DESKRIPSI HASIL PENELITIAN

Penelitian ini difokuskan pada keluarga petani ladang di gampong reuhat tuha kec.suka makmur, Aceh besar. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan tiga faktor penyebab terjadinya peran kerja yang seimbang dalam pola pembagian kerja yang diterapkan oleh keluarga petani ladang tersebut. Menurut keluarga petani tersebut, mereka melakukan peran gender berdasarkan nilai-nilai agama Islam, serta budaya masyarakat petani Aceh yang dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya pada masyarakat di gampong reuhat tuha. Masyarakat Aceh secara keseluruhan adalah penganut agama Islam yang taat beragama. hal itu terbentuk sejak berabad-abad lalu, sehingga semua itu tercermin dalam dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam perilaku, sistem sosial, sistem ekonomi, kesenian tradisional dan lain-lain. Budaya Aceh dikenal dengan terjalinnya hukum agama dan adat yang tidak dapat, sehingga dalam masyarakat Aceh terkenal dengan kata pepatah hukom ngon adat lagee zat ngon sifeut, yang berarti bahwa ”hukum Islam dan adat seperti dengan sifatnya tak dapat dipisahkan”. Pendapat ini didukung oleh seorang tokoh masyarakat Aceh, A. Hasyimi yang menjelaskan bahwa:”Islam dan rakyat Aceh ibarat darah dengan daging, dimana hal itu berlaku dalam segala aspek kehidupan seperti,politik, ekonomi, keuangan, sosialbudaya,dan tata susila. Segala macam ajaran dan sistem kemasyarakatan tidak boleh berlawanan dengan ajaran Islam”. Pada masyarakat Aceh, isu-isu gender masih memberikan stereotip yang menempatkan kaum laki-laki berada di atas kaum perempuan.Dimana kaum laki-laki masih diposisikan sebagai pencari nafkah, pemimpin dalam keluarga, dan selalu diutamakan dibanding kaum perempuan. Kaum perempuan secara umum masih berada dibawah dominasi laki-laki, kaum perempuan masih diposisikan pada sektor domestik sebagai istri yang wajib melayani kepentingan suami, dan sebagai ibu yang wajib merawat anak. Berdasarkan hal itu, dapat dikatakan bahwa isuisu tersebut tidak melahirkan kesetaraan gender pada masyarakat Aceh. Hal ini dikarenakan oleh isu-isu gender dalam masyarakat masih sangat dipengaruhi oleh agama dan budaya (adat). Jika ada laki-laki melibatkan diri dalam sektor rumah tangga, maka masyarakat akan mengatakan donya ka meubalek, bumoe ka diiek ue langet, langet ka ditroun ue bumoe yang berarti ”dunia ini sudah terbalik tempatnya, yang seharusnya bumi berada di bawah langit, akan tetapi bumi sudah naik ke langit dan langit sudah turun ke bumi”. Pepatah lain juga mengatakan lakoe adalah raja, wajeb ta ikot perintah, menyoehan

Masyarakat Aceh yang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai agama membatasi kaum lakilaki untuk ikut terlibat dalam urusan rumah tangga.tanyoe meudesya. Seperti halnya. membuat bedengan tanaman. suami (laki-laki) tetap melibatkan diri dalam urusan rumahtangga dan pihak istri (perempuan) tetap mempunyai hak untuk melakukan kegiatan-kegiatan di luar rumah. Berdasarkan gambaran umum yang terjadi di atas. mulai dari pembersihan lahan tanam. Pengaturan keuangan keluarga dikendalikan oleh istri. Pola pembagian kerja dalam formasi sosial petani ladang dan pedagang pada masyarakat Aceh tidak melahirkan ketidakadilan gender serta tidak menciptakan nilai-nilai pembakuan peran gender seperti masyarakat pada umumnya. ketika ibunya sedang menyayur. Sedangkan pada formasi sosial pedagang dan petani ladang. Nilai-nilai kesetaraan tersebut telah disosialisasikan dan diterapkan dalam kebiasaan masyarakat petani ladang sejak kecil. tanpa merugikan salah satu pihak. Dalam aktivitas berladang. dimana dalam kedua sektor tersebut terjadi pembagian peran yang sama. Sedangkan dalam keluarga pedagang dan petani ladang terjadi pola pembagian kerja yang seimbang. seperti mengikuti program PKK atau kegiatan lainnya tanpa harus meminta izin dari suami. kalau tidak kita berdosa”. karena menggangap bahwa sektor domestik menjadi tanggung jawab istri (perempuan). hingga di saat panen. dapat dilihat bahwa peran gender dalam pembagian kerja keluarga petani dan pedagang memiliki pola yang jelas. masyarakat Aceh masih secara umum memiliki nilai-nilai patriarkhi yang sangat kental dan melahirkan ketidakadilan gender bagi lakilaki dan perempuan. di sisi lain suami lebih mempercayai istri dalam hal pengelolaan anggaran rumahtangga. budaya gender melahirkan nilai-nilai bagi laki-laki dan perempuan. maka ibu tersebut akan menyuruh anaknya untuk membelikan. Laki-laki tetap bertanggung jawab sebagai pencari nafkah dan istri tetap bertanggung jawab dalam melakukan tugas-tugas rumahtangga. peran laki-laki dan perempuan samasama ikut terlibat. pemagaran. . Nilai-nilai dalam keluarga petani ladang mengajarkan anak laki-laki untuk selalu membantu ibunya jika sedang menyiapkan makanan. hal ini dikarenakan oleh kesepakatan bersama. Dalam hal ini. Akan tetapi. di dalam pola pembagian kerja seperti ini. membabat rumput. istri wajib mengikuti apapun perintah suami. dan tiba tiba cabai atau garam kurang. yang berarti ”suami adalah raja.

Selanjutnya. baik di dalam maupun di luar rumah. serta tidak adanya subordinasi perempuan dan budaya patriarkhi dalam hubungan keluarga. Peran yang tidak seimbang tersebut memunculkan ketidakadilan yang dirasakan oleh kaum perempuan. Peran gender harus ini dilakukan dalam landasan ”kemanusiaan”. termasuk dalam pengambilan keputusan keluarga.Dalam pembagian kerja tersebut. seperti tidak adanya marginalisasi. Hal ini dapat ditandai dengan beberapa hal. Faktor budaya masyarakat petani ladang dalam mendukung terjadinya keseimbangan pembagian kerja dalam keluarga petani ladang tersebut. Lebih lanjut. Posisi perempuan (istri) tetap sebagai penanggung jawab tugas-tugas rumah tangga secara khusus. seperti membersihkan pekarangan rumah. atau menimba air. saling membantu. sebagai manusia yang mempunyai kelebihan dan kelemahan secara kodrati. dan saling menghargai setiap perbedaan yang terdapat pada diri manusia maupun dalam masyarakat. Nilai-nilai gender yang dilakukan oleh masyarakat yang menetap digampong tersebut. antara lain:    Nilai-nilai agama Islam terhadap relasi antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga. pola keseimbangan pembagian kerja pada keluarga petani ladang di gampong reuhat tuha terjadi karena tiga faktor. membakar sampah. sehingga memunculkan peran gender yang tidak seimbang. Peran gender yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan akan menciptakan suasana yang tidak harmonis dan tidak adil bagi keduanya. Pembagian kerja tersebut juga melahirkan nilai-nilai dan sikap yang menghargai dan memposisikan istri (perempuan) tanpa menimbulkan ketimpangan gender pada keluarga petani ladang tersebut. Faktor-faktor tersebut menumbuhkan kesadaran gender pada keluarga petani ladang untuk menerapkan praktik pembagian kerja yang seimbang. Peran gender yang harus dimainkan oleh individu dan masyarakat adalah peran yang saling memahami. akan tetapi dalam pekerjaan yang bersifat umum. pola pembagian kerja yang terjadi dalam keluarga petani ladang justru memposisikan laki-laki (suami) sebagai pencari nafkah keluarga dan memposisikan istri sebagai mitra kerjasama. suami akan melibatkan diri untuk melakukannya atau dan tidak jarang suami terlibat dalam pekerjaan rumah tangga. Banyak kaum perempuan yang menjadi korban ketidak . tanpa mempertimbangkan perbedaan bentuk tubuh yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Peran gender yang dilakukan oleh masyarakat dari dulu hingga sekarang ini selalu merujuk pada konsep ”patriarkhi”. dapat dilihat munculnya nilai-nilai baru dalam membangun pola kerjasama antar anggota keluarga.

Peranan gender yang dilakukan bertahun-tahun diserap dan menjadi baku dalam pola pikir masyarakat. Konsep tubuh ini selalu dipergunakan oleh masyarakat sehingga menciptakan stereotipe yang berbeda bagi lakilaki dan perempuan. bukan melihat pada penempatan individu berdasarkan ”kemanusiaan”. pengertian. pola pikir praktis dan sederhana bagi keluarga yang tidak mengecap pendidikan tinggi akan menciptakan keharmonisan peranan gender. Peran gender yang tidak seimbang ini tidak akan terjadi pada keluarga yang mempunyai pola pikir positif dan sikap saling bekerjasama tanpa melihat perbedaan bentuk tubuh laki-laki dan perempuan. khususnya dalam keluarga. muncul konflik berupa tuntutan keadilan bagi kaum perempuan yang dikenal dengan konsep ”emansipasi”. peran gender yang tercipta juga akan membuat kondisi yang keruh. Selain itu. Secara tidak langsung.adilan gender yang berjalan dalam masyarakat. Kalimat tersebut sangat sering ditemui. Masyarakat patriarkhi senantiasa mengaitkan konsep tubuh yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. dan bahkan dianggap sebagai kebenaran objektif dari realitas sosial yang ada. karena tidak adanya penghargaan. Akibat perlakuan tersebut. Budaya gender yang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya selalu merujuk pada konsep ”patriarkhi” yang telah menjadi kebiasaan bagi masyarakat dalam sisi . dan pemahaman yang selalu merujuk pada aturan yang disepakati oleh kaum laki-laki. Penempatan kaum perempuan yang tidak seimbang akan menciptakan ketidakharmonisan dalam membina kehidupan rumah tangga dan masyarakat. seperti yang terdapat pada lokasi penelitian. sehingga menimbulkan peranan gender yang tidak seimbang. Peranan gender yang tidak seimbang ini lebih dirasakan oleh kaum perempuan daripada kaum laki-laki yang tidak memiliki banyak tuntutan dan aturan. Selain itu. Hal ini mengakibatkan kaum lelaki cenderung dapat membela diri dengan mengatakan bahwa sektor domestik adalah kodrat perempuan. dimana perbedaan tersebut telah melahirkan sebuah pemikiran masyarakat yang membuat aturan main gender berdasarkan konsep tubuh. Emansipasi merupakan suatu konsep dimana kaum perempuan menuntut haknya disesuaikan dengan keberadaan laki-laki yang terlalu berkuasa dalam segala aspek kehidupan. proses pengambilan peran gender ini dimulai dalam keluarga sebelum memasuki sistem sosial yang lebih luas. Stereotipe gender yang didasarkan konsep tubuh tersebut sangat mempengaruhi peranan gender yang dilakukan oleh masyarakat. Karena pada dasarnya. dapat dikatakan bahwa keluarga menjadi institusi yang meneruskan peran gender yang tidak seimbang kepada generasi selanjutnya.

peran gender yang maksud adalah peran gender yang erat kaitannya dengan pembagian kerja. sektor publik yang dipantaskan bagi laki-laki juga dimasuki oleh perempuan (istri).penerapannya. baik dalam sektor domestik dan publik. Karena secara alami. jika budaya gender ini juga disisipkan dengan nilai-nilai kemanusiaan dalam masyarakat. Demikian pula sebaliknya. Berpatokan pada pembagian kerja gender yang seimbang yang terjadi dalam keluarga petani ladang. sehingga dalam pembagian kerja tersebut. . atau dapat dikatakan dapat berubah dalam strata ataupun kondisi sosial yang berbeda beda dalam masyarakat. laki-laki dan perempuan dilihat sebagai sumber daya manusia yang harus mendapatkan perlakukan yang sama. ditemukan adanya kekaburan (diffusiness) nilai dalam konsep pembagian kerja yang jelas di antara keduanya. akan mewujudkan kinerja atau peranan gender yang seimbang antara laki-laki dan perempuan sehingga tidak akan muncul pembedaan pria dan wanita secara sosial yang disebut peran gender. Kekaburan pembagian kerja pada keluarga petani ladang ini terjadi karena dimasukinya sektor domestik oleh kaum laki-laki. Peran gender yang dibedakan oleh masyarakat tersebut mempunyai sifat yang dinamis. penelitian ini juga mencari bentuk-bentuk pembagian kerja yang seimbang pada keluarga petani ladang. Akan tetapi. laki-laki dan perempuan dapat memasukinya dan melakukan berbagai aktifitas. Selain itu. Dalam konteks ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful