P. 1
LAPORAN PENDAHULUAN

LAPORAN PENDAHULUAN

|Views: 938|Likes:
Published by Abiyyu Ahmad

More info:

Published by: Abiyyu Ahmad on Apr 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/06/2014

pdf

text

original

LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

I. NOMOR PERCOBAAN II. NAMA PERCOBAAN

: IV : TITRASI ASAM BASA : VOLUMETRI

1. Mempelajari dan menerapkan teknik titrasi untuk menganalisis contoh yang mengandung asam 2. Menstandarisasi larutan penitrasi. IV. DASAR TEORI Beberapa pandangan mengenai perilaku asam basa dapat dijelaskan melalui teori yang dikembangkan oleh arhenius. Menurut Arhenius asam adalah senyawa yang melepaskan ion hidrogen dalam larutan berair. Asam memiliki sifat berasa asam, mengubah . Sifat khas suatu asam sebenarnya merupakan sifat

lakmus dari biru menjadi merah, dan bereaksi dengan logam aktif menghasilkan gas dari ion

Dengan kata lain ion adalah pembawa sifat asam. Arrhenius mendefinisikan basa sebagai senyawa yang melepaskan hidroksida dalam larutan berair. Contoh NaOH. Ion hidroksida ini diyakini Arrhenius sebagai pembawa sifat khas basa yaitu,pahit, terasa licin dikulit,dan sebagainya. Jika sejumlah tertentu asam dan basa dicampurkan sifat khas asam dan basa tersebut akan hilang. Reaksi antara asam dan basa dinamakan reaksi netralisasi,pada reaksi tersebut akan dihasilkan suatu garam dan air. Semua asam Arrhenius juga diklasifikasikan sebagai asam oleh Browsted – Lowry. Sebagai contoh pada reaksi gas hidrogen klorida, HCL dengan air untuk menghasilkan asam klorida, gas hidrogen klorida berperan sebagai pemberi proton. Berdasarkan Bronsted – Lowry, asam adalah donor proton, sedangkan basa merupakan akseptor proton. Menurut Bronsted – lowry suatu reaksi asam basa dapat berlangsung tanpa adanya medium air, contohnya pada reaksi berikut ini : HCL + + Menurut Lewis reaksi yang melibatkan amonia atau air terjadi dikarenakan adanya pemakaian elekteron bersama pasangan elektron bebas yang dimiliki keduanya untuk membentuk ikatan kovalen koordinasi dengan spesi lain sehingga amonia dan air dalam reaksi tersebut bertindak sebagai basa.secara singkat dapat dijelaskan,menurut Lewis asam merupakan suatu spesies yang dapat menerima pasangan elektron bebas, sedangkan basa merupakan suatu spesies yang dapat mendonorkan pasangan elektron bebas. Jadi, yang tidak memiliki pasangan elektron bebas adalah asam sedangkan yang memiliki pasangan elektron bebas adalah basa. Menurut teori asam basa Lewis, asam merupakan spesi yang menerima pasangan elektron bebas. Sedangkan berdasarkan reaksi diatas, HCl bertindak sebagai asam menurut Lewis. Atom Klor merupakan atom yang lebih elektronegatifan dibandingkan dengan atom H. Jadi molekul HCl merupakan molekul yang polar. Pasangan atom yang dimiliki bersama antara H dan Cl cenderung lebih tertarik ke atom Cl sehingga Cl bersifat lebih negatif. Ketika molekul HCl menjadi semakin dekat keatom Cl , maka akibatnya ikatan kovalen koordinasi antara atom H dan N terbentuk, dan ikatan antar atom H dengan Cl terputus. Oleh karena itu, molekul HCL bertindak sebagai asam menurut Lewis karena menerima pasangan elektron bebas dari NH3. Asma lewis tidak harus memiliki orbital kosong. 1

1

( http://www.chemistry.org.//teori-asambasa.html ) Dalam air murni terdapat ion dan ion . dalam koordinasi konsentrasi yang sama, yang sangat kecil. Bila

konsentrasi sama dengan konsentrasi OH- maka larutan tersebut disebut dengan larutan netral. Bila konsentrasi yang diketahui ( Atau sebaliknya penambahan asam kedalam basa untuk mencapai titik akhir). Titik ekivalen adalah titik asam dimana asam tepat bereaksi denga semua basa. Idikator digunakan untuk membantu kita kapan kita mengetahui titrasi harus dihentikan didekat titik ekivalen . saat titrasi dihentikan disebut dengan titrasi akhir (titik akhir titrasi). Titik akhir titrasi berbeda dengan titik ekivalen, tetapi perbedaannya tidak terlalu besar sehingga digunakan indikator yang tepat yaitu yang memiliki trayek PH sekitar titik ekivalen. Prinsip titrasi adalah pengukuran volume suatu larutan yang diperlukan untuk bereaksi dengan larutan lainyang mempunyai volume tertentu atau zat terlarut dengan konsentrasi tertentu. Titrasi asam basa merupakan metode analitis untuk menentukan jumlah jumlah asam atau basa dalam suatu sampel. Hitungan titrasi yaitu ekivalen asam basa dengan ekivalen basa. VA . NA . Nb Konsentrasi asam basa sering menggunakan Molaritas sehingga : Analisa volumetri adalah analisa kuantitatif dimana kader komponen dari zat uji ditetapkan berdasarkan volume reaksi pereaksi ( konsentrasi diketehui ) yang ditambahkan kedalam larutan zat uji, hingga komponen yang akan ditetapkan bereaksi secara kuantitatif dengan pereaksi tersebut. Proses yang dikenal juga dengan analisa tirimetri. Suatu pereaksi dapat digunakan sebagai dasar analisa titrimetri apabila memenuhi syarat –syarat sebagai berikut yaitu reaksi harus berlangsung sesuai persamaan reaksi kimia tertentu, harus tidak ada reaksi samping. Yang kedua reaksi harus berlangsung sampai benar-benar lengkap pada titik tinggi dari pada konsentrasi sama denga konsentrasi OH- maka larutan tersebut disebut larutan netral. Bila konsentrasi maka larutan tersebut adalah larutan yang bersifat asam,sedangkan bila konsentrasi lebih

lebih rendah

dari pada konsentrasi maka larutan tersebut bersifat basa. pH atau kadar larutan yang bersifat netral sama dengan tujuh. Larutan yang bersifat asam pH nya kurang dari tujuh. Semakin kurang dari tujuh maka larutan tersebut mempunyai sifat asam yang semakin kuat. Sedangkan bila PH nya lebih dari tujuh, maka laritannya bersifat basa, semakin pH nya lebih dari tujuh maka semakin kut basanya. Pada titrasi biasanya digunakan suatu indikator yang memberikan tanda kepada kita bahwa campuran asam basa yang ada dalam larutan memiliki pertandingan yang benar untuk mencapai suatu keadaan larutannya yang netral. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna dari inikator atau kenaikan penurunan PH nya yang tiba-tiba. Idealnya perubahan warna indikator akan terjadi pada saat kita mencampurkan larutan itu padsa proporsi ya ng sama, tepat. Keadaan ini disebut titik ekivalen. Kurva yang menunjukkan perubahan

warna pH versus volume larutan titrasi disebut dengan kurva titrasi. Bentuknya tergantung pada nilai Ka dan konsentrasi asam basa yang digunakan.2 Prosedur untuk menentukan konsentrasi suatu larutan dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan larutan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titrasi. Jika yang dilihatkan adalah larutan asam dan larutan basa, titrasi itu disebut dengan titrasi asam basa. Larutan yang diketahui konsentrasinya disebut larutan baku ( larutan standar ). Pada bagian ini akan dibahas bagaimana perubahan pada berbagai titrasi asam basa. Titrasi asam basa merupakan penambahan secara hati-hati sejumlah larutan basa dengan konsentrasi tertentu. Ekivalen suatu indikator harus ada untuk menunjukkan titik 2 ekivalen. Yang ketiga adalah reaksi. ( http://www.google.co.id/titrasi.html ) Beberapa jenis reaksi dapat digunakan untuk titrasi yaitu pengendapan, reaksi oksidasi-reduksi,reaksi asam-basa,dan reaksi pembentukan kompleks. Pada percobaan ini akan dilakukan titrasi asam basa. Pertamakali akan dilakukan standarisasi (pembakuan) terhadap larutan basa. Yang selanjutnya digunakan untuk menganalisis contoh yang mengandung asam. Bila sebagai titrasi adalah larutan baku asam,maka endapan tersebut dinamakan Asidimetri dan apabila larutan baku basa sebagai titran maka disebut Alkalimetri. Secara ringkas reaksi asma basa atau netralisasi disebabkan oleh proton dari asam yang bereaksi dengan OH- dari basa. Reaksi yang terjadi adalah : + O Pereaksi yang digunakan digunakan dinamakan titran dan larutannya disebut larutan titeratau larutan beku. Konsentrasi larutan ini dapat dihitung berdasarkan berat baku yang ditimbangkan secara seksama atau dengan penetapan yang dikenal dengan standarisasi atau pembekuan. Larutan standar (baku) dibagi menjadi standar primer dan standar sekunder. Kedua jenis larutan standar (baku) ini dapat digunakan analisa kuantitatif suatu larutan senyawa. Pereaksi pada kebanyakan titrasi asam basa perubahan larutan pada titik ekivalen tidak jelas. Untuk mengatasi hal ini maka digunakan indikator yaitu suatu senyawa organik asam atau basa lemah yang mempunyai warna molekul (warna asam) berbeda dengan warna ionnya (warna basa), dimana indikator ini memperlihat perubahan warna pH tertentu. Secara umum untuk titrasi asam basa indikator yang digunakan adalah indikator venotalin yang mempunyai trayek pH 8,3 – 10.5 dimana indikator senyawa ini tidak berwarna pada larutan asam dan berwarna merah muda dalam larutan basa. Bila kuantitas ekimolar dari suatu asam kuat seperti asam klorida (HCL) dan suatu basa kuat seperti natrium hidroksida (NaOH) Dicampurkan dalam satu larutan, maka ion hidrinium dari asam dan ion hidroksida dari basa akan bersenyawa membentuk air (H2O). Reaksi antara ion hidronium dari asam dengan ion hidroksida dari basa sehingga membentuk senyawa air tadi merupakan reaksi penetralan. Setelah reaksi antara asam klorida dengan natrium klorida hidroksida maka akan tinggal larutan dari ion dan . Meskipun kedua ion ini tidak terlihat dalam proses penetralan dapat dikatakan bahwa larutan NaCl terbentuk sebagai hasil dari suatu reaksi antara asam klorida dengan natrium klorida atau dapat pula dikatakan reaksi asam basa. Reaksi asam basa yang sama kekuatannya akan menghasilkan larutan yang bersifat netral. Asam dan basa bereaksi dapat berasal dari suatu asam lemah ataupun basa kuat. Reaksi asam basa kekuatannya berlainan akan menghasilkan larutan dengan sifat satu asam lemah dan yang saytu lagi bersifat basa lemah. Itu semua tergantung pada kekuatan atom asam konjugasinya dan basa konjugasinya yang dihasilkan. Semua itu bertitik tolak pada larutan standar yang digunakan. Larutan standar yang digunakan atau dipakai NaOH. Perbedaan antara titik akhir titrasi dengan titik ekivalen adalah titik ekivalen yang terjadi pada saat reaksi asam dan basa mulai menetral, dimana asma menuju basa. Sedangkan titik akhir titrasi terjadi karena pada saat dimana dari ion-ion asam dan basa telah lengkap bereaksi maka hasilnya akan membentuk suatu senyawa air. Proses yang dikenal dengan titrasi oleh karena dikenal juga dengan “analisis titrimetri” suatu pereaksi dapat digunakan sebag ai dasar analisa titrimetri apabila memenuhi syarat-syarat berikut :reaksi harus berlangsung sesuai persamaan reaksi kimia tertentu harus tidak ada reaksi samping,reaksi harus berlangsung sampai benar-benar lengkap pada titik ekivalen, reaksi harus berlangsung cepat, sehingga titrasi diperlakukan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. 3 3( Rivai,Bakti.2010. Penuntun Praktikum Kimia Dasar I. Inderalaya : Universitas Sriwijaya) V. ALAT DAN BAHAN Alat yang dipergunakan pada praktikum kali ini adalah: 1. Gelas Ukur 2. Beker Gelas 3. Labu ukur 250 mL 4. Tabung Erlemeyer 5. Statif 6. Pipet Tetes Bahan yang dipergunakan pada praktikum kali ini adalah: Biuret Larutan NaOH Larutan Cuka Makan Asam Oksalat Air Suling

1. 2. 3. 4. 5.

VI. PROSEDUR PERCOBAAN Dicuci dengan baik buret 50 mL, dibilas dengan air suling , tutup ceratnya lalu dimasukkan kira-kira 5 ml NaOH yang akan distandardisasi.

A. Standardisasi arutan NaOH 0,1 ml

Dimiringkan dan diputar buret untuk membasahi permukaan buret. Keluarkan larutan dari buret dan ulangi pembilasan hinga skala 0, alirkan larutan untuk mengeluarkan gelembung udara.

Dicuci erlemeyer 250 ml kemudian dbilas dengan air suling. Pipet pertama 15 ml larutan HCl standar 0,1 M kedalam setiap erlemeyer.Ditambahkan kedalam erlemeyer masing-masing 15 ml air suling dan 3 etes indicator fenolffalein.dicatat NaOH pada buret kemudiandialirkan sedikit demi sedikit NaOH pada erlemeyer pertama. Dicatat volume akhir, hitunglah Molaritas larutan standar NaOH

Dicatat volume akhir, hitunglah Molaritas larutan standar NaOH

B. Menentukan persentase asam asetat dalam cuka. Cuka dapur mengandangi asam asetat 4 – 6 %.

Dimasukkan

pipet 1 ml asam cuka setiap erlyemeer tambahkan 10 ml air suling, 3 tetes indicator fenolftalein .

Dihitung persentase massa pada tiap-tiap contoh

VII. PERTANYAAN PRA PRAKTEK 1. Apa yang dimaksud dengan asam,basa,titik ekivalen,indikator? Jawab: a. b. c. d. Asam adalah zat yang melarut ke dalam air untuk membiarkan ion-ion .

a. b.

Basa adalah zat yang melarut ke dalam air untuk memberikan ion-ion . Titik ekivalen dimana titer dan titran tepat bereaksi ditandai dengan perubahan warna yang belum konstan. Indikator adalah senyawa organik asa atau basa lemak yang mempunyai warna moekul berbeda degan warna ionnya dimana indikator akan memperlihatkan perubahan warna pada pH tertentu. 2. Jelaskan perbedaan titik akhir titrasi dan titik ekivalen? Jawab: Titik akhir titrasi merupakan titik dalam reksi titrasi yang ditandai dengan perubahan warna indikator. Titik ekivalen dimana titer dan titran tepat bereaksi ditandai dengan perubahan warna yang belum konstan. 3. Sebanyak 0,7742 g kalium hidrogen sitrat dimasukan ke dalam erlemyer dan dilarutdengan air suling, kemudian titrasi dengan dengan larutan NaOH. Bila terpakai 33,60 mL larutan NaOH, berapa molaritas larutan NaOH tersebut? Jawab: Massa = 0,7742 V NaOH = 33,6 mL = 0,0336 L Mol M NaOH = = = = 0,003 mol = 0,089

VIII. DATA HASIL PENGAMATAN V1 = 3,8 ml V2 = 7,9 – 3,8 = 4,1 ml V3 = 12,1 – 4,1 = 8 ml

IX. REAKSI DAN PERHITUNGAN

a. KESIMPULAN Titik ekivalen dimana titer dan titran mengalami reaksi ditandai perubahan warna yang belum konstan . Menurut Arrhenius asam didefinisikan senyawa yang apabila bereaksi dengan air akan menghasilkan ion . PEMBAHASAN Pembahasan kali ini mengenai percobaan titrasi asam basa. Indikator termasuk senyawa organik asam lemah yang memiliki warna berbeda dengan ionnya.3 – 10. 0. didapatkan hasil berupa larutan berwarna merah muda dari campuran titran berupa NaOH dengan titernya yang terdiri dari asam klorida. kesalahan bisa terjadi saat menggunakan alat yang digunakan. Pada percobaan ini. dan Lewis. 1.5 . Percobaan ini analisa yang dipakai analisa volumetri. 3. Digunakan indikator fenolftalein dengan pH trayeknya 8.3 ml NaCl + H2O V NaOH .3 – 10. dan erlenmeyer pun harus sangat hati – hati. pH yang memiliki di bawah 7 merupakan sifat dari asam. Sedangkan yang memiliki pH di atas 7 merupakan basa. dan alat – alat nya juga harus kita jaga dengan baik. Sedangkan larutan standar primer mempunyai massa molekul relatif tinggi. sedangkan basa sebagai spesi yang mendonorkan pasangan elektron bebas. Pada indikator ini perubahan warna pada senyawa asam yaitu being ( tidak berwarna ) dan pada basa berubah menjadi warna merah muda. Titik akhir titrasi di tandao dengan perubahan warna indikator yang sudah konstant. Sedangkan larutan standar sekunder atau yang bertindak sebagai titran.188 M % Kesalahan = X 100 % = x 100 % = . basa bersifat pahit dan licin dikulit serta dapat membirukan lakmus merah. sedangkan basa senyawa yang apabila bereaksi dengan air akan menghasilkan ion . Seharusnya sebelum melakukan percobaan. Pada percobaan titrasi asam basa ini digunakan indikator fenolftalein dengan pH trayeknya 8. Menurut Lewis sendiri berpendapat bahwa asam sebagai spesi yang menerima pasangan elektron bebas. Pada prosos pencampuran antara titer dan titran di dapat titik ekivalen dan titik akhir titrasi. analisa yang di dasarkan pada volume. Larutan standar primer yang mana larutan tersebut konsentrasinya telah diketahui sehingga tidak perllu di standarisasi. 2. karena itu kita ambil rata – rata volume dari ketiga volume yang di dapat untuk digunakan dalam perhitungan. namun perubahan warna yang terjadi belum konstan disebut dengan titik ekivalen. konsentrasinya diketahui dan mudah untuk di dapat. XI. Karena dalam penambahan air merupakan salah satu cara untuk mengubah molaritas larutan. Larutan ini konsentrasinya belum diketahui sehingga perlu di standarisasi.1 M NaOH = = 0. Perhitungan V= = = = 5. sedangkan basa bertindak sebagai akseptor proton. Reaksi NaOH + HCl b. Inilah yang membedakan antara titik ekivalen dengan titik akhir titrasi. air suling dan indikator. 5. sifat dari asam ini berasa asam dan mengubah lakmus biru menjadi merah. 100 % = 88 % X. pastikan alat – alat tersebut telah bersih dan kering sehingga tidak mempengaruhi molaritas larutan. dan masing – masing titrasi volume NaOH berbeda – beda.5 . Pada percobaan kali ini kita dapat menstandarisasi larutan. Persen kesalahan yang didapat mencapai 88 % . Indikator berguna untuk menunjukkan perubahan warna.. Analisa yang digunakan pada percobaan kali ini adalah kuntitatif dan volumetri. Indikator merupakan senyawa organik asam basa lemah yang memiliki warna berbeda dengan ionnya. Percobaan titrasi asam basa ini merupakan suatu metode untuk menentukan konsentrasi suatu larutan asam basa. larutan standar sekunder ini memiliki ciri – ciri maassa molekul yang rendah dan hidroskopis. Titik saat di mana asam basa dan basa tepat bereaksi . pada titrasi larutan terbagi dua. pipet gondok. Disini asam basa sendiri dibagi atas pandangan. M NaOH = V HCl . Menurut Brownsted – Lowry berpendapat bahwa asam bertindak sebagai donor .3 .88 . Di dalam laboratorium pun kita harus berhati – hati sebab banyak bahan – bahan yang berbahaya. M HCl 5. Brownsted-Lowry. Percobaan titrasi asam basa ini dilakukan dalam tiga kali pengulangan. larutan standar primer dan larutan standar sekunder. 4. menurut Arrhenius. Dalam penggunaaan alat berupa buret. M NaOh = 10 . .0.

ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Asam klorida merujuk pada larutan HCl dalam air.18 g/cm3 (variable) −27. Jakarta : Erlangga Rivai.Bakti.Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern (terjemahan).32 °C (247 K) larutan 38% Densitas Titik lebur .google.Teori Asam Basa. Pukul 15:00 WIB Petrucci. lihat Hidrogen klorida Asam klorida Nama IUPAC[sembunyikan] Asam klorida Nama lain[sembunyikan] Klorana Identifikasi Nomor CAS PubChem Nomor EINECS Nomor RTECS [7647-01-0] 313 231-595-7 MW4025000 Sifat Rumus molekul Massa molar Penampilan HCl dalam air (H2O) 36. Pukul 15:30 WIB Anonim.chemistry.2010.DAFTAR PUSTAKA Anonim.2010.H.id/titrasi. Inderalaya : Universitas Sriwijaya Posted 21st April 2012 by RAHMAT PRATAMA Asam klorida Dari Wikipedia bahasa Indonesia. Penuntun Praktikum Kimia Dasar I. R.co.dkk.http://www.2010.html Diakses pada tanggal 26 November 2010.titrasi.46 g/mol (HCl) Cairan tak berwarna sampai dengan kuning pucat 1.html Diakses pada tanggal 26 November 2010.org. untuk senyawa HCl dalam keadaan murni (gas).http://www.1987.//teori-asambasa.

Br-.0 1. Sekitar 20 juta ton gas HCl diproduksi setiap tahunnya. larutan 38%. produksigelatin. larutan 31. Senyawa ini digunakan sepanjang abad pertengahan oleh alkimiawan dalam pencariannya mencari batu filsuf. larutan 20. Ia adalah asam kuat. meliputi produksi massal senyawa kimia organikseperti vinil klorida untuk plastik PVC dan MDI/TDI untuk poliuretana. R37 (S1/2). S45 Tak ternyalakan. dan aditif makanan. and Davy dalam rangka membangun pengetahuan kimia modern. Priestley. S26. Tercampur penuh −8. IAsam bromida Asam fluorida Asam iodida Asam sulfat Kecuali dinyatakan sebaliknya.9 mPa·s pada 25 °C. Asam klorida pernah menjadi zat yang sangat penting dan sering digunakan dalam awal sejarahnya. dan kemudian digunakan juga oleh ilmuwan Eropa termasuk Glauber. senyawa ini menjadi sangat penting dan digunakan untuk berbagai tujuan. Senyawa ini juga digunakan secara luas dalam industri. Asam klorida harus ditangani dengan wewanti keselamatan yang tepat karena merupakancairan yang sangat korosif.5% Bahaya Kelarutan dalam air Keasaman (pKa) Viskositas MSDS Klasifikasi EU Indeks EU NFPA 704 External MSDS Korosif (C) 017-002-01-X 0 3 1 COR Frasa-R Frasa-S Titik nyala R34.1 Pasar industri 5 Keberadaan dalam organisme hidup 6 Keselamatan . data di atas berlaku pada temperatur dan tekanan standar (25°C. 48 °C (321 K).Titik didih 110 °C (383 K). Ia ditemukan oleh alkimiawan Persia Abu Musa Jabir bin Hayyan sekitar tahun 800.2%. Senyawa terkait Anion lainnya Asam terkait F-. Sejak Revolusi Industri. 100 kPa) Sangkalan dan referensi Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl). dan merupakan komponen utama dalam asam lambung. Daftar isi [sembunyikan]       1 Sejarah 2 Kimia 3 Sifat-sifat fisika 4 Produksi o 4. Kegunaan kecil lainnya meliputi penggunaan dalam pembersih rumah.

[1][2][3] Pada Abad Pertengahan. Gas HCl disebut sebagai udara asam laut.[1][2][3] Jabir bin Hayyan dalam gambar abad pertengahan Semasa Revolusi Industri di Eropa. Proses ini akan melepaskan gas hidrogen klorida sebagai produk sampingannya. Setelah berlakunya undang-undang ini. Istilah asam garam ini pun masih digunakan di beberapa bahasa dunia. Produksi asam klorida secara signifikan dicatat oleh Basilius Valentinus pada abad ke-15. Joseph Priestley dari Leeds berhasil menghasilkan hidrogen klorida murni pada tahun 1772. Humphry Davy dari Penzance. asam klorida kebanyakan dihasilkan dari pelarutan produk samping hidrogen klorida dari produksi industri senyawa organik. asam klorida telah dimasukkan ke dalam Tabel II Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika karena ia dapat digunakan dalam produksi heroin. dan batubara. bahasa Belanda Zoutzuur. Jerman menggunakan natrium klorida dan asam sulfat untuk membuat natrium sulfat melalui proses Mannheim. misalnya dalam bahasa Jerman Salzsäure. dan bahasa Jepang 塩酸 (ensan). Setelah tahun 2000. Sebelum diberlakukannya Undang-Undang Alkali tahun 1863 oleh Britania. Pada abad ke-17. HCl yang berlebih dilepaskan ke udara bebas. Proses industri baru yang mengijinkan produksi natrium karbonat (soda abu) dalam skala besar berhasil dikembangkan olehNicolas Leblanc.[3][4][5] Sejak tahun 1988. Dalam proses Leblanc. proses Leblanc digantikan oleh proses Solvay yang tidak menghasilkan asam klorida sebagai produk sampingan.  7 Referensi 8 Pranala luar [sunting]Sejarah Asam klorida pertama kali ditemukan sekitar tahun 800 sesudah masehi oleh ahli kimia Jabir bin Hayyan (Geber) dengan mencampurkan natrium klorida dengan asam sulfat ("vitriol").[6] Konvensi ini disahkan di Indonesia oleh Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1997. produsen soda abu diwajibkan untuk melarutkan gas ini ke dalam air dan menghasilkan asam klorida dalam skala industri. dan mencatat penemuannya ke dalam lebih dari dua puluh buku. Inggris. dan metamfetamina. asam klorida dikenal oleh ahli kimia Eropa sebagai spirits of salt atau acidum salis (asam garam). dan pada tahun 1818. Penemuan Jabir atas air raja yang dapat melarutkan emas mengandung asam klorida dan asam nitrat.[7] [sunting]Kimia Titrasi asam . membuktikan bahwa komposisi kimia zat tersebut terdiri dari hidrogen dan klorin. natrium klorida diubah menjadi natrium karbonat menggunakan asam sulfat. batu kapur.[1][2] Jabir menemukan banyak senyawa-senyawa kimia penting lainnya. Johann Rudolf Glauber dari Karlstadt am Main. permintaan atas senyawa-senyawa alkalin meningkat. bahasa Mandarin 鹽酸 (yansuan). Proses ini melepaskan hidrogen klorida sebagai produk samping.[1][3][4] Pada abad ke-20. kokaina.

410 3.149 1.527 27.[8][9] [sunting]Sifat-sifat fisika Ciri-ciri fisika asam klorida. Asam klorida oleh karenanya dapat digunakan untuk membuat garam klorida.47 2.39 −0.46 424. HCl·3H2O (41% HCl).0 −1.159 1.90 11.[8][9] Asam monoprotik memiliki satu tetapan disosiasi asam. dengan ketepatan mencapai empat digit angka bermakna. walaupun konsentrasinya bergantung pada tekanan atmosfernya ketika dibuat.000 °C 103 108 90 84 71 61 48 °C −18 −59 −52 −43 −36 −30 −26 Suhu dan tekanan referensi untuk tabel di atas adalah 20 °C dan 1 atm (101.1 mPa·s 1.6 13 19 20 21 22 23 kg/l 1.37 1. Terdapat pula titik eutektik metastabil pada 24. menghasilkan klorida terlarut yang dapat dianalisa. Asam klorida memiliki empat titik eutektik kristalisasi-konstan. dan es (0% HCl).179 1.46 2. Dalam larutan asam klorida.169 1.3 1. ia tidak akan mengubah pH larutan secara signifikan. H3O+:[8][9] HCl + H2O → H3O+ + Cl− Ion lain yang terbentuk adalah ion klorida.16 1.50 2. Oleh karena alasan inilah. Cl−.45 10. HCl·2H2O (51% HCl).6 °C (227 °F). yang berarti bahwa ia dapat berdisosiasi melepaskan satu H+ hanya sekali. HCl·6H2O (25% HCl). Beberapa usaha perhitungan teoritis telah dilakukan untuk menghitung nilai Ka HCl. Walaupun asam.90 1.048 1.2% HCl dan 108. nilai Ka cukup besar. titik leleh.0 −1. Sifat-sifat ini berkisar dari larutan dengan konsentrasi HCl mendekati 0% sampai dengan asam klorida berasap 40% HCl [8][9][12] Kapasitas kalor jenis kJ/(kg·K) 3.8% antara es dan kristalisasi dari HCl·3H2O. Produksi skala besar asam klorida hampir selalu merupakan produk sampingan dari produksi industri senyawa kimia lainnya. Ia juga bereaksi dengan senyawa dasar semacam kalsium karbonat dan tembaga(II) oksida. Asam klorida sebagai campuran dua bahan antara HCl dan H2O mempunyai titik didih-konstan azeotrop pada 20. asam klorida merupakan asam monoprotik yang paling sulit menjalani reaksi redoks.100 28. [12] [sunting]Produksi Asam klorida dibuat dengan melarutkan hidrogen klorida ke dalam air.5 −0. Asam klorida adalahasam kuat karena ia berdisosiasi penuh dalam air.87 6.99 2.733 14. Asam yang lebih kuat akan memberikan hasil yang lebih baik oleh karena titik akhir yang jelas.[11] Asam klorida sering digunakan dalam analisis kimia untuk "mencerna" sampel-sampel analisis. Asam klorida dalam konsentrasi menengah cukup stabil untuk disimpan dan terus mempertahankan konsentrasinya.80 219. asumsi bahwa molaritas H+ sama dengan molaritas HCl cukuplah baik. asam klorida merupakan reagen pengasam yang sangat baik.60 2.70 1.17 10. berada di antara kristal HCl·H2O (68% HCl).80 1. Asam klorida merupakan asam pilihan dalam titrasi untuk menentukan jumlah basa. Hidrogen klorida dapat dihasilkan melalui beberapa cara. H+ ini bergabung dengan molekul air membentuk ion hidronium. dan pH tergantung pada konsentrasi atau molaritas HCl dalam larutan asam tersebut. Asam klorida azeotropik (kira-kira 20. Asam klorida pekat melarutkan banyak jenis logam dan menghasilkan logam klorida dan gas hidrogen.2%) dapat digunakan sebagai standar primer dalam analisis kuantitatif.64 12.43 Konsentrasi Massa jenis Molaritas pH Viskositas Tekanan uap Titik didih Titik leleh kg HCl/kg kg HCl/m3 Baumé 10% 20% 30% 32% 34% 36% 38% 104.189 mol/dm3 2.44 451. massa jenis. Hal ini mengindikasikan bahwa Cl− adalah konjugat basa yang sangat lemah dan HCl secara penuh berdisosiasi dalam larutan tersebut. Untuk asam kuat seperti HCl.Hidrogen klorida (HCl) adalah asam monoprotik.60 344.[8][9] Dari tujuh asam mineral kuat dalam kimia.70 370.88 397.098 1.82 6.0 −1.1 −1.10 Pa 0. Untuk larutan asam klorida yang kuat.325 kPa).[10] Ketika garam klorida seperti NaCl ditambahkan ke larutan HCl. yang mengindikasikan tingkat disosiasi zat tersebut dalam air. Ia juga merupakan asam kuat yang paling tidak berbahaya untuk ditangani dibandingkan dengan asam kuat lainnya.[3] .55 2.130 6. Ka. seperti natrium klorida.8 −1.02 9. ia mengandung ion klorida yang tidak reaktif dan tidak beracun.99 2. seperti titik didih.

B. Konsentrasi yang lebih besar daripada 40% dimungkinkan secara kimiawi.[13] Lambung itu sendiri terlindung dari asam kuat oleh sekresi lapisan mukosa yang tebal dan penyanggaan oleh natrium bikarbonat yang diinduksi oleh sekretin. Setelah meninggalkan lambung. [13] Ion klorida (Cl−) dan hidrogen (H+) disekresikan secara terpisah di bagian fundus perut yang berada di bagian teratas lambung oleh sel parietal mukosa lambung ke dalam jaringan sekretori kanalikulus sebelum memasuki lumen perut. mata. Baik kabut dan larutan tersebut bersifat korosif terhadap jaringan tubuh. pH yang rendah ini juga akan mengaktivasi prekursor enzim pepsinogen. TUJUANPENGAMATAN/PENELITIAN. sehingga akan lebih mudah dicerna oleh enzim pepsin. dan pakaian pelindung haruslah digunakan ketika menangani asam klorida. dengan 3 juta ton berasal dari sintesis langsung. Produsen asam klorida terbesar di dunia adalah Perusahaan Dow Chemical dengan total produksi sebesar 2 juta ton per tahun (pengukuran dalam bentuk gas HCl). asam klorida dalam kim akan dinetralisasi oleh natrium bikarbonat dalam usus dua belas jari. seperti natrium hipoklorit (pemutih NaClO) atau kalium permanganat (KMnO4). Konsentrasi HCl yang paling optimal untuk pengantaran produk adalah 30% sampai dengan 34%. Menentukankonsentrasi larutan HCL.[sunting]Pasar industri Asam klorida diproduksi dalam bentuk larutan 38% HCl (pekat). [14] Asam lambung berfungsi untuk membantu pencernaan makanan dan mencegah mikroorganisme masuk lebih jauh ke dalam usus. 2.[17] Laporan hasil pengamatan penentuan konsentrasi larutan asam klorida dan larutan natrium hidroksida PENENTUANKONSENTRASI LARUTAN ASAM KLORIDA DAN LARUTAN NATRIUM HIDROKSIDA A. dan usus. NaClO + 2 HCl → H2O + NaCl + Cl2 2 KMnO4 + 16 HCl → 2 MnCl2 + 8H2O + 2 KCl + 5 Cl2 Alat-alat pelindung seperti sarung tangan PVC atau karet. namun laju penguapan sangatlah tinggi. [1] Bahaya larutan asam klorida bergantung pada konsentrasi larutannya. LANDASAN TEORI. 1. Ia utamanya terdiri dari asam klorida dan mengasamkan kandungan perut hingga mencapai pH sekitar 1 sampai dengan 2. dan antasid digunakan untuk menetralisasi asam yang ada. sehingga penyimpanan dan penanganannya harus dilakukan dalam suhu rendah. kulit. Nyeri ulu hati dan sakit maag dapat berkembang apabila mekanisme perlindungan ini gagal bekerja. Obat-obat antihistamin dan inhibitor pompa proton dapat menghambat produksi asam dalam perut.1 M.[3] Cairan pembersih tersebut harus diencerkan terlebih dahulu sebelum digunakan. .[16] Konsentrasi Klasifikasi berdasarkan berat 10–25% > 25% Iritan (Xi) Frasa R R36/37/38 Korosif (C) R34 R37 Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (United States Environmental Protection Agency) memasukkan asam klorida sebagai bahan beracun. pH asam lambung yang rendah akan mendenaturasi protein. gas beracun klorin akan terbentuk. Kandungan asam klorida pada kebanyakan cairan pembersih umumnya berkisar antara 10% sampai dengan 12%. dan sisanya merupakan hasil dari produk sampingan sintesis organik. Menentukankonsentrasi larutan NaOH O. Tabel di bawah ini merupakan klasifikasi bahaya larutan asam klorida Uni Eropa. Produksi HCl dunia diperkirakan sebesar 20 juta ton per tahun.[13][15] [sunting]Keselamatan Tanda bahaya Asam klorida pekat (asam klorida berasap) akan membentuk kabut asam.[3] [sunting]Keberadaan dalam organisme hidup Asam lambung merupakan salah satu sekresi utama lambung. pelindung mata. dengan potensi kerusakan pada organ pernapasan. Seketika asam klorida bercampur dengan bahan kimia oksidator lainnya.

BAHAN DAN ALAT. Aquadest/ air suling b.Terdapat duacara dalam menentukan konsentrasi (kemolaran) suatu larutan:   Cara pertama. a) Ukur 10 ml larutan HCL denganmenggunakan pipet volume. C.sedangkan Indikator adalah zatyangmemberikan tanda perubahan pada saat titrasi berakhir yang dikenal denganistilah titik akhir titrasi.Titik akhir titrasi diharapkan mendekati titik ekuivalen titrasi. yaitu dengan menimbang zat secara tepatdengan menggunakan peralatan yang akurat.menggunakan perkiraan jumlah zat yang terlarut dan perkiraan jumlah zatpelarut.teteskan sedikit demi sedikit larutan NaOH kedalam labu erlenmeyer sampai terjadiperubahan warna indikator. Alat Buret/ Pipet ukur LabuErlenmeyer Pipetvolume Botolsemprot Pipettetes D. titik akhir titrasi akan sama dengan titik ekuivalen.Akan tetapi. Catat volume larutan NaOH yangdigunakan. CARA KERJA. E. Bahan. LarutanHCL LarutanNaOH 0. titrasi asam basa merupakan metode penentuan kadar larutan asam denganzat peniter (zat penitrasi) suatu larutan basa atau penentuan kadar larutanbasa dengan zat peniter (zat penitrasi) suatu larutan asam. Pendekatanantara titik akhir titrasi dan titik ekuivalen bergantung pada PHperubahan warna dari larutan indikator. a. f) g) Ulangi kegiatan ini sekali lagi sehinggaanda memperoleh hasil yang hampir. lalu masukkan kedalam labu erlenmeyer b) Tambahkan 2-3 tetes indikatorfenolftalein c) Masukkan larutan NaOH 0. Larutan yang telahdiketahui konsentrasinya dengan tepat disebut Larutan baku/Larutan standar.1 M IndikatorFenolftalein. HASIL PENGAMATAN. Titik akhirtitrasi adalah kondisi pada saat terjadi perubahaan warna dari indikator. titik akhir titrasi berbeda dengan titik ekuivalen. Jika perubahan warna indikator terletakpada PH titik ekuivalen. dapat digunakan pipet ukur. d) Catat skala awal dari larutan NaOH 0.1 M(Sebaiknya dimulai dari skala 0) e) Sambil menggoyang-goyangkan labu.kemudian konsentrasinya ditentukan dengan metode titrasi. Titrasi adalah metodeanalisis kuantitatif untuk menentukan kadar suatu larutan. Berdasarkan pengertiantitrasi. Percobaan Volume HCL (ML) Vol NaOH 0. membuatlarutan dengan konsentrasi tertentu.1 M sebagai zat peniterkedalam buret. jika tidak ada buret . zatyang akan ditentukan konsentrasinya dititrasi oleh larutan yang konsentrasinyadiketahui dengantepat dan disertai penambahan indikator. yaitukondisi pada saat larutan asam tepat bereaksi dengan larutan basa. Jika perbedaan hasil yang anda peroleh cukupbesar. jika PH perubahan warna indikator setelah penambahan larutan zatpaniter sedikit berlebih. ulangi sekali lagi. Dalam titrasi. Cara kedua.1 M (ML) .

10 ml – 3. V. 5 ml ditetesi dengan indikator fenolftalein sebanyak 2 tetes dan larutanNaOH dengan Vol.10 . sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa..   2.NaOH = = = 0. a) Percobaan pertama. Sabtu.Na+ OHTentukan konsentrasi larutan HCL tsb! Jawab : NaOH HCL= V1 M1 =V2 M2 0. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi.90 . larutan HCL denganvolume 5 mlditetesi dengan indikator fenolftalein sebanyak dua tetes danlarutan NaOH Vol.13 ml G. PENUTUP Demikianlahlaporan hasil penelitian/pengamatan ini..20 ml Vol.60 = 0.13 ml .90 ml – 2.70 ml Vt– Vo = 2.10 mldan berubah warna dari bening merah mudah.20 ml dan berubah warna dari bening menjadi merah mudah. 0.10 ml dan berubah warna dari bening menjadi merah mudah.1 0. Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya. V2 = = 0.awal (Vo) =3.90 ml Vt– Vo = 2. Tuliskan persamaan reaksi asam-basatersebut..70 ml – 2. larutan HCL denganVol. 0. 0.akhir (Vt) = 3.akhir (Vt) = 2.1 2 3 5 5 5 2..10 ml Vt– Vo = 3.00 = 0.70 ml = 0. Dari hasil pengamatan diatas dapatdiketahui bahwa larutan HCL jika ditetesi dengan larutan N aOH akanmenghasilkan larutan NaCL dan H2O dan terjadi perubahanwarna pada larutan HCL dari warna bening menjadi warna merah muda (Pink).70 = 0. larutan HCL dengan Vol..mudahmudahan laporanpenelitian ini berguna bagi kita semua sehingga dapat meningkatkan ilmupengetahuan. V.70 ml V. keimanan danketaqwaan kita kepada Allah SWT.10 2.3.1 = V2 .00 ml = 0.awal (Vo) =2. meanInG oF a liFe. titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya.013ml = V2 .10 F.20 3.akhir (Vt) = 2.1 H. PEMBAHASAN. .  PERTANYAAN. titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi. 0. Amiin.00 ml V. 0..60 ml = 0.20 ml c) Percobaan ketiga.2.awal (Vo) = 2. 1.5 ml ditetesi dengan indikator fenoltalein sebanyak dua tetes dan larutan NaOHdengan Vol.70 – 2. 0.13 ml KESIMPULAN. agar memperoleh keselamatan di dunia danakhirat. 21 April 2012 titrasi asam basaa Titrasi adalah suatu metode penentuan kadar (konsentrasi) suatu larutan dengan larutan lain yang telah diketahui konsentrasinya..60 ml V. V.Akhirnya kepada Allah jua-lah kita berharap. Jawab : HCL + NaOH NaCL + H2O H+ CL.10 ml b) Percobaan kedua.

• Mr-nya tinggi agar dapat mengurangi kesalahan penimbangan Bahan baku primer untuk asidi-alkalimetri yang paling banyak digunakan Untuk asam : Natrium karbonat kristal. potensiometer. tetapi harus di cek kembali konsentrasinya dnegan menambahkan larutan baku primer. tidak mudah bereaksi dengan komponen-komponen udara. Prinsip Titrasi Asam basa Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titrat ataupun titran. atau dengan suatu zat petunjuk yang dinamakan dengan indikator pH. Asam oksalat Kristal. Titik akhir titrasi adalah titik pada saat tercapainya kesetaraan asam dan basa yang bereaksi atau titik pada saat larutan mengalami perubahan warna yang disebabkan oleh penambahan indikator. Asam kuat . maka titik akhir titrasi harus sedekat mungkin dengan titik ekivalen.Basa kuat 2. Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi yang tinggi. Jenis-Jenis Titrasi Asam Basa Titrasi asam basa terbagi menjadi 5 jenis yaitu : 1. Basa kuat . contoh: asam klorida. Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”. Misalnya akan dicari normalitas suatu larutan. yaitu larutan baku primer dan larutan baku sekunder. dan tidak higroskopis. dibuat dari senyawa yang tingkat kemurniannya tinggi(99%). maka ke dalam larutan tersebut ditambahkan larutan baku sehingga terjadi reaksi sempurna antara larutan dengan larutan baku.Basa lemah 3. Umumnya digunakan untuk melakukan titrasi larutan uji. Titran ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titran dan titrat tepat habis bereaksi). yaitu : 1. Asam kuat . natrium hidroksida dll Standarisasi atau pembakuan adalah proses pengecekan larutan baku sekunder dengan larutan baku primer. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Dalam memilih indikator untuk titrasi asam basa harus disesuaikan dengan pH saat tercapainya titik ekivalen. massa molekul relatif (berat ekivalen) tinggi. Larutan baku terbagi atas dua macam.Garam dari basa lemah Analisa kimia kuantitatif yang dilakukan dengan jalan mengukur volume suatu larutan baku yang tepat bereaksi (bereaksi sempurna) dengan larutan yang di analisis disebut dengan analisis volumetri. tidak berubah selama proses pengerjaan pembuatan larutannya. kemudian kita mencatat volume titrat yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Kalium biodat. Dengan menggunakan data volume titran. Asam sulfamat Larutan baku sekunder adalah larutan baku yang setelah dibuat tidak dapat langsung digunakan. Asidimetri : pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa 2. Larutan baku primer adalah larutan baku yang setelah dibuat dapat langsung dipakai untuk ditambahkan ke dalam larutan yang akan dicari konsentrasinya. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya.Garam dari asam lemah 5. Natrium bikarbonat. Alkalimeteri : pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam. stabil pada suhu kara. Senyawa baku sekunder tidak harus memenuhi persyaratan seperti senyawa primer sehingga harganya murah dan biasa digunakan secara rutin. Pada saat titik ekuivalen ini maka proses titrasi dihentikan. Contohnya adalah asam oksalat.Titrasi asam basa terbagi menjadi dua. misalnya tidak hidroskopis. Asam lemah .Basa kuat 4. Oleh . Larutan baku adalah larutan yang konsentrasinya telah diketahui secara pasti. Titik ekivalen adalah saat banyaknya asam atau basa yang ditambahkan tepat setara secara stokiometri dengan banyaknya basa atau asam yang terdapat dalam larutan yang di analisis (pH pada saat asam dan basa tepat ekivalen). umumnya digunakan untuk melakukan titrasi larutan uji. Asam kuat . Indikator pH adalah asam lemah atau basa lemah organik yang menunjukan perubahan warna pada pH warna tertentu. Syarat-syarat senyawa baku primer : • Rumus molekulnya diketahui dengan pasti • Kemurniannya tinggi (99%) • Stabil. Untuk mengetahui tercapainya titik ekivalen dapat diukur dengan pH meter. Natrium tetra borat Untuk basa : Kalium Ftalat asam.

Tiitrasi harus memiliki keberulangan dengan perbedaan hasil tidak lebih dari 0.Asam kuat : HCl . Pada titrasi jumlah ekivalen asam sama dengan jumlah ekivalen basa. Titrasi Asam Kuat – Basa lemah Contoh : . Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk suatu analisis secara titrasi adalah : 1.Asam lemah : CH3COOH .Basa kuat : NaOH . Jenis indicator yang dipilih harus tepat. Jenis indicator yang dipilih harus tepat. Ketepatan dalam memilih indikator dapat memperkecil kesalahan titrasi.Garam dari Asam Lemah Contoh : . yaitu suatu zat yang dapat berubah warnanya tergantung PH larutan.Asam kuat : HCl . Reaksi kimia yang terjadi harus sederhana dan persamaan reaksinya mudah ditulis 3.Garam dari basa lemah : CH3COONH4 Persamaan Reaksi :NaOH + CH3COONH4→ CH3COONa + NH4OH Reaksi ionnya :OH-+ NH4-→ NH4OH Diposkan oleh syinta apriyanti di 21.Basa Kuat Contoh : .karena itu. harus dipilih indikator yang mengalami perubahan warna di sekitar titik ekivalen. Ketepatan dalam memilih indikator dapat memperkecil kesalahan titrasi. yaitu suatu zat yang dapat berubah warnanya tergantung PH larutan.Garam dari Basa Lemah Contoh : . Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik ekivalen dan selisihnya dinamakan kesalahan titrasi. Titrasi Basa Kuat .Garam dari asam lemah : NH4BO2 Persamaan Reaksi : HCl + NH4BO2→ HBO2+ NH4Cl Reaksi ionnya :H++ BO2-→ HBO2 5.Basa lemah : NH4OH Persamaan Reaksi :HCl + NH4OH → NH4Cl + H2O Reaksi ionnya :H++ NH4OH. Kadar atau konsentrasi larutan baku atau standar harus diketahui dengan tepat Larutan asam dapat ditentukan kadarnya melalui penambahan larutan baku basa yang tepat ekivalen (setara) dengan jumlah asam yang ada. Untuk mengamati titik ekivalen ini digunakan indicator asam-basa. Titrasi Asam Kuat . 26 Maret 2012 . 1. Titrasi Asam Lemah . sehingga dapat dituliskan sebagai berikut: Ekiuvalen asam = ekivalen basa V asam N asam = V basa N basa Larutan asam dapat ditentukan kadarnya melalui penambahan larutan baku basa yang tepat ekivalen (setara) dengan jumlah asam yang ada. Reaksi harus berlangsung dengan cepat 2.5% 4. Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik ekivalen dan selisihnya dinamakan kesalahan titrasi.48 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Senin. Titik akhir titrasi harus dapat diamati dengan jelas 5. Titik pada saat tercapainya kesetaraan asam dan basa yang bereaksi dinamakan titik akhir titrasi.Basa kuat : NaOH Persamaan Reaksi :CH3COOH + NaOH → NaCH3COO + H2O Reaksi ionnya :H++ OH-→ H2O 4. Untuk mengamati titik ekivalen ini digunakan indicator asam-basa. Titik pada saat tercapainya kesetaraan asam dan basa yang bereaksi dinamakan titik akhir titrasi. Titrasi Asam Kuat-Basa Kuat Contoh : -Asam Kuat : HCL -Basa Kuat NaOH Persamaan Reaksi : HCl + NaOH → NaCl + H2O Reaksi ionnya : H+ + OH-→ H2O 2.→ H2O + NH4+ 3.

52 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Senin.perubahan warna menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi.oleh karena itu keduanya di sebut juga sebagai titrasi asam basa. Sedangkan titrasi asidimetri adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa. Pada proses titrasi ini di gunakan suatu indikator yaitu suatu zat yang di tambahkan sampai seluruh reaksi selesai yang di nyatakan dengan perubahan warna.baik titer maupun titrant biasanya berupa larutan.sedangkan alkalimetri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam. Dalam suatu titrasi zat yang akan di tentukan kadarnya di sebut sebagai “titran” dan biasanya di letakan di dalam erlenmeyer. Semoga bermanfaatt^_^ Diposkan oleh syinta apriyanti di 22. Rumus senyawa ion di tentukan oleh perbandingan muatan kation dan anionnya. jumlah muatan positif sama dengan jumlah muatan negatif. Contoh nya: . Titrasi di hentikan saat tercapainya titik equivalen. Cara membaca volume larutan yang di keluarkan oleh buret adalah dengan melihat miniskus bawah sejajar dengan mata. 12 Maret 2012 tata nama senYawa>> Kita mulai aja yahh!! Tau gak senyawa ion itu terdiri atas suatu kation dan anion lohh!! Yuk kita bahas!!!! Kation umumnya adalah suatu ion logam.. sedangkan anion dapat berupa anion non logam. 1. Rumus senyawa Unsur logam di tulis di depa contohnya natrium klorida di tulis NaCl bukan ClNa kan?? Ini adalah rumus senyawa ion: b Xa+ + a Yb– -> XbYa untuk a dan b sama dengan angka 1 tidak perlu di tulis.raNgkuman tiTrassii Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah di ketahui konsentrasinya. sedangkan zat yang telah di ketahui konsentrasinya di sebut sebagai “titer” dan biasanya di letakkan di dalam buret.tapi karena titik equivalen ini sulit di amati maka titrasi di hentikan saat terjadi titik akhir titrasi yang di tandai dengan perubahan warna indikator di dalam larutan sample. Hanya ini yang bisa saya sampaikan. Titrasi biasanya di bedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi.titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi. contoh: jika melibatkan asam basa maka di sebut reaksi asam basa.

SO42– : Sulfat 16. PO43– : Fosfat 19.• Na+ + Cl– -> NaCl natrium klorida • 2 Na+ + SO42– -> Na2SO4 natrium sulfat • Fe2+ + 2Cl– -> FeCl2 besi(II) klorida • Al3+ + PO43– -> AlPO4 aluminium fosfat • Mg2+ + CO32– -> MgCO3 magnesium karbonat • 3 K+ + AsO43– -> K3AsO4 kalium arsenat Ini adalah daftar beberapa jenis kation: 1. CN– : Sianida 7. Hg2+ 19. AsO33– : Arsenit 20. Ba2+ 8. Sn2+ 12. Sr2+ 7. Zn2+ 9. Cl– : Klorida 4. Ni2+ 10. Pb4+ 15. SiO32– : Silikat 14. Contohnya: • NaCl = natrium klorida • CaCl2 = kalsium klorida • Na2SO4 = natrium sulfat • Al(NO3)3 = aluminium nitrat Jika unsur logam mempunyai lebih dari satu jenis bilangan oksidasi. AsO43– : Arsenat 2. Nama senyawa ion Nama senyawa ion adalah rangkaian nama kation (di depan) dan nama anion (di belakang). Ca2+ 6. Hg+ 18. Br– : Bromida 5. Sn4+ 13. K+ 3. C2O42– : Oksalat 17. Al3+ 11. Cu2+ : Natrium : Kalium : Argentum/Perak : Magnesium : Kalsium : Stronsium : Barium : Seng : Nikel : Aluminium : Timah(II) : Timah(IV) : Timbal(II) : Timbal(IV) : Besi(II) : Besi(III) : Raksa(I) : Raksa(II) : Tembaga(I) : Tembaga(II) Ini adalah daftar beberapa jenis anion: 1. OH– : Hidroksida 2. Fe3+ 17. Pb2+ 14. SO32– : Sulfit 15. Fe2+ 16. NO2– : Nitrit 10. O2– : Oksida 8. S2– : Sulfida 9. CO32– : Karbonat 13. NO3– : Nitrat 11. I– : Iodida 6. CH3COO– : Asetat 12. F– : Fluorida 3. maka senyawa-senyawanya di bedakan dengan menuliskan bilangan oksidasinya yang di tulis dalam tanda kurung dengan angka romawi di belakang nama unsur logam tersebut. Na+ 2. Cu+ 20. Ag+ 4. Mg2+ 5. PO33– : Fosfit 18. Contoh : • Cu2O = tembaga(I) oksida • CuO = tembaga(II) oksida • FeCl2 = besi(II) klorida • FeCl3 = besi(III) klorida • Fe2S3 = besi(III) sulfida • SnO = timah(II) oksida • SnO2 = timah(IV) oksida .

Larutan basa yang akan diteteskan (titran) dimasukkan ke dalam buret (pipa panjang berskala) dan jumlah yang terpakai dapat diketahui dari tinggi sebelum dan sesudah titrasi. 1997 : 550). titik akhir dan titik ekivalen seharusnya identik. 2004 : 354-355). Titik pada titrasi dimana indikator warnanya berubah disebut titik akhir (Petrucci.. volume-volume suatu asam dan suatu basa yang tepat saling menetralkan (Keenan. Terimakasihhh. akan tetapi perlu kita ketahui juga berapa banyak asam atau basayang terdapat didalam sampel. Titik ekivalen terjadi pada saat terjadinya perubahan warna indikator. 3rd Ed.Cukup sekian penjelasan dari sayaa. dan dengan hati-hati NaOH ditambahkan ke asam pada flask. Freeman and Company. Pertama-tama ditambahkan cukup banyak. Untuk mengamati titik ekivalen. Titrasi melibatkan suatu proses penambahan suatu larutan yang disebut tirant dari buret ke suatu flask yang berisi sampel dan disebut analit. titik ekivalen adalah titik selama proses titrasi dimana tepatnya titrat telah cukup ditambahkan untuk bereaksi dengan titree. Sebagai contoh. Seperti yang telah diketahui sebelumnya. pertama-tama kita menempatkan suatu asam yang volumenya telah ditentukan ke dalam suatu flask. unknown). Contoh yang akan dianalisis dirujuk sebagai (tak diketahui. Peter and Jones Lorette. Prosedur analitis yang melibatkan titrasi dengan larutan-larutan yang konsentrasinya diketahui disebut analisis volumetri. Larutan tersebut adalah asam apabila ion asam yang terkandung didalamnya. Semoga bermanfaat^_^ Asidimetri & Alkalimetri May 2. Salah satu masalah tekhnis dalam titrasi adalah titik dimana suatu perubahan dapat diamati. 1999 : 428). Dan tambahkan beberapa tetes indikator seperti penolftalein. Kadang-kadang kita perlu mengetahui tidak hanya atau sekedar pH. dan basa apabila ion basa yang terkandung didalamnya (Atkins. Pada titik tersebut. H. Dalam larutan asam. meskipun ada beberapa hal dimana perbedaan antara kedua hal tersebut dapat diabaikan (Snyder. misal asam. Kita bisa mengetahui bahwa netralisasi telah berlangsung ketika penolftalein dalam larutan berubah warna menjadi merah muda. Perubahan warna menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi (Brady. DAFTAR PUSTAKA Atkins. Misalkan kita ingin menentukan molaritas dari suatu larutan HCl yang tidak diketahui konsentrasinya. Pada titrasi. larutan terdiri dari garam dan air. Kemudian larutan lainnya (misal basa) yang terdapat didalam buret. 1996 : 597-599). Larutan asam yang dititrasi dimasukkan kedalam gelas kimia (erlenmeyer) dengan mengukur volumenya terlebih dahulu denga memekai pipet gondok. dimana reaktan pertama ditambahkan secara kontinu ke dalam reaktan kedua disebut titrasi.atau H3O+ yang terdapat dalam analit. 1999 : 217218). penolftalein tidak berwarna. ditambahkan ke asam. tetapi dalam prakteknya jarang sekali ada orang yang mampu membuat kedua titik tersebut tepat sama.. Dia harus mengetahui secara pasti seberapa banyak asam yang terkandung dalam suatu sampel air danau tersebut. ditempatkan di dalam flask bersamaan dengan beberapa tetes indikator asam basa.yang ditambahkan sebagai titrant adlah sama dengan jumlah mol dari OH. dalam stoikiometri titrasi. kemudian dengan tetesan hingga titik ekivalen. 1998: 422-423). kedalam larutan asam. Berhasilnya titrasi asam-basa tergantung pada seberapa akurat kita dapat mendeteksi titik stoikiometri. titik ekivalen dari reaksi netralisasi adalah titik pada reaksi dimana asam dan basa keduanya setara. kita dapat menentukan konsentrasi asam (Timberlake. 2009 at 8:31 am (Landasan Teori) ANALISIS KUANTITATIF : ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang diketahui dan diperlukan untuk bereaksi secara lengkap dengan sejumlah contoh tertentu yang akan di analisis. Kita bisa menentukan konsentrasi HCl tersebut melalui suatu prosedur yang disebut titrasi. New York: W. yaitu dimana keduanya tidak ada yang berlebihan. Pada titik stoikiometri. terjadi yang untuk mengindikasikan pendekatan yang paling baik ke titik ekivalen. Dari volume yang ditambahkan dan molar NaOH. 1997. Ini disebut titik akhir netralisasi. . Pada proses titrasi ini digunakan suatu indikator yaitu suatu zat yang ditambahkan sampai seluruh reaksi selesai yang dinyatakan dengan perubahan warna. 1997 : 636).. suatu larutan yang akan dinetralkan. buret kita isi dengan larutan NaOH yang konsentrasinya telah diketahui. Dalam analisis larutan asam dan basa. titrasi melibatkan pengukuran yang seksama. Didalam beberapa titrasi. Secara ideal. seorang ahli kimia lingkungan mempelajari suatu danau dimana ikan-ikannya mati. Kemudian. Reaktan yang ditambahkan tadi disebut sebagai titrant dan reaktan yang ditambahkan titrant kedalamnya disebut titree. Dala titrasi yang diamati adalah titik akhir bukan titik ekivalen (syukri. Chemistry Molecules and Canges. dipakai indikator yang warnanya disekitar titik ekivalen. dimana kita menetralisasi suatu asam dengan suatu basa yang telah diketahui konsentrasinya. Suatu proses didalam laboratorium untuk mengukur jumlah suatu reaktan yang bereaksi sempurna dengan sejumlah reaktan lainnya. Dalam titrasi. jumlah mol dari H3O+ dan OH.

Brady. kedokteran dan pertanian. Asam dan basa tersebut memiliki sifat-sifat yang menyebabkan konsentrasi larutannya sukar bahkan tidak mungkin dipastikan langsung dari proses hasil pembuatan atau pengencerannya. Asidi-alkalimetri berperan penting dalam berbagai bidang kehidupan. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion OH-sebagai ion negatif. seperti biologi. Pengertian asidimetri dan alkalimetri secara umum ialah titrasi yang menyangkut asam dan basa. Ralph H and Willias S. Kesetimbangan asam basa merupakan suatu topik yang sangat penting dalam kimia dan bidang-bidang lain yang mempergunakan kimia. 1997. New Jersey: Prentice Hall.3 Prinsip percobaan Menentukan kadar atau konsentrasi suatu larutan dengan menggunakan larutan yang konsentrasinya diketahui dengan cara mentitrasi suatu zat yang konsentrasinya tidak diketahui dengan zat lain yang konsentrasinya diketahui sehingga jumlah mol kedua zat sama antara satu dengan lainnya.2 Tujuan percobaan Mengetahui konsentrasi NaOH standar Mengetahui kadar CH3COOH perdagangan Mengetahui volume titran (NaOH) yang digunakan untuk menetralkan CH3COOH 1. 1999. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai ion positif. Jakarta: Erlangga. Larutan ini disebut larutan standar sekunder yang konsentrasinya ditentukan melalui pembakuan dengan suatu standar primer. Pereaksi atau larutan yang selalu dijumpai di laboratorium dimana pembakuannya dapat ditetapkan berdasarkan pada prinsip netralisasi asam – basa (melalui asidi – alkalimetri) diantaranya adalah HCl. misalnya larutan asam oksalat. Sedangkan untuk titrasi atau pengukuran lain-lain sering juga dipakai akhiran –ometri menggantikan –imetri. Kimia untuk Universitas. Harwood. Rinehart And winston. Titrasi yang menyangkut asam dan basa sering disebut asidimetri – alkalimetri.1 Latar Belakang Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. New York: Holt. Bandung ITB. Kimia Dasar 2. untuk lebih memahami konsep peniteran asidi – alkalimetri dan mengetahui konsentrasi standar dari zat yang dianalisa maka perlu dilakukan peniteran dengan menggunakan suatu standar primer. Oleh karena itu. San Fransisco: Pearson Benjamin Cummings. 1999. James E. Inc. . KOH dan sebagainya. Kimia Universutas Asas dan Struktur. General. General Chemistry. 1996. NaOH. Timberlake. Jakarta: Binarupa Aksara Keenan. H2SO4. Sedangkan basa secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. Syukri. Kata metri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu atau proses atau seni mengukur. Chemistry Structure and Reaction. 1. Petrucci. Karen C. C. Snyder. 1998. Milton K. W. Organic and Biological Chemistry Structure Of Life. 2004. Laporan Kimia Dasar II Asidi Alkalimetri BAB 1 PENDAHULUAN 1. dkk.

aluminium hidroksida bereaksi dengan asam kuat.9 KJ) untuk reaksi suatu mol setiap asam kuat dan basa kuat yang sembarang. Di lain pihak larutan air amonia. Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat. Konsentrasi suatu larutan asam atau basa yang anu (unknown) dapat ditentukan dengan titrasi dengan larutan yang konsentrasinya diketahui. Karena itu. Larutan yang ditambahkan dari buret disebut titran. amonia membentuk amonium hidroksida. yang tak mempunyai ciri-ciri khas suatu asam maupun basa. Zat-zat ini dinamakan garam oleh ahli-ahli kimia zaman dulu. F. Definisi ini adalah benar. Bila dilarutkan dalam air. Proses-proses semacam ini disebut netralisasi. Ini ditunjukkan oleh fakta. Zat-zat amfoter. dan larutannya diuapkan. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. basa kuat merupakan elektrolit kuat. lebih tepat untuk menyatakan reaksi netralisasi sebagai penggabungan ion-ion secara kimia : Dalam persamaan ini. sedangkan larutan yang ditambah titran itu disebut titrat. bahwa jika sejumlah asam dan basa murni ekuivalen dicampur. saat ini dinamakan titik akhir titrasi. aluminium hidroksida juga bisa dilarutkan dalam natrium hidroksida : Pada mana ion tetrahidroksoaluminat terbentuk. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion-ion hidroksil sebagai satu-satunya ion negatif. yang tersusun dalam pola yang teratur dalam kisi kristalnya. Pembentukan garam seakan-akan merupakan hasil dari suatu proses kimia sejati. yang menghasilkan suatu larutan garam dalam air. D. persamaan ini dapat disederhanakan menjadi Yang menunjukkan bahwa hakekat suatu reaksi asam-basa (dalam larutan air) adalah pembentukan air. Tetapi tak ada pembagian yang tajam antara golongan-golongan ini. (Kleinfetter.D. Setiap proton bergabung dengan satu molekul air dengan cara berkoordinasi dengan sepasang elektron bebas yang terdapat pada oksigen dari air. yang bila dilarutkan dalam air. sedang basa lemah merupakan elektrolit lemah. akan diperoleh larutan asam lemah atau basa lemah. yang juga terbentuk dalam proses ini. Larutan ini akan benar-benar netral jika asam dan basa itu sama kuat . Dalam reaksi ini aluminium hidroksida berperilaku sebagai asam. hampir-hampir tak berdisosiasi sama sekali. yaitu suatu larutan ditambahkan dari buret sedikit demi sedikit. Shevla. yang bila dilarutkan dalam air. maka penambahan titran harus dihentikan. Hidroksida-hidroksida logam yang larut. Sebenarnya ion hidrogen (proton) tak ada dalam larutan air.tampil pada kedua sisi. Pada saat titran yang ditambahkan tampak telah ekivalen. ion Na+ dan Cl. Dengan jalan ini.R. suatu zat kristalin tertinggal. Jika persamaan reaksi dinyatakan sebagai interaksi molekul-molekul. seperti natrium hidroksida atau kalium hidroksida hampir sempurna berdisosiasi dalam larutan air yang encer : Karena itu basa-basa ini adalah basa kuat. Sedangkan air. Misalnya. Menurut definisi yang kuno. Reaksi dijalankan dengan titrasi.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. Di lain pihak. merupakan suatu basa lemah. bahwa panas netralisasi adalah kurang lebih sama (56. dalam artian. Kita tahu bahwa baik asam (kuat) maupun basa (kuat).I. dicampur akan dihasilkan suatu reaksi penetralan. Garam adalah wujud padat dibangun oleh ion-ion. garam adalah hasil reaksi antara asam dan basa. basa dan garam. mampu melangsungkan reaksi netralisasi baik dengan asam maupun basa (lebih tepatnya. yang berdisosiasi menjadi ion amonium dan ion hidroksida : Namun lebih tepat untuk menulis reaksi itu sebagai Karena itu. sampai jumlah zat-zat yang direaksikan tepat menjadi akivalen satu sama lain. baik dengan ion hidrogen maupun ion hidroksil). pada mana ia melarut dan ion aluminium terbentuk : Dalam reaksi ini aluminium hidroksida bertindak sebagai basa. secara paling sederhana dapat didefinisikan sebagai zat. Karena dengan demikian tak ada terjadi apa-apa dengan ion-ion ini. serta pula garam hampir sempurna berdisosiasi dalam larutan. dan terbentuk ion-ion hidronium : H+ + H2O → H3O+ Basa. Tetapi ini sebenarnya tidak tepat.Sc. dan sama halnya dengan asam. volume/berat titran dapat diukur dengan teliti dan bila konsentrasi . (G. 1985) Bila suatu asam dan suatu basa yang masing-masing dalam kuantitas yang ekuivalen secara kimiawi.C. 1987) Volumetri adalah cara analisis jumlah berdasarkan pengukuran volume larutan pereaksi berkepekatan tertentu yang direaksikan dengan larutan contoh yang sedang ditetapkan kadarnya. adalah mungkin untuk menyatakan kekuatan basa secara kuantitatif. Ph. Teknik semacam itu disebut analisis volumetri. atau amfolit. kalau tidak.

baik volume maupun jumlah gram atau mol-nya. Reaksi-reaksi yang terjadi dalam titrasi ini ialah : asam dengan basa (reaksi penetralan). kita peroleh grafik yang disebut kurva titrasi. 3. adalah sebagai berikut : tak berwarna PP dalam bentuk asam (HIn) merah basa konjugat PP dalam bentuk basa (In-) . Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron. maka pH larutan mula-mula rendah dan selama titrasi terus menerus naik. Mereka memberikan satu warna berbeda bila proton lepas. indikator yang lazim dipakai. 1987) Salah satu macam titrasi adalah titrasi asidimetri-alkalimetri. 2005) Proses titrasi asam – basa sering dipantau dengan penggambaran pH larutan yang dianalisis sebagai fungsi jumlah titran yang ditambahkan. dalam larutan asam ia berwarna kuning. Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna pada range pH yang berbeda. agar kuantitatif.- juga diketahui. bahwa pereaksi dan zat yang direaksikan telah sama banyak. Titik stoikhiometri atau ekivalen harus diketahui. maka pekerjaan itu disebut asidimetri. basa dengan garam. atau sangat mendekatinya. Misalnya biru bromtimol (bb). Bila kita mengukur berapa mL larutan bertitar tertentu yang diperlukan untuk menetralkan larutan basa yang kadar atau titernya belum diketahui. Titran dan titrat tepat saling menghabiskan. KURVA TITRASI – Larutan yang dititrasi dalam asidimetri-alkalimetri mengalami perubahan pH. - - Untuk memenuhi pernyataan (1). 2005) Contoh : Fenolftalein. yakni sebelum ditambah basa dan pada waktu-waktu tertentu setelah titrasi dimulai. Bila suatu indikator pH kita pergunakan untuk menunjukkan titik akhir titrasi. agar tidak ada keragu-raguan tentang kapan titrasi harus dihentikan. maka kalau pH dialurkan lawan volume titran. (Harjadi. (Harjadi. asam dengan garam (reaksi pembentukan asam lemah). Akan tetapi harus dimengerti. atau basa. Tujuan : memilih indikator yang memiliki titik akhir bertepatan dengan titik stoikhiometri. Misalnya bila larutan asam dititrasi dengan basa. Konsentrasi titran harus diketahui. yang berarti: telah tepat banyaknya untuk menghabiskan zat yang direaksikan. Gambar yang diperoleh tersebut disebut kurva pH. Titik pada saat indikator berubah warna disebut titik akhir. sering disingkat PP. Peniteran sebaliknya. maka jumlah mol titran dapat dihitung. yaitu titrasi yang menyangkut asam dan/atau basa. atau sangat dekat pada titik ekivalen yang sering digunakan. Volume titran yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalen harus diketahui setepat mungkin. asam dengan basa yang titernya diketahui disebut alkalimetri. Struktur Fenolftalein. Hal ini jelas. Ini tidak selalu berarti. asam harus kuat dan garam itu harus terbentuk dari asam lemah sekali. 2003) Kebanyakan indikator asam basa adalah molekul kompleks yang bersifat asam lemah dan sering disingkat dengan HIn. Reaksi yang tepat antara titran dan senyawa yang dianalisis harus diketahui. Perubahan warna itu harus terjadi dengan mendadak. Larutan seperti ini disebut larutan standar. Bila pH ini diukur dengan pengukur pH (pH-meter) pada awal titrasi. trayek indikator tersebut harus memotong bagian yang sangat curam dari kurva. 4. 1987) Berikut syarat-syarat yang diperlukan agar titrasi yang dilakukan berhasil : 1. Perhatikanlah sekali lagi arti ungkapan ”pereaksi telah ekivalen”. (Khopkar. tidak ada kelebihan yang satu maupun yang lain. maka jumlah mol titrat dapat diketahui pula berdasar persamaan reaksi dan koefisiennya. maka : 1. maka trayek indikator harus mencakup pH larutan pada titik ekivalen. 2. atau kurva titrasi. Dalam titrasi ini perubahan terpenting yang mendasari penentuan titik akhir dan cara perhitungan ialah perubahan pH titrat. (Hardjono Sastrohamidjojo. maka asam dan/atau basa yang bersangkutan harus kuat. bahwa asam dan basa disini tidak berarti pH kurang atau lebih dari tujuh. Karena jumlah titrat ekivalen dengan jumlah titran. tetapi dalam lingkungan basa warnanya biru. Indikator Asam Basa – Indikator asam basa ialah zat yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. sedang warna yang ditunjukkan dalam keadaan basa disebut warna basa. tak berwarna dalam bentuk Hin-nya dan berwarna pink dalam bentuk In. 2. sebab jumlah yang bereaksi ditentukan oleh persamaan reaksi. agar kuantitatif. agar kuantitatif. jadi berdasar pembentukan basa lemah tersebut. Indikator harus berubah warna tepat pada saat titran menjadi ekivalen dengan titrat agar tidak terjadi kesalahan titrasi. untuk memenuhi pernyataan (2). Indikator yang memberikan perubahan warna. (Hardjono Sastrohamidjojo. Asam berarti pH lebih rendah dan basa berarti pH lebih besar dari trayek indikator atau trayek perubahan warna yang bersangkutan. Warna dalam keadaan asam dinamakan warna asam dari indikator (kuning untuk bb). basa harus kuat dan garam harus terbentuk dari basa lemah sekali.

2 Alkalimetri Dituang larutan NaOH yang telah distandarisas kedalam buret Dipipet 10 ml cuka perdagangan lalu diencerkan hingga 100 ml Dipipet 10 ml cuka yang telah diencerkan lalu dimasukkan kedalam erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 3 tetes Dititrasi dengan NaOH hingga terjadi perubahan warna Dicatat volume NaOH yang digunakan Dihitung kadar cuka perdagangan - - BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Alat-alat Buret Pipet volume 10 ml Labu ukur 100 ml Pipet tetes Erlenmeyer 100 ml 3.1 N hingga terjadi perubahan warna Dicatat volume oksalat yang diperlukan Dihitung konsentrasi NaOH 3.1 N Asam oksalat dihidrat Indikator PP 3.1 Asidimetri No.1 N hingga - Pengamatan warna titrat menjadi merah lembayung . Perlakuan 1.1 N kedalam buret Dipipet 10 ml NaOH lalu dituangkan kedalam erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 2 tetes Dititrasi dengan larutan asam oksalat 0.3.3.2 Bahan-bahan Asam cuka perdagangan NaOH 0.1 Asidimetri Dituang asam oksalat 0.1 Hasil Pengamatan 4. Dititrasi dengan larutan asam oksalat 0.1 N kedalam buret Dipipet 10 ml NaOH lalu dituangkan kedalam 2. erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 2 tetes 3.BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN 3.3 Prosedur Percobaan 3. Dituang asam oksalat 0.1.

Vrata-rata = 6. 7. terjadi perubahan warna Dicatat volume asam oksalat yang diperlukan Dihitung konsentrasi NaOH .1. Dipipet 10 ml cuka perdagangan lalu diencerkan hingga 100 ml 3.perubahan warna dari merah lembayung menjadi tidak berwarna .V1 = 6.1 ml . V2 = 6. Dicatat volume NaOH yang digunakan Dihitung kadar cuka perdagangan .2 Reaksi .4 ml . Dititrasi dengan NaOH hingga terjadi perubahan .6 ml 6. 6. N NaOH = = 0. Dipipet 10 ml cuka yang teah diencerkan lalu dimasukkan kedalam erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 3 tetes 4.4.V = 13.Larutan tetap berwarna bening warna .0625 N 4. C= = = 51 gr/mL 4. Dituang larutan NaOH yang telah distandarisasi kedalam buret 2.25 ml 5.perubahan warna dari bening menjadi merah lembayung 5.2 Alkalimetri No. Perlakuan Pengamatan 1.

→ H2O Bila kita mengukur berapa ml larutan asam bertitar tertentu yang diperlukan untuk menetralkan larutan basa yang kadar atau titernya belum diketahui.1 ml V rata-rata = N NaOH = = 0. 5. Peniteran sebaliknya. maka beratnya harus diketahui dengan tepat. Contohnya NaOH dan HCl. Bila pereaksi digunakan dalam bentuk padat. Hendaknya diusahakan agar titik akhir ini sedekat mungkin pada titik ekivalen yaitu.4 Pembahasan Titrasi asam basa sering disebut asidimetri-alkalimetri. Larutan yang diketahui konsentrasinya disebut larutan baku atau larutan standar. Dalam titrasi sampel direaksikan dengan suatu pereaksi sehingga jumlah kedua zat tersebut ekivalen. tidak ada kelebihan yang satu maupun yang lain. Syarat-syarat larutan standar primer adalah : 1.4 ml V2 = 6. 4. titik dimana indikator tepat berubah warna. Contohnya K2Cr2O7 dan Na2B4O7.4. Dalam asidi-alkalimetri indikator yang digunakan adalah indikator pH yaitu zat . maka volume dan konsentrasinya harus diketahui dengan tepat. Reaksi dasar dalam titrasi asam-basa adalah netralisasi atau penetralan.3 Perhitungan 4. yaitu reaksi asam dan basa. yang dapat dinyatakan dalam persamaan reaksi seperti berikut : H+ + OH. Bila pereaksi digunakan dalam bentuk larutan. Sangat murni atau mudah dimurnikan 2. Larutan standar primer adalah larutan yang kadarnya dapat diketahui secara langsung dari hasil penimbangan.3. asam dengan basa yang titernya diketahui disebut alkalimetri. setidak-tidaknya selama ditimbang Sedapat mungkin mempunyai berat ekivalen tinggi untuk mengurangi kesalahan penimbangan Dalam titrasi akan bereaksi menurut syarat-syarat reaksi titrasi Mempunyai rumus molekul yang pasti Larutan standar sekunder adalah larutan yang konsentrasinya ditentukan dengan cara pembakuan. 3. Dalam penentuan titik akhir titrasi digunakan indikator yaitu. Larutan standar dibagi menjadi dua yaitu.6 ml C= = = 51 gr/mL 4.1 Konsentrasi NaOH V1 = 6. larutan standar primer dan larutan standar sekunder. larutan peniter diteteskan sedikit demi sedikit kedalam larutan contoh sampai tercapai titik akhir titrasi yaitu. Pelaksanaan penentuan kadar zat dengan jalan titrasi yaitu. senyawaan yang digunakan sebagai penunjuk visiual pada saat tercapainya titik setara titrasi antara dua larutan tertentu.0625 N 4.2 Kadar CH3COOH perdagangan V = 13. Stabil dalam keadaan biasa. titik dimana titran dan titrat tepat saling menghabiskan. maka pekerjaan itu disebut asidimetri.3.

Dikarenakan trayek pH indikator PP mencakup pH titik ekivalen antara asam lemah dengan basa kuat.7.4 4.3 . Sebenarnya telah terjadi reaksi antara indikator dan asam atau basa yang bersangkutan.2 . Larutan asam cuka yang ditambahkan indikator PP tidak mengalami perubahan warna.8 2.0 9.8. Pada saat titik akhir telah tercapai warna larutan berubah menjadi merah lembayung dikarenakan penambahan [OH-].4 3.10. Setelah didapat titik akhir pada volume NaOH 13.9 . Lalu asam cuka dititrasi dengan larutan NaOH yang telah distandarisasi.8 .2 .1 ml. Pada saat melakukan titrasi banyak kemungkinan faktor kesalahan yang terjadi diantaranya : Kebersihan alat-alat yang digunakan.4 ml dan 6.4. indikator PP sangat tepat digunakan untuk penunjuk titrasi asam lemah dengan basa kuat.2 .8.4 .0625 N.0 7. Dari perhitungan didapatkan konsentrasi NaOH sebesar 0.Naftolflatein Purpus kresol Fenolftalein Timolftalein tidak berwarna merah tidak berwarna merah merah kuning merah merah kuning kuning kuning kuning kuning tidak berwarna tidak berwarna Basa kuning kuning kuning kuning jingga biru kuning biru purpur biru merah biru biru merah biru 0.2 5. Kesalahan praktikan pada pembacaan miniskus buret.8 6.8. menyebabkab warna larutan NaOH berwarna merah lembayung. Sehingga warna larutan berubah menjadi merah lembayung yang disebut warna basa indikator.yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah.4. Indikator PP ditambahkan 2 tetes pada larutan NaOH 10 ml. Nama Asam 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Asam pikurat Biru Timol 2.5 Merah Metil ( MM ) Phenolphthalein ( PP ) Thymolphthalein ( TP ) - Pada percobaan titrasi antara NaOH dan CH3COOH yaitu titrasi asam lemah dengan basa kuat digunakan indikator PP.4 . Dalam kehidupan sehari-hari asidi alkalimetri memiliki peranan penting.3 .2 . perubahan ini menjadi HIn hingga titik akhir warna tidak terlihat. Setelah ditambah indikator. Dalam bidang farmasi asidi alkalimetri digunakan untuk menentukan gugus obat sulfa.1 . Alat yang digunakan harus bersih dan kering agar tidak terjadi kontaminasi dengan zat-zat sisa yang tertinggal pada alat-alat yang digunakan.5 .0 . Pada peniteran asidimetri pada percobaan yang dilakukan adalah penetapan kenormalan NaOH dengan menggunakan asam oksalat sebagai larutan standar primer yang berfungsi sebagai titran.8 .2. Kelebihan titran sehingga volume titik akhir melebihi yang seharusnya.10. Jadi ketika indikator tepat berubah warna atau titik akhir titrasi telah tercapai. lalu titrat dititrasi dengan titran hingga mencapai titik akhir ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi tidak berwarna.10.0 9. Hal ini dikarenakan penambahan [H+] sehingga [OH] berkurang dan keseimbangan bergeser ke kiri. perubahan HIn menjadi In -.4.5. Oleh karena itu. Sebanyak 10 ml asam cuka diencerkan didalam labu ukur hingga 100 ml.α . Warna No.5 Trayek pH .8. Dari perhitungan didapatkan kadar CH3COOH sebesar 51 gr/mL.6 6. Pada peniteran alkalimetri pada percobaan ini yang akan ditetapkan kadarnya adalah asam cuka perdagangan.10.9. Misalnya dalam bidang kesehatan basa (Mg(OH) 2) digunakan sebagai antasida untuk menetralkan asam lambung (HCl).6 ml.1 .0 2.6.6 8. Indikator yang digunakan adalah indikator PP.4.0. Pengerjaan titrasi dilakukan secara duplo untuk lebih meyakinkan bahwa titik akhir sudah tercapai dan hasil dari dua kali titrasi hendaknya jangan berbeda lebih dari 0.3 5.1 .3 4. maka dapat dihitung kenormalan NaOH standar yang dapat digunakan untuk menetapkan kadar asam yang akan ditetapkan kadarnya. Perubahan warna menjadi merah lembayung dikarenakan indikator bereaksi dengan basa (NaOH).0 .8 1.2 .0 6.0 . menyebabkan [H+] berkurang dan keseimbangan bergeser ke kanan. Dari 100 ml larutan asam cuka yang telah diencerkan dipipet 10 ml dan ditambahkan 2 tetes indikator PP.0 8.05 ml.6.0 . Beberapa penunjuk yang biasa digunakan untuk titrasi asam-basa: Warna Larutan Penunjuk Trayek pH Asam Sindur Metil Lakmus Merah netral ( SM ) (L) ( MN ) Merah Merah Merah Merah Tak berwarna Tak berwarna Basa Sindur Kuning Biru Kuning Merah lembayung Biru 3.2 . maka dapat dihitung kadar CH3COOH perdagangan.0 3. ini berarti jumlah titrat telah ekivalen dengan jumlah titran.6.4 4.9.0 7. Setelah didapat titik akhir pada volume asam oksalat 6.6-Dintrofenol Kuning metil Jingga metil Hijau bromkresol Merah metil Lakmus Purpus bromkresol Biru bromtimol Merah fenol p.

BAB 5 PENUTUP 5.2 Saran Dalam melakukan percobaan dapat digunakan asam kuat-basa kuat atau asam kuat-basa lemah agar praktikan lebih dapat memahami titrasi asam-basa dan dapat digunakan indikator yang berbeda. analisis kuantitatif terbagi menjadi : 1. Saat dimana terjadi reaksi yang sempurna tercapai disebut saat Titik Ekivalen atau titik Stoikiometri biasanya titik akhir titrasi disebut juga titik akhir teoritis. Secara garis besar.0 12. Analisis secara Volumetri adalah analisis kimia kuantitatif utuk menentukan banyaknya volume suatu larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan teliti yang bereaksi secara kuantitatif dengan larutan/zat yang akan kita tentukan konsentrasinya. under | 1 comment ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI TUJUAN Mahasiswa dapat membuat larutan HCl 0.16 17 Kuning alizarin R 1. Sedang larutan yang akan ditentukan normalitasnya disebut larutan yang dititrasi. Titik akhir titrasi ini dapat dilihat denga adanya perubahan warna yang terdapat dalam larutan yang dititrasi.5. 2.00.0 .14. pH nya pada titik ekivalen > 7 karena kebasaan konjugat asam lemah CH3COO-. Larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan teliti disebut Larutan Standart.1 Kesimpulan Konsentrasi NaOH standar yang digunakan dalam percobaan adalah 0.0 Pada peniteran asam dan basa. Reaksi dalam analisis volumetri terbagi menjadi : Reaksi-reaksi yang tidaj menimbulkan / mengakibatkan terjadinya perubahan valensi. Pada peniteran asam lemah-basa kuat.1 N Mahasiswa dapat melakukan standarisasi larutan NaOH 0.Analisis berdasarkan Volumetri.46. Analisis anorganik secara kuantitatif yaitu proses atau operasi analisis hanya digunakan untuk mengetahui atau mengidentifikasi penyusun-penyusun dari suatu zat dan pengembang-pengembang metoda-metoda pemisahan masingmasing penyusun yang terdapat dalam suatu campuran. Indikator yang tepat untuk titik akhir titrasi ini salah satunya adalah fenolftalein yang memiliki trayek pH 8. Banyaknya zat yang akan ditentukan konsentrasinya dapat dihitung dari banyaknya volume standart dengan hukum ekivalen biasa.1 N Mahasiswa dapat melakukan standarisasi larutan HCl 0. larutan standart ini tiap liternya mengandung sejumlah gram ekivalen tertentu.0625 N Kadar asam asetat perdagangan yang dipakai dalam percobaan adalah 51 gr/mL Volume NaOH terpakai pada peniteran CH3COOH sebanyak 13.3.Trinitrobenzen kuning tidak berwarna violet jingga 10. Analisis anorganik secara kuantitatif yaitu proses analisis untuk menentukan atau mengidentifikasi banyaknya atau perbandingan banyaknya tiap-tiap penyusun yang terdapat suatu zat atau persenyawaan. atau [H+] = [OH-] = 107. . Proses penambahan larutan standart ke dalam larutan yang akan ditentukan normalitasnya sampai terjadi reaksi yang sempurna disebut Titrasi. Perubahan warna dalam larutan ini akan lebih jelas bila dalam proses titrasi ditambahkan sedikit indicator. hanya penggabungan ion-ion saja.Analisis berdasarkan Gravimetri.12. LAporan ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI Posted by For Indonesiaku 15. Alkalimetri : Analisis (volumetri) yang menggunakan alkali (basa) sebagai larutan asam sebagai larutan standart.6 ml - 5.1 N Mahasiswa dapat melakukan standarisasi cuplikan (sampel) DASAR TEORI Asidimetri : Analisis (volumetri) yang menggunakan asam sebagai larutan asam sebagai larutan Standart.2 – 10. Pada saat ini larutan bersifat netral. setiap basa yang diteteskan bereaksi dengan asam dan peniteran dihentikan pada saat jumlah mol H+ setara dengan jumlah mol OH-.1 N Mahasiswa dapat membuat larutan NaOH 0.1 .

Neraca timbang BAHAN : NaOH Kristal 5. Membuat larutan NaOH 0. Asidimetri suatu titrasi terhadap larutanlarutan basa bebas atau garam yang berasal dari basa lemah dengan larutan standart asam. Membuat larutan HCl 0. Penentuan normaitas larutan NaOH 0. Sebanyak 25 ml larutan asam oksalat tersebut dimasukkan dalam Erlenmeyer dan ditambahkan 3 tetes indicator PP. .Reaksi-reaksi yang tidaj menimbulkan / mengakibatkan terjadinya perubahan valensi.1 N HCl pekat dianbil sebanyak 0. Bulbpet Labu takar 10. Gelas beker Pipet tetes 12.632 gram. Pipit ukur Gelas arloji 9.1 N (yang akan dicari normalitasnya). kemudian ditandabataskan. Titrasi diulang sampai 3 kali. Pipet gondok Sendok sungu 8.1 N Larutan natrium Borat 0.1 N dengan Asam Oksalat. Disimpan di dalam botol dan ditutup rapat-rapa. Larutan HCl (yang dibuat) diambil sebanyak 25 ml dan ditambahkan 3 tetes indikator MO. ALAT DAN BAHAN ALAT : Buret 7.1 N ) V : Volume asamyang dibutuhkan ( 100 ml ) M : Berat molekul asam ( HCl = 36. Ditentukan normalitas sampel tersebut. 2. kemudian ditandabataskan. Cara menghitung (X) ml HCl sebagai berikut: x=(N x V x M)/(10n x K x L) Dimana .091 ditimbang dengan gelas arloji (sesuai dengan perhitungan). Proses titrasi Asidimetri dan Alkalimetri merupakan salah satu proses titrasi netralisasi. Dilarutkan dengan air murni dalam labu takar 100 ml. Larutan dikocok sampai homogen. Dititrasi dengan larutan NaOH 0. Penentuan Normalitas HCl 0. Penentuan larutan sampel Sebanyak 25 mL sampel yang sudah disediakan dimasukkan kedalam Erlenmeyer. X : Banyaknya HCl yang diambil ( ml ) N : Normalitas larutan HCl yang dibuat ( 0. NaOH tersebut dimasukkan ke dalam labu takar 250 ml.83 mL. Larutan HCl tersebut dititrasi dengan Natrium Borat yang dibuat. Aquadest Asam oksalat CARA KERJA 1. kemudian ditambah dengan aquadest.membentuk molekul air. Dititrasi ulang 2-3 kali. kemudian ditandabataskan. HCl pekat dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL.5 ) n : Valensi asam ( HCl = 1 ) L : Berat jenis asam ( HCL = 1.1 N NaOH sebanyak 1. Indikator MO dan PP H2SO4 pekat 7. Dititrasi dengan larutan NaOH standart.3-1. Dalam perhitungan selanjutnya kita gunakan persamaan antara volume dan konsentrasi masing-masing zat yang dititrasi dengan zat penetrasinya dan berlaku rumus sebagai berikut : V1 x N1 = V2 x N2 Dimana. Sedang alkalimetri adalah suatu proses titrasi larutan-larutan asam bebas atau larutan-larutan garam yang berasal dari asam lemah dengan larutan standar basa. misalnya pada reaksi Oksidasi dan Reduksi. Indikator PP ditambahkan sebanyak 3 tetes.4 ) K : Kadar asam HCl ( %= 35-36 ) 4. Kristal asam oksalat (H2C2O4 )ditimbang sebanyak 0.1 N dibuat sebanyak 100 ml (sesuai perhitungan).Dalam proses ini yang terjadi adalah penggabungan antara ion-ion H+dengan ion-ion OH. V1 : Volume zat penetrasi/standar (ml) N1 : Normalitas zat penetrasi/standar (gram ekivalen/liter) V2 : Volume zat yang dititrasi/dicari N nya (ml) N2 : Normalitas zat yang dititrasi/dicari N nya (gram ekivalen/liter) Sedangkan reaksi-reaksi yang melibatkan proses oksidasi dan reduksi akan dibahas tersendiri dalam praktikum yang menggunakan zat kimia bersifat oksidator/reduktor seperti Iodometri dan Iodimetri. Erlenmeyer Corong 11. Ditentukan Normalitas asam tersebut. Natrium Borat kristal HCl pekat 6. Dititrasi ulang 2-3 kali.

87 ml) = 0.37 g/mol Volume pengenceran : 100 ml NO.3 ml MO 3 tetes Kuning Orange3. 25 ml PP 3 tetes 24 ml Jernih merah muda2.8 ml Jernih PERHITUNGAN Ѽ Pembuatan NaOH 0.6 ml Jernih Merah muda3. N C2H2O4.5 g/mol BD HCl pekat : 1.87 ml Normalitas NaOH V NaOH x N NaOH = V Oksalat x N Oksalat N NaOH = (V Oksalat x N Oksalat)/(V NaOH) N NaOH = ((25 ml)(0.83 ml BM HCl pekat : 36.5 g/mol BD HCl pekat : 1.6 ml Jernih merah muda3.047 gram N NaOH=(Massa NaOH)/(BE NaOH) x 1000/(V (ml)) Massa NaOH = N NaOH x BE NaOH x V (ml) : 1000 =(0. 25 ml PP 3 tetes 18.1 N Volume diambil HCl : 0.4 ml MO 3 tetes Kuning Orange2.6 + 24 )ml/3 = 23.5))/(10(1)x (37)x (1. Volume HCl/Sampel Indikator Volume NaOH Perubahan warna Merah muda1.1 N Volume HCl yang harus diambil : ± 0.1 N dengan asam oksalat.9 ml MO 3 tetes Kuning ҉ Penentuan larutan sampel NO.H2O)/(BE C2H2O4. ₰ Normalitas asam oksalat Massa asam oksalat = 0.07/2) x 1000/100 = 0.091 gram Volume NaOH : 250 ml ҉ Standarisasi Normalitas lautan NaOH dengan garam asam oksalat ( H2C2O4 ) Massa oksalat : 0.4 ml Jernih Merah muda2.83 ml ( diencerkan menjadi 100 ml) Ѽ Penentuan massa Natrium Borat yang diambil .1 N Massa NaOH yang ditimbang = 1.07 gram/mol Volume pengenceran : 100 ml NO. Volume HCl Volume Na2B4O7 Indikator Perubahan warna Orange1.903 gram BM Borat : 381.19 gr/ml Prosen HCl pekat : 37 % Volume pengenceran : 100 ml ҉ Standarisasi larutan HCl dengan larutan Na2B4O7 Massa Borat : 1. 25 ml 30.83 ml BM HCl pekat : 36.19)) x= 0.19 gr/ml Prosen HCl pekat : 37 % Volume pengenceran : 100 ml x=(N x V x M)/(10n x K x L) x=((0.0 g/mol Berat NaOH : ± 1. 25 ml PP 3 tetes 24 ml Jernih ҉ Pembuatan larutan HCl 0.1 N BM NaOH : 40. 25 ml 30.1 N)x (100)x (36. 25 ml PP 3 tetes 18.105 N Ѽ Pembuatan larutan HCl 0.1 N)x (40 gr/mol)/1 x (250 ml)/(1000 ml) = 1 gram Ѽ Penentuan normalitas larutan NaOH 0. 25 ml 30.632 gram BM asam oksalat = 126. 25 ml PP 3 tetes 23.1003))/(23.DATA PENGAMATAN ҉ Pembuatan NaOH 0. 25 ml PP 3 tetes 18.632 gram BM oksalat : 126.H2O=(M C2H2O4.H2O) x 1000/(V (ml)) N C2H2O4.632 gram)/(126.1003 N ₰ Volume NaOH V rata NaOH=( 24 +23.07 gr/mol Volume asam oksalat = 100 ml Maka. Volume Oksalat Indikator Volume NaOH Perubahan warna merah muda1.H2O=(0.

tetapi 0.936 % Penentuan Larutan sampel (HCl) V sampel = 25 ml V NaOH = (18.4+30.digunakan indicator PP yang dicampur pada larutan oksalat.dilakukan terlebih dahulu pengenceran asam oksalat 0.Saat dititrasi. NaOH distandarisasi menggunakan asam oksalat. Penggunaan larutan NaOH dan HCl sendiri didasarkan pada pengertian asidimitri dan alkalimetri itu sendiri.Hanya saja pada percobaan yang ketiga ini harus .37 gr/mol Volume pelarutan = 100 ml N Na-Borat = 0.titik ekivalen atau titik akhir titrasi selesai dilakukan saat terjadi perubahan warna.953 ml)/(25 ml) = 0.6+18. NaOH adalah basa kuat yang dapat larut dalam air. Terjadinya perubahan warna merupakan akibat reaksi yang menunjukkan perbedaan pH. Tetapi NaOH harus di standarisasai terlebih dahulu karena tidak satupun dari hidroksida padat ini dapat diperoleh murni. penimbangannya 1.1 N.1 N.7 ml.83 ml. Dan untuk mengindikasi adanya perubahan pH maka digunakan indicator PP.8 )ml/3 = 18.467 ml x 0. Percobaan selanjutnya yaitu membuat larutan HCl 0. Reaksi yang terjadi sebagai berikut : Na2B4O7 + 5 H2O + 2 HCl 2 NaCl + 4 H3BO3 Reaksi indicator dengan titrant : HCl + InPercobaan kedua yaitu menentukan normaitas larutan NaOH 0. praktikan bertujuan untuk dapat membuat larutan HCl 0.Mr Na-Borat = 381.906 gr.63 gr.0998N)/(25 ml) = 0.Setelah dilakukak pengenceran.19)x 0.Metode yang digunakan sama seperti yang sebelumnya yaitu dengan pengenceran. sehingga diperoleh normalitas sebesar 0. Titrasi dihentikan setelah terjadi perubahan warna dari kuning menjadi orange.105 N N sampel = (1.5))/(10(1)x (1.bisa kurang bisa lebih. maka dapat diketahui titik ekivalen dengan berubahnya warna larutan dari bening menjadi merah muda.1 N = 0.larutan oksalat berwarna jernih dan setelah dititrasi dengan NaOH.37 gr/mol x 100 ml)/(1000 ml) = 1. Sedangkan alkalimetri yaitu analisis secara volumetric dengan larutan standar asam.1216 N Konsentrasi HCl sesungguhnya x=(N x V x M)/(10n x K x L) K=(N x V x m)/(10n x L x X) =((0.105 N Vsampel x N sampel = V NaOH x N NaOH 25 ml x N sampel = 18.1 N diperoleh perhitungan 0.63 gram ke dalam erlenmeyer 100 ml. Reaksi yang terjadi : NaOH + (COOH)2 (COONa)2 + 2H2O Reaksi indicator dengan titrant : NaOH + In.1 N dari HCL 37% dalam 100 ml harus diambil ± 0.7 ))/3 = 30.1 N dalam 100 ml 0.1 N dengan asam oksalat. Setelah diperoleh beberapa data.903 gr)/((381. dapat melakukan standarisasi larutan HCl 0.Pertama.4+18.3+30.1 grek/L Mol = 0.0999 N.selanjutnya dilakukan titrasi dengan maksud mencari titik ekivalen atau titik akhir titrasi guna standarisasi normalitas larutan NaOH dengan asam oksalat.1 N.1 N 0. Tujuan dari standarisasi adalah menentukan konsentrasi larutan setepat mungkin. Dengan adanya indicator PP.37/2)(gr/mol)) x 1000/100 = 0. Pada percobaan ini.05 mol x 381.0998 N. Begitu juga pada pembuatan Na-Borat.1216 N)x (100)x (36.1 N. dapat melakukan standarisasi larutan NaOH 0.105 N.632 gr. dan dapat melakukan standarisasi cuplikan (sampel).1 N.6 ml N NaOH = 0. sehingga suatu larutan standar tidak dapat dibuat dengan melarutkan suatu bobot yang diketahui dalam volume air tertentu.83 ) = 44.NaIn. Standarisasi HCl dengan Na-Borat menggunakan indicator MO (Metil Orange).6 ml x 0. sebab belum tentu dalam pembuatan HCl dan NaOH didapat normalitas 0.1 N.1 N sebanyak 100 ml. NaOH sangat higroskopis dan selalu terdapat sejumlah tertentu alkali karbonat dan air. dapat membuat larutan NaOH 0. Pada percobaan ini. selain itu harganya juga murah.1/2 L = (0.078 N PEMBAHASAN Percobaan ini. NaOH distandarisasi dengan asam oksalat karena agar lebih stabil dengan adanya 2 valensi pada asam oksalat.Untuk mengetahui adanya perubahan warna.dimana akan dibuat larutan HCl 0.467 ml N Na-Borat = (m Na-Borat)/Be x 1000/V = (1. Pada percobaan ini HCl distandarisasi dengan NaBorat. dan biasanya digunakan untuk pembuatan larutan alkali standar. Dari hasil percobaan diketahui bahwa volume NaOH untuk titrasi adalah 23. Asidimetri yaitu analisis secara volumetric dengan larutan standar basa.903 gr seharusnya 1.87 ml sehingga normalitas NaOH hasil standarisasi yaitu 0.ternyata terjadi perubahan warna menjadi merah muda yang menghabiskan volume NaOH sebanyak 24. Percobaan pertama yaitu membuat larutan NaOH 0.didapat nilai normalitas oksalat sebesar 0.+ OHUntuk pembuatan larutan HCL 0. Pada pembuatan larutan asam oksalat 0.907 gram (pembulatan) Ѽ Penentuan Normalitas HCl : V Na-Borrat = ((30.0998 N VHCl x NHCl = V Na2B4O7 x N Na2B4O7 NHCl = (V Na2B4O7 xN Na2B4O7)/VHCl = (30.1003 N sebab pada saat penimbangan padatannya tidak diperoleh tepat 0.1 N.

Kemudian dilanjutkan dengan percobaan yang ke empat yaitu Standarisasi larutan HCl dengan larutan Na2B4O7. maka dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar asam asetat.terlebih dahulu dicari datadata seperti volume HCl yang diambil.05 ml. karbonat dan bikarbonat dalam sampel yang digunakan. 1 Titrasi asidimetri dan alkalimetri merupakan titrasi netralisasi dimana pada titrasi ini digunakan larutan asam dan basa kuat ataupun lemah sehingga dihasilkan air yang bersifat netral. 4. Berdasarkan latar belakang ini.berat molekul HCl pekat.0811 N Laporan Titrasi Asidimetri dan Alkalimetri BAB I PENDAHULUAN A.Setelah diperoleh data tersebut.1 N dapat dilakukan dengan pengenceran.menentukan seberapa banyak volume HCl pekat yang diperlukan. yaitu : titrasi asidi-alkalimetri. . yaitu : 1. Larutan indikator yang digunakan disesuaikan dengan metode titrimetri yang dilakukan. Tujuan Tujuan dari percobaan ini. Metode titrimetri atau yang juga dikenal dengan metode volumetri secara garis besar diklasifikasikan dalam empat kategori berdasarkan jenis reaksinya.906 gram dan berat jenis Borat sebesar 381. Latar Belakang Titrasi merupakan suatu metode analisis kuantitatif untuk menentukan konsentrasi dari suatu larutan menggunakan larutan lain yang telah distandarisasi atau larutan yang konsentrasinya telah diketahui.227 ml. Berapa kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran ? C.37 gr/mol.Penentuan normalitas larutan NaOH 0.Normalitas HCl sebesar 0. Berapa kadar asam asetat dalam sampel ? 2. titrasi oksidimetri. 2.didapat hasil bahwa diperlukan HCl sebanyak 1. Untuk menentukan kadar asam asetat dalam contoh (sampel). 3.Pembuatan NaOH 0. Rumusan Masalah Rumusan masalah dari percobaan ini.serta prosen HCl pekat nya. 2. yaitu : 1.diperoleh perubahan warna dari merah muda menjadi kuning.Percobaan yang terakhir yaitu penentuan larutan sampel 25% yang diambil 5ml dan diencerkan menjadi 250 ml diambil 10 ml untuk sampelnya dan setelah dilakukan titrasi ternyata dihabiskan volume NaOH rata sebanyak 12.7 ml.1 N dengan asam oksalat diperlukan volume sebanyak 24.massa jenis HCl pekat . Penambahan titran ke dalam analit dilakukan hingga tercapat titik ekivalen dimana akan terjadi perubahan warna dari larutan indikator. Untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran.Pembuatan larutan NaOH dan HCl 0. larutan yang akan ditentukan konsentrasinya disebut larutan analit sedangkan larutan yang diketahui konsentrasinya disebut titran.1 N diperlukan massa NaOH seberat 1 gram. KESIMPULAN 1.Untuk melakukan perhitungan. Titrasi ini dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi atau kadar dari asam/basa kuat ataupun lemah yang dititrasi dengan basa/asam lemah ataupun kuat.Setelah dititrasi. Dalam metode titrimetri ini. B.Dari percobaan diperoleh data massa Borat sebanyak 1. titrasi pengendapan dan titrasi kompleksometri.

Asam kuat berdisosiasi hampir sempurna dengan pengenceran yang sedang. Semua metoda titrimetri tergantung pada larutan standar yag mengandung sejumlah reagen persatuan volume larutan dengan ketepatan yang tinggi. 03 Okt 2012 Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. Titrasi yang menyangkut asam dan basa sering disebut asidimetri – alkalimetri. (Keenan. NaOH. Reaksi berjalan cepat (dalam beberapa menit saja). 3. Dengan kata lain. (Bassett. 1. Sedangkan basa secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. Kuat relatif asam dan basa dalam larutan bergantung pada afinitas mereka terhadap proton yang berlainan. Suatu inidikator haruslah tersedia atau beberapa metode secara instrumen dapat digunakan untuk memberitahu analisis kapan penambahan titran dihentikan. pembuatan suatu kurva titrasi akan membantu pemahaman untuk titrasi asam basa suatu kurva titrasi terdiri dari suatu alur pH atau pOH versus mL titran. dengan suatu standar (asidimetri) dan titrasi asam bebas yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah. 1994). 1990). seperti biologi. Dalam menguji suatu reaksi untuk menetapkan apakah reaksi itu dapat digunakan untuk suatu titrasi. 1990). Syaratnya adalah reaksi harus berlangsung secara cepat. kedokteran dan pertanian. 1.2 Dasar Teori Dalam analisis larutan asam dan basa. Indikator asam basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. untuk lebih memahami konsep peniteran asidi – alkalimetri dan mengetahui konsentrasi standar dari zat yang dianalisa maka perlu dilakukan peniteran dengan menggunakan suatu standar primer. Asam dan basa tersebut memiliki sifat-sifat yang menyebabkan konsentrasi larutannya sukar bahkan tidak mungkin dipastikan langsung dari proses hasil pembuatan atau pengencerannya. larut dan stabil serta akan menunjukkan perubahan warna yang kuat. basa dan garam. Dari kumpulan reaksi kimia yang dikenal relatif sedikit yang dapat digunakan sebagai dasar untuk titrasi. tetapan keseimbangan reaksi harus sangat besar. Reaksi harus berjalan sampai boleh dikatakan lengkap pada titik ekivalensi. Reaksi harus berjalan sesuai dengan suatu persamaan reaksi tertentu. 1999). Kesetimbangan asam basa merupakan suatu topik yang sangat penting dalam kimia dan bidang-bidang lain yang mempergunakan kimia. Pengertian asidimetri dan alkalimetri secara umum ialah titrasi yang menyangkut asam dan basa. 2. Larutan ini disebut larutan standar sekunder yang konsentrasinya ditentukan melalui pembakuan dengan suatu standar primer. Makin kuat asam. Asam didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. biasanya merupakan zat organik (Khopkar. H2SO4. (Khopkar. Oleh karena itu. titrasi redoks. Beberapa metode harus tersedia untuk menetapkan kapan titik ekivalensi tercapai. di mana zat dibiarkan bereaksi dengan zat yang lain yang konsentrasinya diketahui dan dialirkan dari buret dalam bentuk larutan. Pereaksi atau larutan yang selalu dijumpai di laboratorium dimana pembakuannya dapat ditetapkan berdasarkan pada prinsip netralisasi asam – basa (melalui asidi – alkalimetri) diantaranya adalah HCl. Asam lemah berdisosiasi hanya sedikit pada konsentrasi sedang bahkan pada konsentrasi rendah. (Day dan Underwood. 1986). Asidi-alkalimetri berperan penting dalam berbagai bidang kehidupan. titrasi akan melibatkan pengukuran yang seksama volume-volumenya suatu asam dan suatu basa yang tepat akan saling menetra1kan (Keenan. 1990) . KOH dan sebagainya. Reaksi-reaksi ini melibatkan senyawa ion hidrogen dan ion hidroksida untuk membentuk air. Kata metri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu atau proses atau seni mengukur. karena itu ia merupakan elektrolit kuat. Asidimetri merupakan titrasi terhadap larutan basa bebas dan larutan garam terhidrolisis dari asam lemah. Indikator asam basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion OH. Metode volumetri diklasifikasikan menjadi titrasi asam-basa. (Keenan. 1994). Sedangkan untuk titrasi atau pengukuran lain-lain sering juga dipakai akhiran –ometri menggantikan –imetri. LANDASAN TEORI Berdasarkan atas hasil reaksi antara analit dengan larutan standar maka analisis volumetrik dibagi menjadi titrasi netralisasi (asam basa) yang terdiri dari alkalimetri dan asidimetri. 1999).sebagai ion negatif.Rabu. misalnya larutan asam oksalat. makin lemah basa konjugatnya. Asidi alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah. Sedangkan alkalimetri merupakan titrasi terhadap larutan asam bebas dan larutan garam terhidrolisis dari basa lemah. Analisis volumetri juga dikenal sebagai titrimetri. (Svehla. Reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri adalah salah satu dari empat golongan utama dalam penggolongan reaksi dalam analisis titrimetri. Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa. Kurva semacam itu membantu dalam mempertimbangkan kelayakan suatu titrasi dan dalam memilih indikator yang tepat. Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. titrasi pengandapan dan titrasi kompleksometri (Khopkar. 1994). Konsentrasi larutan yang tidak diketahui (analit) kemudian dihitung. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai ion positif. 1990). dengan suatu basa standar (alkalimetri). 4. suatu reaksi memenuhi persyaratan berikut sebelum digunakan. (Day dan Underwood. reaksi berlangsung kuantitatif dan tidak ada reaksi samping. Tidak boleh ada reaksi samping. 1.

perhitungannya dilakukan secara manual.kimia-lipi. Kata Kunci : asidimetri. juga dalam pengendalian proses yang berlangsung.2 Latar Belakang Pada prinsipnya asidimetri adalah analisa titrimetri yang menggunakan asam kuat sebagai titrannya dan sebagai analitnya adalah basa atau senyawa yang bersifat basa. Selain itu dalam percobaan ini digunakan metode titrimetri untuk menganalisa kadar suatu sampel dengan proses asidimetri maupun alkalimetri. Larutan yang biasa digunakan dalam analisa ini adalah NaOH karena harganya relatif murah. titrasi akan melibatkan pengukuran yang seksama volume-volumenya suatu asam dan . Sedangkan alkalimetri pada prinsipnya adalah analisa titrimetri yang menggunakan basa kuat sebagai titrannya dan analitnya adalah asam atau senyawa yang bersifat asam. Sedangkan kadar asam cuka yang diteliti adalah 0.867 N dan larutan hasil standarisasi NaOH adalah 0. Karena setiap individu dengan individu yang lainnya relatif berbeda. Jadi apabila larutan tersebut merupakan larutan asam maka harus diberikan basa sebagai larutan ujinya. 1995). Menentukan kadar asam dalam asam cuka yang diperdagangkan serta menentukan kadar NH3 dalam garam ammonium (NH4Cl).org). larutan standar.10H2O) dan Na2CO3 anhidrous. 1. karena metoda ini dapat menjadi metoda acuan untk metoda pengukuran lainnya (http://www. apabila terjadi perubahan warna yang disebut titik akhir maka penetesan larutan uji dihentikan (http://chem-is-try. 1. biasanya cara umum yang sering dilakukan adalah dengan menetesi larutan yang diuji. 2. Pada metode ini mata manusia memegang peranan penting dalam pengamatan terjadinya perubahan warna. Dengan menggunakan cara ini terdapat beberapa kelemahan antara lain kesalahan paralaksi dan memerlukan waktu yang relatif lama untuk perhitungan atau penentuan nilai konsentrasi larutan. yang sebelumnya telah diberi larutan indikator.0662 N dan 0. begitu pula sebaliknya. Kesalahan ini bersifat aditif dan determinan dan nilainya dapat dihitung. 3. KOH. Membuat larutan standar NaOH dan standarisasi dengan asam oksalat. Kemudian nilai konsentrasi larutan yang diuji dihitung berdasarkan cara yang telah ditetapkan dalam metode titrasi. dalam pengamatan dan penghitungannya tergantung pada ketelitian masing-masing individu (http://www. dengan larutan uji. Pada pengukuran konsentrasi larutan dengan menggunakan metode titrasi asam-basa. Untuk dapat melakukan analisis secara volumetri dan gravimetri yang baikdan benar diperlukan pengetahuan yang cukup.elektroindonesia. Larutan yang biasa dipakai sebagai titran dalam alkalimetri adalah NaOH. Pemilihan metode ini dipakai karena merupakan metode yang sederhana dan sudah banyak digunakan dalam laboratorium maupun industri (riset dan pengembangan).1 PENDAHULUAN 1. Ditetesi hingga terjadi perubahan warna dari larutan indikator.2 DASAR TEORI Dalam analisis larutan asam dan basa.1 N dan menetapkan konsentrasi larutan tersebut dengan cara standarisasi dengan larutan borax dan natrium karbonat anhidrous.1 Tujuan Percobaan Tujuan percobaan ini adalah : 1. Indikator yang sering digunakan dalam percobaan asidimetri dan alkalimetri adalah indikator metil merah dan metil orange untuk asidimetri karena skala pH pada kedua indikator memang berkisar pada larutan yang bersifat asam dan indikator PP untuk alkalimetri karena skala pH pada indikator PP berkisar pada larutan yang bersifat basa. Dari hasil percobaan didapatkan larutan hasil standarisasi HCl adalah 0. membuat larutan standar primer asam oksalat dan menentukan kadar asam cuka yang diperdagangkan. Kesalahan titk akhir adalah kesalahan acak yang berbeda ntuk setiap sistem.Titrasi biasanya merupakan larutan elektrolit kuat seperti NaOH dan HCl yang diperlukan untuk bereaksi sempurna oleh zat yang dianalisis yang disebut sebagai titik ekivalen.1. kesalahan titik akhir ditekan sampai nol (Rivai.0113 N.24 %. Membuat larutan standar HCl 0. serta kadar NH3 yang terkandung dalam 0. Percobaan ini bertujuan untuk membuat larutan standar HCl 0. Dengan menggunakan metode potensiometri dan konduktometri. karena metoda tersebut mempunyai ketertelusuran yang terdekat ke standar nasional maupun standar internasional.net/index).com) ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI ABSTRAK Asidimetri adalah analisa titrimetri yang menggunakan asam kuat sebagai titrannya dan sebagai analitnya adalah basa atau senyawa yang bersifat basa. PERCOBAAN 1 ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI 1.1. Teknik Volumetri dan Gravimetri menjadi alternatif metoda analisis yang mempunyai ketertelusuran tertinggi. Metode pengukuran konsentrasi larutan menggunakan metode titrasi (titrasi asam-basa) yaitu suatu penambahan indikator warna pada larutan yang diuji. Sedangkan alkalimetri pada prinsipnya adalah analisa titimetri yang menggunakan basa kuat sebagai titrannya dan analitnya adalah asam atau senyawa yang bersifat asam. dan Ba(OH)2 yang merupakan larutan baku standar sekunder. alkalimetri. Perbedaan titik akhir dan titik ekivalen disebut sebagai kesalahan titik akhir. Dalam percobaan ini larutan dibuat dengan cara pengenceran kemudian dilakukan titrasi dengan larutan-larutan standar tertentu sehingga didapatkan harga konsentrasi dari larutan hasil pengenceran tersebut.dan penentuan nilai konsentrasi larutan. kemudian ditetesi dengan larutan yang merupakan kebalikan asam-basanya.75 %. ataupun pengukuran dengan asam (yang diukur jumlah basa atau garamnya).2 gram NH4Cl adalah sebesar 10.1 N serta menetapkan konsentrasi larutan standar HCl dengan cara standarisasi dengan larutan borax (Na2B4O7.

basa dan garam. Cairan yang berasa asam disebut larutan asam. biasanya merupakan zat organik (Khopkar. tetapi bisa juga tidak. yang terasa asin disebut larutan garam. yang bila dilarutkan dalam iar. maka kesetimbangan itu ditulis sebagai : H2O H+ + OHJika larutan mengandung asam. di mana zat dibiarkan bereaksi dengan zat yang lain yang konsentrasinya diketahui dan dialirkan dari buret dalam bentuk larutan. Reaksi kimia yang mungkin di perlakukan sebagai basis dari penentuan titrimetrik telah dikelompokan ke dalam empat tipe : a. Suatu inidikator haruslah tersedia atau beberapa metode secara instrumen dapat digunakan untuk memberitahu analisis kapan penambahan titran dihentikan. 2. dan akan menggeser kesetimbangan ke kiri sampai tercapai kesetimbangan baru. dan konsentrasinya ditentukan dengan sebuah proses yang dinamakan standarisasi. larut dan stabil serta akan menunjukkan perubahan warna yang kuat. rekasinya adalah sebagai berikut HA + OH. Basa. Beberapa metode harus tersedia untuk menetapkan kapan titik ekivalensi tercapai. Kuat relatif asam dan basa dalam larutan bergantung pada afinitas mereka terhadap proton yang berlainan. Air yang mengandung zat lain dapat pula menjadi warna. reaksi berlangsung kuantitatif dan tidak ada reaksi samping (Khopkar. Reaksi-reaksi ini melibatkan senyawa ion hidrogen dan ion hidroksida untuk membentuk air (Bassett. Jika HA mewakili asam yang akan ditentukan dan B mewakili basa. Analisis volumetri juga dikenal sebagai titrimetri. Dengan kata lain. Analisis dengan metode titrimetrik didasarkan pada rekasi kimia seperti : aA + tT produk Di mana a molekul analit. dan warna. Reaksi harus berjalan sampai boleh dikatakan lengkap pada titik ekivalensi. 1999). Hal yang sama akan terjadi bila air ditambah bas sehingga dicapai kesetimbangan baru dengan nilai [OH-] > [H+] dan perkaliannya tetap 10-14. Hal itu disebabkan oleh terjadinya rekasi asam basa sesama molekul air (autoionisasi) dan membentuk kesetimbangan : H2O + H2O H3O+ + OHDengan kata lain. Untuk indikator asam-basa biasanya dibuat dalam bentuk larutan Indikator asam basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu. 1979). Tidak boleh ada reaksi samping. Dalam menguji suatu reaksi untuk menetapkan apakah reaksi itu dapat digunakan untuk suatu titrasi. 1. Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion-ion hidroksil sebagai satu-satunya ion negatif (Svehla. Asam-Basa. selanjutnya akan dikatakan titik ekivalen dari titrasi telah dicapai. Perhitungan yang tercakup di dalamnya berdasarkan pada hubungan stokiometrik dari reaksi kimia yang sederhana. ditambahkan secara kontinu. 2001). Asidi alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah. Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. Air mengandung ion dalam jumlah kecil sekali.suatu basa yang tepat akan saling menetra1kan. Perubahan warna indikator mencerminkan pengaruh asam dan basa lainnya yang terdapat dalam larutan (Oxtoby. asin. A.+ H2O . Pereaksi T. yang bila dilarutkan dalam air. tetapi perkaliannya tetap 10-14. pembuatan suatu kurva titrasi akan membantu pemahaman untuk titrasi asam basa suatu kurva titrasi terdiri dari suatu alur pH atau pOH versus ml titran. Kurva semacam itu membantu dalam mempertimbangkan kelayakan suatu titrasi dan dalam memilih indikator yang tepat (Underwood.A. Bila mengandung zat tertentu. 1999). Larutan ini disebut larutan standar. Makin kuat asam. Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat. sedangkan yang terasa licin dan pahit disebut larutan basa (Syukri. Penambahan dari titran tetap dilakukan sampai jumlah T secara kimiawi sama dengan yang telah ditambahkan kepada A. Asam didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. dan garam. yaitu indikator. Konsentrasi larutan yang tidak diketahui (analit) kemudian dihitung. Indikator asam basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH. pahit. dan sebagainya. Pada kesetimbangan baru. basa. Reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri adalah salah satu dari empat golongan utama dalam penggolongan reaksi dalam analisis titrimetri. 4. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. 1999). Jenis indikator yang khas adalah asam organik yang lemah yang mempunyai warna berbeda dari basa konjugatnya. T. Agar diketahui kapan harus berhenti menambahkan titran. dengan suatu basa standar (alkali metri). Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa. berarti menambahkan jumlah H+. suatu reaksi memenuhi persyaratan berikut sebelum digunakan. Asam kuat berdisosiasi hampir sempurna dengan pengenceran yang sedang. Berdasarkan konsentrasi ion tersebut. Analisis titrimetrik adalah salah satu divisi besar dalam kimia analitik. 1990). Perubahan warna ini bisa saja terjadi persis pada titik ekivalen . air dapat tersa asam. Reaksi berjalan cepat (dalam beberapa menit saja) (Day dan Underwood. tetapan keseimbangan reaksi harus sangat besar. konsentrasi H+ lebih besar dari pada OH-. maka dapat menggunakan bahan kimia. 3. yaitu : Larutan asam : [H+] > [OH-] Larutan netral : [H+] = [OH-] = 10-7 Larutan basa : [H+] < [OH-] (Syukri. Indikator adalah zat warna larut yang perubahan warnanya tampak jelas dalam rentang pH yang sempit. Ada sejumlah besar asam dan basa yang dapat ditentukan oleh titrimetri. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satusatunya ion positif. Dari kumpulan reaksi kimia yang dikenal relatif sedikit yang dapat digunakan sebagai dasar untuk titrasi. biasanya dari sebuah buret. Indikator yang baik mempunyai intensitas warna yang sedemikian rupa sehingga hanya beberapa tetes larutan indikator encer yang harus ditambahkan ke dalam larutan yang sedang diuji. 1990). secara paling sederhana dapat didefinisikan sebagai zat. Air murni tidak mempunyai rasa. Asam lemah berdisosiasi hanya sedikit pada konsentrasi sedang bahkan pada konsentrasi rendah (Svehla. 1990). 1994). bau. karena itu ia merupakan elektrolit kuat. larutan dibagi tiga. yang bereaksi terhadap kehadiran titran yang berlebih dengan melakukan perubahan warna. dengan suatu standar (asidimetri) dan titrasi asam bebas yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah. 1999). makin lemah basa konjugatnya. bereaksi dengan t molekul pereaksi. Titik dalam titrasi dimana indikator berubah warnanya disebut titik akhir ( Day dan Underwood). yang disebut titran. Reaksi harus berjalan sesuai dengan suatu persamaan reaksi tertentu. Syaratnya adalah reaksi harus berlangsung secara cepat. dalam wujud larutan yang konsentrasinya diketahui. air adalah elektrolit lemah dan bila H3O+ disederhanakan menjadi H+. Konsentrasi molekul indikator yang sangat rendah ini hampir tidak berpengaruh terhadap pH larutan.

titrasi oksidimetri. Berapa kadar asam asetat dalam sampel ? 2. Pengendapan dari kation perak dengan anion halogen dipergunakan secara luas dalam prosedur titremetrik. Tujuan dari percobaan ini. larutan yang akan ditentukan konsentrasinya disebut larutan analit sedangkan larutan yang diketahui konsentrasinya disebut titran. Reaksinya adalah sebagai berikut Ag+ + X. Sebuah reaksi harus memenuhi beberapa persyaratan sebelum reaksi tersebut dapat dipergunakan : a.AgX (s) d. d. 2. Harus tersedia beberapa metode untuk menentukan kapan titik ekivalen tercapai. Penambahan titran ke dalam analit dilakukan hingga tercapat titik ekivalen dimana akan terjadi perubahan warna dari larutan indikator. yaitu : 1. Rumusan Masalah Rumusan masalah dari percobaan ini. BAB I PENDAHULUAN A. titrasi pengendapan dan titrasi kompleksometri. 1999). Titrasi ini dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi atau kadar dari asam/basa kuat ataupun lemah yang dititrasi dengan basa/asam lemah ataupun kuat. yaitu : Untuk menentukan kadar asam asetat dalam contoh (sampel). maka dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar asam asetat. Sebagai contoh. besi dengan tingkat oksidasi +2 dapat dititrasi dengan sebuah larutan standar dari serium (IV) sulfat : Fe2+ + Ce 4+ Fe3+ + Ce3+ c. Latar Belakang Titrasi merupakan suatu metode analisis kuantitatif untuk menentukan konsentrasi dari suatu larutan menggunakan larutan lain yang telah distandarisasi atau larutan yang konsentrasinya telah diketahui. . Sejauh ini.Ag (CN)-2 (Oxtoby. Berapa kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran ? C. Untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran. Reaksi tersebut harus diproses sampai benar-benar selesai pada titik ekivalensi. Oksidasi-reduksi (redoks).dan B + H3O+ BH+ + H2O b. Seharusnya tidak ada sampingan. Metode titrimetri atau yang juga dikenal dengan metode volumetri secara garis besar diklasifikasikan dalam empat kategori berdasarkan jenis reaksinya. 1 Titrasi asidimetri dan alkalimetri merupakan titrasi netralisasi dimana pada titrasi ini digunakan larutan asam dan basa kuat ataupun lemah sehingga dihasilkan air yang bersifat netral. 2001). Berdasarkan latar belakang ini. Reaksi kimia yang melibatkan oksidasi-redoksi dipergunakan secara luas dalam analitis titrimetrik. Tujuan 1. Pembentukan kompleks. Pengendapan. realtif sedikit reaksi kimia yang dapat dipergunakan sebagai basis untuk titrasi. B. Dalam metode titrimetri ini. sehingga titrasi dapat diselesaikan dalam beberapa menit (Day dan Underwood. Larutan indikator yang digunakan disesuaikan dengan metode titrimetri yang dilakukan. c. Reaksi tersebut harus diproses sesuai persamaan kimiwai tertentu. Diharapkan reaksi berjalan cepat. b. Contoh dari reaksi di mana terbentuk suatu kompleks antara ion perak dan sianida : Ag+ + 2 CN. yaitu : titrasi asidi-alkalimetri. karbonat dan bikarbonat dalam sampel yang digunakan.

Jika HA mewakili asam dan BOH mewakili basa. I-. 1. . maka metode titrimetri dapat dibagi menjadi 4 golongan. yaitu: asidi-alkalimetri. Analisis volumetri atau titrimetri berdasarkan pada reaksi : aA + tT ↔ Hasil dimana a molekul analit A bereaksi dengan t molekul pereaksi T (titran). Metode ini cukup luas penggunaannya untuk penetapan kuantitas analit asam atau basa. oksidimetri. et. Oksidimetri didasarkan pada reaksi oksidasi – reduksi antara analit dan titran. yang reaksi umumnya dapat dinyatakan dengan persamaan : Ag+ + X. Berdasarkan jenis reaksinya. titran asam) Titran umumnya berupa larutan standar asam kuat atau basa kuat. Misalnya reaksi antara Ag+ dan CNyang mengikuti persamaan reaksi : Ag+ + 2CN. (2005). jenis metode titrimetri didasarkan pada jenis reaksi kimia yang terlibat dalam proses titrasi. Metode ini banyak digunakan untuk menetapkan kadar ion halogen dengan menggunakan pengendap Ag +.dikenal sebagai metode Liebig untuk penetapan sianida. Metode Titrimetri Analisis volumetri atau titrimetri merupakan suatu analisis berdasarkan pengukuran volume larutan dengan konsentrasi yang diketahui. misalnya larutan asam klorida (HCl) dan larutan natrium hidroksida (NaOH). Reagen lain adalah EDTA (etilen diamina tetraasetat) yang banyak digunakan sebagai pengompleks berbagai ion logam melalui metode titrasi. Kompleksometri didasarkan pada pembentukan kompleks stabil hasil reaksi antara analit dengan titran. Reaksi antara Ag+ dengan CN. konsentrasinya dapat diketahui dengan pasti dan teliti berdasarkan berat zat yang dilarutkan. A. Larutan standar primer yaitu suatu zat yang sudah diketahui kemurniannya dengan pasti. Analit yang mengandung spesi reduktor dititrasi dengan titran yang berupa larutan standar dari oksidator atau sebaliknya. konsentrasi larutannya hanya dapat diketahui dengan teliti melalui proses standarisasi. misalnya penetapan ion besi(II) (Fe2+) dalam analit dengan menggunakan titran larutan standar cesium(IV) (Ce 4+) yang mengikuti persamaan reaksi : Fe2+ + Ce4+  Fe3+ + Ce3+ Oksidator lain yang banyak digunakan dalam oksidimetri adalah kalium permanganat (KMnO 4).+ H2O (analit asam. Larutan analit yang berupa larutan asam dititrasi dengan titran yang berupa larutan basa atau sebaliknya.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Titrasi pengendapan didasarkan reaksi pengendapan analit oleh larutan standar titran yang mampu secara spesifik mengendapkan analit.[2] 2. standarisasi dilakukan dengan cara menitrasi larutan tersebut dengan larutan standart primer.[1] Menurut M. SCN-) Dalam titrasi juga perlu diperhatikan larutan standar primer dan larutan standar sekunder. Br-. kompleksometri dan titrasi pengendapan. Serta faktor yang paling penting adalah ketepatan dalam pemilihan indikator agar kesalahan titrasi yang terjadi menjadi sekecil mungkin. yang diperlukan untuk bereaksi dengan analit (zat yang akan ditentukan). maka reaksi antara analit dengan titran dapat dirumuskan secara umum sebagai berikut : HA + OH. 3. 3 Asidi-alkalimetri didasarkan pada reaksi asam basa atau prinsip netralisasi. misalnya pada penetapan kadar ion besi(II) dalam suasana asam. titran basa) BOH + H3O+  B+ + 2H2O (analis basa. Berbagai reaksi redoks dapat digunakan sebagai dasar reaksi oksidimetri. Sodiq Ibnu. Larutan standar sekunder adalah suatu zat yang tidak murni atau kemurniannya tidak diketahui.= Cl-. 4. al. AgX(s) (X.

2 – 8.8 – 8.3 – 10.3 Merah Kuning Ungu bromkresol 5.4 Jingga Metil Hijau bromkresol 3.2 – 6.0 – 9.5 Tak berwarna Biru Menurut Achmad Mursyidi dan Abdul Rohman (2008). Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa. . Indikator ini baik untuk titrasi asam fosfat dari tribasik menjadi dibasik yang mana titik ekivalennya terjadi pada pH 8.0 Tak berwarna Merah Timolftalein 9.1 % dalam etanol) yang sama banyak memberikan perubahan warna yang tajam dari biru violet menjadi hijau ketika beralih dari larutan asam menjadi larutan basa pada pH sekitar 7.1 % dalam etanol) dan biru metilen (0.1 – 4.6 Kuning Biru Jingga metal 3. Indikator campuran ini baik untuk titrasi karbonat menjadi bikarbonat.4 Kuning Biru Merah metal 4.6 Kuning Biru Merah fenol 6.8 – 5.1 % larutan dari garam natriumnya) dengan 1 bagian kresol merah (0.2 – 10.3.[3] Tabel 1.7.0 – 4.4 Kuning Merah Merah kresol 7. larut. Beberapa contoh indikator campuran adalah : 1.B. Indikator asam-basa terletak pada titik ekuivalen dan ukuran dari pH.8 Kuning Merah Biru timol 8.8 Kuning Ungu Biru bromtimol 6.4 – 4.6 Kuning Biru Fenolftalein 8. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron. Campuran antara 3 bagian fenolftalein (0.0 Merah Kuning Biru bromfenol 3. Campuran merah netral (0. Indikator ini dapat digunakan untuk menitrasi asam asetat dengan larutan amonia atau kebalikannya.1 % dalam etanol) memberikan perubahan warna yang tajam dari merah muda ke ungu pada pH 8.2 – 6. 3.1 % larutan garam natriumnya) akan memberikan perubahan warna dari kuning ke ungu pada pH 8. Indikator Indikator asam-basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu. stabil dan menunjukkan perubahan warna yang kuat serta biasanya adalah zat organik. 2. Tabel 1. Campuran dari 3 bagian biru timol (0. Baik asam atau basa kekuatannya hampir sama akibatnya titik ekivalen akan berada pada pH kira-kira 7. Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya indikator menunjukkan warna pada range pH yang berbeda. selain indikator tunggal dalam asidi-alkalimetri juga digunakan indikator campuran dengan tujuan untuk memberikan perubahan warna yang tajam pada titik akhir titrasi.9. menunjukkan daftar berbagai macam indikator dengan jarak perubahan warna serta warna-warna yang terjadi pada perubahan tersebut.1 – 7. Indikator yang biasa digunakan dalam asidi-alkalimetri[4] Warna Indikator Trayek pH Asam Basa Kuning metal 2.1 % larutan dalam etanol) dengan 1 bagian alfa naftoftalein (0.

Kedua asam ini dapat digunakan pada hampir semua titrasi. Dari Gambar 1. Sebaliknya alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa. Asam nitrat selalu tidak digunakan karena mengandung asam nitrit yang dapat merusak beberapa indikator. penambahan sedikit asam atau basa akan menyebabkan perubahan pH yang besai ini seringkali dideteksi dengan zat yang dikenal sebagai indikator. Dengan demikian.[10] . Pada saat tercapai titik ekivalen. Penambahan selanjutnya menyebakan larutan kelebihan basa sehingga pH terus meningkat. Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam. khususnya pada saat akan mencapai titik akhir titrasi. Semua masalah yang berkaitan dengan titrasi asam basa dapat dipecahkan dengan konsep stoikiometri dan konsentrasi larutan yang dinyatakan dengan mol. Untuk reaksi antara HCl dengan NaOH titik ekivalen tercapai pada perbandingan mol 1:1 tetapi untuk reaksi antara H2SO4 dengan NaOH diperlukan perbandingan mol 1:2 untuk mencapai titik ekivalen. Gambar 1. hal ini dilakukan untuk mengurangi kesalahan dimana akan terjadi perubahan warna dari indikator lihat Gambar 1. Titrasi alkalimetri dengan larutan standar basa NaOH[7] Analit bersifat asam pH mula-mula rendah.[5] Dalam titrasi asam-basa. Larutan-larutan ini mudah menyerap karbon dioksida dari udara. oleh karena itu konsentrasinya dapat berubah dengan cepat. juga diperoleh informasi indikator yang tepat untuk digunakan dalam titrasi ini dengan kisaran pH pH 7 – 10 (Tabel 1). maka larutan bali alkali dibuat bebas karbonat dan untuk melindungi itu dari pengaruh karbon dioksida dari udara maka penyimpanannya dilengkapi dengan “soda lime tube”. umumnya digunakan natrium hidroksida.[6] Dalam melakukan titrasi netralisasi kita perlu secara cermat mengamati perubahan pH. H2SO4 (aq) + 2NaOH (aq)  Na2SO4 (aq) + 2H2O (l) Dalam titrasi asam-basa perubahan pH sangat kecil hingga hampir tercapai titik ekivalen.[9] Untuk larutan baku alkali. akan tetapi asam klorida lebih disukai daripasa asam sulfat terutama untuk senyawasenyawa yang memberikan endapan dengan asam sulfat seperti barium hidroksida. kalium hidroksida dan barium hidroksida.C. Titik atau kondisi penambahan asam atau basa dimana terjadi perubahan warna indikator dalam suatu titrasi dikenal sebagai titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi sering disamakan dengan titik ekivalen. Semua larutan baku alkali harus sering dibakukan ulang. perbandingan mol. Titrasi Asidimetri dan Alkalimetri Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral.[8] Larutan baku asam yang sering digunakan dalam asidi-alkalimetri umumnya dibuat dari asam klorida dan asam sulfat. walaupun diantara keduanya masih ada selisih yang relatif kecil. molaritas atau normalitas. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima proton (basa). jumlah relatif asam dan basa yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen ditentukan oleh perbandingan mol asam (H+) dan basa (OH-) yang bereaksi. Asam sulfat lebih disukai untuk titrasi menggunakan pemanasan karena kemungkinan terjadinya penguapan pada pemanasan asam klorida yang dapat menimbulkan bahaya. penambahan basa menyebabkan pH naik secara perlahan dan bertambah cepat ketika akan mencapai titik ekuivalen (pH = 7).

1 N dengan menggunakan indikator phenolftalein. Indikator ditambahkan pada titran sebelum proses titrasi dilakukan.[11] . Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi. Titik akhir titrasi diketahui dari larutan tidak berwarna berubah menjadi merah muda. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan. Titrasi dilakukan dengan melarutkan sampel sekitar 300 mg ke dalam 100 mL air. tidak diperlukan alat tambahan dan sangat praktis. untuk alkalimetri telah dipergunakan untuk menentukan kadar asam sitrat. Memakai indikator asam basa.Menurut Indigo Morie (2008). Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan. Pemanfaatan teknik ini cukup luas. Selain itu alkalimetri juga dipergunakan untuk menganalisis asam salisilat. 2. yaitu : 1. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalent”. kemudian membuat plot antara pH dengan volume titran untuk memperoleh kurva titrasi. Titrasi dengan menggunakan larutan NaOH 0. ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa. Teknik asidimetri juga telah dimanfaatkan secara meluas misalnya dalam pengujian boraks yang sering dipergunakan oleh para penjual bakso. pada saat inilah titrasi kita hentikan.

Alat dan Bahan 1.00 WITA Tempat : Laboratorium Kimia Analitik Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar B.1 M. yaitu sebagai berikut : Hari/Tanggal : Rabu/ 30 Mei 2012 Pukul : 13. pipet volume 25 mL dan 10 mL. Menitrasi larutan dengan asam klorida (HCl) sampai larutan berubah warna dari jingga ke merah jambu. erlenmeyer 250 mL. . a. spatula dan pipet tetes. Menitrasi larutan dengan asam klorida (HCl) sampai larutan menjaid tak berwarna. Menambahkan 5 tetes indikator PP ke dalam erlenmeyer.30 – 15. Melakukan secara duplo dan menghitung kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran. Menitrasi larutan dengan natrium hidroksida (NaOH) sampai terbentuk warna merah muda. 12 a. f. g. menghomogenkan larutan. Memipet 25 mL larutan dan memasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL. Titrasi Asidimetri Menimbang 100 mg campuran karbonat dan bikarbonat menggunakan neraca analitik. indikator PP dan natrium hidroksida (NaOH) 0.0989 N.0959 N. b. labu ukur 100 mL. h. Melarutkan campuran karbonat dan bikarbonat dengan aquades (H2O) lalu memindahkan ke dalam labu ukur 100 mL. Mengencerkan larutan sampai tanda batas dengan aquades (H2O). 2. asam klorida (HCl) 0. 2. gelas kimia 250 mL dan 100 mL. Menambahkan 5 tetes indikator PP ke dalam erlenmeyer. Mencatat volume natrium hidroksida (NaOH) yang digunakan. Alat Alat . corong. i. Titrasi Alkalimetri Memasukkan 10 mL asam asetat (CH3COOH) ke dalam labu ukur 100 mL. f. Menambahkan aquades (H2O) sampai tanda batas. statif dan klem. e. e. aquades (H2O). d. c. bulp. buret basa 50 mL. C. b. Prosedur Kerja Prosedur kerja pada percobaan ini. c. indikator MO. g. yaitu sebagai berikut : 1. Memipet 25 mL larutan asam asetat (CH3COOH) yang telah diencerkan dan memasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL. Melakukan secara duplo dan menghitung kadar asam asetat dalam sampel. Waktu dan Tempat Waktu dan tempat dilaksanakannya percobaan ini. d. Bahan Bahan – bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah asam asetat (CH 3COOH) 0. botol semprot. Menambahkan indikator MO ke dalam erlenmeyer. campuran karbonat dan bikarbonat.alat yang digunakan pada percobaan ini adalah buret asam 50 mL.BAB III METODE PERCOBAAN A. Mencatat volume HCl yang digunakan.

Titrasi alkalimetri No. Perlakuan Hasil 1. Tabel Pengamatan a. 3. Larutan asam asetat (CH3COOH) + indikator PP + titrasi dengan natrium hidroksida (NaOH) Larutan berwarna violet Larutan berwarna merah muda Keterangan 15 . Asam asetat (CH3COOH) + aquades Larutan berwarna bening 2.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Hasil pengamatan dari percobaan ini. yaitu sebagai berikut : 1.

Perlakuan 1.3 mL Konsentrasi NaOH = 0.. + titrasi dengan asam klorida (HCl) Hasil Larutan berwarna bening Larutan berwarna violet Larutan berwarna bening Larutan berwarna kuning tua Larutan berwarna orange kemerahan Keterangan 2.0989 N Ditanyakan : % CH3COOH .31 gram % CH3COOH = x 100 % = 0. Analisa Data 1.31 x 100 % = 31 % .031 gram Dalam 100 mL asam asetat = x B mg Kadar asam cuka = x gram = x 0. Simplo Diketahui : BE CH3COOH = 60 gram/grek Volume NaOH = 1. Reaksi CH3COOH + NaOH  CH3COONa + H2O Na2CO3 + HCl  NaHCO3 + HCl NaHCO3 + HCl  NaCl + H2O + CO2 3.0989 grek/L x 60 g/grek = 0.0013 L x 0.b. + indikator PP 3. Titrasi alkalimetri a. + indikator MO 5. Campuran karbonat dan bikarbonat + aquades 2. + titrasi dengan asam klorida (HCl) 4. Titrasi asidimetri No.031 gram = 0. ? Penyelesaian : Dalam 10 mL contoh asam terdapat : 100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg 100/25 x 0.

1007 gram/grek Volume HCl untuk karbonat (x mL) = 0. ? .0989 grek/L x 60 g/grek = 0. Simplo Diketahui : Berat sampel = 0.239 x 100 % = 23.2 mL = 0.36 x 100 % = 36 % c..1) mL = 2. Rata-rata Diketahui : BE CH3COOH = 60 gram/grek Volume NaOH = = 1.. ? Penyelesaian : bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0.45 mL Konsentrasi HCl = 0.b.0018 L % karbonat = = = 0.33 x 100 % = 33 % 2.0959 N = (3.1007 gram/grek Volume HCl untuk karbonat (x mL) = 1. ? Penyelesaian : bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0.9) mL = 1.33 gram % CH3COOH = x 100 % = 0.9 mL = 0.9 % c.0959 N Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat .0959 N Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat .033 gram Dalam 100 mL asam asetat = x B mg Kadar asam cuka = x gram = x 0. Titrasi asidimetri a.0989 N Ditanyakan : % CH3COOH .033 gram = 0..003 L karbonat dalam sampel = (2x) mL HCl 0.9 mL Konsentrasi HCl = 0.152 x 100 % = 15.091 x 100 % = 9. Duplo Diketahui : Berat sampel = 0.0014 L x 0.036 gram Dalam 100 mL asam asetat = x B mg Kadar asam cuka = x gram = x 0.36 gram % CH3COOH = x 100 % = 0.1 % % bikarbonat = = = 0.036 gram = 0.1 % % bikarbonat = = = 0.0959 N Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat .1) mL = 1. ? Penyelesaian : Dalam 10 mL contoh asam terdapat : 100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg 100/25 x 0.0022 L % karbonat = = = 0.0989 N Ditanyakan : % CH3COOH .0959 N = (2 x 1.111 x 100 % = 11.9 – 0. ? Penyelesaian : Dalam 10 mL contoh asam terdapat : 100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg 100/25 x 0. Duplo Diketahui : BE CH3COOH = 60 gram/grek Volume NaOH = 1.0019 L karbonat dalam sampel = (2x) mL HCl 0.0015 L x 0.4 mL Konsentrasi NaOH = 0. Rata-rata Diketahui : Berat sampel = 0.1 mL Volume HCl untuk bikarbonat (y mL) = 3 mL Konsentrasi HCl = 0.9) mL = 3 mL = 0.2 % b.8 mL = 0..0959 N = (2 x 0..5 mL Konsentrasi NaOH = 0.0989 grek/L x 60 g/grek = 0.9 mL Volume HCl untuk bikarbonat (y mL) = 3.0959 N = (3 – 1.1007 gram/grek Volume HCl untuk karbonat (x mL) = = 1 mL Volume HCl untuk bikarbonat (y mL) = = 3.

Penyelesaian : bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0.0959 N = (2 x 1) mL = 2 mL = 0.002 L % karbonat = = = 0.45 mL = 0.196 x 100 % = 19.00245 L karbonat dalam sampel = (2x) mL HCl 0.1 % % bikarbonat = = = 0.6 % .45 – 1) mL = 2.0959 N = (3.101 x 100 % = 10.

air yang bersifat netral serta uap karbondioksida. Awalnya larutan bersuasana asam akibat pH dari larutan asam asetat (CH 3COOH) yang digunakan bernilai rendah. Kadar karbonat rata-rata yang diperoleh adalah 10.5 karena indikator metil orange berdasarkan teori akan berwarna merah apabila memiliki pH kurang dari 3. Penambahan indikator phenolphthalein pada larutan campuran berfungsi sebagai zat penunjuk yang digunakan karena larutan campuran memiliki pH di atas 7 atau berada dalam suasana basa sehingga larutan akan memberikan warna merah secara teori dalam suasana basa. .1 % dan 15. Untuk titrasi rata-rata diperoleh kadar asam asetat (CH3COOH) sebesar 33 %.3 larutan akan berubah menjadi tak berwarna. kadar karbonat dan bikarbonat pada titrasi secara simplo berturut-turut adalah 11. Penambahan indikator pada larutan membuat larutan berubah warna menjadi violet. Penambahan indikator membuat perubahan warna larutan menjadi violet. Dalam titrasi ini digunakan indikator phenolphthalein yang berfungsi sebagai zat penunjuk yang akan memberikan perubahan warna saat titik akhir titrasi telah tercapai. penitrasian dilakukan dengan asam klorida (HCl) hingga larutan berubah menjadi tak berwarna. Reaksi antara asam asetat (CH 3COOH) dengan natrium hidroksida menghasilkan garam dan air yang bersifat netral.0 sehingga apabila larutan telah bersuasana basa maka indikator akan mengalami perubahan warna menjadi biru. Penetapan kadar asam asetat (CH3COOH) dengan natrium hidroksida (NaOH) merupakan titrasi alkalimetri untuk menitrasi asam lemah dengan basa kuat. larutan telah sedikit melewati titik akhirnya sehingga volume natrium hidroksida (NaOH) yang digunakan lebih banyak dan mempengaruhi perhitungan kadar asam asetat (CH3COOH) dalam sampel. sesuai dengan reaksi di bawah ini : CH3COOH + NaOH  CH3COONa + H2O Berdasarkan hasil analisa data. Proses titrasi pada larutan membuat larutan berubah warna menjadi orange kemerahan sehingga dapat dikatakan bahwa larutan telah bersuasana basa. sesuai persamaan reaksi : NaHCO3 + HCl  NaCl + H2O + CO2 Berdasarkan hasil analisa data. Perbedaan kadar yang diperoleh pada titrasi secara simplo dan duplo disebabkan karena pada salah satu titrasi. kadar asetat yang diperoleh dari percobaan secara simplo adalah 31 % dan 36 % pada titrasi secara duplo.5.3 – 10. Berdasarkan trayek pH indikator phenolphthalein. Setelah penambahan indikator.1 % dan 23. Penetapan kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran dilakukan menggunakan metode titrasi asidimetri menggunakan larutan asam klorida (HCl).6 %. menurut persamaan reaksi : Na2CO3 + HCl  NaHCO3 + HCl Untuk menentukan kadar bikarbonat.3 cenderung akan memberikan larutan tak berwarna dan akan berubah menjadi merah dalam larutan yang memiliki nilai pH di atas 10.B.1 % dan kadar bikarbonat rata-rata yang diperoleh adalah 19. larutan telah memiliki pH di atas 7. larutan berubah warna menjadi kuning yang menandakan bahwa larutan memiliki pH di atas 4. Pada titrasi secara duplo adalah 9.2 %. maka larutan campuran tadi ditambahkan dengan metil orange (trayek 3.1 – 4. Penambahan titran natrium hidroksida (NaOH) membuat larutan mengalami perubahan warna menjadi merah muda. larutan yang memiliki nilai pH di bawah 8. Penitrasian kembali dilakukan dengan asam klorida (HCl) sehingga larutan mengalami perubahan warna. Perubahan warna larutan menjadi tak berwarna menandakan bahwa larutan telah bersuasana asam dimana pada pH di bawah 8. Indikator phenolphthalein digunakan dalam titrasi ini karena indikator ini memiliki rentang trayek pH pada suasana basa yaitu : 8.5). Pembahasan Pada praktikum ini dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran serta kadar asam asetat (CH3COOH) dengan natrium hidroksida (NaOH).1 dan berubah warna menjadi kuning pada pH di atas 4.9 %. Dapat dikatakan bahwa. Reaksi antara larutan campuran dengan asam klorida (PP) membuat natrium karbonat bereaksi dengan asam klorida (HCl) menghasilkan natrium bikarbonat (NaHCO 3) dan natrium klorida (NaCl). Reaksi antara natrium bikarbonat dengan asam klorida (HCl) menghasilkan garam berupa natrium klorida (NaCl).

Untuk titrasi secara duplo. Kadar karbonat dan bikarbonat rata-rata yang diperoleh masing-masing adalah 10. 26 . 9. Saran Saran dari percobaan ini adalah sebaiknya pada percobaan selanjutnya dilakukan titrasi alkalimetri untuk menentukan konsentrasi atau kadar dari asam poliprotik yang dititrasi dengan basa kuat sehingga dapat diketahui perbedaan titrasi alkalimetri dengan asam lemah dan asam poliprotik.BAB V PENUTUP A.6 %. sedangkan kadar asam asetat rata-rata yang diperoleh adalah 33 %. 2.1 % untuk kadar karbonat dan 15. Kadar karbonat yang diperoleh secara simplo adalah 11. B.1 % serta kadar bikarbonat adalah 15. 1.2 % untuk kadar bikarbonat. yaitu sebagai berikut : Kadar asam asetat yang diperoleh secara simplo adalah 31 % dan 36 % pada titrasi secara duplo. Kesimpulan Kesimpulan dari percobaan ini.2 %.1 % dan 19.

h. Jakarta: Universitas Indonesia. . et al. Chem-is-try. Kimia Analitik I . h. 104 [5]Ibid. Penuntun Praktikum Kimia Analitik (Makassar: UIN Alauddin Makassar. Volumetri dan Gravimetri. http://www. 2010 Mursyidi. 46-47 [4]Achmad Mursyidi dan Abdul Rohman. 7 April 2008. Khopkar.org-Situs Kimia Indonesia. “Titrasi Asam Basa”. http://belajarkimia.org/materi_kimia/kimiakesehatan/pemisahan-kimia-dan-analisis/titrasi-asam-basa/. h. h.. Wa Ode Rustiah dan Anna Handayani. cit. 81 [6]M. 30 Oktober 2011. Volumetri dan Gravimetri (Yogyakarta: UGM-Press. Indigo. 27 Desember 2010. Konsep Dasar Kimia Analitik (Jakarta: Universitas Indonesia. Diakses pada tanggal 31 Mei 2012 [1]Sitti Chadijah. Malang: Universitas Negeri Malang. h. Diakses pada tanggal 3 1 Mei 2012 Zulfikar. http://www.chem-istry. 2012 Ibnu. http://www. Diakses pada tanggal 31 Mei 2012 Wilyta. 2008 Morie..com/doc/70246435/asidimetri. h. Makassar: UIN Alauddin Makassar. S. cit. 2005 Khopkar.scribd. 2008). “Titrasi Asam Basa”. M.. 2005). “Asidimetri”.. “Asidimetri”. 96 -97 [7]Zulfikar. belajarkimia. Chem-is-try.chem-is-try. Achmad dan Abdul Rohman. scribd. Yogyakarta: UGM-Press. op. 2010).com/doc/70246435/asidimetri (31 Mei 2012) [3]S. Sodiq Ibnu. Konsep Dasar Kimia Analitik.org-Situs Kimia Indonesia. M. “Titrasi Asam Basa”. Kimia Analitik I (Malang: Universitas Negeri Malang. scribd. M. loc.2012). 105 [10]Ibid [11]Zulfikar. Penuntun Praktikum Kimia Analitik. Wa Ode Rustiah dan Anna Handayani. Intan Wilyta. et al. 30 Oktober 2011.com/2008/04/titrasi-asam-basa/.DAFTAR PUSTAKA Chadijah.com. Sitti Chadijah. Sodiq Ibnu. http://www.scribd.com.com.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/pemisahan-kimia-dan-analisis/titrasi-asam-basa/ (31 Mei 2012) [8]Ibid [9]Achmad Mursyidi dan Abdul Rohman. 27 Desember 2010. 19 [2]Intan Wilyta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->