LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

I. NOMOR PERCOBAAN II. NAMA PERCOBAAN

: IV : TITRASI ASAM BASA : VOLUMETRI

1. Mempelajari dan menerapkan teknik titrasi untuk menganalisis contoh yang mengandung asam 2. Menstandarisasi larutan penitrasi. IV. DASAR TEORI Beberapa pandangan mengenai perilaku asam basa dapat dijelaskan melalui teori yang dikembangkan oleh arhenius. Menurut Arhenius asam adalah senyawa yang melepaskan ion hidrogen dalam larutan berair. Asam memiliki sifat berasa asam, mengubah . Sifat khas suatu asam sebenarnya merupakan sifat

lakmus dari biru menjadi merah, dan bereaksi dengan logam aktif menghasilkan gas dari ion

Dengan kata lain ion adalah pembawa sifat asam. Arrhenius mendefinisikan basa sebagai senyawa yang melepaskan hidroksida dalam larutan berair. Contoh NaOH. Ion hidroksida ini diyakini Arrhenius sebagai pembawa sifat khas basa yaitu,pahit, terasa licin dikulit,dan sebagainya. Jika sejumlah tertentu asam dan basa dicampurkan sifat khas asam dan basa tersebut akan hilang. Reaksi antara asam dan basa dinamakan reaksi netralisasi,pada reaksi tersebut akan dihasilkan suatu garam dan air. Semua asam Arrhenius juga diklasifikasikan sebagai asam oleh Browsted – Lowry. Sebagai contoh pada reaksi gas hidrogen klorida, HCL dengan air untuk menghasilkan asam klorida, gas hidrogen klorida berperan sebagai pemberi proton. Berdasarkan Bronsted – Lowry, asam adalah donor proton, sedangkan basa merupakan akseptor proton. Menurut Bronsted – lowry suatu reaksi asam basa dapat berlangsung tanpa adanya medium air, contohnya pada reaksi berikut ini : HCL + + Menurut Lewis reaksi yang melibatkan amonia atau air terjadi dikarenakan adanya pemakaian elekteron bersama pasangan elektron bebas yang dimiliki keduanya untuk membentuk ikatan kovalen koordinasi dengan spesi lain sehingga amonia dan air dalam reaksi tersebut bertindak sebagai basa.secara singkat dapat dijelaskan,menurut Lewis asam merupakan suatu spesies yang dapat menerima pasangan elektron bebas, sedangkan basa merupakan suatu spesies yang dapat mendonorkan pasangan elektron bebas. Jadi, yang tidak memiliki pasangan elektron bebas adalah asam sedangkan yang memiliki pasangan elektron bebas adalah basa. Menurut teori asam basa Lewis, asam merupakan spesi yang menerima pasangan elektron bebas. Sedangkan berdasarkan reaksi diatas, HCl bertindak sebagai asam menurut Lewis. Atom Klor merupakan atom yang lebih elektronegatifan dibandingkan dengan atom H. Jadi molekul HCl merupakan molekul yang polar. Pasangan atom yang dimiliki bersama antara H dan Cl cenderung lebih tertarik ke atom Cl sehingga Cl bersifat lebih negatif. Ketika molekul HCl menjadi semakin dekat keatom Cl , maka akibatnya ikatan kovalen koordinasi antara atom H dan N terbentuk, dan ikatan antar atom H dengan Cl terputus. Oleh karena itu, molekul HCL bertindak sebagai asam menurut Lewis karena menerima pasangan elektron bebas dari NH3. Asma lewis tidak harus memiliki orbital kosong. 1

1

( http://www.chemistry.org.//teori-asambasa.html ) Dalam air murni terdapat ion dan ion . dalam koordinasi konsentrasi yang sama, yang sangat kecil. Bila

konsentrasi sama dengan konsentrasi OH- maka larutan tersebut disebut dengan larutan netral. Bila konsentrasi yang diketahui ( Atau sebaliknya penambahan asam kedalam basa untuk mencapai titik akhir). Titik ekivalen adalah titik asam dimana asam tepat bereaksi denga semua basa. Idikator digunakan untuk membantu kita kapan kita mengetahui titrasi harus dihentikan didekat titik ekivalen . saat titrasi dihentikan disebut dengan titrasi akhir (titik akhir titrasi). Titik akhir titrasi berbeda dengan titik ekivalen, tetapi perbedaannya tidak terlalu besar sehingga digunakan indikator yang tepat yaitu yang memiliki trayek PH sekitar titik ekivalen. Prinsip titrasi adalah pengukuran volume suatu larutan yang diperlukan untuk bereaksi dengan larutan lainyang mempunyai volume tertentu atau zat terlarut dengan konsentrasi tertentu. Titrasi asam basa merupakan metode analitis untuk menentukan jumlah jumlah asam atau basa dalam suatu sampel. Hitungan titrasi yaitu ekivalen asam basa dengan ekivalen basa. VA . NA . Nb Konsentrasi asam basa sering menggunakan Molaritas sehingga : Analisa volumetri adalah analisa kuantitatif dimana kader komponen dari zat uji ditetapkan berdasarkan volume reaksi pereaksi ( konsentrasi diketehui ) yang ditambahkan kedalam larutan zat uji, hingga komponen yang akan ditetapkan bereaksi secara kuantitatif dengan pereaksi tersebut. Proses yang dikenal juga dengan analisa tirimetri. Suatu pereaksi dapat digunakan sebagai dasar analisa titrimetri apabila memenuhi syarat –syarat sebagai berikut yaitu reaksi harus berlangsung sesuai persamaan reaksi kimia tertentu, harus tidak ada reaksi samping. Yang kedua reaksi harus berlangsung sampai benar-benar lengkap pada titik tinggi dari pada konsentrasi sama denga konsentrasi OH- maka larutan tersebut disebut larutan netral. Bila konsentrasi maka larutan tersebut adalah larutan yang bersifat asam,sedangkan bila konsentrasi lebih

lebih rendah

dari pada konsentrasi maka larutan tersebut bersifat basa. pH atau kadar larutan yang bersifat netral sama dengan tujuh. Larutan yang bersifat asam pH nya kurang dari tujuh. Semakin kurang dari tujuh maka larutan tersebut mempunyai sifat asam yang semakin kuat. Sedangkan bila PH nya lebih dari tujuh, maka laritannya bersifat basa, semakin pH nya lebih dari tujuh maka semakin kut basanya. Pada titrasi biasanya digunakan suatu indikator yang memberikan tanda kepada kita bahwa campuran asam basa yang ada dalam larutan memiliki pertandingan yang benar untuk mencapai suatu keadaan larutannya yang netral. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna dari inikator atau kenaikan penurunan PH nya yang tiba-tiba. Idealnya perubahan warna indikator akan terjadi pada saat kita mencampurkan larutan itu padsa proporsi ya ng sama, tepat. Keadaan ini disebut titik ekivalen. Kurva yang menunjukkan perubahan

warna pH versus volume larutan titrasi disebut dengan kurva titrasi. Bentuknya tergantung pada nilai Ka dan konsentrasi asam basa yang digunakan.2 Prosedur untuk menentukan konsentrasi suatu larutan dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan larutan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titrasi. Jika yang dilihatkan adalah larutan asam dan larutan basa, titrasi itu disebut dengan titrasi asam basa. Larutan yang diketahui konsentrasinya disebut larutan baku ( larutan standar ). Pada bagian ini akan dibahas bagaimana perubahan pada berbagai titrasi asam basa. Titrasi asam basa merupakan penambahan secara hati-hati sejumlah larutan basa dengan konsentrasi tertentu. Ekivalen suatu indikator harus ada untuk menunjukkan titik 2 ekivalen. Yang ketiga adalah reaksi. ( http://www.google.co.id/titrasi.html ) Beberapa jenis reaksi dapat digunakan untuk titrasi yaitu pengendapan, reaksi oksidasi-reduksi,reaksi asam-basa,dan reaksi pembentukan kompleks. Pada percobaan ini akan dilakukan titrasi asam basa. Pertamakali akan dilakukan standarisasi (pembakuan) terhadap larutan basa. Yang selanjutnya digunakan untuk menganalisis contoh yang mengandung asam. Bila sebagai titrasi adalah larutan baku asam,maka endapan tersebut dinamakan Asidimetri dan apabila larutan baku basa sebagai titran maka disebut Alkalimetri. Secara ringkas reaksi asma basa atau netralisasi disebabkan oleh proton dari asam yang bereaksi dengan OH- dari basa. Reaksi yang terjadi adalah : + O Pereaksi yang digunakan digunakan dinamakan titran dan larutannya disebut larutan titeratau larutan beku. Konsentrasi larutan ini dapat dihitung berdasarkan berat baku yang ditimbangkan secara seksama atau dengan penetapan yang dikenal dengan standarisasi atau pembekuan. Larutan standar (baku) dibagi menjadi standar primer dan standar sekunder. Kedua jenis larutan standar (baku) ini dapat digunakan analisa kuantitatif suatu larutan senyawa. Pereaksi pada kebanyakan titrasi asam basa perubahan larutan pada titik ekivalen tidak jelas. Untuk mengatasi hal ini maka digunakan indikator yaitu suatu senyawa organik asam atau basa lemah yang mempunyai warna molekul (warna asam) berbeda dengan warna ionnya (warna basa), dimana indikator ini memperlihat perubahan warna pH tertentu. Secara umum untuk titrasi asam basa indikator yang digunakan adalah indikator venotalin yang mempunyai trayek pH 8,3 – 10.5 dimana indikator senyawa ini tidak berwarna pada larutan asam dan berwarna merah muda dalam larutan basa. Bila kuantitas ekimolar dari suatu asam kuat seperti asam klorida (HCL) dan suatu basa kuat seperti natrium hidroksida (NaOH) Dicampurkan dalam satu larutan, maka ion hidrinium dari asam dan ion hidroksida dari basa akan bersenyawa membentuk air (H2O). Reaksi antara ion hidronium dari asam dengan ion hidroksida dari basa sehingga membentuk senyawa air tadi merupakan reaksi penetralan. Setelah reaksi antara asam klorida dengan natrium klorida hidroksida maka akan tinggal larutan dari ion dan . Meskipun kedua ion ini tidak terlihat dalam proses penetralan dapat dikatakan bahwa larutan NaCl terbentuk sebagai hasil dari suatu reaksi antara asam klorida dengan natrium klorida atau dapat pula dikatakan reaksi asam basa. Reaksi asam basa yang sama kekuatannya akan menghasilkan larutan yang bersifat netral. Asam dan basa bereaksi dapat berasal dari suatu asam lemah ataupun basa kuat. Reaksi asam basa kekuatannya berlainan akan menghasilkan larutan dengan sifat satu asam lemah dan yang saytu lagi bersifat basa lemah. Itu semua tergantung pada kekuatan atom asam konjugasinya dan basa konjugasinya yang dihasilkan. Semua itu bertitik tolak pada larutan standar yang digunakan. Larutan standar yang digunakan atau dipakai NaOH. Perbedaan antara titik akhir titrasi dengan titik ekivalen adalah titik ekivalen yang terjadi pada saat reaksi asam dan basa mulai menetral, dimana asma menuju basa. Sedangkan titik akhir titrasi terjadi karena pada saat dimana dari ion-ion asam dan basa telah lengkap bereaksi maka hasilnya akan membentuk suatu senyawa air. Proses yang dikenal dengan titrasi oleh karena dikenal juga dengan “analisis titrimetri” suatu pereaksi dapat digunakan sebag ai dasar analisa titrimetri apabila memenuhi syarat-syarat berikut :reaksi harus berlangsung sesuai persamaan reaksi kimia tertentu harus tidak ada reaksi samping,reaksi harus berlangsung sampai benar-benar lengkap pada titik ekivalen, reaksi harus berlangsung cepat, sehingga titrasi diperlakukan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. 3 3( Rivai,Bakti.2010. Penuntun Praktikum Kimia Dasar I. Inderalaya : Universitas Sriwijaya) V. ALAT DAN BAHAN Alat yang dipergunakan pada praktikum kali ini adalah: 1. Gelas Ukur 2. Beker Gelas 3. Labu ukur 250 mL 4. Tabung Erlemeyer 5. Statif 6. Pipet Tetes Bahan yang dipergunakan pada praktikum kali ini adalah: Biuret Larutan NaOH Larutan Cuka Makan Asam Oksalat Air Suling

1. 2. 3. 4. 5.

VI. PROSEDUR PERCOBAAN Dicuci dengan baik buret 50 mL, dibilas dengan air suling , tutup ceratnya lalu dimasukkan kira-kira 5 ml NaOH yang akan distandardisasi.

A. Standardisasi arutan NaOH 0,1 ml

Dimiringkan dan diputar buret untuk membasahi permukaan buret. Keluarkan larutan dari buret dan ulangi pembilasan hinga skala 0, alirkan larutan untuk mengeluarkan gelembung udara.

Dicuci erlemeyer 250 ml kemudian dbilas dengan air suling. Pipet pertama 15 ml larutan HCl standar 0,1 M kedalam setiap erlemeyer.Ditambahkan kedalam erlemeyer masing-masing 15 ml air suling dan 3 etes indicator fenolffalein.dicatat NaOH pada buret kemudiandialirkan sedikit demi sedikit NaOH pada erlemeyer pertama. Dicatat volume akhir, hitunglah Molaritas larutan standar NaOH

Dicatat volume akhir, hitunglah Molaritas larutan standar NaOH

B. Menentukan persentase asam asetat dalam cuka. Cuka dapur mengandangi asam asetat 4 – 6 %.

Dimasukkan

pipet 1 ml asam cuka setiap erlyemeer tambahkan 10 ml air suling, 3 tetes indicator fenolftalein .

Dihitung persentase massa pada tiap-tiap contoh

VII. PERTANYAAN PRA PRAKTEK 1. Apa yang dimaksud dengan asam,basa,titik ekivalen,indikator? Jawab: a. b. c. d. Asam adalah zat yang melarut ke dalam air untuk membiarkan ion-ion .

a. b.

Basa adalah zat yang melarut ke dalam air untuk memberikan ion-ion . Titik ekivalen dimana titer dan titran tepat bereaksi ditandai dengan perubahan warna yang belum konstan. Indikator adalah senyawa organik asa atau basa lemak yang mempunyai warna moekul berbeda degan warna ionnya dimana indikator akan memperlihatkan perubahan warna pada pH tertentu. 2. Jelaskan perbedaan titik akhir titrasi dan titik ekivalen? Jawab: Titik akhir titrasi merupakan titik dalam reksi titrasi yang ditandai dengan perubahan warna indikator. Titik ekivalen dimana titer dan titran tepat bereaksi ditandai dengan perubahan warna yang belum konstan. 3. Sebanyak 0,7742 g kalium hidrogen sitrat dimasukan ke dalam erlemyer dan dilarutdengan air suling, kemudian titrasi dengan dengan larutan NaOH. Bila terpakai 33,60 mL larutan NaOH, berapa molaritas larutan NaOH tersebut? Jawab: Massa = 0,7742 V NaOH = 33,6 mL = 0,0336 L Mol M NaOH = = = = 0,003 mol = 0,089

VIII. DATA HASIL PENGAMATAN V1 = 3,8 ml V2 = 7,9 – 3,8 = 4,1 ml V3 = 12,1 – 4,1 = 8 ml

IX. REAKSI DAN PERHITUNGAN

dan Lewis. kesalahan bisa terjadi saat menggunakan alat yang digunakan. Pada indikator ini perubahan warna pada senyawa asam yaitu being ( tidak berwarna ) dan pada basa berubah menjadi warna merah muda. namun perubahan warna yang terjadi belum konstan disebut dengan titik ekivalen. Brownsted-Lowry. Larutan ini konsentrasinya belum diketahui sehingga perlu di standarisasi. 2. Indikator merupakan senyawa organik asam basa lemah yang memiliki warna berbeda dengan ionnya. M NaOh = 10 . Titik saat di mana asam basa dan basa tepat bereaksi . dan erlenmeyer pun harus sangat hati – hati. Larutan standar primer yang mana larutan tersebut konsentrasinya telah diketahui sehingga tidak perllu di standarisasi. KESIMPULAN Titik ekivalen dimana titer dan titran mengalami reaksi ditandai perubahan warna yang belum konstan . Pada prosos pencampuran antara titer dan titran di dapat titik ekivalen dan titik akhir titrasi. karena itu kita ambil rata – rata volume dari ketiga volume yang di dapat untuk digunakan dalam perhitungan. M NaOH = V HCl . Disini asam basa sendiri dibagi atas pandangan. 3. pipet gondok. Indikator berguna untuk menunjukkan perubahan warna. didapatkan hasil berupa larutan berwarna merah muda dari campuran titran berupa NaOH dengan titernya yang terdiri dari asam klorida. sedangkan basa senyawa yang apabila bereaksi dengan air akan menghasilkan ion . Pada percobaan kali ini kita dapat menstandarisasi larutan. Menurut Lewis sendiri berpendapat bahwa asam sebagai spesi yang menerima pasangan elektron bebas. 5. . Pada percobaan titrasi asam basa ini digunakan indikator fenolftalein dengan pH trayeknya 8. Persen kesalahan yang didapat mencapai 88 % . Seharusnya sebelum melakukan percobaan. Percobaan ini analisa yang dipakai analisa volumetri. 100 % = 88 % X. basa bersifat pahit dan licin dikulit serta dapat membirukan lakmus merah. M HCl 5. Pada percobaan ini. Menurut Arrhenius asam didefinisikan senyawa yang apabila bereaksi dengan air akan menghasilkan ion . sedangkan basa sebagai spesi yang mendonorkan pasangan elektron bebas. XI. analisa yang di dasarkan pada volume. PEMBAHASAN Pembahasan kali ini mengenai percobaan titrasi asam basa.5 . Percobaan titrasi asam basa ini dilakukan dalam tiga kali pengulangan. larutan standar sekunder ini memiliki ciri – ciri maassa molekul yang rendah dan hidroskopis.3 .. Inilah yang membedakan antara titik ekivalen dengan titik akhir titrasi. sedangkan basa bertindak sebagai akseptor proton.188 M % Kesalahan = X 100 % = x 100 % = . air suling dan indikator. pastikan alat – alat tersebut telah bersih dan kering sehingga tidak mempengaruhi molaritas larutan.3 – 10. konsentrasinya diketahui dan mudah untuk di dapat. Di dalam laboratorium pun kita harus berhati – hati sebab banyak bahan – bahan yang berbahaya. Sedangkan yang memiliki pH di atas 7 merupakan basa. Menurut Brownsted – Lowry berpendapat bahwa asam bertindak sebagai donor . 4. 1. Dalam penggunaaan alat berupa buret. Sedangkan larutan standar sekunder atau yang bertindak sebagai titran.3 ml NaCl + H2O V NaOH . Perhitungan V= = = = 5. 0. pada titrasi larutan terbagi dua.0. Titik akhir titrasi di tandao dengan perubahan warna indikator yang sudah konstant. menurut Arrhenius. Karena dalam penambahan air merupakan salah satu cara untuk mengubah molaritas larutan. larutan standar primer dan larutan standar sekunder. sifat dari asam ini berasa asam dan mengubah lakmus biru menjadi merah.88 . Digunakan indikator fenolftalein dengan pH trayeknya 8.1 M NaOH = = 0.3 – 10. Analisa yang digunakan pada percobaan kali ini adalah kuntitatif dan volumetri. Percobaan titrasi asam basa ini merupakan suatu metode untuk menentukan konsentrasi suatu larutan asam basa. Reaksi NaOH + HCl b.5 . pH yang memiliki di bawah 7 merupakan sifat dari asam. Indikator termasuk senyawa organik asam lemah yang memiliki warna berbeda dengan ionnya. dan alat – alat nya juga harus kita jaga dengan baik. dan masing – masing titrasi volume NaOH berbeda – beda. Sedangkan larutan standar primer mempunyai massa molekul relatif tinggi.a.

ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Asam klorida merujuk pada larutan HCl dalam air.2010.org.id/titrasi. Penuntun Praktikum Kimia Dasar I.32 °C (247 K) larutan 38% Densitas Titik lebur .http://www.2010.1987.//teori-asambasa. Inderalaya : Universitas Sriwijaya Posted 21st April 2012 by RAHMAT PRATAMA Asam klorida Dari Wikipedia bahasa Indonesia. lihat Hidrogen klorida Asam klorida Nama IUPAC[sembunyikan] Asam klorida Nama lain[sembunyikan] Klorana Identifikasi Nomor CAS PubChem Nomor EINECS Nomor RTECS [7647-01-0] 313 231-595-7 MW4025000 Sifat Rumus molekul Massa molar Penampilan HCl dalam air (H2O) 36.html Diakses pada tanggal 26 November 2010.titrasi. Pukul 15:00 WIB Petrucci.Teori Asam Basa. R.google.18 g/cm3 (variable) −27.46 g/mol (HCl) Cairan tak berwarna sampai dengan kuning pucat 1.html Diakses pada tanggal 26 November 2010. Jakarta : Erlangga Rivai.H.Bakti.2010.http://www. untuk senyawa HCl dalam keadaan murni (gas).Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern (terjemahan).DAFTAR PUSTAKA Anonim. Pukul 15:30 WIB Anonim.chemistry.dkk.co.

Senyawa ini juga digunakan secara luas dalam industri.0 1. Br-. Tercampur penuh −8. S45 Tak ternyalakan. larutan 38%. dan aditif makanan.2%. IAsam bromida Asam fluorida Asam iodida Asam sulfat Kecuali dinyatakan sebaliknya. Ia ditemukan oleh alkimiawan Persia Abu Musa Jabir bin Hayyan sekitar tahun 800. meliputi produksi massal senyawa kimia organikseperti vinil klorida untuk plastik PVC dan MDI/TDI untuk poliuretana. dan kemudian digunakan juga oleh ilmuwan Eropa termasuk Glauber. dan merupakan komponen utama dalam asam lambung.Titik didih 110 °C (383 K). data di atas berlaku pada temperatur dan tekanan standar (25°C. Senyawa ini digunakan sepanjang abad pertengahan oleh alkimiawan dalam pencariannya mencari batu filsuf. R37 (S1/2). Ia adalah asam kuat. Sekitar 20 juta ton gas HCl diproduksi setiap tahunnya. larutan 20.5% Bahaya Kelarutan dalam air Keasaman (pKa) Viskositas MSDS Klasifikasi EU Indeks EU NFPA 704 External MSDS Korosif (C) 017-002-01-X 0 3 1 COR Frasa-R Frasa-S Titik nyala R34. 100 kPa) Sangkalan dan referensi Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl).9 mPa·s pada 25 °C. larutan 31. Asam klorida pernah menjadi zat yang sangat penting dan sering digunakan dalam awal sejarahnya. S26. and Davy dalam rangka membangun pengetahuan kimia modern. 48 °C (321 K). Senyawa terkait Anion lainnya Asam terkait F-. Asam klorida harus ditangani dengan wewanti keselamatan yang tepat karena merupakancairan yang sangat korosif. senyawa ini menjadi sangat penting dan digunakan untuk berbagai tujuan. Priestley. Daftar isi [sembunyikan]       1 Sejarah 2 Kimia 3 Sifat-sifat fisika 4 Produksi o 4. Kegunaan kecil lainnya meliputi penggunaan dalam pembersih rumah. Sejak Revolusi Industri. produksigelatin.1 Pasar industri 5 Keberadaan dalam organisme hidup 6 Keselamatan .

Produksi asam klorida secara signifikan dicatat oleh Basilius Valentinus pada abad ke-15. kokaina. Pada abad ke-17.[1][2][3] Jabir bin Hayyan dalam gambar abad pertengahan Semasa Revolusi Industri di Eropa. dan mencatat penemuannya ke dalam lebih dari dua puluh buku. membuktikan bahwa komposisi kimia zat tersebut terdiri dari hidrogen dan klorin. bahasa Mandarin 鹽酸 (yansuan). dan batubara. Joseph Priestley dari Leeds berhasil menghasilkan hidrogen klorida murni pada tahun 1772. Setelah tahun 2000. asam klorida telah dimasukkan ke dalam Tabel II Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika karena ia dapat digunakan dalam produksi heroin.[1][3][4] Pada abad ke-20. dan metamfetamina. dan bahasa Jepang 塩酸 (ensan). Dalam proses Leblanc. Johann Rudolf Glauber dari Karlstadt am Main.[1][2] Jabir menemukan banyak senyawa-senyawa kimia penting lainnya. Sebelum diberlakukannya Undang-Undang Alkali tahun 1863 oleh Britania. bahasa Belanda Zoutzuur. permintaan atas senyawa-senyawa alkalin meningkat. Inggris. produsen soda abu diwajibkan untuk melarutkan gas ini ke dalam air dan menghasilkan asam klorida dalam skala industri. proses Leblanc digantikan oleh proses Solvay yang tidak menghasilkan asam klorida sebagai produk sampingan. HCl yang berlebih dilepaskan ke udara bebas. Istilah asam garam ini pun masih digunakan di beberapa bahasa dunia.[7] [sunting]Kimia Titrasi asam . Proses industri baru yang mengijinkan produksi natrium karbonat (soda abu) dalam skala besar berhasil dikembangkan olehNicolas Leblanc. misalnya dalam bahasa Jerman Salzsäure. batu kapur.[3][4][5] Sejak tahun 1988.  7 Referensi 8 Pranala luar [sunting]Sejarah Asam klorida pertama kali ditemukan sekitar tahun 800 sesudah masehi oleh ahli kimia Jabir bin Hayyan (Geber) dengan mencampurkan natrium klorida dengan asam sulfat ("vitriol"). Setelah berlakunya undang-undang ini. Jerman menggunakan natrium klorida dan asam sulfat untuk membuat natrium sulfat melalui proses Mannheim. Proses ini akan melepaskan gas hidrogen klorida sebagai produk sampingannya. Humphry Davy dari Penzance. Proses ini melepaskan hidrogen klorida sebagai produk samping.[1][2][3] Pada Abad Pertengahan. asam klorida kebanyakan dihasilkan dari pelarutan produk samping hidrogen klorida dari produksi industri senyawa organik.[6] Konvensi ini disahkan di Indonesia oleh Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1997. natrium klorida diubah menjadi natrium karbonat menggunakan asam sulfat. dan pada tahun 1818. Penemuan Jabir atas air raja yang dapat melarutkan emas mengandung asam klorida dan asam nitrat. asam klorida dikenal oleh ahli kimia Eropa sebagai spirits of salt atau acidum salis (asam garam). Gas HCl disebut sebagai udara asam laut.

ia tidak akan mengubah pH larutan secara signifikan.2% HCl dan 108.82 6. Untuk asam kuat seperti HCl.6 °C (227 °F). H3O+:[8][9] HCl + H2O → H3O+ + Cl− Ion lain yang terbentuk adalah ion klorida.87 6.733 14. asam klorida merupakan reagen pengasam yang sangat baik.179 1. dan es (0% HCl).0 −1. massa jenis. dengan ketepatan mencapai empat digit angka bermakna.39 −0. Sifat-sifat ini berkisar dari larutan dengan konsentrasi HCl mendekati 0% sampai dengan asam klorida berasap 40% HCl [8][9][12] Kapasitas kalor jenis kJ/(kg·K) 3.5 −0.50 2.6 13 19 20 21 22 23 kg/l 1. Asam klorida memiliki empat titik eutektik kristalisasi-konstan.149 1.43 Konsentrasi Massa jenis Molaritas pH Viskositas Tekanan uap Titik didih Titik leleh kg HCl/kg kg HCl/m3 Baumé 10% 20% 30% 32% 34% 36% 38% 104.88 397. menghasilkan klorida terlarut yang dapat dianalisa.3 1. Ia juga bereaksi dengan senyawa dasar semacam kalsium karbonat dan tembaga(II) oksida. Cl−. Asam yang lebih kuat akan memberikan hasil yang lebih baik oleh karena titik akhir yang jelas.[11] Asam klorida sering digunakan dalam analisis kimia untuk "mencerna" sampel-sampel analisis.Hidrogen klorida (HCl) adalah asam monoprotik. Walaupun asam. nilai Ka cukup besar. Ia juga merupakan asam kuat yang paling tidak berbahaya untuk ditangani dibandingkan dengan asam kuat lainnya. Dalam larutan asam klorida.90 11. titik leleh.410 3. HCl·2H2O (51% HCl). dan pH tergantung pada konsentrasi atau molaritas HCl dalam larutan asam tersebut.90 1.100 28.048 1. H+ ini bergabung dengan molekul air membentuk ion hidronium. Oleh karena alasan inilah.80 219.325 kPa).000 °C 103 108 90 84 71 61 48 °C −18 −59 −52 −43 −36 −30 −26 Suhu dan tekanan referensi untuk tabel di atas adalah 20 °C dan 1 atm (101.16 1.159 1. asumsi bahwa molaritas H+ sama dengan molaritas HCl cukuplah baik.0 −1.99 2.44 451.[8][9] Asam monoprotik memiliki satu tetapan disosiasi asam.[8][9] Dari tujuh asam mineral kuat dalam kimia. Hidrogen klorida dapat dihasilkan melalui beberapa cara.8% antara es dan kristalisasi dari HCl·3H2O.[8][9] [sunting]Sifat-sifat fisika Ciri-ciri fisika asam klorida. berada di antara kristal HCl·H2O (68% HCl).45 10. ia mengandung ion klorida yang tidak reaktif dan tidak beracun.60 344. Asam klorida sebagai campuran dua bahan antara HCl dan H2O mempunyai titik didih-konstan azeotrop pada 20.1 mPa·s 1. HCl·6H2O (25% HCl). seperti titik didih.0 −1.17 10.70 370. Asam klorida merupakan asam pilihan dalam titrasi untuk menentukan jumlah basa. Terdapat pula titik eutektik metastabil pada 24.169 1.02 9. walaupun konsentrasinya bergantung pada tekanan atmosfernya ketika dibuat.098 1.80 1.10 Pa 0.130 6.189 mol/dm3 2.55 2. Asam klorida pekat melarutkan banyak jenis logam dan menghasilkan logam klorida dan gas hidrogen. yang mengindikasikan tingkat disosiasi zat tersebut dalam air. asam klorida merupakan asam monoprotik yang paling sulit menjalani reaksi redoks.47 2. yang berarti bahwa ia dapat berdisosiasi melepaskan satu H+ hanya sekali. Untuk larutan asam klorida yang kuat.2%) dapat digunakan sebagai standar primer dalam analisis kuantitatif. Asam klorida adalahasam kuat karena ia berdisosiasi penuh dalam air.70 1. Beberapa usaha perhitungan teoritis telah dilakukan untuk menghitung nilai Ka HCl. Asam klorida dalam konsentrasi menengah cukup stabil untuk disimpan dan terus mempertahankan konsentrasinya. Ka.1 −1.527 27. HCl·3H2O (41% HCl).64 12.8 −1.[10] Ketika garam klorida seperti NaCl ditambahkan ke larutan HCl. Produksi skala besar asam klorida hampir selalu merupakan produk sampingan dari produksi industri senyawa kimia lainnya.37 1.99 2. seperti natrium klorida.60 2. [12] [sunting]Produksi Asam klorida dibuat dengan melarutkan hidrogen klorida ke dalam air.46 2.[3] .46 424. Asam klorida azeotropik (kira-kira 20. Hal ini mengindikasikan bahwa Cl− adalah konjugat basa yang sangat lemah dan HCl secara penuh berdisosiasi dalam larutan tersebut. Asam klorida oleh karenanya dapat digunakan untuk membuat garam klorida.

Produsen asam klorida terbesar di dunia adalah Perusahaan Dow Chemical dengan total produksi sebesar 2 juta ton per tahun (pengukuran dalam bentuk gas HCl). dan antasid digunakan untuk menetralisasi asam yang ada.[sunting]Pasar industri Asam klorida diproduksi dalam bentuk larutan 38% HCl (pekat). dengan potensi kerusakan pada organ pernapasan. mata. pH asam lambung yang rendah akan mendenaturasi protein. Konsentrasi yang lebih besar daripada 40% dimungkinkan secara kimiawi.1 M. NaClO + 2 HCl → H2O + NaCl + Cl2 2 KMnO4 + 16 HCl → 2 MnCl2 + 8H2O + 2 KCl + 5 Cl2 Alat-alat pelindung seperti sarung tangan PVC atau karet. Menentukankonsentrasi larutan HCL.[3] Cairan pembersih tersebut harus diencerkan terlebih dahulu sebelum digunakan. sehingga penyimpanan dan penanganannya harus dilakukan dalam suhu rendah. [1] Bahaya larutan asam klorida bergantung pada konsentrasi larutannya.[13][15] [sunting]Keselamatan Tanda bahaya Asam klorida pekat (asam klorida berasap) akan membentuk kabut asam. Menentukankonsentrasi larutan NaOH O.[13] Lambung itu sendiri terlindung dari asam kuat oleh sekresi lapisan mukosa yang tebal dan penyanggaan oleh natrium bikarbonat yang diinduksi oleh sekretin. dan sisanya merupakan hasil dari produk sampingan sintesis organik. Konsentrasi HCl yang paling optimal untuk pengantaran produk adalah 30% sampai dengan 34%. dan usus. . kulit. seperti natrium hipoklorit (pemutih NaClO) atau kalium permanganat (KMnO4). namun laju penguapan sangatlah tinggi.[16] Konsentrasi Klasifikasi berdasarkan berat 10–25% > 25% Iritan (Xi) Frasa R R36/37/38 Korosif (C) R34 R37 Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (United States Environmental Protection Agency) memasukkan asam klorida sebagai bahan beracun. Ia utamanya terdiri dari asam klorida dan mengasamkan kandungan perut hingga mencapai pH sekitar 1 sampai dengan 2. dengan 3 juta ton berasal dari sintesis langsung. Obat-obat antihistamin dan inhibitor pompa proton dapat menghambat produksi asam dalam perut. Seketika asam klorida bercampur dengan bahan kimia oksidator lainnya. 1.[3] [sunting]Keberadaan dalam organisme hidup Asam lambung merupakan salah satu sekresi utama lambung. B. Nyeri ulu hati dan sakit maag dapat berkembang apabila mekanisme perlindungan ini gagal bekerja. Baik kabut dan larutan tersebut bersifat korosif terhadap jaringan tubuh. [13] Ion klorida (Cl−) dan hidrogen (H+) disekresikan secara terpisah di bagian fundus perut yang berada di bagian teratas lambung oleh sel parietal mukosa lambung ke dalam jaringan sekretori kanalikulus sebelum memasuki lumen perut. sehingga akan lebih mudah dicerna oleh enzim pepsin. Produksi HCl dunia diperkirakan sebesar 20 juta ton per tahun. LANDASAN TEORI. dan pakaian pelindung haruslah digunakan ketika menangani asam klorida. [14] Asam lambung berfungsi untuk membantu pencernaan makanan dan mencegah mikroorganisme masuk lebih jauh ke dalam usus. pH yang rendah ini juga akan mengaktivasi prekursor enzim pepsinogen. gas beracun klorin akan terbentuk. Tabel di bawah ini merupakan klasifikasi bahaya larutan asam klorida Uni Eropa. asam klorida dalam kim akan dinetralisasi oleh natrium bikarbonat dalam usus dua belas jari. pelindung mata. TUJUANPENGAMATAN/PENELITIAN. 2.[17] Laporan hasil pengamatan penentuan konsentrasi larutan asam klorida dan larutan natrium hidroksida PENENTUANKONSENTRASI LARUTAN ASAM KLORIDA DAN LARUTAN NATRIUM HIDROKSIDA A. Setelah meninggalkan lambung. Kandungan asam klorida pada kebanyakan cairan pembersih umumnya berkisar antara 10% sampai dengan 12%.

Akan tetapi. Larutan yang telahdiketahui konsentrasinya dengan tepat disebut Larutan baku/Larutan standar. jika PH perubahan warna indikator setelah penambahan larutan zatpaniter sedikit berlebih.1 M sebagai zat peniterkedalam buret. Titrasi adalah metodeanalisis kuantitatif untuk menentukan kadar suatu larutan. Aquadest/ air suling b. Catat volume larutan NaOH yangdigunakan. Jika perbedaan hasil yang anda peroleh cukupbesar. f) g) Ulangi kegiatan ini sekali lagi sehinggaanda memperoleh hasil yang hampir. Jika perubahan warna indikator terletakpada PH titik ekuivalen.1 M (ML) . C. zatyang akan ditentukan konsentrasinya dititrasi oleh larutan yang konsentrasinyadiketahui dengantepat dan disertai penambahan indikator. Pendekatanantara titik akhir titrasi dan titik ekuivalen bergantung pada PHperubahan warna dari larutan indikator.teteskan sedikit demi sedikit larutan NaOH kedalam labu erlenmeyer sampai terjadiperubahan warna indikator.menggunakan perkiraan jumlah zat yang terlarut dan perkiraan jumlah zatpelarut. Cara kedua. Titik akhirtitrasi adalah kondisi pada saat terjadi perubahaan warna dari indikator.kemudian konsentrasinya ditentukan dengan metode titrasi. d) Catat skala awal dari larutan NaOH 0. Alat Buret/ Pipet ukur LabuErlenmeyer Pipetvolume Botolsemprot Pipettetes D. BAHAN DAN ALAT. Berdasarkan pengertiantitrasi. Dalam titrasi. Bahan. E.sedangkan Indikator adalah zatyangmemberikan tanda perubahan pada saat titrasi berakhir yang dikenal denganistilah titik akhir titrasi. HASIL PENGAMATAN. titrasi asam basa merupakan metode penentuan kadar larutan asam denganzat peniter (zat penitrasi) suatu larutan basa atau penentuan kadar larutanbasa dengan zat peniter (zat penitrasi) suatu larutan asam. jika tidak ada buret .Terdapat duacara dalam menentukan konsentrasi (kemolaran) suatu larutan:   Cara pertama. LarutanHCL LarutanNaOH 0. a. Percobaan Volume HCL (ML) Vol NaOH 0. dapat digunakan pipet ukur. membuatlarutan dengan konsentrasi tertentu. yaitu dengan menimbang zat secara tepatdengan menggunakan peralatan yang akurat. titik akhir titrasi akan sama dengan titik ekuivalen.1 M IndikatorFenolftalein. CARA KERJA. lalu masukkan kedalam labu erlenmeyer b) Tambahkan 2-3 tetes indikatorfenolftalein c) Masukkan larutan NaOH 0. a) Ukur 10 ml larutan HCL denganmenggunakan pipet volume.1 M(Sebaiknya dimulai dari skala 0) e) Sambil menggoyang-goyangkan labu.Titik akhir titrasi diharapkan mendekati titik ekuivalen titrasi. yaitukondisi pada saat larutan asam tepat bereaksi dengan larutan basa. ulangi sekali lagi. titik akhir titrasi berbeda dengan titik ekuivalen.

Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi.. Jawab : HCL + NaOH NaCL + H2O H+ CL. titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi..10 ml dan berubah warna dari bening menjadi merah mudah. larutan HCL denganvolume 5 mlditetesi dengan indikator fenolftalein sebanyak dua tetes danlarutan NaOH Vol. V.awal (Vo) =2.10 2.20 ml dan berubah warna dari bening menjadi merah mudah. V.Na+ OHTentukan konsentrasi larutan HCL tsb! Jawab : NaOH HCL= V1 M1 =V2 M2 0.10 ml b) Percobaan kedua.10 ml Vt– Vo = 3.akhir (Vt) = 2. larutan HCL dengan Vol.90 ml – 2. 0.10 mldan berubah warna dari bening merah mudah.00 ml = 0. .  PERTANYAAN. keimanan danketaqwaan kita kepada Allah SWT. Dari hasil pengamatan diatas dapatdiketahui bahwa larutan HCL jika ditetesi dengan larutan N aOH akanmenghasilkan larutan NaCL dan H2O dan terjadi perubahanwarna pada larutan HCL dari warna bening menjadi warna merah muda (Pink)..10 F.1 H.awal (Vo) = 2. 0.. 0.13 ml G.60 = 0.13 ml KESIMPULAN. a) Percobaan pertama.70 ml Vt– Vo = 2. Tuliskan persamaan reaksi asam-basatersebut. V.90 . Sabtu.1 2 3 5 5 5 2. meanInG oF a liFe.70 – 2.70 ml V.20 3. Amiin. 0. 21 April 2012 titrasi asam basaa Titrasi adalah suatu metode penentuan kadar (konsentrasi) suatu larutan dengan larutan lain yang telah diketahui konsentrasinya. 0.90 ml Vt– Vo = 2.. 5 ml ditetesi dengan indikator fenolftalein sebanyak 2 tetes dan larutanNaOH dengan Vol.60 ml V.awal (Vo) =3.1 = V2 . agar memperoleh keselamatan di dunia danakhirat.10 ml – 3. 0..akhir (Vt) = 3.NaOH = = = 0. titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya.akhir (Vt) = 2.013ml = V2 .70 = 0.70 ml – 2.mudahmudahan laporanpenelitian ini berguna bagi kita semua sehingga dapat meningkatkan ilmupengetahuan.5 ml ditetesi dengan indikator fenoltalein sebanyak dua tetes dan larutan NaOHdengan Vol.13 ml .00 = 0. larutan HCL denganVol.. V2 = = 0.1 0. sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa.3.Akhirnya kepada Allah jua-lah kita berharap. Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya.00 ml V.60 ml = 0. PENUTUP Demikianlahlaporan hasil penelitian/pengamatan ini.2. PEMBAHASAN.10 . 1.20 ml c) Percobaan ketiga.20 ml Vol.70 ml = 0.   2.

dibuat dari senyawa yang tingkat kemurniannya tinggi(99%).Garam dari asam lemah 5. massa molekul relatif (berat ekivalen) tinggi. tidak berubah selama proses pengerjaan pembuatan larutannya. Pada saat titik ekuivalen ini maka proses titrasi dihentikan. Contohnya adalah asam oksalat. Indikator pH adalah asam lemah atau basa lemah organik yang menunjukan perubahan warna pada pH warna tertentu. Asam oksalat Kristal. dan tidak higroskopis. Larutan baku terbagi atas dua macam. Prinsip Titrasi Asam basa Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titrat ataupun titran.Garam dari basa lemah Analisa kimia kuantitatif yang dilakukan dengan jalan mengukur volume suatu larutan baku yang tepat bereaksi (bereaksi sempurna) dengan larutan yang di analisis disebut dengan analisis volumetri. Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi yang tinggi. Senyawa baku sekunder tidak harus memenuhi persyaratan seperti senyawa primer sehingga harganya murah dan biasa digunakan secara rutin. yaitu larutan baku primer dan larutan baku sekunder. Natrium bikarbonat. Asam kuat . Kalium biodat. stabil pada suhu kara. contoh: asam klorida. Misalnya akan dicari normalitas suatu larutan. Jenis-Jenis Titrasi Asam Basa Titrasi asam basa terbagi menjadi 5 jenis yaitu : 1. yaitu : 1. Syarat-syarat senyawa baku primer : • Rumus molekulnya diketahui dengan pasti • Kemurniannya tinggi (99%) • Stabil. Asam kuat . Natrium tetra borat Untuk basa : Kalium Ftalat asam. Untuk mengetahui tercapainya titik ekivalen dapat diukur dengan pH meter. Oleh . Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan.Basa kuat 4. Basa kuat . natrium hidroksida dll Standarisasi atau pembakuan adalah proses pengecekan larutan baku sekunder dengan larutan baku primer. Titran ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titran dan titrat tepat habis bereaksi). Titik akhir titrasi adalah titik pada saat tercapainya kesetaraan asam dan basa yang bereaksi atau titik pada saat larutan mengalami perubahan warna yang disebabkan oleh penambahan indikator. Larutan baku primer adalah larutan baku yang setelah dibuat dapat langsung dipakai untuk ditambahkan ke dalam larutan yang akan dicari konsentrasinya. Umumnya digunakan untuk melakukan titrasi larutan uji. atau dengan suatu zat petunjuk yang dinamakan dengan indikator pH. tetapi harus di cek kembali konsentrasinya dnegan menambahkan larutan baku primer. kemudian kita mencatat volume titrat yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Asam kuat . Alkalimeteri : pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam. Asam lemah .Titrasi asam basa terbagi menjadi dua. Dalam memilih indikator untuk titrasi asam basa harus disesuaikan dengan pH saat tercapainya titik ekivalen. Asam sulfamat Larutan baku sekunder adalah larutan baku yang setelah dibuat tidak dapat langsung digunakan. Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”.Basa kuat 2. tidak mudah bereaksi dengan komponen-komponen udara. potensiometer. Larutan baku adalah larutan yang konsentrasinya telah diketahui secara pasti. maka ke dalam larutan tersebut ditambahkan larutan baku sehingga terjadi reaksi sempurna antara larutan dengan larutan baku. umumnya digunakan untuk melakukan titrasi larutan uji. maka titik akhir titrasi harus sedekat mungkin dengan titik ekivalen. Titik ekivalen adalah saat banyaknya asam atau basa yang ditambahkan tepat setara secara stokiometri dengan banyaknya basa atau asam yang terdapat dalam larutan yang di analisis (pH pada saat asam dan basa tepat ekivalen). • Mr-nya tinggi agar dapat mengurangi kesalahan penimbangan Bahan baku primer untuk asidi-alkalimetri yang paling banyak digunakan Untuk asam : Natrium karbonat kristal. Asidimetri : pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa 2.Basa lemah 3. Dengan menggunakan data volume titran. misalnya tidak hidroskopis.

Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik ekivalen dan selisihnya dinamakan kesalahan titrasi.Garam dari Asam Lemah Contoh : . Titrasi Basa Kuat .Asam kuat : HCl . Tiitrasi harus memiliki keberulangan dengan perbedaan hasil tidak lebih dari 0.karena itu. Reaksi kimia yang terjadi harus sederhana dan persamaan reaksinya mudah ditulis 3.Garam dari basa lemah : CH3COONH4 Persamaan Reaksi :NaOH + CH3COONH4→ CH3COONa + NH4OH Reaksi ionnya :OH-+ NH4-→ NH4OH Diposkan oleh syinta apriyanti di 21. Pada titrasi jumlah ekivalen asam sama dengan jumlah ekivalen basa. Titik akhir titrasi harus dapat diamati dengan jelas 5. yaitu suatu zat yang dapat berubah warnanya tergantung PH larutan. Titrasi Asam Kuat-Basa Kuat Contoh : -Asam Kuat : HCL -Basa Kuat NaOH Persamaan Reaksi : HCl + NaOH → NaCl + H2O Reaksi ionnya : H+ + OH-→ H2O 2.Basa kuat : NaOH . Titrasi Asam Kuat – Basa lemah Contoh : . Ketepatan dalam memilih indikator dapat memperkecil kesalahan titrasi. Untuk mengamati titik ekivalen ini digunakan indicator asam-basa. Titrasi Asam Kuat .Basa lemah : NH4OH Persamaan Reaksi :HCl + NH4OH → NH4Cl + H2O Reaksi ionnya :H++ NH4OH.Garam dari asam lemah : NH4BO2 Persamaan Reaksi : HCl + NH4BO2→ HBO2+ NH4Cl Reaksi ionnya :H++ BO2-→ HBO2 5.Basa Kuat Contoh : . Titik pada saat tercapainya kesetaraan asam dan basa yang bereaksi dinamakan titik akhir titrasi. Jenis indicator yang dipilih harus tepat.48 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Senin.Asam lemah : CH3COOH .5% 4. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk suatu analisis secara titrasi adalah : 1. yaitu suatu zat yang dapat berubah warnanya tergantung PH larutan.→ H2O + NH4+ 3. sehingga dapat dituliskan sebagai berikut: Ekiuvalen asam = ekivalen basa V asam N asam = V basa N basa Larutan asam dapat ditentukan kadarnya melalui penambahan larutan baku basa yang tepat ekivalen (setara) dengan jumlah asam yang ada. Titrasi Asam Lemah . Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik ekivalen dan selisihnya dinamakan kesalahan titrasi.Garam dari Basa Lemah Contoh : . Ketepatan dalam memilih indikator dapat memperkecil kesalahan titrasi.Basa kuat : NaOH Persamaan Reaksi :CH3COOH + NaOH → NaCH3COO + H2O Reaksi ionnya :H++ OH-→ H2O 4. Jenis indicator yang dipilih harus tepat. harus dipilih indikator yang mengalami perubahan warna di sekitar titik ekivalen. Titik pada saat tercapainya kesetaraan asam dan basa yang bereaksi dinamakan titik akhir titrasi.Asam kuat : HCl . 26 Maret 2012 . Kadar atau konsentrasi larutan baku atau standar harus diketahui dengan tepat Larutan asam dapat ditentukan kadarnya melalui penambahan larutan baku basa yang tepat ekivalen (setara) dengan jumlah asam yang ada. 1. Reaksi harus berlangsung dengan cepat 2. Untuk mengamati titik ekivalen ini digunakan indicator asam-basa.

Semoga bermanfaatt^_^ Diposkan oleh syinta apriyanti di 22. Titrasi biasanya di bedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi. 12 Maret 2012 tata nama senYawa>> Kita mulai aja yahh!! Tau gak senyawa ion itu terdiri atas suatu kation dan anion lohh!! Yuk kita bahas!!!! Kation umumnya adalah suatu ion logam.52 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Senin. Rumus senyawa ion di tentukan oleh perbandingan muatan kation dan anionnya.tapi karena titik equivalen ini sulit di amati maka titrasi di hentikan saat terjadi titik akhir titrasi yang di tandai dengan perubahan warna indikator di dalam larutan sample. Cara membaca volume larutan yang di keluarkan oleh buret adalah dengan melihat miniskus bawah sejajar dengan mata. Titrasi di hentikan saat tercapainya titik equivalen. Contoh nya: .oleh karena itu keduanya di sebut juga sebagai titrasi asam basa.sedangkan alkalimetri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam. sedangkan zat yang telah di ketahui konsentrasinya di sebut sebagai “titer” dan biasanya di letakkan di dalam buret.titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi. Dalam suatu titrasi zat yang akan di tentukan kadarnya di sebut sebagai “titran” dan biasanya di letakan di dalam erlenmeyer.raNgkuman tiTrassii Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah di ketahui konsentrasinya. Sedangkan titrasi asidimetri adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa. Hanya ini yang bisa saya sampaikan. jumlah muatan positif sama dengan jumlah muatan negatif. Rumus senyawa Unsur logam di tulis di depa contohnya natrium klorida di tulis NaCl bukan ClNa kan?? Ini adalah rumus senyawa ion: b Xa+ + a Yb– -> XbYa untuk a dan b sama dengan angka 1 tidak perlu di tulis.perubahan warna menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi.baik titer maupun titrant biasanya berupa larutan. Pada proses titrasi ini di gunakan suatu indikator yaitu suatu zat yang di tambahkan sampai seluruh reaksi selesai yang di nyatakan dengan perubahan warna.. contoh: jika melibatkan asam basa maka di sebut reaksi asam basa. 1. sedangkan anion dapat berupa anion non logam.

Zn2+ 9.• Na+ + Cl– -> NaCl natrium klorida • 2 Na+ + SO42– -> Na2SO4 natrium sulfat • Fe2+ + 2Cl– -> FeCl2 besi(II) klorida • Al3+ + PO43– -> AlPO4 aluminium fosfat • Mg2+ + CO32– -> MgCO3 magnesium karbonat • 3 K+ + AsO43– -> K3AsO4 kalium arsenat Ini adalah daftar beberapa jenis kation: 1. Cl– : Klorida 4. S2– : Sulfida 9. SO42– : Sulfat 16. C2O42– : Oksalat 17. Ba2+ 8. CN– : Sianida 7. maka senyawa-senyawanya di bedakan dengan menuliskan bilangan oksidasinya yang di tulis dalam tanda kurung dengan angka romawi di belakang nama unsur logam tersebut. O2– : Oksida 8. Ag+ 4. Al3+ 11. Fe3+ 17. Fe2+ 16. Pb4+ 15. OH– : Hidroksida 2. SO32– : Sulfit 15. Sn2+ 12. AsO43– : Arsenat 2. Contohnya: • NaCl = natrium klorida • CaCl2 = kalsium klorida • Na2SO4 = natrium sulfat • Al(NO3)3 = aluminium nitrat Jika unsur logam mempunyai lebih dari satu jenis bilangan oksidasi. Cu+ 20. Nama senyawa ion Nama senyawa ion adalah rangkaian nama kation (di depan) dan nama anion (di belakang). NO3– : Nitrat 11. Hg2+ 19. AsO33– : Arsenit 20. Na+ 2. Sn4+ 13. K+ 3. PO43– : Fosfat 19. CH3COO– : Asetat 12. I– : Iodida 6. Contoh : • Cu2O = tembaga(I) oksida • CuO = tembaga(II) oksida • FeCl2 = besi(II) klorida • FeCl3 = besi(III) klorida • Fe2S3 = besi(III) sulfida • SnO = timah(II) oksida • SnO2 = timah(IV) oksida . SiO32– : Silikat 14. Cu2+ : Natrium : Kalium : Argentum/Perak : Magnesium : Kalsium : Stronsium : Barium : Seng : Nikel : Aluminium : Timah(II) : Timah(IV) : Timbal(II) : Timbal(IV) : Besi(II) : Besi(III) : Raksa(I) : Raksa(II) : Tembaga(I) : Tembaga(II) Ini adalah daftar beberapa jenis anion: 1. F– : Fluorida 3. Mg2+ 5. Br– : Bromida 5. PO33– : Fosfit 18. Ca2+ 6. Ni2+ 10. Sr2+ 7. Hg+ 18. Pb2+ 14. CO32– : Karbonat 13. NO2– : Nitrit 10.

Sebagai contoh. dimana reaktan pertama ditambahkan secara kontinu ke dalam reaktan kedua disebut titrasi. jumlah mol dari H3O+ dan OH.. Kita bisa menentukan konsentrasi HCl tersebut melalui suatu prosedur yang disebut titrasi. Dalam analisis larutan asam dan basa. penolftalein tidak berwarna. meskipun ada beberapa hal dimana perbedaan antara kedua hal tersebut dapat diabaikan (Snyder. Pada proses titrasi ini digunakan suatu indikator yaitu suatu zat yang ditambahkan sampai seluruh reaksi selesai yang dinyatakan dengan perubahan warna. 1999 : 217218).Cukup sekian penjelasan dari sayaa. Dalam titrasi. kita dapat menentukan konsentrasi asam (Timberlake. misal asam. titik akhir dan titik ekivalen seharusnya identik. Pertama-tama ditambahkan cukup banyak. Untuk mengamati titik ekivalen. tetapi dalam prakteknya jarang sekali ada orang yang mampu membuat kedua titik tersebut tepat sama. Kemudian. ditambahkan ke asam. DAFTAR PUSTAKA Atkins. suatu larutan yang akan dinetralkan. 3rd Ed. Ini disebut titik akhir netralisasi. New York: W. Larutan basa yang akan diteteskan (titran) dimasukkan ke dalam buret (pipa panjang berskala) dan jumlah yang terpakai dapat diketahui dari tinggi sebelum dan sesudah titrasi. 1997. Terimakasihhh. Pada titik stoikiometri. H. dan dengan hati-hati NaOH ditambahkan ke asam pada flask. kemudian dengan tetesan hingga titik ekivalen. Chemistry Molecules and Canges. Prosedur analitis yang melibatkan titrasi dengan larutan-larutan yang konsentrasinya diketahui disebut analisis volumetri.. Perubahan warna menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi (Brady. pertama-tama kita menempatkan suatu asam yang volumenya telah ditentukan ke dalam suatu flask. terjadi yang untuk mengindikasikan pendekatan yang paling baik ke titik ekivalen. 1997 : 550). Secara ideal. Dia harus mengetahui secara pasti seberapa banyak asam yang terkandung dalam suatu sampel air danau tersebut. dimana kita menetralisasi suatu asam dengan suatu basa yang telah diketahui konsentrasinya. 1999 : 428). Larutan tersebut adalah asam apabila ion asam yang terkandung didalamnya. Didalam beberapa titrasi. akan tetapi perlu kita ketahui juga berapa banyak asam atau basayang terdapat didalam sampel. dan basa apabila ion basa yang terkandung didalamnya (Atkins. Larutan asam yang dititrasi dimasukkan kedalam gelas kimia (erlenmeyer) dengan mengukur volumenya terlebih dahulu denga memekai pipet gondok. Pada titik tersebut.atau H3O+ yang terdapat dalam analit. Contoh yang akan dianalisis dirujuk sebagai (tak diketahui. seorang ahli kimia lingkungan mempelajari suatu danau dimana ikan-ikannya mati. titik ekivalen adalah titik selama proses titrasi dimana tepatnya titrat telah cukup ditambahkan untuk bereaksi dengan titree. Semoga bermanfaat^_^ Asidimetri & Alkalimetri May 2. Pada titrasi. Kemudian larutan lainnya (misal basa) yang terdapat didalam buret.yang ditambahkan sebagai titrant adlah sama dengan jumlah mol dari OH. dipakai indikator yang warnanya disekitar titik ekivalen. yaitu dimana keduanya tidak ada yang berlebihan. Peter and Jones Lorette. ditempatkan di dalam flask bersamaan dengan beberapa tetes indikator asam basa. Berhasilnya titrasi asam-basa tergantung pada seberapa akurat kita dapat mendeteksi titik stoikiometri. 2009 at 8:31 am (Landasan Teori) ANALISIS KUANTITATIF : ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang diketahui dan diperlukan untuk bereaksi secara lengkap dengan sejumlah contoh tertentu yang akan di analisis. . kedalam larutan asam. larutan terdiri dari garam dan air. Dan tambahkan beberapa tetes indikator seperti penolftalein. 1998: 422-423). unknown). Dala titrasi yang diamati adalah titik akhir bukan titik ekivalen (syukri. buret kita isi dengan larutan NaOH yang konsentrasinya telah diketahui. Titik pada titrasi dimana indikator warnanya berubah disebut titik akhir (Petrucci. volume-volume suatu asam dan suatu basa yang tepat saling menetralkan (Keenan. Suatu proses didalam laboratorium untuk mengukur jumlah suatu reaktan yang bereaksi sempurna dengan sejumlah reaktan lainnya. 1997 : 636). Dari volume yang ditambahkan dan molar NaOH. Misalkan kita ingin menentukan molaritas dari suatu larutan HCl yang tidak diketahui konsentrasinya. Titik ekivalen terjadi pada saat terjadinya perubahan warna indikator. Freeman and Company. dalam stoikiometri titrasi. Titrasi melibatkan suatu proses penambahan suatu larutan yang disebut tirant dari buret ke suatu flask yang berisi sampel dan disebut analit. Salah satu masalah tekhnis dalam titrasi adalah titik dimana suatu perubahan dapat diamati. 1996 : 597-599). Reaktan yang ditambahkan tadi disebut sebagai titrant dan reaktan yang ditambahkan titrant kedalamnya disebut titree. Kita bisa mengetahui bahwa netralisasi telah berlangsung ketika penolftalein dalam larutan berubah warna menjadi merah muda. titik ekivalen dari reaksi netralisasi adalah titik pada reaksi dimana asam dan basa keduanya setara. Kadang-kadang kita perlu mengetahui tidak hanya atau sekedar pH. 2004 : 354-355). titrasi melibatkan pengukuran yang seksama.. Dalam larutan asam. Seperti yang telah diketahui sebelumnya.

Brady. Harwood. kedokteran dan pertanian. . Petrucci. San Fransisco: Pearson Benjamin Cummings. Asidi-alkalimetri berperan penting dalam berbagai bidang kehidupan. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion OH-sebagai ion negatif. Kimia Universutas Asas dan Struktur. Milton K. Snyder.2 Tujuan percobaan Mengetahui konsentrasi NaOH standar Mengetahui kadar CH3COOH perdagangan Mengetahui volume titran (NaOH) yang digunakan untuk menetralkan CH3COOH 1. James E. untuk lebih memahami konsep peniteran asidi – alkalimetri dan mengetahui konsentrasi standar dari zat yang dianalisa maka perlu dilakukan peniteran dengan menggunakan suatu standar primer. Rinehart And winston. misalnya larutan asam oksalat. New York: Holt. General. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai ion positif. Jakarta: Erlangga. Bandung ITB. Pereaksi atau larutan yang selalu dijumpai di laboratorium dimana pembakuannya dapat ditetapkan berdasarkan pada prinsip netralisasi asam – basa (melalui asidi – alkalimetri) diantaranya adalah HCl. Sedangkan untuk titrasi atau pengukuran lain-lain sering juga dipakai akhiran –ometri menggantikan –imetri. Pengertian asidimetri dan alkalimetri secara umum ialah titrasi yang menyangkut asam dan basa. 1. Asam dan basa tersebut memiliki sifat-sifat yang menyebabkan konsentrasi larutannya sukar bahkan tidak mungkin dipastikan langsung dari proses hasil pembuatan atau pengencerannya. dkk. seperti biologi. Inc. Organic and Biological Chemistry Structure Of Life. Syukri. 1998. Kimia untuk Universitas. 1999. Sedangkan basa secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. Kimia Dasar 2. Kata metri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu atau proses atau seni mengukur. 2004. 1999. Timberlake. Karen C. New Jersey: Prentice Hall. 1997.1 Latar Belakang Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. Chemistry Structure and Reaction. Kesetimbangan asam basa merupakan suatu topik yang sangat penting dalam kimia dan bidang-bidang lain yang mempergunakan kimia. Oleh karena itu. H2SO4. 1996. Ralph H and Willias S. C. Larutan ini disebut larutan standar sekunder yang konsentrasinya ditentukan melalui pembakuan dengan suatu standar primer. Jakarta: Binarupa Aksara Keenan. KOH dan sebagainya. NaOH. General Chemistry.3 Prinsip percobaan Menentukan kadar atau konsentrasi suatu larutan dengan menggunakan larutan yang konsentrasinya diketahui dengan cara mentitrasi suatu zat yang konsentrasinya tidak diketahui dengan zat lain yang konsentrasinya diketahui sehingga jumlah mol kedua zat sama antara satu dengan lainnya. W. Laporan Kimia Dasar II Asidi Alkalimetri BAB 1 PENDAHULUAN 1. Titrasi yang menyangkut asam dan basa sering disebut asidimetri – alkalimetri.

baik dengan ion hidrogen maupun ion hidroksil). Proses-proses semacam ini disebut netralisasi. secara paling sederhana dapat didefinisikan sebagai zat. sedangkan larutan yang ditambah titran itu disebut titrat. persamaan ini dapat disederhanakan menjadi Yang menunjukkan bahwa hakekat suatu reaksi asam-basa (dalam larutan air) adalah pembentukan air. yang berdisosiasi menjadi ion amonium dan ion hidroksida : Namun lebih tepat untuk menulis reaksi itu sebagai Karena itu. Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat. D.9 KJ) untuk reaksi suatu mol setiap asam kuat dan basa kuat yang sembarang. Jika persamaan reaksi dinyatakan sebagai interaksi molekul-molekul. Sedangkan air. serta pula garam hampir sempurna berdisosiasi dalam larutan. garam adalah hasil reaksi antara asam dan basa. ion Na+ dan Cl. bahwa jika sejumlah asam dan basa murni ekuivalen dicampur. basa dan garam. dan sama halnya dengan asam.I.Sc. volume/berat titran dapat diukur dengan teliti dan bila konsentrasi . merupakan suatu basa lemah. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. amonia membentuk amonium hidroksida. Ph. Definisi ini adalah benar. F. 1985) Bila suatu asam dan suatu basa yang masing-masing dalam kuantitas yang ekuivalen secara kimiawi. Ini ditunjukkan oleh fakta. sedang basa lemah merupakan elektrolit lemah. Pembentukan garam seakan-akan merupakan hasil dari suatu proses kimia sejati.R. Karena itu. sampai jumlah zat-zat yang direaksikan tepat menjadi akivalen satu sama lain.C. aluminium hidroksida bereaksi dengan asam kuat. dan terbentuk ion-ion hidronium : H+ + H2O → H3O+ Basa.tampil pada kedua sisi. Tetapi ini sebenarnya tidak tepat. hampir-hampir tak berdisosiasi sama sekali. seperti natrium hidroksida atau kalium hidroksida hampir sempurna berdisosiasi dalam larutan air yang encer : Karena itu basa-basa ini adalah basa kuat. Menurut definisi yang kuno. Larutan ini akan benar-benar netral jika asam dan basa itu sama kuat . Dalam reaksi ini aluminium hidroksida berperilaku sebagai asam. Di lain pihak larutan air amonia. dan larutannya diuapkan. Reaksi dijalankan dengan titrasi. Karena dengan demikian tak ada terjadi apa-apa dengan ion-ion ini. Pada saat titran yang ditambahkan tampak telah ekivalen. Dengan jalan ini. (Kleinfetter. bahwa panas netralisasi adalah kurang lebih sama (56. Konsentrasi suatu larutan asam atau basa yang anu (unknown) dapat ditentukan dengan titrasi dengan larutan yang konsentrasinya diketahui. Larutan yang ditambahkan dari buret disebut titran. Setiap proton bergabung dengan satu molekul air dengan cara berkoordinasi dengan sepasang elektron bebas yang terdapat pada oksigen dari air. aluminium hidroksida juga bisa dilarutkan dalam natrium hidroksida : Pada mana ion tetrahidroksoaluminat terbentuk. maka penambahan titran harus dihentikan. yang bila dilarutkan dalam air. Hidroksida-hidroksida logam yang larut. adalah mungkin untuk menyatakan kekuatan basa secara kuantitatif. basa kuat merupakan elektrolit kuat. lebih tepat untuk menyatakan reaksi netralisasi sebagai penggabungan ion-ion secara kimia : Dalam persamaan ini. mampu melangsungkan reaksi netralisasi baik dengan asam maupun basa (lebih tepatnya. Tetapi tak ada pembagian yang tajam antara golongan-golongan ini. yang tak mempunyai ciri-ciri khas suatu asam maupun basa. yang tersusun dalam pola yang teratur dalam kisi kristalnya. Kita tahu bahwa baik asam (kuat) maupun basa (kuat). Zat-zat amfoter. (G. saat ini dinamakan titik akhir titrasi. Garam adalah wujud padat dibangun oleh ion-ion. dalam artian. yang juga terbentuk dalam proses ini. Shevla. suatu zat kristalin tertinggal. kalau tidak.D. Sebenarnya ion hidrogen (proton) tak ada dalam larutan air. Misalnya. akan diperoleh larutan asam lemah atau basa lemah.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. yang bila dilarutkan dalam air. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion-ion hidroksil sebagai satu-satunya ion negatif. 1987) Volumetri adalah cara analisis jumlah berdasarkan pengukuran volume larutan pereaksi berkepekatan tertentu yang direaksikan dengan larutan contoh yang sedang ditetapkan kadarnya. pada mana ia melarut dan ion aluminium terbentuk : Dalam reaksi ini aluminium hidroksida bertindak sebagai basa. Di lain pihak. Teknik semacam itu disebut analisis volumetri. yang menghasilkan suatu larutan garam dalam air. yaitu suatu larutan ditambahkan dari buret sedikit demi sedikit. dicampur akan dihasilkan suatu reaksi penetralan. atau amfolit. Zat-zat ini dinamakan garam oleh ahli-ahli kimia zaman dulu. Bila dilarutkan dalam air.

atau sangat dekat pada titik ekivalen yang sering digunakan. atau sangat mendekatinya. maka : 1. - - Untuk memenuhi pernyataan (1). Reaksi-reaksi yang terjadi dalam titrasi ini ialah : asam dengan basa (reaksi penetralan). tetapi dalam lingkungan basa warnanya biru. yakni sebelum ditambah basa dan pada waktu-waktu tertentu setelah titrasi dimulai. 1987) Salah satu macam titrasi adalah titrasi asidimetri-alkalimetri. (Harjadi. bahwa asam dan basa disini tidak berarti pH kurang atau lebih dari tujuh. kita peroleh grafik yang disebut kurva titrasi. Akan tetapi harus dimengerti. Misalnya bila larutan asam dititrasi dengan basa. adalah sebagai berikut : tak berwarna PP dalam bentuk asam (HIn) merah basa konjugat PP dalam bentuk basa (In-) . sering disingkat PP. Indikator yang memberikan perubahan warna. Peniteran sebaliknya. (Harjadi. 3. tidak ada kelebihan yang satu maupun yang lain. agar kuantitatif. asam dengan garam (reaksi pembentukan asam lemah). tak berwarna dalam bentuk Hin-nya dan berwarna pink dalam bentuk In. Bila kita mengukur berapa mL larutan bertitar tertentu yang diperlukan untuk menetralkan larutan basa yang kadar atau titernya belum diketahui. Konsentrasi titran harus diketahui. atau basa. bahwa pereaksi dan zat yang direaksikan telah sama banyak. Perhatikanlah sekali lagi arti ungkapan ”pereaksi telah ekivalen”. maka jumlah mol titrat dapat diketahui pula berdasar persamaan reaksi dan koefisiennya. (Hardjono Sastrohamidjojo. Karena jumlah titrat ekivalen dengan jumlah titran. Gambar yang diperoleh tersebut disebut kurva pH. asam dengan basa yang titernya diketahui disebut alkalimetri. yaitu titrasi yang menyangkut asam dan/atau basa. maka pekerjaan itu disebut asidimetri. Warna dalam keadaan asam dinamakan warna asam dari indikator (kuning untuk bb). Indikator Asam Basa – Indikator asam basa ialah zat yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. Asam berarti pH lebih rendah dan basa berarti pH lebih besar dari trayek indikator atau trayek perubahan warna yang bersangkutan. Titik stoikhiometri atau ekivalen harus diketahui. basa harus kuat dan garam harus terbentuk dari basa lemah sekali. Perubahan warna itu harus terjadi dengan mendadak. asam harus kuat dan garam itu harus terbentuk dari asam lemah sekali. atau kurva titrasi. trayek indikator tersebut harus memotong bagian yang sangat curam dari kurva. Titik pada saat indikator berubah warna disebut titik akhir. agar kuantitatif. Bila suatu indikator pH kita pergunakan untuk menunjukkan titik akhir titrasi. 1987) Berikut syarat-syarat yang diperlukan agar titrasi yang dilakukan berhasil : 1. 4. sedang warna yang ditunjukkan dalam keadaan basa disebut warna basa. basa dengan garam. Indikator harus berubah warna tepat pada saat titran menjadi ekivalen dengan titrat agar tidak terjadi kesalahan titrasi. 2005) Proses titrasi asam – basa sering dipantau dengan penggambaran pH larutan yang dianalisis sebagai fungsi jumlah titran yang ditambahkan. maka kalau pH dialurkan lawan volume titran.- juga diketahui. Volume titran yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalen harus diketahui setepat mungkin. maka asam dan/atau basa yang bersangkutan harus kuat. Dalam titrasi ini perubahan terpenting yang mendasari penentuan titik akhir dan cara perhitungan ialah perubahan pH titrat. 2. Struktur Fenolftalein. maka pH larutan mula-mula rendah dan selama titrasi terus menerus naik. Mereka memberikan satu warna berbeda bila proton lepas. Larutan seperti ini disebut larutan standar. 2005) Contoh : Fenolftalein. KURVA TITRASI – Larutan yang dititrasi dalam asidimetri-alkalimetri mengalami perubahan pH. (Khopkar. dalam larutan asam ia berwarna kuning. Ini tidak selalu berarti. jadi berdasar pembentukan basa lemah tersebut. Reaksi yang tepat antara titran dan senyawa yang dianalisis harus diketahui. Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna pada range pH yang berbeda. yang berarti: telah tepat banyaknya untuk menghabiskan zat yang direaksikan. indikator yang lazim dipakai. sebab jumlah yang bereaksi ditentukan oleh persamaan reaksi. Bila pH ini diukur dengan pengukur pH (pH-meter) pada awal titrasi. Titran dan titrat tepat saling menghabiskan. Misalnya biru bromtimol (bb). maka trayek indikator harus mencakup pH larutan pada titik ekivalen. agar kuantitatif. untuk memenuhi pernyataan (2). Tujuan : memilih indikator yang memiliki titik akhir bertepatan dengan titik stoikhiometri. (Hardjono Sastrohamidjojo. 2. baik volume maupun jumlah gram atau mol-nya. maka jumlah mol titran dapat dihitung. Hal ini jelas. 2003) Kebanyakan indikator asam basa adalah molekul kompleks yang bersifat asam lemah dan sering disingkat dengan HIn. agar tidak ada keragu-raguan tentang kapan titrasi harus dihentikan. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron.

2 Bahan-bahan Asam cuka perdagangan NaOH 0. erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 2 tetes 3. Dititrasi dengan larutan asam oksalat 0.1 Asidimetri Dituang asam oksalat 0.3.1 Asidimetri No. Perlakuan 1.1 N Asam oksalat dihidrat Indikator PP 3.1.1 N hingga terjadi perubahan warna Dicatat volume oksalat yang diperlukan Dihitung konsentrasi NaOH 3.BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN 3.3.1 Alat-alat Buret Pipet volume 10 ml Labu ukur 100 ml Pipet tetes Erlenmeyer 100 ml 3.1 N kedalam buret Dipipet 10 ml NaOH lalu dituangkan kedalam erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 2 tetes Dititrasi dengan larutan asam oksalat 0.1 N hingga - Pengamatan warna titrat menjadi merah lembayung .1 Hasil Pengamatan 4.3 Prosedur Percobaan 3. Dituang asam oksalat 0.1 N kedalam buret Dipipet 10 ml NaOH lalu dituangkan kedalam 2.2 Alkalimetri Dituang larutan NaOH yang telah distandarisas kedalam buret Dipipet 10 ml cuka perdagangan lalu diencerkan hingga 100 ml Dipipet 10 ml cuka yang telah diencerkan lalu dimasukkan kedalam erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 3 tetes Dititrasi dengan NaOH hingga terjadi perubahan warna Dicatat volume NaOH yang digunakan Dihitung kadar cuka perdagangan - - BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.

Dicatat volume NaOH yang digunakan Dihitung kadar cuka perdagangan . Dititrasi dengan NaOH hingga terjadi perubahan .1 ml .2 Reaksi .6 ml 6. Perlakuan Pengamatan 1. 6.25 ml 5.0625 N 4. V2 = 6. Dipipet 10 ml cuka perdagangan lalu diencerkan hingga 100 ml 3.Vrata-rata = 6.V = 13.V1 = 6. N NaOH = = 0.4.perubahan warna dari bening menjadi merah lembayung 5. Dipipet 10 ml cuka yang teah diencerkan lalu dimasukkan kedalam erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 3 tetes 4.2 Alkalimetri No. Dituang larutan NaOH yang telah distandarisasi kedalam buret 2.1.perubahan warna dari merah lembayung menjadi tidak berwarna . C= = = 51 gr/mL 4. 7.4 ml . terjadi perubahan warna Dicatat volume asam oksalat yang diperlukan Dihitung konsentrasi NaOH .Larutan tetap berwarna bening warna .

4 Pembahasan Titrasi asam basa sering disebut asidimetri-alkalimetri. Reaksi dasar dalam titrasi asam-basa adalah netralisasi atau penetralan.4 ml V2 = 6. Hendaknya diusahakan agar titik akhir ini sedekat mungkin pada titik ekivalen yaitu. Dalam titrasi sampel direaksikan dengan suatu pereaksi sehingga jumlah kedua zat tersebut ekivalen.3 Perhitungan 4.→ H2O Bila kita mengukur berapa ml larutan asam bertitar tertentu yang diperlukan untuk menetralkan larutan basa yang kadar atau titernya belum diketahui.3.3. 3. Larutan standar dibagi menjadi dua yaitu.1 ml V rata-rata = N NaOH = = 0. 5. 4. maka volume dan konsentrasinya harus diketahui dengan tepat. Larutan standar primer adalah larutan yang kadarnya dapat diketahui secara langsung dari hasil penimbangan.4. Syarat-syarat larutan standar primer adalah : 1. titik dimana indikator tepat berubah warna. Contohnya K2Cr2O7 dan Na2B4O7. Bila pereaksi digunakan dalam bentuk larutan. tidak ada kelebihan yang satu maupun yang lain. Larutan yang diketahui konsentrasinya disebut larutan baku atau larutan standar. setidak-tidaknya selama ditimbang Sedapat mungkin mempunyai berat ekivalen tinggi untuk mengurangi kesalahan penimbangan Dalam titrasi akan bereaksi menurut syarat-syarat reaksi titrasi Mempunyai rumus molekul yang pasti Larutan standar sekunder adalah larutan yang konsentrasinya ditentukan dengan cara pembakuan. Contohnya NaOH dan HCl. maka beratnya harus diketahui dengan tepat. asam dengan basa yang titernya diketahui disebut alkalimetri.6 ml C= = = 51 gr/mL 4. senyawaan yang digunakan sebagai penunjuk visiual pada saat tercapainya titik setara titrasi antara dua larutan tertentu.2 Kadar CH3COOH perdagangan V = 13. yaitu reaksi asam dan basa.0625 N 4. Dalam asidi-alkalimetri indikator yang digunakan adalah indikator pH yaitu zat . larutan peniter diteteskan sedikit demi sedikit kedalam larutan contoh sampai tercapai titik akhir titrasi yaitu. Pelaksanaan penentuan kadar zat dengan jalan titrasi yaitu. Peniteran sebaliknya.1 Konsentrasi NaOH V1 = 6. Bila pereaksi digunakan dalam bentuk padat. Stabil dalam keadaan biasa. yang dapat dinyatakan dalam persamaan reaksi seperti berikut : H+ + OH. maka pekerjaan itu disebut asidimetri. Dalam penentuan titik akhir titrasi digunakan indikator yaitu. Sangat murni atau mudah dimurnikan 2. larutan standar primer dan larutan standar sekunder. titik dimana titran dan titrat tepat saling menghabiskan.

0 7.10.1 .2 .4 . perubahan ini menjadi HIn hingga titik akhir warna tidak terlihat.3 5.8.5 Trayek pH .6 8.0 . menyebabkan [H+] berkurang dan keseimbangan bergeser ke kanan.4.8 2.0 3.0. Sehingga warna larutan berubah menjadi merah lembayung yang disebut warna basa indikator.1 ml.2.6 ml.8 .0 7.2 5. Dari perhitungan didapatkan kadar CH3COOH sebesar 51 gr/mL. Hal ini dikarenakan penambahan [H+] sehingga [OH] berkurang dan keseimbangan bergeser ke kiri. Dalam bidang farmasi asidi alkalimetri digunakan untuk menentukan gugus obat sulfa. Indikator yang digunakan adalah indikator PP. Warna No.9.1 .4.0625 N.6. Sebenarnya telah terjadi reaksi antara indikator dan asam atau basa yang bersangkutan.5 .8.α . Misalnya dalam bidang kesehatan basa (Mg(OH) 2) digunakan sebagai antasida untuk menetralkan asam lambung (HCl).05 ml.6-Dintrofenol Kuning metil Jingga metil Hijau bromkresol Merah metil Lakmus Purpus bromkresol Biru bromtimol Merah fenol p.2 .4 . Setelah didapat titik akhir pada volume NaOH 13.0 9.4 3.0 .8 .8 1.0 .1 .6 6.6. Setelah didapat titik akhir pada volume asam oksalat 6.7.8. Dari 100 ml larutan asam cuka yang telah diencerkan dipipet 10 ml dan ditambahkan 2 tetes indikator PP.10.3 4. Larutan asam cuka yang ditambahkan indikator PP tidak mengalami perubahan warna. Indikator PP ditambahkan 2 tetes pada larutan NaOH 10 ml. Pada saat titik akhir telah tercapai warna larutan berubah menjadi merah lembayung dikarenakan penambahan [OH-]. Dikarenakan trayek pH indikator PP mencakup pH titik ekivalen antara asam lemah dengan basa kuat.2 .2 . perubahan HIn menjadi In -.0 2.0 9. Sebanyak 10 ml asam cuka diencerkan didalam labu ukur hingga 100 ml. Nama Asam 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Asam pikurat Biru Timol 2.4. lalu titrat dititrasi dengan titran hingga mencapai titik akhir ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi tidak berwarna.6. indikator PP sangat tepat digunakan untuk penunjuk titrasi asam lemah dengan basa kuat.3 . Dalam kehidupan sehari-hari asidi alkalimetri memiliki peranan penting. Pada peniteran asidimetri pada percobaan yang dilakukan adalah penetapan kenormalan NaOH dengan menggunakan asam oksalat sebagai larutan standar primer yang berfungsi sebagai titran. Dari perhitungan didapatkan konsentrasi NaOH sebesar 0.3 .8 6. Alat yang digunakan harus bersih dan kering agar tidak terjadi kontaminasi dengan zat-zat sisa yang tertinggal pada alat-alat yang digunakan.10.0 .10. ini berarti jumlah titrat telah ekivalen dengan jumlah titran. Setelah ditambah indikator. Pengerjaan titrasi dilakukan secara duplo untuk lebih meyakinkan bahwa titik akhir sudah tercapai dan hasil dari dua kali titrasi hendaknya jangan berbeda lebih dari 0. Beberapa penunjuk yang biasa digunakan untuk titrasi asam-basa: Warna Larutan Penunjuk Trayek pH Asam Sindur Metil Lakmus Merah netral ( SM ) (L) ( MN ) Merah Merah Merah Merah Tak berwarna Tak berwarna Basa Sindur Kuning Biru Kuning Merah lembayung Biru 3.8.yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. Oleh karena itu.9.0 6. maka dapat dihitung kadar CH3COOH perdagangan. Jadi ketika indikator tepat berubah warna atau titik akhir titrasi telah tercapai.5.Naftolflatein Purpus kresol Fenolftalein Timolftalein tidak berwarna merah tidak berwarna merah merah kuning merah merah kuning kuning kuning kuning kuning tidak berwarna tidak berwarna Basa kuning kuning kuning kuning jingga biru kuning biru purpur biru merah biru biru merah biru 0. Perubahan warna menjadi merah lembayung dikarenakan indikator bereaksi dengan basa (NaOH).5 Merah Metil ( MM ) Phenolphthalein ( PP ) Thymolphthalein ( TP ) - Pada percobaan titrasi antara NaOH dan CH3COOH yaitu titrasi asam lemah dengan basa kuat digunakan indikator PP. maka dapat dihitung kenormalan NaOH standar yang dapat digunakan untuk menetapkan kadar asam yang akan ditetapkan kadarnya.4 4. Pada peniteran alkalimetri pada percobaan ini yang akan ditetapkan kadarnya adalah asam cuka perdagangan.2 . Kesalahan praktikan pada pembacaan miniskus buret.4. Pada saat melakukan titrasi banyak kemungkinan faktor kesalahan yang terjadi diantaranya : Kebersihan alat-alat yang digunakan. menyebabkab warna larutan NaOH berwarna merah lembayung.0 8.9 .4 4.2 . Lalu asam cuka dititrasi dengan larutan NaOH yang telah distandarisasi. Kelebihan titran sehingga volume titik akhir melebihi yang seharusnya.4 ml dan 6.

1 N Mahasiswa dapat melakukan standarisasi cuplikan (sampel) DASAR TEORI Asidimetri : Analisis (volumetri) yang menggunakan asam sebagai larutan asam sebagai larutan Standart.Analisis berdasarkan Volumetri.0 . Pada saat ini larutan bersifat netral. hanya penggabungan ion-ion saja. BAB 5 PENUTUP 5. Sedang larutan yang akan ditentukan normalitasnya disebut larutan yang dititrasi. Secara garis besar. 2.00.0 12.0625 N Kadar asam asetat perdagangan yang dipakai dalam percobaan adalah 51 gr/mL Volume NaOH terpakai pada peniteran CH3COOH sebanyak 13. Titik akhir titrasi ini dapat dilihat denga adanya perubahan warna yang terdapat dalam larutan yang dititrasi.1 Kesimpulan Konsentrasi NaOH standar yang digunakan dalam percobaan adalah 0.1 N Mahasiswa dapat melakukan standarisasi larutan NaOH 0. Proses penambahan larutan standart ke dalam larutan yang akan ditentukan normalitasnya sampai terjadi reaksi yang sempurna disebut Titrasi. setiap basa yang diteteskan bereaksi dengan asam dan peniteran dihentikan pada saat jumlah mol H+ setara dengan jumlah mol OH-.14. Indikator yang tepat untuk titik akhir titrasi ini salah satunya adalah fenolftalein yang memiliki trayek pH 8. Alkalimetri : Analisis (volumetri) yang menggunakan alkali (basa) sebagai larutan asam sebagai larutan standart.1 N Mahasiswa dapat membuat larutan NaOH 0.3. larutan standart ini tiap liternya mengandung sejumlah gram ekivalen tertentu. Perubahan warna dalam larutan ini akan lebih jelas bila dalam proses titrasi ditambahkan sedikit indicator.1 N Mahasiswa dapat melakukan standarisasi larutan HCl 0.2 Saran Dalam melakukan percobaan dapat digunakan asam kuat-basa kuat atau asam kuat-basa lemah agar praktikan lebih dapat memahami titrasi asam-basa dan dapat digunakan indikator yang berbeda. Reaksi dalam analisis volumetri terbagi menjadi : Reaksi-reaksi yang tidaj menimbulkan / mengakibatkan terjadinya perubahan valensi. analisis kuantitatif terbagi menjadi : 1. .Analisis berdasarkan Gravimetri.2 – 10. Analisis anorganik secara kuantitatif yaitu proses atau operasi analisis hanya digunakan untuk mengetahui atau mengidentifikasi penyusun-penyusun dari suatu zat dan pengembang-pengembang metoda-metoda pemisahan masingmasing penyusun yang terdapat dalam suatu campuran.46. pH nya pada titik ekivalen > 7 karena kebasaan konjugat asam lemah CH3COO-.12.5. Banyaknya zat yang akan ditentukan konsentrasinya dapat dihitung dari banyaknya volume standart dengan hukum ekivalen biasa. LAporan ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI Posted by For Indonesiaku 15. Analisis secara Volumetri adalah analisis kimia kuantitatif utuk menentukan banyaknya volume suatu larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan teliti yang bereaksi secara kuantitatif dengan larutan/zat yang akan kita tentukan konsentrasinya.Trinitrobenzen kuning tidak berwarna violet jingga 10. Pada peniteran asam lemah-basa kuat.6 ml - 5.0 Pada peniteran asam dan basa.16 17 Kuning alizarin R 1. Saat dimana terjadi reaksi yang sempurna tercapai disebut saat Titik Ekivalen atau titik Stoikiometri biasanya titik akhir titrasi disebut juga titik akhir teoritis.1 . Analisis anorganik secara kuantitatif yaitu proses analisis untuk menentukan atau mengidentifikasi banyaknya atau perbandingan banyaknya tiap-tiap penyusun yang terdapat suatu zat atau persenyawaan. under | 1 comment ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI TUJUAN Mahasiswa dapat membuat larutan HCl 0. Larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan teliti disebut Larutan Standart. atau [H+] = [OH-] = 107.

Penentuan normaitas larutan NaOH 0. Erlenmeyer Corong 11. X : Banyaknya HCl yang diambil ( ml ) N : Normalitas larutan HCl yang dibuat ( 0. kemudian ditambah dengan aquadest.Reaksi-reaksi yang tidaj menimbulkan / mengakibatkan terjadinya perubahan valensi. Indikator PP ditambahkan sebanyak 3 tetes. misalnya pada reaksi Oksidasi dan Reduksi. Pipet gondok Sendok sungu 8. Pipit ukur Gelas arloji 9. NaOH tersebut dimasukkan ke dalam labu takar 250 ml.membentuk molekul air. Ditentukan Normalitas asam tersebut.4 ) K : Kadar asam HCl ( %= 35-36 ) 4.5 ) n : Valensi asam ( HCl = 1 ) L : Berat jenis asam ( HCL = 1.1 N (yang akan dicari normalitasnya).1 N Larutan natrium Borat 0. Dititrasi dengan larutan NaOH 0.1 N ) V : Volume asamyang dibutuhkan ( 100 ml ) M : Berat molekul asam ( HCl = 36. HCl pekat dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL. kemudian ditandabataskan. Dalam perhitungan selanjutnya kita gunakan persamaan antara volume dan konsentrasi masing-masing zat yang dititrasi dengan zat penetrasinya dan berlaku rumus sebagai berikut : V1 x N1 = V2 x N2 Dimana. Proses titrasi Asidimetri dan Alkalimetri merupakan salah satu proses titrasi netralisasi.1 N dibuat sebanyak 100 ml (sesuai perhitungan).Dalam proses ini yang terjadi adalah penggabungan antara ion-ion H+dengan ion-ion OH. Membuat larutan HCl 0. Disimpan di dalam botol dan ditutup rapat-rapa.632 gram. Penentuan Normalitas HCl 0. Larutan HCl (yang dibuat) diambil sebanyak 25 ml dan ditambahkan 3 tetes indikator MO. Sedang alkalimetri adalah suatu proses titrasi larutan-larutan asam bebas atau larutan-larutan garam yang berasal dari asam lemah dengan larutan standar basa.1 N NaOH sebanyak 1. Dititrasi ulang 2-3 kali.83 mL. ALAT DAN BAHAN ALAT : Buret 7. kemudian ditandabataskan.1 N HCl pekat dianbil sebanyak 0. Dititrasi dengan larutan NaOH standart. Ditentukan normalitas sampel tersebut. Penentuan larutan sampel Sebanyak 25 mL sampel yang sudah disediakan dimasukkan kedalam Erlenmeyer. .1 N dengan Asam Oksalat. Dilarutkan dengan air murni dalam labu takar 100 ml. kemudian ditandabataskan. 2. Neraca timbang BAHAN : NaOH Kristal 5. Larutan HCl tersebut dititrasi dengan Natrium Borat yang dibuat. Indikator MO dan PP H2SO4 pekat 7. Membuat larutan NaOH 0. Cara menghitung (X) ml HCl sebagai berikut: x=(N x V x M)/(10n x K x L) Dimana . Gelas beker Pipet tetes 12.3-1. Sebanyak 25 ml larutan asam oksalat tersebut dimasukkan dalam Erlenmeyer dan ditambahkan 3 tetes indicator PP. Dititrasi ulang 2-3 kali. Kristal asam oksalat (H2C2O4 )ditimbang sebanyak 0. Asidimetri suatu titrasi terhadap larutanlarutan basa bebas atau garam yang berasal dari basa lemah dengan larutan standart asam. Titrasi diulang sampai 3 kali. Natrium Borat kristal HCl pekat 6. Larutan dikocok sampai homogen.091 ditimbang dengan gelas arloji (sesuai dengan perhitungan). Bulbpet Labu takar 10. V1 : Volume zat penetrasi/standar (ml) N1 : Normalitas zat penetrasi/standar (gram ekivalen/liter) V2 : Volume zat yang dititrasi/dicari N nya (ml) N2 : Normalitas zat yang dititrasi/dicari N nya (gram ekivalen/liter) Sedangkan reaksi-reaksi yang melibatkan proses oksidasi dan reduksi akan dibahas tersendiri dalam praktikum yang menggunakan zat kimia bersifat oksidator/reduktor seperti Iodometri dan Iodimetri. Aquadest Asam oksalat CARA KERJA 1.

5 g/mol BD HCl pekat : 1.19 gr/ml Prosen HCl pekat : 37 % Volume pengenceran : 100 ml ҉ Standarisasi larutan HCl dengan larutan Na2B4O7 Massa Borat : 1.1003 N ₰ Volume NaOH V rata NaOH=( 24 +23.07 gram/mol Volume pengenceran : 100 ml NO.903 gram BM Borat : 381. ₰ Normalitas asam oksalat Massa asam oksalat = 0. 25 ml PP 3 tetes 23. Volume HCl/Sampel Indikator Volume NaOH Perubahan warna Merah muda1. 25 ml 30.87 ml) = 0. N C2H2O4.632 gram)/(126.H2O=(M C2H2O4.105 N Ѽ Pembuatan larutan HCl 0.6 ml Jernih Merah muda3.1 N Volume HCl yang harus diambil : ± 0.1 N Volume diambil HCl : 0.83 ml BM HCl pekat : 36. 25 ml 30.4 ml MO 3 tetes Kuning Orange2.6 + 24 )ml/3 = 23.83 ml ( diencerkan menjadi 100 ml) Ѽ Penentuan massa Natrium Borat yang diambil .1003))/(23.5 g/mol BD HCl pekat : 1.H2O) x 1000/(V (ml)) N C2H2O4.6 ml Jernih merah muda3.5))/(10(1)x (37)x (1.4 ml Jernih Merah muda2.83 ml BM HCl pekat : 36.0 g/mol Berat NaOH : ± 1.37 g/mol Volume pengenceran : 100 ml NO.091 gram Volume NaOH : 250 ml ҉ Standarisasi Normalitas lautan NaOH dengan garam asam oksalat ( H2C2O4 ) Massa oksalat : 0.1 N)x (100)x (36.DATA PENGAMATAN ҉ Pembuatan NaOH 0. Volume Oksalat Indikator Volume NaOH Perubahan warna merah muda1. 25 ml PP 3 tetes 18.1 N BM NaOH : 40. 25 ml PP 3 tetes 18.07 gr/mol Volume asam oksalat = 100 ml Maka.1 N dengan asam oksalat.047 gram N NaOH=(Massa NaOH)/(BE NaOH) x 1000/(V (ml)) Massa NaOH = N NaOH x BE NaOH x V (ml) : 1000 =(0.3 ml MO 3 tetes Kuning Orange3.07/2) x 1000/100 = 0.1 N)x (40 gr/mol)/1 x (250 ml)/(1000 ml) = 1 gram Ѽ Penentuan normalitas larutan NaOH 0.1 N Massa NaOH yang ditimbang = 1. Volume HCl Volume Na2B4O7 Indikator Perubahan warna Orange1. 25 ml 30.19)) x= 0.9 ml MO 3 tetes Kuning ҉ Penentuan larutan sampel NO.632 gram BM asam oksalat = 126.8 ml Jernih PERHITUNGAN Ѽ Pembuatan NaOH 0.632 gram BM oksalat : 126.H2O=(0.87 ml Normalitas NaOH V NaOH x N NaOH = V Oksalat x N Oksalat N NaOH = (V Oksalat x N Oksalat)/(V NaOH) N NaOH = ((25 ml)(0.19 gr/ml Prosen HCl pekat : 37 % Volume pengenceran : 100 ml x=(N x V x M)/(10n x K x L) x=((0. 25 ml PP 3 tetes 24 ml Jernih ҉ Pembuatan larutan HCl 0. 25 ml PP 3 tetes 18.H2O)/(BE C2H2O4. 25 ml PP 3 tetes 24 ml Jernih merah muda2.

sehingga diperoleh normalitas sebesar 0. penimbangannya 1.903 gr seharusnya 1.1 N. NaOH sangat higroskopis dan selalu terdapat sejumlah tertentu alkali karbonat dan air.078 N PEMBAHASAN Percobaan ini.8 )ml/3 = 18.05 mol x 381.1216 N Konsentrasi HCl sesungguhnya x=(N x V x M)/(10n x K x L) K=(N x V x m)/(10n x L x X) =((0. dan dapat melakukan standarisasi cuplikan (sampel). sehingga suatu larutan standar tidak dapat dibuat dengan melarutkan suatu bobot yang diketahui dalam volume air tertentu.467 ml x 0.6 ml x 0.selanjutnya dilakukan titrasi dengan maksud mencari titik ekivalen atau titik akhir titrasi guna standarisasi normalitas larutan NaOH dengan asam oksalat.0998N)/(25 ml) = 0. Reaksi yang terjadi : NaOH + (COOH)2 (COONa)2 + 2H2O Reaksi indicator dengan titrant : NaOH + In.63 gram ke dalam erlenmeyer 100 ml. Setelah diperoleh beberapa data. NaOH distandarisasi dengan asam oksalat karena agar lebih stabil dengan adanya 2 valensi pada asam oksalat.3+30. maka dapat diketahui titik ekivalen dengan berubahnya warna larutan dari bening menjadi merah muda.1 N.1 N = 0. praktikan bertujuan untuk dapat membuat larutan HCl 0.1003 N sebab pada saat penimbangan padatannya tidak diperoleh tepat 0.7 ml.dilakukan terlebih dahulu pengenceran asam oksalat 0. dapat melakukan standarisasi larutan NaOH 0.4+30.1 N. Pada percobaan ini. Percobaan selanjutnya yaitu membuat larutan HCl 0.632 gr.Hanya saja pada percobaan yang ketiga ini harus .digunakan indicator PP yang dicampur pada larutan oksalat.83 ml.907 gram (pembulatan) Ѽ Penentuan Normalitas HCl : V Na-Borrat = ((30.105 N N sampel = (1. Reaksi yang terjadi sebagai berikut : Na2B4O7 + 5 H2O + 2 HCl 2 NaCl + 4 H3BO3 Reaksi indicator dengan titrant : HCl + InPercobaan kedua yaitu menentukan normaitas larutan NaOH 0.903 gr)/((381.906 gr.NaIn.37/2)(gr/mol)) x 1000/100 = 0.1/2 L = (0.0999 N.dimana akan dibuat larutan HCl 0.1216 N)x (100)x (36.63 gr. NaOH adalah basa kuat yang dapat larut dalam air.didapat nilai normalitas oksalat sebesar 0. Tetapi NaOH harus di standarisasai terlebih dahulu karena tidak satupun dari hidroksida padat ini dapat diperoleh murni.titik ekivalen atau titik akhir titrasi selesai dilakukan saat terjadi perubahan warna.5))/(10(1)x (1.105 N.bisa kurang bisa lebih.1 N dari HCL 37% dalam 100 ml harus diambil ± 0. NaOH distandarisasi menggunakan asam oksalat.6+18. Percobaan pertama yaitu membuat larutan NaOH 0.83 ) = 44.1 N dengan asam oksalat. Penggunaan larutan NaOH dan HCl sendiri didasarkan pada pengertian asidimitri dan alkalimetri itu sendiri.953 ml)/(25 ml) = 0. Standarisasi HCl dengan Na-Borat menggunakan indicator MO (Metil Orange).Mr Na-Borat = 381. Pada pembuatan larutan asam oksalat 0.37 gr/mol Volume pelarutan = 100 ml N Na-Borat = 0. sebab belum tentu dalam pembuatan HCl dan NaOH didapat normalitas 0.105 N Vsampel x N sampel = V NaOH x N NaOH 25 ml x N sampel = 18.Metode yang digunakan sama seperti yang sebelumnya yaitu dengan pengenceran.1 N dalam 100 ml 0.1 N sebanyak 100 ml.ternyata terjadi perubahan warna menjadi merah muda yang menghabiskan volume NaOH sebanyak 24. Tujuan dari standarisasi adalah menentukan konsentrasi larutan setepat mungkin. Titrasi dihentikan setelah terjadi perubahan warna dari kuning menjadi orange.1 N 0. Terjadinya perubahan warna merupakan akibat reaksi yang menunjukkan perbedaan pH.1 N. Dan untuk mengindikasi adanya perubahan pH maka digunakan indicator PP.1 N. Dari hasil percobaan diketahui bahwa volume NaOH untuk titrasi adalah 23.Saat dititrasi. dapat membuat larutan NaOH 0. Asidimetri yaitu analisis secara volumetric dengan larutan standar basa.larutan oksalat berwarna jernih dan setelah dititrasi dengan NaOH.1 N.1 N. dan biasanya digunakan untuk pembuatan larutan alkali standar.0998 N VHCl x NHCl = V Na2B4O7 x N Na2B4O7 NHCl = (V Na2B4O7 xN Na2B4O7)/VHCl = (30.6 ml N NaOH = 0.87 ml sehingga normalitas NaOH hasil standarisasi yaitu 0.Setelah dilakukak pengenceran.+ OHUntuk pembuatan larutan HCL 0.Untuk mengetahui adanya perubahan warna.0998 N. dapat melakukan standarisasi larutan HCl 0. Pada percobaan ini HCl distandarisasi dengan NaBorat. Sedangkan alkalimetri yaitu analisis secara volumetric dengan larutan standar asam.19)x 0. selain itu harganya juga murah. tetapi 0.1 N diperoleh perhitungan 0.Pertama. Dengan adanya indicator PP.936 % Penentuan Larutan sampel (HCl) V sampel = 25 ml V NaOH = (18.37 gr/mol x 100 ml)/(1000 ml) = 1. Pada percobaan ini.467 ml N Na-Borat = (m Na-Borat)/Be x 1000/V = (1.1 grek/L Mol = 0. Begitu juga pada pembuatan Na-Borat.7 ))/3 = 30.4+18.

terlebih dahulu dicari datadata seperti volume HCl yang diambil. Metode titrimetri atau yang juga dikenal dengan metode volumetri secara garis besar diklasifikasikan dalam empat kategori berdasarkan jenis reaksinya. Penambahan titran ke dalam analit dilakukan hingga tercapat titik ekivalen dimana akan terjadi perubahan warna dari larutan indikator. Berapa kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran ? C.massa jenis HCl pekat .Untuk melakukan perhitungan. maka dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar asam asetat. Berdasarkan latar belakang ini.berat molekul HCl pekat. yaitu : 1. yaitu : 1.05 ml. 3. 4.0811 N Laporan Titrasi Asidimetri dan Alkalimetri BAB I PENDAHULUAN A.Penentuan normalitas larutan NaOH 0.1 N dapat dilakukan dengan pengenceran. KESIMPULAN 1. Tujuan Tujuan dari percobaan ini.37 gr/mol.906 gram dan berat jenis Borat sebesar 381. Untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran. karbonat dan bikarbonat dalam sampel yang digunakan. Dalam metode titrimetri ini. Latar Belakang Titrasi merupakan suatu metode analisis kuantitatif untuk menentukan konsentrasi dari suatu larutan menggunakan larutan lain yang telah distandarisasi atau larutan yang konsentrasinya telah diketahui. titrasi pengendapan dan titrasi kompleksometri. B. yaitu : titrasi asidi-alkalimetri. Berapa kadar asam asetat dalam sampel ? 2. 2.Normalitas HCl sebesar 0. 2.227 ml.7 ml. Larutan indikator yang digunakan disesuaikan dengan metode titrimetri yang dilakukan. Rumusan Masalah Rumusan masalah dari percobaan ini.Setelah dititrasi.Setelah diperoleh data tersebut.1 N diperlukan massa NaOH seberat 1 gram.Dari percobaan diperoleh data massa Borat sebanyak 1.Percobaan yang terakhir yaitu penentuan larutan sampel 25% yang diambil 5ml dan diencerkan menjadi 250 ml diambil 10 ml untuk sampelnya dan setelah dilakukan titrasi ternyata dihabiskan volume NaOH rata sebanyak 12. . Untuk menentukan kadar asam asetat dalam contoh (sampel). Kemudian dilanjutkan dengan percobaan yang ke empat yaitu Standarisasi larutan HCl dengan larutan Na2B4O7.1 N dengan asam oksalat diperlukan volume sebanyak 24.serta prosen HCl pekat nya. Titrasi ini dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi atau kadar dari asam/basa kuat ataupun lemah yang dititrasi dengan basa/asam lemah ataupun kuat.Pembuatan NaOH 0.didapat hasil bahwa diperlukan HCl sebanyak 1. 1 Titrasi asidimetri dan alkalimetri merupakan titrasi netralisasi dimana pada titrasi ini digunakan larutan asam dan basa kuat ataupun lemah sehingga dihasilkan air yang bersifat netral.diperoleh perubahan warna dari merah muda menjadi kuning.Pembuatan larutan NaOH dan HCl 0. titrasi oksidimetri.menentukan seberapa banyak volume HCl pekat yang diperlukan. larutan yang akan ditentukan konsentrasinya disebut larutan analit sedangkan larutan yang diketahui konsentrasinya disebut titran.

1990). Semua metoda titrimetri tergantung pada larutan standar yag mengandung sejumlah reagen persatuan volume larutan dengan ketepatan yang tinggi. 1990). Analisis volumetri juga dikenal sebagai titrimetri. larut dan stabil serta akan menunjukkan perubahan warna yang kuat. (Bassett. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. Makin kuat asam. Kurva semacam itu membantu dalam mempertimbangkan kelayakan suatu titrasi dan dalam memilih indikator yang tepat. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai ion positif. Indikator asam basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH. 1999). Reaksi harus berjalan sampai boleh dikatakan lengkap pada titik ekivalensi. KOH dan sebagainya. Reaksi berjalan cepat (dalam beberapa menit saja). Syaratnya adalah reaksi harus berlangsung secara cepat. Suatu inidikator haruslah tersedia atau beberapa metode secara instrumen dapat digunakan untuk memberitahu analisis kapan penambahan titran dihentikan. seperti biologi. Beberapa metode harus tersedia untuk menetapkan kapan titik ekivalensi tercapai. Asidimetri merupakan titrasi terhadap larutan basa bebas dan larutan garam terhidrolisis dari asam lemah. Konsentrasi larutan yang tidak diketahui (analit) kemudian dihitung. Sedangkan untuk titrasi atau pengukuran lain-lain sering juga dipakai akhiran –ometri menggantikan –imetri. 3. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion OH. Asam didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. makin lemah basa konjugatnya. Sedangkan basa secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. NaOH. Kuat relatif asam dan basa dalam larutan bergantung pada afinitas mereka terhadap proton yang berlainan. misalnya larutan asam oksalat. 1994). di mana zat dibiarkan bereaksi dengan zat yang lain yang konsentrasinya diketahui dan dialirkan dari buret dalam bentuk larutan. Larutan ini disebut larutan standar sekunder yang konsentrasinya ditentukan melalui pembakuan dengan suatu standar primer.sebagai ion negatif. titrasi pengandapan dan titrasi kompleksometri (Khopkar. 2.Rabu. Reaksi-reaksi ini melibatkan senyawa ion hidrogen dan ion hidroksida untuk membentuk air. kedokteran dan pertanian. pembuatan suatu kurva titrasi akan membantu pemahaman untuk titrasi asam basa suatu kurva titrasi terdiri dari suatu alur pH atau pOH versus mL titran. untuk lebih memahami konsep peniteran asidi – alkalimetri dan mengetahui konsentrasi standar dari zat yang dianalisa maka perlu dilakukan peniteran dengan menggunakan suatu standar primer. 1990). Oleh karena itu. 1. Pereaksi atau larutan yang selalu dijumpai di laboratorium dimana pembakuannya dapat ditetapkan berdasarkan pada prinsip netralisasi asam – basa (melalui asidi – alkalimetri) diantaranya adalah HCl. dengan suatu standar (asidimetri) dan titrasi asam bebas yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah. Dalam menguji suatu reaksi untuk menetapkan apakah reaksi itu dapat digunakan untuk suatu titrasi. Pengertian asidimetri dan alkalimetri secara umum ialah titrasi yang menyangkut asam dan basa. (Day dan Underwood. titrasi redoks. Asam kuat berdisosiasi hampir sempurna dengan pengenceran yang sedang. basa dan garam. Tidak boleh ada reaksi samping. Dengan kata lain. Reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri adalah salah satu dari empat golongan utama dalam penggolongan reaksi dalam analisis titrimetri. LANDASAN TEORI Berdasarkan atas hasil reaksi antara analit dengan larutan standar maka analisis volumetrik dibagi menjadi titrasi netralisasi (asam basa) yang terdiri dari alkalimetri dan asidimetri. Asidi alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah. Sedangkan alkalimetri merupakan titrasi terhadap larutan asam bebas dan larutan garam terhidrolisis dari basa lemah. 03 Okt 2012 Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. Asidi-alkalimetri berperan penting dalam berbagai bidang kehidupan. dengan suatu basa standar (alkalimetri). titrasi akan melibatkan pengukuran yang seksama volume-volumenya suatu asam dan suatu basa yang tepat akan saling menetra1kan (Keenan. 1. (Svehla. 1999). karena itu ia merupakan elektrolit kuat. Indikator asam basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu. Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. H2SO4. Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa. suatu reaksi memenuhi persyaratan berikut sebelum digunakan. (Keenan. Reaksi harus berjalan sesuai dengan suatu persamaan reaksi tertentu. 1. Asam dan basa tersebut memiliki sifat-sifat yang menyebabkan konsentrasi larutannya sukar bahkan tidak mungkin dipastikan langsung dari proses hasil pembuatan atau pengencerannya. 1986).2 Dasar Teori Dalam analisis larutan asam dan basa. Metode volumetri diklasifikasikan menjadi titrasi asam-basa. (Keenan. Kata metri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu atau proses atau seni mengukur. 1994). Dari kumpulan reaksi kimia yang dikenal relatif sedikit yang dapat digunakan sebagai dasar untuk titrasi. reaksi berlangsung kuantitatif dan tidak ada reaksi samping. Titrasi yang menyangkut asam dan basa sering disebut asidimetri – alkalimetri. biasanya merupakan zat organik (Khopkar. Asam lemah berdisosiasi hanya sedikit pada konsentrasi sedang bahkan pada konsentrasi rendah. (Khopkar. 4. 1990) . tetapan keseimbangan reaksi harus sangat besar. Kesetimbangan asam basa merupakan suatu topik yang sangat penting dalam kimia dan bidang-bidang lain yang mempergunakan kimia. (Day dan Underwood. 1994).

larutan standar. 3.net/index). alkalimetri. KOH. Pada metode ini mata manusia memegang peranan penting dalam pengamatan terjadinya perubahan warna. Perbedaan titik akhir dan titik ekivalen disebut sebagai kesalahan titik akhir.1 N dan menetapkan konsentrasi larutan tersebut dengan cara standarisasi dengan larutan borax dan natrium karbonat anhidrous.2 gram NH4Cl adalah sebesar 10. Pemilihan metode ini dipakai karena merupakan metode yang sederhana dan sudah banyak digunakan dalam laboratorium maupun industri (riset dan pengembangan).2 DASAR TEORI Dalam analisis larutan asam dan basa. biasanya cara umum yang sering dilakukan adalah dengan menetesi larutan yang diuji.24 %.org). Sedangkan alkalimetri pada prinsipnya adalah analisa titrimetri yang menggunakan basa kuat sebagai titrannya dan analitnya adalah asam atau senyawa yang bersifat asam.1 N serta menetapkan konsentrasi larutan standar HCl dengan cara standarisasi dengan larutan borax (Na2B4O7. titrasi akan melibatkan pengukuran yang seksama volume-volumenya suatu asam dan .0113 N. 2. Indikator yang sering digunakan dalam percobaan asidimetri dan alkalimetri adalah indikator metil merah dan metil orange untuk asidimetri karena skala pH pada kedua indikator memang berkisar pada larutan yang bersifat asam dan indikator PP untuk alkalimetri karena skala pH pada indikator PP berkisar pada larutan yang bersifat basa. Membuat larutan standar HCl 0. begitu pula sebaliknya. perhitungannya dilakukan secara manual.1 Tujuan Percobaan Tujuan percobaan ini adalah : 1.kimia-lipi. membuat larutan standar primer asam oksalat dan menentukan kadar asam cuka yang diperdagangkan.2 Latar Belakang Pada prinsipnya asidimetri adalah analisa titrimetri yang menggunakan asam kuat sebagai titrannya dan sebagai analitnya adalah basa atau senyawa yang bersifat basa.0662 N dan 0. Kesalahan titk akhir adalah kesalahan acak yang berbeda ntuk setiap sistem. Sedangkan kadar asam cuka yang diteliti adalah 0. Larutan yang biasa digunakan dalam analisa ini adalah NaOH karena harganya relatif murah. yang sebelumnya telah diberi larutan indikator. dan Ba(OH)2 yang merupakan larutan baku standar sekunder. Menentukan kadar asam dalam asam cuka yang diperdagangkan serta menentukan kadar NH3 dalam garam ammonium (NH4Cl). dalam pengamatan dan penghitungannya tergantung pada ketelitian masing-masing individu (http://www. PERCOBAAN 1 ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI 1.867 N dan larutan hasil standarisasi NaOH adalah 0.1 PENDAHULUAN 1. 1995). 1. Kemudian nilai konsentrasi larutan yang diuji dihitung berdasarkan cara yang telah ditetapkan dalam metode titrasi. dengan larutan uji. Jadi apabila larutan tersebut merupakan larutan asam maka harus diberikan basa sebagai larutan ujinya. ataupun pengukuran dengan asam (yang diukur jumlah basa atau garamnya). Karena setiap individu dengan individu yang lainnya relatif berbeda. Dalam percobaan ini larutan dibuat dengan cara pengenceran kemudian dilakukan titrasi dengan larutan-larutan standar tertentu sehingga didapatkan harga konsentrasi dari larutan hasil pengenceran tersebut.1.dan penentuan nilai konsentrasi larutan. Membuat larutan standar NaOH dan standarisasi dengan asam oksalat. serta kadar NH3 yang terkandung dalam 0. Ditetesi hingga terjadi perubahan warna dari larutan indikator.com) ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI ABSTRAK Asidimetri adalah analisa titrimetri yang menggunakan asam kuat sebagai titrannya dan sebagai analitnya adalah basa atau senyawa yang bersifat basa. karena metoda ini dapat menjadi metoda acuan untk metoda pengukuran lainnya (http://www.10H2O) dan Na2CO3 anhidrous.elektroindonesia. Sedangkan alkalimetri pada prinsipnya adalah analisa titimetri yang menggunakan basa kuat sebagai titrannya dan analitnya adalah asam atau senyawa yang bersifat asam. Pada pengukuran konsentrasi larutan dengan menggunakan metode titrasi asam-basa. Metode pengukuran konsentrasi larutan menggunakan metode titrasi (titrasi asam-basa) yaitu suatu penambahan indikator warna pada larutan yang diuji. karena metoda tersebut mempunyai ketertelusuran yang terdekat ke standar nasional maupun standar internasional.Titrasi biasanya merupakan larutan elektrolit kuat seperti NaOH dan HCl yang diperlukan untuk bereaksi sempurna oleh zat yang dianalisis yang disebut sebagai titik ekivalen. Kesalahan ini bersifat aditif dan determinan dan nilainya dapat dihitung. Selain itu dalam percobaan ini digunakan metode titrimetri untuk menganalisa kadar suatu sampel dengan proses asidimetri maupun alkalimetri. Dari hasil percobaan didapatkan larutan hasil standarisasi HCl adalah 0.75 %. 1. Teknik Volumetri dan Gravimetri menjadi alternatif metoda analisis yang mempunyai ketertelusuran tertinggi. kemudian ditetesi dengan larutan yang merupakan kebalikan asam-basanya. Larutan yang biasa dipakai sebagai titran dalam alkalimetri adalah NaOH. juga dalam pengendalian proses yang berlangsung. Untuk dapat melakukan analisis secara volumetri dan gravimetri yang baikdan benar diperlukan pengetahuan yang cukup. kesalahan titik akhir ditekan sampai nol (Rivai. Dengan menggunakan cara ini terdapat beberapa kelemahan antara lain kesalahan paralaksi dan memerlukan waktu yang relatif lama untuk perhitungan atau penentuan nilai konsentrasi larutan. apabila terjadi perubahan warna yang disebut titik akhir maka penetesan larutan uji dihentikan (http://chem-is-try. Kata Kunci : asidimetri. Percobaan ini bertujuan untuk membuat larutan standar HCl 0.1. Dengan menggunakan metode potensiometri dan konduktometri.

Tidak boleh ada reaksi samping. pahit. yaitu indikator. basa dan garam. A. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion-ion hidroksil sebagai satu-satunya ion negatif (Svehla. 4. yang bila dilarutkan dalam air. Dari kumpulan reaksi kimia yang dikenal relatif sedikit yang dapat digunakan sebagai dasar untuk titrasi. tetapan keseimbangan reaksi harus sangat besar. dan konsentrasinya ditentukan dengan sebuah proses yang dinamakan standarisasi. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. 1994). Bila mengandung zat tertentu. Kuat relatif asam dan basa dalam larutan bergantung pada afinitas mereka terhadap proton yang berlainan. Suatu inidikator haruslah tersedia atau beberapa metode secara instrumen dapat digunakan untuk memberitahu analisis kapan penambahan titran dihentikan. dan akan menggeser kesetimbangan ke kiri sampai tercapai kesetimbangan baru. biasanya merupakan zat organik (Khopkar. Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa. suatu reaksi memenuhi persyaratan berikut sebelum digunakan. dan garam. Dengan kata lain. Hal itu disebabkan oleh terjadinya rekasi asam basa sesama molekul air (autoionisasi) dan membentuk kesetimbangan : H2O + H2O H3O+ + OHDengan kata lain. pembuatan suatu kurva titrasi akan membantu pemahaman untuk titrasi asam basa suatu kurva titrasi terdiri dari suatu alur pH atau pOH versus ml titran. Air mengandung ion dalam jumlah kecil sekali. 1999). yang bila dilarutkan dalam iar. maka dapat menggunakan bahan kimia. Indikator asam basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH. tetapi bisa juga tidak. Pada kesetimbangan baru.A. secara paling sederhana dapat didefinisikan sebagai zat. Analisis dengan metode titrimetrik didasarkan pada rekasi kimia seperti : aA + tT produk Di mana a molekul analit. basa. tetapi perkaliannya tetap 10-14. Jenis indikator yang khas adalah asam organik yang lemah yang mempunyai warna berbeda dari basa konjugatnya. Air yang mengandung zat lain dapat pula menjadi warna. yang bereaksi terhadap kehadiran titran yang berlebih dengan melakukan perubahan warna. asin. Asam lemah berdisosiasi hanya sedikit pada konsentrasi sedang bahkan pada konsentrasi rendah (Svehla. konsentrasi H+ lebih besar dari pada OH-. 1990). air adalah elektrolit lemah dan bila H3O+ disederhanakan menjadi H+. Asam-Basa. Ada sejumlah besar asam dan basa yang dapat ditentukan oleh titrimetri. Asidi alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah. dengan suatu standar (asidimetri) dan titrasi asam bebas yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah. Reaksi-reaksi ini melibatkan senyawa ion hidrogen dan ion hidroksida untuk membentuk air (Bassett. Perubahan warna ini bisa saja terjadi persis pada titik ekivalen . Pereaksi T. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satusatunya ion positif. Makin kuat asam. T. 1990). Reaksi kimia yang mungkin di perlakukan sebagai basis dari penentuan titrimetrik telah dikelompokan ke dalam empat tipe : a. dalam wujud larutan yang konsentrasinya diketahui. Jika HA mewakili asam yang akan ditentukan dan B mewakili basa. ditambahkan secara kontinu. 2. 1999). Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. Konsentrasi molekul indikator yang sangat rendah ini hampir tidak berpengaruh terhadap pH larutan. yang terasa asin disebut larutan garam. sedangkan yang terasa licin dan pahit disebut larutan basa (Syukri. Dalam menguji suatu reaksi untuk menetapkan apakah reaksi itu dapat digunakan untuk suatu titrasi. maka kesetimbangan itu ditulis sebagai : H2O H+ + OHJika larutan mengandung asam. Berdasarkan konsentrasi ion tersebut. Penambahan dari titran tetap dilakukan sampai jumlah T secara kimiawi sama dengan yang telah ditambahkan kepada A. Reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri adalah salah satu dari empat golongan utama dalam penggolongan reaksi dalam analisis titrimetri. Reaksi harus berjalan sampai boleh dikatakan lengkap pada titik ekivalensi. bereaksi dengan t molekul pereaksi. Asam didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. 1979). yang disebut titran. Reaksi berjalan cepat (dalam beberapa menit saja) (Day dan Underwood. 2001). Analisis titrimetrik adalah salah satu divisi besar dalam kimia analitik. Agar diketahui kapan harus berhenti menambahkan titran. larut dan stabil serta akan menunjukkan perubahan warna yang kuat. 1. Beberapa metode harus tersedia untuk menetapkan kapan titik ekivalensi tercapai. Larutan ini disebut larutan standar. berarti menambahkan jumlah H+. Perhitungan yang tercakup di dalamnya berdasarkan pada hubungan stokiometrik dari reaksi kimia yang sederhana. 1999). Hal yang sama akan terjadi bila air ditambah bas sehingga dicapai kesetimbangan baru dengan nilai [OH-] > [H+] dan perkaliannya tetap 10-14. Cairan yang berasa asam disebut larutan asam. Basa. Asam kuat berdisosiasi hampir sempurna dengan pengenceran yang sedang. selanjutnya akan dikatakan titik ekivalen dari titrasi telah dicapai. dan warna. Untuk indikator asam-basa biasanya dibuat dalam bentuk larutan Indikator asam basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu. larutan dibagi tiga. Indikator yang baik mempunyai intensitas warna yang sedemikian rupa sehingga hanya beberapa tetes larutan indikator encer yang harus ditambahkan ke dalam larutan yang sedang diuji. yaitu : Larutan asam : [H+] > [OH-] Larutan netral : [H+] = [OH-] = 10-7 Larutan basa : [H+] < [OH-] (Syukri.suatu basa yang tepat akan saling menetra1kan. makin lemah basa konjugatnya. air dapat tersa asam. reaksi berlangsung kuantitatif dan tidak ada reaksi samping (Khopkar. Analisis volumetri juga dikenal sebagai titrimetri. biasanya dari sebuah buret. Perubahan warna indikator mencerminkan pengaruh asam dan basa lainnya yang terdapat dalam larutan (Oxtoby. Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat. dengan suatu basa standar (alkali metri). 3. di mana zat dibiarkan bereaksi dengan zat yang lain yang konsentrasinya diketahui dan dialirkan dari buret dalam bentuk larutan. rekasinya adalah sebagai berikut HA + OH. karena itu ia merupakan elektrolit kuat. Kurva semacam itu membantu dalam mempertimbangkan kelayakan suatu titrasi dan dalam memilih indikator yang tepat (Underwood. bau. 1999). Titik dalam titrasi dimana indikator berubah warnanya disebut titik akhir ( Day dan Underwood).+ H2O . Indikator adalah zat warna larut yang perubahan warnanya tampak jelas dalam rentang pH yang sempit. 1990). Reaksi harus berjalan sesuai dengan suatu persamaan reaksi tertentu. Air murni tidak mempunyai rasa. Syaratnya adalah reaksi harus berlangsung secara cepat. dan sebagainya. Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. Konsentrasi larutan yang tidak diketahui (analit) kemudian dihitung.

yaitu : Untuk menentukan kadar asam asetat dalam contoh (sampel). 2.Ag (CN)-2 (Oxtoby. yaitu : titrasi asidi-alkalimetri. titrasi pengendapan dan titrasi kompleksometri. Titrasi ini dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi atau kadar dari asam/basa kuat ataupun lemah yang dititrasi dengan basa/asam lemah ataupun kuat. Rumusan Masalah Rumusan masalah dari percobaan ini. Oksidasi-reduksi (redoks). Latar Belakang Titrasi merupakan suatu metode analisis kuantitatif untuk menentukan konsentrasi dari suatu larutan menggunakan larutan lain yang telah distandarisasi atau larutan yang konsentrasinya telah diketahui. b.dan B + H3O+ BH+ + H2O b.AgX (s) d. Harus tersedia beberapa metode untuk menentukan kapan titik ekivalen tercapai. larutan yang akan ditentukan konsentrasinya disebut larutan analit sedangkan larutan yang diketahui konsentrasinya disebut titran. Berdasarkan latar belakang ini. yaitu : 1. Untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran. realtif sedikit reaksi kimia yang dapat dipergunakan sebagai basis untuk titrasi. titrasi oksidimetri. Dalam metode titrimetri ini. Pembentukan kompleks. karbonat dan bikarbonat dalam sampel yang digunakan. 1999). Reaksinya adalah sebagai berikut Ag+ + X. maka dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar asam asetat. d. Tujuan 1. Reaksi tersebut harus diproses sampai benar-benar selesai pada titik ekivalensi. 1 Titrasi asidimetri dan alkalimetri merupakan titrasi netralisasi dimana pada titrasi ini digunakan larutan asam dan basa kuat ataupun lemah sehingga dihasilkan air yang bersifat netral. Sebuah reaksi harus memenuhi beberapa persyaratan sebelum reaksi tersebut dapat dipergunakan : a. Pengendapan. B. . sehingga titrasi dapat diselesaikan dalam beberapa menit (Day dan Underwood. Larutan indikator yang digunakan disesuaikan dengan metode titrimetri yang dilakukan. 2001). Berapa kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran ? C. Sejauh ini. Reaksi kimia yang melibatkan oksidasi-redoksi dipergunakan secara luas dalam analitis titrimetrik. Seharusnya tidak ada sampingan. Contoh dari reaksi di mana terbentuk suatu kompleks antara ion perak dan sianida : Ag+ + 2 CN. Berapa kadar asam asetat dalam sampel ? 2. Pengendapan dari kation perak dengan anion halogen dipergunakan secara luas dalam prosedur titremetrik. c. Reaksi tersebut harus diproses sesuai persamaan kimiwai tertentu. Diharapkan reaksi berjalan cepat. BAB I PENDAHULUAN A. Sebagai contoh. Metode titrimetri atau yang juga dikenal dengan metode volumetri secara garis besar diklasifikasikan dalam empat kategori berdasarkan jenis reaksinya. Tujuan dari percobaan ini. Penambahan titran ke dalam analit dilakukan hingga tercapat titik ekivalen dimana akan terjadi perubahan warna dari larutan indikator. besi dengan tingkat oksidasi +2 dapat dititrasi dengan sebuah larutan standar dari serium (IV) sulfat : Fe2+ + Ce 4+ Fe3+ + Ce3+ c.

kompleksometri dan titrasi pengendapan. Reaksi antara Ag+ dengan CN. Larutan standar primer yaitu suatu zat yang sudah diketahui kemurniannya dengan pasti. A.+ H2O (analit asam. 4. titran asam) Titran umumnya berupa larutan standar asam kuat atau basa kuat.= Cl-. yang reaksi umumnya dapat dinyatakan dengan persamaan : Ag+ + X. Metode Titrimetri Analisis volumetri atau titrimetri merupakan suatu analisis berdasarkan pengukuran volume larutan dengan konsentrasi yang diketahui. Jika HA mewakili asam dan BOH mewakili basa. oksidimetri. al. Br-. Reagen lain adalah EDTA (etilen diamina tetraasetat) yang banyak digunakan sebagai pengompleks berbagai ion logam melalui metode titrasi. maka reaksi antara analit dengan titran dapat dirumuskan secara umum sebagai berikut : HA + OH. Sodiq Ibnu. Metode ini cukup luas penggunaannya untuk penetapan kuantitas analit asam atau basa.dikenal sebagai metode Liebig untuk penetapan sianida.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Berdasarkan jenis reaksinya.[2] 2. Serta faktor yang paling penting adalah ketepatan dalam pemilihan indikator agar kesalahan titrasi yang terjadi menjadi sekecil mungkin. jenis metode titrimetri didasarkan pada jenis reaksi kimia yang terlibat dalam proses titrasi. Misalnya reaksi antara Ag+ dan CNyang mengikuti persamaan reaksi : Ag+ + 2CN. Metode ini banyak digunakan untuk menetapkan kadar ion halogen dengan menggunakan pengendap Ag +. AgX(s) (X. Oksidimetri didasarkan pada reaksi oksidasi – reduksi antara analit dan titran. . maka metode titrimetri dapat dibagi menjadi 4 golongan. 1. titran basa) BOH + H3O+  B+ + 2H2O (analis basa. konsentrasi larutannya hanya dapat diketahui dengan teliti melalui proses standarisasi. standarisasi dilakukan dengan cara menitrasi larutan tersebut dengan larutan standart primer. Larutan standar sekunder adalah suatu zat yang tidak murni atau kemurniannya tidak diketahui. et. (2005). 3. SCN-) Dalam titrasi juga perlu diperhatikan larutan standar primer dan larutan standar sekunder. Analit yang mengandung spesi reduktor dititrasi dengan titran yang berupa larutan standar dari oksidator atau sebaliknya. konsentrasinya dapat diketahui dengan pasti dan teliti berdasarkan berat zat yang dilarutkan. yang diperlukan untuk bereaksi dengan analit (zat yang akan ditentukan). Berbagai reaksi redoks dapat digunakan sebagai dasar reaksi oksidimetri. Larutan analit yang berupa larutan asam dititrasi dengan titran yang berupa larutan basa atau sebaliknya. I-. misalnya larutan asam klorida (HCl) dan larutan natrium hidroksida (NaOH). 3 Asidi-alkalimetri didasarkan pada reaksi asam basa atau prinsip netralisasi. misalnya pada penetapan kadar ion besi(II) dalam suasana asam. Analisis volumetri atau titrimetri berdasarkan pada reaksi : aA + tT ↔ Hasil dimana a molekul analit A bereaksi dengan t molekul pereaksi T (titran). Kompleksometri didasarkan pada pembentukan kompleks stabil hasil reaksi antara analit dengan titran. Titrasi pengendapan didasarkan reaksi pengendapan analit oleh larutan standar titran yang mampu secara spesifik mengendapkan analit. misalnya penetapan ion besi(II) (Fe2+) dalam analit dengan menggunakan titran larutan standar cesium(IV) (Ce 4+) yang mengikuti persamaan reaksi : Fe2+ + Ce4+  Fe3+ + Ce3+ Oksidator lain yang banyak digunakan dalam oksidimetri adalah kalium permanganat (KMnO 4).[1] Menurut M. yaitu: asidi-alkalimetri.

3 Merah Kuning Ungu bromkresol 5.1 % dalam etanol) yang sama banyak memberikan perubahan warna yang tajam dari biru violet menjadi hijau ketika beralih dari larutan asam menjadi larutan basa pada pH sekitar 7.9.0 – 9.8 Kuning Merah Biru timol 8.2 – 8.7.5 Tak berwarna Biru Menurut Achmad Mursyidi dan Abdul Rohman (2008). Indikator yang biasa digunakan dalam asidi-alkalimetri[4] Warna Indikator Trayek pH Asam Basa Kuning metal 2.0 Merah Kuning Biru bromfenol 3. Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya indikator menunjukkan warna pada range pH yang berbeda. Baik asam atau basa kekuatannya hampir sama akibatnya titik ekivalen akan berada pada pH kira-kira 7.2 – 6.8 – 5.4 Kuning Merah Merah kresol 7. stabil dan menunjukkan perubahan warna yang kuat serta biasanya adalah zat organik.8 Kuning Ungu Biru bromtimol 6.1 % larutan dalam etanol) dengan 1 bagian alfa naftoftalein (0.1 – 7. Indikator asam-basa terletak pada titik ekuivalen dan ukuran dari pH.4 Jingga Metil Hijau bromkresol 3.B. 3.8 – 8.4 Kuning Biru Merah metal 4. menunjukkan daftar berbagai macam indikator dengan jarak perubahan warna serta warna-warna yang terjadi pada perubahan tersebut.2 – 6. Indikator Indikator asam-basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu.1 % dalam etanol) dan biru metilen (0.1 % larutan dari garam natriumnya) dengan 1 bagian kresol merah (0. 2. Indikator campuran ini baik untuk titrasi karbonat menjadi bikarbonat.2 – 10. . selain indikator tunggal dalam asidi-alkalimetri juga digunakan indikator campuran dengan tujuan untuk memberikan perubahan warna yang tajam pada titik akhir titrasi. Tabel 1.0 Tak berwarna Merah Timolftalein 9. larut.0 – 4.6 Kuning Biru Fenolftalein 8. Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa.6 Kuning Biru Jingga metal 3. Campuran merah netral (0.3. Campuran dari 3 bagian biru timol (0.1 % dalam etanol) memberikan perubahan warna yang tajam dari merah muda ke ungu pada pH 8.[3] Tabel 1. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron. Indikator ini dapat digunakan untuk menitrasi asam asetat dengan larutan amonia atau kebalikannya. Indikator ini baik untuk titrasi asam fosfat dari tribasik menjadi dibasik yang mana titik ekivalennya terjadi pada pH 8. Campuran antara 3 bagian fenolftalein (0.4 – 4.1 % larutan garam natriumnya) akan memberikan perubahan warna dari kuning ke ungu pada pH 8.3 – 10.6 Kuning Biru Merah fenol 6.1 – 4. Beberapa contoh indikator campuran adalah : 1.

Semua larutan baku alkali harus sering dibakukan ulang. Asam nitrat selalu tidak digunakan karena mengandung asam nitrit yang dapat merusak beberapa indikator.[9] Untuk larutan baku alkali. kalium hidroksida dan barium hidroksida. Untuk reaksi antara HCl dengan NaOH titik ekivalen tercapai pada perbandingan mol 1:1 tetapi untuk reaksi antara H2SO4 dengan NaOH diperlukan perbandingan mol 1:2 untuk mencapai titik ekivalen. Kedua asam ini dapat digunakan pada hampir semua titrasi. maka larutan bali alkali dibuat bebas karbonat dan untuk melindungi itu dari pengaruh karbon dioksida dari udara maka penyimpanannya dilengkapi dengan “soda lime tube”.[8] Larutan baku asam yang sering digunakan dalam asidi-alkalimetri umumnya dibuat dari asam klorida dan asam sulfat. penambahan basa menyebabkan pH naik secara perlahan dan bertambah cepat ketika akan mencapai titik ekuivalen (pH = 7). Titrasi alkalimetri dengan larutan standar basa NaOH[7] Analit bersifat asam pH mula-mula rendah.[5] Dalam titrasi asam-basa.C. molaritas atau normalitas. perbandingan mol. Pada saat tercapai titik ekivalen. Semua masalah yang berkaitan dengan titrasi asam basa dapat dipecahkan dengan konsep stoikiometri dan konsentrasi larutan yang dinyatakan dengan mol. Gambar 1. oleh karena itu konsentrasinya dapat berubah dengan cepat. akan tetapi asam klorida lebih disukai daripasa asam sulfat terutama untuk senyawasenyawa yang memberikan endapan dengan asam sulfat seperti barium hidroksida. walaupun diantara keduanya masih ada selisih yang relatif kecil. juga diperoleh informasi indikator yang tepat untuk digunakan dalam titrasi ini dengan kisaran pH pH 7 – 10 (Tabel 1). khususnya pada saat akan mencapai titik akhir titrasi. jumlah relatif asam dan basa yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen ditentukan oleh perbandingan mol asam (H+) dan basa (OH-) yang bereaksi. Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam. Dengan demikian. Penambahan selanjutnya menyebakan larutan kelebihan basa sehingga pH terus meningkat. umumnya digunakan natrium hidroksida. Titrasi Asidimetri dan Alkalimetri Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Asam sulfat lebih disukai untuk titrasi menggunakan pemanasan karena kemungkinan terjadinya penguapan pada pemanasan asam klorida yang dapat menimbulkan bahaya. Larutan-larutan ini mudah menyerap karbon dioksida dari udara. penambahan sedikit asam atau basa akan menyebabkan perubahan pH yang besai ini seringkali dideteksi dengan zat yang dikenal sebagai indikator. H2SO4 (aq) + 2NaOH (aq)  Na2SO4 (aq) + 2H2O (l) Dalam titrasi asam-basa perubahan pH sangat kecil hingga hampir tercapai titik ekivalen.[6] Dalam melakukan titrasi netralisasi kita perlu secara cermat mengamati perubahan pH. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima proton (basa). Sebaliknya alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa. hal ini dilakukan untuk mengurangi kesalahan dimana akan terjadi perubahan warna dari indikator lihat Gambar 1. Titik atau kondisi penambahan asam atau basa dimana terjadi perubahan warna indikator dalam suatu titrasi dikenal sebagai titik akhir titrasi. Dari Gambar 1.[10] . Titik akhir titrasi sering disamakan dengan titik ekivalen.

Titrasi dilakukan dengan melarutkan sampel sekitar 300 mg ke dalam 100 mL air. Indikator ditambahkan pada titran sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi.[11] . 2. Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan. untuk alkalimetri telah dipergunakan untuk menentukan kadar asam sitrat. Selain itu alkalimetri juga dipergunakan untuk menganalisis asam salisilat. Teknik asidimetri juga telah dimanfaatkan secara meluas misalnya dalam pengujian boraks yang sering dipergunakan oleh para penjual bakso. kemudian membuat plot antara pH dengan volume titran untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalent”. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan. pada saat inilah titrasi kita hentikan. Memakai indikator asam basa.Menurut Indigo Morie (2008). Pemanfaatan teknik ini cukup luas. Titrasi dengan menggunakan larutan NaOH 0. yaitu : 1. tidak diperlukan alat tambahan dan sangat praktis. ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa.1 N dengan menggunakan indikator phenolftalein. Titik akhir titrasi diketahui dari larutan tidak berwarna berubah menjadi merah muda.

Waktu dan Tempat Waktu dan tempat dilaksanakannya percobaan ini. labu ukur 100 mL. yaitu sebagai berikut : Hari/Tanggal : Rabu/ 30 Mei 2012 Pukul : 13. Mencatat volume HCl yang digunakan. Menambahkan 5 tetes indikator PP ke dalam erlenmeyer. spatula dan pipet tetes. c. i.00 WITA Tempat : Laboratorium Kimia Analitik Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar B. Bahan Bahan – bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah asam asetat (CH 3COOH) 0.BAB III METODE PERCOBAAN A. Menambahkan 5 tetes indikator PP ke dalam erlenmeyer. g. asam klorida (HCl) 0. bulp. Memipet 25 mL larutan dan memasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL. botol semprot. Menitrasi larutan dengan natrium hidroksida (NaOH) sampai terbentuk warna merah muda. c.1 M. b. d. a. g. Menambahkan indikator MO ke dalam erlenmeyer. Mencatat volume natrium hidroksida (NaOH) yang digunakan. 2. Memipet 25 mL larutan asam asetat (CH3COOH) yang telah diencerkan dan memasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL. Melakukan secara duplo dan menghitung kadar asam asetat dalam sampel. f. statif dan klem. Melakukan secara duplo dan menghitung kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran. Menambahkan aquades (H2O) sampai tanda batas. Menitrasi larutan dengan asam klorida (HCl) sampai larutan berubah warna dari jingga ke merah jambu.0989 N. Menitrasi larutan dengan asam klorida (HCl) sampai larutan menjaid tak berwarna. d. C.30 – 15. campuran karbonat dan bikarbonat. 12 a. Titrasi Alkalimetri Memasukkan 10 mL asam asetat (CH3COOH) ke dalam labu ukur 100 mL. e. Alat Alat .0959 N. Titrasi Asidimetri Menimbang 100 mg campuran karbonat dan bikarbonat menggunakan neraca analitik. h. erlenmeyer 250 mL. gelas kimia 250 mL dan 100 mL. menghomogenkan larutan. Mengencerkan larutan sampai tanda batas dengan aquades (H2O). Prosedur Kerja Prosedur kerja pada percobaan ini. b. Alat dan Bahan 1. yaitu sebagai berikut : 1. e. pipet volume 25 mL dan 10 mL. Melarutkan campuran karbonat dan bikarbonat dengan aquades (H2O) lalu memindahkan ke dalam labu ukur 100 mL. . corong. f. indikator MO. buret basa 50 mL. 2. indikator PP dan natrium hidroksida (NaOH) 0. aquades (H2O).alat yang digunakan pada percobaan ini adalah buret asam 50 mL.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Larutan asam asetat (CH3COOH) + indikator PP + titrasi dengan natrium hidroksida (NaOH) Larutan berwarna violet Larutan berwarna merah muda Keterangan 15 . Tabel Pengamatan a. Hasil Hasil pengamatan dari percobaan ini. Titrasi alkalimetri No. yaitu sebagai berikut : 1. Asam asetat (CH3COOH) + aquades Larutan berwarna bening 2. Perlakuan Hasil 1. 3.

Titrasi asidimetri No.031 gram Dalam 100 mL asam asetat = x B mg Kadar asam cuka = x gram = x 0. Simplo Diketahui : BE CH3COOH = 60 gram/grek Volume NaOH = 1. Analisa Data 1.0013 L x 0. Titrasi alkalimetri a.3 mL Konsentrasi NaOH = 0.31 x 100 % = 31 % . Reaksi CH3COOH + NaOH  CH3COONa + H2O Na2CO3 + HCl  NaHCO3 + HCl NaHCO3 + HCl  NaCl + H2O + CO2 3. ? Penyelesaian : Dalam 10 mL contoh asam terdapat : 100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg 100/25 x 0. Perlakuan 1. + titrasi dengan asam klorida (HCl) Hasil Larutan berwarna bening Larutan berwarna violet Larutan berwarna bening Larutan berwarna kuning tua Larutan berwarna orange kemerahan Keterangan 2.031 gram = 0.31 gram % CH3COOH = x 100 % = 0.0989 N Ditanyakan : % CH3COOH .b. Campuran karbonat dan bikarbonat + aquades 2.0989 grek/L x 60 g/grek = 0. + indikator MO 5. + titrasi dengan asam klorida (HCl) 4.. + indikator PP 3.

0959 N Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat .5 mL Konsentrasi NaOH = 0.2 mL = 0. Rata-rata Diketahui : BE CH3COOH = 60 gram/grek Volume NaOH = = 1.003 L karbonat dalam sampel = (2x) mL HCl 0.0959 N = (2 x 0.0018 L % karbonat = = = 0.. ? Penyelesaian : Dalam 10 mL contoh asam terdapat : 100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg 100/25 x 0.152 x 100 % = 15.111 x 100 % = 11.0022 L % karbonat = = = 0..9 mL Volume HCl untuk bikarbonat (y mL) = 3.1007 gram/grek Volume HCl untuk karbonat (x mL) = 0.0959 N = (3.4 mL Konsentrasi NaOH = 0. Duplo Diketahui : Berat sampel = 0.9 mL Konsentrasi HCl = 0.033 gram = 0. Duplo Diketahui : BE CH3COOH = 60 gram/grek Volume NaOH = 1.33 gram % CH3COOH = x 100 % = 0.091 x 100 % = 9.033 gram Dalam 100 mL asam asetat = x B mg Kadar asam cuka = x gram = x 0.0014 L x 0.036 gram = 0.036 gram Dalam 100 mL asam asetat = x B mg Kadar asam cuka = x gram = x 0.0959 N Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat . ? Penyelesaian : bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0.239 x 100 % = 23. ? Penyelesaian : Dalam 10 mL contoh asam terdapat : 100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg 100/25 x 0.1 mL Volume HCl untuk bikarbonat (y mL) = 3 mL Konsentrasi HCl = 0.9 – 0.1 % % bikarbonat = = = 0. ? Penyelesaian : bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0.0989 grek/L x 60 g/grek = 0.36 gram % CH3COOH = x 100 % = 0.8 mL = 0. Titrasi asidimetri a.45 mL Konsentrasi HCl = 0. Simplo Diketahui : Berat sampel = 0.9 mL = 0.0959 N = (2 x 1.0019 L karbonat dalam sampel = (2x) mL HCl 0.0989 grek/L x 60 g/grek = 0.b.9 % c.33 x 100 % = 33 % 2.1007 gram/grek Volume HCl untuk karbonat (x mL) = = 1 mL Volume HCl untuk bikarbonat (y mL) = = 3..9) mL = 1..9) mL = 3 mL = 0.0959 N Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat ..0989 N Ditanyakan : % CH3COOH .1007 gram/grek Volume HCl untuk karbonat (x mL) = 1.0989 N Ditanyakan : % CH3COOH .2 % b. Rata-rata Diketahui : Berat sampel = 0.1) mL = 1.1 % % bikarbonat = = = 0.0015 L x 0.1) mL = 2. ? .0959 N = (3 – 1.36 x 100 % = 36 % c.

00245 L karbonat dalam sampel = (2x) mL HCl 0.45 – 1) mL = 2.196 x 100 % = 19.101 x 100 % = 10.6 % .002 L % karbonat = = = 0.Penyelesaian : bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0.45 mL = 0.0959 N = (3.1 % % bikarbonat = = = 0.0959 N = (2 x 1) mL = 2 mL = 0.

5 karena indikator metil orange berdasarkan teori akan berwarna merah apabila memiliki pH kurang dari 3.3 – 10. sesuai persamaan reaksi : NaHCO3 + HCl  NaCl + H2O + CO2 Berdasarkan hasil analisa data. Pembahasan Pada praktikum ini dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran serta kadar asam asetat (CH3COOH) dengan natrium hidroksida (NaOH). Perubahan warna larutan menjadi tak berwarna menandakan bahwa larutan telah bersuasana asam dimana pada pH di bawah 8. Pada titrasi secara duplo adalah 9.1 % dan 23.9 %.1 % dan kadar bikarbonat rata-rata yang diperoleh adalah 19. Dalam titrasi ini digunakan indikator phenolphthalein yang berfungsi sebagai zat penunjuk yang akan memberikan perubahan warna saat titik akhir titrasi telah tercapai. Reaksi antara natrium bikarbonat dengan asam klorida (HCl) menghasilkan garam berupa natrium klorida (NaCl).6 %.B. sesuai dengan reaksi di bawah ini : CH3COOH + NaOH  CH3COONa + H2O Berdasarkan hasil analisa data. Penambahan indikator phenolphthalein pada larutan campuran berfungsi sebagai zat penunjuk yang digunakan karena larutan campuran memiliki pH di atas 7 atau berada dalam suasana basa sehingga larutan akan memberikan warna merah secara teori dalam suasana basa. Kadar karbonat rata-rata yang diperoleh adalah 10.3 larutan akan berubah menjadi tak berwarna. Penambahan titran natrium hidroksida (NaOH) membuat larutan mengalami perubahan warna menjadi merah muda. Penitrasian kembali dilakukan dengan asam klorida (HCl) sehingga larutan mengalami perubahan warna.1 dan berubah warna menjadi kuning pada pH di atas 4. kadar karbonat dan bikarbonat pada titrasi secara simplo berturut-turut adalah 11. Awalnya larutan bersuasana asam akibat pH dari larutan asam asetat (CH 3COOH) yang digunakan bernilai rendah. Perbedaan kadar yang diperoleh pada titrasi secara simplo dan duplo disebabkan karena pada salah satu titrasi. menurut persamaan reaksi : Na2CO3 + HCl  NaHCO3 + HCl Untuk menentukan kadar bikarbonat.5). larutan telah sedikit melewati titik akhirnya sehingga volume natrium hidroksida (NaOH) yang digunakan lebih banyak dan mempengaruhi perhitungan kadar asam asetat (CH3COOH) dalam sampel. larutan telah memiliki pH di atas 7.2 %. Reaksi antara larutan campuran dengan asam klorida (PP) membuat natrium karbonat bereaksi dengan asam klorida (HCl) menghasilkan natrium bikarbonat (NaHCO 3) dan natrium klorida (NaCl).3 cenderung akan memberikan larutan tak berwarna dan akan berubah menjadi merah dalam larutan yang memiliki nilai pH di atas 10. Indikator phenolphthalein digunakan dalam titrasi ini karena indikator ini memiliki rentang trayek pH pada suasana basa yaitu : 8. Reaksi antara asam asetat (CH 3COOH) dengan natrium hidroksida menghasilkan garam dan air yang bersifat netral. Penambahan indikator membuat perubahan warna larutan menjadi violet. air yang bersifat netral serta uap karbondioksida. Setelah penambahan indikator. Penambahan indikator pada larutan membuat larutan berubah warna menjadi violet.1 % dan 15. penitrasian dilakukan dengan asam klorida (HCl) hingga larutan berubah menjadi tak berwarna. Penetapan kadar asam asetat (CH3COOH) dengan natrium hidroksida (NaOH) merupakan titrasi alkalimetri untuk menitrasi asam lemah dengan basa kuat.5. Berdasarkan trayek pH indikator phenolphthalein.0 sehingga apabila larutan telah bersuasana basa maka indikator akan mengalami perubahan warna menjadi biru. Penetapan kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran dilakukan menggunakan metode titrasi asidimetri menggunakan larutan asam klorida (HCl). larutan berubah warna menjadi kuning yang menandakan bahwa larutan memiliki pH di atas 4. maka larutan campuran tadi ditambahkan dengan metil orange (trayek 3.1 – 4. Proses titrasi pada larutan membuat larutan berubah warna menjadi orange kemerahan sehingga dapat dikatakan bahwa larutan telah bersuasana basa. . Dapat dikatakan bahwa. Untuk titrasi rata-rata diperoleh kadar asam asetat (CH3COOH) sebesar 33 %. larutan yang memiliki nilai pH di bawah 8. kadar asetat yang diperoleh dari percobaan secara simplo adalah 31 % dan 36 % pada titrasi secara duplo.

1 % serta kadar bikarbonat adalah 15. sedangkan kadar asam asetat rata-rata yang diperoleh adalah 33 %. 2. Saran Saran dari percobaan ini adalah sebaiknya pada percobaan selanjutnya dilakukan titrasi alkalimetri untuk menentukan konsentrasi atau kadar dari asam poliprotik yang dititrasi dengan basa kuat sehingga dapat diketahui perbedaan titrasi alkalimetri dengan asam lemah dan asam poliprotik. Untuk titrasi secara duplo.2 %. 26 . yaitu sebagai berikut : Kadar asam asetat yang diperoleh secara simplo adalah 31 % dan 36 % pada titrasi secara duplo. 1. B.2 % untuk kadar bikarbonat. Kadar karbonat yang diperoleh secara simplo adalah 11. Kesimpulan Kesimpulan dari percobaan ini.1 % untuk kadar karbonat dan 15.1 % dan 19.6 %. 9. Kadar karbonat dan bikarbonat rata-rata yang diperoleh masing-masing adalah 10.BAB V PENUTUP A.

Chem-is-try. 46-47 [4]Achmad Mursyidi dan Abdul Rohman. h. S. 19 [2]Intan Wilyta.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/pemisahan-kimia-dan-analisis/titrasi-asam-basa/ (31 Mei 2012) [8]Ibid [9]Achmad Mursyidi dan Abdul Rohman.com/doc/70246435/asidimetri (31 Mei 2012) [3]S. Makassar: UIN Alauddin Makassar. “Asidimetri”. Khopkar. Volumetri dan Gravimetri (Yogyakarta: UGM-Press. M. M. 81 [6]M. Achmad dan Abdul Rohman.com. loc. h..org-Situs Kimia Indonesia. h. http://www. 2012 Ibnu. Volumetri dan Gravimetri.com. Konsep Dasar Kimia Analitik (Jakarta: Universitas Indonesia. 2008).chem-is-try.. 2010).scribd. http://www. Diakses pada tanggal 31 Mei 2012 Wilyta. Kimia Analitik I (Malang: Universitas Negeri Malang. Penuntun Praktikum Kimia Analitik (Makassar: UIN Alauddin Makassar. http://www. 2008 Morie. cit. “Asidimetri”.com. Diakses pada tanggal 3 1 Mei 2012 Zulfikar. 30 Oktober 2011.org/materi_kimia/kimiakesehatan/pemisahan-kimia-dan-analisis/titrasi-asam-basa/.org-Situs Kimia Indonesia. Konsep Dasar Kimia Analitik. 27 Desember 2010. M. http://belajarkimia. h. 2010 Mursyidi.2012).. et al. Kimia Analitik I . et al. “Titrasi Asam Basa”. belajarkimia. Malang: Universitas Negeri Malang.scribd.chem-istry. cit. 2005 Khopkar. h. 2005). “Titrasi Asam Basa”.com/doc/70246435/asidimetri. Sodiq Ibnu. 30 Oktober 2011. 104 [5]Ibid. Wa Ode Rustiah dan Anna Handayani. op. Yogyakarta: UGM-Press. Penuntun Praktikum Kimia Analitik. 27 Desember 2010. Sodiq Ibnu. 7 April 2008.DAFTAR PUSTAKA Chadijah. Intan Wilyta. Indigo. . Chem-is-try. 105 [10]Ibid [11]Zulfikar.com/2008/04/titrasi-asam-basa/. Sitti Chadijah. “Titrasi Asam Basa”. Diakses pada tanggal 31 Mei 2012 [1]Sitti Chadijah. Wa Ode Rustiah dan Anna Handayani. scribd. http://www. Jakarta: Universitas Indonesia. 96 -97 [7]Zulfikar.. h. scribd.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful