama setelah meletusnya peristiwa G-30-S. yakni banyaknya orang Tionghoa Indonesia yang masuk agama Katholik dan bagaimana perilaku mereka setelah mereka memeluk agama tersebut (Radjabana. Dari pengalaman berdiskusi. Walaupun analisisnya belum sepenuhnya tuntas. analisis patung secara struktural juga telah dilakukan oleh Slamet Subiantoro. 2000). ahli arkeologi UI. 2009). Lebih dari itu. Pemahaman tentang “Struktur” (Structure) Meskipun strukturalisme memberikan penekanan utama pada struktur. 2007). Diskusi yang lebih teoritis dan konseptual tentang strukturalisme belum dapat diharapkan dapat muncul dari kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia.Minang (Maryetti. Masih sangat sedikitnya buku dan artikel jurnal ilmiah yang membahas strukturalisme secara kritis di Indonesia merupakan bukti yang paling jelas masih belum berkembangnya tradisi tersebut. Sementara itu. karena tradisi membahas secara kritis pemikiran-pemikiran yang berasal dari Barat masih belum tumbuh dan berkembang di kalangan mereka. pengertian struktur tersebut kini mulai dapat dimengerti. yakni kosmologi Jawa. namun analisis tersebut telah memberi inspirasi pada sejumlah ahli arkeologi lain untuk mencoba menerapkannya pada artefak-artefak atau benda arkeologis lainnya. Meskipun demikian. karena dengan adanya tesis-tesis tersebut maka paradigma Strukturalisme dari Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal dan jelas-jelas dapat digunakan dalam berbagai penelitian. dan pengertian struktur sebagai sistem relasi. namun tidak ada hubungan empirisnya dengan gejala sosial-budaya tersebut. Dalam hal ini para mahasiswa pascasarjana antropologi UGM (S-2) merupakan orang-orang yang cukup besar sumbangannya.

Sebagaimana kita tahu konsep transformasi berasal dari ilmu bahasa juga. ketika dikatakan bahwa strukturalisme tidak dapat digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala perubahan sosial dan kebudayaan. Kebiasaan ini membuat kita mengalami kesulitan jika harus memandang dan menjelaskan gejala sosial-budaya tidak melalui sudut pandang kausalitas. bahwa strukturalisme tidak menyejarah (ahistoris). juga belum dapat dimengerti dengan baik. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. yang a-historis. Sulit rasanya 67 . yang historis. Bahkan. yang lebih mudah dilihat dan mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. yakni keterbatasan pendekatan sejarah ketika digunakan untuk memahami dan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya yang memang tidak ada data sejarahnya. konsep-konsep penting tidak selalu dapat dipahami fungsinya dalam analisis. Konsep ini tampaknya lebih mudah dipahami oleh para mahasiswa daripada konsep struktur atau struktur sosial. Sulit rasanya mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya yang memang tidak ada data sejarahnya. Segala sesuatu selalu kita pandang dalam hubungan sebab-akibat sehingga penjelasan tentang sesuatu tersebut selalu mengacu pada sebab-sebabnya. diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. diakronis. Mereka yang menerima begitu saja kritik ini sebenarnya telah melupakan faktor-faktor yang mendorong munculnya pendekatan struktural. dan itu berarti kepada masa lampaunya. A-historis Konsep yang sangat penting dalam analisis struktural adalah transformasi. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. Kita umumnya memiliki pola pikir yang linier. Hal ini tampaknya telah membuat konsep transformasi menjadi lebih mudah dipahami dan digunakan dalam analisis. dan kebanyakan telah dapat menerapkan konsep ini dengan baik dalam analisis. Kesulitan tersebut juga menambah orang semakin kurang berminat memandang gejala sosial-budaya dari perspektif strukturalisme. Bahwa ternyata struktur sosial adalah juga sebuah model dari seorang ahli antropologi mengenai suatu masyarakat atau suku bangsa juga masih sulit diterima. karena para ilmuwan dan pelajar Indonesia masih lebih mudah memahami konsep-konsep yang lebih jelas acuannya. yakni “struktur sosial” menurut padangan Lévi-Strauss (yang berbeda dengan “struktur sosial” menurut Radcliffe-Brown). walaupun implikasi teoritisnya tidak selalu mudah dipahami. Lebih sulit dari itu adalah membedakan makna transformasi dengan change (perubahan). diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. karena ini menuntut kemampuan memandang gejala sosialbudaya dengan cara yang berbeda. Stukturalisme : Cara Pandang Transformasional.Konsep turunan yang berasal dari “struktur”. namun banyak contoh yang dapat diberikan untuk menjelaskan makna transformasi sebagaimana digunakan dalam analisis struktural. c.

tingkat pascasarjana.mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya Indonesia dalam waktu yang relatif dekat ini. jika tidak memprihatinkan. maka aspek filosofis dari aliran pemikiran ini tentu lebih belum dikenal lagi. diskusi atau lokakarya yang secara khusus membahas strukturalisme (Lévi-Strauss) sebagai sebuah trend pendekatan baru dalam ilmu sosial-budaya. Kalau dalam antropologi saja strukturalisme (Lévi-Strauss) sampai saat ini masih belum sangat dikenal. tidak adanya ilmuwan sosial-budaya yang khusus menekuni strukturalisme dan kemudian memperkenalkannya kepada publik Indonesia. Di luar UGM pengaruh tersebut tetap masih belum terasa. atau mungkin ada tetapi saya tidak mengetahuinya. Yang jelas saya belum pernah mendengar sama sekali bahwa paradigma ini telah diajarkan di UGM (dulu). Pengaruh ini terlihat terutama di jurusan Antropologi di Universitas Gadjah Mada. tidak demikian halnya dengan strukturalisme. Saya tidak tahu apakah di jurusan-jurusan antropologi lain di Indonesia paradigma ini telah diajarkan. dan ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal. tidak adanya kuliah khusus mengenai strukturalisme di universitasuniversitas di Indonesia. Walaupun Lévi-Strauss tidak pernah menganggap strukturalisme yang dikembangkannya sebagai sebuah filsafat. mungkin juga karena paradigma ini dianggap terlalu banyak kelemahannya. Kalau pada awal kemunculan post-modernisme dan cultural studies saya sempat diundang dalam diskusi dan seminar di Indonesia tentang dua trend keilmuan tersebut. Mungkin karena sisi ini lebih sulit untuk ditangkap dan dipahami oleh ahli filsafat Indonesia. 5. Hal ini tentu sangat mengherankan. terutama karena tidak dapat digunakan untuk memahami dinamika dan perubahan kebudayaan. mungkin pula karena ahli filsafat Indonesia tidak ada yang tertarik untuk 68 . Faktor-faktor yang lain mungkin sekali juga menjadi penyebabnya seperti misalnya : langkanya buku mengenai strukturalisme itu sendiri. wacana serius tentang strukturalisme (Lévi-Strauss) setahu saya tidak pernah muncul di Indonesia. yang setahu saya sudah mulai banyak dikenal dan digungakan sebagai paradigma dalam penelitian. Belum pernah saya diundang dalam seminar. Penutup Apa yang saya paparkan di sini adalah apa yang saya ketahui mengenai strukturalisme di Indonesia di masa kini. Sisi filosofis inilah yang belum diserap oleh kalangan intelektual atau ilmuwan Indonesia. namun sebenarnya sebagai sebuah epistemologi strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran filsafati. Tidak sebagaimana halnya post-modernisme dan cultural studies. Mungkin karena di jurusan-jurusan antropologi yang lain tidak ada orang yang merasa menguasai dan dapat mengajarkan dengan baik strukturalisme sebagai sebuah paradigma. Mengapa demikian? Mungkin beberapa faktor yang telah saya sebutkan di atas adalah diantaranya. Di UGM pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terasa terutama di kalangan mahasiswa antropologi.

signified. signifier. Oleh karena itu pula. dan transformasi. Namun. di tingkat pascasarjana. pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terhadap pemikiran-pemikiran ilmuwan sosial-budaya Indonesia masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat meninggalkan bekas yang cukup dalam serta mudah dikenali dalam karya-karya ilmiah mereka. sementara strukturalisme yang berasal dari Foucault dan Barthes tidak begitu terlihat pengaruhnya di kalangan kaum terpelajar Indonesia.S. terutama di UGM. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. 1994. di samping konsep-konsep seperti nirsadar. Ahimsa-Putra. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. 69 . karena di jurusan antropologi UGM strukturalisme Lévi-Strauss diajarkan secara khusus selama satu semester. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. H. sintagmatik-para digmatik. (c) beberapa konsep penting dalam strukturalisme yang mulai dikenal dan dimengerti adalah konsep struktur. dan sebagainya. Universitas Gadjah Mada. karena hal semacam ini menuntut pemahaman yang mendalam atas berbagai paradigma dan pandangan filosofis yang berkembang dalam antropologi dan filsafat. Yogyakarta **Makalah ini disampaikan dalam diskusi publik bertema: Perkembangan Strukturalisme Prancis di Indonesia pada hari Rabu. Kawin Bedil dan Sobrat. 2005. Universitas Gadjah Mada. dan tampaknya belum akan muncul dalam waktu dekat. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. struktur sosial. 1 April 2009 sebagai mata rangkai Public Culture Series bertajuk: Pemikiran Kritis Prancis dan Implikasinya di Indonesia Sekarang ini Daftar Pustaka Abdullah. ___________. (b) strukturalisme Lévi-Strauss masih terbatas dikenal di kalangan pelajar antropologi. 1984. T. Kalam 6 : 124-143. oposisi biner. *Penulis adalah Pengajar Antropologi Budaya. 1995. itulah tantangan dari strukturalisme yang hingga kini di Indonesia masih belum ada yang bersedia menghadapi dan dapat menakhlukannya. ___________. Tesis Pascasarjana Antropologi.membahasnya. sign. (d) pembahasan kritis atas pemikiran-pemikiran antropologis dan filosofis belum terlihat. Makalah seminar. Basis XXXIII (4) : 122-135. Dari paparan di atas kita dapat mengatakan bahwa (a) strukturalisme yang dikenal di Indonesia adalah strukturalisme yang dikembangkan oleh Lévi-Strauss. Fakultas Ilmu Budaya.

1998c. Dua Paradigma. Paz. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. Yogyakarta : LKIS. ___________. Makalah seminar. Mitos dan Karya Sastra. Makalah Sarasehan. Roland Barthes : dari Strukturalisme ke PostStrukturalisme. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. 1999c. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. ___________. ___________. ___________. “Lévi-Strauss. Tiga Dasawarsa. A. ___________. 2002c. Humaniora 12 : 1 – 13. Gerbang 5 (2) : 88 – 97. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. (ed). Yogyakarta : Galang Press.I : 10 – 19. 1999a. Salam (ed). ___________. Tembi 1 Thn. 1998b. 2002d. Makalah seminar. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng-Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. September – Desember. ___________. Strukturalisme Lévi-Strauss. O. Makalah seminar. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. ___________. Makalah Pelatihan. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. 1997. Makalah seminar Arkeologi. ___________. Orang-Orang PKI. ___________.___________. 2002b. 2001. “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. 1999b. 2002a. Rahayu S. ___________. Makalah dalam bedah buku. 2000a. Satu Model. 2000b. Nalar Jawa. ___________. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. ___________. Jakarta : UI Press. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. 70 . 1998a.

___________. 2003. Makalah seminar nasional. 2008b. 2005. Badcock. Mitos dan Karya Sastra. ___________. 2006d. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. Jakarta : Rajagrafindo Persada. 71 . ___________. Yogyakarta : Kepel Press. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya Bugis-Makassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya Bugis-Makassar. Terj. 2006c. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. 2002e. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasirelasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. Ritus Pertukaran”. 2007a. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. ___________. Abror. Universitas Gadjah Mada. Sawerigading. Tesis Pascasarjana Antropologi. ___________.). Makalah bedah buku. ___________. ___________. T. 2007b.___________. Metodologi dan Etnografi. Robby H. C. Strukturalisme Lévi-Strauss. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. ___________. Kepel Press : Yogyakarta. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. Yogyakarta : Insight Reference. 2008a. Abdullah (ed. N. ___________. Makalah seminar. Leni. 2006a. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. Humaniora XV (3) : 239 – 264. Analisis Struktural Lévi-Strauss dan Mitos Tasawuf.). Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. 2004.S. Edisi Baru. Totem. ___________. Ritus Penandaan. Satwa. Ahimsa-Putra (ed. Makalah diskusi. 2006b. H. Mitos dan Nalar Primitif. ___________. 2006e. Makalah bedah buku.

2008. Tesis Pascasarjana Antropologi. Tesis Pascasarjana Antropologi.K. 2005. Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada. Kulon Progo. Ngaju. “Introduction” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. J. Pace. Analisis Struktural Lévi-Strauss. Maryetti. S. London : Ark Paperbacks. Disertasi Antropologi. Numbery. Sperber. Universitas Gadjah Mada. D.). 2002. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Distrik Kurulu. Ngambu. Universitas Gadjah Mada. Sturrock. Universitas Gadjah Mada. Sumintarsih. Universitas Gadjah Mada. Rumah Limas dan Struktur Pemikiran Orang Palembang. Budaya dan Struktur Masyarakat Tiongkok pada Dinasti Qing dalam Novel “Hong Lou Meng”. Tesis Pascasarjana Antropologi. Tesis Pascasarjana Antropologi. 1979. Loro Blonyo Dalam Rumah Tradisional Jawa : Studi Tentang Kosmologi Jawa.H. Subiantoro. G. Radjabana. Xiao Lixian. 1979. Universitas Gadjah Mada. 2007. Menjadi Katolik Bagi Keturunan Cina di Jawa : Pertukaran Sosial Antara Keturunan Cina dan Gereja Katolik di Jawa. Posisi Wahyu dalam Agama Kristiani dan Islam : Studi Atas Perbedaan Agama Kristiani dan Islam Menurut Strukturalisme Lévi-Strauss. Yogyakarta. Prinsip-prinsip Struktural dalam Rumah Tradisional Sumba di Umaluhu. J. J. Tesis Pascasarjana Antropologi. 2000. Tesis Pascasarjana Antropologi. D. Makanan dan Struktur Budaya Minangkabau.I. 1986. Struktur Budaya Orang Dani di Desa Jiwika. 1998.Listia. 2003. Nasrulah. A. Sturrock (ed. 2007. Purwadi. 2004. Universitas Gadjah Mada. Oxford : Oxford University Press. Universitas Gadjah Mada. Tesis Pascasarjana Antropologi. D. Kabupaten Jayawijaya : Suatu Kajian Strukturalisme Lévi-Strauss. Oxford : Oxford University Press. Sturrock (ed. Tesis Pascasarjana Antropologi. 2009. 72 . Purnama. Claude Lévi-Strauss : The Bearer of Ashes. Ngawa. Universitas Gadjah Mada. Pertukaran Dalam Hubungan Subkontrak di Kalangan Perajin Agel.). Tesis Pascasarjana Antropologi. Liwa : Analisis Strukturalisme Lévi-Strauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito.

More articles » Kertas Kerja » Demam K-Drama dan Cerita Fans di Yogya oleh YULI ANDARI M Yuli Andari menuliskan pengamatannya tentang demam drama Korea dan para fans di Yogyakarta.11 readers like this article. Laporan ini dibuat pada tahun 2006. … More articles » Buku » Koleksi Terbaru Perpustakaan KUNCI September-November 2009 Perpustakaan Kajian Budaya KUNCI mengoleksi buku teks. KUNCI asked Meteor Garden’s fans reception to the show through forum group discussion. kertas kerja tentang kajian budaya. makalah. kematian. jurnal. Tema-tema khusus yang menjadi fokus utama … More articles » General » Tiga Usia Jacques Derrida Derrida berbicara tentang arti biografi. Meteor Garden. Audio Archive : FGD Meteor Garden On 2002. 73 . tuhan. laporan penelitian. in Indonesia. Selain itu perpustakaan juga memiliki koleksi media alternatif (zine) dan transkrip hasil diskusi. KUNCI Cultural Studies conducted a research on the popularity of Taiwan’s TV series. dan usia manusia dalam sebuah perbincangan dengan Kristine McKenna dari LA Weekly. filsuf perempuan. During the research.

More articles » Kolom » Putih oleh YULI ANDARI M Sejak kecil saya telah menyukai pantai. Bila ada kesempatan di akhir pekan. saya menyempatkan diri ke pantai bersama teman-teman atau kerabat. kampanye isu tertentu. maupun organisasi aktivis. merebahkan badan … More articles » Magazine » Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN Ini adalah kumpulan Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN. Saya bisa menghabiskan waktu seharian di pantai dengan berbagai aktivitas: mandi. lengkap dari bagian I sampai bagian IV. More articles » PDF » VIDEOCHRONIC [scroll down for English version] Beberapa dekade belakangan Indonesia mengalami perubahan yang cukup drastis dalam penggunaan video sebagai alat perubahan sosial baik di ranah komunitas. Alat memproduksi video semakin terdemokratisasi … More articles » Public Culture Series » Strukturalisme Levi-Strauss di Indonesia 2009 oleh HEDDY SHRI AHIMSA-PUTRA 74 .

praktikkan gaya membaca “penyusutan” | Indonesia Buku on Newsletter KUNCI #15 Space/Scape Project • • Warung Kidul di Alun-alun Selatan 27/11/2009 nuning Monumen Cinta 24/11/2009 nuning ANONYMOUS WRITERS CLUB • aku ingin hidup aku ingin hidup […] Archives • • • • • • • December 2009 November 2009 October 2009 September 2009 August 2009 July 2009 June 2009 75 .Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada. More articles » Review » “Kalaupun punk mati…” oleh FERDIANSYAH THAJIB Sebagai salah satu tampilan subkultur yang kini sering diutak-atik dalam beragam laporan ”tampak muka” rubrik gaya hidup di media massa sehari-hari. seperti apa? Di kalangan yang mana ia menunjukkan pengaruh? Kalau tidak ada atau kurang terlihat. mengapa? Hedy-Shri Ahimsa Putra mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. punk dibaca secara nostalgis dalam hubungannya yang selalu serba salah di hadapan tradisi (lokal) … Comments • • Avatar Play « ŚĨβĔŔРŔŐÚŚŤ ŤĔŔĂ on Avatar: “Visualizes yourself!” (Estetika Populer dan Identitas dalam Technoculture) Oleh ARIE SETYANINGRUM Umberto Eco: Di era fotokopi dan rimba informasi internet.

Fakultas Sastra. arguing for the myths underlying those different motifs. according to the present writer. Februari 2003). The latter approach may lead not only to analyzing symbolizations but also to placing symbols in a given structure. 2009 from WordTwit KUNCI-List • Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung .com/ybecqvt 02:53:47 AM December 03.http://tinyurl. Pujianto writes a book on batik semen. Pujianto tampaknya menggunakan kajian simbolik.. Pokok pikiran seperti pada judul artikel tersebut dan mencermati uraiannya. Pola diskripsi kajian simbolik seperti pada paparan dan analisisnya menunjukan sebuah pola linier . Tiga Usia Jacques Derrida. symbolic approach. 76 . sawat. yaitu berbagai entitas yang dikaji seolah-olah memiliki relasi yang segaris (Line Relation). and alas-alasan and their relationship with Javanese mythology. Javanese mythology. which. Robby Hidayat adalah dosen Jurusan Seni dan Desain. Tahun 31. the writer suggests using the structural approach as a complement for the symbolic approach.Networks • • • • Arts Network Asia Ford Foundation Indonesian Visual Art Archives Yes No Wave Music Twitter ‘New article. forms. with a great variety of sizes. Universitas Negeri Malang. In his study he employs a symbolic approach. motifs. Mencermati artikel Pujianto berjudul Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam (Jurnal Bahasa & Seni. Nomor 1. Sebuah Wawancara dengan Bapak Dekonstruksi . The structural approach produces research results different from those produced by the symbolic approach. and functions. Therefore.Abstracts due 22 FEB 2010 To: danuprimanto@.. still needs to be completed with a structural approach proposed and developed by the French anthropologist Levi-Stauss. structural approach.. From: primanto danu Subject: Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung .. Date: […] KAJIAN STRUKTURALISME-SIMBOLIK MITOS JAWA PADA MOTIF BATIK BERUNSUR ALAM Robby Hidajat Abstract: Batik is a product of Javanese culture. Key words: batik.Abstracts due 22 FEB 2010 11/01/2010 .

artikel ini bermaksud melakukan reinterpertasi ulang dengan model strukturalisme-simbolik. Ini yang dimaksudkan oleh Heddy Shri Ahimasa-Putra. lambang dan arti seoleh-oleh membuat pembenaran adanya relasi tentang konsep hindusitis yang disebut triloka . dua tokoh tersebut sangat berpengaruh pada pada pemikir tentang simbol . Tahun 32. Pujianto telah memaparkan panjang lebar. Falsafah orang Jawa . Unsur Alam Kehidupan dan Unsur Batik .Hidayat. Sebuah kajian berpijak pada paradigma Strukturalisme. professor di College de France. di samping tokoh yang lain. di samping bersandar juga pada pemikiran Emile Durkheim. Mauss. Pada kaitan ini. tetapi tidak menunjukan sistematika analisisnya. Berdasarkan pemikiran Emil Durkheim. Salah satu kajian yang dikembangkan oleh Levi-Strauss. Pemahaman Pujianto menjadi semakin anakronistik ketika menyimak skematis pada halaman 138. Hanya saja bagaimana pola relasional filosofis Jawa itu terkait dengan motif batik berunsur alam ?. Teori Durkheim menjadi dasar pembenaraan adanya relaisi-realasi dalam struktur kebudayaan manusia yang seolah-oleh seperti Organisme biologi (Abdullah & Leeden. Langkah ini tidak akan lengkap dan mantap tanpa memperhatikan pandangan pemilik budaya. sehingga pembahasan tentang simbol menjadi sekenanya (2000K:4a0ji3a-n40S8i)m. Paparan Pujianto seolah-oleh seperti bentuk analisis realasional. bolik menjadi pola pencermatan yang sangat popular di lingkungan pengkaji seni. Pujianto sangat terbantu oleh paham filosifis Jawa. yaitu seperti model analisis yang dikembangkan oleh Ernst Cassire (studi budaya) dan Sussan K. Seakan-akan unsur ornament . yaitu strukturalisme fungsional. Bertolak dari artikel Pujianto. Kadang pelacakkan simbol umumnya hanya mencermati tata bentuk visual. M. salah seorang tokoh strukturalisme Prancis. Perspektif simbolik. 137). Skema yang dipaparkan tentang adanya relasi antara sifat orang Jawa . Simbol yang ditafsirkan atas dasar wujud fisik dari sesuatu yang terindra sebagai tanda bermakna. bahwa kajian 288 BAHASA DAN SENI. misalnya sebagai contoh 77 . Entitas ini muncul secara tiba-tiba. dapat meletakan posisi batik sebagai benda yang bersifat funsional di lingkungan budaya Jawa. suatu usaha menafsir terhadap simbol-simbol. referensinya telah tersedia. Lenger (studi seni). Hal ini dapat disimak pada table 1 [ Mitologi Jawa dalam Motif Batik] (hal. terutama menyimak relasi lambang dan arti . setidaknya telah dilakukan oleh Pujianto. Pujianto telah mengemukakan bahwa Batik . Heddy Shri Ahimsa-Putra seorang antropolog dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengomentari kelemahan kajian simbolik. Agustus 2004 simbol tidak melakukan kajian struktur. Pemikirannya menjadi sangat lancer karena terdukung oleh tata makna yang bersifat konvensional. artinya wujud objek dicermati sebagai susunan unsur-unsur yang telah memiliki relasi tertentu. Nomor 2. Sementara simbol di balik yang disimbolkan kadang sulit atau seringkali tak terjangkau. Kajian Strukturalisme-Simbolik 287 Kajian simbolik yang digunakan oleh Pujianto dalam mencermati Motif Batik unsur Alam adalah pola pemikiran yang khas dari para peneliti sebelum generasi Roland Barthes. Dasar utama pemikiran yang digunakan oleh Pujianto secara mendasar mengacu pada filsafat makna. 1986). yaitu terbatas pada aspek permukaan (2000:402).

Pemikiran ini yang mengarahkan pada kajian structural. Wedana. dan abdidalem. daragam. fungsinya sebagai busana seorang raja Jawa (Kasunanan Surakarta) ketika bertahta. seperti yang disampaikan oleh Soedjoko yang dikutip oleh Amri Yahya. utamanya ketika sedang bertitah. Relasi dari benda dan orang yang memfungsikan didasarkan oleh sebuah konsep . tetapi untuk mencermati sebuah simbolisasi dari benda-benda fungsional menjadi lebih kredibel. Motif Sawat secara etimologis dipahami semi . Mengetengahkan paradigma strukturalisme sebagai model telaah batik berunsur alam bukan cara pandang yang berbeda dengan pemikiran Pujianto. BATIK BERUNSUR MOTIF ALAM 78 . Mengingat strukturalisme model Levi-Strauss memandang struktur sebagai model dari pola pikir manusia dalam memahami dunianya (Kaplan & Manners. keluarganya. Konsep-konsep dari fungsi menunjukan adanya sebuah struktur. baik pemikiran Emile Durkheim atau Levi-Strauss. Kajian Strukturalisme-Simbolik 289 batik cumangkirang ingkan acalacap lung-lungan utawa kekembangan. maupun Abdi Dalem. Pujianto mengemukakan batik bermotif Sawat merupakan busana yang melambangkan kebijakan raja. yang saya perbolehkan dipakai Patih. modang. tetapi (hanya tempil) pada kain baik sebagi (untuk) Dodot bangun-tulak (pola busana) dengan kombinasi prada emas. (Yahya. ingkang ingsun kawenangaken anganggona pepatih ingsun lan sentaningsun. titahnya merupakan keputusan yang terbagik bagi dirinya. kawulaningsun Wedana.uraian tentang fungsi batik alas-alasan. (Pujianto. bahwa Batik merupakan benda fungsional. daragam lan tumpal. Jenis batik ini sering digunakan oleh Raja untuk upacara-uparada agung. 2000: 237). batik cumangkiri kang calacep. lenga-teleng. Adipati. Adapun batik Cumangkirang yang acalecep berupa lunglungan (sulur) atau kekembangan (bunga-bungaan). bangun tulak. Strukturalisme lebih menekankan pada sebuah cara berpikir dari masyarakat sederhana yang menganggap bahwa sistem sosial hanyalah refleksi dari sistem dunianya atau dengan kata lain mikro-kosmos merupakan refleksi dari makro-kosmos (Randrianarisoa. dan untuk pengantin pria pada waktu ijab Kabul (Semen Rama). sebagai berikut: Ana dene kang arupa jejarit kang kalebu ing laranganingsung: Batik Sawat lan batik parang rusak. 2003: 131). Landung Simatupang. 1985: 16) Adapun barang berupa kain panjang (jarit) yang termasuk larangan saya (raja): Batik Sawat. Anadene Hidayat. sebagai berikut: Motif Semen dalam penerapannya di dalam keraton diperuntukkan bagi Pangeran. Walaupun kedua teori tersebut berpijak pada konsep yang berbeda. batik cumangkiri yang calacep. terj. Pernyataan Pujianto dan Amri Yahya jelas. 1983:213). dan rakyatnya. dan tumpal. modang. dan tari Bedhaya (halaman 133). (halaman 130) Motif alas-alasan tidak tampil pada semua jenis kain batik. Batik Sawat merupakan salah satu batik yang menjadi milik raja. dan batik parang rusak. Tetapi sebuah analisis yang lebih sistematis. lenga-teleng. Bahkan Sunan Paku Buwana III pada tahun 1769 mengluarkan larangan menggunakan batik tertentu. Konsep dari fungsi adalah memiliki kaitan relasional dengan unsur yang memungsikan suatu benda. bangun-tulak.

dalam kaitan ini adalah Raja Jawa . Batik Semen memiliki hubungan kesamaan motif dengan dua batik yang lain (Sawat & Alasalasan).Pujianto memilik topik penulisan artikel tentang batik berunsur motif alam dengan objek batik yang berkembang di keraton (?) [tidak dijelaskan lebih sepesifik keraton yang mana] dengan sample analisis batik bermotif Semen. agar benih tersebut dapat bersemi. 1997: 80). dan alam bawah. Analisisnya lebih pada pemahaman tentang adanya persepsi bentuk. Kajian Strukturalisme-Simbolik 291 dipahami sebagai kenyataan tentang kosmologis Jawa. Misalnya. Pemahaman tersebut dapat disekematiskan sebagai berikut Gambar 2. yaitu: Alam atas. Pemilihan relasi paham triloka didasarkan atas kesamaan relasi tiga . yaitu yang memahami bahwa secara kosmologis dunia dibagi menjadi tiga. dan Alas-alasan memiliki realisi dengan mitos kesuburan dan kekuasaan. Sawat. Semen 79 . Batik Semen memiliki kaitan yang bersifat vertical alam atas. Skema relasional antara konsep Triloka dan motif batik berunsur alam Keterangan: Batik seolah-oleh memiliki kaitan dengan konsep triloko. dan batik Alas-alasan memiliki kaitan dengan alam bawah. Skema segitiga kuliner model strukturalisme Levi-Strauss Dasar pemempatan sample tiga motif batik tersebut bersifat abitrer (sekenanya). pemikiran Pujianto tampaknya seperti skema tersebut di atas. Bahawa dunia dibagi menjadi tiga tataran yang bersifat hirarkis. sebagai berikut: Gambar 1. Nomor 2. dengan tujuan menguji adanya keterkaitan dengan paham filosofis Hindu tentang Triloka [tri = tiga dan loka = dunia]. Levi-Strauss menempatkan makanan dengan pola analisis segitiga kuliner (Cremers. Bentuk Semen merupakan tanda penyebaran benih. sebagai berikut. dan Alas-alasan. Penyebara benih. yaitu ada kesamaan bentuk dengan pengertian konvensional tentang makna kesuburan . Agustus 2004 ran dan kekuasaan Apabila benar. seperti Levi-Strauss menganalisis tentang makanan. sementara batik Sawat memiliki kaitan dengan alam tengah. dan demikian pula dengan batik Sawat & Alas-alasan yang memiliki kaitan dengan batik Semen. yang dijelaskan oleh Pujianto. Berdasarkan skema tersebut di atas. tiga motif batik yang terdiri dari motif Semen. sehingga simbolisasi tentang kesuburan tidak dikemukakan secara jelas oleh Pujianto. demikian juga tentang kekuasaan . yaitu dipahami dari adanya berdasarkan analogi. alam tengah. Langkah awal yang akan dilakukan adalah menghubungkan ketiga motif tersebut. urairan tentang bentuk Semen. selanjutnya dicermati lebih lanjut dengan menyusun table realasi dari ketiga entitas tersebut di atas. seperti yang digambarkan berupa tanaman menjalar (sulur) sebagai penggambaran alat kelamin pria (halaman 130). yaitu Semen Sawat Alas-alasan Hidayat. Selanjutnya relasi tentang kesuburan tidak dibahas secara mendalam. Tahun 32. Berdasarkan konsep Triloka. Ketiga mofif batik tersebut diasumsikan bersumber pada fenomena alam sebagai lambang kesuburan dan kekuasaan 290 BAHASA DAN SENI. Sawat.

gunung. kapal Udara. kemakmuran. Awan. Matahari Burung Garuda. roh ALAM TENGAH Manusia. kejayaan. Awan. (pohon hayat) Ayam jantan. angkasa. harimau. kupukupu. Agustus 2004 Tabel 1. kegembiraa. kesaktian. suci. Nomor 2. Kekuasaan. kumbang. Lar (sayap). wahyu. pengavoman. hidup. kakyaan. kuda. Kalpataru. Lar (sayap) bersulur bangunan.Sawat Alas-alasan Alam bawah Alam atas Alam tengah 292 BAHASA DAN SENI. Tanah Brahma Tumbuhan. Analisa Taksonomi Relasi antara Konsep Triloka dan Motif Batik Berunsur Alam SEMEN SAWAT (GURDO) ALAS-ALASAN INTERPERTASI MAKNA ALAM ATAS Gunung Semeru/ Brahma Lingga (Siwa) Tirta Marta Raja Burung. tumbuhtumbuhan Kehidupan. Garuda. Tahun 32. ALAM 80 . burung merak.

sengsara. tidak berelasi dengan bulat yang disebut dengan rembulan . berrelasi dengan bulat yang disebut Matahari . Matahari yang berbentuk bulat. atau tidak terbukti. atau kurang dapat memberikan pemahaman secara komperhensif. Zoetmulder. bahwa ketiga batik tersebut memiliki pormasi struktural yang lain. sungguhpun tidak seluruhnya salah. dan sebagian kecil berrelasi dengan kolom alam tangah . Salah satu burung yang diyakini sebagai kendaraaan dewa Wisnu. yaitu menempatkan raja dengan kode (+) dan rakyat dengan kode (-). Kalau diperhatikan. yang dimungkinkan mendapatkan sebuah gambaran yang jelas tentang lambang-lambang dan ditafsir. sebagai lawan garuda. Sedangkan untuk kolom alam bawah tidak menunjukan adanya relasi. bukti Hidayat. Kajian Strukturalisme-Simbolik 293 nya unsur-sunsur alam tampak mengelompok pada kolom alam atas . Analisis pada tabel 1 menunjukan. dan Veldhuisen (1988: 28) yang dicuplik oleh Pujianto ( halaman 134-135). bahwa sistem analisis terhadap motif batik berunsur alam kurang menunjukan akurasinya. bahwa konsep triloka dimungkinkan tidak tepat. laut. Tetapi menekankan relasi batik berunsur alam dengan fenomena kekuasaan Jawa . yaitu memandang kosmis tercipta serba dua (Sutarno. atau ular yang berrelasi dengan air. sacral. Berdasarkan hasil pencermatan melalui table 1. 2003:134). Ular (naga) Kesuburan Roh-roh jahat. Akan tetapi menjadi kurang mampu memberikan pemahaman yang lengkap dan jelas. Maka dimungkinkan. ternyata segi tiga kuliner tersebut tidak cocok. Betari Sri Laut. kematian Tabel di atas merupakan dasar analisis yang dilakukan oleh Susanto (1983: 235-237). Wisnu. Jika dicermati lebih lanjut paham monisme dualitik memandang dunia ini terbentuk berdasarkan relasi yang bersifat oposisional (bertentangan dalam kesatuan). Ditemukan relasi kearah paham monisme dualitik. dan memiliki relasi dengan mitos tentang burung dewata . sehingga ular berrelasi dengan dunia bawah (Pujianto. ternyata tidak semua motif batik berunsur alam memiliki realisi dengan konsep triloka. yaitu sesuatu menjadi ada karena memiliki realsi dengan keberadaannya. Sementara Pujianto hanya menyitir dari hasil pemikiran peneliti lain yang telah berupa pernyataan. Analisis ini menunjukan. yuitu tidak dengan paham triloka yang dianggam memberikan makna pada motif batik berunsur alam. Apabila diubah relasinya. Tabel 1 menunjukan sebuah sistem analisis makan. Model pemahaman yang dilakukan oleh Pujianto adalah analisis analogi. simbol dibaca dari materi yang seolah oleh menyimbolkan dari sesuatu. 2000:127). kedukaan. Pemikiran ini ditunjukan oleh Levi81 . 2002: 24. sungai. Paparan Pujianto dalam menguraikan makna-makna seolah-oleh benar. Sebagai contoh garuda dipahami berdasarkan makna sifat dari binatang yang mampu terbang.BAWAH Laut.

Tabel analisis berikut secara keseluruhan memanfaatkan data yang ditulis oleh Pujianto berdasarkan cuplikan dari berbagai sumber. perwujudan yang terlukis pada kain (jarid) yang berfungsi sebagai busana para priyayi Jawa. seperti katakata (bahasa) yang sebagai alat komunikasi sehari-hari. Mitos. kebijakan. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata). Aspek visual yang ditangkap menjadi perhatian utama untuk dipahami relasi-relasinya. Bahasa memiliki aspek Langue dan parole parole adalah bahasa sebagaimana dia diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sarana berkomunikasi. karena dia terlepas dari perangkap waktu yang diakronis. tabel 1 Mitologi Jawa dalam Motif Batik (lihat halaman 137) tidak jelas. kata Levi Strauss. lambang dan arti tidak menunjukkan sumber data. Analisis motif batik berunsur alam yang terdiri dari motif Semen. dan motif Alas-alasan dapat lebih mendalam. realasi. yaitu diucapkan. motif Sawat. 2003:105-142]. (antara ornamen. Nomor 2. yang relative tetap. 2001: 80-81). Agustus 2004 gunakannya. yang tidak terpengaruh oleh individu-individu yang meng294 BAHASA DAN SENI. Tahun 32. Analisis ditujukan untuk mencari strukltur (Pujianto mengartikan dengan Mitologi. (simak halaman 134-138). Tetapi tabel 2 di atas cukup jelas. sedangkan aspek langue dari sebuah bahasa adalah aspek strukturalnya. yaitu menempatkan unsur-unsur yang saling berkait dan saling menjelaskan. cerita Ramayana. kebesaran. Pemahaman di atas menunjukan. tetapi bahasa sebagai parole tidak dapat terlepas dari perangkap waktu itu sehingga parole dianggap oleh LoviStrauss berada dalam waktu yang tidak dapat berbalik (non-revarsible time). Bahasa dalam pengertian ini merupakan struktur-struktur yang membentuk suatu sistem atau merupakan suatu sistem struktur. yaitru disebut struktur atau sebagai grammer pada bahasa. Akan tetapi wujud gambar itu menunjukan adanya pola realisonal yang bersifat permanen. dan waktu yang tidak bisa berbalik. Kajian Strukturalisme-Simbolik 295 Tabel 2. Pertimbangannya adalah cuplikan tersebut merupakan data yang telah teranalisis. yaitu sesuatu yang tidak tampak pada gambar itu sendiri. dan relasi konstan). walaupun langkah pencermatannya tidak secara mendalam membicara Skematis antara wujud. Motif yang terlukis selain menunjukan pola gambar yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan. keluhuran. bahwa motif batik berunsur alam dapat dipahami sebagaimana langue dan parole [simak John Strorey. dan simbol dapat dikemukakan sebagai berikut. Analisis Relasi dan Simbol Motif Batik Berunsur Alam Wujud Motif Relasi Simbol Burung. Struktur inilah yang membedakan suatu bahasa dengan bahasa yang lain. Parole adalah aspek statistikal dari bahasa yang muncul dari adanya penggunaan bahasa secara kongkrit. bahkan mengetengahkan kemungkinan strukturnya. Tabel yang dibuat oleh Pujianto. yaitu waktu yang bisa berbalik. kesetiaan 82 . Bahasa sebagai suatu lengue berada dalam waktu yang bisa berbalik (reversibele time). kekuasaan.Strausss berdasarkan konsep Ferdinad de Saussure tentang bahasa. Hidayat. (Ahimsa-Putra. cerita Garudia Kejayaan. juga berada dalam dua waktu sekaligus.

ketentraman Motif Sawat Pohon hayat Pohon beringin. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. ringin kurung. ketentraman Burung Garuda. Mitos tentang kesejodohan Kecantikan. kekuatan perusak. kesetiaan Kumbang. mitos Sri Sadana. Kupu-kupu. kekuasaan. Mitos Laut selatan. keluhuran. pundhen desa. kebesaran. kekayaan. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata) Kejayaan. kekuatan penakluk Motif Alasalasan Ular (naga) Dewa Siwa. kegelapan 296 BAHASA DAN SENI. rintangan. kebijakan. kebebasan Sulur Tanaman menjalar Kesuburan. Rumah. alam kegelapa. kesucian Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. kasih sayang. Kejantanan Keperkasaan Ayam jantan. tujuan Motif Semen Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. kebijakan. Sorga. Wanita (femimimitas) Kasih saying. gunungan wayang kulit (Kayon) Perlindungan. pikiran Bangunan. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. tanah Kejahatan. keperkasaan Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. ketentraman Laut. Agustus 2004 tentang mitologi Jawa. pelepasan. kekuasaan. ketentraman. Dalam hal ini diarahkan pada masyarakat keraton Jawa dari dinasti raja-raja Mataram. kecantikan Lar (sayap) Unggas bersayap. pencerahan. kekayaan. Kejantanan (maskulinitas) Keperkasaan. Sorga Ketentraman. pikiran. kekayaan. Istana. perdamaian Awan. kesetiaan Burung merak. pencerahan. Mitos Sri Sardono Kemakmuran. perlindungan. harapan. pembasmi. kepergiaan. kedamaian. kecerdirkan. Tahun 32. harapan. kesetiaan. ikatan kekerabatan. kekuasaan Kapal. kayon Puncak. penghancur. angkasa (langit) Maskulinitas (bapa). Kemakmuran. puncak meru. kelestarian. Mitos kematinan. langit. kekuasaan. keabadian.Lar (sayap) Unggas bersayap. Kejantanan Kekuatan. Kejantangan Kekuatan. kebijakan. ketenangan. kebesaran. bentuk wayang rampokan Kebebasan. keperkasan. Kebebasan. Kuda. kebebasan Gunung Mitos tentang sorga. kekuasaan. kalpataru. keinginan. atau pandangan para priyayi 83 . Tetapi mengarah pada kajian simbolik) pemikiran masyarakat pemilik simbol. Nomor 2. mitos SriSadana Kemakmuran. Harimau.

salah satunya adalah menggunakan teori semiotika. Melalui pendekatan Strukturalisme dapat mencermati motif (wujud material visual sebagai tanda) pada Batik.(maksud dari Pujianto adalah keraton Kasunanan Surakarta). Hidayat. salah satunya ada pada motif batik. Paparan pada artikel Pujianto tampaknya rasional. dan berbagai perujudan lain termasuk jumlah dan pengulangan bentuknya. ukuran. seolah-olah referensi dari berbagai sumber benar-benar memberikan dukungan pada asumsi judul. Akan tetapi perlu disadari. Struktur Batik Semen didiskripsikan sedemikian rupa. unggas (burung garuda. secara linier dicari keterkaitannya dengan mitos Jawa (salah satunya digali dari paham filosis Jawa). Maksudnya adalah mencari makna dari tanda . garis-garis. Struktur sebagai bagian dari sistem mental manusia adalah sesuatu yang berada di luar kesadaran manusia dan merupakan kebudayaan itu sendiri (Masinambaw & Hidajat. Pujianto lebih menitik beratkan pemahamannya tentang mitologi Jawa yang tampak pada motif-motif batik berunsur alam. akan tetapi lebih mendalam. atau Hermeneutik. yaitu yang terrangkum dalam salah satu bentuk. posisi motif. logis. Kajian yang menjadi sasaran adalah kesadaran dari ketidaksasaran tindakan. Pendekatan strukturalisme mengarahkan kajian pada mitos. lidah api. sehingga tercipta berbagai bentuk mitos tentang asal usul sebuah komunitas. gambar. kaitanya dengan mitologimitologi tertentu yang menghadirkan motif. seperti motif Sulur-suluran. Kemudian dilanjutkan menelaah makna dengan alat analisis. Motif-motif pada batik yang memvisualisasikan fenomena alam diangkat sebagai morfem (unsur terkecil dari unit kata). yaitu tentang paham monisme dualistik. Maka. awan. Kajian Strukturalisme-Simbolik 297 dan keputusan sesorang. dan motif-motifnya). antara judul yang diajukan dengan pokok pikiran yang dipaparkan. dan lain sebagainya. Pendekatan Strukturalis tidak hanya berhenti memahami teks (wujud kain batik. kemudian motif-motif dianalisis keterkaitannya dengan motif-motif lain untuk menentukan sebuah struktur. kupu-kupu. 2001:31). dan lain-lain. Mitos adalah grammer yang membimbing sebuah komunitas memahami realitas kehiduannya. naga. seperti bentuk batik Semen. sebenarnnya semua orang tidak dengan amat menyadari tata bahasa (grammer) yang sedang digunakan. mitos kekuasaan. 2001:31) Fenomena ini seperti kita berbicara. analisis kebudayaan berdasarkan perspektif strukturaliseme adalah analisis unit mental (Masinambaw & Hidajat. Artinya selembar kain batik yang disebut Semen. ucapan. kata demi kata yang terlontar sangat disadari maknanya. Metode ini yang dimaksud oleh Heddy Shri Ahimsa-Putra sebagai kajian tekstual (2000: 404). Fenomena alam yang berwujud motif alam pada kain batik. dan referentif. Unsur mitos. meliputi warna dasar. dipahami sebagai sebuah struktur. Kondisi ini dikarenakan oleh sifat diskriptif yang tidak analitis. sehingga tidak menyadari adanya ambiguitas. makna tidaklah dicari pada dunia eksteral. Paparan tersebut merupakan interpertasi 84 . melainkan diperoleh atas dasar pertalian tanda-tana (artinya antar tanda) itu sendiri. Sawat. merak). tetapi bersamaan dengan itu. atau Alas-alasan. tanaman. mitos kesuburan. mitos perjodohan.motif pada kain batik. pohon hayat. Pujianto mengemukakan opininya tentang mitologi Jawa pada subbab Pandangan Hidup Orang Jawa (halaman 137-140).

spontanitas. yaitu makna yang tersimpan pada struktur dalam (deef stracture). kesejukan. Penguasa dan rakyat ada hubungan timba-balik. Bila dengan ungkapan manunggaling kawula-Gusti (dengan G besar) dimaksudkan sebagai persatuan antara manusia dengan penguasa gaib (Tuhan). bahwa raja Jawa dipahami sebagai Gusti (bahasa Jawa gusti juga dipahami sebagai kekuasaana gaib dari realitas transendental). Pandangan ini telah dikonstruk sejak jaman kerajaan Singasari. Woro Ariyandini S.untuk menemukan makna. Konsep raja sebagai manivestasi dewa ini ternyata berlanjut hingga dinasti raja-raja Mataram. Agustus 2004 presentasi idealistik raja Jawa yang menganggap dirinya adalah menivestasi Dewa . yaitu sebuah paham kemanunggalan (kesatuan) yang berikutnya menjadi paham monisme dualitik. ANALISIS STRUKTUR Relasi isor (bawah) [ . Agar uraian Pujianto menjadi lebih lengkap. Persatuan ini diibaratkan sebagai manunggaling kawula gusti (dengan g kecil). Danaita. Kekuasaan tidak dapat berdiri sendiri. seorang peneliti dari Universitas Indonesia menjelaskan paham tersebut sebagai berikut: Dalam pikiran orang Jawa. yaitu Loro-loroning Atunggal. tetapi harus diwujudkan sedikitnya dua relasi. dan kreativitas alami kedua-duanya dipandang perlu pemaduan. pengendalian. Raja yang bersifat Saraita. atau tunas yang harus di semai kan. bahwa lapisan bawah yang biasa disebut rakyat juga mendapat perhatian. (1992:186) Menyatunya dua eskistensi tersebut menurunkan yang disebut wiji . bibit . sebuah citra yang kuat. bentuk. sebagai berikut: Kepriaan biasanya dikaitakan dengan warna putih 9air mani). Tahun 32. langit. Mitos tentang relasi atas-bawah juga hadir pada konsep-konsep tentang kesuburan. dan bersikap adil). Hakekatnya adalah sebuah 298 BAHASA DAN SENI. berfungsi (raja) sebagai pusering bumi lan langit (pusat bumi dan langit sekaligus) (2002: 101). Agar dapat memahami eksistensi Gusti dan kawula dan analoginya gusti (raja) dan kawula (rakyat) maka tercipta sebuah konstruk pikiran Kawula Gusti . Tuhan (Gusti) memiliki kuasa atas makluk (kawula) yang dikuasai . Nomor 2.. bumi. Wanita dikaitkan dengan warna merah (darah). istilah ini berrelasi dengan 85 . dan rakyat dipandang sebagai kawula . salah satu klasifikasi simbolis dalam budaya Jawa (Koentjaraningrat. yaitu memahami angkasa sebagai bapa (eksistensi maskulin) dan bumi sebagai ibu (eksistensi feminim).. Anthony Reid mengemukakan perihal esensi pria-wanita yang bersifat saling melengkapi. sebuah batik yang digunakan oleh Susuhunan Pakubuwana (Surakarta) ketika duduk di dapar kencana. siap memberi bantuan pada siapapun yang membutuhkan. yaitu .1994 :228) yang terwujud dalam mitos-mitos kekuasaan. Darmaita ( ahli stragegi perang. kehangatan. subtansi. Paham ini dikenal dengan konsep dewa raja . Konsep tersebut dimungkinan dapat ditafsirkan dari bentuk struktur batik Sawat.] dan duwur (atas) [ + ]. Curiga manjing warangka. paparan berikut ini menganalisis deef stracture berdasarkan realsi antar tanda pada motif batik yang dimaksud. Penguasa masyarakat adalah raja yang dianggap mewakili kekuasan Tuhan di dunia. maka juga ada persatuan antara manusia dengan penguasa masyarakat. dan kreativitas yang dikarsai. Ken Arok melegitimasi dirinya sebagai putra Betara Brahma.

bahwa titah (perintah) raja selalu dipandang sebagai bijaksana. Nomor 2. keagungan. gunung adalah sorgaloka. Gunung laut menunjukan posisi horizontal. bersemayamnya ratu pantai selatan. menampakan hubungan yang bersifat duniawi. tempat makluk hidup bertebaran. kebesaran. dan roh-roh pengganggu manusia. dan laut sebagai muara. dan laut berada di selatan (pantai parangtritis). atau meru . Sebuah pola pikir orang Jawa disebut loro-loroning a tunggal Tengen (kanan) 86 . menunjuk pada struktur tengen (kanan)[+]. yang tumbuh di bumi Hidayat. Tahun 32.kiwa (kiri)[-]. Barat menunjukan arah marabahaya. Semi memberikan petunjuk adanya kaitan dengan mitologi tentang padi . ora kena wula-wali. Kedudukan relasi ini bermakna Loroloroning Atunggal dalam posisi horizontal. siksaan. simbol keseimbangan ekologi. yang da 300 BAHASA DAN SENI. Hutan merupakan gagasan utama adanya kayon atau kayun yang berarti hidup.motif batik Semen . Agustus 2004 pat dipahami sebagai hutan . Kayon dalam konsep wayang Jawa adalah gunungan . sabda pandita ratu. Relasi gunung laut . atau pohon sorga (Sri Mulyana. Sawat. Gunung laut juga berkaitan dengan kiblat (arah mata angin). atau sakral. Gambar 3. keramat. eksistensinya sebagai pengayom. Selatan menunjukan arah laut. Ayah ibarat pohon. kebijakan atas dirinya. ancaman Batari Durga. dan Alas-alasan merefleksikan sebuah deef structure sebagaimana skema garis bersilang. Eksistensial hutan ditampakkan perwujudan kalpataru (pohon hayat). Konsep kesuburan menempatkan kedudukan suami (tengen/ kanan) dan istri (kiwa/kiri). anak buah. dan juga manusia. keluarga. Skema oposisional berdasarkan monisme dualitik. Gunung laut diwujudkan secara struktural pada bentuk motif Alas-alasan. Hutan lebih bersifat magis. berrelasi dengan emas . Ini tampak pada struktur batik Alas-Alasan. ratu pelindung raja-raja Jawa (sejak jaman Mataram). pelindung istri dan anakanaknya. Hutan-hutan yang lebat merupakan tempat yang aman. Kajian Strukturalisme-Simbolik 299 (tanah). raja berada di timur (gegong kuning keraton Kasultanan Yogyakarta menghadap ke Timur). sedangkan dunia ada percapada. kaitannya dengan posisi kekuasaan. Kenyataan ini hingga kini dapat disimak pada posisi simpingan (jajaran) figure wayang kulit. yang artinya semi. setan. Paparan relasional dari motif batik Semen. Gunung (merapi) berada di Utara. dan kejayaan. Maka raja Jawa yang dilegitimasi dengan mitos RajaDewa menunjukan. tumbuhan. sorga tempat bersemayamnya para dewa. Tempat arwah yang tidak beruntung. dan seluruh rakyat. horizontal dan vertikal. 1982:33). sebuah areal tempat berlindungnya semua satwa. Gunung laut berrelasi horizontal. dan bermukimnya jin. yaitu Betari Sri dan Raden Sedana (Danandjaya. Di sini menempatkan posisi Gunung sebagai sumber mataair. sering ditunjukan pada fenomena candikala (mega merah tembaga ketika sore hari).1989: 635). Ketika laki-laki (ayah) hadir sebagai penguasa menunjukan sikap berbudi bawa leksanan . yang menunjukan kelompok kanan (bala tengen) dan kelompok kiri (bala kiwa).

Asumsi Pujianto perlu diuji. hubungannya dengan mitos kesuburan dan kekuasan. dan juga dimungkinkan adalah motif batik. Ternyata tidak mempu menjawab gagasan Pujianto yang mengkaitkan konsep triloko dengan bentuk motif batik. Struktur yang berupa persilangan yang dibentuk antara garis vertical. Kenyataan ini yang dimaksudkan oleh Emil Durkheim sebagai organisme. Kajian Strukturalisme-Simbolik 301 Telaah dengan perspektif strukturalisme tidak hanya mendiskripsikan makna mitologis. Sawat. dan simbol di temukan sejumlah kecendrungan makna. akibatnya aspek struktur terabaikan. Terlebih. seperti topeng. setidaknya meminjam model segitiga kuliner yang digunakan oleh Lovi-Strauss untuk menganalisa makanan. Setelah dilakukan analisis unsur motif. relasi. perdukunan. ilmu sihir. Sawat. Temuan tersebut merupakan modal untuk menyusun struktur. 87 . Temuan ini menunjukan. Akibatnya sulit untuk mengetahui hubungan strukturalnya. di mana suatu benda memiliki posisi dan fungsi tertentu. makanan tradisional. Pijianto mempunyai sudut pandang. dan Alas-alasan berkati dengan paham Hindu tentang triloko . dan Alasalasan.Kiwa (kiri) Isor (bawah) Duwur (atas) (-) (+) Batik Batik AlasBatik Semen (+ ) (-) Gusti Kawula Gunun Laut Hidayat. kaitanya dengan mitologi Jawa tentang kekuasaan dan kesuburan. PENUTUP Analisis mitos kaitanya dengan perwujudan benda budaya. bahwa fungsional suatu benda selalu terkait dengan kedudukan atau posisi di antara benda yang lain. Sebagai contoh asumsi Pujianto. Pujianto tidak mengkaitkan tiga motif batik Semen. tetapi dapat menunjukan kedudukan objek. bahwa motif bagik Semen. Pujianto telah berusaha untuk memaparkan gagasanya tentang mitologi Jawa kaitannya dengan motif batik berunsur alam. Sungguhpun analisis simbolis terpaku pada teks . Kapasitas benda pada posisi dan fungsinya semata-mata terkait dengan benda lain secara struktural. 1997:790. Inspirasinya menggunakan segitiga kuliner berasal dari segi tiga vocal: gagasan dari seorang lingguis Roman Jakobson (Cremer. berbagai asumsi dari para peneliti lain atau tulisan-tulisan lain yang bertebaran dengan gampang mempengarui. dan memilik model pemaparan dengan menekankan aspek simbolisasi.

Fenomena tersebut dapat disimak pada sebuah tembang dhandhanggula dalam Serat Niti-Praja. Struktur silang (crossing model) menjelaskan tentang makna kawula-Gusti atau raja-rakyat yaitu sebuah falsafah kekuasaan rajaraja Jawa.duwur (atas) bernilai (+) yaitu bermakna transkendental. dan juga kesetiaan. isor 302 BAHASA DAN SENI. Seperti istri pertama. dan sekaligus kepasrahan. Kajian Strukturalisme-Simbolik 303 Mang salokanira kepanggih. Garis horizontal menunjukan antara rentang Tengen (kanan) bernilai (+) gunung . (2003: 139). berkait dengan kedudukan rakyat kawula . Semunira den asumeh. Sebuah kisah Garuda yang membebaskan ibunya dari tawanan bangsa naga. Boga busana mukya Kalau engkau dijadikan istri. Kadi garwa kawitan. Kiwo (kiri) bernilai (-) berrelasi dengan laut .1988: 56-57). yaitu ngabekti. Pasrahlah dalam segala kehendaknya. Ing raga nuta saosa kersing laki. gagasan mencapai persatuan antara hamba dan Tuhan secara mistik ( manunggaling kawula-Gusti). Agustus 2004 (bawah) bernilai (-) yaitu bermakna profane. Kedudukan wanita Jawa dimata laki-laki sebagai berikut: Lamun sira rineka pawestri. tempat arwah bersemayam. ketulusan. naga. Niels Mulder menjelaskan. sabar. Dan pelayananmu bila ketemu. Pemikiran itu juga berkait dengan konsep sangkan paraning dumadi . Untuk mencapai tujuan ini orang harus mengatasi kekangan-kekangan yang membelenggu dirinya kepada eksitensi gejalan seperti misalnya hawa nafsu dan rasionalitas duniwi yang hanya menuju kearah persepsi kebenaran yang bersifa kehayali (1996:31). temen. yaitu adanya konsep Dewa-raja . Angrasa yen sinatyan. yaitu tentang asal usul manusia dan kepasrahannya terhadap sifat gaib transendental (Tanpoaran. Hendaknya wajahmu berseri manis. Garis ini mengubungkan antara struktur motif batik Semen dan Alas-alasan. Kepasrahan ini seperti sifat Garuda yang dengan rela sebagai kendaan dewa Wisnu. narima. Nomor 2. tempat roh-roh jahat. Pujianto mengkaitkan dengan sikap wanita sebagai pembatik yang rela. 88 . sebuah relief yang dipahat di candi Kidal. Struktur silang tersebut juga dapat menjelaskan kedudukan wanita dan laki-laki dalam pengertian vertical. Tahun 32. yaitu mendudukan wanita pada sumbu vertikal dengan laki-laki. berkait dengan kedudukan raja . dan budi luhur. Buat simpanan oleh sang raja. dan kekuatan penghancur. Kinarya gedhong dening sang nata. Gambaran wanita sebagai pembatik itu adalah sebuah metafora. Di sini terjadi sebuah pemahaman tentang pesejodohan. yang berposisi dengan ular naga pada cerita tentang Garudia . ini sebuah kerelaan. Setyanireng kakung. swargaloka. tetapi juga sekaligus menjelaskan Lanang dan Wadhon secara horizontal. Hidayat.

Mochtar Pabotinggi. Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam . Filsafat dan Masa depannya. Shri Heddy (ed. Wayang dan Lingkungan. 1994. 1982. Surabaya: Yayasan Djojo Bojo & Paguyuban Sosrokertanan Surabaya. tahun 31. Manunggaling Kawula Gusti. Jakarta: Balai Pustaka. Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas. Mulder. A. Tahun 32. 2003. 1985. Abdullah. April 2002.B. Reid. Bandung: Masyarakat Seni Indonesia. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. Universitas Negeri Malang. diterj. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. Albert A.C. Diterj.Yogyakrta: Gadjah Mada Universitas Press.2000. & Hidajat. Sangkan paraning Dumadi. nomor 1. diterjemahkan: Landung Simatupang. Yayasan Indonesiatera. Pujianto. Niels. Pribadi dan Masyarakat di Jawa. James. Randrianarisoa. Semilogi Roland Barthes. Malang: Fak. Yogyakarta: Qalam.). 2001. Abdullah. Claire. Faufik & Leeden. Jakarta: Balai Pustaka. Yogyakarta: Hanindita. John. Holt. pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa. 304 BAHASA DAN SENI.Yogyakrta: Pustaka Pelajar. [tanpa kota terbit]. 1988. Cremers. Asal-usul. Anthony [1988]. 2003. 2001:8-9) DAFTAR RUJUKAN Tanpoaran.2000. Jakarta: Universitas Indonesia Press. 2003. Rahayu S. Sri. 2002. Yogyakarta: media Pressindo. Soedarsono. 1967. Teori Budaya dan Budaya Pop. E. Purwadi. Niels. Zoetmulder. Februari 2003. Budiono. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Makalah disajikan pada seminar Javanologi. 1986. Semiotik. Antara Alam dan Mitos.K. 1997. Yahya. Sejarah perkembangan Seni Lukis Batik Indonesia . Flores: Nusa Indah.M. Mulder. Wayang. van Der. 2001. Falsafah Jawa. Yogyakarta : Yayasan P. Juni 1983 XXXII 6. Woro. Jakarta: Balai Pustaka. Danandjaya. vol. Februari 2003. Ketika Orang Jawa Nyeni. Jakarta: Universitas Indonesia Press. no. Malang: Fakultas Sastra. 1. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. P. Jakarta: Gramedia.Kesetiaanmu pada suami Merasalah jika dicintai Jiwa raga serahkan sepenuhnya pada pria Makan minum kegemarannya. Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali. Nomor 2. Agustus 2004 Koentjaraningrat. Kebudayaan Jawa. Aryandini S. Amri. Ahimsa-Putra. (Purwadi. Basis. Sutarno. Mengkaji Tanda dalam Artifak.1986. artikel pada Jurnal Bahasa dan Seni. 1983. Proyek Penelitian dan Pe 89 . Memutar Taman Sri Wedari. Mitologi Jawa Dalam Motif Batik Unsur Alam . Kaplan. 2002. Surakarta: Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. 2000. nomor 1. 1996. 1989. Pujianto. Totemisme di Madagasikara artikel pada majalah budaya Basis. Diterj. 2000. Jakarta: Gunungagung. 2001. Jakarta: Sinar Harapan Mulyana. Olga. Agus. 1992. 1. Pewayangan Dalam Budaya Jawa artikel dalam jurnal Dewa Ruci. Herusatoto. 2001. Direktorat jendral Kebudayaan. Sastra.J. tahun 31. Teori Budaya. 1974. Yogyakarta: Galang press. Dick Hartoko. Kurniawan. Storey. Artikel pada Jurnal Bahasa & Seni. Ciptaprawiro. Masinambow. David & Monners. Universitas Negeri Malang.

Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa sumber yaitu informan. (3) “Raden Ngabehi Ronggo Warsito”. dan (3) mendeskripsikan nilai edukatif yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui observasi langsung. (4) “Reyog Brijo Lor”. legenda perseorangan . latar. dan terjadinya suatu tempat. Cerita rakyat Kabupaten Klaten tersebut diklasifikasikan ke dalam legenda dan lebih spesifik dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok legenda setempat. Informasi dari penelitian ini dideskripsikan secara analitis dan teliti. dan teori. Teknik cuplikan (sampling) yang digunakan adalah purposive sampling. nilai pendidikan sejarah (historis). dan nilai pendidikan kepahlawanan. Teknik validasi data yang digunakan adalah triangulasi data/sumber. Lima cerita rakyat tersebut. Sarmadi ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan jenis-jenis cerita rakyat Kabupaten Klaten. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis struktural dan analisis model interaktif (interactive model of analysis) Dalam penelitian ini ada lima cerita rakyat Kabupaten Klaten yang dihimpun dan dianalisis. wawancara. tokoh. Tokoh yang dominan dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah manusia yang digambarkan sebagai manusia yang memiliki kasaktian dan berkarakter baik. yaitu cerita rakyat Kabupaten Klaten. observasi benda-benda fisik dan dokumen. nilai pendidikan agama (religi). Amanat yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten cukup 90 . dan (5) “Kyai Ageng Gribig”. (2) “Petilasan Sunan Kalijaga”. perekaman. nilai pendidikan adat. dan legenda keagamaan.G. alur. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. yaitu: (1) “Ki Ageng Padang Aran”. perjuangan seorang tokoh. dan analisis dokumen. Strategi yang digunakan adalah studi kasus tunggal yang dilakukan pada satu sasaran (subjek) dan satu karakteristik.ngkajian. Alur cerita yang digunakan adalah alur maju atau lurus. Isi dan tema cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah syiar agama. pencatatan. (2) mendeskripsikan struktur cerita rakyat Kabupaten Klaten. tema. Latar yang paling dominan adalah latar tempat. Teknik validasi data lain yang digunakan adalah informant review. Pendeskripsian nilai edukatif (pendidikan ) dalam cerita rakyat meliputi nilai pendidikan moral. metode. KebuKajian strukturalisme dan nilai edukatif dalam cerita rakyat kabupaten Klaten L. Pendeskripsian struktur cerita rakyat meliputi isi cerita. dan amanat.

bervariasi. adalah Nilai pendidikan moral . Nilai pendidikan yang terdapat dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. dan nilai Kepahlawanan 1/1dayaan Nusantara (Javanologi). 91 . nilai pendidikan sejarah (historis). nilai pendidikan agama (religi). nilai pendidikan adat (tradisi).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->