LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

I. NOMOR PERCOBAAN II. NAMA PERCOBAAN

: IV : TITRASI ASAM BASA : VOLUMETRI

1. Mempelajari dan menerapkan teknik titrasi untuk menganalisis contoh yang mengandung asam 2. Menstandarisasi larutan penitrasi. IV. DASAR TEORI Beberapa pandangan mengenai perilaku asam basa dapat dijelaskan melalui teori yang dikembangkan oleh arhenius. Menurut Arhenius asam adalah senyawa yang melepaskan ion hidrogen dalam larutan berair. Asam memiliki sifat berasa asam, mengubah . Sifat khas suatu asam sebenarnya merupakan sifat

lakmus dari biru menjadi merah, dan bereaksi dengan logam aktif menghasilkan gas dari ion

Dengan kata lain ion adalah pembawa sifat asam. Arrhenius mendefinisikan basa sebagai senyawa yang melepaskan hidroksida dalam larutan berair. Contoh NaOH. Ion hidroksida ini diyakini Arrhenius sebagai pembawa sifat khas basa yaitu,pahit, terasa licin dikulit,dan sebagainya. Jika sejumlah tertentu asam dan basa dicampurkan sifat khas asam dan basa tersebut akan hilang. Reaksi antara asam dan basa dinamakan reaksi netralisasi,pada reaksi tersebut akan dihasilkan suatu garam dan air. Semua asam Arrhenius juga diklasifikasikan sebagai asam oleh Browsted – Lowry. Sebagai contoh pada reaksi gas hidrogen klorida, HCL dengan air untuk menghasilkan asam klorida, gas hidrogen klorida berperan sebagai pemberi proton. Berdasarkan Bronsted – Lowry, asam adalah donor proton, sedangkan basa merupakan akseptor proton. Menurut Bronsted – lowry suatu reaksi asam basa dapat berlangsung tanpa adanya medium air, contohnya pada reaksi berikut ini : HCL + + Menurut Lewis reaksi yang melibatkan amonia atau air terjadi dikarenakan adanya pemakaian elekteron bersama pasangan elektron bebas yang dimiliki keduanya untuk membentuk ikatan kovalen koordinasi dengan spesi lain sehingga amonia dan air dalam reaksi tersebut bertindak sebagai basa.secara singkat dapat dijelaskan,menurut Lewis asam merupakan suatu spesies yang dapat menerima pasangan elektron bebas, sedangkan basa merupakan suatu spesies yang dapat mendonorkan pasangan elektron bebas. Jadi, yang tidak memiliki pasangan elektron bebas adalah asam sedangkan yang memiliki pasangan elektron bebas adalah basa. Menurut teori asam basa Lewis, asam merupakan spesi yang menerima pasangan elektron bebas. Sedangkan berdasarkan reaksi diatas, HCl bertindak sebagai asam menurut Lewis. Atom Klor merupakan atom yang lebih elektronegatifan dibandingkan dengan atom H. Jadi molekul HCl merupakan molekul yang polar. Pasangan atom yang dimiliki bersama antara H dan Cl cenderung lebih tertarik ke atom Cl sehingga Cl bersifat lebih negatif. Ketika molekul HCl menjadi semakin dekat keatom Cl , maka akibatnya ikatan kovalen koordinasi antara atom H dan N terbentuk, dan ikatan antar atom H dengan Cl terputus. Oleh karena itu, molekul HCL bertindak sebagai asam menurut Lewis karena menerima pasangan elektron bebas dari NH3. Asma lewis tidak harus memiliki orbital kosong. 1

1

( http://www.chemistry.org.//teori-asambasa.html ) Dalam air murni terdapat ion dan ion . dalam koordinasi konsentrasi yang sama, yang sangat kecil. Bila

konsentrasi sama dengan konsentrasi OH- maka larutan tersebut disebut dengan larutan netral. Bila konsentrasi yang diketahui ( Atau sebaliknya penambahan asam kedalam basa untuk mencapai titik akhir). Titik ekivalen adalah titik asam dimana asam tepat bereaksi denga semua basa. Idikator digunakan untuk membantu kita kapan kita mengetahui titrasi harus dihentikan didekat titik ekivalen . saat titrasi dihentikan disebut dengan titrasi akhir (titik akhir titrasi). Titik akhir titrasi berbeda dengan titik ekivalen, tetapi perbedaannya tidak terlalu besar sehingga digunakan indikator yang tepat yaitu yang memiliki trayek PH sekitar titik ekivalen. Prinsip titrasi adalah pengukuran volume suatu larutan yang diperlukan untuk bereaksi dengan larutan lainyang mempunyai volume tertentu atau zat terlarut dengan konsentrasi tertentu. Titrasi asam basa merupakan metode analitis untuk menentukan jumlah jumlah asam atau basa dalam suatu sampel. Hitungan titrasi yaitu ekivalen asam basa dengan ekivalen basa. VA . NA . Nb Konsentrasi asam basa sering menggunakan Molaritas sehingga : Analisa volumetri adalah analisa kuantitatif dimana kader komponen dari zat uji ditetapkan berdasarkan volume reaksi pereaksi ( konsentrasi diketehui ) yang ditambahkan kedalam larutan zat uji, hingga komponen yang akan ditetapkan bereaksi secara kuantitatif dengan pereaksi tersebut. Proses yang dikenal juga dengan analisa tirimetri. Suatu pereaksi dapat digunakan sebagai dasar analisa titrimetri apabila memenuhi syarat –syarat sebagai berikut yaitu reaksi harus berlangsung sesuai persamaan reaksi kimia tertentu, harus tidak ada reaksi samping. Yang kedua reaksi harus berlangsung sampai benar-benar lengkap pada titik tinggi dari pada konsentrasi sama denga konsentrasi OH- maka larutan tersebut disebut larutan netral. Bila konsentrasi maka larutan tersebut adalah larutan yang bersifat asam,sedangkan bila konsentrasi lebih

lebih rendah

dari pada konsentrasi maka larutan tersebut bersifat basa. pH atau kadar larutan yang bersifat netral sama dengan tujuh. Larutan yang bersifat asam pH nya kurang dari tujuh. Semakin kurang dari tujuh maka larutan tersebut mempunyai sifat asam yang semakin kuat. Sedangkan bila PH nya lebih dari tujuh, maka laritannya bersifat basa, semakin pH nya lebih dari tujuh maka semakin kut basanya. Pada titrasi biasanya digunakan suatu indikator yang memberikan tanda kepada kita bahwa campuran asam basa yang ada dalam larutan memiliki pertandingan yang benar untuk mencapai suatu keadaan larutannya yang netral. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna dari inikator atau kenaikan penurunan PH nya yang tiba-tiba. Idealnya perubahan warna indikator akan terjadi pada saat kita mencampurkan larutan itu padsa proporsi ya ng sama, tepat. Keadaan ini disebut titik ekivalen. Kurva yang menunjukkan perubahan

warna pH versus volume larutan titrasi disebut dengan kurva titrasi. Bentuknya tergantung pada nilai Ka dan konsentrasi asam basa yang digunakan.2 Prosedur untuk menentukan konsentrasi suatu larutan dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan larutan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titrasi. Jika yang dilihatkan adalah larutan asam dan larutan basa, titrasi itu disebut dengan titrasi asam basa. Larutan yang diketahui konsentrasinya disebut larutan baku ( larutan standar ). Pada bagian ini akan dibahas bagaimana perubahan pada berbagai titrasi asam basa. Titrasi asam basa merupakan penambahan secara hati-hati sejumlah larutan basa dengan konsentrasi tertentu. Ekivalen suatu indikator harus ada untuk menunjukkan titik 2 ekivalen. Yang ketiga adalah reaksi. ( http://www.google.co.id/titrasi.html ) Beberapa jenis reaksi dapat digunakan untuk titrasi yaitu pengendapan, reaksi oksidasi-reduksi,reaksi asam-basa,dan reaksi pembentukan kompleks. Pada percobaan ini akan dilakukan titrasi asam basa. Pertamakali akan dilakukan standarisasi (pembakuan) terhadap larutan basa. Yang selanjutnya digunakan untuk menganalisis contoh yang mengandung asam. Bila sebagai titrasi adalah larutan baku asam,maka endapan tersebut dinamakan Asidimetri dan apabila larutan baku basa sebagai titran maka disebut Alkalimetri. Secara ringkas reaksi asma basa atau netralisasi disebabkan oleh proton dari asam yang bereaksi dengan OH- dari basa. Reaksi yang terjadi adalah : + O Pereaksi yang digunakan digunakan dinamakan titran dan larutannya disebut larutan titeratau larutan beku. Konsentrasi larutan ini dapat dihitung berdasarkan berat baku yang ditimbangkan secara seksama atau dengan penetapan yang dikenal dengan standarisasi atau pembekuan. Larutan standar (baku) dibagi menjadi standar primer dan standar sekunder. Kedua jenis larutan standar (baku) ini dapat digunakan analisa kuantitatif suatu larutan senyawa. Pereaksi pada kebanyakan titrasi asam basa perubahan larutan pada titik ekivalen tidak jelas. Untuk mengatasi hal ini maka digunakan indikator yaitu suatu senyawa organik asam atau basa lemah yang mempunyai warna molekul (warna asam) berbeda dengan warna ionnya (warna basa), dimana indikator ini memperlihat perubahan warna pH tertentu. Secara umum untuk titrasi asam basa indikator yang digunakan adalah indikator venotalin yang mempunyai trayek pH 8,3 – 10.5 dimana indikator senyawa ini tidak berwarna pada larutan asam dan berwarna merah muda dalam larutan basa. Bila kuantitas ekimolar dari suatu asam kuat seperti asam klorida (HCL) dan suatu basa kuat seperti natrium hidroksida (NaOH) Dicampurkan dalam satu larutan, maka ion hidrinium dari asam dan ion hidroksida dari basa akan bersenyawa membentuk air (H2O). Reaksi antara ion hidronium dari asam dengan ion hidroksida dari basa sehingga membentuk senyawa air tadi merupakan reaksi penetralan. Setelah reaksi antara asam klorida dengan natrium klorida hidroksida maka akan tinggal larutan dari ion dan . Meskipun kedua ion ini tidak terlihat dalam proses penetralan dapat dikatakan bahwa larutan NaCl terbentuk sebagai hasil dari suatu reaksi antara asam klorida dengan natrium klorida atau dapat pula dikatakan reaksi asam basa. Reaksi asam basa yang sama kekuatannya akan menghasilkan larutan yang bersifat netral. Asam dan basa bereaksi dapat berasal dari suatu asam lemah ataupun basa kuat. Reaksi asam basa kekuatannya berlainan akan menghasilkan larutan dengan sifat satu asam lemah dan yang saytu lagi bersifat basa lemah. Itu semua tergantung pada kekuatan atom asam konjugasinya dan basa konjugasinya yang dihasilkan. Semua itu bertitik tolak pada larutan standar yang digunakan. Larutan standar yang digunakan atau dipakai NaOH. Perbedaan antara titik akhir titrasi dengan titik ekivalen adalah titik ekivalen yang terjadi pada saat reaksi asam dan basa mulai menetral, dimana asma menuju basa. Sedangkan titik akhir titrasi terjadi karena pada saat dimana dari ion-ion asam dan basa telah lengkap bereaksi maka hasilnya akan membentuk suatu senyawa air. Proses yang dikenal dengan titrasi oleh karena dikenal juga dengan “analisis titrimetri” suatu pereaksi dapat digunakan sebag ai dasar analisa titrimetri apabila memenuhi syarat-syarat berikut :reaksi harus berlangsung sesuai persamaan reaksi kimia tertentu harus tidak ada reaksi samping,reaksi harus berlangsung sampai benar-benar lengkap pada titik ekivalen, reaksi harus berlangsung cepat, sehingga titrasi diperlakukan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. 3 3( Rivai,Bakti.2010. Penuntun Praktikum Kimia Dasar I. Inderalaya : Universitas Sriwijaya) V. ALAT DAN BAHAN Alat yang dipergunakan pada praktikum kali ini adalah: 1. Gelas Ukur 2. Beker Gelas 3. Labu ukur 250 mL 4. Tabung Erlemeyer 5. Statif 6. Pipet Tetes Bahan yang dipergunakan pada praktikum kali ini adalah: Biuret Larutan NaOH Larutan Cuka Makan Asam Oksalat Air Suling

1. 2. 3. 4. 5.

VI. PROSEDUR PERCOBAAN Dicuci dengan baik buret 50 mL, dibilas dengan air suling , tutup ceratnya lalu dimasukkan kira-kira 5 ml NaOH yang akan distandardisasi.

A. Standardisasi arutan NaOH 0,1 ml

Dimiringkan dan diputar buret untuk membasahi permukaan buret. Keluarkan larutan dari buret dan ulangi pembilasan hinga skala 0, alirkan larutan untuk mengeluarkan gelembung udara.

Dicuci erlemeyer 250 ml kemudian dbilas dengan air suling. Pipet pertama 15 ml larutan HCl standar 0,1 M kedalam setiap erlemeyer.Ditambahkan kedalam erlemeyer masing-masing 15 ml air suling dan 3 etes indicator fenolffalein.dicatat NaOH pada buret kemudiandialirkan sedikit demi sedikit NaOH pada erlemeyer pertama. Dicatat volume akhir, hitunglah Molaritas larutan standar NaOH

Dicatat volume akhir, hitunglah Molaritas larutan standar NaOH

B. Menentukan persentase asam asetat dalam cuka. Cuka dapur mengandangi asam asetat 4 – 6 %.

Dimasukkan

pipet 1 ml asam cuka setiap erlyemeer tambahkan 10 ml air suling, 3 tetes indicator fenolftalein .

Dihitung persentase massa pada tiap-tiap contoh

VII. PERTANYAAN PRA PRAKTEK 1. Apa yang dimaksud dengan asam,basa,titik ekivalen,indikator? Jawab: a. b. c. d. Asam adalah zat yang melarut ke dalam air untuk membiarkan ion-ion .

a. b.

Basa adalah zat yang melarut ke dalam air untuk memberikan ion-ion . Titik ekivalen dimana titer dan titran tepat bereaksi ditandai dengan perubahan warna yang belum konstan. Indikator adalah senyawa organik asa atau basa lemak yang mempunyai warna moekul berbeda degan warna ionnya dimana indikator akan memperlihatkan perubahan warna pada pH tertentu. 2. Jelaskan perbedaan titik akhir titrasi dan titik ekivalen? Jawab: Titik akhir titrasi merupakan titik dalam reksi titrasi yang ditandai dengan perubahan warna indikator. Titik ekivalen dimana titer dan titran tepat bereaksi ditandai dengan perubahan warna yang belum konstan. 3. Sebanyak 0,7742 g kalium hidrogen sitrat dimasukan ke dalam erlemyer dan dilarutdengan air suling, kemudian titrasi dengan dengan larutan NaOH. Bila terpakai 33,60 mL larutan NaOH, berapa molaritas larutan NaOH tersebut? Jawab: Massa = 0,7742 V NaOH = 33,6 mL = 0,0336 L Mol M NaOH = = = = 0,003 mol = 0,089

VIII. DATA HASIL PENGAMATAN V1 = 3,8 ml V2 = 7,9 – 3,8 = 4,1 ml V3 = 12,1 – 4,1 = 8 ml

IX. REAKSI DAN PERHITUNGAN

Indikator berguna untuk menunjukkan perubahan warna. Digunakan indikator fenolftalein dengan pH trayeknya 8.3 .5 . 3. Analisa yang digunakan pada percobaan kali ini adalah kuntitatif dan volumetri. Reaksi NaOH + HCl b. Larutan standar primer yang mana larutan tersebut konsentrasinya telah diketahui sehingga tidak perllu di standarisasi. . 0. larutan standar primer dan larutan standar sekunder. Persen kesalahan yang didapat mencapai 88 % . sifat dari asam ini berasa asam dan mengubah lakmus biru menjadi merah. pastikan alat – alat tersebut telah bersih dan kering sehingga tidak mempengaruhi molaritas larutan. Karena dalam penambahan air merupakan salah satu cara untuk mengubah molaritas larutan.. dan erlenmeyer pun harus sangat hati – hati. menurut Arrhenius. karena itu kita ambil rata – rata volume dari ketiga volume yang di dapat untuk digunakan dalam perhitungan. Larutan ini konsentrasinya belum diketahui sehingga perlu di standarisasi. Disini asam basa sendiri dibagi atas pandangan. Indikator merupakan senyawa organik asam basa lemah yang memiliki warna berbeda dengan ionnya.1 M NaOH = = 0. sedangkan basa sebagai spesi yang mendonorkan pasangan elektron bebas.0. Seharusnya sebelum melakukan percobaan. dan alat – alat nya juga harus kita jaga dengan baik. pipet gondok. air suling dan indikator. Pada prosos pencampuran antara titer dan titran di dapat titik ekivalen dan titik akhir titrasi. 100 % = 88 % X. sedangkan basa bertindak sebagai akseptor proton. didapatkan hasil berupa larutan berwarna merah muda dari campuran titran berupa NaOH dengan titernya yang terdiri dari asam klorida. 2. kesalahan bisa terjadi saat menggunakan alat yang digunakan. M NaOH = V HCl . pada titrasi larutan terbagi dua. Titik saat di mana asam basa dan basa tepat bereaksi . Indikator termasuk senyawa organik asam lemah yang memiliki warna berbeda dengan ionnya. 1. dan Lewis. Pada percobaan kali ini kita dapat menstandarisasi larutan.188 M % Kesalahan = X 100 % = x 100 % = . 5. analisa yang di dasarkan pada volume. larutan standar sekunder ini memiliki ciri – ciri maassa molekul yang rendah dan hidroskopis. Pada percobaan ini.3 ml NaCl + H2O V NaOH . Sedangkan larutan standar primer mempunyai massa molekul relatif tinggi. Pada indikator ini perubahan warna pada senyawa asam yaitu being ( tidak berwarna ) dan pada basa berubah menjadi warna merah muda.3 – 10. XI. Dalam penggunaaan alat berupa buret.88 . Percobaan titrasi asam basa ini dilakukan dalam tiga kali pengulangan. sedangkan basa senyawa yang apabila bereaksi dengan air akan menghasilkan ion . Percobaan ini analisa yang dipakai analisa volumetri. Sedangkan larutan standar sekunder atau yang bertindak sebagai titran. namun perubahan warna yang terjadi belum konstan disebut dengan titik ekivalen. basa bersifat pahit dan licin dikulit serta dapat membirukan lakmus merah.5 . Titik akhir titrasi di tandao dengan perubahan warna indikator yang sudah konstant.3 – 10. Percobaan titrasi asam basa ini merupakan suatu metode untuk menentukan konsentrasi suatu larutan asam basa. dan masing – masing titrasi volume NaOH berbeda – beda. Sedangkan yang memiliki pH di atas 7 merupakan basa. Di dalam laboratorium pun kita harus berhati – hati sebab banyak bahan – bahan yang berbahaya. M NaOh = 10 .a. Menurut Arrhenius asam didefinisikan senyawa yang apabila bereaksi dengan air akan menghasilkan ion . Menurut Lewis sendiri berpendapat bahwa asam sebagai spesi yang menerima pasangan elektron bebas. KESIMPULAN Titik ekivalen dimana titer dan titran mengalami reaksi ditandai perubahan warna yang belum konstan . konsentrasinya diketahui dan mudah untuk di dapat. Menurut Brownsted – Lowry berpendapat bahwa asam bertindak sebagai donor . 4. M HCl 5. Pada percobaan titrasi asam basa ini digunakan indikator fenolftalein dengan pH trayeknya 8. Perhitungan V= = = = 5. Inilah yang membedakan antara titik ekivalen dengan titik akhir titrasi. PEMBAHASAN Pembahasan kali ini mengenai percobaan titrasi asam basa. Brownsted-Lowry. pH yang memiliki di bawah 7 merupakan sifat dari asam.

id/titrasi. Pukul 15:00 WIB Petrucci.org.Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern (terjemahan). lihat Hidrogen klorida Asam klorida Nama IUPAC[sembunyikan] Asam klorida Nama lain[sembunyikan] Klorana Identifikasi Nomor CAS PubChem Nomor EINECS Nomor RTECS [7647-01-0] 313 231-595-7 MW4025000 Sifat Rumus molekul Massa molar Penampilan HCl dalam air (H2O) 36.32 °C (247 K) larutan 38% Densitas Titik lebur .html Diakses pada tanggal 26 November 2010. Penuntun Praktikum Kimia Dasar I.2010.18 g/cm3 (variable) −27.2010.chemistry.http://www.1987.google. Pukul 15:30 WIB Anonim.//teori-asambasa. ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Asam klorida merujuk pada larutan HCl dalam air.Teori Asam Basa.DAFTAR PUSTAKA Anonim.http://www.co. untuk senyawa HCl dalam keadaan murni (gas).titrasi.html Diakses pada tanggal 26 November 2010.46 g/mol (HCl) Cairan tak berwarna sampai dengan kuning pucat 1.2010.dkk. Inderalaya : Universitas Sriwijaya Posted 21st April 2012 by RAHMAT PRATAMA Asam klorida Dari Wikipedia bahasa Indonesia. Jakarta : Erlangga Rivai.Bakti. R.H.

S26. Senyawa ini digunakan sepanjang abad pertengahan oleh alkimiawan dalam pencariannya mencari batu filsuf. Sejak Revolusi Industri.1 Pasar industri 5 Keberadaan dalam organisme hidup 6 Keselamatan . larutan 31.9 mPa·s pada 25 °C. dan merupakan komponen utama dalam asam lambung.0 1. dan kemudian digunakan juga oleh ilmuwan Eropa termasuk Glauber. R37 (S1/2).2%. senyawa ini menjadi sangat penting dan digunakan untuk berbagai tujuan. Senyawa terkait Anion lainnya Asam terkait F-. meliputi produksi massal senyawa kimia organikseperti vinil klorida untuk plastik PVC dan MDI/TDI untuk poliuretana. 100 kPa) Sangkalan dan referensi Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl).Titik didih 110 °C (383 K). Ia adalah asam kuat. Priestley. larutan 20. Asam klorida pernah menjadi zat yang sangat penting dan sering digunakan dalam awal sejarahnya. data di atas berlaku pada temperatur dan tekanan standar (25°C. Asam klorida harus ditangani dengan wewanti keselamatan yang tepat karena merupakancairan yang sangat korosif. larutan 38%. Tercampur penuh −8. dan aditif makanan. Senyawa ini juga digunakan secara luas dalam industri. Daftar isi [sembunyikan]       1 Sejarah 2 Kimia 3 Sifat-sifat fisika 4 Produksi o 4. IAsam bromida Asam fluorida Asam iodida Asam sulfat Kecuali dinyatakan sebaliknya. produksigelatin. Ia ditemukan oleh alkimiawan Persia Abu Musa Jabir bin Hayyan sekitar tahun 800. Br-. Kegunaan kecil lainnya meliputi penggunaan dalam pembersih rumah. and Davy dalam rangka membangun pengetahuan kimia modern. 48 °C (321 K). Sekitar 20 juta ton gas HCl diproduksi setiap tahunnya. S45 Tak ternyalakan.5% Bahaya Kelarutan dalam air Keasaman (pKa) Viskositas MSDS Klasifikasi EU Indeks EU NFPA 704 External MSDS Korosif (C) 017-002-01-X 0 3 1 COR Frasa-R Frasa-S Titik nyala R34.

Humphry Davy dari Penzance.  7 Referensi 8 Pranala luar [sunting]Sejarah Asam klorida pertama kali ditemukan sekitar tahun 800 sesudah masehi oleh ahli kimia Jabir bin Hayyan (Geber) dengan mencampurkan natrium klorida dengan asam sulfat ("vitriol"). Istilah asam garam ini pun masih digunakan di beberapa bahasa dunia. permintaan atas senyawa-senyawa alkalin meningkat. dan metamfetamina. Gas HCl disebut sebagai udara asam laut. Jerman menggunakan natrium klorida dan asam sulfat untuk membuat natrium sulfat melalui proses Mannheim.[1][3][4] Pada abad ke-20. kokaina. dan pada tahun 1818. batu kapur. Proses industri baru yang mengijinkan produksi natrium karbonat (soda abu) dalam skala besar berhasil dikembangkan olehNicolas Leblanc. Inggris. misalnya dalam bahasa Jerman Salzsäure. Joseph Priestley dari Leeds berhasil menghasilkan hidrogen klorida murni pada tahun 1772. HCl yang berlebih dilepaskan ke udara bebas. proses Leblanc digantikan oleh proses Solvay yang tidak menghasilkan asam klorida sebagai produk sampingan. dan mencatat penemuannya ke dalam lebih dari dua puluh buku. Setelah tahun 2000. Sebelum diberlakukannya Undang-Undang Alkali tahun 1863 oleh Britania. asam klorida kebanyakan dihasilkan dari pelarutan produk samping hidrogen klorida dari produksi industri senyawa organik. Penemuan Jabir atas air raja yang dapat melarutkan emas mengandung asam klorida dan asam nitrat. Proses ini melepaskan hidrogen klorida sebagai produk samping. asam klorida telah dimasukkan ke dalam Tabel II Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika karena ia dapat digunakan dalam produksi heroin. Johann Rudolf Glauber dari Karlstadt am Main. Produksi asam klorida secara signifikan dicatat oleh Basilius Valentinus pada abad ke-15. Setelah berlakunya undang-undang ini. bahasa Belanda Zoutzuur.[3][4][5] Sejak tahun 1988.[6] Konvensi ini disahkan di Indonesia oleh Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1997. Dalam proses Leblanc.[1][2][3] Pada Abad Pertengahan. Proses ini akan melepaskan gas hidrogen klorida sebagai produk sampingannya. Pada abad ke-17.[7] [sunting]Kimia Titrasi asam . natrium klorida diubah menjadi natrium karbonat menggunakan asam sulfat. bahasa Mandarin 鹽酸 (yansuan). membuktikan bahwa komposisi kimia zat tersebut terdiri dari hidrogen dan klorin. dan batubara. produsen soda abu diwajibkan untuk melarutkan gas ini ke dalam air dan menghasilkan asam klorida dalam skala industri.[1][2][3] Jabir bin Hayyan dalam gambar abad pertengahan Semasa Revolusi Industri di Eropa. dan bahasa Jepang 塩酸 (ensan). asam klorida dikenal oleh ahli kimia Eropa sebagai spirits of salt atau acidum salis (asam garam).[1][2] Jabir menemukan banyak senyawa-senyawa kimia penting lainnya.

46 424. Untuk larutan asam klorida yang kuat. dan pH tergantung pada konsentrasi atau molaritas HCl dalam larutan asam tersebut.149 1.1 mPa·s 1.[10] Ketika garam klorida seperti NaCl ditambahkan ke larutan HCl.46 2. Walaupun asam.99 2.50 2. berada di antara kristal HCl·H2O (68% HCl).130 6. Oleh karena alasan inilah.8 −1. nilai Ka cukup besar. Asam klorida merupakan asam pilihan dalam titrasi untuk menentukan jumlah basa.6 °C (227 °F). Ia juga merupakan asam kuat yang paling tidak berbahaya untuk ditangani dibandingkan dengan asam kuat lainnya.6 13 19 20 21 22 23 kg/l 1.0 −1.90 11.80 1. Asam klorida oleh karenanya dapat digunakan untuk membuat garam klorida. Sifat-sifat ini berkisar dari larutan dengan konsentrasi HCl mendekati 0% sampai dengan asam klorida berasap 40% HCl [8][9][12] Kapasitas kalor jenis kJ/(kg·K) 3.048 1.60 344. Ka. seperti natrium klorida.16 1. HCl·3H2O (41% HCl).70 370.82 6. massa jenis. asumsi bahwa molaritas H+ sama dengan molaritas HCl cukuplah baik. asam klorida merupakan asam monoprotik yang paling sulit menjalani reaksi redoks.[8][9] Dari tujuh asam mineral kuat dalam kimia.733 14. dengan ketepatan mencapai empat digit angka bermakna.99 2. H+ ini bergabung dengan molekul air membentuk ion hidronium.179 1. HCl·6H2O (25% HCl). asam klorida merupakan reagen pengasam yang sangat baik.2%) dapat digunakan sebagai standar primer dalam analisis kuantitatif. Cl−.47 2. Asam klorida azeotropik (kira-kira 20. Asam klorida memiliki empat titik eutektik kristalisasi-konstan. [12] [sunting]Produksi Asam klorida dibuat dengan melarutkan hidrogen klorida ke dalam air. HCl·2H2O (51% HCl).159 1.37 1.44 451.189 mol/dm3 2.[3] .[8][9] [sunting]Sifat-sifat fisika Ciri-ciri fisika asam klorida. Asam klorida pekat melarutkan banyak jenis logam dan menghasilkan logam klorida dan gas hidrogen.8% antara es dan kristalisasi dari HCl·3H2O. seperti titik didih. Ia juga bereaksi dengan senyawa dasar semacam kalsium karbonat dan tembaga(II) oksida.39 −0. titik leleh.5 −0.0 −1. Asam klorida sebagai campuran dua bahan antara HCl dan H2O mempunyai titik didih-konstan azeotrop pada 20. Beberapa usaha perhitungan teoritis telah dilakukan untuk menghitung nilai Ka HCl.325 kPa).0 −1. Dalam larutan asam klorida.43 Konsentrasi Massa jenis Molaritas pH Viskositas Tekanan uap Titik didih Titik leleh kg HCl/kg kg HCl/m3 Baumé 10% 20% 30% 32% 34% 36% 38% 104.90 1.60 2.88 397.80 219.1 −1.02 9. Produksi skala besar asam klorida hampir selalu merupakan produk sampingan dari produksi industri senyawa kimia lainnya.[11] Asam klorida sering digunakan dalam analisis kimia untuk "mencerna" sampel-sampel analisis.10 Pa 0. Asam yang lebih kuat akan memberikan hasil yang lebih baik oleh karena titik akhir yang jelas. Untuk asam kuat seperti HCl.410 3.3 1.45 10. Asam klorida adalahasam kuat karena ia berdisosiasi penuh dalam air. yang mengindikasikan tingkat disosiasi zat tersebut dalam air.64 12.169 1. Asam klorida dalam konsentrasi menengah cukup stabil untuk disimpan dan terus mempertahankan konsentrasinya. walaupun konsentrasinya bergantung pada tekanan atmosfernya ketika dibuat.87 6. Terdapat pula titik eutektik metastabil pada 24. ia mengandung ion klorida yang tidak reaktif dan tidak beracun.[8][9] Asam monoprotik memiliki satu tetapan disosiasi asam. Hal ini mengindikasikan bahwa Cl− adalah konjugat basa yang sangat lemah dan HCl secara penuh berdisosiasi dalam larutan tersebut.100 28.Hidrogen klorida (HCl) adalah asam monoprotik.70 1. dan es (0% HCl). ia tidak akan mengubah pH larutan secara signifikan.098 1. Hidrogen klorida dapat dihasilkan melalui beberapa cara.17 10. menghasilkan klorida terlarut yang dapat dianalisa.527 27.2% HCl dan 108. H3O+:[8][9] HCl + H2O → H3O+ + Cl− Ion lain yang terbentuk adalah ion klorida.55 2.000 °C 103 108 90 84 71 61 48 °C −18 −59 −52 −43 −36 −30 −26 Suhu dan tekanan referensi untuk tabel di atas adalah 20 °C dan 1 atm (101. yang berarti bahwa ia dapat berdisosiasi melepaskan satu H+ hanya sekali.

1 M. NaClO + 2 HCl → H2O + NaCl + Cl2 2 KMnO4 + 16 HCl → 2 MnCl2 + 8H2O + 2 KCl + 5 Cl2 Alat-alat pelindung seperti sarung tangan PVC atau karet. pH asam lambung yang rendah akan mendenaturasi protein. [13] Ion klorida (Cl−) dan hidrogen (H+) disekresikan secara terpisah di bagian fundus perut yang berada di bagian teratas lambung oleh sel parietal mukosa lambung ke dalam jaringan sekretori kanalikulus sebelum memasuki lumen perut. Obat-obat antihistamin dan inhibitor pompa proton dapat menghambat produksi asam dalam perut.[13] Lambung itu sendiri terlindung dari asam kuat oleh sekresi lapisan mukosa yang tebal dan penyanggaan oleh natrium bikarbonat yang diinduksi oleh sekretin. LANDASAN TEORI. Nyeri ulu hati dan sakit maag dapat berkembang apabila mekanisme perlindungan ini gagal bekerja. sehingga penyimpanan dan penanganannya harus dilakukan dalam suhu rendah. pH yang rendah ini juga akan mengaktivasi prekursor enzim pepsinogen.[3] [sunting]Keberadaan dalam organisme hidup Asam lambung merupakan salah satu sekresi utama lambung. B. Kandungan asam klorida pada kebanyakan cairan pembersih umumnya berkisar antara 10% sampai dengan 12%.[16] Konsentrasi Klasifikasi berdasarkan berat 10–25% > 25% Iritan (Xi) Frasa R R36/37/38 Korosif (C) R34 R37 Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (United States Environmental Protection Agency) memasukkan asam klorida sebagai bahan beracun. TUJUANPENGAMATAN/PENELITIAN. dan usus. Ia utamanya terdiri dari asam klorida dan mengasamkan kandungan perut hingga mencapai pH sekitar 1 sampai dengan 2.[13][15] [sunting]Keselamatan Tanda bahaya Asam klorida pekat (asam klorida berasap) akan membentuk kabut asam. Konsentrasi HCl yang paling optimal untuk pengantaran produk adalah 30% sampai dengan 34%. Setelah meninggalkan lambung.[sunting]Pasar industri Asam klorida diproduksi dalam bentuk larutan 38% HCl (pekat). Menentukankonsentrasi larutan NaOH O. 1.[3] Cairan pembersih tersebut harus diencerkan terlebih dahulu sebelum digunakan. . 2. Menentukankonsentrasi larutan HCL. sehingga akan lebih mudah dicerna oleh enzim pepsin. dengan 3 juta ton berasal dari sintesis langsung. Produsen asam klorida terbesar di dunia adalah Perusahaan Dow Chemical dengan total produksi sebesar 2 juta ton per tahun (pengukuran dalam bentuk gas HCl). [1] Bahaya larutan asam klorida bergantung pada konsentrasi larutannya.[17] Laporan hasil pengamatan penentuan konsentrasi larutan asam klorida dan larutan natrium hidroksida PENENTUANKONSENTRASI LARUTAN ASAM KLORIDA DAN LARUTAN NATRIUM HIDROKSIDA A. mata. kulit. dan antasid digunakan untuk menetralisasi asam yang ada. dan sisanya merupakan hasil dari produk sampingan sintesis organik. pelindung mata. Konsentrasi yang lebih besar daripada 40% dimungkinkan secara kimiawi. Baik kabut dan larutan tersebut bersifat korosif terhadap jaringan tubuh. asam klorida dalam kim akan dinetralisasi oleh natrium bikarbonat dalam usus dua belas jari. gas beracun klorin akan terbentuk. dan pakaian pelindung haruslah digunakan ketika menangani asam klorida. seperti natrium hipoklorit (pemutih NaClO) atau kalium permanganat (KMnO4). Seketika asam klorida bercampur dengan bahan kimia oksidator lainnya. Produksi HCl dunia diperkirakan sebesar 20 juta ton per tahun. namun laju penguapan sangatlah tinggi. [14] Asam lambung berfungsi untuk membantu pencernaan makanan dan mencegah mikroorganisme masuk lebih jauh ke dalam usus. Tabel di bawah ini merupakan klasifikasi bahaya larutan asam klorida Uni Eropa. dengan potensi kerusakan pada organ pernapasan.

lalu masukkan kedalam labu erlenmeyer b) Tambahkan 2-3 tetes indikatorfenolftalein c) Masukkan larutan NaOH 0.1 M(Sebaiknya dimulai dari skala 0) e) Sambil menggoyang-goyangkan labu. a) Ukur 10 ml larutan HCL denganmenggunakan pipet volume.menggunakan perkiraan jumlah zat yang terlarut dan perkiraan jumlah zatpelarut. titrasi asam basa merupakan metode penentuan kadar larutan asam denganzat peniter (zat penitrasi) suatu larutan basa atau penentuan kadar larutanbasa dengan zat peniter (zat penitrasi) suatu larutan asam. Jika perbedaan hasil yang anda peroleh cukupbesar. membuatlarutan dengan konsentrasi tertentu. jika tidak ada buret . Bahan. BAHAN DAN ALAT. HASIL PENGAMATAN. d) Catat skala awal dari larutan NaOH 0. Jika perubahan warna indikator terletakpada PH titik ekuivalen. f) g) Ulangi kegiatan ini sekali lagi sehinggaanda memperoleh hasil yang hampir. ulangi sekali lagi. Catat volume larutan NaOH yangdigunakan.1 M (ML) . Titik akhirtitrasi adalah kondisi pada saat terjadi perubahaan warna dari indikator. jika PH perubahan warna indikator setelah penambahan larutan zatpaniter sedikit berlebih.1 M IndikatorFenolftalein. a. C. Titrasi adalah metodeanalisis kuantitatif untuk menentukan kadar suatu larutan. Aquadest/ air suling b. zatyang akan ditentukan konsentrasinya dititrasi oleh larutan yang konsentrasinyadiketahui dengantepat dan disertai penambahan indikator. titik akhir titrasi akan sama dengan titik ekuivalen.Titik akhir titrasi diharapkan mendekati titik ekuivalen titrasi.teteskan sedikit demi sedikit larutan NaOH kedalam labu erlenmeyer sampai terjadiperubahan warna indikator. Percobaan Volume HCL (ML) Vol NaOH 0. Berdasarkan pengertiantitrasi.Akan tetapi. yaitukondisi pada saat larutan asam tepat bereaksi dengan larutan basa. Larutan yang telahdiketahui konsentrasinya dengan tepat disebut Larutan baku/Larutan standar. CARA KERJA. titik akhir titrasi berbeda dengan titik ekuivalen. Pendekatanantara titik akhir titrasi dan titik ekuivalen bergantung pada PHperubahan warna dari larutan indikator. Dalam titrasi.sedangkan Indikator adalah zatyangmemberikan tanda perubahan pada saat titrasi berakhir yang dikenal denganistilah titik akhir titrasi. dapat digunakan pipet ukur.Terdapat duacara dalam menentukan konsentrasi (kemolaran) suatu larutan:   Cara pertama. LarutanHCL LarutanNaOH 0. Cara kedua. yaitu dengan menimbang zat secara tepatdengan menggunakan peralatan yang akurat. E. Alat Buret/ Pipet ukur LabuErlenmeyer Pipetvolume Botolsemprot Pipettetes D.kemudian konsentrasinya ditentukan dengan metode titrasi.1 M sebagai zat peniterkedalam buret.

V2 = = 0.70 – 2.13 ml G.90 .10 .90 ml – 2.   2... 5 ml ditetesi dengan indikator fenolftalein sebanyak 2 tetes dan larutanNaOH dengan Vol.2.10 F. titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya. 0.akhir (Vt) = 2. Jawab : HCL + NaOH NaCL + H2O H+ CL..10 2.. V. larutan HCL dengan Vol.1 = V2 . 0.akhir (Vt) = 3.20 3. titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi. V. 0. sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa. a) Percobaan pertama.60 = 0.10 ml – 3.. meanInG oF a liFe.00 ml V. 0.mudahmudahan laporanpenelitian ini berguna bagi kita semua sehingga dapat meningkatkan ilmupengetahuan. agar memperoleh keselamatan di dunia danakhirat. Dari hasil pengamatan diatas dapatdiketahui bahwa larutan HCL jika ditetesi dengan larutan N aOH akanmenghasilkan larutan NaCL dan H2O dan terjadi perubahanwarna pada larutan HCL dari warna bening menjadi warna merah muda (Pink).13 ml .60 ml V.20 ml c) Percobaan ketiga.013ml = V2 .. 0.90 ml Vt– Vo = 2.akhir (Vt) = 2.NaOH = = = 0.Akhirnya kepada Allah jua-lah kita berharap.3.Na+ OHTentukan konsentrasi larutan HCL tsb! Jawab : NaOH HCL= V1 M1 =V2 M2 0.1 H.00 ml = 0.70 ml – 2. 1. 0..10 mldan berubah warna dari bening merah mudah.10 ml dan berubah warna dari bening menjadi merah mudah. keimanan danketaqwaan kita kepada Allah SWT. Tuliskan persamaan reaksi asam-basatersebut.5 ml ditetesi dengan indikator fenoltalein sebanyak dua tetes dan larutan NaOHdengan Vol.70 ml V. larutan HCL denganVol. PEMBAHASAN. 21 April 2012 titrasi asam basaa Titrasi adalah suatu metode penentuan kadar (konsentrasi) suatu larutan dengan larutan lain yang telah diketahui konsentrasinya.  PERTANYAAN.20 ml Vol.70 = 0.13 ml KESIMPULAN.70 ml Vt– Vo = 2. Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya.20 ml dan berubah warna dari bening menjadi merah mudah.1 0. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi.awal (Vo) =2.1 2 3 5 5 5 2. Sabtu.10 ml b) Percobaan kedua.10 ml Vt– Vo = 3.awal (Vo) = 2. larutan HCL denganvolume 5 mlditetesi dengan indikator fenolftalein sebanyak dua tetes danlarutan NaOH Vol. .60 ml = 0.00 = 0. V. PENUTUP Demikianlahlaporan hasil penelitian/pengamatan ini. Amiin.awal (Vo) =3.70 ml = 0.

contoh: asam klorida.Basa lemah 3. Oleh . tidak berubah selama proses pengerjaan pembuatan larutannya. Senyawa baku sekunder tidak harus memenuhi persyaratan seperti senyawa primer sehingga harganya murah dan biasa digunakan secara rutin. Asam oksalat Kristal. Asam kuat . massa molekul relatif (berat ekivalen) tinggi. maka ke dalam larutan tersebut ditambahkan larutan baku sehingga terjadi reaksi sempurna antara larutan dengan larutan baku. tidak mudah bereaksi dengan komponen-komponen udara. umumnya digunakan untuk melakukan titrasi larutan uji. Contohnya adalah asam oksalat. Dalam memilih indikator untuk titrasi asam basa harus disesuaikan dengan pH saat tercapainya titik ekivalen.Basa kuat 2. Syarat-syarat senyawa baku primer : • Rumus molekulnya diketahui dengan pasti • Kemurniannya tinggi (99%) • Stabil. Prinsip Titrasi Asam basa Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titrat ataupun titran. tetapi harus di cek kembali konsentrasinya dnegan menambahkan larutan baku primer. Larutan baku terbagi atas dua macam. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. dan tidak higroskopis. misalnya tidak hidroskopis. yaitu larutan baku primer dan larutan baku sekunder. Natrium tetra borat Untuk basa : Kalium Ftalat asam. Pada saat titik ekuivalen ini maka proses titrasi dihentikan. dibuat dari senyawa yang tingkat kemurniannya tinggi(99%). natrium hidroksida dll Standarisasi atau pembakuan adalah proses pengecekan larutan baku sekunder dengan larutan baku primer. Misalnya akan dicari normalitas suatu larutan. Asam lemah . Alkalimeteri : pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam.Basa kuat 4. Jenis-Jenis Titrasi Asam Basa Titrasi asam basa terbagi menjadi 5 jenis yaitu : 1. atau dengan suatu zat petunjuk yang dinamakan dengan indikator pH. Asidimetri : pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa 2. Dengan menggunakan data volume titran.Garam dari asam lemah 5. Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”. • Mr-nya tinggi agar dapat mengurangi kesalahan penimbangan Bahan baku primer untuk asidi-alkalimetri yang paling banyak digunakan Untuk asam : Natrium karbonat kristal.Titrasi asam basa terbagi menjadi dua. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Asam sulfamat Larutan baku sekunder adalah larutan baku yang setelah dibuat tidak dapat langsung digunakan. Natrium bikarbonat. potensiometer. Asam kuat . Titik akhir titrasi adalah titik pada saat tercapainya kesetaraan asam dan basa yang bereaksi atau titik pada saat larutan mengalami perubahan warna yang disebabkan oleh penambahan indikator. Basa kuat . Titran ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titran dan titrat tepat habis bereaksi). Untuk mengetahui tercapainya titik ekivalen dapat diukur dengan pH meter. Larutan baku primer adalah larutan baku yang setelah dibuat dapat langsung dipakai untuk ditambahkan ke dalam larutan yang akan dicari konsentrasinya. maka titik akhir titrasi harus sedekat mungkin dengan titik ekivalen. Indikator pH adalah asam lemah atau basa lemah organik yang menunjukan perubahan warna pada pH warna tertentu. stabil pada suhu kara. yaitu : 1. Umumnya digunakan untuk melakukan titrasi larutan uji. Larutan baku adalah larutan yang konsentrasinya telah diketahui secara pasti. kemudian kita mencatat volume titrat yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi yang tinggi. Asam kuat .Garam dari basa lemah Analisa kimia kuantitatif yang dilakukan dengan jalan mengukur volume suatu larutan baku yang tepat bereaksi (bereaksi sempurna) dengan larutan yang di analisis disebut dengan analisis volumetri. Titik ekivalen adalah saat banyaknya asam atau basa yang ditambahkan tepat setara secara stokiometri dengan banyaknya basa atau asam yang terdapat dalam larutan yang di analisis (pH pada saat asam dan basa tepat ekivalen). Kalium biodat.

Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik ekivalen dan selisihnya dinamakan kesalahan titrasi. yaitu suatu zat yang dapat berubah warnanya tergantung PH larutan.Garam dari asam lemah : NH4BO2 Persamaan Reaksi : HCl + NH4BO2→ HBO2+ NH4Cl Reaksi ionnya :H++ BO2-→ HBO2 5. 26 Maret 2012 .Garam dari basa lemah : CH3COONH4 Persamaan Reaksi :NaOH + CH3COONH4→ CH3COONa + NH4OH Reaksi ionnya :OH-+ NH4-→ NH4OH Diposkan oleh syinta apriyanti di 21.Basa lemah : NH4OH Persamaan Reaksi :HCl + NH4OH → NH4Cl + H2O Reaksi ionnya :H++ NH4OH. harus dipilih indikator yang mengalami perubahan warna di sekitar titik ekivalen. Ketepatan dalam memilih indikator dapat memperkecil kesalahan titrasi.→ H2O + NH4+ 3. Titrasi Basa Kuat . Reaksi kimia yang terjadi harus sederhana dan persamaan reaksinya mudah ditulis 3. Titrasi Asam Kuat . sehingga dapat dituliskan sebagai berikut: Ekiuvalen asam = ekivalen basa V asam N asam = V basa N basa Larutan asam dapat ditentukan kadarnya melalui penambahan larutan baku basa yang tepat ekivalen (setara) dengan jumlah asam yang ada. Tiitrasi harus memiliki keberulangan dengan perbedaan hasil tidak lebih dari 0. Titrasi Asam Kuat – Basa lemah Contoh : .karena itu. 1. Untuk mengamati titik ekivalen ini digunakan indicator asam-basa.Basa kuat : NaOH .Asam kuat : HCl . Titik akhir titrasi harus dapat diamati dengan jelas 5. yaitu suatu zat yang dapat berubah warnanya tergantung PH larutan. Titik pada saat tercapainya kesetaraan asam dan basa yang bereaksi dinamakan titik akhir titrasi.Garam dari Asam Lemah Contoh : . Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik ekivalen dan selisihnya dinamakan kesalahan titrasi.Basa kuat : NaOH Persamaan Reaksi :CH3COOH + NaOH → NaCH3COO + H2O Reaksi ionnya :H++ OH-→ H2O 4. Kadar atau konsentrasi larutan baku atau standar harus diketahui dengan tepat Larutan asam dapat ditentukan kadarnya melalui penambahan larutan baku basa yang tepat ekivalen (setara) dengan jumlah asam yang ada. Titrasi Asam Kuat-Basa Kuat Contoh : -Asam Kuat : HCL -Basa Kuat NaOH Persamaan Reaksi : HCl + NaOH → NaCl + H2O Reaksi ionnya : H+ + OH-→ H2O 2.Asam lemah : CH3COOH . Titrasi Asam Lemah .Asam kuat : HCl . Jenis indicator yang dipilih harus tepat.48 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Senin. Reaksi harus berlangsung dengan cepat 2. Ketepatan dalam memilih indikator dapat memperkecil kesalahan titrasi. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk suatu analisis secara titrasi adalah : 1. Jenis indicator yang dipilih harus tepat. Titik pada saat tercapainya kesetaraan asam dan basa yang bereaksi dinamakan titik akhir titrasi.5% 4.Garam dari Basa Lemah Contoh : .Basa Kuat Contoh : . Pada titrasi jumlah ekivalen asam sama dengan jumlah ekivalen basa. Untuk mengamati titik ekivalen ini digunakan indicator asam-basa.

tapi karena titik equivalen ini sulit di amati maka titrasi di hentikan saat terjadi titik akhir titrasi yang di tandai dengan perubahan warna indikator di dalam larutan sample. sedangkan anion dapat berupa anion non logam. Rumus senyawa Unsur logam di tulis di depa contohnya natrium klorida di tulis NaCl bukan ClNa kan?? Ini adalah rumus senyawa ion: b Xa+ + a Yb– -> XbYa untuk a dan b sama dengan angka 1 tidak perlu di tulis.raNgkuman tiTrassii Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah di ketahui konsentrasinya. 1. Rumus senyawa ion di tentukan oleh perbandingan muatan kation dan anionnya. Pada proses titrasi ini di gunakan suatu indikator yaitu suatu zat yang di tambahkan sampai seluruh reaksi selesai yang di nyatakan dengan perubahan warna. sedangkan zat yang telah di ketahui konsentrasinya di sebut sebagai “titer” dan biasanya di letakkan di dalam buret. Titrasi di hentikan saat tercapainya titik equivalen. Sedangkan titrasi asidimetri adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa.perubahan warna menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi.sedangkan alkalimetri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam. Titrasi biasanya di bedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi. jumlah muatan positif sama dengan jumlah muatan negatif. 12 Maret 2012 tata nama senYawa>> Kita mulai aja yahh!! Tau gak senyawa ion itu terdiri atas suatu kation dan anion lohh!! Yuk kita bahas!!!! Kation umumnya adalah suatu ion logam. Contoh nya: . Dalam suatu titrasi zat yang akan di tentukan kadarnya di sebut sebagai “titran” dan biasanya di letakan di dalam erlenmeyer. Semoga bermanfaatt^_^ Diposkan oleh syinta apriyanti di 22.baik titer maupun titrant biasanya berupa larutan. Hanya ini yang bisa saya sampaikan. contoh: jika melibatkan asam basa maka di sebut reaksi asam basa.. Cara membaca volume larutan yang di keluarkan oleh buret adalah dengan melihat miniskus bawah sejajar dengan mata.oleh karena itu keduanya di sebut juga sebagai titrasi asam basa.52 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Senin.titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi.

CO32– : Karbonat 13. Fe2+ 16. Cu2+ : Natrium : Kalium : Argentum/Perak : Magnesium : Kalsium : Stronsium : Barium : Seng : Nikel : Aluminium : Timah(II) : Timah(IV) : Timbal(II) : Timbal(IV) : Besi(II) : Besi(III) : Raksa(I) : Raksa(II) : Tembaga(I) : Tembaga(II) Ini adalah daftar beberapa jenis anion: 1. CH3COO– : Asetat 12. C2O42– : Oksalat 17. S2– : Sulfida 9. Sr2+ 7. Ag+ 4. Contohnya: • NaCl = natrium klorida • CaCl2 = kalsium klorida • Na2SO4 = natrium sulfat • Al(NO3)3 = aluminium nitrat Jika unsur logam mempunyai lebih dari satu jenis bilangan oksidasi. Fe3+ 17. Nama senyawa ion Nama senyawa ion adalah rangkaian nama kation (di depan) dan nama anion (di belakang). maka senyawa-senyawanya di bedakan dengan menuliskan bilangan oksidasinya yang di tulis dalam tanda kurung dengan angka romawi di belakang nama unsur logam tersebut. SO42– : Sulfat 16. SiO32– : Silikat 14. Al3+ 11. Zn2+ 9. Na+ 2. Mg2+ 5. NO2– : Nitrit 10. Cl– : Klorida 4. O2– : Oksida 8. PO43– : Fosfat 19. Contoh : • Cu2O = tembaga(I) oksida • CuO = tembaga(II) oksida • FeCl2 = besi(II) klorida • FeCl3 = besi(III) klorida • Fe2S3 = besi(III) sulfida • SnO = timah(II) oksida • SnO2 = timah(IV) oksida . Sn4+ 13. OH– : Hidroksida 2. F– : Fluorida 3. K+ 3. Cu+ 20. Pb4+ 15. Ca2+ 6. CN– : Sianida 7. PO33– : Fosfit 18. Pb2+ 14. Hg+ 18. Hg2+ 19. AsO43– : Arsenat 2. NO3– : Nitrat 11. SO32– : Sulfit 15. Sn2+ 12. Ni2+ 10. I– : Iodida 6. AsO33– : Arsenit 20. Br– : Bromida 5. Ba2+ 8.• Na+ + Cl– -> NaCl natrium klorida • 2 Na+ + SO42– -> Na2SO4 natrium sulfat • Fe2+ + 2Cl– -> FeCl2 besi(II) klorida • Al3+ + PO43– -> AlPO4 aluminium fosfat • Mg2+ + CO32– -> MgCO3 magnesium karbonat • 3 K+ + AsO43– -> K3AsO4 kalium arsenat Ini adalah daftar beberapa jenis kation: 1.

Freeman and Company. larutan terdiri dari garam dan air. 1999 : 217218). Salah satu masalah tekhnis dalam titrasi adalah titik dimana suatu perubahan dapat diamati. 3rd Ed. 1998: 422-423). seorang ahli kimia lingkungan mempelajari suatu danau dimana ikan-ikannya mati. Dalam larutan asam. Kita bisa menentukan konsentrasi HCl tersebut melalui suatu prosedur yang disebut titrasi. Didalam beberapa titrasi. ditambahkan ke asam. Kemudian. Untuk mengamati titik ekivalen. Pada proses titrasi ini digunakan suatu indikator yaitu suatu zat yang ditambahkan sampai seluruh reaksi selesai yang dinyatakan dengan perubahan warna. pertama-tama kita menempatkan suatu asam yang volumenya telah ditentukan ke dalam suatu flask. Dari volume yang ditambahkan dan molar NaOH. . Sebagai contoh. jumlah mol dari H3O+ dan OH. Suatu proses didalam laboratorium untuk mengukur jumlah suatu reaktan yang bereaksi sempurna dengan sejumlah reaktan lainnya. terjadi yang untuk mengindikasikan pendekatan yang paling baik ke titik ekivalen. titik ekivalen dari reaksi netralisasi adalah titik pada reaksi dimana asam dan basa keduanya setara. dan basa apabila ion basa yang terkandung didalamnya (Atkins. unknown). dan dengan hati-hati NaOH ditambahkan ke asam pada flask. Dalam analisis larutan asam dan basa. 1997 : 636). kemudian dengan tetesan hingga titik ekivalen. 2009 at 8:31 am (Landasan Teori) ANALISIS KUANTITATIF : ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang diketahui dan diperlukan untuk bereaksi secara lengkap dengan sejumlah contoh tertentu yang akan di analisis.yang ditambahkan sebagai titrant adlah sama dengan jumlah mol dari OH. buret kita isi dengan larutan NaOH yang konsentrasinya telah diketahui. Dia harus mengetahui secara pasti seberapa banyak asam yang terkandung dalam suatu sampel air danau tersebut. Berhasilnya titrasi asam-basa tergantung pada seberapa akurat kita dapat mendeteksi titik stoikiometri.atau H3O+ yang terdapat dalam analit. Larutan tersebut adalah asam apabila ion asam yang terkandung didalamnya.. misal asam. Reaktan yang ditambahkan tadi disebut sebagai titrant dan reaktan yang ditambahkan titrant kedalamnya disebut titree. Kita bisa mengetahui bahwa netralisasi telah berlangsung ketika penolftalein dalam larutan berubah warna menjadi merah muda. yaitu dimana keduanya tidak ada yang berlebihan. titrasi melibatkan pengukuran yang seksama. akan tetapi perlu kita ketahui juga berapa banyak asam atau basayang terdapat didalam sampel. dalam stoikiometri titrasi. Chemistry Molecules and Canges. 1996 : 597-599). Contoh yang akan dianalisis dirujuk sebagai (tak diketahui. DAFTAR PUSTAKA Atkins. Semoga bermanfaat^_^ Asidimetri & Alkalimetri May 2.. Dala titrasi yang diamati adalah titik akhir bukan titik ekivalen (syukri. Pada titik tersebut. 2004 : 354-355). Peter and Jones Lorette. Titik ekivalen terjadi pada saat terjadinya perubahan warna indikator. Titik pada titrasi dimana indikator warnanya berubah disebut titik akhir (Petrucci. Misalkan kita ingin menentukan molaritas dari suatu larutan HCl yang tidak diketahui konsentrasinya. Kemudian larutan lainnya (misal basa) yang terdapat didalam buret. Pada titrasi. dimana kita menetralisasi suatu asam dengan suatu basa yang telah diketahui konsentrasinya. dipakai indikator yang warnanya disekitar titik ekivalen. penolftalein tidak berwarna.Cukup sekian penjelasan dari sayaa. kita dapat menentukan konsentrasi asam (Timberlake. kedalam larutan asam. Terimakasihhh. Dan tambahkan beberapa tetes indikator seperti penolftalein. Larutan basa yang akan diteteskan (titran) dimasukkan ke dalam buret (pipa panjang berskala) dan jumlah yang terpakai dapat diketahui dari tinggi sebelum dan sesudah titrasi. titik ekivalen adalah titik selama proses titrasi dimana tepatnya titrat telah cukup ditambahkan untuk bereaksi dengan titree. Secara ideal. tetapi dalam prakteknya jarang sekali ada orang yang mampu membuat kedua titik tersebut tepat sama. volume-volume suatu asam dan suatu basa yang tepat saling menetralkan (Keenan. Titrasi melibatkan suatu proses penambahan suatu larutan yang disebut tirant dari buret ke suatu flask yang berisi sampel dan disebut analit. Dalam titrasi. Kadang-kadang kita perlu mengetahui tidak hanya atau sekedar pH. Prosedur analitis yang melibatkan titrasi dengan larutan-larutan yang konsentrasinya diketahui disebut analisis volumetri. 1999 : 428). 1997 : 550). Larutan asam yang dititrasi dimasukkan kedalam gelas kimia (erlenmeyer) dengan mengukur volumenya terlebih dahulu denga memekai pipet gondok. Perubahan warna menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi (Brady. meskipun ada beberapa hal dimana perbedaan antara kedua hal tersebut dapat diabaikan (Snyder. Pertama-tama ditambahkan cukup banyak. dimana reaktan pertama ditambahkan secara kontinu ke dalam reaktan kedua disebut titrasi.. Ini disebut titik akhir netralisasi. Pada titik stoikiometri. Seperti yang telah diketahui sebelumnya. ditempatkan di dalam flask bersamaan dengan beberapa tetes indikator asam basa. H. New York: W. suatu larutan yang akan dinetralkan. 1997. titik akhir dan titik ekivalen seharusnya identik.

seperti biologi. Asidi-alkalimetri berperan penting dalam berbagai bidang kehidupan. Kimia Dasar 2. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion OH-sebagai ion negatif. C. Oleh karena itu. . 1999. KOH dan sebagainya. Rinehart And winston. Pengertian asidimetri dan alkalimetri secara umum ialah titrasi yang menyangkut asam dan basa.2 Tujuan percobaan Mengetahui konsentrasi NaOH standar Mengetahui kadar CH3COOH perdagangan Mengetahui volume titran (NaOH) yang digunakan untuk menetralkan CH3COOH 1. San Fransisco: Pearson Benjamin Cummings. 1997. New York: Holt. 1999. dkk. Jakarta: Erlangga. Chemistry Structure and Reaction. Sedangkan basa secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. Asam dan basa tersebut memiliki sifat-sifat yang menyebabkan konsentrasi larutannya sukar bahkan tidak mungkin dipastikan langsung dari proses hasil pembuatan atau pengencerannya. Kesetimbangan asam basa merupakan suatu topik yang sangat penting dalam kimia dan bidang-bidang lain yang mempergunakan kimia. New Jersey: Prentice Hall. Jakarta: Binarupa Aksara Keenan. 2004. 1. Kimia untuk Universitas. Organic and Biological Chemistry Structure Of Life. Harwood. NaOH. Inc. Syukri. Larutan ini disebut larutan standar sekunder yang konsentrasinya ditentukan melalui pembakuan dengan suatu standar primer. Milton K. Kimia Universutas Asas dan Struktur. untuk lebih memahami konsep peniteran asidi – alkalimetri dan mengetahui konsentrasi standar dari zat yang dianalisa maka perlu dilakukan peniteran dengan menggunakan suatu standar primer. Karen C.1 Latar Belakang Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. 1998. Laporan Kimia Dasar II Asidi Alkalimetri BAB 1 PENDAHULUAN 1. 1996. Timberlake. Ralph H and Willias S. Snyder. Kata metri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu atau proses atau seni mengukur. Bandung ITB. H2SO4.Brady. General Chemistry. W.3 Prinsip percobaan Menentukan kadar atau konsentrasi suatu larutan dengan menggunakan larutan yang konsentrasinya diketahui dengan cara mentitrasi suatu zat yang konsentrasinya tidak diketahui dengan zat lain yang konsentrasinya diketahui sehingga jumlah mol kedua zat sama antara satu dengan lainnya. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai ion positif. Petrucci. General. kedokteran dan pertanian. James E. misalnya larutan asam oksalat. Pereaksi atau larutan yang selalu dijumpai di laboratorium dimana pembakuannya dapat ditetapkan berdasarkan pada prinsip netralisasi asam – basa (melalui asidi – alkalimetri) diantaranya adalah HCl. Titrasi yang menyangkut asam dan basa sering disebut asidimetri – alkalimetri. Sedangkan untuk titrasi atau pengukuran lain-lain sering juga dipakai akhiran –ometri menggantikan –imetri.

1985) Bila suatu asam dan suatu basa yang masing-masing dalam kuantitas yang ekuivalen secara kimiawi. Karena itu.D. Ph. Di lain pihak larutan air amonia. ion Na+ dan Cl.R. yang tersusun dalam pola yang teratur dalam kisi kristalnya. Definisi ini adalah benar. Bila dilarutkan dalam air.I. pada mana ia melarut dan ion aluminium terbentuk : Dalam reaksi ini aluminium hidroksida bertindak sebagai basa. sampai jumlah zat-zat yang direaksikan tepat menjadi akivalen satu sama lain. secara paling sederhana dapat didefinisikan sebagai zat. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion-ion hidroksil sebagai satu-satunya ion negatif.9 KJ) untuk reaksi suatu mol setiap asam kuat dan basa kuat yang sembarang.tampil pada kedua sisi. basa kuat merupakan elektrolit kuat. yang menghasilkan suatu larutan garam dalam air. dan terbentuk ion-ion hidronium : H+ + H2O → H3O+ Basa. lebih tepat untuk menyatakan reaksi netralisasi sebagai penggabungan ion-ion secara kimia : Dalam persamaan ini. adalah mungkin untuk menyatakan kekuatan basa secara kuantitatif. Karena dengan demikian tak ada terjadi apa-apa dengan ion-ion ini. Pembentukan garam seakan-akan merupakan hasil dari suatu proses kimia sejati. merupakan suatu basa lemah. Proses-proses semacam ini disebut netralisasi. akan diperoleh larutan asam lemah atau basa lemah. Ini ditunjukkan oleh fakta. Dalam reaksi ini aluminium hidroksida berperilaku sebagai asam. atau amfolit. dan sama halnya dengan asam. yang juga terbentuk dalam proses ini. yang tak mempunyai ciri-ciri khas suatu asam maupun basa. mampu melangsungkan reaksi netralisasi baik dengan asam maupun basa (lebih tepatnya. basa dan garam. yang bila dilarutkan dalam air. dan larutannya diuapkan. Larutan yang ditambahkan dari buret disebut titran.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. kalau tidak. serta pula garam hampir sempurna berdisosiasi dalam larutan. Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat. Teknik semacam itu disebut analisis volumetri. aluminium hidroksida juga bisa dilarutkan dalam natrium hidroksida : Pada mana ion tetrahidroksoaluminat terbentuk. sedangkan larutan yang ditambah titran itu disebut titrat. bahwa panas netralisasi adalah kurang lebih sama (56. Pada saat titran yang ditambahkan tampak telah ekivalen. garam adalah hasil reaksi antara asam dan basa. suatu zat kristalin tertinggal. seperti natrium hidroksida atau kalium hidroksida hampir sempurna berdisosiasi dalam larutan air yang encer : Karena itu basa-basa ini adalah basa kuat. Zat-zat amfoter. Hidroksida-hidroksida logam yang larut. Kita tahu bahwa baik asam (kuat) maupun basa (kuat). maka penambahan titran harus dihentikan. Jika persamaan reaksi dinyatakan sebagai interaksi molekul-molekul. aluminium hidroksida bereaksi dengan asam kuat. Dengan jalan ini. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. Tetapi ini sebenarnya tidak tepat. amonia membentuk amonium hidroksida. Sebenarnya ion hidrogen (proton) tak ada dalam larutan air. Sedangkan air. dicampur akan dihasilkan suatu reaksi penetralan. F. Di lain pihak. Garam adalah wujud padat dibangun oleh ion-ion. Zat-zat ini dinamakan garam oleh ahli-ahli kimia zaman dulu. (G. bahwa jika sejumlah asam dan basa murni ekuivalen dicampur. Konsentrasi suatu larutan asam atau basa yang anu (unknown) dapat ditentukan dengan titrasi dengan larutan yang konsentrasinya diketahui. saat ini dinamakan titik akhir titrasi. Shevla.C. Setiap proton bergabung dengan satu molekul air dengan cara berkoordinasi dengan sepasang elektron bebas yang terdapat pada oksigen dari air. yang bila dilarutkan dalam air. volume/berat titran dapat diukur dengan teliti dan bila konsentrasi .Sc. Tetapi tak ada pembagian yang tajam antara golongan-golongan ini. Menurut definisi yang kuno. dalam artian. baik dengan ion hidrogen maupun ion hidroksil). yang berdisosiasi menjadi ion amonium dan ion hidroksida : Namun lebih tepat untuk menulis reaksi itu sebagai Karena itu. D. hampir-hampir tak berdisosiasi sama sekali. (Kleinfetter. 1987) Volumetri adalah cara analisis jumlah berdasarkan pengukuran volume larutan pereaksi berkepekatan tertentu yang direaksikan dengan larutan contoh yang sedang ditetapkan kadarnya. persamaan ini dapat disederhanakan menjadi Yang menunjukkan bahwa hakekat suatu reaksi asam-basa (dalam larutan air) adalah pembentukan air. yaitu suatu larutan ditambahkan dari buret sedikit demi sedikit. sedang basa lemah merupakan elektrolit lemah. Misalnya. Larutan ini akan benar-benar netral jika asam dan basa itu sama kuat . Reaksi dijalankan dengan titrasi.

Bila kita mengukur berapa mL larutan bertitar tertentu yang diperlukan untuk menetralkan larutan basa yang kadar atau titernya belum diketahui. maka trayek indikator harus mencakup pH larutan pada titik ekivalen. kita peroleh grafik yang disebut kurva titrasi. Akan tetapi harus dimengerti. indikator yang lazim dipakai. maka asam dan/atau basa yang bersangkutan harus kuat. trayek indikator tersebut harus memotong bagian yang sangat curam dari kurva. yakni sebelum ditambah basa dan pada waktu-waktu tertentu setelah titrasi dimulai. adalah sebagai berikut : tak berwarna PP dalam bentuk asam (HIn) merah basa konjugat PP dalam bentuk basa (In-) . Reaksi yang tepat antara titran dan senyawa yang dianalisis harus diketahui. untuk memenuhi pernyataan (2). maka pekerjaan itu disebut asidimetri. atau sangat mendekatinya. Dalam titrasi ini perubahan terpenting yang mendasari penentuan titik akhir dan cara perhitungan ialah perubahan pH titrat. bahwa pereaksi dan zat yang direaksikan telah sama banyak. maka pH larutan mula-mula rendah dan selama titrasi terus menerus naik. Gambar yang diperoleh tersebut disebut kurva pH. 2005) Proses titrasi asam – basa sering dipantau dengan penggambaran pH larutan yang dianalisis sebagai fungsi jumlah titran yang ditambahkan. tidak ada kelebihan yang satu maupun yang lain. 2. (Harjadi. tetapi dalam lingkungan basa warnanya biru. sering disingkat PP. Hal ini jelas. Titik stoikhiometri atau ekivalen harus diketahui. baik volume maupun jumlah gram atau mol-nya. agar kuantitatif. Peniteran sebaliknya. sebab jumlah yang bereaksi ditentukan oleh persamaan reaksi. Mereka memberikan satu warna berbeda bila proton lepas. 2003) Kebanyakan indikator asam basa adalah molekul kompleks yang bersifat asam lemah dan sering disingkat dengan HIn. basa harus kuat dan garam harus terbentuk dari basa lemah sekali. asam dengan garam (reaksi pembentukan asam lemah). Asam berarti pH lebih rendah dan basa berarti pH lebih besar dari trayek indikator atau trayek perubahan warna yang bersangkutan. atau kurva titrasi. Perubahan warna itu harus terjadi dengan mendadak. asam dengan basa yang titernya diketahui disebut alkalimetri. Perhatikanlah sekali lagi arti ungkapan ”pereaksi telah ekivalen”. maka jumlah mol titrat dapat diketahui pula berdasar persamaan reaksi dan koefisiennya. Bila pH ini diukur dengan pengukur pH (pH-meter) pada awal titrasi. Tujuan : memilih indikator yang memiliki titik akhir bertepatan dengan titik stoikhiometri. Ini tidak selalu berarti. Indikator yang memberikan perubahan warna. (Harjadi.- juga diketahui. 1987) Berikut syarat-syarat yang diperlukan agar titrasi yang dilakukan berhasil : 1. yang berarti: telah tepat banyaknya untuk menghabiskan zat yang direaksikan. Larutan seperti ini disebut larutan standar. bahwa asam dan basa disini tidak berarti pH kurang atau lebih dari tujuh. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron. 2. Indikator harus berubah warna tepat pada saat titran menjadi ekivalen dengan titrat agar tidak terjadi kesalahan titrasi. KURVA TITRASI – Larutan yang dititrasi dalam asidimetri-alkalimetri mengalami perubahan pH. Misalnya biru bromtimol (bb). yaitu titrasi yang menyangkut asam dan/atau basa. Titran dan titrat tepat saling menghabiskan. Titik pada saat indikator berubah warna disebut titik akhir. Indikator Asam Basa – Indikator asam basa ialah zat yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. jadi berdasar pembentukan basa lemah tersebut. Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna pada range pH yang berbeda. maka jumlah mol titran dapat dihitung. dalam larutan asam ia berwarna kuning. agar kuantitatif. 3. (Hardjono Sastrohamidjojo. basa dengan garam. Bila suatu indikator pH kita pergunakan untuk menunjukkan titik akhir titrasi. Misalnya bila larutan asam dititrasi dengan basa. agar tidak ada keragu-raguan tentang kapan titrasi harus dihentikan. Reaksi-reaksi yang terjadi dalam titrasi ini ialah : asam dengan basa (reaksi penetralan). 4. - - Untuk memenuhi pernyataan (1). tak berwarna dalam bentuk Hin-nya dan berwarna pink dalam bentuk In. maka : 1. Konsentrasi titran harus diketahui. Struktur Fenolftalein. (Hardjono Sastrohamidjojo. sedang warna yang ditunjukkan dalam keadaan basa disebut warna basa. Volume titran yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalen harus diketahui setepat mungkin. agar kuantitatif. 1987) Salah satu macam titrasi adalah titrasi asidimetri-alkalimetri. Warna dalam keadaan asam dinamakan warna asam dari indikator (kuning untuk bb). Karena jumlah titrat ekivalen dengan jumlah titran. atau basa. maka kalau pH dialurkan lawan volume titran. (Khopkar. asam harus kuat dan garam itu harus terbentuk dari asam lemah sekali. 2005) Contoh : Fenolftalein. atau sangat dekat pada titik ekivalen yang sering digunakan.

1 Asidimetri No.1 N Asam oksalat dihidrat Indikator PP 3.1 Alat-alat Buret Pipet volume 10 ml Labu ukur 100 ml Pipet tetes Erlenmeyer 100 ml 3.1.1 Hasil Pengamatan 4.1 N kedalam buret Dipipet 10 ml NaOH lalu dituangkan kedalam 2.1 N kedalam buret Dipipet 10 ml NaOH lalu dituangkan kedalam erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 2 tetes Dititrasi dengan larutan asam oksalat 0.3 Prosedur Percobaan 3.2 Alkalimetri Dituang larutan NaOH yang telah distandarisas kedalam buret Dipipet 10 ml cuka perdagangan lalu diencerkan hingga 100 ml Dipipet 10 ml cuka yang telah diencerkan lalu dimasukkan kedalam erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 3 tetes Dititrasi dengan NaOH hingga terjadi perubahan warna Dicatat volume NaOH yang digunakan Dihitung kadar cuka perdagangan - - BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 N hingga - Pengamatan warna titrat menjadi merah lembayung .2 Bahan-bahan Asam cuka perdagangan NaOH 0.1 Asidimetri Dituang asam oksalat 0. erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 2 tetes 3.3. Dititrasi dengan larutan asam oksalat 0.3. Dituang asam oksalat 0. Perlakuan 1.BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN 3.1 N hingga terjadi perubahan warna Dicatat volume oksalat yang diperlukan Dihitung konsentrasi NaOH 3.

Dititrasi dengan NaOH hingga terjadi perubahan . Perlakuan Pengamatan 1.1 ml . V2 = 6. 6.4. Dipipet 10 ml cuka perdagangan lalu diencerkan hingga 100 ml 3. Dicatat volume NaOH yang digunakan Dihitung kadar cuka perdagangan .V = 13.perubahan warna dari bening menjadi merah lembayung 5.perubahan warna dari merah lembayung menjadi tidak berwarna .V1 = 6.6 ml 6.0625 N 4.2 Alkalimetri No. C= = = 51 gr/mL 4.Larutan tetap berwarna bening warna . N NaOH = = 0.4 ml . terjadi perubahan warna Dicatat volume asam oksalat yang diperlukan Dihitung konsentrasi NaOH . 7. Dipipet 10 ml cuka yang teah diencerkan lalu dimasukkan kedalam erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 3 tetes 4.Vrata-rata = 6. Dituang larutan NaOH yang telah distandarisasi kedalam buret 2.25 ml 5.2 Reaksi .1.

Pelaksanaan penentuan kadar zat dengan jalan titrasi yaitu. Larutan standar primer adalah larutan yang kadarnya dapat diketahui secara langsung dari hasil penimbangan. asam dengan basa yang titernya diketahui disebut alkalimetri. titik dimana indikator tepat berubah warna.3. senyawaan yang digunakan sebagai penunjuk visiual pada saat tercapainya titik setara titrasi antara dua larutan tertentu. Dalam asidi-alkalimetri indikator yang digunakan adalah indikator pH yaitu zat .1 ml V rata-rata = N NaOH = = 0. Reaksi dasar dalam titrasi asam-basa adalah netralisasi atau penetralan. Contohnya K2Cr2O7 dan Na2B4O7. Hendaknya diusahakan agar titik akhir ini sedekat mungkin pada titik ekivalen yaitu.4. Peniteran sebaliknya. larutan peniter diteteskan sedikit demi sedikit kedalam larutan contoh sampai tercapai titik akhir titrasi yaitu.4 Pembahasan Titrasi asam basa sering disebut asidimetri-alkalimetri.1 Konsentrasi NaOH V1 = 6. Dalam titrasi sampel direaksikan dengan suatu pereaksi sehingga jumlah kedua zat tersebut ekivalen. larutan standar primer dan larutan standar sekunder. Sangat murni atau mudah dimurnikan 2. Dalam penentuan titik akhir titrasi digunakan indikator yaitu.2 Kadar CH3COOH perdagangan V = 13. yaitu reaksi asam dan basa.4 ml V2 = 6. Contohnya NaOH dan HCl. setidak-tidaknya selama ditimbang Sedapat mungkin mempunyai berat ekivalen tinggi untuk mengurangi kesalahan penimbangan Dalam titrasi akan bereaksi menurut syarat-syarat reaksi titrasi Mempunyai rumus molekul yang pasti Larutan standar sekunder adalah larutan yang konsentrasinya ditentukan dengan cara pembakuan. maka volume dan konsentrasinya harus diketahui dengan tepat. Larutan standar dibagi menjadi dua yaitu. Larutan yang diketahui konsentrasinya disebut larutan baku atau larutan standar. maka pekerjaan itu disebut asidimetri. 3. Bila pereaksi digunakan dalam bentuk larutan. titik dimana titran dan titrat tepat saling menghabiskan. maka beratnya harus diketahui dengan tepat.3 Perhitungan 4. Syarat-syarat larutan standar primer adalah : 1. yang dapat dinyatakan dalam persamaan reaksi seperti berikut : H+ + OH.0625 N 4. tidak ada kelebihan yang satu maupun yang lain. Bila pereaksi digunakan dalam bentuk padat. Stabil dalam keadaan biasa. 4.3.→ H2O Bila kita mengukur berapa ml larutan asam bertitar tertentu yang diperlukan untuk menetralkan larutan basa yang kadar atau titernya belum diketahui. 5.6 ml C= = = 51 gr/mL 4.

menyebabkan [H+] berkurang dan keseimbangan bergeser ke kanan.0 . indikator PP sangat tepat digunakan untuk penunjuk titrasi asam lemah dengan basa kuat.0 3.1 . Setelah didapat titik akhir pada volume NaOH 13. Beberapa penunjuk yang biasa digunakan untuk titrasi asam-basa: Warna Larutan Penunjuk Trayek pH Asam Sindur Metil Lakmus Merah netral ( SM ) (L) ( MN ) Merah Merah Merah Merah Tak berwarna Tak berwarna Basa Sindur Kuning Biru Kuning Merah lembayung Biru 3. ini berarti jumlah titrat telah ekivalen dengan jumlah titran. Indikator PP ditambahkan 2 tetes pada larutan NaOH 10 ml.8 2.8 6. Sehingga warna larutan berubah menjadi merah lembayung yang disebut warna basa indikator.9. Oleh karena itu.8.2 5. Sebanyak 10 ml asam cuka diencerkan didalam labu ukur hingga 100 ml. Misalnya dalam bidang kesehatan basa (Mg(OH) 2) digunakan sebagai antasida untuk menetralkan asam lambung (HCl).0 8.6 6.4.4 4.0 7.5 Merah Metil ( MM ) Phenolphthalein ( PP ) Thymolphthalein ( TP ) - Pada percobaan titrasi antara NaOH dan CH3COOH yaitu titrasi asam lemah dengan basa kuat digunakan indikator PP. Dari perhitungan didapatkan kadar CH3COOH sebesar 51 gr/mL.5. Nama Asam 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Asam pikurat Biru Timol 2.9.4.8. Kelebihan titran sehingga volume titik akhir melebihi yang seharusnya.0 2.2 .0625 N. Setelah didapat titik akhir pada volume asam oksalat 6.6.2. Kesalahan praktikan pada pembacaan miniskus buret.8.0 . Dari 100 ml larutan asam cuka yang telah diencerkan dipipet 10 ml dan ditambahkan 2 tetes indikator PP.6-Dintrofenol Kuning metil Jingga metil Hijau bromkresol Merah metil Lakmus Purpus bromkresol Biru bromtimol Merah fenol p. maka dapat dihitung kenormalan NaOH standar yang dapat digunakan untuk menetapkan kadar asam yang akan ditetapkan kadarnya.4. Lalu asam cuka dititrasi dengan larutan NaOH yang telah distandarisasi.2 .8. Pada saat melakukan titrasi banyak kemungkinan faktor kesalahan yang terjadi diantaranya : Kebersihan alat-alat yang digunakan.2 .Naftolflatein Purpus kresol Fenolftalein Timolftalein tidak berwarna merah tidak berwarna merah merah kuning merah merah kuning kuning kuning kuning kuning tidak berwarna tidak berwarna Basa kuning kuning kuning kuning jingga biru kuning biru purpur biru merah biru biru merah biru 0. Dikarenakan trayek pH indikator PP mencakup pH titik ekivalen antara asam lemah dengan basa kuat.0 . Indikator yang digunakan adalah indikator PP.4 3.8 1. menyebabkab warna larutan NaOH berwarna merah lembayung.0.10.5 Trayek pH . maka dapat dihitung kadar CH3COOH perdagangan.3 5.2 . Alat yang digunakan harus bersih dan kering agar tidak terjadi kontaminasi dengan zat-zat sisa yang tertinggal pada alat-alat yang digunakan.2 . Pada peniteran alkalimetri pada percobaan ini yang akan ditetapkan kadarnya adalah asam cuka perdagangan.6.4 ml dan 6. perubahan HIn menjadi In -. Pengerjaan titrasi dilakukan secara duplo untuk lebih meyakinkan bahwa titik akhir sudah tercapai dan hasil dari dua kali titrasi hendaknya jangan berbeda lebih dari 0.0 9.4 4. Warna No. perubahan ini menjadi HIn hingga titik akhir warna tidak terlihat.0 .8 . Sebenarnya telah terjadi reaksi antara indikator dan asam atau basa yang bersangkutan. Pada saat titik akhir telah tercapai warna larutan berubah menjadi merah lembayung dikarenakan penambahan [OH-].4 .4 . Pada peniteran asidimetri pada percobaan yang dilakukan adalah penetapan kenormalan NaOH dengan menggunakan asam oksalat sebagai larutan standar primer yang berfungsi sebagai titran.6.5 .yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. Larutan asam cuka yang ditambahkan indikator PP tidak mengalami perubahan warna. Jadi ketika indikator tepat berubah warna atau titik akhir titrasi telah tercapai.2 .α . Perubahan warna menjadi merah lembayung dikarenakan indikator bereaksi dengan basa (NaOH).7.1 . Dalam kehidupan sehari-hari asidi alkalimetri memiliki peranan penting.05 ml.0 9. lalu titrat dititrasi dengan titran hingga mencapai titik akhir ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi tidak berwarna.3 4. Hal ini dikarenakan penambahan [H+] sehingga [OH] berkurang dan keseimbangan bergeser ke kiri.0 6.3 .6 8. Dari perhitungan didapatkan konsentrasi NaOH sebesar 0.10.10.9 . Dalam bidang farmasi asidi alkalimetri digunakan untuk menentukan gugus obat sulfa.1 .3 .8 .10.1 ml.6 ml.0 7. Setelah ditambah indikator.4.

Titik akhir titrasi ini dapat dilihat denga adanya perubahan warna yang terdapat dalam larutan yang dititrasi.00.1 N Mahasiswa dapat membuat larutan NaOH 0. 2. Reaksi dalam analisis volumetri terbagi menjadi : Reaksi-reaksi yang tidaj menimbulkan / mengakibatkan terjadinya perubahan valensi.16 17 Kuning alizarin R 1. LAporan ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI Posted by For Indonesiaku 15. analisis kuantitatif terbagi menjadi : 1.1 N Mahasiswa dapat melakukan standarisasi larutan HCl 0.Analisis berdasarkan Gravimetri. Perubahan warna dalam larutan ini akan lebih jelas bila dalam proses titrasi ditambahkan sedikit indicator.Trinitrobenzen kuning tidak berwarna violet jingga 10.0 12. under | 1 comment ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI TUJUAN Mahasiswa dapat membuat larutan HCl 0.46. Indikator yang tepat untuk titik akhir titrasi ini salah satunya adalah fenolftalein yang memiliki trayek pH 8. Banyaknya zat yang akan ditentukan konsentrasinya dapat dihitung dari banyaknya volume standart dengan hukum ekivalen biasa. .0 Pada peniteran asam dan basa.12.14. Pada peniteran asam lemah-basa kuat. BAB 5 PENUTUP 5. Analisis secara Volumetri adalah analisis kimia kuantitatif utuk menentukan banyaknya volume suatu larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan teliti yang bereaksi secara kuantitatif dengan larutan/zat yang akan kita tentukan konsentrasinya.6 ml - 5. setiap basa yang diteteskan bereaksi dengan asam dan peniteran dihentikan pada saat jumlah mol H+ setara dengan jumlah mol OH-.1 Kesimpulan Konsentrasi NaOH standar yang digunakan dalam percobaan adalah 0. Analisis anorganik secara kuantitatif yaitu proses analisis untuk menentukan atau mengidentifikasi banyaknya atau perbandingan banyaknya tiap-tiap penyusun yang terdapat suatu zat atau persenyawaan. Saat dimana terjadi reaksi yang sempurna tercapai disebut saat Titik Ekivalen atau titik Stoikiometri biasanya titik akhir titrasi disebut juga titik akhir teoritis.3.Analisis berdasarkan Volumetri.1 N Mahasiswa dapat melakukan standarisasi cuplikan (sampel) DASAR TEORI Asidimetri : Analisis (volumetri) yang menggunakan asam sebagai larutan asam sebagai larutan Standart.5. Pada saat ini larutan bersifat netral.2 Saran Dalam melakukan percobaan dapat digunakan asam kuat-basa kuat atau asam kuat-basa lemah agar praktikan lebih dapat memahami titrasi asam-basa dan dapat digunakan indikator yang berbeda. atau [H+] = [OH-] = 107.0 . Alkalimetri : Analisis (volumetri) yang menggunakan alkali (basa) sebagai larutan asam sebagai larutan standart.2 – 10. Larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan teliti disebut Larutan Standart. Analisis anorganik secara kuantitatif yaitu proses atau operasi analisis hanya digunakan untuk mengetahui atau mengidentifikasi penyusun-penyusun dari suatu zat dan pengembang-pengembang metoda-metoda pemisahan masingmasing penyusun yang terdapat dalam suatu campuran.1 . Sedang larutan yang akan ditentukan normalitasnya disebut larutan yang dititrasi.0625 N Kadar asam asetat perdagangan yang dipakai dalam percobaan adalah 51 gr/mL Volume NaOH terpakai pada peniteran CH3COOH sebanyak 13. Proses penambahan larutan standart ke dalam larutan yang akan ditentukan normalitasnya sampai terjadi reaksi yang sempurna disebut Titrasi.1 N Mahasiswa dapat melakukan standarisasi larutan NaOH 0. hanya penggabungan ion-ion saja. Secara garis besar. pH nya pada titik ekivalen > 7 karena kebasaan konjugat asam lemah CH3COO-. larutan standart ini tiap liternya mengandung sejumlah gram ekivalen tertentu.

Penentuan normaitas larutan NaOH 0. Pipit ukur Gelas arloji 9. Indikator PP ditambahkan sebanyak 3 tetes. NaOH tersebut dimasukkan ke dalam labu takar 250 ml.1 N dengan Asam Oksalat. Membuat larutan NaOH 0. Pipet gondok Sendok sungu 8. Bulbpet Labu takar 10. Membuat larutan HCl 0. Kristal asam oksalat (H2C2O4 )ditimbang sebanyak 0. ALAT DAN BAHAN ALAT : Buret 7.83 mL. X : Banyaknya HCl yang diambil ( ml ) N : Normalitas larutan HCl yang dibuat ( 0. Larutan HCl tersebut dititrasi dengan Natrium Borat yang dibuat. Natrium Borat kristal HCl pekat 6. Ditentukan Normalitas asam tersebut. Dititrasi dengan larutan NaOH 0. . Cara menghitung (X) ml HCl sebagai berikut: x=(N x V x M)/(10n x K x L) Dimana .Dalam proses ini yang terjadi adalah penggabungan antara ion-ion H+dengan ion-ion OH. kemudian ditambah dengan aquadest. Penentuan larutan sampel Sebanyak 25 mL sampel yang sudah disediakan dimasukkan kedalam Erlenmeyer. Neraca timbang BAHAN : NaOH Kristal 5. Dalam perhitungan selanjutnya kita gunakan persamaan antara volume dan konsentrasi masing-masing zat yang dititrasi dengan zat penetrasinya dan berlaku rumus sebagai berikut : V1 x N1 = V2 x N2 Dimana.membentuk molekul air. Disimpan di dalam botol dan ditutup rapat-rapa. Indikator MO dan PP H2SO4 pekat 7. Asidimetri suatu titrasi terhadap larutanlarutan basa bebas atau garam yang berasal dari basa lemah dengan larutan standart asam. Proses titrasi Asidimetri dan Alkalimetri merupakan salah satu proses titrasi netralisasi. Aquadest Asam oksalat CARA KERJA 1. Dititrasi ulang 2-3 kali. Erlenmeyer Corong 11. Dititrasi dengan larutan NaOH standart. misalnya pada reaksi Oksidasi dan Reduksi.1 N Larutan natrium Borat 0.3-1. kemudian ditandabataskan.1 N dibuat sebanyak 100 ml (sesuai perhitungan). kemudian ditandabataskan.1 N NaOH sebanyak 1. Dititrasi ulang 2-3 kali. Titrasi diulang sampai 3 kali. V1 : Volume zat penetrasi/standar (ml) N1 : Normalitas zat penetrasi/standar (gram ekivalen/liter) V2 : Volume zat yang dititrasi/dicari N nya (ml) N2 : Normalitas zat yang dititrasi/dicari N nya (gram ekivalen/liter) Sedangkan reaksi-reaksi yang melibatkan proses oksidasi dan reduksi akan dibahas tersendiri dalam praktikum yang menggunakan zat kimia bersifat oksidator/reduktor seperti Iodometri dan Iodimetri. Sebanyak 25 ml larutan asam oksalat tersebut dimasukkan dalam Erlenmeyer dan ditambahkan 3 tetes indicator PP.1 N ) V : Volume asamyang dibutuhkan ( 100 ml ) M : Berat molekul asam ( HCl = 36. Ditentukan normalitas sampel tersebut. HCl pekat dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL. Dilarutkan dengan air murni dalam labu takar 100 ml. Gelas beker Pipet tetes 12. kemudian ditandabataskan.5 ) n : Valensi asam ( HCl = 1 ) L : Berat jenis asam ( HCL = 1. Larutan dikocok sampai homogen.091 ditimbang dengan gelas arloji (sesuai dengan perhitungan).1 N (yang akan dicari normalitasnya). 2.1 N HCl pekat dianbil sebanyak 0.632 gram. Larutan HCl (yang dibuat) diambil sebanyak 25 ml dan ditambahkan 3 tetes indikator MO. Sedang alkalimetri adalah suatu proses titrasi larutan-larutan asam bebas atau larutan-larutan garam yang berasal dari asam lemah dengan larutan standar basa.Reaksi-reaksi yang tidaj menimbulkan / mengakibatkan terjadinya perubahan valensi.4 ) K : Kadar asam HCl ( %= 35-36 ) 4. Penentuan Normalitas HCl 0.

903 gram BM Borat : 381.5))/(10(1)x (37)x (1.19 gr/ml Prosen HCl pekat : 37 % Volume pengenceran : 100 ml x=(N x V x M)/(10n x K x L) x=((0.5 g/mol BD HCl pekat : 1.632 gram BM asam oksalat = 126.H2O=(0. 25 ml PP 3 tetes 18.1003 N ₰ Volume NaOH V rata NaOH=( 24 +23.07/2) x 1000/100 = 0.8 ml Jernih PERHITUNGAN Ѽ Pembuatan NaOH 0.1 N)x (40 gr/mol)/1 x (250 ml)/(1000 ml) = 1 gram Ѽ Penentuan normalitas larutan NaOH 0.1 N BM NaOH : 40.19)) x= 0.091 gram Volume NaOH : 250 ml ҉ Standarisasi Normalitas lautan NaOH dengan garam asam oksalat ( H2C2O4 ) Massa oksalat : 0.632 gram BM oksalat : 126. 25 ml PP 3 tetes 18.07 gr/mol Volume asam oksalat = 100 ml Maka.3 ml MO 3 tetes Kuning Orange3. Volume Oksalat Indikator Volume NaOH Perubahan warna merah muda1.6 ml Jernih merah muda3.H2O)/(BE C2H2O4. 25 ml 30.1 N Massa NaOH yang ditimbang = 1.87 ml) = 0.83 ml ( diencerkan menjadi 100 ml) Ѽ Penentuan massa Natrium Borat yang diambil .83 ml BM HCl pekat : 36.1 N)x (100)x (36. 25 ml PP 3 tetes 24 ml Jernih merah muda2.07 gram/mol Volume pengenceran : 100 ml NO.H2O) x 1000/(V (ml)) N C2H2O4.047 gram N NaOH=(Massa NaOH)/(BE NaOH) x 1000/(V (ml)) Massa NaOH = N NaOH x BE NaOH x V (ml) : 1000 =(0.6 ml Jernih Merah muda3.19 gr/ml Prosen HCl pekat : 37 % Volume pengenceran : 100 ml ҉ Standarisasi larutan HCl dengan larutan Na2B4O7 Massa Borat : 1. Volume HCl/Sampel Indikator Volume NaOH Perubahan warna Merah muda1.1003))/(23. 25 ml PP 3 tetes 18.83 ml BM HCl pekat : 36. 25 ml PP 3 tetes 23.H2O=(M C2H2O4.9 ml MO 3 tetes Kuning ҉ Penentuan larutan sampel NO. 25 ml 30. Volume HCl Volume Na2B4O7 Indikator Perubahan warna Orange1. N C2H2O4.1 N Volume diambil HCl : 0.105 N Ѽ Pembuatan larutan HCl 0.1 N dengan asam oksalat.37 g/mol Volume pengenceran : 100 ml NO.1 N Volume HCl yang harus diambil : ± 0. 25 ml 30.DATA PENGAMATAN ҉ Pembuatan NaOH 0.632 gram)/(126. ₰ Normalitas asam oksalat Massa asam oksalat = 0.4 ml Jernih Merah muda2.4 ml MO 3 tetes Kuning Orange2.5 g/mol BD HCl pekat : 1.6 + 24 )ml/3 = 23. 25 ml PP 3 tetes 24 ml Jernih ҉ Pembuatan larutan HCl 0.0 g/mol Berat NaOH : ± 1.87 ml Normalitas NaOH V NaOH x N NaOH = V Oksalat x N Oksalat N NaOH = (V Oksalat x N Oksalat)/(V NaOH) N NaOH = ((25 ml)(0.

1 N.0998N)/(25 ml) = 0. dapat melakukan standarisasi larutan HCl 0. dan dapat melakukan standarisasi cuplikan (sampel).936 % Penentuan Larutan sampel (HCl) V sampel = 25 ml V NaOH = (18. Tujuan dari standarisasi adalah menentukan konsentrasi larutan setepat mungkin.8 )ml/3 = 18.1 N 0.1 N.953 ml)/(25 ml) = 0.0998 N VHCl x NHCl = V Na2B4O7 x N Na2B4O7 NHCl = (V Na2B4O7 xN Na2B4O7)/VHCl = (30.1216 N Konsentrasi HCl sesungguhnya x=(N x V x M)/(10n x K x L) K=(N x V x m)/(10n x L x X) =((0. Percobaan pertama yaitu membuat larutan NaOH 0. Reaksi yang terjadi sebagai berikut : Na2B4O7 + 5 H2O + 2 HCl 2 NaCl + 4 H3BO3 Reaksi indicator dengan titrant : HCl + InPercobaan kedua yaitu menentukan normaitas larutan NaOH 0. Setelah diperoleh beberapa data.+ OHUntuk pembuatan larutan HCL 0.7 ml.078 N PEMBAHASAN Percobaan ini. Dan untuk mengindikasi adanya perubahan pH maka digunakan indicator PP. sebab belum tentu dalam pembuatan HCl dan NaOH didapat normalitas 0.Hanya saja pada percobaan yang ketiga ini harus . Pada percobaan ini.83 ml.6 ml N NaOH = 0.1 grek/L Mol = 0.1216 N)x (100)x (36. Terjadinya perubahan warna merupakan akibat reaksi yang menunjukkan perbedaan pH.1 N. tetapi 0. NaOH sangat higroskopis dan selalu terdapat sejumlah tertentu alkali karbonat dan air.selanjutnya dilakukan titrasi dengan maksud mencari titik ekivalen atau titik akhir titrasi guna standarisasi normalitas larutan NaOH dengan asam oksalat. Pada percobaan ini HCl distandarisasi dengan NaBorat.Untuk mengetahui adanya perubahan warna.larutan oksalat berwarna jernih dan setelah dititrasi dengan NaOH.1 N.1/2 L = (0.dilakukan terlebih dahulu pengenceran asam oksalat 0.105 N Vsampel x N sampel = V NaOH x N NaOH 25 ml x N sampel = 18.467 ml N Na-Borat = (m Na-Borat)/Be x 1000/V = (1.4+18. Pada pembuatan larutan asam oksalat 0. NaOH adalah basa kuat yang dapat larut dalam air.37/2)(gr/mol)) x 1000/100 = 0.0999 N.1 N dalam 100 ml 0.1 N. Tetapi NaOH harus di standarisasai terlebih dahulu karena tidak satupun dari hidroksida padat ini dapat diperoleh murni. sehingga diperoleh normalitas sebesar 0. dapat membuat larutan NaOH 0.didapat nilai normalitas oksalat sebesar 0.467 ml x 0. NaOH distandarisasi menggunakan asam oksalat.1 N = 0.05 mol x 381. Standarisasi HCl dengan Na-Borat menggunakan indicator MO (Metil Orange).5))/(10(1)x (1. Begitu juga pada pembuatan Na-Borat.906 gr. Dari hasil percobaan diketahui bahwa volume NaOH untuk titrasi adalah 23.0998 N.83 ) = 44. NaOH distandarisasi dengan asam oksalat karena agar lebih stabil dengan adanya 2 valensi pada asam oksalat.37 gr/mol Volume pelarutan = 100 ml N Na-Borat = 0. Dengan adanya indicator PP. Reaksi yang terjadi : NaOH + (COOH)2 (COONa)2 + 2H2O Reaksi indicator dengan titrant : NaOH + In.3+30.Saat dititrasi.Pertama.ternyata terjadi perubahan warna menjadi merah muda yang menghabiskan volume NaOH sebanyak 24. Penggunaan larutan NaOH dan HCl sendiri didasarkan pada pengertian asidimitri dan alkalimetri itu sendiri. praktikan bertujuan untuk dapat membuat larutan HCl 0.632 gr.Metode yang digunakan sama seperti yang sebelumnya yaitu dengan pengenceran. sehingga suatu larutan standar tidak dapat dibuat dengan melarutkan suatu bobot yang diketahui dalam volume air tertentu. selain itu harganya juga murah.63 gr.63 gram ke dalam erlenmeyer 100 ml.6 ml x 0. penimbangannya 1.105 N.105 N N sampel = (1.903 gr seharusnya 1.dimana akan dibuat larutan HCl 0.37 gr/mol x 100 ml)/(1000 ml) = 1.1 N.7 ))/3 = 30.bisa kurang bisa lebih.NaIn.19)x 0. Sedangkan alkalimetri yaitu analisis secara volumetric dengan larutan standar asam.4+30. dapat melakukan standarisasi larutan NaOH 0. maka dapat diketahui titik ekivalen dengan berubahnya warna larutan dari bening menjadi merah muda.1 N dari HCL 37% dalam 100 ml harus diambil ± 0.titik ekivalen atau titik akhir titrasi selesai dilakukan saat terjadi perubahan warna. Titrasi dihentikan setelah terjadi perubahan warna dari kuning menjadi orange.digunakan indicator PP yang dicampur pada larutan oksalat.903 gr)/((381.1 N sebanyak 100 ml.Setelah dilakukak pengenceran.1 N.1 N dengan asam oksalat.1 N diperoleh perhitungan 0.907 gram (pembulatan) Ѽ Penentuan Normalitas HCl : V Na-Borrat = ((30. Percobaan selanjutnya yaitu membuat larutan HCl 0.6+18.87 ml sehingga normalitas NaOH hasil standarisasi yaitu 0. Asidimetri yaitu analisis secara volumetric dengan larutan standar basa.1003 N sebab pada saat penimbangan padatannya tidak diperoleh tepat 0. dan biasanya digunakan untuk pembuatan larutan alkali standar.Mr Na-Borat = 381. Pada percobaan ini.

37 gr/mol. Kemudian dilanjutkan dengan percobaan yang ke empat yaitu Standarisasi larutan HCl dengan larutan Na2B4O7.05 ml. yaitu : 1. Berapa kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran ? C.Setelah diperoleh data tersebut.didapat hasil bahwa diperlukan HCl sebanyak 1. maka dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar asam asetat. Latar Belakang Titrasi merupakan suatu metode analisis kuantitatif untuk menentukan konsentrasi dari suatu larutan menggunakan larutan lain yang telah distandarisasi atau larutan yang konsentrasinya telah diketahui. .terlebih dahulu dicari datadata seperti volume HCl yang diambil. Untuk menentukan kadar asam asetat dalam contoh (sampel). Titrasi ini dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi atau kadar dari asam/basa kuat ataupun lemah yang dititrasi dengan basa/asam lemah ataupun kuat. Berdasarkan latar belakang ini.massa jenis HCl pekat .Pembuatan larutan NaOH dan HCl 0.Setelah dititrasi. Tujuan Tujuan dari percobaan ini. 2. 4.menentukan seberapa banyak volume HCl pekat yang diperlukan. 1 Titrasi asidimetri dan alkalimetri merupakan titrasi netralisasi dimana pada titrasi ini digunakan larutan asam dan basa kuat ataupun lemah sehingga dihasilkan air yang bersifat netral.906 gram dan berat jenis Borat sebesar 381.1 N dengan asam oksalat diperlukan volume sebanyak 24. 2.0811 N Laporan Titrasi Asidimetri dan Alkalimetri BAB I PENDAHULUAN A.227 ml. Dalam metode titrimetri ini.serta prosen HCl pekat nya. Metode titrimetri atau yang juga dikenal dengan metode volumetri secara garis besar diklasifikasikan dalam empat kategori berdasarkan jenis reaksinya. yaitu : titrasi asidi-alkalimetri.Normalitas HCl sebesar 0. Penambahan titran ke dalam analit dilakukan hingga tercapat titik ekivalen dimana akan terjadi perubahan warna dari larutan indikator.berat molekul HCl pekat. KESIMPULAN 1.diperoleh perubahan warna dari merah muda menjadi kuning.Percobaan yang terakhir yaitu penentuan larutan sampel 25% yang diambil 5ml dan diencerkan menjadi 250 ml diambil 10 ml untuk sampelnya dan setelah dilakukan titrasi ternyata dihabiskan volume NaOH rata sebanyak 12. larutan yang akan ditentukan konsentrasinya disebut larutan analit sedangkan larutan yang diketahui konsentrasinya disebut titran. Rumusan Masalah Rumusan masalah dari percobaan ini.Penentuan normalitas larutan NaOH 0.7 ml.1 N diperlukan massa NaOH seberat 1 gram.Dari percobaan diperoleh data massa Borat sebanyak 1. Untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran. yaitu : 1.1 N dapat dilakukan dengan pengenceran. karbonat dan bikarbonat dalam sampel yang digunakan. titrasi pengendapan dan titrasi kompleksometri. 3.Pembuatan NaOH 0. Berapa kadar asam asetat dalam sampel ? 2.Untuk melakukan perhitungan. B. Larutan indikator yang digunakan disesuaikan dengan metode titrimetri yang dilakukan. titrasi oksidimetri.

1990) . Reaksi berjalan cepat (dalam beberapa menit saja). mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai ion positif. 1990). Beberapa metode harus tersedia untuk menetapkan kapan titik ekivalensi tercapai. LANDASAN TEORI Berdasarkan atas hasil reaksi antara analit dengan larutan standar maka analisis volumetrik dibagi menjadi titrasi netralisasi (asam basa) yang terdiri dari alkalimetri dan asidimetri. 1986).2 Dasar Teori Dalam analisis larutan asam dan basa. (Day dan Underwood. Sedangkan basa secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. (Day dan Underwood. pembuatan suatu kurva titrasi akan membantu pemahaman untuk titrasi asam basa suatu kurva titrasi terdiri dari suatu alur pH atau pOH versus mL titran. basa dan garam. KOH dan sebagainya. Reaksi-reaksi ini melibatkan senyawa ion hidrogen dan ion hidroksida untuk membentuk air. Dalam menguji suatu reaksi untuk menetapkan apakah reaksi itu dapat digunakan untuk suatu titrasi. 1994). Kurva semacam itu membantu dalam mempertimbangkan kelayakan suatu titrasi dan dalam memilih indikator yang tepat. H2SO4. 1999). Asidimetri merupakan titrasi terhadap larutan basa bebas dan larutan garam terhidrolisis dari asam lemah. 03 Okt 2012 Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. Konsentrasi larutan yang tidak diketahui (analit) kemudian dihitung. suatu reaksi memenuhi persyaratan berikut sebelum digunakan. titrasi redoks. karena itu ia merupakan elektrolit kuat. (Keenan. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. untuk lebih memahami konsep peniteran asidi – alkalimetri dan mengetahui konsentrasi standar dari zat yang dianalisa maka perlu dilakukan peniteran dengan menggunakan suatu standar primer. Dari kumpulan reaksi kimia yang dikenal relatif sedikit yang dapat digunakan sebagai dasar untuk titrasi. Analisis volumetri juga dikenal sebagai titrimetri. 4. Indikator asam basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu. reaksi berlangsung kuantitatif dan tidak ada reaksi samping. Asam didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air.sebagai ion negatif. titrasi akan melibatkan pengukuran yang seksama volume-volumenya suatu asam dan suatu basa yang tepat akan saling menetra1kan (Keenan. Reaksi harus berjalan sampai boleh dikatakan lengkap pada titik ekivalensi. Oleh karena itu. dengan suatu standar (asidimetri) dan titrasi asam bebas yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah. Metode volumetri diklasifikasikan menjadi titrasi asam-basa. Larutan ini disebut larutan standar sekunder yang konsentrasinya ditentukan melalui pembakuan dengan suatu standar primer. Makin kuat asam.Rabu. Suatu inidikator haruslah tersedia atau beberapa metode secara instrumen dapat digunakan untuk memberitahu analisis kapan penambahan titran dihentikan. larut dan stabil serta akan menunjukkan perubahan warna yang kuat. 1994). (Keenan. Syaratnya adalah reaksi harus berlangsung secara cepat. 1994). 1999). Asam lemah berdisosiasi hanya sedikit pada konsentrasi sedang bahkan pada konsentrasi rendah. Titrasi yang menyangkut asam dan basa sering disebut asidimetri – alkalimetri. Indikator asam basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH. Sedangkan untuk titrasi atau pengukuran lain-lain sering juga dipakai akhiran –ometri menggantikan –imetri. Tidak boleh ada reaksi samping. 3. Asidi-alkalimetri berperan penting dalam berbagai bidang kehidupan. 1. Asam kuat berdisosiasi hampir sempurna dengan pengenceran yang sedang. di mana zat dibiarkan bereaksi dengan zat yang lain yang konsentrasinya diketahui dan dialirkan dari buret dalam bentuk larutan. Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa. 2. kedokteran dan pertanian. Asidi alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion OH. titrasi pengandapan dan titrasi kompleksometri (Khopkar. 1990). Reaksi harus berjalan sesuai dengan suatu persamaan reaksi tertentu. biasanya merupakan zat organik (Khopkar. makin lemah basa konjugatnya. 1. seperti biologi. Pengertian asidimetri dan alkalimetri secara umum ialah titrasi yang menyangkut asam dan basa. Asam dan basa tersebut memiliki sifat-sifat yang menyebabkan konsentrasi larutannya sukar bahkan tidak mungkin dipastikan langsung dari proses hasil pembuatan atau pengencerannya. (Svehla. Semua metoda titrimetri tergantung pada larutan standar yag mengandung sejumlah reagen persatuan volume larutan dengan ketepatan yang tinggi. 1. tetapan keseimbangan reaksi harus sangat besar. Dengan kata lain. (Khopkar. Kuat relatif asam dan basa dalam larutan bergantung pada afinitas mereka terhadap proton yang berlainan. Kesetimbangan asam basa merupakan suatu topik yang sangat penting dalam kimia dan bidang-bidang lain yang mempergunakan kimia. NaOH. (Bassett. Reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri adalah salah satu dari empat golongan utama dalam penggolongan reaksi dalam analisis titrimetri. 1990). Sedangkan alkalimetri merupakan titrasi terhadap larutan asam bebas dan larutan garam terhidrolisis dari basa lemah. Pereaksi atau larutan yang selalu dijumpai di laboratorium dimana pembakuannya dapat ditetapkan berdasarkan pada prinsip netralisasi asam – basa (melalui asidi – alkalimetri) diantaranya adalah HCl. dengan suatu basa standar (alkalimetri). Kata metri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu atau proses atau seni mengukur. misalnya larutan asam oksalat.

1 N dan menetapkan konsentrasi larutan tersebut dengan cara standarisasi dengan larutan borax dan natrium karbonat anhidrous. Metode pengukuran konsentrasi larutan menggunakan metode titrasi (titrasi asam-basa) yaitu suatu penambahan indikator warna pada larutan yang diuji. karena metoda tersebut mempunyai ketertelusuran yang terdekat ke standar nasional maupun standar internasional.net/index). Indikator yang sering digunakan dalam percobaan asidimetri dan alkalimetri adalah indikator metil merah dan metil orange untuk asidimetri karena skala pH pada kedua indikator memang berkisar pada larutan yang bersifat asam dan indikator PP untuk alkalimetri karena skala pH pada indikator PP berkisar pada larutan yang bersifat basa. Pemilihan metode ini dipakai karena merupakan metode yang sederhana dan sudah banyak digunakan dalam laboratorium maupun industri (riset dan pengembangan). Dalam percobaan ini larutan dibuat dengan cara pengenceran kemudian dilakukan titrasi dengan larutan-larutan standar tertentu sehingga didapatkan harga konsentrasi dari larutan hasil pengenceran tersebut. Dari hasil percobaan didapatkan larutan hasil standarisasi HCl adalah 0. Perbedaan titik akhir dan titik ekivalen disebut sebagai kesalahan titik akhir. KOH. 1995).1. Sedangkan alkalimetri pada prinsipnya adalah analisa titimetri yang menggunakan basa kuat sebagai titrannya dan analitnya adalah asam atau senyawa yang bersifat asam. dalam pengamatan dan penghitungannya tergantung pada ketelitian masing-masing individu (http://www. Menentukan kadar asam dalam asam cuka yang diperdagangkan serta menentukan kadar NH3 dalam garam ammonium (NH4Cl). Selain itu dalam percobaan ini digunakan metode titrimetri untuk menganalisa kadar suatu sampel dengan proses asidimetri maupun alkalimetri.0662 N dan 0. karena metoda ini dapat menjadi metoda acuan untk metoda pengukuran lainnya (http://www. Kemudian nilai konsentrasi larutan yang diuji dihitung berdasarkan cara yang telah ditetapkan dalam metode titrasi. Kesalahan titk akhir adalah kesalahan acak yang berbeda ntuk setiap sistem. apabila terjadi perubahan warna yang disebut titik akhir maka penetesan larutan uji dihentikan (http://chem-is-try. 3. perhitungannya dilakukan secara manual.2 Latar Belakang Pada prinsipnya asidimetri adalah analisa titrimetri yang menggunakan asam kuat sebagai titrannya dan sebagai analitnya adalah basa atau senyawa yang bersifat basa. Sedangkan kadar asam cuka yang diteliti adalah 0. Pada pengukuran konsentrasi larutan dengan menggunakan metode titrasi asam-basa.0113 N. Membuat larutan standar NaOH dan standarisasi dengan asam oksalat.elektroindonesia.1 N serta menetapkan konsentrasi larutan standar HCl dengan cara standarisasi dengan larutan borax (Na2B4O7. Ditetesi hingga terjadi perubahan warna dari larutan indikator.867 N dan larutan hasil standarisasi NaOH adalah 0. Karena setiap individu dengan individu yang lainnya relatif berbeda.1 PENDAHULUAN 1.1. Kata Kunci : asidimetri. Kesalahan ini bersifat aditif dan determinan dan nilainya dapat dihitung. kesalahan titik akhir ditekan sampai nol (Rivai.Titrasi biasanya merupakan larutan elektrolit kuat seperti NaOH dan HCl yang diperlukan untuk bereaksi sempurna oleh zat yang dianalisis yang disebut sebagai titik ekivalen. titrasi akan melibatkan pengukuran yang seksama volume-volumenya suatu asam dan . juga dalam pengendalian proses yang berlangsung. Sedangkan alkalimetri pada prinsipnya adalah analisa titrimetri yang menggunakan basa kuat sebagai titrannya dan analitnya adalah asam atau senyawa yang bersifat asam. 1. 2. Dengan menggunakan cara ini terdapat beberapa kelemahan antara lain kesalahan paralaksi dan memerlukan waktu yang relatif lama untuk perhitungan atau penentuan nilai konsentrasi larutan.2 gram NH4Cl adalah sebesar 10. larutan standar. begitu pula sebaliknya.10H2O) dan Na2CO3 anhidrous.75 %. Larutan yang biasa dipakai sebagai titran dalam alkalimetri adalah NaOH. PERCOBAAN 1 ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI 1. serta kadar NH3 yang terkandung dalam 0. Percobaan ini bertujuan untuk membuat larutan standar HCl 0. Untuk dapat melakukan analisis secara volumetri dan gravimetri yang baikdan benar diperlukan pengetahuan yang cukup. alkalimetri. membuat larutan standar primer asam oksalat dan menentukan kadar asam cuka yang diperdagangkan. yang sebelumnya telah diberi larutan indikator. kemudian ditetesi dengan larutan yang merupakan kebalikan asam-basanya.24 %.kimia-lipi. Larutan yang biasa digunakan dalam analisa ini adalah NaOH karena harganya relatif murah.1 Tujuan Percobaan Tujuan percobaan ini adalah : 1. dengan larutan uji. dan Ba(OH)2 yang merupakan larutan baku standar sekunder. Teknik Volumetri dan Gravimetri menjadi alternatif metoda analisis yang mempunyai ketertelusuran tertinggi. Membuat larutan standar HCl 0.org).dan penentuan nilai konsentrasi larutan. Dengan menggunakan metode potensiometri dan konduktometri. ataupun pengukuran dengan asam (yang diukur jumlah basa atau garamnya). Jadi apabila larutan tersebut merupakan larutan asam maka harus diberikan basa sebagai larutan ujinya. 1.2 DASAR TEORI Dalam analisis larutan asam dan basa. biasanya cara umum yang sering dilakukan adalah dengan menetesi larutan yang diuji.com) ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI ABSTRAK Asidimetri adalah analisa titrimetri yang menggunakan asam kuat sebagai titrannya dan sebagai analitnya adalah basa atau senyawa yang bersifat basa. Pada metode ini mata manusia memegang peranan penting dalam pengamatan terjadinya perubahan warna.

pembuatan suatu kurva titrasi akan membantu pemahaman untuk titrasi asam basa suatu kurva titrasi terdiri dari suatu alur pH atau pOH versus ml titran. Reaksi harus berjalan sampai boleh dikatakan lengkap pada titik ekivalensi. basa dan garam. Pereaksi T. Analisis volumetri juga dikenal sebagai titrimetri. 1990). Asam lemah berdisosiasi hanya sedikit pada konsentrasi sedang bahkan pada konsentrasi rendah (Svehla. 1994). Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat. Dari kumpulan reaksi kimia yang dikenal relatif sedikit yang dapat digunakan sebagai dasar untuk titrasi. asin. 1990).suatu basa yang tepat akan saling menetra1kan. 4. basa. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion-ion hidroksil sebagai satu-satunya ion negatif (Svehla. Indikator asam basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH. maka dapat menggunakan bahan kimia. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. Agar diketahui kapan harus berhenti menambahkan titran. Reaksi harus berjalan sesuai dengan suatu persamaan reaksi tertentu. Cairan yang berasa asam disebut larutan asam. Konsentrasi molekul indikator yang sangat rendah ini hampir tidak berpengaruh terhadap pH larutan. 1. Reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri adalah salah satu dari empat golongan utama dalam penggolongan reaksi dalam analisis titrimetri. dan sebagainya. A. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satusatunya ion positif. Dalam menguji suatu reaksi untuk menetapkan apakah reaksi itu dapat digunakan untuk suatu titrasi. Air murni tidak mempunyai rasa. 1979). 1999). Konsentrasi larutan yang tidak diketahui (analit) kemudian dihitung. Reaksi-reaksi ini melibatkan senyawa ion hidrogen dan ion hidroksida untuk membentuk air (Bassett. dengan suatu basa standar (alkali metri). Kurva semacam itu membantu dalam mempertimbangkan kelayakan suatu titrasi dan dalam memilih indikator yang tepat (Underwood. Untuk indikator asam-basa biasanya dibuat dalam bentuk larutan Indikator asam basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu. yaitu : Larutan asam : [H+] > [OH-] Larutan netral : [H+] = [OH-] = 10-7 Larutan basa : [H+] < [OH-] (Syukri. Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. rekasinya adalah sebagai berikut HA + OH. secara paling sederhana dapat didefinisikan sebagai zat. 1990). Perhitungan yang tercakup di dalamnya berdasarkan pada hubungan stokiometrik dari reaksi kimia yang sederhana. dan warna. Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa. Hal itu disebabkan oleh terjadinya rekasi asam basa sesama molekul air (autoionisasi) dan membentuk kesetimbangan : H2O + H2O H3O+ + OHDengan kata lain. Berdasarkan konsentrasi ion tersebut. Perubahan warna ini bisa saja terjadi persis pada titik ekivalen . yang bereaksi terhadap kehadiran titran yang berlebih dengan melakukan perubahan warna. Syaratnya adalah reaksi harus berlangsung secara cepat. bau. 1999). Reaksi berjalan cepat (dalam beberapa menit saja) (Day dan Underwood. di mana zat dibiarkan bereaksi dengan zat yang lain yang konsentrasinya diketahui dan dialirkan dari buret dalam bentuk larutan. Jika HA mewakili asam yang akan ditentukan dan B mewakili basa. tetapan keseimbangan reaksi harus sangat besar. dan akan menggeser kesetimbangan ke kiri sampai tercapai kesetimbangan baru. Tidak boleh ada reaksi samping. 2. makin lemah basa konjugatnya. Titik dalam titrasi dimana indikator berubah warnanya disebut titik akhir ( Day dan Underwood). Dengan kata lain. Perubahan warna indikator mencerminkan pengaruh asam dan basa lainnya yang terdapat dalam larutan (Oxtoby. pahit. Jenis indikator yang khas adalah asam organik yang lemah yang mempunyai warna berbeda dari basa konjugatnya. Indikator adalah zat warna larut yang perubahan warnanya tampak jelas dalam rentang pH yang sempit. tetapi bisa juga tidak. yang bila dilarutkan dalam iar. Asidi alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah. berarti menambahkan jumlah H+. bereaksi dengan t molekul pereaksi. selanjutnya akan dikatakan titik ekivalen dari titrasi telah dicapai. dan konsentrasinya ditentukan dengan sebuah proses yang dinamakan standarisasi. Makin kuat asam. 1999). 3. 2001). larutan dibagi tiga. Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. biasanya merupakan zat organik (Khopkar. larut dan stabil serta akan menunjukkan perubahan warna yang kuat. Air yang mengandung zat lain dapat pula menjadi warna. Basa. Reaksi kimia yang mungkin di perlakukan sebagai basis dari penentuan titrimetrik telah dikelompokan ke dalam empat tipe : a. Penambahan dari titran tetap dilakukan sampai jumlah T secara kimiawi sama dengan yang telah ditambahkan kepada A. dalam wujud larutan yang konsentrasinya diketahui. ditambahkan secara kontinu. sedangkan yang terasa licin dan pahit disebut larutan basa (Syukri. yang disebut titran. Asam kuat berdisosiasi hampir sempurna dengan pengenceran yang sedang. Air mengandung ion dalam jumlah kecil sekali. suatu reaksi memenuhi persyaratan berikut sebelum digunakan. Analisis dengan metode titrimetrik didasarkan pada rekasi kimia seperti : aA + tT produk Di mana a molekul analit. Analisis titrimetrik adalah salah satu divisi besar dalam kimia analitik. reaksi berlangsung kuantitatif dan tidak ada reaksi samping (Khopkar. Ada sejumlah besar asam dan basa yang dapat ditentukan oleh titrimetri. biasanya dari sebuah buret. Larutan ini disebut larutan standar. tetapi perkaliannya tetap 10-14. yang bila dilarutkan dalam air. yaitu indikator. maka kesetimbangan itu ditulis sebagai : H2O H+ + OHJika larutan mengandung asam. Indikator yang baik mempunyai intensitas warna yang sedemikian rupa sehingga hanya beberapa tetes larutan indikator encer yang harus ditambahkan ke dalam larutan yang sedang diuji. karena itu ia merupakan elektrolit kuat. Beberapa metode harus tersedia untuk menetapkan kapan titik ekivalensi tercapai. Pada kesetimbangan baru. air adalah elektrolit lemah dan bila H3O+ disederhanakan menjadi H+. Hal yang sama akan terjadi bila air ditambah bas sehingga dicapai kesetimbangan baru dengan nilai [OH-] > [H+] dan perkaliannya tetap 10-14. Suatu inidikator haruslah tersedia atau beberapa metode secara instrumen dapat digunakan untuk memberitahu analisis kapan penambahan titran dihentikan. konsentrasi H+ lebih besar dari pada OH-.A. Asam didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. dan garam. air dapat tersa asam. T. Bila mengandung zat tertentu. Kuat relatif asam dan basa dalam larutan bergantung pada afinitas mereka terhadap proton yang berlainan. yang terasa asin disebut larutan garam. dengan suatu standar (asidimetri) dan titrasi asam bebas yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah. Asam-Basa.+ H2O . 1999).

Latar Belakang Titrasi merupakan suatu metode analisis kuantitatif untuk menentukan konsentrasi dari suatu larutan menggunakan larutan lain yang telah distandarisasi atau larutan yang konsentrasinya telah diketahui. 1999). Sebuah reaksi harus memenuhi beberapa persyaratan sebelum reaksi tersebut dapat dipergunakan : a. Berapa kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran ? C. Titrasi ini dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi atau kadar dari asam/basa kuat ataupun lemah yang dititrasi dengan basa/asam lemah ataupun kuat. Pengendapan dari kation perak dengan anion halogen dipergunakan secara luas dalam prosedur titremetrik. Diharapkan reaksi berjalan cepat. BAB I PENDAHULUAN A. Reaksi tersebut harus diproses sampai benar-benar selesai pada titik ekivalensi.AgX (s) d. Berapa kadar asam asetat dalam sampel ? 2. c. Rumusan Masalah Rumusan masalah dari percobaan ini. titrasi pengendapan dan titrasi kompleksometri. Tujuan dari percobaan ini. Berdasarkan latar belakang ini. 2001). Oksidasi-reduksi (redoks). maka dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar asam asetat. Reaksi kimia yang melibatkan oksidasi-redoksi dipergunakan secara luas dalam analitis titrimetrik. 2. 1 Titrasi asidimetri dan alkalimetri merupakan titrasi netralisasi dimana pada titrasi ini digunakan larutan asam dan basa kuat ataupun lemah sehingga dihasilkan air yang bersifat netral. yaitu : titrasi asidi-alkalimetri.Ag (CN)-2 (Oxtoby. yaitu : 1. Reaksinya adalah sebagai berikut Ag+ + X. . besi dengan tingkat oksidasi +2 dapat dititrasi dengan sebuah larutan standar dari serium (IV) sulfat : Fe2+ + Ce 4+ Fe3+ + Ce3+ c. Sebagai contoh. sehingga titrasi dapat diselesaikan dalam beberapa menit (Day dan Underwood. d. Penambahan titran ke dalam analit dilakukan hingga tercapat titik ekivalen dimana akan terjadi perubahan warna dari larutan indikator. Pengendapan. yaitu : Untuk menentukan kadar asam asetat dalam contoh (sampel). realtif sedikit reaksi kimia yang dapat dipergunakan sebagai basis untuk titrasi. Harus tersedia beberapa metode untuk menentukan kapan titik ekivalen tercapai. Metode titrimetri atau yang juga dikenal dengan metode volumetri secara garis besar diklasifikasikan dalam empat kategori berdasarkan jenis reaksinya.dan B + H3O+ BH+ + H2O b. Contoh dari reaksi di mana terbentuk suatu kompleks antara ion perak dan sianida : Ag+ + 2 CN. Tujuan 1. b. larutan yang akan ditentukan konsentrasinya disebut larutan analit sedangkan larutan yang diketahui konsentrasinya disebut titran. Sejauh ini. Pembentukan kompleks. Untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran. karbonat dan bikarbonat dalam sampel yang digunakan. Dalam metode titrimetri ini. Reaksi tersebut harus diproses sesuai persamaan kimiwai tertentu. Larutan indikator yang digunakan disesuaikan dengan metode titrimetri yang dilakukan. B. titrasi oksidimetri. Seharusnya tidak ada sampingan.

[2] 2. Reaksi antara Ag+ dengan CN. I-. Analisis volumetri atau titrimetri berdasarkan pada reaksi : aA + tT ↔ Hasil dimana a molekul analit A bereaksi dengan t molekul pereaksi T (titran). Jika HA mewakili asam dan BOH mewakili basa. yaitu: asidi-alkalimetri. misalnya penetapan ion besi(II) (Fe2+) dalam analit dengan menggunakan titran larutan standar cesium(IV) (Ce 4+) yang mengikuti persamaan reaksi : Fe2+ + Ce4+  Fe3+ + Ce3+ Oksidator lain yang banyak digunakan dalam oksidimetri adalah kalium permanganat (KMnO 4). jenis metode titrimetri didasarkan pada jenis reaksi kimia yang terlibat dalam proses titrasi. maka reaksi antara analit dengan titran dapat dirumuskan secara umum sebagai berikut : HA + OH. oksidimetri. Larutan standar sekunder adalah suatu zat yang tidak murni atau kemurniannya tidak diketahui. yang diperlukan untuk bereaksi dengan analit (zat yang akan ditentukan). Larutan standar primer yaitu suatu zat yang sudah diketahui kemurniannya dengan pasti. kompleksometri dan titrasi pengendapan. al. Metode Titrimetri Analisis volumetri atau titrimetri merupakan suatu analisis berdasarkan pengukuran volume larutan dengan konsentrasi yang diketahui. Oksidimetri didasarkan pada reaksi oksidasi – reduksi antara analit dan titran.dikenal sebagai metode Liebig untuk penetapan sianida. Serta faktor yang paling penting adalah ketepatan dalam pemilihan indikator agar kesalahan titrasi yang terjadi menjadi sekecil mungkin. misalnya larutan asam klorida (HCl) dan larutan natrium hidroksida (NaOH). Larutan analit yang berupa larutan asam dititrasi dengan titran yang berupa larutan basa atau sebaliknya. (2005). misalnya pada penetapan kadar ion besi(II) dalam suasana asam. . Reagen lain adalah EDTA (etilen diamina tetraasetat) yang banyak digunakan sebagai pengompleks berbagai ion logam melalui metode titrasi. 3 Asidi-alkalimetri didasarkan pada reaksi asam basa atau prinsip netralisasi. Sodiq Ibnu.= Cl-.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. titran asam) Titran umumnya berupa larutan standar asam kuat atau basa kuat. Berdasarkan jenis reaksinya.[1] Menurut M.+ H2O (analit asam. Metode ini cukup luas penggunaannya untuk penetapan kuantitas analit asam atau basa. A. Berbagai reaksi redoks dapat digunakan sebagai dasar reaksi oksidimetri. Misalnya reaksi antara Ag+ dan CNyang mengikuti persamaan reaksi : Ag+ + 2CN. maka metode titrimetri dapat dibagi menjadi 4 golongan. yang reaksi umumnya dapat dinyatakan dengan persamaan : Ag+ + X. konsentrasinya dapat diketahui dengan pasti dan teliti berdasarkan berat zat yang dilarutkan. konsentrasi larutannya hanya dapat diketahui dengan teliti melalui proses standarisasi. Metode ini banyak digunakan untuk menetapkan kadar ion halogen dengan menggunakan pengendap Ag +. standarisasi dilakukan dengan cara menitrasi larutan tersebut dengan larutan standart primer. AgX(s) (X. SCN-) Dalam titrasi juga perlu diperhatikan larutan standar primer dan larutan standar sekunder. Titrasi pengendapan didasarkan reaksi pengendapan analit oleh larutan standar titran yang mampu secara spesifik mengendapkan analit. Br-. Analit yang mengandung spesi reduktor dititrasi dengan titran yang berupa larutan standar dari oksidator atau sebaliknya. 1. titran basa) BOH + H3O+  B+ + 2H2O (analis basa. Kompleksometri didasarkan pada pembentukan kompleks stabil hasil reaksi antara analit dengan titran. 3. 4. et.

Tabel 1. Indikator Indikator asam-basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu.[3] Tabel 1.1 % larutan dalam etanol) dengan 1 bagian alfa naftoftalein (0.4 Jingga Metil Hijau bromkresol 3.1 % larutan dari garam natriumnya) dengan 1 bagian kresol merah (0. Campuran merah netral (0.4 Kuning Merah Merah kresol 7. Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya indikator menunjukkan warna pada range pH yang berbeda. Indikator campuran ini baik untuk titrasi karbonat menjadi bikarbonat.4 Kuning Biru Merah metal 4. Campuran antara 3 bagian fenolftalein (0. Indikator ini dapat digunakan untuk menitrasi asam asetat dengan larutan amonia atau kebalikannya.1 % larutan garam natriumnya) akan memberikan perubahan warna dari kuning ke ungu pada pH 8.2 – 8.1 – 4. Baik asam atau basa kekuatannya hampir sama akibatnya titik ekivalen akan berada pada pH kira-kira 7.8 Kuning Ungu Biru bromtimol 6. Indikator yang biasa digunakan dalam asidi-alkalimetri[4] Warna Indikator Trayek pH Asam Basa Kuning metal 2. .0 – 9. Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa.8 Kuning Merah Biru timol 8.5 Tak berwarna Biru Menurut Achmad Mursyidi dan Abdul Rohman (2008).2 – 6. menunjukkan daftar berbagai macam indikator dengan jarak perubahan warna serta warna-warna yang terjadi pada perubahan tersebut. Indikator ini baik untuk titrasi asam fosfat dari tribasik menjadi dibasik yang mana titik ekivalennya terjadi pada pH 8.0 Merah Kuning Biru bromfenol 3.1 % dalam etanol) dan biru metilen (0. Indikator asam-basa terletak pada titik ekuivalen dan ukuran dari pH.B. selain indikator tunggal dalam asidi-alkalimetri juga digunakan indikator campuran dengan tujuan untuk memberikan perubahan warna yang tajam pada titik akhir titrasi.9.7.4 – 4.3 – 10.8 – 5. 3.2 – 10.1 – 7.0 Tak berwarna Merah Timolftalein 9.3 Merah Kuning Ungu bromkresol 5. Campuran dari 3 bagian biru timol (0.2 – 6.0 – 4.3. Beberapa contoh indikator campuran adalah : 1.1 % dalam etanol) yang sama banyak memberikan perubahan warna yang tajam dari biru violet menjadi hijau ketika beralih dari larutan asam menjadi larutan basa pada pH sekitar 7. 2. stabil dan menunjukkan perubahan warna yang kuat serta biasanya adalah zat organik. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron. larut.6 Kuning Biru Fenolftalein 8.8 – 8.6 Kuning Biru Jingga metal 3.6 Kuning Biru Merah fenol 6.1 % dalam etanol) memberikan perubahan warna yang tajam dari merah muda ke ungu pada pH 8.

kalium hidroksida dan barium hidroksida.C.[5] Dalam titrasi asam-basa. Semua larutan baku alkali harus sering dibakukan ulang. Titik akhir titrasi sering disamakan dengan titik ekivalen.[10] . Untuk reaksi antara HCl dengan NaOH titik ekivalen tercapai pada perbandingan mol 1:1 tetapi untuk reaksi antara H2SO4 dengan NaOH diperlukan perbandingan mol 1:2 untuk mencapai titik ekivalen. Titik atau kondisi penambahan asam atau basa dimana terjadi perubahan warna indikator dalam suatu titrasi dikenal sebagai titik akhir titrasi. molaritas atau normalitas. Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam. penambahan sedikit asam atau basa akan menyebabkan perubahan pH yang besai ini seringkali dideteksi dengan zat yang dikenal sebagai indikator. Larutan-larutan ini mudah menyerap karbon dioksida dari udara. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima proton (basa). Gambar 1. juga diperoleh informasi indikator yang tepat untuk digunakan dalam titrasi ini dengan kisaran pH pH 7 – 10 (Tabel 1).[9] Untuk larutan baku alkali. Kedua asam ini dapat digunakan pada hampir semua titrasi. Pada saat tercapai titik ekivalen. perbandingan mol. Dengan demikian. Asam nitrat selalu tidak digunakan karena mengandung asam nitrit yang dapat merusak beberapa indikator. walaupun diantara keduanya masih ada selisih yang relatif kecil.[6] Dalam melakukan titrasi netralisasi kita perlu secara cermat mengamati perubahan pH. umumnya digunakan natrium hidroksida. penambahan basa menyebabkan pH naik secara perlahan dan bertambah cepat ketika akan mencapai titik ekuivalen (pH = 7). Semua masalah yang berkaitan dengan titrasi asam basa dapat dipecahkan dengan konsep stoikiometri dan konsentrasi larutan yang dinyatakan dengan mol. hal ini dilakukan untuk mengurangi kesalahan dimana akan terjadi perubahan warna dari indikator lihat Gambar 1. Sebaliknya alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa. jumlah relatif asam dan basa yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen ditentukan oleh perbandingan mol asam (H+) dan basa (OH-) yang bereaksi. Asam sulfat lebih disukai untuk titrasi menggunakan pemanasan karena kemungkinan terjadinya penguapan pada pemanasan asam klorida yang dapat menimbulkan bahaya. Dari Gambar 1. oleh karena itu konsentrasinya dapat berubah dengan cepat. akan tetapi asam klorida lebih disukai daripasa asam sulfat terutama untuk senyawasenyawa yang memberikan endapan dengan asam sulfat seperti barium hidroksida. Titrasi alkalimetri dengan larutan standar basa NaOH[7] Analit bersifat asam pH mula-mula rendah. khususnya pada saat akan mencapai titik akhir titrasi.[8] Larutan baku asam yang sering digunakan dalam asidi-alkalimetri umumnya dibuat dari asam klorida dan asam sulfat. Titrasi Asidimetri dan Alkalimetri Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Penambahan selanjutnya menyebakan larutan kelebihan basa sehingga pH terus meningkat. maka larutan bali alkali dibuat bebas karbonat dan untuk melindungi itu dari pengaruh karbon dioksida dari udara maka penyimpanannya dilengkapi dengan “soda lime tube”. H2SO4 (aq) + 2NaOH (aq)  Na2SO4 (aq) + 2H2O (l) Dalam titrasi asam-basa perubahan pH sangat kecil hingga hampir tercapai titik ekivalen.

2. Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan. untuk alkalimetri telah dipergunakan untuk menentukan kadar asam sitrat. Indikator ditambahkan pada titran sebelum proses titrasi dilakukan.1 N dengan menggunakan indikator phenolftalein. Titrasi dilakukan dengan melarutkan sampel sekitar 300 mg ke dalam 100 mL air. Titrasi dengan menggunakan larutan NaOH 0.Menurut Indigo Morie (2008). kemudian membuat plot antara pH dengan volume titran untuk memperoleh kurva titrasi. yaitu : 1. Teknik asidimetri juga telah dimanfaatkan secara meluas misalnya dalam pengujian boraks yang sering dipergunakan oleh para penjual bakso. Memakai indikator asam basa. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi. Titik akhir titrasi diketahui dari larutan tidak berwarna berubah menjadi merah muda. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan. pada saat inilah titrasi kita hentikan. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalent”. ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa. tidak diperlukan alat tambahan dan sangat praktis. Selain itu alkalimetri juga dipergunakan untuk menganalisis asam salisilat. Pemanfaatan teknik ini cukup luas.[11] .

00 WITA Tempat : Laboratorium Kimia Analitik Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar B. Mencatat volume HCl yang digunakan. labu ukur 100 mL. a. c. h. Alat dan Bahan 1. Waktu dan Tempat Waktu dan tempat dilaksanakannya percobaan ini.1 M.BAB III METODE PERCOBAAN A. g. Menambahkan aquades (H2O) sampai tanda batas. Memipet 25 mL larutan asam asetat (CH3COOH) yang telah diencerkan dan memasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL. Alat Alat . d. Menambahkan 5 tetes indikator PP ke dalam erlenmeyer. Bahan Bahan – bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah asam asetat (CH 3COOH) 0.alat yang digunakan pada percobaan ini adalah buret asam 50 mL. yaitu sebagai berikut : Hari/Tanggal : Rabu/ 30 Mei 2012 Pukul : 13.0959 N. Titrasi Asidimetri Menimbang 100 mg campuran karbonat dan bikarbonat menggunakan neraca analitik. Menambahkan 5 tetes indikator PP ke dalam erlenmeyer. Titrasi Alkalimetri Memasukkan 10 mL asam asetat (CH3COOH) ke dalam labu ukur 100 mL. 2. Prosedur Kerja Prosedur kerja pada percobaan ini. c. Memipet 25 mL larutan dan memasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL. b. d. asam klorida (HCl) 0. e. yaitu sebagai berikut : 1. indikator PP dan natrium hidroksida (NaOH) 0. 2. Melakukan secara duplo dan menghitung kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran. Menambahkan indikator MO ke dalam erlenmeyer. e. Melarutkan campuran karbonat dan bikarbonat dengan aquades (H2O) lalu memindahkan ke dalam labu ukur 100 mL. i. g. gelas kimia 250 mL dan 100 mL. Melakukan secara duplo dan menghitung kadar asam asetat dalam sampel. botol semprot. buret basa 50 mL. spatula dan pipet tetes. corong.30 – 15. statif dan klem. Mengencerkan larutan sampai tanda batas dengan aquades (H2O). pipet volume 25 mL dan 10 mL. menghomogenkan larutan. aquades (H2O).0989 N. f. C. campuran karbonat dan bikarbonat. Menitrasi larutan dengan natrium hidroksida (NaOH) sampai terbentuk warna merah muda. . indikator MO. Mencatat volume natrium hidroksida (NaOH) yang digunakan. b. erlenmeyer 250 mL. Menitrasi larutan dengan asam klorida (HCl) sampai larutan menjaid tak berwarna. Menitrasi larutan dengan asam klorida (HCl) sampai larutan berubah warna dari jingga ke merah jambu. f. 12 a. bulp.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Perlakuan Hasil 1. Larutan asam asetat (CH3COOH) + indikator PP + titrasi dengan natrium hidroksida (NaOH) Larutan berwarna violet Larutan berwarna merah muda Keterangan 15 . Titrasi alkalimetri No. Asam asetat (CH3COOH) + aquades Larutan berwarna bening 2. Tabel Pengamatan a. yaitu sebagai berikut : 1. Hasil Hasil pengamatan dari percobaan ini. 3.

Titrasi alkalimetri a. + indikator MO 5. Perlakuan 1. Analisa Data 1.. Reaksi CH3COOH + NaOH  CH3COONa + H2O Na2CO3 + HCl  NaHCO3 + HCl NaHCO3 + HCl  NaCl + H2O + CO2 3.0989 grek/L x 60 g/grek = 0.31 x 100 % = 31 % .0013 L x 0.031 gram = 0.31 gram % CH3COOH = x 100 % = 0.0989 N Ditanyakan : % CH3COOH .031 gram Dalam 100 mL asam asetat = x B mg Kadar asam cuka = x gram = x 0. Simplo Diketahui : BE CH3COOH = 60 gram/grek Volume NaOH = 1.3 mL Konsentrasi NaOH = 0. Campuran karbonat dan bikarbonat + aquades 2. + titrasi dengan asam klorida (HCl) Hasil Larutan berwarna bening Larutan berwarna violet Larutan berwarna bening Larutan berwarna kuning tua Larutan berwarna orange kemerahan Keterangan 2. ? Penyelesaian : Dalam 10 mL contoh asam terdapat : 100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg 100/25 x 0. + titrasi dengan asam klorida (HCl) 4. + indikator PP 3.b. Titrasi asidimetri No.

091 x 100 % = 9.5 mL Konsentrasi NaOH = 0.0015 L x 0.1) mL = 1.1007 gram/grek Volume HCl untuk karbonat (x mL) = 1. Simplo Diketahui : Berat sampel = 0..0019 L karbonat dalam sampel = (2x) mL HCl 0.0959 N Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat .36 x 100 % = 36 % c.1 mL Volume HCl untuk bikarbonat (y mL) = 3 mL Konsentrasi HCl = 0.9 % c..1 % % bikarbonat = = = 0.1) mL = 2.0989 N Ditanyakan : % CH3COOH .0989 grek/L x 60 g/grek = 0.0022 L % karbonat = = = 0.1 % % bikarbonat = = = 0.33 x 100 % = 33 % 2.111 x 100 % = 11.36 gram % CH3COOH = x 100 % = 0.152 x 100 % = 15.003 L karbonat dalam sampel = (2x) mL HCl 0. ? Penyelesaian : bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0.0018 L % karbonat = = = 0..2 mL = 0.239 x 100 % = 23.9 – 0. ? .0989 N Ditanyakan : % CH3COOH . Duplo Diketahui : Berat sampel = 0.0959 N = (2 x 0.0014 L x 0.9 mL Konsentrasi HCl = 0..0959 N Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat .2 % b.0959 N = (3 – 1.4 mL Konsentrasi NaOH = 0. Duplo Diketahui : BE CH3COOH = 60 gram/grek Volume NaOH = 1. ? Penyelesaian : Dalam 10 mL contoh asam terdapat : 100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg 100/25 x 0. Titrasi asidimetri a.9) mL = 1.033 gram = 0. ? Penyelesaian : bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0.33 gram % CH3COOH = x 100 % = 0.033 gram Dalam 100 mL asam asetat = x B mg Kadar asam cuka = x gram = x 0.9) mL = 3 mL = 0.. Rata-rata Diketahui : Berat sampel = 0.b.9 mL Volume HCl untuk bikarbonat (y mL) = 3.0959 N = (2 x 1.0989 grek/L x 60 g/grek = 0.0959 N Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat .0959 N = (3.036 gram Dalam 100 mL asam asetat = x B mg Kadar asam cuka = x gram = x 0. Rata-rata Diketahui : BE CH3COOH = 60 gram/grek Volume NaOH = = 1.9 mL = 0.1007 gram/grek Volume HCl untuk karbonat (x mL) = 0.1007 gram/grek Volume HCl untuk karbonat (x mL) = = 1 mL Volume HCl untuk bikarbonat (y mL) = = 3.036 gram = 0.45 mL Konsentrasi HCl = 0.8 mL = 0. ? Penyelesaian : Dalam 10 mL contoh asam terdapat : 100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg 100/25 x 0.

0959 N = (2 x 1) mL = 2 mL = 0.1 % % bikarbonat = = = 0.196 x 100 % = 19.101 x 100 % = 10.6 % .45 mL = 0.45 – 1) mL = 2.Penyelesaian : bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0.0959 N = (3.002 L % karbonat = = = 0.00245 L karbonat dalam sampel = (2x) mL HCl 0.

1 % dan 23. Setelah penambahan indikator. Penambahan titran natrium hidroksida (NaOH) membuat larutan mengalami perubahan warna menjadi merah muda. Penetapan kadar asam asetat (CH3COOH) dengan natrium hidroksida (NaOH) merupakan titrasi alkalimetri untuk menitrasi asam lemah dengan basa kuat. . Dalam titrasi ini digunakan indikator phenolphthalein yang berfungsi sebagai zat penunjuk yang akan memberikan perubahan warna saat titik akhir titrasi telah tercapai. Penambahan indikator pada larutan membuat larutan berubah warna menjadi violet. Berdasarkan trayek pH indikator phenolphthalein. kadar asetat yang diperoleh dari percobaan secara simplo adalah 31 % dan 36 % pada titrasi secara duplo.1 dan berubah warna menjadi kuning pada pH di atas 4. Perubahan warna larutan menjadi tak berwarna menandakan bahwa larutan telah bersuasana asam dimana pada pH di bawah 8. Penambahan indikator membuat perubahan warna larutan menjadi violet. larutan telah sedikit melewati titik akhirnya sehingga volume natrium hidroksida (NaOH) yang digunakan lebih banyak dan mempengaruhi perhitungan kadar asam asetat (CH3COOH) dalam sampel.B. Reaksi antara asam asetat (CH 3COOH) dengan natrium hidroksida menghasilkan garam dan air yang bersifat netral.1 % dan kadar bikarbonat rata-rata yang diperoleh adalah 19. larutan yang memiliki nilai pH di bawah 8. Pada titrasi secara duplo adalah 9. larutan berubah warna menjadi kuning yang menandakan bahwa larutan memiliki pH di atas 4.5). sesuai dengan reaksi di bawah ini : CH3COOH + NaOH  CH3COONa + H2O Berdasarkan hasil analisa data. Untuk titrasi rata-rata diperoleh kadar asam asetat (CH3COOH) sebesar 33 %. larutan telah memiliki pH di atas 7. sesuai persamaan reaksi : NaHCO3 + HCl  NaCl + H2O + CO2 Berdasarkan hasil analisa data. Awalnya larutan bersuasana asam akibat pH dari larutan asam asetat (CH 3COOH) yang digunakan bernilai rendah. kadar karbonat dan bikarbonat pada titrasi secara simplo berturut-turut adalah 11. Reaksi antara natrium bikarbonat dengan asam klorida (HCl) menghasilkan garam berupa natrium klorida (NaCl). Kadar karbonat rata-rata yang diperoleh adalah 10.1 – 4. Reaksi antara larutan campuran dengan asam klorida (PP) membuat natrium karbonat bereaksi dengan asam klorida (HCl) menghasilkan natrium bikarbonat (NaHCO 3) dan natrium klorida (NaCl).0 sehingga apabila larutan telah bersuasana basa maka indikator akan mengalami perubahan warna menjadi biru. Indikator phenolphthalein digunakan dalam titrasi ini karena indikator ini memiliki rentang trayek pH pada suasana basa yaitu : 8. Dapat dikatakan bahwa.5 karena indikator metil orange berdasarkan teori akan berwarna merah apabila memiliki pH kurang dari 3.1 % dan 15. maka larutan campuran tadi ditambahkan dengan metil orange (trayek 3.5.3 cenderung akan memberikan larutan tak berwarna dan akan berubah menjadi merah dalam larutan yang memiliki nilai pH di atas 10.3 larutan akan berubah menjadi tak berwarna. air yang bersifat netral serta uap karbondioksida. Pembahasan Pada praktikum ini dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran serta kadar asam asetat (CH3COOH) dengan natrium hidroksida (NaOH). Perbedaan kadar yang diperoleh pada titrasi secara simplo dan duplo disebabkan karena pada salah satu titrasi. Proses titrasi pada larutan membuat larutan berubah warna menjadi orange kemerahan sehingga dapat dikatakan bahwa larutan telah bersuasana basa. Penambahan indikator phenolphthalein pada larutan campuran berfungsi sebagai zat penunjuk yang digunakan karena larutan campuran memiliki pH di atas 7 atau berada dalam suasana basa sehingga larutan akan memberikan warna merah secara teori dalam suasana basa.6 %. penitrasian dilakukan dengan asam klorida (HCl) hingga larutan berubah menjadi tak berwarna. menurut persamaan reaksi : Na2CO3 + HCl  NaHCO3 + HCl Untuk menentukan kadar bikarbonat.9 %.3 – 10. Penitrasian kembali dilakukan dengan asam klorida (HCl) sehingga larutan mengalami perubahan warna.2 %. Penetapan kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran dilakukan menggunakan metode titrasi asidimetri menggunakan larutan asam klorida (HCl).

26 . B. Kadar karbonat dan bikarbonat rata-rata yang diperoleh masing-masing adalah 10. 9.1 % serta kadar bikarbonat adalah 15. Kesimpulan Kesimpulan dari percobaan ini. Saran Saran dari percobaan ini adalah sebaiknya pada percobaan selanjutnya dilakukan titrasi alkalimetri untuk menentukan konsentrasi atau kadar dari asam poliprotik yang dititrasi dengan basa kuat sehingga dapat diketahui perbedaan titrasi alkalimetri dengan asam lemah dan asam poliprotik. 2. Kadar karbonat yang diperoleh secara simplo adalah 11. sedangkan kadar asam asetat rata-rata yang diperoleh adalah 33 %.1 % dan 19.2 % untuk kadar bikarbonat.1 % untuk kadar karbonat dan 15.2 %. Untuk titrasi secara duplo.BAB V PENUTUP A. 1. yaitu sebagai berikut : Kadar asam asetat yang diperoleh secara simplo adalah 31 % dan 36 % pada titrasi secara duplo.6 %.

loc.scribd. “Asidimetri”. 2008). Jakarta: Universitas Indonesia.org-Situs Kimia Indonesia. Sodiq Ibnu. Yogyakarta: UGM-Press. Wa Ode Rustiah dan Anna Handayani. “Titrasi Asam Basa”. Volumetri dan Gravimetri. Diakses pada tanggal 3 1 Mei 2012 Zulfikar. 104 [5]Ibid. M. http://www. http://belajarkimia. Diakses pada tanggal 31 Mei 2012 Wilyta.com/doc/70246435/asidimetri (31 Mei 2012) [3]S. http://www. Konsep Dasar Kimia Analitik (Jakarta: Universitas Indonesia.com. h. .org/materi_kimia/kimiakesehatan/pemisahan-kimia-dan-analisis/titrasi-asam-basa/. Kimia Analitik I .2012). 2005). Sodiq Ibnu. 2012 Ibnu.. 105 [10]Ibid [11]Zulfikar. 2008 Morie. h. belajarkimia. 2005 Khopkar. Khopkar. Indigo. http://www.com.DAFTAR PUSTAKA Chadijah. Makassar: UIN Alauddin Makassar.org-Situs Kimia Indonesia. Kimia Analitik I (Malang: Universitas Negeri Malang.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/pemisahan-kimia-dan-analisis/titrasi-asam-basa/ (31 Mei 2012) [8]Ibid [9]Achmad Mursyidi dan Abdul Rohman. 81 [6]M.com/doc/70246435/asidimetri.chem-istry. Achmad dan Abdul Rohman. et al.. S. 19 [2]Intan Wilyta. Chem-is-try. “Titrasi Asam Basa”. cit. h. Chem-is-try. M. 96 -97 [7]Zulfikar. h. 30 Oktober 2011.scribd. “Titrasi Asam Basa”. scribd. 2010). “Asidimetri”. Wa Ode Rustiah dan Anna Handayani.chem-is-try. Diakses pada tanggal 31 Mei 2012 [1]Sitti Chadijah. Penuntun Praktikum Kimia Analitik (Makassar: UIN Alauddin Makassar. et al. 2010 Mursyidi. Intan Wilyta. Malang: Universitas Negeri Malang. 7 April 2008. 27 Desember 2010. Konsep Dasar Kimia Analitik. op. h. h. M. 27 Desember 2010.com/2008/04/titrasi-asam-basa/. http://www.com. Volumetri dan Gravimetri (Yogyakarta: UGM-Press.. 30 Oktober 2011. Penuntun Praktikum Kimia Analitik.. scribd. Sitti Chadijah. cit. 46-47 [4]Achmad Mursyidi dan Abdul Rohman.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful