P. 1
Uji Kualitatif

Uji Kualitatif

|Views: 355|Likes:
Published by santi indriyani
evaluasi tekstil
evaluasi tekstil

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: santi indriyani on Apr 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial
List Price: $14.99 Buy Now

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

04/21/2015

$14.99

USD

pdf

text

original

ANALISA KERUSAKAN SERAT KAPAS SECARA KUALITATIF

I.

MAKSUD DAN TUJUAN 1.1 Maksud Untuk menganalisa dan mengetahui jenis kerusakan serat kapas secara kualitatif.

1.2

Tujuan 1.2.1 Uji kerusakan kapas dengan penggelembungan oleh NaOH dan Congo Red (Kerusakan Selulosa I) Untuk mengindentifikasi kerusakan serat selulosa dengan cara membedakan kerusakan karena mekanika dan zat kimia, serta untuk mengetahui gambar penampang serat yang rusak. 1.2.2 Uji kerusakan kapas dengan uji Horizon, uji Perak Nitrat amoniakal, uji Fehling (Kerusakan Selulosa II) Untuk menunjukkan dan mengetahui adanya gugus pereduksi aldehid pada serat kapas yang rusak oleh zat kimia. 1.2.3 Uji kerusakan kapas dengan uji Metilen Biru, uji Biru trunbull, uji Khromat dan uji Pencelupan Tolak (Kerusakan Selulosa III) Untuk menunjukkan adanya gugus karboksilat pada serat kapas yang rusak oleh zat kimia.

II.

TEORI DASAR Analisa kerusakan serat memiliki tujuan untuk mengetahui jenis kerusakan yang terjadi dan penyebab kerusakan tersebut. Kerusakan bahan tekstil dapat terjadi pada setiap proses pengolahan bahan tekstil, dari bahan baku (serat) sampai menjadi bahan jadi (kain), sedangkan jenis kerusakan serat tergantung pada jenis pengolahannya. Kerusakan serat kapas dapat terjadi karena kerusakan mekanik karena pada waktu proses pertenunan, proses pemintalan ataupun proses lainnya yang berhubungan dengan teknik tekstil dapat menyebabkan kerusakan-kerusakan mekanik. Kerusakan yang lainnya dapat disebabkan oleh zat kimia seperti yang bisa terjadi pada waktu pretreatment, pencelupan dan penyempurnaan yang selalu menggunakan zat kimia yang cukup banyak dan hal ini sering menyebabkan kerusakan pada serat. Sebagai contoh pada proses penghilangan kanji, suasana larutan untuk menghilangkan kanji dapat dilakukan pada suasana asam maupun alkali, jika penggunaan asamnya berlebih maka

selulosa akan mengalami hidroselulosa (aldehid) dan hidroselulosa bila kontak dengan udara dapat menghasilkan gugus karboksilat. dan putus karena tarikan. tusukan. pada contoh uji perlu dilakukan pengamatan dengan bantuan sinar biasa. dan panas. Sedangkan untuk jenis kerusakan mekanika pada bahan tekstil dapat disebabkan karena serangan serangga. Sebelum dilakukan analisa. dimana gugus pereduksi ini akan teroksidasi menjadi gugus karboksilat dan kemudian terjadi oksiselulosa. Penggunaan alkali yang berlebih atau oksidator akan menghasilkan gugus pereduksi pada serat kapas.yaitu : Pada contoh uji harus terdapat semua jenis kerusakan yang akan di periksa. Berdasarkan identifikasi ini dapat dilakukan analisa kerusakan serat Kerusakan Mekanika 1. pengolahan kimia. Untuk menganalisa jenis kerusakan serat tersebut akan mengalami kesukaran terutama untuk memilih cara analisa yang tepat. Semua proses pengolahan yang dilakukan pada bahan harus juga diketahui yaitu untuk menentukan penyebab dari kerusakan yang terjadi. tergesek atau meleleh. Pada proses pemasakan. yaitu untuk mencari kemungkinan adanya serat yang terpotong. gesekan. dengan cara penerusan atau pemantulan sinar tersebut. larutan pemasakan biasanya dalam suasana alkali. Selain dari kerusakan-kerusakan yang telah disebutkan. yaitu untuk mengetahui jenis kerusakan dan pola kerusakannya. Kerusakan karena serangga ini dapat ditunjukkan dengan pengamatan secara visual pada pola-pola kerusakannya. cahaya. Jenis serat dari contoh uji harus diketahui. Pengamatan ini akan mudah dilakukan jika dibantu dengan cara pewarnaan. Hal ini kadang- . potongan. penyebab dari kerusakan kimia adalah serangan jasad renik. Kerusakan serat yang terjadi pada bahan tekstil mungkin lebih dari satu jenis. sebaiknya jenis serat tersebut diketahui dengan jalan identifikasi. Untuk pengamatan ini dapat juga digunakan sinar ultraviolet. Hal-hal yang perlu dilakukan sebelum menganalisa kerusakan serat. Serat-serat dari bagian yang rusak .diamati dengan mikroskop dengn perbesaran 400 kali. Serangan serangga dapat ditentukan dengan adanya bekas gigitan pada bagian serat yang rusak. Serangan serangga Kerusakan yang disebabkan karena serangan serangga biasanya terjadi pada serat yang berasal dari polimer alam baik selulosa maupun protein.

Kerusakan Kimia Kerusakan kimia dapat disebabkan oleh serangan jasad renik. Uji kerusakan yang dilakukan pada uji kerusakan karena zat kimia adalah uji kualitatif dengan menggunakan Congo Red.Pengamatan dengan mikroskop akan menunjukkan adanya serat yang terpotong atau hancur.kadang merupakan satu-satunya tanda kerusakan. 2. Gesekan Kerusakan karena gesekan biasanya terbatas pada serat dalam benang atau kain. cahaya. karena sisa-sisa bekas gigitan telah hilang ketika serat dibuat benang atau ketika benang dan kain mengalami pengolahan basah atau dibersihkan. . mengganggap tepi yang sobek itu disebabkan karena kerusakan kimia adalah keliru. Benang yang tergesek permukaannya lebih berbulu daripada yang biasa dan mengandung serat serat yang tampak terpotong.tersikat atau terkoyak-koyak apabila dilihat dengan mikroskop. Tepi kain yang sobek dapat disebabkan karena tegangan pada benang pakan yang berlebihan. 4. Putus karena tarikan dan potongan Serat yang putus karena tarikan biasanya ujungnya sobek atau tersobek.Banyak pabrik penyempurnaan tekstil yang memuat table mengenai rol-rol yang dilewati kain. panas dan pengerjaan zat kimia.Kerusakan dapat terjadi pada setiap tingkat pengolahan dari pemintalan sampai hasil akhir. Kerusakan jenis ini terjadi pada pergantian palet dan biasanya disertai dengan terjadinya tepi kain yang tidak rata. dengan cara mengukur fluiditas serat dalam pelarut yang sesuai. cacat ini disebabkan oleh suatu titik kasar pada rol logam atau sepotong logam kecil yang tertanam pada rol lunak . dan seringkali kerusakan tersebut tidak diketahui sebelum hasil akhir diperiksa. 3. Dalam beberapa hal. Cacad tersebut sering tidak tampak sebelum kain mendapat tarikan kearah lusi dalam pengolahan basah.. atau tercabik cabik tidak rata. Tusukan Sering terdapat adanya tusukan atau lubang kecil pada kain dalam suatu pola yang berulang. sedangkan serat yang terpotong biasanya ujungnya rata. Pengamatan pola kerusakan ini sangat berguna. sehingga sumber kerusakan tersebut dengan mudah dapat dicari. . Pada umumnya kerusakan serat karena kimia dapat dibedakan dari kerusakan mekanika.

Misalnya warna permukaan kain akan berbeda dari warna belakangnya. Kerusakan serat kapas yang disebabkan oleh zat kimia dapat dilakukan dengan cara pewarnaan dengan zat warna Congo Red (C. Supaya congo red dapat mewarnai serat maka serat digelembungkan. Panas Kerusakan serat kapas karena panas kadang-kadang dapat ditunjukan dengan uji congored. 6.I. 7. hal ini dapat membantu dalam penentuan kerusakan tersebut. Dasar pengujian ini adalah congo Red dapat mewarnai selulosa pada dinding sekundernya. bagian tepi mungkin terlindung dan sebagainya.Panas menyebakan wol berwarna kuning atau coklat sedangkan panas yang tinggi menyebabkan serat wol berbentuk blisterblister.serat yang disuramkan lebih mudah rusak di banding serat yang berkilau. Jasad renik tumuh dalam kelompok-kelompok dengan kenampakan tertentu menimbulkan noda-noda pada serat yang dapat dilihat denagn cahaya biasa atau ultraviolet. Serangan jasad renik. coklat. Kerusakan ini sangat susah dibedakan dari kerusakan kimia lainnya. Cahaya Kerusakan karena penyinaran disebabkan oleh terjadinya pemutusan ikatan primer. Serat buatan akan meleleh karena panas. Jasad renik akan tumbuh pada permukaan bahan tekstil apabila suhu. kelembaban. hitam. dan pada bagian yang meleleh sebagian akan terjadi perubahan bentuk. Serangan jasad renik digolongkan kedalam kerusakan kimia Karena jasad renik itu menggeluarkan enzim yang dapat menyebabkan kerusakan kimia. tetapi karena kerusakan oleh cahaya terjadi dalam pola tertentu. sehingga pada ujung serat terjadi bulatan seperti bola.. karena serat buatan pada umumnya lebih tahan zat kimia.Direct Red 28). membentuk gugus-gugus yang dapat ditunjukkan dengan pewarnaaan atau titrasi. pH sekelilingnya sesuai dan terdapat sumber makanan bagi jasad reniknya. Apabila dinding . Dalam cahaya biasa dapat dilihat noda pada serat selulosanya berwarna kuning. setelah itu conga red akan dapat mewarnai. Kerusakan oleh jasad renik ini biasanya terjadi pada serat serat alam. Kerusakan Kimia Kerusakan Karena pengerjaan dengan zat kimia lebih banyak terjadi pada serat alam atau serat dengan dasar polimer alam.5. yang menimbulkan penodaan pada dinding primernya yang berbentuk spiral .

Serat selulosa dapat rusak karena asam maupun zat oksidator. celah atau adanya bagian-bagian serat berwarna merah.serat kapas yang tidak rusak. Uji trunbull ini memberikan hasil yang terbaik untuk perbedaan kadar karboksil. termasuk cara untuk menunjukan adanya gugus pereduksi. 2. gugus karboksil dan untuk membedakan antara hidroselulosa dan oksiselulosa.luarnya serat rusak sedikit maka dinding sekunder yang menggelembung akan menonjol keluar menjadi bentuk dumbel. Penodaan Congo Red Cara ini dimaksudkan untuk membedakan antara kerusakan kimia dan kerusakan mekanika pada serat kapas. Jenis Identifikasi 1. dinding sekundernya akan mengelembung dan menonjol keluar dari ujung potongan serat dan membentuk kepala jamur atau dumbel. Pada kapas yang rusak karena meknika akan terlihat adanya serat serat yang sobek atau putus. uji horizon dapat menunjukkan gugus pereduksi sampai dalam jumlah terkecil pada contoh yang rusak. Untuk membedakan antara oksiselulosa dan hidroselulosa. Apabila dinding primer telah . Gugus pereduksi bisa ditunjukan dengan beberapa cara. Pengujian untuk gugus pereduksi antara lain dengan menggunakan larutan fehling. Penggelembungan dengan NaOH Cara ini dimaksudkan untuk membedakan kerusakan serat kapas karena kimia dari kerusakan mekanika . Kerusakan karena asam menimbulkan hidroselulosa yang mempunyai gugus pereduksi. Kerusakan kimia akan melemahkan dinding sedemikian rupa sehingga tidak dapat menahan tekanan yang ditimbulkan oleh dinding sekunder yang menggelembung. sehingga seluruh bagian serat menggelembung. Untuk pengujian gugus karboksil antara lain digunakan uji trunbull dan pencelupan tolak (resist Dyeing ). Tetapi karena oksiselulosa mempunyai gugus karboksil dan gugus pereduksi sehingga agak sukar untuk menentukan apakah serat selulosa rusak oleh asam atau zat oksidator. perak nitrat amoniakal dan uji horizon. Dari pengujian-pengujian tersebut. Sedangkan pada kapas yang rusak karena kimia akan terlihat adanya retakan memanjang. Proses oksidasi baik didalam suasana asam maupun suasana basa menimbulkan oksiselulosa yang mempunyai gugus pereduksi dan juga gugus karboksil . Cara pengujian untuk menunjukkan kerusakan kimia pada serat kapas. uji muller memberikan hasil yang memuaskan . Untuk membedakan kedua kerusakan tersebut telah disusun beberapa cara pengujian.

Dalam cara ini digunakan dua pelarut yaitu larutan A yang dibuat dengan melarutkan perak nitrat dan larutan B yang dibuat dengan melarutkan natrium tiosulfat dan natrium hidroksida dengan perbandingan yang sama dalam air. sehingga seluruih serat menggelembung. 3. Uji perak nitrat amoniakal Larutan perak amoniakal adalah berbahaya dan dapat meledak. Pada serat yang tidak rusak maka warna kuning yang terjadi akan hilang.rusak karena zat kimia. maka dinding primernya lemah dan tidak tahan terhadap tekanan yang timbul oleh dinding sekunder yang menggelembung. Cara ini digunakan untuk identifikasi oksiselulosa oleh asam atau hidroselulosa karena adanya gugus aldehida. sedangkan pada bagian serat . Besar kecilnya kepala jamur pada ujung potongan serat menentukan derajat kerusakan kimia dari serat. Bagian yang rusak akan ternodai dengan warna abu-abu tua sampai hitam AgNO3 + Na2S2O3 AgNO3 + Na2S2O3 NaOH Na3[Ag(S2O3)2] Ag2S2O3 + NaNO3 Ag2S Ag2S2O3 NaOH H2SO4 Na3[Ag(S2O3)] garam kompleks yang larut Na2S2O3 Ag+ + Hn O Ag + R-C H OH+ Ag + H+ O R-C + Ag+ H 4. Larutan tersebut dibuat dengan menambahkan ammonia dengan hati-hati kedalam larutan yang dibuat dari perak nitrat 10 gram didalam 100 ml air suling. maka perlu hati-hati dalam menggunakannya. Uji Horizon Cara ini dimaksudkan untuk menunjukkan adanya gugus pereduksi pada serat selulosa yang rusak karena zat kimia. Prinsipnya adalah gugus aldehida akan mereduksi ion perak menjadi perak yang mengendap dan menodai kapas rusak dengan noda abuabu sampai hitam.

Pengamatan adanya endapan tersebut akan lebih jelas apabila dilihat dengan mikroskop. Larutan fehling terdiri dari dua larutan yaitu larutan A. pada suhu didih selama 5 menit. dan dicuci dengan air pada suhu 700C. Akhirnya dicuci dengan air pada suhu 700C. 5.63 g CUSO 4 kristal dalm 500 ml air. Direct Blue 1) 5 g/l air. Kemudian contoh uji dicuci dengan air pada suhu 70oC.yang rusak akan tampak adanya warna kuning atau coklat dan tergantung pada derajat kerusakan seratnya. Uji Biru Trunbull Cara ini dimaksudkan untuk menunjukkan gugus karboksil. pada serat selulosa yang rusak karena zat kimia. yang 70 g NaOH + 173 g KNaC4H4O6.I. Reaksi yang terjadi adalah : CuSO4 + 2 NaOH C4H4O 6 Cu (OH) 4 + Na2SO4 lar biru Cu (OH)2 2CuO CuO + H2O Cu2O + H2O . Larutan fehling B. Contoh uji direndam dengan menggunakan larutan yang didalamnya mengandung ferrosulfat 10 gram perliter air pada suhu kamar. 7. Warna biru tua menunjukkan adanya gugus karboksil pada serat. Contoh uji direndam dalam larutan yang mengandung zat warna Chlorazol Sky Blue FF (C. Uji Fehling Cara ini dimaksudkan untuk menunjukkan adanya gugus pereduksi pada serat selulosa yang rusak karena zat kimia. 6.4H2O dalam 500 ml air Adanya endapan kuprooksida yang berwarna pink atau merah menunjukkan adanya gugus pereduksi. Kemudian contoh uji direndam didalam larutan yang mengandung kalium ferisianida 10 gram per liter air pada suhu kamar selama 5 menit. Uji pencelupan tolak Cara ini dimaksudkan untuk menunjukkan gugus karboksil pada serat selulosa yang rusak karena zat kimia. yang dibuat dengan melarutkan 34.

9%.III.1 Pengujian Penggelembungan dengan NaOH Pereaksi : Larutan NaOH 2%. 18%. PERCOBAAN 3.5 mm Letakkan diatas kaca objek. 11%. tetesi dengan NaOH sebagai medium.2 Biarkan beberapa menit Amati dibawah mikroskop Gambarkan pada jurnal Pengujian Pewarnaan dengan Congo Red Pereaksi : Larutan zat warna Congo Red 1% Alat : Mikroskop Kaca objek dan kaca penutup Kertas hisap Cara Kerja : Rendam contoh uji dengan NaOH 2% selama 5 menit Cuci sampai bebas NaOH (uji dengan lakmus) Keringkan dengan kertas penghisap Rendam dalam larutan Congo Red selama 5 menit Cuci bersih dengan air Rendam didalam NaOH 18% selama 3-5 menit Amati dibawah mikroskop Gambarkan pada jurnal . Alat : Mikroskop Kaca objek dan kaca penutup Kertas hisap Cara Kerja : Potong serat kapas pendek-pendek kira-kira 0. tutup dengan kaca penutup 3.

Cuci didalam larutan B (1 mL dalam 10 mL) Cuci dengan air panas suhu 700C.3 Uji Horizon Pereaksi : Alat : Tabung reaksi Pembakar Bunsen Pelarut A : Pelarut B : AgNO3 80 g/L Na tio sulfat 200 g/L dan NaOH 200 g/L Cara Kerja : Didihkan contoh uji didalam campuran 1 mL larutan A ditambah 20 mL air dengan 2 mL larutan B dalam 20 mL air selama 5 menit. Cuci dengan air dingin Cuci dengan larutan ammonia 10% Serat rusak akan berwarna kuning atau coklat. 3. Adanya endapan abu-abu hitam menunjukkan adanya gugus aldehida (kerusakan karena zat kimia).4 Uji Perak Nitrat Amoniakal Pereaksi : AgNO3 Amoniakal NH4OH 10% Alat : Tabung reaksi Pembakar Bunsen Cara Kerja : Contoh uji dikerjakan dalam larutan Ag NO3 amoniakal pada suhu 800C selama 3-5 menit.3. . Serat yang baik warna akan hilang setelah pencucian.

6 Uji Biru Turnbull Pereaksi : Ferro Sulfat 10 gt/L Kalium Ferisianida 10 g/L Alat : Tabung Reaksi Pembakar Bunsen Cara Kerja : Contoh Uji direndam dalam larutan ferosulfat selama 5 menit pada suhu kamar. Cuci dengan air pada suhu 70oC. Cuci dengan air panas 700C selama 10 menit. 3. Cuci pada suhu 70oC.3. menunjukkan adanya gugus pereduksi. Bagi menurut kebutuhan dan masukkan contoh uji kedalamnya didihkan selama 5 menit. Pindahkan contoh uji dalam larutan kalium ferisianida kemudian rendam dalam larutan tersebut selama 5 menit pada suhu kamar. Alat : Tabung reaksi Pembakar Bunsen Cara Kerja : Campurkan 5 mL Fehling A dan 5 mL Fehling B encerkan dengan 10 mL Air suling. .5 Uji Fehling Pereaksi : Fehling A : 60 g/ L CuSO4 Fehling B : 346 g Kalium Natrium Tartrat dan 100 g NaOH dalam 1 L air. Adanya endapan kupro oksida yang berwarna merah muda-merah. Keringkan.

warna biru tua menunjukkan adanya gugus karboksil pada bahan 3. Amati warna yang terjadi.7 Uji Khromat Pereaksi : Natrium Khromat 10 g/L Pb Asetat 10 g/L Alat : Tabung Reaksi Pembakar Bunsen Cara Kerja: Contoh uji direndam dalam larutan Pb Asetat selama 5 menit pada suhu kamar.8 Uji Metilen Blue Pereaksi: Larutan Metilen Blue 10 g/L yang diasamkan dengan H2SO4 2 N (10ml/L) Alat : Tabung Reaksi Pembakar Bunsen Cara Kerja : Contoh Uji direndam dalam larutan pereaksi Metilen Blue selama 5-10 menit pada suhu kamar. Cuci dengan air mengalir. Keringkan dan amati warna yang terjadi. warna kuning tua menunjukkan adanya gugus karboksilat. 3.- Amati warna yang terjadi. Bilas dengan air dingin Pindahkan contoh uji dalam larutan Na Khromat kemudian rendam dalam larutan tersebut selama 5 menit pada suhu kamar. . adanya pereduksi menyebabkan Pb Asetat terserap sedikit sehingga warnanya cream. warna biru tua menunjukkan adanya gugus karboksil.

I Direct Blue 1) Alat : Tabung reaksi Pembakar bunsen Cara kerja Contoh uji direndam dalam larutan Chlorazol Sky Blue FF pada suhu mendidih selama 5 menit.1. Hal ini dapat terjadi karena serat telah rusak.1. Pengujian Pewarnaan dengan Congo Red Pada pengujian pewarnaan dengan congo red ini. Amati warna yang terjadi. dumble yang seharusnya terlihat pada kapas baik. 5. Cuci dengan air panas pada suhu 70oC. . keringnya NaOH pada kaca objek dan kaca penutup sedikit menyulitkan dalam mencari bagian serat yang rusak. 5. Adanya gugus karbonil ditunjukkan dengan adanya titik warna muda didaerah yang rusak. Hal tersebut dikarenakan terlalu lama serat dibiarkan. kesalahan yang mungkin terjadi pada kapas baik. Selain itu. Hal ini memungkinkan kerusakan pada kapas baik sebagian telah rusak.2. ternyata setelah diuji mikroskop tidak terlihat adanya dumble. V. DATA PERCOBAAN Data percobaan terlampir.1. Tapi hasil yang didapat tidak seperti itu.9 Uji pencelupan tolak Pereaksi: Larutan Chlorazol Sky Blue FF 5 g/l (C.1. DISKUSI Kerusakan Selulosa I 5. dimana kapas baik warna yang dihasilkan lebih pudar. sehingga NaOH pada kaca objek mongering. Pengujian Pengelembungan dengan NaOH Pada pengujian ini.3. IV.

2. KESIMPULAN (terlampir pada data percobaan) . Kerusakan Selulosa III Kerusakan serat oleh KMnO4 pada pengujian dengan Na kromat terdapat noda coklat. tidak nampak sama sekali endapan warna pink atau merah.3. Hal ini dikarenakan serat sebelum pengujian telah mengalami kerusakan berat sehingga sebelum dilakukan pengujianpun sudah terdapat noda. Dan setelah dilakukan pengujian. namun dari hasil yang didapat.5. uji fehling adanya gugus pereduksi dinyatakan dengan adanya endapan berwarna pink atau merah. VI. noda tersebut tidak hilang. Kerusakan Selulosa II Pada literature. namun kemungkinan besar dikarenakan oleh terkontaminasinya larutan fehling baik A maupun B karena rentang waktu yang terlalu lama. 5. Hal tersebut tidak menandakan semua serat tidak mengalami kerusakan.

2.Teks. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil : Bandung. evaluasi tekstil bagian kimia. Arifin. S.1975. Institut Teknologi Tekstil Bandung. Dkk. Rahayu. . Praktikum Evaluasi Kimia 1. Teknologi Persiapan Penyempurnaan. Widayat.DAFTAR PUSTAKA 1. 3. 2005. 1994. Lubis. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil : Bandung. Dkk. dkk. Haryanti.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->