P. 1
Daerah Nias Sejarah

Daerah Nias Sejarah

|Views: 479|Likes:
Published by Sarra Rahmadani

More info:

Published by: Sarra Rahmadani on Apr 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/11/2014

pdf

text

original

KEPERCAYAAN ASLI DAN MASUKNYA AGAMA DI DAERAH NIAS ( 4

)
A. Kepercayaan Asli Orang Nias. Terjadi komplikasi dalam pengertian orang-orang di Nias Selatan mengenai keaslian agama kuno mereka sebagaimana telah disinggung di atas mereka dengan sederhana dewasa ini mengatakan bahwa Lowalani adalah pencipta atau pemerintah yang mempunyai hubunganerat dengan dunia atas, sedangkan Lature Dano adalah pembela, penjaga, dan pemerintah Dunia bawah. Di antara dewa atas dan dewa bawah, ada lagi dewi yang disebut Nazariya Mbanua, istilah orang Nias Selatan untuk menyebut dewi Silewe Nazarata. Silewe Nazarata(istilah Nias Utara yang dipakai sekarang adalah dewi penghubung di antara Lowalani (dewa dunia atas) dan Lature Danö (dewa dunia bawah) dan juga sebagai dewi penghubung di antara kaum dewa dan ummat manusia. Maka boleh dikatakan bahwa agama kuno Nias termasuk agama Polythesis (Bamböwö Laiya, 1979 : 25). Selain itu bermacam ciptaan dan makhluk yang dipersonifikasikan lalu disembah oleh orang Nias. Benda ciptaan dan makhluk ini meliputi matahari, bulan, pohon-pohon besar, buaya, cecak dan lain-lain. Oleh sebab itu, agama orang Nias itu bukan hanya polytesis tetapi juga animistis. Pelbegu, adalah nama agama asli yang diberikan oleh pendatang yang berarti "penyembah ruh". Nama yang dipergunakan oleh penganutnya sendiri adalah molohe adu (penyembah patung). Sifat agama ini adalah berkisar pada penyembahan roh leluhur. Untuk keperluan itu mereka membuatn patung-patung dari kayu yang mereka sebut "adu". Patung yang ditempati oleh ruh leluhur disebut adu zatua dan harus dirawat dengan baik (Koentjaraningrat, Ed. 1976 : 50).

Adu Zatua dan Adu Nuwu dari Kayu

Adanya tambahan jumlah patung nenek moyang disebabkan karena setiap orang kuat di desa, orang yang amat berbakat, pemburu yang hebat dan para kesatria juga dipahat patung-patung mereka dalam bentuk kayu. Oleh sebab itu ada kira-kira 150 jenis patung yang dikenal, diukir dan disembah oleh seseorang sepanjang hidupnya di Nias. Patung yang paling penting dan paling dihormati di jejeran patung-patung itu adalah "patung nenek moyang di pihak laki-laki (adu zatua)" dan "patung nenek moyang di pihak perempuan (adu Nuwu)". Pada umumnya, setiap keluarga memahat patung nenek moyang mereka masingmasing (adu Nuwu dan adu Zatua). Setiap desa juga memahat patung kesatria mereka (adu Zato). Orang harus menyembah kedua jenis patung ini demi hubungannya dengan keluarga dan masyarakat desanya. Adu Zato itu adalah patung para pendiri desa, patriot, berbakat, pemburu yang hebat dan sebagainya. Pasangan adu Zato dan adu Nuwu atau adu Zatua tak boleh disembah secara terpisah.

.Adu Zatua dan Adu Nuwu dari Batu Oleh karena setiap keluarga memahat patung nenek moyangnya masing-masing dan mereka menganggap patung-patung itu sebagai illah mereka. Selama belum dilakukan upacara kematian. Menurut kepercayaan penganut pelbegu ini. 1979 :28). tiap orang mempunyai dua macam tubuh. Orang yang kaya atau berkedudukan tinggi maka akan begitu pula keadaannya di "teteholi ana'a. Setiap orang berkata "Tuhanku adalah nenek moyangku" yang berarti dia dan Tuhannya lain dari pada orang dan illah keluarga lain (Bamböwö Laia. Berbagai Macam Patung di Daerah Nias Sedangkan lumo-lumonya berubah menjadibekhu (makhluk halus). 1976 : 50-51). sedangkan nosonya kembali kepada lowalangi (Tuhan). untuk pergi ke teteholi ana'a (dunia ruh atau gaib). bekhu akan tetap berada di sekitar tempat pemakamannya. maka upacara dan sikap keagamaan para keluarga di desa selalu bervariasi satu sama lain. kehidupan sesudah mati adalah kelanjutan dari kehidupan sese orang di dunia. Jika mati atau meninggal. yaitu yang kasar dan yang halus. demikian juga kalimat dalam bahasa di sana serba terbalik (Koentjaraningrat. Sebaliknya demikian juga bagi mereka yang miskin. Karena menurut kepercayaan. botonya kembali menjadi debu. Yang kasar disebut boto (jasad) dan yang halus terdiri dari dua macam yaitu noso (nafas) dan lumo-lumo (bayang-bayang). Ia haruslebih dahulu menyeberangi suatu jembatan yang di sana dijaga ketat oleh seorang dewa penjaga bersama mao-nya didorong masuk ke dalam neraka yang berada di bawah jembatan. Menurut kepercayaan pelbegu. Perbedaan dunia sana dengan dunia sini yaitu terletak pada keadaan "terbalik" yaitu jika di sini siang maka di sana malam.

Itulah maka "babi" merupa kan unsur penting dalam kebudayaan Nias (Bambowow Laiya. prilaku dan wataknya adalah sombong. jijik dan haram memakan daging babi dalam mempertahankan adat istiadat Ono Niha (lihat Dr Marinus Telaumbanua (editor). 1) Oleh sebab itu. tetapi biasanya tuan rumah selalu berupaya menyediakan makanan yang terbaik dan menyenangkan bagi para saudaranya atau tamunya. Dr. 1986 : 83). Berbeda halnya dengan adat. tinggi hati. apalagi dengan hajatan (perkawinan. Kendatipun tidak ada patokan bahwa makanan yang disajikan harus jenis tertentu. Keberadaan babi dalam upacara lebih merupakan sistem dan bukan substansi. masalah babi dalam setiap acara adat bukanlah suatu hal yang prinsipil apalagi bila "didewakan" atau dikaitkan dengan "dewa". berlandaskan kepada suatu kebudayaan Megalithik. Sesuai dengan teori reception in complexu yaitu hukum pribumi ikut agamanya. Di daerah lain. Menurut keterangan Bamböwö Laia. daging babi. dinikmati oleh penggemarnya hanyalah sesaat dan sebatas kerongkongan (tötölö atau dötölö) serta tidak sampai ke perut (tidak dinikmati oleh perut). ialah kebudayaan Megalithik yang bukan berdasarkan pengurbanan kerbau melainkan babi. dan binatang yang ketika disemblih disebut nama selain Allah (S. Di mana-mana pertemuan. baik karena kesehatan maupun karena halangan agama. sajian makanan merupakan kebiasaan yang tak dapat dihindari oleh yang punya hajat. asal katanya kata dari rahim dalam arti kandungan. sebagian dari ciptaan lainnya. babi bukan lagi dewa tetapi hanyalah sejenis hewan (sigelo).Van Dijk dan Prof. bersaudara (fatali fusö) kata sifatnya “persaudaraan” atau "fatalifusöta". Pada masyarakat yang pola pikirnya sudah maju. dsb). 1979 :25). mereka telah mengembangkan suatu kebudayaan sendiri. seperti di Tanah Karo. Dr. ada diantara sesama anggota yang saling memojokan dan atau dipojokan dalam lingkungan persekutuan. pertalian darah atau sedarah. apabila hal itu terjadi maka bagi saudaranya yang berpantang itu. Ikht 1996 : 86) . Ter Haar Bezn). sekandung. Termasuk diantaranya pantangan konsumsi bagi para saudara atau tamunya juga diantisipasi. menyesuaikan dengan perkembangan kebutuhan masyarakatnya (lihat sifat elastisitas hukum adat menurut teori Prof.Al Baqarah ayat 173). selain tendensius juga kontra produktif dalam upaya melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat Nias (santun dan bermartabat) sebagaimana diwariskan oleh para leluhur. Karena itu alangkah naif sekali bila dalam acara adat. dengan mengikuti ajaran agamanya yang baru (Al Quran) yang menyatakan bahwa “sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai.. "babi" adalah manusia) maka secara bebas dewa mengambil dan membunuh satu atau lebih "babi"nya. darah. Tapanuli. Logikanya. Kendatipun babi tidak dapat dipisahkan dalam setiap acara adat masyarakat Nias. Bila dewa berselera memakan daging "babi" (dalam hal ini. Konotasi maksud pengertiannya yaitu pertalian pusat (tali fuso). kelahiran. tidak proposional apabila ada yang menulis bahwa Ono Niha pribumi yang berdomisili di kota dan telah masuk agama Islam itu. Sillaturrahim. Sistem bisa berubah. dll. yang rupa-rupanya telah mereka bawa dari benua Asia pada zaman perunggu. hanya karena masalah babi. Budaya megelitik dengan kepercayaan inilah maka babi tidak bisa dipisahkan dalam acara adat masyatakat Nias. Dangkal serta awamnya pola pikir seperti ini. harus juga mengikuti hukum-hukum agama itu dengan setia (Soerjono Soekanto. karena jika memeluk suatu agama. substansi adat yaitu menjalin silaturrahim antara sesama anggota persekutuan adat agar mereka hidup dalam keserasian untuk waktu yang lama (turun temurun) dengan seperangkat aturan (adat) yang mereka sepakati bersama. namun bagi mereka yang sudah memeluk agama (Islam) kebiasaan dengan kepercayaan ini mereka tinggalkan. orang Nias mempercayai bahwa manusia itu hanyalah sebagai ciptaan biasa dari dewa-dewa. selalu . Manusia itu adalah "babi dewa-dewa (illah)". kematian.Patung dari Batu diletakan di depan Rumah Dikemukakan oleh Koentjaraningrat (1980 : 40).

Pertama. Merasa hidupnya di pesisir terlindungi dan lebih baik. ajaran atau ketentuan agama tidak bisa diintervensi oleh hukum manusia termasuk hukum adat. 1957 : 244) Masuknya agama di daerah Nias dengan versi kedua. kemudian mereka pergi lagi. Jadi hubungan manusia itu ada yang vertikal (dengan Tuhannya) dan ada yang horizontal (dengam sesama manusia dan makhluk hidup lainnya. Masuk dan berkembangnya agama Islam di daerah Nias tidak sama sebagaimana masuk dan berkembangnya agama Katholik dan Keristen Protestan yang dibawa oleh misionaris dari Eropa. Demikian juga pada saat mereka tinggal di daerah Nias (pesisir).Kemudian. setelah selesai dengan urusannya ia pulang ke negerinya.?). Karena itu hukum yang dibuat oleh manusia termasuk adat tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai agama. kemudian disusul orang Arab. dan tinggal . dalam perjalanannya pernah singgah di pulau Nias yang dinamakannya dengan pulau “nian” (Fries. mereka tertarik masuk agama Islam. Atau wilayah itu pernah termasuk dalam kekuasaan pemerintahan dari daerah lain. sebab adakalanya pemeluk agama Islam merantau ke Nias namun belum sadar bahwa ia harus membawa wasiat Nabi Besar Muhammad saw untuk menyampaikan risalah walau satu ayat. penduduk lari dan mencari perlindungan di Pesisir. maupun yang mentahnya. Hal inipula yang sering dipraktekan/dibiasakan oleh keturunan si Tölu Tua di Gunungsitoli Nias (lebih lanjut lihat uraian ttg Ndrawa Sowanua di Daerah Nias). Dalam ajaran agama Islam. dan India (lebih lanjut lihat uraian kedatangan pendatang di daerah Nias). 1976 : 12-13). kerbau lembu atau lembu. seperti yang dilakukan oleh orang Persia pada tahun 856 M dengan pemukanya yang bernama Sulaiman. seperti pemberian ayam. ada dua bentuk. lebih disebabkan secara kebetulan : berdagang. Karena agama adalah urusan penghambaan manusia secara pribadi dengan Allah (Tuhannya). terminologi ini yang disebut “hablul minaullah dam hablul minannas”. dalam kaitan hubungan manusia dengan Allah (Tuhan) itu juga melalui ajaran agama. tergantung dari kemampuan tuan rumah. Demikian halnya dengan agama.Masuk dan berkembangnya agama Islam di daerah Nias yang dibawa oleh para pendatang. Masuknya agama Islam dengan versi pertama. Mereka datang dengan rencana dan profesional. adalah merupakan rangkaian proses perjalanan sejarah yang panjang dan tidak dapat dipisahkan dengan kedatangan suku bangsa Indonesia lainnya terutama dari daratan Sumatera. Seperti orang Aceh (1639 M . B. Begitu pula halnya yang melakukan perjalanan ke tempat lain tetapi singgah di Nias beberapa lama. Mereka memulainya dengan langsung mendatangi para penduduk terutama di daerah Nias bagian tengah sebagaimana halnya di tanah Batak.disediakan makanan alternatif pengganti. dan orang Minang (1111 H dikirakan tahun 1691 M). Bugis. baik yang siap saji seperti nasi kotak. berkembangnya agama Islam yaitu dengan masuknya penganut agama Islam seperti di daerah Nias. daging kambing. Begitu pula halnya pada tahun 1605 – 1636 pulau Nias dan lain-lain pernah menjadi kekuasaan Aceh dibawah pemerintahan Iskandar Muda Mahkota Alam (Schrieke B. Kedua. Seperti berniaga. lebih disebabkan oleh keadaan alamiah. Masuknya dan berkembangnya Agama Islam Masuk dan berkembangnya agama di daerah Nias. mereka tinggal menetap dan mengembangkan agama Islam di daerah itu. 1. masuknya agama Islam tetapi belum berkembang. masih merajalelanya keganasan para orang bengis (niha sagamu’i) di Nias bagian tengah. Demikian halnya. 1919 : 53 dan Suady Husin. Masuk dan Berkembangnya Agama di Daerah Nias. Mereka datang dari Sumatera bukan dengan tujuan mengembangkan agama. atau singgah kemudian lebih memilih tinggal di daerah Nias. Allah (Tuhan) mengatur bagaimana hubungan manusia dengan sesamanya serta dengan makhluk hidup lainnya.

he ba ŵanoeŵö banua zo ŵanoea. Itulah orang Nias yang memeluk agama Islam yang bercampur-gaul dengan orang Melayu. Karena itu sabda Rasulullah saw : " Barang siapa memerdekakan hamba sahaya. seperti ditulis oleh Faogöli Harefa “. Karena penjualan hamba-hamba itu banyak orang Nias itu terdapat di Padang. dijualnya ketanah Sumatera. 1939: 124). 1919 : 132) Pada bagian lain juga ditulis oleh Faogöli Harefa. Dalam ajaran Islam diatur bahwa memerdekakan hamba sahaya (budak atau sawuyu) dianjurkan oleh agama Islam. cerdik dan pintar berlaku syarat minimal untuk tinggal bersama dalam kompleks pemukiman. sebilangan anggota hamba yang di merdekakannya" (Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Buchari). Tetapi bagi yang kuat.bahwa “ … Sesuai dengan tutur ceritra masyarakat sekarang penduduk pribumi yang lemah yang baru datang di pemukiman perkotaan Gunungsitoli dan sekitarnya itu. “Serulah (ajaklah manusia) ke jalan tuhanmu dengan penuh hikmah bijakasana dan dengan cara yang sangat mendidik penuh santun dan bantalah (debatlah) mereka dengan cara yang baik pula. (=budak jualan) menjual mereka kepada calo-calo pedagang budak. bahwa “ …. ŵe’a tedooe manö ŵa’amoei zalawa ba daloe danö. Marinus Telaumbanuan. tobali ihötöi ada’oeda’oe manö niha. 1996 : 86 ) yang menyatakan . sesalan Allah kepada manusia karena Allah telah menunjukkan kepada mereka dua jalan (jalan kebaikan dan kejahatan). Balöhaloe wanoewö banoea ba zihene asi göi.. Yang dijualnya itu bukan familinya melainkan budak-budak juga (Faogöli Harefa. tetapi mereka tidak suka menjalani jalan kebaikan yang susah payah. ba ja’ija ndra Siwahoemola Fadoli ba Ziwalawa sitoe. Demikian juga sering terjadinya peperangan. dan Balöhalu yang selau mengacau penduduk pulau Nias. tetapi baik ialah "memerdekakan budak dari perbudakan". ba ato si’ai zanawa Rapatgebied me loeo andrö ba fateŵoe ba da’ö. Yang sebagai kepala akan membuat perbuatan yang tak baik itu ialah Siwamuhola. Keprihatinan ini dapat dibaca dalam tulisan E.serta hidup bersama dengan mayarkat Islam lainnya. sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang paling mengetahui orang-orang yang mendapatkan petunjuk (Qur’an surat Annahal 125)”. Tempat yang banyak kejadian penjualan hamba-hamba itu ialah sebelah Teluk dalam (Zuid Nias).Fries. Penduduk datang dan tinggal di Pesisir. lafahösi ŵanoeŵö ba lafailo ba danö nemali. Di antara pekerjaan yang susah payah. dengan memberikan . dalam Al Qur’an surat Al Balad ayat 13 : Pangkal ayat. simanö Lasara (1897)… “(E.berhubung karena Gouvernement tiada mementingkan benar memerintahkan pulau Nias itu timbulah amat banyak peperangan antara kampungkampung di sana masing-masing menurut kemauannya. oi zara la’o’o manö nichoi dödöra. merupakan daya tarik untuk mempelajari dan menggabungkan diri menjadi penganut agama Islam. melepaskan Allah akan tiap-tiap anggotanya dari api neraka. lebih dahulu dari itu telah datang ke sana bangsa Aceh dari Trumun mencuri atau membeli orang Nias dari Raja-raja atau orang yang gagah berani disana akan dijadikan budak. dan tidaklah realistis tulisan (lihat Dr. (Faogöli Harefa. 1939 : 121). ba he ba ŵangai högö / keppensnellerij/ ba he ba wamaŵa “binoe aoeri” ba hadia ia na fefoe Fondrege zondrönia’o sato ba ŵolaoe si lö söchi. Orang-orang yang takut kepada orang-orang yang berbuat sewenang-wenang itu di tengah-tengah pulau Nias melarikan dirinya dalam lingkungan Rapatgebied. selain karena di Pesisir hidupnya terlindungi juga prinsip dasar agama (Islam) yang dianut oleh penduduk di pesisir yaitu rahmat dan kasih sayang kepada sesama manusia. sungguh-sungguh menjadi mangsa orang Melayu dan bahkan oknum pribumi yang terdahulu. ba ira Sitambaho Balöhaloe ba daloedanö. Demikian juga ketika itu amat banyak orang mengayau (keppensnellerij) dan merampok. Dengan bebagai akal licik dan tipudaya mereka menjadikan orang-orang lemah itu menjadi “haranaka”. “ Ba börö da’ö fefoe. Fries (1919 : 87) yang menerangkan. ba Siwamoehöngö ba Lahömi. Oleh itu.

Datuk Raja Malimpah *) hingga masa Datuk Maharaja Lelo di Ilir dan Teuku Polen. Ia mulai bermaksud memindahkan Mesjid Jami’ dari koto (Mesjid Persatuan) ke tempat yang baru di Duria Sarawa-rawa. di antaranya dapat dikemukakan sebagai berikut : Mesjid yang pertama kali didirikan yaitu Mesjid di KOTO (= kota) pada tahun 1115 Hijrah Setelah Mesjid didirikan selanjutnya dilakukan pula pembagian wilayah. Teuku Pemegang. Boyo. Setelah pembagian wilayah. Pernyataan serendah ini. Olora dst. kalau tidak. Saombo. mereka menetapkan siapa yang menjadi kepala pemerintahan dengan memberi sebutan seperti atau Raja. surau. Teuku Pemaaf hingga masa Teuku Sulaiman di Mudik. Mandasa atau Muslallah. Miga. Menyesuaikan kehidupan mereka di tempat yang baru dan dengan jumlah keluarga jemaah Islam yang bertambah. Juga disyaratkan bagi orang seperti itu agar di haruskan masuk agama Islam. madrasah atau sekolah dan yang tak kurang pentingnya adalah terbentuknya organisasi dan pertai yang berazaskan keagamaan. sebelah ke udik Mesjid dinamakan MUDIK dan sebelah hilir Mesjid dinamakan ILIR. Tohia. mereka mendirikan Surau. karena jemaahnya belum mencukup 40 (empat puluh orang) yang bermukim di tempat yang baru. pada hal tidak ada dijumpai dalam buku yang dikutip adalah perbuatan fitnah. Shalat Jumat dan shalat Id tetap dilaksanakan di Mesjid Persatuan di Koto. selain tidak etis juga praktek permutarbalikan fakta seakan-akan dikutip dari buku yang ditulis Faogoli Harefa (1939 : 12). dan pendeta E Fries (1919 : 132). secara beransur-ansur dari Koto mereka bertebar di wilayah kawasan Nias lainnya terutama di bagian pesisr (pantai atau sihene asi). masing-masing menyusun pemerintahan sendiri. Moawo.seekor ayam jantan beserta dua liter (sedumba) beras. Chatib. Dengan pertimbangan karena lokasi itu adalah pertengahan apabila kaum muslimin yang datang dari kampung melakukan shalat Jumat dan shalat hari Raya. Kendatipun keterangan tertulis yang diperoleh tentang hal ini sangat minim. hulubalang (bohalima) sebagai penjaga kemanan dan yang tak kurang pentingnya adalah pegawai syara’ (= Imam. Inilah asal usul nama desa Mudik dan Kelurahan Ilir Gunungsitoli sekarang. dan shalat Idula Fitri/Adha. Landatar. namun daru beberapa catatan dan wawancara yang dapat dihimpun penulis. Dalam beberapa lama kemudian. Seperti di kampuung Pasar.masing. Sekalipung pada waktu itu telah didirikan Musalah atau namun tidak diperkenankan mengerjakan Shalat Jum’at. dan Bilal). Mesjid ini telah dipergunakan dari masa Datuk Raja Ahmad. Sewaktu pemerintahan . Setelah masuk dan berkembangnya agama Islam di daerah Nias. mereka tidak diperkenankan tinggal di pemukiman mereka”.(perbatasan Ilir dan Mudik) Pada masa Datuk Maharajalelo di Ilir. diikuti dengan dilengkapinya sarana keagamaan seperti : mesjid. menentukan para penghulu dengan tanggungjawab masing. sejalan dengan bertambahnya jumlah keluarga. musollah. Hal ini selain menyalahi etika penulisan yang dikatakan sebagai karya ilmiah juga dalam ajaran agama manapun perbuatan fitnah itu dikategorikan sebagai dosa.

Ia bertahan keras/tidak setuju kalau Mesjid Persatuan dekat kota itu dipindahkan dari tempat yang lama ke tempat yang lain. maka akhirnya diperoleh suatu keputusan yang dinyatakan dalam Surat perdamaian. Pada tahun 1916 M. Ibrahim di Ilir dan Datu Sulaiman di Mudik ……dst (tdk terbaca). karena para jemaah sudah mulai banyak dan tidak dapat tertampung dalam satu Mesjid. Di saat itulah perselisihan antara Ilir dan Mudik makin meruncing setelah sebelumnya terjadi perbedaan persepsi tentang masalah adat. Demikian sejarah Mandasa atau surao kampung Pasar menjadi Mesjid Jami Pasar Gunungsitoli hingga smpai sekarang. status Mesjid Jami’ dekat Koto (Perbatasan Ilir Mudik) dipindahkan dengan mendirikan Mesjid di lokasi Duria Sarawa-rawa (Sekitar persimpangan Jln Karet/Jln Ke Mudik sekarang). walaupun belakangan ini (1992). yakni pada masa Raja Stn. Mesjid Agung Mudik Gunungsitoli Pada tahun 1947 M Mesjid Jami yang ada di Ilir (Duria sarawa-rawa) diperbaiki dengan mengganti tonggak dan papan lantai yang sudah mulai lapuk. sholat Jumat dan Sholat Id pindah dan kembali lagi ke Mesjid Mudik yang lama. Rencana pemindahan Mesjid tetap diteruskan. Namun atas permufakat an bersama kemudian. dipelopori oleh Datuk Mataba di Mandasa (mushallah) kampung Saombo sudah mulai didirikan Shalat Jumat dan seterusnya untuk sholat-sholat Id (Hari Raya). yakni pada masa Datuk Nur Sutan Indra Bongsu di Mudik dan Datuk Zakaria Baginda di Ilir. yang dikenal dengan “Naskah Surat Perdamaian Daeng Hafiz” tahun 1215 H (Foto copy terlampr) Di antara isi yang terpenting dari naskah Perdaiman adalah : Mesjid Jami’ Ilir Mudik tetap hanya satu. ada prakarsa yang dipelopori oleh Datuk Mahbub dan Sekh Haji Jalaluddin di Pasar untuk mendirikan shalat Jumat dan shalat Id (Hari Raya) di Mandasa (mushallah) kampung Pasar. Pada tahun 1914 M. . Rencana ini kemudian terwujud (1907) yaitu di mandasa atau surao Pasar mulai didirikan shalat Jumat dan shlat-shalar Id (Hari Raya). maka di Mandasa yang ada di Mudik (Mesjid Mudik lama sekarang) mulai di adakan Shalat Jum’at dan shalat Hari Raya. kecuali dikemudian hari bertambah penduduk yang tidak bisa memungkinkan untuk satu Mesjid maka bisa dibenarkan dua Mesjid. mereka mengundang seorang ulama yang termasyhur dimasa itu yang bernama Tuangku Haji Daeng Hafiz (Orang Bugis/Makasar) yang pada waktu itu berada di Natal. Setelah beberapa hari Tuanku Daeng Hafiz mengadakan upaya /usaha perdamean.Teuku Sulaiman di Mudik. mendengar maksud yang demikian itu. Kemudian setelah kejadian gempa bumi (2005). tanggal 28 Rabiul Akhir 1215 Hijriah. Ditetapkan dua orang Imam. dua orang khatib dan dua orang bilal secara begantian memimpin shalat Juma’at dan shalat Id (Hari Raya) Sehubungan dengan bertambahnya penduduk. Pada tahun 1954. pada masa Raja Sutan Ibrahim di Ilir. Mesjid Agung dirobohkan maka kegiatan sholat sehari-hari. Shalat Jum’at dan shalat Hari Raya dipindahkan di Mesjid Baru (Mesjid Agung Mudik).

Selain madrasah Islamiyah. Pondasi dan lantainya diganti dan dibuat dari semen cor. di halaman kiri depan Mesjid Ilir sekarang. (1938) Ia sempat mempolopori berdirinya Madrasah Fathimiyah di Gunungsitoli (sekarang Madrasah Aliah NU Jln.Mohd. Pada tahun 1958 bangunannya sempat dimanfaatkan oleh keluarga M. Tanahnya diserahkan oleh keluarga Abdullah Zahid (H.Sepeninggal Abdullazahid.Husin. baik oleh pribadi maupun melalui organisasi seperti : Sekitar tahun 1900 Sech Abdul Aziz Imam di Mudik.Tahun 1952. didirikan Sekolah Rakyat NU di Pasar (sebelah kiri Mesjid Pasar sekarang) ..Mohd Husin). Abdul Hadi mendirikan dan mengajarkan pendidikan agama (sistem psantren) di kampung Baru Ilir Gunungsitoli.Pada tahun 1939. tersebut di atas juga oleh Sech H. bangunan itu dirobohkan karena tidak lagi layak atau aman untuk digunakan. dan tempat pengajian rutin kaum ibu juag sebagai tempat sholat traweh setiap bulan ramadhan. sekira tahun 1936 sekolah ini tidak dipakai lagi (T. Tidak berapa lama setelah M. maka bangunannya dirubuhkan (1955). Mohd.Sebelum Abdullah Zahid berpulang ke rahmtullah.Sekitar tahun 1957 Muhammad Syarif gelar Labai Sutan mengajar agama di Madrasah Islmamiah Pasar Gunungsitoli kemudian menjadi guru di Madrasah Muhammadiayah .Setelah pulang belajar di Mekah. Husin. didirikan Sekolah Aisyiah. Husin) pada pengurus NU untuk digunakan sebagai tempat bangunan sekolah agama dan atau kegiatan keagamaan Islam lainnya. Adapun sarana pendidikan agama. dan dibuat lagi yang baru berlantai satu yang saat ini digunakan salain tempat belajar TK. Abdul Hadi mendirikan Mandasa atau Mushallah berbentuk rumah panggung yakni sebagai tempat pendidikan agama (sistem psantren). Labai berpulang ke rahmatullah (1963). pengajian di Mandasa Ilir diteruskan oleh anaknya Mohd. tiang kayu diganti dengan tiang beton dan kemudian untuk tingkat dua dibuat lantai semen cor. Tetapi tidak lama umurnya. Setelah Abdullah Zahid berpulang kerahmtullah ia digantikan oleh anaknya H. Djarjis Sutan Ibrahim dari Malalo Sumatera Barat. Syarif Stn Labai sebagai tempat tinggal. ia digantikan oleh adiknya Abdullah Zahid. Syarif Stn. pada tahun 1942. . Aliyah NU yang sudah dirobohkan rkembangnya agama Islam di daerah Nias tidak terlepas dari kegiatan pendidikan dan da’wah. didirikan Sekolah (Madrasah) Islamiyah (1931). dan mengajar agama di Mesjid Mudik. bangunan madrasaha Islamiah ini dirubuhkan (sekarang menjadi tempat parkir kendaraan). 1952). .Begitu pula halnya Mesjid yang ada di Ilir beransur-ansur diperbaiki dengan perencanaan bangunan untuk dua tingkat. Pekerjaan ini dilakukan secara beransur ansur dari tahun ketahun hingga keadaannya seperti yang kita lihat sekarang ini.Sekitar tahun 1952. Setelah beliau berpulang ke ramatullah (1910). Madr. Dimulai pada tahun 1958. dan di Madrasah ini berdiri satu organisasi wanita Jamiah Fathimiah Gunungsitoli di pimpim pertama kali oleh Haji Kalsum dan Reno Hawa (Ibunda Alm H. Sekolah ini digabung dan dijadikan Sekolah Yatim Islamiyah. mengajar di Madrasah Islamiyah Pasar dan Sekolah Rakyat NU di Pasar . Sech H. . Kemudian setalah mandasa tidak lagi layak dipakai. secara bertahap mulai didirikan Madrasah Muallimin NU 6 thn (sekarang namanya Madrasah Tsanawiyah/Aliyah).Alam. Karet). dan berpulang kerahmatullah tahun 1936 Miladiyah.Setelah kejadian gempa tanggal 28 Maret 2005 yang lalu.

Pada tahum 1951 berdiri Jawatan Pendidikan Agama Kabupaten Nias. .Zuldin Tanjung. Pada tahun 1950 berdiri GPII Cabang Nias.Berturut-turut kemudian berdiri organisasi seperti Pandu Hizbul Watan (HW) sekarang Pemuda Muhammadiyah.Tajudin Alam) Imam Mesjid di Ilir kemudian menjadi Huweliksliter (Pegawai Nikah) di Gunungsitoli dan pada waktu masa pemerintah an Jepang menjadi Ketua Majelis Islam Tinggi Tapanuli Cabang Nias dan Mohd. .Pada tahuin 1950. Nias s/d 1946 berpusat di Sidempuan di ketuai oleh Sutan Syahirul Alam dan sekretaris Mohd. Marham di Kampung Baru Gunungsitoli. diketuai oleh Haji Kalsum dan Reno Hawa (ibunda H. Kegiatan dan Organisasi berazaskan ke agamaan (Islam) di Daerah Nias . Husin. Chair Aceh. .Pada tahun 1936 s/d 1940 berdiri organisasi Semangat Pemuda di Gunungsitoli.Pada tahun 1939 M. . beridiri organisasi kepemudaan Hizbullah. Begitu juga Pandu Ansor. Kedua. dipimpin oleh Said Fihir Almadany.Alam Taruddin gelar Sutan Syahirun Alam (ayahanda H. .Baru).Tahun 1946 berdiri Kantor Jawatan Agama Islam Kabupaten Nias yang dipimpin oleh Chaidir Nasrun. Dalam beberapa lama beliau dan keluarga bertempat tinggal di ex Madrasah Islamiyah di muka sebalah kiri halaman Mesjid Ilir sekarang sampai beliau meninggal dunia pada tahun 1963 di Teluk Dalam Nias. Masuk dan berkembangnya Agama Keristen Katholik di daerah Nias. berdiri di Gunungsitoli Muhammadiyah Cabang Nias diketuai oleh S. . Nasiatul Aisyiah (NA). yang dipimpin oleh Idris Aminy. di beberapa kecamatan diadakan Jawatan Agama. Pada tahun 1959. berdiri Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah Gunungsitoli dan Mohd. . Husin. . Fatayat NU. dengan Ketua Muhd. Nias. Pada tahun 1942. Pada tahun 1952 organisasi ini (Nahdlatul Ulama) menjadi Partai Politik.Pada tahun 1943 berdiri Majleis Islam Tinggi Cab. kemudian berpecah dua. diketuai oleh oleh Sech Haji Jalaludiin di Pasar Gunungsitoli..L. Pertama di ketuai oleh Haji Abdul Halim (Imam Mesjid di Mudik Gunungsitoli).Pada tahun 1947 Jawatan Agama Islam untuk kecamatan Gunung sitoli dibantu dengan diangkat Kadhi yaitu Mohd. Husin diangkat sebagai Ketua. Ali Nuh Aceh.Pada tahun 1950 berdiri Nahdaltul Ulama Cabang Nias yang dipelopori oleh Mohd. 2. sekarang Gerakan Pemuda Ansor. Husin dan Abd. berdiri Jamiatul Wasliyah Cabang Nias yang diketuai oleh H.Mohd Husin) .Pada tahun 1913 M didirikan di Pulau Nias Partai Serikat Islam pada mulanya diketuai oleh Said Saleh Al Madany. Muslimat NU.Pada tahun 1955 M. . Untuk pertama kalinya yang menjadi ketua : M.Cabang Nias di Ilir.Pada tahun 1938 s/d 1950 berdiri Jamiayatul Fathimiyah (sekarang Madrasah Ibtidaiyah NU Kp. . Pada tahun 1946 s/d 1957 berdiri Partai Masyumi Cabang Nias di ketuai oleh Zakaria Baginda.Pada tahun 1952 berdiri Staf Penerangan Agama Kab. Pelembagaan Urusan Agama(Islam) dalam sistem Pemerintahan . Aisyiah. Husin. Husin sebagai sekretaris. Abdul Mujid Tanjung. diketuai oleh Hamid Syaifuddin. . . di kcamatan Gunungsitoli sebagai kepala yaitu Mohd.

Orang Eropa menyebarkan agama Kristen tidak dimulai di pesisir tetapi dari bagian tengah (pedalaman). Kebiasaan tipu muslihatnya memperdaya dan mengadudomba penduduk (devide et empera). Agama ini tersebar di Kecamatan Teluk Dalam. 1984 : 420-423) dalam membawa agama Kristen di daerah Nias adalah merupakan modal utama berkembangnya agama Kristen dengan cepat dan mulus di daerah Nias. Seperti di daerah lainnya. (Fries. seorang Pelayan Gereja agama Katolik Pendeta Roma yang bernama G. dilakukan oleh orang Eropa secara profesional. Faogöli Harefa.Fries. 1919 :129. Zebua. 1994 : 420 ) Selanjutnya pada sekitar tahun lima puluhan abad ke XX ini beberapa orang Pastor dari agama Katolik datang menetap di GunungSitoli untuk menyebarkan agama Katolik. 1939 : : 122 dan S. maka atas bantuan dari Bapak T. tetapi sayang sekali. oleh karena para penginjil tersebut tidak begitu diterima baik oleh rakyat setempat maka terjadi pengeniayaan dan pembunuhan terhadap penginjil ini dan hanya dua orang yang tinggal di Banjarmasin (1859). Kehadiran misionaris Eropa (Jerman) bekerja sama dengan pemerintahan Belanda (S.Zebua ¬ (waktu itu Ketua Pangadilan Negeri Gunungitoli) para umat Katolik melakukan kebaktian setiap harii Minggu dan hari-hari yang kudus lainnya di ruangan sidang Kantor Pengadilan Negeri Jln Sukarno Gunungsitoli (S. 3. Masuknya Agama Kristen Protestan di daerah Nias. tidak berapa lama beliau meninggal dunia dan dimakamkan di Gunungsitoli. . Sebagaimana di kepuluaan nusantara lainnya. Demikianlah T.Zebua.Zebua. Oleh karena isterinya sakit maka beliau tinggal di Padang dan menemui banyak Ono Niha di sana. de Hessele Van Hesserle datang dan menetap di Sogawugawu (dekat Kota GungungSitoli sekarang) mencoba memulai penyeberan agama Katholik di Tanö Niha. Faogöli Harefa. lalu memohon kepada Kongsi Bremen Jerman supaya beliau diutus ke Nias. 1919 : 171). terutama di bagian pesisir selain sudah menganut agama (Islam) juga sering dianggap oleh orang Eropa sebagai orang yang suka melawan. penyiar agama Kristen di daerah Nias. 1994 : 420).Zebua dan Bambowo Laiya sebagai berikut : Bahwa pada tahun 1854. pada waktu itu Gereja masih belum ada. Kecamatan Löolowa’u Kecamatan Gido dan Kecamatan GunungSitoli. Denninger dikirim oleh Kongsi Bremen dan sampai/ memulai penyebaran injil di Gunungsitoli pada tanggal 27-September 1865 (S. di antaranya seperti yang ditulis oleh Fries. Selain orang Eropa memiliki profesionalisme dan kosentratif juga vasilitas yang dimiliki terutama dana memang tersedia untuk itu. S. Yang lain mengungsikan diri ke daerah lain. adalah cara yang paling ampuh bagi orang Eropa untuk tampil dan mengukuhkan kehadirannya sebagai orang yang berkuasa di Indonesia. Sebaliknya orang pesisir melihat orang Eropa datang ke Indonesia hanyalah sebagai penjajah.Dari beberapa data yang dapat diperoleh dan dihimpun oleh penulis tentang masuk dan berkembangnya agama Keristen Katolik dan Protestan di daerah Nias. ada yang ke Sipirok (1861) dan ada yang menetap di Padang yaitu Pendeta Denninger.Zebua. membangkang dan berontak. 1994 : 421 dan lihat juga E. Agaknya penyiar agama orang Eropa sulit beradaptasi dengan masyarakat di bagian pesisir. Sebelum tahun 1865 yakni pada tahun 1836 Kongsi Barmen Jerman mengutus beberapa orang menginjil di Broneo (Kalimantan).

WH Sundeman melakukan pengabaran Injil atau menyebarkan agama Kristen di Tanö Niha.Tahun 1900 sekolah Guru Simanari tersebut dipindahkan di Ombolata. setelah Pendeta FEHR menggantikan Pendeta JW Thomas. mereka inilah pemelukagama Kristen yang pertama di Tanö Niha. Pada tahun 1883.Gereja BNKP yg Pertama di Gunungsitoli (Photo-1950) Beberapa catatan penting mengenai perkembangan kegiatan agama Kristen di Daerah Nias. c. sebanyak 95 orang (Bamböwö Laiya. dan kemudian pindah lagi ke Gunungsitoli. e. . secara singkat dikemukakan (S. Pada Tahun 1865. 1980 : 27). Tahun 1876 sampai pada tahun 1902 Dr. d. Pendeta Denninger sampai dan menyebarkan Injil di daerah Nias . b.. Desa Boto mendapat giliran pengkristenan . inilah guru yang pertama di Tano Niha. Pada Tahun 1876 di masa Pendeta JW Thomas (1873-1883). pada tahun1889 Pendeta JW Thomas pindah ke Papua (Irian Jaya).Tahun 1895 Sekolah Guru Simanari didirikan oleh Pendeta JW Thomas di UmbuHumene dan pata tahun 1897 menamatkan lima orang yang menjadi guru.Tahun 1866 Pendeta Denninger memulai membuka sekolah untuk anak-anak yang pertama di Gunungsitoli. 22) sebagai berikut : a.Tahun 1910 para Pendeta Jerman melarang famoto (khitan) dan fangohözi ifo (memotong gigi) ternyata bahwa larangan tersebut tidak semua orang mentaatinya dan hanya dalam waktu yang tidak lama . . Gereja pertama di Tanö Niha didirikan di Ombölata (Seminari). 1994 : Ikht.Pada tahun 1920.Pada tahun 1874 Pendeta Kramer membabtiskan 25 orang Ono Niha dari Hilina’a dan Onozitoli di antaranya ialah Salawa Hilina’a yaitu Yawa Duha.Zebua. antara lain dari keberhasilan beliau ialah : . beliau pindah ke Luahawara (Sekarang Teluk Dalam) Tetapi oleh karena pergolakan perjuangan rakyat Tanö-Niha bahagian selatan terhadap Tentara Penjajahan Belanda sedang hangat maka atas pesan dari Residen yang berada di Sibolga.

GPI (Gereja Pentakosta Indonesiag g. Baik yang menyangkut kepercayaan dan agama asli maupun adat istiadatnya. Gelar ini bisa menjadi panggilan yang bersangkutan sehari-hari terutama pada setiap acara adat dan adakalanya sebagai panggilan sehari-hari bagi yang bersangkutan sementara masih belum punya anak. Adat istiadat orang Nias yang ada sekarang adalah adat istiadat orang Nias yang beragama Islam dan adat istiadat orang Nias yang beragama Kristen.Tetapi setelah punya anak maka gelar ini beransur menghilang dan cukup . walaupun sebagian unsur kuno itu masih dipertahankan (Bambowo Laiya. Fungsi agama kuno sebagai kontrol sosial dalam pengertian tradisional telah ditransformasikan ke dalam ethika Kristen. ONKP.N. Harefa) Sekitar tahun 1967-1975. pindah ke Jakarta dan beliau memegang jabatan sebagai Direktur dan terakhir sebagai Direktur Jendral Bimas Kristen Departemen Agama Jakarta). berlangsung di Gunungsitoli. dll.Perubahan agama penduduk pribumi menjadi Kristen mempengaruhi sikap mereka terhadap kebudayaan. --------------------*) Datuk dan Raja = adalah gelar pada masyarakat Nias Pesisir. 1979 : 27) Dengan demikian. ada juga organaisasi kepemudaan seperti Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dengan tokohnya seperti Arosokhi Mendrofa. Pada tahun 1936 sidang Synode seluruh penganut agama Kristen Protestan yang pertama di Tanö Niha. Disamping partai politik. yaitu Orahua Niha Kiriso Protestan c. kalau tidak dikatakan bahwa apa yang disebut dengan adat istiadat asli orang Nias itu sebenarnya sudah tidak ada lagi. Seperti ditulis oleh Bamböwö Laiya. Fa’awösa e. menilik masing-masing adat yang dipraktekkan oleh masyarakat Nias sekarang ini maka tidak lagi relevan untuk dikelaim bahwa itu adalah adat asli orang Nias. Nehesi Zebua.Nias). Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dengan tokohnya seperti Drs. Selain organisasi keagamaan dinatas. GBI (Gereja Bethel Indonesia) f. Adventis – d. dan pada waktu itu seluruh umat Kristen Protestan di Tanö Niha bergabung dalam satu organisasi agama yang disebut Banua Niha Kiriso Protestan (BNKP). Organisai agama Kristen Protestan di Tanö Niha selain BNKP ada juga organisasi lain seperti : a. disadari atau tidak hal itu telah menyusupi dan membawa perubahan dalam sistem kehidupan sosial budaya asli masyarakat Nias. Sekitar Tahun 1950 an berdiri Jawatan Agama Kristen Kabupaten Nias yang dipimpin oleh Pendeta Nehemia Harefa (P. juga berdiri partai politik berdasarkan keagamaan. agaknya sulit dijumpai. “. biasanya diberikan pada saat yang bersangkutan mengadakan pesta adat (didaulatkan sebagai kepala adat /pemerintaham atau pada saat pesta kawin). AMIN yaitu Angowolua Masehi Indonesia Nias b. Willy Zebua (Pernah menjadi Ketua DPRD Kab. termasuk agama nenek moyang mereka. Seperti Partai Kreisten Indonesia (Parkindo) dengan tokoh-tokohnya seperti Sadrachi Zebua (pernah menjadi anggota DPRD Tkt I). Oleh karena itu.f. GPT Gereja Pantekosta Tabernake) Masuk dan bekembangnya agama sebagaimana di utarakan di atas.

 Husin Suady. Medan. 1984 . Waspada). Zendings drukkerij. Kota Gunungsitoli. Sibolga Pertjetakan Tapanoeli.dipanggilkan bapak dari anaknya yang tertua. HUKUM ADAT INDONEIA. misalnya anita maka bapaknya dipanggil ama ga'ani atau ama ani Referensi  Fries E. Menyelusuri SEJARAH KEBUDAYAAN ONO NIHA Sri 2.  ------------------------. Faogoli 1939.  Telaumbanua Marinus Dr (Penyunting).Waomasi). Bambowo 1980. Hikajat Tjeritra Bangsa Nias. 1919.. Menyelusuri SEJARAH KEBUDAYAAN ONO NIHA Sri 1. Solidaritas Kekeluargaan Dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias Indonesia. Ombolata. (A. Menggali Nias Yang Terpendam (Harian. Gadjah Mada University Press. Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya (Tanpa Penerbit) . Yogyakarta. (Tanpa Penerbit). NIAS Amoeata Hoelo Nono Niha.Soekanto Soerjono. 1981.  Zebua. 1996. 1976. Jakarta.  Harefa. Adat Perkawinan dan Warisan Pada Masyarakat Nias Pesisir. S. 1984. (Tanpa Penerbit). Skripsi Fakultas Keguruan Ilmu Ssosial IKIP Negeri Medan  Laiya.  Tanjung Hasan Basri (1962). Penerbit CV Rajawali.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->