KEPERCAYAAN ASLI DAN MASUKNYA AGAMA DI DAERAH NIAS ( 4

)
A. Kepercayaan Asli Orang Nias. Terjadi komplikasi dalam pengertian orang-orang di Nias Selatan mengenai keaslian agama kuno mereka sebagaimana telah disinggung di atas mereka dengan sederhana dewasa ini mengatakan bahwa Lowalani adalah pencipta atau pemerintah yang mempunyai hubunganerat dengan dunia atas, sedangkan Lature Dano adalah pembela, penjaga, dan pemerintah Dunia bawah. Di antara dewa atas dan dewa bawah, ada lagi dewi yang disebut Nazariya Mbanua, istilah orang Nias Selatan untuk menyebut dewi Silewe Nazarata. Silewe Nazarata(istilah Nias Utara yang dipakai sekarang adalah dewi penghubung di antara Lowalani (dewa dunia atas) dan Lature Danö (dewa dunia bawah) dan juga sebagai dewi penghubung di antara kaum dewa dan ummat manusia. Maka boleh dikatakan bahwa agama kuno Nias termasuk agama Polythesis (Bamböwö Laiya, 1979 : 25). Selain itu bermacam ciptaan dan makhluk yang dipersonifikasikan lalu disembah oleh orang Nias. Benda ciptaan dan makhluk ini meliputi matahari, bulan, pohon-pohon besar, buaya, cecak dan lain-lain. Oleh sebab itu, agama orang Nias itu bukan hanya polytesis tetapi juga animistis. Pelbegu, adalah nama agama asli yang diberikan oleh pendatang yang berarti "penyembah ruh". Nama yang dipergunakan oleh penganutnya sendiri adalah molohe adu (penyembah patung). Sifat agama ini adalah berkisar pada penyembahan roh leluhur. Untuk keperluan itu mereka membuatn patung-patung dari kayu yang mereka sebut "adu". Patung yang ditempati oleh ruh leluhur disebut adu zatua dan harus dirawat dengan baik (Koentjaraningrat, Ed. 1976 : 50).

Adu Zatua dan Adu Nuwu dari Kayu

Adanya tambahan jumlah patung nenek moyang disebabkan karena setiap orang kuat di desa, orang yang amat berbakat, pemburu yang hebat dan para kesatria juga dipahat patung-patung mereka dalam bentuk kayu. Oleh sebab itu ada kira-kira 150 jenis patung yang dikenal, diukir dan disembah oleh seseorang sepanjang hidupnya di Nias. Patung yang paling penting dan paling dihormati di jejeran patung-patung itu adalah "patung nenek moyang di pihak laki-laki (adu zatua)" dan "patung nenek moyang di pihak perempuan (adu Nuwu)". Pada umumnya, setiap keluarga memahat patung nenek moyang mereka masingmasing (adu Nuwu dan adu Zatua). Setiap desa juga memahat patung kesatria mereka (adu Zato). Orang harus menyembah kedua jenis patung ini demi hubungannya dengan keluarga dan masyarakat desanya. Adu Zato itu adalah patung para pendiri desa, patriot, berbakat, pemburu yang hebat dan sebagainya. Pasangan adu Zato dan adu Nuwu atau adu Zatua tak boleh disembah secara terpisah.

Jika mati atau meninggal. botonya kembali menjadi debu. yaitu yang kasar dan yang halus. Menurut kepercayaan pelbegu. Perbedaan dunia sana dengan dunia sini yaitu terletak pada keadaan "terbalik" yaitu jika di sini siang maka di sana malam. Orang yang kaya atau berkedudukan tinggi maka akan begitu pula keadaannya di "teteholi ana'a. sedangkan nosonya kembali kepada lowalangi (Tuhan). Ia haruslebih dahulu menyeberangi suatu jembatan yang di sana dijaga ketat oleh seorang dewa penjaga bersama mao-nya didorong masuk ke dalam neraka yang berada di bawah jembatan. Selama belum dilakukan upacara kematian. Menurut kepercayaan penganut pelbegu ini. demikian juga kalimat dalam bahasa di sana serba terbalik (Koentjaraningrat. untuk pergi ke teteholi ana'a (dunia ruh atau gaib). 1979 :28). 1976 : 50-51). Yang kasar disebut boto (jasad) dan yang halus terdiri dari dua macam yaitu noso (nafas) dan lumo-lumo (bayang-bayang).Adu Zatua dan Adu Nuwu dari Batu Oleh karena setiap keluarga memahat patung nenek moyangnya masing-masing dan mereka menganggap patung-patung itu sebagai illah mereka. maka upacara dan sikap keagamaan para keluarga di desa selalu bervariasi satu sama lain. kehidupan sesudah mati adalah kelanjutan dari kehidupan sese orang di dunia. Berbagai Macam Patung di Daerah Nias Sedangkan lumo-lumonya berubah menjadibekhu (makhluk halus). Karena menurut kepercayaan. Sebaliknya demikian juga bagi mereka yang miskin. bekhu akan tetap berada di sekitar tempat pemakamannya. Setiap orang berkata "Tuhanku adalah nenek moyangku" yang berarti dia dan Tuhannya lain dari pada orang dan illah keluarga lain (Bamböwö Laia. tiap orang mempunyai dua macam tubuh. .

menyesuaikan dengan perkembangan kebutuhan masyarakatnya (lihat sifat elastisitas hukum adat menurut teori Prof. kelahiran. dll.Al Baqarah ayat 173). Dangkal serta awamnya pola pikir seperti ini. Termasuk diantaranya pantangan konsumsi bagi para saudara atau tamunya juga diantisipasi. Sistem bisa berubah. Berbeda halnya dengan adat. Di mana-mana pertemuan. asal katanya kata dari rahim dalam arti kandungan. hanya karena masalah babi. Karena itu alangkah naif sekali bila dalam acara adat. bersaudara (fatali fusö) kata sifatnya “persaudaraan” atau "fatalifusöta". 1) Oleh sebab itu. dinikmati oleh penggemarnya hanyalah sesaat dan sebatas kerongkongan (tötölö atau dötölö) serta tidak sampai ke perut (tidak dinikmati oleh perut). jijik dan haram memakan daging babi dalam mempertahankan adat istiadat Ono Niha (lihat Dr Marinus Telaumbanua (editor). tinggi hati. Itulah maka "babi" merupa kan unsur penting dalam kebudayaan Nias (Bambowow Laiya. ada diantara sesama anggota yang saling memojokan dan atau dipojokan dalam lingkungan persekutuan. Bila dewa berselera memakan daging "babi" (dalam hal ini. ialah kebudayaan Megalithik yang bukan berdasarkan pengurbanan kerbau melainkan babi. Logikanya. orang Nias mempercayai bahwa manusia itu hanyalah sebagai ciptaan biasa dari dewa-dewa. masalah babi dalam setiap acara adat bukanlah suatu hal yang prinsipil apalagi bila "didewakan" atau dikaitkan dengan "dewa". prilaku dan wataknya adalah sombong. Sillaturrahim. dengan mengikuti ajaran agamanya yang baru (Al Quran) yang menyatakan bahwa “sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai. substansi adat yaitu menjalin silaturrahim antara sesama anggota persekutuan adat agar mereka hidup dalam keserasian untuk waktu yang lama (turun temurun) dengan seperangkat aturan (adat) yang mereka sepakati bersama. apalagi dengan hajatan (perkawinan. apabila hal itu terjadi maka bagi saudaranya yang berpantang itu.Van Dijk dan Prof.Patung dari Batu diletakan di depan Rumah Dikemukakan oleh Koentjaraningrat (1980 : 40). sebagian dari ciptaan lainnya. tidak proposional apabila ada yang menulis bahwa Ono Niha pribumi yang berdomisili di kota dan telah masuk agama Islam itu. yang rupa-rupanya telah mereka bawa dari benua Asia pada zaman perunggu. pertalian darah atau sedarah. selalu . sekandung. Dr. babi bukan lagi dewa tetapi hanyalah sejenis hewan (sigelo). Ikht 1996 : 86) . kematian. Sesuai dengan teori reception in complexu yaitu hukum pribumi ikut agamanya. Manusia itu adalah "babi dewa-dewa (illah)". darah. harus juga mengikuti hukum-hukum agama itu dengan setia (Soerjono Soekanto. baik karena kesehatan maupun karena halangan agama. Di daerah lain. namun bagi mereka yang sudah memeluk agama (Islam) kebiasaan dengan kepercayaan ini mereka tinggalkan. tetapi biasanya tuan rumah selalu berupaya menyediakan makanan yang terbaik dan menyenangkan bagi para saudaranya atau tamunya. mereka telah mengembangkan suatu kebudayaan sendiri. Kendatipun tidak ada patokan bahwa makanan yang disajikan harus jenis tertentu. "babi" adalah manusia) maka secara bebas dewa mengambil dan membunuh satu atau lebih "babi"nya.. Dr. 1986 : 83). Pada masyarakat yang pola pikirnya sudah maju. Keberadaan babi dalam upacara lebih merupakan sistem dan bukan substansi. berlandaskan kepada suatu kebudayaan Megalithik. dan binatang yang ketika disemblih disebut nama selain Allah (S. Ter Haar Bezn). Budaya megelitik dengan kepercayaan inilah maka babi tidak bisa dipisahkan dalam acara adat masyatakat Nias. dsb). Konotasi maksud pengertiannya yaitu pertalian pusat (tali fuso). Tapanuli. sajian makanan merupakan kebiasaan yang tak dapat dihindari oleh yang punya hajat. 1979 :25). Menurut keterangan Bamböwö Laia. karena jika memeluk suatu agama. Kendatipun babi tidak dapat dipisahkan dalam setiap acara adat masyarakat Nias. seperti di Tanah Karo. selain tendensius juga kontra produktif dalam upaya melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat Nias (santun dan bermartabat) sebagaimana diwariskan oleh para leluhur. daging babi.

dalam perjalanannya pernah singgah di pulau Nias yang dinamakannya dengan pulau “nian” (Fries. masih merajalelanya keganasan para orang bengis (niha sagamu’i) di Nias bagian tengah.?). terminologi ini yang disebut “hablul minaullah dam hablul minannas”. tergantung dari kemampuan tuan rumah. lebih disebabkan secara kebetulan : berdagang. berkembangnya agama Islam yaitu dengan masuknya penganut agama Islam seperti di daerah Nias. mereka tinggal menetap dan mengembangkan agama Islam di daerah itu. 1. kemudian disusul orang Arab. maupun yang mentahnya. Begitu pula halnya yang melakukan perjalanan ke tempat lain tetapi singgah di Nias beberapa lama. masuknya agama Islam tetapi belum berkembang. baik yang siap saji seperti nasi kotak. Demikian halnya. Atau wilayah itu pernah termasuk dalam kekuasaan pemerintahan dari daerah lain. seperti pemberian ayam.disediakan makanan alternatif pengganti. Mereka datang dengan rencana dan profesional. 1976 : 12-13). Jadi hubungan manusia itu ada yang vertikal (dengan Tuhannya) dan ada yang horizontal (dengam sesama manusia dan makhluk hidup lainnya. Mereka memulainya dengan langsung mendatangi para penduduk terutama di daerah Nias bagian tengah sebagaimana halnya di tanah Batak. Masuk dan Berkembangnya Agama di Daerah Nias. Allah (Tuhan) mengatur bagaimana hubungan manusia dengan sesamanya serta dengan makhluk hidup lainnya. adalah merupakan rangkaian proses perjalanan sejarah yang panjang dan tidak dapat dipisahkan dengan kedatangan suku bangsa Indonesia lainnya terutama dari daratan Sumatera. Seperti orang Aceh (1639 M .Masuk dan berkembangnya agama Islam di daerah Nias yang dibawa oleh para pendatang. Karena agama adalah urusan penghambaan manusia secara pribadi dengan Allah (Tuhannya). dan orang Minang (1111 H dikirakan tahun 1691 M). Merasa hidupnya di pesisir terlindungi dan lebih baik. Demikian juga pada saat mereka tinggal di daerah Nias (pesisir). sebab adakalanya pemeluk agama Islam merantau ke Nias namun belum sadar bahwa ia harus membawa wasiat Nabi Besar Muhammad saw untuk menyampaikan risalah walau satu ayat. Dalam ajaran agama Islam. ajaran atau ketentuan agama tidak bisa diintervensi oleh hukum manusia termasuk hukum adat. Kedua. dan India (lebih lanjut lihat uraian kedatangan pendatang di daerah Nias). ada dua bentuk. Begitu pula halnya pada tahun 1605 – 1636 pulau Nias dan lain-lain pernah menjadi kekuasaan Aceh dibawah pemerintahan Iskandar Muda Mahkota Alam (Schrieke B. dan tinggal . B. Pertama. kemudian mereka pergi lagi. penduduk lari dan mencari perlindungan di Pesisir. Masuknya agama Islam dengan versi pertama. Mereka datang dari Sumatera bukan dengan tujuan mengembangkan agama. Seperti berniaga. Masuknya dan berkembangnya Agama Islam Masuk dan berkembangnya agama di daerah Nias. lebih disebabkan oleh keadaan alamiah. kerbau lembu atau lembu. atau singgah kemudian lebih memilih tinggal di daerah Nias. dalam kaitan hubungan manusia dengan Allah (Tuhan) itu juga melalui ajaran agama. seperti yang dilakukan oleh orang Persia pada tahun 856 M dengan pemukanya yang bernama Sulaiman. Masuk dan berkembangnya agama Islam di daerah Nias tidak sama sebagaimana masuk dan berkembangnya agama Katholik dan Keristen Protestan yang dibawa oleh misionaris dari Eropa. 1957 : 244) Masuknya agama di daerah Nias dengan versi kedua. setelah selesai dengan urusannya ia pulang ke negerinya. Bugis. daging kambing. mereka tertarik masuk agama Islam. Demikian halnya dengan agama. Karena itu hukum yang dibuat oleh manusia termasuk adat tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai agama. Hal inipula yang sering dipraktekan/dibiasakan oleh keturunan si Tölu Tua di Gunungsitoli Nias (lebih lanjut lihat uraian ttg Ndrawa Sowanua di Daerah Nias).Kemudian. 1919 : 53 dan Suady Husin.

cerdik dan pintar berlaku syarat minimal untuk tinggal bersama dalam kompleks pemukiman. dengan memberikan . selain karena di Pesisir hidupnya terlindungi juga prinsip dasar agama (Islam) yang dianut oleh penduduk di pesisir yaitu rahmat dan kasih sayang kepada sesama manusia. ba ato si’ai zanawa Rapatgebied me loeo andrö ba fateŵoe ba da’ö. Marinus Telaumbanuan.. ba Siwamoehöngö ba Lahömi. 1939: 124). “ Ba börö da’ö fefoe. tetapi mereka tidak suka menjalani jalan kebaikan yang susah payah. Tetapi bagi yang kuat. Dengan bebagai akal licik dan tipudaya mereka menjadikan orang-orang lemah itu menjadi “haranaka”. sungguh-sungguh menjadi mangsa orang Melayu dan bahkan oknum pribumi yang terdahulu.bahwa “ … Sesuai dengan tutur ceritra masyarakat sekarang penduduk pribumi yang lemah yang baru datang di pemukiman perkotaan Gunungsitoli dan sekitarnya itu. “Serulah (ajaklah manusia) ke jalan tuhanmu dengan penuh hikmah bijakasana dan dengan cara yang sangat mendidik penuh santun dan bantalah (debatlah) mereka dengan cara yang baik pula. Fries (1919 : 87) yang menerangkan. sesalan Allah kepada manusia karena Allah telah menunjukkan kepada mereka dua jalan (jalan kebaikan dan kejahatan). 1919 : 132) Pada bagian lain juga ditulis oleh Faogöli Harefa. Di antara pekerjaan yang susah payah. ba ira Sitambaho Balöhaloe ba daloedanö. lafahösi ŵanoeŵö ba lafailo ba danö nemali. (=budak jualan) menjual mereka kepada calo-calo pedagang budak. Yang dijualnya itu bukan familinya melainkan budak-budak juga (Faogöli Harefa. oi zara la’o’o manö nichoi dödöra. simanö Lasara (1897)… “(E.Fries. Tempat yang banyak kejadian penjualan hamba-hamba itu ialah sebelah Teluk dalam (Zuid Nias). bahwa “ …. merupakan daya tarik untuk mempelajari dan menggabungkan diri menjadi penganut agama Islam. he ba ŵanoeŵö banua zo ŵanoea. Dalam ajaran Islam diatur bahwa memerdekakan hamba sahaya (budak atau sawuyu) dianjurkan oleh agama Islam. 1996 : 86 ) yang menyatakan . Balöhaloe wanoewö banoea ba zihene asi göi. 1939 : 121). ŵe’a tedooe manö ŵa’amoei zalawa ba daloe danö. dan Balöhalu yang selau mengacau penduduk pulau Nias.berhubung karena Gouvernement tiada mementingkan benar memerintahkan pulau Nias itu timbulah amat banyak peperangan antara kampungkampung di sana masing-masing menurut kemauannya. Karena itu sabda Rasulullah saw : " Barang siapa memerdekakan hamba sahaya. Keprihatinan ini dapat dibaca dalam tulisan E. melepaskan Allah akan tiap-tiap anggotanya dari api neraka. Penduduk datang dan tinggal di Pesisir. Yang sebagai kepala akan membuat perbuatan yang tak baik itu ialah Siwamuhola. Demikian juga sering terjadinya peperangan. Oleh itu. Demikian juga ketika itu amat banyak orang mengayau (keppensnellerij) dan merampok. Orang-orang yang takut kepada orang-orang yang berbuat sewenang-wenang itu di tengah-tengah pulau Nias melarikan dirinya dalam lingkungan Rapatgebied. dalam Al Qur’an surat Al Balad ayat 13 : Pangkal ayat. (Faogöli Harefa. seperti ditulis oleh Faogöli Harefa “. Itulah orang Nias yang memeluk agama Islam yang bercampur-gaul dengan orang Melayu. sebilangan anggota hamba yang di merdekakannya" (Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Buchari). dijualnya ketanah Sumatera. tobali ihötöi ada’oeda’oe manö niha. ba ja’ija ndra Siwahoemola Fadoli ba Ziwalawa sitoe. lebih dahulu dari itu telah datang ke sana bangsa Aceh dari Trumun mencuri atau membeli orang Nias dari Raja-raja atau orang yang gagah berani disana akan dijadikan budak. Karena penjualan hamba-hamba itu banyak orang Nias itu terdapat di Padang. ba he ba ŵangai högö / keppensnellerij/ ba he ba wamaŵa “binoe aoeri” ba hadia ia na fefoe Fondrege zondrönia’o sato ba ŵolaoe si lö söchi. tetapi baik ialah "memerdekakan budak dari perbudakan". dan tidaklah realistis tulisan (lihat Dr. sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang paling mengetahui orang-orang yang mendapatkan petunjuk (Qur’an surat Annahal 125)”.serta hidup bersama dengan mayarkat Islam lainnya.

secara beransur-ansur dari Koto mereka bertebar di wilayah kawasan Nias lainnya terutama di bagian pesisr (pantai atau sihene asi).masing. dan pendeta E Fries (1919 : 132). Setelah pembagian wilayah. masing-masing menyusun pemerintahan sendiri. kalau tidak. Hal ini selain menyalahi etika penulisan yang dikatakan sebagai karya ilmiah juga dalam ajaran agama manapun perbuatan fitnah itu dikategorikan sebagai dosa. Sekalipung pada waktu itu telah didirikan Musalah atau namun tidak diperkenankan mengerjakan Shalat Jum’at. Teuku Pemaaf hingga masa Teuku Sulaiman di Mudik. diikuti dengan dilengkapinya sarana keagamaan seperti : mesjid. selain tidak etis juga praktek permutarbalikan fakta seakan-akan dikutip dari buku yang ditulis Faogoli Harefa (1939 : 12). Datuk Raja Malimpah *) hingga masa Datuk Maharaja Lelo di Ilir dan Teuku Polen. Setelah masuk dan berkembangnya agama Islam di daerah Nias. namun daru beberapa catatan dan wawancara yang dapat dihimpun penulis.seekor ayam jantan beserta dua liter (sedumba) beras. dan Bilal). mereka menetapkan siapa yang menjadi kepala pemerintahan dengan memberi sebutan seperti atau Raja. Chatib. Shalat Jumat dan shalat Id tetap dilaksanakan di Mesjid Persatuan di Koto. Dengan pertimbangan karena lokasi itu adalah pertengahan apabila kaum muslimin yang datang dari kampung melakukan shalat Jumat dan shalat hari Raya. mereka tidak diperkenankan tinggal di pemukiman mereka”. Olora dst. pada hal tidak ada dijumpai dalam buku yang dikutip adalah perbuatan fitnah. Mandasa atau Muslallah. Dalam beberapa lama kemudian. mereka mendirikan Surau. Moawo. surau. Mesjid ini telah dipergunakan dari masa Datuk Raja Ahmad. madrasah atau sekolah dan yang tak kurang pentingnya adalah terbentuknya organisasi dan pertai yang berazaskan keagamaan.(perbatasan Ilir dan Mudik) Pada masa Datuk Maharajalelo di Ilir. Miga. sebelah ke udik Mesjid dinamakan MUDIK dan sebelah hilir Mesjid dinamakan ILIR. musollah. menentukan para penghulu dengan tanggungjawab masing. Teuku Pemegang. di antaranya dapat dikemukakan sebagai berikut : Mesjid yang pertama kali didirikan yaitu Mesjid di KOTO (= kota) pada tahun 1115 Hijrah Setelah Mesjid didirikan selanjutnya dilakukan pula pembagian wilayah. Menyesuaikan kehidupan mereka di tempat yang baru dan dengan jumlah keluarga jemaah Islam yang bertambah. dan shalat Idula Fitri/Adha. Inilah asal usul nama desa Mudik dan Kelurahan Ilir Gunungsitoli sekarang. Sewaktu pemerintahan . Ia mulai bermaksud memindahkan Mesjid Jami’ dari koto (Mesjid Persatuan) ke tempat yang baru di Duria Sarawa-rawa. Juga disyaratkan bagi orang seperti itu agar di haruskan masuk agama Islam. Boyo. Saombo. Seperti di kampuung Pasar. hulubalang (bohalima) sebagai penjaga kemanan dan yang tak kurang pentingnya adalah pegawai syara’ (= Imam. Landatar. karena jemaahnya belum mencukup 40 (empat puluh orang) yang bermukim di tempat yang baru. sejalan dengan bertambahnya jumlah keluarga. Pernyataan serendah ini. Kendatipun keterangan tertulis yang diperoleh tentang hal ini sangat minim. Tohia.

maka akhirnya diperoleh suatu keputusan yang dinyatakan dalam Surat perdamaian. Mesjid Agung dirobohkan maka kegiatan sholat sehari-hari. Rencana pemindahan Mesjid tetap diteruskan. Kemudian setelah kejadian gempa bumi (2005). karena para jemaah sudah mulai banyak dan tidak dapat tertampung dalam satu Mesjid. . maka di Mandasa yang ada di Mudik (Mesjid Mudik lama sekarang) mulai di adakan Shalat Jum’at dan shalat Hari Raya. kecuali dikemudian hari bertambah penduduk yang tidak bisa memungkinkan untuk satu Mesjid maka bisa dibenarkan dua Mesjid.Teuku Sulaiman di Mudik. walaupun belakangan ini (1992). Di saat itulah perselisihan antara Ilir dan Mudik makin meruncing setelah sebelumnya terjadi perbedaan persepsi tentang masalah adat. mendengar maksud yang demikian itu. dipelopori oleh Datuk Mataba di Mandasa (mushallah) kampung Saombo sudah mulai didirikan Shalat Jumat dan seterusnya untuk sholat-sholat Id (Hari Raya). Pada tahun 1954. tanggal 28 Rabiul Akhir 1215 Hijriah. ada prakarsa yang dipelopori oleh Datuk Mahbub dan Sekh Haji Jalaluddin di Pasar untuk mendirikan shalat Jumat dan shalat Id (Hari Raya) di Mandasa (mushallah) kampung Pasar. Namun atas permufakat an bersama kemudian. Rencana ini kemudian terwujud (1907) yaitu di mandasa atau surao Pasar mulai didirikan shalat Jumat dan shlat-shalar Id (Hari Raya). Ditetapkan dua orang Imam. mereka mengundang seorang ulama yang termasyhur dimasa itu yang bernama Tuangku Haji Daeng Hafiz (Orang Bugis/Makasar) yang pada waktu itu berada di Natal. Mesjid Agung Mudik Gunungsitoli Pada tahun 1947 M Mesjid Jami yang ada di Ilir (Duria sarawa-rawa) diperbaiki dengan mengganti tonggak dan papan lantai yang sudah mulai lapuk. yang dikenal dengan “Naskah Surat Perdamaian Daeng Hafiz” tahun 1215 H (Foto copy terlampr) Di antara isi yang terpenting dari naskah Perdaiman adalah : Mesjid Jami’ Ilir Mudik tetap hanya satu. Demikian sejarah Mandasa atau surao kampung Pasar menjadi Mesjid Jami Pasar Gunungsitoli hingga smpai sekarang. yakni pada masa Datuk Nur Sutan Indra Bongsu di Mudik dan Datuk Zakaria Baginda di Ilir. Ia bertahan keras/tidak setuju kalau Mesjid Persatuan dekat kota itu dipindahkan dari tempat yang lama ke tempat yang lain. Pada tahun 1916 M. status Mesjid Jami’ dekat Koto (Perbatasan Ilir Mudik) dipindahkan dengan mendirikan Mesjid di lokasi Duria Sarawa-rawa (Sekitar persimpangan Jln Karet/Jln Ke Mudik sekarang). pada masa Raja Sutan Ibrahim di Ilir. dua orang khatib dan dua orang bilal secara begantian memimpin shalat Juma’at dan shalat Id (Hari Raya) Sehubungan dengan bertambahnya penduduk. Shalat Jum’at dan shalat Hari Raya dipindahkan di Mesjid Baru (Mesjid Agung Mudik). sholat Jumat dan Sholat Id pindah dan kembali lagi ke Mesjid Mudik yang lama. Pada tahun 1914 M. Ibrahim di Ilir dan Datu Sulaiman di Mudik ……dst (tdk terbaca). Setelah beberapa hari Tuanku Daeng Hafiz mengadakan upaya /usaha perdamean. yakni pada masa Raja Stn.

Abdul Hadi mendirikan dan mengajarkan pendidikan agama (sistem psantren) di kampung Baru Ilir Gunungsitoli. Pondasi dan lantainya diganti dan dibuat dari semen cor. dan mengajar agama di Mesjid Mudik. Setelah beliau berpulang ke ramatullah (1910). Syarif Stn. mengajar di Madrasah Islamiyah Pasar dan Sekolah Rakyat NU di Pasar . Abdul Hadi mendirikan Mandasa atau Mushallah berbentuk rumah panggung yakni sebagai tempat pendidikan agama (sistem psantren). Labai berpulang ke rahmatullah (1963).. Husin. Karet).Begitu pula halnya Mesjid yang ada di Ilir beransur-ansur diperbaiki dengan perencanaan bangunan untuk dua tingkat. tiang kayu diganti dengan tiang beton dan kemudian untuk tingkat dua dibuat lantai semen cor. bangunan itu dirobohkan karena tidak lagi layak atau aman untuk digunakan. dan tempat pengajian rutin kaum ibu juag sebagai tempat sholat traweh setiap bulan ramadhan. didirikan Sekolah Rakyat NU di Pasar (sebelah kiri Mesjid Pasar sekarang) . Selain madrasah Islamiyah. (1938) Ia sempat mempolopori berdirinya Madrasah Fathimiyah di Gunungsitoli (sekarang Madrasah Aliah NU Jln.Alam. baik oleh pribadi maupun melalui organisasi seperti : Sekitar tahun 1900 Sech Abdul Aziz Imam di Mudik. Dimulai pada tahun 1958.Sekitar tahun 1957 Muhammad Syarif gelar Labai Sutan mengajar agama di Madrasah Islmamiah Pasar Gunungsitoli kemudian menjadi guru di Madrasah Muhammadiayah . pengajian di Mandasa Ilir diteruskan oleh anaknya Mohd. Tetapi tidak lama umurnya. Kemudian setalah mandasa tidak lagi layak dipakai. tersebut di atas juga oleh Sech H. pada tahun 1942.Mohd. Husin) pada pengurus NU untuk digunakan sebagai tempat bangunan sekolah agama dan atau kegiatan keagamaan Islam lainnya. Madr. Pekerjaan ini dilakukan secara beransur ansur dari tahun ketahun hingga keadaannya seperti yang kita lihat sekarang ini. . Setelah Abdullah Zahid berpulang kerahmtullah ia digantikan oleh anaknya H.Pada tahun 1939. dan di Madrasah ini berdiri satu organisasi wanita Jamiah Fathimiah Gunungsitoli di pimpim pertama kali oleh Haji Kalsum dan Reno Hawa (Ibunda Alm H.Sepeninggal Abdullazahid. Pada tahun 1958 bangunannya sempat dimanfaatkan oleh keluarga M.Setelah kejadian gempa tanggal 28 Maret 2005 yang lalu. 1952). Sekolah ini digabung dan dijadikan Sekolah Yatim Islamiyah. didirikan Sekolah Aisyiah. Djarjis Sutan Ibrahim dari Malalo Sumatera Barat.Tahun 1952. secara bertahap mulai didirikan Madrasah Muallimin NU 6 thn (sekarang namanya Madrasah Tsanawiyah/Aliyah). Tanahnya diserahkan oleh keluarga Abdullah Zahid (H.Husin. Sech H.Setelah pulang belajar di Mekah. Syarif Stn Labai sebagai tempat tinggal. didirikan Sekolah (Madrasah) Islamiyah (1931). sekira tahun 1936 sekolah ini tidak dipakai lagi (T. Aliyah NU yang sudah dirobohkan rkembangnya agama Islam di daerah Nias tidak terlepas dari kegiatan pendidikan dan da’wah. . bangunan madrasaha Islamiah ini dirubuhkan (sekarang menjadi tempat parkir kendaraan).Sekitar tahun 1952. Mohd. di halaman kiri depan Mesjid Ilir sekarang. . Adapun sarana pendidikan agama. Tidak berapa lama setelah M.Sebelum Abdullah Zahid berpulang ke rahmtullah. maka bangunannya dirubuhkan (1955). dan dibuat lagi yang baru berlantai satu yang saat ini digunakan salain tempat belajar TK.Mohd Husin). dan berpulang kerahmatullah tahun 1936 Miladiyah. ia digantikan oleh adiknya Abdullah Zahid.

Pada tahun 1946 s/d 1957 berdiri Partai Masyumi Cabang Nias di ketuai oleh Zakaria Baginda. Marham di Kampung Baru Gunungsitoli. . Husin dan Abd. Chair Aceh. dengan Ketua Muhd. berdiri Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah Gunungsitoli dan Mohd. diketuai oleh Haji Kalsum dan Reno Hawa (ibunda H.Mohd Husin) . Untuk pertama kalinya yang menjadi ketua : M. berdiri Jamiatul Wasliyah Cabang Nias yang diketuai oleh H. Kegiatan dan Organisasi berazaskan ke agamaan (Islam) di Daerah Nias . Muslimat NU. beridiri organisasi kepemudaan Hizbullah. diketuai oleh Hamid Syaifuddin.Pada tahuin 1950. berdiri di Gunungsitoli Muhammadiyah Cabang Nias diketuai oleh S. Dalam beberapa lama beliau dan keluarga bertempat tinggal di ex Madrasah Islamiyah di muka sebalah kiri halaman Mesjid Ilir sekarang sampai beliau meninggal dunia pada tahun 1963 di Teluk Dalam Nias. . . Pertama di ketuai oleh Haji Abdul Halim (Imam Mesjid di Mudik Gunungsitoli).L..Pada tahun 1947 Jawatan Agama Islam untuk kecamatan Gunung sitoli dibantu dengan diangkat Kadhi yaitu Mohd.Pada tahun 1938 s/d 1950 berdiri Jamiayatul Fathimiyah (sekarang Madrasah Ibtidaiyah NU Kp. .Pada tahun 1955 M. .Pada tahun 1939 M. Fatayat NU. .Cabang Nias di Ilir. Pada tahun 1942.Pada tahum 1951 berdiri Jawatan Pendidikan Agama Kabupaten Nias. Pada tahun 1959. di beberapa kecamatan diadakan Jawatan Agama. 2. Pada tahun 1952 organisasi ini (Nahdlatul Ulama) menjadi Partai Politik. Nias s/d 1946 berpusat di Sidempuan di ketuai oleh Sutan Syahirul Alam dan sekretaris Mohd. Masuk dan berkembangnya Agama Keristen Katholik di daerah Nias. .Pada tahun 1943 berdiri Majleis Islam Tinggi Cab. yang dipimpin oleh Idris Aminy.Tahun 1946 berdiri Kantor Jawatan Agama Islam Kabupaten Nias yang dipimpin oleh Chaidir Nasrun.Pada tahun 1936 s/d 1940 berdiri organisasi Semangat Pemuda di Gunungsitoli.Pada tahun 1913 M didirikan di Pulau Nias Partai Serikat Islam pada mulanya diketuai oleh Said Saleh Al Madany. Nasiatul Aisyiah (NA). . Pada tahun 1950 berdiri GPII Cabang Nias. Husin. .Baru). Pelembagaan Urusan Agama(Islam) dalam sistem Pemerintahan . kemudian berpecah dua. diketuai oleh oleh Sech Haji Jalaludiin di Pasar Gunungsitoli.Tajudin Alam) Imam Mesjid di Ilir kemudian menjadi Huweliksliter (Pegawai Nikah) di Gunungsitoli dan pada waktu masa pemerintah an Jepang menjadi Ketua Majelis Islam Tinggi Tapanuli Cabang Nias dan Mohd.Pada tahun 1950 berdiri Nahdaltul Ulama Cabang Nias yang dipelopori oleh Mohd. sekarang Gerakan Pemuda Ansor. Ali Nuh Aceh. Husin sebagai sekretaris.Pada tahun 1952 berdiri Staf Penerangan Agama Kab. Nias. . .Alam Taruddin gelar Sutan Syahirun Alam (ayahanda H. di kcamatan Gunungsitoli sebagai kepala yaitu Mohd. Begitu juga Pandu Ansor. Aisyiah.Berturut-turut kemudian berdiri organisasi seperti Pandu Hizbul Watan (HW) sekarang Pemuda Muhammadiyah. Husin. Husin diangkat sebagai Ketua. dipimpin oleh Said Fihir Almadany. Husin. Abdul Mujid Tanjung. Kedua. .Zuldin Tanjung.

terutama di bagian pesisir selain sudah menganut agama (Islam) juga sering dianggap oleh orang Eropa sebagai orang yang suka melawan. Selain orang Eropa memiliki profesionalisme dan kosentratif juga vasilitas yang dimiliki terutama dana memang tersedia untuk itu. Seperti di daerah lainnya. 1994 : 421 dan lihat juga E. Kehadiran misionaris Eropa (Jerman) bekerja sama dengan pemerintahan Belanda (S. Yang lain mengungsikan diri ke daerah lain. (Fries. Oleh karena isterinya sakit maka beliau tinggal di Padang dan menemui banyak Ono Niha di sana. 1919 :129. di antaranya seperti yang ditulis oleh Fries. 3. S. penyiar agama Kristen di daerah Nias. 1919 : 171). tetapi sayang sekali.Zebua. Kebiasaan tipu muslihatnya memperdaya dan mengadudomba penduduk (devide et empera).Fries. Faogöli Harefa. 1994 : 420 ) Selanjutnya pada sekitar tahun lima puluhan abad ke XX ini beberapa orang Pastor dari agama Katolik datang menetap di GunungSitoli untuk menyebarkan agama Katolik.Zebua dan Bambowo Laiya sebagai berikut : Bahwa pada tahun 1854. Demikianlah T. Masuknya Agama Kristen Protestan di daerah Nias. . seorang Pelayan Gereja agama Katolik Pendeta Roma yang bernama G.Dari beberapa data yang dapat diperoleh dan dihimpun oleh penulis tentang masuk dan berkembangnya agama Keristen Katolik dan Protestan di daerah Nias. membangkang dan berontak. 1994 : 420). 1984 : 420-423) dalam membawa agama Kristen di daerah Nias adalah merupakan modal utama berkembangnya agama Kristen dengan cepat dan mulus di daerah Nias. ada yang ke Sipirok (1861) dan ada yang menetap di Padang yaitu Pendeta Denninger. Sebagaimana di kepuluaan nusantara lainnya. Faogöli Harefa. Kecamatan Löolowa’u Kecamatan Gido dan Kecamatan GunungSitoli. Zebua. adalah cara yang paling ampuh bagi orang Eropa untuk tampil dan mengukuhkan kehadirannya sebagai orang yang berkuasa di Indonesia.Zebua ¬ (waktu itu Ketua Pangadilan Negeri Gunungitoli) para umat Katolik melakukan kebaktian setiap harii Minggu dan hari-hari yang kudus lainnya di ruangan sidang Kantor Pengadilan Negeri Jln Sukarno Gunungsitoli (S. pada waktu itu Gereja masih belum ada. Agaknya penyiar agama orang Eropa sulit beradaptasi dengan masyarakat di bagian pesisir. lalu memohon kepada Kongsi Bremen Jerman supaya beliau diutus ke Nias. de Hessele Van Hesserle datang dan menetap di Sogawugawu (dekat Kota GungungSitoli sekarang) mencoba memulai penyeberan agama Katholik di Tanö Niha. oleh karena para penginjil tersebut tidak begitu diterima baik oleh rakyat setempat maka terjadi pengeniayaan dan pembunuhan terhadap penginjil ini dan hanya dua orang yang tinggal di Banjarmasin (1859).Zebua.Zebua. dilakukan oleh orang Eropa secara profesional. Sebelum tahun 1865 yakni pada tahun 1836 Kongsi Barmen Jerman mengutus beberapa orang menginjil di Broneo (Kalimantan). maka atas bantuan dari Bapak T. tidak berapa lama beliau meninggal dunia dan dimakamkan di Gunungsitoli. Orang Eropa menyebarkan agama Kristen tidak dimulai di pesisir tetapi dari bagian tengah (pedalaman). Agama ini tersebar di Kecamatan Teluk Dalam. Sebaliknya orang pesisir melihat orang Eropa datang ke Indonesia hanyalah sebagai penjajah. 1939 : : 122 dan S. Denninger dikirim oleh Kongsi Bremen dan sampai/ memulai penyebaran injil di Gunungsitoli pada tanggal 27-September 1865 (S.

sebanyak 95 orang (Bamböwö Laiya..Tahun 1900 sekolah Guru Simanari tersebut dipindahkan di Ombolata.Gereja BNKP yg Pertama di Gunungsitoli (Photo-1950) Beberapa catatan penting mengenai perkembangan kegiatan agama Kristen di Daerah Nias. beliau pindah ke Luahawara (Sekarang Teluk Dalam) Tetapi oleh karena pergolakan perjuangan rakyat Tanö-Niha bahagian selatan terhadap Tentara Penjajahan Belanda sedang hangat maka atas pesan dari Residen yang berada di Sibolga.Pada tahun 1920. Pendeta Denninger sampai dan menyebarkan Injil di daerah Nias .Zebua.Pada tahun 1874 Pendeta Kramer membabtiskan 25 orang Ono Niha dari Hilina’a dan Onozitoli di antaranya ialah Salawa Hilina’a yaitu Yawa Duha. d. inilah guru yang pertama di Tano Niha. Pada Tahun 1865. . pada tahun1889 Pendeta JW Thomas pindah ke Papua (Irian Jaya). Desa Boto mendapat giliran pengkristenan . 1980 : 27).Tahun 1910 para Pendeta Jerman melarang famoto (khitan) dan fangohözi ifo (memotong gigi) ternyata bahwa larangan tersebut tidak semua orang mentaatinya dan hanya dalam waktu yang tidak lama . dan kemudian pindah lagi ke Gunungsitoli. . e. mereka inilah pemelukagama Kristen yang pertama di Tanö Niha. 22) sebagai berikut : a. secara singkat dikemukakan (S. Tahun 1876 sampai pada tahun 1902 Dr.Tahun 1866 Pendeta Denninger memulai membuka sekolah untuk anak-anak yang pertama di Gunungsitoli. setelah Pendeta FEHR menggantikan Pendeta JW Thomas. Pada tahun 1883. Pada Tahun 1876 di masa Pendeta JW Thomas (1873-1883). b. antara lain dari keberhasilan beliau ialah : . WH Sundeman melakukan pengabaran Injil atau menyebarkan agama Kristen di Tanö Niha. c.Tahun 1895 Sekolah Guru Simanari didirikan oleh Pendeta JW Thomas di UmbuHumene dan pata tahun 1897 menamatkan lima orang yang menjadi guru. 1994 : Ikht. Gereja pertama di Tanö Niha didirikan di Ombölata (Seminari).

Fa’awösa e. walaupun sebagian unsur kuno itu masih dipertahankan (Bambowo Laiya. GBI (Gereja Bethel Indonesia) f. Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dengan tokohnya seperti Drs. pindah ke Jakarta dan beliau memegang jabatan sebagai Direktur dan terakhir sebagai Direktur Jendral Bimas Kristen Departemen Agama Jakarta).N.Perubahan agama penduduk pribumi menjadi Kristen mempengaruhi sikap mereka terhadap kebudayaan. Disamping partai politik. Gelar ini bisa menjadi panggilan yang bersangkutan sehari-hari terutama pada setiap acara adat dan adakalanya sebagai panggilan sehari-hari bagi yang bersangkutan sementara masih belum punya anak. Willy Zebua (Pernah menjadi Ketua DPRD Kab. Sekitar Tahun 1950 an berdiri Jawatan Agama Kristen Kabupaten Nias yang dipimpin oleh Pendeta Nehemia Harefa (P. Adventis – d. GPI (Gereja Pentakosta Indonesiag g. menilik masing-masing adat yang dipraktekkan oleh masyarakat Nias sekarang ini maka tidak lagi relevan untuk dikelaim bahwa itu adalah adat asli orang Nias. Pada tahun 1936 sidang Synode seluruh penganut agama Kristen Protestan yang pertama di Tanö Niha. Selain organisasi keagamaan dinatas. juga berdiri partai politik berdasarkan keagamaan. disadari atau tidak hal itu telah menyusupi dan membawa perubahan dalam sistem kehidupan sosial budaya asli masyarakat Nias. GPT Gereja Pantekosta Tabernake) Masuk dan bekembangnya agama sebagaimana di utarakan di atas.Nias). AMIN yaitu Angowolua Masehi Indonesia Nias b. Adat istiadat orang Nias yang ada sekarang adalah adat istiadat orang Nias yang beragama Islam dan adat istiadat orang Nias yang beragama Kristen. kalau tidak dikatakan bahwa apa yang disebut dengan adat istiadat asli orang Nias itu sebenarnya sudah tidak ada lagi. 1979 : 27) Dengan demikian. Harefa) Sekitar tahun 1967-1975. --------------------*) Datuk dan Raja = adalah gelar pada masyarakat Nias Pesisir. dan pada waktu itu seluruh umat Kristen Protestan di Tanö Niha bergabung dalam satu organisasi agama yang disebut Banua Niha Kiriso Protestan (BNKP). termasuk agama nenek moyang mereka. “. ada juga organaisasi kepemudaan seperti Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dengan tokohnya seperti Arosokhi Mendrofa. agaknya sulit dijumpai. Seperti Partai Kreisten Indonesia (Parkindo) dengan tokoh-tokohnya seperti Sadrachi Zebua (pernah menjadi anggota DPRD Tkt I). Nehesi Zebua.Tetapi setelah punya anak maka gelar ini beransur menghilang dan cukup . Baik yang menyangkut kepercayaan dan agama asli maupun adat istiadatnya. Seperti ditulis oleh Bamböwö Laiya. biasanya diberikan pada saat yang bersangkutan mengadakan pesta adat (didaulatkan sebagai kepala adat /pemerintaham atau pada saat pesta kawin). Oleh karena itu. dll. berlangsung di Gunungsitoli. Organisai agama Kristen Protestan di Tanö Niha selain BNKP ada juga organisasi lain seperti : a. ONKP. Fungsi agama kuno sebagai kontrol sosial dalam pengertian tradisional telah ditransformasikan ke dalam ethika Kristen. yaitu Orahua Niha Kiriso Protestan c.f.

misalnya anita maka bapaknya dipanggil ama ga'ani atau ama ani Referensi  Fries E. Gadjah Mada University Press. Bambowo 1980. (Tanpa Penerbit).  ------------------------.  Harefa.  Tanjung Hasan Basri (1962). 1996.. 1919. Faogoli 1939. Yogyakarta.dipanggilkan bapak dari anaknya yang tertua.  Husin Suady. S. Menyelusuri SEJARAH KEBUDAYAAN ONO NIHA Sri 2. Kota Gunungsitoli. Waspada). 1981. Medan. 1984. Solidaritas Kekeluargaan Dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias Indonesia. (A. Menggali Nias Yang Terpendam (Harian. (Tanpa Penerbit). Ombolata. Adat Perkawinan dan Warisan Pada Masyarakat Nias Pesisir. Penerbit CV Rajawali. 1976.Soekanto Soerjono. Menyelusuri SEJARAH KEBUDAYAAN ONO NIHA Sri 1. Hikajat Tjeritra Bangsa Nias. Skripsi Fakultas Keguruan Ilmu Ssosial IKIP Negeri Medan  Laiya.Waomasi).  Telaumbanua Marinus Dr (Penyunting). 1984 . Zendings drukkerij. Sibolga Pertjetakan Tapanoeli. Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya (Tanpa Penerbit) . NIAS Amoeata Hoelo Nono Niha.  Zebua. HUKUM ADAT INDONEIA. Jakarta.