LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

I. NOMOR PERCOBAAN II. NAMA PERCOBAAN

: IV : TITRASI ASAM BASA : VOLUMETRI

1. Mempelajari dan menerapkan teknik titrasi untuk menganalisis contoh yang mengandung asam 2. Menstandarisasi larutan penitrasi. IV. DASAR TEORI Beberapa pandangan mengenai perilaku asam basa dapat dijelaskan melalui teori yang dikembangkan oleh arhenius. Menurut Arhenius asam adalah senyawa yang melepaskan ion hidrogen dalam larutan berair. Asam memiliki sifat berasa asam, mengubah . Sifat khas suatu asam sebenarnya merupakan sifat

lakmus dari biru menjadi merah, dan bereaksi dengan logam aktif menghasilkan gas dari ion

Dengan kata lain ion adalah pembawa sifat asam. Arrhenius mendefinisikan basa sebagai senyawa yang melepaskan hidroksida dalam larutan berair. Contoh NaOH. Ion hidroksida ini diyakini Arrhenius sebagai pembawa sifat khas basa yaitu,pahit, terasa licin dikulit,dan sebagainya. Jika sejumlah tertentu asam dan basa dicampurkan sifat khas asam dan basa tersebut akan hilang. Reaksi antara asam dan basa dinamakan reaksi netralisasi,pada reaksi tersebut akan dihasilkan suatu garam dan air. Semua asam Arrhenius juga diklasifikasikan sebagai asam oleh Browsted – Lowry. Sebagai contoh pada reaksi gas hidrogen klorida, HCL dengan air untuk menghasilkan asam klorida, gas hidrogen klorida berperan sebagai pemberi proton. Berdasarkan Bronsted – Lowry, asam adalah donor proton, sedangkan basa merupakan akseptor proton. Menurut Bronsted – lowry suatu reaksi asam basa dapat berlangsung tanpa adanya medium air, contohnya pada reaksi berikut ini : HCL + + Menurut Lewis reaksi yang melibatkan amonia atau air terjadi dikarenakan adanya pemakaian elekteron bersama pasangan elektron bebas yang dimiliki keduanya untuk membentuk ikatan kovalen koordinasi dengan spesi lain sehingga amonia dan air dalam reaksi tersebut bertindak sebagai basa.secara singkat dapat dijelaskan,menurut Lewis asam merupakan suatu spesies yang dapat menerima pasangan elektron bebas, sedangkan basa merupakan suatu spesies yang dapat mendonorkan pasangan elektron bebas. Jadi, yang tidak memiliki pasangan elektron bebas adalah asam sedangkan yang memiliki pasangan elektron bebas adalah basa. Menurut teori asam basa Lewis, asam merupakan spesi yang menerima pasangan elektron bebas. Sedangkan berdasarkan reaksi diatas, HCl bertindak sebagai asam menurut Lewis. Atom Klor merupakan atom yang lebih elektronegatifan dibandingkan dengan atom H. Jadi molekul HCl merupakan molekul yang polar. Pasangan atom yang dimiliki bersama antara H dan Cl cenderung lebih tertarik ke atom Cl sehingga Cl bersifat lebih negatif. Ketika molekul HCl menjadi semakin dekat keatom Cl , maka akibatnya ikatan kovalen koordinasi antara atom H dan N terbentuk, dan ikatan antar atom H dengan Cl terputus. Oleh karena itu, molekul HCL bertindak sebagai asam menurut Lewis karena menerima pasangan elektron bebas dari NH3. Asma lewis tidak harus memiliki orbital kosong. 1

1

( http://www.chemistry.org.//teori-asambasa.html ) Dalam air murni terdapat ion dan ion . dalam koordinasi konsentrasi yang sama, yang sangat kecil. Bila

konsentrasi sama dengan konsentrasi OH- maka larutan tersebut disebut dengan larutan netral. Bila konsentrasi yang diketahui ( Atau sebaliknya penambahan asam kedalam basa untuk mencapai titik akhir). Titik ekivalen adalah titik asam dimana asam tepat bereaksi denga semua basa. Idikator digunakan untuk membantu kita kapan kita mengetahui titrasi harus dihentikan didekat titik ekivalen . saat titrasi dihentikan disebut dengan titrasi akhir (titik akhir titrasi). Titik akhir titrasi berbeda dengan titik ekivalen, tetapi perbedaannya tidak terlalu besar sehingga digunakan indikator yang tepat yaitu yang memiliki trayek PH sekitar titik ekivalen. Prinsip titrasi adalah pengukuran volume suatu larutan yang diperlukan untuk bereaksi dengan larutan lainyang mempunyai volume tertentu atau zat terlarut dengan konsentrasi tertentu. Titrasi asam basa merupakan metode analitis untuk menentukan jumlah jumlah asam atau basa dalam suatu sampel. Hitungan titrasi yaitu ekivalen asam basa dengan ekivalen basa. VA . NA . Nb Konsentrasi asam basa sering menggunakan Molaritas sehingga : Analisa volumetri adalah analisa kuantitatif dimana kader komponen dari zat uji ditetapkan berdasarkan volume reaksi pereaksi ( konsentrasi diketehui ) yang ditambahkan kedalam larutan zat uji, hingga komponen yang akan ditetapkan bereaksi secara kuantitatif dengan pereaksi tersebut. Proses yang dikenal juga dengan analisa tirimetri. Suatu pereaksi dapat digunakan sebagai dasar analisa titrimetri apabila memenuhi syarat –syarat sebagai berikut yaitu reaksi harus berlangsung sesuai persamaan reaksi kimia tertentu, harus tidak ada reaksi samping. Yang kedua reaksi harus berlangsung sampai benar-benar lengkap pada titik tinggi dari pada konsentrasi sama denga konsentrasi OH- maka larutan tersebut disebut larutan netral. Bila konsentrasi maka larutan tersebut adalah larutan yang bersifat asam,sedangkan bila konsentrasi lebih

lebih rendah

dari pada konsentrasi maka larutan tersebut bersifat basa. pH atau kadar larutan yang bersifat netral sama dengan tujuh. Larutan yang bersifat asam pH nya kurang dari tujuh. Semakin kurang dari tujuh maka larutan tersebut mempunyai sifat asam yang semakin kuat. Sedangkan bila PH nya lebih dari tujuh, maka laritannya bersifat basa, semakin pH nya lebih dari tujuh maka semakin kut basanya. Pada titrasi biasanya digunakan suatu indikator yang memberikan tanda kepada kita bahwa campuran asam basa yang ada dalam larutan memiliki pertandingan yang benar untuk mencapai suatu keadaan larutannya yang netral. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna dari inikator atau kenaikan penurunan PH nya yang tiba-tiba. Idealnya perubahan warna indikator akan terjadi pada saat kita mencampurkan larutan itu padsa proporsi ya ng sama, tepat. Keadaan ini disebut titik ekivalen. Kurva yang menunjukkan perubahan

warna pH versus volume larutan titrasi disebut dengan kurva titrasi. Bentuknya tergantung pada nilai Ka dan konsentrasi asam basa yang digunakan.2 Prosedur untuk menentukan konsentrasi suatu larutan dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan larutan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titrasi. Jika yang dilihatkan adalah larutan asam dan larutan basa, titrasi itu disebut dengan titrasi asam basa. Larutan yang diketahui konsentrasinya disebut larutan baku ( larutan standar ). Pada bagian ini akan dibahas bagaimana perubahan pada berbagai titrasi asam basa. Titrasi asam basa merupakan penambahan secara hati-hati sejumlah larutan basa dengan konsentrasi tertentu. Ekivalen suatu indikator harus ada untuk menunjukkan titik 2 ekivalen. Yang ketiga adalah reaksi. ( http://www.google.co.id/titrasi.html ) Beberapa jenis reaksi dapat digunakan untuk titrasi yaitu pengendapan, reaksi oksidasi-reduksi,reaksi asam-basa,dan reaksi pembentukan kompleks. Pada percobaan ini akan dilakukan titrasi asam basa. Pertamakali akan dilakukan standarisasi (pembakuan) terhadap larutan basa. Yang selanjutnya digunakan untuk menganalisis contoh yang mengandung asam. Bila sebagai titrasi adalah larutan baku asam,maka endapan tersebut dinamakan Asidimetri dan apabila larutan baku basa sebagai titran maka disebut Alkalimetri. Secara ringkas reaksi asma basa atau netralisasi disebabkan oleh proton dari asam yang bereaksi dengan OH- dari basa. Reaksi yang terjadi adalah : + O Pereaksi yang digunakan digunakan dinamakan titran dan larutannya disebut larutan titeratau larutan beku. Konsentrasi larutan ini dapat dihitung berdasarkan berat baku yang ditimbangkan secara seksama atau dengan penetapan yang dikenal dengan standarisasi atau pembekuan. Larutan standar (baku) dibagi menjadi standar primer dan standar sekunder. Kedua jenis larutan standar (baku) ini dapat digunakan analisa kuantitatif suatu larutan senyawa. Pereaksi pada kebanyakan titrasi asam basa perubahan larutan pada titik ekivalen tidak jelas. Untuk mengatasi hal ini maka digunakan indikator yaitu suatu senyawa organik asam atau basa lemah yang mempunyai warna molekul (warna asam) berbeda dengan warna ionnya (warna basa), dimana indikator ini memperlihat perubahan warna pH tertentu. Secara umum untuk titrasi asam basa indikator yang digunakan adalah indikator venotalin yang mempunyai trayek pH 8,3 – 10.5 dimana indikator senyawa ini tidak berwarna pada larutan asam dan berwarna merah muda dalam larutan basa. Bila kuantitas ekimolar dari suatu asam kuat seperti asam klorida (HCL) dan suatu basa kuat seperti natrium hidroksida (NaOH) Dicampurkan dalam satu larutan, maka ion hidrinium dari asam dan ion hidroksida dari basa akan bersenyawa membentuk air (H2O). Reaksi antara ion hidronium dari asam dengan ion hidroksida dari basa sehingga membentuk senyawa air tadi merupakan reaksi penetralan. Setelah reaksi antara asam klorida dengan natrium klorida hidroksida maka akan tinggal larutan dari ion dan . Meskipun kedua ion ini tidak terlihat dalam proses penetralan dapat dikatakan bahwa larutan NaCl terbentuk sebagai hasil dari suatu reaksi antara asam klorida dengan natrium klorida atau dapat pula dikatakan reaksi asam basa. Reaksi asam basa yang sama kekuatannya akan menghasilkan larutan yang bersifat netral. Asam dan basa bereaksi dapat berasal dari suatu asam lemah ataupun basa kuat. Reaksi asam basa kekuatannya berlainan akan menghasilkan larutan dengan sifat satu asam lemah dan yang saytu lagi bersifat basa lemah. Itu semua tergantung pada kekuatan atom asam konjugasinya dan basa konjugasinya yang dihasilkan. Semua itu bertitik tolak pada larutan standar yang digunakan. Larutan standar yang digunakan atau dipakai NaOH. Perbedaan antara titik akhir titrasi dengan titik ekivalen adalah titik ekivalen yang terjadi pada saat reaksi asam dan basa mulai menetral, dimana asma menuju basa. Sedangkan titik akhir titrasi terjadi karena pada saat dimana dari ion-ion asam dan basa telah lengkap bereaksi maka hasilnya akan membentuk suatu senyawa air. Proses yang dikenal dengan titrasi oleh karena dikenal juga dengan “analisis titrimetri” suatu pereaksi dapat digunakan sebag ai dasar analisa titrimetri apabila memenuhi syarat-syarat berikut :reaksi harus berlangsung sesuai persamaan reaksi kimia tertentu harus tidak ada reaksi samping,reaksi harus berlangsung sampai benar-benar lengkap pada titik ekivalen, reaksi harus berlangsung cepat, sehingga titrasi diperlakukan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. 3 3( Rivai,Bakti.2010. Penuntun Praktikum Kimia Dasar I. Inderalaya : Universitas Sriwijaya) V. ALAT DAN BAHAN Alat yang dipergunakan pada praktikum kali ini adalah: 1. Gelas Ukur 2. Beker Gelas 3. Labu ukur 250 mL 4. Tabung Erlemeyer 5. Statif 6. Pipet Tetes Bahan yang dipergunakan pada praktikum kali ini adalah: Biuret Larutan NaOH Larutan Cuka Makan Asam Oksalat Air Suling

1. 2. 3. 4. 5.

VI. PROSEDUR PERCOBAAN Dicuci dengan baik buret 50 mL, dibilas dengan air suling , tutup ceratnya lalu dimasukkan kira-kira 5 ml NaOH yang akan distandardisasi.

A. Standardisasi arutan NaOH 0,1 ml

Dimiringkan dan diputar buret untuk membasahi permukaan buret. Keluarkan larutan dari buret dan ulangi pembilasan hinga skala 0, alirkan larutan untuk mengeluarkan gelembung udara.

Dicuci erlemeyer 250 ml kemudian dbilas dengan air suling. Pipet pertama 15 ml larutan HCl standar 0,1 M kedalam setiap erlemeyer.Ditambahkan kedalam erlemeyer masing-masing 15 ml air suling dan 3 etes indicator fenolffalein.dicatat NaOH pada buret kemudiandialirkan sedikit demi sedikit NaOH pada erlemeyer pertama. Dicatat volume akhir, hitunglah Molaritas larutan standar NaOH

Dicatat volume akhir, hitunglah Molaritas larutan standar NaOH

B. Menentukan persentase asam asetat dalam cuka. Cuka dapur mengandangi asam asetat 4 – 6 %.

Dimasukkan

pipet 1 ml asam cuka setiap erlyemeer tambahkan 10 ml air suling, 3 tetes indicator fenolftalein .

Dihitung persentase massa pada tiap-tiap contoh

VII. PERTANYAAN PRA PRAKTEK 1. Apa yang dimaksud dengan asam,basa,titik ekivalen,indikator? Jawab: a. b. c. d. Asam adalah zat yang melarut ke dalam air untuk membiarkan ion-ion .

a. b.

Basa adalah zat yang melarut ke dalam air untuk memberikan ion-ion . Titik ekivalen dimana titer dan titran tepat bereaksi ditandai dengan perubahan warna yang belum konstan. Indikator adalah senyawa organik asa atau basa lemak yang mempunyai warna moekul berbeda degan warna ionnya dimana indikator akan memperlihatkan perubahan warna pada pH tertentu. 2. Jelaskan perbedaan titik akhir titrasi dan titik ekivalen? Jawab: Titik akhir titrasi merupakan titik dalam reksi titrasi yang ditandai dengan perubahan warna indikator. Titik ekivalen dimana titer dan titran tepat bereaksi ditandai dengan perubahan warna yang belum konstan. 3. Sebanyak 0,7742 g kalium hidrogen sitrat dimasukan ke dalam erlemyer dan dilarutdengan air suling, kemudian titrasi dengan dengan larutan NaOH. Bila terpakai 33,60 mL larutan NaOH, berapa molaritas larutan NaOH tersebut? Jawab: Massa = 0,7742 V NaOH = 33,6 mL = 0,0336 L Mol M NaOH = = = = 0,003 mol = 0,089

VIII. DATA HASIL PENGAMATAN V1 = 3,8 ml V2 = 7,9 – 3,8 = 4,1 ml V3 = 12,1 – 4,1 = 8 ml

IX. REAKSI DAN PERHITUNGAN

3 – 10. 3. PEMBAHASAN Pembahasan kali ini mengenai percobaan titrasi asam basa. dan erlenmeyer pun harus sangat hati – hati. Persen kesalahan yang didapat mencapai 88 % . dan masing – masing titrasi volume NaOH berbeda – beda. KESIMPULAN Titik ekivalen dimana titer dan titran mengalami reaksi ditandai perubahan warna yang belum konstan . dan Lewis.3 – 10. Sedangkan larutan standar primer mempunyai massa molekul relatif tinggi. Percobaan titrasi asam basa ini merupakan suatu metode untuk menentukan konsentrasi suatu larutan asam basa. Pada indikator ini perubahan warna pada senyawa asam yaitu being ( tidak berwarna ) dan pada basa berubah menjadi warna merah muda. Analisa yang digunakan pada percobaan kali ini adalah kuntitatif dan volumetri.1 M NaOH = = 0.3 ml NaCl + H2O V NaOH .a. namun perubahan warna yang terjadi belum konstan disebut dengan titik ekivalen. Seharusnya sebelum melakukan percobaan. menurut Arrhenius. 4.88 . air suling dan indikator. Reaksi NaOH + HCl b. Titik saat di mana asam basa dan basa tepat bereaksi . Larutan ini konsentrasinya belum diketahui sehingga perlu di standarisasi.5 . Menurut Brownsted – Lowry berpendapat bahwa asam bertindak sebagai donor . Pada percobaan titrasi asam basa ini digunakan indikator fenolftalein dengan pH trayeknya 8. Indikator berguna untuk menunjukkan perubahan warna. 100 % = 88 % X. Percobaan ini analisa yang dipakai analisa volumetri. Di dalam laboratorium pun kita harus berhati – hati sebab banyak bahan – bahan yang berbahaya. Disini asam basa sendiri dibagi atas pandangan. Titik akhir titrasi di tandao dengan perubahan warna indikator yang sudah konstant. karena itu kita ambil rata – rata volume dari ketiga volume yang di dapat untuk digunakan dalam perhitungan.5 . kesalahan bisa terjadi saat menggunakan alat yang digunakan. Pada percobaan ini. 5.188 M % Kesalahan = X 100 % = x 100 % = . Percobaan titrasi asam basa ini dilakukan dalam tiga kali pengulangan. Sedangkan yang memiliki pH di atas 7 merupakan basa. 1. sedangkan basa senyawa yang apabila bereaksi dengan air akan menghasilkan ion . pH yang memiliki di bawah 7 merupakan sifat dari asam. larutan standar sekunder ini memiliki ciri – ciri maassa molekul yang rendah dan hidroskopis. Pada prosos pencampuran antara titer dan titran di dapat titik ekivalen dan titik akhir titrasi. didapatkan hasil berupa larutan berwarna merah muda dari campuran titran berupa NaOH dengan titernya yang terdiri dari asam klorida. Menurut Arrhenius asam didefinisikan senyawa yang apabila bereaksi dengan air akan menghasilkan ion .. M HCl 5. 0. M NaOh = 10 . Perhitungan V= = = = 5. analisa yang di dasarkan pada volume. sedangkan basa bertindak sebagai akseptor proton. Larutan standar primer yang mana larutan tersebut konsentrasinya telah diketahui sehingga tidak perllu di standarisasi. Digunakan indikator fenolftalein dengan pH trayeknya 8. Menurut Lewis sendiri berpendapat bahwa asam sebagai spesi yang menerima pasangan elektron bebas. Indikator termasuk senyawa organik asam lemah yang memiliki warna berbeda dengan ionnya. sedangkan basa sebagai spesi yang mendonorkan pasangan elektron bebas. basa bersifat pahit dan licin dikulit serta dapat membirukan lakmus merah. Karena dalam penambahan air merupakan salah satu cara untuk mengubah molaritas larutan. XI. pastikan alat – alat tersebut telah bersih dan kering sehingga tidak mempengaruhi molaritas larutan.0.3 . sifat dari asam ini berasa asam dan mengubah lakmus biru menjadi merah. larutan standar primer dan larutan standar sekunder. Dalam penggunaaan alat berupa buret. pada titrasi larutan terbagi dua. Sedangkan larutan standar sekunder atau yang bertindak sebagai titran. dan alat – alat nya juga harus kita jaga dengan baik. Indikator merupakan senyawa organik asam basa lemah yang memiliki warna berbeda dengan ionnya. Pada percobaan kali ini kita dapat menstandarisasi larutan. M NaOH = V HCl . . konsentrasinya diketahui dan mudah untuk di dapat. Brownsted-Lowry. pipet gondok. 2. Inilah yang membedakan antara titik ekivalen dengan titik akhir titrasi.

google. Jakarta : Erlangga Rivai.2010.html Diakses pada tanggal 26 November 2010.Teori Asam Basa.co.Bakti. Pukul 15:00 WIB Petrucci.titrasi.2010.dkk.id/titrasi.http://www.//teori-asambasa.http://www.chemistry. Inderalaya : Universitas Sriwijaya Posted 21st April 2012 by RAHMAT PRATAMA Asam klorida Dari Wikipedia bahasa Indonesia.Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern (terjemahan).18 g/cm3 (variable) −27. ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Asam klorida merujuk pada larutan HCl dalam air.DAFTAR PUSTAKA Anonim.46 g/mol (HCl) Cairan tak berwarna sampai dengan kuning pucat 1.32 °C (247 K) larutan 38% Densitas Titik lebur . R. untuk senyawa HCl dalam keadaan murni (gas).html Diakses pada tanggal 26 November 2010. lihat Hidrogen klorida Asam klorida Nama IUPAC[sembunyikan] Asam klorida Nama lain[sembunyikan] Klorana Identifikasi Nomor CAS PubChem Nomor EINECS Nomor RTECS [7647-01-0] 313 231-595-7 MW4025000 Sifat Rumus molekul Massa molar Penampilan HCl dalam air (H2O) 36. Penuntun Praktikum Kimia Dasar I. Pukul 15:30 WIB Anonim.2010.1987.H.org.

Asam klorida pernah menjadi zat yang sangat penting dan sering digunakan dalam awal sejarahnya. larutan 31. Senyawa terkait Anion lainnya Asam terkait F-. Ia ditemukan oleh alkimiawan Persia Abu Musa Jabir bin Hayyan sekitar tahun 800. larutan 20. Br-.5% Bahaya Kelarutan dalam air Keasaman (pKa) Viskositas MSDS Klasifikasi EU Indeks EU NFPA 704 External MSDS Korosif (C) 017-002-01-X 0 3 1 COR Frasa-R Frasa-S Titik nyala R34. and Davy dalam rangka membangun pengetahuan kimia modern. dan aditif makanan. produksigelatin. meliputi produksi massal senyawa kimia organikseperti vinil klorida untuk plastik PVC dan MDI/TDI untuk poliuretana.2%.0 1. larutan 38%. IAsam bromida Asam fluorida Asam iodida Asam sulfat Kecuali dinyatakan sebaliknya. Priestley. Kegunaan kecil lainnya meliputi penggunaan dalam pembersih rumah. S45 Tak ternyalakan. senyawa ini menjadi sangat penting dan digunakan untuk berbagai tujuan. Ia adalah asam kuat. R37 (S1/2).9 mPa·s pada 25 °C. Senyawa ini juga digunakan secara luas dalam industri. 48 °C (321 K). Asam klorida harus ditangani dengan wewanti keselamatan yang tepat karena merupakancairan yang sangat korosif. S26. Tercampur penuh −8. Sejak Revolusi Industri. data di atas berlaku pada temperatur dan tekanan standar (25°C. Sekitar 20 juta ton gas HCl diproduksi setiap tahunnya. dan kemudian digunakan juga oleh ilmuwan Eropa termasuk Glauber. 100 kPa) Sangkalan dan referensi Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl).1 Pasar industri 5 Keberadaan dalam organisme hidup 6 Keselamatan .Titik didih 110 °C (383 K). Daftar isi [sembunyikan]       1 Sejarah 2 Kimia 3 Sifat-sifat fisika 4 Produksi o 4. dan merupakan komponen utama dalam asam lambung. Senyawa ini digunakan sepanjang abad pertengahan oleh alkimiawan dalam pencariannya mencari batu filsuf.

natrium klorida diubah menjadi natrium karbonat menggunakan asam sulfat.[3][4][5] Sejak tahun 1988. dan mencatat penemuannya ke dalam lebih dari dua puluh buku. asam klorida dikenal oleh ahli kimia Eropa sebagai spirits of salt atau acidum salis (asam garam). Pada abad ke-17. kokaina. batu kapur. dan batubara.[6] Konvensi ini disahkan di Indonesia oleh Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1997. dan pada tahun 1818. asam klorida kebanyakan dihasilkan dari pelarutan produk samping hidrogen klorida dari produksi industri senyawa organik. proses Leblanc digantikan oleh proses Solvay yang tidak menghasilkan asam klorida sebagai produk sampingan. Proses industri baru yang mengijinkan produksi natrium karbonat (soda abu) dalam skala besar berhasil dikembangkan olehNicolas Leblanc. permintaan atas senyawa-senyawa alkalin meningkat.[1][2][3] Pada Abad Pertengahan.[7] [sunting]Kimia Titrasi asam . asam klorida telah dimasukkan ke dalam Tabel II Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika karena ia dapat digunakan dalam produksi heroin. Dalam proses Leblanc. bahasa Mandarin 鹽酸 (yansuan).  7 Referensi 8 Pranala luar [sunting]Sejarah Asam klorida pertama kali ditemukan sekitar tahun 800 sesudah masehi oleh ahli kimia Jabir bin Hayyan (Geber) dengan mencampurkan natrium klorida dengan asam sulfat ("vitriol"). dan metamfetamina. Johann Rudolf Glauber dari Karlstadt am Main. Joseph Priestley dari Leeds berhasil menghasilkan hidrogen klorida murni pada tahun 1772. membuktikan bahwa komposisi kimia zat tersebut terdiri dari hidrogen dan klorin. Setelah berlakunya undang-undang ini. Jerman menggunakan natrium klorida dan asam sulfat untuk membuat natrium sulfat melalui proses Mannheim. Gas HCl disebut sebagai udara asam laut. Proses ini akan melepaskan gas hidrogen klorida sebagai produk sampingannya. Penemuan Jabir atas air raja yang dapat melarutkan emas mengandung asam klorida dan asam nitrat. Proses ini melepaskan hidrogen klorida sebagai produk samping. Setelah tahun 2000.[1][2] Jabir menemukan banyak senyawa-senyawa kimia penting lainnya. misalnya dalam bahasa Jerman Salzsäure. HCl yang berlebih dilepaskan ke udara bebas. bahasa Belanda Zoutzuur.[1][2][3] Jabir bin Hayyan dalam gambar abad pertengahan Semasa Revolusi Industri di Eropa. Produksi asam klorida secara signifikan dicatat oleh Basilius Valentinus pada abad ke-15. Humphry Davy dari Penzance. Sebelum diberlakukannya Undang-Undang Alkali tahun 1863 oleh Britania. Inggris. produsen soda abu diwajibkan untuk melarutkan gas ini ke dalam air dan menghasilkan asam klorida dalam skala industri. dan bahasa Jepang 塩酸 (ensan). Istilah asam garam ini pun masih digunakan di beberapa bahasa dunia.[1][3][4] Pada abad ke-20.

seperti natrium klorida.1 −1.6 13 19 20 21 22 23 kg/l 1.100 28.70 1. H3O+:[8][9] HCl + H2O → H3O+ + Cl− Ion lain yang terbentuk adalah ion klorida.6 °C (227 °F).179 1.733 14.[10] Ketika garam klorida seperti NaCl ditambahkan ke larutan HCl.82 6.46 424.02 9.90 11. Dalam larutan asam klorida. Asam klorida memiliki empat titik eutektik kristalisasi-konstan.45 10. menghasilkan klorida terlarut yang dapat dianalisa. asumsi bahwa molaritas H+ sama dengan molaritas HCl cukuplah baik. Asam klorida merupakan asam pilihan dalam titrasi untuk menentukan jumlah basa. seperti titik didih. HCl·2H2O (51% HCl). Asam klorida sebagai campuran dua bahan antara HCl dan H2O mempunyai titik didih-konstan azeotrop pada 20. HCl·3H2O (41% HCl).46 2.325 kPa). Oleh karena alasan inilah.17 10.130 6. Cl−.64 12. Ia juga bereaksi dengan senyawa dasar semacam kalsium karbonat dan tembaga(II) oksida.189 mol/dm3 2. Asam klorida dalam konsentrasi menengah cukup stabil untuk disimpan dan terus mempertahankan konsentrasinya.000 °C 103 108 90 84 71 61 48 °C −18 −59 −52 −43 −36 −30 −26 Suhu dan tekanan referensi untuk tabel di atas adalah 20 °C dan 1 atm (101. yang berarti bahwa ia dapat berdisosiasi melepaskan satu H+ hanya sekali.87 6. nilai Ka cukup besar.99 2.99 2.2%) dapat digunakan sebagai standar primer dalam analisis kuantitatif.[3] .44 451. Untuk larutan asam klorida yang kuat.Hidrogen klorida (HCl) adalah asam monoprotik.47 2.8 −1.70 370. Hidrogen klorida dapat dihasilkan melalui beberapa cara. Beberapa usaha perhitungan teoritis telah dilakukan untuk menghitung nilai Ka HCl. Ia juga merupakan asam kuat yang paling tidak berbahaya untuk ditangani dibandingkan dengan asam kuat lainnya.43 Konsentrasi Massa jenis Molaritas pH Viskositas Tekanan uap Titik didih Titik leleh kg HCl/kg kg HCl/m3 Baumé 10% 20% 30% 32% 34% 36% 38% 104. yang mengindikasikan tingkat disosiasi zat tersebut dalam air.16 1.527 27.60 344.10 Pa 0.048 1. Asam klorida oleh karenanya dapat digunakan untuk membuat garam klorida.1 mPa·s 1. walaupun konsentrasinya bergantung pada tekanan atmosfernya ketika dibuat. berada di antara kristal HCl·H2O (68% HCl). Asam klorida adalahasam kuat karena ia berdisosiasi penuh dalam air.[8][9] Dari tujuh asam mineral kuat dalam kimia. Ka.60 2. asam klorida merupakan asam monoprotik yang paling sulit menjalani reaksi redoks.149 1. [12] [sunting]Produksi Asam klorida dibuat dengan melarutkan hidrogen klorida ke dalam air.098 1. ia tidak akan mengubah pH larutan secara signifikan. Produksi skala besar asam klorida hampir selalu merupakan produk sampingan dari produksi industri senyawa kimia lainnya.0 −1.[8][9] [sunting]Sifat-sifat fisika Ciri-ciri fisika asam klorida. Sifat-sifat ini berkisar dari larutan dengan konsentrasi HCl mendekati 0% sampai dengan asam klorida berasap 40% HCl [8][9][12] Kapasitas kalor jenis kJ/(kg·K) 3. Untuk asam kuat seperti HCl.80 1. Asam klorida pekat melarutkan banyak jenis logam dan menghasilkan logam klorida dan gas hidrogen.88 397. Asam yang lebih kuat akan memberikan hasil yang lebih baik oleh karena titik akhir yang jelas.410 3. Terdapat pula titik eutektik metastabil pada 24.39 −0. ia mengandung ion klorida yang tidak reaktif dan tidak beracun. massa jenis.37 1. dengan ketepatan mencapai empat digit angka bermakna.[8][9] Asam monoprotik memiliki satu tetapan disosiasi asam.50 2. Hal ini mengindikasikan bahwa Cl− adalah konjugat basa yang sangat lemah dan HCl secara penuh berdisosiasi dalam larutan tersebut. dan es (0% HCl).8% antara es dan kristalisasi dari HCl·3H2O. HCl·6H2O (25% HCl).159 1.0 −1. Walaupun asam.80 219. dan pH tergantung pada konsentrasi atau molaritas HCl dalam larutan asam tersebut.0 −1.2% HCl dan 108.5 −0.90 1.[11] Asam klorida sering digunakan dalam analisis kimia untuk "mencerna" sampel-sampel analisis. H+ ini bergabung dengan molekul air membentuk ion hidronium. Asam klorida azeotropik (kira-kira 20. asam klorida merupakan reagen pengasam yang sangat baik.3 1. titik leleh.169 1.55 2.

[sunting]Pasar industri Asam klorida diproduksi dalam bentuk larutan 38% HCl (pekat). gas beracun klorin akan terbentuk.[13] Lambung itu sendiri terlindung dari asam kuat oleh sekresi lapisan mukosa yang tebal dan penyanggaan oleh natrium bikarbonat yang diinduksi oleh sekretin. Obat-obat antihistamin dan inhibitor pompa proton dapat menghambat produksi asam dalam perut. 2. B. namun laju penguapan sangatlah tinggi.[3] Cairan pembersih tersebut harus diencerkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Tabel di bawah ini merupakan klasifikasi bahaya larutan asam klorida Uni Eropa.[16] Konsentrasi Klasifikasi berdasarkan berat 10–25% > 25% Iritan (Xi) Frasa R R36/37/38 Korosif (C) R34 R37 Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (United States Environmental Protection Agency) memasukkan asam klorida sebagai bahan beracun. mata. dan antasid digunakan untuk menetralisasi asam yang ada. pH asam lambung yang rendah akan mendenaturasi protein. [14] Asam lambung berfungsi untuk membantu pencernaan makanan dan mencegah mikroorganisme masuk lebih jauh ke dalam usus. [1] Bahaya larutan asam klorida bergantung pada konsentrasi larutannya. pH yang rendah ini juga akan mengaktivasi prekursor enzim pepsinogen.1 M. Konsentrasi HCl yang paling optimal untuk pengantaran produk adalah 30% sampai dengan 34%. Seketika asam klorida bercampur dengan bahan kimia oksidator lainnya.[13][15] [sunting]Keselamatan Tanda bahaya Asam klorida pekat (asam klorida berasap) akan membentuk kabut asam. Konsentrasi yang lebih besar daripada 40% dimungkinkan secara kimiawi. . Menentukankonsentrasi larutan HCL. Baik kabut dan larutan tersebut bersifat korosif terhadap jaringan tubuh. Kandungan asam klorida pada kebanyakan cairan pembersih umumnya berkisar antara 10% sampai dengan 12%. dengan potensi kerusakan pada organ pernapasan. NaClO + 2 HCl → H2O + NaCl + Cl2 2 KMnO4 + 16 HCl → 2 MnCl2 + 8H2O + 2 KCl + 5 Cl2 Alat-alat pelindung seperti sarung tangan PVC atau karet. Nyeri ulu hati dan sakit maag dapat berkembang apabila mekanisme perlindungan ini gagal bekerja. Produksi HCl dunia diperkirakan sebesar 20 juta ton per tahun. Ia utamanya terdiri dari asam klorida dan mengasamkan kandungan perut hingga mencapai pH sekitar 1 sampai dengan 2. 1. sehingga akan lebih mudah dicerna oleh enzim pepsin. dan usus. pelindung mata. dengan 3 juta ton berasal dari sintesis langsung.[17] Laporan hasil pengamatan penentuan konsentrasi larutan asam klorida dan larutan natrium hidroksida PENENTUANKONSENTRASI LARUTAN ASAM KLORIDA DAN LARUTAN NATRIUM HIDROKSIDA A. [13] Ion klorida (Cl−) dan hidrogen (H+) disekresikan secara terpisah di bagian fundus perut yang berada di bagian teratas lambung oleh sel parietal mukosa lambung ke dalam jaringan sekretori kanalikulus sebelum memasuki lumen perut. kulit. seperti natrium hipoklorit (pemutih NaClO) atau kalium permanganat (KMnO4). dan sisanya merupakan hasil dari produk sampingan sintesis organik. TUJUANPENGAMATAN/PENELITIAN. Menentukankonsentrasi larutan NaOH O. Produsen asam klorida terbesar di dunia adalah Perusahaan Dow Chemical dengan total produksi sebesar 2 juta ton per tahun (pengukuran dalam bentuk gas HCl). dan pakaian pelindung haruslah digunakan ketika menangani asam klorida.[3] [sunting]Keberadaan dalam organisme hidup Asam lambung merupakan salah satu sekresi utama lambung. asam klorida dalam kim akan dinetralisasi oleh natrium bikarbonat dalam usus dua belas jari. LANDASAN TEORI. Setelah meninggalkan lambung. sehingga penyimpanan dan penanganannya harus dilakukan dalam suhu rendah.

sedangkan Indikator adalah zatyangmemberikan tanda perubahan pada saat titrasi berakhir yang dikenal denganistilah titik akhir titrasi. Berdasarkan pengertiantitrasi. Cara kedua.1 M IndikatorFenolftalein. Percobaan Volume HCL (ML) Vol NaOH 0. dapat digunakan pipet ukur. C.teteskan sedikit demi sedikit larutan NaOH kedalam labu erlenmeyer sampai terjadiperubahan warna indikator. Dalam titrasi. CARA KERJA. yaitu dengan menimbang zat secara tepatdengan menggunakan peralatan yang akurat.1 M(Sebaiknya dimulai dari skala 0) e) Sambil menggoyang-goyangkan labu. titik akhir titrasi akan sama dengan titik ekuivalen. lalu masukkan kedalam labu erlenmeyer b) Tambahkan 2-3 tetes indikatorfenolftalein c) Masukkan larutan NaOH 0. BAHAN DAN ALAT. a) Ukur 10 ml larutan HCL denganmenggunakan pipet volume. Titrasi adalah metodeanalisis kuantitatif untuk menentukan kadar suatu larutan. Jika perubahan warna indikator terletakpada PH titik ekuivalen. d) Catat skala awal dari larutan NaOH 0.Terdapat duacara dalam menentukan konsentrasi (kemolaran) suatu larutan:   Cara pertama.1 M sebagai zat peniterkedalam buret. titik akhir titrasi berbeda dengan titik ekuivalen.1 M (ML) . titrasi asam basa merupakan metode penentuan kadar larutan asam denganzat peniter (zat penitrasi) suatu larutan basa atau penentuan kadar larutanbasa dengan zat peniter (zat penitrasi) suatu larutan asam. Aquadest/ air suling b.kemudian konsentrasinya ditentukan dengan metode titrasi. f) g) Ulangi kegiatan ini sekali lagi sehinggaanda memperoleh hasil yang hampir. Jika perbedaan hasil yang anda peroleh cukupbesar. Larutan yang telahdiketahui konsentrasinya dengan tepat disebut Larutan baku/Larutan standar. membuatlarutan dengan konsentrasi tertentu. jika PH perubahan warna indikator setelah penambahan larutan zatpaniter sedikit berlebih. HASIL PENGAMATAN. Alat Buret/ Pipet ukur LabuErlenmeyer Pipetvolume Botolsemprot Pipettetes D. Pendekatanantara titik akhir titrasi dan titik ekuivalen bergantung pada PHperubahan warna dari larutan indikator.menggunakan perkiraan jumlah zat yang terlarut dan perkiraan jumlah zatpelarut.Titik akhir titrasi diharapkan mendekati titik ekuivalen titrasi. ulangi sekali lagi. zatyang akan ditentukan konsentrasinya dititrasi oleh larutan yang konsentrasinyadiketahui dengantepat dan disertai penambahan indikator. Titik akhirtitrasi adalah kondisi pada saat terjadi perubahaan warna dari indikator. jika tidak ada buret . yaitukondisi pada saat larutan asam tepat bereaksi dengan larutan basa. a.Akan tetapi. Catat volume larutan NaOH yangdigunakan. LarutanHCL LarutanNaOH 0. E. Bahan.

10 ml b) Percobaan kedua.akhir (Vt) = 2. 0.70 ml = 0. Dari hasil pengamatan diatas dapatdiketahui bahwa larutan HCL jika ditetesi dengan larutan N aOH akanmenghasilkan larutan NaCL dan H2O dan terjadi perubahanwarna pada larutan HCL dari warna bening menjadi warna merah muda (Pink).1 2 3 5 5 5 2.10 F..90 ml – 2. 0.  PERTANYAAN.awal (Vo) =2.20 ml c) Percobaan ketiga. 0.Na+ OHTentukan konsentrasi larutan HCL tsb! Jawab : NaOH HCL= V1 M1 =V2 M2 0.90 .013ml = V2 .10 . V.70 ml Vt– Vo = 2. meanInG oF a liFe. a) Percobaan pertama.13 ml KESIMPULAN. Tuliskan persamaan reaksi asam-basatersebut.mudahmudahan laporanpenelitian ini berguna bagi kita semua sehingga dapat meningkatkan ilmupengetahuan. 0.awal (Vo) = 2. . larutan HCL denganVol.60 ml V.60 ml = 0.10 ml – 3.2.13 ml .70 ml V. 0. V2 = = 0. V.90 ml Vt– Vo = 2. PENUTUP Demikianlahlaporan hasil penelitian/pengamatan ini.NaOH = = = 0.00 = 0.20 ml dan berubah warna dari bening menjadi merah mudah.10 2.00 ml V.Akhirnya kepada Allah jua-lah kita berharap..60 = 0.. 1.70 = 0. titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya. PEMBAHASAN. 21 April 2012 titrasi asam basaa Titrasi adalah suatu metode penentuan kadar (konsentrasi) suatu larutan dengan larutan lain yang telah diketahui konsentrasinya.. Amiin.. keimanan danketaqwaan kita kepada Allah SWT.10 mldan berubah warna dari bening merah mudah.13 ml G.00 ml = 0. larutan HCL denganvolume 5 mlditetesi dengan indikator fenolftalein sebanyak dua tetes danlarutan NaOH Vol. 0.awal (Vo) =3.akhir (Vt) = 2.. Jawab : HCL + NaOH NaCL + H2O H+ CL.20 ml Vol. 5 ml ditetesi dengan indikator fenolftalein sebanyak 2 tetes dan larutanNaOH dengan Vol.20 3. sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa.akhir (Vt) = 3.1 H. Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya.10 ml Vt– Vo = 3. agar memperoleh keselamatan di dunia danakhirat.1 = V2 .5 ml ditetesi dengan indikator fenoltalein sebanyak dua tetes dan larutan NaOHdengan Vol..   2. Sabtu. titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi. larutan HCL dengan Vol.70 – 2.70 ml – 2.1 0. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi. V.10 ml dan berubah warna dari bening menjadi merah mudah.3.

Larutan baku adalah larutan yang konsentrasinya telah diketahui secara pasti. tetapi harus di cek kembali konsentrasinya dnegan menambahkan larutan baku primer. maka titik akhir titrasi harus sedekat mungkin dengan titik ekivalen. tidak mudah bereaksi dengan komponen-komponen udara. Kalium biodat. Syarat-syarat senyawa baku primer : • Rumus molekulnya diketahui dengan pasti • Kemurniannya tinggi (99%) • Stabil.Basa kuat 4. Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi yang tinggi. dibuat dari senyawa yang tingkat kemurniannya tinggi(99%).Basa kuat 2. Basa kuat . Misalnya akan dicari normalitas suatu larutan. Pada saat titik ekuivalen ini maka proses titrasi dihentikan. potensiometer. Natrium bikarbonat. atau dengan suatu zat petunjuk yang dinamakan dengan indikator pH. stabil pada suhu kara. contoh: asam klorida. Larutan baku terbagi atas dua macam.Titrasi asam basa terbagi menjadi dua. Senyawa baku sekunder tidak harus memenuhi persyaratan seperti senyawa primer sehingga harganya murah dan biasa digunakan secara rutin. Dalam memilih indikator untuk titrasi asam basa harus disesuaikan dengan pH saat tercapainya titik ekivalen. Asam kuat . natrium hidroksida dll Standarisasi atau pembakuan adalah proses pengecekan larutan baku sekunder dengan larutan baku primer. Prinsip Titrasi Asam basa Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titrat ataupun titran. yaitu : 1. Larutan baku primer adalah larutan baku yang setelah dibuat dapat langsung dipakai untuk ditambahkan ke dalam larutan yang akan dicari konsentrasinya. tidak berubah selama proses pengerjaan pembuatan larutannya. Asam oksalat Kristal. umumnya digunakan untuk melakukan titrasi larutan uji. yaitu larutan baku primer dan larutan baku sekunder. Untuk mengetahui tercapainya titik ekivalen dapat diukur dengan pH meter.Garam dari asam lemah 5. Jenis-Jenis Titrasi Asam Basa Titrasi asam basa terbagi menjadi 5 jenis yaitu : 1. • Mr-nya tinggi agar dapat mengurangi kesalahan penimbangan Bahan baku primer untuk asidi-alkalimetri yang paling banyak digunakan Untuk asam : Natrium karbonat kristal. Asam sulfamat Larutan baku sekunder adalah larutan baku yang setelah dibuat tidak dapat langsung digunakan. Asam kuat . Alkalimeteri : pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam. Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”.Basa lemah 3.Garam dari basa lemah Analisa kimia kuantitatif yang dilakukan dengan jalan mengukur volume suatu larutan baku yang tepat bereaksi (bereaksi sempurna) dengan larutan yang di analisis disebut dengan analisis volumetri. dan tidak higroskopis. Contohnya adalah asam oksalat. Asam kuat . Dengan menggunakan data volume titran. maka ke dalam larutan tersebut ditambahkan larutan baku sehingga terjadi reaksi sempurna antara larutan dengan larutan baku. Titik akhir titrasi adalah titik pada saat tercapainya kesetaraan asam dan basa yang bereaksi atau titik pada saat larutan mengalami perubahan warna yang disebabkan oleh penambahan indikator. Titran ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titran dan titrat tepat habis bereaksi). misalnya tidak hidroskopis. Asam lemah . massa molekul relatif (berat ekivalen) tinggi. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Oleh . Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Natrium tetra borat Untuk basa : Kalium Ftalat asam. Umumnya digunakan untuk melakukan titrasi larutan uji. Indikator pH adalah asam lemah atau basa lemah organik yang menunjukan perubahan warna pada pH warna tertentu. Titik ekivalen adalah saat banyaknya asam atau basa yang ditambahkan tepat setara secara stokiometri dengan banyaknya basa atau asam yang terdapat dalam larutan yang di analisis (pH pada saat asam dan basa tepat ekivalen). kemudian kita mencatat volume titrat yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Asidimetri : pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa 2.

Ketepatan dalam memilih indikator dapat memperkecil kesalahan titrasi. Titik pada saat tercapainya kesetaraan asam dan basa yang bereaksi dinamakan titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik ekivalen dan selisihnya dinamakan kesalahan titrasi. Untuk mengamati titik ekivalen ini digunakan indicator asam-basa. Ketepatan dalam memilih indikator dapat memperkecil kesalahan titrasi. 1.48 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Senin.Basa Kuat Contoh : . Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk suatu analisis secara titrasi adalah : 1.Basa lemah : NH4OH Persamaan Reaksi :HCl + NH4OH → NH4Cl + H2O Reaksi ionnya :H++ NH4OH. yaitu suatu zat yang dapat berubah warnanya tergantung PH larutan. Titik pada saat tercapainya kesetaraan asam dan basa yang bereaksi dinamakan titik akhir titrasi. Reaksi harus berlangsung dengan cepat 2.Garam dari asam lemah : NH4BO2 Persamaan Reaksi : HCl + NH4BO2→ HBO2+ NH4Cl Reaksi ionnya :H++ BO2-→ HBO2 5. Titrasi Asam Lemah . Titik akhir titrasi harus dapat diamati dengan jelas 5. Pada titrasi jumlah ekivalen asam sama dengan jumlah ekivalen basa. 26 Maret 2012 . Untuk mengamati titik ekivalen ini digunakan indicator asam-basa. Titrasi Asam Kuat-Basa Kuat Contoh : -Asam Kuat : HCL -Basa Kuat NaOH Persamaan Reaksi : HCl + NaOH → NaCl + H2O Reaksi ionnya : H+ + OH-→ H2O 2. Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik ekivalen dan selisihnya dinamakan kesalahan titrasi.karena itu.5% 4.Basa kuat : NaOH Persamaan Reaksi :CH3COOH + NaOH → NaCH3COO + H2O Reaksi ionnya :H++ OH-→ H2O 4. Titrasi Asam Kuat . Titrasi Asam Kuat – Basa lemah Contoh : . sehingga dapat dituliskan sebagai berikut: Ekiuvalen asam = ekivalen basa V asam N asam = V basa N basa Larutan asam dapat ditentukan kadarnya melalui penambahan larutan baku basa yang tepat ekivalen (setara) dengan jumlah asam yang ada. Jenis indicator yang dipilih harus tepat.→ H2O + NH4+ 3.Asam kuat : HCl . Jenis indicator yang dipilih harus tepat. Tiitrasi harus memiliki keberulangan dengan perbedaan hasil tidak lebih dari 0. harus dipilih indikator yang mengalami perubahan warna di sekitar titik ekivalen. yaitu suatu zat yang dapat berubah warnanya tergantung PH larutan. Kadar atau konsentrasi larutan baku atau standar harus diketahui dengan tepat Larutan asam dapat ditentukan kadarnya melalui penambahan larutan baku basa yang tepat ekivalen (setara) dengan jumlah asam yang ada.Garam dari Basa Lemah Contoh : .Basa kuat : NaOH .Garam dari basa lemah : CH3COONH4 Persamaan Reaksi :NaOH + CH3COONH4→ CH3COONa + NH4OH Reaksi ionnya :OH-+ NH4-→ NH4OH Diposkan oleh syinta apriyanti di 21.Asam kuat : HCl .Garam dari Asam Lemah Contoh : . Reaksi kimia yang terjadi harus sederhana dan persamaan reaksinya mudah ditulis 3. Titrasi Basa Kuat .Asam lemah : CH3COOH .

oleh karena itu keduanya di sebut juga sebagai titrasi asam basa. Titrasi di hentikan saat tercapainya titik equivalen. jumlah muatan positif sama dengan jumlah muatan negatif.baik titer maupun titrant biasanya berupa larutan.sedangkan alkalimetri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam. Semoga bermanfaatt^_^ Diposkan oleh syinta apriyanti di 22.titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi. Contoh nya: . 12 Maret 2012 tata nama senYawa>> Kita mulai aja yahh!! Tau gak senyawa ion itu terdiri atas suatu kation dan anion lohh!! Yuk kita bahas!!!! Kation umumnya adalah suatu ion logam. 1. sedangkan zat yang telah di ketahui konsentrasinya di sebut sebagai “titer” dan biasanya di letakkan di dalam buret.perubahan warna menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi. Dalam suatu titrasi zat yang akan di tentukan kadarnya di sebut sebagai “titran” dan biasanya di letakan di dalam erlenmeyer. Pada proses titrasi ini di gunakan suatu indikator yaitu suatu zat yang di tambahkan sampai seluruh reaksi selesai yang di nyatakan dengan perubahan warna.tapi karena titik equivalen ini sulit di amati maka titrasi di hentikan saat terjadi titik akhir titrasi yang di tandai dengan perubahan warna indikator di dalam larutan sample. Rumus senyawa Unsur logam di tulis di depa contohnya natrium klorida di tulis NaCl bukan ClNa kan?? Ini adalah rumus senyawa ion: b Xa+ + a Yb– -> XbYa untuk a dan b sama dengan angka 1 tidak perlu di tulis. Hanya ini yang bisa saya sampaikan. contoh: jika melibatkan asam basa maka di sebut reaksi asam basa. Cara membaca volume larutan yang di keluarkan oleh buret adalah dengan melihat miniskus bawah sejajar dengan mata. Rumus senyawa ion di tentukan oleh perbandingan muatan kation dan anionnya.52 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Senin.. Titrasi biasanya di bedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi.raNgkuman tiTrassii Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah di ketahui konsentrasinya. Sedangkan titrasi asidimetri adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa. sedangkan anion dapat berupa anion non logam.

SO32– : Sulfit 15. SiO32– : Silikat 14. Ag+ 4. PO33– : Fosfit 18. Hg+ 18. Sr2+ 7. S2– : Sulfida 9. K+ 3. F– : Fluorida 3. SO42– : Sulfat 16. Nama senyawa ion Nama senyawa ion adalah rangkaian nama kation (di depan) dan nama anion (di belakang). Ni2+ 10. Pb4+ 15. CO32– : Karbonat 13. NO2– : Nitrit 10. Sn4+ 13. OH– : Hidroksida 2. AsO43– : Arsenat 2. PO43– : Fosfat 19.• Na+ + Cl– -> NaCl natrium klorida • 2 Na+ + SO42– -> Na2SO4 natrium sulfat • Fe2+ + 2Cl– -> FeCl2 besi(II) klorida • Al3+ + PO43– -> AlPO4 aluminium fosfat • Mg2+ + CO32– -> MgCO3 magnesium karbonat • 3 K+ + AsO43– -> K3AsO4 kalium arsenat Ini adalah daftar beberapa jenis kation: 1. O2– : Oksida 8. Ba2+ 8. Contoh : • Cu2O = tembaga(I) oksida • CuO = tembaga(II) oksida • FeCl2 = besi(II) klorida • FeCl3 = besi(III) klorida • Fe2S3 = besi(III) sulfida • SnO = timah(II) oksida • SnO2 = timah(IV) oksida . Cl– : Klorida 4. Fe3+ 17. maka senyawa-senyawanya di bedakan dengan menuliskan bilangan oksidasinya yang di tulis dalam tanda kurung dengan angka romawi di belakang nama unsur logam tersebut. Pb2+ 14. CH3COO– : Asetat 12. Al3+ 11. Na+ 2. AsO33– : Arsenit 20. I– : Iodida 6. Ca2+ 6. Hg2+ 19. Br– : Bromida 5. Mg2+ 5. Zn2+ 9. Fe2+ 16. C2O42– : Oksalat 17. Sn2+ 12. Cu2+ : Natrium : Kalium : Argentum/Perak : Magnesium : Kalsium : Stronsium : Barium : Seng : Nikel : Aluminium : Timah(II) : Timah(IV) : Timbal(II) : Timbal(IV) : Besi(II) : Besi(III) : Raksa(I) : Raksa(II) : Tembaga(I) : Tembaga(II) Ini adalah daftar beberapa jenis anion: 1. Contohnya: • NaCl = natrium klorida • CaCl2 = kalsium klorida • Na2SO4 = natrium sulfat • Al(NO3)3 = aluminium nitrat Jika unsur logam mempunyai lebih dari satu jenis bilangan oksidasi. NO3– : Nitrat 11. Cu+ 20. CN– : Sianida 7.

1999 : 428). kemudian dengan tetesan hingga titik ekivalen. larutan terdiri dari garam dan air. titik akhir dan titik ekivalen seharusnya identik. Pada proses titrasi ini digunakan suatu indikator yaitu suatu zat yang ditambahkan sampai seluruh reaksi selesai yang dinyatakan dengan perubahan warna. Pertama-tama ditambahkan cukup banyak. kita dapat menentukan konsentrasi asam (Timberlake. 1999 : 217218). Didalam beberapa titrasi. Berhasilnya titrasi asam-basa tergantung pada seberapa akurat kita dapat mendeteksi titik stoikiometri. suatu larutan yang akan dinetralkan.atau H3O+ yang terdapat dalam analit. seorang ahli kimia lingkungan mempelajari suatu danau dimana ikan-ikannya mati. unknown). ditambahkan ke asam. Larutan basa yang akan diteteskan (titran) dimasukkan ke dalam buret (pipa panjang berskala) dan jumlah yang terpakai dapat diketahui dari tinggi sebelum dan sesudah titrasi. Titik ekivalen terjadi pada saat terjadinya perubahan warna indikator. dan dengan hati-hati NaOH ditambahkan ke asam pada flask. kedalam larutan asam. Kita bisa mengetahui bahwa netralisasi telah berlangsung ketika penolftalein dalam larutan berubah warna menjadi merah muda. Dalam analisis larutan asam dan basa. volume-volume suatu asam dan suatu basa yang tepat saling menetralkan (Keenan. 1997 : 636). ditempatkan di dalam flask bersamaan dengan beberapa tetes indikator asam basa. yaitu dimana keduanya tidak ada yang berlebihan. Dalam titrasi. 1996 : 597-599). Pada titik stoikiometri.yang ditambahkan sebagai titrant adlah sama dengan jumlah mol dari OH. Larutan asam yang dititrasi dimasukkan kedalam gelas kimia (erlenmeyer) dengan mengukur volumenya terlebih dahulu denga memekai pipet gondok. New York: W. Secara ideal.Cukup sekian penjelasan dari sayaa.. dipakai indikator yang warnanya disekitar titik ekivalen. dimana reaktan pertama ditambahkan secara kontinu ke dalam reaktan kedua disebut titrasi. jumlah mol dari H3O+ dan OH. Titrasi melibatkan suatu proses penambahan suatu larutan yang disebut tirant dari buret ke suatu flask yang berisi sampel dan disebut analit. . H. misal asam. buret kita isi dengan larutan NaOH yang konsentrasinya telah diketahui. penolftalein tidak berwarna. Reaktan yang ditambahkan tadi disebut sebagai titrant dan reaktan yang ditambahkan titrant kedalamnya disebut titree. Prosedur analitis yang melibatkan titrasi dengan larutan-larutan yang konsentrasinya diketahui disebut analisis volumetri.. dan basa apabila ion basa yang terkandung didalamnya (Atkins. Contoh yang akan dianalisis dirujuk sebagai (tak diketahui.. Peter and Jones Lorette. Kemudian larutan lainnya (misal basa) yang terdapat didalam buret. Kita bisa menentukan konsentrasi HCl tersebut melalui suatu prosedur yang disebut titrasi. Larutan tersebut adalah asam apabila ion asam yang terkandung didalamnya. Ini disebut titik akhir netralisasi. Dia harus mengetahui secara pasti seberapa banyak asam yang terkandung dalam suatu sampel air danau tersebut. Dala titrasi yang diamati adalah titik akhir bukan titik ekivalen (syukri. Seperti yang telah diketahui sebelumnya. Semoga bermanfaat^_^ Asidimetri & Alkalimetri May 2. Perubahan warna menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi (Brady. 1998: 422-423). 2004 : 354-355). meskipun ada beberapa hal dimana perbedaan antara kedua hal tersebut dapat diabaikan (Snyder. Pada titrasi. titik ekivalen dari reaksi netralisasi adalah titik pada reaksi dimana asam dan basa keduanya setara. 3rd Ed. Terimakasihhh. Suatu proses didalam laboratorium untuk mengukur jumlah suatu reaktan yang bereaksi sempurna dengan sejumlah reaktan lainnya. DAFTAR PUSTAKA Atkins. Pada titik tersebut. titrasi melibatkan pengukuran yang seksama. terjadi yang untuk mengindikasikan pendekatan yang paling baik ke titik ekivalen. Kemudian. akan tetapi perlu kita ketahui juga berapa banyak asam atau basayang terdapat didalam sampel. 1997 : 550). Dan tambahkan beberapa tetes indikator seperti penolftalein. Salah satu masalah tekhnis dalam titrasi adalah titik dimana suatu perubahan dapat diamati. Kadang-kadang kita perlu mengetahui tidak hanya atau sekedar pH. pertama-tama kita menempatkan suatu asam yang volumenya telah ditentukan ke dalam suatu flask. Titik pada titrasi dimana indikator warnanya berubah disebut titik akhir (Petrucci. dimana kita menetralisasi suatu asam dengan suatu basa yang telah diketahui konsentrasinya. Dari volume yang ditambahkan dan molar NaOH. Freeman and Company. Chemistry Molecules and Canges. titik ekivalen adalah titik selama proses titrasi dimana tepatnya titrat telah cukup ditambahkan untuk bereaksi dengan titree. 2009 at 8:31 am (Landasan Teori) ANALISIS KUANTITATIF : ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang diketahui dan diperlukan untuk bereaksi secara lengkap dengan sejumlah contoh tertentu yang akan di analisis. tetapi dalam prakteknya jarang sekali ada orang yang mampu membuat kedua titik tersebut tepat sama. 1997. Dalam larutan asam. dalam stoikiometri titrasi. Sebagai contoh. Untuk mengamati titik ekivalen. Misalkan kita ingin menentukan molaritas dari suatu larutan HCl yang tidak diketahui konsentrasinya.

San Fransisco: Pearson Benjamin Cummings. Syukri. 2004. W. dkk. James E. Bandung ITB. Ralph H and Willias S. Pengertian asidimetri dan alkalimetri secara umum ialah titrasi yang menyangkut asam dan basa.1 Latar Belakang Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. Jakarta: Binarupa Aksara Keenan. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion OH-sebagai ion negatif. Rinehart And winston. Kata metri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu atau proses atau seni mengukur. Harwood. Kimia untuk Universitas. 1996. Larutan ini disebut larutan standar sekunder yang konsentrasinya ditentukan melalui pembakuan dengan suatu standar primer. 1. Milton K. New Jersey: Prentice Hall. Kesetimbangan asam basa merupakan suatu topik yang sangat penting dalam kimia dan bidang-bidang lain yang mempergunakan kimia. Inc. 1999. Titrasi yang menyangkut asam dan basa sering disebut asidimetri – alkalimetri. Karen C. Jakarta: Erlangga. . Kimia Dasar 2. Pereaksi atau larutan yang selalu dijumpai di laboratorium dimana pembakuannya dapat ditetapkan berdasarkan pada prinsip netralisasi asam – basa (melalui asidi – alkalimetri) diantaranya adalah HCl. 1999. Asam dan basa tersebut memiliki sifat-sifat yang menyebabkan konsentrasi larutannya sukar bahkan tidak mungkin dipastikan langsung dari proses hasil pembuatan atau pengencerannya. General Chemistry. Timberlake.3 Prinsip percobaan Menentukan kadar atau konsentrasi suatu larutan dengan menggunakan larutan yang konsentrasinya diketahui dengan cara mentitrasi suatu zat yang konsentrasinya tidak diketahui dengan zat lain yang konsentrasinya diketahui sehingga jumlah mol kedua zat sama antara satu dengan lainnya. Snyder. C. untuk lebih memahami konsep peniteran asidi – alkalimetri dan mengetahui konsentrasi standar dari zat yang dianalisa maka perlu dilakukan peniteran dengan menggunakan suatu standar primer.2 Tujuan percobaan Mengetahui konsentrasi NaOH standar Mengetahui kadar CH3COOH perdagangan Mengetahui volume titran (NaOH) yang digunakan untuk menetralkan CH3COOH 1. H2SO4. Oleh karena itu. Sedangkan untuk titrasi atau pengukuran lain-lain sering juga dipakai akhiran –ometri menggantikan –imetri. Organic and Biological Chemistry Structure Of Life.Brady. kedokteran dan pertanian. Kimia Universutas Asas dan Struktur. 1998. Petrucci. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai ion positif. seperti biologi. 1997. Chemistry Structure and Reaction. misalnya larutan asam oksalat. NaOH. KOH dan sebagainya. Asidi-alkalimetri berperan penting dalam berbagai bidang kehidupan. General. New York: Holt. Laporan Kimia Dasar II Asidi Alkalimetri BAB 1 PENDAHULUAN 1. Sedangkan basa secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air.

Garam adalah wujud padat dibangun oleh ion-ion. yang menghasilkan suatu larutan garam dalam air. hampir-hampir tak berdisosiasi sama sekali. atau amfolit. volume/berat titran dapat diukur dengan teliti dan bila konsentrasi . Larutan ini akan benar-benar netral jika asam dan basa itu sama kuat . Proses-proses semacam ini disebut netralisasi. Konsentrasi suatu larutan asam atau basa yang anu (unknown) dapat ditentukan dengan titrasi dengan larutan yang konsentrasinya diketahui. Definisi ini adalah benar. ion Na+ dan Cl. persamaan ini dapat disederhanakan menjadi Yang menunjukkan bahwa hakekat suatu reaksi asam-basa (dalam larutan air) adalah pembentukan air. Karena dengan demikian tak ada terjadi apa-apa dengan ion-ion ini. Di lain pihak. seperti natrium hidroksida atau kalium hidroksida hampir sempurna berdisosiasi dalam larutan air yang encer : Karena itu basa-basa ini adalah basa kuat. serta pula garam hampir sempurna berdisosiasi dalam larutan.D. Setiap proton bergabung dengan satu molekul air dengan cara berkoordinasi dengan sepasang elektron bebas yang terdapat pada oksigen dari air. Tetapi ini sebenarnya tidak tepat. yang juga terbentuk dalam proses ini. Reaksi dijalankan dengan titrasi. basa dan garam. sedangkan larutan yang ditambah titran itu disebut titrat. F. sampai jumlah zat-zat yang direaksikan tepat menjadi akivalen satu sama lain. Ini ditunjukkan oleh fakta. Jika persamaan reaksi dinyatakan sebagai interaksi molekul-molekul. pada mana ia melarut dan ion aluminium terbentuk : Dalam reaksi ini aluminium hidroksida bertindak sebagai basa. Misalnya. Sebenarnya ion hidrogen (proton) tak ada dalam larutan air.9 KJ) untuk reaksi suatu mol setiap asam kuat dan basa kuat yang sembarang. Tetapi tak ada pembagian yang tajam antara golongan-golongan ini. Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat. amonia membentuk amonium hidroksida. aluminium hidroksida juga bisa dilarutkan dalam natrium hidroksida : Pada mana ion tetrahidroksoaluminat terbentuk. garam adalah hasil reaksi antara asam dan basa. Teknik semacam itu disebut analisis volumetri. akan diperoleh larutan asam lemah atau basa lemah. Sedangkan air. 1987) Volumetri adalah cara analisis jumlah berdasarkan pengukuran volume larutan pereaksi berkepekatan tertentu yang direaksikan dengan larutan contoh yang sedang ditetapkan kadarnya. yang tersusun dalam pola yang teratur dalam kisi kristalnya. (Kleinfetter. (G. D. baik dengan ion hidrogen maupun ion hidroksil). mampu melangsungkan reaksi netralisasi baik dengan asam maupun basa (lebih tepatnya. Dalam reaksi ini aluminium hidroksida berperilaku sebagai asam. saat ini dinamakan titik akhir titrasi.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. yang tak mempunyai ciri-ciri khas suatu asam maupun basa. secara paling sederhana dapat didefinisikan sebagai zat. Pada saat titran yang ditambahkan tampak telah ekivalen. lebih tepat untuk menyatakan reaksi netralisasi sebagai penggabungan ion-ion secara kimia : Dalam persamaan ini. Zat-zat ini dinamakan garam oleh ahli-ahli kimia zaman dulu. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion-ion hidroksil sebagai satu-satunya ion negatif. dalam artian. merupakan suatu basa lemah. Shevla. yang bila dilarutkan dalam air. dan larutannya diuapkan. yang berdisosiasi menjadi ion amonium dan ion hidroksida : Namun lebih tepat untuk menulis reaksi itu sebagai Karena itu. sedang basa lemah merupakan elektrolit lemah.Sc. Zat-zat amfoter. Dengan jalan ini. bahwa panas netralisasi adalah kurang lebih sama (56. basa kuat merupakan elektrolit kuat. aluminium hidroksida bereaksi dengan asam kuat. adalah mungkin untuk menyatakan kekuatan basa secara kuantitatif. Ph.tampil pada kedua sisi. suatu zat kristalin tertinggal. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. Karena itu. maka penambahan titran harus dihentikan. 1985) Bila suatu asam dan suatu basa yang masing-masing dalam kuantitas yang ekuivalen secara kimiawi. Pembentukan garam seakan-akan merupakan hasil dari suatu proses kimia sejati. dicampur akan dihasilkan suatu reaksi penetralan.C. Bila dilarutkan dalam air. bahwa jika sejumlah asam dan basa murni ekuivalen dicampur. Hidroksida-hidroksida logam yang larut. yaitu suatu larutan ditambahkan dari buret sedikit demi sedikit. Menurut definisi yang kuno. dan terbentuk ion-ion hidronium : H+ + H2O → H3O+ Basa. yang bila dilarutkan dalam air. dan sama halnya dengan asam. Kita tahu bahwa baik asam (kuat) maupun basa (kuat).R. kalau tidak. Di lain pihak larutan air amonia.I. Larutan yang ditambahkan dari buret disebut titran.

Konsentrasi titran harus diketahui. sedang warna yang ditunjukkan dalam keadaan basa disebut warna basa. Asam berarti pH lebih rendah dan basa berarti pH lebih besar dari trayek indikator atau trayek perubahan warna yang bersangkutan. maka : 1. Perhatikanlah sekali lagi arti ungkapan ”pereaksi telah ekivalen”. maka asam dan/atau basa yang bersangkutan harus kuat. sebab jumlah yang bereaksi ditentukan oleh persamaan reaksi. 2003) Kebanyakan indikator asam basa adalah molekul kompleks yang bersifat asam lemah dan sering disingkat dengan HIn. (Khopkar. asam dengan basa yang titernya diketahui disebut alkalimetri. indikator yang lazim dipakai. basa harus kuat dan garam harus terbentuk dari basa lemah sekali. Indikator Asam Basa – Indikator asam basa ialah zat yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. atau basa. adalah sebagai berikut : tak berwarna PP dalam bentuk asam (HIn) merah basa konjugat PP dalam bentuk basa (In-) . atau sangat mendekatinya. Peniteran sebaliknya. agar kuantitatif. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron. Titran dan titrat tepat saling menghabiskan. 2. 2. Karena jumlah titrat ekivalen dengan jumlah titran. 3. Larutan seperti ini disebut larutan standar. maka kalau pH dialurkan lawan volume titran. - - Untuk memenuhi pernyataan (1). Titik pada saat indikator berubah warna disebut titik akhir. yakni sebelum ditambah basa dan pada waktu-waktu tertentu setelah titrasi dimulai. Bila kita mengukur berapa mL larutan bertitar tertentu yang diperlukan untuk menetralkan larutan basa yang kadar atau titernya belum diketahui. agar kuantitatif. Tujuan : memilih indikator yang memiliki titik akhir bertepatan dengan titik stoikhiometri. trayek indikator tersebut harus memotong bagian yang sangat curam dari kurva. Perubahan warna itu harus terjadi dengan mendadak. 1987) Berikut syarat-syarat yang diperlukan agar titrasi yang dilakukan berhasil : 1. tidak ada kelebihan yang satu maupun yang lain. sering disingkat PP. yaitu titrasi yang menyangkut asam dan/atau basa. 2005) Proses titrasi asam – basa sering dipantau dengan penggambaran pH larutan yang dianalisis sebagai fungsi jumlah titran yang ditambahkan. (Harjadi. dalam larutan asam ia berwarna kuning. maka pH larutan mula-mula rendah dan selama titrasi terus menerus naik. Indikator yang memberikan perubahan warna. Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna pada range pH yang berbeda. Struktur Fenolftalein. tetapi dalam lingkungan basa warnanya biru. Misalnya biru bromtimol (bb). Ini tidak selalu berarti. Volume titran yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalen harus diketahui setepat mungkin. jadi berdasar pembentukan basa lemah tersebut. Mereka memberikan satu warna berbeda bila proton lepas. atau kurva titrasi. maka pekerjaan itu disebut asidimetri. baik volume maupun jumlah gram atau mol-nya. Misalnya bila larutan asam dititrasi dengan basa. Reaksi-reaksi yang terjadi dalam titrasi ini ialah : asam dengan basa (reaksi penetralan). (Hardjono Sastrohamidjojo. Hal ini jelas. maka jumlah mol titrat dapat diketahui pula berdasar persamaan reaksi dan koefisiennya. atau sangat dekat pada titik ekivalen yang sering digunakan. (Harjadi. maka jumlah mol titran dapat dihitung. maka trayek indikator harus mencakup pH larutan pada titik ekivalen. Bila pH ini diukur dengan pengukur pH (pH-meter) pada awal titrasi. Warna dalam keadaan asam dinamakan warna asam dari indikator (kuning untuk bb). yang berarti: telah tepat banyaknya untuk menghabiskan zat yang direaksikan. Indikator harus berubah warna tepat pada saat titran menjadi ekivalen dengan titrat agar tidak terjadi kesalahan titrasi. agar tidak ada keragu-raguan tentang kapan titrasi harus dihentikan. (Hardjono Sastrohamidjojo. Akan tetapi harus dimengerti. untuk memenuhi pernyataan (2). basa dengan garam. KURVA TITRASI – Larutan yang dititrasi dalam asidimetri-alkalimetri mengalami perubahan pH. 2005) Contoh : Fenolftalein. Reaksi yang tepat antara titran dan senyawa yang dianalisis harus diketahui. kita peroleh grafik yang disebut kurva titrasi. tak berwarna dalam bentuk Hin-nya dan berwarna pink dalam bentuk In. Bila suatu indikator pH kita pergunakan untuk menunjukkan titik akhir titrasi. asam dengan garam (reaksi pembentukan asam lemah). 1987) Salah satu macam titrasi adalah titrasi asidimetri-alkalimetri. 4. bahwa asam dan basa disini tidak berarti pH kurang atau lebih dari tujuh. Gambar yang diperoleh tersebut disebut kurva pH. bahwa pereaksi dan zat yang direaksikan telah sama banyak. agar kuantitatif. Titik stoikhiometri atau ekivalen harus diketahui. Dalam titrasi ini perubahan terpenting yang mendasari penentuan titik akhir dan cara perhitungan ialah perubahan pH titrat. asam harus kuat dan garam itu harus terbentuk dari asam lemah sekali.- juga diketahui.

1 Alat-alat Buret Pipet volume 10 ml Labu ukur 100 ml Pipet tetes Erlenmeyer 100 ml 3.1 Asidimetri Dituang asam oksalat 0.3 Prosedur Percobaan 3. erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 2 tetes 3. Dituang asam oksalat 0. Dititrasi dengan larutan asam oksalat 0.1 Hasil Pengamatan 4.1 Asidimetri No.1 N hingga - Pengamatan warna titrat menjadi merah lembayung .3.1 N Asam oksalat dihidrat Indikator PP 3.1.2 Bahan-bahan Asam cuka perdagangan NaOH 0.3.1 N hingga terjadi perubahan warna Dicatat volume oksalat yang diperlukan Dihitung konsentrasi NaOH 3.2 Alkalimetri Dituang larutan NaOH yang telah distandarisas kedalam buret Dipipet 10 ml cuka perdagangan lalu diencerkan hingga 100 ml Dipipet 10 ml cuka yang telah diencerkan lalu dimasukkan kedalam erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 3 tetes Dititrasi dengan NaOH hingga terjadi perubahan warna Dicatat volume NaOH yang digunakan Dihitung kadar cuka perdagangan - - BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Perlakuan 1.1 N kedalam buret Dipipet 10 ml NaOH lalu dituangkan kedalam erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 2 tetes Dititrasi dengan larutan asam oksalat 0.BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN 3.1 N kedalam buret Dipipet 10 ml NaOH lalu dituangkan kedalam 2.

25 ml 5.Larutan tetap berwarna bening warna .6 ml 6.perubahan warna dari merah lembayung menjadi tidak berwarna . Dicatat volume NaOH yang digunakan Dihitung kadar cuka perdagangan . Dituang larutan NaOH yang telah distandarisasi kedalam buret 2.perubahan warna dari bening menjadi merah lembayung 5.2 Reaksi . C= = = 51 gr/mL 4. V2 = 6. 7. terjadi perubahan warna Dicatat volume asam oksalat yang diperlukan Dihitung konsentrasi NaOH . 6.V = 13.V1 = 6. Dipipet 10 ml cuka yang teah diencerkan lalu dimasukkan kedalam erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 3 tetes 4.2 Alkalimetri No.1. Dipipet 10 ml cuka perdagangan lalu diencerkan hingga 100 ml 3.Vrata-rata = 6.4 ml .0625 N 4.4.1 ml . N NaOH = = 0. Perlakuan Pengamatan 1. Dititrasi dengan NaOH hingga terjadi perubahan .

Bila pereaksi digunakan dalam bentuk larutan. Dalam penentuan titik akhir titrasi digunakan indikator yaitu. Syarat-syarat larutan standar primer adalah : 1. larutan standar primer dan larutan standar sekunder. 4. Reaksi dasar dalam titrasi asam-basa adalah netralisasi atau penetralan. Sangat murni atau mudah dimurnikan 2.3. Stabil dalam keadaan biasa. senyawaan yang digunakan sebagai penunjuk visiual pada saat tercapainya titik setara titrasi antara dua larutan tertentu. maka volume dan konsentrasinya harus diketahui dengan tepat. yaitu reaksi asam dan basa.2 Kadar CH3COOH perdagangan V = 13. larutan peniter diteteskan sedikit demi sedikit kedalam larutan contoh sampai tercapai titik akhir titrasi yaitu. Dalam titrasi sampel direaksikan dengan suatu pereaksi sehingga jumlah kedua zat tersebut ekivalen.3 Perhitungan 4. yang dapat dinyatakan dalam persamaan reaksi seperti berikut : H+ + OH. maka pekerjaan itu disebut asidimetri. Dalam asidi-alkalimetri indikator yang digunakan adalah indikator pH yaitu zat .4 ml V2 = 6. asam dengan basa yang titernya diketahui disebut alkalimetri. Pelaksanaan penentuan kadar zat dengan jalan titrasi yaitu. setidak-tidaknya selama ditimbang Sedapat mungkin mempunyai berat ekivalen tinggi untuk mengurangi kesalahan penimbangan Dalam titrasi akan bereaksi menurut syarat-syarat reaksi titrasi Mempunyai rumus molekul yang pasti Larutan standar sekunder adalah larutan yang konsentrasinya ditentukan dengan cara pembakuan. Bila pereaksi digunakan dalam bentuk padat. maka beratnya harus diketahui dengan tepat. Larutan standar dibagi menjadi dua yaitu. Larutan yang diketahui konsentrasinya disebut larutan baku atau larutan standar. titik dimana indikator tepat berubah warna.→ H2O Bila kita mengukur berapa ml larutan asam bertitar tertentu yang diperlukan untuk menetralkan larutan basa yang kadar atau titernya belum diketahui.1 ml V rata-rata = N NaOH = = 0.1 Konsentrasi NaOH V1 = 6. Larutan standar primer adalah larutan yang kadarnya dapat diketahui secara langsung dari hasil penimbangan. Hendaknya diusahakan agar titik akhir ini sedekat mungkin pada titik ekivalen yaitu. Contohnya NaOH dan HCl. Contohnya K2Cr2O7 dan Na2B4O7.0625 N 4. 3. titik dimana titran dan titrat tepat saling menghabiskan. Peniteran sebaliknya.3. 5.4 Pembahasan Titrasi asam basa sering disebut asidimetri-alkalimetri. tidak ada kelebihan yang satu maupun yang lain.6 ml C= = = 51 gr/mL 4.4.

9. Alat yang digunakan harus bersih dan kering agar tidak terjadi kontaminasi dengan zat-zat sisa yang tertinggal pada alat-alat yang digunakan.0 . Kelebihan titran sehingga volume titik akhir melebihi yang seharusnya.0 9.6 8.8. Dari perhitungan didapatkan kadar CH3COOH sebesar 51 gr/mL.0 7.6 6.05 ml.4.8 1. Setelah didapat titik akhir pada volume asam oksalat 6. Dikarenakan trayek pH indikator PP mencakup pH titik ekivalen antara asam lemah dengan basa kuat.8 6.4 . maka dapat dihitung kenormalan NaOH standar yang dapat digunakan untuk menetapkan kadar asam yang akan ditetapkan kadarnya. menyebabkab warna larutan NaOH berwarna merah lembayung. Dalam bidang farmasi asidi alkalimetri digunakan untuk menentukan gugus obat sulfa.4 ml dan 6.6 ml.2. Setelah ditambah indikator. Dari 100 ml larutan asam cuka yang telah diencerkan dipipet 10 ml dan ditambahkan 2 tetes indikator PP.8 .7. Kesalahan praktikan pada pembacaan miniskus buret.6.8.0.10.8. perubahan HIn menjadi In -. Perubahan warna menjadi merah lembayung dikarenakan indikator bereaksi dengan basa (NaOH).4. ini berarti jumlah titrat telah ekivalen dengan jumlah titran.0 .0 .3 4. Indikator PP ditambahkan 2 tetes pada larutan NaOH 10 ml. Pada saat melakukan titrasi banyak kemungkinan faktor kesalahan yang terjadi diantaranya : Kebersihan alat-alat yang digunakan. Setelah didapat titik akhir pada volume NaOH 13. Jadi ketika indikator tepat berubah warna atau titik akhir titrasi telah tercapai.0 6.3 . Pengerjaan titrasi dilakukan secara duplo untuk lebih meyakinkan bahwa titik akhir sudah tercapai dan hasil dari dua kali titrasi hendaknya jangan berbeda lebih dari 0.4 3.8.0 2.2 5. Oleh karena itu.α . Hal ini dikarenakan penambahan [H+] sehingga [OH] berkurang dan keseimbangan bergeser ke kiri.1 . Warna No. maka dapat dihitung kadar CH3COOH perdagangan.4.10. Larutan asam cuka yang ditambahkan indikator PP tidak mengalami perubahan warna. Misalnya dalam bidang kesehatan basa (Mg(OH) 2) digunakan sebagai antasida untuk menetralkan asam lambung (HCl).6.1 .5 Trayek pH .0 9.1 .6.2 .0 .1 ml.0 7.6-Dintrofenol Kuning metil Jingga metil Hijau bromkresol Merah metil Lakmus Purpus bromkresol Biru bromtimol Merah fenol p. Sehingga warna larutan berubah menjadi merah lembayung yang disebut warna basa indikator.2 .9. indikator PP sangat tepat digunakan untuk penunjuk titrasi asam lemah dengan basa kuat.5.2 .2 . Dalam kehidupan sehari-hari asidi alkalimetri memiliki peranan penting.Naftolflatein Purpus kresol Fenolftalein Timolftalein tidak berwarna merah tidak berwarna merah merah kuning merah merah kuning kuning kuning kuning kuning tidak berwarna tidak berwarna Basa kuning kuning kuning kuning jingga biru kuning biru purpur biru merah biru biru merah biru 0.0 8. Dari perhitungan didapatkan konsentrasi NaOH sebesar 0. Pada saat titik akhir telah tercapai warna larutan berubah menjadi merah lembayung dikarenakan penambahan [OH-]. Pada peniteran alkalimetri pada percobaan ini yang akan ditetapkan kadarnya adalah asam cuka perdagangan. perubahan ini menjadi HIn hingga titik akhir warna tidak terlihat.8 2. Indikator yang digunakan adalah indikator PP.3 .5 Merah Metil ( MM ) Phenolphthalein ( PP ) Thymolphthalein ( TP ) - Pada percobaan titrasi antara NaOH dan CH3COOH yaitu titrasi asam lemah dengan basa kuat digunakan indikator PP.yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. menyebabkan [H+] berkurang dan keseimbangan bergeser ke kanan.2 .4.4 .4 4. Sebanyak 10 ml asam cuka diencerkan didalam labu ukur hingga 100 ml.4 4.2 .0625 N. Nama Asam 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Asam pikurat Biru Timol 2. Pada peniteran asidimetri pada percobaan yang dilakukan adalah penetapan kenormalan NaOH dengan menggunakan asam oksalat sebagai larutan standar primer yang berfungsi sebagai titran.5 .9 . Beberapa penunjuk yang biasa digunakan untuk titrasi asam-basa: Warna Larutan Penunjuk Trayek pH Asam Sindur Metil Lakmus Merah netral ( SM ) (L) ( MN ) Merah Merah Merah Merah Tak berwarna Tak berwarna Basa Sindur Kuning Biru Kuning Merah lembayung Biru 3. Sebenarnya telah terjadi reaksi antara indikator dan asam atau basa yang bersangkutan.8 .10.0 3. Lalu asam cuka dititrasi dengan larutan NaOH yang telah distandarisasi.3 5. lalu titrat dititrasi dengan titran hingga mencapai titik akhir ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi tidak berwarna.10.

Analisis secara Volumetri adalah analisis kimia kuantitatif utuk menentukan banyaknya volume suatu larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan teliti yang bereaksi secara kuantitatif dengan larutan/zat yang akan kita tentukan konsentrasinya. atau [H+] = [OH-] = 107.16 17 Kuning alizarin R 1. Larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan teliti disebut Larutan Standart. under | 1 comment ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI TUJUAN Mahasiswa dapat membuat larutan HCl 0. LAporan ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI Posted by For Indonesiaku 15. Indikator yang tepat untuk titik akhir titrasi ini salah satunya adalah fenolftalein yang memiliki trayek pH 8.6 ml - 5. Pada peniteran asam lemah-basa kuat.12. Analisis anorganik secara kuantitatif yaitu proses atau operasi analisis hanya digunakan untuk mengetahui atau mengidentifikasi penyusun-penyusun dari suatu zat dan pengembang-pengembang metoda-metoda pemisahan masingmasing penyusun yang terdapat dalam suatu campuran.2 – 10. BAB 5 PENUTUP 5. setiap basa yang diteteskan bereaksi dengan asam dan peniteran dihentikan pada saat jumlah mol H+ setara dengan jumlah mol OH-.1 Kesimpulan Konsentrasi NaOH standar yang digunakan dalam percobaan adalah 0.3. Titik akhir titrasi ini dapat dilihat denga adanya perubahan warna yang terdapat dalam larutan yang dititrasi.1 N Mahasiswa dapat melakukan standarisasi cuplikan (sampel) DASAR TEORI Asidimetri : Analisis (volumetri) yang menggunakan asam sebagai larutan asam sebagai larutan Standart. pH nya pada titik ekivalen > 7 karena kebasaan konjugat asam lemah CH3COO-.1 .2 Saran Dalam melakukan percobaan dapat digunakan asam kuat-basa kuat atau asam kuat-basa lemah agar praktikan lebih dapat memahami titrasi asam-basa dan dapat digunakan indikator yang berbeda. Saat dimana terjadi reaksi yang sempurna tercapai disebut saat Titik Ekivalen atau titik Stoikiometri biasanya titik akhir titrasi disebut juga titik akhir teoritis.0 . Reaksi dalam analisis volumetri terbagi menjadi : Reaksi-reaksi yang tidaj menimbulkan / mengakibatkan terjadinya perubahan valensi. .Analisis berdasarkan Volumetri. Secara garis besar. hanya penggabungan ion-ion saja. 2.1 N Mahasiswa dapat melakukan standarisasi larutan HCl 0. Perubahan warna dalam larutan ini akan lebih jelas bila dalam proses titrasi ditambahkan sedikit indicator.Trinitrobenzen kuning tidak berwarna violet jingga 10. Proses penambahan larutan standart ke dalam larutan yang akan ditentukan normalitasnya sampai terjadi reaksi yang sempurna disebut Titrasi.5. analisis kuantitatif terbagi menjadi : 1.00.14.1 N Mahasiswa dapat melakukan standarisasi larutan NaOH 0. Pada saat ini larutan bersifat netral. Analisis anorganik secara kuantitatif yaitu proses analisis untuk menentukan atau mengidentifikasi banyaknya atau perbandingan banyaknya tiap-tiap penyusun yang terdapat suatu zat atau persenyawaan. larutan standart ini tiap liternya mengandung sejumlah gram ekivalen tertentu.0625 N Kadar asam asetat perdagangan yang dipakai dalam percobaan adalah 51 gr/mL Volume NaOH terpakai pada peniteran CH3COOH sebanyak 13.Analisis berdasarkan Gravimetri. Banyaknya zat yang akan ditentukan konsentrasinya dapat dihitung dari banyaknya volume standart dengan hukum ekivalen biasa.0 12. Sedang larutan yang akan ditentukan normalitasnya disebut larutan yang dititrasi. Alkalimetri : Analisis (volumetri) yang menggunakan alkali (basa) sebagai larutan asam sebagai larutan standart.46.0 Pada peniteran asam dan basa.1 N Mahasiswa dapat membuat larutan NaOH 0.

Membuat larutan HCl 0. Neraca timbang BAHAN : NaOH Kristal 5. Dititrasi dengan larutan NaOH 0. Dititrasi ulang 2-3 kali. Kristal asam oksalat (H2C2O4 )ditimbang sebanyak 0. Disimpan di dalam botol dan ditutup rapat-rapa.5 ) n : Valensi asam ( HCl = 1 ) L : Berat jenis asam ( HCL = 1. misalnya pada reaksi Oksidasi dan Reduksi. V1 : Volume zat penetrasi/standar (ml) N1 : Normalitas zat penetrasi/standar (gram ekivalen/liter) V2 : Volume zat yang dititrasi/dicari N nya (ml) N2 : Normalitas zat yang dititrasi/dicari N nya (gram ekivalen/liter) Sedangkan reaksi-reaksi yang melibatkan proses oksidasi dan reduksi akan dibahas tersendiri dalam praktikum yang menggunakan zat kimia bersifat oksidator/reduktor seperti Iodometri dan Iodimetri. Larutan HCl tersebut dititrasi dengan Natrium Borat yang dibuat. Ditentukan Normalitas asam tersebut.Reaksi-reaksi yang tidaj menimbulkan / mengakibatkan terjadinya perubahan valensi. kemudian ditambah dengan aquadest. ALAT DAN BAHAN ALAT : Buret 7. Indikator MO dan PP H2SO4 pekat 7. Titrasi diulang sampai 3 kali. NaOH tersebut dimasukkan ke dalam labu takar 250 ml.632 gram. Membuat larutan NaOH 0. Pipit ukur Gelas arloji 9.membentuk molekul air. Proses titrasi Asidimetri dan Alkalimetri merupakan salah satu proses titrasi netralisasi.1 N dengan Asam Oksalat. Larutan HCl (yang dibuat) diambil sebanyak 25 ml dan ditambahkan 3 tetes indikator MO. Gelas beker Pipet tetes 12.1 N ) V : Volume asamyang dibutuhkan ( 100 ml ) M : Berat molekul asam ( HCl = 36. Dalam perhitungan selanjutnya kita gunakan persamaan antara volume dan konsentrasi masing-masing zat yang dititrasi dengan zat penetrasinya dan berlaku rumus sebagai berikut : V1 x N1 = V2 x N2 Dimana. Indikator PP ditambahkan sebanyak 3 tetes. kemudian ditandabataskan. Sebanyak 25 ml larutan asam oksalat tersebut dimasukkan dalam Erlenmeyer dan ditambahkan 3 tetes indicator PP. Asidimetri suatu titrasi terhadap larutanlarutan basa bebas atau garam yang berasal dari basa lemah dengan larutan standart asam. HCl pekat dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL. Ditentukan normalitas sampel tersebut. Penentuan larutan sampel Sebanyak 25 mL sampel yang sudah disediakan dimasukkan kedalam Erlenmeyer.1 N dibuat sebanyak 100 ml (sesuai perhitungan). Dititrasi dengan larutan NaOH standart.1 N HCl pekat dianbil sebanyak 0.1 N NaOH sebanyak 1. kemudian ditandabataskan. Bulbpet Labu takar 10. Cara menghitung (X) ml HCl sebagai berikut: x=(N x V x M)/(10n x K x L) Dimana . Dititrasi ulang 2-3 kali.Dalam proses ini yang terjadi adalah penggabungan antara ion-ion H+dengan ion-ion OH. Erlenmeyer Corong 11. Sedang alkalimetri adalah suatu proses titrasi larutan-larutan asam bebas atau larutan-larutan garam yang berasal dari asam lemah dengan larutan standar basa. Dilarutkan dengan air murni dalam labu takar 100 ml. . Aquadest Asam oksalat CARA KERJA 1. Penentuan normaitas larutan NaOH 0. 2. Larutan dikocok sampai homogen. X : Banyaknya HCl yang diambil ( ml ) N : Normalitas larutan HCl yang dibuat ( 0. Penentuan Normalitas HCl 0. kemudian ditandabataskan. Natrium Borat kristal HCl pekat 6.3-1.1 N Larutan natrium Borat 0.83 mL.1 N (yang akan dicari normalitasnya).4 ) K : Kadar asam HCl ( %= 35-36 ) 4.091 ditimbang dengan gelas arloji (sesuai dengan perhitungan). Pipet gondok Sendok sungu 8.

83 ml BM HCl pekat : 36.87 ml Normalitas NaOH V NaOH x N NaOH = V Oksalat x N Oksalat N NaOH = (V Oksalat x N Oksalat)/(V NaOH) N NaOH = ((25 ml)(0.1 N BM NaOH : 40. 25 ml PP 3 tetes 24 ml Jernih ҉ Pembuatan larutan HCl 0.047 gram N NaOH=(Massa NaOH)/(BE NaOH) x 1000/(V (ml)) Massa NaOH = N NaOH x BE NaOH x V (ml) : 1000 =(0. 25 ml PP 3 tetes 18.9 ml MO 3 tetes Kuning ҉ Penentuan larutan sampel NO.8 ml Jernih PERHITUNGAN Ѽ Pembuatan NaOH 0.1003))/(23.6 + 24 )ml/3 = 23.4 ml MO 3 tetes Kuning Orange2. Volume HCl Volume Na2B4O7 Indikator Perubahan warna Orange1.1 N Volume HCl yang harus diambil : ± 0.19 gr/ml Prosen HCl pekat : 37 % Volume pengenceran : 100 ml ҉ Standarisasi larutan HCl dengan larutan Na2B4O7 Massa Borat : 1. 25 ml 30.5))/(10(1)x (37)x (1.19)) x= 0. 25 ml 30.07 gram/mol Volume pengenceran : 100 ml NO.87 ml) = 0.105 N Ѽ Pembuatan larutan HCl 0.5 g/mol BD HCl pekat : 1.6 ml Jernih Merah muda3.3 ml MO 3 tetes Kuning Orange3.37 g/mol Volume pengenceran : 100 ml NO.4 ml Jernih Merah muda2.H2O=(M C2H2O4.091 gram Volume NaOH : 250 ml ҉ Standarisasi Normalitas lautan NaOH dengan garam asam oksalat ( H2C2O4 ) Massa oksalat : 0.6 ml Jernih merah muda3.83 ml BM HCl pekat : 36.1003 N ₰ Volume NaOH V rata NaOH=( 24 +23.632 gram BM asam oksalat = 126.07/2) x 1000/100 = 0.H2O)/(BE C2H2O4.903 gram BM Borat : 381.1 N)x (40 gr/mol)/1 x (250 ml)/(1000 ml) = 1 gram Ѽ Penentuan normalitas larutan NaOH 0.07 gr/mol Volume asam oksalat = 100 ml Maka.DATA PENGAMATAN ҉ Pembuatan NaOH 0. ₰ Normalitas asam oksalat Massa asam oksalat = 0.1 N)x (100)x (36.19 gr/ml Prosen HCl pekat : 37 % Volume pengenceran : 100 ml x=(N x V x M)/(10n x K x L) x=((0. 25 ml PP 3 tetes 24 ml Jernih merah muda2.1 N Volume diambil HCl : 0. 25 ml PP 3 tetes 18. Volume HCl/Sampel Indikator Volume NaOH Perubahan warna Merah muda1. N C2H2O4.H2O=(0.632 gram BM oksalat : 126. 25 ml 30. Volume Oksalat Indikator Volume NaOH Perubahan warna merah muda1.83 ml ( diencerkan menjadi 100 ml) Ѽ Penentuan massa Natrium Borat yang diambil . 25 ml PP 3 tetes 23.5 g/mol BD HCl pekat : 1.1 N Massa NaOH yang ditimbang = 1.1 N dengan asam oksalat.H2O) x 1000/(V (ml)) N C2H2O4. 25 ml PP 3 tetes 18.0 g/mol Berat NaOH : ± 1.632 gram)/(126.

praktikan bertujuan untuk dapat membuat larutan HCl 0. NaOH distandarisasi menggunakan asam oksalat. Percobaan selanjutnya yaitu membuat larutan HCl 0.0998N)/(25 ml) = 0. NaOH adalah basa kuat yang dapat larut dalam air.Mr Na-Borat = 381. Titrasi dihentikan setelah terjadi perubahan warna dari kuning menjadi orange. dapat melakukan standarisasi larutan HCl 0.1 N 0.Untuk mengetahui adanya perubahan warna. Standarisasi HCl dengan Na-Borat menggunakan indicator MO (Metil Orange). Sedangkan alkalimetri yaitu analisis secara volumetric dengan larutan standar asam. dan biasanya digunakan untuk pembuatan larutan alkali standar. sehingga suatu larutan standar tidak dapat dibuat dengan melarutkan suatu bobot yang diketahui dalam volume air tertentu.1 N diperoleh perhitungan 0.903 gr seharusnya 1. penimbangannya 1.1 N dengan asam oksalat. Asidimetri yaitu analisis secara volumetric dengan larutan standar basa.1216 N)x (100)x (36.467 ml N Na-Borat = (m Na-Borat)/Be x 1000/V = (1. NaOH sangat higroskopis dan selalu terdapat sejumlah tertentu alkali karbonat dan air. Percobaan pertama yaitu membuat larutan NaOH 0. Dari hasil percobaan diketahui bahwa volume NaOH untuk titrasi adalah 23.dilakukan terlebih dahulu pengenceran asam oksalat 0.7 ))/3 = 30.37 gr/mol Volume pelarutan = 100 ml N Na-Borat = 0. Terjadinya perubahan warna merupakan akibat reaksi yang menunjukkan perbedaan pH.1 N.37 gr/mol x 100 ml)/(1000 ml) = 1.953 ml)/(25 ml) = 0.1 N. Pada pembuatan larutan asam oksalat 0. Dan untuk mengindikasi adanya perubahan pH maka digunakan indicator PP.19)x 0.0998 N VHCl x NHCl = V Na2B4O7 x N Na2B4O7 NHCl = (V Na2B4O7 xN Na2B4O7)/VHCl = (30.Saat dititrasi.6 ml x 0. sehingga diperoleh normalitas sebesar 0. Pada percobaan ini. NaOH distandarisasi dengan asam oksalat karena agar lebih stabil dengan adanya 2 valensi pada asam oksalat.5))/(10(1)x (1. Pada percobaan ini.1 N.1/2 L = (0.larutan oksalat berwarna jernih dan setelah dititrasi dengan NaOH. Reaksi yang terjadi : NaOH + (COOH)2 (COONa)2 + 2H2O Reaksi indicator dengan titrant : NaOH + In.1 N dari HCL 37% dalam 100 ml harus diambil ± 0.63 gr.Hanya saja pada percobaan yang ketiga ini harus .1 N sebanyak 100 ml. dapat membuat larutan NaOH 0. Pada percobaan ini HCl distandarisasi dengan NaBorat.Setelah dilakukak pengenceran.1 N.105 N.Pertama.7 ml. sebab belum tentu dalam pembuatan HCl dan NaOH didapat normalitas 0.87 ml sehingga normalitas NaOH hasil standarisasi yaitu 0. dapat melakukan standarisasi larutan NaOH 0.8 )ml/3 = 18.906 gr.ternyata terjadi perubahan warna menjadi merah muda yang menghabiskan volume NaOH sebanyak 24.105 N Vsampel x N sampel = V NaOH x N NaOH 25 ml x N sampel = 18.37/2)(gr/mol)) x 1000/100 = 0. dan dapat melakukan standarisasi cuplikan (sampel). Dengan adanya indicator PP. tetapi 0. Penggunaan larutan NaOH dan HCl sendiri didasarkan pada pengertian asidimitri dan alkalimetri itu sendiri.63 gram ke dalam erlenmeyer 100 ml.1 N dalam 100 ml 0.903 gr)/((381.936 % Penentuan Larutan sampel (HCl) V sampel = 25 ml V NaOH = (18.digunakan indicator PP yang dicampur pada larutan oksalat.1 grek/L Mol = 0.dimana akan dibuat larutan HCl 0. Begitu juga pada pembuatan Na-Borat.Metode yang digunakan sama seperti yang sebelumnya yaitu dengan pengenceran.titik ekivalen atau titik akhir titrasi selesai dilakukan saat terjadi perubahan warna.6 ml N NaOH = 0. Tujuan dari standarisasi adalah menentukan konsentrasi larutan setepat mungkin.+ OHUntuk pembuatan larutan HCL 0. Setelah diperoleh beberapa data.1 N.1 N.632 gr.3+30.NaIn.467 ml x 0.05 mol x 381.6+18.83 ) = 44.bisa kurang bisa lebih.1216 N Konsentrasi HCl sesungguhnya x=(N x V x M)/(10n x K x L) K=(N x V x m)/(10n x L x X) =((0. Reaksi yang terjadi sebagai berikut : Na2B4O7 + 5 H2O + 2 HCl 2 NaCl + 4 H3BO3 Reaksi indicator dengan titrant : HCl + InPercobaan kedua yaitu menentukan normaitas larutan NaOH 0. selain itu harganya juga murah.4+30.1003 N sebab pada saat penimbangan padatannya tidak diperoleh tepat 0.4+18. Tetapi NaOH harus di standarisasai terlebih dahulu karena tidak satupun dari hidroksida padat ini dapat diperoleh murni.didapat nilai normalitas oksalat sebesar 0. maka dapat diketahui titik ekivalen dengan berubahnya warna larutan dari bening menjadi merah muda.1 N = 0.907 gram (pembulatan) Ѽ Penentuan Normalitas HCl : V Na-Borrat = ((30.selanjutnya dilakukan titrasi dengan maksud mencari titik ekivalen atau titik akhir titrasi guna standarisasi normalitas larutan NaOH dengan asam oksalat.83 ml.105 N N sampel = (1.1 N.0999 N.0998 N.078 N PEMBAHASAN Percobaan ini.

menentukan seberapa banyak volume HCl pekat yang diperlukan.Normalitas HCl sebesar 0. Tujuan Tujuan dari percobaan ini. yaitu : titrasi asidi-alkalimetri.didapat hasil bahwa diperlukan HCl sebanyak 1. Larutan indikator yang digunakan disesuaikan dengan metode titrimetri yang dilakukan.Setelah dititrasi. KESIMPULAN 1.1 N diperlukan massa NaOH seberat 1 gram. Dalam metode titrimetri ini.terlebih dahulu dicari datadata seperti volume HCl yang diambil. yaitu : 1.1 N dengan asam oksalat diperlukan volume sebanyak 24.Setelah diperoleh data tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan percobaan yang ke empat yaitu Standarisasi larutan HCl dengan larutan Na2B4O7.Untuk melakukan perhitungan. B. Berapa kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran ? C.Penentuan normalitas larutan NaOH 0.7 ml. maka dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar asam asetat.Pembuatan larutan NaOH dan HCl 0.227 ml. .diperoleh perubahan warna dari merah muda menjadi kuning. Untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran.906 gram dan berat jenis Borat sebesar 381. 2. titrasi pengendapan dan titrasi kompleksometri. Untuk menentukan kadar asam asetat dalam contoh (sampel). karbonat dan bikarbonat dalam sampel yang digunakan. Metode titrimetri atau yang juga dikenal dengan metode volumetri secara garis besar diklasifikasikan dalam empat kategori berdasarkan jenis reaksinya. Berapa kadar asam asetat dalam sampel ? 2.1 N dapat dilakukan dengan pengenceran. Latar Belakang Titrasi merupakan suatu metode analisis kuantitatif untuk menentukan konsentrasi dari suatu larutan menggunakan larutan lain yang telah distandarisasi atau larutan yang konsentrasinya telah diketahui. yaitu : 1. titrasi oksidimetri. Titrasi ini dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi atau kadar dari asam/basa kuat ataupun lemah yang dititrasi dengan basa/asam lemah ataupun kuat.Percobaan yang terakhir yaitu penentuan larutan sampel 25% yang diambil 5ml dan diencerkan menjadi 250 ml diambil 10 ml untuk sampelnya dan setelah dilakukan titrasi ternyata dihabiskan volume NaOH rata sebanyak 12.serta prosen HCl pekat nya.0811 N Laporan Titrasi Asidimetri dan Alkalimetri BAB I PENDAHULUAN A. 4. Rumusan Masalah Rumusan masalah dari percobaan ini. Berdasarkan latar belakang ini.Dari percobaan diperoleh data massa Borat sebanyak 1. 1 Titrasi asidimetri dan alkalimetri merupakan titrasi netralisasi dimana pada titrasi ini digunakan larutan asam dan basa kuat ataupun lemah sehingga dihasilkan air yang bersifat netral. 2. larutan yang akan ditentukan konsentrasinya disebut larutan analit sedangkan larutan yang diketahui konsentrasinya disebut titran.massa jenis HCl pekat .05 ml.Pembuatan NaOH 0.37 gr/mol. Penambahan titran ke dalam analit dilakukan hingga tercapat titik ekivalen dimana akan terjadi perubahan warna dari larutan indikator.berat molekul HCl pekat. 3.

Reaksi harus berjalan sesuai dengan suatu persamaan reaksi tertentu. Kuat relatif asam dan basa dalam larutan bergantung pada afinitas mereka terhadap proton yang berlainan. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai ion positif. 1990). Analisis volumetri juga dikenal sebagai titrimetri. 1990).sebagai ion negatif. 1986). 3. Sedangkan alkalimetri merupakan titrasi terhadap larutan asam bebas dan larutan garam terhidrolisis dari basa lemah. Pereaksi atau larutan yang selalu dijumpai di laboratorium dimana pembakuannya dapat ditetapkan berdasarkan pada prinsip netralisasi asam – basa (melalui asidi – alkalimetri) diantaranya adalah HCl. basa dan garam. LANDASAN TEORI Berdasarkan atas hasil reaksi antara analit dengan larutan standar maka analisis volumetrik dibagi menjadi titrasi netralisasi (asam basa) yang terdiri dari alkalimetri dan asidimetri. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. larut dan stabil serta akan menunjukkan perubahan warna yang kuat.Rabu. untuk lebih memahami konsep peniteran asidi – alkalimetri dan mengetahui konsentrasi standar dari zat yang dianalisa maka perlu dilakukan peniteran dengan menggunakan suatu standar primer. Sedangkan untuk titrasi atau pengukuran lain-lain sering juga dipakai akhiran –ometri menggantikan –imetri. Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa. 4. titrasi redoks. Dalam menguji suatu reaksi untuk menetapkan apakah reaksi itu dapat digunakan untuk suatu titrasi. Dari kumpulan reaksi kimia yang dikenal relatif sedikit yang dapat digunakan sebagai dasar untuk titrasi. Larutan ini disebut larutan standar sekunder yang konsentrasinya ditentukan melalui pembakuan dengan suatu standar primer. (Day dan Underwood. (Svehla. Kurva semacam itu membantu dalam mempertimbangkan kelayakan suatu titrasi dan dalam memilih indikator yang tepat. Indikator asam basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH. suatu reaksi memenuhi persyaratan berikut sebelum digunakan. NaOH. 1. Kata metri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu atau proses atau seni mengukur. 2. Asam lemah berdisosiasi hanya sedikit pada konsentrasi sedang bahkan pada konsentrasi rendah. 1. 1994). Pengertian asidimetri dan alkalimetri secara umum ialah titrasi yang menyangkut asam dan basa. (Keenan.2 Dasar Teori Dalam analisis larutan asam dan basa. Syaratnya adalah reaksi harus berlangsung secara cepat. reaksi berlangsung kuantitatif dan tidak ada reaksi samping. Asam didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. Makin kuat asam. 1. 1999). Indikator asam basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu. Beberapa metode harus tersedia untuk menetapkan kapan titik ekivalensi tercapai. (Day dan Underwood. Semua metoda titrimetri tergantung pada larutan standar yag mengandung sejumlah reagen persatuan volume larutan dengan ketepatan yang tinggi. titrasi pengandapan dan titrasi kompleksometri (Khopkar. titrasi akan melibatkan pengukuran yang seksama volume-volumenya suatu asam dan suatu basa yang tepat akan saling menetra1kan (Keenan. KOH dan sebagainya. Sedangkan basa secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. biasanya merupakan zat organik (Khopkar. Asam dan basa tersebut memiliki sifat-sifat yang menyebabkan konsentrasi larutannya sukar bahkan tidak mungkin dipastikan langsung dari proses hasil pembuatan atau pengencerannya. seperti biologi. Reaksi harus berjalan sampai boleh dikatakan lengkap pada titik ekivalensi. (Bassett. 03 Okt 2012 Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. Dengan kata lain. Reaksi-reaksi ini melibatkan senyawa ion hidrogen dan ion hidroksida untuk membentuk air. misalnya larutan asam oksalat. Titrasi yang menyangkut asam dan basa sering disebut asidimetri – alkalimetri. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion OH. Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. dengan suatu standar (asidimetri) dan titrasi asam bebas yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah. pembuatan suatu kurva titrasi akan membantu pemahaman untuk titrasi asam basa suatu kurva titrasi terdiri dari suatu alur pH atau pOH versus mL titran. Asam kuat berdisosiasi hampir sempurna dengan pengenceran yang sedang. Oleh karena itu. Reaksi berjalan cepat (dalam beberapa menit saja). tetapan keseimbangan reaksi harus sangat besar. Reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri adalah salah satu dari empat golongan utama dalam penggolongan reaksi dalam analisis titrimetri. 1999). di mana zat dibiarkan bereaksi dengan zat yang lain yang konsentrasinya diketahui dan dialirkan dari buret dalam bentuk larutan. Kesetimbangan asam basa merupakan suatu topik yang sangat penting dalam kimia dan bidang-bidang lain yang mempergunakan kimia. kedokteran dan pertanian. (Keenan. H2SO4. Asidi-alkalimetri berperan penting dalam berbagai bidang kehidupan. 1990) . Metode volumetri diklasifikasikan menjadi titrasi asam-basa. 1990). makin lemah basa konjugatnya. Asidimetri merupakan titrasi terhadap larutan basa bebas dan larutan garam terhidrolisis dari asam lemah. karena itu ia merupakan elektrolit kuat. Asidi alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah. dengan suatu basa standar (alkalimetri). Tidak boleh ada reaksi samping. 1994). (Khopkar. 1994). Konsentrasi larutan yang tidak diketahui (analit) kemudian dihitung. Suatu inidikator haruslah tersedia atau beberapa metode secara instrumen dapat digunakan untuk memberitahu analisis kapan penambahan titran dihentikan.

perhitungannya dilakukan secara manual. Untuk dapat melakukan analisis secara volumetri dan gravimetri yang baikdan benar diperlukan pengetahuan yang cukup.2 Latar Belakang Pada prinsipnya asidimetri adalah analisa titrimetri yang menggunakan asam kuat sebagai titrannya dan sebagai analitnya adalah basa atau senyawa yang bersifat basa. dalam pengamatan dan penghitungannya tergantung pada ketelitian masing-masing individu (http://www.1 PENDAHULUAN 1. 1. 1995). Kesalahan ini bersifat aditif dan determinan dan nilainya dapat dihitung. Percobaan ini bertujuan untuk membuat larutan standar HCl 0. Kesalahan titk akhir adalah kesalahan acak yang berbeda ntuk setiap sistem. Membuat larutan standar HCl 0. Dalam percobaan ini larutan dibuat dengan cara pengenceran kemudian dilakukan titrasi dengan larutan-larutan standar tertentu sehingga didapatkan harga konsentrasi dari larutan hasil pengenceran tersebut. apabila terjadi perubahan warna yang disebut titik akhir maka penetesan larutan uji dihentikan (http://chem-is-try.1. PERCOBAAN 1 ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI 1.867 N dan larutan hasil standarisasi NaOH adalah 0.1 N dan menetapkan konsentrasi larutan tersebut dengan cara standarisasi dengan larutan borax dan natrium karbonat anhidrous. Ditetesi hingga terjadi perubahan warna dari larutan indikator.75 %.1 Tujuan Percobaan Tujuan percobaan ini adalah : 1.10H2O) dan Na2CO3 anhidrous. titrasi akan melibatkan pengukuran yang seksama volume-volumenya suatu asam dan . Pada pengukuran konsentrasi larutan dengan menggunakan metode titrasi asam-basa. Dengan menggunakan cara ini terdapat beberapa kelemahan antara lain kesalahan paralaksi dan memerlukan waktu yang relatif lama untuk perhitungan atau penentuan nilai konsentrasi larutan. alkalimetri. Dari hasil percobaan didapatkan larutan hasil standarisasi HCl adalah 0.com) ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI ABSTRAK Asidimetri adalah analisa titrimetri yang menggunakan asam kuat sebagai titrannya dan sebagai analitnya adalah basa atau senyawa yang bersifat basa. larutan standar.net/index). Pemilihan metode ini dipakai karena merupakan metode yang sederhana dan sudah banyak digunakan dalam laboratorium maupun industri (riset dan pengembangan). 1. Metode pengukuran konsentrasi larutan menggunakan metode titrasi (titrasi asam-basa) yaitu suatu penambahan indikator warna pada larutan yang diuji.elektroindonesia. karena metoda ini dapat menjadi metoda acuan untk metoda pengukuran lainnya (http://www. Dengan menggunakan metode potensiometri dan konduktometri. serta kadar NH3 yang terkandung dalam 0. membuat larutan standar primer asam oksalat dan menentukan kadar asam cuka yang diperdagangkan. dengan larutan uji. Indikator yang sering digunakan dalam percobaan asidimetri dan alkalimetri adalah indikator metil merah dan metil orange untuk asidimetri karena skala pH pada kedua indikator memang berkisar pada larutan yang bersifat asam dan indikator PP untuk alkalimetri karena skala pH pada indikator PP berkisar pada larutan yang bersifat basa. Kemudian nilai konsentrasi larutan yang diuji dihitung berdasarkan cara yang telah ditetapkan dalam metode titrasi. Perbedaan titik akhir dan titik ekivalen disebut sebagai kesalahan titik akhir.1 N serta menetapkan konsentrasi larutan standar HCl dengan cara standarisasi dengan larutan borax (Na2B4O7. Sedangkan alkalimetri pada prinsipnya adalah analisa titimetri yang menggunakan basa kuat sebagai titrannya dan analitnya adalah asam atau senyawa yang bersifat asam. 3. Larutan yang biasa digunakan dalam analisa ini adalah NaOH karena harganya relatif murah. Membuat larutan standar NaOH dan standarisasi dengan asam oksalat.24 %. Kata Kunci : asidimetri. Sedangkan kadar asam cuka yang diteliti adalah 0.2 gram NH4Cl adalah sebesar 10.0113 N. karena metoda tersebut mempunyai ketertelusuran yang terdekat ke standar nasional maupun standar internasional. juga dalam pengendalian proses yang berlangsung.0662 N dan 0. ataupun pengukuran dengan asam (yang diukur jumlah basa atau garamnya).dan penentuan nilai konsentrasi larutan. kesalahan titik akhir ditekan sampai nol (Rivai. Teknik Volumetri dan Gravimetri menjadi alternatif metoda analisis yang mempunyai ketertelusuran tertinggi. yang sebelumnya telah diberi larutan indikator.1. kemudian ditetesi dengan larutan yang merupakan kebalikan asam-basanya. Pada metode ini mata manusia memegang peranan penting dalam pengamatan terjadinya perubahan warna.2 DASAR TEORI Dalam analisis larutan asam dan basa. 2. dan Ba(OH)2 yang merupakan larutan baku standar sekunder.org). Jadi apabila larutan tersebut merupakan larutan asam maka harus diberikan basa sebagai larutan ujinya. Larutan yang biasa dipakai sebagai titran dalam alkalimetri adalah NaOH. KOH. Selain itu dalam percobaan ini digunakan metode titrimetri untuk menganalisa kadar suatu sampel dengan proses asidimetri maupun alkalimetri. Karena setiap individu dengan individu yang lainnya relatif berbeda.kimia-lipi. Sedangkan alkalimetri pada prinsipnya adalah analisa titrimetri yang menggunakan basa kuat sebagai titrannya dan analitnya adalah asam atau senyawa yang bersifat asam. Menentukan kadar asam dalam asam cuka yang diperdagangkan serta menentukan kadar NH3 dalam garam ammonium (NH4Cl). begitu pula sebaliknya.Titrasi biasanya merupakan larutan elektrolit kuat seperti NaOH dan HCl yang diperlukan untuk bereaksi sempurna oleh zat yang dianalisis yang disebut sebagai titik ekivalen. biasanya cara umum yang sering dilakukan adalah dengan menetesi larutan yang diuji.

ditambahkan secara kontinu. Analisis volumetri juga dikenal sebagai titrimetri. Asidi alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah. pembuatan suatu kurva titrasi akan membantu pemahaman untuk titrasi asam basa suatu kurva titrasi terdiri dari suatu alur pH atau pOH versus ml titran. basa. dan sebagainya. air adalah elektrolit lemah dan bila H3O+ disederhanakan menjadi H+. 1999). Dari kumpulan reaksi kimia yang dikenal relatif sedikit yang dapat digunakan sebagai dasar untuk titrasi. Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. karena itu ia merupakan elektrolit kuat. Konsentrasi molekul indikator yang sangat rendah ini hampir tidak berpengaruh terhadap pH larutan. Tidak boleh ada reaksi samping. makin lemah basa konjugatnya. Air yang mengandung zat lain dapat pula menjadi warna. tetapi perkaliannya tetap 10-14. yang terasa asin disebut larutan garam. berarti menambahkan jumlah H+. dalam wujud larutan yang konsentrasinya diketahui. yang bereaksi terhadap kehadiran titran yang berlebih dengan melakukan perubahan warna. biasanya merupakan zat organik (Khopkar. Pada kesetimbangan baru. sedangkan yang terasa licin dan pahit disebut larutan basa (Syukri. dan konsentrasinya ditentukan dengan sebuah proses yang dinamakan standarisasi. dan akan menggeser kesetimbangan ke kiri sampai tercapai kesetimbangan baru. Reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri adalah salah satu dari empat golongan utama dalam penggolongan reaksi dalam analisis titrimetri. Asam-Basa. Dengan kata lain. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. Analisis dengan metode titrimetrik didasarkan pada rekasi kimia seperti : aA + tT produk Di mana a molekul analit. reaksi berlangsung kuantitatif dan tidak ada reaksi samping (Khopkar. Makin kuat asam. Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. dengan suatu standar (asidimetri) dan titrasi asam bebas yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah. konsentrasi H+ lebih besar dari pada OH-. Larutan ini disebut larutan standar. Konsentrasi larutan yang tidak diketahui (analit) kemudian dihitung. Air murni tidak mempunyai rasa. Untuk indikator asam-basa biasanya dibuat dalam bentuk larutan Indikator asam basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu. Reaksi harus berjalan sesuai dengan suatu persamaan reaksi tertentu. Bila mengandung zat tertentu. yaitu indikator. larutan dibagi tiga. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion-ion hidroksil sebagai satu-satunya ion negatif (Svehla. Penambahan dari titran tetap dilakukan sampai jumlah T secara kimiawi sama dengan yang telah ditambahkan kepada A. Cairan yang berasa asam disebut larutan asam. secara paling sederhana dapat didefinisikan sebagai zat. yaitu : Larutan asam : [H+] > [OH-] Larutan netral : [H+] = [OH-] = 10-7 Larutan basa : [H+] < [OH-] (Syukri. Asam didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. selanjutnya akan dikatakan titik ekivalen dari titrasi telah dicapai.A. Basa. 1. 1999). tetapan keseimbangan reaksi harus sangat besar. Reaksi kimia yang mungkin di perlakukan sebagai basis dari penentuan titrimetrik telah dikelompokan ke dalam empat tipe : a. dan warna. Perubahan warna ini bisa saja terjadi persis pada titik ekivalen . 4. bau. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satusatunya ion positif. pahit. Dalam menguji suatu reaksi untuk menetapkan apakah reaksi itu dapat digunakan untuk suatu titrasi. Kurva semacam itu membantu dalam mempertimbangkan kelayakan suatu titrasi dan dalam memilih indikator yang tepat (Underwood. suatu reaksi memenuhi persyaratan berikut sebelum digunakan. di mana zat dibiarkan bereaksi dengan zat yang lain yang konsentrasinya diketahui dan dialirkan dari buret dalam bentuk larutan. yang bila dilarutkan dalam iar. Titik dalam titrasi dimana indikator berubah warnanya disebut titik akhir ( Day dan Underwood). maka dapat menggunakan bahan kimia. Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat. asin. Air mengandung ion dalam jumlah kecil sekali. Pereaksi T. rekasinya adalah sebagai berikut HA + OH. Jenis indikator yang khas adalah asam organik yang lemah yang mempunyai warna berbeda dari basa konjugatnya. dengan suatu basa standar (alkali metri). 1999). Indikator adalah zat warna larut yang perubahan warnanya tampak jelas dalam rentang pH yang sempit. Reaksi berjalan cepat (dalam beberapa menit saja) (Day dan Underwood. tetapi bisa juga tidak. Perhitungan yang tercakup di dalamnya berdasarkan pada hubungan stokiometrik dari reaksi kimia yang sederhana. yang bila dilarutkan dalam air. 1994). Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa. maka kesetimbangan itu ditulis sebagai : H2O H+ + OHJika larutan mengandung asam. biasanya dari sebuah buret. T. larut dan stabil serta akan menunjukkan perubahan warna yang kuat. A. yang disebut titran.+ H2O . 1979). bereaksi dengan t molekul pereaksi. 1999). 1990). basa dan garam. Indikator yang baik mempunyai intensitas warna yang sedemikian rupa sehingga hanya beberapa tetes larutan indikator encer yang harus ditambahkan ke dalam larutan yang sedang diuji. 2001). Perubahan warna indikator mencerminkan pengaruh asam dan basa lainnya yang terdapat dalam larutan (Oxtoby. Jika HA mewakili asam yang akan ditentukan dan B mewakili basa. Asam lemah berdisosiasi hanya sedikit pada konsentrasi sedang bahkan pada konsentrasi rendah (Svehla.suatu basa yang tepat akan saling menetra1kan. Asam kuat berdisosiasi hampir sempurna dengan pengenceran yang sedang. Berdasarkan konsentrasi ion tersebut. Agar diketahui kapan harus berhenti menambahkan titran. Hal itu disebabkan oleh terjadinya rekasi asam basa sesama molekul air (autoionisasi) dan membentuk kesetimbangan : H2O + H2O H3O+ + OHDengan kata lain. 1990). Syaratnya adalah reaksi harus berlangsung secara cepat. Indikator asam basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH. 1990). 3. Suatu inidikator haruslah tersedia atau beberapa metode secara instrumen dapat digunakan untuk memberitahu analisis kapan penambahan titran dihentikan. Reaksi-reaksi ini melibatkan senyawa ion hidrogen dan ion hidroksida untuk membentuk air (Bassett. 2. Reaksi harus berjalan sampai boleh dikatakan lengkap pada titik ekivalensi. Analisis titrimetrik adalah salah satu divisi besar dalam kimia analitik. Hal yang sama akan terjadi bila air ditambah bas sehingga dicapai kesetimbangan baru dengan nilai [OH-] > [H+] dan perkaliannya tetap 10-14. air dapat tersa asam. Beberapa metode harus tersedia untuk menetapkan kapan titik ekivalensi tercapai. dan garam. Ada sejumlah besar asam dan basa yang dapat ditentukan oleh titrimetri. Kuat relatif asam dan basa dalam larutan bergantung pada afinitas mereka terhadap proton yang berlainan.

B. Sejauh ini. Seharusnya tidak ada sampingan. Reaksinya adalah sebagai berikut Ag+ + X. besi dengan tingkat oksidasi +2 dapat dititrasi dengan sebuah larutan standar dari serium (IV) sulfat : Fe2+ + Ce 4+ Fe3+ + Ce3+ c. 2001). larutan yang akan ditentukan konsentrasinya disebut larutan analit sedangkan larutan yang diketahui konsentrasinya disebut titran.dan B + H3O+ BH+ + H2O b. karbonat dan bikarbonat dalam sampel yang digunakan. Diharapkan reaksi berjalan cepat. realtif sedikit reaksi kimia yang dapat dipergunakan sebagai basis untuk titrasi.AgX (s) d. Harus tersedia beberapa metode untuk menentukan kapan titik ekivalen tercapai. sehingga titrasi dapat diselesaikan dalam beberapa menit (Day dan Underwood. Latar Belakang Titrasi merupakan suatu metode analisis kuantitatif untuk menentukan konsentrasi dari suatu larutan menggunakan larutan lain yang telah distandarisasi atau larutan yang konsentrasinya telah diketahui. yaitu : titrasi asidi-alkalimetri. 1999). Pengendapan dari kation perak dengan anion halogen dipergunakan secara luas dalam prosedur titremetrik. Larutan indikator yang digunakan disesuaikan dengan metode titrimetri yang dilakukan. yaitu : Untuk menentukan kadar asam asetat dalam contoh (sampel). Titrasi ini dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi atau kadar dari asam/basa kuat ataupun lemah yang dititrasi dengan basa/asam lemah ataupun kuat. Reaksi tersebut harus diproses sampai benar-benar selesai pada titik ekivalensi. Untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran. maka dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar asam asetat. Oksidasi-reduksi (redoks). Penambahan titran ke dalam analit dilakukan hingga tercapat titik ekivalen dimana akan terjadi perubahan warna dari larutan indikator. titrasi pengendapan dan titrasi kompleksometri. Contoh dari reaksi di mana terbentuk suatu kompleks antara ion perak dan sianida : Ag+ + 2 CN. Dalam metode titrimetri ini. Tujuan dari percobaan ini.Ag (CN)-2 (Oxtoby. Metode titrimetri atau yang juga dikenal dengan metode volumetri secara garis besar diklasifikasikan dalam empat kategori berdasarkan jenis reaksinya. 2. titrasi oksidimetri. Berapa kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran ? C. . BAB I PENDAHULUAN A. d. c. Reaksi tersebut harus diproses sesuai persamaan kimiwai tertentu. Sebagai contoh. Berapa kadar asam asetat dalam sampel ? 2. b. Pengendapan. Tujuan 1. Berdasarkan latar belakang ini. Pembentukan kompleks. Sebuah reaksi harus memenuhi beberapa persyaratan sebelum reaksi tersebut dapat dipergunakan : a. 1 Titrasi asidimetri dan alkalimetri merupakan titrasi netralisasi dimana pada titrasi ini digunakan larutan asam dan basa kuat ataupun lemah sehingga dihasilkan air yang bersifat netral. Rumusan Masalah Rumusan masalah dari percobaan ini. Reaksi kimia yang melibatkan oksidasi-redoksi dipergunakan secara luas dalam analitis titrimetrik. yaitu : 1.

Jika HA mewakili asam dan BOH mewakili basa. . Larutan analit yang berupa larutan asam dititrasi dengan titran yang berupa larutan basa atau sebaliknya. Oksidimetri didasarkan pada reaksi oksidasi – reduksi antara analit dan titran. misalnya larutan asam klorida (HCl) dan larutan natrium hidroksida (NaOH). misalnya penetapan ion besi(II) (Fe2+) dalam analit dengan menggunakan titran larutan standar cesium(IV) (Ce 4+) yang mengikuti persamaan reaksi : Fe2+ + Ce4+  Fe3+ + Ce3+ Oksidator lain yang banyak digunakan dalam oksidimetri adalah kalium permanganat (KMnO 4). Analisis volumetri atau titrimetri berdasarkan pada reaksi : aA + tT ↔ Hasil dimana a molekul analit A bereaksi dengan t molekul pereaksi T (titran). Reagen lain adalah EDTA (etilen diamina tetraasetat) yang banyak digunakan sebagai pengompleks berbagai ion logam melalui metode titrasi. Serta faktor yang paling penting adalah ketepatan dalam pemilihan indikator agar kesalahan titrasi yang terjadi menjadi sekecil mungkin. A. standarisasi dilakukan dengan cara menitrasi larutan tersebut dengan larutan standart primer. konsentrasinya dapat diketahui dengan pasti dan teliti berdasarkan berat zat yang dilarutkan. Metode ini banyak digunakan untuk menetapkan kadar ion halogen dengan menggunakan pengendap Ag +. Sodiq Ibnu. Metode ini cukup luas penggunaannya untuk penetapan kuantitas analit asam atau basa. jenis metode titrimetri didasarkan pada jenis reaksi kimia yang terlibat dalam proses titrasi.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. 3 Asidi-alkalimetri didasarkan pada reaksi asam basa atau prinsip netralisasi. Br-. yaitu: asidi-alkalimetri. yang diperlukan untuk bereaksi dengan analit (zat yang akan ditentukan). 4. titran basa) BOH + H3O+  B+ + 2H2O (analis basa. titran asam) Titran umumnya berupa larutan standar asam kuat atau basa kuat.= Cl-. Berbagai reaksi redoks dapat digunakan sebagai dasar reaksi oksidimetri.+ H2O (analit asam. I-. 3. konsentrasi larutannya hanya dapat diketahui dengan teliti melalui proses standarisasi. maka reaksi antara analit dengan titran dapat dirumuskan secara umum sebagai berikut : HA + OH. yang reaksi umumnya dapat dinyatakan dengan persamaan : Ag+ + X.[2] 2. Reaksi antara Ag+ dengan CN.[1] Menurut M.dikenal sebagai metode Liebig untuk penetapan sianida. misalnya pada penetapan kadar ion besi(II) dalam suasana asam. Larutan standar primer yaitu suatu zat yang sudah diketahui kemurniannya dengan pasti. Analit yang mengandung spesi reduktor dititrasi dengan titran yang berupa larutan standar dari oksidator atau sebaliknya. Berdasarkan jenis reaksinya. AgX(s) (X. kompleksometri dan titrasi pengendapan. Larutan standar sekunder adalah suatu zat yang tidak murni atau kemurniannya tidak diketahui. Metode Titrimetri Analisis volumetri atau titrimetri merupakan suatu analisis berdasarkan pengukuran volume larutan dengan konsentrasi yang diketahui. et. SCN-) Dalam titrasi juga perlu diperhatikan larutan standar primer dan larutan standar sekunder. 1. (2005). maka metode titrimetri dapat dibagi menjadi 4 golongan. Titrasi pengendapan didasarkan reaksi pengendapan analit oleh larutan standar titran yang mampu secara spesifik mengendapkan analit. Kompleksometri didasarkan pada pembentukan kompleks stabil hasil reaksi antara analit dengan titran. al. Misalnya reaksi antara Ag+ dan CNyang mengikuti persamaan reaksi : Ag+ + 2CN. oksidimetri.

Indikator campuran ini baik untuk titrasi karbonat menjadi bikarbonat.0 Tak berwarna Merah Timolftalein 9.1 % dalam etanol) dan biru metilen (0. Indikator ini baik untuk titrasi asam fosfat dari tribasik menjadi dibasik yang mana titik ekivalennya terjadi pada pH 8.8 – 5. Baik asam atau basa kekuatannya hampir sama akibatnya titik ekivalen akan berada pada pH kira-kira 7.2 – 8.1 % dalam etanol) yang sama banyak memberikan perubahan warna yang tajam dari biru violet menjadi hijau ketika beralih dari larutan asam menjadi larutan basa pada pH sekitar 7.4 Kuning Merah Merah kresol 7. Campuran dari 3 bagian biru timol (0. menunjukkan daftar berbagai macam indikator dengan jarak perubahan warna serta warna-warna yang terjadi pada perubahan tersebut. 2. Campuran merah netral (0.7. Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa.1 % larutan dari garam natriumnya) dengan 1 bagian kresol merah (0.4 Jingga Metil Hijau bromkresol 3.9.8 Kuning Merah Biru timol 8.1 – 4.1 – 7.0 Merah Kuning Biru bromfenol 3.6 Kuning Biru Fenolftalein 8.1 % larutan dalam etanol) dengan 1 bagian alfa naftoftalein (0.4 – 4. Indikator asam-basa terletak pada titik ekuivalen dan ukuran dari pH. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron. Tabel 1.3 Merah Kuning Ungu bromkresol 5.8 Kuning Ungu Biru bromtimol 6.0 – 4. . Indikator ini dapat digunakan untuk menitrasi asam asetat dengan larutan amonia atau kebalikannya. larut.0 – 9.2 – 10. 3. stabil dan menunjukkan perubahan warna yang kuat serta biasanya adalah zat organik.4 Kuning Biru Merah metal 4.5 Tak berwarna Biru Menurut Achmad Mursyidi dan Abdul Rohman (2008).6 Kuning Biru Jingga metal 3.2 – 6.B.6 Kuning Biru Merah fenol 6.3 – 10.3.[3] Tabel 1.8 – 8. selain indikator tunggal dalam asidi-alkalimetri juga digunakan indikator campuran dengan tujuan untuk memberikan perubahan warna yang tajam pada titik akhir titrasi. Indikator Indikator asam-basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu. Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya indikator menunjukkan warna pada range pH yang berbeda.1 % larutan garam natriumnya) akan memberikan perubahan warna dari kuning ke ungu pada pH 8. Indikator yang biasa digunakan dalam asidi-alkalimetri[4] Warna Indikator Trayek pH Asam Basa Kuning metal 2.1 % dalam etanol) memberikan perubahan warna yang tajam dari merah muda ke ungu pada pH 8.2 – 6. Campuran antara 3 bagian fenolftalein (0. Beberapa contoh indikator campuran adalah : 1.

Gambar 1. Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam. kalium hidroksida dan barium hidroksida. Semua masalah yang berkaitan dengan titrasi asam basa dapat dipecahkan dengan konsep stoikiometri dan konsentrasi larutan yang dinyatakan dengan mol.[8] Larutan baku asam yang sering digunakan dalam asidi-alkalimetri umumnya dibuat dari asam klorida dan asam sulfat.[5] Dalam titrasi asam-basa. Titrasi alkalimetri dengan larutan standar basa NaOH[7] Analit bersifat asam pH mula-mula rendah. H2SO4 (aq) + 2NaOH (aq)  Na2SO4 (aq) + 2H2O (l) Dalam titrasi asam-basa perubahan pH sangat kecil hingga hampir tercapai titik ekivalen. Untuk reaksi antara HCl dengan NaOH titik ekivalen tercapai pada perbandingan mol 1:1 tetapi untuk reaksi antara H2SO4 dengan NaOH diperlukan perbandingan mol 1:2 untuk mencapai titik ekivalen. Semua larutan baku alkali harus sering dibakukan ulang. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima proton (basa). Titik atau kondisi penambahan asam atau basa dimana terjadi perubahan warna indikator dalam suatu titrasi dikenal sebagai titik akhir titrasi. Kedua asam ini dapat digunakan pada hampir semua titrasi. khususnya pada saat akan mencapai titik akhir titrasi. Larutan-larutan ini mudah menyerap karbon dioksida dari udara. maka larutan bali alkali dibuat bebas karbonat dan untuk melindungi itu dari pengaruh karbon dioksida dari udara maka penyimpanannya dilengkapi dengan “soda lime tube”. Sebaliknya alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa. umumnya digunakan natrium hidroksida. molaritas atau normalitas. Penambahan selanjutnya menyebakan larutan kelebihan basa sehingga pH terus meningkat. Pada saat tercapai titik ekivalen. akan tetapi asam klorida lebih disukai daripasa asam sulfat terutama untuk senyawasenyawa yang memberikan endapan dengan asam sulfat seperti barium hidroksida.[10] . walaupun diantara keduanya masih ada selisih yang relatif kecil. Asam sulfat lebih disukai untuk titrasi menggunakan pemanasan karena kemungkinan terjadinya penguapan pada pemanasan asam klorida yang dapat menimbulkan bahaya. juga diperoleh informasi indikator yang tepat untuk digunakan dalam titrasi ini dengan kisaran pH pH 7 – 10 (Tabel 1).[9] Untuk larutan baku alkali. oleh karena itu konsentrasinya dapat berubah dengan cepat. penambahan sedikit asam atau basa akan menyebabkan perubahan pH yang besai ini seringkali dideteksi dengan zat yang dikenal sebagai indikator.C. perbandingan mol.[6] Dalam melakukan titrasi netralisasi kita perlu secara cermat mengamati perubahan pH. jumlah relatif asam dan basa yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen ditentukan oleh perbandingan mol asam (H+) dan basa (OH-) yang bereaksi. Asam nitrat selalu tidak digunakan karena mengandung asam nitrit yang dapat merusak beberapa indikator. hal ini dilakukan untuk mengurangi kesalahan dimana akan terjadi perubahan warna dari indikator lihat Gambar 1. Titik akhir titrasi sering disamakan dengan titik ekivalen. Dengan demikian. penambahan basa menyebabkan pH naik secara perlahan dan bertambah cepat ketika akan mencapai titik ekuivalen (pH = 7). Dari Gambar 1. Titrasi Asidimetri dan Alkalimetri Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral.

Selain itu alkalimetri juga dipergunakan untuk menganalisis asam salisilat. Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan. kemudian membuat plot antara pH dengan volume titran untuk memperoleh kurva titrasi. Titrasi dengan menggunakan larutan NaOH 0. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalent”. Teknik asidimetri juga telah dimanfaatkan secara meluas misalnya dalam pengujian boraks yang sering dipergunakan oleh para penjual bakso.[11] . Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi. Pemanfaatan teknik ini cukup luas.Menurut Indigo Morie (2008). untuk alkalimetri telah dipergunakan untuk menentukan kadar asam sitrat. 2. Memakai indikator asam basa. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan. ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa. Indikator ditambahkan pada titran sebelum proses titrasi dilakukan. Titik akhir titrasi diketahui dari larutan tidak berwarna berubah menjadi merah muda. tidak diperlukan alat tambahan dan sangat praktis. Titrasi dilakukan dengan melarutkan sampel sekitar 300 mg ke dalam 100 mL air.1 N dengan menggunakan indikator phenolftalein. pada saat inilah titrasi kita hentikan. yaitu : 1.

d. Melakukan secara duplo dan menghitung kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran. . b. Waktu dan Tempat Waktu dan tempat dilaksanakannya percobaan ini.00 WITA Tempat : Laboratorium Kimia Analitik Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar B. C. indikator MO.30 – 15.1 M. Alat Alat . Mencatat volume HCl yang digunakan. f. f. 2. aquades (H2O). statif dan klem. b. e. Mencatat volume natrium hidroksida (NaOH) yang digunakan. yaitu sebagai berikut : Hari/Tanggal : Rabu/ 30 Mei 2012 Pukul : 13.0959 N. erlenmeyer 250 mL.BAB III METODE PERCOBAAN A. Menambahkan 5 tetes indikator PP ke dalam erlenmeyer. 12 a. h. bulp. indikator PP dan natrium hidroksida (NaOH) 0.alat yang digunakan pada percobaan ini adalah buret asam 50 mL. g. d. spatula dan pipet tetes. Menambahkan indikator MO ke dalam erlenmeyer. c. Melarutkan campuran karbonat dan bikarbonat dengan aquades (H2O) lalu memindahkan ke dalam labu ukur 100 mL. Mengencerkan larutan sampai tanda batas dengan aquades (H2O). Bahan Bahan – bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah asam asetat (CH 3COOH) 0. labu ukur 100 mL.0989 N. a. Menambahkan aquades (H2O) sampai tanda batas. i. g. c. yaitu sebagai berikut : 1. Memipet 25 mL larutan dan memasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL. Titrasi Alkalimetri Memasukkan 10 mL asam asetat (CH3COOH) ke dalam labu ukur 100 mL. Melakukan secara duplo dan menghitung kadar asam asetat dalam sampel. Prosedur Kerja Prosedur kerja pada percobaan ini. campuran karbonat dan bikarbonat. Titrasi Asidimetri Menimbang 100 mg campuran karbonat dan bikarbonat menggunakan neraca analitik. gelas kimia 250 mL dan 100 mL. Menambahkan 5 tetes indikator PP ke dalam erlenmeyer. buret basa 50 mL. 2. menghomogenkan larutan. Menitrasi larutan dengan asam klorida (HCl) sampai larutan berubah warna dari jingga ke merah jambu. Memipet 25 mL larutan asam asetat (CH3COOH) yang telah diencerkan dan memasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL. Alat dan Bahan 1. pipet volume 25 mL dan 10 mL. Menitrasi larutan dengan natrium hidroksida (NaOH) sampai terbentuk warna merah muda. botol semprot. corong. Menitrasi larutan dengan asam klorida (HCl) sampai larutan menjaid tak berwarna. asam klorida (HCl) 0. e.

3. Tabel Pengamatan a. Asam asetat (CH3COOH) + aquades Larutan berwarna bening 2. Titrasi alkalimetri No. Perlakuan Hasil 1. Hasil Hasil pengamatan dari percobaan ini. Larutan asam asetat (CH3COOH) + indikator PP + titrasi dengan natrium hidroksida (NaOH) Larutan berwarna violet Larutan berwarna merah muda Keterangan 15 .BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. yaitu sebagai berikut : 1.

Reaksi CH3COOH + NaOH  CH3COONa + H2O Na2CO3 + HCl  NaHCO3 + HCl NaHCO3 + HCl  NaCl + H2O + CO2 3.0989 N Ditanyakan : % CH3COOH . Titrasi asidimetri No. + titrasi dengan asam klorida (HCl) 4.0989 grek/L x 60 g/grek = 0. + titrasi dengan asam klorida (HCl) Hasil Larutan berwarna bening Larutan berwarna violet Larutan berwarna bening Larutan berwarna kuning tua Larutan berwarna orange kemerahan Keterangan 2.031 gram = 0.0013 L x 0.b. Campuran karbonat dan bikarbonat + aquades 2. Titrasi alkalimetri a.3 mL Konsentrasi NaOH = 0. Analisa Data 1.31 gram % CH3COOH = x 100 % = 0.31 x 100 % = 31 % . + indikator PP 3. ? Penyelesaian : Dalam 10 mL contoh asam terdapat : 100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg 100/25 x 0. Perlakuan 1.031 gram Dalam 100 mL asam asetat = x B mg Kadar asam cuka = x gram = x 0. + indikator MO 5. Simplo Diketahui : BE CH3COOH = 60 gram/grek Volume NaOH = 1..

0022 L % karbonat = = = 0.1) mL = 2. ? Penyelesaian : Dalam 10 mL contoh asam terdapat : 100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg 100/25 x 0.0959 N Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat .1 mL Volume HCl untuk bikarbonat (y mL) = 3 mL Konsentrasi HCl = 0.152 x 100 % = 15. Duplo Diketahui : BE CH3COOH = 60 gram/grek Volume NaOH = 1..1007 gram/grek Volume HCl untuk karbonat (x mL) = 1.45 mL Konsentrasi HCl = 0.9 – 0.036 gram = 0.0015 L x 0.1007 gram/grek Volume HCl untuk karbonat (x mL) = = 1 mL Volume HCl untuk bikarbonat (y mL) = = 3.9 mL Volume HCl untuk bikarbonat (y mL) = 3.0019 L karbonat dalam sampel = (2x) mL HCl 0.0959 N = (3.0959 N = (3 – 1. Titrasi asidimetri a.239 x 100 % = 23.0989 grek/L x 60 g/grek = 0.033 gram Dalam 100 mL asam asetat = x B mg Kadar asam cuka = x gram = x 0.33 x 100 % = 33 % 2.0959 N = (2 x 0. Rata-rata Diketahui : Berat sampel = 0.111 x 100 % = 11..33 gram % CH3COOH = x 100 % = 0.8 mL = 0.0989 grek/L x 60 g/grek = 0.9 mL Konsentrasi HCl = 0.b.9 mL = 0.36 gram % CH3COOH = x 100 % = 0.0014 L x 0.1 % % bikarbonat = = = 0.9) mL = 1.0018 L % karbonat = = = 0..0959 N Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat . ? .1) mL = 1. ? Penyelesaian : Dalam 10 mL contoh asam terdapat : 100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg 100/25 x 0.0989 N Ditanyakan : % CH3COOH .036 gram Dalam 100 mL asam asetat = x B mg Kadar asam cuka = x gram = x 0.2 % b.1 % % bikarbonat = = = 0.9) mL = 3 mL = 0.4 mL Konsentrasi NaOH = 0. Duplo Diketahui : Berat sampel = 0.1007 gram/grek Volume HCl untuk karbonat (x mL) = 0.36 x 100 % = 36 % c. Simplo Diketahui : Berat sampel = 0. ? Penyelesaian : bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0.2 mL = 0.003 L karbonat dalam sampel = (2x) mL HCl 0.0959 N Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat .0989 N Ditanyakan : % CH3COOH ..5 mL Konsentrasi NaOH = 0. ? Penyelesaian : bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0.9 % c.033 gram = 0.0959 N = (2 x 1.091 x 100 % = 9. Rata-rata Diketahui : BE CH3COOH = 60 gram/grek Volume NaOH = = 1..

45 – 1) mL = 2.002 L % karbonat = = = 0.00245 L karbonat dalam sampel = (2x) mL HCl 0.Penyelesaian : bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0.6 % .101 x 100 % = 10.0959 N = (3.45 mL = 0.1 % % bikarbonat = = = 0.196 x 100 % = 19.0959 N = (2 x 1) mL = 2 mL = 0.

5 karena indikator metil orange berdasarkan teori akan berwarna merah apabila memiliki pH kurang dari 3. larutan berubah warna menjadi kuning yang menandakan bahwa larutan memiliki pH di atas 4. kadar asetat yang diperoleh dari percobaan secara simplo adalah 31 % dan 36 % pada titrasi secara duplo.1 % dan 15. air yang bersifat netral serta uap karbondioksida.1 % dan kadar bikarbonat rata-rata yang diperoleh adalah 19. Proses titrasi pada larutan membuat larutan berubah warna menjadi orange kemerahan sehingga dapat dikatakan bahwa larutan telah bersuasana basa. Kadar karbonat rata-rata yang diperoleh adalah 10.3 larutan akan berubah menjadi tak berwarna. Indikator phenolphthalein digunakan dalam titrasi ini karena indikator ini memiliki rentang trayek pH pada suasana basa yaitu : 8. . Dalam titrasi ini digunakan indikator phenolphthalein yang berfungsi sebagai zat penunjuk yang akan memberikan perubahan warna saat titik akhir titrasi telah tercapai.3 – 10. Penambahan indikator membuat perubahan warna larutan menjadi violet. sesuai dengan reaksi di bawah ini : CH3COOH + NaOH  CH3COONa + H2O Berdasarkan hasil analisa data. Pembahasan Pada praktikum ini dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran serta kadar asam asetat (CH3COOH) dengan natrium hidroksida (NaOH).0 sehingga apabila larutan telah bersuasana basa maka indikator akan mengalami perubahan warna menjadi biru. larutan yang memiliki nilai pH di bawah 8.1 dan berubah warna menjadi kuning pada pH di atas 4. sesuai persamaan reaksi : NaHCO3 + HCl  NaCl + H2O + CO2 Berdasarkan hasil analisa data.6 %. Penambahan titran natrium hidroksida (NaOH) membuat larutan mengalami perubahan warna menjadi merah muda. Untuk titrasi rata-rata diperoleh kadar asam asetat (CH3COOH) sebesar 33 %.2 %. Penambahan indikator pada larutan membuat larutan berubah warna menjadi violet. Pada titrasi secara duplo adalah 9. Penambahan indikator phenolphthalein pada larutan campuran berfungsi sebagai zat penunjuk yang digunakan karena larutan campuran memiliki pH di atas 7 atau berada dalam suasana basa sehingga larutan akan memberikan warna merah secara teori dalam suasana basa. Awalnya larutan bersuasana asam akibat pH dari larutan asam asetat (CH 3COOH) yang digunakan bernilai rendah. Reaksi antara natrium bikarbonat dengan asam klorida (HCl) menghasilkan garam berupa natrium klorida (NaCl). Dapat dikatakan bahwa. maka larutan campuran tadi ditambahkan dengan metil orange (trayek 3. larutan telah memiliki pH di atas 7.1 % dan 23. kadar karbonat dan bikarbonat pada titrasi secara simplo berturut-turut adalah 11. Berdasarkan trayek pH indikator phenolphthalein. Perubahan warna larutan menjadi tak berwarna menandakan bahwa larutan telah bersuasana asam dimana pada pH di bawah 8. Setelah penambahan indikator. Reaksi antara asam asetat (CH 3COOH) dengan natrium hidroksida menghasilkan garam dan air yang bersifat netral.3 cenderung akan memberikan larutan tak berwarna dan akan berubah menjadi merah dalam larutan yang memiliki nilai pH di atas 10. penitrasian dilakukan dengan asam klorida (HCl) hingga larutan berubah menjadi tak berwarna.5).5. Penitrasian kembali dilakukan dengan asam klorida (HCl) sehingga larutan mengalami perubahan warna. menurut persamaan reaksi : Na2CO3 + HCl  NaHCO3 + HCl Untuk menentukan kadar bikarbonat.B.1 – 4. larutan telah sedikit melewati titik akhirnya sehingga volume natrium hidroksida (NaOH) yang digunakan lebih banyak dan mempengaruhi perhitungan kadar asam asetat (CH3COOH) dalam sampel. Reaksi antara larutan campuran dengan asam klorida (PP) membuat natrium karbonat bereaksi dengan asam klorida (HCl) menghasilkan natrium bikarbonat (NaHCO 3) dan natrium klorida (NaCl).9 %. Penetapan kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran dilakukan menggunakan metode titrasi asidimetri menggunakan larutan asam klorida (HCl). Perbedaan kadar yang diperoleh pada titrasi secara simplo dan duplo disebabkan karena pada salah satu titrasi. Penetapan kadar asam asetat (CH3COOH) dengan natrium hidroksida (NaOH) merupakan titrasi alkalimetri untuk menitrasi asam lemah dengan basa kuat.

6 %. sedangkan kadar asam asetat rata-rata yang diperoleh adalah 33 %.1 % dan 19.1 % untuk kadar karbonat dan 15.2 % untuk kadar bikarbonat. Saran Saran dari percobaan ini adalah sebaiknya pada percobaan selanjutnya dilakukan titrasi alkalimetri untuk menentukan konsentrasi atau kadar dari asam poliprotik yang dititrasi dengan basa kuat sehingga dapat diketahui perbedaan titrasi alkalimetri dengan asam lemah dan asam poliprotik. 2.2 %. B. Kadar karbonat yang diperoleh secara simplo adalah 11. yaitu sebagai berikut : Kadar asam asetat yang diperoleh secara simplo adalah 31 % dan 36 % pada titrasi secara duplo. 1. 26 . Kesimpulan Kesimpulan dari percobaan ini.1 % serta kadar bikarbonat adalah 15. Kadar karbonat dan bikarbonat rata-rata yang diperoleh masing-masing adalah 10.BAB V PENUTUP A. 9. Untuk titrasi secara duplo.

Sodiq Ibnu. Sodiq Ibnu. 104 [5]Ibid. belajarkimia. cit. Kimia Analitik I . “Titrasi Asam Basa”. 30 Oktober 2011. Makassar: UIN Alauddin Makassar. 96 -97 [7]Zulfikar.chem-istry. loc.com. h. scribd. M. “Titrasi Asam Basa”. . Khopkar. 27 Desember 2010. Konsep Dasar Kimia Analitik (Jakarta: Universitas Indonesia. h. 30 Oktober 2011.com. Penuntun Praktikum Kimia Analitik. Wa Ode Rustiah dan Anna Handayani.com/doc/70246435/asidimetri. Achmad dan Abdul Rohman. 2008).com/2008/04/titrasi-asam-basa/.2012).org/materi_kimia/kimiakesehatan/pemisahan-kimia-dan-analisis/titrasi-asam-basa/. Chem-is-try. Jakarta: Universitas Indonesia. 2010 Mursyidi..scribd. “Titrasi Asam Basa”. Malang: Universitas Negeri Malang. 2010). http://www. Sitti Chadijah.com. h.. M. Indigo. scribd. et al. cit.org-Situs Kimia Indonesia. 27 Desember 2010.. Intan Wilyta.chem-is-try. Chem-is-try. 2005). Volumetri dan Gravimetri. Diakses pada tanggal 3 1 Mei 2012 Zulfikar. 19 [2]Intan Wilyta. h. Penuntun Praktikum Kimia Analitik (Makassar: UIN Alauddin Makassar. Diakses pada tanggal 31 Mei 2012 [1]Sitti Chadijah. Wa Ode Rustiah dan Anna Handayani. Diakses pada tanggal 31 Mei 2012 Wilyta. Yogyakarta: UGM-Press.DAFTAR PUSTAKA Chadijah. 2005 Khopkar. http://www. 2008 Morie.org-Situs Kimia Indonesia. Kimia Analitik I (Malang: Universitas Negeri Malang. http://belajarkimia.scribd. 7 April 2008. “Asidimetri”. op. S. Konsep Dasar Kimia Analitik. h.com/doc/70246435/asidimetri (31 Mei 2012) [3]S. http://www. 46-47 [4]Achmad Mursyidi dan Abdul Rohman.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/pemisahan-kimia-dan-analisis/titrasi-asam-basa/ (31 Mei 2012) [8]Ibid [9]Achmad Mursyidi dan Abdul Rohman.. M. 81 [6]M. et al. Volumetri dan Gravimetri (Yogyakarta: UGM-Press. 105 [10]Ibid [11]Zulfikar. “Asidimetri”. http://www. 2012 Ibnu. h.