LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

I. NOMOR PERCOBAAN II. NAMA PERCOBAAN

: IV : TITRASI ASAM BASA : VOLUMETRI

1. Mempelajari dan menerapkan teknik titrasi untuk menganalisis contoh yang mengandung asam 2. Menstandarisasi larutan penitrasi. IV. DASAR TEORI Beberapa pandangan mengenai perilaku asam basa dapat dijelaskan melalui teori yang dikembangkan oleh arhenius. Menurut Arhenius asam adalah senyawa yang melepaskan ion hidrogen dalam larutan berair. Asam memiliki sifat berasa asam, mengubah . Sifat khas suatu asam sebenarnya merupakan sifat

lakmus dari biru menjadi merah, dan bereaksi dengan logam aktif menghasilkan gas dari ion

Dengan kata lain ion adalah pembawa sifat asam. Arrhenius mendefinisikan basa sebagai senyawa yang melepaskan hidroksida dalam larutan berair. Contoh NaOH. Ion hidroksida ini diyakini Arrhenius sebagai pembawa sifat khas basa yaitu,pahit, terasa licin dikulit,dan sebagainya. Jika sejumlah tertentu asam dan basa dicampurkan sifat khas asam dan basa tersebut akan hilang. Reaksi antara asam dan basa dinamakan reaksi netralisasi,pada reaksi tersebut akan dihasilkan suatu garam dan air. Semua asam Arrhenius juga diklasifikasikan sebagai asam oleh Browsted – Lowry. Sebagai contoh pada reaksi gas hidrogen klorida, HCL dengan air untuk menghasilkan asam klorida, gas hidrogen klorida berperan sebagai pemberi proton. Berdasarkan Bronsted – Lowry, asam adalah donor proton, sedangkan basa merupakan akseptor proton. Menurut Bronsted – lowry suatu reaksi asam basa dapat berlangsung tanpa adanya medium air, contohnya pada reaksi berikut ini : HCL + + Menurut Lewis reaksi yang melibatkan amonia atau air terjadi dikarenakan adanya pemakaian elekteron bersama pasangan elektron bebas yang dimiliki keduanya untuk membentuk ikatan kovalen koordinasi dengan spesi lain sehingga amonia dan air dalam reaksi tersebut bertindak sebagai basa.secara singkat dapat dijelaskan,menurut Lewis asam merupakan suatu spesies yang dapat menerima pasangan elektron bebas, sedangkan basa merupakan suatu spesies yang dapat mendonorkan pasangan elektron bebas. Jadi, yang tidak memiliki pasangan elektron bebas adalah asam sedangkan yang memiliki pasangan elektron bebas adalah basa. Menurut teori asam basa Lewis, asam merupakan spesi yang menerima pasangan elektron bebas. Sedangkan berdasarkan reaksi diatas, HCl bertindak sebagai asam menurut Lewis. Atom Klor merupakan atom yang lebih elektronegatifan dibandingkan dengan atom H. Jadi molekul HCl merupakan molekul yang polar. Pasangan atom yang dimiliki bersama antara H dan Cl cenderung lebih tertarik ke atom Cl sehingga Cl bersifat lebih negatif. Ketika molekul HCl menjadi semakin dekat keatom Cl , maka akibatnya ikatan kovalen koordinasi antara atom H dan N terbentuk, dan ikatan antar atom H dengan Cl terputus. Oleh karena itu, molekul HCL bertindak sebagai asam menurut Lewis karena menerima pasangan elektron bebas dari NH3. Asma lewis tidak harus memiliki orbital kosong. 1

1

( http://www.chemistry.org.//teori-asambasa.html ) Dalam air murni terdapat ion dan ion . dalam koordinasi konsentrasi yang sama, yang sangat kecil. Bila

konsentrasi sama dengan konsentrasi OH- maka larutan tersebut disebut dengan larutan netral. Bila konsentrasi yang diketahui ( Atau sebaliknya penambahan asam kedalam basa untuk mencapai titik akhir). Titik ekivalen adalah titik asam dimana asam tepat bereaksi denga semua basa. Idikator digunakan untuk membantu kita kapan kita mengetahui titrasi harus dihentikan didekat titik ekivalen . saat titrasi dihentikan disebut dengan titrasi akhir (titik akhir titrasi). Titik akhir titrasi berbeda dengan titik ekivalen, tetapi perbedaannya tidak terlalu besar sehingga digunakan indikator yang tepat yaitu yang memiliki trayek PH sekitar titik ekivalen. Prinsip titrasi adalah pengukuran volume suatu larutan yang diperlukan untuk bereaksi dengan larutan lainyang mempunyai volume tertentu atau zat terlarut dengan konsentrasi tertentu. Titrasi asam basa merupakan metode analitis untuk menentukan jumlah jumlah asam atau basa dalam suatu sampel. Hitungan titrasi yaitu ekivalen asam basa dengan ekivalen basa. VA . NA . Nb Konsentrasi asam basa sering menggunakan Molaritas sehingga : Analisa volumetri adalah analisa kuantitatif dimana kader komponen dari zat uji ditetapkan berdasarkan volume reaksi pereaksi ( konsentrasi diketehui ) yang ditambahkan kedalam larutan zat uji, hingga komponen yang akan ditetapkan bereaksi secara kuantitatif dengan pereaksi tersebut. Proses yang dikenal juga dengan analisa tirimetri. Suatu pereaksi dapat digunakan sebagai dasar analisa titrimetri apabila memenuhi syarat –syarat sebagai berikut yaitu reaksi harus berlangsung sesuai persamaan reaksi kimia tertentu, harus tidak ada reaksi samping. Yang kedua reaksi harus berlangsung sampai benar-benar lengkap pada titik tinggi dari pada konsentrasi sama denga konsentrasi OH- maka larutan tersebut disebut larutan netral. Bila konsentrasi maka larutan tersebut adalah larutan yang bersifat asam,sedangkan bila konsentrasi lebih

lebih rendah

dari pada konsentrasi maka larutan tersebut bersifat basa. pH atau kadar larutan yang bersifat netral sama dengan tujuh. Larutan yang bersifat asam pH nya kurang dari tujuh. Semakin kurang dari tujuh maka larutan tersebut mempunyai sifat asam yang semakin kuat. Sedangkan bila PH nya lebih dari tujuh, maka laritannya bersifat basa, semakin pH nya lebih dari tujuh maka semakin kut basanya. Pada titrasi biasanya digunakan suatu indikator yang memberikan tanda kepada kita bahwa campuran asam basa yang ada dalam larutan memiliki pertandingan yang benar untuk mencapai suatu keadaan larutannya yang netral. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna dari inikator atau kenaikan penurunan PH nya yang tiba-tiba. Idealnya perubahan warna indikator akan terjadi pada saat kita mencampurkan larutan itu padsa proporsi ya ng sama, tepat. Keadaan ini disebut titik ekivalen. Kurva yang menunjukkan perubahan

warna pH versus volume larutan titrasi disebut dengan kurva titrasi. Bentuknya tergantung pada nilai Ka dan konsentrasi asam basa yang digunakan.2 Prosedur untuk menentukan konsentrasi suatu larutan dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan larutan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titrasi. Jika yang dilihatkan adalah larutan asam dan larutan basa, titrasi itu disebut dengan titrasi asam basa. Larutan yang diketahui konsentrasinya disebut larutan baku ( larutan standar ). Pada bagian ini akan dibahas bagaimana perubahan pada berbagai titrasi asam basa. Titrasi asam basa merupakan penambahan secara hati-hati sejumlah larutan basa dengan konsentrasi tertentu. Ekivalen suatu indikator harus ada untuk menunjukkan titik 2 ekivalen. Yang ketiga adalah reaksi. ( http://www.google.co.id/titrasi.html ) Beberapa jenis reaksi dapat digunakan untuk titrasi yaitu pengendapan, reaksi oksidasi-reduksi,reaksi asam-basa,dan reaksi pembentukan kompleks. Pada percobaan ini akan dilakukan titrasi asam basa. Pertamakali akan dilakukan standarisasi (pembakuan) terhadap larutan basa. Yang selanjutnya digunakan untuk menganalisis contoh yang mengandung asam. Bila sebagai titrasi adalah larutan baku asam,maka endapan tersebut dinamakan Asidimetri dan apabila larutan baku basa sebagai titran maka disebut Alkalimetri. Secara ringkas reaksi asma basa atau netralisasi disebabkan oleh proton dari asam yang bereaksi dengan OH- dari basa. Reaksi yang terjadi adalah : + O Pereaksi yang digunakan digunakan dinamakan titran dan larutannya disebut larutan titeratau larutan beku. Konsentrasi larutan ini dapat dihitung berdasarkan berat baku yang ditimbangkan secara seksama atau dengan penetapan yang dikenal dengan standarisasi atau pembekuan. Larutan standar (baku) dibagi menjadi standar primer dan standar sekunder. Kedua jenis larutan standar (baku) ini dapat digunakan analisa kuantitatif suatu larutan senyawa. Pereaksi pada kebanyakan titrasi asam basa perubahan larutan pada titik ekivalen tidak jelas. Untuk mengatasi hal ini maka digunakan indikator yaitu suatu senyawa organik asam atau basa lemah yang mempunyai warna molekul (warna asam) berbeda dengan warna ionnya (warna basa), dimana indikator ini memperlihat perubahan warna pH tertentu. Secara umum untuk titrasi asam basa indikator yang digunakan adalah indikator venotalin yang mempunyai trayek pH 8,3 – 10.5 dimana indikator senyawa ini tidak berwarna pada larutan asam dan berwarna merah muda dalam larutan basa. Bila kuantitas ekimolar dari suatu asam kuat seperti asam klorida (HCL) dan suatu basa kuat seperti natrium hidroksida (NaOH) Dicampurkan dalam satu larutan, maka ion hidrinium dari asam dan ion hidroksida dari basa akan bersenyawa membentuk air (H2O). Reaksi antara ion hidronium dari asam dengan ion hidroksida dari basa sehingga membentuk senyawa air tadi merupakan reaksi penetralan. Setelah reaksi antara asam klorida dengan natrium klorida hidroksida maka akan tinggal larutan dari ion dan . Meskipun kedua ion ini tidak terlihat dalam proses penetralan dapat dikatakan bahwa larutan NaCl terbentuk sebagai hasil dari suatu reaksi antara asam klorida dengan natrium klorida atau dapat pula dikatakan reaksi asam basa. Reaksi asam basa yang sama kekuatannya akan menghasilkan larutan yang bersifat netral. Asam dan basa bereaksi dapat berasal dari suatu asam lemah ataupun basa kuat. Reaksi asam basa kekuatannya berlainan akan menghasilkan larutan dengan sifat satu asam lemah dan yang saytu lagi bersifat basa lemah. Itu semua tergantung pada kekuatan atom asam konjugasinya dan basa konjugasinya yang dihasilkan. Semua itu bertitik tolak pada larutan standar yang digunakan. Larutan standar yang digunakan atau dipakai NaOH. Perbedaan antara titik akhir titrasi dengan titik ekivalen adalah titik ekivalen yang terjadi pada saat reaksi asam dan basa mulai menetral, dimana asma menuju basa. Sedangkan titik akhir titrasi terjadi karena pada saat dimana dari ion-ion asam dan basa telah lengkap bereaksi maka hasilnya akan membentuk suatu senyawa air. Proses yang dikenal dengan titrasi oleh karena dikenal juga dengan “analisis titrimetri” suatu pereaksi dapat digunakan sebag ai dasar analisa titrimetri apabila memenuhi syarat-syarat berikut :reaksi harus berlangsung sesuai persamaan reaksi kimia tertentu harus tidak ada reaksi samping,reaksi harus berlangsung sampai benar-benar lengkap pada titik ekivalen, reaksi harus berlangsung cepat, sehingga titrasi diperlakukan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. 3 3( Rivai,Bakti.2010. Penuntun Praktikum Kimia Dasar I. Inderalaya : Universitas Sriwijaya) V. ALAT DAN BAHAN Alat yang dipergunakan pada praktikum kali ini adalah: 1. Gelas Ukur 2. Beker Gelas 3. Labu ukur 250 mL 4. Tabung Erlemeyer 5. Statif 6. Pipet Tetes Bahan yang dipergunakan pada praktikum kali ini adalah: Biuret Larutan NaOH Larutan Cuka Makan Asam Oksalat Air Suling

1. 2. 3. 4. 5.

VI. PROSEDUR PERCOBAAN Dicuci dengan baik buret 50 mL, dibilas dengan air suling , tutup ceratnya lalu dimasukkan kira-kira 5 ml NaOH yang akan distandardisasi.

A. Standardisasi arutan NaOH 0,1 ml

Dimiringkan dan diputar buret untuk membasahi permukaan buret. Keluarkan larutan dari buret dan ulangi pembilasan hinga skala 0, alirkan larutan untuk mengeluarkan gelembung udara.

Dicuci erlemeyer 250 ml kemudian dbilas dengan air suling. Pipet pertama 15 ml larutan HCl standar 0,1 M kedalam setiap erlemeyer.Ditambahkan kedalam erlemeyer masing-masing 15 ml air suling dan 3 etes indicator fenolffalein.dicatat NaOH pada buret kemudiandialirkan sedikit demi sedikit NaOH pada erlemeyer pertama. Dicatat volume akhir, hitunglah Molaritas larutan standar NaOH

Dicatat volume akhir, hitunglah Molaritas larutan standar NaOH

B. Menentukan persentase asam asetat dalam cuka. Cuka dapur mengandangi asam asetat 4 – 6 %.

Dimasukkan

pipet 1 ml asam cuka setiap erlyemeer tambahkan 10 ml air suling, 3 tetes indicator fenolftalein .

Dihitung persentase massa pada tiap-tiap contoh

VII. PERTANYAAN PRA PRAKTEK 1. Apa yang dimaksud dengan asam,basa,titik ekivalen,indikator? Jawab: a. b. c. d. Asam adalah zat yang melarut ke dalam air untuk membiarkan ion-ion .

a. b.

Basa adalah zat yang melarut ke dalam air untuk memberikan ion-ion . Titik ekivalen dimana titer dan titran tepat bereaksi ditandai dengan perubahan warna yang belum konstan. Indikator adalah senyawa organik asa atau basa lemak yang mempunyai warna moekul berbeda degan warna ionnya dimana indikator akan memperlihatkan perubahan warna pada pH tertentu. 2. Jelaskan perbedaan titik akhir titrasi dan titik ekivalen? Jawab: Titik akhir titrasi merupakan titik dalam reksi titrasi yang ditandai dengan perubahan warna indikator. Titik ekivalen dimana titer dan titran tepat bereaksi ditandai dengan perubahan warna yang belum konstan. 3. Sebanyak 0,7742 g kalium hidrogen sitrat dimasukan ke dalam erlemyer dan dilarutdengan air suling, kemudian titrasi dengan dengan larutan NaOH. Bila terpakai 33,60 mL larutan NaOH, berapa molaritas larutan NaOH tersebut? Jawab: Massa = 0,7742 V NaOH = 33,6 mL = 0,0336 L Mol M NaOH = = = = 0,003 mol = 0,089

VIII. DATA HASIL PENGAMATAN V1 = 3,8 ml V2 = 7,9 – 3,8 = 4,1 ml V3 = 12,1 – 4,1 = 8 ml

IX. REAKSI DAN PERHITUNGAN

0. Indikator merupakan senyawa organik asam basa lemah yang memiliki warna berbeda dengan ionnya. namun perubahan warna yang terjadi belum konstan disebut dengan titik ekivalen. Larutan standar primer yang mana larutan tersebut konsentrasinya telah diketahui sehingga tidak perllu di standarisasi. sifat dari asam ini berasa asam dan mengubah lakmus biru menjadi merah. pada titrasi larutan terbagi dua. Titik saat di mana asam basa dan basa tepat bereaksi . Titik akhir titrasi di tandao dengan perubahan warna indikator yang sudah konstant. Menurut Arrhenius asam didefinisikan senyawa yang apabila bereaksi dengan air akan menghasilkan ion . konsentrasinya diketahui dan mudah untuk di dapat. dan erlenmeyer pun harus sangat hati – hati.a.5 . Menurut Brownsted – Lowry berpendapat bahwa asam bertindak sebagai donor . Percobaan ini analisa yang dipakai analisa volumetri. Percobaan titrasi asam basa ini dilakukan dalam tiga kali pengulangan.3 – 10. larutan standar sekunder ini memiliki ciri – ciri maassa molekul yang rendah dan hidroskopis. 5. Dalam penggunaaan alat berupa buret. basa bersifat pahit dan licin dikulit serta dapat membirukan lakmus merah. sedangkan basa bertindak sebagai akseptor proton. larutan standar primer dan larutan standar sekunder. karena itu kita ambil rata – rata volume dari ketiga volume yang di dapat untuk digunakan dalam perhitungan. XI. Menurut Lewis sendiri berpendapat bahwa asam sebagai spesi yang menerima pasangan elektron bebas.88 . 100 % = 88 % X. kesalahan bisa terjadi saat menggunakan alat yang digunakan. Sedangkan yang memiliki pH di atas 7 merupakan basa. Digunakan indikator fenolftalein dengan pH trayeknya 8. Disini asam basa sendiri dibagi atas pandangan.3 . Pada percobaan ini. PEMBAHASAN Pembahasan kali ini mengenai percobaan titrasi asam basa. Percobaan titrasi asam basa ini merupakan suatu metode untuk menentukan konsentrasi suatu larutan asam basa. Seharusnya sebelum melakukan percobaan.188 M % Kesalahan = X 100 % = x 100 % = . 4. 2. . 3.3 – 10. Inilah yang membedakan antara titik ekivalen dengan titik akhir titrasi. KESIMPULAN Titik ekivalen dimana titer dan titran mengalami reaksi ditandai perubahan warna yang belum konstan . Sedangkan larutan standar primer mempunyai massa molekul relatif tinggi.1 M NaOH = = 0. M HCl 5. sedangkan basa senyawa yang apabila bereaksi dengan air akan menghasilkan ion . didapatkan hasil berupa larutan berwarna merah muda dari campuran titran berupa NaOH dengan titernya yang terdiri dari asam klorida. Indikator termasuk senyawa organik asam lemah yang memiliki warna berbeda dengan ionnya. pastikan alat – alat tersebut telah bersih dan kering sehingga tidak mempengaruhi molaritas larutan. Larutan ini konsentrasinya belum diketahui sehingga perlu di standarisasi. dan alat – alat nya juga harus kita jaga dengan baik.3 ml NaCl + H2O V NaOH . air suling dan indikator. 0. Perhitungan V= = = = 5.. Brownsted-Lowry. menurut Arrhenius. Pada percobaan kali ini kita dapat menstandarisasi larutan. Reaksi NaOH + HCl b. Karena dalam penambahan air merupakan salah satu cara untuk mengubah molaritas larutan.5 . M NaOH = V HCl . Analisa yang digunakan pada percobaan kali ini adalah kuntitatif dan volumetri. analisa yang di dasarkan pada volume. 1. dan masing – masing titrasi volume NaOH berbeda – beda. Pada indikator ini perubahan warna pada senyawa asam yaitu being ( tidak berwarna ) dan pada basa berubah menjadi warna merah muda. pH yang memiliki di bawah 7 merupakan sifat dari asam. sedangkan basa sebagai spesi yang mendonorkan pasangan elektron bebas. M NaOh = 10 . Sedangkan larutan standar sekunder atau yang bertindak sebagai titran. dan Lewis. Pada percobaan titrasi asam basa ini digunakan indikator fenolftalein dengan pH trayeknya 8. Di dalam laboratorium pun kita harus berhati – hati sebab banyak bahan – bahan yang berbahaya. Pada prosos pencampuran antara titer dan titran di dapat titik ekivalen dan titik akhir titrasi. Persen kesalahan yang didapat mencapai 88 % . Indikator berguna untuk menunjukkan perubahan warna. pipet gondok.

google.32 °C (247 K) larutan 38% Densitas Titik lebur .titrasi.chemistry.H.Teori Asam Basa.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Penuntun Praktikum Kimia Dasar I.dkk. untuk senyawa HCl dalam keadaan murni (gas). Pukul 15:00 WIB Petrucci.46 g/mol (HCl) Cairan tak berwarna sampai dengan kuning pucat 1.Bakti.2010.Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern (terjemahan).http://www.org.18 g/cm3 (variable) −27.id/titrasi.1987.2010. Pukul 15:30 WIB Anonim.http://www. Inderalaya : Universitas Sriwijaya Posted 21st April 2012 by RAHMAT PRATAMA Asam klorida Dari Wikipedia bahasa Indonesia. lihat Hidrogen klorida Asam klorida Nama IUPAC[sembunyikan] Asam klorida Nama lain[sembunyikan] Klorana Identifikasi Nomor CAS PubChem Nomor EINECS Nomor RTECS [7647-01-0] 313 231-595-7 MW4025000 Sifat Rumus molekul Massa molar Penampilan HCl dalam air (H2O) 36.2010. ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Asam klorida merujuk pada larutan HCl dalam air. R.html Diakses pada tanggal 26 November 2010.//teori-asambasa.html Diakses pada tanggal 26 November 2010. Jakarta : Erlangga Rivai.co.

1 Pasar industri 5 Keberadaan dalam organisme hidup 6 Keselamatan .0 1. Senyawa ini juga digunakan secara luas dalam industri. dan aditif makanan. S45 Tak ternyalakan. 48 °C (321 K).Titik didih 110 °C (383 K). Kegunaan kecil lainnya meliputi penggunaan dalam pembersih rumah. R37 (S1/2). meliputi produksi massal senyawa kimia organikseperti vinil klorida untuk plastik PVC dan MDI/TDI untuk poliuretana. Br-. data di atas berlaku pada temperatur dan tekanan standar (25°C. Sejak Revolusi Industri. Senyawa ini digunakan sepanjang abad pertengahan oleh alkimiawan dalam pencariannya mencari batu filsuf. 100 kPa) Sangkalan dan referensi Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl). Ia adalah asam kuat. Priestley. larutan 31. senyawa ini menjadi sangat penting dan digunakan untuk berbagai tujuan. larutan 20. dan merupakan komponen utama dalam asam lambung. Asam klorida pernah menjadi zat yang sangat penting dan sering digunakan dalam awal sejarahnya. larutan 38%. Senyawa terkait Anion lainnya Asam terkait F-. Daftar isi [sembunyikan]       1 Sejarah 2 Kimia 3 Sifat-sifat fisika 4 Produksi o 4. S26. Tercampur penuh −8. and Davy dalam rangka membangun pengetahuan kimia modern.2%.9 mPa·s pada 25 °C. dan kemudian digunakan juga oleh ilmuwan Eropa termasuk Glauber.5% Bahaya Kelarutan dalam air Keasaman (pKa) Viskositas MSDS Klasifikasi EU Indeks EU NFPA 704 External MSDS Korosif (C) 017-002-01-X 0 3 1 COR Frasa-R Frasa-S Titik nyala R34. Sekitar 20 juta ton gas HCl diproduksi setiap tahunnya. Ia ditemukan oleh alkimiawan Persia Abu Musa Jabir bin Hayyan sekitar tahun 800. produksigelatin. Asam klorida harus ditangani dengan wewanti keselamatan yang tepat karena merupakancairan yang sangat korosif. IAsam bromida Asam fluorida Asam iodida Asam sulfat Kecuali dinyatakan sebaliknya.

Pada abad ke-17. Proses industri baru yang mengijinkan produksi natrium karbonat (soda abu) dalam skala besar berhasil dikembangkan olehNicolas Leblanc. misalnya dalam bahasa Jerman Salzsäure. Sebelum diberlakukannya Undang-Undang Alkali tahun 1863 oleh Britania. dan mencatat penemuannya ke dalam lebih dari dua puluh buku. Inggris. dan metamfetamina. kokaina. bahasa Mandarin 鹽酸 (yansuan). bahasa Belanda Zoutzuur.[3][4][5] Sejak tahun 1988.[6] Konvensi ini disahkan di Indonesia oleh Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1997. Setelah tahun 2000. HCl yang berlebih dilepaskan ke udara bebas. Gas HCl disebut sebagai udara asam laut. dan bahasa Jepang 塩酸 (ensan). Dalam proses Leblanc.[7] [sunting]Kimia Titrasi asam . Produksi asam klorida secara signifikan dicatat oleh Basilius Valentinus pada abad ke-15.  7 Referensi 8 Pranala luar [sunting]Sejarah Asam klorida pertama kali ditemukan sekitar tahun 800 sesudah masehi oleh ahli kimia Jabir bin Hayyan (Geber) dengan mencampurkan natrium klorida dengan asam sulfat ("vitriol").[1][2][3] Jabir bin Hayyan dalam gambar abad pertengahan Semasa Revolusi Industri di Eropa. dan pada tahun 1818.[1][3][4] Pada abad ke-20. proses Leblanc digantikan oleh proses Solvay yang tidak menghasilkan asam klorida sebagai produk sampingan. dan batubara. Johann Rudolf Glauber dari Karlstadt am Main. Jerman menggunakan natrium klorida dan asam sulfat untuk membuat natrium sulfat melalui proses Mannheim. natrium klorida diubah menjadi natrium karbonat menggunakan asam sulfat. Setelah berlakunya undang-undang ini.[1][2][3] Pada Abad Pertengahan. permintaan atas senyawa-senyawa alkalin meningkat. Proses ini melepaskan hidrogen klorida sebagai produk samping.[1][2] Jabir menemukan banyak senyawa-senyawa kimia penting lainnya. membuktikan bahwa komposisi kimia zat tersebut terdiri dari hidrogen dan klorin. Joseph Priestley dari Leeds berhasil menghasilkan hidrogen klorida murni pada tahun 1772. Istilah asam garam ini pun masih digunakan di beberapa bahasa dunia. batu kapur. Penemuan Jabir atas air raja yang dapat melarutkan emas mengandung asam klorida dan asam nitrat. Humphry Davy dari Penzance. Proses ini akan melepaskan gas hidrogen klorida sebagai produk sampingannya. asam klorida dikenal oleh ahli kimia Eropa sebagai spirits of salt atau acidum salis (asam garam). produsen soda abu diwajibkan untuk melarutkan gas ini ke dalam air dan menghasilkan asam klorida dalam skala industri. asam klorida telah dimasukkan ke dalam Tabel II Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika karena ia dapat digunakan dalam produksi heroin. asam klorida kebanyakan dihasilkan dari pelarutan produk samping hidrogen klorida dari produksi industri senyawa organik.

02 9.46 2. H+ ini bergabung dengan molekul air membentuk ion hidronium. Asam klorida azeotropik (kira-kira 20.6 °C (227 °F).8% antara es dan kristalisasi dari HCl·3H2O.[10] Ketika garam klorida seperti NaCl ditambahkan ke larutan HCl.189 mol/dm3 2.2% HCl dan 108.[3] .410 3. massa jenis.99 2. Untuk asam kuat seperti HCl. titik leleh.82 6. Walaupun asam. Dalam larutan asam klorida. walaupun konsentrasinya bergantung pada tekanan atmosfernya ketika dibuat. yang mengindikasikan tingkat disosiasi zat tersebut dalam air.325 kPa).46 424.[8][9] Dari tujuh asam mineral kuat dalam kimia.000 °C 103 108 90 84 71 61 48 °C −18 −59 −52 −43 −36 −30 −26 Suhu dan tekanan referensi untuk tabel di atas adalah 20 °C dan 1 atm (101. asam klorida merupakan asam monoprotik yang paling sulit menjalani reaksi redoks. seperti natrium klorida. Cl−.527 27. H3O+:[8][9] HCl + H2O → H3O+ + Cl− Ion lain yang terbentuk adalah ion klorida.Hidrogen klorida (HCl) adalah asam monoprotik. Hal ini mengindikasikan bahwa Cl− adalah konjugat basa yang sangat lemah dan HCl secara penuh berdisosiasi dalam larutan tersebut. ia mengandung ion klorida yang tidak reaktif dan tidak beracun.10 Pa 0.50 2. Untuk larutan asam klorida yang kuat.1 −1.8 −1.60 344.179 1. ia tidak akan mengubah pH larutan secara signifikan. Asam klorida adalahasam kuat karena ia berdisosiasi penuh dalam air.048 1.169 1. dengan ketepatan mencapai empat digit angka bermakna.[11] Asam klorida sering digunakan dalam analisis kimia untuk "mencerna" sampel-sampel analisis.55 2. Asam klorida merupakan asam pilihan dalam titrasi untuk menentukan jumlah basa.0 −1. HCl·3H2O (41% HCl).130 6.733 14. Beberapa usaha perhitungan teoritis telah dilakukan untuk menghitung nilai Ka HCl.43 Konsentrasi Massa jenis Molaritas pH Viskositas Tekanan uap Titik didih Titik leleh kg HCl/kg kg HCl/m3 Baumé 10% 20% 30% 32% 34% 36% 38% 104.90 11. Asam klorida oleh karenanya dapat digunakan untuk membuat garam klorida. asumsi bahwa molaritas H+ sama dengan molaritas HCl cukuplah baik. Sifat-sifat ini berkisar dari larutan dengan konsentrasi HCl mendekati 0% sampai dengan asam klorida berasap 40% HCl [8][9][12] Kapasitas kalor jenis kJ/(kg·K) 3. berada di antara kristal HCl·H2O (68% HCl).1 mPa·s 1. Asam klorida sebagai campuran dua bahan antara HCl dan H2O mempunyai titik didih-konstan azeotrop pada 20. nilai Ka cukup besar. Ka.88 397. HCl·6H2O (25% HCl). [12] [sunting]Produksi Asam klorida dibuat dengan melarutkan hidrogen klorida ke dalam air. Asam klorida dalam konsentrasi menengah cukup stabil untuk disimpan dan terus mempertahankan konsentrasinya. Terdapat pula titik eutektik metastabil pada 24.60 2.80 1. Ia juga merupakan asam kuat yang paling tidak berbahaya untuk ditangani dibandingkan dengan asam kuat lainnya.44 451.99 2. Ia juga bereaksi dengan senyawa dasar semacam kalsium karbonat dan tembaga(II) oksida.6 13 19 20 21 22 23 kg/l 1.098 1.100 28. HCl·2H2O (51% HCl).5 −0. asam klorida merupakan reagen pengasam yang sangat baik.159 1.70 1.[8][9] [sunting]Sifat-sifat fisika Ciri-ciri fisika asam klorida.149 1. Asam yang lebih kuat akan memberikan hasil yang lebih baik oleh karena titik akhir yang jelas.39 −0. Asam klorida memiliki empat titik eutektik kristalisasi-konstan.17 10.47 2. menghasilkan klorida terlarut yang dapat dianalisa.64 12.37 1.2%) dapat digunakan sebagai standar primer dalam analisis kuantitatif. Oleh karena alasan inilah. dan es (0% HCl). dan pH tergantung pada konsentrasi atau molaritas HCl dalam larutan asam tersebut. Asam klorida pekat melarutkan banyak jenis logam dan menghasilkan logam klorida dan gas hidrogen.90 1.87 6. Hidrogen klorida dapat dihasilkan melalui beberapa cara.0 −1.0 −1.45 10.3 1. yang berarti bahwa ia dapat berdisosiasi melepaskan satu H+ hanya sekali.16 1. Produksi skala besar asam klorida hampir selalu merupakan produk sampingan dari produksi industri senyawa kimia lainnya.[8][9] Asam monoprotik memiliki satu tetapan disosiasi asam.70 370.80 219. seperti titik didih.

asam klorida dalam kim akan dinetralisasi oleh natrium bikarbonat dalam usus dua belas jari.[3] Cairan pembersih tersebut harus diencerkan terlebih dahulu sebelum digunakan. LANDASAN TEORI. Produsen asam klorida terbesar di dunia adalah Perusahaan Dow Chemical dengan total produksi sebesar 2 juta ton per tahun (pengukuran dalam bentuk gas HCl). dengan 3 juta ton berasal dari sintesis langsung. Menentukankonsentrasi larutan HCL. gas beracun klorin akan terbentuk.[13] Lambung itu sendiri terlindung dari asam kuat oleh sekresi lapisan mukosa yang tebal dan penyanggaan oleh natrium bikarbonat yang diinduksi oleh sekretin. pH yang rendah ini juga akan mengaktivasi prekursor enzim pepsinogen. Konsentrasi HCl yang paling optimal untuk pengantaran produk adalah 30% sampai dengan 34%. dan pakaian pelindung haruslah digunakan ketika menangani asam klorida. pelindung mata. sehingga penyimpanan dan penanganannya harus dilakukan dalam suhu rendah.[3] [sunting]Keberadaan dalam organisme hidup Asam lambung merupakan salah satu sekresi utama lambung. Nyeri ulu hati dan sakit maag dapat berkembang apabila mekanisme perlindungan ini gagal bekerja. 2. Kandungan asam klorida pada kebanyakan cairan pembersih umumnya berkisar antara 10% sampai dengan 12%. NaClO + 2 HCl → H2O + NaCl + Cl2 2 KMnO4 + 16 HCl → 2 MnCl2 + 8H2O + 2 KCl + 5 Cl2 Alat-alat pelindung seperti sarung tangan PVC atau karet. Menentukankonsentrasi larutan NaOH O. pH asam lambung yang rendah akan mendenaturasi protein. Tabel di bawah ini merupakan klasifikasi bahaya larutan asam klorida Uni Eropa. namun laju penguapan sangatlah tinggi. dan sisanya merupakan hasil dari produk sampingan sintesis organik. Obat-obat antihistamin dan inhibitor pompa proton dapat menghambat produksi asam dalam perut. dan antasid digunakan untuk menetralisasi asam yang ada.[sunting]Pasar industri Asam klorida diproduksi dalam bentuk larutan 38% HCl (pekat). [13] Ion klorida (Cl−) dan hidrogen (H+) disekresikan secara terpisah di bagian fundus perut yang berada di bagian teratas lambung oleh sel parietal mukosa lambung ke dalam jaringan sekretori kanalikulus sebelum memasuki lumen perut. TUJUANPENGAMATAN/PENELITIAN. Produksi HCl dunia diperkirakan sebesar 20 juta ton per tahun. Konsentrasi yang lebih besar daripada 40% dimungkinkan secara kimiawi. sehingga akan lebih mudah dicerna oleh enzim pepsin. Seketika asam klorida bercampur dengan bahan kimia oksidator lainnya. 1. dan usus. kulit.[13][15] [sunting]Keselamatan Tanda bahaya Asam klorida pekat (asam klorida berasap) akan membentuk kabut asam. Ia utamanya terdiri dari asam klorida dan mengasamkan kandungan perut hingga mencapai pH sekitar 1 sampai dengan 2. seperti natrium hipoklorit (pemutih NaClO) atau kalium permanganat (KMnO4). . dengan potensi kerusakan pada organ pernapasan. Setelah meninggalkan lambung.[16] Konsentrasi Klasifikasi berdasarkan berat 10–25% > 25% Iritan (Xi) Frasa R R36/37/38 Korosif (C) R34 R37 Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (United States Environmental Protection Agency) memasukkan asam klorida sebagai bahan beracun. B. Baik kabut dan larutan tersebut bersifat korosif terhadap jaringan tubuh.1 M.[17] Laporan hasil pengamatan penentuan konsentrasi larutan asam klorida dan larutan natrium hidroksida PENENTUANKONSENTRASI LARUTAN ASAM KLORIDA DAN LARUTAN NATRIUM HIDROKSIDA A. mata. [1] Bahaya larutan asam klorida bergantung pada konsentrasi larutannya. [14] Asam lambung berfungsi untuk membantu pencernaan makanan dan mencegah mikroorganisme masuk lebih jauh ke dalam usus.

C.1 M IndikatorFenolftalein. yaitu dengan menimbang zat secara tepatdengan menggunakan peralatan yang akurat. titik akhir titrasi berbeda dengan titik ekuivalen. CARA KERJA. Larutan yang telahdiketahui konsentrasinya dengan tepat disebut Larutan baku/Larutan standar. f) g) Ulangi kegiatan ini sekali lagi sehinggaanda memperoleh hasil yang hampir. Aquadest/ air suling b. lalu masukkan kedalam labu erlenmeyer b) Tambahkan 2-3 tetes indikatorfenolftalein c) Masukkan larutan NaOH 0. titrasi asam basa merupakan metode penentuan kadar larutan asam denganzat peniter (zat penitrasi) suatu larutan basa atau penentuan kadar larutanbasa dengan zat peniter (zat penitrasi) suatu larutan asam. jika tidak ada buret . Dalam titrasi. BAHAN DAN ALAT.menggunakan perkiraan jumlah zat yang terlarut dan perkiraan jumlah zatpelarut. Jika perubahan warna indikator terletakpada PH titik ekuivalen. Percobaan Volume HCL (ML) Vol NaOH 0. titik akhir titrasi akan sama dengan titik ekuivalen. E. Jika perbedaan hasil yang anda peroleh cukupbesar. zatyang akan ditentukan konsentrasinya dititrasi oleh larutan yang konsentrasinyadiketahui dengantepat dan disertai penambahan indikator. membuatlarutan dengan konsentrasi tertentu. Pendekatanantara titik akhir titrasi dan titik ekuivalen bergantung pada PHperubahan warna dari larutan indikator.Akan tetapi. d) Catat skala awal dari larutan NaOH 0. ulangi sekali lagi.Terdapat duacara dalam menentukan konsentrasi (kemolaran) suatu larutan:   Cara pertama.1 M sebagai zat peniterkedalam buret. LarutanHCL LarutanNaOH 0. Cara kedua.kemudian konsentrasinya ditentukan dengan metode titrasi. Titik akhirtitrasi adalah kondisi pada saat terjadi perubahaan warna dari indikator. HASIL PENGAMATAN.teteskan sedikit demi sedikit larutan NaOH kedalam labu erlenmeyer sampai terjadiperubahan warna indikator.1 M (ML) . a.sedangkan Indikator adalah zatyangmemberikan tanda perubahan pada saat titrasi berakhir yang dikenal denganistilah titik akhir titrasi. Alat Buret/ Pipet ukur LabuErlenmeyer Pipetvolume Botolsemprot Pipettetes D. yaitukondisi pada saat larutan asam tepat bereaksi dengan larutan basa.Titik akhir titrasi diharapkan mendekati titik ekuivalen titrasi. Berdasarkan pengertiantitrasi. Bahan. dapat digunakan pipet ukur.1 M(Sebaiknya dimulai dari skala 0) e) Sambil menggoyang-goyangkan labu. Catat volume larutan NaOH yangdigunakan. a) Ukur 10 ml larutan HCL denganmenggunakan pipet volume. Titrasi adalah metodeanalisis kuantitatif untuk menentukan kadar suatu larutan. jika PH perubahan warna indikator setelah penambahan larutan zatpaniter sedikit berlebih.

Dari hasil pengamatan diatas dapatdiketahui bahwa larutan HCL jika ditetesi dengan larutan N aOH akanmenghasilkan larutan NaCL dan H2O dan terjadi perubahanwarna pada larutan HCL dari warna bening menjadi warna merah muda (Pink).60 = 0.60 ml = 0.13 ml .2. . 0. Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya.  PERTANYAAN. 0.90 ml – 2. V. larutan HCL dengan Vol.60 ml V.70 = 0.13 ml KESIMPULAN. V2 = = 0.NaOH = = = 0.awal (Vo) =3. PENUTUP Demikianlahlaporan hasil penelitian/pengamatan ini.90 ml Vt– Vo = 2..00 = 0. Sabtu.20 ml dan berubah warna dari bening menjadi merah mudah. sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa.Na+ OHTentukan konsentrasi larutan HCL tsb! Jawab : NaOH HCL= V1 M1 =V2 M2 0..Akhirnya kepada Allah jua-lah kita berharap.10 .70 ml = 0.1 0.10 ml dan berubah warna dari bening menjadi merah mudah.10 F.13 ml G.20 3.awal (Vo) =2.. titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya.   2. keimanan danketaqwaan kita kepada Allah SWT.10 ml b) Percobaan kedua. 0.00 ml = 0.mudahmudahan laporanpenelitian ini berguna bagi kita semua sehingga dapat meningkatkan ilmupengetahuan. titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi.. PEMBAHASAN. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi.5 ml ditetesi dengan indikator fenoltalein sebanyak dua tetes dan larutan NaOHdengan Vol. 0. Tuliskan persamaan reaksi asam-basatersebut.00 ml V..70 ml V. meanInG oF a liFe.10 ml Vt– Vo = 3.awal (Vo) = 2.70 ml Vt– Vo = 2. agar memperoleh keselamatan di dunia danakhirat.3.akhir (Vt) = 3.akhir (Vt) = 2.1 2 3 5 5 5 2. Jawab : HCL + NaOH NaCL + H2O H+ CL.1 H. V. V.. 0. Amiin.1 = V2 .10 2.90 .20 ml Vol. 0.70 ml – 2. a) Percobaan pertama. larutan HCL denganvolume 5 mlditetesi dengan indikator fenolftalein sebanyak dua tetes danlarutan NaOH Vol. 21 April 2012 titrasi asam basaa Titrasi adalah suatu metode penentuan kadar (konsentrasi) suatu larutan dengan larutan lain yang telah diketahui konsentrasinya. 5 ml ditetesi dengan indikator fenolftalein sebanyak 2 tetes dan larutanNaOH dengan Vol. larutan HCL denganVol.10 mldan berubah warna dari bening merah mudah..20 ml c) Percobaan ketiga. 1.70 – 2.10 ml – 3.013ml = V2 .akhir (Vt) = 2.

Untuk mengetahui tercapainya titik ekivalen dapat diukur dengan pH meter. Asam lemah . Asam kuat .Titrasi asam basa terbagi menjadi dua. umumnya digunakan untuk melakukan titrasi larutan uji. Jenis-Jenis Titrasi Asam Basa Titrasi asam basa terbagi menjadi 5 jenis yaitu : 1. maka ke dalam larutan tersebut ditambahkan larutan baku sehingga terjadi reaksi sempurna antara larutan dengan larutan baku. Natrium bikarbonat. dibuat dari senyawa yang tingkat kemurniannya tinggi(99%). Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Asam sulfamat Larutan baku sekunder adalah larutan baku yang setelah dibuat tidak dapat langsung digunakan. tidak berubah selama proses pengerjaan pembuatan larutannya. tetapi harus di cek kembali konsentrasinya dnegan menambahkan larutan baku primer. Prinsip Titrasi Asam basa Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titrat ataupun titran.Basa kuat 2. Larutan baku terbagi atas dua macam. yaitu larutan baku primer dan larutan baku sekunder. Syarat-syarat senyawa baku primer : • Rumus molekulnya diketahui dengan pasti • Kemurniannya tinggi (99%) • Stabil. Larutan baku adalah larutan yang konsentrasinya telah diketahui secara pasti. maka titik akhir titrasi harus sedekat mungkin dengan titik ekivalen. misalnya tidak hidroskopis. Asidimetri : pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa 2. potensiometer. Dalam memilih indikator untuk titrasi asam basa harus disesuaikan dengan pH saat tercapainya titik ekivalen. kemudian kita mencatat volume titrat yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”. Titran ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titran dan titrat tepat habis bereaksi). Titik ekivalen adalah saat banyaknya asam atau basa yang ditambahkan tepat setara secara stokiometri dengan banyaknya basa atau asam yang terdapat dalam larutan yang di analisis (pH pada saat asam dan basa tepat ekivalen).Basa kuat 4. dan tidak higroskopis. Oleh . Asam kuat .Garam dari asam lemah 5. tidak mudah bereaksi dengan komponen-komponen udara. Pada saat titik ekuivalen ini maka proses titrasi dihentikan. yaitu : 1. atau dengan suatu zat petunjuk yang dinamakan dengan indikator pH. contoh: asam klorida. stabil pada suhu kara. Titik akhir titrasi adalah titik pada saat tercapainya kesetaraan asam dan basa yang bereaksi atau titik pada saat larutan mengalami perubahan warna yang disebabkan oleh penambahan indikator. Misalnya akan dicari normalitas suatu larutan. Senyawa baku sekunder tidak harus memenuhi persyaratan seperti senyawa primer sehingga harganya murah dan biasa digunakan secara rutin. Asam oksalat Kristal. Dengan menggunakan data volume titran. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Natrium tetra borat Untuk basa : Kalium Ftalat asam. Basa kuat . Indikator pH adalah asam lemah atau basa lemah organik yang menunjukan perubahan warna pada pH warna tertentu. Larutan baku primer adalah larutan baku yang setelah dibuat dapat langsung dipakai untuk ditambahkan ke dalam larutan yang akan dicari konsentrasinya. Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi yang tinggi.Garam dari basa lemah Analisa kimia kuantitatif yang dilakukan dengan jalan mengukur volume suatu larutan baku yang tepat bereaksi (bereaksi sempurna) dengan larutan yang di analisis disebut dengan analisis volumetri. Alkalimeteri : pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam. massa molekul relatif (berat ekivalen) tinggi.Basa lemah 3. • Mr-nya tinggi agar dapat mengurangi kesalahan penimbangan Bahan baku primer untuk asidi-alkalimetri yang paling banyak digunakan Untuk asam : Natrium karbonat kristal. Asam kuat . Contohnya adalah asam oksalat. Kalium biodat. Umumnya digunakan untuk melakukan titrasi larutan uji. natrium hidroksida dll Standarisasi atau pembakuan adalah proses pengecekan larutan baku sekunder dengan larutan baku primer.

Garam dari basa lemah : CH3COONH4 Persamaan Reaksi :NaOH + CH3COONH4→ CH3COONa + NH4OH Reaksi ionnya :OH-+ NH4-→ NH4OH Diposkan oleh syinta apriyanti di 21. Reaksi harus berlangsung dengan cepat 2. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk suatu analisis secara titrasi adalah : 1. yaitu suatu zat yang dapat berubah warnanya tergantung PH larutan. yaitu suatu zat yang dapat berubah warnanya tergantung PH larutan.Asam lemah : CH3COOH . 1. Tiitrasi harus memiliki keberulangan dengan perbedaan hasil tidak lebih dari 0. Untuk mengamati titik ekivalen ini digunakan indicator asam-basa.→ H2O + NH4+ 3.Garam dari asam lemah : NH4BO2 Persamaan Reaksi : HCl + NH4BO2→ HBO2+ NH4Cl Reaksi ionnya :H++ BO2-→ HBO2 5. sehingga dapat dituliskan sebagai berikut: Ekiuvalen asam = ekivalen basa V asam N asam = V basa N basa Larutan asam dapat ditentukan kadarnya melalui penambahan larutan baku basa yang tepat ekivalen (setara) dengan jumlah asam yang ada. Titrasi Basa Kuat . Titik akhir titrasi harus dapat diamati dengan jelas 5.Asam kuat : HCl . Ketepatan dalam memilih indikator dapat memperkecil kesalahan titrasi. Jenis indicator yang dipilih harus tepat. Ketepatan dalam memilih indikator dapat memperkecil kesalahan titrasi. Reaksi kimia yang terjadi harus sederhana dan persamaan reaksinya mudah ditulis 3.Basa lemah : NH4OH Persamaan Reaksi :HCl + NH4OH → NH4Cl + H2O Reaksi ionnya :H++ NH4OH.Garam dari Asam Lemah Contoh : .5% 4.Asam kuat : HCl .Garam dari Basa Lemah Contoh : .Basa kuat : NaOH .karena itu. Titrasi Asam Kuat . 26 Maret 2012 .Basa kuat : NaOH Persamaan Reaksi :CH3COOH + NaOH → NaCH3COO + H2O Reaksi ionnya :H++ OH-→ H2O 4. Titrasi Asam Kuat-Basa Kuat Contoh : -Asam Kuat : HCL -Basa Kuat NaOH Persamaan Reaksi : HCl + NaOH → NaCl + H2O Reaksi ionnya : H+ + OH-→ H2O 2.Basa Kuat Contoh : . harus dipilih indikator yang mengalami perubahan warna di sekitar titik ekivalen.48 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Senin. Kadar atau konsentrasi larutan baku atau standar harus diketahui dengan tepat Larutan asam dapat ditentukan kadarnya melalui penambahan larutan baku basa yang tepat ekivalen (setara) dengan jumlah asam yang ada. Titik pada saat tercapainya kesetaraan asam dan basa yang bereaksi dinamakan titik akhir titrasi. Pada titrasi jumlah ekivalen asam sama dengan jumlah ekivalen basa. Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik ekivalen dan selisihnya dinamakan kesalahan titrasi. Jenis indicator yang dipilih harus tepat. Titik pada saat tercapainya kesetaraan asam dan basa yang bereaksi dinamakan titik akhir titrasi. Titrasi Asam Lemah . Titrasi Asam Kuat – Basa lemah Contoh : . Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik ekivalen dan selisihnya dinamakan kesalahan titrasi. Untuk mengamati titik ekivalen ini digunakan indicator asam-basa.

contoh: jika melibatkan asam basa maka di sebut reaksi asam basa. Cara membaca volume larutan yang di keluarkan oleh buret adalah dengan melihat miniskus bawah sejajar dengan mata. Dalam suatu titrasi zat yang akan di tentukan kadarnya di sebut sebagai “titran” dan biasanya di letakan di dalam erlenmeyer..oleh karena itu keduanya di sebut juga sebagai titrasi asam basa. Titrasi biasanya di bedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi. 1. Sedangkan titrasi asidimetri adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa. Contoh nya: .sedangkan alkalimetri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam. Rumus senyawa Unsur logam di tulis di depa contohnya natrium klorida di tulis NaCl bukan ClNa kan?? Ini adalah rumus senyawa ion: b Xa+ + a Yb– -> XbYa untuk a dan b sama dengan angka 1 tidak perlu di tulis. 12 Maret 2012 tata nama senYawa>> Kita mulai aja yahh!! Tau gak senyawa ion itu terdiri atas suatu kation dan anion lohh!! Yuk kita bahas!!!! Kation umumnya adalah suatu ion logam. sedangkan zat yang telah di ketahui konsentrasinya di sebut sebagai “titer” dan biasanya di letakkan di dalam buret.baik titer maupun titrant biasanya berupa larutan.52 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Senin. sedangkan anion dapat berupa anion non logam. Hanya ini yang bisa saya sampaikan.perubahan warna menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi. jumlah muatan positif sama dengan jumlah muatan negatif.titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi. Semoga bermanfaatt^_^ Diposkan oleh syinta apriyanti di 22. Pada proses titrasi ini di gunakan suatu indikator yaitu suatu zat yang di tambahkan sampai seluruh reaksi selesai yang di nyatakan dengan perubahan warna. Titrasi di hentikan saat tercapainya titik equivalen.tapi karena titik equivalen ini sulit di amati maka titrasi di hentikan saat terjadi titik akhir titrasi yang di tandai dengan perubahan warna indikator di dalam larutan sample. Rumus senyawa ion di tentukan oleh perbandingan muatan kation dan anionnya.raNgkuman tiTrassii Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah di ketahui konsentrasinya.

SO42– : Sulfat 16. NO3– : Nitrat 11. Ag+ 4. AsO33– : Arsenit 20. Mg2+ 5. S2– : Sulfida 9. Zn2+ 9. Br– : Bromida 5. NO2– : Nitrit 10. Cu+ 20. Sr2+ 7. Cl– : Klorida 4. PO43– : Fosfat 19. Cu2+ : Natrium : Kalium : Argentum/Perak : Magnesium : Kalsium : Stronsium : Barium : Seng : Nikel : Aluminium : Timah(II) : Timah(IV) : Timbal(II) : Timbal(IV) : Besi(II) : Besi(III) : Raksa(I) : Raksa(II) : Tembaga(I) : Tembaga(II) Ini adalah daftar beberapa jenis anion: 1.• Na+ + Cl– -> NaCl natrium klorida • 2 Na+ + SO42– -> Na2SO4 natrium sulfat • Fe2+ + 2Cl– -> FeCl2 besi(II) klorida • Al3+ + PO43– -> AlPO4 aluminium fosfat • Mg2+ + CO32– -> MgCO3 magnesium karbonat • 3 K+ + AsO43– -> K3AsO4 kalium arsenat Ini adalah daftar beberapa jenis kation: 1. C2O42– : Oksalat 17. Fe2+ 16. Ca2+ 6. OH– : Hidroksida 2. I– : Iodida 6. Hg+ 18. PO33– : Fosfit 18. Ba2+ 8. F– : Fluorida 3. Pb4+ 15. CH3COO– : Asetat 12. Sn2+ 12. maka senyawa-senyawanya di bedakan dengan menuliskan bilangan oksidasinya yang di tulis dalam tanda kurung dengan angka romawi di belakang nama unsur logam tersebut. SiO32– : Silikat 14. Fe3+ 17. Na+ 2. CN– : Sianida 7. Al3+ 11. Nama senyawa ion Nama senyawa ion adalah rangkaian nama kation (di depan) dan nama anion (di belakang). O2– : Oksida 8. Contoh : • Cu2O = tembaga(I) oksida • CuO = tembaga(II) oksida • FeCl2 = besi(II) klorida • FeCl3 = besi(III) klorida • Fe2S3 = besi(III) sulfida • SnO = timah(II) oksida • SnO2 = timah(IV) oksida . AsO43– : Arsenat 2. Pb2+ 14. CO32– : Karbonat 13. Sn4+ 13. Ni2+ 10. K+ 3. SO32– : Sulfit 15. Contohnya: • NaCl = natrium klorida • CaCl2 = kalsium klorida • Na2SO4 = natrium sulfat • Al(NO3)3 = aluminium nitrat Jika unsur logam mempunyai lebih dari satu jenis bilangan oksidasi. Hg2+ 19.

2004 : 354-355). Chemistry Molecules and Canges. Terimakasihhh. Freeman and Company. Pertama-tama ditambahkan cukup banyak. dimana reaktan pertama ditambahkan secara kontinu ke dalam reaktan kedua disebut titrasi. Pada titik stoikiometri. ditempatkan di dalam flask bersamaan dengan beberapa tetes indikator asam basa. Secara ideal. Larutan asam yang dititrasi dimasukkan kedalam gelas kimia (erlenmeyer) dengan mengukur volumenya terlebih dahulu denga memekai pipet gondok. Dalam titrasi. Berhasilnya titrasi asam-basa tergantung pada seberapa akurat kita dapat mendeteksi titik stoikiometri. dipakai indikator yang warnanya disekitar titik ekivalen. Titik ekivalen terjadi pada saat terjadinya perubahan warna indikator. 2009 at 8:31 am (Landasan Teori) ANALISIS KUANTITATIF : ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang diketahui dan diperlukan untuk bereaksi secara lengkap dengan sejumlah contoh tertentu yang akan di analisis. Sebagai contoh. Pada proses titrasi ini digunakan suatu indikator yaitu suatu zat yang ditambahkan sampai seluruh reaksi selesai yang dinyatakan dengan perubahan warna. Peter and Jones Lorette. suatu larutan yang akan dinetralkan. kita dapat menentukan konsentrasi asam (Timberlake. kedalam larutan asam. tetapi dalam prakteknya jarang sekali ada orang yang mampu membuat kedua titik tersebut tepat sama. penolftalein tidak berwarna. ditambahkan ke asam. dalam stoikiometri titrasi. 1998: 422-423). 1997 : 636). dan basa apabila ion basa yang terkandung didalamnya (Atkins. New York: W. Dala titrasi yang diamati adalah titik akhir bukan titik ekivalen (syukri. misal asam. Dan tambahkan beberapa tetes indikator seperti penolftalein. terjadi yang untuk mengindikasikan pendekatan yang paling baik ke titik ekivalen. titrasi melibatkan pengukuran yang seksama. 3rd Ed. Larutan basa yang akan diteteskan (titran) dimasukkan ke dalam buret (pipa panjang berskala) dan jumlah yang terpakai dapat diketahui dari tinggi sebelum dan sesudah titrasi. Dia harus mengetahui secara pasti seberapa banyak asam yang terkandung dalam suatu sampel air danau tersebut. 1997 : 550). Kita bisa mengetahui bahwa netralisasi telah berlangsung ketika penolftalein dalam larutan berubah warna menjadi merah muda.atau H3O+ yang terdapat dalam analit. 1996 : 597-599). Dari volume yang ditambahkan dan molar NaOH. jumlah mol dari H3O+ dan OH.yang ditambahkan sebagai titrant adlah sama dengan jumlah mol dari OH. Didalam beberapa titrasi. Untuk mengamati titik ekivalen. Kadang-kadang kita perlu mengetahui tidak hanya atau sekedar pH. Titik pada titrasi dimana indikator warnanya berubah disebut titik akhir (Petrucci. Semoga bermanfaat^_^ Asidimetri & Alkalimetri May 2. Titrasi melibatkan suatu proses penambahan suatu larutan yang disebut tirant dari buret ke suatu flask yang berisi sampel dan disebut analit. akan tetapi perlu kita ketahui juga berapa banyak asam atau basayang terdapat didalam sampel. Kemudian. unknown). titik ekivalen dari reaksi netralisasi adalah titik pada reaksi dimana asam dan basa keduanya setara. Larutan tersebut adalah asam apabila ion asam yang terkandung didalamnya. Contoh yang akan dianalisis dirujuk sebagai (tak diketahui. Prosedur analitis yang melibatkan titrasi dengan larutan-larutan yang konsentrasinya diketahui disebut analisis volumetri. DAFTAR PUSTAKA Atkins. Seperti yang telah diketahui sebelumnya. Dalam larutan asam. seorang ahli kimia lingkungan mempelajari suatu danau dimana ikan-ikannya mati. .. Suatu proses didalam laboratorium untuk mengukur jumlah suatu reaktan yang bereaksi sempurna dengan sejumlah reaktan lainnya. 1999 : 428). Pada titrasi. meskipun ada beberapa hal dimana perbedaan antara kedua hal tersebut dapat diabaikan (Snyder. Pada titik tersebut. H. titik akhir dan titik ekivalen seharusnya identik. titik ekivalen adalah titik selama proses titrasi dimana tepatnya titrat telah cukup ditambahkan untuk bereaksi dengan titree.Cukup sekian penjelasan dari sayaa. Ini disebut titik akhir netralisasi. 1997. pertama-tama kita menempatkan suatu asam yang volumenya telah ditentukan ke dalam suatu flask. volume-volume suatu asam dan suatu basa yang tepat saling menetralkan (Keenan.. 1999 : 217218). yaitu dimana keduanya tidak ada yang berlebihan. Dalam analisis larutan asam dan basa. buret kita isi dengan larutan NaOH yang konsentrasinya telah diketahui. dimana kita menetralisasi suatu asam dengan suatu basa yang telah diketahui konsentrasinya. Kemudian larutan lainnya (misal basa) yang terdapat didalam buret. Kita bisa menentukan konsentrasi HCl tersebut melalui suatu prosedur yang disebut titrasi. larutan terdiri dari garam dan air. Salah satu masalah tekhnis dalam titrasi adalah titik dimana suatu perubahan dapat diamati. dan dengan hati-hati NaOH ditambahkan ke asam pada flask. kemudian dengan tetesan hingga titik ekivalen. Misalkan kita ingin menentukan molaritas dari suatu larutan HCl yang tidak diketahui konsentrasinya. Reaktan yang ditambahkan tadi disebut sebagai titrant dan reaktan yang ditambahkan titrant kedalamnya disebut titree.. Perubahan warna menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi (Brady.

W. Jakarta: Binarupa Aksara Keenan. untuk lebih memahami konsep peniteran asidi – alkalimetri dan mengetahui konsentrasi standar dari zat yang dianalisa maka perlu dilakukan peniteran dengan menggunakan suatu standar primer. 1. Laporan Kimia Dasar II Asidi Alkalimetri BAB 1 PENDAHULUAN 1. Sedangkan untuk titrasi atau pengukuran lain-lain sering juga dipakai akhiran –ometri menggantikan –imetri. Kata metri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu atau proses atau seni mengukur. Chemistry Structure and Reaction. Oleh karena itu. Milton K.2 Tujuan percobaan Mengetahui konsentrasi NaOH standar Mengetahui kadar CH3COOH perdagangan Mengetahui volume titran (NaOH) yang digunakan untuk menetralkan CH3COOH 1. . Titrasi yang menyangkut asam dan basa sering disebut asidimetri – alkalimetri. General. H2SO4. Bandung ITB. Karen C. 1999. Syukri.1 Latar Belakang Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. Harwood. dkk. Kesetimbangan asam basa merupakan suatu topik yang sangat penting dalam kimia dan bidang-bidang lain yang mempergunakan kimia. Rinehart And winston. Sedangkan basa secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. Inc. General Chemistry. San Fransisco: Pearson Benjamin Cummings. New York: Holt. James E. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion OH-sebagai ion negatif. Petrucci. Kimia Universutas Asas dan Struktur. Asidi-alkalimetri berperan penting dalam berbagai bidang kehidupan. 2004. New Jersey: Prentice Hall. KOH dan sebagainya. 1997. Asam dan basa tersebut memiliki sifat-sifat yang menyebabkan konsentrasi larutannya sukar bahkan tidak mungkin dipastikan langsung dari proses hasil pembuatan atau pengencerannya. C. seperti biologi. 1999. Kimia Dasar 2. Ralph H and Willias S. Jakarta: Erlangga. misalnya larutan asam oksalat. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai ion positif. Snyder. Larutan ini disebut larutan standar sekunder yang konsentrasinya ditentukan melalui pembakuan dengan suatu standar primer. Timberlake. Organic and Biological Chemistry Structure Of Life. Pereaksi atau larutan yang selalu dijumpai di laboratorium dimana pembakuannya dapat ditetapkan berdasarkan pada prinsip netralisasi asam – basa (melalui asidi – alkalimetri) diantaranya adalah HCl.Brady. Pengertian asidimetri dan alkalimetri secara umum ialah titrasi yang menyangkut asam dan basa.3 Prinsip percobaan Menentukan kadar atau konsentrasi suatu larutan dengan menggunakan larutan yang konsentrasinya diketahui dengan cara mentitrasi suatu zat yang konsentrasinya tidak diketahui dengan zat lain yang konsentrasinya diketahui sehingga jumlah mol kedua zat sama antara satu dengan lainnya. 1996. Kimia untuk Universitas. NaOH. kedokteran dan pertanian. 1998.

Shevla. dicampur akan dihasilkan suatu reaksi penetralan. Dalam reaksi ini aluminium hidroksida berperilaku sebagai asam. Tetapi ini sebenarnya tidak tepat. (G. adalah mungkin untuk menyatakan kekuatan basa secara kuantitatif. Ph. sedangkan larutan yang ditambah titran itu disebut titrat. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion-ion hidroksil sebagai satu-satunya ion negatif. Larutan ini akan benar-benar netral jika asam dan basa itu sama kuat .C. Setiap proton bergabung dengan satu molekul air dengan cara berkoordinasi dengan sepasang elektron bebas yang terdapat pada oksigen dari air. dalam artian. yang bila dilarutkan dalam air. lebih tepat untuk menyatakan reaksi netralisasi sebagai penggabungan ion-ion secara kimia : Dalam persamaan ini. maka penambahan titran harus dihentikan. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. Ini ditunjukkan oleh fakta.D. secara paling sederhana dapat didefinisikan sebagai zat. volume/berat titran dapat diukur dengan teliti dan bila konsentrasi . seperti natrium hidroksida atau kalium hidroksida hampir sempurna berdisosiasi dalam larutan air yang encer : Karena itu basa-basa ini adalah basa kuat. sampai jumlah zat-zat yang direaksikan tepat menjadi akivalen satu sama lain. yang tak mempunyai ciri-ciri khas suatu asam maupun basa. serta pula garam hampir sempurna berdisosiasi dalam larutan. Zat-zat amfoter. Zat-zat ini dinamakan garam oleh ahli-ahli kimia zaman dulu. merupakan suatu basa lemah. Reaksi dijalankan dengan titrasi. Jika persamaan reaksi dinyatakan sebagai interaksi molekul-molekul. yang bila dilarutkan dalam air. Misalnya.I. akan diperoleh larutan asam lemah atau basa lemah. yang berdisosiasi menjadi ion amonium dan ion hidroksida : Namun lebih tepat untuk menulis reaksi itu sebagai Karena itu.9 KJ) untuk reaksi suatu mol setiap asam kuat dan basa kuat yang sembarang. Pembentukan garam seakan-akan merupakan hasil dari suatu proses kimia sejati. aluminium hidroksida bereaksi dengan asam kuat. 1987) Volumetri adalah cara analisis jumlah berdasarkan pengukuran volume larutan pereaksi berkepekatan tertentu yang direaksikan dengan larutan contoh yang sedang ditetapkan kadarnya. F. saat ini dinamakan titik akhir titrasi. aluminium hidroksida juga bisa dilarutkan dalam natrium hidroksida : Pada mana ion tetrahidroksoaluminat terbentuk. atau amfolit. Karena itu. Hidroksida-hidroksida logam yang larut.R. (Kleinfetter. amonia membentuk amonium hidroksida. pada mana ia melarut dan ion aluminium terbentuk : Dalam reaksi ini aluminium hidroksida bertindak sebagai basa. Tetapi tak ada pembagian yang tajam antara golongan-golongan ini. ion Na+ dan Cl. Teknik semacam itu disebut analisis volumetri. Bila dilarutkan dalam air. dan sama halnya dengan asam. mampu melangsungkan reaksi netralisasi baik dengan asam maupun basa (lebih tepatnya. Sebenarnya ion hidrogen (proton) tak ada dalam larutan air. Sedangkan air. baik dengan ion hidrogen maupun ion hidroksil). yang juga terbentuk dalam proses ini. Di lain pihak larutan air amonia. Proses-proses semacam ini disebut netralisasi. basa dan garam. sedang basa lemah merupakan elektrolit lemah. Kita tahu bahwa baik asam (kuat) maupun basa (kuat). D. dan terbentuk ion-ion hidronium : H+ + H2O → H3O+ Basa. bahwa jika sejumlah asam dan basa murni ekuivalen dicampur. bahwa panas netralisasi adalah kurang lebih sama (56. suatu zat kristalin tertinggal. Garam adalah wujud padat dibangun oleh ion-ion. persamaan ini dapat disederhanakan menjadi Yang menunjukkan bahwa hakekat suatu reaksi asam-basa (dalam larutan air) adalah pembentukan air. yang menghasilkan suatu larutan garam dalam air. yaitu suatu larutan ditambahkan dari buret sedikit demi sedikit.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. 1985) Bila suatu asam dan suatu basa yang masing-masing dalam kuantitas yang ekuivalen secara kimiawi.Sc. hampir-hampir tak berdisosiasi sama sekali. yang tersusun dalam pola yang teratur dalam kisi kristalnya. Definisi ini adalah benar. basa kuat merupakan elektrolit kuat. Dengan jalan ini. dan larutannya diuapkan. Konsentrasi suatu larutan asam atau basa yang anu (unknown) dapat ditentukan dengan titrasi dengan larutan yang konsentrasinya diketahui. Di lain pihak. kalau tidak. Karena dengan demikian tak ada terjadi apa-apa dengan ion-ion ini. Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat. Menurut definisi yang kuno.tampil pada kedua sisi. Pada saat titran yang ditambahkan tampak telah ekivalen. garam adalah hasil reaksi antara asam dan basa. Larutan yang ditambahkan dari buret disebut titran.

yaitu titrasi yang menyangkut asam dan/atau basa. 2005) Contoh : Fenolftalein. Peniteran sebaliknya. maka jumlah mol titrat dapat diketahui pula berdasar persamaan reaksi dan koefisiennya. untuk memenuhi pernyataan (2). maka pekerjaan itu disebut asidimetri. Konsentrasi titran harus diketahui. Titik pada saat indikator berubah warna disebut titik akhir. maka jumlah mol titran dapat dihitung. Ini tidak selalu berarti. (Hardjono Sastrohamidjojo. maka trayek indikator harus mencakup pH larutan pada titik ekivalen. Tujuan : memilih indikator yang memiliki titik akhir bertepatan dengan titik stoikhiometri. agar tidak ada keragu-raguan tentang kapan titrasi harus dihentikan. bahwa pereaksi dan zat yang direaksikan telah sama banyak. atau sangat mendekatinya. maka : 1. agar kuantitatif.- juga diketahui. Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna pada range pH yang berbeda. agar kuantitatif. 2003) Kebanyakan indikator asam basa adalah molekul kompleks yang bersifat asam lemah dan sering disingkat dengan HIn. atau basa. Bila suatu indikator pH kita pergunakan untuk menunjukkan titik akhir titrasi. asam harus kuat dan garam itu harus terbentuk dari asam lemah sekali. Bila kita mengukur berapa mL larutan bertitar tertentu yang diperlukan untuk menetralkan larutan basa yang kadar atau titernya belum diketahui. Indikator harus berubah warna tepat pada saat titran menjadi ekivalen dengan titrat agar tidak terjadi kesalahan titrasi. jadi berdasar pembentukan basa lemah tersebut. indikator yang lazim dipakai. tidak ada kelebihan yang satu maupun yang lain. atau kurva titrasi. (Hardjono Sastrohamidjojo. - - Untuk memenuhi pernyataan (1). Reaksi-reaksi yang terjadi dalam titrasi ini ialah : asam dengan basa (reaksi penetralan). (Harjadi. atau sangat dekat pada titik ekivalen yang sering digunakan. maka pH larutan mula-mula rendah dan selama titrasi terus menerus naik. tetapi dalam lingkungan basa warnanya biru. yakni sebelum ditambah basa dan pada waktu-waktu tertentu setelah titrasi dimulai. (Harjadi. Indikator Asam Basa – Indikator asam basa ialah zat yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. 2005) Proses titrasi asam – basa sering dipantau dengan penggambaran pH larutan yang dianalisis sebagai fungsi jumlah titran yang ditambahkan. sedang warna yang ditunjukkan dalam keadaan basa disebut warna basa. Indikator yang memberikan perubahan warna. Titik stoikhiometri atau ekivalen harus diketahui. Perubahan warna itu harus terjadi dengan mendadak. 1987) Berikut syarat-syarat yang diperlukan agar titrasi yang dilakukan berhasil : 1. Dalam titrasi ini perubahan terpenting yang mendasari penentuan titik akhir dan cara perhitungan ialah perubahan pH titrat. 3. basa harus kuat dan garam harus terbentuk dari basa lemah sekali. Titran dan titrat tepat saling menghabiskan. asam dengan garam (reaksi pembentukan asam lemah). 1987) Salah satu macam titrasi adalah titrasi asidimetri-alkalimetri. Warna dalam keadaan asam dinamakan warna asam dari indikator (kuning untuk bb). dalam larutan asam ia berwarna kuning. sebab jumlah yang bereaksi ditentukan oleh persamaan reaksi. basa dengan garam. Misalnya bila larutan asam dititrasi dengan basa. KURVA TITRASI – Larutan yang dititrasi dalam asidimetri-alkalimetri mengalami perubahan pH. Struktur Fenolftalein. baik volume maupun jumlah gram atau mol-nya. Karena jumlah titrat ekivalen dengan jumlah titran. 4. bahwa asam dan basa disini tidak berarti pH kurang atau lebih dari tujuh. Gambar yang diperoleh tersebut disebut kurva pH. trayek indikator tersebut harus memotong bagian yang sangat curam dari kurva. Volume titran yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalen harus diketahui setepat mungkin. adalah sebagai berikut : tak berwarna PP dalam bentuk asam (HIn) merah basa konjugat PP dalam bentuk basa (In-) . Asam berarti pH lebih rendah dan basa berarti pH lebih besar dari trayek indikator atau trayek perubahan warna yang bersangkutan. tak berwarna dalam bentuk Hin-nya dan berwarna pink dalam bentuk In. agar kuantitatif. Misalnya biru bromtimol (bb). asam dengan basa yang titernya diketahui disebut alkalimetri. yang berarti: telah tepat banyaknya untuk menghabiskan zat yang direaksikan. Reaksi yang tepat antara titran dan senyawa yang dianalisis harus diketahui. Akan tetapi harus dimengerti. Mereka memberikan satu warna berbeda bila proton lepas. 2. (Khopkar. kita peroleh grafik yang disebut kurva titrasi. 2. Larutan seperti ini disebut larutan standar. maka kalau pH dialurkan lawan volume titran. Perhatikanlah sekali lagi arti ungkapan ”pereaksi telah ekivalen”. sering disingkat PP. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron. Bila pH ini diukur dengan pengukur pH (pH-meter) pada awal titrasi. Hal ini jelas. maka asam dan/atau basa yang bersangkutan harus kuat.

1 Hasil Pengamatan 4.1 N hingga terjadi perubahan warna Dicatat volume oksalat yang diperlukan Dihitung konsentrasi NaOH 3.2 Bahan-bahan Asam cuka perdagangan NaOH 0.3 Prosedur Percobaan 3.1 Asidimetri No.1 N kedalam buret Dipipet 10 ml NaOH lalu dituangkan kedalam 2.1 Asidimetri Dituang asam oksalat 0.1 Alat-alat Buret Pipet volume 10 ml Labu ukur 100 ml Pipet tetes Erlenmeyer 100 ml 3.1 N Asam oksalat dihidrat Indikator PP 3.1 N hingga - Pengamatan warna titrat menjadi merah lembayung . Dituang asam oksalat 0.1 N kedalam buret Dipipet 10 ml NaOH lalu dituangkan kedalam erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 2 tetes Dititrasi dengan larutan asam oksalat 0. erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 2 tetes 3.1.3.3. Perlakuan 1. Dititrasi dengan larutan asam oksalat 0.2 Alkalimetri Dituang larutan NaOH yang telah distandarisas kedalam buret Dipipet 10 ml cuka perdagangan lalu diencerkan hingga 100 ml Dipipet 10 ml cuka yang telah diencerkan lalu dimasukkan kedalam erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 3 tetes Dititrasi dengan NaOH hingga terjadi perubahan warna Dicatat volume NaOH yang digunakan Dihitung kadar cuka perdagangan - - BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN 3.

N NaOH = = 0. 6. 7.4.1.perubahan warna dari bening menjadi merah lembayung 5.Larutan tetap berwarna bening warna . C= = = 51 gr/mL 4. terjadi perubahan warna Dicatat volume asam oksalat yang diperlukan Dihitung konsentrasi NaOH .2 Reaksi .V = 13. Dicatat volume NaOH yang digunakan Dihitung kadar cuka perdagangan .1 ml .Vrata-rata = 6.6 ml 6.4 ml . Dituang larutan NaOH yang telah distandarisasi kedalam buret 2. Dipipet 10 ml cuka yang teah diencerkan lalu dimasukkan kedalam erlenmeyer Ditambahkan indikator PP sebanyak 3 tetes 4.0625 N 4.25 ml 5.perubahan warna dari merah lembayung menjadi tidak berwarna .V1 = 6.2 Alkalimetri No. Dipipet 10 ml cuka perdagangan lalu diencerkan hingga 100 ml 3. V2 = 6. Dititrasi dengan NaOH hingga terjadi perubahan . Perlakuan Pengamatan 1.

yaitu reaksi asam dan basa. 4.2 Kadar CH3COOH perdagangan V = 13. Pelaksanaan penentuan kadar zat dengan jalan titrasi yaitu. Contohnya K2Cr2O7 dan Na2B4O7. larutan standar primer dan larutan standar sekunder. Bila pereaksi digunakan dalam bentuk larutan. asam dengan basa yang titernya diketahui disebut alkalimetri.0625 N 4.3. setidak-tidaknya selama ditimbang Sedapat mungkin mempunyai berat ekivalen tinggi untuk mengurangi kesalahan penimbangan Dalam titrasi akan bereaksi menurut syarat-syarat reaksi titrasi Mempunyai rumus molekul yang pasti Larutan standar sekunder adalah larutan yang konsentrasinya ditentukan dengan cara pembakuan.3. Dalam asidi-alkalimetri indikator yang digunakan adalah indikator pH yaitu zat . Hendaknya diusahakan agar titik akhir ini sedekat mungkin pada titik ekivalen yaitu.4.4 Pembahasan Titrasi asam basa sering disebut asidimetri-alkalimetri. senyawaan yang digunakan sebagai penunjuk visiual pada saat tercapainya titik setara titrasi antara dua larutan tertentu. 3. Bila pereaksi digunakan dalam bentuk padat. Syarat-syarat larutan standar primer adalah : 1. Reaksi dasar dalam titrasi asam-basa adalah netralisasi atau penetralan.1 ml V rata-rata = N NaOH = = 0. titik dimana titran dan titrat tepat saling menghabiskan. maka beratnya harus diketahui dengan tepat. tidak ada kelebihan yang satu maupun yang lain. Dalam penentuan titik akhir titrasi digunakan indikator yaitu. titik dimana indikator tepat berubah warna. Larutan standar dibagi menjadi dua yaitu.1 Konsentrasi NaOH V1 = 6.4 ml V2 = 6. Larutan standar primer adalah larutan yang kadarnya dapat diketahui secara langsung dari hasil penimbangan. Dalam titrasi sampel direaksikan dengan suatu pereaksi sehingga jumlah kedua zat tersebut ekivalen. Larutan yang diketahui konsentrasinya disebut larutan baku atau larutan standar. maka pekerjaan itu disebut asidimetri. maka volume dan konsentrasinya harus diketahui dengan tepat.3 Perhitungan 4. Peniteran sebaliknya. 5.6 ml C= = = 51 gr/mL 4. Stabil dalam keadaan biasa. Sangat murni atau mudah dimurnikan 2. yang dapat dinyatakan dalam persamaan reaksi seperti berikut : H+ + OH.→ H2O Bila kita mengukur berapa ml larutan asam bertitar tertentu yang diperlukan untuk menetralkan larutan basa yang kadar atau titernya belum diketahui. larutan peniter diteteskan sedikit demi sedikit kedalam larutan contoh sampai tercapai titik akhir titrasi yaitu. Contohnya NaOH dan HCl.

menyebabkan [H+] berkurang dan keseimbangan bergeser ke kanan.5.0 8. Indikator PP ditambahkan 2 tetes pada larutan NaOH 10 ml. Jadi ketika indikator tepat berubah warna atau titik akhir titrasi telah tercapai.10.9.0 .0 9. Dari perhitungan didapatkan konsentrasi NaOH sebesar 0.0 9. maka dapat dihitung kenormalan NaOH standar yang dapat digunakan untuk menetapkan kadar asam yang akan ditetapkan kadarnya.0 7.2 . Indikator yang digunakan adalah indikator PP.3 4. Sebanyak 10 ml asam cuka diencerkan didalam labu ukur hingga 100 ml.0 .6-Dintrofenol Kuning metil Jingga metil Hijau bromkresol Merah metil Lakmus Purpus bromkresol Biru bromtimol Merah fenol p. indikator PP sangat tepat digunakan untuk penunjuk titrasi asam lemah dengan basa kuat.8 6.6 8.4 ml dan 6. Oleh karena itu.8 . Larutan asam cuka yang ditambahkan indikator PP tidak mengalami perubahan warna.3 .05 ml.6. Dalam bidang farmasi asidi alkalimetri digunakan untuk menentukan gugus obat sulfa. Pada saat titik akhir telah tercapai warna larutan berubah menjadi merah lembayung dikarenakan penambahan [OH-].α .7.2 .4.3 . Pada peniteran asidimetri pada percobaan yang dilakukan adalah penetapan kenormalan NaOH dengan menggunakan asam oksalat sebagai larutan standar primer yang berfungsi sebagai titran. maka dapat dihitung kadar CH3COOH perdagangan. Beberapa penunjuk yang biasa digunakan untuk titrasi asam-basa: Warna Larutan Penunjuk Trayek pH Asam Sindur Metil Lakmus Merah netral ( SM ) (L) ( MN ) Merah Merah Merah Merah Tak berwarna Tak berwarna Basa Sindur Kuning Biru Kuning Merah lembayung Biru 3. perubahan HIn menjadi In -.4 .6 6. Kelebihan titran sehingga volume titik akhir melebihi yang seharusnya. Alat yang digunakan harus bersih dan kering agar tidak terjadi kontaminasi dengan zat-zat sisa yang tertinggal pada alat-alat yang digunakan.8.1 ml.4 3.4 .8 1.8.8 .0 7. lalu titrat dititrasi dengan titran hingga mencapai titik akhir ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi tidak berwarna. Misalnya dalam bidang kesehatan basa (Mg(OH) 2) digunakan sebagai antasida untuk menetralkan asam lambung (HCl). menyebabkab warna larutan NaOH berwarna merah lembayung.10. Sehingga warna larutan berubah menjadi merah lembayung yang disebut warna basa indikator. Setelah didapat titik akhir pada volume NaOH 13.9.2 .3 5. Nama Asam 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Asam pikurat Biru Timol 2.0625 N.1 .5 Merah Metil ( MM ) Phenolphthalein ( PP ) Thymolphthalein ( TP ) - Pada percobaan titrasi antara NaOH dan CH3COOH yaitu titrasi asam lemah dengan basa kuat digunakan indikator PP.6. Dalam kehidupan sehari-hari asidi alkalimetri memiliki peranan penting. perubahan ini menjadi HIn hingga titik akhir warna tidak terlihat.2 .4. Dari perhitungan didapatkan kadar CH3COOH sebesar 51 gr/mL.6 ml.6.8 2. Perubahan warna menjadi merah lembayung dikarenakan indikator bereaksi dengan basa (NaOH).8. ini berarti jumlah titrat telah ekivalen dengan jumlah titran.5 .5 Trayek pH .2 .Naftolflatein Purpus kresol Fenolftalein Timolftalein tidak berwarna merah tidak berwarna merah merah kuning merah merah kuning kuning kuning kuning kuning tidak berwarna tidak berwarna Basa kuning kuning kuning kuning jingga biru kuning biru purpur biru merah biru biru merah biru 0.yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah.2 5. Pada peniteran alkalimetri pada percobaan ini yang akan ditetapkan kadarnya adalah asam cuka perdagangan.0 .0 . Setelah ditambah indikator. Sebenarnya telah terjadi reaksi antara indikator dan asam atau basa yang bersangkutan. Warna No. Pada saat melakukan titrasi banyak kemungkinan faktor kesalahan yang terjadi diantaranya : Kebersihan alat-alat yang digunakan.10.4 4.0. Pengerjaan titrasi dilakukan secara duplo untuk lebih meyakinkan bahwa titik akhir sudah tercapai dan hasil dari dua kali titrasi hendaknya jangan berbeda lebih dari 0.2.9 . Hal ini dikarenakan penambahan [H+] sehingga [OH] berkurang dan keseimbangan bergeser ke kiri.2 . Dikarenakan trayek pH indikator PP mencakup pH titik ekivalen antara asam lemah dengan basa kuat. Kesalahan praktikan pada pembacaan miniskus buret. Setelah didapat titik akhir pada volume asam oksalat 6.0 3.10.4. Lalu asam cuka dititrasi dengan larutan NaOH yang telah distandarisasi.0 6.0 2.4 4.8.1 .1 .4. Dari 100 ml larutan asam cuka yang telah diencerkan dipipet 10 ml dan ditambahkan 2 tetes indikator PP.

Banyaknya zat yang akan ditentukan konsentrasinya dapat dihitung dari banyaknya volume standart dengan hukum ekivalen biasa. .6 ml - 5. Perubahan warna dalam larutan ini akan lebih jelas bila dalam proses titrasi ditambahkan sedikit indicator.1 . LAporan ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI Posted by For Indonesiaku 15.12.1 N Mahasiswa dapat melakukan standarisasi larutan HCl 0. Analisis anorganik secara kuantitatif yaitu proses analisis untuk menentukan atau mengidentifikasi banyaknya atau perbandingan banyaknya tiap-tiap penyusun yang terdapat suatu zat atau persenyawaan.3.1 N Mahasiswa dapat melakukan standarisasi cuplikan (sampel) DASAR TEORI Asidimetri : Analisis (volumetri) yang menggunakan asam sebagai larutan asam sebagai larutan Standart.2 Saran Dalam melakukan percobaan dapat digunakan asam kuat-basa kuat atau asam kuat-basa lemah agar praktikan lebih dapat memahami titrasi asam-basa dan dapat digunakan indikator yang berbeda. Larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan teliti disebut Larutan Standart. Proses penambahan larutan standart ke dalam larutan yang akan ditentukan normalitasnya sampai terjadi reaksi yang sempurna disebut Titrasi. pH nya pada titik ekivalen > 7 karena kebasaan konjugat asam lemah CH3COO-. Sedang larutan yang akan ditentukan normalitasnya disebut larutan yang dititrasi.0 . setiap basa yang diteteskan bereaksi dengan asam dan peniteran dihentikan pada saat jumlah mol H+ setara dengan jumlah mol OH-.Analisis berdasarkan Volumetri.0 Pada peniteran asam dan basa.2 – 10. Secara garis besar. BAB 5 PENUTUP 5. hanya penggabungan ion-ion saja. under | 1 comment ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI TUJUAN Mahasiswa dapat membuat larutan HCl 0.0625 N Kadar asam asetat perdagangan yang dipakai dalam percobaan adalah 51 gr/mL Volume NaOH terpakai pada peniteran CH3COOH sebanyak 13. Analisis anorganik secara kuantitatif yaitu proses atau operasi analisis hanya digunakan untuk mengetahui atau mengidentifikasi penyusun-penyusun dari suatu zat dan pengembang-pengembang metoda-metoda pemisahan masingmasing penyusun yang terdapat dalam suatu campuran. Analisis secara Volumetri adalah analisis kimia kuantitatif utuk menentukan banyaknya volume suatu larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan teliti yang bereaksi secara kuantitatif dengan larutan/zat yang akan kita tentukan konsentrasinya.46. Alkalimetri : Analisis (volumetri) yang menggunakan alkali (basa) sebagai larutan asam sebagai larutan standart. Pada peniteran asam lemah-basa kuat. Reaksi dalam analisis volumetri terbagi menjadi : Reaksi-reaksi yang tidaj menimbulkan / mengakibatkan terjadinya perubahan valensi. atau [H+] = [OH-] = 107. Titik akhir titrasi ini dapat dilihat denga adanya perubahan warna yang terdapat dalam larutan yang dititrasi.1 Kesimpulan Konsentrasi NaOH standar yang digunakan dalam percobaan adalah 0. analisis kuantitatif terbagi menjadi : 1.5. Indikator yang tepat untuk titik akhir titrasi ini salah satunya adalah fenolftalein yang memiliki trayek pH 8.00. Saat dimana terjadi reaksi yang sempurna tercapai disebut saat Titik Ekivalen atau titik Stoikiometri biasanya titik akhir titrasi disebut juga titik akhir teoritis. Pada saat ini larutan bersifat netral.14.0 12. larutan standart ini tiap liternya mengandung sejumlah gram ekivalen tertentu.Analisis berdasarkan Gravimetri.16 17 Kuning alizarin R 1.Trinitrobenzen kuning tidak berwarna violet jingga 10.1 N Mahasiswa dapat melakukan standarisasi larutan NaOH 0. 2.1 N Mahasiswa dapat membuat larutan NaOH 0.

Asidimetri suatu titrasi terhadap larutanlarutan basa bebas atau garam yang berasal dari basa lemah dengan larutan standart asam.1 N NaOH sebanyak 1. . V1 : Volume zat penetrasi/standar (ml) N1 : Normalitas zat penetrasi/standar (gram ekivalen/liter) V2 : Volume zat yang dititrasi/dicari N nya (ml) N2 : Normalitas zat yang dititrasi/dicari N nya (gram ekivalen/liter) Sedangkan reaksi-reaksi yang melibatkan proses oksidasi dan reduksi akan dibahas tersendiri dalam praktikum yang menggunakan zat kimia bersifat oksidator/reduktor seperti Iodometri dan Iodimetri. Neraca timbang BAHAN : NaOH Kristal 5. Dititrasi ulang 2-3 kali. Dititrasi dengan larutan NaOH 0. Disimpan di dalam botol dan ditutup rapat-rapa. Indikator MO dan PP H2SO4 pekat 7. NaOH tersebut dimasukkan ke dalam labu takar 250 ml. misalnya pada reaksi Oksidasi dan Reduksi. Proses titrasi Asidimetri dan Alkalimetri merupakan salah satu proses titrasi netralisasi. Penentuan larutan sampel Sebanyak 25 mL sampel yang sudah disediakan dimasukkan kedalam Erlenmeyer. Larutan HCl (yang dibuat) diambil sebanyak 25 ml dan ditambahkan 3 tetes indikator MO. ALAT DAN BAHAN ALAT : Buret 7. Gelas beker Pipet tetes 12. kemudian ditandabataskan. X : Banyaknya HCl yang diambil ( ml ) N : Normalitas larutan HCl yang dibuat ( 0. kemudian ditandabataskan.1 N ) V : Volume asamyang dibutuhkan ( 100 ml ) M : Berat molekul asam ( HCl = 36.83 mL.Dalam proses ini yang terjadi adalah penggabungan antara ion-ion H+dengan ion-ion OH. Dalam perhitungan selanjutnya kita gunakan persamaan antara volume dan konsentrasi masing-masing zat yang dititrasi dengan zat penetrasinya dan berlaku rumus sebagai berikut : V1 x N1 = V2 x N2 Dimana. HCl pekat dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL.5 ) n : Valensi asam ( HCl = 1 ) L : Berat jenis asam ( HCL = 1.Reaksi-reaksi yang tidaj menimbulkan / mengakibatkan terjadinya perubahan valensi. Bulbpet Labu takar 10. 2. Pipit ukur Gelas arloji 9. Natrium Borat kristal HCl pekat 6.4 ) K : Kadar asam HCl ( %= 35-36 ) 4.membentuk molekul air. Dilarutkan dengan air murni dalam labu takar 100 ml.632 gram.091 ditimbang dengan gelas arloji (sesuai dengan perhitungan). kemudian ditandabataskan. Titrasi diulang sampai 3 kali. Membuat larutan NaOH 0. Larutan HCl tersebut dititrasi dengan Natrium Borat yang dibuat.1 N dengan Asam Oksalat. Dititrasi dengan larutan NaOH standart.1 N (yang akan dicari normalitasnya). Dititrasi ulang 2-3 kali. kemudian ditambah dengan aquadest. Penentuan normaitas larutan NaOH 0. Kristal asam oksalat (H2C2O4 )ditimbang sebanyak 0. Erlenmeyer Corong 11.1 N dibuat sebanyak 100 ml (sesuai perhitungan). Ditentukan normalitas sampel tersebut. Cara menghitung (X) ml HCl sebagai berikut: x=(N x V x M)/(10n x K x L) Dimana . Aquadest Asam oksalat CARA KERJA 1. Pipet gondok Sendok sungu 8. Indikator PP ditambahkan sebanyak 3 tetes. Sedang alkalimetri adalah suatu proses titrasi larutan-larutan asam bebas atau larutan-larutan garam yang berasal dari asam lemah dengan larutan standar basa. Larutan dikocok sampai homogen. Sebanyak 25 ml larutan asam oksalat tersebut dimasukkan dalam Erlenmeyer dan ditambahkan 3 tetes indicator PP.1 N Larutan natrium Borat 0.3-1. Membuat larutan HCl 0. Ditentukan Normalitas asam tersebut. Penentuan Normalitas HCl 0.1 N HCl pekat dianbil sebanyak 0.

83 ml ( diencerkan menjadi 100 ml) Ѽ Penentuan massa Natrium Borat yang diambil .1 N Volume HCl yang harus diambil : ± 0.1003))/(23.8 ml Jernih PERHITUNGAN Ѽ Pembuatan NaOH 0. Volume HCl Volume Na2B4O7 Indikator Perubahan warna Orange1.1 N)x (40 gr/mol)/1 x (250 ml)/(1000 ml) = 1 gram Ѽ Penentuan normalitas larutan NaOH 0.4 ml MO 3 tetes Kuning Orange2.6 + 24 )ml/3 = 23.H2O)/(BE C2H2O4. Volume Oksalat Indikator Volume NaOH Perubahan warna merah muda1.87 ml Normalitas NaOH V NaOH x N NaOH = V Oksalat x N Oksalat N NaOH = (V Oksalat x N Oksalat)/(V NaOH) N NaOH = ((25 ml)(0. 25 ml 30.6 ml Jernih Merah muda3.5 g/mol BD HCl pekat : 1.37 g/mol Volume pengenceran : 100 ml NO.3 ml MO 3 tetes Kuning Orange3.5))/(10(1)x (37)x (1.1 N Massa NaOH yang ditimbang = 1.6 ml Jernih merah muda3. 25 ml PP 3 tetes 23.19 gr/ml Prosen HCl pekat : 37 % Volume pengenceran : 100 ml x=(N x V x M)/(10n x K x L) x=((0.H2O=(0.87 ml) = 0.632 gram BM oksalat : 126. 25 ml PP 3 tetes 18.047 gram N NaOH=(Massa NaOH)/(BE NaOH) x 1000/(V (ml)) Massa NaOH = N NaOH x BE NaOH x V (ml) : 1000 =(0.105 N Ѽ Pembuatan larutan HCl 0.H2O=(M C2H2O4. Volume HCl/Sampel Indikator Volume NaOH Perubahan warna Merah muda1.903 gram BM Borat : 381.83 ml BM HCl pekat : 36.1003 N ₰ Volume NaOH V rata NaOH=( 24 +23.19)) x= 0.632 gram BM asam oksalat = 126.1 N dengan asam oksalat.9 ml MO 3 tetes Kuning ҉ Penentuan larutan sampel NO.83 ml BM HCl pekat : 36.H2O) x 1000/(V (ml)) N C2H2O4. 25 ml 30. 25 ml 30. 25 ml PP 3 tetes 18.1 N Volume diambil HCl : 0.1 N BM NaOH : 40.0 g/mol Berat NaOH : ± 1.07 gr/mol Volume asam oksalat = 100 ml Maka.07/2) x 1000/100 = 0.5 g/mol BD HCl pekat : 1.19 gr/ml Prosen HCl pekat : 37 % Volume pengenceran : 100 ml ҉ Standarisasi larutan HCl dengan larutan Na2B4O7 Massa Borat : 1.4 ml Jernih Merah muda2.07 gram/mol Volume pengenceran : 100 ml NO.091 gram Volume NaOH : 250 ml ҉ Standarisasi Normalitas lautan NaOH dengan garam asam oksalat ( H2C2O4 ) Massa oksalat : 0. ₰ Normalitas asam oksalat Massa asam oksalat = 0. N C2H2O4.632 gram)/(126. 25 ml PP 3 tetes 18.DATA PENGAMATAN ҉ Pembuatan NaOH 0. 25 ml PP 3 tetes 24 ml Jernih ҉ Pembuatan larutan HCl 0.1 N)x (100)x (36. 25 ml PP 3 tetes 24 ml Jernih merah muda2.

37 gr/mol x 100 ml)/(1000 ml) = 1.titik ekivalen atau titik akhir titrasi selesai dilakukan saat terjadi perubahan warna.1 N. NaOH distandarisasi menggunakan asam oksalat.83 ) = 44.1/2 L = (0.1 N 0. Pada pembuatan larutan asam oksalat 0.1 N. NaOH adalah basa kuat yang dapat larut dalam air. Sedangkan alkalimetri yaitu analisis secara volumetric dengan larutan standar asam.7 ))/3 = 30. dapat melakukan standarisasi larutan HCl 0. Reaksi yang terjadi : NaOH + (COOH)2 (COONa)2 + 2H2O Reaksi indicator dengan titrant : NaOH + In.ternyata terjadi perubahan warna menjadi merah muda yang menghabiskan volume NaOH sebanyak 24.1 N diperoleh perhitungan 0. Terjadinya perubahan warna merupakan akibat reaksi yang menunjukkan perbedaan pH.+ OHUntuk pembuatan larutan HCL 0. tetapi 0.903 gr)/((381.105 N.5))/(10(1)x (1.1 N.Pertama.87 ml sehingga normalitas NaOH hasil standarisasi yaitu 0.6 ml N NaOH = 0.907 gram (pembulatan) Ѽ Penentuan Normalitas HCl : V Na-Borrat = ((30.05 mol x 381. NaOH distandarisasi dengan asam oksalat karena agar lebih stabil dengan adanya 2 valensi pada asam oksalat.3+30.0998 N.Hanya saja pada percobaan yang ketiga ini harus .1 N = 0. sebab belum tentu dalam pembuatan HCl dan NaOH didapat normalitas 0. Dan untuk mengindikasi adanya perubahan pH maka digunakan indicator PP.467 ml N Na-Borat = (m Na-Borat)/Be x 1000/V = (1. Tetapi NaOH harus di standarisasai terlebih dahulu karena tidak satupun dari hidroksida padat ini dapat diperoleh murni.1 N.1 N.Untuk mengetahui adanya perubahan warna.1 grek/L Mol = 0.1 N.dimana akan dibuat larutan HCl 0.7 ml.105 N N sampel = (1. dapat membuat larutan NaOH 0.63 gram ke dalam erlenmeyer 100 ml.83 ml. Percobaan pertama yaitu membuat larutan NaOH 0.Mr Na-Borat = 381. sehingga diperoleh normalitas sebesar 0.0998 N VHCl x NHCl = V Na2B4O7 x N Na2B4O7 NHCl = (V Na2B4O7 xN Na2B4O7)/VHCl = (30. NaOH sangat higroskopis dan selalu terdapat sejumlah tertentu alkali karbonat dan air.467 ml x 0. Titrasi dihentikan setelah terjadi perubahan warna dari kuning menjadi orange. penimbangannya 1.953 ml)/(25 ml) = 0.1 N dengan asam oksalat. Dari hasil percobaan diketahui bahwa volume NaOH untuk titrasi adalah 23.6+18. dan dapat melakukan standarisasi cuplikan (sampel).1216 N)x (100)x (36. Pada percobaan ini.078 N PEMBAHASAN Percobaan ini.1 N dalam 100 ml 0. sehingga suatu larutan standar tidak dapat dibuat dengan melarutkan suatu bobot yang diketahui dalam volume air tertentu.632 gr. maka dapat diketahui titik ekivalen dengan berubahnya warna larutan dari bening menjadi merah muda.dilakukan terlebih dahulu pengenceran asam oksalat 0.NaIn. Begitu juga pada pembuatan Na-Borat.0998N)/(25 ml) = 0.903 gr seharusnya 1.37/2)(gr/mol)) x 1000/100 = 0.4+30.1 N.didapat nilai normalitas oksalat sebesar 0. praktikan bertujuan untuk dapat membuat larutan HCl 0. Dengan adanya indicator PP. Pada percobaan ini HCl distandarisasi dengan NaBorat.906 gr.37 gr/mol Volume pelarutan = 100 ml N Na-Borat = 0.1 N sebanyak 100 ml.63 gr.larutan oksalat berwarna jernih dan setelah dititrasi dengan NaOH. Setelah diperoleh beberapa data.bisa kurang bisa lebih.Setelah dilakukak pengenceran.digunakan indicator PP yang dicampur pada larutan oksalat. Pada percobaan ini. Tujuan dari standarisasi adalah menentukan konsentrasi larutan setepat mungkin. Percobaan selanjutnya yaitu membuat larutan HCl 0.selanjutnya dilakukan titrasi dengan maksud mencari titik ekivalen atau titik akhir titrasi guna standarisasi normalitas larutan NaOH dengan asam oksalat. Reaksi yang terjadi sebagai berikut : Na2B4O7 + 5 H2O + 2 HCl 2 NaCl + 4 H3BO3 Reaksi indicator dengan titrant : HCl + InPercobaan kedua yaitu menentukan normaitas larutan NaOH 0.105 N Vsampel x N sampel = V NaOH x N NaOH 25 ml x N sampel = 18.0999 N.6 ml x 0.936 % Penentuan Larutan sampel (HCl) V sampel = 25 ml V NaOH = (18.19)x 0. dapat melakukan standarisasi larutan NaOH 0. selain itu harganya juga murah.Metode yang digunakan sama seperti yang sebelumnya yaitu dengan pengenceran.1 N dari HCL 37% dalam 100 ml harus diambil ± 0.8 )ml/3 = 18. Asidimetri yaitu analisis secara volumetric dengan larutan standar basa.1216 N Konsentrasi HCl sesungguhnya x=(N x V x M)/(10n x K x L) K=(N x V x m)/(10n x L x X) =((0. dan biasanya digunakan untuk pembuatan larutan alkali standar.4+18. Standarisasi HCl dengan Na-Borat menggunakan indicator MO (Metil Orange).Saat dititrasi. Penggunaan larutan NaOH dan HCl sendiri didasarkan pada pengertian asidimitri dan alkalimetri itu sendiri.1003 N sebab pada saat penimbangan padatannya tidak diperoleh tepat 0.

. yaitu : titrasi asidi-alkalimetri.906 gram dan berat jenis Borat sebesar 381. Berapa kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran ? C.Pembuatan larutan NaOH dan HCl 0. 2. karbonat dan bikarbonat dalam sampel yang digunakan. Tujuan Tujuan dari percobaan ini. Berapa kadar asam asetat dalam sampel ? 2.1 N diperlukan massa NaOH seberat 1 gram. Dalam metode titrimetri ini. yaitu : 1.05 ml. titrasi pengendapan dan titrasi kompleksometri. Untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran. Berdasarkan latar belakang ini.1 N dapat dilakukan dengan pengenceran. 1 Titrasi asidimetri dan alkalimetri merupakan titrasi netralisasi dimana pada titrasi ini digunakan larutan asam dan basa kuat ataupun lemah sehingga dihasilkan air yang bersifat netral. Metode titrimetri atau yang juga dikenal dengan metode volumetri secara garis besar diklasifikasikan dalam empat kategori berdasarkan jenis reaksinya.Setelah diperoleh data tersebut. Rumusan Masalah Rumusan masalah dari percobaan ini. Latar Belakang Titrasi merupakan suatu metode analisis kuantitatif untuk menentukan konsentrasi dari suatu larutan menggunakan larutan lain yang telah distandarisasi atau larutan yang konsentrasinya telah diketahui.227 ml.Normalitas HCl sebesar 0. Untuk menentukan kadar asam asetat dalam contoh (sampel).37 gr/mol. Larutan indikator yang digunakan disesuaikan dengan metode titrimetri yang dilakukan. titrasi oksidimetri.Percobaan yang terakhir yaitu penentuan larutan sampel 25% yang diambil 5ml dan diencerkan menjadi 250 ml diambil 10 ml untuk sampelnya dan setelah dilakukan titrasi ternyata dihabiskan volume NaOH rata sebanyak 12. yaitu : 1.massa jenis HCl pekat .Pembuatan NaOH 0.diperoleh perubahan warna dari merah muda menjadi kuning. 4.Dari percobaan diperoleh data massa Borat sebanyak 1.berat molekul HCl pekat.terlebih dahulu dicari datadata seperti volume HCl yang diambil. 3. KESIMPULAN 1. Titrasi ini dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi atau kadar dari asam/basa kuat ataupun lemah yang dititrasi dengan basa/asam lemah ataupun kuat.1 N dengan asam oksalat diperlukan volume sebanyak 24. larutan yang akan ditentukan konsentrasinya disebut larutan analit sedangkan larutan yang diketahui konsentrasinya disebut titran. Penambahan titran ke dalam analit dilakukan hingga tercapat titik ekivalen dimana akan terjadi perubahan warna dari larutan indikator. B.didapat hasil bahwa diperlukan HCl sebanyak 1.0811 N Laporan Titrasi Asidimetri dan Alkalimetri BAB I PENDAHULUAN A.serta prosen HCl pekat nya.Untuk melakukan perhitungan.Setelah dititrasi.7 ml. 2.Penentuan normalitas larutan NaOH 0.menentukan seberapa banyak volume HCl pekat yang diperlukan. maka dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar asam asetat. Kemudian dilanjutkan dengan percobaan yang ke empat yaitu Standarisasi larutan HCl dengan larutan Na2B4O7.

1999).Rabu.sebagai ion negatif. dengan suatu basa standar (alkalimetri). Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa. 1994). Dalam menguji suatu reaksi untuk menetapkan apakah reaksi itu dapat digunakan untuk suatu titrasi. 1999). Pengertian asidimetri dan alkalimetri secara umum ialah titrasi yang menyangkut asam dan basa. Larutan ini disebut larutan standar sekunder yang konsentrasinya ditentukan melalui pembakuan dengan suatu standar primer. biasanya merupakan zat organik (Khopkar. LANDASAN TEORI Berdasarkan atas hasil reaksi antara analit dengan larutan standar maka analisis volumetrik dibagi menjadi titrasi netralisasi (asam basa) yang terdiri dari alkalimetri dan asidimetri. Oleh karena itu. Asam dan basa tersebut memiliki sifat-sifat yang menyebabkan konsentrasi larutannya sukar bahkan tidak mungkin dipastikan langsung dari proses hasil pembuatan atau pengencerannya. suatu reaksi memenuhi persyaratan berikut sebelum digunakan. (Khopkar. (Keenan. 1990) . Asam didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. larut dan stabil serta akan menunjukkan perubahan warna yang kuat. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai ion positif. Indikator asam basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu. (Svehla. Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. 1990). Makin kuat asam. KOH dan sebagainya. Reaksi-reaksi ini melibatkan senyawa ion hidrogen dan ion hidroksida untuk membentuk air. seperti biologi. (Bassett. 1. (Day dan Underwood. Suatu inidikator haruslah tersedia atau beberapa metode secara instrumen dapat digunakan untuk memberitahu analisis kapan penambahan titran dihentikan. Semua metoda titrimetri tergantung pada larutan standar yag mengandung sejumlah reagen persatuan volume larutan dengan ketepatan yang tinggi. Asidimetri merupakan titrasi terhadap larutan basa bebas dan larutan garam terhidrolisis dari asam lemah. 1. tetapan keseimbangan reaksi harus sangat besar. (Keenan. di mana zat dibiarkan bereaksi dengan zat yang lain yang konsentrasinya diketahui dan dialirkan dari buret dalam bentuk larutan. Dari kumpulan reaksi kimia yang dikenal relatif sedikit yang dapat digunakan sebagai dasar untuk titrasi. titrasi akan melibatkan pengukuran yang seksama volume-volumenya suatu asam dan suatu basa yang tepat akan saling menetra1kan (Keenan. Asam kuat berdisosiasi hampir sempurna dengan pengenceran yang sedang. Syaratnya adalah reaksi harus berlangsung secara cepat. dengan suatu standar (asidimetri) dan titrasi asam bebas yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah. Konsentrasi larutan yang tidak diketahui (analit) kemudian dihitung.2 Dasar Teori Dalam analisis larutan asam dan basa. titrasi pengandapan dan titrasi kompleksometri (Khopkar. Titrasi yang menyangkut asam dan basa sering disebut asidimetri – alkalimetri. Kurva semacam itu membantu dalam mempertimbangkan kelayakan suatu titrasi dan dalam memilih indikator yang tepat. Pereaksi atau larutan yang selalu dijumpai di laboratorium dimana pembakuannya dapat ditetapkan berdasarkan pada prinsip netralisasi asam – basa (melalui asidi – alkalimetri) diantaranya adalah HCl. Sedangkan untuk titrasi atau pengukuran lain-lain sering juga dipakai akhiran –ometri menggantikan –imetri. karena itu ia merupakan elektrolit kuat. Beberapa metode harus tersedia untuk menetapkan kapan titik ekivalensi tercapai. Asam lemah berdisosiasi hanya sedikit pada konsentrasi sedang bahkan pada konsentrasi rendah. Reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri adalah salah satu dari empat golongan utama dalam penggolongan reaksi dalam analisis titrimetri. kedokteran dan pertanian. makin lemah basa konjugatnya. untuk lebih memahami konsep peniteran asidi – alkalimetri dan mengetahui konsentrasi standar dari zat yang dianalisa maka perlu dilakukan peniteran dengan menggunakan suatu standar primer. Kuat relatif asam dan basa dalam larutan bergantung pada afinitas mereka terhadap proton yang berlainan. 1. Reaksi harus berjalan sesuai dengan suatu persamaan reaksi tertentu. (Day dan Underwood. Asidi-alkalimetri berperan penting dalam berbagai bidang kehidupan. NaOH. 1990). Metode volumetri diklasifikasikan menjadi titrasi asam-basa. 2. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion OH. 1994). Reaksi berjalan cepat (dalam beberapa menit saja). titrasi redoks. Dengan kata lain. Sedangkan alkalimetri merupakan titrasi terhadap larutan asam bebas dan larutan garam terhidrolisis dari basa lemah. Asidi alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah. 3. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. Tidak boleh ada reaksi samping. pembuatan suatu kurva titrasi akan membantu pemahaman untuk titrasi asam basa suatu kurva titrasi terdiri dari suatu alur pH atau pOH versus mL titran. Kesetimbangan asam basa merupakan suatu topik yang sangat penting dalam kimia dan bidang-bidang lain yang mempergunakan kimia. 1986). 4. Analisis volumetri juga dikenal sebagai titrimetri. 03 Okt 2012 Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. misalnya larutan asam oksalat. basa dan garam. 1994). Reaksi harus berjalan sampai boleh dikatakan lengkap pada titik ekivalensi. Kata metri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu atau proses atau seni mengukur. H2SO4. 1990). Indikator asam basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH. reaksi berlangsung kuantitatif dan tidak ada reaksi samping. Sedangkan basa secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air.

1 N serta menetapkan konsentrasi larutan standar HCl dengan cara standarisasi dengan larutan borax (Na2B4O7. alkalimetri. Karena setiap individu dengan individu yang lainnya relatif berbeda. Membuat larutan standar NaOH dan standarisasi dengan asam oksalat. Pemilihan metode ini dipakai karena merupakan metode yang sederhana dan sudah banyak digunakan dalam laboratorium maupun industri (riset dan pengembangan).elektroindonesia.0662 N dan 0. ataupun pengukuran dengan asam (yang diukur jumlah basa atau garamnya). dengan larutan uji. Pada pengukuran konsentrasi larutan dengan menggunakan metode titrasi asam-basa.com) ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI ABSTRAK Asidimetri adalah analisa titrimetri yang menggunakan asam kuat sebagai titrannya dan sebagai analitnya adalah basa atau senyawa yang bersifat basa.1. biasanya cara umum yang sering dilakukan adalah dengan menetesi larutan yang diuji. apabila terjadi perubahan warna yang disebut titik akhir maka penetesan larutan uji dihentikan (http://chem-is-try. Membuat larutan standar HCl 0. kemudian ditetesi dengan larutan yang merupakan kebalikan asam-basanya. Kemudian nilai konsentrasi larutan yang diuji dihitung berdasarkan cara yang telah ditetapkan dalam metode titrasi.2 Latar Belakang Pada prinsipnya asidimetri adalah analisa titrimetri yang menggunakan asam kuat sebagai titrannya dan sebagai analitnya adalah basa atau senyawa yang bersifat basa. serta kadar NH3 yang terkandung dalam 0.2 DASAR TEORI Dalam analisis larutan asam dan basa. larutan standar. Untuk dapat melakukan analisis secara volumetri dan gravimetri yang baikdan benar diperlukan pengetahuan yang cukup. yang sebelumnya telah diberi larutan indikator.1 PENDAHULUAN 1.2 gram NH4Cl adalah sebesar 10.867 N dan larutan hasil standarisasi NaOH adalah 0. Kata Kunci : asidimetri. Larutan yang biasa dipakai sebagai titran dalam alkalimetri adalah NaOH. perhitungannya dilakukan secara manual. begitu pula sebaliknya. PERCOBAAN 1 ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI 1. KOH. Indikator yang sering digunakan dalam percobaan asidimetri dan alkalimetri adalah indikator metil merah dan metil orange untuk asidimetri karena skala pH pada kedua indikator memang berkisar pada larutan yang bersifat asam dan indikator PP untuk alkalimetri karena skala pH pada indikator PP berkisar pada larutan yang bersifat basa.net/index). dalam pengamatan dan penghitungannya tergantung pada ketelitian masing-masing individu (http://www.Titrasi biasanya merupakan larutan elektrolit kuat seperti NaOH dan HCl yang diperlukan untuk bereaksi sempurna oleh zat yang dianalisis yang disebut sebagai titik ekivalen. 1. Dengan menggunakan metode potensiometri dan konduktometri.0113 N.1 N dan menetapkan konsentrasi larutan tersebut dengan cara standarisasi dengan larutan borax dan natrium karbonat anhidrous. Ditetesi hingga terjadi perubahan warna dari larutan indikator. 2.kimia-lipi. Sedangkan alkalimetri pada prinsipnya adalah analisa titrimetri yang menggunakan basa kuat sebagai titrannya dan analitnya adalah asam atau senyawa yang bersifat asam. dan Ba(OH)2 yang merupakan larutan baku standar sekunder. juga dalam pengendalian proses yang berlangsung. Dalam percobaan ini larutan dibuat dengan cara pengenceran kemudian dilakukan titrasi dengan larutan-larutan standar tertentu sehingga didapatkan harga konsentrasi dari larutan hasil pengenceran tersebut. Sedangkan kadar asam cuka yang diteliti adalah 0. Pada metode ini mata manusia memegang peranan penting dalam pengamatan terjadinya perubahan warna. Percobaan ini bertujuan untuk membuat larutan standar HCl 0. karena metoda tersebut mempunyai ketertelusuran yang terdekat ke standar nasional maupun standar internasional. Dari hasil percobaan didapatkan larutan hasil standarisasi HCl adalah 0.1. titrasi akan melibatkan pengukuran yang seksama volume-volumenya suatu asam dan . Kesalahan ini bersifat aditif dan determinan dan nilainya dapat dihitung. Teknik Volumetri dan Gravimetri menjadi alternatif metoda analisis yang mempunyai ketertelusuran tertinggi. Metode pengukuran konsentrasi larutan menggunakan metode titrasi (titrasi asam-basa) yaitu suatu penambahan indikator warna pada larutan yang diuji. membuat larutan standar primer asam oksalat dan menentukan kadar asam cuka yang diperdagangkan.org). kesalahan titik akhir ditekan sampai nol (Rivai.75 %. karena metoda ini dapat menjadi metoda acuan untk metoda pengukuran lainnya (http://www. 3. 1995). Larutan yang biasa digunakan dalam analisa ini adalah NaOH karena harganya relatif murah. Kesalahan titk akhir adalah kesalahan acak yang berbeda ntuk setiap sistem.dan penentuan nilai konsentrasi larutan. Menentukan kadar asam dalam asam cuka yang diperdagangkan serta menentukan kadar NH3 dalam garam ammonium (NH4Cl). 1. Jadi apabila larutan tersebut merupakan larutan asam maka harus diberikan basa sebagai larutan ujinya. Perbedaan titik akhir dan titik ekivalen disebut sebagai kesalahan titik akhir. Dengan menggunakan cara ini terdapat beberapa kelemahan antara lain kesalahan paralaksi dan memerlukan waktu yang relatif lama untuk perhitungan atau penentuan nilai konsentrasi larutan.24 %. Sedangkan alkalimetri pada prinsipnya adalah analisa titimetri yang menggunakan basa kuat sebagai titrannya dan analitnya adalah asam atau senyawa yang bersifat asam.1 Tujuan Percobaan Tujuan percobaan ini adalah : 1.10H2O) dan Na2CO3 anhidrous. Selain itu dalam percobaan ini digunakan metode titrimetri untuk menganalisa kadar suatu sampel dengan proses asidimetri maupun alkalimetri.

A. basa dan garam. Dalam menguji suatu reaksi untuk menetapkan apakah reaksi itu dapat digunakan untuk suatu titrasi. Untuk indikator asam-basa biasanya dibuat dalam bentuk larutan Indikator asam basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu. A. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion-ion hidroksil sebagai satu-satunya ion negatif (Svehla. Perubahan warna indikator mencerminkan pengaruh asam dan basa lainnya yang terdapat dalam larutan (Oxtoby. Konsentrasi larutan yang tidak diketahui (analit) kemudian dihitung. Jenis indikator yang khas adalah asam organik yang lemah yang mempunyai warna berbeda dari basa konjugatnya. maka kesetimbangan itu ditulis sebagai : H2O H+ + OHJika larutan mengandung asam. Agar diketahui kapan harus berhenti menambahkan titran. dan garam. Larutan ini disebut larutan standar. larut dan stabil serta akan menunjukkan perubahan warna yang kuat. tetapan keseimbangan reaksi harus sangat besar. Asam kuat berdisosiasi hampir sempurna dengan pengenceran yang sedang. ditambahkan secara kontinu. yang bila dilarutkan dalam iar. Beberapa metode harus tersedia untuk menetapkan kapan titik ekivalensi tercapai. Konsentrasi molekul indikator yang sangat rendah ini hampir tidak berpengaruh terhadap pH larutan. selanjutnya akan dikatakan titik ekivalen dari titrasi telah dicapai. Asam didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air. Air mengandung ion dalam jumlah kecil sekali. karena itu ia merupakan elektrolit kuat. maka dapat menggunakan bahan kimia. 1990). Reaksi berjalan cepat (dalam beberapa menit saja) (Day dan Underwood. Analisis volumetri juga dikenal sebagai titrimetri. bereaksi dengan t molekul pereaksi. sedangkan yang terasa licin dan pahit disebut larutan basa (Syukri. Indikator asam basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH. T. 1990). Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. Pada kesetimbangan baru. 1999). 1. konsentrasi H+ lebih besar dari pada OH-. Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa. 1999). air dapat tersa asam. Jika HA mewakili asam yang akan ditentukan dan B mewakili basa. Basa. pembuatan suatu kurva titrasi akan membantu pemahaman untuk titrasi asam basa suatu kurva titrasi terdiri dari suatu alur pH atau pOH versus ml titran. Penambahan dari titran tetap dilakukan sampai jumlah T secara kimiawi sama dengan yang telah ditambahkan kepada A. yang terasa asin disebut larutan garam. berarti menambahkan jumlah H+. 2001). Kuat relatif asam dan basa dalam larutan bergantung pada afinitas mereka terhadap proton yang berlainan. Analisis dengan metode titrimetrik didasarkan pada rekasi kimia seperti : aA + tT produk Di mana a molekul analit. 1990). Air yang mengandung zat lain dapat pula menjadi warna. 4. Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat.suatu basa yang tepat akan saling menetra1kan. biasanya dari sebuah buret.+ H2O . Perubahan warna ini bisa saja terjadi persis pada titik ekivalen . biasanya merupakan zat organik (Khopkar. Reaksi kimia yang mungkin di perlakukan sebagai basis dari penentuan titrimetrik telah dikelompokan ke dalam empat tipe : a. dan warna. Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam. pahit. tetapi perkaliannya tetap 10-14. Indikator adalah zat warna larut yang perubahan warnanya tampak jelas dalam rentang pH yang sempit. rekasinya adalah sebagai berikut HA + OH. Tidak boleh ada reaksi samping. Reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri adalah salah satu dari empat golongan utama dalam penggolongan reaksi dalam analisis titrimetri. Reaksi harus berjalan sesuai dengan suatu persamaan reaksi tertentu. Cairan yang berasa asam disebut larutan asam. Berdasarkan konsentrasi ion tersebut. Reaksi-reaksi ini melibatkan senyawa ion hidrogen dan ion hidroksida untuk membentuk air (Bassett. larutan dibagi tiga. Bila mengandung zat tertentu. Kurva semacam itu membantu dalam mempertimbangkan kelayakan suatu titrasi dan dalam memilih indikator yang tepat (Underwood. 1979). suatu reaksi memenuhi persyaratan berikut sebelum digunakan. Ada sejumlah besar asam dan basa yang dapat ditentukan oleh titrimetri. bau. air adalah elektrolit lemah dan bila H3O+ disederhanakan menjadi H+. Titik dalam titrasi dimana indikator berubah warnanya disebut titik akhir ( Day dan Underwood). dan akan menggeser kesetimbangan ke kiri sampai tercapai kesetimbangan baru. 1999). Asam-Basa. Syaratnya adalah reaksi harus berlangsung secara cepat. Makin kuat asam. yang disebut titran. secara paling sederhana dapat didefinisikan sebagai zat. dengan suatu standar (asidimetri) dan titrasi asam bebas yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah. dan konsentrasinya ditentukan dengan sebuah proses yang dinamakan standarisasi. 1999). makin lemah basa konjugatnya. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satusatunya ion positif. reaksi berlangsung kuantitatif dan tidak ada reaksi samping (Khopkar. 1994). Suatu inidikator haruslah tersedia atau beberapa metode secara instrumen dapat digunakan untuk memberitahu analisis kapan penambahan titran dihentikan. yaitu : Larutan asam : [H+] > [OH-] Larutan netral : [H+] = [OH-] = 10-7 Larutan basa : [H+] < [OH-] (Syukri. 2. Hal yang sama akan terjadi bila air ditambah bas sehingga dicapai kesetimbangan baru dengan nilai [OH-] > [H+] dan perkaliannya tetap 10-14. Reaksi harus berjalan sampai boleh dikatakan lengkap pada titik ekivalensi. 3. Indikator yang baik mempunyai intensitas warna yang sedemikian rupa sehingga hanya beberapa tetes larutan indikator encer yang harus ditambahkan ke dalam larutan yang sedang diuji. yang bereaksi terhadap kehadiran titran yang berlebih dengan melakukan perubahan warna. yaitu indikator. Hal itu disebabkan oleh terjadinya rekasi asam basa sesama molekul air (autoionisasi) dan membentuk kesetimbangan : H2O + H2O H3O+ + OHDengan kata lain. dan sebagainya. asin. tetapi bisa juga tidak. Dari kumpulan reaksi kimia yang dikenal relatif sedikit yang dapat digunakan sebagai dasar untuk titrasi. Asidi alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah. basa. Air murni tidak mempunyai rasa. Dengan kata lain. Asam lemah berdisosiasi hanya sedikit pada konsentrasi sedang bahkan pada konsentrasi rendah (Svehla. Analisis titrimetrik adalah salah satu divisi besar dalam kimia analitik. mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. di mana zat dibiarkan bereaksi dengan zat yang lain yang konsentrasinya diketahui dan dialirkan dari buret dalam bentuk larutan. dengan suatu basa standar (alkali metri). Pereaksi T. Perhitungan yang tercakup di dalamnya berdasarkan pada hubungan stokiometrik dari reaksi kimia yang sederhana. dalam wujud larutan yang konsentrasinya diketahui. yang bila dilarutkan dalam air.

titrasi pengendapan dan titrasi kompleksometri. Diharapkan reaksi berjalan cepat. Tujuan dari percobaan ini. Latar Belakang Titrasi merupakan suatu metode analisis kuantitatif untuk menentukan konsentrasi dari suatu larutan menggunakan larutan lain yang telah distandarisasi atau larutan yang konsentrasinya telah diketahui. titrasi oksidimetri. Sebuah reaksi harus memenuhi beberapa persyaratan sebelum reaksi tersebut dapat dipergunakan : a. Penambahan titran ke dalam analit dilakukan hingga tercapat titik ekivalen dimana akan terjadi perubahan warna dari larutan indikator.AgX (s) d. 2. Contoh dari reaksi di mana terbentuk suatu kompleks antara ion perak dan sianida : Ag+ + 2 CN. Sejauh ini. Untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran. Berapa kadar asam asetat dalam sampel ? 2. Reaksinya adalah sebagai berikut Ag+ + X. Pembentukan kompleks. Reaksi kimia yang melibatkan oksidasi-redoksi dipergunakan secara luas dalam analitis titrimetrik. Pengendapan. 1 Titrasi asidimetri dan alkalimetri merupakan titrasi netralisasi dimana pada titrasi ini digunakan larutan asam dan basa kuat ataupun lemah sehingga dihasilkan air yang bersifat netral. yaitu : Untuk menentukan kadar asam asetat dalam contoh (sampel). larutan yang akan ditentukan konsentrasinya disebut larutan analit sedangkan larutan yang diketahui konsentrasinya disebut titran. maka dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar asam asetat. Harus tersedia beberapa metode untuk menentukan kapan titik ekivalen tercapai. c. karbonat dan bikarbonat dalam sampel yang digunakan.Ag (CN)-2 (Oxtoby. Reaksi tersebut harus diproses sesuai persamaan kimiwai tertentu. Titrasi ini dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi atau kadar dari asam/basa kuat ataupun lemah yang dititrasi dengan basa/asam lemah ataupun kuat. yaitu : titrasi asidi-alkalimetri. d.dan B + H3O+ BH+ + H2O b. BAB I PENDAHULUAN A. Dalam metode titrimetri ini. sehingga titrasi dapat diselesaikan dalam beberapa menit (Day dan Underwood. realtif sedikit reaksi kimia yang dapat dipergunakan sebagai basis untuk titrasi. Pengendapan dari kation perak dengan anion halogen dipergunakan secara luas dalam prosedur titremetrik. Berapa kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran ? C. 2001). . Rumusan Masalah Rumusan masalah dari percobaan ini. Larutan indikator yang digunakan disesuaikan dengan metode titrimetri yang dilakukan. Seharusnya tidak ada sampingan. B. b. 1999). yaitu : 1. Tujuan 1. Sebagai contoh. Berdasarkan latar belakang ini. besi dengan tingkat oksidasi +2 dapat dititrasi dengan sebuah larutan standar dari serium (IV) sulfat : Fe2+ + Ce 4+ Fe3+ + Ce3+ c. Metode titrimetri atau yang juga dikenal dengan metode volumetri secara garis besar diklasifikasikan dalam empat kategori berdasarkan jenis reaksinya. Oksidasi-reduksi (redoks). Reaksi tersebut harus diproses sampai benar-benar selesai pada titik ekivalensi.

oksidimetri.[1] Menurut M. konsentrasinya dapat diketahui dengan pasti dan teliti berdasarkan berat zat yang dilarutkan. maka metode titrimetri dapat dibagi menjadi 4 golongan. konsentrasi larutannya hanya dapat diketahui dengan teliti melalui proses standarisasi. standarisasi dilakukan dengan cara menitrasi larutan tersebut dengan larutan standart primer. Kompleksometri didasarkan pada pembentukan kompleks stabil hasil reaksi antara analit dengan titran. jenis metode titrimetri didasarkan pada jenis reaksi kimia yang terlibat dalam proses titrasi. Analisis volumetri atau titrimetri berdasarkan pada reaksi : aA + tT ↔ Hasil dimana a molekul analit A bereaksi dengan t molekul pereaksi T (titran). titran basa) BOH + H3O+  B+ + 2H2O (analis basa. (2005). SCN-) Dalam titrasi juga perlu diperhatikan larutan standar primer dan larutan standar sekunder. Reagen lain adalah EDTA (etilen diamina tetraasetat) yang banyak digunakan sebagai pengompleks berbagai ion logam melalui metode titrasi. 4. A. Oksidimetri didasarkan pada reaksi oksidasi – reduksi antara analit dan titran. Larutan standar primer yaitu suatu zat yang sudah diketahui kemurniannya dengan pasti. misalnya pada penetapan kadar ion besi(II) dalam suasana asam.dikenal sebagai metode Liebig untuk penetapan sianida.+ H2O (analit asam. misalnya penetapan ion besi(II) (Fe2+) dalam analit dengan menggunakan titran larutan standar cesium(IV) (Ce 4+) yang mengikuti persamaan reaksi : Fe2+ + Ce4+  Fe3+ + Ce3+ Oksidator lain yang banyak digunakan dalam oksidimetri adalah kalium permanganat (KMnO 4). Larutan analit yang berupa larutan asam dititrasi dengan titran yang berupa larutan basa atau sebaliknya. Larutan standar sekunder adalah suatu zat yang tidak murni atau kemurniannya tidak diketahui. Analit yang mengandung spesi reduktor dititrasi dengan titran yang berupa larutan standar dari oksidator atau sebaliknya. Reaksi antara Ag+ dengan CN. yaitu: asidi-alkalimetri. 3 Asidi-alkalimetri didasarkan pada reaksi asam basa atau prinsip netralisasi. yang reaksi umumnya dapat dinyatakan dengan persamaan : Ag+ + X. Titrasi pengendapan didasarkan reaksi pengendapan analit oleh larutan standar titran yang mampu secara spesifik mengendapkan analit. Serta faktor yang paling penting adalah ketepatan dalam pemilihan indikator agar kesalahan titrasi yang terjadi menjadi sekecil mungkin.= Cl-. Misalnya reaksi antara Ag+ dan CNyang mengikuti persamaan reaksi : Ag+ + 2CN. kompleksometri dan titrasi pengendapan. Metode Titrimetri Analisis volumetri atau titrimetri merupakan suatu analisis berdasarkan pengukuran volume larutan dengan konsentrasi yang diketahui. misalnya larutan asam klorida (HCl) dan larutan natrium hidroksida (NaOH). titran asam) Titran umumnya berupa larutan standar asam kuat atau basa kuat. Metode ini banyak digunakan untuk menetapkan kadar ion halogen dengan menggunakan pengendap Ag +.[2] 2. Metode ini cukup luas penggunaannya untuk penetapan kuantitas analit asam atau basa. 3. Jika HA mewakili asam dan BOH mewakili basa. Br-. AgX(s) (X. maka reaksi antara analit dengan titran dapat dirumuskan secara umum sebagai berikut : HA + OH. 1. et. . Berbagai reaksi redoks dapat digunakan sebagai dasar reaksi oksidimetri.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Berdasarkan jenis reaksinya. yang diperlukan untuk bereaksi dengan analit (zat yang akan ditentukan). al. Sodiq Ibnu. I-.

Indikator Indikator asam-basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu.6 Kuning Biru Fenolftalein 8.2 – 8.6 Kuning Biru Merah fenol 6. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron.0 Merah Kuning Biru bromfenol 3. Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya indikator menunjukkan warna pada range pH yang berbeda. Baik asam atau basa kekuatannya hampir sama akibatnya titik ekivalen akan berada pada pH kira-kira 7. menunjukkan daftar berbagai macam indikator dengan jarak perubahan warna serta warna-warna yang terjadi pada perubahan tersebut. Indikator asam-basa terletak pada titik ekuivalen dan ukuran dari pH.3 – 10.1 % larutan garam natriumnya) akan memberikan perubahan warna dari kuning ke ungu pada pH 8. 3.7.1 – 4.B. Campuran antara 3 bagian fenolftalein (0.2 – 6.8 – 8.8 Kuning Merah Biru timol 8. Indikator yang biasa digunakan dalam asidi-alkalimetri[4] Warna Indikator Trayek pH Asam Basa Kuning metal 2.6 Kuning Biru Jingga metal 3.5 Tak berwarna Biru Menurut Achmad Mursyidi dan Abdul Rohman (2008). larut.8 Kuning Ungu Biru bromtimol 6. .2 – 10. Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa.8 – 5.1 % dalam etanol) dan biru metilen (0.0 Tak berwarna Merah Timolftalein 9.[3] Tabel 1.4 Jingga Metil Hijau bromkresol 3. selain indikator tunggal dalam asidi-alkalimetri juga digunakan indikator campuran dengan tujuan untuk memberikan perubahan warna yang tajam pada titik akhir titrasi.1 % larutan dari garam natriumnya) dengan 1 bagian kresol merah (0.2 – 6.1 % dalam etanol) yang sama banyak memberikan perubahan warna yang tajam dari biru violet menjadi hijau ketika beralih dari larutan asam menjadi larutan basa pada pH sekitar 7.3 Merah Kuning Ungu bromkresol 5.0 – 9. Campuran dari 3 bagian biru timol (0. Indikator campuran ini baik untuk titrasi karbonat menjadi bikarbonat.4 Kuning Merah Merah kresol 7.0 – 4. Indikator ini dapat digunakan untuk menitrasi asam asetat dengan larutan amonia atau kebalikannya.1 – 7. Beberapa contoh indikator campuran adalah : 1.4 Kuning Biru Merah metal 4.1 % dalam etanol) memberikan perubahan warna yang tajam dari merah muda ke ungu pada pH 8.1 % larutan dalam etanol) dengan 1 bagian alfa naftoftalein (0.4 – 4. stabil dan menunjukkan perubahan warna yang kuat serta biasanya adalah zat organik.9. Tabel 1.3. Indikator ini baik untuk titrasi asam fosfat dari tribasik menjadi dibasik yang mana titik ekivalennya terjadi pada pH 8. 2. Campuran merah netral (0.

perbandingan mol. umumnya digunakan natrium hidroksida. Semua masalah yang berkaitan dengan titrasi asam basa dapat dipecahkan dengan konsep stoikiometri dan konsentrasi larutan yang dinyatakan dengan mol. Titrasi alkalimetri dengan larutan standar basa NaOH[7] Analit bersifat asam pH mula-mula rendah. penambahan basa menyebabkan pH naik secara perlahan dan bertambah cepat ketika akan mencapai titik ekuivalen (pH = 7). Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam. Semua larutan baku alkali harus sering dibakukan ulang. Dari Gambar 1. H2SO4 (aq) + 2NaOH (aq)  Na2SO4 (aq) + 2H2O (l) Dalam titrasi asam-basa perubahan pH sangat kecil hingga hampir tercapai titik ekivalen. penambahan sedikit asam atau basa akan menyebabkan perubahan pH yang besai ini seringkali dideteksi dengan zat yang dikenal sebagai indikator. Dengan demikian. khususnya pada saat akan mencapai titik akhir titrasi. Larutan-larutan ini mudah menyerap karbon dioksida dari udara. maka larutan bali alkali dibuat bebas karbonat dan untuk melindungi itu dari pengaruh karbon dioksida dari udara maka penyimpanannya dilengkapi dengan “soda lime tube”. Titik atau kondisi penambahan asam atau basa dimana terjadi perubahan warna indikator dalam suatu titrasi dikenal sebagai titik akhir titrasi. Untuk reaksi antara HCl dengan NaOH titik ekivalen tercapai pada perbandingan mol 1:1 tetapi untuk reaksi antara H2SO4 dengan NaOH diperlukan perbandingan mol 1:2 untuk mencapai titik ekivalen.[5] Dalam titrasi asam-basa. Asam nitrat selalu tidak digunakan karena mengandung asam nitrit yang dapat merusak beberapa indikator. walaupun diantara keduanya masih ada selisih yang relatif kecil. Pada saat tercapai titik ekivalen. oleh karena itu konsentrasinya dapat berubah dengan cepat. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima proton (basa). Titrasi Asidimetri dan Alkalimetri Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. jumlah relatif asam dan basa yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen ditentukan oleh perbandingan mol asam (H+) dan basa (OH-) yang bereaksi.C. kalium hidroksida dan barium hidroksida. Asam sulfat lebih disukai untuk titrasi menggunakan pemanasan karena kemungkinan terjadinya penguapan pada pemanasan asam klorida yang dapat menimbulkan bahaya.[6] Dalam melakukan titrasi netralisasi kita perlu secara cermat mengamati perubahan pH.[9] Untuk larutan baku alkali. molaritas atau normalitas. Sebaliknya alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa.[8] Larutan baku asam yang sering digunakan dalam asidi-alkalimetri umumnya dibuat dari asam klorida dan asam sulfat. Kedua asam ini dapat digunakan pada hampir semua titrasi. hal ini dilakukan untuk mengurangi kesalahan dimana akan terjadi perubahan warna dari indikator lihat Gambar 1. juga diperoleh informasi indikator yang tepat untuk digunakan dalam titrasi ini dengan kisaran pH pH 7 – 10 (Tabel 1). Titik akhir titrasi sering disamakan dengan titik ekivalen. Penambahan selanjutnya menyebakan larutan kelebihan basa sehingga pH terus meningkat. akan tetapi asam klorida lebih disukai daripasa asam sulfat terutama untuk senyawasenyawa yang memberikan endapan dengan asam sulfat seperti barium hidroksida. Gambar 1.[10] .

ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalent”. Memakai indikator asam basa.Menurut Indigo Morie (2008). Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan. Titrasi dengan menggunakan larutan NaOH 0. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi. Titik akhir titrasi diketahui dari larutan tidak berwarna berubah menjadi merah muda. kemudian membuat plot antara pH dengan volume titran untuk memperoleh kurva titrasi. Selain itu alkalimetri juga dipergunakan untuk menganalisis asam salisilat. Teknik asidimetri juga telah dimanfaatkan secara meluas misalnya dalam pengujian boraks yang sering dipergunakan oleh para penjual bakso. 2. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan. pada saat inilah titrasi kita hentikan. yaitu : 1. Indikator ditambahkan pada titran sebelum proses titrasi dilakukan.[11] . tidak diperlukan alat tambahan dan sangat praktis. Titrasi dilakukan dengan melarutkan sampel sekitar 300 mg ke dalam 100 mL air.1 N dengan menggunakan indikator phenolftalein. Pemanfaatan teknik ini cukup luas. untuk alkalimetri telah dipergunakan untuk menentukan kadar asam sitrat.

alat yang digunakan pada percobaan ini adalah buret asam 50 mL. Mencatat volume HCl yang digunakan. Bahan Bahan – bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah asam asetat (CH 3COOH) 0.BAB III METODE PERCOBAAN A. Menambahkan 5 tetes indikator PP ke dalam erlenmeyer. d. indikator PP dan natrium hidroksida (NaOH) 0. Alat dan Bahan 1. bulp. menghomogenkan larutan.1 M.0959 N. Memipet 25 mL larutan dan memasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL. C. Menambahkan indikator MO ke dalam erlenmeyer. Titrasi Alkalimetri Memasukkan 10 mL asam asetat (CH3COOH) ke dalam labu ukur 100 mL. Prosedur Kerja Prosedur kerja pada percobaan ini. g. f. Melakukan secara duplo dan menghitung kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran. h. Menitrasi larutan dengan natrium hidroksida (NaOH) sampai terbentuk warna merah muda. pipet volume 25 mL dan 10 mL. Waktu dan Tempat Waktu dan tempat dilaksanakannya percobaan ini. . Alat Alat . Menitrasi larutan dengan asam klorida (HCl) sampai larutan menjaid tak berwarna. c. campuran karbonat dan bikarbonat. f. c. spatula dan pipet tetes. indikator MO.0989 N. statif dan klem.30 – 15. d. 12 a. 2. Melakukan secara duplo dan menghitung kadar asam asetat dalam sampel. b. Menambahkan aquades (H2O) sampai tanda batas. corong. asam klorida (HCl) 0. e. buret basa 50 mL. 2. gelas kimia 250 mL dan 100 mL. Menambahkan 5 tetes indikator PP ke dalam erlenmeyer. Mencatat volume natrium hidroksida (NaOH) yang digunakan. labu ukur 100 mL. Titrasi Asidimetri Menimbang 100 mg campuran karbonat dan bikarbonat menggunakan neraca analitik. Mengencerkan larutan sampai tanda batas dengan aquades (H2O). i. Memipet 25 mL larutan asam asetat (CH3COOH) yang telah diencerkan dan memasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL. erlenmeyer 250 mL. b. yaitu sebagai berikut : 1.00 WITA Tempat : Laboratorium Kimia Analitik Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar B. g. Menitrasi larutan dengan asam klorida (HCl) sampai larutan berubah warna dari jingga ke merah jambu. botol semprot. Melarutkan campuran karbonat dan bikarbonat dengan aquades (H2O) lalu memindahkan ke dalam labu ukur 100 mL. yaitu sebagai berikut : Hari/Tanggal : Rabu/ 30 Mei 2012 Pukul : 13. a. aquades (H2O). e.

Titrasi alkalimetri No. Tabel Pengamatan a. Larutan asam asetat (CH3COOH) + indikator PP + titrasi dengan natrium hidroksida (NaOH) Larutan berwarna violet Larutan berwarna merah muda Keterangan 15 . Asam asetat (CH3COOH) + aquades Larutan berwarna bening 2. Hasil Hasil pengamatan dari percobaan ini. yaitu sebagai berikut : 1.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. 3. Perlakuan Hasil 1.

+ titrasi dengan asam klorida (HCl) Hasil Larutan berwarna bening Larutan berwarna violet Larutan berwarna bening Larutan berwarna kuning tua Larutan berwarna orange kemerahan Keterangan 2. ? Penyelesaian : Dalam 10 mL contoh asam terdapat : 100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg 100/25 x 0.. + indikator PP 3. Campuran karbonat dan bikarbonat + aquades 2. Reaksi CH3COOH + NaOH  CH3COONa + H2O Na2CO3 + HCl  NaHCO3 + HCl NaHCO3 + HCl  NaCl + H2O + CO2 3.0013 L x 0. Analisa Data 1.31 gram % CH3COOH = x 100 % = 0.031 gram Dalam 100 mL asam asetat = x B mg Kadar asam cuka = x gram = x 0.3 mL Konsentrasi NaOH = 0. Titrasi alkalimetri a. Simplo Diketahui : BE CH3COOH = 60 gram/grek Volume NaOH = 1.0989 N Ditanyakan : % CH3COOH .31 x 100 % = 31 % . Perlakuan 1.0989 grek/L x 60 g/grek = 0. + titrasi dengan asam klorida (HCl) 4. + indikator MO 5.031 gram = 0. Titrasi asidimetri No.b.

0959 N Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat .9 mL = 0.0019 L karbonat dalam sampel = (2x) mL HCl 0.111 x 100 % = 11.036 gram = 0.0014 L x 0.5 mL Konsentrasi NaOH = 0.45 mL Konsentrasi HCl = 0.0015 L x 0.9) mL = 3 mL = 0.9 mL Konsentrasi HCl = 0.2 % b.9 mL Volume HCl untuk bikarbonat (y mL) = 3.0989 N Ditanyakan : % CH3COOH .9) mL = 1.0989 grek/L x 60 g/grek = 0..0018 L % karbonat = = = 0.003 L karbonat dalam sampel = (2x) mL HCl 0. Simplo Diketahui : Berat sampel = 0.33 x 100 % = 33 % 2. Duplo Diketahui : BE CH3COOH = 60 gram/grek Volume NaOH = 1.0959 N Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat .1007 gram/grek Volume HCl untuk karbonat (x mL) = 1.1 % % bikarbonat = = = 0.239 x 100 % = 23.1 % % bikarbonat = = = 0.036 gram Dalam 100 mL asam asetat = x B mg Kadar asam cuka = x gram = x 0.. Rata-rata Diketahui : Berat sampel = 0. ? .8 mL = 0.1) mL = 2. ? Penyelesaian : bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0.0959 N = (2 x 1.033 gram = 0. ? Penyelesaian : bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0.0959 N = (3 – 1. ? Penyelesaian : Dalam 10 mL contoh asam terdapat : 100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg 100/25 x 0... ? Penyelesaian : Dalam 10 mL contoh asam terdapat : 100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg 100/25 x 0.0989 grek/L x 60 g/grek = 0. Duplo Diketahui : Berat sampel = 0.2 mL = 0.1007 gram/grek Volume HCl untuk karbonat (x mL) = = 1 mL Volume HCl untuk bikarbonat (y mL) = = 3.152 x 100 % = 15..091 x 100 % = 9. Rata-rata Diketahui : BE CH3COOH = 60 gram/grek Volume NaOH = = 1.1007 gram/grek Volume HCl untuk karbonat (x mL) = 0.0022 L % karbonat = = = 0.0959 N Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat .0959 N = (3.1 mL Volume HCl untuk bikarbonat (y mL) = 3 mL Konsentrasi HCl = 0.9 % c.b.0989 N Ditanyakan : % CH3COOH .36 gram % CH3COOH = x 100 % = 0. Titrasi asidimetri a.033 gram Dalam 100 mL asam asetat = x B mg Kadar asam cuka = x gram = x 0.0959 N = (2 x 0.9 – 0.1) mL = 1.4 mL Konsentrasi NaOH = 0.36 x 100 % = 36 % c.33 gram % CH3COOH = x 100 % = 0.

Penyelesaian : bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0.45 – 1) mL = 2.002 L % karbonat = = = 0.6 % .1 % % bikarbonat = = = 0.196 x 100 % = 19.101 x 100 % = 10.0959 N = (2 x 1) mL = 2 mL = 0.45 mL = 0.0959 N = (3.00245 L karbonat dalam sampel = (2x) mL HCl 0.

sesuai dengan reaksi di bawah ini : CH3COOH + NaOH  CH3COONa + H2O Berdasarkan hasil analisa data. air yang bersifat netral serta uap karbondioksida. penitrasian dilakukan dengan asam klorida (HCl) hingga larutan berubah menjadi tak berwarna. Penambahan indikator pada larutan membuat larutan berubah warna menjadi violet. Penambahan titran natrium hidroksida (NaOH) membuat larutan mengalami perubahan warna menjadi merah muda.6 %.1 % dan 23. larutan telah memiliki pH di atas 7. Untuk titrasi rata-rata diperoleh kadar asam asetat (CH3COOH) sebesar 33 %. Indikator phenolphthalein digunakan dalam titrasi ini karena indikator ini memiliki rentang trayek pH pada suasana basa yaitu : 8. Perubahan warna larutan menjadi tak berwarna menandakan bahwa larutan telah bersuasana asam dimana pada pH di bawah 8. Penitrasian kembali dilakukan dengan asam klorida (HCl) sehingga larutan mengalami perubahan warna. menurut persamaan reaksi : Na2CO3 + HCl  NaHCO3 + HCl Untuk menentukan kadar bikarbonat. Dalam titrasi ini digunakan indikator phenolphthalein yang berfungsi sebagai zat penunjuk yang akan memberikan perubahan warna saat titik akhir titrasi telah tercapai. kadar karbonat dan bikarbonat pada titrasi secara simplo berturut-turut adalah 11.1 % dan 15.5.9 %. larutan yang memiliki nilai pH di bawah 8.2 %. Proses titrasi pada larutan membuat larutan berubah warna menjadi orange kemerahan sehingga dapat dikatakan bahwa larutan telah bersuasana basa. sesuai persamaan reaksi : NaHCO3 + HCl  NaCl + H2O + CO2 Berdasarkan hasil analisa data. .5). Perbedaan kadar yang diperoleh pada titrasi secara simplo dan duplo disebabkan karena pada salah satu titrasi. Kadar karbonat rata-rata yang diperoleh adalah 10.3 cenderung akan memberikan larutan tak berwarna dan akan berubah menjadi merah dalam larutan yang memiliki nilai pH di atas 10.3 – 10.B. Penetapan kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran dilakukan menggunakan metode titrasi asidimetri menggunakan larutan asam klorida (HCl).1 % dan kadar bikarbonat rata-rata yang diperoleh adalah 19. Penambahan indikator phenolphthalein pada larutan campuran berfungsi sebagai zat penunjuk yang digunakan karena larutan campuran memiliki pH di atas 7 atau berada dalam suasana basa sehingga larutan akan memberikan warna merah secara teori dalam suasana basa.5 karena indikator metil orange berdasarkan teori akan berwarna merah apabila memiliki pH kurang dari 3. Setelah penambahan indikator. Pada titrasi secara duplo adalah 9. Dapat dikatakan bahwa. maka larutan campuran tadi ditambahkan dengan metil orange (trayek 3.0 sehingga apabila larutan telah bersuasana basa maka indikator akan mengalami perubahan warna menjadi biru.1 dan berubah warna menjadi kuning pada pH di atas 4.1 – 4. Reaksi antara larutan campuran dengan asam klorida (PP) membuat natrium karbonat bereaksi dengan asam klorida (HCl) menghasilkan natrium bikarbonat (NaHCO 3) dan natrium klorida (NaCl).3 larutan akan berubah menjadi tak berwarna. kadar asetat yang diperoleh dari percobaan secara simplo adalah 31 % dan 36 % pada titrasi secara duplo. Awalnya larutan bersuasana asam akibat pH dari larutan asam asetat (CH 3COOH) yang digunakan bernilai rendah. Penetapan kadar asam asetat (CH3COOH) dengan natrium hidroksida (NaOH) merupakan titrasi alkalimetri untuk menitrasi asam lemah dengan basa kuat. Penambahan indikator membuat perubahan warna larutan menjadi violet. Berdasarkan trayek pH indikator phenolphthalein. larutan telah sedikit melewati titik akhirnya sehingga volume natrium hidroksida (NaOH) yang digunakan lebih banyak dan mempengaruhi perhitungan kadar asam asetat (CH3COOH) dalam sampel. Reaksi antara natrium bikarbonat dengan asam klorida (HCl) menghasilkan garam berupa natrium klorida (NaCl). Reaksi antara asam asetat (CH 3COOH) dengan natrium hidroksida menghasilkan garam dan air yang bersifat netral. larutan berubah warna menjadi kuning yang menandakan bahwa larutan memiliki pH di atas 4. Pembahasan Pada praktikum ini dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran serta kadar asam asetat (CH3COOH) dengan natrium hidroksida (NaOH).

26 . 9.1 % dan 19.1 % untuk kadar karbonat dan 15. B. 1. Untuk titrasi secara duplo.2 % untuk kadar bikarbonat.1 % serta kadar bikarbonat adalah 15. Kadar karbonat dan bikarbonat rata-rata yang diperoleh masing-masing adalah 10. Kesimpulan Kesimpulan dari percobaan ini.6 %. Kadar karbonat yang diperoleh secara simplo adalah 11. Saran Saran dari percobaan ini adalah sebaiknya pada percobaan selanjutnya dilakukan titrasi alkalimetri untuk menentukan konsentrasi atau kadar dari asam poliprotik yang dititrasi dengan basa kuat sehingga dapat diketahui perbedaan titrasi alkalimetri dengan asam lemah dan asam poliprotik. sedangkan kadar asam asetat rata-rata yang diperoleh adalah 33 %.BAB V PENUTUP A.2 %. yaitu sebagai berikut : Kadar asam asetat yang diperoleh secara simplo adalah 31 % dan 36 % pada titrasi secara duplo. 2.

com..org-Situs Kimia Indonesia. 105 [10]Ibid [11]Zulfikar.. et al. scribd. Diakses pada tanggal 31 Mei 2012 [1]Sitti Chadijah. 104 [5]Ibid. 2010). 2010 Mursyidi.com/2008/04/titrasi-asam-basa/. Konsep Dasar Kimia Analitik (Jakarta: Universitas Indonesia. belajarkimia. M. Makassar: UIN Alauddin Makassar. http://belajarkimia.. http://www. “Asidimetri”. Volumetri dan Gravimetri (Yogyakarta: UGM-Press. Intan Wilyta. Wa Ode Rustiah dan Anna Handayani. http://www. 30 Oktober 2011. cit. 96 -97 [7]Zulfikar. Achmad dan Abdul Rohman. Diakses pada tanggal 3 1 Mei 2012 Zulfikar. S.org-Situs Kimia Indonesia.org/materi_kimia/kimiakesehatan/pemisahan-kimia-dan-analisis/titrasi-asam-basa/.com. scribd. h.com. h. Jakarta: Universitas Indonesia. Sodiq Ibnu. . h. h. Yogyakarta: UGM-Press. http://www. Diakses pada tanggal 31 Mei 2012 Wilyta. 2008 Morie.com/doc/70246435/asidimetri. Penuntun Praktikum Kimia Analitik (Makassar: UIN Alauddin Makassar. 2008). 19 [2]Intan Wilyta. Penuntun Praktikum Kimia Analitik. op. “Titrasi Asam Basa”.chem-istry. cit. 2005). Volumetri dan Gravimetri.chem-is-try. et al. 2005 Khopkar. Indigo. Sodiq Ibnu. 27 Desember 2010. “Titrasi Asam Basa”. 7 April 2008. Chem-is-try. Malang: Universitas Negeri Malang. 30 Oktober 2011.2012).org/materi_kimia/kimia-kesehatan/pemisahan-kimia-dan-analisis/titrasi-asam-basa/ (31 Mei 2012) [8]Ibid [9]Achmad Mursyidi dan Abdul Rohman.scribd. 81 [6]M. 2012 Ibnu. M. Konsep Dasar Kimia Analitik.scribd. M. Kimia Analitik I . loc. “Asidimetri”. Wa Ode Rustiah dan Anna Handayani.DAFTAR PUSTAKA Chadijah. Sitti Chadijah.. Kimia Analitik I (Malang: Universitas Negeri Malang. h. Chem-is-try. http://www. 46-47 [4]Achmad Mursyidi dan Abdul Rohman. 27 Desember 2010. h. “Titrasi Asam Basa”. Khopkar.com/doc/70246435/asidimetri (31 Mei 2012) [3]S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful