KEPERCAYAAN ASLI DAN MASUKNYA AGAMA DI DAERAH NIAS ( 4

)
A. Kepercayaan Asli Orang Nias. Terjadi komplikasi dalam pengertian orang-orang di Nias Selatan mengenai keaslian agama kuno mereka sebagaimana telah disinggung di atas mereka dengan sederhana dewasa ini mengatakan bahwa Lowalani adalah pencipta atau pemerintah yang mempunyai hubunganerat dengan dunia atas, sedangkan Lature Dano adalah pembela, penjaga, dan pemerintah Dunia bawah. Di antara dewa atas dan dewa bawah, ada lagi dewi yang disebut Nazariya Mbanua, istilah orang Nias Selatan untuk menyebut dewi Silewe Nazarata. Silewe Nazarata(istilah Nias Utara yang dipakai sekarang adalah dewi penghubung di antara Lowalani (dewa dunia atas) dan Lature Danö (dewa dunia bawah) dan juga sebagai dewi penghubung di antara kaum dewa dan ummat manusia. Maka boleh dikatakan bahwa agama kuno Nias termasuk agama Polythesis (Bamböwö Laiya, 1979 : 25). Selain itu bermacam ciptaan dan makhluk yang dipersonifikasikan lalu disembah oleh orang Nias. Benda ciptaan dan makhluk ini meliputi matahari, bulan, pohon-pohon besar, buaya, cecak dan lain-lain. Oleh sebab itu, agama orang Nias itu bukan hanya polytesis tetapi juga animistis. Pelbegu, adalah nama agama asli yang diberikan oleh pendatang yang berarti "penyembah ruh". Nama yang dipergunakan oleh penganutnya sendiri adalah molohe adu (penyembah patung). Sifat agama ini adalah berkisar pada penyembahan roh leluhur. Untuk keperluan itu mereka membuatn patung-patung dari kayu yang mereka sebut "adu". Patung yang ditempati oleh ruh leluhur disebut adu zatua dan harus dirawat dengan baik (Koentjaraningrat, Ed. 1976 : 50).

Adu Zatua dan Adu Nuwu dari Kayu

Adanya tambahan jumlah patung nenek moyang disebabkan karena setiap orang kuat di desa, orang yang amat berbakat, pemburu yang hebat dan para kesatria juga dipahat patung-patung mereka dalam bentuk kayu. Oleh sebab itu ada kira-kira 150 jenis patung yang dikenal, diukir dan disembah oleh seseorang sepanjang hidupnya di Nias. Patung yang paling penting dan paling dihormati di jejeran patung-patung itu adalah "patung nenek moyang di pihak laki-laki (adu zatua)" dan "patung nenek moyang di pihak perempuan (adu Nuwu)". Pada umumnya, setiap keluarga memahat patung nenek moyang mereka masingmasing (adu Nuwu dan adu Zatua). Setiap desa juga memahat patung kesatria mereka (adu Zato). Orang harus menyembah kedua jenis patung ini demi hubungannya dengan keluarga dan masyarakat desanya. Adu Zato itu adalah patung para pendiri desa, patriot, berbakat, pemburu yang hebat dan sebagainya. Pasangan adu Zato dan adu Nuwu atau adu Zatua tak boleh disembah secara terpisah.

Selama belum dilakukan upacara kematian. Berbagai Macam Patung di Daerah Nias Sedangkan lumo-lumonya berubah menjadibekhu (makhluk halus). tiap orang mempunyai dua macam tubuh. 1979 :28). Orang yang kaya atau berkedudukan tinggi maka akan begitu pula keadaannya di "teteholi ana'a.Adu Zatua dan Adu Nuwu dari Batu Oleh karena setiap keluarga memahat patung nenek moyangnya masing-masing dan mereka menganggap patung-patung itu sebagai illah mereka. Yang kasar disebut boto (jasad) dan yang halus terdiri dari dua macam yaitu noso (nafas) dan lumo-lumo (bayang-bayang). Menurut kepercayaan pelbegu. untuk pergi ke teteholi ana'a (dunia ruh atau gaib). . Menurut kepercayaan penganut pelbegu ini. bekhu akan tetap berada di sekitar tempat pemakamannya. maka upacara dan sikap keagamaan para keluarga di desa selalu bervariasi satu sama lain. demikian juga kalimat dalam bahasa di sana serba terbalik (Koentjaraningrat. Karena menurut kepercayaan. Ia haruslebih dahulu menyeberangi suatu jembatan yang di sana dijaga ketat oleh seorang dewa penjaga bersama mao-nya didorong masuk ke dalam neraka yang berada di bawah jembatan. Jika mati atau meninggal. sedangkan nosonya kembali kepada lowalangi (Tuhan). Perbedaan dunia sana dengan dunia sini yaitu terletak pada keadaan "terbalik" yaitu jika di sini siang maka di sana malam. kehidupan sesudah mati adalah kelanjutan dari kehidupan sese orang di dunia. botonya kembali menjadi debu. yaitu yang kasar dan yang halus. Sebaliknya demikian juga bagi mereka yang miskin. 1976 : 50-51). Setiap orang berkata "Tuhanku adalah nenek moyangku" yang berarti dia dan Tuhannya lain dari pada orang dan illah keluarga lain (Bamböwö Laia.

"babi" adalah manusia) maka secara bebas dewa mengambil dan membunuh satu atau lebih "babi"nya. Ter Haar Bezn). Sesuai dengan teori reception in complexu yaitu hukum pribumi ikut agamanya. Keberadaan babi dalam upacara lebih merupakan sistem dan bukan substansi. Termasuk diantaranya pantangan konsumsi bagi para saudara atau tamunya juga diantisipasi. baik karena kesehatan maupun karena halangan agama. 1979 :25). Pada masyarakat yang pola pikirnya sudah maju. Tapanuli. substansi adat yaitu menjalin silaturrahim antara sesama anggota persekutuan adat agar mereka hidup dalam keserasian untuk waktu yang lama (turun temurun) dengan seperangkat aturan (adat) yang mereka sepakati bersama. ialah kebudayaan Megalithik yang bukan berdasarkan pengurbanan kerbau melainkan babi. bersaudara (fatali fusö) kata sifatnya “persaudaraan” atau "fatalifusöta". asal katanya kata dari rahim dalam arti kandungan.Van Dijk dan Prof. mereka telah mengembangkan suatu kebudayaan sendiri. apabila hal itu terjadi maka bagi saudaranya yang berpantang itu. babi bukan lagi dewa tetapi hanyalah sejenis hewan (sigelo). pertalian darah atau sedarah. berlandaskan kepada suatu kebudayaan Megalithik. Konotasi maksud pengertiannya yaitu pertalian pusat (tali fuso). Logikanya. 1) Oleh sebab itu. Di mana-mana pertemuan. kematian. harus juga mengikuti hukum-hukum agama itu dengan setia (Soerjono Soekanto. apalagi dengan hajatan (perkawinan. selain tendensius juga kontra produktif dalam upaya melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat Nias (santun dan bermartabat) sebagaimana diwariskan oleh para leluhur. dsb). masalah babi dalam setiap acara adat bukanlah suatu hal yang prinsipil apalagi bila "didewakan" atau dikaitkan dengan "dewa". Ikht 1996 : 86) . Sillaturrahim. dan binatang yang ketika disemblih disebut nama selain Allah (S. selalu . sekandung. darah. karena jika memeluk suatu agama. Dr. Bila dewa berselera memakan daging "babi" (dalam hal ini. sebagian dari ciptaan lainnya. Sistem bisa berubah. Dr. Karena itu alangkah naif sekali bila dalam acara adat. seperti di Tanah Karo. tinggi hati. Menurut keterangan Bamböwö Laia. yang rupa-rupanya telah mereka bawa dari benua Asia pada zaman perunggu. Manusia itu adalah "babi dewa-dewa (illah)".Patung dari Batu diletakan di depan Rumah Dikemukakan oleh Koentjaraningrat (1980 : 40).Al Baqarah ayat 173). menyesuaikan dengan perkembangan kebutuhan masyarakatnya (lihat sifat elastisitas hukum adat menurut teori Prof. Kendatipun babi tidak dapat dipisahkan dalam setiap acara adat masyarakat Nias. Budaya megelitik dengan kepercayaan inilah maka babi tidak bisa dipisahkan dalam acara adat masyatakat Nias. Berbeda halnya dengan adat. dinikmati oleh penggemarnya hanyalah sesaat dan sebatas kerongkongan (tötölö atau dötölö) serta tidak sampai ke perut (tidak dinikmati oleh perut).. Itulah maka "babi" merupa kan unsur penting dalam kebudayaan Nias (Bambowow Laiya. tetapi biasanya tuan rumah selalu berupaya menyediakan makanan yang terbaik dan menyenangkan bagi para saudaranya atau tamunya. orang Nias mempercayai bahwa manusia itu hanyalah sebagai ciptaan biasa dari dewa-dewa. hanya karena masalah babi. dll. jijik dan haram memakan daging babi dalam mempertahankan adat istiadat Ono Niha (lihat Dr Marinus Telaumbanua (editor). kelahiran. sajian makanan merupakan kebiasaan yang tak dapat dihindari oleh yang punya hajat. Di daerah lain. dengan mengikuti ajaran agamanya yang baru (Al Quran) yang menyatakan bahwa “sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai. Kendatipun tidak ada patokan bahwa makanan yang disajikan harus jenis tertentu. tidak proposional apabila ada yang menulis bahwa Ono Niha pribumi yang berdomisili di kota dan telah masuk agama Islam itu. prilaku dan wataknya adalah sombong. Dangkal serta awamnya pola pikir seperti ini. namun bagi mereka yang sudah memeluk agama (Islam) kebiasaan dengan kepercayaan ini mereka tinggalkan. ada diantara sesama anggota yang saling memojokan dan atau dipojokan dalam lingkungan persekutuan. daging babi. 1986 : 83).

dan orang Minang (1111 H dikirakan tahun 1691 M). Kedua. Bugis. Hal inipula yang sering dipraktekan/dibiasakan oleh keturunan si Tölu Tua di Gunungsitoli Nias (lebih lanjut lihat uraian ttg Ndrawa Sowanua di Daerah Nias). lebih disebabkan oleh keadaan alamiah. mereka tertarik masuk agama Islam. dan India (lebih lanjut lihat uraian kedatangan pendatang di daerah Nias). Demikian juga pada saat mereka tinggal di daerah Nias (pesisir). Mereka datang dari Sumatera bukan dengan tujuan mengembangkan agama. adalah merupakan rangkaian proses perjalanan sejarah yang panjang dan tidak dapat dipisahkan dengan kedatangan suku bangsa Indonesia lainnya terutama dari daratan Sumatera. Seperti berniaga.disediakan makanan alternatif pengganti. 1. seperti pemberian ayam. Jadi hubungan manusia itu ada yang vertikal (dengan Tuhannya) dan ada yang horizontal (dengam sesama manusia dan makhluk hidup lainnya. Masuknya agama Islam dengan versi pertama. Begitu pula halnya pada tahun 1605 – 1636 pulau Nias dan lain-lain pernah menjadi kekuasaan Aceh dibawah pemerintahan Iskandar Muda Mahkota Alam (Schrieke B. Atau wilayah itu pernah termasuk dalam kekuasaan pemerintahan dari daerah lain. seperti yang dilakukan oleh orang Persia pada tahun 856 M dengan pemukanya yang bernama Sulaiman. mereka tinggal menetap dan mengembangkan agama Islam di daerah itu. atau singgah kemudian lebih memilih tinggal di daerah Nias. kerbau lembu atau lembu. daging kambing. Mereka datang dengan rencana dan profesional. Allah (Tuhan) mengatur bagaimana hubungan manusia dengan sesamanya serta dengan makhluk hidup lainnya. Dalam ajaran agama Islam. B. Pertama. Karena agama adalah urusan penghambaan manusia secara pribadi dengan Allah (Tuhannya). sebab adakalanya pemeluk agama Islam merantau ke Nias namun belum sadar bahwa ia harus membawa wasiat Nabi Besar Muhammad saw untuk menyampaikan risalah walau satu ayat. masuknya agama Islam tetapi belum berkembang. dalam perjalanannya pernah singgah di pulau Nias yang dinamakannya dengan pulau “nian” (Fries. Merasa hidupnya di pesisir terlindungi dan lebih baik. Begitu pula halnya yang melakukan perjalanan ke tempat lain tetapi singgah di Nias beberapa lama. Masuk dan Berkembangnya Agama di Daerah Nias. Masuk dan berkembangnya agama Islam di daerah Nias tidak sama sebagaimana masuk dan berkembangnya agama Katholik dan Keristen Protestan yang dibawa oleh misionaris dari Eropa.?). 1919 : 53 dan Suady Husin. Masuknya dan berkembangnya Agama Islam Masuk dan berkembangnya agama di daerah Nias. setelah selesai dengan urusannya ia pulang ke negerinya. Seperti orang Aceh (1639 M . baik yang siap saji seperti nasi kotak.Masuk dan berkembangnya agama Islam di daerah Nias yang dibawa oleh para pendatang. Mereka memulainya dengan langsung mendatangi para penduduk terutama di daerah Nias bagian tengah sebagaimana halnya di tanah Batak. Karena itu hukum yang dibuat oleh manusia termasuk adat tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai agama. 1957 : 244) Masuknya agama di daerah Nias dengan versi kedua. terminologi ini yang disebut “hablul minaullah dam hablul minannas”. dan tinggal . ada dua bentuk. kemudian mereka pergi lagi. Demikian halnya. lebih disebabkan secara kebetulan : berdagang. masih merajalelanya keganasan para orang bengis (niha sagamu’i) di Nias bagian tengah. dalam kaitan hubungan manusia dengan Allah (Tuhan) itu juga melalui ajaran agama. tergantung dari kemampuan tuan rumah. 1976 : 12-13). penduduk lari dan mencari perlindungan di Pesisir. Demikian halnya dengan agama.Kemudian. berkembangnya agama Islam yaitu dengan masuknya penganut agama Islam seperti di daerah Nias. ajaran atau ketentuan agama tidak bisa diintervensi oleh hukum manusia termasuk hukum adat. maupun yang mentahnya. kemudian disusul orang Arab.

Demikian juga sering terjadinya peperangan. dijualnya ketanah Sumatera. ŵe’a tedooe manö ŵa’amoei zalawa ba daloe danö. dengan memberikan . lebih dahulu dari itu telah datang ke sana bangsa Aceh dari Trumun mencuri atau membeli orang Nias dari Raja-raja atau orang yang gagah berani disana akan dijadikan budak. Tetapi bagi yang kuat. ba Siwamoehöngö ba Lahömi. Di antara pekerjaan yang susah payah. dalam Al Qur’an surat Al Balad ayat 13 : Pangkal ayat. 1919 : 132) Pada bagian lain juga ditulis oleh Faogöli Harefa. sebilangan anggota hamba yang di merdekakannya" (Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Buchari). tetapi baik ialah "memerdekakan budak dari perbudakan".serta hidup bersama dengan mayarkat Islam lainnya. tetapi mereka tidak suka menjalani jalan kebaikan yang susah payah. Oleh itu. Marinus Telaumbanuan. ba ira Sitambaho Balöhaloe ba daloedanö. Itulah orang Nias yang memeluk agama Islam yang bercampur-gaul dengan orang Melayu. 1996 : 86 ) yang menyatakan . 1939: 124). melepaskan Allah akan tiap-tiap anggotanya dari api neraka.. ba ato si’ai zanawa Rapatgebied me loeo andrö ba fateŵoe ba da’ö. Yang dijualnya itu bukan familinya melainkan budak-budak juga (Faogöli Harefa. Orang-orang yang takut kepada orang-orang yang berbuat sewenang-wenang itu di tengah-tengah pulau Nias melarikan dirinya dalam lingkungan Rapatgebied. (=budak jualan) menjual mereka kepada calo-calo pedagang budak.berhubung karena Gouvernement tiada mementingkan benar memerintahkan pulau Nias itu timbulah amat banyak peperangan antara kampungkampung di sana masing-masing menurut kemauannya. Dengan bebagai akal licik dan tipudaya mereka menjadikan orang-orang lemah itu menjadi “haranaka”. merupakan daya tarik untuk mempelajari dan menggabungkan diri menjadi penganut agama Islam. “ Ba börö da’ö fefoe. Balöhaloe wanoewö banoea ba zihene asi göi. cerdik dan pintar berlaku syarat minimal untuk tinggal bersama dalam kompleks pemukiman.Fries. Yang sebagai kepala akan membuat perbuatan yang tak baik itu ialah Siwamuhola. bahwa “ …. Karena penjualan hamba-hamba itu banyak orang Nias itu terdapat di Padang. “Serulah (ajaklah manusia) ke jalan tuhanmu dengan penuh hikmah bijakasana dan dengan cara yang sangat mendidik penuh santun dan bantalah (debatlah) mereka dengan cara yang baik pula. Dalam ajaran Islam diatur bahwa memerdekakan hamba sahaya (budak atau sawuyu) dianjurkan oleh agama Islam. he ba ŵanoeŵö banua zo ŵanoea. sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang paling mengetahui orang-orang yang mendapatkan petunjuk (Qur’an surat Annahal 125)”. Karena itu sabda Rasulullah saw : " Barang siapa memerdekakan hamba sahaya. sungguh-sungguh menjadi mangsa orang Melayu dan bahkan oknum pribumi yang terdahulu. seperti ditulis oleh Faogöli Harefa “. selain karena di Pesisir hidupnya terlindungi juga prinsip dasar agama (Islam) yang dianut oleh penduduk di pesisir yaitu rahmat dan kasih sayang kepada sesama manusia. ba ja’ija ndra Siwahoemola Fadoli ba Ziwalawa sitoe. Keprihatinan ini dapat dibaca dalam tulisan E. ba he ba ŵangai högö / keppensnellerij/ ba he ba wamaŵa “binoe aoeri” ba hadia ia na fefoe Fondrege zondrönia’o sato ba ŵolaoe si lö söchi. dan Balöhalu yang selau mengacau penduduk pulau Nias. lafahösi ŵanoeŵö ba lafailo ba danö nemali. simanö Lasara (1897)… “(E.bahwa “ … Sesuai dengan tutur ceritra masyarakat sekarang penduduk pribumi yang lemah yang baru datang di pemukiman perkotaan Gunungsitoli dan sekitarnya itu. Penduduk datang dan tinggal di Pesisir. tobali ihötöi ada’oeda’oe manö niha. 1939 : 121). sesalan Allah kepada manusia karena Allah telah menunjukkan kepada mereka dua jalan (jalan kebaikan dan kejahatan). Fries (1919 : 87) yang menerangkan. oi zara la’o’o manö nichoi dödöra. Tempat yang banyak kejadian penjualan hamba-hamba itu ialah sebelah Teluk dalam (Zuid Nias). (Faogöli Harefa. Demikian juga ketika itu amat banyak orang mengayau (keppensnellerij) dan merampok. dan tidaklah realistis tulisan (lihat Dr.

Datuk Raja Malimpah *) hingga masa Datuk Maharaja Lelo di Ilir dan Teuku Polen. Seperti di kampuung Pasar. mereka menetapkan siapa yang menjadi kepala pemerintahan dengan memberi sebutan seperti atau Raja. Ia mulai bermaksud memindahkan Mesjid Jami’ dari koto (Mesjid Persatuan) ke tempat yang baru di Duria Sarawa-rawa. Menyesuaikan kehidupan mereka di tempat yang baru dan dengan jumlah keluarga jemaah Islam yang bertambah. Inilah asal usul nama desa Mudik dan Kelurahan Ilir Gunungsitoli sekarang. sejalan dengan bertambahnya jumlah keluarga. namun daru beberapa catatan dan wawancara yang dapat dihimpun penulis. dan pendeta E Fries (1919 : 132). secara beransur-ansur dari Koto mereka bertebar di wilayah kawasan Nias lainnya terutama di bagian pesisr (pantai atau sihene asi).masing. Teuku Pemegang. mereka tidak diperkenankan tinggal di pemukiman mereka”. Shalat Jumat dan shalat Id tetap dilaksanakan di Mesjid Persatuan di Koto. Juga disyaratkan bagi orang seperti itu agar di haruskan masuk agama Islam. sebelah ke udik Mesjid dinamakan MUDIK dan sebelah hilir Mesjid dinamakan ILIR. di antaranya dapat dikemukakan sebagai berikut : Mesjid yang pertama kali didirikan yaitu Mesjid di KOTO (= kota) pada tahun 1115 Hijrah Setelah Mesjid didirikan selanjutnya dilakukan pula pembagian wilayah. masing-masing menyusun pemerintahan sendiri. Boyo. Chatib. Hal ini selain menyalahi etika penulisan yang dikatakan sebagai karya ilmiah juga dalam ajaran agama manapun perbuatan fitnah itu dikategorikan sebagai dosa. Olora dst. Setelah pembagian wilayah. Dengan pertimbangan karena lokasi itu adalah pertengahan apabila kaum muslimin yang datang dari kampung melakukan shalat Jumat dan shalat hari Raya. Pernyataan serendah ini. musollah. Landatar. Sekalipung pada waktu itu telah didirikan Musalah atau namun tidak diperkenankan mengerjakan Shalat Jum’at. Kendatipun keterangan tertulis yang diperoleh tentang hal ini sangat minim.seekor ayam jantan beserta dua liter (sedumba) beras. mereka mendirikan Surau. pada hal tidak ada dijumpai dalam buku yang dikutip adalah perbuatan fitnah. madrasah atau sekolah dan yang tak kurang pentingnya adalah terbentuknya organisasi dan pertai yang berazaskan keagamaan. Setelah masuk dan berkembangnya agama Islam di daerah Nias. surau. dan shalat Idula Fitri/Adha. diikuti dengan dilengkapinya sarana keagamaan seperti : mesjid. Teuku Pemaaf hingga masa Teuku Sulaiman di Mudik. karena jemaahnya belum mencukup 40 (empat puluh orang) yang bermukim di tempat yang baru. selain tidak etis juga praktek permutarbalikan fakta seakan-akan dikutip dari buku yang ditulis Faogoli Harefa (1939 : 12). Mandasa atau Muslallah. Moawo. menentukan para penghulu dengan tanggungjawab masing. Mesjid ini telah dipergunakan dari masa Datuk Raja Ahmad. Tohia. dan Bilal). kalau tidak. Dalam beberapa lama kemudian. Sewaktu pemerintahan .(perbatasan Ilir dan Mudik) Pada masa Datuk Maharajalelo di Ilir. Miga. Saombo. hulubalang (bohalima) sebagai penjaga kemanan dan yang tak kurang pentingnya adalah pegawai syara’ (= Imam.

pada masa Raja Sutan Ibrahim di Ilir. Pada tahun 1954. maka di Mandasa yang ada di Mudik (Mesjid Mudik lama sekarang) mulai di adakan Shalat Jum’at dan shalat Hari Raya. walaupun belakangan ini (1992). Namun atas permufakat an bersama kemudian. mereka mengundang seorang ulama yang termasyhur dimasa itu yang bernama Tuangku Haji Daeng Hafiz (Orang Bugis/Makasar) yang pada waktu itu berada di Natal. yang dikenal dengan “Naskah Surat Perdamaian Daeng Hafiz” tahun 1215 H (Foto copy terlampr) Di antara isi yang terpenting dari naskah Perdaiman adalah : Mesjid Jami’ Ilir Mudik tetap hanya satu. dipelopori oleh Datuk Mataba di Mandasa (mushallah) kampung Saombo sudah mulai didirikan Shalat Jumat dan seterusnya untuk sholat-sholat Id (Hari Raya). mendengar maksud yang demikian itu. sholat Jumat dan Sholat Id pindah dan kembali lagi ke Mesjid Mudik yang lama. Rencana pemindahan Mesjid tetap diteruskan. karena para jemaah sudah mulai banyak dan tidak dapat tertampung dalam satu Mesjid. . Rencana ini kemudian terwujud (1907) yaitu di mandasa atau surao Pasar mulai didirikan shalat Jumat dan shlat-shalar Id (Hari Raya). tanggal 28 Rabiul Akhir 1215 Hijriah. Setelah beberapa hari Tuanku Daeng Hafiz mengadakan upaya /usaha perdamean. Mesjid Agung dirobohkan maka kegiatan sholat sehari-hari. Kemudian setelah kejadian gempa bumi (2005). Mesjid Agung Mudik Gunungsitoli Pada tahun 1947 M Mesjid Jami yang ada di Ilir (Duria sarawa-rawa) diperbaiki dengan mengganti tonggak dan papan lantai yang sudah mulai lapuk. Pada tahun 1916 M. dua orang khatib dan dua orang bilal secara begantian memimpin shalat Juma’at dan shalat Id (Hari Raya) Sehubungan dengan bertambahnya penduduk. yakni pada masa Datuk Nur Sutan Indra Bongsu di Mudik dan Datuk Zakaria Baginda di Ilir. Ia bertahan keras/tidak setuju kalau Mesjid Persatuan dekat kota itu dipindahkan dari tempat yang lama ke tempat yang lain. Demikian sejarah Mandasa atau surao kampung Pasar menjadi Mesjid Jami Pasar Gunungsitoli hingga smpai sekarang.Teuku Sulaiman di Mudik. kecuali dikemudian hari bertambah penduduk yang tidak bisa memungkinkan untuk satu Mesjid maka bisa dibenarkan dua Mesjid. Shalat Jum’at dan shalat Hari Raya dipindahkan di Mesjid Baru (Mesjid Agung Mudik). maka akhirnya diperoleh suatu keputusan yang dinyatakan dalam Surat perdamaian. Ditetapkan dua orang Imam. status Mesjid Jami’ dekat Koto (Perbatasan Ilir Mudik) dipindahkan dengan mendirikan Mesjid di lokasi Duria Sarawa-rawa (Sekitar persimpangan Jln Karet/Jln Ke Mudik sekarang). Pada tahun 1914 M. Di saat itulah perselisihan antara Ilir dan Mudik makin meruncing setelah sebelumnya terjadi perbedaan persepsi tentang masalah adat. Ibrahim di Ilir dan Datu Sulaiman di Mudik ……dst (tdk terbaca). yakni pada masa Raja Stn. ada prakarsa yang dipelopori oleh Datuk Mahbub dan Sekh Haji Jalaluddin di Pasar untuk mendirikan shalat Jumat dan shalat Id (Hari Raya) di Mandasa (mushallah) kampung Pasar.

pada tahun 1942. pengajian di Mandasa Ilir diteruskan oleh anaknya Mohd. baik oleh pribadi maupun melalui organisasi seperti : Sekitar tahun 1900 Sech Abdul Aziz Imam di Mudik. Djarjis Sutan Ibrahim dari Malalo Sumatera Barat. Adapun sarana pendidikan agama. Tetapi tidak lama umurnya. dan di Madrasah ini berdiri satu organisasi wanita Jamiah Fathimiah Gunungsitoli di pimpim pertama kali oleh Haji Kalsum dan Reno Hawa (Ibunda Alm H. sekira tahun 1936 sekolah ini tidak dipakai lagi (T. bangunan madrasaha Islamiah ini dirubuhkan (sekarang menjadi tempat parkir kendaraan).Setelah pulang belajar di Mekah. Karet). . secara bertahap mulai didirikan Madrasah Muallimin NU 6 thn (sekarang namanya Madrasah Tsanawiyah/Aliyah). maka bangunannya dirubuhkan (1955).. Selain madrasah Islamiyah. .Sekitar tahun 1952. Dimulai pada tahun 1958. Abdul Hadi mendirikan dan mengajarkan pendidikan agama (sistem psantren) di kampung Baru Ilir Gunungsitoli.Alam. Setelah Abdullah Zahid berpulang kerahmtullah ia digantikan oleh anaknya H. bangunan itu dirobohkan karena tidak lagi layak atau aman untuk digunakan. dan berpulang kerahmatullah tahun 1936 Miladiyah. Labai berpulang ke rahmatullah (1963). 1952). ia digantikan oleh adiknya Abdullah Zahid. Sech H.Tahun 1952.Mohd. Tanahnya diserahkan oleh keluarga Abdullah Zahid (H.Begitu pula halnya Mesjid yang ada di Ilir beransur-ansur diperbaiki dengan perencanaan bangunan untuk dua tingkat. Mohd. (1938) Ia sempat mempolopori berdirinya Madrasah Fathimiyah di Gunungsitoli (sekarang Madrasah Aliah NU Jln. Pondasi dan lantainya diganti dan dibuat dari semen cor. Setelah beliau berpulang ke ramatullah (1910). Syarif Stn Labai sebagai tempat tinggal. didirikan Sekolah Rakyat NU di Pasar (sebelah kiri Mesjid Pasar sekarang) .Sepeninggal Abdullazahid. Tidak berapa lama setelah M.Setelah kejadian gempa tanggal 28 Maret 2005 yang lalu.Pada tahun 1939.Sebelum Abdullah Zahid berpulang ke rahmtullah. dan tempat pengajian rutin kaum ibu juag sebagai tempat sholat traweh setiap bulan ramadhan. didirikan Sekolah Aisyiah.Mohd Husin). tiang kayu diganti dengan tiang beton dan kemudian untuk tingkat dua dibuat lantai semen cor. Sekolah ini digabung dan dijadikan Sekolah Yatim Islamiyah. Husin. Syarif Stn. Madr. dan dibuat lagi yang baru berlantai satu yang saat ini digunakan salain tempat belajar TK.Sekitar tahun 1957 Muhammad Syarif gelar Labai Sutan mengajar agama di Madrasah Islmamiah Pasar Gunungsitoli kemudian menjadi guru di Madrasah Muhammadiayah . dan mengajar agama di Mesjid Mudik. mengajar di Madrasah Islamiyah Pasar dan Sekolah Rakyat NU di Pasar . tersebut di atas juga oleh Sech H.Husin. . Pada tahun 1958 bangunannya sempat dimanfaatkan oleh keluarga M. didirikan Sekolah (Madrasah) Islamiyah (1931). Kemudian setalah mandasa tidak lagi layak dipakai. Abdul Hadi mendirikan Mandasa atau Mushallah berbentuk rumah panggung yakni sebagai tempat pendidikan agama (sistem psantren). Husin) pada pengurus NU untuk digunakan sebagai tempat bangunan sekolah agama dan atau kegiatan keagamaan Islam lainnya. Aliyah NU yang sudah dirobohkan rkembangnya agama Islam di daerah Nias tidak terlepas dari kegiatan pendidikan dan da’wah. Pekerjaan ini dilakukan secara beransur ansur dari tahun ketahun hingga keadaannya seperti yang kita lihat sekarang ini. di halaman kiri depan Mesjid Ilir sekarang.

Husin diangkat sebagai Ketua. diketuai oleh oleh Sech Haji Jalaludiin di Pasar Gunungsitoli. . berdiri Jamiatul Wasliyah Cabang Nias yang diketuai oleh H.Baru). Pertama di ketuai oleh Haji Abdul Halim (Imam Mesjid di Mudik Gunungsitoli).Berturut-turut kemudian berdiri organisasi seperti Pandu Hizbul Watan (HW) sekarang Pemuda Muhammadiyah.Tajudin Alam) Imam Mesjid di Ilir kemudian menjadi Huweliksliter (Pegawai Nikah) di Gunungsitoli dan pada waktu masa pemerintah an Jepang menjadi Ketua Majelis Islam Tinggi Tapanuli Cabang Nias dan Mohd. Nias s/d 1946 berpusat di Sidempuan di ketuai oleh Sutan Syahirul Alam dan sekretaris Mohd. Pada tahun 1952 organisasi ini (Nahdlatul Ulama) menjadi Partai Politik. Aisyiah. dengan Ketua Muhd. kemudian berpecah dua. Chair Aceh. Untuk pertama kalinya yang menjadi ketua : M.Pada tahun 1950 berdiri Nahdaltul Ulama Cabang Nias yang dipelopori oleh Mohd. Kegiatan dan Organisasi berazaskan ke agamaan (Islam) di Daerah Nias . . . beridiri organisasi kepemudaan Hizbullah. di kcamatan Gunungsitoli sebagai kepala yaitu Mohd.Tahun 1946 berdiri Kantor Jawatan Agama Islam Kabupaten Nias yang dipimpin oleh Chaidir Nasrun. Husin. Nias. sekarang Gerakan Pemuda Ansor. . .Pada tahum 1951 berdiri Jawatan Pendidikan Agama Kabupaten Nias. Pada tahun 1946 s/d 1957 berdiri Partai Masyumi Cabang Nias di ketuai oleh Zakaria Baginda. Kedua. .Zuldin Tanjung. Dalam beberapa lama beliau dan keluarga bertempat tinggal di ex Madrasah Islamiyah di muka sebalah kiri halaman Mesjid Ilir sekarang sampai beliau meninggal dunia pada tahun 1963 di Teluk Dalam Nias. Husin. Pelembagaan Urusan Agama(Islam) dalam sistem Pemerintahan . Husin sebagai sekretaris. diketuai oleh Hamid Syaifuddin. Muslimat NU. diketuai oleh Haji Kalsum dan Reno Hawa (ibunda H..Pada tahun 1952 berdiri Staf Penerangan Agama Kab. .Alam Taruddin gelar Sutan Syahirun Alam (ayahanda H. Pada tahun 1942. . . Ali Nuh Aceh. Begitu juga Pandu Ansor. yang dipimpin oleh Idris Aminy. berdiri di Gunungsitoli Muhammadiyah Cabang Nias diketuai oleh S. Pada tahun 1959.Pada tahuin 1950. Pada tahun 1950 berdiri GPII Cabang Nias. Nasiatul Aisyiah (NA).Pada tahun 1913 M didirikan di Pulau Nias Partai Serikat Islam pada mulanya diketuai oleh Said Saleh Al Madany.Pada tahun 1938 s/d 1950 berdiri Jamiayatul Fathimiyah (sekarang Madrasah Ibtidaiyah NU Kp.Pada tahun 1939 M. . berdiri Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah Gunungsitoli dan Mohd. 2.Pada tahun 1947 Jawatan Agama Islam untuk kecamatan Gunung sitoli dibantu dengan diangkat Kadhi yaitu Mohd. Husin. Masuk dan berkembangnya Agama Keristen Katholik di daerah Nias.L. Husin dan Abd. dipimpin oleh Said Fihir Almadany. .Pada tahun 1955 M. Abdul Mujid Tanjung. .Pada tahun 1936 s/d 1940 berdiri organisasi Semangat Pemuda di Gunungsitoli. Marham di Kampung Baru Gunungsitoli. di beberapa kecamatan diadakan Jawatan Agama.Mohd Husin) .Pada tahun 1943 berdiri Majleis Islam Tinggi Cab.Cabang Nias di Ilir. Fatayat NU.

dilakukan oleh orang Eropa secara profesional. tidak berapa lama beliau meninggal dunia dan dimakamkan di Gunungsitoli. Kecamatan Löolowa’u Kecamatan Gido dan Kecamatan GunungSitoli. ada yang ke Sipirok (1861) dan ada yang menetap di Padang yaitu Pendeta Denninger. Sebelum tahun 1865 yakni pada tahun 1836 Kongsi Barmen Jerman mengutus beberapa orang menginjil di Broneo (Kalimantan). S. Sebagaimana di kepuluaan nusantara lainnya. lalu memohon kepada Kongsi Bremen Jerman supaya beliau diutus ke Nias. 1919 : 171). membangkang dan berontak. Oleh karena isterinya sakit maka beliau tinggal di Padang dan menemui banyak Ono Niha di sana.Zebua. de Hessele Van Hesserle datang dan menetap di Sogawugawu (dekat Kota GungungSitoli sekarang) mencoba memulai penyeberan agama Katholik di Tanö Niha. 1984 : 420-423) dalam membawa agama Kristen di daerah Nias adalah merupakan modal utama berkembangnya agama Kristen dengan cepat dan mulus di daerah Nias. Faogöli Harefa. pada waktu itu Gereja masih belum ada. Denninger dikirim oleh Kongsi Bremen dan sampai/ memulai penyebaran injil di Gunungsitoli pada tanggal 27-September 1865 (S. Agama ini tersebar di Kecamatan Teluk Dalam. 1919 :129. maka atas bantuan dari Bapak T. 1994 : 420 ) Selanjutnya pada sekitar tahun lima puluhan abad ke XX ini beberapa orang Pastor dari agama Katolik datang menetap di GunungSitoli untuk menyebarkan agama Katolik. tetapi sayang sekali. Agaknya penyiar agama orang Eropa sulit beradaptasi dengan masyarakat di bagian pesisir. Faogöli Harefa. Selain orang Eropa memiliki profesionalisme dan kosentratif juga vasilitas yang dimiliki terutama dana memang tersedia untuk itu. oleh karena para penginjil tersebut tidak begitu diterima baik oleh rakyat setempat maka terjadi pengeniayaan dan pembunuhan terhadap penginjil ini dan hanya dua orang yang tinggal di Banjarmasin (1859). 1994 : 420). penyiar agama Kristen di daerah Nias.Zebua dan Bambowo Laiya sebagai berikut : Bahwa pada tahun 1854. Masuknya Agama Kristen Protestan di daerah Nias. 1994 : 421 dan lihat juga E.Zebua. 3. 1939 : : 122 dan S. Sebaliknya orang pesisir melihat orang Eropa datang ke Indonesia hanyalah sebagai penjajah. adalah cara yang paling ampuh bagi orang Eropa untuk tampil dan mengukuhkan kehadirannya sebagai orang yang berkuasa di Indonesia. Yang lain mengungsikan diri ke daerah lain. Orang Eropa menyebarkan agama Kristen tidak dimulai di pesisir tetapi dari bagian tengah (pedalaman). di antaranya seperti yang ditulis oleh Fries. Zebua. Kehadiran misionaris Eropa (Jerman) bekerja sama dengan pemerintahan Belanda (S.Zebua.Zebua ¬ (waktu itu Ketua Pangadilan Negeri Gunungitoli) para umat Katolik melakukan kebaktian setiap harii Minggu dan hari-hari yang kudus lainnya di ruangan sidang Kantor Pengadilan Negeri Jln Sukarno Gunungsitoli (S. seorang Pelayan Gereja agama Katolik Pendeta Roma yang bernama G. . (Fries. Seperti di daerah lainnya.Dari beberapa data yang dapat diperoleh dan dihimpun oleh penulis tentang masuk dan berkembangnya agama Keristen Katolik dan Protestan di daerah Nias. Kebiasaan tipu muslihatnya memperdaya dan mengadudomba penduduk (devide et empera). Demikianlah T. terutama di bagian pesisir selain sudah menganut agama (Islam) juga sering dianggap oleh orang Eropa sebagai orang yang suka melawan.Fries.

c.Pada tahun 1920.Gereja BNKP yg Pertama di Gunungsitoli (Photo-1950) Beberapa catatan penting mengenai perkembangan kegiatan agama Kristen di Daerah Nias. . . beliau pindah ke Luahawara (Sekarang Teluk Dalam) Tetapi oleh karena pergolakan perjuangan rakyat Tanö-Niha bahagian selatan terhadap Tentara Penjajahan Belanda sedang hangat maka atas pesan dari Residen yang berada di Sibolga. WH Sundeman melakukan pengabaran Injil atau menyebarkan agama Kristen di Tanö Niha. pada tahun1889 Pendeta JW Thomas pindah ke Papua (Irian Jaya). b. inilah guru yang pertama di Tano Niha. secara singkat dikemukakan (S. Desa Boto mendapat giliran pengkristenan .Tahun 1910 para Pendeta Jerman melarang famoto (khitan) dan fangohözi ifo (memotong gigi) ternyata bahwa larangan tersebut tidak semua orang mentaatinya dan hanya dalam waktu yang tidak lama .Pada tahun 1874 Pendeta Kramer membabtiskan 25 orang Ono Niha dari Hilina’a dan Onozitoli di antaranya ialah Salawa Hilina’a yaitu Yawa Duha. Pendeta Denninger sampai dan menyebarkan Injil di daerah Nias . setelah Pendeta FEHR menggantikan Pendeta JW Thomas.Tahun 1866 Pendeta Denninger memulai membuka sekolah untuk anak-anak yang pertama di Gunungsitoli. Pada Tahun 1865. 1980 : 27). Gereja pertama di Tanö Niha didirikan di Ombölata (Seminari). dan kemudian pindah lagi ke Gunungsitoli.Tahun 1895 Sekolah Guru Simanari didirikan oleh Pendeta JW Thomas di UmbuHumene dan pata tahun 1897 menamatkan lima orang yang menjadi guru.Zebua. mereka inilah pemelukagama Kristen yang pertama di Tanö Niha.. antara lain dari keberhasilan beliau ialah : . Pada tahun 1883. sebanyak 95 orang (Bamböwö Laiya. e. Tahun 1876 sampai pada tahun 1902 Dr. Pada Tahun 1876 di masa Pendeta JW Thomas (1873-1883). d. 22) sebagai berikut : a.Tahun 1900 sekolah Guru Simanari tersebut dipindahkan di Ombolata. 1994 : Ikht.

Perubahan agama penduduk pribumi menjadi Kristen mempengaruhi sikap mereka terhadap kebudayaan. GPI (Gereja Pentakosta Indonesiag g. Oleh karena itu. dll. --------------------*) Datuk dan Raja = adalah gelar pada masyarakat Nias Pesisir. disadari atau tidak hal itu telah menyusupi dan membawa perubahan dalam sistem kehidupan sosial budaya asli masyarakat Nias. pindah ke Jakarta dan beliau memegang jabatan sebagai Direktur dan terakhir sebagai Direktur Jendral Bimas Kristen Departemen Agama Jakarta). Baik yang menyangkut kepercayaan dan agama asli maupun adat istiadatnya. “. Gelar ini bisa menjadi panggilan yang bersangkutan sehari-hari terutama pada setiap acara adat dan adakalanya sebagai panggilan sehari-hari bagi yang bersangkutan sementara masih belum punya anak. walaupun sebagian unsur kuno itu masih dipertahankan (Bambowo Laiya. GPT Gereja Pantekosta Tabernake) Masuk dan bekembangnya agama sebagaimana di utarakan di atas. Seperti ditulis oleh Bamböwö Laiya. berlangsung di Gunungsitoli. Fungsi agama kuno sebagai kontrol sosial dalam pengertian tradisional telah ditransformasikan ke dalam ethika Kristen. Organisai agama Kristen Protestan di Tanö Niha selain BNKP ada juga organisasi lain seperti : a. agaknya sulit dijumpai. Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dengan tokohnya seperti Drs. Harefa) Sekitar tahun 1967-1975. Willy Zebua (Pernah menjadi Ketua DPRD Kab. GBI (Gereja Bethel Indonesia) f. Pada tahun 1936 sidang Synode seluruh penganut agama Kristen Protestan yang pertama di Tanö Niha. dan pada waktu itu seluruh umat Kristen Protestan di Tanö Niha bergabung dalam satu organisasi agama yang disebut Banua Niha Kiriso Protestan (BNKP). kalau tidak dikatakan bahwa apa yang disebut dengan adat istiadat asli orang Nias itu sebenarnya sudah tidak ada lagi. juga berdiri partai politik berdasarkan keagamaan. Disamping partai politik. menilik masing-masing adat yang dipraktekkan oleh masyarakat Nias sekarang ini maka tidak lagi relevan untuk dikelaim bahwa itu adalah adat asli orang Nias. Sekitar Tahun 1950 an berdiri Jawatan Agama Kristen Kabupaten Nias yang dipimpin oleh Pendeta Nehemia Harefa (P.Nias). ada juga organaisasi kepemudaan seperti Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dengan tokohnya seperti Arosokhi Mendrofa. Adventis – d. Adat istiadat orang Nias yang ada sekarang adalah adat istiadat orang Nias yang beragama Islam dan adat istiadat orang Nias yang beragama Kristen. AMIN yaitu Angowolua Masehi Indonesia Nias b. Seperti Partai Kreisten Indonesia (Parkindo) dengan tokoh-tokohnya seperti Sadrachi Zebua (pernah menjadi anggota DPRD Tkt I). yaitu Orahua Niha Kiriso Protestan c. termasuk agama nenek moyang mereka. ONKP. Fa’awösa e.f.N. 1979 : 27) Dengan demikian.Tetapi setelah punya anak maka gelar ini beransur menghilang dan cukup . Nehesi Zebua. biasanya diberikan pada saat yang bersangkutan mengadakan pesta adat (didaulatkan sebagai kepala adat /pemerintaham atau pada saat pesta kawin). Selain organisasi keagamaan dinatas.

HUKUM ADAT INDONEIA. Yogyakarta.Waomasi). Ombolata. Menyelusuri SEJARAH KEBUDAYAAN ONO NIHA Sri 1. 1984. 1981. Menggali Nias Yang Terpendam (Harian. Skripsi Fakultas Keguruan Ilmu Ssosial IKIP Negeri Medan  Laiya.. Medan. NIAS Amoeata Hoelo Nono Niha. Faogoli 1939. Adat Perkawinan dan Warisan Pada Masyarakat Nias Pesisir.Soekanto Soerjono. 1996. Gadjah Mada University Press. Kota Gunungsitoli. Hikajat Tjeritra Bangsa Nias. Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya (Tanpa Penerbit) . Jakarta. (Tanpa Penerbit). misalnya anita maka bapaknya dipanggil ama ga'ani atau ama ani Referensi  Fries E.  ------------------------. Solidaritas Kekeluargaan Dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias Indonesia.  Zebua. Bambowo 1980. Sibolga Pertjetakan Tapanoeli.  Harefa.  Husin Suady. S. Penerbit CV Rajawali. Zendings drukkerij. Menyelusuri SEJARAH KEBUDAYAAN ONO NIHA Sri 2. 1976. (Tanpa Penerbit). (A.  Telaumbanua Marinus Dr (Penyunting). 1919.  Tanjung Hasan Basri (1962).dipanggilkan bapak dari anaknya yang tertua. 1984 . Waspada).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful