Daerah Nias Sejarah

KEPERCAYAAN ASLI DAN MASUKNYA AGAMA DI DAERAH NIAS ( 4

)
A. Kepercayaan Asli Orang Nias. Terjadi komplikasi dalam pengertian orang-orang di Nias Selatan mengenai keaslian agama kuno mereka sebagaimana telah disinggung di atas mereka dengan sederhana dewasa ini mengatakan bahwa Lowalani adalah pencipta atau pemerintah yang mempunyai hubunganerat dengan dunia atas, sedangkan Lature Dano adalah pembela, penjaga, dan pemerintah Dunia bawah. Di antara dewa atas dan dewa bawah, ada lagi dewi yang disebut Nazariya Mbanua, istilah orang Nias Selatan untuk menyebut dewi Silewe Nazarata. Silewe Nazarata(istilah Nias Utara yang dipakai sekarang adalah dewi penghubung di antara Lowalani (dewa dunia atas) dan Lature Danö (dewa dunia bawah) dan juga sebagai dewi penghubung di antara kaum dewa dan ummat manusia. Maka boleh dikatakan bahwa agama kuno Nias termasuk agama Polythesis (Bamböwö Laiya, 1979 : 25). Selain itu bermacam ciptaan dan makhluk yang dipersonifikasikan lalu disembah oleh orang Nias. Benda ciptaan dan makhluk ini meliputi matahari, bulan, pohon-pohon besar, buaya, cecak dan lain-lain. Oleh sebab itu, agama orang Nias itu bukan hanya polytesis tetapi juga animistis. Pelbegu, adalah nama agama asli yang diberikan oleh pendatang yang berarti "penyembah ruh". Nama yang dipergunakan oleh penganutnya sendiri adalah molohe adu (penyembah patung). Sifat agama ini adalah berkisar pada penyembahan roh leluhur. Untuk keperluan itu mereka membuatn patung-patung dari kayu yang mereka sebut "adu". Patung yang ditempati oleh ruh leluhur disebut adu zatua dan harus dirawat dengan baik (Koentjaraningrat, Ed. 1976 : 50).

Adu Zatua dan Adu Nuwu dari Kayu

Adanya tambahan jumlah patung nenek moyang disebabkan karena setiap orang kuat di desa, orang yang amat berbakat, pemburu yang hebat dan para kesatria juga dipahat patung-patung mereka dalam bentuk kayu. Oleh sebab itu ada kira-kira 150 jenis patung yang dikenal, diukir dan disembah oleh seseorang sepanjang hidupnya di Nias. Patung yang paling penting dan paling dihormati di jejeran patung-patung itu adalah "patung nenek moyang di pihak laki-laki (adu zatua)" dan "patung nenek moyang di pihak perempuan (adu Nuwu)". Pada umumnya, setiap keluarga memahat patung nenek moyang mereka masingmasing (adu Nuwu dan adu Zatua). Setiap desa juga memahat patung kesatria mereka (adu Zato). Orang harus menyembah kedua jenis patung ini demi hubungannya dengan keluarga dan masyarakat desanya. Adu Zato itu adalah patung para pendiri desa, patriot, berbakat, pemburu yang hebat dan sebagainya. Pasangan adu Zato dan adu Nuwu atau adu Zatua tak boleh disembah secara terpisah.

untuk pergi ke teteholi ana'a (dunia ruh atau gaib). Orang yang kaya atau berkedudukan tinggi maka akan begitu pula keadaannya di "teteholi ana'a. Selama belum dilakukan upacara kematian. Setiap orang berkata "Tuhanku adalah nenek moyangku" yang berarti dia dan Tuhannya lain dari pada orang dan illah keluarga lain (Bamböwö Laia. Ia haruslebih dahulu menyeberangi suatu jembatan yang di sana dijaga ketat oleh seorang dewa penjaga bersama mao-nya didorong masuk ke dalam neraka yang berada di bawah jembatan. botonya kembali menjadi debu. 1979 :28). maka upacara dan sikap keagamaan para keluarga di desa selalu bervariasi satu sama lain. Menurut kepercayaan penganut pelbegu ini. Karena menurut kepercayaan. Sebaliknya demikian juga bagi mereka yang miskin. tiap orang mempunyai dua macam tubuh.Adu Zatua dan Adu Nuwu dari Batu Oleh karena setiap keluarga memahat patung nenek moyangnya masing-masing dan mereka menganggap patung-patung itu sebagai illah mereka. yaitu yang kasar dan yang halus. Yang kasar disebut boto (jasad) dan yang halus terdiri dari dua macam yaitu noso (nafas) dan lumo-lumo (bayang-bayang). sedangkan nosonya kembali kepada lowalangi (Tuhan). kehidupan sesudah mati adalah kelanjutan dari kehidupan sese orang di dunia. bekhu akan tetap berada di sekitar tempat pemakamannya. . Perbedaan dunia sana dengan dunia sini yaitu terletak pada keadaan "terbalik" yaitu jika di sini siang maka di sana malam. 1976 : 50-51). demikian juga kalimat dalam bahasa di sana serba terbalik (Koentjaraningrat. Berbagai Macam Patung di Daerah Nias Sedangkan lumo-lumonya berubah menjadibekhu (makhluk halus). Jika mati atau meninggal. Menurut kepercayaan pelbegu.

apabila hal itu terjadi maka bagi saudaranya yang berpantang itu. dan binatang yang ketika disemblih disebut nama selain Allah (S. Budaya megelitik dengan kepercayaan inilah maka babi tidak bisa dipisahkan dalam acara adat masyatakat Nias. yang rupa-rupanya telah mereka bawa dari benua Asia pada zaman perunggu. Manusia itu adalah "babi dewa-dewa (illah)". karena jika memeluk suatu agama. sekandung. ialah kebudayaan Megalithik yang bukan berdasarkan pengurbanan kerbau melainkan babi. Tapanuli. Itulah maka "babi" merupa kan unsur penting dalam kebudayaan Nias (Bambowow Laiya..Van Dijk dan Prof. Termasuk diantaranya pantangan konsumsi bagi para saudara atau tamunya juga diantisipasi. babi bukan lagi dewa tetapi hanyalah sejenis hewan (sigelo). daging babi. Dangkal serta awamnya pola pikir seperti ini. masalah babi dalam setiap acara adat bukanlah suatu hal yang prinsipil apalagi bila "didewakan" atau dikaitkan dengan "dewa". tidak proposional apabila ada yang menulis bahwa Ono Niha pribumi yang berdomisili di kota dan telah masuk agama Islam itu. Ter Haar Bezn). bersaudara (fatali fusö) kata sifatnya “persaudaraan” atau "fatalifusöta". dsb). Menurut keterangan Bamböwö Laia. dengan mengikuti ajaran agamanya yang baru (Al Quran) yang menyatakan bahwa “sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai. orang Nias mempercayai bahwa manusia itu hanyalah sebagai ciptaan biasa dari dewa-dewa. 1986 : 83). Konotasi maksud pengertiannya yaitu pertalian pusat (tali fuso). 1) Oleh sebab itu. selain tendensius juga kontra produktif dalam upaya melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat Nias (santun dan bermartabat) sebagaimana diwariskan oleh para leluhur. tetapi biasanya tuan rumah selalu berupaya menyediakan makanan yang terbaik dan menyenangkan bagi para saudaranya atau tamunya. prilaku dan wataknya adalah sombong. 1979 :25). Dr. sajian makanan merupakan kebiasaan yang tak dapat dihindari oleh yang punya hajat. substansi adat yaitu menjalin silaturrahim antara sesama anggota persekutuan adat agar mereka hidup dalam keserasian untuk waktu yang lama (turun temurun) dengan seperangkat aturan (adat) yang mereka sepakati bersama. tinggi hati. berlandaskan kepada suatu kebudayaan Megalithik. dinikmati oleh penggemarnya hanyalah sesaat dan sebatas kerongkongan (tötölö atau dötölö) serta tidak sampai ke perut (tidak dinikmati oleh perut). Ikht 1996 : 86) . "babi" adalah manusia) maka secara bebas dewa mengambil dan membunuh satu atau lebih "babi"nya. Dr. menyesuaikan dengan perkembangan kebutuhan masyarakatnya (lihat sifat elastisitas hukum adat menurut teori Prof. sebagian dari ciptaan lainnya. hanya karena masalah babi. dll. Karena itu alangkah naif sekali bila dalam acara adat. jijik dan haram memakan daging babi dalam mempertahankan adat istiadat Ono Niha (lihat Dr Marinus Telaumbanua (editor). asal katanya kata dari rahim dalam arti kandungan. Bila dewa berselera memakan daging "babi" (dalam hal ini. pertalian darah atau sedarah. baik karena kesehatan maupun karena halangan agama. kelahiran. seperti di Tanah Karo. Keberadaan babi dalam upacara lebih merupakan sistem dan bukan substansi. selalu . Logikanya. apalagi dengan hajatan (perkawinan.Al Baqarah ayat 173). Sillaturrahim. namun bagi mereka yang sudah memeluk agama (Islam) kebiasaan dengan kepercayaan ini mereka tinggalkan. Berbeda halnya dengan adat. Kendatipun babi tidak dapat dipisahkan dalam setiap acara adat masyarakat Nias.Patung dari Batu diletakan di depan Rumah Dikemukakan oleh Koentjaraningrat (1980 : 40). Di daerah lain. mereka telah mengembangkan suatu kebudayaan sendiri. ada diantara sesama anggota yang saling memojokan dan atau dipojokan dalam lingkungan persekutuan. Pada masyarakat yang pola pikirnya sudah maju. kematian. harus juga mengikuti hukum-hukum agama itu dengan setia (Soerjono Soekanto. Sesuai dengan teori reception in complexu yaitu hukum pribumi ikut agamanya. Kendatipun tidak ada patokan bahwa makanan yang disajikan harus jenis tertentu. Sistem bisa berubah. darah. Di mana-mana pertemuan.

B. Mereka datang dari Sumatera bukan dengan tujuan mengembangkan agama. dan orang Minang (1111 H dikirakan tahun 1691 M). lebih disebabkan secara kebetulan : berdagang. mereka tinggal menetap dan mengembangkan agama Islam di daerah itu. baik yang siap saji seperti nasi kotak.Kemudian. maupun yang mentahnya. Mereka memulainya dengan langsung mendatangi para penduduk terutama di daerah Nias bagian tengah sebagaimana halnya di tanah Batak. Begitu pula halnya yang melakukan perjalanan ke tempat lain tetapi singgah di Nias beberapa lama. Seperti orang Aceh (1639 M . Pertama.?). Hal inipula yang sering dipraktekan/dibiasakan oleh keturunan si Tölu Tua di Gunungsitoli Nias (lebih lanjut lihat uraian ttg Ndrawa Sowanua di Daerah Nias). Demikian juga pada saat mereka tinggal di daerah Nias (pesisir). Dalam ajaran agama Islam. 1. dalam kaitan hubungan manusia dengan Allah (Tuhan) itu juga melalui ajaran agama. Merasa hidupnya di pesisir terlindungi dan lebih baik. Demikian halnya dengan agama. Karena itu hukum yang dibuat oleh manusia termasuk adat tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai agama. kerbau lembu atau lembu. 1976 : 12-13).disediakan makanan alternatif pengganti. dalam perjalanannya pernah singgah di pulau Nias yang dinamakannya dengan pulau “nian” (Fries. Atau wilayah itu pernah termasuk dalam kekuasaan pemerintahan dari daerah lain. adalah merupakan rangkaian proses perjalanan sejarah yang panjang dan tidak dapat dipisahkan dengan kedatangan suku bangsa Indonesia lainnya terutama dari daratan Sumatera. seperti pemberian ayam. setelah selesai dengan urusannya ia pulang ke negerinya. masuknya agama Islam tetapi belum berkembang. kemudian disusul orang Arab. Jadi hubungan manusia itu ada yang vertikal (dengan Tuhannya) dan ada yang horizontal (dengam sesama manusia dan makhluk hidup lainnya. mereka tertarik masuk agama Islam. sebab adakalanya pemeluk agama Islam merantau ke Nias namun belum sadar bahwa ia harus membawa wasiat Nabi Besar Muhammad saw untuk menyampaikan risalah walau satu ayat. seperti yang dilakukan oleh orang Persia pada tahun 856 M dengan pemukanya yang bernama Sulaiman. Begitu pula halnya pada tahun 1605 – 1636 pulau Nias dan lain-lain pernah menjadi kekuasaan Aceh dibawah pemerintahan Iskandar Muda Mahkota Alam (Schrieke B. tergantung dari kemampuan tuan rumah. Masuk dan berkembangnya agama Islam di daerah Nias tidak sama sebagaimana masuk dan berkembangnya agama Katholik dan Keristen Protestan yang dibawa oleh misionaris dari Eropa. Mereka datang dengan rencana dan profesional. ajaran atau ketentuan agama tidak bisa diintervensi oleh hukum manusia termasuk hukum adat. 1919 : 53 dan Suady Husin. Masuknya agama Islam dengan versi pertama. Masuknya dan berkembangnya Agama Islam Masuk dan berkembangnya agama di daerah Nias. Bugis. dan India (lebih lanjut lihat uraian kedatangan pendatang di daerah Nias). ada dua bentuk. kemudian mereka pergi lagi. daging kambing. lebih disebabkan oleh keadaan alamiah. Kedua. dan tinggal . terminologi ini yang disebut “hablul minaullah dam hablul minannas”. Karena agama adalah urusan penghambaan manusia secara pribadi dengan Allah (Tuhannya).Masuk dan berkembangnya agama Islam di daerah Nias yang dibawa oleh para pendatang. atau singgah kemudian lebih memilih tinggal di daerah Nias. Seperti berniaga. berkembangnya agama Islam yaitu dengan masuknya penganut agama Islam seperti di daerah Nias. Masuk dan Berkembangnya Agama di Daerah Nias. 1957 : 244) Masuknya agama di daerah Nias dengan versi kedua. penduduk lari dan mencari perlindungan di Pesisir. masih merajalelanya keganasan para orang bengis (niha sagamu’i) di Nias bagian tengah. Demikian halnya. Allah (Tuhan) mengatur bagaimana hubungan manusia dengan sesamanya serta dengan makhluk hidup lainnya.

1939: 124). tetapi baik ialah "memerdekakan budak dari perbudakan". cerdik dan pintar berlaku syarat minimal untuk tinggal bersama dalam kompleks pemukiman. Demikian juga sering terjadinya peperangan. Penduduk datang dan tinggal di Pesisir. Tempat yang banyak kejadian penjualan hamba-hamba itu ialah sebelah Teluk dalam (Zuid Nias). 1919 : 132) Pada bagian lain juga ditulis oleh Faogöli Harefa. sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang paling mengetahui orang-orang yang mendapatkan petunjuk (Qur’an surat Annahal 125)”. Demikian juga ketika itu amat banyak orang mengayau (keppensnellerij) dan merampok. seperti ditulis oleh Faogöli Harefa “. “Serulah (ajaklah manusia) ke jalan tuhanmu dengan penuh hikmah bijakasana dan dengan cara yang sangat mendidik penuh santun dan bantalah (debatlah) mereka dengan cara yang baik pula. dan Balöhalu yang selau mengacau penduduk pulau Nias. Yang sebagai kepala akan membuat perbuatan yang tak baik itu ialah Siwamuhola. Itulah orang Nias yang memeluk agama Islam yang bercampur-gaul dengan orang Melayu. Dalam ajaran Islam diatur bahwa memerdekakan hamba sahaya (budak atau sawuyu) dianjurkan oleh agama Islam. sungguh-sungguh menjadi mangsa orang Melayu dan bahkan oknum pribumi yang terdahulu. Keprihatinan ini dapat dibaca dalam tulisan E. Marinus Telaumbanuan. lebih dahulu dari itu telah datang ke sana bangsa Aceh dari Trumun mencuri atau membeli orang Nias dari Raja-raja atau orang yang gagah berani disana akan dijadikan budak. tetapi mereka tidak suka menjalani jalan kebaikan yang susah payah. Balöhaloe wanoewö banoea ba zihene asi göi. Dengan bebagai akal licik dan tipudaya mereka menjadikan orang-orang lemah itu menjadi “haranaka”. Orang-orang yang takut kepada orang-orang yang berbuat sewenang-wenang itu di tengah-tengah pulau Nias melarikan dirinya dalam lingkungan Rapatgebied. ba ira Sitambaho Balöhaloe ba daloedanö. he ba ŵanoeŵö banua zo ŵanoea. (Faogöli Harefa.Fries. ba ja’ija ndra Siwahoemola Fadoli ba Ziwalawa sitoe. bahwa “ …. Oleh itu. dijualnya ketanah Sumatera. simanö Lasara (1897)… “(E. dan tidaklah realistis tulisan (lihat Dr. dalam Al Qur’an surat Al Balad ayat 13 : Pangkal ayat. merupakan daya tarik untuk mempelajari dan menggabungkan diri menjadi penganut agama Islam. tobali ihötöi ada’oeda’oe manö niha. lafahösi ŵanoeŵö ba lafailo ba danö nemali.. Karena itu sabda Rasulullah saw : " Barang siapa memerdekakan hamba sahaya. Yang dijualnya itu bukan familinya melainkan budak-budak juga (Faogöli Harefa. sebilangan anggota hamba yang di merdekakannya" (Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Buchari). ba Siwamoehöngö ba Lahömi.serta hidup bersama dengan mayarkat Islam lainnya. Karena penjualan hamba-hamba itu banyak orang Nias itu terdapat di Padang. oi zara la’o’o manö nichoi dödöra.berhubung karena Gouvernement tiada mementingkan benar memerintahkan pulau Nias itu timbulah amat banyak peperangan antara kampungkampung di sana masing-masing menurut kemauannya. (=budak jualan) menjual mereka kepada calo-calo pedagang budak. melepaskan Allah akan tiap-tiap anggotanya dari api neraka. dengan memberikan .bahwa “ … Sesuai dengan tutur ceritra masyarakat sekarang penduduk pribumi yang lemah yang baru datang di pemukiman perkotaan Gunungsitoli dan sekitarnya itu. Di antara pekerjaan yang susah payah. 1939 : 121). ŵe’a tedooe manö ŵa’amoei zalawa ba daloe danö. “ Ba börö da’ö fefoe. 1996 : 86 ) yang menyatakan . selain karena di Pesisir hidupnya terlindungi juga prinsip dasar agama (Islam) yang dianut oleh penduduk di pesisir yaitu rahmat dan kasih sayang kepada sesama manusia. sesalan Allah kepada manusia karena Allah telah menunjukkan kepada mereka dua jalan (jalan kebaikan dan kejahatan). Tetapi bagi yang kuat. Fries (1919 : 87) yang menerangkan. ba ato si’ai zanawa Rapatgebied me loeo andrö ba fateŵoe ba da’ö. ba he ba ŵangai högö / keppensnellerij/ ba he ba wamaŵa “binoe aoeri” ba hadia ia na fefoe Fondrege zondrönia’o sato ba ŵolaoe si lö söchi.

Miga. Moawo. dan shalat Idula Fitri/Adha. Inilah asal usul nama desa Mudik dan Kelurahan Ilir Gunungsitoli sekarang. mereka menetapkan siapa yang menjadi kepala pemerintahan dengan memberi sebutan seperti atau Raja. namun daru beberapa catatan dan wawancara yang dapat dihimpun penulis. Shalat Jumat dan shalat Id tetap dilaksanakan di Mesjid Persatuan di Koto. Mesjid ini telah dipergunakan dari masa Datuk Raja Ahmad. Pernyataan serendah ini. Olora dst. karena jemaahnya belum mencukup 40 (empat puluh orang) yang bermukim di tempat yang baru. kalau tidak. secara beransur-ansur dari Koto mereka bertebar di wilayah kawasan Nias lainnya terutama di bagian pesisr (pantai atau sihene asi). Dalam beberapa lama kemudian. Landatar. Teuku Pemaaf hingga masa Teuku Sulaiman di Mudik. Tohia.(perbatasan Ilir dan Mudik) Pada masa Datuk Maharajalelo di Ilir. hulubalang (bohalima) sebagai penjaga kemanan dan yang tak kurang pentingnya adalah pegawai syara’ (= Imam. surau. sejalan dengan bertambahnya jumlah keluarga. selain tidak etis juga praktek permutarbalikan fakta seakan-akan dikutip dari buku yang ditulis Faogoli Harefa (1939 : 12). Seperti di kampuung Pasar. Sewaktu pemerintahan . dan Bilal). Teuku Pemegang. dan pendeta E Fries (1919 : 132). Sekalipung pada waktu itu telah didirikan Musalah atau namun tidak diperkenankan mengerjakan Shalat Jum’at. Saombo. Juga disyaratkan bagi orang seperti itu agar di haruskan masuk agama Islam.masing. Menyesuaikan kehidupan mereka di tempat yang baru dan dengan jumlah keluarga jemaah Islam yang bertambah. Dengan pertimbangan karena lokasi itu adalah pertengahan apabila kaum muslimin yang datang dari kampung melakukan shalat Jumat dan shalat hari Raya. Kendatipun keterangan tertulis yang diperoleh tentang hal ini sangat minim. madrasah atau sekolah dan yang tak kurang pentingnya adalah terbentuknya organisasi dan pertai yang berazaskan keagamaan. masing-masing menyusun pemerintahan sendiri. musollah. pada hal tidak ada dijumpai dalam buku yang dikutip adalah perbuatan fitnah. sebelah ke udik Mesjid dinamakan MUDIK dan sebelah hilir Mesjid dinamakan ILIR. Boyo. mereka mendirikan Surau. mereka tidak diperkenankan tinggal di pemukiman mereka”. Setelah masuk dan berkembangnya agama Islam di daerah Nias. Chatib.seekor ayam jantan beserta dua liter (sedumba) beras. Mandasa atau Muslallah. menentukan para penghulu dengan tanggungjawab masing. diikuti dengan dilengkapinya sarana keagamaan seperti : mesjid. di antaranya dapat dikemukakan sebagai berikut : Mesjid yang pertama kali didirikan yaitu Mesjid di KOTO (= kota) pada tahun 1115 Hijrah Setelah Mesjid didirikan selanjutnya dilakukan pula pembagian wilayah. Hal ini selain menyalahi etika penulisan yang dikatakan sebagai karya ilmiah juga dalam ajaran agama manapun perbuatan fitnah itu dikategorikan sebagai dosa. Ia mulai bermaksud memindahkan Mesjid Jami’ dari koto (Mesjid Persatuan) ke tempat yang baru di Duria Sarawa-rawa. Setelah pembagian wilayah. Datuk Raja Malimpah *) hingga masa Datuk Maharaja Lelo di Ilir dan Teuku Polen.

Kemudian setelah kejadian gempa bumi (2005). Demikian sejarah Mandasa atau surao kampung Pasar menjadi Mesjid Jami Pasar Gunungsitoli hingga smpai sekarang. . Ia bertahan keras/tidak setuju kalau Mesjid Persatuan dekat kota itu dipindahkan dari tempat yang lama ke tempat yang lain. ada prakarsa yang dipelopori oleh Datuk Mahbub dan Sekh Haji Jalaluddin di Pasar untuk mendirikan shalat Jumat dan shalat Id (Hari Raya) di Mandasa (mushallah) kampung Pasar. Ibrahim di Ilir dan Datu Sulaiman di Mudik ……dst (tdk terbaca). dua orang khatib dan dua orang bilal secara begantian memimpin shalat Juma’at dan shalat Id (Hari Raya) Sehubungan dengan bertambahnya penduduk. Mesjid Agung Mudik Gunungsitoli Pada tahun 1947 M Mesjid Jami yang ada di Ilir (Duria sarawa-rawa) diperbaiki dengan mengganti tonggak dan papan lantai yang sudah mulai lapuk. Pada tahun 1954. karena para jemaah sudah mulai banyak dan tidak dapat tertampung dalam satu Mesjid. Pada tahun 1916 M. Rencana ini kemudian terwujud (1907) yaitu di mandasa atau surao Pasar mulai didirikan shalat Jumat dan shlat-shalar Id (Hari Raya). Di saat itulah perselisihan antara Ilir dan Mudik makin meruncing setelah sebelumnya terjadi perbedaan persepsi tentang masalah adat. pada masa Raja Sutan Ibrahim di Ilir. Pada tahun 1914 M. yakni pada masa Datuk Nur Sutan Indra Bongsu di Mudik dan Datuk Zakaria Baginda di Ilir. status Mesjid Jami’ dekat Koto (Perbatasan Ilir Mudik) dipindahkan dengan mendirikan Mesjid di lokasi Duria Sarawa-rawa (Sekitar persimpangan Jln Karet/Jln Ke Mudik sekarang). Setelah beberapa hari Tuanku Daeng Hafiz mengadakan upaya /usaha perdamean. Mesjid Agung dirobohkan maka kegiatan sholat sehari-hari. kecuali dikemudian hari bertambah penduduk yang tidak bisa memungkinkan untuk satu Mesjid maka bisa dibenarkan dua Mesjid. yakni pada masa Raja Stn. maka akhirnya diperoleh suatu keputusan yang dinyatakan dalam Surat perdamaian. maka di Mandasa yang ada di Mudik (Mesjid Mudik lama sekarang) mulai di adakan Shalat Jum’at dan shalat Hari Raya. mereka mengundang seorang ulama yang termasyhur dimasa itu yang bernama Tuangku Haji Daeng Hafiz (Orang Bugis/Makasar) yang pada waktu itu berada di Natal. Ditetapkan dua orang Imam. Rencana pemindahan Mesjid tetap diteruskan. tanggal 28 Rabiul Akhir 1215 Hijriah. yang dikenal dengan “Naskah Surat Perdamaian Daeng Hafiz” tahun 1215 H (Foto copy terlampr) Di antara isi yang terpenting dari naskah Perdaiman adalah : Mesjid Jami’ Ilir Mudik tetap hanya satu. sholat Jumat dan Sholat Id pindah dan kembali lagi ke Mesjid Mudik yang lama. mendengar maksud yang demikian itu. Namun atas permufakat an bersama kemudian. Shalat Jum’at dan shalat Hari Raya dipindahkan di Mesjid Baru (Mesjid Agung Mudik).Teuku Sulaiman di Mudik. dipelopori oleh Datuk Mataba di Mandasa (mushallah) kampung Saombo sudah mulai didirikan Shalat Jumat dan seterusnya untuk sholat-sholat Id (Hari Raya). walaupun belakangan ini (1992).

dan di Madrasah ini berdiri satu organisasi wanita Jamiah Fathimiah Gunungsitoli di pimpim pertama kali oleh Haji Kalsum dan Reno Hawa (Ibunda Alm H. didirikan Sekolah Aisyiah. tersebut di atas juga oleh Sech H.Alam.Setelah pulang belajar di Mekah. ia digantikan oleh adiknya Abdullah Zahid. . bangunan madrasaha Islamiah ini dirubuhkan (sekarang menjadi tempat parkir kendaraan). Labai berpulang ke rahmatullah (1963).Tahun 1952.Sepeninggal Abdullazahid. mengajar di Madrasah Islamiyah Pasar dan Sekolah Rakyat NU di Pasar . dan berpulang kerahmatullah tahun 1936 Miladiyah. pada tahun 1942. Pada tahun 1958 bangunannya sempat dimanfaatkan oleh keluarga M. Pekerjaan ini dilakukan secara beransur ansur dari tahun ketahun hingga keadaannya seperti yang kita lihat sekarang ini.Mohd.Sekitar tahun 1952.Setelah kejadian gempa tanggal 28 Maret 2005 yang lalu. Karet). Tanahnya diserahkan oleh keluarga Abdullah Zahid (H. di halaman kiri depan Mesjid Ilir sekarang. Setelah beliau berpulang ke ramatullah (1910). Setelah Abdullah Zahid berpulang kerahmtullah ia digantikan oleh anaknya H. sekira tahun 1936 sekolah ini tidak dipakai lagi (T. Madr. Sech H. pengajian di Mandasa Ilir diteruskan oleh anaknya Mohd. 1952). maka bangunannya dirubuhkan (1955). Dimulai pada tahun 1958. . bangunan itu dirobohkan karena tidak lagi layak atau aman untuk digunakan. Husin. . Tidak berapa lama setelah M. Syarif Stn Labai sebagai tempat tinggal. baik oleh pribadi maupun melalui organisasi seperti : Sekitar tahun 1900 Sech Abdul Aziz Imam di Mudik. Abdul Hadi mendirikan Mandasa atau Mushallah berbentuk rumah panggung yakni sebagai tempat pendidikan agama (sistem psantren). Abdul Hadi mendirikan dan mengajarkan pendidikan agama (sistem psantren) di kampung Baru Ilir Gunungsitoli..Sebelum Abdullah Zahid berpulang ke rahmtullah. secara bertahap mulai didirikan Madrasah Muallimin NU 6 thn (sekarang namanya Madrasah Tsanawiyah/Aliyah). Syarif Stn. Djarjis Sutan Ibrahim dari Malalo Sumatera Barat. dan mengajar agama di Mesjid Mudik. dan dibuat lagi yang baru berlantai satu yang saat ini digunakan salain tempat belajar TK. Husin) pada pengurus NU untuk digunakan sebagai tempat bangunan sekolah agama dan atau kegiatan keagamaan Islam lainnya. Tetapi tidak lama umurnya. didirikan Sekolah Rakyat NU di Pasar (sebelah kiri Mesjid Pasar sekarang) .Husin. didirikan Sekolah (Madrasah) Islamiyah (1931). dan tempat pengajian rutin kaum ibu juag sebagai tempat sholat traweh setiap bulan ramadhan.Sekitar tahun 1957 Muhammad Syarif gelar Labai Sutan mengajar agama di Madrasah Islmamiah Pasar Gunungsitoli kemudian menjadi guru di Madrasah Muhammadiayah . Mohd. Selain madrasah Islamiyah. (1938) Ia sempat mempolopori berdirinya Madrasah Fathimiyah di Gunungsitoli (sekarang Madrasah Aliah NU Jln. Pondasi dan lantainya diganti dan dibuat dari semen cor.Begitu pula halnya Mesjid yang ada di Ilir beransur-ansur diperbaiki dengan perencanaan bangunan untuk dua tingkat. Kemudian setalah mandasa tidak lagi layak dipakai. tiang kayu diganti dengan tiang beton dan kemudian untuk tingkat dua dibuat lantai semen cor. Adapun sarana pendidikan agama.Mohd Husin).Pada tahun 1939. Aliyah NU yang sudah dirobohkan rkembangnya agama Islam di daerah Nias tidak terlepas dari kegiatan pendidikan dan da’wah. Sekolah ini digabung dan dijadikan Sekolah Yatim Islamiyah.

L. .Pada tahun 1947 Jawatan Agama Islam untuk kecamatan Gunung sitoli dibantu dengan diangkat Kadhi yaitu Mohd. kemudian berpecah dua. sekarang Gerakan Pemuda Ansor.Mohd Husin) .Alam Taruddin gelar Sutan Syahirun Alam (ayahanda H. Husin diangkat sebagai Ketua. Aisyiah. Pada tahun 1959. berdiri Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah Gunungsitoli dan Mohd. Ali Nuh Aceh.Tajudin Alam) Imam Mesjid di Ilir kemudian menjadi Huweliksliter (Pegawai Nikah) di Gunungsitoli dan pada waktu masa pemerintah an Jepang menjadi Ketua Majelis Islam Tinggi Tapanuli Cabang Nias dan Mohd.Pada tahun 1913 M didirikan di Pulau Nias Partai Serikat Islam pada mulanya diketuai oleh Said Saleh Al Madany.Pada tahun 1955 M. Husin. Kedua.Pada tahum 1951 berdiri Jawatan Pendidikan Agama Kabupaten Nias. beridiri organisasi kepemudaan Hizbullah. Nias s/d 1946 berpusat di Sidempuan di ketuai oleh Sutan Syahirul Alam dan sekretaris Mohd. Husin. Pada tahun 1946 s/d 1957 berdiri Partai Masyumi Cabang Nias di ketuai oleh Zakaria Baginda. Husin dan Abd. . . Muslimat NU. Masuk dan berkembangnya Agama Keristen Katholik di daerah Nias. Pertama di ketuai oleh Haji Abdul Halim (Imam Mesjid di Mudik Gunungsitoli). . . Fatayat NU. Chair Aceh. . Abdul Mujid Tanjung. Pada tahun 1952 organisasi ini (Nahdlatul Ulama) menjadi Partai Politik. Kegiatan dan Organisasi berazaskan ke agamaan (Islam) di Daerah Nias .Pada tahun 1952 berdiri Staf Penerangan Agama Kab. Marham di Kampung Baru Gunungsitoli. . di beberapa kecamatan diadakan Jawatan Agama. . dengan Ketua Muhd.Berturut-turut kemudian berdiri organisasi seperti Pandu Hizbul Watan (HW) sekarang Pemuda Muhammadiyah. 2.Cabang Nias di Ilir. .Pada tahun 1943 berdiri Majleis Islam Tinggi Cab. Dalam beberapa lama beliau dan keluarga bertempat tinggal di ex Madrasah Islamiyah di muka sebalah kiri halaman Mesjid Ilir sekarang sampai beliau meninggal dunia pada tahun 1963 di Teluk Dalam Nias.Pada tahuin 1950. Husin sebagai sekretaris.Pada tahun 1939 M. Pada tahun 1942.Pada tahun 1938 s/d 1950 berdiri Jamiayatul Fathimiyah (sekarang Madrasah Ibtidaiyah NU Kp. Husin. . Untuk pertama kalinya yang menjadi ketua : M. berdiri Jamiatul Wasliyah Cabang Nias yang diketuai oleh H.Pada tahun 1950 berdiri Nahdaltul Ulama Cabang Nias yang dipelopori oleh Mohd.Pada tahun 1936 s/d 1940 berdiri organisasi Semangat Pemuda di Gunungsitoli. Nias. . Pada tahun 1950 berdiri GPII Cabang Nias. dipimpin oleh Said Fihir Almadany. diketuai oleh Haji Kalsum dan Reno Hawa (ibunda H. yang dipimpin oleh Idris Aminy. di kcamatan Gunungsitoli sebagai kepala yaitu Mohd. Pelembagaan Urusan Agama(Islam) dalam sistem Pemerintahan . Begitu juga Pandu Ansor.Zuldin Tanjung. diketuai oleh oleh Sech Haji Jalaludiin di Pasar Gunungsitoli.. diketuai oleh Hamid Syaifuddin. Nasiatul Aisyiah (NA).Tahun 1946 berdiri Kantor Jawatan Agama Islam Kabupaten Nias yang dipimpin oleh Chaidir Nasrun.Baru). . berdiri di Gunungsitoli Muhammadiyah Cabang Nias diketuai oleh S.

Zebua ¬ (waktu itu Ketua Pangadilan Negeri Gunungitoli) para umat Katolik melakukan kebaktian setiap harii Minggu dan hari-hari yang kudus lainnya di ruangan sidang Kantor Pengadilan Negeri Jln Sukarno Gunungsitoli (S. ada yang ke Sipirok (1861) dan ada yang menetap di Padang yaitu Pendeta Denninger. Kehadiran misionaris Eropa (Jerman) bekerja sama dengan pemerintahan Belanda (S. terutama di bagian pesisir selain sudah menganut agama (Islam) juga sering dianggap oleh orang Eropa sebagai orang yang suka melawan.Zebua dan Bambowo Laiya sebagai berikut : Bahwa pada tahun 1854. 1984 : 420-423) dalam membawa agama Kristen di daerah Nias adalah merupakan modal utama berkembangnya agama Kristen dengan cepat dan mulus di daerah Nias. Agama ini tersebar di Kecamatan Teluk Dalam. tetapi sayang sekali. dilakukan oleh orang Eropa secara profesional. Masuknya Agama Kristen Protestan di daerah Nias. (Fries. 1994 : 420). Selain orang Eropa memiliki profesionalisme dan kosentratif juga vasilitas yang dimiliki terutama dana memang tersedia untuk itu. . adalah cara yang paling ampuh bagi orang Eropa untuk tampil dan mengukuhkan kehadirannya sebagai orang yang berkuasa di Indonesia. S.Zebua.Zebua. Sebagaimana di kepuluaan nusantara lainnya. 1994 : 421 dan lihat juga E. Kecamatan Löolowa’u Kecamatan Gido dan Kecamatan GunungSitoli. 3. penyiar agama Kristen di daerah Nias. 1919 :129. Faogöli Harefa. Sebelum tahun 1865 yakni pada tahun 1836 Kongsi Barmen Jerman mengutus beberapa orang menginjil di Broneo (Kalimantan). Denninger dikirim oleh Kongsi Bremen dan sampai/ memulai penyebaran injil di Gunungsitoli pada tanggal 27-September 1865 (S. Faogöli Harefa. 1919 : 171). Orang Eropa menyebarkan agama Kristen tidak dimulai di pesisir tetapi dari bagian tengah (pedalaman). di antaranya seperti yang ditulis oleh Fries. 1939 : : 122 dan S. tidak berapa lama beliau meninggal dunia dan dimakamkan di Gunungsitoli.Dari beberapa data yang dapat diperoleh dan dihimpun oleh penulis tentang masuk dan berkembangnya agama Keristen Katolik dan Protestan di daerah Nias. 1994 : 420 ) Selanjutnya pada sekitar tahun lima puluhan abad ke XX ini beberapa orang Pastor dari agama Katolik datang menetap di GunungSitoli untuk menyebarkan agama Katolik. Zebua.Zebua. Seperti di daerah lainnya. seorang Pelayan Gereja agama Katolik Pendeta Roma yang bernama G. Sebaliknya orang pesisir melihat orang Eropa datang ke Indonesia hanyalah sebagai penjajah. Yang lain mengungsikan diri ke daerah lain. pada waktu itu Gereja masih belum ada. oleh karena para penginjil tersebut tidak begitu diterima baik oleh rakyat setempat maka terjadi pengeniayaan dan pembunuhan terhadap penginjil ini dan hanya dua orang yang tinggal di Banjarmasin (1859). maka atas bantuan dari Bapak T. Demikianlah T. lalu memohon kepada Kongsi Bremen Jerman supaya beliau diutus ke Nias.Fries. Oleh karena isterinya sakit maka beliau tinggal di Padang dan menemui banyak Ono Niha di sana. Kebiasaan tipu muslihatnya memperdaya dan mengadudomba penduduk (devide et empera). de Hessele Van Hesserle datang dan menetap di Sogawugawu (dekat Kota GungungSitoli sekarang) mencoba memulai penyeberan agama Katholik di Tanö Niha. Agaknya penyiar agama orang Eropa sulit beradaptasi dengan masyarakat di bagian pesisir. membangkang dan berontak.

Zebua. c. Tahun 1876 sampai pada tahun 1902 Dr. pada tahun1889 Pendeta JW Thomas pindah ke Papua (Irian Jaya). beliau pindah ke Luahawara (Sekarang Teluk Dalam) Tetapi oleh karena pergolakan perjuangan rakyat Tanö-Niha bahagian selatan terhadap Tentara Penjajahan Belanda sedang hangat maka atas pesan dari Residen yang berada di Sibolga.Gereja BNKP yg Pertama di Gunungsitoli (Photo-1950) Beberapa catatan penting mengenai perkembangan kegiatan agama Kristen di Daerah Nias. Desa Boto mendapat giliran pengkristenan .Tahun 1900 sekolah Guru Simanari tersebut dipindahkan di Ombolata. . inilah guru yang pertama di Tano Niha. d. Pendeta Denninger sampai dan menyebarkan Injil di daerah Nias . Gereja pertama di Tanö Niha didirikan di Ombölata (Seminari). mereka inilah pemelukagama Kristen yang pertama di Tanö Niha.Tahun 1895 Sekolah Guru Simanari didirikan oleh Pendeta JW Thomas di UmbuHumene dan pata tahun 1897 menamatkan lima orang yang menjadi guru. setelah Pendeta FEHR menggantikan Pendeta JW Thomas. 1980 : 27). e.. antara lain dari keberhasilan beliau ialah : . 22) sebagai berikut : a. 1994 : Ikht. .Tahun 1866 Pendeta Denninger memulai membuka sekolah untuk anak-anak yang pertama di Gunungsitoli. WH Sundeman melakukan pengabaran Injil atau menyebarkan agama Kristen di Tanö Niha. dan kemudian pindah lagi ke Gunungsitoli. Pada tahun 1883.Pada tahun 1920. b. secara singkat dikemukakan (S.Tahun 1910 para Pendeta Jerman melarang famoto (khitan) dan fangohözi ifo (memotong gigi) ternyata bahwa larangan tersebut tidak semua orang mentaatinya dan hanya dalam waktu yang tidak lama . Pada Tahun 1876 di masa Pendeta JW Thomas (1873-1883).Pada tahun 1874 Pendeta Kramer membabtiskan 25 orang Ono Niha dari Hilina’a dan Onozitoli di antaranya ialah Salawa Hilina’a yaitu Yawa Duha. Pada Tahun 1865. sebanyak 95 orang (Bamböwö Laiya.

Adventis – d. 1979 : 27) Dengan demikian. menilik masing-masing adat yang dipraktekkan oleh masyarakat Nias sekarang ini maka tidak lagi relevan untuk dikelaim bahwa itu adalah adat asli orang Nias. ONKP. Harefa) Sekitar tahun 1967-1975. Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dengan tokohnya seperti Drs. termasuk agama nenek moyang mereka. dll.Tetapi setelah punya anak maka gelar ini beransur menghilang dan cukup . GBI (Gereja Bethel Indonesia) f. dan pada waktu itu seluruh umat Kristen Protestan di Tanö Niha bergabung dalam satu organisasi agama yang disebut Banua Niha Kiriso Protestan (BNKP).Nias). Organisai agama Kristen Protestan di Tanö Niha selain BNKP ada juga organisasi lain seperti : a. juga berdiri partai politik berdasarkan keagamaan. yaitu Orahua Niha Kiriso Protestan c.f. --------------------*) Datuk dan Raja = adalah gelar pada masyarakat Nias Pesisir. ada juga organaisasi kepemudaan seperti Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dengan tokohnya seperti Arosokhi Mendrofa. walaupun sebagian unsur kuno itu masih dipertahankan (Bambowo Laiya. GPI (Gereja Pentakosta Indonesiag g. biasanya diberikan pada saat yang bersangkutan mengadakan pesta adat (didaulatkan sebagai kepala adat /pemerintaham atau pada saat pesta kawin). Selain organisasi keagamaan dinatas. Pada tahun 1936 sidang Synode seluruh penganut agama Kristen Protestan yang pertama di Tanö Niha. Baik yang menyangkut kepercayaan dan agama asli maupun adat istiadatnya.Perubahan agama penduduk pribumi menjadi Kristen mempengaruhi sikap mereka terhadap kebudayaan.N. AMIN yaitu Angowolua Masehi Indonesia Nias b. “. Gelar ini bisa menjadi panggilan yang bersangkutan sehari-hari terutama pada setiap acara adat dan adakalanya sebagai panggilan sehari-hari bagi yang bersangkutan sementara masih belum punya anak. Disamping partai politik. Willy Zebua (Pernah menjadi Ketua DPRD Kab. Sekitar Tahun 1950 an berdiri Jawatan Agama Kristen Kabupaten Nias yang dipimpin oleh Pendeta Nehemia Harefa (P. Adat istiadat orang Nias yang ada sekarang adalah adat istiadat orang Nias yang beragama Islam dan adat istiadat orang Nias yang beragama Kristen. berlangsung di Gunungsitoli. Fungsi agama kuno sebagai kontrol sosial dalam pengertian tradisional telah ditransformasikan ke dalam ethika Kristen. Oleh karena itu. Nehesi Zebua. Seperti Partai Kreisten Indonesia (Parkindo) dengan tokoh-tokohnya seperti Sadrachi Zebua (pernah menjadi anggota DPRD Tkt I). Seperti ditulis oleh Bamböwö Laiya. kalau tidak dikatakan bahwa apa yang disebut dengan adat istiadat asli orang Nias itu sebenarnya sudah tidak ada lagi. disadari atau tidak hal itu telah menyusupi dan membawa perubahan dalam sistem kehidupan sosial budaya asli masyarakat Nias. pindah ke Jakarta dan beliau memegang jabatan sebagai Direktur dan terakhir sebagai Direktur Jendral Bimas Kristen Departemen Agama Jakarta). Fa’awösa e. GPT Gereja Pantekosta Tabernake) Masuk dan bekembangnya agama sebagaimana di utarakan di atas. agaknya sulit dijumpai.

Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya (Tanpa Penerbit) . Waspada).  Zebua. 1976. NIAS Amoeata Hoelo Nono Niha. Bambowo 1980. Kota Gunungsitoli. Faogoli 1939.  Tanjung Hasan Basri (1962). 1984 .Waomasi). 1996. Penerbit CV Rajawali. Sibolga Pertjetakan Tapanoeli. Skripsi Fakultas Keguruan Ilmu Ssosial IKIP Negeri Medan  Laiya. Gadjah Mada University Press.Soekanto Soerjono.  Harefa.. Adat Perkawinan dan Warisan Pada Masyarakat Nias Pesisir. (Tanpa Penerbit). Menyelusuri SEJARAH KEBUDAYAAN ONO NIHA Sri 1. Jakarta.dipanggilkan bapak dari anaknya yang tertua.  Telaumbanua Marinus Dr (Penyunting). S. HUKUM ADAT INDONEIA. Hikajat Tjeritra Bangsa Nias. Solidaritas Kekeluargaan Dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias Indonesia. Medan. 1919. Zendings drukkerij. Menggali Nias Yang Terpendam (Harian. misalnya anita maka bapaknya dipanggil ama ga'ani atau ama ani Referensi  Fries E. Menyelusuri SEJARAH KEBUDAYAAN ONO NIHA Sri 2. (Tanpa Penerbit). Yogyakarta. Ombolata.  ------------------------. 1984.  Husin Suady. (A. 1981.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful