LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

I. NOMOR PERCOBAAN II. NAMA PERCOBAAN

: IV : TITRASI ASAM BASA : VOLUMETRI

1. Mempelajari dan menerapkan teknik titrasi untuk menganalisis contoh yang mengandung asam 2. Menstandarisasi larutan penitrasi. IV. DASAR TEORI Beberapa pandangan mengenai perilaku asam basa dapat dijelaskan melalui teori yang dikembangkan oleh arhenius. Menurut Arhenius asam adalah senyawa yang melepaskan ion hidrogen dalam larutan berair. Asam memiliki sifat berasa asam, mengubah . Sifat khas suatu asam sebenarnya merupakan sifat

lakmus dari biru menjadi merah, dan bereaksi dengan logam aktif menghasilkan gas dari ion

Dengan kata lain ion adalah pembawa sifat asam. Arrhenius mendefinisikan basa sebagai senyawa yang melepaskan hidroksida dalam larutan berair. Contoh NaOH. Ion hidroksida ini diyakini Arrhenius sebagai pembawa sifat khas basa yaitu,pahit, terasa licin dikulit,dan sebagainya. Jika sejumlah tertentu asam dan basa dicampurkan sifat khas asam dan basa tersebut akan hilang. Reaksi antara asam dan basa dinamakan reaksi netralisasi,pada reaksi tersebut akan dihasilkan suatu garam dan air. Semua asam Arrhenius juga diklasifikasikan sebagai asam oleh Browsted – Lowry. Sebagai contoh pada reaksi gas hidrogen klorida, HCL dengan air untuk menghasilkan asam klorida, gas hidrogen klorida berperan sebagai pemberi proton. Berdasarkan Bronsted – Lowry, asam adalah donor proton, sedangkan basa merupakan akseptor proton. Menurut Bronsted – lowry suatu reaksi asam basa dapat berlangsung tanpa adanya medium air, contohnya pada reaksi berikut ini : HCL + + Menurut Lewis reaksi yang melibatkan amonia atau air terjadi dikarenakan adanya pemakaian elekteron bersama pasangan elektron bebas yang dimiliki keduanya untuk membentuk ikatan kovalen koordinasi dengan spesi lain sehingga amonia dan air dalam reaksi tersebut bertindak sebagai basa.secara singkat dapat dijelaskan,menurut Lewis asam merupakan suatu spesies yang dapat menerima pasangan elektron bebas, sedangkan basa merupakan suatu spesies yang dapat mendonorkan pasangan elektron bebas. Jadi, yang tidak memiliki pasangan elektron bebas adalah asam sedangkan yang memiliki pasangan elektron bebas adalah basa. Menurut teori asam basa Lewis, asam merupakan spesi yang menerima pasangan elektron bebas. Sedangkan berdasarkan reaksi diatas, HCl bertindak sebagai asam menurut Lewis. Atom Klor merupakan atom yang lebih elektronegatifan dibandingkan dengan atom H. Jadi molekul HCl merupakan molekul yang polar. Pasangan atom yang dimiliki bersama antara H dan Cl cenderung lebih tertarik ke atom Cl sehingga Cl bersifat lebih negatif. Ketika molekul HCl menjadi semakin dekat keatom Cl , maka akibatnya ikatan kovalen koordinasi antara atom H dan N terbentuk, dan ikatan antar atom H dengan Cl terputus. Oleh karena itu, molekul HCL bertindak sebagai asam menurut Lewis karena menerima pasangan elektron bebas dari NH3. Asma lewis tidak harus memiliki orbital kosong. 1

1

( http://www.chemistry.org.//teori-asambasa.html ) Dalam air murni terdapat ion dan ion . dalam koordinasi konsentrasi yang sama, yang sangat kecil. Bila

konsentrasi sama dengan konsentrasi OH- maka larutan tersebut disebut dengan larutan netral. Bila konsentrasi yang diketahui ( Atau sebaliknya penambahan asam kedalam basa untuk mencapai titik akhir). Titik ekivalen adalah titik asam dimana asam tepat bereaksi denga semua basa. Idikator digunakan untuk membantu kita kapan kita mengetahui titrasi harus dihentikan didekat titik ekivalen . saat titrasi dihentikan disebut dengan titrasi akhir (titik akhir titrasi). Titik akhir titrasi berbeda dengan titik ekivalen, tetapi perbedaannya tidak terlalu besar sehingga digunakan indikator yang tepat yaitu yang memiliki trayek PH sekitar titik ekivalen. Prinsip titrasi adalah pengukuran volume suatu larutan yang diperlukan untuk bereaksi dengan larutan lainyang mempunyai volume tertentu atau zat terlarut dengan konsentrasi tertentu. Titrasi asam basa merupakan metode analitis untuk menentukan jumlah jumlah asam atau basa dalam suatu sampel. Hitungan titrasi yaitu ekivalen asam basa dengan ekivalen basa. VA . NA . Nb Konsentrasi asam basa sering menggunakan Molaritas sehingga : Analisa volumetri adalah analisa kuantitatif dimana kader komponen dari zat uji ditetapkan berdasarkan volume reaksi pereaksi ( konsentrasi diketehui ) yang ditambahkan kedalam larutan zat uji, hingga komponen yang akan ditetapkan bereaksi secara kuantitatif dengan pereaksi tersebut. Proses yang dikenal juga dengan analisa tirimetri. Suatu pereaksi dapat digunakan sebagai dasar analisa titrimetri apabila memenuhi syarat –syarat sebagai berikut yaitu reaksi harus berlangsung sesuai persamaan reaksi kimia tertentu, harus tidak ada reaksi samping. Yang kedua reaksi harus berlangsung sampai benar-benar lengkap pada titik tinggi dari pada konsentrasi sama denga konsentrasi OH- maka larutan tersebut disebut larutan netral. Bila konsentrasi maka larutan tersebut adalah larutan yang bersifat asam,sedangkan bila konsentrasi lebih

lebih rendah

dari pada konsentrasi maka larutan tersebut bersifat basa. pH atau kadar larutan yang bersifat netral sama dengan tujuh. Larutan yang bersifat asam pH nya kurang dari tujuh. Semakin kurang dari tujuh maka larutan tersebut mempunyai sifat asam yang semakin kuat. Sedangkan bila PH nya lebih dari tujuh, maka laritannya bersifat basa, semakin pH nya lebih dari tujuh maka semakin kut basanya. Pada titrasi biasanya digunakan suatu indikator yang memberikan tanda kepada kita bahwa campuran asam basa yang ada dalam larutan memiliki pertandingan yang benar untuk mencapai suatu keadaan larutannya yang netral. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna dari inikator atau kenaikan penurunan PH nya yang tiba-tiba. Idealnya perubahan warna indikator akan terjadi pada saat kita mencampurkan larutan itu padsa proporsi ya ng sama, tepat. Keadaan ini disebut titik ekivalen. Kurva yang menunjukkan perubahan

warna pH versus volume larutan titrasi disebut dengan kurva titrasi. Bentuknya tergantung pada nilai Ka dan konsentrasi asam basa yang digunakan.2 Prosedur untuk menentukan konsentrasi suatu larutan dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan larutan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titrasi. Jika yang dilihatkan adalah larutan asam dan larutan basa, titrasi itu disebut dengan titrasi asam basa. Larutan yang diketahui konsentrasinya disebut larutan baku ( larutan standar ). Pada bagian ini akan dibahas bagaimana perubahan pada berbagai titrasi asam basa. Titrasi asam basa merupakan penambahan secara hati-hati sejumlah larutan basa dengan konsentrasi tertentu. Ekivalen suatu indikator harus ada untuk menunjukkan titik 2 ekivalen. Yang ketiga adalah reaksi. ( http://www.google.co.id/titrasi.html ) Beberapa jenis reaksi dapat digunakan untuk titrasi yaitu pengendapan, reaksi oksidasi-reduksi,reaksi asam-basa,dan reaksi pembentukan kompleks. Pada percobaan ini akan dilakukan titrasi asam basa. Pertamakali akan dilakukan standarisasi (pembakuan) terhadap larutan basa. Yang selanjutnya digunakan untuk menganalisis contoh yang mengandung asam. Bila sebagai titrasi adalah larutan baku asam,maka endapan tersebut dinamakan Asidimetri dan apabila larutan baku basa sebagai titran maka disebut Alkalimetri. Secara ringkas reaksi asma basa atau netralisasi disebabkan oleh proton dari asam yang bereaksi dengan OH- dari basa. Reaksi yang terjadi adalah : + O Pereaksi yang digunakan digunakan dinamakan titran dan larutannya disebut larutan titeratau larutan beku. Konsentrasi larutan ini dapat dihitung berdasarkan berat baku yang ditimbangkan secara seksama atau dengan penetapan yang dikenal dengan standarisasi atau pembekuan. Larutan standar (baku) dibagi menjadi standar primer dan standar sekunder. Kedua jenis larutan standar (baku) ini dapat digunakan analisa kuantitatif suatu larutan senyawa. Pereaksi pada kebanyakan titrasi asam basa perubahan larutan pada titik ekivalen tidak jelas. Untuk mengatasi hal ini maka digunakan indikator yaitu suatu senyawa organik asam atau basa lemah yang mempunyai warna molekul (warna asam) berbeda dengan warna ionnya (warna basa), dimana indikator ini memperlihat perubahan warna pH tertentu. Secara umum untuk titrasi asam basa indikator yang digunakan adalah indikator venotalin yang mempunyai trayek pH 8,3 – 10.5 dimana indikator senyawa ini tidak berwarna pada larutan asam dan berwarna merah muda dalam larutan basa. Bila kuantitas ekimolar dari suatu asam kuat seperti asam klorida (HCL) dan suatu basa kuat seperti natrium hidroksida (NaOH) Dicampurkan dalam satu larutan, maka ion hidrinium dari asam dan ion hidroksida dari basa akan bersenyawa membentuk air (H2O). Reaksi antara ion hidronium dari asam dengan ion hidroksida dari basa sehingga membentuk senyawa air tadi merupakan reaksi penetralan. Setelah reaksi antara asam klorida dengan natrium klorida hidroksida maka akan tinggal larutan dari ion dan . Meskipun kedua ion ini tidak terlihat dalam proses penetralan dapat dikatakan bahwa larutan NaCl terbentuk sebagai hasil dari suatu reaksi antara asam klorida dengan natrium klorida atau dapat pula dikatakan reaksi asam basa. Reaksi asam basa yang sama kekuatannya akan menghasilkan larutan yang bersifat netral. Asam dan basa bereaksi dapat berasal dari suatu asam lemah ataupun basa kuat. Reaksi asam basa kekuatannya berlainan akan menghasilkan larutan dengan sifat satu asam lemah dan yang saytu lagi bersifat basa lemah. Itu semua tergantung pada kekuatan atom asam konjugasinya dan basa konjugasinya yang dihasilkan. Semua itu bertitik tolak pada larutan standar yang digunakan. Larutan standar yang digunakan atau dipakai NaOH. Perbedaan antara titik akhir titrasi dengan titik ekivalen adalah titik ekivalen yang terjadi pada saat reaksi asam dan basa mulai menetral, dimana asma menuju basa. Sedangkan titik akhir titrasi terjadi karena pada saat dimana dari ion-ion asam dan basa telah lengkap bereaksi maka hasilnya akan membentuk suatu senyawa air. Proses yang dikenal dengan titrasi oleh karena dikenal juga dengan “analisis titrimetri” suatu pereaksi dapat digunakan sebag ai dasar analisa titrimetri apabila memenuhi syarat-syarat berikut :reaksi harus berlangsung sesuai persamaan reaksi kimia tertentu harus tidak ada reaksi samping,reaksi harus berlangsung sampai benar-benar lengkap pada titik ekivalen, reaksi harus berlangsung cepat, sehingga titrasi diperlakukan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. 3 3( Rivai,Bakti.2010. Penuntun Praktikum Kimia Dasar I. Inderalaya : Universitas Sriwijaya) V. ALAT DAN BAHAN Alat yang dipergunakan pada praktikum kali ini adalah: 1. Gelas Ukur 2. Beker Gelas 3. Labu ukur 250 mL 4. Tabung Erlemeyer 5. Statif 6. Pipet Tetes Bahan yang dipergunakan pada praktikum kali ini adalah: Biuret Larutan NaOH Larutan Cuka Makan Asam Oksalat Air Suling

1. 2. 3. 4. 5.

VI. PROSEDUR PERCOBAAN Dicuci dengan baik buret 50 mL, dibilas dengan air suling , tutup ceratnya lalu dimasukkan kira-kira 5 ml NaOH yang akan distandardisasi.

A. Standardisasi arutan NaOH 0,1 ml

Dimiringkan dan diputar buret untuk membasahi permukaan buret. Keluarkan larutan dari buret dan ulangi pembilasan hinga skala 0, alirkan larutan untuk mengeluarkan gelembung udara.

Dicuci erlemeyer 250 ml kemudian dbilas dengan air suling. Pipet pertama 15 ml larutan HCl standar 0,1 M kedalam setiap erlemeyer.Ditambahkan kedalam erlemeyer masing-masing 15 ml air suling dan 3 etes indicator fenolffalein.dicatat NaOH pada buret kemudiandialirkan sedikit demi sedikit NaOH pada erlemeyer pertama. Dicatat volume akhir, hitunglah Molaritas larutan standar NaOH

Dicatat volume akhir, hitunglah Molaritas larutan standar NaOH

B. Menentukan persentase asam asetat dalam cuka. Cuka dapur mengandangi asam asetat 4 – 6 %.

Dimasukkan

pipet 1 ml asam cuka setiap erlyemeer tambahkan 10 ml air suling, 3 tetes indicator fenolftalein .

Dihitung persentase massa pada tiap-tiap contoh

VII. PERTANYAAN PRA PRAKTEK 1. Apa yang dimaksud dengan asam,basa,titik ekivalen,indikator? Jawab: a. b. c. d. Asam adalah zat yang melarut ke dalam air untuk membiarkan ion-ion .

a. b.

Basa adalah zat yang melarut ke dalam air untuk memberikan ion-ion . Titik ekivalen dimana titer dan titran tepat bereaksi ditandai dengan perubahan warna yang belum konstan. Indikator adalah senyawa organik asa atau basa lemak yang mempunyai warna moekul berbeda degan warna ionnya dimana indikator akan memperlihatkan perubahan warna pada pH tertentu. 2. Jelaskan perbedaan titik akhir titrasi dan titik ekivalen? Jawab: Titik akhir titrasi merupakan titik dalam reksi titrasi yang ditandai dengan perubahan warna indikator. Titik ekivalen dimana titer dan titran tepat bereaksi ditandai dengan perubahan warna yang belum konstan. 3. Sebanyak 0,7742 g kalium hidrogen sitrat dimasukan ke dalam erlemyer dan dilarutdengan air suling, kemudian titrasi dengan dengan larutan NaOH. Bila terpakai 33,60 mL larutan NaOH, berapa molaritas larutan NaOH tersebut? Jawab: Massa = 0,7742 V NaOH = 33,6 mL = 0,0336 L Mol M NaOH = = = = 0,003 mol = 0,089

VIII. DATA HASIL PENGAMATAN V1 = 3,8 ml V2 = 7,9 – 3,8 = 4,1 ml V3 = 12,1 – 4,1 = 8 ml

IX. REAKSI DAN PERHITUNGAN

pH yang memiliki di bawah 7 merupakan sifat dari asam.3 . 2. Pada percobaan kali ini kita dapat menstandarisasi larutan. M HCl 5. 4. Titik akhir titrasi di tandao dengan perubahan warna indikator yang sudah konstant.a. M NaOh = 10 .5 . namun perubahan warna yang terjadi belum konstan disebut dengan titik ekivalen. 0. dan alat – alat nya juga harus kita jaga dengan baik. 100 % = 88 % X. dan erlenmeyer pun harus sangat hati – hati.88 . Reaksi NaOH + HCl b. Menurut Arrhenius asam didefinisikan senyawa yang apabila bereaksi dengan air akan menghasilkan ion . sifat dari asam ini berasa asam dan mengubah lakmus biru menjadi merah. pada titrasi larutan terbagi dua.3 ml NaCl + H2O V NaOH . Indikator merupakan senyawa organik asam basa lemah yang memiliki warna berbeda dengan ionnya. Percobaan titrasi asam basa ini merupakan suatu metode untuk menentukan konsentrasi suatu larutan asam basa. Karena dalam penambahan air merupakan salah satu cara untuk mengubah molaritas larutan.. Dalam penggunaaan alat berupa buret. Indikator termasuk senyawa organik asam lemah yang memiliki warna berbeda dengan ionnya. Pada prosos pencampuran antara titer dan titran di dapat titik ekivalen dan titik akhir titrasi. konsentrasinya diketahui dan mudah untuk di dapat. Seharusnya sebelum melakukan percobaan. Di dalam laboratorium pun kita harus berhati – hati sebab banyak bahan – bahan yang berbahaya. analisa yang di dasarkan pada volume. Titik saat di mana asam basa dan basa tepat bereaksi .188 M % Kesalahan = X 100 % = x 100 % = . dan Lewis. Larutan standar primer yang mana larutan tersebut konsentrasinya telah diketahui sehingga tidak perllu di standarisasi. Pada percobaan ini. XI. M NaOH = V HCl .3 – 10. pastikan alat – alat tersebut telah bersih dan kering sehingga tidak mempengaruhi molaritas larutan. Digunakan indikator fenolftalein dengan pH trayeknya 8. Sedangkan yang memiliki pH di atas 7 merupakan basa. Pada percobaan titrasi asam basa ini digunakan indikator fenolftalein dengan pH trayeknya 8. Indikator berguna untuk menunjukkan perubahan warna. Percobaan ini analisa yang dipakai analisa volumetri. Disini asam basa sendiri dibagi atas pandangan.0. sedangkan basa senyawa yang apabila bereaksi dengan air akan menghasilkan ion . PEMBAHASAN Pembahasan kali ini mengenai percobaan titrasi asam basa. 3. Sedangkan larutan standar primer mempunyai massa molekul relatif tinggi. Sedangkan larutan standar sekunder atau yang bertindak sebagai titran. karena itu kita ambil rata – rata volume dari ketiga volume yang di dapat untuk digunakan dalam perhitungan. Inilah yang membedakan antara titik ekivalen dengan titik akhir titrasi. Perhitungan V= = = = 5. kesalahan bisa terjadi saat menggunakan alat yang digunakan. didapatkan hasil berupa larutan berwarna merah muda dari campuran titran berupa NaOH dengan titernya yang terdiri dari asam klorida. Menurut Lewis sendiri berpendapat bahwa asam sebagai spesi yang menerima pasangan elektron bebas. larutan standar primer dan larutan standar sekunder. Persen kesalahan yang didapat mencapai 88 % . . larutan standar sekunder ini memiliki ciri – ciri maassa molekul yang rendah dan hidroskopis. Larutan ini konsentrasinya belum diketahui sehingga perlu di standarisasi.3 – 10. Brownsted-Lowry.1 M NaOH = = 0. 1. dan masing – masing titrasi volume NaOH berbeda – beda. pipet gondok. Analisa yang digunakan pada percobaan kali ini adalah kuntitatif dan volumetri. air suling dan indikator. sedangkan basa bertindak sebagai akseptor proton. KESIMPULAN Titik ekivalen dimana titer dan titran mengalami reaksi ditandai perubahan warna yang belum konstan . basa bersifat pahit dan licin dikulit serta dapat membirukan lakmus merah. 5. Percobaan titrasi asam basa ini dilakukan dalam tiga kali pengulangan. menurut Arrhenius.5 . Menurut Brownsted – Lowry berpendapat bahwa asam bertindak sebagai donor . sedangkan basa sebagai spesi yang mendonorkan pasangan elektron bebas. Pada indikator ini perubahan warna pada senyawa asam yaitu being ( tidak berwarna ) dan pada basa berubah menjadi warna merah muda.

chemistry.titrasi.Teori Asam Basa.1987.2010.http://www. Inderalaya : Universitas Sriwijaya Posted 21st April 2012 by RAHMAT PRATAMA Asam klorida Dari Wikipedia bahasa Indonesia.google. Penuntun Praktikum Kimia Dasar I.dkk.id/titrasi. ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Asam klorida merujuk pada larutan HCl dalam air.http://www.html Diakses pada tanggal 26 November 2010.2010.Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern (terjemahan). Jakarta : Erlangga Rivai.Bakti.DAFTAR PUSTAKA Anonim.html Diakses pada tanggal 26 November 2010. untuk senyawa HCl dalam keadaan murni (gas). lihat Hidrogen klorida Asam klorida Nama IUPAC[sembunyikan] Asam klorida Nama lain[sembunyikan] Klorana Identifikasi Nomor CAS PubChem Nomor EINECS Nomor RTECS [7647-01-0] 313 231-595-7 MW4025000 Sifat Rumus molekul Massa molar Penampilan HCl dalam air (H2O) 36.co.32 °C (247 K) larutan 38% Densitas Titik lebur .org. Pukul 15:30 WIB Anonim.2010. Pukul 15:00 WIB Petrucci.H.18 g/cm3 (variable) −27.//teori-asambasa. R.46 g/mol (HCl) Cairan tak berwarna sampai dengan kuning pucat 1.

Daftar isi [sembunyikan]       1 Sejarah 2 Kimia 3 Sifat-sifat fisika 4 Produksi o 4. 48 °C (321 K). dan aditif makanan. Senyawa ini juga digunakan secara luas dalam industri.2%. dan merupakan komponen utama dalam asam lambung.9 mPa·s pada 25 °C. larutan 31. dan kemudian digunakan juga oleh ilmuwan Eropa termasuk Glauber. meliputi produksi massal senyawa kimia organikseperti vinil klorida untuk plastik PVC dan MDI/TDI untuk poliuretana. data di atas berlaku pada temperatur dan tekanan standar (25°C.0 1. Ia ditemukan oleh alkimiawan Persia Abu Musa Jabir bin Hayyan sekitar tahun 800.1 Pasar industri 5 Keberadaan dalam organisme hidup 6 Keselamatan . Senyawa ini digunakan sepanjang abad pertengahan oleh alkimiawan dalam pencariannya mencari batu filsuf. Kegunaan kecil lainnya meliputi penggunaan dalam pembersih rumah. Sekitar 20 juta ton gas HCl diproduksi setiap tahunnya. larutan 38%.5% Bahaya Kelarutan dalam air Keasaman (pKa) Viskositas MSDS Klasifikasi EU Indeks EU NFPA 704 External MSDS Korosif (C) 017-002-01-X 0 3 1 COR Frasa-R Frasa-S Titik nyala R34. senyawa ini menjadi sangat penting dan digunakan untuk berbagai tujuan. 100 kPa) Sangkalan dan referensi Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl). Priestley. and Davy dalam rangka membangun pengetahuan kimia modern. R37 (S1/2). S45 Tak ternyalakan. Asam klorida harus ditangani dengan wewanti keselamatan yang tepat karena merupakancairan yang sangat korosif. S26.Titik didih 110 °C (383 K). IAsam bromida Asam fluorida Asam iodida Asam sulfat Kecuali dinyatakan sebaliknya. Ia adalah asam kuat. Br-. Asam klorida pernah menjadi zat yang sangat penting dan sering digunakan dalam awal sejarahnya. produksigelatin. larutan 20. Sejak Revolusi Industri. Tercampur penuh −8. Senyawa terkait Anion lainnya Asam terkait F-.

Johann Rudolf Glauber dari Karlstadt am Main.  7 Referensi 8 Pranala luar [sunting]Sejarah Asam klorida pertama kali ditemukan sekitar tahun 800 sesudah masehi oleh ahli kimia Jabir bin Hayyan (Geber) dengan mencampurkan natrium klorida dengan asam sulfat ("vitriol").[7] [sunting]Kimia Titrasi asam . permintaan atas senyawa-senyawa alkalin meningkat. proses Leblanc digantikan oleh proses Solvay yang tidak menghasilkan asam klorida sebagai produk sampingan. dan pada tahun 1818. Dalam proses Leblanc. bahasa Belanda Zoutzuur. Sebelum diberlakukannya Undang-Undang Alkali tahun 1863 oleh Britania. dan batubara. asam klorida kebanyakan dihasilkan dari pelarutan produk samping hidrogen klorida dari produksi industri senyawa organik. bahasa Mandarin 鹽酸 (yansuan). dan mencatat penemuannya ke dalam lebih dari dua puluh buku. asam klorida dikenal oleh ahli kimia Eropa sebagai spirits of salt atau acidum salis (asam garam). produsen soda abu diwajibkan untuk melarutkan gas ini ke dalam air dan menghasilkan asam klorida dalam skala industri. Istilah asam garam ini pun masih digunakan di beberapa bahasa dunia. HCl yang berlebih dilepaskan ke udara bebas. Inggris. dan bahasa Jepang 塩酸 (ensan). Proses ini akan melepaskan gas hidrogen klorida sebagai produk sampingannya. membuktikan bahwa komposisi kimia zat tersebut terdiri dari hidrogen dan klorin. Produksi asam klorida secara signifikan dicatat oleh Basilius Valentinus pada abad ke-15. Humphry Davy dari Penzance. misalnya dalam bahasa Jerman Salzsäure. batu kapur. dan metamfetamina. Proses ini melepaskan hidrogen klorida sebagai produk samping.[6] Konvensi ini disahkan di Indonesia oleh Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1997. Gas HCl disebut sebagai udara asam laut. Setelah tahun 2000.[1][2][3] Jabir bin Hayyan dalam gambar abad pertengahan Semasa Revolusi Industri di Eropa.[3][4][5] Sejak tahun 1988.[1][2][3] Pada Abad Pertengahan. kokaina. Setelah berlakunya undang-undang ini.[1][3][4] Pada abad ke-20. Penemuan Jabir atas air raja yang dapat melarutkan emas mengandung asam klorida dan asam nitrat. Pada abad ke-17. Proses industri baru yang mengijinkan produksi natrium karbonat (soda abu) dalam skala besar berhasil dikembangkan olehNicolas Leblanc.[1][2] Jabir menemukan banyak senyawa-senyawa kimia penting lainnya. natrium klorida diubah menjadi natrium karbonat menggunakan asam sulfat. Joseph Priestley dari Leeds berhasil menghasilkan hidrogen klorida murni pada tahun 1772. asam klorida telah dimasukkan ke dalam Tabel II Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika karena ia dapat digunakan dalam produksi heroin. Jerman menggunakan natrium klorida dan asam sulfat untuk membuat natrium sulfat melalui proses Mannheim.

70 370. HCl·3H2O (41% HCl). [12] [sunting]Produksi Asam klorida dibuat dengan melarutkan hidrogen klorida ke dalam air.098 1.[8][9] Dari tujuh asam mineral kuat dalam kimia.169 1. nilai Ka cukup besar. asam klorida merupakan asam monoprotik yang paling sulit menjalani reaksi redoks.10 Pa 0.55 2. Asam klorida adalahasam kuat karena ia berdisosiasi penuh dalam air. massa jenis.90 11.46 424.0 −1. Terdapat pula titik eutektik metastabil pada 24.2% HCl dan 108.02 9.46 2.1 mPa·s 1.43 Konsentrasi Massa jenis Molaritas pH Viskositas Tekanan uap Titik didih Titik leleh kg HCl/kg kg HCl/m3 Baumé 10% 20% 30% 32% 34% 36% 38% 104. yang berarti bahwa ia dapat berdisosiasi melepaskan satu H+ hanya sekali. Asam klorida dalam konsentrasi menengah cukup stabil untuk disimpan dan terus mempertahankan konsentrasinya.64 12. dan es (0% HCl).189 mol/dm3 2.0 −1.8% antara es dan kristalisasi dari HCl·3H2O. asumsi bahwa molaritas H+ sama dengan molaritas HCl cukuplah baik.60 344. berada di antara kristal HCl·H2O (68% HCl). Hal ini mengindikasikan bahwa Cl− adalah konjugat basa yang sangat lemah dan HCl secara penuh berdisosiasi dalam larutan tersebut.000 °C 103 108 90 84 71 61 48 °C −18 −59 −52 −43 −36 −30 −26 Suhu dan tekanan referensi untuk tabel di atas adalah 20 °C dan 1 atm (101.1 −1.325 kPa). Walaupun asam. Asam klorida sebagai campuran dua bahan antara HCl dan H2O mempunyai titik didih-konstan azeotrop pada 20. Oleh karena alasan inilah.[8][9] Asam monoprotik memiliki satu tetapan disosiasi asam. Asam klorida oleh karenanya dapat digunakan untuk membuat garam klorida. dengan ketepatan mencapai empat digit angka bermakna.159 1. seperti natrium klorida.90 1. Ia juga merupakan asam kuat yang paling tidak berbahaya untuk ditangani dibandingkan dengan asam kuat lainnya.80 219.[11] Asam klorida sering digunakan dalam analisis kimia untuk "mencerna" sampel-sampel analisis.99 2. ia tidak akan mengubah pH larutan secara signifikan. Asam klorida azeotropik (kira-kira 20.44 451.45 10. Ia juga bereaksi dengan senyawa dasar semacam kalsium karbonat dan tembaga(II) oksida.100 28.6 °C (227 °F).37 1. Ka.[3] . ia mengandung ion klorida yang tidak reaktif dan tidak beracun. Produksi skala besar asam klorida hampir selalu merupakan produk sampingan dari produksi industri senyawa kimia lainnya.99 2. yang mengindikasikan tingkat disosiasi zat tersebut dalam air. Hidrogen klorida dapat dihasilkan melalui beberapa cara.16 1. HCl·2H2O (51% HCl).87 6. walaupun konsentrasinya bergantung pada tekanan atmosfernya ketika dibuat. Untuk asam kuat seperti HCl. asam klorida merupakan reagen pengasam yang sangat baik. Dalam larutan asam klorida.70 1.47 2.048 1.149 1.2%) dapat digunakan sebagai standar primer dalam analisis kuantitatif. seperti titik didih. menghasilkan klorida terlarut yang dapat dianalisa. Asam klorida memiliki empat titik eutektik kristalisasi-konstan.179 1. titik leleh.733 14.0 −1. Beberapa usaha perhitungan teoritis telah dilakukan untuk menghitung nilai Ka HCl.17 10.50 2.60 2. Sifat-sifat ini berkisar dari larutan dengan konsentrasi HCl mendekati 0% sampai dengan asam klorida berasap 40% HCl [8][9][12] Kapasitas kalor jenis kJ/(kg·K) 3.527 27.80 1.8 −1.6 13 19 20 21 22 23 kg/l 1.82 6. H3O+:[8][9] HCl + H2O → H3O+ + Cl− Ion lain yang terbentuk adalah ion klorida. Asam klorida merupakan asam pilihan dalam titrasi untuk menentukan jumlah basa.3 1.39 −0.Hidrogen klorida (HCl) adalah asam monoprotik.[10] Ketika garam klorida seperti NaCl ditambahkan ke larutan HCl. dan pH tergantung pada konsentrasi atau molaritas HCl dalam larutan asam tersebut.130 6. Untuk larutan asam klorida yang kuat. Cl−.[8][9] [sunting]Sifat-sifat fisika Ciri-ciri fisika asam klorida. Asam yang lebih kuat akan memberikan hasil yang lebih baik oleh karena titik akhir yang jelas.88 397.410 3. Asam klorida pekat melarutkan banyak jenis logam dan menghasilkan logam klorida dan gas hidrogen.5 −0. H+ ini bergabung dengan molekul air membentuk ion hidronium. HCl·6H2O (25% HCl).

dan pakaian pelindung haruslah digunakan ketika menangani asam klorida. Konsentrasi HCl yang paling optimal untuk pengantaran produk adalah 30% sampai dengan 34%. sehingga penyimpanan dan penanganannya harus dilakukan dalam suhu rendah. NaClO + 2 HCl → H2O + NaCl + Cl2 2 KMnO4 + 16 HCl → 2 MnCl2 + 8H2O + 2 KCl + 5 Cl2 Alat-alat pelindung seperti sarung tangan PVC atau karet. dengan 3 juta ton berasal dari sintesis langsung. pH asam lambung yang rendah akan mendenaturasi protein. Kandungan asam klorida pada kebanyakan cairan pembersih umumnya berkisar antara 10% sampai dengan 12%. TUJUANPENGAMATAN/PENELITIAN. 1. dan sisanya merupakan hasil dari produk sampingan sintesis organik. mata.1 M.[17] Laporan hasil pengamatan penentuan konsentrasi larutan asam klorida dan larutan natrium hidroksida PENENTUANKONSENTRASI LARUTAN ASAM KLORIDA DAN LARUTAN NATRIUM HIDROKSIDA A. pH yang rendah ini juga akan mengaktivasi prekursor enzim pepsinogen. Tabel di bawah ini merupakan klasifikasi bahaya larutan asam klorida Uni Eropa. asam klorida dalam kim akan dinetralisasi oleh natrium bikarbonat dalam usus dua belas jari.[13] Lambung itu sendiri terlindung dari asam kuat oleh sekresi lapisan mukosa yang tebal dan penyanggaan oleh natrium bikarbonat yang diinduksi oleh sekretin. Seketika asam klorida bercampur dengan bahan kimia oksidator lainnya. Menentukankonsentrasi larutan NaOH O. dan antasid digunakan untuk menetralisasi asam yang ada.[3] Cairan pembersih tersebut harus diencerkan terlebih dahulu sebelum digunakan. [14] Asam lambung berfungsi untuk membantu pencernaan makanan dan mencegah mikroorganisme masuk lebih jauh ke dalam usus. Ia utamanya terdiri dari asam klorida dan mengasamkan kandungan perut hingga mencapai pH sekitar 1 sampai dengan 2.[3] [sunting]Keberadaan dalam organisme hidup Asam lambung merupakan salah satu sekresi utama lambung. Produsen asam klorida terbesar di dunia adalah Perusahaan Dow Chemical dengan total produksi sebesar 2 juta ton per tahun (pengukuran dalam bentuk gas HCl). dengan potensi kerusakan pada organ pernapasan. [13] Ion klorida (Cl−) dan hidrogen (H+) disekresikan secara terpisah di bagian fundus perut yang berada di bagian teratas lambung oleh sel parietal mukosa lambung ke dalam jaringan sekretori kanalikulus sebelum memasuki lumen perut. Obat-obat antihistamin dan inhibitor pompa proton dapat menghambat produksi asam dalam perut. seperti natrium hipoklorit (pemutih NaClO) atau kalium permanganat (KMnO4). kulit. pelindung mata. . Baik kabut dan larutan tersebut bersifat korosif terhadap jaringan tubuh. gas beracun klorin akan terbentuk. 2. namun laju penguapan sangatlah tinggi. Nyeri ulu hati dan sakit maag dapat berkembang apabila mekanisme perlindungan ini gagal bekerja. B. Setelah meninggalkan lambung. Produksi HCl dunia diperkirakan sebesar 20 juta ton per tahun. Konsentrasi yang lebih besar daripada 40% dimungkinkan secara kimiawi. [1] Bahaya larutan asam klorida bergantung pada konsentrasi larutannya. LANDASAN TEORI.[16] Konsentrasi Klasifikasi berdasarkan berat 10–25% > 25% Iritan (Xi) Frasa R R36/37/38 Korosif (C) R34 R37 Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (United States Environmental Protection Agency) memasukkan asam klorida sebagai bahan beracun. dan usus. Menentukankonsentrasi larutan HCL. sehingga akan lebih mudah dicerna oleh enzim pepsin.[sunting]Pasar industri Asam klorida diproduksi dalam bentuk larutan 38% HCl (pekat).[13][15] [sunting]Keselamatan Tanda bahaya Asam klorida pekat (asam klorida berasap) akan membentuk kabut asam.

Akan tetapi. titik akhir titrasi berbeda dengan titik ekuivalen. Pendekatanantara titik akhir titrasi dan titik ekuivalen bergantung pada PHperubahan warna dari larutan indikator.menggunakan perkiraan jumlah zat yang terlarut dan perkiraan jumlah zatpelarut. C.kemudian konsentrasinya ditentukan dengan metode titrasi.1 M sebagai zat peniterkedalam buret. ulangi sekali lagi. dapat digunakan pipet ukur. a) Ukur 10 ml larutan HCL denganmenggunakan pipet volume. Alat Buret/ Pipet ukur LabuErlenmeyer Pipetvolume Botolsemprot Pipettetes D. Catat volume larutan NaOH yangdigunakan. zatyang akan ditentukan konsentrasinya dititrasi oleh larutan yang konsentrasinyadiketahui dengantepat dan disertai penambahan indikator. Aquadest/ air suling b. HASIL PENGAMATAN. jika tidak ada buret . Berdasarkan pengertiantitrasi. E. Titik akhirtitrasi adalah kondisi pada saat terjadi perubahaan warna dari indikator.1 M IndikatorFenolftalein. lalu masukkan kedalam labu erlenmeyer b) Tambahkan 2-3 tetes indikatorfenolftalein c) Masukkan larutan NaOH 0. BAHAN DAN ALAT. yaitu dengan menimbang zat secara tepatdengan menggunakan peralatan yang akurat. membuatlarutan dengan konsentrasi tertentu. Jika perbedaan hasil yang anda peroleh cukupbesar. a. Percobaan Volume HCL (ML) Vol NaOH 0. jika PH perubahan warna indikator setelah penambahan larutan zatpaniter sedikit berlebih. yaitukondisi pada saat larutan asam tepat bereaksi dengan larutan basa. LarutanHCL LarutanNaOH 0.teteskan sedikit demi sedikit larutan NaOH kedalam labu erlenmeyer sampai terjadiperubahan warna indikator. Cara kedua. f) g) Ulangi kegiatan ini sekali lagi sehinggaanda memperoleh hasil yang hampir. Titrasi adalah metodeanalisis kuantitatif untuk menentukan kadar suatu larutan. Jika perubahan warna indikator terletakpada PH titik ekuivalen. Larutan yang telahdiketahui konsentrasinya dengan tepat disebut Larutan baku/Larutan standar. d) Catat skala awal dari larutan NaOH 0.1 M(Sebaiknya dimulai dari skala 0) e) Sambil menggoyang-goyangkan labu. titrasi asam basa merupakan metode penentuan kadar larutan asam denganzat peniter (zat penitrasi) suatu larutan basa atau penentuan kadar larutanbasa dengan zat peniter (zat penitrasi) suatu larutan asam. Bahan. titik akhir titrasi akan sama dengan titik ekuivalen. Dalam titrasi.sedangkan Indikator adalah zatyangmemberikan tanda perubahan pada saat titrasi berakhir yang dikenal denganistilah titik akhir titrasi.Titik akhir titrasi diharapkan mendekati titik ekuivalen titrasi.Terdapat duacara dalam menentukan konsentrasi (kemolaran) suatu larutan:   Cara pertama. CARA KERJA.1 M (ML) .

0.00 ml = 0.2.10 ml – 3.mudahmudahan laporanpenelitian ini berguna bagi kita semua sehingga dapat meningkatkan ilmupengetahuan.70 ml – 2. Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya.70 ml Vt– Vo = 2.60 ml = 0.13 ml .10 mldan berubah warna dari bening merah mudah.10 . V2 = = 0.1 = V2 . 5 ml ditetesi dengan indikator fenolftalein sebanyak 2 tetes dan larutanNaOH dengan Vol. sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa.20 ml c) Percobaan ketiga.60 ml V. Amiin.70 – 2.13 ml G.   2.10 ml Vt– Vo = 3.00 ml V.awal (Vo) = 2.NaOH = = = 0.awal (Vo) =3. Sabtu.10 F. PEMBAHASAN.70 ml = 0.70 ml V. a) Percobaan pertama. titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi.akhir (Vt) = 3. 1.13 ml KESIMPULAN.1 H.10 ml b) Percobaan kedua.5 ml ditetesi dengan indikator fenoltalein sebanyak dua tetes dan larutan NaOHdengan Vol. 0. . larutan HCL dengan Vol.3.1 0.10 ml dan berubah warna dari bening menjadi merah mudah.10 2. Dari hasil pengamatan diatas dapatdiketahui bahwa larutan HCL jika ditetesi dengan larutan N aOH akanmenghasilkan larutan NaCL dan H2O dan terjadi perubahanwarna pada larutan HCL dari warna bening menjadi warna merah muda (Pink).awal (Vo) =2..Na+ OHTentukan konsentrasi larutan HCL tsb! Jawab : NaOH HCL= V1 M1 =V2 M2 0. 0.00 = 0.. V. 0. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi. 21 April 2012 titrasi asam basaa Titrasi adalah suatu metode penentuan kadar (konsentrasi) suatu larutan dengan larutan lain yang telah diketahui konsentrasinya.  PERTANYAAN. 0.1 2 3 5 5 5 2.70 = 0...20 ml dan berubah warna dari bening menjadi merah mudah.90 . Tuliskan persamaan reaksi asam-basatersebut.20 ml Vol. PENUTUP Demikianlahlaporan hasil penelitian/pengamatan ini. Jawab : HCL + NaOH NaCL + H2O H+ CL. meanInG oF a liFe. 0.. keimanan danketaqwaan kita kepada Allah SWT. larutan HCL denganvolume 5 mlditetesi dengan indikator fenolftalein sebanyak dua tetes danlarutan NaOH Vol.20 3.90 ml Vt– Vo = 2.. larutan HCL denganVol.akhir (Vt) = 2..013ml = V2 . V.akhir (Vt) = 2.60 = 0.90 ml – 2.Akhirnya kepada Allah jua-lah kita berharap. titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya. agar memperoleh keselamatan di dunia danakhirat. V.

contoh: asam klorida. Larutan baku terbagi atas dua macam. Umumnya digunakan untuk melakukan titrasi larutan uji. Natrium bikarbonat. potensiometer. tetapi harus di cek kembali konsentrasinya dnegan menambahkan larutan baku primer. stabil pada suhu kara.Basa lemah 3. Senyawa baku sekunder tidak harus memenuhi persyaratan seperti senyawa primer sehingga harganya murah dan biasa digunakan secara rutin. tidak mudah bereaksi dengan komponen-komponen udara. Asam oksalat Kristal. Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”. tidak berubah selama proses pengerjaan pembuatan larutannya. Dengan menggunakan data volume titran. kemudian kita mencatat volume titrat yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Alkalimeteri : pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam. dibuat dari senyawa yang tingkat kemurniannya tinggi(99%).Basa kuat 4. Indikator pH adalah asam lemah atau basa lemah organik yang menunjukan perubahan warna pada pH warna tertentu. atau dengan suatu zat petunjuk yang dinamakan dengan indikator pH. yaitu : 1. Kalium biodat. maka ke dalam larutan tersebut ditambahkan larutan baku sehingga terjadi reaksi sempurna antara larutan dengan larutan baku. massa molekul relatif (berat ekivalen) tinggi. Asam kuat . Asidimetri : pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa 2. Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi yang tinggi. Asam sulfamat Larutan baku sekunder adalah larutan baku yang setelah dibuat tidak dapat langsung digunakan. Dalam memilih indikator untuk titrasi asam basa harus disesuaikan dengan pH saat tercapainya titik ekivalen. Titik akhir titrasi adalah titik pada saat tercapainya kesetaraan asam dan basa yang bereaksi atau titik pada saat larutan mengalami perubahan warna yang disebabkan oleh penambahan indikator. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Asam kuat . Titran ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titran dan titrat tepat habis bereaksi). Untuk mengetahui tercapainya titik ekivalen dapat diukur dengan pH meter. Misalnya akan dicari normalitas suatu larutan.Garam dari asam lemah 5. Syarat-syarat senyawa baku primer : • Rumus molekulnya diketahui dengan pasti • Kemurniannya tinggi (99%) • Stabil. Contohnya adalah asam oksalat. misalnya tidak hidroskopis.Garam dari basa lemah Analisa kimia kuantitatif yang dilakukan dengan jalan mengukur volume suatu larutan baku yang tepat bereaksi (bereaksi sempurna) dengan larutan yang di analisis disebut dengan analisis volumetri. Asam lemah . Asam kuat . dan tidak higroskopis. Basa kuat . Jenis-Jenis Titrasi Asam Basa Titrasi asam basa terbagi menjadi 5 jenis yaitu : 1. Titik ekivalen adalah saat banyaknya asam atau basa yang ditambahkan tepat setara secara stokiometri dengan banyaknya basa atau asam yang terdapat dalam larutan yang di analisis (pH pada saat asam dan basa tepat ekivalen). Oleh . umumnya digunakan untuk melakukan titrasi larutan uji. yaitu larutan baku primer dan larutan baku sekunder. Pada saat titik ekuivalen ini maka proses titrasi dihentikan. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Prinsip Titrasi Asam basa Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titrat ataupun titran. • Mr-nya tinggi agar dapat mengurangi kesalahan penimbangan Bahan baku primer untuk asidi-alkalimetri yang paling banyak digunakan Untuk asam : Natrium karbonat kristal. Natrium tetra borat Untuk basa : Kalium Ftalat asam. maka titik akhir titrasi harus sedekat mungkin dengan titik ekivalen. natrium hidroksida dll Standarisasi atau pembakuan adalah proses pengecekan larutan baku sekunder dengan larutan baku primer.Basa kuat 2. Larutan baku primer adalah larutan baku yang setelah dibuat dapat langsung dipakai untuk ditambahkan ke dalam larutan yang akan dicari konsentrasinya. Larutan baku adalah larutan yang konsentrasinya telah diketahui secara pasti.Titrasi asam basa terbagi menjadi dua.

Pada titrasi jumlah ekivalen asam sama dengan jumlah ekivalen basa. Tiitrasi harus memiliki keberulangan dengan perbedaan hasil tidak lebih dari 0. Kadar atau konsentrasi larutan baku atau standar harus diketahui dengan tepat Larutan asam dapat ditentukan kadarnya melalui penambahan larutan baku basa yang tepat ekivalen (setara) dengan jumlah asam yang ada. Titrasi Asam Kuat-Basa Kuat Contoh : -Asam Kuat : HCL -Basa Kuat NaOH Persamaan Reaksi : HCl + NaOH → NaCl + H2O Reaksi ionnya : H+ + OH-→ H2O 2.5% 4. Titrasi Basa Kuat . Untuk mengamati titik ekivalen ini digunakan indicator asam-basa. 1. yaitu suatu zat yang dapat berubah warnanya tergantung PH larutan. Ketepatan dalam memilih indikator dapat memperkecil kesalahan titrasi.48 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Senin.Garam dari asam lemah : NH4BO2 Persamaan Reaksi : HCl + NH4BO2→ HBO2+ NH4Cl Reaksi ionnya :H++ BO2-→ HBO2 5.Garam dari Basa Lemah Contoh : . Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk suatu analisis secara titrasi adalah : 1. Untuk mengamati titik ekivalen ini digunakan indicator asam-basa.Basa kuat : NaOH Persamaan Reaksi :CH3COOH + NaOH → NaCH3COO + H2O Reaksi ionnya :H++ OH-→ H2O 4. Jenis indicator yang dipilih harus tepat. Ketepatan dalam memilih indikator dapat memperkecil kesalahan titrasi. Titik pada saat tercapainya kesetaraan asam dan basa yang bereaksi dinamakan titik akhir titrasi.Basa lemah : NH4OH Persamaan Reaksi :HCl + NH4OH → NH4Cl + H2O Reaksi ionnya :H++ NH4OH.→ H2O + NH4+ 3.Basa kuat : NaOH .Basa Kuat Contoh : . Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik ekivalen dan selisihnya dinamakan kesalahan titrasi. Titrasi Asam Kuat .Garam dari Asam Lemah Contoh : .Garam dari basa lemah : CH3COONH4 Persamaan Reaksi :NaOH + CH3COONH4→ CH3COONa + NH4OH Reaksi ionnya :OH-+ NH4-→ NH4OH Diposkan oleh syinta apriyanti di 21. Titrasi Asam Lemah .Asam lemah : CH3COOH .Asam kuat : HCl . yaitu suatu zat yang dapat berubah warnanya tergantung PH larutan. Reaksi harus berlangsung dengan cepat 2. Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik ekivalen dan selisihnya dinamakan kesalahan titrasi. Titik akhir titrasi harus dapat diamati dengan jelas 5. 26 Maret 2012 .karena itu. sehingga dapat dituliskan sebagai berikut: Ekiuvalen asam = ekivalen basa V asam N asam = V basa N basa Larutan asam dapat ditentukan kadarnya melalui penambahan larutan baku basa yang tepat ekivalen (setara) dengan jumlah asam yang ada. Titik pada saat tercapainya kesetaraan asam dan basa yang bereaksi dinamakan titik akhir titrasi. Titrasi Asam Kuat – Basa lemah Contoh : . Reaksi kimia yang terjadi harus sederhana dan persamaan reaksinya mudah ditulis 3. Jenis indicator yang dipilih harus tepat.Asam kuat : HCl . harus dipilih indikator yang mengalami perubahan warna di sekitar titik ekivalen.

.raNgkuman tiTrassii Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah di ketahui konsentrasinya. Sedangkan titrasi asidimetri adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa. Hanya ini yang bisa saya sampaikan. Cara membaca volume larutan yang di keluarkan oleh buret adalah dengan melihat miniskus bawah sejajar dengan mata. contoh: jika melibatkan asam basa maka di sebut reaksi asam basa.sedangkan alkalimetri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam. Contoh nya: . Rumus senyawa ion di tentukan oleh perbandingan muatan kation dan anionnya. 1.baik titer maupun titrant biasanya berupa larutan. Semoga bermanfaatt^_^ Diposkan oleh syinta apriyanti di 22. Rumus senyawa Unsur logam di tulis di depa contohnya natrium klorida di tulis NaCl bukan ClNa kan?? Ini adalah rumus senyawa ion: b Xa+ + a Yb– -> XbYa untuk a dan b sama dengan angka 1 tidak perlu di tulis. Titrasi biasanya di bedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi.perubahan warna menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi.tapi karena titik equivalen ini sulit di amati maka titrasi di hentikan saat terjadi titik akhir titrasi yang di tandai dengan perubahan warna indikator di dalam larutan sample. 12 Maret 2012 tata nama senYawa>> Kita mulai aja yahh!! Tau gak senyawa ion itu terdiri atas suatu kation dan anion lohh!! Yuk kita bahas!!!! Kation umumnya adalah suatu ion logam. sedangkan anion dapat berupa anion non logam. Dalam suatu titrasi zat yang akan di tentukan kadarnya di sebut sebagai “titran” dan biasanya di letakan di dalam erlenmeyer.52 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Senin. jumlah muatan positif sama dengan jumlah muatan negatif. sedangkan zat yang telah di ketahui konsentrasinya di sebut sebagai “titer” dan biasanya di letakkan di dalam buret.titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi. Titrasi di hentikan saat tercapainya titik equivalen.oleh karena itu keduanya di sebut juga sebagai titrasi asam basa. Pada proses titrasi ini di gunakan suatu indikator yaitu suatu zat yang di tambahkan sampai seluruh reaksi selesai yang di nyatakan dengan perubahan warna.

Hg2+ 19. Ba2+ 8. PO33– : Fosfit 18. F– : Fluorida 3. CH3COO– : Asetat 12. Nama senyawa ion Nama senyawa ion adalah rangkaian nama kation (di depan) dan nama anion (di belakang). Pb2+ 14. Sn4+ 13. Pb4+ 15. Cu+ 20. Ca2+ 6. Br– : Bromida 5. Mg2+ 5. Cl– : Klorida 4. SiO32– : Silikat 14. Contoh : • Cu2O = tembaga(I) oksida • CuO = tembaga(II) oksida • FeCl2 = besi(II) klorida • FeCl3 = besi(III) klorida • Fe2S3 = besi(III) sulfida • SnO = timah(II) oksida • SnO2 = timah(IV) oksida . NO3– : Nitrat 11. maka senyawa-senyawanya di bedakan dengan menuliskan bilangan oksidasinya yang di tulis dalam tanda kurung dengan angka romawi di belakang nama unsur logam tersebut. Ag+ 4. Contohnya: • NaCl = natrium klorida • CaCl2 = kalsium klorida • Na2SO4 = natrium sulfat • Al(NO3)3 = aluminium nitrat Jika unsur logam mempunyai lebih dari satu jenis bilangan oksidasi. Sr2+ 7. Fe2+ 16. PO43– : Fosfat 19. AsO33– : Arsenit 20. AsO43– : Arsenat 2. Al3+ 11. K+ 3. O2– : Oksida 8. Hg+ 18. CN– : Sianida 7. Fe3+ 17. C2O42– : Oksalat 17. Zn2+ 9. S2– : Sulfida 9. Sn2+ 12. Cu2+ : Natrium : Kalium : Argentum/Perak : Magnesium : Kalsium : Stronsium : Barium : Seng : Nikel : Aluminium : Timah(II) : Timah(IV) : Timbal(II) : Timbal(IV) : Besi(II) : Besi(III) : Raksa(I) : Raksa(II) : Tembaga(I) : Tembaga(II) Ini adalah daftar beberapa jenis anion: 1. SO32– : Sulfit 15. OH– : Hidroksida 2. CO32– : Karbonat 13. Ni2+ 10. Na+ 2. NO2– : Nitrit 10.• Na+ + Cl– -> NaCl natrium klorida • 2 Na+ + SO42– -> Na2SO4 natrium sulfat • Fe2+ + 2Cl– -> FeCl2 besi(II) klorida • Al3+ + PO43– -> AlPO4 aluminium fosfat • Mg2+ + CO32– -> MgCO3 magnesium karbonat • 3 K+ + AsO43– -> K3AsO4 kalium arsenat Ini adalah daftar beberapa jenis kation: 1. SO42– : Sulfat 16. I– : Iodida 6.

pertama-tama kita menempatkan suatu asam yang volumenya telah ditentukan ke dalam suatu flask. Kemudian larutan lainnya (misal basa) yang terdapat didalam buret. dipakai indikator yang warnanya disekitar titik ekivalen. . 1997 : 636). kemudian dengan tetesan hingga titik ekivalen. ditempatkan di dalam flask bersamaan dengan beberapa tetes indikator asam basa. Freeman and Company. titrasi melibatkan pengukuran yang seksama. Dari volume yang ditambahkan dan molar NaOH. dimana reaktan pertama ditambahkan secara kontinu ke dalam reaktan kedua disebut titrasi. tetapi dalam prakteknya jarang sekali ada orang yang mampu membuat kedua titik tersebut tepat sama. ditambahkan ke asam. Semoga bermanfaat^_^ Asidimetri & Alkalimetri May 2. 1999 : 428). Chemistry Molecules and Canges. kita dapat menentukan konsentrasi asam (Timberlake. meskipun ada beberapa hal dimana perbedaan antara kedua hal tersebut dapat diabaikan (Snyder. Pada titik tersebut. Dalam analisis larutan asam dan basa. buret kita isi dengan larutan NaOH yang konsentrasinya telah diketahui. volume-volume suatu asam dan suatu basa yang tepat saling menetralkan (Keenan. Ini disebut titik akhir netralisasi. dalam stoikiometri titrasi. unknown). dimana kita menetralisasi suatu asam dengan suatu basa yang telah diketahui konsentrasinya. Didalam beberapa titrasi. Dalam larutan asam. kedalam larutan asam. seorang ahli kimia lingkungan mempelajari suatu danau dimana ikan-ikannya mati. 1999 : 217218). 2004 : 354-355). dan basa apabila ion basa yang terkandung didalamnya (Atkins. H. penolftalein tidak berwarna. titik ekivalen adalah titik selama proses titrasi dimana tepatnya titrat telah cukup ditambahkan untuk bereaksi dengan titree. Untuk mengamati titik ekivalen. Pada titik stoikiometri. akan tetapi perlu kita ketahui juga berapa banyak asam atau basayang terdapat didalam sampel. Kadang-kadang kita perlu mengetahui tidak hanya atau sekedar pH. Pertama-tama ditambahkan cukup banyak. Peter and Jones Lorette. 1997 : 550). suatu larutan yang akan dinetralkan. Dalam titrasi. misal asam. Sebagai contoh.yang ditambahkan sebagai titrant adlah sama dengan jumlah mol dari OH. Prosedur analitis yang melibatkan titrasi dengan larutan-larutan yang konsentrasinya diketahui disebut analisis volumetri. Pada proses titrasi ini digunakan suatu indikator yaitu suatu zat yang ditambahkan sampai seluruh reaksi selesai yang dinyatakan dengan perubahan warna. Secara ideal. Perubahan warna menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi (Brady.. larutan terdiri dari garam dan air. Salah satu masalah tekhnis dalam titrasi adalah titik dimana suatu perubahan dapat diamati. titik akhir dan titik ekivalen seharusnya identik. New York: W. yaitu dimana keduanya tidak ada yang berlebihan. Titrasi melibatkan suatu proses penambahan suatu larutan yang disebut tirant dari buret ke suatu flask yang berisi sampel dan disebut analit. Larutan tersebut adalah asam apabila ion asam yang terkandung didalamnya. Suatu proses didalam laboratorium untuk mengukur jumlah suatu reaktan yang bereaksi sempurna dengan sejumlah reaktan lainnya. titik ekivalen dari reaksi netralisasi adalah titik pada reaksi dimana asam dan basa keduanya setara.Cukup sekian penjelasan dari sayaa. 1997. terjadi yang untuk mengindikasikan pendekatan yang paling baik ke titik ekivalen. Kita bisa mengetahui bahwa netralisasi telah berlangsung ketika penolftalein dalam larutan berubah warna menjadi merah muda. Larutan basa yang akan diteteskan (titran) dimasukkan ke dalam buret (pipa panjang berskala) dan jumlah yang terpakai dapat diketahui dari tinggi sebelum dan sesudah titrasi. Terimakasihhh. Titik pada titrasi dimana indikator warnanya berubah disebut titik akhir (Petrucci. dan dengan hati-hati NaOH ditambahkan ke asam pada flask. Berhasilnya titrasi asam-basa tergantung pada seberapa akurat kita dapat mendeteksi titik stoikiometri.atau H3O+ yang terdapat dalam analit. 1996 : 597-599). Dan tambahkan beberapa tetes indikator seperti penolftalein. jumlah mol dari H3O+ dan OH. Larutan asam yang dititrasi dimasukkan kedalam gelas kimia (erlenmeyer) dengan mengukur volumenya terlebih dahulu denga memekai pipet gondok. Contoh yang akan dianalisis dirujuk sebagai (tak diketahui. Kita bisa menentukan konsentrasi HCl tersebut melalui suatu prosedur yang disebut titrasi. Misalkan kita ingin menentukan molaritas dari suatu larutan HCl yang tidak diketahui konsentrasinya. Dala titrasi yang diamati adalah titik akhir bukan titik ekivalen (syukri. 2009 at 8:31 am (Landasan Teori) ANALISIS KUANTITATIF : ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang diketahui dan diperlukan untuk bereaksi secara lengkap dengan sejumlah contoh tertentu yang akan di analisis.. DAFTAR PUSTAKA Atkins. Titik ekivalen terjadi pada saat terjadinya perubahan warna indikator. 1998: 422-423). Reaktan yang ditambahkan tadi disebut sebagai titrant dan reaktan yang ditambahkan titrant kedalamnya disebut titree. Kemudian. 3rd Ed. Dia harus mengetahui secara pasti seberapa banyak asam yang terkandung dalam suatu sampel air danau tersebut. Pada titrasi.. Seperti yang telah diketahui sebelumnya.

C. 1996. 1999. dkk. Chemistry Structure and Reaction. Laporan Kimia Dasar II Asidi Alkalimetri BAB 1 PENDAHULUAN 1. Timberlake. Pengertian asidimetri dan alkalimetri secara umum ialah titrasi yang menyangkut asam dan basa. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai ion positif. Kimia Universutas Asas dan Struktur. Ralph H and Willias S. 1998.Brady. Jakarta: Binarupa Aksara Keenan. New York: Holt. Asam dan basa tersebut memiliki sifat-sifat yang menyebabkan konsentrasi larutannya sukar bahkan tidak mungkin dipastikan langsung dari proses hasil pembuatan atau pengencerannya. 1. Petrucci. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion OH-sebagai ion negatif. Harwood. W. 2004. General Chemistry. Syukri. untuk lebih memahami konsep peniteran asidi – alkalimetri dan mengetahui konsentrasi standar dari zat yang dianalisa maka perlu dilakukan peniteran dengan menggunakan suatu standar primer. Pereaksi atau larutan yang selalu dijumpai di laboratorium dimana pembakuannya dapat ditetapkan berdasarkan pada prinsip netralisasi asam – basa (melalui asidi – alkalimetri) diantaranya adalah HCl. James E. Milton K. Karen C.1 Latar Belakang Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. misalnya larutan asam oksalat. Bandung ITB. Sedangkan basa secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. Titrasi yang menyangkut asam dan basa sering disebut asidimetri – alkalimetri. Larutan ini disebut larutan standar sekunder yang konsentrasinya ditentukan melalui pembakuan dengan suatu standar primer. H2SO4. General. kedokteran dan pertanian. 1999. San Fransisco: Pearson Benjamin Cummings.2 Tujuan percobaan Mengetahui konsentrasi NaOH standar Mengetahui kadar CH3COOH perdagangan Mengetahui volume titran (NaOH) yang digunakan untuk menetralkan CH3COOH 1. Organic and Biological Chemistry Structure Of Life. Rinehart And winston. Snyder. Kesetimbangan asam basa merupakan suatu topik yang sangat penting dalam kimia dan bidang-bidang lain yang mempergunakan kimia. Oleh karena itu. KOH dan sebagainya. Kata metri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu atau proses atau seni mengukur. New Jersey: Prentice Hall. NaOH. seperti biologi. . Sedangkan untuk titrasi atau pengukuran lain-lain sering juga dipakai akhiran –ometri menggantikan –imetri. 1997.3 Prinsip percobaan Menentukan kadar atau konsentrasi suatu larutan dengan menggunakan larutan yang konsentrasinya diketahui dengan cara mentitrasi suatu zat yang konsentrasinya tidak diketahui dengan zat lain yang konsentrasinya diketahui sehingga jumlah mol kedua zat sama antara satu dengan lainnya. Kimia untuk Universitas. Asidi-alkalimetri berperan penting dalam berbagai bidang kehidupan. Kimia Dasar 2. Jakarta: Erlangga. Inc.

Ini ditunjukkan oleh fakta. ion Na+ dan Cl. atau amfolit.R. dan larutannya diuapkan. suatu zat kristalin tertinggal. dicampur akan dihasilkan suatu reaksi penetralan.I. baik dengan ion hidrogen maupun ion hidroksil). aluminium hidroksida juga bisa dilarutkan dalam natrium hidroksida : Pada mana ion tetrahidroksoaluminat terbentuk. Dalam reaksi ini aluminium hidroksida berperilaku sebagai asam. sedang basa lemah merupakan elektrolit lemah. yang tak mempunyai ciri-ciri khas suatu asam maupun basa. mampu melangsungkan reaksi netralisasi baik dengan asam maupun basa (lebih tepatnya. yang tersusun dalam pola yang teratur dalam kisi kristalnya. seperti natrium hidroksida atau kalium hidroksida hampir sempurna berdisosiasi dalam larutan air yang encer : Karena itu basa-basa ini adalah basa kuat.C. (Kleinfetter. persamaan ini dapat disederhanakan menjadi Yang menunjukkan bahwa hakekat suatu reaksi asam-basa (dalam larutan air) adalah pembentukan air. garam adalah hasil reaksi antara asam dan basa. merupakan suatu basa lemah. basa kuat merupakan elektrolit kuat. 1985) Bila suatu asam dan suatu basa yang masing-masing dalam kuantitas yang ekuivalen secara kimiawi. pada mana ia melarut dan ion aluminium terbentuk : Dalam reaksi ini aluminium hidroksida bertindak sebagai basa. Zat-zat amfoter. yang juga terbentuk dalam proses ini.tampil pada kedua sisi. Pembentukan garam seakan-akan merupakan hasil dari suatu proses kimia sejati. Ph. Di lain pihak larutan air amonia. (G. aluminium hidroksida bereaksi dengan asam kuat. Garam adalah wujud padat dibangun oleh ion-ion. yang menghasilkan suatu larutan garam dalam air. lebih tepat untuk menyatakan reaksi netralisasi sebagai penggabungan ion-ion secara kimia : Dalam persamaan ini. sedangkan larutan yang ditambah titran itu disebut titrat. Zat-zat ini dinamakan garam oleh ahli-ahli kimia zaman dulu. Menurut definisi yang kuno. Sedangkan air. Tetapi ini sebenarnya tidak tepat.D. hampir-hampir tak berdisosiasi sama sekali.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. bahwa panas netralisasi adalah kurang lebih sama (56. Larutan yang ditambahkan dari buret disebut titran. kalau tidak. yang bila dilarutkan dalam air. amonia membentuk amonium hidroksida. Teknik semacam itu disebut analisis volumetri. Kita tahu bahwa baik asam (kuat) maupun basa (kuat).9 KJ) untuk reaksi suatu mol setiap asam kuat dan basa kuat yang sembarang. yang berdisosiasi menjadi ion amonium dan ion hidroksida : Namun lebih tepat untuk menulis reaksi itu sebagai Karena itu. yaitu suatu larutan ditambahkan dari buret sedikit demi sedikit. Bila dilarutkan dalam air. Misalnya. F. Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat. Proses-proses semacam ini disebut netralisasi. Konsentrasi suatu larutan asam atau basa yang anu (unknown) dapat ditentukan dengan titrasi dengan larutan yang konsentrasinya diketahui. Sebenarnya ion hidrogen (proton) tak ada dalam larutan air. Shevla. Karena itu. D. basa dan garam. secara paling sederhana dapat didefinisikan sebagai zat. volume/berat titran dapat diukur dengan teliti dan bila konsentrasi . serta pula garam hampir sempurna berdisosiasi dalam larutan. dan terbentuk ion-ion hidronium : H+ + H2O → H3O+ Basa. Pada saat titran yang ditambahkan tampak telah ekivalen.Sc. Setiap proton bergabung dengan satu molekul air dengan cara berkoordinasi dengan sepasang elektron bebas yang terdapat pada oksigen dari air. dalam artian. Di lain pihak. 1987) Volumetri adalah cara analisis jumlah berdasarkan pengukuran volume larutan pereaksi berkepekatan tertentu yang direaksikan dengan larutan contoh yang sedang ditetapkan kadarnya. maka penambahan titran harus dihentikan. Larutan ini akan benar-benar netral jika asam dan basa itu sama kuat . Karena dengan demikian tak ada terjadi apa-apa dengan ion-ion ini. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion-ion hidroksil sebagai satu-satunya ion negatif. bahwa jika sejumlah asam dan basa murni ekuivalen dicampur. dan sama halnya dengan asam. saat ini dinamakan titik akhir titrasi. Hidroksida-hidroksida logam yang larut. yang bila dilarutkan dalam air. Jika persamaan reaksi dinyatakan sebagai interaksi molekul-molekul. sampai jumlah zat-zat yang direaksikan tepat menjadi akivalen satu sama lain. Dengan jalan ini. adalah mungkin untuk menyatakan kekuatan basa secara kuantitatif. Definisi ini adalah benar. Tetapi tak ada pembagian yang tajam antara golongan-golongan ini. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. akan diperoleh larutan asam lemah atau basa lemah. Reaksi dijalankan dengan titrasi.

2005) Proses titrasi asam – basa sering dipantau dengan penggambaran pH larutan yang dianalisis sebagai fungsi jumlah titran yang ditambahkan. - - Untuk memenuhi pernyataan (1). agar kuantitatif. Gambar yang diperoleh tersebut disebut kurva pH. Peniteran sebaliknya. atau sangat dekat pada titik ekivalen yang sering digunakan. asam dengan basa yang titernya diketahui disebut alkalimetri. maka jumlah mol titrat dapat diketahui pula berdasar persamaan reaksi dan koefisiennya. agar kuantitatif. kita peroleh grafik yang disebut kurva titrasi. tetapi dalam lingkungan basa warnanya biru. Titik stoikhiometri atau ekivalen harus diketahui. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron. Perubahan warna itu harus terjadi dengan mendadak. maka kalau pH dialurkan lawan volume titran. sebab jumlah yang bereaksi ditentukan oleh persamaan reaksi. 1987) Berikut syarat-syarat yang diperlukan agar titrasi yang dilakukan berhasil : 1. asam harus kuat dan garam itu harus terbentuk dari asam lemah sekali. Warna dalam keadaan asam dinamakan warna asam dari indikator (kuning untuk bb). Indikator Asam Basa – Indikator asam basa ialah zat yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. Mereka memberikan satu warna berbeda bila proton lepas. Indikator harus berubah warna tepat pada saat titran menjadi ekivalen dengan titrat agar tidak terjadi kesalahan titrasi. (Khopkar. Dalam titrasi ini perubahan terpenting yang mendasari penentuan titik akhir dan cara perhitungan ialah perubahan pH titrat. yang berarti: telah tepat banyaknya untuk menghabiskan zat yang direaksikan. KURVA TITRASI – Larutan yang dititrasi dalam asidimetri-alkalimetri mengalami perubahan pH. trayek indikator tersebut harus memotong bagian yang sangat curam dari kurva. Karena jumlah titrat ekivalen dengan jumlah titran. asam dengan garam (reaksi pembentukan asam lemah). basa dengan garam. Ini tidak selalu berarti. Reaksi-reaksi yang terjadi dalam titrasi ini ialah : asam dengan basa (reaksi penetralan). jadi berdasar pembentukan basa lemah tersebut. Bila pH ini diukur dengan pengukur pH (pH-meter) pada awal titrasi. yaitu titrasi yang menyangkut asam dan/atau basa. sering disingkat PP. Misalnya bila larutan asam dititrasi dengan basa. Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna pada range pH yang berbeda. 2003) Kebanyakan indikator asam basa adalah molekul kompleks yang bersifat asam lemah dan sering disingkat dengan HIn. basa harus kuat dan garam harus terbentuk dari basa lemah sekali. Konsentrasi titran harus diketahui. (Hardjono Sastrohamidjojo. agar tidak ada keragu-raguan tentang kapan titrasi harus dihentikan. bahwa asam dan basa disini tidak berarti pH kurang atau lebih dari tujuh. Larutan seperti ini disebut larutan standar. agar kuantitatif. Asam berarti pH lebih rendah dan basa berarti pH lebih besar dari trayek indikator atau trayek perubahan warna yang bersangkutan.- juga diketahui. Titik pada saat indikator berubah warna disebut titik akhir. 3. 2005) Contoh : Fenolftalein. Misalnya biru bromtimol (bb). maka asam dan/atau basa yang bersangkutan harus kuat. adalah sebagai berikut : tak berwarna PP dalam bentuk asam (HIn) merah basa konjugat PP dalam bentuk basa (In-) . yakni sebelum ditambah basa dan pada waktu-waktu tertentu setelah titrasi dimulai. atau kurva titrasi. Indikator yang memberikan perubahan warna. sedang warna yang ditunjukkan dalam keadaan basa disebut warna basa. Akan tetapi harus dimengerti. (Hardjono Sastrohamidjojo. atau basa. Perhatikanlah sekali lagi arti ungkapan ”pereaksi telah ekivalen”. 4. indikator yang lazim dipakai. Bila kita mengukur berapa mL larutan bertitar tertentu yang diperlukan untuk menetralkan larutan basa yang kadar atau titernya belum diketahui. Hal ini jelas. maka jumlah mol titran dapat dihitung. bahwa pereaksi dan zat yang direaksikan telah sama banyak. Reaksi yang tepat antara titran dan senyawa yang dianalisis harus diketahui. atau sangat mendekatinya. untuk memenuhi pernyataan (2). dalam larutan asam ia berwarna kuning. tak berwarna dalam bentuk Hin-nya dan berwarna pink dalam bentuk In. 2. maka trayek indikator harus mencakup pH larutan pada titik ekivalen. (Harjadi. baik volume maupun jumlah gram atau mol-nya. 2. Struktur Fenolftalein. (Harjadi. Volume titran yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalen harus diketahui setepat mungkin. tidak ada kelebihan yang satu maupun yang lain. maka : 1. maka pH larutan mula-mula rendah dan selama titrasi terus menerus naik. Tujuan : memilih indikator yang memiliki titik akhir bertepatan dengan titik stoikhiometri. maka pekerjaan itu disebut asidimetri. Bila suatu indikator pH kita pergunakan untuk menunjukkan titik akhir titrasi. Titran dan titrat tepat saling menghabiskan. 1987) Salah satu macam titrasi adalah titrasi asidimetri-alkalimetri.

1 N hingga terjadi perubahan warna Dicatat volume oksalat yang diperlukan Dihitung konsentrasi NaOH 3. erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 2 tetes 3.3 Prosedur Percobaan 3.1 N kedalam buret Dipipet 10 ml NaOH lalu dituangkan kedalam 2. Perlakuan 1.BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN 3.1 N Asam oksalat dihidrat Indikator PP 3.1 Alat-alat Buret Pipet volume 10 ml Labu ukur 100 ml Pipet tetes Erlenmeyer 100 ml 3.2 Bahan-bahan Asam cuka perdagangan NaOH 0.1 Asidimetri Dituang asam oksalat 0.2 Alkalimetri Dituang larutan NaOH yang telah distandarisas kedalam buret Dipipet 10 ml cuka perdagangan lalu diencerkan hingga 100 ml Dipipet 10 ml cuka yang telah diencerkan lalu dimasukkan kedalam erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 3 tetes Dititrasi dengan NaOH hingga terjadi perubahan warna Dicatat volume NaOH yang digunakan Dihitung kadar cuka perdagangan - - BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan 4.1 Asidimetri No.1 N kedalam buret Dipipet 10 ml NaOH lalu dituangkan kedalam erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 2 tetes Dititrasi dengan larutan asam oksalat 0. Dituang asam oksalat 0.1 N hingga - Pengamatan warna titrat menjadi merah lembayung . Dititrasi dengan larutan asam oksalat 0.3.3.1.

Dicatat volume NaOH yang digunakan Dihitung kadar cuka perdagangan .2 Alkalimetri No. 6.0625 N 4. V2 = 6.perubahan warna dari bening menjadi merah lembayung 5. 7.1 ml .V = 13. C= = = 51 gr/mL 4. terjadi perubahan warna Dicatat volume asam oksalat yang diperlukan Dihitung konsentrasi NaOH .2 Reaksi .1.V1 = 6. Dipipet 10 ml cuka perdagangan lalu diencerkan hingga 100 ml 3.perubahan warna dari merah lembayung menjadi tidak berwarna . Dituang larutan NaOH yang telah distandarisasi kedalam buret 2. Dipipet 10 ml cuka yang teah diencerkan lalu dimasukkan kedalam erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 3 tetes 4. Perlakuan Pengamatan 1. N NaOH = = 0.25 ml 5.Larutan tetap berwarna bening warna .Vrata-rata = 6.4 ml .4. Dititrasi dengan NaOH hingga terjadi perubahan .6 ml 6.

2 Kadar CH3COOH perdagangan V = 13. Hendaknya diusahakan agar titik akhir ini sedekat mungkin pada titik ekivalen yaitu. maka pekerjaan itu disebut asidimetri. 4.3 Perhitungan 4. Larutan standar primer adalah larutan yang kadarnya dapat diketahui secara langsung dari hasil penimbangan. larutan peniter diteteskan sedikit demi sedikit kedalam larutan contoh sampai tercapai titik akhir titrasi yaitu. Bila pereaksi digunakan dalam bentuk larutan. 3.1 Konsentrasi NaOH V1 = 6. Sangat murni atau mudah dimurnikan 2. Larutan standar dibagi menjadi dua yaitu. Stabil dalam keadaan biasa.3. Larutan yang diketahui konsentrasinya disebut larutan baku atau larutan standar.0625 N 4. Dalam asidi-alkalimetri indikator yang digunakan adalah indikator pH yaitu zat . senyawaan yang digunakan sebagai penunjuk visiual pada saat tercapainya titik setara titrasi antara dua larutan tertentu. maka beratnya harus diketahui dengan tepat. yang dapat dinyatakan dalam persamaan reaksi seperti berikut : H+ + OH. titik dimana indikator tepat berubah warna. Pelaksanaan penentuan kadar zat dengan jalan titrasi yaitu. Dalam titrasi sampel direaksikan dengan suatu pereaksi sehingga jumlah kedua zat tersebut ekivalen. Peniteran sebaliknya.3.6 ml C= = = 51 gr/mL 4. yaitu reaksi asam dan basa. setidak-tidaknya selama ditimbang Sedapat mungkin mempunyai berat ekivalen tinggi untuk mengurangi kesalahan penimbangan Dalam titrasi akan bereaksi menurut syarat-syarat reaksi titrasi Mempunyai rumus molekul yang pasti Larutan standar sekunder adalah larutan yang konsentrasinya ditentukan dengan cara pembakuan. tidak ada kelebihan yang satu maupun yang lain. Syarat-syarat larutan standar primer adalah : 1. 5.4. Contohnya NaOH dan HCl. larutan standar primer dan larutan standar sekunder. Contohnya K2Cr2O7 dan Na2B4O7.→ H2O Bila kita mengukur berapa ml larutan asam bertitar tertentu yang diperlukan untuk menetralkan larutan basa yang kadar atau titernya belum diketahui. asam dengan basa yang titernya diketahui disebut alkalimetri. maka volume dan konsentrasinya harus diketahui dengan tepat. titik dimana titran dan titrat tepat saling menghabiskan.4 Pembahasan Titrasi asam basa sering disebut asidimetri-alkalimetri. Bila pereaksi digunakan dalam bentuk padat. Dalam penentuan titik akhir titrasi digunakan indikator yaitu. Reaksi dasar dalam titrasi asam-basa adalah netralisasi atau penetralan.1 ml V rata-rata = N NaOH = = 0.4 ml V2 = 6.

Sebenarnya telah terjadi reaksi antara indikator dan asam atau basa yang bersangkutan. perubahan ini menjadi HIn hingga titik akhir warna tidak terlihat. Dari perhitungan didapatkan konsentrasi NaOH sebesar 0.4 4.8 6. perubahan HIn menjadi In -.0 8. Pada saat melakukan titrasi banyak kemungkinan faktor kesalahan yang terjadi diantaranya : Kebersihan alat-alat yang digunakan.0 9.8 . Dari perhitungan didapatkan kadar CH3COOH sebesar 51 gr/mL.1 .3 5.0.1 .3 .9 . maka dapat dihitung kadar CH3COOH perdagangan. Larutan asam cuka yang ditambahkan indikator PP tidak mengalami perubahan warna.6-Dintrofenol Kuning metil Jingga metil Hijau bromkresol Merah metil Lakmus Purpus bromkresol Biru bromtimol Merah fenol p.8 1. Hal ini dikarenakan penambahan [H+] sehingga [OH] berkurang dan keseimbangan bergeser ke kiri. Kesalahan praktikan pada pembacaan miniskus buret.2 . Sehingga warna larutan berubah menjadi merah lembayung yang disebut warna basa indikator. Dikarenakan trayek pH indikator PP mencakup pH titik ekivalen antara asam lemah dengan basa kuat.5.1 .2 .3 .8.4 ml dan 6. Dalam kehidupan sehari-hari asidi alkalimetri memiliki peranan penting.10.4 . menyebabkab warna larutan NaOH berwarna merah lembayung.5 Merah Metil ( MM ) Phenolphthalein ( PP ) Thymolphthalein ( TP ) - Pada percobaan titrasi antara NaOH dan CH3COOH yaitu titrasi asam lemah dengan basa kuat digunakan indikator PP. Misalnya dalam bidang kesehatan basa (Mg(OH) 2) digunakan sebagai antasida untuk menetralkan asam lambung (HCl).05 ml. Oleh karena itu.2.4.8 . Alat yang digunakan harus bersih dan kering agar tidak terjadi kontaminasi dengan zat-zat sisa yang tertinggal pada alat-alat yang digunakan.4.3 4. Sebanyak 10 ml asam cuka diencerkan didalam labu ukur hingga 100 ml. Beberapa penunjuk yang biasa digunakan untuk titrasi asam-basa: Warna Larutan Penunjuk Trayek pH Asam Sindur Metil Lakmus Merah netral ( SM ) (L) ( MN ) Merah Merah Merah Merah Tak berwarna Tak berwarna Basa Sindur Kuning Biru Kuning Merah lembayung Biru 3. lalu titrat dititrasi dengan titran hingga mencapai titik akhir ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi tidak berwarna. ini berarti jumlah titrat telah ekivalen dengan jumlah titran. Kelebihan titran sehingga volume titik akhir melebihi yang seharusnya. Setelah didapat titik akhir pada volume NaOH 13.6.α .1 ml.4 3. Indikator yang digunakan adalah indikator PP.6 ml.2 5.yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah.2 . Nama Asam 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Asam pikurat Biru Timol 2.10. Dalam bidang farmasi asidi alkalimetri digunakan untuk menentukan gugus obat sulfa.0 9.6. Dari 100 ml larutan asam cuka yang telah diencerkan dipipet 10 ml dan ditambahkan 2 tetes indikator PP. Setelah didapat titik akhir pada volume asam oksalat 6.4 4.0 . Pada peniteran alkalimetri pada percobaan ini yang akan ditetapkan kadarnya adalah asam cuka perdagangan.0 .Naftolflatein Purpus kresol Fenolftalein Timolftalein tidak berwarna merah tidak berwarna merah merah kuning merah merah kuning kuning kuning kuning kuning tidak berwarna tidak berwarna Basa kuning kuning kuning kuning jingga biru kuning biru purpur biru merah biru biru merah biru 0.5 .0 . Indikator PP ditambahkan 2 tetes pada larutan NaOH 10 ml. Perubahan warna menjadi merah lembayung dikarenakan indikator bereaksi dengan basa (NaOH).2 .2 .2 . maka dapat dihitung kenormalan NaOH standar yang dapat digunakan untuk menetapkan kadar asam yang akan ditetapkan kadarnya. menyebabkan [H+] berkurang dan keseimbangan bergeser ke kanan.6 6.9. Lalu asam cuka dititrasi dengan larutan NaOH yang telah distandarisasi.8.0 7.0 6.6 8.7. Warna No. indikator PP sangat tepat digunakan untuk penunjuk titrasi asam lemah dengan basa kuat. Pada saat titik akhir telah tercapai warna larutan berubah menjadi merah lembayung dikarenakan penambahan [OH-].8 2.5 Trayek pH . Pengerjaan titrasi dilakukan secara duplo untuk lebih meyakinkan bahwa titik akhir sudah tercapai dan hasil dari dua kali titrasi hendaknya jangan berbeda lebih dari 0.8.4.10.4.0 .0625 N.0 7.8. Pada peniteran asidimetri pada percobaan yang dilakukan adalah penetapan kenormalan NaOH dengan menggunakan asam oksalat sebagai larutan standar primer yang berfungsi sebagai titran.4 .10. Jadi ketika indikator tepat berubah warna atau titik akhir titrasi telah tercapai.0 2.0 3.6.9. Setelah ditambah indikator.

larutan standart ini tiap liternya mengandung sejumlah gram ekivalen tertentu.1 . hanya penggabungan ion-ion saja.5. BAB 5 PENUTUP 5.1 N Mahasiswa dapat melakukan standarisasi larutan HCl 0. Analisis secara Volumetri adalah analisis kimia kuantitatif utuk menentukan banyaknya volume suatu larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan teliti yang bereaksi secara kuantitatif dengan larutan/zat yang akan kita tentukan konsentrasinya. Banyaknya zat yang akan ditentukan konsentrasinya dapat dihitung dari banyaknya volume standart dengan hukum ekivalen biasa. LAporan ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI Posted by For Indonesiaku 15.0 12. Alkalimetri : Analisis (volumetri) yang menggunakan alkali (basa) sebagai larutan asam sebagai larutan standart.0625 N Kadar asam asetat perdagangan yang dipakai dalam percobaan adalah 51 gr/mL Volume NaOH terpakai pada peniteran CH3COOH sebanyak 13.12.Analisis berdasarkan Volumetri. Analisis anorganik secara kuantitatif yaitu proses atau operasi analisis hanya digunakan untuk mengetahui atau mengidentifikasi penyusun-penyusun dari suatu zat dan pengembang-pengembang metoda-metoda pemisahan masingmasing penyusun yang terdapat dalam suatu campuran. atau [H+] = [OH-] = 107.2 – 10. .3. 2. analisis kuantitatif terbagi menjadi : 1. setiap basa yang diteteskan bereaksi dengan asam dan peniteran dihentikan pada saat jumlah mol H+ setara dengan jumlah mol OH-. Larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan teliti disebut Larutan Standart.1 Kesimpulan Konsentrasi NaOH standar yang digunakan dalam percobaan adalah 0. Proses penambahan larutan standart ke dalam larutan yang akan ditentukan normalitasnya sampai terjadi reaksi yang sempurna disebut Titrasi. Perubahan warna dalam larutan ini akan lebih jelas bila dalam proses titrasi ditambahkan sedikit indicator. Titik akhir titrasi ini dapat dilihat denga adanya perubahan warna yang terdapat dalam larutan yang dititrasi. Pada saat ini larutan bersifat netral.1 N Mahasiswa dapat membuat larutan NaOH 0. under | 1 comment ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI TUJUAN Mahasiswa dapat membuat larutan HCl 0.14. Pada peniteran asam lemah-basa kuat.1 N Mahasiswa dapat melakukan standarisasi cuplikan (sampel) DASAR TEORI Asidimetri : Analisis (volumetri) yang menggunakan asam sebagai larutan asam sebagai larutan Standart. Analisis anorganik secara kuantitatif yaitu proses analisis untuk menentukan atau mengidentifikasi banyaknya atau perbandingan banyaknya tiap-tiap penyusun yang terdapat suatu zat atau persenyawaan.Analisis berdasarkan Gravimetri.16 17 Kuning alizarin R 1.0 .00.6 ml - 5.0 Pada peniteran asam dan basa. Indikator yang tepat untuk titik akhir titrasi ini salah satunya adalah fenolftalein yang memiliki trayek pH 8. Saat dimana terjadi reaksi yang sempurna tercapai disebut saat Titik Ekivalen atau titik Stoikiometri biasanya titik akhir titrasi disebut juga titik akhir teoritis.Trinitrobenzen kuning tidak berwarna violet jingga 10.2 Saran Dalam melakukan percobaan dapat digunakan asam kuat-basa kuat atau asam kuat-basa lemah agar praktikan lebih dapat memahami titrasi asam-basa dan dapat digunakan indikator yang berbeda. Sedang larutan yang akan ditentukan normalitasnya disebut larutan yang dititrasi. Reaksi dalam analisis volumetri terbagi menjadi : Reaksi-reaksi yang tidaj menimbulkan / mengakibatkan terjadinya perubahan valensi. Secara garis besar. pH nya pada titik ekivalen > 7 karena kebasaan konjugat asam lemah CH3COO-.1 N Mahasiswa dapat melakukan standarisasi larutan NaOH 0.46.

83 mL. Gelas beker Pipet tetes 12.4 ) K : Kadar asam HCl ( %= 35-36 ) 4. Pipit ukur Gelas arloji 9.Reaksi-reaksi yang tidaj menimbulkan / mengakibatkan terjadinya perubahan valensi. NaOH tersebut dimasukkan ke dalam labu takar 250 ml. Bulbpet Labu takar 10. Dititrasi dengan larutan NaOH 0. kemudian ditandabataskan.membentuk molekul air. Indikator PP ditambahkan sebanyak 3 tetes. X : Banyaknya HCl yang diambil ( ml ) N : Normalitas larutan HCl yang dibuat ( 0. Titrasi diulang sampai 3 kali. Proses titrasi Asidimetri dan Alkalimetri merupakan salah satu proses titrasi netralisasi. misalnya pada reaksi Oksidasi dan Reduksi. Aquadest Asam oksalat CARA KERJA 1. Dititrasi ulang 2-3 kali. kemudian ditandabataskan.091 ditimbang dengan gelas arloji (sesuai dengan perhitungan).1 N dengan Asam Oksalat.1 N dibuat sebanyak 100 ml (sesuai perhitungan). Disimpan di dalam botol dan ditutup rapat-rapa. Sedang alkalimetri adalah suatu proses titrasi larutan-larutan asam bebas atau larutan-larutan garam yang berasal dari asam lemah dengan larutan standar basa.1 N HCl pekat dianbil sebanyak 0. Larutan HCl tersebut dititrasi dengan Natrium Borat yang dibuat.1 N NaOH sebanyak 1. V1 : Volume zat penetrasi/standar (ml) N1 : Normalitas zat penetrasi/standar (gram ekivalen/liter) V2 : Volume zat yang dititrasi/dicari N nya (ml) N2 : Normalitas zat yang dititrasi/dicari N nya (gram ekivalen/liter) Sedangkan reaksi-reaksi yang melibatkan proses oksidasi dan reduksi akan dibahas tersendiri dalam praktikum yang menggunakan zat kimia bersifat oksidator/reduktor seperti Iodometri dan Iodimetri. Dalam perhitungan selanjutnya kita gunakan persamaan antara volume dan konsentrasi masing-masing zat yang dititrasi dengan zat penetrasinya dan berlaku rumus sebagai berikut : V1 x N1 = V2 x N2 Dimana. Cara menghitung (X) ml HCl sebagai berikut: x=(N x V x M)/(10n x K x L) Dimana . Larutan dikocok sampai homogen. Dilarutkan dengan air murni dalam labu takar 100 ml.1 N ) V : Volume asamyang dibutuhkan ( 100 ml ) M : Berat molekul asam ( HCl = 36.1 N (yang akan dicari normalitasnya). Ditentukan Normalitas asam tersebut. Dititrasi dengan larutan NaOH standart. Membuat larutan HCl 0. Neraca timbang BAHAN : NaOH Kristal 5.5 ) n : Valensi asam ( HCl = 1 ) L : Berat jenis asam ( HCL = 1. Penentuan normaitas larutan NaOH 0.1 N Larutan natrium Borat 0. kemudian ditandabataskan. Pipet gondok Sendok sungu 8.3-1. Penentuan Normalitas HCl 0. . Ditentukan normalitas sampel tersebut. Sebanyak 25 ml larutan asam oksalat tersebut dimasukkan dalam Erlenmeyer dan ditambahkan 3 tetes indicator PP. Erlenmeyer Corong 11. Membuat larutan NaOH 0. Larutan HCl (yang dibuat) diambil sebanyak 25 ml dan ditambahkan 3 tetes indikator MO. HCl pekat dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL. ALAT DAN BAHAN ALAT : Buret 7. Asidimetri suatu titrasi terhadap larutanlarutan basa bebas atau garam yang berasal dari basa lemah dengan larutan standart asam. Kristal asam oksalat (H2C2O4 )ditimbang sebanyak 0. 2. Indikator MO dan PP H2SO4 pekat 7. kemudian ditambah dengan aquadest. Penentuan larutan sampel Sebanyak 25 mL sampel yang sudah disediakan dimasukkan kedalam Erlenmeyer. Natrium Borat kristal HCl pekat 6.Dalam proses ini yang terjadi adalah penggabungan antara ion-ion H+dengan ion-ion OH. Dititrasi ulang 2-3 kali.632 gram.

0 g/mol Berat NaOH : ± 1.632 gram BM oksalat : 126.4 ml Jernih Merah muda2. 25 ml PP 3 tetes 24 ml Jernih merah muda2. N C2H2O4.DATA PENGAMATAN ҉ Pembuatan NaOH 0.83 ml BM HCl pekat : 36.4 ml MO 3 tetes Kuning Orange2.6 + 24 )ml/3 = 23.07/2) x 1000/100 = 0.1 N Volume diambil HCl : 0.H2O=(0.83 ml BM HCl pekat : 36. 25 ml 30.632 gram BM asam oksalat = 126. Volume Oksalat Indikator Volume NaOH Perubahan warna merah muda1. 25 ml PP 3 tetes 23.07 gr/mol Volume asam oksalat = 100 ml Maka.5))/(10(1)x (37)x (1.H2O) x 1000/(V (ml)) N C2H2O4. 25 ml PP 3 tetes 18.37 g/mol Volume pengenceran : 100 ml NO.9 ml MO 3 tetes Kuning ҉ Penentuan larutan sampel NO.5 g/mol BD HCl pekat : 1.H2O)/(BE C2H2O4.1003))/(23.19 gr/ml Prosen HCl pekat : 37 % Volume pengenceran : 100 ml x=(N x V x M)/(10n x K x L) x=((0.3 ml MO 3 tetes Kuning Orange3. 25 ml PP 3 tetes 18.1 N BM NaOH : 40.1 N dengan asam oksalat. 25 ml 30.87 ml Normalitas NaOH V NaOH x N NaOH = V Oksalat x N Oksalat N NaOH = (V Oksalat x N Oksalat)/(V NaOH) N NaOH = ((25 ml)(0.5 g/mol BD HCl pekat : 1.19)) x= 0.07 gram/mol Volume pengenceran : 100 ml NO. ₰ Normalitas asam oksalat Massa asam oksalat = 0.105 N Ѽ Pembuatan larutan HCl 0. 25 ml PP 3 tetes 18.091 gram Volume NaOH : 250 ml ҉ Standarisasi Normalitas lautan NaOH dengan garam asam oksalat ( H2C2O4 ) Massa oksalat : 0.1003 N ₰ Volume NaOH V rata NaOH=( 24 +23.6 ml Jernih merah muda3.83 ml ( diencerkan menjadi 100 ml) Ѽ Penentuan massa Natrium Borat yang diambil .1 N)x (40 gr/mol)/1 x (250 ml)/(1000 ml) = 1 gram Ѽ Penentuan normalitas larutan NaOH 0. 25 ml 30.047 gram N NaOH=(Massa NaOH)/(BE NaOH) x 1000/(V (ml)) Massa NaOH = N NaOH x BE NaOH x V (ml) : 1000 =(0.87 ml) = 0. 25 ml PP 3 tetes 24 ml Jernih ҉ Pembuatan larutan HCl 0.19 gr/ml Prosen HCl pekat : 37 % Volume pengenceran : 100 ml ҉ Standarisasi larutan HCl dengan larutan Na2B4O7 Massa Borat : 1. Volume HCl/Sampel Indikator Volume NaOH Perubahan warna Merah muda1. Volume HCl Volume Na2B4O7 Indikator Perubahan warna Orange1.1 N Volume HCl yang harus diambil : ± 0.1 N Massa NaOH yang ditimbang = 1.903 gram BM Borat : 381.1 N)x (100)x (36.632 gram)/(126.8 ml Jernih PERHITUNGAN Ѽ Pembuatan NaOH 0.H2O=(M C2H2O4.6 ml Jernih Merah muda3.

Pada percobaan ini. Asidimetri yaitu analisis secara volumetric dengan larutan standar basa.dimana akan dibuat larutan HCl 0.8 )ml/3 = 18.05 mol x 381.1 N.907 gram (pembulatan) Ѽ Penentuan Normalitas HCl : V Na-Borrat = ((30.1 N.1 N.titik ekivalen atau titik akhir titrasi selesai dilakukan saat terjadi perubahan warna.83 ) = 44.936 % Penentuan Larutan sampel (HCl) V sampel = 25 ml V NaOH = (18.632 gr.105 N Vsampel x N sampel = V NaOH x N NaOH 25 ml x N sampel = 18. NaOH distandarisasi dengan asam oksalat karena agar lebih stabil dengan adanya 2 valensi pada asam oksalat. sebab belum tentu dalam pembuatan HCl dan NaOH didapat normalitas 0. Percobaan selanjutnya yaitu membuat larutan HCl 0.1 N dari HCL 37% dalam 100 ml harus diambil ± 0.63 gram ke dalam erlenmeyer 100 ml.3+30. Dari hasil percobaan diketahui bahwa volume NaOH untuk titrasi adalah 23.selanjutnya dilakukan titrasi dengan maksud mencari titik ekivalen atau titik akhir titrasi guna standarisasi normalitas larutan NaOH dengan asam oksalat.37 gr/mol x 100 ml)/(1000 ml) = 1. NaOH distandarisasi menggunakan asam oksalat.19)x 0.1 N dalam 100 ml 0.078 N PEMBAHASAN Percobaan ini.467 ml N Na-Borat = (m Na-Borat)/Be x 1000/V = (1.dilakukan terlebih dahulu pengenceran asam oksalat 0.1 N sebanyak 100 ml. sehingga suatu larutan standar tidak dapat dibuat dengan melarutkan suatu bobot yang diketahui dalam volume air tertentu. dapat melakukan standarisasi larutan HCl 0.1 N 0. Titrasi dihentikan setelah terjadi perubahan warna dari kuning menjadi orange.Mr Na-Borat = 381.105 N.6+18.37/2)(gr/mol)) x 1000/100 = 0. Pada pembuatan larutan asam oksalat 0.Saat dititrasi.1/2 L = (0.87 ml sehingga normalitas NaOH hasil standarisasi yaitu 0. dan biasanya digunakan untuk pembuatan larutan alkali standar.906 gr.didapat nilai normalitas oksalat sebesar 0.953 ml)/(25 ml) = 0.0999 N. Pada percobaan ini.1 N.1 grek/L Mol = 0.+ OHUntuk pembuatan larutan HCL 0.1 N = 0.0998 N. Pada percobaan ini HCl distandarisasi dengan NaBorat.6 ml x 0.0998 N VHCl x NHCl = V Na2B4O7 x N Na2B4O7 NHCl = (V Na2B4O7 xN Na2B4O7)/VHCl = (30.ternyata terjadi perubahan warna menjadi merah muda yang menghabiskan volume NaOH sebanyak 24.0998N)/(25 ml) = 0. Reaksi yang terjadi : NaOH + (COOH)2 (COONa)2 + 2H2O Reaksi indicator dengan titrant : NaOH + In.bisa kurang bisa lebih.Setelah dilakukak pengenceran. NaOH sangat higroskopis dan selalu terdapat sejumlah tertentu alkali karbonat dan air. praktikan bertujuan untuk dapat membuat larutan HCl 0. Standarisasi HCl dengan Na-Borat menggunakan indicator MO (Metil Orange). Tujuan dari standarisasi adalah menentukan konsentrasi larutan setepat mungkin. NaOH adalah basa kuat yang dapat larut dalam air. Penggunaan larutan NaOH dan HCl sendiri didasarkan pada pengertian asidimitri dan alkalimetri itu sendiri. Reaksi yang terjadi sebagai berikut : Na2B4O7 + 5 H2O + 2 HCl 2 NaCl + 4 H3BO3 Reaksi indicator dengan titrant : HCl + InPercobaan kedua yaitu menentukan normaitas larutan NaOH 0.Metode yang digunakan sama seperti yang sebelumnya yaitu dengan pengenceran. tetapi 0.4+18.5))/(10(1)x (1. Sedangkan alkalimetri yaitu analisis secara volumetric dengan larutan standar asam. Dan untuk mengindikasi adanya perubahan pH maka digunakan indicator PP.1003 N sebab pada saat penimbangan padatannya tidak diperoleh tepat 0. Dengan adanya indicator PP.1216 N)x (100)x (36.903 gr)/((381.467 ml x 0. dapat membuat larutan NaOH 0. Percobaan pertama yaitu membuat larutan NaOH 0. Setelah diperoleh beberapa data.63 gr.digunakan indicator PP yang dicampur pada larutan oksalat. dapat melakukan standarisasi larutan NaOH 0.1 N diperoleh perhitungan 0.Pertama. dan dapat melakukan standarisasi cuplikan (sampel). selain itu harganya juga murah.7 ))/3 = 30.1 N.903 gr seharusnya 1.Hanya saja pada percobaan yang ketiga ini harus .NaIn.7 ml.1 N.1216 N Konsentrasi HCl sesungguhnya x=(N x V x M)/(10n x K x L) K=(N x V x m)/(10n x L x X) =((0. Begitu juga pada pembuatan Na-Borat.37 gr/mol Volume pelarutan = 100 ml N Na-Borat = 0.1 N dengan asam oksalat.105 N N sampel = (1.83 ml. maka dapat diketahui titik ekivalen dengan berubahnya warna larutan dari bening menjadi merah muda.larutan oksalat berwarna jernih dan setelah dititrasi dengan NaOH.1 N. penimbangannya 1.6 ml N NaOH = 0. Tetapi NaOH harus di standarisasai terlebih dahulu karena tidak satupun dari hidroksida padat ini dapat diperoleh murni. sehingga diperoleh normalitas sebesar 0.4+30.Untuk mengetahui adanya perubahan warna. Terjadinya perubahan warna merupakan akibat reaksi yang menunjukkan perbedaan pH.

Rumusan Masalah Rumusan masalah dari percobaan ini. Untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran.terlebih dahulu dicari datadata seperti volume HCl yang diambil. Berapa kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran ? C.Setelah diperoleh data tersebut. Berdasarkan latar belakang ini. 4. yaitu : titrasi asidi-alkalimetri.Pembuatan larutan NaOH dan HCl 0. 1 Titrasi asidimetri dan alkalimetri merupakan titrasi netralisasi dimana pada titrasi ini digunakan larutan asam dan basa kuat ataupun lemah sehingga dihasilkan air yang bersifat netral. maka dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar asam asetat. titrasi oksidimetri. Titrasi ini dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi atau kadar dari asam/basa kuat ataupun lemah yang dititrasi dengan basa/asam lemah ataupun kuat. Kemudian dilanjutkan dengan percobaan yang ke empat yaitu Standarisasi larutan HCl dengan larutan Na2B4O7. Latar Belakang Titrasi merupakan suatu metode analisis kuantitatif untuk menentukan konsentrasi dari suatu larutan menggunakan larutan lain yang telah distandarisasi atau larutan yang konsentrasinya telah diketahui. B. 2. yaitu : 1.Dari percobaan diperoleh data massa Borat sebanyak 1.7 ml. Penambahan titran ke dalam analit dilakukan hingga tercapat titik ekivalen dimana akan terjadi perubahan warna dari larutan indikator. Metode titrimetri atau yang juga dikenal dengan metode volumetri secara garis besar diklasifikasikan dalam empat kategori berdasarkan jenis reaksinya.Penentuan normalitas larutan NaOH 0. Dalam metode titrimetri ini. Berapa kadar asam asetat dalam sampel ? 2.1 N dengan asam oksalat diperlukan volume sebanyak 24. larutan yang akan ditentukan konsentrasinya disebut larutan analit sedangkan larutan yang diketahui konsentrasinya disebut titran.menentukan seberapa banyak volume HCl pekat yang diperlukan. 3.Setelah dititrasi.1 N diperlukan massa NaOH seberat 1 gram. yaitu : 1. 2. KESIMPULAN 1.227 ml.Untuk melakukan perhitungan.Percobaan yang terakhir yaitu penentuan larutan sampel 25% yang diambil 5ml dan diencerkan menjadi 250 ml diambil 10 ml untuk sampelnya dan setelah dilakukan titrasi ternyata dihabiskan volume NaOH rata sebanyak 12.1 N dapat dilakukan dengan pengenceran.didapat hasil bahwa diperlukan HCl sebanyak 1.Normalitas HCl sebesar 0. karbonat dan bikarbonat dalam sampel yang digunakan.05 ml.serta prosen HCl pekat nya. Untuk menentukan kadar asam asetat dalam contoh (sampel).37 gr/mol. Larutan indikator yang digunakan disesuaikan dengan metode titrimetri yang dilakukan.berat molekul HCl pekat.Pembuatan NaOH 0. Tujuan Tujuan dari percobaan ini.906 gram dan berat jenis Borat sebesar 381.diperoleh perubahan warna dari merah muda menjadi kuning. titrasi pengendapan dan titrasi kompleksometri.0811 N Laporan Titrasi Asidimetri dan Alkalimetri BAB I PENDAHULUAN A. .massa jenis HCl pekat .

Asam lemah berdisosiasi hanya sedikit pada konsentrasi sedang bahkan pada konsentrasi rendah. Syaratnya adalah reaksi harus berlangsung secara cepat. Suatu inidikator haruslah tersedia atau beberapa metode secara instrumen dapat digunakan untuk memberitahu analisis kapan penambahan titran dihentikan. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. pembuatan suatu kurva titrasi akan membantu pemahaman untuk titrasi asam basa suatu kurva titrasi terdiri dari suatu alur pH atau pOH versus mL titran. 1990) . (Bassett. Sedangkan untuk titrasi atau pengukuran lain-lain sering juga dipakai akhiran –ometri menggantikan –imetri. titrasi redoks. Dengan kata lain.Rabu. misalnya larutan asam oksalat. Metode volumetri diklasifikasikan menjadi titrasi asam-basa. (Day dan Underwood. Konsentrasi larutan yang tidak diketahui (analit) kemudian dihitung. 1999). Kata metri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu atau proses atau seni mengukur. 1994). kedokteran dan pertanian. 1. 1990). 1986). NaOH. Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. larut dan stabil serta akan menunjukkan perubahan warna yang kuat. suatu reaksi memenuhi persyaratan berikut sebelum digunakan. 1. Kesetimbangan asam basa merupakan suatu topik yang sangat penting dalam kimia dan bidang-bidang lain yang mempergunakan kimia. Asam dan basa tersebut memiliki sifat-sifat yang menyebabkan konsentrasi larutannya sukar bahkan tidak mungkin dipastikan langsung dari proses hasil pembuatan atau pengencerannya. Reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri adalah salah satu dari empat golongan utama dalam penggolongan reaksi dalam analisis titrimetri. (Keenan. Dalam menguji suatu reaksi untuk menetapkan apakah reaksi itu dapat digunakan untuk suatu titrasi. biasanya merupakan zat organik (Khopkar. Asam didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. Analisis volumetri juga dikenal sebagai titrimetri. Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa. 1990). 3. Reaksi berjalan cepat (dalam beberapa menit saja). 1. Tidak boleh ada reaksi samping. 2. Indikator asam basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu. Reaksi harus berjalan sampai boleh dikatakan lengkap pada titik ekivalensi. Semua metoda titrimetri tergantung pada larutan standar yag mengandung sejumlah reagen persatuan volume larutan dengan ketepatan yang tinggi. Dari kumpulan reaksi kimia yang dikenal relatif sedikit yang dapat digunakan sebagai dasar untuk titrasi. Makin kuat asam. tetapan keseimbangan reaksi harus sangat besar. Pereaksi atau larutan yang selalu dijumpai di laboratorium dimana pembakuannya dapat ditetapkan berdasarkan pada prinsip netralisasi asam – basa (melalui asidi – alkalimetri) diantaranya adalah HCl. (Khopkar. seperti biologi. 1990). karena itu ia merupakan elektrolit kuat. Indikator asam basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH. titrasi akan melibatkan pengukuran yang seksama volume-volumenya suatu asam dan suatu basa yang tepat akan saling menetra1kan (Keenan. titrasi pengandapan dan titrasi kompleksometri (Khopkar. 1999). Beberapa metode harus tersedia untuk menetapkan kapan titik ekivalensi tercapai. Kuat relatif asam dan basa dalam larutan bergantung pada afinitas mereka terhadap proton yang berlainan. di mana zat dibiarkan bereaksi dengan zat yang lain yang konsentrasinya diketahui dan dialirkan dari buret dalam bentuk larutan. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion OH. KOH dan sebagainya. Asam kuat berdisosiasi hampir sempurna dengan pengenceran yang sedang. LANDASAN TEORI Berdasarkan atas hasil reaksi antara analit dengan larutan standar maka analisis volumetrik dibagi menjadi titrasi netralisasi (asam basa) yang terdiri dari alkalimetri dan asidimetri. Pengertian asidimetri dan alkalimetri secara umum ialah titrasi yang menyangkut asam dan basa. dengan suatu basa standar (alkalimetri). Asidi-alkalimetri berperan penting dalam berbagai bidang kehidupan. Titrasi yang menyangkut asam dan basa sering disebut asidimetri – alkalimetri. Asidi alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai ion positif. Oleh karena itu. (Day dan Underwood. basa dan garam.sebagai ion negatif. Kurva semacam itu membantu dalam mempertimbangkan kelayakan suatu titrasi dan dalam memilih indikator yang tepat. Sedangkan basa secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. makin lemah basa konjugatnya. 03 Okt 2012 Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. Larutan ini disebut larutan standar sekunder yang konsentrasinya ditentukan melalui pembakuan dengan suatu standar primer. 1994). (Svehla. (Keenan. Asidimetri merupakan titrasi terhadap larutan basa bebas dan larutan garam terhidrolisis dari asam lemah. Sedangkan alkalimetri merupakan titrasi terhadap larutan asam bebas dan larutan garam terhidrolisis dari basa lemah. dengan suatu standar (asidimetri) dan titrasi asam bebas yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah. 1994). 4. reaksi berlangsung kuantitatif dan tidak ada reaksi samping. H2SO4.2 Dasar Teori Dalam analisis larutan asam dan basa. Reaksi harus berjalan sesuai dengan suatu persamaan reaksi tertentu. untuk lebih memahami konsep peniteran asidi – alkalimetri dan mengetahui konsentrasi standar dari zat yang dianalisa maka perlu dilakukan peniteran dengan menggunakan suatu standar primer. Reaksi-reaksi ini melibatkan senyawa ion hidrogen dan ion hidroksida untuk membentuk air.

Percobaan ini bertujuan untuk membuat larutan standar HCl 0. ataupun pengukuran dengan asam (yang diukur jumlah basa atau garamnya).1 PENDAHULUAN 1.dan penentuan nilai konsentrasi larutan. PERCOBAAN 1 ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI 1. dalam pengamatan dan penghitungannya tergantung pada ketelitian masing-masing individu (http://www. larutan standar. Ditetesi hingga terjadi perubahan warna dari larutan indikator. Selain itu dalam percobaan ini digunakan metode titrimetri untuk menganalisa kadar suatu sampel dengan proses asidimetri maupun alkalimetri. dengan larutan uji. Kesalahan titk akhir adalah kesalahan acak yang berbeda ntuk setiap sistem.1 N dan menetapkan konsentrasi larutan tersebut dengan cara standarisasi dengan larutan borax dan natrium karbonat anhidrous.org). 1. begitu pula sebaliknya. 1995).com) ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI ABSTRAK Asidimetri adalah analisa titrimetri yang menggunakan asam kuat sebagai titrannya dan sebagai analitnya adalah basa atau senyawa yang bersifat basa. Dengan menggunakan cara ini terdapat beberapa kelemahan antara lain kesalahan paralaksi dan memerlukan waktu yang relatif lama untuk perhitungan atau penentuan nilai konsentrasi larutan. Larutan yang biasa digunakan dalam analisa ini adalah NaOH karena harganya relatif murah. biasanya cara umum yang sering dilakukan adalah dengan menetesi larutan yang diuji. Kata Kunci : asidimetri. Pada pengukuran konsentrasi larutan dengan menggunakan metode titrasi asam-basa. 3.2 DASAR TEORI Dalam analisis larutan asam dan basa. Sedangkan alkalimetri pada prinsipnya adalah analisa titimetri yang menggunakan basa kuat sebagai titrannya dan analitnya adalah asam atau senyawa yang bersifat asam. Metode pengukuran konsentrasi larutan menggunakan metode titrasi (titrasi asam-basa) yaitu suatu penambahan indikator warna pada larutan yang diuji. apabila terjadi perubahan warna yang disebut titik akhir maka penetesan larutan uji dihentikan (http://chem-is-try. KOH. 1. Kemudian nilai konsentrasi larutan yang diuji dihitung berdasarkan cara yang telah ditetapkan dalam metode titrasi.1 N serta menetapkan konsentrasi larutan standar HCl dengan cara standarisasi dengan larutan borax (Na2B4O7. Dengan menggunakan metode potensiometri dan konduktometri. kesalahan titik akhir ditekan sampai nol (Rivai.net/index). Dalam percobaan ini larutan dibuat dengan cara pengenceran kemudian dilakukan titrasi dengan larutan-larutan standar tertentu sehingga didapatkan harga konsentrasi dari larutan hasil pengenceran tersebut. Membuat larutan standar HCl 0.kimia-lipi. Dari hasil percobaan didapatkan larutan hasil standarisasi HCl adalah 0.1. Karena setiap individu dengan individu yang lainnya relatif berbeda. Kesalahan ini bersifat aditif dan determinan dan nilainya dapat dihitung. Perbedaan titik akhir dan titik ekivalen disebut sebagai kesalahan titik akhir.1 Tujuan Percobaan Tujuan percobaan ini adalah : 1.75 %. membuat larutan standar primer asam oksalat dan menentukan kadar asam cuka yang diperdagangkan. Menentukan kadar asam dalam asam cuka yang diperdagangkan serta menentukan kadar NH3 dalam garam ammonium (NH4Cl). kemudian ditetesi dengan larutan yang merupakan kebalikan asam-basanya. alkalimetri. juga dalam pengendalian proses yang berlangsung.2 Latar Belakang Pada prinsipnya asidimetri adalah analisa titrimetri yang menggunakan asam kuat sebagai titrannya dan sebagai analitnya adalah basa atau senyawa yang bersifat basa.elektroindonesia.0662 N dan 0. Jadi apabila larutan tersebut merupakan larutan asam maka harus diberikan basa sebagai larutan ujinya.24 %. perhitungannya dilakukan secara manual. Indikator yang sering digunakan dalam percobaan asidimetri dan alkalimetri adalah indikator metil merah dan metil orange untuk asidimetri karena skala pH pada kedua indikator memang berkisar pada larutan yang bersifat asam dan indikator PP untuk alkalimetri karena skala pH pada indikator PP berkisar pada larutan yang bersifat basa. Sedangkan alkalimetri pada prinsipnya adalah analisa titrimetri yang menggunakan basa kuat sebagai titrannya dan analitnya adalah asam atau senyawa yang bersifat asam. Pada metode ini mata manusia memegang peranan penting dalam pengamatan terjadinya perubahan warna. Pemilihan metode ini dipakai karena merupakan metode yang sederhana dan sudah banyak digunakan dalam laboratorium maupun industri (riset dan pengembangan).0113 N. 2. Larutan yang biasa dipakai sebagai titran dalam alkalimetri adalah NaOH. karena metoda ini dapat menjadi metoda acuan untk metoda pengukuran lainnya (http://www. yang sebelumnya telah diberi larutan indikator.867 N dan larutan hasil standarisasi NaOH adalah 0. Sedangkan kadar asam cuka yang diteliti adalah 0. Teknik Volumetri dan Gravimetri menjadi alternatif metoda analisis yang mempunyai ketertelusuran tertinggi.1. serta kadar NH3 yang terkandung dalam 0. dan Ba(OH)2 yang merupakan larutan baku standar sekunder.10H2O) dan Na2CO3 anhidrous. karena metoda tersebut mempunyai ketertelusuran yang terdekat ke standar nasional maupun standar internasional. Membuat larutan standar NaOH dan standarisasi dengan asam oksalat. Untuk dapat melakukan analisis secara volumetri dan gravimetri yang baikdan benar diperlukan pengetahuan yang cukup.Titrasi biasanya merupakan larutan elektrolit kuat seperti NaOH dan HCl yang diperlukan untuk bereaksi sempurna oleh zat yang dianalisis yang disebut sebagai titik ekivalen.2 gram NH4Cl adalah sebesar 10. titrasi akan melibatkan pengukuran yang seksama volume-volumenya suatu asam dan .

Air murni tidak mempunyai rasa. bereaksi dengan t molekul pereaksi. larutan dibagi tiga. 1994). air dapat tersa asam. 1990). 1999). tetapi bisa juga tidak. yang bila dilarutkan dalam iar. di mana zat dibiarkan bereaksi dengan zat yang lain yang konsentrasinya diketahui dan dialirkan dari buret dalam bentuk larutan. Dari kumpulan reaksi kimia yang dikenal relatif sedikit yang dapat digunakan sebagai dasar untuk titrasi. air adalah elektrolit lemah dan bila H3O+ disederhanakan menjadi H+. Indikator adalah zat warna larut yang perubahan warnanya tampak jelas dalam rentang pH yang sempit. Basa. Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat. Asam kuat berdisosiasi hampir sempurna dengan pengenceran yang sedang. yang disebut titran. reaksi berlangsung kuantitatif dan tidak ada reaksi samping (Khopkar. Tidak boleh ada reaksi samping. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion-ion hidroksil sebagai satu-satunya ion negatif (Svehla. Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. yang bereaksi terhadap kehadiran titran yang berlebih dengan melakukan perubahan warna. Dengan kata lain. Makin kuat asam. 3. 4. Suatu inidikator haruslah tersedia atau beberapa metode secara instrumen dapat digunakan untuk memberitahu analisis kapan penambahan titran dihentikan. Untuk indikator asam-basa biasanya dibuat dalam bentuk larutan Indikator asam basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu.A. Beberapa metode harus tersedia untuk menetapkan kapan titik ekivalensi tercapai. yang terasa asin disebut larutan garam. Perubahan warna indikator mencerminkan pengaruh asam dan basa lainnya yang terdapat dalam larutan (Oxtoby. Reaksi harus berjalan sampai boleh dikatakan lengkap pada titik ekivalensi. tetapi perkaliannya tetap 10-14. Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. 2001). Larutan ini disebut larutan standar. yaitu : Larutan asam : [H+] > [OH-] Larutan netral : [H+] = [OH-] = 10-7 Larutan basa : [H+] < [OH-] (Syukri. Hal yang sama akan terjadi bila air ditambah bas sehingga dicapai kesetimbangan baru dengan nilai [OH-] > [H+] dan perkaliannya tetap 10-14. berarti menambahkan jumlah H+. Hal itu disebabkan oleh terjadinya rekasi asam basa sesama molekul air (autoionisasi) dan membentuk kesetimbangan : H2O + H2O H3O+ + OHDengan kata lain. ditambahkan secara kontinu. Agar diketahui kapan harus berhenti menambahkan titran. yang bila dilarutkan dalam air.suatu basa yang tepat akan saling menetra1kan. konsentrasi H+ lebih besar dari pada OH-. pahit. makin lemah basa konjugatnya. A. Perubahan warna ini bisa saja terjadi persis pada titik ekivalen . bau. 1999). dan sebagainya. Penambahan dari titran tetap dilakukan sampai jumlah T secara kimiawi sama dengan yang telah ditambahkan kepada A. pembuatan suatu kurva titrasi akan membantu pemahaman untuk titrasi asam basa suatu kurva titrasi terdiri dari suatu alur pH atau pOH versus ml titran. rekasinya adalah sebagai berikut HA + OH. Reaksi-reaksi ini melibatkan senyawa ion hidrogen dan ion hidroksida untuk membentuk air (Bassett. Reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri adalah salah satu dari empat golongan utama dalam penggolongan reaksi dalam analisis titrimetri. 1979). maka dapat menggunakan bahan kimia. basa. Pada kesetimbangan baru. Air yang mengandung zat lain dapat pula menjadi warna. Jenis indikator yang khas adalah asam organik yang lemah yang mempunyai warna berbeda dari basa konjugatnya. sedangkan yang terasa licin dan pahit disebut larutan basa (Syukri. Cairan yang berasa asam disebut larutan asam. dengan suatu basa standar (alkali metri). dengan suatu standar (asidimetri) dan titrasi asam bebas yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah. larut dan stabil serta akan menunjukkan perubahan warna yang kuat. dan konsentrasinya ditentukan dengan sebuah proses yang dinamakan standarisasi. 2. Indikator asam basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH. Air mengandung ion dalam jumlah kecil sekali. dan warna. karena itu ia merupakan elektrolit kuat. Kuat relatif asam dan basa dalam larutan bergantung pada afinitas mereka terhadap proton yang berlainan. Asam-Basa. dan akan menggeser kesetimbangan ke kiri sampai tercapai kesetimbangan baru. biasanya dari sebuah buret. 1990). Berdasarkan konsentrasi ion tersebut. tetapan keseimbangan reaksi harus sangat besar.+ H2O . 1999). selanjutnya akan dikatakan titik ekivalen dari titrasi telah dicapai. maka kesetimbangan itu ditulis sebagai : H2O H+ + OHJika larutan mengandung asam. Asam didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. dalam wujud larutan yang konsentrasinya diketahui. Pereaksi T. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa. T. Analisis volumetri juga dikenal sebagai titrimetri. Titik dalam titrasi dimana indikator berubah warnanya disebut titik akhir ( Day dan Underwood). 1990). Indikator yang baik mempunyai intensitas warna yang sedemikian rupa sehingga hanya beberapa tetes larutan indikator encer yang harus ditambahkan ke dalam larutan yang sedang diuji. Reaksi harus berjalan sesuai dengan suatu persamaan reaksi tertentu. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satusatunya ion positif. Jika HA mewakili asam yang akan ditentukan dan B mewakili basa. Konsentrasi molekul indikator yang sangat rendah ini hampir tidak berpengaruh terhadap pH larutan. Analisis titrimetrik adalah salah satu divisi besar dalam kimia analitik. Reaksi berjalan cepat (dalam beberapa menit saja) (Day dan Underwood. Bila mengandung zat tertentu. 1. suatu reaksi memenuhi persyaratan berikut sebelum digunakan. Konsentrasi larutan yang tidak diketahui (analit) kemudian dihitung. basa dan garam. Reaksi kimia yang mungkin di perlakukan sebagai basis dari penentuan titrimetrik telah dikelompokan ke dalam empat tipe : a. Perhitungan yang tercakup di dalamnya berdasarkan pada hubungan stokiometrik dari reaksi kimia yang sederhana. secara paling sederhana dapat didefinisikan sebagai zat. Ada sejumlah besar asam dan basa yang dapat ditentukan oleh titrimetri. 1999). asin. Syaratnya adalah reaksi harus berlangsung secara cepat. biasanya merupakan zat organik (Khopkar. Dalam menguji suatu reaksi untuk menetapkan apakah reaksi itu dapat digunakan untuk suatu titrasi. Analisis dengan metode titrimetrik didasarkan pada rekasi kimia seperti : aA + tT produk Di mana a molekul analit. Kurva semacam itu membantu dalam mempertimbangkan kelayakan suatu titrasi dan dalam memilih indikator yang tepat (Underwood. Asam lemah berdisosiasi hanya sedikit pada konsentrasi sedang bahkan pada konsentrasi rendah (Svehla. dan garam. yaitu indikator. Asidi alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah.

AgX (s) d. 1 Titrasi asidimetri dan alkalimetri merupakan titrasi netralisasi dimana pada titrasi ini digunakan larutan asam dan basa kuat ataupun lemah sehingga dihasilkan air yang bersifat netral. titrasi oksidimetri. Tujuan dari percobaan ini. Pengendapan dari kation perak dengan anion halogen dipergunakan secara luas dalam prosedur titremetrik.dan B + H3O+ BH+ + H2O b. karbonat dan bikarbonat dalam sampel yang digunakan. Berapa kadar asam asetat dalam sampel ? 2. BAB I PENDAHULUAN A. 2. Reaksi tersebut harus diproses sesuai persamaan kimiwai tertentu. Diharapkan reaksi berjalan cepat. Pembentukan kompleks. yaitu : Untuk menentukan kadar asam asetat dalam contoh (sampel). . Contoh dari reaksi di mana terbentuk suatu kompleks antara ion perak dan sianida : Ag+ + 2 CN. Pengendapan. Oksidasi-reduksi (redoks). maka dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar asam asetat. Rumusan Masalah Rumusan masalah dari percobaan ini. Sebuah reaksi harus memenuhi beberapa persyaratan sebelum reaksi tersebut dapat dipergunakan : a. Untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran. d. Sebagai contoh. besi dengan tingkat oksidasi +2 dapat dititrasi dengan sebuah larutan standar dari serium (IV) sulfat : Fe2+ + Ce 4+ Fe3+ + Ce3+ c. 1999). B. b. 2001). Seharusnya tidak ada sampingan. realtif sedikit reaksi kimia yang dapat dipergunakan sebagai basis untuk titrasi. Dalam metode titrimetri ini. Tujuan 1. Harus tersedia beberapa metode untuk menentukan kapan titik ekivalen tercapai. Titrasi ini dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi atau kadar dari asam/basa kuat ataupun lemah yang dititrasi dengan basa/asam lemah ataupun kuat. Berapa kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran ? C. Larutan indikator yang digunakan disesuaikan dengan metode titrimetri yang dilakukan. yaitu : titrasi asidi-alkalimetri.Ag (CN)-2 (Oxtoby. Reaksi tersebut harus diproses sampai benar-benar selesai pada titik ekivalensi. Latar Belakang Titrasi merupakan suatu metode analisis kuantitatif untuk menentukan konsentrasi dari suatu larutan menggunakan larutan lain yang telah distandarisasi atau larutan yang konsentrasinya telah diketahui. Metode titrimetri atau yang juga dikenal dengan metode volumetri secara garis besar diklasifikasikan dalam empat kategori berdasarkan jenis reaksinya. Sejauh ini. c. sehingga titrasi dapat diselesaikan dalam beberapa menit (Day dan Underwood. larutan yang akan ditentukan konsentrasinya disebut larutan analit sedangkan larutan yang diketahui konsentrasinya disebut titran. yaitu : 1. Reaksinya adalah sebagai berikut Ag+ + X. Penambahan titran ke dalam analit dilakukan hingga tercapat titik ekivalen dimana akan terjadi perubahan warna dari larutan indikator. Berdasarkan latar belakang ini. titrasi pengendapan dan titrasi kompleksometri. Reaksi kimia yang melibatkan oksidasi-redoksi dipergunakan secara luas dalam analitis titrimetrik.

kompleksometri dan titrasi pengendapan. misalnya penetapan ion besi(II) (Fe2+) dalam analit dengan menggunakan titran larutan standar cesium(IV) (Ce 4+) yang mengikuti persamaan reaksi : Fe2+ + Ce4+  Fe3+ + Ce3+ Oksidator lain yang banyak digunakan dalam oksidimetri adalah kalium permanganat (KMnO 4). al. Analisis volumetri atau titrimetri berdasarkan pada reaksi : aA + tT ↔ Hasil dimana a molekul analit A bereaksi dengan t molekul pereaksi T (titran). (2005). Reagen lain adalah EDTA (etilen diamina tetraasetat) yang banyak digunakan sebagai pengompleks berbagai ion logam melalui metode titrasi. et. Analit yang mengandung spesi reduktor dititrasi dengan titran yang berupa larutan standar dari oksidator atau sebaliknya. 3. Kompleksometri didasarkan pada pembentukan kompleks stabil hasil reaksi antara analit dengan titran. yang diperlukan untuk bereaksi dengan analit (zat yang akan ditentukan). A. titran asam) Titran umumnya berupa larutan standar asam kuat atau basa kuat. maka reaksi antara analit dengan titran dapat dirumuskan secara umum sebagai berikut : HA + OH. AgX(s) (X. Br-. titran basa) BOH + H3O+  B+ + 2H2O (analis basa. Berdasarkan jenis reaksinya. yaitu: asidi-alkalimetri. .[2] 2. Serta faktor yang paling penting adalah ketepatan dalam pemilihan indikator agar kesalahan titrasi yang terjadi menjadi sekecil mungkin. Berbagai reaksi redoks dapat digunakan sebagai dasar reaksi oksidimetri. oksidimetri. 4. Titrasi pengendapan didasarkan reaksi pengendapan analit oleh larutan standar titran yang mampu secara spesifik mengendapkan analit. Larutan analit yang berupa larutan asam dititrasi dengan titran yang berupa larutan basa atau sebaliknya. Metode ini cukup luas penggunaannya untuk penetapan kuantitas analit asam atau basa. Reaksi antara Ag+ dengan CN. Oksidimetri didasarkan pada reaksi oksidasi – reduksi antara analit dan titran. yang reaksi umumnya dapat dinyatakan dengan persamaan : Ag+ + X. Jika HA mewakili asam dan BOH mewakili basa. Metode Titrimetri Analisis volumetri atau titrimetri merupakan suatu analisis berdasarkan pengukuran volume larutan dengan konsentrasi yang diketahui.[1] Menurut M. standarisasi dilakukan dengan cara menitrasi larutan tersebut dengan larutan standart primer. misalnya larutan asam klorida (HCl) dan larutan natrium hidroksida (NaOH).BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. 1. Sodiq Ibnu.+ H2O (analit asam. Larutan standar primer yaitu suatu zat yang sudah diketahui kemurniannya dengan pasti.= Cl-. maka metode titrimetri dapat dibagi menjadi 4 golongan. jenis metode titrimetri didasarkan pada jenis reaksi kimia yang terlibat dalam proses titrasi. misalnya pada penetapan kadar ion besi(II) dalam suasana asam. Larutan standar sekunder adalah suatu zat yang tidak murni atau kemurniannya tidak diketahui. SCN-) Dalam titrasi juga perlu diperhatikan larutan standar primer dan larutan standar sekunder. I-. konsentrasi larutannya hanya dapat diketahui dengan teliti melalui proses standarisasi. 3 Asidi-alkalimetri didasarkan pada reaksi asam basa atau prinsip netralisasi. Misalnya reaksi antara Ag+ dan CNyang mengikuti persamaan reaksi : Ag+ + 2CN. Metode ini banyak digunakan untuk menetapkan kadar ion halogen dengan menggunakan pengendap Ag +.dikenal sebagai metode Liebig untuk penetapan sianida. konsentrasinya dapat diketahui dengan pasti dan teliti berdasarkan berat zat yang dilarutkan.

B. Campuran antara 3 bagian fenolftalein (0. Indikator ini dapat digunakan untuk menitrasi asam asetat dengan larutan amonia atau kebalikannya.0 – 9. Indikator ini baik untuk titrasi asam fosfat dari tribasik menjadi dibasik yang mana titik ekivalennya terjadi pada pH 8. Tabel 1.0 Tak berwarna Merah Timolftalein 9.5 Tak berwarna Biru Menurut Achmad Mursyidi dan Abdul Rohman (2008).1 % larutan dalam etanol) dengan 1 bagian alfa naftoftalein (0.2 – 10.1 – 7.3.3 Merah Kuning Ungu bromkresol 5. menunjukkan daftar berbagai macam indikator dengan jarak perubahan warna serta warna-warna yang terjadi pada perubahan tersebut.2 – 6.1 % larutan garam natriumnya) akan memberikan perubahan warna dari kuning ke ungu pada pH 8.2 – 8. Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa.3 – 10.4 Jingga Metil Hijau bromkresol 3.6 Kuning Biru Jingga metal 3. selain indikator tunggal dalam asidi-alkalimetri juga digunakan indikator campuran dengan tujuan untuk memberikan perubahan warna yang tajam pada titik akhir titrasi. Baik asam atau basa kekuatannya hampir sama akibatnya titik ekivalen akan berada pada pH kira-kira 7.4 – 4.8 Kuning Ungu Biru bromtimol 6.0 – 4.7. Campuran merah netral (0.6 Kuning Biru Merah fenol 6.8 – 5.4 Kuning Merah Merah kresol 7. .1 % dalam etanol) memberikan perubahan warna yang tajam dari merah muda ke ungu pada pH 8. stabil dan menunjukkan perubahan warna yang kuat serta biasanya adalah zat organik.0 Merah Kuning Biru bromfenol 3. 3.1 – 4. Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya indikator menunjukkan warna pada range pH yang berbeda.8 – 8. Indikator yang biasa digunakan dalam asidi-alkalimetri[4] Warna Indikator Trayek pH Asam Basa Kuning metal 2. Indikator campuran ini baik untuk titrasi karbonat menjadi bikarbonat.1 % larutan dari garam natriumnya) dengan 1 bagian kresol merah (0. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron.1 % dalam etanol) yang sama banyak memberikan perubahan warna yang tajam dari biru violet menjadi hijau ketika beralih dari larutan asam menjadi larutan basa pada pH sekitar 7.1 % dalam etanol) dan biru metilen (0.6 Kuning Biru Fenolftalein 8.[3] Tabel 1.8 Kuning Merah Biru timol 8. Indikator Indikator asam-basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu. Beberapa contoh indikator campuran adalah : 1. Campuran dari 3 bagian biru timol (0.2 – 6. Indikator asam-basa terletak pada titik ekuivalen dan ukuran dari pH.9. larut.4 Kuning Biru Merah metal 4. 2.

umumnya digunakan natrium hidroksida. Semua masalah yang berkaitan dengan titrasi asam basa dapat dipecahkan dengan konsep stoikiometri dan konsentrasi larutan yang dinyatakan dengan mol. Titrasi alkalimetri dengan larutan standar basa NaOH[7] Analit bersifat asam pH mula-mula rendah. Larutan-larutan ini mudah menyerap karbon dioksida dari udara. kalium hidroksida dan barium hidroksida. Titik akhir titrasi sering disamakan dengan titik ekivalen. penambahan basa menyebabkan pH naik secara perlahan dan bertambah cepat ketika akan mencapai titik ekuivalen (pH = 7). H2SO4 (aq) + 2NaOH (aq)  Na2SO4 (aq) + 2H2O (l) Dalam titrasi asam-basa perubahan pH sangat kecil hingga hampir tercapai titik ekivalen. Titrasi Asidimetri dan Alkalimetri Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Semua larutan baku alkali harus sering dibakukan ulang. maka larutan bali alkali dibuat bebas karbonat dan untuk melindungi itu dari pengaruh karbon dioksida dari udara maka penyimpanannya dilengkapi dengan “soda lime tube”. juga diperoleh informasi indikator yang tepat untuk digunakan dalam titrasi ini dengan kisaran pH pH 7 – 10 (Tabel 1). Asam sulfat lebih disukai untuk titrasi menggunakan pemanasan karena kemungkinan terjadinya penguapan pada pemanasan asam klorida yang dapat menimbulkan bahaya. Gambar 1. Sebaliknya alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa. Titik atau kondisi penambahan asam atau basa dimana terjadi perubahan warna indikator dalam suatu titrasi dikenal sebagai titik akhir titrasi. Penambahan selanjutnya menyebakan larutan kelebihan basa sehingga pH terus meningkat.[6] Dalam melakukan titrasi netralisasi kita perlu secara cermat mengamati perubahan pH.C. Pada saat tercapai titik ekivalen.[8] Larutan baku asam yang sering digunakan dalam asidi-alkalimetri umumnya dibuat dari asam klorida dan asam sulfat. penambahan sedikit asam atau basa akan menyebabkan perubahan pH yang besai ini seringkali dideteksi dengan zat yang dikenal sebagai indikator. jumlah relatif asam dan basa yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen ditentukan oleh perbandingan mol asam (H+) dan basa (OH-) yang bereaksi. perbandingan mol. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima proton (basa). akan tetapi asam klorida lebih disukai daripasa asam sulfat terutama untuk senyawasenyawa yang memberikan endapan dengan asam sulfat seperti barium hidroksida. molaritas atau normalitas. Untuk reaksi antara HCl dengan NaOH titik ekivalen tercapai pada perbandingan mol 1:1 tetapi untuk reaksi antara H2SO4 dengan NaOH diperlukan perbandingan mol 1:2 untuk mencapai titik ekivalen. walaupun diantara keduanya masih ada selisih yang relatif kecil. Dengan demikian.[5] Dalam titrasi asam-basa.[10] . khususnya pada saat akan mencapai titik akhir titrasi. Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam. hal ini dilakukan untuk mengurangi kesalahan dimana akan terjadi perubahan warna dari indikator lihat Gambar 1. Kedua asam ini dapat digunakan pada hampir semua titrasi. oleh karena itu konsentrasinya dapat berubah dengan cepat.[9] Untuk larutan baku alkali. Dari Gambar 1. Asam nitrat selalu tidak digunakan karena mengandung asam nitrit yang dapat merusak beberapa indikator.

Indikator ditambahkan pada titran sebelum proses titrasi dilakukan. Titrasi dilakukan dengan melarutkan sampel sekitar 300 mg ke dalam 100 mL air. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalent”. untuk alkalimetri telah dipergunakan untuk menentukan kadar asam sitrat. yaitu : 1. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi. Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan. Pemanfaatan teknik ini cukup luas.1 N dengan menggunakan indikator phenolftalein. pada saat inilah titrasi kita hentikan. Teknik asidimetri juga telah dimanfaatkan secara meluas misalnya dalam pengujian boraks yang sering dipergunakan oleh para penjual bakso. Selain itu alkalimetri juga dipergunakan untuk menganalisis asam salisilat. Titik akhir titrasi diketahui dari larutan tidak berwarna berubah menjadi merah muda. kemudian membuat plot antara pH dengan volume titran untuk memperoleh kurva titrasi. tidak diperlukan alat tambahan dan sangat praktis. Titrasi dengan menggunakan larutan NaOH 0.[11] . 2. Memakai indikator asam basa. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan. ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa.Menurut Indigo Morie (2008).

Mengencerkan larutan sampai tanda batas dengan aquades (H2O). Titrasi Asidimetri Menimbang 100 mg campuran karbonat dan bikarbonat menggunakan neraca analitik. b. c. g. Menitrasi larutan dengan natrium hidroksida (NaOH) sampai terbentuk warna merah muda. Titrasi Alkalimetri Memasukkan 10 mL asam asetat (CH3COOH) ke dalam labu ukur 100 mL.30 – 15. pipet volume 25 mL dan 10 mL. b. labu ukur 100 mL. e. indikator MO. aquades (H2O). botol semprot. Menitrasi larutan dengan asam klorida (HCl) sampai larutan menjaid tak berwarna. corong. Mencatat volume natrium hidroksida (NaOH) yang digunakan. Waktu dan Tempat Waktu dan tempat dilaksanakannya percobaan ini. c.1 M. i. spatula dan pipet tetes. f. Memipet 25 mL larutan dan memasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL. Menambahkan indikator MO ke dalam erlenmeyer. campuran karbonat dan bikarbonat. . h. Melarutkan campuran karbonat dan bikarbonat dengan aquades (H2O) lalu memindahkan ke dalam labu ukur 100 mL. 2. yaitu sebagai berikut : 1.0959 N.00 WITA Tempat : Laboratorium Kimia Analitik Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar B. Menambahkan 5 tetes indikator PP ke dalam erlenmeyer. Menambahkan aquades (H2O) sampai tanda batas. Bahan Bahan – bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah asam asetat (CH 3COOH) 0. erlenmeyer 250 mL. Alat dan Bahan 1. Melakukan secara duplo dan menghitung kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran. bulp. Melakukan secara duplo dan menghitung kadar asam asetat dalam sampel. menghomogenkan larutan. Menambahkan 5 tetes indikator PP ke dalam erlenmeyer. Alat Alat .0989 N.alat yang digunakan pada percobaan ini adalah buret asam 50 mL. buret basa 50 mL. Mencatat volume HCl yang digunakan. asam klorida (HCl) 0. Prosedur Kerja Prosedur kerja pada percobaan ini. C. statif dan klem. yaitu sebagai berikut : Hari/Tanggal : Rabu/ 30 Mei 2012 Pukul : 13. Memipet 25 mL larutan asam asetat (CH3COOH) yang telah diencerkan dan memasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL. 2. 12 a. e. d. Menitrasi larutan dengan asam klorida (HCl) sampai larutan berubah warna dari jingga ke merah jambu. gelas kimia 250 mL dan 100 mL. a.BAB III METODE PERCOBAAN A. g. indikator PP dan natrium hidroksida (NaOH) 0. f. d.

Titrasi alkalimetri No. Tabel Pengamatan a. yaitu sebagai berikut : 1.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Hasil pengamatan dari percobaan ini. Perlakuan Hasil 1. 3. Larutan asam asetat (CH3COOH) + indikator PP + titrasi dengan natrium hidroksida (NaOH) Larutan berwarna violet Larutan berwarna merah muda Keterangan 15 . Asam asetat (CH3COOH) + aquades Larutan berwarna bening 2.

Titrasi asidimetri No. Reaksi CH3COOH + NaOH  CH3COONa + H2O Na2CO3 + HCl  NaHCO3 + HCl NaHCO3 + HCl  NaCl + H2O + CO2 3.0989 N Ditanyakan : % CH3COOH . Perlakuan 1. + titrasi dengan asam klorida (HCl) 4.b.031 gram = 0.31 x 100 % = 31 % . ? Penyelesaian : Dalam 10 mL contoh asam terdapat : 100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg 100/25 x 0.. Campuran karbonat dan bikarbonat + aquades 2. Titrasi alkalimetri a. Simplo Diketahui : BE CH3COOH = 60 gram/grek Volume NaOH = 1.031 gram Dalam 100 mL asam asetat = x B mg Kadar asam cuka = x gram = x 0. + titrasi dengan asam klorida (HCl) Hasil Larutan berwarna bening Larutan berwarna violet Larutan berwarna bening Larutan berwarna kuning tua Larutan berwarna orange kemerahan Keterangan 2. + indikator MO 5. + indikator PP 3. Analisa Data 1.0013 L x 0.3 mL Konsentrasi NaOH = 0.31 gram % CH3COOH = x 100 % = 0.0989 grek/L x 60 g/grek = 0.

1007 gram/grek Volume HCl untuk karbonat (x mL) = 0.9 % c.033 gram = 0.036 gram Dalam 100 mL asam asetat = x B mg Kadar asam cuka = x gram = x 0.4 mL Konsentrasi NaOH = 0.111 x 100 % = 11.0014 L x 0.0959 N Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat .9) mL = 1.1 % % bikarbonat = = = 0.0959 N Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat . Rata-rata Diketahui : BE CH3COOH = 60 gram/grek Volume NaOH = = 1.0989 N Ditanyakan : % CH3COOH .0015 L x 0..0959 N Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat .0959 N = (2 x 1.003 L karbonat dalam sampel = (2x) mL HCl 0..1) mL = 2. Duplo Diketahui : BE CH3COOH = 60 gram/grek Volume NaOH = 1..33 gram % CH3COOH = x 100 % = 0.0019 L karbonat dalam sampel = (2x) mL HCl 0.033 gram Dalam 100 mL asam asetat = x B mg Kadar asam cuka = x gram = x 0.0989 grek/L x 60 g/grek = 0.0959 N = (3 – 1. Titrasi asidimetri a.1) mL = 1. ? Penyelesaian : Dalam 10 mL contoh asam terdapat : 100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg 100/25 x 0.9 mL = 0. Simplo Diketahui : Berat sampel = 0. ? Penyelesaian : bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0.5 mL Konsentrasi NaOH = 0.9 mL Konsentrasi HCl = 0. Duplo Diketahui : Berat sampel = 0.9 mL Volume HCl untuk bikarbonat (y mL) = 3.0018 L % karbonat = = = 0. ? Penyelesaian : Dalam 10 mL contoh asam terdapat : 100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg 100/25 x 0.2 mL = 0.36 gram % CH3COOH = x 100 % = 0.9) mL = 3 mL = 0.8 mL = 0.091 x 100 % = 9.0989 grek/L x 60 g/grek = 0..0959 N = (3.1007 gram/grek Volume HCl untuk karbonat (x mL) = = 1 mL Volume HCl untuk bikarbonat (y mL) = = 3.0989 N Ditanyakan : % CH3COOH . Rata-rata Diketahui : Berat sampel = 0.36 x 100 % = 36 % c.9 – 0. ? .1 mL Volume HCl untuk bikarbonat (y mL) = 3 mL Konsentrasi HCl = 0.1 % % bikarbonat = = = 0.1007 gram/grek Volume HCl untuk karbonat (x mL) = 1.33 x 100 % = 33 % 2.0959 N = (2 x 0.152 x 100 % = 15.. ? Penyelesaian : bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0.036 gram = 0.2 % b.0022 L % karbonat = = = 0.b.239 x 100 % = 23.45 mL Konsentrasi HCl = 0.

Penyelesaian : bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0.1 % % bikarbonat = = = 0.45 mL = 0.6 % .00245 L karbonat dalam sampel = (2x) mL HCl 0.45 – 1) mL = 2.196 x 100 % = 19.101 x 100 % = 10.002 L % karbonat = = = 0.0959 N = (3.0959 N = (2 x 1) mL = 2 mL = 0.

Setelah penambahan indikator. Dapat dikatakan bahwa.B. penitrasian dilakukan dengan asam klorida (HCl) hingga larutan berubah menjadi tak berwarna. maka larutan campuran tadi ditambahkan dengan metil orange (trayek 3. Pembahasan Pada praktikum ini dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran serta kadar asam asetat (CH3COOH) dengan natrium hidroksida (NaOH). kadar asetat yang diperoleh dari percobaan secara simplo adalah 31 % dan 36 % pada titrasi secara duplo. menurut persamaan reaksi : Na2CO3 + HCl  NaHCO3 + HCl Untuk menentukan kadar bikarbonat.1 % dan 15.9 %.1 – 4. Penambahan titran natrium hidroksida (NaOH) membuat larutan mengalami perubahan warna menjadi merah muda.2 %. sesuai persamaan reaksi : NaHCO3 + HCl  NaCl + H2O + CO2 Berdasarkan hasil analisa data. Proses titrasi pada larutan membuat larutan berubah warna menjadi orange kemerahan sehingga dapat dikatakan bahwa larutan telah bersuasana basa. Kadar karbonat rata-rata yang diperoleh adalah 10. larutan yang memiliki nilai pH di bawah 8. Penambahan indikator membuat perubahan warna larutan menjadi violet. Untuk titrasi rata-rata diperoleh kadar asam asetat (CH3COOH) sebesar 33 %. Reaksi antara asam asetat (CH 3COOH) dengan natrium hidroksida menghasilkan garam dan air yang bersifat netral. sesuai dengan reaksi di bawah ini : CH3COOH + NaOH  CH3COONa + H2O Berdasarkan hasil analisa data. Reaksi antara natrium bikarbonat dengan asam klorida (HCl) menghasilkan garam berupa natrium klorida (NaCl). air yang bersifat netral serta uap karbondioksida. Pada titrasi secara duplo adalah 9.5). Penetapan kadar asam asetat (CH3COOH) dengan natrium hidroksida (NaOH) merupakan titrasi alkalimetri untuk menitrasi asam lemah dengan basa kuat.3 cenderung akan memberikan larutan tak berwarna dan akan berubah menjadi merah dalam larutan yang memiliki nilai pH di atas 10. Indikator phenolphthalein digunakan dalam titrasi ini karena indikator ini memiliki rentang trayek pH pada suasana basa yaitu : 8.1 % dan kadar bikarbonat rata-rata yang diperoleh adalah 19. Awalnya larutan bersuasana asam akibat pH dari larutan asam asetat (CH 3COOH) yang digunakan bernilai rendah. Perubahan warna larutan menjadi tak berwarna menandakan bahwa larutan telah bersuasana asam dimana pada pH di bawah 8. larutan telah sedikit melewati titik akhirnya sehingga volume natrium hidroksida (NaOH) yang digunakan lebih banyak dan mempengaruhi perhitungan kadar asam asetat (CH3COOH) dalam sampel.3 larutan akan berubah menjadi tak berwarna. Penitrasian kembali dilakukan dengan asam klorida (HCl) sehingga larutan mengalami perubahan warna. Penambahan indikator pada larutan membuat larutan berubah warna menjadi violet. Penetapan kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran dilakukan menggunakan metode titrasi asidimetri menggunakan larutan asam klorida (HCl).5 karena indikator metil orange berdasarkan teori akan berwarna merah apabila memiliki pH kurang dari 3. .0 sehingga apabila larutan telah bersuasana basa maka indikator akan mengalami perubahan warna menjadi biru.1 % dan 23.1 dan berubah warna menjadi kuning pada pH di atas 4. Penambahan indikator phenolphthalein pada larutan campuran berfungsi sebagai zat penunjuk yang digunakan karena larutan campuran memiliki pH di atas 7 atau berada dalam suasana basa sehingga larutan akan memberikan warna merah secara teori dalam suasana basa. Berdasarkan trayek pH indikator phenolphthalein.5. Perbedaan kadar yang diperoleh pada titrasi secara simplo dan duplo disebabkan karena pada salah satu titrasi. Reaksi antara larutan campuran dengan asam klorida (PP) membuat natrium karbonat bereaksi dengan asam klorida (HCl) menghasilkan natrium bikarbonat (NaHCO 3) dan natrium klorida (NaCl). larutan berubah warna menjadi kuning yang menandakan bahwa larutan memiliki pH di atas 4.3 – 10.6 %. larutan telah memiliki pH di atas 7. kadar karbonat dan bikarbonat pada titrasi secara simplo berturut-turut adalah 11. Dalam titrasi ini digunakan indikator phenolphthalein yang berfungsi sebagai zat penunjuk yang akan memberikan perubahan warna saat titik akhir titrasi telah tercapai.

1 % untuk kadar karbonat dan 15. yaitu sebagai berikut : Kadar asam asetat yang diperoleh secara simplo adalah 31 % dan 36 % pada titrasi secara duplo. sedangkan kadar asam asetat rata-rata yang diperoleh adalah 33 %. B. Saran Saran dari percobaan ini adalah sebaiknya pada percobaan selanjutnya dilakukan titrasi alkalimetri untuk menentukan konsentrasi atau kadar dari asam poliprotik yang dititrasi dengan basa kuat sehingga dapat diketahui perbedaan titrasi alkalimetri dengan asam lemah dan asam poliprotik.2 %. Untuk titrasi secara duplo.BAB V PENUTUP A.1 % dan 19. 1. Kesimpulan Kesimpulan dari percobaan ini.2 % untuk kadar bikarbonat.1 % serta kadar bikarbonat adalah 15. 2.6 %. Kadar karbonat dan bikarbonat rata-rata yang diperoleh masing-masing adalah 10. 26 . 9. Kadar karbonat yang diperoleh secara simplo adalah 11.

h. 27 Desember 2010. Konsep Dasar Kimia Analitik.scribd. h. Sodiq Ibnu. Achmad dan Abdul Rohman. Jakarta: Universitas Indonesia. h. Indigo. et al.. Intan Wilyta. loc.org/materi_kimia/kimiakesehatan/pemisahan-kimia-dan-analisis/titrasi-asam-basa/. http://www.com. 2010). Penuntun Praktikum Kimia Analitik. Konsep Dasar Kimia Analitik (Jakarta: Universitas Indonesia. Wa Ode Rustiah dan Anna Handayani. cit. Volumetri dan Gravimetri. “Titrasi Asam Basa”. 30 Oktober 2011. “Asidimetri”. 2010 Mursyidi.2012). http://www. M. 2005). 2005 Khopkar. cit. Chem-is-try. M.com/doc/70246435/asidimetri. Diakses pada tanggal 31 Mei 2012 Wilyta. 19 [2]Intan Wilyta. S. scribd. http://www.com. 2008). Penuntun Praktikum Kimia Analitik (Makassar: UIN Alauddin Makassar. Malang: Universitas Negeri Malang.org-Situs Kimia Indonesia. Khopkar. 7 April 2008.com. et al..com/doc/70246435/asidimetri (31 Mei 2012) [3]S. Volumetri dan Gravimetri (Yogyakarta: UGM-Press. Kimia Analitik I (Malang: Universitas Negeri Malang. 96 -97 [7]Zulfikar.scribd. 2012 Ibnu. op. .DAFTAR PUSTAKA Chadijah. Chem-is-try. h. http://belajarkimia.org-Situs Kimia Indonesia. Yogyakarta: UGM-Press. belajarkimia. 105 [10]Ibid [11]Zulfikar. M. Sitti Chadijah. “Titrasi Asam Basa”.chem-is-try. Diakses pada tanggal 31 Mei 2012 [1]Sitti Chadijah.. 30 Oktober 2011. Diakses pada tanggal 3 1 Mei 2012 Zulfikar. scribd. 27 Desember 2010. http://www. 46-47 [4]Achmad Mursyidi dan Abdul Rohman. Sodiq Ibnu. “Titrasi Asam Basa”. Makassar: UIN Alauddin Makassar. 104 [5]Ibid.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/pemisahan-kimia-dan-analisis/titrasi-asam-basa/ (31 Mei 2012) [8]Ibid [9]Achmad Mursyidi dan Abdul Rohman. “Asidimetri”..chem-istry.com/2008/04/titrasi-asam-basa/. h. h. Wa Ode Rustiah dan Anna Handayani. 2008 Morie. 81 [6]M. Kimia Analitik I .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful